Eps 5 Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo.
Bukit-bukit di sini di tumbuhi hutan yang lebat, penuh binatang perburuan.
Air yang berasal dari salju di gunung-gunung berlimpah, tak pernah kering.
Daerah ini selalu menjadi perebutan antara suku-suku di utara, akan tetapi akhirnya dikuasai oleh suku Yakka yang terkenal gagah berani dan mempunyai pasukan yang cukup besar jumlahnya.
Bahkan suku Yakka ini mengembangkan kekuasaan mereka sampai ke selatan, ke perbatasan propinsi Shan-si.
Mula-mula memang terjadi pertempuran besar-besaran diantara suku Yakka dan pasukan Sui, akan tetapi akhir-akhir ini, setelah Gubernur Li mengambil seorang wanita Turki sebagai istrinya, keadaan berubah.
Gubernur Li mengambil sikap bersahabat dengan semua suku bangsa Turki dan yakka.
Bahkan dibukalah hubungan dagang dengan suku-suku bangsa di utara itu.
Pada suatu hari, Tarsukai, kepala suku Yakka, berhasil mengumpulkan banyak bulu biruang yang di dapatkan oleh para pemburu dan juga banyak batu permata yang khas.
Maka, diapun memilih bulu terbaik dan batu-batu yang langka, lalu bermaksud mengirim barang berharga itu sebagai hadiah kepada Gubernur Li.
mendengar bahwa ada rombongan hendak pergi ke selatan, dua orang puterinya merengek menyatakan ingin pergi bersama rombongan.
Tarsukai amat menyayang kedua orang puterinya ini, maka diapun tidak tega menolak.
Demikianlah, kedua orang puterinya itu bahkan ditugaskan mewakilinya mengahturkan bingkisan itu kepada Gubernur Li.
Mereka dikawal oleh tujuhbelas orang perwira jagoan dari Suku Yakka, melakukan perjalanan ke selatan yang cukup jauh dan akan memakan waktu beberapa pekan dengan menunggang kuda.
Bukan main gembiranya hati Loana dan Hailun melakukan perjalanan itu.
Bagi mereka, perjalanan itu bukan sekedar membawa tugas mengantar barang bingkisan, melainkan terutama sekali merupakan pesiar yang menggembirakan.
Bahkan kalau mereka melewati sebuah hutan yang banyak binatangnya.
Mereka berdua melakukan perburuan.
Kalau melewati telaga, dua orang kakak beradik itu memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti dan mereka lalu berpesiar di telaga.
Tujuh belas orang jagoan pengawal itu selalu tunduk dan memenuhi kehendak Loana dan Hailun.
mereka semua maklum betapa sayangnya pemimpin mereka kepada dua orang puterinya ini.
Apalagi yang memimpin para pengawal itu adalah Temugu, adik kandung Tarsukai sendiri, atau paman dari kedua orang gadis itu.
Temugu juga amat sayang dan memanjakan kedua orang keponakannya itu.
Loana berwatak lembut dan agak pendiam, berbeda dengan adiknya, Hailun yang wataknya riang dan lincah jenaka.
banyak sekali orang muda bangsa Mongol yang tergila-gila kepada dua orang gadis ini dan banyak putera kepala suku lain yang mengajukan pinangan, akan tetapi tidak satupun pinangan di terima oleh Tarsukai.
Bukan berarti bahwa Tarsukai tidak ingin kedua puterinya memperoleh jodoh, akan tetapi semua pinangan di tolak keras oelh kedua orang puterinya itu.
Karena ini pula maka ketika kedua orang puterinya hendak mewakilinya menyerahkan hadiah kepada Gubernur Li di Shansi, dia mengijinkan dengan harapan mudah-mudahan kedua orang puterinya itu akan menemukan jodoh yang seimbang dan baik di Shansi.
Gubernur Li di Shansi mempunyai banyak putera dan di sana terdapat pula panglima-panglima muda yang gagah perkasa.
Siapa tahu Loana dan Hailun akan bertemu jodoh mereka.
Pada pagi hari yang cerah itu, rombongan orang suku Yakka Mongol itu tibalah di daerah pegunungan yang menjadi perbatasan dengan daerah Shansi.
dua orang gadis yang menunggang kuda paling depan itu tiba-tiba melihat sekelompok kijang melarikan diri memasuki hutan.
Bukan main gembira hati mereka dan dengan anak panah siap di tangan mereka membalapkan kuda mereka mengejar ke dalam hutan.
Melihat ini, Temugu berteriak "Heiii, Loana, Hailun, tunggu.
Kembalilah"
Dia sudah banyak mendengar tentang gerombolan-gerombolan perampok yang bermarkas di dalam hutan lebat. Akan tetapi dua orang gadis yang sedang gembira it uterus membalapkan kuda mereka.
"Heiii, tunggu kami """""
Temugu berteriak dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melakukan pengejaran ke dalam hutan.
Tujuh belas orang itu lalu melarikan kuda mereka memasuki hutan lebat itu.
Akan tetapi dua orang gadis itu sudah jauh meninggalkan mereka sehingga mereka terpaksa harus mencari-cari jejak kuda dua orang gadis itu.
Sambil membalapkan kuda mereka, Loana dan Hailun melepaskan anak panah berulang kali.
Mereka tidak mampu mendekati kijang-kijang itu yang larinya pesat bukan main.
"Panahku mengena"
Teriak Hailun.
"Panahku juga"
Kata Loana.
Akan tetapi karena jaraknya jauh anak panah mereka tidak dapat merobohkan kijang-kijang yang terlalu cepat larinya itu.
Mereka mengejar secepatnya sehingga meninggalkan rombongan pengawal mereka.
Selagi kedua orang gadis Mongol itu membalapkan kuda, tiba-tiba kuda mereka meringkik kaget dan ketakutan ketika dari balik pohon dan semak berloncatan belasan orang dari sikapnya mereka yang kasar dapat di duga bahwa mereka adalah orang-orang jahat.
Lima belas orang itu di pimpin oleh seorang yang usianya sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan wajah penuh brewok dan kulit mukanya hitam.
Melihat dua orang gadis yang cantik manis itu, si kepala perampok tertawa bergelak.
"Biar aku sendiri yang menangkap mereka, kalian hadang pasukan berkuda itu, bunuh mereka dan rampas kuda dan barang-barang mereka"
Teriaknya dan bagaikan seekor orang utan besar, dia sudah meloncat dan menerkam kearah Loana yang duduk di atas kuda berusaha menenangkan kudanya.
Terkaman itu demikian hebat sehingga tubuh Loana terseret turun dari atas kuda.
Sebelum ia sempat bangkit berdiri, tubuhnya sudah menjadi lemas dan lumpuh karena di totok oleh kepala perampok itu.
melihat ini Hailun menjadi marah dan ia sempat melepaskan anak panah kearah kepala perampok itu.
Akan tetapi kepala perampok itu ternyata lihai sekali.
Anak panah itu dapat di tangkisnya dengan tangan sehingga melesat jauh dan sebelum Hailun dapat memanah lagi, kakinya telah di tangkap dan di tarik turun dari atas kuda.
Sebagai seorang gadis Mongol yang sejak kecil mempelajari ilmu bela diri, ia melawan.
akan tetapi kepala perampok itu jauh lebih kuat dan lebih cepat.
Dia lihai sekali dan sebelum Hailun dapat berbuat banyak, iapun sudah roboh terkulai oleh totokan kepala perampok brewok itu.
"Ha-ha-ha-ha. hari ini beruntung sekali aku, mendapatkan dua orang nona yang cantik jelita. Ha-ha-ha "
Sambil tertawa tawa dia lalu memanggul tubuh kedua orang gadis itu dan di kedua pundaknya dan membawa mereka menyusup hutan belukar menuju ke kelompok bangunan dari kayu dan bambu yang menjadi sarang gerombolan perampok itu.
Sementara itu, secara kebetulan Han Sin dan Cu Sian tiba pula di jalan yang melalui hutan itu dalam perjalanan mereka ke utara.
Mereka berjalan santai sambil bercakap-cakap.
"Eh, Sin-ko. Kau belum menceritakan bagaimana kau dapat menduga bahwa Bong Sek Toan itu mempunyai hubungan dengan nama Toat Beng Diam-Ong. Aku pernah mendengar dari para pamanku bahwa Toat-beng Giam-Ong adalah seorang datuk yang dahulu menjadi Kok-su Kerajaan Toba.
"Dari ibuku aku mengenal ilmu silat Lo-han-kun dan orang she Bong itu ketika melawanmu menggunakan ilmu pedang Lo-hai kiam-hoat. Maka aku dapat menduga demikian"
"Dan dugaanmu itu ternyata tepat. Buktinya, ketika dia dikenal sebagai orang yang ada hubungannya dengan bekas Kok-su Kerajaan Toba itu, dia terus melarikan diri"
"Ssssttt, Sian-te. Ada suara rebut-ribut dari dalam hutan itu?"
Han Sin menunjuk ke arah kiri darimana terdengar suara pertempuran.
Cu Sian juga mendengar itu dan cepat dia meloncat dan berlari memasuki hutan, di ikuti oleh Han Sin.
Tak lama mereka berlari dan mereka melihat ada dua kelompok orang yang berkelahi.
Yang sekelompok adalah orang-orang Mongol dan yang kedua adalah orang-orang yang melihat pakaiannya tentu orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan, mungkin perampok.
Orang-orang Mongol itu berlompatan turun dari kuda mereka dan terjadilah pertempuran yang hebat.
Han Sin melihat seorang laki-laki tinggi besar memanggul tubuh dua orang wanita muda "Sian-te, gadis-gadis itu di culik"
Cu Sian menengok dan ketika dia melihat seorang laki-laki tinggi besar melarikan dua orang gadis yang di panggulnya, dia lalu berkata "Sin-ko, biar aku menolong mereka"
Dan diapun sudah berlari cepat melakukan pengejaran terhadap pria tinggi besar yang melarikan dua orang gadis mongol itu.
Han Sin membiarkan saja Cu Sian yang melakukan pengejaran karena dia yakin bahwa sahabatnya itu tentu akan mampu menolong dua orang gadis itu.
Dia sendiri lalu menghampiri tempat pertempuran dan memperhatikan.
Tidak lama dia meragu harus membantu siapa karena dia segera mendengar seruan orang-orang kasar itu.
"Bunuh dan rampas kuda mereka"
Dari teriakan"teriakan ini tahulah dia bahwa orang-orang kasar itu tentu segerombolan perampok yang menyerang segerombolan orang mongol ini.
Dan dua orang gadis tadi pun gadis mongol.
Dia tidak ragu lagi harus membantu siapa.
"Perampok jahat"
Serunya dan dia pun sudah terjun ke dalam gelanggang pertempuran itu.
Walaupun Han Sin hanya bertangan kosong, namun setiap orang perampok yang neyerangnya, tentu senjata mereka terpental dan orangnya terjengkang oleh tamparan tangan mau pun tendangan kaki Han Sin.
Masuknya Han Sin yang membantu orang-orang mongol itu membuat gerombolan perampok menjadi panik.
Sebentar saja Han Sin telah merobohkan tujuh orang perampok.
Walaupun dia tidak melukai berat para perampok itu dan mereka dapat bangkit kembali namun mereka telah jerih dan larilah mereka cerai berai di kejar oleh orang-orang mongol.
Melihat bahwa para perampok telah melarikan diri, Han Sin lalu berkelebat cepat melakukan pengejaran kearah larinya perampok yang menculik dua orang gadis dan sedang di kejar oleh Cu Sian.
Dia khawatir kalau-kalau Cu Sian terjebak atau menghadapi ancaman bahaya.
Sementara itu, sebentar saja Cu Sian sudah berhasil menyusul kepala perampok yang melarikan dua orang gadis Mongol.
Loana dan Hailun yang tertotok tidak mampu bergerak, tidak dapat meronta, akan tetapi mereka berseru marah.
"Lepaskan aku"
Seru Loana "Lepaskan kami, kau anjing bedebah busuk"
Hailun memaki.
Akan tetapi kepala perampok itu hanya tertawa-tawa, seolah seruan marah dan makian kedua gadis itu terdengarnyanyian merdu bagi telinganya.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang pemuda tampan telah berdiri menghadang di depan kepala perampok itu.
Pemuda itu adalah Cu Sian.
Dia membawa sepotong tongkat kayu dari ranting pohon dan menudingkan tongkat itu kearah muka si kepala perampok.
"He, monyet muka hitam. Berani kau menculik dua orang gadis ini? Hayo kau bebaskan mereka kalau tidak ingin ku tusuk hidungmu yang besar dan jelek itu sampai hancur dengan tongkat ini"
Dengan sikap mengejek Cu Sian menudingkan tongkatnya ke arah hidung kepala perampok itu.
Kepala perampok itu adalah orang yang terbiasa di taati oleh anak buahnya dan selama ini belum pernah ada orang berani menentang kehendaknya.
Maka, kini melihat seorang pemuda remaja berani memaki dan menghinanya, tentu saja dia menjadi marah bukan main.
Di turunkannya dua orang gadis itu ke bawah sebatang pohon dan dia meloncat dengan sigapnya ke depan Cu Sian sambil membelalakan matanya, sikapnya penuh ancaman.
Sepasang mata kepala perampok itu terbuka sedemikian lebarnya seolah"olah dia hendak menelan pemuda remaja yang berani menentangnya itu dengan matanya.
"Hemmm ""
Ia mengeram seperti seekor biruang marah "Tikus kecil, kau sudah bosan hidup"
Akan tetapi Cu Sian malah tertawa "Ha-ha-ha, monyet muka hitam.
Aku tidak bosan hidup.
Aku akan hidup seribu tahun lagi untuk melaksanakan tugas hidupku, yaitu membasmi monyet-monyet jahat seperti kau inilah"
Pada saat itu, Han Sin tiba di tempat itu "Sian-te, berhati-hatilah"
Katanya. Cu Sian menoleh dan tersenyum melihat Han Sin sudah menyusul ke situ "Ahhh, jangan khawatir, Sin-ko. Kalau hanya monyet hitam seperti ini, biar ada selusin pun aku tidak akan kalah"
Mendengar ucapan pemuda remaja itu, kepala perampok tadi menjadi semakin marah.
Apalagi telah muncul seorang pemuda lain.
Dia merasa terganggu sekali dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menerkam kepada Cu Sian seperti seekor harimau menerkam seekor domba, Namun Cu Sian mengelak cepat dan terkaman itupun mengenai tempat kosong.
Dia menjadi semakin marah dan melakukan penyerangan secara bertubi-tubi, akan tetapi semua serangan dapat di elakkan dengan mudah oleh Cu Sian.
Melihat bahwa kepala perampok itu hanya memiliki tenaga besar saja akan tetapi gerakannya terlalu lamban bagi Cu Sian.
Han Sin tidak merasa khawatir lagi dan dia segera menghampiri dua orang gadis Mongol yang masih rebah tak mampu bergerak.
Dia menggerakkan tangan dengan cepat sehingga tidak nampak oleh dua orang gadis itu, akan tetapi dia telah menotok mereka dan tiba-tiba saja Loana dan Hailun dapat menggerakkan kaki tangan mereka.
Loana dan Hailun segera bangkit berdiri.
Kedua orang gadis itu memandang kearah Cu Sian yang sedang bertanding melawan kepala perampok itu dan keduanya nampak gelisah karena kapala perampok itu menyerang bertubi-tubi sambil mengeluarkan suara geraman seperti seekor binatang buas.
Dia nampak buah dan menyeramkan sekali.
"Harap nona berdua tidak khawatir, adikku Cu Sian tidak akan kalah melawan kepala perampok itu"
Kata Han Sin menenangkan mereka.
Kedua orang gadis itu menoleh dah mengetahui bahwa pemuda inipun bukan orang jahat melainkan kakak dari pemuda yang telah menolong mereka, mereka lalu mendekati seolah hendak minta perlindungan.
Loana berkata kepada Han Sin dengan suara memohon "Sobat yang baik, kenapa kau tidak cepat membantu adikmu menghadapi orang jahat itu?"
Han Sin memandangi kedua orang gadis itu sejak tadi dan dia merasa kagum sekali.
Loana memiliki wajah yang bulat telur, cantik manis sekali.
Sepasang matanya seperti mata rajawali, demikian tajam namun lembut dan ketika bicara timbul lesung pipit di sebelah kiri.
Sikapnya halus dan ketika bertanya kepadanya, suaranya merdu dan lembut dan ketika bicara timbul lesung pipit di sebelah kiri, Sikapnya halus dan ketika bertanya kepadanya, suaranya merdu dan lembut.
Gadis kedua yang lebih muda, memiliki bentuk wajah yang bulat, hidungnya mancung dan mulutnya merupakan daya tarik paling kuat.
Mulut itu manis menggairahkan.
"Jangan kalian khawatir, adikku tidak akan kalah dan seorang laki-laki sejati tidak akan bersikap curang melakukan pengeroyokkan"
Jawab Han Sin dan mendengar jawaban ini Loana menjadi kagum.
Jawaban itu menunjukkan bahwa ia berhadapan dengan seorang pendekar yang gagah perkasa.
Kalau adiknya saja sudah demikian gagah.
kakaknya ini tentu lebih hebat pula.
pikirnya.
Akan tetapi, melihat Han Sin dan Hailun memandang ke arah perkelahian itu penuh perhatian, Loana lalu memandang pula.
Kepala perampok itu menjadi semakin beringas ketika beberapa kali tubrukannya dan serangannya hanya mengenai tempat kosong.
Dia mengerahkan tenaganya dan menerjang kembali dengan kedua lengan di buka seperti seekor beruang menyerang calon mangsanya sambil mengeluarkan teriakan keras.
"Haiiittttt """"
Kedua tangan itu membuat gerakan memeluk. Cu Sian cepat menghindarkan diri dan langkah ke samping belakang, lalu kakinya mencuat dengan tendangan yang cepat seperti kilat menyambar.
"Dukkk "
Aaggghh ".
Kaki bersepatu itu kecil saja akan tetapi karena sambarannya cepat dan mengenai lambung, raksasa muka hitam itu terjengkang dan mengaduh.
Ketika dia merangkak bangun, dia memegangi perutnya yang seketika terasa mulas.
Kini kemarahannya memuncak dan dia tidak lagi berani memandang rendah pemuda remaja itu.
tangannya meraih ke punggung dan dia sudah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.
Melihat ini, Loana dan Hailun menjadi ngeri dan khawatir sekali, apalagi melihat kepala perampok itu tanpa peringatan lagi sudah mengayun goloknya menyerang.
Golok menyambar ke arah leher Cu Sian.
Loana sudah memejamkan matanya dan Hailun mengepal tinjunya.
Akan tetapi dengan cepat dan ringan sekali tubuh Cu Sian sudah mengelak ke belakang dan golok itu membacok angin.
"Curang. Pengecut. Biar aku membantunya"
Terdengar Hailun berteriak dan gadis mongol yang licah ini sudah mencabut sebatang pisau belati bengkok dari balik ikat pinggangnya.
Agaknya ia akan nekat maju mengeroyok kepala perampok itu, akan tetapi Han Sin cepat mencegahnya.
"Jangan, nona. Adikku tidak akan kalah. Kalau kau membantunya, kau malah akan membikin dia repot melindungimu. Lihatlah, dia tidak akan kalah"
"Tapi dia di serang dengan senjata oleh pengecut curang itu"
Hailun membantah dan masih hendak nekat menyerbu.
"Hailun, sobat ini benar, Jangan mencampuri, kau akan terancam bahaya. Dia tidak akan. Lihatlah"
Hailun memandang dan iapun bernapas lega, Kiranya Cu Sian sudah memegang sebatang tongkat yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan kini dengan tongkatnya itu dia melawan kepala perampok yang memegang golok.
"Ha-ha-ha, monyet hitam. Golokmu penyembelih ayam itu tidak menakutkan aku"
Cu Sian mengejek dan begitu dia memutar tongkatnya, lawan yang tinggi besar itu baginya demikian aneh, tongkat seolah berubah menjadi belasan banyaknya, menyerang dari segenap penjuru.
Dia mencoba untuk melindungi tubuhnya dengan putaran goloknya, namun tetap saja tongkat itu dapat menyelinap diantara gulungan sinar goloknya dan dua kali tubuhnya berkenalan dengan tongkat itu.
Pertama kali, kepalanya di ketuk sedemikian kerasnya sampai timbul benjolan sebesar telur ayam di dahinya, dan kedua kali, dadanya tertotok ujung tongkat yang membuat dia terjengkang dan dadanya terasa sesak bernapas.
Pengalaman ini membuat kepala perampok merasa jerih.
Anak buahnya juga muncul dan dia merasa tidak akan mampu menandingi pemuda remaja yang amat lihai itu.
Kalau di lanjutkan, tentu dia akan celaka.
Apalagi di situ masih ada pemuda lain yang belum turun tangan.
Karena itu, begitu dia dapat meloncat bangun, dia langsung membalikkan diri dan lari meninggalkan tempat itu secepatnya.
Hailun bertepuk tangan dengan gembira "Heiii, monyet hitam pengecut.
Jangan lari kau"
Ia berteriak dan melihat kegembiraan gadis itu, Cu Sian juga menjadi gembira.
"Nona, apa kau ingin aku menangkap monyet itu?"
Cu Sian bertanya sambil tertawa.
"Benar, sobat yang gagah perkasa. Kejar dan tangkaplah monyet hitam itu, seret dia ke sini agar aku sendiri dapat memberi hukuman kepadanya"
Teriak Hailun dengan gembira. Akan tetapi sebelum Cu Sian bergerak untuk mengejar lawannya, Han Sin berkata "Sian-te, lawan yang sudah kalah dan melarikan diri tidak perlu dikejar lagi"
Cu Sian memandang kepada Han Sin dengan alis berkerut, akan tetapi melihat pandang mata Han Sin, dia teringat bahwa dia sudah berjanji akan menaati kata-kata sahabatnya itu.
Maka diapun lalu tersenyum dan menoleh kepada Hailun sambil mengembangkan kedua lengannya dan mengangkat pundak.
"Sayang, adik yang manis, kakakku ini melarang aku mengejar monyet hitam itu"
Hailun melangkah maju dan tanpa ragu atau malu lagi dara mongol ini memegang tangan kanan Cu Sian dengan kedua tangannya, sepasang matanya menatap penuh kagum wajah pemuda itu dan ia berkata "Ah, kau hebat sekali.
Kau adalah pahlawanku yang gagah perkasa.
Kami berdua menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu, sobat"
Cu Sian tersenyum dan berkata dengan lagak bangga "Ah, melawan monyet hitam itu tidak ada artinya, nona manis.
Biar ada selusin monyet seperti dia.
Kalau berani mengganggu sehelai rambutmu, tentu akan kubasmi semua"
Han Sin tertegun menyaksikan lagak Cu Sian ini.
Memang biasanya pemuda itu lincah gembira dan jenaka, bahkan ugal-ugalan, akan tetapi sekali ini lagaknya demikian sombong dan takabur.
Ah, jangan-jangan sahabatnya ini memang seorang pemuda mata keranjang.
Maka, untuk menghentikan Cu Sian yang menjual lagak itu dia berkata dengan sikap sopan sambil memandang kepada Loana.
"Nona berdua, apa yang telah terjadi dengan kalian? Mengapa pula kalian melakukan perjalanan melalui hutan yang liar ini? Kalian dari manakah dan hendak menuju kemana?"
Loana segera menjawab "Kami berdua adalah kakak beradik.
Kami adalah puteri kepala suku Yakka Mongol yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Shan-si, di kawal oleh paman kami dan seregu prajurit.
Akan tetapi setibanya di tempat ini, rombongan kami dihadang dan di serang oleh segerombolan perampok tadi dan kami berdua ditawan kepalanya dan di bawa lari sampai ke sini, Untung kami di tolong oleh sobat berdua.
Untuk itu kami berdua menghaturkan banyak terima kasih"
Han Sin memandang kagum. Dua orang gadis mongol ini dapat bicara dalam bahasa Han yang cukup baik. ini menandakan bahwa mereka terdidik dengan baik.
"Siapakah nama sobat berdua yang gagah perkasa?"
Tiba-tiba Hailun bertanya sambil memandang kepada Cu Sian. Cu Sian tertawa "Ha, mestinya kalian berdua yang lebih dulu memperkenalkan nama kalian kepada kami"
Hailun juga tersenyum "namaku Hailun dan ini adalah kakak saya bernama Loana. Ayah kami adalah kepala suku Yakka bernama Tarsukai"
Han Sin gembira sekali mendengar bahwa dua orang gadis itu adalah puteri-puteri kepala suku Yakka.
Dia teringat akan nasihat Li Si Bin agar dia melakukan penyelidikan tentang kematian ayahnya itu diantara orang-orang Yakka yang dahulu ikut bertempur melawan pasukan ayahnya.
Mungkin ayah gadis-gadis ini akan dapat memberi banyak keterangan kepadanya.
"Ah, kebetulan sekali. kami juga sedang melakukan perjalanan ke utara untuk mengunjungi kepala suku Yakka Mongol. Perkenalkanlah, nona. Aku bernama Cian Han Sin dan ini adalah sahabat baikku bernama Cu Sian"
Pada saat itu, terdengar suara gaduh banyak orang dan juga suara derap kaki kuda.
Dua orang gadis itu nampak gelisah dan mereka mendekati penolong mereka.
Tanpa disengaja Loana mendekati Han Sin dan Hailun mendekati Cu Sian, bahkan memegang lengan pemuda itu.
Dua orang pemuda itupun membalikkan tubuh menghadapi orang-orang yang baru datang untuk melakukan perlawanan.
Akan tetapi yang muncul itu adalah orang-orang Mongol yang mengawal kedua orang gadis itu.
Temugu yang tinggi besar itu segera meloncat dari atas kudanya dan sikapnya mengancam ketika dia melihat dua orang keponakannya berada di situ bersama dua orang pemuda Han yang tidak mereka kenal.
Belasan orang mongol yang datang berjalan kaki dan ada pula yang berkuda, segera mengepung dengan sikap mengancam.
"Dua orang muda yang bosan hidup. Bebaskan dua orang nona kami sebelum kami menggunakan kekerasan dan membunuh kalian"
Bentak Temugu yang sudah siap dengan pedang bengkok di tangannya.
Hailun segera berkata dengan suara nyaring "Paman Temugu, jangan ngawur.
Dua orang pemuda ini justeru yang menolong kami dari tangan perampok"
Temugu membelalakkan matanya, akan tetapi karena sudah menjadi watak Hailun yang suka main-main, maka dia memandang kepada Loana seperti minta penjelasan.
Loana menghadapinya dan berkata "Memang benar Paman Temugu.
mereka ini bernama Cian Han Sin dan Cu Sian.
Dua orang pemuda yang baru saja membebaskan kami dari tangan kepala perampok"
Mendengar penjelasan Loana ini, Temugu tidak ragu lagi dan dia cepat memberi hormat dengan mengangguk kemudian menjulurkan tangan mengajak dua orang pemuda itu bersalaman "Ah, maafkan kami yang tidak tahu.
Kami berterima kasih sekali kepada dua orang sobat baik.
Ketua kami tentu akan menerima kalian sebagai tamu-tamu agung dan akan mengucapkan terima kasihnya"
Sebelum Han Sin dan Cu Sian menjawab, Loana sudah berkata lagi "Memang mereka berdua ingin mengunjungi tempat kita dan bertemu dengan ayah, paman"
Hailun menyambung "Baiknya begini saja, paman Temugu.
Paman dan para pengawal melanjutkan perjalanan ke Shan-si dan menyerahkan barang-barang hadiah dari ayah, sedangkan kami berdua akan kembali saja bersama saudara Cian Han Sin dan Cu Sian"
Mendengar usul Hailun itu, Temugu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala tidak setuju "Hailun, bagaimana kalian pulan sendiri?
Kami yang bertanggung jawab atas keselamatan kalian.
Kalau terjadi apa-apa dengan kalian bagaimana kami akan mempertanggung jawabkannya?"
"Ah, paman. Dengan dikawal dua orang penolong kami ini, kami akan sampai di rumah dengan selamat. Jangan pandang ringan mereka berdua, paman, Pengawalan mereka berdua jauh lebih aman dibandingkan pengawalan kalian yang tujuhbelas orang banyaknya itu"
Temugu tetap tidak setuju, akan tetapi Loana berkata dengan suaranya yang halus namun meyakinkan"
Ucapan, adik Hailun tidak berlebihan, paman Temugu.
Buktinya tadi, dengan pengawalan paman sekalian, tetap saja kami di tawan penjahat.
Kalau tidak ada dua orang penolong ini, entah bagaimana jadinya dengan kami.
Pula, setelah mengalami peristiwa tadi, kami berdua sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanan.
Biarkan kami berdua pulang bersama dua orang pemuda ini yang hendak berkunjung kepada ayah"
Temugu tidak dapat membantah lagi.
Juga kini dia mengenal bahwa pemuda yang berkelebat cepat membantu mereka melawan gerombolan adalah pemuda yang tinggi tegap dengan pakaian sederhana ini.
Memang hanya sekelebatan saja dia melihat bayangan yang merobohkan banyak anggota perampok tadi, akan tetapi dia ingat benar bahwa bayangan itu mengikat rambutnya dengan pita kuning.
Temugu menginginkan kepastian dari dua orang pemuda yang sama sekali asing itu "Sobat muda berdua, apakah benar-benar kalian berdua berani mempertanggung jawabkan keselamatan dua orang keponakan kami ini dan mengantar mereka sampai ke tempat tinggal kami?"
Temugu memandang tajam kepada Han Sin dan Cu Sian.
Han Sin segera menjawab "Paman yang baik, sesungguhnyalah bahwa aku dan sahabatku ini hendak pergi mengunjungi Kapala Suku Yakka Mongol untuk suatu keperluan penting.
Kami sama sekali tidak mengajak kedua orang nona ini untuk pergi bersama kami"
Mendengar ini, Loana berkata "Sobat Cian Han Sin.
memang kalian tidak mengajak kami berdua, akan tetapi setelah terjadi peristiwa ini kami berdua kakak beradik ingin pulang saja.
Dan mendengar bahwa sobat Cian Han Sin dan Cu Sian hendak mengunjungi ayah kami, maka hal itu kebetulan sekali.
Kita dapat melakukan perjalanan bersama"
"Kakak Loana berkata benar"
Sambung Hailun"Perjalanan dari sini menuju ke perkampungan kita aman, tidak akan ada yang berani mengganggu kami.
Bahkan tanpa pengawalan sama sekalipun kami berdua berani melakukan perjalanan pulang.
Kami berdua bukanlah gadis-gadis lemah dan cengeng, Karena kebetulan dua orang pemuda ini hendak berkunjung ke tempat tinggal kami, apa salahnya kalau kami berdua melakukan perjalanan dengan mereka?"
Cu Sian merasa tidak enak kalau diam saja "Sudahlah, biarkan dua orang nona ini melakukan perjalanan pulang bersama kami berdua.
tentang keselamatan mereka berdua, jangan khawatir.
Kalau terjadi gangguan dan halangan, akulah yang akan melindungi mereka dengan taruhan nyawa"
Ucapan ini terdengar gagah sekali. Mendengar ini, Hailun mendekati Cu Sian dan gadis ini berkata kepada pamannya.
"Paman dengar itu? Dengan pengawalan sobat Cu Sian ini, aku akan merasa lebih aman daripada dikawal pasukan pengawal kita"
Wajah Temugu berubah kemerahan dan sambil mengerutkan alisnya dia berkata "Semua pengawal ini manjadi saksi, bahwa pemisahan diri kami ini adalah kehendak kalian berdua sendiri.
Kalau sampai terjadi sesuatu, jangan persalahkan kami"
Han Sin merasa tidak enak sekali.
Diapun tidak ingin mengajak kedua gadis itu.
Adalah mereka berdua itu yang menghendakinya sendiri.
Kalau dia merasa setuju mereka berdua ikut dan melakukan perjalanan bersama dia dan Cu Sian, hal itu adalah karena dengan adanya dua orang gadis itu tentu akan lebih memudahkan dia mencari keterangan tentang kematian ayahnya di perkampungan Yakka itu.
"Aku mempunyai usul yang kiranya dapat kalian terima. Bagaimana kalau para pengawal ini di bagi dua? Sebagian melanjutkan perjalanan ke Shan-si dan yang sebagian lagi tetap mengawal kedua orang nona pulang ke utara bersama kami"
Usul Han Sin ini di terima dengan suara bulat.
Temugu lalu membagi pasukan pengawalnya.
Delapan orang di tugaskan untuk mengawal dua orang keponakannya sedangkan selebihnya ikut dengan dia ke Shan-si.
Dan dua ekor kuda di berikan kepada Han Sin dan Cu Sian.
Dua rombongan ini lalu berpisah dan Han Sin bersama Cu sian dan dua orang gadis itu di kawal delapan orang, menunggang kuda menuju ke utara.
*** Seperti kehidupan para nenek moyang mereka, Suku Yakka Mongol hidup sebagai suku perantau, hanya menetap untuk sementara di daerah yang mereka anggap subur dan menguntungkan.
Apabila daerah itu sudah tidak menguntungkan lagi.
mereka memboyong seluruh keluarga mereka, pindah ke daerah baru yang lebih baik.
Karena itulah, di setiap daerah yang mereka pilih sebagai tempat tinggal sementara, mereka tidak pernah atau jarang sekali membangun rumah tinggal yang tetap.
mereka lebih suka mendirikan kemah-kemah yang mudah di bongkar pasang.
Pada waktu itu, suku Yakka Mongol itu bertempat tinggal di daerah yang subur, diantara Sungai Kerulon dan Sungai Ono.
Bukit-bukit di sekitar tempat itu penuh dengan hutan lebat.
Di sebuah yang lembah yang penuh dengan padang rumput, mereka mendirikan kemah-kemah mereka.
Rumah atau kemah mereka itu terbuat dari bulu binatang kempa yang di tangkupkan pada rangka dari kayu.
Dibagian paling atas terdapat sebuah lubang untuk mengeluarkan asap.
Dinding kemah itu di kapur dan dihiasi dengan lukisan-lukisan.
Kemah yang paling besar dan mewah tentu saja menjadi tempat tinggal kepala suku mereka, yaitu Tarsukai.
Kemah seperti ini, di dalam bahasa mereka di sebut Yurt.
Bentuknya agak bundar dan bentuk ini menyebabkan angina yang meniup kuat-kuat akan melewatinya Tanpa menimbulkan bahaya tumbang atau runtuh.
Di dalam perkampungan suku Yakka itu, perkemahan milik Tarsukai berada di tengah-tengan, terdiri dari beberapa buah Yurt yang mengelilingi yurt yang terbesar.
Para isterinya tinggal bersama anak-anak mereka dalam sebuah yurt.
Sebuah yurt untuk seorang isteri dan anak-anaknya.
Ketika Han Sin dan Cu Sian tiba di perkampungan itu, mereka di sambut oleh orang-orang Yakka dengan heran dan juga gembira.
Apalagi ketika mereka mendengar dari para pengawal bahwa dua orang itu adalah pendekar-pendekar yang telah menyelamatkan dua orang nona mereka dari tangan kepala perampok, semua orang memandang kepada dua orang pemuda itu dengan takjub.
Di dampingi oleh Loana dan Hailun, kedua orang pemuda itu dipersilahkan memasuki kemah yang terbesar, yang menjadi tempat tinggal dan juga tempat pertemuan dari Tarsukai.
Dengan kikuk dan juga terheran-heran, Han Sin dan Cu Sian memasuki kemah itu dan mengamati keadaan di dalam kemah.
Kemah itu besar dan luas sekali dan di situlah tersimpan milik keluarga Tarsukai, kepala klan (suku) Yakka mongol itu.
Ada permadani yang tebal dan indah berasal dari Bhokhara atau Kabul, yang di bawa oleh para pedagang dari barat.
Ada pula peti-peti besar berisi pakaian dari sutera yang mereka peroleh dari tukar menukar barang dengan pedagang-pedagang bangsa Arab.
Ada pula barang-barang dari perak ukir-ukiran.
Di sudut terdapat sebauh rak penuh dengan senjata yang sebagian tergantung pada dinding kemah, pedang-pedang dari Turki.
lembing-lembing, kotak-kotak busur dari gading dan bambu, anak-anak panah dari berbagai jenis terhias bulu-bulu indah dan perisai-perisai dari kulit yang di cat beraneka corak dan warna.
Han Sin dan Cu Sian merasa asing sekali, seolah masuk ke dalam dunia yang lain sama sekali.
Juga suasana di situ bebas namun mengandung suasana yang menyeramkan, seolah-olah semua seramah-tamahan itu dalam sekejab dapat berubah menjadi kebengisan.
Didalam yurt besar itu, seperti juga dalam yurt-yurt lainnya, terdapat perapian yang menhangatkan hawa dalam kemah itu.
Seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun duduk di atas sebuah kursi berukir dengan sikap gagah.
Kedua kakinya terpentang lebar, kepalanya juga tegak.
Pakaiannya berbeda dengan pakaian orang orang Yakka lainnya, karena dia memakai jubah dari bulu.
Pria ini bersikap seperti seekor burung rajawali yang bertengger di puncak pohon, gagah dan berwibawa.
Loana dan Hailun segera lari kedepan menyalami ayah mereka dan mencium tangan ayah mereka.
Tarsukai yang tadinya berwajah seperti topeng itu tiba-tiba saja nampak tampan ketika tersenyum dan matanya bersinar-sinar, mulutnya kelihatan ramah sekali.
Dia merangkul Loana dengan tangan kanan dan Hailun dengan tangan kiri.
"Hemm, anak-anakku yang nakal. Apa yang ku dengar dari pelaporan para pengawal tadi? Kalian tidak melanjutkan perjalanan ke Shan-si akan tetapi di tengah perjalanan lalu menghentikan perjalanan dan pulang? Dan laporan itu mengatakan bahwa kalian di tawan perampok? Bagaimana sebetulnya, apa yang terjadi?"
Hailun terkekeh dan mengelus tangan ayahnya "Ah, ayah menghujani kami dengan pertanyaan-pertanyaan.
Sebelum kami bercerita, ayah, lebih dulu perkenalkanlah, dua orang pemuda itu adalah penolong-penolong kami.
Ini Cian Han Sin dan yang itu Cu Sian"
Tarsukai menoleh dan memandang kepada dua orang pemuda yang masih berdiri di depannya.
Sejenak dia memandang penuh perhatian dan selidik, kemudian dia mengangguk.
Han Sin dan Cu Sian segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada yang di balas oleh Tarsukai dengan membungkuk.
Kemudian kepala suku itu bangkit berdiri dan nampaklah bentuk tubuhnya yang kokoh kuat, tinggi dan berotot.
"Kalian telah menolong kedua orang puteri kami? Kalau begitu, duduklah. Kalian adalah sahabat-sahabat kami dan menjadi tamu-tamu kehormatan kami"
Tarsukai mempersilahkan kedua orang muda itu duduk di atas bangku pendek, sedangkan dua orang puterinya duduk bersimpuh di atas permadani.
"Terima kasih"
Kata Han Sin yang di turut oleh Cu Sian. Mereka duduk di depan kepala suku itu.
"Nah, anak-anakku, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi"
Kata Tarsukai.
"Ayah, kami melakukan perjalanan ke selatan dengan lancar. Bahkan kami berdua sempat singgah di tempat-tempat yang indah, bertamasya di danau-danau. Akan tetapi ketika kami tiba di perbatasan, di dalam hutan, tiba-tiba muncul sekelompok kijang. Aku dan adik Hailun tertarik dan kami berdua mengejar kijang-kijang itu sambil melepaskan anak panah"
"Anak panah kami mengena, ayah"
Sambung Hailun "Akan tetapi kijang-kijang itu masih dapat berlari memasuki hutan dan kami terus mengejar"
"Dan tiba-tiba muncul segerombolan orang jahat itu"
Kata Loana "Kepala perampok itu lalu menyerang aku dan Hailun. tiba-tiba saja kami berdua tidak mampu bergerak dan dia lalu memanggul kami dan membawa kami pergi memasuki hutan"
"Hemmm, apa kerjaannya paman kalian Temugu? Apa dia tidak melindungi kalian?"
Tanya Tarsukai dengan nada marah.
"Paman dan para pengawal melakukan pengejaran kepada kami berdua akan tetapi mereka sibuk melawan serangan anak buah gerombolan perampok, ayah"
Kata Loana "Akan tetapi untunglah kami di tolong oleh dua orang sahabat yang gagah perkasa ini"
"Ayah, hebat sekali kepandaian Cu Sian ini"
Kata Hailun sambil menunjuk kearah pemuda itu"
Dia muncul dan menyerang kepala perampok yang menyeramkan itu.
Hanya dengan sebatang tongkat dia menghadapi kepala perampok yang bersenjata golok besar dan akhirnya monyet hitam itu melarikan diri.
Kalau tidak ada Cu Sian ini, entah apa jadinya dengan kami"
Tarsukai mengangguk-angguk sambil memandang kepada Han Sin dan Cu Sian, terutama sekali kepada Cu Sian.
Diam-diam kepala suku ini kagum akan tetapi juga meragukan cerita kedua puterinya.
Pemuda-pemuda yang penampilannya tidak mengesankan itu, nampaknya hanya pemuda-pemuda pelajar yang lemah lembut, bagaimana mungkin dapat menjadi seorang laki-laki yang jantan dan kuat?
Akan tetapi, karena bukan hanya dua orang puterinya yang bercerita, akan tetapi juga para pengawal melapor kepadanya akan kelihaian dua orang pemuda itu, maka diapun percaya walaupun tidak yakin benar karena tidak menyaksikan sendiri.
Untuk menyatakan terima kasihnya, tarsukai lalu mengadakan pesta untuk menyambut dan menghormati dua orang tamu agungnya.
Dua orang pemuda itu tentu saja merasa gembira akan penyambutan yang sedemikian ramah dan baiknya.
Mereka mendapatkan sebuah kemah sendiri untuk mereka berdua tinggal.
di dalam kemah yang tidak berapa besar namun lengkap itu, Han Sin dan Cu Sian beristirahat setelah mereka ikut hadir dalam pesta untuk menyambut mereka dan makan minum sampai kenyang.
Di dalam kemah itu hanya terdapat sebuah tempat tidur yang hanya merupakan sebuah kasur bulu yang terletak di atas permadani.
kasur ini kurang lebih satu setengah meter lebarnya dan melihat ini, Cu Sian mengerutkan alisnya dan berkata "Sin-ko, malam nanti aku akan tidur di atas permadani saja dan kau boleh tidur di atas kasur"
"Ah, Sian-te. Kasur ini cukup besar untuk kita berdua"
Bantah Han Sin.
"Sudah sering kukatakan padamu, Sin-ko. Aku tidak biasa tidur sekamar dengan orang lain dan kalau hal itu dipaksakan, semalam suntuk aku takkan dapat tidur. Apalagi satu tempat tidur. Sudahlah, kalau kau memaksa, aku malah akan tidur di luar saja"
Melihat Cu Sian ngambek, Han Sin tersenyum "Baiklah, aku tidak akan memaksamu, Sian-te. Kau boleh tidur di atas kasur itu seorang diri dan aku yang tidur di permadani"
"Tidak, kau yang di kasur"
"Aihh, Sian-te. Seorang kakak harus mengalah kepada adiknya, bukan? Hanya aku merasa heran, bagaimana kelak kalau kau sudah beristeri? Apakah kaupun akan tidur berpisah tempat tidur dan berpisah kamar?"
"Aku tidak akan beristri"
Kata Cu Sian tegas.
Han Sin tertawa dan menggoda "Wah, jangan sombong kau, Sian-te.
Kalau kau takabur, kelak kau akan malu sendiri.
Aku tahu bahwa sekarangpun sudah ada bidadari yang siap melepaskan anak panah asmaranya kepada hatimu"
"Jangan mengacau, Sin-ko"
"Aih, apa kaukira aku tidak tahu? Apakah kau hanya pura-pura tidak melihat dan tidak tahu? Aku melihat puteri Hailun yang cantik jelita itu telah jungkir balik jatuh cinta kepadamu, Sian-te"
Cu Sian cemberut "Hemm, jangan menggoda, Sin-ko. Apakah kau kira aku tidak tahu betapa Loana memandangmu dengan sepasang mata redup memancarkan cinta? gadis itu mencintaimu, Sin-ko"
Han Sin menghela napas panjang dan berkata dengan sungguh-sungguh "Ah, Sian-te.
Akupun tahu akan hal itu dan aku merasa kasihan sekali padanya.
Ia seorang gadis yang baik hati dan memenuhi semua syarat untuk dapat menjadi seorang istri yang amat baik.
Sayang sekali, aku belum berpikir tentang perjodohan, bahkan tugasku disinipun belum sempat ku lakukan.
Aku akan menanti saat yang baik untuk minta keterangan dari paman Tarsukai.
Akan tetapi aku harus berhati-hati.
Dia kelihatan seorang laki-laki yang keras hati dan mendiang ayahku dahulu pernah menjadi musuhnya dalam pertempuran.
Aku khawatir dia akan marah dan membenciku kalau aku berterus terang bahwa aku adalah putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu"
"Hal itu dapat dilakukan kalau sudah terbuka kesempatan bagi kita, Sin-ko. Agaknya dia belum percaya benar kepada kita. Akan tetapi. kau katakan tadi bahwa Loana memenuhi semua syarat untuk menjadi seorang isteri yang baik. Ah, agaknya kau seorang filsuf yang mengenal benar watak-watak seorang wanita. Sin-ko, katakanlah kepadaku, bagaimana agar dapat memenuhi syarat menjadi seorang isteri yang baik itu? Agar kelak aku dapat memilih yang benar"
Han Sin memandang seperti orang melamun, pandang matanya kosong dan jauh.
Dia membayangkan wajah dan watak ibunya "Seorang isteri yang baik pertama-tama tenatu saja yang memiliki kecantikan yang wajar dan aseli, tidak polesan ".
"Hemmm, ya, Sin-ko?"
Cu Sian mendesak.
"Kecantikan seperti itu adalah khas kecantikan wanita, cantik lahir bathin, tanpa cacat"
"Seperti Loana itu?"
"Ya, seperti itulah, akan tetapi aku belum yakin benar akan kecantikan bathin Loana"
"Lalu, bagaimana lagi?"
"Ia harus mencinta suaminya dengan sepenuh jiwa raganya, setia sampai mati"
"Hemmm, begitukah? Lalu apa lagi?"
Macam kesukaran, berani menghadapi bahaya apapun demi membela suaminya karena di dalam lubuk hatinya hanya ada bayangan suaminya, tidak ada bayangan pria lain ""
"Begitukah? Lalu bagaimana lagi?"
"Ia harus melayani segala keperluan hidup suaminya, selalu siap untuk menyenangkan dan menghibur hati suaminya, ikut bergembira ria kalau suaminya sedang senang dan menghibur kalau suaminya sedang susah. Ia harus menaati semua kehendak suaminya dan "
Tiba-tiba Cu Sian yang sejak tadi sudah merasa jengkel dengan penggambaran Han Sin, tidak dapat menahan lagi hatinya dan meledaklah kejengkelannya.
""""". Dan kau boleh menikah dengan wanita bayangan itu, dewi pujaan yang hanya hidup dalam mimpi. Kau boleh menikah dengan wanita roh halus atau siluman itu, karena wanita macam itu tidak berdarah daging, dan tidak dapat hidup di dunia ini, wanita macam itu hanya makan harumnya bunga dan asap hio, sebangsa setan kuntilanak"
"Ehhh? dan kenapa kau marah-marah, Sian-te?"
"Tentu saja aku marah karena kau adalah seorang laki-laki yang tolol, sombong dan tak tahu diri. Huh, aku muak, belum pernah aku bertemu orang sepertimu. Mual perutku melihatmu Sin-ko"
Cu Sian lalu keluar dari kemah itu dengan muka merah dan marahnya.
Han Sin tertegun bingung.
Dia masih duduk bersila dalam kemah itu, di atas permadani.
terheran-heran melihat sikap Cu Sian.
Kenapa pemuda itu marah-marah kepadanya?
Padahal dia hanya mememuji kecantikan Loana.
Loana "?
Ah, apakah Cu Sian mencinta Loana sehingga timbul cemburu di hatinya di kala dia memuji-muji gadis itu?
Perlahan-lahan dia melangkah keluar kemah.
Dia melihat Cu Sian berdiri di depan serumpun bunga.
Dia menghampiri sampai dekat.
"Sian-te, maafkanlah aku"
Cu Sian memutar tubuhnya menghadapinya. Mulutnya masih cemberut, akan tetapi pandang matanya tidak semarah tadi.
"Apa yang harus di maafkan?"
Dia bertanya dan matanya memandang nakal.
"Aku tadi telah membuatmu marah "
Kata Han Sin dan pemuda ini merasa heran akan dirinya sendiri.
Kenapa dia demikian membutuhkan sahabat yang kadang amat nakal ini?
Bahkan justeru kenakalan Cu Sian yang membuat dia tidak ingin kehilangan sahabat itu.
Kenakalan itu bagaikan bumbu penyedap dalam hidupnya.
"Sudahlah, jangan bicarakan tentang itu lagi, Sin-ko, lihat. Di sana orang-orang nampak sibuk, membawa bunga-bunga dan menghias tenda besar"
Melihat sikap Cu Sian sudah biasa lagi, diapun memandang dan benar saja.
Orang-orang Mongol itu sedang sibuk mengatur dan menghias tenda besar yang berdiri di tengah-tengah, tenda tempat tinggal Tarsukai.
Pada saat itu, Loana dan Hailun datang menghampiri mereka.
Dua orang pemuda itu segera menyambut dengan gembira.
"Ah, sahabat Cu Sian dan Han Sin. Kami kira kalian masih beristirahat dalam kemah, tidak tahunya sudah berada di luar. Apakah kalian tidak lelah dan pergi berisitirahat?"
Tanya Hailun sambil tersenyum manis menghampiri Cu Sian. Cu Sian tersenyum dan pemuda ini melihat betapa Loana secara otomatis menghampiri Han Sin dan tersenyum manis kepada pemuda itu.
"Tidak, kami tidak lelah"
Kata Cu Sian.
"kalau begitu. mari Bantu aku mencari bunga untuk menghias tempat pesta"
Kata pula Hailun sambil menarik tangan Cu Sian.
"Hemm, kami melihat kesibukan orang-orang menghias kemah itu. Ada pesta apakah?"
Han Sin bertanya.
"Ayah hendak mengadakan pesta tari-tarian malam ini untuk menghormati kalian. Cian Han Sin, malam nanti ku harap kau suka menari denganku"
Kata Loana kepada Han Sin.
"Dan kau harus menari denganku, Cu Sian"
Kata Hailun.
"Menari? Kami tidak dapat"
Kata Cu Sian sambil tertawa.
"Mudah sekali. Asal kalian menirukan gerakan kami beres"
Kata Hailun. Kemudian ia menarik tangan Cu Sian "Marilah, Cu Sian, temani aku memetik bunga"
Han Sin tersenyum melihat Cu Sian dipaksa pergi oleh Hailun dan dia memandang Loana yang masih berdiri di dekatnya.
Loana juga memandang kepadanya dan Han Sin melihat betapa sepasang mata indah itu memandang kepadanya penuh kagum, dan dari sinar mata itu jelas nampak perasaan gadis itu yang seperti memujanya.
Dia menjadi salah tingkah melihat betapa Loana benar-benar menyukainya.
"Eh, Loana. Sebetulnya pesta tari-tarian itu bagaimanakah? Apa saja yang terjadi dalam pesta itu?"
"Pesta seperti ini diadakan setiap tahun, akan tetapi untuk tahun ini di ajukan penyelenggraannya untuk menghormati kalian. dalam pesta ini biasanya diberi kesempatan kepada muda-mudi untuk memilih pasangannya tanpa perasan malu karena di lakukan secara terbuka dan ramai-ramai. Setiap orang gadis yang menari akan berhak memilih pasangannya masing-masing. Ahli-ahli menabuh alat musik dan penyanyi-penyayi terbaik akan meramaikan pesta. Kadang-kadang terjadi juga perebutan seorang gadis oleh beberapa orang pemuda"
Han Sin mengerutkan alisnya "Hemm kalau begitu tentu akan terjadi keributan dan perkelahian"
"Kekacauan dan perkelahian tidak akan ada karena hal itu dilarang keras. Akan tetapi perebutan yang timbul diselesaikan secara jantan, yaitu dengan mengadu kegagahan di atas panggung. Yang kalah dalam pertandingan itu harus mengakui kekalahannya dan dia akan mundur"
"Hem, jadi akan ada perkelahian juga, akan tetapi perkelahian yang di atur sebagai pertandingan. tentu akan jatuh korban"
"Tidak, Han Sin. Adu kepandaian itu harus dilakukan dengan gagah dan jantan, tidak mempergunakan senjata. Mereka yang ilmu gulatnya lebih tinggi tentu akan keluar sebagai pemenang dan yang kalahpun tidak akan terluka parah apalagi mati"
"Adu gulat?"
"Ya, karena ilmu gulat merupakan kebanggaan kami"
Han Sin tertarik sekali.
"Bagaimana ketentuan kalah menangnya?"
Loana memandang sambil tersenyum heran. Bagaimana ada seorang pemuda, yang gagah perkasa pula, tidak mengerti tentang peraturan adu ilmu gulat?.
"Sederhana saja, yang terbanting dan diringkus sampai tidak mampu melepaskan diri, itulah yang kalah. Marilah, Han Sin, kau Bantu aku mencari bunga untuk menghias bagian dalam kemah"
Karena tangannya di tarik Loana, Han Sin terpaksa mengikuti gadis itu pergi ke tepi sungai dimana tumbuh banyak bunga beraneka warna.
Akan tetapi baru beberapa langkah, dia melihat dua orang pemuda Mongol memandang kepada mereka dengan mata mengandung kemarahan besar.
Han Sin melihat kebencian terpancar dari pandang mata mereka itu.
Tentu saja dia terkejut dan bertanya kepada Loana.
"Loana, lihat, siapakah dua orang pemuda itu?"
Loana menoleh dan memandang kearah dua orang pemuda itu yang tiba-tiba memutar tubuh dan pergi dari situ. Dua orang pemuda yang bertubuh kekar, dengan otot melingkar-lingkar di tubuh mereka.
"Ahhh, mereka itu adalah kakak Sabutai dan Camuka"
"Siapakah mereka?"
"Kakak Sabutai adalah putera paman Temugu, dan Camuka seorang pemuda kami yang terkenal gagah berani. Kedua orang muda itu adalah jago-jago muda kami, ahli-ahli gulat yang sukar di cari tandingannya"
"Hemm, tadi kulihat mereka itu memandang kearah kita dengan mata penuh kemarahan. Mengapa?"
Loana tersenyum "Dua orang muda tidak tahu diri itu menaksir aku dan Hailun. Akan tetapi kami tidak menyukai mereka. Marilah kita pergi"
Mereka melanjutkan perjalanan dan Han Sin merasa hatinya tidak enak.
Terbayang permusuhan mengancam dia dan Cu Sian dan dia harus cepat memberitahu Cu Sian agar sahabatnya itu berjaga-jaga.
Dan dia mengambil keputusan untuk tidak terlalu lama berada di tempat itu.
Setelah memperoleh keterangan dari Tarsukai, dia akan segera mengajak Cu Sian pergi dari situ.
Akan tetapi ada kekhawatiran menyelinap dalam hatinya.
Bagaimana kalau Cu Sian benar-benar mencinta Hailun atau Loana?
Sahabatnya itu memiliki watak yang keras.
Kalau mendengar bahwa dia mempunyai saingan dalam bercinta, tentu dia akan siap menghadapi dan melawan saingannya.
Baru tadi saja ketika dia memuji-muji Loana, Cu Sian sudah kelihatan marah bukan main.
Han Sin menghela napas.
Dahulu dia sudah ragu untuk mengajak Cu Sian yang wataknya aneh, keras dan ugal-ugalan.
*** Hailun memetik bunga sambil bernyanyi lagu mongol yang bagi telinga Cu Sian terdengar aneh namun indah.
Suara gadis itu merdu dan menggetar dan setiap kali Cu Sian memandang kepadanya, ternyata gadis itupun berhenti memetik dan menatap wajahnya dengan sinar mata yang demikian jelas membayangkan cintanya.
Setelah gadis itu selesai bernyanyi, Cu Sian memuji "Sungguh indah sekali suaramu, Hailun"
Memang pujian inilah yang di harap-harapkan Hailun, maka begitu mendengar pujian Cu Sian, ia tersenyum manis "Kalau kau tahu artinya akan lebih indah lagi, Cu Sian"
Katanya dengan suara manja. Cu Sian tertawa, mengumpulkan bunga dari tangan Hailun di jadikan satu dengan bunga yang di petiknya dan meletakkannya ke dalam keranjang yang tadi dibawa oleh Cu Sian.
"Hem, begitukah? Apa sih artinyanyanyianmu tadi?"
"Tentang setangkai bunga merah yang sedang mekar mengharum"
Kata Hailun dan matanya bersinar-sinar.
"Hem, lalu bagaimana?"
Cu Sian tersenyum dan tertarik oleh kata-kata indah itu.
"Setangkai bunga merah merindukan datangnya seekor kupu-kupu pujaannya. Akan tetapi yang berdatangan dan merubungnya hanyalah kumbang-kumbang kasar yang tidak di sukainya.
"Cu Sian ""
Sebutan itu begitu merdu keluar dari mulut Hailun, membuat Cu Sian menengok dan memandang gadis itu dengan heran.
"Ya? Ada apakah, Hailun"
"Yang bernyanyi tadi itu ""
"Ya "?"
"Bukan bunga merah, melainkan aku"
Cu Sian tertawa He-he, tentu saja kau. Masa bunga merah dapat bernyanyi?"
"Maksudku, akulah yang merindukan datangnya kupu-kupu pujaanku, dan aku sudah bosan dengan kumbang-kumbang yang merubungku"
"Ehhh?"
"Dan kaulah kupu-kupu pujaanku itu, Cu Sian. Aku "
Aku merindukanmu, aku memujamu, aku kagum kepadamu"
Wajah Cu Sian berubah menjadi kemerahan dan pada saat itu, kebetulan dia memandang ke kiri dan melihat tak jauh dari situ Han Sin sedang berjalan membawa keranjang bunga dan bergandengan tangan dengan Loana.
Mesra sekali.
"Cu Sian, aku "
Aku ""
"Lihat, Hailun. Lihat itu di sana. Kakakmu Loana ""
Hailun menengok dan berkata gembira "Sudah kuduga. Kakak Loana tentu jatuh cinta kepada Han Sin. Dan aku girang sekali, tadinya aku khawatir ia akan jatuh cinta kepadamu, Cu Sian"
Hailun lalu memegang kedua tangan Cu Sian dan memandang mesra.
"Mari kita lanjutkan pekerjaan kita mengumpulkan bunga-bunga ini, Hailun. Aku malu kalau sampai terlihat mereka"
Cu Sian melepaskan tangannya dan menyibukkan diri dengan memetik bunga-bunga yang sedang mekar.
Sementara itu, Loana juga bersikap mesra kepada Han Sin.
Namun Loana tidak seberani Hailun menyatakan cintanya, hanya dari sikapnya jelas dapat diketahui oleh Han Sin apa yang terkandung dalam hati gadis itu.
Biarpun tidak ada perasaan cinta dalam hatinya terhadap Loana, namun dia tidak tega memperlihatkannya dalam sikap dan diapun membiarkan saja ketika Loana menggandeng tangannya.
Ketika dia melihat Cu Sian bersama Hailun, melihat itu memegang kedua tangan Cu Sian dan memandang dengan mesra, melihat mereka bercakap-cakap, diapun tersenyum.
Akan tetapi timbul kekhawatiran dalam hatinya.
Cu Sian agaknya benar-benar saling mencinta dengan Hailun dan tentu Cu Sian akan berhadapan dengan pemuda yang mencinta Hailun.
Dan dia yakin bahwa Cu Sian pasti tidak akan mau mengalah.
Loana juga melihat adiknya bersama Cu Sian dan ia berkata "Han Sin, lihat itu Hailun bersama Cu Sian.
Mereka itu serasi dan mesra benar, ya?"
Han Sin melepaskan tangan Loana yang menggandengnya dan menyibukkan diri dengan dengan memilih bunga-bunga yang terindah "Biarlah kalau mereka memang saling mencinta.
Semoga saja mereka akan hidup berbahagia"
Sampai lama Loana hanya memandang kepada Han Sin. Ia tidak selincah adiknya dan berat rasanya lidah itu untuk mengeluarkan isi hatinya. Akhirnya dapat juga ia berkata "Han Sin ""
Ia berhenti lagi dan ragu. Mendengar nada suara panggilan itu, Han Sin berhenti memetik bunga dan menoleh "Ada apakah, Loana?"
"Hailun akan hidup bahagia di samping Cu Sian sebagai suami isteri ""
"Mudah-mudahan begitulah"
Kata Han Sin, akan tetapi suaranya tidak menyakinkan.
"Dan kita "?"
"Kita? Mengapa dengan kita?"
"Apakah kita "". tidak dapat hidup berbahagia seperti mereka?"
Biarpun tidak secara langsung, akan tetapi pertanyaan Loana ini sudah cukup jelas.
Han Sin maklum bahwa dia harus mengambil keputusan tegas.
Maka di pandangnya wajah gadis itu dan dia berkata "Loana, dengarlah.
Kita ini adalah sahabat baik, aku menganggapmu sebagai seorang kawan baik, dan aku sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan.
Ini bukan berarti bahwa aku tidak menyukaimu, aku suka dan kagum kepadamu sebagai seorang teman baik"
Loana nampak terpukul oleh ucapan itu itu, akan tetapi gadis itu hanya menundukkan mukanya.
Bagaimanapun juga pemuda yang di pujannya ini mengaku suka dan kagum kepadanya, dan menjadi seorang kawan baik.
Hal ini berarti masih ada harapan baginya.
Perasaan suka dan kagum mudah saja berkembang menjadi perasaan cinta, pikirnya.
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka dan setelah mengumpulkan banyak bunga, Loana meninggalkan Han Sin untuk membantu pekerjaan orang-orang yang menghias tempat diadakannya pesta malam nanti.
Demikian pula Hailun sudah berada di situ.
Ketika Han Sin kembali ke kemahnya dan masuk ke dalam, dia melihat Cu Sian sudah rebah miring membelakanginya.
Agaknya pemuda itu sudah tidur.
Hampir dia lupa dan akan merebahkan diri di atas kasur di samping pemuda itu, akan tetapi dia segera teringat akan pantangan tidur berdua bagi Cu Sian.
maka diapun merebahkan diri di atas permadani dekat pintu dan beristirahat.
*** Setelah bergantian mandi dan bertukar pakaian, Han Sin dan Cu Sian menerima kunjungan kepala suku Tarsukai sendiri yang datang menjemput mereka.
Segera kedua orang pemuda itu menyambutnya dan memberi hormat.
"Ha-ha-ha"
Tarsukai tertawa ramah "Malam ini kami sengaja mengajukan pesta musim semi yang setiap tahun kami adakan, sekali in isekalian untuk menyambut dua orang tamu agung kami"
"Ah, paman terlalu baik kepada kami. Terima kasih, paman"
Kata Cu Sian "Pesta apakah yang akan paman adakan malam ini?"
"Pesta muda-mudi, penuh dengan tarian dan nyanyian, dan ada pertandingan adu gulat pula. Selain memberi kesempatan kepada para gadis untuk memilih pasangan masing-masing, juga memberi kesempatan para jago muda berlaga memperlihatkan keahlian dan kekuatan mereka, sekalian memilih jago-jago muda yang akan dijadikan pimpinan pasukan.
"Bagus. Aku senang sekali menonton pertandingan. Ketika kami berada di Shan-si, kamipun sempat menonton, bahkan mengikuti pertandingan adu kepandaian memanah dan silat untuk menerima perwira baru"
Kata pula Cu Sian.
Tarsukai tersenyum dan mengelus jenggotnya yang panjang.
Dia suka melihat Cu Sian yang sifatnya terbuka dan berani "Ha-ha-ha, di sini tidak perlu diadakan pertandingan memanah atau menunggang kuda, karena dengan sendirinya semua pemuda di sini mahir menggunakan anak panah dan menunggang kuda.
Akan tetapi yang di adakan adalah pertandingan gulat, adu kekuatan dan kecepatan"
"Wah, menarik sekali"
Kata pula Cu Sian "Bagaimana aturan menang kalahnya, paman?"
"Tentu saja yang sudah teringkus dan tidak mampu bergerak lagi di anggap kalah. Marilah, Cian Han Sin dan Cu Sian, kalian berdua mendapat tempat kehormatan sebagai tamu kami"
Kepala suka itu merangkul kedua orang pemuda itu dan di ajaknya pergi ke perkemahan induk dimana diadakan pesta itu.
Musik sudah mulai dibunyikan ketika mereka bertiga memasuki kemah besar itu.
Kemah itu dibuka separuh dan di depan kemah itu didirikan sebuah panggung dari kayu.
Ternyata tari-tarian dilakukan didalam kemah sedangkan pertandingan gulat dilakukan di luar kemah, di atas panggung yang sudah di sediakan.
Semua orang bangkit berdiri ketika kepala suku itu masuk dan dia mengajak Han Sin dan Cu Sian duduk di panggung kehormatan yang di bangun di kemah besar itu.
Lebih dari dua puluh orang gadis sudah berkumpul dan duduk berkelompok di sudut.
Mereka mengenakan pakaian warna-warni yang mewah dan semua wajah yang berada di situ nampak cerah.
Penerangan cukup besar karena di mana-mana di gantung lampu-lampu, bahkan diluar kemah dinyalakan api unggun yang besar.
Setelah semua orang yang berkepentingan, yaitu para gadis dan pemuda memenuhi ruangan itu, dan para orang-orang tua berkumpul dan menonton diluar kemah, pesta itupun dimulai atas isyarat Tarsukai.
Gadis-gadis mulai bernyanyi dan sebagian pula dari mereka mengeluarkan hidangan dan kesempatan ini dipergunakan oleh mereka untuk mencari-cari, siapa pemuda yang akan dijadikan pasangan menari malam itu.
Para gadis itu dipimpin oleh Loana dan Hailun sendiri yang mengenakan pakaian sutera yang berwarna cerah.
Secara otomatis, ketika membawa hidangan, Loana menghampiri Han Sin dan Hailun menghampiri Cu Sian.
Hal ini menjadi perhatian para pemuda yang memandang kearah mereka dengan mata melotot marah.
"Ssttt, Cu Sian, kau berhati-hatilah terhadap dua orang pemuda di sana itu, yang mengenakan kain ikat kepala berwarna merah. Mereka cemburu dan marah kepada kita"
Bisik Han Sin kepada sahabatnya.
Cu Sian menoleh dan memandang.
Melihat dua orang pemuda itu memandang marah, dia malah mengejek dan tertawa kepada mereka.
Celaka, pikir Han Sin.
Cu Sian benar-benar hendak mencari keributan.
"Sian-te, sekali ini harap jangan mencari keributan"
Bisiknya pula.
"Jangan khawatir, Sin-ko. Takut apa sih? Kalau ada apa-apa, biar aku yang maju menghadapi mereka"
Suara alunan musik dannyanyian mengantar mereka menikmati hidangan. Setelah makan secukupnya, Tarsukai memberi isyarat kepada para pemain musik. Segera terdengar bunyi musik yang gembira.
"Pesta tarian dimulai"
Terdengar seruan dan duapuluh orang lebih gadis yang tadi menghidangkan makanan dan minuman, kini mencabut sehelai saputangan sutera dari saku baju mereka dan dengan gerakan dan mata mereka berlari-lari kecil mereka mulai menari, berputar-putar dan mata mereka melirik-lirik, mulut mereka tersenyum-senyum.
Tubuh mereka meliak-liuk dengan lemah gemulai, pinggang yang ramping itu bergerak-gerak, melenggang-lenggok dalam tarian mereka.
Beberapa saat kemudian, kepala suku Tarsukai sendiri yang berteriak.
"Pemilihan pasangan di mulai"
Agaknya para gadis itu masih malu-malu dan menanti sampai kedua orang puteri kepala suku itu mulai dengan pilihannya.
Para pemuda sudah memasang aksi mengharapkan dipilih oleh para gadis yang mereka sukai.
Loana dan Hailun sambil tersenyum lebar berlari kecil ke arah tempat duduk kehormatan dimana Han Sin dan Cu Sian duduk disebelah kepala suku Tarsukai dan para pembantu kepala suku itu.
Han Sin dapat menduga bahwa Loana tentu akan memilih dia sebagai pasangan menari dan siapa lagi yang akan dipilih Hailun kalau bukan Cu Sian?
Dia memperhatikan dua orang pemuda yang bernama Sabutai dan Camuka itu dan diam-diam dia merasa khawatir.
dua orang pemuda itu berdiri sambil mengepal tinju memandang kearah dua orang gadis yang menghampiri tempat kehormatan.
Akan tetapi mendadak terjadi hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, Cu Sian bangkit berdiri dan pemuda itu dengan langkah lebar menyambut dua orang gadis yang datang sambil mengibarkan saputangan di tangan mereka.
Tadinya tentu saja Han Sin hanya tersenyum melihat pemuda sahabatnya itu demikian tergesa-gesa menyambut gadis pilihannya, akan tetapi dia terbelalak dan menjadi bengong ketika melihat Cu Sian melewati Hailun dan menyambut saputangan Loana.
Loana sendiri terkejut dan terbelalak, akan tetapi sapu tangannya telah dipegang ujungnya oleh Cu Sian dan pemuda itu malah dengan gaya mesra merangkul pinggangnya yang ramping dan di tariknya ketengah ruangan untuk menari.
Han Sin memandang kearah Hailun dan melihat betapa gadis inipun terkejut, memandang dengan muka berubah pucat, lalu merah sekali, dan gadis ini menjadi termangu-mangu bingung karena pemuda pilihannya telah berpasangan dengan kakaknya.
Bukan main marahnya hati Han Sin.
Sahabatnya itu telah bermesraan dengan Hailun, akan tetapi sekarang sengaja menyakiti hati gadis ini dan meninggalkannya untuk merayu Loana.
Padahal dari air mukanya, dia tahu bahwa Loana juga terkejut dan tidak suka, Akan tetapi terpaksa karena Cu Sian sudah menariknya.
Perasaan iba yang sangat membuat Han Sin cepat berdiri.
Dia sudah melihat seorang diantara dua pemuda yang mengincar dua orang puteri kepala suku itu, pemuda yang tinggi tegap dan bernama Sabutai, sudah melangkah, agaknya hendak menghampiri agar dipilih Hailun.
Maka, cepat Han Sin mendekati Hailun dan menangkap ujung sapu tangan yang dipegang Hailun.
Hailun terkejut, menoleh dan ketika melihat bahwa yang memegang ujung saputangannya adalah Han Sin, gadis ini tersenyum.
Senyum yang menyedihkan.
"Aku akan menegur sahabatku itu"
Bisik Han Sin kepada Hailun dan gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk.
akan tetapi Han Sin melihat betapa kedua mata gadis manis ini basah.
Dia tidak peduli betapa Camuka mengepal tinju dan mengamangkannya kepadanya.
Karena dia tidak pandai menari tarian orang mongol, maka dia hanya meniru sedapatnya gerakan Hailun yang hanya merupakan gerakan tarian sederhana sambil mendorong gadis itu agar mendekati Cu Sian yang sudah menari dengan Loana.
Akan tetapi agaknya Cu Sian memang sengaja menjauhinya karena setiap kali hendak didekati agar dia dapat menegur Cu Sian, pasangan itu lalu menari dengan berlari kecil menjauhinya.
Dan yang membuat Han Sin terheran-heran dan marah sekali adalah ketika dia melihat betapa mesranya mereka menari.
Bahkan Cu Sian berbisik-bisik dekat telinga Loana sehingga hidungnya hampir menyentuh pipi gadis itu.
Dan yang membuat Han Sin penasaran adalah ketika dia melihat Loana yang tadinya seperti orang kaget dan heran, kini mulai tersenyum-senyum mesra dan balas berbisik.
Tak dapat di ragukan lagi, kedua orang muda itu memang sedang asyik bermesraan seperti sepasang kekasih yang sedang mengobral janji muluk.
Han Sin mengerahkan tenaga Sin-kangnya dan membuat telinganya dapat menangkap dengan tajam sekali.
Dia dapat mendengar suara Cu Sian yang membuat mukanya berubah merah.
"Loana sayang, kau masih meragukan hatiku? Hanya kau yang ku sayang, yang ku cinta sepenuh hatiku. Kau begini cantik jelita bagaikan bidadari """"
"Akan tetapi """
Bisik Loana "Hailun """
Ia mencintaimu ""
Bukankah kaupun mencintainya?"
"Ahhh, Hailun yang kekanak-kanakan itu. ia masih hijau, dibandingkan denganmu. Ia seperti seekor merpati disamping seekor burung hong"
"Akan tetapi ". bagaimana dengan Cu Sian? Dia hanya mencintaiku ""
"Ah tidak mungkin. Di Selatan dia sudah mempunyai dua orang wanita, seorang calon isterinya dan seorang lagi kekasihnya. Dia hanya mempermainkanmu. Hanya akulah satu-satunya pria yang mencintaimu, Loana manis """
Loana nampak memejamkan matanya, seperti terayun ke sorga tertinggi mendengar rayuan seorang pemuda tampan seperti Cu Sian.
Han Sin hampir saja meloncat untuk menghajar Cu Sian.
Pemuda keparat.
Pengkhianat.
Dia tidak peduli andaikata dia diburukkan, akan tetapi pemuda itu jelas merayu Loana.
Setelah Hailun jatuh hati kepadanya.
Pemuda itu agaknya hendak menguasai kedua orang gadis itu.
Mata keranjang, hidung belang.
Tidak, dia harus mencegahnya.
Kini semua gadis menari sudah mendapatkan pasangan masing-masing dan para pemuda yang tidak terpilih keluar dari kemah sambil bersungut-sungut.
Akan tetapi tiba-tiba Camuka, jagoan gulat muda yang bertubuh tinggi besar itu.
melompat ke atas panggung di depan kemah, membanting-banting kakinya sehingga mengeluarkan suara gaduh.
Sikap itu merupakan tantangan, tanda bahwa ada pemuda yang merasa marah dan menantang saingannya.
Kegaduhan ini menghentikan mereka yang sedang menari dan Tarsukai lalu memandang keluar, kearah pemuda yang berdiri bagaikan seekor biruang di tengah panggung itu.
"Kaukah itu Camuka? Apa yang kau hendaki?"
Tanya Tarsukai dengan suara garang. Camuka memberi hormat dan terdengar suaranya yang menggelegar.
"Hormat saya kepada Khan yang perkasa. Semua orang tahu belaka bahwa Loana, puteri khan yang cantik jelita. Sudah sepatutnya kalau Loana menjadi jodoh pemuda paling perkasa di seluruh permukaan bumi ini. Akan tetapi malam ini ada pemuda lain yang berani bersaing dengan saya. Karena itu, saya menantang pemuda itu untuk bertanding dan membuktikan, siapa diantara kami yang lebih pantas menjadi pasangan Loana"
Mendengar tantangan Camuka ini, semua orang tahu bahwa sebentar lagi akan ada pertandingan yang hebat dan mereka semua tertarik.
Yang menggandeng Loana menari adalah Cu Sian, pemuda yang dikabarkan telah menolong dua orang puteri ketua itu dari tangan kepala perampok dan kabarnya pemuda remaja yang tampan sekali memiliki kepandaian tinggi.
maka tentu akan terjadi pertandingan menarik.
Semua orang menghentikan tarian mereka dan berbondong menuju ke bawah panggung untuk mencari tempat yang enak untuk menonton pertandingan.
Biasanya, kalau ada dua pemuda memperebutkan gadis dan saling menantang, kepala suku tidak menentang bahkan dengan gembira menganjurkan mereka untuk bertanding.
Akan tetapi sekali ini, Tarsukai mengerutkan keningnya dan membentak "Camuka, lupakah kau dengan siapa kau berhadapan?
Pemuda yang menjadi pasangan Loana dalam pesta ini adalah Cu Sian, tamu kehormatan kita.
Jangan bersikap kurang ajar terhadap tamu"
Akan tetapi Cu Sian sudah cepat menghampiri Tarsukai dan berkata sambil tersenyum "Paman Tarsukai, jangan sungkan dan jangan khawatir, aku menerima tantangan pemuda itu"
Tanpa menanti jawaban, Cu Sian sudah meloncat dan tubuhnya melayang seperti seekor burung saja ke atas panggung dan tiba di depan Camuka.
Semua orang tertegun kagum.
Belum pernah ada orang yang dapat melompat seperti terbang saja.
Akan tetapi Camuka yang sudah penasaran dan marah itu tidak merasa gentar.
Bagaimana dia dapat merasa takut berhadapan dengan pemuda kerempeng seperti itu.
Sekali banting tentu tidak akan dapat bangun kembali, atau sekali terkam pemuda itu tentu tidak akan mempu berkutik lagi.
Akan dia perlihatkan kepada semua orang, terutama sekali kepada Loana, betapa kuat dan gagah perkasanya dia.
Sambil tersenyum mengejek Camuka segera menanggalkan bajunya bagian atas dan melemparkannya ke bawah panggung.
Nampak dada bidang dan penuh otot melingkar-lingkar, sepasang lengan yang panjang dan kokoh kuat.
Akan tetapi diapun tahu bahwa pemuda ini adalah seorang tamu kehormatan, maka dia tidak berani bersikap kasar dan berkata dengan lantang.
"Sobat, tanggalkan bajumu agar kita dapat mulai bertanding"
Cu Sian tersenyum lebar dan bertolak pinggang, agaknya tubuh atas telanjang yang kokoh kuat itu tidak membuatnya khawatir sama sekali.
"Menanggalkan baju? Untuk apa? Seperti hendak mandi saja. Tidak, aku tidak perlu menanggalkan bajuku, aku akan menghadapi dan melawanmu dengan pakaian lengkap. Kau yang bernama Camuka, bukan? Dengar, Camuka, kalau kau dapat menagkap ujung bajuku ini saja, aku sudah mengaku kalah"
Semua orang terlongong mendengar ini.
Alangkah bodohnya dan lancangnya pemuda itu.
Bertanding gulat tanpa melepaskan bajunya sama dengan sudah kalah sebelum bertanding.
Kalau bertelanjang baju, lawan tidak akan mudah menangkap.
Akan tetapi kalau berbaju tentu itu mudah di tangkap sehingga memudahkan lawan untuk membantingnya.
Apalagi menantang untuk di tangkap ujung bajunya dan akan mengaku kalah kalau bajunya sampai dapat di tangkap.
Camuka menjadi girang sekali.
Sedikitnya, dia tadinya bersikap hati-hati karena diapun sudah mendengar bahwa pemuda ini lihai dan merupakan seorang pendekar dari selatan.
Akan tetapi mendengar pemuda ini menantangnya dan akan mengaku kalah kalau ujung bajunya dapat di tangkap, tentu saja hal itu akan memudahkannya untuk mendapatkan kemenangan, Sementara itu, Loana dan Hailun, sudah duduk lagi di dekat ayah mereka.
Kedua orang gadis itu tidak saling menyapa, bahkan dari pandang mata mereka terdapat perasaan tidak senang, terutama sekali padang mata Hailun.
Dan kini mereka melihat kearah panggung dimana pemuda yang kini menjadi perebutan diantara mereka itu telah siap untuk bertanding melawan Camuka.
Dari tempat duduk mereka itu memeang dapat menonton pertandingan dengan jelas dan tidak terhalang danini memang sudah diatur sebelumnya.
Han Sin yang masih merasa penasaran dan marah kepada sahabatnya, juga terpaksa tidak mencampuri dan hanya duduk menonton.
Dalam hatinya dia memaki-maki karena di anggapnya Cu Sian mencari perkara saja.
Akan tetapi sama sekali dia tidak mengkhawatirkan akan keselamatan Cu Sian karena dia maklum bahwa sahabatnya itu memiliki kepandaian yang cukup lihai untuk membela diri, dan dia dapat menduga bahwa Camuka hanya seorang pemuda yang memiliki tenaga otot besar saja.
Camuka kini memasang kuda-kuda, dengan kedua kaki di pentang lebar, kedua lutut di tekuk sehingga dia seperti setengah berjongkok, kedua lengan dikembangkan dan kedua tangan dengan jari-jari terbuka siap mencengkram atau menangkap.
"Nah, sobat, aku telah siap. Apakah kau sudah siap?"
Cu Sian sejak tadi mengikuti gerak-gerik Camuka dengan pandang matanya. Dia berdiri santai seenaknya dan berkata sambil tersenyum memandang rendah "Aku sudah siap sejak tadi. Mulailah"
Camuka mengeluarkan bentakan panjang melengking, kemudian tubuhnya sudah menerjang cepat sekali ke depan, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri untuk mencengkram lawan.
Semua orang memandang dengan hati tegang karena mereka sudah akan tahu akan ketangkasan dan kekuatan Camuka.
Akan tetapi, ternyata terkaman itu hanya mengenai tempat kosong.
Hampir tak dapat diikuti dengan gerakan Cu Sian tadi yang sudah mengelak dengan loncatan ke belakang.
Akan tetapi Camuka yang gagal serangannya itu sudah cepat mengejar dan menubruk lagi bagaikan seekor harimau menerkam domba.
Sekali lagi Cu Sian mengelak, kini meloncat ke samping kiri tubuh Camuka.
Melihat bayangan lawan berkelebat ke sebelah kirinya, tangan kiri Camuka cepat menyambar bagaikan gerakan seekor ular untuk mencengkram apa saja, bagaikan baju atau badan lawan.
Serangan ini cepat sekali bagaikan lanjutan dari terkamannya yang luput.
Melihat tangan itu meluncur seperti ular, Cu Sian lalu menangkis dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga.
"Dukkk """
Lengan Camuka terpental dan dia meringis karena merasa betapa tulang lengannya seolah bertemu dengan sepotong baja yang membuat dia kesakitan.
Akan tetapi dia menggulingkan tubuhnya di atas panggung.
Bagaikan seekor trenggiling tubuh itu menggelinding kearah Cu Sian dan setelah dekat, tubuh itu mencelat ke atas dan kedua tangannya sudah menyambar lagi dengan cepatnya, kini mencengkram kearah kedua kaki Cu Sian.
Tubuh Cu Sian tentu akan terbanting kalau kedua kakinua dapat di tangkap oleh sepasang tangan yang kuat itu.
Akan tetapi kembali tangkapan itu itu luput karena tiba-tiba tangkapan itu luput karena tiba-tiba kedua kaki itu telah lenyap dari pandang mata Camuka.
Kiranya Cu Sian sudah melompat ke atas dan ketika tubuhnya turun kembali kedua kakinya menekan kedua pundak Camuka.
"Bresss ""
Tak dapat di hindarkan lagi, tubuh Camuka terdorong roboh.
Akan tetapi dia dapat menggulingkan tubuhnya lagi dan melompat berdiri.
Matanya bersinar-sinar penuh kemarahan, mukanya kemerahan dan diapun menyerang lagi dengan cepat dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Setiap kali Cu Sian mengelak, Camuka menyambung serangannya dengan terkaman lain, susul menyusul dengan amat cepatnya.
Semua orang tahu bahwa sekali saja Cu Sian dapat di terkam, tentu dia akan di banting dan di tekuk sehingga tidak mampu melepaskan diri lagi.
Akan tetapi, semua serangan susul menyusul itu tidak pernah berhasil.
Kalau tidak di elakkan, tentu di tangkis.
Camuka merasa seolah dia menyerang sebuah bayangan sehingga dia menjadi pusing sendiri.
Han Sin mengerutkan alisnya, hatinya tidak senang karena dia maklum bahwa Cu Sian yang nakal itu sengaja mempermainkan lawannya.
Kalau Cu Sian menghendaki, tentu dengan mudah sekali dia akan dapat mengalahkan lawannya dan menyudahi pertandingan itu.
Dia mengerling kearah Loana dan merasa heran sekali, Loana menonton dengan wajah berseri, mulut tersenyum dan nampak gembira bukan main.
Sebaliknya Hailun duduk dengan wajah cemberut.
Benarkan Loana telah berbalik hati, dan jatuh oleh rayuan Cu Sian, kini menganggumi dan meninta Cu Sian?
Pada saat itu, Camuka yang sudah menjadi pening dan penasaran sekali, menyerang dengan nekat sekali.
Dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, yanag kanan mencakar kearah dada.
Cu Sian mengelak ke kanan dan dari sudut itu tiba-tiba tubuh Cu Sian merendah dan kakinya mencuat dan menyapu kearah kedua kaki Camuka.
Camuka tidak sempat menghindarkan diri dan tubuhnya segera roboh terpelanting.
Ketika dengan cepat Camuka berguling dan hendak meloncat bangun, tiba-tiba kaki kiri Cu Sian sudah menyambar.
"Dukkk"
Ujung kaki itu tepat mengenai leher Camuka dan pemuda Mongol itu terpelanting lagi.
Dia mencoba untuk bengkit, akan tetapi Cu Sian cepat mengenai leher Camuka dan pemuda mongol itu terpelanting lagi.
Dia mencoba untuk bangkit, akan tetapi Cu Sian cepat menggerakkan kedua tangan.
Jari tangan kanan dan kirinya sudah menotok ke pundak yang telanjang itu dan seketika tubuh Camuka terkulai, tidak mampu lagi menggerakkan kedua lengannya.
Kedua lengan tangan merupakan senjata terpenting bagi seorang pegulat.
Kalau kedua lengannya sudah tidak mampu berbuat sesuatu.
Demikianlah, Camuka yang jatuh lagi menelungkup tidak mampu berbuat sesuatu dan ketika Cu Sian menginjak punggungnya dengan kaki kiri, dia hanya mampu mengerang dan terengah-engah, merasa seolah"olah yang menginjaknya itu kaki gajah yang amat berat.
Tepuk tangan menyambut kemenangan Cu Sian ini.
Sambil tersenyum bangga Cu Sian lalu cepat menotok kedua pundak Camuka membebaskannya dan pemuda tinggi besar itu bangkit berdiri sambil menyeringai menahan rasa nyeri dan malu.
Akan tetapi dengan sikap gagah dia membungkuk kepada Cu Sian dan berkata lantang "Aku Camuka mengaku kalah"
Dan dengan lesu diapun melompat turun dari atas panggung.
Di bawah tepuk tangan yang memujinya Cu Sian melenggang kembali ke tempat kehormatan.
mengangguk kepada Tarsukai dan menyambutnya dengan tepuk tangan pula.
Cu Sian segera mengambil tempat duduk diantara Loana dan Hailun, dan sama sekali tidak memperdulikan Han Sin yang memandang kepadanya dengan wajah muram.
Loana menyambutnya dengan wajah berseri dan mulut tersenyum.
"Wah, kau memang hebat, Cu Sian"
Kata gadis ini sambil memegang tangan Cu Sian.
Cu Sian tertawa dan ketika menengok ke kiri dan melihat Hailun berwajah muram, dia pun tetap tertawa kecil.
Akan tetapi pada saat itu, tepuk tangan tak terdengar lagi dan orang-orang mencurahkan perhatian kepada seorang pemuda yang sudah naik ke panggung.
Pemuda ini bukan main adalah Sabutai, seorang pemuda berusia duapuluh tahun yang tampan dan bertubuh tinggi tegap.
Sabutai sebaya dengan Camuka, juga sama gagahnya, bahkan lebih tangguh karena dalam pemilihan jago gulat tahun lalu, Sabutai inilah yang menjadi juara setelah mengalahkan Camuka dalam pertandingan yang seru dan seimbang.
Sabutai memberi hormat kepada Tarsukai dan dengan lantang dia berseru "Saya Sabutai, menantang sobat Cian Han Sin yang tadi menjadi pasangan Hailun menari"
Singkat saja ucapannya itu, akan tetapi terdengar lantang dan merupakan tantangan langsung.
Tarsukai yang mendengar ini, tersenyum kepada Han Sin, kau di tantang dan kalau kau meramaikan pesta ini agar lebih meriah, kami merasa senang sekali"
Akan tetapi Han Sin cepat berdiri dan menjura kepada kepala suku itu "Tidak, paman.
Sabutai adalah putera paman Temugu, dan masih keponakan paman sendiri.
Untuk apa aku menandinginya?
Aku hanya seorang tamu, dan aku tidak ingin merampas gadis manapun karena bukan itu tujuan kunjuganku ke sini"
Sambil berkata demikian, Han Sin mengerling ke arah Cu Sian. Cu Sian bangkit berdiri dan sekali meloncat dia sudah tiba pula di atas panggung, berhadapan dengan Sabutai.
"Sabutai, kalau kau menantang kakakku Han Sin, biar akulah yang mewakilinya. Dia adalah sahabatku dan juga aku menjadi pengawalnya"
Sabutai nampak jerih. Dia sudah menyaksikan kehebatan pemuda ini ketika membuat Camuka tidak berdaya.
"Cu Sian, aku hanya menantang pemuda yang menjadi sainganku menjadi pasangan Hailun. Aku tidak mempunyai urusan denganmu"
Jawab Sabutai tegas.
"Akan tetapi dia tidak ingin merampas Hailun darimu. Dia tidak mencintai Hailun"
"Aku akan tetap menantang dia kalau dia tidak berani, dia harus mengatakan sendiri"
Sabutai berkata kukuh. Sementara itu, Tarsukai sudah memandang Han Sin dengan sinar mata tajam penuh selidik "Cian Han Sin, benarkah kau tidak menanggap Hailun sebagai pasanganmu?"
"Tidak sama sekali, paman"
Tarsukai menjadi merah mukanya.
Sudah jelas bahwa puterinya itu tadi di ajak menari oleh Han Sin dan dia sudah mengharapkan puetrinya akan berjodoh dengan Han Sin.
Dengan marah dia bertanya langsung kepada Hailun "Hailun, apakah kau mengharapkan Cian Han Sin sebagai pasanganmu"
Hailun memandang kepada ayahnya, lalu memandang kearah Cu Sian yang masih berdiri di panggung, dan ia menggelengkan kepalanya.
Kemarahan Tarsukai menghilang ketika dia mendapat jawaban yang menyakinkan dari Hailun dengan gelengkan kepalanya.
Kalau puterinya tidak mencinta Han Sin, andaikata pemuda itu meminang puterinya, tetap saja tidak akan diberikannya.
Maka diapun lalu meneriaki Sabutai yang masih berhadapan dengan Cu Sian.
"Sabutai, kau tidak berhak menantang Han Sin karena dia tidak ingin merebut Hailun. Ini hanya kesalah pahaman belaka. Maka, turunlah dari atas panggung"
Mendengar ini, Sabutai mengangguk dan melompat turun, hatinya lega karena Hailun ternyata tidak mencinta pemuda yang menjadi pasangannya menari tadi.
Cu Sian juga berjalan dengan langkah gagah kembali ke tempatnya dan segera di sambut oleh Loana.
Mereka nampak marah dan Hailun yang nampak muram.
Setelah pesta itu di bubarkan, Han Sin segera menghadap Tarsukai dan berkata "Paman Tarsukai, aku ingin bicara empat mata dengan paman, kalau paman menyetujui"
Tarsukai memandang kepada Han Sin dengan penuh selidik "Hemmm, ada urusan apakah, Han Sin? Apakah tidak dapat kita bicarakan di sini saja?"
"Tidak, paman. Urusan ini bagiku amat penting, dan kerana urusan inilah saya datang ke utara ini. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepada paman"
Tarsukai segera bangkit berdiri dan mengajak Han Sin pergi ke sebuah kemah lain yang kosong.
Setelah mereka duduk berhadapan, kepala suku Yakka Mongol itu bertanya "Nah, apakah yang hendak kau tanyakan, Han Sin?"
"Sebelumnya harap memaafkan apabila aku terlalu merepotkan paman, akan tetapi bagiku, yang ku tanyakan ini penting sekali. Ketika terjadi pertempuran antara pasukan kerajaan Sui dan para suku bangsa di utara sepuluh tahun yang lalu, apakah paman juga ikut memimpin kelompok Suku Yakka melakukan pertempuran melawan Pasukan Sui?"
"Hemm, pertanyaanmu aneh, Han Sin. Tentu saja aku memimpin bangsaku melakukan perlawanan mati-matian. Akan tetapi hal itu telah lama sekali berlalu dan kini hubungan antara kami dan pejabat di Shan-si telah menjadi baik. Mengapa kau tanyakan?"
"Begini, paman. Kalau paman memimpin dalam pertempuran, tentu paman mengetahui siapa yang menjadi panglima pasukan Sui pada saat itu?"
"Panglimanya amat terkenal, yaitu Panglima Cian Kauw Cu yang pandai dan gagah perkasa, terkenal oleh bangsa kami sebagai panglima naga hitam karena pedangnya begitu hebat bagaikan seekor naga hitam yang mengamuk"
"Nah, inilah yang hendak kutanyakan, paman. Bukankah Panglima Cian Kauw Cu itu tewas dalam suatu pertempuran? Tahukah paman tentang peristiwa kematiannya itu?"
Tarsukai tertawa "Ha-ha-ha, kau bertanya kepada orang yang tepat, Han Sin.
Justeru ketika itu aku memimpin pasukanku, bekerjasama dengan bangsa Turki, bertempur melawan pasukan yang di pimpin oleh Panglima Naga Hitam itu.
Walaupun akhirnya kami mengakui keunggulan pasukan Sui, akan tetapi kami gembira karena panglima naga hitam tewas dalam pertempuran dahsyat itu"
"Apakah paman melihat sendiri robohnya panglima itu?"
Tanya Han Sin dengan jantung berdebar tegang.
"Ah, tidak. Akan tetapi aku tertarik sekali mendengar tentang tewasnya panglima naga hitam itu, maka aku lalu mengumpulkan anak buahku yang mengetahui atau melihat robohnya sang panglima. Diantara anak buahku, kebetulan ada yang bertempur, tak jauh dari terjadinya peristiwa itu.
"Kalau Panglima naga hitam terkenal tinggi ilmu kepandaiannya, bagaimana dia dapat tewas dalam pertempuran?"
"Ah, sukar merobohkan panglima itu dan aku sendiri pernah merasakan kelihaiannya. Pedangku patah-patah dan terpaksa aku melarikan diri. Dia roboh karena ada penyerang gelap dari belakangnya yang melepas anak panah sehingga robohlah sang panglima besar itu, bukan oleh musuh, melainkan oleh orangnya sendiri"
Han Sin tertarik sekali dan jantungnya berdebar semakin keras.
"Oleh orangnya sendiri? apa maksud paman?"
"Menurut kenyataan panglima itu roboh oleh anak panah yang di lepas dari belakang, maka siapa lagi kalau bukan anak buahnya sendiri yang menyerangnya dari belakang?"
"Akan tetapi, tahukah paman siapa penyerang gelap itu?"
"Hal itu tidak ada yang melihatnya, hanya menurut anak buahku, ketika panglima itu roboh, ada perwira Sui lain yang berjongkok mendekatinya. Seorang panglima pula, dan masih muda. Tidak lebih dari tigapuluh tahun. Dialah yang berjongkok dekat panglima naga hitam yang roboh itu dan dia pula yang mengangkatnya pergi. hanya itu yang kami ketahui. Biarpun tidak banyak keterangan itu, akan tetapi sudah membuat Han Sin merasa yakin bahwa pembunuh ayahnya seorang perwira Sui, ketika itu berusia tigapuluh tahun lebih. Dia harus menyelidikinya di kota raja, diantara para perwira tinggi yang dulu membantu ayahnya.
"Banyak terima kasih atas keterangan paman. Dan sekarang aku hendak berpamit. Besok pagi-pagi aku akan meninggalkan tempat ini dan kembali ke selatan"
"Aih, mengapa demikian tergesa-gesa? Tidak senangkah kau tinggal dengan kami di sini, Han Sin?"
"Bukan begitu, paman. Akan tetapi aku sudah tinggal di sini selama hampir tiga pekan dan selama ini paman sekeluarga bersikap ramah dan baik kepadaku. Aku berterima kasih sekali, paman. Akan tetapi masih banyak urusan yang harus ku kerjakan"
"Cu Sian juga pergi bersamamu?"
Kalau dia terserah kepada dia saja, paman. Kami hanya sahabat yang kebetulan melakukan perjalanan bersama. Kalau dia menghendaki tinggal di sini selamanya, terserah, bukan urusanku"
Tarsukai menghela napas panjang "Han Sin, tadinya aku sungguh mengharapkan agar kau dan Cu Sian dapat tinggal di sini selamanya dan menjadi mantu-mantuku, agar kalian dapat membantuku melatih ilmu silat kepada anak buahku"
Han Sin tersenyum "Aku belum mempunyai niat untuk mengikatkan diri dengan perkawinan, paman. Entah kalau Cu Sian. Maafkan kalau aku mengecewakan hati paman yang baik"
Demikianlah, Han Sin kembali ke kemahnya dan dengan hati mendongkol dia melihat Cu Sian sudah tidur mendengkur di atas kasur.
Ingin sekali dia menyeret pemuda itu dan memakinya sebagai seorang pemuda mata keranjang yang telah mempermainkan cinta dan menghancur hati Hailun, atau mungkin pemuda itu demikian gila untuk menguasai kedua kakak beradik itu.
Mendengkur, dia menahan kemarahannya.
Untuk apa dia menegur?
Bukan urusannya.
Kalau dua orang gadis itu mau di permainkan Cu Sian, apa dayanya?
Dengan hati mengkal Han Sin lalu tidur di atas permadani.
Hatinya gelisah.
Peristiwa itu membuat dia merasa kehilangan.
Kehilangan seorang sahabat yang selama ini amat di kagumi dan di sayangnya.
Akan tetapi sahabatnya itu ternyata hanya seorang pemuda hidung belang yang lemah terhadap kecantikan wanita.
Orang semacam itu tidak pantas dijadikan sahabat.
Akan tetapi dia merasa kehilangan.
*** Ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Han Sin bangun dari tidurnya, pertama-tama yang dilakukannya adalah menoleh ke arah kasur dimana Cu Sian tidur.
Dalam tidurnya tadi dia bermimpi tentang Cu Sian yang naik kuda memboncengkan Loana dan Hailun melarikan diri.
Dan hatinya terkejut ketika dia tidak melihat Cu Sian di atas kasurnya.
Pemuda itu telah pergi.
Jangan-jangan dia pergi melarikan dua orang gadis kakak beradik itu seperti yang terjadi dalam mimpinya.
Kalau benar demikian, dia akan melakukan pengejaran dan dia akan mencegahnya.
Dia cepat berkemas, membuntal pakaiannya dan sambil menggendong pakaiannya dia keluar dari kemah itu.
Pagi masih sepi karena pagi itu dingin sekali.
Hanya kelihatan beberapa api unggun dinyalakan orang di beberapa tempat.
Tiba-tiba seorang pemuda menghampirinya sambil menuntun kuda.
Kuda itu sudah lengkap dengan pelananya dan ada bungkusan di atas pelana kuda.
Orang itu ternyata adalah Sabutai.
"Eh, kau Sabutai?"
Tanya Han Sin, hatinya tegang, khawatir akan mendengar lenyapnya dua orang gadis itu, di larikan oleh Cu Sian "Ada apakah, Sabutai?"
"Sobat, Han Sin, kau hendak pergi sekarang? Sepagi ini?"
Tanya Sabutai dan nada suaranya terdengar ramah sekali sehingga Han Sin merasa heran. Baru kemarin dalam pesta tari pemuda ini menantangnya untuk bertanding memperebutkan Hailun.
"Benar, Sabutai. Aku hendak pergi sekarang dan aku sudah berpamit malam tadi kepada paman Tarsukai"
"Aku sudah tahu, Han Sin justeru sepagi ini aku mencarimu atas perintah paman Tarsukai semalam untuk menyerahkan kuda dan perbekalan ini kepadamu"
Sabutai menyerahkan kendali kuda kepada Han Sin.
"Ah, untuk apa semua ini, Sabutai. Sampaikan terima kasih ku kepada Paman Tarsukai. Selama tiga pekan aku tinggal di sini siperlakukan sebagai seorang sahabat dan tamu yang sudah lebih dari cukup. Akan tetapi aku tidak dapat menerima hadiah kuda dan perbekalan ini.
"Akan tetapi, Han Sin. Paman Tarsukai sudah sepatutnya memberi hadiah kepadamu. Bukankah kau telah menyelamatkan Loana dan Hailun?"
Han Sin tersenyum "Sabutai, hal itu tidak perlu di bicarakan lagi.
Menolong siapa saja yang berada dalam kesulitan merupakan tugas kewajiban kita yang mempelajari ilmu-ilmu untuk menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan.
Bukan mengharapkan balas jasa dan hadiah.
Hadiah hanya akan merendahkan perbuatan kita"
"Ah, Han Sin. Kau seorang gagah perkasa sejati. Aku kagum kepadamu dan maafkanlah sikapku semalam yang berani menantangmu"
Han Sin menatap wajah pemuda mongol itu sambil tersenyum "Kau tidak perlu minta maaf.
Kau tidak bersalah dan memang sudah sepantasnya kalau kau membela nama dan kehormatan gadis yang kau cintai.
Nah, selamat tinggal, Sabutai"
Han Sin segera meninggalkan Sabutai yang masih berdiri termenung dan mengikuti bayangan Han Sin dengan pandang mata kagum.
Begitu keluar dari perkampungan suku Yakka, Han Sin lalu berlari cepat menuju ke selatan.
Akan tetapi, baru kurang lebih satu li dia berlari, tiba-tiba dia menahan larinya dan berhenti.
Matanya bersinar-sinar ketika dia melihat Cu Sian duduk di atas sebuah batu di tepi anak sungai sambil melamun dan memandang ke sungai membelakanginya.
Semua kemarahan yang di tahan-tahannya sejak malam tadi seperti hendak meledak ketika dia mendapat kesempatan bertemu dan berdua saja dengan Cu Sian.
Dadanya terasa panas dan dia segera menghampiri Cu Sian dengan marah.
"Sian-te ""
Panggilnya tidak ramah, bahkan seperti bentakan marah. Cu Sian terkejut dan menoleh, Ketika melihat siapa yang membentaknya itu, diapun cepat meloncat turun dari atas batu.
"Eh, kiranya kau, Sin-ko? Wah, sepagi ini kau sudah membawa buntalan pakaian, kau hendak pergi ke manakah, Sin-ko?"
Sikap dan suara Cu Sian masih seperti biasa, ramah dan gembira, bahkan dia tersenyum-senyum.
"Kemana aku hendak pergi bukan urusanmu. Tidak perlu kau tahu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa sama sekali tidak aku sangka kau seorang pemuda tidak tahu malu dan mata keranjang"
Cu Sian membelalakan mata dan memandang heran "Eh-eh, apa alasannya kau mengatakan demikian, Sin-ko?"
"Jangan berpura-pura bersih. Apa yang kau lakukan semalam di tempat pesta? Kau menggandeng Loana, bahkan memperebutkannya dengan Camuka"
Cu Sian mengerutkan alisnya dan mulut itu tersenyum mengejek "Aha, jadi kau cemburu dan iri hati, ya?
Sin-ko, kau pernah menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa kau hanya mau berjodoh dengan seorang wanita yang sempurna tanpa cacat sedikitpun.
Seorang dewi dari kahyangan.
Akan tetapi ternyata baru bertemu dengan Loana saja kau sudah tergila-gila, bertekuk lutut dan mencintanya.
Ha-ha, dimana dewi khayalanmu itu, Sin-ko?"
Han Sin semakin menjadi marah.
Pemuda remaja ini malah mengejeknya.
Cu Sian, kau pemuda tak tahu malu.
Kau sudah akrab dengan Hailun, akan tetapi masih juga merayu Loana, memburukkan diriku.
Kau ternyata seorang pemuda mata keranjang, hidung belang yang tidak tahu malu.
Tidak sudi lagi aku melakukan perjalanan dengan seorang pemuda macam kau.
Selamat tinggal"
Han Sin membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Akan tetapi dia melihat bayangan berkelebat dan Cu Sian telah berdiri di depannya, bertolak pinggang dan sikapnya angkuh sekali.
"Sin-ko, mengapa kau marah-marah seperti gila? Begitu besarkah cintamu kepada Loana sehingga membutakan matamu? Sepatutnya kau berterima kasih kepadaku yang telah membuka matamu untuk melihat gadis macam apa Loana itu, begitu ku rayu lalu meninggalkanmu"
"Cukup, mulai saat ini aku tidak sudi berteman denganmu, tidak sudi bicara lagi denganmu"
Han Sin lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat dan marah.
Khawatir kalau Cu Sian akan mengejar dan membayanginya, Han Sin memasuki hutan lalu mengerahkan ilmunya berlari cepat.
Akhirnya dia merasa bahwa Cu Sian tidak mengejarnya.
Dia lalu meninggalkan hutan itu menuju ke barat mencari sungai Kuning karena dia bermaksud kembali ke selatan melalui air.
Keterangan yang diperolehnya dari Tarsukai amat berharga dan untuk menyelidiki siapa pembunuh ayahnya, dia harus pergi ke kota raja.
Pembunuh ayahnya tentulah seorang perwira yang pada waktu itu membantu ayahnya memimpin pasukan yang berperang melawan pasukan Turki dan Mongol.
*** Nama julukan Pak-Te-Ong semakin terkenal di daerah utara sebagai seorang datuk baru yang menguasai daerah di sepanjang lembah Huang Ho.
Hampir semua gerombolan perampok dan bajak sungai yang besar-besar telah di tundukkan, ketuanya di bunuh kalau tidak mau menakluk sehingga Pak-Te-Ong Ma Giok kini menjadi ketua dari mereka semua.
Semua nama perkumpulan gerombolan yang di taklukan itu di hilangkan dan mereka semua menjadi anggota dari perkumpulan baru yang di dirikan oleh Pak-Te-Ong dengan nama Te-kwi-pai (Perkumpulan Iblis Bumi) yang berpusat di Kwi-san (Bukit iblis), di lembah Huang ho.
dalam waktu singkat saja Te-kwi-pai telah menjadi sebuah perkumpulan yang anggotanya tidak kurang dari tiga ratus orang.
Dan semua penjahat yang bergerak di daerah lembah Huang ho utara, semua tidak ada yang tidak tunduk kepada Te-kwi-pai.
Dan setiap kali mereka mendapatkan "rejeki"
Hasil perampokan atau pembajakan, yang dilakukan oleh perorangan, mereka tentu menyerahkan sebagian hasil itu kepada Te-kwi-pai.
Ini sudah merupakan peraturan tidak tertulis dan siapa yang melanggar tentu akan ketahuan dan tidak di ampuni lagi.
Dari hasil yang berlimpah ini, terutama sekali dari pemungutan "pajak jalan"
Bagi para saudagar, baik yang melakukan perjalanan lewat darat maupun sungai, sebentar saja Pak-Te-Ong Ma Giok tlah membangun sebuah gedung besar di puncak bukit iblis.
Di situ dia tinggal bersama seorang gadis, yaitu puteri tunggalnya bernama Ma Goat, yang berusia delapan belas tahun.
Pak-Te-Ong Ma Giok sudak tidak mempunyai isteri lagi.
Ibu Ma Goat telah meninggal beberapa tahun yang lalu sehingga Ma Goat merupakan keluarga satu-satunya.
Tentu saja dia amat menyayang dan memanjakan puterinya ini yang semenjak kecil dia gembleng sendiri sehingga kini menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi.
Ma Goat memang seorang gadis yang cantik sekali.
Wajahnya yang bulat itu sesuai dengan namanya.
Nama Ma Goat berarti bulan dan memang ia cantik seperti bulan purnama, Sepasang matanya tajam berkilat dan setitik tahi lalat hitam di dagu kirinya menambah daya tariknya.
Akan tetapi, biarpun dia cantik dan nampak lemah gemulai, orang-orang takut kepadanya karena dalam hal kekejaman, ia tidak kalah dibandingkan ayahnya.
Tangannya ringan sekali membunuh orang yang di anggap bersalah kepadanya, dan ia membunuh sambil tersenyum manis.
Sama sekali tidak kelihatan kejam, akan tetapi sekali sulingnya menyambar dengan gerakan indah, tentu ada orang yang tewas di depannya.
Kemanapun ia pergi, ia selalu membawa sulingnya, sebatang suling kecil berwarna hitam mengkilap, kedua ujungnya di hias emas dan suling itu terselip di ikat pinggangnya, Karena kejamnya ia menggunakan sulingnya untuk membunuh orang yang di anggap bersalah kepadanya.
Ma Goat di juluki Suling Maut oleh ratusan anak buah Te-kwi-pai.
dank arena anak buah Te-kwi-pai itu datang dari berbagai golongan di dunia kang-ouw, maka julukan suling maut inipun sebentar saja terkenal di dunia persilatan daerah utara.
*** Akan tetapi, hidup di samping ayahnya, diantara para pembantu dan anak buah ayahnya yang terdiri dari orang-orang kasar, Ma Goat merasa jemu dan ia seringkali meninggalkan rumah ayahnya dan pergi merantau di sekitar daerah lembah.
Pada suatu pagi yang sejuk dan cerah, terdengar suara suling melengking"lengking naik turun dalam irama yang indah sekali.
Suara suling ini datang dari tepi sungai.
Lengkingannya yangnyaring itu terbawa angina sampai jauh.
Akan tetapi, suara suling yang amat merdu dan sepantasnya di dengar dengan hati kagum, ternyata membuat orang-orang di sekitar tempat itu ketakutan.
Mereka yang sedang melakukan perjalanan di tepi sungai, segera mengambil jalan memutar tidak berani lewat di tempat dari mana suara suling itu datang.
Bahkan perahu-perahu yang tadinya meluncur di pinggir sungai, segera di dayung ke tengah, menjauhi pantai.
Diantara mereka, ada yang berbisik ketakutan "Suling maut"
Ada sebuah perahu kecil di tumpangi tiga orang laki-laki tidak menjauhi pantai, bahkan merapat.
Agaknya penumpang perahu itu tidak pernah mendengar tentang Suling maut dan mereka tertarik sekali oleh suara suling yang amat merdu itu.
Ketika mereka mendekatkan perahu ke tepi.
Ketika mereka mendekatkan perahu ke tepi, tiga orang laki-laki berusia antara tigapuluh sampai empat puluh tahun itu terkagum-kagum melihat seorang gadis duduk di atas batu besar yang menonjol ke sungai.
Gadis itu mengenakan pakaian berwarna merah muda dan rambutnya yang hitam panjang itu dibiarkan terurai ke belakang punggungnya.
Gadis itu cantik bukan main dan ia sedang meniup sebatang suling hitam mengkilap.
Tiga orang laki-laki itu terpesona.
Gadis cantik meniup suling demikian indahnya.
Bagaikan seorang bidadari saja.
Tiga orang itu menahan perahu dengan dayungnya dan mereka memandang kearah gadis itu sambil tersenyum-senyum kagum.
"Nona, tiupan sulingmu demikian indah merdu, wajahmu demikian cantik, apakah kau seorang bidadari dari surga?"
Tanya seorang.
"Nona manis, bagaimana kalau kau ikut dengan kami di perahu ini dan memainkan sulingmu di sini?"
Yanya yang kedua.
"Jangan khawatir, nona manis. Kami adalah tiga orang yang kaya dan kami akan memberi hadiah yang besar kepadamu"
Kata orang ketiga.
Gadis itu adalah Ma Goat.
Sepasang matanya berkilat memandang kepada tiga orang itu ketika memandang ucapan mereka.
Jarak dari batu dimana ia duduk dan perahu itu kurang lebih sepuluh meter.
Tiupan sulingnya berhenti perlahan-lahan, kemudian ia meniup sulingnya yang di arahkan kepada tiga orang di atas perahu itu.
Kelihatan sinar lembut meluncur dari sulingnya dan terdengar tiga orang laki-laki itu memekik sekali lalu tubuh mereka roboh.
Dua orang terjungkal keluar dari perahu dan yang seorang roboh di atas perahu itu dapat di lihat betapa wajahnya berubah menghitam dan dia tewas seketika.
Perahu itupun terbawa arus sungai, hanyut malang melintang tanpa kemudi.
Ma Goat tidak peduli lagi dan terdengar pula lengking sulingnya yang tadi terhenti sejenak.
Baginya seolah tidak pernah ada apa-apa padahal baru saja ia membunuh tiga orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak berdosa.
Akan tetapi baginya, tiga orang itu telah bersalah, yaitu mengganggunya dengan ucapan yang di anggapnya kurang ajar dan menghinanya.
Sebuah perahu kecil lewat.
Perahu itu di tumpangi seorang pemuda yang berpakaian sederhana.
Pemuda itupun mendengar lengking suara suling dan dia tertarik dengan hati kagum.
Didayungnya perahunya ke tepi dan tibalah perahunya di dekat batu besar dimana gadis itu duduk meniup sulingnya.
Pemuda itu adalah Cian Han Sin yang sedang melakukan perjalanan pulang ke selatan.
Han Sin memang suka akan kesenian.
Biarpun dia sendiri tidak pandai meniup suling, akan tetapi dia dapat menikmati bunyi musik yang merdu dan tiupan suling itu luar biasa sekali.
Bukan hanya merdu dan indah, akan tetapi juga mengandung getaran yang membuat dia tertegun.
Peniup suling seperti itu bukan orang biasa, pikirnya.
Dari suara tiupannya jelas menunjukkan bahwa peniupnya memiliki tenaga khi-kang yang amat kuat.
Dan diapun semakin terheran melihat bahwa peniupnya seorang gadis muda yang cantik sekali.
Ma Goat juga melihat perahu yang menghampiri tempat ia duduk itu.
Dan ia melihat seorang pemuda yang gagah dan tampan.
Dahinya lebar, alisnya berbentuk golok dan matanya yang bersinar lembut itu mengandung kekuatan tersembunyi.
Hidungnya mancung dan mulutnya selalu terhias senyum ramah, dagunya berlekuk membayangkan kejantanan dan kulit muka dan lehernya putih, pakaiannya sederhana, namun bersih.
Seorang pemuda yang tampan dan gagah.
Akan tetapi ia ingin melihat bagaimana sikap pemuda itu.
kalau ternyata hanya seorang pemuda ceriwis kurang ajar dan mata keranjang, ia tidak segan untuk membunuhnya.
maka iapun menyudahi tiupan sulingnya dan pura-pura tidak melihat pemuda itu.
"Alangkah indah tiupan sulingmu, nona. Sungguh aku merasa kagum sekali. Akan tetapi sayang "
Han Sin menahan ucapannya.
Ma Goat merasa heran bahwa ia tidak marah mendengar ucapan itu.
Bahkan ia merasa girang, akan tetapi juga penasaran karena kalimat yang memuji dengan sopan itu di sambung kata-kata yang meragukan.
Pemuda itu memuji tiupan sulingnya, sama sekali tidak menyinggung kecantikannya seperti para pria lain yang memujinya.
Ia menoleh dan kini memandang Han Sin penuh perhatian.
Seorang pemuda sederhana, mungkin seorang pemuda dari selatan yang miskin.
Akan tetapi wajahnya tampan menarik dan sinar matanya itu demikian lembut dan kuat.
"Akan tetapi apanya yang sayang """?"
Ma Goat bertanya dengan suara mendesak.
Han Sin merasa bahwa dia telah kelepasan bicara.
mengapa dia menjadi lancang dan usil?
Terpaksa dia harus memberi penjelasan atau gadis itu tentu akan tersinggung dan marah.
"Maaf, nona. Aku tadi mengatakan sayang karena lagu yang kau mainkan dengan suling itu mengandung kedukaan yang menyayat hati, seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup. Sungguh tidak sesuai dimainkan oleh seorang gadis muda seperti nona yang sepatutnya memiliki semangat hidup yang besar"
Ma Goat tertarik sekali. Pemuda ini ternyata bukan ngawur belaka, melainkan agaknya memiliki pengetahuan tentang lagu dan sifatnya. memang tadi ia memainkan lagu "Hancurnya sebuah hati"
Ratap tangis seorang gadis yatim piatu yang merindukan kekasih yang meninggalkannya.
"Seorang peniup suling haruslah pandai memainkan lagu apa saja. Apa kau kira aku hanya dapat memainkan lagu sedih saja? Dengarkan yang ini"
Ma Goat lalu meniup lagi sulingnya dan sekali ini, sebuah lagu merdu yang gembira penuh semangat melengking dari sulingnya.
Dan sekali lagi Han Sin terpesona.
Bukan main gadis ini.
Benar-benar mahir dan telah menguasai kesenian itu.
Kesedihan yang tadi tidak berbekas lagi dan kini suara suling itu membayangkan gadis-gadis sedang menari-nari dan bersenda gurau dengan dengan penuh kegembiraan.
Atau lebih tepat lagi, karena ada pula suara seperti air mengucur, seakan-akan ada beberapa orang bidadari sedang bermain-main dan mandi di telaga sambil tertawa-tawa gembira.
Setelah Ma Goat menyelesaikan lagu yang gembira dan bersemangat itu, Han Sin kembali merasa kagum.
Dia bangkit berdiri di perahunya dan merangkap kedua tangan depan dada memberi hormat"
Bukan main. Aku harus mengakui bahwa selamanya belum pernah aku mendengar tiupan suling sedemikian indahnya seperti yang nona mainkan"
Ma Goat tersenyum manis, sikap dan ucapan pemuda ini menggembirakan hatinya.
Pujian itu demikian jujur dan tulus, sama sekali tidak ada sifat menjilat seperti pujian para pria yang pernah di dengarnya.
"Apa yang kau tangkap dalam lagu tadi?"
Tanyanya sambil tersenyum.
"Lagu yang amat menggembirakan. mendengar tiupan suling tadi, aku melihat beberapa orang bidadari sedang bersenda gurau dan aku mendengar berpercik dan mancurnya air seolah para bidadari sedang bersenda gurau. Matahari pagi dengan cerahnya menghidupkan segala sesuatu, terdengar kicauan burung-burung diantara ranting dan dahan pohon yang penuh daun menghijau dan di hias bunga beraneka warna yang semerbak mengharum """"
Sekarang Ma Goat yang memandang kagum "Sobat, kau seorang seniman"
Serunya.
"Ah, aku hanya seorang kelana yang bodoh, nona"
"Akan tetapi penilaianmu terhadap lagu-lagumu tepat sekali. Memang tadi aku memainkan "Tujuh bidadari di Telaga Barat"
Begitu mendengar lagu itu, kau sudah dapat menebaknya dengan tepat.
Ma Goat merasa gembira sekali sehingga ia melompat turun dari atas perahu dan setelah gadis itu berdiri, Han Sin melihat betapa gadis itu hanya memiliki wajah cantik saja, juga ia memiliki bentuk tubuh yang ramping padat menggairahkan.
"Bukan aku pandai menebak, nona. Akan tetapi adalah suara sulingmu yang menggambarkan keadaan sedemikian jelasnya"
"Sobat, siapakah namamu, dan darimana kau datang dan apa yang membawamu ke tempat ini?"
Han Sin tersenyum. Gadis itu menghujamkan pertanyaan kepadanya.
"Nona, namaku Cian Han Sin, aku datang dari selatan dan yang membawaku sampai ke sini adalah keinginan untuk meluaskan pengalaman"
Pada saat itu, dua orang laki-laki datang berlarian dan melihat mereka, Ma Goat cepat menegur "Heiii, kalian berlarian seperti di kejar setan. Ada apakah"
Dua orang laki-laki setengah tua itu begitu melihat siapa yang menegur mereka, segera memberi hormat sambil membungkuk dalam.
"Celaka, nona. Ada seorang kakek memaksa hendak bertemu dengan ketua. ketika kami mencegahnya, dua orang pengikutnya mengamuk dan kami yang belasan orang jumlahnya tidak mampu menandingi mereka yang lihai sekali. Teman-teman kini masih berusaha untuk melawan mereka """
"Hemmm, dimana mereka?"
Tanya Ma Goat.
"Di Lereng bukit, nona"
"Cepat melapor kepada ayah, biar aku yang menghajar mereka. kata Ma Goat dan setelah kedua orang anak buahnya itu berlari pergi, Ma Goat menoleh kepada Han Sin yang masih berdiri di atas perahunya.
"Namaku Ma Goat dan aku senang sekali bertemu dan berkenalan denganmu, Cian Han Sin. Selamat tinggal"
Ma Goat lalu berkelebat dan melompat jauh, berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Han Sin tertegun.
Bukan main.
gadis itu selain cantik jelita, pandai meniup suling, ternyata juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Akan tetapi gadis itu pergi untuk menemui lawan yang tangguh.
Dia menjadi tertarik, juga khawatir kalau-kalau gadis yang serba bisa itu akan terancam bahaya, maka diapun menambatkan perahunya pada akar pohon, kemudian dia meloncat ke daratan dan cepat berlari menuju kearah bukit di depan.
Ma Goat berlari cepat dan sebentar saja tibalah ia di lereng Kui-san dan ia melihat belasan orang anak buah ayahnya mengeroyok dua orang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun yang lihai sekali.
Seorang kakek berusia enampuluhan tahun duduk bersila di atas batu sambil menonton perkelahian itu.
Dua orang yang di keroyok itu bertangan kosong, sedangkan belasan orang anak buah Te-kwi-pai semua bersenjata pedang atau golok, akan tetapi mereka itu seperti sekelompok semut melawan dua ekor jangkrik saja.
Mereka menyerang, akan tetapi ternyata dua orang itu agaknya memang tiding ingin membunuh sehingga para pengeroyok itu tidak mengalami luka-luka berat dan mereka segera bangkit lagi.
Melihat ini, Ma Goat segera melompat ke dalam pertempuran dan membentak "Kalian semua mundurlah.
biar aku menghadapi dua ekor tikus ini"
Mendengar suara nona mereka, para anggota Te-kwi-pai menjadi girang dan mereka segera berlompatan ke belakang.
Kini Ma Goat berdiri tegak di depan dua orang itu memandang dengan penuh perhatian.
Akan tetapi ia sama sekali tidak mengenal mereka, maka ia menjadi marah sekali.
Ia tidak perlu bertanya lagi karena tadi sudah dapat keterangan cukup jelas.
Dua orang ini bersama kakek itu hendak naik ke puncak untuk mencari ayahnya.
Menurut peraturan, tak seorangpun orang boleh naik ke puncak maka anak buah ayahnya melarang dan terjadi pertempuran.
Setelah memandang dengan sinar mata tajam dan bersinar kemarahan.
Ma Goat lalu membentak "Dua ekor tikus darimana berani membikin kacau tempat kami"
Dan ia sudah menerjang dengan hebatnya, menggunakan sulingnya menyerang kepada dua orang itu.
Serangannya cepat bukan main dan suling itu menyambar bagaikan sebatang pedang.
Sinar hitam menyambar kearah leher kedua orang itu.
Akan tetapi dua orang itu bukan orang-orang lemah.
Melihat sinar hitam menyambar dahsyat, mereka sudah mengelak dengan loncatan yang ringan ke belakang.
Akan tetapi suling di tangan Ma Goat mengejar dan menyerang lagi dengan dahsyat.
Dua orang itu terkejut dan sambil mengelak lagi, tangan mereka bergerak ke punggung dan mereka telah mencabut senjata mereka, yaitu masing-masing memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
Ma Goat tidak menjadi jerih, bahkan semakin marah karena dua kali serangannya dapat di elakkan lawan.
Ia membawa suling ke depan bibirnya dan dua kali meniup.
Sinar hitam meluncur cepat kearah dua orang itu.
Akan tetapi mereka agaknya sudah waspada.
Mereka menggerakkan pedang menangkis dan jarum-jarum halus yang di lepas melalui tiupan suling itupun runtuh ke atas tanah.
Ma Goat menjadi marah sekali.
Tubuhnya menerjang ke depan, sulingnya bergerak menjadi gulungan sinar hitam menyerang kearah dua orang lawannya.
Akan tetapi dua orang itu menyambut dengan pedang mereka dan terjadilah pertandingan yang amat seru.
Ternyata dua orang yang memegang pedang itu lihai bukan main.
Biarpun permainan suling Ma Goat amat berbahaya, namun mereka dapat menahan serangan itu bahkan membalas dengan serangan pedang yang tidak kalah hebatnya.
Dan perlahan-lahan Ma Goat terdesak oleh dua batang pedang itu, dan akhirnya ia hanya mampu memutar suling untuk melindungi hanya mampu memutar suling untuk melindungi dirinya tanpa membalas.
Sejak tadi Han Sin mengintai dan kini melihat betapa gadis itu terdesak dan terancam bahaya, dia tidak tinggal diam lagi.
"Dua orang laki-laki mengeroyok seorang gadis muda, sungguh tidak tahu malu"
Bentak Han Sin dan dia sudah menerjang ke dalam pertempuran itu.
Biarpun dia bertangan kosong, akan tetapi karena dia mengerahkan sin-kangnya, begitu kedua tangannya mendorong, dua orang pengeroyok itu terhuyung-huyung ke belakang seperti di sambar angin yang amat kuat.
hampir saja kedua orang ini terpelanting roboh.
Dua orang itu terkejut akan tetapi juga marah sekali.
Mereka adalah dua orang yang telah memiliki ilmu silat yang tinggi, maka tidak mungkin mereka dapat di buat terhuyung dan hampir terpelanting seperti itu.
Keduanya sudah melompat bangun lagi, akan tetapi Ma Goat yang juga terkejut akan tetapi girang sekali melihat pemuda dalam perahu yang baru saja di kenalnya datang membantu, segera menerjang kearah seorang diantara mereka.
Sulingnya menyambar-nyambar dan orang itu segera menangkis dengan pedangnya.
Segera kedua orang itu sudah terlibat dalam pertandingan yang hebat.
Orang kedua juga penasaran, akan tetapi sebelum dia dapat membantu temannya mengeroyok gadis itu, Han Sin sudah melompat ke depan orang itu.
Melihat pemuda yang datang membantu gadis itu dan tadi hampir saja merobohkannya, orang kedua yang berkumis penjang itu menjadi marah dan dia segera menyerang Han Sin dengan pedangnya.
Serangannya cepat dan bertenaga, akan tetapi Han Sin mudah saja mengelak sambil mundur.
Lawannya mendesak dan sekali Han Sin menggerakkan kedua tangannya, tangan kanan sudah menotok kearah siku kanan orang itu dan tangan kirinya menyambar.
Di lain saat, pedang itu telah dapat di rampas dari tangan pemiliknya.
Orang itu terbelalak dan tidak tahu apa yang harus dilakukan Han Sin tersenyum, tidak membalas serangannya tadi melainkan menekuk pedang itu dengan kedua tangannya.
"Krekk"
Pedang itu patah menjadi dua potong dan Han Sin melemparkannya ke atas tanah.
Melihat ini, si kumis panjang itu melangkah mundur dan menjadi jerih.
Sementara itu, setelah kini hanya menghadapi seorang lawan, Ma Goat mengamuk dan dapat mendesak lawannya dengan sulingnya.
Ia memang masih menang setingkat kalau melawan satu orang saja dan lawannya kini hanya mampu menangkis dengan pedangnya.
Ma Goat menyerang dengan ganas sekali.
Ketika sulingnya menyambar dahsyat kearah kepala lawan, lawannya itu menggerakkan pedang ke atas untuk menangkis.
"Traangg ""
Bunga api berpijar ketika kedua senjata itu bertemu dan suling itu terpental ke bawah terus menyerang dada.
Lawannya menurunkan pedang untuk menangkis, akan tetapi mendadak suling itu tidak jadi menyerang pedang melainkan menyambut lengan lawan dengan menghantam ke arah siku.
"Dukkk """
Siku itu terkena hantaman suling menjadi lumpuh seketika dan pedangnya terlepas dari pegangan.
Biarpun lawan sudah tidak berdaya, Ma Goat menyerang terus dengan sulingnya secara bertubi-tubi.
Lawannya menjadi gugup, berloncatan ke belakang dan hanya mampu mengelak ke kanan kiri, Ma Goat tidak memberi kesempatan lagi, terus mendesak dengan pukulan-pukulan maut.
Suling yang menyambar"nyambar cepat itu, sekali saja mengenai kepala tentu akan menamatkan hidup orang itu.
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan lawan Ma Goat itu, tiba-tiba kakek yang sejak tadi hanya duduk bersila dan menonton pertandingan menggerakkan tubuhnya dan tubuh yang tadi bersila itu telah melayang ke atas, berjungkir balik beberapa kali dan meluncur turun ke arah Ma Goat yang sedang mendesak lawannya.
Pada saat itu, Ma Goat sudah berhasil menyapu kaki lawannya dengan kakinya sehingga lawannya terpelanting jatuh dan ia sudah menggerakkan sulingnya yang menyambar kearah kepala lawan.
Akan tetapi suling itu tertahan di udara oleh tangan kakek yang melayang di atasnya.
Ma Goat terkejut sekali dan melangkah ke belakang.
Kakek itu pun meloncat turun di depannya.
Begitu memandang bahwa yang menahan serangannya tadi seorang kakek yang tadi duduk bersila, Ma Goat menjadi marah.
Ia maklum bahwa kakek itu yang mendatangkan kekacauan bersama dua orang pengikutnya, maka tanpa banyak cakap lagi iapun menggerakkan sulingnya, menusuk dengan totokan kearah dada kakek itu.
"Ha-ha, kau ganas sekali"
Kakek itu tertawa dan tidak mengelak, melainkan mengangkat tangan kirinya ke depan dada sehingga suling itu mengenai telapak tangannya.
"Tukkk"
Ma Goat terkejut merasakan betapa totokannya mengenai daging lunak.
Akan tetapi ketika ia menarik sulingnya, ia tidak mampu melakukan itu karena sulingnya seperti telah melekat pada telapak tangan lawan.
Selagi ia mengerahkan tenaga untuk menarik lepas sulingnya, kakek itu lalu mendorongkan tangannya ke depan sambil membentak dan seperti sehelai daun kering di terbangkan angina, tubuh Ma Goat terlempar ke belakang.
Tenaga dorongan itu kuat bukan main dan membuat Ma Goat merasa kehilangan tenaganya.
Ia tentu akan roboh terpelanting kalau saat itu tidak ada orang yang menolongnya.
Han Sin sudah cepat berkelebat dan menerima tubuh yang telentang itu ke atas kedua lengannya, kemudian menurunkannya dengan lunak, sehingga Ma Goat tidak terbanting.
Gadis itu berkilat matanya dan tentu ia akan marah sekali, mungkin akan membunuh orang yang berani menyentuh tubuhnya, bahkan memondongnya.
Akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang menolongnya adalah Han Sin, ia tidak marah, dan tersenyum dengan muka berubah kemerahan.
"Terima kasih atas bantuanmu"
Katanya singkat kepada Han Sin.
Pada saat itu muncul Pak-Te-Ong Ma Giok.
Pemunculannya membuat dua orang pengikut kakek tadi terkejut sekali.
Bagaikan pandai menghilang saja Pak-Tek-Ong tahu-tahu berdiri di situ dengan tongkat kepala naga di tangan kanan, tubuhnya tinggi besar, kepalanya botak dan jubahnya dari kulit biruang, pakaiannya terbuat dari sutera halus.
"Siapa berani naik ke Kwi-san membikin kacau?"
Suaranya tenang namun mengandung wibawa. Melihat ayahnya, Ma Goat segera berlari menghampiri dan memegang lengan ayahnya.
"Ayah ""
Katanya manja "Tiga orang itulah yang menjadi pengacau, harap ayah sendiri turun tangan memberi hajaran"
Dua orang kakek itu kini sudah berdiri saling berhadapan.
Pak-Te-Ong memandang penuh perhatian.
Kakek itu usianya sebaya dengan dia, pakaiannya hanya merupakan kain yang di belit-belitkan tubuhnya yang pendek gendut, rambutnya yang hitam panjang di kuncir ke belakang dan selebihnya dibiarkan awut-awutan.
Mukanya bundar dengan sepasang mata yang lebar, hidungnya pesek dan mulutnya juga lebar, akan tetapi yang menonjol adalah sepasang telinganya yang seperti telinga gajah.
"Hemmm, kiranya See-Thian-Mo (Iblis dunia barat) yang berani main-main di sini"
Kata Pak-Te-Ong sambil tersenyum dan dia tidak kelihatan marah.
"Ha-ha-ha"
Kakek pendek gendut itu tertawa gembira "Pak-Te-Ong, lama tidak berjumpa dan sekali bertemu, kau telah menjadi tokoh besar, bahkan mendirikan Te-kwi-pai di Kwi-san.
Jadi nona ini puterimu?.
Ha-ha-ha dulu ia masih ingusan, sekarang telah menjadi gadis yang cantik dan ilmunya itu boleh juga walaupun muridmu yang satu itu benar-benar mengejutkan dan mengagumkan hatiku"
Dia menuding kearah Han Sin.
Pak-Te-Ong menoleh dan memandang kearah yang di tunjuk oleh kakek yang berjuluk See-Thian-Mo itu.
Han Sin juga memandang kepada Pak-Te-Ong dengan hati berdebar.
Kiranya kakek ini ayah dari Ma Goat?
Dia masih ingat benar, kakek ini adalah orang yang pernah mengejar Cu Sian di dalam hutan dan dia pernah menghadangnya untuk memberi kesempatan kepada Cu Sian melarikan diri.
Dia pernah bertanding beberapa jurus dengan kakek ini sebelum dia melarikan diri setelah Cu Sian dapat meloloskan diri.
"See-Thian-Mo, dia bukan muridku"
Pak-Te-Ong berseru akan tetapi alisnya berkerut karena dia merasa pernah melihat pemuda itu, akan tetapi dimana.
"Bagus. Kalau begitu aku boleh membunuhnya"
Kata See-Thian-Mo dan sekali tubuhnya bergerak, dia sudah melompat ke depan Han Sin dan menyerang dengan dorongan telapak tangan kanannya kearah dada pemuda itu.
"Wuutttt "
Plaakkk ""
Han Sin menangkis dari samping dengan tangan kirinya dan See-Thian-Mo mengeluarkan seruan kaget ketika merasa betapa ada kekuatan dahsyat yang membuat tubuhnya terpental.
Juga Han Sin merasa betapa kuatnya pukulan itu, mengandung tenaga yang berhawa dingin.
See-Thian-Mo menjadi penasaran sekali.
Dia adalah seorang tokoh besar dunia kang-ouw bagian barat.
Setelah dia dikeluarkan dari kalangan para pendeta lama, dia lalu malang melintang di dunia kang-ouw dan mendapat julukan See-Thian-Mo.
Baru ketika pasukan Sui melakukan serangan dan pembersihan di daerah barat, terpaksa dia menyembunyikan diri.
Kini, berhadapan dengan seorang pemuda yang mampu menandingi tenaga sin-kangnya, dia menjadi penasaran sekali.
Dia harus mampu membunuh pemuda ini, apalahi disaksikan oleh Pak-Te-Ong, datuk utara yang dahulu pernah menjadi rekannya karena mereka memiliki kedudukan setingkat.
Keduanya di akui sebagai datuk besar di dunia hitam.
"Orang muda, tidak biasa aku membunuh orang tanpa nama. Karena itu, beritahukan namamu agar kau tidak akan mati tanpa nama"
Kata See-Thian-Mo dan tangan kanannya sudah mengeluarkan seuntai tasbih dari balik bajunya.
Tasbih ini luar biasa, bijinya hitam dan besar-besar, sebesar ibu jari kaki, ketika berada di tangannya bergerak sedikit saja tasbih itu mengeluarkan suara trak-trik nyaring sekali.
Han Sin mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat dan berkata dengan suara lembut "Lo-cian-pwe, namaku adalah Cian Han Sin, akan tetapi aku tidak mempunyai permusuhan apapun denganmu.
Karena itu akupun tidak ingin bertanding denganmu.
"Trakk-traakk-trikkkk"
See-Thian-Mo menggerak-gerakkan tasbihnya dan berkata "Kau tidak ingin bertanding masa bodoh, akan tetapi aku harus membunuhmu karena kau telah berani menantangku, Cian Han Sin.
Bersiaplah untuk menerima kematianmu"
Ma Goat sudah melangkah ke depan dan sambil bertolak pinggang ia membentak "See-Thian-Mo kakek tidak tahu malu.
Cian Han Sin tidak bersalah.
Adalah dua orang pengikutmu yang mengeroyokku dan melihat aku di keroyok, Cian Han Sin turun tangan membantuku.
Kalau kau memang gagah, hayo lawanlah aku sampai seorang diantara kita menggeletak tak bernyawa, jangan mengganggu Cian Han Sin yang tidak bersalah"
Ma Goat menuding-nudingkan sulingnya kearah muka kakek gendut pendek itu yang menjadi serba salah.
Mukanya berubah merah sekali.
Belum pernah dia di hina orang seperti itu, apalagi penghinanya hanya seorang gadis muda.
Dua orang pengikutnya tadi adalah murid-muridnya dan mereka sudah memandang ke arah Ma Goat dengan sikap mengancam.
"Goat-ji (Anak Goat), jangan kurang ajar kau. See-Thian-Mo, lupakan saja sikap dan kata-kata anakku, ia memang manja dan keras kepala"
Kata Pa-te-ong yang merasa tidak enak dengan sikap anaknya itu.
"Aih, ayah ""
Ma Goat memprotes ayahnya.
"Diam kau"
Pak-Te-Ong membentak marah dan Ma Goat bersungut-sungut sambil membanting-banting kakinya, hampir menangis.
Han Sin dapat menduga bahwa kakek yang berjuluk See-Thian-Mo ini tentu lihai sekali, apalagi senjatanya berupa tasbih itu.
Maka diapun tersenyum mengejek dan berkata "Seorang seperti lo-cian-pwe seharusnya malu menghadapi aku seorang pemuda yang bertangan kosong menggunakan senjata.
Akan tetapi kalau lo-cianpwe memang seorang datuk yang tidak tahu malu, silahkan maju.
Aku tidak takut melawanmu, biarpun aku tidak suka bermusuhan denganmu tanpa sebab"
Mendengar ucapan pemuda itu, tentu saja See-Thian-Mo merasa malu dan mukanya berubah merah, matanya yang besar itu melotot.
Di depan orang banyak dia seperti mendapat tantangan "Ha-ha-ha, Cian Han Sin, kematianmu sudah di depan mata dan kau masih berani membuka mulut besar.
Untuk membunuhmu tidak perlu aku mengeluarkan senjataku"
Dia lalu menyimpan kembali tasbih ke dalam saku bajunya, kemudian dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya maju menerjang Han Sin dengan pukulan kedua tangannya.
"Haaiiitttt ""
Tangan kiri itu menyambar ke arah dada Han Sin, sedangkan tangan kanannya menyambar kearah perut.
Kedua tangan terbuka jari-jarinya.
Angin yang dingin menyambar kearah tubuh Han Sin.
Akan tetapi pemuda ini yang sudah dapat menduga bahwa lawannya berbahaya sekali, cepat menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak lalu dari samping dia membalas serangan lawan dengan tamparan tangan kanan.
Akan tetapi dengan mudah See-Thian-Mo menangkis tamparan ini dan menyerang lagi dengan dahsyatnya.
Mula-mula Han Sin memainkan Lo-hai-kun, diselingi dengan Hek-liong-kun.
Karena dia tidak berniat untuk melukai lawannya, maka dia menggunakan kedua ilmu silat ini hanya untuk membela diri.
Akan tetapi tidak demikian sengan See-Thian-Mo.
Setiap serangannya di tujukkan untuk membunuh lawan.
Dia akan merasa malu sekali kalau tidak dapat merobohkan pemuda itu dengan tangan kosong, maka serangannya semakin dahsyat dan hawa dingin yang keluar dari keluar pukulannya semakin terasa.
Semua orang menonton pertandingan itu dengan hati kagum.
Juga Ma Goat memandang dengan hati kagum bukan main.
Dalam pertemuannya yang pertama dengan Han Sin, hatinya memang sudah tertarik oleh sikap dan pembawaan Han Sin yang lain daripada pemuda-pemuda lain yang pernah di jumpainya.
Dan sekarang, ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang demikian lihainya sehingga mampu menandingi kakek itu.
Timbul perasaan kagum dan sayang dalam hatinya yang biasanya sekeras batu dan belum pernah merasa tertarik kepada pria.
Pak-Te-Ong juga terkejut bukan main.
Dia tahu bahwa tingkat kepandaian See-Thian-Mo seimbang dengan tingkatnya, akan tetapi pemuda itu ternyata mampu mengimbangi Datuk barat itu.
Dia mengingat-ingat siapa adanya pemuda yang lihai itu.
Diingatnya siapa saja diantara orang-orang yang pernah dilawannya, yang memiliki kepandaian tinggi dan masih demikian muda.
Tiba-tiba dia teringat ketika dia mengejar pengemis muda itu, dia di hadang seorang pemuda yang lihai sekali.
Setelah bentrok beberapa jurus pemuda itu lalu melarikan diri.
Inilah pemuda itu.
Tidak salah lagi.
"Keparat, kaulah pemuda itu. mampuslah di tanganku"
Dia membentak dan dia lalu meloncat ke depan lalu menyerang Han Sin dengan pukulan mautnya.
Han Sin terkejut dan cepat mengelak ke samping.
Akan tetapi See-Thian-Mo menyambutnya dengan pukulan dahsyat sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali.
"Ayah, mengapa melakukan pengeroyokan?"
Ma Goat memrotes ayahnya.
"Diam kau. Pemuda ini adalah musuhku"
Jawab Pak-Te-Ong yang cepat menyerang lagi.
Han Sin menjadi repot dan terdesak.
kalau dua orang datuk itu maju mengeroyoknya.
Terpaksa dia mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu Bu-tek-cin-keng.
Pak-Te-Ong memiliki ilmu pukulan ampuh yang di sebut Tian-ciang (Tangan Halilintar) yang mengandung hawa panas bagaikan halilintar menyambar.
Sedangkan See-Thian-Mo memiliki ilmu pukulan yang tidak kalah hebatnya, yaitu Swat-ciang (Tangan salju) yang mengandung hawa dingin membeku.
Karena penasaran belum juga dapat merobohkan pemuda yang mereka keroyok itu, pada suatu saat Pa-te-ong dan See-Thian-Mo melakukan penyerangan dari kanan kiri.
Mereka mengeluarkan ilmu simpanan mereka itu dan memukul dengan dorongan tangan kanan.
Angin dingin sekali menyambar dari pukulan See-Thian-Mo sedangkan dari tangan Pak-Te-Ong menyambar hawa panas.
Han Sin maklum bahwa dua orang itu menyerangnya dengan pukulan yang dahsyat, yang tidak mungkin dapat di elakkannya.
Maka diapun memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, mengerahkan tenaga sakti dari ilmu Bu-tek-cin-keng lalu mengembangkan kedua lengannya mendorong ke kanan kiri, menyambut dua pukulan lawan itu.
"Desss ""
Pertempuran dua tenaga sinking raksasa itu hebat sekali, menggetarkan bumi dan membuat semua yang menonton terguncang.
Tian-Ciang dan Swat-ciang tiba dengan berbareng, di sambut kedua tangan Han Sin yang di penuhi tenaga dari ilmu Bu-tek-cin-keng.
Dan akibatnya, kedua orang kakek itu terlempar ke belakang seperti di dorong tenaga raksasa yang tidak nampak.
Mereka terbanting karena tenaga mereka tadi membalik, akan tetapi Han Sin juga berdiri terhuyung dan darah mengalir dari bibirnya, tanda bahwa dia menderita luka dalam yang hebat.
Melihat ini, dua orang kakek itu melompat berdiri, akan tetapi mereka juga terhuyung dengan muka pucat.
Melihat keadaan Han Sin, Pak-Te-Ong berseru kepada anak buahnya sambil menudingkan telunjuknya kearah Han Sin "Bunuh dia"
Para anak buah Te-kwi-pai sudah berlompat ke depan mengepung Han Sin dengan senjata di tangan, akan tetapi pada saat itu Ma Goat meloncat ke depan Han Sin, suling hitamnya ditangan dan matanya berkilat penuh ancaman.
"Siapa berani menyentuhnya akan dibunuh"
Bentaknya dan semua anak buah Te-kwi-pai menjadi terkejut dan tidak berani bergerak.
"Goat-ji """
Pak-Te-Ong membentak marah, dan menghampiri anaknya.
Akan tetapi Ma Goat melintangkan suling di depan dada dan menentang pandang mata ayahnya dengan sinar mata berkilat "Ayah, Han Sin ini tidak bersalah.
Dia hanya ingin menolongku dari bahaya maka sampai terlibat dalam urusan ini dan diapun dipaksa untuk berkelahi.
kalau aku yang pernah dia selamatkan sekarang diam saja melihat dia terancam bahaya, aku akan menjadi seorang yang paling tidak mengenal budi.
Akan akan membelanya dengan taruhannyawaku, ayah"
Melihat sikap putrinya, Pak-Te-Ong menahan langkahnya.
Dia mengenal benar watak putrinya yang tidak berbeda jauh dengan wataknya sendiri, yaitu keras hati dan tak mengenal takut.
Melihat ayahnya berhenti menghampirinya, Ma Goat lalu memegang tangan Han Sin yang masih berdiri terengah-engah, lalu menariknya "Han Sin, mari kita pergi"
Gadis itu lalu menggandeng tangan Han Sin, diajak pergi dari situ sambil siap melindunginya dari serangan.
Tidak ada anak buah Te-kwi-pai berani bergerak, dan See-Thian-Mo sendiri juga tidak mau menyerang karena dia merasa tidak enak kalau harus menyerang puteri rekannya.
Apalagi dia sendiri juga sudah menderita luka dalam, walaupun tidak parah karena tadi dia menyerang Han Sin saling Bantu dengan tenaga Pak-Te-Ong.
Pak-Te-Ong juga mengetahui bahwa See-Thian-Mo menderita luka dalam seperti dia sendiri, maka dia lalu berkata "See-Thian-Mo, mari kita ke rumah dan menyembuhkan luka kita sebelum bicara"
"Baik, Pak-Te-Ong"
Kata kakek gendut pendek itu dan bersama dua orang muridnya dia lalu mengikuti Pak-Te-Ong mendaki puncak bukit Kwi-san.
*** Ma Goat menggandeng tangan Han Sin yang berjalan terhuyung-huyung.
Han Sin merasa tubuhnya lemah dan nyeri karena didalam tubuhnya seperti ada dua kekuatan hawa yang saling berebutan.
Kadang tubuhnya seperti dibakar api di sebelah dalam, terkadang seperti direndam dalam salju yang dingin sekali.
Setelah menguatkan diri melangkah cepat ketika diajak melarikan diri oleh Ma Goat, akhirnya dia mengeluh dan tentu roboh terpelanting kalau saja Ma Goat tidak cepat merangkulnya.
"Han Sin, bagaimana keadaanmu?"
Ma Goat bertanya sambil memeluk tubuh pemuda itu. Han Sin memejamkan matanya "Panas "
Dingin ""
Dia mengeluh lalu lehernya terkulai, pingsan.
Ma Goat lalu memodong tubuh itu dan di bawa lari menuju ke tepi sungai.
Setelah tiba di tepi sungai, dia merebahkan tubuh pemuda itu di atas rumput.
Dikeluarkannya sebuah botol kecil dari dalam bajunya, kemudian ia membuka mulut Han Sin.
Pemuda itu dalam keadaan setengah sadar dapat menelan obat itu.
Ma Goat menanti dengan hati gelisah melihat pengaruh obat yang diminumkannya.
Ia merasa yakin bahwa obatnya itu pasti akan dapat menyembuhkan luka beracun akibat pukulan Tian-ciang karena ia sendiri juga sudah mempelajari Tangan halilintar itu.
Obat itu adalah buatan ayahnya yang khas untuk mengobati luka akibat pukulan ilmu itu.
Tak lama kemudian, nampak reaksi obat itu.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan Ma Goat ketika ia melihat pemuda itu mengeluh, membuka mata lalu tubuh itu menggigil kedinginan dan muka serta seluruh badannya berubah pucat kebiruan.
"Han Sin "., bagaimana rasanya tubuhmu "?"
Ma Goat memegang lengan pemuda itu dengan khawatir.
Dan alangkah kagetnya ketika ia memegang lengan itu, terasa lengan itu dingin seperti es.
Dan tak lama kemudian, Han Sin sudah tidak menggigil atau bergerak lagi, melainkan telentang diam dan kaku seperti mayat yang dingin sekali.
"Han Sin "
Han Sin ". Ahhh"
Ma Goat menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ingin rasanya ia menangis karena merasa begitu tidak berdaya.
Tiba-tiba terdengar langkah orang yang ringan dan lembut sekali menghampirinya.
Ma Goat cepat menoleh dan siap menyerang karena dalam keadaan bingung dan khawatir itu mudah sekali bangkit kemarahannya.
Akan tetapi ketika ia memandang, yang datang adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun.
Gadis ini melangkah ringan dan gerak-geriknya lembut, pakaiannya yang serba putih bersih itu terbuat dari sutera.
Wajahnya bulat telur, dagunya meruncing dan rambutnya yang panjang itu di gelung ke atas, sebagian di kuncir dan dibiarkan bergantung di depan pundaknya.
Alisnya melengkung hitam dan matanya indah dengan pandang mata lembut dan tenang sekali, mulutnya mengarah senyum dengan bibir merah basah, lesung pipit nampak di kedua pipinya.
Tubuhnya sedang dan pinggangnya ramping, Ma Goat sendiri sampai tertegun.
Belum pernah ia melihat seorang wanita secantik dan anggun seperti itu.
"Enci yang baik, kau nampak gelisah. dapatkah aku membantumu?"
Gadis yang bukan lain adalah Kim Lan itu bertanya dengan halus.
Ia kebetulan lewat di situ dan melihat Ma Goat nampak kebingungan dan gelisah sedangkan di depan gadis yang berlutut itu menggeletak seorang pria yang telentang.
Kim Lan baru kembali dari sebuah dusun di lembah Huang-Ho dimana berjangkit penyakit menular.
Mendengar ini ia lalu pergi ke dusun itu dan dengan kepandaiannya mengobati, ia berhasil menyelamatkan banyak orang dari cengkraman maut.
Setelah penyakit itu berhasil dibasminya, ia lalu kembali ke selatan dan dalam perjalanan ke selatan inilah ia kebetulan melihat Ma Goat di tepi sungai itu dan menghampirinya.
Ma Goat sedang gelisah dan jengkel melihat keadaan Han Sin yang mengkhawatirkan, maka ia menganggap kedatangan gadis berpakaian serba putih itu sebagai gangguan.
"Pergilah dan jangan ganggu aku"
Katanya ketus "Kau tidak akan dapat menolongku"
Akan tetapi, Kim Lan atau yang biasa di sebut Lan Lan itu sudah memandang wajah Han Sin.
Ia terkejut sekali ketika mengenal wajah itu akan tetapi kekagetannya itu sama sekali tidak kelihatan.
Hanya kerut alisnya saja yang menunjukkan kekagetannya.
Tanpa diminta iapun berlutut di samping Ma Goat dan meletakkan jari-jari tangan kirinya di atas dahi yang mengepulkan uap dingin itu.
"Hemm, dia keracunan hawa dingin yang hebat sekali. kalau terlambat menolongnya, dalam waktu empat lima jam lagi dia tidak akan tertolong lagi"
Katanya sambil memegang nadi tangan pemuda itu. Ma Goat kini memandang dengan penuh harapan "Kau ". kau mengerti ilmu pengobatan?"
Tanyanya.
Dengan tenang sambil tersenyum manis Kim Lan mengangguk "Sedikit, akan tetapi jangan khawatir.
Aku akan mencoba menyembuhkannya.
Akan tetapi tempat ini kurang layak untuk mengobatinya.
Aku melihat di sana ada sebuah pondok kosong, kita bawa saja dia ke sana"
Ketika Kim Lan hendak membantu menggotong tubuh pemuda itu, Ma Goat menolaknya "Tidak usah, biar ku pondong sendiri"
Dan ia pun sudah mengangkat dan memondong tubuh Han Sin yang terasa luar biasa dinginnya itu.
Kim Lan memandang dengan sinar kelembutan membayang di matanya.
Sekali pandang saja tahulah ia dan gadis itu amat mencinta Han Sin.
Pondok itu adalah sebuah pondok yang didirikan oleh mereka yang membutuhkannya, yaitu para pemburu dan para nelayan yang kemalaman di daerah ini dan menggunakan pondok itu sebagai tempat melewatkan malam.
Sebuah pondok kayu dan bambu sederhana, akan tetapi lantainya bersih dan terdapat banyak jerami kering.
"Rebahkan dia di sini"
Kata Lan Lan menunjuk ke tengah ruangan yang penuh jerami.
Ma Goat dengan hati-hati sekali merebahkan Han Sin di atas jerami dan ia memandang penuh perhatian ketika Lan Lan mulai melakukan pemeriksaan.
menekan nadi, dada dan leher Han Sin, kemudian ia menoleh kepada Ma Goat "Coba ceritakan, apa yang telah terjadi padanya agar aku dapat menentukan obatnya"
Ma Goat berkata dengan harap-harap cemas "Dia terkena pukulan ayahku, yaitu pukulan tangan halilintar yang panas.
Akan tetapi dia pada saat yang sama juga terkena pukulan See-Thian-Mo.
Dalam keadaan panas dingin dia kubawa ke sini dan tadi sudah ku obati dengan obat penangkal racun akibat pukulan halilintar.
Panasnya memang hilang, akan tetapi tubuhnya menjadi dingin seperti es """
Lan Lan mengangguk-angguk "Dia terkena pukulan See-Thian-Mo?
Hemm, aku pernah mendengar bahwa See-Thian-Mo memiliki ilmu pukulan Swat-ciang.
Dia keracunan hawa dingin pukulan itu, kemudian dia minum obatmu.
Obat itu melawan pengaruh pukulan halilintar, tentu mengandung hawa dingin pula.
Maka, racun hawa dingin itu menjadi lipat ganda.
Untung dia memiliki sinking yang kuat, kalau tidak, dia tentu sudah mati"
"Kau "
Kau tentu dapat mengobatinya dan menyembuhkannya, bukan?"
Tanya Ma Goat.
"Jangan khawatir, akan ku coba"
Lan Lan mengeluarkan bungkusan jarum-jarumnya dan segera minta kepada Ma Goat agar menanggalkan baju bagian atas pemuda itu, kemudian ia menancapkan jarum-jarumnya di beberapa jalan darah.
Setelah itu, ia lalu menggunakan jari tangannya untuk menotok jalan darah di dada, pundak dan punggung, kemudian menempelkan tangan kirinya ke atas dada Han Sin dan menyalurkan tenaga sinkangnya.
Ma Goat memandang penuh perhatian dan alangkah girang hatinya melihat betapa perlahan-lahan wajah Han Sin menjadi normal kembali, warna pucat kebiruan itu lenyap dan terganti warna kemerahan.
Pernapasan Han Sin juga tidak lemah seperti tadi.
Kemudian terdengar dia mengeluh dan bergerak.
Lan Lan menarik kembali tangannya, dan bangkit berdiri.
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 2
Baca Juga: Jodoh Rajawali 2