Eps 6 Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo.
Dahi dan lehernya yang putih basah oleh keringat.
Ia menghapus keringat itu dengan ujung lengan bajunya lalu berkata lirih.
"Dia akan sembuh, racunnya sudah meninggalkan tubuhnya"
Ma Goat merasa girang sekali dan pada saat itu, Han Sin mengeluh lirih.
Ma Goat cepat berlutut lagi dan ia melihat pemuda itu sudah membuka matanya dan mata itu di tujukan kepada gadis berpakaian putih yang telah menolongnya tadi.
"Lan-moi ""
Han Sin berkata lemah dan mencoba hendak bangkit duduk, akan tetapi dia mengeluh dan roboh lelentang lagi, memejamkan mata karena merasa pening.
"Dia harus beristirahat sebentar dan jangan banyak bergerak dulu selama satu jam"
Kata Lan Lan.
Ma Goat segera bangkit berdiri dan memegang tangan Lan Lan, menariknya menjauhi Han Sin "Sobat yang baik, terima kasih banyak atas pertolonganmu ini.
Siapakah namamu agar aku tidak akan melupakanmu.
Aku sendiri bernama Ma Goat"
Kim Lan tersenyum "namaku Lan, she Kim. Panggil saja Lan Lan"
"Lan-Lan, aku sudah berterima kasih kepadamu, mudah-mudahan lain waktu aku dapat membalas kebaikanmu. Sekarang kuharap kau suka meninggalkan kami"
Sesaat pandang mata Lan Lan bertemu dengan pandang mata Ma Goat dan ia maklum.
Gadis yang bersenjata suling ini tidak ingin Han Sin melihatnya kalau sudah sadar nanti.
Ia pun mengangguk sambil tersenyum, lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah lembut seenaknya.
Ma Goat adalah seorang gadis yang sejak kecil hidup di tengah-tengah kekerasan kehidupan seorang datuk kangouw.
Ia menjadi keras akan tetapi jujur mengeluarkan apa saja yang menjadi isi hatinya.
Ia merasa khawatir setelah melihat betapa Lan Lan yang cantik jelita itu berhasil menyelamatkan Han Sin.
Khawatir kalau Han Sin sadar lalu melihat Lan Lan akan jatuh hati kepada gadis cantik jelita itu.
Maka terang-terangan ia minta agar Lan Lan meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi ia tidak tahu bahwa tadi Han Sin sudah sadar dan membuka matanya dan dia mengenali Lan Lan.
Bahkan ketika dia terpaksa memejamkan mata karena pening, telinganya dapat mendengar dan mengenal dengan baik suara Lan Lan.
Diapun mendengar ucapan Lan Lan yang mengharuskan dia istirahat dulu dan jangan banyak bergerak, maka diapun merebahkan diri dan melemaskan seluruh urat syaraf di tubuhnya.
Dia merasa tenang dannyaman.
Setelah dia merasa kesehatannya telah pulih kembali, dibukanya matanya dan dia tidak merasa pening lagi.
Dengan perlahan dia lalu bangkit duduk.
"Han Sin, jangan banyak bergerak dulu """
Kata Ma Goat sambil mendekatinya dan memegang pundaknya "bagaimana rasanya sekarang? sudah baikkah?"
Akan tetapi Han Sin tidak menjawab melainkan memandang ke kanan kiri, mencari-cari. Dimana ia? Ma Goat, kemana perginya?"
Ma Goat mengerutkan alisnya "Siapa? Kau mencari siapa?"
"Lan-moi, kemana ia pergi?"
"Lan-moi siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali aku dan kau, Han Sin"
Kata Ma Goat.
Han Sin sekali lagi memandang ke kanan kiri.
Setelah melihat bahwa memang tidak ada Lan Lan di sekitar tempat itu, diapun bangkit dan berdiri.
Dia menggerakkan kedua lengannya dan sudah merasa sehat.
"Ma Goat, harap jangan membohongi aku. Tadi aku melihat Lan Lan di sini, bahkan mendengar suaranya. Kemana ia pergi?"
Tanyanya sambil memandang tajam wajah gadis itu.
Ma Goat menjadi jengkel.
Ia bersusah payah menolong Han Sin dan begitu sembuh pemuda itu menanyakan wanita lain "Sudah kukatakan tidak ada siapa-siapa selain aku dan kau.
Tidak ada yang bernama Lan Lan"
"Hemmm, Ma Goat. Aku ingat bahwa aku telah terkena pukulan ayahmu dan See-Thian-Mo sehingga aku terluka parah. Kemudian kau membawaku ke sini. Akan tetapi siapa yang mengobatiku sampai sembuh?"
"Siapa lagi yang menyembuhkanmu kecuali aku? Aku yang telah mengobatimu, Han Sin. Dan aku yang membelamu, mencegah mereka membunuhmu. Lihat, ini botol obatku yang sudah habis kuminumkan padamu tadi"
Han Sin lalu mengangkat kedua tangan depan dada "Ma Goat, kau baik sekali kepadaku.
Aku masih ingat betapa kau melawan ayahmu sendiri dan See-Thian-Mo untuk menyelamatkanku dan membawaku ke sini untuk mengobatiku.
Aku mengucapkan terima kasih dan mudah-mudahan lain waktu aku akan dapat membalasmu.
Sekarang aku hendak melanjutkan perjalanan"
"Kau hendak pergi meninggalkan aku? Tidak, Han Sin. Kalau kau pergi, kemanapun aku harus ikut denganmu"
Kata gadis itu dengan suara tegas. Han Sin terkejut dan memandang heran. Sejenak pandang mata mereka bertemu, Han Sin penuh selidik dan gadis itu kukuh dan keras.
"Ma Goat, apa maksudmu? Tidak mungkin kau pergi mengikutiku"
"Kalau kau tidak mau membawaku, kaulah yang harus ikut dengan aku menghadap ayahku"
"Ehhh? Apa yang kau maksudkan? Aku tidak mengerti sikap dan ucapanmu ini"
"Maksudku sudah jelas. Kau harus mempunyai dua pilihan. Yang pertama, kau membawaku kemanapun kau pergi dan yang kedua, kalau kau tidak dapat membawaku, kau harus ikut aku menghadap ayah dan tinggal bersama ku di Kwi-san"
"Akan tetapi mengapa begitu? Apa artinya ini?"
Han Sin benar-benar merasa terkejut, heran dan tidak mengerti.
"Artinya sudah jelas, Han Sin. Kau menjadi pilihan hatiku dan aku sudah memutuskan untuk memilihmu sebagai jodohku. Sekarang tinggal kau pilih. Hidup sebagai suamiku di Kwi-san, atau kau membawa aku kemanapun kau pergi. Aku akan menjadi pendampingmu yang setia selama hidupmu"
Han Sin terbelalak kaget dan mengamati wajah cantik itu penuh selidik.
Teringatlah dia kepada Kui Ji, gadis dari keluarga gila itu.
Apakah Ma Goat inipun gila seperti Kui Ji?
Akan tetapi sikap dan kata-katanya tidak menunjukkan bahwa ia gila.
Kemudian dia melihat kenyataannya yang menggelisahkan hatinya.
Gadis ini tidak gila akan tetapi jatuh cinta kepadanya dan hendak memaksanya untuk menjadi suaminya.
Sungguh suatu cara pemaksaan jodoh yang tidak banyak bedanya dengan cara yang di pakai si gadis gila Kui Ji.
"Menyesal sekali aku tidak dapat memenuhi permintaanmu, Ma Goat. Maafkan aku. Aku belum mempunyai keinginan untuk mengikatkan diri dengan perjodohan. Aku tidak mau tinggal di Kwi-san sebagai suamimu, juga tidak mau membawamu dalam perjalananku"
Katanya tegas.
Alis itu berkerut dan sepasang mata yang indah itu berkilat.
Ma Goat menggerakkan tangannya dan suling hitamnya sudah dicabutnya dari ikat pinggang "Kalau begitu, terpaksa aku harus menawanmu, Han Sin"
Katanya sambil mengamangkan sulingnya "Kau sungguh tidak mengenal budi.
Kau pernah menyelamatkan aku, sebaliknya aku pun sudah menyelamatkan nyawamu.
Mengapa kau menolak keinginanku untuk hidup bersamamu?"
"Ma Goat, ketika aku menolongmu, sama sekali tidak ada pamrih dalam hatiku. Akan tetapi kau menolongku dengan pamrih mendapatkan imbalan yang tidak dapat aku memenuhinya"
"Sudahlah, kau harus menjadi suamiku, apapun yang terjadi"
Gadis itu sudah menggerakkan sulingnya untuk menotok pundak Han Sin.
Akan tetapi Han Sin cepat mengelak.
Ia tidak ingin berkelahi dengan gadis ini, apalagi tenaganya belum pulih seluruhnya, maka dia lalu mempergunakan ginkang untuk melompat jauh dari tempat itu lalu melarikan diri.
"Han Sin, tunggu. Jangan tinggalkan aku"
Ma Goat berteriak lalu mengejar.
Akan tetapi larinya kalah cepat dan sebentar saja ia sudah kehilangan bayangan Han Sin.
Akhirnya ia berhenti dan membanting-banting kaki, kemudian ia berlari pulang sambil menangis di sepanjang jalan.
Pak-Te-Ong sedang bersama tamunya, See-Thian-Mo, dalam sebuah ruangan.
Mereka berdua bercakap-cakap dengan rahasia, tidak seorangpun boleh ikut mendengarkan.
Akan tetapi mendadak terdengar suara gaduh diluar pintu dan ketika mereka menengok, ternyata para anak buah Te-kwi-pai yang sedang berjaga diluar, roboh terpelanting.
Dua orang kakek itu terkejut akan tetapi Pak-Te-Ong tersenyum lega ketika melihat bahwa yang mengamuk dan merobohkan para penjaga itu bukan lain adalah Ma Goat, puterinya.
Kiranya Ma Goat mengamuk dan memukuli mereka ketika ia dilarang oleh para penjaga pada saat ia hendak memasuki ruangan itu.
Ma Goat berlari masuk ruangan itu dengan kedua mata merah, karena menangis, melihat ayahnya, ia lari menghampiri ayahnya.
"Ayah "
Han Sin ""
Ia menangis dalam rangkulan ayahnya.
Sikapnya sungguh seperti seorang anak kecil yang manja sekali.
Pa-tek-ong tertawa dan menepuk-nepuk pundak puterinya "Ha-ha-ha, Goat-ji.
Maksudmu Cian Han Sin itu telah mampus?"
"Ah, tidak, ayah. Dia tidak mati, dia melarikan diri. Ayah, carilah dia, tangkaplah dia untukku ""
"Apa? Dia tidak mati?"
See-Thian-Mo yang bertanya ini sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dia terkejut dan saling pandang dengan Pak-Te-Ong.
"Tapi, dia telah terkena Tangan Halilintarku"
Kata Pak-Te-Ong.
"Aku telah memberinya obat penawarnya ayah"
Kata Ma Goat.
"Akan tetapi dia telah kupukul dengan Tangan Saljuku"
Kata pula See-Thian-Mo.
"Obat penawarku itu mengandung inti hawa dingin, maka tentu akan membuat akibat akibat pukulan Tangan Salju See-Thian-Mo lebih hebat lagi. Bagaimana dia dapat bertahan dan hidup?"
Pak-Te-Ong bertanya heran.
"Mula-mula juga begitu, ayah. Setelah ku beri obat penawar, Han Sin terserang dingin dan aku kira dia telah mati. Akan tetapi lalu muncul seorang gadis, dan gadis cantik itulah yang telah mengobatinya hingga sembuh. Akan tetapi setelah sembuh dia pergi meninggalkan aku, ayah "
"Hemm, bukankah kau sendiri yang minta agar kami tidak mengganggunya dan membebaskannya? Setelah kini dia sembuh dan bebas pergi, mengapa kau rewel lagi?"
Pak-Te-Ong menegur puterinya dengan heran.
"Ayah ""
Kata Ma Goat dan suaranya bernada manja sekali "Aku melarang dia di bunuh karena aku ingin melihat dia hidup di sampingku selamanya. Hatiku telah memilihnya sebagai jodohku dan dia """
Dia lari meninggalkan aku """
"Apa?"
Kini mata Pak-Tek-Ong melotot "Dia berani menolakmu? Anakku, bawa anak buah dan carilah dia, tangkap dan seret ke sini. Dia harus mau menjadi suamimu kalau kau sudah memilihnya"
Dia bertepuk tangan sebagai isyarat memanggil para anak buahnya.
Anak buah Tee-kwi-pai lari berdatangan dan Pak-Te-Ong memerintahkan duapuluh orang anak buah untuk membantu Ma Goat mencari Han Sin yang melarikan diri.
"Cepat kejar dia, anakku. Jangan sampai dia lari jauh dan lolos"
Ma Goat lalu berlari keluar, memberi isyarat kepada duapuluh orang itu dan segera mengikutinya. Setelah Ma Goat dan anak buahnya pergi, See-Thian-Mo tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha. Anaknya sama keras kepala dengan bapaknya. Kalau kau dapat memiliki mantu seperti pemuda tadi, Pak-Te-Ong, kedudukanmu tentu akan semakin kuat"
Pak-Te-Ong tertawa sambil mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk "Mudah-mudahan Goat-ji dapat menangkapnya. sekarang marilah kita lanjutkan percakapan kita tadi. Aku amat tertarik, See-Thian-Mo"
Dua orang kakek itu masuk kembali ke dalam rumah dan melanjutkan percakapan mereka yang tadi terputus. Mereka duduk berhadapan dalam ruangan tertutup itu.
"See-Thian-Mo, coba jelaskan lagi, tugas rahasia apakah yang di berikan oleh Lui ciangkun untuk kita?"
Tanya Pak-Te-Ong "Kau tadi mengatakan bahwa kita harus membunuh Kaisar Yang Ti?"
"Benar, Pak-Te-Ong. Kita di tugaskan membunuh Kaisar Yang Ti dan sebagai imbalannya kalau kita berhasil, dia akan memberi seribu tail emas dan mengusahakan agar kita berdua menjadi pimpinan di dunia kang-ouw"
"Hemm, imbalan yang amat menarik. Akan tetapi, pekerjaan itupun amat sukar, bahkan aku anggap tidak mungkin di lakukan. Kaisar berada di istana yang terjaga oleh pasukan pengawal dengan ketat, bahkan di istana terdapat jagoan-jagoan istana yang berilmu tinggi. Bagaimana mungkin kita berdua melaksanakan tugas itu? Seperti memasuki lautan api. Jangankan berhasil, kita berdua bahkan akan terbakar hangus"
"Ah, Pak-Tek-Ong, kalau seperti yang kau sangka itu, aku sendiri tentu tidak akan mau menyanggupi, akan tetapi ketahuilah bahwa Kaisar yang Ti dalam bulan depan akan memimpin pasukan sendiri melakukan pembersihan dan penyerangan ke daerah utara. Terbuka kesempatan baik bagi kita untuk turun tangan. Ketika Kaisar Yang Ti sedang memimpin pasukannya, kita membawa anak buah menyamar dengan pakaian pasukan Sui, menyusup mendekati Kaisar dan dengan mudah akan membunuhnya"
Pak-Te-Ong mengangguk-angguk "Hemm, kalau demikian halnya menjadi lain lagi dan siasat itu baik sekali.
Akan tetapi aku merasa heran.
Bukankah Lui-ciangkun kini telah memperoleh kedudukan baik sebagai seorang panglima besar?
Kenapa dia menghendaki kematian Kaisar Yang Ti?"
"Sebabnya mudah di duga, Pak-Tek-Ong. Dia amat membenci Kaisar dan dia pula yang banyak membantu sehingga kaisar terjerumus ke dalam keadaan yang sekarang, berfoya-foya menghamburkan uang Negara. Semua itu masih belum memuaskan hati Luiw Couw. Dia menghendaki Kaisar itu mati"
"Akan tetapi, mengapa dia demikian membenci Kaisar?"
"Sederhana saja, Dendam sakit hati. Ketahuilah bahwa Lui Couw itu adalah putera mendiang Toat Beng Giam Ong"
"Ahhh. Kok-su dari Kerajaan To-ba yang di jatuhkan oleh Kerajaan Sui?"
Tanya Pak-Te-Ong.
"Benar, karena itu Lui-ciangkun memiliki banyak peninggalan ayahnya berupa harta benda yang berhasil di selamatkan, juga warisan ilmu silatnya sehingga dia dapat memperoleh kedudukan tinggi sebagai panglima besar. Dalam usahanya membunuh kaisar, bukan semata untuk membalas dendam. Akan tetapi juga demi masa depannya. Dia sudah mencalonkan pangeran yang akan mendukungnya menggantikan kedudukan kaisar sehingga dia akan dapat menguasai kaisar baru dan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi. Dan dia tentu tidak akan melupakan jasa kita, Pak-Te-Ong"
"Baik, See-Thian-Mo, akan ku pertimbangkan penawaran Lui-ciangkun itu. Akan tetapi aku akan mengurus lebih dahulu puteriku yang manja itu. Mudah-mudahan ia telah berhasil menangkap calon mantuku, ha-ha-ha"
See-Thian-Mo lalu berpamit setelah berjanji akan mengadakan pertemuan lagi untuk mendengar kepastian jawaban ketua Te-kwi-pai itu. *** "Cepat, hayo kalian berlari lebih cepat"
Teriak Ma Goat kepada anak buahnya.
Tentu saja para anggota Te-kwi-pai terengah-engah mengejar, karena ilmu berlari cepat Ma Goat tidak mungkin dapat mereka tandingi.
Biarpun mereka sudah berlari secepatnya, tetap saja mereka tertinggal jauh sehingga terpaksa Ma Goat menghentikan larinya dan beberapa kali menanti sampai mereka datang dekat.
Mereka telah melakukan pengejaran sampai jauh namun belum juga berhasil menemukan orang yang di cari, yaitu Han Sin.
Ma Goat sudah menjadi jengkel sekali dan hampir putus asa ketika tiba-tiba ia melihat seorang wanita berpakaian serba putih berjalan seorang diri di sebelah depan.
ia mengerutkan alisnya dan teringat akan gadis berpakaian serba putih yang telah mengobati dan menyembuhkan Han Sin.
Cepat ia melakukan pengejaran dan setelah wanita baju putih itu tinggal belasan meter di depannya, Ma Goat lalu menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) meloncat tinggi melampaui kepala wanita itu dan turun berjungkir balik di depannya.
Ia melihat bahwa benar dugaannya, wanita itu bukan lain adalah Kim Lan, gadis yang telah mengobati Han Sin.
Kim Lan atau lan Lan sendiri tersenyum ketika melihat Ma Goat.
Dara berpakaian putih ini memang selalu tenang dan ia tidak terkejut atau heran melihat Ma Goat muncul begitu saja, meloncat turun dari udara.
Akan tetapi Ma Goat sudah memandang dengan muka merah dan hati panas.
Teringat ia betapa Han Sin menyebut-nyebut nama gadis ini ketika siuman dari pingsannya, mencari "Lan-moi"
"Lan-Lan"
Bentak Ma Goat "Hayo katakan dimana kau menyembunyikan Han Sin"
Ia mengangkat sulingnya dengan sikap penuh ancaman.
Lan-Lan memandang dengan sinar mata heran dan mulut tersenyum sabar "Ma Goat, apa yang kau maksudkan dengan pertanyaan itu?
Aku tidak menyembunyikan Han Sin atau siapapun.
Bukankah ketika itu dia bersamamu?"
"Katakan dimana dia atau kubunuh kau"
Kembali Ma Goat yang sudah marah karena cemburu itu membentak, sementara itu duapuluh orang anak buah Te-kwi-pai sudah tiba di situ pula dan mengepung Lan Lan.
Gadis itu masih saja bersikap tenang seperti biasa.
Ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun, maka orang yang merasa dirinya bersih selalu tenang.
"Ma Goat, tenangkanlah hatimu. Sejak aku meninggalkan kau dan Han Sin, aku tidak melihatnya lagi"
Akan tetapi Ma Goat sudah membenci dara baju putih itu karena cemburu, maka baik Lan Lan mengetahui dimana adanya Han Sin atau tidak, tidak ada bedanya baginya.
Lan Lan harus di bunuhnya untuk melampiaskan cemburu dan kebenciannya"
Mampuslah"
Bentaknya dan sulingnya sudah menyambar bagaikan kilat kearah leher Lan Lan yang putih mulus itu.
Serangan ini hebat sekali.
Karena kehebatan dan keganasan sulingnya Ma Goat sampai di juluki Suling Maut.
Sulingnya memang ganas sekali dan biasanya jarang ada lawan yang mampu terhindar dari serangan suling mautnya.
Namun ternyata Lan Lan bukan seorang gadis yang lemah, biarpun nampaknya ia lemah lembut.
Dengan gerakan indah dan halus sekali ia dapat mengelak dari serangan suling maut itu.
Ia menarik tubuh bagian atas ke belakang dan ketika suling it uterus menyambarnya dengan serangan berikutnya, yaitu menotok kearah dadanya, iapun melompat ke samping sejauh dua meter sehingga totokan itupun luput.
"Ma Goat, tahan dulu. Apa kesalahanku kepadamu maka kau hendak membunuhku? Jelaskan dulu agar andaikata kau dapat membunuhku, aku dapat mati dengan mata terpejam"
Ma Goat menudingkan sulingnya dan tanpa malu-malu lagi diapun berkata ketus "Han Sin lari meninggalkan aku.
Ketika siuman dari pingsan, ia menyebut-nyebut namamu, maka tentu kau hendak merebut dia dari tanganku.
Kau yang menyembunyikannya"
Wajah Lan Lan berubah kemerahan.
Andaikata benar hatinya tertarik dan merasa suka kepada Han Sin, ia tidak mungkin akan merebut seorang laki-laki dari tangan gadis lain.
Dengan suara penuh kesabaran iapun berkata "Ma Goat, aku tidak menyembunyikannya dan juga tidak tahu dia berada dimana.
Kalau aku bertemu dengan dia akan kuberitahukan padanya bahwa kau mencarinya.
Akan tetapi dengar nasehatku.
Ma Goat, cinta tidak mungkin dapat dipaksakan.
kalau dia tidak mencintaimu, sebaiknya kalau dia pergi karena kalau kau memaksanya, kelak kau hanya akan menderita kekecewaan dan kesengsaraan"
"Persetan dengan nasehatmu. Aku menginginkan dia dan tidak ada seorangpun manusia boleh menghalangiku"
Dan Ma Goat sudah menyerang lagi dengan lebih hebat.
Bahkan kini tangan kirinya memukul dengan telapak tangan terbuka dan hawa panas menyambar kearah tubuh Lan Lan.
Itulah pukulan Tian-Ciang (Tangan Halilintar) yang sangat ampuh.
Lan Lan mengenal pukulan ampuh dan iapun mengelak ke samping dan tiba-tiba kakinya mencuat dengan tendangan memutar.
Ia harus membalas serangan lawan kalau tidak ingin terdesak.
Ma Goat juga dapat menghindarkan diri dari tendangan itu dan terjadilah pertandingan yang seru dan mati-matian karena agaknya Ma Goat berusaha benar untuk membunuh Lan Lan.
Sungguh tidak di sangka-sangka oleh Ma Goat sendiri bahwa dara berpakaian putih yang pandai ilmu pengobatan itu ternyata memiliki kepandaian silat yang tinggi pula.
Buktinya Lan Lan mampu menandinginya bahkan sama sekali tidak dapat ia mendesaknya.
Hal ini memang tidak mengherankan.
Lan Lan adalah murid terkasih dari Thian Ho Hwesio yang berjuluk Siauw Bin Yok Sian (Dewa Obat Muka Tertawa), seorang kakek sakti yang dikenal semua datuk di dunia persilatan sebagai seorang yang pandai ilmu silat dan ilmu pengobatan.
Thian Ho Hwesio amat syang kepada Lan Lan, maka diapun mewariskan semua ilmu silat dan ilmu pengobatannya kepada gadis ini.
Dan Lan Lan sendiri memiliki otak yang cerdik dan juga amat berbakat, maka ia kini menjadi seorang gadis yang lihai sekali, walaupun ia tidak pernah memperlihatkannya karena ia lebih senang mempraktekkan kepandaiannya dalam hal pengobatan untuk menolong orang ketimbang mempraktekkan silatnya untuk berkelahi.
Setelah tigapuluh jurus lebih lewat tanpa dapat mendesak Lan Lan, Ma Goat menjadi marah dan ia berseru kepada anak buah Te-kwi-pai untuki mengeroyok.
Majulah mereka semua dan duapuluh orang anak buah itupun menggerakkan senjata mereka mengeroyok Lan Lan.
Gadis ini diam-diam terkejut.
Tak di sangkanya bahwa Ma Goat demikian bernafsu untuk membunuhnya sehingga tak malu untuk melakukan pengeroyokan.
Ia tahu bahwa semua ini adalah gara-gara cinta gadis liar itu kepada Han Sin.
Ia menggerakkan tubuhnya berkelebatan diantara para pengeroyoknya untuk melepaskan diri dari kepungan dan kalau mungkin melarikan diri.
Akan tetapi pengeroyokan itu ketat sekali sehingga Lan Lan berada dalam keadaan gawat.
Terutama sekali serangan Ma Goat yang selalu mengancam nyawanya.
Dalam keadaan yang gawat itu, tiba-tiba para pengeroyok manjadi kacau ketika datang seorang yang menerjang mareka dari luar.
Beberapa orang roboh oleh terjangan ini dan muncullah seorang pemuda tampan yang mengamuk dengan sepotong tongkat dari ranting pohon itu.
Biarpun senjatanya hanya sepotong tongkat kayu, namun pemuda tampan itu hebat sekali gerakannya.
Ketika melihat pemuda tampan ini, Lan Lan merasa gembira sekali.
Biarpun pemuda itu kini sudah mengenakan pakaian yang bagus seperti pakaian seorang sastrawan muda yang terbuat dari sutera halus dan mahal, namun ia masih dapat mengenalnya sebagai pemuda yang dulu berpakaian seperti seorang pengemis dan yang bersamanya menolong Han Sin dari tangan keluarga gila.
Melihat betapa Cu Sian, pemuda tampan itu, mengamuk dan merobohkan banyak pengeroyok, Lan Lan khawatir kalau-kalau akan banyak orang dibunuhnya, maka ia lalu bergerak mendekati dan berseru "Sobat, tidak perlu melayani mereka.
Bantulah aku lolos dari kepungan ini"
Mendengar ucapan ini, Cu Sian menjawab "Baiklah"
Dia tidak tahu urusannya yang terjadi antara Lan Lan dan para pengeroyoknya itu, dan diapun melihat betapa lihainya gadis yang memegang lihainya gadis yang memegang suling, yang agaknya menjadi pemimpin para pengeroyok.
Dia membantu Lan Lan hanya karena sudah pernah bertemu dan bekerjasama menolong Han Sin.
Maka diapun memutar tongkatnya dan membantu Lan Lan untuk lolos dari kepungan dan tak lama kemudian mereka berdua sudah melarikan diri dengan cepat.
Ma Goat marah sekali.
Ia membanting-banting kakinya dan memaki-maki para anak buah Te-kwi-pai karena tidak berhasil membunuh Lan Lan.
Ia maklum bahwa mengejar kedua orang itu tidak ada gunanya.
Anak buahnya pasti tidak akan mampu menyusul.
Hanya ia yang dapat menandingi ilmu berlari cepat kedua orang itu, akan tetapi ia seorang diri tidak mungkin menang menghadapi kedua orang itu, karena pemuda remaja tadipun amat lihai.
Dengan wajah murung iapun meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya.
*** Mereka berdua mepergunakan ilmu berlari cepat dan seperti dulu, ketika mereka pada malam hari di atas kuil Hwa-li-pang saling berkejaran mengadu ginkang, kini mereka seolah berlumba lari untuk mengetahui siapa diantara mereka yang lebih cepat larinya.
Sampai jauh mereka berlari dan ternyata mereka memiliki ilmu berlari cepat yang seimbang tingkatnya.
Akhirnya Cu Sian berhenti di dalam sebuah hutan dan dia agak terengah.
Dia berhenti memandang Lan Lan dan pernapasannya biasa saja.
Maka dengan terkejut Cu Sian diam-diam harus mengakui bahwa dia masih kalah setingkat.
"Hemmm, kau enci "
Eh "
Siapa lagi namamu?"
Lan Lan tersenyum "Namaku Kim Lan, panggil saja Lan Lan"
"Dan aku Cu Sian, kau masih ingat kepadaku, enci Lan?"
Lan Lan tersenyum ramah "Tentu saja aku masih ingat kepadamu, biarpun kini kau menjadi seorang kong-cu yang kaya raya dan dahulu kau seorang jembel muda yang nakal"
Keduanya tertawa dan Cu Sian merasa suka sekali kepada gadis berpakaian putih yang lembut ini "Akupun mengenalmu.
Mudah saja ingat kembali kepada gadis berpakaian putih yang cantik jelita seperti bidadari, lihai dalam ilmu pengobatan dan juga ilmu silat"
"Hai, perayu benar kau"
Cela Lan Lan sambil tersenyum polos.
Ia tidak merasa tersipu mendengar pujian muluk ini dari mulut seorang pemuda tampan, karena pandang mata yang tajam dari Lan Lan sudah membuat ia menyadari bahwa pemuda tampan ini adalah seorang gadis yang nakal dan suka menggoda orang.
Cu Sian tertawa senang "Begitu melihat kau di keroyok, aku langsung turun tangan membantumu.
Eh, enci Lan, kenapa sih kau dikeroyok begitu banyaknya orang?
Siapakah mereka dan siapa pula gadis memegang suling yang galak tadi?"
"Panjang ceritanya, Cu Sian. Mari kita mencari tempat yang bersih untuk duduk dan bicara"
Mereka lalu mencari tempat yang bersih di dekat sebuah anak sungai dimana terdapat batu-batu besar yang bersih. Mereka duduk di atas batu yang rata dan bercakap-cakap dengan santai.
"Nah, sekarang berceritalah, encu Lan. Aku menyebutmu enci karena usia kita tentu sebaya"
"Boleh saja. Dan apakah aku harus menyebut koko (kanda) kepadamu?"
Cu Sian tertawa "Sebut saja namaku, itu lebih akrab. Nah, lanjutkan ceritamu, enci Lan"
"Tadi pagi secara kebetulan aku melihat Han Sin """
"Ah, benarkah? Dimana dia? Apa yang dikerjakan dan dimana dia sekarang?"
Melihat Cu Sian memberondongnya dengan pertanyaan tentang Han Sin, Kim Lan tertawa, akan tetapi didalam hatinya ia mencatat bahwa gadis yang menyamar pria ini agaknya menaruh banyak perhatian terhadap pemuda itu.
"Dengarkan dulu ceritaku, Cu Sian. Aku melihat Han Sin bersama seorang gadis di tepi sungai. Akan tetapi aku lihat Han Sin dalam keadaan sekarat, keracunan pukulan ampuh"
"Wah, celaka. Lalu ". Lalu bagaimana?"
"Aku menawarkan bantuan kepada gadis itu untuk mengobati Han Sin. Dan kebetulan aku mengenal hawa beracun yang menyebabkan dia sekarat itu. Aku berhasil menyembuhkannya dan sebelum Han Sin sadar, aku sudah meninggalkan mereka. Akan tetapi, tiba-tiba tadi muncul gadis yang bersama Han Sin itu, bersama anak buahnya dan ia menuduh aku melarikan dan menyembunyikan Han Sin. Tentu saja aku menyangkal karena sesudah mengobatinya, aku lalu meninggalkan mereka dan tidak bertemu lagi dengan Han Sin. gadis itu tidak percaya, bahkan lalu menyerangku dan mengeroyokku bersama anak buahnya. Untung kau datang membantuku kalau tidak tentu aku celaka karena gadis itu lihai bukan main"
"Hemmm, aneh. Siapakah gadis itu dan mengapa pula ia mencari Han Sin kalau kau meninggalkan Han Sin bersamanya?"
"Namanya Ma Goat, demikian menurut pengakuannya. Dan karena ayahnya ahli ilmu pukulan Tangan Halilintar, aku ingat bahwa yang memiliki ilmu itu adalah datuk Pak-Te-Ong Ma Giok. jadi ia tentu puteri Pak-Te-Ong. Akan tetapi menurut penuturannya, Han Sin menderita karena pukulan Tangan Halilintar ayahnya, kemudian juga terkena pukulan Tangan Salju dari See-Thian-Mo. Agaknya melihat Han Sin menjadi korban kedua pukulan itu, Ma Goat lalu menolongnya, akan tetapi, ia hanya dapat mengobati akibat pukulan Tangan Halilintar, tidak mampu mengobati bekas Tangan Salju. Dan aku tidak tahu apa hubungan gadis itu dengan Han Sin"
Cu Sian mengerutkan alisnya dan merenung, lalu bicara kepada diri sendiri "Ma Goat itu membela dan menolong Han Sin, biarpun agaknya Han Sin dimusuhi ayahnya.
Agaknya Han Sin meninggalkannya dan ia mencari-carinya.
Tak salah lagi, tentu gadis liar itu jatuh cinta kepada Han Sin"
Ketika mengucapkan kalimat terakhir itu ia menoleh dan memandang wajah Lan Lan. Lan Lan tersenyum melihat Cu Sian mengerutkan alisnya dan pandang matanya demikian serius "Mungkin benar dugaanmu itu"
Katanya.
"Tentu saja benar. Gadis liar itu telah menolong Han Sin, kenapa kemudian ia lalu mencarinya? Tentu ia telah jatuh cinta dan ingin memiliki Han Sin. Akan tetapi ""
Ia lalu bicara lirih lagi sambil mengingat-ingat "kenapa ia ingin membunuhmu, kenapa ia menduga kau melarikan dan menyembunyikan Han Sin?"
Dia diam sebentar dan mengelus dagunya yang halus tanpa selembarpun jenggot, kemudian tiba-tiba ia memandang lagi kepada Lan Lan dan berkata "Ah, tentu saja.
Ia mengira bahwa kau juga mencinta Han Sin.
Ia ingin membunuhmu karena cemburu"
"Hemmmm "
Lan Lan hanya mengguman biarpun didalam hatinya ia membenarkan pula dugaan Cu Sian yang cerdik itu.
Tiba-tiba Cu Sian menatap wajah gadis itu dengan tajam dan bertanya "Enci Lan, benarkah dugaan itu bahwa kau mencinta Han Sin?"
Sinar mata Cu Sian demikian tajam memandang wajah Lan Lan penuh selidik.
Mendapat pertanyaan yang di tujukkan tiba-tiba ini, Lan Lan merasa seolah-olah dadanya di todong ujung pedang.
Ia tergagap menjawab.
"Aku ". Eh, aku tidak tahu, Cu Sian. Belum pernah aku berpikir tentang itu """
"Sukurlah kalau begitu. enci Lan. Aku kasihan kepadamu kalau sampai kau jatuh cinta kepada Han Sin. Pemuda seperti itu tidak patut menerima cinta seorang gadis seperti kau"
"Eh "
Kenapa begitu Cu Sian?"
"Dia "
Dia tidak berharga. Dia seorang pemuda mata keranjang dan di mana-mana ia mempunyai kekasih. Hatimu akan hancur dan patah-patah kalau kau mencintanya"
"Bagaimana kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Aku sudah melakukan perjalanan bersamanya ke utara. Dia merayu dan menggoda puteri kepala suku, bahkan merayu kedua-duanya sehingga mereka jatuh cinta kepadanya, memperebutkannya. Akan tetapi apa jadinya? Dia tinggalkan mereka begitu saja. Huh, dia laki-laki yang tidak boleh dicinta seorang gadis"
Lan Lan tersenyum "Hem, dan bagaimana dengan kau sendiri?"
Cu Sian memandang dengan mata terbelalak "Aku?"
Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?"
Lan Lan masih tersenyum "Maksudku, kalau kau tentu bukan seorang pemuda seperti itu. Kau tidak akan mempermainkan orang yang jatuh cinta kepadamu, bukan?"
"Tentu saja tidak. Kalau aku jatuh cinta, aku akan mencinta dengan sepenuh jiwa ragaku, dan aku siap untuk membelanya, dengan taruhannyawa sekalipun. Aku akan bersetia sampai mati"
Kata-kata ini diucapkan penuh semangat dan diam-diam Lan Lan merasa terharu. Ia percaya bahwa kata-kata itu keluar dari lubuk hati dan bukan sekedar membual.
"Mudah-mudahan saja orang yang kau cinta itu akan membalas pula cintamu Cu Sian. Orang seperti kau cinta dan patah hati"
"Mudah-mudahan, enci Lan. Kau ". Sungguh baik sekali. Agaknya, aku akan mudah jatuh cinta kepadamu kalau saja aku belum mempunyai seorang pilihan hati"
Lan Lan tersenyum lalu bangkit berdiri "Nah, sudah cukup kita bicara, Cu Sian. Aku harus melanjutkan perjalananku dan selamat berpisah"
"Eh, nanti dulu, enci Lan, Menurut pendapatmu, kemanakah perginya Han Sin? Aku ingin bertemu dan bicara dengannya"
"Bagaimana aku tahu? Ketika aku mengobatinya, bahkan aku tidak sempat bicara dengannya. Akan tetapi mengingat aku menemukannya di bukit Kwi-san di pantai Huang-Hi, mungkin ia berada di sekitar lembah sungai itu. Nah, sampai jumpa, Cu Sian"
"Selamat jalan, enci Land an terima kasih"
Mereka berpisah dan di sepanjang perjalanan, Kim Lan tersenyum-senyum seorang diri.
Jelas bagaikan sebuah kitab terbuka, Cu Sian adalah seorang gadis dan gadis itu mencinta Han Sin.
Akan tetapi senyumnya agak berubah ketika ia merasa betapa hatinya seperti tertusuk.
Pedih rasanya, cepat ia mengusir perasaan itu, dan melanjutkan perjalanannya sambil berlari secepat terbang.
*** Han Sin menuju ke Shan-si.
Dia hendak singgah dulu di tai-goan, hendak mencari keterangan dimana adanya kuburan ayahnya.
Dari Tarsukai dia mendapat keterangan bahwa ayahnya yang tewas di pertempuran itu dimakamkan oleh Gubernur Li Goan.
Ketika dia menghadap Gubernur, dia di terima oleh Li Kongcu, yaitu Li Si Bin yang mewakili ayahnya.
Pemuda putera Gubernur itu girang sekali melihat Han Sin, apalagi ketika Han Sin bercerita bahwa dia telah bertemu dan tinggal beberapa hari lamanya di perkampungan suku Yak-ka.
Dalam kesempatan itu Han Sin bertanya tentang makam ayahnya.
"Ah, maafkan kami bahwa ketika itu kami lupa memberitahu kepadamu, Cian-twako. Jenazah ayahmu memang di makamkan di sini, bahkan upacara pemakaman di sini, bahkan upacara pemakaman di lakukan secara besar-besaran seperti layaknya pemakaman seorang pahlawan besar. Semua itu di urus oleh ayah. Mari kuantarkan kau mengunjungi makam"
Li Si Bin sendiri yang mengantar Han Sin berkunjung ke makam ayahnya.
Dia memandang kagum melihat Han Sin berlutut menyembahyangi makam ayahnya tanpa bercucuran air mata seperti kebiasaan orang-orang yang berkunjung ke makam.
Pemuda yang tinggi tegap itu ternyata memiliki ketabahan dan kekerasan hati.
Setelah selesai sembahyang, Li Si Bin lalu mengajak Han Sin bercakap-cakap tentang kegagahan ayahnya seperti yang di dengarnya dari cerita orang-orang tua.
"Ayahmu bukan hanya seorang pahlawan negeri, Cian-twako. Akan tetapi menurut cerita para tokoh kang-ouw, dia juga seorang pendekar yang amat gagah perkasa dan di takuti para penjahat. Kau patut merasa bangga mempunyai seorang ayah seperti dia"
Demikian kata Li Si Bin.
"Sayang dia terbunuh secara pengecut dari belakang ketika dia sedang memimpin pasukan berperang, dan lebih sayang lagi sampai sekarang aku belum dapat mengetahui siapa pembunuhnya"
Kata Han Sin. Akan tetapi, tentu di utara kau sudah mendapatkan keterangan tentang itu, bukan?"
"Ketarangan yang belum jelas menyebutkan siapa pelakunya, kong-cu. Aku masih harus menyelidikinya ke kota raja"
"Aku percaya penyelidikanmu akan berhasil, Cian-twako"
Pada saat itu, empat orang pengawal menemani seorang berpakaian panglima menghampiri Li Si Bin dan Cian Han Sin.
Empat orang pengawal itu memberi hormat kepada Li Si Bin dan berkata "Kami diutus oleh Tai-jin untuk mengantarkan ciang-kun yang datang dari kota raja ini ke sini karena dia hendak bertemu dengan pemuda ini"
Pengawal itu menundingkan telunjuknya kearah Han Sin.
Tentu saja Han Sin merasa heran sekali dan dia memandang kepada perwira itu dengan penuh perhatian.
Panglima itu berusia tigapuluh lima tahun, tubuhnya jangkung kurus dan sikapnya gagah.
Mendengar laporan pengawal itu, panglima itu segera memberi hormat kepada Li Si Bin dan berkata "Harap kong-cu maafkan kalau saya mengganggu"
Li Si Bin menatap wajah perwira itu penuh selidik, lalu bertanya "Ciang-kun, siapakah dan ada keperluan apa mencari saudara Cian Han Sin?"
Perwira itu mengeluarkan sebuah bendera kecil yang merupakan sebuah leng-ki (Bendera utusan raja), memperlihatkannya kepada Li Si Bin lalu menyimpannya kembali "Kong-cu, saya bernama Coa Hong Bu, seorang panglima istana dan saya melaksanakan sebuah tugas yang di berikan Yang Mulia Kaisar kepada saya.
Untuk keperluan itu saya harus bertemu dan bicara dengan saudara Cian Han Sin"
Melihat leng-ki itu, Li Si Bin memberi hormat "Kalau begitu silahkan ciangkun bicara dengannya dan saya akan pulang terlebih dahulu.
Cian-twako, kau bicaralah dengan Coa-ciangkun, aku hendak pulang lebih dulu"
Li Si Bin lalu pergi diikuti para pengawal tadi, meninggalkan Han Sin berdua saja dengan Coa Hong Bu di makam ayahnya itu.
Setelah mereka berdua saja, Han Sin berkata "Coa-ciangkun, ada urusan apakah ciangkun mencariku?"
"Cian-kongcu, aku diutus oleh Sri Baginda Kaisar untuk mendapatkan dua buah benda. Yang pertama adalah pedang pusaka Hek-Liong-Kiam, dan yang kedua adalah Kitab ilmu Bu-tek-cin-keng, Karena aku tidak bisa mendapatkan kedua benda itu dirumah ibu kong-cu dan mendengar kong-cu pergi ke utara, maka aku menyusul ke sini untuk menanyakan kepadamu tentang kedua benda itu"
Han Sin mengerutkan alisnya dan menatap tajam wajah panglima itu "Hemmm "
Pedang Naga Hitam adalah Pusaka milik mendiang ayahku, sedangkan kitab ilmu Bu-tek-cin-keng adalah pemberian mendiang kaisar Yang Cien kepadaku, kenapa sekarang Sri Baginda Kaisar Yang Ti hendak memintanya?"
"Entahlah, kong-cu. Aku hanya seorang utusan dan kehendak Sri Baginda harus dilaksanakan"
"Akan tetapi, Pedang Naga Hitam tidak ada padaku, pedang itu lenyap ketika mendiang ayah gugur di medan perang dan tentang kitab ilmu Bu-tek-cin-keng, telah kubakar agar tidak terjatuh ke tangan orang lain. Kalau Sri Baginda kaisar menghendaki belajar itu, aku dapat mengajarinya, asalkan mendapat perkenan ibuku"
Panglima Coa mengangguk-angguk lalu menghela napas panjang dan memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata penuh iba "Aku mengerti, Cian-kongcu.
Aku sudah tahu bahwa Hek-Liong-Kiam tidak ada padamu.
Bahkan "
Aku membawa sebuah berita duka untukmu, kong-cu"
Han Sin mengerutkan alisnya lagi dan memandang tajam "Berita duka? Apa maksudmu, Coa-ciangkun?"
"Berita duka mengenai ibumu, kongcu"
"Ibuku? Ada apa dengan ibuku?"
Wajah Han Sin berubah agak pucat dan dia memandang panglima itu dengan kedua mata terbelalak.
"Beberapa bulan yang lalu, ibumu tewas terbunuh orang """
Andaikata bumi di depannya terbelah, belum tentu Han Sin akan sekaget itu.
Matanya terbelalak lebar, wajahnya pucat sekali dan sesaat dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, bahkan tidak mampu berpikir.
Pikirannya menjadi gelap oleh guncangan batin yang amat hebat.
Kemudian setelah dapat menguasai dirinya, dia berteriak.
"Ibu "".?? Siapa pembunuhnya?"
Tidak ada yang mengetahuinya, kongcu. Hanya ada bibi Cio Si, pelayan itu"
Yang mengetahui, akan tetapi iapun tidak mengenal si pembunuh. Ia hanya dapat mengatakan bahwa pembunuh itu memegang sebatang pedang hitam yang berkilauan.
"Hek-Liong-Kiam "
"Kukira juga demikian, kongcu. Pembunuh ibumu itu menggunakan pedang Naga Hitam. Setelah mendapatkan kenyataan itu, aku lalu berangkat mencarimu ke sini"
"Tidak ada yang mengetahuinya, kong-cu. Pembunuh ibumu itu menggunakan Pedang Naga Hitam. Setelah mendapatkan kenyataan itu, aku lalu berangkat mencarimu ke sini"
"Ibu ""
Han Sin terhuyung dan menutupi mukanya dengan kedua tangan kemudian dia menjatuhkan diri berlutut di depan makam ayahnya.
Tak dapat dia menahan air matanya yang bercucuran keluar saking pedih rasa hatinya mengenang kematian ibunya tercinta.
"Ayah ". Maafkan anakmu, ayah. Kematian ayah belum juga terbalas, pembunuh ayah belum juga ku temukan, Hek-Liong-Kiam juga masih di tangan pembunuh, kini ibuku bahkan terbunuh pula. Ayah, aku bersumpah tidak akan berhenti sebelum pembunuh ayah dan ibu dapat di hokum dan Hek-Liong-Kiam belum dapat ku temukan"
Coa Hong Bu hanya melihat dan mendengarkan, dalam hatinya merasa iba sekali kepada pemuda ini.
Sungguh tidak dapat di sangka, nasib keluarga Panglima Besar Cian Kauw Cu begini menyedihkan.
Panglima itu terbunuh secara curang, dan isterinya terbunuh pula.
Padahal mendiang Cian Kauw Cu adalah seorang panglima besar yang banyak jasanya dalam mendirikan Kerajaan Sui dan berjasa besar pula sebagai seorang pendekar yang menentang segala macam bentuk kejahatan.
Setelah pemuda itu menjadi tenang kembali, Coa Hong Bu berkata kepada Han Sin "Cian-kongcu, seorang laki-laki sejati tidak tenggelam dalam kedukaan peristiwa yang lalu.
Aku percaya kelak kong-cu pasti akan dapat menemukan pembunuh orang tua kong-cu dan mendapatkan kembali Hek-Liong-Kiam"
Han Sin bangkit berdiri dan dengan ujung lengan bajunya menghapus sisa airmatanya.
Lalu dia mengepal tinju "Aku yakin pasti akan dapat menemukannya dan kukira tempatnya adalah di kota raja.
Aku akan kembali ke kota raja mencari musuh besarku"
"Aku rasa duganmu benar, kong-cu. Dan kalau kau dapat menemukan pembunuh itu, berarti kau akan menemukan pula Hek-Liong-Kiam. Akan tetapi, bagaimana tentang kehendak Sribaginda itu, kong-cu? Bagaimanapun juga aku harus membuat pelaporan kepada Yang Mulia Kaisar"
Laporkan saja bahwa aku bersedia menghadap Sri Baginda kalau aku sudah menemukan musuh besarku.
Aku akan menyerahkan Pedang Naga Hitam dan juga mengajarkan Bu Tek Cin Keng kalau memang Sri Baginda menghendaki"
"Baik, kong-cu. Nah, aku akan berangkat dulu kembali ke kota raja melaporkan kepada Sri Baginda kaisar"
"Baik, Ciangkun dan selamat jalan"
Kata Han Sin.
Panglima Coa Hong Bu lalu meninggalkan makam itu dan Han Sin duduk bersila di depan makam ayahnya, termenung memikirkan nasibnya.
Diam-diam dia memikirkan mengapa ibunya terbunuh orang.
Kalau ayahnya, mungkin ayahnya memiliki banyak musuh, atau orang membunuhnya untuk merampas Pedang Naga Hitam?
Akan tetapi mengapa ibunya juga di bunuh oleh perampas Pedang Naga Hitam?
Hampir dia yakin bahwa pembunuh ibunya juga pembunuh ayahnya.
Dan menurut keterangan yang dia dapatkan dari Tar-sukai ketua suku Yakka, ketika ayahnya tewas, jenazahnya di dekati seorang perwira Sui berusia tigapuluh tahun lebih.
Mungkin perwira itulah pembunuh ayahnya.
Perwira yang menjadi pembantu ayahnya sendiri.
mengingat bahwa kematian ayahnya di sebabkan oleh anak panah yang dilepas dari belakang, besar kemungkinan perwira itu yang memanahnya dari belakang kemudian mendekati jenazahnya dan mengambil pedang Naga Hitam.
Akan tetapi kenapa pembunuh itu, kalau benar dia si perwira membunuh pula ibunya?
Ibunya adalah seorang wanita perkasa.
Tidak mudah terbunuh begitu saja.
Tentu pembunuhnya seorang yang lihai ilmu silatnya.
Akhirnya dia meninggalkan makam itu dan singgah di rumah Gubernur Li Goan untuk berpamit.
Li Si Bin menemuinya dan tanpa ditanya Han Sin menceritakan kepada Li Si Bin tentang apa yang di dengarnya dari Coa Hong Bu.
Li Si Bin terkejut dan maju memegang lengan Han Sin "Ah, betapa buruk nasibmu, Cian-twako.
Akan tetapi tabahlah, seorang jantan harus tabah menghadapi segala cobaan hidup.
Ibumu sudah bersatu dengan ayahmu, tentu beliau telah berbahagia"
Han Sin menghela napas "Terima kasih, Li-kongcu. Aku sudah bersumpah di depan makam ayahku bahwa aku pasti akan menemukan pembunuh ayah dan ibu dan menemukan kembali Pedang Naga Hitam"
"Kau seorang laki-laki yang gagah dan berilmu tinggi, toako. Aku percaya usahamu akan berhasil. Selamat jalan dan ku harap kelak kita akan dapat bertemu kembali. Diantara kita harus ada perhubungan erat dan saling bantu. Aku mengharap kelak akan dapat memperoleh banyak akan dapat bantuan tenagamu yang amat berharga"
"Terima kasih, kongcu. Mudah-mudahan saja begitu dan selamat tinggal"
Han Sin menolak ketika dibekali uang karena bakal uangnya masih cukup akan tetapi dia menerima ketika diberi seekor kuda.
Dengan menunggang kuda dia lalu cepat melakukan perjalanan untuk kembali ke selatan.
Dari Tai-goan, Han Sin melarikan kudanya dengan cepat menuju ke lembah Sungai Huang-ho.
Perjalanan yang memakan waktu berhari-hari itu berjalan lancer tanpa ada gangguan.
Setelah tiba di tepi Sungau Huang ho, dia menukarkan kudanya dengan sebuah perahu yang kuat dan baik, lalu melanjutkan perjalanan melalui air sungai yang mengalir ke selatan.
Perjalanan melalui air sungai ini selain cepat, juga tidak melelahkan.
Berhari-hari hanya duduk saja mengemudikan perahu yang hanyut oleh arus sungai.
Karena menganggur ini membuat Han Sin banyak melamun.
Dia mengenangkan semua peristiwa yang terjadi dan menimpa dirinya, Ketika kenangan tentang kematian ibunya muncul mengganggu hatinya dan menimbulkan kedukaan, dia cepat mengenangkan kembali semua peristiwa lain yang di alaminya selama meninggalkan rumah dan pergi ke utara mencari Hek-Liong-Kiam yang belum juga dapat ditemukan.
Banyak peristiwa yang membuatnya risau.
Gadis gila Kui Ji itu tergila-gila kepadanya.
Kemudian gadis mongol puteri Ketua suku Yakka.
Dia merasa heran mengapa dia bertemu gadis-gadis yang mencintanya.
Padahal dia sama sekali tidak menyukai gadis-gadis itu.
Bahkan hatinya belum pernah tertarik kepada wanita, kecuali hanya satu kali hatinya tertarik kepada Kim Lan.
Ini pun hanya menimbulkan rasa rindu saja untuk bertemu dan bercakap-cakap.
Dia belum yakin apakah perasaan rindu ini ada hubungannya dengan cinta, ataukah hanya rasa suka karena tertarik akan kepribadian gadis itu yang lemah lembut.
Tanpa terasa, perahu Han Sin setelah melakukan pelayaran berhari-hari, pada suatu siang tiba di dekat kota Loan.
Melihat seorang nelayan sedang menjemur dan menjahit jala ikan di tepi pantai.
Han Sin menepikan perahunya.
"Sobat, apakah kota Lo-an jauh dari sini?"
Tanyanya.
"Ah, tidak, kong-cu. Hanya dua tiga mil dari sini"
Jawab nelayan itu.
Han Sin mengikat perahunya pada sebatang pohon.
Dia memang bermaksud pergi ke kota Lo-an untuk membeli perbekalan makan.
Bekal makanannya sudah habis.
Karena khawatir kalau perahunya di curio rang dia lalu menitipkannya kepada nelayan itu dengan memberi upah sekedarnya.
Setelah itu, dia menggendong buntalan pakaiannya dan melangkah menuju ke kota Lo-an.
*** Cu Sian bersungut-sungut.
Dia telah melakukan perjalanan secepatnya untuk mengejar Han Sin.
Akan tetapi dia kehilangan jejak dan tak pernah dapat menyusul pemuda itu.
Hatinya kesal bukan main.
Sejak ditinggalkan pemuda itu di perkampungan suku Yakka, dia melakukan pengejaran.
meninggalkan keluarga Tarsukai tanpa pamit, akan tetapi Han Sin seperti lenyap di telan bumi.
Hatinya kesal bukan main.
Tanpa adanya pemuda itu di sisinya, dia merasa seolah-olah hidupnya sepi, tidak lengkap dan tidak menyenangkan.
Tidak ada lagi yang dapat di godanya.
Dia berhenti di kota Lo-an, bermalam di kota itu sampai dua hari, akan tetapi tidak ada bayangan Han Sin.
Bahkan ketika dia bertanya-tanya, tidak seorangpun melihat pemuda yang mirip Han Sin.
Agaknya Han Sin tidak melalui Lo-an dan kembali dia menyadari bahwa dia telah salah memilih jalan.
Mungkin Han Sin mengambil jalan lewat sungai, dan mungkin sekali sekarang sudah hampir tiba di daerah selatan.
"Sialan"
Gerutunya sambil berjalan cepat hendak pergi ke sungau Huang-ho karena dia mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan lewat air.
Tiba-tiba wajah yang cemberut itu berubah seketika.
Kepalanya di angkat dan dia memandang ke depan.
Ada seorang pemuda berjalan santai bersama seorang laki-laki yang sudah tua yang bertubuh tinggi kurus dan dari pakaiannya dan rambutnya dia pasti seorang to-su (pendeta agama To).
"Itu pasti Han Sin"
Pikirnya dan Cu Sian segera berlari mengejar dua orang itu. Untuk menggodanya, dia menghampiri perlahan lalu menepuk pundak pemuda itu.
"Akhirnya dapat kutemukan juga kau"
Pemuda itu cepat menoleh dan Cu Sian terbelalak.
Pemuda itu ternyata bukan Cian Han Sin, bahkan lebih celaka lagi, pemuda itu bukan lain adalah Bong Sek Toan, pemuda yang pernah ribut dengan dia sebanyak dua kali.
Pertama kali ketika dia sebagai seorang pengemis muda bertemu dengan Bong Sek Toan di sebuah rumah makan dan Bong Sek Toan hendak memukulnya akan tetapi di lerai oleh Han Sin.
Dan untuk kedua kalinya dia bertemu Bong Sek Toan, bahkan sempat bertanding dengannya ketika mereka ikut terlibat dalam pemilihan perwira tentara di Shan-si.
Biarpun kaget bertemu dengan Bong Sek Toan, bukan dengan Han Sin seperti disangkanya, namun Cu Sian tidak merasa takut dan dia segera melepaskan pegangannya pada pundak dan meloncat kebelakang, mengomel "Kiranya kau"
Bong Sek Toan ternyata segera mengenal Cu Sian.
Wajahnya berubah merah karena marahnya.
Cu Sian pernah menggoda dan menggangunya.
Kalau tempo hari bukan merupakan pertandingan di panggung ujian, tentu dia sudah membunuh Cu Sian.
"Hemmm, kau jembel busuk"
Bentaknya marah "Sekali ini aku tidak akan mengampunimu lagi"
Setelah berkata demikian, Bong Sek Toan langsung saja menyerang dengan pukulannya.
Akan tetapi Cu Sian sudak siap siaga dan karena kemanapun dia pergi, dia tidak pernah ketinggalan sebatang tongkatnya, maka kini dia mengelak sambil menotok tongkatnya kearah perut lawan.
"Aku juga tidak akan mengampunimu, monyet hitam"
Bentak Cu Sian dan Bong Sek Toan terpaksa meloncat ke belakang kalau dia tidak ingin perutnya menjadi korban tusukan tongkat.
Bagaimanapun juga, dia sudah tahu akan kelihaian pemuda remaja yang tadinya menyamar sebagai pengemis ini dan dia tidak berani memandang rendah.
Sambil melompat ke belakang, tangannya meraba punggung dan dia sudah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
Setelah bergerak, dia langsung saja memainkan pedang yang menjadi andalannya, yaitu Lo-hai Kiam-hoat (Ilmu Pedang Pengacau Lautan).
Cu Sian memutar tongkatnya dan segera memainkan Hek-tung-hoat (Ilmu Tongkat Hitam).
Biarpun tongkatnya tidak berwarna hitam akan tetapi ilmu tongkat itu memang dinamakan Ilmu tongkat hitam karena dahulu, kakek Cu Sian yang di sebut Cu Lokai adalah pendiri Hek I Kaipang dan terkenal dengan tongkat hitamnya.
Segera terjadi pertandingan hebat sekali.
Seru dan setiap serangan merupakan serangan maut.
Kedua orang ini memang memiliki tingkat kepandaian yang seimbang.
Mungkin Bong Sek Toan lebih menang dalam hal tenaga, akan tetapi kemenangan ini dikurangi kekalahannya dalam hal kecepatan gerakan.
Bong Sek Toan lebih kuat tenaganya, namun Cu Sian lebih cepat gerakannya sehingga dua macam kelebihan yang berlawanan ini menguntungkan Cu sian.
Karena lebih cepat serangan-serangan yang bertubi-tubi, totokan-totokan yang amat berbahaya sehingga Bong Sek Toan lebih banyak mengankis ketimbang menyerang.
Lima puluh jurus telah lewat dan Cu Sian berhasil mendesak lawannya "Monyet hitam, bersiaplah untuk mampus.
Sebentar lagi kau mampus di ujung tongkatku"
Cu Sian menyerang sambil mengejek, membuat Bong Sek Toan yang menjadi marah itu semakin kacau permainan pedangnya.
"Lo-cian-pwe, bantulah aku ""
Akhirnya dia berteriak minta bantuan. To-su tua itu sejak tadi hanya menonton dengan tertarik sekali. Dia mengenal ilmu pedang dan ilmu tongkat itu sebagai warisan tokoh-tokoh besar dunia persilatan.
"Sian-cai ". Lo-hai kiam-hoat bertemu dengan Hek-tung-pang, sungguh seru dan menganggumkan. Bong-sicu, apa sih sukarnya menundukkan pengemis liar ini?"
Biarpun Cu Sian tidak berpakaian sebagai pengemis, akan tetapi karena ilmu tongkatnya itu terkenal sebagai ilmu tongkat ketua perkumpulan pengemis yang terkenal, maka to-su itu menyebut pengemis liar.
To-su itu melangkah maju menghampiri, kebutan di tangan kirinya menyambar ke depan dengan kecepatan kilat dan mengeluarkan suara bersuitan.
Tentu saja Cu Sian terkejut sekali.
Dia mengelak dari pedang Bong Sek Toan yang menyambar, meloncat ke samping dan pada saat itulah kebutan di tangan kiri tosu itu menyambar kearah kepalanya.
Dia cepat memutar tongkatnya menangkis, akan tetapi tiba-tiba to-su itu menggerakkan tangan kanannya dan sebatang tongkat putih meluncur dan menahan tongkat Cu Sian.
Begitu kedua tongkat bertemu, Cu Sian merasakan tongkatnya melekat pada tongkat putih itu dan tidak dapat di tarik kembali.
Padahal kebutan itu sudah menyambar kearah kepalanya.
Dia hanya dapat miringkan kepalanya untuk mengelak.
"Breett """
Sutera pengikat rambutnya terlepas dan rambutnya menjadi riap-riapan. Rambut yang hitam panjang.
"Sian-cai ". To-su itu berseru dan kini kebutannya menyambar lagi kearah dada Cu Sian. Dengan tenaga sepenuhnya Cu Sian menarik tongkatnya dan berhasil melepaskan tongkatnya dari lekatan tongkat putih, lalu menangkis kebutan yang menyerang kearah dadanya itu.
"Wuuukk "
Pllaakk"
Kini tongkat itu terlibat ujung kebutan dan tidak dapat terlepas. Pada saat itu Bong Sek Toan menusukkan pedangnya kearah dadanya. Cu Sian tidak dapat menghindar diri lagi kecuali miringkan tubuhnya.
"Breeettt"
Bajunya terobek pedang dan untuk sekejab nampaklah bukit dada yang menonjol ketika baju itu terobek dan pundaknya terluka.
"Aha. Kiranya kau seorang wanita?"
Bong Sek Toan mengejek.
"Ha-ha-ha, sejak rambutnya terurai pinto sudah mengetahuinya"
"Ha-ha-ha, jangan khawatir, mudah saja"
Kata to-su itu sambil tertawa-tawa dan diapun menggerakkan tongkat dan kebutannya yang lihai.
Akan tetapi Cu Sian menggigit giginya dan mengamuk.
Tongkatnya di putar cepat dan dia tidak akan menyerah sampai titik darah terakhir.
Bagaimanapun juga, tingkat kepandaiannya jauh sekali dibandingkan tingkat to-su itu.
Apalagi di situ masih ada Bong Sek Toan yang membantu si tosu lihai.
Setelah lewat belasan jurus, sebuah sapuan tongkat putih mengenai mata kakinya dan Cu Sian terpelanting.
Pada saat Bong Sek Toan hendak menubruknya, nampak bayangan berkelebat dan Bong Sek Toan terhuyung ke belakang karena ada kekuatan dahsyat yang mendorongnya mundur.
Ketika dia melihatnya, ternyata di situ telah berdiri seorang pemuda yang membantu Cu Sian berdiri lagi.
Pemuda itu bukan lain adalah Cian Han Sin.
Melihat Han Sin, Cu Sian girang sekali akan tetapi segera kegirangannya itu berubah menjadi kekhawatiran.
Teringatlah dara yang menyamar pria ini bahwa Han Sin adalah seorang pemuda lemah, atau kalaupun memiliki ilmu silat, kepandaiannya itu tidak seberapa, masih jauh dibawah tingkatnya sehingga dahulu ialah yang menjadi "pengawal"
Han Sin. Timbul kekhawatirannya kalau-kalau Han Sin akan menjadi korban dan mati konyol.
"Sin-ko "
Cepat, larilah selagi masih mungkin. Larilah, mereka ini lihai sekali. Kau dapat terbunuh ""
Katanya sambil siap menggunakan tongkatnya untuk melindungi Han Sin.
Han Sin kebetulan lewat di situ dalam perjalanannya dari tepi sungai menuju ke Lo-an untuk mencari bekal makanan ketika dia melihat Cu Sian di keroyok oleh seorang pemuda dan seorang to-su.
Kekagetannya itu bertumpuk-tumpuk ketika dia mengenal Bong Sek Toan dan lebih lagi ketika dia mengenal tosu itu sebagai Ngo-heng-thian-cu, pembunuh gurunya, Hek-Liong-Ong atau Ho-beng Hwesio.
Dan rasa kagetnya itu menjadi lebih hebat ketika ia melihat bahwa Cu Sian adalah seorang wanita, nyaris Cu Sian celaka karena semua kenyataan ini membuatnya bengong sesaat.
Akan tetapi dia segera menyadari bahwa kalau dia tidak cepat turun tangan.
Cu Sian tentu akan celaka, maka dia lalu meloncat, mendorong Bong Sek Toan dan membantu Cu Sian bangkit berdiri.
Ketika dia mendengar permintaan Cu Sian agar dia melarikan diri agar selamat, diam-diam dia merasa terharu.
Dalam keadaan terancam seperti itu, Cu Sian masih mengkhawatirkan dirinya dan minta agar dia melarikan diri.
"Tidak, aku tidak akan lari. Biar aku menghadapi to-su Iblis ini"
Katanya dan dia segera mengerahkan tenaga dari Bu-tek Cin-keng "Kau lawanlah pemuda itu"
Melihat ada orang yang menolong gadis yang menyamar pria itu, Ngo-heng Thian-cu menjadi penasaran.
Kini Han Sin bukan pemuda remaja lagi, melainkan seorang pemuda dewasa.
Kurang lebih empat tahun yang lalu, dia mencoba menyerang to-su ini ketika melihat gurunya tewas dan to-su ini tidak mau melayaninya karena mengira dia murid Siauw-li-pai.
Agaknya Ngo-heng Thian-cu gentar menghadapi permusuhan dengan perguruan silat yang terkenal itu.
Maka to-su itu tidak mengenalnya dan dengan kebutan di tangan kiri, tongkat putih di tangan kanan, dia melangkah maju dan siap untuk menyerang.
"Hiattt ""
Han Sin menyerang dengan Bu-tek Cin-keng, mendorongkan kedua tangannya dengan jari terbuka ke depan.
Angin dahsyat menyambar.
To-su itu terkejut dan berusaha untuk menangkis, akan tetapi tetap saja tubuhnya terdorong dan terpental sampai beberapa meter jauhnya.
Dia terbanting keras, akan tetapi dia segera dapat bangkit berdiri lagi.
Kenyataan ini saja membuktikan betapa kuatnya kakek tua ini.
Sementara itu, Cu Sian sudah bergebrak lagi melawan Bong Sek Toan.
Melihat Kakek itu dapat berdiri dengan cepat, dan Cu Sian sudah terluka, Han Sin segera menyambar lengan tangan Cu Sian dan sekali melompat dia segera berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Bong Sek Toan tidak berani mengejar dan ketika dia mengajak to-su itu untuk melakukan pengejaran, Ngo-heng Thian-cu menghela napas panjang "Aihh siapa dapat menduga bahwa ada seorang pemuda memiliki kekuatan seperti itu?
Siancai, jangan mengejar mereka, Bong-sicu, berbahaya sekali"
Biarpun hatinya amat penasaran dan kecewa, Bong Sek Toan terpaksa tidak berani mengejar sendiri dan mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke selatan.
*** Han Sin membawa lari Cu Sian dan baru berhenti setelah tiba di tepi pantai.
Dia segera menuntun Cu Sian memasuki perahunya dan menjalankan perahunya mengikuti aliran sungai menuju ke selatan.
Barulah kini mereka saling pandang sambil duduk di dalam perahu itu.
Tangan kanan Han Sin memegang kemudi perahu.
Mereka saling pandang dengan penuh keheranan sehingga sampai lama mereka hanya saling tatap tanpa dapat berkata-kata.
"Luar biasa ""
Ucapan ini keluar dengan berbareng dari mulut mereka, seperti di komando saja dan kejadian yang kebetulan ini membuat keduanya tertawa lepas, karena merasa lucu sekali.
"Apanya yang luar biasa?"
Tanya Han Sin.
"Kau yang luar biasa. Biasanya, kau hanya seorang pemuda yang lemah, bahkan aku menjadi pengawalmu. Akan tetapi sekarang ternyata kau memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, jauh lebih lihai dibandingkan aku"
"Ah, biasa-biasa saja ""
Kata Han Sin merendah.
"Tidak, Sin-ko, kau hebat. Kau dapat merobohkan to-su sakti itu dalam segebrakan saja. Dan tadi kau mengatakan luar biasa, nah apanya yang luar biasa?"
"Kaulah yang luar biasa"
Kata Han Sin dan baru sekarang dia melihat betapa cantiknya Cu Sian.
Padahal, biasanya dia menganggap Cu Sian seorang pemuda remaja yang Bengal dan liar "Ternyata kau seorang wanita.
Bukankah itu luar biasa sekali?"
Cu Sian tersenyum "Sejak lahir aku memang perempuan, apanya yang luar biasa?"
Akan tetapi senyumnya kini berubah, ia menyerengai kesakitan.
Han Sin terbelalak dan cepat minggirkan perahunya, menghentikan perahu dengan mengikatkan talinya ke sebuah batu besar di tepi sungai yang sepi.
Lalu dia menghampiri Cu Sian yang masih menyerengai kesakitan sambil memegangi pundak kirinya.
"Kenapa kau, Sian-te "?"
Biarpun ia sedang kesakitan, Cu Sian kini tertawa, menertawakan Han Sin "Kau masih menyebutku Sian-te (adik laki-laki Sian)?"
Han Sin tercengang baru teringat akan kesalahanya "Eh "
Ohh "
Habis, aku harus menyebut apa? Oya, Sian-moi (adik perempuan Sian). Kau terluka? Biarkan aku memeriksanya"
Han Sin memegang pundak kiri dara itu dan membuaka baju di bagian itu yang memang sudah robek. Akan tetapi Cu Sian menepiskan tangannya "Hemm, kau mau apa? kenapa buka-buka baju?"
Wajah Han Sin menjadi kemerahan "Habis, kalau tidak di buka, bagaimana aku dapat memeriksa lukanya?"
Cu Sian lalu dengan hati-hati membuka sedikit baju yang robek itu, hanya cukup untuk memperlihatkan luka di pundaknya.
Han Sin memeriksa dan hatinya lega.
Luka itu tidak terlalu besar, hanya luka kulit dan juga nampak bersih tidak ada tanda-tanda keracunan.
Tentu saja nyeri, yaitu pedih karena kulit itu terobek.
"Sukur lukamu tidak berbahaya, Sian-mo. Hanya luka kulit dan tidak beracun. Biar ku obati dengan obat luka ini"
Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari buntalan pakaiannya dan menaburkan obat bubuk warna merah kepada luka itu.
Cu Sian memejamkan matanya, tadinya ia khawatir kalau obat itu menimbulkan rasa pedih, akan tetapi ternyata tidak, bahkan rasa pedih pada lukanya hilang, tertutup rasa dinginnyaman.
Ia lalu menutupkan lagi robekan bajunya, lalu bangkit berdiri dan menyambar buntalan pakaiannya "Kau tunggu di sini, aku mau berganti bajuku yang robek"
Katanya dan iapun melompat ke darat dan lenyap di balik semak belukar.
Tak lama kemudian ia sudah muncul lagi ke dalam perahu.
Han Sin melepas tali perahu dan perahu itu kembali meluncur mengikuti aliran air sungai.
"Sungguh mati tak pernah aku bermimpi bahwa kau adalah seorang wanita, Sian-moi"
Kata Han Sin sambil tersenyum memandang kepada gadis itu.
Biarpun masih mengenakan pakaian seorang pemuda remaja, akan tetapi karena dia sudah tahu bahwa Cu Sian seorang wanita, gadis itu kelihatan cantik manis, bukan lagi tampan seperti biasa dia melihatnya.
Cu Sian tersenyum lebar dan lesung pipitnya bermain-main di kanan kiri mulutnya "Akupun tidak pernah mimpi bahwa kau ternyata seorang pendekar yang berilmu tinggi, Sin-ko"
Katanya. Han Sin menatap wajah itu dan dia pun tertawa geli. Cu Sian mengerutkan alisnya dan cemberut, bertanya "Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu pada diriku?"
"Ha-ha-ha kau "
Seorang wanita. Sungguh aneh sekali. Kalau ku ingat akan sikapmu selama ini terhadap Loana dan Hailun. Sungguh luar biasa. Kenapa kau mempermainkan kedua orang gadis Mongol itu, Sian-moi?"
Cu Sian menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.
Kemudian ia mengangkat mukanya dan memandang kepada Han Sin dengan sinar mata menantang.
Agaknya ia tadi tersipu dan dengan kekerasan hatinya ia malah menantang.
"Aku hanya bermaksud menjauhkan mereka darimu, Sin-ko"
"Ah, kenapa?"
"Aku "
Aku takut kau jatuh cinta kepada Loana. Aku tidak ingin melihat kau terpikat oleh Loana atau gadis lainnya"
Sejenak mereka saling pandang dan akhirnya Cu Sian menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali karena ia menyadari bahwa baru ia membuka rahasia hatinya.
Han Sin tertegun.
Gadis ini cemburu.
Dan tidak ingin melihat dia jatuh cinta kepada gadis lain.
Jawaban ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa Cu Sian juga jatuh cinta kepadanya.
Han Sin termenung.
Dia harus mengakui bahwa dia amat suka kepada Cu Sian yang di sangkanya seorang pemuda remaja, bahkan dia selalu merindukan kehadiran sahabat itu.
Alangkah mudah baginya untuk mengubah rasa suka kepada Cu Sian pria itu menjadi rasa cinta kepada Cu Sian wanita.
Akan tetapi, perubahan atas diri Cu Sian itu demikian tiba-tiba datangnya dan dia sama sekali tidak tahu perasaan apa yang berada di dalah hatinya terhadap Cu Sian wanita.
hatinya sudah di penuhi oleh bayangan Kim Lan, dan agaknya sukar baginya untuk menukar bayangan itu dengan gadis lain.
Kini dia merasa tidak enak hati sekali dan salah tingkah ketika Cu Sian membuka perasaan hatinya kepadanya.
Segera dia hendak mengalihkan percakapan mereka kepada hal"hal lain.
"O ya, kau maafkanlah aku ketika aku meninggalkan kau tanpa pamit itu, Sian-moi"
"Ah, tidak, Sin-ko. Aku tahu bahwa tentu kau menganggap aku seorang pemuda mata keranjang yang hendak mempermainkan dua orang gadis. Akan tetapi setengah mati aku mengejar dan mencarimu. Untung bahwa kita dapat bertemu di tempat aku terancam maut itu"
"Sian-moi, kau hendak pergi kemanakah?"
Cu Sian memandang kepadanya "Kemana kau pergi ke sanalah aku pergi pula, Sin-ko.
Bukankah selama ini kita melakukan perjalanan bersama?
Aku ingin melakukan perjalanan bersamamu, Sin-ko.
Kemanakah kau hendak pergi?
Aku ikut denganmu"
Han Sin tersenyum.
Gadis ini sikapnya masih sama dengan ketika ia menjadi pemuda remaja.
Bengal, nakal, keras hati dan nekat.
Dia lalu menggeleng kepalanya "Hal itu tidak mungkin kita lakukan, Sian-moi.
Ingatlah, kau seorang gadis dan aku seorang pemuda, mana mungkin melakukan perjalanan berdua saja?"
"Apa salahnya? Kalau aku menyamar sebagai pria, siapa yang akan tahu? Kau sendiri juga tidak tahu. Biarkan aku menyertaimu dan aku akan tetap menyamar sebagai pria, Sin-ko"
"Hemm, biarpun selama ini aku dapat kau kelabui, akan tetapi ku rasa lambat laun aku tentu akan mengetahui juga. Banyak kejanggalan kau perlihatkan selama ini. Kau dekat namun jauh. Bahkan bermalam pun menggunakan dua kamar. Tentu akan ketahuan orang dan amat tidak baik bagi nama dan kehormatanmu sebagai seorang gadis, Sian-moi, kita terpaksa harus mengambil jalan masing-masing. Apalagi aku sendiri mempunyai urusan pribadi yang amat penting.
"Apakah kau telah mendapat tahu siapa pembunuh ayahmu dan pencuri pedang Hek-Liong-Kiam itu?"
"Belum, akan tetapi aku sudah mendapat petunjuk"petunjuk. Apalagi, aku menerima kabar duka bahwa ibuku pun baru saja di bunuh orang ""
Suara Han Sin terdengar sedih. Cu Sian terkejut "Ahhhh ". Siapa pembunuh keparat itu?"
"Tidak ada yang tahu, akan tetapi aku mendengar bahwa pembunuh ibuku menggunakan pedang hitam bersinar"
"Wahhh, jangan-jangan pembunuh ibumu adalah juga pembunuh ayahmu dan pencuri Hek-Liong-Kiam"
Han Sin mengangguk-angguk. Akupun berpendapat begitu, maka aku akan melakukan penyelidikan ke kota raja"
"Wah, ke Tiang-an?"
"Ya, menengok rumah di luar kota raja dan mengunjungi makam ibuku, dan menyelidiki musuh yang ku kira berada di kota raja"
"Bagus, kalau begitu aku pun akan pulang"
"Kemana?"
"Tiang-an. Kau tahu, Hek I Kaipang berpusat di Taing-an, Sin-ko. Jadi kita sama-sama menuju ke Tiang-an. Satu tujuan. Kau tentu tidak keberatan kalau kita melakukan perjalanan bersama, bukan?"
Apa yang dapat dikatakan Han Sin untuk menolak?
Tidak ada alas an sama sekali baginya untuk menolak dan kalau dia mau berterus terang kepada diri sendiri, dia pun sebenarnya senang dapat melakukan perjalanan dengan Cu Sian, walaupun kini Cu Sian telah berubah menjadi seorang gadis.
Diapun tersenyum "Kalau memang tujuan perjalanan kita sama, mengapa keberatan, Sian-moi?"
Bukan main girangnya hati Cu Sian nampak pada wajahnya yang kemerahan dan berseri-seri, matanya yang bersinar-sinar.
"Terima kasih, Sin-ko. Aku tahu, kau memang seorang yang baik sekali"
"Ada satu syarat, Sian-moi, yaitu mulai sekarang kau harus menuruti petunjukku dan jangan bersikap ugal-ugalan lagi"
Kata Han Sin dengan sikap galak sehingga Cu Sian tertawa geli.
"Baik, kakaku yang budiman. Dan aku pun mempunyai syarat yang harus kau penuhi"
"Ehhh? Kenapa jadi kau yang menentukkan syarat? Kau mulai ugal-ugalan lagi?"
"Tidak. Sekali ini kau harus menurut, yaitu mulai sekarang jangan menyebut aku Sian-moi. Bagaiamana nanti orang-orang yang mendengar seorang pemuda di sebut Sian-moi? Tentu mereka akan mengira kita ini berotak miring"
Han Sin tertawa bergelak. Hidup selalu nampak gembira kalau Cu Sian berada di dekatnya. Bocah ini memang lincah jenaka dan selalu mendatangkan kegembiraan.
"Baik, Sian-te. dan maafkan kelupaanku"
Tiba-tiba Han Sin teringat akan sesuatu "Wah, payah ini"
"Kenapa Sin-ko?" *** "Ketika aku bertemu denganmu tadi, aku sedang hendak pergi ke Lo-an untuk membeli perbekalan makan karena perbekalanku sudah habis. Karena peristiwa tadi, aku tidak jadi ke Lo-an dan sekarang perutku lapar sekali"
"Aku juga tidak membawa perbekalan makanan, akan tetapi aku selalu membawa bumbu untuk membuat makanan. Jangan khawatir, Sin-ko, bahan makanan tersedia banyak di dalam air ini"
Ia menunjuk keluar perahu.
"Eh? Makanan apa?"
"Ikan. Kau suka ikan panggang, bukan?"
"Tentu saja. Akan tetapi bagaimana menangkap ikan-ikan itu?"
"Ha-ha, alangkah bodohnya. Tentu saja memberi umpan dan memancing agar ikan-ikan itu muncul ke permukaan air lalu menangkapnya"
"Kita tidak mempunyai kail ""
"Lihat sajalah. Dalam waktu kurang dari satu jam sudah akan dapat menikmati ikan panggang"
Cu Sian lalu membongkar buntalan pakaiannya dan ia mengambil sebilah pisau.
Dengan pisau itu ia membuat ujung tongkatnya menjadi runcing.
Lalu ia mengeluarkan pula sehelai benang yang panjangnya kurang lebih dua meter.
Dengan cekatan sekali jari-jari tangannya bergerak memotong sedikit kain dari bajunya yang robek tadi, membentuk potongan kain itu seperti seekor kupu-kupu kecil lalu di ikatkan kupu-kupu kain itu pada ujung benang.
"Nah, sekarang dayunglah perahumu ke bagian yang airnya tidak berarus kuat, agak ke pinggir. Itu, di bawah pohon sana itu, tentu tempat itu menjadi sarang ikan. Biasanya ikan ekor kuning suka berada di tempat yang teduh seperti itu. Kau pernah makan ikan ekor kuning? Lezat sekali, Sin-ko"
Han Sin tidak mengerti apa yang hendak di perbuat oleh gadis itu, akan tetapi dia segera mengemnudikan perahunya menuju ke tepi, di bawah pohon besar.
"Nah, hentikan perahumu di sini"
Han Sin melempar tali ke darat dan perahunya terhenti. Ujung tali perahu itu melibat pohon kecil "Diam, jangan banyak bergerak atau bersuara"
Kata Cu Sian.
Gadis itu menggunakan ujung benang dan melempar kupu-kupu kain ke air, lalu menarik-nariknya sehingga kupu-kupu kecil itu seolah bergerak-gerak di atas permukaan air.
Tangan kanannya siap memegang tangkat yang ujungnya sudah runcing itu.
Barulah Han Sin mengerti apa yang di lakukan gadis itu.
namun dia masih ragu apakah gadis itu akan berhasil menangkap ikan dengan cara itu.
Cara yang belum pernah di lihat atau di dengar sebelumnya.
Akan tetapi Cu Sian mengerti apa yang ia lakukan.
Ia melakukan usaha menangkap ikan itu secara itu dengan penuh keyakinan karena pengalaman.
Ia tahu bahwa ikan ekor kuning, terutama yang besar, pasti akan muncul dan menyambar kupu-kupu kain itu.
Dan benar saja, tak lama kemudian Han Sin melihat dua ekor ikan sebesar betisnya muncul dan berebutan menyambar kupu-kupu kain itu.
Secepat kilat Cu Sian menggerakkan tongkatnya menusuk dan ia berhasil menangkap seekor ikan yang gemuk.
Seekor ikan yang ekornya kuning.
Tentu saja Han Sin menjadi girang dan kagum sekali.
Dia membantu gadis itu melepaskan ikan dari ujung tongkat yang menjadi tombak itu dan ikan itupun menggelepar-gelepar di dalam perahu.
"Satu lagi baru cukup, Sin-ko"
Kata Cu Sian dan kembali ia memasang umpan pancingnya yang istimewa.
dan tak lama kemudian, ia berhasil menangkap lagi seekor ikan yang sebesar betis.
Han Sin hanya dapat memandang kagum dan senang.
Tanpa di minta ia membantu gadis itu untuk membersihkan ikan dengan pisau yang agaknya selalu di bawa oleh gadis itu, membuka perutnya dan membuang isi perutnya.
Ikan itu tidak bersisik dan gemuk sekali.
Sementara itu, Cu Sian sudah melompat ke darat dan membuat api unggun.
Ia sudah mengeluarkan merica, bawang putih dan garam.
Setelah dua ekor ikan itu di lumuri bumbu, lalu di tusuk ranting kayu dan di panggang.
Bau yang sedap gurih membuat Han Sin menjadi semakin lapar sehingga keruyuk perutnya sampai terdengar oleh Cu Sian.
Gadis itu tersenyum dan Han Sin terpesona.
Kalau sudah begitu, Cu Sian menjadi demikian lembut dan cekatan, sifat kewanitaannya menonjol sepenuhnya.
Seorang gadis yang hebat, pikir Han Sin sambil mengenang semua sepak terjang Cu Sian.
Gadis yang gagah perkasa, pemberani tak mengenal takut, berbudi baik walaupun baik walaupun kadang nakal seperti kanak-kanak suka menggoda orang, dan sekarang memperlihatkan ketrampilannya dalam mempersiapkan makanan.
Dengan ketrampilan Cu Sian, agaknya kemanapun gadis itu pergi, ia tidak perlu membawa bekal makanan karena dimana-mana tersedia makanan untuknya.
Dan tepat seperti yang tadi dijanjikan Cu Sian, kurang dari satu jam hidangan berupa daging ikan panggang yang lezat sudah di lahap oleh Han Sin.
Cu Sian juga makan daging ikan panggang itu, namun tidak selahap Han Sin dan sekarang barulah Han Sin ingat bahwa dulu gadis itupun selalu makan dengan perlahan dan selalu mengambil potongan"potongan kecil dengan sumpitnya ketika makan bersama di rumah makan.
Kini baru dia mengerti mengapa demikian.
Betapa bodohnya dia.
"Hemm, lezat sekali"
Kata Han Sin berulang kali dan pujian yang jujur tanpa maksud merayu ini membuat Cu Sian bersinar-sinar penuh kegembiraan.
Daging dua ekor ikan itu habis dan setelah minum air jernih yang menjadi bekal Cu Sian, mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Perahu mereka meluncur cepat dan keduanya merasa gembira sekali.
Han Sin tidak merasa canggung lagi walaupun kini dia tahu bahwa temannya itu adalah seorang gadis.
Dan dari sikap Cu Sian yang sewajarnya, tidak dibuat-buat.
Dia semakin yakin bahwa gadis itu benar-benar mencintanya.
Tahulah dia mengapa sejak masih menyamar sebagai pria Cu Sian selalu hendak menemaninya.
*** Pada suatu pagi yang cerah, Han Sin dan Cu Sian berjalan santai mendaki sebuah bukit.
Sudah beberapa pekan mereka meninggalkan perahu di sungai Huang-ho, menghadiahkan perahu itu kepada seorang nelayan miskin yang tentu saja menjadi kegirangan.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju ke Tiang-an.
Kota raja sudah tidak terlalu jauh lagi, tinggal kurang lebih seratus mil dari bukit itu, membutuhkan perjalanan seenaknya selama tiga empat hari.
"Sian-moi ""
"Huushh, kau lupa lagi menyebutku Sian-moi"
Tegur Cu Sian.
Han Sin tertawa "Apa salahnya menyebutmu Sian-moi kalau kita sedang berduaan saja?
Kalau ada orang lain, barulah aku menyebutmu Sian-te.
Kau ini seorang gadis, mengapa ingin benar di anggap pria?"
Cu Sian juga tertawa "Demi keamanan penyamaranku"
"Sian-moi, kita sudah dekat dengan Kota raja dalam beberapa hari lagi. Apa perlunya kau masih menyamar dengan pakaian itu? Bagaimana kalau sekarang kau berganti pakaian yang sewajarnya?"
"Kenapa, Sin-ko? Apakah kau ingin melihatku dengan pakaian seorang gadis?"
Cu Sian mengamati wajah Han Sin dengan penuh selidik. Wajah Han Sin agak kemerahan, akan tetapi dia menjawab sejujurnya.
"Bukan hanya ingin melihatmu, melainkan agar kelak kalau aku bertemu denganmu dalam pakaian wanita, aku tidak akan pangling. Aku rasa kalau mulai sekarang kau berpakaian wanita, tidak akan ada halangannya"
"Hemm, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kalau diketahui orang, seorang gadis tidak pantas melakukan perjalanan dengan seorang pemuda?"
Cu Sian menggoda.
"Kalau kita mengaku sebagai kakak dan adik, siapa mengatakan tidak pantas?"
Cu Sian tertawa "Baiklah, aku memang selalu membawa bekal pakaian wanita, akan tetapi dimana aku dapat berganti pakaian?"
Han Sin menunding ke sebuah hutan tak jauh dari dari situ"
Di sana ada sebuah hutan. Kau dapat berganti pakaian di sana. Biar aku menanti di sini"
"Baiklah, Sin-ko"
Cu Sian lalu berlari memasuki hutan itu dan lenyap di balik pohon-pohon dan semak belukar.
Han Sin duduk di atas akar pohon yang menonjol ke permukaan tanah dan dia tersenyum-senyum.
Ingin sekali dia melihat bagaimana rupanya Cu Sian kalau mengenakan pakaian wanita.
Gadis itu tentu nampak cantik sekali.
Akan tetapi sungguh aneh, ketika dia mencoba untuk membayangkan wajah Cu Sian, eh yang nampak adalah wajah Kim Lan.
Entah dimana adanya gadis bijaksana ahli pengobatan itu, dan apa yang sedang ia lakukan.
Begitu teringat kepada Kim Lan, seketika dia sudah melupakan Cu Sian dan timbul perasaan rindu yang amat mengganjal di dalam hati.
Dia sudah lupa lagi berapa lama dia menanti di situ dan Cu Sian juga belum kembali.
Ketika akhirnya dia teringat kepada Cu Sian, dia bangkit berdiri dan memandang kearah hutan itu.
Baru dia teringat bahwa sudah lama Cu Sian memasuki hutan, akan tetapi belum juga kembali.
Tidak mungkin berganti pakaian memakan waktu selama itu.
Atau barangkali Cu Sian sedang bersolek diri?
Dia tersenyum, akan tetapi kembali senyumnya menghilang.
Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Cu Sian.
Han Sin lalu berlari kearah hutan itu.
Karena takut kalau-kalau gadis itu sedang berganti pakaian, dia pun memanggil "Sian-moi"
Akan tetapi tidak ada jawaban dan diapun memasuki hutan.
Pada saat itu dia mendengar suara orang bertempur di sebelah dalam hutan itu.
Cepat dia meloncat kearah itu dan tak lama kemudian dia melihat Cu Sian, yang sudah berpakaian sebagai seorang dara yang cantik, sedang bertanding melawan seorang pemuda.
Pemuda itu berusia sebaya dengannya, mungkin lebih tua setahun dua tahun, bertubuh sedang tegap dan berwajah tampan.
Pakaiannya indah sebagai seorang sastrawan dan rambutnya tersisir rapi.
Dia seorang pesolek dan dia bertanding melawan Cu Sian dengan menggunakan senjata sebuah kipas, kipas besar.
Gagang kipas itu terbuat dari pada baja dan gerakannya lihai bukan main.
Di dekat tempat itu berdiri pula serombongan orang terdiri lima belas orang.
Akan tetapi yang amat mengejutkan hati Han Sin adalah ketika dia melihat seorang gadis diantara mereka karena gadis ini bukan lain adalah Ma Goat, puteri Pak-Te-Ong yang tempo hari mengejar-ngejarnya.
Sebetulnya, dengan tongkat ranting di tangannya, Cu Sian tidak terlalu terdesak oleh pemuda itu dan mereka bertanding seimbang.
Akan tetapi ketika melihat munculnya Han Sin, Ma Goat cepat bergerak kedepan, suling di tangannya berkelebat dan terdengar Cu Sian berseru kaget karena ranting di tangannya telah terlepas dari pegangan.
Totokan suling itu pada pergelangan tangannya membuat ia terpaksa melepaskan tongkatnya dan sebelum ia dapat berbuat sesuatu, Cu Sian tidak mampu melawan lagi dan tidak berani bergerak karena sekali suling itu menyerang lehernya tentu ia akan tewas.
Melihat ini, Han Sin sudah hendak meloncat dan menerjang untuk menolong Cu Sian, akan tetapi Ma Goat yang cerdik sudah berteriak kepadanya, sambil menempelkan sulingnya di leher Cu Sian.
"Cian Han Sin, jangan bergerak. Sedikit saja kau bergerak, gadis ini akan mati"
Mendengar ancaman ini, tentu saja Han Sin tidak berani bergerak. Dia tahu kelihaian Ma Goat, dan tahu pula bahwa gadis itu merupakan puteri seorang datuk dan memiliki watak yang aneh, keras dan kejam.
"Ma Goat"
Katanya tenang "Kenapa kau menawan nona itu? Ia tidak bersalah apa-apa, lepaskan ia"
"Enak saja, dan kau akan melarikan diri lagi? Gadis ini menjadi tawananku sebagai sandera agar kau tidak melarikan diri lagi dariku. Lui-kongcu, suruh anak buahmu mengikat kedua tangan Han Sin"
Pemuda yang di sebut Lui Kong-cu itu lalu memberi isyarat dan empat orang anak buahnya lalu menghampiri Han Sin dengan tali yang kuat di tangan.
Melihat ini, Cu Sian berseru "Sin-ko, lawanlah, berontaklah dan jangan pedulikan aku"
Akan tetapi Han Sin melihat bahwa sekali dia bergerak.
Tentu saja akan terbunuh.
Tentu saja dia tidak menghendaki hal ini terjadi.
Pihak lawan terlalu banyak dan Cu Sian sudah terjatuh ke tangan Ma Goat.
Keadaannya tidak menguntungkan dan memaksanya untuk menyerah.
"Aku berjanji tidak akan mengganggunya, Han Sin"
Han Sin merasa lega dan dia menjulurkan kedua lengannya ke depan "Nah, belenggulah aku"
Empat orang itu segera membelenggu kedua tangan itu dengan tali yang kuat sehingga Han Sin tidak mampu menggerakkan kedua tangannya, Melihat ini, Ma Goat tertawa gembira dan sekali sulingnya bergerak, ia telah menotok pundak Cu Sian dan gadis itu terkulai lemas.
"Ma Goat. Kau melanggar janji?"
Bentak Han Sin marah.
Ma Goat tersenyum dan berkata "Tenanglah, Han Sin.
Gadis ini terlalu galak dan suka memberontak, kalau tidak ku totok, tentu ia akan merepotkan kami.
Lui-kongcu, kau urus gadis ini, biar aku yang akan mengurus Han Sin"
Lui-kongcu tersenyum dan sekali melompat dia telah berada dekat Cu Sian, lalu dengan ringan dia memondong tubuh gadis yang sudah lemas tidak mampu menggerakkan kaki tangannya itu.
"Lepaskan aku, kau jahanam busuk. Ku hancurkan kepalamu nanti, lepaskan"
Cu Sian berteriak-teriak karena ia sudah tidak dapat meronta.
Pemuda itu tersenyum.
Kipasnya berkelebat menotok kearah leher dan Cu Sian tidak mampu mengeluarkan suara lagi.
Pemuda itu lalu membawanya pergi ke dalam hutan, mendaki bukit itu.
"Marilah, Han Sin. Kau ikut dengan kami. Ingat, gadis ini masih berada di tangan kami. Maka jangan kau membuat ulah"
Ma Goat mengancam. Terpaksa Han Sin menurut dan diapun melangkah ketika lengannya di gandeng Ma Goat yang tersenyum-senyum senang.
"Kau membuat aku sengsara, Han Sin. Siang malam aku teringat kepadamu. Sekali ini kau harus berada di sisiku untuk selamanya dan jangan meninggalkan aku lagi. Kenapa sih kau ini tidak tahu di cinta orang setengah mati?"
Han Sin menjadi merah mukanya.
Ucapan gadis itu dikeluarkan begitu saja, tanpa malu-malu padahal di belakang mereka berjalan lima belah orang anak buah itu.
Diapun diam saja, pura-pura tidak mendengar dan tidak perduli ketika Ma Goat di sepanjang jalan mengeluarkan kata-kata rayuan.
Dia hanya memperhatikan Cu Sian yang masih berada di pundak pemuda she Lui itu, dan hatinya merasa amat khawatir.
Dia harus mencari kesempatan untuk dapat membebaskan Cu Sian dari tangan mereka.
Dia merasa menyesal sekali mengapa tadi minta kepada Cu Sian untuk berganti pakaian.
Merasa bersalah karena kalau dia tidak minta gadis itu berganti pakaian, tentu kini Cu Sian tidak tertawan.
Tak lama kemudian mereka tiba di puncak bukit dan di puncak itu tersembunyi diantara pohon-pohon raksasa, terdapat sebuah bangunan baru.
Agaknya bangunan dari kayu ini belum dibangun orang.
Sebuah bangunan yang besar sekali sehingga amat mengherankan bagaimana bangunan sebesar itu dibangun orang di tengah hutan puncak bukit, Pemuda tampan yang memondong Cu Sian yang telah tertotok tak berdaya itu dengan cepat menghilang kedalam bangunan.
Pemuda itu bukan lain adalah Lui Sun Ek, putera Panglima Lui Couw di kota raja.
Dia telah mewarisi ilmu kepandaian dari ayahnya dan merupakan seorang pemuda yang pandai ilmu silat dan sastra.
Sikapnya lemah lembut dan nampaknya sopan santun.
Tak seorangpun akan mengira bahwa putera panglima besar Lui itu sebetulnya adalah seorang pemuda hidung belang dan mata keranjang yang namanya tidak asing lagi di rumah-rumah pelesir.
Para pelacur tingkat tinggi di kota raja mengenal pemuda ini sebagai seorang kong-cu yang royal sekali.
Akan tetapi pemuda ini pandai menyembunyikan kelakuannya ini, bahkan para pembesar di kota raja tidak ada yang menyangka bahwa dia seorang yang gemar berjudi dan melacur.
Melihat pemuda itu membawa Cu Sian ke dalam bangunan dan menghilang, Han Sin merasa khawatir sekali "Ma Goat, aku sudah menyerah, dengan janjimu bahwa kau tidak akan mengganggu Cu Sian"
"Aku tidak membohongimu, Han Sin. Aku tidak akan mengganggu sehelai rambutpun dari gadis itu"
Kata Ma Goat sambil menggandeng lengan Han Sin "Mari masuk dan kita bicara di dalam"
Han Sin terpaksa menurut "Rumah siapakah ini?"
Tanyanya ketika mereka memasuki rumah yang besar itu. Ma Goat menariknya masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup mewah dan bersih, lalu mereka duduk berhadapan terhalang meja.
"Nah, sekarang katakan, apa maksudmu menangkap kami berdua, Ma Goat?"
Tanya Han Sin.
Dia duduk dan sikapnya tenang walaupun kedua tangannya masih terbelenggu.
Dia sama sekali tidak khawatir akan diri sendiri, hanya mengkhawatirkan nasib Cu Sian.
Ma Goat memandang tajam lalu bertanya "Han Sin, siapakah gadis itu?"
"Ia tidak bersalah apa-apa. Ia bernama Cu Sian"
"Apamukah ia?"
"Hemm, bukan apa-apa, hanya kebetulan jalan bersama. Kenalan biasa. Karena itu, bebaskanlah ia, Ma Goat"
"Hemm, kau bilang ia bukan apa-apa, akan tetapi kau mau mengorbankan diri, menyerah untuk menyelamatkan ia"
Dalam suara Ma Goat terkandung kemarahan karena cemburu.
"Sudah kukatakan, Ma Goat bahwa Cu Sian tidak bersalah apa-apa. Tentu saja aku tidak ingin melihat ia celaka atau di ganggu oleh siapapun. Nah, sekarang katakan apa kehendakmu? Bebaskan dulu Cu Sian dan kita boleh berurusan diantara kita saja"
"Tidak bisa aku membebaskan gadis itu sekarang. Kalau ia ku bebaskan lalu kau memberontak, bagaimana? Aku harus yakin dulu bahwa kau tidak akan melarikan diri, baru aku mau membebaskannya"
"Ma Goat, apa sih maumu?"
"Kau sudah tahu apa mauku? Kau harus menjadi suamiku"
Kata pula gadis itu tanpa malu-malu lagi. Han Sin berusaha menyadarkannya "Ma Goat, perjodohan tidak mungkin dapat dipaksakan. Aku sama sekali belum berpikir tentang perjodohan"
"Kau memang seorang yang tidak mengenal budi. Lupakah kau bahwa kalau tidak ada aku, kau tentu sudah mampus di bunuh ayah dan See-Thian-Mo? Aku menyelamatkan nyawamu karena aku cinta padamu, Han Sin. karena itu, kau harus menjadi suamiku dan kalau aku sudah menjadi isterimu apapun permintaanmu akan aku penuhi"
Han Sin menggeleng kepala "Perjodohan tidak dapat dilakukan semudah itu, Ma Goat"
"Apa kau menghendaki Cu Sian kubunuh di depan matamu?"
"Aku yakin kau tidak akan melakukan hal itu. Pertama karena Cu Sian tidak bersalah dan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kita. Kedua karena walaupun ia ku bunuh, percuma saja"
Ma Goat bangkit berdiri dengan alis berkerut "Kau memang keras kepala. Akan tetapi aku dapat lebih keras lagi daripada kau. Kita lihat saja siapa yang akan menyerah"
Tiba-tiba gadis itu mencabut sulingnya dan menyerang dengan totokan kearah leher Han Sin.
Han Sin cepat mengelak dengan menjatuhkan dirinya ke belakang akan tetapi karena kedua tangannya terikat, gerakannya menjadi kaku sehingga kakinya menabrak bangku dan diapun terpelanting.
Tiba-tiba dia merasa nyeri dilehernya dan ternyata Ma Goat sudah meniupkan sebatang jarum yang mengenai lehernya.
Dan gadis itu tersenyum lebar kepadanya.
"Kau tahu jarum apa yang mengenai lehermu? Jarumku itu mengandung racun penghisap darah dan sudah meracuni seluruh jalan darahmu. Kalu tidak percaya, coba kau kerahkan tenaga saktimu"
Han Sin sudah dapat bangkit berdiri dan dia tidak begitu percaya kepada ucapan gadis itu.
Lehernya terasa kaku dan pedih.
dan ketika dia mencoba untuk mengerahkan sin-kang, tiba-tiba dia mengeluh karena merasa isi dadanya seperti di tusuk-tusuk.
Dia terkejut sekali dan memandang kepada gadis itu.
"Ma Goat, kau memang seorang gadis yang kejam sekali"
"Aku? Kejam kepadamu? Ah, tidak ini hanya merupakan caraku untuk membujukmu agar kau suka menjadi suamiku. Nah, lihat. Aku akan membebaskanmu sekarang"
Ia menghampiri Han Sin, mencabut jarum yang menancap di lehernya, kemudian ia melepaskan ikatan tangan Han Sin.
Han Sin sudah bebas, akan tetapi dia tahu bahwa dia tidak mampu melakukan sesuatu karena dia tidak dapat mengerahkan tenaga saktinya.
"Sekarang, apa maumu?"
Kata pula Han Sin dengan penasaran. Cu Sian tertawa dan dia dibuat tidak berdaya. Keadaan mereka benar-benar terancam.
"Bukan saja gadis itu kujadikan sandera, akan tetapi kau juga tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyetujui permintaanku untuk menjadi suamiku. Lihat, ini adalah obat penawar racun penghisap darah. Sekali menelan pil ini kau akan terbebas dari cengkraman racun itu"
Ia mengeluarkan sebungkus pil dari balik bajunya"
Ku beri kau waktu satu malam untuk mempertimbangkan permintaanku.
kalau kau menuruti permintaanku, suka menjadi suamiku, aku akan segera membebaskan Cu Sian dan memberikan pil penawar racun ini kepadamu dan kita akan hidup bahagia.
Aku akan menjadi isterimu yang mencinta dan setia.
Akan tetapi, kalau besok pagi-pagi kau menolak permintaanku, Cu Sian akan kusembelih didepanmu, dan kau akan mati karena darahmu terhisap habis oleh racun"
Setelah berkata demikian, Ma Goat meninggalkan Han Sin dalam kamar itu dan menutupkan daun pintu kamar dari luar.
Setelah yakin bahwa gadis itu sudah pergi.
Han Sin kembali mencoba untuk menyalurkan sin-kangnya.
Akan tetapi, begitu tenaga sakti itu bergerak dari tan-tian (bawah pusar), dadanya terasa nyeri sekali.
Tahulah dia bahwa Ma Goat tidak hanya menggertak.
Racun itu talh bekerja dan agaknya racun itu hebat sekali.
Dia tidak mungkin akan dapat menggunakan kekerasan untuk menolong Cu Sian.
bagaimanapun juga, akan dicobanya.
Dengan hati-hati Han Sin membuka daun pintu.
Akan tetapi empat batang golok menodongnya dari luar pintu itu terdapat belasan orang penjaga dengan golok di tangan.
Kalau saja dia tidak keracunan, belasan orang anak buah itu tentu tidak ada artinya baginya.
Akan tetapi dalam keadaan tidak dapat menggunakan tenaga sakti seperti sekarang, melawan seorang anak buah saja dia tidak akan menang.
Di cobanya melalui jendela.
Akan tetapi, ketika daun jendela terbuka, kembali ada beberapa batang golok menodongnya.
Kamar itu ternyata telah di jaga ketat.
Ma Goat tidak bekerja setengah-tengah.
Cu Sian di tawan sebagai sandera.
Dia keracunan dan kehilangan tenaga.
kamar itupun di kepung ketat.
Benar-benar dia tidak berdaya sama sekali.
Dia kembali duduk.
Kini dia duduk di atas pembaringan, bersila dan termenung.
Apa yang harus dilakukan?
Dia diberi waktu semalam oleh Ma Goat.
Jalan kekerasan untuk melawan tidak ada lagi.
Kalau dia masih dikuasai oleh racun itu, bagaimana mungkin dia dapat melakukan perlawanan dan dapat membebaskan Cu Sian?
Cu Sian sendiri sudah tertawan.
Ma Goat amat lihai dan pemuda yang menawan Cu Sian itu pun lihai.
Masih di tambah anak buah mereka.
Kalau saja dia tidak keracunan, kiranya dia masih sanggup membebaskan Cu Sian.
Tidak ada jalan lain kecuali menyerah.
Menjadi suami Ma Goat?
Untuk selamanya terikat kepada gadis yang kejam dan liar itu?
Tidak mungkin.
Lalu apa yang dapat dia lakukan?
Pura-pura menyerah, kemudian kalau Cu Sian sudah dibebaskan dan dia sudah tidak dipengaruhi racun lagi, dia mengajak Cu Sian melarikan diri?
Kiranya hanya itu satu-satunya jalan.
Menipu dan melanggar janjinya sendiri?
Apa boleh buat.
Menghadapi seorang yang licik dan curang seperti Ma Goat yang sudah menawan Cu Sian untuk menundukkannya, kalau perlu dia dapat menggunakan siasat janji palsu.
Akhirnya Han Sin mengusir semua pikiran yang penuh kegelisahan itu dan diapun berisitrahat untuk menghadapi hari esok yang penuh ketegangan dan ancaman bahaya.
*** Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Han Sin sudah terbangun dan dia segera duduk bersila dan mencoba untuk mengerahkan lagi tenaganya.
Akan tetapi kembali dia mengeluh dan terpaksa menghentikan usahanya karena dadanya seperti di tusuk pedang rasanya.
Racun itu masih bekerja, bahkan lebih hebat dari pada kemarin.
Dia masih duduk bersila sambil mengatur pernapasan.
Untuk melenyapkan rasa nyeri di tubuhnya.
Hari masih pagi sekali dan diluar masih gelap.
Akan tetapi di dalam kamar itu di terangi lampu yang semalam memang tidak dipadamkan oleh Han Sin.
Ketika mendengar langkah lembut di luar kamarnya, jantungnya berdebar tegang.
Daun pintu terbuka perlahan dari luar dan masuklah Ma Goat dalam kamar itu.
Seperti biasa, pakaiannya mewah dan agaknya sepagi itu ia sudah mandi dan bersolek.
Bau harum menerpa hidung Han Sin ketika pintu di buka lalu di tutup lagi oleh Ma Goat.
Han Sin merasa semakin tegang hatinya.
Dia merasa bahwa bahaya besar yang mengerikan telah datang mengancamnya dan dia sama sekali tidak berdaya.
Dia menenangkan hatinya dan mengambil keputusan untuk sementara mengalah dan pura-pura menyerah ketika gadis itu sudah berdiri di depannya, dia membuka mata memandang gadis itu.
Ma Goat tersenyum manis.
Ia membawa sebuah mangkuk terisi sup sum-sum yang masih mengepulkan uap dan mengeluarkan aroma yang sedap menimbulkan selera.
Senyumnya melebar ketika ia melihat Han Sin membuka mata memandangnya.
"Selamat pagi, kekasihku. Ku harap kau sudah mengambil keputusan sekarang. Bagaimana?"
"Ma Goat, sesungguhnya aku belum memikirkan soal perjodohan pada waktu sekarang ini. Akan tetapi aku agaknya tidak memiliki pilihan lain. Demi keselamatan Cu Sian yang sama sekali tidak berdosa itu, terpaksa aku bersedia menuruti kehendakmu"
Wajah Ma Goat berseri, sepasang matanya bersinar-sinar "Ah, jadi kau mau menjadi suamiku, Sin-ko? "Bagus, aku merasa gembira dan berbahagia sekali"
"Ya, aku mau. Sekarang penuhilah janjimu. Pertama, bebaskan Cu Sian dan biarkan ia pergi tanpa di ganggu. Kedua, beri obat penawar racun kepadaku"
"Aha, urusan itu mudah saja. Akan tetapi kau harus lebih dulu membuktikan bahwa kau benar-benar suka menjadi suamiku. Jangan anggap aku sebagai anak kecil yang mudah saja di bodohi begitu saja. Nah, kau minumlah sup ini, sayang. Sup ini sengaja kubuat untukmu, kemudian buktikan bahwa kau suka menjadi suamiku"
Diam-diam Han Sin terkejut sekali.
Kiranya gadis ini selain lihai dan jahat curang, juga cerdik bukan main.
Apa yang harus dia lakukan?
Tidak ada lain kecuali menurut saja.
Apapun isi sup itu dan bagaimanapun akibatnya nanti, dia tidak dapat menolak untuk meminumnya.
Akan tetapi ketika dia sudah menjulurkan tangan untuk menerima mangkuk itu, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan muncullah seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Kim Lan atau Lan Lan.
Kim Lan sudah mengerahkan kekuatan sihirnya memandang kepada Ma Goat sehingga ketika Ma Goat menoleh kearah pintu dan bertemu pandang dengannya, otomatis Ma Goat telah berada dalam kekuasaan sihirnya.
"Sobat, kenapa seorang wanita seperti kau bermain-main dengan ular berbisa? Kau memegang ular berbisa, lepaskan atau kau akan di gigitnya"
Suara yang lembut itu mengandung pengaruh yang penuh wibawa dan Ma Goat terbelalak kaget ketika melihat bahwa yang dipegangnya bukanlah semangkuk sup sum-sum, melainkan seekor ular cobra yang mendesis-desis.
Tentu saja ia terkejut dan cepat membanting ular itu.
mangkuk terjatuh dan pecah, isinya muncrat kemana-mana.
"Sobat, kau tidak mampu bergerak, tubuhmu kaku seperti telah menjadi batu"
Kembali Kim Lan berkata dan benar saja.
Ma Goat tidak dapat bergerak lagi sehingga dengan mudah Lan Lan menghampiri lalu menotok leher dan pundaknya, membuat ia tidak mampu bergerak lagi, juga tidak mampu bergerak lagi.
juga tidak mampu berteriak.
"Lan-moi ""
Seru Han Sin gembira sekali "Untung kau muncul pada saatnya yang tepat sekali. Akan tetapi Kim Lan memperhatikan dan berkata dengan alis berkerut, kau keracunan hebat, Sin-ko"
"Memang benar dan obat penawarnya ada pada Ma Goat itu. Tolong ambilkan obat penawar itu dibalik ikat pinggangnya, Lan-moi"
Kim Lan menggeledah dan mendapatkan sebungkus obat pil di balik ikat pinggang Ma Goat.
Setelah memeriksanya, ia lalu menuruh Han Sin minum obat itu sampai habis.
Dan memang luar biasa sekali, begitu minum obat penawar berupa pil itu, tubuhnya terasa segar dan kuat kembali.
Dia lalu berusaha untuk mengerahkan sin-kangnya dan ternyata dadanya tidak sakit lagi dan tenaganya sudah pulih.
Tentu saja dia menjadi girang sekali.
Karena sudah tidak khawatir lagi kalau-kalau Ma Goat melakukan perlawanan.
Han Sin lalu membebaskan totokan Kim Lan pada diri Ma Goat.
Dan memang Ma Goat tidak lagi berani berbuat sesuatu.
Setelah Han Sin tidak keracunan, tentu saja ia tidak dapat berbuat sesuatu, apalagi di situ terdapat gadis berpakaian putih yang pandai sihir itu.
"Ma Goat, sekarang antar kami ke tempat dimana Cu Sian di tahan. Aku akan memaafkanmu kalau kau mengantar kami ke sana"
Kata Han Sin. Dan sungguh aneh. Ma Goat yang sudah tidak berdaya itu malah tersenyum "Kau hendak menemui gadis liar itu? hik-hik, boleh, boleh, marilah"
Dengan Ma Goat sebagai penunjuk jalan, Han Sin dan Kim Lan lalu menuju ke bagian belakang rumah itu dan di depan sebuah kamar, Ma Goat menudingkan telunjuknya kearah pintu kamar itu "Di sinilah temanmu itu"
Katanya.
"Lan-moi, jaga ia jangan sampai berbuat yang tidak"tidak. Aku akan memeriksa dalam kamar"
Kata Han Sin dan sekali tangan kanannya mendorong dia telah membuat pintu kamar itu roboh.
Dia melihat seorang pemuda tampan pesolek sedang duduk makan minum di depan meja.
pakaiannya awut-awutan dan rambutnya kusut.
Dan Cu Sian sendiri berada di atas pembaringan dengan pakaian kusut dan rambut terurai, rebah tak dapat bergerak dan air matanya bercucuran tanpa mengeluarkan suara tangis.
Jelas bahwa ia tertotok.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Lui Sun Ek, pemuda itu, ketika tiba-tiba saja pintu kamar itu jebol dan muncul Han Sin.
Dia cepat menyambar kipas besar bergagang baja di atas meja dan menerjang ke arah Han Sin.
Akan tetapi dengan mudah Han Sin mengelak sambil berloncatan ke sana sini, kemudian kakinya mencuat dan sebuah tendangan kilat mengenai dada Lui Sun Ek yang membuat pemuda itu terjengkang.
Pada saat itu Cu Sian sudah dapat bergerak karena Kim Lan menotok Ma Goat sehingga tidak mampu bergerak dan cepat ia sudah melompat ke dalam dan membebaskan totokan yang membuat Cu Sian tidak mampu bergerak.
Begitu dapat bergerak dan melihat Lui Sun Ek terjengkang roboh, kipasnya terlempar, Cu Sian meloncat dan menyambar kipas itu.
kemudian bagaikan orang yang kemasukan setan, ia berteriak-teriak, memaki-maki dan kipas yang bergagang baja itu menghujani tubuh dan muka Lui Sun Ek.
Lui Sun Ek menjerit-jerit kesakitan, mukanya berlumuran darah dan bajunya robek-robek, akan tetapi Cu Sian terus menusuk-nusuk dan memukul-mukulkan gagang kipas sampai dia tidak mampu bergerak lagi dengan muka hancur dan tubuh penuh luka.
Akan tetapi, Cu Sian belum juga mau berhenti, agaknya ia hendak melumatkan tubuh pemuda itu.
Melihat ini Han Sin melompat dan memegang lengan kanannya.
"Cu Sian, cukup. Dia sudah mati ""
Katanya bergidik melihat keadaan tubuh pemuda yang tadinya tampan dan pesolek itu.
Cu Sian menangis tersedu-sedu, akan tetapi Ma Goat yang berdiri di luar pintu seperti patung tidak mampu bergerak "Kaupun perempuan jalang yang pantas di bunuh"
Bentaknya dan ia sudah melompat dan menyerang Ma Goat dengan kipas yang berlumuran darah itu.
Akan tetapi Han Sin kembali menangkis dan memegang lengannya "Jangan, Cu Sian.
Jangan bunuh ia.
Aku sudah berjanji kepadanya dan ia pernah menyelamatkan nyawaku dahulu"
Katanya dan dengan tangan kiri masih memegangi dan menahan tangan kanan Cu Sian yang mengamuk, Han Sin menggunakan tangan kanannya untuk membebaskan totokan pada diri Ma Goat.
"Cepat kau pergi kalau kau tidak ingin mati"
Kata Han Sin.
Ma Goat tahu diri.
Ia bergidik ngeri melihat Lui Sun Ek mati seperti itu dengan wajah hancur dan tubuh penuh luka.
Ia tahu bahwa Cu Sian tentu akan membunuhnya.
Gadis itu seperti telah menjadi gila.
maka setelah dibebaskan dari totokan tanpa menanti perintah dua kali ia sudah melompat dan melarikan diri sekuat tenaga meninggalkan tempat yang mengerikan itu.
Ketika para anak buah yang tadi tidak dapat mencegah kedatangan Kim Lan yang menyihir mereka berdatangan untuk mengeroyok, mereka disambut amukan tiga orang itu dan lari kocar kacir mencari keselamatan.
Cu Sian mengamuk sambil menangis terus, dan ketika mereka berlari, ia mengejar dan membunuh sebanyak mungkin orang yang dapat ia lakukan.
"Cu Sian, sudahlah, sudah cukup kau membunuh orang"
Kembali Han Sin yang mencegahnya. Melalui cucuran air matanya, Cu Sian memandang kepada Han Sin. Kipas berlumuran darah masih berada di tangannya "Kau "
Kau membiarkan perempuan jahanam itu pergi """"
Teriaknya dan dengan marah ia membanting kipas itu lalu meloncat pergi meninggalkan Han Sin.
"Sian-moi ""
Han Sin hendak mengejar.
"Tidak ada gunanya dikejar"
Kata Kim Lan dengan suara lembut berwibawa dan Han Sin menahan kakinya, membalik dan memandang gadis berpakaian putih itu.
"Kenapa ia? Aku khawatir ia "".terguncang jiwanya dan sakit ""
"Hem, apakah kau tidak dapat menduga apa yang telah terjadi kepada diri Cu Sian yang bernasib malang itu? Dunia rasanya kiamat baginya. Ia membunuh pemuda itu dengan penuh kebencian untuk melaksanakan dendamnya. Kau tidak dapat menduga?"
"Aku "
Aku tidak mengerti. Ia di tangkap sebagai sandera oleh mereka untuk membuat aku menyerah"
"Hem, kalau saja kau tidak menyerah, tentu hal itu tidak akan terjadi"
"Tapi ia tentu akan di bunuh oleh mereka"
"Dibunuh masih lebih ringan daripada penderitaan yang kini ia alami"
"Eh, mengapa begitu? Apa yang terjandi dengannya, Lan-moi?"
"Sin-ko, kau sungguh masih hijau kalau tetap tidak mengerti. Cu Sian mengalami malapetaka yang paling hebat bagi seorang gadis. Ia telah diperkosa, di nodai oleh jahanam yang dibunuhnya itu"
"Ahhhh """
Wajah Han Sin tiba-tiba menjadi pucat, lalu merah sekali "Keparat jahanam. Pantas saja ia menjadi begitu marah dan benci. Kasihan sekali Cu Sian"
"Bukan hanya kasihan saja, Han Sin. Kau harus berbuat sesuatu. Kau tahu, Cu Sian amat mencintaimu, mencinta dengan seluruh jiwa raganya. Maka, dapat kau bayangkan ketika ia dinodai orang, dan ia mengira kau pasti mengetahui pula. Hancur hatinya dan hanya kau yang mampu mengobati kehancuran hatinya itu"
"Aku? Bagaimana caranya?"
"Ia amat mencintamu. Kau harus mengawininya untuk menebus aib yang menimpanya"
Han Sin terbelalak, memandang kepada Kim Lan dengan hati berdebar tidak karuan. Sampai lama dia tidak menjawab, lalu ketika dia bicara suaranya gemetar.
"Itu tidak mungkin. Aku ". Aku menyayangnya seperti saudara, sejak aku mengira ia seorang pemuda, aku menyayangnya seperti sorang adik"
"Tapi ia amat mencintaimu dan kalau kau tidak mengawininya, kiamatlah dunia ini untuknya"
"Tapi, Lan-moi. Tidak tahukah kau? Aku ". Aku selama hidupku baru satu kali jatuh cinta dan hanya akan mencinta wanita satu kali saja. Aku mencinta kau, Lan-moi, sejak pertemuan kita yang pertama kali. Bagaimana kau menuruh aku menikah dengan Cu Sian? Dan akupun tidak buta, Lan-moi. Aku tahu dan yakin bahwa kaupun cinta padaku ""
"Tidak ". Tidak ""
"Kau tidak dapat membohongiku, Lan-moi, kau tidak dapat menyangkal. Aku dapat melihat cintamu melalui pandang matamu, Lan-moi, kalau kita saling mencinta, kenapa kau menyuruh aku menikah dengan gadis lain?"
"Tidak, Sin-ko. Aku tidak mau, tidak ingin merusak hati Cu Sian yang demikian berbudi. Ia seorang gadis yang baik sekali dan ia mati-matian mencintaimu, Sin-ko. Kau harus mengawininya, Sin-ko. Aku sendiri kelak akan membencimu dan membenci diri sendiri kalau kau tidak mau mengawininya dan menghancurkan hati Cu Sian yang penuh cinta kasih kepadamu itu. Nah, cepat kejarlah Cu Sian"
Setelah berkata demikian. Kim Lan berkelebat pergi.
"Lan-moi, tunggu """
"Cukup, aku tidak mau lagi bicara. Jangan mengejarku"
Kata gadis itu dengan suara bercampur isak dan Han Sin menahan larinya.
Tidak akan baik jadinya kalau dia mengejar dan memaksa, maka diapun hanya berdiri bengong, mengikuti bayangan gadis itu dengan pandang mata sedih dan sayu.
Apa yang harus dia lakukan?
Menuruti permintaan Kim Lan, mengejar Cu Sian dan mengawini gadis itu?
Tidak, mungkin hal ini dia lakukan.
Bukan karena Cu Sian telah ternoda.
Hal itu sama sekali tidak menjadi alasan karena Cu Sian ternoda diluar kehendaknya.
Akan tetapi bagaimana dia dapat mengawini Cu Sian kalau cintanya kepada Cu Sian seperti kepada seorang adik, kalau cintanya hanya kepada Kim Lan seorang?
Dia menghela napas berulang-ulang, kemudian teringat akan urusannya sendiri, teringat akan kematian ibunya seperti yang di dengarnya dari Panglima Coa Hong Bu.
Ibunya terbunuh oleh seorang yang mempergunkan Hek-Liong-Kiam, berarti pembunuh ayahnya juga pembunuh ibunya.
Dan kemana lagi mencari pembunuh ibunya kalau tidak di kota raja, di tempat ibunya terbunuh?
Setelah berpikir demikian, dia lalu mengambil keputusan untuk pulang ke rumah ibunya.
*** "Suhu, terimahlah hormat teecu (murid)"
Han Sin menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tiong Gi Hwesio.
Hwesio yang sudah tua itu nampak heran, cepat membangunkan pemuda itu dan memandang dengan mata tuanya yang sudah dihiasi alis yang putih semua.
"Omitohud ". Sicu siapakah?"
Tanyanya.
"Suhu, apakah suhu sudah lupa kepada teecu? Teecu adalah Cian Han Sin"
"Omitohud ". Akhirnya kau pulang juga, Han Sin. Ibumu "
Hwesio itu meragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Teecu sudah mendengar dari Panglima Coa Hong Bu bahwa ibu tewas terbunuh. Karena itulah maka teecu pulang untuk melakukan penyelidikan, siapa gerangan yang membunuh ibu dan mengapa pula ibu dibunuh orang. Barangkali suhu dapat memberi petunjuk kepada teecu"
"Omitohud. Pin-ceng menyesal sekali bahwa pinceng tidak dapat memberi petunjuk apapun kepadamu, Han Sin. Pinceng tidak mengetahui ketika peristiwa itu terjadi. Kepada Panglima Coa Hong Bu yang datang ke sini, pin-ceng juga tidak dapat memberithu apa-apa. Kalau kau ingin menyelidik, pergilah ke rumahmu. Di sana masih ada Cio Si, pembantu Ibu mu itu dan hanya ia yang berada di rumah ketika pembunuhan itu terjadi. Pergi dan tanyalah kepadanya Han Sin. Semoga kau berhasil. Han Sin menghaturkan terima kasih lalu meninggalkan kuil itu, menuju ke rumah ibunya. Dia merasa terharu melihat rumah itu masih dipelihara dengan baik dan segera dia dapat bertemu dengan Cio Si yang menjadi penghuni tunggal rumah itu. Tidak seperti Tiong Gi Hwesio, Cio Si segera mengenalnya dan begitu bertemu dengan majikan muda itu, ia menangis dan merangkul kaki Han Sin. Pemuda itu mengangkatnya bangun dan berkata dengan tenang "Sudahlah, Cio Ma, tidak ada yang perlu di tangisi lagi. Sekarang persiapkan alat-alat sembahyang, antarkan aku ke kuburan ibu dan di sana nanti kita bicara"
Tergopoh-gopoh Cio Si mempersiapkan segala keperluan sembahyang secara sederhana dan tak lama kemudian, tanpa bicara, mereka berdua pergi mengunjungi makam nyonya Ji Goat, ibu kandung Han Sin.
Di depan makam ibunya Han Sin bersembahyang dan duduk bersila terpekur sampai beberapa lamanya.
Kemudian dia bangkit dan mengajak duduk Cio Si di depan makam.
"Nah, Cio-ma, sekarang ceritakan apa yang kau lihat dan dengar, apa yang kau ketahui tentang pembunuhan itu"
"Baru sekarang saya berani bercerita kepadamu, kong-cu. Ketika orang-orang bertanya, saya tidak berani bercerita karena takut di bunuh penjahat itu. Bahkan kepada Panglima yang datang menanyai saya, saya hanya mengatakan bahwa ibumu dibunuh orang yang memakai pedang hitam. Itu saja"
"Jadi kau tahu lebih banyak lagi? Nah, ceritakan kepadaku semuanya, Cio-ma"
"Ketika itu ibumu sedang berlatih silat. Ketika penjahat itu datang, saya ketakutan dan bersembunyi di balik semak-semak. Penjahat itu minta kitab yang namanya saya lupa lagi, pendeknya minta kitab agar jangan terjatuh ke tangan Kaisar Yang Ti. Ibumu menolak dan mereka berkelahi. Orang itu lalu mengeluarkan sebatang pedang hitam berkilauan dan ibumu tertusuk dan roboh tewas. Kemudian orang itu masuk ke rumah, agaknya menggeledah karena barang-barang di rumah acak-acakan, lalu pergi. Barulah saya berani keluar dan memanggil tetangga, melapor kepada Tiong Gi Hwesio"
"Bagaiman wajah pembunuh itu? Berapa kira-kira usianya dan bagaimana pula perawakannya?"
"Ketika itu, usianya sekitar empat puluh lima tahun, wajahnya gagah dan tubuhnya sedang dan tegap. Pakaiannya juga indah sekali ""
"Pakaian Panglima?"
"Bukan, pakaian biasa kong-cu"
"Hem, apakah ada tanda atau cirri khusus yang membuat dia mudah di ingat atau di kenal?"
"Wajahnya hanya gagah, akan tetapi biasa saja. Akan tetapi ada satu hal yang penting sekali dan belum saya beritahukan kepada orang lain, kong-cu. Ketika mereka berkelahi, ibumu menyebut orang itu sebagai Lui-sute (adik seperguruan Lui)"
"Lui-sute ".? Hemmm, setahuku ibu tidak mempunyai seorang adik seperguruan"
Han Sin melamun dan mengingat-ingat, akan tetapi tetap dia tidak dapat menduga siapa Lui-sute itu.
"Ibumu juga mengatakan bahwa orang itu pembunuh ayahmu, kong-cu"
"Hemmm "
Karena tidak ada keterangan lain yang lebih jelas, maka dia berpikir keras.
Pembunuh ayahnya?
Menurut keterangan Tarsukai, ketika ayahnya roboh, dia didekati seorang perwira Sui.
Mungkin itukah pembunuhnya yang bermarga Lui itu?
Seorang perwira?
Dia harus menyelidiki kalau-kalau ada seorang perwira Lui yang dulu ikut ayahnya berperang ke sebelah utara Shan-si.
Setelah pulang ke rumahnya, mulailah Han Sin melakukan penyelidikan.
Dengan bertanya-tanya, akhirnya die mendengar bahwa dahulu memang ada perwira Lui yang menjadi pembantu ayahnya ketika berperang ke utara.
Han Sin menjadi girang sekali mendengar keterangan bahwa perwira Lui itu lihai sekali dan juga usianya sekitar lima puluh tahun kurang.
Akan tetapi ketika die melakukan penyelidikan lebih jauh, dia mendengar bahwa panglima Lui itu sedang melakukan perjalanan mengawal Kaisar Yang Ti ke utara.
Kaisar Yang Ti berkenan memimpin pasukan melakukan pembersihan ke Shan-si utara.
Tidak ada lain jalan bagi Han Sin kecuali melakukan pengejaran ke utara.
kalau benar perwira Lui itu yang telah membunuh ayah ibunya, dia harus berhati-hati sekali, apalagi perwira itu sedang melakukan pengawalan atas diri Kaisar.
Setelah berkunjung lagi ke makam ibunya dan berpamit dari Tiong Gi Hwesio, Han Sin lalu meninggalkan kota raja untuk kembali ke utara mengikuti jejak perwira Lui yang mengawal Kaisar menggerakkan pasukan ke utara.
*** Beberapa hari kemudian, ketika dia berjalan melalui jalan sunyi di sebuah bukit, dia melihat seorang kakek melangkah terhuyung-huyung.
nampaknya orang itu menderita sakit dan hampir roboh.
Melihat ini Han Sin cepat menghampirinya dan masih sempat mencegahnya roboh dengan merangkul pundaknya.
Ternyata dia seorang yang sudah tua sekali, kepalanya gundul dan jubahnya menunjukkan bahwa dia seorang hwesio.
"Lo-suhu, kau kenapakah?"
Tanya Han Sin khawatir melihat wajah ayang amat pucat dan napas yang terengah-engah itu. Aneh, Hwesio yang kesakitan itu malah tertawa.
"Ha-ha-ha, omitohud ". Agaknya Sang Budha masih menolong pinceng "
Tidak mati tanpa ketahuan orang "
Dia terengah-engah, akan tetapi mulutnya masih tersenyum lebar.
Sikap ini saja sudah amat menarik hati Han Sin dan menimbulkan rasa hormat dan sukanya.
Dia membantu hwesio tua itu duduk bersila di tepi jalan di atas rumput, bahkan dia membantu dengan penyaluran tenaga saktinya untuk mengobati luka dalam tubuh hwesio itu.
Akan tetapi hwesio itu menolak setelah kaget sejenak merasakan getaran tenaga dalam yang amat kuat.
"Omitohud "
Kau seorang pemuda yang sakti. Akan tetapi "
Percuma saja, aku tidak akan dapat disembuhkan. Dengar, orang muda, pinceng bernama Thian Ho Hwesio "
Dan pinceng sudah mau mati. Mudah-mudahan kau seorang pendekar yang sudi memenuhi permintaan seorang yang mau mati ""
"Katakanlah, lo-suhu. Kalau saya dapat melakukannya, tentu akan saya lakukan"
"Omitohud "
Ha-ha, kau ternyata seorang pemuda yang teliti dan baik.
Pin-ceng bertemu Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo.
Mereka hendak membunuh Kaisar dan mengajak pinceng.
Ketika pin-ceng menolak, mereka lalu mengeroyok pin-ceng.
Mereka terlalu tangguh bagi pinceng sehingga pinceng terluka ""
Kembali ia terengah-engah karena telah mengeluarkan banyak tenaga untuk bicara.
"Hemm, mereka memang bukan orang baik-baik. Lalu apa pesan lo-suhu?"
"Pinceng mempunyai seorang murid, akan tetapi keadaan murid itu penuh rahasia "
Tolonglah, tolong ia agar bertemu dengan orang tuanya ""
"Akan tetapi bagaimana saya dapat lo-suhu?"
"Datangi ketua Thian-li-pang. Ketua itu yang dahulu menculik muridku ketika masih kecil dan pin-ceng menolong anak itu. tanyakan kepada ketua Thian-li-pang siapa orang tua anak itu "
Kau memiliki kepandaian, tentu dapat memaksanya mengaku""
"Ahhh ". terima kasih, kini pin-ceng dapat mati dengan lega dan rela ""
Pendeta itu yang duduk bersila lalu memejamkan kedua matanya dan napasnya terhenti.
Han Sin teringat bahwa dia belum menanyakan nama murid itu, maka dia lalu mengguncang pundak hwesio itu "Lo-suhu ".
Lo-suhu, jangan mati dulu, aku ingin bertanya ""
Akan tetapi tubuh itu biarpun masih hangat, sudah tidak bergerak lagi. Han Sin dengan cepat lalu menotok beberapa jalan darah kearah jantung dan kekek itu membuka matanya.
"Omitohud. pin-ceng sudah mulai berjalan pulang, kenapa kau panggil lagi?"
Hwesio itu menegur.
"Maaf, lo-suhu. Lo-suhu belum menceritakan siapa nama murid lo-suhu"
"Ha-ha-ha, oh, itu? Namanya Lan Lan. Lan Lan "
Dan dengan nama muridnya di bibir kakek itu terkulai lehernya dan tewas dalam keadaan masih duduk bersila.
Han Sin tertegun dan terbelalak.
Dia tahu bahwa kakek itu sudah tewas.
Lan Lan?
Siapa lagi kalau bukan Kim Lan?
Jadi Kim Lan murid kakek saneh yang ternyata sakti bukan main ini sehingga ketika matipun dalam keadaan bersila?
Timbul semangatnya untuk melaksanakan pesan kakek itu.
Tanpa di pesan juga dia akan rela melaksanakannya demi kepentingan Kim Lan.
Jadi Kim Lan adalah seorang anak yang dulu di culik oleh Ketua Thian li pang, kemudian di pungut sebagai murid oleh hwesio ini dan tidak mengenal ayah bunda sendiri?
Sungguh kasihan.
Han Sin mengubur jenazah kakek itu dengan baik-baik.
Di atas makam itu dia menancapkan sebatang kayu besar dan dia mengukirnya dengan kata-kata .
MAKAM GURU KIM LAN.
Setelah itu dia lalu memberi hormat kepada makam itu dan pergi.
Thian li pang adalah perkumpulan pendeta wanita yang terkenal gagah perkasa dan termasuk perkumpulan bersih.
bagaimana ketuanya dapat melakukan penculikan terhadap seorang anak kecil?
Tentu ada rahasianya.
Di lereng Thian San terdapat perkumpulan Thin li pang.
Sejak dulu, ketika masih diketuai oleh mendiang Im Yang To-kouw, Thian li pang terkenal sebagai perkumpulan wanita-wanita gagah, para to-kouw (pendeta wanita To) yang bertindak sebagai para pendekar wanita yang galak dan keras hati.
Setelah kini di pegang oleh murid mendiang Im-yang To-kouw, perkumpulan itu terkenal lebih keras lagi.
Keras peraturannya terhadap murid-muridnya.
Para murid yang jumlahnya ada lima puluh orang lebih itu bukan saja dilarang untuk menikah, bahkan kalau kelihatan bicara dengan laki-laki saja akan dihukum.
Dan terhadap dunia luar merekapun bersikap keras, terutama sekali terhadap para penjahat, para murid Thian li pang tidak pernah memberi ampun.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kang Sim To-kouw dahulu ketika masih muda bernama Yap Ci Hwa, seorang wanita yang berhati keras dan bengis.
Setelah kini menjadi ketua, ia menjadi lebih keras hati lagi.
Akan tetapi diam-diam ia telah menyimpan suatu rahasia dihatinya, yang kadang membuat ia nampak berduka dan menyesal bukan main.
Suatu dosa yang baginya kadang-kadang amat menyiksa.
Ia pernah menculik puteri dari sumoinya sendiri, yaitu Ciang kwi yang sekarang menjadi ketua Hwa li pang di Hwa-san.
ia bahkan telah membunuh secara diam-diam suami sumoinya itu, kemudian ia menculik anak perempuannya.
Dosa ini selalu menghantuinya dan membuat ia yang usianya baru lima puluh tahun itu nampak seperti sudah tujuh puluh tahun.
Tidak sukar bagi Han Sin untuk mendapatkan keterangan dari para penduduk dusun di kaki gunung Thian-san di mana adanya Thian li pang.
Semua orang tahu belaka.
Para pendeta wanita dari Thian-li-pang memang terkenal sebagai orang-orang dermawan yang suka menolong penduduk, membasmi penjahat, memberi obat dan bahkan memberi uang.
Para penduduk juga selalu naik ke lereng dimana Thian li pang mempunyai sebuah kuil untuk bersembahyang.
akan tetapi tentu saja yang diperbolehkan datang ke kuil hanyalah kaum wanita saja.
Laki-laki dilarang keras naik ke kuil, bahkan tidak boleh menaiki lereng yang menjadi wilayah Thian li pang.
Setelah mendapat keterangan dari para penduduk dusun dimana letaknya Thian li pang, disertai peringatan pria dilarang keras naik ke sana.
Han Sin lalu mempergunakan kepadandaiannya untuk berlari cepat mendaki tempat itu.
Kuil itu berada di lereng bukit dan dari jauh saja sudah nampak tembok kuil dan pagarnya yang putih bersih.
Baru saja tiba di depan pintu gerbang, Han Sin sudah berhadapan dengan dua belas orang pendeta wanita anggota Thian li pang.
Mereka terdiri dari wanita yang berusia antara dua puluh sampai tigapuluh tahun dan diam-diam Han Sin merasa heran.
Semua pendeta wanita itu sungguh amat sederhana, baik sanggulnya, jubahnya maupun wajahnya yang sama sekali tidak berbau bedak maupun pemerah.
Padahal diantara mereka banyak yang memiliki wajah yang lumayan cantiknya.
Dia cepat-cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat.
Akan tetapi seorang diantara para to-kouw itu, yang berusia tiga puluh tahun, sudah membentaknya dengan suara halus namun galak.
"Agaknya kau tidak tahu bahwa di sini merupakan tempat larangan untuk kaum pria. Hayo cepat menggelinding turun dari sini sebelum kami menggunakan kekerasan"
Jarak antara Han Sin dan para to-kouw itu ada lima meter dan mendengar bentakan itu, Han Sin melangkah maju untuk menghampiri sambil tersenyum.
Melihat ini, para to-kouw itu cepat melangkah mundur menjauhi.
"Maaf, kenapa cu-wi to-kouw menjauhiku? Aku bukan seorang yang menderita penyakit menular. Aku datang hendak bicara dengan ketua kalian. Bukankah ketua kalian yang bernama Kang Sim To-kouw?"
"Jangan mendekat atau kami akan membunuhmu"
Bentak pimpinan to-kouw itu "Ketua kami tidak sudi bertemu dan bicara dengan seorang pria. Pergilah sebelum terlambat"
"Heiiii, apakah kalian benar-benar demikian membenci pria?"
Tanya Han Sin sambil tersenyum.
"Kami membenci semua pria mati-matian"
Mereka menjawab dengan suara hiruk pikuk dan Han Sin tertawa bergelak. Para to-kouw itu merasa heran dan marah mendengar pemuda itu tertawa.
"Mengapa kau tertawa? Manusia tidak sopan"
"Mengapa aku tertawa? Tentu saja tertawa melihat kelucuan kalian. Kalian berkata membenci semua pria. Apakah kalian tidak mempunyai ayah kandung? Apakah kalian juga membenci dan membunuh ayah kandung kalian. Juga kakek kalian, saudara kalian yang laki-laki, Keponakan kalian yang laki-laki, saudara misan kalian, kakak ipar kalian, adik laki-laki kalian, paman kalian "
"Cukup. Cepat pergi atau kami akan menyerangmu"
Bentak pemimpin itu sambil menoleh ke kanan kiri dengan sikap ketakutan.
"Ha-ha-ha, kalian seperti sekumpulan kucing yang ketakutan. Ingin aku bertemu dengan ketua kalian, maka panggillah ia keluar. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian"
"Minggatlah"
Bentak pimpinan itu dan iapun sudah menerjang ke depan, menyerang Han Sin dengan sebatang pedangnya.
Han Sin miringkan tubuhnya dan ketika dia menggerakkan tangannya, to-kouw itu terpelanting roboh.
Semua to-kouw menjadi kaget dan marah dan duabelas orang itu serentak menyerang Han Sin dengan pedang mereka.
Han Sin tidak tega untuk melukai mereka, maka ia hanyak mengelak dan menangkis, dan mendorong mereka sehingga mereka berpelantingan tanpa menderita luka-luka.
Beberapa orang dari mereka cepat lari ke dalam untuk memberi laporan.
Tak lama kemudian, terdengar bentakan nyaring "Hentikan semua pengeroyokan"
Para to-kouw yang sudah jatuh bangun itu lalu mundur dan berdiri dengan muka merah di belakang seorang to-kouw tua yang baru muncul.
To-kouw ini berusia kurang lebih lima puluh tahun.
wajahnya nampak kaku dan galak, matanya seperti mata harimau.
Inilah Kang Sin To-kouw yang dahulu bernama Yap Ci Hwa.
Dengan tegak ia memandang Han Sin kepalanya di angkat dan matanya tajam menyelidik.
Tangan kirinya memegang sebatang kebutan bulu hitam, tangan kanannya memegang pedang.
Sebetulnya wanita itu tidaklah buruk, bahkan di waktu mudanya tentu manis, akan tetapi karena wajah itu diselimuti kekerasan dan kekakuan, maka nampak buruk dan kelaki-lakian.
"Bocah kurang ajar. Siapa kau berani membikin kacau Thian li "pang"
Bentak Kang Sim To-kouw dengan bengis.
"Katakan namamu agar kau jangan mati tanpa nama"
Han Sin tersenyum lebar. Kini mengertilah dia mengapa para to-kouw itu begitu ketakutan. Ternyata ketua mereka memang bengis dan galak.
"Namaku Cian Han Sin dan aku tidak mau mati dulu, baik dengan atau tanpa nama. Apakah lo-cian-pwe ini pang-cu dari Thian li pang?"
"Benar, aku pang-cu dari Thian-li-pang, dan kau telah melakukan pelanggaran besar-besaran. Tidak saja kau berani melanggar wilayah kami, akan tetapi kau bahwa telah merobohkan murid-muridku. Sekarang kau akan mati di tanganku"
Kang Sim To-kouw lalu memberi tanda dengan tangannya dan semua murid yang berjumlah kurang lebih lima puluh orang itu sudah menyerbu semua.
Bergidik juga Han Sin di keroyok wanita demikian banyaknya.
Akan tetapi dia mengeluarkan kepandaiannya, tubuhnya bagaikan baja, kalau sampai terserempet pedang, maka pedang itu yang terpental dan tangkisan tangannya membuat pedang lawan terlempar jauh.
hanya dengan dorongan tangan saja dia membuat anak buah Thian li pang terjungkal roboh tumpang tindih.
"Semua mundur"
Kang Sim To-kouw berseru ketika melihat betapa muridnya seperti sekumpulan semut mengeroyok seekor jangkrik saja.
Para murid yang memang sudah jerih lalu berkelompok mundur dan Kang Sim To-kouw yang cepat menggerakkan pedang dan kebutannya menyerang dengan dahsyatnya ke arah Han Sin.
*** Han Sin melihat bahwa ilmu kepandaian to-kouw ini cukup berat walaupun masih kalah dibandingkan ketua Hwa-li-pang yang pernah di lihatnya bertanding melawan keluarga gila dahulu itu.
Dia pun menyambutnya dengan gerakan cepat dan membiarkan wanita itu mengamuk dan menyerang bertubi-tubi sampai tigapuluh jurus lebih.
Dia hanya mengelak dan kadang menangkis saja.
"Lo-cian-pwe, perlahan dulu"
Han Sin meloncat ke belakang "Aku bukan orang jahat, aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu"
"Kalahkan dulu pedang dan kebutanku, baru kita bicara"
Kata to-kouw itu yang mengira bahwa pemuda itu menjadi jerih.
"Hemm, begitukah maumu? Baik"
Kata Han Sin yang tadinya tidak ingin membikin malu to-kouw itu dengan mengalahkannya.
Sekarang mau tidak mau dia harus mengalahkan wanita berhati baja ini.
Maka mulailah dia mengisi kedua tangannya dengan tenaga Bu-tek Cin-keng dan begitu dia mendorong kedua tangannya, Kang Sim To-kouw tidak mampu bertahan dan terdorong ke belakang, terhuyung dan hampir roboh kalau beberapa orang muridnya tidak cepat merangkulnya.
Diam-diam Kang Sim To-kouw terkejut bukan main.
Tak disangkanya ia akan di kalahkan demikian mudahnya oleh seorang pemuda.
"Nah, Lo-cian-pwe, apakah kau akan menjilat ludah sendiri dan tidak memenuhi janji untuk mendengarkan pembicaraanku?"
Dengan cemberut Kang Sim To-kouw mendengus"
Masuklah dan mari kita bicara"
Katanya karena di depan semua muridnya sudah jelas ia telah dikalahkan dan tentu saja ia tidak ingin mengingkari janji.
Ia masuk ke dalam kuil dan di ikuti oleh Han Sin.
Setelah berada di ruangan dalam, mereka duduk berdua berhadapan dan Kang Sim To-kouw berkata ketus "Nah, katakan apa yang hendak kau bicarakan?"
Han Sin senang melihat bahwa di situ tidak ada orang lain sehingga dia dapat leluasa bicara.
Dia tersenyum, memandang tajam lalu berkata perlahan "Pang-cu, aku datang ingin membicarakan tentang dosamu yang amat besar"
Sepasang mata itu terbelalak dan muka itu berubah merah sekali karena marahnya "Orang muda. Apakah karena sudah dapat menang melawan aku kau lalu boleh main-main sesuka hatimu? Jangan kurang ajar"
"Maaf, pang-cu. Aku tidak main-main. Aku bicara sejujurnya. Aku tahu apa yang kau lakukan belasan tahun yang lalu. Mungkin tidak ada orang lain yang mengetahui, akan tetapi aku tahu benar bahwa kau telah melakukan dosa besar sekali"
Kini wajah yang tadinya merah berubah agak pucat dan pandang matanya penuh selidik "Hemm, coba katakan, dosa apa yang telah kulakukan?"
"Kau telah menculik seorang anak perempuan yang kau tinggalkan di dalam hutan"
Wajah itu menjadi pucat sekali dan otomatis wanita tua itu menoleh ke kanan kiri untuk melihat apakah pembicaraan mereka ada yang mendengarkan.
Setelah yakin bahwa di situ tidak ada orang lain, ia memandang kepada Han Sin.
"Kau bohong. Kau ngawur dan melakukan fitnah"
Akan tetapi teriakannya dilakukan dengan suara bisik-bisik.
Han Sin tertawa "Pang-cu kau seorang ketua dan seorang pendeta wanita.
sungguh tidak pantas sekali apa yang kau lakukan itu.
Akan tetapi Thian adil.
Perbuatanmu itu ada yang melihatnya dan anak perempuan itu kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang berilmu tinggi sekali.
Apa yang akan dilakukannya kalau ia kuberitahu bahwa kau dulu menculiknya?"
Kang Sim To-kouw merasa tersudut dan akhirnya ia menghela napas panjang. Memang perbuatannya itu selalu menghantuinya dan ia merasa menyesal bukan main.
"Cian Han Sin, lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Hem, aku tidak akan menceritakan kepada siapapun juga asal kau suka memenuhi permintaanku"
"Apa yang kau kehendaki?"
"Aku ingin mengatakan siapa orang tua anak itu"
"Kalau aku tidak mau memberitahu? "Akan kusiarkan ke seluruh dunia kang-ouw bahwa pang-cu dari Thian-li-pang yang terhormat itu ternyata hanyalah seorang penculik anak kecil, seorang penculik yang kejam, juga akan ku beritahukan kepada gadis itu agar ia sendiri yang menuntut balas ke sini. Dan jangan harap kalian semua akan mampu menandinginya. Ia lebih lihai daripada aku"
Kata Han Sin mengancam. Wajah itu semakin pucat dan berulang kali ia menghela napas panjang "Baiklah, akan kuberitahu kepadamu sendiri. Bocah itu adalah anak dari sumoiku sendiri"
"Siapa sumoimu?"
"Namanya Ciang Hwi, sekarang bernama Pek Mau To-kouw """
"Pek Mau To-kouw ketua Hwa-li-pang di Hwa-san?"
Han Sin memotong dan mengangguk sambil menundukkan mukanya.
"Akan tetapi "
Mengapa "?"
"Jangan Tanya mengapa ". Aku akan menjadi gila karena iri hati ""
Dan tiba-tiba to-kouw itu menangis sesunggukan, tanpa suara.
Han Sin dapat melihat betapa to-kouw itu menyesali perbuatannya, maka diapun merasa kasihan "Penyesalan saja tiada gunanya, pang-cu.
Yang penting pang-cu harus berani mengakui kepada sumoimu dan minta maaf.
Aku mengenal Pek Mau To-kouw dan ia adalah seorang yang berbudi mulia.
Tentu ia akan suka memaafkanmu"
Kang Sim To-kouw mengangguk "Maukah kau menemaniku mengunjunginya?"
"Tentu saja. Mari kutemani kau berkunjung ke Hwa-li-pang"
Kang Sim To-kouw lalu menghentikan tangisnya.
Ia memanggil para murid kepala dan berpesan agar mereka menjaga Thian-li-pang baik-baik karena ia hendak pergi bersama Han Sin.
Para murid memandang heran akan tetapi tidak ada yang berani bertanya.
Pada hari itu juga, Kang Sim To-kouw berangkat bersama Han Sin menuju ke Hwa-li-pang.
Kalau bukan karena urusan itu menyangkut diri Kim Lan, tentu Han Sin tidak mau bersusah payah menemani pang-cu itu ke Hwa-san.
*** Kedua orang to-kouw itu saling berhadapan dan saling pandang sampai beberapa lamanya.
Akhirnya Kang Sim To-kouw yang mendahului memanggil "Sumoi ""
Pek Mau To-kouw terbelalak, merasa seperti dalam mimpi.
Tadinya ia tidak mengenal siapa to-kouw yang berdiri di depannya itu karena sudah nampak tua sekali, seperti telah berusia tujuhpuluh tahun.
Akan tetapi setelah Kang Sim To-kouw memanggilnya, barulah ia menyadari bahwa yang berdiri di depannya benar-benar Yap Ci Hwa atau Kang Sim To-kouw, sucinya.
Ia lalu maju merangkul dan berseru.
"Suci "... Benarkah kau ini, suci? Terima kasih kepada Thian. Suci mau datang ke sini berkunjung kepadaku?"
Mereka berangkulan kemudian Pek Mau To-kouw dapat menguasai dirinya dan memandang kepada Han Sin.
"Suci datang bersama pemuda ini "
Heiii, bukankah sicu ini pemuda yang dulu datang bersama keluarga gila itu?"
Han Sin memberi hormat "Benar pang-cu, Thian-li-pangcu berkunjung untuk membicarakan hal yang teramat penting kepadamu, maka harap kami diperbolehkan bicara di dalam"
"Ah, mari, silahkan. Silahkan masuk"
Pek Mau To-kouw menggandeng tangan Kang Sim To-kouw yang masih terharu melihat sambutan sumoinya yang dahulu di musuhinya dan Han Sin mengikuti dari belakang. Mereka duduk dalam ruangan tamu.
"Hal penting apakah yang perlu dibicarakan?"
Tanya Pek Mau To-kouw dan ia semakin heran melihat betapa tiba-tiba saja sucinya menangis.
"Eh? Suci, kau kenapakah? Orang-orang seperti kita ini sudah tidak semestinya lagi menangisi sesuatu. Segala sesuatu dalam dunia ini adalah baying-bayang belaka, tidak ada yang perlu di susahkan"
"Sumoi, aku datang untuk minta ampun kepadamu"
Pek Mau To-kouw terbelalak memandang sucinya, kemudian menoleh kearah Han Sin. Pemuda itu hanya mengangguk-angguk saja.
"Suci, apa-apaan ini? Akulah yang seharusnya minta maaf kepadamu bahwa selama ini aku tidak mengunjungimu, bahkan sebaliknya hari ini kau datang berkunjung. Kenapa minta ampun?"
"Sumoi, aku datang untuk membuat pengakuan akan dosaku yang tak berampun kepadamu. Aku "". Akulah yang telah menculik anak perempuanmu dahulu"
Betapapun tenang dan sabarnya ia, Pek Mau To-kouw terlonjak kaget dan meloncat dari tempat duduknya. Sambil berdiri dengan muka pucat ia memandang sucinya "Akan tetapi "
Kenapa "
Kenapa kau lakukan itu, suci? Dan dimana ia sekarang? Diamana anakku?"
Han Sin berkata "Jangan khawatir, pang-cu.
Puterimu masih hidup dan sekarang telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi.
Kang Sim To-kouw menjatuhkan dirinya duduk di atas kursi lagi, merangkap kedua tangan seperti menyembah dan berseru "Terima kasih kepada Thian.
Anakku masih hidup, achh, anakku masih hidup"
"Sumoi, maukah kau memaafkan aku?"
"Tentu saja, suci. Peristiwa itu sudah berlalu belasan tahun lamanya dan anakku Lan Lan masih hidup. Dimana ia sekarang?"
"Aku tidak tahu, sumoi dan Cian Han Sin inilah yang mengetahui dimana ia"
"Aku juga tidak tahu dimana ia sekarang. Akan tetapi aku akan mencarikan ia untukmu, pang-cu. Tidak dapatkah pang-cu menduga siapa anakmu itu? Pernah pang-cu bertemu dengannya di sini"
"Ehhhh ".? Siapakah? Sudah ratusan orang gadis kutemui di sini, yang datang bersembahyang ""
"Akan tetapi puterimu itu lain lagi. Ia sendiri tidak tahu bahwa kaulah ibu kandungnya. Puterimu itu adalah gadis berpakaian putih yang bernama Kim Lan itu"
Kembali Pek Mau To-kouw melonjak kaget, akan tetapi kali ia kelihatan gembira bukan main.
"Ia ". Ah, terima kasih Tuhan, anakku menjadi gadis yang berbudi dan sakti. Ah, sicu, dimana ia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya"
"Tenanglah, pang-cu. Aku sendiri tidak tahu dimana ia sekarang ini, akan tetapi aku berjanji akan membawanya ke sini bertemu denganmu"
Pek Mau To-kouw yang merasa bahagia sekali itu lalu bangkit dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada Han Sin.
"Terima kasih, Cian-sicu, kau merupakan dewa penolong bagiku"
Han Sin cepat membalas penghormatan itu "Aihh, pang-cu. Harap jangan bersikap seperti itu. Ingat, ketika aku dijadikan tawanan keluarga gila itu, pang-cu juga telah ikut menolongku"
"Akupun berterima kasih kepadamu, suci. Dengan pengakuanmu ini, kau telah mendatangkan kebahagiaan dalam hatiku dan itu sudah cukup untuk menebus kesalahanmu dahulu"
Kata Pek Mau To-kouw bijaksana.
Akan tetapi tiba-tiba Kang Sim To-kouw melakukan sesuatu yang membuat Pek Mau To-kouw dan Han Sin terkejut.
Ketua Thian-li-pang itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut didepan sumoinya sambil menangis.
"Eh, apa yang kaulakukan ini suci?"
"Sumoi, dosaku tak berampun. Aku bukan hanya minta ampun kepadamu, bahkan kalau sekarang juga kau membunuhku, aku rela untuk menebus dosaku, sumoi"
"Suci, apa artinya ini?"
"Aku ". Aku yang telah membunuh Ang Cun Sek ""
Nenek itu kini menangis sesunggukan.
Wajah Pek Mau To-kouw yang tadinya berseri dan kemerahan saking bahagianya mendengar berita tentang puterinya, kini mendadak pucat sekali dan matanya terbelalak.
Jadi, pembunuh suaminya adalah sucinya ini juga.
"Aku "
Aku menjadi gila ". Kemasukan setan karena iri kepadamu sumoi "
Kang Sim To-kouw menangis. Pek Mau To-kouw menegakkan kepalanya dan suaranya terdengar lembut namun ketus.
"Hemm, aku tidak berhak memberi ampun kepadamu, suci. Kau telah membunuh seorang manusia yang tidak berdosa. Kalau mau minta ampun, mintalah ampun kepada Thian. Sekarang pergilah dan jangan berada di sini lebih lama lagi"
Pek-Mau To-kouw mengusir sucinya yang mengaku telah membunuh suaminya itu.
Kang Sim To-kouw menangis.
bangkit berdiri lalu berlari keluar sambil terus menangis.
Setelah Kang Sim To-kouw pergi, barulah Pek Mau To-kouw tenang kembali dan ia merangkap kedua tangan depan dada.
"Siancai "
Terima kasih kepada Thian yang telah memberi kekuatan kepada hambanya ""
Katanya lirih.
Han Sin kagum sekali.
To-kouw ini benar-benar telah memiliki kekuatan batin yang menganggumkan sehingga mendengar pengakuan orang yang membunuh suaminya tidak menjadi mata gelap dan marah.
"Pang-cu, aku telah mengenal baik puterimu Kim Lan ""
"Sebetulnya ia bernama Swi Lan, Sicu. Ang Swi Lan dan biasanya ketika kecil menyebut diri sendiri Lan Lan"
"Ah, begitukah? Aku telah mengenalnya dengan baik dan aku akan mencarinya untukmu"
"Terima kasih, Cian-sicu. Kau baik sekali. Akan tetapi bagaimana kalau ia tidak percaya jika diberitahu bahwa aku adalah ibu kandungnya?"
"Hemmm, sulit juga. Bagaimana kalau ia minta bukti?"
Kata pula Han Sin ragu "Saksi mata satu-satunya, yaitu Thian Ho Hwesio yang menjadi gurunya, telah meninggal dunia"
"Ah, aku ingat sekarang. Anak itu mempunyai tanda bercak hitam pada telapak kaki sebelah kanan. Itulah buktinya bahwa ia adalah puteriku"
"Bagus. Terima kasih pangcu. Aku mohon diri untuk segera mencari jejaknya"
"Selamat jalan, sicu, semoga kau berhasil dan sekali lagi terima kasih atas semua jerih payahmu"
Han Sin lalu meninggalkan Hwa-li-pang dengan hati gembira.
Dia merasa menerima tugas yang amat menggembirakan.
Betapa hatinya tidak akan gembira?
Dia akan dapat membahagiakan hati gadis yang di cintainya itu dengan berita tentang ibu kandungnya ini.
*** Kaisar Yang Ti melaksanakan niatnya untuk melakukan pembersihan sendiri terhadap bangsa liar yang mengganggu tapal batas utara di Shan-si utara.
Kaisar Yang Ti membawa pasukan yang besar jumlahnya, tidak kurang dari sepuluh laksa orang.
Akan tetapi Kaisar ini sama sekali tidak dapat disamakan dengan mendiang ayahnya, Kaisar Yang Cian yang merupakan seorang pendekar dan ahli perang.
kaisar Yang Ti sudah terbiasa dengan kehidupan yang berfoya-foya mengejar kesenangan sehingga perjalanan memimpin pasukan inipun tidak ketinggalan ikut pula selir-selirnya tercinta.
Perjalanan itu baginya bukan sebagai seorang panglima perang, melainkan seorang yang pergi berpesiar dengan selirnya untuk bersenang-senang.
Ketika tiba di Shan-si, Kaisar di sambut oleh Gubernur Shan-si, Li Goan.
Akan tetapi Li Si Bin tidak ikut menyambut, bahkan meninggalkan kota.
Pemuda ini muak melihat sikap kaisar yang demikian angkuh dan demikian royal.
Pergi berperang dalam kereta mewah berikut para selirnya.
Dalam pandangan pemuda putera gubernur ini, kaisar Yang Ti tidak patut menjadi orang yang di sembah-sembah.
Gubernur Li Goan dengan hati-hati memperingatkan Kaisar agar meninggalkan selir-selirnya di Tai-goan dan melakukan pembersihan mengutus para panglimanya saja.
Akan tetapi Kaisar tidak ambil peduli.
Dia hendak memimpin sendiri sambil memamerkan kepada para selirnya betapa "gagahnya"
Dia membuat aksi pembersihan para pemberontak.
Hal ini tentu saja menggirangkan hati Lui Couw.
Baca Juga: Suling Naga 11
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 9