Ceritasilat Novel Online

Pedang Naga Hitam 7

Eps 7 Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Naga Hitam - Kho Ping Hoo.

Sudah lama sekali putera bekas Kok-su Toat-beng Giam-ong Lui Tat yang menjadi kok-su kerajaan Toba ini menanti saat baik untuk membunuh Kaisar, menggulingkan Kerajaannya dan kalau mungkin merampas tahta kerajaan.

Dia bercita-cita mendirikan kembali Kerajaan Toba yang sudah jatuh.

Dia sudah berhasil menyingkirkan penghalang utama, yaitu Panglima Cian Kauw Cu dan sekarang dia mendapat kesempatan baik sekali untuk membinasakan Kaisar.

Dia tidak puas dengan hasil usahanya menyeret Kaisar ke dalam kehidupan yang hanya mengejar kesenangan belaka.

Dan dia sudah menempatkan diri dengan kedudukan sebaik mungkin sehingga sebagai Panglima besar dia menyertai Kaisar Yang Ti mengadakan pembersihan ke utara.

dan diam-diam Lui Couw sudah mengadakan persiapan sebaik mungkin.

Dia sudah menyusupkan Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo menjadi prajurit karena kedua orang datuk inilah yang bertugas membunuh kaisar pada saatnya.

Semua itu harus dilakukan dengan hati-hati sehingga kaisar seolah-olah terbunuh oleh pemberontak.

Gubernur Li Goan dan puteranya yang tidak mau menghadap Kaisar Yang Ti memandang dengan hati prihatin melihat kaisar mereka berangkat ke perbatasan di utara yang berbahaya.

Mereka tahu bahwa pihak Turki dan suku-suku Mongol sudah tahu akan gerakan pembersihan itu dan mereka tentu sudah mengatur perang gerilya yang akan membahayakan kedudukan pasukan Kaisar.

Maka, Gubernur Li Goan lalu berunding dengan puteranya dan akhirnya Li Si Bin memimpin pasukan istimewa untuk membayangi pasukan kota raja itu dan melindungi kaisar kalau diperlukan.

Beberapa hari kemudian, pasukan yang sepuluh laksa orang itu tiba di perbatasan utara, dekat dengan daerah Yak-ka.

Akan tetapi jauh hari sebelumnya Tar-sukai sudah mendengar berita yang dikirim Li Si Bin akan datangnya pasukan besar itu dan dia sudah mengosongkan perdusunannya, bersembunyi di hutan-hutan dan mengatur barisan untuk melakukan perang gerilya.

Juga suku-suku lain dan Bangsa Turki yang berada diperbatasan sudah menyingkir dan bersembunyi, akan tetapi bukan melarikan diri melainkan bersiap-siap untuk melakukan perang secara bersembunyi-sembunyi.

Melihat dusun-dusun yang kosong, kesempatan baik ini dipergunakan Lui-ciangkun untuk menghadap Kaisar Yang Ti"

Hamba melaporkan bahwa para pengacau sudah pergi meninggalkan dusun-dusun mereka dan melarikan diri, Yang Mulia. Kami tidak menemukan seorangpun musuh"

"Hemm, lalu bagaimana baiknya, Lui-ciangkun?"

Tanya kaisar.

"Kita harus membagi-bagi tugas dan pasukan menjadi puluhan regu. Masing-masing melakukan pengejaran dan pembakaran terhadap dusun-dusun yang di tinggalkan, membunuhi ternak yang kita temukan dan membakar habis tanama mereka agar mereka mati kelaparan"

Kaisar Yang Ti mengangguk-angguk "Bagus, akan tetapi kami ingin memimpin pasukan sendiri untuk mengobrak-abrik dan membinasakan mereka"

Kata Kaisar itu dengan sikap gagah karena di situ para selirnya juga hadir dan mendengarkan.

"Tentu saja, Yang Mulia. Paduka akan memimpin sepasukan pengawal istimewa dan juga hamba sendiri akan mengawal paduka. Kita boleh menghancurkan mereka sepuas hati paduka"

"Baik, kalau begitu lekas atur pemecahan pasukan menjadi rombongan-rombongan agar semua perusuh dapat di cari dan dikejar lalu di basmi"

Kata Kaisar Yang Ti.

Lui-ciangkun lalu memerintahkan para pembantunya untuk memecah-mecah pasukan itu menjadi beberapa rombongan.

Dia memilih pasukan pengawal yang hanya terdiri dari dua ratus orang untuk mengawal Kaisar dan tentu saja di dalamnya terdapat Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo yang menyamar sebagai prajurit.

Dengan kedua pembantunya ini dia sudah mengatur siasat.

Malam nanti, ketika rombongan itu berhenti berkemah, dua orang pembunuh itu akan mengenakan kedok dan akan melakukan pembunuhan.

Dengan demikian, tentu tidak akan ada yang mengira bahwa pembunuhnya adalah orang-orang dalam, melainkan mata-mata yang dikirim musuh.

Dengan kesaktian mereka, andaikata ketahuan oleh pengawal, mereka akan mampu memukul mundur para pengawal dan melanjutkan usaha pembunuhan mereka sampai berhasil.

Setelah hari mulai gelap, mereka pun membuat perkemahan dilereng sebuah bukit.

Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ada ribuan pasang mata mengintai mereka sejak hari mulai gelap.

Begitu malam tiba, Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo sudah mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng hitam pula.

Akan tetapi sebelum mereka melaksanakan tugas keji itu, tiba-tiba terdengar ledakan keras di susul sorak sorai.

Kiranya ribuan orang suku Yak-ka bercampur dengan bangsa Turki datang menyerbu.

Tentu saja para prajurit yang hanya dua ratus orang jumlahnya itu menjadi kacau balau.

Lui-ciangkun terkejut dan disertai dua orang yang berkedok itu diapun membela diri dan mengamuk.

Banyak musuh dapat mereka bertiga robohkan.

Melihat kekuatan musuh yang demikian besar, Lui-caingkun lalu berseru kepada dua orang pembantu rahasianya.

"Kita tinggalkan pergi. Biar mereka yang mewakili pekerjaan kalian"

Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo juga mengerti bahwa betapapun sakti mereka, tak mungkin mereka melawan ribuan orang itu.

Pula, bukankah tugas mereka membunuh kaisar dan tentu kaisar akan terbunuh oleh orang-orang ini?

Maka dalam kegelapan malam mereka bertiga melarikan diri.

Para prjaurit juga banyak yang mengikuti jejak mereka.

Perkemahan itu di bakar dan ketika musuh sudah pergi, Lui-ciangkun mengumpulkan sisa pasukannya, Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo sudah berganti pakaian prajurit biasa lagi.

Mereka memeriksa keadaan dan mencari-cari mayat kaisar.

Akan tetapi mereka tidak menemukan mayat itu.

Bahkan tidak ada pula mayat seorangpun selir.

Yang ada hanya mayat beberapa orang prajurit yang tewas.

Tentu saja mereka menjadi heran dan tiga orang pengkhianat itu menjadi agak panik.

"Heran sekali, kemana kaisar pergi?"

Kata Lui-ciangkun.

"Tentu telah di tawan, karena kalau dibunuh tentu ada mayatnya"

Kata Pak-Te-Ong.

"Hem, apa bedanya? Ditawan musuh sama saja dengan di bunuh"

Kata See-Thian-Mo.

Agak lega hati Lui-ciangkun dan dia segera menghubungi pasukan lain yang berpencaran.

Setelah dalam tiga hari dia bertemu dengan pasukan lain.

kiranya pasukan lain juga mengalami serangan mendadak di tengah malam dan banyak mengalami kerugian.

Akan tetapi para perwira terkejut setengah mati mendengar berita yang di sampaikan Lui-ciangkun bahwa kaisar beserta para selirnya jatuh ke tangan musuh dan ditawan.

Selagi mereka kebingungan dan ramai membicarakan malapetaka itu, datang dua orang utusan bangsa Turki.

Mereka menunggang kuda dan membawa bendera tanda utusan sehingga mereka tidak di ganggu dan di terima oleh Lui-ciangkun dan para perwira lainnya.

Dua orang utusan itu membawa pesan raja Turki bahwa Kaisar Yang Ti berada di tangan mereka sebagai sandera dan kalau Kerajaan Sui tidak cepat menarik pasukan mereka, kaisar akan segera dibunuh.

Mendengar pesan ini, tentu saja para panglima tidak ada yang berani melanjutkan pertempuran dan mereka semua menarik pasukan mereka dan mundur sampai ke Tai-goan.

Sementara itu, pasukan yang di pimpin Li Si Bin juga sudah mendengar akan tertawannya Kaisar oleh bangsa Turki.

Dia lalu menyuruh pasukannya untuk pulang dan dia sendiri cepat membalapkan kudanya menuju ke utara, ke pertengahan bangsa Turki di luar tapal batas.

Li Si Bin diterima oleh para pimpinan Bangsa Turki dengan baik karena dia dianggap keluarga.

Ibunya adalah seorang puteri Turki dan hubungannya dengan Bangsa Turki memang baik sekali.

Apalagi ayahnya, Gubernur Li Goan.

Juga bersahabat dan diantara keduanya tidak pernah terjadi permusuhan, walaupun Li Goan menjadi Gubernur di Shan-si.

"Hemm, tentu maksud kunjunganmu ini ada hubungannya dengan kaisarmu yang tertawan, Li Si Bin"

Kata pimpinan suku Turki itu sambil mengelus jenggotnya yang pendek dan memuntir kumisnya yang panjang.

"Tidak salah, yang Mulia. Saya bermaksud untuk mencegah kekeliruan besar yang mungkin paduka lakukan"

"Kekeliruan besar? Apa maksudmu?"

"Kalau paduka mengganggu atau membunuh kaisar Yang Ti, maka akan terjadi malapetaka di sini. Membunuh Kaisar itu tidak ada gunanya, tidak menguntungkan malah merugikan saja. Kaisar itu seperti boneka, tidak ada gunanya dan selama dia yang menjadi kaisar di Kerajaan Sui, paduka boleh tenang-tenang saja karena pasukannya tidak akan mungkin menyerbu ke sini. Akan tetapi kalau sampai dia terbunuh, lalu kerajaan Sui mengangkat seorang kaisar baru yang gagah perkasa seperti mendiang Kaisar Yang Chien, kita bisa celaka. Tempat ini pasti akan di serbu oleh puluhan laksa prajurit dan tempat paduka akan menjadi lautan api"

Pemimpin Turki itu mengangguk-angguk setelah berpikir sejenak.

"Hemmm, bicaramu masuk di akal. Memang kami masih ragu untuk membunuh kaisar pengecut itu yang dalam tahanan masih saja bersenang-senang dengan para selirnya dan selalu merengek minta ampun. Akan tetapi apa untungnya membebaskan kaisar seperti itu bagi kami?"

"Untungnya banyak sekali, Yang Mulia. Selain kaisar merasa berhutang budi sehingga tidak memusuhi paduka, juga paduka mendapat kesempatan untuk menyusun kekuatan dan pada saatnya kelak kita bergerak ke selatan. Bahkan ada baiknya paduka menghadiahkan beberapa orang selir terdiri dari wanita-wanita yang cerdik untuk dijadikan penyelidik dan mata-mata di sana"

"Bagus, bagus. kami setuju sekali"

"Juga saya dapat membujuk Kaisar bahwa kalau paduka membebaskannya, kaisar akan memberi hadiah yang pantas untuk paduka"

"Baik, laksanakanlah"

Li Si Bin lalu memasuki tempat tahanan dan dia berlutut di depan kaisar. Kaisar memandang kepadanya dan bertanya "Kau siapakah? Kau seperti seorang Han"

"Yang Mulia, hamba adalah Li Si Bin, putera Gubernur Li Goan"

Kaisar terkejut sekali dan heran.

"Eh, bagaimana kau dapat masuk ke sini?"

"Yang Mulia, ketika mendengar bahwa paduka di tawan, hamba memberanikan diri menghadap pemimpin orang Turki untuk membujuknya agar mereka membebaskan paduka"

"Hamba berhasil membujuknya dengan syarat bahwa kalau paduka di bebaskan, pertama akan memberi hadiah yang layak kepada mereka"

"Tentu saja, itu hal mudah"

"Dan kedua kalau paduka dibebaskan mereka mohon agar paduka tidak memusuhi dan menyerang mereka lagi"

"Tentu, hal itupun pasti kulakukan. kalau dibebaskan, aku akan segera pulang ke selatan dan menarik mundur semua pasukan"

"Kalau begitu, hari ini juga paduka akan bebas"

"Bagus sekali, jasamu akan besar sekali, Li Si Bin"

Pemimpin orang Turki lalu menghadap Kaisar dengan sikap hormat dan menyerahkan tiga orang gadis Turki yang cantik-cantik sebagai persembahan.

Tentu saja mereka ini di terima dengan girang oleh Kaisar Yang Ti yang mata keranjang.

Pembebasan itu di atur dengan mudah.

Sepasukan pengawal ditugaskan mengantar rombongan Kaisar bersama Li Si Bin untuk meninggalkan tempat itu.

Mereka lalu menuju ke Tai-goan.

Tentu saja munculnya kaisar ini di sambut oleh Gubernur Li Goan dengan gembira sekali.

akan tetapi pasukan kerajaan sudah meninggalkan Shan-si, di suruh kembali ke selatan oleh Lui-ciangkun.

Sedangkan Lui-ciangkun sendiri sudah mendahului untuk memberi kabar kepada kota raja ditemani dua orang perajurit yang bukan lain adalah Pak-Tek-Ong dan See-Thian-Mo.

Padahal, dia mendahului ke selatan ini adalah untuk melaksanakan rencana mereka yang busuk, yaitu mencoba untuk merampas tahta kerajaan.

Saking girangnya dibebaskan oleh Bangsa Turki, Kaisar Yang Ti tidak tergesa-gesa pulang ke kota raja, melainkan tinggal beberapa lamanya di tai-goan dan tetap berseng-senang, terutama dengan tiga orang selir barunya dari Turki.

*** Cian Han Sin melakukan perjalanan meninggalkan kota raja untuk melakukan pengejaran terhadap Lui-ciangkun.

Akan tetapi dalam perjalanan itu dia mendengar tentang tertawannya Kaisar oleh musuh.

Berita ini tidak terlalu diperdulikan karena dalam hatinya, Han Sin juga tidak begitu suka kepada Kaisar Yang Ti.

banyak berita di dengarnya tentang kaisar itu, berita yang tidak baik saja.

Bahkan dia dan ibunya diusir keluar dari rumah mendiang ayahnya yang sudah banyak jasanya dalam membantu Kaisar Yang Cien membangun Dinasti Sui.

Mendengar di tariknya mundur pasukan Kerajaan dari utara, Han Sin menghentikan usahanya melakukan pengejaran ke utara karena dia tahu bahwa orang yang dia cari tentu bersama pasukan itu kembali pula ke kota raja.

Lebih baik dia menanti di kota raja dan kelak menyelidiki kalau Lui-ciangkun sudah kembali ke kota raja.

Sementara itu, lebih baik dia mencari Kim Lan untuk dipertemukan dengan ibu kandungnya.

Akan tetapi kemana dia harus mencari?.

Pada suatu hari dia memasuki kota Tai-bun yang terletak di tepi sungai Fen-ho.

Kota itu cukup besar dan ramai karena mempunyai hubungan langsung dengan Tai-goan melalui sungai Fen-ho.

Setiap hari hilir mudik perahu-perahu pedagang yang pergi dan datang.

Karena hari telah mulai gelap, Han Sin mengambil keputusan untuk bermalam di kota Tai-bun.

Dia memilih sebuah rumah penginapan yang juga sebuah rumah makan yang cukup besar dan bersih.

Pelayan menyambutnya dan mempersilahkannya masuk dengan sikap ramah.

"Kongsu hendak makan? Silahkan, masih banyak meja yang kosong di bagian dalam. Atau ingin makan di loteng?"

"Nanti dulu. Aku hendak menyewa sebuah kamar malam ini, apakah masih ada yang kosong?"

"Ada, kong-cu. Silahkan ikut saya"

Pelayan itu membawanya ke sebuah kamar yang tidak begitu besar namun cukup bersih.

Setelah mandi dan bertukar pakaian, Han Sin lalu keluar dari kamarnya menuju ke rumah makan yang berada di bagian depan rumah penginapan itu.

Ternyata rumah makan itu kini sudah penuh tamu dan dia mendapatkan meja yang berada di sudut.

Sama sekali dia tidak tahu bahwa tiga pasang mata mengamatinya dari atas loteng.

Tiga orang itu duduk menghadapi meja dan sedang makan ketika Han Sin muncul.

Mereka itu bukan lain adalah Lui Couw atau Lui-ciangkun, murid keponakannya, Bong Sek Toan dan seorang Tosu tua yang bukan lain adalah Ngo-heng Thian-cu.

"Itu dia, Cian Han Sin"

Bisik Bong Sek Toan ketika melihat Han Sin.

"Wah, pinto pernah bertemu dengan dia dan bertanding. Dia lihai bukan main, memiliki ilmu pukulan sakti yang amat kuat"

Kata Ngo-heng Thian-cu.

Lui Couw memandang tajam "Tidak salah lagi, tentu dia putera mendiang Cian Kauw Cu dan agaknya dia memiliki Bu-tek Cin-keng.

Dia dapat merupakan orang yang amat berbahaya bagi kita.

Mari kita pergi, jangan sampai dia melihat kita"

Mereka bertiga meninggalkan loteng dan pergi dari rumah makan itu tanpa diketahui Han Sin.

Dalam perjalanan Ngo heng Thian-cu mencela "Lui-ciangkun, kenapa kita melarikan diri?

Pinto tidak takut kepadanya, apalagi kalau kita maju bertiga, mustahil dia dapat menandingi kita"

"Hemm, kita harus berhati-hati. Aku hendak mengerahkan pasukan untuk mencegatnya besok. Pula, kita masih menanti munculnya puteraku dan Ma Goat. Bukankah janjinya hari ini mereka akan datang ke kota ini?"

Mereka bertiga menuju ke sebuah rumah besar dan setelah tiba di situ, ternyata Ma Goat telah berada di situ.

Begitu bertemu dengan Lui Couw, Ma Goat menghampiri lalu berkata dengan muka pucat "Lui-ciangkun, celaka sekali.

Telah terjadi malapetaka hebat atas diri puteramu"

Lui Couw terkejut bukan main dan memegang pundak gadis itu dengan kedua tangannya kuat-kuat.

kalau Ma Goat bukan seorang gadis lihai, tentu kedua pundaknya sudah terluka atau setidaknya akan hancur tulang pundaknya.

Dia mengguncang dan berseru "Apa?

Apa yang terjadi dengan puteraku Sun Ek?

Dimana dia?"

"Dia ". Dia telah tewas terbunuh """

Kata Ma Goat. Panglima itu melepaskan pegangannya lalu melangkah mundur seperti terhuyung, matanya terbelalak"

Apa yang terjadi? Siapa pembunuh anakku? Katakan, siapa?"

"Yang membunuhnya adalah Cian Han Sin dan Cu Sian. Mula-mula kami berdua telah berhasil menawan Cu Sian. Akan tetapi kemudian muncul Han Sin dan seorang gadis berpakaian putih yang tidak saja menolong Cu Sian, akan tetapi juga membunuh Lui-kongcu Bahkan gadis bernama Cu Sian itu menggunakan kipas milik Lui-kongcu untuk menghancurkan tubuh Lui-kongcu"

"Aahhhh ""

Lui Couw terhuyung dan kalau dia tidak cepat menjatuhkan diri di atas kursi, tentu dia sudah jatuh tersungkur.

Mukanya pucat sekali dan wajahnya diliputi kedukaan yang mendalam.

Kemudian dia melompat bangun.

"Jahanam Cian Han Sin. Aku akan membunuhmu, aku akan menghancur leburkan tubuhmu. kita tidak boleh gagal. Aku akan mengerahkan pasukan"

Dengan hati terasa sakit sekali, malam itu juga Lui Couw menghubungi pembesar setempat dan berhasil mengumpulkan pasukan sebanyak limapuluh orang penjaga keamanan kota.

Dia tidak segera melakukan penagkapan atau penyerbuan malam itu juga karena dia tidak ingin gagal.

Kalau malam itu di sergap, mungkin Han Sin yang berkepandaian tinggi itu akan mampu meloloskan diri.

Dia lalu menaruh penjaga di sekeliling rumah penginapan untuk melakukan pengintaian.

Demikian rapat penjagaan itu sehingga tidak mungkin pemuda itu meninggalkan rumah penginapan tanpa diketahui.

Han Sin sama sekali tidak menyangka buruk.

Malam itu dia tidur nyenyak, bahkan bermimpi bertemu dengan Kim Lan, mempertemukan gadis itu dengan ibu kandungnya dan saking girang dan berterima kasihnya, Kim Lan dalam mimpi itu merangkul dan menghadiahinya sebuah ciuman.

Tentu saja semua ini timbul dari keinginan dan harapannya sendiri.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Han Sin sudah mandi dan dengan tubuh terasa segar dan pikiran juga penuh dengan harapan yang indah, dia melanjutkan perjalanannya, tanpa tujuan tertentu karena dia ingin mencari jejak Kim Lan.

Dia berkeliling ke dalam kota itu untuk melihat kalau-kalau gadis itu berada di dalam kota.

Setelah tidak berhasil, dia melanjutkan perjalanan keluar dari pintu gerbang sebelah timur karena dia bermaksud untuk pergi ke kota An-yang.

Di depan nampak deretan pegunungan Tai-hang-san dan baru beberapa li meninggalkan kota Tai-bun, dia sudah melalui jalan mendaki yang sunyi.

Pagi itu amat cerah dan di pohon-pohon banyak burung berkicau.

Biarpun musim semi sudah lewat namun masih banyak bunga menghias alam diantara daun-daun hijau.

Han Sin sama sekali tidak mengira bahwa sejak dia meninggalkan rumah penginapan, banyak orang telah membayanginya.

Ketika dia tiba di tempat yang sunyi, tiba-tiba dari empat penjuru bermunculan banyak orang.

Tadinya dia sama sekali tidak menduga bahwa kemunculan mereka itu ada hubungannya dengan dirinya.

Tahu-tahu mereka itu telah mengepungnya.

Lebih dari limahpuluh orang dan mereka berpakaian seragam prajurit penjaga keamanan kota.

"Heiii, ada apakah ini?"

Teriaknya heran melihat puluhan orang itu mengepungnya dengan golok siap di tangan dan dengan sikap mengancam.

kalau mereka itu sebangsa perampok tentu dia tidakakan merasa heran.

Akan tetapi mereka adalah pasukan keamanan.

Kemudian muncul empat orang dan melihat tiga diantara mereka, mengertilah Han Sin bahwa dia berhadapan dengan musuh yang amat berbahaya.

Dia tentu saja mengenal Bong Sek Toan, Ngo-heng Thian-cu dan Ma Goat.

Dan yang seorang lagi tidak dikenalnya, seorang berpakaian panglima yang nampak bengis sekali ketika memandang kepadanya.

Tentu saja Han Sin maklum bahwa dia terancam karena tiga orang itu pernah bermusuhan dengan dia.

Akan tetapi anehnya, bukan tiga orang itu yang kelihatan marah sekali, melainkan si panglima yang kelihatan gagah perkasa itu.

Kalau tiga orang itu hanya memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian, kecuali Ma Goat yang masih memandang kepadanya dengan sinar mata penuh gairah di samping kemarahan si panglima itu mengacungkan telunjuknya menuding ke arah muka Han Sin dan membentaknya.

"Kamu yang bernama Cian Han Sin?"

Karena memang merasa tidak mengenal panglima itu, Han Sin menjawab dengan heran "Rasanya aku belum pernah mengenalmu, ciang-kun. mengapa tiba-tiba saja kau mengepung dan marah-marah kepadaku?"

Ma Goat tertawa "Heh he, Cian Han Sin. Kau telah membunuh kong-cu Lui Sun Ek dan Lui-ciangkun ini adalah ayahnya. Tentu saja dia kini menghendaki kematianmu. Bersiaplah kau untuk mati, Han Sin"

"Aku akan mencincang tubuhmu sampai hancur"

Bentak Lui Couw penuh geram.

Diam-diam Han Sin terkejut sekali dan juga girang.

Di cari kemana-mana tidak tahunya kini berdiri di depannya.

Akan tetapi dia menahan diri dan mencoba untuk membela diri "Bukan aku yang membunuh Lui Sun Ek temanmu itu, akan tetapi Cu Sian"

"Kalau bukan kau yang datang menolong, bagaimana mungkin Cu Sian dapat membunuhnya? Kau yang memberi kesempatan Cu Sian untuk membunuhnya"

Kata Ma Goat.

Akan tetapi Han Sin tidak peduli lagi kepada gadis itu.

Dia memandang Lui Couw penuh perhatian dan diam-diam merasa heran bagaimana ibunya dapat mempunyai seorang sute seperti panglima ini?

"Jadi kaukah yang bernama Panglima Lui Couw itu?

Sudah lama aku memang mencarimu.

Kaulah yang dahulu membunuh ayahku dengan curang dan merampas Hek-Liong-Kiam, kemudian kau pula yang membunuh ibuku, sucimu sendiri"

Mendengar ucapan yang tegas itu, Lui Couw terkejut dan wajahnya agak berubah pucat.

Akan tetapi karena rahasia sudah dibuka, dan pemuda ini sudah berada di ambang maut, diapun tertawa bergelak untuk menutupi keguncangan hatinya.

"Ha-ha-ha-ha-ha. Dan sekarang aku akan mengirim kau menyusul ayah dan ibumu, keparat"

Setelah berkata demikian, panglima itu menggerakkan tangannya, mencabut pedang, bukan pedang panglima yang tergantung di pinggang, melainkan pedang yang tersembunyi si balik bajunya.

"Singggg ""

Nampak sinar hitam berkilauan menyilaukan mata.

Itulah Hek-Liong-Kiam dan Han Sin mengetahui ini.

Timbul perasaan haru di hatinya.

Inilah pedang peninggalan ayahnya.

Akan tetapi dia bersikap tenang dan tertawa.

"Ha-ha, seorang panglima besar memegang pedang curian menghadapi seorang muda dan masih menggunakan pengeroyokan puluhan orang lagi. Kau sungguh seorang yang gagah, Lui Couw"

"Lui-ciangkun, biarkan pinto menghajar bocah lancang mulut ini"

Tiba-tiba Ngo-heng Thian-cu berseru dan tosu ini sudah mengebutkan hud-tim (kebutan) di tangan kiri dan menggerakkan tongkat putih di tangan kanan.

Han Sin menoleh kepadanya dan tertawa "Bagus.

Kau tentulah Ngo-heng Thian-cu yang telah membunuh guruku Ho Beng Hwesio.

Akupun akan membalaskan kematian Ho Beng Hwesio guruku"

"Ho Beng Hwesio perutmu. Dia adalah Hek-Liong-Ong Poa Yok Su, seorang datuk sesat yang amat jahat dan kau sebagai muridnya tentu jahat pula. Terimalah ini"

Tongkat putih itu berkelebat menjadi sinar putih ketika dia menyerang kearah leher Han Sin, di susul sambaran kebutan yang menjadi kaku dan menotok kearah pusar.

Serangan itu hebat sekali, akan tetapi dengan lincahnya Han Sin mengelak sambil melompat ke belakang.

Ketika di belakangnya empat orang prajurit menggerakkan golok, Han Sin memutar tubuh, kedua tangannya bergerak dan empat orang prajurit itu roboh mengaduh-aduh.

Tongkat dan kebutan sudah menyambar lagi dan Han Sin menangkis tongkat, bahkan berusaha menangkap ujung kebutan, lalu balas menyerang dengan tangan kosong.

Tamparan tangannya mengandung kekuatan yang amat hebat dan kedua lengannya bergerak bagaikan gelombang samudera.

Dia memainkan ilmu silat Lo-hai-kun yang dia pelajari dari ibunya.

Tentu saja dalam memainkan ilmi ini.

Han Sin sekarang jauh lebih lihai dari mendiang ibunya karena dia memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.

Sampai tigapuluh jurus bertanding, belum juga Ngo-heng Thian-cu yang memegang dua macam senjata itu dapat mendesak Han Sin.

Dia merasa penasaran sekali, mengeluarkan bentakan nyaring dan dua senjata itu bergerak semakin cepat.

Akan tetapi, Han Sin juga sudah tidak sabar lagi.

Dia mengerahkan Bu-tek Cin-keng dan tiba-tiba dia merendahkan tubuh sambil mendorongkan kedua tangan ke depan sambil membentak dengan suara melengking.

"Hyyaatttttt """"

Hawa pukulan yang dahsyat sekali menyambar dan tubuh Ngo-heng Thian-cu terlempar ke belakang.

namun tosu ini memang memiliki kekebalan.

Biarpun dia terbanting keras, dia tidak mengalami luka dalam terlalu parah, hanya kepalanya berpusing rasanya dan sampai beberapa detik dia tidak mampu bangkit kembali.

Akan tetapi sepasang senjata itu masih tergenggam di tangannya.

Orang yang dapat menahan pukulan tidak langsung dari Bu-tek Cin-keng jarang ada dan tosu ini adalah seorang diantaranya, tanda bahwa dia memang seorang yang amat tangguh.

Tidak terlalu mengherankan kalau Hek-Liong-Ong sampai tewas di tangannya.

Melihat kawannya roboh, Lui Couw marah sekali dan sambil membentak nyaring dia sudah menyerang dengan Hek-Liong-Kiam.

Pedang itu merupakan pedang pusaka yang ampuh.

Baru angina pukulannya saja terasa membawa ketajaman yang dingin sekali.

Han Sin maklum akan kehebatan pedang dan pemegangnya, maka diapun mengandalkan keringanan tubuhnya, berkelebatan mengelak ke sana sini.

Untung baginya bahwa ilmu pedang andalan lawan itu adalah Lo-hai-kun (Ilmu Pedang Pengacau Lautan), ilmu yang pernah dipelajari dari ibunya maka dia sudah mengenal gerakan dasarnya sehingga lebih mudah baginya untuk menghindarkan diri.

Diapun menggunakan Bu-tek Cin-keng untuk melawannya dan sambaran tangannya mengeluarkan hawa yang mampu menangkis dan menolak pedang.

Dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ngo-heng Thian-cu, ilmu kepandaian Lui Couw masih kalah setingkat.

Akan tetapi karena ia memegang Hek-Liong-Kiam, maka dia lebih berbahaya dan Han Sin tahu benar akan hal ini.

Untung bahwa ketika berada di kuil Siauw-lim-pai dan di gembleng oleh Hek-Liong-Ong, dia dengan tekun berlatih gin-kang sehingga kini dia dapat bergerak ringan dengan cepatnya seperti seekor burung wallet saja.

Tubuhnya berkelebatan diantara gulungan sinar pedang berwarna hitam itu.

Akan tetapi begitu melihat pemimpin mereka bertanding, para prajurit itu tidak mau tinggal diam lagi.

Lebih dari lima puluh orang mengepung dan mengeroyoknya.

Bukan itu saja, juga Ngo-heng Thian-cu yang sudah bangkit kembali kini maju.

Ma Goat pun tidak tinggal diam.

Gadis ini merasa sakit hati kepada Han Sin yang bukan saja menolak cintanya, bahkan telah merobohkannya dan membantu Cu Sian sehingga Lui Sun Ek tewas di tangan Cu Sian.

Dengan suling mautnya Ma Goat ikut pula menyerang dan serangan gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Dalam hal kelihaian, gadis ini tidak kalah dibandingkan dengan Lui Couw sekalipun.

Suling mautnya di tangan kanan diselingi pukulan Tian Ciang (Tangan Halilintar) di tangan kiri mengirim serangan-serangan maut.

Dikeroyok tiga orang sakti itu di tambah lagi kurang lebih enampuluh orang prajurit yang mengepungnya, Han Sin menjadi kewalahan juga.

Dia tidak dapat melarikan diri karena untuk lolos dari kepungan itu saja amatlah sukarnya.

Pedang Naga Hitam mengurungnya dari segala jurusan, di tambah kebutan dan tongkat putih di tangan Ngo-heng Thian-cu dan suling maut di tangan Ma Goat, sudah cukup merepotkannya.

Biarpun dia dapat melindungi dirinya dengan hawa sakti dari Bu-tek Cin-keng, namun dia tidak diberi kesempatan untuk membalas serangan lawan yang bagaikan hujan lebat datangnya.

Keadaan Han Sin gawat, kalau di teruskan seperti itu, akhirnya dia dapat saja roboh terkena satu diantara banyak senjata ampuh itu.

Akan tetapi dia bertekad untuk melawan sampai titik terakhir dan beberapa kali dengan dorongan kedua tangannya yang mengandung Bu-tek Cin-keng sepenuhnya dia dapat memaksa tiga orang lawannya mundur dan sebagian prajurit tersungkur.

Akan tetapi tetap saja dia tidak dapat lolos dari lingkaran yang berlapis"lapis itu.

Tiba-tiba terjadi perubahan.

Han Sin merasakan betapa pengeroyokan para prajurit itu mengendur, bahkan kacau sehingga dia hanya menghadapi pengeroyokan Lui Couw, Ma Goat dan Ngo-heng Thian-cu bertiga saja.

Apakah yang terjadi?

Han Sin segera tahu bahwa ada orang-orang yang datang membantunya, menyerang para prajurit itu dari luar kepungan.

"Ha-ha-ha, tiga orang di bantu puluhan prajurit mengeroyok seorang pemuda. Sungguh tidak tahu malu"

Terdengar suara seorang kakek yang bertubuh sedang dan dengan sebatang tongkat di tangan dia merobohkan banyak prajurit dengan amat mudahnya.

"Orang-orang yang tak tahu malu ini patut di hajar"

Teriak seorang wanita setengah tua dan iapun menggerakkan sebatang pecut yang meledak-ledak dan merobohkan banyak prajurit.

"Heeiii, dia itu Han Sin"

Teriak seorang gadis yang memegang sebatang tongkat pula.

Han Sin melayani tiga orang pengeroyoknya lalu melompat jauh ke belakang.

Hal ini dapat dia lakukan karena semua prajurit kini sibuk menghadapi tiga orang pendatang itu.

Dia melihat dan terheran-heran.

Bukankah kakek itu Kui Mo yang gila itu bersama isterinya dan anaknya Kui Ji?

Akan tetapi mereka kini tidak lagi berpakaian kembang-kembang yang aneh.

Kalau dulu Kui Mo berpakaian kembang-kembang tambal-tambalan, rambutnya riap-riapan suka tertawa dan menangis, kini dia berpakaian rapi, bahkan setengah mewah dan rambutnya pun di ikat ke atas dengan rapi, di ikat dengan sutera biru.

Dan isterinya, yang usianya lima puluh tahun kurang itu, rambutnya juga tersisir dan tergelung rapi, tidak riap-riapan seperti dulu.

Pakaiannya juga rapi, tidak berkembang-kembang.

Kemudian gadis itu, Kui Ji nampak cantik sekali dengan pakaiannya yang serba hijau dan rambutnya di gelung ke atas seperti gelung rambut seorang puteri bangsawan.

Senjatanya tongkat berwarna hitam dan gadis itu dengan gerakan yang indah menotok sana sini merobohkan para prajurit lalu memandang kepada Han Sin dengan sinar mata bercahaya dan mulut tersenyum manis.

Keluarga gila.

Han Sin merasa girang sekali.

Keluarga itu jelas tidak gila lagi, dapat dilihat dari dandanan mereka dan juga sikap mereka.

Mereka merobohkan para prajurit tanpa membunuh dan sebentar saja para prajurit itu kocar kacir.

Kui Mo kini menerjang kearah Ngo-heng Thian-cu sambil berseru "Bukankah ini Ngo-heng Thian-cu yang tersohor itu?

Ha-ha-ha, kiranya yang bernama Ngo-heng Thian-cu hanya seorang manusia curang dan licik mengeroyok seorang muda mengandalkan banyak teman"

Tongkat kakek itu menyambar ke depan.

"Trakkk"

Ngo-heng Thian-cu menangkis dengan tongkat putihnya dan sejenak mereka berdiri saling pandang.

"Hemm, pinto tidak mengenalmu. Siapakah kau dan mengapa kau mencampuri urusan kami?"

"Mau tahu namaku? Ouwyang Mo namaku dan mengapa aku mencampuri urusan kalian? Karena melihat ketidak-adilan. Aku mengenal pemuda ini sebagai seorang yang gagah perkasa dan melihat dia di keroyok segerombolan srigala, bagaimana aku tidak akan mencampurinya?"

"Bagus kalau begitu, aku akan membunuhmu lebih dulu, Ouwyang Mo"

Teriak Ngo-heng Thian-cu yang menjadi malu dan marah sekali.

Dua orang itu segera bertanding dengan serunya karena ilmu kepandaian mereka memang seimbang.

Kui Ji tidak mau kalah dengan ayahnya.

Melihat betapa diantara para pengeroyok itu terdapat suling, iapun meloncat ke depan Ma Goat dan menudingkan tongkatnya.

"Dan kau inipun gadis tak tahu malu, main keroyokan"

Akan tetapi sebelum ia menyerang Ma Goat, ibunya yang tadi sudah melihat betapa gerakan Ma Goat lihai sekali dan ia khawatir kalau puterinya akan celaka, segera melompat maju dan berkata kepada puterinya"

Kui Ji, kau hajar gerombolan anjing itu dan biar gadis tak tahu malu ini ibu yang menghajarnya"

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban puterinya, Nyonya Ouwyang Mo yang bernama Liu Si itu sudah menggerakkan cambuknya dan menerjang ke arah Ma Goat.

"Tar-tar-tar ""

Cambuk itu meledak-ledak dan melecut kearah kepala dan muka Ma Goat, Maklum bahwa ia menghadapi lawan berat, Ma Goat lalu memutar sulingnya dan terjadilah perkelahian seru antara kedua orang wanita itu.

Kui Ji sendiri yang telah di dahului ibunya, tentu saja tidak mau mengeroyok dan iapun mengamuk diantara para prajurit yang sudah mulai kacau dan kocar kacir itu.

Sementara itu, pertandingan antara Han Sin yang kini berhadapan satu lawan satu dengan Lui Couw terjadi amat hebatnya karena keduanya berusaha mati-matian untuk merobohkan lawan.

Kini Han Sin yakin bahwa selain Lui Couw membunuh ayah dan ibunya dan mencuri Hek-Liong-Ong, juga orang jahat ini merencanakan terhadap Kaisar seperti yang diceritakan oleh Thian Ho Hwesio kepadanya.

Buktinya kini Ma Goat berada bersamanya, berarti bahwa See-Thian-Mo dan Pak-Te-Ong tentu diperalat panglima ini karena Ma Goat adalah puteri Pak-Te-Ong.

Orang ini jahat sekali harus dibinasakan agar tidak membahayakan manusia di dunia.

Karena itulah menghadapi Hek-Liong-Ong yang ampuh itu, Han Sin mengerahkan seluruh tenaganya dan mainkan ilmu silat Bu-tek Cin-keng, ilmu peninggalan ayahnya.

Beberapa kali tubuh Lui Couw terpental oleh pukulan jarak jauhnya dan tenaga Lui Couw makin lama semakin lemah.

Ketika melihat lawannya terhuyung, Han Sin cepat mengirim tendangan kearah tangan kanan yang memegang pedang dan dia berhasil menendang tangan itu sehingga Hek-Liong-Kiam terpental jauh.

Khawatir kalau pedang pusaka itu hilang, Han Sin tidak memperdulikan lawannya dan dia melompat dan berhasil menyambar pedang itu.

Hek-Liong-Kiam milik ayahnya telah kembali ke tangannya.

Bukan main girang dan leganya hati Han Sin, akan tetapi ketika dia mencari musuhnya, ternyata Lui Couw telah menghilang.

Kiranya panglima itu telah kehilangan pedang dan melihat kawan-kawannya juga terdesak, menggunakan kesempatan selagi Han Sin mengejar pedang, dia dapat melarikan diri memasuki hutan lebat.

Han Sin tidak tahu harus mengejar kemana.

Dia melihat Kui Ji dikeroyok puluhan prajurit maka setelah menyimpan pedang Hek-Liong-Kiam, di selipkan di ikat pinggangnya, diapun membantu gadis itu mengamuk, menampar dan memandangi para prajurit yang akhirnya melarikan diri ketakutan.

Ketika Han Sin menoleh, dia melihat Ng-heng Thian-cu sudah roboh terkapar dengan kepala pecah terpukul tongkat di tangan Ouwyang Mo, sedangkan Ma Goat juga tewas oleh lecutan cambuk di tangan Liu Si yang menotok pelipisnya.

Han Sin menghela napas, diam-diam merasa kasihan kepada Ma Goat.

Semua lawan telah pergi, meninggalkan mayat Ngo-heng Thian-cu dan Ma Goat.

Han Sin berhadapan dengan tiga orang itu dan diapun cepat mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan berkata"

Terima kasih atas pertolongan lo-cian-pwe bertiga. Kalau tidak ada samwi (kalian bertiga), tentu saya mengalami bahaya maut.

"Ha-ha-ha, kau pandai sekali merendahkan diri, Han Sin. Kami melihat bahwa ilmu kepandaianmu memang hebat sekali"

"Orang-orang jahat ini memang sudah sepantasnya di hokum, bukan hanya karena membantumu saja kami menentang mereka"

Kata Liu Si.

"Telah lama sekali kami mencarimu kemana-mana, Han Sin. Kemana saja kau pergi?"

Tanya Kui Ji dengan manis. Han Sin memandang kearah kedua mayat itu, terutama mayat Ma Goat. Kalau saja dia yang menghadapi Ma Goat, dia tentu tidak akan sampai hati membunuhnya.

"Cian Han Sin, mengapa Ngo-heng Thian-cu memusuhi?"

Pertanyaan Kui Mo yang ternyata kini bernama Ouwyang Mo itu membuat Han Sin tersadar dari lamunannya "Dia telah membunuh guru saya"

"Siapa gurumu?"

"Guru saya Hek-Liong-Ong Poa Yok Su"

"Ah, datuk besar dari Pulau Naga itu?"

Ouwyang Mo memandang heran dan kaget.

"Dan mengapa gadis ini juga memusuhi mu, Han Sin?"

Tanya Kui Ji.

"Ia bernama Ma Goat, puteri Pak-Te-Ong. Sudahlah, kita bicara nanti saja. Harap Lo-cian-pwe maafkan saya, saya harus mengubur dulu dua jenazah ini"

Kata Cian Han Sin.

"Han Sin, gadis ini memusuhimu, mengeroyokmu dan nyaris membunuhmu, kenapa kau hendak mengurus jenazahnya?"

"Nona, ia pernah menyelamatkan nyawaku"

Jawab Han Sin yang segera mulai menggali lubang-lubang untuk mengubur dua jenazah itu.

"Hemm, dan tosu itu pembunuh gurumu. Kenapa ia juga kau urus penguburannya?"

Kui Ji mengejar dengan penasaran.

"Nona, yang berbuat salah adalah orangnya ketika masih hidup. Kalau sudah mati, semua manusia sama saja dan kita harus menghormati orang yang sudah mati"

Jawab Han Sin tanpa berhenti menggali lubang.

"Ha-ha, Kui Ji. Kau harus banyak belajar adab dari Cian Han Sin. Dia benar sekali"

Kata Ouwyang Mo yang segera turun tangan membantu pemuda itu menggali lubang. Setelah dua jenazah itu dikubur sepantasnya, barulah mereka melanjutkan percakapan.

"Han Sin apa yang dikatakan Kui Ji tadi benar. Kami telah lama mencarimu dan kebetulan sekali sekarang kita dapat saling bertemu di tempat ini"

Kata Ouwang Mo.

"Akan tetapi, saya tidak mempunyai urusan apa-apa lagi dengan lo-cian-pwe bertiga. Ada urusan apakah lo-cian-pwe mencari saya?"

"Cian Han Sin, kami masih ingin menyambung hubungan antara kita yang dahulu putus. terus terang saja. Kami bertiga sepakat untuk menjodohkan puteri kami Kui Ji denganmu. Maafkan perbuatan kami dulu yang kami lakukan di luar kesadaran kami. Akan tetapi, kami bersungguh-sungguh untuk melanjutkan ikatan tali perjodohan itu"

Han Sin menoleh dan memandang Kui Ji dan sama sekali tidak seperti dulu.

Kini Kui Ji menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan seperti layaknya gadis biasa.

Juga Liu Si memandang kepadanya dengan senyum penuh harapan.

Han Sin bangkit dan mengangkat tangan memberi hormat kepada Ouwyang Mo "Banyak terima kasih saya haturkan kepada Lo-cian-pwe yang telah memberi kehormatan besar itu bagi saya.

Akan tetapi, saya mohon maaf sebesarnya karena terpaksa saya tidak dapat memenuhi keinginan hati samwi"

"Eh, Han Sin mengapa kau menolak? Apakah kau tidak suka karena kami bertiga pernah menjadi tidak waras karena keracunan? Ataukah, apakah anakku Kui Ji kurang cantik bagimu?"

Liu Si bertanya penasaran.

"Maaf, bibi. Sama sekali tidak. Biarlah saya berterus terang saja. Saya telah mencinta gadis lain dan hanya dengan gadis itulah saya mau menikah. Saya telah mencinta gadis itu jauh sebelum saya bertemu dengan nona Kui Ji" *** Terdengar Kui Ji menghela napas panjang "Ayah, ibu tidak baik memaksanya. Aku dapat memaklum keadaan hatinya"

Han Sin merasa kagum sekali dan dia memberi hormat kepada Kui Ji "Nona, sungguh hatimu bijaksana dan mulia. Harap sudi memaafkan aku kalau aku mengecewakan dan terima kasih atas pengertianmu"

Ayah dan ibu gadis itu saling pandang dan merekapun menghela napas panjang, nampak kecewa sekali.

Han Sin sudah bersiap-siap, kalau-kalau keluarga itu akan memaksanya dengan kekerasan seperti dahulu lagi.

Akan tetapi ternyata tidak, bahkan kakek itu berkata "Kalau begitu kamipun tidak dapat berbuat apa-apa.

Hanya kami minta agar kita dapat terus menjadi sahabat.

Han Sin, aku tadi melihat panglima yang memegang pedang hitam itu siapakah dia?"

Dia itu Panglima Lui Couw yang telah membunuh ayah dan ibuku"

"Ah, sayang dia dapat lolos. Dan pedang hitam yang kau rampas itu, bukankah itu Hek-Liong-Kiam?"

"Benar, pedang milik mendiang ayahku yang dia curi setelah dengan curang dia membunuh ayah dari belakang"

"Ah, jadi Hek-Liong-Kiam itu milik ayahmu? dan kau she Cian? Ya, Tuhan, kalau begitu kau ini putera Panglima Cian Kauw Cu yang terkenal itu?"

Han Sin terkejut "Bagaimana lo-cian-pwe bisa tahu?"

"Jangan sebut aku lo-cian-pwe, cukup sebut paman saja. Siapa yang tidak mengenal nama besar Panglima Cian Kauw Cu yang telah berjasa besar mendirikan Kerajaan Sui? Ketahuilah, aku adalah putera dari Mendiang Ouwyang Koksu dari Kerajaan Sun yang juga telah ditundukkan oleh pasukan yang dipimpin ayahmu dan mendiang Kaisar Yang Chien"

"Ah, kalau begitu saya telah bersikap kurang hormat kepada paman, harap maafkan"

"Han Sin, aku suka sekali kepadamu karena kau sungguh seorang pemuda yang tahu sopan santun dan bersusila. Sayang kau tidak berjodoh dengan puteriku. Akan tetapi masih ada satu hal yang kami harapkan untuk mendapatkan keterangan darimu"

"Apakah itu paman? Tentu akan saya bantu kalau saya mampu"

"Begini Han Sin. Kami bertiga dapat sembuh karena pertolongan seorang gadis berpakaian putih yang menurut keterangan yang kami dapat dari Pek Mau To-kow ketua Hwa-li-pang di Hwa-san bernama Kim Lan. Nah, apakah kau mengetahui dimana adanya gadis itu? Kami ingin sekali bertemu dengannya dan menghaturkan terima kasih kami"

Han Sin tersenyum.

Tentu saja saya mengenalnya, paman.

Akan tetapi namanya yang asli adalah Ang Swi Lan, alias Kim Lan alias Lan Lan.

Ia adalah murid Thian Ho Hwesio yang berjuluk Siauw Bin Yok-sian, maka pandai dalam ilmu pengobatan.

Memang ia yang telah menyembuhkan paman bertiga dan saya menjadi saksinya.

Akan tetapi saya tidak tahu entah dimana adanya ia saat ini.

Terus terang saja, saya sendiri juga sedang mencarinya.

"Ah, penolong kami itu gadis yang kau cinta, Han Sin?"

Tiba-tiba Kui Ji berseru kaget akan tetapi juga girang. Han Sin terkejut sekali. Tak dapat dia menyangkal, maka dia bertanya "Adik Kui Ji bagaimana "

Kau bisa tahu "?"

Kui Ji tersenyum.

Lenyap sudah garis-garis kekecewaan yang tadi menghias wajah yang manis "Mudah saja, Han Sin-ko, ketika kau menyebutkan nama Ang Swi Lan, sepasang matamu bersinar-sinar dan pipimu menjadi kemerahan wajahmu berseri-seri"

"Ha-ha-ha, alangkah tajamnya pandang matamu, Kui Ji"

Ouwyang Mo tertawa. Han Sin jadi kau sekarang tidak dapat mengira-ngirakan dimana adanya nona Ang Swi Lan?"

"Tidak, paman. Akan tetapi aku yakin akan dapat menemukannya"

"Nah, kalau begitu, andaikata kau yang lebih dulu berjumpa dengannya tolong sampaikan perasaan terima kasih kami yang mendalam kepadanya"

"Baik, paman, akan saya sampaikan"

Karena ingin segera melanjutkan perjalanannya, terutama mencari Kim Lan dan melakukan pengejaran terhadap musuh besarnya, yaitu Lui Couw yang lolos dari tangannya, Han Sin lalu berpamit kepada keluarga yang telah menyelamatkannya itu.

Perpisahan berjalan dengan hati ringan karena ternyata Kui Ji dapat mengatasi kekecewaannya dan kedua orang tuanya juga menghadapi penolakan itu dengan sikap yang bijaksana.

"Semoga kau kelak berbahagia dengan Ang Swi Lan, Sin-ko"

Kata Kui Ji yang kini menyebut Han Sin dengan sebutan koko dan sikapnya juga tidak malu-malu seperti terhadap kakaknya sendiri.

Han Sin merasa terharu sekali.

Gadis ini boleh jadi pernah gila karena keracunan, akan tetapi sesungguhnya memiliki watak yang bijaksana, seperti ayahnya.

"Terima kasih, Ji-moi. Dan semoga kau segera dapat bertemu dengan jodohmu yang cocok"

Mereka berpisah dan mengambil jalan masing-masing.

*** Han Sin melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja.

Pedang Hek-Liong-Kiam telah berhasil dia rampas kembali dan menurut cerita Panglima Coa Hong Bu, Kaisar Yang Ti menghendaki pedang Hek-Liong-Kiam dan Kitab Bu-tek Cin-keng.

Dia sudah berjanji apabila berhasil merampas Hek-Liong-Kiam, akan dikembalikan kepada Kaisar dan kalau Kaisar ingin belajar Bu-tek Cin-keng, dia akan mengajarkannya karena kitabnya sudah dia baker.

Kini dia harus menghaturkan pedang itu kepada Kaisar susuai dengan janjinya kepada Panglima Coa Hong Bu yang tentu melapor kepada Kaisar tentang hal itu.

Setelah tiba di kota raja, hari sudah sore dan Han Sin segera mencari kamar di rumah penginapan.

Dia tidak tahu bahwa sejak dia memasuki pintu gapura kerajaan, dirinya sudah di incar dan dibayangi beberapa orang mata-mata yang menjadi anak buah Lui Couw atau Lui-ciangkun, segala gerak-geriknya diamati orang.

Begitu melihat pemuda itu memasuki kota raja, Lui Couw segera menghadap Kaisar dan memberi laporan "Yang Mulia, pemuda putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu yang memberontak itu kini nampak berada di kota raja"

Kaisar mengerutkan alisnya "Putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu memberontak? Apa maksudmu, Lui-ciangkun?"

"Pemuda itu menyembunyikan pedang Hek-Liong-Kiam dan ilmu Bu-tek Cin-keng yang paduka kehendaki. Bukan itu saja, ketika hamba mencoba untuk memintanya, dia melawan bahkan telah membunuh putera hamba dan banyak prajurit tewas di tangannya. Sekarang dia datang ke sini tentu bukan dengan niat baik terhadap paduka"

"Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu?"

Bukankah dahulu ayahnya, Panglima Cian Kauw Cu merupakan seorang pahlawan yang setia?"

"Apakah paduka lupa? Paduka telah memerintahkan agar rumah mereka di kosongkan, dan hal itu rupanya menimbulkan dendam di hati pemuda itu. Dia dapat berbahaya sekali karena ilmu kepandaiannya tinggi, Yang Mulia"

"Kurang ajar. Berani dia memberontak? Tangkap dia"

"Hamba akan lakukan, akan tetapi mengingat dia seorang yang berkepandaian tinggi, hamba mohon diberi surat perintah paduka agar dia tidak melawan"

Kaisar Yang Ti segera membuat surat perintah itu dan Lui Couw lalu mengumpulkan dua ratus orang prajurit dan pagi"pagi sekali dia memimpin para prajuritnya mengepung rumah penginapan dimana Han Sin berada.

Tentu saja pemilik rumah penginapan menjadi ketakutan melihat demikian banyaknya prajurit mengepung rumah penginapannya.

Dia segera keluar menghadap Lui-ciangkun menanyakan apa kesalahannya.

"Suruh tamu yang bernama Cian Han Sin keluar, atau ku obrak abrik rumah penginapan ini"

Kata Lui Couw.

Pemilik rumah penginapan itu segera berlari masuk, mencari Han Sin dan setelah bertemu, dia segera berkata dengan muka pucat "Sicu, kami mohon sicu segera keluar.

Sicu di cari oleh panglima Lui yang membawa ratusan prajurit yang sudah mengepung rumah penginapan ini.

Kalau sicu tidak keluar, rumah penginapan ini akan di obrak abrik.

Kasihanilah kami, sicu.

Kami tidak ada sangkut pautnya dengan urusan sicu"

Kata pemilik rumah penginapan itu dengan wajah hampir menangis.

Han Sin bersikap tenang saja.

Dia tahu bahwa tentu Lui-ciangkun telah mengetahui akan kedatangannya dan telah bersiap-siap.

Maka diapun berkata "Keluarlah dan katakan bahwa aku akan menemuinya"

Han Sin lalu berkemas.

Menggendong buntalan pakaiannya dan pedang Hek-Liong-Kiam dia selipkan dipinggang, dibalik bajunya.

Kemudian dia melangkah keluar dengan sikap tenang.

Kalau Lui Couw hendak menggunakan kekerasan menangkapnya, dia akan melawan.

Akan tetapi kalau kaisar yang menyuruh tangkap, kebetulan baginya karena dia hendak menghadap kaisar dan selain akan menyerahkan pedangnya, juga dia akan membeberkan semua kebusukan Lui Couw.

Setelah tiba di halaman rumah penginapan, benar saja di situ sudah berkumpul banyak sekali prajurit dan Lui Ciangkun dengan pakaian perangnya nampak gagah memimpin mereka.

Disebelah kiri telah siap barisan anak panah yang sudah memasang anak panah pada busurnya.

Siap membidik dan menyerang.

Han Sin tersenyum kepada Lui-ciangkun.

"Lui Couw, apa maksudmu dengan semua ini? Kalau kau hendak melawanku, kenapa harus mengerahkan banyak prajurit?"

Tegur Han Sin sambil tersenyum mengejek.

"Pemberontak Cian Han Sin. Berlututlah dan atas nama Sribaginda Kaisar kau di tangkap"

Lui Couw tiba-tiba mengeluarkan surat perintah dari Kaisar itu dan melihat ini Han Sin terkejut. Kiranya benar kaisar yang menyuruh menangkapnya.

"Apakah aku akan di hadapkan kepada Sri baginda kaisar?"

"Tentu saja. Yang Mulia Kaisar sendiri akan menentukan hukuman apa yang harus dijatuhkan padamu"

"Baiklah, kalau aku akan dihadapkan kepada sribaginda Kaisar, aku tidak akan melawan dan aku akan menyerah"

Kata Han Sin dengan tenang dan mendengar ini, Lui Couw merasa girang bukan main. Tidak disangkanya pemuda itu akan sedemikian mudahnya ditangkap.

"Bagus"

Serunya dan dia lalu memerintahkan kepada para pembantunya.

"Rampas buntalannya dan ringkus, belenggu kaki tangannya"

Empat orang pembantunya melangkah maju menghampiri Han Sin. Akan tetapi ketika mereka hendak melaksanakan perintah itu, tiba-tiba mereka berempat terjengkang ke belakang.

"Hemmm, Lui-ciangkun. Aku menyerah dan tidak akan melawan untuk di bawa menghadap Sri baginda kaisar akan tetapi bukan sebagai tawanan terbelenggu. Aku tidak akan melawan, maka tidak ada gunanya membelenggu aku"

Lui Couw marah sekali akan tetapi dia memandang bimbang.

Dia tahu benar akan kelihaian pemuda ini dan kalau dia menggunakan kekerasan, bisa jadi dia akan gagal dan pemuda ini akan dapat meloloskan diri.

Dua orang pembantu yang paling diandalkan, yaitu Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo tidak berada di situ, yang berada dengannya hanyalah Bong Sek Toan, murid keponakannya yang biarpun cukup lihai, namun belum cukup menyakinkan.

Dia sedang menyuruh pembantunya mengundang kedua orang datuk itu, akan tetapi belum kelihatan mereka muncul di situ.

Dia menahan sabar dan memaksa diri tersenyum.

"Hemm, maafkan aku. Ini hanya kebiasaan saja dan kalau benar kau tidak akan melakukan perlawanan, baiklah, kami tidak akan membelenggumu"

Lalu kepada anak buahnya dia berseru "Biarkan dia berjalan sendiri. Kepung saja dia"

Demikianlah, dengan di tonton banyak sekali orang, Han Sin melangkah dengan tenang di tengah-tengah kerumunan para prajurit yang berbaris rapi dan yang selalu siap dengan senjata ditangan kalau-kalau pemuda itu memberontak.

Tentu saja peristiwa itu menjadi buah bibir penduduk kota raja dan merupakan berita hangat hari itu sehingga sebentar saja tersebar luas diantara pelosok kota.

Seorang pemuda bernama Cian Han Sin di tangkap Panglima Lui.

Bahkan ada yang mengenal nama itu sebagai putera mendiang Panglima Cian Kauw Cu sehingga berita itu menjadi lebih menarik lagi.

Sambil melangkah dengan tegap, Han Sin selalu waspada.

Maka dia dapat melihatnya ketika muncul dua orang kakek diluar kerumunan prajurit dan bersatu dengan Lui-ciangkun.

Dia mengenal pula Bong Sek Toan yang juga berada di dekat Lui-ciangkun.

Dua orang kakek itu bukan lain adalah Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo.

Dan diapun tahu bahwa dia tidak dibawa menuju ke istana kaisar, melainkan dibelokkan kearah lain.

Tahulah dia bahwa dia telah tertipu dan sedang di bawa ke tempat berbahaya dimana sudah menunggu perangkap yang akan mencelakakannya.

Dia bersiap-siap dan tahu bahwa dia tidak jauh dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan.

Tiba-tiba saja Han Sin menggerakkan tubuhnya dan belasan orang di sebelah kanannya roboh saling tabrak.

Han Sin melompat dengan cepat sekali, bagaikan seekor burung terbang melalui kepala para prajurit dan sudah tiba di luar kepungan.

Segera dia melarikan diri dan ketika beberapa belas orang prajurit paling luar menghadangnya, dia mencabut Hek-Liong-Kiam dan sekali pedang itu berkelebat, belasan buah golok dan pedang beterbangan dan Han Sin terus berlari.

Melihat ini, Lui Couw terkejut dan marah sekali "Kejar"

Bentaknya dan dia sendiri lalu mengejar, diikuti Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo.

Juga Bong Sek Toan ikut pula mengejar, demikian pula para prajurit yang banyak jumlahnya itu.

Para penduduk dan pejalan kaki menjadi panik dan geger mereka berlarian karena takut terbawa-bawa.

Sambil berlari, Han Sin merobohkan setiap orang yang menghadang diperjalanan.

Juga dia merobohkan para penjaga pintu gerbang sehingga dia kini dapat melarikan diri keluar dari pintu gerbang.

Dia telah dapat lolos dari kota raja.

Akan tetapi, baru kurang lebih lima mil dia melarikan diri dari kota raja, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang.

Ketika dia menoleh, dia melihat belasan penunggang kuda mengejarnya.

Tentu Panglima Couw, kedua orang datuk itu, Bong Sek Toan dan beberap orang perwira yang tangguh.

Mereka itu menunggang kuda yang baik dan kuat.

Sebetulnya dia dapat terus melarikan diri dengan kecepatan yang dapat mengimbangi larinya kuda, akan tetapi kalau dia terus berlari, akhirnya dia akan kehabisan napas dan kalau dia tersusul dalam keadaan kehabisan napas dan tenaga, dia dapat celaka.

Karena yang mengejar hanya belasan orang lebih baik dia melawan sekarang.

Setelah mengambil keputusan demikian, Han Sin berhenti, membalikan tubuh menunggu dan Pedang Hek-Liong-Kiam telah berada di tangan kanannya.

Dia berdiri tegak dengan sikap tenang sekali, akan tetapi seluruh urat syaraf di dalam tubuhnya dalam keadaan siap siaga.

Benar saja dugaannya.

Setelah para pengejar itu tiba di depannya, ternyata mereka adalah Lui Couw, Pak-Te-Ong, See-Thian-Mo, Bong Sek Toan dan sepuluh orang perwira lain yang agaknya memiliki kepandaian pula.

Mereka sudah berlompatan dari atas kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka mengepung Han Sin.

"Ha-ha-ha, Cian Han Sin, Kau hendak lari kemana? Kau tidak akan terlepas dari tanganku"

Kata Lui Couw.

"Lui-ciangkun, serahkan saja bocah ini kepadaku. Aku harus mencabut nyawanya untuk membalas kematian anakku"

Kata Pak-Te-Ong.

Setelah berkata demikian, Pak-Te-Ong yang marah sekali itu sudah melancarkan pukulan Tian-Ciang ke arah Han Sin.

Tian Ciang (Tangan Halilintar) dari Pak-Te-Ong ini lihai bukan main.

Lawan yang di serang itu, terkena pukulan ini dari jarak jauh saja dapat roboh dan tewas.

Serangkum angina pukulan yang amat panas menyambar dahsyat kearah tubuh Han Sin.

Akan tetapi Han Sin yang pernah merasakan pukulan dahsyat ini, sudah siap siaga.

Dia mengelak dengan melompat ke kiri, akan tetapi dari kiri menyambar angin pukulan yang teramat dingin.

Tanpa menoleh tahulah Han Sin bahwa See-Thian-Mo yang memukulnya dengan Swat-Ciang (Tangan salju).

Diapun pernah menderita karena pukulan ini, maka diapun mengelak lagi, kini kedua orang datuk itu memukul dengan berbarengan.

Menghadapi pukulan ini, Han Sin mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng dan dia menyambut dengan kedua tangannya setelah menggigit pedang Hek-Liong-Kiam.

"Desss ""

Akibatnya, kedua orang kakek itu terjengkang.

Hebat bukan main Bu-tek Cin-keng itu.

Han Sin sendiri terhuyung, lalu dia mengambil pedang yang di gigitnya, siap menghadapi pengeroyokan.

Dua orang itu terjengkang dan dada mereka terguncang hebat, akan tetapi tidak sampai melukai mereka.

Kini dengan marah Lui Couw memberi isyarat dan majulah semua orang mengeroyok Han Sin.

Lui Couw sendiri menggunakan pedang yang cukup baik.

Karena pedang itu adalah pedang pemberian kaisar sebagai tanda pangkatnya dan ia sudah memainkan lo-hai-kiamsut untuk menerjang Han Sin.

Disampingnya, Bong Sek Toan juga memainkan pedangnya dengan ilmu pedang yang sama pula, membantu paman gurunya untuk menyerang Han Sin dari depan.

Pak-Te-Ong Ma Giok menggunakan senjatanya tongkat kepala naga yang diputar dahsyat, menyambar-nyambar bagaikan seekor naga yang mengancam kepala Han Sin.

Demikian pula See-Thian-Mo, datuk barat yang bekas lama ini menggunakan senjatanya berupa tasbeh yang menyambar dengan aneh, di seling pukulan Swat Ciang yang ampuh.

Selain empat orang lawan tangguh ini, sepuluh orang perwira yang semua memegang pedang sudah mengepung dan ikut mengeroyok.

Han Sin memutar Hek-Liong-Kiam dan mengamuk sekuat tenaga karena dia maklum bahwa lengah sedikit saja dia tentu akan terkena senjata lawan yang banyak dan semua lihai, terutama dua orang datuk itu.

Hebat memang sepak terjang Han Sin di saat itu.

Dia memainkan pedangnya dengan sepenuhnya memainkan ilmu silat Bu-tek Cin-keng, membuat pedang itu membentuk sinar yang bergulung-gulung berwarna hitam.

Dari jauh nampak seolah dua ekor naga hitam yang mengamuk diantara sinar senjata lawan yang mengeroyoknya.

Hanya empat orang pengeroyok yang berilmu tinggi saja, yaitu Lui Couw, Bong Sek Toan, Pak-Te-Ong dan see-thian mo yang masih dapat menghujankan serangan mereka kepada Han Sin.

Sedangkan sepuluh orang perwira itu sudah beberapa kali terjungkal oleh tendangan kaki Han Sin atau oleh hawa sambaran pedang Hek-Liong-Kiam.

Namun harus di akui kenyataannya bahwa saat itu Han Sin terancam bahaya besar.

Betapapun lihainya, para pengeroyoknya amat tangguh, terutama sekali Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo yang berusaha mati-matian untuk merobohkannya.

Pak-Te-Ong terutama sekali bernafsu untuk membunuh pemuda ini karena pemuda inilah yang di anggapnya telah menyebabkan kematian puterinya.

Demikian pula Lui Couw yang berusaha keras membalaskan kematian puteranya dan juga untuk menguasai kembali pedang pusaka Hek-Liong-Kiam dari tangan pemuda itu.

"Wuuktttt ""

Tongkat kepala naga dari Pak-Te-Ong itu kembali menyambar ganas.

Pada saat itu Han Sin sedang menggunakan pedangnya untuk menghalau senjata para pengeroyok lain maka hantaman tongkat kepala naga ke arah kepalanya ini terpaksa di tangkisnya dengan tangan kiri.

"Wuuutttt "

Plakkk"

Tongkat terpental, akan tetapi dia masih dapat memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga pada saat dia terhuyung tidak ada yang dapat mendekatinya.

Akan tetapi para pengeroyok mengepung lagi dan pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Han Sin itu, tiba-tiba terdengar bentakan halus dan berwibawa sekali "Hei, kalian yang mengeroyok ini mengapa saling tempur dengan kawan sendiri?"

Dan terjadilah kekacauan.

Para perwira itu merasa betapa mereka tidak mengeroyok Han Sin melainkan bertanding melawan teman-teman sendiri.

Tentu saja mereka terkejut dan berloncatan ke belakang.

Bahkan Lui Couw dan Bong Sek Toan sendiri juga terkejut karena terpengaruh bentakan tadi dan mereka seolah bertanding melawan teman sendiri.

Hanya Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo yang dapat melawan pengaruh itu karena sin-kang mereka sudah amat kuat.

Selagi keadaan kacau balau itu, mendadak muncul seorang gadis berpakaian putih yang tadi membentak itu bersama seorang gadis lain yang memegang sebatang tongkat.

Dan gadis yang bertongkat itu tanpa banyak cakap lagi lalu menyerang para perwira.

Gerakannya bagaikan seekor burung rajawali mengamuk.

Tongkatnya berkelebatan dan para perwira itupun bergelimpangan.

Yang datang itu adalah Kim Land an Cu Sian.

Bagaimana kedua orang gadis itu dapat datang pada saat yang tepat untuk menolong Han Sin?

Kedua orang gadis secara kebetulan saja saling bertemu ketika mereka berada di kota raja.

Dan mereka bermalam di sebuah rumah penginapan.

Di situ Kim Lan menghibur Cu Sian dan menyatakan bahwa Han Sin mencinta Cu Sian maka ia menganjurkan agar Cu Sian pergi mencarinya.

Akan tetapi Cu Sian mengatakan bahwa setelah dirinya ternoda, ia merasa tidak pantas berdekatan lagi dengan Han Sin.

Selagi mereka berbicara pada pagi hari itu, mereka mendengar berita bahwa Cian Han Sin di tangkap oleh Lui Ciangkun.

Tentu saja keduanya terkejut bukan main dan mereka lalu keluar untuk mencari.

Melihat Han Sin diantara ratusan prajurit itu, mereka pun tidak berdaya dan merasa heran mengapa Han Sin menyerah begitu saja ditangkap.

Mereka diam-diam membayangi dari jauh dan kemudian mereka melihat betapa Han Sin memberontak dan melarikan diri keluar dari pintu gerbang, dikejar oleh belasan orang yang menunggang kuda.

Mereka pun melakukan pengejaran dan akhirnya mereka melihat Han Sin di keroyok dan keadaannya terdesak dan terancam.

Kim Lan lalu mempergunakan kekuatan sihirnya untuk mengacau pengeroyokan itu dan Cu Sian sudah mengamuk dengan tongkatnya yang lihai.

Para perwira yang sedang kebingungan itu tentu saja tidak mampu melawan Cu Sian yang mengamuk dan mereka sudah roboh bergelimpangan dan tidak mampu bertempur lagi.

Kekuatan sihir Kim Lan melemah dan kini barulah Lui Couw dan Bong Sek Toan tahu bahwa yang mereka sangka bertempur dengan teman sendiri itu hanya khayalan belaka.

Maka mereka menjadi marah sekali, apalagi Bong Sek Toan yang mengenal Cu Sian, sedangkan Lui Couw menyerang Kim Lan.

Han Sin girang bukan main melihat munculnya dua orang gadis itu dan terutama sekali melihat Kim Lan, Lan-moi hati-hatilah terhadap Panglima jahat itu.

Dan Sian-moi, hajarlah pemuda keparat itu"

Dia sendiri kini dikeroyok oleh Pak-Te-Ong dan See-Thian-Mo.

Akan tetapi pengeroyokan dua orang datuk itu tidak membuat Han Sin menjadi gentar.

Kini dia merasa dapat melayani sebaik-baiknya karena hanya melawan dua orang.

Pedangnya ia gerakkan dengan amat dahsyat sehingga kedua lawan itu pun terdesak.

Pertandingan antara Cu Sin dan Bong Sek Toan amat serunya.

Tingkat kepandaian kedua orang ini memang seimbang, akan tetapi permainan tongkat Cu Sian amat aneh.

Ia telah menguasai Hek-tung-hoat sepenuhnya dan gadis ini menjadi lihai bukan main kalau sudah bersilat dengan tongkatnya.

Ia bergerak dengan ringan dan lincah sekali sehingga kemana pun pedang di tangan Bong Sek Toan menyerang selalu hanya mengenai angina belakan.

Sebaliknya, totokan-totokan tongkat yang mengarah jalan darah itu amat berbahaya bagi Bong Sek Toan sehingga dia terpaksa harus memutar pedang untuk melindungi seluruh tubuhnya bagian atas agar jangan menjadi korban totokan.

Akan tetapi tiba-tiba tongkat menyambar ke bawah tanpa di sangka-sangka oleh Bong Sek Toan.

"Tuukkk"

Tongkat itu dengan tepat memukul tulang kering kaki kanan pemuda itu.

Bong Sek Toan mengaduh.

Hanya orang yang pernah terpukul tulang keringnya yang dapat merasakan betapa sakitnya tulang betis itu terpukul.

Kiut miut rasanya, senut-senut sampai menusuk jantung rasanya.

Akan tetapi rasa nyeri ini membuat Bong Sek Toan menjadi marah sekali.

Kemarahannya yang memuncak membuat dia melupakan rasa nyeri itu dan diapun menubruk lalu menyerang dengan ganasnya.

Akan tetapi Cu Sian sudah bergerak lincah lagi dan menghindar dengan cepatnya sambil kembali menghujankan totokan kearah seluruh jalan darah di tubuh Bong Sek Toan.

Kembali pemuda itu menjadi repot dan terdesak hebat.

Sementara itu, Lui Couw menyerang Kim Lan dengan hebatnya.

Gadis berpakaian putih ini memang hebat.

Ia adalah seorang gadis berbudi baik dan bijaksana, bahkan selalu mentaati petunjuk gurunya untuk tidak melakukan kekerasan.

Akan tetapi kalau ia di serang, ia dapat membela diri dengan amat baiknya karena ilmu silatnya tinggi.

Bahkan dibandingkan Cu Sian, Kim Lan lebih hebat gerakannya.

Tubuhnya seperti sehelai bulu saja ringannya.

Diserang pedang, tubuhnya melayang-layang, pakaian putihnya berkibaran akan tetapi tidak pernah dapat tersentuh pedang.

Dan Kim Lan yang selamanya tidak pernah menggunakan senjata itu pun membalas dengan totokan-totokan jari tangannya yang membuat Lui Couw kewalahan totokan itu biarpun dilakukan dengan jari yang halus dan kecil, akan tetapi mendatangkan angina yang mengeluarkan bunyi bercuitan.

Kalau saja Kim Lan bermaksud mencelakai lawan dan merobohkan, agaknya ia dapat melakukan lebih capet.

Akan tetapi ia tidak mamu melakukan itu hanya bermaksud merobohkan tanpa melukai saja maka tentu agak sukar baginya karena Lui Couw juga merupakan lawan yang amat tangguh.

Sementara itu, pertempuran antara Han Sin melawan dua orang datuk masih berjalan dengan seru.

Para perwira yang tadi robohkan Cu Sian sudah tidak ada yang berani maju lagi, bahkan mereka bergerombol agak jauh dari tempat pertempuran, hanya menjadi penonton saja.

Pada suatu saat yang diperhitungan dengan baik oleh Han Sin, ketika tasbeh di tangan See-Thian-Mo menyambar, dia mengerahkan tenaga sin-kang sekuatnya dan Hek-Liong-Kiam di tangannya menyambar dahsyat.

"Sraattt "

Cinggg ".

Tasbeh itu putus dan biji tasbehnya terlepas berantakan, sehingga See-Thian-Mo terkejut bukan main dan meloncat ke belakang.

Pada saat itu tongkat naga di tangan Pak-Te-Ong menyambar.

Han Sin tidak memberi hati lagi, mengerahkan tenaganya membabat dengan pedang pusakanya dan sekali ini, tongkat itu pun dapat di patahkan.

Selagi kedua orang itu terkejut dan gugp, Han Sin sudah memukul dengan kedua tangannya, menggigit pedangnya dan pukulan Bu-tek Cin-keng ini dia lakukan dengan sekuat tenaganya.

"Wuuuuttt "

Deessss ""

Kedua orang kakek itu terlempar bagaikan dua helas daun tertiup angin.

Ketika mereka tanpa di sangka menerima pukulan itu, mereka tidak sempat mengerahkan tenaga sinking mereka karena masih tertegun melihat senjata mereka rusak, maka mereka terpukul dengan telak sekali.

Biarpun sudah terpukul sedemikian hebatnya.

Kedua orang datuk sakti itu masih mampu merangkak berdiri, akan tetapi ketika mereka hendak menyerang dengan pengeraHan Sinking, tiba-tiba mereka muntahkan darah segar dari mulut dan merasa betapa dada mereka nyeri bukan main.

Mereka telah terluka parah dan tahulah mereka bahwa mereka tidak mungkin lagi melanjutkan pertandingan.

Tanpa malu dan tanpa pamit mereka lalu membalikan tubuh dan pergi dari situ meninggalkan Lui Couw dan Bong Sek Toan yang masih bertanding.

Cu Sian sudah mendesak Bong Sek Toan dengan hebat dan ketika Bong Sek Toan agak lengah, tongkat Cu Sian sudah menotok dengan kecepatan kilat mengenai dada dan lehernya.

Robohlah pemuda itu, tidak mampu berkutik lagi karena totokan tadi merupakan totokan maut yang seketika menewaskannya.

Sementara itu, Kim Lan juga masih mempermainkan Lui Couw.

Gadis ini tidak ingin melukai atau membunuh orang, maka ia tidak menyerang untuk melukai atau mematikan, karena itu sampai sekian lamanya ia masih belum mampu mengalahkan Lui Couw yang memang lihai sekali, melihat ini, Han Sin melompat ke depan.

"Lan-moi, dia musuh besarku, serahkan dia kepadaku"

Katanya dan dia sudah melompat ke tengah diantara kedua orang yang berkelahi itu. Kim Lan melangkah mundur dan mendekati Cu Sian yang sudah berhasil menewaskan Bong Sek Toan.

"Enci Lan, kenapa kau tidak membunuhnya? Dia jahat sekali"

Kata Cu Sian mencela. Kim Lan menghela napas panjang "Suhu tidak pernah mengajarkan aku untuk membunuh atau melukai orang, melainkan untuk mengobati orang"

"Kau terlalu baik hati, enci Lan. Dan lihat, sekarang Sin-ko menggantikanmu. Dia membelamu karena dia mencintamu enci"

"Husshh, kau salah sangka, Cu Sian. Sin-ko hanya mencinta kau seorang. Sambutlah dia baik-baik, sekarang juga aku mau pergi"

"Tidak enci Lan. Kau tidak boleh pergi. Aku yang akan pergi dari sini. Kau yang harus menemaninya"

"Anak bodoh. Percayalah, hanya Sin-ko yang akan mampu mengobati luka-luka di hatimu dan membahagiakanmu"

"Akan tetapi, aku tidak mungkin membahagiakannya, enci. Biarkan aku pergi"

Kim Lan menghela napas panjang.

Ia sudah minta dengan sungguh-sungguh kepada Han Sin agar membahagiakan gadis ini.

Ia tahu bahwa Cu Sian amat mencinta Han Sin, dan biarpun di dalam hatinya ia tidak dapat menyangkal bahwa ia pun amat mencinta Han Sin, akan tetapi ia tidak ingin menghancurkan hati gadis yang baik ini.

"Kalau begitu, biarlah dia yang memutuskan nanti"

Katanya sambil memegangi tangan Cu Sian seolah ia khawatir kalau gadis itu nekat pergi meninggalkannya.

Mendengar ini, timbul keinginan hati Cu Sian untuk juga mengetahui bagaimana pendapat Han Sin, bagaimana isi hatinya.

Biarpun ia sudah tidak mempunyai harapan lagi karena merasa rendah diri, merasa tidak berharga lagi bagi Han Sin.

Pertandingan antara Han Sin dan Lui Couw terjadi berat sebelah.

Pedang di tangan Lui Couw sudah patah-patah dan kini dia melawan Han Sin dengan tangan kosong.

"Hyaattt"

Lui Couw menyerang dengan ganasnya dengan pukulan mematikan dari Lo-hai-kun. Akan tetapi Han Sin sudah mengenal jurus itu dan dengan pengerahan Sin-kangnya, dia menangkis.

"Dukkk "

Breesss ""

Tubuh Lui Couw terbanting keras, akan tetapi dia bangkit kembali, mengusap keringat dari kening yang memasuki matanya dan mendengus.

"Cian Han Sin, kau pemberontak. Berani melawan utusan Kaisar?"

"Hemmm, Lui-ciangkun. Kau adalah pengkhianat. Kau amat jahat membunuh ayahku secara curang, membunuh pula ibuku dengan kau mencuri Hek-Liong-Kiam. Kau bahkan bersekutu dengan See-Thian-Mo da Pak-Te-Ong untuk membunuh kaisar. Sungguh manusia tak berbudi, sudah di beri pangkat tinggi masih hendak membunuh kaisar Pengkhianat besar"

"Tidak mengherankan karena dia adalah putera mendiang Toat-beng Giam-ong, Koksu dari Kerajaan Toba"

Kata Kim Lan yang sudah mendapat keterangan tentang diri panglima itu.

"Ah, kiranya kau putera Toat-beng Giam-ong? Jadi kau adalah saudara seperguruan ibuku sendiri, dan kau telah membunuhnya"

"Keparat. Akan kukirim kau menyusul ibumu"

Lui Couw menjadi marah dan nekat karena tahu bahwa dia tidak akan mampu melarikan diri lagi.

Dia menubruk bagaikan seekor singa menerkam domba, dan serangan ini di sambut oleh Han Sin dengan pukulan Bu-tek Cin-keng.

"Desss ""

Tubuh Lui Couw terpental jauh dan jatuh terbanting keras, tak dapat bangkit kembali karena dia sudah tewas seketika.

Setelah melihat bahwa Lui Couw dan Bong Sek Toan tewas, Han Sin menghela napas panjang dan dia segera membuat lubang untuk mengubur dua mayat itu.

Tanpa berkata apapun Kim Lan membantu pekerjaan itu dan biarpun tadinya Cu Sian memandang dengan alis berkerut, akhirnya ia membantu pula.

Mereka bertiga menggali lubang dan mengubur dua mayat itu tanpa banyak cakap.

Setelah selesai menguburkan dua mayat itu, barulah Han Sin menghadapi mereka dan berkata "Kalau kalian tidak datang tepat pada saatnya, tentu aku yang sekarang ini di kuburkan di sini, itupun kalau ada yang mau menguburku"

"Kami sudah mengikutimu dari Kota raja, Sin-ko. Kami berdua kebetulan berada di kota raja dan kami mendengar berita bahwa kau di tangkap Lui-ciangkun, maka kami lalu membayangi dan mengejar sampai ke sini"

Kata Kim Lan.

Han Sin memandang kepada dua orang gadis itu bergantian dan dia melihat perubahan sikap Cu Sian.

Sungguh besar sekali bedanya antara Cu Sian dahulu dan sekarang.

Sekarang Cu Sian menjadi begitu pendiam, bahkan agaknya seperti orang yang enggan untuk memandang kepadanya, melainkan selalu menundukkan muka.

"Lan-moi, sungguh aku girang sekali dapat bertemu denganmu di sini, karena sudah lama aku mencari-carimu. Ada urusan penting sekali hendak kubicarakan denganmu, Lan-moi"

Mendengar ini, Cu Sian memutar tubuhnya dan berkata "Enci Lan, maafkan aku. Aku akan pergi sekarang juga"

Akan tetapi Kim Lan segera menangkap lengannya dan menahannya "Adikku, nanti dulu. Sebelum Sin-ko menyatakan pendapatnya, kau tidak boleh pergi dulu"

Kemudian Kim Lan memandang kepada Han Sin dengan sinar mata penuh teguran, lalu berkata lantang "Sin-ko, sekarang kami berdua minta kepadamu agar berterus terang.

Seorang pendekar gagah tentu tidak akan bersikap plin-plan, melainkan suka berterus terang dan tidak menyakiti hati orang"

Tentu saja Han Sin memandang dengan heran, akan tetapi alisnya lalu berkerut dan jantungnya berdegub tegang karena dia teringat akan kata-kata dan sikap Kim Lan mengenai diri Cu Sian tempo hari.

"Katakanlah, apa yang harus ku jawab dengan terus terang itu"

"Sin-ko, biarpun sudah jelas bagi ku bahwa selama ini kau mencinta Cu Sian, akan tetapi adik Cu Sian minta penegasan dari mulutmu sendiri, karena ia menganggap bahwa kau mencintaku.

"Nah sekarang di depan kami berdua, katakan, kepada siapa kau mencinta?"

Biarpun Han Sin sudah menduga lebih dulu pertanyaan ini, namun dia tertegun juga dan sampai lama tidak mampu menjawab, hanya memandang bergantian kepada kedua orang gadis itu.

Kepada Kim Lan yang menatap tajam wajahnya dan kepada Cu Sian yang menundukkan mukanya.

Akhirnya dia berkata dengan suara yang sungguh-sungguh keluar dari lubuk hatinya, tidak di buat-buat "Aku sayang kepada kalian berdua, aku sayang kepada Sian-moi seperti aku sayang kepadamu, Lan-moi.

Inilah jawabanku yang jujur"

Wajah Kim Lan berubah pucat, lalu merah dan ia berkata dengan penasaran "Sin-ko, kau tidak boleh menjawab begitu. Kau harus menikah dengan adik Cu Sian, kalau tidak, aku ". Aku akan benci kepadamu"

Cu Sian merengut tangannya terlepas dari pegangan Kim Lan, kemudian memandang kepada Kim Lan dengan kedua mata basah air mata "Tidak.

Aku hanya mau menikah dengan Sin-ko akan tetapi dengan satu syarat ""

"Apa syaratnya, adik Cu Sian?"

Tanya Kim Lan heran.

"Syaratnya, Sin-ko harus menikah dengan enci Kim Lan lebih dulu. Kalian tahu kemana akan dapat menemukan aku di Tiang-an"

Setelah berkata demikian, Cu Sian melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Kim Lan menjadi bengong dan bingung.

Setelah bayangan Cu Sian tidak nampak lagi, barulah Kim Lan menghadapi Han Sin dan dia berkata dengan bingung "Apa "

Apa maksudnya ia berkata seperti itu dan mengajukan syarat gila itu?"

Han Sin tersenyum dan memandang nakal "Apanya yang aneh?

Akupun mempunyai syarat, Lan-mo.

Aku mau menikah dengan Cu Sian dan membahagiakan dengan syarat bahwa aku harus menikah dulu dengan Ang Swi Lan"

"Ehhh? Siapa itu Ang Swi Lan?"

Tanya Kim Lan dan matanya mencorong marah, kedua pipinya berubah merah sekali.

"Ang Swi Lan adalah gadis tercantik di dunia, dan sebetulnya hanya kepada Ang Swi Lan saja aku jatuh cinta dan tergila-gila. Akan tetapi aku mau menikah dengan Cu Sian asalkan aku lebih dulu menikah dengan Ang Swi Lan"

Kim Lan menjadi marah sekali. Ia mengepal tinju dan bertanya "Siapa itu Ang Swi Lan? Agaknya ada siluman betina yang telah menyihirmu sehingga kau tergila-gila kepadanya. Tunjukan dimana dia"

"Kalian sudah tahu kau mau apa terhadap dirinya?"

"Aku harus mengatakan kepadanya bahwa kau telah ada yang punya, bahwa kau sudah mencinta "

Eh, dua orang gadis dan aku akan mengenyahkannya kalau ia tidak melepaskan cengkraman sihirnya darimu"

"Ha-ha-ha, kau mau tahu siapa orangnya? Ang Swi Lan adalah gadis yang kini berada di depanku, yang marah-marah karena cemburu. Kaulah Ang Swi Lan, Lan-moi"

Kim Lan melangkah mundur dua langkah dan memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut "Apa "

Apa maksudmu, Sin-ko? Jangan kau mempermainkan aku"

"Aku tidak mempermainkan, Lan-moi. Kau memang bernama Ang Swi Lan dan aku telah bertemu dengan ibu kandungmu"

"Apa-apaan ini. Bagaimana kau bisa tahu bahwa ada seorang yang mengaku sebagai ibu kandungku? Bagaimana kalau ia berbohong?"

"Panjang ceritanya, Lan-moi. Marilah kita duduk menjauhi kuburan ini dan mencari tempat yang enak untuk bercakap-cakap"

Mereka meninggalkan kuburan itu dan duduk di bawah pohon besar di atas batu-batu gunung yang banyak terdapat di situ "Nah, ceritakanlah apa artinya semua ini, Sin-ko"

"Secara kebetulan sekali aku bertemu dengan seorang yang menceritakan keadaan dirimu di waktu masih kecil. Kau di temukan orang itu dalam sebuah hutan, di tinggalkan oleh seorang wanita dan orang itu mengetahui siapa wanita yang membuangmu di hutan itu?"

"Siapa orang itu?"

"Dia bukan lain adalah mendiang Thian Ho Hwesio "

"Suhu "? Mendiang "... Jadi suhu telah ". Telah "

"Gurumu itu telah tewas dalam pelukanku, Lan-moi"

"Aih, Suhu ""

Kim Lan menahan sesengukan dan Han Sin membiarkannya saja karena dalam menerima berita yang mengejutkan dan mendukakan itu memang paling baik bagi Kim Lan untuk menangis.

Pelampiasan rasa duka yang terbaik adalah melalui cucuran air mata.

Akan tetapi tidak lama Kim Lan menangis.

Ia sudah dapat menguasai lagi dirinya dan ia berhenti menangis, memandang Han Sin dengan kedua mata kemerahan dan bertanya "Bagaimana suhu meninggal dunia, Sin-ko?

Apakah dia mati karena sakit?"

"Dia terluka parah, Lan-moi. Dia bertemu dengan See-Thian-Mo dan Pak-Te-Ong, dua orang datuk yang berkelahi denganku tadi. Dua orang datuk itu sudah mengenalnya dan mereka membujuk suhumu agar membantu mereka bersekongkol dengan Lui Couw untuk membunuh kaisar. Akan tetapi suhumu tidak sudi dan dia lalu di serang dan di keroyok dua sehingga terluka parah. Dialah yang bercerita tentang dirimu kepadaku"

"Aihhh, suhu, betapa malang nasibmu ""

Kim Lan menghela napas panjang "Lalu bagaimana, Sin-ko? Lanjutkan ceritamu. Menurut suhu, siapakah wanita yang telah membuangku di hutan itu? Apakah ia itu ibu kandungku?"

Sama sekali bukan, Lan-moi.

Bagaimana ibu kandungmu bisa begitu jahat?

Ibu kandungmu adalah seorang wanita yang bijaksana dan baik hati, seperti kau.

Yang membuangmu di hutan itu dan terlihat oleh gurumu adalah seorang tokouw bernama Kang Sim To-kouw, ketua Thian-li-pang dari Thian-san"

"Hemmm, mengapa ia melakukan hal itu? Apakah ia menculik aku?"

Aku pun bertanya seperti itu dalam hatiku, karena merasa penasaran aku lalu pergi ke Thian-li-pang menemuinya.

Kami sempat bertanding dan aku berhasil mengalahkannya.

Sesuai dengan janjinya bahwa kalau kalah ia akan bercerita tentang dirimu, maka berceritalah Kang Sin To-kouw akan perbuatannya yang kejam, yang timbul karena perasaan iri hati"

"Iri hati? Kepada siapa?"

"Kepada ibumu. Dengarlah, Lan-moi. Ibumu adalah sumoi dari Kang Sim To-kouw. Mereka sama-sama menjadi murid Thian-li-pang yang sebetulnya tidak membolehkan para muridnya menikah. Karena ibumu melanggar, maka ia dikeluarkan dari Thian-li-pang. Melihat ibumu hidup bahagia dengan suaminya dan melahirkan kau, maka Kang Sim To-kouw menjadi iri hati. Ia tidak saja menculikmu bahkan ia telah membunuh ayah kandungmu karena iri"

"Aih, betapa kejam dan jahatnya"

"Akan tetapi ia telah sadar dan menyesali perbuatannya. Bersamaku lalu ia pergi menemui ibumu dan mengakui segala perbuatannya, baik mengenai pembunuhan suami ibumu maupun tentang penculikan atas dirimu. Ia bukan hanya mohon ampun, melainkan bersedia menerima hukuman dan rela di bunuh. Akan tetapi ibumu adalah seorang wanita yang bijaksana dan baik hati sekali, ia tidak marah hanya menyesal mengapa sucinya berbuat sekejam itu dan ia memaafkannya. Nah, dari ibu itulah aku dapat mengetahui bahwa sesungguhnya namamu adalah Ang Swi Lan. Aku sudah berjanji kepada ibumu untuk mencarimu sampai dapat dan membawamu pulang kepada ibumu"

"Siapakah ibuku, Sin-ko?"

"Kau tentu tidak pernah menduganya, Lan-moi. Kau pernah bertemu dengannya bahkan berkenalan. Ia adlah Pek Mau To-kouw ketua Hwa-li-pang di Hwa-san"

"Ahhhh """""

Kim Lan membayangkan wanita tua dengan rambutnya yang sudah putih semua itu. Seorang nenek yang baik hati dan budiman. Akan tetapi ia mengerutkan alisnya.

"Sin-ko, bagaimana aku dapat yakin akan semua ceritamu ini? Biarpun suhu sudah bercerita, biarpun mereka semua sudah mengaku, akan tetapi apa buktinya bahwa aku adalah puteri Pek Mau To-kouw dari Hwa-li-pang?"

Han Sin tersenyum.

Dia tidak ragu lagi "Akupun sudah bertanya akan hal itu kepada Pek Mau To-kouw dan ia mengatakan bahwa pada rubuhmu terdapat tanda-tanda khas yang tidak mungkin terdapat pada orang lain"

Wajah Kim Lan menjadi merah "Tanda-tanda khas? Apakah itu?"

"Kata Pek Mau To-kouw, di telapak kaki kananmu terdapat bercak hitam. Nah, benar atau tidakkah, Lan-moi?"

Mendengar ini, wajah Kim Lan menjadi merah sekali dan ia menutupi mukanya dengan kedua tangan "Ah, ibuuuu ""

"Mari kita ke Hwa-San, Lan-moi. Kita temui ibumu yang tentu sudah mengharapkan dan menunggu-nunggu"

"Baiklah, Sin-ko. Akan tetapi "". Bagaimana dengan Cu Sian?"

"Bagaimana dengan ia tergantung kepada keputusanmu, Lan-moi, Kalau kau dapat memenuhi syaratnya dan syaratku, tentu semua menjadi beres"

"Hemmm, berarti kau hendak mengawini kami berdua?"

"Bukankah itu syarat dari Cu Sian? Kalau kau menghendaki agar ia berbahagia, dan kita berdua juga berbahagia, tidak ada jalan lain bagimu kecuali menyetujui, bukan?"

"Ihhh, kau laki-laki mau enaknya saja"

Kata Kim Lan akan tetapi ia tersenyum. Han Sin tertawa dan mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju Hwa-San. *** Setelah meninggalkan tempat itu, Han Sin teringat akan pedang Hek-Liong-Kiam"

Lan-moi, bagaimana pendapatmu? Apakah sebaiknya kalau pedang ini kuserahkan dulu kepada kaisar?"

"Hemmm, jangan bodoh, Sin-ko. Kalau kau pergi ke kota raja dan menghadap kaisar, kau seperti ular mencari penggebuk saja. Para perwira tentu sudah melapor bahwa kau telah membunuh Lui-ciangkun dan kau akan ditangkap sebagai pemberontak. Pula, bukankah Hek-Liong-Kiam itu peninggalan ayahmu sendiri. Tidak semestinya kalau diserahkan kepada kaisar. Aka mendengar berita yang banyak tentang diri kaisar dan berita itu menyatakan bahwa dia adalah seorang yang kurang bijaksana, bahkan melakukan banyak hal yang merugikan rakyat. Kita tidak perlu kesana dan sebaiknya kau menjauhkan diri dari kota raja, Sin-ko"

Han Sin mengangguk-angguk "Pendapatmu memang tepat sekali. Kalau selalu bersamamu, aku mempunyai seorang penasehat yang amat bijaksana. Nah, mari kita berangkat menuju ke Hwa-san"

Mereka melakukan perjalanan dengan cepat tanpa halangan sesuatu dan tibalah mereka di kuil Hwa-li-pang di pegunungan Hwa-san itu.

Kedatangan mereka di sambut sendiri olah Pak-Mau To-kouw.

Pendeta wanita ini berdiri termangu-mangu melihat gadis berpakaian putih yang datang bersama Han Sin.

Demikian pula Kim Lan atau Ang Swi Lan atau Lan Lan berdiri seperti terpesona memandang wanita yang sebetulnya belum begitu tua, belum lima puluh tahun akan tetapi yang rambutnya sudah putih semua seperti benang-benang kapas itu.

Kemudian, keduanya seperti di tarik oleh besi sembrani, saling menghampiri dan saling rangkul sambil menangis """"

"Swi Lan ". Lan-Lan, kau Lan-Lan-ku "

Ah, benar-benar kau Swi Lan. Terima kasih kepada Tuhan ""

Tokouw itu mencium muka anaknya sambil menangis kegirangan, penuh bahagia terasa di hatinya.

"Ibu, maafkan anakmu yang telah membuat ibu selalu bersedih hati"

Kata Lan-Lan sambil mencium pipi ibunya yang masih montok dan belum terganggu keriput itu.

Ibunya merangkulnya, lalu membawanya duduk di kursi.

Mereka bertiga duduk menghadap meja.

Lan-Lan dekat sekali dengan ibunya dan Han Sin berhadapan dengan mereka "Bukan salahmu, anakku.

Kau masih kecil ketika di culik orang, dan tentu baru sekarang kau mendengar semua tentang riwayatmu dari Han Sin"

"Kang Sim To-kouw itu sungguh kejam dan jahat sekali, ibu. Bukan hanya menculikku, memisahkan aku dari ibu, akan tetapi ia juga membunuh ayahku"

"Bukan kejam dan jahat, anakku. Melainkan iri hati. Nafsu iri memang dapat membutakan mata bathin manusia dan menghilangkan segala pertimbangan dan perasaan halus. Akan tetapi suci sudah menginsafi kesalahannya, bahkan jauh sebelum bertemu dengan Han Sin ia sudah tersiksa, terhukum karena dikejar-kejar oleh nuraninya sendiri yang merasa berdosa. Dan akupun sudah memaafkannya anakku"

"Ibu bijaksana sekali dan aku bangga mempunyai ibu begini bijaksana"

Kata Lan Lan sambil memandangi wajah ibunya dengan penuh kasih sayang.

"Semua ini berkat bantuan Han Sin. Kalau tidak ada dia, sampai sekarangpun belum kita akan dapat saling bertemu dan berkumpul kembali. Entah apa yang dapat kami lakukan untukmu, Han Sin. Untuk membalas budimu yang amat besar"

"Tidak perlu sungkan, bibi. Karena kita adalah orang-orang sendiri. Harap bibi ketahui bahwa kalau aku bersusah payah menolong Lan-moi, itu berarti aku menolong calon istriku sendiri"

"Ahhhh ".? Begitukah "?"

Pek Mau To-kouw memandang kepada mereka bergantian dengan wajah berseri.

Lan Lan menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan dan Han Sin tertawa lalu berkata "Kami berdua saling mencinta dan sudah berjanji untuk menjadi suami istri, bibi"

"Siancai ". bagus, bagus. Wah, hari ini pinni mendapat kebahagiaan ganda. Menemukan kembali puteriku dan sekaligus memperoleh mantu yang baik sekali. Ini harus di rayakan"

Ia lalu memanggil para muridnya untuk mempersiapakn sebuah pesta untuk menyambut kembalinya anak yang hilang sejak kecil itu.

Semua anggota Hwa-li-pang ikut bergembira dengan peristiwa itu.

Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa puteri ketua mereka adalah gadis baju putih yang sudah lama mereka kagumi dan calon mantunya adalah pemuda gagah yang dulu hampir dipaksa keluarga gila untuk menjadi mantu mereka.

Malam itu, ibu dan anak ini melepas rindu dan saling bercakap sampai semalam suntuk.

menceritakan semua pengalamannya kepada ibunya yang merasa bangga sekali kepada puterinya.

Puterinya bukan saja telah menjadi pendekar wanita yang memiliki ilmu silat lebih tinggi darinya, akan tetapi juga pandai ilmu pengobatan dan ilmu sihir.

Akan tetapi ketika ia menceritakan kepada ibunya tentang Cu Sian, pendeta wanita itu menjadi heran.

"Cu Sian, yang kau maksudkan pemuda pengemis yang gagah perkasa itu?"

"Ia bukan pemuda, Ibu, ia adalah seorang gadis yang manis sekali. Dan ia ". Ia amat mencinta Sin-ko jauh hari sebelum aku bertemu dengan Sin-ko"

"Ahhhh ". Dan bagaimana dengan Han Sin? Apakah dia juga mencintainya?"

"Sin-ko sayang kepadanya, sejak ia menyamar sebagai pria dan di sayang seperti adik sendiri, akan tetapi ""

"Akan tetapi apa?"

"Cu Sian sungguh amat mencinta Sin-ko, dan hatiku tidak tega membiarkan ia merana kalau ia sampai tidak dapat menikah dengan Sin-ko, apalagi setelah malapetaka itu menimpa dirinya"

Dengan terus terang Lan Lan bercerita kepada ibunya tentang apa yang menimpa diri Cu Sian, betapa Cu Sian telah diperkosa oleh Lui Sun Ek yang kemudian dibunuhnya.

Dan ia bercerita pula kepada ibunya bahwa ia telah mengalah dan menganjurkan kepada Han Sin untuk menikah dengan Cu Sian.

"Ah, kau keliru anakku. Kebijaksanaan ada batasnya, mengalahpun ada batasnya. Kau hendak memaksakan sesuatu yang tidak mungkin"

"Akan tetapi aku rela mengalah demi kebahagiaan Cu Sian, ibu. Aku merasa kasihan sekali kepadanya"

"Memang itu salah satu perasaan yang baik. Akan tetapi mengalah dengan mengorbankan diri sendiri? Dan apa kau kira bahwa perbuatanmu itu, pengorbananmu itu, akan mendatangkan kebahagiaan bagi Cu Sian sendiri? Bagaimana mungkin ia dapat berbahagia bersuamikan seorang yang hanya menyayangnya seperti adik sendiri? Kau harus ingat pula akan perasaan hati Han Sin. Apakah dia akan dapat hidup berbahagia, berpisah dari kau yang di cintanya dan terpaksa menikah dengan gadis yang hanya di sayangnya seperti adik? Dan kau sendiri. Ah, pengorbananmu yang kau anggap mulia itu akhirnya bahkan akan membuat kalian bertiga menderita kesengsaraan dan kekecewaan hati yang menimbulkan penyesalan selama hidup"

Lan Lan tertegun dan ucapan ibunya itu meresap benar ke dalam sanubarinya. Ia seolah baru terbuka matanya dan melihat kemungkinan dalam pandangan yang benar dan tepat itu.

"Akan tetapi sudah terlanjur, Ibu. Sudah kukatakan kepada Han Sin bahwa kalau dia tidak mau mengawini Cu Sian, aku akan membencinya. Semua itu kukatakan hanya untuk mendorongnya mengawini Cu Sian"

"Anak bodoh. Dan Cu Sian sendiri? Apa katanya? Apakah ia mau diperisteri oleh Han Sin setelah dirinya ternoda? Apakah ia tidak akan merasa rendah diri?"

"Mula-mula Cu Sian memang tidak mau, akan tetapi akhirnya ia mengatakan bahwa ia mau menjadi isteri Han Sin dengan satu syarat yaitu setelah Han Sin menikah dengan aku"

Pak Mau To-kouw tersenyum dan mengangguk-angguk.

Gadis itu berbudi baik.

Agaknya ia tahu bahwa kau mencinta Han Sin, maka ia mengajukan syarat seperti itu.

Akan tetapi bagaimana dengan Han Sin sendiri?

Maukah dia menikah dengan Cu Sian?"

"Itulah ibu yang menjadi persoalan. Sin-ko juga mengajukan syarat. Dia mau menikah dengan Cu Sian asal boleh menikah dengan aku lebih dulu"

"Hemmm, syarat yang sama. Dengan demikian maka mau tidak mau kau terpaksa menikah dengan Han Sin, begitukah?"

"Agaknya demikianlah ibu, demi kebahagiaan mereka"

"Lan-lan, kau selalu memikirkan kebahagiaan orang lain. Itu memang baik dan benar, akan tetapi kalau kau mengabaikan kebahagiaanmu sendiri, hal itu merupakan tindakan yang bodoh sekali. Apakah kau akan berbahagia kalau menjadi isteri Han Sin dengan dimadu bersama Cu Sian?"

"Aku sayang kepada Cu Sian, Ibu. Aku tidak keberatan dan aku akan berbahagia sekali. Tentu saja kalau bukan Cu Sian, aku tidak akan sudi"

"Baiklah kalau begitu, akan tetapi aku tidak membenarkan tindakan Cu Sian itu. Kalau memang Han Sin tidak mencintanya, mengapa ia memaksa diri menjadi isterinya? Hal itu hanya akan mendatangkan perasaan kecewa kelak. Ia masih muda, cantik dan aib itu tidak diketahui orang lain. Kelak tentu ia masih akan bertemu dengan seseorang pria yang benar-benar mencintanya. Akan tetapi kalau kalian bertiga sudah mengambil keputusan, akupun tidak dapat berbuat apa-apa lagi"

"Jadi ibu setuju kalau aku menikah dengan Sin-ko?"

"Tentu saja aku setuju. Dia seorang pemuda yang baik sekali"

"Biarpun dia akan menikah pula dengan Cu Sian?"

"Hemmm, aku tahu perasaannya. Dia mau menikah dengan Cu Sian karena kau memaksanya. Mungkin kaupun akan mengajukan syarat gila yang sama pula, yaitu, baru mau menikah dengan Han Sin kalau Han Sin berjanji hendak menikahi Cu Sian, bukan begitu?"

Wajah Lan Lan menjadi kemerahan dan ia merangkul ibunya "Ibu tahu saja akan isi hatiku"

"Hemm, lalu bagaimana seandaianya Cu Sian kelak tidak mau menikah dengan Han Sin?"

"Ah, ibu ia amat mencinta Han Sin"

"Mungkin saja ia mengubah pikirannya dan tidak mau menikah dengan Han Sin yang hanya sayang kepadanya seperti seorang adik, lalu bagaimana?"

"Kalau ia yang tidak mau apa boleh buat. Akan tetapi kalau Sin-ko yang menolak. Akupun tidak mau menikah dengannya. Aku tidak mau mengecap kebahagiaan di atas penderitaan batin Cu Sian"

"Kalau begitu, persoalannya tergantung kepada Han Sin, sudahlah, sudah cukup kita bicara. Hari sudah hampir pagi, kau belum tidur. Kau perlu mengaso, Lan-Lan"

"Wah, aku yang lupa diri, ibu. Ibu yang harus mengaso. Ibu sudah tua dan tentu kelelahan"

Kedua ibu dan anak ini tidur, akan tetapi sampai lama Lan Lan termenung memikirkan percakapan yang dilakukan bersama ibunya tadi.

*** Sebulan kemudian, Hwa-li-pang mengadakan perayaan pernikahan antara Han Sin dan Lan Lan.

Atas permintaan Han Sin, maka perayaan itu dilakukan dengan sederhana, hanya mengundang para penduduk yang menjadi tetangga.

Han Sin mengajukan alasan kepada ibu mertuanya bahwa setelah dia membunuh Lui Couw, tentu dia akan di cari oleh pasukan Kerajaan dan di anggap sebagai pemberontak.

Maka, kalau pesta pernikahan itu di rayakan secara meriah dan mengundang tokoh-tokoh kang-ouw, tentu akan ketahuan dan dapat mendatangkan keributan.

Biarpun perayaan dilangsungkan dengan sederhana, namun cukup meriah dan membahagiakan hati sepasang mempelai yang saling mencinta itu.

Baru tiga hari berpengantenan, Lan Lan mendesak suaminya agar mereka berdua pergi berkunjung kepada Cu Sian untuk melamar Cu Sian menjadi isteri kedua Han Sin.

Han Sin tidak berani membantah biarpun hatinya merasa enggan sekali.

Dia telah berjanji.

Maka berangkatlah mereka menuju ke Tiang-an, kota raja, mereka menyamar sebagai suami isteri dusun yang berpakaian sederhana sekali.

Dengan hati-hati mereka memasuki pintu gerbang kota raja di waktu senja setelah cuaca remang-remang sehingga mereka tidak dapat dikenali oleh para penjaga.

Dan memang sesungguhnya mereka berdua terutama sekali Cian Han Sin sudahmasuk catatan sebagai pemberontak yang di cari-cari.

Dengan berhati-hati sekali mereka memasuki pintu gerbang bersama rombongan orang-orang dusun lainnya sehingga tidak dikenali dan akhirnya mereka dapat masuk dengan selamat.

Mereka segera mencari Hek-I Kai-pang yang pusatnya berada di Tiang-an dan mempunyai rumah besar di daerah selatan kota.

Akan tetapi ketika mereka melihat rumah besar itu di tutup dan papan perkumpulan Hek I Kaipang telah tidak ada lagi.

Di situ bahkan terdapat tulisan tertempel di pintu depan bahwa Hek I Kaipang telah di bubarkan dan rumah itu di sita oleh pemerintah.

Selagi mereka kebingungan, seorang kakek berpakaian sederhana menghampiri mereka dan berbisik "Apakah sicu yang bernama Cian Han Sin?"

Han Sin terkejut dan menoleh. Kakek itu berbisik lagi "Saya adalah utusan Cu-pangcu yang di tugaskan menghadang sicu di sini. Mari silahkan mengikuti saya dari jauh.

"Setelah berkata demikian kakek itu berjalan pergi seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Han Sin dan Swi Lan segera mengikutinya dari jarak jauh agar jangan kentara dan kakek itu membawa mereka memasuki lorong yang berliku-liku dan ternyata lorong itu menuju ke sebuah tanah kuburan. Tentu saja tempat itu sepi sekali, apa lagi hari telah mulai malam. Mereka lalu duduk di depan sebuah kuburan tanpa menggunakan api agar tidak diketahui orang lain. Akan tetapi memang tidak perlu ada api penerangan karena bulan purnama muncul sore-sore dan cuaca tidaklah amat gelap. Setelah merasa yakin, bahwa di situ tidak terdapat orang lain, kakek itu memperkenalkan diri.

"Saya bernama Lo Kian, dahulu menjadi pembantu dari nona Cu yang menjadi pangcu kami. Ketika Cu-pangcu pulang dari perantauannya, pada suatu hari datang ratusan prajurit yang menyerbu dan menyerang kami, dengan maksud menangkap pangcu. Kami semua tentu saja mengadakan perlawanan, akan tetapi jumlah prajurit terus bertambah sehingga banyak diantara kami yang tewas"

"Bagaimana dengan Cu Sian?"

Tanya Swi Lan khawatir.

"Cu-pangcu berhasil melarikan diri bersama sisa anggota kami. Juga saya berhasil melarikan diri. Kami lalu menanggalkan pakaian hitam dan mengenakan pakaian biasa sehingga tidak dapat di temukan para prajurit. Tempat kami ini di sita dan kami tidak berani menampakkan diri sebagai anggota Hek I Kaipang lagi. Kemudian Cu-pangcu mengambil keputusan untuk membawa para anggota melarikan diri ke Shansi di utara"

"Hemmm, mengapa ke Shansi?"

Tanya Han Sin, teringat akan pengalamannya dengan Cu Sian ketika mereka merantau ke utara mengalami banyak hal yang aneh-aneh, terutama ketika mereka berdua menjadi tamu suku Yakka.

"Karena pang-cu mendengar bahwa di utara ada pergolakan. Kaisar kabarnya mencurigai Li-kongcu putera Gubernur Li di Shansi yang di dakwa mempunyai hubungan dan bersekutu dengan orang Turki. Kaisar memanggil Li-kongcu, akan tetapi Li-Kongcu tidak mau datang sehingga dia di anggap pemberontak. Maka Cu-pangcu pergi ke sana untuk membantu kalau-kalau Gubernur Shansi mengadakan pemberontakan terhadap kaisar yang di kuasai orang-orang jahat. Banyak durna berkuasa di istana kaisar sehingga kami, perkumpulan pengemis yang tidak bersalah di anggap pemberontak"

"Lalu kau di suruh menhadang kami di sini, apa pesan pangcu-mu untuk kami?"

"Pangcu mengirim surat untuk Cian-sicu dan harus di terima oleh Cian-sicu sendiri. Oleh karena itu berpekan-pekan saya menanti di sini dan kebetulan sekali tadi saya melihat sicu"

Lo Kian lalu mengeluarkan sepucuk surat bersampul untuk Han Sin.

Bulan purnama bersinar dengan cerahnya.

Karena tidak ada awan yang merintangi, maka sinarnya cukup terang bagi Han Sin untuk membaca surat itu.

Dia memperlihatkan kepada Swi Land an mereka berdua membaca bersama-sama di saksikan oleh Lo Kian.

Surat itu di tulis indah dan jelas.

Sin-ko dan Lan-ci yang baik , Kalau kalian datang, aku sudah pergi ke utara.

Perkumpulanku di serbu pasukan, agaknya aku sudah masuk daftar hitam mereka.

Aku dan kawan-kawan akan membantu Gubernur Li menentang kaisar yang lalim.

Tentang janjiku, dengan ini kunyatakan bahwa aku menarik kembali janji itu.

Maafkan aku, enci Lan.

Aku tidak dapat menikah dengan Sin-ko yang ku sayang sebagai kakakku sendiri.

Aku telah salah sangka terhadap perasaan hatiku sendiri.

Dan pesanku bagimu, Sin-ko.

Bahagiakanlah enci Lan, aku sangat sayang dan berhutang budi kepadanya.

Sekianlah, semoga kalian menjadi suami isteri yang berbahagia.

Sampai berjumpa lagi kalau Tuhan menghendaki.

Hormat dari aku, Cu Sian.

Han Sin dan Swi Lan saling pandang dalam keremangan cuaca itu.

Han Sin melihat betapa sepasang mata isterinya basah air mata.

Dia sendiri merasa amat terharu akan tetapi juga berbahagia dan lega.

Akhirnya Cu Sian menyadari bahwa cinta diantara mereka adalah kasih sayang antara saudara dan tidak lah baik kalau mereka berdua jadi menikah.

"Nah, sicu, setelah saya menyerahkan surat, saya mohon diri. Saya harus kembali ke utara bergabung dengan kwan-kawan yang berada di sana"

Han Sin dan Swi Lan mengucapkan terima kasih dan merekapun saling berpisah.

Suami isteri ini melewatkan malam di sebuah kuil tua dimana banyak terdapat pula orang-orang dusun yang tidak kuat menyewa kamar.

Dan pada keesokan harinya, mereka berdua keluar dari kota raja untuk kembali ke Hwa-li-pang.

Sebetulnya apakah yang terjadi dengan pergolakan di utara?

Kaisar Yang Ti yang masih dikelilingi banyak durna itu mendapat hasutan dari mereka.

Mereka mengatakan bahwa Gubernur Li, terutama sekali puteranya, yaitu Li Si Bin pasti mempunyai hubungan persekongkolan dengan orang Turki.

Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin dia dapat membebaskan kaisar ketika di tawan oleh mereka.

Dan persekongkolan itu amatlah berbahaya.

Siapa tahu Guebernur Li mengadakan rencana untuk memberontak, bergabung dengan orang-orang Mongol dan Turki yang menjadi musuh lama kerajaan.

Mendengar hasutan ini, kaisar lalu menjadi curiga kepada Li Si Bin dan dia mengutus orang untuk memanggil Li Si Bin datang menghadap.

Tentu saja dengan rencana kalau sudah menghadap, pemuda itu akan di tangkap dan di paksa mengaku tentang persekutuannya dengan orang-orang Turki.

Akan tetapi diantara perwira yang menjadi utusan ini ada yang berpihak kepada Li Si Bin dan diam-diam dia memberi peringatan kepada Li Si Bin.

Pemuda ini tentu saja menolak dan tidak mau menghadap.

Para utusan tidak berani melakukan kekerasan dan kembali dengan tangan kosong.

Peristiwa itu bagaikan api kecil yang membakar dan yang kemudian menjadi api besar yang menimbulkan perang pemberontakan.

Li Si Bin memang sudah beberapa kali menganjurkan ayahnya untuk memberontak sejak mendengar ketidak-adilan kaisar.

Mendengar tentang kaisar yang hanya berfoya-foya dan menekan rakyat, yang di kelilingi oleh para durna atau pembesar yang jahat.

Akan tetapi Gubernur Li Goan masih menolak, ketika terjadi peristiwa itu, yaitu ketika Li Si Bin hendak di tangkap oleh kaisar, Gubernur Li Goan tidak lagi dapat di cegah kehendak puteranya.

Mulai lah Li Si Bin bangkit, memimpin pasukan yang di dukung banyak golongan rakyat itu dan di bantu oleh pasukan dari Mongol dan Turki, menyerbu ke selatan.

Terjadilah perang saudara yang hebat sampai akhirnya Kerajaan Sui jatuh dalam tahun 618.

Akan tetapi ini merupakan kisah lain lagi.

Kerajaan Sui yang di bangun dengan susah payah oleh Mendiang Yang Cien yang gagah perkasa, hancur di tangan puteranya yang tidak becus, Yang Ti 9604"6180 merupakan kaisar yang lemah dan menuruti kesenangan diri sendiri saja, sehingga Kerajaan Sui itu hanya mampu dan bertahan berdiri selama tahun 581 sampai 618 saja.

Cu Sian dan anak buahnya, yaitu para anggota Hek I Kaipang, merupakan satu diantara golongan yang banyak membantu perjuangan Li Si Bin.

Bahkan Cian Han Sin dan isterinya, Ang Swi Lan, akhirnya juga bergabung dan membantu menggulingkan Kaisar Yang Ti yang semakin lemah.

Melalui perang selama hampir sepuluh tahun.

Akhirnya Kerajaan Sui dapat di jatuhkan dan Li Si Bin mengangkat ayahnya sendiri, Guebernur Li Goan menjadi Kaisar dari sebuah kerajaan baru yang diberi nama Kerajaan Tang.

Demikianlah, kisah ini selesai sampai di sini dan kalau dulu, pedang Naga Hitam di tangan Cian Kauw Cu membantu berdirinya Kerajaan Sui, kini di tangan Cian Han Sin, bahkan membantu meruntuhkan Kerajaan Sui dan membantu berdirinya Kerajaan Tang.

Mudah-mudahan kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca dan sampai jumpa lagi di lain kisah.

TAMAT Lereng Lawu, akhir Juli 1987.

Dino,

http.//indozone.net

/literatures/literature/760

Baca Juga: Petualang Asmara 9

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert