Ceritasilat Novel Online

Si Walet Hitam Ouw Yan Cu 4

Eps 4 Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo

Baca online Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo

Cersil Si Walet Hitam Ouw Yan Cu - Kho Ping Hoo.

Mendengar ini, dengan terharu sekali Mei Ling mengangguk dan karena ia maklum bahwa di situ terdapat Bong Cu Sianjin, Hek Li Suthai dan lain-lain yang amat lihai, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu berseru.

"Adik Bwee mari kita lari!"

Mereka lalu melompat keluar dan terus naik ke atas genteng! "Penjahat-penjahat perempuan, hendak lari ke mana?"

Bun Gai mengejar dan juga melompat naik ke atas genteng!

Akan tetapi, baru saja ia naik, Mei Ling sudah mengirim tusukan ke arah dadanya dan ketika melihat betapa pemuda ini sama sekali tidak menangkis, Mei Ling terkejut sekali dan cepat miringkan pedangnya ke atas hingga tidak menusuk ke dada, akan tetapi meleset dan melukai pundak Bun Gai!

Darah mengalir dan Bun Gai berteriak keras.

"Aduh!"

Tubuhnya lalu terguling ke bawah!

Pada saat itu, Bong Cu Sianjin sedang mendesak Kong Liang dengan hebat sekali.

Mendengar teriak Bun Gai dan melihat betapa tubuh muridnya itu terguling, kakek buntung ini terkejut dan cepat melompat ke bawah.

Melihat betapa muridnya jatuh sambil berdiri dan tidak menderita luka berat, ia marah sekali kepada lawan-lawannya dan berseru.

"Kalian lari ke mana?"

Ia hendak melompat mengejar, akan tetapi Bun Gai cepat mencegah.

"Suhu biarlah mereka itu lari. Tiga bulan lagi kita membuat pembalasan di Hoa-mo-san!"

Bong Cu Sianjin teringat dan ia menahan kakinya. Sementara itu Mei Ling cepat berseru kepada Kong Liang.

"Koko, lekas lari!"

Kong Liang merasa heran dan girang sekali melihat bahwa adiknya dan Bwee Hwa telah terbebas dari ikatan, maka tanpa membuang waktu lagi ia lalu ikut melarikan diri.

Tiba-tiba Hek Li Suthai, Tik Kong, dan Bi Mo-li yang melihat mereka melarikan diri, lalu mengejar.

Hek Li Suthai mengayunkan tangannya berkali-kali dan senjata rahasia yang berwarna hitam dan halus sekali bentuknya menyambar ke arah tiga orang itu.

"Awas jarum rahasia!"

Seru Kong Liang sambil membalikkan tubuh dan memutar-mutarkan pedangnya untuk melindungi kedua orang gadis itu.

Beberapa batang jarum yang dilepas oleh Hek Li Suthai terpukul oleh pedang itu sedangkan Mei Ling dan Bwee Hwa berlari terus, akan tetapi ketika Kong Liang hendak menyusul kedua kawannya, tiba-tiba ia merasa betapa pundak kirinya sakit sekali.

Ia tahu bahwa ia telah terkena senjata rahasia lawan, maka ia lalu cepat menyusul adiknya dan berlari cepat.

Malam itu gelap sekali hingga memudahkan ketiga orang muda itu untuk melarikan diri dan sebentar saja Hek Li Suthai dan kawan-kawannya kehilangan bayangan mereka.

Dengan gemas sekali Hek Li Suthai dan kawan-kawannya lalu kembali ke kuil.

Ternyata bahwa tadi ketika tidak melihat musuh, Hek Li Suthai, muridnya dan Tik Kong, lalu memadamkan api yang membakar kuil dan setelah api padam, mereka melihat bayangan Kong Liang dan dua orang gadis itu melarikan diri.

Sedangkan Bong Cu Sianjin setelah dicegah oleh Bun Gai untuk mengejar, lalu minta keterangan dari anak muda ini bagaimana tawanan mereka bisa lari.

"Teecu melihat bayangan seorang laki laki tua yang tiba-tiba datang menyerang dan gerakannya demikian cepatnya hingga teecu tidak melihat jelas mukanya. Kemudian orang itu melarikan diri ke dalam kamar tahanan dan teecu melihat bahwa kedua nona yang tertawan itu telah terlepas. Teecu menyerang akan tetapi laki laki tua itu dengan hebat telah menyambut serangan teecu dan ternyata bahwa ilmu kepandaiannya hebat sekali, membuat teecu tidak berdaya. Kemudian orang itu melarikan diri dan melihat bahwa kedua nona itu juga melarikan diri ke atas genteng, teecu lalu mengejar akan tetapi sial teecu karena mendapat luka di pundak akibat kena pedang salah seorang diantara, penjahat-penjahat perempuan itu!"

Di dalam hati Bong Cu merasa heran dan kurang percaya kepada muridnya ini, akan tetapi ia tidak berkata sesuatupun.

Ketika Hek Li Suthai mendengar cerita ini, to-kouw tua inipun menyatakan keheranannya.

"Kalau memang musuh yang lihai datang, mengapa dia tidak muncul dan memperlihatkan diri? Siapakah laki-laki lihai itu, apakah barangkali dia Pat-chiu Koai-hiap, guru Kim-gan-eng itu?"

Sambil berkata demikian, Hek Li Suthai memandang tajam kepada Bun Gai, dan ia menaruh hati curiga sekali kepada adik seperguruan ini, akan tetapi oleh karena ia takut menuduh di depan Bong Cu Sianjin, juga oleh karena ia sendiri merasa segan kepada Bun Gai yang diketahui memiliki kepandaian tinggi, maka daripada itu ia juga diam saja.

Pembicaraan mereka itu dilakukan di luar kuil dan dengan suara keras.

Tiba-tiba dari tempat gelap terdengar suara orang laki-laki tertawa dan disusul dengan ucapan mengejek.

"Bong Cu, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bertemu dengan kau. Nanti saja di Hoa-mo-san kita bertemu!"

Semua orang terkejut dan yang lebih heran lagi adalah Bun Gai.

Mereka cepat melompat ke arah suara, akan tetapi karena malam itu gelap sekali, mereka hanya mendengar suara kaki orang cepat berlari, akan tetapi sama sekali tidak melihat orangnya!

Suara ini otomatis melenyapkan keraguan di hati Bong Cu dan Hek Li Suthai dan mereka kini percaya penuh akan keterangan Bun Gai tadi bahwa benar-benar ada seorang laki-laki pihak lawan yang lihai telah datang menolong tawanan-tawanan itu!

Sedangkan di dalam hatinya, Bun Gai menduga-duga dengan penuh keheranan.

Laki-laki yang diceritakannya tadi hanyalah karangan kosong belaka untuk memperkuat kedudukannya agar jangan sampai menimbulkan curiga, akan tetapi, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki datang memperkuat cerita bohongnya!

Baik Bun Gai sendiri, maupun yang lain-lain itu sama sekali tidak tahu bahwa yang datang itu bukan lain ialah Mei Ling.

Gadis ini telah berhasil melarikan diri, lalu teringat kepada Bun Gai yang telah menolongnya.

Ia merasa terharu sekali, terutama kalau ia teringat betapa untuk menolongnya, pemuda itu tidak ragu-ragu untuk menerima tusukan pedang dengan dadanya!

Pemuda itu rela berkorban jiwa untuk menolong dia!

Alangkah mulia hatinya.

Ia bergidik kalau teringat betapa Bun Gai tadi sama sekali tidak menangkis tusukannya dan kalau ia tidak lekas-lekas merobah gerakan pedangnya, tentu dada pemuda itu telah tertembus oleh pedangnya!

Dan sekarang pemuda itu tentu berada dalam bahaya karena kalau sampai diketahui oleh gurunya dan lain-lain orang tentang pengkhianatannya, tentu ia akan menderita celaka!

Mengingat hal ini, Mei Ling berlari mengucurkan air mata!

Dan aku""

Aku melarikan dengan selamat, membiarkan dia menderita bencana karena telah menolongku, pikirnya! Tiba-tiba ia berkata kepada Kong Liang dan Bwee Hwa.

"Kalian berangkatlah dulu, aku perlu kembali sebentar!"

Kong Liang dan Bwee Hwa terkejut dan hendak bertanya, akan tetapi Mei Ling sudah melompat dan berlari kembali.

Terpaksa mereka lalu menanti di dalam hutan.

Semenjak tadi, sebetulnya Kong Liang telah merasa payah sekali akibat luka di pundaknya yang terkena jarum yang dilepaskan oleh Hek Li Suthai.

Akan tetapi oleh karena mereka sedang melarikan diri, dia tidak mau mengganggu kedua orang gadis itu diam-diam ia menahan lukanya dan berlari terus.

Sekarang, setelah ia berhenti berlari, luka di pundaknya terasa sakit hingga tak terasa lagi ia menjatuhkan diri sambil mengeluh dan memegangi pundaknya.

Bwee Hwa terkejut dan karena malam itu gelap sekali, ia tidak dapat melihat wajah Kong Liang.

"Kau...... kau kenapa......?"

Tanyanya sambil berjongkok di depan Kong Liang yang duduk menyandarkan tubuh di batang pohon.

"Pundakku...... aku terluka oleh jarum yang dilepaskan oleh Hek Li Suthai...... agaknya mengandung bisa"""

Jawabnya dengan napas memburu karena ia menahan sakitnya.

Bwee Hwa merasa bingung sekali dan hatinya berdebar penuh kekhawatiran.

Semenjak Kong Liang dan Mei Ling datang menolong ketika ia tertawan oleh Bong Cu Sianjin tadi, ia merasa kagum dan tertarik sekali kepada Kong Liang yang gagah dan tampan.

Dan sekarang pemuda ini terkena jarum beracun, tentu saja ia merasa bingung sekali.

Tak terasa pula ia mengulurkan tangan dan meraba pundak orang.

"Di mana""? Di mana yang terkena jarum?"

Gerakan ini adalah terdorong oleh rasa khawatir hingga pada saat itu ia tidak ingat akan rasa malu-malu atau kesopanan.

"Yang kiri"""

Jawab Kong Liang dalam gelap, dan membantu dengan memegang tangan Bwee Hwa yang meraba-raba pundak kanannya lalu membawa tangan yang berkulit halus itu ke atas pundak kirinya.

Bwee Hwa berlutut di dekatnya dan gadis ini dengan cekatan lalu merobek baju Kong Liang di pundak itu, kemudian kedua tangannya meraba-raba.

Benar saja, ia meraba sebatang jarum yang halus sekali menancap di pundak pemuda itu.

"Aduh!"

Kong Liang berseru dengan suara tertahan ketika jari tangan Bwee Hwa menyentuh jarum.

"Hm, ini dia!"

Kata Bwee Hwa sambil meraba-raba jarum dan tahulah ia bahwa daging di sekitar jarum yang menancap itu, telah membengkak dan panas sekali.

"Engko Kong Liang, kau diamlah dan jangan bergerak, aku hendak mencabut jarum ini!"

"He, kau telah tahu namaku?"

Tanya Kong Liang hingga di dalam gelap Bwee Hwa tersenyum.

"Aku tahu namamu dari cici Mei Ling. Sudahlah, kau diam saja aku mencabut jarum ini!"

Sambil berkata demikian, Bwee Hwa menggunakan tangan kiri menahan pundak Kong Liang dan dengan jari-jari tangan kanan ia menjepit jarum itu lalu mencabutnya perlahan.

Gadis ini telah mendapat banyak pelajaran dari suhunya tentang segala senjata rahasia, maka dalam melakukan pencabutan jarum ini, ia tidak berani mencabut dengan cepat, khawatir kalau-kalau jarum itu di ujungnya mempunyai kaitan.

Banyak terdapat senjata rahasia keji yang dipasangi kaitan seperti pancing hingga kalau dicabut, kaitan itu akan mengait daging bahkan ada kaitan yang sengaja dipasang sedemikian rupa hingga kalau senjata rahasia itu dicabut, maka kaitannya akan tertinggal di dalam daging.

Kong Liang merasa sakit sekali, karena biarpun jarum itu kecil, namun mengandung racun yang membuat ia merasa panas dan perih pada lukanya.

Pemuda ini menggigit bibirnya dan akhirnya jarum itu terlepas dari pundaknya.

Ketika meraba dengan hati-hati sekali ujung jarum itu Bwee Hwa merasa lega sekali jarum ini tidak dipasangi kaitan.

Rasa sakit membuat tubuh Kong Liang agak menggigil dan Bwee Hwa pun tahu akan hal ini, maka diam-diam ia merasa amat kasihan kepada pemuda ini.

"Kau sudah tahu namaku, akan tetapi aku belum mengetahui namamu,"

Kata Kong Liang hingga lagi-lagi Bwee Hwa tersenyum dalam gelap. Di dalam menderita sakit, ternyata pemuda ini masih teringat akan soal nama tadi. Sungguh lucu.

"Nanti saja soal itu,"

Jawabnya.

"sekarang yang perlu aku harus mengeluarkan bisa dari pundakmu. Kalau tidak, racun jarum ini akan menjalar ke dalam tubuh dan hal ini akan berbahaya sekali."

Hati Kong Liang berdebar karena baru ia teringat bahwa Hek Li Suthai terkenal sebagai ahli racun.

Ia ingat akan penuturan Ang Lian Lihiap tentang kelihaian mereka ini mempergunakan benda-benda berbisa yang berbahaya.

Maka ia lalu diam tak bergerak dan merasa khawatir juga.

"Bagaimana kau bisa melakukan hal itu?"

Tanyanya dengan perlahan karena sesungguhnya debar hatinya bukan hanya karena kekhawatirannya belaka, akan tetapi sebagian besar adalah karena adanya Bwee Hwa yang duduk demikian dekat dengannya hingga ia seakan-akan dapat mendengar detak jantung gadis itu dan dapat merasai hawa panas yang keluar dari pernapasannya.

"Liang-ko, kau diamlah saja dan mudah-mudahan aku akan dapat mengeluarkan racun ini."

Alangkah merdunya suara ini, dan alangkah mesranya panggilan yang keluar dari mulut gadis ini.

Belum pernah Kong Liang merasa sesenang ini.

Ia meramkan mata dan tiba-tiba ia berseru kesakitan karena merasa betapa ujung pedang yang tajam ditusukkan perlahan pada daging pundaknya.

"Aduh"""

"Tahankanlah, Liang-ko. Aku perlu membuat jalan keluar bagi darah dan racun."

Kong Liang menggigit bibirnya dan menahan sakit.

Karena keadaan amat gelap, maka ia tidak dapat melihat betapa gadis itu mengeluarkan bungkusan dari kantong bajunya dan menelan tiga butir pel ke dalam mulutnya.

Bwee Hwa mengunyah pel ini, kemudian ia mendekatkan mulutnya pada pundak yang terluka itu.

Kong Liang tiba-tiba mencium keharuman rambut Bwee Hwa yang mengusap mukanya dan ia merasa heran sekali, juga kagum dan senang.

Tiba-tiba pemuda itu merasa betapa mulut gadis itu ditempelkan di pundaknya dan dari luka yang dibuat oleh ujung pedang tadi, gadis itu lalu menyedot dengan mulutnya.

Kong Liang merasa betapa tubuhnya menggigil dan keringat dingin membasahi dahinya, akan tetapi ia sedikitpun tidak mengeluh.

Ia bukan terlalu kuat menahan sakit, akan tetapi karena memang pada saat itu ia tidak dapat mengeluh.

Agaknya, biar lehernya ditusuk pedang, ia takkan merasa sama sekali, karena seluruh perasaannya sedang tergetar oleh haru dan bahagia.

Bibir gadis itu yang menempel di pundak dan menyedot keluar darah dan racun, agaknya telah menyedot semangatnya keluar dari tubuh.

Hampir saja ia tidak percaya akan semua ini.

Gadis itu telah menggunakan bibirnya yang indah dan lemas untuk menyedot racun dari lukanya.

Hebat sekali.

Memang, Bwee Hwa tidak melihat jalan lain untuk menolong Kong Liang dari bahaya dan ancaman racun kecuali menyedot keluar bisa itu dari pundak Kong Liang.

Dan gadis ini selalu membawa pel anti racun pemberian gurunya, maka ia lalu melakukan perbuatan menolong jiwa pemuda itu tanpa ragu-ragu lagi.

Untung sekali baginya bahwa keadaan di sekitar mereka gelap sekali hingga wajah orang yang berada dekat di depan pun tidak kelihatan jelas.

Kalau keadaan di situ terang, tentu ia akan merasa kikuk dan malu sekali.

Kini ia dapat bekerja dengan leluasa tanpa merasa sungkan, apalagi di situ tidak ada orang lain yang melihatnya.

Ia perlu menolong pemuda ini, perlu membalas budinya, dan ia melakukannya dengan segala kerelaan hatinya bahkan ia merasa bangga dan bahagia dapat menolong pemuda yang amat baik ini.

Setelah akhirnya menyedot keluar darah yang encer, Bwee Hwa tahu bahwa racun telah dikeluarkan dari tubuh Kong Liang.

Tadi ia berkali-kali menyedot dan meludahkan darah kental bercampur racun, dan Kong Liang masih saja duduk bersandar pohon tanpa berani berkutik!

"Nah, racun telah keluar semua,"

Bisik Bwee Hwa yang cepat mengunakan sapu tangan pembungkus rambutnya untuk membalut pundak itu. Tiba-tiba Kong Liang memegang tangannya dan menggenggam jari-jari tangannya erat-erat.

"Kau""

Kau""

Siapakah namamu......?"

Kini setelah bahaya yang mengancam pemuda itu telah lenyap, mendengar pertanyaan ini meledaklah suara tertawa Bwee Hwa.

Ia cepat-cepat membetot tangannya yang digenggam itu dengan gerakan halus, lalu mengundurkan diri dalam gelap.

Ia anggap pemuda ini lucu sekali.

"Namaku Coa Bwee Hwa."

"Indah sekali namamu""

Bwee Hwa"""

Bisik Kong Liang.

"Akan tetapi kalau kau sudah tahu benar siapa aku sebetulnya, kau tentu takkan menganggapnya indah lagi,"

Kata Bwee Hwa sambil menghela napas panjang.

"Mengapa begitu? Aku selamanya akan menganggap kau seorang yang termulia, seorang yang paling baik di atas dunia ini, seorang yang"""

"Sst"""

Cegah Bwee Hwa, kemudian karena tahu bahwa pemuda itu sudah terbebas daripada bahaya maut. Ia berkelakar.

"Agaknya sedikit racun telah menjalar ke dalam kepalamu hingga kau bicara melantur tidak karuan!"

"Tidak, Bwee Hwa""

Aku...... aku berhutang budi besar sekali padamu, aku...... suka padamu."

"Biarpun aku seorang perampok jahat, biarpun aku seorang perempuan ganas?"

"Tak mungkin! Siapa yang bilang bahwa kau seorang perempuan jahat dan ganas? Akan kurobek mulutnya!"

"Aku""

Aku adalah......"

Sampai lama Kong Liang menanti kelanjutan pengakuan ini, akan tetapi agaknya berat bagi Bwee Hwa untuk mengaku hingga ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tertawa dan berkata.

"Koko, dia adalah Kim-gan-eng yang terkenal gagah perkasa!"

Ternyata yang datang ini adalah Mei Ling dan yang secara main-main melanjutkan kata-kata Bwee Hwa!

Kong Liang merasa terkejut karena ia pernah mendengar nama Kim-gan-eng sebagai perampok wanita tunggal yang disegani.

Akan tetapi, pernah ia mendengar dari Ang Lian Lihiap yang menyatakan bahwa biarpun seorang perampok, akan tetapi Kim-gan-eng tidak jahat dan diam-diam pemuda ini menarik napas lega, karena betul gadis ini tidak jahat bahkan berhati mulia.

"Bagus sekali,"

Katanya dan mengubah suaranya menjadi biasa lagi.

"kita telah berkenalan bahkan ditolong oleh seorang pendekar wanita yang terkenal gagah perkasa!"

Mei Ling tertawa lagi dan suara tertawanya membuat Kong Liang dan Bwee Hwa bermerah muka di dalam gelap, karena mereka merasa betapa Mei Ling mentertawakan mereka.

Agaknya gadis ini sudah lama berada di situ hingga mencuri dan mendengar percakapan mereka tadi!

"Mei Ling, kau tadi pergi ke mana saja?"

Kong Liang menegur dengan suara keras untuk mengalihkan perhatian mereka dan memecahkan keadaan yang membuat nya merasa malu itu.

Mei Ling lalu menuturkan pengalamannya.

Terus terang ia mengaku bahwa karena mengkhawatirkan nasib Yap Bun Gai yang telah menolong dia dan Bwee Hwa, maka ia sengaja mengintai dan ketika mendengar percakapan yang terjadi antara Bun Gai dan gurunya, ia lalu membantu dan memperkuat alasan itu dengan menirukan suara laki-laki dari dalam gelap.

Tiba-tiba terdengar Bwee Hwa bertepuk tangan gembira dan berkata.

"Bagus, bagus. Pemuda she Yap itu memang gagah dan berbudi, sudah sepantasnya kalau cici Mei Ling pergi membelanya."

Syukur sekali bahwa Mei Ling berada di dalam gelap, kalau tidak tentu ia akan bermerah muka karena merasa betapa sindiran Bwee Hwa itu tepat mengenai hatinya.

Kong Liang merasa tertarik sekali lalu bertanya.

"Akupun telah menduga bahwa tentu pemuda itu yang menolong kalian. Bagaimanakah terjadinya?"

Dengan suara gembira Bwee Hwa lalu menceritakan pengalamannya.

Ia sengaja melakukan ini karena ia ingin membalas godaan Mei Ling tadi, maka ia menceritakan semua dengan sejelasnya kepada Kong Liang, betapa Yap Bun Gai melepaskan mereka, menipu gurunya dan bahkan rela dilukai oleh pedang Mei Ling pada pundaknya.

Mendengar ini, dengan suara terharu Kong Liang berkata.

"Nyata bahwa Yap Bun Gai adalah seorang yang berbudi dan mulia. Telah dua kali ia sengaja menerima tusukan pedang Mei Ling untuk membela dan menolong dia. Ia boleh diumpamakan setangkai bunga teratai yang indah bersih tumbuh di dalam lumpur."

Kata-katanya ini mendatangkan dua akibat.

Pertama, Mei Ling yang ingat akan kebaikan dan pengorbanan Bun Gai dan teringat betapa Bun Gai yang malang itu hidup diantara orang-orang jahat, maka ia merasa terharu sekali hingga ke dua matanya menjadi basah, sedangkan akibat kedua ialah bahwa Bwee Hwa merasa tertarik sekali mendengar ini dan lalu minta kepada Kong Liang untuk menceritakan mengapa Bun Gai sudah dua kali menerima tusukan pedang Mei Ling.

Kong Liang lalu menceritakan pengalaman mereka di atas bukit Hoa-mo-san dan kembali Bwee Hwa memuji kebijaksanaan pemuda she Yap itu.

Biarpun Mei Ling dengan terharu sekali mengalirkan air mata, namun tentu saja kedua orang yang lain itu tidak melihatnya.

"Eh, cici Mei Ling, mengapa kau diam saja? Apakah kau tidak menganggap bahwa pemuda she Yap itu benar-benar mulia sekali hatinya?"

Terdengar jawaban Mei Ling disertai tarikan napas panjang.

"Memang ia seorang yang baik hati."

"Akan tetapi aku tidak tahu siapakah pemuda, yang berada di antara mereka itu,"

Kata Kong Liang.

Dan Bwee Hwa lalu menceritakan bahwa pemuda itu adalah Lui Tik Kong yang menjadi musuh Lee Ing, lalu ia menuturkan pengalamannya ketika bertemu dengan Lee Ing yang mengejar-ngejar Tik Kong.

Kong Liang dan Mei Ling mendengarkan penuturan ini dengan hati tertarik dan mereka merasa makin bingung dan ruwet melihat persoalan yang hanya mereka ketahui setengah-setengah itu.

Mereka mendengar penuturan Ang Lian Lihiap bahwa Tik Kong adalah murid Kong Sin Ek yang murtad dan bahwa justru pemuda ini dipilih oleh Nyo Tiang Pek untuk dijodohkan dengan Lee Ing puteri tunggal Nyo Tiang Pek dan kemudian Lo Sin datang mengacau hingga kedua pengantin itu melarikan diri dan akibatnya Nyo Tiang Pek menjadi marah sekali kepada Lo Sin bahkan lalu menulis surat kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya.

Akan tetapi, mengapa kini Bwee Hwa menceritakan bahwa Lee Ing mengejar-ngejar Tik Kong dan hendak membunuhnya?

Mereka diam-diam memuji Lee Ing yang merasa benci kepada calon suami itu karena telah mengerti bahwa Tik Kong telah menganiaya Kong Sin Ek, akan tetapi kemanakah perginya Lee Ing dan ke mana perginya Lo Sin?

Oleh karena melihat bahwa Bwee Hwa telah menjadi seorang kawan yang baik dan boleh dipercaya penuh, maka Kong Liang dan Mei Ling menceritakan hubungan mereka dengan Ang Lian Lihiap dan menceritakan pula bahwa mereka sedang menuju Bong-kee-san untuk menemui Nyo Tiang Pek dan mendamaikan urusan itu.

Ketika malam berganti fajar dan mereka bisa saling melihat wajah masing-masing, tak terasa pula Kong Liang dan Bwee Hwa menjadi malu dan tidak berani saling pandang.

Ketika mendengar betapa Bwee Hwa telah menyembuhkan luka Kong Liang, diam-diam Mei Ling merasa bersyukur sekali dan ia telah mengambil keputusan di dalam hati untuk mengusulkan kepada cicinya, yakni Ang Lian Lihiap, untuk menjodohkan kakaknya itu dengan Bwee Hwa.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Kong Liang mempunyai maksud yang sama, yakni hendak minta pertolongan Cin Han untuk menjodohkan adiknya dengan pemuda Yap Bun Gai!

Bwee Hwa yang sudah jatuh "jatuh hati"

Betul-betul kepada Kong Liang dan suka pula kepada Mei Ling, lalu mengajukan permintaan untuk menyertai kedua saudara kembar itu menuju ke Bong-kee-san untuk mencari Nyo Tiang Pek.

Tentu saja permintaan ini diterima dengan baik dan dengan girang hati, oleh karena selain gadis ini merupakan teman seperjalanan yang menyenangkan, juga kehadiran gadis ini dihadapan Nyo Tiang Pek perlu sekali karena Bwee Hwa dapat menjadi saksi untuk meyakinkan jago tua ini bahwa ia telah salah pilih dan bahwa Lui Tik Kong memang benar-benar seorang pemuda jahat.

Demikianlah, mereka bertiga lalu berangkat, ke Bong-kee-san untuk menemui Nyo Tiang Pek!

Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong maklum bahwa nanti apabila terjadi pertempuran di puncak Hoa-mo-san keadaan musuh kuat sekali.

Apalagi kalau Lian Bwee Niang-niang sendiri turun tangan, maka sukar bagi mereka berdua untuk mendapat kemenangan.

"Kalau saja ada Nyo-twako seperti dulu, tentu keadaan kita lebih kuat,"

Kata Cin Han.

"Sudahlah jangan mengharapkan bantuan orang,"

Jawab Lian Hwa.

"apakah tanpa bantuan orang she Nyo itu, kita tak dapat berdiri sendiri? Kau, aku dan Sin-ji bertiga cukup untuk menghadapi Lian Bwee Niang-niang dan kawan-kawannya."

Cin Han menarik napas panjang.

"Kau terlampau memandang rendah keadaan lawan. Dan pula, kita tidak tahu bila Sin-ji akan pulang, bahkan sekarangpun kita tidak tahu dia berada di mana."

"Mengapa kau tidak pergi mencarinya? Carilah dia, kitapun perlu mendengar tentang usahanya menangkap penjahat yang menganiaya Kong-twako."

Mendengar ucapan isterinya ini darah perantau bergolak pula di dalam hati Cin Han.

Ia tertarik sekali untuk pergi mencari puteranya sambil merantau, mengunjungi tempat-tempat indah, menengok sahabat-sahabat lama.

"Isteriku, mengapa kita berdua tidak pergi dan menikmati perjalanan lagi seperti dulu?"

Katanya gembira. Untuk sejenak Lian Hwa terpengaruh oleh kegembiraan dan ajakan suaminya itu, akan tetapi ia lalu menggelengkan kepalanya.

"Kalau kita berdua pergi, siapa yang menunggu rumah? Pula kalau sewaktu-waktu Sin-ji datang bukankah dia akan mencari-cari kita ke mana-mana? Tidak, suamiku. Sekarang bukan waktunya untuk melancong. Pergilah kau sendiri mencari Sin-ji, sedangkan aku akan menunggu saja di sini, menanti kedatangan Sin-ji dan kedatangan Kong Liang dan Mei Ling dari Bong-kee-san. Aku khawatir kalau-kalau pihak Bong Cu akan datang mengganggu dan kalau kita berdua pergi, siapa yang akan menyambutnya?"

Setelah berpikir-pikir akhirnya Cin Han menyetujui pendapat isterinya dan pada keesokan harinya, dengan membawa buntalan terisi pakaian dan bekal, Hwee-thian Kim-hong berangkat melakukan perjalanannya untuk mencari anaknya.

Pada suatu pagi, dua hari kemudian setelah suaminya pergi, seorang diri Lian Hwa berlatih silat di kebun belakang rumahnya.

Ia akan menghadapi pertempuran besar beberapa bulan lagi, maka ia hendak melatih ilmu pedangnya untuk melemaskan tangan dan menyempumakan gerakan-gerakan yang paling sulit dan sukar dari ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut.

Pendekar wanita yang gagah perkasa ini berlatih silat seorang diri dengan gesitnya dan dalam pakaiannya yang berwarna putih itu tubuhnya lenyap berubah menjadi sinar putih yang dikelilingi cahaya berkeredepan dari pedangnya yang bergerak secara luar biasa sekali!

Tiba-tiba terdengar seruan memuji yang diucapkan dengan keras sekali.

"Bagus, bagus! Ang Lian Lihiap ternyata hebat sekali ilmu pedangnya!"

Lian Hwa cepat-cepat memasukkan kembali pedangnya ke belakang punggung dan memandang.

Ternyata yang datang memasuki kebunnya tanpa permisi adalah seorang perwira muda tinggi besar yang luar biasa gagahnya, seperti seorang raksasa saja!

Lian Hwa memandang kagum karena belum pernah ia melihat seorang pemuda yang sehebat ini tubuhnya, tinggi besar dan kelihatan amat kuat, sedangkan senyum pada wajahnya membayangkan hati yang jujur dan polos.

Perwira muda ini tak lain ialah Can Kok In sendiri!

Lian Hwa bertanya dengan heran.

"Ciang-kun yang muda ini siapakah dan apakah keperluanmu mengunjungi tempatku ini?"

Dari pertanyaan ini saja dapat diketahui bahwa Lian Hwa sekarang sudah jauh sekali bedanya dengan dulu ketika masih muda.

Kalau saja tabiat dan kekerasan hati Lian Hwa masih seperti dulu ketika masa mudanya, tentu ia akan marah sekali melihat ada orang berani masuk ke dalam kebunnya tanpa permisi, akan tetapi sekarang ia memiliki pandangan tajam dan dapat membedakan orang baik atau jahat.

Can Kok In tertawa bergelak karena sesungguhnya ia merasa gembira sekali dapat bertemu dengan pendekar wanita yang telah lama sekali dikagumi namanya itu.

"Aku bernama Can Kok In, anak murid Kun-lun-pai! Aku sengaja datang ke sini hendak mencari Lo Sin, puteramu si Walet Hitam itu. Kebetulan sekali aku pernah bertemu dengan dia, akan tetapi tidak mendapat kesempatan untuk mengukur kepandaiannya. Ang Lian Lihiap, harap kau suka memanggil keluar Lo Sin agar aku dapat mencoba kepandaianhya."

Mendengar ucapan yang polos dan kasar ini Lian Hwa makin tertarik. Benar-benar seorang yang jujur dan kasar, pikir nya.

"Anak muda, kau ini murid siapakah?"

Can Kok In tertawa lagi.

"Guruku adalah Lui Siok Tojin dari Kun-lun-san."

Lian Hwa terkejut dan merasa girang.

Lui Siok Tojin adalah seorang kenalan baik yang dulu bahkan pernah berusaha mendamaikan permusuhan yang timbul antara dia dan pihak Pek-lian-kauw, akan tetapi usahanya ini gagal.

Ia maklum bahwa Lui Siok Tojin berilmu tinggi dan lihai sekali, maka ia dapat menduga pula bahwa perwira muda yang seperti raksasa ini tentu lihai juga.

"Ah, tidak tahunya kau adalah murid Lui Siok Tosu yang lihai. Bagaimana, apakah suhumu baik-baik saja?"

"Entahlah, suhu sudah tua dan tinggal di gunung saja sedangkan telah beberapa tahun aku tidak naik ke Kun-lun, Ang Lian Lihiap, harap kau orang tua suka memanggil keluar si Walet Hitam."

"Can-ciangkun mengapa kau berkeras hendak mengadu kepandaian dengan Lo Sin? Apakah puteraku itu berbuat sesuatu yang salah dan yang menyakitkan hatimu?"

"Tidak, tidak! Puteramu gagah perkasa dan tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan aku, akan tetapi, kami telah berjanji hendak bertemu dan saling menguji kepandaian!"

Ang Lian Lihiap menjadi lega hatinya.

"Kalau begitu, sayang sekali, Can-ciangkun. Puteraku itu sampai sekarang belum juga pulang. Sedangkan aku sendiripun sedang menanti-nanti kembalinya."

Can Kok In kelihatan kecewa sekali.

Alis matanya yang tebal dan panjang bergerak-gerak dan sepasang matanya yang bundar besar itu menatap wajah Ang Lian Lihiap, kemudian ia mencabut pedangnya yang panjang dan besar itu dari sarung pedang.

"Kalau begitu, Ang Lian Lihiap, kau wakililah puteramu itu dan mari kita mencoba-coba ilmu kepandaian kita."

Sambil berkata demikian, Can Kok In menggerak-gerakkan pedang besar itu di tangannya hingga berkesiurlah angin pedang bersiutan.

Gerakan ini menandakan bahwa pemuda raksasa ini benar-benar memiliki tenaga yang kuat sekali.

Ang Lian Lihiap terkejut dan berkata.

"Apakah perlunya itu, Can-ciangkun? Antara kita tidak terdapat permusuhan sesuatu, bahkan antara aku dan suhumu terdapat tali persahabatan yang erat, bagaimana aku dapat bertempur melayanimu? Kalau hal ini terdengar oleh suhumu, bukankah aku akan menjadi malu? Tidak, aku tak dapat melayani kau, anak muda. Kau tunggulah sampai puteraku pulang. Kalian anak-anak muda boleh main-main menguji tenaga, akan tetapi jangan kau mengajak aku berpibu!"

Akan tetapi Can Kok In telah datang dari tempat jauh dengan maksud mengukur tenaga.

Sudah lama sekali ia kagum mendengar nama Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, maka setelah kini bertemu dengan pendekar wanita ini, mana ia mau melepaskannya begitu saja tanpa bertanding lebih dulu?

"Ang Lian Lihiap!

Kalau anakmu tidak ada, panggilah suamimu keluar, biar dia yang mewakili Walet Hitam!

Sudah lama aku mengagumi Hwee-thian Kim-hong dan ingin sekali menyaksikan sampai dimana kehebatannya!"

"Suamiku juga tidak berada di rumah, sedang pergi. Hanya aku sendiri yang berada di sini."

"Ha, ha, ha! Kalau begitu mau tidak mau kau orang tua harus melayani aku yang sudah datang dari jauh! Bagiku sama saja. Walet Hitam atau si Teratai Merah, maupun si Burung Hong! Marilah, kau cabut pedangmu dan biarkan aku merasakan kelihaianmu sebentar!"

Sambil berkata demikian, Can Kok lalu memasang kuda-kuda dengan kedua kaki bersilang, mengangkat tangan kirinya dengan jari-jari terbuka didorongkan ke depan dan tangan kanan yang memegang pedang panjangnya itu diangkat ke atas kepalanya, siap untuk melancarkan serangan.

Inilah gerak pembukaan dari ilmu pedang Kun-lun yang lihai.

Melihat ini, Ang Lian Lihiap menjadi bingung.

Ia merasa segan untuk melayani perwira muda yang kasar tapi jujur ini, karena hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak enak pada Lui Siok Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang menjadi sahabatnya itu.

Maka ia lalu mengangkat kedua lengannya untuk mencegah pemuda itu bertindak jauh dan berkata.

"Jangan, jangan, Can-ciangkun! Aku tidak mau turun tangan terhadap murid sahabatku. Ilmu kepandaianmu tinggi dan kalau kita bertanding, sukar menjaga pukulan yang tak bermata,"

Kata-kata ini mengandung sindiran bahwa kalau mereka bertanding, besar kemungkinan perwira raksasa itu akan terluka olehnya.

Akan tetapi Can Kok In terlalu polos hatinya untuk dapat menangkap sindiran ini.

Ia bahkan tertawa bergelak sambil berkata.

"Eh, apakah Ang Lian Lihiap yang tersohor gagah perkasa itu takut menghadapi Can Kok In?"

Ucapan yang sedikit ini cukup membuat alis Ang Lian Lihiap berdiri karena marah dan penasaran.

Ang Lian Lihiap takut?

Ah, pendekar wanita ini semenjak mudanya belum pernah mengenal kata-kata takut!

Perasaan takut menjadi pantangan besar baginya.

Orang boleh berkata apa saja terhadapnya dan ia mungkin dapat menahan kesabarannya, akan tetapi janganlah orang berani mengatakan, bahwa dia takut!

Mendengar ucapan ini, sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat dan ia lalu membentak.

"Can Kok In, orang muda kasar! Aku takut kepadamu? Hm, kau belajarlah seratus tahun lagi dan belum tentu aku Ang Lian Lihiap akan merasa takut padamu. Majulah dan perlihatkan kebodohan!"

Can Kok In terkejut sekali melihat perubahan ini.

Kalau tadi Ang Lian Lihiap bersikap halus dan lemah-lembut hingga agaknya seperti orang takut, kini pendekar wanita itu berubah menjadi ganas dan menyeramkan.

Sinar matanya saja sudah cukup membuat kuncup hati seorang laki-laki gagah, seakan-akan dari kedua mata yang jeli dan tajam itu melayang keluar anak panah yang runcing sekali!

Akan tetapi, ia sudah terlanjur menghunus pedang dan memalukan sekali kalau ia mundur lagi.

Dengan cepat ia melangkah maju dan menyerang dalam gerak tipu Raja Ular Menyambar Burung sambil berseru.

"Awas pedang!"

Ia heran sekali melihat betapa pendekar wanita itu tidak mau mencabut pedangnya untuk menangkis, maka cepat-cepat Kok In menahan serangannya. (Lanjut ke

Jilid 11) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"Eh, eh, mengapa kau tidak jadi menyerang?"

Tanya Ang Lian Lihiap dengan heran.

"Lihiap, cabutlah pedangmu. Aku bersedia menerima pengajaran darimu!"

Jawab Kok In dan tiba-tiba Ang Lian Lihiap tersenyum manis.

Tak disangkanya bahwa perwira muda yang seperti raksasa dan yang kasar sekali sikapnya ini memiliki sifat gagah dan yang merasa sungkan untuk menyerang seorang yang bertangan kosong!

"Kalau aku yang tua menghadapi yang muda dengan pedang di tangan, bukankah berarti aku terlalu menekan padamu?

Maju seranglah dan jangan ragu-ragu.

Belum tentu kau akan dapat merobohkan Ang Lian Lihiap yang bertangan kosong!"

Tentu saja Kok In yang berwatak jujur menjadi marah sekali oleh karena ia menganggap bahwa pendekar wanita ini terlalu memandang rendah kepadanya!

Ia lalu melangkah maju dan menyerang dengan hebat.

Memang lihai sekali gerakan raksasa muda ini.

Tidak saja tenaganya yang besar membuat pedangnya yang berat itu meluncur cepat, sambil mendatangkan angin bersiutan, akan tetapi juga ia memiliki ginkang yang cukup hebat sehingga nampak mengagumkan sekali betapa seorang yang mempunyai tubuh tinggi besar itu dapat bergerak sedemikian lincahnya.

Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuh Ang Lian Lihiap lenyap dari depan matanya!

Ia hanya melihat berkelebatnya bayangan putih dan tahu-tahu pendekar wanita itu telah lenyap.

Kok In maklum bahwa lawannya memiliki ginkang yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, maka ia dapat menduga cepat.

Dengan teriakan ganas ia lalu memutar tubuh sambil menyabet dengan pedangnya dan betul saja, Ang Lian Lihiap tadi telah melompat ke belakangnya dan kini cepat mengelak ketika pedang yang panjang dan berat itu menyambar pinggang!

Can Kok In kini berlaku hati-hati dan memainkan pedangnya dengan tenang dan teratur.

Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan menggunakan jurus ilmu pedang Kun-lun-pai yang paling lihai dan tak terduga gerakannya.

Tubuhnya berputar-putar cepat, dan pedangnya merupakan seekor naga sakti yang bergerak-gerak dan menyambar-nyambar ke arah tubuh lawan.

Ujung pedangnya terus menerus mengejar bayangan putih yang berkelebat ke sana ke mari itu.

Diam-diam Ang Lian Lihiap merasa kagum.

Tidak memalukan atau mengecewakan raksasa muda ini menjadi murid Lui Siok Tojin yang terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Kalau saja ia tidak memiliki ginkang yang telah dilatih sempurna, akan sukarlah baginya untuk dapat menghadapi raksasa muda ini dengan hanya berkelit saja.

Ilmu pedang Kun-lun-pai memang terkenal sekali karena kecepatan dan keteguhannya dan melihat gerakan Can Kok In, maka dapat diduga bahwa pemuda tinggi besar ini memang sudah memiliki sedikitnya tujuh bagian dari Kun-lun-kiam-hwat.

Makin lama menghadapi pemuda raksasa ini, makin kagumlah hati Ang Lian Lihiap dan ia makin tidak tega untuk melukai pemuda ini.

Ia hanya mempergunakan kecepatannya untuk mengelak dari setiap serangan sehingga karena gerakan Ang Lian Lihiap berputar-putar, di sekeliling tubuh Kok In sehingga memaksa pemuda inipun berputar-putaran, maka lambat-laun Kok In merasa pusing sekali!

Akan tetapi, pemuda raksasa ini agaknya memiliki daya tahan raksasa pula dan hatinya pun keras tidak mudah menyerah.

Biarpun napasnya telah tersengal-sengal dan keringat telah mengucur membasahi mukanya yang lebar hingga pandangan matanya berkunang, namun ia tetap menyerang hebat dan tidak mau mengaku kalah.

Akhirnya, ia tidak kuat lagi dan tubuhnya terhuyung-huyung dan berputaran karena peningnya, lalu ia roboh terduduk di atas tanah sambil memejamkan mata.

Ketika ia membuka matanya lagi, ia melihat Ang Lian Lihiap berdiri dengan tenang di depannya.

Ia tadinya menyangka bahwa pendekar wanita ini tentu akan mentertawakannya, akan tetapi ternyata Ang Lian Lihiap sama sekali tidak mentertawakannya, bahkan pendekar wanita itu berdiri memandang dengan kagum.

Kalau saja Ang Lian Lihiap mentertawakannya, tentu Kok In akan merasa penasaran dan marah, akan tetapi oleh karena pendekar wanita itu sama sekali tidak mengejek atau mentertawakannya, bahkan memandangnya sambil tersenyum kagum, maka ia buru-buru bangun berdiri dan menjura sambil mengangguk-anggukkan kepala berulang-ulang.

"Hebat, hebat! Ang Lian Lihiap memang hebat sekali, dan benarlah kata suhu bahwa di dunia ini tidak ada wanita yang melebihi kegagahan Ang Lian Lihiap! Siauwte Can Kok In yang goblok telah mendapat pengajaran dan mohon maaf sebesarnya atas kelancangan siauwte!"

Setelah berkata demikian, perwira muda yang bertubuh seperti raksasa itu lalu melompat pergi setelah menjura sekali lagi sebagai penghormatan terakhir.

"Can-ciangkun! Sampaikan salamku kepada gurumu!"

Teriak Ang Lian Lihiap.

"Akan siauwte perhatikan!"

Terdengar jawaban Can Kok In dari jauh.

Ang Lian Lihiap menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sungguh seorang pemuda luar biasa, pikirnya.

Dan dengan munculnya Can Kok In, pandangannya terhadap para perwira barisan pemerintah yang tadinya rendah, menjadi berubah.

Ternyata bahwa di mana-mana terdapat orang pilihan pikirnya.

Setelah menanti sampai tiga hari, akan tetapi belum juga ada berita dari suaminya dan Lo Sin yang dinanti-nanti tidak kunjung pulang, Ang Lian Lihiap menjadi hilang kesabarannya.

Ia tidak biasa berada di rumah seorang diri dan kalau Lo Sin pergi saja, ia sudah merasa sunyi walaupun masih ada suaminya yang mencinta dan sering berkelakar.

Kini kedua-duanya, kedua orang yang tersayang, pergi meninggalkan rumah, maka ia merasa makin sunyi dan tidak betah.

Ia merasa menyesal mengapa ia tidak mau ikut pergi dengan suaminya mencari Lo Sin.

Akhirnya Ang Lian Lihiap tidak dapat menahan lagi.

Ia meninggalkan sepucuk surat untuk suami atau puteranya apabila seorang di antara mereka pulang dan memesan kepada pembantu rumah tangganya untuk menjaga rumah dan memberi surat itu kepada anak atau suaminya.

Kemudian, Ang Lian Lihiap membawa buntalan pakaian dan menunggang kuda meninggalkan rumahnya, mencari suami dan anaknya!

Kong Liang, Mei Ling dan Bwee Hwa tiba di Bong-kee-san dan dengan cepat mereka bertiga mencari tempat tinggal Nyo Tiang Pek.

Kong Liang dan adiknya sudah sering datang ke tempat ini, maka mereka lalu langsung pergi ke rumah kepala kampung Nyo.

Kedatangan mereka disambut oleh Giok Lie dan alangkah girangnya nyonya ini ketika melihat Mei Ling.

Datang-datang, Giok Lie lalu menubruk dan memeluk Mei Ling sambil menangis sedih.

"Tenanglah, cici, kami telah tahu semua akan urusanmu dan kami memang sengaja datang untuk mendamaikan urusan ini."

Dalam tangisnya yang sedih terisak-isak.

Giok Lie tak dapat mengeluarkan suara, hanya menggeleng-geleng kepalanya.

Bwee Hwa memandang kepada nyonya ini ibu dari Lee Ing yang telah menjadi sahabat baiknya, walaupun baru satu kali bertemu.

Diam-diam Bwee Hwa merasa heran dan kagum betapa seorang wanita cantik jelita yang begini lemah lembut dan halus dapat memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.

Sebelum mereka sempat bercakap-cakap, bahkan Bwee Hwa pun belum diperkenalkan oleh Kong Liang dan adiknya kepada Giok Lie, tiba-tiba Nyo Tiang Pek muncul dari dalam rumah.

Bukan main kagetnya Kong Liang dan Mei Ling ketika melihat Nyo Tiang Pek.

Kalau bertemu di jalan, tentu mereka tak mengenalnya lagi.

Demikian besar perubahan yang terjadi pada diri pendekar ini.

Tubuhnya menjadi kurus pucat dan rambut kepalanya awut-awutan tak terpelihara, bahkan pakaiannyapun kusut dan agaknya sudah beberapa hari tidak diganti.

Yang menakutkan adalah sepasang matanya.

Kalau dulu mata ini tajam dan berbentuk gagah, kini memandang sayu dan kadang-kadang seperti ada api bernyala-nyala di dalamnya.

"Nyo-twako!"

Seru Kong Liang sambil memberi hormat. Juga Mei Ling cepat memberi hormat.

"Twako, kau kenapakah? Kau begini kurus dan pucat. Sakitkah kau?"

Ditanya demikian oleh Mei Ling, Nyo Tiang Pek menghela napas dan menggelengkan kepala.

"Kalian baik-baik sajakah?"

Katanya membelokkan pertanyaan Mei Ling, kemudian ketika melihat Bwee Hwa, ia bertanya.

"Dan nona ini siapakah?"

Mei Ling lalu memperkenalkan Bwee Hwa kepada Nyo Tiang Pek dan isterinya. Kim-gan-eng lalu memberi hormat dengan sopan santun.

"Kalian datang dari mana?"

Tanya Nyo Tiang Pek dengan acuh tak acuh dan sikap serta suaranya menyatakan bahwa ia tidak gembira menerima orang-orang yang tadinya amat disayanginya itu.

"Nyo-twako, kedatanganku bersama Mei Ling ini tidak lain karena mendengar tentang urusamu dan Lian Hwa Suci. Kami datang untuk mendamaikan urusan ini dan"""

"Cukup!"

Tiba-tiba Nyo Tiang Pek membentak keras.

"Jangan sebut-sebut lagi nama keluarga Lo di depanku. Aku tidak sudi mendengarnya."

"Nyo-twako!"

Jerit Mei Ling dan kembali terdengar isak tangis Giok Lie.

"Nyo-twako, kuharap kau sudi bersabar dan mendengarkan bicaraku,"

Kata pula Kong Liang.

"Segala hal bisa diurus dengan baik, apalagi kalau urusan itu terjadi antara kau dan Lo-twako yang sudah demikian lama menjadi sahabat baik, bahkan seperti saudara sendiri. Kesalahan dapat diurus dan diperiksa siapa yang benar siapa yang salah dan"""

"Diam""!!!"

Tiba-tiba Nyo Tiang Pek bangkit dari kursinya dan berdiri sambil mendelikkan matanya kepada Kong Liang.

"Nyo-twako!"

Mei Ling berseru dengan penasaran sekali.

"Kaupun diam!! Pendeknya, aku melarang siapa saja menyebut nama mereka di depanku dan kalau kau tetap hendak melanggar laranganku, lebih baik kau keluar dari rumah ini!"

Bukan main kagetnya Kong Liang dan Mei Ling. Tak mereka sangka bahwa Nyo Tiang Pek menjadi marah sedemikian rupa dan kebenciannya terhadap Ang Lian Lihiap sekeluarga agaknya telah memuncak.

"Toako, kedatangan kami ini bukannya hendak membela atau memenangkan mereka, akan tetapi hendak mendamaikan urusan."

"Sudahlah, jangan kau lanjutkan bicaramu!"

Kata pula Nyo Tiang Pek yang menahan keras bergolaknya api di dalam dadanya.

"Kalian ini tahu apa?? Enak saja bicara mau mendamaikan urusan dan tahukah kalian urusan apa yang hendak kau damaikan? Apalagi yang harus didamaikan? "Si bangsat muda she Lo itu telah membikin malu, menghina dan mencemarkan nama keluargaku! Bahkan bangsat besar itu kemudian memikat hati anakku dan membawanya lari bersama! "Anakku yang semenjak kecil taat patuh kepada orang tua, yang kudidik dengan susah payah, yang menjadi pengharapanku satu-satunya, telah membelakangi ayahnya dan rela pergi minggat bersama bangsat muda itu! Ya, ya, baru sekarang kalian tahu dan menjadi pucat mendengar ini! Anakku telah melarikan diri dengan pemuda keparat yang menodai nama keluargaku dan apalagi yang harus didamaikan??"

"Dengarkan, kalau sampai Lo Sin dan Lee Ing bertemu dengan aku tua bangka yang rendah ini, pasti akan kuhabiskan nyawa keduanya! Ya kalian boleh memberitahukan hal ini kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang gagah perkasa, aku tidak takut! Kuulangi lagi, kalau sampai kedua setan itu bertemu dengan aku, akan kuhabiskan nyawa mereka, atau aku sendiri yang akan mampus di tangan mereka!"

Setelah berkata demikian, Nyo Tiang Pek mengepalkan tinjunya dan berdiri dengan dada turun naik dan dari kedua matanya keluar air mata!

Kong Liang dan Mei Ling berdiri saling memandang dengan muka pucat sekali, sedangkan tangisnya Giok Lie makin keras saja hingga Mei Ling lalu memeluknya dan ikut menangis.

Bwee Hwa merasa kedua kakinya gemetar ketika melihat kemarahan hebat ini.

Belum pernah ia melihat orang marah sedemikian hebat dan mengingat bahwa orang ini adalah Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas yang kegagahannya telah menggegerkan dunia persilatan ketika ia masih muda, Bwee Hwa menjadi takut dan gentar.

Akan tetapi, ia merasa penasaran mendengar betapa ayah yang murka ini menjadi begitu mata gelap dan telah mengeluarkan ancaman untuk membunuh Lee Ing puteri tunggalnya sendiri, maka tanpa terasa pula ia berkata dengan perlahan.

"Lo-cianpwe, Lee Ing tidak bersalah. Pemuda busuk bernama Tik Kong itu......"

"Tutup mulutmu!!"

Tiba-tiba Nyo Tiang Pek yang sudah marah itu merasa seakan-akan api di dalam dadanya ditambah minyak dan sambil membentak ia lalu menepuk kursi yang tadi didudukinya.

Kursi itu tidak hancur, akan tetapi keempat kakinya masuk ke dalam lantai sampai habis tak kelihatan pula!

Inilah tenaga lweekang yang hebat sekali hingga Bwee Hwa yang kena dibentak menjadi pucat.

"Beritahukan kepada Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, kalau mereka berdua tidak mencari putera mereka yang jahat dan membawa pula Lee Ing untuk dihadapkan keduanya di depanku, untuk menerima keputusan dan hukumanku, selamanya aku tidak mau berdamai dengan mereka!"

Setelah berkata demikian, Nyo Tiang Pek masuk ke dalam rumah dengan marah.

Melihat keadaan ini, tidak ada lain jalan bagi Kong Liang, Mei Ling dan Bwee Hwa, selain meninggalkan tempat itu.

Giok Lie memeluk Mei Ling dan menangis sambil berbisik.

"Adikku, dan kau juga Kong Liang, serta kau pula, nona, harap kalian maafkan suamiku. Kasihan dia...... dia menderita kedukaan besar, maaf......"

Melihat keadaan Giok Lie, lenyaplah kemarahan yang tadi mendesak di dada ketiga orang muda karena sikap Nyo Tiang Pek.

Mereka tidak dapat menyelami hati Nyo Tiang Pek dan tak dapat merasakan pula penderitaan pendekar tua itu, tetapi mereka terharu melihat sikap Giok Lie yang terang sekali tertekan hebat batinnya itu.

Sambil memeluk Giok Lie, Mei Ling berkata.

"Tidak apa, cici, sudah selayaknya kami yang muda-muda menerima marah dari Nyo-twako. Kalau ia sudah menjadi sadar kembali, tentu ia akan menyesal."

"Terima kasih, Mei Ling""

Terima kasih"""

Mereka bertiga lalu meninggalkan nyonya yang sedang berduka itu.

Setelah ketiga tamunya pergi dengan hati marah Giok Lie berlari masuk ke kamar suaminya, siap untuk menegur sikap suaminya, yang amat tak pantas itu.

Akan tetapi, ketika melihat Nyo Tiang Pek duduk di atas pembaringan dengan wajah pucat dan pipi basah air mata, nyonya ini tidak jadi marah.

Bahkan lalu menubruk suaminya.

Nyo Tiang Pek merangkul isterinya dan air matanya makin deras mengalir keluar.

Giok Lie maklum sepenuhnya akan derita, yang membuat suaminya hancur hatinya.

Ia tahu, bahwa suaminya merasa malu, kecewa, menyesal, sedih, tercampur aduk menjadi satu dan semua ini lalu memperkuat kekerasan hatinya, hingga ia berlaku panas dan keras.

Siapa orangnya yang takkan hancur hatinya menghadapi peristiwa yang memalukan itu?

Anak sedang dirayakan hari kawinnya tahu-tahu datang kekacauan yang dilakukan oleh Lo Sin dan yang memburukkan nama calon mantu mereka, kemudian bahkan anak dan calon mantu lari berkejaran.

Kemudian, ternyata bahwa calon mantunya itu terpukul hampir mati oleh Lee Ing, sedangkan Lee Ing bahkan membela Lo Sin dan agaknya mencinta pemuda itu hingga keduanya lari bersama.

Sebenarnya, Nyo Tiang Pek bukanlah seorang yang buta atau terlalu bodoh hingga ia membela Tik Kong mati-matian.

Akan tetapi, karena tidak melihat bukti-bukti kejahatan Tik Kong dan pula karena pemuda yang pandai mengambil hati itu telah mendatangkan kepercayaan sepenuhnya, maka Nyo Tiang Pek belum tahu bahwa Tik Kong adalah seorang pemuda jahat.

Pula, biarpun ada sedikit keraguan di dalam hatinya, namun ia segera melenyapkan keraguan itu, karena ia telah terlanjur memilih pemuda itu sebagai menantunya, maka ia tidak berani membayangkan kenyataan ngeri bahwa ia telah salah pilih dan memberikan anak tunggal yang disayangnya itu kepada orang jahat.

Pada saat kedua orang suami isteri itu masih terbenam dalam kesedihan, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara orang berseru keras.

"Kim-jiauw-eng Nyo Tiang Pek! Kau keluarlah menemui pinto!"

Suara ini terdengar keras sekali dari dalam rumah hingga Nyo Tiang Pek dan Coa Giok Lie maklum bahwa orang yang datang itu tentu seorang berilmu tinggi, maka keduanya dengan cepat lalu menghapus air mata dan berlari keluar.

Untuk beberapa lamanya Nyo Tiang Pek memandang kepada orang yang berada di luar rumah dan ia tidak kenal siapa adanya pertapa itu.

Orang itu adalah seorang tosu tua yang rambutnya telah putih, akan tetapi mukanya masih segar kemerah-merahan.

Tosu ini memegang sebuah tongkat bambu dan berdiri dengan sepasang mata memandang tajam kepadanya.

Di belakang tosu ini masih terdapat dua orang tosu lain yang juga sudah tua serta di punggung masing-masing terdapat pedang panjang.

"Nyo Tiang Pek, pinto datang hendak merasai pukulanmu Gin-san-ciang seperti yang telah kau jatuhkan kepada murid keponakan pinto itu!"

Kata tosu ini dengan suara marah.

Nyo Tiang Pek merasa heran sekali.

Ia seperti pernah bertemu dan mengenal muka tosu ini akan tetapi ia lupa lagi bila dan di mana.

Giok Lie yang memperhatikan pakaian ketiga orang tosu itu, lalu berbisik.

"Bukankah mereka itu tosu-tosu dari Kun-lun-san?"

Teringatlah Nyo Tiang Pek.

"Kalau aku tidak salah sangka, yang berdiri di depan adalah Lui Siok Tojin dari Kun-lun-san. Betulkah?"

Tosu itu memang betul Lui Siok Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang terkenal dan ia ini bukan lain, ialah guru dari Can Kok In, perwira raksasa muda yang gagah itu!

Lui Siok Tojin datang bersama dua orang adik seperguruannya oleh karena ia merasa marah sekali mendengar tentang terbunuhnya seorang tosu yang menjadi murid Kun-lun-san, yakni tosu yang telah terbunuh oleh Lui Tik Kong di dusun hingga pedang Ceng-lun-kiam pemberian Nyo Tiang Pek tertinggal di tubuh tosu yang terbunuh itu.

Dan oleh karena tosu itu terbunuh dengan pukulan Gin-san-ciang dan pedang Ceng-lun-kiam, maka tentu saja semua orang menjatuhkan tuduhan kepada Nyo Tiang Pek.

Biarpun tidak mempunyai hubungan erat dengan Lui Siok Tojin, akan tetapi selamanya Nyo Tiang Pek mengindahkan tokoh ini dan tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka, maka sudah tentu saja ia heran sekali mendengar ucapan tosu, itu.

Akan tetapi, pada saat itu, hati Nyo Tiang Pek sedang panas urusan puterinya, sedangkan pikirannya pun menjadi gelap, maka kesabarannya pun lenyap, terganti oleh sifat berangasan dan mudah marah.

Rasa malu yang dideritanya karena gagalnya perkawinan, anaknya, membuat ia menganggap bahwa setiap orang memandangnya dengan penuh ejekan dan penghinaan dan kini kedatangan tosu-tosu yang tiba-tiba menuduhnya tidak karuan inipun tentu saja menambah kemarahan hatinya.

"Nyo Tiang Pek, kalau bukan pinto sendiri Lui Siok Tojin yang datang, dari pihak kami Kun-lun-pai siapa lagi yang akan sanggup menghadapimu? Kau terkenal ahli Gin-san-ciang yang lihai dan bertangan maut!"

"Lui Siok Tojin! Aku berhadapan dengan seorang anak kecil atau dengan seorang tua yang telah miring otaknya? Mengapa kau datang-datang menghinaku?"

Lui Siok Tojin marah sekali dan menuding dengan tongkat bambunya.

"Orang she Nyo! Membunuh dan melukai orang tak berdosa dengan kejam adalah perbuatan rendah, akan tetapi mengingkari perbuatan sendiri dan berpura-pura suci bersih adalah perbuatan yang lebih rendah lagi. Kau membunuh seorang murid keponakanku yang tak berdosa, namun masih berpura-pura lagi. Sungguh rendah dan memalukan!"

Bukan main marahnya Nyo Tiang Pek mendengar ini. Sambil berseru ia menggerakkan tubuh dan tahu-tahu tubuhnya telah berkelebat dalam sebuah lompatan indah dan turun di depan tosu itu.

"Lui Siok Tojin! Jangan sembarangan membuka mulut! Apa kaukira aku takut padamu?"

"Ha, ha, ha! Anjing kalau terinjak ekornya akan tampak sifat aslinya! Majulah, majulah! Memang pinto ingin sekali mencoba Gin-san-ciangmu yang lihai!"

Dalam keadaan biasa, tentu Nyo Tiang Pek akan mencari tahu persoalannya lebih dahulu sebelum bertindak, akan tetapi dalam keadaannya seperti saat itu, ia tidak perduli akan segala sebab-sebab yang membuat tosu itu datang-datang marah kepadanya.

Ia hanya menganggap bahwa orang telah menghinanya dan penghina itu perlu dihajar!

Maka dengan berseru marah, Nyo Tiang Pek lalu maju memukul!

Lui Siok Tojin adalah seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmu silatnya, maka dengan mudah ia lalu mengelak dan membalas menyerang dengan tongkat bambunya.

Tongkat ini biarpun hanya terbuat daripada bambu dan kecil sekali, justeru bentuknya yang kecil dan ringan itu membuat tongkat itu menjadi sebuah senjata penotok yang lihai sekali!

Tongkat itu diputarnya cepat dan sebentar saja tongkat itu telah melakukan serangan bertubi-tubi mengarah jalan darah di tubuh Nyo Tiang Pek!

Si Garuda Kuku Emas merasa terkejut dan marah karena tongkat itu benar-benar berbahaya sekali.

Dalam pertempuran kurang lebih sepuluh jurus saja hampir ia kena tertotok, maka sambil berseru keras ia lalu memukul dengan ilmu Gin-san-ciangnya yang luar biasa!

Lui Siok Tojin tahu akan kehebatan ilmu pukulan ini, maka cepat ia mengelak, akan tetapi terlambat!

Angin pukulan Gin-san-ciang masih menyerempet pundak kanannya hingga ia merasa betapa pundak dan lengannya menjadi kesemutan dan hampir saja tongkat bambunya terlepas!

Pada saat itu, Giok Lie melompat ke dekat suaminya untuk mencegah Nyo Tiang Pek menurunkan tangan kejam.

Melihat gerak lompatan nyonya ini, bukan main terkejutnya hati Lui Siok Tojin, oleh karena memang gin-kang dari Giok Lie lihai sekali, bahkan lebih tinggi tingkatnya dari ilmu gin-kang Nyo Tiang Pek sendiri!

Sebetulnya, kalau ia mau, pada saat Lui Siok Tojin terhuyung karena terserempet angin pukulan Gin-san-ciang, mudah saja bagi Nyo Tiang Pek untuk menyusul dengan pukulan maut, akan tetapi betapapun sedang marahnya, ia masih ingat dan tidak mau sembarangan membunuh orang.

Lui Siok Tojin merasa bahwa ia masih belum dapat menandingi Nyo Tiang Pek, apalagi di situ ada isteri pendekar itu yang agaknya memiliki ilmu silat tinggi juga, maka ia lalu menjura dan berkata.

"Orang she Nyo! Tiga bulan lagi pinto minta pengajaran darimu!"

Setelah berkata demikian, tosu itu pergi, diikuti oleh kedua adik seperguruannya yang tidak berani sembarangan bergerak tanpa perintah dari Lui Siok Tojin.

"Lui Siok Tosu, tunggu dulu dan minta penjelasan!"

Kata Giok Lie. Akan tetapi, sambil berjalan terus dan hanya menengok dengan kepala, Lui Siok Tojin berkata.

"Penjelasan apalagi? Tanya saja kepada suamimu yang gagah!"

Lalu ia mempercepat larinya meninggalkan Bong-kee-san! Giok Lie menghela napas panjang dan berkata.

"Celaka benar, datang lagi orang mencari permusuhan! Heran sekali, siapakah orangnya yang membunuh anak murid Kun-lun-pai dengan menggunakan Gin-san-ciang?"

Nyo Tiang Peki tidak menjawab, hanya bertindak perlahan memasuki rumah.

Pikirnya juga ruwet sekali.

Dulu ketika ia dan Cin Han serta Lian Hwa dengan banyak orang yang gagah lagi menyerbu ke puncak Hoa-mo-san untuk mengadakan pertandingan dengan pihak Pek-lian-kauw, Lui Siok Tojin itupun ikut datang pula, bukannya dengan maksud membantunya atau membantu pihak musuh, akan tetapi hanya berusaha mendamaikan dan mencegah pertempuran, dan ternyata kemudian tidak berhasil.

Dan semenjak itu, ia tidak pernah mengadakan hubungan dengan Kun-lun-pai.

Mengapa tosu ini datang-datang menuduhnya membunuh anak murid Kun-lun-pai dengan pukulan Gin-san-ciang?

"Jangan-jangan anak kita yang durhaka itu yang melakukannya,"

Katanya perlahan. Giok Lie memandang dengan penasaran. Sinar matanya menyangkal keras dan ia lalu menjawab.

"Tak mungkin! Aku lebih menduga bahwa ini tentu perbuatan Lui Tik Kong!"

Nyo Tiang Pek menggeleng kepalanya.

"Biarpun ia mempelajari Gin-san-ciang, namun belum cukup pandai untuk dapat digunakan memukul mati seorang anak murid Kun-lun-pai,"

Katanya.

"Suamiku, kau terlalu membela Lui Tik Kong,"

Isterinya mencela. Nyo Tiang Pek membalas pandangan isterinya.

"Dia dimusuhi semua orang tanpa salah dan kita sudah memilihnya sebagai calon mantu, kalau bukan kita yang membela, siapa lagi?"

Giok Lan hanya menghela napas panjang dan sedih karena dia sendiri sebetulnya juga bingung dan ragu-ragu menghadapi persoalan yang menyangkut diri Tik Kong itu.

Ketika Kong Liang dan Mei Ling diikuti oleh Bwee Hwa cepat menuju ke Tit-lee untuk memberitahukan hasil kunjungan mereka di rumah Nyo Tiang Pek itu kepada Ang Lian Lihiap dan suaminya, mereka kebetulan sekali bertemu dengan Ang Lian Lihiap yang hendak mencari suami dan puteranya.

Dengan hati-hati sekali Kong Liang dan Mei Ling lalu menceritakan pengalaman mereka dan di dalam penuturannya ini, seringkali Kong Liang menghibur Ang Lian Lihiap yang mendengar dengan wajah pucat.

"Harap cici suka bersabar,"

Kata Mei Ling juga dalam usahanya menghibur dan menyabarkan Ang Lian Lihiap.

"pada saat itu Nyo-twako benar-benar sedang marah sekali hingga sukar untuk mengajaknya bicara."

Tiba-tiba Ang Lian Lihiap tertawa keras dan agaknya ia mengeluarkan semua hawa amarah melalui suara ketawa ini.

Bwee Hwa memandang dengan kagum semenjak pertemuan tadi.

Telah lama sekali ia mendengar nama Ang Lian Lihiap dan kini melihat orangnya, ia merasa kagum sekali.

Dari sikap dan sinar matanya saja, sudah dapat diduga dengan mudah bahwa nyonya ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.

"Nyo Tiang Pek, kau memang terlalu dan sesat,"

Katanya, kemudian sambil memandang kepada Kong Liang dan Mei Ling ia berkata.

"Mudah saja ia menuduh Lo Sin melarikan anaknya. Anakku takkan berwatak serendah itu. Nyo Tiang Pek terlalu menghina anakku, apa dia kira hanya dia sendiri yang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik dan gagah? Hem, Tiang Pek, Tiang Pek! Seandainya kau berikan juga anak perempuanmu kepadaku untuk dijodohkan dengan Lo Sin, aku takkan sudi menerimanya. Aku sendiri yang melarang Lo Sin mendekati anakmu!"

"Cici mengapa begitu? Lee Ing jangan dibawa-bawa, anak itu tidak bersalah apa apa,"

Kata Mei Ling. Juga Bwee Hwa tak tahan untuk tidak ikut berkata.

"Toanio, Lee Ing adalah seorang gadis yang baik budi dan gagah."

Mendengar semua kata-kata ini, Ang Lian Lihiap makin cemberut.

"Betapapun baiknya gadis she Nyo itu, ia akan menjadi rusak karena terlalu dibanggakan ayahnya yang sesat. Nyo Tiang Pek telah melemparkan anak sendiri ke langit dan menjajarkan dengan bintang-bintang, sedangkan ia merendahkan derajat anakku sampai serendah tanah lumpur. Apa sih hebatnya gadis she Nyo itu? Lihat saja, aku akan dapat mencarikan jodoh untuk anakku yang seratus kali lebih cantik dari pada gadis she Nyo itu dan seribu kali lebih gagah dan pandai."

Kong Liang dan Mei Ling melihat betapa Lian Hwa mulai gemas dan marah, tidak berani membuka mulut lagi.

Mereka berdua sudah mengenal baik watak Ang Lian Lihiap yang kalau sedang baik dan sabar, mau mengalah terhadap siapapun juga, akan tetapi kalau sedang marah, hatinya yang keras sukar sekali ditundukkan dan ia tidak takut kepada siapapun.

"Eh, nona ini siapakah?"

Tiba-tiba Lian Hwa bertanya sambil memandang Bwee Hwa setelah marahnya agak reda, seakan akan ia baru melihat gadis itu.

Dengan sikap manis dan penuh hormat, Bwee Hwa memperkenalkan diri dan Mei Ling lalu menceritakan pengalamannya ketika bertemu dengan Bwee Hwa.

Mendengar bahwa gadis ini bukan lain ialah Kim-gan-eng yang telah terkenal juga, Ang Lian Lihiap memandang kagum.

Sekali pandang saja, ia merasa suka kepada gadis yang manis dan bersikap gagah ini, dan ia teringat akan masa mudanya.

Walaupun ia tidak menjadi perampok akan tetapi ia juga merantau dan malang melintang di dunia kang-ouw, menjatuhkan banyak orang-orang gagah hingga nama Ang Lian Lihiap terkenal sekali.

"Siapakah gurumu, nona?"

Tanyanya.

"Suhu adalah Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan,"

Jawab Bwee Hwa.

"Pernah aku mendengar nama ini, aku tetapi sayang aku belum mendapat kehormatan untuk bertemu muka dengan dia,"

Kata Lian Hwa mengingat-ingat.

Melihat betapa cicinya sudah menjadi sabar kembali, Mei Ling lalu mengajak dia pergi menjauhi Kong Liang dan Bwee Hwa, minta agar supaya kakaknya itu beserta Bwee Hwa suka menanti sebentar.

Ang Lian Lihiap merasa heran melihat sikap Mei Ling yang hendak bermain rahasia-rahasiaan ini, akan tetapi sambil tersenyum ia menurut saja ketika Mei Ling menarik tangannya dan mengajaknya ke bawah sebatang pohon yang tak jauh dari situ letaknya.

"Cici, ada satu hal yang amat menggirangkan. Cici sudah melihat Bwee Hwa itu dan bagaimana pendapat cici?"

"Dia cantik dan gagah,"

Kata Ang Lian Lihiap dengan ragu-ragu karena tiba-tiba ia timbul dugaan bahwa tentu Mei Ling hendak mengusulkan perjodohan antara Kim-gan-eng itu dengan puteranya Lo Sin.

Wajah Mei Ling girang mendengar pujian Lian Hwa ini, maka ia lalu berkata lagi.

"Cici bagaimana kalau gadis itu dijodohkan dengan...... engko Kong Liang?"

"Apa"...?"

Lian Hwa benar-benar tercengang karena tidak menyangka, kemudian bayangan ragu yang tadi menyelimuti wajahnya, terganti oleh seri gembira.

"Kong Liang"""

"Benar, ketahuilah, cici, keduanya sudah saling suka"""

Kemudian dengan suara bisik yang ramai seperti yang hanya dapat dilakukan oleh dua orang wanita yang sedang membicarakan urusan orang lain sambil berbisik-bisik, Mei Ling menceritakan kepada Lian Hwa tentang pengalaman malam hari itu ketika Kong Liang terluka senjata berbisa dan ditolong oleh Bwee Hwa.

Lian Hwa mendengarkan dengan tersenyum-senyum gembira, kemudian ia berkata.

"Baiklah, aku setuju sekali! Biarlah aku akan sekalian mencari-cari di mana adanya Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan, agar aku dapat mengajukan lamaran untuk Kong Liang."

Mei Ling menjadi girang sekali dan kedua orang wanita cantik ini tertawa-tawa.

Dari jauh Kong Liang dan Bwee Hwa melihat keadaan mereka ini, ikut tersenyum gembira dan beberapa kali mereka saling bertukar pandang.

Mereka berdua menduga-duga apakah yang sedang dibicarakan oleh Mei Ling dan Ang Lian Lihiap itu hingga perlu menjauhkan diri dan merahasiakannya dari mereka.

Tiba-tiba Bwee Hwa yang cerdik itu dapat menduganya.

Apalagi yang perlu dirahasiakan oleh Mei Ling kepada mereka selain perkara perjodohan?

Bwee Hwa lalu menundukkan mukanya yang berubah merah dan ia tidak berani lagi menatap pandang mata Kong Liang.

Ang Lian Lihiap dan Mei Ling kembali ke tempat itu dengan muka gembira, dan melihat betapa Bwee Hwa menundukkan mukanya yang kemerah-merahan diam-diam Lian Hwa mengagumi kecerdikan gadis ini yang agaknya telah tahu akan apa yang dirundingkannya dengan Mei Ling tadi.

Sebaliknya, Kong Liang memandang mereka dengan penasaran karena ia tidak diikutkan dalam perundingan itu.

Lian Hwa lalu menghampiri Bwee Hwa dan memegang tangannya, kemudian tanyanya halus.

"Bwee Hwa, kita telah menjadi sahabat-sahabat baik yang sepaham, maka harap kau suka menjawab pertanyaanku dengan terus terang saja."

Bwee Hwa tidak berani memandang wajah Lian Hwa, hanya sambil bertunduk ia mengerling dan tersenyum.

"Berapakah usiamu tahun ini?"

Dengan suara hampir tidak terdengar oleh orang lain, Bwee Hwa menjawab.

"Duapuluh tahun."

"Dan dari Mei Ling aku mendengar bahwa kau tidak mempunyai orang tua lagi. Maka kau anggaplah aku sebagai wakil orang tua atau cicimu sendiri. Bwee Hwa, kami semua suka sekali kepadamu dan bagaimana pikiranmu apabila kita mengikat tali perhubungan lebih erat lagi?"

Bwee Hwa adalah seorang gadis yang cerdik dan tentu saja ia telah maklum apa yang dimaksudkan oleh Ang Lian Lihiap yang bicara terus terang ini, akan tetapi, mana ia berani menyatakan perasaan hatinya?

Ia menjadi makin malu dan tidak berani bergerak, bahkan dalam kebingungan dan malunya, keringat sampai keluar membasahi dahinya!

Melihat keadaan ini, Kong Liang yang masih belum mengerti, lalu menegur Ang Lian Lihiap.

"Suci, sebenarnya apakah artinya semua ini? Kau seakan-akan bicara dengan bahasa rahasia!"

Tiba-tiba Mei Ling memandang kepada kakaknya dengan tertawa geli, hingga Kong Liang menjadi heran dan Lian Hwa juga ikut tertawa.

"Anak bodoh! Lebih baik aku berterus terang saja. Aku mempunyai usul dan pikiran untuk merangkapkan jodoh antara kau dan Bwee Hwa, bagaimana pendapatmu?'' Kong Liang menjadi bengong dan warna merah menjalar di seluruh mukanya.

"Ini...... ini""

Terserah kepada cici saja"""

Katanya gagap dan memandang kepada adiknya dengan mata mendelik akan tetapi sinar matanya mengandung pernyataan terima kasih yang besar sekali! Ang Lian Lihiap tersenyum girang.

"Bwee Hwa seperti juga engkau, Kong Liang telah yatim piatu dan boleh dibilang akulah yang menjadi wakilnya. Bagaimana pendapatmu tentang pinangan ini?"

"Toanio"""

Jawab Bwee Hwa.

"Jangan menyebut aku toanio, sebutlah saja dengan cici, bukankah kita telah menjadi orang sendiri?"

Bwee Hwa makin jengah dan malu.

"Cici"""

Katanya perlahan sekali.

"kau...... kau baik sekali dan terima kasih atas kebaikan kalian ini...... akan tetapi, hal itu""

Aku harus bertanya kepada suhu karena suhu adalah seperti orang tuaku sendiri......"

Lian Hwa tersenyum.

"Tentu saja, Bwee Hwa. Tentu saja harus mendapat perkenan dari gurumu, akan tetapi hal itu kurasa tak perlu disangsikan lagi. Aku mendengar bahwa Pat-chiu Koai-hiap adalah seorang gagah dan budiman, maka sudah tentu dia ingin sekali melihat muridnya berbahagia. Bagiku yang terpenting adalah perasaan hati kalian berdua, kau dan Kong Liang, orang lain hanyalah ikut bergembira belaka dan ingin melihat kalian hidup berbahagia. Maka, sebelum aku bertemu dengan suhumu, apabila kalian berdua tidak berkeberatan, aku ingin melihat kalian bertukar pedang sebagai tanda persetujuan hati masing-masing!"

Tentu saja Bwee Hwa dan Kong Liang merasa malu dan tidak berani bergerak. Melihat hal ini, Mei Ling menjadi kasihan sekali dan ia lalu menghampiri Kong Liang dan berkata.

"Koko, kalau kau tidak setuju, jangan biarkan aku mengambil pedangmu!"

Setelah berkata demikian, gadis ini lalu mengambil pedang dan sarung pedang yang tergantung di pinggang Kong Liang.

Pemuda ini merasa berdebar dan girang dan sama sekali tidak mencegah adiknya mengambil pedang itu!

Kemudian, dengan pedang di tangan, Mei Ling lalu menghampiri Bwee Hwa yang masih berdiri diam sambil menundukkan kepala.

Mei Ling lalu memberikan pedang Kong Liang pada gadis itu yang diterima tanpa berani memandang.

"Adikku yang manis, pedangmu harus diberikan kepada dia!"

Bisik Mei Ling kepadanya dan dengan tangan gemetar Bwee Hwa lalu melepaskan pedangnya dan diberikannya kepada Mei Ling yang segera membawanya kepada Kong Liang.

Kedua orang anak muda itu setelah bertukar pedang lalu memakai pedang itu di pinggang masing-masing dan wajah mereka merah sekali.

Setelah itu, Bwee Hwa lalu berkata kepada Ang Lian Lihiap dengan terharu.

"Cici yang mulia, sungguh besar sekali budi kalian terhadap aku yang bodoh dan hina. Sekarang aku mohon diri karena aku hendak mencari suhu."

Lian Hwa mengangguk-anggukkan kepala.

"Memang kau harus selekasnya menemui suhumu dan kalau mungkin memberi kabar kepadaku di mana dia berada agar aku dapat pula menjumpainya. Agaknya akan sukar bagiku untuk mencari perantau aneh itu!"

Setelah berpelukan dengan Mei Ling dan bertukar kerling dengan Kong Liang, Bwee Hwa lalu cepat meninggalkan tempat itu untuk pergi mencari Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan.

Setelah Bwee Hwa pergi, baru Kong Liang berani buka mulut.

"Mei Ling, kau benar-benar nakal dan suka menggoda orang!"

"Eh, eh! Bilang saja seperti apa yang dibisikkan hatimu. Jangan bicara lain di mulut lain di hati!"

Tegur adiknya.

"Apa maksudmu?"

"Aku mendengar hatimu berkata "Mei Ling terima kasih atas bantuanmu"

Akan tetapi mulutmu pura-pura menegur lagi!"

Lian Hwa tertawa dan Kong Liang dengan gemas berkata.

"Awas kau! Sekarang juga akan kubuka rahasia hatimu kepada suci!"

Terbelalak mata Mei Ling memandang kakaknya.

"Rahasia? Rahasia apa?"

"Apalagi kalau bukan rahasia tentang kau menyamar menjadi laki-laki!"

Mendengar ini, merahlah wajah Mei Ling karena malu.

"Eh, eh, anak-anak. Kalian sedang bicara apakah?"

Tanya Lian Hwa.

"Cici, jangan percaya padanya. Mulutnya memang usil dan jahat!"

Kata Mei Ling sambil cemberut.

"Siapa usil dan jahat? Kalau tidak ada Yap Bun Gai yang menolong kau dan Bwee Hwa, apakah kita akan dapat bergirang pada saat ini? Dan kalau tidak ada kau yang menolong pemuda gagah itu, apakah dia tidak akan mendapat celaka?"

Lian Hwa makin tertarik hatinya mendengar nama Yap Bun Gai disebut oleh Kong Liang, maka ia lalu mendesak kepada pemuda itu untuk menceritakan pengalaman mereka.

Kong Liang dengan girang lalu menceritakan tentang kebaikan dan pertolongan Bun Gai, bahkan tentang cara Mei Ling menolong dan membela pemuda itu.

Mei Ling mendengarkan ini semua dengan menundukkan mukanya dan kini dialah yang tidak berani berkutik.

Setelah mendengar cerita itu dan melihat betapa Kong Liang memberi isyarat mata ke arah Mei Ling, Lian Hwa lalu memandang kepada gadis itu dan bukan main girang hatinya.

"Baiklah,"

Katanya.

"kalau aku sudah bertemu dengan suamiku, akan kubicarakan hal ini kepadanya. Aku sendiripun setuju kepada pemuda yang baik hati itu, sayangnya dia muncul di tengah-tengah pihak mereka yang jahat!"

"Suci, emas murni tidak takut karat, dan bunga teratai tidak takut kena lumpur!"

Kong Liang berkata dalam pembelaannya sehingga diam-diam Mei Ling merasa berterima kasih kepada kakaknya itu yang membela Bun Gai.

"Ya, ya, aku tahu,"

Jawab Lian Hwa.

"Memang tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku melainkan melihat kalian berdua mendirikan rumah tangga yang penuh kebahagiaan."

Kata-kata terakhir ini diucapkan dengan suara mengharukan karena pendekar wanita ini teringat akan puteranya.

Kemudian kakak beradik itu menyatakan bahwa merekapun hendak membantu mencari Cin Han dan Lo Sin dan oleh karena tidak diketahui di mana adanya kedua orang itu, maka mereka lalu mengambil keputusan untuk mencari sambil berpencar Kong Liang dan Mei Ling mencari ke utara dan Lian Hwa mencari ke timur.

Setelah Lian Hwa pergi, Mei Ling dengan gemas lalu mendekati kakaknya dan hendak dicubitnya sambil berseru.

"Kau lancang dan kurang ajar!"

Sambil tertawa-tawa Kong Liang berlari cepat dan kemudian berkata.

"Adikku yang baik, mengapa kau tidak bicara seperti hatimu?"

Ia membalas menggoda.

"Kalau menurut suara hatimu, kau seharusnya berlutut dan menghaturkan terima kasih kepadaku!"

Demikianlah, kedua kakak beradik yang bahagia itu bersendau gurau di sepanjang jalan dalam perantauan mereka mencari jejak Lo Sin atau Cin Han.

Lo Sin melarikan diri dari depan Nyo Tiang Pek yang marah sekali kepadanya, sedangkan Lee Ing mengikutinya sambil menangis terisak-isak.

Setelah berlari jauh dan memasuki sebuah hutan pohon siong, Lo Sin berhenti dan Lee Ing lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu sambil mengeluh.

"Ayah""

Ayah"""

Lo Sin segera memeluk pundak Lee Ing dan berkata perlahan.

"Ing-moi, tenangkanlah hatimu dan jangan bersedih. Ayahmu sedang marah, maka kemarahan telah membuat pikirannya gelap. Biarlah kelak kalau ayahmu sudah sadar, tentu ia akan menjadi baik kembali. Untuk sementara waktu, biarlah kita menjauhkan diri dan jangan kau khawatir, bukankah masih ada aku yang melindungi dan mencintamu?"

Mendengar kata-kata ini, terhibur juga hati Lee Ing dan gadis ini lalu menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya.

Pada saat itu, terdengar bunyi ringkik kuda dan sebentar juga Pek-liong-ma telah muncul di situ sambil berlari congklang.

"Lihat Pek-liong-ma juga tidak mau berpisah dari kita!"

Keduanya lalu bangun berdiri dan memeluk kuda yang menjadi sahabat baik itu.

"Sayang sekali bahwa Tik Kong terlepas lagi dari tangan kita!"

Kata Lo Sin dengan gemasnya.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan masuk ke dalam hutan yang ternyata besar sekali dan di sebelah dalam terdapat banyak pohon-pohon yang mempunyai buah-buahan hingga mereka girang sekali karena di dalam hutan ini mereka tidak usah khawatir kekurangan makanan.

Juga banyak sekali binatang-binatang hutan yang dapat diburu dan dimakan dagingnya.

Lo Sin lalu menceritakan tentang semua pengalamannya hingga Lee Ing makin jelas dan mengerti tentang kejahatan Tik Kong.

Gadis ini merasa menyesal sekali bahwa ayahnya telah tertipu dan terpikat oleh pemuda jahat itu.

"Aku tidak dapat menyalahkan ayahmu,"

Kata Lo Sin dengan sejujurnya.

"Aku sendiri kalau belum mengetahui tentang segala perbuatannya, apabila bertemu muka dengan Tik Kong yang berwajah tampan dan bersikap menarik itu, tentu akan tertipu dan terpikat. Pemuda itu memang pandai membawa diri dan mempunyai muka palsu yang sama sekali tidak mencerminkan keadaan hatinya."

"Akan tetapi, semenjak pertama kali bertemu aku sudah mempunyai rasa tidak suka dan benci kepadanya,"

Kata Lee Ing.

"Juga aku tahu bahwa ibupun kurang suka kepadanya, hanya sayangnya, ibu selalu menurut kehendak ayah tanpa membantah sedikitpun."

"Memang sudah seharusnya demikian!"

Kata Lo Sin. Lee Ing memandangnya dengan tajam.

"Apa katamu? Sudah seharusnya demikian, bagaimana maksudmu?"

"Sudah seharusnya seorang isteri menurut kehendak suaminya."

Tiba-tiba Lee Ing berdiri lurus, mengedikkan kepalanya dan mendelikkan mata.

"Enak saja kau bicara! Apakah perempuan dianggap patung saja yang hanya boleh mengangguk dan menurut segala macam kehendak laki-laki? Apakah segala macam kehendak suami, biarpun tidak pantas dan tidak benar harus diturut saja dan isteri tidak boleh membantah sedikitpun, bagaikan seekor lembu yang dituntun pada hidungnya? Ah, dasar kaupun laki-laki! Dan laki-laki biasanya hendak menang sendiri saja, hendak enak sendiri, hendak diturut segala kehendaknya!"

Lo Sin tersenyum.

"Aku tidak hendak menang sendiri saja, Ing-moi, juga tidak hendak enak sendiri atau diturut segala kehendakku. Aku bukan laki-laki seperti itu, Ing-moi!"

Pandangan mata Lee Ing melembut.

"Lebih baik kau jangan bersifat seperti itu, karena akupun bukan seorang perempuan yang mau dijadikan boneka yang hanya bisa mengangguk dan berkata.

"Baik, tuan besar!"

Tiba-tiba Lo Sin memandang kepada gadis itu dengan mata berseri dan ia tertawa bergelak.

"Ing-moi""

Ha-ha-ha! Kalau sudah begini, kau sama betul dengan ibuku! Ha-ha-ha! Sama-sama keras hati, liar dan tak mau ditundukkan."

Merah muka Lee Ing mendengar ini.

"Memang ibu jauh lebih baik daripada aku, akan tetapi, ia terlampau lemah dan mengalah!"

"Akan tetapi ibuku sangat mencintai ayahku, biarpun ia tukang membantah. Bahkan tidak jarang setelah bersitegang, ibu menyatakan kesalahannya dan menurut kata-kata ayah!"

"Apa kaukira akupun tahuku hanya membantah dan sekehendakku sendiri saja? Akupun mempunyai pikiran!"

Kembali Lo Sin tertawa, ia merasa gembira sekali melihat watak dan sifat-sifat gadis ini yang benar-benar seperti ibunya.

Keras hati, panas, dan bergelora, akan tetapi memiliki kehalusan budi, penuh kegembiraan hidup seperti kuda liar yang indah!

"Sin-ko, bagaimana kalau""

Kalau orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita?"

Tiba-tiba Lee Ing bertanya dengan suara sedih.

"Ayahku terang tidak menyetujui, biarpun aku berani menanggung bahwa ibu tentu setuju dan kalau orang tuamu juga tidak setuju, bagaimanakah akan jadinya dengan (Lanjut ke

Jilid 12) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 nasib kita?"

Lo Sin tersenyum untuk menghibur hati kekasihnya itu.

"Jangan khawatir, Ing-moi. Ayah ibuku memang tadinya bermaksud melamarmu, mengapa mereka tidak setuju? Bahkan terus terang saja, aku sendirilah yang tadinya tidak setuju ketika mereka melamar kau."

"He?!?"

Lee Ing memandang dengan mata terbuka lebar dan mulut cemberut hingga dalam pandangan mata Lo Sin ia nampak makin cantik dan makin manis! "Memang, aku bahkan menjadi marah,"

Kata pula Lo Sin sambil tertawa.

"Aku tidak suka dijodohkan dengan puteri Nyo peh-peh oleh karena pada waktu itu hatiku telah tercuri oleh seorang gadis!"

"Apa katamu?"

Lee Ing makin marah.

"Hatiku telah tercuri oleh gadis yang berdiri di bawah pohon dengan pakaian basah kuyup!"

Lenyaplah sinar kemarahan dari wajah Lee Ing, terganti oleh senyum yang membuat wajahnya kemerah-merahan.

"Sin-ko, kau harus memberi pelajaran ilmu silat padaku,"

Katanya kemudian dan karena memang Lo Sin menganggap bahwa ilmu kepandaian Lee Ing masih jauh daripada mencukupi untuk menjaga diri, maka ia lalu mulai mengajar silat kepada gadis itu.

Ia mulai mengajarkan gerakan pertama dari ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut dan ia tidak ragu-ragu lagi untuk menurunkan ilmu pedang luar biasa ini kepada Lee Ing biarpun dulu ia telah disumpah oleh orang tuanya bahwa ia tidak boleh menurunkan ilmu pedang itu kecuali kepada isteri atau anaknya kelak!

Dengan perbuatan ini, Lo Sin ternyata telah bertekad bulat untuk mengambil Lee Ing sebagai isterinya, biarpun seluruh dunia akan menentangnya!

Ia tidak takut akan ancaman Nyo Tiang Pek dan tidak takut pula kalau-kalau kedua orang tuanya melarang ia berjodoh dengan gadis ini!

Memang, kekerasan dan kenekatan hati Lo Sin ini adalah warisan dari Ang Lian Lihiap yang terkenal memiliki hati keras dan keteguhan iman.

Kalau telah menghendaki sesuatu, maka segala rintangan akan diterjang dan diberantas!

Berhari-hari mereka hidup di dalam hutan, berlatih silat dan bersendau-gurau.

Pek-liong-ma juga senang tinggal di hutan yang banyak mempunyai rumput-rumput hijau yang gemuk untuknya itu.

Akan tetapi, biarpun perhubungan kedua anak muda ini mesra sekali, namun mereka selalu menjaga diri dan membatasi hati mereka sehingga tidak mau melanggar batas-batas kesusilaan.

Mereka terlampau gagah untuk dapat dikuasai oleh nafsu-nafsu buruk dan rendah.

Mereka tidak tinggal di tempat yang tertentu dalam hutan itu dan setiap hari berpindah tempat mencari tempat yang lebih indah dan menyenangkan.

Pada suatu hari mereka tiba di sebelah timur hutan itu tiba-tiba mereka mendengar suara orang bertempur.

Ketika Lo Sin dan Lee Ing cepat memburu ke tempat itu, mereka terkejut sekali oleh karena melihat bahwa yang bertempur itu adalah Bwee Hwa si Garuda Mata Emas dan Hek Li Suthai.

Kim-gan-eng Bwee Hwa sedang didesak keras sekali oleh kedua pedang Hek Li Suthai hingga keadaan gadis itu dalam bahaya.

Pedang yang bersinar hijau dan hitam di kedua tangan to-kouw itu telah mengurung rapat dan Bwee Hwa hanya dapat menangkis dan mengelak sambil mundur dalam keadaan terjepit!

Lo Sin lalu melompat dengan pedang di tangan dan sekali ia bergerak, maka kedua pedang Hek Li Suthai telah ditangkis!

Melihat datangnya orang yang membantunya, Bwee Hwa lalu mundur dan alangkah girangnya ketika melihat bahwa yang membantunya adalah Ouw-yan-cu Lo Sin, si Walet Hitam!

Dan lebih girang lagi ketika ia melihat Lee Ing berdiri di situ.

Serta merta gadis ini lalu lari menghampiri Lee Ing dan memeluknya sambil menangis!

Lee Ing heran sekali melihat gadis ini nampak sedih dan menangis, maka ia lalu balas memeluk dan menghiburnya.

Kemudian keduanya lalu berdiri memandang ke arah Lo Sin yang menghadapi Hek Li Suthai yang menjadi marah sekali karena ternyata olehnya bahwa yang menolong Bwee Hwa adalah putera Ang Lian Lihiap yang sudah dikenal kelihaiannya itu!

Dan di bawah pohon, di belakang Hek Li Suthai, berdiri si kakek buntung Bong Cu Sianjin yang lihai!

"Ouw-yan-cu!

Bagus sekali kau datang mengantarkan jiwa!"

Teriak Hek Li Suthai dengan marah sekali dan dengan sikap mengancam, akan tetapi ia tidak berani sembarangan bergerak atau menyerang.

Sementara itu ketika mendengar nama ini, Bong Cu Sianjin melangkah maju dengan penuh perhatian.

"Hm, inikah putera Ang Lian Lihiap yang tersohor?"

Katanya sambil tersenyum memandang rendah.

Bagaimana tiba-tiba saja Hek Li Suthai dan Bong Cu Sianjin bisa berada di situ dan bertempur dengan Kim-gan-eng Bwee Hwa?

Ternyata bahwa setelah mendengar dari Yap Bun Gai akan perjanjian mengadu kepandaian di puncak Hoa-mo-san tiga bulan kemudian, Bong Cu Sianjin lalu mengajak Hek Li Suthai untuk mengunjungi kawan-kawan dan mencari pembantu untuk menghadapi Ang Lian Lihiap dan suaminya yang lihai itu.

Juga Lui Tik Kong menyatakan hendak mencari bala bantuan dari orang-orang pandai yang dikenalnya dan Bi Mo-li yang tidak dapat berpisah dari Tik Kong, lalu ikut pergi dengan pemuda itu.

Kebetulan sekali ketika mereka bertemu dengan Bwee Hwa yang sedang berjalan mencari suhunya.

Melihat Kim-gan-eng, tanpa banyak cakap lagi Hek Li Suthai lalu menyerangnya dan terpaksa Bwee Hwa melakukan perlawanan sengit.

Semenjak mendapat latihan-latihan dari suhunya, memang kepandaian Bwee Hwa telah maju pesat.

Apalagi pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukan dengan Hek Li Suthai dan kawan-kawannya membuat ia berlaku hati-hati dan dapat menjaga diri dengan baik hingga walaupun ia selalu didesak hebat, namun sebegitu jauh Hek Li Suthai belum berhasil merobohkannya!

Sementara itu, Bong Cu Sianjin tidak mau merendahkan diri untuk ikut menyerbu, betul bahwa Hek Li Suthai seorang diripun akan sanggup merobohkan Kim-gan-eng.

Kini mehhat bahwa putera Ang Lian Lihiap datang menolong Bwee Hwa, Bong Cu Sianjin memandang dengan penuh perhatian dan berkata kepada Hek Li Suthai.

"Ceng Hwa, seranglah dia dan jangan khawatir, aku melihat dari sini."

Biarpun sudah maklum akan kelihaian Lo Sin, namun Hek Li Suthai tidak mau menunjukkan rasa takut, maka sambil berseru nyaring ia lalu memutar sepasang pedangnya dan menyerang dengan hebat.

Harus diingat bahwa to-kouw ini telah menerima latihan ilmu silat yang lebih tinggi dari Lan Bwee Niang-niang, maka serangannya pun hebat sekali, jauh lebih hebat daripada ketika ia bertempur melawan Lo Sin di hujan badai dulu itu.

Namun Lo Sin menyambut serangannya dengan tenang saja.

Pemuda ini mempergunakan pedang pusakanya yang disebut Kim-hong-kiam atau Pedang Burung Hong Emas yang mengeluarkan sinar kuning keemasan lalu memainkan ilmu pedangnya yang luar biasa.

Biarpun sepasang pedang Hek Li Suthai itu menyambar-nyambar merupakan dua buah sinar hijau dan hitam dengan hebat dan garang, namun dengan sebatang pedangnya ia dapat menangkis dengan baik dan kuat hingga tiap kali pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Hek Li Suthai, to-kouw itu merasa betapa telapak tangannya tergetar.

Lo Sin kali ini tidak mau memberi hati kepada lawannya dan ia lalu mengeluarkan ilmu pedangnya bagian menyerang hingga sebatang pedang di tangannya itu berkelebat bagaikan seekor naga sakti mengamuk.

Belum juga mereka bertempur tigapuluh jurus.

Hek Li Suthai sudah terdesak hebat dan terpaksa mengerahkan segala ilmu kepandaiannya untuk menjaga diri dari desakan ini.

Bong Cu Sianjin merasa kagum sekali melihat kelihaian pemuda itu, maka ia lalu berseru.

"Ceng Hwa, kau mundurlah dulu. Biar aku tangkap tikus kecil ini!"

Lega hati Hek Li Suthai mendengar perintah susioknya, karena memang ia telah mengeluarkan peluh dingin pada dahinya menghadapi rangsekan yang membuatnya tidak berdaya itu.

Sementara itu, ketika melihat bahwa kakek buntung itu mengajukan diri dengan tabah dan berani sekali, Lo Sin lalu menyimpan kembali pedangnya.

"Bong Cu Sianjin, kebetulan sekali. Aku telah lama ingin menyaksikan kelihaian kedua kakimu!"

Katanya dengan tenang dan memasang kuda-kuda untuk menghadapi serangan kaki yang kabarnya lihai sekali itu.

Kalau Bong Cu merasa girang dan juga heran melihat keberanian Lo Sin, Lee Ing dan Bwee Hwa sebaliknya merasa khawatir sekali.

"Sin-ko, hati-hatilah, kakinya lihai sekali!"

Seru Lee Ing memperingatkan Lo Sin agar pemuda ini suka mempergunakan pedang menghadapi kakek buntung itu. Akan tetapi Lo Sin hanya tersenyum danmenjawab.

"Aku tidak tega untuk menghadapinya dengan pedang, Ing-moi."

Jawaban ini membuat alis Bong Cu Sianjin seakan-akan berdiri karena marahnya.

Ia merasa dianggap rendah dan dihina oleh Lo Sin, maka sambil menggeram keras ia lalu melangkah maju dan mengirim serangan dengan tendangan kakinya yang mengeluarkan angin keras.

Lo Sin maklum akan kelihaian lawan, maka ia tidak berani berlaku sembrono, bahkan menghadapinya dengan hati-hati sekali.

Ia mempergunakan kelincahan dan keringanan tubuhnya untuk berkelit cepat dan membalas dengan serangan kilat yang tidak kalah hebatnya.

Menyaksikan ginkang pemuda ini yang tinggi, diam-diam Bong Cu Sianjin terkejut sekali.

Selama berpuluh tahun setelah kedua lengannya buntung, Bong Cu Sianjin setiap hari melatih kedua kakinya hingga kehebatan kedua kaki ini tidak kalah dengan kedua lengan tangannya dulu ketika masih belum buntung.

Bahkan kini tenaga kakinya hebat sekali dan ia telah berhasil melatih kakinya sedemikian rupa hingga ujung kakinya dapat digunakan untuk menotok jalan-jalan darah lawan.

Tiap kali ia menendang, bukanlah merupakan tendangan biasa yang hanya mempergunakan tenaga besar belaka, akan tetapi selalu tendangannya itu mengarah urat-urat kematian atau bagian-bagian tubuh yang berbahaya.

Juga ia dapat memainkan kedua kakinya sedemikian rupa hingga kakinya dapat menendang dari belakang, depan dan kanan kiri.

Bahkan ia dapat melompat tinggi sambil menendang dari udara, atau ia dapat menendang hingga kakinya itu mengarah kepala lawan.

Menghadapi ilmu tendangan yang luar biasa dan yang agaknya tiada keduanya ini, Lo Sin diam-diam merasa terkejut sekali.

Bukan kosong belaka kebesaran nama Bong Cu Sianjin dan ilmu tendangannya yang benar-benar membuat Lo Sin terpaksa harus berlaku hati-hati sekali.

Melihat betapa tendangan-tendangannya tak berhasil mengenai lawan yang muda dan tangguh ini, Bong Cu Sianjin menggereng hebat karena penasaran dan marahnya.

Ia lalu merubah gerak kakinya dan kini ia melancarkan gerakan tendangan yang dinamai Jian-liong-tiam-jiauw atau Ribuan Naga Mengulur Kuku.

Tendangannya dilakukan dengan kedua kaki yang susul menyusul hingga serangan itu datang bagaikan hujan mengarah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Lo Sin.

Melihat serangan hebat ini, diam-diam hati Lee Ing berdebar cemas dan ia lalu memegang tangan Bwee Hwa erat-erat.

Juga Bwee Hwa merasa khawatir sekali, sungguhpun semenjak tadi tiada habisnya ia mengagumi kepandaian Lo Sin, bukan main hebatnya sepak terjang putera Ang Lian Lihiap ini, pikirnya.

Ke dua orang gadis itu memandang dengan mata tanpa berkedip ke arah perkelahian yang hebat itu.

Diserang secara demikian, Lo Sin terkejut sekali.

Ia merasa betapa akan sukarnya untuk mengelakkan diri dari serangan kedua kaki yang bertubi-tubi ini, maka ia lalu berseru keras dan tahu-tahu ia telah mempergunakan ginkangnya dan tubuhnya mencelat ke atas.

Akan tetapi, bukannya kaget, bahkan Bong Cu Sianjin lalu tertawa girang dan kedua kakinya cepat mengejar dan kini tendangan-tendangan ditujukan ke atas menjaga turunnya tubuh pemuda itu.

Agaknya sudah tidak ada jalan lagi bagi Lo Sin untuk menghindarkan diri dari bahaya maut.

Akan tetapi, tidak kecewa Lo Sin mendapat gemblengan sepenuh hati dari kedua orang tuanya dan ia telah menerima pula pelajaran ginkang yang tinggi dari ibunya, yaitu warisan ilmu ginkang dari Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan.

Melihat datangnya kedua kaki yang menyambar ke arah dirinya, tiba-tiba tubuh Lo Sin berjungkir balik di tengah udara, kaki ke atas dan kedua tangan ke bawah.

Ia lalu menyambut ujung kaki lawannya yang menyambar dari bawah itu dan yang didahului oleh angin tendangan keras.

Lo Sin mengerahkan lweekangnya dan dengan tangannya ia menotol ujung kaki yang datang menyambar hingga ia terdorong oleh tenaga tendangan itu dan tubuhnya melayang kembali ke atas.

Berkali-kali Lo Sin turun dan menotol ujung kaki hingga tubuhnya melayang lagi tanpa menderita luka.

Pemandangan ini sungguh indah dan mentakjubkan hingga Lee Ing dan Bwee Hwa memandang dengan melongo.

Juga Hek Li Suthai diam-diam merasa kagum sekali dan memuji dalam hatinya.

Rasa penasaran di dalam hatinya karena dikalahkan oleh Lo Sin, kini menjadi menipis oleh karena memang pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali.

Sementara itu, dari atas, tubuh Lo Sin menyambar-nyambar naik turun sambil meminjam tenaga tendangan lawan hingga seolah-olah ia merupakan seekor burung besar yang menyambar-nyambar turun dan kedua kaki Bong Cu Sianjin merupakan dua ekor ular yang mencoba untuk menggigit burung yang menyambar turun itu.

Dan dari atas, Lo Sin melihat betapa kedua kaki lawannya itu bergerak bagaikan dua batang tongkat besar yang lempeng menyerang ke atas.

Tiba-tiba ia mendapat kenyataan hahwa seluruh kaki itu, dari ujung sampai pangkalnya, yang paling lemah adalah bagian sambungan lutut.

Maka ia lalu menotol ujung kaki lawan yang menyambar lagi dan mengenjot tubuhnya jauh dari situ lalu turun di atas tanah.

Bong Cu Sianjin memburu sambil berteriak.

"Jangan lari!"

"Siapa yang lari?"

Jawab Lo Sin sambil menyambut serangan lawannya lagi.

Kini Lo Sin sambil membalas dengan serangan pukulan dan tendangan yang semua ditujukan ke arah lutut Bong Cu Sianjin.

Memang sukar menghadapi lawan buntung yang tidak diketahui gerak geriknya.

Jika menghadapi seorang lawan yang berlengan, kita dapat mengikuti dan menduga gerakan lawan itu dari pundaknya yang bergerak lebih dulu sebelum melakukan serangan, akan tetapi oleh karena Bong Cu Sianjin tidak berlengan dan tidak melakukan serangan dengan tangan, maka pundaknya tidak bergerak hingga Lo Sin tidak dapat menduga cara-cara ia bergerak melakukan serangan.

Kini pemuda itu mendapatkan akal dan memusatkan seluruh serangan pembalasan ke arah lutut lawan hingga Bong Cu Sianjin menjadi sibuk juga.

Kini ia tidak dapat mendesak seperti tadi oleh karena serangan-serangan Lo Sin ke arah sambungan lututnya itu berbahaya sekali dan ia harus menjaga sekuatnya agar sambungan lututnya jangan sampai kena terpukul.

Dari paha, betis, sampai ke jari kakinya ia tidak takut menghadapi pukulan, akan tetapi sambungan lututnya kalau sampai terpukul dan terlepas sambungannya, berarti ia akan mendapat celaka.

Pertempuran menjadi makin hebat karena keadaan mereka kini seimbang.

Kalau saja Lo Sin mempergunakan pedangnya, agaknya Bong Cu Sianjin takkan dapat tahan lama, akan tetapi pemuda itu merasa malu untuk mempergunakan senjata apalagi setelah tadi ia menyatakan bahwa ia tidak tega menghadapi Bong Cu Sianjin dengan senjata.

Sedangkan sekarang, biarpun ia telah mengetahui letak kelemahan lawannya, namun oleh karena Bong Cu Sianjin benar-benar kosen, ia tidak berdaya untuk mendesaknya apalagi hendak merobohkannya.

Lee Ing dan Bwee Hwa yang melihat betapa Lo Sin tidak terdesak hebat lagi, merasa lega, akan tetapi mereka tetap merasa khawatir dan bingung karena tidak berdaya menolong kawan ini.

Tadinya Bwee Hwa hendak maju membantu, akan tetapi Lee Ing menahan tangannya sambil berbisik.

"Sin-ko tidak mau dibantu. Kalau dia sendiri tidak minta dibantu, kita tidak boleh turun tangan."

Akan tetapi tidak demikian dengan Hek Li Suthai.

Melihat betapa kini susioknya tidak dapat mendesak lawan bahkan keadaan mereka berimbang dan saling menyerang dengan hebatnya, ia lalu melompat maju dan berkata.

"Susiok, biar kita bersama menangkap anjing ini."

Tiba-tiba Lo Sin tertawa bergelak dan merasa bahwa kedatangan Hek Li Suthai itu menguntungkannya.

Oleh karena dikeroyok dua dan Hek Li Suthai mempergunakan sepasang pedang hijau hitamnya yang lihai, maka ia tidak malu untuk cepat-cepat menarik keluar pedangnya dan kini ia mengamuk dengan pedang Kim-hong-kiam di tangan.

Kini ia tidak mau berlaku setengah hati lagi dan mengeluarkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut bagian gerakan menyerang yang paling hebat, yakni Naga Sakti Mandi di Api.

Gerakan pedangnya bagaikan bunga api menjilat-jilat atau cahaya kilat menyambar-nyambar, menimbulkan hawa panas yang keluar dari hawa pedang dan ia mengurung kedua lawannya dengan sinar pedangnya yang lihai itu.

Bong Cu Sianjin kini terkejut sekali, demikian Hek Li Suthai.

Biarpun keadaannya masih sanggup mempertahankan diri, namun permainan pedang ini benar-benar hebat dan mengerikan.

Kalau saja yang menghadapi permainan pedang Lo Sin bukannya Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai, maka pasti keduanya sudah sedari tadi kena dirobohkan.

Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai yang berilmu tinggi itu merasa sangat penasaran dan terus mempertahankan diri dengan ulet dan nekad.

Akan tetapi setelah bertempur menghadapi ilmu pedang sakti ini sampai seratus jurus, mereka tidak dapat menahan lagi.

Keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka dan pandangan mata mereka telah berkunang-kunang.

"Ouw-yan-cu! Ibumu telah berjanji hendak bertanding dengan kami di puncak Hoa-mo-san pada bulan ketiga, kalau kau memang berani, datanglah pada waktu yang ditentukan!"

Kata Bong Cu Sianjin sambil melompat berjumpalitan ke belakang!

Hek Li Suthai juga hendak melompat keluar dari kurungan pedang Lo Sin, akan tetapi tiba-tiba pedang Lo Sin telah bergerak sedemikian cepat sehingga kedua lengan tangannya tergores pedang dan mengeluarkan darah dan kedua pedangnya itu terlepas dari pegangan!

"Ha-ha-ha, Hek Li Suthai!

Biarlah kali ini aku memberi kesempatan padamu.

Lain kali kubikin buntung kedua lenganmu seperti susiokmu itu!"

"Walet Hitam! Biarlah lain kali aku membalas dendam ini di puncak Hoa-mo-san,"

Kata Hek Li Suthai sambil menahan marahnya dan memungut pedangnya, sedangkan luka goresan pedang di kedua tangannya mengeluarkan banyak darah ketika ia mengikuti Bong Cu Sianjin melarikan diri situ dengan perasaan marah, malu mendongkol dan penasaran!

Pertemuan dengan Lo Sin ini lebih menguatkan niat Bong Cu Sianjin untuk pergi mencari bala bantuan oleh karena ia maklum bahwa dengan adanya Lo Sin ini, pihak Ang Lian Lihiap menjadi lebih kuat!

Lo Sin lalu menghampiri Bwee Hwa yang menjura kepadanya dan berkata.

"Terima kasih, taihiap. Kalau tidak ada kau dan adik Lee Ing yang membantu, tentu saat ini Kim-gan-eng hanya tinggal namanya saja."

Ia lalu memeluk Lee Ing dengan terharu sekali dan ketika ia teringat akan nasib Lee Ing dan keadaan orang tua kedua pemuda pemudi ini, tiba-tiba Bwee Hwa menangis sambil mengeluh.

"Lee Ing""

Sungguh kasihan sekali kau......"

Lee Ing terkejut sekali.

"Eh, eh, enci Bwee mengapa kau ini? Mengapa kau menyusahkan keadaanku? Ada apakah?"

Juga Lo Sin menjadi tidak enak hati dan berkata.

"Nona, kau datang dari manakah dan hendak ke mana?"

"Lo-taihiap belum lama ini aku telah bertemu dengan Nyo lo-enghiong dan juga bertemu dengan ibumu."

Terkejutlah Lee Ing dan Lo Sin mendengar ini.

"Bagaimana keadaan mereka?"

Mereka berdua bertanya dengan suara hampir berbareng.

Dengan masih menahan tangisnya, Bwee Hwa lalu menceritakan betapa ia ikut dengan Kong Liang dan Mei Ling ke rumah Nyo Tiang Pek dan bahwa pendekar itu masih marah sekali bahkan mengancam hendak membunuh Lo Sin dan Lee Ing apabila mereka dapat bertemu dengan kedua anak muda ini!

Mendengar ancaman ayahnya ini, Lee Ing lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis sambil mengeluh.

"Ayah...... ayah""

Sekejam itukah hatimu kepadaku"..?"

Bwee Hwa memeluk pundak Lee Ing dan ikut menangis, sedangkan Lo Sin lalu berkata menghibur.

"Tenangkanlah hatimu, Ing-moi. Akulah yang akan bertanggung jawab terhadap semua ini. Dan bagaimana dengan ibu, nona? Bagaimana sikap ibu setelah mendengar ucapan Nyo-pehpeh itu?"

"Ibumu marah sekali dan kalau sampai kedua pendekar tua itu bertemu muka, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi! Ibumu bahkan menyatakan bahwa oleh karena ayah Lee Ing membencimu dan mengancam hendak membunuh, maka ibumu juga tidak rela kalau""

Kalau kau berjodoh dengan Lee Ing......"

Mendengar ini, Lee Ing memekik ngeri dan roboh pingsan dalam pelukan Bwee Hwa! "Lee Ing...... Lee Ing""

Ah, ampunkan aku, taihiap""

Aku telah gila! Lee Ing...... mengapa mulutku begini lancang......?"

Bwee Hwa memeluk tubuh Lee Ing dan menangis dengan bingung.

Lo Sin merasa terharu sekali dan ia lalu menggunakan kepandaiannya untuk menotok pundak Lee Ing dan membuat gadis itu siuman kembali.

Ketika sadar dari pingsannya dan melihat Lo Sin berlutut di dekatnya, Lee Ing mengeluarkan keluhan dan menubruk pemuda itu, memeluknya lalu menangis terisak-isak.

"Sin-ko...... aku lebih rela mati di tanganmu daripada daripada mati oleh ayah atau oleh ibumu......"

Lo Sin mendekap kepala kekasihnya pada dadanya dan pemuda inipun tidak dapat menahan pula air matanya yang keluar menitik turun ke atas pipinya.

"Jangan begitu, Ing-moi. Mana kegagahanmu? Mana sifatmu yang gembira dan hatimu yang tabah? Tidak pantas kau bersikap begini, Ing-moi. Apakah tiba-tiba kau menjadi seorang gadis yang lemah dan penakut? Di sini masih ada aku, Ing-moi, dan mati-hidup kita akan selalu bersama!"

Ucapan ini membuat Bwee Hwa merasa terharu sekali, akan tetapi bagaikan api yang disiram air, tiba-tiba lenyap pula keraguan dan kehancuran semangat yang tadi mempengaruhi Lee Ing.

Ia melepaskan diri dari pelukan dan berkata dengan gagah.

"Terima kasih, Sin-ko. Hampir saja aku tersesat oleh kelemahan sendiri. Kau benar! Biar mereka semua membenci kita. Biar mereka semua mengutuk memusuhi kita. Kita akan hadapi bersama, mati atau hidup!"

Melihat kasih sayang yang demikian besar antara kedua orang muda itu, diam-diam Bwee Hwa merasa kagum dan amat terharu dan mengingatkan ia kepada Kong Liang yang gagah dan tampan.

Tak terasa pula tangannya lalu meraba-raba dan mengusap-usap pedang pemberian Kong Liang yang tergantung di pinggangnya.

Lo Sin yang melihat hal ini dan matanya yang tajam lalu mengenal pedang itu.

"Hei! Bukankah yang kaubawa itu pedang panjang paman kecil Kong Liang?"

Teriaknya dengan heran. Juga Lee Ing yang sudah kering pula air matanya itu lalu maju memeriksa.

"Betul, betul, akupun kenal pedang ini! Lihat di gagangnya terukir huruf Kong dan Liang! Cici yang baik, bagaimana pedangnya bisa terjatuh dalam tanganmu?'! tanyanya sambil memandang heran pula. Dihujani pertanyaan dari kedua muda mudi ini, tiba-tiba wajah Bwee Hwa menjadi merah sekali seperti kepiting direbus.

"Cici""

Lian Hwa menukarkan pedangku dengan""

Pedang ini,"

Katanya sambil menundukkan kepala.

Lee Ing yang tadi bersedih, menangis, bahkan sampai jatuh pingsan, kini tertawa dan memeluk dan menciumi Bwee Hwa!

Gadis ini girang sekali dan sambil menepuk-nepuk pundak Bwee Hwa ia berkata.

"Ah, bagus sekali, cici! Kau memang cocok menjadi isteri paman kecil Kong Liang! Kiong-hi, kiong-hi (Selamat, selamat)""!"

Juga Lo Sin lalu menjura dan berkata.

"Kiong-hi, kiong-hi!"

Mereka bertiga lalu bercakap-cakap dengan girang dan baik Bwee Hwa maupun Lo Sin terpengaruh oleh sikap Lee Ing yang sungguh-sungguh mengherankan, karena gadis ini telah bisa tertawa dan bersendau gurau dengan gembira sekali!

Diam-diam Lo Sin merasa kagum karena ia lagi-lagi melihat persamaan yang luar biasa dalam tabiat kekasihnya ini dengan sifat ibunya, Ang Lian Lihiap!

Dan ia merasa bersyukur sekali karena ia sendiri pun tidak suka melihat sifat seorang gadis yang terlampau mudah berputus asa dan berduka.

Kemudian, setelah menyatakan janjinya bahwa iapun akan berusaha membujuk kedua orang tua Lee Ing dan Lo Sin agar mereka suka berdamai, Bwee Hwa lalu melanjutkan perjalanannya mencari suhunya dan meninggalkan kedua anak muda itu.

Setelah Bwee Hwa pergi, Lee Ing dan Lo Sin teringat lagi akan keadaan orang tua masing-masing dan diam-diam mereka merasa khawatir juga.

Mereka agaknya mengetahui perasaan masing-masing tanpa mengeluarkan kata-kata dan sampai malam tiba, keduanya tidak banyak bicara.

Hawa malam itu dingin sekali hingga beberapa kali Pek-liong-ma meringkik-ringkik kedinginan.

Lee Ing dan Lo Sin lalu mengumpulkan ranting kering dan membuat api unggun.

Mereka tadi telah keluar dari hutan itu dan kini berada di luar hutan yang indah dan penuh dengan bunga-bunga.

Malam itu terang sekali biarpun bulan muncul seperempat bagian saja.

Udara bersih dan hawa sejuk sekali.

Mereka sengaja keluar dari hutan oleh karena di dalam hutan itu banyak nyamuk yang mengganggu mereka.

Setelah api unggun menyala, keduanya lalu duduk di dekat api.

Keadaan malam yang dingin dan sunyi itu membuat mereka yang sedang merasa berduka menjadi makin terharu.

Betapapun juga mendengar bahwa kedua orang tua mereka bermusuhan, bahkan keduanya tidak menyetujui hubungan mereka itu membuat keduanya tidak dapat banyak bicara dan merasa seakan-akan mereka ditinggalkan berdua saja di dunia yang ramai ini.

Memang, mereka telah bertekad untuk melawan segala rintangan dan telah bersumpah di dalam hati masing-masing untuk saling bersetia dan membela, akan tetapi di malam yang dingin dan sunyi ini mereka tiba-tiba teringat akan kebaikan orang tua mereka.

Terutama sekali Lo Sin.

Pemuda ini teringat kepada ayah ibunya dan kalau ia memikirkan cerita Bwee Hwa bahwa ibunya yang marah itu tidak rela membiarkan ia menjadi suami Lee Ing, membuat ia berulang kali menghela napas.

Dengan tubuh lemas ia duduk memeluk lutut di dekat api unggun itu.

Tiba-tiba sentuhan jari tangan Lee Ing yang halus itu pada pundaknya membuat ia sadar dari lamunan.

"Sin-ko, apakah sekarang kau yang kehilangan ketenangan dan keteguhan hatimu? Aku ada di sini, jangan kau bersedih."

Mendengar ucapan kekasihnya ini, makin perih rasa hati Lo Sin.

Gadis ini demikian cantik jelita, demikian gagah, dan dengan sepenuh hati mencintainya.

Gadis manakah lagi yang dapat melebihi Lee Ing?

Dan ibunya hendak melarangnya berjodoh dengan gadis ini!

Tiba-tiba Lo Sin menjatuhkan dirinya dan rebah telungkup di atas rumput yang hijau dan lunak.

Ia membenamkan muka di dalam pelukan kedua lengan dan menahan kepedihan hatinya.

Melihat keadaan pemuda itu, Lee Ing merasa terharu dan gadis inipun lalu menubruk tubuh Lo Sin dan merebahkan kepalanya pada punggung pemuda itu.

"Sin-ko, kalau kau merasa berat sekali dan tidak sanggup membantah kehendak orang tuamu, biarkanlah aku merantau sampai di mana saja nasib membawaku. Aku tidak sudi kalau harus menikah dengan bangsat Lui Tik Kong itu dan hatiku akan hancur lebur dan mungkin sekali aku takkan dapat tahan untuk hidup lebih lama lagi apabila kau meninggalkan aku. Akan tetapi, daripada aku menghancurkan kebahagiaanmu, lebih baik aku mengundurkan diri!"

Dan gadis ini menangis terisak-isak di atas punggung Lo Sin. Lo Sin mengangkat mukanya dari pelukan lengannya. Tanpa bergerak atau bangkit ia menjawab.

"Jangan kau bicara seperti itu, adikku. Apakah kau masih tidak percaya kepadaku? Apapun yang akan terjadi, aku tetap mencintamu dan akan membelamu, dan untuk itu aku telah bertekad menghadapi siapa juga, bahkan menghadapi Nyo-pehpeh atau ibuku sekalipun."

Mendengar ucapan ini, Lee Ing merasa girang dan terharu. Sambil merebahkan pipinya di punggung Lo Sin, ia berbisik.

"Sin-ko, kau baik sekali, Sin-ko......"

Pada saat itu terdengar ringkik Pek-liong-ma dan disusul oleh ringkik kuda lain. Lee Ing dan Lo Sin terkejut. Ketika Lee Ing menengok dan memandang ke belakang, ia berseru.

"Sin-ko, lihat! Ada kuda lain di dekat Pek-liong-ma!"

Sambil berkata demikian gadis ini melompat berdiri.

Lo Sin juga bangun dan berdiri, memandang kuda yang berdiri di depan Pek-liong-ma itu dengan heran sekali.

Kuda siapakah malam-malam datang di tempat ini?

Ketika mereka berdua berlari mendekati, kuda itu sedang mencakar-cakar tanah dengan kaki depannya hingga seakan-akan mengangguk-angguk dan memberi hormat kepada Pek-liong-ma, tiada ubahnya seseorang memberi salam kepada sahabatnya.

Pek-liong-ma meringkik perlahan dan keduanya mengembang kempiskan hidung seakan-akan mencium-cium.

Melihat kuda berbulu hitam yang cukup baik itu Lee Ing merasa suka sekali.

Kuda itu tiada penunggangnya dan ia masih dipasangi sela dan kendali.

Ketika Lee Ing memegang kendalinya ternyata kuda itu jinak sekali, tanda bahwa ia adalah kuda peliharaan yang baik.

Lee Ing dan Lo Sin memandang ke sekeliling, akan tetapi tidak kelihatan ada orang di sekitar tempat itu.

Kalau ada orang tentu ia akan dapat melihat api unggun yang mereka nyalakan di tempat ini.

Maka keduanya merasa heran sekali mengapa kuda itu tiada penunggangnya dan bisa sampai ke situ sendiri.

Kuda itu datangnya dari arah utara, di mana terdapat sebuah hutan cemara yang liar.

Karena tidak melihat ada seorangpun di sekitar tempat itu, Lee Ing lalu menambatkan kendali kuda itu di dekat Pek-liong-ma dan ia bersama Lo Sin lalu kembali ke dekat api unggun.

Lo Sin minta supaya Lee Ing tidur dan beristirahat dan ia yang akan menjaganya, akan tetapi gadis ini tidak dapat tidur.

Bagaimana ia dapat tidur dengan pikiran penuh persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya dan juga memikirkan keadaan ayah ibunya dan orang tua Lo Sin?

Gadis ini bahkan lalu menambahkan kayu bakar pada api unggun itu dan mengajak Lo Sin bercakap-cakap tentang pertempuran yang hendak diadakan di puncak Hoa-ma-san pada bulan tiga.

"Tentu saja kita harus pergi ke sana,"

Kata pemuda itu dengan suara tegas.

"Mereka itu adalah musuh-musuh orang tua kita, maka tidak dapat tidak kita harus membela orang tua kita, betapapun mereka ini marah kepada kita."

Lee Ing merasa setuju dan mengingat bahwa mereka akan menghadapi lawan-lawan yang amat tangguh, Lee Ing lalu mencabut pedangnya dan berlatih pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut yang ia pelajari dari Lo Sin.

Pemuda ini memberi petunjuk-petunjuk dan mereka berlatih dengan rajin.

Lo Sin girang mendapat kenyataan bahwa gadis itu mendapat kemajuan pesat dan ternyata bahwa Lee Ing mempunyai otak yang tajam dan cerdik hingga mudah mengingat bagian-bagian yang sulit dan penting dari ilmu pedang yang luar biasa ini.

Tanpa terasa lagi mereka berlatih silat sampai pagi!

Dan setelah mendengar ayam hutan berkeruyuk dan burung-burung pagi berkicau, Lee Ing menghentikan latihannya dengan lelah dan mengantuk sekali sehingga ketika ia merebahkan diri di atas rumput yang kering oleh karena api unggun itu mengusir embun yang mendekat, ia terus saja tidur pulas!

Melihat keadaan Lee Ing ini, Lo Sin tersenyum geli.

Ia melepaskan mantelnya dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan penuh rasa kasih sayang dan kasihan.

Kemudian ia sendiri duduk bersila di dekat api dan bersamadhi untuk melepaskan lelahnya.

Ketika matahari telah naik tinggi, Lee Ing terbangun dari tidurnya.

Ia menggeliat dengan enaknya dan melihat bahwa tubuhnya diselimuti mantel oleh Lo Sin.

Ketika ia menengok, ia mendapatkan pemuda itu masih duduk bersila tanpa bergerak dan dengan mata terpejam, maka maklumlah ia bahwa pemuda kekasihnya itu sedang beristirahat, akan tetapi dalam keadaan duduk itu biarpun tubuh dan pikiran Lo Sin "tidur", ia masih sadar dan suara sedikit saja sudah cukup untuk menyadarkan Lo Sin dari samadhinya.

Maka ia lalu bangun duduk dengan perlahan dan menggigil, karena biarpun matahari sudah naik tinggi, namun kabut embun masih tebal dan api unggun telah padam sejak lama tadi.

Ketika ia menengok ke arah kuda Pek-liong-ma, ternyata bahwa kuda hitam itu masih berdiri di situ dan kedua ekor kuda itu membanting"banting kaki depannya seakan-akan tidak sabar sekali melihat betapa kedua majikan mereka masih belum berangkat membawa mereka berlari!

Mereka telah merasa bosan berdiri dan menanti sampai semalam suntuk.

Biarpun Lee Ing bergerak dengan hati-hati dan perlahan, namun tetap saja Lo Sin dapat mendengarnya dan pemuda ini membuka mata samhil tersenyum dan bertanya.

"Kau sudah bangun? Enakkah tidurmu?"

"Ah, aku terlalu sekali, Sin-ko, tidur sepanjang malam dan membiarkan kau berjaga terus sampai siang!"

"Kau baru tidur setelah fajar menyingsing, mana bisa disebut sepanjang malam? Dan kebetulan sekali tadi datang sendiri makanan pagi untuk kita."

Lee Ing terheran.

"Makanan pagi datang sendiri?"

Lo Sin tersenyum dan dengan tangan kirinya ia mengambil seekor kelinci dan memegang pada telinganya tinggi-tinggi ke atas.

"Lihat ini, tadi pagi datang dan berkata. Tangkaplah aku untuk sarapan pagi!"

Lee Ing tertawa geli dan tiba-tiba melihat kelinci yang gemuk itu perutnya mulai berkeruyuk lapar.

Cepat-cepat ia lalu menguliti kelinci itu, sedangkan Lo Sin lalu membuat api.

Sambil bersendau gurau keduanya lalu memanggang daging kelinci yang bergajih itu dan segera tercium bau sedap daging panggang.

Keduanya lalu makan dengan sedap dan enaknya.

Melihat keadaan mereka, orang yang melihat mereka malam tadi berduka, tentu akan merasa terheran-heran.

Mereka ini memang orang-orang muda berbahagia dan, tak ada kedukaan yang dapat membuat mereka murung sepanjang waktu.

Kuda hitam itu ternyata seekor kuda yang baik dan kuat hingga keduanya merasa girang sekali.

Oleh karena sudah biasa dan kenal dengan Pek-liong-ma, maka Lee Ing lalu minta agar Lo Sin yang menunggang kuda hitam itu sedangkan dia sendiri lebih suka menunggangi Pek-liong-ma yang jinak dan menurut serta mengerti segala perintah yang dikeluarkannya.

"Sin-ko, mari kita melanjutkan perjalanan melalui hutan sebelah timur itu, barangkali saja kita akan dapat bertemu dengan pemilik kuda hitam ini. Betapapun juga, tak enak sekali kalau kelak kita bertemu dengan pemiliknya dan dituduh menjadi pencuri kuda!"

Lo Sin setuju dan sehabis makan pagi, mereka lalu naik kuda dan memasuki hutan cemara itu.

Akan tetapi, baru saja mereka tiba di luar hutan tiba-tiba dari jurusan timur mendatangi lima orang penunggang kuda yang melarikan kuda mereka cepat sekali.

Lo Sin dan Lee Ing menahan kuda masing-masing dan menanti kedatangan mereka.

Ketika kelima orang penunggang kuda itu sudah datang dekat, maka ternyata oleh Lee Ing dan Lo Sin bahwa mereka ini adalah serombongan pemburu yang bertubuh tinggi besar dan kuat.

Mereka ini membawa senjata-senjata lengkap.

Busur dan anak panah tergantung di punggung, pedang di pinggang kiri, di pinggang kanan tergantung tali-tali yang kuat sedangkan tangan mereka memegang tombak panjang yang tajam dan runcing.

Ketika mereka melihat kuda yang ditunggangi oleh Lo Sin, segera mereka membentak nyaring.

"Itu kuda Bu-ko!"

Seorang diantara mereka yang tertua lalu menuding dengan tombaknya kepada Lo Sin dan berseru.

"Hai! Maling kuda, berani sekali kau mencuri kuda kawan kami! Hayo lekas turun dan serahkan kembali kuda itu kepada kami, baru kami mau memberi ampun."

Kalau Lo Sin masih bersikap tenang menghadapi tuduhan ini, Lee Ing sebaliknya menjadi marah sekali dan ia lalu majukan Pek-liong-ma kehadapan pemburu itu dan balas membentak.

"Orang hutan yang kasar! Jagalah sedikit lidahmu dan jangan sembarangan kau memaki orang! Kaukira kami takut kepada orang-orang hutan seperti kalian ini?"

Pemburu-pemburu itu memang orang-orang kasar yang tidak biasa memakai banyak peradatan.

Kini melihat sikap Lee Ing dan mendengar makian gadis manis ini, mereka menjadi marah.

Pemimpin pemburu itu lalu maju dan membentak.

"Gadis kurang ajar! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Biar aku bikin kau terpelanting dari kudamu, baru kau tahu rasa!"

Sambil berkata demikian, ia majukan kudanya dan cepat memutar balik tombaknya dan menggunakan gagang tombak untuk mendorong Lee Ing jatuh dari kudanya!

Tentu saja kemarahan Lee Ing meluap.

Ia membiarkan gagang tombak itu meluncur sampai dekat, dan tiba-tiba ia miringkan tubuh di atas kudanya dan cepat menangkap gagang tombak itu lalu menyendalnya keras-keras!

Pemburu itu adalah seorang yang hanya mengandalkan tenaga besar saja.

Kini ia mempergunakan tenaga dan karena dorongannya mengenai tempat kosong dan kemudian ditarik dengan tiba-tiba dan keras oleh Lee Ing, tidak ampun lagi ia terbawa oleh tarikan itu dan tubuhnya melayang dari atas kuda!

Lee Ing mentertawakan.

"Pemburu kasar! Kaulihat siapakah yang terpelanting dari kuda?"

Empat orang pemburu lainnya menjadi marah sekali dan dengan tombak terangkat mereka menghampiri Lee Ing, seakan-akan mereka sedang menyerang seekor harimau betina.

Akan tetapi, dengan tenang Lee Ing mencabut pedangnya dan menanti serangan mereka, sementara Lo Sin hanya memandang saja dengan siap sedia membantu Lee Ing apabila gadis berada dalam bahaya.

Melihat gerakan empat orang itu, Lo Sin tidak mengkhawatirkan keadaan Lee Ing.

Tiba-tiba sambil berseru keras, empat orang itu majukan kuda dan berbareng menusuk dengan tombaknya, hendak menyate tubuh Lee Ing dengan empat batang tombak mereka!

Lee Ing berseru keras dan menggerakkan pedangnya yang diputar sedemikian rupa hingga dengan mengeluarkan suara keras, tahu-tahu keempat tombak itu telah terpotong kepalanya.

Dan selagi keempat orang pemburu itu merasa terkejut sekali, tahu-tahu mereka merasa tubuh mereka diangkat dari kuda dan dibanting ke atas tanah.

Ternyata bahwa yang melakukan hal ini adalah Lo Sin dan sambil menarik tubuh pemburu-pemburu itu dan membantingnya ke atas tanah ia berseru.

"Orang-orang kasar berhati kejam!"

Tentu saja hal ini membuat semua pemburu itu merasa terkejut dan ketakutan.

Mereka maklum bahwa mereka sedang menghadapi dua orang pandai, maka segera mereka berlutut minta ampun, bahkan kepala pemburu yang menyangka bahwa Lo Sin dan Lee Ing adalah perampok-perampok besar, lalu berkata.

"Tai-ong, mohon jiwi ampunkan jiwa kami yang tidak berharga!"

Melihat sikap mereka yang kini ketakutan itu, Lo Sin tersenyum dengan hati merasa geli. Ia lalu berkata.

"Kalian bangkitlah! Kami bukan perampok-perampok seperti yang kalian kira, juga bukan maling kuda. Lain kali, hendaknya kalian bisa berlaku lebih sabar dan sebelum kalian bertindak dengan kekerasan, selidikilah dulu duduknya persoalan! Kami sama sekali tidak mencuri kuda hitam ini. Malam tadi ketika kami berada di padang rumput, tiba-tiba kuda ini datang dari arah hutan cemara ini. Oleh karena inilah maka kami berdua sengaja hendak memasuki hutan untuk mencari pemilik kuda hitam. Tidak tahunya kalian datang-datang memaki dan menyerang."

Mendengar ini, tidak saja mereka merasa menyesal dan minta maaf, akan tetapi mereka juga terkejut sekali.

"Taihiap tadi bilang bahwa kuda ini datang dari hutan cemara?"

Sambil berkata demikian, pemimpin pemburu itu memandang ke arah hutan cemara dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Kalau tidak salah, karena kuda ini memang lari dari jurusan ini."

"Celaka, jangan-jangan Bu-ko menjadi korban Hek-koai-coa!"

Mendengar ucapan ini, kawan-kawannya juga menjadi pucat dan sikap mereka ketakutan.

"Siapakah Hek-koai-coa ini?"

Tanya Lee Ing.

"Agaknya kalian takut sekali kepadanya. Apakah ia seorang penjahat besar?"

"Bukan, lihiap, Hek-koai-coa bukan nama julukan orang, akan tetapi benar-benar seekor siluman ular hitam yang dahsyat!"

Terkejutlah Lee Ing dan Lo Sin mendengar keterangan ini.

"Di mana adanya ular itu?"

Tanya Lo Sin.

"Di dalam hutan inilah!"

Jawab kepala pemburu.

"Hayo kalian antar kami ke tempat ular jahat itu!"

Karena maklum bahwa Lo Sin dan Lee Ing memiliki kepandaian tinggi, maka dengan girang para pemburu itu lalu mengantar kedua orang muda itu memasuki hutan cemara.

Di sepanjang jalan kepala pemburu itu menuturkan tentang ular yang ditakutinya itu.

Menurut penuturannya, ular itu adalah seekor ular bersisik hitam yang besar dan yang telah banyak makan orang, hingga tidak saja merupakan gangguan bagi para pemburu bahkan ular itu apabila telah lama tidak makan orang, berani menyerang kampung-kampung yang berdekatan dengan hutan!

Telah berulang kali para pemburu dan orang-orang kampung berusaha mengusir atau membunuhnya, akan tetapi, usaha ini bukannya berhasil, malahan setiap kali mereka menyerbu, selalu jatuh korban di pihak mereka!

"Ular itu benar-benar jahat dan lihai,"

Katanya kepada Lo Sin dan Lee Ing.

"sisiknya demikian keras hingga ia tidak dapat dilukai dengan senjata tajam!"

Masih banyak lagi kata-kata yang menyeramkan diucapkan oleh pemimpin pemburu itu.

Untung saja bahwa Lee Ing dan Lo Sin memang memiliki hati yang luar biasa tabahnya, hingga kalau tidak, tentu sebelum bertemu dengan ular itu, mereka telah merasa takut dan ngeri!

Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara "Kaaak......

kaaak......

kaaak""!"

Suara ini nyaring sekali hingga bergema di seluruh hutan.

"Nah, itu dia!"

Bisik kepala pemburu dengan wajah pucat dan ketika Lee Ing memandang kepada mereka yang telah menahan kuda, ternyata bahwa ke lima orang pemburu yang tinggi besar itu telah menggigil seluruh tubuhnya!

Lo Sin dan Lee Ing lalu majukan kuda masing-masing dan menghampiri arah suara yang keras dan yang bunyinya seperti suara burung gagak itu.

Ketika mereka tiba di tikungan sebelah depan, maka terlihatlah oleh mereka Hek-koai-coa yang diceritakan oleh pemburu-pemburu tadi.

Ular itu memang besar sekali dan panjangnya tidak kurang dari empat tombak.

Kulitnya bersisik hitam dan mengkilat karena cahaya mata hari.

Pada saat itu, ular hitam yang besar itu sedang berjemur di atas cabang pohon cemara yang tinggi.

Tubuhnya membelit cabang itu dan kepalanya tergantung ke bawah, bergerak-gerak ke kanan kiri sambil mengeluarkan bunyi berkakak itu.

Setelah melihat ular itu, Lo Sin dan Lee Ing tahu bahwa ular itu adalah ular biasa, hanya memang besar sekali dan nampaknya liar dan ganas.

Ketika binatang itu melihat dua orang muda menghampiri tempatnya, kepalanya berhenti bergerak dan ia memandang kepada mereka tanpa bergerak dan dari mulutnya keluar lagi teriakan-teriakan dahsyat itu.

Kuda hitam yang ditunggangi Lo Sin meronta-ronta dan hendak kabur, akan tetapi Lo Sin cepat melompat turun dan menambatkan kuda itu erat-erat pada sebatang pohon cemara.

Pek-liong-ma meringkik-ringkik marah, akan tetapi kuda yang telah dilatih menghadapi segala macam bahaya ini tidak nampak takut bahkan marah sekali seakan-akan hendak melawan suara jahat yang datang dari atas pohon itu.

Lee Ing merasa agak ngeri melihat ular yang besar dan panjang itu, akan tetapi hatinya juga gembira menghadapi pertempuran ini.

Gadis ini dengan sikap garang lalu melompat turun dari atas kudanya pula dan sambil berdiri di dekat Lo Sin, ia mencabut pedangnya dan berteriak ke atas.

"He, siluman ular hitam! Lekaslah kau turun untuk menerima kematian!"

Ular itu berada di tempat yang tinggi sekali dan melihat sikap kedua orang yang agaknya tidak takut sama sekali kepadanya itu, ia menjadi ragu-ragu dan tetap diam tanpa bergerak sambil memandang dengan sepasang matanya yang merah.

Hanya lidahnya yang runcing dan merah itu saja yang bergerak keluar masuk dari mulutnya.

Pek-liong-ma berlari ke dekat kuda hitam dan kuda ini tetap meringkik-ringkik sambil mencakar-cakar tanah dengan kedua kaki depannya.

Lo Sin tetap tenang saja dan ia tersenyum melihat lagak Lee Ing, karena ia maklum bahwa betapapun juga, gadis ini merasa ngeri dan jijik.

Ketika melihat betapa ular itu diam saja tidak bergerak, Lee Ing menjadi marah.

Ia memungut sebuah batu kerikil dan dilemparkannya batu itu ke arah kepala ular yang menggantung ke bawah.

Lemparannya tepat sekali, akan tetapi tiba-tiba kepala ular itu mengelak ke samping hingga batu yang hendak membentur kepalanya itu mengenai tempat kosong.

Kemudian ia mendesis dan dari mulutnya keluar uap hitam.

"Awas, Lee Ing, ular itu beracun dan lihai juga! Ia mulai marah!"

Kata Lo Sin.

"Aku tidak takut padanya!"

Jawab Lee Ing, biarpun ia merasa betapa bulu tengkuknya berdiri.

Ia mengambil sebuah batu kecil lagi dan melontarkan sepenuh tenaga ke arah kepala ular itu.

Kali ini ular itu tidak mengelak, bahkan ia lalu membuka mulutnya yang lebar dan cepat sekali ia menggigit batu itu yang terus ditelannya.

Melihat hal ini, bukan main terkejutnya Lee Ing dan baru ia percaya bahwa ular itu memang lihai.

Sementara itu, binatang yang merasa betapa dirinya diganggu itu, menjadi marah juga dan mulai turun dari cabang pohon itu.

Turunnya aneh sekali bukannya merayap melalui batang pohon seperti ular lain, akan tetapi ia menggantung diri makin ke bawah hingga kepalanya mencapai cabang pohon yang lebih rendah.

Kemudian ia menggigit cabang itu dan melepaskan tubuhnya yang masih melingkar di atas dan demikianlah, cabang demi cabang ia turuni dengan cepat sekali hingga akhirnya ia tiba di atas tanah dengan mengeluarkan suara berdebuk keras dan tanah mengebulkan debu, menandakan bahwa tubuhnya itu berat sekali.

Setelah ular itu tiba di atas tanah di depan mereka, barulah tampak nyata bahwa ia memang besar dan panjang sekali.

Melihat ini, Lee Ing lalu melompat ke belakang tubuh Lo Sin.

Lo Sin yang maklum bahwa ular ini berbahaya sekali, lalu mencabut pedangnya dan berdiri dengan tenang akan tetapi waspada.

Tiba-tiba ular itu mendesis lagi dan uap hitam menyambar ke arah Lo Sin.

Pemuda ini cepat melompat jauh ke samping sambil membetot tangan Lee Ing.

(Lanjut ke

Jilid 13) Si Walet Hitam/Ouw Yan Cu (Seri ke 03 Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Ing-moi, biarkan aku yang menghadapi ular siluman ini. Menyingkirlah!"

Lee Ing memang sudah merasa ngeri, maka ia lalu menurut dan berlari ke bawah sekelompok pohon siong yang besar di sebelah kanan.

Lo Sin lalu menghadapi ular itu dengan pedang Kim-hong-kiam di tangan.

Ular itu mendesis-desis lagi lalu tiba-tiba kepalanya meluncur ke depan dengan mulut terbuka lebar, menyerang ke arah leher Lo Sin!

Pemuda ini mengelak ke samping lalu mengirim bacokan dengan pedangnya, tepat di leher ular itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedangnya itu meleset seakan-akan membacok sesuatu yang amat licin dan keras!

Ia terkejut sekali dan cepat menyingkir.

Akan tetapi, ular itu memang liar dan ganas, ketika merasa betapa lehernya diserang, ia sengaja tidak mau berkelit akan tetapi membarengi dengan sabetan ekornya!

Sabetan ini bukan main kerasnya, dan agaknya akan celakalah Lo Sin kalau kena tersabet!

Namun pemuda ini lebih gesit lagi.

Dengan mudah ia melompat tinggi dan dari atas ia melihat betapa leher ular yang dibacoknya tadi mengeluarkan lendir yang berminyak hingga tentu saja kulit yang keras itu menjadi licin!

Ketika ular itu menyerang, Lo Sin hanya bergerak ke sana ke mari menghindarkan diri dari terkaman mulut ular dan dari semburan hawa beracun.

Ia memandang dengan penuh perhatian dan akhirnya melihat betapa sisik ular itu bertumpuk-tumpuk ke belakang hingga kalau diserang dengan sabetan biasa takkan dapat terluka.

Ia lalu menyerang lagi dan kini ia meneruskan pedangnya dari arah belakang dan benar saja, serangannya berhasil baik!

Ujung pedangnya ambles ke bawah sisik dan melukai kulit ular itu.

Ular hitam menjadi marah sekali dan kesakitan, tubuhnya lalu melingkar dan cepat sekali kepala dan ekornya menyerang dari dua jurusan!

Lo Sin berlaku waspada.

Ia melompat ke atas menghindarkan dua serangan itu dan ketika ular itu meluncurkan kepalanya ke atas untuk menggigit kakinya, pemuda ini berjumpalitan di tengah udara dan menusukkan pedangnya pada mulut ular yang ternganga itu!

Pedang Kim-hong-kiam amblas sampai di leher ular itu dan menembus leher!

Uap hitam yang berbau amis sekali menyambar, akan tetapi Lo Sin dengan cepat telah menarik kembali pedangnya dan melompat jauh hingga terhindar dari semburan hawa berbisa.

Ular itu berkelojotan dan menggeliat-geliat menyemburkan uap bisa hingga tanah di sekitarnya penuh dengan bisa hitam yang amat berbahaya.

Makin lama gerakannya makin lemah dan untuk mengakhiri penderitaan binatang itu, Lo Sin melompat lagi dari belakang ular itu dan menggerakkan pedangnya ke arah leher binatang itu.

Kini sekali menabas saja putuslah leher ular itu!

Melihat bahwa ular itu telah binasa.

Lo Sin lalu menggosok-gosokkan pedangnya pada kulit ular untuk menghilangkan bekas darah yang mungkin berbisa, kemudian ia melompat untuk menghampiri Lee Ing yang masih berdiri di bawah pohon siong dengan pedang di tangan, siap menghadapi kalau-kalau ada kawan-kawan ular itu datang!

Hatinya tadi ngeri dan cemas sekali melihat betapa ular itu benar-benar lihai dan ia takut kalau-kalau kekasihnya akan terkena bisa ular.

Akan tetapi pada saat Lo Sin berlari menghampiri Lee Ing dari atas pohon tiba-tiba melayang turun bayangan hitam dan gerakan yang amat cepat dan gesit ini membuat Lo Sin tercengang juga.

Ternyata bahwa yang berdiri di hadapannya adalah seorang yang kurus kering dan pendek hingga tubuhnya kelihatan kecil dan kate.

Laki-laki ini usianya sebaya dengan ayah Lo Sin, dan rambutnya masih hitam.

Jenggotnya tebal dan panjang, sedangkan rambutnya diikatkan ke atas dengan sebuah selampai putih, ikat pinggangnya juga putih.

Akan tetapi seluruh pakaiannya berwarna hitam, hingga sama benar dengan warna pakaian Lo Sin.

Selagi Lo Sin memandang heran, dan juga Lee Ing yang berada agak jauh dari situ memandang heran pula, tiba-tiba laki-laki setengah tua itu mengangkat kedua tangan dan menjura sambil berkata.

"Benar-benar gagah perkasa si Walet Hitam!"

Lo Sin terkejut sekali ketika merasa bahwa dari kedua kepalan tangan yang diangkat menghormatnya itu menyambar angin yang kuat dan dingin, memukul ke arah mukanya!

Dengan heran dan terkejut Lo Sin mengangkat tangan kiri ke depan dan melangkahkan kaki kiri ke belakang.

Gerakan tangan kirinya dapat menangkis angin pukulan yang lihai itu.

Ia lalu memasukkan kembali pedang yang masih dipegangnya ke dalam sarung pedang, lalu ia bertanya kepada laki-laki kecil yang datang-datang menyerangnya dengan pukulan gelap dan keji itu.

"Sahabat siapa dan datang dari manakah maka memberi penghormatan demikian besarnya kepada siauwte yang muda?"

Sementara itu, Lee Ing yang juga sudah menyimpan pedangnya, lalu melompat menghampiri dan berdiri di dekat Lo Sin, memandang kepada laki-laki kecil yang aneh ini.

Ia tidak tahu bahwa tadi Lo Sin telah mendapat serangan gelap dari kedua kepalan laki-laki ini.

Laki-laki itu tertawa bergelak dan suara ketawanya berbeda benar dengan tubuhnya yang kecil.

Siapakah laki-laki yang aneh ini?

Laki-laki ini adalah seorang begal tunggal yang amat terkenal di sepanjang Sungai Huang-ho sebelah barat, oleh karena ilmu silatnya yang tinggi dan lihai.

Sebenarnya laki-laki ini masih terhitung adik seperguruan Bong Cu Sianjin sendiri oleh karena dia ini adalah murid tunggal dari Kheng To Siansu.

Sedangkan Kheng To Siansu adalah adik seperguruan dari guru Bong Cu dan Lan Bwee Niang-niang, yang bernama Kheng Kong Siansu.

Semenjak mudanya, Kheng To Sianjin merantau ke dunia barat dan lama sekali tinggal di India.

Setelah kembali ke daratan Tiongkok dan merantau di Go-bi-san, ia lalu mengambil seorang murid yang bertubuh kecil ini dan yang bernama Khu Mo In.

Setelah suhunya meninggal dunia, Khu Mo In lalu menjadi seorang berandal dan merajalela di sepanjang Sungai Huang-ho sebelah barat hingga ia dijuluki orang Hek-siauw-mo atau Setan Kecil Hitam karena selain tubuhnya kecil dan pendek, iapun paling suka mengenakan pakaian hitam!

Karena sudah lama ingin sekali bertemu dengan saudara-saudara seperguruan, maka pada suatu hari Hek-siauw-mo Khu Mo In merantau ke timur dan hendak mencari Lan Bwee Niang-niang dan Bong Cu Sianjin di puncak Hoa-mo-san, tetapi di jalan ia bertemu dengan Bong Cu Sianjin yang telah buntung kedua tangannya dan yang kebetulan sekali memang sedang mencari kawan-kawan untuk menghadapi Ang Lian Lihiap pada bulan ketiga nanti.

Pertemuan ini menggirangkan hati kedua pihak dan ketika mendengar bahwa Bong Cu Sianjin telah menjadi buntung dalam pertempuran melawan Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya.

Khu Mo In lalu menjadi marah dan ingin membalas dendam.

Bong Cu Sianjin maklum akan kelihaian sutenya ini, maka ia sengaja mengobrol dan membikin panas hati adik seperguruan ini yang berjanji hendak membantu pada bulan ketiga nanti di puncak Hoa-mo-san!

Bong Cu Sianjin juga menceritakan tentang kelihaian putera Ang Lian Lihiap dan menceritakan bagaimana macam dan pakaian pemuda itu.

Karena masih ada dua bulan lagi sampai tiba waktu perjanjian pertempuran di Hoa-mo-san, maka Khu Mo In lalu melanjutkan perantauannya dan menunda kepergiannya ke Hoa-mo-san sampai bulan ketiga.

Ia lalu merantau dan menikmati pemandangan alam di timur yang jauh bedanya dengan di bagian barat ini.

Akhirnya pada hari itu, kebetulan sekali ia melihat pertempuran antara Lo Sin dan seekor ular hitam yang ganas.

Ia lalu melompat ke atas pohon dan diam-diam menonton pertempuran itu.

Ketika memperhatikan pakaian dan bentuk badan Lo Sin, teringatlah ia akan cerita Bong Cu Sianjin tentang putera Ang Lian Lihiap yang berjuluk Ouw-yan-cu, maka ketika Lo Sin sudah berhasil membinasakan ular hitam itu, ia sengaja mencegat pemuda ini dan menyerangnya dengan kepalan yang diangkat sebagai pemberian hormat.

Khu Mo In terkejut dan kagum juga melihat betapa dengan tangan kirinya pemuda itu dapat menolak serangannya.

Kini mendengar Lo Sin dengan hormat bertanya tentang namanya, ia tertawa bergelak hingga mengejutkan Lee Ing yang segera menghampiri Lo Sin.

"Kau ingin tahu namaku? Nanti dulu sobat, bukankah kau ini yang berjuluk Ouw-yan-cu si Walet Hitam? Dan siapa pulakah gadis gagah ini?"

Lo Sin merasa mendongkol juga melihat sikap yang amat sombong dan memandang rendah ini.

Akan tetapi karena maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang berkepandaian tinggi, maka ia menjawab juga sambil menekan kemarahannya.

"Memang benar. Siauwte bernama Lo Sin dan dijuluki orang Ouw-yan-cu, sedangkan nona ini adalah Nyo-siocia."

Khu Mo In sudah mendengar dari Bong Cu Sianjin bahwa diantara musuh-musuhnya terdapat pula Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas, maka kini mendengar bahwa nona ini she Nyo, ia lalu bertanya lagi.

"Apa bukan puteri Garuda Kuku Emas Nyo Tiang Pek?"

Kembali Lo Sin dan Lee Ing memandang heran.

Bagaimana orang yang sama sekali tak mereka kenal ini dapat menduga tepat dan mengetahui nama mereka dan nama Nyo Tiang Pek?

"Sahabat, kau ternyata bermata awas.

Dugaanmu memang betul, karena nona ini adalah puteri Nyo Tiang Pek."

"Dan kau tentu putera Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong?"

Tanya Khu Mo In lagi.

"Sekali lagi benar,"

Jawab Lo Sin.

"Dan siapakah kau yang agaknya mengenal baik orang tua kami itu?"

"Ha, ha, ha! Apa gunanya kalian ketahui? Kuberitahukan juga kalian takkan mengenalku, jangankan kalian, bahkan orang-orang tuamu pun takkan mengenalku, karena aku datang dari tempat jauh! Dengarlah, aku bernama Khu Mo In dan di barat orang mengenalku dengan nama poyokan Hek-siauw-mo!"

Tiba-tiba Lee Ing tertawa geli mendengar ini hingga Lo Sin dan Khu Mo In ini memandangnya dengan heran.

"Mengapa kau tertawa?"

Tanya Khu Mo In penasaran.

"Karena lucu!"

Jawab Lee Ing sambil menahan suara ketawanya.

"Apanya yang lucu?"

"Nama julukanmu itu! Hek-siauw-mo atau Setan Kecil Hitam, sungguh cocok sekali dengan orangnya!"

Khu Mo In menjadi marah sekali.

"Nona kecil, jangan kau main-main, biarpun namaku kecil, akan tetapi telah tak terhitung banyaknya orang gagah yang bernama besar kujatuhkan dengan kedua lenganku ini!"

Mendengar orang itu menyebut kedua lengannya, maka Lo Sin teringat lagi akan serangan orang itu tadi.

"Hek-siauw-mo, mengapa kau tadi datang-datang menyerang dengan pukulan gelap?"

Tanyanya.

"Aku mendengar dari Bong Cu suheng bahwa dua bulan lagi akan diadakan pibu di atas Hoa-mo-san. Kabarnya kau juga akan datang ke sana, maka sebelum pibu itu diadakan, ingin sekali aku melihat sampai di mana kelihaian calon lawan-lawanku. Kalau kepandaiannya masih rendah, untuk apa aku harus bersusah payah naik ke Hoa-mo-san? Melelahkan dan menjemukan saja!"

Lo Sin maklum bahwa orang ini biarpun agaknya berkepandaian tinggi namun mempunyai watak yang sombong sekali dan memandang rendah orang lain, maka diam-diam ia merasa mendongkol sekali.

"Hek-siauw-mo, kalau kau hendak membantu Bong Cu Sianjin, lebih baik kau pulang dulu dan belajar lagi barang sepuluh tahun, agar kau tidak akan mendapat kekecewaan dan malu besar di puncak Hoa-mo-san."

Lo Sin sengaja mengeluarkan ucapan yang merendahkan ini untuk memanaskan hati Setan Hitam itu.

Benar saja, walaupun mulut Khu Mo In masih tersenyum, namun kulit mukanya berubah merah dan sepasang matanya berkilat.

"Ha, ha, Walet Hitam, baru saja dapat mengalahkan seekor ular yang tidak ada artinya, kau sudah berani berlaku sombong di depanku?"

Sambil berkata demikian Khu Mo In melangkah maju dan mengirim pukulan dengan tangan kirinya.

Lo Sin telah bersiap-sedia, maka ia lalu miringkan tubuh dan menggunakan tangan kanan untuk menyampok pergi pukulan itu.

Ketika tangannya bertemu dengan lengan tangan Khu Mo In, maka maklumlah Lo Sin bahwa lawannya adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki ilmu lweekang yang tangguh sekali, maka diam-diam ia menjadi terkejut dan bergerak dengan hati-hati sekali.

Khu Mo In tertawa menghina dan menyerang lagi lebih cepat.

Angin pukulannya menyambar-nyambar hingga Lee Ing yang berada di situ menjadi terkejut dan cepat menyingkir agak jauh.

Lo Sin maklum bahwa dalam hal lweekang, mungkin lawan ini lebih tangguh darinya, maka ia tidak mau mencoba-coba, karena menghadapi seorang lawan yang mempunyai tenaga lweekang yang seimbang atau bahkan lebih tangguh, adalah berbahaya sekali untuk mengandalkan tenaga itu untuk mengadu jiwa.

Ia lalu mempergunakan kegesitannya yang berdasarkan ginkang yang tinggi, dalam hal ginkang atau ilmu meringankan tubuh, ternyata ia masih menang setingkat.

Tubuh Lo Sin berkelebat pergi datang hingga merupakan burung walet hitam yang menyambar-nyambar dari segala jurusan.

Ia tidak berlaku sungkan lagi dan membalas setiap serangan Khu Mo In dengan gerak tipu yang hebat.

Kini terkejutlah Khu Mo In.

Ketika untuk pertama kalinya Lo Sin menangkis, ia tahu bahwa dalam hal tenaga, ia tak usah merasa kalah, maka ia masih memandang rendah sekali dan bertempur sambil tertawa mengejek.

Akan tetapi setelah Lo Sin mengeluarkan ginkangnya yang luar biasa, benar-benar Khu Mo In menjadi heran dan kagum.

Belum pernah ia bertemu dengan seorang lawan yang memiliki ginkang yang demikian sempurna.

Di daerah barat selama ia menjelajah dan malang-melintang di daerah Sungai Hoang-ho, belum pernah ia dikalahkan dalam hal ginkang.

Tak pernah disangkanya bahwa di daerah timur ia akan bertemu dengan seorang lawan muda yang berhasil membuat ia menjadi bingung karena cepatnya gerakannya.

Ia lalu mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang diandalkan, yakni ilmu gerakan Gajah Putih Mengamuk semacam ilmu silat Tionghoa yang telah dikombinasikan dengan ilmu gumul dari India.

Ia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang dengan tenaga lweekang sepenuhnya hingga kedua tangan itu dapat diumpamakan dua buah gading yang amat kuat dan tajam, sedangkan tiap kali ia memukul, selalu pukulan itu diakhiri dengan cengkeraman tangan yang seolah-olah merupakan belalai gajah dan celakalah lawan yang dapat tertangkap oleh tangan yang kuat ini.

Serangan-serangan berbahaya ini masih ditambah lagi dengan tendangan kedua kaki yang tidak kalah berbahayanya dan lihainya daripada kedua tangannya.

Benar-benar ilmu silat ini merupakan serangan yang amat berbahaya karena datangnya serangan bertubi-tubi yang kesemuanya disertai tenaga raksasa hingga tak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas menyerang.

Selama ia mengembara di barat, apabila ia menghadapi lawan tangguh dan mengeluarkan ilmu silat ini, belum pernah ada lawan yang kuat menghadapinya lebih lama daripada duapuluh jurus.

Baca Juga: Suling Emas 14

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert