Eps 4 Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Sepasang Naga - Kho Ping Hoo.
"Bukankah kau seorang gagah yang memiliki kepandaian tinggi? Mengapa harus berlari-lari terhadap mereka? Mengapa tak kau lawan dengan pedangmu?"
Kata-kata ini jelas sekali menyatakan bahwa ia enggan untuk membantu, tapi Gak Bin Tong berkata dengan suara memohon.
"Kwie Lihiap, mereka lihai sekali, bukan lawanku!"
Giok Ciu memandang Sin Wan dan berkata perlahan.
"Koko, kurasa tak baik kita ikut campur urusan ini. Bukan urusan kita dan tidak ada sangkut pautnya dengan kita."
"Bukan demikian, moi-moi. Biarpun andaikata kita tidak membantu saudara Gak, sudah sepatutnya kita halau pergi pahlawan-pahlawan Kaisar itu. Mereka bukanlah manusia-manusia baik dan perlu diusir. Pula, saudara Gak pernah melepas budi kepada kita, masakan sekarang kita tidak mau menolongnya? Jangankan dia sendiri, bahkan siapa saja yang dikejar-kejar pengawal kraton dan hendak dibunuhnya, harus kita tolong bukan?"
Alasan-alasan yang dimajukan Sin Wan ini kuat sekali hingga Giok Ciu tak dapat membantah lagi sementara itu, pengejar-pengejar Gak Bin Tong telah tiba di situ dan ternyata mereka terdiri dari tujuh orang pahlawan-pahlawan kelas satu.
Di antara mereka terdapat orang-orang yang pernah mengeroyok sin Wan dan Giok Ciu, maka begitu melihat kedua orang muda itu, mereka berteriak.
"Betul saja, binatang she Gak itu telah bersekutu dengan orang pemberontak ini. Hayo tangkap ketiga-tiganya!"
Mereka itu menjadi tabah karena di antara mereka terdapat jagoan-jagoan yang berilmu tinggi, maka segera mereka mengurung dan menyerbu dengan senjata di tangan.
Gak Bin Tong menangkis serangan seorang pengawal dengan pedangnya dan Sin Wan bersama Giok Ciu memutar sepasang pokiam mereka melayani pengeroyok yang lain.
Sin Wan dan Giok Ciu pada saat itu bukanlah Sin Wan dan Giok Ciu pada waktu setahun yang lalu.
Kepandaian mereka telah maju pesat dan didorong oleh tenaga batin dan lweekang mereka yang tinggi, otomatis ilmu pedang mereka juga maju hebat.
Dulu ketika ilmu pedang mereka belum matang saja sudah sukar sekali dilawan, maka kini setelah kepandaian mereka matang dan mendekati kesempurnaan, tak dapat ditaksir kelihaiannya.
Para pengeroyok itu hanya melihat sinar panjang hitam dan putih berputar-putar mengelilingi mereka dan mendengar sambaran pedang itu tapi hampir tak dapat mengikuti gerakan kedua anak muda yang menyambar-nyambar bagaikan sepasang naga sakti.
Baru beberapa gebrakan saja terdengar jeritan-jeritan mengaduh dari para pengeroyok yang kena pukul atau tendang.
Masih untung bagi mereka bahwa Sin Wan dan Giok Ciu tidak mau menewaskan jiwa orang, maka mereka hanya kena pukulan yang biarpun cukup hebat hingga membuat mereka tak berdaya, namun tak sampai membahayakan keselamatan jiwa mereka.
Setelah masing-masing menjatuhkan dua orang, Sin Wan membentak.
"Hayo pergilah kalian kalau sayang jiwa!"
Para pengeroyok yang belum terluka mendengar bentakan ini segera menarik kembali senjata mereka dan sambil membantu kawan-kawan yang terluka, mereka meninggalkan lereng itu dengan jalan terpincang-pincang, Gak Bin Tong menjura kepada dua orang anak muda itu.
"Terima Kasih banyak atas pertolongan jiwi. Kalau tidak tertolong oleh kalian, tentu Gak Bin Tong hari ini tinggal namanya saja. Sungguh merasa kagum sekali melihat kehebatan kalian, baru beberapa bulan saja berpisah. Sungguh membuat aku takluk dan tunduk"
Sambil tiada habisnya memuji-muji, pemuda muka putih itu menjura dengan hormatnya. Terpaksa Sin Wan balas menjura, sedangkan Giok Ciu memalingkan muka tak mengacuhkannya.
"Sudahlah, saudara Gak. Sebetulnya, mengapakah kau dikejar-kejar oleh mereka itu?"
Tanya Sin Wan. Gak Bin Tong menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Kau tahu sendiri, saudara Sin Wan, bahwa biarpun aku tinggal di kota raja dan menjadi keluarga pembesar, namun aku berbeda dengan mereka. Aku bukanlah seorang pengawal, dan aku tidak mencampuri urusan mereka. Karena itulah maka mereka itu diam-diam membenciku. Kemudian datanglah hari celaka bagiku, ketika ada seorang membuka rahasiaku dan mengatakan bahwa dulu aku pernah menolong kalian!"
Terkejutlah Sin Wan mendengar ini.
"Heran sekali, siapa yang dapat mengetahui hal itu?"
"Siapa lagi kalau bukan... Suma Siocia!"
Mendengar nama ini disebut-sebut sepasang mata Giok Ciu memancarkan sinar ketika ia memandang kepada pemuda muka putih itu.
"Jangan kau sebut-sebut nama orang itu disini!"
Bentaknya dengan tiba-tiba dan marah hingga tidak hanya Gak Bin Tong, tapi juga Sin Wan juga merasa terkejut dan heran.
Tapi gadis itu tanpa perdulikan mereka, lalu memutar tubuhnya dan pergi dari situ.
"Saudara Gak, sekarang keadaan sudah aman dan kau boleh pergi tanpa kuatir lagi,"
Kata Sin Wan yang sebenarnya bermaksud mengusir dengan halus, karena sesungguhnya, iapun tidak suka kepada pemuda ini. Gak Bin Tong memandangnya dengan wajah kaget.
"Pergi? Kemana, saudara Bun? Lindungilah aku dan tolonglah untuk dua atau tiga hari lagi. Aku tahu bahwa mereka itu masih penasaran dan mereka tidak mengejarku hanya karena ada kau dan Kwie Lihiap di sini. Mereka tentu menanti di kaki bukit dan kalau melihat aku turun seorang diri, celakalah aku!"
"Habis, apa yang kau kehendaki, saudara Gak?"
"Ijinkanlah aku tinggal di tempatmu barang tiga hari. Biarlah, aku akan tidur di atas tanah saja, asal dekat dengan engkau hingga anjing-anjing itu takkan dapat menggangguku."
Sin Wan ragu-ragu.
"Tapi Suhu telah pesan bahwa orang luar tidak boleh memasuki dan tinggal di puncak dimana kami bertiga tinggal,"
Katanya.
"Suhumu?"
Mata pemuda muka putih itu berseri-seri.
"Biarkan aku memohon padanya, biarlah kalau beliau marah, aku yang bertanggung jawab dan sedia dihukum."
Setelah didesak-desak dengan alasan bahwa kalau dipaksa turun tentu akan mati terbunuh oleh pahlawan-pahlawan Kaisar, akhirnya Sin Wan dengan apa boleh buat mengabulkan permintaan Gak Bin Tong dan membawa pemuda itu kepada Suhunya.
Bu Beng Lojin sedang duduk seorang diri di atas sebuah batu ketika Sin Wan menghadap diikuti oleh Gak Bin Tong di belakangnya.
Giok Ciu tidak tampak di situ.
Sin Wan berlutut di depan Suhunya dan Gak Bin Tong dengan hormat sekali juga berlutut.
"Suhu!"
Sin Wan memanggil karena kakek tua itu diam saja seolah-olah tidak melihat mereka. Mendengar panggilan muridnya, ia menggerakkan kepala memandang dengan matanya yang tua.
"Eh, Sin Wan, kau datang dengan siapakah?"
Gak Bin Tong buru-buru mengangguk-angguk kepala lalu berkata.
"Mohon beribu ampun, Lo-Cianpwe, teecu Gak Bin Tong datang menghadap. Karena di kejar-kejar dan hendak di bunuh oleh pengawal Kaisar, maka teecu lari ke sini dan mohon perlindungan Lo-Cianpwe yang mulia."
Bu Beng Lojin mengerutkan alisnya lalu berkata dengan suara yang berpengaruh.
"Coba kau angkat mukamu!"
Gak Bin Tong tak dapat membantah, lalu angkat mukanya dan memandang kepada kakek tua yang aneh itu.
Bu Beng Lojin ketika melihat wajah Gak Bin Tong tiba-tiba entah mengapa, menjadi berubah mukanya dan ia mengangguk-angguk dan menghela napas, panjang berulang-ulang.
Mendengar ini, sin Wan memandang gurunya dan kagetlah ia karena gurunya tampak seakan-akan bersedih sekali.
"Sin Wan, kaukah yang membawanya masuk ke tempat kita?"
"Benar, Suhu, karena tak dapat teecu biarkan saja dia terancam maut kalau turun gunung."
"Lo-Cianpwe, mohon jangan persalahkan saudara Sin Wan, sebenarnya teecu lah yang mendesaknya dan..."
"Sudahlah, sudahlah... kau, orang she Gak, kau pergilah ke rimba itu, aku ingin bicara berdua dengan Sin Wan."
Gak Bin Tong dengan takut-takut mengundurkan diri dan pergi ke rimba yang berada tak jauh dari situ, lalu duduk dibawah sebatang pohon besar sambil termenung memikirkan nasibnya.
"Sin Wan, kau panggil Giok Ciu ke sini,"
Kata Bu Beng Lojin. Sin Wan lalu berdiri dan setelah menahan napas, ia segera memanggil.
"Giok Ciu"!"
Suaranya ini tidak keras, tapi nyaring sekali.
Anehnya, biarpun ia memanggil tidak keras, suaranya seakan-akan memenuhi dan menjalar-jalar di seluruh pucak, hingga terdengar sampai dimana-mana, bahkan Gak Bin Tong yang duduk jauh di dalam rimba itu juga mendengarnya!
Sin Wan lalu berlutut kembali dan tak lama kemudian, benar saja, sesosok bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu Giok Ciu telah berada disitu dan berlutut di depan Suhunya.
"Sin Wan dan Giok Ciu, kini sudah tiba saatnya bahwa aku harus berpisah dengan kalian. Kalau ada jodoh, sepuluh tahun kemudian kita bertiga dapat bertemu pula di puncak ini. Sekarang kepandaian kalian sudah cukup tinggi hingga aku tidak usah merasa ragu-ragu melepaskan kalian. Asal kalian mempergunakan kepandaian itu dengan benar, maka agaknya di dunia ini hanya ada beberapa orang saja yang dapat menandingi kalian. Murid-muridku, harapanku tak lain mudah-mudahan segala petuahku selama kalian berada di sini takkan kalian lupakan. Pula, pesanku terakhir ini supaya diingat benar-benar, yakni sekali lagi kutegaskan. Pedang pusaka Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam tak boleh dimiliki oleh sepasang suami isteri, maka jika kalian melangsungkan perjodohan, kedua pusaka itu harus disimpan kembali ke dalam gua naga. Ingatlah benar-benar ini, karena kalau tidak, kalian akan mendapat bencana besar. Nah sekarang aku mau pergi."
"Suhu, tunggu!"
Tiba-tiba Giok Ciu berseru dengan suara terharu. Entah mengapa, gadis ini merasa terharu sekali pada saat Suhunya hendak meninggalkannya.
"ada apakah, Giok Ciu?"
Tanyanya dengan suara mengandung iba.
"Suhu..."
Gadis itu menahan isaknya.
"teecu... mohon doa restu agar... Teguh iman dan kuat hati, Suhu..."
Bu Beng Lojin tersenyum. Ia menggerakkan tangannya dan menaruh telapak tangannya di atas kepala Giok Ciu, mengusap rambut muridnya lalu berkata bagaikan seorang kakek kepada cucunya.
"Giok Ciu, segala apa akan berjalan baik asalkan kau ingat selalu bahwa kebahagiaan itu letaknya di dalam diri sendiri. Alangkah mudahnya mencari kebahagiaan asal kau telah mengenal diri sendiri dan dapat melihat betapa kebahagiaan menanti-nantimu di situ. Selanjutnya... terserah kepadamu sendiri, muridku. Nah, Giok Ciu, Sin Wan, selamat berpisah!"
Baru saja habis kata-katanya ini, tubuhnya telah melayang ke bawah gunung, diikuti oleh pandang mata Sin Wan yang mengerutkan pelupuk mata dan Giok Ciu yang mengalirkan air mata.
Setelah agak lama Suhunya pergi, Sin Wa memandang Giok Ciu yang masih berdiri bengong ke arah ke mana Suhunya turun gunung tadi.
Pipi gadis itu masih basah air mata sedangkan wajahnya agak kepucat-pucatan, maka terbitlah hati yang sangat iba dan sayang dalam dada Sin Wan.
Ia dekati kekasihnya itu dan memegang kedua pundaknya dari belakang dengan mesra.
"Giok Ciu, jangan kau bersedih. Bukankah masih ada aku di sampingmu?"
Giok Ciu merasa terhibur juga, ia memalingkan muka memandang kepada Sin Wan dan wajahnya mulai berseri kembali, dan bibirnya tersenyum, seakan-akan matahari mulai terbit mengusir kabut di waktu pagi.
"Koko di manakah perginya manusia she Gak itu?"
Sin Wan tersenyum.
"Mengapa kau agaknya benci sekali padanya, moi-moi?"
"Ah, ia bukan orang baik-baik. Jika dekat dengan ia, aku merasa seakan-akan dekat dengan seekor serigala berkedok muka domba."
"Sudahlah jangan pikirkan soal dia. Dia tadi disuruh pergi ke rimba itu oleh Suhu, biarlah ia berlindung di tempat kita untuk beberapa hari lamanya. Kitapun harus menyelesaikan latihan lweekang yang terakhir, moi-moi, sesuai dengan perintah Suhu. Kurasa dalam tiga empat hari lagi aku akan berhasil. Bagaimana dengan kau, moi-moi?"
"Akupun sudah mendekati hasil baik. Api dalam tubuh terasa makin hangat dan gerakan-gerakan tenaga dalam tubuh makin besar hingga dapat kugerakkan ke seluruh bagian tubuh."
"Bagus sekali kalau begitu. Biarlah kita berlatih tiga hari lagi, kemudian kita turun gunung melakukan tugas kita. Jangan ambil peduli orang she Gak itu."
Mereka lalu pergi melatih diri, pertama-tama bersama-sama melatih ilmu silat, kemudian mereka bersamadhi di tempat masing-masing.
Seperti biasa, semenjak mendapat latihan di udara terbuka oleh Suhu mereka, masing-masing telah memilih tempat latihan sendiri, Sin Wan memilih tempat di bawah sebatang pohon liu dimana terdapat sebuah batu hitam besar yang dipakai sebagai tempat duduk bersamadhi sedangkan Giok Ciu memilih tempat di dalam hutan pohon siong yang banyak ditumbuhi kembang-kembang yang harum baunya.
Ia selalu merasa tenteram jika bersamadhi di situ, karena selain bau bunga dan rumput menyegarkan pernapasannya, juga suara burung-burung di atas pohon merupakan nyanyian indah yang tambah menyempurnakan samadhinya.
Ketika hari telah menjelang senja, Giok Ciu masih tenggelam dalam samadhinya.
Tubuhnya bersila di atas rumput, diam tak bergerak sedikitpun bagaikan patung seorang dewi.
Wajahnya yang cantik jelita tampak bercahaya dan bibirnya serta kedua pipinya berwarna kemerah-merahan.
Pada saat demikian itu ia tidak hanya tampak cantik, tapi juga agung sekali.
Tiba-tiba Giok Ciu merasa seakan-akan tersendal turun dari atas dan ia sadar kembali.
Otomatis sepasang matanya menatap ke depan dan bertemu pandanglah ia dengan sepasang mata yang telah lama sekali memandangnya dengan kagum dan terpesona.
Agaknya pandangan mata inilah yang membuat ia terganggu dari samadhinya.
Ketika gadis itu memperhatikan ternyata bahwa yang memandanginya itu adalah mata Gak Bin Tong yang duduk di depannya sambil tersenyum-senyum mengambil hati!
"Kwie Siocia, alangkah suci, agung dan cantik jelita kau!
Melihat kau bersamadhi seperti ini, aku teringat akan patung Dewi Kwan Im di See-Coan, Kwie-Siocia..."
Giok Ciu merasa tidak senang sekali dan memandang tajam.
"Sudah lamakah kau duduk di sini?"
Tanyanya dengan suara dingin.
"Sudah sejak tadi, Siocia aku mengagumi kecantikanmu, keindahan bentuk tubuhmu, keagungan yang bersinar keluar dari wajahmu..."
"Tutup mulut! Orang she Gak, kau sungguh kurang ajar sekali. Apa perlumu datang kesini menggangu samadhiku?"
Tiba-tiba Gak Bin Tong berlutut!
Ya pemuda muka putih itu berlutut di depan Giok Ciu hingga gadis itu tercengang sekali dan heran.
Ia tidak tahu harus berbuat apa dan menyangka bahwa tiba-tiba pemuda itu menjadi gila.
Memang pada saat itu Gak Bin Tong telah gila, gila asmara!
Ia berlutut di depan kaki Giok Ciu yang masih bersih sambil berkata dengan suara merayu.
"Kwie-Siocia, tidak tahukah kau... aku... aku mengagumimu, aku... ah, kau kuanggap sebagai seorang dewi yang suci murni, dewi pujaan hatiku. Siocia, aku"
Aku cinta padamu, dengan sepenuh jiwa dan hatiku."
Giok Ciu menjerit kecil dan tiba-tiba ia meloncat dan bangun berdiri. Ia marah dan malu sekali mendengar ucapan itu hingga ia merasa betapa kedua tangannya menggigil dan dadanya berdebar.
"Orang she Gak! Kau benar-benar tak tahu diri dan kurang ajar sekali! Kau... kau telah menghinaku dengan pernyatamu itu...!"
Karena marahnya, gadis itu tak dapat melanjutkan kata-katanya, bahkan dari kedua matanya mengalirlah air mata! Gak Bin Tong dengan nekad melanjutkan kata-katanya.
"Nona Giok Ciu... aku... aku cinta padamu! Aku tahu bahwa kau mempunyai hubungan yang erat dengan saudara Sin Wan, tapi... tapi tidak tahukah kau bahwa saudara Sin Wan itu telah menjadi... suami yang tidak syah dari nona Suma Li Lian?"
Terbelalak mata Giok Ciu yang bening itu mendengar kata-kata ini.
"Bangsat bermulut jahat! Kau harus dibasmi dari muka bumi ini!"
Giok Ciu mencabut Ouw Liong Pokiam dan menyerang pemuda itu yang segera meloncat dan berkelit cepat.
"Nona Giok Ciu... Percayalah padaku..."
"Bangsat keji!"
Giok Ciu makin marah dan mengirim serangan-serangan maut.
Kalau bukan Gak Bin Tong yang di serang seperti itu, tentu sukar untuk menyelamatkan diri, tapi pemuda she Gak inipun memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, maka dalam tiga empat jurus saja Giok Ciu yang sedang marah itu belum dapat merobohkannya.
Akan tetapi, segera keadaan pemuda itu berbahaya sekali karena Giok Ciu dapat mengendalikan marahnya dan menggerakkan pedangnya secara lihai sekali!
Pada saat yang sangat berbahaya, tiba-tiba Sin Wan muncul dan berseru.
"Moi-moi, tahan pedangmu!"
Tapi Giok Ciu tidak memperdulikan seruan Sin Wan, bahkan memperhebat serangannya hingga Gak Bin Tong sibuk sekali berloncatan menghindarkan diri.
"Moi-moi, segala hal bisa diurus, jangan menggunakan kekerasan."
Tapi tetap saja gadis yang sudah panas dan naik darah itu tidak mau menghentikan serangannya hingga Sin Wan terpaksa mencabut Pek Liong Pokiamnya dan menangkis sebuah tusukan Giok Ciu yang mengarah tenggorokan Gak Bin Tong yang sudah kepepet sekali keadaannya.
"Kau mau membela dia?"
Kata Giok Ciu gemas sekali dan dengan ganasnya ia mengirim serangan lagi ke arah Gak Bin Tong. Sin Wan menangkiskan lagi dan berserulah dia.
"Moi-moi, lupakah kau akan pesan Suhu? Jangan sembarangan membunuh orang!"
Lemaslah tangan Giok Ciu mendengar peringatan ini. Ia memandang kepada Sin Wan dengan gemas, kemudia ia membentak kepada Gak Bin Tong.
"Bangsat rendah, kau tidak lekas pergi?"
Gak Bin Tong menjura kepada mereka, lalu meloncat pergi sambil berkata.
"Lihatlah saja, kelak akan terbuka matamu."
Dan secepat mungkin ia lari turun gunung, diikuti pandang mata marah dari Giok Ciu dan keheranan dari Sin Wan.
"Moi-moi apakah salahnya maka kau hendak membunuhnya?"
Tanya Sin Wan.
"Dia... Dia..."
Giok Ciu hendak mengatakan bahwa pemuda muka putih itu menuduh Sin Wan menjadi suami tidak syah dari Suma Li Lian, tapi kata-kata ini ditelannya kembali, sebaliknya ia berkata.
"Dia datang dan mengganggu ketika sedang bersamadhi, bahkan ia berkata kurang ajar!"
Sin Wan menghela napas karena ia dapat menduga bahwa pemuda itu tentu lupa akan kesopanan melihat Giok Ciu duduk bersamadhi karena ia sendiripun pernah melihat betapa ayu dan agung gadis itu tampaknya jika sedang bersamadhi.
Maka ia menghela napas panjang.
"Sudahlah, moi-moi, untuk apa memperdulikan orang seperti dia? Dia sekarang sudah pergi, lebih baik kita mencurahkan perhatian kita kepada latihan-latihan kita, karena kita menghadapi urusan besar."
"Siapa memperhatikan dia?"
Jawab Giok Ciu karena sesungguhnya ia sama sekali tidak perhatikan Gak Bin Tong, tapi yang mengganggu pikirannya ialah kata-kata pemuda muka putih tadi.
Ia yakin dan pasti bahwa orang she Gak itu tentu membohong, namun masih saja ada rasa tidak enak dan tidak senang di dalam hatinya.
Selama tiga hari semenjak peristiwa itu, di tempat terpisah, Giok Ciu dan Sin Wan mengerahkan seluruh perhatian untuk berlatih hingga pelajaran latihan lweekang terakhir telah mereka lalui dengan hasil baik.
Pada hari keempatnya, Giok Ciu berdiri dari tempat siulian di bawah pohon siong itu, dan melemaskan kedua kaki dengan berjalan-jalan ke lereng puncak.
Kedua kakinya terasa agak kaku dan perutnya lapar sekali.
Ia tahu bahwa di sebuah hutan terdapat pohon-pohon buah yang lezat buahnya dan tempat ini telah merupakan "Gudang makanan"
Bagi kedua anak muda itu serta guru mereka.
ketika Giok Ciu tengah makan buah yang baru saja dipetiknya dan rasanya segar dan enak sekali, tiba-tiba ia menunda makannya karena pada saat itu ia mendengar suara wanita menangis dan memaki-maki.
Ia segera meloncat dan lari cepat menuju ke arah suara itu yang ternyata datang dari arah bawah.
Ia menuruni lereng itu dengan cepatnya dan alangkah marahnya ketika melihat betapa empat orang laki-laki menarik-narik seorang wanita muda keluar dari sebuah tandu!
Ia tidak melihat jelas wajah wanita itu, hanya tahu bahwa wanita itu menggendong seorang anak kecil yang menangis keras.
Agaknya keempat orang laki-laki itu tadinya adalah tukang-tukang pikul tandu yang kini hendak berbuat jahat.
"Bangsat-bangsat keji!"
Giok Ciu berseru keras dan tahu-tahu keempat laki-laki tiggi besar dan bertubuh kuat itu melihat bayangan berkelebat cepat dan sebelum mereka dapat melihat tegas, Bayangan itu telah tiba dan tahu-tahu seorang demi seorang, mereka terlempar ke dalam jurang yang sangat curam di dekat situ!
Keempat orang itu mengalami kematian tanpa mengetahui siapa yang membunuh mereka dan dengan cara bagaimana.
Setelah menggunakan kegesitan dan ketangkasannya melempar-lempar keempat orang itu bagaikan melemparkan rumput-rumput saja, Giok Ciu lalu bertindak maju dan menyingkap kain sutera penutup tandu.
Tiba-tiba tangannya yang pegang tandu itu gemetar dan dadanya berdebar keras, karena wanita muda yang ditolongnya itu bukan lain ialah nona Suma Li Lian!
Suma Li Lian ketika melihat bahwa yang menolongnya adalah Kwi Giok Ciu, gadis pendekar yang perkasa dan yang pernah dilihatnya dulu, tampak gembira sekali dan segera ia keluar dari tandu sambil memondong anak kecil itu.
"Kwie Lihiap! Kaukah itu? Sukurlah dan banyak-banyak terima kasih, Lihiap, karena kau ternyata telah menolong jiwaku dari ancaman empat binatang keparat tadi."
Giok Ciu terima pernyataan terima kasih itu dengan senyum dingin saja.
"Siapakah mereka itu dan hendak kemanakah kau sampai tersesat di gunung ini?"
Tanyanya.
"Kwie Lihiap, aku sengaja menyewa tandu ini untuk mendaki bukit ini. Aku telah membayar mahal sekali kepada empat orang itu. Siapa tahu, sampai ditempat ini mereka agaknya mengandung maksud buruk terhadap diriku. Untung sekali kau keburu datang!"
"Hmm, dengan maksud apakah kau mendaki bukit ini?"
Tanya Giok Ciu dengan sikapnya yang masih dingin. Tiba-tiba Li Lian menangis sambil mendekap anak perempuan yang usianya kurang lebih enam bulan itu di dadanya! "Eh, mengapa tiba-tiba kau menangis?"
Tanya Giok Ciu.
"Lihiap, kau... kau tolonglah, Lihiap. Aku sedang mencari Ayah anak ini, dan dia dulu pernah memberi tahu padaku bahwa jika aku hendak mencari padanya aku harus mendaki bukit Kam-Hong-San ini..."
Makin keras debar jantung Giok Ciu dan ia kini merasa betapa kedua kakinya menggigil, tapi sedapat mungkin ia menahan dan menindas perasaan ini.
"Siapa... siapakah Ayah anak ini dan... Dan ini anak siapakah...?"
Tanyanya gagap.
"Ini adalah anakku, Lihiap, dan Ayahnya... Adalah Bun Sin Wan..."
Biarpun tadi dengan kuatir sekali di dalam dada Giok Ciu telah ada yang menduga akan hal ini, namun keluarnya pernyataan dari bibir Suma Li Lian sendiri itu membuat ia merasa seakan-akan bumi yang dipinjaknya bergoyang-goyang hingga kedua matanya menjadi gelap dan kepalanya pening.
Ia terhuyung-huyung, tapi segera ia mengerahkan tenaga batinnya untuk menekan perasaannya.
Setelah mengatur napas beberapa lama, barulah ia tenang kembali dan kegelapan yang menyelimuti dirinya berangsur-angsur lenyap.
Ia lalu memandang wajah yang cantik tapi agak pucat dihadapannya itu, dan sedapat mungkin ia menekan suaranya hingga tidak terdengar ketus.
"Nona Suma, tidak salahkan pendengaranku tadi bahwa Ayah anakmu ini adalah Bun Sin Wan?"
Tanyanya. Suma Li Lian memandang Giok Ciu dengan sinar mata penasaran hingga mata yang bening bagaikan mata burung Hong itu memancarkan cahaya.
"Kwie Lihiap, biarpun aku bukan seorang wanita gagah seperti engkau, namun tetap mempunyai kesetiaan dan kejujuran dalam hal ini. Kalau bukan kanda Sin Wan yang menjadi suamiku, untuk apakah aku mengatakan bahwa dia adalah Ayah anakku ini?"
Dan setelah berkata demikian ia memandang Giok Ciu dengan sikap menantang.
"Kau bohong!"
Teriak Giok Ciu marah sekali.
"Kau sengaja memfitnah orang! Kau perempuan hina yang harus mampus!"
Dengan pedang terhunus di tangan, Giok Ciu mengancam. Tapi Suma Li Lian tidak takut, bahkan tetap tersenyum tenang.
"Kwie Lihiap, mungkin kau mencinta kanda Sin Wan dan karenanya menjadi sakit hati kepadaku. Tapi jangan kau sebut aku pembohong karena aku sama sekali tidak bohong padamu. Anak ini adalah anak kanda Sin Wan dan aku! Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja hal ini kepadanya sendiri. Bukankah ia ada di sini?"
"Suma Li Lian! Kalau kau memfitnah, jangan anggap aku keterlaluan kalau aku akan cincang hancur tubuhmu! Bun Sin Wan selalu bersamaku dan kami tak pernah berpisah. Bagaimana kau dapat berkata bahwa anak ini adalah anaknya?"
Kini Giok Ciu berubah pucat sekali dan bibirnya terasa kering.
Sinar matanya seakan-akan memohon kepada Li Lian supaya menarik kembali kata-kata tuduhan tadi.
Tapi kata-kata yang keluar dari mulut Li Lian yang tenang itu bagaikan sebilah pisau berbisa yang mengiris-iris jantungnya.
"Kwie Lihiap, memang benar kata-katamu itu, dan akupun hanya sekali saja bertemu dengan kanda Sin Wan. Tapi pertemuan yang sekali itu telah mengikat kami menjadi suami isteri dan bukti yang terutama ialah anak kami ini. Ingatkah kau ketika Sin Wan pergi seorang diri hendak mencegat Ayahku? Bukankah waktu itu kau tidak ikut dan tinggal di dalam Kelenteng? Nah, pada waktu itu, larut tengah malam menjelang fajar, pada waktu itulah kami bertemu, atau lebih tepat, kanda Sin Wan menemuiku. Ia memasuki kamarku dan menyatakan cintanya padaku. Pada saat itulah kami menjadi suami isteri."
Giok Ciu maju dan memegang erat lengan Li Lian.
"Kau... kau... katakanlah sebetulnya, apakah kau tidak bohong? Apakah hal ini terjadi betul-betul? Mengapa kau tidak berteriak pada waktu itu?"
Suma Li Lian menundukkan muka dengan wajah memerah.
"Aku tidak membohong, Lihiap. Demi kehormatanku, demi Thian Yang Maha Kuasa, aku tidak membohong. Biarpun aku tidak dapat melihat wajahnya pada waktu itu dan keadaan gelap, namun aku dapat mengenal suaranya dan iapun mengaku bahwa ia adalah kanda Sin Wan sendiri. Dan aku... aku tentu akan berteriak minta tolong, kalau saja dia bukan kanda Sin Wan... aku, aku cinta padanya, Lihiap. Aku cinta kepada musuh Ayahku!! Sekarang, sekarang... aku merasa malu dan hina sekali, tapi apa boleh buat... anak ini telah terlahir dan perlu bertemu dengan Ayahnya..."
Maka menangislah Li Lian tersedu-sedu dan Giok Ciu melepaskan pegangannya pada lengan tangan Ibu muda itu, dan gadis itu berdiri termenung seakan-akan semangatnya telah meninggalkan tubuhnya.
Ia tidak measa betapa air matanya mengalir turun dari sepasang matanya yang suram, tidak tahu betapa wajahnya pada saat itu lebih menyerupai seorang mayat hidup!
Kemudian ia teringat sesuatu.
"Benarkah kau telah mengkhianati seorang she Gak dan mengatakan kepada para pahlawan bahwa dia ini mempunyai hubungan dengan kami?"
"Benar, Lihiap. Aku benci sekali kepadanya. Telah beberapa kali ia bersikap tak patut terhadapku, maka aku segera mengadukan dia dan sepanjang yang kudengar, ia dikejar-kejar oleh para pengawal Kaisar. Lihiap, sekarang kau tolonglah aku, dimanakah adanya kanda Sin Wan?"
"Kau hendak bertemu padanya? Boleh! Memang kau harus bertemu padanya, kau harus bertemu sekarang juga! Hayo, kuantar kau!!""
Kemudian Giok Ciu mengajak Suma Li Lian naik ke lereng bukit itu.
Ibu muda itu naik dengan sukar sekali, tapi Giok Ciu tidak memperdulikannya, bahkan berjalan mendahuluinya dengan tindakan bagaikan orang mabok.
Sin Wan yang baru saja sadar dari siulian, menyambut kedatangan Giok Ciu dengan senyum gembira.
Tapi ia kaget sekali melihat wajah gadis itu.
Ia segera maju hendak memegang tangan Giok Ciu, tapi gadis itu berkelit cepat dan memandangnya penuh kebencian.
Nyata sekali betapa Giok Ciu menahan-nahan nafsunya hendak menyerang Sin Wan.
"Moi-moi... Kau kenapakah??"
Sin Wan cemas sekali melihat keadaan Giok Ciu yang disangkanya sakit atau telah terjadi hal yang hebat.
Tapi Giok Ciu hanya menggigit bibir dan memandangnya dengan mata yang kini mulai digenangi air mata!
Pada saat itu terdengar suara kaki orang menaiki jalan naik itu dengan susah payah.
Sin Wan cepat memandang dan terkejutlah ia ketika melihat betapa Suma Li Lian sambil menggendong anak kecil sedang mendaki dengan napas terengah-engah karena sangat kelelahan!
Sebagai seorang berbudi halus, melihat keadaan Li Lian, Sin Wan tidak tega mendiamkannya saja, maka cepat ia maju dan mengulurkan tanggannya untuk membantu gadis itu menaiki sebuah batu.
Tapi tak disangkanya sama sekali, ketika Suma Li Lian telah berdiri tetap didepannya, wanita itu segera menubruk dan memeluknya sambil berbisik tercampur isak.
"Kanda Sin Wan... alangkah banyak derita kualami dalam mencari engkau""
Maka terdengarlah tangis mengharukan dibarengi dengan pekik tangis bayi dalam gendongan ibunya itu.
Sin Wan mendengar sebutan Li Lian padanya itu menjadi heran sekali.
Ia mengangkat-angkat kedua alis matanya dan memandang dengan muka bodoh.
Tak dapat ia berlaku kasar untuk mencegah pelukan Li Lian, karena ia tahu betapa gadis itu sangat lelah dan juga ia takut kalau-kalau anak dalam gendongan itu akan terjatuh.
"Suma-Siocia, kau tenanglah, jangan peluk-peluk aku seperti ini. Duduklah dan mari kita bicara baik-baik,"
Katanya dengan halus.
"Koko... kenapa kau masih sebut aku Siocia? Lihat... lihatlah! Ini adalah anakmu! Anak kami, terlahir lima bulan yang lalu! Koko... ternyata jodoh kita tak dapat direnggut putus demikian saja, lihat anak ini belum kuberi nama, sengaja kubawa kepadamu, kepada Ayahnya untuk menimangnya dan memberinya nama."
Kalau ada geledek menyambar barangkali Sin Wan takkan sekaget ketika mendengar kata-kata Suma Li Lian ini.
Ia merasa seakan-akan seluruh rambut dikepala dan tubuhnya berdiri dan meremang.
Ia takut kalau-kalau wanita ini telah menjadi gila!
Tak terasa pula ia mundur beberapa langkah dengan napas terengah-engah, lalu katanya.
"Suma-Siocia, apakah yang kau maksudkan dengan semua ini? Kau telah menjadi gila atau akukah yang sedang mimpi?"
Kemudia Sin Wan berpaling kepada Giok Ciu yang masih memandangnya seperti tadi, bahkan kini di sudut bibir gadis itu membayang senyum menghina.
"Moi-moi, agaknya kau lebih tahu tentang hal ini. Coba terangkan, apakah artinya semua ini? Mengapa kau bawa Suma-Siocia ke sini dan anak ini anak siapakah?"
Tiba-tiba Giok Ciu menggunakan jari telunjuk menunding mukanya.
"Siapa sudi kau sebut moi-moi? Laki-laki rendah, laki-laki hina, laki-laki pengecut! Tak tahu malu, sudah berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, bahkan masih berpura-pura bodoh pula sekarang! Sungguh tak kusangka sama sekali! Kau... orang yang tadinya kuanggap semulia-mulianya orang, yang kusangka sejantan-jantannya diantara sekalian yang jantan, tak tahunya hanyalah seorang hina dina!"
"Moi-moi tahan mulutmu!"
Bentak Sin Wan dengan marah sekali dan wajahnya memucat.
"Tidak! Aku hendak bicara terus, kau mau apa? Lihat, mulai saat ini aku Kwie Giok Ciu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan seorang rendah bernama Bun Sin Wan!"
Sambil berkata demikian gadis itu mencabut suling pemberian Sin Wan dulu dan mematahkan suling itu ke dalam tangan, lalu dua potong patahan suling itu ia remas-remas sampai hancur lebur sambil tertawa bekakakan.
"Moi-moi, diamlah!"
Sin Wan membentak lagi dengan keras sekali karena ia merasa ngeri melihat betapa gadis itu berdongak sambil tertawa yang sangat aneh bunyinya dan pada saat itu ia tampak seperti mayat sedang tertawa menyeramkan.
Giok Ciu melempar-lemparkan hancuran suling itu ke atas dan angin gunung membawa bubukan itu bertebaran ke mana-mana.
"Ha, ha, ha! Lihatlah, lihatlah, hai bunga dan pohon! Lihatlah betapa cita-cita itu telah lebur, telah cerai berai dan musnah terbawa angin. Lihatlah betapa semua telah hancur, telah hancur... sekarang tidak ada apa-apa lagi... hancur lebur... habis..."
Dan kembali ia tertawa menyeramkan, tapi suara ketawanya itu berangsur-angsur menjadi isak tangis sedih. Lalu Giok Ciu lari dari situ dengan cepat sekali sambil membawa suara tangisnya makin menjauh.
"Moi-moi...!"
Sin Wan juga lari mengejar, tapi tiba-tiba Giok Ciu mencabut pedang Ouw Liong Pokiam dan membalikkan tubuh dengan pedang hitam itu melintang di dada. Sikapnya garang sekali dan ia membentak.
"Bangsat rendah! Kau mau apa? Jangan halang-halangi pergiku, kembalilah kepada isteri dan anakmu! Awas, satu tindak saja kau melangkah maju, aku akan mengadu jiwa denganmu!"
Tadinya Sin Wan hendak nekad maju, tapi ia pikir lagi bahwa Giok Ciu sedang panas hati dan mata gelap, maka tidak baik kalau dipaksa dan mungkin akan terjadi pertempuran mati-matian dan ia anggap ini bukanlah penyelesaian yang baik.
Maka ia hanya memandang gadis itu dengan wajah sedih, lalu berkata.
"Baiklah, moi-moi. Kau menuduh aku yang bukan-bukan tanpa memberi kesempatan dan ketika kepadaku untuk membela diri!"
Tapi Giok Ciu tidak memberi kesempatan kepadanya untuk bicara terus karena gadis itu telah membalikkan tubuhnya dan lari ke bawah gunung dengan cepat sekali dan Ouw Liong Pokiam di tangannya berkilau-kilau ditimpa sinar matahari!
Akhirnya Sin Wan membalikkan tubuhnya setelah bayangan gadis itu tidak tampak lagi dan ia teringat kembali akan Suma Li Lian, maka dengan kertak gigi karena gemas, ia lari kembali ke tempat gadis bangsawan itu.
Ia melihat betapa gadis itu berdiri sambil menyusui anak itu, maka wajah Sin Wan memerah.
Ia memalingkan mukanya dan dalam keadaan malu dan jengah melihat betapa Li Lian di hadapannya tanpa malu-malu menyusui anak itu, timbullah keheranan besar dalam hati Sin Wan.
Li Lian telah mempunyai anak dan mengaku bahwa anak itu adalah anaknya pula!
Li Lian mengaku bahwa dia adalah suaminya!
Sungguh gila, gila dan lucu.
Sambil berdiri membelakangi Li Lian, Sin Wan berkata.
"Suma-Siocia, kalau kau sudah selesai menyusui anak itu, katakanlah agar kita bisa bicara dengan baik."
Beberapa lamanya mereka berdiri dalam keadaan demikian.
Li Lian berdiri menyusui anaknya sambil memandang tubuh belakang Sin Wan dengan mata sayu dan agak terheran melihat sikap pemuda itu, sedangkan Sin Wan berdiri memangku kedua lengan sambil memeras otaknya mengapa timbul perkara aneh dan gila ini!
Tak lama kemudian terdengar Li Lian berkata kepadanya.
"Kanda Sin Wan, sungguh aku tidak mengerti akan sikapmu. Kau adalah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi tinggi. Benar-benarkah kau tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu sendiri?"
Sin Wan kertak giginya dengan marah dan gemas sekali.
"Sudah selesaikah kau menyusui anakmu?"
Bentaknya.
"Sudah, biarpun aku tidak mengerti mengapa kau pura-pura tidak bisa melihat anakmu sendiri menyusu di dada ibunya!"
Jawab Li Lian penasaran.
Bagaikan kilat cepatnya Sin Wan meloncat sambil membalikkan tubuh dan ia berdiri di depan Li Lian.
Gatal-gatal tangannya hendak menampar perempuan ini, tapi melihat betapa sepasang mata yang bening dan wajah yang ayu itu tampak sangat agung memandangnya tanpa rasa takut sedikitpun juga, ia menjadi lemas.
"Nona Suma, sekarang kau katakanlah yang sebenarnya. Mengapa kau lakukan hal keedan-edanan ini? Apakah salahku kepadamu maka kau memfitnah padaku?"
Tiba-tiba Sin Wan menjadi pucat dan kedua matanya bersinar-sinar. Ia lalu tertawa dan berkata kepada Li Lian yang terheran-heran.
"Ha, ha, ha! Kau perempuan licin! Sungguh kau cerdik dan lihai! Kini aku tahu, tentu kau lakukan ini untuk membalas dendammu karena aku telah membunuh Ayahmu bukan? Ha, ha, ha! Benar-benar kau hebat dan lihai! Dengan tenaga kau tak mungkin dapat membalas, kini kau membalas, dengan akal jahatmu. Tapi hasil muslihatmu ini ternyata lebih hebat dan sakit rasanya daripada kalau kau membalas dengan pukulan maut! Ah, mengapa Giok Ciu tidak menginsafi hal ini...?"
"Koko Sin Wan! Jangan kau ngaco belo tidak karuan..."
Dan tiba-tiba Li Lian menangis sedih.
"Aku... mengapa pula aku harus membalas dendam? Bukankah aku sudah menjadi isterimu? Koko, biarpun kau hendak berlaku pengecut dan mengingkari janji dan membodohi semua orang, tapi kau tidak dapat menipu Thian Yang Maha Agung! Inilah buktinya! Lihatlah anak ini, inilah hasil pertemuan kita dulu! Atau kau pura-pura lupa ketika kau memasuki kamarku pada pagi hari dulu itu? Koko, kau tahu bahwa aku... aku mencinta padamu, kalau tidak demikian halnya, mungkinkah aku sudi melayanimu sedangkan aku tahu bahwa kau adalah musuh Ayahku? Aku telah korbankan Ayahku, korbankan namaku, korbankan perasaanku untuk membalas cintamu, tapi mungkinkah seorang pemuda gagah perkasa dan berbudi seperti engkau ini mempunyai hati palsu? Ah, tak mungkin! Aku takkan percaya! Wajahmu tak mungkin palsu tapi... mengapa sikapmu begini terhadapku, koko..."
Dan dengan sangat sedihnya Li Lian menangis dan menutupi mukanya sehingga ia tidak melihat betapa Sin Wan mendengarkan ucapannya dengan wajah makin terheran dan mata makin lebar terbelalak.
Sin Wan benar-benar tak berdaya karena herannya.
Setelah menggunakan lidahnya membasahi bibirnya yang kering, ia akhirnya berkata dengan halus.
"Nanti dulu, nona, tenanglah dulu. Coba kau ceritakan padaku tentang pagi hari itu, pada waktu mana kau bilang aku memasuki kamarmu. Coba ceritakanlah hal itu dengan terus terang."
Suma Li Lian memandangnya heran dan seakan-akan tak percaya akan apa yang didengarnya dari mulut pemuda itu. Akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Baiklah kalau kau kehendaki itu. Dulu ketika mendengar bahwa kau mencari-cari Ayahku untuk kau bunuh, hatiku hancur dan sedih sekali, karena sesungguhnya aku tidak suka melihat kau membunuh Ayah. Pertama-tama memang sebagai seorang anak tentu saja aku tidak rela kalau Ayah dibunuh orang, kedua, di lubuk hatiku aku sangat tertarik dan suka kepadamu yang biarpun menjadi musuh Ayahku, namun kau telah berlaku sopan dan jujur terhadapku, bahkan kau telah membela aku dari kemarahan Kwie Lihiap. Semenjak itulah maka timbul rasa cinta di dalam hatiku. Malam ketika kau pergi itu aku tak dapat tidur. Menjelang fajar, aku melihat bayangan orang memasuki kamarku dari jendela. Karena lampu telah padam, maka aku tak dapat mengenal mukamu, hanya dapat menduga karena potongan tubuhmu kukenal baik dan bayangan itu potongan tubuhnya memang sama dengan engkau. Kemudian kau membuka suara memanggilku, maka aku tidak ragu-ragu lagi bahwa kaulah yang datang. Kau menyatakan cintamu tanpa banyak kata dan aku... aku tak berdaya menolakmu karena... memang aku cinta padamu...! Ah, kanda Sin Wan, perlukah hal ini disebut-sebut lagi? Atau apakah ketika itu kau hanya pura-pura saja dan sengaja mempermainkan aku?"
Tiba-tiba Sin Wan mengangkat tangan dan meramkan mata karena ia sedang memikir keras.
"Nanti dulu... ketika hal itu terjadi, yakni ketika bayangan itu memasuki kamarmu, apakah waktu itu sudah terdengar ayam berkokok?"
Suma Li Lian mengingat-ingat lalu berkata tetap.
"Belum koko, karena aku ingat betul bahwa setelah kau pergi meninggalkan aku, barulah aku mendengar suara ayam berkokok memasuki jendela kamarku yang terbuka karena kau agaknya lupa menutup kembali."
Sin Wan mengangguk-angguk.
"Hmm, aku tahu sekarang mengapa kau dulu ketika hendak berpisah dengan aku, mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti sama sekali, yakni kau sesalkan aku yang tidak ingat akan kejadian pagi itu. Kini aku mengerti. Ketahuilah, Suma-Siocia, Pada saat itu aku masih belum kembali ke Kelenteng, dan datangku ke Kelenteng adalah pada waktu matahari telah naik tinggi! Pada saat ada orang memasuki kamarmu itu aku tengah mencegat seorang diri di hutan, mencegat kendaraan Ayahmu!" (Lanjut ke
Jilid 09) Kisah Sepasang Naga/Ji Liong Jio Cu (Seri ke 02 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmarainan S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 Kini wajah suma Li Lian menjadi pucat sekali, dan ia lalu berkata dengan suara yang hampir tidak kedengaran.
"Apa...? Kalau begitu... siapakah... siapakah...?"
Ia lalu menggunakan kedua tangan menutupi mukanya yang pucat dan terlihat oleh Sin Wan betapa sepuluh jari itu menggigil hingga timbul hati iba di dalam hatinya terhadap nasib gadis yang malang ini.
"Siocia, biarpun tidak ada bukti, namun aku berani pastikan bahwa yang menganggu engkau tentu bukan lain orang ialah Gak Bin Tong!"
"Apa katamu?"
Li Lian berteriak keras. Sin Wang mengangguk-angguk.
"Kau tentu tidak mengetahui bahwa pada malam itu, pemuda muka putih itu bermalam di Kelenteng. Ia memiliki ilmu silat yang tinggi juga dan tentang potongan tubuh, memang ia sama dengan aku agaknya. Pula, ia memang terkenal sangat cerdik dan licin, juga aku tahu bahwa ia mempunyai adat yang buruk, maka sudah pasti ia meniru-niru suaraku untuk mengelabui engkau!"
Mendengar kata-kata ini, tiba-tiba Li Lian berteriak dan roboh pingsan!
Sin Wan cepat sekali menyambar tubuh nona itu, lalu mengambil anak kecil dari gendongan Li Lian dan merebahkan tubuh itu perlahan di atas rumput.
Anak itu menangis keras dan Sin Wan terpaksa gendong anak itu sambil mengayun-ayunnya di dalam lengannya.
Ia merasa kasihan sekali melihat Li Lian dan di dalam hati ia bersumpah hendak membunuh Gak Bin Tong manusia keparat itu!
Ketika Li Lian sadar dari pingsannya, ia menangis menggerung-gerung dan memukul-mukul kepala sendiri.
Rambutnya menjadi awut-awutan dan berkali-kali ia mengeluh.
"Ya Tahun, Engkau tidak adil! Sungguh tidak adil!! Mengapa aku harus menderita semua ini? Koko Sin Wan, biarpun perbuatanku itu rendah dan hina, tapi agaknya aku masih sanggup mempertahankan hidupku bahkan sanggup mencapai kebahagiaan jika kiranya engkaulah orang itu! Tidak kusangka... dia itu... Gak Bin Tong keparat, manusia iblis terkutuk... aduh, aduh... nasib diriku... dosa apakah yang telah kuperbuat maka terhukum sehebat ini...? Gak Bin Tong, kau... kau... bangsat!! Tunggu, aku harus bunuh kau untuk perbuatanmu yang terkutuk itu!"
Tiba-tiba Suma Li Lian, gadis bangsawan cantik jelita yang biasanya halus itu, menjadi liar dan ganas.
Rambutnya awut-awutan, matanya yang bening terputar-putar dan mulutnya mengeluarkan busa!
Ia lalu lari turun gunung, tersaruk-saruk, jatuh dan bangun lagi, terus lari sambil memaki-maki nama Gak Bin Tong seakan-akan pemuda muka putih itu telah berada di depannya dan sedang dikejar-kejarnya untuk dibunuh!
Sin Wan kaget melihat bahwa Suma Li Lian agaknya telah berubah pikiran dan menjadi gila!
Ia hendak mengejar, tapi tiba-tiba anak perempuan yang baru berusia lima bulan dan berada di dalam gendongannya itu menangis keras!
Ia menjadi serba salah, karena dengan cara kikuk dan kaku sekali ia menggendong anak kecil itu dan tidak berani lari sambil menggendong.
Untuk tinggalkan anak itu iapun tidak tega.
Lagi pula, untuk apa ia mengejar Li Lian?
Maka akhirnya ia hanya berdiri bingung sambil memandang anak yang menangis keras di dalam pelukannya itu.
Setelah ditimang-timang beberapa lama tapi anak itu tidak juga mau diam seakan-akan menangisi ibunya yang lari pergi meninggalkannya, Sin Wan menjadi bingung sekali.
Kemudia ia meletakkan anak itu di atas rumput kering, lalu ia meloncat memetik buah yang telah masak.
Setelah ia memberi makan anak itu dengan buah, diamlah tangis anak itu hingga Sin Wan yang tadinya bingung sekali sampai mengeluarkan peluh dingin di dahinya, kini tersenyum girang karena anak itu makan buah sambil tertawa-tawa lucu!
Sin Wan memutar-mutar otaknya.
Mengapa ia harus mengalami peristiwa yang aneh dan membingungkan ini?
Kala teringat kepada Giok Ciu, ia merasa sedih sekali dan hatinya terasa perih, apalagi kalau mengingat betapa gadis kekasihnya itu telah menghancurkan suling pengikat jodoh mereka!
Kalau teringat kepada Li Lian, hatinya terharu dan ia merasa kasihan sekali akan nasib gadis cantik itu.
Ayahnya telah terbunuh olehnya, sedangkan ia sendiri mengalami nasib memalukan dan yang menghancurkan namanya dan nama keluarganya.
Teringat akah hal ini, memuncaklah kegemasan Sin Wan kepada Gak Bin Tong!
Kemudia ia teringat kembali kepada anak Li Lian yag ditinggalkan oleh ibunya ini.
Apa yang harus ia lakukan?
Memelihara anak ini?
Ah, ia tak sanggup dan juga tidak mau.
Habis bagaimana?
Tiba-tiba ia teringat akan kampung ibunya.
Wajahnya menjadi terang, dan ia lalu angkat anak itu dalam dukungannya dan berangkatlah ia turun gunung menuju ke perkampungan Ibu dan kakeknya.
Kedatangannya disambut girang oleh para penduduk kampung, tapi alangkah heran mereka ketika melihat bahwa pemuda pahlawan mereka itu datang sambil mendukung seorang anak perempuan yang masih bayi!
Dengan singkat Sin Wan menuturkan riwayat anak kecil itu, tentu saja tanpa membongkar-bongkar rahasia Ibu anak itu, kemudian ia menyerahkan anak itu kepada seorang janda she Thio untuk dirawat.
Kepada janda itu Sin Wan memberi beberapa potong emas sebagai bekal membiayai pemeliharaan anak itu.
Kemudian, ia pun pergi hendak mencari Giok Ciu.
Ia pikir bahwa gadis itu tentu pergi mencari musuh besarnya, yakni Cin Cin Hoatsu.
Asal saja ia pergi mencari Pendeta Tibet itu, banyak harapan ia akan bertemu dengan Giok Ciu.
Ia ingin sekali segera bertemu dengan gadis itu menjelaskan segala hal tapi apa boleh buat, ia harus bersabar, karena ia tak tahu jurusan mana yang diambil oleh gadis itu!
Beberapa hari kemudian ketika Sin Wan tiba di luar sebuah kampung, ia melihat bayangan seorang yang dikenalnya baik, karena dari belakang ia kenal bahwa orang itu adalah Kwi Kai Hoatsu!
Pertapa lihai itu sedang keluar dari kampung itu dan berlari keras sekali.
Sin Wan juga merasa penasaran dan marah karena pernah terjatuh dalam tangan imam dari Tibet ini segera mengejar.
Juga, selain hendak membalas kekalahan dulu, iapun tahu bahwa ini adalah saudara seperguruan dari Cin Cin Hoatsu, maka kalau mungkin ia hendak mendapat keterangan tentang musuh besar itu dari Kwi Kai Hoatsu.
Karena kepandaiannya memang tinggi, Kwi Kai Hoatsu segera tahu bahwa dirinya dikejar orang, maka segera ia "Tancap Gas"
Dan membalap sekerasnya!
Tapi Sin Wan telah mempunyai ginkang yang mendekati puncak kesempurnaan, maka ia tidak tertinggal, bahkan lambat laun tapi pasti, ia makin dekat dengan Pendeta yang dikejarnya itu.
Diam-diam ketika menengok, Kwi Kai Hoatsu terkejut sekali melihat betapa orang yang mengejarnya itu makin dekat.
Ia tidak menyangka sama sekali bahwa pengejarnya demikian lihai.
Tadinya ia menyangka bahwa yang mengejarnya hanyalah orang biasa saja, maka ia hendak mempermainkannya, tidak tahunya, setelah mengerahkan tenaga larinya, ternyata jarak antara ia dan pengejarnya itu makin dekat saja.
Karena marah dan penasaran, ketika tiba di tempat sunyi dan kanan kiri hanya terdapat sawah kosong, ia berhenti dan menanti dengan mata melotot.
Tapi ketika pengejarnya dengan cepat sekali telah tiba di depannya, ia memandang pemuda tampan yang sedang tersenyum di depannya itu dengan heran, karena ia mengenal pemuda ini.
"Eh, ternyata engkaukah ini?"
Katanya dengan senyum sindir karena ia hendak tetapkan hati sendiri dengan memandang rendah pemuda itu.
Tak mungkin pemuda ini dapat memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya karena biarpun andaikata pemuda ini belajar lagi, namun waktunya hanya setahun dan dalam masa waktu sependek itu tak mungkin pemuda ini akan dapat melawan kepandaian lweekang dan hoatsut yang telah dipelajarinya berpuluh tahun lamanya.
Sin Wan menjawab dengan tenang.
"Ya, akulah!"
Pertapa itu memandang ke kanan kiri, seakan-akan hendak mencari-cari apakah pemuda ini berteman, karena kalau gadis yang lihai dulu itu ikut datang, maka mereka berdua merupakan lawan yang berat juga.
Hatinya merasa lega ketika mendapat kenyataan bahwa Sin Wan memang hanya seorang diri saja.
"Anak muda, apa maksudmu mengejarku? Apakah pelajaran yang kau terima dulu itu belum membikin kau merasa kapok?"
Sin Wan tersenyum mengejek.
"Maksudmu, engkau atau akukah yang menerima pelajaran dan merasa kapok? Kwi Kai Hoatsu, sesungguhnya antara kita tidak terdapat sesuatu permusuhan yang menyebabkan kita saling membenci, kecuali barangkali sifat-sifat sombong dan tidak mau kalah dari kita masing-masing. Aku mengejarmu bukanlah dengan niat hendak mengajak kau bertempur, kecuali kalau kau sendiri yang memaksaku!"
Kwi Kat Hoatsu memandang kepada Sin Wan dengan heran.
"Kalau bukan untuk bertempur, mengapa kau mengejarku?"
Sin Wan tersenyum sabar.
"Aku hanya ingin bertanya di manakah gerangan adanya Cin Cin Hoatsu pada waktu ini?"
Tiba-tiba Kwi Kai Hoatsu tertawa besar.
"Enak saja kau bicara. Kau mencari saudaraku itu untuk mengajak berkelahi dan mengadu jiwa, bukan? Dan kau katakan bahwa kita tidak ada permusuhan?"
"Memang saudaramu itu musuh besarku. Ia telah membunuh mati Suhuku, yakni Hui-Houw Kwie Cu Ek, maka aku harus membalas dendam ini. Bukankah ini suatu hal yang lajim dan pantas?"
"Anak muda, jangan banyak ribut. Dengan kepandaianmu serendah ini mana kau dapat melawan Cin Cin Hoatsu? Kau boleh mencoba-coba kepandaianmu padaku, coba kulihat apakah kau cukup pantas untuk bertanding melawan saudaraku itu!"
Sambil berkata demikian Kwi Kai Hoatsu mencabut keluar tongkar ular dan hudtimnya yang terkenal lihai itu dan mendahului menyerang.
Sin Wan juga telah mencabut keluar Pek Liong Pokiam dan melayani Tosu itu.
Ketika tongkat ularnya beradu dengan pedang pusaka berwarna putih itu, terkejutlah si Tosu, karena dari bentrokan kedua senjata ini saja ia tahu betapa hebat tenaga lweekang pemuda itu!
Sungguh luar biasa betapa dalam waktu setahun saja tenaga lweekang pemuda itu yang dulu jauh dibawahnya, kini boleh dikata telah mencapai kedudukan setingkat dengan dia, kalau tidak lebih tinggi malah!
Karena inilah maka ia menjadi jerih.
Memang, dalam hal ilmu silat, setahun yang lalupun ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut telah membuat Tosu itu sibuk, Hanya pada waktu itu lweekangnya masih menang jauh hingga ia berhasil merobohkan Sin Wan.
Maka, kini setelah pemuda itu mendapat gemblengan khusus dari Bu Beng Lojin dalam hal tenaga lweekang dan batin, tentu saja kepandaian pemuda itu jauh lebih hebat lagi.
Sin Wan juga merasa betapa sampokan-sampokan senjata lawannya tak terasa berat lagi baginya, hingga ia menjadi girang dan mendesak hebat dengan sinar pedang.
Dulu ia merasa betapa dari tongkat ular itu keluar bau amis yang memuakkan, tapi sekarang ia dapat melawan hawa itu dengan mengatur napasnya dan mengusir hawa jahat yang menyerang mulut dan hidungnya dengan tiupan napas.
Setelah bertempur tiga puluh jurus lebih.
Ia berhasil membabat putus kebutan lawannya hingga Tosu itu berseru kaget.
Kalau saja Sin Wan berlaku kejam, agaknya ia akan berhasil membunuh Kwi Kai Hoatsu, tapi pemuda itu tidak bermaksud membunuhnya, hanya ingin mengalahkannya saja sebagai pembalasan tahun lalu.
Maka cepat sekali pedangnya mengurung dan maksudnya hendak membuat senjata lawan terlepas dari pegangan.
Kwi Kai Hoatsu yang tidak tahu akan kehendak pemuda itu dan menyangka bahwa Sin Wan tentu akan mendesak dan membunuhnya, menjadi sibuk sekali dan tiba-tiba ia berseru keras sambil mencabut keluar sabuk sutera hitam yang dulu digunakan untuk merampas pedang Sin Wan.
Kini agaknya iapun hendak menggunakan lagi senjata luar biasa itu.
Sambil membentak keras dan mengerahkan tenaga ilmu hitamnya, ia menggerakkan tangan kiri dan sutera hitam itu bagaikan ular yang hidup menyambar pedang Sin Wan.
Pemuda ini girang sekali melihat senjata aneh ini dikeluarkan, karena ia memang hendak mencoba kelihaian senjata yang dulu pernah merampas pedangnya.
Ia berlaku tabah dan bahkan membiarkan senjatanya dibelit benda itu.
Setelah ujung Pek Liong Pokiam terlibat erat, ia lalu mengerahkan tenaga dalamnya untuk menolak serangan pengaruh bentakan lawan dan membarengi menggunakan lweekangnya untuk menggerakkan pedang itu.
Terdengarlah suara kain robek dan ternyata sutera hitam yang sangat diandalkan oleh Kwi Kai Hoatsu telah terputus oleh pedang Pek Liong Pokiam!
Kwi Kai Hoatsu menjerit kaget karena ia tahu bahwa kini ia akan tewas dalam tangan pemuda yang kosen ini, maka tanpa malu-malu lagi ia lalu meloncat jauh untuk melarikan diri.
Tapi Sin Wan segera meloncat pula mengejar sambil berseru.
"Kwi Kai Hoatsu! Nanti dulu, jangan kau pergi sebelum memberi tahu padaku tempat tinggal Cin Cin Hoatsu!"
Tapi Tosu tidak memperdulikan teriakannya dan lari makin cepat.
Sin Wan terus saja mengejar dengan lebih cepat.
Biarpun ilmu lari cepat dari Tosu itu sudah cukup tinggi, tapi mana ia dapat melawan Sin Wan yang selain mendapat didikan seorang suci dan berilmu tinggi, juga ia telah makan buah-buah mujijat yang membersihkan darahnya dan membuat tubuhnya menjadi ringan.
Lambat laun jarak antara mereka makin dekat.
Tapi, ketika Kwi Kai Hoatsu tiba di dalam sebuah hutan dan Sin Wan telah dekat benar dengannya, tiba-tiba Tosu itu mengeluarkan sebuah benda dan membantingnya ke belakang.
Benda itu pecah dan mengeluarkan asap hitam tebal bergulung-gulung di belakangnya dan membuat ia lenyap dari pandangan mata pengejarnya.
Sin Wan merasa terkejut dan cepat ia membelokkan arah jalannya agar jangan sampai menerjang asap hitam itu karena ia menduga tentu asap itu adalah asap berbisa yang berbahaya.
Tapi, ternyata Tosu itu telah dapat melenyapkan diri di belakang tabir asap itu karena tanpa diketahui oleh Sin Wan ke mana arah yang ditempuh imam itu.
Sin Wan merasa penasaran dan kecewa sekali mengapa tidak ia robohkan saja imam jahat itu tadi agar dapat ia paksa untuk mengaku dimana tempat tinggal Cin Cin Hoatsu.
Kini ia kehilangan pegangan dan tidak tahu harus mencari kemana.
Tapi ia pikir bahwa keadaan Giok Ciu juga sama dengan dia sendiri yakni tidak mempunyai tujuan yang tetap dalam mencari musuh besarnya.
Maka besar kemungkinan gadis itu akan mencari di kota raja, karena di situlah pusat para pembatu Kaisar berkumpul dan disitu pula akan dapat dicari keterangan tentang musuh besar itu.
Karena pikiran ini, maka Sin Wan segera menuju ke kota raja.
Pikiran Sin Wan yang berotak cerdas ini memang tidak keliru.
Giok Ciu dengan hati sedih dan kalbu hancur lari turun dari Kam-Hong-San.
Gadis itu berlari-lari sambil tiada hentinya menangis.
Kini ia tidak pedulikan segala apa dan tujuan hidupnya hanya satu, yakni mencari Cin Cin Hoatsu dan membunuh orang yang telah membunuh Ayahnya itu.
Ia merasa bingung sekali karena tidak tahu harus mencari kemana, maka ia lalu menuju ke kotaraja, karena teringat bahwa selain dari tempat itu, agaknya sukar untuk mencari tahu tempat tinggal Pendeta Tibet itu.
Karena sedihnya, ia tidak mau berhenti berlari dan lupa makan lupa tidur.
Setelah sehari semalam lari cepat tanpa berhenti sedikitpun, ia tiba di kota Ang-Len dan karena merasa kepalanya pening sekali dan tubuhnya panas, terpaksa ia mencari sebuah rumah penginapan dan minta sebuah kamar.
Begitu tutup pintu kamar dan merebahkan diri di atas pembaringan, ia jatuh pingsan.
Ternyata karena mendapat serangan dari dalam dan luar, gadis itu tidak kuat menahan lagi.
Dari dalam ia mendapat pukulan hebat sekali karena hatinya merasa hancur dikecewakan oleh kenyataan betapa Sin Wan, pemuda kekasihnya dan orang satu-satunya di dunia ini yang dicintanya dan dijadikan sandaran hidupnya telah mencemarkan kesucian ikatan jodoh mereka.
Dan ternyata pemuda itu telah melakukan perbuatan yang hina dina dan yang tak mungkin dapat ia maafkan lagi.
Dari luar ia mendapat serangan penyakit panas yang tentu akan dapat dilawan oleh kekuatan tubuhnya kalau saja ia tidak memaksa tubuhnya berlari terus-menerus sehari semalam tanpa mengaso dan tanpa makan.
Akhirnya tubuhnya tak kuat bertahan lagi dan jatuh sakit!
Setelah sadar dari pingsannya, Giok Ciu merasakan tubuhnya sangat lemah dan kepalanya pusing sekali.
Juga tubuhnya terasa panas seakan-akan ada api yang membakar tubuhnya dari dalam.
Ia maklum bahwa gangguan kesehatan ini terjadi karena kesalahannya sendiri, terjadi karena kacaunya keadaan hati dan pikirannya, juga karena ia tidak memperhatikan pemeliharaan tubuhnya.
Ia teringat betapa Suhunya, Bu Beng Lojin yang sakti itu, pernah berkata demikian.
"Alam telah mempunyai hukum-hukum tertentu dan siapa saja yang tidak menyesuaikan dirinya dengan hukum alam, pasti akan mengalami bencana dan hukuman. Siapa yang melanggar hukum alam, pasti akan terhukum dan menderita, sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum alam itu sendiri. Sebagai contoh, sebuah daripada hukum-hukum alam itu ialah hukum kesehatan, misalnya ketentuan bahwa manusia harus makan pada saat tubuhnya membutuhkan makanan, harus beristirahat pada waktu tubuh lelah dan membutuhkan istirahat. Kalau kita paksakan diri dan melanggar ketentuan hukum ini, tak dapat tidak pasti akan menderita hukumannya, yakni mendapat sakit! Penyakit bukan datang dari luar, tapi terjadi karena pelanggaran hukum itu tadilah! Demikian pula dengan hukuman-hukuman yang lain, yang kesemuanya terjadi karena pelanggaran-pelanggaran hukum alam yang kita lakukan sendiri, bagaimana macamnya hukuman dan penderitaan itu. Maka hati-hatilah menghadapi percobaan dalam hidupmu, karena sekali kau salah tindak, bukan orang lain yang akan menerima hukumannya tapi kau sendiri. Inilah keadilan alam!"
Mengingat akan semua nasihat-nasihat dan petuah-petuah Suhunya yang sangat berharga, agak terobatlah luka di hati Giok Ciu.
Ia menjadi tenang, walaupun rasa bencinya kepada Sin Wan masih menghebat.
Ia lalu turun dari pembaringan dengan perlahan dan memanggil pelayan.
Ketika pelayan datang, ia minta dibelikan makanan dan makan dengan hati-hati, kemudian ia memerintahkan pelayan untuk membeli obat pelawan panas dan setelah merawat diri baik-baik dan membantu pekerjaan obat itu dengan bersamadhi dan mengatur napas, maka dua hari kemudian sembuhlah ia.
Setelah merasa sembuh betul, barulah ia melanjutkan perjalanannya.
Malam hari berikutnya ia bermalam di sebuah kota kecil, di dalam sebuah hotel.
Menjelang tengah malam, ia terjaga dari tidurnya oleh suara kaki orang yang dengan hati-hati sekali berjalan di atas hotel itu!
Giok Ciu dengan telinga terlatih dan tajam, dapat menduga bahwa yang berjalan di atas genteng itu hanyalah seorang yang memiliki kepandaian yang tidak seberapa tinggi.
Namun tindakan orang itu cukup mencurigakan dan karena menduga akan terjadinya kejahatan, Giok Ciu segera berganti pakaian dan meloncat keluar dari jendela, terus melayang naik ke wuwungan rumah.
Ia melihat bayangan hitam meloncat dan berlari-lari di atas genteng rumah di depan maka ia segera mengejarnya.
Giok Ciu sengaja mengikuti orang itu untuk melihat apakah yang hendak dilakukan olehnya.
Ternyata setelah berputar-putar di atas rumah-rumah orang, bayangan hitam itu meloncat turun ke dalam sebuah rumah.
Giok Ciu cepat mengejar dan meloncat turun pula.
Ia melihat betapa bayangan hitam itu menggunakan goloknya membuka jendela sebuah kamar dan meloncat masuk.
Terdengar teriakan tertahan dan suara laki-laki yang kasar membentak.
"Diam kalau tak ingin mampus!"
Giok Ciu marah sekali karena teriakan itu adalah teriakan seorang wanita.
Ia dapat menduga bahwa bayangan hitam itu tentulah seorang penjahat.
Kalau bukan Jai-Hwa-Cat atau Penjahat Pemetik Bunga, tentulah seorang pencuri atau perampok!
Maka ia segera membentak dari luar jendela.
"Bangsat hina yang berada di dalam kamar orang. Ayo lekas kau keluar kalau tidak ingin kepalamu kutabas putus!"
Dari dalam kamar terdengar seruan marah dan heran dan pada saat selanjutnya bayangan hitam itu meloncat keluar dari dalam kamar sambil memutar-mutarkan goloknya ketika melalui jendela agar jangan sampai disergap musuh.
Tapi Giok Ciu hanya tertawa menyindir sambil bertolak pinggang dan menanti di atas genteng.
Ketika penjahat itu telah berada di atas genteng, ia heran sekali melihat di bawah sinar bulan bahwa yang mengganggunya hanyalah seorang dara berpakaian serba hitam yang cantik sekali.
Dalam pakaiannya yang hitam itu, Giok Ciu tampak cantik dan gagah, sedangkan kulit muka dan kedua tangannya tampak putih sekali.
Bayangan hitam itu ternyata seorang laki-laki yang masih muda dan mempunyai sepasang mata bangsat yang liar.
Kini, menghadapi Giok Ciu, ia menyeringai dan berkata.
"Aduh, nona yang cantik seperti bidadari! Apa kehendakmu maka kau memanggil aku kemari?"
Giok Ciu marah sekali mendengar kata-kata orang ini mengandung kekurangajaran. Ia berkata dingin.
"Kau mencari celaka sendiri! Tadinya kusangka kau hanya seorang penjahat rendah yang patut dikasihani dan diberi ampun dengan menerima peringatan keras saja, tidak tahunya kau seorang yang lancang mulut pula! Untuk kelancanganmu ini, kau harus meninggalkan sebelah tanganmu!"
Marahlah orang itu dan ia lalu menerjang dengan goloknya setelah berseru.
"Bagus! Perlihatkan kepandainmu, nona cilik!"
Tapi Giok Ciu dengan sekali sabet saja telah membuat golok penjahat itu terbabat putus, kemudian cepat bagaikan kilat Ouw-Liong Pokiam berkelebat dan sebelum kuasa menghilangkan kagetnya karena goloknya terbabat putus, tahu-tahu orang itu merasa tangan kirinya perih dan dingin.
Ketika ia melihat, ternyata tangannya sebelah kiri telah terpotong pula pada sebatas pergelangan tangan itu!
Ia membelalakan mata dan lari sambil berteriak-teriak.
"Aduh... aduh tolong... Suhu... Tolong"
Suhu...!"
Demikian tajamnya Ouw-Liong Pokiam sehingga hampir saja penjahat itu tidak merasa bahwa tangan kirinya telah terbabat putus!
Giok Ciu merasa puas telah memberi pelajaran kepada penjahat itu, tapi begitu mendengar penjahat itu menyebut-nyebut gurunya, ia segera mengejar.
Kalau penjahat itu mempunyai seorang guru di kota ini, maka gurunya tentu bukan seorang baik-baik pula dan perlu dan dibasmi agar jangan merupakan pengganggu dan pengacau rakyat di kota itu.
Penjahat itu, terus menuju ke sebuah rumah yang tinggi gentengnya sambil terus berteriak-teriak minta tolong kepada gurunya.
Tiba-tiba dari dalam rumah itu melayang keluar bayangan seorang yang mempunyai gerakan gesit sekali.
Giok Ciu siap dengan pedangnya karena dari gerakan orang itu ia dapat menduga bahwa lawannya ini tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi juga.
Ketika bayangan orang itu tiba di depannya dan membentak nyaring, Giok Ciu merasa terkejut berbareng girang karena ternyata bahwa orang itu bukan lain ialah Keng Kong Tosu!
"Ha, jadi kaukah guru penjahat itu?
Pantas saja muridnya jahat, tidak tahunya gurunya seorang penjahat besar!"
Keng Kong Tosu lebih kaget lagi ketika melihat bahwa orang yang melukai dan mengejar muridnya bukanlain adalah gadis lihai yang dulu pernah bertempur dengannya!
Ia masih ingat betapa lebih setahun yang lalu gadis itu telah memiliki kepandaian tinggi, apalagi sekarang, maka diam-diam ia merasa jerih juga.
Akan tetapi, karena lawan itu telah berada disitu, pula ia dapat mengharapkan bantuan tiga murid lain yang berada di bawah ia lalu membentak.
"Pemberontak perempuan, tidak tahunya kaukah yang lagi-lagi menghina kami dan melukai muridku? Kau agaknya telah bosan hidup!"
"Jangan banyak cakap, kau majulah Tosu palsu!"
Giok Ciu lalu menyerang hebat dengan pokiamnya, hingga Keng Kong Tosu buru-buru meloncat dan mengeluarkan pedang pendek dan hudtimnya yang digerakkan secara istimewa untuk menangkis dan balas menyerang.
Ia berlaku hati-hati sekali karena dulu pernah merasakan kelihaian dari pendekar ini dan pernah dilukai pundaknya oleh pedang pusaka yang ampuh itu.
Tapi baru saja bertempur beberapa jurus, makin kuncup dan jerih hati Tosu itu karena ia mendapat kenyataan bahwa tenaga lweekang dan permainan pedang dara itu kini telah maju hebat sekali!
Ia lalu bersuit nyaring untuk memanggil murid-muridnya dan sambil membentak keras ia mengeluarkan senjata-senjata rahasia jarum hitam dari dalam kebutannya.
Jarum-jarum itu jumlahnya lebih dari sepuluh batang dan kecil sekali sehingga ketika menyambar di dalam gelap itu, sama sekali tidak tampak.
Tetapi Giok Ciu memiliki tenaga pendengaran, yang halus sekali dapat menangkap angin gerakan hudtim itu maka ia dapat menduga bahwa dari gerakan itu tentu keluar senjata rahasia.
Ia lalu menggunakan pedangnya yang diputar dalam gerak tipu Naga Hitam Menutup Gua untuk melindungi tubuhnya dan benar saja, terdengar suara tring-tring nyaring sekali ketika jarum-jarum itu terpukul oleh pedangnya.
Pada saat itu, dari bawah meloncat naik tiga bayangan yang juga memiliki gerakan gesit.
Mereka ini adalah murid-murid Keng Kong Tosu yang tadi sibuk menolong Sute mereka yang terbabat tangannya oleh pedang Giok Ciu.
Kini mereka mendengar tanda siutan Suhu mereka, ketiga orang itupun mengambil senjata masing-masing dan naik untuk membantu Keng Kong Tosu.
Sekali-kali Keng Kong Tosu berseru keras dan asap hitam menyambar kearah tubuh Giok Ciu.
Tapi Giok Ciu sekarang bukanlah dara setahun yang lalu, yang takut akan segala ilmu hitam dan senjata-senjata mujijat.
Ia telah memiliki tenaga lweekang dan tenaga batin yang kuat sekali dan membuatnya waspada dan tenang.
Melihat datangnya asap hitam yang berbau busuk itu, ia lalu menggunakan mulutnya meniup ke depan dari atas ke bawah.
Tenaga tiupan ini demikian besar sehingga asap itu tertiup berbalik, dan kini bahkan menyerang Keng Kong Tosu dan murid-muridnya!
Tosu sesat itu cepat menggunakan kebutannya diputar untuk mendatangkan angin mengusir asap itu, juga dua orang muridnya meloncat menyingkir, tapi seorang murid tidak menyangka sama sekali akan tiupan Giok Ciu maka ia terserang oleh asap hitam itu.
Ia kena sedot asap itu sehingga terbatuk-batuk dan tubuhnya lalu terguling roboh di atas genteng!
Keng Kong Tosu terkejut dan marah sekali.
Ia cepat mengeluarkan obat pemunah dan memasukkan obat itu ke dalam mulut muridnya.
Seorang murid lain lalu memondong tubuh kawannya itu dan meloncat ke bawah sedangkan gurunya dan seorang kawannya yang masih berada disitu lalu maju mengeroyok gadis yang lihai itu.
Giok Ciu memutar pokiamnya dan memainkan ilmu pedang Ouw-Liong Kiam-Sut yang luar biasa dan ganas.
Sebentar saja sinar pedangnya yang hitam dan membuat ia lenyap dari pandangan mata kedua lawannya, telah mengurung dan mendesak kedua lawannya.
Pada saat itu murid yang tadi menolong kawannya terkena asap berbisa dari Suhunya sendiri, telah naik pula dan maju mengeroyok dengan pedangnya.
Tapi Giok Ciu tidak takut, bahkan tertawa menyindir.
"Keng Kong Tosu, Tosu busuk! Kau agaknya hendak mampus sambil membawa dua orang pengiring!"
Keng Kong Tosu marah sekali, tapi ia tidak berdaya, maka ia lalu berkelahi dengan nekad dan mati-matian!
Pada saat itu, tampak berkelebat bayangan putih dan sebuah sinar putih yang terang sekali meluncur dan menyerbu ke dalam kalangan pertempuran serta langsung membantu Giok Ciu.
"Moi-moi, mari kita musnahkan manusia jahat ini!"
Terdengar seruan Sin Wan dengan suara gembira karena tanpa dinyana ia dapat bertemu dengan gadis itu di tempat ini! Tapi Giok Ciu menjawab marah.
"Siapa butuh pertolonganmu? Jangan kau ikut mencampuri urusanku!"
Sin Wan merasa mendongkol juga mendengar betapa keng Kong Tosu dan kedua muridnya sengaja memperdengarkan suara ketawa untuk menghinanya.
Ia merasa betapa gadis itu merendahkannya dimuka musuh-musuhnya, maka dengan suara dingin ia berkata.
"Siapa yang hendak membantu engkau? Akupun mempunyai sedikit urusan dengan Tosu jahanam ini!"
Sambil berkata demikian, Sin Wan lalu menggunakan pedangnya yang bersinar putih menyerang hebat dengan tipu Naga Putih Menembus Awan.
Gerakannya hebat dan cepat sekali sehingga Keng Kong Tosu menjadi terkejut dan cepat berkelit.
Tapi pada saat itu Giok Ciu yang tidak mau "Didului"
Sin Wan, segera menyerangnya dengan gerakan Naga Hitam Terjun ke Laut!
Sementara itu, Sin Wan sudah merubah gerakannya dan kini menyabet dengan tipu Naga Putih Sabetkan Ekor!
Mana bisa Keng Kong Tosu mempertahankan dirinya terhadap serangan-serangan dari kedua anak muda yang mengeluarkan tipu-tipu terlihai dari Pek-Liong Kiam-Sut dan Ouw-Liong Kiam-Sut!
Biarpun ia menggunakan pedang pendek dan hudtimnya untuk menjaga diri, tak urung kedua pedang lawan itu dengan berbareng telah menusuk tembus dada dan lambungnya sehingga tanpa dapat berteriak lagi Keng Kong Tosu roboh tak bernyawa pula!
Giok Ciu merasa penasaran karena lagi-lagi ia tak dapat mendahului Sin Wan dan boleh dikata Tosu jahanam itu terbunuh oleh mereka berdua dengan berbareng!
Dalam gemasnya ia hendak menyerang kedua murid Keng Kong Tosu yang berdiri terkejut dan kesima, tetapi Sin Wan menegur.
"Jangan, Giok Ciu, jangan bunuh mereka!"
"Peduli apa kau dengan urusanku sendiri?"
Bentak gadis tiu dan melanjutkan serangannya kepada dua orang murid Tosu yang telah mati itu. Tapi tiba-tiba sinar putih berkelebat cepat dan pedang Sin Wan telah menangkis Ouw-Liong Pokiam.
"Moi-moi, ingatlah pesan Suhu. Jangan sembarangan membunuh orang, kalau tidak terpaksa dan mempunyai asalan yang kuat! Sudah cukup kita bunuh Keng Kong yang memang jahat, jangan ganggu muridnya."
Giok Ciu mencibirkan mulutnya.
"Cih, pandai benar bermain mulut, bisa saja berpura-pura alim dan suci, coba kau pandang mukamu sendiri. Tak malu menyebut-nyebut orang lain jahat!"
"Moi-moi, dengarlah dulu keteranganku..."
"Siapa sudai mendengarkan kata-katamu yang palsu!"
Dengan ucapan ini Giok Ciu lalu meloncat pergi.
Sin Wan tidak mengejarnya karena ia maklum bahwa gadis itu benar-benar telah membencinya dan tak mungkin mau diajak berbicara.
Kalaupun ia dapat memberi penjelasan, belum tentu gadis yang keras hati itu suka mempercayainya.
Ah, sungguh serba susah dan Sin Wan menghela napas panjang.
Tiba-tiba ia mendengar suara tertawa menyindir.
Ia melihat betapa kedua murid Keng Kong Tosu masih berdiri di situ dan memandangnya dengan senyum sindir.
Marahlah Sin Wan dan sekali tubuhnya bergerak, tahu-tahu dua orang itu kena diterjangnya dan roboh di atas genteng sambil merintih-rintih.
Ternyata sekali bergerak saja Sin Wan telah berhasil menotok mereka hingga roboh tak berdaya dan biarpun mereka takkan mati karenanya, namun dalam waktu dua belas jam, kalau tidak ada orang pandai yang melepaskan totokan itu, mereka akan lemas tak dapat bergerak, hanya dapat merintih-rintih saja!
Kemudian Sin Wan meloncat pergi dari situ dengan hati mengkal.
Marilah kita ikuti perjalan Suma Li Lian, gadis bangsawan yang cantik jelita, tapi yang tertimpa nasib malang itu.
Setelah mendengar dari mulut Sin Wan kenyataan-kenyataan yang sangat pahit dan menikam ulu hatinya, gadis cantik ini hampir menjadi gila!
Jiwanya memang telah tertekan oleh rasa terhina dan malu karena sebagai seorang gadis baik-baik keturunan bangsawan, adalah hal yang lebih hebat dan lebih rendah daripada mati ketika mengandung dan melahirkan seorang anak tanpa mempunyai suami!
Sebetulnya ketika merasa bahwa dirinya mengandung, ia telah mengambil keputusan hendak membunuh diri, tapi wajah Sin Wan yang tampan dan gagah selalu terbayang di muka matanya, maka ia lalu menetapkan hatinya.
Ia nekad untuk menghadapi semua hinaan daan nistaan karena betapapun juga, ia diam-diam mengakui bahwa ia tidak menyesal mengandung seorang keturunan dari Sin Wan!
Ia cinta pemuda itu, cinta dengan cinta murni, dan ia bersedia mengorbankan apa saja untuk pemuda itu.
Jangankan baru hinaan dari dunia luar, aah, ia takkan merasa terhina, bahkan ia akan merasa bangga kalau anaknya telah lahir, anak mereka, anaknya dan anak Sin Wan!
Demikian besar rasa cintanya terhadap Sin Wan hingga Li Lian rela dirinya mendapat hinaan karena sebagai seorang gadis yang melahirkan seorang anak tak ber Ayah.
Ia bahkan sempat diusir oleh ibunya dan keluarganya dan hidup terlunta-luta di sebuah kampung kecil.
Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari dan menyusul Sin Wan, karena bukankah dulu Sin Wan pernah bilang bahwa jika hendak mencari dirinya, harus pergi ke puncak Kam-Hong-San?
Maka, ia lalu jual semua perhiasannya untuk dipakai biaya mencari suaminya itu.
Dan akhirnya setelah bersusah payah, ia berhasil membawa anaknya yang baru berusia lima bulan itu ke puncak Kam-Hong-San.
Tapi disana ia hampir saja menjadi kurban keganasan dan kejahatan empat orang pemikul tandu, dan baiknya datang Giok Ciu yang menolongnya.
Dan akhirnya ia bertemu dengan Sin Wan, suaminya!
Tapi alangkah remuk rendam hatinya, hancur luluh kalbunya.
Segala penderitaan, segala perngorbanan yang dilakukan itu sia-sia belaka!
Bukan Sin Wan pemuda idaman itulah yang sebenarnya menjadi Ayah anak itu, tapi Gak Bin Tong!
Gak Bin Tong pemuda muka putih yang dibencinya, karena semenjak dulu pemuda itu selalu menggodanya, selalu memperlihatkan sikap ceriwis dan menjemukan.
Pemuda yang pernah ia tolak lamarannya!
Pemuda yang bahkan telah ia laporkan kepada para pengawal agar ditangkap dan dibunuh, karena ia sungguh-sungguh membencinya!
Dan kini...
dari mulut Sin Wan sendiri, dari mulut laki-laki yang tadinya telah dianggap sebagai suaminya, ia mendengar bahwa suaminya bukanlah Sin Wan, tapi...
Orang she Gak itu!
Ketika ia melahirkan, segala hinaan yang didengarnya tak dapat menggoyahkan kalbunya, tak dapat merobah pendiriannya.
Tapi kenyataan yang didengarnya ini merupakan penghinaan yang sebesar-besarnya baginya, dan kenyataan ini membuat ia tak sanggup memandang wajah Sin Wan lagi, membuat ia begitu membenci Gak Bin Tong hingga seakan-akan hendak dicekiknya dan dibunuhnya pada saat itu juga pemuda muka putih yang telah menodai dan merusak hidupnya itu!
Demikianlah, ia lari bagaikan gila menuruni lereng bukit.
Beberapa hari kemudian, Suma Li Lian yang tadinya cantik jelita, telah berubah menjadi seorang wanita yang menakutkan.
Rambutnya yang riap-riapan menutupi sebagian wajahnya yang kotor penuh debu dan lumpur.
Matanya merah dan liar dan bibirnya yang biasanya tersenyum manis menarik hati, kini tertarik menyeringai penuh kebencian.
Pakaiannya yang tadinya indah dan rapi, kini robek disana-sini dan kotor sekali hingga tak tampak pula bekas-bekasnya yang terbuat dari bahan mahal.
Kakinya tak bersepatu lagi, hanya berkaus yang sudah dekil dan hitam penuh tanah.
Sungguh mengenaskan nasib manusia ini.
Ketika ia memasuki sebuah dusun kecil, semua anak-anak lari ketakutan dan menggodanya dari jauh sambil melempar-lemparinya dengan batu.
Dimana saja ia angsurkan tangan untuk minta makanan pengisi perutnya yang sudah lapar sekali, orang-orang mengusirnya dengan kata-kata menyatakan jijik.
Dengan tindakan kaki limbung dan terhuyung-huyung, terpaksa Li Lian meninggalkan dusun itu.
Tubuhnya lemas, perutnya terasa perih sekali, dan pandang matanya berkunang-kunang.
Karena terik matahari membuat kepalanya berdenyut-denyut, ia lalu menghampiri sebuah pohon besar yang tumbuh dipinggir jalan untuk meneduh, tapi ketika tiba di bawah pohon, tubuhnya tak tertahan lagi dan tubuh itu limbung hendak roboh, matanya meram dan kedua tangannya diulurkan meraba-raba mencari pegangan diudara!
Pada saat ia pingsan, sebelum tubuhnya roboh di tanah, tiba-tiba dari atas pohon menyambar turun sebuah tali yang secara aneh dan cepat bagaikan ular telah membelit kedua pergelangan tangan Li Lian dan tahu-tahu tubuh Li Lian telah mencelat ke atas pohon bagaikan disendal oleh tenaga yang luar biasa besarnya!
Ketika tubuh gadis yang malang itu terapung ke atas, sebuah lengan yang panjang dan besar lagi hitam dan kotor terulur dan tubuh Li Lian ditangkapnya pada bajunya.
Terdengar suara ketawa yang aneh, karena bunyinya seperti setengah tertawa setengah menangis dan sebuah jari yang kotor menyentil belakang kepala Li Lian sehingga gadis itu siuman dari pingsan dan membuka matanya.
Alangkah herannya ketika Li Lian melihat bahwa ia sudah duduk di atas sebatang cabang pohon yang tinggi.
Kalau saja hal ini terjadi padanya dahulu, tentu ia akan berteriak-teriak minta tolong karena takutnya melihat tanah sebegitu jauh di bawahnya.
Tapi agaknya rasa takut telah lenyap di telan ombak samudera kesedihannya, hingga jangan kata baru tempat tinggi, biarpun berada di depan mulut harimau, agaknya gadis itu takkan merasa takut lagi.
Maut akan disambutnya dengan senyum dan lambaian tangan karena baginya hidup ini tak berarti lagi.
Tapi ketika ia menengok dan memandang orang yang duduk di atas sebuah dahan lain dan sedang memandangnya pula, ia terkejut sekali dan tanpa disengaja ia membelalakan matanya.
Di atas sebatang dahan duduk seorang laki-laki tua yang tinggi besar dan kurus sekali tapi keadaannya menyatakan bahwa orang itu bukanlah orang yang berotak waras!
Orang itu memegang segulung tali yang ujungnya diputar-putar seperti lagak seorang kanak-kanak yang sedang bermain-main.
Ia memandang Li Lian sambil tertawa ha-ha hi-hi.
Suma Li Lian menahan tubuhnya yang lemas dan gemetar karena lelah dan lapar, lalu berkata.
"Lopeh, kau siapakah dan mengapa kau menolong aku?"
Orang yang berpakaian jembel itu memandangnya dengan heran, lalu pada wajahnya yang berkulit kotor hitam itu terbayang seri gembira ketika ia menjawab.
"Siapa aku?"
Ia garuk-garuk kepalanya.
"Aku adalah aku dan siapa yang menolong siapa? Aku tidak menolong juga tidak ditolong. Nona sakit, maka kubawa naik ke sini."
Suma Li Lian maklum bahwa orang yang menolongnya ini benar-benar gila dan otaknya tidak waras namun ia heran sekali bagaimanakah orang gila ini dapat membawanya ke atas?
Melihat wajah dan sinar mata orang tua tinggi besar itu, agaknya tidak berwatak jelek, bahkan ketika tadi tersenyumpun tampak baik hati benar, maka ia lalu berterus terang.
"Lopeh, aku tidak sakit, hanya lelah dan lapar."
"Lapar? Bagus! Akupun lapar!"
Jawabnya sambil tertawa terkekeh.
Mau tak mau, Suma Li Lian terpaksa ikut tertawa geli, hingga ia sendiri merasa heran mengapa ia dapat tertawa!
Agaknya pada saat itu semua kesedihannya lenyap dan kegilaan orang tua itu menjalar kepadanya hingga iapun merasa sangat geli mendengar kata-kata si jembel gila yang lucu dan gila itu.
Celaka dua belas, pikirnya.
Dalam keadaan sedemikian menderita, bertemu dengan orang berotak miring.
Tapi tiba-tiba si jembel gila itu gerakkan tangannya yang memegang tali dan tali itu meluncur panjang dan bergerak-gerak bagaikan seekor ular terbang, ujung tali itu telah menyelusup diantara daun-daun pohon dan ketika di tarik kembali, diujung tali itu telah terbelit setangkai ranting yang ada buahnya beberapa butir.
Tali kecil itu agaknya dapat disuruh mencarikan makan!
Si gila itu memetik beberapa butir buah dan memberikan kepada Suma Li Lian.
"Kalau lapar, enak sekali makan. Makanlah buah ini."
Suma Li Lian memandang jembel gila itu dengan pandangan berterima kasih sekali.
Ia maklum bahwa orang gila ini adalah seorang sakti yang berkepandaian tinggi.
Dengan lahapnya ia lalu makan buah-buah itu bersama-sama si jembel yang mencari buah-buah lagi.
Sambil makan buah, mereka saling pandang tanpa bercakap-cakap.
Kemudian, Li Lian berkata lagi.
"Lo-Suhu, sebenarnya siapakah Lo-Suhu ini dan mengapakah kau begini baik kepadaku?"
Kakek gembel itu tertawa lagi dengan geli.
"Dunia ini memang lucu, tapi kau tidak lucu, nona. Kau berwajah gelap diliputi kemurungan, menimbulkan rasa sakit dalam dada kiriku."
Setelah berkata demikian, jembel gila itu meringis-ringis seperti menahan sakit dan tangan kirinya meraba-raba dadanya. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya.
"Aku adalah aku, kau tak usah bertanya karena aku sendiripun tidak tahu! Tapi kau mengapa bermuram durja? Siapa yang mengganggumu, anakku manis?"
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba diucapkan dengan suara sangat menyayang ini, hati Li Lian menjadi sedih sekali hingga tubuhnya limbung dan ia terjungkal dari dahan pohon yang didudukinya dan tubuhnya melayang ke bawah.
Tapi sedikitpun Li Lian tidak menjerit, hanya meramkan mata menanti datanya maut.
Tapi, tubuhnya tidak terbanting ke atas tanah keras, bahkan merasa seakan-akan tubuhnya diayun-ayun dan tiba-tiba ia merasa kakinya menginjak tanah.
Ketika ia membuka mata, ternyata ia telah berdiri di atas tanah dengan selamat, sedangkan empek gila tadi telah berdiri pula di depannya seakan-akan tidak terjadi sesuatu.
"Nona, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapakah yang mengganggumu?"
Suma Li Lian tidak menjawab, tapi lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis. Jembel gila itu mengangkat kepala dan sambil memandang langit ia tertawa bergelak-gelak.
"Ha, ha, ha! Kau memang pantas menjadi muridku. Pantas, pantas!"
Dengan ujung kakinya ia mencokel tubuh Li Lian dengan perlahan, tapi cukup membuat tubuh gadis itu mencelat mumbul ke atas, berputaran beberapa kali di udara sebelum jatuh lagi kebawah, tapi Li Lian sama sekali tidak merasa takut!
Kembali kakek jembel itu tertawa bergelak-gelak dan menyambar baju Li Lian untuk mencegah tubuh gadis itu terpelanting.
"Bagus, bagus ! berdirilah muridku!"
Sebenarnya, sekali-kali bukan maksud Li Lian untuk mengangkat guru kepada orang gila ini ketika berlutut tadi, tapi karena kakek aneh itu telah menerimanya sebagai murid, ia tidak berani menolak atau membantah.
Pula, di dunia ini tidak ada orang yang berlaku baik kepadanya hingga ia benci kepada dunia dan penduduknya, kini tiba-tiba ada seorang berotak miring yang sangat baik kepadanya, maka diam-diam timbul pikiran baru dalam otaknya.
Kakek ini mempunyai kepandaian luar biasa, maka kalau ia menjadi muridnya dan mempunyai kepandaian tinggi, tak mungkin manusia-manusia macam Gak Bin Tong itu berani menghinanya.
Gak Bin Tong!
Teringat akan nama ini, mata Suma Li Lian memancarkan cahaya kemarahan.
Kalau ia memiliki kepandaian tinggi, bahkan ia akan dapat membalas dendamnya kepada pemuda muka putih yang jahanam itu!
"Muridku, sekarang juga kau harus mulai belajar!"
Kata kakek gila itu.
Ia lalu memutuskan sepotong tali dan gunakan itu untuk mengikat ujung celana Li Lian di bagian pergelangan kaki kiri, demikianpun dengan ujung celana di pergelangan kaki kanan muridnya.
Lalu ia pergi ke bawah pohon dan berjungkir balik dengan kepala di atas tanah dan kaki ke atas.
"Kau tiru ini, dan sandarkan kedua kakimu di batang pohon!"
Katanya kepada Li Lian.
Semenjak kecil memang Li Lian belum pernah belajar silat hingga ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara orang bersilat, maka mendapat perintah demikian itu, dengan membuta ia turut dan taat.
Sebentar saja ia merasa kepalanya pening dan berdenyut-denyutan ketika ia berdiri dengan kepala di bawah macam itu.
Kalau tidak ada batang pohon yang menahan tubuhnya, tentu sudah tadi-tadi ia terguling!
Tapi karena hati dan perasaan Li Lian telah dibikin kaku dan membatu oleh penderitaan batin yang dipikulnya, ia bulatkan kemauannya dan biarpun andaikata sampai matipun tak nanti ia menyerah dan mundur!
Agaknya gurunya yang gila itupun maklum akan kekerasan hati muridnya, maka ia lalu membuka rahasia pelajaran mengatur napas dan latihan lweekang yang sangat luar biasa, karena di kalangan persilatan tidak ada latihan-latihan yang kesemuanya dilakukan secara aneh dan terbalik macam yang diajarkan oleh si gila ini.
Demikianlah, berhari-hari Suma Li Lian, gadis bangsawan yang sopan santun terpelajar, dan halus budi pekertinya itu, kini menjadi murid seorang gila yang sakti dan mempelajari ilmu-ilmu yang sakti yang mujijat sekali!
Karena Li Lian telah mendapat pukulan batin yang hebat sehingga keadaannya boleh dikata tidak sewajarnya lagi, dan kini mendapat seorang orang guru yang gila pula, maka sikapnyapun makin tidak karuan dan ketidak acuhannya akan keadaan diri sendiri membuat ia lebih mendekati kegilaan!
Latihan-latihan aneh dilakukan tiada hentinya di dalam sebuah hutan yang tak pernah dikunjungi manusia, dan mereka hanya berhenti berlatih apabila perut terasa lapar dan tak tertahan atau mata merasa ngantuk sekali.
Selain keperluan khusus yang tak dapat ditahan atau ditunda lagi, mereka siang malam terus berlatih mati-matian!
Kakek tua jembel yang berotak miring ini sebetulnya dahulu adalah seorang gagah yang berwatak berani, jujur, dan jantan.
Tapi karena tersesat seorang diri dalam sebuah gua siluman, ia mendapatkan ilmu mujijat yang penuh mengandung hawa siluman dan tanpa sadar mempelajarinya.
Ilmu yang dipelajarinya itu demikian mujijat hingga setelah keluar dari gua itu ia menjadi gila tapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa anehnya pula, karena gerakan-gerakannya demikian aneh, sesuai dengan orangnya yang menjadi gila!
Pengalaman-pengalaman hebat di waktu mudanya, dapat diikut dalam cerita "Bu Beng Kiam-hiap"
Yang ramai.
Entah apakah yang menggerakkan jiwa empek gila itu untuk merasa sangat tertarik dan sayang kepada Suma Li Lian sehingga ia menerima gadis sengsara itu sebagai muridnya dan menurunkan ilmu mujijat yang dimilikinya kepada murid ini.
Setelah mereka berdua bersembunyi di dalam hutan itu selama sebulan lebih, maka si jembel gila lalu mengajak muridnya keluar untuk ikut dalam perantauannya yang tiada tentu tujuan itu.
Kecantikan Li Lian lenyap tertutup oleh kekotoran yang menutupi mukanya dan oleh rambutnya yang riap-riapan mengerikan.
Tapi sepasang matanya tetap bening dan jeli, hanya sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang seakan-akan merasa jemu melihat segala yang berada di sekelilingnya.
Di sepanjang jalan tiada hentinya dan bosannya, Li Lian berlatih silat dan lweekang yang aneh-aneh.
Kita kembali kepada Giok Ciu, gadis jelita yang patah hati karena kecewa kepada Sin Wan kekasihnya.
Ia tetap menganggap bahwa pemuda itu telah terpikat oleh kecantikan Li Lian dan telah bermata gelap hingga melakukan perbuatan rendah, maka perasaan cintanya terhadap pemuda itu berubah benci sekali, benci bercampur kecewa dan memandang rendah.
Setelah berpisah dari Sin Wan pada malam itu, yakni sesudah berhasil membunuh Keng Kong Tosu bersama-sama dengan Sin Wan seakan-akan mereka sekali lagi berlumba dan tidak mau kalah dalam hal mengeluarkan kepandaian membasmi musuh-musuh mereka, Giok Ciu lari cepat di malam gelap.
Setelah keluar dari dusun itu dan memasuki sebuah hutan, ia melihat sebuah Kelenteng kecil atau Bio yang berdiri terpencil di pinggir jalan.
Bio tua itu tampak sunyi terpencil hingga menarik perhatian Giok Ciu.
Ia lalu masuk ke dalam Bio itu.
Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah patung Dewi Kwan Im yang sudah luntur catnya.
Melihat patung kecil itu berada di tempat terpencil dan sunyi, biarpun di dalam keadaan remang-remang dan gelap, Namun Giok Ciu seakan-akan melihat betapa patung itu merasa kesunyian dan sengsara karena tiada kawan, sebatang kara di dunia ini, maka sedihlah rasa hatinya.
Ia lalu menangis dan mencurahkan semua kedukaan hatinya.
Di depan patung kecil itu sambil berlutut.
Sampai fajar menyingsing, gadis itu berlutut di depan patung Kwan Im.
Kemudian ia lalu duduk bersila dan menjalankan siulian untuk menenangkan pikiran dan istirahat.
Untuk beberapa lama ia bersamadhi, kemudian ia merasa seakan-akan ada orang yang memandangnya, maka sadarlah ia lalu membuka mata.
Ternyata, seperti dulu ketika di puncak Kam-Hong-San, tak jauh di depannya tampak Gak Bin Tong duduk pula memandangnya dengan sepasang mata yang sangat kagum dan tertarik.
Seketika itu juga naiklah warna merah di kedua pipi Giok Ciu dan ia lalu meloncat berdiri.
"Eh, kau lagi! Mau apa kau mengganggu aku?"
Bentaknya ambil mencabut pedangnya. Tapi Gak Bin Tong buru-buru berdiri dan mengangkat kedua tangannya menyabarkannya.
"Maafkan aku, Lihiap. Aku tidak mempunyai maksud jahat terhadapmu, hal ini kau tahu dengan baik. Kalau dulu-dulu aku pernah mengeluarkan kata-kata kurang ajar, maka lupakanlah itu dan aku mohon maaf sebesar-besarnya."
"Jangan bicarakan lagi hal dulu-dulu!"
Giok Ciu membentak pula, tapi ia agak sabar melihat sikap pemuda itu.
"Baiklah, Lihiap. Aku selalu ingin sekali bersahabat dengan engkau, sama sekali tak ingin menjadi lawan. Bukankah dulu aku telah memperingatkan kau dari segala keburukan? Aku pernah mengatakan bahwa Li Lian dan Sin Wan..."
"Tutup mulutmu! Sekali lagi kau menyebut hal mereka, terpaksa pedangku ini yang akan berbicara!"
Gak Bin Tong tersenyum dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Maaf! Baiklah, aku takkan mengulangi hal itu. Agaknya kau masih saja tidak percaya dan membenciku, Lihiap, sungguh hal itu sangat kusesalkan, karena sebetulnya aku ingin menolongmu dalam segala hal."
Giok Ciu menjadi tidak sabar.
"Sudahlah, katakan saja apa maksudmu mengikuti aku dan datang kesini mengganggu istirahatku?"
Gak Bin Tong memperlihatkan muka terkejut.
"Aku tidak mengikutimu, Lihiap. Hanya kebetulan saja aku lewat disini. Alangkah girang hatiku melihat kau berada dalam Bio ini. Aku... aku mempunyai dugaan bahwa mungkin sekali kau akan mencari musuh besarmu, bukan? Nah, kalau betul dugaanku ini, agaknya aku akan dapat menolongmu."
Tiba-tiba lenyaplah segala kegalakkan Giok Ciu. Wajahnya yang tadi muram kini tampak berseri dan penuh semangat.
"Betulkah? Tahukah dimana tempat tinggal siluman itu? Beritahukanlah padaku!"
Diam-diam Gak Bin Tong tersenyum. Ia telah menggunakan senjata terampuh dalam menghadapi gadis ini.
"Begini, Lihiap. Aku sendiri pada saat sekarang ini tidak dapat menentukan di mana ia tinggal, tapi karena aku kenal semua tempat dan orang-orang di kota raja, mudah sekali bagiku untuk menyelidikinya. Aku tanggung, jika kau ikut aku ke kotaraja, pasti dalam waktu beberapa hari saja aku akan memberi tahu padamu dimana tempat sembunyinya siluman tua itu!"
Giok Ciu adalah seorang gadis yang biarpun memiliki kepandaian tinggi sekali namun masih hijau dan belum banyak mengenal kepalsuan dan kelicinan muslihat orang.
Mendengar kata-kata Gak Bin Tong ini, ia percaya penuh dan merasa bersyukur sekali.
Lenyaplah sebagian besar rasa tidak sukanya kepada pemuda muda putih yang tampan itu.
Ia lalu mengangkat kedua tangan di dada dan menjura.
"Saudara Gak, sungguh kau ternyata seorang sahabat yang baik. Maafkan kelakuan kasarku yang sudah-sudah karena aku bercuriga kepadamu."
"Sama-sama, Kwie Lihiap, akupun sebagai seorang muda tentu banyak kekhilapan, maka harap dari pihakmu juga yang banyak memaafkan segala kesalahanku yang sudah-sudah."
Demikianlah, dengan kata-kata yang halus, sopan, dan manis, Gak Bin Tong memasang perangkapnya, Dan Giok Ciu si dara muda yang masih bodoh ini bagaikan seekor lalat yang tanpa merasa mendekati jaring laba-laba yang berbahaya.
Namun, Giok Ciu yang mempunyai kepercayaan besar sekali kepada diri sendiri, sedikitpun tidak merasa betapa pemuda muka putih itu sedang memasang perangkap untuknya.
Hal ini sebenarnya dapat terjadi demikian mudahnya karena sikap Giok Ciu yang memandang rendah kepada pemuda itu.
Ia menganggap bahwa betapapun juga, pemuda itu takkan berdaya menghadapinya dan ia tahu betul bahwa kepandaiannya masih jauh lebih tinggi hingga tak perlu berkuatir apa-apa.
Ia tidak tahu bahwa disamping kelihaian ilmu silat, masih ada kepandaian yang lebih hebat dan lebih berbahaya lagi, yakni tipu muslihat yang banyak digunakan orang untuk menjatuhkan lawan yang lihai dan tangguh!
"Saudara Gak, menurut dugaanmu di manakah adanya Cin Cin Hoatsu pada waktu ini?"
"Kalau tidak salah tentu ada di kota raja, tapi entah di gedung mana. Kita harus berlaku hati-hati sekali, karena pada waktu ini di kota raja terdapat seorang yang sangat tangguh dan sakti, yakni Beng Hoat Taisu, seorang utusan dari Tibet yang masih paman guru dari Cin Cin Hoatsu sendiri. Aku mendengar berita bahwa kepandaian Taisu ini tinggi sekali, maka kau harus waspada dan berhati-hati Lihiap."
"Aku tidak takut, marilah kita berangkat mencari mereka!"
Di dalam hatinya, Gak Bin Tong merasa girang sekali karena ternyata muslihatnya berhasil baik.
Ia telah dicap sebagai pengkhianat oleh para pengawal kota raja semenjak rahasianya dibuka oleh Suma Li Lian dulu itu hingga ia dikejar-kejar sampai di puncak Kam-Hong-San.
Kini ia mendapat kesempatan untuk menebus kedosaannya.
Kalau saja ia dapat menjebak gadis pemberontak ini dan dapat menyerahkannya kepada Cin Cin Hoatsu, tentu ia akan mendapat muka terang dan mendapat jasa!
Tentu saja Giok Ciu sedikitpun tak pernah menyangka akan apa yang terpikir di dalam kepala pemuda tampan muka putih ini.
Di sepanjang jalan dalam perjalanan mereka ke kota raja dan mencari tahu akan keadaan Cin Cin Hoatsu, Gak Bin Tong berlaku sopan santun dan baik hingga sedikit kecurigaan yang masih bersisa di dalam hati Giok Ciu dan membuatnya berlaku waspada terhadap pemuda itu, kini lenyap sama sekali, terganti kepercayaan besar.
Berhari-hari mereka melakukan perjalanan dan setelah masuk ke kota raja, Gak Bin Tong mengajaknya secara sembunyi-sembunyi tinggal di dalam sebuah rumah di pinggir kota.
Dari tempat itu, tiap malam mereka keluar melakukan penyelidikan.
Kadang-kadang mereka berpisah, untuk melakukan penyelidikan masing-masing.
Pada hari kelima setelah mereka berada di kota yang besar itu, Gak Bin Tong berkata dengan wajah girang setelah kembali dari penyelidikannya.
"Nah, terpeganglah sekarang olehku! Aku telah menemukan tempat tinggal siluman itu, Lihiap!"
Bukan main girang hati Giok Ciu mendengar ini. Dengan wajah berseri-seri ia segera menanyakan di mana tempat itu.
"Kita harus berhati-hati, Lihiap. Sekali-kali tidak boleh berlaku lancang dan sembrono. Cin Cin Hoatsu sendiri kepandaiannya tinggi, sedangkan aku belum tahu jelas siapa saja yang tinggal di gedung besar itu. Mungkin Beng Hoat Taisu juga berada di situ pula, dan ini berbahaya sekali. Lebih baik malam nanti kita berdua pergi menyelidiki ke sana dan kalau kiranya ada kesempatan baik, kita turun tangan!"
Giok Ciu memandang wajah pemuda itu dan menghela napas.
"Saudara Gak, kau sungguh baik hati kepadaku. Pekerjaan ini tiada sangkut-pautnya dengan kau dan sangat berbahaya, maka janganlah kau membahayakan keselamatanmu untuk urusanku. Biarlah aku pergi sendiri malam nanti."
Gak Bin tong membalas pandangan nona itu dan tersenyum menjawab.
"Lihiap harap jangan sungkan, Lihiap telah tahu betul akan perasaanku terhadapmu. Maaf Lihiap, aku tidak berani mengulang-ulangi hal itu karena kau tidak suka mendengarnya. Tentu kau tidak percaya kepadaku, maka biarlah kesempatan ini kugunakan untuk membuktikan betapa murninya perasaanku itu. Biarlah kalau perlu aku mengorbankan jiwa dalam membelamu."
Giok Ciu merasa terharu mendengar ucapan ini, tapi ia tidak berkata apa-apa karena kembali bayangan Sin Wan terbayang di depan matanya dan membuatnya merasa sangat sedih.
Melihat keadaan gadis itu, Gak Bin Tong lalu meninggalkan gadis itu untuk mengadakan persiapan guna penyelidikan mereka malam nanti.
Malam hari itu udara gelap sekali.
Udara hanya diterangi oleh sinar ribuan bintang yang berkelap-kelip.
Di dalam kegelapan malam itu, tampak dua bayangan hitam berkelebat di atas genteng-genteng rumah yang tinggi.
Mereka ini adalah Giok Ciu dan Gak Bin Tong.
Seperti biasa Giok Ciu mengenakan pakaiannya yang serba hitam dan Ouw Liong Pokiam tergantung di pinggangnya.
Rambutnya yang hitam dan bagus itu diikat ke atas degan pengikat kepala dari sutera merah.
Gak Bin Tong mengenakan pakaian serba biru dan tampaknya gagah sekali.
Mereka menggunakan ilmu lari cepat dan berloncat-loncatan di atas wuwungan rumah.
Akhirnya tibalah mereka di atas sebuah gedung yang tinggi besar.
"Lihiap, inilah gedungnya. Lebih baik kita berpencar, aku masuk dari kiri dan kau dari kanan."
Giok Ciu mengangguk.
Mereka lalu berpencar dan Giok Ciu dengan gesit sekali loncat ke atas wuwungan bangunan sebelah kanan.
Ia melihat betapa di bawah masih terang sekali, tanda bahwa penghuni gedung itu belum tidur.
Hatinya berdebar keras karena ia ingin sekali lekas-lekas bertemu dengan musuh besarnya dan membuat perhitungan.
Ketika ia sedang mengintai ke dalam, telinganya yang tajam mendengar sesuatu di atas genteng sebelah belakangnya.
Cepat-cepat ia menengok dan melihat bayangan yang berkelebat cepat sekali tapi terus lenyap!
Ia kaget sekali karena orang itu memiliki kepandaian tinggi dan gerakan yang cepat sekali.
Pada saat ia menduga-duga, tiba-tiba di bawah genteng terdengar suara orang berjalan dan ia cepat mengintai dari celah-celah genteng.
Hatinya berdebar keras ketika melihat bahwa yang berjalan dengan pedang berkilauan di tangan itu adalah Sin Wan!
Ia merasa marah sekali karena hatinya takkan rela kalau pemuda itu mendahuluinya dan membinasakan musuh besar Ayahnya.
Maka tanpa banyak pikir lagi Giok Ciu lalu melayang turun untuk menegur dan mengusir Sin Wan.
Tapi pada saat itu dari dalam gedung keluarlah seorang tinggi besar yang langsung menyerang Sin Wan dengan sebatang tongkat ular!
Ternyata yang datang ini adalah Kwi Kai Hoatsu!
(Lanjut ke
Jilid 10 -Tamat) Kisah Sepasang Naga/Ji Liong Jio Cu (Seri ke 02 -Serial Jago Pedang Tak Bernama) Karya . Asmarainan S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 (Tamat) "Tosu siluman, sekarang takkan kulepaskan lagi kau!"
Kata Sin Wan dengan marah dan menangkis dengan Pek Liong Pokiam.
Pada saat itu Giok Ciu telah turun dan tanpa banyak cakap lagi ia kerjakan Ouw Liong Pokiam untuk menyerang Kwi Kai Hoatsu, hingga tosu itu terkejut sekali.
Menghadapi Sin Wan seorang saja ia tidak mampu menang, sekarang ditambah kehadiran gadis lihai ini.
Ia mundur dengan jerih.
Sin Wan juga terkejut melihat Giok Ciu.
Hampir saja ia berseru memanggil, tapi melihat betapa muka gadis itu tampak marah dan sama sekali tidak memperdulikan padanya, ia juga diam saja, tapi mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menamatkan pertempuran ini.
Pada saat Kwi Kai Hoatsu terdesak dan berada dalam keadaan berbahaya sekali, dari dalam terdengar orang berseru keras dan tahu-tahu Cin Cin Hoatsu telah melayang dan dengan bentakan nyaring ia menggunakan ujung lengan bajunya menyerang Sin Wan!
Pemuda ini melihat datangnya serangan yang demikian hebat, cepat merobah gerakan pedangnya dan menangkis, Cin Cin Hoatsu dapat merasa betapa sambaran pedang pemuda itu hebat sekali, maka ia tidak berani melanjutkan serangannya karena maklum bahwa ujung bajunya tentu akan terbabat putus, maka ia meloncat ke belakang sabil berjumpalitan.
"Ha, ha, ha! Kusangka siapakah tamu-tamu malamku, tidak tahunya kedua pemberontak muda ini! Memang telah kuduga bahwa kalian tentu akan datang juga akhirnya. Maka menyerahlah sebelum kalian mampus di ruangan ini!"
Sementara itu, melihat datangnya musuh besar ini, Giok Ciu juga meninggalkan Kwi Kai Hoatsu dan kini menuding sambil memaki dengan marah sekali.
"Cin Cin, Pendeta palsu! Kalau kau memang laki-laki sejati, hayolah kau layani aku seribu jurus untuk menentukan siapa yang lebih unggul! Kau telah membunuh mati Ayahku, apakah sekarang kau begitu pengecut untuk menghindari puterinya yang hendak menuntut balas?"
"Ha, ha, nona cantik. Sungguh aku beruntung sekali mendapat kehormatan untuk melayanimu! Kau kira kau akan dapat menangkan aku? Pula, andaikata kau dapat menangkan aku juga, kau kira akan dapat lolos dari sini dengan aman? Ketahuilah, kini lebih dari dua puluh pahlawan istana kini telah mengepung gedung ini untuk menangkap kalian!"
Giok Ciu dan Sin Wan terkejut juga mendengar ini.
Mereka telah masuk perangkap!
Pada saat itu, dari atas genteng melayang turun bayangan orang dan ternyata yang turun itu adalah Gak Bin tong dengan pedang di tangan.
"Kwie Lihiap, jangan takut, aku membantumu!"
Katanya dengan gagah.
Cin Cin Hoatsu tertawa bergelak-gelak lalu dari punggunya ia mengeluarkan sebatang pedang dan dari ikat pinggang ia mencabut hudtimnya yang warna.
Ia lalu menyerang ke arah Giok Ciu dengan gerakan cepat dan kuat sekali.
Gadis itu tidak menjadi jerih, bahkan ketika tahu bahwa ia telah dikepung, ia hendak berlaku nekad dan mengadu jiwa.
Ia menggerakkan Ouw Liong Pokiam sedemikian rupa hingga Cin Cin Hoatsu kagum sekali.
Ternyata bahwa kepandaian gadis ini lihai sekali, bahkan kiam-hoatnya aneh dan tak mampu ia memecahkannya!
Ketika ia mengadu lweekang dan menggunakan pedangnya hendak menyampok pedangnya hendak menyampok pokiam Giok Ciu, kembali ia terheran karena lweekang gadis muda itupun tidak berada di bawah tingkatannya!
Tadinya ia mentertawakan Suhengnya, yakni Kwi Kai Hoatsu yang memuji-muji kepadaian Sin Wan dan Giok Ciu di depan Sutenya, tapi kini ia setelah merasakan sendiri kelihaian Giok Ciu, diam-diam merasa jerih dan bingung.
Sementara itu, Sin Wan gunakan pokiamnya mendesak Kwi Kai Hoatsu!
Sedangkan Gak Bin Tong yang merasa bahwa kepandaiannya masih jauh di bawah tingkat mereka yang bertempur, hanya berdiri dengan pedang di tangan melihat jalannya pertempuran.
Pada saat yang sangat tidak menguntungkan itu, Cin Cin Hoatsu lalu bersuit keras memberi tanda kepada para pahlawan raja yang mengepung gedung itu untuk turun tangan membantu.
Tapi biarpun berkali-kali ia bersuit dan berseru memberi tanda tak satupun bayangan kawan-kawannya tampak turun!
Hal ini aneh sekali dan ia merasa sangat gelisah dan terkejut.
Juga Gak Bin Tong yang sebenarnya adalah pengatur dari jebakan ini, tiba-tiba menjadi pucat dan diam-diam merasa cemas sekali.
Ia tahu bahwa kepandaian Sin Wan dan Giok Ciu hebat sekali dan kedua imam itu agaknya akan kalah.
Ia merasa gemas sekali mengapa tanpa diduga sama sekali Sin Wan bisa datang di situ dan mengacau rencananya.
Tapi yang mengherankan sekali, mengapa dua puluh orang gagah yang berada di sekitar tempat itu tidak muncul-muncul?
Ia ingin sekali meloncat naik dan melihat mereka, tapi kuatir kalau-kalau gerakan ini akan terlihat oleh Sin Wan dan Giok Ciu hingga menimbulkan kecurigaan, maka ia diam saja sambil berdiri bingung.
Sama sekali mereka tidak menduga bahwa dua puluh orang yang menjaga di sekeliling tempat itu, semuanya telah kaku karena tertotok oleh tangan yang luar biasa gerakannya!
Dengan gerakan Pek-Liong Ciau-Hai atau Naga Putih Lintasi Laut, pedang Sin Wan akhirnya berhasil menusuk leher Kwi Kai Hoatsu yang berteriak keras dan roboh di atas lantai!
Setelah berhasil merobohkan lawannya, tanpa banyak cakap lagi Sin Wan lalu menerjang Cin Cin Hoatsu yang masih bertempur seru melawan Giok Ciu.
Gadis itu merasa gemas sekali melihat Sin Wan ikut menyerbu, maka berkata marah.
"Jangan mencampuri urusanku, biarkan aku membalas sendiri sakit hati Ayahku!"
Sin Wan menjawab.
"Bukan hanya engkau yang menaruh dendam, aku juga ingin membalaskan sakit hati Kwie-Suhu!"
Lalu ia menggerakkan pedangnya dengan hebat.
Giok Ciu kertak gigi dan perhebat serangannya karena ia tak ingin didahului oleh Sin Wan.
Kembali sepasang pedang pusaka itu seakan-akan berlumba memperebutkan pahala.
Cin Cin Hoatsu merasa takut sekali ketika tiba-tiba kedua lawannya yang masih muda itu lenyap dari pandangan matanya dan seakan-akan berubah menjadi dua sinar hitam putih yang bergulung-gulung menyerang dirinya, seakan-akan sepasang naga hitam dan naga putih yang mencakar-cakar dan menyambar-nyambar.
Imam yang sesat itu menjadi terdesak dan ia masih mencoba untuk menangkis dengan pedang dan kebutannya.
Dalam bingungnya ia teringat akan paman gurunya yang berjanji hendak datang.
Mengapa belum juga susioknya itu muncul?
Ia berseru.
"Susiok... bantulah... susiok..."
Tapi Sin Wan dan Giok Ciu tak memberi ketika kepadanya untuk berteriak-teriak terus, karena dengan gerakan mematikan kedua pokiam itu berbareng menyambar dan tahu-tahu telah menembusi dada musuh besar itu dari kanan kiri!
Pedang dan kebutan Cin Cin Hoatsu terlepas dan tangan, tubuhnya kejang dan ketika dua pedang itu ditarik keluar, tubuhnya terhuyung dan akhirnya mandi darah!
Giok Ciu yang masih merasa penasaran karena lagi-lagi Sin Wan telah memperlihatkan ketangkasannya hingga robohnya musuh besar inipun disebabkan oleh serangan mereka yang berbareng, segera maju dan mengayunkan pedangnya hingga putuslah kepala Cin Cin Hoatsu!
Tapi Sin Wan setelah melihat betapa musuh besar itu dapat dibinasakan, kini menghampiri Gak Bin Tong yang berdiri dengan wajah pucat.
Sikap Sin Wan yang menakutkan itu membuat ia mundur-mundur hingga sampai di tembok.
Giok Ciu berpaling dan kaget melihat sikap Sin Wan.
"Bangsat hina dina! Laki-laki rendah! Kalau belum membunuh engkau, aku takkan merasa puas!"
Terdengar Sin Wan berkata perlahan.
"Saudara Bun... jangan... jangan... mengapa kau hendak membunuh...?"
Gak Bin Tong merasa takut melihat wajah Sin Wan yang menyeramkan karena menahan marah dan gemasnya.
Tapi Sin Wan tak dapat banyak berkata lagi, dengan loncatan cepat ia mengayun Pek Liong Pokiam ke arah leher Gak Bin Tong yang mencoba menangkis dengan pedangnya.
Terdengar suara "Trang!"
Keras sekali dan pedang pemuda she Gak itu putus menjadi dua potong!
Ketika Sin Wan menyerang untuk kedua kalinya, tiba-tiba sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu pedangnya telah tertangkis oleh pedang Giok Ciu!
"Pengecut hina juga kau main bunuh saja orang yang lebih lemah!
Lebih pantas kau bunuh dirimu sendiri, atau kau bunuh aku!"
Kata Giok Ciu. Sin Wan balas memandang dengan marah.
"Hem, jadi kau juga telah kena tipuannya dan pikatnya? Bagus! Bertambahlah alasanku untuk membinasakan anjing ini!"
Kembali ia menyerang Gak Bin Tong tanpa perdulikan Giok Ciu, tapi gadis itu yang merasa dipandang rendah sekali, lalu menggerakkan pedangnya menangkis lagi hingga sebentar saja mereka berdua lalu bergebrak seru sekali.
Tapi pada saat itu terdengar suara wanita yang nyaring dan merdu, dibarengi suara tertawa aneh.
"Suhu, kau rampas pedang mereka!"
Dari atas melayang turunlah tubuh seorang yang tinggi besar.
Tangan kiri orang itu memegang lengan tangan seorang wanita yang riap-riapan rambutnya.
Begitu turun, orang tinggi besar itu melepaskan tangan wanita itu, lalu ia maju cepat menghampiri Sin Wan dan Giok Ciu yang sedang bertempur.
Beberapa kali ia berloncat-loncatan dan kedua tangannya bergerak secara aneh dan tahu-tahu Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam telah terampas olehnya!
Sin Wan dan Giok Ciu terkejut sekali karena tengah mereka bertempur, tiba-tiba mereka melihat bayangan orang yang bergerak secara aneh di dekat mereka dan ada gerakan angin menyambar dan menyerang jalan-jalan darah mereka hingga mereka segera berkelit.
Tidak tahunya, tiba-tiba pedang mereka secara gaib telah terlepas dan terampas oleh bayangan itu.
Sungguh satu gerakan ilmu merampas senjata dengan tangan kosong yang hebat sekali!
Orang itu tertawa bergelak-gelak dan angsurkan kedua pedang kepada wanita yang menyebutnya Suhu.
Ketika Sin Wan dan Giok Ciu memandang, mereka terkejut sekali karena orang tinggi besar yang merampas pedang mereka itu ternyata bukan lain ialah si jembel gila yang dulu pernah menolong mereka.
Tapi lebih hebat kekagetan mereka ketika mereka lihat wanita muda yang menjadi murid si kakek gila itu, karena biarpun pakaiannya seperti orang gila dan rambutnya riap-riapan menutupi muka, mereka masih mengenali bahwa wanita itu bukan lain orang ialah Suma Li Lian adanya!
Tak terasa lagi, dari mulut Sin Wan keluar seruan tertahan dan ia berbisik.
"Suma-Siocia... engkau...?"
Sementara itu, Gak Bin Tong yang tadinya berdiri mepet di tembok karena merasa takut kepada Sin Wan kini memandang Suma Li Lian dengan kedua mata terbelalak ngeri, Juga ia memandang kakek tinggi besar itu dengan heran karena tidak tahu siapakah orang yang aneh dan luar biasa ini.
Suma Li Lian menerima kedua pedang Pek Liong dan Ouw Liong Pokiam di tangan kanan kiri dan memutar-mutar kedua senjata itu sedemikian rupa sehingga Sin Wan dan Giok Ciu tak terasa lagi saling pandang dengan bengong, karena gerakan-gerakan gadis itu adalah tipu-tipu silat Sin-Liong Kiam-Sut!
Kemudian mereka merasa ngeri ketika mendengar gadis itu tertawa pula bergelak-gelak seperti suara ketawa kakek gila itu.
Suma Li Lain memandang kedua pedang itu berganti-ganti, lalu ia mendekati Sin Wan dan Giok Ciu.
Pandang mata gadis yang agaknya telah menjadi gila itu membuat Sin Wan dan Giok Ciu tak terasa pula mundur satu tindak kebelakang.
[gambar 1) "Ha, ha, ha, kau...
kau...
orang!
Orang-orang bodoh...
ha, ha, ha!
Sin Wan, kau telah mengecewakan dan menghancurkan hati seseorang, tapi kau telah menerima balasanmu.
Kau juga dikecewakan, bukan?
Ha, ha, ha!
Itulah cinta!
Cinta gila yang membuat orang-orang menjadi gila pula!
Kau cinta kepada Giok Ciu?
Tentu saja, gadis itu cantik jelita.
Kalau Giok Ciu telah bercacat, telah menjadi gila seperti aku, masih akan cintakah kau padanya?
Tak mungkin...
ha, ha...
inilah cinta!"
Sin Wan memandangnya dengan muka menjadi merah.
Pemuda itu merasa kasihan sekali melihat betapa Li Lian menjadi demikian, tapi ia juga merasa heran betapa ucapan-ucapan gila itu menikam jantungnya seakan-akan ucapan itu mengandung filsafat yang nyata.
Kemudian gadis gila itu memandang kepada Giok Ciu.
"Kau... ha, ha! Kau lebih gila lagi! Kau bodoh dan mudah tertipu. Kau terlalu menurutkan perasaan hatimu, tidak mau menggunakan pertimbangan sehat! Kau mencinta Sin Wan? Bohong! Cintamu palsu. Kalau betul mencinta mengapa sedikit rasa cemburu saja dapat merobah cintamu menjadi benci. Itu bukan cinta! Kau mencinta diri sendiri! Giok Ciu... kau gadis tolol. Ha, ha,ha..."
Dan Giok Ciu terbelalak heran.
Ia tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Menurut rasa hatinya, ingin ia menyerang gadis ini dan merampas kembali pedangnya.
Tapi ia malu, karena baru saja gadis gila itu menyatakan bahwa ia terlampau menurutkan perasaan hatinya!
Kemudian Suma Li Lian membalikkan tubuh dengan cepat sekali, dan dengan tindakan perlahan dan mengancam ia menghampiri Gak Bin Tong!
Pemuda itu melihat hal ini menjadi takut sekali dan tubuhnya bergemetar bagaikan api lilin besar yang berada di ruang itu dan pada saat itu tertiup angin.
Sementara itu, kakek tua gila itu menjatuhkan diri duduk dan menyandarkan diri di tembok, melenggut, dan sebentar lagi ia mendengkur!
"Gak Bin Tong, manusia rendah!
Bukan...
bukan manusia, kau binatang hina!
Dosamu besar sekali dan kau lebih gila daripada segala yang gila!
Kau telah menodaiku, menghancur-leburkan hidupku, tapi secara pengecut sekali kau telah melemparkan tanggung jawab perbuatanmu itu kepada Sin Wan!
Kau tidak hanya merusak hidupku, tapi kaupun merusak perhubungan dan kebahagiaan sepasang kekasih itu!
Ha, ha!
Tahukah apa hukumannya karena kau telah menipuku dan berpura-pura menjadi Sin Wan lalu memasuki kamarku!
Ha, ha!
Lihatlah dua pedang ini.
Dengan pedang ini, aku hendak mengeluarkan jantungmu!
Hendak kulihat apakah jantungmu berwarna hitam atau merah!"
Sambil berkata demikian, ia maju makin dekat.
Terdengar seruan tertahan dari Giok Ciu, karena gadis ini ketika mendengar pengakuan dan keterangan Li Lian yang membuka rahasia persoalan menjadi demikian terkejut dan terharu hingga ia memekik perlahan dan menangis sambil menggunakan kedua tangan menutupi mukanya!
Ia merasa malu, menyesal dan marah kepada Gak Bin Tong.
Ternyata Sin Wan benar-benar tak pernah melakukan perbuatan sesat sebagaimana yang dikiranya!
Sin Wan tetap bersih, dan Gak Bin Tong pemuda jahanam itulah gara-gara semuanya.
Kini terbuka matanya betapa ia telah tertipu oleh pemuda muka putih itu, betapa pemuda itu sebenarnya adalah pengkhianat dan "Pertolongan"
Yang diberikan padanya sekarang ini sebetulnya hanyalah sebuah perangkap untuk menangkap dan menjatuhkannya!
Ah, betapa bodohnya, betapa tololnya.
Benar belakalah kata-kata Li Lian tadi yang mengatakan bahwa ia adalah seorang gadis bodoh dan tolol!
Tapi, demikian pikirnya, setolol-tolol dia masih lebih tolol Suma Li Lian yang dapat terpedaya oleh Gak Bin Tong!
Maka ia lalu membuka tangannya dan sambil menahan tangis ia melihat kepada gadis yang telah berada di hadapan Gak Bin Tong.
Pemuda muka putih itu dengan bibir gemetar berkata.
"Li Lian... Li Lian... ampunilah aku... Biarlah aku menebus dosa-dosaku dan merawatmu baik-baik... Li Lian, mana anakku...? Marilah kita mulai hidup baru lagi, kau ampunilah aku, Li Lian?"
Terdengar pekik ngeri dari mulut Li Lian, seakan-akan kata-kata ini menusuk anak telinganya.
"Bangsat rendah! Jangan ulangi kata-kata palsu itu! Siapa yang sudi mendengarnya? Tahukah kau bahwa jika kuketahui kaulah orangnya yang menggangguku, pada saat itu juga aku lebih baik membunuh diriku? Siapa sudi dicinta olehmu? Cintamu kotor dan hina. Rasakanlah sekarang pembalasanku!"
Setelah berkata demikian, Li Lian maju menyerang dengan kedua pedang di kanan kiri, menyabet ke arah leher Gak Bin Tong.
Sebetulnya kepandaian Gak Bin Tong bukanlah lemah dan kalau baru Li Lian saja yang hanya belajar silat selama satu bulan, tak mungkin dapat melawannya, biarpun gadis itu menyakinkan ilmu silat yang mujijat.
Akan tetapi, pada saat itu Gak Bin Tong telah kehilangan tiga perempat bagian semangatnya yang membuatnya lemas da lambat.
Ia telah putus asa melihat ancaman-ancaman Sin Wan dan kini setelah rahasianya terbuka oleh Li Lian, tentu Giok Ciu takkan dapat mengampuninya pula.
Juga, selain tiga orang ini, masih ada lagi kakek gila yang duduk melenggut sambil mendengkur itu.
Ia maklum bahwa jembel itu tentu seorang sakti, karena ia dapat menduga bahwa dua puluh orang pahlawan yang kini tidak muncul-muncul itu tentu telah dibuat tak berdaya oleh kakek jembel itu!
Maka apakah harapannya untuk tinggal hidup?
Keputus-harapan inilah membuat ia setengah hati untuk menahan serangan Li Lian yang biarpun lemah tapi telah mempelajari ilmu silat aneh.
Dengan mudah saja sambil menundukkan kepala, Gak Bin Tong dapat mengelit dua pedang yang menyambar di atas kepalanya, tapi pada saat itu Li Lian mengeluarkan teriakan demikian gila dan menyeramkan hingga seluruh tubuh Gak Bin Tong terasa lemas!
Inilah lweekang luar biasa yang diajarkan oleh kakek gila itu, dan teriakan ini cukup untuk melumpuhkan seorang yang lweekangnya belum begitu tinggi.
Bahkan Sin Wan dan Giok Ciu yang mendengar pekik gila ini, merasa betapa dada mereka berdebar aneh dan keras!
Pada saat Gak Bin Tong memandang kepada Li Lian dengan mata terbelalak takut dan tubuhnya lemas, sepasang pedang hitam dan putih itu meluncur cepat dan tahu-tahun telah menusuk dada Gak Bin Tong hingga tembus!
Li Lian tertawa bergelak-gelak, tapi pada saat itu dari pintu di belakang Gak Bin Tong yang terbuka menyambar angin besar yang membuat tubuh Li Lian terlempar keras dan jatuh di pangkuan kakek jembel gila yang sedang melenggut.
Ketika kakek gila itu membuka matanya, ternyata muridnya telah meringkuk di atas pangkuannya dalam keadaan mati!
Juga Sin Wan dan Giok Ciu terkejut sekali.
Mereka tahu bahwa Li Lian telah terkena pukulan dari jauh yang dilakukan oleh orang berilmu tinggi.
Mereka tidak berani sembarangan bergerak, hanya berlaku waspada dan hati-hati menjaga segala kemungkinan.
Jembel gila itu beberapa kali meraba jidat Li Lian.
Tiba-tiba ia meletakkan tubuh muridnya di atas lantai, lalu ia berdiri dan menangis!
Suara tangisan ini diseling-seling suara tertawa yang terdengar sangat aneh dan membuat bulu tengkuk Sin Wan dan Giok Ciu meremang karena merasa ngeri.
Dan pada saat itu dari pintu di dekat tempat Gak Bin Tong berdiri, muncullah seorang tosu tua sekali dengan tubuh bongkok dan tongkat di tangan.
Ia memasuki ruangan itu dan kedua matanya yang tajam menyambar-nyambar.
Ia melihat betapa Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu rebah mandi darah dan mati di atas lantai, maka ia membuka mulutnya dan bertanya dengan suara kecil tinggi bagaikan suara kanak-kanak.
"Siapa orangnya yang berani membunuh kedua orang ini?"
Tapi pada saat itu, lain suara terdengar, dan sungguh jauh bedanya dengan suara kakek bongkok tadi, karena suara ini terdengar besar, parau, dan bernada aneh dan janggal.
"Siapa orangnya yang berani membunuh muridku ini?"
Kakek bongkok ini tujukan pandang matanya kepada si jembel gila yang berdiri di sudut lain. Ia memandang heran dan bertanya.
"Siapa pulakah orang gila ini?"
Tanyanya.
"He, siapa namamu dan ada apakah kau berada di sini?"
Jembel gila itu balas memandang.
"Siapa aku, siapa namamu? Aku sendiri tidak tahu. Aku adalah aku, dan mengapa aku berada di sini, entahlah. Tapi siapa yang telah membunuh muridku ini? Kaukah, orang bongkok?"
Si bongkok tersenyum.
"Ya, akulah yang melakukan itu. Kau tidak mau memberitahukan nama, tapi aku tidak demikian pengecut. Pinto adalah Beng Hoat Taisu dan kedua orang ini adalah murid-murid keponakanku. Nah, sekarang jawablah, kau siapa orang gila?"
Si jembel gila itu mendengar pengakuan ini maju perlahan-lahan dan tertawa-tawa sambil menangis.
"Kau membunuh mati dia? Kalau begitu aku harus membunuhmu juga!"
Beng Hoat Taisu tertawa kecil.
Ia belum pernah melihat orang ini dan belum pernah pula mendengar seorang tokoh persilatan yang seperti orang gila ini, maka ia memandang rendah sekali.
Sebaliknya, ia berhati-hati terhadap Sin Wan dan Giok Ciu, karena kedua anak muda ini tampaknya memiliki kepandaian tinggi.
Maka ia lalu menujukan pertanyaannya kepada mereka.
"He, orang-orang muda! Siapakah yang membunuh Cin Cin Hoatsu dan Kwi Kai Hoatsu?"
"Aku yang membunuh mereka!"
Jawab Sin Wan dengan gagah.
"Bukan, akulah yang membunuh mereka!"
Kata Giok Ciu tak mau kalah.
Tiba-tiba terdengar gelak tawa si jembel gila dan dari tangannya menyambar seutas tali panjang yang meluncur cepat dan membelit gagang kedua pedang yang masih menancap di tubuh Gak Bin Tong yang telentang.
Sekali sendal saja, kedua pokiam itu tercabut keluar dan sendalan kedua membuat kedua pedang itu melayang ke arah Sin Wan dan Giok Ciu!
Kedua pemuda pemudi itu segera mengulurkan tangan dan menyambut pedang mereka dengan girang dan kagum sekali.
Sebenarnya mereka tadi hendak mengambil pedang mereka dari tubuh Gak Bin Tong, tapi mereka kuatir kalau-kalau kakek bongkok yang lihai itu menyerang mereka.
Melihat kelihaian jembel gila itu, si kakek bongkok merasa heran sekali.
Ia lalu menjura dan sekali lagi bertanya.
"Toheng siapakah sebenarnya nama dan julukanmu?"
Si jembel kini telah maju dekat dan berdiri di hadapan Beng Hoat Taisu.
"Aku adalah aku dan mengapa kau bunuh mati muridku? Aku harus membunuh kau!"
Marahlah Beng Hoat Taisu mendengar ini karena ia merasa dipandang rendah sekali.
"Orang gila, baiklah kuantar kau menyusul muridmu!"
Baru saja kata-katanya habis diucapkan tiba-tiba tongkatnya bergerak dan cepat sekali meluncur ke arah dada si jembel gila merupakan totokan maut yang berbahaya sekali.
Sin Wan dan Giok Ciu terkejut sekali, tapi si jembel gila sambil mengeluarkan suara ketawa bergelak lalu bergerak dengan aneh dan tahu-tahu ia telah dapat berkelit dan talinya yang kecil panjang itu meluncur dalam serangan balasan!
Beng Hoat Taisu tak berani memandang rendah serangan ini dan menangkis dengan tongkatnya.
Tapi tali itu bergerak bagaikan ular dan ujungnya dapat membelit tongkat itu lalu ditarik untuk merampas tongkat lawan.
Mereka berdua mengerahkan tenaga, tapi ternyata tenaga lweekang mereka sama kuat hingga tali dan tongkat itu masing-masing masih terpegang kencang, sama sekali tidak dapat terbetot!
Si jembel gila tertawa keras dan talinya mengendur dan melepaskan belitan, lalu mereka bertempur pula.
Sin Wan dan Giok Ciu yang tahu bahwa jembel gila itu berdiri di fihak mereka, lalu maju membantu dengan pedang mereka di tangan.
Tapi mereka segera mundur kembali dengan kaget, karena sekali saja pedang mereka beradu dengan tongkat Beng Hoat Taisu, mereka merasakan tangan mereka linu dan lemas, tenaga mereka terpukul kembali oleh tenaga si bongkok yang benar-benar lihai dan memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari mereka.
Pada saat itu, terdengar seruan-seruan ramai dan ternyata dua puluh pengawal keraton Kaisar yang tadinya tertotok tak berdaya oleh si jembel gila, kini berserabutan masuk dengan senjata di tangan mereka.
Mereka tadi telah tertolong oleh Beng Hoatsu Taisu yang baru saja datang, dan setelah mereka dapat bergerak kembali, lalu membawa senjata masing-masing dan maju menyerbu!
Karena tidak tahu akan kelihaian si jembel, mereka sambil berteriak-teriak membantu Beng Hoat Taisu dan menyerang si jembel.
Tapi sekali saja si jembel gila itu menggerakkan talinya yang aneh, tali itu bersiutan nyaring dan empat orang roboh dengan kulit terbeset dan mengeluarkan darah karena kena di cambuk oleh ujung tali itu!
Kini mereka mundur dengan jerih, lalu menujukan perhatian mereka kepada Sin Wan dan Giok Ciu.
Melihat kedua anak muda ini, ramailah mereka menyerbu hendak menangkap.
Sin Wan dan Giok Ciu memutar pedang mereka dan pertempuran hebat terjadi di dalam ruang gedung yang sangat luas itu.
Sementara itu, Beng Hoat Taisu dan si jembel gila telah lenyap dari pandangan mata.
Tubuh kedua orang tua aneh dan berilmu tinggi itu telah tertutup sama sekali oleh sinar kedua senjata mereka yang walaupun hanya tongkat biasa dan tali saja, namun kehebatannya jauh melebihi puluhan senjata tajam terbuat daripada baja tulen!
Angin gerakan kedua kakek itu membuat kursi dan meja bergoyang-goyang dan menimbulkan suara berdesir-desir.
Karena tidak merasa puas dengan adu tongkat dan tambang, mereka lalu melempar kedua senjata itu ke lantai, dan mulai berhantam dengan menggunakan sepasang kaki dan tangan!
Pertempuran dilanjutkan dengan lebih mati-matian.
Beng Hoat Taisu merasa penasaran dan heran sekali, karena selama hidupnya yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun itu, belum pernah ia bertemu dengan seorang lawan yang demikian tangguhnya.
Mungkin tak lebih tangguh daripada Bu Beng Lojin yang pernah juga menjatuhkannya, tapi ilmu pukulan si jembel ini sungguh-sungguh aneh sekali!
Gerakan-gerakannya tak teratur sama sekali, pukulan-pukulannya ngawur belaka namun, tiap kali serangannya seperti akan mendatangkan hasil baik, tiba-tiba saja gerakan si jembel itu berubah dan tepat sekali dapat menangkisnya atau berkelit seakan-akan di seluruh bagian tubuh jembel itu ada matanya yang melihat datangnya bahaya!
Juga, serangan-serangan ngawur yang dilancarkan oleh si jembel ini, sungguh-sungguh sukar diduga.
Kalau serangannya seperti yang tepat dan hampir berhasil, tiba-tiba jembel itu dan menarik kembali tangannya, sedangkan jika serangannya dapat ditangkis atau dikelit oleh Beng Hoat Taisu, tiba-tiba serangan yang gagal itu masih dapat dilanjutkan dengan serangan lain yang terlebih lihai dan aneh!
Beng Hoat Taisu adalah seorang tosu kelas satu dari pegunungan Tibet dan ia telah terkenal sekali sebagai seorang jagoan kelas tertinggi dan sukar dicari bandingannya pada masa itu.
Hampir semua jago-jago silat di Tibet mapun di daratan Tiongkok, telah dicobanya dan belum pernah ia menderita kekalahan.
Paling buruk tentu bermain seri, yakni ketika ia melawan jago-jago dari seluruh Tiongkok Selatan dan jago-jago dari seluruh Mongol.
Baru tiga kali ia pernah benar-benar dikalahkan orang, yakni ketika bertemu dan melawan Bu Beng Lojin dan paling akhir ketika ia bertemu dengan Pai-San Sianjin dan Nam-Hai Sianjin dua orang tokoh terbesar di Tiongkok timur.
Tapi ketiga orang inipun hanya menang sedikit saja darinya.
Ia mengira tadinya bahwa hanya tiga orang itulah yang memiliki kepandaian lebih tinggi darinya.
Tapi sungguh tidak dinyana, ini hari ia bertemu dengan seorang jembel gila yang memiliki kepandaian sungguh-sungguh istimewa dan aneh.
Pula, angin gerakan pukulan si jembel gila itu seperti mendatangkan hawa gila yang menyeramkan dan aneh, hingga seakan-akan ia merasa seperti sedang bertempur melawan mahluk bukan manusia.
Ia takkan ragu-ragu untuk percaya jika dikatakan bahwa ia sedang bertempur melawan iblis sendiri Gerakan silat macam ini memang tak mungkin dicipta oleh manusia kecuali manusia iblis!
Beng Hoat Taisu mengerahkan tenaga batin dan lweekangnya untuk menjatuhkan jembel gila itu tapi selalu tenaganya ini buyar dan terpukul oleh hawa aneh yang keluar dari pukulan-pukulan dan gerakan si jembel.
Tiba-tiba jembel gila itu tertawa lagi, nyaring dan panjang.
"Ha, ha, ha! Kau sungguh lihai, kau hampir selihai... Bu Beng...! Ya, kau hampir selihai Bu Beng!"
Mendengar ini, Beng Hoat Taisu menjadi terkejut.
"Pernah apakah kau dengan Bu Beng Lojin?"
Tanyanya sambil mengirim serangan.
"Ha, ha! Bu Beng kawan baikku. Kau kenal Bu Beng?"
Balas tanya jembel itu, suaranya mengandung keramahan hingga Beng Hoat Taisu menjadi heran.
"Aku kenal baik padanya,"
Jawabnya. Tiba-tiba saja desakan si gila mengendur.
"Kalau begitu, aku tidak jadi membunuhmu! Kau kawan baik Bu Beng! Ah... Murid, kau tunggu sajalah. Pasti tiba saatnya pembunuh ini menemui maut, dan aku juga tentu akan menyusulmu kelak... Ha, ha, ha!"
Setelah berkata demikian, jembel gila itu meniup keras ke arah muka lawannya.
Tiupan ini demikian hebat dan bertenaga hingga cepat sekali Beng Hoat Taisu berkelit, namun masih saja jenggot dan rambutnya yang panjang putih berkibar-kibar bagaikan tertiup angin besar!
Ia menjadi kaget sekali, tapi pada saat itu si jembel gila telah meloncat mendekati Sin Wan dan Giok Ciu.
Pada saat si jembel tadi bertempur dengan hebatnya melawan Beng Hoat Taisu, kedua orang muda itu mengamuk dan biarpun dikeroyok oleh belasan orang pengawal-pengawal Kaisar yang berkepandaian tinggi, namun Pek Liong Pokiam dan Ouw Liong Pokiam menyambar-nyambar demikian hebatnya hingga sebentar saja beberapa orang telah menjadi kurban dan sisa pengeroyok mereka menjadi jerih.
Pada saat mereka masih mainkan pedang, tiba-tiba Sin Wan dan Giok Ciu merasa betapa lengan tangan mereka di betot orang dan mereka tahu bahwa si jembel itu mengajak mereka pergi.
Mereka meloncat pula ke atas dan mengikuti si jembel yang telah lari lebih dulu sambil memondong tubuh Suma Li Lian yang telah menjadi mayat.
Kakek jembel itu berhenti di sebuah hutan, lalu ia meletakkan muridnya di atas tanah sambil beberapa kali mengeluh.
"Muridku, kau sungguh kejam telah meninggalkan aku lebih dulu..."
Dan menitik keluarlah air mata dari kedua mata si kakek jembel.
Sementara itu, malam telah berganti fajar dan ayam mulai berkeruyuk, tapi masih saja kakek jembel itu berlutut di dekat jenazah muridnya, sedangkan Sin Wan dan Giok Ciu berdiri memandang keadaan kakek aneh itu dengan terharu.
Tiba-tiba kakek itu tertawa lagi, dan suara ketawanya terdengar seperti biasa, terlepas dan gembira.
"Aah, lebih baik begini, muridku. Lebih baik begini. Bukankah sekarang kau telah terlepas dari semua kedukaan? Bukankah sekarang tiada orang lagi bisa mengganggumu? Aah, benar lebih baik begini biarlah aku yang melanjutkan penderitaanmu. Kau harus dikubur, ya, kau harus dikubur!"
Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menggunakan kedua tangannya menggaruk-garuk tanah dengan maksud menggali lubang!
Sin Wan dan Giok Ciu merasa terharu sekali mendengar kata-kata itu.
Biarpun kakek itu sangat mencinta muridnya, namun ia rela muridnya itu mati agar terlepas dari segala kesengsaraan.
Ah, inilah cinta!
Inilah cinta suci, cinta yang tidak mengharapkan sesuatu untuk kesenangan diri.
Cinta yang semata-mata didasarkan atas keinginan melihat orang yang dicintainya bahagia dan tidak menderita, biarpun harus mengurbankan perasaan sendiri!
Memikir sampai di situ, Sin Wan dan terutama Giok Ciu, merasa tersinggung dan tersindir, maka mereka menundukkan muka dengan wajah merah.
Sementara itu, kedua mata Giok Ciu mengalir air mata.
Sin Wan dan Giok Ciu, tanpa diminta lalu menggunakan pedang mereka mereka untuk membantu menggali lubang untuk menguburkan Suma Li Lian.
Setelah jenazah gadis yang bernasib malang itu dikubur baik-baik, jembel gila itu lalu berkata kepada Sin Wan dan Giok Ciu.
"Kalian anak-anak baik. Nah, aku pergi hendak mencari Bu Beng."
Melihat betapa pikiran kakek itu agaknya mulai ingat, Sin Wan cepat berkata.
"Lo-Cianpwe, teecu berdua adalah murid-murid Bu Beng Lojin!"
Kakek itu memandang tajam kepada mereka.
"Bagus, dimana sekarang adanya Bu Beng?"
Sin Wan tak dapat menjawab, dan Giok Ciu yang menjawab.
"Teecu tidak tahu di mana Suhu berada, karena Suhu telah meninggalkan Kam-Hong-San dan berjanji hendak bertemu dengan teecu berdua sepuluh tahun kemudian."
"Ha, ha! Bu Beng memang gila!"
Kata kakek itu dan sekali berkelebat tubuhnya telah lenyap dari situ!
Sin Wan dan Giok Ciu yang ditinggal di situ saling pandang.
Giok Ciu lalu berlutut di depan makam Suma Li Lian dan berkata dalam bisikan.
"Li Lian... Li Lian... Aku telah banyak menyakiti hatimu. Kau orang baik dan setia, tidak seperti... ah, Li Lian, kau tentu dapat mengampunkan aku, sungguhpun aku sendiri tidak akan sanggup mengampunkan diri sendiri."
Sin Wan lalu berkata kepada Giok Ciu.
"Sumoi, marilah di depan makam Li Lian kita mengadakan pembicaraan sungguh-sungguh dan dari hati ke hati."
Kedua anak muda itu di pagi hari yang cerah itu duduk di depan makam yang masih baru, saling berhadapan. Sikap mereka tenang dan sungguh-sungguh.
"Giok Ciu,"
Kata Sin Wan sambil memandang wajah yang menunduk di depannya itu.
"Bagaimanakah pikiranmu setelah sekarang semua menjadi terang dan kau tahu akan duduknya persoalan yang sebenarnya?"
Giok Ciu mengangkat mukanya dan menahan air matanya yang hendak menitik turun.
"Suheng, untuk apa kita bicarakan hal ini? Kau tahu, aku merasa menyesal dan malu sekali."
"Bukan begitu, Sumoi, hal itu tak perlu lagi dimalukan atau disesalkan. Semua telah lewat dan habis, seperti halnya Li Lian yang telah menjadi gundukan tanah ini. Tak perlu lagi dipersoalkan. Yang penting adalah persoalan kita, yang akan datang, Sumoi. Kesalahpahaman diantara kita telah lenyap. Bagaimanakah sekarang pendirianmu mengenai.... perjodohan kita?"
Gadis itu sekali lagi mengangkat muka dan memandang wajah Sin Wan dengan terharu.
"Kau sendiri bagaimana, Suheng? Bagaimana pendirianmu?"
Sin Wan merasa tak enak mendengar sebutan gadis itu kepadanya kini telah berubah.
Dulu menyebut koko atau kanda, sekarang menyebut Suheng atau kakak seperguruan.
Ia lalu mengangkat tangan ke arah leher dan mengeluarkan sepatu kecil yang tergantung di lehernya.
"Kau lihatlah sendiri, barang ini selalu masih menempel di dadaku! Masih kurang jelaskah ini?"
Giok Ciu merasa terpukul dan teringatlah ia akan suling tanda perjodohan yang dulu ia hancurkan, maka tiba-tiba ia menangis perlahan.
"Giok Ciu terus terang saja kukatakan bahwa betapapun juga dan apapun yang terjadi, cintaku kepadamu tetap tak berubah. Mungkin terjadi perubahan sedikit, yakni tentang sifat cintaku itu. Kalau dulu cintaku disertai kandungan harapan untuk menjadikan kau sebagai isteriku sekarang sifat cintaku itu berubah setelah mendengar kata-kata Li Lian. Cintaku bukan berdasarkan hendak mengawinimu saja, tapi hendak melihat kau bahagia, Giok Ciu."
Giok Ciu makin terharu dan tak dapat menjawab, maka Sin Wan lalu melanjutkan kata-katanya.
"Sumoi, jangan kau terlalu bersedih, Yang lalu biarlah lalu, sekarang marilah kita hadapi kenyataan. Aku hendak berterus terang saja kepadamu agar jangan sampai terulang lagi kesalahpahaman di antara kita. Aku masih tetap cinta kepadamu, tetapi aku sekali-kali tidak akan menggunakan hakku dan memaksamu menjadi isteriku. Terserah kepadamu, Sumoi, apakah kau hendak melanjutkan perjodohan kita atau tidak. Tapi yang pasti, selain dengan engkau, selama hidup takkan ada wanita lain yang dapat menjadi isteriku!"
Giok Ciu tunduk untuk beberapa lama, akhirnya ia dapat juga menjawab.
"Suheng, kau memang seorng pemuda yang mulia. Hal ini seharusnya telah kuketahui sejak dulu dan seharusnya memperkuat kepercayaanku. Tapi memang aku gadis bodoh. Bodoh, lemah, dan tolol, tepat seperti dikatakan oleh Li Lian dulu! Setelah segala kebodohan yang kulakukan, termasuk penghancuran tanda perjodohan yang kuterima darimu, rasanya tak mungkin aku ada muka untuk menjadi isterimu, Suheng! Tentang cinta dan perasaan hatiku kepadamu... Entahlah! Aku menjadi ragu-ragu sekali untuk memikirkan tentang ini setelah mendengar ucapan-ucapan Li Lian dulu itu. Aku menjadi ragu-ragu apakah benar-benar ada cinta suci di dunia ini! Kalau kusesuaikan dengan ajaran Suhu kepada kita tentang pemiliharaan tenaga rohani, aku menjadi ragu-ragu. Aku... Aku tidak berani berkata secara membuta membuat pengakuan bahwa aku"
Aku cinta padamu, Suheng. Maafkan aku yang bodoh..."
Sin Wan tersenyum pahit dan memegang lengan Sumoinya.
"Bagus, Sumoi, memang seharusnya demikianlah sikap kita sebagai orang-orang yang telah mendapat latihan Suhu. Kita harus beani menghadapi kenyataan, betapa pahit dan tidak enaknya kenyataan itu."
Giok Ciu memandang Sin Wan dengan kasihan.
"Maafkan kalau aku menyakiti hatimu, Suheng. Aku juga tidak berani berkata bahwa aku tidak cinta kepadamu, karena percayalah bahwa selain dengan engkau, akupun tak mungkin kawin dengan seorang pemuda lain. Aku hanya malu dan ragu-ragu mengaku akan cintaku padamu, karena kalau benar-benar cinta, mengapa sikap dan tindakanku yang sudah-sudah demikian macamnya terhadapmu? Sekarang, biarlah kita berpisah dan meluaskan pengalaman masing-masing, sementara itu, berilah waktu padaku, Suheng."
Sin Wan menghela napas panjang dan dengan jari-jari tangan gemetar ia melepaskan tali pengikat sepatu kecil itu, lalu diberikannya kepada Giok Ciu.
"Terimalah ini, Sumoi. Aku tak berhak menyimpannya."
Giok Ciu menganggap bahwa hal itu sepantasnya, maka sambil mengeraskan hatinya yang sangat terharu, iapun menerima barang itu dengan tangan gemetar pula.
"Sebelum kita berpisah, beritahukanlah di mana kau titipkan anak Li Lian dulu itu Suheng?"
Karena tidak menduga sesuatu, Sin Wan lalu menceritakan betapa Li Lian meninggalkan anaknya demikian saja hingga ia menjadi bingung dan akhirnya menitipkan anak Li Lian itu kepada seorang janda she Thio di kampung kecil di kaki gunung Kam-Hong-San itu.
Kemudian mereka lalu berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing.
Biarpun kini di dalam lubuk hati kedua anak muda itu terdapat sesuatu yang mengganjal dan membuat mereka merasa sunyi dan kosong, namun tidak ada pula segala kejengkelan, kekecewaan dan kemarahan mengganggu mereka.
Sin Wan merantau ke daratan sebelah Timur dan ia melakukan perjalanan menjelajah sepanjang pantai timur.
Pada waktu itu, daratan timur di Tiongkok seringkali terganggu oleh bajak-bajak laut yang ganas.
Bajak-bajak laut itu menggunakan perahu-perahu layar yang cepat gerakannya dan mereka terkenal mempunyai anggauta-anggauta yang rata-rata berilmu silat tinggi.
Tubuh mereka pendek dengan tangan yang panjang-panjang, sedangkan mereka biasa bersenjata pedang panjang yang mereka mainkan dengan secara cepat dan ganas.
Banyaklah sudah dusun-dusun di pinggir pantai yang menjadi kurban keganasan para bajak laut ini, dan para penduduk dusun itu tidak tahu dari manakah datangnya bajak-bajak itu.
Bahasa yang digunakan oleh para bajak laut itu walaupun tidak mereka mengerti, namun ada persamaan dengan Bahasa dusun pantai timur.
Pemerintah setempat telah pula mendengar tentang gangguan bajak laut ini, tapi karena pemerintah pada waktu itu sangat lemah dan sama sekali kurang menaruh perhatian akan nasib rakyat, maka hal itupun tidak diperdulikan.
Pendirian pemerintah Tiongkok di kala itu, asalkan kedudukan para bangsawan dan Kaisar tidak terancam dan tidak terganggu, maka amanlah!
Rakyat dirampok?
Rakyat diganggu bajak laut?
Rakyat kelaparan?
Aah, itu soal kecil dan soal biasa, tidak ada sangkut pautnya dengan mereka yang menduduki pangkat.
Asal saja gangguan-gangguan itu tidak merugikan mereka!
Karena keadaan pemerintah yang lalim dan alat-alat pemerintah yang buruk sekali ini, maka para bajak laut itu makin ganas dan kurang ajar.
Mereka bahkan berani menculik wanita-wanita dan membawanya ke pulau tempat tinggal mereka.
Bahkan tiga buah dusun kecil di dekat pantai yang tadinya merupakan dusun nelayan yang ramai dan makmur, kini boleh dibilang menjadi dusun para bajak laut itu!
Tiga dusun itu dijadikan seksi pendaratan mereka, bahkan yang memerintah disitu sekarang orang-orang anggauta bajak laut itu!
Bukan tidak ada orang-orang gagah dan hohan-hohan yang mencoba untuk memberantas keganjilan ini, tapi karena jumlah bajak laut sangat banyak dan semua memiliki kepandaian berkelahi yang baik sekali sedangkan fihak orang-orang gagah hanya ada beberapa orang saja sedangkan alat pemerintah tidak ada yang membantu, beberapa kali mereka ini tidak berhasil, bahkan mengalami kekalahan yang pahit!
Ketika di dalam perantauannya mendengar tentang hal ini, Sin Wan merasa marah dan penasaran sekali.
Ia lalu langsung menuju ke dusun Tin-Siang, sebuah daripada tiga dusun yang menjadi sarang bajak laut di timur itu.
Tapi alangkah herannya ketika ia memasuki dusun itu, karena keadaan dusun bukanlah seperti yang disangkanya semula.
Tadinya ia menduga akan melihat sebuah dusun yang sengsara di mana penduduknya hidup tertindas dan serba kekurangan.
Sebaliknya, dusun itu ramai sekali dan penghidupan penduduk dusun Tin-Siang tampak seperti biasa, juga wajah orang-orang disitu tidak kelihatan sedih!
Ini sungguh aneh sekali, pikir Sin Wan.
Lalu ia berjalan-jalan ke pantai laut melihat kapal-kapal layar yang berlabuh disitu.
Ternyata kapal-kapal dari pedalaman, juga mengangkut kayu-kayu dari hutan, yakni kayu untuk pembangunan yang disebut kayu besi yang sukar dicari dan mahal harganya.
Semua pekerjaan dilakukan oleh penduduk dusun itu dan yang mengepalai mereka adalah beberapa orang pendek yang tampaknya ramah tamah.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 1
Baca Juga: Si Tangan Sakti 2