Rajawali Emas 1

Eps 1 Rajawali Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Rajawali Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Rajawali Emas - Kho Ping Hoo.

Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Pegunungan Lu-Liang-San terkenal sebagai gunung yang indah dan subur, terutama sekali hal ini disebabkan oleh Sungai Kuning yang mengalir di antara pegunungan ini.

Banyak terdapat hutan-hutan lebat dan bagian-bagian yang amat indah penuh dengan pohon-pohon berbuah dan tanaman berbunga.

Hutan-hutan ini sebagian besar masih merupakan hutan liar yang aseli, belum terjamah tangan dan terinjak kaki manusia.

Oleh karena itu, penghuni aseli hutan-hutan itu, binatang-binatang besar kecil berkembang biak amat suburnya sehingga daerah Pegunungan Lu-Liang-San terkenal sebagai tempat yang amat baik akan tetapi juga amat berbahaya bagi para pemburu.

Keindahan alam yang belum terjamah tangan manusia memang merupakan keindahan aseli.

Apalagi dimusim semi diwaktu pohon-pohon penuh daun, sedangkan dimusim rontok saja terdapat keindahan aseli yang menggerakan hati setiap orang yang dapat menghargai keindahan alam yang aseli.

Lihatlah daun-daun yang melayang-layang turun, rontok dari tangkainya.

Melayang-layang bebas lepas seakan-akan kupu-kupu bercanda menimbulkan suara gemerisik yang tiada hentinya.

Daun-daun kering merontok dengan rela untuk memberi kesempatan berseminya daun-daun baru yang akan menggantikan kedudukannya.

Daun-daun kering merontok untuk membusuk dan menjadi pupuk bagi daun-daun baru.

Rontok dan semi, hilang yang tua muncul yang baru.

Di dunia ini mana yang tidak terlewat oleh hukum alam ini?

Yang tua lenyap untuk memberi tempat bagi yang muda, yang muda akhirnyapun tua dan lenyap untuk mengulang sejarah yang lalu.

Gemerisik daun-daun kering rontok melayang turun diselingi suara air Sungai Huang Ho yang tidak penuh airnya, Air bermain dengan batu-batu, berdendang lagu bahagia tak kunjung henti.

Suara daun kering rontok dan air sungai berdendang merupakan perpaduan suara yang amat indah, kadang-kadang diramaikan suara Burung di pohon dan sekali-kali terdengar raungan binatang buas dari dalam semak-semak belukar.

Betapapun besar bahaya rnengancam keselamatan manusia yang berani memasuki hutan-hutan ini, yaitu bahaya dari ancaman binatang-binatang buas, namun tetap saja akhirnya ternyata bahwa manusialah makhluk yang paling kuat di antara segala makhluk hidup di dunia ini.

Pagi hari itu, dikala sinar matahari berebutan menerobos ke celah-celah daun pohon yang mulai menggundul dan Burung-Burung tengah ramai bersaing kemerduan kicau mereka terdengar suara lain di dalam hutan itu.

Suara manusia!

Burung-Burung.

yang terdekat menghentikan kicaunya, sebagian terbang pergi ketakutan.

Binatang-binatang kecil lari menyelinap ke dalam semak-semak, binatang-binatang besar mengintai penuh kecurigaan dari balik gerombolan.

Seluruh perhartian para makhluk dalam hutan tertuju kepada makhluk aneh yang tak pernah mereka lihat itu Manusia!

Manusiakah yang menjadi pusat perhatian para binatang-binatang itu?

Jangankan para binatang yang tak pernah atau jarang sekali melihat manusia, sedangkan manusia-manusia sendiri kiranya akan tercengang keheran-heranan kalau melihat orang yang tengah berada di dalam hutan seorang diri ini.

ia seorang laki-laki tinggi besar, Pakaiannya berpotongan longgar, terbuat dari bemacam-macam kain berwarna-warni yang disambung-sambung.

Sepatunya, sepatu besar, Juga berkembang!

Sukar menaksir usia orang ini.

Yang terang dia sudah lewat dewasa, Karena tubuhnya demikian tinggi besar.

Melihat perawakan dan wajahnya yang sudah masak, sedikitnya dia berusia empat puluh lima tahun, Akan tetapi melihat kebodohan kanak-kanak yang membayang pada wajahnya, melihat bentuk pakaian dan warna sepatunya serta sikapnya yang sedang main-main seorang diri, dia masih seorang kanak-kanak!.

Memang dia seorang kanak-kanak yang sudah tua, atau seorang tua yang berjiwa kanak-kanak.

Karena keanehan inilah maka di dunia kang-ouw ia terkenal sekali dengan nama poyokan Koai Atong (Bocah Aneh).

Jangan dipandang rendah Koai Atong ini.

Banyak orang Kang-ouw, jagoan ternama yang berkepandaian tinggi, akhirnya kecele ketika mereka berani memandang rendah Koai Atong.

Dia adalah murid tunggal seorang sakti dari Tibet, seorang Hwesio yang bernama Ban-Tok-Sim Giam Kong.

Melihat nama julukannya saja, Ban-Tok-Sim (Hati Selaksa Racun), mudah dibayangkan orang macam apa Hwesio Tibet ini.

Namanya saja cukup membuat seorang tokoh Kang-ouw lari tunggang langgang.

Koai Atong tertawa-tawa dan berkata-kata sorang diri di dalam hutan itu.

Ia sedang melatih Jing-Tok-Ciang (Tangan Racun Hijau), semacam ilmu pukulan yang paling diandalkan oleh Suhunya.

Biarpun anak tua ini kelihatan ketolol-tololannya, akan tetapi bakatnya dalam hal ilmu silat bukan main hebatnya.

Kalau tidak demikian, masa seorang sakti seperti Ban-Tok-Sim Giam Kong mau mengambilnya sebagai murid tunggal?

Hampir seluruh ilmu kepandaian Giam Kong sudah diwarisi Koai Atong, malah dalam hal ilmu Pukulan Jing-Tok-Ciang, Koai Atong tak pernah berhenti untuk berlatih dan memperdalam.

"Kau harus roboh, harus roboh!"

Katanya sambil memutar lengan kirinya seperti orang memutar gilingan kopi, kemudian tiba-tiba tangan kirinya dengan jari-jari terbuka mendorong ke arah sebatang pohon.

Tidak terdengar suara apa-apa akan tetapi semua daun kering di pohon itu merontok dan...

pohon yang batangnya sebesar paha orang itu mulai tumbang karena batangnya sudah membusuk.

Bukan main lihainya pukulan Jing-Tok-Ciang ini, dan demikian jahatnya sehingga batang pohon yang tadinya masih segar menjadi busuk terkena hawanya yang beracun.

Koai Atong terkekeh-kekeh girang, lalu melanjutkan latihannya dari memukul pohon yang lebih besar.

Sebentar saja di situ telah rebah beberapa batang pohon, akan tetapi ia juga terduduk kelelahan karena terlampau banyak mengerahkan tenaga Lweekang dalam latihan pukulan mujijat ini.

Seperti orang gendeng anak tua ini tertawa-tawa girang karena hasil latihannya tadi memuaskan hatinya.

Akan tetapi tiba-tiba ia kaget mendengar bunyi kelepak sayap Burung besar dan ia melihat seekor Burung Rajawali berbulu putih menukik turun tak jauh dari tempat ia duduk beristirahat.

Cepat ia melompat dan berindap-indap mendekati tempat itu.

Bukan main hebatnya Burung ini.

Besar sekali, kalau berdiri semeter lebih tingginya.

Burung ini menukik turun dan menerjang ke arah semak-semak dan...

dalam sekejap mata saja ia menerkam seekor kijang yang bersembunyi di situ.

Kasihan binatang ini, sama sekali tak dapat melawan.

Sekali cengkeram, kuku-kuku runcing melengkung itu menusuk perut menembus kulit dan daging.

Kijang berkelojotan sebentar dan mati tak lama kemudian.

Rajawali dengan sepasang matanya yang bening berapi itu mendengus, melepaskan korbannya lalu terbang pergi meninggalkan bangkai kijang begitu saja.

Koai Atong terheran-heran.

Gilakah Burung itu, pikirnya.

Sudah membunuh kijang kenapa tidak terus dimakan, malah ditinggal pergi?

Ia masih bersembunyi, seperti anak kecil ia girang dapat mengintai perbuatan "orang"

Lain.

Akhirnya ia jemu juga karena si Rajawali yang amat gagah dan bagus itu tidak datang kembali.

Tadinya la berniat menanti kalau Burung itu datang kembali akan ditubruk dan ditangkapnya.

Selagi ia hendak keluar dari tempat sembunyinya untuk mengambil bangkai kijang dan dipanggang, dagingnya, terdengar auman keras dan muncullah seekor Harimau dari balik semak belukar.

Harimau itu keluar perlahan-lahan, hidungnya mendengus-dengus dan mulutnya menyeringai dengan air liur menetes-netes turun.

Agaknya ia telah mencium bangkai kijang, atau bau darah maka ia datang ke tempat itu.

Begitu melirik ke kanan kiri tidak terdapat bahaya, Harimau itu memburu ke arah bangkai kijang.

Akan tetapi tiba-tiba dari arah lain muncul seekor Harimau hitam yang langsung menerjang Harimau belang itu.

Terjadi pergumulan seru, cakar-mencakar, gigit-menggigit amat hebatnya.

Koai Atong terkekeh-kekeh senang, bertepuk-tepuk tangan seperti anak kecil menonton pertunjukan wayang di mana tokoh-tokohnya berperang tanding.

"Hayo gigit hidungnya, cakar kupingnya. Hah-hah, heh-heh-heh!"

Akhirnya si Harimau belang harus tunduk terhadap hukum rimba yang berlaku semenjak dunia berkembang sampai sekarang ini.

Siapa kuat dia benar dan menang.

Siapa lemah dia salah dan kalah!

Sambil meraung-raung dan lehernya terluka berdarah, Harimau belang lari tunggang-langgang.

Lawannya, si Harimau hitam tidak mengejarnya, sebaliknya segera menghampiri biang keladi pertempuran tadi, si bangkai kijang.

Ia mencium-cium, agaknya menikmati bau bangkai dan darah kijang, lalu menjilat-jilat darah yang mulai mengering.

"Heh-heh-heh, sergap! Sergap dari atas!"

Tiba-tiba Koai Atong berteriak-teriak girang, anak tua itu dengan pandang matanya yang tajam dan telinganya yang, terlatih, dapat mendengar suara menggelesernya tubuh ular besar di pohon, sebelah atas Harimau hitam itu.

Mendengar suara Koai Atong, si Harimau kaget, akan tetapi tiba-tiba ia menjadi lebih kaget dan marah lagi ketika pada saat itu seekor ular sebesar paha manusia meluncur dari atas dan serta-merta menyerang, kembali terjadi pertandingan mati-matian untuk menentukan berlakunya hukum rimba.

Harimau hitam itu ganas sekali, mencakar menggigit sampai robek-robek kulit ular.

Akan tetapi setelah ia kena dibelit, mulailah ia merasa-payah, lalu membanting diri ke kanan kiri.

Si ular tidak mau melepaskan belitannya, malah segera menggigit leher Harimau itu, tak mau melepaskan lagi.

Ramai sekali pertandingan ini dan makin Sukalah hati Koai Atong.

Akhirnya Harimau roboh tak berkutik lagi, mati karena gigitan dan belitan ular yang amat kuatnya itu.

Binatang yang kali ini menang, melepaskan lilitannya, lalu terjadilah hal lucu yang membuat Koai Atong terkekeh-kekeh ditempat persembunyiannya.

Ular besar itu agaknya bimbang ragu, yang mana harus ia ganyang lebih dulu di antara dua hidangan lezat ini.

Sebentar merayap ke bangkai kijang, menjilat-Jilat, lalu kembali merayap kebangkai Harimau hitam.

Ada empat lima kali ia beragu seperti itu.

Tiba-tiba Koai Atong berseru.

"Ha-ha-ha, pemiliknya datang!"

Benar saja.

Dari atas melayang turun dua ekor Burung Rajawali putih.

Sekarang tahulah Koai Atong bahwa Rajawali yang menerkam kijang tadi pergi untuk memanggil anaknya.

Sekarang ia datang kembali bersama seekor Rajawali putih lain yang lebih kecil dan kelihatan masih amat muda.

Dan sekarang ternyata bahwa binatang ular itu agaknya lebih cerdik daripada blnatang-binatang yang lain, Begitu melihat dua ekor Burung yang besar dan kuat ia maklum bahwa ia takkan kuat melawannya.

Ia mengeluarkan suara mendesis karena kecewa dan marah, akan tetapi lalu menggeleser lari bersembunyi ke dalam semak-semak.

"Heei!! Pengecut kau!. Datang yang kuat lari tunggang-langgang!"

Koai Atong berteriak-teriak dan memaki-maki ular.

Dua ekor Burung Rajawali putih itu kaget mendengar suara orang.

Mereka menengok ke kanan kiri, nampaknya marah sekali.

Pada saat itu Koai Atong sudah siap sedia untuk meloncat keluar dan menangkap Burung yang besar, akan tetapi kembali ia terkejut mendengar suara melengking yang amat nyaring dari atas dan daun-daun pohon bergerak-gerak tertiup angin keras.

Mendadak tanpa memperdengarkan kelepak sayap seperti dua ekor Rajawali putih tadi, dari atas menyambar turun bayangan kuning keemasan yang menyilaukan mata.

Ternyata yang menyambar turun ini adalah seekor Burung Rajawali pula.

Besarnya tidak luar biasa, tidak lebih besar daripada Rajawali putih itu, malah kepalanya lebih kecil dan dadanya lebih kurus.

Akan tetapi yang aneh adalah bulunya yang berwarna kuning keemasan, bersih dan mengkilap amat indahnya seakan-akan bulu-bulunya terbuat daripada Sutera emas.

Ketika dua ekor Burung Rajawali putih itu melihat si Rajawali Emas, mereka kelihatan ketakutan, mengeluarkan suara merintih-rintih.

Sebaliknya Rajawali Emas yang baru datang mengeluarkan suara melengking yang nyaring dan menyakitkan anak telinga, nampaknya marah sekali, kemudian tiba-tiba wajahnya bergerak ke depan, patuknya yang runcing agak melengkung itu bergerak-gerak seperti bibir orang bicara, lehernya bergerak dan...

Koai Atong mengeluarkan seruan heran, kaget dan kagum.

Dia adalah seorang ahli silat yang berpemandangan tajam, biarpun ia dalam urusan umum rnerupakan seorang yang tolol seperti kanak-kanak, akan tetapi dalam hal ilmu silat dia termasuk seorang ahli.

Namun gerakan Rajawali Emas tadi sama sekali tak dapat ia ikuti dengan pengelihatannya, tahu-tahu dua ekor Rajawali putih tadi sudah roboh dengan kepala berlubang dan mati pada saat itu juga!

Saking herannya Koai Atong sampai berdiri bengong dan melihat ke arah Rajawali Emas itu.

Rajawali Emas itu berdiri dengan gagahnya, mengangkat dada, mengeluarkan suara tiga kali lalu menghampiri bangkai Harimau yang menggeletak disitu.

Kepalanya bergerak, paruhnya meyambar.

"Cratt!"

Ketika paruhnya dicabut ternyata paruh itu telah menggigit sebuah benda merah yaitu jantung Harimau tadi.

Sekali telan lenyaplah jantung itu, kemudian ia menghampiri kijang dan seperti juga tadi, sekali paruhnya menyambar ia telah berhasil mengambil jantung kijang.

Setelah itu ia mengambil dan makan jantung dua ekor Rajawali putih itu seperti cara tadi.

Koai Atong tak dapat menahan kekagumannya melihat gerakan ini.

Ternyata paruh Rajawali Emas itu lebih hebat daripada sebatang pedang ditangan seorang ahli, Ahli pedang yang manapun juga kiranya takkan mungkin dapat meniru Rajawali Emas itu, sekali tusuk dapat mengambil jantung didalam dada binatang-binatang tadi.

"Hebat! Kim-Tiauw-Heng (Kakak Rajawali Emas) kau benar-benar lihai sekali!"

Sambil berkata demikian Koai Atong berjingkrak-jingkrak dan keluar dari tempat sembunyinya, menghampiri Rajawali Emas itu dan mengacung-acungkan ibu jari tangan kanannya.

"Sherrr!"

Secepat kilat sayap kanan Burung itu menyambar, didahului angin pukulan yang amat dahsyat ke arah tubuh Koai Atong.

"Heee..., jangan...!"

Koai Atong berseru kaget dan cepat ia mengelak sambil merebahkan diri ke kanan, akan tetapi celaka baginya, gerakan sayap kanan Burung itu ternyata merupakan tipuan belaka karena yang bergerak sesungguhnya adalah sayap kirinya yang menyambar tanpa menerbitkan angin.

Tak dapat dicegah lagi tubuh Koai Atong terpukul oleh sayap kiri, kekuatan pukulan ini hebat luar biasa sehingga tubuh Koai Atong mencelat dan menggelundung sampai lima meter jauhnya!

Baiknya Koai Atong sudah memiliki ilmu tinggi dan ketika merasa bahwa ia tak dapat menghindarkan diri dari pukulan tadi, ia cepat menggerahkan Lweekang dan membiarkan tubuhnya didorong sampai bergulingan.

la hanya merasa kepalanya agak pusing, tapi tidak terluka.

Cepat ia bangun berdiri dan matanya membelalak lebar.

Pukulan Rajawali itu benar-benar membuatnya makin kagum dan terheran-heran lagi.

Seorang ahli silat kelas tinggi belum tentu akan sanggup merobohkannya dalam satu jurus saja!

Dan gerakan Burung ini benar-benar mengandung gerak tipu silat yang luar biasa.

"Kim-Tiauw-Heng, apa kau hendak main-main denganku? Hemm, kalau kau mampu merobohkan lagi, benar-benar kau lihai dan aku mengangkatmu menjadi guruku!"

La meloncat maju lagi ke depan Burung itu yang memandang kepadanya mata emasnya yang mengandung sinar mengejek dan menghina.

Koai Atong sekarang telah siap sedia untuk bertempur, maka begitu Burung itu menyerangnya dengan gerakan seperti tadi, yang memukul dengan sayap kanan yang mengeluarkan angin menderu, ia tidak mengelak ke kanan dan selalu memperhatikan gerakan sayap kiri.

Akan tetapi ternyata Burung itu tidak mengubah gerakannya, seperti tadi sayap kirinya menyusul dengan tamparan yang tidak mengeluarkan angin, tamparan yang tadi membuat Koai Atong terguling-guling.

"Ha-ha-ha, tidak kena sekarang, kakak Rajawali!"

Koai Atong tertawa-tawa mengejek sambil mengelak cepat dari serangan sayap kiri berbahaya ini.

Akan tetapi suara tertawanya segera disusul seruan kaget ketika mendadak Burung itu menyambar ke depan dengan kedua kaki digerak-gerakkan seperti orang melakukan tendangan!

Kedua kaki itu menendang bergantian, susul menyusul sehingga sukar diduga kaki mana yang sesungguhnya akan menyerang.

Koai Atong tak dapat menghadapi serangan luar biasa ini dan sekali lagi tubuhnya mencelat dan terguling-guling, malah lebih jauh daripada tadi!

Dengan pipi agak membengkak dan mata terbelalak heran Koai Atong merayap bangun.

Dalam pandangan matanya, Burung itu seperti tersenyum mengejek dan mata Burung itu seperti berseri-seri menertawakannya.

Timbul marah dalam hatinya.

"Kau curang!, Kau licik! Aku masih belum kalah."

La melompat maju sambil memutar-mutar lengan kirinya kemudian ia memukul kearah sebatang pohon.

Pohon itu segera roboh dalam keadaan layu!

Rajawali Emas agaknya kaget melihat ini, mengeluarkan bunyi aneh lalu terbang keatas tetapi bukan untuk melarikan diri, melainkan dari atas ia menukik kebawah dan menyerang Koai Atong dengan dahsyatnya!

Tadi berhadapan di atas tanah saja sudah dua kali Koai Atong roboh dalam segebrakan saja, apalagi sekarang Burung itu menyerangnya dari atas.

Betapapun juga, Koai Atong Seorang ahli silat yang sudah banyak menghadapi lawan-lawan lihai, tidak menjadi gugup atau takut.

Tadi ia memukul roboh pohon untuk memamerkan kepandaiannya, sekarang melihat bahwa Burung itu tidak takut kepadanya, ia segera memutar lengan kirinya dan.

mendorong ke arah Burung yang menyerangnya dari atas.

"Plakk!"

Lengan tangannya bertemu dengan kaki Burung yang bergerak seperti rnenangkisnya.

Koai Atong terlempar oleh dorongan tenaga yang mujijat, sebaliknya Burung itupun mencelat dan hinggap di atas tanah.

Sekali lagi Koai Atong tertegun.

Seorang ahli silat yang lihai sekalipun belum tentu akan dapat menangkis pukulan Jing-Tok-Ciang dari tangan kirinya dan agaknya Burung itu sama sekal tidak terluka.

Koai Atong makin penasaran.

Masa ia kalah oleh seekor Burung?

Memalukan sekali!

Sambil berseru marah ia menerjang maju, kali ini tanpa ragu-ragu lagi mengerahkan seluruh tenaganya menggunakan Ilmu Pukulan Jing-Tok-Ciang.

Akan tetapi ia kecele, Burung itu cerdik bukan main dan mengenal kelihaian pukulan lawan.

Kali ini Rajawali tidak mau menangkis, dan kedua kakinya dibantu pergerakan sepasang sayapnya bergerak ke sana ke mari mengelak.

Bukan main gerakan kaki ini karena selain gesit, ringan, juga teratur langkah-langkah tertentu yang sehingga pukulan-pukulan Jing-Tok-Ciang itu satu kalipun tak pernah mengenai tubuhnya.

Sebaliknya, setiap kali Burung itu menghantam dengan sayapnya, tentu Koai Atong roboh terguling-guling.

Kadang-kadang seperti seorang pemain bola yang ulung, kaki Burung itu menendang dan membuat tubuh Koai Atong menggelinding seperti bola pula.

Marah sekali Koai Atong.

Begitu dia marahnya sampai dia menangis berkaok-kaok sambil memaki-maki, persis tingkah laku seorang anak kecil nakal kalau kalah berkelahi.

Sambil menangis dan memaki ia mengeluarkan senjatanya yang paling lihai, yaitu sebatang anak panah berwarna hijau.

Inilah anak panah yang mengandung racun hijau yang bukan main lihainya.

Lawan yang terkena tusukan anak panah ini tubuhnya akan diracuni oleh racun hijau dan jangan harap bisa hidup lagi.

Dengan anak panah ditangan kanan Koai Atong maju lagi.

Burung itu agaknya jerih melihat anak panah ini.

la selalu mengelak dan sudah lewat puluhan jurus belum juga Koai Atong dapat mengenai tubuh lawannya, sebaliknya sudah lima kali ia terguling-guling oleh sambaran sayap Burung.

la diam-diam mengeluh karena andaikata tubuhnya tidak kebal dan andaikata sambaran sayap itu rnerupakan pukulan manusia yang mengandung Lweekang, tentu ia sudah mampus!

Alangkah malu kalau tak dapat membalas, pikirnya.

Pikiran ini membuat ia nekat.

Betapapun juga, pikiran seorang manusia biarpun berjiwa kanak-kanak agaknya masih lebih berakal daripada pikiran seekor Burung.

Ketika Burung itu untuk kesekian kalinya menampar, Koai Atong sengaja menerima tamparan ini dan berbareng menggunakan anak panahnya memapaki sayap Burung.

Hebat pukulan itu, membuat Koai Atong terlempar dan terbanting sampai matanya berkunang-kunang.

Akan tetapi Burung itu sendiri mengeluarkan suara kesakitan.

Anak panah hijau itu telah menancap di sayap kirinya.

la kebingungan, sayap kirinya menjadi lumpuh dan dengan paruhnya ia menggigit gagang anak panah, lalu dicabutnya.

Dengan kemarahan berkobar Burung itu menggunakan paruh dan kaki kanannya mencengkram dan...

anak panah itu patah dan dilempar ke tanah.

Sekarang Burung itu marah sekali, mengeluarkan bunyi melengking tinggi.

Ia menggerak-gerakkan sayap hendak terbang, tetapi sayapnya yang kiri tak dapat digerakkan.

Burung itu mematuk-matuk ke arah sayap kirinya.

Ternyata bahwa ujung anak panah hijau masih tertinggal disayapnya itu.

Ketika ia tadi mencabut anak panah, saking kuat gerakannya, anak panah itu patah pada ujungnya.

Koai Atong juga marah karena pukulan terakhir itu mernbuat ia merasa sakit-sakit semua tubuhnya.

la meniru suara Burung itu, memekik-mekik juga malah lebih keras sambil memutar-mutar lengan kirinya, siap mengirim pukulan Jing-Tok-Ciang lagi karena sekarang senjatanya telah rusak.

Sekali lagi Koai Atong memukul dengan Jing-Tok-Ciang dan sekali lagi Burung itu walaupun sudah terluka, dapat mengelak menggunakan gerak kaki yang aneh sekali dan sebelum sempat memperbaiki kedudukannya Koai Atong sudah terdorong oleh pukulan sayap kanan lagi sampai terguling-guling.

Koai Atong bangun sambil menggoyang-goyang kepala keras-keras karena matanya makin berkunang.

Sekarang timbul akalnya.

Setelah pusingnya hilang ia menyerang membabi-buta, mengeluarkan semua kepandaian yang pernah ia pelajari, akan tetapi semua serangannya ia tujukan dari arah kiri Burung itu.

Memang betapapun juga, akal Koai Atong lebih menang daripada akal binatang itu sehingga kali ini Burung Rajawali itu menjadi sibuk sekali mengelak tanpa dapat menyerang kembali karena sayap kirinya sudah terluka dan tak dapat digerakkan lagi.

Agaknya hal ini membuat ia menjadi gentar.

Sambil memekik-mekik Burung itu lalu lari meninggalkan Koai Atong.

"Kau hendak lari ke mana? Sebelum berlutut minta ampun mana aku mau melepaskan kau?"

Koai Atong memaki-maki dan mengejar, akan tetapi larinya Burung itu bukan main cepatnya!

Seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak tanah, padahal sayapnya yang kiri sudah tak dapat dipergunakan untuk terbang lagi.

Apalagi kali ini agaknya pembawaan binatang itu mengatasi akal manusia, karena larinya menyusup-nyusup melalui semak belukar sehingga payahlah bagi Koai Atong untuk dapat mengikuti terus.

Akhirnya ia tertinggal jauh dan sesampainya di tengah hutan yang lebat ia bingung karena tidak tahu harus mengejar ke mana.

Burung Rajawali Emas itu lenyap seperti ditelan bumi.

Namun, orang seperti Koai Atong mana mau sudah begitu saja?

la seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainan bagus, maka sambil memaki-maki dan marah-marah ia mencari terus.

Seorang wanita muda berjalan seorang diri di dalam hutan itu.

Wanita ini masih muda sekali, berusia sekitar dua puluh satu tahun.

Sungguhpun badannya tidak terpelihara baik-baik, dapat dilihat dari pakaiannya yang tidak teratur dan rambutnya yang kusut, namun tak dapat disangkal oleh siapapun juga bahwa dia adalah seorang wanita muda yang amat cantik jelita.

Sayang bahwa pada waktu itu, tidak saja pakaian dan badannya.

tidak terawat baik-baik, juga pada wajah yang cantik manis itu nampak kedukaan dan kesengsaraan hati yang amat hebat.

Wajah itu suram-suram dan pada pipinya nampak bekas-bekas air rnata.

Sambil menundukkan mukanya, wanita itu berjalan di dalam hutan, tanpa tujuan seperti orang dalam mimpi.

Berulang-ulang ia menarik nafas panjang, kadang-kadang mengeluarkan air mata.

Tiba-tiba ia dibangunkan dari lamunannya oleh suara lirih yang datang dari semak-semak belukar.

Suara yang mengandung keluh kesakitan, merintih-rintih.

Wanita itu tertarik hatinya dan menyelinap memasuki belakang semak-semak yang amat rapat dan liar.

Ternyata disitu mendekam seekor Burung yang merintih-rintih kesakitan.

Wajah wanita itu nampak kaget melihat seekor Burung yang begitu besarnya dan bulunya seperti emas berkilauan.

Ketika melihat sayap kiri Burung itu tergantung lemas dan darah bercucuran dari luka nya yang masih tertancap ujung anak panah, wanita itu berkata, suaranya penuh perasaan kasihan.

"Ahh, sayapmu terluka? Kasihan sekali, mari kucabut ujung anak panah itu. Siapa orangnya yang begitu kurang ajar melukai Burung begini indah?"

Dari suaranya saja mudah diketahui bahwa pada dasarnya wanita ini bersikap gagah dan pembela kaum lemah, sayang bahwa dia sedang disiksa oleh penderitaan batin agaknya.

Burung itu bukan lain adalah Rajawali Emas yang terluka oleh anak panah Koai Atong.

Biarpun dia hanya seekor Burung, namun ia termasuk binatang yang cerdik juga dan dapat mengenal kawan atau lawan.

Agaknya ia berkesan baik terhadap wanita ini, buktinya ia lalu mengeluarkan suara merintih dan menjulurkan sayap kirinya seperti seorang anak kecil memperlihatkan tangannya yang sakit kepada ibunya.

Wanita itu meraba sayap itu, memeriksa sebentar.

"Ah, kasihan sekali kau, alangkah kejam orang yang melukaimu. Tentu sakit dan perih..."

Tiba-tiba ia meramkan mata dan menyarnbung.

"namun, Burung yang baik, betapapun sakitnya sayapmu, takkan sesakit hatiku..."

La membuka mata lagi lalu menggunakan jari-jari tangan yang runcing mungil mencabut ujung anak panah yang masih menancap dalam-dalam di sayap kiri Burung itu.

Dengan amat mudahnya anak panah tercabut dan darah hijau menghitam bercucuran keluar.

Dari gerakan mencabut ini saja dapat diketahui bahwa wanita muda yang cantik jellita itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga.

Melihat darah agak kehijauan itu wanita ini nampak kaget dan berseru.

"Celaka, anak panah ini beracun! Ah, mungkin kau takkan tertolong lagi..."

Suaranya terdengar sedih sekali.

"Tapi biarlah kucoba mengobatinya dengan obat luka yang kubawa dari Hoa-San."

Wanita itu mengeluarkan bungkusan kecil lalu mengobati luka di sayap Burung itu dengan obat bubuk putih.

Burung itu diam saja hanya merintih-rintih perlahan kemudian dengan mesra lehernya ia gosok-gosokkan kepada leher dan kepala wanita itu.

Wanita itupun membelai kepala Burung itu sambil berkata terharu.

"Ah, Burung yang baik, kau seekor binatang saja tahu terima kasih..."

Tiba-tiba terdengar suara berisik daun-daun kering terinjak disusul bentakan parau.

"Ah, kiranya kau bersembunyi di sini, Rajawali iblis?"

Dan muncullah Koai Atong yang mukanya masih bengkak-bengkak dan matang biru karena tadi beberapa kali dihajar oleh Burung Rajawali itu sampai terguling-guling.

Akan tetapi begitu pandang matanya bertemu dengan wanita cantik itu, seketika kemarahan Koai Atong lenyap dan matanya terbelalak memandang wanita itu, mulutnya yang masih membengkak tlba-tiba terbuka dan tertawa lebar, wajahnya berseri-seri gembira.

"Enci Hong...! Ha-ha-ha, benar, kau Enci Hong...!"

Ia bersorak gembira dan meloncat-loncat seperti anak kecil menari-nari mendekati wanita muda itu. Wanita muda itu menarik napas panjang.

"Hemm, Koai Atong, jadi kau kah yang melukai Burung ini?"

"Ah, jadi dia ini Burungmu, Enci Hong?"

Wanita itu meragu sebentar, lalu mengangguk.

"Betul."

"Waduh, celaka! Kalau aku tahu dia Burungmu, tentu aku tidak berani mengganggunya."

Koai Atong lalu menghampiri Burung itu dan menjura sangat dalam.

"Kim-Tiauw-Ko (Kakak Burung Rajawali Emas), kau maafkan aku, ya? Aku tidak tahu bahwa kau adalah peliharaan Enci Hong."

Melihat Koai Atong mendekat, Burung itu marah dan hendak mematuk, tapi wanita itu mencegahnya sambil merangkul lehernya.

"Dia ini orang sendiri, jangan ganggu."

Dan aneh sekali, Burung itu tidak jadi menyerang.

"Koai Atong, jadi Burung ini adalah seekor Kim-Tiauw (Rajawali Emas)?"

"Lho, kok aneh sekali kau ini. Masa tidak mengenal Burung peliharaan sendiri?"

"Baru sekarang aku mendengar bahwa dia adalah Rajawali Emas. Koai Atong, kau telah melukainya dengan racun hijau, sekarang kau harus memberi obat padanya."

"Baik... baik... ah Enci Hong. Kalau dia Burungmu, benar-benar aku harus dipukul!"

Kaoi Atong cepat mengeluarkan obat bubuk dari dalam sakunya.

Sebagai seorang ahli Jing-Tok (Racun Hijau), tentu saja ia tahu bagaimana harus mengobati luka karena Jing-Tok itu.

Beberapa kali ia menyedot luka di sayap itu dengan mulutnya, kemudian ia menaruhkan obat bubuknya yang berwarna kuning.

Benar saja, dalam waktu tak berapa lama Burung itu telah dapat menggerak-gerakkan kembali sayap kirinya.

Siapakah wanita muda itu?

Dia bernama Kwa Hong cucu murid Hoa-San-Pai akan tetapi oleh karena ia secara langsung menerima gemblengan dari kakek gurunya, yaitu ketua Hoa-San-Pai yang bernama Lian Bu Tojin, maka ilmu silatnya amat tinggi.

Beberapa bulan yang lalu Kwa Hong gadis gagah perkasa ini mengalami peristiwa yang amat menghancurkan hatinya.

la tertawan musuh dan ditahan di benteng bala tentara Mongol.

Beng San, pemuda sakti yang telah menjatuhkan hatinya, telah menolongnya dan kemudian mereka berdua terjebak oleh tipu daya musuh.

Musuh yang jahat telah menaruhkan obat mujijat dalam makanan sehingga dia dan Tan Beng San dalam keadaan tidak sadar telah jatuh dalam kekuasaan obat mujijat itu dan telah melakukan pelanggaran susila, telah melakukan hubungan seperti Suami Isteri.

Hal ini sesungguhnya tidak mendukakan hati Kwa Hong karena memang ia mencinta Tan Beng San dengan seluruh jiwa raganya.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika pada keesokan harinya setelah sadar dari pengaruh obat itu, Beng San menyatakan penyesalannya, minta mati dan malah mengaku Beng San tak mungkin dapat memperIsterinya karena pemuda itu sudah jatuh cinta kepada seorang gadis lain!

Semua peristiwa ini telah diceritakan dengan jeias dalam cerita Raja Pedang.

Demikianlah, dengan hati hancur, perasaan malu dan amat kecewa, Kwa Hong lalu lari pergi dengan maksud menjauhkan diri dari segala keramaian dunia.

Apa lagi yang dapat ia harapkan?

Orang yang dicintanya, yang tidak hanya merebut hati dan jiwanya, malah sudah pula memiliki badannya, tidak mau menerimanya dan menyatakan cinta kepada gadis lain!

Ibu dia sudah tidak punya.

Adapun Ayahnya...

ah, makin sedih kalau Kwa Hong teringat Ayahnya.

Ayahnya adalah seorang pendekar besar yang ternama, seorang jagoan Hoa-San-Pai, murid tertua dari Lian Bu Tojin.

Hoa-San It-Kiam (Pedang Tunggal dari Hoa-San) Kwa Tin Siong adalah seorang tokoh persilatan yang mempunyai nama besar dan harum.

Akan tetapi, nasib manusia memang tidak dapat dipastikan.

Ayahnya yang sudah lama menjadi duda itu teriibat dalam persoalan asmara dengan adik seperguruannya sendiri, yaitu Kiam-Eng-Cu (Bayangan Pedang) Liem Sian Hwa.

Karena marahnya Lian Bu Tojin hendak membunuh Liem Sian Hwa, namun serangan pedangnya ditangkis oleh Kwa Tin Siong, membuat lengan kirinya putus dan Ayahnya itu kemudian membawa lari Sian Hwa yang pingsan, pergi entah ke mana!

(Baca Raja Pedang).

Siapa lagi yang dapat diharapkan oleh Kwa Hong?

Hatinya perih sekali, dan lebih-lebih lagi bingung serta perih rasa hatinya ketika dalam perantauannya ini ia mendapat kenyataan bahwa ia telah mengandung!

Tuhan menjatuhkan hukuman-Nya terhadap makhluk-Nya yang sesat!

Perhubungannya dengan Tan Beng San tidak saja menghancurkan hatinya, tapi juga akan mendatangkan aib dan malu.

la telah mengandung di luar pernikahan yang sah.

la akan mempunyai anak tanpa mempunyai Suami!

Setelah mendapat kenyataan ini, beberapa kali Kwa Hong hendak membunuh diri saja, namun wataknya yang keras menimbulkan satu tekad padanya.

la tak boleh mati karena ia harus melakukan pembalasan!

Kepada siapa?

Kepada siapa saja yang telah membuat ia menjadi begini, kepada siapa saja yang telah membuat penghidupannya hancur lebur.

Demikianlah, secara kebetulan ia tiba di hutan itu dan bertemu dengan Koai Atong.

la memang mengenal baik Koai Atong ini, semenjak kecil dahulu Koai Atong selalu baik kepadanya.

Teringatlah ia setelah berjumpa dengan Koai Atong ini, akan kata-katanya di depan Tan Beng San.

Kata-kata terakhir untuk menyatakan kehancuran hatinya.

"Aku akan menikah dengan laki-laki yang paling buruk dan paling bodoh yang pertama kali kujumpai."

"Ah, bukankah Koai Atong ini boleh dibilang laki-laki yang paling buruk dan paling bodoh? Dan melihat ketaatan Koai Atong kepadanya... ha, siapa lagi di dunia ini yang boleh ia percaya? "Koai Atong, apakah kau masih suka kepadaku?"

Tiba-tiba Kwa Hong bertanya sambil memandang tajam kepada laki-laki tinggi besar yang bermuka bodoh itu. Koai Atong tertawa senang.

"Tentu saja, Enci Hong. Aku suka sekali padamu, kau seorang teman yang amat baik."

"Apakah kau suka menurut semua kata-kataku? Kalau kau tidak suka menuruti permintaan dan kata-kataku, lebih baik kau tinggalkan aku dan selama hidup jangan kau bertemu dengan aku lagi!"

"Tentu... tentu..."

Jawab Koai Atong gugup, agaknya laki-laki ini memang takut sekali kalau-kalau tak boleh bertemu dengan Kwa Hong.

"Aku akan menuruti semua kata-katamu, Enci Hong. Biar disuruh matipun aku mau!"

Seketika kedua mata Kwa Hong menjadi basah, Hatinya tertusuk sekali, Perih dan terharu ia melihat Koai Atong yang demikian mencintanya sehingga bersedia mati untuknya.

Kasihan Koai Atong.

Kau seperti aku nasibmu, demikian ia berpikir.

Mencinta mati-matian tanpa mendapat balasan.

"Lho, kok menangis, Enci Hong? Siapa yang mengganggumu? Bilanglah, Koai Atong akan menghancurkan kepalanya!"

La berdiri dan mengepal-ngepal tinjunya, nampaknya marah sekali seakan-akan sudah melihat pengganggu Kwa Hong berada di depannya.

"Kau duduklah, Koai Atong,"

Kwa Hong memegang tangannya dan menariknya duduk di atas tanah.

Sementara itu Burung Rajawali Emas yang sudah sembuh juga mendekam di belakang Kwa Hong membelai-belai punggung gadis itu dengan kepala dan lehernya.

Koai Atong nampak girang sekali disuruh duduk di dekat Kwa Hong.

Sinar matanya seperti mata seorang anak kecil minta dipuji.

"Atong, kau dengarlah baik-baik. Aku sekarang hidup seorang diri di dunia ini. Maukah kau bersamaku? Menjadi temanku selamanya dan tak pernah meninggalkan aku?"

"Aku suka... aku suka sekali!."

"Tapi kau tidak boleh pergi ke manapun juga, harus selalu mengikuti aku dan mentaati permintaanku."

"Boleh... boleh Enci Hong."

"Kalau Suhumu datang dan minta kau meninggalkan aku, bagaimana?"

Kwa Hong memancing.

Koai Atong menjadi bengong.

Orang yang paling ditakuti di dunia ini hanyalah gurunya seorang, yaitu Ban-Tok-Sim (Hati Selaksa Racun) Giam Kong, Hwesio dari Tibet yang amat terkenal sebagai tokoh dari Tibet, ahli Jing-Tok-Ciang.

Mendengar pertanyaan Kwa Hong ini, ia menjadi bingung dan nampak gugup.

"Waah, kalau Suhu datang... sulit...!"

Kwa Hong cemberut.

"Kalau kau lebih suka kepada Suhumu, sudahlah, sekarang juga kau boleh tinggalkan aku!"

"Tidak... tidak begitu, Enci Hong. Mana bisa aku lebih suka kepada Suhu yang gundul dan galak? Aku lebih suka kepadamu tentu."

Diam-diam geli juga hati Kwa Hong mendengar ucapan dan melihat sikap Koai Atong ini.

"Nah, kalau kau memang suka kepadaku, kau tidak boleh membantah, harus menurut segala kata-kataku. Biarpun Suhumu datang, kau harus berani menghadapinya dan selamanya kau tidak boleh meninggalkan aku, mengerti?"

Koai Atong mengangguk-angguk seperti ayam makan beras.

"Mengerti... mengerti..."

"Kalau begitu baru baik dan aku suka menjadi temanmu. Sekarang soal kedua, mulai sekarang, kepada siapapun juga, kepada gurumu sekalipun, kau harus Bilang bahwa aku ini adalah... adalah Isterimu,"

Sepasang mata Koai Atong terbuka lebar sampai Bundar, hidungnya kembang kempis dan mulutnya cengar-cengir seperti orang merasa nyeri dan ketakutan.

"Kau... kau adalah temanku yang baik yang kubela sampai mati... mana bisa is... Isteri segala...? Kembali Kwa Hong cemberut marah.

"Lagi-lagi kau mau membantah. Ah, Koai Atong, kalau belum apa-apa kau sudah membantah saja tidak mau menuruti kehendakku, sudahlah kau pergi, biar aku mati seorang diri di sini!"

"Jangan... jangan usir aku, Enci Hong. Baiklah, kau Isteriku. Biar kepada setan sekalipun aku akan bilang bahwa kau adalah Isteriku. Nah, sudah senangkah hatimu?"

Kwa Hong mengangguk, kemudian dengan pandang mata jauh seperti orang melamun sedih, ia berkata lagi.

"Mulai sekarang aku adalah Isterimu dan kau... Suamiku. Kelak kalau aku melahirkan anak kau harus bilang bahwa anak itu adalah anakmu."

Wajah Koai Atong sampai menjadi pucat mendengar ini, mulutnya ternganga dan matanya terbelalak.

Kiranya dia akan terus begini kalau saja tidak kebetulan sekali ada lalat terbang memasuki mulutnya, membuat ia mencak-mencak dan mau muntah.

"Kau mau menolak lagi? Mau membantah lagi?"

Kwa Hong benar-benar jengkel kali ini. Koai Atong ketakutan dan cepat ia menjatuhkan diri duduk lagi setelah dengan terpaksa menelan lalat yang nekat itu.

"Tidak, Enci Hong. Aku tidak membantah. Baiklah, anak itu anakku... eh, mana anak itu? Apa engkau mau melahirkan anak, Enci Hong?"

Sekarang Kwa Hong tersenyum, tersenyum sedih. Orang seperti Koai Atong ini bodohnya jauh lebih baik dan murni hatinya daripada orang-orang yang tampan dan pandai.

"Koai Atong, beberapa bulan lagi aku akan melahirkan anak dan ingat baik-baik, anak itu harus Kau anggap, anakmu sendiri. Aku Isterimu dan anak itu anakmu, mengerti?"

"Baik... baik... aku mengerti."

"Andaikata gurumu sendiri datang dan marah, kau harus tetap mengakui aku Isterimu dan anak itu anakmu, kau harus berani melawannya."

"Tapi..."

"Apa tapi lagi? Ah, Koai Atong, jangan kau bikin aku kehabisan sabar dengan membantah."

"Tidak membantah... tidak membantah, Enci Hong yang baik. Tapi Suhu lihai sekali... mana aku kuat melawannya? Kau dan aku akan tewas semua kalau melawannya."

"Takut apa? Kepandaianmu tinggi, dan sedikit-sedikit akupun berkepandaian. Kita bisa melatih diri memperdalam ilmu, kalau kelak ada yang datang mengganggu, dengan kepandaian kita, masa kita harus takut?"

Akan tetapi Koai Atong ragu-ragu, menggeleng-geleng kepala.

Biarpun dalam persoalan umum ia bodoh dan seperti anak kecil, namun dalam perkara ilmu silat ia jauh di atas Kwa Hong tingkatnya dan tahu bahwa melawan Suhunya merupakan hal yang mustahil sekali.

Tiba-tiba ia teringat dan seperti orang gila ia meloncat dan menari-nari, lalu ia merangkul Burung Rajawali Emas mendekam di belakang Kwa Hong, Burung itu kaget dan hendak menyerangnya, akan tetapi Kwa Hong membentak.

"Kim-Tiauw, jangan serang dia!"

Kemudian ia membentak Koai Atong.

"Apa-apaan kau ini, kegirangan tidak karuan?"

"Ada jalan... ada jalan baik Enci Hong, Kim-Tiauw-Heng ini, kita bisa belajar ilmu silat dari dia. Wah, dia lihai sekali, kiranya Suhuku sendiri takkan mampu melawannya!"

"Kau gila! Mana ada Burung lebih lihai ilmu silatnya dari gurumu? Sedangkan melawanmu saja ia sampai terluka sayap kirinya."

Koai Atong tertawa geli.

"Memang ia agak bodoh, tapi lihai bukan main. Kalau aku tidak sengaja mengakalinya, membiarkannya diriku dihantam lalu membarengi menusuk sayapnya dengan anak panah, mana aku bisa melukainya? Seratus kali aku menghantamnya, seratus kali luput dan setiap kali ia menyerangku, aku terguling-guling. Benar, gerakan-gerakannya adalah ilmu silat yang hebat, ilmu silat ajaib, ha-ha-ha!"

Kemudian ia menghampiri Burung itu dan berkata.

"Enci Hong, kau lihat sendiri, ya? Aku akan menyerangnya dengan Jing-Tok-Ciang, ilmu pukulanku yang paling hebat. Tapi kalau dia nanti marah, kau harus menyabarkannya."

Setelah berkata demikian ia memutar-mutar lengan kirinya dan siap menyerang Burung itu. Burung itupun cepat berdiri dan melirik ke arahnya dengan marah.

"Hati-hati Koai Atong. Pukulanmu itu hebat sekali, jangan kau bikin mati dia!"

Seru Kwa Hong yang sudah mengenal Jing-Tok-Ciang ini. Dia suka kepada Burung yang bulunya seperti emas itu.

"Jangan kuatir, kau lihat saja."

Tiba-tiba Koai Atong memukul, dan terus memukul secara bertubi-tubi sampai lima kali.

Akan tetapi benar saja, dengan gerakan aneh sekali tapi mudah dan ajaib, Burung itu melangkah ke sana ke mari dan...

semua serangan itu tidak mengenai sasaran.

Kemudian, entah bagaimana caranya tahu-tahu sayap kanannya bergerak dan...

Koai Atong terdorong sampai terguling-guling.

Burung itu mengejar dan dengan marahnya hendak mencengkeram.

Koai Atong berteriak-teriak minta tolong.

"Kim-Tiauw, jangan serang dia!"

Bentak Kwa Hong sambil meloncat maju. Aneh, Burung itu benar-benar tunduk kepada Kwa Hong. la membatalkan niatnya dan kelihatan girang ketika Kwa Hong merangkul lehernya.

"Hebat... Kim-Tiauw yang gagah. Kau benar-benar hebat...!"

Kata Kwa Hong yang sekarang percaya akan kelihaian Burung itu.

Koai Atong merayap bangun dan pada jidatnya bertambah sebuah benjolan sebesar telur.

Ia menyumpah-nyumpah tapi segera tertawa melihat wajah Kwa Hong berseri gembira.

"Ha-ha, kau tidak menangis lagi, Enci Hong. Baik, bagus, aku senang melihat kau gembira sekarang. Jangan kuatir, kalau aku sudah mempelajari ilmu silat Burung Kim-Tiauw ini, biar ada lima orang selihai Suhu, aku tidak takut!"

Kwa Hong masih tidak mengerti bagaimana harus mempelajari ilmu silat dari seekor Burung, akan tetapi melihat kesungguhan Koai Atong, ia percaya, maka ia menjadi girang sekali.

Diam-diam ia mengambil keputusan untuk mempelajari segala ilmu silat dari Koai Atong, kalau mungkin melalui Koai Atong mempelajari gerakan yang ajaib dari Burung itu.

Kalau dia sudah memiliki kepandaian tinggi, hemmm, akan tercapai maksudnya menghukum mereka yang membuat hidupnya merana.

Hoa-San-Pai adalah Partai persilatan yang besar dan sudah terkenal semenjak ratusan tahun.

Sayang sekali Partai besar ini menjelang berakhirnya pemerintahan Goan menjadi berantakan.

Semenjak dahulu Hoa-San-Pai menggembleng pendekar-pendekar budiman sehingga nama baiknya makin harum saja.

Mungkin sudah kehendak Tuhan bahwa segala apa di dunia ini, sampai nama sekalipun, tidak akan kekal adanya.

Adakalanya naik dan adakalanya turun, ada pasang surutnya.

Nasib yang menimpa Hoa-San-Pai di bawah pimpinan Lian Bu Tojin memang amat menyedihkan.

Karena kesalah pahaman disebabkan hal-hal yang amat berbelit-belit dalam masa perjuangan meruntuhkan Kerajaan Mongol dan mengusir penjajah itu dari tanah air, Ketua Hoa-San-Pai ini kehilangan semua muridnya yang paling ia andalkan dan sayang.

Empat orang muridnya yang dahulunya terkenal sebagai Hoa-San Sie-Eng (Empat Pendekar Hoa-San) sekarang sudah tidak ada lagi.

Yang pertama, Kwa Tin Siong, telah minggat entah ke mana setelah tangannya buntung oleh pedang gurunya, pergi bersama murid ke empat, Liem Sian Hwa.

Dua yang lain, yaitu murid kedua dan ke tiga, telah tewas dalam permusuhan dengan Kun-Lun-Pai yang terjadi karena kesalahpahaman yang hebat.

Memang masih ada empat orang cucu muridnya, yaitu Kwa Hong yang entah ke mana perginya, kemudian yang didengar oleh kakek Ketua Hoa-San-Pai itu bahwa Kwa Hong telah hidup bersama Koai Atong.

Cucu murid yang lainnya adalah Kui Lok yang sekarang menjaga Hoa-San-Pai bersama Thio Bwee.

Kakek ini sudah rnengambil keputusan untuk merangkapkan dua orang cucu muridnya ini yaitu Kui Lok dan Thio Bwee menjadi Suami Isteri.

Cucu murid ke empat adalah Thio Ki kakak dari Thio Bwee yang sekarang sudah bekerja sebagai kepala perusahaan Piauw-Kiok (Pengawal Pengantar Barang) di Sin-Yang.

Juga Thio Ki sudah ia jodohkan dengan murid Raja Pedang Cia Hui Gan, yaitu Nona Lee Giok yang patriotik.

Akan tetapi Lian Bu amat berduka kalau ia teringat akan muridnya yang terkasih, yaitu Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa.

Ke manakah perginya dua orang itu?

Pula, ia merasa sedih dan kecewa sekali kalau ia teringat akan Kwa Hong yang kabarnya tinggal di puncak Lu-Liang-San bersama Koai Atong!

Kalau perbuatan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa itu dapat dianggap merusak nama dan kehormatan Hoa-San-Pai, maka yang merusak itu adalah dua orang murid Hoa-San-Pai sendiri.

Akan tetapi kalau sampai terdengar orang kang-ouw tentang Koai Atong dan Kwa Hong, bukankah itu berarti bahwa Koai Atong sengaja hendak menghina Hoa-San-Pai dan memandang rendah dan ringan kepadanya?

Pikiran inilah yang selalu mengganggu kakek ini dan membuat ia mengambil keputusan untuk rnencari Ban-Tok-Sim Giam Kong untuk diminta pertanggungan-jawabnya terhadap perbuatan Koai Atong dan kalau guru Tibet ini tidak mau mempertanggungjawabkannya, ia sendiri akan mencari Kwa Hong dan Koai Atong di Lu-Liang-San.

Dan adalah keputusan ini yang membuat pada suatu hari Lian Bu Tojin berhadapan dengan Ban-Tok-Sim Giam Kong di tepi gurun pasir di luar tembok besar sebelah utara.

Ban-Tok-Sim Giam Kong adalah seorang Hwesio bertubuh tinggi besar berkulit hitam sekali, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih namun masih nampak kuat dan tongkat Hwesio yang selalu berada di tangannya juga berat tanda bahwa tenaga Hwesio tua ini besar.

Sepasang mata Hwesio ini memancarkan sinar penuh semangat dan matanya sekarang juga bersinar-sinar ketika ia bertemu dengan Lian Bu Tojin di tempat yang tak disangka-sangkanya itu.

"Omitohud...!"

La mengeluarkan kata-kata pujian sambil merangkap kedua tangan ke depan dada, menyembah sebagai tanda hormat.

"Angin apakah yang meniup Toyu datang ke tempat ini?"

Lian Bu Tojin merangkap kedua tangan lalu menjura.

"Bagus sekali, agaknya memang Thian sudah menghendaki pertemuan kita. Losuhu, sengaja Pinto mencarimu untuk membicarakan sesuatu urusan amat penting."

"Omitohud, Pinceng tidak hendak mendahului kehendak Thian. Akan tetapi, bukankah Toyu mencari Pinceng karena urusan muridmu dan muridku?"

"Siancai... Siancai..."

Lian-Bu Tojin berkata heran.

"Kiranya Losuhu sudah maklum pula akan hal itu. Losuhu, di antara kita ada pertalian persahabatan ketika kita bersama menghadapi bangsa Mongol. Oleh karena itu pula, Pinto mohon Losuhu sudi mengingat hubungan baik itu dan suka meluruskan jalan yang bengkok."

Kata-kata meluruskan jalan bengkok ini berarti membetulkan sesuatu yang salah atau yang tidak wajar.

Giam Kong Hwesio tertawa sambil berdongak, giginya yang masih lengkap dan kuat itu berkilat-kilat putih di balik kulit mukanya yang hitam.

"Lian Bu Toyu memakai kata-kata halus tapi maksudnya hendak menyalahkan Pinceng dalam hal ini, ha-ha-ha! Sebetulnya, Pinceng sendiripun amat heran mengapa muridmu yang muda dan cantik jelita itu suka kepada murid Pinceng yang bodoh dan gila. Kalau muridmu suka, mengapa hendak menyalahkan Pinceng?"

Wajah Lian Bu Tojin yang putih itu berubah agak merah. Benar-benar memalukan sekali sikap Kwa Hong itu, akan tetapi betapapun juga, ia harus menjaga nama dan kehormatan Hoa-San-Pai.

"Pinto meragukan apakah Kwa Hong dengan sukarela ikut dengan muridmu. Harus diakui bahwa muridmu itu jauh lebih tinggi kepandaiannya daripada Kwa Hong. Andaikata muridmu hendak mengambil Kwa Hong sebagai jodohnya, itupun harus melalui saluran-saluran yang terhormat. Maka dari itu, Losuhu, sudah jelas bahwa muridmu melanggar kesusilaan, menghina Hoa-San-Pai. Kalau Losuhu tidak mau turun tangan sendiri, terpaksa untuk menjaga nama baik Hoa-San-Pai, Pinto yang akan mewakili Losuhu."

Kali ini Ban-Tok-Sim Giam Kong tidak tertawa lagi, menarik muka sungguh-sungguh dan berkata.

"Lian Bu Toyu, kau enak saja bicara seperti orang yang bersih mulus!! Ketahuilah, dalam urusan antara muridmu dan muridku ini terdapat rahasia yang Pinceng sendiri masih belum dapat pecahkan. Kau tahu, Atong selama hidupnya amat taat dan takut kepadaku, akan tetapi kali ini ia membangkang dan sama sekali tidak mau kembali kepada Pinceng. Ini tidak sewajarnya dan agaknya muridmu itulah yang memaksanya, entah dengan pengaruh apa. Selain dari itu, supaya kau tahu saja, Pinceng yang menjadi gurunya tahu betul bahwa diri Koai Atong itu tidak normal lagi, tak mungkin dia bisa menjadi Suami karena Pinceng sendiri yang dahulu sudah turun tangan mematikan pembangkit nafsunya. Dia akan tetap menjadi kanak-kanak sampai matinya kelak dan tidak mungkin ia akan dapat melakukan hubungan dengan wanita sebagai Suami Isteri. Nah, setelah keadaan seperti ini sekarang Pinceng mendengar ia mati-matian mengaku sebagai Suami muridmu, bukankah aneh sekali ini?"

Lian Bu Tojin mengerutkan alisnya.

Orang seperti Ban-Tok-Sim Giam Kong ini tidak aneh kalau melakukan kekejian seperti yang dilakukan terhadap Koai Atong itu dan kata-katanya itu boleh dipercaya.

la diam-diam merasa heran sekali.

Bukan tak mungkin kalau sebaliknya Kwa Hong yang mempengaruhi bocah tua itu.

la mengenal baik Kwa Hong yang keras hati dan tidak mau kalah dalam segala hal.

Akan tetapi mengapa Kwa Hong melakukan hal itu?

"Giam Kong Losuhu, kalau begitu, karena hal ini menyangkut muridmu dan muridku, jadi menyangkut nama baik kedua pihak, maka marilah kita berdua pergi ke Lu-Liang-San dan sama melihat sebetulnya apakah yang terjadi di sana dan siapa di antara keduanya itu yang bersalah harus kita hukum."

"Usulmu baik sekali, Toyu."

Berangkatlah dua orang kakek Pendeta itu menuju ke Lu-Liang-San.

Keadaan dua orang kakek ini amat jauh berbeda.

Giam Kong Hwesio adalah seorang kakek tinggi besar yang bermuka hitam dan tangannya menyeret sebuah tongkat yang besar dan berat, tongkat Hwesio yang kepalanya diukir kepala binatang sakti kilin.

Adapun Lian Bu Tojin yang beberapa tahun lebih muda daripada Hwesio tua itu adalah seorang Pendeta Tosu yang tinggi kurus, jenggotnya panjang sampai ke perut, pakaiannya sederhana sekali dan tangannya membawa sebatang bambu yang ringan.

Di punggungnya tergantung pedang pusaka Hoa-San-Pai.

Biarpun dua orang kakek ini sudah tua sekali, sudah lebih enam puluh tahun, namun berkat tingkat kepandaian rnereka yang tinggi, dengan ilmu lari cepat mereka, dalam beberapa hari saja mereka sudah mulai mendekati Bukit Lu-Liang-San yang sunyi.

Akan tetapi mencari dua orang di atas pegunungan yang banyak puncaknya dan kaya akan hutan-hutan lebat itu bukanlah pekerjaan mudah.

Setelah berkeliaran beberapa hari barulah pada suatu pagi mereka berhasil menemukan Koai Atong.

Inipun kalau Koai Atong tidak sedang memanggang daging Harimau kiranya masih belum akan dapat ditemukan oleh dua orang kakek itu.

Asap yang bergulung-gulung itulah yang menarik dua orang kakek ini dan akhirnya mereka melihat Koai Atong sedang memanggang daging dalam sebuah hutan yang lebat.

Koai Atong tertawa-dan menyanyi seorang diri, nampaknya gembira bukan main.

Giam Kong Hwesio yang menghampiri dengan diam-diam itu merasa terharu juga.

Sudah terlalu kenal ia akan watak muridnya ini dan ia dapat melihat betapa muridnya itu betul-betul merasa bahagia hidupnya.

Maka meragulah dia, apakah dia harus mengganggu penghidupan yang begitu tenteram dan bahagia dari Koai Atong?

Akan tetapi karena ada urusan yang menyangkut diri Kwa Hong murid Hoa-San-Pai, tentu saja iapun tidak dapat mendiamkan saja.

"Koai Atong, sedang apa kau di sini seorang diri?"

Tegur Giam Kong Hwesio.

Koai Atong nampak kaget, apalagi setelah menengok ia melihat gurunya.

bersama Lian Bu Tojin sudah berdiri di depannya.

Saking gugupnya ia lalu mendekatkan daging yang dipanggangnya itu ke mulut, Lalu...

digigitnya daging setengah matang yang masih panas sekali itu.

la seperti lupa diri dan terus makan daging yang masih mengebul itu dengan enaknya sambil kedua matanya memandang kepada dua orang kakek itu, terbelalak.

"Koai Atong, Suhumu bertanya kenapa tidak kau jawab?"

Kata Lian Bu Tojin, suaranya terdengar tenang dan penuh kesabaran. Ketua Hoa-San-Pai ini memang tak pernah memperlihatkan kandungan hatinya sehingga dalam keadaan marah atau duka ia bisa tertawa.

"Aku... aku sedang makan..."

Jawab Koai Atong gugup.

"Suhu dan Totiang... apakah suka makan daging?"

Kalau saja pertanyaan ini bukan diajukan oleh Koai Atong yang sudah mereka kenal wataknya yang kekanak-kanakan, tentu akan merupakan pertanyaan yang sifatnya menghina.

Masa dua orang Pendeta yang pantang makan bernyawa ditawari daging?

"Atong, kedatangan Pinceng dan Lian Bu Toyu ke sini bukan untuk makan daging, melainkan untuk mencari kau dan Nona Kwa Hong.

Kabarnya kau dan Nona Kwa Hong berada disini, sekarang di rnana adanya nona itu?"

Mendengar pertanyaan gurunya, Koai Atong lalu berdiri, mulutnya masih bergerak-gerak makan daging panas.

"Ada keperluan apakah kau mencari Isteriku?"

Terbelalak mata Giam Kong Hwesio mendengar kata-kata dan melihat sikap yang menantang ini.

"Atong, apa katamu? Sejak kapan kau memperIsteri dia?"

"Sejak... sejak lama, entah berapa lama. Enci Hong adalah Isteriku dan kelak kalau anaknya terlahir, anak itu adalah anakku!"

Otomatis Koai Atong meniru kata-kata yang harus ia janjikan kepada Kwa Hong dahulu.

Mendengar ini, dua orang kakek itu saling pandang dan keduanya melangkah heran.

Keheranan itu perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan karena mereka Berdua menganggap bahwa hal ini benar-benar keterlaluan.

Dua orang bersuami Isteri sampai hampir punya anak dan semua itu terjadi di luar tahu guru masing-masing, terjadi begitu saja tanpa pengesahan.

Benar-benar merupakan tamparan bagi orang yang menjadi gurunya.

"Atong, jangan kau main gila!"

Bentak Giam Kong Hwesio dengan muka makin menghitam karena menahan kemarahannya.

"Benar-benarkah kau menjadi Suami Nona Kwa Hong? Jangan berdusta, jawab terus terang!"

Biasanya apabila gurunya sudah membentaknya seperti itu, hati Koai Atong menjadi jerih dan takut, lalu serta-merta menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi kali ini ia tetap berdiri dan biarpun wajahnya berubah pucat dan tubuhnya menggigil, ia menjawab.

"Betul, Suhu. Enci Hong adalah Isteriku, aku Suaminya dan anaknya kelak akan menjadi..."

"Tutup mulut!"

Giam Kong Hwesio membentak marah sekali.

"Atong, lupakah kau bahwa dalam segala hal kau harus mendapat ijin lebih dulu dari Pinceng? Diam-diam kau mengaku sebagai Suami Nona Kwa Hong, siapakah yang memaksamu berbuat demikian?"

"Enci Hong yang meminta begitu, Suhu... dan aku... aku tidak bisa menolaknya, tidak mau aku membikin Enci Hong marah dan berduka."

Giam Kong Hwesio melirik ke arah Lian Bu Tojin, sinar matanya seakan-akan berkata.

"Nah, semua adalah kesalahan muridmu!"

Akan tetapi Lian Bu Tojin tidak berkata apa-apa hanya memandang ke sana ke mari agaknya mencari Kwa Hong.

"Atong, sekarang juga kau harus tinggalkan tempat ini dan ikut bersama Pincengl"

Makin pucat wajah Koai Atong.

"Apa...? Pergi meninggalkan Enci Hong...? Tidak, Suhu. Aku tidak mau, aku tidak bisa berpisah dari Enci Hong. Aku tidak mau pergi ikut denganmu!"

"Setan! Atong, apakah kau hendak melawan gurumu?"

"Siapapun juga tidak boleh memisahkan aku dengan Enci Hong!"

Koai Atong tetap membantah.

"Keparat, kalau begitu lebih baik Pinceng rnelihat kau mati!"

Tiba-tiba tubuh yang tinggi besar dari Giam Kong Hwesio itu bergerak dan tahu-tahu ia sudah mengirim serangan maut ke arah kepala Koai Atong.

la sudah maklum sampai di mana tingkat kepandaian muridnya ini, yaitu tidak selisih jauh dengan tingkatnya sendiri, maka begitu turun tangan ia segera mengirim pukulan dengan jurus yang mematikan dan yang kiranya takkan dapat dihindarkan oleh muridnya itu.

Akan tetapi, di luar dugaannya sama sekali, tubuh Koai Atong bergerak sedikit, kakinya menggeser dan kedua lengannya dikembangkan seperti sayap dan...

serangan itu hanya mengenai tempat kosong Giam Kong Hwesio terkesiap, bukan karena dihindarkannya serangannya, melainkan cara muridnya itu bergerak menyelamatkan diri.

Gerakan kaki dan kedua tangan muridnya itu sama sekali asing baginya.

"Murid murtad, kau sudah mempelajari ilmu silat lain pula? Nah, pergunakan llmu silat barumu untuk menghadapi ini!"

Kembali Giam Kong Hwesio menyerang, kini menyerang sambil mengerahkan tenaga Jing-Tok-Ciang yang luar biasa hebatnya.

Namun ia kembali kecele sampai berkali-kali.

Serangannya susul-menyusul sampai dua puluh empat jurus tanpa berhenti, namun kesemuanya itu dapat dihindarkan dengan arnat mudahnya oleh Koai Atong.

Melihat hal ini tadinya Lian Bu Tojin sendiri mengira bahwa Giam Kong Hwesio hanya menggertak muridnya dan masih merasa sayang untuk menghukumnya.

Akan tetapi setelah melihat betapa Giam Kong Hwesio makin lama makin marah dan serangan-serangannya betul-betul amat berbahaya, ia mulai memperhatikan dan amat heranlah hati ia sendiri menyaksikan betapa aneh dan luar biasa gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Koai Atong itu.

Tubuh Koai Atong yang tinggi besar itu agak membungkuk, kakinya berloncatan ke sana-sini, kedua lengannya dikembangkan seperti Burung hendak terbang.

Dan setiap kali serangan datang selalu otomatis kaki dan tangannya bergerak secara aneh tapi selalu dapat menghindarkan semua pukulan.

"Kurang ajar, kau benar-benar hendak melawan gurumu sendiri? Atong, kalau begitu biar pinceng (Lanjut ke

Jilid 02) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 mengadu nyawa denganmu!"

Seru Giam Kong Hwesio yang menjadi marah luar biasa. Tiba-tiba terdengar suara merdu dari atas.

"Koai Atong, Hwesio buruk itu bukan gurumu lagi, balaslah dengan Jing-Tok-Ciang yang baru kita latih kemarin!"

Wajah Koai Atong berseri-seri mendengar suara ini, lalu ia menjawab.

"Baiklah, Enci Hong. Eh, Hwesio buruk, kau bukan guruku lagi dan sekarang kau rebahlah!"

Sambil berkata demikian Koai Atong memutar-mutar lengan kiri hendak menggunakan pukulan Jing-Tok-Ciang.

Tentu saja serangan ini dipandang ringan oleh Giam Kong Hwesio.

Dialah yang menciptakan ilmu Pukulan Jing-Tok-Ciang ini, masa sekarang ia diancam dengan ilmu pukulan ciptaannya itu?.

Hampir ia tertawa melihat bekas muridnya memutar-mutar tangan kirinya.

Tepat seperti yang ia ajarkan dulu, tangan kiri Koai Atong mendorong dengan tenaga Jing-Tok-Ciang.

Tentu saja sebagai penciptanya, Giam Kong Hwesio tahu cara pemecahannya, malah tahu cara untuk membalas secara hebat.

Diam-diam ia mengerahkan tenaga dan dengan Jing-Tok-Ciang pula tapi dengan tenaga "menyedot"

Ia menangkis dengan tangan kanannya kepada dorongan tangan kiri muridnya itu.

Dua tangan bertemu dan saling menempel.

Giam Kong Hwesio sudah merasa girang karena kali ini ia pasti akan dapat merobohkan bekas muridnya itu.

Siapa kira tiba-tiba tangan kanan Koai Atong bergerak mendorong dan...

tangan kanan inilah yang mengandung tenaga Jing-Tok-Ciang sepenuhnya Sedangkan tangan kirinya tadi hanyalah gertak atau tipuan belaka.

"Bukk!!"

Tubuh Giam Kong Hwesio terhuyung-huyung, matanya terbelalak melotot memandang kepada Koai Atong, kemudian ia roboh terguling dengan mata masih melotot akan tetapi putus nyawanya.

Hwesio Tibet ini telah tewas di tangan muridnya sendiri, oleh ilmu pukulan yang dahulu ia ciptakan sendiri.

Akan tetapi Jing-Tok-Ciang yang dipergunakan oleh Koai Atong ini telah berubah banyak, dan gerakannya telah dicampur dengan gerakan aneh yang ia pelajari bersama Kwa Hong dari Burung Rajawali Emas!

Lian Bu Tojin sejak tadi memandang ke atas, ke arah suara.

Ternyata Kwa Hong sedang duduk di atas punggung seekor Burung Rajawali yang berbulu kuning emas.

Agaknya Burung itu tadi terbang mendatang dengan gerakan sayap yang amat halus sehingga tidak menimbulkan suara dan telah hinggap di cabang dengan Kwa Hong di punggungnya.

Hampir Lian Bu Tojin tidak mengenal muridnya ini lagi, Kwa Hong memakai pakaian serba putih, tidak merah seperti dulu lagi, dan ia duduk di punggung Rajawali dengan lagak angkuh dan agung seperti seorang ratu duduk di atas singgasana dari emas!

Sama sekali Kwa Hong tidak pernah melirik ke arah Lian Bu Tojin dan begitu melihat Giam Kong Hwesio roboh dan tewas Kwa Hong tertawa dengan suara yang membikin bulu tengkuk berdiri.

Dalam pendengaran Lian Bu Tojin, suara itu setengah tertawa setengah menangis.

Betapapun juga, melihat Koai Atong membunuh gurunya sendiri, Lian Bu Tojin menjadi marah sekali.

"Koai, Atong benar-benar kau murid durhaka. Berani kau membunuh gurumu sendiri?"

Sementara itu, Koai Atong berdiri seperti patung memandangi tubuh Suhunya yang telentang dengan mata mendelik dalam keadaan tidak bernyawa lagi itu.

Sekarang, mendengar kata-kata Lian Bu Tojin, ia segera berlutut sambil menangis menggerung-gerung.

"Suhu... Suhu... kenapa kau diam saja? Suhu... apakah betul-betul kau mati? Ah, Suhu, jangan tinggalkan murid seorang diri di dunia ini. Suhu... jangan mati, Suhu...!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dari atas pohon dan tahu-tahu Kwa Hong sudah berdiri di dekat Koai Atong, memegang pundak Koai Atong dan diguncang-guncang keras.

Lian Bu Tojin diam-diam kaget dan kagum menyaksikan gerakan Kwa Hong ketika melayang turun tadi, seperti seekor Burung saja gerakannya dan demikian ringan!

Dari mana gadis ini mempelajari semua itu?

"Koai Atong, apakah kau sudah gila?

Hwesio buruk ini sudah mati, kenapa kau menangis segala macam?"

Koai Atong bangkit berdiri sambil menyusuti air matanya.

"Dia adalah guruku, Enci Hong. Dia guruku yang baik... uhh-uhhhuu... kalau dia mati, bagaimana dengan diriku? Uhuhuu..."

"Goblok! Apa kau lupa ada aku disini. Kau boleh pilih saja, mau ikut gurumu mampus atau mau hidup bersama aku di sini?"

Seketika berubah wajah Koai Atong. la nampak gugup dan cepat sekali tersenyum dan menyusut kering air matanya.

"Oh, betul juga. Aku keliru tadi, Enci Hong. Biarkan dia mampus, Hwesio buruk itu yang mau membawa aku pergi darimu. Ha-ha-ha!"

Mendengar dan melihat ini semua, Lian Bu Tojin tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Sekarang jelaslah baginya bahwa kesalahannya bukan terletak pada diri Koai Atong, melainkan sepenuhnya adalah karena perbuatan Kwa Hong, terang bahwa Koai Atong hanya menurut saja apa kehendak Kwa Hong.

Yang ia tidak mengerti mengapa Kwa Hong melakukan ini semua?

Mungkinkah Kwa Hong jatuh cinta kepada orang seperti Koai Atong?

Ia menggeleng-geleng kepala, kalau ada kemungkinan ini tentu ada kemungkinan lain, yaitu bahwa Kwa Hong telah menjadi gila!

"Eh, Tosu tua.

Mau apa kau datang ke tempat kami ini?"

Lian Bu Tojin memandang kepada Kwa Hong dengan mata terpentang lebar sekali.

Benarkah ini Kwa Hong gadis cucu muridnya yang dulu hanya takut kepadanya seorang?

"Hong Hong, benar-benarkah kau sudah lupa kepada Pinto?

Lupakah kau kepada kakek gurumu sendiri?

Pinto adalah Lian Bu Tojin dari Hoa-San-Pai, Hong Hong, setelah kakek gurumu datang, apakah kau tidak lekas berlutut memberi hormat?"

Koai Atong berkata.

"Enci Hong, dia ini Ketua Hoa-San-Pai, Lian Bu Tojin, kakek gurumu yang galak, Lekas berlutut, kau nanti mendapat marah bisa sulit!"

Akan tetapi tiba-tiba Kwa Hong tertawa bergelak-gelak, lalu berkata dengan nada suara galak.

"Lian Bu Tojin, siapa tidak tahu bahwa kau adalah Ketua Hoa-San-Pai yang mulia dan gagah perkasa, guru besar yang hendak membunuh murid sendiri kemudian membuntungi lengan kiri murid sendiri? Hah, kau menjemukan hatiku. Tosu tua bangka bau, lekaslah pergi dari sini sebelum timbul seleraku untuk membuntungi tanganmu atau lehermu!"

Sesabar-sabarnya manusia, masih ada batasnya.

Kalau yang memakinya itu seorang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, mungkin Lian Bu Tojin takkan melayaninya dan akan pergi begitu saja.

Akan tetapi Kwa Hong adalah cucu muridnya.

Seorang cucu murid berani memaki-maki kakek gurunya, hal ini benar-benar di luar batas kesabaran Lian Bu Tojin.

"Kwa Hong, kau benar-benar kurang ajar sekali. Kau sebagai anak murid Hoa-San-Pai sudah mengotorkan dan mencemarkan nama Hoa-San-Pai dengan perbuatanmu yang kotor tak tahu malu ini. Pinto menjadi Ketua Hoa-San-Pai, percuma kalau tidak bisa memberi hukuman kepadamu!"

Setelah berkata demikian, dengan amarah meluap-luap Lian Bu Tojin lalu menerjang maju sambil memutar tongkat bambunya, melakukan serangan kepada.

Kwa Hong.

Dengan amat mudah Kwa Hong mengelak dan membalas dengan pukulan aneh sekali gerakannya, dari samping.

Melihat betapa gerakan tangan itu ketika memukul agak diputar, tak salah lagi tentu ini sebuah pukulan Jing-Tok-Ciang, akan tetapi juga lain sekali gerakannya dengan Jing-Tok-Ciang dari Giam Kong Hwesio yang pernah dilihat Lian Bu Tojin.

Betapapun juga Lian Bu Tojin tidak berlaku sembrono dan mengelak sambil menotokkan ujung tongkat bambunya ke arah jalan darah di pinggang bekas cucu muridnya itu.

Lagi-lagi Kwa Hong mengelak dan diam-diam Lian Bu Tojin menjadi kagum.

Gerakan Kwa Hong ini persis gerakan Koai Atong ketika mengelak dari serangan Giam Kong Hwesio tadi.

Gerakannya sederhana tapi aneh dan cepat bukan main, sedikit saja pindahkan kaki dan kembangkan kedua lengan, serangan yang sulit-sulit sudah dapat dihindarkannya.

Dilihat sepintas lalu seperti Ilmu Silat Ho-Kun dari Siauw-Lim-Si, akan tetapi kedudukan kakinya berbeda, lagi pula gerakan ini mengandung kegagahan yang tak dapat disamakan dengan Burung Ho dari Ilmu Silat Ho-Kun.

Karena tak dapat mengenal ilmu silat apa yang dipergunakan oleh Kwa Hong untuk menghadapi serangan-serangan tongkat bambunya, kakek Ketua Hoa-San-Pai itu menjadi penasaran sekali.

Apalagi kalau diingat bahwa ia menyerang dengan menggunakan senjata walaupun hanya sebatang tongkat bambu, sedangkan bekas cucu muridnya itu bertangan kosong!

Alangkah akan malunya kalau ada orang mendengar bahwa dia, Ketua Hoa-San-Pai, menggunakan senjata tongkatnya yang sudah terkenal, dalam belasan jurus tidak mampu merobohkan cucu muridnya sendiri yang bertangan kosong.

Mengingat ini, Lian Bu Tojin lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu silatnya yang paling tinggi, inti dari pada Ilmu Pedang Hoa-San Kiam-Hoat yang karena sukarnya memang belum pernah ia turunkan kepada Kwa Hong.

Hanya Ayah Kwa Hong, murid pertama dari Hoa-San-Pai, Hoa-San It-Kiam Kwa Tin Siong saja yang pernah mempelajari ilmu pedang ini, tapi juga beJum sempurna betul.

Bukan main hebatnya ilmu pedang ini.

Biarpun dimainkan hanya dengan sebatang tongkat bambu, namun bahayanya bukan main.

Tongkat bambu itu berubah menjadi segulung sinar yang menyambar-nyambar dan mengurung diri Kwa Hong dari segala jurusan.

Tadi Kwa Hong selalu dapat menghindarkan diri dari serangan bekas kakek gurunya karena ia memang sudah mengenal ilmu silat Hoa-San-Pai dengan baik.

Seperti juga Koai Atong, selama beberapa bulan di dalam hutan ia telah berhasil mempelajari banyak gerakan dari Burung Rajawali Emas itu dan bersama-sama Koai Atong yang memang amat cerdas dalam hal ilmu silat, Mereka telah dapat mengambil intisari daripada gerakan-gerakan Burung aneh itu sehingga dapat mempergunakan dalam pertempuran.

Akan tetapi yang dapat mereka petik dalam beberapa bulan ini hanya gerakan mengelak saja, itupun belum sempurna betul sungguhpun memang sudah amat hebat kalau dipergunakan dalam pertempuran.

Sekarang setelah Lian Bu Tojin mengeluarkan ilmu pedang yang menjadi inti daripada Hoa-San Kiam-Hoat.

Kwa Hong menjadi kaget.

Tongkat bambu itu mengeluarkan hawa dingin dan membuat matanya berkunang.

Baru ia tahu sekarang bahwa kakek gurunya ini, Ketua Hoa-San-Pai memang tidak mempunyai nama kosong belaka.

la mengeluarkan pekik menyeramkan dan kini menggunakan segala ingatannya untuk meniru gerakan-gerakan dari Burung Rajawali Emas.

Bukan hanya gerakan untuk mengelak dari bahaya, juga sedikit-sedikit ia mulai menggunakan gerakan menyerang dari Burung itu.

Kedua kakinya kadang-kadang melompat dan menerjang dalam tendangan-tendangan sebagai pengganti kedua kaki Burung kalau mencakar dan menendang, kedua tangannya secara aneh dan tiba-tiba menghantam dari samping seperti gerakan sayap dan kadang-kadang menotok lurus dari depan seperti gerakan patuk Burung.

Betapapun juga, Kwa Hong menjadi girang karena ia dalam beberapa puluh jurus gerakannya mengelak masih berhasil menyelamatkan dirinya dari ancaman senjata kakek itu.

Akan tetapi, makin lama makin terasa olehnya betapa gulungan sinar itu makin menekan dan mengurung makin rapat sehingga tak mungkin lagi baginya untuk membalas, Repot juga kalau harus mengelak terus dari sinar tongkat yang amat berbahaya itu.

"Koai Atong, bantu aku!"

Akhirnya Kwa Hong tidak tahan dan minta bantuan temannya.

Koai Atong mengeluarkan suara melengking keras meniru suara lengkingan Burung Rajawali, kemudian tubuhnya yang tinggi besar itu menerjang maju Sambil mengirim pukulan Jing-Tok-Ciang ke arah tubuh kakek Ketua Hoa-San-Pai.

Lian Bu Tojin terkejut juga ketika merasa ada angin dingin menyambar dahsyat dari samping.

Cepat ia mengelak dan memutar tongkatnya menotok sekaligus ke tiga tempat berbahaya di tubuh Koai Atong.

Namun sambil terkekeh Koai Atong mengelak dua kali dan menangkis sekali tongkat bambu itu dengan sabetan lengannya dari samping.

Lian Bu Tojin kaget ketika merasa betapa sabetan itu mengandung tenaga yang amat dahsyat dan lebih-lebih lagi kagetnya ketika melihat bahwa ujung tongkat bambunya telah remuk!

"Keparat, hari ini Pinto harus memberi hajaran kepada kalian berdua!"

Lian Bu Tojin berseru sambil mencabut keluar pedang pusakanya.

Cahaya menyilaukan berkelebat ketika pedang pusaka itu tercabut.

Inilah pedang pusaka Hoa-San-Pai (Hoa-San Po-Kiam) yang menjadi tanda kekuasaan.

Semenjak Hoa-San-Pai didirikan, pedang ini turun-temurun berada di tangan para ketua Hoa-San-Pai.

Biasanya pedang pusaka ini hanya dipergunakan untuk upacara-upacara peringatan untuk menghormati para.

ketua Hoa-San-Pai semenjak dahulu, dan jarang sekali dipakai untuk bertempur.

Akan tetapi kali ini karena menghadapi lawan berat dan pula harus menjaga nama baik Hoa-San-Pai, Lian Bu Tojin tidak ragu-ragu lagi untuk menghunusnya dan mempergunakannya.

Memang pada hakekatnya tingkat ilmu kepandaian dua orang itu, Koai Atong dan Kwa Hong masih jauh di bawah tingkat Lian Bu Tojin.

Kalau tadi Koai Atong berhasil membunuh gurunya adalah karena Giam Kong Hwesio sama sekali tidak pernah mengira bahwa muridnya sudah mendapatkan kepandaian yang demikian anehnya, padahal menurut tingkat, tentu saja Koai Atong masih belum dapat menyamai gurunya.

Biarpun Koai Atong dan Kwa Hong mendapatkan ilmu yang amat mujijat, yaitu dari gerakan Burung Rajawali Emas itu, namun mereka baru berlatih beberapa bulan saja, pula hanya mempertahankan diri maka merekapun hanya kuat sekali dalam hal ini.

Untuk balas menyerang ternyata ilmu kepandaian mereka masih belum dapat menyamai tingkat Lian Bu Tojin.

Apalagi sekarang mereka berdua bertangan kosong menghadapi Lian Bu Tojin yang marah dan yang bersenjatakan pedang pusaka Hoa-San-Pai yang ampuh sekali itu.

Biarpun mereka dapat selalu menghindar daripada sambaran pedang, namun untuk membalas benar-benar merupakan hal yang amat sulit.

Kalau dibiarkan saja terus menghadapi gulungan sinar pedang yang menyilaukan mata ini, akhirnya tentu seorang di antara mereka akan terluka terbunuh.

"Kim-Tiauw-Heng! Hayo bantu kamil"

Tiba-tiba Kwa Hong berteriak dan mengeluarkan suara bersuit nyaring.

Lian Bu Tojin terkejut ketika tiba-tiba ia melihat sinar kuning emas berkelebat dari atas dan tahu-tahu ia sudah diserang bertubi-tubi oleh sepasang cakar, sebuah patuk dan sepasang sayap.

Serangan ini hebat luar biasa, akan tetapi sebagai seorang ahli, ia tidak menjadi gugup, malah memusatkan gerakan pedangnya menjadi sebuah lingkaran menghantam ke arah Burung Rajawali itu.

Hebatnya, biarpun tadinya menyerang dengan dahsyat, begitu menghadapi serangan maut dari pedang pusaka itu, Burung Rajawali ini dapat secara aneh dan cepat sekali merubah gerakannya dan sekali melejit ia dapat menyelinap di antara gulungan sinar pedang dan berhasil menyelamatkan diri lalu terbang berputaran di atas kepala Lian Bu Tojin, menanti kesempatan baik untuk menyerang lagi.

"Kim-Tiauw-Heng, kau rampas pedangnya!"

Kembali Kwa Hong berseru.

Lian Bu Tojin mengira bahwa ucapan ini hanya gertakan saja.

Ia tidak mengenal Rajawali Emas.

Burung itu lain dengan Burung-Burung biasa.

Agaknya dahulu pernah dipelihara orang sakti maka Burung ini mudah sekali menangkap perintah manusia.

Begitu mendengar seruan ini, ia lalu menyambar-nyambar dan sekarang ia benar-benar berusaha merampas pedang, memukulkan kedua sayapnya ke arah kepala Lian Bu Tojin disusul cengkeraman-cengkeraman kedua kakinya ke arah pedang pusaka Hoa-San-Pai!

Barulah terkejut hati Lian Bu Tojin.

Menghadapi dua orang murid murtad itu sudah merupakan hal yang bukan ringan karena mereka memiliki ilmu mengelak yang benar-benar membuat ia sukar merobohkan mereka.

Sekarang ditambah lagi seekor Burung yang demikian dahsyat serangannya, benar-benar ia mengeluh di dalam hatinya.

Ketika dengan gerakan-gerakan aneh Kwa Hong dan Koai Atong maju mendesaknya sedangkan Burung itu tiada hentinya menyambar-nyambar di atas kepalanya, mau tak mau Lian Bu Tojin berseru.

"Celaka...!"

Karena kemarahannya ditujukan kepada Kwa Hong, maka dengan nekat orang tua ini lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang Kwa Hong.

Biarlah aku mati asal aku dapat lebih dulu membunuhnya agar nama baik Hoa-San-Pai dapat dipertahankan, pikir kakek ini.

Serangannya hebat sekali.

Biarpun Kwa Hong sudah rnempergunakan gerakan yang ia pelajari dari Rajawali Emas, dengan gesit menggeser ke sana ke mari, namun ke mana saja ia bergerak, ujung pedang pusaka itu selalu mengikutinya dan mengarah bagian-bagian tubuhnya yang paling berbahaya!

Ketika mendapatkan kesempatan baik Lian Bu Tojin mempercepat gerakannya, tanpa mempedulikan lagi bagian tubuhnya yang lain terbuka untuk masuknya serangan, ia menerjang dan maju menusuk leher Kwa Hong dengan sebuah tikaman maut!

Kwa Hong menjerit ngeri, namun masih ingat untuk menggerakkan kakinya secara aneh sambil melempar diri ke kiri.

Namun ujung pedang di tangan Lian Bu Tojin masih terus mengejar lehernya.

Pada saat itu Koai Atong menghantam dari samping dengan pukulan Jing-Tok-Ciang.

Keras sekali pukulan ini dan tubuh Lian Bu Tojin sampai tergoyang-goyang, namun tetap saja pedangnya ditusukkan terus.

Andaikata ia tidak terpukul oleh pasukan Jing-Tok-Ciang begitu kerasnya, tentu nyawa Kwa Hong tak dapat diselamatkan lagi.

Sekarang karena pukulan yang hebat ini, tangannya tergetar dan tusukan pedangnya meleset dan hanya menancap di pundak Kwa Hong.

Gadis itu menjerit kesakitan dan pada saat itu dari atas menyambar bayangan kuning emas, kemudian sebuah sayap besar menghantam kepala Lian Bu Tojin.

Kakek ini biarpun sudah terluka parah oleh pukulan Koai Atong, masih dapat mengangkat tangan kiri menangkis.

Hantaman sayap demikian hebatnya, sama sekali tidak terduga oleh Lian Bu Tojin sampai tubuhnya terlempar empat meter lebih dan tahu-tahu pedangnya yang ia pakai menusuk Kwa Hong tadi telah berpindah ke dalam paruh si Rajawali Emas!

Kwa Hong cepat mengambil pedang pusaka itu dari paruh Burungnya, lalu ia terhuyung-huyung maju sambil mendekap pundaknya yang mengucurkan darah.

Adapun Koai Atong ketika melihat Kwa Hong terluka dan berdarah, menjadi marah sekali.

Sambil memekik keras ia menubruk maju hendak menyerang Lian Bu Tojin lagi.

Namun kakek ini sudah duduk bersila mengatur napas karena luka di dadanya akibat pukulan Jing-Tok-Ciang amat hebatnya.

Agaknya ia takkan dapat menghindarkan bahaya maut lagi kalau Koai Atorig menyerangnya.

"Jangan bunuh dia!"

Tiba-tiba Kwa Hong membentak, Koai Atong kaget dan menahan pukulannya, dengan heran ia mundur memandang Kwa Hong.

Kwa Hong yang kelihatan menyeramkan karena pundaknya mengucurkan darah yang membasahi bajunya itu, tersenyum dengan muka pucat, lalu berkata.

"Jangan bunuh dia, enak benar kalau dia mampus. Biar dia menderita, biar dia tahu rasanya bagaimana kalau orang terhina, bagaimana rasanya tangan dibikin buntung."

Sambil berkata demikian tiba-tiba tangannya yang memegang pedang bergerak menyabet dan..., tangan kanan Lian Bu Tojin sebatas pergelangannya terbabat buntung!

Kakek itu membuka matanya, menarik napas panjang lalu berdiri.

Dengan tangan kirinya ia memijat beberapa tempat di lengan kanannya untuk menghentikan jalan darah sehingga darahnya tidak mengucur terus.

Kemudian ia memandang ke arah Kwa Hong dengan sinar mata, yang berubah seakan-akan kilat menyambar sehingga untuk sejenak Kwa Hong tertegun dan terkesima.

Betapapun juga, pengaruh yang keluar dari sinar mata itu rnembangkitkan kenangan lama dan membayangkan pengaruh kakek itu atas dirinya bertahun-tahun yang lalu.

Koai Atong tertawa.

"Heh-heh, Tosu tua, kau datang bersama Hwesio itu, kalau pergi jangan lupa membawa temanmu itu bersama!"

Maksud Koai Atong dengan kata-kata ini bukan sekali-kali untuk mengejek atau menggoda, melainkan dengan maksud hati hendak menyenangkan Kwa Hong.

Lian Bu Tojin tidak berkata apa-apa dan ucapan Koai Atong ini menguntungkan Kwa Hong karena seketika sinar mata kakek itu menjadi biasa kembali.

Lian Bu Tojin lalu memungut buntungan tangannya dari atas tanah, kemudian dengan lengan kiri ia memanggul tubuh Giam Kong Hwesio lalu berjalanlah ia cepat meninggalkan tempat itu.

Benar-benar hebat sekali Ketua Hoa-San-Pai ini.

Lukanya akibat pukulan Jing-Tok-Ciang dari Koai Atong tadi hebat bukan main, ditambah lagi tangan kanannya buntung, namun sedikitpun la tidak pernah merintih, malah masih dapat pergi cepat sambil memondong jenazah Giam Kong Hwesio dan membawa buntungan tangannya!

Kejadian ini cukup hebat sehingga untuk beberapa lama Kwa Hong termenung, baru kemudian ia merawat luka pada pundaknya.

Diam-diam Kwa Hong girang sekali karena sekarang terbukti bahwa latihan-latihan yang mereka lakukan dengan ilmu silat yang gerakannya mengambil intisari gerakan Rajawali Emas itu benar-benar tadi telah memperlihatkan kehebatannya.

Beberapa hari kemudian di Puncak Hoa-San.

Pemberontakan melawan Pemerintah Mongol yang sekarang telah runtuh masih mendatangkan bekas-bekasnya pada perkumpulan Hoa-San-Pai yang bermarkas di puncak gunung ini.

Dahulunya Hoa-San-Pai di bawah pimpinan Lian Bu Tojin merupakan Partai persilatan yang amat besar.

Banyak sekali, lebih dari seratus orang, Tosu (Pendeta To) menjadi murid Lian Bu Tojin.

Juga ketika itu Hoa-San-Pai terkenal dengan nama Hoa-San Sie-Eng (Empat Pendekar Hoa-San-Pai) yang menjadi murid-murid utama Lian Bu Tojin.

Akan tetapi sekarang keadaan sudah banyak berubah, Hoa-San-Pai tidak semegah dan sekuat dahulu lagi.

Banyak sekali anggauta Hoa-San-Pai yang gugur ketika mereka membantu kaum pejuang menumbangkan Pemerintah Kerajaan Mongol.

Malah Hoa-San Sie-Eng sudah tidak ada lagi.

Yang dua telah tewas ketika terjadi kesalah-pahaman dan permusuhan antara Hoa-San-Pai dan Kun-Lun-Pai.

Tinggal yang dua lagi, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa, terjerumus ke dalam jalinan asmara yang membuat mereka lari pergi dari Hoa-San.

Cucu murid dari Lian Bu Tojin yang sekarang berada di Hoa-San hanya dua orang, yaitu Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang saudara seperguruan yang sudah dijodohkan oleh Lian Bu Tojin.

Oleh Lian Bu Tojin, dua orang yang ia anggap sebagai calon penggantinya ini digembleng dengan ilmu silat Hoa-San-Pai yang paling tinggi dan ia berpesan supaya dua orang ini berlatih dengan giat.

Dalam cerita Raja Pedang telah dituturkan bahwa Thio Bwee memang sudah jatuh hati kepada Suhengnya itu, sebaliknya tadinya Kui Lok hendak merebut hati Kwa Hong.

Akan tetapi usahanya ini tidak pernah berhasil dan kemudian setelah ia dijodohkan dengan Thio Bwee dan melihat cinta kasih hati gadis ini terhadap dirinya, Terbukalah hatinya dan iapun mulai menaruh hati kasih kepada Thio Bwee.

Karena murid Hoa-San-Pai yang lain yaitu Kwa Hong telah minggat dan memberontak terhadap Hoa-San-Pai, sedangkan Thio Ki telah menikah dengan murid Thai-San, yaitu Lee Giok, murid Raja Pedang Cia Hui Gan dan sekarang telah tinggal di Sin-Yang menjadi Piauwsu, maka mereka berdua dengan tekun memperdalam ilmu silat dan tinggal menemani guru besar mereka di Puncak Hoa-San.

Pada hari itu Kui Lok dan Thio Bwee sedang memberi petunjuk-petunjuk kepada para Tosu yang juga dipesan supaya memperdalam ilmu silat untuk memperkuat kembali Hoa-San-Pai.

Mereka dengan gembira berlatih di halaman depan yang luas dan hawa udara amat sejuk dan indahnya di pagi hari itu.

Tiba-tiba seorang Tosu berseru.

"Suhu datang...!"

Kui Lok dan Thio Bwee menengok dan cepat mereka lari menyambut dengan hati gelisah.

Kakek Ketua Hoa-San-Pai itu nampak pucat dan jalannya terhuyung-huyung, terang sudah menderita luka hebat sekali.

Kui Lok adalah seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tiga tahun, akan tetapi pandang matanya sudah tajam rnenandakan bahwa ia sudah memiliki kepandaian tinggi dan pengalaman luas.

Wajahnya tampan dan ada sifat-sifat nakal gembira, akan tetapi tarikan mulutnya membayangkan keangkuhan hati.

Adapun Thio Bwee yang hitam manis itu wataknya lebih pendiam, sinar matanya membayangkan kekerasan hatinya.

Dua orang muda ini segera memberi hormat lalu menggandeng lengan Suhunya untuk dituntun ke ruangan dalam.

"Suhu kenapakah...!"

Kui Lok tak dapat menahan lagi hatinya bertanya.

Lian Bu Tojin tidak menjawab, malah segera menjatuhkan diri duduk bersila di atas lantai sambil meramkan mata.

Melihat Suhunya mengumpulkan tenaga dan mengatur pernapasan, para murid maklum bahwa Suhu mereka itu sedang melawan serangan luka yang amat berbahaya, maka semua hanya duduk rnelihat dengan hati tidak karuan.

Ketika Lian Bu Tojin sudah bergerak lagi dan mengeluarkan tangan yang tadi disembunyikan ke dalam saku jubahnya, Thio Bwee mengeluarkan jeritan ngeri melihat tangan kanan gurunya sudah buntung itu.

"Suhu...! Tangan Suhu kenapakah...?"

Thio Bwee menubruk gurunya, berlutut dan menangis.

"Suhu, siapa yang melakukan kekejian ini?"

Kui Lok juga menangis sambil bertanya, suaranya mengandung kemarahan dan sakit hati.

Baru sekarang ia melihat pula bahwa pedang pusaka Hoa-San-Pai yang tadinya dibawa oleh Suhunya itu sekarang tidak kelihatan di punggung kakek ini, maka ia menjadi makin gelisah.

Lian Bu Tojin membuka matanya, menggeleng-geleng kepala perlahan sambil menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara yang amat lemah.

"Masih untung Pinto kuat sampai di sini..."

Kembali ia meramkan mata agak lama, kemudian setelah membuka lagi matanya ia berkata.

"Kui Lok... Thio Bwee... semua ini yang melakukan adalah Hong Hong... tapi kalian tidak usah menaruh dendam... Pinto memang berdosa dan sudah sepatutnya menerima pembalasan ini. Hanya... pedang pusaka harus kalian minta kembali. Mintalah bantuan pada... Beng San di Min-San, hanya dia yang dapat menandingi Hong Hong dan Koai Atong. Mereka lihai sekali... malah Giam Kong juga tewas... Pinto... bukan lawan mereka..."

"Suhu...!"

Kui Lok sedih dan marah sekali.

"Teecu pasti akan merampas kembali pedang pusaka!"

"Teccu akan mengadu nyawa dengan perempuan rendah Kwa Hong!"

Kata Thio Bwee sambil menangis. Keadaan Lian Bu Tojin sudah payah sekali, napasnya memburu, akan tetapi ia masih sempat membuka mata dan bcrkata pula.

"selain Beng San... mungkin hanya... Supekmu... Lian Ti Tojin... kalian coba minta tolong dia..., bilang pedang pusaka dirampas orang... ahh..."

Tak dapat lagi Lian Bu Tojin melanjutkan kata-katanya karena tubuhnya roboh terguling dan nyawanya melayang pergi meninggalkan tubuhnya!

Dari saku jubahnya jatuh keluar sebuah benda kecil yang ternyata adalah buntungan tangannya yang sudah mulai mengering karena memang sengaja tadinya ditaruh obat oleh Lian Bu Tojin agar jangan membusuk.

Kui Lok dan Thio Bwee, juga para Tosu tak dapat berbuat lain kecuali menangis sedih.

Thio Bwee sampai pingsan melihat kematian Suhunya yang amat mengenaskan hati ini.

Dengan penuh kedukaan dan dalam suasana berkabung para Tosu segera mengurus jenazah Ketua Hoa-San-Pai itu.

Puncak Hoa-San diselimuti mendung tebal, mendung kemuraman hati para anggauta Hoa-San-Pai yang kematian ketuanya secara demikian mengerikan.

Setelah upacara sembahyang dilakukan dan jenazah Ketua Hoa-San-Pai itu di-masukkan dalam peti, penguburan ditunda untuk beberapa hari.

Hal ini dilakukan karena para anggauta Hoa-San-Pai hendak memberi kesempatan kepada para tamu yang hendak memberi penghormatan terakhir kepada Ketua Hoa-San-Pai yang terkenal itu.

Dan orang-orang kang-ouw memang memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya.

Dalam beberapa hari itu, puncak Hoa-San didaki banyak orang kang-ouw yang hendak menjenguk dan memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Lian Bu Tojin.

Akan tetapi tak seorangpun diantara mereka ini tahu akan sebab daripada kematian kakek ini, karena semua murid Hoa-San-Pai merahasiakannya dan bila ada pertanyaan hanya menjawab bahwa guru besar itu meninggal dunia sewajarnya, yaitu karena usia tua.

Hal ini memang mereka sengaja karena yang menyebabkan kematian Lian Bu Tojin adalah Kwa Hong bekas murid Hoa-San-Pai sendiri.

Tentu saja hal ini amat memalukan kalau sampai terdengar oleh orang luar.

Sepekan kemudian jenazah Lian Bu Tojin dikebumikan dan Hoa-San-Pai segera mengadakan rapat untuk membicarakan perkembangan dan keadaan perkumpulan mereka, juga untuk membicarakan tentang pesanan terakhir dari Lian Bu Tojin.

Para Tosu serentak mengusulkan agar Kui Lok menggantikan kedudukan gurunya, yaitu mengetuai Hoa-San-Pai.

Hal ini mereka usulkan oleh karena biarpun Kui Lok dapat dibilang murid yang amat muda, akan tetapi dalam hal ilmu silat Kui Lok telah mewarisi kepandaian Lian Bu Tojin dan memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka.

Mendengar ini, Kui Lok dengan gugup berkata sambil mengangkat kedua tangannya.

"Ahhh..., para Suheng dan Susiok bagaimana bisa mengusulkan supaya Siauwte yang masih muda dan bodoh menggantikan kedudukan mendiang Suhu? Bagaimana aku berani? Ah, aku sama sekali tidak berani menerima kedudukan itu, Hoa-San-Pai adalah Partai yang sudah ratusan tahun terkenal di dunia kang-ouw, dipimpin oleh orang-orang besar yang sakti. Bagaimana hari ini akan diletakkan di pundak seorang muda yang tidak berpengalaman seperti Siauwte? Tidak, sekali lagi tidak, aku tidak berani menerima!"

Seorang Tosu yang sudah tua dan bermuka sabar sekali segera berkata.

"Kui-Sute harap jangan berkata demikian. Sudah semenjak dulu Hoa-San-Pai disegani kawan ditakuti lawan karena ilmu silat yang diajarkannya. Oleh karena itu, mengingat bahwa di antara kita semua, di antara murid-murid Hoa-San-Pai kiranya hanya Sute yang memiliki kepandaian paling tinggi pada waktu sekarang ini, maka siapa lagi kalau bukan Kui-Sute yang menjadi pemimpin? Tentang kurang pengalaman, hal ini kiranya tidak perlu dirisaukan benar karena kita sudah biasa bekerja secara gotong royong, ada sesuatu boleh Sute rundingkan dengan kita bersama. Bukankah hal ini baik sekali?"

Kui Lok masih menaruh keberatan dan terjadilah perdebatan antara Kui Lok dan beberapa orang Tosu tua yang mendesaknya supaya menerima kedudukan itu.

Akhirnya Thio Bwee bicara, suaranya lantang dan nyaring.

"Para Suheng dan Susiok sekalian, harap suka mendengarkan pertimbanganku yang adil. Memang kalau dipikir, pendapat kedua pihak semua benar. Akan tetapi, mengapa hal pengangkatan ketua ini diributkan benar? Sepanjang pengetahuanku yang bodoh, seorang Ketua Hoa-San-Pai adalah orang yang berhak memegang pedang pusaka kita, yaitu Hoa-San Po-Kiam. Sekarang pedang pusaka itu berada di tangan orang jahat. Daripada ribut-ribut bicara tentang kedudukan ketua, kurasa lebih baik urusan pengangkatan ketua ini ditunda dulu. Kita bersama, tanpa ketua, berusaha merampas kembali pedang pusaka dan membunuh musuh yang telah mencelakai Suhu. Nah, setelah itu barulah kita bicara tentang ketua."

Semua orang mengangguk-angguk setuju, karena memang kata-kata ini tepat sekali. Kui Lok juga girang mendengar ucapan ini, lalu ia berkata.

"Usul yang diajukan Thio-Sumoi memang benar-benar amat tepat! Marilah kita bicara tentang usaha merampas kembali pedang pusaka kita."

"Dan membunuh Siluman betina Kwa Hong!"

Sambung Thio Bwee sambil menatap wajah tunangannya dengan pandang mata tajam.

Kui Lok menarik napas panjang dan maklum akan isi hati tunangannya itu.

Cemburu, apalagi?

Memang sedikit banyak ada rasa benci dalam hati Thio Bwee terhadap Kwa Hong, karena bukankah dahulu Kui Lok jatuh hati kepada Kwa Hong?

"Kui-Sute, Pinto (aku) bersedia untuk pergi ke Min-San dan mohon bantuan Tan Ben San Taihiap seperti yang dipesankan oleh mendiang Suhu..."

Kata seorang Tosu.

"Mengingat akan hubungan antara Tan-Taihiap dengan Hoa-San-Pai, Pinto rasa dia takkan menolak..."

Kui Lok mengerutkan keningnya.

Terbayang di depan matanya semua pengalamannya dahulu.

Tan Beng San merupakan seorang yang selalu ia anggap sebagai perintang hidupnya.

Cinta kasihnya terhadap Kwa Hong dahulu gagal oleh karena Kwa Hong mencinta Tan Beng san!

Dan beberapa kali pemuda itu muncul sebagai seorang yang lebih gagah daripadanya.

Dan sekarang dia harus minta bantuan Beng San.

Ah, ia tidak sudi!

Terhadap diri Beng San ia sudah menanam perasaan tidak senang yang mendalam.

"Tidak, Siauwte tidak setuju sama sekali karena kita harus minta bantuan orang luar. Para Susiok dan Suheng harap ingat bahwa urusan ini adalah urusan dalam Hoa-San-Pai. Pedang Hoa-San-Pai dirampas. oleh bekas murid Hoa-San-Pai sendiri, mendiang Suhu dilukai oleh bekas murid Hoa-San-Pai. Bagaimana kita ada muka untuk mencari bantuan orang luar? Bukankah dengan berbuat demikian nama besar Hoa-San-Pai akan terjerumus ke dalam lumpur kehinaan?"

Para Tosu itu menjadi kaget dan cepat-cepat menyatakan persetujuan mereka atas pandangan Kui Lok ini.

"Kau begitu, satu-satu jalan... kita harus ke Im-Kan-Kok..."

Keadaan menjadi sunyi, semua orang di situ merasa serem dan bergidik ketika mendengar sebutan Im-Kan-Kok ini.

Im-Kan-Kok berarti Lembah Akhirat!

Semua murid Hoa-San-Pai sudah mengenal Im-Kan-Kok ini, karena lembah ini merupakan lembah gunung yang dipandang keramat dan juga menakutkan.

Ketika Ketua Hoa-San-Pai masih hidup, yaitu Lian Bu Tojin, ketua ini berkali-kali memberi ingat kepada para murid agar sekali-kali jangan mendekati apalagi mencoba untuk memasuki Im-Kan-Kok, karena kalau ketahuan hukumannya adalah mati!

Selain ancaman hukuman mati oleh tangan Lian Bu Tojin sendiri juga ketua ini pernah menceritakan bahwa di lembah ini merupakan tempat hukuman seorang Hoa-San-Pai yang luar biasa tinggi kepandaiannya, jauh lebih tinggi daripada Lian Bu Tojin sendiri dan orang aneh luar biasa ini pasti akan membunuh setiap orang yang berani memasuki Im-Kan-Kok!

Dan sekarang, mendiang Lian Bu Tojin sendiri yang meninggalkan pesan agar supaya mereka mencari orang aneh ini yang bukan lain adalah Suheng sendiri dari ketua itu, bernama Lian Ti Tojin yang sudah empat puluh tahun lebih menghukum diri sendiri di dalam Lembah Akhirat ini.

Tak seorangpun diberi tahu mengapa orang-orang aneh itu menghukum diri di Im-Kan-Kok.

Kui Lok mengajukan usul untuk mencari manusia aneh ini di tempat yang merupakan ancaman maut itu.

"Benar, memang kita harus mencari Supek di Im-Kan-Kok. Supek Lian Ti Tojin adalah seorang tokoh Hoa-San-Pai yang menurut mendiang Suhu dulu, kepandaiannya amat tinggi, beberapa kali lipat lebih tinggi daripada kepandaian Suhu sendiri. Kalau kita Hoa-San-Pai memiliki orang berkepandaian demikian tinggi, memalukan sekali kalau untuk urusan ini kita harus mencari bantuan dari luar."

"Tapi... tapi...,"

Kata seorang Tosu setengah tua.

"Supek itu sudah empat puluh tahun lebih menghilang. Apakah... apakah kiranya beliau masih berada di tempat itu? Dan... dan di antara kita siapakah pernah melihatnya?"

Semua orang saling pandang.

Memang hampir semua Tosu belum pernah melihat orang yang dimaksudkan itu.

Kui Lok memandang kepada seorang Tosu yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, yang pekerjaannya memelihara kitab-kitab Hoa-San-Pai.

"Kwi Bun Susiok yang terhitung Sute dari Suhu, tentunya pernah bertemu dan melihat wajah Supek Lian Ti Tojin, bukan?"

Mendadak Tosu tua itu menjadi pucat, bergemetaran dan menutupi mukanya.

"Tidak... Pinto... eh, tidak... tidak pernah kenal..., tidak tahu..."

La menjadi ketakutan sekali dan akhirnya mendekam berlutut dan membaca mantera dengan tubuh menggigil.

Kui Lok dan Thio Bwee saling pandang dengan bulu tengkuk meremang.

Mengapa Tosu tua ini yang masih terhitung adik seperguruan Lian Ti Tojin sendiri kelihatan begitu ketakutan?

Orang macam apakah Lian Ti Tojin itu?

Dan rahasia apakah yang tersembunyi di balik Lembah Akhirat?

Melihat sikap Tosu itu, para murid Hoa-San-Pai yang biasanya amat takut mendengar Im-Kan-Kok itu, sekarang menjadi semakin ketakutan dan merasa serem sekali.

Mereka duduk dan bersunyi, seakan-akan takut kalau mereka kesalahan besar karena membicarakan orang rahasia di Im-Kan-Kok itu.

Tiba-tiba semua orang terkejut ketika mendengar suara melengking tinggi menusuk telinga, suara melengking yang datangnya dari atas, dari langit!

Semua muka menjadi pucat, malah Kui Lok dan Thio Bwee yang biasanya berhati tabah, kali ini meraba gagang pedang dengan mulut terasa kering, Suara melengking makin lama makin tinggi dan nyaring sehingga orang-orang mulai merasa tidak kuat mendengarnya lagi lalu menutup telinga.

Tiba-tiba meluncur sinar yang menyilaukan mata, sinar kehijauan dan tahu-tahu lima orang Tosu roboh terguling dan ternyata dada mereka telah terluka dan mereka tewas seketika itu juga!

Kwi Bun Tosu yang tadi ketakutan sekarang berbisik-bisik.

"Celaka... celaka... dia datang... ah, kita berbuat dosa..."

Setelah berkata demikian, Tosu tua ini mencabut pedang sendiri dan menusuk dada sambil berseru.

"Lian Ti Suheng... Siauwte berdosa besar... rela menerima kematian..."

Tubuhnya terguling dan ia tewas dengan pedang masih menancap di dadanya!

Kejadian ini tentu saja makin mengejutkan dan menakutkan semua orang.

Kui Lok segera meloncat keluar sambil mencabut pedangnya dan berseru keras.

"Tidak peduli siapapun yang datang, harap jangan main gila dengan Hoa-San-Pai. Manusia atau iblis, perlihatkan dirimu dan mari kita bertempur sampai seribu jurus!"

Sikapnya gagah sekali dan sikapnya inilah yang membangkitkan semangat semua anak murid Hoa-San-Pai.

Malah Thio Bwee yang tadinya kaget dan ngeri sekarang juga meloncat sambil mencabut pedang, berdiri di dekat Suhengnya itu.

Tapi tidak terlihat seorangpun manusia di sekitar situ.

Selagi mereka terheran-heran dan merasa gelisah, tiba-tiba terdengar desir angin di atas kepala mereka dan di atas desir angin ini terdengar suara ketawa merdu!

Semua orang terkejut sekali karena mengenal baik suara ketawa merdu ini dan ketika mereka memandang ke atas, ternyata Kwa Hong tertawa-tawa sambil menduduki punggung seekor Burung Rajawali besar yang terbang di atas kepala mereka tanpa mengeluarkan suara!

Ketika Kwa Hong menggerakkan tangan kiri, lagi-lagi ada lima orang Tosu terguling roboh dan tewas.

Kui Lok dan Thio Bwee hanya melihat sinar hijau menyambar dari tangan ini dan tahu-tahu lima orang teman mereka telah mati dengan dada terluka hebat.

Kemarahan Thio Bwee tak dapat ditahannya lagi.

Memang ia sudah merasa tidak suka sejak dahulu terhadap Sumoinya ini yang dianggap merampas cinta kasih Kui Lok, apalagi setelah Kwa Hong melukai Lian Bu Tojin.

Sekarang melihat keganasan Kwa Hong yang membunuh-bunuhi bekas saudara-saudara seperguruan sendiri, ia segera menudingkan pedangnya ke arah Burung yang terbang lewat sambil berkata nyaring.

"Siluman betina Kwa Hong! Kau turunlah untuk menerima hukuman di ujung pedangku!"

Adapun Kui Lok yang masih belum hilang cinta dan rindunya kepada Kwa Hong, hanya mengeluh.

"Hong-moi... kenapa kau begini kejam...?"

Kwa Hong tertawa merdu dan tiba-tiba Burungnya itu menukik ke bawah dan hinggap di atas tanah tanpa mengeluarkan sedikitpun bunyi berisik.

Kwa Hong meloncat turun dari punggung Burungnya, gerakannya ringan sekali.

Semua murid Hoa-San-Pai memandang dengan mata terbelalak.

Wajah itu masih tiada bedanya dengan dahulu, wajah Kwa Hong yang cantik molek dengan sepasang mata seperti bintang pagi, jeli dan bersinar-sinar penuh daya hidup, hanya bedanya sekarang terdapat pemancaran sinar mata yang aneh dan mengerikan pada mata indah itu.

Pakaiannya masih seperti dulu, bagus dan dari Sutera mahal, akan tetapi warnanya serba putih, tidak merah seperti dulu lagi.

Pada punggungnya tergantung pedang pusaka Hoa-San-Pai dan di tangan kirinya terpegang sebuah senjata yang amat aneh.

Merupakan gagang cambuk yang berekor lima dan pada setiap ekor cambuk itu terikat sebatang anak panah hijau.

Tali Sutera hitam membelit pergelangan tangannya dan ternyata cambuk itu gagangnya dipasangi tali ini sehingga agaknya selain dapat dipergunakan sebagai senjata dalam pertandingan, juga dapat dipakai untuk menyerang lawan secara ditimpukkan lalu ditarik kembali melalui tali.

Sebuah senjata yang luar biasa sekali, mengerikan dan tahulah Kui Lok dan saudara-saudaranya bahwa senjata inilah yang dalam waktu dua kali telah mengambil nyawa sepuluh orang saudara mereka!

"Hi-hi-hi, Enci Bwee!

Kau makin hitam saja!

Apakah kau sudah berhasil merebut hati Kui-Suheng sekarang?"

Kwa Hong berkata dan meremang bulu tengkuk Thio Bwee ketika mendengar kata-kata ini dan melihat sikap Kwa Hong yang kalau dibanding dengan dulu seperti bumi langit bedanya.

Di dalam suara ini terkandung kesedihan besar bercampur dengan ejekan dari kebencian.

"Kau sudah menjadi Siluman!"

Thio Bwee balas memaki dan menerjang maju dengan pedang di tangan.

Kwa Hong hanya tersenyum mengejek tanpa bergerak dari tempatnya.

Tiba-tiba sesosok bayangan besar menyambut gerakan Thio Bwee dan tahu-tahu Burung Rajawali itu sudah mencakar Thio Bwee dengan kaki kanannya.

Thio Bwee tidak gentar, cepat ia memutar pedang untuk memapaki kaki Burung itu dengan maksud membabatnya putus.

Akan tetapi rnendadak sekali Burung itu menggerakkan sayapnya, gerakannya tidak mendatangkan angin dan sama sekali tak dapat diduga oieh Thio Bwee, maka tahu-tahu tangannya terpukul sayap sehingga pedangnya terlempar jauh!

"Tiauw-Heng, jangan pukul dia, kasihan...

ha-ha-ha!"

Kwa Hong menyuruh Burungnya mundur sambil tertawa-tawa.

Muka Thio Bwee rnenjadi pucat sekali dan matanya memandang dengan marah, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?

Gerakan Burung itu benar-benar hebat dan tidak tersangka-sangka, juga tenaganya besar sekali.

Dengan langkah lemah gemulai Kwa Hong menghampiri Kui Lok dan tersenyum lalu berkata.

"Kui-Ko, kau tadi menantang-nantang seperti seorang pendekar besar. Agaknya kau sekarang sudah memperoleh kemajuan hebat dengan kepandaianmu, apakah kau sudah pandai bermain pedang dengan tangan kanan ataukah masih kidal? Hi-hi, Kui-Ko, dulu kau pura-pura menjauhi Enci Bwee, kiranya sekarang kau mau juga. Dasar laki-laki!"

Wajah Kui Lok sebentar merah sebentar pucat dan untuk mengusir rasa malunya. ia berkata.

"Kau..., kau Hong-moi...jadi kau kah yang membunuh sepuluh orang saudaraku tadi? Hong-moi, kenapa kau membunuh mereka? Dan kenapa pula kau melukai Suhu dan... dan merampas pedang pusaka?"

Kembali Kwa Hong tersenyum lebar, senyum yang dulu meruntuhkan hati Kui Lok, akan tetapi yang sekarang membayangkan sesuatu yang amat mengerikan.

"Lian Bu Tojin berani mencelaku dan dia seorang ketua yang tidak baik, seorang guru yang mencelakai murid sendiri. Pedang pusaka ini memang patut berada di tanganku karena hanya akulah yang akan dapat mengangkat tinggi nama Hoa-San-Pai. Tadi aku yang menjadi pemimpin dan Ciang-Bunjin (Ketua) baru Hoa-San-Pai datang, kalian tidak mau segera menyambut dengan penghormatan. Maka sepuluh orang murid tadi kubunuh sebagai peringatan!"

Setelah berkata demikian, Kwa Hong memandang ke sekelilingnya dan semua orang Tosu yang berada di situ mengkeret lehernya, menundukkan pandang matanya karena nyali mereka terbang lenyap begitu mereka bertemu pandang dengan Kwa Hong.

Pada saat itu terdengar sayup-sayup suara orang berteriak dari bawah gunung.

"Enci Hong... tunggu... jangan tinggalkan aku...!"

Suara itu berkumandang sampai di puncak gunung dan belum lama dengung suara lenyap, orangnya telah tiba di situ.

Siapa lagi kalau bukan Koai Atong!

Diam-diam Kui Lok dan Thio Bwee kagum dan terkejut sekali.

Sebagai ahli-ahli silat tinggi dua orang muda ini dapat mengukur betapa hebatnya Khikang dari Koai Atong sekarang, dari bawah gunung sudah dapat "mengirim suara"

Ke atas dan Ginkangnyapun demikian hebat sehingga dalam sekejap saja sudah dapat mendaki puncak Hoa-San-Pai.

Setelah tiba di situ, Koai Atong tertawa dan meringis gembira melihat Kwa Hong sudah berada di situ bersama Burung Rajawali.

Di dalam perjalanan, Kwa Hong naik Burung dan membiarkan Koai Atong berlari-lari mengikuti bayangan Burung.

"Ha-ha-ha, he-he-he, sudah kumpul semua di sini, ha-ha!"

Tapi Kui Lok dan Thio Bwee tidak mempedulikan orang tinggi besar ini, karena mereka masih marah bukan main mendengar ucapan Kwa Hong tadi, Kui Lok segera membentak.

"Kwa Hong! Jadi kau hendak menggunakan kekerasan dan merampas kedudukan Ketua Hoa-San-Pai? Jangan kau berlaku sewenang-wenang, mengingat bahwa kau adalah bekas murid Hoa-San-Pai sendiri, hayo lekas kembalikan pedang pusaka dan berlutut menerima dosa."

Mata Kwa Hong berkilat.

"Kui Lok, kau begini kurang ajar terhadap ketuamu? Hayo kau yang berlutut!"

Sambil bertolak pinggang Kwa Hong memerintah.

"Suheng, mari kita bunuh Siluman ini!"

Thio Bwee berseru keras dan biarpun ia sudah tak berpedang lagi, dengan nekat ia lalu menyerang Kwa Hong dengan pukulan maut yang amat keras.

Akan tetapi dengan enak Kwa Hong miringkan tubuhnya dan sekali kakinya bergerak, Thio Bwee sudah kena ditendang roboh!

Kui Lok marah sekali dan menyerang dengan pedangnya.

Kepandaian Kui Lok sudah maju pesat sekali dan dalam hal ilmu pedang, boleh dibilang ia sudah menjagoi di Hoa-San-Pai.

Apalagi permainan pedangnya dilakukan dengan tangan kiri, maka sifatnyapun istimewa dan sukar diketahui perubahan-perubahannya.

Ketika Kwa Hong belum meninggalkan perguruan, kalau dibuat ukuran antara mereka, agaknya ilmu pedang Kui Lok tidak kalah oleh kepandaian Kwa Hong, maka pemuda itu dengan penuh semangat menyerang dan mengira bahwa tak mungkin ia akan kalah.

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tahu-tahu cambuk bertali yang berada di tangan kiri Kwa Hong bergerak, tahu-tahu lima ujung cambuk dengan anak panah itu telah membelit pedangnya dan sekali renggut Kui Lok tak dapat mempertahankan pegangannya lagi.

Pedang terampas oleh Kwa Hong.

Sambil tertawa melengking tinggi Kwa Hong mengambil pedang itu, menggigit ujungnya, menggerakkan tangan dan...

"Pletakk!"

Pedang itu patah menjadi dual Gerakannya sama benar dengan cara Burung Rajawali mematahkan pedang.

Kui Lok menjadi pucat, akan tetapi untuk menjaga nama Hoa-San-Pai ia harus melawan mati-matian.

Sambil berseru keras ia menerjang maju dan menyerang Kwa Hong dengan pukulan-pukulan dahsyat.

"Atong, kau hajar dan usir bocah ini, tapi jangan bunuh dia!"

Kata Kwa Hong.

Terdengar Koai Atong tertawa-tawa berkakakan dan tiba-tiba Kui Lok merasa tubuhnya diangkat orang lalu dilontarkan ke atas sampai empat lima meter tingginya.

Tubuhnya melayang dan berjungkiran di udara, ketika turun diterima lagi oleh Koai Atong lalu dilontarkan lagi.

Benar-benar Kui Lok dijadikan bola oleh Koai Atong yang mempermainkannya.

"Siluman jahat!"

Kui Lok memaki, akan tetapi makin lama ia menjadi makin lemah dan ketika Koai Atong melemparnya ke depan, tubuhnya terbanting dan bergulingan.

Dengan payah Kui Lok mencoba untuk berdiri, akan tetapi kepalanya pening dan ia roboh kembali, ditertawai oleh Koai Atong dan Kwa Hong.

Thio Bwee lari mendekat dan membantu Kui Lok bangun.

la menyuruh Kui Lok duduk kemudian dengan marah sekali Thio Bwee meloncat lagi untuk menyerang Kwa Hong.

Tadi ia hanya terbanting saja dan hal ini belum membuat ia kapok.

Hatinya terlalu sakit menyaksikan betapa kekasihnya dipermainkan dan dihina seperti itu.

Melihat kenekatan Thio Bwee, Kwa Hong menjadi marah sekali.

"Perempuan rendah, kau tidak tahu bahwa aku sudah berlaku murah kepada kalian? Agaknya kalian perlu diberi rasa sedikit!"

Setelah berkata demikian, cambuknya bergerak, sinar hijau berkelebat.

Thio Bwee menjerit dan terjungkal, juga Kui Lok mengaduh dan roboh.

Keduanya dapat merayap bangun kembali, dan ternyata bahwa dua murid Hoa-San-Pai ini telah terluka oleh panah hijau, masing-masing pada pundaknya.

Perih dan panas rasanya, akan tetapi tidak seperih dan sepanas hati mereka.

"Pergi...!"

Kwa Hong menudingkan cambuknya keluar.

"Pergi sebelum berubah lagi pikiranku dan kuhancurkan kepala kalian!"

Thio Bwee memandang dengan mata melotot, maksud hatinya hendak melawan lagi sampai mati.

Akan tetapi Kui Lok yang melihat sikapnya ini segera memegang lengannya dan menariknya pergi dari situ.

Dua orang muda itu pergi meninggalkan puncak seperti dua ekor anjing diusir saja, benar-benar merupakan hal yang amat menyakitkan hati mereka.

Seperginya dua orang muda itu keadaan menjadi sunyi.

Puluhan orang Tosu Hoa-San-Pai tidak ada yang berani bergerak, bernapaspun mereka takut keras-keras.

Kwa Hong menyapu mereka dengan pandang matanya yang tajam melebihi pedang.

"Siapa mau pergi? Siapa tidak mau menurut perintahku? Lihat contohnya."

Gambuknya menyambar beberapa kali dan... kepala dari sepuluh mayat para Tosu tadi telah terpukul hancur oleh panah-panah di ujung cambuknya! Benar-benar amat mengerikan.

"Hayo katakan, kalian mau mengangkatku sebagai ketua ataukah tidak?"

Seorang Tosu yang sudah agak tua maklum bahwa melawan berarti mati dengan cara yang mengerikan, dan melawanpun akan sia-sia saja.

Maka ia lalu mendahului teman-temannya berlutut dan menyatakan suka mengangkat Kwa Hong sebagai ketua.

Saudara-saudaranyapun menjatuhkan diri berlutut.

Kwa Hong tertawa gembira, tapi tiba-tiba suara ketawanya terhenti ketika ia melihat Koai Atong masih berdiri tegak sambil tertawa-tawa.

"Heiii... kenapa kau tidak berlutut?"

Koai Atong kaget dan bingung.

"Lho..., berlutut? Aku kan Suamimu..."

"Tidak peduli, saat ini semua orang harus berlutut kepadaku!"

Bentak Kwa Hong dan terpaksa Koai Atong berlutut pula.

Kwa Hong mengangkat dada, mengedikkan kepala dengan penuh kebanggaan dan merasa seakan-akan ia telah menjadi seorang ratu!

Semenjak saat itu Kwa Hong tinggal di Hoa-San-Pai sebagai ketua, dibantu oleh "suaminya"

Koai Atong.

Kwa Hong amat ditakuti oleh para Tosu, akan tetapi juga diam-diam ada sebagian besar Tosu Hoa-San-Pai amat membencinya.

Di samping ini, tentu saja terdapat Tosu-Tosu yang merasa amat girang oleh karena semenjak Kwa Hong yang menjadi ketua, peraturan-peraturan tidak tegas lagi, dan larangan-larangan juga seakan-akan dihapuskan oleh Kwa Hong.

Oleh karena ini banyak Tosu yang mulai melakukan penyelewengan-penyelewengan tidak mentaati hukum dan peraturan Agama To.

Orang-orang inilah yang benar-benar setia kepada Kwa Hong dan Koai Atong sehingga secara tersembunyi di antara kelompok Tosu Hoa-San-Pai ini terdapat pemisah antara rombongan yang pro Kwa Hong dengan rombongan yang diam-diam kontra.

Namun kesemuanya tidak berani berbuat sesuatu yang berlawanan dengan kehendak Kwa Hong dan Koai Atong.

Sementara itu, Kwa Hong dan Koai Atong terus memperdalam latihan-latihan mereka secara sembunyi, mempelajari semua gerakan-gerakan aneh dari Burung Rajawali Emas dan mereka berdua menggabungkan pendapat masing-masing untuk menciptakan ilmu silat yang hebat, gabungan dari ilmu silat Hoa-San-Pai, ilmu silat Tibet, Jing-Tok-Ciang, dan gerakan dari Burung Rajawali Emas!

Peristiwa perampasan kedudukan ketua di Hoa-San-Pai ini menimbulkan geger di dunia kang-ouw yang baru saja tenang karena tumbangnya Pemerintahan Mongol.

Banyak tokoh besar di dunia kang-ouw mengerutkan kening dan merasa penasaran sekali.

Mari kita ikuti Kui Lok dan Thio Bwee yang meninggalkan puncak Hoa-San-Pai dengan perasaan hancur.

Mereka terluka hebat di pundak mereka, terkena racun panah hijau yang amat berbahaya.

Namun luka di hati mereka lebih hebat lagi.

Mereka tidak saja telah dikalahkan secara mudah dan memalukan sekali, akan tetapi lebih daripada itu, mereka telah terhina.

Di sepanjang jalan menuruni puncak Thio Bwee menangis, dan Kui Lok menghiburnya.

"Kui-Koko, daripada mengalami penderitaan dan penghinaan seperti ini lebih baik aku mati saja... kenapa tadi kita tidak melawan terus saja sampai mati? Untuk apa hidup lebih lama menghadapi penghinaan seperti ini...?"

Saking sedihnya dan juga karena luka beracun di pundaknya membuat tubuhnya lemas, gadis ini terhuyung-huyung ke depan.

Kui Lok cepat mengejar dan merangkulnya.

Ia merasa amat kasihan kepada gadis ini dan sinar matanya memandang penuh kasih sayang.

Sejenak mereka berpandangan, akhirnya Thio Bwee menangis terisak-isak di atas dadanya.

Kui Lok menggunakan tangannya dengan mesra dan halus mengusap air mata yang bercucuran membasahi pipi Thio Bwee.

"Bwee-moi, jangan berduka, jangan putus harapan. Selama kita masih berdua, kesukaran apa yang takkan kuat kita hadapi? Ah, Bwee-moi... setelah ini hari aku melihat Kwa Hong, baru terbuka betul-betul mataku betapa bodohku dahulu, tak dapat membedakan antara batu permata dan batu karang. Dia begitu jahat, begitu kejam dan ganas seperti Siluman sedangkan kau... kau begini gagah perkasa, mulia dan halus. Bwee-moi, marilah kita pergi mencari Supek Lian Ti Tojin untuk mohon pertolongannya, tidak hanya kepada kita yang terluka hebat... tapi terutama sekali... untuk menyelamatkan Hoa-San-Pai kita..."

Mendengar ini, Thio Bwee mengangkat mukanya, memandang dengan mata terbelalak.

"Pergi... ke... Im-Kan-Kok??"

Mau tak mau tersenyum juga Kui Lok melihat wajah kekasihnya begitu ketakutan.

Ah, gadis yang tidak takut menghadapi kematian ini sekarang takut begitu mendengar nama Im-Kan-Kok!

"Bwee-moi, apa kau takut?"

"Tidak... tidak asal bersama engkau... tapi... aku ngeri juga, Koko..."

"Setelah keadaan kita seperti ini, apa lagi yang harus ditakuti, Moi-moi? Hayo kita percepat usaha untuk mencari Supek."

Keduanya lalu berjalan lagi bergandengan tangan, hati mereka telah bulat nekat untuk mencari Supek mereka.

Yang disebut Im-Kan-Kok (Lembah Akhirat) adalah sebuah lembah gunung di Hoa-San yang amat mengerikan keadaannya dan tidaklah aneh kalau tempat yang terlarang bagi para anggauta Hoa-San-Pai ini jarang atau tak pernah didatangi manusia.

Kalaupun ada manusia kebetulan datang ke tempat itu, hendak apa dan mencari apakah?

Jurang yang amat luas dan dalamnya tak dapat diukur pandangan mata itu sunyi mengering di sebelah kirinya, penuh batu-batu karang yang merupakan lerengnya atau tebingnya, tajam runcing licin tak mungkin dituruni manusia.

Di sebelah kanan lain lagi pemandangannya, penuh pohon-pohon dan di antara pohon-pohon yang tumbuhnya tidak karuan dan liar malang-melintang itu terdapat tiga buah air terjun yang amat tinggi.

Keadaan di sebelah kiri dan kanan benar-benar merupakan pemandangan yang berlawanan sekali, padahal keduanya merupakan bagian dari Im-Kan-Kok itu.

Dengan susah payah Kui Lok dan Thio Bwee berjalan melalui jalan liar yang amat sukar, merayap-rayap melalui pinggir lembah.

Kaki mereka sakit-sakit dan bagian tubuh yang tidak tertutup kain baret-baret terkena duri-duri tetumbuhan liar yang selalu menghadang di depan mereka.

Setengah hari mereka berjalan dengan penuh kesukaran ini, dengan hati berdebar-debar pula karena sebagai murid-murid Hoa-San-Pai mereka maklum bahwa mereka telah memasuki daerah terlarang bagi orang-orang Hoa-San-Pai.

Tentang Lian Ti Tojin di Im-Kan-Kok ini, hanya sedikit mereka mendengar dari mendiang Lian Bu Tojin.

Ketua Hoa-San-Pai itu hanya mengatakan bahwa Lian Ti Tojin telah memilih Im-Kan-Kok sebagai tempat untuk mengasingkan diri dan menghukum diri, dan Im-Kan-Kok dianggap sebagai tempat pelaksanaan hukuman.

Tidak diceritakan kesalahan apakah yang dilakukan Lian Ti Tojin itu maka dia menghukum diri sendiri di situ.

Hanya berkali-kali Ketua Hoa-San-Pai itu melarang murid-muridnya memasuki daerah terlarang ini dengan ancaman mati, malah berkata pula bahwa ilmu silat yang dimiliki oieh Lian Ti Tojin adalah ilmu silat Hoa-San-Pai yang amat tinggi, beberapa kali lebih tinggi dari pada ilmu silat yang dimiliki Lian Bu Tojin sendiri.

Selain ini, juga ketika mengasingkan diri empat puluh tahunan yang lalu, Lian Ti Tojin mengancam bahwa siapa saja berani mengganggunya di Im-Kan-Kok pasti akan dibunuhnya!

"Lembah ini begitu luas, ke mana kita dapat mencarinya?"

Bisik Tio Bwee kepada Kui Lok ketika mereka beristirahat di bagian yang penuh pohon-pohon yang merupakan hutan-hutan liar dan di depan mereka tampak air terjun pertama yang airnya berwarna-warni tertimpa sinar matahari.

"Memang sukar kalau harus mencari begitu saja. Akan tetapi jangan kau khawatir, Moi-moi. Dahulu aku pernah mendengar dari mendiang Ayahku ketika Ayah mendongeng tentang Supek di Im-Kan-Kok. Menurut Ayah, di bagian terbawah dari air terjun yang berada di tengah-tengah dan yang terbesar, terdapat sebuah gua yang amat besar. Gua ini terletak di belakang air terjun dari atas. Nah, agaknya di situlah Supek Lian Ti Tojin bertapa."

Thio Bwee memandang ke depan.

Dari tempat itu sudah kelihatan air terjun yang paling besar itu, di tengah-tengah antara dua air terjun lainnya.

Suara air terjun bergemuruh menimbulkan pendengaran yang menyeramkan dan melihat air terjun yang ratusan meter dalamnya itu membuat Thio Bwee merasa ngeri.

Tak terasa lagi ia memegang tangan Kui Lok erat-erat.

"Aduh,..!"

Kui Lok mengeluh.

Thio Bwee kaget dan menengok.

Ternyata ia tadi telah memegang lengan yang kiri dengan tangan kanannya dan lengan kiri Kui Lok telah agak membengkak dengan warna kehijauan.

Bukan main kagetnya, apalagi ketika pada saat itu baru ia tahu bahwa tangan kirinya juga membengkak dan agak kehijauan, dan sakit sekali kalau ditekan.

Ternyata bahwa luka di pundak kiri mereka telah makin menghebat, agaknya racun telah menjalar sampai ke lengan tangan.

Mereka berpandangan, maklum akan keadaan mereka itu yang amat berbahaya.

Sinar mata mereka sudah banyak menyatakan isi hati mereka dan keduanya menjadi berduka sekali.

Kui Lok menarik tangan kanan Thio Bwee diajak berdiri.

"Moi-moi..."

Katanya dengan suara gemetar.

"kita harus cepat-cepat pergi dan cepat menjumpai Supek, kalau tidak... aku khawatir tak ada waktu lagi..."

Thio Bwee mengangguk dan kedua orang muda ini kembali berjalan dengan susah payah, menyelinap di antara tetumbuhan berduri, menuju ke arah air terjun ke dua.

Akhirnya sampai juga mereka di tempat itu.

Air selebar lima meter lebih terjun dari atas, berkilauan ditimpa sinar matahari.

Biarpun air itu terjun amat dalamnya, namun suara air menimpa batu-batu di bawah terdengar dari tempat itu, malah berkumandang di empat penjuru gunung.

Ketika dua orang itu menengok ke bawah, hati mereka berdebar menyaksikan betapa dalamnya lembah itu.

Bagaimana mereka harus turun mendekati dasar lembah?

Setelah mencari-cari dengan pandang matanya, akhirnya Kui Lok berkata.

"Bwee-moi, terpaksa kita harus turun melalui pohon-pohon dan tetumbuhan, kita harus merayap ke bawah. Perjalanan ini amat sukarnya, dan amat berbahayanya, akan tetapi, Moi-moi, kali ini kita berjuang untuk nyawa kita."

Thio Bwee menjenguk ke bawah lalu memandang kekasihnya sambil tersenyum pahit. (Lanjut ke

Jilid 03) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03

"Aku mengerti, Koko. Bersamamu aku akan kuat menghadapi apa saja."

Mendengar pernyataan ini, dengan terharu Kui Lok lalu mengusap rambut kepala Thio Bwee kemudian berbisik.

"Mati hidup kita takkan berpisah lagi, adikku."

Setelah berkata demikian pemuda ini lalu mulai menuruni tebing yang amat dalam dan curam itu, diikuti oleh Thio Bwee.

Baiknya.

dua orang ini adalah orang-orang yang sudah terlatih semenjak kecil, tubuh mereka kuat dan ginkang mereka sudah mencapai tingkat tinggi.

Andaikata mereka tidak terluka, kiranya, pekerjaan menuruni tebing sambil bergantungan atau berpegangan pada akar-akar dan pepohonan ini akan merupakan hai yang amat mudah bagi mereka.

Akan tetapi keadaan mereka sekarang amat buruk.

Selain tubuh lemas akibat penderitaan batin, juga tangan kiri mereka sakit dan hampir lumpuh sehingga untuk menuruni tebing hanya mengandalkan kedua kaki dan tangan kanan saja.

Sedangkan tangan kiri mereka hanya dipergunakan untuk membantu belaka.

Dua jam lebih mereka merayap dan bergantungan di antara akar-akar pohon dan batu-batu, akhirnya mereka bergantungan pada pohon terakhir dan tidak bisa turun ke bawah lagi!

Bagaimanapun mereka mencari-cari, tidak ada lagi tempat untuk berpegang atau berinjak, jalan ke bawah sudah putus.

Ketika mereka menengok ke bawah, tampak oleh mereka air terjun itu menimpa dasar lembah dan menimbulkan uap air yang tebal.

Samar-samar tampak air di bawah mereka, air yang berputaran seperti air mendidih tapi amat lebarnya seperti sebuah telaga kecil yang terjadi karena air terjun itu.

"Bagaimana, Koko?"

Tanya Thio Bwee terengah-engah kelelahan. Kui Lok mengerutkan kening.

"Tidak mungkin turun lagi secara tadi, Moi-moi. Kembali naik juga lebih sukar. Jalan satu-satunya kita harus berani terjun ke bawah."

"Terjun ke air itu...?"

"Sedikit-sedikit kita dapat berenang, tak perlu takut, Bwee-moi. Mari, ikuti aku!"

Dengan nekat Kui Lok lalu meloncat ke bawah dan Thio Bwee segera mengikutinya.

Dua orang muda itu melayang-layang turun dari tempat yang tingginya masih ada belasan meter akan tetapi yang keadaan bawahnya tidak dapat tampak nyata karena uap air yang tebal.

"Byurr! Byurr!"

Air muncrat tinggi ketika tubuh dua orang muda itu tiba di permukaan air yang luar biasa dinginnya.

Akan tetapi alangkah kaget rasa hati Kui Lok dan Thio Bwee ketika mereka mendapat kenyataan bahwa air itu berputar amat kuatnya, merupakan ulekan (air berputar) besar, Tubuh mereka hanyut terseret oleh putaran itu, tenaga putaran demikian besarnya sehingga mereka tak berdaya, tak mampu berenang ke pinggir.

Kui Lok maklum bahwa kalau terus-menerus begini, mereka akan celaka.

"Bwee-moi, tahan napas, menyelam terus berenang ke arah pinggir sana, ke belakang air terjun!"

Teriaknya dengan napas terengah-engah payah.

Setelah gadis itu memberi isyarat bahwa ia telah mengerti apa yang dimaksudkan oleh kekasihnya, mereka lalu menyelam dan benar saja, di bagian bawah ternyata tenaga putaran itu tidak hebat lagi dan dengan mudah mereka dapat berenang melalui air terjun.

Akhirnya keduanya dapat mendarat di belakang air terjun dengan napas hampir putus dan tenaga habis.

Namun, bukan main girang hati mereka karena melihat kekasih berada di sampingnya.

Baru saja mereka terlepas dari bahaya maut dan Thio Bwee tak kuasa menahan air matanya, Kui Lok memeluknya dan pada saat itu hati ke dua orang muda ini makin bersatu dan makin teguh cinta kasih mereka.

"Bwee-moi, biarpun aku tahu kau amat lelah, akan tetapi terpaksa kita harus melanjutkan penyelidikan kita. Kita sudah sampai di tempat yang dimaksudkan."

Keduanya berdiri dan memeriksa tempat itu.

Di balik air terjun ini benar saja terdapat gua yang amat besar dan dalam.

Suara air terjun bergemuruh amat hebatnya sehingga kalau mereka ingin bicara, mereka harus saling berdekatan dan bersuara keras-keras.

Sambil begandeng tangan dua orang muda ini merangkak-rangkak memasuki gua itu, kemudian dengan berani dan nekat mereka terus maju memasuki lubang besar yang merupakan terowongan gelap.

Mula-mula terowongan yang panjang dan lebar itu gelap sekali dan amat licin sehingga dua orang muda ini harus meraba-raba dan merangkak, akan tetapi setelah masuk kurang lebih dua ratus meter, mulai tampak sinar terang dari depan dan jalan tidak begitu licin lagi.

Setelah membelok tiga kali mereka tiba di sebuah ruangan di bawah tanah yang amat luas dan terang karena sinar matahari masuk dari atas kanan kiri yang terbuka.

Tempat ini bersih sekali dan kelihatan beberapa buah benda berbentuk meja kursi terbuat daripada batu.

Malah di sebelah depan tampak dua buah lubang berbentuk pintu.

Tak salah lagi, tempat seperti ini sudah pasti didiami manusia.

Tiba-tiba terdengar suara parau.

"Apa kalian mempunyai nyawa rangkap maka berani masuk ke sini?"

Dua orang muda itu membelalakkan mata memandang tajam, namun mereka hanya melihat berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu mereka roboh dengan pandang mata berkunang-kunang.

Thio Bwee segera roboh pingsan, sedangkan Kui Lok sebelum pingsan masih sempat berkata perlahan.

"Teecu dari Hoa-San-Pai..."

Entah berapa lama mereka berdua roboh pingsan, tahu-tahu ketika ia siuman, Kui Lok mendapatkan dirinya bersama Thio Bwee sudah berada di dalam sebuah kamar batu yang kering dan berhawa hangat nyaman.

Cepat ia bangun dan menolong Thio Bwee.

Hatinya lega ketika mendapat kenyataan bahwa kekasihnya itu juga sudah mulai sadar.

Penerangan di kamar ini suram, hanya diterangi oleh sebuah lampu sederhana di atas meja batu.

"Ah, kiranya sudah malam..."

Pikir Kui Lok dan ia melihat Thio Bwee bergerak hendak bangun. Dua orang ini berpandangan dan keduanya bersyukur masih dapat melihat masing-masing dalam keadaan selamat.

"Koko... mana... mana dia?"

Bisik Thio Bwee.

"Tenanglah, Moi-moi. Siapa yang menempati tempat ini, tentulah orang baik-baik, buktinya kita tidak diganggu malah dibawa ke tempat ini. Lebih baik kita beristirahat dan memulihkan tenaga sambil menanti datangnya pagi."

Dua orang muda itu yang maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi hal-hal yang hebat, mungkin hal yang amat berbahaya, segera duduk bersila dan bersamadhi untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan hati serta memulihkan tenaga yang telah terlalu banyak dikerahkan ketika mencari gua ini.

Mula-mula memang sukar bagi mereka untuk bersamadhi, selalu saja timbul dalam pikiran mereka bayangan yang berkelebat tadi, dan terngiang di telinga mereka suara parau yang membentak marah.

Akan tetapi karena dua orang ini adalah orang-orang gemblengan dari Hoa-San-Pai, maka akhirnya dapat juga mereka menenangkan hati dan mendiamkan pikiran, duduk bersamadhi dengan tekun.

Menjelang pagi, di antara suara gemuruh air terjun, terdengar kicau Burung dari luar.

Kui Lok dan Thio Bwee sadar dari samadhinya dan menikmati pendengaran-pendengaran yang aneh itu.

Suara air terjun, kicau Burung, kokok ayam hutan, benar-benar mendatangkan ketenangan dan mendatangkan suara penuh damai dan tenteram di dalam hati.

Yang mengherankan mereka, bagaimana suara-suara penghuni hutan itu dapat terdengar dari dalam kamar itu.

Lama mereka masih duduk termenung, tidak merasa betapa matahari makin lama makin terang cahayanya.

Ada angin bertiup dari arah pintu dan lampu kecil itu padam.

Tapi kamar ini tidak menjadi gelap karena ternyata bahwa cahaya matahari telah sampai juga ke tempat itu.

Kui Lok merasa tidak enak kalau diam saja di situ, maka sambil memberanikan hatinya ia mengajak Thio Bwee untuk keluar dari kamar.

Begitu keluar dari kamar mereka mendengar suara orang bicara, suaranya parau dan jelas.

"Kenapa tidak kau bunuh saja? Huh, kau sudah ingin keluar dari sini agaknya! Tua bangka bodoh!"

Mendengar ini, Kui Lok dan Thio Bwee bergidik.

Namun dengan nekat mereka malah menuju ke arah suara dan di dalam sebuah ruangan batu mereka melihat seorang kakek tinggi kurus sedang duduk bersila dan menuding-nuding ke arah hidungnya sendiri sambil memaki-maki!

Kakek itu rambutnya panjang sekali, dibiarkan terurai sampai ke pahanya, pakaiannya sederhana dari kain kasar berwarna putih.

"Apa kau kasihan melihat pemuda ganteng? Ataukah jatuh hati melihat gadis cantik manis? Aha, tidak semua itu, kau tergila-gila untuk sekali lagi melihat manusia ramai! Waah, tak tahu malu, tua bangka gila!"

Orang tua itu seakan-akan tidak melihat kedatangan Kui Lok dan Thio Bwee. Dua orang muda itu cepat berlutut setelah mereka memasuki ruangan dan Kui Lok segera berkata.

"Teecu berdua Kui Lok dan Thio Bwee datang menghadap Lo-Cianpwe."

Pemuda itu tidak berani menyebut Supek karena selama hidupnya ia belum pernah bertemu dengan Lian Ti Tojin, mana dia tahu apakah kakek ini betul Supeknya itu ataukah bukan?

Tanpa menengok ke arah mereka kakek itu tiba-tiba bertanya.

"Kalian masih ada hubungan apa dengan Lian Bu?"

"Beliau adalah Suhu Teecu berdua..."

Kata Kui Lok, masih meragu apakah orang ini benar-benar tokoh aneh dari Hoa-San-Pai yang selama ini merupakan iblis yang amat ditakuti oleh seluruh anggauta Hoa-San-Pai.

"Jangan bohong! Lian Bu hanya lebih muda beberapa tahun dariku, sebagai Ketua Hoa-San-Pai masa mempunyai murid-murid begini muda dan tidak becus apa-apa?"

"Teecu berdua... tadinya memang cucu-cucu murid, akhir-akhir ini berlatih langsung di bawah petunjuk Lian Bu Tojin suhu."

"Tidak becus... tidak becus.., he, orang-orang muda, apakah gurumu tidak memberi tahu bahwa orang tidak boleh datang ke Im-Kan-Kok? Bahwa siapapun yang mendatangi tempat ini akan kubunuh mampus?"

Pertanyaan ini diucapkan dengan suara keren.

"Teecu memang sudah tahu... dan sekiranya Lo-Cianpwe ini benar adalah Supek Lian Ti Tojin, Teecu berdua hanya mohon ampun..."

"Kalian sudah tahu tapi berani juga datang ke sini?"

Sebelum Kui Lok dan Thio Bwee dapat melihat apa yang dilakukan kakek itu, tahu-tahu mereka berdua sudah terguling dan pingsan lagi!

Mereka tadi hanya melihat kakek itu menggerakkan lengan kanannya dan tahu-tahu mereka roboh tidak ingat apa-apa.

Ketika mereka sadar kembali, kakek itu masih duduk bersila seperti tadi dan Kui Lok segera menolong Thio Bwee.

Keadaan mereka makin payah karena selain terluka pundak mereka dan dua kali dipukul roboh, juga semenjak kemarin perut mereka kosong sama sekali.

Kui Lok girang bahwa Thio Bwee juga segera sadar kembali dan agaknya pukulan jarak jauh dari kakek itu hanya membuat mereka roboh dan pingsan saja, tapi tidak teluka hebat.

Kedua orang muda ini heran mengapa kakek itu tidak membunuh mereka.

"Anak murid Hoa-San-Pai sampai terluka oleh Jing-Tok-Ciang (Racun Hijau)..., hemmm, memalukan sekali...!"

Kakek itu berkali-kali mengucapkan kata-kata ini seorang diri, sedikitpun tidak menoleh ke arah dua orang muda itu.

Mendengar ini, timbul harapan dalam hati Kui Lok.

Serta-merta ia berlutut di depan kakek itu dan berkata.

"Teecu berdua datang menghadap Supek untuk memohon pertolongan Supek... Hoa-San-Pai terancam bahaya kemusnahan. Supek harap maklum bahwa Suhu telah tewas terbunuh orang..."

"Hemmm, tidak dulu-dulu terbunuh orang sudah amat mengherankan. Sebodoh dia menjadi ketua, hemmm..."

Bingung dan mendongkol juga hati Kui Lok melihat sikap orang yang menjadi Supeknya ini. Benar-benar berwatak aneh dan luar biasa.

"Supek, tidak saja Suhu telah tewas, akan tetapi musuh besar itu juga menewaskan sepuluh orang Suheng..."

"Gurunya tolol mana murid-muridnya tidak goblok? Mampus karena ketidak becusan sendiri, untuk apa kau ceritakan kepadaku?"

Kakek itu memotong tanpa menoleh kepada Kui Lok.

"Supek, musuh itu masih merampas pedang pusaka Hoa-San-Pai dan sekarang malah menduduki Hoa-San-Pai dan mengangkat diri sendiri sebagai ketua!"

Untuk sejenak kakek itu diam tak bergerak tak bersuara seakan-akan kaget juga dan berpikir akan tetapi segera ia mengangguk-angguk dan berkata.

"Biar, lebih baik begitu! Biarpun murid Hoa-San-Pai sendiri yang menjadi ketua kalau tidak becus macam Lian Bu, untuk apa? Biarlah dipegang orang lain, tentu lebih lihai dari Lian Bu dan lebih bijaksana!"

Kui Lok tercengang dan habis akal. Thio Bwee semenjak tadi diam saja akan tetapi hatinya panas bukan main.

"Sudahlah, Suheng, untuk apa bicara lagi kepada seorang murid Hoa-San-Pai yang tidak berbudi?"

Didengar kata-katanya apa sih bedanya dia dengan iblis betina Kwa Hong yang telah merampas kedudukan Suhu? Keduanya sama-sama murid Hoa-San-Pai yang murtad dan khianat!"

Tiba-tiba kakek itu menoleh ke arah mereka dan dua orang muda itu hampir mengeluarkan suara jeritan saking kaget dan ngerinya.

Muka kakek itu bukan muka manusia lagi, akan tetapi muka tengkorak!

Muka itu sama sekali tidak ada dagingnya, hanya tulang tengkorak terbungkus kulit kering, mulutnya terbuka kosong, lubang hidungnya menjadi satu dan sepasang matanya bersembunyi amat dalam sehingga sepintas lalu seakan-akan kedua lubang matanya itu kosong saja!

"Apa kau bilang?"

Tanyanya dan sepasang biji mata yang bersembunyi dalam-dalam di kepala itu mengintai kepada Thio Bwee amat tajam menakutkan.

"Oh... tidak... tidak..."

Thio Bwee memalangkan lengan kanan di depan muka sambil mundur-mundur ketakutan.

Mulut yang ompong kosong itu terbuka lebar mengeluarkan suara ketawa yang menyeramkan, kemudian disambung kata-katanya dengan suara keren.

"Bocah, coba katakan lagi. Betulkah yang menewaskan Lian Bu dan yang merampas kedudukan Ketua Hoa-San-Pai adalah seorang murid Hoa-San-Pai sendiri?"

Karena Thio Bwee masih belum dapat menguasai dirinya, Kui Lok cepat berkata.

"Betul sekali, Supek. Orang itu malah seorang gadis muda dan masih terhitung saudara seperguruan Teecu berdua. Akan tetapi dia telah murtad, menikah dengan seorang ahli racun hijau bernama Koai Atong kemudian bersama Suaminya itu mengacau Hoa-San-Pai dan merampas kedudukan ketua."

Kemudian secara singkat namun jelas Kui Lok menceritakan kejadian hebat yang menimpa Hoa-San-Pai.

"Ha-ha, aku mau lihat! Mau lihat macam apa bocah yang berani menyaingi Lian Ti Tojin dalam hal pengkhianatan terhadap Partai itu, Apakan dia selihai aku? Ha-ha-ha!"

Setelah berkata demikian tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu ia telah meloncat sampai ke pintu ruangan.

Sekarang tampak oleh Kui Lok dan Thio Bwee betapa tubuh kakek itupun hampir sama dengan keadaan mukanya, kurus kering seperti rangka hidup!

Sesampainya di situ tiba-tiba ia berhenti dan berkata seorang diri.

"Tidak bisa... tidak bisa... kalau aku pergi harus ada yang menggantikan aku di sini. Ha, benar juga. Kalian berdua harus menggantikan aku di Im-Kan-Kok sini, seharusnya sampai empat puluh tahun. Akan tetapi karena kalian berdua, maka hukuman buat kalian hanya dua puluh tahun seorang. Sebelum dua puluh tahun tak boleh keluar dari sini, Bersumpahlah!"

Kui Lok dan Thio Bwee saling pandang. Thio Bwee nampak ragu-ragu. Bagaimana mungkin mereka harus berdiam di situ selama dua puluh tahun? Akan tetapi Kui Lok segera berkata.

"Bwee-moi, kita sudah terluka parah. Agaknya biarpun kuat keluar dari tempat ini, belum tentu bisa hidup lebih lanjut. Lian Ti Supek, Teecu berdua sanggup tinggal di sini sampai dua puluh tahun asal saja Supek suka pergi ke Hoa-San-Pai dan menyelamatkan Partai daripada cengkeraman Siluman betina Kwa Hong."

"Bersumpahlah!"

Tanpa ragu-ragu lagi Kui Lok dan Thio Bwee bersumpah takkan meninggalkan tempat itu sebelum dua puluh tahun! Mendengar sumpah ini, kakek itu tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha-ha, senang hatiku. Ada dua orang sekarang yang akan dapat merasakan betapa hebat penderitaanku di sini selama empat puluh tahun lebih, ini. Ha-ha-ha!"

Diam-diam Kui Lok merasa gemas juga. Kiranya Supeknya inipun bukan orang baik-baik, yang merasa girang melihat orang lain menderita. Saking gemasnya ia berkata untuk mengecewakan hati kakek itu.

"Supek keliru sangka. Teecu berdua sudah terluka hebat oleh racun Jing-Tok, kiranya takkan lama hidup di dunia ini dan tidak akan lama merasai penderitaan seperti yang Supek rasakan!"

"Uh-uh, goblok! Kau kira aku sebodoh kau dan gurumu? Sebelum aku pergi kalian sudah akan sembuh. Hayo kalian pelajari ini dan ikuti perbuatanku!"

Setelah berkata demikian kakek itu berjungkir balik, kedua kakinya ke atas dan kepalanya di bawah di atas tanah, dengan jungkir balik ini ia "Berdiri"

Di atas kepalanya dengan tubuh lurus.

Kui Lok dan Thio Bwee tidak berani membantah, apalagi mereka dapat menangkap maksud kakek itu yang hendak menyembuhkan mereka.

Keduanya segera berjungkir balik dan menggunakan kepandaian untuk "Berdiri"

Di atas kepala dengan tubuh lurus-lurus.

"Lihat baik-baik, tiru gerakan kedua tanganku, terutama gerakan tangan kiri!"

Kakek itu dengan perlahan lalu menggerak-gerakkan kedua lengannya seperti orang bersilat.

"Salurkan hawa Thai-Yang dari pusar ke dada, tekan dengan kekuatan dalam supaya berputar tiga belas kali di dada lalu kerahkan tenaga ke pundak yang terluka terus ke sepanjang lengan kiri sambil pukulkan begini!"

Kakek itu bergerak-gerak dan memberi petunjuk yang dituruti oleh dua orang itu dengan taat.

Pelajaran ini ada hubungannya dengan ilmu silat Hoa-San-Pai, maka sebagai anak murid Hoa-San-Pai yang sudah tinggi ilmunya tentu saja mereka dapat melakukan semua petunjuk itu dengan baik dan tepat.

Tiba-tiba Kui Lok dan Thio Bwee berseru girang karena dari pundak mereka mengucur darah kental hijau, tanda bahwa racun yang berada di tubuh mereka mulai mengucur keluar.

Makin giat mereka melakukan gerakan itu dan terus-menerus darah kehijauan mengalir keluar dari pundak mereka.

Saking gembira hati mereka melihat hasil pengobatan ini, mereka sampai lupa tidak memperhatikan lagi kepada kakek yang tadi memberi petunjuk kepada mereka dan yang sekarang sudah tidak terdengar suaranya lagi.

Ketika mereka kelelahan dan beristirahat, barulah ternyata oleh mereka bahwa kakek itu telah lenyap darl situ!

Kedua orang muda itu saling pandang.

Darah kehijauan membasahi lantai.

Dalam pertemuan pandang mata ini jalan pikiran mereka sama.

Mereka maklum bahwa kakek itu sudah keluar dan mereka sudah bersumpah untuk tidak keluar dari tempat itu selama dua puluh tahun!

Mulut tidak bicara akan tetapi sinar mata mereka bicara banyak dan tak tertahankan lagi Thio Bwee menubruk Kui Lok sambii menangis tersedu-sedu.

Untuk sesaat Kui Lok memeluknya dan membiarkan kekasihnya itu menuangkan kedukaan hatinya melalui air matanya, kemudian sambil mengelus-elus kepala Thio Bwee, ia berkata.

"Lapangkan hatimu, Moi-moi. Asal kita masih selalu berdampingan, kiranya kita tidak perlu takut atau berduka. Andaikata tidak akan terjadi, perubahan dalam kehidupan kita dan harus berada di sini sampai dua puluh tahun, apa boleh buat, hitung-hitung kita berkorban untuk Hoa-San-Pai! Sekarang yang penting kita harus memeriksa tempat ini, kalau Supek sampai bisa hidup di sini selama empat puluh tahun tentu di sini cukup bahan makanan dan kebutuhan hidup. Sementara itu, kita betul-betul sehat dan terhindar dari bahaya keracunan."

Lambat laun Thio Bwee terhibur juga, apalagi karena apabila mereka keluar dari gua, pemandangan di sekitar air terjun benar-benar hebat dan indah bukan main, lagipula banyak terdapat buah-buahan dan binatang-binatang yang akan menjadi makanan mereka.

Yang paling menggembirakan hati adalah ketika di sebuah ruangan di bawah tanah, mereka melihat betapa dinding ruangan itu penuh dengan ukir-ukiran yang berupa huruf-huruf dan gambar-gambar.

Inilah pelajaran ilmu silat yang selama ini diciptakan oleh Supek mereka di tempat itu Ilmu silat aneh yang bersumber kepada ilmu silat Hoa-San-Pai yang aseli, jauh lebih hebat daripada ilmu silat yang pernah mereka pelajari di Hoa-San-Pai.

Kita tinggalkan dulu dua orang muda yang saling mencinta dan yang terpaksa hidup sebagai Suami Isteri di Lembah Akhirat itu.

Hidup seperti Adam dan Hawa di Taman Firdaus!

Jauh dari dunia ramai berteman bunga-bunga, buah-buahan dan binatang-binatang hutan.

Ramai sekali di Puncak Hoa-San-Pai pada pagi hari itu, tanda bahwa tentu telah terjadi hal-hal luar biasa.

Memang sudah sering kali, hampir setiap hari di Puncak Hoa-San terjadi hal-hal aneh semenjak Kwa Hong menjadi Ketua Hoa-San-Pai.

Hampir setiap hari ada saja tokoh-tokoh kang-ouw yang menjadi sahabat baik mendiang Lian Bu Tojin naik ke puncak, tidak saja mengabarkan tentang kematian kakek itu, juga untuk menyaksikan sendiri kekacauan Hoa-San-Pai karena merasa penasaran.

Dan hebatnya, setiap kali ada tokoh persilatan naik ke puncak, sebagian besar daripada mereka ini tidak bisa turun lagi karena mereka itu binasa di bawah tangan Kwa Hong, Koai Atong, atau Rajawali Emas!

Pagi hari ini Beng Tek Cu, Tosu dari Bu-Tong-Pai yang semenjak dahulu menjadi sahabat baik Lian Bu Tojin bersama empat orang adik seperguruannya, naik ke Puncak Hoa-San-Pai.

Perlu diketahui bahwa Beng Tek Cu ini adalah tokoh Bu-Tong-Pai yang dahulu di waktu Hoa-San-Pai bermusuhan dengan Kun-Lun-Pai, Tosu ini berpihak kepada Lian Bu Tojin.

Oleh karena itu, tidak heranlah apabila Tosu tua ini sengaja mendaki Puncak Hoa-San-Pai ketika ia mendengar berita mengejutkan bahwa Lian Bu Tojin tewas oleh seorang cucu muridnya sendiri yang sekarang telah menduduki kursi ketua di Hoa-San-Pai!

Beng Tek Cu ini orangnya tinggi besar dan gagah, biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih namun masih tampak kuat dan bersemangat, wataknya sejak muda galak dan jujur dan ilmu pedangnya sudah terkenal di empat penjuru dunia persilatan.

Empat orang Sutenya juga bukan tokoh-tokoh rendah, melainkan jago-jago Bu-Tong-Pai yang sudah menguasai ilmu silat dan Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-Hoat.

Bukan main marah dan herannya hati Beng Tek Cu ketika ia mendengar bahwa sahabat baiknya Lian Bu Tojin, tewas oleh muridnya sendiri.

la sudah mengenal Kwa Hong, malah semua murid Hoa-San-Pai sudah dikenal oleh Tosu Bu-Tong-Pai ini.

Maka dengan amarah meluap-luap dan juga terheran-heran ia segera membawa adik-adik seperguruannya untuk "membereskan"

Kerusuhan di Hoa-San-Pai.

Baru saja memasuki wilayah Hoa-San-Pai di kaki Hoa-San itu ia dan adik-adiknya sudah melihat perubahan hebat yang terjadi pada Partai persilatan besar di puncak itu.

Para Tosu anggauta Hoa-San-Pai tidak ada yang menyambut dengan penuh penghormatan dan ramah-tamah seperti dulu lagi.

Malah di sana-sini terdapat Tosu-Tosu yang segera menyelinap pergi dan memandang penuh curiga ketika lima orang Tosu Bu-Tong-Pai ini naik ke gunung itu.

Telinga mereka yang terlatih sudah mendengar di sebelah atas orang-orang berteriak sambung-menyambung ke atas, melaporkan kedatangan mereka, begini.

"Beng Tek Cu dan empat orang Sutenya dari Bu-Tong-Pai. hendak menghadap Nio-Nio (Dewi)...!!"

Beng Tek Cu mendongkol sekali, apa-lagi mendengar sebutan Nio-Nio itu.

Hemm, bukan main sombongnya.

Apakah Kwa Hong gadis muda itu yang kini mengangkat diri menjadi ketua dan disebut Dewi?

Kedatangannya sudah diketahui, tuan rumah atau nyonya rumah tentu sudah mengadakan persiapan.

Entah sambutan apa yang akan ia terima.

Beng Tek Cu mengajak adik-adiknya mempercepat perjalanan ke puncak.

Setelah mereka makin tinggi mendaki, di kanan kiri jalan makin sering mereka melihat Tosu-Tosu Hoa-San-Pai melakukan penjagaan, Tidak seperti dulu dengan ramah-tamah dan hormat menyambut kedatangan para tamu, melainkan dengan cara bersembunyi-sembunyi.

Akan tetapi tak dapat mereka menahan kemarahan hati mereka ketika sampai di lereng terakhir bawah puncak, mereka melihat kuburan-kuburan baru berderet-deret, tidak kurang dari dua puluh jumlahnya.

Di depan kuburan itu terdapat Bong-Pai (Batu Nisan) sederhana dan kasar yang ditulisi nama-nama yang dikubur.

Lima orang Tosu Bu-Tong-Pai ini sudah mendengar akan korban-korban yang jatuh semenjak Hoa-San-Pai dipegang oleh Kwa Hong, yaitu mereka yang datang karena tidak senang dan hendak membela mendiang Lian Bu Tojin.

Jadi dengan maksud yang sama dengan maksud mereka sekarang.

Agaknya sengaja korban itu dikubur di pinggir jalan naik ke puncak agar semua pendatang melihatnya!

Alangkah sombongnya!

"Kwa Hong murid durhaka!

Kejahatanmu sudah melampaui takaran, Pinto datang untuk mengakhiri keganasanmu!"

Beng Tek Cu berteriak dengan pengerahan Khikangnya sehingga suaranya terdengar nyaring dan bergema sampai ke puncak gunung.

Belum lenyap gema suaranya yang keras itu, dari puncak gunung tampak bayangan seorang tinggi besar berlari-lari cepat turun ke arah mereka.

Para Tosu Hoa-San-Pai yang tadinya bersembunyi di kanan kiri jalan, sekarang juga muncul dengan pedang di tangan dan dengan sikap siap untuk mengeroyok.

Akan tetapi Beng Tek Cu dan kawan-kawannya berdiri dengan tenang, sama sekali tidak gentar terhadap munculnya para Tosu Hoa-San-Pai itu.

Mereka menujukan pandangan mata mereka kepada orang tinggi besar yang berlari turun seperti terbang cepatnya itu.

Diam-diam Beng Tek Cu kaget dan kagum menyaksikan Ginkang orang itu.

demikian hebatnya sehingga gerakannya seperti Burung terbang saja, kedua kaki seakan-akan tidak menyentuh tanah dan kedua lengan yang panjang itu dikembangkan ke kanan kiri dan digerakkan seperti gerakan sayap Burung!

Orang itu bukan lain adalah Koai Atong!

Bocah tua ini marah sekali mendengar orang memaki-maki Kwa Hong.

Maka cepat ia menyambut musuh-musuh baru ini.

Di lain pihak, Beng Tek Cu dan teman-temannya yang belum pernah melihat Koai Atong, merasa heran dan juga geli setelah Koai Atong datang dekat.

Mereka melihat seorang laki-laki tinggi besar setengah tua yang pakaiannya berkembang-kembang dari topi sampai sepatunyapun berkembang, gerak-geriknya seperti anak kecil dan lebih pantas kalau orang itu dimasukkan golongan orang gila.

Melihat keadaan orang ini, dapatlah Beng Tek Cu dan kawan-kawannya menduga bahwa mereka berhadapan dengan Koai Atong, tokoh aneh di dunia kang-ouw yang sekarang kabarnya menjadi menjadi Suami Kwa Hong!

Kalau gadis murid Hoa-San-Pai yang cantik jelita itu tidak menjadi gila otaknya, mana mungkin sudi menjadi Isteri orang macam ini?

Sementara itu, setelah berhadapan dan melihat bahwa yang memaki-maki "Isterinya"

Adalah lima orang Tosu yang tidak dikenalnya, Koai Atong menuding dan membentak.

"Tosu-Tosu bau dari mana berani mampus, datang-datang memaki Enci Hong!"

"Sobat yang baru datang ini apakah bukan Koai Atong?"

Tanya Beng Tek Cu karena masih ragu-ragu apakah betul Koai Atong yang terkenal itu hanya seperti orang gila ini. Koai Atong membelalakkan kedua matanya yang sudah lebar itu.

"Eh?? Kau tahu namaku? Siapakah kau Tosu yang sudah kenal namaku?"

"Pinto Beng Tek Cu dari Bu-Tong-Pai dan mereka ini adalah Sute-Suteku. Koai Atong, Pinto mendengar bahwa kau dan Kwa Hong murid murtad dari Hoa-San-Pai itu telah membunuh Lian Bu Totiang, membunuh Tosu-Tosu Hoa-San-Pai dan banyak orang-orang gagah yang datang ke sini, kemudian malah merampas kedudukan Ketua Hoa-San-Pai. Benarkah semua pengacauan ini? Koai Atong, kau sebagai murid seorang sakti seperti Giam Kong Hwesio, kenapa menjadi tersesat sampai begini jauh?"

Menghadapi ucapan ini dan melihat pandang mata Beng Tek Cu yang tajam berpengaruh, Koai Atong menjadi jerih juga.

la menundukkan muka dan tidak dapat menjawab, seperti anak kecil dimarahi Ayahnya!

Pada saat itu, terdengar suara melengking tinggi, datangnya dari udara dan amat nyaring menyakitkan anak telinga.

"Beng Tek Cu! Kau dan Sute-Sutemu pergilah dari sini, jangan mencampuri urusan Hoa-San-Pai!"

Jelas bahwa itu adalah suara wanita yang merdu tapi nyaring dan melengking tinggi.

Beng Tek Cu dapat menduga bahwa suara itu tentulah suara Kwa Hong, akan tetapi dia tidak mengerti bagaimana suara itu datangnya dari atas!

"Kwa Hong murid murtad, Pinto datang untuk mengakhiri riwayatmu yang busuk!"

Teriak Beng Tek Cu.

"Koai Atong, tolol! Orang memaki aku, kenapa diam saja? Serang dan bunuh mereka semua, Tosu-Tosu bau ini!"

Suara Kwa Hong terdengar lagi dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan pekik melengking seperti Burung dan tahu-tahu ia telah menggerakkan kedua lengannya yang panjang untuk menyerang kalang-kabut kepada lima orang Tosu itu.

Beng Tek Cu dan Sute-Sutenya cepat mengelak, akan tetapi tetap saja dua orang Tosu Bu-Tong-Pai itu terkena pukulan yang amat aneh gerakannya sehingga mereka roboh terguling!

Beng Tek Cu marah dan juga heran bukan main.

Sute-Sutenya itu terhitung murid-murid Bu-Tong-Pai tingkat dua, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga Lweekang yang sudah kuat sekali.

Akan tetapi bagaimana begitu mudah roboh hanya oleh sekali serangan Koai Atong ini?

la sendiri ketika mengelak tadi sengaja mengebutkan lengan baju untuk menahan pukulan, akan tetapi lengan bajunya terpukul membalik dan ujungnya sudah hancur.

"Koai Atong, kau menjadi antek Siluman betina jahat. Patut dibasmi lebih dulu!"

Beng Tek Cu membentak sambil mencabut pedangnya.

Dua orang Sutenya yang tadi roboh oleh pukulan Koai Atong, juga sudah bangun kembali dan seperti yang lain-lain, dengan marah merekapun mencabut pedang.

Baiknya dalam gebrakan pertama tadi Koai Atong hanya menggunakan gaya serangan Rajawali Emas tanpa mempergunakan hawa pukulan Jing-Tok-Ciang, maka dua orang Tosu yang terpukul roboh tidak mengalami luka hebat.

Sekarang lima orang Tosu itu dengan pedang di tangan mengurung Koai Atong.

Orang tinggi besar ini nampak kebingungan.

Memang bertempur bagi Koai Atong merupakan permainan yang rnenyenangkan, maka ia tertawa-tawa ha-ha-hi-hi sambil berputaran perlahan dan melirik-lirik lima orang lawannya, Kedua kakinya berjungkit, kedua lengan dikembangkan dan bergerak-gerak seperti sayap Burung hendak terbang, sikapnya lucu sekali tapi juga aneh dan membuat lima orang Tosu Bu-Tong-Pai itu berhati-hati sekali tidak segera menyerang.

Beng Tek Cu memberi tanda isyarat kepada adik-adiknya dan lima orang Tosu ini secara otomatis lalu mengambil kedudukan masing-masing dan membentuk barisan Bu-Tong Ngo-Heng-Tin.

Dengan teratur dan otomatis kelimanya lalu bergerak melangkah maju mengitari Koai Atong, tanpa menyerang akan tetapi sikap dan kedudukan mereka sering berubah-ubah, kelihatan indah sekali seperti gerakan tarian yang teratur.

Pedang mereka berkelebatan berpindah-pindah pasangan kuda-kuda, ke manapun mereka melangkah, mata mereka mengincar ke arah Koai Atong.

Biarpun pada umumnya Koai Atong amat bodoh dan sederhana pikirannya seperti kanak-kanak, namun dalam hal ilmu silat ia telah berpengalaman banyak.

Selama mengikuti Suhunya dahulu, ia telah merantau dari dunia Barat sampai ke lautan Timur, entah sudah berapa ratus kali pertempuran ia alami.

Tentu saja melihat Bu-Tong Ngo-Heng-Tin ini, ia segera maklum bahwa ia menghadapi barisan yang amat tangguh dan berbahaya.

Sama sekali ia tidak gentar, akan tetapi tak dapat disangkal lagi bahwa ia merasa bingung juga.

la dan Kwa Hong hanya meniru gerakan-gerakan Rajawali Emas dalam menghadapi lawan seorang, belum pernah melihat bagaimana gerakan Burung sakti itu kalau menghadapi keroyokan seperti sekarang ini.

Maka sudah tentu saja ia takkan dapat mempergunakan gerakan yang ia pelajari dari Rajawali Emas dan terpaksa menggunakan kepandaiannya sendiri, terutama sekali Jing-Tok-Ciang.

"Hei, Koai Atong, apa kau takut menghadapi Ngo-Heng-Tin kami? Kalau takut, lekas berlutut dan minta ampun!"

Ejek Beng Tek Cu dan empat orang Sutenya segera pula mengeluarkan kata-kata memaki dan mengejek.

Memang inilah termasuk siasat daripada Ngo-Heng-Tin, yaitu membuat lawan marah-marah dan memancing lawan agar supaya menyerang.

Koai Atong memang seperti anak kecil.

Begitu diejek dan dimaki-maki, ia menjadi marah dan cepat ia memutar lengan kiri menyerang ke arah Beng Tek Cu.

Hebat sekali serangannya karena memang semenjak berpisah dari gurunya, ia telah memperdalam Ilmu Pukulan Jing-Tok-Ciang ini, apalagi gerakannya sudah dicampur pula dengan gerakan Rajawali!

Beng Tek Cu maklum akan kehebatan serangan ini maka cepat ia melompat mundur sambil memutar pedangnya.

Koai Atong sebaliknya kaget bukan main karena pada saat ia bergerak menyerang itu, ia mendengar desir angin dari kanan kiri dan belakang, melihat pula empat sinar menyambar dan menyerang ke arah empat bagian tubuhnya yang paling lemah!

Terpaksa ia menarik kembali serangannya terhadap Beng Tek Cu tadi dan menggunakan kegesitannya untuk mengelak dari empat serangan itu, lalu dalam kemarahannya ia menyerang seorang di antara empat Tosu itu yang terdekat.

Akan tetapi, seperti juga tadi, yang diserangnya melornpat mundur dan empat Tosu yang lain berbareng menyerangnya dengan pedang dari belakang dan kanan kiri.

Inilah kehebatan Bu-Tong Ngo-Heng-Tin.

Memang kelihaiannya baru terasa kalau lawan menyerang seorang di antara lima pelakunya.

Karena si Penyerang ini otomatis tentu membiarkan beberapa bagian tubuhnya terbuka kalau ia menyerang dan kesempatan inilah yang dipakai oleh empat orang Tosu lain untuk menyerang, sedangkan seorang Tosu yang diserang harus menjauhkan diri dan menyelamatkan diri sendiri.

Koai Atong mulai bingung dan repot sekali.

Serangannya selalu gagal.

Bagaimana tidak akan gagal kalau begitu menyerang seorang, ia dihantam oleh empat orang?

Bukan hanya gagal, malah setiap kali menyerang berarti ia terancam bahaya maut.

Ia banyak pengalaman, maka setelah beberapa kali gagal menyerang malah terdesak hebat, akhirnya Koai Atong tidak mau menyerang lagi dan berdiri saja diam menjaga diri.

Dan ternyata dugaannya benar, lima orang lawannya itupun berdiri diam menanti dia melakukan penyerangan seperti tadi!

Memang lima orang dalam bentuk barisan Bu-Tong Ngo-Heng-Tin ini mempergunakan tipu Memancing Ular Keluar dari Rumput.

Sekarang setelah Koai Atong diam saja, dengan sendirinya tipu mereka itu gagal.

Sampai lama dua pihak saling menanti agar lawan menyerang lebih dulu, akan tetapi keduanya tidak mau mengalah.

Beng Tek Cu memberi isyarat lagi dan tiba-tiba seorang Tosu yang berdiri di sebelah kiri Koai Atong menyerang dengan pedangnya, menusuk ke arah lambung bocah tua itu.

Belum sampai serangan ini sudah disusul oleh Tosu ke dua di belakangnya, lalu disusul Tosu lain dan demikianlah, dalam sekejap mata saja lima orang Tosu itu susul-menyusul dalam serangan mereka.

Koai Atong tadinya menanti datangnya serangan untuk merobohkan Si Penyerang itu, siapa kira serangan itu datangnya susul-menyusul secara otomatis dan teratur sekali sehingga kembali ia sibuk melayani semua serangan tanpa mendapat kesempatan sama sekali untuk balas menyerang!

Malah kadang-kadang penyerangan bertubi-tubi itu tiba-tiba berubah sifatnya menjadi serangan serentak berbareng, lalu bertubi-tubi lagi.

Inilah gerak tipu dalam Bu-Tong Ngo-Heng-Tin yang disebut Serangan Angin Topan.

Andaikata para Tosu itu hanya mengeroyoknya mengandalkan ilmu silat saja, kiranya tidak sukar dan tidak akan memakan waktu lama bagi Koai Atong untuk merobohkan mereka seorang demi seorang.

Akan tetapi karena mereka mempergunakan gerakan teratur dalam barisan Bu-Tong Ngo-Heng-Tin yang amat lihai, kini Koai Atong bingung sekali dan terdesak hebat.

"Curang... kalian curang... Enci Hong bantulah aku...! Tosu-Tosu bau ini curang dan lihai sekali...!"

Terdengar suara melengking tinggi, makin lama. makin dekat dan lima orang Tosu itu menanti dengan hati berdebar dan sikap waspada. Kemudian disusul suara wanita.

"Koai Atong, kau benar-benar memalukan. Melawan lima orang keledai bau ini saja kalah? Memalukan Hoa-San-Pai itu namanya!"

Dan lima orang Tosu itu kaget sekali ketika memandang ke atas mereka melihat Kwa Hong duduk di atas punggung seekor Burung Rajawali Emas, bukan seperti manusia lagi, lebih patut seorang dewi atau seorang Siluman!

Akan tetapi mereka tidak sempat memperhatikan lebih lama lagi karena tiba-tiba Burung Rajawali yang indah itu sudah menukik ke bawah, menyambar ke arah mereka.

Sepasang cakar yang kuat ditambah sebuah patuk yang menyerang mereka, disusul oleh lima sinar hijau.

Hebat bukan main serangan ini, hebat dan tidak tersangka-sangka.

Lima orang Tosu itu karena diserang sekaligus, tak sempat menyusun dan mengatur barisan, otomatis mereka bergerak sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri, ada yang mengelak jauh dari ada yang menangkis dengan pedang.

Kasihan sekali mereka yang menangkis dengan pedang, yaitu dua orang Tosu.

Pedang mereka patah dan leher mereka disambar sinar hijau.

Mereka menjerit dan roboh terguling, tewas di saat itu juga menjadi korban panah hijau di ujung cambuk Kwa Hong!

Koai Atong tertawa bergelak lalu tubuhnya yang tinggi besar itu rnenerjang maju.

Kini barisan itu sudah pecah dan buyar, maka beberapa kali serang saja Koai Atong sudah berhasil merobohkan dua orang Tosu yang lain, dipukulnya tewas dengan Jing-Tok-Ciangnya yang lihai.

Tinggal Beng Tek Cu yang sejak tadi masih sempat mengelak dan menyelamatkan diri.

Akan tetapi iapun maklum bahwa menghadapi dua orang aneh ini ia tidak berdaya.

Ilmu silat yang dimainkan Koai Atong amat dahsyat, sedangkan bantuan yang dilakukan oleh Kwa Hong di atas punggung Rajawali Emasnya lebih dahsyat lagi.

la masih mencoba untuk melakukan serangan penghabisan dengan pedangnya, diputarnya senjata ini dan dengan jurus terlihai dari Bu-Tong-Pai ia menerjang Koai Atong.

Namun enak saja Koai Atong menggerakkan kaki dan mengembangkan lengan, semua serangannya terhindar.

Dari atas Burung Rajawali menyambar dan biarpun Beng Tek Cu sudah berusaha untuk mengelak, namun tetap saja tubuhnya menjadi korban sambaran dua buah panah hijau.

la menjerit, pedangnya terlepas, tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya ia roboh dengan kedua mata melotot.

"Kurang ajar...! Inikah iblis cilik yang mengotorkan nama Hoa-San-Pai?"

Suara inipun datangnya dari atas, amat mengagetkan Kwa Hong dan Koai Atong karena terdengar parau dan menusuk telinga.

Ketika mereka menengok ke kanan kiri, tidak kelihatan seorangpun manusia.

Diam-diam Kwa Hong bergidik juga dan ia dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti datang.

Kalau ia teringat akan dongeng tentang Lembah Akhirat yang didengarnya dahulu ketika ia masih menjadi murid Hoa-San-Pai ia merasa serem.

Diperintahnya Rajawali Emas untuk turun dan hinggap di atas tanah.

Ia meloncat turun dan mendekati Koai Atong.

"Koai Atong, siapa yang bicara tadi?"

Koai Atong juga celingukan menoleh ke kanan kiri, lalu menggeleng kepalanya. Ia tidak pernah mendengar tentang cerita Hoa-San-Pai, maka ia tidak merasa takut, hanya terheran-heran.

"Jangan-jangan itu tadi suara rohnya Beng Tek Cu!"

Katanya.

Tiba-tiba terdengar lagi suara itu, kini tidak hanya keras dan parau, malah menggetarkan jantung menusuk-nusuk anak telinga, suara menggetar yang amat hebat, membuat sebelah dalam telinga Seakan-akan hendak pecah!

Inilah suara orang bernyanyi dan kata-kata yang dinyanyikanya adalah ujar-ujar dalam kitab To-tik-king.

"Orang baik adalah guru orang tidak baik, orang tidak baik adalah murid orang baik, siapa tidak menjunjung tinggi gurunya, ia akan tersesat jauh, inilah kegaiban berahasia."

Suara yang menyanyikan ujar-ujar ini demikian keras dan buruknya, amat tidak enak didengar sehingga Koai Atong dan Kwa Hong menggigil seluruh tubuh mereka, hampir tidak kuat mendengar lebih lama lagi.

Dua orang ini merasa betapa suara itu memasuki telinga dan terus menusuk ke dalam jantung, seakan-akan menyerang semua isi dada dan hendak memecahkan kepala.

Sebagai seorang ahli silat tinggi, Koai Atong kaget sekali dan cepat-cepat ia duduk bersila mengerahkan Lweekangnya untuk menahan pengaruh luar biasa dari suara nyanyian itu Kwa Hong juga maklum akan hal ini maka iapun cepat mengerahkan Lweekangnya.

Bahkan Burung Rajawali Emas, biarpun tidak terpengaruh secana mutlak, juga kelihatan gelisah dan mengeluarkan suara merintih seperti orang menangis.

Hebatnya, nyanyian dengan suara buruk itu diulang-ulang terus dan makin lama makin pucatlah muka Koai Atong dan Kwa Hong.

Bagi ahli-ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya, melakukan serangan tanpa menggerakkan anggauta tubuh bukanlah hal yang aneh.

Jangan dikira bahwa suara itu tidak akan dapat dipergunakan sebagai senjata.

Malah dapat dijadikan senjata yang lebih ampuh daripada tajamnya pedang.

Bagi seorang yang tingkat Lweekangnya sudah tinggi, yang tenaga dalamnya sudah kuat sekali, Maka di dalam suaranya dapat diisi getaran yang cukup kuat untuk merobohkan seorang pandai!

Bisa melemahkan semangat, bisa menggetarkan jantung dan menghancurkan urat-urat syaraf.

Orang yang bernyanyi-nyanyi kali ini memang agaknya sengaja hendak mempergunakan Lweekang dan Khikang dalam suaranya untuk menyerang Kwa Hong dan Koai Atong, untuk membunuh mereka tanpa menggerakkan kaki tangan.

Akan tetapi, dalam saat-saat yang amat berbahaya bagi dua orang itu, tiba-tiba terdengar suara lain dari arah yang berlawanan.

Juga suara ini adalah suara orang bernyanyi, akan tetapi suaranya nyaring dan gagah, enak didengar dan sekaligus mempunyai pengaruh melawan suara pertama yang buruk dan tidak enak tadi.

Anehnya, juga nyanyian ini adalah nyanyian yang kata-katanya diambil dari ayat-ayat To-tik-king!

"Mengenal keadaan orang lain adalah bijaksana, mengenal keadaan diri sendiri adalah waspada.

Mengalahkan orang lain adalah kuat, menaklukkan diri sendiri adalah gagah perkasa, Puas dan mengenal batas berarti kaya raya, memaksakan kehendak sendiri berarti nekat.

Tahu diri dan tahu kewajiban akan berlangsung, mati tidak tersesat berarti panjang umur."

Baru satu kali saja suara nyanyian ini terdengar, suara pertama tadi segera lenyap dan tidak terdengar lagi.

Juga Kwa Hong dan Koai Atong sudah tidak lagi tersiksa oleh pengaruh suara pertama dan keduanya sekarang sudah meloncat berdiri dengan sikap waspada dan hati-hati.

"Siapapun hendak membela si jahat, aku tidak takut! Siluman betina yang mengotorkan Hoa-San-Pai harus kubasmi!"

Baru saja terhenti kata-kata ini, tahu-tahu di depan Kwa Hong dan Koai Atong sudah berdiri seorang kakek yang tinggi kurus, rambutnya panjang awut-awutan, mukanya persis tengkorak hidup dengan sepasang mata yang berlubang dalam.

"Setan...! Ada setan...!"

Otomatis Koai Atong mundur-mundur dan bersembunyi di belakang Kwa Hong.

Kakek yang seperti tengkorak hidup itu bukan lain adalah Lian Ti Tojin, tertawa terkekeh-kekeh akan tetapi tidak memandang kepada Koai Atong, melainkan menoleh ke kanan kiri seperti mencari orang lain.

Memang dia sedang mencari orang yang tadi melawan nyanyiannya yang juga seperti dia tadi telah bernyanyi tanpa memperlihatkan diri.

"Pembela Si jahat, keluarlah saja kalau memang hendak melawan aku!"

Katanya dan tiba-tiba dari mulutnya menyembur darah segar!

la terbatuk-batuk beberapa kali dan tahulah Kwa Hong dan Koai Atong bahwa kakek ini ternyata telah menderita luka dalam yang hebat!

Bagaimanakah Lian Ti Tojin dapat menderita luka seperti itu?

Baca Juga: Suling Emas 12

Baca Juga: Si Tangan Sakti 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger