Ceritasilat Novel Online

Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap 3

Eps 3 Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo

Baca online Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo

Cersil Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo.

"Semenjak itu kami tidak mendengar akan halnya lagi. Agaknya ia telah insaf dan melupakan urusan itu, siapa nyana bahwa sampai saat ini, setelah kami semua menjadi tua, dia masih saja, menaruh dendam dan menyuruh kau datang untuk membunuh suamiku. Maka katakanlah padanya nona, jika ia hendak membalas sakit hati, suruhlah dia datang ke sini. Kami berdua suami isteri rela mati di bawah tangannya!"

Kata-kata terakhir ini diucapkan dengan air mata bercucuran. Lian Hwa menjadi terharu dan menangis pula.

"Suhu... suhu sudah mati..."

"Apa? Ah... Ong Lun, Ong Lun, sampai matipun kau masih saja mendendam..."

Nyonya Gan menangis makin sedih dan suaminya hanya menghela napas.

"Nah, Lihiap. Sekarang kau sudah mendengar semua, maka kalau masih mau membunuh padaku, silakan!"

Ia menantang dengan suara tenang. Lian Hwa menjadi malu.

"Kalau begini halnya, memang suhu yang terburu nafsu dan terlalu kow-kati (egoistis). Maafkan aku lopek, dan selamat tinggal. Aku kelak akan mohon ampun di depan arwah suhu bahwa muridnya tak dapat mentaati perintahnya."

Ia lalu mengambil pedangnya dan setelah menjura kepada kedua suami isteri itu ia bertindak keluar dari kamar.

Tak disangkanya bahwa di ruangan depan, Cin Han sedang duduk seorang diri dengan muka sedih.

Ketika melihat ia keluar, pemuda itu berdiri memandangnya.

Tapi Lian Hwa membuang muka dan pura-pura tidak melihatnya terus berjalan keluar.

"Nanti dulu, Lihiap, dengarlah dulu bicaraku."

"Kau mau apa?"

Tanya Lian Hwa ketus, tapi ia berhenti juga sambil menghadapinya tanpa memandang muka orang. Cin Han mengangkat kedua tangannya memberi hormat.

"Tadi aku telah berlaku salah terhadap Ang Lian Lihiap, wanita gagah perkasa dan budiman. Dengan jalan ini terimalah hormatku dan aku mohon maaf."

Kata-kata ini diterima salah oleh Lian Hwa dan dianggapnya menyindir.

"Apa itu Ang Lian Lihiap? Kini tidak ada lagi Ang Lian Lihiap! Ia telah dikalahkan olehmu. Apa kau masih belum puas mengalahkannya dan kini hendak memperolok-oloknya lagi? Nah, lihat. Ang Lian Lihiap sudah hancur, aku tak sudi memakai nama itu lagi!"

Sambil berkata begitu ia mencabut teratai emas bermata merah yang indah itu dari rambutnya dan membanting itu ke atas tanah.

Perhiasan itu terbanting berloncat-loncatan beberapa kali dan menggelinding ke dekat kaki Cin Han.

Cin Han hanya dapat memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tapi Lian Hwa tidak memperdulikan lagi.

Sambil memegang gagang pedangnya yang tergantung di pinggang, ia membalikkan tubuh dan berjalan dengan lenggang lemas dan lemah keluar rumah itu.

Cin Han mengejarnya, tapi melihat pemuda itu mengejar, Lian Hwa meloncat ke depan dan lari dengan pesatnya.

"Ang Lian Lihiap...! Ang Lian Lihiap...!"

Suara Cin Han mengejarnya, tapi dengan menggigit bibir Lian Hwa lari makin keras. Ketika sayup-sayup sampai panggilan Cin Han berobah menjadi "Moi-moi...! Moi-moi...!"

Tak terasa pula air matanya jatuh bercucuran, tapi ia masih memaksa kakinya untuk lari makin cepat.

Untuk mengenal pemuda tampan dan gagah perkasa ini, yang telah membuat Ang Lian Lihiap lari menangis, mari kita tinjau sejenak riwayat Cin Han yang menarik.

Sungai Yang-ce yang terkenal di daratan Tiongkok bermata air di Pegunungan Kun-lun, terletak di Propinsi Cing-hai.

Desa Liong-thou-men berada di perbatasan Propinsi Cing-hai dan Si-kang.

Desa ini walaupun berada di tanah pegunungan dan jauh dari kota, namun cukup ramai karena Sungai Yang-ce mengalir didekatnya, sehingga memudahkan penduduk kampung mengadakan perhubungan dengan kota-kota jauh dengan jalan air.

Di desa Liong-thou-men tinggal kurang lebih seratus keluarga yang meliputi limaratus jiwa lebih.

Kepala desa di situ terkenal adil dan mencinta rakyat hingga desa kecil itu selalu aman dan rukun.

Semua orang menyebut kepala desa Lo-chungcu, nama lengkapnya Lo Sun Bi.

Lo Sun Bi dan isterinya yang telah berusia empat puluh lebih hanya mempunyai seorang anak yang diberi nama Lo Cin Han, maka tak heran bila kedua suami isteri itu sangat mencinta anak tunggal mereka.

Ketika Cin Han masih berada dalam kandungan, ibunya pernah bermimpi melihat seekor burung hong terbang di angkasa, hilir-mudik beberapa kali sambil menggerak-gerakkan kepala ke bawah.

Maka setelah lahir, di samping nama aselinya, Cin Han disebut oleh ibunya Kim Hong atau Burung Hong Emas, ialah nama sebutan atau alias.

Juga oleh ibunya, seorang wanita terpelajar dari Tiongkok Timur, semenjak lahirnya, Cia Han sering dibuatkan pakaian yang disulam gambar burung hong emas.

Mungkin karena melihat gambar burung indah itu di pakaiannya, anak itu selalu minta pakaian yang bersulamkan gambar burung Hong.

Penduduk desa Liong-thou-men hidup bahagia, biarpun keadaan mereka tak dapat disebut mewah dan penghidupan mereka hanya sederhana.

Agaknya kerukunan desa yang membuat mereka merasa hidup berbahagia.

Pernah terjadi, beberapa gerombolan perampok mengganggu desa itu, tapi berkat ketangkasan Lo-chungcu dan berkat kerja sama yang sangat baik di antara semua penduduk, semua perampok dapat diusir dan dihancurkan.

Tapi benar, sebagaimana kata orang-orang-tua dahulu kala, kebahagiaan dunia tidak kekal.

Demikian pula dirasakan oleh penduduk desa Liong-thou-men.

Ketika musim chun yang indah telah lewat, tiba-tiba pada suatu sore penduduk desa itu dikejutkan oleh datangnya angin yang datang bertiup membawa suara gemuruh hebat dan banyak pohon besar ditumbangkan olehnya.

Juga sebagian besar rumah penduduk desa yang rusak dan tumbang pula menimpa penghuninya, maka tak sedikit penduduk desa menderita luka-luka karenanya.

Dan semenjak datang angin jahat itu, malapetaka datang pula, mungkin terbawa angin yang datang dari utara itu.

Malapetaka ini merupakan sebuah penyakit menular yang mengerikan.

Orang yang terserang penyakit ini, pagi sakit sore mati, dan sore sakit pagi mati.

Orang-orang bingung dan segala macam usaha desa dikerahkan, seperti bersembahyang di kelenteng dan pinggir sungai, namun hasilnya sia-sia.

Dalam dua hari saja semenjak angin jahat itu datang, lebih dari dua puluh orang tewas akibat penyakit itu.

Hujan air mata membanjiri desa dan keluh-kesah serta ratap tangis mereka yang ditinggalkan mati riuh menggema di angkasa merupakan jerit penasaran dan permintaan tolong.

Dalam keadaan hebat itu semua penduduk desa teringat akan seorang pertapa yang tinggal dalam sebuah gua di puncak bukit Kong-hwa-san, bukit yang kelihatan dari desa itu karena hanya terpisah paling banyak dua puluh lie.

Sungguhpun pertapa tua itu tak pernah mau bicara dan bergaul dengan orang, namun pernah orang aneh itu menyembuhkan A-hok penebang kayu ketika dia ini terjatuh dari atas pohon.

Pada hari pertama penyakit itu mengambil korban, Lo-chungcu sendiri dengan beberapa orang-tua mendaki bukit Kong-hwa-san untuk memohon pertolongan pertapa itu.

Tapi alangkah kecewa mereka ketika ternyata bahwa gua itu kosong.

Dan pada hari kedua, Lo-chungcu dan isterinya menjadi korban pula semenjak siang mereka tak dapat turun dari pembaringan.

Tubuh mereka panas, mulut mereka bicara tak keruan seakan-akan kemasukan roh jahat.

Cin Han menangis sedih melihat keadaan ayah-ibunya, tapi apakah yang dapat dilakukan oleh seorang anak umur enam tahun?

Tak seorangpun di antara penduduk desa itu berani memasuki kamar Lo Sun Bi, karena menurut kepercayaan mereka, penyakit itu merupakan roh-roh jahat yang memasuki tubuh orang-orang yang dipilih menjadi korban dan siapa berani datang dekat, tentu akan terpilih.

Kepercayaan mereka ini bukannya tak berdasar karena memang telah beberapa kali terbukti bahwa siapa yang mendekati seorang yang sedang sakit maka dia tentu akan menjadi korban berikutnya.

Maka, tidak heran bahwa orang-orang itu, betapapun besar cinta dan hormat mereka kepada kepala desa yang sedang sakit itu, hanya berani datang dan duduk di luar kamar saja.

Semua keperluan si sakit dilayani oleh Cin Han!

Bahkan, beberapa orang sudah berani meramalkan bahwa jika Lo-chungcu dan isterinya mati, tentu Cin Han menjadi korban berikutnya!

Biarpun baru menderita sakit setengah hari lamanya, keadaan dua suami isteri itu payah.

Pada malam harinya, napas mereka tinggal kempas-kempis dan mata mereka sudah tak dapat dibuka untuk memandang anak mereka yang duduk di situ menangis sedih, sebentar lari ke pembaringan ayah, sebentar lari ke pembaringan ibu, dan tiada hentinya mulut kecil itu memanggil-manggil.

"Ayah... ibu... ayah... ibu... bangunlah..."

Dan sepasang mata kecil yang biasanya bersinar riang gembira itu, kini redup-redup memandang ayah-ibunya bergantian dengan kelopak mata merah dan kering karena sudah habis air matanya ditangiskan sejak siang tadi.

Kemudian anak itu mengambil keputusan nekat.

Ia tahu pula bahwa kemarin ayahnya pergi ke bukit Kong-hwa-san mencari pertapa yang pandai mengobati orang, dan ia tahu pula di mana letak Kong-hwa-san karena memang bukit itu tak asing bagi penduduk di situ dan pada siang hari dapat terlihat jelas.

Maka setelah sekali lagi memanggil-manggil ayah-ibunya, ia berkata perlahan.

"Ayah... ibu... Aku pergi cari obat..."

Dan ia lari keluar.

Di luar rumah semua orang telah pulang karena pada malam hari mereka tidak berani berada di situ, walaupun hanya di luar kamar!

Melihat keadaan sunyi, Cin Han terus lari keluar.

Untung baginya, pada malam hari itu bulan bersinar terang hingga remang-remang terilhat olehnya Bukit Kong-hwa-san menjulang didepannya bagaikan hantu besar berdiri bertolak pinggang.

Ia berlari terus...

Dapat dibayangkan betapa sengsara dan sukarnya bagi seorang anak berusia enam tahun untuk mendaki bukit yang belum pernah didatangi.

Tapi ternyata anak itu memiliki semangat yang tak kunjung padam dalam membela orang-tuanya.

Ia tak perdulikan hawa dingin yang menyusup tulang, batu-batu tajam yang menembus sepatunya dan tangkai-tangkai pohon rendah melambai merobek bajunya.

Setelah berjalan terhuyung-huyung beberapa jam lamanya, ia sampai di lereng bukit dan berhenti di atas sebuah batu lebar dengan terengah-engah.

Ia berhenti karena terpaksa oleh kakinya yang mogok.

Cin Han mulai bingung karena baru insaflah ia bahwa sebenarnya ia tidak tahu sebenarnya di mana letak gua itu.

Tak disangkanya sama sekali bahwa bukit itu demikian besar dan luas.

Disangkanya imut saja dan mudah mencari gua di situ, karena dari desanya memang kelihatan kecil.

Ia berdiri bingung, kepalanya mulai pusing dan kedua kakinya gemetar.

Ia mencoba untuk menggerakkan kakinya, tapi hampir saja ia jatuh terguling, karena sesungguhnya kaki itu seakan-akan lumpuh saking lelahnya.

Di depannya terbentang jurang dalam sekali dan di bawah sekali air Sungai Yang-ce berlenggang-lenggok seperti ular putih.

Kebetulan bulan sedang terbebas dari gangguan awan, maka pemandangan sungguh mentakjubkan dan indah sekali.

Melihat ke bawah, Cin Han menjadi makin pusing.

tiba-tiba ia membelalakkan kedua matanya.

Lalu menggunakan kedua tangan menggosok-gosoknya.

Tak salahkah ia?

Ah, benar!

Memang ayah dan ibunya yang berada di sebuah perahu di bawah itu.

Ayah dan ibunya sedang mendayung perahu di sungai bawah itu.

Lihat, mereka melambai-lambaikan tangan padanya.

"Ayah...! Ibu...! Aku ikut...!!"

Dan Cin Han lari ke depan, jurang itu kelihatan dangkal dan sungai itu dekat.

Tapi, pada saat kaki kirinya telah terjeblos ke dalam jurang, lengannya terpegang oleh sebuah tangan yang kuat.

Cin Han sudah menggerakkan tubuh meloncat ke depan, maka kini tubuhnya tergantung di atas jurang.

Ia memberontak dan menggerak-gerakkan kaki tangannya seperti seekor kelinci terpegang kedua telinganya.

Mulutnya menjerit-jerit.

"Lepaskan aku...! lepaskan,...! Aku mau ikut ayah dan ibu, lepaskan...!"

Tiba-tiba tubuhnya tersentak ke atas dan tahu-tahu ia telah berada di dalam pondongan seorang-tua berjenggot panjang.

Sepasang mata yang bening dan tajam memandangnya penuh sinar iba hati.

Tapi Cin Han tetap memberontak dan meronta-ronta.

Kakek itu menggunakan jari tangannya menekan-nekan belakang leher Cin Han sehingga anak itu merasa seakan-akan kepalanya disiram air dingin dan menjadi sadar kembali.

"Tenang, anak, kau kenapakah? Apa yang menyusahkan hatimu?"

Cin Han seorang anak cerdik.

Sekali pandang saja tahulah ia bahwa kakek itu seorang yang baik hati.

Dan teringat ia akan cerita orang-orang desa yang pernah melihat pertapa di atas bukit.

Inilah orangnya!

Cepat-cepat ia menggerakkan tubuh minta turun dari pondongan dan tanpa, memperdulikan tanah basah ia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Totiang yang baik... tolonglah ayah-ibuku... tolonglah...!"

Kakek itu seorang tosu, pendeta penganut agama Tao, tersenyum sabar lalu membangunkan Cin Han.

"Pinto sudah ke sana, orang-tuamu sudah beristirahat. Kau, anak baik, ikutlah pinto saja!"

Cin Han mengangkat kepala memandang wajah yang dikelilingi rambut dan jenggot putih itu.

"Totiang, apakah ayah-ibuku sudah sembuh dari sakitnya?"

Orang-tua itu mengangguk-angguk.

"Sudah baik... sudah baik...! Kau mau menjadi. muridku?"

Bukan main besar rasa hati Cin Han mendengar akan keadaan orang-tuanya. Pasti pendeta ini yang mengobati orang-tuanya. Maka segera ia menjatuhkan diri berlutut lagi dan menyebut.

"Suhu!"

Gwat Liang Tojin tertawa senang.

Ia lalu mengangkat dan memondong tubuh anak itu dan lari bagaikan terbang ke atas bukit.

Cin Han merasakan angin dingin menyambar-nyambar dan mengiris-iris mukanya, maka hatinya menjadi ngeri.

Ia menyembunyikan mukanya di balik baju orang-tua itu.

Gwat Liang Tojin sebenarnya adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang di masa mudanya telah membuat nama besar.

Setelah berusia lanjut, ia lebih banyak mencurahkan perhatiannya tentang ilmu batin dan mempelajari ilmu Tao yang tiada batasnya.

Di samping bertapa membersihkan batin, ia akan merangkai ilmu silat dan ilmu pedang yang ia petik sebagian besar dari cabang Kun-lun, dan sebagian dari cabang Go-bi yang pernah pula ia pelajari, Ia mengambil sari pelajaran kedua cabang itu dan menggabungkannya sambil memperbaiki sana-sini.

Di hutan-hutan Gunung Kong-hwa-san terdapat semacam burung kecil yang sangat gesit dan berani.

Banyak burung-burung besar tidak berani menyerangnya.

Hal ini menarik hati Gwat Lian Tojin.

Dengan penuh perhatian ia pelajari gerakan-gerakan burung kecil warna hijau itu dan gerakan-gerakan yang gesit lincah itu mengilhaminya untuk mencipta gerakan ilmu silat.

Ternyata gerakan-gerakan ini banyak miripnya dengan gerakan ilmu silat Kun-lun, maka dengan ketenangan jiwa serta keheningan pikirannya, dapatlah ia mempersatukan gerakan-gerakan itu sehingga terciptalah ilmu silat pedang yang sangat lihai dan diberinya nama ilmu pedang Kong-hwa-kiam-sut.

Juga dari gerakan-gerakan burung itu, ia dapat memperbaiki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang memang telah tinggi tingkatnya.

Gwat Liang Tojin tidak mempunyai murid selainnya Cin Han.

Tidak heran bahwa ia menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tersayang itu.

Dan Cin Han memang seorang berbakat, hingga dalam waktu kurang lebih sepuluh tahun setelah menerima gemblengan dari suhunya, ia sudah dapat mewarisi semua pelajaran Tojin yang berilmu tinggi itu.

Selama sepuluh tahun, Gwat Liang Tojin melarang muridnya turun gunung bahkan melarang ia pergi ke desanya yang hanya terpisah dekat dari situ.

Cin Han sangat taat serta belum pernah melanggar larangan suhunya, maka pendeta itu makin sayang saja kepadanya.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Gwat Liang Tojin memanggil Cin Han menghadap.

"Muridku, kurasa sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi yang kuajarkan kepadamu. Semua pengetahuan dan kepandaianku telah kaumiliki. Dan kurasa tidak perlu pula ada rahasia yang harus kusembunyikan karena kau kini telah dewasa."

Ia berhenti sebentar dan menghela napas.

"Mohon diberi petunjuk-petunjuk, suhu,"

Kata Cin Han sambil memandang penuh hormat.

"Cin Han, tetapkan hatimu dan bersiaplah menerima pukulan pertama. Sebenarnya, ayah-ibumu sudah lama meninggal dunia."

Cin Han meloncat berdiri, memandang suhunya dengan mata terbelalak. Kalau ada kilat menyambarnya pada saat itu, takkan sekaget itu agaknya.

"Ayah... ibu... sudah mati...? Bila...? Bagaimana...? Mengapa suhu tidak memberi tahu padaku sebelumnya...?"

Pertanyaannya mengandung penasaran besar.

"Tenang, muridku!"

Kata-kata yang berpengaruh ini membuat Cin Han sadar akan keadaan dirinya.

Ia lalu duduk kembali dan mengatur napasnya, menggunakan tenaga batinnya untuk menenteramkan pikiran dan menekan dadanya yang bergelora dan napasnya yang terengah-engah.

Akhirnya dapat juga ia menguasai dirinya.

"Maaf, suhu, tapi sudilah suhu menerangkan duduknya perkara agar hati teecu yang gelap mendapat sinar terang...!"

"Begini, muridku. Dahulu ketika kau berjumpa dengan pinto di dekat jurang itu, pinto baru saja kembali dari desa Liong-thou-men. Tapi pinto tidak keburu menolong jiwa orang-tuamu. Sakitnya terlampau berat dan agaknya memang sudah takdir Yang Maha Kuasa. Pinto hanya dapat membagi-bagi obat kepada penduduk yang masih hidup untuk menjaga diri dari serangan penyakit menular itu. Pada waktu kita berjumpa, kulihat kau masih demikian kecil dan jiwamu dalam tekanan. Berbahaya kalau kuberi tahu tentang kematian orang-tuamu pada waktu itu. Pula, apa gunanya? Kau masih kecil dan masih panjang harapan, sedangkan orang-tuamu yang sudah meninggal tak perlu diganggu lagi. Pinto dengan bantuan tetangga-tetangga desa sudah mengatur jenasah ayah-ibumu dengan baik."

Cin Han berlutut sambil menangis.

Gurunya mendiamkannya saja, hanya memandang sambil menghela napas.

Ia maklum bahwa pada saat seperti itu, lebih baik kalau anak muda itu dapat menangis.

Setelah agak reda gelora kesedihan hatinya, Cin Han berkata.

"Suhu, sungguh teecu berhutang budi besar kepada suhu. Tidak berarti kiranya jika teecu hanya menghaturkan terima kasih, maka untuk membalas kebaikan suhu, teecu bersedia untuk melayani suhu seumur hidup."

Gwat Liang Tojin tersenyum lebar.

"Cin Han muridku. Lupakah kau kepada ajaranku bahwa perbuatan yang benar-benar sempurna adalah perbuatan yang dilakukan tanpa mengharap jasa? Pinto melakukan semua itu bukanlah karena pinto mengharap pembalasan budi darimu kelak. Tidak, muridku. Pinto akan merasa bahagia sekali jika kau bisa menjadi seorang manusia yang benar-benar berguna bagi orang lain, seorang yang dapat mengerahkan tenaga serta kepandaianmu untuk membantu orang lain, menjadi hamba keadilan, menentang yang jahat membela yang lemah tertindas. Sanggupkah kau?"

"Teecu akan melakukan semua yang telah teecu pelajari dan dengar dari suhu. Semua nasihat suhu akan teecu ingat selama hidup."

"Nah, bagus. Cin Han."

Gwat Liang Tojin menghela napas lagi, tapi kini helaan napas lega dan senang.

Ia lalu menyuruh muridnya memasuki gua sebelah kiri untuk mengambil sebuah peti kayu hitam.

Peti itu segera diambil oleh Cin Han dan diletakkan di hadapan gurunya.

Gwat Liang Tojin menggunakan kunci membuka peti dan mengeluarkan sebatang pedang bersarung warna biru, sebungkus surat dan sebungkus kain.

Pertama-tama Gwat Liang Tojin membuka bungkusan kain.

Cin Han melihat bahwa kain itu adalah sehelai kain sutera putih yang bersulamkan burung Hong merah di bagian dada, karena setelah dibuka ternyata sutera putih itu merupakan pakaian dalam.

"Cin Han, ini adalah peninggalan ibumu. Beliau sengaja menyulam ini dan menyimpannya untukmu setelah dewasa. Kebetulan sekali, bukan? Seakan-akan ibumu telah tahu bahwa sewaktu-waktu pasti akan meninggalkan kau."

Cin Han menggigit bibirnya untuk menahan gelora hatinya yang diguncangkan rasa haru besar. Gwat Liang Tojin membuka bungkusan kedua, ialah sesampul surat yang kertasnya sudah kekuning-kuningan.

"Dan ini adalah surat ayahmu,"

Katanya.

"Surat ini hendaknya kaubawa dan berikan kepada seorang terpelajar bernama Gan Keng Hiap yang tinggal di kota Tiong-bie-kwan. Tuan Gan ini adalah adik angkat ayahmu dan menurut kehendak ayahmu kau harus berguru dan belajar ilmu surat kepadanya. Ayahmu dalam penderitaan sakit hebat masih sempat memikirkan kepentinganmu, sungguh seorang ayah bijaksana, muridku, maka kau tak boleh tidak harus mentaati permintaannya ini."

Sekali lagi Cin Han mempertahankan hatinya agar tidak tergoncang terlalu hebat.

"Dan sekarang, aku akan memberi pukulan kedua, muridku. Yakni, hari ini juga, kau harus turun gunung dan mulai menjalankan tugasmu, pertama-tama mengunjungi makam orang-tua, lalu mengantarkan surat kepada tuan Gan dan belajar kesusasteraan seperti yang dikehendaki ayahmu."

"Setelah itu, teecu harus kembali ke sini suhu?"

Gurunya tertawa.

"Untuk apa? Kau mau jadi tua di atas gunung ini? Tidak, Cin Han masih banyak waktu kita akan berjumpa pula, tapi tak perlu kau tinggal lagi di sini. Boleh datang mengunjungiku sewaktu-waktu."

Cin Han merasa sedih harus meninggalkan gurunya, tapi sebagaimana biasanya, ia tak berani membantah.

"Dan ini boleh kau bawa, kuhadiahkan padamu. Pedang ini adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh dan tajam. Sayangnya pedang ini tidak bernama, mungkin dulu milik seorang gagah yang ingin menyembunyikan namanya. Ukiran nama pedang sudah dihapus. Maka pedang ini kuberi nama Kong-hwa-kiam, sesuai dengan tempat di mana aku menemukannya, ialah di dalam gua ini. Tunggu, akan kuberi gambar di atas sarungnya."

Gwat Liang Tojin ternyata pandai menggambar pula.

Dengan mencontoh sulaman kain peninggalan ibu Cin Han, ia melukis gambar burung hong emas di sarung pedang.

Seekor burung hong emas sedang terbang menembus awan putih di langit biru.

"Nih, Cin Han,"

Kata Gwat Lian Tojin kepada muridnya setelah ia selesai melukis.

"Melihat lukisan ibumu ini, aku teringat akan sesuatu. Bukankah katamu dulu bahwa kau diberi nama alias Kim-hong dan ibumu dulu bermimpikan burung Hong emas terbang ketika sedang mengandungmu? Ah, ini baik sekali. Mulai sekarang, kau akan menempuh hidup baru dan bertemu dengan banyak orang kang-ouw. Maka sudah sepantasnya kau mempunyai nama julukan. Pakailah nama pilihan ibumu ini, nak. Yaitu Hwee-thian Kim-hong. Burung Hong Emas Terbang di angkasa raya. Bukankah nama ini indah didengar?"

Cin Han menghaturkan terima kasih atas pemberian pedang dan nama julukan.

Ia lalu berkemas dan setelah menerima petunjuk-petunjuk penting dari suhunya tentang letaknya kota dan tempat yang harus ditujunya ia turun gunung.

Kong-hwa-kiam tergantung di pinggang, sebungkus pakaian terikat di punggung, pakaian warna biru muda dan di sebelah dalam, baju sutera putih bersulam burung Hong tampak membayang indah.

Cin Han memasuki kampung tempat kelahirannya, tapi tak seorangpun di kampung itu kenal padanya.

Langsung ia menuju ke makam orang-tuanya dan bersembahyang sambil menangis sedih.

Ia berduka sekali mengingat bahwa hidupnya kini sebatang kara setelah ia terpisah dari gurunya.

Tapi ia teringat nasihat gurunya.

"Cin Han, kau seorang laki-laki, harus berpemandangan luas dan berpikiran panjang serta berhati tabah. Hidup bukanlah penderitaan asal saja kau tahu bagaimana harus menempuh dan menjalaninya. Jangan khawatir hal-hal yang belum terjadi dan jangan mundur ketakutan menghadapi gelombang hidup yang bagaimana dahsyatpun. Berlaku tenang dan sabar. Jauhi perkelahian, jangan mengandalkan tenaga sendiri lalu menghina dan memukul orang. Ingat, kepandaian yang kaupelajari sepuluh tahun lebih di sini bukan untuk modal permusuhan, tapi untuk alat pembela keadilan."

Mengingat nasihat ini ia menjadi tabah.

Ia meninggalkan makam orang-tuanya dan mulai melakukan perantauan menuju ke kota Tiong-bie-kwan yang terletak di dataran Tiongkok sebelah timur laut.

Ia mengambil jalan air, karena cara ini yang paling mudah dan cepat.

Air Sungai Yang-ce yang makin jauh makin melebar itu mengalir dan membawa perahunya menuju ke daratan timur.

Banyak hal-hal hebat ia alami dalam perjalanan itu.

Beberapa kali ia berkenalan dengan kekejaman bajak laut yang melakukan operasi di Sungai Yang-ce di tengah hutan, tapi berkat kepandaiannya yang tinggi semua perintang dapat dihancurkannya.

Maka mulai terkenallah nama Hwee-thian Kim-hong dan mulai ditakuti oranglah Kong-hwa-kiam yang tajam.

Sebentar saja para bajak sungai di sepanjang Sungai Yang-ce mengenal nama Hwee-thian Kim-hong dan beberapa kepala bajak yang kenamaan dan terkenal kosen merasa penasaran lalu sengaja datang mencegat untuk mencoba kepandaiannya.

Pada suatu pagi perahunya sampai di sebuah kampung bajak yang terkenal dan ditakuti oleh semua pelancong dan pedagang.

Kampung itu disebut Kwan-lian-chung dan di situ terdapat dua anak sungai yang memuntahkan air dan menggabung menjadi satu dengan induk Sungai Yang-ce.

Maka ramailah keadaan di situ karena kedua anak sungai itu terkenal mengandung ikan banyak sekali.

Cin Han selalu bertukar perahu dari kampung ke kampung.

Bajak sungai yang berbareng menjadi kepala di kampung itu bernama Lie Thung dan bergelar Iblis Sungai Yang-ce.

Ia adalah seorang yang kasar tapi jujur dan sombong, dan tidak mau kalah oleh siapapun juga.

Memang kesombongannya beralasan juga karena Lie Thung adalah murid tunggal dari Koai Bong Hwesio dan telah mewarisi ilmu silat dan tombak dari cabang Kui-thong-pai.

Juga tenaganya besar sekali hingga dengan kepalan tangan kanan ia pernah memukul mampus seekor kerbau yang mengamuk!

Selain itu, iapun pandai renang dan bermain dalam air seperti seekor ikan.

Maka sudah pantaslah kalau ia diberi julukan Iblis Sungai Yang-ce.

Lie Thung sangat penasaran ketika mendengar betapa Sungai Yang-ce itu dibikin keruh dan kotor oleh nama Hwee-thian Kim-hong dengan dijatuhkannya beberapa kepala bajak di sepanjang sungai itu.

Ia segera menyuruh beberapa anggauta penyelidiknya pergi ke atas dan mencari tahu hal pemuda pengacau itu.

Alangkah girangnya ketika tak lama kemudian para penyelidiknya datang melaporkan bahwa pemuda yang dibenci itu tengah menuju ke Kwan-lian-cung!

Ketika perahu Lo Cin Han memasuki kampung Kwan-lian-chung, tiba-tiba dari depan tampak mendatangi lima buah perahu besar yang dipasang melintang.

Di atas perahu paling depan berdiri seorang tinggi besar berbaju hitam.

Cambang-bauknya hitam tebal dan matanya yang bulat dan besar memandang tajam.

Wajah itu keren dan serem sekali, seakan-akan iblis sungai yang sedang murka.

Lie Thung dengan tombak pusakanya di tangan melihat sebuah perahu kecil mendatangi dengan perlahan.

Awak perahu yang memegang galah tampak ketakutan dan mencoba bersembunyi di kamar perahu.

Tapi seorang anak muda berpakaian biru muda dengan tenang berdiri di kepala perahu sambil bersedakap.

Di pinggangnya tergantung pedang pendek.

Melihat pemuda berwajah cakap dengan tubuh kecil itu Lie Thung tidak memandang sebelah mata, namun karena sudah mendengar bahwa yang datang ini adalah Hwee-thian Kim-hong yang sudah berkali-kali menjatuhkan banyak pemimpin bajak, maka ia tidak berani melanggar aturan sungai telaga dan rimba hijau yang telah berlaku ratusan tahun.

Maka ia segera mengangkat tangan memberi hormat sambil berkata nyaring.

"Enghiong dari manakah yang sedang lewat ini? Mohon petunjuk dan penjelasan."

Baru kali ini Cin Han mendapat perlakuan yang agak hormat dari seorang kepala bajak, maka iapun segera balas memberi hormat dan menjawab.

"Siauwte yang bodoh bernama Lo Cin Han dan mohon maaf jika perahu kecilku mengganggu kepada tai-ong dan harap memberi sedikit jalan untuk lewat."

Tiba-tiba Lie Thung tertawa bergelak-gelak.

Tak dapat ia menahan tawanya setelah mendengar tutur sapa anak muda yang halus itu.

Orang macam inikah yang telah menjatuhkan beberapa orang kawannya?

Sukar untuk dipercaya!

"Eh, maaf anak muda.

Bukankah aku hendak berlaku sewenang-wenang, tapi di sini telah berlaku semacam aturan yang tak boleh dilanggar oleh siapa juga yang lewat sungai ini."

Cin Han mengerti bahwa sikap hormat kepala bajak ini hanya di luarnya saja, dan sekarang terlihatlah maksud aselinya, tapi ia masih dapat menekan perasaan dan bersabar diri.

"Tentu, tai-ong. Lain ladang lain belalang, lain tempat lain aturan, dan siauwte sebagai tamu yang datang pasti akan taat kepada semua peraturanmu. Sebutkanlah itu, dan siauwte akan mempertimbangkan."

"Begini anak muda. Yang boleh lewat di sungai ini hanya ada tiga golongan yang memenuhi salah satu syarat-syarat seperti berikut. Pertama, mereka yang memiliki keterangan atau tanda dari seorang sahabat baik kami boleh lewat tak terganggu. Kedua, mereka yang suka memberi sumbangan seribu tail perak kepada kami dapat lewat pula diiringi terima kasih kami. Ketiga mereka yang dengan perahunya dapat menembus halangan lima perahu kami tanpa terguling dari perahunya dan selain itu dapat melayani tombakku sampai tiga puluh jurus boleh lewat di sini diiringi pengawal kami sampai seratus lie. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memenuhi satu daripada tiga syarat itu."

Cin Han menengok kepada tukang perahu, seorang-tua yang kini bersembunyi ketakutan di pinggir kamar perahu, dan tersenyum berkata.

"Lo Ciang sudah dengarkah kau?"

Lalu ia berpaling menghadapi Lie Thung dan menjura.

"Tai-ong, memang syarat-syaratmu itu cukup adil. Mana siauwte berani membantahnya? Baik, mari kita pertimbangkan bersama. Syarat pertama, terang siauwte tak dapat mengadakannya, karena siauwte hidup sebatang kara tak berhandai taulan, sahabat siauwte satu-satunya adalah Lo Ciang tukang perahu ini, tapi tentu saja ia tidak cukup merupakan jaminan bukan?"

Lie Thung tertawa, demikian juga kawan-kawannya di kelima perahu bajak.

"Menyesal sekali, kami tidak kenal kepada orang-tua ini."

"Nah, sekarang syarat kedua. Seandainya siauwte mempunyai bekal uang sedemikian banyak, tentu dengan kedua tangan terbuka akan kuberikan kepada tai-ong sebagai tanda persahabatan. Tapi apa hendak dikata, jangankan seribu tail, sedangkan seperlimanya saja siauwte tidak punya. Kalau saja bukan seribu tail, barang kali siauwte masih sanggup yaitu... katakan saja... kira-kira sepuluh tail..."

"Kamu menghina?"

Lie Thung berseru marah.

"Kami bukan pengemis!"

Cin Han mengangkat pundaknya "Menyesal sekali, tai-ong, bukan maksudku untuk menghina, tapi soalnya memang siauwte tidak punya perak sebanyak itu.

Sekarang syarat ketiga.

Karena kedua syarat di muka tadi tak mungkin kulakukan, terpaksa siauwte akan coba-coba mentaati syarat ketiga."

"Bagus! Memang sudah kusangka kau pasti akan menggunakan kekerasan, mengandalkan kepandaianmu. Tapi jangan kau anggap aku selemah kawan-kawan yang telah kaukalahkan. Nah, mulailah dengan syarat pertama. Kau harus dapat menerjang kelima perahu kami dan dapat menerobos melalui kami."

Ia bersuit keras dan kelima perahunya bergerak merupakan barian memenuhi permukaan sungai dan mencegat perahu Cin Han yang kecil.

Cin Han menyuruh tukang perahunya sembunyi dalam kamar perahu dan ia sendiri dengan tangan kanan memegang galah dan tangan kiri memegang dayung segera menggerakkan perahunya maju perlahan.

Tapi perahu-perahu bajak itupun bergerak cepat dan menghadang di depannya.

Kemanapun juga dia bergerak, selalu tentu ada perahu bajak yang mencegatnya, hingga ia hanya dapat menggerakkan perahunya ke kanan kiri tak berdaya melalui hadangan itu.

Ia mencari akal dan menghentikan perahunya.

Kemudian ia menggerakkan perahunya lagi, sekarang ia menggunakan galah dan dayung, mengerahkan semua tenaganya sehingga perahunya melaju ke sebelah kiri.

Semua perahu bajakpun bergerak ke kiri dan mencegatnya, dan tiba-tiba cepat sekali Cin Han memutar haluan perahunya ke kanan.

Maksudnya hendak menggunakan kecepatan dan kekuatan tenaganya untuk berlomba dan mendahului perahu-perahu bajak menerobos kepungan.

Tapi Lie Thung bukan orang bodoh.

Ia sudah dapat menduga maksud lawan, maka ketika mengejar perahu Cin Han ke kiri tadi, yang ikut hanya tiga buah perahu, yang dua buah lagi masih menanti dan mencegat di sebelah kanan, hingga perahu Cin Han terkurung lagi.

Cin Han memutar-mutar galah bambunya di depan perahu dan dengan demikian mencoba menghalau rintangan di depan perahu, tapi usahanya ini bahkan hampir membuat ia celaka.

Lie Thung melihat ia menggunakan galah membuka jalan, segera memberi tanda dan para bajak sungai segera memutar-mutar galah mereka dan menggunakan galah itu mendorong-dorong perahu Cin Han untuk membuat perahu itu terbalik.

Cin Han terkejut sekali dan terpaksa ia memutar kembali perahunya.

Ia maklum bahwa jika para bajak itu menujukan serangan-serangan kepada perahunya, ia tentu akan kalah.

Karena sekali perahunya terbalik, ia takkan berdaya lagi.

Untuk menjaga perahunya dari serangan galah agak sukar, karena serangan itu dilakukan dari kanan kiri dan gerakannya di atas perahu tidak leluasa.

Ia duduk di perahunya dan memutar otak.

Tiba-tiba ia meloncat bangun dengan wajah girang.

Lalu dengan cepat ia mendayung perahunya ke pinggir.

Perahu-perahu bajak mengejar dengan bingung karena tak mengerti maksudnya.

Ternyata Cin Han berpikiran cerdik.

Ia maklum bahwa air di pinggir sungai dangkal sekali yang takkan mengganggu perahunya yang kecil.

Tapi perahu-perahu bajak yang besar dan berat itu tentu sukar untuk dijalankan di pinggir.

Dengan demikian maka jika ada juga serangan datang, maka serangan itu hanya datang dari satu jurusan saja yang lebih mudah untuk dijaganya.

Benar sebagaimana perhitungannya, ketika perahunya sudah sampai di tepi, perahu-perahu bajak tidak bisa mengejar terus, mereka yang berada di atas perahu bajak hanya berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata dengan marah.

Cin Han tertawa geli dan dengan gembira ia mendayung perahunya menurut aliran air Sungai Yan-ce, tak memperdulikan teriakan-teriakan kaum bajak.

Tapi kembali ia terkejut.

Ternyata Lie Thung tak mau menyerah kalah demikian saja.

Kepala bajak yang cerdik ini segera memerintah perahu-perahunya untuk bergerak mengejar di tengah sungai.

Dan Cin Han tahu akan maksudnya.

Tidak semua pinggir sungai dangkal.

Jalan satu-satunya hanya membalap secepat mungkin untuk mendahului perahu-perahu itu.

Maka berlombalah mereka.

Setelah berlomba beberapa lama, Cin Han maklum bahwa ia takkan menang.

Ombak yang diterbitkan oleh perahu-perahu di tengah itu lari ke pinggir dan menghambat kelajuan perahunya.

Ia takkan menang kalau perahu-perahu bajak itu tidak ditahan majunya.

Memang Cin Han berhati tabah dan juga otaknya cerdas sekali.

Diam-diam ia memesan kepada Lo Ciang untuk mendayung perahu secepat mungkin setelah ia beraksi nanti.

Lalu ia menggerakkan perahunya mendekati perahu yang bergerak paling depan.

Setelah perahu terpisah beberapa tombak jauhnya, Cin Han menggerakkan tubuhnya meloncat ke atas perahu bajak.

Dengan teriakan-teriakan riuh rendah bajak-bajak itu menyerangnya.

Tapi Cin Han hanya berkelit dan berloncat-loncatan ke sana ke mari di atas perahu sehingga keadaan di atas perahu menjadi kacau.

Dari perahu itu Cin Han meloncat lagi ke perahu lain sehingga sebentar saja anak buah kelima perahu itu memusatkan perhatian mereka kepada Cin Han yang sedang mengamuk dan mengacau.

Dengan demikian maka Lo Ciang dengan aman dan senang dapat mendayung perahunya melewati kepungan tanpa terlihat oleh seorang bajakpun.

Lie Thung melihat Cin Han mengacau, dengan marah meloncat ke perahu di mana Cin Han berada dan tombaknya siap di tangannya.

Tapi Cin Han tiba-tiba beseru keras.

"Tai-ong, kau sudah kalah. Lihat itu perahuku sudah dapat keluar dari kepunganmu!"

Lie Thung terkejut dan semua bajak memandang. Baru sadar mereka bahwa perahu kecil yang dikejar-kejar itu telah lolos.

"Hm, kau cerdik, anak muda. Tapi aku belum kalah karena kau masih berada di sini, baru kau dapat disebut memenuhi syarat pertama."

"Oh, begitukah?"

Mata Cin Han mengerling ke sekelilingnya, ternyata ia telah dikepung oleh puluhan bajak laut bersenjata lengkap.

Tiba-tiba ia meloncat menerjang dan dua orang bajak yang mengangkat golok menghadangnya dapat dibikin terpelanting.

"Maaf dan selamat tinggal, Tai-ong!"

Kata Cin Han yang menyambar sebuah meja kayu.

Dengan sekali tekan, meja itu pecah berantakan merupakan beberapa keping papan.

Kemudian ia lari ke pinggir perahu, melemparkan sepotong papan ke air, diikuti oleh tubuhnya yang melayang ke bawah.

Anak muda itu mempergunakan ilmu ginkangnya yang terlatih sempurna, ia menggunakan ujung kakinya menotol papan yang tadi dilemparkan dan kini terapung di atas air hingga tubuhnya kembali melayang ke atas.

Sebelum tubuhnya turun, ia melemparkan potongan papan kedua jauh di depan, diikuti tubuhnya berkelebat cepat, turunnya di atas papan kedua itu, lalu meloncat naik ke atas.

Demikian, dengan gerakan dan loncatan Capung Bermain di Air ia berhasil meloncat ke atas perahunya sendiri dengan selamat.

Semua bajak melihat hal ini dengan mata terbelalak.

Setelah Cin Han tiba di perahunya sendiri, terdengar sorakan kawanan bajak menyatakan kagumnya.

Lo Ciang terheran-heran melihat penumpangnya sudah kembali ke perahu, tapi ia tak banyak cakap, hanya terus mendayung sekuat tenaga.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang.

Cin Han dan Lo Ciang menengok, ternyata dari perahu-perahu bajak itu diturunkan sebuah sampan yang didayung oleh seorang dan sedang mengejar mereka.

Ternyata pengejar itu bukan lain adalah Lie Thung sendiri.

Cin Han kagum juga melihat tenaga kepala bajak itu yang mendayung perahu kecil dengan cepat hingga sebentar saja sudah dekat dengan perahunya.

Tapi Cin Han tak mau mengalah, iapun menggunakan tenaganya mendayung hingga perahunya melaju cepat.

Betapapun juga, perahu bajak itu lebih cepat karena bentuknya yang runcing dan dayungnya yang lebih sempurna.

Mendadak Lie Thung berseru keras.

"Awas panah!"

Cin Han kaget dan berpaling.

Ternyata kepala bajak itu melepaskan anak panah yang berekor panjang sekali bagaikan ular menyambar.

Anak panah itu tepat menancap di badan perahunya dan Cin Han merasa betapa perahunya agak tergoncang.

Ketika ia memperhatikan, ternyata anak panah itu diikat dengan tambang yang kuat, hingga kini perahunya seakan-akan tertangkap oleh Lie Thung yang memegang tambang itu dengan, tertawa bergelak-gelak.

"Ha-ha! Kau hendak lari ke mana, anak muda? Kau baru lulus dalam ujian pertama, yang kedua belum kaulaksanakan."

Cin Han merasa kagum dan juga gemas.

"Tai-ong, bukan maksudku hendak kabur karena takut padamu. Sebenarnya aku tidak suka mengadu tenaga dengan kau yang pasti akan memperbesar rasa permusuhan darimu saja. Sedangkan kita sama sekali tak pernah bermusuhan. Tapi, karena kau memaksa, apa boleh buat, mari kita mendarat."

"Bagus, itu baru suara laki-laki,"

Kata Lie Thung yang lalu mengikatkan tambang itu ke perahunya dengan kuat didayungnya perahu ke pinggir, sehingga perahu Cin Han terbawa pula.

Cin Han membiarkan saja perahunya ditarik seperti kerbau ditarik hidungnya.

Dengan tindakan lebar Cin Han ikut Lie Thung menuju ke markasnya, di mana telah menanti ber puluh-puluh orang bajak yang menyambut mereka dengan sorak ramai sebagai pujian kepada Lie Thung yang dianggap telah dapat menangkap Hwee-thian Kim-hong.

Di tengah-tengah halaman yang lebar di mana mereka berkumpul, telah didirikan sebuah panggung segi empat yang tingginya kurang lebih satu tombak.

Panggung ini memang khusus didirikan untuk tempat mengadu silat dan latihan.

Lie Thung meloncat ke atas panggung dengan gerakan gesit dan ringan.

Cin Han kagum melihat gerakan Katak Meloncat Keluar Empang yang cukup sempurna itu.

Iapun tidak mau kalah dan mendemonstrasikan kegesitannya meloncat ke atas panggung dengan gerakan Naga Sakti Menembus Awan.

"Nah, Tai-ong, harap jangan membuang waktu lebih lama, karena perjalananku masih jauh. Dengan cara bagaimana aku harus memenuhi syarat kedua ini?"

"Aturan lama takkan kurobah, tidak ditambah tidak dikurangi,"

Jawab Lie Thung.

"Asalkan kau dapat melayani permainan tombakku selama tiga puluh jurus, maka berarti kau menang."

Cin Han tersenyum dan memandang tombak pusaka dari lawannya yang sudah siap di tangan.

Tombak itu agak pendek daripada tombak biasa, ujungnya tidak runcing agak besar membulat dan mata tombak sampai ke tangkai seluruhnya terbuat daripada logam hitam kehijau-hijauan dan tampaknya berat.

"Aku sudah siap, nah mulailah dengan seranganmu, Tai-ong."

"Bukan maksud peraturan itu untuk menghadapi tombakku dengan tangan kosong. Keluarkan senjatamu, anak muda."

"Tak perlu, Tai-ong. Kita bukan hendak mengadu nyawa, tapi hanya untuk bermain-main saja, bukan? Asal aku dapat melayanimu tiga puluh jurus, beres, bukan? Nah, seranglah."

"Hm, jangan menyesal kalau tombakku tak bermata."

"Tombakmu boleh tak bermata, tapi aku mempunyai dua mata yang cukup awas kiraku."

Lie Thung berkata marah.

"Kau cari mampus sendiri!"

Dengan gerakan hebat ia maju menusuk dengan tombaknya. Ujung tombak itu menyambar dan Cin Han melihat betapa ujung tombak itu meluncur dengan gerakan terputar ke arah dadanya.

"Jurus pertama!"

Ia berseru dan mengelakkan tusukan itu dengan cepat.

Lie Thung melihat tusukannya dikelit demikian mudah, meneruskan serangan tombaknya dengan memutar tangkai tombak dan menggunakan gagangnya menghantam ke arah kepala lawan dengan gerakan Raja Monyet Ayun Toya ialah menggerakkan ilmu silat toya yang lihai.

Baiknya Cin Han mengenal gerakan ini, maka ia tidak mau berlaku gugup, dan berkelit sedikit sambil berlaku waspada.

Benar seperti dugaannya, pukulan itu hanya gertakan belaka, karena tiba-tiba tombak terputar lagi dan kini ujungnya yang tumpul dengan gerakan memutar dari kiri menyambar ke arah lambungnya.

Serangan ini tak mudah dikelit, maka sambil berseru.

"Aya!"

Cin Han menggunakan tenaga ginkangnya menjejakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya meloncat ke atas secepat kilat.

Namun ujung tombak demikian cepat datangnya sehingga ia merasakan angin serangan tombak telah meniup ke arah kakinya!

Ia tidak sempat berkelit lagi, maka dengan berani sekali ia menggunakan ujung kakinya menotol ke arah leher tombak dan meminjam tenaga serangan lawan ia meloncat ke atas dan berpok-sai (berjumpalitan) di udara.

Kemudian, ketika tubuhnya menyambar turun dengan kaki di atas kepala di bawah, ia membuka lengannya lalu membikin gerakan menyerang dengan kedua lengan ke arah tubuh Lie Thung.

Kepala bajak menjadi terkejut melihat gerakan Cin Han yang aneh itu dan cepat-cepat ia menangkis dengan tombaknya.

Tapi anak muda itu sebenarnya hanya menggertak saja agar lawannya tak sempat menyerang lagi, maka ketika Lie Thung membuat gerakan menangkis, ia segera meloncat turun agak jauh dan berkata sambil tertawa.

"Sudah berapa juruskah aku dapat melayanimu tadi, Tai-ong?"

Lie Thung tak menjawab, hanya berseru marah.

"Lihat tombak!"

Lalu ia maju sambil memainkan Ilmu Tombak Delapan Dewa yang sangat diandalkan, karena jarang ada orang yang dapat melawan ilmu tombak ini.

Apalagi kalau lawannya itu bertangan kosong.

Di dalam ilmu tombak ini terdapat gerakan-gerakan yang tak tersangka-sangka dan banyak sekali perobahannya, kedua ujung tombak menyerang berganti-ganti.

Namun dengan enak saja Cin Han dapat menghindarkan tiap serangan.

Tubuhnya berkelebat kian ke mari, menyusup di antara ratusan bayangan ujung tombak bagaikan seekor kupu-kupu bermain-main di antara kembang-kembang mawar.

Para anggauta bajak dengan kagum melihat jalannya pertempuran, dan tak terasa mengeluarkan lidah karena kagum ketika mereka melihat betapa anak muda itu mempermainkan kepala bajak yang mereka segani.

Tubuh pemuda itu tak tampak lagi, hanya bayangan biru berkelebatan cepat sekali.

Setelah menghitung bahwa serangan dari Lie Thung kepadanya sudah lebih dari tiga puluh jurus, maka Cin Han meloncat ke belakang dan berseru.

"Tahan!!"

Lie Thung berdiri memandangnya dengan muka merah.

"Apa apa?"

Tanyanya marah.

"Tai-ong, syaratmu tadi mengatakan bahwa aku harus melayanimu selama tiga puluh jurus. Tapi seranganmu tadi sudah lebih dari empat puluh jurus, mengapa kau masih saja menyerang?"

Lie Thung tak menjawab hanya membentak.

"Jangan banyak mulut! Terima serangan maut ini!"

Dan ia maju pula mendesak dengan tombaknya. Cin Han merasa penasaran sekali. Ternyata kepala bajak ini berwatak tak mau kalah dan harus diberi sedikit hajaran. Dengan seruan.

"Baik kalau begitu!"

Ia mencabut Kong-hwa-kiam dan balas menyerang.

Sebetulnya ia masih cukup kuat untuk melawan dengan tangan kosong saja, tapi karena permainan tombak Lie Thung juga lihai, rasanya akan sukar baginya untuk menjatuhkannya cepat-cepat.

Melihat permainan pedang lawannya demikian aneh dan cepat, Lie Thung merasa bingung dan sebentar saja ia terdesak mundur.

Dengan nekat ia menusukkan tombaknya ke arah dada lawan dengan tipu Giok-tai-wie-yauw atau Ang-kin Kumala Melibat Pinggang.

Jurus ini hebat sekali, tapi Cin Han dengan lincahnya meloncat ke samping dan dari samping membabatkan pedangnya ke arah tangan kanan lawan dan berbareng mengirim tendangan ke lambung yang tak terjaga.

Karena serangan balasan ini tak terduga dan cepat sekali, Lie Thung berseru kaget dan untuk menolong tangannya terpaksa melepaskan tombaknya dan untuk menghindarkan diri dari tendangan Cin Han, terpaksa pula menggunakan gerakan Keledai Berguling dan tubuhnya dijatuhkan terus bergulingan menjauhkan diri.

Untung baginya Cin Han tidak mengejarnya, maka ia berdiri degan wajah merah.

"Sungguh nama Hwee-thian Kim-hong bukan nama kosong belaka. Aku mengaku kalah."

Cin Han tergesa-gesa membalas dan memberi hormat.

"Tai-ong sudah berlaku murah dan mengalah. Sekarang siauwte mohon diberi kebebasan dan melanjutkan perjalanan."

Lie Thung mengerutkan alisnya.

"Perjalanan dari sini ke timur tidak mudah. Kau tentu akan banyak mendapat gangguan, maka biarlah beberapa orangku mengantarmu sampai di tempat tujuan."

"Ah, terima kasih atas kebaikanmu, tapi tak usah merepotkan, karena siauwte memang sengaja berpesiar menambah pengalaman. Adapun tentang gangguan, bagaimana nanti saja, kuserahkan nasib kepada Yang Maha Kuasa."

Lie Thung kurang senang mendengar ucapan ini. Ia menganggap anak muda ini terlampau menyombongkan diri.

"Kalau begitu biarlah kaubawa kartu namaku, karena semua kawan di sepanjang Sungai Yang-ce sudah kenal padaku dan tentu mereka dengan memandang mukaku takkan mau mengganggumu lagi."

Namun Cin Han adalah seorang pemuda yang baru saja turun dari tempat penggemblengan.

Tubuhnya kuat hatinya tabah, pula ia merasa rendah kalau harus menggunakan nama orang lain untuk menyelamatkan diri.

Maka dengan halus ia menampik pula.

Sungguhpun merasa penasaran, namun Lie Thung diam saja, hanya berkata.

"Selamat jalan."

Tapi Lo Ciang yang berada di situ dan mendengar akan usul baik yang ditolak Cin Han diam-diam mendekati Lie Thung dan mohon diberi sebuah kartu nama.

"Biarpun Kongcu ini tidak membutuhkan kartu nama, tapi aku yang tua dan lemah ini memerlukan sekali untuk dipakai sebagai jimat pelindung."

Dan Lie Thung dengan tertawa memberinya sehelai.

Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu, perahu Lo Ciang yang terpanah itu segera diganti oleh Lie Thung dengan sebuah perahu kecil yang masih baru.

Tentu saja Lo Ciang girang bukan kepalang dan berkali-kali menyatakan terima kasih sambil terheran-heran.

"Selama hidup baru kali ini bertemu dengan kaum sungai telaga yang baik hati, bukannya merampok bahkan memberi hadiah."

Kemudian ternyata bahwa kartu nama Lie Thung benar-benar merupakan bintang pelindung dan karena Lo Ciang selalu memperlihatkan kartu itu kepada setiap pengganggu, Cin Han menjadi terlepas dari gangguan bajak.

Diam-diam ia mengakui kebenaran Lo Ciang yang sudah minta kartu nama itu.

Kalau tidak ada kartu nama Lie Thung, tentu ia mengalami banyak pertempuran yang hanya akan memperlambat perjalanannya.

Demikianlah setelah berganti-ganti perahu dan berlayar hampir tiga bulan, akhirnya sampai juga ia di kota Tiong-bie-kwan.

Dengan mudah ia dapat mencari Gan Keng Hiap dan menyerahkan surat peninggalan ayahnya.

Gan Keng Hiap dan isterinya merasa terharu sekali dan ikut menangis ketika mendengar akan kematian Lo Sun Bi dan isterinya.

Kemudian ia berkata dengan suara ramah dan halus.

"Hiante, biarlah yang sudah pulang ke alam asal tak perlu disedihkan lagi. Kau tinggallah saja di sini, kami juga tidak punya anak, maka bolehlah kauanggap aku dan isteriku ini sebagai pengganti orang-tuamu. Dan sebagaimana pesan ayahmu, kau rajin-rajinlah belajar ilmu surat di sini."

Lo Cin Han merasa terharu sekali.

Dalam pertemuan pertama saja ia sudah merasa suka sekali kepada orang-tua dengan isterinya yang kedua-duanya ramah tamah dan halus tutur sapanya itu.

Tanpa ragu-ragu lagi ia menjatuhkan diri berlutut dengan terharu.

Gak Keng Hiap adalah seorang sasterawan yang pandai dan isterinya juga puteri seorang bangsawan yang pandai akan ilmu surat dan kerajinan tangan.

Mereka merupakan pasangan yang setimpal dan cocok sekali, hanya sayang sekali mereka tidak mempunyai keturunan.

Nyonya Gan Keng Hiap biarpun sudah berusia kurang lebih lima puluh tahun, namun wajahnya dan tubuhnya masih membayangkan bekas seorang wanita yang sangat cantik dan terpelajar.

Cin Han merasa heran melihat bibinya ini sering termenung seakan-akan merasa khawatir dan sedih.

Waktu berjalan sangat pesat dan tak terasa pula ia sudah tinggal di rumah pamannya setahun lebih.

Dengan rajin ia belajar menulis dan membaca, tapi tak pernah alpa pula ia melatih ilmu silat seorang diri pada waktu-waktu tertentu.

Pada suatu senja ketika ia sedang berlatih ilmu silatnya, tiba-tiba terdengar suara orang memuji dengan girang.

"Ah, bagus sekali kau tidak melupakan pelajaran silatmu."

Cin Han cepat berpaling dan alangkah gembiranya setelah ia melihat siapa orangnya yang berbicara itu. Segera ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata girang.

"Suhu!"

Gwat Liang Tojin membangunkan muridnya dan memegang pundak muridnya yang tersayang itu sesaat lamanya.

Kemudian ia mengelus-elus jenggotnya yang putih panjang sambil mengangguk-angguk dan memandang pakaian Cin Han.

Pemuda itu diam-diam mengerling ke arah pakaiannya dan ia maklum bahwa pakaian itu menarik perhatian suhunya, karena sudah lama sejak ia ikut pamannya mempelajari ilmu surat, ia berpakaian sebagai seorang pelajar pula.

Lenyap sifat-sifat dan kegagahan seorang ahli silat dari pakaiannya yang menunjukkan keahliannya sebagai seorang sasterawan.

"Bagus, muridku. Bagus, memang inilah yang terbaik. Makin rapat kau sembunyikan kepandaian silatmu, makin baik. Ha, ha."

"Suhu, teecu girang sekali suhu datang. Marilah kuantar menemui pamanku!"

Gwat Liang Tojin mengangkat tangan kanannya dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tak usah, tak usah, aku tak mau membikin repot. Sebenarnya, kedatanganku ini kebetulan saja, Cin Han. Dalam perantauanku, aku kebetulan lewat tempat ini dan pula ada sesuatu yang agak penting juga."

"Teecu sebenarnya sudah sangat rindu kepada suhu."

"Ha, anak baik. Baru juga setahun lebih,"

Kata pendeta itu sedangkan di dalam hati ia girang sekali mendengar pernyataan muridnya itu dan diam-diam iapun mengakui betapa rindunya kepada murid yang sangat disayangnya itu.

Tapi tiba-tiba wajahnya menunjukkan kesungguh-sungguhan.

"Muridku, dalam beberapa hari ini kau harus berhati-hati. Pamanmu mungkin dalam bahaya."

Cin Han terkejut.

"Gan siok-hu dalam bahaya? Apa maksudmu, suhu?"

"Kedatanganku sebetulnya juga ada hubungannya dengan hal ini, dan baiklah jangan kau menanyakan sesuatu. Jika bahaya ini sudah lewat, kau tentu akan mendengar sendiri pokok persoalannya dari paman dan bibimu. Tapi jangan kau cemas, Han, aku takkan berada jauh dari sini dan akan selalu mengawasi dan menjaga."

Cin Han tak berani mendesak, tapi bagaimanapun juga, hatinya sangat bingung penuh rasa khawatir. Tiba-tiba dari dalam rumah tampak orang menuju ke halaman belakang di mana mereka berada.

"Sampai jumpa lagi, muridku,"

Kata Gwat Liang Tojin dan sekali berkelebat lenyaplah tubuhnya di balik pagar.

Diam-diam Cin Han mengagumi gerakan gurunya yang sungguhpun sudah lanjut usianya namun masih gesit dan cepat sekali.

Ternyata yang datang adalah pamannya, Gan Keng Hiap.

Mereka bercakap-cakap seperti biasa, dan dengan suara yang seakan-akan tak disengaja, Cin Han membelokkan percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan apakah pamannya itu mempunyai musuh di luaran.

"Musuh? Ah, dari mana kau mendapat pikiran aneh ini, anakku? Aku seorang lemah dan tak pernah berselisih dengan orang lain, pula aku tidak berani berkelahi. Siapa yang memusuhi orang seperti aku?"

Semenjak saat itu Cin Han berlaku hati-hati sekali menjaga rumah pamannya, tapi malam hari itu tidak terjadi sesuatu.

Pada malam hari kedua, pada kurang lebih jam sepuluh dan ia sedang duduk bersamadhi sambil berjaga, telinganya mendengar suara kaki menginjak genteng rumah.

Ia kaget sekali karena suara itu demikian perlahan yang menunjukkan betapa tingginya ilmu meringankan tubuh tamu malam itu.

Dengan tenang Cin Han memadamkan lampu dan mencabut pedang Kong-hwa-kiam yang selama ini disembunyikan saja dalam bungkusan pakaiannya, kemudian ia meloncat keluar jendela terus (Lanjut ke

Jilid 07) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo

Jilid 07 mengayun tubuh ke atas genteng. Sebelum ia dapat melihat di mana adanya tamu malam itu, tiba-tiba ia merasakan angin pukulan datang dari samping dibarengi bentakan perlahan.

"Jangan kau ikut-ikut dan merintangi maksudku, pergilah!"

Tapi Cin Han berlaku sebat.

Dengan miringkan tubuh ia dapat mengelakkan sampokan tangan orang itu dan ia barengi meloncat ke belakang untuk memperhatikan lawannya.

Ia kaget dan heran sekali.

Yang berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki setengah tua yang beroman muka mengerikan.

Orang itu mukanya penuh cambang bauk dan rambutnya yang panjang terurai tak terurus sama sekali, sedangkan tubuhnya mengenakan baju dan celana pendek dari kulit harimau, kakinya tak bersepatu, ia lebih menyerupai orang hutan yang masih liar.

"Hei, siapakah kau dan apa maksudmu malam-malam datang mengganggu?"

"Ha, ha, anak muda. Kau dapat menangkis doronganku, terhitung orang pandai juga. Sayang usiamu yang muda, pergilah jangan merintangi maksudku. Kau jangan ikut-ikut, jangan turut campur."

Suara orang itu parau dan menyeramkan.

"Enak saja kau berbicara, kawan,"

Kata Cin Han dengan berani.

"Aku termasuk penghuni rumah ini dan kau datang hendak mengganggu keamanan rumahku, dan kaukatakan aku tak boleh ikut campur? Mana ada aturan macam ini? Hayo mengaku saja, siapa kau dan apa maksudmu datang malam-malam ini? Kalau kau tidak mengaku, jangan mengatakan aku keterlaluan kalau pedangku tak mengenal ampun."

Sepasang mata orang itu memandangnya.

Karena bulan bercahaya suram-suram maka Cin Han tidak dapat melihat dengan jelas, hanya tampak seakan-akan dari sepasang mata itu mengeluarkan cahaya.

Ia tidak tahu bahwa orang itu memandangnya dengan kagum.

"Kau anak kecil tahu apa? Jangan turut campur!"

Sambil berkata demikian orang itu menggerakkan tubuhnya meloncat ke bawah tanpa memperdulikan lagi kepada Cin Han.

Pemuda itu penasaran dan marah sekali, ia mengayunkan pedangnya dan melompat mengejar lalu mengirim sebuah tusukan sambil berteriak.

"Awas pedang!"

Orang itu berkelit cepat dan berteriak kaget ketika pedang Cin Han menyerempet pundaknya dan hampir saja melukainya. Ia tidak menyangka pemuda itu demikian lihai.

"Tahan!"

Serunya marah.

"Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Gan Keng Hiap?"

Cin Han tersenyum mengejek.

"Kau mau tahu sekarang? Dengar baik-baik, Gan Keng Hiap adalah pamanku, dan aku menjadi pelindungnya!"

"O, begitu? Ha, ha! Kau sombong, anak muda, sungguhpun kuakui bahwa ilmu pedangmu tidak jelek. Mari-mari, majulah, mari kita main-main sebentar, takkan terlambat bagiku untuk mengambil nyawa orang she Gan itu sebentar lagi."

Mendengar kata-kata ini Cin Han menjadi marah sekali.

"Mudah saja, lebih dulu aku akan mengambil kepalamu!"

Maka iapun menyerang dengan hebat. Pedang Kong-hwa-kiam diputar cepat mengeluarkan sinar berkilauan dan mengeluarkan angin dingin.

"Bagus juga kiam-hwatmu!"

Orang aneh itu berkelit dan ia makin kagum saja melihat permainan pedang pemuda itu.

Biarpun Kong-hwa-kiam-sut yang dimainkan Cin Han sangat luar biasa dan gerak-geriknya cepat melebihi burung kepinis, namun ternyata orang aneh itu lebih hebat lagi gerakan-gerakannya.

Ia berkelit ke sana ke mari, menerobos di antara sinar pedang yang mengurungnya, dan kadang-kadang membalas menyerang dengan pukulan atau tendangan berbahaya.

Cin Han mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, tapi setelah bertempur seratus jurus, ia mulai terdesak.

Ia kalah ulet dan kalah tenaga.

Pada saat ia terdesak sekali menghadapi tendangan beruntun dari orang aneh itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras.

"Ong Lun, kau orang tak tahu diri!!"

Dan tampak bayangan putih berkelebat di depan Cin Han untuk menahan serbuan orang aneh itu.

Cin Han meloncat mundur dengan hati girang karena yang datang itu bukan lain ialah Gwat Liang Tojin, gurunya.

"Ha, ha, ha! Aku tadi sudah merasa curiga terhadap anak muda ini. Memang ilmu pedangnya mengingatkan daku akan engkau orang-tua,"

Tamu malam yang aneh itu tertawa bergelak-gelak. Gwat Liang Tojin menudingnya dan berkata dengan suara tetap.

"Ong Lun! Kau tahu betapa besar rasa sayangku kepadamu. Kau sudah kuanggap adik kandungku sendiri, bahkan kita sudah saling bersumpah untuk bersetia kawan. Tapi kau yang selalu kukagumi, ternyata tak lain hanya seorang lemah, seorang pengecut."

"Gwat Liang suheng, mengapa kau begitu marah? Mungkin sutemu ini seorang lemah, ini kuakui, tapi mengapa kau menyebutku pengecut?"

"Bukankah itu disebut lemah dan rendah bila seorang hohan menjadi mata gelap hanya karena wanita? Dan bukankah pengecut sekali bila seorang gagah berilmu tinggi memusuhi seorang sasterawan lemah tak berdosa hanya karena seorang perempuan? Ah, Ong Lun, Ong Lun... kau harus malu!"

"Sasterawan lemah? Tak berdosa? Suheng, kau belum tahu duduknya perkara. Orang she Gan itulah yang pantas disebut orang tak tahu malu. Ia menggunakan wajah tampan dan kedudukan sebagai seorang sasterawan untuk memikat hati wanita yang kucinta. Aku sudah menderita dan menahan gelora hatiku untuk puluhan tahun, tapi hatiku makin menderita, suheng. Kalau aku belum mengirim orang she Gan itu ke neraka, hidupku akan makin tersiksa saja."

"Betulkah kata-katamu ini?"

Suara Gwat Liang membayangkan keragu-raguan.

"Tentu saja betul..."

"Bohong!"

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah. Ternyata yang berteriak itu adalah nyonya Gan Keng Hiap yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka di atas genteng yang diucapkan dengan keras.

"Itu bohong belaka! Belum pernah aku mencinta kepada Sian-kiam Koai-jin Ong Lun. Memang aku kagum dan berhutang budi padanya, tapi aku tak pernah cinta padanya. Aku kawin dengan Gan Keng Hiap karena akupun cinta padanya, bukan karena pikatan. Ah, Ong-Taihiap, kenapa kau jadi begitu? Rambut kita sudah putih, tapi masih jugakah kau mendendam? Kalau kau mau bunuh suamiku, bunuhlah aku lebih dulu!"

Kemudian nyonya Gan Keng Hiap berlutut di atas lantai sambil menangis sedih.

Wajah Ong Lun Sian-koam Koai-jin yang tadinya tegang dan keras, kini tiba-tiba melunak dan ia menghela napas berulang-ulang.

"Ong Lun Taihiap, aku Gan Keng Hiap ada di sini, kalau Taihiap masih penasaran, inilah aku, bunuhlah kalau itu kehendakmu!"

Terdengar suara Gan Keng Hiap berteriak-teriak pula dari bawah.

Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa menggunakan sepasang matanya yang tajam itu mengerling ke sana ke mari bagaikan seekor harimau yang terkurung.

Lalu tiba-tiba ia tertawa keras, tapi suara tawanya itu seakan-akan menggemakan suara tangis yang keluar dari hati sanubarinya.

"Ha, ha, ha, ha!!! Memang aku orang rendah tiada guna. Memang aku manusia menanti ajal. Orang tak tahu diri, tak tahu malu. Pantas saja semua orang membenci. Wanita yang kutolong dan kucinta membalas membenci. Suheng yang seperti kakak sendiri juga membenci. Sudah sepatutnya, sudah sepatutnya! Biarlah, Gan Keng Hiap, kalau di dunia ini aku tak dapat menuntut balas, nanti di akhirat tentu aku akan mencari padamu!"

Kemudian orang aneh itu segera berkelebat pergi secepat kilat.

"Ong Lun sute, tunggu!!"

Panggilan Gwat Liang Tojin penuh suara iba. Tapi bayangan yang sudah jauh itu hanya menjawab.

"Maaf, suheng!"

Dan malam kembali sunyi senyap, hanya terdengar isak tangis nyonya Gan Keng Hiap di bawah genteng.

"Nah, tugasku selesai, muridku. Sekarang aku hendak pergi."

"Tapi suhu, siapakah orang gagah tadi? Ilmu silatnya tinggi dan hebat, dan mengapa ia memusuhi siok-hu?"

Tanya Cin Han yang masih berdebar dan bingung menghadapi peristiwa yang baru terjadi.

"Dia adalah Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, orang gagah perkasa yang jarang ada tandingannya. Ia telah mengangkat saudara dengan aku dan kami pernah sama-sama mempelajari ilmu silat tinggi. Tapi ia berwatak ku-koai (aneh) dan suka membawa mau sendiri. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang baik dan berhati emas serta luhur budinya. Tentang urusannya dengan siok-humu itu, aku tak tahu jelas, lebih baik kau tanya saja kepada mereka yang bersangkutan. Nah, sekarang aku pergi muridku. Jaga dirimu baik-baik."

"Terima kasih, suhu, selamat jalan."

Gwat Liang Tojin mengebutkan lengan bajunya dan tubuhnya berkelebat di malam gelap.

Malam itu Cin Han tidak mau mengganggu paman dan bibinya yang masih tenggelam dalam kesedihan dan keharuan, tapi pada keesokan harinya, terpaksa ia membuka rahasia bahwa yang datang menolong malam tadi adalah suhunya.

Gan Keng Hiap suami isteri menyesal sekali mengapa Gwat Liang Tojin tidak diminta turun dan berkenalan.

Kemudian Cin Han dengan ingin tahu sekali bertanya tentang urusan pamannya dengan Sian-kiam Koai-jin Ong Lun.

Sambil menghela napas panjang Gan Keng Hiap mengangguk ke arah isterinya dan berkata.

"Kau tanya sajalah kepada bibimu."

Dan bibinya mulai bercerita tentang masa mudanya ketika berjumpa dengan Ong Lun.

Nyonya Gan Keng Hiap ketika masih gadis bernama Pui Sin Lan.

Ayahnya adalah Pui Hok Thian, seorang pembesar menjabat pangkat ti-hu di kota Bian-touw Karena keadaan di Tiongkok pada waktu itu sangat tidak aman dan kekacauan timbul di mana-mana sebagai akibat kelaliman Raja, dan semua pembesar dan alat pemerintah hidup dengan jalan korupsi, dan memeras rakyat, dan pembesar yang adil selalu bahkan dimusuhi oleh para koruptor hingga kedudukannya terdesak, maka Pui Hok Thian yang mempunyai jiwa bersih, mengundurkan diri.

Ia mengajukan surat rekes untuk meletakkan jabatan dengan alasan kesehatan, setelah mendapat ijin dengan mudah karena pembesar atasannyapun lebih suka melihat ia berhenti, ia berkemas dan membawa isteri dan anaknya pulang ke kampung asal.

Ternyata atasannya menaruh curiga padanya dan takut kalau-kalau di belakang hari bekas ti-hu yang jujur ini akan membongkar segala rahasianya.

Maka diam-diam ia menyewa beberapa orang perampok kejam untuk mencegat perjalanan Pui Hok Thian dan membunuh semua keluarganya.

Demikianlah, ketika rombongan Pui Hok Thian melalui sebuah hutan yang liar dan besar, tiba-tiba sebatang anak panah melayang cepat dan menancap di kereta yang mereka duduki.

Tukang kereta dan beberapa orang pengawal dengan cemas mencabut golok membuat persiapan.

Muncullah beberapa belas orang perampok yang dikepalai oleh seorang tinggi besar bersenjata siang-to.

Perampok itu tanpa bertanya-tanya lagi segera menyerbu dan pertempuran berjalan dengan sengitnya.

Melihat bahwa pengawal-pengawal itu hanya berkepandaian biasa saja, kepala rampok hanya melihat saja betapa anak buahnya beraksi.

Tiba-tiba ia melihat Pui-siocia di dalam kereta.

Memang Pui Siok Lan adalah seorang gadis yang cantik sekali dan ia terkenal sebagai kembang kota Bian-touw usianya pada waktu itupun baru enambelas tahun.

Kan Beng kepala rampok yang disewa oleh pembesar jahat itu mengilar melihat kecantikan gadis itu dan timbul niat jahatnya.

Dengan sekali loncat ia berada di dekat kereta dan membuka tendanya.

Pui Siok Lan menjerit kaget dan takut.

Melihat perampok tinggi besar dan bengis itu mengulurkan tangan hendak menangkapnya, ia segera mencabut sebuah pisau belati kecil penjaga diri dan menggunakan senjata kecil itu menusuk tangan penjahat.

Tapi Kan Beng hanya tertawa menyengir dan sekali sentil dengan jari tangannya, pisau itu terlepas dari pegangan Pui-siocia.

Gadis itu hendak lari dan meloncat dari tempat duduknya, tetapi Kan Beng lebih cepat dan sebelum Pui-siocia dapat lari, tangannya telah terpegang oleh kepala rompok itu.

Dengan sekali sentak tubuh yang kecil ramping itu berada dalam pelukannya dan ia meloncat dari kereta untuk membawa nona itu pergi lebih dulu.

Tiba-tiba pada saat itu terdengar jeritan-jeritan kesakitan dari beberapa orang perampok roboh tak berkutik lagi.

Ternyata seorang pemuda tampan dan gagah mengamuk.

Tubuhnya bagaikan burung rajawali berkelebat ke sana ke mari.

Di mana saja ia sampai tentu terdengar jeritan ngeri dan seorang penjahat roboh terguling.

Tiba-tiba pemuda itu melihat Pui-siocia dalam pondongan Kan Beng.

Ia berseru keras dan nyaring dan tahu-tahu tubuhnya sekali loncat telah sampai di depan Kan Beng.

Kan Beng pun berseru marah.

Ia melepaskan Pui Siu Lan dari pondongan dan mencabut golok kembarnya.

Tapi pemuda itu melawannya dengan tangan kosong.

Sungguhpun siang-to di tangan Kan Beng merupakan sepasang golok yang lihai dan berbahaya sekali, namun dengan lima kali gebrakan saja sepasang golok itu terpental dari tangan Kan Beng dan sebuah tendangan kilat, menamatkan riwayat kepala perampok itu.

Melihat kegagahan pemuda itu, sisa-sisa perampok tanpa diperintah lalu lari tunggang-langgang.

Berkat ketangkasan pemuda itu, Pui Hok Thian sekeluarga tertolong dan selamat, hanya dua orang pengawal mendapat luka-luka berat akibat bacokan golok.

Pui Hok Thian berterima kasih sekali dan menanyakan nama penolong mereka.

Ternyata penolong yang gagah berani itu adalah Siang-kiam-Enghiong Ong Lun si pedang dewa.

Dengan merendah Ong Lun balas memberi hormat dan ia lalu mengantar pembesar jujur itu pulang ke kampung.

Semenjak itu, Ong Lun merasa bahwa hatinya telah tercuri oleh nona cantik yang ditolongnya.

Pula, Siu Lan orangnya ramah-tamah dan tidak malu-malu maka pemuda itu makin tertarik.

Beberapa bulan semenjak terjadinya peristiwa itu, pada suatu malam rumah Pui Hok Thian didatangi penjahat.

Mereka terdiri dari tiga orang dan bukan lain ialah suheng dan kawan-kawan Kan Beng yang terbunuh mati.

Untung bagi keluarga Pui, pada waktu hal ini terjadi, Ong Lun masih berada di kampung itu, tinggal di sebuah hotel.

Maka ketika seorang peronda memberi tahu padanya bahwa rumah keluarga Pui diserang penjahat, secepat kilat ia lari ke sana dan berhasil mencegah terjadinya pembunuhan.

Ketika ia tiba di rumah itu, ia melihat dua orang penjahat tengah mengamuk dan dikeroyok oleh penduduk kampung yang mengerti ilmu silat.

Tapi orang-orang kampung itu bukan tandingan ke dua penjahat itu hingga telah ada beberapa orang yang menjadi korban.

Dengan berseru keras Ong Lun menyerang mereka dan memerintahkan orang-orang kampung mundur.

"Hai, orang-orang dari manakah berani main gila di depan Sian-kiam Ong Lun?"

Bentaknya.

"Ha, jadi kaukah yang membunuh suteku Kan Beng? Kebetulan, memang kamu yang kucari. Hutang nyawa harus dibalas dengan nyawa!"

Teriak seorang kate kecil yang menjadi suheng Kan Beng dan bernama Tie Lok si Kerbau Kate Tanduk Besi.

Kemudian kedua orang itu mengeroyok Ong Lun.

Ternyata kedua orang itu berkepandaian lumayan juga hingga akhirnya Ong Lun menjadi gemas dan mencabut Sian-liong-kiam.

Setelah bersenjatakan pedang pusaka, maka dalam beberapa jurus saja kedua lawannya telah terbunuh mati.

Ong Lun meloncat turun untuk menemui Pui Hok Thian.

Alangkah terkejutnya ketika ia mendapatkan Pui Hok Thian suami isteri menangis sedih.

"Siok-hu, apa yang telah terjadi? Apakah Lan-moi..."

"Celaka, Taihiap... adikmu... Siu Lan diculik penjahat..."

Tanpa membuang waktu lagi Ong Lun meloncat keluar dan naik ke atas genteng.

Ia menduga bahwa penjahat yang membawa lari Siu Lan tentu pergi ke sebelah hutan yang terletak beberapa belas lie dari kampung itu.

Maka ia menggunakan ilmunya berlari cepat mengejar.

Betul sebagaimana yang ia duga, gadis itu dilarikan penjahat ke hutan itu.

Ketika ia memasuki hutan beberapa lie dalamnya, tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang bicara dan kuda meringkik.

Ia berjalan perlahan dan mengintai.

Ternyata di sebuah lapangan rumput terdapat banyak orang sedang duduk mengelilingi api.

Mereka adalah perampok-perampok yang berwajah kejam.

Kurang lebih ada dua puluh orang yang duduk di situ, dan seorang yang agaknya menjadi pemimpin, bertubuh tinggi kurus dengan wajah pucat, duduk di tengah-tengah lingkaran.

Di depannya kelihatan nona Siu Lan yang duduk menangis, menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Melihat keadaan nona yang dicintanya, ingin sekali ia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan mengamuk orang-orang yang dibencinya itu, tapi kecerdikannya mencegah kehendak ini.

Kalau aku mengamuk, maka akan berbahayalah keadaan Siu Lan, pikirnya.

Maka ia menahan sabar dan tetap mengintai.

Ternyata mereka itu hendak bermalam di hutan dan besok pagi Siu Lan hendak dibawa pulang ke sarang perampok oleh kepala perampok kurus itu.

Tak lama kemudian kepala perampok menyeret Siu Lan yang meronta-ronta ke dalam sebuah tenda yang telah dipasang di bawah pohon Siong besar.

Ong Lun menggerakkan tubuhnya dan bagaikan burung ia meloncat ke atas pohon.

Kemudian, tanpa mengeluarkan sedikitpun suara, ia meloncat ke belakang tenda yang dipasang seperti kemah itu.

Ia mendengar kekasihnya menangis dan memaki-maki, maka tak sabar lagi ia menggunakan Siang-liong-kiam menusuk kain kemah.

Sekali putar tenda itu robek lebar dan ia menerjang masuk.

Kepala perampok itu duduk sambil minum arak dengan mangkok besar yang dipegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang lengan Siu Lan yang menangis sambil memaki-maki.

Kepala perampok itu terkejut bukan main melihat seorang pemuda memasuki tenda dengan tiba-tiba maka ia segera menggerakkan tangan menimpuk.

Mangkok yang ditimpukkan itu dengan mudah dikelit oleh Ong Lun dan ia meloncat menerjang.

Kepala perampok telah menyambar ruyungnya dan menangkis, tapi tangkisan itu membuat ruyungnya terbelah dua.

Sebelum ia dapat berteriak atau lari, Sian-liong-kiam yang sangat tajam itu telah berkelebat dan kepalanya terpisah dari tubuhnya.

"Ong Lun Taihiap!"

Siu Lan berseru girang dan lari menghampiri, setelah sampai di depan pemuda itu, karena girangnya telah tertolong dari bahaya yang lebih hebat daripada maut itu, ia memekik dan meloncat memeluk leher Ong Lun.

Dengan terharu Ong Lun memeluk tubuh yang dikasihi itu, tapi ia terkejut sekali melihat bahwa Siu Lan telah jatuh pingsan dalam pelukannya.

Ia segera memondong tubuh nona yang telah lunglai itu dan meloncat keluar dari kemah.

Sementara itu, para perampok yang mendengar beradunya ruyung dengan pedang, memburu ke dalam kemah.

Bukan main kaget mereka melihat kepala perampok sudah mati konyol dengan kepala terpisah dari tubuh.

Mereka ribut-ribut dan memburu keluar, tapi Ong Lun dan Siu Lan telah pergi jauh dari situ.

Karena fajar sudah hampir menyingsing, maka Ong Lun tidak berani terus melanjutkan perjalanannya, memondong seorang gadis keluar dari hutan sepagi itu.

Maka ia lalu menurunkan tubuh Siu Lan di atas rumput hijau dan memanggil-manggil namanya.

Siu Lian masih saja pingsan.

Gadis itu terlalu banyak menderita ketakutan dan tekanan batin hebat.

Ong Lun lalu menanggalkan kain ikat kepalanya dan membasahi kain dengan air anak sungai yang mengalir tak jauh dari situ.

Dengan kain basah ia menghapus-hapus jidat dan leher Siu Lan.

Perlahan-lahan gadis itu sadar kembali dan untuk sesaat ia memandang sekeliling dengan heran.

Tapi ketika matanya bertemu dengan Ong Lun, ia bangkit duduk lalu menangis kembali dengan sedih.

"Sudahlah, Lan-moi, jangan bersedih. Bahaya telah berlalu dan kau selamat."

"Ah, terima kasih, Taihiap, lagi-lagi kau sudah menolong jiwaku yang tak berharga ini."

"Dan lagi-lagi kau panggil aku Taihiap. Bukankah kita ini seperti kakak dan adik?"

Siu Lan menunduk kemalu-maluan.

"Baiklah, mulai sekarang aku menyebut koko padamu. Bagiku, kau lebih berbudi daripada seorang kakak aseli."

Ong Lun merasa betapa merdunya ucapan ini dan ia memandang gadis itu dengan penuh rasa kasih.

Tapi Siu Lan yang masih berhati kanak-kanak tidak tahu akan pandangan ini.

Ia hanya balas memandang dengan kagum dan hatinya bangga mempunyai seorang kakak yang demikian gagah perkasa dan yang telah lama ia kagumi.

"Koko sudah berbulan-bulan kami kenal padamu tapi belum pernah kauceritakan riwayatmu. Aku masih lelah, maka baiklah kita mengobrol dulu di sini. Tempat ini begini sunyi dan nyaman. Coba kauceritakan sedikit riwayatmu, atau... apakah itu kau rahasiakan?"

Ia mengerling sambil tersenyum.

Ong Lun tersenyum pula.

Pada saat itu hatinya merasakan sesuatu yang luar biasa dan yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Hatinya seakan-akan menyaingi kenyamanan hawa pagi.

"Tidak, adikku. Bagiku tiada rahasia. Ayahku bernama Ong Tat dan dulu pernah menjabat pangkat residen. Tapi seperti juga ayahmu, ia bosan memegang jabatan yang penuh kekotoran itu, lalu minta berhenti. Tidak tahunya ia difitnah oleh kawan sejawat hingga ia terpaksa lari ke Sin-kiang. Di daerah yang liar ini ayah berjumpa dengan ibuku, seorang wanita Han yang lahir di Sin-kiang dan puteri seorang ahli pedang yang menjadi pendiri dari cabang Thai-san. Dan di situ pulalah aku terlahir, dididik ilmu silat oleh kakek dan ibuku. Kakekku masih mempunyai dua orang murid, yakni Hun Beng dan Kai Sin. Setelah tamat belajar silat, aku diusir oleh kakekku..."

"Diusir? Kesalahan apakah yang kau perbuat, koko?"

Ong Lun tertawa.

"Bukan begitu maksudku, Lan-moi. Aku bukan diusir karena salah, tapi diusir untuk pergi merantau dan meluaskan pengalaman."

"O, begitu. Dan masih adakah semua keluargamu itu sekarang?"

"Masih, masih tetap di sana. Selama merantau empat tahun, sudah dua kali aku pulang dan mereka sehat-sehat saja, bahkan kedua suteku juga sudah tamat belajar dan sudah turun gunung."

"Tentu banyak pengalaman-pengalaman yang menarik hati dan menyenangkan telah kau alami."

"Memang banyak. Tapi pengalaman yang paling menarik terjadi di sini."

"Di sini?"

"Ya, karena di sini aku mendapat seorang adik seperti kau."

Wajah Siu Lan memerah.

"Ah, jangan memuji, kakakku yang baik. Apakah kau tidak mempunyai saudara kandung?"

Ong Lun menggelengkan kepala.

"Nah, itulah sebabnya maka kau suka sekali mendapat seorang adik. Dan akupun senang mempunyai seorang kakak seperti kau. Kalau saja dari dulu kita bersama, tentu kawan-kawanku tidak akan ada yang berani mengganggu padaku."

Demikianlah mereka mengobrol dengan gembira dan lupa waktu.

Dalam kegembiraannya, Ong Lun bahkan menyanyikan sebuah lagu yang membuat Siu Lan sangat gembira.

Kemudian mereka berjalan pulang dengan bergandengan tangan.

Pui Hok Thian suami isteri sangat girang melihat puterinya selamat.

Lebih-lebih nyonya Pui, semalam penuh ia tak dapat tidur dan menangis terus.

Kini melihat anaknya kembali dengan wajah berseri-seri ia menangis lagi dan memeluk anaknya.

"Aah, kau ini aneh dan lucu. Siu Lan hilang, kau menangis, sekarang dia sudah kembali, kau juga menangis lagi! Bagaimana sih maksudmu ini?"

Tegur suaminya. Isterinya menyusut air mata dan merengut padanya.

"Anak hilang kau hanya bisa bingung tak berbuat apa-apa. Tangisku malam tadi dan sekarang lain lagi, jangan kau anggap sama!"

"Apanya yang lain? Apakah lagunya yang lain? Atau air matanya yang berbeda?"

"Aah, sudahlah. Kau laki-laki tahu apa tentang tangis dan air mata!"

Siu Lan dan Ong Lun saling memandang dan tertawa geli melihat pertengkaran lucu ini.

Pui Hok Thian dan isteri tiada habisnya menghaturkan terima kasih kepada anak muda itu.

Nyonya Pui menegur suaminya.

"Sudah berkali-kali aku bilang, lebih cepat Siu Lan keluar pintu lebih baik. Kalau ia sudah berada di rumah suaminya, tentu takkan terjadi hal-hal yang mencemaskan ini..."

Hok Thian melotot pada isterinya sambil mengerling kepada Ong Lun.

Dengan isyarat ini ia menegur isterinya mengapa urusan rumah tangga semacam ini diucapkan di depan seorang luar.

Ong Lun merasa akan maksud isyarat ini dan dengan hati berdebar khawatir ia berpamit kembali ke hotelnya.

Siu Lan keluar pintu?

Siu Lan dikawinkan?

Ah, ia merasa betapa ucapan-ucapan ini seakan-akan merupakan ujung pedang beracun menembus jantungnya.

Perih dan sakit.

Tidak, tidak, kalau.

Siu Lan kawin, maka ia sendirilah yang jadi suaminya.

Ia harus menjumpai gadis itu dan menyatakan dengan terus terang.

Malam ini aku harus menjumpainya, demikian ia mengambil keputusan.

Malam itu terang bulan.

Ong Lun berdandan rapi dan berangkat menuju ke rumah keluarga Pui.

Keadaan sudah sunyi, tapi ia tahu benar di mana tempat tidur gadis itu karena dengan diam-diam sudah berkali-kali jika waktu malam ia tak dapat tidur dan rindu kepada Siu Lan, ia pergi dan duduk di luar jendela gadis itu sambil melamun!

Tapi belum pernah ia mengganggu atau mengetuk daun jendelanya walaupun hatinya sangat ingin.

Dengan perlahan ia menghampiri jendela dan mengetuk.

Terdengar suara Siu Lan seakan-akan menahan teriakan.

Segera Ong Lun memanggil karena ia tahu bahwa gadis itu tentu menyangka ada orang jahat lagi.

"Lan-moi!"

Ia memanggil perlahan. Siu Lan membuka daun jendela.

"Oh, kau, koko? Ada apa malam-malam...?"

"Stt."

Ong Lun memberi isyarat agar gadis itu jangan berisik, lalu minta ia keluar kamar. Siu Lan mengangguk dan keluar dari pintu belakang. Mereka berjalan berendeng di dalam kebun belakang.

"Koko, agaknya ada sesuatu yang penting sekali?"

Tanya Siu Lan sambil memandang wajah orang. Ong Lun berhenti dan memegang pundak Siu Lan, seakan-akan untuk menetapkan hatinya yang bergoncang keras.

"Moi-moi... aku... tadi aku mendengar ibumu berkata bahwa kau akan... dikawinkan... Maka... aku... terus terang, aku cinta padamu, Lan-moi dan... dan aku akan melamar kau untuk menjadi isteriku..."

Siu Lan memandangnya dengan mata terbelalak heran.

Kemudian wajahnya yang cantik menjadi pucat lalu berubah merah dan sebentar pula ia menangis terisak-isak sambil menjatuhkan diri di atas rumput di mana ia duduk menangis sedih.

"Eh, Lan-moi, kau... kau kenapa?"

Tanya Ong Lun yang ikut duduk sambil memegang lengan Siu Lan.

"Kasihan kau... koko... tak kunyana sama sekali bahwa perasaanmu terhadap aku sedemikian... Kukira kau hanya mencinta seperti cinta seorang kakak kepada adiknya seperti... perasaanku kepadamu perasaan cinta seorang adik kepada kakaknya..."

"Jadi... jadi kau tidak setuju...?"

Siu Lan memandangnya tajam sambil menggunakan saputangan menghapus air mata dari pipinya.

"Koko, ketahuilah. Telah semenjak kecil aku ditunangkan, tunanganku adalah seorang she Gan dan... dan siang tadi ayah-ibuku menetapkan bahwa hari perkawinanku dimajukan bulan depan nanti. Bu... bukan aku tidak menghargai perasaanmu, tapi... ah, apa yang harus kuperbuat? Coba kaupertimbangkan sendiri keadaanku...!"

"Kau sudah bertunangan? Akan kawin bulan depan..."

Wajah Ong Lun menjadi pucat seperti mayat, harapan sebesar gunung dalam hatinya pecah berantakan membuat dadanya terasa panas dan kepala pening.

Ia memegang kepalanya yang rasanya seakan-akan terputar, matanya menjadi gelap dan tak tahan menerima pukulan batin ini.

Tubuhnya lemah lunglai dan ia jatuh terjerembab di atas rumput!

Siu Lan kebingungan.

Sambil menangis sedih ia menggoyang-goyang tubuh Ong Lun yang pingsan.

"Koko... koko..."

Beberapa butir air mata gadis itu jatuh menimpa hidung dan pipi Ong Lun dan pemuda itu sadar kembali dari pingsannya.

Ia merasa sedih dan malu.

Ia menyatakan cintanya kepada seorang gadis yang telah bertunangan, kepada seorang gadis yang berhati suci dan menganggap ia sebagai kakak sendiri!

Ia telah salah sangka.

Ternyata Siu Lan terlalu suci untuk mencinta padanya seperti cinta seorang wanita kepada seorang pria!

Ah, ia malu!

Malu sekali!

Tiba-tiba tangannya bergerak dan pedang Sian-liong-kiam telah terhunus!

Perasaan halus seorang wanita ternyata lebih cepat lagi.

Siu Lan menubruk padanya.

"Jangan, koko, jangan...! Ah, laki-laki gagah perkasa yang kukagumi... demikian pengecutkah kau? Mau bunuh diri? Buang pedangmu, buang!!"

Dengan tenaga luar biasa ia terkam tangan Ong Lun dan pemuda itu bagaikan seorang hilang pikiran membiarkan saja pedangnya dirampas dan dilempar ke bawah oleh Siu Lan.

Ia mendekap mukanya dan air mata mengalir dari cela-cela jarinya.

"Lan-moi... mari... marilah kita pergi ... kita minggat saja dari sini, hidup berdua..."

Siu Lan berdiri marah.

"Tidak! Kau anggap aku ini seorang macam apa? Tak malukah kau kalau aku melakukan hal yang demikian itu? Takkan cemarkah nama kita untuk selama-lamanya? Tidak!"

Tiba-tiba Orig Lun juga marah.

"Baik! Kalau begitu, biarlah kau kawin dengan mayat orang she Gan itu! Akan kucari padanya, dan akan kubunuh, coba kau bisa berbuat apa!"

Siu Lan mengangkat kepala dan bertolak pinggang.

"Hem, begitukah? Baik, bunuhlah dia! Bunuhlah calon suamiku pilihan orang-tuaku itu, dan kaupun akan melihat mayatku. Kewajibanku untuk ikut suamiku, ke mana saja ia pergi, biar ke neraka sekalipun!"

Mendengar dan melihat ucapan dan sikap Siu Lan yang nekat dan menantang itu, Ong Lun merasa jiwanya hancur lebur, hatinya terasa sakit dan perih, dan ia menundukkan kepala.

Rasa marahnya lenyap terganti rasa duka dan patah hati.

Kemudian dengan kaki limbung ia meninggalkan Siu Lan yang duduk menangis sedih.

Semenjak saat itu, watak Ong Lun berubah.

Kalau tadinya ia merupakan seorang pemuda tampan dan manis budi bahasanya, kini ia tak menghiraukan dirinya lagi.

Badan, muka, dan pakaiannya kotor didiamkan saja, ia tidak memperhatikan lagi makan tidurnya dan wataknya menjadi kasar dan aneh.

Pakaiannya compang-camping dan kotor tak pernah diganti, rambutnya terurai ke mana-mana tak terurus.

Namun penderitaan batinnya tak membuat lupa akan tugasnya sebagai seorang pembela keadilan atau seorang hiap-kek yang dermawan.

Hanya, kalau dulu ia banyak memberi ampun kepada orang-orang jahat yang bertobat, sekarang ia tak mengenal ampun lagi.

Semua orang jahat yang bertemu dengan dia tentu dibunuhnya tak mengenal kasihan lagi.

Maka sebentar saja julukannya Sian-kiam atau Pedang Dewa ditambahi orang menjadi Sian-kiam Koai-jin yakni Manusia Aneh Pedang Dewa.

Keganasan Sian-kiam Koai-jin terhadap penjahat-penjahat mendatangkan bibit permusuhan yang hebat dengan perkumpulan agama rahasia Pek-Lian-Kauw atau Perkumpulan Agama Teratai Putih, ketika pada suatu hari ia membunuh lima orang anggauta Pek-Lian-Kauw yang sedang menipu rakyat untuk mengeduk uang dengan memberi pertunjukan ilmu gaib.

Peristiwa itu terjadi di kota Tiang-bun.

Ketika Ong Lun berada di kota itu dan pada suatu hari berjalan di depan sebuah kelenteng kosong, ia melihat banyak orang berdiri mengelilingi lima orang yang berpakaian putih dan di dada masing-masing tersulam gambar teratai putih di atas air biru.

Mereka ini adalah dua orang perempuan muda dan tiga orang laki-laki yang sedang mempertunjukkan ilmu sulap dan sihir.

Ketika Ong Lun mendekat, beberapa orang penonton menjauhkan diri dari pengemis muda yang kotor menjijikkan ini.

Tapi Ong Lun tak perduli dan melongok ke dalam kalangan.

Ia melihat orang laki-laki yang tertua, agaknya pemimpin rombongan itu, memegang sebuah pedang tajam dan berkata dengan suara keras.

"Cuwi yang terhormat. Cuwi sekalian telah menikmati pertunjukkan ilmu sulap dan silat yang menyatakan betapa gaibnya ilmu dari agama kami. Cuwi sekalian juga bisa masuk menjadi anggauta dan memiliki semua kepandaian aneh-aneh ini, asalkan cuwi suka menderma lima puluh tail perak tiap orang."

Sambutan orang-orang atas pernyataan ini bermacam-macam. Ada yang setuju, ada yang tidak percaya dan mencela, walaupun celaan itu tak dikeluarkan terang-terangan.

"Cuwi-cuwi sekalian, sekarang kami akan memberi pertunjukan yang belum pernah kalian lihat seumur hidup, sebagai bukti betapa saktinya dewa-dewa yang dipuja di perkumpulan kami. Pernahkah kalian melihat orang menghilang? Nah, dewa-dewa kami akan memperlihatkan kesaktian dan melenyapkan beberapa orang anak."

Kelima orang Pek-Lian-Kauw itu berjalan mengitari lapangan dan mata mereka mencari-cari.

Kemudian masing-masing memilih seorang anak kecil dan dengan pikatan sebungkus kurma, anak-anak itu mau dan menurut saja diajak masuk ke dalam kalangan.

Pemimpin rombongan itu tertawa dan berkata kepada para penonton.

"Cuwi, lihatlah lima orang anak-anak mungil ini. Kami akan minta kepada dewa-dewa kami untuk memperlihatkan kesaktiannya dan membuat anak-anak ini dan kami berlima lenyap. Jangan khawatir, anak-anak ini takkan terganggu apa-apa. Nah, awas, saksikanlah!"

Ong Lun merasa curiga, tapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, kelima orang itu masing-masing telah mengeluarkan sebuah benda bulat dan mereka membanting benda itu di luar lingkungan mereka berlima.

Terdengar ledakan keras dan benda-benda yang meledak itu mengeluarkan asap hitam yang tebal sekali sehingga sekejap saja mereka dan anak-anak itu tertutup asap dan lenyap dari pandangan mata.

Tiba-tiba dari dalam gumpalan asap hitam itu terdengar suara tertawa seperti suara iblis tertawa dan para penonton tercengang mendengarkan suara pemimpin rombongan itu.

"Cuwi anak-anak ini hendak dipinjam sementara oleh dewa-dewa kami, dan siapa yang ingin menebus kembali, harus mendermakan uang seribu tail untuk tiap orang anak dan mengantar uang itu di hutan Siong-lim pada nanti jam duabelas!"

Semua penonton semenjak ledakan tadi telah mundur dan setelah asap membuyar mereka melihat bahwa lima orang Pek-Lian-Kauw bersama lima orang anak-anak itu betul-betul lenyap tak meninggalkan bekas!

Mereka bingung dan terdengar jerit tangis orang-orang-tua anak-anak itu.

Semua orang tidak tahu bahwa pemuda pengemis yang berpakaian compang-camping dan kotor menjijikkan tadi juga turut lenyap dari situ!

Sebenarnya apakah yang terjadi?

Benar-benarkah orang-orang Pek-Lian-Kauw itu pandai menghilang?

Hanya seorang saja yang dapat menjawab, ialah Ong Lun.

Ketika orang-orang tadi sedang bingung dan takut, Ong Lun bahkan mendekat dan memandang penuh perhatian.

Samar-samar ia melihat lima bayangan berkelebat di belakang asap hitam dan dengan gerakan cepat sekali mereka lari ke arah utara.

Ong Lun dengan diam-diam lari menggunakan ilmunya berlari cepat.

Ia dapat mengejar mereka dengan mudah dan mengikuti jejak mereka.

Ternyata kelima orang Pek-Lian-Kauw itu lari masuk ke dalam hutan Siong-lim di mana terdapat sebuah pondok kecil tempat persembunyian mereka.

Ketika mereka seorang membawa seorang anak dan kini anak-anak itu diam saja tak berteriak atau bergerak.

Ia makin heran ketika melihat betapa anak-anak itu bagaikan dalam keadaan tidur atau pingsan.

Ia dapat menduga bahwa kelima penjahat itu tentu telah menggunakan obat-obat bius terhadap anak-anak itu.

Ong Lun tak dapat mengendalikan napsu marahnya lagi.

Ia mencabut Sian-liong-kiam yang disembunyikan di punggungnya lalu meloncat dari atas pohon siong tepat di hadapan kelima orang itu.

Tentu saja mereka menjadi terkejut bukan main.

"Bangsat rendah, penculik hina! Hayo kembalikan anak-anak itu, baru tuan besarmu mau mengampuni jiwa anjing kalian!"

Dampratnya. Makian ini membuat anggauta Pek-Lian-Kauw yang termuda menjadi naik darah. Perempuan itu segera menuding kepada Ong Lun dan memaki.

"Cis, budak pengemis hina dina! Tak tahukah kamu sedang berhadapan dengan siapa? Buka dulu matamu!"

"Ha, ha, ha! Tentu saja tuanmu sudah tahu. Kalian adalah gerombolan liar dari Pek-Lian-Kauw. Mungkin orang lain takut mendengar nama gerombolanmu, tapi aku, Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, biar kau tambah orang-orangmu seratus lagi, aku orang she Ong tak gentar sedikit juga!"

Kelima orang Pek-Lian-Kauw itu diam-diam merasa tulang punggung mereka seperti tersiram air dingin mendengar nama Sian-kiam Koai-jin!

Nama ini sudah cukup terkenal sebagai tukang basmi dan algojo para penjahat yang tak mengenal kompromi lagi!

Buru-buru pemimpin rombongan itu, Liok Bu Tiat si Kaki Baja, mengangkat kedua tangan dan menjura dengan menghormat sekali.

"Maafkan kami sebesar-besarnya, Ong Taihiap. Kami telah buta tak melihat Gunung Thai-san menghadang di depan mata. Kalau dengan tak sengaja kami bertindak salah terhadap Taihiap, mohon Taihiap suka memberi maaf dan pandanglah muka sucouw kami!"

Ong Lun tertawa geli.

"Mengapa muka sucouwmu kalian bawa-bawa ke mari? Aku tidak kenal dia. Kalian tanya kesalahanmu? Apa yang kalian lakukan dengan anak-anak itu? Kalian menculik anak-anak kampung dan mencoba memeras rakyat, masih hendak bertanya kesalahan lagi?"

Walaupun merasa marah karena sucouwnya dihina orang, namun Liok Bu Tiat masih menyabarkan diri karena ia tahu akan kelihaian orang ini, maka ia menjura lagi.

"Ong Taihiap, sepanjang pengetahuan dan ingatanku, perkumpulan kami belum pernah bermusuhan denganmu dan kami juga belum pernah membuat Taihiap mengalami rugi. Maka mohon Taihiap suka mengindahkan persahabatan ini dan mohon jangan mengganggu kami. Kelak kami akan melaporkan perihal kebaikan hati Taihiap kepada sucouw kami dan mengundang Taihiap datang minum arak wangi."

"Apa? Setelah menculik dan memeras rakyat tak berdosa, kamu hendak membujuk-bujuk dan menyuap aku?? Jangan banyak cerewet, lekas keluarkan dan bebaskan anak-anak itu!"

Kedua mata Ong Lun sudah mulai merah. Tan Bwee Loan perempuan muda berdarah panas yang belum banyak mendengar nama Sian-kiam Koai-jin, tak dapat menahan sabar lagi.

"Twako, untuk apa berdebat dengan anjing kotor ini? Tak perduli dia ini Koai-jin atau Jauw-koai (Setan Iblis), apakah kita berlima tak dapat membikin mampus padanya?"

"Bagus!"

Teriak Ong Lun marah dan pedang Sian-liong-kiam berkelebat bagaikan kilat.

Tan Bwee Loan menangkis, tapi pedang dan lehernya hampir berbareng terbabat putus!

Demikianlah kehebatan Sian-liong-kiam dan kelihaian ilmu pedang dari Ong Lun si Manusia Aneh!

Empat kawan Bwee Loan bergidik melihat darah yang menyembur keluar dari lobang leher kawan itu.

Tapi mereka tidak diberi kesempatan untuk memperpanjang keheranan dan kengerian mereka.

Pedang pusaka di tangan Ong Lun berkelebat lagi menyambar-nyambar dan biarpun keempat orang Pek-Lian-Kauw itu berkepandaian lumayan juga, namun dalam beberapa belas jurus saja keempat-empatnya telah roboh mandi darah dan tak bernyawa pula!

Ong Lun tertawa bergelak-gelak, dan segera ia menolong anak-anak itu dan mengantar kembali ke kampung.

Dengan siraman air anak-anak itu dapat siuman kembali dari pengaruh obat bius.

Perbuatan hebat ini membuat nama Sian-kiam Koai-jin makin ditakuti kaum penjahat dan disegani orang-orang kalangan kang-ouw, tapi sebaliknya membuat Ong Lun dibenci hebat oleh kaum Pek-Lian-Kauw.

Semenjak itu, sudah berkali-kali Ong Lun berkelahi dengan jago-jago dari Pek-Lian-Kauw yang datang membalas dendam.

Dalam pertarungan hebat dan mati-matian, Ong Lun yang berkepandaian tinggi selalu mendapat kemenangan.

Maka kaum Pek-Lian-Kauw makin benci padanya dan mereka selalu berdaya upaya untuk membalas dendam!

Beberapa tahun kemudian, kalangan kang-ouw tak mendengar lagi namanya dan orang-orang menyangka bahwa Sian-kiam Koai-jin Ong Lun tentu tewas menjadi korban pembalasan kaum Pek-Lian-Kauw.

Padahal sebenarnya Ong Lun telah didatangi oleh sahabatnya yang ia anggap sebagai kakak sendiri, yakni Gwat Liang Tojin yang membujuknya untuk bertobat dan belajar menyucikan diri dengan bertapa dan mempelajari ilmu batin.

Berkat bujukan-bujukan suheng yang ia indahkan ini, diam-diam ia pergi bertapa ke puncak Gunung Kim-Ma-San.

Dengan bertapa dan mengasingkan diri, selama ber puluh-puluh tahun ia tidak ikut mencampuri urusan dunia.

Tapi ketika ia mendapat seorang murid yang bernama Han Lian Hwa, maka teringatlah ia kepada Siu Lan dan timbul kembali dendam dan sakit hatinya kepada Gan Keng Hiap.

Akhirnya ia tak dapat mengendalikan diri lagi.

Ia pesan kepada muridnya untuk tinggal berlatih silat di Bukit Kim-Ma-San itu, lalu pergi mencari rumah Siu Lan di kota Tiong-bie-kwan, di mana ia bertempur melawan Cin Han dan bertemu pula dengan Gwat Liang Tojin yang lebih dulu telah melihatnya di tengah jalan dan tahu akan maksudnya.

Setelah mendapat kegagalan bahkan menerima pukulan-pukulan batin, Ong Lun cepat kembali ke tempat pertapaannya.

Mulai saat itu, ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendidik murid tunggalnya, yakni Han Lian Hwa yang kemudian dijuluki orang Ang Lian Lihiap yang lihai dan beradat ku-koai seperti gurunya!

Akhirnya Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa meninggal dunia di tempat pertapaannya setelah berpesan kepada muridnya untuk membalaskan sakit hatinya pada Gan Keng Hiap!

Demikianlah, setelah bibinya menuturkan sedikit riwayat pertemuannya dengan Ong.

Lun, maka mengertilah Cin Han akan maksud orang aneh tadi.

Diam-diam ia merasa kasihan kepada Sin-kiam Koai-jin yang ia kagumi karena ilmu silatnya yang tinggi.

Cin Han makin memperhebat ketekunannya belajar ilmu surat, juga ia rajin sekali melatih ilmu silatnya karena semenjak bertanding melawan Ong Lun ia maklum akan, kerendahan kepandaian sendiri.

Pada suatu hari di musim dingin, ketika ia sedang membaca buku tentang Lo-cu, ia mendengar suara orang batuk-batuk di luar rumah.

Cin Han tergerak hatinya dan ia segera bertindak keluar.

Ternyata yang mengeluh dan batuk-batuk itu adalah seorang pengemis tua yang berdiri menggigil dan menggunakan kedua tangan menekan dada sambil batuk-batuk hebat sekali.

Tubuh orang itu kurus dan hanya terbungkus baju rombeng tipis.

"Lopek, kau rupanya sakit. Masuklah dan mengasolah di dalam. Di luar dingin sekali."

Cin Han mempersilakan orang itu dengan suara kasihan.

Pengemis itu berpaling memandangnya dengan heran dan Cin Han tak terasa mundur dua tindak ketika melihat sinar mata orang itu yang tajam dan mengeluarkan cahaya kuat.

Pengemis itu heran karena selama ia menjadi pengemis belum pernah ia menemukan seorang pemuda seramah ini.

"Terima kasih, Kongcu. Terima kasih."

Suaranya gemetar dan tubuhnya lemas ketika ia melangkah masuk.

Cin Han memegang lengannya dan menuntunnya masuk.

Karena paman dan bibinya agaknya sedang tidur siang, maka ia lalu mengambil guci arak dan mangkok, lalu menyuguhkan arak kepada orang-tua itu.

Tamunya dengan lahap sekali minum arak sampai tiga mangkok, baru wajahnya yang tadinya membiru tampak agak merah dan dinginnya berkurang.

"Terima kasih, Kongcu. Kau sungguh baik. Jarang menemukan orang seperti kau pada jaman seburuk ini. Terima kasih."

Ia berdiri dan berjalan terseok-seok ke arah pintu.

"Tunggu dulu, lopek!"

Cin Han lari ke kamarnya dan keluar lagi membawa seperangkat pakaian.

"Ini, pakailah, lopek, lumayan untuk menahan dingin."

Pengemis itu memandangnya tajam lalu mengulurkan tangan menerima pakaian itu.

Tapi Cin Han merasa terkejut karena tekanan tangan yang menerima pakaian itu berat sekali, seakan-akan tangannya tertindih barang yang ribuan kati beratnya.

Terpaksa ia mengerahkan tenaga lweekangnya untuk menjaga tekanan itu dan wajah pengemis itu berseri-seri, jidatnya tampak beberapa butir keringat.

Agaknya ia telah terlampau banyak menggunakan tenaga dalam keadaan sakit.

Masih saja ia memandang wajah dan tubuh Cin Han dengan tajam, sambil bibirnya bergerak-gerak.

"Inilah orangnya, tak salah lagi, inilah..."

Dengan jari-jari gemetar ia mengeluarkan sebuah kitab lapuk dari dalam baju rombengnya.

"Inilah, Kongcu. Terimalah kitab ini. Bukan kitab sembarang kitab, tapi sudah tak berguna bagiku, aku tua dan lemah tinggal menanti ajal. Kau masih muda, dasarmu baik, tubuhmu kuat, hatimu putih, pelajarilah kitab ini. Kelak kalau ada jodoh sampaikan hormatku yang terakhir kepada pencipta kitab ini dan katakan bahwa aku sudah cukup tersiksa, sudah cukup menderita, sudah cukup terhukum. Hanya kau seorang yang berjodoh memiliki kitab ini, aku sudah mencari berkeliling belasan tahun... terimalah...!"

"Tapi, lopek, siauwte tidak menghendaki upah atau balasan untuk perbuatanku tadi. Orang hidup sudah selayaknya tolong-menolong..."

"Nah, itulah, maka aku berikan kitab ini padamu. Kalau kau tidak suka, simpan saja, asal jangan sampai terjatuh ke dalam tangan orang lain. Kalau kausuka itu tandanya jodoh, boleh kaupelajari!"

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi pengemis itu keluar dari situ, dan Cin Han masih memegang kitab itu dengan tercengang. Ia heran ketika membaca huruf tertulis di luar kitab itu yang berbunyi.

"Hwie-liong Kiam-sut."

Sebuah buku pelajaran Ilmu Silat Pedang Naga Terbang.

Siapakah pengemis tadi?

Darimana ia mendapatkan kitab ini?

Cin Han memburu keluar, tapi pengemis itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Ia menghela napas.

Banyak orang aneh di dunia ini.

Kalau ia kagum dan heran melihat Ong Lun, si Manusia Aneh Pedang Dewa, kini ia heran pula melihat pengemis itu dan menduga bahwa pengemis itupun tentu seorang hiap-kek yang mengasingkan diri.

Ia memasuki kamarnya dan membalik-balik halaman kitab itu.

Ternyata buku tebal itu memuat pelajaran ilmu silat dan pedang yang aneh sekali.

Beberapa kali ia membaca kalimat pertama dan mencoba membayangkan gerakan-gerakan yang disebutkan di situ tapi ia masih belum mengerti.

Dengan tak sengaja ia membalik beberapa lembaran terakhir dan di situ terdapat gambar-gambar dan peta-peta untuk gerakan kaki dan tangan yang dilukis dengan teratur sekali.

Hatinya mulai tertarik dan dibacanya sekali lagi kalimat pertama sambil mengukur dengan gambar.

Kini mengertilah ia dan ia bersilat meniru pelajaran itu.

Hampir ia berteriak girang karena kitab itu menggandung sari pelajaran ilmu silat yang luar biasa.

Gerakan-gerakannya aneh dan terdapat pecahan-pecahan dan gerak-gerak tipu yang menyesatkan lawan.

Di belakang kitab itu tertulis nama penciptanya.

Beng San Siansu.

Berdebar rasa hati Cin Han.

Beng San Siansu?

Pernah Gwat Liang Tojin, gurunya itu bercerita bahwa gurunya mempunyai seorang supek yang mengasingkan diri dan berilmu tinggi sekali.

Dan orang suci itu ialah Beng San Siansu.

Sayang supek itu tak mau menerima murid.

Jadi kitab yang dipegangnya ini ciptaan Beng San Siansu, kakek gurunya sendiri?

Segera ia berlutut dan sambil memegang tinggi kitab itu ia berbisik.

"Terima kasih, sukong, dan teecu akan menjunjung tinggi ilmu yang sukong ciptakan ini."

Semenjak saat itu, Cin Han rajin mempelajari isi kitab dan berlatih silat dan pedang dari Hwie-liong Kiam-sut itu.

Selama setahun ia belajar dengan rajin dan karena ia memang sudah mempunyai dasar yang dalam, pula gerakan-gerakan Hwie-liong Kiam-sut seakan-akan memperlengkap ilmu pedang yang telah dipelajarinya dari Gwat Liang Tojin, maka cepat ia dapat memainkan ilmu itu dengan sempurna.

Tanpa merasa, ia mendapat kemajuan pesat sekali, bahkan di kitab itu terdapat pelajaran-pelajaran mengatur napas dan memperdalam ilmu lweekang.

Sudah tentu Cin Han seakan-akan merupakan harimau tumbuh sayap, kepandaiannya mencapai tingkat tinggi sekali di luar pengetahuan sendiri.

Ia tidak insaf bahwa kepandaian kiam-sutnya sekarang tidak berada di sebelah bawah gurunya sendiri.

Kemudian, karena merasa rindu sekali kepada gurunya, ia minta ijin dari paman dan bibinya untuk pergi menengok Gwat Liang Tojin.

Ketika ia sampai di Bukit Kong-hwa-san, dari jauh ia melihat suhunya berkelahi dikeroyok oleh dua orang Hwesio.

Hwesio pertama bersenjata golok dan Hwesio kedua bersenjata toya.

Hwesio kedua tak berapa tinggi kepandaiannya, tapi Hwesio yang memegang golok lihai sekali gerakan-gerakannya hingga Gwat Liang Tojin yang sudah tua tampak terdesak hebat dan berbahaya keadaannya.

Cin Han berseru keras dan lari secepat terbang sambil menghunus pedangnya.

"Suhu, teecu datang membantu!"

Teriaknya dan pedangnya berkelebat menyambar Hwesio yang bersenjata golok. Dua senjata beradu dan masing-masing terpental karena hebatnya tenaga kedua pihak.

"Hati-hati, Cin Han, goloknya lihai! Kaulawan yang ini saja!!"

"Biarlah, suhu. Bereskan yang satu itu, Teecu masih sanggup meladeni pemotong babi ini."

Maka bertempurlah mereka dengan hebat.

Mula-mula Cin Han menggunakan ilmu pedang Kong-hwa-kiam-sut yang ia pelajari dari Gwat Liang Tojin, tapi ia segera terdesak.

Ilmu golok Pat-kwa-to-hwat dari Hwesio itu sungguh lihai sekali.

"Ha, ha! Anak kecil yang masih bau tetek. Suhumu masih tidak kuat melawanku, apalagi kau. Sudah bosan hidupkah kau?"

Ejeknya dan goloknya bergerak makin cepat.

Cin Han teringat ilmu pedang Hwie-liong Kiam-sut yang belum lama dipelajarinya.

Ia merobah gerakan pedangnya dan sekejap kemudian pedangnya berputaran dengan gerakan-gerakan aneh.

Hwesio itu terkejut.

Dalam empat gebrakan saja pedang Cin Han sudah dapat menyambar ujung jubahnya dan membuat jubah itu robek.

Ia berkelahi lebih hati-hati dan kini ia tak berani memandang ringan.

Sementara itu Gwat Liang Tojin sudah berhasil merobohkan lawannya yang bersenjata toya.

Ia terburu-buru hendak menolong dan membantu muridnya, tapi ketika ia berpaling dan melihat jalannya pertempuran, hampir ia berseru kaget.

Ternyata pedang Kong-hwa-kiam dimainkan sedemikian hebat dan aneh oleh muridnya hingga Hwesio itu terdesak sekali dan lebih banyak menangkis dengan goloknya daripada menyerang!

Bagaimana muridnya bisa selihai itu?

Diam-diam Gwat Liang Tojin mencurahkan perhatiannya dan memperhatikan gerakan-gerakan Cin Han.

Ia makin heran dan terkejut, karena sepanjang ingatannya yang dapat bermain pedang seperti itu hanya supeknya Beng San Siansu.

Pada saat golok Hwesio dibacokkan ke arah kepala Cin Han dalam gerakan tipu Harimau Putih Ulur Cakar, Cin Han memiringkan tubuh dan ketika golok itu bergerak dan diteruskan menusuk ke arah lehernya, ia memalangkan pedangnya dan menempel golok lawan.

Biasanya kalau dua senjata tajam sudah bertemu dan saling tempel demikian itu, Kedua pihak lalu mengerahkan tenaga dan mengadu kekuatan lweekang untuk mempertahankan kedudukannya, siapa yang lebih kuat ia akan menang.

Tapi dengan heran sekali Gwat Liang Tojin melihat betapa muridnya bahkan dengan seruan keras telah menggerakkan pedangnya menggeser golok sehingga memperdengarkan suara nyaring!

Golok dan pedang terlepas dan kedua senjata itu meluncur ke masing-masing lawan.

Tapi Cin Han melanjutkan gerakannya yang aneh.

Sambil meloncat ke kanan ia memutarkan pedangnya ke leher lawan dengan tak terduga dan cepat sekali.

Hwesio itu berseru kaget tapi ia cukup gesit untuk mengangkat goloknya menangkis sekuat tenaga.

Ternyata gerakan Cin Han tadi ialah tipu Burung Dewa Pentang Sayap dan merupakan sebuah daripada banyak gerakan tipu dari ilmu silatnya.

Pedangnya berhenti setengah jalan dan dengan gerakan Hwee-liong-pok-sim atau Naga Terbang Menyambar Hati tiba-tiba ujung pedangnya mengarah dada lawan!

Lawannya terkejut sekali dan memutarkan goloknya menangkis, tapi karena gerakan tangkisan ini dilakukan dalam keadaan terdesak sekali, maka lambung kanannya jadi terbuka.

Saat itu digunakan dengan baik oleh Cin Han yang mengirim pukulan dengan tangan kiri.

Buk!

Dan Hwesio itu terpukul lambungnya oleh kepalan Cin Han.

Sungguhpun ia masih berdiri karena bhesi kakinya sangat kuat, namun setelah menerima pukulan itu ia berteriak ngeri dan goloknya terlepas dari tangan.

Tangan kirinya meraba lambung dan dari mulutnya mengalir darah segar!

Dalam marahnya Cin Han hendak menambahkan satu tusukan, tapi tiba-tiba Gwat Liang Tojin meloncat menepuk bahunya.

"Sudah cukup muridku, jangan sembarangan membunuh orang."

Kemudian ia berkata kepada Hwesio yang masih berdiri merintih-rintih itu.

"Kalian dari Pek-Lian-Kauw memang keterlaluan. Pinto sebenarnya belum pernah bermusuhan dengan kalian, tapi tanpa alasan dan tanpa tanya-tanya lebih dulu, kalian datang-datang menghendaki jiwa pinto. Nah, biarlah kali ini merupakan pelajaran bagi kalian dan lain kali jangan membikin ribut dan memusuhi orang yang tidak berdosa. Pergilah dan bawa temanmu itu!"

Hwesio itu menahan sakit, sepasang matanya memandang Gwat Liang Tojin lalu kepada Cin Han dengan marah dan gemas.

"Biarlah lain waktu kita berjumpa pula!"

Lalu dengan terhuyung-huyung ia menghampiri kawannya yang roboh merintih-rintih karena luka di pundaknya oleh Gwat Liang Tojin tadi, kemudian mereka berdua berjalan saling bergandengan dengan sukar menuruni Bukit Kong-hwa-san.

"Siapakah mereka itu, suhu?"

Tanya Cin Han. Gwat Liang Tojin menghela napas.

"Mereka adalah jagoan dari Pek-Lian-Kauw, pemain toya tadi adalah Bong Gwat Hwesio dan pemain golok yang lihai tadi adalah suhengnya bernama Bong Lam Hwesio. Mereka ini sebenarnya pengurus-pengurus yang berkedudukan tinggi dalam partai Go-bi, tapi entah mengapa mereka terpikat dan membela perkumpulan Pek-Lian-Kauw."

"Tapi mengapa Pek-Lian-Kauw memusuhi suhu?"

"Ah, ini semua gara-gara Ong Lun, dari Pek-Lian-Kauw telah banyak anggauta dan jagoan yang tewas di tangan Ong Lun. Sekarang Ong Lun telah pergi mengasingkan diri entah di mana, mereka itu tak dapat mencari Ong Lun, maka karena mereka tahu bahwa aku adalah kakak angkat manusia aneh itu, mereka lalu datang menanyakan. Aku tidak tahu di mana tempat bertapa Ong Lun, tapi mereka tidak percaya bahkan lalu menyerangku, tentu dengan maksud agar Ong Lun mendengar tentang penyerangan ini dan keluar dari tempat persembunyiannya untuk membela dan menuntut balas."

Sekali lagi Gwat Liang Tojin menghela napas.

"Hampir saja maksud mereka membunuhku berhasil, tadi. Baiknya kau cepat-cepat datang, muridku. Tapi aku melihat gerakan ilmu pedangmu sangat aneh. Kalau tidak salah, itulah Hwie-liong Kiam-sut dari Beng San Supek."

Cin Han cepat-cepat memberi hormat.

"Maaf suhu, teecu tidak memberi tahu lebih dulu kepada suhu. Sebenarnya memang yang teecu mainkan untuk melawan Bong Lam Hwesio tadi adalah Hwie-liong Kiam-sut ciptaan Beng San Siansu."

Lalu dengan cepat ia menceritakan bagaimana ia mendapatkan kitab pelajaran ilmu pedang itu yang telah dipelajarinya selama setahun lebih.

Mendengar penuturan muridnya itu, Gwat Liang Tojin merasa girang sekali.

Ia memegang pundak muridnya.

"Sungguh kau beruntung, muridku. Beng San Supek selamanya tidak mau menerima murid. Maka sungguh kau berjodoh untuk memiliki ilmu Hwie-liong Kiam-sut yang mujijat itu."

Cin Han senang mendengar kata-kata gurunya.

Ia berdiam di atas bukit Kong-hwa-san kurang lebih setengah bulan, kemudian atas perintah suhunya yang hendak mulai merantau pula ke barat, ia pulang menuju ke rumah pamannya Gan Keng Hiap di Tiong-bie-kwan.

Dalam perjalanan pulang ini, Cin Han bertemu dengan seorang pemuda yang menarik perhatiannya.

Pemuda itu berwajah tampan sekali dan sikapnya jenaka.

Karena menuju ke satu jurusan maka Cin Han berkenalan dengan pemuda yang mengaku bernama Han Lian dari Kie-cu, Ciat-kang.

Setelah berkenalan mereka merasa saling cocok dan melanjutkan perjalanan bersama-sama.

Cin Han mengaku seorang sasterawan karena melihat bahwa Han Lian juga seorang anak pelajar.

Di tengah perjalanan mereka kemalaman di hutan dan bermalam dalam sebuah kelenteng tua dan digoda (Lanjut ke

Jilid 08) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo

Jilid 08 oleh dua orang nikouw cabul.

Baiknya Cin Han berlaku waspada dan dapat menolong kawannya serta membunuh kedua nikuow itu tanpa diketahui Han Lian bahwa semua itu dialah yang mengerjakan.

Kemudian mereka berpisah dan pada malam berikutnya, ketika Cin Han sedang duduk membaca buku, ia mendengar suara kaki menginjak genteng rumah dengan ringan dan gesit sekali.

Ia memadamkan lampu dan meloncat ke atas.

Ternyata yang berhadapan dengannya ialah...

Han Lian, kawan seperjalanan itu yang kini sudah berubah menjadi seorang gadis cantik jelita bernama Han Lian Hwa seorang wanita gagah yang terkenal dengan sebutan Ang Lian Lihiap, si Teratai Merah.

Gadis ini disebut si Teratai Merah karena ia selalu memakai sebuah perhiasan rambut indah yang berbentuk setangkai teratai merah di kepalanya.

Kedatangan gadis perkasa ini bermaksud membunuh Gan Keng Hiap, karena ternyata bahwa gadis ini bukan lain adalah murid tunggal dari Sin-kiam Koai-jin Ong Lun!

Tentu saja Cin Han membela pamannya dan dalam pertempuran yang hebat sekali akhirnya ia berhasil mengalahkan Ang Lian Lihiap.

Karena jengkel dan gemas gadis itu hendak membunuh diri tapi dapat dicegah oleh Cin Han hingga gadis itu jatuh pingsan.

Kemudian Gan Keng Hiap dan isterinya menceritakan tentang asal dan sebab mengapa Ong Lun mempunyai dendam sakit hati kepada mereka.

Mendengar penuturan mereka, hati Han Lian Hwa, menjadi tawar dan kecewa.

Ia menganggap gurunya yang telah meninggal dunia itu keterlaluan.

Maka ia meninggalkan tempat itu dengan sedih dan malu.

Ia malu kepada Cin Han, pemuda yang menarik hatinya itu.

Sebelum berpisah dengan Cin Han, ia meloloskan teratai merah dari emas dan permata itu dari rambutnya dan membantingnya di depan Cin Han lalu pergi dengan cepat.

Cin Han memanggil-manggilnya, tapi ia tak perduli, bahkan mempercepat tindakan kakinya.

Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa berlari cepat meninggalkan pemuda yang memanggil-manggilnya.

Pemuda yang merebut hatinya, pemuda yang telah mengalahkannya, pemuda yang menggemaskan, yang ia benci tapi yang membuat ia mengucurkan air mata mendengar panggilannya!

Setelah berlari jauh, ia menetapkan hatinya yang menggelora.

Ia penasaran sekali.

Semenjak turun gunung dan ditinggal mati gurunya yang tercinta, Ong Lun Taihiap, belum pernah ia mendapat malu dan dikalahkan orang.

Ia ingat pengalaman-pengalamannya ketika bersama-sama suhengnya, Hwat Kong Hwesio, menggemparkan kalangan kang-ouw dengan menjatuhkan banyak orang-orang pandai dan ahli-ahli silat ternama.

Maka dengan cepat sekali nama Ang Lian Lihiap naik ke atas, dikagumi kawan disegani lawan.

Tapi sungguh tidak disangka bahwa ia harus jatuh dalam tangan Cin Han, pemuda yang dikiranya hanya seorang pelajar lemah, yang disangkanya hanya pandai dalam kesusasteraan saja itu!

Memalukan sekali!

Dan datangnya ke tempat Cin Han pun tidak mengandung maksud baik.

Ia datang hendak membunuh Gan Keng Hiap, paman Cin Han yang ternyata seorang manis budi, lemah lembut dan berhati baik!

Ah, ia malu.

Malu kepada Cin Han yang menjatuhkan, malu kepada Gan Keng Hiap dan nyonya karena ia datang hendak membunuhnya, dan malu kepada mendiang gurunya karena ternyata ia tak dapat melaksanakan pesannya terakhir.

Demikianlah dengan hati sedih dan penasaran Han Lian Hwa berjalan terus, tak perduli ke mana sepasang kakinya membawanya.

Hari telah senja ketika ia memasuki sebuah kampung kecil.

Tiba-tiba di luar kampung yang sunyi ia mendengar suara anak-anak tertawa.

Ketika ia menengok, tampak dua orang anak-anak, seorang laki-laki seorang perempuan, tengah berkejar-kejaran.

Anak lelaki itu membawa setangkai kembang yang dipegang tinggi di atas kepala dan anak perempuan itu mencoba merampasnya.

"Kembalikan kembangku!"

Kata anak perempuan itu marah.

"Coba ambillah!"

Anak laki-laki tertawa sambil lari dikejar oleh kawannya.

Mereka berkejar-kejaran mengitari pohon-pohon.

Gerakan mereka cepat dan ringan sekali hingga diam-diam Lian Hwa terkejut.

Tak disangkanya bahwa anak-anak itu mempunyai kepandaian ginkang yang istimewa.

Ia memandang dengan kagum.

Ternyata anak perempuan itu kalah cepat dan tak berhasil merampas kembali kembangnya.

Lalu ia menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis.

Lian Hwa merasa kasihan dan gemas kepada anak laki-laki yang menggoda itu.

Ia meloncat mendekati dan berkata dengan suara keren kepada anak laki-laki itu.

"Hayo kembalikan kembangnya. Tak malu anak lelaki menggoda anak perempuan!"

Anak itu memandangnya.

Ternyata ia adalah seorang anak laki-laki berumur kurang lebih tujuh tahun berwajah putih bundar tampan sekali, sepasang matanya seperti bintang pagi penuh kegembiraan dan kejenakaan.

"Aduh galak benar cici ini!"

Katanya.

"Coba tolong kau ambilkan kembang ini untuk Mei Ling!"

Tantangnya.

Han Lian Hwa menjadi gemas.

Ia meloncat mengejar, tapi anak laki-laki itu melesat pergi dengan gesit.

Terpaksa Lian Hwa menggunakan ginkang dan kesebatannya untuk menubruk dan mengulurkan tangan hendak menangkapnya.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara keras dan entah dari mana datangnya, seekor kerbau datang dan hendak menubruk anak laki-laki itu.

Di belakang kerbau itu tampak banyak orang kampung mengejarnya sambil berteriak-teriak.

"Kerbau gila! Kerbau gila!"

Anak laki-laki itu sudah hampir terpegang oleh Lian Hwa, tapi tiba-tiba ia berkelit ke kanan.

Malang baginya, sebelah kakinya menginjak batu licin, maka tak terhindarkan lagi ia jatuh di atas rumput.

Dan pada saat itu kerbau yang mengamuk telah datang dekat hendak menubruknya.

Lian Hwa terkejut.

Secepat kilat ia menggeser kakinya dan ketika kerbau itu menurunkan kepala dan dengan mata merah hendak menanduk anak itu, Lian Hwa mengayunkan kakinya menendang ke arah kaki depan.

"Krak!"

Dan kerbau itu jatuh bersimpuh karena kaki depannya patah tulangnya.

Ia menguak-uak serem dan Lian Hwa menjadi kasihan mendengar rintihannya, maka ia segera mencabut pedangnya dan mengirim satu tusukan ke arah belakang kaki depan yang menembus ke jantung binatang itu.

Seketika itu juga kerbau gila itu mati.

Anak laki-laki biarpun baru saja terlepas dari bahaya maut namun tidak memperlihatkan wajah takut.

Ia tertawa-tawa dan mengangkat tingi-tinggi ibu jarinya.

"Cici hebat, cici jempol!"

Setelah menerima kembali kembangnya, gadis cilik itu tertawa lagi, sepasang lesung pipit manis menghias pipinya kanan kiri.

"Cici, hayo ke rumah kami,"

Katanya dengan suaranya yang merdu.

Karena merasa senang melihat kedua anak itu dan dalam hati heran melihat anak-anak yang luar biasa dan bukan seperti anak kampung biasa ini, Lian Hwa menurut saja kedua tangannya digandeng oleh mereka dan ditarik pergi.

Mereka memasuki sebuah rumah gedung dan begitu melangkah ambang pintu, kedua anak itu berteriak-teriak.

"Nenek! Nenek!! Keluarlah, ada cici datang..."

"A-mei... A-kong...! Darimana kalian! Dan cici yang mana kalian maksudkan?"

Terdengar suara nyaring dari dalam.

Belum habis suara menggema, orangnya tahu-tahu sudah berada di depan Lian Hwa, hingga gadis ini kagum sekali, melihat ginkang yang luar biasa ini.

Ternyata yang berdiri di depannya adalah seorang perempuan tua dan bongkok, tubuhnya kecil kurus dan rambutnya sudah putih semua.

Kedua anak itu memeluk dan memegang lengannya.

Ang Lian Lihiap maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang berilmu, maka segera menjura dalam-dalam untuk memberi hormat.

"Silakan duduk, nona."

Dan tanpa diminta, kedua anak itu segera menceritakan pada neneknya tentang perebutan kembang dan betapa Lian Hwa menolong Kong Liang dari bahaya. Nenek itu memandang tajam kepada Lian Hwa.

"Siocia ini dapat merebut kembang dari tanganmu?"

Tanyanya kepada anak laki-laki itu.

"Tentu saja, nek. Ia cepat sekali, dan kalau saja nenek lihat betapa mudahnya ia menundukkan kerbau gila itu!"

Ia Mengangkat jempolnya. Neneknya makin memperhatikan Lian Hwa, lalu tiba-tiba ia minta kembang itu dari Mei Ling dan berkata kepada Lian Hwa.

"Nona, cobalah kauambil kembang ini dari tanganku,"

Dan ia mengangkat kembang itu tinggi-tinggi di atas kepala. Tentu saja Han Lian Hwa heran sekali melihat lagak nenek ini. Gilakah ia? Ia hanya tersenyum saja dan tidak berani bergerak.

"Hayo cobalah, aku ingin melihat kegesitanmu,"

Kata nenek itu tidak sabar. Maka mengertilah Lian Hwa akan maksud nenek itu. Karena ruangan itu lebar, maka ia lalu berdiri, dan setelah menjura dan berkata.

"Maaf!"

Ia berkelebat untuk merampas kembang dari tangan nenek itu.

Tapi ia hanya melihat bayangan putih lewat secepat kilat disampingnya dan nenek itu lenyap dari pandangan matanya.

Selagi ia bingung, tiba-tiba terdengar suara nenek itu di belakangnya.

"Aku di sini, nona!"

Lian Hwa cepat memutar tubuhnya dan ia menubruk ke arah tangan yang memegang kembang itu, tapi sekali lagi ia kehilangan nenek itu yang tahu-tahu sudah berada di belakangnya pula.

Berkali-kali ia menubruk, untuk kesekian kalinya ia gagal.

Dan yang terakhir sekali karena gemas, Lian Hwa menggunakan tenaga angin pukulannya memukul ke arah tangan yang memegang kembang agar kembang itu terlepas jatuh.

Tapi ia hanya mendengar nenek itu berseru.

"Aya!"

Dan beberapa butir kelopak kembang rontok, ke bawah, tapi nenek itu menghilang lagi.

Lian Hwa cepat memutar tubuhnya, tapi ternyata nenek itu tidak ada di belakangnya.

Ia menengok ke sana ke mari, tapi ternyata orang-tua itu tidak tampak di situ.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Kong Liang dan Mei Ling tertawa-tawa gembira.

"Nenek, turunlah, nek!"

Dan Lian Hwa melihat nenek itu ternyata sedang enak-enak duduk di atas balok yang melintang di bawah langit-langit rumah dengan kembang masih di tangannya!

Nenek tua itu menggerakkan tubuhnya dan melayang turun bagaikan sehelai daun kering.

Han Lian Hwa tunduk betul-betul.

Ah, tak disangkanya di dunia ini banyak orang pandai.

Baru saja ia dikalahkan oleh Cin Han dan kini ia tak berdaya menghadapi seorang nenek tua yang bongkok!

Ia telah berlaku sombong dan jumawa, menyangka bahwa diri sendiri terpandai tiada lawannya.

Ah, seperti seekor katak dalam sumur saja.

Maka ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata.

"Maaf subo, teecu berlaku kurang ajar. Mohon subo sudi menerima teecu yang bodoh sebagai murid."

Ia mengangguk-angguk beberapa kali.

"Siocia, jangan merendahkan diri. Kepandaianmu sungguh hebat. Aku orang-tua bodoh mana berani menganggap kau sebagai murid? Aku tak mempunyai kepandaian apa-apa."

Tapi Han Lian Hwa tetap tak mau bangun.

"Kalau subo tidak sudi menerima teecu sebagai murid, maka biarlah teecu terus berlutut di sini takkan berdiri lagi."

Kedua anak itu tertawa cekikikan.

"Ah, sungguh keras watakmu dan kuat kemauanmu. Jangan begitu nona, bangunlah."

Nenek itu menggunakan kedua tangannya untuk mengangkat bangun kepada Lian Hwa.

Tapi Lian Hwa mengerahkan tenaganya dengan ilmu Benteng Besi Berakar ia membuat tubuhnya berat dan untuk dapat mengangkatnya membutuhkan tenaga ribuan kati!

Tapi ketika nenek itu berkata sekali lagi.

"Bangun!"

Tubuhnya terangkat juga dalam keadaan masih berlutut! Kedua anak itu kagum dan bersorak gembira. Nenek tua menurunkan tubuh Lian Hwa dan menghela napas.

"Apa boleh buat, biarlah kau belajar lagi satu atau dua macam kepandaian."

Lian Hwa girang sekali, ia segera berdiri dan memeluk kedua anak kecil itu dengan gembira.

"Tapi sebelumnya kau harus menuturkan riwayatmu dan siapa gurumu, jangan sekali-kali kau bohong,"

Kata nenek itu dengan suara keren. Han Lian Hwa lalu menceritakan riwayatnya. Ketika mendengar bahwa ia adalah murid tunggal Sian-kiam Koai-jin Ong Lun, nenek itu mengangguk-angguk.

"Tak heran kau begini lihai, tak tahunya, kau murid orang aneh itu. Dalam hal ilmu pedang aku tidak dapat mendidikmu, barangkali aku masih harus menerima petunjukmu. Tapi kurasa Ong Lun belum tentu dapat mengalahkan aku dalam ilmu ginkang dan lweekang. Biarlah kau perdalam kedua ilmu ini di sini."

Dan Ang Lian Lihiap menghaturkan terima kasih dengan girang sekali.

Belakangan ia mendengar bahwa gurunya yang baru ini adalah seorang liehiap-kek yang pada puluhan tahun yang lalu telah membuat nama besar dan tidak kalah terkenalnya oleh Ong Lun si Manusia Aneh.

Tapi nasibnya buruk sekali karena suaminya meninggal dunia ketika ia mempunyai seorang anak laki-laki.

Wanita gagah ini, yang bernama Song Cu Ling dan dijuluki orang Dewi Tanpa Bayangan, mendidik puteranya hingga menjadi seorang ahli silat pula.

Tapi, dasar nasib Dewi Tanpa Bayangan sangat buruk, anak lelaki inipun meninggal dunia karena penyakit menular, demikianpun anak menantunya.

Mereka ini meninggalkan sepasang anak kembar, ialah Kong Liang dan Mei Ling.

Tentu saja Song Cu Ling yang sudah menjadi nenek merasa sedih sekali, dan ia mendidik kedua cucunya itu dengan penuh kasih sayang.

Selanjutnya ia mengasingkan diri di kampung kecil itu, hanya bercita-cita untuk menggunakan sisa hidupnya yang tak seberapa lama lagi untuk mendidik kedua cucunya dengan ilmu silat yang tinggi.

Karena memang telah mempunyai dasar ilmu silat yang lihai, ditambah otaknya yang cerdik dan kerajinannya yang luar biasa dalam waktu tiga bulan saja ginkang dan lweekang Lian Hwa sudah maju pesat sekali.

"Muridku."

Kata Dewi Tanpa Bayangan pada suatu hari.

"terus terang saja, kini semua dasar ilmu ginkang dan lweekang telah kaupelajari semua, tinggal kau latih saja dan kau perdalam dengan penuh kerajinan. Aku tak mempunyai kepandaian apa-apa lagi untuk diajarkan padamu. Tapi dua kepandaian itu, biarpun kau menghadapi lawan yang kepandaian silatnya lebih tinggi, kiranya cukup untuk kau gunakan sebagai pelindung karena kegesitan dan tenaga dalam yang sempurna menambah keuletanmu. Kau takkan mudah dijatuhkan lawan, betapa tinggipun kepandaian lawan itu. Syarat satu-satunya ialah, berlatih terus dengan rajin."

Han Lian Hwa berlutut dan dengan suara pilu berkata.

"Subo, jika boleh, ijinkanlah teecu tinggal lebih lama bersama-sama subo dan kedua adik ini karena teecu juga seorang sebatang kara, dan teecu sayang sekali kepada adik Kong Liang dan Mei Ling."

Song Cu Ling tersenyum sedih dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau masih muda dan tugas hidupmu masih luas. Biarpun kau hanya seorang wanita, tetapi tenagamu sangat dibutuhkan oleh rakyat dalam keadaan sekacau ini. Bantulah mereka yang sengsara dan mereka yang tertindas, karena mereka ini membutuhkan bantuan orang-orang kuat seperti kau, muridku."

Karena pendirian nenek itu sudah tetap, terpaksa dengan sedih Lian Hwa berpamit setelah lebih dulu memeluk dan menciumi kedua anak yang mungil itu.

Di kelak kemudian hari si kembar ini akan menjadi sepasang hiap-kek yang menggemparkan dunia persilatan.

Pada zaman itu, kaisar yang menduduki singgasana dan memerintah daratan Tiongkok, keturunan Boan, telah beberapa kali diserbu oleh orang-orang gagah, hohan-hohan yang berjiwa patriot dan yang ingin membangun kembali pemerintahan sendiri.

Maka kaisar yang cerdik itu lalu menggunakan siasat mengadu domba.

Ia menyebarkan para durna untuk mengobral uang perak dan emas menyogok sana-sini mengumpulkan orang-orang gagah dan mengadu partai itu, sehingga di antara jagoan-jagoan di dunia persilatan terpecah dua, yakni golongan yang anti kaisar dan golongan yang pro kaisar.

Golongan yang pro kaisar mendapat pangkat dan kekayaan serta diberi julukan "pahlawan"

Dan "pengawal."

Dengan tipu muslihat yang licin, kaisar berhasil memecah belah persatuan kalangan kang-ouw.

Di antara orang-orang yang menjadi pengawalnya, terdapat pula gerombolan Pek-Lian-Kauw (Agama Teratai Putih) dan Kwi-Coa-Pai (Perkumpulan Ular Setan).

Pek-Lian-Kauw dipimpin oleh seorang Hwesio bergelar Bong Cu Sianjin, sedangkan Kwi-Coa-Pai dipimpin oleh Kwie-eng-cu Hong Su si Bayangan Iblis.

Dengan adanya dua perkumpulan yang dipimpin oleh dua orang yang berilmu tinggi ini, maka kedudukan golongan yang pro kaisar sangat kuat dan membantu para durna dan pembesar keparat bertindak sewenang-wenang dan memeras rakyat jelata.

Semenjak pertemuannya dengan Han Lian Hwa yang lari dan hanya meninggalkan bunga teratai merah dari emas, Cin Han merasa seakan-akan hatinya ikut terbawa oleh gadis itu.

Ia merasa hidupnya sunyi dan menjadi tidak kerasan lagi tinggal di rumah pamannya.

Tiap hari ia termenung sambil memandang teratai emas berwarna merah yang sering ia pegang-pegang.

Ke manakah perginya nona gagah perkasa yang ia kagumi itu?

Ia kagum dan tertarik sekali melihat kehebatan sepak terjang, kegagahan dan kecantikan Ang Lian Lihiap.

Ia rindu sekali kepada pendekar wanita itu dan makin mendalam perasaannya kalau ia teringat betapa ia hidup sebatang kara dan kesunyian meliputi kehidupannya.

Sebulan kemudian, ia tidak dapat menahan lagi gelora perasaannya yang tertekan.

Maka ia memaksa diri berpamit kepada Gan Keng Hiap suami-isteri untuk pergi merantau.

Tadinya paman dan bibinya sangat menahan kehendaknya ini, bahkan bibinya menangis dengan sedih.

Tapi Cin Han berkata.

"Telah, bertahun-tahun saya menerima budi dan pelajaran yang sangat berharga dari paman dan bibi, maka biar sampai mati saya takkan dapat melupakan budi ini. Sesungguhnya saya senang sekali tinggal di sini dengan paman berdua, tapi sebagaimana pesan suhu pada saya setelah saya tamat belajar kesusasteraan dari siok-hu, saya harus dapat mempergunakan tenaga dan kepandaian saya untuk rakyat. Apa artinya memiliki kepandaian kalau kepandaian itu tidak digunakan?"

Gan Keng Hiap menarik napas dalam. Ia teringat akan keadaan sendiri.

"Kau betul, Han. Memang kalau dipikir-pikir, aku telah bertahun-tahun dengan susah payah belajar kesusasteraan, menempuh ujian dan menjadi seorang sasterawan dan sekarang aku hanya diam saja tidak mempergunakan pengertian dan kepandaianku itu, seakan-akan aku telah mengubur semua itu. Akan tetapi, lihatlah anakku. Lihatlah apa yang dikerjakan oleh orang-orang terpelajar itu? Mereka merebut kedudukan tinggi dan kepandaiannya menulis hanya digunakan semata-mata untuk dua macam maksud rendah.

"Pertama, mereka menggunakan kepandaian menulis surat permohonan sebaik-baiknya untuk menjilat-jilat dan mengambil hati para pembesar atasan. Kedua, mereka menggunakan kepandaian menulis fitnah sejahat-jahatnya untuk mencelakakan rakyat dan orang-orang yang mereka peras. Inilah sebabnya maka aku lebih suka bersembunyi menjadi seorang yang tidak mempunyai guna..."

Kembali orang-tua terpelajar ini menghela napas.

"Tapi Cin Han lain lagi keadaannya,"

Menyambung isterinya.

"ia seorang pemuda bun-bu-coan-jai yang ahli dalam ilmu silat dan ilmu surat."

Gan Keng Hiap mengangguk-anggukkan kepala.

"Memang demikian. Cin Han memang sudah sepatutnya meluaskan pengalaman dan menggunakan dua macam kepandaian itu untuk berbakti kepada rakyat kita. Biarpun kami sangat berat melepasmu, Han, tapi demi kepentinganmu sendiri, terpaksa kami memberi persetujuan akan maksud merantau ini. Hanya pesanku, anakku, janganlah kau lupakan kami orang-orang-tua ini..."

"Dan hati-hatilah, Han jaga dirimu baik-baik..."

Pesan bibinya.

Cin Han sangat terharu akan kebaikan hati kedua orang-tua itu.

Maka ketika ia meninggalkan mereka, mau tidak mau ia merasa sedih juga.

Pada suatu hari, dalam perantauannya, Cin Han tiba di kota Hun-kap-teng.

Kota ini ramai, toko berderet-deret dan beberapa rumah penginapan besar merangkap rumah makan berdiri gagah di pingggir jalan raya.

Cin Han senang sekali melihat keadaan kota yang bersih dan makmur itu.

Sambil menikmati pemandangan toko-toko di kanan kiri jalan, Cin Han menuju ke sebuah rumah penginapan yang mewah.

"Selamat siang Kongcu,"

Seorang pelayan menyambut dengan senyumnya.

"Kongcu membutuhkan kamar? Kami mempunyai beberapa kamar kosong yang indah."

Cin Han mengangguk senang kepada pelayan yang peramah itu. Tapi sebelum memilih kamar, ia diharuskan memasuki kantor dulu, dan pengurus kantor ternyata tidak seramah pelayan tadi.

"Kongcu bernama siapa, datang dari mana dan hendak ke mana? Apa maksud kedatangan ke kota ini?"

Cin Han mengerutkan kening sambil memandang wajah pengurus hotel yang kurang ajar itu.

Ternyata pengurus itu lebih menyerupai seorang jagoan.

Tubuhnya tinggi besar, pakaiannya seperti seorang jago silat dan sebatang golok tergantung di dinding belakang mejanya.

Tapi pada saat Cin Han memandangnya, ia tengah tunduk memandang buku catatan dan tak memperhatikan tamunya, seakan-akan pertanyaannya tadi keluar dengan begitu saja dari mulutnya.

"Apa artinya ini?"

Tanya Cin Han.

"Aku datang hendak menyewa kamar bukan seorang pencuri ayam yang datang membuat pengakuan!"

Pengurus, hotel itu menggerakkan kepalanya yang besar dan memandang tamunya dengan heran. Ia tidak menyangka akan ada orang seberani itu.

"Hemm, Kongcu orang luar daerah ini, ya? Ketahuilah, semua tamu yang memasuki kota ini harus mendaftarkan nama dan alamat lebih dulu. Kalau tidak, bukan hanya mendapat kamar, tapi bahkan ada kemungkinan ditangkap!"

"Apa? Ditangkap? Kenapa dan oleh siapa?"

Pengurus tinggi besar itu menjadi marah. Ia berdiri dengan mengepal tinju lalu bentaknya keras.

"Jangan banyak tanya! Beritahukan nama dan jawaban semua pertanyaanku tadi, kalau tidak, pergi saja dari sini!"

Tentu saja Cin Han tidak dapat menahan panas hatinya mendengar dampratan ini. Ia bertolak pinggang dan memandang tajam.

"Hmm, kau ini bangsa perampok atau pengurus hotel? Pangkatmu apa maka begitu galak dan sombong? Rumah ini dibangun untuk penginapan umum, dan tuan besarmu datang menginap bukannya tidak bayar uang sewa. Sekarang aku tidak sudi menjawab pertanyaanmu dan tidak sudi pergi, habis kau mau apa?"

Tantangnya dengan gemas. Pengurus itu marah sekali.

"Bangsat kurang ajar! Kau minta dihajar!"

Ia mengangkat kepalan tangannya yang sebesar buah kelapa muda itu dan mengayunkan ke arah pipi Cin Han.

Tapi pemuda itu hanya memiringkan kepala dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke arah siku orang yang memukul itu.

Terdengar jerit kesakitan dan lengan kanan orang tinggi besar itu menjadi lumpuh, tergantung tidak berdaya di sisi tubuhnya!

Ternyata sambungan siku orang itu telah terlepas.

"Bagus sekali!"

Tiba-tiba terdengar seruan seorang tinggi besar bercambang bauk yang memasuki ruangan itu.

"Siapa berani mengacau di sini?"

Dan tanpa bertanya lagi ia menyerang Cin Han dari belakang.

Cin Han mendengar sambaran angin pukulan yang hebat juga itu berlaku gesit.

Ia meloncat ke samping dan memutar tubuhnya.

Si tinggi besar yang sudah maju lagi hendak mengulangi serangannya, tiba-tiba berdiri dan berseru dengan girang.

"Eh, eh, tidak tahunya Hwee-thian Kim-hong yang berada di sini! Selamat datang, selamat datang, sobatku!"

Cin Han memperhatikan orang tinggi besar bercambang bauk itu.

Akhirnya ia teringat juga.

Ternyata ia adalah Lie Thung si Iblis Sungai Yang-ce dari kampung Kwan-lian-chung yang dulu menjadi kepala bajak dan pernah mencegatnya.

"Eh, kaukah ini, Lie-tai-ong?"

"Hush, jangar menyebut tai-ong (raja, sebutan kepala bajak) lagi padaku. Aku telah mencuci tangan dan menjadi orang baik-baik,"

Katanya tersenyum dan menarik tangan Cin Han diajak duduk di kursi dekat meja di sudut. Pelayan yang terlepas sambungan sikunya tadi mendekati mereka dan berkata sambil menyeringai kesakitan.

"Maafkan saya, Kongcu, saya tidak tahu bahwa Kongcu adalah sahabat dari Lie-Taihiap."

Lie Thung memandangnya marah, lalu berdiri dan dengan beberapa ketukan dan usapan ia memulihkan tulang siku pelayan itu.

"Nah, biar pengalaman tadi menjadi pelajaran bagimu agar matamu lebih terbuka dan dapat melihat barang aseli atau tiruan. Pergilah dan sediakan hidangan untuk Lo Enghiong ini."

Cin Han merasa senang melihat keadaan Lie Thung yang tampaknya benar-benar telah mencuci tangan dari pekerjaannya membajak.

Ia lalu bertanya tentang pekerjaan Lie Thung.

Bekas kepala bajak itu tertawa senang.

"Pekerjaanku? Ah, aku menjadi anggauta perkumpulan pembasmi orang jahat. Aku menebus dosaku yang sudah-sudah dan belajar menjadi seorang patriot pembela negara dan rakyat dengan jalan membantu memusnahkan orang-orang jahat dan berbahaya."

"He! Ada perkumpulan seperti itu di sini? Ah, hebat sekali."

Cin Han berseru kagum, lalu dia menanyakan lebih lanjut. Dengan panjang lebar Lie Thung menceritakan tentang perkumpulannya.

"Perkumpulanku bernama Kwi-Coa-Pai dan mempunyai sejumlah anggauta yang hanya terdiri dari orang-orang gagah di seluruh propinsi Tiongkok. Bengcu kami adalah seorang yang gagah perkasa dan jarang ada tandingannya di jaman ini. Kau belum mendapat kamar? Jangan sibuk, kawan, mari ikut aku ke tempat kami, di sana kami menyediakan banyak kamar dan tempat bagi kawan-kawan dan orang-orang gagah seperti kau."

"Ah, biarlah Lie-Twako, jangan bikin repot saja."

Cin Han mencegah, tetapi di dalam hati dia sangat kagum melihat kejujuran dan keramahtamahan bekas raja bajak ini.

"Tentu saja aku tidak berani memaksamu. Tapi kebetulan malam ini bengcu kami merayakan hari she-jitnya yang kelima puluh delapan, maka di sana diadakan sedikit perayaan. Dan kini semua hohan ternama telah berkumpul di sana. Kau yang masih muda ini apakah tidak ingin menggunakan kesempatan ini untuk berjumpa dan berkenalan dengan mereka?"

Cin Han berpikir bahwa memang ini kesempatan yang baik untuk meluaskan pengalaman dan melihat serta berkenalan dengan orang-orang gagah, maka ia akhirnya menyetujui dan menerima ajakan Lie Thung.

Sementara itu, pengurus rumah penginapan itu sudah datang pula dengan diikuti beberapa orang pelayan membawa bermacam-macam hidangan dan si pengurus sendiri mengatur hidangan di atas meja.

Cin Han heran juga melihat betapa Lie Thung agaknya berpengaruh di kota itu, maka sambil makan ia memandang bekas bajak ini dengan curiga.

Agaknya Lie Thung tahu bahwa dirinya dicurigai kawan barunya, maka sambil menyumpit sepotong daging yang dimasukkan ke mulut dan dikunyah dengan nikmatnya, ia berkata.

"Saudara Lo, aku tadi lupa memberitahukan kepadamu bahwa rumah penginapan dan rumah makan ini, seperti halnya dengan beberapa buah rumah penginapan besar yang lain di kota ini, semua adalah milik perkumpulan kami. Dan ketahuilah, sebuah dari pada tugas-tugasku ialah sebagai pengawas rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan ini."

Cin Han mengangguk-anggukkan kepala. Ah, demikian kayakah Perkumpulan Ular Setan (Kwi-Coa-Pai) ini? Diam-diam ia makin kagum saja.

"Ketahuilah, saudaraku, perkumpulan kami karena tugasnya melindungi rakyat dan penduduk kota, maka banyak orang bersimpati dan memberi sumbangan besar sehingga kami tidak merasa khawatir akan keadaan kas perkumpulan kami."

Sehabis makan maka Cin Han ikut Lie Thung menuju ke tempat perkumpulan Kwi-Coa-Pai. Ternyata tempat itu merupakan sebuah gedung yang besar sekali sehingga Cin Han ragu-ragu dan terkejut.

"Kau kagum, kawan?"

Kata Lie Thung bangga.

Baca Juga: Pendekar Penyebar Maut 3

Baca Juga: Naga Sakti Sungai Kuning 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert