Eps 4 Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo.
Padahal, sesungguhnya dasar dari semua ciptaan Tuhan adalah sempurna, karena Tuhan adalah Maha Sempurna, tidak ada seorang pun bayi yang jahat!
Pandang mata dan senyum tawa seorang bayi, bahkan tangisnya, adalah suci.
Baru setelah pengertian pikiran menguasainya, akal budi dan pikiran ini yang memberi pupuk kepada si-akunya dan mulailah muncul sifat-sifat yang buruk itu.
Hanya seorang manusia yang mengenal benar semua sifat jahatnya ini, yang secara seketika membersihkan diri dari semua sifat yang buruk, dia seolah-olah membersihkan kaca-kaca jendela yang kotor berdebu dan yang menghalangi masuknya sinar matahari, dan barulah dia menjadi pulih kembali seperti seorang bayi, bersih, wajar dan suci.
Selama tindakan pembersihan diri ini tidak dilakukan secara seketika, maka segala usaha lain takkan ada gunanya.
Menutup-nutupi kekotoran tidak akan mendatangkan kejernihan, satu-satunya jalan hanyalah membuang kotoran-kotoran itu seketika.
oooOOOooo Pengemis atau orang yang berpakaian seperti pengemis penuh tambal-tambalan itu masih muda, kurang lebih dua puluh tahun usianya.
Kalau melihat keadaan tubuhnya, sungguh tidak pantas dia mengenakan pakaian pengemis, atau pakaian yang butut penuh tambalan itu.
Tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, sikapnya juga sopan, kepalanya selalu menunduk dan pendiam, langkahnya sopan dan gagah, tidak nanpak sikap rendah diri, matanya tajam cerdik, wajahnya cerah Akan tetapi kenyataannya ketika berhenti di depan sebuah toko obat pemuda ini mengemis!
Biarpun sikap dan kata-katanya tidak seperti pengemis sembarangan yang memelas, namun tetap saja dia mohon pertolongan orang.
Kepada pemilik toko obat di kota raja itu, sebuah toko obat yang besar, dia memberi hormat dan berkata dengan sikap yang hormat tanpa malu-malu.
"Harap Lo-ya (Tuan Tua) suka memaafkan saya kalau saya mengganggu. Saya mohon pertolongan Lo-ya untuk memberi sedekah berupa obat untuk orang yang sudah lanjut usia, obat panas dan batuk. Mohon kebaikan budi Lo-ya untuk menolong saya."
Pemilik toko obat yang usianya sudah ada enam puluh tahun, berperut gendut sekali seperti sebagian besar orang kaya di kota raja, memandang dengan alis berkerut.
Pengemis ini tentu pengemis baru atau asing, pikirnya karena belum pernah dia melihat sebelumnya.
Timbul rasa tidak sukanya melihat tubuh pengemis yang demikian sehat dan gagah, jauh lebih gagah daripada putera-puteranya.
"Hemmrn, sungguh engkau ini orang pemuda yang tidak tahu malu sama sekali Dia berkata sambil mengelus jenggotnya.
"Engkau masih begini muda, kenapa tidak mau bekerja dan menjadi pengemis ? Hayo pergi, aku tidak mau menolong orang malas! Pergi atau kupanggilkan penjaga keamanan agar engkau ditangkap!"
Pengemis muda itu menahan senyumnya.
Sedikitpun dia tidak menjadi merah muka atau marah.
Agaknya, cemooh dan makian seperti itu sudah terlalu sering dia terima sehingga dia sudah merasa kebal.
Dia membungkuk lalu pergi seenaknya.
Pengemis muda itu adalah Si Han Beng!
Seperti kita ketahui, lima tahun yang lalu dia bertemu dengan gurun yang ke dua, yaitu Sin-ciang Kai-ong Si Raja Pengemis Bertangan Sakti dan menjadi muridnya.
Karena gurunya ini hidup berkelana sebagai seorang pengemis maka Han Beng juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan gurunya berpakaian sebagai pengemis, bahkan juga minta-minta untuk makan mereka sehari-hari.
Pernah Han Beng mengajukan rasa pesaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai pengemis.
"Suhu adalah seorang di antara tokoh-lokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi di jaman ini. Kalau Suhu kehendakinya, dengan kepandaian itu, suhu dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan, atau dapat menjadi usahawan yang berhasil, bahkan kalau Suhu memerlukan harta benda, apa sukarnya? Akan tetapi mengapa Suhu bahkan menjadi seorang pengemis? Maaf, suuhu, bukankah masyarakat umum memandang pengemis itu sebagai orang yang yang rendah, hina dan pemalas?"
Sin-ciang Kai-ong sama sekali tidak marah, bahkan tertawa bergelak mendengar pertanyaan muridnya itu.
"Uwah, ha-ha-ha! Han Beng, muridku yang baik, apakah engkau sungguh-sungguh tidak melihat betapa mulianya pengemis dan betapa besar jasa-jasanya, asalkan dia.menjadi pengemis seperti kita ini, bukan karena malas?"
Han Beng maklum bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki watak aneh, akan tetapi dia percaya penuh akan kesaktian dan kebijaksanaan kakek berpakaian jembel itu.
Mendengar ucapan itu dia memandang heran.
"Mulia dan berjasa besar? Teecu sungguh tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan."
"Dengarlah baik-baik, muridku."
Wajah yang biasanya suka tertawa dan cerah itu kini memandang serius, dan suaranya yang biasanya suka berkelakar itu kini terdengar bersungguh-sungguh.
"Aku adalah seorang kelana yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, tidak lebih dari satu dua hari berada di suat tempat. Ini menyebabkan tidak mungkin aku bekerja mencari sesuap nasi Orang tentu takkan mau mempergunakan tenaga orang yang tinggalnya tidak tetap dan hanya untuk sehari dua hari saja. Bukan karena malas, melainkan terpaksa aku mengemis untuk mengisi perut mempertahankan hidup. Bukankah lebih baik mengemis daripada mencuri atau merampok? Sekarang mengapa kukatakan mulia? Karena pekerjaan ini merupakan latihan yang amat baiknya bagi kita, bagi engkau terutama, Han Beng. Dengan mengemis, engkau belajar untuk rendah hati! Latihan ini menghilangkan kesombongan diri, menghilangkan pandangan terlalu tinggi kepada diri yang hanya memperbesar perasaan si-aku yang serba hebat! Dan mengapa berjasa? Karena, hrngemis setidaknya membangkitkan rasa perikemanusiaan dalam hati orang baik, menyentuh perasaan mereka untuk menaruh iba kepada sesama hidup yang sedang menderita kesusahan."
Demikianlah, semenjak memperoleh keterangan dari gurunya, Han Beng tidak merasa malu-malu atau ragu-ragu lagi untuk mengemis!
Bahkan dia menganggap hal ini sebagai suatu latihan batin yang baik sekali.
Dia kini dapat melihat sikap orang yang menghinanya, mencemoohkannya, tanpa perasaan marah atau sakit hati sedikit pun, bahkan diam-diam mentertawakan mereka, dan dari sikap mereka itu dia dapat mempelajari banyak watak manusia.
Latihan ini amat baik untuk memupuk kesabaran, pandangan yang luas dan perasaan rendah hati yang mendalam.
Demikianlah, ketika dia diusir oleh majikan toko obat yang perutnya gendut, dia pergi tanpa merasa sakit hati.
Hanya hatinya merasa agak gelisah.
Dia tidak membohong ketika mengemis obat.
Gurunya jatuh sakit!
Gurunya terserang penyakit demam panas dan batuk!
Heran juga dia bagaimana seorang sakti seperti gurunya dapat terserang penyakit.
Hal ini mengingatkan dia akan kcnyataan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, namun badan manusia ini perlu dirawat sebaiknya, menjaga kesehat harus dilakukan dengan sungguh sungguh, kebersihan harus dijaga.
Kepandaian silat membuat orang pandai melindungi dirinya terhadap serangan dari luar memperbesar tenaga dan kecepatan.
Akan tetapi terhadap penyakit yang menyerang entah dari mana, yang tidak nampak seorang pesilat yang betapa pandai pun takkan mungkin dapat mengelak atau menangkis!
Dan tubuh ini takkan bebas dari penyakit, usia tua dan kematian.
Biarpun gurunya menerima datangnya penyakit itu dengan tenang dan sabar, namun Han Bcng merasa gelisah dan dia merasa iba kepada suhunya.
Demikianlah kalau orang hidup sebatangkara, tiada keluarga dan tiada rumah.
Kalau sakit, tidak ada yang merawat, tidak ada yang mempedulikan.
Sudah sejak pagi sekali tadi dia mengemis obat, namun hasilnya selalu berupa penghinaan, makian dan cemoohan.
Ingin rasanya sekali ini dia melanggar pantangan suhunya.
Betapa mudahnya meloncat naik ke atas genteng rumah atau toko obat itu, melalui genteng masuk ke dalam dan mencuri obat apa saja yang dia butuhkan!
Takkan ada yang tahu.
Andaikata ada yang tahu juga, dia dapat menyelamatkan diri dengan amat mudahnya!
Terjadi perang dalam batinnya antara yang mendorong dia untuk mencuri saja dan yang menentangnya.
Pada saat itu, dia melihat sebuah toko obat lain lagi di depan.
Tempat itu agak ramai, dekat dengan pasar dan dalam batinnya Han Beng mengambil keputusan bahwa kalau sekali lagi dia gagal mendapatk obat dengan jalan mengemis, dia akan mencuri saja!
Untuk satu kali saja, karena dia amat membutuhkan obat.
Toko obat di depan itu tidak sebesar toko obat yang baru saja mengusirnya, akan tetapi dia melangkah tanpa ragu ke depan pintu toko itu.
Dia melihat bahwa penjaga toko itu seorang gadis berusia delapan belas tahunan, dibantu oleh orang pegawai pria yang usianya sudah setengah tua.
Gadis dan dua orang pegawainya itu memandang kepada Han Beng, dan terutama sekali kepada pakaiannya yang tambal-tambalan.Dua orang pegawai mengerutkan alisnya, jelas kelihatan tidak senang hati mereka.
Seorang diantara mereka bahkan segera menegur.
"Engkau datang ke sini mau apa? sini menjual obat, bukan menjual makanan. Kalau engkau hendak minta-minta.........."
"Kulihat tidak ada sabuk merah pinggangmu! Kami tidak dapat memberi sedekah kepadamu......"
"Paman!"
Tiba-tiba gadis itu menegur dengan suara yang keras kepada dua orang pegawainya.
"Kalian tidak boleh sikap seperti itu!"
Dua orang pegawai itu menundukkan muka dan kelihatan sungkan dan patuh kepada nona mereka.
Kini gadis itu bangkit berdiri dan menghadapi Han Beng, hanya terhalang lemari tempat obat.
Sejenak mereka saling pandang penuh perhatian.
Biarpun tidak secara langsung, Han Beng mengamati gadis itu.
Seorang gadis berusia delapan belas tahun, bertubuh ramping dan agak tinggi kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya, wajahnya manis dan anggun, dengan mata yang jernih dan mulut yang ramah.
Gadis itu pun membayangkan keraguan dan keheranan dalam pandang matanya ketika ia mengamati Han Beng penuh selidik.
Seorang pemuda yang begini gagah, juga tubuhnya terawat baik dan bersih, biarpun mengenakai.
pakaian tambal-tambalan, agaknya tentu bukan seorang peminta-minta!
la pun memperlihatkan senyumnya yang manis dan ramah sebelum bicara dengan suara halus.
"Harap Saudara memaafkan sikap dua orang pegawai kami. Maklumlah mereka seringkali diganggu oleh para peminta-minta sehingga sikap mereka agak kaku. Dapatkah kami membantu Saudara. Di sini kami mempunyai persediaan lengkap."
Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang membuat wajahnya agak kemerahan!
Dia biasanya diterima dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru sekali orang menghadapinya sebagai bukan jembel, sebagai seorang pembeli biasa!
Menghadapi pengalaman baru ini, Han Beng agak tertegun dan betapa dia mengharapkan saat itu ada uang cukup di sakunya agar dia dapat benar-benar membeli obat yang di butuhkan.
Apalagi pandang mata gadis itu demikian penuh kepercayaan, sedikit pun tidak ada bayangan mengejek atau menghina dalam pandang mata itu.
Akan tetapi dia harus menyadari kenyataan dan dengan "menebalkan"
Muka, dia pun berkata, suaranya lembut.
"Saya memang membutuhkan obat, Nona. Guruku sakit, terserang demam panas dan batuk, sudah dua minggu........"
"Demam panas dan batuk? Ah, tentu ada obat untuk itu! Gurumu itu, apakah usianya?"
"Sekitar enam puluh lima tahun, Nona."
"Baiklah, kautunggu sebentar, biar diambilkan obatnya. Paman Ji, tolong berikan obat untuk penyakit demam panas dan batuk yang diderita seorang tua. Oya, berapa bungkuskah yang Saudara kehendaki? Sebungkus untuk sekali masak dan diulang sampai dua kali,' Air dua mangkok tinggalkan setengah mangkok."
"Secukupnya sampai sembuh, Nona."
"Kukira tiga bungkus pun sudah cukup. Sediakan tiga bungkus, Paman Ji!"
Pembantunya itu segera mengumpulkan obat rempah-rempah dan menimbanginya, dipersiapkan di atas kertas pembungkus sebagai tiga helai.
"Maafkan saya, Nona. Saya memang membutuhkan obat untuk guruku yang sakit, akan tetapi ........ saya .......... Maksud saya....... , hendak mohon bantuan Nona untuk memberikan obat kepada saya. Saya tidak mempunyai uang untuk membelinya..........."
Gadis itu nampak tercengang. Kiranya benar juga dua orang pembantun tadi. Pemuda itu mengemis! Sungguh luar biasa. Sama sekali tidak pantas menjadi pengemis.
"Nah............ nahhh .........., betul tidak dugaan kami, Nona? Dia tentu hanya datang untuk mengemis! Sungguh tidak tahu malu, masih muda dan kuat lagi, dan bukan anggauta Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pergilah kau dari sini!"
"Sssttt, Paman Ji! Diam kau, biar aku yang mengurus persoalan ini!"
Bentak gadis itu. Kemudian ia menghadap Han Beng dan suaranya halus ketika berkata.
"Saudara, tahukah gurumu bahwa engkau pergi mencarikan obat untuknya dengan jalan minta-minta?"
"Tentu saja dia mengetahuinya." , Gadis itu membelalakkan matanya yang indah.
"Dan dia tidak melarang muridnya melakukan hal yang merendahkan namanya itu?"
Han Beng tersenyum dan membayangkan betapa suhunya akan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini.
Suhunya yang berjuluk Raja Pengemis, melarang muridnya mengemis?
Alangkah lucunya pertanyaan gadis itu.
"Guruku sendiri juga suka mengemis mengapa dia harus melarang saya?"
Seorang pembantu gadis itu yang masih merasa penasaran lalu berkata "Mungkin gurunya seorang pengemis dan yang diajarkan adalah ilmu mengemis!"
Gadis itu menoleh dan melotot pada pembantunya, akan tetapi Han Beng yang sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu, cepat berkata.
"Benar sekali memang guruku seorang pengemis dan yang diajarkan kepadaku adalah ilmu mengemis. Nona, maukah Nona menolongku, ataukah tidak? Kalau tidak saya akan mengemis ke toko lain........."
"Ah, boleh, boleh ...... tentu saja akan kuberi, bukankah sudah dibungkuskan obat itu?"
Gadis itu lalu mengambil tiga bungkus obat dan hendak diserahkan kepada Han Beng, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Tidak boleh! Tidak boleh memberi apa pun juga kepada pengemis busuk yang lancang ini!"
Ketika semua orang menoleh, ternyata telah muncul tiga orang laki-laki usia empat puluh tahun dan lucunya, yang melarang orang memberi bantuan pada Han Beng yang dimaki sebagai seorang pengemis busuk itu .......
adalah juga orang berpakaian pengemis pula!
seperti juga Han Beng, tiga orang pendatang ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan tetapi kainnya masih baru, agaknya memang sengaja dibuat tambal-tambalan dari kain-kain berwarna-warni dan berkembang.
Di pinggang mereka terdapat sabuk merah.
Ini menandakan bahwa mereka adalah tiga orang anggota Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah) yang amat terkenal di kota raja.
Seluruh pengemis kota raja adalah anggauta Ang-kin Kai-pang dan mereka semua mengenal sabuk merah sebagai tanda bahwa mereka adalah anggauta perkumpulan itu.
Ang-kin Kai-pang menganggap bahkan merekalah yang berhak menguasai seluruh kota raja dan daerahnya, dan setiap orang pengemis bukan anggauta, baik dari dalam maupun luar kota, tidak diperbolehkan mengemis di kota raja daerahnya tanpa seijin mereka!
Dan untuk menertibkan ini, jagoan-jagoan Ang-kin Kai-pang setiap hari mengada perondaan dan kini, yang muncul depan toko obat melarang pemilik toko obat memberi sedekah kepada Han Beng adalah tiga orang tukang pukul Ang-Kai-pang.
Perkumpulan ini memang berpengaruh sekali dan ditakuti orang, mereka bukan saja menghimpun para penjahat untuk bergabung dan menjadi tukang-tukang pukul, akan tetapi bahkan mereka sanggup mendekati para pembesar dan dengan jalan memberi suapan-suapan besar-besaran perkumpulan ini menjadi "sahabat"
Para pembesar tinggi.
Orang tentu akan merasa heran bagaimana perkumpulan pengemis mampu menyewa tukang-tukang pukul bahkan menyuap para pembesar?
Hasil mereka itu besar bukan main!
Setiap orang anggauta diwajibkan untuk menyerahkan sepuluh prosen dari hasil mereka mengemis kepada perkumpulan itu.
Perkumpulan ini, dari ribuan bahkan puluhan ribu pengemis di kota raja dan daerahnya, tentu saja merupakan harta yang amat besar jumlahnya.
Dan perkumpulan itu pun dipimpin oleh orang-orang yang pandai, bahkan kabarnya yang duduk paling atas adalah seorang datuk sesat yang sakti!
Han Beng yang sudah kegirangan mendapatkan obat yang dibutuhkannya, ketika siap menerima tiga bungkus obat itu dengan pandang mata bersukur, tentu saja mendongkol juga melihat sikap tiga orang ini.
Mereka itu pun pengemis-pengemis, seperti dia, bagaimana kini mengganggu sesama "rekan"?
Belum pernah dia menjumpai kekurangajaran seperti itu!
"Kawan-kawan,"
Katanya tenang namun tegas.
"Mengapa kalian datang-datang melarang orang memberi pertolongan kepadaku dan mengapa pula kalian memaki aku?"
Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar dan hidungnya merah sekali, besar dan merah seperti jambu masak, menepuk-nepuk perutnya yang gendut.
"Bocah lancang! Apakah matamu sudah buta dan engkau tidak melihatl sabuk merah ini? Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang, dan engkau pengemis busuk ini berani bertanya lagi mengapa kami melarang engkau pengemis di sini? Apakah engkau sudah mendapatikan ijin dari pimpinan kami?"
Han Beng tertawa, di dalam hatinya dia bahkan tertawa bergelak.
Minta-minta saja harus mendapat ijin!
Ijin mengemis!
"Tidak, aku tidak pernah mendapatkan ijin, bahkan tidak pernah meminta ijin.
Aku hanya lewat saja di kota raja ini, bukan untuk menetap dan melakukan, pekerjaan mengemis."
"Pengemis tetap maupun mengemis sementara harus mendapat ijin lebih dulu dari pimpinan kami Pendeknya, engkau harus cepat pergi dari sini!"
"Aku pergi...... aku pergi.....!"
Kata Han Beng, tidak mau mencari keributan di tempat orang.
"Nanti dulu, kau terimalah obat-obat untuk gurumu yang sakit,"
Kata gadis itu.
la menyerahkan obat itu sambil keluar dari tokonya, menghampiri Han Beng.
Han Beng juga menjulurkan lengan untuk menerimanya.
Akan tetapi, tiba-tiba pengemis perut gendut itu menggerakkan tangannya menampar ke arah bungkusan obat yang akan diserahterimakan itu.
"Plakkkkk"
Bungkusan-bungkusan itu terlepas dari tangan Si Gadis dan terlempar ke atas tanah!
Kini gadis itu membalikkan tubuh menghadapi Si Gendut, mukanya marah sekali, alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong.
Pengemis gendut itu menyeringai, dan agaknya merasa gugup juga melihat betapa gadis itu kini menghadapi dengan penuh kemarahan.
"Nona, jangan memberikan apa-kepadanya. Kalau diberikan juga, tak urung kami akan merampas barang itu dari tangannya, bahkan dia akan kami pukul setengah mati."
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 10 Gadis itu sejak tadi diam saja, akan tetapi sinar matanya seperti hendak membakar wajah orang.
Tiba-tiba, tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menuding ke arah tiga buah bungkusan yang berserakan di atas tanah, lalu dia berkata kepada pengemis perut gendut dengan suara memerintah.
"Ambil !!"
Pengemis gendut itu terbelalak, memandang ke arah bungkusan-bungkusan itu lalu kepada Si Nona yang bersikap galak.
Tentu saja dia tidak sudi melaksanakan perintah yang dianggapnya menghina itu.
Dia adalah seorang di antara tokoh Ang-kin Kai-pang yang terkenal, ditakuti dan biarpun dia berpakaian pengemis, namun sabuk yang terlilit dipingangnya berwarna merah cerah, bukan merah muda sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada para anggauta lainnya.
Dia biasa memerintah, bukan diperintah, kecuali tentu saja oleh para pimpinan Kai-pang yang lebih tinggi kedudukannya, atau atasannya "Ambil, kataku!
Apakah engkau tuli?"
Bentak gadis itu dengan suara semakin lantang. Pengemis ke dua yang bertubuh tinggi kurus dan agak bongkok segera menjawab dengan suara memprotes.
"Nona, mengapa Nona hendak membela pengemis asing ini? Siapa tahu dia ini seorang mata-mata, atau seorang jahat yang hendak mengacaukan kotaraja dengan menyamar sebagai pengemis.Hanya pengemis Ang-kin Kai-pang yang boleh dipercaya!"
"Aku tidak membela siapa-siapa hanya menentang kalian yang kurang ajar. Obat itu adalah milikku, akan kuberikan kepada siapapun juga, kalian peduli apa? Bukan milik nenek moyangmu! engkau sudah berani memukulnya hingga tiga bungkusan itu terjatuh, ke atas tanah. Sekarang kuperintahkan kalian untuk mengambilnya kembali dan menyerahkan kepadaku, ataukah aku harus memaksa kalian?"
Diam-diam Han Beng terkejut dan dia siap siaga.
Nona ini memang amat baik dan gagah, akan tetapi juga sembrono sekali.
Dia dapat melihat bahwa tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang ini sedikit banyak tentu pandai ilmu silat dan sudah terbiasa memaksakan kehendak mereka dengan kekerasan.
Dan gadis itu berani menentang mereka!
Si Perut Gendut menjadi merah mukanya.
Namun agaknya dia masih menjaga gengsi, tidak ingin ribut dengan seorang gadis cantik, maka dia masih menganggap bahwa gadis itu tentu belum mengenal siapa mereka.
"Nona, dengar dan lihat baik-baik. Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang,"
Dia menepuk pinggangnya memperlihatkan sabuk merah cerah yang menjadi tanda anggauta dan tingkat.
"dan kami datang untuk menyelamatkan Nona dari tipuan pengemis busuk ini. Semua pengemis di kota raja adalah anggauta kami, Nona, dan orang ini adalah penyelundup dari luar kota."
"Tidak peduli!"
Gadis itu membentak "Biar kalian pengemis dari neraka pun tidak berhak melarang aku menolong siapa saja. Hayo cepat ambil bungkusan-bungkusan obat itu!"
Si Perut Gendut kini menjadi marah. Dia merasa ditantang oleh seorang gadis muda! "Hem, bagaimana kalau kami tidak mau, Nona?"
Gadis itu tersenyum dingin.
"Terpaksa aku akan memaksa kalian untuk melakukannya!"
Tiga orang pengemis itu saling pandang, lalu tertawa. Si Tinggi Kurus bertanya.
"Ha-ha-ha, bagaimana caranya Nona?"
"Caranya begini!"
Tiba-tiba tubuh gadis itu menerjang ke depan dan sebelum Si Tinggi Kurus itu sempat mengelak atau menangkis, dua kali ujung sepatunya menendang lutut dan tangannya mendorong.
Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Si Kurus itu terjengkang, pantatnya yang tipis terbanting ke atas tanah, sehingga dia meringis kesakitan Debu mengepul dan gadis itu berkata.
"Nah, ambillah bungkusan itu!"
Dua orang temannya menjadi terkejut bukan main.
Sungguh mereka tidak menyangka akan ada orang berani menjatuhkan seorang di antara mereka dan yang berani melakukan hal itu justeru seorang gadis muda!
Pengemis ke tiga yang mukanya hitam karena suatu penyakit sehingga kulit muka itu tebal dan keras kasar, menerjang ke depan dan kedua tangannya mencengkeram untuk menangkap kedua pundak gadis itu.
Namun, dengan gerakan lincah sekali, gadis itu menggeserkan kaki memiringkan tubuhnya.
Dengan kecepatan luar biasa, sambil memiringkan tubuh, pada saat tubuh pengemis itu lewat dan luput menerkamnya, lututnya diangkat dengan tiba-tiba, tepat menyambut perut lawan.
"Ngekkk!"
Perut itu dimakan lutut membuat Si Pengemis membungkuk memegangi perut.
Gadis itu melihat sasaran lunak ketika tubuh itu membungkuk, yaitu tengkuk yang telanjang, maka tangan kirinya cepat membacok ke arah tengkuk.
"Kekkk!"
Tubuh orang itu pun terjungkal! "Nona, engkau keterlaluan, berarti menentang kami!"
Bentak Si Perut Gendut.
"Kalian yang kurang ajar dan patut diberi pelajaran agar tidak mengganggu orang lain!"
Sementara itu, Han Beng memandang dengan hati lega dan kagum.
Kiranya nona itu lihai!
Gerakannya begitu cepat dan otomatis, juga pandai mengatur gerakan menggunakan tenaga secara tepat sekali.
Akan tetapi kini Si Gendut sudah mengangkat tongkatnya, sebatang tongkat hitam terbuat dari bambu yang ujungnya dipasangi besi runcing!
Dan dengan senjata ini, dia menyerang gadis itu!
Han Beng terkejut dan dia sudah siap siaga untuk melindungi gadis itu.
Akan tetapi segera dia tahu bahwa gadis itu tidak memerlukan perlindungannya karena dengan amat sigapnya, gadis sudah mengelak dengan mudah.
Dan kini, dua orang pengemis lainnya sudah la menggunakan tongkat mereka untuk mengeroyok.
Tiga batang tongkat dengan ujung besi runcing menyambar-nyambar kearah Si Gadis yang dengan lincahnya mengelak ke sana-sini bagaikan seekor burung walet saja.
Kini gadis itu dengan cepat mcnyambar sebatang kayu pengganjal pintu toko yang panjangnya sekitar dua meteran yang besarnya sekepalan tangan.
Dengan senjata sederhana serupa toya ini, gadis itu menghadapi tiga batang tongkat lawan dan kini ia bersilat dengan indah dan cepatnya.
Han Beng terbelalak kagum karena dia mengenal ilmu silat yang dasarnya tak salah lagi tentu ilmu dari Siauw-lim-pai!
Karena toko obat itu terletak di jalan raya dekat pasar, maka perkelahian depan toko itu menarik perhatian orang dan sebentar saja tempat itu telah dilingkari banyak orang yang menonton, mereka itu agaknya tadi mengira bahwa ada serombongan pemain silat atau pedagang obat mengadakan pertunjukan di situ.
Akan tetapi ketika mereka mengenal tiga orang anggauta Ang-ki Kai-pang, mereka menjadi terkejut.
Ada rasa girang di dalam hati mereka bahwa kini ada orang berani menentang tiga tokoh Perkumpulan Jembel itu, dan orang itu bahkan hanya seorang gadis muda!
Karena takut kalau tiga bungkusan obat itu terinjak mereka yang sedang berkelahi, maka Han Beng sudah memungutinya.
Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan akan keselamatan gadis itu tentu dia sudah pergi, tidak ingin terlibat dalam perkelahian.
Akan tetapi di harus menjaga keselamatan gadis yang telah menolongnya itu.
Permainan toya gadis itu memang hebat, dan Siauw-lim-pai memang terkenal sekali dengan permainan toya ini.
Hal ini tidak mengherankan karena Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh para pendeta biara Siauw-lim-si, di mana para muridnya adalah para hwesio.
Senjata yang paling tepat bagi seorang hwesio untuk membela diri kalau diserang musuh adalah toya yang dapat dipergunakan pula sebagai sebatang tongkat atau untuk memukul barang bawaan.
Han Beng memandang kagum.
Gadis Itu memang lihai dan begitu toyanya diputar dengan amat cepatnya, tiga orang pengemis itu terdesak dan mundur.
Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan bentakan melengking panjang dan ujung toyanya tergetar keras, membuat gerakan melengkung dan begitu gulungan sinar toya berkelebat, dua orang pengeroyok roboh.
Yang seorang lagi, Si Muka Hitam, terkejut dan dengan nekat menghantamkan tongkatnya ke arah tengkuk gadis itu dari belakang.
Namun, tanpa kesukaran sedikit pun, gadis itu membalikkan toyanya ke belakang, menangkis tongkat, tubuhnya membuat gerakan memutar dan di lain saat toyanya sudah menyodok ke arah dada orang itu sehingga dia pun jatuh terjengkang!
Tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang itu terengah-engah, Si Gendut Perut itu kepalanya benjol besar, Si Tinggi Kurus meringis karena kaki kanannya terkena sambaran toya sehingga tulang keringnya terasa seolah remuk, dan Si muka Hitam dadanya sesak.
Gadis itu menghentikan gerakannya, berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tang kanan memegangi toya yang didirikan; sikapnya gagah, matanya mencorong, tiga orang pengemis itu tahu diri.
Mereka bangkit dan tanpa banyak cakap lagi berjalan pergi terhuyung-huyung.
Semua orang memuji kehebatan gadis itu, akan tetapi mereka yang mengenal kekuasaan Ang-kin Kai-pang merasa khawatir akan keselamatan gadis pemilik toko obat.
Para penonton itu pun bubar dan dan Han Beng menjura dengan penuh hormat kepada Si Gadis perkasa.
"Sungguh saya bersukur sekali bahwa Nona telah menolong saya dan guru saya. Terima kasih, Nona."
"Ah, tidak mengapalah, Saudara. Engkau dan gurumu adalah pengembara dan gurumu sakit, sudah sepatutnya kalau aku memberi obat kepadamu. Dan mengenal tiga orang tadi, mereka sendiri yang mencari penyakit dan memang perlu dihajar."
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dandua orang laki-laki menghentikan kuda mereka di depan toko itu.
Han Beng melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sastrawan, dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih berpakaian ringkas dan bersikap gagah.
Ketika dua orang laki-laki itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, gadis itu cepat menghampiri laki-laki yang berpakaian sastrawan.
"Ayah! Engkau baru pulang?"
Akan tetapi ayahnya memandangnya lengan wajah heran, sama sekali tidak gembira, bahkan suaranya terdengar marah ketika dia bertanya.
"Hui Im, apa yang kudengar ketika memasuki kota tadi? Engkau membela seorang pengemis asing dan berkelahi dengan tiga orang anggauta Ang-kin Kai-pang?"
Gadis itu menghadapi ayahnya dengan sikap tenang, tegas dan bertanggung jawab.
"Benar, Ayah. Dan dia inilah Saudara yang telah kutolong itu katanya menunjuk kepada Han Beng masih berdiri dengan hati tidak enak. Majikan toko obat itu bernama Kun Tiong atau di kota raja terkenal dengan nama Souw Sian-seng, seorang ahli obat atau seorang tabib yang seringkali menerima undangan untuk mengobati orang sakit, akan tetapi juga membuka toko obat yang diurusi puterinya. Puterinya itu anak tunggal bernama Souw Hui Im. Ibu gadis ini, telah lama meninggal dunia. Souw KunTiong atau Souw Sian memandang sejenak kepada Han Beng lalu dia membalik menghadapi puterinya lagi, menuntut.
"Apa yang telah terjadi? Dalam suaranya masih terkandung rasa tidak senang. Dia menganggap puterinya mencari gara-gara saja, karena dia tahu benar siapa itu Ang-kin Kai-pang perkumpulan yang amat berpergaruh di kota raja, bahkan mempunyai hubungan baik dengan para pembesar yang kuasa.
"Sesungguhnya aku tidak bersalah.Ayah,"
Kata Hui Im yang dapat melihat bahwa ayahnya marah.
"Mula-mula Saudara ini datang dan minta pertolongan , agar diberi obat untuk gurunya yang sedang sakit panas demam dan batuk, karena kulihat dia seorang pengembara yang sedang dirundung malang, maka aku memberinya obat yang dimintanya. Tiba-tiba muncul tiga orang pengemis Ang-Kai-pang itu yang bersikap sombong dan melarang aku memberikan obat kepada Saudara ini. Tentu saja aku marah, Ayah. Mereka tidak berhak melarangku memberikan obat milikku sendiri kepada siapapun juga. Mereka malah menghina saudara ini, mengusirnya dan melarangku menyerahkan obat. Maka terjadilah perkelahian itu dan mereka melarikan diri."
Dengan alis masih berkerut, Souw Han-seng menghadapi Han Beng.
Sejenak dia mengamati pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah itu, lalu karena penyesalannya bahwa puterinya menanam permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang gara-gara pemuda ini, dia pun berkata dengan suara penuh sesalan dan kemarahan.
"Orang muda, tidak malukah engkau Engkau masih muda belia, bertubuh sehat dan kuat, akan tetapi ada orang-orang menghinamu, engkau diam saja tidak membela diri sendiri, bahkan mengandalkan seorang wanita untuk membelamu! Tidak malukah engkau menjadi seorang pengecut?"
"Ayah !"
Hui Im berseru.
"Diam kau!"
Bentak ayahnya yang masih menghadapi Han Beng, melanjutkan kata-katanya.
"Orang muda, gara-gara "
Engkau, anakku menanam bibit permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang, berarti kami menghadapi kesulitan besar.
Karena engkau menjadi gara-gara, maka engkau perlu dihajar agar semua orang tahu bahwa aku, Souw Kun Tiong, sebetulnya tidak mau mencampuri urusan antara pengemis.
Biarlah engkau berhadapan sendiri dengan Ang-kin Kai-pang?
Nah, bersiaplah, orang muda, aku akan menghajarmu seperti tadi anakku menghajar orang-orang Ang-kin Kai-pang!"
Han Beng terbelalak, kebingungan, tentu saja dia tidak ingin berkelahi dengan orang lain, apalagi orang ini adalah ayah kandung dari gadis yang telah menolongnya tadi.
Akan tetapi dia pun mengerti apa yang dimaksudkan orang tua ini.
Dia hendak menghajarnya di depan umum sehingga kalau Ang-kin Kai-pang mendengar akan hal ini, mereka akan menganggap bahwa keluarga Souw sebetulnya tidak membela Han Benig, melainkan terjadi kesalahpahaman saja antara Nona Souw dan tiga orang murid atau anggauta Ang-kin Kai-pang.
Han Beng menjura kepada Souw Sian-Seng.
"Tuan, harap maafkan saya. Sesungguhnya saya datang ke toko ini tidak ada maksud lain kecuali minta bantuan agar diberi obat untuk guruku yang sedang sakit. Saya sama sekali tidak mencari keributan atau perkelahian. Kalau memang Tuan tidak rela memberi obat ini untuk guruku, biarlah saya kembalikan saja."
"Hemmm, puteriku telah memberi obat itu, tidak akan kami tarik kembali akan tetapi untuk membuktikan bahwa kami tidak berpihak dalam urusanmu dengan Ang-kin Kai-pang,"
Aku harus menghajarmu!"
Souw Sian-seng maklum bahwa di tempat ramai itu tentu terdapat banyak mata-mata Ang-kin Kai-pang yang dapat mendengarkan semua ucapannya dan dapat menyaksikan pula dia menghajar pemuda itu agar melaporkan hal itu kepada pimpinan Ang-kir Kai-pang.
Dia sudah melangkah maju, siap untuk menghajar Han Beng.
"Suheng, tahan dulu..........!"
Tiba tiba orang yang tadi datang bersama Souw Sian-seng, melompat maju dan memeggangi lengan tabib itu.
Orang berusia empat puluh tahun lebih ini bernama Hui Siong dan dia adalah seorang di antara murid-murid Siauw-lim-pai yang berhasil melarikan diri ketika Kuil Siauw-Lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah.
Dalam pelariannya, dengan aman dia bersembunyi dan mondok di rumah tabib itu yang juga merupakan murid Siauw-lim-pai akan tetapi merupakan 'murid luar"
Yang tidak tinggal di kuil.
Di sini dia hidup aman karena tentu saja para perwira pasukan pemerintah tidak menyangka bahwa orang Siauw-lim-pai ada yang berani tinggal di kota raja!
Melihat sutenya menahan dia yang hendak menghajar pengemis muda itu, Souw Sian-seng merasa heran dan memandang sutenya dengan alis berkerut, Gui Siong mendekatkan mulutnya ketelinga suhengnya dan membisikkan.
"Dia adalah Naga Sakti seperti yang pernah kuceritakan padamu, Suheng."
Tentu saja Souw Sian-seng terkejut bukan main dan hanya berdiri seperti patung mengamati Han Beng yang tidak mengenal apa yang dibicarakan kedua orang itu.
Dia rasanya pernah melihat orang yang datang bersama ayah kantung gadis itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh kurus, wajahnya tampan, rambut penuh uban dan matanya lebar sekali itu.
Cui Siong kini memberi hormat kepada Han Beng.
"Taihiap, apakah Tai-hap lupa kepadaku?"
Han Beng terkejut disebut tai-hiap (pendekar besar).Dia mengerutkan alisnya.
"Maaf, saya tidak mengenal.......... Dan perkenankan saya mengantarkan obat ini kepada guruku........."
"Bukankah Tai-hiap yang bernama Han Beng?"
Cui Siong melanjutkan cepat-cepat dan lirih agar tidak terdengar orang lain. Han Beng kembali terkejut.
"Tai-hiap tentu belum lupa, lima tahun yang lalu, di dusun Ki-nyan-tung Bukankah kita pernah bekerja sama membela rakyat dusun itu dari tekanan Hek-i-wi...... ?"
"Ohhh..........!"
Kini Han Beng teringat. Kiranya orang ini adalah satu di antara lima orang murid Siauw lim-pai yang mengamuk dan membela penduduk dusun itu "Kiranya Tuan adalah.........."
"Namaku Gui Siong, Tai-hiap. Dan kalau boleh saya bertanya, siapakah yang sakit?"
"Guruku, dia Sin-ciang Kai-ong......"
"Ahhh! Jadi beliau itu menjadi guru Tai-hiap? Suheng, dengarkah Suheng sekarang? Kita harus berkunjung dan memberi hormat kepada Lo-cian-pwe itu, dan mengundang mereka ke sini untuk beristirahat dan berobat, sambil bercakap-cakap!"
Kini Souw Sian-seng baru yakin dan ia pun cepat memberi hormat kepada Han Beng.
"Maafkan kami, Tai-hiap. sudah lama mendengar nama besar Tai-hiap dan Lo-cian-pwe Sian-ciang Kai-ong. Marilah kami antar Tai-hiap menemui guru Taihiap."
Han Beng mengangguk, merasa tidak enak berada lebih lama di tempat itu. Dia lalu menghadapi Souw Hui Im dan menjura.
"Sekali lagi, terima kasih, Nona."
Dan pergilah dia bersama dua orang itu menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah barat.
Hui Im sejak tadi bengong saja seperti telah berubah menjadi patung!
Bahkan ketika Han Beng bicara kepadanya, ia hanya dapat memandang kepada pemuda itu seperti seorang yang melihat munculnya dewa di siang hari!
Tentu saja ia pun seperti ayahnya pernah mendengar cerita susiok-nya Gui Siong tentang munculnya seorang pendekar muda yang dijuluki Sin-Liong (Naga Sakti) bernama Si Han Beng yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian setinggi gunung, juga ia pernah mendengar akan nama Sin-ciang Kai-ong yang namanya menjulang setinggi langit.
Dan pada itu kini, ia telah memberi sedekah obat kepada Sin-liong itu, untuk mengobati gurunya yang ternyata adalah Sin-ciang Kai-ong!
Seperti seorang anak kecil, ia pun berlompatan masuk kedalam tokonya, wajahnya riang gembira namun kadang-kadang jantungnya berdebar dan mukanya berubah merah ketika teringat kepada wajah Han Beng!
oooOOOooo Sin-ciang Kai-ong memang jatuh sakit.
Tubuhnya seperti menjadi medan perang antara panas dan dingin.
Kadang-kadang dia merasa tubuhnya panas seperti dibakar, kadang-kadang dingin seperti akan membeku, dan kalau sudah datang batuknya, maka batuknya itu susul menyusul dan terus menerus membuat dadanya terasa sesak!
Akhirnya terpaksa dia dan muridnya yang tiba di kota raja, menghentikan perantauan mereka dan Sin-ciang Kai-ong tinggal di sebuah kuil tua yang tidak terpakai lagi, di sebuah bukit di sebelah barat kota raja.
Siang hari itu, terdengar dia terbatuk-batuk sehingga dia tidak tahu bahwa muridnya dan dua orang laki-laki memasuki kuil tua itu.
"Suhu...!"
Kata Han Beng sambil berlulut di depan suhunya yang rebah miring menghadapi dinding.
"Ah, kau sudah datang, Han Beng......... ukh-ukh-uhh!"
"Suhu, teecu datang bersama dua orang yang ingin menghadap Suhu."
Sin-ciang Kai-ong bangkit dan memutar tubuhnya, melihat dua orang yang lah duduk bersila di situ dengan sikap hormat. Souw Sian-seng dan Gui Siong segera memberi hormat kepada pengemis tua itu.
"Lo-cian-pwe, saya Souw Kun Tiong orang murid luar Siauw-lim-pai."
"Saya sutenya, Lo-cian-pwe, bernama Gui Siong dan saya pernah berjumpa dengan Lo-cian-pwe ketika bersama-sama membela penduduk Ki-nyan-tung. Saya seorang murid Siauw-lim-pai."
Sin-ciang Kai-ong, biarpun kelihatan bahwa dia sedang menderita sakit wajahnya pucat dan mukanya penuh keringat, nampak gembira ketika mendengar pengakuan mereka itu.
"Ah, kiranya orang-orang gagah dari Siauw-lim-pai yang datang! Selamat datang, selamat datang! Hei Han Beng bagaimana engkau sampai dapat bertemu mereka dan membawa mereka ke tempat kita yang kotor ini?"
Han Beng lalu menceritakan tentang peristiwa ketika dia minta obat kepada puteri Souw Sian-seng tadi selanjutnya pertemuannya dengan So Sian-seng dan Gui Siong.
Mendengar ini, Sin-ciang Kai-ong mengerutkan alisnya.
"Ah, bagaimana mungkin itu? Ang-kin Kai-pang adalah perkumpulan pengemis di kota raja yang dipimpin oleh Koai-tung Sin-kai, bukan?"
Pertanyaan ini bukan oleh kakek jembel itu kepada Han Beng dan dua orang murid Siauw-lim-pai.
"Benar sekali, Lo-cian-pwe. Koai Tung Sin-kai adalah ketua dari "Ang-kin Kai-pang,"
Kata Souw Sian-seng.
"Nahhh! Aku sudah mengenal baik orang itu! Dan dia bukan orang jahat sama sekali, bahkan dia menjunjung tinggi-kebenaran dan bahkan menentang kaitan dan penindasan. Bagaimana seorang anak muridnya dapat bersikap seperti itu?"
"Memang benar sekali apa yang Lo-cian-pwe katakan. Memang dahulu Ang-kin Kai-pang terkenal sebagai perkumpulan yang baik. Biarpun anggauta-anggotanya mengemis, akan tetapi tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan suka membantu kalau rakyat diperas dan ditekan oleh mereka yang berkuasa. Akan tapi akhir-akhir ini, sudah kurang lebih setahun lamanya, anggauta Ang-kin Kai-pang berubah. Banyak anggauta baru dan mereka ini bersikap tidak lagi sebagai pengemis, melainkan lebih mirip penodong, perampok dan tukang-tukang pukul. Tak ada yang berani menentang karena selain di antara mereka terdapat banyak orang lihai, juga mereka dekat dengan para pembesar yang berpangkat tinggi."
Kemudian, Souw Sian-seng membujuk Sin-ciang Kai-ong untuk beristirahat saja di rumahnya agar lebih terawat dan dekat dengan ahli dan obat-obatannya.
Setelah Gui Siong ikut membujuk, akhirnya Sin-ciang Kai-ong menerima undangan ini dan pergilah mereka berempat ke rumah Souw Sian-seng.
Rumahnya menjadi satu dengan toko obatnya, di bagian belakang dan cukup luas.
Bukan main girangnya rasa hati Hui Im ketika menerima dua orang tamunya itu.
Sinar matanya yang bening itu kadang-kadang menyambar ke arah Han Beng, sinar matanya yang tajam bersinar akan tetapi kalau bertemu pandang, ia pun menunduk dan sikapnya malu-malu.
Han Beng sendiri kagum bukan main kepada gadis itu, kagum dan juga suka karena gadis cantik itu selain gagah perkasa, lihai dan pemberani, juga berhati lembut dan suka menolong.
Souw Sian-seng yang duda itu menjamu Sin-ciang Kai-ong dan muridnya dengan hati gembira.
Dia telah memeriksa keadaan tubuh kakek jembel itu dan dengan lega mendapatkan bahwa penyakitnya tidaklah berbahaya, penyakit biasa yang suka mengganggu orang lanjut usia.
Dengan istirahat dan pengobatan yang cepat, dalam waktu beberapa hari saja kakek itu akan pulih kembali kesehatannya, apalagi dia memiliki tubuh yang amat kuat.
Akan tetapi, selagi pihak tuan rumah menjamu Han Beng dan gurunya, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar toko yang sudah ditutup pada sore hari itu.
Seorang pelayan berlari memasuki ruangan makan dengan muka pucat dan melapor kepada Souw Sian-seng dengan suara gagap.
"Celaka, Loya ....... orang-orang Ang-Kin Kai-pang dan sepasukan perajurit keamanan...... berada di depan rumah......!"
Mendengar ini, Souw Kun Tiong cepat keluar, diikuti oleh Souw Hui Im juga Gui Siong.
Han Beng dan gurunya saling pandang, kemudian Sin-ciang Kai-ong yang sudah mendengar keterangan muridnya tentang peristiwa dengan Ang-kin Kai-pang itu menyatakan kekhawatirannya.
"Aih, kalau sampai keluarga Souw tertimpa malapetaka yang disebabkan oleh kita, sungguh membuat hatiku merasa tidak enak sekali. Kita harus turun bertanggung jawab, Han Beng. Mari kita keluar!"
Ketika guru dan murid ini keluar, ternyata bagian depan rumah itu telah dikepung oleh belasan orang yang berpakaian pengemis sabuk merah, juga ada dua puluh orang lebih perajurit keamanan yang dipimpin seorang perwira.
Mereka mendengar perdebatan antara Souw Sian-seng dan para pimpinan pengemis juga terdengar suara perwira itu membentak-bentak.
"Orang she Souw! Engkau berani menyembunyikan mata-mata pembcrontak! Hayo keluarkan orang itu dan berikan kepada kami, dan kalian sekeluarga juga harus ikut ke benteng untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!"
Souw Sian-seng membantah dengan suara lantang.
"Ciangkun, harap tidak mendengarkan fitnah keji. Selama bertahun-tahun, kami keluarga Souw tinggal dengan aman dan damai di sini, tidak pernah membuat kekacauan dan siapakah yang tidak mengenal kami sebagai ahli ngobatan yang sudah banyak menolong orang sakit? Bahkan di antara para perwira dalam benteng sudah banyak yang Kami sembuhkan........"
"Bohong, Ciangkun! Dia adalah serang murid Siauw-lim-pai!"
Tiba-tiba seorang di antara para pimpinan pengemis itu berseru.
Kagetlah Souw Sian-eng.
Dia tahu bahwa keadaannya menjadi semakin gawat kalau orang-orang itu sudah tahu bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, apalagi mengingat bahwa sutenya yang berada di sebelahnya itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang lolos dari kuil Siauw-lim-pai yang dibakar.
"Memang kuakui bahwa ilmu silatku bersumber dari ilmu silat Siauw-lim-pai akan tetapi ilmu silat mana yang tidak bersumber dari sana? Aku, bukan murid......."
"Ciangkun, orang kurus bermata lebar itu seorang di antara murid Siau lim-pai yang memberontak! Aku ingat benar! Dia seorang di antara lima murid Siauw-lim-pai yang mengamuk di Ki-nyan-tung!"
Kini Gui Siong yang terkejut.
Dia adalah seorang buruan, dan dia tidak takut akan bahaya yang mengancam dirinya, hanya dia menyesal sekali bahwa kini suhengnya yang hidup aman di kota raja ini akan menanggung akibat dari persembunyiannya di situ!
Pada saat itu, Han Beng dan Sin-ciang Kai-ong muncul.
Melihat mereka!
perajurit yang tadi berteriak segera mengenal mereka.
"Nah, itu dia yang membantu para murid Siauw-lim-pai! Pengemis tua itu yang menendang roboh padaku, dan pemuda tinggi besar itu ikut mengamuk!"
Kini tidak ada jalan lain lagi untuk menyangkal.
Souw Sian-seng memang sudah siap siaga menghadapi segala kemungkinan semenjak Gui Siong berada tempat tinggalnya.
Kini, dia sudah meloncat ke depan sambil mencabut pedangnya, langsung saja menyerang pengemis yang tadi membocorkan rahasianya sebagai murid Siauw-lim-pai.
Pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, akan tetapi tongkat itu patah dan pedang di tangan Souw Sian-seng sudah melukai pundaknya sehingga dia jatuh terguling dan berteriak kesakitan.
Segera ada banyak sekali tongkat yang mengeroyok tabib itu.
Melihat suhengnya sudah mengamuk, Gui Siong yang merasa betapa kehadirannya yang menyebabkan keributan itu, segera mencabut pula pedangnya dan mengamuk.
"Ayah, mari kita hajar anjing-anjing jahat ini!"
Hui Im juga membentak dan dia pun sudah melompat ke depan, mengenakan pedang yang sudah dipersiapkannya untuk membantu ayah dan susioknya.
Memang sementara keributan pagi tadi dengan orang-orang Ang-kin Kai-pang, keluarga ini sudah mempersiapkan pedang agar setiap saat dapat membela diri.
Melihat betapa pihak tuan rumah sudah terjun ke dalam perkelahian dan dikeroyok banyak orang yang rata-rata lihai, Han Beng menoleh kepada gurunya.
"Suhu, apa yang harus teecu lakukan?"
Selama ini suhunya itu selalu menekankan bahwa dia harus hidup sebagai seorang pendekar yang menentang para penindas dan penjahat, akan tetapi suhunya juga berpesan agar dia tidak memusuhi pemerintah karena kalau dicap pemberontak maka akan sukarlah mencari tempat yang aman bagi kehidupannya.
Sin-ciang Kai-ong menarik napas panjang.
"Wah, agaknya Ang-kin Kai-ong yang telah bersekutu dengan pasukan keamanan dan kalau pembesar sudah bersekutu dengan orang-orang yang jahat dan menyeleweng, sungguh tidak tahu lagi aku apa yang harus kita akukan. Akan tetapi, jelas bahwa keluarga Souw terancam maka kita harus menolong dan Menyelamatkan mereka."
Pernyataan suhunya ini amat ditunggu-tunggu oleh Han Beng, maka tanpa banyak cakap lagi dia pun lalu terjun kedalam gelanggang perkelahian, dengan tamparan dan tendangannya dia merobohkan tiga orang pengeroyok yang membikin repot Hui Im.
Selanjutnya ia melindungi gadis itu dari pengeroyokan.
Sin-ciang Kai-ong masih ragu-ragu.
Dia sudah tua dan sedang tidak sehat, menggunakan tenaga untuk berkelahi dapat membahayakan nyawanya sendiri.
Pula, dia pun tahu bahwa kedaan amatlah berbahaya.
Mereka itu relawan pasukan pemerintah, berarti pemberontak, dan perkelahian itu terjadi di kota raja!
Dalam waktu singkat saja tentu akan bermunculan ratusan atau mungkin ribuan pasukan keamanan.
Dan di kota raja menjadi gudang dari para perwira tinggi yang memiliki kepandaian tinggi!
Akan tetapi, keraguannya lenyap ketika dia melihat betapa tubuh Souw Sian-seng dan Cui Siong sudah berlumuran darah oleh luka-luka yang mereka derita.
Walaupun kedua suheng dan sute ini mengamuk, namun para pengeroyok mereka itu pun rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, dan dikeroyok demikian banyaknya, akhirnya mereka pasti luka-luka.
"Han Beng! Nona! Kalian tolong Souw enghiong dan Cui-enghiong melarikan diri, biar aku yang menahan mereka Tiba-tiba kakek ini terjun ke dalam pertempuran dan dengan gerakan kedua lengan bajunya yang tambal-tambalan dia menyapu roboh beberapa orang. Gerakan kakek ini memang hebat bukan main. Kedua lengan bajunya yang lebar itu mengeluarkan angin yang bagaikan badai. Baru terkena anginnya saja, orang-orang yang berada dekat dengannya terpelanting roboh, apalagi yang sampai tercium ujung lengan baju. Tenaga sakti yang keluar dari kedua lengannya amat dahsyat. Juga amukan Han Beng yang bertangan kosong itu hampir sama dengan suhunya, kalau tidak malah lebih hebat lagi. Pemuda ini selama lima tahun telah warisi ilmu kepandaian Sin-ciang Kay-ong setelah dia mewarisi ilmu kepandaian Sin-tiauw Liu Bhok Ki. Tamparan dan tendangannya pasti merobohkan seorang lawan, walaupun mereka itu sudah mencoba untuk mengelak dan menangkisnya. Tangkisan senjata tajam tidak dipedulikan oleh Han Beng. Senjata yang bertemu dengan lengan atau kakinya terpentai diikuti robohnya pemilik senjata itu. Mendengar seruan gurunya, Han Beng juga maklum. Kalau dilanjutkan, tentu akan datang bala bantuan yang amat banyak karena mereka berada di kota raja. Kalau sampai lambat melarikan diri, dapat berbahaya sekali.
"Nona, mari kita larikan Ayahmu dan paman Gurumu!"
Katanya.
Hui Im yang tadinya repot menghadapi pengeroyokan banyak orang, kemudian keadaannya menjadi ringan setelah pemuda perkasa itu mengamuk di sebelahnya dan melindunginya, mengangguk karena ia pun melihat betapa ayahnya dan susioknya telah menderita luka-luka berdarah.
Keduanya lalu cepat mengamuk mendekap dua orang yang luka-luka itu.
Ketika Han Beng tiba di situ, dia melihat keadaan Souw Sian-seng sudah payah dan terhuyung-huyung.
Maka dia pun cepat menangkap tubuh orang tua itu, memanggulnya, dan mempergunakan pedangnya untuk melindungi diri mereka, juga melindungi Hui Im yang sudah menggandeng tangan susioknya diajak lari.
Jalan untuk lari sudah terbuka karena Sin-ciang Kai-ong sudah mengamuk lebih dahulu membuka jalan.
Larilah mereka, Han Beng memondong tubuh Souw Sian-sen dan Hui Im menggandeng dan menarik susioknya yang juga sudah terhuyung huyung.
Sin-ciang Kai -ong menghalangi setiap orang yang hendak melakukan pengejaran.
Dengan kedua lengan bajunya dia merobohkan lebih dari dua puluh orang, dan sisanya, yaitu perwira pasukan dan beberapa orang pimpinan Ang kin Kai.-pang masih mengepung dan mengeroyoknya.
Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang dahsyat, seperti harimau mengancam, dan belasan orang yang mengeroyok itu terkejut, merasa kaki mereka seperti mendadak lumpuh dan mereka tidak mampu mempertahankan diri ketika kedua lengan baju itu menyambar nyambar.
Mereka berpelantingan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sin ciang Kai -ong untuk meloncat jauh dan pergi menyusul muridnya dan yang lain lainnya.
Dia tahu ke mana Han Beng membawa mereka.
Tentu ke hutan lebat di mana terdapat kuburan kuno yang pernah menjadi tempat tinggal selama dua hari di luar kota raja.
Benar saja dugaannya.Han Beng, Hui Im, Souw Sian-seng dan Gui Siong memang berada di tempat itu.
Akan tetapi ketika Sin-ciang Kai-ong tiba di situ, mendapatkan bahwa dua orang yang terluka parah itu telah meninggal dunia dan Hui Im memeluki jenazah ayahnya sambil menangis sedangkan Han Beng duduk bersila termangu-mangu.Kakek ini menarik napas panjang berulang-ulang lalu ikut bersila di dekat Han Beng menghadapi dua jenazah yang rebah tentang.
Melihat Sin-ciang Kai-ong, Hui Im merintih dan berlutut di depan kakek itu.
"Lo-cian-pwe........ Ayah dan Susiok tewas.........!"
Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tangisnya sudah meledak-ledak, membuatnya sesenggukan.
"Tenanglah,Nona. Nyawa manusia berada di dalam tangan Tuhan, maka setiap kematian memang sudah dikehenki oleh Tuhan. Kita hanya dapat merima kenyataan ini, Nona."
"Nona, semua ini adalah karena kesalahanku!"
Kata Han Beng penuh semangat.
"Akulah yang bersalah, kalau aku tidak minta bantuan, mengemis obat kepada Nona, tentu tidak akan terjadi semua ini.........."
Han Beng merasa menyesal bukan main.
"Tidak, Tai-hiap.Engkau tidak bersalah. Bahkan engkau telah membantu kami sehingga engkau dimusuhi oleh pasukan keamanan."
"Sudahlah, tidak perlu mencari kambing hitam dalam suatu peristiwa, yang penting kini kita harus cepat menyempurnakan dua jenazah ini dan mengurus mereka baik-baik. Kebetulan di sini adalah daerah pemakaman kuno. Kalau tidak cepat-cepat dan kita terlambat mereka tentu akan melakukan pengejaran sehingga kita tidak sempat lagi untuk mengurus jenazah-jenazah ini. Kita bicara nanti setelah pemakaman."
Mereka bertiga lalu menggali dua buah lubang tak jauh dari makam kuno itu untuk mengubur jenazah Souw Kun Tiong dan Gui Siong.
Sambil bekerja menggali tanah kemudian mengubur jenazah ayahnya dan susioknya, tiada hentinya Hui Im menangis, walaupun dara ini sudah menahan diri untuk bersikap tenang.
Air matanya tak pernah berhenti mengalir.
Setelah mereka berhasil mengubur kedua jenazah itu, Hui Im berlutut depan makan ayahnya sambil menangis sesenggukan.
Han Beng menghiburnya.
"Sudahlah, Nona. Saya kira tidak perlu lagi Nona menyiksa diri, karena Ayahmu dan Susiokmu sudah dipanggil kembali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa."
Hui Im tetap saja menangis, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
"Nona Souw, yang kautangisi itu Ayahmu ataukan dirimu sendiri?"
Tiba-tiba Sin-ciang Kai-ong bertanya, biarpun mulutnya tersenyum-senyum namun bicaranya bersungguh-sungguh.
Han Beng sendiri kaget mendengar pertanyaan yang aneh dan dianggapnya menyinggung perasaan itu.
Mendengar pertanyaan ini, Hui Im menghentikan tangisnya, memandang kepada kakek itu dengan mata merah agak membengkak.
"Bagaimana Lo-cian-pwe dapat bertanya seperti itu? Tentu saja saya menangisi Ayah........."
"Benarkah itu? Coba amati diri sendiri dan pikirkan baik-baik, Nona. Bagaimana engkau dapat menangisi Ayahmu yang sudah meninggal dunia? Dia telah terbebas dari segala macam penderitaan hidup, sudah meninggalkan tubuh yang selalu menjadi permainan suka dan duka, mengapa pula engkau menangisinya? Bukankah engkau menangis karena mengingat akan keadaanmu sendiri yang ditinggal pergi selamanya oleh Ayahmu yang kaucinta? Bukankah tangismu itu timbul dari perasaan iba kepada dirimu sendiri?"
Han Beng yang mendengarkan itu merasa heran.
Selama lima tahun suhunya lebih banyak bersikap seperti orang yang kurang waras, selalu bergurau dan kadang-kadang amat nyaris Jarang sekali suhunya bersikap sungguh-sungguh seperti sekarang ini, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran dari hatinya karena dianggapnya tidak wajar!
Sementara itu, Hui Im tadinya menjadi merah mukanya karena penasaran akan tetapi ketika ia mengingatkan dan mengamati diri sendiri, nampak lah olehnya betapa tepatnya ucapan kekek itu.
Memang ia menangisi diri sendiri yang ditinggal ayahnya, sehinga kini ia hidup sebatangkara, dan melihat keadaan, tentu ia tidak akan dapat kembali lagi ke rumahnya yang akan disita oleh pasukan keamanan.
Ia kehilangan segala-galanya!
Satu-satu keluarganya adalah ayahnya.
Ia kehilangan ayahnya, susioknya, dan seluruh harta bendanya, bahkan rumahnya.
Ia menjadi yatim piatu yang sebatangkara, tidak memiliki lagi tempat tinggal dan harta benda.
"Tapi saya merasa kasihan kepada Ayah. Gara-gara perbuatan saya maka Ayah sampai menderita, dikeroyok sehingga tewas "
"Ketika Ayahmu dikeroyok dan menderita luka-luka, memang dia sengsara dan sepatutnya kalau engkau iba kepadanya. Akan tetapi sekarang? Ayahmu sudah tidak menderita apa-apa lagi, setidaknya tubuhnya tidak lagi merasakan apa-apa, tidak menderita. Tentang jiwanya, siapa yang tahu? Kalau kita tidak tahu bagaimana keadaannya, bagaimana mungkin kita merasa kasihan? Siapa tahu dia sekarang berbahagia, mudah-mudahan saja begitu."
Hui Im yang mempergunakan pikiran untuk mempertimbangkan ucapan kakek itu, tanpa disadarinya sendiri lah berhenti menangis!
"Saya dapat mengerti apa yang Lo-cian-pwe maksudkan sekarang.
Memang saya menangisi diri sendiri, akan tetapi apa salahnya Lo-cian-pwe?
Baru saja saya kehilangan segalanya.
Ayah dan Susiok tewas, saya tidak mungkin pulang ke rumah yang tentu disita pemerintah.
Saya kehilangan segala-galanya, hidup yatim piatu dan sebatangkara tidak memiliki apa-apa.
Siapakah orangnya yang tidak akan berduka?"
Tiba-tiba kakek itu tertawa.
Han Beng mengerutkan alisnya.
Wah, gurunya kini agaknya kambuh kembali, datang lagi penyakit lamanya, dan dia takut kalau-kalau gadis itu akan tersinggung.
Hui Im tidak tersinggung melainkan heran memandang kepada kakek yang tertawa-tawa itu.
Pandang matanya menegur dan bertanya mengapa kakek itu tertawa seperti itu melihat ia sedang dilanda kesengsaraan!
"Ha-ha-ha-ha, Nona yang baik hati, ke mana perginya kedukaanmu tadi?
Engkau tidak menangis lagi, tidak ada lagi kedukaan membayang di wajahmu!
Mengapa?
Heh-heh, karena duka itu hanya permainan pikiranmu sendiri saja.
Pikiranmu itu mengingat-ingat akan keadaanmu, semua kehilangan dan penderitaan, maka muncullah iba-diri dan engkau pun menangis, merasa sengsara, begitu pikiranmu beralih dan memperhatikan percakapan dengan aku, maka hilang pula kedukaan itu tanpa bekas!
Nanti kalau kauingat lagi, engkau akan berduka lagi."
Hui Im mengerutkan alisnya, melihat kebenaran yang tersembunyi dalam ucapan kakek itu.
"Akan tetapi, Lo-cian-we, apakah tidak boleh saya berduka?"
"Bukan tidak boleh, hanya apakah gunanya berduka, Nona? Hidup penuh penderitaan kalau kita membiarkan pikiran berkuasa. Segala yang terjadi adalah suatu kewajaran. Ayahmu tewas, hartamu habis, semua itu wajar, karena semua itu terjadi atas kehendak Tuhan! Dan semua kehendak Tuhan terjadilah! Tidak ada kekuasaan apa pun yang akan mampu mencegahnya. Dan Tuhan Maha Kasih Segala kehendakNya yang terjadi adalah adil dan baik, demi kebaikan kita! hanya kita tidak mengerti akan raba yang tersembunyidibalik semua peristiwa itu. Percayalah kepada Tuhan anak baik, dan serahkan segalanya kepada Tuhan. Apa yang nampak ini semua hanya seperti mimpi belaka, seperti gelembung-gelembung sabun yang setiap saat akan meletus dan lenyap. Semua tidak kekal, hanya sementara saja, maka jangan kaget kalau sewaktu-waktu semua ini akan lenyap meninggalkan kita. Bahkan tubuh ini pun tidak kekal, kita harus siap untuk sewaktu-waktu meningalkannya! Jadi, apa yang perlu disalahkan? Tidak ada! Ha-ha-ha, tidak ada yang patut disusahkan, kita bahkan harus selalu gembira, melihat tontonan yang amat menarik ini, tontonan kehidupan manusia."
Han Beng menundukkan mukan Alangkah bijaksananya gurunya itu, waIaupun sikapnya seperti orang sinting.
Dia dapat mengerti akan semua ucapan tadi, dan dia merasa betapa kecilnya lirihnya, betapa lemah dan tidak berarti, bahkan tidak berdaya dalam kekuasaan Alam Semesta.
"Lo-cian-pwe, apakah kalau sudah k-gitu, kalau kita sudah percaya sepenuhnya kepada Tuhan, sudah pasrah segalanya kepada Tuhan, kita akan selamat? Apa perlunya kita berobat kalau sakit, menghindar kalau ada bahaya mengancam? Bukankah kita lalu menjadi diam saja dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan?"
Dalam pertanyaan ini terkandung rasa penasaran.
Maklum, seorang pdis muda seperti Hui Im, tidak mudah menangkap inti dari semua ucapan kakek Itu yang mengandung makna dalam sekali.
Mendengar pertanyaan gadis itu, Sin-Ciang Kai-ong kembali tertawa.
"Ha-ha-ha, bukan begitu,Nona. Kita diciptakan sebagai mahluk hidup yang tergerak, kita wajib untuk berikhtiar, menjaga dan memelihara diri, namun dengan dasar iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau kita sakit, sudah menjadi kewajiban kita untuk berikhtiar mencari penyembuhannya dengan pengobatan, namun dasarnya harus iman penyerahan kepada Tuhan. Apa pun ya ngditentukan Tuhan, tidak perlu diterima dengan penasaran! Itulah iman! Dunia hanya permainan pikiran. Susah senang hanya timbul karena pikiran ini menimbang-nimbang, membanding-bandingkan memperhitungkan untung rugi yang semuanya bersumber kepada si-aku! padahal, siapakah si-aku ini? Siapakah aku ini? Pernahkah Nona mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri! Han Beng, pernahkah engkau bertanya kepada diri sendiri siapakah dirimu dan siapakah engkau?"
Han Beng terbelalak memandang gurunya.
Belum pernah dia bertanya seperti itu, dan mengapa pula harus bertanya?
Apakah gurunya ini sudah kumat lagi sintingnya?
Kenapa orang harus bertanya siapa dirinya?
Siapakah aku ini?
Karena dia dan Hui Im tidak menjawab pertanyaan itu, Sin-ciang Kai ong yang agaknya juga tidak mengharapkan jawaban, lalu bernyanyi!
"Siapakah aku ini?
aku bukanlah tubuh yang rapuh ini aku bukanlah pikiran yang kacau ini aku bukanlah perasaan yang berubah-ubah ini aku bukanlah akal budi yang curang ini semua itu hanyalah alat bagiku sangkar rumah tempat tinggalku sementara semua itu akan menjadi tua lalu lemah tak berdaya lalu mati, kembali pada debu hampa!
Siapakah aku ini?
Sepercik api yang merindukan Matahari Setetes air yang merindukan samudera Setelah menyanyikan sajak itu, Sin-Ciang Kai-ong lalu tertawa terkekeh-kekeh seperti mendengar sesuatu yang amat lucu.
Akan tetapi pada saat itu pendengaran Han Beng yang tajam dapat menangkap gerakan atau langkah kaki banyak orang dari jauh, juga suara mereka bicara.
Tadinya Han Beng dan gurunya menasehati agar Hui Im tinggal saja di tempat persembunyiannya, tidak ikut mereka yang berkunjung ke sarang Ang-kin Kai-pang.
Akan tetapi gadis itu memaksa.
"Aku kehilangan segala-galanya karena Ang-kin Kai-pang, oleh karena itu, baik dibantu oleh Ji-wi (Kalian) atau tidak, aku pasti akan menuntut balas dan menyerbu sarang Ang-km Kai pang dengan taruhan nyawa!"
Guru dan murid itu terpaksa membiarkan Hui Im ikut, walaupun hadirnya gadis itu menambah beban bagi mereka yang harus melindunginya.
Ketika mereka melihat bahwa penjagaan di tempat, itu hanya dipusatkan di pintu depan, Sin-ciang Kai-ong berbisik kepada muridnya dan Hui Im bahwa mereka akan memasuki sarang itu dari tembok belakang.
Pagar tembok itu cukup tinggi dan Hui Im memandang dengan ragu-ragu.
"Aku.......... kukira ............ aku tidak mampu melompatinya"
Katanya lirih kepada Han Beng.
"Mari kubantu, Nona. Peganglah tanganku erat-erat!"
Han Beng berkata kemudian memberi isarat agar mereka meloncat berbareng.
Dengan pengerahan tenaganya, mudah saja baginya untuk menambah tenaga loncatan Hui lm sehingga keduanya melayang ke atas pagaar tembok lalu turun ke sebelah dalam.Akan tetapi, begitu tiba di dalam pagar tembok, kakek jembel itu memberi isarat agar mereka tidak mengeluarkan suara.
Ternyata rumah itu dijaga ketat sekali, bahkan dikepung penjaga.
Tidak ada kesempatan sama sekali bagi mereka untuk menyelinap masuk tanpa diketahui dan kalau ketahuan tentu semua anggota Ang-kin Kai-pang akan melakukan pengeroyokan sehingga mereka tidak sempat melakukan penyelidikan.
Maka Sin-Ciang Kai-ong lalu memberi isarat kepada muridnya dan Hui Im untuk keluar lagi.
"Kita datang saja dari pintu,"
Katanya.
"Tapi, Suhu. Mereka sudah mengenal kita, tentu mereka akan menyambut dengan pengeroyokan pula."
"Hemmm, andaikata dikeroyok pun kalau di luar kita lebih leluasa dan tidak ada bahaya alat-alat jebakan. Sukur kalau Koai-tung Sin-kai masih mengingat akan persahabatan antara kami dan mau keluar menemuiku."
Dengan jantung berdebar penuh ketegangan, akan tetapi sama sekali bukan karena takut, Han Beng dan Hui im mengikuti jejak jembel itu yang berjalan menuju ke pintu gerbang di mana terdapat banyak sekali anggauta Ang-kin Kai-pang.
Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu gerbang dan para pengemis itu melihat mereka, tentu saja para anggauta Ang-kin Kai-pang itu menjadi geger.
Mereka segera mengenal tiga orang itu dan segera menghadapinya dengan senjata tajam seperti golok, pedang, tombak dan lain-lain.
Sebagian pula memegang tongkat pengemis mereka dengan sikap mengancam.
Akan tetapi, Sin-ciang Kai-ong menghadapi mereka sambil terkekeh-kekeh.
"Ha-ha-ha-ha, kalian jangan panik jangan ribut. Aku datang untuk menemui sahabat baikku, Koai-tung Sin-kai, untuk membicarakan kesalahpahaman antara kita tadi. Katakanlah kepadanya bahwa sahabat baiknya yang bernama Sin-ciang Kai-ong datang untuk bicara dengan dia!"
"Sin-ciang Kai-ong........?"
Terdengar seruan-seruan di antara mereka dengan kaget.
Tentu saja nama ini tidak asing bagi meeka, dan mereka pun merasa jerih.
Kiranya kakek jembel yang amat sakti dan yang membuat mereka tadi kocar-kacir adalah Sin-ciang Kai-ong Raja Pengemis dari Propinsi Hok-kian itu!
Pantas demikian lihainya, pikir mereka, kini menjadi ragu-ragu untuk lancang tangan.
"Hayo cepat kabarkan padanya, ataukah kalian mau main-main lagi dengan kami? Akan tetapi hati-hati, sekali ini aku tidak akan menggunakan tangan lunak terhadap kalian!"
Dengan ancaman ini, Sin-ciang Kai-ong berhasil membuat mereka semua menjadi jerih beberapa orang lalu lari ke dalam membuat laporan.
Tak lama kemudian muncullah empat orang pengemis setengah tua yang sabuknya berwarna merah tua, tanda bahwa tingkatnya sudah tinggi.
Meraka berempat itu menghadapi Sin-ciang Kai-ong dengan sikap hormat, lalu berkata.
"Pangcu (Ketua) kami mempersilakan Sam-wi untuk masuk dan menghadap beliau!"
"Heh-heh-heh, sejak kapan Koai-tu Sin-kai disebut beliau seperti seorang bangsawan tinggi saja? Heh-heh-heh ingin aku melihat mukanya kalau mendengar pertanyaanku ini."
Sambil terkekeh-kekeh kakek jembel itu jembel lalu mengajak Han Beng dan Hui Im untuk memasuki sarang Ang-kin Kai-pang.
Tentu saja diam-diam Han Beng bersiap siaga menghadapi segala kemungkin karena siapa tahu, para pengemis hanya menjebak saja, seperti menggiring harimau ke dalam perangkap.
Pemuda ini agak khawatir melihat suhunya.
Suhunya itu sakit, panas dan batuk dan baru sempat makan obat satu kali saja di rumah keluarga Souw.
Tentu kesehatannya belum pulih benar dan sekarang memasuki saraang harimau!
Empat orang pimpinan Ang-kin Kai-pang menjadi penunjuk jalan dan tiga yang tamu itu mengikuti mereka, memasuki sebuah ruangan besar di dalam bangunan.
Ternyata isi bangunan itu mewah sekali sehingga berulang kali Sin-Ciag Kai-ong mengeluarkan suara pujian.
"Wah, bukan main! Aku ini memasuki rumah para pengemis ataukah memasuki istana raja?"
Ruangan yang mereka masuki itu luas,dua puluh lima meter panjangnya lima belas meter lebarnya.
Agaknya tempat ini dipergunakan untuk keperluan kalau banyak orang berkumpul, pesta, tempat atau juga berlatih silat.
Di bagian pinggirnya terdapat sebuah meja panjang di mana nampak duduk lima belas orang, mengelilingi meja, dan di kepala meja duduk seorang kakek berjenggot panjang yang sikapnya berwibawa.
Begitu melihat kakek itu, Sin-ciang Kai-ong (Raja Pengemis Bertangan Sakti) segera menegur dengan suara gembira sekali.
"Heiiiii! Sin-kai, sejak kapan engkau menjadi seorang raja yang kaya raya?"
Kakek itu berjuluk Koai-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Bertongkat Setan) dan dia menyambut munculnya seorang "rekan"
Ini dengan sikap dingin saja tanpa bangkit berdiri, akan tetapi menjawab dengan cukup hormat.
"Ah, kiranya Kai-ong yang muncul. Silakan duduk, silakan duduk!"
Han Beng yang berpenglihatan tajam itu melihat betapa sinar mata suhunya berkilat aneh mendengar sambutan itu, namun suhunya yang agaknya melihat atau mendengar sesuatu yang tidak wajar itu bersikap biasa saja, dengan bebas dan tanpa sungkan-sungkan dia pun duduk di atas sebuah kursi kosong dan memberi isarat kepada Han Beng dan Hui Im untuk mengambil tempat duduk pula.
Empat orang pengawal tadi mengundurkan diri dan keluar dari ruangan luas itu.
Biarpun dalam ruangan itu hanya terdapat belasan orang pimpinan Ang-kin Kai-pang yang dikepalai Koai-tung Sin-kai, namun tiga orang tamu ini maklum bahwa di luar ruangan itu sudah siap puluhan bahwa mungkin ratusan anggauta perkumpulan itu yang Kalau perlu setiap saat dapat diperintahkan menyerbu dan mengeroyok mereka.
"Koai-tung, kami merasa menyesal sekali bahwa engkau dan muridmu telah menimbulkan keributan di kota raja. Kalau saja aku tidak ingat bahwa diantara kita masih ada hubungan persahabatan dan kita sama-sama menjadi pimpinan pengemis, tentu tadi kalian tidak kubiarkan masuk, dan sudah kusuruh tangkap!"
Ditegur seperti itu, Kai-ong tertawa tergelak.
"Ha-ha-ha-ha, akal maling memang begitu, sebelum tertangkap lebih dulu teriak maling agar tertutup kesalahannya. Sin-kai, justeru kedatanganku ini untuk minta keterangan darimu! Muridku ini minta obat kepada toko obat milik Nona Souw ini, untuk mengobati aku yang sedang sakit. Akan tetapi muncul tiga orang anak buahmu yang melarang. Nona Souw memberi kepada muridku. Karena Nona Souw merasa terhina, maka ia lalu melawan tiga orang anak buahmu itu melarikandiri. Kemudian aku dan muridku diundang oleh keluarga Souw, dan tiba-tiba saja para pembantumu muncul bersama pasukan keamanan kota raja melakukan penyerbuan! Sekarang aku datang untuk bertanya kepadamu Sin-kai, apa artinya semua ini? Kenapa sikap anak buahmu jauh sekali dibandingkan dahulu?"
"Hemmm, tidak ada yang berubah pihak kami, Kai-ong. Engkaulah yang berubah karena engkau bersekutu dengan para pemberontak Siauw-lim-pai untuk melawan pasukan pemerintah! Sudah menjadi peraturan kami bahwa seluruh kotaraja dan wilayahnya merupakan wilayah kami, dan pengemis dari mana pun juga yang hendak mengemis disini harus mendapatkan persetujuan kami lebih dulu! Hal ini untuk mencegah terjadinya perebutan dan kesalahpahaman. Akan tetapi muridmu mengemis tanpa lebih dulu memberitahukan kepada kami, tentu saja dilarang oleh para anggauta kami."
"Aha, begitukah? Dan engkau bersekutu dengan pasukan pemerintah untuk menindas rakyat?"
"Kai-ong!"
Tiba-tiba Koai-tung Sin-kai bangkit berdiri dan belasan orang pembantunya juga bangkit berdiri, sikap mereka mengancam.
"Lancang engkau bicara! Kami adalah golongan rakyat yang baik, bukan pemberontak, tentu saja berbaik dengan pemerintah. Kami tidak menindas rakyat, melainkan menentang para pemberontak. Aku masih menganggap engkau rekan, sama-sama pengemis, dan bahwa keributan itu kaulakukan tanpa sengaja dan karena tidak mengerti. Mengingat itu, berjanjilah bahwa engkau malam ini juga akan keluar dari kota raja dan tidak akan kembali lagi, dan aku akan membebaskan engkau dan muridmu."
Han Beng sudah merasa penasaran sekali, juga Hui Im yang memandang pada para pimpinan pengemis itu penuh kebencian mengingat bahwa merekalah yang menjadi penyebab hancurnya keluarganya dan kematian ayahnya.
Akan tetapi, Kai-ong juga bangkit sambil tertawa bergelak.
"Bagus ........ , bagus ........ ! Ini adalah wilayahmu dan engkau yang berkuasa, Sin-kai, maka biarlah aku mengalah dan akan pergi dari kota raja ini. Nah, sampai jumpa!"
Pengemis tua ini lalu menbalikkan tubuhnya, memberi isarat kepada Han Beng dan Hui Im yang masih penasaran untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu, langsung keluar dari dalam rumah besar itu.
Setelah keluar dan ruangan baru nampak oleh mereka bahwa semua anggauta Kai-pang telah siap siaga dan jumlah mereka banyak kali, mungkin ada seratus orang!
Melihat ini, Han Beng diam-diam memuji kecerdikan gurunya, karena kalau harus berkelahi di dalam, di mana pihak tuan rumah sudah siap siaga, mereka sendiri yang akan menderita kerugian.
Setelah keluar dari rumah itu, Kai-ong mengajak dua orang muda itu pergi ke tempat yang sunyi.
Sekarang Han Beng memperoleh kesempatan untuk bertanya.
"Suhu, kenapa kita harus menuruti perintannya7"
Gurunya tertawa.
"Ha-ha, itu bukan perintah dari Koai-tung Sin-kai, Han Beng."
"Bukan dia? Bukankah yang berjenggot panjang tadi, yang bicara dengan suhu, adalah Koai-tung dan Suhu juga menyebutnya Sin-kai?"
"Justeru sebutan itulah yang meyakinkan hatiku bahwa dia bukan Koai-tung Sin-kai dan aku sudah bersahabat erat sekali sehingga sebutan-sebutan antara kita sudah amat bebas. Aku menyebutnya Lo-koai (Setan Tua), bukan Sin-kai dan tadi sengaja aku menyebutnya demikian untuk melihat sambutannya. dan dia menyebut aku Kai-ong (Raja jembel) padahal biasanya dia menyebutku Lo-kai (Jembel Tua). Nah, bukankah itu merupakan bukti kuat bahwa bukan sahabatku itu? Memang wajahnya mirip, jenggotnya juga mirip, akan tetapi aku yakin bukan dia! Sinar matanya juga berbeda. Orang dapat memulas dan mengubah muka untuk menyamar, akan tetapi tidak mungkin mengubah sinar-mata."
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 11
"Ah, begitukah?"
Han Beng terkejut, dan Hui Im juga kaget mendengar ini.
"Lalu apa yang akan Suhu lakukan sekarang?"
"Aku yakin bahwa telah terjadi sesuatu di Ang-kin Kai-pang, sesuatu yang yan amat dirahasiakan mengenai diri Koai tung Sin-kai yang sesungguhnya. Ini tentu ada hubungannya dengan perubahan sikap para anggauta Ang-kin Kai-pang yang condong untuk menjadi sewenang-wenang. Malam ini juga aku akan melakukan penyelidikan, apa yang terjadi dengan Lo-koai dan di mana dia sekarang berada. Kalian berdua menunggu saja di dalam hutan ini karena lebih leluasa melakukan penyelidikan sendirian saja."
"Akan tetapi, Suhu sedang sakit, biarlah teecu saja yang melakukan penyelidikan,"
Kata Han Beng. Kai-ong melirik ke arah Hui Im lalu menggelengkan kepalanya.
"Penyakitku tidak penting, akan tetapi karena aku yang mengenal Lo-koai yang aseli, maka sebaiknya aku yang pergi sendiri Engkau dan Nona Souw bersembunyi dalam hutan ini dan engkau tentu dapat melindunginya kalau ada bahaya mengancam. Nah, aku pergi sekarang juga'"
Kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ, akan tetapi pendengarannya yang tajam dari Han Beng membuat dia mampu mendengar suara terbatuk-batuk itu dari jauh.
Suhunya belum sembuh!
Setelah kakek itu pergi, Han Ben berdiri saling pandang dengan Hui Im.
Sinar bulan memungkinkan mereka saling melihat wajah masing-masing, waalaupun hanya remang-remang.
Han Beng melihat gadis itu menunduk dan menarik napas panjang.
Tentu teringat akan keadaannya dan duka melanda hatinya la pikirnya.
Untuk mengalihkan perhatian dia lalu berkata.
"Nona, untuk mengusir nyamuk dan dingin, sebaiknya kita membuat api unggun."
"Apakah tidak berbahaya? Bagaimana kalau terlihat oleh musuh?"
"Saya kira tidak, Nona. Kalau memang pihak Ang-kin Kai-pang hendak menyerang kita, tentu sudah dilakukan tadi ketika kita berada di sana. Agaknya mereka itu ragu-ragu dan jerih menghadapi Suhu yang namanya sudah terkenal sekali."
Han Beng mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun. Mereka duduk menghadapi api unggun."Engkau mengaso dan tidurlah, Nona, biar aku yang berjaga di sini sambil menanti kembalinya Suhu."
Gadis itu menggeleng kepala dan merenung memandangi api yang merah.
"Bagaimana dalam keadaan seperti ini aku dapat tidur? Locian-pwe sedang melakukan perjalanan berbahaya dan engkau sendiri juga melakukan penjagaan. Kalau kuingat, betapa bodohnya aku, Tai-hiap, mengira bahwa engkau seorang pengemis biasa. Tidak tahunya gurumu adalah seorang Lo-cian-pwe yang sakti dan engkau sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi."
"Ah, engkau terlalu memuji-muji Nona. Buktinya, aku tidak mampu melindungi Ayahmu dan Susiokmu sehingga mereka menjadi korban"
"Jumlah musuh terlalu banyak, Tai-hiap, dan Ayah bersama Susiok terlalu nekat. Mereka itu amat mendendam atas terbakarnya kuil Siauw-lim-si."
Keduanya berdiam diri sampai berapa lamanya, termenung memandang api unggun yang nyalanya merah keemasan.
Tiba-tiba gadis itu mengangkat mukanya memandang.
Mendengar gerak ini, Han Beng juga mengangkat muka Mereka saling pandang.
"Tai-hiap......."
"Nona, kuharap engkau jangan menyebut aku tai-hiap. Sungguh tidak enak hati ini mendengarnya. Lihat, aku tidak hanya seorang pemuda jembel, sungguh menggelikan dan memalukan kalau terdengar orang lain seorang gadis seperti engkau menyebutku tai-hiap."
Dia berhenti dan menatap wajah yang manis di bawah cahaya api unggun.
"Namaku Han Beng, Nona."
Hui Im kelihatannya kebingungan, dan dengan gugup, seperti orang yang baru berkenalan dan saling memperkenalkan diri, ia pun menjawab.
"Namaku Souw Hui Im ......... ah, lalu ......... aku harus menyebut apa?"
"Terserah, asal jangan tai-hiap saja!"
Jawab Han Beng sambil tersenyum.
"Bolehkah aku menyebutmu Toako (Kakak Besar)?"
"Tentu saja boleh,"
Kata Han Beng dengan wajah berseri.
"dan aku akan menyebutmu Siauw-moi (Adik Kecil)."
Sejenak mereka diam, hanya menunduk.
Perubahan panggilan itu saja amat terkesan di dalam hati masing-masing dan membuat mereka merasa malu-malu dan sungkan.
Memang dua orang muda Ini memiliki watak yang sama, yaitu pendiam sehingga sukarlah bagi mereka untuk memulai bicara, tidak tahu apa vang harus mereka bicarakan.
Akhirnya, dengan menekan hatinya mengumpulkan keberanian, Hui Im berkata dengan suara lirih.
"Twako, engkau telah mengetahui keadaan diriku. Aku kini yatim piatu tidak mempunyai apa-apa lagi. Akan tetapi aku belum mengetahui riwayatmu Twako. Sudikah engkau menceritakannya kepadaku?"
Han Beng menarik napas panjang, Riwayatnya amat tidak menarik, akan tetapi dia teringat bahwa keadaannya yang mirip dengan keadaan gadis tentu akan dapat menghibur hati Hui membuka mata gadis itu bahwa ia tidak seorang diri saja hidup sebatangkara dunia ini, tidak mempunyai apa-apa!
lalu dia memandang gadis itu dan tersenyum baru dia menjawab.
"Siauw-moi, keadaan diriku pun tidak banyak bedanya denganmu. Ayah ibuku telah tiada, tewas di tangan orang orang kang-ouw di Sungai Kuning ketika keluarga kami melarikan diri dari kerja paksa. Aku sendiri tidak tahu si pembunuh mereka, karena ketika itu terjadi keributan di antara orang-orang kang-ouw yang memperebutkan anak naga di Sungai Huang-ho. Aku tidak mempunyai keluarga lagi, sebatangkara dan seperti kaulihat, aku hidup dengan guruku, dan kami hanyalah pengemis-pengemis miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal."
"Ahhhhh......... kasihan sekali engkau, Twako,"
Kata gadis itu dengan tulus.
"Sudahlah, Siauw-moi, tidak ada gunanya kita memupuk iba diri seperti katakan Suhu tadi. Iba diri hanya menumbuhkan duka dan kecil hati. Bagaimanapun juga, kita masih hidup dan dunia ini cukup luas, bukan? Matahari beesok masih akan bersinar terang dan lihat, ...biairpun bulan mulai tenggelam, sebagai gantinya nampak begitu banyaknya bintang cemerlang di langit. Sesungguhnya kita tidak sebatangkara di dunia ini, Siauw-moi. Bukankah banyak terdapat manusia-manusia budiman di dunia ini yang dapat kita harapkan menjadi keluarga kita?"
Gadis itu mengangguk.
"Engkau benar, Twako. Ah, kalau tidak bertemu dengan engkau dan Lo-cian-pwe, entah bagaimana jadinya dengan diriku. Mungkin aku sudah putus asa menghadapi keadaan seperti ini."
"Sudahlah, Siauw-moi, lebih baik engkau beristirahat. Engkau perlu mengumpulkan tenaga. Siapa tahu, tenagamu dibutuhkan besok. Tidurlah, biar aku yang berjaga di sini."
Karena merasa dirinya lelah sekali dan seluruh tubuh terasa lemas karena duka, gadis itu mengangguk, merebahkan diri miring dan sebentar saja pun napasannya yang lembut menunjukkan bahwa ia telah jatuh tidur.
Sampai lama Han Beng mengamati wajah yang tidur pulas itu, wajah manis yang seperti sinar api unggun dan hatinya terger.
Dia sendiri tidak mengerti mengapa sejak pertemuan pertama kali, sejak di diberi obat oleh gadis itu, dia merasa tertarik sekali, ada rasa suka dan kagum, dan kedua perasaan itu kini tambah dengan rasa iba yang mendalam.
Ada perasaan di dalam hatinya untuk menghiburnya, untuk menyenangkan hatinya, untuk membahagiakan hidupnya.
Apakah yang dinamakan cinta?
Dia tidak mampu menjawabnya.
Sementara itu, dengan cepat Sin-Ciang Kai-ong lari meninggalkan muridnya, bukan karena tergesa-gesa, melainkain karena dia tidak ingin kalau batuknya terdengar oleh murid itu.
Sejak tadi dia sudah menahan diri, menahan agar tidak terbatuk, padahal kerongkongannya gatal sekali dan napasnya sesak.
Ia tahu bahwa kesehatannya memang belum pulih.
Dia harus bertindak cepat.
Rahasia yang menyelimuti Ang-kin Kai-Kai.pang dan yang agaknya membuat perkumpulan itu berubah menjadi jahat, harus dapat dibongkarnya.
Setelah tiba diluar tembok yang mengelilingi bangunan arang Ang-kin Kai-pang, dia lalu melakukan pengintaian.
Kebetulan sekali dia melihat seorang anggauta perkumpulan itu yang bersabuk merah cerah, tanda bahwa dia bertingkat dua, keluar dari pintu gerbang.
Diam-diam dia membayanginya dan pengemis yang usianya kurang lebih empat puluh tahun itu menuju ke sebuah rumah tak jauh dari sarang Ang-kin Kai-pang itu.
Pengemis itu berperut gendut bertubuh agak pendek, mukanya merah d hidungnya besar.
Dia mengetuk dan jendela rumah itu, bukan mengetuk pintu.
Hal ini saja menimbulkan kecurigaan di hati Sin-ciang Kai-ong dan dia melakukan pengintaian tak jauh dari situ.
"Siapa?"
Terdengar suara wanita dari dalam, lirih.
"Aku, Hong-moi, bukalah dan biarkan aku masuk."
"Ihhh, kenapa baru sekarang kau datang? Begini larut?"
Tegur suara warnita itu dan jendela belum juga dibuka.
"Gara-gara Sin-ciang Kai-ong keparat itu! Kami menjadi sibuk dan melakukkan penjagaan. Baru sekarang aku dapat meninggalkan gardu penjagaan, aku rindu kali padamu, bukalah jendelanya "
"Sudah terlalu larut, sebentar lagi suamiku pulang."
"Aaahhh, jangan khawatir. Sebentar saja. Bukalah dan biarkan aku masuk Manis.........."
Daun jendela dibuka dari dalam dan biarpun tubuhnya gemuk dengan perut gendut, laki-laki itu meloncat dengan gesitnya bagaikan seekor burung saja meluncur ke dalam melalui jendela yang segera ditutup kembali.
Akan tetapi, belum ada lima menit Si gendut itu memasuki rumah itu, pintu depan diketuk orang dengan kerasnya.
Seorang pria mengetuk pintu rumahnya, berteriak kepada penghuni rumah itu untuk membuka pintunya.
Sin-ciang Kai-ong mengintai dari atas genteng dan mendengar suara wanita tadi di dalam rumah.
"Celaka! Itu suamiku datang! Lekas kau pergi, aku akan membuka pintunya."
"Hemmm, jahanam itu! Berani dia mengganggu kesenanganku? Biar kuhajar mampus dia!"
"Jangan........ , jangan ....... , dia itu suamiku ............."
"Hemmm, jangan cerewet! Buka pintunya dan biarkan dia masuk!"
Pengemis gendut itu membentak.
Sin-ciang Kai-ong sudah melayang turun dan mengintai dekat pintu depan jika daun pintu dibuka dari dalam.
tiba-tiba, sesosok bayangan gendut melayang keluar dan menghantamkan tongkatnya ke arah kepala suami wanita yang baru datang itu.
"Trakkk!"
Bukan kepala suami itu yang remuk, melainkan tongkat itu patah-patah ditangkis oleh tongkat di tangan Sin-ciang Kaj-ong.
Si Gendut terbelalak kaget, akan tetapi sebelum dia dapat bergerak, tangan kiri Sin-ciang Kai-ong sudah menyambar ke arah pundaknya dan dia pun terkulai lemas.
Tentunya suami wanita itu menjadi terkejut dan terheran-heran.
Sin-ciang Kai-ong menyeret pengemis gendut itu dan berkata kepada suami yang keheranan itu.
Sebaiknya engkau jangan meninggalkan rumah di malam hari agar rumahmu .tidak diganggu oleh orang-orang jahat.
Berkata demikian, dia melompat membawa tubuh gendut itu seolah-olah memanggul benda yang ringan saja.
Suami Isteri itu bengong karena dalam sekejap mata saja pengemis tua itu lenyap dari depan mereka.
"Hayo katakan, di mana adanya Koai-tung Sin-kai'?"
Untuk ke tiga kalinya Si ciang Kai-ong membentak.
Pengemis gendut itu rebah telentang di depan di tepi sebuah hutan di luar kota.
Pengemis gendut mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, akan tetapi tidak dapat dia bergerak karena tubuhnya sudah lumpuh oleh totokan.
Seperti tadi, dia menjawab.
"Sudah kukatakan bahwa Pangcu berada di Asrama! Buka kah tadi engkau datang berkunjung d melihat sendiri?"
Sikap Si Gendut itu masih angkuh karena dia mengira bahwa kakek jembel yang disebut Sin-cia Kai-ong dan namanya amat terkenal ini agaknya jerih terhadap ketuanya, Koai-tung Sin-kai.
"Engkau bohong!"
Kakek itu membentak.
"Dia bukan Koai-tung Sin-kai. Dia hanyalah ketua yang palsu! Ya kutanyakan, di mana Koai-tung Sin-ka yang aseli?"
Si Gendut membelalakkan matanya jelas nampak bahwa dia kaget bukan main.
"Siapa bilang bahwa Pangcu kami palsu?"
"Tak perlu kautahu siapa yang bilang, yang penting kaukatakan di mana Pangcu yang aseli? Dan siapakah ketua palsu itu sebenarnya?"
Si Gendut memandang dengan wajah berubah pucat, lalu membuang muka kesamping dan berkata.
"Aku tidak tahu!"
Sin-ciang Kai-ong menambah kayu kering pada api unggun di dekat mereka sehingga api bernyala tinggi dan sinar-menimpa Si Gendut yang pucat, kemudian, tiba-tiba tangan kiri kakek jembel itu bergerak, cepat bukan main dan dia sudah menotok dua kali, pertama ke arah leher, dan ke dua kalinya arah pundak.
Si Gendut terbelalak, mulutnya terbuka seperti hendak menjerit-jerit, akan tapi tidak ada suara keluar dari mulutnya, dan mukanya kini penuh kerut-kerut tanda bahwa dia menderita nyeri yang luar biasa hebatnya.
Sin-ciang Kai-ong membiarkan dia menderita bebepa menit lamanya, lalu membebaskan totokannya sehingga rasa nyeri itu lenyap dan Si Gendut mampu bicara kembali.
"Nah, jawablah pertanyaanku dengan baik-baik. Di mana adanya pangcu yang aseli dan siapa pangcu yang palsu itu?"
Si Gendut itu kini menangis. Rasa nyeri dan tak berdaya membuat dia dipenuhi rasa takut, sedih, dan penasaran.
"Aku.......... aku tidak berani.......... tidak berani menjawab ............"
Dia sudah mengatakan tidak berani, bukan tidak tahu lagi dan ini merupakan kemajuan, pikir Sin-ciang K ong.
Tiba-tiba dia menyeret tubuh si Gendut, didekatkan pada api dan menarik lengannya, lalu membakar tangan kiri Si Gendut itu pada api unggun.
Tercium bau sangit dan Si Gendut mengerang kesakitan.
Ketika Sin-ciang Ka ong menarik kembali lengan itu, jari-jari tangan kiri Si Gendut melepuh hangus!
"Engkau masih belum berani jawab?
Akan kubakar tubuhmu sedikit demi sedikit sampai habis terbakar!"
Kakek itu mengancam.
Si Gendut menjadi ketakutan.
Ancaman bahaya dari ketuanya masih jauh, masih belum terasa, akan tetapi ancaman Sin-ciang Kai-ong ini sudah di depan mata dan sudah dirasakannya pula.
"Baiklah........ aku ............. aku mengaku........."
Dengan suara tersendat-sendat dia lalu menceritakan keadaan Ang-kin Kai-pang yang aneh.Kiranya telah terjadi hal-hal hebat di dalam asrama Ang-kin Kai-pang.
Seorang musuh besar dari Koai-tung Sin-kai, yaitu seorang datuk sesat dari selatan yang berjuluk Lam-Sin Hui Houw (Harimau Terbang dari Gunung Selatan), mendendam kepada Koai-tung Sin-kai yang menjadi ketua Ang-kin Kai-pang di kota raja.
Pernah Si Harimau Terbang ini dihajar oleh Koai-tung Sin-kai dalam suatu bentrokan ketika datuk ini melakukan kejahatan di kota raja.
Dengan hati penuh dendam, si Harimau Terbang melarikan diri kembali ke selatan di mana dia menggembleng diri dan memperdalam ilmu silatnya.
Sepuluh tahun kemudian, menjadi seorang yang amat lihai dengan belasan orang anak buahnya yang sudah terlatih dan masing-masing memiliki kepandaian tinggi, kembalilah dia ke kota raja dan mengunjungi Ang-Kin Kai-pang.
Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dia berhasil membalas kekalahannya, bahkan dia merobohkan Koai-tung Sin-kay, menangkapnya dan menawannya ke dalam tahanan di bawah tanah.
Dia sendiri, dengan ilmu penyamaran yang telah dipelajarinya, lalu menyamar sebagai Koai-tung Sin-kai menjadi orang yang berkuasa di perkumpulan Ang-kin Kai-pang itu.
Mulanya memang para anggauta perkumpulan itu merasa heran sekali akan perubahan sikap dan watak ketua mereka.
Akan tetapi karena ketua mereka bersikap keras mereka pun tidak berani banyak bertanya.
Apalagi ketua mereka itu mempunyai pembantu-pembantu yang amat lihai.
Demikianlah, setahun yang lalu mulai terjadi perubahan besar dari perkumpulan pengemis itu.
"Ketua kami yang sekarang, yang menyamar sebagai Koai-tung Sin-kai sesungguhnya adalah Lam-san Hui-houw si Gendut mengakhiri ceritanya. Sin-ciang Kai-ong mengangguk-angguk. Sudah diduganya demikian.
"Akan tetapi di mana adanya Koay-tung Sin-kai yang aseli? Ditawan di nana?"
"Di dalam kamar bawah tanah,"
Kata Si Gendut yang sudah terlanjur membuat pengakuan.
Dia merasa kepalang tanggung dan diceritakanlah tentang keadaan penjara bawah tanah itu.
Yang ditawan di situ selain Koai-tung Sin-kai, juga ada kurang lebih sebelas orang pimpinan Ang-kin Kai-pang yang megetahui rahasia itu dan yang memberontak terhadap ketua palsu.
Setelah menguras pengakuan dari Si Gendut itu, Sin-ciang Kai-ong lalu menotoknya lagi dan meninggalkan Si Gendut dalam keadaan tak mampu bergerak itu di dalam hutan.
Tentu saja Si Gendut ini ketakutan bukan main, bukan hanya takut kepada Lam-san Hui-hou yang rahasianya sudah dia buka, akan tetapi juga takut kalau-kalau muncul harimau atau binatang buas lain da menerkam dia yang tidak mampu bergerak karena tertotok itu.
Rasa takutnya ini ternyata kemudian menjadi kenyataan.
Terdengar gerengan-gerengan dalam hutan itu dan kalau orang melihat di mana Si Gendut itu ditinggalkan, dan hanya akan menemukan sisa-sisa pakaian dan potongan-potongan badan yang tidak sampai tertelan oleh binatang buas dan kini potongan-potongan itu pun sedang diperebutkan antara beberapa ekor anjing hutan dan burung-burung gagak dan pemakan bangkai yang lain.
Sin-ciang Kai-ong sendiri lalu lari cepat menuju ke asrama Ang-Kin Kai-pang.
Matahari pagi sudah mulai bersinar.
Ketika dia tiba di dekat pintu gerbang kota raja, sesosok bayangan muncul dari balik pohon dan ternyata bayangan ini adalah Si Han Beng.
"Eh, engkau di sini?"
Tanya Sin-cia Kai-ong.
"Di mana Nona Souw?"
"Setelah Suhu pergi, teecu mengkhawatirkan keselamatan Suhu yang masih belum sehat benar. Nona Souw teecu suruh menanti di dalam hutan itu dan teecu menyusul ke sini."
"Bagus kalau begitu. Memang aku membutuhkan bantuanmu, Han Beng. Engkau tahu, sahabatku Koai-tung Sin-kai benar-benar mereka tawan dan yang kini bertindak sebagai Koai-tung Sin-kai adalah seorang datuk sesat dari selatan berjuluk Lam-san Hui-houw."
Kakek itu menceritakan apa yang didengarnya dari kaki tangan ketua palsu itu.
Han Beng mendengarkan dengan heran dan juga kagum akan kecerdikan gurunya yang ternyata telah menduga tepat sekali "Sekarang, apa yang akan Suhu lakukan dan apa yang harus teecu lakukan?"
"Aku akan mencoba untuk membebaskan sahabatku Koai-tung Sin-kai dan para pembantunya yang ditawan, dan engkau dapat membantuku, Han Beng."
Kakek itu lalu berunding dengan muridnya dan mengatur siasat agar dia berhasil membebaskan para tawanan itu dan membongkar rahasia kejahatan Lam-sar Hui-houw.
Munculnya Han Beng di depan asrama Ang-kin Kai-pang tentu saja menimbulkan keributan lagi pada perkumpulan itu.
Belasan orang anggauta Ang-kin Kai-pang sudah menyambut dengan senjata di tangan, mengepung pemuda yang dianggap sebagai musuh besar atau biang-keladi keributan yang terjadi antara mereka dengan keluarga Souw.
Mereka merasa heran dan penasaran bagaimana pemuda ini berani muncul lagi seorang diri!
Melihat mereka semua siap untul mengeroyoknya, Han Beng mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata lantang.
"Saudara-saudara, dengarlah baik baik. Aku, Si Han Beng, datang untuk menantang ketua Ang-kin Kai-pang untuk keluar dan mengadu kepandaian denganku! Aku merasa berdosa kepada keluarg Souw karena aku yang menjadi biang keladi sehingga keluarga itu dimusuhi dan diserbu oleh Ang-kin Kai-pang. Maka, aku ingin membalaskan penasaran mereka, dan aku tantang ketua Ang-kin Kai-pang untuk keluar dan melawan aku kalau memang dia seorang gagah!"
Akan tetapi, para pengemis Ang-kin Kai-pang tentu saja memandang rendah kepadanya.
Pemuda jembel dari luar kota seperti itu menantang ketua mereka yang lihai?
Merendahkan sekali!
"Engkau tidak pantas dilayani ketua kami!"
"Bunuh anjing busuk ini!"
"Keroyok dan bunuh dia!"
Belasan orang itu menyerbu dan mengeroyok Han Beng, sedangkan dari dalam dan luar asrama itu datang berlarian lebih banyak lagi para anggauta Ang-Kin Kai-pang.
Selain para pembantu ketua palsu itu yang memang terdiri dari orang-orang sesat, para anggauta Ang-Kin Kai-pang adalah orang-orang gagah.
Akan tetapi selama satu tahun lebih mereka dipimpin oleh seorang ketua yang sama sekali berubah wataknya, yang mempunyai pembantu-pembantu yang mengutamakan tindakan kekerasan kejahatan maka sedikit banyak merekapun terpengaruh.
Perbuatan buruk jahat memang seperti penyakit menular mudah sekali menular kepada orang lain.
Sebaliknya, perbuatan baik sukar sekali menjadi contoh dan tak banyak orang mau mengikutinya.
Hal ini adalah karena perbuatan buruk itu hampir selalu didorong oleh pamrih demi kesenangan pribadi.
Justeru kesenangan pribadi inilah yang menarik hati setiap orang maka berbondong-bondong mereka mengikuti contoh ini demi menikmati kesenangan itulah.
Sebaliknya, perbuatan baik hampir selalu meniadakan atau mengurangi keinginan menyenangkan diri pribadi yang berarti bahwa untuk melakukan perbuatan baik orang hampir selalu menderita rugi, baik rugi lahir maupun rugi batin.
Maka sudah barang tentu jarang ada yang mau melakukannya.
Melihat betapa belasan orang anggauta Ang-kin Kai-pang itu, dengan segala macam senjata, menerjangnya berbagai penjuru, Han Beng lalu mengamuk!
Dia berhasil merampas sebatang tombak, mematahkan ujungnya yang runcing sehingga tombak itu berubah menjadi sebatang tongkat dan dia pun mengamuk dengan memainkan ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Sin-ciang Kai-ong.
Dan memang hebat sekali ilmu tongkat ini.
Dalam pandangan para pengeroyoknya, tubuh Han Beng seolah-olah menjadi banyak, dan tongkatnya pun menjadi puluhan banyaknya, menyambar-nyambar dan kadang-kadang berubah menjadi gulungan sinar yang setiap kali menyambar senjata lawan tentu membuat senjata itu terlepas dari tangan pemegangnya dan terpental jauh.
Melihat kehebatan gerakan pemuda ini, para anggauta Ang-kin Kai-pang yang tadinya hanya menonton, segera terjun ke dalam pertempuran dan semakin banyak yang kini mengeroyok pemuda itu.
Hal ini menyenangkan hati Han Beng, karena memang sesuai dengan siasat gurunya, dia ingin memancing keluar semua orang yang berada di dalam asrama itu.
Sambil terus memutar tongkatnya ke sana-sini, merobohkan para pengeroyok dengan sapuan tongkatnya, tamparan tangan kiri atau tendangan-tendangan kedua kakinya, dia tiada hentinya berteriak menantang kepada ketua Ang-kin Kai-pang "Mana ketua Ang-kin Kai -pang?
Hayo Pangcu, kalau engkau memang bukan pengecut, keluarlah dan tandingilah aku!"
Teriaknya nyaring dan terdengar sampai ke dalam.
Teriakan bukan saja untuk mengejek sehingga ketua Ang-kin Kai-pang itu akan keluar, akan tetapi juga untuk memberi isarat kepada gurunya yang dia percaya sudah berada di dalam, isarat bahwa agaknya para anggauta Ang-kin Kai-pang telah keluar semua mengeroyoknya, kecuali ketuanya.
Tidak salah perhitungan Han Ben Ketua itu memang sejak tadi mengintai dan diam-diam ketua palsu itu terkejut melihat sepak terjang Han Beng.
Tahulah dia bahwa para pembantunya bukan tandingannya pemuda lihai itudan dia sendiri yang harus turun tangan.
Betapapun lihainya pemuda itu, kalau dia turun tangan sendiri dibantu para jagoan dan para anggautanya yang cukup banyak, tidak mungkin pemuda itu tidak akan lapat dirobohkan!
"Pemuda sombong, mampuslah!"
Bentaknya dan dia pun sudah meloncat keluar dari tempat pengintaiannya dan dengan sebatang tongkat yang panjang dan bentuknya seperti seekor ular, ketua Ang-kin Kai-pang menerjang Han Beng dengan dahsyatnya!
"Tuk-tuk-desssss......!"
Pertemuan tongkat ular dan tongkat di tangan Han Beng mendatangkan getaran hebat, dan keduanya merasakan betapa lengan mereka tergetar dan tubuh terguncang.
Han Beng terkejut dan memandang kakek itu, diam-diam dia bersikap hati-hati karena ternyata, palsu atau tidak, ketua Ang-kin Kai-pang ini sungguh lihai dan tidak oleh dipandang ringan sama sekali.
Sebaliknya, Koai-tung Sin-kai palsu itu pun memandang dengan mata terbelalak.
dia tadi telah mengerahkan tenaga sin-Kang pada ayunan tongkatnya, namun selalu dapat ditangkis oleh tongkat pemuda itu dengan kekuatan yang tidak kalah dahsyatnya.
Dengan marah dan penasaran, ketua Ang-kin Kai-pang itu memberi isarat kepada para pembantunya untuk mengeroyok.
"Bunuh bocah sombong ini!"
Teriaknya dan ketika para pembantunya sudah mengepung dan mengeroyok lagi, dia pun menggerakkan tongkatnya dan ikut pula mengeroyok!
Kalau tadi dikeroyok oleh puluhan orang anggauta Ang-kin Kai-pang masih dapat menahan diri dan mengamuk, kini setelah ketuanya maju sendiri ikut mengeroyok, Han Beng mu terdesak hebat.
Ketua itu sendiri sua amat lihai, merupakan seorang lawan yang harus dihadapinya dengan pengerahan tenaga dan perhatian, maka pengeroyokan banyak sekali lawan itu saja membuat perhatian dan tenaganya terbagi dan beberapa kali serangan dahsyat yang dilakukan ketua Ang-kin Kai-pang itu membuatnya terhuyung kebelakang.
Namun, dengan permainan tongkat yang dipelajarinya dari Sin-ciang Kai-ong yaitu Ilmu Tongkat Dewa Mabuk, ditambah lagi dengan gerakan Hui-tiauw kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) dari gurunya pertama, Sin-tiauw Lui Rhok Ki yang membuat tubuhnya dapat ' beterbangan"
Di antara sambaran senjata-senjata lawan, Han Beng mengamuk dan melakukan perlawanan mati-matian.
Akan tetapi, dia selalu berlompatan menjauhi ketua Ang-kin Kai-pang yang amat lihai itu.
Akan tetapi, Koai-tung Sin-kai yang palsu terus mengejarnya dan mendesaknya.
Permainan tongkat dari Koai-tung Sin-kai memang hebat dan diam-diam Han Beng harus mengakui bahwa orang yang memalsukan Koai-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Setan) itu memang tepat menjadi Koai-tung Sin-kai palsu.
Permainan tongkatnya benar-benar amat hebat.
Andaikata dia harus melawan kakek itu satu lawan satu, dia merasa yakin takkan terdesak dan agaknya masih mampu untuk mengalahkannya.
Namun, dia dikeroyok banyak sekali orang, dan belasan orang pembantu Koai-tung Sin-kai juga rata-rata miliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi sedangkan puluhan anggauta perkumpulan pengemis itu pun semua masing-masing memiliki kepandaian silat.
Pengeroyokan yang ketat itu membuat Han Beng lelah dan beberapa kali tubuhnya telah menerima hantaman tongkat dan bacokan golok yang membuat pakaiannya robek-robek dan sedikit kulit tubuhnya lecet karena dia sudah melindungi tubuh dengan tenaga sin-kang yang membuat kebal.
Betapapun juga, Han Beng mengerti bahwa kalau pengeroyokan itu dilanjutkan, akhirnya dia akan roboh juga.
utung bahwa selama ini, dia selalu dapat menghindarkan diri dari serangan tongkat ketua Ang-kin Kai-pang yang terus mendesaknya, dan hanya pukulan-pukulanpara anggauta perkumpulan itu saja yang sempat mengenai tubuhnya.
Kalau tongkat kakek ketua itu yang mengenai tubuhnya, sungguh berbahaya karena belum tentu kekebalannya mampu melindungi tubuhnya.
oooOOOooo Pada saat itu, terdengar teriakan Melengking nyaring yang mengejutkan semua orang.
"Tahan, semua senjata! Saudara-saudara para anggauta Ang-kin Kai-pang, tahan senjata dan dengarkan kata-kataku!"
Semua orang terkejut karena suara itu mengandung getaran kuat dan mereka semua menengok ke arah suara itu.
Kiranya seorang kakek telah berdiri diatas wuwungan sehingga nampak oleh mereka semua.
Para anggauta Ang-kin Kai-pang yang lama tentu saja mengenal Sin-ciang Kai-ong dan mereka memang tadinya sudah merasa terheran-heran mendengar akan kunjungan Sin-ciang Kai-ong yang agaknya menentang kebijaksanaan ketua mereka.
Padahal, dahulu Sin-ciang Kai-ong adalah sahabat baik ketua mereka.
Sin-ciang Kai-ong berdiri di atas wuwungan itu dan kini dia memandang kepada ketua Ang-kin Kai-pang yang nampak marah.
"Jangan dengarkan jembel tua busuk itu!"
Teriaknya kepada anak buahnya.
"Bunuh pemuda sombong ini, dan bunuh pula Sin-ciang Kai-ong yang jelas ingin memusuhi kita!"
Mendengar ini, para pengemis sudah menggerakkan senjata lagi hendak melanjutkan pertempuran.
"Tahan dulu dan biarkan aku bicara Sin-ciang Kai-ong membentak, suaranya mengatasi suara gaduh para pengemis itu.
"Saudara-saudara para anggauta Ang-kin Kai-pang tentu merasa betapa dalam setahun ini telah terjadi perubahan besar dalam sikap ketua kalian! Dengarlah baik-baik dan lihat! betul-betul bahwa ketua kalian ini adalah seorang ketua palsu, dia sama sekali bukan Koai-tung Sin-kai! Dia adalah orang luar yang menyamar menjadi ketua kalian dan menyeret kalian ke jalan jahat!"
Tentu saja ucapan ini disambut dengan seruan-seruan kaget, heran tidak percaya.
Para pengemis itu memandang kepada ketua mereka dan tak seorang pun di antara mereka meragukan bahwa ketua mereka itu masih tetap Koal-tung Sin-kai!
"Bohong!"
Teriak ketua Ang-kin Kai-Pang itu.
"Dia bohong! Aku adalah Koai-Tung Sin-kai!"
"Bohong........ ! Bohong........!"
Teriak pula para pembantu ketua itu dan banyak mulut anak buah perkumpulan itu pun berteriak bohong karena mereka sama kali tidak melihat kelainan pada ketua mereka.
"Aku tidak bohong! Dia bukan sahabatku Koai-tung Sin-kai, akan tetapi ia adalah Lam-san Hui-houw seorang Datuk sesat dari selatan!"
Kembali teriakan ini membuat semua orang tertegun, dan diam-diam ketua Ang-kin Kai-pang terkejut bukan Main, bahkan dia tidak dapat mencegah wajahnya yang berubah pucat.
Akan tetapi cepat dia memutar tongkatnya dan seru.
"Bohong! Jembel busuk itu menyebar fitnah, dia bohong besar!"
Berkata demikian, sekali meloncat tubuhnya telah mencelat ke atas wuwungan dan dengan beringas dia menyerang Sin-ciang Kai-ong dengan tongkatnya.
"Dukkk!"
Sebatang tongkat lain menangkisnya dan tiba-tiba saja di atas wuwungan itu, di dekat Sin-ciang Kai-ong, berdiri seorang kakek lain yang bukan lain adalah Koai-tung Sin-Kai sendiri!
Semua orang mengeluarkan seruan kaget melihat munculnya seorang kakek lain yang wajah dan tubuhnya persis sekali dengan ketua mereka!
Hanya bedanya, kalau ketua mereka mengenakan pakaian tambal tambalan yang bersih dan indah, sebaliknya kakek yang baru muncul itu pakaiannya compang-camping dan butut, juga rambut brewoknya tidak terawat, berbeda dengan rambut dan brewok ketua mereka yang mengkilat oleh minyak!
Tangkisan itu membuat ketua Ang-kin Kai-pang loncat turun lagi dari atas genteng, sedangkan Sin-ciang Kai-ong dan kakek yang baru muncul itu masih berdiri atas genteng.
"Nah, Saudara-saudara para anggota Ang-kin Kai-pang. Inilah Koai-tung Sin-kai yang aseli, ketua kalian yang sejati! Selama ini dia ditangkap oleh Lam-san Hui-houw dan belasan orang anak buahnya itu, ditawan didalam kamar bawah tanah sedangkan dia sendiri menyamar sebagai ketua kalian dan menyeret kalian ke dalam lembah kejahatan!"
Sin-ciang Kai-ong berseru nyaring.
"Saudara-saudara sekalian, harap kalian mundur dan biarlah kami yang akan menangkap penjahat-penjahat ini!"
Terdengar suara Koai-tung Sin-kai yang aseli dan kini para anggauta Ang-kin Kai-pang menjadi semakin ragu.
Suara kakek yang baru muncul itu memang suara khas dari ketua mereka yang dahulu!
Maka, para anggauta Ang-kin Kai-pang lalu mundur dan membentuk lingkaran besar.
Yang tidak mundur hanyalah ketua Ang-kin Kai-pang dan lima belas orang pembantunya, juga Han Beng yang masih berdiri di situ, kagum melihat sepak terjang gurunya yang ternyata telah berhasil membebaskan Koai-tung Sin-kai yang aseli.
Kini dua orang kekek itu melayang turun dari atas genteng dan dengan ringan mereka hinggap di atas tanah.
Han Beng segera bergabung dengan mereka.
Melihat betapa rahasianya telah terbuka, diam-diam Lam-san Hui-houw menjadi menyesal dan juga baru dia tahu bahwa sikap pemuda yang mengamuk tadi merupakan siasat untuk memancing dia dan semua pembantunya keluar, sementara itu, Sin-ciang Kai-ong agaknya menyelinap ke bawah tanah dan membebaskan Koai -tung Sin-kai dan para pembantunya!
Karena rahasianya telah bocor dan dia merasa terdesak ke sudut, Lam-san Hui-houw menjadi marah dan nekat.
"Bunuh mereka!"
Teriaknya kepada lima belas orang pembantunya.
Akan tetapi pada saat itu, dari atas genteng berlompatan sembilan orang pengemis yang pakaiannya compang-camping.
Mereka ini adalah para pembantu Koai-tung Sin-kai yang aseli, yang sudah dibebaskan pula oleh Sin-ciang Kai-ong.
Melihat betapa pihak lawan sudah bergerak, Sin-ciang Kai-ong berkata kepada pada sahabatnya.
"Lo-koai, engkau dan para pembantumu basmi saja anak buah penjahat itu, serahkan Macan Terbang ini kepada muridku dan aku!"
"Baiklah, Lo-kai, akan tetapi sebaiknya jangan bunuh dia. Ingin aku menyerahkan dia kepada Phoa Tai-jin, sahabatku dan pejabat yang jujur dan adil di kota raja ini!"
Jawab Koai-tung Sin-kay.
"Han Beng, tangkap ketua palsu itu!"
Mendengar perintah gurunya, Han Reng lalu maju menyambut Lam-san Hui-houw yang sudah memutar tongkat ularnya.
Terjadilah perkelahian yang seru antara mereka.
Kini barulah Han Beng mencurahkan seluruh kepandaian dan perhatiannya kepada ketua palsu ini sehingga lambat laun dia mulai mendesak ketua palsu itu yang selalu main mudur.
Sementara itu, Koai -tung Sin-kai yang aseli dibantu sembilan orang pembantunya, dengan mudah saja membabat lima belas orang pembantu penjahat sehingga mereka roboh malang melintang terkena hantaman tongkat-tongkat para pimpinan Ang-kin Kat-pang yang aseli.
Kalau dulu Koai-tung Sin-kai sampai dapat ditawan adalah karena dia diserang secara tiba-tiba oleh Lam-san Hui-ho yang menjadi tamunya, lalu dikeroyok pula.
Dan setelah dia ditawan, tentu saja para pembantunya dengan mudah dan ditangkapi.
Andaikata Lam-san Hui-ho yang datang sebagai tamu itu tidak mempergunakan siasat busuk, belum tentu dia akan mampu menangkap Koai-tung Sin-kai yang mempunyai banyak anak buah dan dia sendiri pun memiliki ilmu kepandaian tinggi dan belum terima dia kalah oleh Lam-san Hui-houw.
Melihat betapa para pembantu penjahat itu telah roboh semua, sedangkan muridnya sudah mendesak hebat kepada Lam-san Hui-houw, Sin-ciang Kai-ong lalu melompat ke depan dan dengan tangan kirinya dia mengirim tampar kepada Lam-san Hui-houw yang sudah repot menahan desakan Han Beng.
Lam-san Hui-houw cepat melempar tubuhnya belakang dan memutar tongkatnya, akan tetapi sinar hitam dari tongkat butut tangan kanan Sin-ciang Kai-ong menyambar dan di lain saat, datuk sesat terguling dan tidak mampu melawan lagi.
Dia maklum bahwa dia takkan mampu nelawan lagi, maka dia pun segera bangkit dan melempar tongkatnya.
"Aku menyerah kalah!"
Melihat sikap ini, Sin-ciang Kai-ong menyuruh muridnya mundur dan dia pun tertawa.
"Bagus, orang yang tahu diri, tahu pula akan kesalahannya, masih ada kemungkinan kembali ke jalan benar."
Akan tetapi, Lam-san Hui-houw tidak menjawab, hanya memandang dengan mata muram.
"Bagaimanapun juga, dia telah merusak rumah baik Ang-kin Kai-pang. Tidak akan mudah mengangkat kembali nama Ang-kin Kai-pang setelah dibikin cemar olehnya untuk dosa itu, dia harus mempertanggungjawabkannya dan aku akan menyeretnya ke depan kaki Phoa-taijin agar dia dihukum sesuai dengan dosa-dosanya!"
Kata Koai-tung Sin-kai, sementara itu, para anggauta Ang-kin Kai-pang kini sudah Menjatuhkan diri berlutut menghadap ketua mereka yang aseli.
"Kami telah berbuat dosa, mentaati perintah ketua palsu yang mengubah jalan hidup kami, kami mohon ampun kepada Pangcu, dan kami siap menerima hukuman!"
Kata seorang anggauta pengemis tua, mewakili kawan-kawannya. Koai-tung Sin-kai menarik napas panjang.
"Sudahlah, kalian telah tertipu tidak tahu bahwa dia bukan aku. Akan tetapi, biarlah semua itu menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kalian dan jangan mudah diselewengkan orang kemudian hari!"
Pada saat itu, tiba-tiba Lam-san houw bergerak secepat kilat menyerang kepada Koai-tung Sin-kai dengan sebatang pisau yang tadi disembunyikan diikat pinggangnya.
Serangan kilat ini tentu akan menewaskan Koai-tung Sin-kai kalau saja Han Beng tidak segera bertindak.
Pemuda ini memang sejak tadi bersikap waspada.
Dia selalu memperhatikan Lam-san houw yang berwajah muram dan dia melihat pula kilatan cahaya pada sepasang mata itu, kilatan sinar penuh kebencian dan kekejaman yang ditujukan kepada gurunya dan ketua Ang-kin Kai-pang.
Pemuda ini memang sudah mengkhawatirkan kalau-kalau datuk sesat yang sudah tersudut itu akan menjadi nekat.
Oleh karena itu, begitu tangan Lam-san Hui-houw bergerak dan nampak sinar pisau berkilauan dan penjahat itu menyerang kepada Koai-tung Sin-kai, Han Beng sudah meloncat ke depan dan tongkatnya sudah menghantam ke arah pergelangan tangan yang menyerang dengan pisau itu.
"Takk!"
Pukulan itu keras sekali sehingga lengan Lam-san Hui-houw patah, pisaunya terpental.
Melihat ini, Koai-Tung Sin-kai cepat menggerakkan tongkatnya dan dia pun sudah menotok roboh jahat itu!
"Ah, terima kasih Tai-hiap.
Kalau tidak ada Tai-hiap yang mencegah, tentu aku sekarang telah tewas di tangan penjahat itu,"
Kata Koai-tung Sin-kai kepada Han Beng, lalu menoleh kepada Sin-Ciang Kai-ong.
"Lo-kai, muridmu memang hebat sekali!"
Sin-ciang Kai-ong tertawa.
"Aku sendiri tidak menduga akan gerakan jahanam itu, masih untung muridku tidak lengah. Akan tetapi, kami tidak ingin terlibat lebih mendalam, Lo-koai, maka perkenankan kami pergi. Mari, Han Beng kita pergi karena ada yang menunggu kita."
Han Beng teringat akan Souw Hui Im yang menanti di dalam hutan, maka dia pun mengangguk.
"Lo-kai, mengapa tergesa-gesa? Aku masih belum sempat membalas budimu, Dan masih kangen untuk bercakap-cakap denganmu!"
Koai-tung Sin-kai mencoba untuk menahan.
"Engkau masih banyak urusan, Lo-koai, mengurus penjahat-penjahat ini dan memulihkan nama baik perkumpulanmu. Biarlah lain kali kita berjumpa lagi. Mari, Han Beng."
Guru dan murid ini lalu meninggalkan kota raja dan memasuki hutan di mana Hui Im menanti dengan sabar.
Ia menyambut dengan sinar mata penuh harapan ketika dua orang penolongnya itu muncul kembali di hadapannya.
"Bagaimana, Twako? Apakah Twako dan Lo-Cian pwe berhasil membasmi para pengemis jahat itu?"
Tentu saja gadis ini mengharapkan agar kematian ayahnya dan susioknya (paman gurunya) dapat terbalas.
Guru dan murid itu mengajak Hui duduk di atas rumput, kemudian Sin-cia Kai-ong menyuruh muridnya untuk menceritakan apa yang telah terjadi.
Hui Im terkejut dan terheran-heran mendengar cerita itu, dan akhirnya dara itu menarik napas panjang.
"Aih, kiranya mereka itu pimpinan Ang-kin Kai-pang yang palsu! Pantas telah terjadi perubahan besar dalam sikap para anggautanya selama setahun ini Kini Ji-wi telah dapat membongkar rahasia itu dan mengembalikan Ang-ki Kat-pang ke jalan yang benar seperi dahulu. Akan tetapi ........ Ayah dan Susiok telah berkorban nyawa......"
"Ha, anak baik. Ketahuilah bahwa kalau Thian sudah menghendaki seseorang itu harus mati, tidak perlu dia itu anak kecil atau orang tua, sehat atau sakit, dia sudah pasti akan tewas! Sebab kematiannya hanyalah menjadi jembatan saja, dan jembatan itu dapat berupa penyakit, kecelakaan, perkelahian dan sebagainya lagi. Ayahmu dan Susiokmu memang sudah seharusnya mati, sudah dikehendaki Thian, maka tidak perlu engkau merasa penasaran lagi. Setidaknya, engkau boleh berbesar hati bahwa Ayah dan Susioknya tewas sebagai orang-orang gagah!"
"Siauw-moi, apa yang dikatakan Suhu memang benar sekali. Kita boleh saja berusaha sekuat tenaga untuk menjaga diri ini, namun kalau Thian sudah menghendaki kita meninggalkan dunia ini, ada saja yang menjadi penyebabnya dan kita tidak perlu merasa penasaran lagi, Siauw-moi."
Gadis itu menyusut air matanya dan mengangguk.
"Aku dapat mengerti, dan terima kasih kepada Lo-cian-pwe dan kepadamu, Beng-twako. Aku akan berusaha untuk melenyapkan atau setidaknya melupakan kedukaan ini."
Tiba-tiba Sin-ciang Kai-ong tertawa. Watak aneh dari pengemis tua ini sudah diketahui Hui Im, apalagi Han Beng maka mereka tidak merasa heran lagi dan mereka memandang kepada kakek itu.
"Kedukaan tidak dapat dilupaka Yang dapat dilupakan itu tentu akan teringat kembali. Kita tidak mungkin dapat lari dari duka, karena yang berduka itu adalah kita sendiri, batin kita sendiri. Bagaimana mungkin kita dapat lari dari diri kita sendiri? Duka bukan sesuatu yang terpisah dari kita. Duka adalah suatu kenyataan yang harus kita hadapi, kalau kita ingin agar kita dapat bebas seluruhnya daripada duka, bukan bebas dari duka yang ini atau yang itu. Duka adalah suatu keadaan dari batin kita sendiri, disebabkan oleh pikiran kita sendiri, ditimbulkan oleh perasaan iba diri yang berlebihan."
"Lalu bagaimana kita harus berbuat agar terlepas daripada duka, Lo-cian-pwe?"
Tanya Hui Im.
"Duka adalah kita, maka tidak mungkin kita, yang terdiri daridarahdan daging dan pikiran ini, yang menginginkan ini dan itu, termasuk keinginan bebas dari duka, dapat membebaskan diri sendiri dari duka. Kita harus menghadapi duka itu, menerimanya sementara memuji atau mencelanya, menerimanya sebagai suatu kewajaran, mengamatinya dengan penuh kewaspadaan dan terutama sekali, kita menyerahkan segalanya kepada Thian! Sikap menyerah dengan penuh kepercayaan akan kekuasaan Thian inilah yang akan memberi kekuatan kepada kita untuk menerima kenyataan seperti apa adanya, termasuk menerima apa yang kita namakan duka seperti sesuatu yang nyata dalam diri kita. Tanpa mengeluh, tanpa menolak, tanpa mengejar. Kekuasaan Thian akan membuka mata kita, mendatangkan kewaspadaan bahwa duka dan suka itu sama, saja! Itu hanya merupakan permainan si-aku, pikiran yang selalu mendambakan kesenangan dan menjauhi kesusahan. Pikiran kita selalu dijadikan medan perang sementara pencarian kesenangan dan penghindaran kesusahan, maka kita terombang-ambing antara susah senang, suka duka yang tiada hentinya sepanjang hidup! Mengertikah engkau, Nona?"
Hui Im hanya mengerti sedikit! "Aku akan mencoba untuk merenungkannya dan mudah-mudahan Thian akan memberi kewaspadaan itu kepadaku, Lo-cian-pwe."
"Bagus, nah sekarang bagaimana dengan engkau, Nona? Keluargamu sudah binasa, akan tetapi karena kini Koai-tung Sin-kai sedang berusaha memperbaiki Ang-kin Kai-pang, kuyakin bahwa rumah orang tuamu akan dapat diperbaiki dan dikembalikan kepadamu. Nah, langkah apa yang akan kaulakukan sekarang?"
Mendengar pertanyaan kakek pengemis yang aneh itu, Hui Im menarik napas panjang.
"Lo-cian-pwe, aku sudah tidak ingin kembali lagi ke rumah ayahku, karena hal itu hanya akan mendatangkan kenang-kenangan pahit saja."
"Siauw-moi, kalau engkau tidak kembali ke rumahmu, lalu engkau akan pergi kemana?"
Han Beng bertanya namun suaranya mengandung penuh perasaan iba.
Gadis itu memandang wajah Han Beng "Twako, aku ingin mencari Pamanku, adalah kakak dari mendiang Ibuku, namanya Tang Gu It dan dia tinggal di Kota Pei-shen, di Propinsi Shantung di lembah Huang-ho."
"Tempat yang cukup jauh dari sini,"
Tata Han Beng.
"Han Beng, engkau antar Nona ini mencari Pamannya sampai dapat ia temukan,"
Tiba-tiba Sin-ciang Kai-ong berkata.
"Memang sudah tiba saatnya engkau berpisah dariku. Aku sendiri akan kembali ke Hok-kian mencari para sahabatku........"
"Akan tetapi, Suhu belum sehat benar! Suhu membutuhkan teman untuk merawat Suhu!"
Kata Han Beng, terkejut dan baru ingat dia bahwa sudah lima tahun dia berguru kepada raja pengemis itu. Kakek itu tertawa.
"Ha-ha-ha, Han Beng. Engkau hanya membuat aku menjadi manja dan malas saja. Selama lima tahun ini aku hidup enak-enakan saja dan mengandalkan engkau. Padahal sebelumnya aku pun biasa berkelana seorang diri. Tidak, sekarang ini yang lebih membutuhkan engkau adalah Nona Souw Hui, bukan aku. Nah, kalian berangkatlah dan ini....... engkau perlu bekal dalam pengawalan Nona Souw. Kaubawalah ini untuk keperluan dan biaya di dalam perjalanan."
Kakek itu mengeluarkan sebuah kantung dari dalam bajunya dan ternyata kantung itu terisi beberapa potong emas murni yang amat berharga Han Beng terkejut sekali.
Selama ini dia dan gurunya mencukupi kebutuhan hidup mereka dengan jalan mengemis.
Kiranya diam-diam suhunya menyimpaf emas sekian banyaknya!
"Tapi, Suhu.
Bukankah untuk keperluan itu kami dapat.........."
"Hushhh! Kau mau mengajak Nona Souw mengemis? Tak tahu malu kau Sudahlah, cepat pergi dan mulai saat in engkau pun tidak perlu lagi berpakaian pengemis seperti aku!"
Berkata demikian, kakek itu menggerakkan tubuhnya dan seketika lenyap di balik pohon-pohon dalam hutan itu. Souw Hui Im menghela napas panjang dan memandang wajah Han Beng.
"Aih, Twako. Aku hanya menjadi seorang pengganggu saja. Bukan hanya aku merepotkan engkau, juga menjadi penyebab perpisahan antara engkau dan gurumu."
"Sama sekali tidak, Siauw-moi. Engkau sama sekali tidak merepotkan, karena memang sudah menjadi tugasku untuk membantu sesama hidup sekuasaku, dan tentang perpisahanku dengan Suhu, hal itu memang sudah tiba saatnya seperti dikatakan Suhu. Sudah lima tahun aku belajar ilmu dari Suhu, dan memang menurut perjanjian, aku hanya belajar lama lima tahun."
"Engkau hebat, Twako. Belajar ilmu silat hanya lima tahun akan tetapi sudah dapat menjadi seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian sedemikian hebatnya!"
"Ah, tidak semudah itu, Im-moi. Sebelum belajar dari Suhu Sin-ciang Kai-Ong, aku telah mempelajari ilmu silat Hari guruku yang pertama."
"Ah, begitukah? Dan kalau boleh aku mengetahui, siapa gerangan gurumu yang pertama itu?"
"Dia berjuluk Sin-tiauw dan namanya Liu Bhok Ki. Aku belajar lima tahun dari suhu pertama itu. Mari, kita mulai dengan perjalanan kita, Im-moi. Perjalanan cukup jauh dan harus dilakukan dengan cepat. Mudah-mudahan saja aku akan berhasil mengantar engkau sampai bertemu dengan Pamanmu itu."
Mereka pun mulai dengan perjalana mereka yang cukup jauh.
Tanpa mereka sadari, keduanya saling tertarik.
Han Beng memang sejak semula amat tertarik kepada gadis itu.
Dalam pertemuan pertama saja gadis itu telah memperlihatkan kebaikan budinya, disamping kegagahannya yang menimbulkan rasa kagum dalam hatinya.
Kini, setelah melakukan perjalanan bersama, makin, jelaslah bahwa Hui Im memang seorang gadis yang luar biasa.
Dia sendiri seorang pemuda yang berpakaian tambal-tambalan seperti seorang pengemis.
Biar pun gadis itu sudah mengetahui bahwadia bukanlah seorang pengemis hina yan sembarangan saja, namun orang lain tentu tidak mengetahuinya.
Biarpun demikian, gadis itu sama sekali tidak kelihatan canggung atau malu-malu melakukan perjalanan dengan seorang pemuda jembel dan miskin!
Ketika mereka memasuki sebuah kota yang pertama, Hui Im berkata kepada Han Beng.
"Beng-twako, tunggu sebentar, ya? Aku ingin sekali memasuki toko itu."
Tanpa memberi kesempatan kepada Han Beng, gadis itu sudah melangkah me masuki sebuah toko yang menjual pakaian.
Melihat ini, Han Beng menahan senyumnya.
Bagaimanapun juga, temannya itu hanya seorang wanita!
Agaknya me mang wanita suka berbelanja.
Hanya dia merasa heran bahwa gadis itu berani berbelanja, yang berarti gadis itu mempunyai uang, padahal gadis itu terpaksa meninggalkan rumah secara mendadak.
Ternyata tidak berapa lama Hui Im memasuki toko.
Dari luar toko, agak jauh karena dia tidak ingin disangka hendak mengemis, Han Beng menunggu dan dia melihat gadis itu keluar dari toko membawa sebuah buntalan dan Hui lm menghampirinya sambil tersenyum.
Memang Hui Im memiliki watak yang periang sehingga agaknya ia sudah dimengusir kedukaannya dan kini ia lalu memperlihatkan wajah cerah.
"Wah, engkau memborong pakaian Im-moi?"
Gadis itu hanya mengangguk, kita cepat keluar kota, aku ingin segera mencoba pakaian ini!"
Katanya.
Kembal Han Beng tersenyum.
Agaknya memang semua wanita suka akan pakaian indah, pikirnya dan mereka lalu cepat keluar dari kota itu.
Setelah mereka tiba di tempat sunyi di mana tidak nampak ada seorang pun yang lewat, Hui mengajak Han Beng berhenti di dekat sebuah gubuk di tengah sawah tepi jalan.
"Berhenti dulu, Twako. Di sini engkau dapat mencoba pakaian ini. Nah, kaugantilah pakaianmu, aku sudah ingin sekali melihat engkau mengenakan pakaian ini!"
Han Beng tertegun ketika gadis itu mendorongkan buntalan ke dalam kedua lengannya yang terpaksa menerimanya Dia merasa bingung, dan sejenak di hatinya bengong, tidak tahu apa yang dimaksudkan gadis itu karena dia tadinya membayangkan bahwa Hui Im akan segera berganti pakaian indah!
"Apa........
apa ini..........?
Apa maksudmu, Im-moi?"
Gadis itu tersenyum, agak lebar sehingga deretan gigi putih nampak sedikit.
"Aku tadi masuk toko untuk membeli pakaian, Twako. Pakaian untukmu, dua stel. Lihat, pakaianmu robek-robek dan sudah kumal, perlu diganti, bukan?"
Gadis itu kini mendorong-dorong Han Beng untuk memasuki gubuk itu.
Biarpun wajahnya berubah merah, namun sambil tersenyum Han Beng terpaksa masuki gubuk itu.
Hui Im tinggal di luar.
Ternyata, setelah membuka buntalan Han Beng melihat dua stel pakaian sederhana namun kuat dan berwarna biru polos.
Dia menanggalkan pakaian jembelnya dan memakai pakaian baru.
Alisnya agak berkerut.
Mengapa gadis itu membeli pakaian untuknya?
Kelirukah dugaannya dan sesungguhnya gadis itu merasa malu berjalan dengan seorang pengemis?
Ketika dia keluar dari gubuk itu, Hui Im memandang kepadanya dan wajah gadis itu berseri, sepasang matanya menyinarkan kekaguman.
"Aih, Twako, engkau kelihatan tampan dan gagah sekali serunya gembira. Akan tetapi Han Beng tidak nampak gembira, sebaliknya mengamati wajah gadis itu ."Siauw-moi,"
Katanya dengan si agak kaku.
"Katakanlah, mengapa engkau memberi pakaian kepadaku? Kenapa engkau membelinya untukku? Apakah engkau merasa malu berjalan bersama seorang yang berpakaian seperti seorang jembel?"
Sepasang mata yang tadinya bersih? sinar penuh kegembiraan itu terbelalak dan wajah yang tadinya berseri gembira dan kemerahan itu kini tiba-tiba berubah pucat.
"Ah, tidak............, tidak............ harap jangan salahduga, Twako. Ah, kau maafkanlah aku, sama sekali bukan maksudku membelikan pakaian karena aku malu berjalan denganmu. Hanya ......... kukira.......... pakaianmu sudah begitu kotor dan tidak pantas.........."
Melihat kegugupan gadis itu, Han Beng merasa kasihan dandia sesalkan kecurigaannya sendiri.
"Sudahlah, Siauw-si, aku pun percaya bahwa engkau tidak melakukannya karena malu. Akan tetapi .......... bagaimana engkau dapat membelinya? Bukankah engkau tidak sempat membawa uang ketika meninggalkan rumah orang tuamu?"
Hui Im mengeluarkan segenggam uang dari saku bajunya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meraba leher sendiri.
"Aku tadi......... menjual kalung emasku pada pemilik toko, Twako dan ini kelebihan uangnya."
Han Beng merasa terharu sekali.
Gadis ini menjual kalungnya untuk membelikan pakaian untuknya!
Di samping keharuan itu, juga dia merasa malu.
Bukankah dia membawa bekal emas dari gurunya?
Cukup untuk pembeli keperluan apa pun juga, dan dia melihat bahwa gadis itu tidak mempunyai bekal pakaian kecuali yang dikenakan pada tubuhnya.
Sungguh kasihan.
Kadang-kadang, hampir sehari penuh gadis itu "bersembunyi"
Kalau bertemu sungai di dalam tempat sunyi, selain mandi juga untuk mencuci pakaian satu-satunya itu kemudian menanti sampai kering, baru dipakainya kembali dan berani muncul di depannya.
Dan gadis yang telah menjual kalungnya itu hanya membeli pakaian untuk dia sama sekali tidak membeli untuk dir sendiril "Im-moi........."
"Ya.........? Engkau tidak marah, Twako?"
Tanya Si Gadis khawatir. Han Beng tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, kenapa marah? Akal tetapi sekarang mari kita kembali ki kota itu, Siauw-moi."
"Eh? Kembali ke sana? Untuk apa Twako?"
"Hayolah, aku ada keperluan penting di sana, tadi aku lupa."
Ajak Han Beng dan seperti biasa, Hui Im hanya menyetujui dan tanpa banyak cakap lagi ia mengikuti Han Beng memasuki kota tadi.
Akan tetapi, ia merasa heran dan khawatir ketika Han Beng mengajaknya memasuki toko di mana ia membeli pakaian untuk Han Beng tadi!
Jangan-jangan pemuda itu hendak mengembalikan pakaian yang dibelinya?
Akan tetapi tidak!
Han Beng menarik tangannya dan menunjuk ke arah beberapa stel pakaian wanita yang digantung di sudut.
"Siauw-moi, yang berwarna hijau muda dan biru-kuning itu tentu pantas sekali untukmu!"
Barulah Hui Im merasa lega, wajahnya kemerahan dan ia pun tersenyum-senyum malu. 'Terserah kepadamu saja, Twako,"
Katanya dan ia pun pergi ke sudut lain di mana dijual segala keperluan pakaian pria.
Dengan jantung berdebar dan perasaan bahagia bukan main, Hui Im lalu memilih sepatu, kaus kaki, pakaian dalam, saputangan dan segala keperluan pakaian pria untuk dibelinya.Uang sisa penjualan kalung tadi masih cukup banyak dan pemilik toko yang mengenal Hui Im yang tadi menjual kalung, segera menghampirinya.
Dia tadi melihat betapa Hui Im masuk bersama seorang pemuda ganteng, maka sambil tersenyum-senyum pemilik toko yang sudah setengah tua itu cepat menghampiri Hui Im.
"Nona, kalau Nona hendak memilihkan pakaian suami Nona itu.........."
Hui Im mengerutkan alisnya, aku tetapi tidak marah.
"Aku belum bersuami dia itu sahabatku!"
Katanya singkat.
"Aih, maafkan saya, Nona. Saya kira sahabatmu ganteng itu akan pantas sekali kalau memakai pakaian ini, dan yang ini........., dan sabuk ini tentu menarik sekali......"
Sebagai seorang pedagang yang luwes, pemilik toko itu berhasil menarik hati Hui Im sehingga gadis itu memborongkan semua sisa uangnya untuk bermacam pakaian pria.
Di bagian lain, Han Beng juga membeli banyak pakaian untuk Hui Im, dan pengurus toko yang juga amat cerdik banyak membantunya memilih segala macam pakaian.
Dia sama sekali tidak mengerti tentang pakaian wanita, apalagi pakaian dalam, maka pengurus toko itulah yang membantunya.
Ketika keduanya keluar dari toko masing-masing membawa sebuah buntalan besar dan keduanya saling pandang sambil tersenyum-senyum!
Dan tak lama kemudian, di dalam sebuah hutan sunyi, bagaikan dua orang anak kecil baru saja menerima hadiah dan kini membuka buntalan dan mengagumi semua hadiah pakaian itu, Han Beng dan Hui Im tertawa-tawa gembira sambil mengagumi pakaian mereka "Aih, tentu banyak sekali uang yang kaukeluarkan untuk membeli semua ini, Twako!"
"Tidak lebih banyak daripada yang kau keluarkan, Siauwmoi!"
"Aduh, indah sekali celana dan baju ini! Engkau pandai sekali memilih untukku, Twako.Terima kasih banyak!"
"Engkau pun pandai memilih untukku siauw-moi.......... heiii, kenapa engkau?"
Han Beng terkejut melihat betapa Hui Im tiba-tiba menangis, duduk di atas tanah sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan dan terisak-isak.
"Kenapa engkau menangis, Siauw-moi ........ ?"
Han Beng berlutut di dekatnya, khawatir kalau-kalau dia telah menyinggung perasaan gadis itu.
Sampai beberapa lamanya Hui Im tidak mampu menjawab, hanya sesenggukan dan Han Beng membiarkannya saja, menanti sampai gadis itu menjadi tenang kembali.
Setelah Hui Im dapat menguasai dirinya, Han Beng berkata dengan suara lembut.
"Siauw-moi, sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang menyusahkah, hatimu sehingga engkau menangis tadi."
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 12 Sepasang mata yang bening itu agak memerah ketika memandang pada Han Beng.
"Maafkan aku, Twako. Akan tetapi semua kebaikanmu membuat aku teringat bahwa hanya engkaulah satu-satunya erang yang baik kepadaku, mengingatkan aku bahwa aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini."
Han Beng tersenyum.
"Jangan lupa, Siauw-moi, bahwa engkau masih mempunyai seorang Pamanmu yang kini sedang kita cari. Dia adalah anggauta keluargamu yang terdekat, dan tentu di samping Pamanmu masih ada keluarganya yang juga merupakan sanakmu. Tak lama lagi engkau akan mempunyai banyak orang yang menyayangmu."
Hui Im menarik napas panjang.
"Mudah-mudahan begitu, Twako. Sesungguhnya, Paman Tang Gu It itu bukan hanya kakakmu dari mendiang Ibuku, akan tetapi juga.... calon Ayah Mertuaku ......"
"Hem mm..........b egitukah? "
Han Beng menahan kejutan dalam hatinya mendeng ar bahwa gadis itu telah menjadi calon mantu orang!
Justeru kenyataan inilah yang membuat Hui lm tadi menangis.Gadis ini teringat bahwa ia tidak bebas lagi, ia adalah tunangan orang calon isteri dari seorang yang baru dijumpainya dua kali ketika ia masih kecil berusia kurang dari sepuluh tahun!
Ia tidak tahu lagi bagaimana sekarang wajah dari Tang Ciok An, tunangannya itu Membayangkan bahwa ia tidak mengenal tunangannya, tidak tahu apakah tunangannya itu sebaik dan selembut Han Beng, inilah yang membuat ia tadi menangis.
"Kami ditunangkan sejak aku usia tujuh atau delapan tahun, Twako. Dan sejak sepuluh tahun yang lalu aku tidak pernah lagi bertemu dengan ' putera Pamanku itu."
Han Beng sudah dapat menguasai perasaan hatinya yang tadi terasa tidak enak, bahkan pedih. Dia memaksa diri tersenyum dan matanya mengeluarkan siinar gembira.
"Wah, kalau begitu, engkau tentu akan disambut dengan penuh kebahagiaan oleh mereka, Siauw-moi! Kalau mereka itu mendengar akan nasibmu yang buruk, tentu keluarga tunanganmu itu akan merasa kasihan dan semakin sayang padamu. Hayo, kita percepat perjalanan ini. Aku ingin sekali melihat engkau disambut dengan bahagia oleh mereka!"
Kini, dengan mengenakan pakaian baru yang bersih, dua orang muda itu melanjutkan perjalanan.
Hubungan mereka semakin akrab dan keduanya saling ocok, menemukan kebaikan-kebaikan baru pada diri masing-masing, dan mereka saling mengagumi, saling suka, merasa senasib sependeritaan.
Han Beng merasa kasihan sekali kepada Hui Im, juga mendapat kenyataan betapa gadis ini memang berwatak baik, ramah dan menyenangkan.
Sebaliknya, Hui Ini juga amat kagum kepada Han Beng, merasa berhutang budi, bukan saja karena pemuda ini pernah menolong dan menyelamatkannya, juga budi Han Beng ketika mengantarnya mencari pamannya merupakan budi yang amat besar karena pemuda itu di sepanjang perjalanan memperlihatkan sikap yang amat ramah, sopan dan baik sekali.
Seorang kakak kandung belum tentu akan sebaik ini sikapnya.
Diam-diam Hui Im merasa suka dan tertarik sekali, akan tetapi setiap kali ia teringat bahwa dirinya sudah ada yang punya, bahwa ia telah terikat perjodohan dengan pemuda lain, ia menahan diri dan hendak melupakan perasaannya yang sedang tumbuh terhadap Han Beng.
Tidak, bantahnya pada diri sendiri, ia tidak boleh mengharapkan yang tidak-tidak!
Ia adalah seorang calon isteri pemuda Iain.
Akan tetapi, kadang-kadang di waktu malam, kalau mereka berdua tidur di dalam hutan, di kuil tua ataupun rumah penginapan dimana Han Beng lalu menyewa dua buah kamar yang berdampingan, Hui Im suka menangis seorang diri.
Ia merasa khawatir sekali.
Khawatir kalau-kalau tunangannya merupakan seorang pemuda yang tidak menyenangkan, tidak sebaik Han Beng, atau kalau-kalau ia akan kehilangan Han Beng!
Kelopak Cinta takkan berbunga oleh sekadar tarikan daya kemilaunya emas permata mulianya kedudukan dan nama tampan dan cantiknya rupa halusnya tutur sapa baiknya budi bahasa!
Cinta adalah sinar matahari harumnya bunga setaman-sari embun lembut di pagi hari Cinta itu Keindahan Cinta itu Kebenaran Cinta itu Kenyataan Cinta itu TUHAN!!!
oooOOooo Kita tinggalkan dulu Han Beng yang dengantar Hui Im mencari paman atau calon ayah mertuanya di kota Pei-Shen yang cukup jauh, dan mari kita tengok keadaan Bu Giok Cu, dara lincah jenaka dan nakal manja yang jatuh ke tangan seorang iblis betina seperti Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dan menjadi murid kesayangannya itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Giok Cu hampir saja men jadi korban kecabulan dua orang murl datuk dari Liong-san yang bernama Oui Kok Sian.
Untung bahwa muncul Ban tok Mo-li menyelamatkannya.
Ban-tok Mo-li membunuh Gak Su dan setelah Ouw Kok Sian mintakan ampun untuk muridnya yang ke dua, yaitu Ji Ban To, Ban-tok Mo-li mengampuni dan memberi obat untuk menyembuhkan luka yang di derita Ji Ban To akibat pukulannya.
Dan setelah peristiwa itu, Giok Cu yang berusia lima belas tahun berlatih silat ini makin tekun karena ia tahu bahwa untuk dapat hidup aman, ia harus meniliki ilmu setinggi-tingginya untuk melindung diri sendiri.
Akan tetapi ada satu hal yang membuat hati Giok Cu merasa tidak suka sekali, bahkan ia membenci orang yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam kehidupannya bersama subonya.
Orang itu adalah Lui Seng Cu yang berjuluk Hok-ouw Toa-to itu, bekas perampok tunggal yang kini menjadi penyembah Thian-te Kwi-ong dan yang sudah mempengaruhi hati Ban-tok Mo-li sehingga subonya itu kini ikut pula menjadi penyembah patung Thian-te Kwi-ong untuk mencari ilmu awet muda dan panjang umur!
Dan agaknya, Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dia menempel"
Ban-tok Mo-li dan kini senang sekali pria itu datang bertamu dan kalau datang, tinggal di situ sedikitnya sepekan, dan jelas bahwa dia menjadi kekasih baru dari Ban-tok Mo-li yang amat percaya dan amat memanjakan tamunya atau kekasihnya ini!
Ban-tok Mo-li adalah seorang wanita yang walaupun usianya sudah lima puluh tahun namun masih cantik pesolek, mewah dan kaya raya.
Tentu saja Lui Seng Cu merasa betah tinggal di rumah iblis betina ini karena dia bisa memperoleh segala-galanya untuk memuaskan nafsu-nafsunya.
Di lain pihak, Ban-tok Mo-li juga rupanya sudah tergila-gila kepada pria Hok-houw Lui Seng Cu memang seorang yang berpengalaman, biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, namun berwajah ganteng, dengan tubuh yang tinggi tegap dan nampak jauh lebih muda daripada usia sebenarnya.
Yang membuat Giok Cu merasa tidak senang adalah karena sikap Lui Seng Cu terhadap dirinya.
Kurang ajar!
Hanya itulah menurut anggapannya.
Sepasang mata itu memandang dengan cabul, senyumn juga dimaksudkan untuk memikat, kata-katanya selalu mengandung sindiran kotor dan sinar mata orang itu kadang-kadang aneh dan menakutkan, bahkan kadang-kadang melalui sinar matanya, beberapa kali ia masih seperti tertarik dan seperti dipaksa untuk bertekuk lutut kepada pria itul Yang membuat hati Giok Cu menj makin tidak senang adalah peristiwa mengerikan yang beberapa kali terjadi sejak Lui Seng Cu sering datang dan berdiam di rumah gurunya.
Agaknya tidak cukup satu kali saja pemimpin agama baru itu mengharuskan Ban-tok Mo-li mengorbankan nyawa sepasang orang muda.
Semenjak itu, sudah dua kali gurunya dan Lui Seng Cu menculik seorang muda dan seorang gadis, dan kemudian, pada keesokan harinya, Giok Cu melihat pasang orang muda itu telah menjadi mayat dan diam-diam dikubur di kebun belakang oleh para pelayan subonya yang selalu mentaati perintah subonya.
Para pelayan wanita itu pun menimbulkan perasaan tidak suka dan jijik di dalam hati Giok Cu.
Mereka itu, biarpun masih muda dan cantik-cantik, namun telah menjadi hamba-hamba nafsu sehingga mereka itu bersedia dengan penuh kegembiraan untuk melayani para tamu ia yang bermalam di rumah Ban-tok Mo-li, tentu saja atas persetujuan, bahankan perintah Ban-tok Mo-li.
Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa memang demikianlah watak gurunya.
Segala macam kecabulan yang dilakukan gurunya dan para pelayannya, bagi gurunya merupakan hal biasa saja, pengisi waktu senggang atau semacam iseng-iseng untuk mencari kesenangan!
Melihat semua itu, sudah lama kali tumbuh kebencian di dalam Giok Cu.
la memang membutuhkan bimbingan subonya dalam ilmu silat, melihat betapa subonya sayang kepadanya, ada pula rasa sayang di dalam hatinya terhadap wanita iblis itu.
Akan tetapi, sepak terjang subonya sungguh mendatangkan rasa muak dan benci di dalan hatinya.
Kini, hati Giok Cu kembali merasa penasaran dan juga gemas sekali.
Lu Seng Cu kembali datang bertamu dan seperti biasa, pria itu selalu berada di dalam kamar subonya.
Kalau ada tamu Ini, subonya juga jarang keluar sehingga, tidak memberi petunjuk lebih lanjut dalam ilmu silat yang sedang dilatihnya Dan yang lebih menjengkelkan hatinya, malam itu kembali subonya dan Lui Seng Cu menculik sepasang orang muda yang mereka bawa masuk ke dalam kamar!
la harus menyelamatkan dua orang muda itu, tekad hatinya.
Akan tetapi, bagaimana?
Kalau dia mempergunakan kekerasan, bagaimana mungkin akan berhasil?
Ia tidak akan mampu melawan subonya, juga tidak akan menang melawan Lui Seng Cu!
Membujuk subonya dengan halus?
Hasilnya hanya dampratan dan makian yang hanya akan lebih menyakitkan hatinya.
Akan tetapi, ia tahu bahwa sepasang orang muda itu tentu akan menjadi mayat pada keesokan harinya dan akan dikubur di dalam kebun belakang yang luas itu!
Tidak, ia harus mencegah terjadinya pembunuhan lagi, pembunuhan sepasang orang muda yang sama sekali tidak berdosa!
Ia harus mencari akal dan mencegah pembunuhan itu, apapun resikonya.
Malam itu sunyi dan menyeramkan.
Udara dingin sehingga para pelayan wnita yang belasan orang banyaknya, yang juga bertugas sebagai penjaga, malam itu agak malas untuk meronda.
Apalagi, siapa yang akan berani mengganggu rumah kediaman majikan mereka?
Yang berjaga hanya dua orang wanita, dan mereka pun sudah duduk melenggut di ruangan depan, di serambi depan yang mereka jadikan sebagai pusat penjagaan di waktu malam.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh nyala api yang cukup besar, di sebelah kanan bangunan.
Gudang telah terbakar dan api sudah bernyala tinggi!
"Kebakaran!
Kebakaran......!"
Mereka berteriak-teriak sambil membangunkan teman-teman mereka, menggedur kamar mereka di belakang.
Para wanita itu menjadi gugup dan panik, segera mencari air untuk memadamkan kebakaran yang sudah membesar itu.
Keributan itu pun membuat Ban-tok Mo-li dan tamunya, Hok-houw Toa-to Lu Seng Cu, berlarian keluar dari dalam kamar.
Mereka menduga bahwa tentu ada musuh yang menyerbu dan membakar gudang.
Mereka sama sekali tidak tahu betapa ketika mereka berlarian keluar kamar, ada bayangan hitam menyelinap masuk ke dalam kamar itu dengan gerakan yang cekatan sekali.
Bayangan ini bukan lain adalah Giok Cu yang telah menggunakan akal membakar gudang untuk menolong dua orang muda yang diculik gurunya dan tamu gurunya.
Ketika berada di dalam kamar gurunya, kamar yang sudah dikenalnya, dengan pembaringan yang lebar dan perlengkapan yang mewah itu, Giok Cu terbelalak mukanya berubah merah.
Hampir ia tidak dapat melihat keadaan itu lebih lama lagi dan meninggalkan kamar, kalau saja ia tidak ingat bahwa ia masuk kamar ini untuk menyelamatkan orang.
Ia melihat betapa dua orang muda itu, yang usianya masih muda sekali kurang lebih enam belas tahun, berada di atas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat dan tidak mampu bergerak karena tertotok.
Gadis remaja itu hanya memandang dengan mata terbelalak dan air mata bercucuran, sedangkan pemudanya memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ketakutan!
Giok Cu cepat menotok mereka, membebaskan mereka dari pengaruh totokan sehingga keduanya mampu bergerak kembali.
"Sssttt, jangan berisik. Cepat pakai pakaian kalian dan ikuti aku. Aku akan membebaskan kalian dari sini!"
Bisik Gi Cu.
Dua orang muda itu tentu saja menjadi gugup dan secepatnya mereka mengenakan pakaian mereka dan tak lama kemudian mereka sudah mengikuti Gi Cu keluar dari dalam kamar, lalu melarikan diri melalui kebun belakang yai sunyi.
Mereka melihat betapa orang-orang sedang sibuk memadamkan kebakaran besar di samping rumah.
Karena tidak sabar lagi melihat betapa gadis remaja itu sukar berlari karena tubuhnya menggigil ketakutan, Gi Cu menggendongnya, dan berlarilah sambil menarik tangan pemuda itu yang juga ketakutan.
Mereka menghilang ditelan kegelapan malam.
Giok Cu tidak memberi kesempa kepada pemuda itu untuk beristirahat sejenak pun.
Biarpun pemuda itu sudah terengah-engah, ia memaksanya berlari terus.
Kini ia menurunkan gadis yang digendongnya dan mengajak mereka berdua lari memasuki hutan kemudian, di dalam kegelapan yang membuta, Giok Cu terus menarik tangan mereka untuk pergi semakin jauh.
Ia sendiri sudah halal akan jalan setapak di hutan itu, maka ia mampu menjadi petunjuk jalan dalam cuaca yang gelap itu, hanya diterangi bintang-bintang di langit, itu pun masih dihalangi oleh daun-daun pohon yang lebat.
Baru pada keesokan harinya, ketika matahari pagi mulai mengirim sinarnya untuk mengusir kegelapan malam, terpaksa Giok Cu berhenti karena gadis dan pemuda remaja itu sudah tidak kuat lagi dan mereka berdua sudah menjatuhkan diri di atas rumput.
Gadis remaja it menangis dan pemuda itu pun merintih!
ketika keduanya berlutut di depan Giok Cu.
"Terima kasih atas pertolongan Li-hiap (Pendekar Wanita) yang telah menyelamatkan nyawa saya..........."
Kata muda itu.
"Li-hiap, engkau telah membebas kan saya dari ancaman maut yang amat mengerikan, sampai mati saya tidak akan melupakan budi ini "
Kata gadis itu. Giok Cu mengangkat kedua tangan-ya dengan tidak sabar.
"Sudahlah, tidak ada gunanya semua ini. Aku tidak minta terima kasih, akan tetapi aku minta agar kalian berdua bangkit lagi dan melanjutkan pelarian ini. Kita masih harus lari jauh untuk benar-benar dapat bebas dari ancaman maut ini!"
Giok Cu sama sekali tidak takut akan keselamatan diri sendiri.
Yang ditakutinya adalah kalau sampai gurunya dan Lui Seng Cu dapat menyusul mereka, tentu kedua orang muda ini akan ditangkap kembali dan ia sama sekali tidak akan mampu melindungi mereka.
"Tapi, kaki saya......... lecet-lecet dan nyeri........"
Keluh pemuda itu.
"Dan saya sudah tidak kuat lagi, Li-hiap..........."
Kata yang gadis.
"Kalian harus kuat! Hayo, kita lari lagi!"
Kata Giok Cu menyambar lengan mereka untuk melarikan diri.
Dua orang muda itu merintih, mengeluh, tersaruk-saruk dan jatuh bangun, akan tetapi Ciok Cu tidak peduli dan terus menyeret tubuh mereka.
Tiba-tiba ada sebatang tongkat menyelonong dan menghalang di depan Giok Cu.
Ketika Giok Cu mengangkat muka memandang, kiranya yang memegang tongkat itu adalah hwesio yang tua renta usianya tentu lebih dari tujuh puluh tahun.
Hwesio ini kulitnya hitam sekali seperti pantat kwali hangus, perutnya gendut bukan main seperti kerbau hamil, akan tetapi muka yang hitam itu memiliki sepasang mata yang ramah "
Mencorong, dan mulutnya selalu tersenyum-senyum.
"Omitohud...........! Seorang gadis remaja yang begini manis dan gagahnya, ternyata memiliki watak yang amat jahat suka menyiksa orang lain! Nona, sungguh amat tidak baik kalau kaulanjutkan menyiksa dua orang ini yang sudah kehabisan tenaga, kaupaksa dan kau seret untuk berjalan, bahkan berlari. Dimana prikemanusiaanmu?"
Giok Cu adalah seorang yang galak, apalagi sekarang ia merasa tidak bersalah, disangka yang bukan-bukan oleh seorang kakek tua renta berkepala gundut yang perutnya gendut.
Ia membelalakkan matanya, memandang penuh kemarahan dan ia menudingkan telunjuknya ke arah perut yang gendut itu.
"Hwesio tua! Apa kau kira prikemanusiaan sudah diborong semua oleh hwesio-hwesio gendut seperti engkau? Apa kaukira perutmu yang gendut itu terlalu penuh oleh kebaikan dan prikemanusiaan sehingga manusia macam aku tidak mengenalnya lagi? Hayo minggir dan jangan menghalang di tengah jalan!"
Mulut itu tersenyum semakin lebar.
"Ha-ha-ha, bukan main galaknya! Pantas sekali, wataknya galak dan perbuatannya pun kejam. Kenapa sih engkau menyeret-nyeret kedua orang muda ini. Nona? Apa kesalahan mereka?"
Giok Cu semakin mendongkol.
"Hwesio tua, buka telingamu baik-baik dan dengar omonganku! Semua urusan kami bertiga ini tidak ada sangkut pautnya dengan seorang tua renta seperti engkau! Minggir atau terpaksa aku tidak akan sungkan lagi terhadap seorang tua renta!"
"Sian-cai........, seorang anak perempuan yang berjantung naga! Eh, Nona Kecil, kalau pinceng (aku) tidak mau minggir, lalu apa yang akan kaulaku kepada pinceng?"
"Aku akan mendorongmu sampai engkau jatuh!"
Giok Cu mengancam.
"Ho-ho-ho, bagus sekali. Pinceng tidak mau minggir sebelum engkau melepaskan dan membebaskan kedua orang anak yang sudah kehabisan tenaga itu!"
Kini Giok Cu benar-benar marah tidak dapat menahan dirinya lagi.
melepaskan lengan kedua orang remaja itu, lalu mengerahkan tenaga sin-kang dan mendorongkan kedua tangannya !
arah perut yang gendut itu.
Kakek gendut itu tidak mengelak atau menang bahkan mendorong perutnya yang gendut ke depan, seperti sengaja menyerahkan perutnya untuk dipukul atau didorong.
"Plukkk!"
Kedua telapak tangan Giok Cu mengenai perut itu dan ia terkejut bukan main.
Ia merasa seolah-olah mencorong agar-agar yang lunak dan yang menyedot semua tenaga dorongnya sehingga tenaganya lenyap dan sama sekali tidak berhasil, seperti mendorong air saja!
Akan tetapi, Giok Cu adalah seorang dia yang keras hati.
la masih belum mau menerima kenyataan bahwa ia berhadapan dengan orang pandai, melainkan mengira bahwa hwesio itu memang emiliki perut yang luar biasa sehingga tidak dapat diserang dengan dorongan tenaga sin-kang.
"Hemmm, engkau mencari penyakit sendiri!"
Katanya dan kini tangan kirinya memukul dengan telapak tangannya yang berubah menjadi kehitaman!
Itulah tamparan yang mengandung hawa beracun!
Memang inilah satu di antara watak yang mewarisi Giok Cu dari gurunya, yaitu ganas terhadap lawan!
Tamparan itu merupakan ilmu pukulan beracun yang berbahaya.
Melihat ini, kakek gundul itu agaknya tidak mengetahuinya, hanya mulutnya saja yang menyeringai dan matanya terbelalak kaget.
"Omitohud........... sungguh tak terkira kekejiannya............!"
"Dukkk!"
Tangan yang menampar itu bertemu dada yang banyak dagingnya, akan tetapi sama sekali tidak lunak seperti perut tadi, melainkan keras seperi baja sehingga Giok Cu merasa telapak tangannya nyeri dan panas, sebaliknya, kakek itu seperti tidak merasakan pukulan beracun itu!
Kini Giok Cu menjadi marah sekali, dan ia mulai menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek yang pandai.
Akan tetapi, kakek atau nenek, karena menentangnya, berarti musuhnya yang harus dirobohkan agar ia dapat melanjutkan pelariannya bersama dua orang muda itu.
Siapa tahu kakek ini mempunyai niat yang jahat!
Tanpa banyak cakap lagi, ia pun lalu menyerang!
dengan dahsyatnya, tangan kanan mencakar ke arah kedua mata lawan, tangan kiri mencengkeram ke arah lambung!
"Omitohud .........., seperti harimau muda yang ganas............!"
Kakek itu menjyjerakkan tongkatnya, mendorong kearah kedua kaki Giok Cu dan.....
tubuh gadis itu terpelanting dan terbanting keras ke atas tanah!
Giok Cu terbelalak seperti dalam mimpi saja ia tadi terpelanting.
Karena kepalanya terasa pening, ia mengguncang-guncang kepalanya mengusir kepeningan sebelum bangkit berdiri lagi.
Sementara itu, dua orang muda yang melihat betapa penolong mereka itu berkelahi dan dibuat jatuh bangun oleh hwesio tua, cepat mereka menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu.
"Lo-suhu, harap jangan ganggu penolong kami...........!"
Kata yang pria.
"Lo-suhu, Li-hiap itu mengajak kami dari dari ancaman bahaya maut. Ia menolong kami, bukan menyiksa!"
Kata yang wanita.
"Ahhh? Ehhh?"
Hwesio tua muka hitam itu terbelalak.
"Omitohud........ apa yang telah pinceng lakukan ini............?"
Kepeningan sudah meninggalkan kepala Giok Cu dan ia sudah melangkah maju untuk melawan kakek itu lagi. Akan tetapi pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat dan disusul bentakan nyaring.
"Giok Cu......... !!"
Gadis itu terkejut setengah mati ketika mengenal suara subonya.
Ia menoleh dan ternyata Ban-tok Mo-li dan Hok houw Toa-to Lui Seng Cu sudah berdiri situ dengan mata menyinarkan marahan.
Sementara itu, dua orang muda yang masih berlutut, kini terbelalak dan memandang dengan muka pucat dan tubuh menggigil.
Gadis itu malah sudah mulai menangis sesenggukan saking ketakutan Hwesio tua bermuka hitam memandangi semua ini dengan alis terangkat dan sinar mata melirik ke sana-sini penuh selidik.
Ban-tok Mo-li marah bukan main, Ketika semalam terjadi kebakaran besar pada gudang di samping rumahnya, ia mengira ada penyerbuan musuh, maka bersama Lui Seng Cu ia keluar dai membantu para pelayan memadamkan api yang berkobar besar.
Untung api dapat dipadamkan sebelum melahap bangunan induk.
Akan tetapi tidak nampak tanda-tanda adanya penyerbuan musuh sehingga Ban-tok Mo-li merasa terheran-heran.
Juga ia merasa heran mengapa muridnya, Bu Giok Cu, tidak muncul membantu orang-orang memadamkan api.
Setelah ia dan Lui Seng Cu kembali ke kamar, barulah ia tahu!
Dua orang muda yang mereka culik telah lenyap dan juga Giok Cu tidak berada di dalam kamarnya!
Ia pun teringat ketika muridnya itu pernah menentang akan dikorbankannya dua orang muda, maka siapa lagi kalau bukan muridnya yang kini menghalangi hendaknya dan membebaskan dua orang muda itu?
Malam tadi ia pun sudah melakukan pengejaran, akan tetapi karena malam gelap, ia pun menunda pengejarannya sampai keesokan harinya.
Bersama Lui Seng Cu ia melakukan pengejaran secepatnya.
Tidak sukar bagi dua orang datuk yang berpengalaman ini untuk menemukan jejak langkah tiga orang itu dan mengejar secepatnya sehingga akhirnya mereka dapat menyusul Giok Cu bersama dua orang muda yang hendak dibebaskannya.
"Giok Cu, apakah engkau hendak lawan dan memusuhi aku, gurumu diri? Engkau membakar gudang dan membawa lari dua orang tawananku! yang menjadi, kehendakmu? Engkau hendak menentang aku, ya?"
Bentak Ba tok Mo-li marah sekali dan pandang matanya kepada muridnya yang biasanya penuh kasih sayang itu kini panas membakar, penuh kebencian.
Giok Cu maklum bahwa ia tidak berdaya.
Yang dikhawatirkannya terjadi dan ia menyesal sekali mengapa dua orang yang coba ditolongnya itu demikian lemah sehingga tidak mampu berlari cepat, dan ia pun melirik ke arah hwesio gendut itu penuh sesal, seolah-olah sinar matanya menyalahkan hwesio itu yang menghambat pelariannya.
Kemudian ia menghadapi subonya, sikapnya sama sekali tidak takut-takut, bahkan ia seperti orang nekat, siap untuk menerima hukuman apapun juga tanpa takut.
"Aku tidak menentang Subo, akan tetapi aku menentang tindakan Subo yang terbujuk orang jahat dan kejam, yaitu dia itu!"
Dia menuding kepada Lui Seng Cu.
"Subo membunuhi orang-orang muda tanpa dosa secara tidak tahu malu. Aku hanya ingin mencegah Subo melakukan kekejian seperti itu, maka aku sengaja membakar gudang dan mencoba melarikan korban-korban ini. Habis, kalau membujuk Subo dengan kata-kata halus tentu akan percuma saja!"
"Giok Cu! Selama lima tahun lebih aku mendidikmu, merawatmu seperti anak sendiri, dan inikah balasanmu kepadaku? Apakah engkau sudah bosan hidup? Kau ingin melihat aku membunuhmu?"
"Wah, jangan dibunuh, Mo-li. Sayang kalau dibunuh. Serahkan saja padaku dan aku dapat menjinakkan anak manis inil"
Kata Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu sambil menyeringai dan memandang Giok Cu dengan sinar mata yang amat dibenci gadis itu.
Sinar mata penuh kecabulan dan teringat akan keadaan dua orang muda tadi di dalam kamar subonya, ia bergidik.
"Subo, aku lebih suka seratus kali kaubunuh daripada menyerah kepada iblis busuk itu!"
Bentak Giok Cu sambil memandang kepada Lui Seng Cu dengan mata penuh kebencian.
Ia amat membenci orang itu karena orang itulah yang telah merusak gurunya, membuat gurunya menjadi seorang yang amat kejam.
Memang tadinya ia pun tidak dapat mengatakan bahwa gurunya seorang baik baik, akan tetapi setelah subonya menjadi pengikut Lui Seng Cu, menjadi penyembah Thian-te Kwi-ong, gurunya menjadi semakin kejam luar biasa!
"Keparat!"
Ban-tok Mo-li memaksa muridnya.
"Seekor anjing pun akan memiliki kesetiaan kalau diberi makan setiap hari, akan tetapi engkau, yang kuperlakukan sebagai anak sendiri dan murid, kini malah hendak menentang aku. Engkau lebih rendah daripada seekor anjing! Lui Seng Cu, kuserahkan ia padamu!"
Mendengar ucapan gurunya itu, Giok Cu menjadi marah bukan main. Bukan marah oleh makian itu, melainkan marah karena ia diserahkan kepada pria yang amat dibencinya itu.
"Orang she Lui keparat jahanam!"
Teriaknya.
"Engkau hanya akan dapat menjamahku setelah aku menjadi mayat!"
Dan ia pun memasang kuda-kuda, siap untuk melawan mati-matian.
Lui Seng Cu tersenyum gembira.
Hatinya girang bukan main.
Sudah lama dia tergila-gila kepada gadis remaja yang bagaikan setangkai bunga sedang mulai mekar ini.
Akan tetapi, dia tidak berani karena gadis itu murid Ban-tok Mo-li.
sekarang, dalam kemarahannya, Ban-tok Mo-li menyerahkan gadis itu kepadanya!
"Bu Giok Cu, engkau cantik dan segar bagaikan seekor kuda betina liar yang amat berharga untuk ditundukkan!
Engkau akan menjadi kudaku yang cantik yang jinak, yang penurut akan tetapi juga kudaku yang kuat dan liar!
Ha-ha-ha, manis lihatlah, pandanglah aku.
Aku bukan musuhmu, aku sahabat baikmu dengan niat hati yang baik.
Senyumlah padaku dan jangan memusuhi aku, sayang ........"
Suaranya mengandung getaran aneh dan sungguh luar biasa sekali.
Tarikan wajah yang penuh kebencian itu perlahan-lahan lenyap dari muka Giok Cu.
Pandang matanya berubah sedikit demi sedikit, menjadi redup seperti api mulai kehabisan minyak, dan mulutnya mulai tersenyum!
Pada saat itu terdengar seruan lembut.
"Omitohud .........., kekuasaan iblis selalu ada saja di mana-mana mengganggu kehidupan manusia. Nona Kecil, mundur lah!"
Tiba-tiba saja, seolah-olah kepalanya disiram air dingin, Giok Cu sadar akan keadaannya dan ia terkejut sekali.
Pada saat itu, tangan Lui Seng Cu sudah dijulurkan untuk menangkapnya akan tetapi mendadak tubuh Giok Cu tertarik kebelakang.
Kiranya tangan hwesio bermuka hitam telah mencengkeram leher bajunya dan menarik tubuh Giok Cu kebelakang.
"Nona, engkau jagalah baik-baik ke dua orang muda itu, dan biarkan pinceng menghadapi mereka yang sesat ini!"
Giok Cu bukan seorang gadis remaja yang bodoh.
Ia tahu bahwa hwesio muka itam itu tentu seorang yang sakti, dan Ia sadar pula bahwa kalau ia maju serang diri, ia tidak akan mampu menandingi gurunya sendiri dan Lui Seng Cu.
Tentu saja, secara aneh ia sudah hampir tertawan!
Maka, ia pun cepat menghampiri dua orang muda yang masih berlutut, dan ia pun berdiri di belakang mereka, siap melindungi mereka!
Matanya memandang ke arah hwesio muka hitam dan dua orang calon lawannya dengan hati berdebar tegang.
Ia maklum benar betapa lihainya gurunya, juga betapa lihainya Lui Seng Cu.
Akan mampukah hwesio tua renta muka hitam .itu menandingi mereka?
Melihat betapa hwesio tua renta bermuka hitam itu berani melindungi Giok Cu dan menentang mereka, Lui Seng Cu mengerutkan alisnya.
Dia lalu melangkah maju menghadapi hwesio itu, dan Ban-tok Mo-li mendiamkannya saja, hedak melihat dulu sampai di mana kekuatan hwesio tua renta itu.
Hok-houw Toa-to Lui SengCu juga ingin menghadapi hwesio itu dengan perbantahan dan ilmu sihir, maka begitu berhadapan dekat dengan hwesio itu dia lalu menegur dengan suara lantang.
"Dengan pendeta dari kuil manakah, dan dengan siapakah kami berdua, Lui Seng Cu dan Phang Bi Cu, berhadapan? Harap Lo-suhu suka memperkenalkan diri kepada kami."
Hwesio berperut gendut itu terkekeh, matanya berseri.
"Omitohud......, kiranya engkau pun dapat bersikap lembut, walau sikapmu itu meliputi lahir batin. Alangkah baiknya dan tentu tidak aka mudah menyeleweng, ha-ha-ha! Nama pinceng? Lihat muka pinceng yang, buruk dan hitam dan engkau akan mengenal nama pin-ceng. Orang menyebut Pinceng Hek-bin Hwesio (Pendeta Muka litam)."
Hwesio ini adalah seorang yang sakti, akan tetapi dia tidak pernah mencampuri urusan duniawi, maka namanya tidak dikenal di dunia persilatan Seperti telah kita ketahui, Hek-bin Hwe sio ini adalah suheng dari mendiang Thian Cu Hwesio, ketua Siauw-lim-si yang membakar diri ketika kuil itu diserbu pasukan pemerintah.
Karena tidak mengenal nama ini, Lui Seng Cu tentu saja memandang rendah.
Dia adalah seorang datuk sesat yang terkenal dan juga mengenal nama-nama orang sakti di dunia persilatan.
Akan tetapi tentu saja dia tidak mengenal Hek-bin Hwesio yang merupakan seorang pertapa yang suka merantau di Pegunungan Himalaya dan negara-negara bagian barat.
oooOOooo "Hek-bin Hwesio?
Hem, biarpun mukamu hitam dan mungkin hatimu juga hitam, akan tetapi engkau mencukur rambut dan menge nakan jubah pendet a.
Setidak nya engkau tentu tahu akan peratur an, tahu pula bahwa menca mpuri urusan orang lain merupa kan hal yang amat tercela dan tentu tidak akan dilakukan oleh seorang yang sudah berani menjadi pendeta!
Akan tetapi mengapa engkau, yang sudah tua dan tentu berpengalaman ini, sekarang lancang mencampuri urusan kami?
Kami berurusan dengan seorang murid kami, dan dua orang anggauta perkumpulan kami sendiri, harap engkau orang tua tidak mencampurinya!"
Sepasang mata itu terbelalak dari mulutnya tertawa lebar.
"Ha-ha-ha-ha ha! Sungguh lucu sekali, lucu bukan main! Bagaimana mungkin seorang murid berani menentang gurunya? Hal ini hanya ada dua kemungkinan! Si murid itu meinjadi jahat dan tidak mentaati perintah gurunya yang baik! Atau, si guru itu jahat akan tetapi muridnya tetap menjaga diri dan berpihak kepada yang benar, sehingga terpaksa ia menentang gurunya yang jahat. Nah, di antara dua kemungkinan ini, mana yang benar? Pin-ceng tadi mendengar bahwa Nona Cilik itu menentang gurunya yang hendak membunuh dua orang yang tidak berdosa! Berarti bahwa Nona itu, biarpun bergaul dengan para tokoh sesat, tetap ia bersih dan murni seperti setangkai bunga teratai di antara pecomberan, tetap bersih! Karena itu, apa anehnya kalau pinceng membelanya?"
Lui Seng Cu menjadi marah.
Kiranya hwesio tua renta ini berbeda dengan para hwesio lainnya.
Para hwesio biasanya pendiam dan suka mengalah, tidak pandai bicara.
Akan tetapi hwesio tua muka hitam ini ternyata tukang ngobrol dan pandai berdebat!
Baru beberapa kali tukar bicara saja dia sudah terdesak dan sukar untuk menjawab.
"Hek-bin Hwesio! Engkau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, pemimpin penganut penyembah Thian-te Kwi-ong! Lihat aku, pandang mataku, dan berlututlah engkau! Aku perintahkan engkau, demi nama Thian-te Kwi-ong yang sakti, berlututlah engkau wahai hwesio!!"
Dalam suara itu terkandung getaran yang amat hebat dan kuat, yang membuat Giok Cu merasa betapa lututnya gemetar.
Tadi, dengan tenaga setengahnya saja, Lui Seng Cu hampir berhasil menyuruh Giok Cu tunduk dan menuruti kehendaknya.
Kini dia mempergunakan hampir seluruh kekuatan sihirnya, bahkan menggunakan nama Thian-te Kwi-ong sebagai ilmu hitam, untuk menyerang dan menundukkan hwesio tua muka hitam!
Akan tetapi, Hek-bin Hwesio yang, diserang dengan ilmu hitam itu yang hanya terkekeh saja, lalu berkata dengan suara lantang sambil tertawa.
"Ha-ha-ha! Omitohud............ pinceng tidak memerintah, akan tetapi kalau engkau memang ingin berlutut, silakan, Hok-houw Tofw to!"
Sungguh aneh karena tiba-tiba saja Lui Seng Cu lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap hwesio itu!
Melihat ini tentu saja Giok Cu menjadi terheran-heran.
Penglihatan itu sedemikian lucunya sehingga mau tidak mau ia pun tertawa.
Mendengar gadis itu tertawa Hek-bin Hwesio menengok sambil tertawa pula, senang karena gadis yang tak disangkanya jahat akan tetapi yang ternyata gagah perkasa dan berbudi mulia itu ternyata juga memiliki watak periang.
Karena dia menengok, maka Lui Seng Cu yang tadinya terpukul oleh kekuatan sihirnya sendiri yang membali menjadi sadar, apalagi karena Ban-to Mo-li sudah mengguncang pundaknya dengan mendongkol.
"Engkau ini apa-apaan sih?"
Bentak Ban-tok Mo-li yang ikut merasa malu melihat kawannya bertindak seperti seorang badut.
Lui Seng Cu meloncat berdiri dan dia sudah mencabut golok besarnya, mukanya berubah merah karena marahnya.
Ban-tok Mo-li juga sudah mencabut senjata yang ampuh, yaitu sebuah kipas di tangan kiri dan sebatang pedang di tangan kanan.
Tanpa banyak cakap lagi dua orang ini sudah maju menyerang Hek-bin Hwesio dengan ganas sekali.
Ban-tok Mo-li menggerakkan kipasnya dan dari kedua ujung gagang kipasnya meluncur jarum-jarum beracun yang amat berbahaya, yang mendahului serangan totokannya dengan gagang kipas, disusul tusukan-tusukan pedangnya.
Juga Lui Seng Cu sudah memutar goloknya sehingga nampak sinar golok bergulung-gulung.
Dia memang dijuluki Hok houw Toa-to (Golok Besar Penaluk Harimau), tentu saja dia seorang ahli sila golok yang pandai, maka goloknya mengeluarkan suara berdesing-desing ketik menyambar-nyambar dalam gulungan sinar yang menyilaukan.
"Losuhu, awas senjata rahasia jarum beracun!"
Tiba-tiba Giok Cu berseru. Ia tentu saja mengenal kipas dari subonya dan tahu betapa berbahayanya jarum-jarum kipas itu yang dilepas dari jarak dekat dan tidak nampak saking lembut dan cepatnya.
"Ha-ha-ha, ia yang menabur benih, ia yang menuai!"
Baca Juga: Mutiara Hitam 1
Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 3