Eps 3 Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo.
Dia terpaksa melepaskan pedangnya masih dilihat ujung rantai, lalu bergelingan menjauh Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, rantai itu melepaskan pedang dari libatannya dan pedang meluncur ke arah tubuh yang bergulingan.
"Ceppp!"
Pedang menancap, memasuki lambung sampai hampir tembus, tewaslah Cun Bin Tosu.
Melihat betapa pasukannya tidak mampu mendesak lawan, dan banyak anggauta pasukan yang roboh, sedangkan para pembantunya juga terdesak dan ada yang menderita luka-luka, terpaksa Ciong Ciangkun memberi aba-aba agar pasukannya mundur.
Dia sendiri mengajak para pembantunya untuk melarikan diri ke luar dari pekarangan vihara itu, masuk ke dalam pasukan yang masih menjadi di luar.
Para Murid Siauw-lim-pai tidak berani mengejar karena jumlah pasukan yang berada di luar banyak sekali, sedangkan jumlah mereka yang kurang lebih enam puluh orang itu kini sudah berkurang, karena ada beberapa orang murid yang terluka, bahkan ada yang tewas, dalam pertempuran itu, walaupun jumlah lawan yang luka atau tewas lebih banyak lagi.
Mereka lalu mengurus jenazah Thian-cu Hwesio yang sudah menjadi arang, juga mengurus suadara-saudara yang tewas, dan merawat mereka yang terluka sambil bersiap-siap.
Ciong Ciangkun tidak tinggal diam.
Dia mundur hanya untuk mengatur siasat, Dia tahu betapa lihainya orang-orang Siauw-lim-pai.
Kalau dia menyerbu dalam, akan sukar dapat mengalahkan para pendekar itu.
Bertempur secara kucing-kucingan begitu tidak akan menang, karena dia tidak dapat mengerahkan pasukan untuk mengeroyok seperti kalau bertempur di tempat terbuka, Jalan satu-satunya adalah memancing murid Siauw-lim-pai itu keluar dari Vihara mereka, atau memaksa mereka keluar!
Dan hal itu hanya dapat dilakukan dengan api!
"Siapkan barisan panah berapi!"
Teriaknya.
Para pembantunya segera mereka persiapkan barisan panah berapi.
Setelah mengatur pasukannya, Ciong Ciangkun yang merupakan seorang ahli siasat perang itu lalu mengadakan penyerbuan Sekali ini, yang menyerbu vihara adalah anak-anak panah dan diantaranya banyak anak panah berapi, Sementara itu, pasukannya mengepung vihara luar.
Siasatnya itu berhasil dengan baik.
Sebentar saja vihara itu terbakar!
Tentu saja para murid Siauw-lim-pai tidak mungkin dapat tinggal terus di dalam vihara.
Mereka juga berusaha memadamkan kebakaran-kebakaran itu, namun mereka kalah cepat oleh api yang mulai berkobar besar di segala jurusan.
Para murid itu menjadi kacau balau dan terpaksa berlarian keluar untuk menyelamatkan diri.
Setiba mereka di luar, mereka disambut oleh pasukan pemerintah yang mengeroyok mereka!
Kini terjadilah pertempuran mati-Mian.
Para murid Siauw-lim-pai itu kini membela diri untuk mempertahankan hidup mereka.
Akan tetapi jumlah Musuhterlalu banyak, dan hati para murid Siauw-lim-pai ini sudah terlampau jeri sehingga kebanyakan di antara mereka menjadi nekat untuk bertempur sampai mati!
Ketika Hek-bin Hwesio dan Pek I Lojin yang mendahului para hwesio dan tosu yang berlarian ke kuil Siauw-lim-mereka berdua bertemu dengan Lie Koan Tek dan lima orang sutenya.
Enam orang murid utama Siauw-lim-pai ini keadaan luka-luka dan mereka segera menjatuhkandiri berlutut ketika mereka melihat Hek-bin Hwesio yang mereka tahu adalah suheng dan juga sahabat dari mendiang Thian-cu Hwesio.
"Lo-cian-pwe, malapetaka menimpa Siauw-lim-si"
Kata Lie Koan Tek dengan keringat bercucuran bercampur mata dandarah dari luka di lehernya.
Hek-bin Hwesio mengangkat muka memandang ke puncak bukit.
Api berkobar besar di puncak sana dan dia dapat menduga apa yang terjadi.
"Omitohud , vihara Siauw-li terbakar? Apa yang telah terjadi?"
"Vihara diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya, dikepalai Ciong Ciangkun yang ditemani seorang tosu yang melaporkan bahwa kami adalah pemberontak-pemberontak!"
Bekata demikian, Lie Koan Tek memandang kepada Pek I Tojin dengan mata melotot penuh kemarahan "Siancai.......siancai..........!"
Pek Ilojin hanya merangkap kedua tangan didepan dada. Melihat sikap murid utama Sia-lim--pai itu, Hek-bin Hwesio segera berkata.
"Jangan membenci para tosu, orang muda yang gagah. Baru saja pertikaian antara para hwesio dan para tosu sudah dapat dilerai dan didamaikan, berkat Kebijaksanaan Pek I Tojin ini. Segala permusuhan antara keduapihak mulai sekarang harus dilenyapkan..........."
"Akan tetapi, Lo-cian-pwe, kebakaran Siauw-lim-pai akibat serbuan pasukan pemerintah adalah karena hasutan mereka itu......"
"Andaikata benar demikian, kalian tidak bolehlalu memusuhi semua tosu! kesalahan seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk membenci semua golongannya. Itu tidak adil namanya. Kesalahan seseorang adalah tanggung jawab g itu sendiri, bukan tanggung jawab anya, atau golongannya, atau sukunya, atau bangsanya.Kaulihat, itu para sudaramu dan Susiokmu datang bersama denganpara tosu yang hendak membantu Vihantu Siauw-lim-si!"
Rombongan Thian Gi Hwesio bersama para muridnya dan para tosu yang tadinya menjadi musuh, datang ke tempat itu.
"Lie Koan Tek, apa yang terjadi Kenapa vihara kita terbakar dan di mana Suheng Thian-cu Hwesio?"
Tanya Th'tfi G i Hwesio dengan muka pucat.
"Celaka, Susiok "
Lie Koan Tek dan lima orang sutenya menangis.
"Vihar dibakar, kami diserbu pasukan yang dipimpin Ciong Ciangkun, dan Suhu..........Suhu telah tewas membakar diri........... ...."
Lie Koan Tek dengan suara sedih lalu menceritakan semua yang terjadi, dan m nutup ceritanya dengan suara lirih.
" ................... hanya teecu berenam yang sempat lolos agaknya semua ................ semua saudara telah tewas ......................"
"Omitohud !'. Thian Gi Hwesio tebelalak, mukanya pucat sekali dan dia pun roboh pingsan! Setelah Thian Gi Hwesio sadar, Lie Koan Tek lalu menceritakan tentang pingsan terakhir Thian-cu Hwesio bahwa semua murid Siauw-lim-pai tidak boleh memberontak, karena mereka adalah pendekar-pendekar yang menentang kejahaatan dan membela rakyat jelata yang terrtindas.
"Omitohud , betapa bijaksana mendiang Thian-cu Hwesio. Pinceng girang mendengar kebijaksanaannya itu di saat terakhir hidupnya. Sesungguhnyalah, bahwa segala sesuatu sudah ada yang mengatur, sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dan apa pun yang terjadi, semua itu sudah menurut garisnya yang benar,baik dan sempurna, walaupun akal budi kadang-kadang mengherankan semua itu. Jalan pikiran dan akal budi kita sama sekali tidak mampu untuk menjenguk inti dari arti yang paling meneluri dari setiap persoalan. Kita haya melihat kulitnya saja, luarnya saja dan kadang-kadang merasa betapa jangal dan tidak adilnya peristiwa yang terjadi. Kalau kita mampu menerima segala sesuatu, mengembalikan kepada kebijaksanaan dan kekuasaan Yang Maha Kuasa, maka tidak ada permasalahan apa pun juga,"
Kata Hek-bin Hwesio.
"Siancai "
Apa yang dikatakan oleh sahabatku Hek-bin Hwesio memang tepat sekali.
Kewajiban kita manusia hidup hanyalah berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan kekotoran dari diri lahir batin, namun segala keputusan berada di tangan Yang Maha Kuasa.
Yang sudah mati biarlah mati, akan tetapi yang hidup berkewajiban untuk melanjutkan hidup ini melalui jalan benar.
Vihara yang sudah musnah dapat saja sekali waktu dibangun kembali, permusuhan yang pernah terjadi dapat saja dilenyapkan dan diganti perdamaian.
Tidak perlu ada dendam yang hanya akan meracuni batin kita dan mendatangkan kekeruhan saja,"
Kata Pek I Tojin.
Apa yang diucapkan kedua orang sakti ini memang benar.
Jalan kehidupan kita ini penuh liku-liku, penuh perubahan dan kadang-kadang terjadi hal-hal yang menimpa diri kita yang kelihatan amat janggal, amat sukar dimengerti sebab-sebabnya.
Jalan yang ditempuh oleh Tuhan sungguh penuh rahasia, gaib, kadang-kadang begitu jauhnya tak terjangkau oleh alam pikiran dan akal kita.
Ada kalanya terjadi peristiwa yang menurut pertimbangan dan perhitungan akal kita, nampak janggal, bahkan nampak tidak adil!
Akal pikiran kita melihat betapa seseorang yang kita anggap jahat dan patut dikutuk, bahkan hidup penuh kemuliaan, berkedudukan tinggi, terhormat, kaya raya, sehat dan selamat.
Sebaliknya, akal pikiran kita melihat betapa seseorang seseorang yang kita anggap baik dan patut dipuji, hidupnya serba kekurangan dan sengsara, tertindas, terhina, miskin dan papa!
Kita melihat pembesar yang hidupnya penuh korupsi, makmur dan nampak senang, sebaliknya pembesar yang hidupnya jujur dan adil, nampak hidup serba kekurangan dan sama sekali tidak makmur.
Kita melihat orang yang kita nilai baik hidup berpenyakitan sebaliknya orang yang kita lihat dan kita nilai buruk dan kotor, hidup sehat!
Apalagi biasanya kita menilai diri kita ini sudah cukup baiik, sudah cukup mentaati hukum agama, sudah cukup berusaha menjadi orang yang baik, akan tetapi kita merasa betapa hidup kita selalu sengsara!
ini menimbulkan kekecewaan dan penasaran!
Kita lupa bahwa jalan pikiran hanyalah mendasarkan semua itu dengan nilai kebendaan, nilai kesenangan nafsu badani yang hanya sementara sifatnya.
Kita tidak tahu bahwa di dalam batin orang yang kelihatan kaya raya dan senang, belum tentu berbahaya sebaliknya di dalam batin seorang petani miskin, belum tentu sengsara.
Pikiran kita hanya merupakan gudang pengetahuan dan pengalaman.
Pikiran akalnya tidak mungkin dapat menjangkau dan mengerti jalan yang diambil Tuhan.
Kita tidak mempunyai kekuasaan apa pun atas diri kita sendiri sekalipun.
Jalan satu-satunya hanyalah menyerahkan segalanya kepada-Nya.
Apa pun yang kehendaki-Nya, pasti baik dan benar, walaupun bagi akal pikiran kita kadang-kadang dianggap buruk dan salah.
Hanya orang yang mampu menerima segala suatu sebagai kehendak Tuhan, menerima segala apa sebagai suatu kenyataan yang wajar, sebagai apa adanya, tanpa keluhan, tanpa protes, tanpa penasaran atau kekecewaan, hanya orang seperti inlah yang dapat tersentuh sinar Kasih, dan dapat merasakan apa yang kita sebut-sebut sebagai kebahagiaan!
Sisa-sisa murid Siauw-lim-pai terpaksa melarikan diri ceral-berai, menyadari hidup masing-masing.
Siauw-lim-telah terbakar habis, rata dengan tanah,namun semangat kependekaran para muridnya masih tetap utuh dan dimana pun mereka berada, mereka selalu mengulurkan tangan untuk membela kaum lemah tertindas, dan menentang perbuatan jahat dalam bentuk apa pun dan dilakukan oleh siapapun.
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 7 Seorang kakek berusia lima puluh tujuh tahun, berdiri di bawah pohon menyilangkan kedua tangan di atas dada dan pandangan matanya tak pernah berkedip, mengikuti semua gerakan pemuuda itu.
Kakek ini pun tinggi besar dan gagah perkasa, dan ada kelembutan ketika dia tersenyum gembira sambil mengangguk-anggukkan kepala, nampak puas sekali melihat gerakan silat pemuda itu.
Angin pukulan pemuda itu menyambar-nyambar, menggerakkan pakaian dan rambut Si Kakek, juga membuat ujung ranting pohon dengan daun-daunnya bergoyang-goyang, membuat daun-daun kuning rontok.
Mereka adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki muridnya, Si Han Beng.
Seperti kita ketahui, Si Rajawali Sakti Liu Bhok Ki itu membawa muridnya ke puncak Kim-hong-san di lembah Sungai Huang-ho, dimana dia menggembleng muridnya dengan penuh ketekunan.
Kalau saja Han Beng seorang anak biasa, tentu tidak mungkin dalam waktu lima tahun akan mampu menguasai ilmu-ilmu silat tinggi gurunya itu dengan baik.
Akan tetapi, setelah minum darah "anak naga", Han Beng bukan lagi seorang anak biasa.
Di dalam tubuhnya mengalir tenaga sakti yang amat hebat, bahkan pada dasarnya jauh lebih kuat daripada tenaga sakti gurunya sendiri!
Percampuran antara racun darah ular itu dan racun dari pukulan dan goresan kuku Ban-tok Mo-Ii telah menciptakan suatu kekuatan yang amat dahsyat di dalam diri dan dengan bekal ini, di samping, cerdikan dan bakatnya, maka tidak sukar bagi Han Beng untuk menyerap dan menguasai ilmu-ilmu dari Liu Bhok Ki, Si Rajawali Sakti.
Dan apa yang di latihnya di pagi hari itu adalah ilmu simpanan dari gurunya, yaitu silat Hun-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali terbang) yang mengangkat tinggi nama besar Liu Bhok Ki sebagai Sin tiauw (Rajawali Sakti).
Selain ilmu silat paling hebat dari Liu Bhok Ki ini, juga Han Beng telah mewarisi ilmu-ilmu silat lainnya, termasuk ilmu memainkan sabuk atau ikat pinggang sebagai senjata.
Setelah selesai berlatih Hui tiauw Sin-kun, Han Beng lalu berhenti mengdap suhunya.
Dia duduk di atas tanah, sedangkan gurunya kini duduk di atas sebuah batu besar di bawah pohon itu dan kakek itu kelihatan gembira sekali.
"Bagus, Han Beng muridku. Sungguh latihanmu tadi amat baik, tiada cacatnya sedikitpun. Itulah Hui tiauw Sin-kun yang kau mainkan dengan sempurna. Dan ketahuilah bahwa dengan ilmu silat itu aku dijuluki orang Sin-tiauw. Akan tetapi, engkau lebih pantas berjuluk Sin-Iiong (Naga Sakti), mengingat bahwa di tubuhmu mengalir darah naga."
"Semua hasil yang teecu capai ini berrkat bimbingan Suhu. Terima kasih atas semua kebaikan Suhu kepada teecu."
"Bagus! Kalau engkau ingat budi berarti engkau tentu tidak akan melupakan janjimu sebagai syarat menjadi muridku dahulu. Masih ingatkah engkau siapa yang harus kaucari dan kau hancurkan hidupnya untuk membalaskan dendam gurumu ini?"
"Masih Suhu. Mereka adalah Coa Siang Lee, keturunan ketua Hek-houw-pang di Ta-bun-cung dekat Poyang di utara Sungai Huang-ho, dan istennya yang bernama Sim Lan Ci."
"Bagus sekali, muridku. Dengan demikian tidak akan sia-sia aku meendidikmu selama lima tahun ini. Akan tetapi kini telah lima tahun engkau menjadi muridku dan seluruh ilmu yang kumi telah kuberikan kepadamu, bukan hanya ilmu silat, juga ilmu pengobatan cara untuk menjatuhkan Sim Lan dengan pengaruh obat, kalau engkau gagal menggunakan cara yang wajar. Dan sudah tiba janjiku kepada Sin-ciang Kai-ong untuk menyerahkan engkau kepadanya agar engkau menerima didikan dari nya selama lima tahun pula."
Han Beng memberi hormat.
"Teecu mentaati semua perintah Suhu. Akan tetapi sebelum berpisah, teecu mempunyai sebuah permintaan kepada Suhu, dan teecu harap Suhu suka meluluskan permintaan teecu ini."
Liu Bhok K i tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Engkau mempunyai permintaan? Apakah itu, muridku? Terus terang saja, aku tidak mempunyai pusaka apa pun. Sabukku ini pun sabuk biasa, dan pusakaku hanyalah ilmu-ilmu yang sudah kuberikan kepadamu. Aku tidak melihat............"
"Ada pusaka yang amat teecu inginan dari Suhu."
"Eh? Pusaka, yang mana itu? Katakanlah, tentu akan kuberikan kepadamu, -muridku."
"Benarkah? Apa yang teecu minta han Suhu berikan kepada teecu?"
"Tentu saja! Engkau satu-satunya yang terdekat dengan aku, Han Beng, dan terus terang saja, aku merasa puas mempunyai murid seperti engkau. Katakan, pusaka apakah itu yang kau maksudkan?"
"'Dua buah kepala itu, Suhu."
Sepasang mata pendekar itu terbelalak.
"Hahhhhh........ ? Dua dua buah kepala itu? Kepala Coa Kun Tian dan Phang Hui Cu? Mau .......... mau apa engkau dengan dua buah kepala itu? Untuk apa kauminta?"
"Untuk teecu kuburkan, Suhu."
"Ahhh "
Liu Bhok Ki meloncat turun dari atas batu, tubuhnya menggiggil, mukanya merah dan dia mengepal kedua tangannya, memandang kepada Han Ben "Si Han Beng!
Apa maksudmu dengan itu?
Engkau hendak menguburkan di buah kepala itu?
Engkau hendak membuat aku melupakan dendamku?
Dengan demikian, berarti bahwa engkau telah melupakan janjimu, tidak akan melaksanakan pembalasan sakit hatiku terhadap Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci?"
Han Beng memberi hormat, sikapnya tetap tenang, tanda bahwa pemuda remaja berusia tujuh belas tahun ini tentu mempunyai batin yang kuat, mampu menahan perasaan sehingga dia selalu bersikap tenang, tidak dipengaruhi perasaan.
"Harap Suhu jangan salah sangka. Apa yang telah teecu janjikan kepada Suhu, pasti teecu penuhi, hanya berhasil atau tidak kita sama melihat saja nanti. Teecu ingin agar dua buah kepala itu dikubur, karena sungguh tidak tepat sekali apa yang Suhu lakukan selama ini terhadap dua buah kepala itu. Suhu menyiksa diri sendiri dan menyiksa dua buah kepala yang tidak berdosa.
"Aku menyiksa diri? Bodoh kau! jusru aku membalas dendam sakit hati, aku merasa puas melihat mereka itu! Dan kaubilang dua buah kepala itu tidak berdosa? Mereka telah menghancurkan kehahagiaan hidupku, dan kau masih mengatakan mereka tidak berdosa?"
"Harap Suhu tenang agar dapat berpikir secara luas dan mendalam, Suhu. Teecu melihat betapa Suhu menyiksa diri sendiri dengan adanya dua buah kepala itu. Dengan adanya mereka, Suhu akan setiap saat teringat dan menderita sakit hati. Di dunia ini, tidak ada kedukaan yang tidak akan lenyap dihapus waktu, Suhu. Akan tetapi Suhu selalu meghadapi dua buah kepala itu sehingga setiap saat teringat dan berduka, bukankah itu berarti Suhu menyiksa diri sendiri? Dan tentang dosa kedua buah kepala itu, benarkah dua buah kepala itu yang berdosa? Bukankah perbuatan itu dimulai dari pikiran dan hati, sedangkan badan hanya melakukan saja keinginan batin? Jelas bahwa dua buah kepala itu hanya sebagian saja dari badan, maka tidak berdosa setelah mati Suhu. Mengapa Suhu menyiksa dan menghukum badan yang tidak bersalah apa-apa? Badan yang sudah mati sama dengan tanah, disiksa bagaimanapun tidak akan merasakan apa-apa lagi. Hati teecu merasa penasaran sekali karena apa yang dilakukan Suhu ini sungguh kejam, sungguh tidak berperikemanusiaan seningga tidak selayaknya dilakukan seorang pendekar gagah perkasa seperti Suhu."
Wajah yang tadinya merah itu kini berubah pucat, matanya terbelalak, tapi dia masih marah sekali.
"Kau ........ kau bilang aku kejam dan tidak berprikemanusiaan? Andaikata benar begitu, itu hanya sebagai hukuman saja terhadap mereka berdua. Apakah mereka berdua itu tidak kejam dan tak mengenal perikemanusiaan dengan perbuat zina mereka yang menghancurkan kebahagiaan hidupku?"
"Suhu, kalau orang lain mengganggu ta dengan kekejaman, apakah kita pun harus membalasnya dengan kekejaman? Kalau sudah begitu, lalu siapa yang kejam dan siapa yang tidak? Siapa yang jahat dan siapa pula yang baik? Siapa penjahat dan siapa pula pendekar?"
Liu Bhok Ki yang tadinya marah besar,seketika merasa tubuhnya lemas dan dia pun menjatuhkan diri terduduk di atas batu, termenung dengan muka pucat seperti patung.
Dia merasa seperti lolosi seluruh otot dan urat di tubuhnya.
Han Beng sambil berlutut memberi tinat.
"Suhu, maafkan teecu, bukan teecu kurang ajar dan ingin melawan dan membantah Suhu, melainkan karena perasaan cinta dan. hormat teccu unuk menghentikan perbuatan Suhu yang tidak layak ini. Teecu yakin Suhu seorang yang berjiwa pendekar dan gagah perkasa bukan seorang yang berjiwa rendah, kejam dan tidak berperikemanusiaan."
"Sudahlah......... sudahlah........... kauambil dua buah kepala itu dan kaukubur mereka ............, sudah, jangan bicara lagi"
Han Beng memberi hormat sekali lagi.
"Terima kasih, Suhu."
Dia lalu bangkit dan memasuki pondok, sejenak mengamati dua buah kepala itu, yang satu berada di dalam botol arak dan yang sebuah lagi tergantung dan terayun-ayun di tengah ruangan.
Melihat betapa dua buah kepala itu mulutnya seperti tersenyum akan tetapi matanya tanpa cahaya memandang jauh seperti pandang orang berduka, dia bergidik.
Cepat turunkannya kepala Coa KunTian itu dan dikeluarkannya kepala Phang Hui kemudian dia membungkus dua buah pala itu menjadi satu dalam sehelai kain putih, dan membawanya keluar.
Dia memang sudah merencanakan untuk mengubur dua buah kepala itu di bawah kohon cemara di puncak Pegunungan Kin-hong-san, maka kini dia membawa Dua buah kepala itu ke sana.
Digalinya sebuah lubang yang dalamnya satu setengah meter, di antara dua batang pohin delima di bawah naungan cemara yang tinggi.
Kemudian, dengan hati-hatti dan penuh hormat dia meletakkan buntalan dua buah kepala itu ke dalam lubang dan mulutnya berbisik.
"Harap Ji-wi kini dapat mengaso dengan tenang dan maafkanlah apa yang diperkuat oleh guruku selama ini."
Pada saat itu, Liu Bhok Ki menangis ketika dari balik sebuah batu besar dia mengintai dan melihat muridnya mengubur kedua buah kepala itu.
Dia merasa kehilangan dan merasa betapa kini dia tidak memiliki apa-apa lagi.Kini baru terasa olehnya betapa dua buah kepala itu menjadi milik satu-satunya baginya, bahkan dua buah kepala itu yang membuat dia masih berani menghapi hidup, merasakan suka dan duka dari kehidupan ini melalui kedua buah kepala itu.
Dari dua buah kepala itu"
Dapat merasakan kepuasan dan kemanisan balas dendam, juga merasakan kedukaan karena putus cinta, merasai cemburu yang menggerogoti hatinya kemudian manisnya pembalasan terha mereka.
Dan kini, dua buah kepala yang seolah-olah menangisi hidupnya siang malam itu telah diambil darinya dikuburkan.
Dan dia merasa seolah-olah baru sekarang dia kematian isteri tercinta, seolah-olah melihat jenazah isterinya dikubur dan bahwa selamanya dia akan kehilangan isterinya itu!
Maka tak tertahankan lagi, dia menangis sampai air matanya bercucuran membanjiri kedua pipinya.
Dia menahan diri agar tangisnya tidak sampai terdengar oleh muridnya, dan cepat-cepat dia pergi dari situ, kemudian sesenggukan di dalam pondoknya.
Setelah selesai mengubur dua buah kepala itu, menguruknya dengan tanah dan menaruh sebongkah batu besar depan kuburan, Han Beng lalu kembali ke pondok untuk berkemas.
Dia melihat suhunya duduk bersila di tengah ruangan pondok itu sambil memejamkan dua matanya.
Melihat ini, dia tidak berani mengganggu dan dia lalu memasuki kamarnya, mengumpulkan pakaian dan membungkusnya menjadi sebuah buntalan.
Diikatnya buntalan itu di punggungnya, kemudian dia pun keluar dari dalam kamar.
Suhunya masih duduk bersila seperti tadi, kedua mata terpejam.
Han Beng tetap tidak berani mengganggu dan dia pun menjatuhkan diri berlutut didepan suhunya, menanti sampai orang tua itu sadar dari samadhinya.
Lebih dari tiga jam Han Beng berlutut di depan gurunya, dengan penuh kesabaran dia menanti sampai suhunya bangun dari samadhinya.
Sedikit pun dia tidak merasa gelisah atau kehilangan kesabaran.
Kalau suhunya tidak sadar sampai sehari semalam pun, dia akan tetap menunggu, karena dia harus berpamit dari gurunya sebelum meninggalkan tempat itu.
Gurunya selama ini amat dikasihinya, dan menjadi pengganti orang tuanya.
Sin-tiauw Lin Bhok Ki bagi Han Beng merupakan guru, orang tua, juga sahabat.
Di dalam dunia ini, hanya orang tua itulah satu-satunya manusia yang dekat dengannya.
Karena itu, bagaima mungkin dia meninggalkan gurunya ini tanpa pamit?
Akhirnya, terdengar gurunya berkata "Han Beng "
Han Beng cepat mengangkat mukanya, memandang kepada suhunya yang sudah membuka mata dan tersenyum kepadanya.
Han Beng mengamati wajah gurunya dan dia pun merasa jantungnya seperti ditusuk karena terharu, Wajah itu membayangkan kedukaan mendalam, bahkan nampak jauh lebih tua dibandingkan kemarin!
Seolah-olah ada awan kedukaan hebat yang menyelubungi wajah itu, namun mulut itu tersenyum kepadanya!
Dia merasakan adanya suatu pertentangan di dalam batin gurunya, dan dia berpikir bahwa hal itu tentu muncul karena ulahnya meminta dua buah kepala dan yang telah dikuburkannya.
Diam-diam dia merasa dosa kepada gurunya.
"Han Beng, tahukah engkau betapa permintaanmu yang telah kululuskan tapi seolah-olah mencabut semangat hidupku? Aku merasa betapa hidupku menjadi kosong tak berarti, seolah-olah dua buah kepala itu pergi membawa seluruh semangatku."
Han Beng semakin terharu dan dia daipun memberi hormat sambil berlutut.
"Suhu, ampunkan teecu karena sesungguhnya bukan demikian maksud teecu, melainkan untuk menolong Suhu terbebas daripada penderitaan batin."
Gurunya tersenyum, senyum yang amat mengharukan karena senyum itu amatlah pahitnya.
"Tidak mengapa, Han Beng. Salahku sendiri. Ketahuilah bahwa tanpa kusadari, aku telah terikat secara batiniah kepada dua buah kepala ftu, seolah-olah dua buah kepala itu tirnjadi pengganti isteriku yang tercinta. Dan sekarang setelah berpisah, aku merasa kehilangan sekali. Akan tetapi biarlah, mungkin engkau benar, setelah aku mengalami kepahitan yang sedemikian hebat ini, mungkin lambat laun Sang Waktu akan menjadi penyembuh yang mujizat. Hanya pesanku kepadamu, Han Beng, karena engkau masih muda, hati-hatilah, terutama terhadap wanita. Jangan mudah menyerahkan hati cintamu, dan andaikata engkau tidak dapat mengelak lagi dan jatuh cinta jangan engkau mengikatkan batinmu padanya agar kalau sekali waktu ia meninggalkanmu, kalau ia melakukan penyelewengan dengan pria lain, hatmu tidak akan hancur binasa! Kalau batinmu tidak terikat oleh seorang wanita sewaktu ia menyeleweng dengan pria lain, engkau akan menerimanya den penuh kesadaran dan keikhlasan, sadar bahwa cinta antara pria dan wanita dak dapat bertepuk tangan sebelah, lau ia jatuh cinta kepada pria lain, arti cintanya padamu sudah luntur engkau tidak mungkin dapat memaksanya untuk tetap mencintaimu dan jangan menoleh kepada pria lain."
Han Beng yangbaru berusia tujuh belas tahun itu sudah dapat menangkap apa yang dimaksudkan suhunya, dan dia pun maklum bahwa suhunya sedang menderita goncangan hebat dalam batinnya sehingga ucapannya itu condong ke arah pelampiasan duka dan penghiburan diri ndiri.
Betapapun juga, dia dapat merasakan kebenaran.
Memang, ikatan mendatangkan derita sengsara batin karena tidak ada yang abadi di dunia ini.
Setiap pertemuan pasti berakhir dengan perlahan dan kalau hati terikat, maka perpisahan itu akan mendatangkan rasa sengsara dan duka.
Han Beng lalu berpamit kepada gurunya yang merasakan keharuan karena dia harus berpisah dari murid yang disayangnya ini.
Baru saja dia kehilang dua buah kepala yang menjadi pengganti isterinya, kini dia harus berpisah lagi dari muridnya yang tersayang.
Namun, dia melihat kenyataan bahwa perpisahan itu memang tidak dapat dihindarkan lagi.
"Pergilah, Han Beng. Masih ingat engkau ke mana harus mencari gurumu yang baru, yaitu Sin-ciang Kai-ong Jangan lupa, carilah dia di daerah Propinsi Hok-kian. Di sana dia menjadi raja jembel dan siapapun tentu akan mengenalnya dan dapat menunjukkan mana engkau dapat menemuinya. Sam kan salamku kepadanya!"
Han Beng lalu berangkat, mengendong buntalan pakaiannya di punggung dan melangkah dengan tegap dan ringan menuruni bukit Kim-hong-san.
Ketika dia tiba di lereng yang berhutan, tiba-tiba muncul seorang yang memakai kedok mukanya, berpakaian serba hitam tanpa banyak cakap lagi orang ini dah menyerangnya dengan membabi-buta, Melihat gerakan orang itu, Han Beng terkejut karena selain gerakannya ringandan gesit sekali, juga pukulan-pukulannya mendatangkan angin pukulan yang amat dahsyat!
Dia pun cepat mengelak.
Setelah beberapa kali mengelak dan menangkis dia mendapat kenyataan bahwa orang itu memang memiliki sin-kang yang amat kuat.
Dia meloncat jauh belakang.
"Heiiiii, berhenti dulu, Sobat! Mengapa engkau menyerangku dan apakah kesaahanku padamu?"
Sebagai jawaban, orang itu hanya meloncat dan menyerangnya lagi, kini lebih hebat lagi.
Pukulannya merupakan serangan maut karena tangan yang menyambar ke arah kepalanya itu mengandung tenaga sin-kang yang akan dapat menghancurkan batu karang, apalagi kepala manusia!
Dia pun mulai merasa asaran oan segera di tangkisnya pukul itu dengan lengannya sambil mengerahkan sin-kang di tubuhnya.
"Dukkk!"
Penyerang itu terdorong mundur dan giranglah hati Han Beng melihat kenyataan bahwa dalam hal tenaga sinkang, dia masih lebih unggul sedikit.
Hal ini membesarkan hatinya dan dia pun mulai balas menyerang!
Akan tetapi, betapa gesitnya gerakan orang itu dan agaknya, semua jurus seranganan tidak membuat orang itu menjadi gugup dan bahkan dapat mengimbanginya dengan serangan-serangan balasan yang tak kalah hebatnya!
Mereka berkelahi dengan sungg sungguh, dan Han Beng sudah mengeluarkan ilmu-ilmu silat yang dipelajarinya selama lima tahun itu, namun tidak ada yang dapat menembus benteng pertahanan lawannya itu.
Dia merasa penasaran sekali dan sambil mengeluarkan suara melengking nyaring, Han Beng lalu mengeluarkan jurus simpanannya, ya ituilmu silat Hui-tiauw Sin-kun.
Akan tetapi, kembali dia tertegun karena orang itu agaknya mengenal pula ilmu silatnya ini dan dengan mudah dapat mengelak dengan tepat sekali.
Padahal ilmu silat Hui-tiauw Sin-kun ini gerakan amat cepat dan tidak terduga-duga.
Bagaimana mungkin orang ini dapat mengelak sedemikian mudahnya?
Tentu sudah mengenal ilmu silatnya ini.
Sudah mengenal!
Hanya gurunya yang mengenalnya.
Han Beng meloncat ke samping untuk mengelak dari sambaran sebuah tendangan dan dia mengamati orang itu Perawakannya, tinggi besar!
Ah, siapa lagi kalau bukan gurunya?
Biarpun memakai topeng dan mengenakan pakaian hitam, namun bentuk tubuh itu bentuk tubuh gurunya, dan lebih meyakinkan lagi, orang itu mengenal semua ilmu ulatnya!
Tahulah dia bahwa gurunya sendiri yang agaknya hendak mengujinya, maka dia pun ingin menyenangkan hati gurunya dan menyerang dengan sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan Hui-tiauw Sin-kun dengan sebaik mungkin!
Didesak sehebat itu, orang bertopeng itu pun mulai memainkan ilmu silat yang sama.
Terjadilah serang-menyerang yang amat seru, dan dalam pertandingan ini, Han Beng merasa betapa biarpun dia menang sedikit dalam hal tenaga sakti, namun dia kalah matang dalam gerakan silatnya.
"Plak-plak!"
Dua kali kedua tangan mereka bertemu dan tubuh orang bertopeng itu terdorong ke samping, akan tetapi tangannya sempat meluncur dan tahu-tahu buntalan pakaian Han Beng dapat direnggutnya lepas dari punggung pemuda itu!
Han Beng menjatuhkan dirinya berlutut.
"Suhu, tcccu mengaku kalah!"
Orang itu berhenti, merenggut topengnya dan ternyata Liu Bhok Ki. Dilemparnya buntalan itu kepada Han Beng dan dia mengusap keringatnya yang membasahi muka dan leher, lalu menarik napas panjang.
"Siapa bilang kau kalah? Aku hanya menang sedikit dalam hal kematanj ilmu silat kita, akan tetapi kalau engkau berkelahi sungguh-sungguh, aku takkan kuat bertahan. Lihat, tubuhku sudah berkeringat. Han Beng, engkau hati-hatilah di dalam perjalananmu, jangan sembarangan mempergunakan Hui-tiauw Sin-kun kalau tidak terdesak sekali. Juga jangan engkau terlalu ringan, tangan melukai, apalagi membunuh orang.
"Semua petunjuk dan nasihat Suhu sudah tertanam dalam ingatan teecu dan tentu teecu akan mentaatinya."
"Nah, pergilah cepat, muridku, pergilah sebelum kedukaan sempat menyentuh hatiku karena perpisahan ini!"
Si Liu Bhok K i terdengar keras.
Han Beng maklum akan kepedihan hati gurunya, maka dia pun segera bangkit berdiri, memberi hormat sekali lagi lalu pergi dari situ dengan langkah lebar memasuki hutan agar cepat lenyap dari pandang mata gurunya.
ooooOOOOoooo Sinar matahari pagi mulai mengusiri ibut-kabut yang menyelubungi dusun Ki-hyan-tung.Burung-burung dan ayam jantan menyambut sinar matahari dengan kicau dan kokok mereka saling berrsahutan dan penuh keriangan.Lampu-lampu yang tergantung di depan rumah-rumah kecil di dusun itu sudah mutu dipadamkan, dan sebagai gantinya, nampak asap mengepul dari dapur.
Para ibu sudah mulai memasak air, siap membuatkan minuman hangat dan sarapan untuk keluarganya.
Di sana-sini terdengar teriakan ibu-ibu yang tidak sabar kepada anak-anaknya, tangis anak kecil dan teriakan anak-anak yang nyaring, gerutu para ayah dengan suara parau.
Sinar matahari mulai menghidupkan dusun it bukan saja menggugah para penduduknya untuk mulai bekerja, dan burung-burung juga segala macam binatang, akan tetapi juga menggugah pohon-pohon besar kecil setelah mereka ini terlelap dan dingin.
Para petani mulai mempersiapkan diri untuk bekerja di sawah ladang menanti sarapan sekedarnya, setiddkn minuman untuk menghangatkan perut, yang sudah berpuasa semalam suntuk.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan sekelompok orang yang berpakaian perajurit seragam masuk ke dalam perkampungan itu di atas kuda mereka.
Jumlah mereka ada lima puluh orang dikepalai seorang komandandan bersama dua orang pembantunya.
Begitu memasuki dusun, mereka mengambil sikap mengurung, menjaga di semua penjuru, terutama di empat pintu dusun.
Mendengar derap kaki banyak kuda memasuki perkampungan mereka, para petani saling pandang dengan muka berubah.
Entah siapa yang membisikkah lebih dahulu, akan tetapi kini mereka semua berbisik dengan muka ketakutan.
"Hek-i-wi.............!"
Hek-i-wi (Pasukan Pakaian Hitam) sudah amat terkenal dan amat ditakuti oleh orang-orang di pedusunan.
Hek-i-wi adalah pasukan yang perajuritnya berpakaian serba hitam dan tugas mereka Adalah mencari dan mengumpulkan tenaga-tenaga dari rakyat jelata untuk di jadikan tenaga pekerja membangun terusan Besar.
Karena pasukan Hek-i-ki menduduki tempat yang tinggi dan kekuasaan yang mutlak, bahkan para komandannya diberi hak untuk bertindak terhadap rakyat yang membangkang, maka tentu saja mereka amat ditakuti, kekuasaan memang merupakan sesuatu yang amat berbahaya bagi manusia.
Sekali memegang kekuasaan, orang akan lupa diri dan meremehkan orang lain.
Dari kekuasaan ini timbul bermacam perbuatan yang buruk dan jahat.
Orang-orang yang merasa khawatir kalau-kaiau dia akan diambil dan dijadikan pekerja paksa, tidak segan-segan untuk melakukan penyuapan atau penyogokan kepada para komandan dan perajurit pasukan Hek-i-wi !
Bukan hanya menyogok dengan harta milik, bahkan ada pula yang menyerahkan anak gadisnya kalau mereka melihat betapa komandan pasukan atau para perwiranya tertarik kepada anak gadisnya itu.
Biarpun pemerintah sediri mengambil kebijaksanaan untuk mengaji para pekerja, namun dalam pelaksanaannya, gaji-gaji itu tertahan dilenyap entah di tangan yang mana antara ribuan petugas itu,dan para pekerja itu bekerja tanpa digaji, bahkan ransum mereka pun dikurangi sehingaa banyak di antara mereka yang mati kelelahan atau kelaparan.
Hal ini makin menakutkan rakyat sehingga biar yang miskin sekalipun, selalu ingin menghindarkan diri agar jangan sampai diambil dan dipaksa untuk bekerja di Terusan itu.
Begitu nama Hek-i-wi dibisikan, para penduduk dusun Ki-hyan-tung jadi geger!
Para ibu menangis, anak-anak bersembunyi di kolong-kolong di kakus-kakus dengan tubuh menggigil para gadis yang bersembunyi karena mereka mendengar betapa perajurit Hek-i-Wi itu kasar dan mata keranjang, tak pernah melewatkan dan membiarkan saja seorang gadis dusun tanpa diganggunya.
Dan para pria dusun itu berserabutan lari keluar dari rumah dengan maksud melarikan diri keluar dari dusun agar tidak ketahuan dan tidak tertangkap.
Akan tetapi, alangkah kaget hati mereka melihat betapa dusun itu telah dikepung dan mereka yang mencoba melarikan diri bertemu dengan cambuk-cambuk yang melecut dan tendangan kaki bersepatu yang kuat dan membuat mereka roboh terrguling!
Suasana menjadi semakin gempar.
"Semua penduduk dusun ini keluar dan berkumpul di sini!"
Berkali-kali beberapa orang perwira berseru dengan suara lantang.
"Yang melarikan diri atau melawan akan dibunuh!"
"Laki-laki di sini dan semua perempuan dan kanak-kanak di sebelah sana!"
Dengan muka pucat dan tubuh menggigil ketakutan, semua penghuni terpaksa keluar dari rumah dan tempat persembunyian mereka.
Mereka sudah medengar betapa beberapa buah dusun dibakar oleh Hek-i-wi hanya untuk memaksa para penghuninya keluar dari tempat persembunyian mereka!
Setelah semua orang berkumpul, yang pria berkelompok dikiri, yang wanita bersama anak-anak berkelompok di kanan, komandan pasukan itu berseru.
"Kalian jangan takut! Kami melaksana tugas dari pemerintah untuk memberi pekerjaan kepada kalian. Kalian akan digaji dan diberi makan cukup! Juga para wanita yang terpilih akan mendapat pekerjaan dan hidup yang menyenangkan!! Kini para pembantu komandan ini melakukan pemilihan. Pria-pria muda dan kuat, segera dipisahkan dan kedua tangan mereka dipasang borgol dengan rantai panjang. Dan segera lima puluh orang lebih pria diborgol dengan rantai yang sambung menyambung, dan ada lima belas wanita muda, baik gadis maupun sudah menikah, dipilih pula dan mereka ini dipaksa untuk memisahkan diri, lalu disuruh naik ke dalam sebuah gerobak yang sudah dipersiapkan. Para wanita menangis, baik mereka yang dibawa maupun mereka yang ditinggalkan. Para gadis dan wanita muda itu sudah Mendengar bahwa mereka yang terpilih itu akan mendapatkan pekerjaan, akan tetapi pekerjaan yang hina dan mereka akan dipaksa melayani para perajurit seperti pelacur! Dan mereka yang sudah dibawa pergi, belum pernah ada yang kembali ke dusun mereka. Juga jarang sekali ada pria yang kembali ke dusun telah mereka terpilih untuk bekerja di terusan. Dengan diiringi jerit tangis, baik dari mereka yang menjadi tawanan maupun dari mereka yang ditinggal, pasukan Hek-i-wi itu menggiring para tawanan keluar dari dusun itu. Bunyi cambuk mereka meledak-ledak untuk menakut nakuti mereka, dan untuk memaksa mereka yang hendak mogok untuk terus berjalan. Bagaikan sekumpulan hewan ternak yang baru dibeli, lima puluh orang laki-laki dusun itu digiring keluar dari dusun mereka, meninggalkan keluarga, rumah dan dusun mereka, mungkinuntuk selamanya. Menurut peraturan pemerintah pada waktu itu, tidak ada kerja paksa, ya ada ialah kerja wajib di mana rakyat dikenakan wajib bekerja membuat Terusan itu selama seratus hari, dan ini pun diberi gaji dan makan. Ada pula diterima wanita yang bekerja dan digaji, namun secara suka rela, untuk bekerja di dapur umum pembuatan Terusan. Akan tetapi, sudah menjadi penyakit umum bahwa pelaksanaan suatu perintah lalu menyimpang daripada asalperitah itu sendiri. Kerja wajib menjadi keja paksa, gaji dikebiri bahkan dihilangkan sama sekali, wanita-wanita dikumpulkan dan dipaksa bekerja, bukan dengan pembuatan Terusan melainkan demi pemuasan nafsu binatang mereka! Tak dapat disangkal bahwa di antara para petugas terdapat pula orang -orang bersih dan yang benar-benar melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Akan tetapi apakah artinya susu secangkir kalau dimasukkan ke dalam kolam yang penuh dengan air kotoran? Takkan nampak keputihan dan kebersihan susu, bahkan akan ikut menjadi kotor! Yang sedikit itu akan lenyap terselimuti yang banyak. Komandan pasukan Hek-i-wi yang memasuki dusun Ki-nyan-tung ini bernama Bak Lok Sek, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh imggi besar dan gagah perkasa, bertelinga gajah dan dia memiliki ilmu silat liang-to (sepasang golok) yang amat dahsyat sehingga ditakuti banyak orang. Juga dua orang perwira yang membantuya merupakan orang-orang pilihan dengan ilmu silat tinggi. Bahkan pasukan yang dipimpin oleh Ban Lok Sek ini merupakan pasukan pilihan, terdiri dari Prajunt-perajurit yang pandai ilmu silat. Dengan pasukan istimewanya ini, Ban lok Sek seolah-olah menjadi raja kecil yang dapat memaksakan kehendaknya sesuka hatinya, tanpa ada yang berani menentangnya. Karena terbukti babhwa pasukan pimpinan Ban Lok Sek ini yg selalu berhasil membawa banyak tenaga baru yang patuh, maka atasannya tidak terlalu memusingkan tentang berita bahwa Ban Lok Sek dan pasukannya yang kejam terhadap rakyat. Orang-orang dusun yang dijadikan seperti tawanan itu terhuyung-huyung berjalan di bawah ancaman cambuk-cambuk yang kadang-kadang menyentuh kulit dan menggigit, debu mengepul bawah kaki kuda-kuda yang ditungg pasukan itu, dan di tengah-tengah pasukan itu terdengar isak tangis para wanita yang berhimpitan di dalam gerobak yang ditarik dua ekor kuda. Mereka yang ditinggalkan, yaitu kakek-kakek, nenek-nenak, wanita yang tidak terpilih, kanak-kanak, berkelompok di dalam dusun dan mereka itu menangis dan ratap, menangisi anak, suami, ayah, isteri atau puteri mereka yang dijadikan tawanan. Ketika rombongan pasukan berkuda tiba di luar dusun, tiba-tiba terjadi kekacauan di barisan depan. Semua perajurit segera memacu kuda untuk melihat apa yang terjadi, dan mereka itu terkejut dan marah sekali melihat berapa orang kawan mereka sudah terjungkal dari atas kuda, dan kelihatan ada lima orang laki-laki gagah perkasa mengutik dengan pedang mereka. Agaknya amukan lima orang pria perkasa itulah yang membuat terjungkalnya lima orang prajurit terdepan. Mereka adalah jago-jagoan dari Siauw-lim-pai! Seperti kita ketahui, kuil Siauw hm-si dibakar dan banyak pendekar Siauw-lim-pai yang tewas dalam pertempuran besar ketika Siauw-lim-si diserbu oleh pasukan pemerintah. Para murid Siauw-lim-pai melakukan perlawanan dengan hati duka karena ketua mereka telah membakar diri sampai tewas untuk memprotes tindakan pemerintah itu, dan hanya ada enam orang di antara mereka yang dapat meloloskan diri dalam keadaan luka-luka. mereka lalu bergabung dengan para murid Siauw-lim-pai yang kebetulan berada di luar kuil dan Tidak ikut terbasmi. Para murid yang berhasil lolos itu dipimpin oleh Lie Koan Tek, pendeta Siauw-lim-pai yang gagah perkasa, semenjak terjadi pembakaran kuil itu, Para pendekar Siauw lim pai hidup seorang buruan, berpencar dan Thian Hwesio sendiri, sute dari ketua Siauw-lim -pai yang membakar diri, bersembunyi di daerah selatan. Lima orang laki-laki yang kini menyerbu pasukan yang menawan penduduk dusun Ki-nyan-tung, adalah para pendekar Siauw-lim-pai yang kebetulan lewat di dekat dusun itu. Mereka melihat apa yang terjadi dan marahlah para pendekar ini, lalu mereka mencabut pedang dan menyerang pasukan pemerintah yang bertindak sewenang-wenang itu. Biar para pendekar ini telah kehilangan kuil dan pusat asrama mereka, namun mereka sama sekali tidak kehilangan watak kependekaran mereka,, dan dengan penuh semangat mereka menyerang pasukan untuk membela para penduduk dusun yang dijadikan tawanan itu. Tentu perwira perajurit menjadi marah melihat betapa beberapa orang kawan mereka roboh dengan luka berat, bahkan ada yang tewas. Mereka lalu menyerbu dan mengepung, mengeroyok lima orang pendekar itu dengan senjata golok dan teriak mereka, juga komandan Ban Lok Sek bersama dua orang perwira pembantunya yang lihai, sudah terjun ke dalam pertempuran itu. Lima orang pendekar Siauw-lim-pai itu terkejut ketika melihat Gerakan sepasang golok di tangan komandan itu! Mereka mengenal ilmu golok pasangan dari Siauw-lim-pai! "Engkau murid Siauw-lim-pai!"
Bentak seorang di antara para pendekar Siau-lim-pai! Bentak seorang diantara para pendekar. Ban Lok Sek tertawa dan mendengus dengan penuh ejekan.
"Huh, siapa murid Siaw-lin pai yang memberontak? Memang pernah aku mempelajari ilmu golok dari Siauw-lim-pai, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku murid Siauw lim-pai!"
Berkata demikian, dia mendesak orang yang menjadi lawannya.
Juga dua orang perwira pembantunya menggerakkan golok mereka dan dibantu oleh pulahan orang perajurit, betapapun lihainya lima orang pendekar Siauw-Iim-pai itu, mereka mulai terdesak hebat!
Namun, dengan gigih mereka melakukan perlawanan, memutar pedang mereka untuk melindungi tubuh dari ancaman puluhan batang senjata yang menyambar-nyambar ganas.
Karena banyaknya pengeroyok lima orang pendekar itu sukar untuk dapat membalas.
Mereka tidak memperoleh kesempatan lagi, dan terpak hanya membela diri saja tanpa tanpa membalas.
Mereka berlima akhirnya te kena bacokan-bacokan dan mulai menderita luka-luka, walaupun luka ringan karena mereka memang memiliki tubuh yang kuat terlindung kekebalan, gerakan lincah dan juga putaran pedang mereka dapat melindungi diri mereka dari serangan maut.
Bagaimanapun juga, kalau dilanjutkan tak lama lagi tentu lima orang pendekar itu akan roboh dan tewas di bawah pengeroyokan demikian banyaknya lawan.
Mereka maklum akan hal ini, namun mereka tidak merasa gentar.
Jiwa kependekaran mereka membuat mereka pantang mundur dalam menghadapi kejahatan dan penindasan.
Mereka hendak menolong orang-orang dusun itu dengan taruhan nyawa mereka sendiri.
Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar.
Pemuda ini bukan lain adalah Han Beng.
Dari jauh sudahdia tertarik oleh suara hiruk pikuk yang bertempur.
Biarpun dia sudah menerima pesan suhunya agar tidak mencampuri urusan orang lain, namun hatinya tertarik dan dia cepat berlari menuju ke arah suara keributan itu.
Dan dia melihat puluhan orang dusun yang dibelenggu dan diikat dengan rantai panjang, melihat pula belasan orang wanita muda yang berhimpitan di dalam gerobak, dan lima orang gagah yang keroyok oleh puluhan orang perajurit dan lima orang itu telah menderita luka-luka.
Melihat ini, Han Beng yang cerdik segera dapat menduga apa yang telah terjadi.
Dia sendiri ketika masih kecil, lima tahun yang lalu, terpaksa harus lari mengungsi bersama ayah ibunya, karena ayahnya takut dijadikan pekerja paksa oleh pasuka pemerintah.
Kini, lihat betapa puluhan orang petani belenggu, dan wanita-wanita muda ditawan, dia dapat menduga bahwa tentu para petani itu akan dijadikan pekerja paksa.
Dan lima orang gagah itu tentulah orang-orang berhati pendekar yang hendak membela puluhan orang petani itu.
"Berhenti ...! Harap hentikan perkelahian ini!"
Han Beng membentak sambil mengerahkan khi-kangnya.
Suaranya melengking nyaring, mengejut semua orang dan lima orang pendekar Siauw lim pai itu mendapatkan kesempatan untuk berloncatan mundur karena para pengeroyok mereka terkejut dan menahan senjata.
"Ciang-kun, kenapakah orang-orang itu diborgol dan wanita-wanita itu tawan? Hendak dibawa ke manakah mereka, dan apa kesalahan mereka?"
Tanya Han Beng kepada Ban Lok Sek yang berpakaian perwira walaupun juga seragamnya itu berwarna hitam.
"Mereka ditangkap untuk dijadikan pekerja paksa membuat Terusan, dan wanita-wanita itu akan mereka perkosa, dan kami berlima mencoba untuk menolong para tawanan!"
Seorang pendekar Siauw lim pai cepat memberi keterangan agar pihak pasukan tidak sempat berbohong.
Mendengar ini, Ban lok Sek yang sudah marah sekali karena ada orang berani mencampuri, menggerakkan sepasang goloknya dan menudingkan golok kanan ke arah muka Han Beng.
"Bocah sombong, jangan mencampuri Urusan pemerintah! Mereka itu akan diberi pekerjaan sebagai wajib kerja dan Lima orang penjahat ini hendak memberontak dan menentang pemerintah! Apakah engkau juga hendak memberontak berhadap kami pasukan pemerintah?"
"Hemmm, kalau hendak memberi pekerjaan kepada para petani, bukan demikian caranya. Bukan seperti hewan digiring ke pejagalan! Dan wanita-wanita itu, mereka menangis, berarti mereka pergi karena kalian paksa ........."
"Bunuh pemberontak ini!"
Bentak Ban Lok Sek marah.
Seorang perwira pembantunya yang lihai dalam pcrmainan silat pedang, sudah menerjang Han Beng dengan tusukan pedang kearah pemuda remaja itu.
Dia memandang rendah kepada Han Beng karena biarpun pemuda itu bertubuh tinggi besar, namun wajahnya masih menunjukkan bahwa dia masih remaja.
Tusukan pedang itu cerpat sekali, hanya nampak sinar pedang kelebatan ke depan, menyambar kearah dada Han Beng.
Han Beng melihat berkelebatnya sinar pedang ke arah dada.
Dengan tenang dia miringkan tubuhnya sehingga sinar pedang itu meluncur ke sisi tubuhnya dan sekali melangkah ke belakang, telah menjauhkan diri.
Akan tetapi, luputnya serangan pertama itu membuat Perwira menjadi penasaran dan dia pun membalikkan pedangnya, kini pedang berubah menjadi sinar yang membabat arah leher Han Beng!
Tahulah Han Beng bahwa orang ini memang bersungguh-sungguh menyerangnya untuk membunuhnya.
Dia sudah merendahkan tubuh, membiarkan pedang itu lewat di atas kepalanya dan begitu pedang lewat, tangannya mendorong ke depan.
Tangan itu tidak mencapai dada lawan, namun perwira itu rasa betapa ada tenaga yang hebat disertai angin mendorong dadanya sehigga dia hampir terjengkang, terhuyung-huyung ke belakang!
Terkejutlah perwira itu dan dia pun sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi mengenal orang lihai.
Dia tidak lagi berani memandang rendah dan sambil mengeluarkan seruan dahsyat dia menyerang lagi ke depan sambil memutar pedangnya.
Namun, Han Beng menyambutnya dengan memutar tangan dan sebelum pedang dapat menyentuhnya, lebih dulu Han Beng sudah mengetuk lengan yang memegang pedang dari samping.
Pedang itu terlepas dan tangan Han Beng meluncur terus penampar ke arah pundak kanan lawan.
"Plakkk!"
Perwira itu terjungkal dan tidak bangkit kembali karena roboh pingsan.
Melihat ini, Ban Lok Sek terkejut juga marah.
Dia lalu berteriak kepada perwira pembantu yang ke dua, lalu dia sendiri menggerakkan sepasang goloknya menerjang dan menyerang Han Beng dibantu oleh perwira ke dua yang memegang sebatang ruyung, masih dibantu lagi oleh beberapa orang perajurit.
Lima orang pendekar Siauw-lim menjadi gembira dan semangat mereka bangkit kembali melihat betapa permuda yang baru datang ini ternyata lihai sekali.
Mereka yang sudah luka-luka kembali memutar pedang mereka mengamuk.
Karena kini Ban Lok Sek pembantu ke dua sedang mengeroyok Han Beng sedangkan pembantu pertama masih pingsan, maka para pendekar Siauw-lim pai itu tidak menemukan lawan berarti dan biarpun dikeroyok oleh puluhan orang perajurit, mereka itu dapat membabat mereka sehingga banyak di antara para perajurit yang roboh.
Melihat betapa lima orang pendekar itu mengamuk Han Beng segera berseru.
"Saudara-saudara harap membebaskan para tawanan dan melindungi mereka!"
Melihat betapa pemuda remaja yang amat lihai itu sama sekali tidak kelihatan terdesak oleh para pengeroyoknya bahkan masih sempat mengingatkan mereka, lima orang pendekar Siauw-lim-pai itu lalu meninggalkan pasukan yang sudah mulai gentar itu, dan membebaskan para tawanan pria dan wanita, lalu mengawal mereka kembali ke dalam dusun.
Sementara itu, Han Beng dikeroyok oleh puluhan orang perajurit, dipimpin oleh Ban Lok Sek sendiri bersama seorang perwira pembantunya.
Han Beng mengamuk membagi-bagi tamparan dan tendangan dan para pengeroyok itu sperti sekawanan semut mengeroyok seekor jengkerik.
Banyak pengeroyok yang terlempar ke sana-sini, ada yang mengerang kesakitan, ada yang pingsan, ada pula yang mampu bangkit dan mengeroyok kembali.
Akan tetapi tidak seorang pun yang tewas.
Han Beng tidak biasa membunuh orang.
Biarpun gurunya seorang yang keras hati dan bertangan besi, namun Han Beng tidak mewarisi watak gurunya itu.
Dia tidak mengenal para pengeroyok ini, bertemu pun satu kali, bagaimana mungkin dia begitu mudah membunuh orang?
Biarpun mereka ini bertindak kejam terhadap rakyat dusun itu, namun mereka ini bagaimanapun juga hanyalah petugas pelaksana saja.Yang menjadi biang keladi adalah atasan mereka, dan dalam hal tindakan setempat itu, tentu panglima dan perwira yang memimpin mereka ini yang tidak benar!
Tiba-tiba Han Beng mengeluar suara melengking dan tubuhnya mencelat ke atas seperti terbang saja dan dari atas, tubuhnya menukik turun dan luncur ke arah kepala Ban Lok Sek perwira pembantunya!
Perwira pembantu yang memegang ruyung itu terkejut, menghantamkan ruyungnya ke atas mengararah kepala pemuda yang meluncur dari atas bagaikan seekor burung rajawali marah itu.
Memang, Han Beng yang dikeroyok banyak orang itu dan tidak ingin membunuh para pengeroyok dan hanya ingin menghajar dua orang pimpinan itu, telah menggunakan satu jurus dari Hui-Tiauw Sin-kun yang membuat tubuhnya melayang seperti seekor burung rajawali terbang dan ketika tubuhnya meluncur bawah, dia melihat datangnya serangan ruyung dari bawah.
Disambutnya ruyung itu dengan telapak tangan dan membalik, menghantam ke arah kepala perwira itu sendiri!
Perwira itu terkejut, berteriak dan cepat miringkan kepalanya.
"Desssss!"
Pundaknya masih terkena hantaman ruyungnya sendiri dan dia pun roboh pingsan dengan tulang pundak retak!
Melihat ini, Ban Lok Sek marah bukan main dan sepasang goloknya sudah putar cepat menyerang Han Beng sambil mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh.
Han Beng mengelak sambil berloncatan ke sana-sini, kedua tangannya menangkis dari kanan kiri pula, sikapnya seperti seekor burung rajawali yang menggunakan kelincahan gerakannya dan kedua sayap untuk menampar dari kanan kiri.
Tiba-tiba, dengan kecepatan kilat, Han Beng berhasil menendang tangan kiri pimpinan pasukan itu dan golok yang dipegangnya terlepas karena tangannya seperti remuk terkena tendangan.
Tangan Han Beng menyambut dan memukul ke arah golok yang terlepas dan.
golok itu meluncur bagaikan anak panah menuju ke tubuh Ban Lok Sek.
"Cappp!"
Tanpa dapat dihindarkan lagi, golok itu sudah menembus dada Ban Lok Sek yang mengeluarkan teriakan parau dan tubuhnya roboh mandi darah oleh goloknya sendiri.
Han Beng agak bergidik.
Baru sekali ini dia membunuh orang dan dia terbelalak memandang.
Pada saat itu, sebatang tombak menusuknya dari belakang, meluncur ke arah lambungnya.
Karena Han Beng masih memandang kepada mayat Ban Lok Sek dengan bengong, kewaspadaannya lenyap dan dia tidak tahu bahwa ada bahaya maut mengancamnya.
Baru setelah ujung tombak itu merobek baju dan sedikit kulitnya, dia terkejut dan dongan gerkan otomatis dia miringkan tubuh sambil mengerahkan tenaganya untuk melindungi lambung yang tertusuk.
Biarpun tombak itu menjadi menyeleweng namun kulit lambungnya berikut sedikit daging di bawah kulit telah robek dan darah pun membasahi bajunya.
Han Beng menendang dan pemegang tombak itu terlempar sampai lima meter terbanting keras, tak mampu bangkit kembali.
Melihat betapa pemuda remaja yang lihai itu telah terluka dan darah membasahi bajunya, para perajurit menjadi bersemangat seperti gerombolan ikan mencium darah.
Mereka berteriak-teriak dan menghujankan senjata pada tubuh Han Beng.
Betapapun lihainya, dikeroyok oleh puluhan orang yang haus darah ini, Han Beng yang tidak ingin membunuh mereka, menjadi repot juga!
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.
"Ha-ha-ha, anjing-anjing hina sungguh tak tahu malu, mengeroyok orang pemuda yang tidak ingin membunuh mereka!"
Dan muncullah seorang kakek yang pakaiannya tambal tambalan dan berkembang-kembang akan tetapi bersih, usianya kurang lebih enam puluh lima tahun, memegang sebatang tongkat butut!
Dengan gaya seperti seorang memukuli segerombolan anjing dengan tongkat, pengemis tua itu mengamuk, tongkatnya menggebuk sana-sini dan setiap kali tongkatnya bergerak, pasti ada pingsan yang kena hantam, atau punggung, semua senjata yang mencoba untuk menangkis, terpental beterbangan dan sebentar saja para perajurit itu menjadi kacau balau, banyak yang mengusap punggung atau pinggul sambil berteriak-teriak kesakitan!
Melihat munculnya kakek yang lihai itu, Han Beng merasa gembira bukan main.
Dia segera mengenal pakaian dan tongkat itu, dia segera menggerakkan kaki tangan menendang dan menampar merobohkan beberapa orang mengeroyok.
"Suhu !"
Teriaknya.
"Ehhh?"
Gembel tua itu menghentikan gerakan tongkatnya dan menoleh.Kesempatan ini dipergunakan oleh dua orang perajurit untuk membacokkan golok mereka, yang seorang membacok kepala yang kedua membacok pinggang.
Kakek itu agaknya tidak melihat datangnya dua serangan ini.
Setelah golok itu menyambar dekat sekali, baru dia menggerakkan tangan kirinya menyambut golok yang membacok pinggang, menerima golok itu dengan tangan kosong, sedangkan yang menyambar kepalanya dibiarkannya saja!
"Takkk!"
Golok itu tepat mengenai kepala, akan tetapi terpental dan bakkan terlepas dan tangan Si pemegng; sedangkan kakek itu hanya mengususap kepalanya seperti yang kegatalan.
Adapun golok yang disambut tangan kirinya, seperti terjepit baja dan pemilik golok mencoba untuk membetot dan menariknya, namun sia-sia.
Ketika kakek tiba-tiba melepaskan golok itu sambil mendorongnya, tentu saja pemilik golok itu terjengkang dan kepalanya terbentur batu sehingga dia pingsan ketika.
"Heiii, jangan ngawur! Aku tidak mempunyai murid seperti engkau! Muridku berada bersama Sin-tiauw Liu Bhok Ki, di puncak Kim-hong-san!"
"Anak itu adalah teceu sendiri, Suhu! Teecu adalah Sie Han Neng, murid Suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki yang sedang mencari Suhu untuk memenuhi janji antara Suhu berdua!"
"Heh? Benarkah? Aku pun sedang mencarimu! Dan kita bertemu di sini, ha-ha-ha-ha! Mari kita hajar anjing-anjing ini!"
Han Beng semakin gembira dan bersama gurunya yang baru itu dia mengamuk, dan makin banyak pula perajurit yang roboh.
Belasan orang sisa perajurit yang melihat ini, menjadi gentar dan mereka pun melarikan diri, meninggalkan teman-teman yang terluka dan pingsan.
Kakek itu memang Sin-ciang Kai-ong.
Hatinya girang bukan main melihat calon muridnya yang kini telah menjadi seorang pendekar muda remaja yang hebat!
Setelah semua perajurit melarikan diri, meninggalkan mereka yang luka atau pingsan, dia lalu mengajak murid itu memasuki dusun Ki-nyan-tung.
Lima orang pendekar Siauw-lim-pai segera memberi hormat kepada Sin-cia Kai-ong dan Han Beng, memperkenalkan diri mereka sebagai murid-murid Siauw-lim-pai yang membela rakyat yang hendak dijadikan pekerja paksa.
Sin-cia Kai-ong mengangguk-angguk dan mengacungkan jempol tangan kanannya.
"Hebat! Aku sudah mendengar tentang dibakarnya Siauw-lim-si oleh pasukan pemerintah. Sungguh pemerinta seperti dipimpin orang-orang buta, ti dak tahu bahwa Siauw-lim-pai adalah perkumpulan yang amat baik dan besar dan dapat bermanfaat sekali bagi kemajuan pemerintah. Hemmm, biarpun Siauw-lim-si telah terbakar, namun murid-muridnya tak pernah kehilangan kegagahannya! Han Beng, kaulihat baik-baik dan contohlah para pendekar Siauw lim-pai ini. Biarpun mengalami kepahit an bahkan pusat mereka dihancurka pemerintah, mereka tidak pernah kehilangan semangat dan jiwa kependekaran mereka!"
Setelah berunding, lima orang pendekar Siauw-lim-pai itu lalu mengatur agar seluruh penghuni Ki-nyan-tung itu mengungsi dan berpencaran, pindah ke lain dusun-dusun agar terhindar dari balas dendam pasukan pemerintah kelak.
Sedangkan Sin-ciang Kai-ong lalu mengajak Han Beng meninggalkan tempat itu Dan mulai hari itu, Raja Jembel ini mulai menggembleng Han Beng sebagai muridnya yang disayangnya.
oooOOooo Gadis berusia lima belas tahun itu cantik mungil.
Wajahnya yang berdagu runcing itu amat manisnya, dengan kulit yang putih kemerahan, hanya memakai bedak tipis, dan merah pipinya bukan karena gincu melainkan karena sehat bagaikan setangkai bunga yang belum mekar.
Bibirnya juga merah basah tanpa pemerah bibir.
Alisnya seperti dilukis, melengkung indah melindungi sepasang mata yang bersinar terang lincah, sepasang mata yang memandang dunia ini dengan penuh gairah, mata yang bening jeli bagaikan sepasang bintang.
Pakaiannya indah, bahkan mewah dari sutera mahal, berkembang kuning dengan dasar merah muda, warna kesukaan gadis remaja itu.
Gadis yang memiliki bentuk tu ramping dengan pinggang kecil, tubuh yang belum matang benar, sedang tumbuh namun sudah menjanjikan tubuh yang indah padat berisi dengan kulit putih mulus, ia bukan lain adalah Giok Cu!
Seperti telah diceritakan bagian depan, Giok Cu dibawa pergi oleh .Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu ke tempat tinggal iblis betina itu di tepi kotaCe touw di Propinsi Shantung, hidup sama wanita itu dan belasan orang pelayan wanita yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.
Karena Giok Cu seorang anak perempuan yang cantik manis, cerdik dan bocah jenaka, nakal manja, juga berbakat sekali dalam ilmu silat, pandai ketika diajar ilmu surat, maka gurunya semakin lama semakin sayang padanya, apalagi karena Ban-tok Mo-li Phang Bi cu telah kehilangan puteri tunggalnya, yaitu Sim Lan Ci, yang tidak menurut dan nekat menikah dengan Coa Siang Lee putera ketua Hek-houw-pang, Ban-Tok Mo-li melihat Giok Cu sebagai pengganti puterinya, la bukan hanya menganggap Giok Cu sebagai murid, melainkan seperti puteri kandungnya sendiri!
Karena ia takut kehilangan Giok Cu seperti ia kehilangan Lan Ci, maka begitu menjadi muridnya, Giok Cu telah dipasangi racun dengan tusukan jarum di lengan kirinya, di bawah siku.
Tusukan jarum yang sudah diberi obat beracun itu meninggalkan bekas titik merah seperti tahi lalat kecil di bawah siku lengan kiri, dan tanda merah itu akan lenyap kalau Giok Cu kehilangan keperawanannya, dan akibatnya dalam satu bulan Gadis itu pun akan kehilangan nyawanya Bila!
Ban-tok Mo-li sengaja memasang racun ini pada diri muridnya agar muridnya itu tidak berdekatan dan tidak menikah dengan pria sehingga selama akan berada didekatnyal la tidak rela kalau muridnya itu menjadi milik orang lain.
Memang, jalan pikiran seorang iblis betina seperti Ban-tok Mo-li memang aneh dan tidak lumrah manusia biasa.
Cinta kasihnya penuh dengan nafsu mementingkan diri sendiri, penuh dengan keakuan.
Orang yang cintanya hari menjadi alat untuk memuaskan dan menyenangkan dirinya.
Ketika dipasangi racun titik merah itu, Giok Cu baru berusia sepuluh tahun.
Ia tidak tahu apa-apa, maka pemasangan itu tidak dipedulikan benar.
Bahkan ketika ia mulai remaja, sampai berlima belas tahun, ia masih belum memusingkan tanda tahi lalat merah itu.
tetap lincah jenaka dan rajin belai sehingga seusia itu, ia telah pandai menulis sajak dan tentang ilmu silatnya bukan hanya semua pelayan wanita rumah gurunya itu tidak ada yang mampu menandinginya, bahkan di antara kawan-kawan gurunya, yaitu orang-orang kang-ouw, tidak ada yang berani memandang rendah dan mengenal ia sebagai seorang gadis remaja yang ganas dan kedua tangan yang mungil itu dapat menyebar maut dengan mudah!
Giok Cu bagaikan setangkai bunga yang hidup di rawa-rawa yang kotor dan beracun.
Gurunya, yang menganggapnya seperti puteri sendiri, amat memanjakannya.
Akan tetapi, pergaulan gurunya adalah dengan orang-orang kang-ouw, orang-orang kasar dan kejam, palsu dan bahaya.
Gurunya tidak pernah mau bergaul dengan rakyat jelata yang dipandangnya amat rendah.
Banyak tokoh sesat berdatangan ke rumah gurunya, berkunjung dan mereka itu kadang-kadang berpesta pora melampaui batas!
Bahkan gurunya yang biasanya nampak angkuh dan dingin itu, kalau sudah bertemu seorang rekan yang menyenangkan hati, sikap tidak tahu malu, bahkan tidak segan-segan untuk bercumbu di depan siapapun, bahkan di depan Giok Cu!
Karena semua ini, kadang-kadang di dalam hati Giok Cu timbul rasa benci dan muak!
Bagaikan setangkai bunga, Giok Cu seperti bunga teratai, biarpun hidup di rawa berlumpur, tetap bersih berseri!
Hal ini adalah karena ketika ikut dengan Ban tok Mo-li, ia telah berusia sepulu tahun dan ia sudah diajar kesusilaan oleh mendiang ayahnya, seorang lurah di Kong-cung.
Pelajaran yang diterima dari ayah ibunya itu telah mengakar dibatinnya sehingga kini, walaupun pergaulannya dengan orang-orang kang-ouw yang kasar dan kadang-kadang cabul, ia tidak sampai ketularan penyakit itu.
Pada waktu itu, Ban-tok Mo-li sedang menjamu kunjungan belasan orang rekannya, yaitu tokoh-tokoh dunia sesat.
Di antara para tokoh sesat itu terdapat beberapa orang tokoh muda yang pandang matanya membuat Giok Cu merasa muak.
Mata mereka itu seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat kalau memandang kepadanya,bahkan ada yang seperti menelusuri dan meraba-raba dengan pandang mata mereka!
Mula-mud Giok Cu memang merasa bangga dari sengaja ia menggoda dengan sikapnya yang lincah Jenaka sehingga mereka menjadi semakin terpesona.
Giok Cu sengaja menggerak-gerakkan tubuhnya, meliak-liuk dan menonjolkan dadanya yang sudah mulai membusung, mengobral senyumnya yang amat manis sehingga para tokoh sesat muda itu seperti tergila-gila.
Akan tetapi, lama-kelamaan Giok Cu menjadi bosan juga dan siang hari itu ia meninggalkan rumah gurunya, meninggalkan para tamu yang sedang dijamu itu untuk pergi ke tepi laut yang berada tak jauh dari kota itu.
Ceng-touw memang terletak di tepi laut, menghadapi Lautan Kuning.
Bahkan selama lima tahun ini, Giok Cu berkenalan dengan seorang kakek nelayan yang pandai sekali berenang.
Kakek itu saling kepadanya dan ia mengajarkan ilmu bermain di dalam air kepada Giok Cu.
Kini Giok Cu juga pandai sekali berenang, menyelam ke dalam air bahkan pandai menangkap ikan begitu saja di dalam air, menyambar dengan kedua tangannya!
Kini kakek itu telah meninggal dunia, setahun yang lalu dan Giok Cu meerasa kehilangan.
Namun, ia telah mewarisi ilmu di dalam air yang diajarkan kakek nelayan itu dan seringkali para nelayan sendiri merasa kagum kalau melihat Giok Cu berenang, menyelam di menangkap ikan!
Tidak ada seorangpun di antara para nelayan itu, yang sejak kecil berkecimpung di lautan, dapat mengatasi Giok Cu dalam hal bermain dalam air.
Pantai itu sunyi sekali, tidak nampak seorang pun.
Para nelayan sudah berangkat sejak pagi tadi, layar mereka ada yang nampak dari pantai itu, merupakan titik-titik hitam kecil.
Kala para nelayan sedang berada di tengah lautan, pantai itu memang sunyi.
Kalau para nelayan pulang, barulah ramai pantai itu menjadi seperti pasar di mana orang-orang dari kota berdatangan untuk membeli ikan yang masih segar.
Giok Cu duduk di atas pasir yang lembut putih kekuningan.
Angin laut bertiup kencang, membuat rambutnya awut-awutan.
Bau air laut segar dan melegakan dada.
Giok Cu menghirup udara dalam-dalam, merasa dadanya mekar dan hawa sejuk hangat memasuki paru-parunya.
Ia bangkit berdiri dan mengatur pernapasan seperti diajarkan oleh mendiang kakek nelayan.
la berdiri tegak, kedua kaki agak terpentang, lalu ia mengembangkan kedua tangan dari depan ke atas sambil menarik napas sebanyaknya sampai kedua paru-parunya penuh sesak, dadanya mengembang besar.
Setelah paru-parunya tidak dapat menampung lagi, dengan kedua tangan tetap di atas, ia menahan napas, kemudian mengerahkan tenaga untuk menekan dada dan mengembangkan perutnya.
Dadanya mengempis dan perutnya mengembang, seolah-olah hawa yang berada di dadanya itu turun ke perut!
Ia lakukan ini beberapa kali, kemudian ia mengempiskan perut mengembangkan dada kembali dan mengeluarkan napas perlahan-lahan sampai habis sama sekali, sampai kedua paru-parunya kempis sama sekali.
Diulangnya beberapa kali, lalu ia mengambil napas dengan cara yang sebaliknya.
Ketika menarik napas, ia bukan mengembangkan dada melainkan mengembangkan perutnya, seolah-olah hawa itu disedotnya ke dalam perut sampai sepenuhnya.
Kemudian, ia menarik napas dan "mengoper"
Hawa di perut itu naik ke dada, turun lagi dan akhirnya pun membuang napas perlahan-lahan seperti tadi, dari perut. KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 8 Melihat kanan kiri tidak ada orang, timbul keinginannya untuk bermain-main di pantai itu.
Dari rumah memang ia sudah membawa ganti pakaian.
Pakaian pengganti itu ia letakkan di atas pantai yang tidak tersentuh air, ditindih dengan batu agar tidak terbawa kabur angin, kemudian melepas sepatunya, melepas tusuk konde dan hiasan rambut, dan berlarilah ia hanya mengenakan pakaian dalam yang ringkas berwarna merah muda, dan di lain saat ia telah meloncat ke dalam air yang bergelombang!
Terdengar gadis remaja itu tertawa-tawa riang seorang diri ketika bermain-main dengan ombak.
Kalau ada ombak datang bergulung-gulung, ia meloncat dan menyambut gelombang itu, menyelam ke bawah gelombang, kemudian muncul dibelakangnya.Rasanya seperti bermain-main dengan kawan-kawan yang akrab, yang merangkulnya, menggelitiknya, dan mengajaknya bermain-main dengan gembira sekali.
Air yang dingin sejuk itu sungguh nyaman terasa membungkus kulitnya.
Ia juga kuat sekali menyelam.
Bahkan jauh lebih kuat daripada mendiang kakek nelayan yang menjadi gurunya.
Hal ini adalah karena Giok Cu telah menerima gemblengan dari Ban-tok Mo-li dan telah menghimpun tenaga sakt Sinkangnya membuat ia mampu menahan napas sampai jauh lebih lama daripada guru renangnya sendiri, apalagi dibandingkan orang lain.
Orang akan berdebar tegang dan khawatir kalau melihat gadis remaja ini menyelam dan mengejar ikan di dalam air.
Rasanya seperti berjam-jam walaupun sesungguhnya hanya kurang lebih sepuluh menit saja.
Akan tetap sepuluh menit ini sudah merupakan hal yang hebat dan jarang ada orang mampu melakukannya.
Dan gadis ini memang cerdik sekali, pandai mencari akal?
la "menciptakan"
Sendiri alat untuk bernapas di dalam air, yaitu sebatang jerami panjang yang tengahnya berlubang, ujung batang itudipasangi kayu kering sehingga terapung terus, dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dengan alat ini, ia mampu menyelam sampai lama sekali karena ia dapat menghirup udara lewat batang jerami itu!
Sampai sejam lebih lamanya Giok Cu bermain di lautan itu.
Akhirnya ia merasa cukup puas dan berenang ke tepi.
Akan tetapi, alangkah kaget dan dongkolnya ketika ia melihat seorang pemuda duduk di dekat tempat ia menaruh pakaian penggantinya tadi.
Dan yang lebih menjengkelkan hatinya lagi, pemuda itu dikenalnya sebagai pemuda yang paling genit dan ceriwis di antara semua orang muda yang kini menjadi tamu gurunya selama beberapa hari ini.
bahkan ia tahu pula bahwa pemuda itu bernama Siangkoan Tek, putera dari Si-gkoan Bok yang merupakan to-cu (majikan pulau) dari Pulau Hiu, seorang yang kabarnya kaya raya dan berpengaruh, ia mempunyai banyak anak buah dan menjadi bajak laut yang amat disegani dan ditakuti?
Siangkoan Tek itu seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang mata keranjang, tinggi kurus namun tampan dan pesolek.
Pemuda itu ceriwis dan genit juga cabul dan sudah seringka menggodanya, bahkan pernah bebera kali didampratnya!
Namun gurunya adalah sahabat baik ayah pemuda itu, bahkan sikap gurunya terhadap pemuda tampan ini pun kadang memuakkan hati Giok Cu Mau apa pemuda itu berada di pantai dan mendekati pakaian penggantinya yang ditindih batu di atas pasir itu?
Giok Cu keluar dari dalam air dan berjalan di atas pasir menuju ke tempat pemuda itu duduk di atas pasir.
Akan tetapi ia teringat akan pakaiannya yang basah, pakaian dalam lagi di dalam keadaan basah itu pakaiannya melekat dan mencetak tubuhnya, membuat tubuhnya membayang dan nampak lekuk lengkungnya.
Perasaan rikuh dan malu membuat wajah Giok Cu kemerahan apalagi melihat pemuda itu memandang kepadanya dengan mata melotot seolah-olah biji kedua matanya hampir rnelompat keluar dan mulutnya ternganga.
Pandang mata itu menyapu dan seperti mencengkeram beberapa bagian tubuhnya sehingga bagian-bagian tertentu itu terasa seperti digelitik.
"Kenapa engkau memandang seperti itu, sampai biji matamu mau copot!"
Bentaknya marah. Yang dibentak malah tersenyum,|alu menarik napas panjang, seolah-olah baru sadar dari mimpi yang amat indah.
"'Aduhai........ Adik Giok Cu.........., engkau sungguh cantik jelita tubuhmu itu...... ah, aku bisa gila kalau tidak kau beri cium satu kali saja pada mulutmu..........!"
Sepasang mata yang jeli dan bening itu seperti memancarkan sinar berapi.
"Siangkoan Tek, mulutmu sungguh busuk!"
"Eiiit, eiiit, engkau baru berusia lima belas tahun dan aku sudah dua puluh tahun, Nona Manis, sepatutnya engkau menyebut aku toako seperti yang sudah-sudah. Bukankah gurumu sendiri menyuruh engkau menyebut toako kepadaku?"
"Toako hidungmu! Siapa sudi menyebutmu toako? Engkau berhati kotor, mata keranjang, hidung belang, genit dan ceriwis! Hayo cepat kau pergi dari situ dan tinggalkan aku sendirian. Aku mau berganti pakaian kering!"
Kembali sepasang mata yang nakal itu menjelajahi tubuh Giok Cu, membuat gadis itu ingin sekali menutupi tubuhnya bagian depan dengan tangan atau pakaian kering.
"Aduh, bukan main indahnya tubuhmu,"pemuda itu terang-terangan menelan ludah.
"Bagaimana kalau aku yang menggantikan pakaianmu?"
Dia mengambil pakaian kering itu dari bawah tindihan batu.
"Berikan pakaianku, engkau keparat!"
Giok Cu sudah marah sekali dan memaki.
"Aduh, bukan main! Kalau marah mulutmu cemberut matamu terbelak semakin cantik saja. Siauw-moi, aku cinta padamu, dan aku akan minta pada Ayahku untuk meminangmu menjadi isteriku. Siauw-moi, berilah aku sebuah ciuman saja dan aku akan pergi tidak mengganggumu lagi."
"Ngaco! Siangkoan Tek, sekali lagi, berikan pakaianku dan pergi dari sini!"
"Pakaian ini?"
Dia mendekatkan pakaian itu ke depan mukanya dan menyedotnya.
"Aih, wangiiiiii....... ! Kau mau pakaian ini? Boleh, ditukar dulu dengan ciuman satu kali!"
"Jahanam busuk, engkau mau menghinaku?"
Bentak Giok Cu, kini tak dapat lagi ia menahan kemarahannya, dan dengan cepat ia sudah menerjang dengan tangan kanan memukul ke arah muka Siangkoan Tek, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pakaian yang dibawa pemuda itu.
"Wuuuuuttttt! Siuuuuuttttt !"
Kedua tangan gadis remaja itu mengandung tenaga pukulan yang cukup dahsyat karena selama lima tahun ini ia telah banyak mempelajari ilmu-ilmu silat dari gurunya, dan sudah berhasil menghimpun sin-kang yang kuat, apalagi karena ia pernah minum darah "anak naga"
Itu walaupun tidak begitu banyak.
Namun, Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang tingkat ilmu silatnya sudah cukup tinggi, masih setingkat lebih tinggi dibandingkan Giok Cu, apalagi dia sudah mempunyai banyak pengalaman berkelahi ketika dia memimpin anak buah ayahnya membajak kapal dan perahu di tengah lautan dan bertempur melawan pemilik kapal yang dibajak.
"Eiiiiittttt........, heeeiiiii..... sayang tidak kena, Nona Manis!"
Dengan cekatan, Siangkoan Tek melompat ke samping untuk menghindarkan diri, dan mengangkat pakaian itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Hayo tukar pakaian ini dengan ciuman di mulutmu. Satu kali saja "Jahanam busuk, kubunuh engkau Giok Cu membentak dan ia terus menyerang lagi dengan lebih ganas. Namun kembali pemuda itu dapat mengelak dengan berlompatan, dia pun sudah berapa kali mengelak dari terkaman terjangan gadis itu. Kemudian, melihat betapa gadis itu cukup lincah dan merupakan lawan yang cukup berbahaya, lalu menyelipkan pakaian Giok Cu itu di ikat pinggangnya, dan dia melayani Giok Cu dengan kedua tangannya. Kini dia bukan hanya mengelak, melainkan kadang-kadang menangkis dan setiap kali menangkis, dia sengaja mengusap lengan gadis itu.
"Aduh halusnya, mulusnya, hangat lagi........!"
Giok Cu semakin marah.
Tiba-tiba dia Mencengkeram dengan lengan kirinya ke arah muka Siangkoan Tek, sedangkan tangan kanannya, dengan kecepatan kilat menonjok ke arah lambung.
Serangan ini hebat sekali, namun agaknya Siangkoan Tek sudah dapat menduganya.
Dia menangkis cengkeraman ke mukanya, lalu menangkap tangan yang menonjok, ditariknya tangan itu dan diciumnya sampai berbunyi "ngok"!
"Jahanam busuk, anjing kau, buaya kau, monyet kau!"
Giok Cu memaki-maki sambil sibuk mengusapi tangan yang dicium tadi dengan ujung pakaiannya yang basah. Melihat ulah gadis itu, Siangkoan Tek tertawa geli.
"Aih, baru tangannya sudah sedap sekali dicium, apalagi bibirnya!"
Biarpun ia marah sekali, Giok bukan anak bodoh dan ia tahu bahwa pemuda ini memiliki ilmu silat yang tinggi dan agaknya tidak akan mudah baginya untuk dapat merampas pakaiannya itu.
"Siangkoan Tek, awas kau! Kalau kau lanjutkan kekurangajaranmu, kalau tidak segera kau kembalikan pakaian itu, aku akan lapor kepada guruku engkau akan disiksa dan dibunuhnya!"
Akan tetapi, mendengar ancaman ini, pemuda itu malah tertawa.
"Ibu gurumu? Ha-ha-ha, ia akan mentertawakanmu, Siauw-moi. Aku sudah sejak beberapa hari yang lalu saling berciuman dengan gurumu. Kalau aku boleh menciumnya, mengapa aku tidak boleh menciummu? Dan aku percaya ia akan lebih senang kalau aku yang mengajarimu cinta, daripada pria lain. Gurumu tentu akan senang sekali mempunyai mantu aku, dengan demikian aku akan selalu dekat pula dengannya!"
Giok Cu tidak berapa mengerti apa yang dimaksudkan oleh pemuda itu dengan ucapan tadi, akan tetapi mendengar bahwa gurunya membiarkan dirinya dimaklumi pemuda ini, mukanya berubah merah dan hatinya merasa muak sekali.
"Sudahlah, kalau engkau menghendaki pakaian itu, boleh kaurampas. Memang engkau anak bajak laut, biasanya hanya merampok. Aku akan mencari pakaian lain!"
Berkata demikian, Giok Cu melompat hendak pergi meninggalkan pemuda itu.
Akan tetapi ada bayangan berkelebat di sampingnya dan tahu-tahu pemuda itu sudah menghadang.
Jelas bahwa dalam gin-kang ia juga masih kalah jauh!
"Siangkoan Tek, mau apa engkau menghadangku?
Aku mau pergi, jangan menghadangku!"
"Tidak boleh, Nona Manis. Belum boleh pergi. Engkau masih hutang ciuman yang harus kaubayar. Marilah, mari beri aku ciuman dan aku akan membantumu berganti pakaian kering, kemudian kita bersama menghadap gurumu dan Ayahku untuk membicarakan urusan perjodohan kita. Aku cinta padamu, Siau moi."
"Sialan!"
Giok Cu membentak dan pun terpaksa menyerang lagi.
Akan tetapi sekali ini, Siangkoan Tek bukan hanya mengelak dan menangkis, melainkan membalas dengan serangan berupa colekan, cubitan dan rabaan!
Biar bukan merupakan serangan pukulan berbahaya, namun bahkan membuat gadis repot sekali karena tentu saja ia tidak sudi dicolek, dicubit atau diraba secara demikian kurang ajarnya!
Hampir ia menangis saking marah dan jengkelnya karena setelah lewat belasan jurus, belum juga ia mampu memukul pemuda itu sedangkan beberapa kali dada dan pinggangnya kena dicolek dan diraba!
Tiba-tiba, gadis itu mengeluarkan suara melengking nyaring, kedua tanggannya melakukan serangan dorongan den telapak tangan terbuka ke arah lawan.
Itulah jurus dari ilmu silat tok Hwa-kun (Silat Kembang Selai Racun) ciptaan Ban-tok Mo-li yang amat hebat dan dahsyat!
Sebetulnya, ilmu silat Ini merupakan ilmu simpanan dan tidak boleh dikeluarkan secara sembarangan saja.
Kalau kini Giok Cu mempergunakannya, hal itu membuktikan bahwa ia memang sudah marah sekali terhadap pemuda itu.
Serangan ini adalah serangan maut, karena pukulan dengan kedua tangan terbuka itu mengandung hawa beracun.
Biarpun Giok Cu belum menguasai ilmu ini sepenuhnya, namun pukulannya itu tidak boleh dipandang ringan dan cukup berbahaya untuk membunuh lawan!
Siangkoan Tek mengenal pukulan ampuh.
Dia mengeluarkan seruan kaget, akan tetapi dengan kecepatan luar biasa dia sudah melempar tubuhnya ke samping sehingga dorongan kedua tangan Giok Cu itu luput.
Kaki pemuda itu mencuat dan menyentuh lutut Giok Cu.
Kini gadis itu yang mengeluarkan seruan kaget dan sebelah kakinya jatuh berlutut.
Tiba-tiba kedua lengan pemuda itu sudah memeluknya dan muka pemuda itu mendekat, mulut diruncingkan siap untuk mengecupup mulutnya!
Giok Cu menarik tubuh atas ke belakang, menjauh dan kedua matanya terbelalak penuh rasa jijik dan ngeri, akan tetapi mulutnya diruncingkan itu terus mengikuti mukanya dan mengejar untuk mencium, sedangkan pelukan kedua lengan itu erat sekali, membuat ia tidak mampu menggerakkan kedua lengannya yang ikut pula dilingkari lengan Siangkoan Tek.
Kini muka itu sudah dekat sekali, bahka napas yang panas pemuda itu sudah terasa menghembus di pipinya, membuat Giok Cu merasa tengkuknya meremang saking ngerinya.
"Cuhhh! Cuhhhhh!!"
Dua kali Giok meludah ke arah muka yang dekat itu.
Muka Siangkoan Tek basah semua d siram ludah!
Pertama mengenai mulut dan hidungnya, yang ke dua kalinya mengenai antara kedua matanya sehing kedua matanya terpaksa dipejamkan.
Saat itu dipergunakan oleh Giok Cu untuk memukul dengan kepalan tangan ke arah perut pemuda itu.
"Ngekkkkk!"
Pukulan itu tidak dapat dilakukan terlalu keras karena jaraknya yang amat dekat, namun cukup membuat Siangkoan Tek menjadi mulas dan rangkulannya terlepas.
Giok Cu meloncat ke belakang.
Siangkoan Tek membungkuk memegangi perutnya, lalu mengangkat muka dan matanya yang memandang Giok Cu menjadi beringas.
"Hemmm, ludahmu manis rasanya, Akan tetapi pukulanmu memulaskan perutku. Untuk itu, engkau harus mengobatinya dengan lima kali ciuman!"
Tiba-tiba dia menubruk maju, gerakannya demikian cepat sehingga hampir saja pundak Giok Cu kena dicengkeram.
Gadis tu menggerakkan tubuh mengelak sehingga cengkeraman itu hanya menyerempet pakaian saja.
"Brettttt........!"
Baju di bagian pundak itu robek dan karena baju itu adalah baju dalam, maka di sebelah dalamnya tidak ada pakaian lain sehingga begitu robek, nampaklah kulit pundak dan bagian kulit dada yang membukit, halus dan mulus!
Giok Cu meloncat dan melarikan diri, akan tetapi karena ia berada di tepi laut, larinya bahkan menuju ke laut.
"Duhai ....... Indahnya pundak dan dadamu, Siauw-moi!"
Kata pemuda itu sambil mengejar. Giok Cu berlari terus ke lautan, ditertawai oleh Siangkoa Tek.
"Hendak lari ke mana kau? Ke laut Ha-ha-ha, mana mungkin engkau akan berdiam terus di lautan? Kesinilah manis dan mari kita bersenang-senang!"
Akan tetapi Giok Cu tidak peduli dan melihat betapa pemuda itu terus mengejarnya, ia pun lalu melarikan diri terus ke laut yang semakin dalam lalu ia pun berenang dan menyelam!
Sebagai seorang putera to-cu ( Majikan pulau) dan ia pun hidup di atas sebuah pulau, tentu saja Siangkoan Tek juga pandai berenang.
Akan tetapi kepandaiannya dalam hal renang ini bias biasa saja, seperti orang biasa.
Dibandingkan dengan Giok Cu, tentu saja dia kalah jauh.
Akan tetapi dia tidak tahu bahwa gadis itu adalah seorang ahli bermain dalam air yang amat pandai.
Dia hanya tertawa dan menghadang di lautan yang agak pinggir, yang dalamnya hanya sebatas pinggangnya.
Setelah Giok Cu muncul kembali, pemuda itu tertawa bergelak.
"Ha-ha, hendak kulihat sampai berapa lama engkau dapat bertahan di situ. Eh, Siauw-moi, tahukah engkau bahwa kalau air laut pasang begini, ikan-ikan hiu biasanya suka bermain-main ke tepi pantai? Awas, jangan-jangan kakimu yang mungil itu akan lenyap sebuah dicaplok hiu, kan sayang!"
Berdebar rasa jantung di dada Giok Cu.
Sebagai seorang murid mendiang kakek nelayan yang pandai, pernah ia mendengar dari gurunya itu bahwa ucapan pemuda itu bukan sekedar menakut-nakutinya saja.
Kalau sampai benar terjadi ada ikan-ikan hiu bermain-main di situ, celakalah ia!
Ia pun mencari akal untuk mengalahkan pemuda yang nakal dan lihai itu, dan tiba-tiba ia menjerit.
"Aduhhhhh ......, kakiku...... ah, kakiku yang kanan kejang..... !"
Ia menyelam, muncul kembali dan terengah-engah, wajahnya menunjukkan kesakitan.
Tadinya, Siangkoan Tek hanya mentertawakannya saja, mengira gadis itu berpura-pura.
Akan tetapi melihat betapa gadis itu gelagapan minum air laut, dan mukanya terbelalak ketakutan, tenggelam timbul, dia menjadi khawatir.
Tentu ja dia tahu bahwa kejang kaki di waktu berenang di laut amatlah berbahaya.
Apalagi kalau kekejangan itu menjalar ke perut.
Dia melemparkan pakaian kering yang dipegangnya dan tanpa mebuka sepatunya atau jubahnya lagi, pemuda yang mengkhawatirkan gadis yang dicintainya itu tenggelam, lalu berlari ke depan dan meloncat ke dalam gulungan ombak dan berenang secepatnya menuju ke arah gadis yang mulai hanya agak ke tengah itu.
"Siauw-moi.......! Pertahankan dengan kedua lenganmu agar tubuhmu tidak sampai tenggelam!"
Teriaknya.
"Tekuk pergelangan kakimu ke atas sekuat tenaga....., jangan khawatir, aku datang menolongmu!"
"Toako ....... Cepat ..... ah, aku tidak kuat lag "
Terdengar suara gadis itu memohon.
Besarlah rasa hati Siangkoan Tek mendengar gadis itu menyebutnya toako.
Hem, sudah terbayangkan olehnya betapa nanti kalau gadis itu sudah ditolongnya dan didukungnya ke pantai, gadis itu akan bersukur dan berterima kasih sekali dan tentang ciuman yang dia harapkan, tidak perlu lagi dia minta apalagi dia paksakan.
Tentu dengan suka rela gadis itu akan memberinya ciuman seratus kali!
Dengan penuh semangat Siangkoan Tek mempercepat renangnya menuju ke arah gadis yang tenggelam timbul itu.
Ketika dia sudah tiba dekat, tangannya menjangkau untuk menangkap lengan Giok Cu.
Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh Giok Cu tenggelam dan lenyap!
Tentu saja Siangkoan Tek menjadi gugup dan dia pun cepat menyelam untuk mencari gadis itu.
Dan pada saat itu, dia merasa betapa kakinya ada yang menangkap dan tubuhnya ditarik dengan kuat sekali ke bawah.
Di dalam air, Siangkoan Tek hanya melihat bayangan yang panjang.
Jantungnya berdebar tegang.
Jangan-jangan ada ikan hiu yang menggigit kedua kakinya.
Akan tetapi tidak ada rasa nyeri dan dia berusaha melepaskan tangkapan itu dengan mengguncang-guncang kedua kakinya.
Sia-sia belaka, tangkapan atau gigitan yang tidak nyeri itu tidak terlepas dan biarpun dia berusaha untuk menggunakan kedua lengan agar tubuhnya timbul kembali ke atas, usahanya juga gagal.
Apa pun yang telah menangk kedua kakinya itu ternyata amat kuat dan tubuhnya terus ditahan sehingga tidak dapat naik ke atas.
Siangkoan Tek mengangguk-angguk.
Dia dapat menduga Sungguh anak itu nakal dan manja sekali pikirnya sambil menahan senyum.
Siapa lagi kalau bukan Giok Cu yang Bermain-main dengan dia?
Gadis itu tadi tentu hanya pura-pura dan menjebaknya.
Kini gadis itu memegangi kedua kakinya dan menahannya di bawah air!
Tenaga orang memang dapat menjadi besar sekali dalam air, hal itu adalah karena tubuhnya sendiri menjadi ringan di dalam air maka pegangan gadis itu amat kuatnya sehingga tidak dapat dia melepaskannya.
Akan tetapi dia tidak khawatir.
Kalau dia harus menahan napas di dalam air, gadis itu pun sama saja!
Dan tentu ia akan lebih kuat bertahan dibandingkan gadis itu!
Bukankah gadis itu yang tadi lebih dulu menyelam?
Dia pun menahan napasnya, mengharapkan gadis itu akan cepat melepaskan kakinya karena tentu gadis itu tidak kuat bertahan terlalu lama dan akan melepaskan kakinya ntuk muncul kepermukaan air dan bernapas.
Akan tetapi sekali ini, perhitungan Siangkoan Tek meleset!
Sampai lama sekali gadis itu belum juga mau melepaskan kakinya!
Dia sudah menahan napas sampai dadanya terasa hampir meledak!
Dia tidak kuat lagi menahan dan saking takutnya mati kehabisan napas di dalam air, dia meronta sepenuh tenaga.
Rontaannya ini berhasil.
Sebelah kakinya lepas dan dia pun menendang dengan kaki yang bebas itu ke arah tangan yang masih memegangi kaki yang ke dua.
Akhirnya, pada saat terakhir di mana dia sudah terpaksa menelan air, kedua kakinya terlepas dan dia pun meluncur atas.
Begitu kepalanya tersembul kelu dari permukaan air, dalam keadaan hampir pingsan Siangkoan Tek menghirup napas terengah-engah, dadanya nyeri.
Dia tidak tahu bahwa Giok Cu juga menyembulkan kepala di belakangnya.
Gadis itu menghirup napas, tidak terengah-engah seper dia, dan Giok Cu menyelam kembali.
Wajahnya tersenyum, matanya berkilat-kilat.
"Ehhh, auuuppp........!"
Tubuh Siangkoan Tek kembali terbetot ke dalam air.
Dia meronta sekuat tenaga, kakinya terlepas dari pegangan Giok Cu, mukanya tersembul lagi dan dia gelagapan, bernapas dan tak dapat dihindarkan lagi ada laut memasuki perutnya.
"Eh, jangan Siauw-moi..........!"
Dia berteriak akan tetapi kembali tubuhnya diseret ke bawah!
Terjadilah pergulatan di air.
Siangkoan Tek berusaha muncul kembali, Giok Cu berusaha menyeretnya ke bawah!.Siangkoan Tek gelagapan, beberapa kali minum air laut dan berusaha untuk melawan.
Namun gadis itu sungguh lincah sekali di dalam air, seperti seekor ikan saja!
Tenaga Siangkoan Tek makin lama semakin lemah akhirnya dia pun pingsan!
Giok Cu masih teringat kepada gurunya.
Kalau dibiarkan pemuda ini mati, tentu gurunya akan marah sekali padanya.
Dan kemarahan gurunya dapat saja berarti ia akan dibunuh atau disiksa!
Sudah seringkah ia melihat gurunya marah dan menyiksa atau membunuh orang, dan diam-diam Giok Cu menggigil ngeri.
Pula, ia pun tidak ingin membunuh Siangkoan Tek ini.
Memang dia kurang ajar, akan tetapi bukankah dia hanya menyatakan cintanya dan tadi hanya ingin mencium?
Pula bukankah ketika ia berpura-pura kejang tadi, Siangkoan Tek berusaha menolongnya, tanpa melepas jubah dan sepatu?
Hal ini saja menunjukkan bahwa Siangkoan Tek yang genit dan ceriwis mata keranjang dan cabul itu memang benar mencintanya.
Tidak, ia tidak akan membiarkan pemuda itu mampus!
Diseretnya tubuh pemuda yang pingsa itu ke tepi.
Diseret dengan menjambak rambutnya dan membiarkan muka pemuda itu terapung menengadah.
Setelah tiba di pantai, diseretnya pemuda itu pada rambutnya sampai berada di atas pasir pantai lalu ditelungkupkan dan diinjak punggung bagian perut.
Banyak air keluar dari mulut dan hidung pemuda itu sehingga perutnya yang tadinya menggembung menjadi kempis kembali.
Giok Cu mengamati sebentar.
Pemuda itu bernapas, biarpun terengah-engah.
Dia tidak akan mati, pikir Giok Cu dengan hati lega dan puas.
Lega karena ia telah berhasil lolos dari gangguan pemuda itu, dan puas karena ia telah mampu membalas dan memberi hajaran tanpa harus membunuh pemuda ini.
la segera mengambil pakaian keringnya dandi belakang sebongkah batu besar, ia bergan pakaian.
Ketika melihat bajunya yang robek di bagian dada dan karena pergulatan di lautan tadi robeknya menjadi semakin lebar sehingga nampak sebagian dadanya, wajahnya berubah merah dan ia menjadi marah kembali kepada Siangkoan Tek.
Pemuda itu sungguh kurang ajar, pikirnya.
Setelah ia berganti pakaian kering, teringat akan perbuatan pemuda itu yang hampir menelanjanginya, ia lalu menghampiri pemuda yang masih belum sadar beul itu, dan beberapa kali ia mencengkeram ke arah pakaian lalu merenggutnya, kemudian meninggalkan Siangkoan Tek dalam keadaan hampir telanjang dan tengah pingsan di tempat itu!
Ketika Giok Cu pulang menuju ke kota Ceng-touw, ia harus melalui sebuah jalan yang sunyi berbukit.
Tempat sunyi ini biasanya menjadi tempat berkumpul para nelayan untuk membetulkan jala dan menjemur jala.
Di situ hanya ada beberapa buah buk, akan tetapi pada saat itu, tidak nampak seorang pun di tempat itu.
Giok Cu berjalan dengan hati gembira.
Pemuda itu pasti tidak akan berani lagi mengganggu dirinya!
Pengalaman pahit itu tentu membuat Siangkoan Tek menjadi jera.
Ia tidak tahu bahwa semenjak di pantai tadi, ada empat pasang mata yang menyaksikan semua yang terjadi, bahkan ketika ia berganti pakaian di belakang batu besar, empat pasang mata itu mengintainya dengan pandang mata penuh nafsu iblis.
Selagi Giok Cu berjalan santai di tempat yang sunyi itu, tiba-tiba nampak empat orang pemuda berloncatan dari balik sebuah gubuk, Giok Cu mengrutkan alisnya ketika ia mengenal empat orang pemuda yang seperti juga Singkoan Tek, menjadi tamu dari gurunya.
Tidak seperti Siangkoan Tek yang datang bersama ayahnya, empat orang pemuda ini adalah murid-murid dari dua orang tokoh kang-ouw yang juga terkenal dan menjadi rekan gurunya.
Ia malah sudah diperkenalkan dengan mereka dengan guru-guru mereka.
Pemuda yang kurus kering dengan muka pucat berusia dua puluh tahun itu bernama Ban To, dan pemuda yang mukanya tampan akan tetapi bopeng (cacat bekas cacar) itu bernama Gak Su.
Mereka adalah suheng dan sute, murid dari Kok Sian, seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal pula.
Ouw Kok Sian seolah-olah menjadi raja kecil, raja kaum sesat dan berkuasa di daerah Pegunungan Liong-san, di mana dia hidup sebagai seorang yang berkuasa dan kaya raya, dengan rumah gedung yang didirikannya di puncak sebuah bukit di pegunungan itu.
Ouw Kok Sian ini berusia kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, dengan mata lebar mulut besar dan mukanya berbentuk segi epat.
Dua orang pemuda yang lain bernama Siok Boan, yang bertubuh gendut dengan muka seperti kanak-kanak, dan Poa Kian So yang pendek dengan hidung pendek pesek pula.
Mereka ini suheng dan sute, murid dari Lui Seng Cu yang berjuluk Hok-houw Toa-to (Golok Besar Penakluk Harimau), seorang berusia lima puluh tahun dan terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang ditakuti.
Akan tetapi dia kini telah mengundurkan diri dan menjadi seorang di antara pimpinan suatu aliran kepercayaan baru yaitu para penyembah Thian-te Kwi-ong (Raja Setan Langit Bumi), yang katanya dapat membuat orang menjadi kaya raya, sakti dan panjang umur!
Demikianlah, melihat empat orang pemuda ini tiba-tiba muncul dan menghadangnya, Giok Cu mengerutkan alisnya.
Seperti juga Siangkoan Tek, empat orang pemuda yang menjadi tamu gurunya ini bersikap amat manis kepadanya, terlalu manis bahkan menjilat-jilat dan jelas merayu, kadang-kadang kurang ajar.
Mengingat akan pengalamannya yang baru saja mengancam keselamatannya, Giok Cu yang tidak ingin pula mengalami hal tidak enak di tempat sunyi itu, lalu tersenyum manis dan menegur mereka lebih dulu.
"Selamat pagi! Cu-wi Toa-ko (ParaKakak) hendak pergi ke manakah?"
Empat orang pemuda itu memandang kagum dan mata mereka mengandung nafsu berahi.
Hal ini adalah karena mereka tadi melihat pergulatan Giok Cu dan Siangkoan Tek, kemudian mereka, melihat pula betapa Giok Cu berganti pakaian di belakang batu, lalu betapi gadis itu menelanjangi Siangkoan Tek Kini, gadis yang memang membuat mereka tergila-gila itu berdiri di depan mereka sambil tersenyum manis.
Dalam pandangan mata empat orang pemuda ini, mereka yang masih teringat akan penglihatan tadi seolah-olah gadis itu berdiri di depan mereka tanpa pakaian!
"Siauwmoi-moi Giok Cu, engkau tampak segar dan cantik jelita, juga rambutmu masih basah.
Dari manakah engkau?"
Tanya Siok Boan sambil terseyum simpul.
Biarpun hatinya mendongkol oleh puji-pujian yang sifatnya merayu ini, namun Giok Cu menahan sabar dan ia pun menjawab, suaranya masih lincah dan manja.
Digerakkannya kepalanya agar rambut yang terurai basah itu pindah ke atas pundak bagian depan, terjuntai panjang sampai ke perutnya, kemudian jari-jari tangannya mempermainkan ujung rambut yang halus itu.
"Aku baru pulang dari mandi di laut. kalian hendak ke manakah?"
"Mandi di laut? Dengan siapakah, nona Manis?"
Tanya Ji Ban To yang kurus kering dan mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, bahkan kakinya melangkah maju mendekat. Melihat ini Giok Cu melangkah mundur, seolah tak disengaja.
"Dengan siapa? Tentu saja seorang diri, dengan siapa lagi?"
Jawab Giok Cu. Empat orang itu tertawa bersanma dan Giok Cu memandang dengan alis semakin berkerut.
"Kenapa kalian tertawa?"
Tanyanya, mulai marah.
"Ha-ha-ha!"
Gak Su yang tampan akan tetapi bopeng itu kini tertawa.
"Engkau mandi sendiri saja, Siauw-moi? bagus, lalu siapa itu pemuda yang bergelut denganmu di lautan sampai hampir mampus, dan siapa pula pria yang kautelanjangi tadi? Sesudah engkau....... eh, berganti pakaian di belakang batu besar?"
Wajah Giok Cu berubah dan ia mandang mereka dengan mata terbelalak.
"Kalian.......... kalian melihat itu muanya?"
Tentu saja mereka melihatnya pikirnya cepat, kalau tidak, mana mungkin Si Bopeng ini dapat bercerita seperti itu?
"Salahnya sendiri!
Siangkoan Tek sungguh tak tahu diri dan hendak kurang ajar kepadaku, maka aku telah menghajarnya!
Sudahlah, urusan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, harap jangan mencampurinya!"
Berkata demikian, Giok Cu lalu meloncat dan melarikan diri untuk pulang ke rumah gurunya. Empat orang itu tertawa.
"Heiii, Siauw-moi, aku pun ingin engkau telanjangi seperti Siangkoan Tek! Kapan engkau mau menelanjangi aku? Ha-ha-ha!"
Ji Ban to yang kurus kering dan pucat itu berteriak.
Giok Cu pura-pura tidak mendengar saja dan ia terus saja berlari.
Hatinya merasa tidak enak.
Mereka telah melihatnya tadi.
Dan orang-orang macam mereka itu tentu tidak akan tinggal diam.
Siapa tahu mereka akan melaporkan hal itu kepada subonya dan kepada ayah Siangkoan Tek, dan ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau kedua orang tua itu mendengar akan apa yang dilakukannya pada Siangkoan Tek.
Ia merasa yakin bahwa Siangkoan Tek sendiri tidak akan mau bercerita kepada siapapun juga.
Pemuda itu angkuh dan tinggi hati, dan di antara para pemuda yang saat itu menjadi tamu subonya, boleh dibilang SiangkoanTek yang paling menonjol, paling tampan dan bahkan paling kaya, juga dapat diduga memiliki ilmu kepandaian paling tinggi.
Bagaimana mungkin dia akan bercerita bahwa dia telah dipermainkan dan dihajar, bahkan dihina oleh seorang gadis remaja?
Empat orang pemuda itu sambil tertawa-tawa meninggalkan tempat itu,bahkan kini mereka mempergunakan ilmu berlari cepat keluar dari kota menuju ke utara.
Menjelang senja, empat orang pemuda itu telah kembali ke Ceng-touw dan dua orang di antara mereka, yaitu Siok Boan dan Pao Kian So, murid-murid Hok-houw Toa-to Seng Cu, kini memanggul sebuah karung, sedangkan dua orang kawan mereka, yaitu Ji Ban To dan Gak su, dua orang murid Ouw Kok Sian, mengikuti saja dari belakang.
Ketika mereka tiba di hutan terakhir, dekat dengan kota Ceng-touw, hutan yang kecil saja namun sunyi, terdengar lagi suara Ji Ban To yang merengek sejak tadi.
"Saudara Siok Boan.
"harap engkau! jangan bersikap pelit seperti itu, dan kekanak-kanakan. Gadis ini tidak urung akan dikorbankan, mengapa tidak boleh kami pinjam sebentar saja?"
"Benar sekali! Sayang ia dikorbankan! begitu saja, biarkan kami berdua menikmatinya kalau kalian berdua tidak mau.Ingat, tadi kami pun telah membantu kalian menangkap dua orang ini! Gak Su yang mukanya bopeng mendukung suhengnya. Dua orang murid dari Ouw Kok Sian ini merasa penasaran sekal karena sejak tadi permintaan mereka ditolak olehdua orang rekan itu. Padahal ketika menculik pemuda dan gadis dari dusun itu, mereka berdua telah membantu.
"Sudah kukatakan sejak tadi, yang ini sama sekali tidak boleh diganggu, pemuda yang dikorbankan harus perjaka tulen seperti juga gadisnya harus perawan tulen. Kalau Suhu mengetahui bahwa gadis itu tidak perawan lagi, tentu kami berdua yang akan menerima hukuman dan kemarahan Suhu,"
Bantah Siok Boan tegas.
"Bagaimana gurumu akan dapat mengetahuinya? Kita serahkan keduanya dalam keadaan mulus. Percayalah, kami berdua akan berlaku hati-hati sekali. Berikan ia sebentar kepada kami, dan tak lama kemudian akan kami kembalikan ia dalam keadaan utuh!"
Desak Ji Ban To.
"Benar sekali kata Suheng! Sayang gadis semanis itu dibiarkan lewat begitu saja tanpa dinikmati. Serahkan ia kepada kami, Saudara Siok Boan!"
Gak Su juga mendesak.
Kini Poa Kian So, murid ke dua dari Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, melangkah maju dengan muka merah.
Dia memanggul karung ke dua dan kini dengan sikap marah dia berkata kepada dua rang pemuda itu.
"Kalian ini sungguh nekat! Apakah kalian belum pernah berdekatan dengan wanita maka demikian dekat seperti kelaparan? Masih banyak gadis lain yang dapat kalian tangkap bukan yang ini! Apa sih hebatnya perawan dusun ini? Dibandingkan dengan Nona Giok Cu, tentu bukan apa-apanya!"
Siok Boan membujuk dua orang temannya itu.
"Sudahlah, kalian harus tahu bahwa kita membawa tugas penting dan sekarang kita tentu telah dinanti-nanti oleh para Lo-cianpwe. Apakah kalian ingin tugas kita ini gagal hanya karena kalian haus akan gadis ini? Sute benar, masih banyak gadis lain di dunia ini, jangan kalian mengacaukan upacara suci malam ini."
Ji Ban To dan sutenya, Gak Su saling pandang dan biarpun mereka merasa kecewa sekali, namun mereka tidak berani memaksa.
Kalau mereka memaksa mereka bukan takut untuk bentrok dengan Siok Boan dan Poa Kian So, aka tetapi semua tokoh yang menanti dirumah Ban-tok Mo-li tentu akan menyalahkan mereka berdua.
Bahkan suhu mereka pun akan marah kepada mereka.
Akan tetapi, penolakan kedua orang murid Hok-houw Toa-to yang bertindak sebagai pimpinan upacara pengorbanan kepada Raja Setan itu membuat mereka menjadi semakin bergairah kalau mengingat Giok Cu.
Memang, dibandingkan dengan Giok Cu, perawan desa itu tidak ada artinya!
Mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan dan hari telah menjadi senja ketika mereka tiba di rumah besar dan mewah itu.
Ternyata para lo-cian-pwe telah menanti mereka.
Mereka semua telah berkumpul di ruangan berlatih silat yang berada di bagian belakang rumah itu, dengan semua jendela dibuka dan nampak mereka semua telah duduk bersila di atas lantai yang bertilamkan permadani.
Ban-tok Mo-li sebagai nyonya rumah duduk bersanding dengan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu yang bertindak sebagai pimpinan upacara.
Nampak pula Ouw Kok Sian.
"raja"
Pegunungan Liong-san yang bertubuh tinggi besar seperti seorang raksasa, duduk tak jauh dari nyonya rumah, di sebelah kirinya.
Adapun di sebelah kanan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, duduk Siangkoan Bok, majikan Pulau Hiu, disamping puteranya, Siangkoa Tek.
Selain tiga orang tokoh sesat yan merupakan tamu kehormatan dari Ba tok Mo-li, masih ada belasan tokoh sesat lainnya yang sengaja diundang untuk meramaikan upacara itu dan mereka semua duduk bersila di ruangan silat yang luas itu, membentuk lingkaran punggung mereka dekat dengan dinding.
Di tengah ruangan itu terdapat meja sembahyang yang sudah dipasangi lilin dan bermacam masakan, juga buah-buahan dan bunga-bunga, dan di belakang meja sembahyang itu terdapat sebuah meja lain yang panjangnya dua meter lebarnya satu setengah meter.
Meja itu ditilami kain putih dan di kepala meja itu terdapat dua buah bantal putih!
Meja itu agaknya menjadi semacam pembaringan!
Hiasan bunga-bunga dan mengepulnya dupa harum, ditambah penerangan yang suram karena hanya penerangan lilin saja sedangkan di luar sudah mulai gelap membuat suasana menjadi menyeramkan.
Apalagi ketika Hok-ho Toa-to Lui Seng Cu bangkit dari tempat duduknya.
Orang tinggi tegap ini mengenakan pakaian serba hitam dengan kat pinggang putih dan ikat kepala putih pula, tidak bersepatu dan rambutnya ibiarkan riap-riapan sehingga dia kelihatan menyeramkan seperti setan!
Lui Seng Cu yang bertugas sebagai pimpinan upacara itu menambah dupa harum sehingga asap harum mengepul semakin tebal.
Di antara para tokoh sesat itu ada yang diikuti oleh para murid atau anak buah yang jumlahnya semua ada dua puluh orang lebih, dan mereka ini duduk bersila pula di belakang guru atau pimpinan mereka.
Sejak tadi Giok Cu mengamati semua itu.
Ia melihat betapa Siangkoan Tek sering melirik kepadanya.
Ia pun melirik dan sungguh aneh sekali.
Pemuda yang tadi pagi hampir mati ia seret ke dalam air lautan itu kini nampak tersenyum-senyum kalau memandang kedadanya, sama sekali tidak kelihatan marah atau mendongkol.
Juga ayah pemuda itu kelihatan tenang saja sehingga hati Giok Cu merasa lega.
Jelas bahwa pemuda itu tentu tidak menceritakan peristiwa pagi tadi kepada siapapun juga seperti telah diduganya.
Bahkan ketika pandang mata merek; saling bertemu, Siangkoan Tek menjuri dengan tubuh agak dibongkokkan lali tersenyum dan tangannya mengelus perutnya, seolah-olah hendak menceritakan betapa perutnya menjadi tidak enak karena menelan banyak air laut!
Giok Cu yang berwatak lincah jenaka itu tidak dapat menahan geli hatinya dan ia pun menutupi mulut untuk menyembunyikai tawanya, akan tetapi justeru penutupi mulut dengan tangan itu menunjukkan bahwa ia merasa geli dan tersenyum Bagaimana juga, pemuda yang genit mata keranjang dan kurang ajar itu, mempunyai watak yang tidak terlalu buruk dan agaknya tidak pendendam.
Ataukah karena sedang tergila-gila kepadanya?
Atau memang pemuda itu amat mencintanya Wajah Giok Cu terasa panas dan ia tahu bahwa wajahnya tentu menjadi merah maka ia menundukkan muka.
Sebenarnya, apakah yang sedang di lakukan oleh para tokoh sesat di dalam Iian-bu-thia dari rumah Ban-tok Mo-li itu?
Tadi Giok Cu sudah pula bertanya kepada subonya, akan tetapi subonya menjawab singkat bahwa akan diadakan suatu upacara penting yang akan dipimpin oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu, dan bahwa ia tidak perlu banyak bertanya, hanya boleh nonton saja.
"Dan ingat engkau, Giok Cu, apa pun yang terjadi di sini, engkau hanya boleh nonton dan sama sekali tidak boleh mencampuri!"
Hati Giok Cu sudah menjadi kecut mendengar pesan ini.
Biasanya, kalau gurunya berpesan seperti itu, tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan.
Dulu pernah gurunya itu membunuhi belasan orang yang dianggap musuh dan ia pun sebelumnya sudah dipesan agar jangan mencampuri.
Pernah pula gurunya menawan tiga orang dan disiksanya sampai mati, juga ia dipesan agar jangan mencampuri.
Bahkan kalau gurunya menawan dan mengeram pemuda-pemuda tampan, ia pun dihardik dan tidak boleh bertanya-tanya!
Maka kini ia pun hanya duduk di belakang gurunya nonton saja dengan hati tegang.
Kiranya, baik Ban-tok Mo-li mau pun para tokoh sesat lainnya terbujuk dan tertarik kepada aliran kepercayaan baru yang dianut oleh Hok-hou; Toa-to Lui Seng Cu.
Menurut penuturan Lui Seng Cu kepada para rekannya aliran kepercayaan baru ini berpusat disumber atau pusat dari Huang-ho (Sungai Kuning), yaitu di lereng Pegunungan Bayan-san di bagian selatan Propinsi Cing-hai.
Di pegunungan itulah munculnya aliran kepercayaan baru ini, dipimpin oleh pendeta-pendeta pertapa yang sakti.
Dan aliran kepercayaan baru ini dinamakan Thian-te-kauw (Agama Langit Bumi) dan yang disembah adalah yang disebut Thian-te Kwi-ong (Raja Setar Langit Bumi)!
Menurut keterangan Lui Seng Cu, biarpun yang disembah itu hanya sebuah yang dibentuk sebagai sebuah arca, namun roh yang disembah itu sudah sering muncul di depan para penyembahnya.
Bahkan pemuja yang sunguh-sungguh dapat berhubungan dengan Thian-te Kwi-ong dan mendapatkan pelajaran langsung!
Amat banyak orang tertarik kepada kepercayaan baru ini karena imbalan yang dijanjikan, yaitu selain pemuja dapat menjadi kaya-raya secara aneh, juga dapat menjadi lebih sakti, dan terutama sekali, ini yang banyak menarik orang untuk menjadi pemuja, yaitu orang dapat menjadi panjang umur.
Agaknya janji paling akhir ini pula yang menarik hati Ban-tok Mo-li!
la tidak menginginkan kekayaan karena sudah kaya, juga dalam hal kesaktian, ia sudah cukup sakti sehingga jarang menemui tanding, akan tetapi, melihat betapa usianya menjadi semakin bertambah, betapa usia tua merayap datang tanpa dapat dihindarkan lagi, ingin ia memiliki ilmu umur panjang!
Dan untuk memperoleh satu di antara ketiga keuntungan ini, harta benda, kesaktian atau umur panjang, orang tidak segan-segan untuk menyerahkan korban dalam bentuk apa pun juga.
Dan pada malam hari ini, tepat dengan waktu bulan purnama, Ban-tok Mo-Ii, dengan perantaraan Lui Seng Cu, masuk menjadi anggauta atau pemuja baru.
Untuk itu, akan diadakan sembahyangan dan tentu saja untuk meyakinkan kepada Thian-te Kwi-ong bahwa niatnya itu beri sungguh-sungguh, ia pun diharuskan mempersembahkan korban dan untuk itu, Lui Seng Cu mau membantunya dengan mengutus dua orang muridnya untuk mencari korban itu.
Dua orang muridnya sudah terlatih untuk ini, dan selain dua orang muridnya, juga dua orang murid Ouw Kok Sian diminta membantunya.
Ouw Kok Sian sendiri, majikan Pegunungan Liong-san, juga amat tertarik dan ingin pula dia mempunyai umur panjang.
Akan tetapi dia masih agak ragu-ragu maka ia ingin menyaksikan dulu betapa Ban-tok Mo-Ii melakukan upacara itu.
Kalau keraguannya sudah hilang, tentu dia pun akan masuk menjadi anggauta aliran kepercayaan baru itu.
Saat yang ditunggu-tunggu tiba ketika terdengar langkah-langkah kaki dari luar ruangan itu.
Setelah dua orang pelayan wanita melaporkan kepada Ban-tok Mo-li, muncullah empat orang pemuda itu, yaitu dua orang murid Hok-houw Toa-to yang masing-masing memanggul sebuah karung, dan dua orang murid Ouw Kok Sian yang mengikuti mereka dari belakang.
Melihat dua orang muridnya yang datang memanggul dua buah karung itu, Lui Seng Cu memandang dengan wajah berseri.
"Aha, kalian sudah pulang dan berhasil? Baiklah, letakkan mereka itu di atas meja korban, yang pria di kiri yang wanita di kanan."
Siok Boan dan Poa Kian So menurunkan dua buah karung yang mereka panggul, kemudian dengan dibantu Ji Ban To dan Cak Su yang agaknya tidak mau kalah memperlihatkan jasa mereka, empat orang pemuda itu mengeluarkan dua sosok tubuh dari dalam karung!
Kiraya karung-karung itu berisi seorang pemuda dan seorang gadis remaja.
Keduanya berusia kurang lebih lima belas tahun, dan biarpun pakaian mereka seperti orang-orang dusun, namun baik pemuda maupun wanita itu berkulit bersih dan wajah mereka tampan dan manis.
"Buang pakaian mereka yang kotor, aku sendiri yang akan membersihkan mereka dan mengenakan pakaian kebesaran!"
Kata pula Lui Seng Cu dengan suara bangga penuh kewibawaan seorang yang "lebih tahu"
Daripada yang lain.
Dua orang murid itu menurut dan mulai menanggalkan pakaian pemuda dari gadis yang telah mereka telentangkan berjajar di atas pembaringan itu.
Ternyata dua orang itu tidak mampu bergerak karena jalan darah mereka telah tertotok.
Si Pemuda nampak ketakutan dan gadis itu terbelalak dengan air mata bercucuran, namun mereka tidak mampu menggerakkan kaki tangan.
Ji Ban To dan Gak Su tidak mau ketinggalan dan mereka berdua membantu pula penanggalan pakaian itu.
Tidak mengherankan kalau dua orang pemuda yang memang sudah "haus darah"
Itu sibuk dengan penanggalan pakaian Si Gadis bukan Si Pemuda dan mereka memperggunakan kesempatan ini untuk meraba, mencolek, mengelus.
"Jangan kotori tubuh suci itu dengan colekan-colekan!"
Tiba-tiba Lui Seng Cu membentak.
Ji Ban To dan Gak Su tersipu malu, wajah mereka menjadi kemerahan, apalagi ketika para hadirin menahan tawa dan tersenyum simpul melihat kegenitan mereka tadi.
Lebih mendongkol lagi ketika dengan tangannya, Lui Seng Cu menyuruh mereka berempat pergi meninggalkan pemuda dan gadis yang kini telentang di atas pembaringan dengan telanjang bulat itu.
Lui Seng Cu menghampiri dua orang calon korban, memeriksa di bawah penerangan lilin dan dia mengangguk-angguk.
"Bagus, pilihan dua orang muridku memang tepat. Mereka mulus dan bersih, masih suci. Akan tetapi, tubuh mereka perlu disucikan dan dibersihkan lengan air bunga suci, baru mereka akan diterima dengan gembira oleh yang mulia Thian-te Kwi-ong!"
Kini Lui Seng Cu lalu membakar seikat dupa biting, lalu melakukan sembahyangan di depan meja sembahyang mana terdapat sebuah arca batu yang menyeramkan.
Arca itu melukiskan si orang pria yang wajahnya seperti singa, matanya melotot dan mulutnya menyeringai, tubuhnya kokoh kuat.
Tinggi arca itu hanya dua kaki, namun nampak menyeramkan sekali.
Setelah bersembahyang, Lui Seng Cu membawa seikat dupa biting itu ke dekat pembaringan, menghembus asap yang keluar dari dupa itu ke arah muka dan tubuh kedua orang muda yang telentang di atas pembaringan.
Dia lalu menancapkan seikat dupa it di atas meja dan ruangan itu pun kin penuh dengan asap yang baunya harum akan tetapi juga mengerikan.
Agaknya dupa itu pun bukan dupa harum biasa, melainkan dupa istimewa dan khas dibuat untuk upacara ini.
Kemudian d ambilnya sebuah tempayan air dan kembang-kembang bermacam-macam, kemudian dengan sikap seperti orang suci, Lui Seng Cu mendekati pembaringan dan mulai mencuci tubuh perjaka dan perawan itu dengan air kembang.
Para pemuda yang berada di situ, kecuali Siangkoan Tek, memandang dengan jakun naik turun melihat betapa tangan kanan Hok-houw Toa-to itu mencuci dan mengusap seperti membelai tubuh dara itul Akan tetapi, Lui Seng Cu sebagai seorang pemuja yang sudah lama dan percaya, sama sekali tidak terangsang ketika melakukan pemandian itu.
Setelah pemandian selesai dilakukan, dua orang yang akan menjadi korban itu bergerak, bahkan gadis itu mengeluarkan jerit tertahan dan menangis.
Melihat ini, teringatlah Lui Seng Cu bahwa mereka tentu sudah terbebas dari pengaruh totokan, maka cepat dia pun menghampiri mereka dan dua kali tangannya bergerak, perjaka dan perawan itu sudah lumpuh kembali.
Kemudian, dengan lagak dan sikap seperti seorang pendeta agung Lui Seng Cu berdiri tegak, lalu mengambil ikatan dupa yang masih membara, dan menggerakkannya di atas mukanya yang tengadah.
Abu yang berada di ujung ikatan hio itu terjatuh ke atas mukanya.
Ketika dia mengembalikan ikatan hio itu, mukanya kini menjadi coreng moreng dengan abu hio, dan dengan tangan kirinya dia mengusap mukanya, bukan untuk menghapus abu, melainkan untuk meratakannya!
Tiba-tiba tubuhnya terhuyung lalu dia jatuh terduduk, tubuh itu menggelepar seperti ayam disembelih, kaki tangannya kejang-kejang dan menggelepar, matanya mendelik lidahnya keluar.
Dua orang muridnya nampak tenang saja maka para tamu yang hadir juga diam saja hanya mengamati dengan bulu tengkuk meremang.
Mereka tadi telah diberitahu oleh Lui Seng Cu bahwa dari upacara itu, akan ada "setan pembantu"
Dari Thian-te Kwi-ong memasuki dirinya dan kalau dia melakukan hal-hal yang aneh, diharapkan para hadirin tidak menjadi kaget karena yang melakukan itu adalah roh atau setan pembantu yang memasuki dirinya.
Kini semua orang mengamatinya, ada yang percaya dan ada pula yang setengah-setengah, ada pun yang belum percaya sehingga mereka ini tersenyum mengejek, menganggap bahwa Lui Seng Cu hanya berpura-pura dan berlagak saja untuk mendatangkan kesan.
Akan tetapi, Ban-tok Mo-Ii sudah percaya betul karena sebelum ini, Hok-houw Toa-to sudah membuktikan bahwa dia memang memiliki kekuatan gaib yang didapatnya dari Thian-te Kwi-ong!
Sebelum menyatakan diri ingin masuk menjadi anggauta atau anak buah atau murid Thian-te Kwi-ong, lebih dahulu Ban-tok Mo-Ii menguji Lui Seng Cu.
Di dalam ruangan ini pula, beberapa hari lalu, mereka berdua duduk berhadapan dalam jarak empat meter.
Ban-tok Mo-Ii yakin bahwa ilmu silatnya, ilmu gin-kang maupun kekuatan sin-kang-nya, masih lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu.
Akan tetapi ketika ia menguji orang itu, yang lebih dulu membiarkan dirinya "kemasukan"
Thian-te Kwi-ong, sebelum menyentuh tubuh Lui Seng Cu, ia berkali-kali terpelanting, kemudian bahkan ia tidak mampu bergerak dari tempat duduknya!
Lui Seng Cu lalu memberitahu bahwa itu hanya satu di antara kesaktian Thian-te Kwi-ong!
Murid yang tekun akan menjadi sakti, kaya raya, dan juga panjang umur sampai lebih seratus tahun!
Inilah sebabnya, ketika melihat Lui Seng Cu menggelepar di depan meja sembahyang, Ban-tok Mo-li tidak merasa heran, juga ia percaya sepenuhnya bahwa orang itu sedang mulai kemasukan roh halus atau setan pembantu seperti yang telah diceritakan sebelumnya.
Kini Lui Seng Cu tidak menggelepar lagi, menjadi tenang dan berlutut di depan meja sembahyang, menghadap ke arca Thian-te Kwi-ong dan menyembah sampai tiga belas kali, mengeluarkan suara mengaum seperti harimau.
Kemudian bangkit berdiri, mukanya masih coreng moreng terkena abu, matanya mendelik dan berdirinya tegak lurus dan nampak seolah-olah tubuhnya lebih jangkung daripada tadi.
Lalu dia memutar tubuh menghadap ke arah Ban-tok Mo-li, lalu terdengar suaranya lantang sekali, terdengar bergetar biarpun agak parau.
"Phang Bi Cu, Ong-ya memanggil engkau untuk menghadap ke sini, sekarang juga!"
Semua orang terkejut.
Nama besar Ban-tok Mo-li, siapakah yang tidak tahu?
Akan tetapi nama kecilnya, Phang Bi Cu jarang ada yang tahu dan mereka yang tahu pun tidak berani mempergunakannya.
Kini, Lui Seng Cu yang kemasukan iblis itu menyebut nama kecilnya begitu saja seolah-olah memanggil seorang pelayan atau seorang anak kecil!
Kalau orang lain berani memanggilnya seperti itu, tentu sekali menggerakkan tangannya, Ban-tok Mo-li akan membunuhnya!
Akan tetapi sekali ini, Ban-tok Mo-li sama sekali tidak menjadi marah, bahkan ia lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Ong-ya, saya datang menghadap!"
Dan wanita yang dikenal sebagai Iblis Betina itu melangkah dengan lambat, lengan lenggang lemah gemulai penuh gairah, menuju ke meja sembahyang lalu nenjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menghadap patung Thian-te Kwi-ong.
"Phang Bi Cu, kami mewakili Thian-te Kwi-ong bertanya kepadamu agar kamu menjawab dengan sejujurnya!"
Kembali terdengar suara parau Lui Seng Cu yang masih berdiri tegak.
"Dengarkan baik-baik!"
"Saya mendengarkan dan akan menjawab sejujurnya,"
Kata Ban-tok Mo-li dengan perasaan aneh karena selama hidupnya belum pernah ia berjanji untuk menjawab dengan jujur!
Selama ini kejujuran dianggapnya suatu kelemahan dan kebodohan, tanda dari hati yang takut Akan tetapi sekali ini ia berjanji untuk menjawab dengan jujur.
Mungkin karena takut di dalam hatinya terhadap kekuasaan Thian-te Kwi-ong, atau karena ada harapan di lubuk hatinya agar mendapatkan berkah, terutama sekali umur panjang?
"Phang Bi Cu, benarkah engkau ingin menghambakan diri kepada Thian-te Kw ong-ya?"
"Benar."
"Dan engkau siap untuk menghaturkan korban suci kepada Ong-ya?"
"Saya sanggup dengan senang hati."
"Apakah korban sudah disediakan?"
"Sudah disediakan dan siap dikorbankan."
"Bagus, permohonanmu diterima, Phang Bi Cu, dan sebagai anugerah Ong-ya melalui kami, anggur darah remaja akan membuat engkau menjadi awet muda seperti remaja!"
"Terima kasih, Ong-ya,"
Kata Ban-tok Mo-li dengan girang dan wanita yang terkenal sebagai Iblis Betina yang biasanya amat angkuh ini, yang tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini menyembah sambil berlutut, menyembah sebanyak tiga belas kali seperti yang diberitahukan kepadanya oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu.
Cara penyembahan dan penyerahan diri kepada Thian-te Kwi-ong!
Tiba-tiba Lui Seng Cu jatuh terduduk dan menggelepar kembali, hanya sebentar dan dia pun sudah bangkit lagi dan kini sikapnya biasa, seolah-olah setan yang memasuki tubuhnya sudah menghilang dan dia menjadi Lui Seng Cu kembali.
Kini dihapusnya abu yang coreng moreng pada mukanya, kemudiandia berkata kepada Ban-tok Mo-li.
"Upacara tingkat pertama telah selesai. Kini tinggal menanti masuknya sinar bulan. Kalau sinar bulan sudah menimpa tubuh kedua orang korban itu, barulah upacara terpenting, yaitu persembahan, boleh dilakukan. Sementara ini, sambil menanti naiknya bulan, Toanio (Nyonya) boleh menjamu para tamu dan saksi, bergembira karena Toa-nio telah diterima menjadi murid dari Thian te Kwi-ong!"
Dengan wajahnya yang cantik pesolek itu berseri, Ban-tok Mo-li lalu bangkit dan dengan isarat tangannya, belasan orang pelayannya yang semua terdiri dari wanita yang masih muda, cantik dan gesit, mengeluarkan hidangan dan mengatur hidangan itu di atas lantai di depan para hadirin yang duduk bersila di ruangan itu.
Cara pesta yang aneh karena mereka semua duduk bersila di atas lantai, bukan di kursi menghadapi meja.
Akan tetapi, hidangan yang disuguhkan merupakan masakan istimewa, mahal dan lezat, masih mengepul panas lagi, maka gembiralah hati para tamu.
Semenjak beberapa hari menjadi tamu Ban-tok Mo-li, memang mereka sudah menjadi tamu-tamu terhormat yang dimanja dan disambut dengan baik sekali, akan tetapi malam ini sungguh merupakan pesta yang mewah!
Semua orang makan minum dengan gembira setelah Lui Seng Cu menyuguhkan arak dan beberapa mangkok masakan panas ke atas meja sembahyang, dan seorang pun agaknya tidak ada yang teringat atau mempedulikan dua orang calon korban yang masih menggeletak telentang di atas pembaringan dalam keadaan tidak mampu bergerak dan telanjang bulat itu.
Tidak ada seorang pun kecuali Giok Cu!
Dara remaja ini sejak tadi mengamati semua yang terjadi dan ketika semua orang makan minum berpesta pora, ia tidak ikut makan!
la selalu memandang ke arah pembaringan di mana dua orang itu rebah telentang.
Hatinya memberontak!
Biarpun ia tidak peduli melihat gurunya masuk menjadi anggauta atau murid kepercayaan baru itu, penyembah setan yang disebut Raja Setan Langit Bumi, namun melihat dua orang calon korban itu, ia merasa tidak senang sama sekali!
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dua orang caloon korban itu, akan tetapi menduga bahwa tentu akan terjadi hal yang mengerikan.
Mungkin dua orang itu akan dibunuh!
Hatinya meronta dan ia sama sekali tidak mampu makan minum.
Ia memang tidak pernah diajar lain kecual.
ilmu silat dan sedikit baca tulis oleh gurunya, tidak pernah belajar tentang akhlak.
Akan tetapi, lima tahun yang lalu ia telah mengerti tentang baik-buruk tentang susila dan akhlak yang diterimanya dari pendidikan ayah ibu kandungnya.
"Siauw-moi Giok Cu, kenapa kau tidak makan?"
Tiba-tiba Siangkoan Tek bertanya.
Sejak tadi pemuda ini memang selalu memperhatikan Giok Cu, dan pandang matanya kini bertambah dengan pandang mata kagum.
Memang, sejak pertemuan pertama, Siangkoan Tek tergila-gila kepada gadis remaja ini, dan pengalaman pagi tadi di lautan membuat dia semakin kagum.
Gadis remaja itu bukan saja cantik jelita, manis dan pandai ilmu silat, akan tetapi juga amat cerdik dan pandai ilmu bermain di air pula.
Dan, yang lebih menyenangkan hatinya, ketika ia dalam keadaan pingsan, ternyata gadis itu tidak membunuhnya, bahkan menelanjanginya!
Apalagi artinya perbuatan ini kalau bukan cinta, pikirnya.
Gadis remaja itu bagaimanapun juga mencintanya!
Mendengar teguran halus itu, Giok Cu hanya menunduk, akan tetapi gurunya menoleh dan menegur pula.
"Benar, mengapa engkau tidak ikut makan minum, Giok Cu?"
Gurunya amat sayang kepadanya, dan hal ini terasa benar oleh Giok Cu, akan tetapi alangkah bedanya rasa sayang gurunya itu dengan rasa sayang yang pernah dirasakannya dari ayah ibunya.
"Aku ....... aku tidak ada nafsu makan Subo. Aku masih kenyang,"
Jawabnya pendek.
Gurunya pun tidak peduli lagi karena hati Iblis Betina itu sedang gembira bukan main, mana ia mau peduli tentang muridnya makan atau tidak?
Selain Siangkoan Tek, juga ada dua pasang mata sejak tadi melirik ke arah Giok Cu, yaitu mata Ji Ban To dan Gak Su.
Suheng dan sute itu, semenjak tadi memang menderita kekecewaan beberapa kali.
Pertama ketika permintaan mereka kepada dua orang murid Hoki houw Toa-to untuk mempermainkan gadis calon korban mereka tolak.
Kemudian ketika tadi Hok-houw Toa-to di depan orang banyak menghardik mereka karena mereka berdua membantu Siok Boan dari Poa Kian So untuk melepaskan pakaian dua orang calon korban itu dan mereka mencoba untuk meraba dan membela tubuh gadis calon korban!
Mereka berdua kini merasa kecewa sekali dan biarpun mereka ikut pula makan minum, mereka selalu melirik ke arah Giok Cu.
Apalagi setelah mereka menuangkan banyak arak ke dalam perut mereka keduanya semakin sering melirik ke arah Giok Cu.
Tidak salah, pikir mereka.
Dara calon korban itu, kalau dibandingkan dengan Giok Cu, memang bukan apa-apanya!
Mereka pun beruntung sekali pernah melihat Giok Cu menanggalkan pakaian ketika dara itu berganti pakaian kering di pantai.
Ah, sungguh menggairahkan sekali, dan kini mata mereka seperti berubah hijau ketika mengerling ke arah Giok Cu.
Pikiran, badan dan perasaan melalui lima indera merupakan persekutuan yang selalu menyeret kita ke arah kemaksiatan atau perbuatan yang tidak sehat, bahkan kadang kala perbuatan jahat yang merugikan orang lain.
Gairah nafsu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam.
Sebagai contohnya, gairah nafsu berahi.
Mata melihat wanita cantik.
Kalau pikiran tidak mencampuri dan mengotori, maka tidak akan terjadi sesuatu.
Namun, biasanya, pikiran mencampuri, si-aku membayangkan kalau wanita itu menjadi miliknya, kalau wanita itu, dikuasainya, dan sebagainya, maka, timbullah gairah nafsu birahi.
Pikir yang membayangkan ini merupakan cermin dari pengalaman melalui badan pula dengan perantaraan lima indera, perasaa nikmat dan enak mendatangkan mgata dan bayangan.Kalau nafsu sudah menguasai batin, maka kita melakukan segalanya untuk memuaskan tuntutan nafsu dan kadang-kadang kita menjadi sedemikian buta sehingga tidak segan melakukan perbuatan yang kotor, seperti melacur, berjina, atau bahkan memperkosa!
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 9 Kita lupa bahwa kita, manusia ini, pribadi-pribadi ini, bukanlah binatang!
Kita bukanlah tubuh ini!
Kita bukan pula pikiran ini, bukan perasaan panca indera ini, bahkan bukan kesadaran ini!
Semua ini, tubuh, pikiran, perasaan, kesadaran ini hanya merupakan hal-hal yang sementara saja, yang akhirnya akan hancur lenyap begitu "rumah"
Ini menjadi tua atau rusak dan tidak tepakai lagi!
Seperti juga rumah membutuhkan perlengkapan, perapian, penerangan dan sebagainya, tubuh juga membutuhkan perlengkapan, seperti pikiran, perasaan, kesadaran.
Kalau tubuh ini tertidur, atau pingsan, maka semua itu pun berhenti berfungsi.
Pikiran, perasaan, kesadaran, kesemuanya itu pun berhenti bekerja.
Seperti tubuh, mereka itu pun nya alat!
Jelaslah bahwa kita ini bukan mereka!
Namun, sudah menjadi kebiasaan kita tidak waspada akan kenyataan ini.
Kita terlalu terikat kepada darah daging (tubuh) kita ini, terlalu mencandu kepada panca-indera, hati akan kenikmatan dan keenakan, terlalu bergantung kepada pikiran sehingga kita lupa akan keadaan kita yang sesungguhnya!
Kalau semua ikatan itu sudah dapa kita hancurkan, kalau si-aku sudah berhenti merajalela sehingga hidup kita bukan sepenuhnya merupakan penghambaan kepada nafsu-nafsu belaka, hanya mengejar kenikmatan, kesenangan dan keenakan saja, barulah mungkin terdapat suatu keadaan yang sama sekali berbeda.
Berhentinya pikiran mendatangkan keheningan dan di dalam keheningan inilah mungkin sekali kita akan memasuki dimensi lain dari kehidupan inil menyentuh lingkaran cahaya Illahi yang tak pernah sedetikpun meninggaik kita.
Tanpa adanya cengkeraman pikiran perasaan dan kesadaran panca indera maka si-aku pun runtuh dan tanpa adanya si-aku yang penuh keinginan ini, maka kita akan mengenal apa arti cinta kasih.
Bukan cinta kasih antara aku dan engkau yang saling mengharapkan imbalan demi kesenangan diri pribadi, bukan cinta kasih jual belidi pasar, tak pernah mengharapkan imbalan, tak pernah berpamrih.
Membiarkan diri penuh dengan cinta kasih ini, berarti membiarkan diri dipenuhi cahaya Illahi, membiarkan diri bersatu dengan Tuhan!
Kini sinar bulan mulai memasuki ruangan itu melalui jendela yang dibiarkan terbuka di sebelah timur.
Sinar bulan yang mula-mula menyinari dinding lalu merayap ke meja sembahyang, dan perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar bulan yang lembut dari bulan purnama itu mulai merangkak ke arah pembaringan di mana dua orang remaja itu masih rebah telentang.
Lui Seng Cu kini bangkit berdiri, mencuci kedua tangannya, lalu mengambil kain putih yang sudah dipersiapkan di bawah meja sembahyang.
Setelah memberi sembah tiga belas kali ke arah patung Thian-te Kwi-ong, dia lalu membawa dua potong kain sutera panjang itu ke arah pembaringan.
Dua orang remaja itu masih telentang, yang pria wajahnya pucat dan ketakutan, yang wanita masih menangis tanpa suara.
Lalu dia mengenakan pakaian itu kepada mereka sekedar menutupi ketelanjangan mereka dengan menyelimutkan sutera putih itu dan membelitkan ke tubuh mereka.
Kemudian, dia mengambil pula sebatang pisau belati dari bawah meja, meletakkan pisau itu ke atas meja sembahyang.
Pisau itu amat tajam, agaknya diasa sampai mengkilap dan Giok Cu merasa betapa bulu tengkuknya berdiri.
Seperti yang diduganya, tentu dua orang korban itu akan dibunuh!
"Toanio, bersiaplah untuk menghaturkan korban kepada Ong-ya!
Sinar bulan sudah mendekati mereka, beberapa saat lagi sinar bulan akan menyentuh dada mereka dan itulah saatnya untuk........."
"Tidaaaaaakkk! Mereka tidak boleh dibunuh!"
Tiba-tiba Giok Cu berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke arah pembaringan itu, maksudnya tentu saja hendak membebaskan mereka! "Jangan melanggar kedaulatan Ong-ya!"
Lui Seng Cu membentak dan dia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya.
Akibatnya, tubuh Giok Cu terlempar dan terjengkang, jatuh ke belakang dan bergulingan.
Hebat sekali dorongan Lui Seng Cu tadi, akan tetapi karena dia tahu bahwa gadis itu adalah murid tersayang dari Ban-tok Mo-li, maka dorongannya hanya mengandung angin yang kuat dan yang telah membuat gadis itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi tidak melukainya!
Semua orang terkejut, mengira bahwa tentu Ban-tok Mo-li akan marah sekali melihat muridnya yang terkasih itu dirobohkan orang.
Akan tetapi, wanita itu bersikap tenang saja, bahkan mengerutkan alisnya.
Ketika ia melihat muridnya bangkit.
berdiri dan sama sekali tidak terluka, ia pun berkata dengan sikap marah.
"Giok Cu, apa yang kaulakukan ini? Hayo keluar kau!"
Giok Cu berdiri dengan mata terbelalak memandang ke arah pembaringan itu, ia marah sekali dan juga ingin sekali membebaskan dua orang remaja itu.
Akan tetapi ia tahu bahwa tenaganya tidak cukup untuk menentang Lui Sen Cu, apalagi gurunya sendiri mengusirnya keluar.
Dengan gemas dan membantin kaki kirinya beberapa kali, Giok Cu lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar.
Ketika Giok Cu tiba di luar, ia melangkah pergi di bawah sinar bulan purnama.
Tiba-tiba ia mendengar jerit dua kali.
Ia berhenti melangkah dan memejamkan mata.
Akan tetapi tetap saja ia dapat membayangkan betapa pisau belati itu menancap di dada dua orang korban yang mungkin dibebaskan dulu dari totokan ketika hendak ditusuk dadanya, la menggunakan kedua tangan menutupi telinganya, lalu ia berlari menuj ke luar kota, ke pantai lautan!
Ia tidak melihat betapa apa yang dibayangkan itu masih jauh daripada kenyataan yang amat mengerikan sekali bagi orang awam.
Setelah sinar bulan tiba di atas dada kedua orang muda itu Ban-tok Mo-li yang sudah siap dengan pisau belati di tangan, lalu membebaskan totokan mereka, akan tetapi secepat kliat pisaunya menyambar ke arah dada, sedemikian cepatnya sehingga kelihatannya seperti dua batang pisau bekerja dalam waktu yang sama.
Dua orang remaja itu hanya mengeluarkan jeritan masing-masing satu kali menggelepar dan tewas seketika karena jantungnya telah ditarik keluar oleh Ban-lok Mo-li seperti diharuskan dalam upacara itu!
Bagi orang lain, perbuatan seperti ini tentu saja amat mengerikan.
Akan tetap bagi seorang datuk sesat seperti Ban-tok Mo-li, pekerjaan itu biasa saja!
Dalam waktu beberapa detik saja, tangan kirinya sudah mengambil jantung manusia yang masih bergerak-gerak, dan meletakkan dua buah jantung itu ke atas baki perak yang lebar yang dipegang oleh Lui Seng Cu.
Dua buah jantung itu masih bergerak-gerak seperti hidup, akan tetapi hanya sebentar saja dan Ban-tok Mo-li sudah membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain sutera yang menyelimuti tubuh dua orang remaja itu!
Sikapnya tenang saja, bahkan mulutnya tersenyum.
Dan mereka yang hadir itu adalah tokoh-tokoh sesat yang berhati kejam.
Melihat pertunjukkan itu, mereka tidak merasa ngeri, hanya tegang dan kagum!
Kini Ban-tok Mo-li, dipimpin oleh Lui Seng Cu, bersembahyang didepan meja sembahyang di mana dua buah jantung itu dihidangkan.
Banyak dupa dibakar dan mereka menyembah sambil berlutut.
Kemudian, Lui Seng Cu mengambil sebuah guci terisi anggur.
Mulut guci itu lebar dan dia memasukkan dijantung manusia itu ke dalam guci.
Di kocoknya anggur dalam guci bersama dua buah jantung itu, kemudian dia menuangkan anggur itu ke dalam sebuah cawan, lalu disiramkan dari atas patung, sehingga patung itu menjadi basah oleh anggur.
Tiga kali patung itu disiram anggur bercampur jantung manusia itu.
Kemudian, Lui Seng Cu menuangkan anggur ke dalam cawan dan menyerahkan kepada Ban-tok Mo-li yang segera meminumnya!
Setelah itu, mulailah mereka pesta minum anggur yang bercampur jantung manusia yang masih segar!
Dan agaknya, mereka semua minum tanpa jijik sedikit pun, bahkan merasa seolah-olah mereka minum obat kuat yang ampuh!
Belasan orang pelayan Ban-tok Mo-li sudah cepat menyingkirkan dua mayat yang masih hangat itu, membawanya jauh ke belakang, ke dalam kebun yang luas di mana siang tadi mereka telah menggali sebuah lubang besar, melempar dua mayat itu ke dalam lubang dan menguruk lubang dengan tanah tanpa banyak peraturan lagi!
Dua mayat manusia itu dikubur seperti orang mengubur bangkai binatang saja!
Adakah yang lebih kejam daripada manusia?
Manusia, kalau sudah dilanda rasa takut, kalau sudah dikuasai nafsu mengejar sesuatu, menjadi jauh lebih kejam daripada binatang yang bagaimana buas sekalipun!
Binatang, betapapun liar dan buasnya, tidak mempunyai pikiran jahat.
Kebuasan dan keliaran mereka hanya naluri untuk melindungi dirinya.
Kalau ada binatang buas membunuh binatang lain, hal itu dilakukan tanpa benci, melainkan karena dia harus melakukannya untuk mempertahankan hidupnya, mengisi perutnya, atau membela dirinya.
Akan tetapi manusia membunuh demi menyenangkan dirinya, atau demi mencapai sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya.
Upacara selesai akan tetapi pesta itu masih belum selesai!
Mereka minum-minum dan terdengar gelak tawa, bahkan ada pula di antara para tamu yang menarik pinggang seorang pelayan wanita.
Ada wanita yang mengelak dan menolak, dan tamu itu pun tidak berani memaksa, karena mereka menghormati dan segan kepada Ban-tok Mo-li.
Akan tetapi ada pula pelayan wanita yang mau melayani sehingga mereka itu bercumbu rayu begitu saja, di depan orang banyak di depan Ban-tok Mo-li sendiri yang hanya tertawa.
Akun tetapi kalau sampai ada tamu yang berani memaksa seorang pelayannya tentu tamu itu akan sukar keluar dari situ dalam keadaan hidup!
Memang aneh sekali cara hidup para Datuk sesat ini.
Agaknya, mereka sudah tidak mengenal hukum dan peraturan lagi, baik hukum agama, hukum tradisi, hukum masyarakat maupun hukum negara.
Yang ada hanyalah tindakan semau-gua, seenak perutnya sendiri, apa yang disukai itulah yang dilakukan, dan satu-satunya hukum adalah hukum rimba.
Yang kuat dia menang, yang menang dia kuasa, yang kuasa dia benar!
Tidak ada susila lagi.
Tidak ada akhlak lagi, tidak ada rikuh lagi, yang ada hanya demi senang, senang, senang!
oooOOooo Giok Cu menjatuhkan diri di atas pasir pantai dan ia menangis!
Menangis tersedu-sedu, bahkan sampai sesenggukan.
Agaknya seluruh rasa penasaran yang selama ini tertimbun di dalam batinnya, melihat hal-hal yang bertolak belakang dengan suara hatinya terjadi di depannya tanpa ia dapat menentangnya, juga semua perasaan duka yang dirasakannya semenjak ia kematian ayah ibunya perasaan dendam karena kematian ayah ibunya adalah perbuatan Sin-tiauw Li Bhok Ki, dan semua hal yang buruk buruk dan yang terpendam di dalam hatinya kini terungkap keluar sehingga ia menangis sampai mengguguk!
Selama lima tahun ini, ia seolah-olah digembleng untuk memiliki watak yang tahan uji?
Namun, ternyata kini ia dapat menangis seperti itu, tanda dari kelemahan hati.
Hatinya seperti diremas-remas, melihat dua orang remaja dibunuh begitu saja tanpa dosa, dan ia tidak mampu menolong mereka!
Apa gunanya selama lima tahun ia mempelajari ilmu silat, ilmu kesaktian kalau kini ia tidak berdaya sama sekali menghadapi seorang Lui Seng Cu yang demikian jahat dan kejam?
Giok Cu menangis tanpa merasa khawatir dilihat atau didengar orang.
Siapa yang akan datang di pantai yang amat sunyi di malam hari itu?
Dan siapa dapat mendengar suara tangisnya yang ditelan suara ombak yang menggelegar?
Tangis merupakan suatu penyaluran rasa duka.
Duka yang tadinya membeku di dalam batinnya, seolah-olah mencair dan sedikit demi sedikit mengalir keluar dari dalam hatinya, hanyut melalui air mata.
Setelah menangis selama satu jam, ikhirnya tidak ada lagi air mata yang keluar, dan Giok Cu merasa betapa dadanya lega dan ringan sekali.
Pikirannya pun lelah dan kosong, dan akhirnya, dendang suara air lautan ditambah semilirnya angin, sinar bulan yang sejuk, membuat ia tidak dapat lagi menahan kantuknya dan bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, tahu-tahu ia telah jatuh pulas, telentang di atas pasir pantai.
Langit amat bersih dan bulan purnama seperti tersenyum kepada dara itu, bintang-bintang yang agak suram juga melambaikan cahayanya kepada dara itu.
Suasana yang amat indah di pantai itu tidak meramalkan keindahan dan kedamaian.
Sebaliknya malah.
Di balik keheningan malam itu, bersembunyi bahaya yang amat mengerikan bagi diri Giok Cu.
Ketika ia lari meninggalkai tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga pergi meninggalkan pesta.
Hal ini tidak kentara karena memang pesta sudah mulai kacau dan orang-orang bergerak ke sana-sini dengan bebas, bahkan ada yang menarik seorang pelayan wanita yang mau melayani ke tempat gelap tanpa dipedulikan yang lain.
Dua orang muda itu bukan lain adalah Ji Ban To dan Gak Su dua orang pcmuaa yang sejak tadi sudah dibakar nafsu berahi, pertama kali ketika melihat Giok Cu di pantai bersama Siangkoan Tek, kemudian melihat gadis yang dijadikan korban.
Melihat peristiwa keributan di pesta, di mana Giok Cu hendak melepaskan dua orang korban kemudian dirobohkan Lui Seng Cu dan dimarahi gurunya, kemudian melihat betapa gadis itu lari meninggalkan ruangan pesta, dua orang pemuda ini pun diam-diam keluar dan mencari Giok Cu.
Ketika Giok Cu yang kelelahan itu tertidur di atas pasir, telentang dalam keadaan pulas, dua sosok bayangan orang menghampirinya dengan hati-hati sekali.
Kaki mereka melangkah perlahan-lahan, sedikit pun tidak menimbulkan suara sehingga gadis remaja yang sedang pulas itu sama sekali tidak mendengar apa-apa dan masih enak saja tidur nyenyak dengan napas lembut dan panjang.
Akan tetapi, seorang gadis remaja seperti Giok Cu itu memiliki kepekaan yang melebihi orang-orang dewasa atau orang-orang tua.
Bahaya besar yang mengancam dirinya itu seolah-olah menggerakkan sesuatu di dalam tubuhnya yang menyembunyikan tanda bahaya sehingga tiba-tiba saja Giok Cu seperti orang tergugah dan terkejut, membuka matanya.
Namun, terlambat sudah.
Sebuah totokan membuat tubuhnya menjadi lemas dan tenaganya hilang.
Ia hanya mampu terbelalak saja ketika mengenal dua buah wajah di bawah sinar bulan purnama.
Wajah Ji Ban To dan Gak Su, dua orang murid majikan Pegunung Liong-san yang menjadi tamu subonya Dan dua buah wajah itu kini dalam penglihatan Giok Cu amat menakutkan.
Di buah mulut itu menyeringai lebar di nafsu mereka mendengus panas, mata mereka juga beringas seperti mata bintang buas kelaparan!
Giok Cu yang belum berpengalaman itu tidak dapat menduga apa yang mereka kehendaki, namun naluri kewanitaannya mengisaratkan ancaman bahaya besar bagi dirinya, membuat ia mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk membebaskan diri.
Namun percuma saja.
Totokan yang di lakukan oleh Ji Ban To itu membuat kaki tangannya seperti lumpuh.
Tingkat kepandaian dan tenaga dari dua orang pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri.
Andaikata ia tidak dicurangi, ditotok selagi tidur, tentu ia mampu melawan dua orang ini dan ia tidak gentar walaupun dikeroyok dua.
"Jahanam kalian!"
Ia hanya mampu memaki dan bahkan suaranya pun kekurangan tenaga.
"Apa yang kalian lakukan ini? Bebaskan aku!"
Pemuda kurus kering yang bermuka pucat itu, Ji Ban To, mendekatkan mulutnya, menyeringai dan hidungnya hampir menyentuh pipi Giok Cu sehingga gadis remaja ini sedapat mungkin memutar lehernya menjauhkan mukanya dan dengan jijik ia merasa betapa napas pemuda itu meniup kelehernya.
"Apa yang kami lakukan? Heh-heh, Giok Cu yang manis, engkau tentu mengerti sendiri. Jangan hanya memperhatikan Siangkoan Tek seorang. Kami pun dua orang pemuda yang gagah perkasa, murid seorang datuk, penguasa Pegunungan Liong-san."
"Benar sekali kata Suheng!"
Kata Gak Su dan muka yang tampan akan tetapi bopeng itu pun mendekat dan tangannya mulai merenggut lepas pakaian yang menutupi tubuh Giok Cu.
"Mari kita bertiga bersenang-senang di pantai ini, di atas pasir, di bawah sinar bulan purnama. Alangkah indahnya, alangkah asyik dan nikmatnya!"
Kini jantung dalam dada Giok Cl berdegup penuh rasa ngeri dan ketakutan.
Baru sekali ini ia benar-benar merasa takut membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Dua orang itu seperti berlumba merenggut lepas semua pakaiannya!
Ia meronta, memberontak, memekik, menjerit, akan tetapi hanya dalam batin saja karena kaki tangannya tetap tidak mampu digerakkan dan suaranya hanya keluar dengan lemah saja.
"Kalian jahanam busuk! Anjing keparat.Lepaskan aku..........! Jangan ......., jangan ganggu aku.......!"
Akan tetapi, mulutnya sudah ditutup dengan ciuman mereka berganti-ganti.
Giok Cu merasa muak dan jijik mau muntah rasanya.
Akan tetapi rasa takut mengatasi semua rasa jijik ini matanya terbelalak, jiwanya meronta, tahu bahwa ia sama sekali tidak berdaya dan sebentar lagi tentu ia akan diperkosa, Membayangkan ini, ia hampir pingsan Tidak, ia tidak boleh pingsan.
Ia tidak boleh membiarkan mereka memperkosanya!
Ia harus mencari akal.
Dua orang pemuda itu seperti dua ekor ikan menperebutkan makanan, menciumi muka dan mulut Giok Cu dan tangan mereka meraba dan membelai.
"Ji Ban To dan Gak Su, nanti dulu......... nanti dulu, dengarkan omonganku......"
Giok Cu berkata sedapat mungkin diantara ciuman-ciuman mereka yang semakin panas.
Ia pun mulai merasa ngeri mengingat akan tanda tahi lalat merah kecil di bawah siku lengan kirinya.
Bukankah subonya pernah memberitahu kepadanya bahwa kalau keperawanannya hilang tanda itu akan lenyap dan dalam waktu sebulan ia akan mati?
Ia akan diperkosa kehilangan kehormatannya secara hina sekali, kemudian ia akan mati!
"Nanti dulu, dengarkan aku.........."
Kata-katanya membujuk. Dua orang pemuda itu sambil menyeringai menghentikan ciuman dan rabaan mereka.
"Hem, Manis, engkau sungguh cantik dan panas! Engkau mau bicara apa, sayang?"
Giok Cu tersenyum, senyum yang manis sekali!
Dua orang pemuda itu terpesona dan merasa girang.Gadis itu tersenyum kepada mereka!
Agaknya, ciuman dan belaian mereka tadi membuat gadis itu pun mulai menikmati permainan cinta mereka.
"Kalian ini sungguh dua orang laki laki yang bodoh sekali. Bagaimana kita dapat menikmati permainan cinta kalau aku tertotok seperti ini? Kalian sama saja bermain cinta dengan sesosok mayat dan aku....... aku merasa tidak leluasa dan tidak dapat menikmati cinta kalian dalam keadaan tidak mampu bergerak begini. Kalau kalian membebaskan totokan ini, tentu kita akan dapat bermain cinta lebih asyik lagi......."
Dua orang pemuda itu saling pandang dan tertawa gembira.
"Ha-ha-ha, ia benar sekali, Suheng! Kita bebaskan totokannya dan kita bergiliran "
Akan tetapi, biarpun sudah diamuk nafsunya sendiri, Ji Ban To ternyata, lebih cerdik daripada sutenya.
"Nanti dulu, Sute. Kita harus yakin benar bahwa ia tidak menipu kita. Ikat dulu kaki dua lengannya dengan ikat pinggangnya itu."
Mereka lalu menelikung kedua tangan Giok Cu ke belakang, lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat, menggunakan ikat pinggang Giok Cu sendiri yang tadi mereka renggut lepas.
Biarpun mendongkol sekali, Giok Cu menyembunyikan rasa dongkol itu dari mukanya.
Ketika dua orang itu membebaskan totokan dari tubuhnya dan ia merasakan darahnya mengalir kembali dengan normal, Giok Cu tidak tergesa-gesa bergerak, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan ia pun mandah saja ketika mereka kembali mulai membelai dan menciuminya.
Akan tetapi begitu jalan darahnya sudah pulih kembali, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, digerakkannya dengan tiba-tiba kepalanya menghantam muka Ji Ban To, melompat berdiri dan kakinya menendang dada Gak Su.
Dua orang pemuda yang sedang dimabuk nafsu mereka sendiri itu seperti orang terlena, menjadi lengah dan tak mampu menghindarkan diri dari serangan tiba-tiba itu.
"Duk! Desssss "
Ji Ban To berteriak kesakitan karena hidungnya bocor, mengucurkan darah ketika dihantam kepala Giok Cu, sedangkan Gak Su terbanting dan terjengkang keras, dadanya terasa sesak dan napasnya terengah-engah.
Juga dia mengaduh-aduh.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Giok Cu untuk meloncat dan melarikan diri.
Yang masih menempel di tubuhnya yang telanjang bulat itu hanya tinggal sepasang sepatunya saja!
Hanya sejenak saja dua orang pemuda itu tertegun dan kesakitan.
Melihat gadis itu melarikan diri, mereka pun la berloncatan dan cepat melakukan pengejaran.
Biarpun Giok Cu memiliki kegesitan dan keringanan tubuh, akan tetapi ia berlari dengan kedua lengan terikat di belakang.
Tentu saja hal ini membuat ia tidak leluasa lari dan kecepatannya berlari berkurang banyak.
Maka tak lama kemudian, dua orang pemuda itu mampu menyusulnya dan mereka menubruk dari belakang sambil meloncat.Tubuh Giok Cu terbanting keatas pasir dan ditindih oleh mereka berdua!
Giok Cu meronta-ronta, menendang, menggigit dan meludah sehingga dua orang pemuda itu harus menjambaknya, memegangi kedua kakinya, bahkan menamparinya.
Akhirnya mereka dapat mengikat kedua pergetangan kaki Giok Cu dengan ikat pinggang Ji Ban To dan gadis itu untuk kedua kalinya tak mampu menggerakkan tangan dan kakinya.
Kalau karena tertotok, kini karena kaki tangannya terbelenggu.
Akan tetapi kini ia masih mampu membalikkan tubuhnya menelungkup, memutar leher dan memandang kepada dua orang muda yang terengah-engah kelelahan itu dengan mata melotot penuh kebencian.
"Suheng, cepat kerjai gadis liar ini, biar tahu rasa! Aku akan berjaga kalau ada orang datang dan menunggu giliranku!"
Kata Gak Su yang mendendam kepada Giok Cu karena dadanya tadi tertendang cukup keras dan masih terasa nyeri sampai sekarang.
Ji Ban To yang sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk membelenggu kaki Giok Cu, mendekati gadis itu dengan wajah menyeringai buas.
Akan tetapi sebelum tangannya mampu menyentuh Giok Cu tiba-tiba terdengar suara halus.
"Kalian mencari mampus!"
Dua orang muda itu terkejut dan cepat menengok.
Wajah mereka seketika berubah pucat dan mata mereka terbelalak ketika mereka mengenal siap wanita yang menegur mereka itu.
Ban-tok Mo-li!
Wanita iblis ini tadi setelah muridnya lari keluar, diam-diam merasa kecewa dan tidak enak.
Ia merasa sayang kepada muridnya itu, seorang murid yang baik dan berbakat.
Heran ia mengapa muridnya begitu berkeras hendak menolong dua orang korban itu padahal dua orang korban itu amat diperlukan sebagai "tebusan"
Ia masuk menjadi anggauta pemuja Thian-te Kw ong!
Biarpun tadi ia merasa marah, setelah muridnya pergi, ia pun merasa menyesal dan ingin ia memanggil muridnya kembali untuk diajak berpesta, ia sedang bergembira karena diterima menjadi anggauta baru penyembah Thia te-kauw, maka ia tidak ingin ada gangguan berupa kekecewaan dan penyesalan terhadap muridnya yang disayangnya itu.
Ketika dilihatnya tidak nampak bayangan Giok Cu di luar ruangan itu, ia pun lalu meninggalkan ruangan itu untuk mencarinya.
Ketika ia tidak dapat menemukan Giok Cu di dalam kamarnya, ia dapat menduga kemana perginya muridnya itu.
Muridnya itu suka sekali bermain-main di Pantai lautan dan mungkin sekarang, dalam keadaan marah dan kecewa, Giok Cu juga pergi ke sana.
Apalagi di pantai itu amat indah kalau terang bulan dan dapat menyejukkan dan menenangkan hatti.
Dengan cepat Ban-tok Mo-li lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke pantai.
Mula-mula ia menemukan pakaian muridnya berserakan di pantai.
Pakaian luar dan pakaian dalam!
Dalam keadaan robek-robek.
Akan tetapi muridnya tidak ada!
Tentu bertelanjang bulat, la pun mengambil pakaian itu dan menyelipkannya di ikat pinggang.
Kemudian berrlari lagi dan melihat bahwa tidak jauh dari situ nampak bayangan dua orang atas pasir.
Cepat ia menghampiri dan dapat dibayangkan betapa hatinya seperti dibakar ketika ia melihat muridnya dalam keadaan telanjang bulat menelungkup di atas pasir dengan kaki tangan terikat, dan dua orang pemuda yang bukan lain adalah Ji Ban To dan Cak Su berada di dekat muridnya.
Tidak sukar diduga, apa yang akan dilakukan dua orang pemuda itu, maka ia pun lalu menegur mereka.
Melihat bahwa iblis betina itu muncul, dua orang pemuda itu sejenak seperti berubah menjadi patung.
Kemudian, maklum betapa lihai dan galaknya wanita itu, keduanya lalu meloncat dan seperti dikomando, mereka melarikan diri!
Ban-tok Mo-h adalah seorang datuk sesat yang ditakuti banyak orang, ia sendiri tidak takut kepada siapapun juga, dan ia terkenal memiliki keberanian dan kekejaman yang luar biasa, tak pernah mau mengampuni musuh-musuhnya atau orang yang menyakiti hatinya.
Melihat betapa muridnya hampir saja diperkosa dua orang pemuda itu, mengalami penghinaan, ia tidak lagi mempedulikan bahwa dua orang pemuda itu adalah tamu-tamunya, murid dari Ouw Kok Sian, seorang di antara tamu-tamunya yang terhormat.
Dengan beberapa loncatan saja, ia sudah dapat menyusul mereka.
Bagaikan seekor harimau menerkam seekor domba dari belakang, kedua tangannya mencengkeram dan mencekik leher Gak Su dari belakang, Jari-jari kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing itu mencekik dan menembus kulit dan daging leher.
Cak Su mengeluarkan suara aneh, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman, akan tetapi kedua tangannya itu lalu merentang kaku, matanya melotot, mukanya berubah hitam dan ketika cekikan dilepaskan, dia pun terkulai dan roboh tanpa nyawa lagi dengan muka hitam dan mata melotot lidah terjulur keluar.
Sejak Gak Su dicekik dari belakang, Ji Ban To sudah merasa tubuhnya menggigil dan kakinya seperti lumpuh.Dia menjatuhkan diri ke atas tanah dan berlutut, menyembah-nyembah meminta ampun sambil memandang kepada sutenya yang mengalami nasib mengerikan itu!
"Ampun, Lo-cian-pwe..........
ampunkan saya......!"
Ratapnya ketika dia melihat sutenya roboh dan tewas, dan wanita; yang menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya.
Wajah yang cantik itu tersenyum manis, akan tetapi matanya yang mencorong itu membuat hati Di Ban To menjadi semaki ketakutan.
Dia melihat maut membayang pada mata itu dan walaupun ingin dia melarikan diri, namun tubuhnya mengigil dan kedua kakinya lumpuh, membuat dia hanya dapat mendekam di depan wanita itu.
"Ji Ban To, apa yang kaulakuka bersama Sutemu terhadap muridku itu?"
"Saya......... saya ......... tidak melakukan apa-apa, hanya........ hanya........."
Dia begitu ketakutan sehingga untuk bicara amat sukar.
"Kalian telah memperkosanya?"
Bentak Ban-tok Mo-li.
Muncul sedikit harapan dalam hati Ji ban To ketika mendengar pertanyaan ini.
Agaknya itulah yang menyebabkan kemarahan Ban-tok Mo-li, mengira bahwa muridnya telah mereka perkosa!
Dan kenyataannya, dia belum memperkosanya!
"Tidak.........!
Tidak sama sekali, Lo-Cian-pwe!
Saya ......belum..........
eh, tidak memperkosanya, sama sekali tidak!"
"Hemmm, lalu kenapa engkau menelanjanginya dan mengikat kaki tangannya?"
"Eh........ ohhh .........yang menelanjangi dan membelenggu, hanya Sute........ itu ......, lo-cian-pwe!"
Jelas nampak sifat pengecut dari pemuda itu yang begitu menghadapi ancaman lalu hendak menimpakan semua kesalahan kepada sutenya yang telah tewas.
Ban-tok Mo-li kembali tersenyum.
Wanita yang sudah kenyang akan pengalaman di dunia ini tentu saja tidak mudah dibohongi begitu saja.
"Bagus, dia yang menelanjangi dan membelenggu, dan engkau yang akan memperkosanya?"
"Tidak, tidak........... !"
"Lalu apa yang kaulakukan? Hanya menonton?"
Ji Ban To tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Dia harus mengakui kesalahan, akan tetapi kesalahan yang paling kecil.
"Saya........... saya tadi hanya ........ meciuminya beberapa kali, Lo-cian-pwe."
"Hemmm, menciumnya beberapa kali, ya? Agaknya engkau suka sekali menciumi perempuan. Nah, bangkitlah!"
Dengan tubuh menggigil, Ji Ban tidak berani membantah dan dia pun berdiri.Sejenak Ban-tok Mo-li mengamati pemuda ini dari kepala sampai ke kaki Seorang pemuda yang cukup tampan walaupun agak kurus dan mukanya pucat.
"J i Ban To aku ingin merasakan bagaimana engkau menciumi muridku tadi Hayo kau cium aku!"
Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat.
"Mana saya........ berani.........?"
"Kau berani membantahku? Apak engkau ingin mampus seperti Sutemu tadi?"
"Tidak, tidak........... !"
"Kalau begitu kau ciumi aku seperti engkau menciumi muridku tadi. Hayo cepat!"
Ji Ban To ketakutan setengah mati.
Dengan tubuh menggigil, terpaksa dia memberanikan diri merangkul pundak wanita cantik itu dan mendekap mukanya, lalu mencium mulut yang tersenyum menggairahkan itu.
Dasar dia pemuda yang sudah menjadi hamba nafsu.
Biarpun tadinya ketakutan, begitu dia mencium dan merasa betapa mulut wanita cantik yang diciumnya itu membalas dengan mesra, dia pun mencium penuh nafsu.
Akan tetapi ketika dia hendak melepaskan ciumannya untuk bernapas, mulutnya melekat pada mulut itu dan merah mulutnya terasa seperti dibakar, rasa panas yang terus menyerang dirinya melalui mulut, masuk ke kerongkongan dan ke dada.
Ciuman beracun!
Dua lengannya yang tadi memeluk, kini meregang, matanya terbelalak dan suara aneh keluar dari kerongkongannya.
Ketika Ban-tok Mo li melepaskan ciumannya, tubuh pemuda itu terkulai dan seluruh bibirnya nampak membiru!
Akan tetapi, kematian agaknya tidak datang tiba-tiba seperti yang dialami Cak Su dan hal ini agaknya memang disengaja oleh Ban-tok Mo-li.
Melihat pemuda itu menggeliat-geliat Ban-tok Mo-li menggerakkan tangan menotok ke arah tengkuknya dan pemuda itu pun tak bergerak lagi karena telah tertotok.
Ban-tok Mo-li berkelebat lenyap dari tempat itu.
"Subooo ....... !"
Giok Cu memanggil ketika melihat bayangan subonya, akan tetapi subonya tidak menjawab.
Ia mecoba untuk melepaskan belenggu kaki tangannya, namun ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya juga amat lelah.
Giok Cu tak lama menunggu.
Nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata mereka adalah subonya bersama Ouw Kok Sian, tamu tinggi besar, majikan dari Pegunungan Liong-san, guru dari dua orang pemuda yang tadi hampir memperkosanya.
Mereka berhenti di dekatnya dan terdengar subonya berkata.
"Nah, kau lihat sendiri keadaan muridku. Merekalah yang melakukannya!"
Suara gurunya terdengar kaku dan marah.
"Keparat! Di mana mereka yang memalukan itu?"
"Mereka lari dan kukejar. Mari kita lihat, di sana mereka!"
Keduanya berkelebat lenyap dan sebentar saja, Ban-tok Mo-li dan Ouw Kok Sian telah berdiri di dekat tubuh Gak Su yang lagi sudah tidak bernyawa dan tubuh Ji Ban To yang tidak bergerak, akan tetapi masih hidup.
Melihat gurunya, Ji Ban To mengeluh dan merintih.
Melihat gurunya datang bersama Ban-tok Mo-li, tahulah dia bahwa gurunya tidak akan membelanya.
"Suhu........., ampunkan teecu...."
Katanya memelas. Dengan alis berkerut dan pandang mata marah, Ouw Kok Sian membentak.
"Benarkah engkau dan Sutemu yang melakukan penghinaan terhadap murid Ban-tok Mo-li?"
"Suhu, kami berdua.........tergila-gila olehnya...... akan tetapi......... Giok Cu menolak dan memukuli kami, terpaksa kami mengikatnya....... tapi teecu....... Teecu tidak memperkosanya, hanya menciumnya ........"
Kata Ji Ban To dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya membengkak dan menghitam.
"Ampunkan teecu, Suhu......"
Ouw Kok Sian menarik napas panjang.
Bagaimanapun juga, Ji Ban To adalah muridnya, murid pertama.
Dia menoleh kepada Ban-tok Mo-li.
engkau telah membunuh muridku Gak Su sebaga hukuman.
Apakah engkau tidak dapat mengampuni muridku yang satu ini?
Dia pun telah mendapatkan hukuman, apakah itu belum memuaskan hatimu?"
"Ouw Kok Sian, engkau dan dua orang muridmu adalah tamu-tamu yang ku sambut dengan hormat dan dengan baik-baik. Akan tetapi dua orang muridmu telah menghina muridku. Aku telah membunuh seorang muridmu dan melukai muridmu yang ini, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau tidak terima dan hendak menuntut balas?"
Dalam ucapan itu terkandung kemarahan dan tantangan. Ouw Kok Sian menarik napas panjang.
"Aku sudah tahu akan kelihaianmu, Ban-tok Mo-li, akan tetapi bukan berarti aku takut padamu kalau kukatakan bahwa aku tidak ingin menuntut balas, aku mengerti sepenuhnya akan kemarahanmu dan aku mengakui kesalahan murid-muridku, maka aku mintakan maaf untuk mereka, dan kalau mungkin, ampunkanlah muridku Ji Ban To ini."
Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak.
Kalau gurunya sudah mengikut kesalahannya, maka itu pun cukuplah.
Pula, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan murid yang lain juga akan mampus kalau ia tidak mengampuninya.
"Baiklah, melihat mukamu, biar aku mengampuni muridmu ini, Ouw Kok Sian. berikan obat ini kepadanya, minumkan dan sebagian untuk mengobati mulutnya, dan kau dapat mengusir hawa beracun dengan sin-kangmu."
La mengelua kan sebungkus obat bubuk kuning dari saku bajunya, menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ouw Kok Sian.
Si Tinggi Besar ini menerimanya tanpa malu-malu lagi.
Dia pun seorang tokoh dunia kang-ouw yang berpengalaman.
Kalau hanya mengobati luka-luka biasa saja atau luka beracun yang tidak terlalu hebat, dia masih sanggup.
Akan tetapi dunia ini, siapa mampu mengobati luka beracun akibat pukulan Ban-tok Mo-li?
Ban-tok Mo-li lalu meninggalkan tamunya yang mulai mengobati Ji BanTo lalu ia lari menghampiri muridnya, membuka ikatan kaki tangannya, dan membantu muridnya mengenakan pakaian Kemudian mereka berdua pun pulang dandi dalam perjalanan itu, Ban-tok M li mengomeli muridnya.
"Sikapmu di ruangan sembahyang tadi sungguh tidak menyenangkan hatiku, Giok Cu. Engkau bahkan nyaris membikin malu hatiku, sungguh aku kecewa sekali padamu."
"Maaf, Subo. Akan tetapi hatiku tidak tahan melihat dua orang yang tidak berdosa itu akan dibunuh begitu saja!"
"Hemmm, engkau tahu bahwa mereka tu dijadikan korban.Gurumu ini beraba untuk mendapatkan berkah usia panjang, tentu saja dengan jalan menyerahkan korban. Kalau yang dijadikan syarat itu korban berupa binatang apa pun, tentu akan kupenuhi. Syaratnya ialah sepasang manusia, maka harus la dipenuhi. Engkau seperti anak kecil saja. Dan kulihat, perbuatanmu itu ternyata dikutuk oleh Thian-te Kwi-ong sendiri. Buktinya, begitu engkau mengacaukan upacara penyerahan korban, engkau hampir tertimpa malapetaka di pantai itu tadi. Kalau aku tidak kebetulan sedang mencarimu, apakah engkau akan dapat menyelamatkan diri? Engkau tentu sudah menjadi korban perkosaan dan sebulan kemudian engkau mati tersiksa!"
Giok Cu mengepal tinju. Akan tetapi ia menjawab lirih.
"Terima kasih, Subo. Tentu mereka telah Subo bunuh, bukan?"
"Yang seorang telah kubunuh karena dia melarikan diri. Seorang lagi yang bernama Ji Ban To tidak kubunuh, hanya kuberi hajaran keras karena memandang muka gurunya dan dia sudah meminta ampun."
"Hemmm, mana mungkin mengampuni perbuatan mereka yang amat keji tadi. Biar kelak aku aku sendiri yang akan membunuhnya!"
Kata Giok Cu dengan suara mengandung kemarahan.
"Tidak ada untungnya menanam permusuhan dengan para murid Ouw Kok Sian. Apalagi dia tadi telah kuberi hajaran dan dalam keadaan setengah mati akan tetapi kutinggalkan obat penyembuhnya kepada gurunya. Lebih baik melupakan saja urusan itu, bukan engkau belum diperkosanya?"
"Tapi aku malu, Subo, aku merasa dihina bukan main. Biarlah kelak akan kucari jalan agar dia bermusuhan dengan aku sehingga ada alasan bagiku untuk membunuhnya!"
Ban-tok Mo-li yang mendengar hanya tersenyum saja, senyum acuh karena ia sendiri seorang yang tak pernah menghargai nyawa orang lain.
Semenjak peristiwa malam itu, Giok Cu berlatih silat semakin tekun karena ia ingin agar memperoleh kemajuan pesat dan mengalahkan orang-orang seperti Siangkoan Tek dan Ji Ban To yang sudah diangapnya sebagai musuh besarnya itu.
Dan hanya ilmu-ilmu silat dari Ban-tok Mo-li saja yang dipelajarinya dengan tekun, termasuk ilmu-ilmu pukulan beracun, Adapun mengenai cara hidup gurunya itu, sama sekali ia tidak merasa cocok, bahkan kadang-kadang ia muak melihat hal-hal yang dianggapnya memalukan yang dilakukan gurunya, seperti menculik orang-orang muda, memaksanya menuruti kehendaknya memuaskan nafsu-nafsunya, bergaul erat dengan tokoh-tokoh sesat dan lain kejahatan lagi.
Ia selalu menolak kalau diajak atau disuruh melakukan kejahatan oleh teman-teman gurunya.
Agaknya Ban-tok Mo-li sendiri mengenal watak muridnya, maka ia pun tidak pernah memberi tugas kepada muridnya itu untuk melakukan hal yang berlawanan dengan watak muridnya itu.
Watak Giok Cu yang keras, tak mengenal takut, gagah bahkan liar dan ganas terhadap musuhnya, membuat Ban-tok Mo-li merasa kagum.
Apalagi karena dari suaranya, pandang matanya dan sikapnya jelas bahwa murid itu juga mempunyai perasaan sayang kepadanya!
Kadang-kadang memang amat mengherankan kalau kita menemui seorang yang hidup sebagai seorang penjahat besar, yang sudah terbiasa melakuku segala macam kekejaman, dapat mempunyai perasaan sayang yang amat besar terhadap seseorang.
Perasaan sayang yang amat mengharukan karena sungguh bertolak belakang dengan wataknya.
Seorang perampok besar yang biasanya membunuh orang lain dengan mata tanpa berkedip, dapat saja memiliki kasih sayang yang amat besar terhadap isterinya atau anaknya atau orang lain sehingga untuk orang itu dia mau berkorban apa pun juga, terhadap orang itu dia bersikap amat lembut dan mengalah.
Ini membuktikan bahwa didalam diri setiap manusia itu terdapat dua sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk.
Diri manusia merupakan sumber daripada kebaikan dan keburukan yang bermunculan silih berganti dan seperti berlumba menguasai batin manusia yang melahirkan perbuatan-perbuatan baik maupun buruk.
Baca Juga: Dewi Maut 3
Baca Juga: Dewi Sungai Kuning 2