Ceritasilat Novel Online

Naga Sakti Sungai Kuning 2

Eps 2 Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo

Baca online Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo

Cersil Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo.

Ketika dia menerima tubuh anak naga itu, binatang ajaib itu sudah lemas dan kehilangan darah, bahkan ketika dia menggigit pecah kepala anak naga itu, hampir tidak ada darah keluar.

Agaknya, setelah menghisap darah binatang ajaib itu, kedua anak itu, terutama anak laki-laki itu, memiliki tenaga yang bukan main dasyatnya!

Semua orang terkejut dan heran, apalagi kini mendengar han Beng mengeluh dan mengerang seperti kesakitan sambil terus menyerang ke kanan kiri secara kalang kabut.

Memang terjadi keanehan pada tubuh Han Beng.

Begitu ketika menggerakkan kaki tangan memukul dan menyerang, seperti ada tenaga dasyat dan panas menguasainya sepenuhnya, dan tenaga itu tidak mau berdiam lagi, terus berpusing di dalam tubuhnya sehingga dia pun tidak dapat lagi menghentikan gerakan kai tangannya!

Rasa nyeri makin menghebat terutama di dada dan bawah pusar, sedangkan kedua pasang kai tangannya setiap kali digerakkan mengeluarkan bunyi berkerotokan!

Ini menandakan bahwa tenaga mukjijat itu, hawa sakti yang panas itu, muli menyusup kedalam tulang-tulangnya!

Orang-orang kang-ouw itu menjadi gentar setelah belasan orang roboh malang melintang oleh pukulan-pukulan Han Beng dan kini mereka mundur mengatr jarak menjauhkan diri.

Han Beng memukul-mukul terus sambil melangkah maju dan terhuyung-huyung, kedua matanya terpejam.

Dari kedua tangan anak yang memukul-mukul secara ngawur itu keluar hawa pukulan yang mengeluarkan uap panas!

Sementara itu, Giok Cu sudah terjatuh terduduk, tidak kuat menahan kepeningannya dan anak perempuan itu pun hanya menundukkan muka sambil memejamkan kedua matanya.

Sejak tadi Liu Bhok Ki memandang dengan penuh kagum dan heran melihat sepak terjang anak laki-laki itu.

akan tetapi, kini dia menjadi kuatir sekali.

Dilihatnya betapa wajah anak yang kerut-merut menahan nyeri itu makin lama berubah semakin merah sehingga kini kehitaman!

Celaka, pikirnya karena dia tahu bahwa anak itu ternyata keracunan hebat.

Agaknya gogitan dan darah anak naga itu terlampau kuat dan menimbulkan racun yang amat dasyat yang menguasai tubuh anak itu akan kuat bertahan.

Dan anak perempuan itu pun agaknya sudah hampir tidak kuat lagi, sudah duduk dengan lemas.

Liu Bho Ki sudah siap hendak meloncat ke depan ketika han Beng yang terus melangkah maju itu kini tiba didekat ban-to Mo-li Phang Bi Cu yang agaknya baru muncul.

Mendengar ada langkah kaki ringan di sebelah kanannya, Han Beng lalu menyerang ke kanan, memukul dengan kepalan tangan kanannya.

Pukulan itu mengeluarkan angina pukulan yang mengandung hawa panas sekali.

Ban-to Mo-li meringkan tubuh mengelak dari sambaran hawa panas itu dan dari samping ia menampar kearah leher Han Beng.

"Plakkkk"

Tubuh Han Beng terpelanting dan anak itu pun tak mampu bangkit kembali.

Tamparan ban-tok Mo-li itu mengandung racun, dan memang disengajanya ia memukul anak itu terjatuh ke tangan orang lain, anak itu atau darahnya tidak dapat dipergunakan lagi karena mengandung racun maut!

Sebaliknya, ia tentu saja akan mampu melenyapkan pengaruh racun dari tubuh anak itu karena ia memiliki obat penawarnya!

Han Beng yang tadinya sudah pening, kini mendadak merasa betapa tubuhnya lumpuh.

Dia berusaha menggerakkan kaki tangannya, namun gagal dan dia membuka matanya, memandang kepada wanita cantik itu tanpa mampu bergerak lagi.

Ada terjadi keanehan di dalam tubuhnya.

Kalau tadinya, tubuh itu seperti menggembung rasanya, seolah-olah kemasukan angina panas dan akan meledak, kini perlahan-lahan hawa panas itu berkurang seolah-olah tubuhnya mulai mengempis dan hawa panas yang berputaran cepat sekali ditubuhnya itu kini mulai agak tenang, ketika dia membuka kedua matanya, pandangannya tidak berkunang dan tidak kelihatan berputaran lagi.

Rasa mual di perutnya juga hilang dan dia bahkan mulai merasakan suatu kenyamanan yang aneh, seolah-olah orang yang tadinya dipanggang terik matahari kini berteduh di bawah pohon yang rindang, dan menghirup hawa yang sejuk sekali.

Akan tetapi, dia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya yang seperti lumpuh.

Ada rasa dingin yang hebat masuk ke tubuhnya melalui leher dan agaknya hawa dingin inilah yang membuat rasa panas di tubuhnya bekurang.

Dan memang sesungguhnya demikianlah.

Telah terjadi sesuatu kebetulan yang berulang pada diri Han Beng.

Anak ini mestinya sudah tewas oleh gigitan ular Sungai Huang-ho karena gigitan itu mengandung racun yang amat kuat.

Akan tetapi, hawa panas dasyat yang amat kuat itu yang membuat setiap pukulan Han Beng tidak dapat ditahan oleh seorang jagoan silat, juga mendatangkan bencana dan ancaman maut lain lagi.

Tubuhnya yang tidak terlatih itu, biarpun masih bersih, tidak kuat menahan kekuatan dasyat di dalamnya dan Han Beng terancam maut untuk kedua kalinya.

Hal ini nampak ketika wajahnya berubah semakin merah lalu menghitam.

Akan tetapi, pada saat itu "Kebetulan"

Sekali ban-to Mo-li diserangnya dan wanita iblis ini hendak menguasai dirinya dengan memberi tmparan beracun pada lehernya.

Sama sekali diluar dugaan Ban-to Mo-li sendiri bahwa racun dari kukunya yang amat kuat itu, yang mengandung hawa dingin, ternyata malah menyelamatkan nyawa Han Beng!

Racun dingin inilah yang mengurangi tekanan hawa panas di tubuh Han Beng sehingga keadaan dalam tubuh anak itu menjadi seimbang.

Dan sebaliknya, racun dingin ini pun kehilangan daya serangnya yang berbahaya karena bertemu dengan hawa panas itu.

Memang racun bertemu racun yang bertentangan itu kehilangan daya serangnya yang mematikan, bahkan sebaliknya dapat menjadi obat yang amat ampuh!

Melihat han Beng roboh dan lemas, para tokoh kang-ouw menjadi girang dan mereka pun kini kembali berebut maju untuk dapat lebih dulu menangkap dan melarikan anak itu.

ada pula sebagian yang lari untuk menubruk dan melarikan Giok Cu.

Akan tetapi, Liu Bhok Ki sudah meloncat kedepan dan tangan kakinya bergerak cepat dan menyerang mereka yang hendak memperebutkan Han Beng.

Empat orang terlempar ke belakang terkena tendangan kaki Liu Bhok Ki yang sudah marah sekali.

KANGZUSI WEBSITE

http.//kangzusi.com/

Jilid 4

"Manusia-manusia buas seperti iblis!"

Liu Bhok Ki membentak.

"Kalian menjadi kejam dan jahat oleh dorongan nafsu ingin memperoleh darah anak naga! Tidakkah kalian melihat betapa anak ini menderita dan keracunan hebat?"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu, yaitu suara ketawa ban-tok Mo-li.

"Hi-hi-hik, Liu Bhok Ki ! jangan berlagak menjadi pendekar budiman! Engkau sendiripun memperebutkan anak naga dan tentu engkau menginginkan pula darah anak itu!"

Semua orang terkejut.

Baru sekarang mereka tahu bahwa orang tinggi besar yang melindungi Han Beng itu adalah pendekar Liu Bhok Ki yang namanaya pernah mengemparkan dunia persilatan puluhan tahun yang lalu!

Liu Bhok Ki juga mengenal wanita cantik itu.

teringat dia akan mendiang isterinya.

Memang terdapat banyak persamaan baik bentuk tubuh maupun wajah antara isterinya dan wanita itu bukan lain adalah enci dari isterinya.

"Phang Bi Cu,"

Katanya halus dan menyebut nama wanita itu karena dia tidak mau menyebutkan julukannya yang mengerikan itu.

"Aku sama sekali tidak menginginkan darah anak ini, melainkan hendak melindunginya karena dikeroyok oleh jagoan-jagoan dunia persilatan yang tidak tahu malu!"

"Bohong!"

Kata ban-to Mo-li sambil melirik kepada semua tokoh yang mengepung tempat itu.

"Siapa tidak tahu bahwa tadi engkau telah pula menelan mustika naga?"

Liu Bhok Ki terkejut. Tak disangkanya bahwa wanita ini sungguh cerdik dan dapat mengetahui hal iyu.

"Benar, akan tetapi aku hanya ingin melindungi anak ini karena dialah yang tadi memberikan anak naga itu kepadaku."

Mendengar ini, para tokoh kang-ouw sudah menrjang lagi dan disambut oleh Liu Bhok Ki.

Kini pendekar inilah yang dikeroyok, akan tetapi dia memang hebat bukan main, ilmu silatnya tinggi dan tenaga sin-kangnya sukar dilawan sehingga banyak diantara para apengeroyok itu roboh oleh pukulan atau tendangan kakinya.

Seorang tosu yang sudah tua, usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, bertubuh pendek kate dan jubahnya berwarna kuning, di punggungnya terdapat sebuah pedang yanag panjang, meloncat kea rah Giok Cu dan cepat sekali tangannya menyambar tubuh anak itu dan dibawanya lari!

Melihat ini, Ban-tok Mo-li berseru marah.

"Tosu keparat, kembalikan bocah itu kepadaku!"

Dengan gerakan tubuhnya yang ringan bagaikan seekor burung wallet, Ban-tok Mo-li sudah berlari mengejar.

Ia melihat Han Beng masih lumpuh sedangkan Liu Bhok Ki dikeroyok banyk orang.

Untuk sementara waktu tidak akan ada yang mampu melarikan Han Beng, maka lenih dulu ia harus merampas anak itu lebih dajulu ia harus merampaskan anak perempuan itu.

ia tidak akan membiarkan siapapun melarikan dua oran anak itu yang akan dibawanya semua.

Tosu yang melarikan Giok Cu itu pun memiliki ilmu lari cepat yang cukup hebat.

Dia adalah Tung-hai Cin-jin, seorang tosu perantau yang namanya terkenal sekali di daerah pentai timur.

Ilmu silatnya tinggi, terutama sekali ilmu pedang samurainya yang panjang, dan ilmu tendangan yang disebut Tendngan terbang.

Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Tung-hai Cin-jin juga ingin mendapatkan anak naga.

Dia membutuhkan mustika dan darah naga karena menurut dongeng, satu diantara khasiat darah naga dan mustika naga itu adalah memperpanjang usia!

Dia sudah berusia tujuh puluh tahun dan merasa betapa usia tua menggerogoti tubuhnya dan kkuatannya.

Karena itu, dia ingin sekali mempermuda dirinya dan memperpanjang usianya!

Memang kalau dilihat kenyataan ini amatlah aneh.

Semua manusia merasakan betapa kehidupan ini bergelimang, kekecewaab, penyesalan, duka, rasa takut, permusuhan, apalagi kalau usia tua sudah mencengkeram diri, maka banyak penderitaan dialami, terutama sekali penderitaan jasmani yang sudah mulaia lemah dan berpenyakitan.

Akan tetapi anehnya, semua orang ingin berusia panjang!

Dua orang itu terlalu tangguh untuknya.

Maka, begitu melihat Ban-tok Mo-li turun tangan, juga Liu Bhok Ki melindungi anak laki-laki, dia melihat betapa perhatian orang semua ditujukan kepada anak laki-laki dan seakan melupakan anak perempuan yang hampir roboh karena lemas itu.

maka, dia pun berpikir bahwa kalau tidak bisa mendapatkan keduanya, memperoleh anak perempuan itu pun sudah cukup berharga.

Dia lalu mempergunakan Gin-kang nya, melompat, menyambar tubuh Giok Cu dan melarikan anak perempuan itu.

dia merasa betapa ketika dia menyentuh tubuh anak itu, terasa amat panas dan hawa panas yang luar biasa menyerangnya.

Namun, dia cukup pandai dan memiliki sin-kang yang kuat untuk melindungi dirinya dari serangan hawa panas itu.

dia berhasil memondong lalu mengempit tubuh anak perempuan itu dan dibawanya lari secepat terbang.

Akan tetapi, belum ada lima ratus meter dia lari, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali melewatinya dan ada angina menyambar kearah kepalanya.

Tung-hai Cin-jin mengelak kesamping dan ketika dia memandang, ternyata ban-tok Mo-li telah berada dihadapannya!

Peristiwa sejak perebutan anak naga di permukaan sungai tadi sudah berjalan dengan cepatnya dan tanpa terasa, kini malam telah mulai terusir kegelapaannya dan terganti cuaca pagi yang remang-remang.

Namun Tung-hai Cin-jin mengenal baik siapa wanita di depannya maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu mencabut pedang samurainya dan melintangkan pedang panjang itu didepan dada.

"Tosu tua bangka tak tahu diri! Apakah engkau lebih mementingkan anak perempuan itu daripada nyawamu? Hayo berikan anak itu atau terpaksa kuambil nyawamu lebih dulu!"

Bentak ban-tok Mo-li dengan siakap garang.

"Sian-cai ........., Ban-tok Mo-li, pinto (saya) amat membutuhkan anak ini, disana masih ada anak laki-laki itu yang akan lebih berguna bagimu daripada anak ini.dengan siakap garang.

"Sian-cai ........., Ban-tok Mo-li, pinto (saya) amat membutuhkan anak ini, disana masih ada anak laki-laki itu yang akan lebih berguna bagimu daripada anak ini. Berilah kesempatan kepada pinto, Phang-toanio (Nyonya besar Phang), dan pin-to tidak akan melupakan budimu ini."

"Persetan denganmu!"

Bentak ban-tok Mo-li.

"Serahkan anak itu!"

Tung-hai Cin-jin menggeleng kepalanya.

"Tidak, Toanio, pin-to membutuhkannya!"

"Keparat, mampuslah!"

Ban-tok Mo-li sudah menggerakkan tangannya dan tahu-tahu ada sinar kilat menyambar kearah leher tosu itu.

kiranya wanita cantik itu telah mencabut pedang dan sambil terus melakukan serangan kilat.

Demikian cepatnya gerakan wanita ini sehingga mengejutkan hati Tung-hai Cin-jin!

Cepat dia memutar pedang samurai di tangan kanannya dengan pengerahan tenaga.

Pedang itu besar dan berat dia menangkis dengan sekuatnya dengan maksud membuat pedang wanita itu terpental dan terlepas.

Akan tetapi, ban-to Mo-li adalah seorang datuk sesat yang selain amat lihai ilmu silatnya, juga cerdik bukan main.

Ia tidak mau mengadu tenaga dengana lawan kakek pendek ini, apalagi pedang di tangan lawan itu berat dan besar.

Biarpun ia tidak takut kalau sin-kangnya kalah kuat, setidaknya ia kuatir kalau-kalau pedangnya akan rusak.

Cepat ia mengelebatkan pedangnya menghindarkan pertemuan dengan samurai lawan dan tangan kirinya sudah menggerakkan kipas.

Kipas itu menutup dan gagangnya menotonk kearah pundak kanan Tung-hai Cin-jin.

Kakek kate ini terkejut bukan main, namun dia masih dapat melempar tubuh kebelakang dan berjungkir balik sampai lima kali membuat salto.

Gerakannya cepat dan indah sehingga Ban-tok Mo-li kagum juga.

Kakek yang sudah amat tua itu ternyata masih gesit bukan main.

Sementara itu, ketika dibawa jungkir balik, Giok Cu yang sudah lemas dan hampir pingsan itu, tiba-tiba menjadi sadar kembali.

Begitu sadar dan melihat dirinya dikempit oleh seorang kakek kate dan wanita cantik itu menyerang penawannya, iapun berpendapat bahwa lebih baik terjatuh ke tangan wanita cantik itu daripada ke tangan kakek pendek yang tua dan bau pakaiannya apak itu.

maka, ia pun lalu memukul dengan tangan kanannya dan kepalanya berada di belakang, dengan sekuatnya anak perempuan ini memukul kearah punggung Tung-hai Cin-jin.

"Dukkk.............!"

"Aduhhh.......... Ahhh, panas ...........!"

Kakek pendek itu terpaksa melepaskan kembali kempitannya dan dia terpelanting, lalu cepat berguling sambil memutar pedang melindungi tubuhnya.

Ketika dia melihat bahwa Ban-tok Mo-li tidak mengejarnya, kakek it uterus berguling menjauh, kemudian meloncat bangun dan melarikan dir dengan muka kecewa sekali.

Dia gagal memperoleh obat awet muda, bahkan sebaliknya menerima pukulan dai punggungnya yang walaupun tidak mendatangkan luka parah, namun hawa panas itu mengacaukan jalan darah di punggungnya dan mungkin akan membuat dia menderita penyakit encok yang berat di punggung!

Ban-to Mo-li menghampiri Giok Cu yang tadi terlempar ketika kakek itu melepaskannya dan memandang anak perempuan itu penuh perhatian.

Seorang anak perempuan yang amat cantik, pikirnya.

Bentuk hidungnya, mulutnya, terutama sepasang matanya amat indah dan kelak menjadi seorang wanita yang cantik sekali.

"Hemmm, siapakah namamu?"

Tanyanya mendekati.

Giok Cu sudah bangkit berdiri, dan biarpun tubuhnya lemas dan kepalanya masih pening, namun aneh, setelah ia melakukan pukulan tadi, kini keadaannya mendingan.

Ia tidak tahu bahwa kalau ia mempergunakan tenaganya, maka hawa panas yang ditimbulkan oleh darah ular tadi sebagaian akan keluar sehingga dirinya tidak begitu tertekan.

Dengan tabah ia memandang wanita itu dan Giok Cu juga merasa suka karena wanita itu memang cantik sekali dan pakaiannya indah, juga mulutnya tersenyum manis.

"Namaku Bu Giok Cu,"

Jawabnya singkat.

"Giok Cu (batu kemala)? Wah, namamu indah. Giok Cu, kenapa kau tadi memukul kakek itu?"

"Karena aku tidak suka padanya, bajunya berbau apak dan dia tentu tidak akan bersikap baik kepadaku."

"Hemmmm, apakah engkau tidak tahu bahwa aku pun akan membawamu?"

Ia berhenti sebentar melihat sepasang mata yang memandangnya dengan terbuka lebar tanpa sedikitpun perasaan takut terbayang di dalamnya itu.

Seorang anak yang baik sekali, pikirnya.

Kelak tentu menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga pemberani.

Akan tetapi darah naga ditubuhnya itu!

ia amat membutuhkannya.

"Apakah engkau memilih aku daripada dia?"

Giok Cu mengangguk.

"Aku memilih engkau. Engkau cantik dan ramah."

"Baiklah, kalau begitu mari ikut aku. Aku akan mengajak pula anak laki-laki itu."

"Han Beng? Ah, sungguh hatiku senang sekali kalau begitu, bibi. Kau tolonglah dia!"

Dan Giok Cu sedikit pun tidak membantah, bahkan ikut berlari disamping wanita itu yang menggandeng tangannya.

Melihat betapa anak perempuan itu dapat berlari ringan dan cepat, Ban-tok Mo-li merasa heran dan ia mempercepat larinya.

Aneh sekali!

Giok Cu dapat mengimbangi larinya tanpa banyak kesukaran!

Dan tanpa diketahui oleh Giok Cu, ketika ia berlari, berarti ia mempergunakan tenaga dan hawa panas di tubuhnya itu pun menerobos keluar an membuat keadaan tubuhnya menjadi lebih baik lagi!

Diam-diam wanita iblis itu kagum dan girang.

Ia tahu bahwa anak ini tidak pernah mempelajari ilmu berlari cepat, akan tetapi secara tiba-tiba saja menguasai tenaga yang amat hebat.

Tentu berkat darah anak naga, pikirnya!

Mereka tiba ditempat tadi, dimana Liu Bhok Ki masih dikeroyok banyak orang.

Pria perkasa itu mengamuk dan biarpun para tokoh kang-ouw mulai mengeroyoknya dengan senjata di tangan, Liu Bhok Ki melawan hanya untuk menjaga diri dan melindungi Han Beng saja.

Dengan sabuknya, dia menghalau semua senjata, merobohkan beberapa orang tanpa bermaksud membunuh mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu.

"Hi-hi-hik, kalian ini semua adalah orang-orang kang-ouw yang tolol! Lihat baik-baik, anak laki-laki itu telah terluka oleh kuku tanganku! Dia sudah keracunan dan siapa pun yang mendapatkan dia, hanya akan melihat dia mati dengana daging dan darah yang membusuk! Darahnya tidak ada gunanya lagi bagi siapapun juga. Hanya aku yang dapat mengobatinya. Untuk pa kalian masih memperebutkan dia?"

Mendengar ini, semua orang tertegun dan menahan senjata mereka.

Kalau benar apa yang dikatakan wanita iblis itu, maka memang tidak ada gunanya memiliki bocah itu, dan mereka tadi pun sudah melihat Han Beng ditampar oleh wanita iblis itu.

Juga Liu Bhok Ki menjadi tertegun, lalu dia menghampiri Han Beng.

Dilihatnya betapa ada bekas tapak tangan menghitam di leher anak itu, dan ada guratan kuku yang lebih hitam lagi, wanita iblis itu tidak berbohong!

Akan tetapi, dia merasa semakin kasihan kepada Han Beng dan bermaksud untuk menolongnya, dan untuk berusaha mencarikan obatnya kalau benar anak itu terancam racun maut.

Maka, dia lalu mengangkat tubuh Han Beng keatas punggungnya.

Bocah itu membuka mata dan Liu Bhok Ki Berbisik kepadanya.

"Jangan takut, rangkul leherku kuat-kuat dan aku akan melindungimu dari mereka."

Han beng memang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Liu Bhok Ki semenjak dia melihat pria gagah perkasa ini diatas perahu.

Tadi dia melihat betapa kakek itu membelanya mati-matian maka dia pun menurut saja dan dia merangkul pundak dan leher kakek itu.

liu Bhok Ki sambil memutar sabuknya hendak melarikan Han Beng, akan tetapi para tokoh kang-ouw tidak membiarkan dia lolos begitu saja.

Mereka ini menghadang dan mengepung sehingga kembali terjadi perkelahian sambil menggendong tubuh han Beng.

Bocah ini tidak tinggal diam.

Biarpun dia digendong, kedua tangannya tidak mau tinggal diam dan setiap kali ada lawan yang dekat, dia berusaha memukul dengan kedua tangannya yang masih mengeluarkan hawa panas!

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha! Sungguh lucu sekali! Aku tidak lagi dapat membedakan mana pendekar dan orang kang-ouw, dan mana anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tulang! Dan agaknya orang-orang dunia persilatan sudah kehilangan kegagahan mereka, karena nafsu yang menyala-nyala lupa akan kegagahan sehingga main keroyok seperti ini! Sungguh tidak tahu malu dan aku tidak boleh membiarkan begitu saja!"

Lenyaplah suara ini digantikan munculnya seorang laki-laki tua yang pakaiannya penuh tambalan, bertubuh tinggi kurus seperti orang kurang makan, namun wajahnya selalu gembira dan tangananya memegang sebatang tongkat butut.

Begitu dia muncul, dia mengobat-abaitkan tongkat bututnya, menghantam sana-sini dan orang-orang yang mengeroyok Liu Bhok Ki menjadi kacau balau!

Tongkat butut ini lihai bukan main.

Ke mana pun menyambar, sukar dielakkan atau ditangkis karena gerakannya memukul dan biarpun ditangkap, tongkat itu dapat menyelinap, luput dari tangkisan lawan namun tetap saja mengenai sasaran.

Terdengar suara bak-bik-buk karena ada saja punggung, pinggul atau kaki orang yang kena gebuk!

Melihat munculnya kakek berpakaian pengemis ini, Liu Bhok Ki menjadi senang.

"Sin-Ciang kai-ong, terima kasih atas bantuanmu!"

Katanya sambil memutar sabuknya semakin cepat untuk mencari jalan keluar.

"Ha-ha-ha-ha-ha, Sin-tiauw (Rajawali Sakti), begitu muncul engkau menggegerkan dunia persilatan! Engkau tahu, tidak ada pohon tak berbunga, tidak ada perbuatan tanpa pamrih! Ha-ha-ha!"

Sambil menangkisi senjata para pengeroyok dengan sabuknya, Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Betapa bodohnya dia mengira bahwa Raja Pengemis ini mau membantunya tanpa pamrih! "Apa kehendakmu, Kai-ong?"

"Aku mengagumi bocah itu. Berjanjilah untuk membiarkan dia menjadi muridku selama lima tahun setelah dia menjadi muridmu lima tahun!"

Liu Bhok Ki mengenal baik Raja Pengemis itu.

seorang gagah perkasa yang amat terkenal karena dia berhasil merajai semua perkumpulan pengemis dan dapat mencegah para apengemis menjadi penjahat-penjahat, sebaliknya memberi bimbingan kepada para jembel sehingga banyak diantara mereka itu yang dapat kembali ke masyarakat sebagai orang-orang berguna.

Bahkan semenjak dia menjadi Kai-ong (Raja pengemis), bermunculanlah pengemis-pengemis yang lihai dan berjiwa pendekar!

Orang seperti Sin-ciang Kai-ong (Raja Pengemis Tangan Sakti) ini tidak mungkin akan berbohong dan tidak akan sudi membunuh anak ini untuk diambil darahnya!

Dan tidak aneh kalau Sin-Ciang Kai-ong ingin mengambil anak ini menjadi murid karena tertarik melihat sepak terjang Han Beng tadi.

"Baiklah, aku berjanji!"

Kata Liu Bhok Ki.

"Ha-ha-ha, janji seorang Liu Bhok Ki takkan berubah walaupun langit runtuh dan bumi kiamat! Nah, bawalah pergi anak itu, biar aku yang menghadapi mereka ini!"

Melihat majunya Sin-Ciang Kai-ong yang membantu Liu Bhok Ki, orang kang-ouw menjadi jerih dan mereka pun tidak mempunyai harapan lagi untuk merampas han Beng, apalagi mendengar ucapan ban-tok Mo-li bahw darah anak itu telah keracunan hebat oleh kuku tangan iblis betina itu.

mereka mundur, bahkan sebagian besar lalu pergi, ada pula yang merawat teman yang terluka dalam pertempuran tadi.

Akan tetapi ban-tok Mo-li Phang Bi Cu masih merasa penasaran.

Sambil memondong Giok Cu, ia melompat dan hendak mengejar Liu Bhok Ki.

"Hendak lari kemana kau? Serahkan dulu bocah itu kepadaku!"

Bentaknya, dan begitu kipasnya mengebut, ada belasan batang jarum hitam beracun menyambar kea rah Liu Bhok Kid an Sin-ciang kai-ong.

Liu Bhok Ki cepat memutar sabuknya dan melompat ke samping, sedangkan Sin-Ciang kai-ong terkekeh dan tongkat bututnya memukul kesana-sini meruntuhkan semua jarum hitam.

"Heh-heh-heh, ban-tok Mo-li kini semakin cantik akan tetapi juga semakin beracun dan kejam! Heh-heh, orang lain hanya berambut pada kepala dan beberapa tempat lagi di luar tubuh, akan tetapi agaknya engkau lain, di dalam hatimu juga berbulu, berambut. Engkau membunuhi orang seperti membunuh semut saja."

"Jembel busuk, engkau pun akan kubunuh!"

Bentak ban-to Mo-li Phang Bi Cu marah.

Ia mengenal raja pengemis ini yang selalu bersikap ugal-ugalan dan memandang rendah orang lain walaupun juga amat lihai, maka kini ia menyerang dengan hebat, mengerahkan seluruh tenaganya.

Pedangnya menyambar dasyat dan ketika Sin-ciang kai-ong meloncat jauh kebelakang, dari kipasnya menyambar sinar hitam dengan cepat sekali.

Sin-ciang Kai-ong memutar tongkat butut dan mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia mengeluh dan tubuhnya terguling, jatuh miring di atas tanah!

Agaknya ada satu dua batang jarum beracun yang mengenai tubuhnya dank arena jarum beracun itu mengandung racun yang berbahaya, maka dia pun tak mampu bangkit kembali.

"Huh!"

Ban-tok Mo-li mendengus dan mencibir.

Kiranya hanya sekian saja kelihaian orang yang disebut Raja Pengemis itu.

sambil memondong tubuh Giok Cu yang kini juga berada di punggungnya digendong seperti halnya han Beng digendong Liu Bhok Ki, wanita ini mengerahkan tenaga dan lari mengejar, karena Liu Bhok Ki sudah melarikan diri sambil mengendong han Beng.

Ketika Ban-tok Mo-li meloncati tubuh kai-ong, tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget dan hampir saja ia jatuh terguling karena tiba-tiba sebatang tongkat butut telah menjegal kakinya dan ketika ia meloncat untuk menghindar, ujung tongkat itu menotok kearah kedua kututnya, dan yang ke tiga kalinya menotot lebih keatas lagi di antara kedua pahanya!

Tentu saja iblis betina itu mengeluarkan suara kaget dan nyeri, namun ia memang lihai bukan main.

Tubuhnya yang meloncat lebih tinggi lagi, lalu menukik dan kepalanya ke bawah, pedangnya diputar untuk menyerang Sin-Ciang Kai-ong yang ternyata tadi hanya pura-pura jatuh saja!

Raja pengemis itu bergulingan dan meloncat berdiri sambil menyeringai lebar, lagaknya mengejek sekalai, bahkan dia menjulur lidahnya kepada Ban-tok Mo-li seperti ejekan diantara kanak-kanak.

"Ha-ha, ban-to Mo-li. Kaukira aku begitu mudah jatuh oleh jarum-jarummu yang kotor itu?"

Dia mengebutkan bajunya dan beberapa batanag jarum runtuh keatas tanah.

"Sayang, lain kali kirimilah aku jarum-jarum yang bersih untuk menjahit dan menambal pakaianku, Mo-li."

Sin-ciang Kai-ong sengaja mengejek dan menggoda untuk memancing kemarahan Ban-to Mo-li dan dia berhasil mengalihkan perhatian iblis betina itu sehingga tidak dapat mengejar Liu Bhok Ki yang sudah berlari jauh.

Wanita itu marah sekali.

"Sin-ciang Kai-ong! Selama ini, diantara kita tidak ada urusan dan kita tidak saling mengganggu. Akan tetapi sekarang, agaknya engkau mencari mampus!"

Berkata demikian, ban-to Mo-li Phang Bi Cu menggerakkan pedang dan kipasnya, melakukan serangan dengan dasyat.

Kebutan kipasnya mengandung angina dan pedangnya membentuk gulungan sinar yang mengeluarkan bau amis dan harum aneh karena mengandung racun yang amat jahat.

"Heiiiiiiiit ......!"

Dengan gerakana lucu Sin_ciang kai-ong mengelak sambil menggerakkan tongkat bututnya.

"Tok-takkk-trangggg...........!"

Berulang kali tongkat butut itu, dengan gerakan yang aneh dan lucu, dapat menangkis kipas dan pedang.

Gerakan kai-ong memang aneh sekali, dan kadang-kadang kelihatan kaku dan tidak teraatur, namun setiap kali tubuhnya terancam pedang atau gagang kipas, selalu tongkat itu sudah datang menolongnya dan menangkis senjata lawan dengan amat kuatnya mengandung tenaga yang dasyat sehingga Ban-tok Mo-li merasa betapa tangannya tergetar hebat ban-to Mo-li terkejut.

Ia sudah banyak mendengar tentang kelihaian Raja Pengemis ini, akan tetapi baru sekarang ia mengadu kepandaian.

Kai-ong adalah seorang ahli permaianan tongkat yang beraneka macam.

Yang dimainkan ini mungkin yang dinamakan Ilmu Tongkat Setan Arak (Ciu-kwi Tung-hoat), kelihatan seperti orang mabuk mengobat-abit tongkat secara ngawur, akan tetapi hebatnya, kemana pun pedang dan kipas Ban-to Mo-li menyambar, selalu kedua senjata itu bertemu dengan ujung tongkat yang menangkis dengan kuatnya.

Dan serangan balasan dari ujung tongkat yang lain menyambar secara tidak terduga-dua sehingga beberapa kali Mo-li terkejut dan terpaksa harus meloncat tinggi ke belakang untuk menghindarkan diri.

Setelah mereka bertanding selama belasan jurus, tahulah ban-to Mo-li bahwa tingkat kepandaian lawannya ini memang tinggi dan tidak boleh dibuat main-main.

Ia baru mengerti mengapa orang ini dapat menjadi Raja Pengemis dan kekuasaannya diakui oleh semua kai-pang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru dunia!

Setidaknya, tingkat Raja Pengemis ini tidak berada dibawahnya, dan dalam keadaan menggendong Giok Cu, sungguh tidak mudah bagi ban-to Mo-li untuk mengalahkan Sin_ciang kai-ong.

"Ha-ha-ha, Ban-to Mo-li, kiranya selain makin cantik, engkau pun semakin lihai saja! Akan tetapi, bocah di punggungmu itu mengganggu gerakanmu. Bagaimana kalau bocah itu kau titipkan dulu kepadaku? Biarlah aku yang mengendong dan melawanmu. Kalau begitu baru seru. Dan aku pun tidak menolak kalau menjadi guru anak perempuan itu!"

Diejek demikian, ban Tok Mo-li menjadi semakin marah, akan tetapi ia juga merasa kuatir.

Kalau sampai si jembel ini benar-benar hendak merampas Giok Cu, repot juga ini!

Apalagi kalau Bhok Ki muncul dan membantu jembel itu, ia akan celaka.

Maka, ia pun menuding pedangnya kepada jembel tua itu dan membentak.

"Sin-ciang kai-ong, hari ini aku tidak sempat melayanimu, biarlah lain hari aku ingin menguji sampai dimana kepandaianmu. Hendak kulihat apakau engkau mempunyai tiga buah kepala!"

"Ha-ha-ha!"

Sin-ciang kai-ong meraba-raba muka dan kepalanya dengan gaya lucu mempermainkan.

"Sebuah kepala saja sudah repot mengurus cuci muka, rambut, kumis, jenggot dan menggosok gigi, apalagi tiga buah kepala. Wah repotnya! Tapi kau tentu senang mempunyai kekasih dengan tiga buah kepala, Mo-li. Tentu dia pandai merayu dan bercinta, heh-heh!"

"Keparat!"

Wanita itu memaki dan kedua tangannya bergerak cepat.

Berhamburanlah jarum dan paku kearah tubuh Sin-ciang kai-ong, puluhan batang banyaknya!

Tentu saja Sin-ciang Kai-ong tidak berani main-main lagi menghadapi serangan senjata rahasia dari seorang Ban-to Mo-li.

Repotlah dia memutar tongkat bututnya dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari serangan senjata-senjata rahasia kecil yang amat berbahaya karena kesemuanya mengandung racun yang mematikan itu.

dan ketika dia berhenti bergerak lalu mengangkat muka memandang, ternyata wanita itu telah lenyap!

Sin-ciang Kai-ong menghentikan senyumnya dan dia menarik napas panjang.

"Huiiiii! Sungguh berbahaya sekali wanita itu ..........!"

Diapun segera meninggalkan tempat itu yang kini menjadi sunyi kembali karena para tokoh kang-ouw sudah sejak tadi pergi meninggalkan tempat itu setelah mereka melihat munculnya orang-orang sakti seperti Ban-to Mo-li, Liu Bhok Ki, dan Sin-ciang Kai-ong.

Mereka maklum bahwa tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk membawa pulang seorang di antara dua orang anak yang minum darah anak naga itu, apalagi setelah mengetahui bahwa anak laki-laki itu telah terluka oleh pukulan beracun Ban-tok Mo-li sehingga darahnya pun tentu telah beracaun.

Tempat di tepi pantai Sungai Kuning itu kembali sunyi seperti sebelum terganggu oleh kehadiran banyak tokoh kangouw tadi.

Dan matahari sudah naik tinggi.

oooOOooo Gedung itu besar dan Indah, juga dalamnya mewah dengan perabot rumah yang serba mahal.

Akan tetapi rumah di luar kota Ceng-touw itu jauh dari tetangga dan mempunyai kebun yang luas di sekelilingnya.

Rumah terpencil dan bukan hanya terpencil, akan tetapi juga dijauhi oleh semua orang yang tinggal di sekitar kota Ceng-touw di Propinsi Shan-tung.

Rumah itu terkenal oleh semua penduduk sebagai rumah Phang Toa-nio (Nyonya Besar Phang) yang tinggal bersama puterinya yang dikenal dengan sebutan Phang Siocia (Nona Phang) bersama belasan orang pelayan wanita.

Yang membuat orang segan dan menjauhi rumah itu adalah karena keluarga Phang yang hanya terdiri dari ibu dan anak serta belasan orang pelayan wanita itu terkenal sebagai keluarga yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, bahkan mereka itu ringan tangan, sedikit-sedikit memukul orang, bahkan kalau ada yang berani melawan, tentu akan tewas dalam keadaan mengerikan.

Bagi orang kang-ouw, keluarga itu, terutama ibunya, lebih dikenal lagi dengan perasaan takut karena nyonya rumah itu bukan lain adalah Phang Bi Cu yang berjuluk Ban-tok Mo-li.

Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu adalah seorang janda yang mempunyai seorang saja anak, seorang anak perempuan yang diberi nama Sim Lan Ci.

Memang Ban-to Mo-li seorang yang amat aneh.

Sejak menjadi pengantin baru, dua tahun saja ia sudah tidak cocok dengan suaminya.

Dan ia mempunyai seorang kekasih baru seorang pemuda she Sim.

Ketika suaminya menyeleweng dengan wanita lain suami itu dibunuhnya!

Dan ketika hubungannya dengan pemuda she Sim itu berlarut sampai beberapa tahun dan ia kemudian mengandung karena perhubungan mereka, ia pun membunuh pemuda she Sim itu!

Ketika anaknya terlahir perempuan ia meberinya nama Lan Cid an memakai she (nama keluarga ) Sim!

Memang seorang wanita yang aneh dan juga kejam sepeti iblis!

Seperti kita ketahui, Phang Bi Cu adalah kakak perempuan dari Phang Hui Cu yang telah meninggal dunia, dahulu isteri dari Liu Bhok Ki.

Ban-to Mo-li Phang Bi cu mengembleng puterinya sehingga Sim lan Ci memiliki kepandaian yang tinggi walaupun belum dapat menyamai tingkat ibunya.

Phang Bi Cu mendengar bahwa adik kandungnya, yaitu Ohang Hui Cu dibunuh oleh suaminya sendiri, akan tetapi ia tidak mempedulikan hal ini.

Ia sendiri juga membunuh suaminya, juga kekasihnya, maka perbuatan Liu Bhok Ki yang membunuh isterinya, yaitu adik kandungnya, dianggapnya hal yang lumrah dan ia tidak mau mencampurinya.

Akan tetapi tidak demikian dengan Sim Lan Ci.

Dari ibunya, ia mendengar akan nasib bibinya yang tewas di tangn Liu Bhok Ki itu.

maka, Sim Lan Ci lalu meninggalkan rumah ibunya dan pergi mencari Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) di Kui-san.

Dan seperti kita ketahui di bagian pertama dari kisah ini, Sim Lan Ci bukan hanya gagal membunuh bekas suami bibinya itu, bahkan ia sendiri diberi obat perangsang sehingga melakukan hubungan badan dengan Coa Siang Lee.

Karena mereka saling tertarik dan saling jatuh cinta, maka peristiwa yang terjadi diluar kesadaran mereka karena keduanya diberi oabat perangsang oleh Liu Bhok Ki ketika mereka berdua tertawan dan pingsan, keduanya segera mengambil jalan terbaik, yaitu akan menjadi suami isteri.

Demikianlah, Sim lan Cid an Coa Siang Lee lalu pergi menghadap ibu kandung dan kakek pemuda itu di Hek-houw-pang.

Ketua Hek-houw-pang, yaitu Coa Song yang telah berusia enam puluh lima tahun, hanya menarik napas panjang ketika cucunya tidak berhasil membunuh musuh besar itu, bahkan Liu Bhok Ki telah menewaskan para murid Hek-houw-pang.

Ketika dia mendengar betapa cucunya itu bersama gadis Sim Lan Ci bahkan tertawan oleh Liu Bhok Ki akan tetapi tidak dibunuh melainkan diberi obat perangsang ketika pingsan sehingga keduanya melakukan hubungan badan dan kini mereka menghadap untuk minta izin agar mereka berdua menikah, Coa Song menarik napas panjang dan ibu kandung Coa Siang Lee menangis.

"Hemmm, sungguh keparat jahanam Liu Bhok Ki itu! Dia tidak membunuhmu akan tetapi melakukan penghinaan dan melemparkan aib yang lebih hebat daripada maut! Hemmm, apa boleh buat, memang tidak ada jalan lain untuk membersihkan nama keluarga dari aib itu kecuali menikah dengan gadis ini. Pernikahan yang terpaksa! Hemmm, siapakah sebetulnya gadis ini dan mengapa pula ia bermusuhan dengan Liu Bhok Ki sehingga tertawan pula?"

"Namanya Sim lan Ci, Kong-kong, dan ia pun mencari Liu Bhok Ki untuk membalas dendam atas kematian bibinya, yaitu mendiang Phang Hui Cu."

"Ah, isteri Liu Bhok Ki yang menjadi gara-gara itu!"

Coa Song mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh perhatian kepada Sim Lan Ci.

Seorang gadis yang canti menarik, dengan pakaian serba hitam yang membuat kulit muka, leher dan tangannya nampak putih mulus.

"Benar, kong-kong. Lan Ci adalah keponakannya, ia adalah putrid tunggal dari enci mendiang Phang Hui Cu yang bernama Phang Bi Cu dan tinggal di Ceng-touw ......."

"Apa? Kau maksudkan Phang Bi Cu dari Ceng-touw yang berjuluk Ban-tok Mo-li ....??"

Coa Song bertanya dengan suara kaget, setengah berteriak.

"Nona, benarkah engakau puteri Ban-tok Mo-li?"

Kini Coa Song bertanya dengan sikap tenang kepada Lan Ci. Gadis itu dengan sikap tenang membalas pandang mata kakek itu dan mengangguk.

"Benar, saya adalah puteri tunggal dari ibu yang berjuluk Ban-to Mo-li."

Wajah Coa Song berubah agak pucat dan matanya terbelalak, kemudian dia berkata kepada cucunya.

"Siang Lee apakah engkau tidak tahu siapa adanya ban-tok Mo-li? Ia adalah seorang datuk sesat yang amat jahat, kejam seperti iblis! Tidak mungkin keluarg kita menerima ia sebagai anggota keluarga!"

Siang Lee mengerutkan alisnya.

"Kong-kong, aku tidak menikah dengan Ban-to Mo-li, melainkan dengan puterinya!"

"Apa bedanya? Bagaimana mungkin kami harus berbesan dengan Ban-tok Mo-li? Apa akan kata orang di dunia persilatan kalau Hek-houw-pang yang selama ini menegakkan nama baiknya tiba-tiba berbesan dengan seorang datuk sesat seperti ban-to Mo-li?"

"Akan tetapi, Kong-kong. Lan Ci bukan seorang gadis jahat, dan kami sudah saling mencinta. Selain itu, kami berdua telah terkena aib, dan jalan satu-satunya adalah menjadi suami isteri."

"Siang Lee, engkau masih muda dan tidak mengerti urusan! Ketahuilah bahwa kalau pernikahan itu kau lakukn berarti engkau menghindari Lumpur dengan masuk ke pencomberan! Aib yang telah kau derita karena perbuatan si Jahanam Liu Bhok Ki, tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan aib yang menimpa kalau kita berbesan dengan Ban-tok Mo-li! Seluruh Hek-houw-pang akan terseret.

"Kong-kong, bagaimanapun juga aku akan menikah dengan Sim lan Ci!"

Pemuda itu berseru dengan penasaran. Ibunya mulai menangis dan membujuk agar mentaati kakeknya.

"Tidak bisa, Ibu! Ini menyangkut kehidupan dan kebahagiaan sendiri. Perjodohan adalah urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun juga. Kong-kong, aku tetap akan menikah dengan Sim Lan Ci."

"Kalau begitu, kami tidak akan turut campur, aku dan ibumu tidak akan merestui dan pernikahan itu tidak kami anggap!"

Bentak kakek Coa Song marah sekali. Tiba-tiba Sim Lan Ci bangkit berdiri dan berkata kepada Siang Lee.

"Aku akan pergi! Aku pun tidak ingin sekali menjadi mantu Hek-houw-pang!"

Berkata demikian, gadis itu lalu melangkah keluar dengan alis berkerut.

"Lan Ci .......! Moi-moi, tunggu .........!"

Teriak Siang Lee.

"Siang lee, kalau engkau nekat, kami tidak mengakuimu lagi sebagai keturunan kami dan anggota Hek-houw-pang!"

Teriak pula kekek Coa Song dengan marah sekali. Perlahan-lahan Siang Lee bangkit berdiri.

"Apa boleh buat, kong-kong, ibu, aku harus menuruti suara hatiku. Bukan hanya karena aku sudah mencinta Lan Ci, juga karena kami bernasib sama, berduanya tertimpa aib. Aku harus membersihkan aib dari namanya, seperti hanya ia akan membersihkan namaku kalau-kalau menjadi isteriku. Selamat tinggal Kong-kong dan ibu, dan maafkan aku!"

Setelah berkata demikian, Siang lee meloncat keluar mengejar Sim Lan Ci.

Ibunya berteriak memanggil dan menangis, namun pemuda itu tidak mau kembali, maklum bahwa kakeknya adalah seorang yang keras hati dan tidak akan mau mengubah keputusannya.

Tentu saja Lan Ci merasa girang sekali melihat Siang Lee menyusulnya, dan sambil bergandeng tangan kedua orang muda itu lalu pergi menuju ke Ceng-touw untuk menghadap ibu kandung gadis itu, ialah Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu.

Mereka sudah saling mencinta dan sudah mengambil keputusan nekat untuk tetap bersatu, apa pun yang akan terjadi.

Karena itu, dalam perjalanan yang cukup jauh ini pun mereka sudah hidup sebagai suami isteri saja sehingga cinta kasih mereka menjadi semakin kuat.

Ban-tok Mo-li menerima dua orang muda itu dengan mata berkilat dan alis berkerut.

Ia memang selamanya bukan merupakan seorang ibu yang penuh kasih saying kepada puterinya, hasil perhubungan gelapa dengan pria lain ketika ia masih mempunyai seorang suami.

Memang ia mengembleng Lan Ci dengan ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi hal itu bukan terjadi karena ia ingin saying kepada Lan Ci, melinkan karena ia ingin mendapatkan seorang pembantu yang tangguh.

Bagi wanita ini, Lan Ci hanya seorang gadis saja, yang boleh diharapkan akan membantunya dengan setia.

Bahkan kadang-kadang timbul rasa iri dalam hatinya melihat betapa Lan Ci makin besar menjadi semakin cantik.

Ia kuatir kalau Lan Ci akan mengalahkannya dalam hal kecantikan sehingga sinar kecantikannya akan meredup!

Kadang-kadang timbul rasa benci dan iri dalam hatinya terhadap Lan Ci, gadis yang dulu dikandung dan dilahirkannya sendiri!

Ban-tok Mo-li mendengarkan cerita Lan Tentang kegagalannya membalas Sakit hati kepada Liu Bhok Ki, tentang tertawannya gadis itu dan kemudian bahkan oleh perbuatan Liu Bhok Ki, gadis itu melakukan hubungan badan dengan Coa Siang Lee yang juga tertawan oleh Liu Bhok Ki.

Ia mendengar pula bahwa Coa Siang Lee adalah putera mendiang Coa Kun Tian, putera ketua Hek-houw-pang yang menjadi kekasih gelap Phang Hui Cu sehingga mengakibatkan mereka terbunuh oleh Liu Bhok Ki.

Marahlah Ban-tok Mo-li walaupun mulutnya masih tersenyum dingin.

"Bagus! Sungguh tidak tahu malu engkau Lan Ci! Engkau tidak ada bedanya dengan Phang Hui Cu, bibimu itu!"

Tak tahu malu!

Hui Cu berpacaran dengan Coa Kun Tian, seharusnya mereka berdualah yang dapat membunuh Liu Bhok Ki yang menjadi penghalang.

Akan tetapi tidak, mereka malah terbunuh oleh Liu Bhok Ki.

Menyebalkan!

Dan sekarang riwayatnya berulang.

Engkau menyerahkan diri pada pemuda ini dan kalian tidak mampu membunuh Liu Bhok Ki malah dipermainkan dan dihina.

Huh, tak tahu malu!

"Engkau boleh menjadi isteri pemuda ini kalau dia mampu ngalahkan aku!"

Berkata demikian, tiba-tiba tubuh Ban-to Mo-li sudah melayang kearah Siang Lee dan tapa banyak cakap lagi ia sudah menyerang pemuda yang tadinya duduk bersila diatas lantai disebelah Lan Ci itu.

Jari tangan wanita itu menotok kearah ubun-ubun kepalanya.

Serangan maut yang amat keji!

Dia pun cepat melempar tubuh ke belakang lalu berguling keluar dari ruangan itu, tiba di luar ruangan yang lebih luas.

Namun, Ban-to Mo-li agaknya bertekad untuk membunuhnya karena wanita itu sudah meloncat mengejar dan menghujankan serangan kilat dari jurus-jurus ilmu silat Ban-to Hwa-kun yang ampuh, silat tangan kosong yang amat indah seperti tarian saja.

Akan tetapi, sesuai dengan namanya, indah seperti bunga namun berbahaya mengandung racun, dibalik keindahan gerakan ilmu silat ini terkandung ancaman maut.

Setiap totokan, tamparan, pukulan atau guratan kuku saja mengandung racun yang amat berbahaya.

Untung bagi Siang Lee bahwa ketika dia melakukan perjalanan dengan Lan Ci, di sepanjang perjalanan kekasihnya itu memberi keterangan dengan jelas tentang ilmu-ilmu ini, juga tentang bahayanya kuku jari tangan Ban-tok Mo-li.

Maka, mendapat serangan bertubi-tubi yang amat hebat itu, Siang Lee tidak mau mengadu tangan, hanya mengelak saja ke sana-sini mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya.

Dan kalau terpaksa menangkis, dia selalu menangkis dari pergelangan tangan ke atas, melihat betapa beberapa serangannya yang bertubi tidak berhasil dan pemuda itu agaknya tahu akan rahasia tangannya yang berbahaya, Ban-tok Mo-li menjadi makin marah.

Ia sama sekali bukan hendak menguji kepandaian Siang Lee, melainkan untuk membunuhnya!

Maka, melihat betapa pemuda itu cukup gesit dan lincah sehingga dapat menghindarkan serangannya yang bertubi-tubi, hal ini dianggap menghinanya dan merendahkannya, maka ia pun mengeluarkan bentakan nyaring dan tahu-tahu ia sudah mencabut pedang dan kipasnya!

Dengan geram ia menerjang dan Siang lee terkejut bukan main.

Serangan pedang itu memang hebat, lebih berbahaya lagi karena disusul serangan kipas yang melakukan tiga totokan maut bertubi-tubi.

Terpaksa dia membuang tubuhnya ke belakang, berjungkir balik dan terhuyung karena didesak terus.

Selagi dia terhuyung, pedang Ban-to Mo-li menyambar kea rah lehernya, dan agaknya sukar bagi Siang Lee untuk meloloskan diri dari serangan yang dilakukan sepat sekali selagi tubuhnya terhuyung itu.

"Trangggg........ !"

Sebatang pedang menangkis pedang di tangan Ban-to Mo-li dan nampak bunga api berpijar. Kiranya Lan Ci yang menangkis peang ibunya itu dengan pedangnya sendiri.

"Ibu, Coa Siang Lee telah menjadi suamiku dalam arti yang sebenarnya! Bahkan dalam perjalanan kami ke sini, kami telah menjadi suami isteri yang selalu tidur sekamar! Kalau ibu membunuh suamiku dan aku sebagai isterinya tentu saja tidak rela!"

Lan Ci berdiri tegak dengan pedang di tangan, agaknya ia siap untuk melawan ibunya sendiri demi membela orang yang dicintainya.

Siang Lee juga melompat di samping Lan Cid an biarpun dia belum mengeluarkan senjata namun jelas bahwa sikapnya juga siap untuk membantu kekasihnya yang sudah dianggap isterinya.

"Kau ........ kau ..........."

Ban-to Mo-li menjadi agak pucat mukanya.

Ia menghadapi persoalan yang sulit.

Haruskah ia membunuh anak sendiri?

Andaikata hal ini ia lakukan, ia harus menghadapi mereka berdua dan agaknya, mereka itu amat tangguh.

Bagaimna kalau sampai ia tidak mampu menangkan mereka?

"Kau ......

pergilah!

Kalian pergi dari sini dan selamanya aku tidak mau melihat muka kalian lagi!

Sekali melihat, pasti akan kubunuh kalian!"

Bentaknya marah sambil menudingkan pedangnya kea rah pintu pekarangan depan.

Sim Lan Ci mengenal betul watak ibunya, maka mendengar ucapan ibunya itu, hatinya girang bukan main.

Baru saja ia dan kekasihnya terhindar dari ancaman maut yang mengerikan.

Ia pun lalu menarik pemuda itu untuk melarikan diri sambil berkata.

"Terima kasih, ibu!"

"Aku bukan ibumu lagi!"

Bentak Ban-to Mo-li dan ketika dua orang muda itu pergi, diam-diam Ban-to Mo-li menghapus dua butir air mata yang membasahi pelupuk matanya.

Ia mengeluarkan air mata bukankarena sedih ditinggal pergi puterinya, melainkan karena kecewa dan menyesal bahwa puterinya berani membangkang terhadap perintahnya.

Ia kehilangan seorang murid dan pembantu yang boleh diandalkan.

Demikianlah keadaan Ban-to Mo-li dan seperti telah kita ketahui, iblis betina ini hadir pula di tepi sungai Huang-ho untuk ikut memperebutkan anak naga yang menurut perhitungan akan muncul di permukaan sungai kuning di daerah pusaran maut itu.

kemudian, perebutan dua orang anak kecil yang menghisp darah anak naga itu.

Ban-tok Mo-li berhasil membawa Giok Cu, seorang di antara dua orang anak yang diperebutkan itu dan membawanya pulang ke Ceng-touw.

"Bibi, aku ingin bertemu ayah dan ibuku!"

Kata Giok Cu ketika Ban-to Mo-li membawanya pergi dari tepi sungai itu.

mendengar ini, Ban-tok Mo-li yang tadinya menggendong anak itu, lalu memenurunkannya, memandang dengan alis berkerut dan mata berkilat marah.

"Jangan banyak lagak, Giok Cu! Engkau harus ikut dengan aku."

Akan tetapi Giok Cu menentang pandangan mata wanita iblis itu tanpa rasa takut sedikitpun lalu menjawab .

"Aku memang suka ikut denganmu, bibi, akan tetapi aku harus berpamitan dulu darih dan ibuku!"

Sejenak kedua orang itu saling pandang, sama-sama keras hati, dan akhirnya Ban-to Mo-li tersenyum.

Anak ini memiliki kekerasan hati yang tidak kalah olehnya, dan sudah pasti lebih keras hati dan lebih berani dibandingkan Sim Lan Ci, puter yang telah diusir dan tidak diakuinya lagi itu!

timbul rasa saying dihatinya, peasaan saying yang belum pernah dirasakan sebelumnya, baik terhadap anak kandungnya sekalipun.

"Siapakah orang tuamu dan di mana mereka?"

Tiba-tiba ia bertanya, senyumnya dingin dan akan mendirikan bulu roma orang-orang kang-ouw gagah mana pun kalau melihatnya karena senyum seperti itu mengandung kekejian yang luar biasa.

"Ayahku bernama Bu Hok Gi, seorang pejabat lurah di dusun Liong-cung dan kami sekeluarga, ayah, ibu, aku dan beberapa pembantu, sedang melarikan diri mengungsi karena ayah tidak mau melaksanakan kerja rodi kepada penduduk dusun. Kami seperahu, bersama keluarga Si Han Beng seperahu pula. Keluarga Si juga melarikan diri dari kerja paksa dan kami berkenalan di jalan. Kini ayah dan ibuku berada di perahu. Aku berpisah dari mereka ketika pancingku mendapatkan ular itu."

Ban-to Mo-li mengangguk-angguk.

"Mari kuajak engkau mencari ayah dan ibumu!"

Katanya dan ia pun memondong Giok Cu lalu berlari secepat terbang menuju ke tepi sungai dimana semalam menjadi ramai oleh para tokoh kang-ouw yang berebutan anak naga.

Mula-mula Giok Cu terkejut dan ngeri juga ketika melihat dirinya dibawa lari seperti terbang, akan tetapi lama-lama ia merasa gembira.

Tubuhnya sudah tidak begitu panas lagi dan tidak lagi disiksa oleh mual di perutnya.

Memang tubuhnya kuat, dan darah ular itu biarpun amat kuat, tidak sampi membahayakan keselamatannya karena yang diminumnya tidaklah sebanyak yang dihisap han Beng.

Bagaimanapun juga, masih ada rasa pening di kepalanya namun tidak begitu dirasakannya karena kegembiraan hatinya hendak ..........

Bertemu kembali dengan ayah ibunya.

Ketika mereka tiba di pantai yang semalam, keadaan si situ sudah sunyi sekali.

Hanya nampak beberapa buah perahu nelayan yang ditumpangi para nelayan yang masih nampak takut-takut karena semalam terjadi peristiwa hebat dimana terdapat banyak korban.

Para nelayan itu menemukan mayat-mayat terapung hampir sepuluh orang banyaknya, belum dihitung mayat-mayat yang lenyap ditelan pusaran.

Ada pula mayat beberapa orang menggeletak di pantai, agaknya mayat mereka tadinya terluka dan terjatuh ke air lalu berhasil berenang ke tepi akan tetapi tewas di tepi karena luka-luka yang diderita.

Setelah tidak berhasil mendapatkan orang tuanya di tepi sungai, Giok Cu minta kepada Ban-tok Mo-li agar mereka mencari di antara perahu-perahu nelayan di tengah sungai.

Ban-to Mo-li menggunakan sebuah perahu dan mulai mencari.

Tak lama kemudian, biarpun masih jauh jaraknya, Giok Cu menunjuk ke tengah sungai dan berseru.

"Itu mereka! Itu perahu ayah dan perahu keluarga Si!"

Ban-to Mo-li yang berpenglihatan tajam itu melihat ada dua buah perahu yang digandeng dengan tali, akan tetapi yang berada di sebuah perahu hanya tiga orang.

Seorang memegang dayung dan yang dua orang nampak rebah di perahu.

Sedangkan perahu kedua kosong.

Cepat ia mendayung perahunya mendekat sampai menempel pada dua buah perahu itu.

"Ayah .........! Ibu ......."

Giok Cu berseru memanggil ketika mengenal dua orang yang rebah di perahu itu adalah ayah ibunya.

"Nona datang ......"

Teriak pelayan yang mendayung dengan girang sekali.

Agaknya dia telah kelelahan mendayung terus berputar-putar mencari Giok Cu yang semalam terjatuh ke dalam air dan dibelit ular.

Bu Hok Gi dan isterinya bangkit duduk dan wajah mereka itu pucat seperti orang sakit.

Namun, begitu melihat Giok Cu mereka berdua segera merangkulnya dan bertangisan.

Diantara tangis mereka, Bu Hok Gi dan isterinya menceritakan kepada Giok Cu bahwa Si Kian dan isterinya menjadi korban, tewas oleh yang menyerang membabi buta.

"Kami sendiripun diserang, aku dan ibumu terluka, dan dua orang pembantu jatuh ke air. Hanya seorng pembantu selamat. Tadi pun muncul si Han Beng dan seorang kakek. Kami sudah ceritakan tentang tewasnya ayah ibunya, dan kakek itu, dia mengobati kami yang terluka."

Tiba-tiba Ban-tok Mo-li berseri.

"Wah, celaka! Kalian telah terkena racun hebat. Tentu Liu Bhok Ki itu yang meracuni kalian, membunuh kalian dengan dalih mengobatinya!"

Tanpa diketahui mata orang lain saking cepatnya gerakan tangannya, Ban-to Mo-li telah menjentik dua batang jarum dengan jari tangannya dan dua batang jarum itu melesat dan masuk kedalam dada Bu Hok Gi dan isterinya.

"Lihat, muka mereka berubah menghitam .......!"

Bu Hok Gi dan isterinya mengeluarkan keluhan lirih dan mereka terkulai, rebah lagi diatas perahu. Tentu saja Giok Cu terkejut bukan main dan hendak menubruk ayah ibunya.

"Ayah! Ibu ....."

Akan tetapi Ban-to Mo-li memegang lengannya.

"Jangan sentuh mereka! Kalau kau sentuh, engkau pun akan terkena racun hebat yang akan membunuhmu!"

Giok Cu terbelalak, hendak nekat menubruk, akan tetapi ditahan Ban-to Mo-li dan anak ini melihat betapa ayah dan ibunya berkelonjotan sebentar, muka dan tubuh mereka berubah menghitam dan akhirnya kejang-kejang tubuh mereka terhenti dan mereka tewas dalam keadaan mengerikan!

"Ayah .....!

Ibuuuuu.......!"

Dan Giok Cu terkulai pingsan dalam pelukan Ban-tok Mo-li. Pembantu itu tentu saja menjadi terkejut dan bingung, hanya mampu menangis.

"Sudahlah, mereka sudah mati dan kita bawa mereka ke tepi untuk dikuburkan,"

Kata Ban-tok Mo-li "Semalam di sini terjadi pertempuran antara orang-orang sakti.

Racun-racun masih berkeliaran di tempat ini.

Mungkin baru saja mereka merasakan pengaruh racun.

Engkau pun, kalau tidak cepat pergi dari sini, bisa saja setiap saat terkena racun dan mati!"

Mendengar ini, orang itu cepat menggerakkan dayung dan dibantu oleh Ban-to Mo-li, mereka mendayung perahu itu ke tepi dan dengan wajah ketakutan pembantu keluarga Bu itu lalu menggali lubang besar dan mereka menguburan jenazah Bu Hok Gi dan isterinya.

Giok Cu siuman dari pingsannya dan anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya, berlutut di depan makam ayah dan ibunya.

Setelah selesai mengubur dua jenazah itu, Ban-tok Mo-li mengambil beberapa potong uang perak dan memberikan kepada pembantu keluarga Bu itu sambil berkata.

"kulihat engkau pun terpengaruh hawa beracun. Cepat pergi dan cari tabib untuk mengobati dirimu. Nih, ambil uang ini dan pergilah!"

Tangan Ban-to Mo-li yang menyerahkan beberapa potong uang itu bergerak dan kuku jarinya menggores telapak tangan orang itu.

Orang itu tidak merasakan apa-apa, menerima uang lalu berpamit meninggalkan tempat itu.

giok Cu yang menangisi makam ayah ibunya, tidak mempedulikan kepergian pembantu itu.

ia tidak tahu bahwa dalam waktu dua hari, pembantu itu pun akan tewas tanpa dapat diobati lagi karena dia telah terkena goresan kuku beracun dari jari tangan Ban-to Mo-li.

Agaknya iblis betina ini ingin melenyapkan semua orang yang berhubungan dengan Giok Cu.

"Bibi, apakah yang telah terjadi dengan Ayah ibu? Siapa yang membunuh mereka?"

"Mulai sekarang, jangan sebut aku Bibi, melainkan Su-bo (ibu Guru). Bukankah engkau ingin menjadi muridku, mempelajari ilmu silat agar kelak dapat kau pergunakan untuk membalas kematian Ayah ibumu?"

Giok Cu seorang anak yang cerdik.

Ayah ibunya telah tewas dan ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini.

Dan jelas bahwa ayah ibunya tewas tidak sewajarnya, melainkan ada yang membunuh mereka.

Dan wanita di depannya ini, biarpun kejam, namun memiliki ilmu kepandaian tinggi, sehingga kalau ia akan mampu mencari pembunuh ayah ibunya dan membalaskan kematian mereka.

Maka, mendengar ucapan wanita cantik itu, ia pun segera menjatuhkan diri berlutut.

"Subo, harap kasihani kepada teecu. Siapakah yang telah membunuh ayah ibu?"

"Siapa lagi kalau bukan Liu Bhok Ki? Engkau mendengar sendiri keterangan pembantu ayahmu itu. Liu Bhok Kid an anak laki-laki itu datang, dan Liu Bhok Ki katanya mengobati ayah ibumu. Nah, kesempatan itulah dipergunakannya untuk membuat ayah ibumu terkena pukulan maut sehingga mereka tewas tadi."

"Tapi, mengapa, Subo? Mengapa dia membunuh Ayah Ibuku? Dan siapakah Liu Bhok Ki itu?"

"Hemmm, siapa dapat menyelami hati Liu Bhok Ki? Dia orang aneh, dan jahat sekali. Isterinya sendiri dibunuhnya dan kepala isterinya itu direndam arak dan setiap hari dia minum arak rendaman kepala isterinya itu! kau bayangkan saja betapa jahatnya dia! Mungkin dia tidak ingin orang tuamu melihat dia membawa pergi anak laki-laki yang menghisap darah naga itu."

"Si han Beng ........"

Kata Giok Cu.

"Hemmmmm, bahkan bukan aneh kalau yang membunh ayah ibu Si Han Beng adalah dia juga."

Giok Cu mengerutkan alisnya.

"Ah, betapa jahatnya Liu Bhok Ki itu! Dia itu orang macam apa, Subo?"

Lalu ia bangkit duduk.

"Subo, maukah subo Menolong teecu? Mari kita cari Liu Bhok Ki itu dan Subo bunuh dia untuk membalaskan sakit hati teecu."

"Hemmm, enak saja kau bicara, Giok Cu. Ketahuilah, Liu Bhok Ki itu berjuluk Sin-tiauw dan dia amat sakti. Aku sendiri belum tentu akan mampu mengalahkannya. Akan tetapi kelak, kalau engkau sudah dewasa dan engkau mempelajari ilmu silat dengan tekun, mungkin engkau akan mampu mengalahkannya. Eh, bukankah engkau juga menghisap darah anak naga?"

"Darah anak naga? Apa yang subo maksudkan?"

Giok Cu bertanya heran, sama sekali tidak mengerti.

"Anak bodoh! Bukankah malam tadi engkau dibelit anak naga dan bersama Si Han Beng anak laki-laki itu kalian melawan anak naga dan menggigitnya, menghisap darahnya?"

Kini baru Giok Cu mengerti dan biarpun kepalanya masih pening, ia tertawa mendengar ini.

"Anak naga? Heh-heh, Subo ini aneh-aneh saja. Semalam ketika aku mengail ikan di perahu, umpanku disambar seekor ular dan aku terseret ke dalam air. Ular itu membelitku dan untung ada Han Beng menolongku. Dia anak baik sekali, subo. Ular itu lalu menyerang Han Beng, bahkan aku melihat betapa ular itu menggigit pundak Han Beng. Juga kulihat Han Beng membalas dan menggigit leher ular. Karena aku ingin membantu han Beng, aku pun lalu menggigit ekor ular itu!"

"Dan kau hisap dan minum darah anak naga itu?"

"Subo, apakah ular itu benar-benar anak naga?"

"Ular atau anak naga, apakah engkau menghisap dan minum darahnya?"

Giok Cu tersenyum malu-malu.

"Ketika aku menggigit sekuat tenaga, aku merasakan darah itu, hangat, agak asin dan manis dan amis membuat aku ingin muntah. Akan tetapi karena ingin menolong han Beng, aku menggigit terus dan ya, aku menghisap dan menelan darahnya."

"Banyak?"

Ban-tok Mo-li bertanya penuh gairah.

"Entah, Subo. Mungkin beberapa teguk, dan kuliht han Beng menggigit leher ular itu."

"Hemmmm, tentu dia minum lebih banyak. Coba, kulihat tanganmu!"

Wanita itu memegang tangan Giok Cu, menggunakan kuku jari kelingking kiri, satu-satunya kuku yang putih bersih dan tidak mengandung racun, menorah kulit lengan bagian dalam.

Darah menetes keluar dan Ban-to Mo-li cepat membawa lengan anak itu ke mulut, dihisapnya darah yang keluar.

Dan ia pun kecewa.

Sebagai seorang ahli, ia pun dapat merasakan bahwa darah anak ini memang telah kemasukan hawa mukjijat darah anak naga, akan tetapi sedikit sekali.

Tidak ada artinya dan tidak ada manfaatny bagi orang lain, paling-paling darah anak perempuan ini hanya dapat menjadi obat penguat tubuh yang dapat ia peroleh dari akar bahar atau rempah-rempah yang lain.

Akan tetapi bagi gadis itu sendiri, mungkin mendatangkan kekuatan yang lain.

"Giok Cu, coba kerahkan tenagamu dan pukul telapak tanganku ini."

Giok Cu mentaati perintah gurunya. Dikepalnya tangan kanannya dan dipukulnya telapak tangan kiri wanita itu sekuat tenaga.

"Plakkkk......!"

Ban-tok Mo-li terkejut.

Bukan main, pikirnya.

Anak perempuan ini, tanpa setahunya, karena khasiat darah anak naga, kini memiliki pukulan yang luar biasa, kuat dan panas!

Jago silat kebanyakan saja mungkin takkan kuat menahanpukulan tadi!

Lengannya sendiri sampai tergetar.

Dan ini dilakukan oleh Giok Cu tanpa disadarinya akan kekuatan yang tersembunyi di tubuhnya.

Kalau anak itu sudah dapat mengendalikan tenaga mukjijat itu, tentu ia akan menjadi seorang yang amat tangguh!

Dan anak ini akan menjadi muridnya!

Biarpun ia tidak dapat mempergunakan darah di tubuh anak ini untuk kepentingannya sendiri, namun setidaknya ia akan mendapatkan seorang murid yang istimewa, pengganti puterinya dan ia pun mempunyai perasaan suka kepada Giok Cu.

Ban-tok Mo-li mengajal Giok Cu pulang ke Ceng-touw.

Anak perempuan ini merasa kagum dan gembira sekali mendapat kenyataan bahwa gurunya tinggal di rumah yang besar dan mewah, dilayani oleh belasan orang pelayan wanita.

Tak disangkanya bahwa gurunya ini ternyata amat kaya raya!

Dan gurunya demikian saying kepadanya.

Semenjak itu, mulailah Giok Cu dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Ban-to Mo-li.

Anak itu cerdas sekali, rajin dan juga lincah jenaka sehingga makin menyenangkan hati Ban-to Mo-li.

Akan tetapi diam-diam Ban-to Mo-li merasa kuatir setiap kali ia teringat kepada puterinya.

Giok Cu begini cantik jelita, manis sekali dan wataknya demikian lincah jenaka, gembira.

Anak perempuan seperti ini amat romantis dan satu-satunya hal yang mungkin jadi kelemahannya adalah kalau ia tergoda pleh seorang pria yang menawan hatinya.

Jangan-janganakan terulang kembali peristiwa seperti dialami oleh Lan Cid an ia pun merasa kuatir sekali.

Dipanggilnya Giok Cu.

"Muridku yang baik, mulai sekarang engkau harus tekun, rajin dan mentaati semua perintahku."

"Tentu saja, Subo. Siapa lagi kalau bukan Subo yang kutaati. Aku tidak mempunyai orang lain kecuali Subo di dunia ini!"

Jawab Giok Cu gembira sambil memandang kepada gurunya dengan matanya yang indah, penuh kepercayaan.

Ia samara-samar masih teringat betapa kejamnya guru yang cantik ini terhadap musuh-musuhnya, akan tetapi gurunya ini lihai sekali dan saying kepadanya.

"Nah, kini bersiaplah untuk menahan nyeri sedikit. Aku akan memberi suatu tanda kepadamu, demi kebaikanmu sendiri di kemudian hari. Luruskan lengankirimu!"

Tanpa rasa takut sedikit pun dan dengan pandang mata penuh kepercayaan kepada gurunya, Giok Cu meluruskan lengan kirinya.

Ketika gurunya menyuruhnya, tanpa ragu ia pun menggulung lengan bajunya sehingga lengan kecil berkulit putih mulus itu nampak dari atas siku sampai ke tangan.

KANGZUSI WEBSITE

http.//kangzusi.com/

Jilid 5 BAN-TOK MO-LI mengeluarkan sebuah kantong kuning yang sudah dipersiapkan, membuka kantong itu dan mengambil sebuah jarum emas yang dibungkus kain sutera putih.

Jarum emas itu ujungnya kelihatan merah sekali dan memang jarum itu sudah diberi semacam racun merah di ujungnya.

"Sekarang siaplah menderita sedikit nyeri pada lenganmu, Giok Cu. Tidak takutkah engkau?"

Anak itu menggeleng kepala dan matanya bersinar-sinar.

"Apa yang harus kutakutkan, subo? Aku yakin bahwa subo akan melakukan segala hal yang baik bagiku."

Diam-diam wanita iblis itu merasa girang. Anak ini memang menyenangkan sekali. Terbuka, jujur, polos, keras hati, pemberani dan anak seperti ini tentu kesetiaan yang boleh dipercaya.

"aku akan menusuk lenganmu dengan jarum ini!"

Katanya.

Setelah meneliti lengan itu, ia pun menusukkan jarum emas itu pada bagian lengan Giok Cu sebelah dalam, sedikit di bawah siku.

Giok Cu merasa betapa lengan yang ditusuk itu nyeri sekali, perih dan panas, juga gatal.

Namun, ia tidak mengeluarkan keluhan sedikit pun juga, bahkan menggigit bibirnya agar jangan sampai mengeluh.

Ketika rasa nyeri itu menjalar sampai ke seluruh lengan, Giok Cu memejamkan mata dan memusatkan kekuatan hatinya untuk menahan.

Tak lama kemudian, jarum itu dicabut kembali.

"Duduklah bersila, biarkan rasa nyeri itu menyebar ke seluruh tubuhmu, sampai akhirnya melemah dan lenyap."

Kata Ban-tok Mo-li, Giok Cu mentaati perintah ini.

Ia duduk bersila dan masih memejamkan mata, dan ia merasa betapa rasa panas, perih dan gatal yang menimbulkan nyeri hebat itu benar saja menjalr ke seluruh tubuhnya.

Dan masih juga belum pernah ia mengeluh.

Akhirnya, rasa nyeri itu makin berkurang dan akhirnya lenyap.

Barulah ia membuka matanya, memandang kepada gurunya dengan senang.

"Benar saja, subo tentu tidak akan mencelakai aku. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui apa artinya tusukan jarum dan rasa nyeri ini, subo?"

"Lihatlah lenganmu di bagian yang kutusuk tadi."

Giok Cu melihat lengannya.

Disitu, di bawah siku di sebelah dalam lengannya, terdapat bintik merah seperti tahi lalat kecil.

Tidak buruk, bahkan menjadi pemanis seperti hiasan pada kulit lengannya yang putih mulus itu.

"Apa ini, Subo?"

Ia menggosok-gosok dengan jari tangan kananya untuk mencoba apakah tahi lalat merah itu dapat dilenyapkan oleh gosokan.

"takkan dapat kau lenyapkan, biar dicuci dengan apa pun, Giok Cu. Tanda merah itu hanya akan lenyap kalau engkau kehilangan keperawanmu! Tanda merah itu tanda keperawananmu dan sekali engkau berhubungan dengan pr Sepasang mata kecil itu terbelalak memandang gurunya, mengandung keheranan dan ketidakpercayaan.

"Aih, Subo, haraap jangan main-main dan menakut-nakuti aku!"

"Anak bodoh! Siapa main-main denganmu?"

"Tapi...... tapi .........."

Gadis itu bingung.

Ia masih terlalu kecil, usianya baru sepuluh tahun, untuk mengerti tentang keperawanan segala macam, akan tetapi karena ia seorang anak yang cerdik, ia dapat menduga bahwa gurunya menanamkan semacam racun di tubuhnya yang merupakan semacam Hukuman atas dilanggarnya suatu larangan.

"Mengapa Subo melakukan ini kepadaku?"

"Ketahuilah, muridku. Bagi seorang wanita, betapun tinggi ilmu kepandaiannya, ada suatu bahaya yang amat berbahaya dan besar sekali, yaitu pria! Pria adalah makhluk yang jahat, pandai merayu dan berpalsu-palsu untuk menjatuhkan hati seorang wanita. Semua rayuan itu hanya dipergunakan sebagai alat menjebak, dan celakalah seorang gadis yang lemah dan terbius oleh rayuan itu, karena ia akan kehilangan keperawananya, kehilangan kehormatan dan masa depannya, satu-satunya pantangan adalah kehilangan keperawanan. Oleh karena itu, terpaksa aku memberi tanda tahi lalat merah ini kepadamu, tanda keperawanan agar engkau selalu ingat bahwa engkau tidak boleh terbujuk rayuan pria. Kalau sekali waktu engkau tertarik, kemudian melihat tanda tahi lalat merah ini, engkau tentu akan sadar kembali. Ingat baik-baik. Kalau tanda ini lenyap, berarti engkau bukan perawan lagi, ilmu-ilmu yang kau pelajari dan belum sempurna akan rusak dan engkau akan mati dalam waktu satu bulan sesudah itu."

Diam-diam Giok Cu bergidik. Ia tidak kuatir karena sedikit pun belum terbayang olehnya akan rayuan pria dan akan bahayanya terbius rayuan lalu kehilangan keperawananya.

"Tapi, subo. Apakah tanda ini akan selamanya berada di lenganku? Mengapa subo sendiri tidak memiliki tanda seperti ini di lengan subo?"

Anak itu memang cerdik. Ia tidak memperlihatkan keraguan atau ketidakpercayaan melainkan keheranan karena tidak mengerti.

"Tentu saja tidak selamanya, Giok Cu. Kalau engkau menjadi murid yang baik, tidak melanggar pantangan sehingga tanda merah itu tetap ada padamu, tentu akan tiba saatnya aku melenyapkannya. Hanya aku seoranglah yang akan mampu menghilangkan tanda itu, tanpa harus menghilangkan keperawananmu."

Giok Cu mengangguk maklum dan tidak banyak bertanya lagi.

Biarpun masih kecil, namun ia dapat menduga bahwa perbuatan subonya ini merupakan suatu tekanan baginya, merupakan suatu ancaman bahwa ia harus selalu mentaati guruya dan tidaka melanggar semua perintah dan larangannya.

Ia tidak tahu bahwa wanita iblis itu melakukan hal ini kepadanya karena pernah dikecewakan puteri kandungnya sendiri yang meyerahkan keperawanannya kepada cucu ketua Hek-houw-pang itu.

Demikianlah, mulai hari itu, Giok Cu berlatih semakin tekun dan memang Bn-tok Mo-li tidak keliru memilih murid.

Giok Cu merupakan seorang murid yang selain cerdas, juga amat rajin dan tahan uji.

Apalagi dengan modal tenaga sakti dari darah ular di tubuhnya, anak ini segera dapat menghimpun sin-kang dan mengendalikannya secara baik sekali.

Kelak kalau ia dewasa, ia tentu memiliki kekuatan sin-kang yang jauh melampaui tingkat gurunya sendiri!

oooOOooo Kita ikuti perjalanan Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki yang membawa lari Si Han Beng.

Pendekar perkasa ini merasa berterima kasih sekali kepada Sin-Cing Kai-ong yanag telah menolongnya, karena tanpa pengemis ini, agaknya akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskaan diri membawa Han Beng dari kepungan para pendekar dan tokoh kang-ouw, apalagi di situ terdapat Ban-to Mo-li yang lihai.

Dia akan selalu ingat janjinya seperti yang diminta Sin-ciang Kai-ong, yaitu bahwa kelak, setelah Han Beng menjadi muridnya selama lima tahun, anak itu harus menjadi murid Raja Pengemis itu selama lima tahun pula.

Sambil memondong tubuh han Beng pergi menjauhi tempat berbahaya itu, Liu Bhok Ki teringat akan janji itu dan di pun berpikir apakah semua itu kelak akan dapat dipenuhi.

Keselamatan anak itu sendiri sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar baginya.

Dia tahu bahwa anak itu keracunan hebat, terkena pukulan tangan Ban-tok Mo-li, ada goresan kuku di kulit leher Han Beng.

Tadi, ketika dia memondong han Beng, dia sudah melihat betapa leher itu melepuh seperti terbakar, bengkak dan kehitaman amat mengerikan.

Setelah berlari cukup jauh dan memasuki sebuah hutan yang besar yang penuh pohon liar, Liu Bhok Ki berhenti sebentar, mencurahkan perhatian kea rah belakang untuk melihat apakah ada orang yang melakukan pengejaran.

Sepuluh menit kemudian, yakinlah dia bahwa tidak ada orang mengejarnya, maka dia pun menurunkan Han Beng dari pondongannya ke atas rumput.

Anak laki-laki itu dalam keadaan pingsan dan ketika dia direbahkan diatas rumput, tidak seperti orang yang sudah tidak bernyawa lagi.

Wajahnya pucat dan napasnya seperti gelombang air laut yang sedang pasang.

Dengan hati-hati Liu Bhok Ki memeriksa leher yang tadinya terkena pukulan dan goresan kuku beracun dari ban-tok Mo-li dan dia hampir mengeluarkan seruan kaget dan heran, juga girang melihat betapa leher itu sudah normal kembali!

Tidak ada warna hitam, tidak ada bengkak!

Bahkan luka bekas goresan kuku yang tadi mengeluarkan darah hitam, kini sudah kering.

Dirabanya leher itu dan tidak terasa panas!

Juga bagaian tubuh lain dari anak ini yang tadinya amat panas, kini sudah tidak panas lagi, hangat biasa saja.

Dipegangnya pergelangan tangan anak itu.

darahnya pun berjalan dengan baiknya.

Hanya napas anak itu yang bergelora, seolah-olah ada kekuatan di dalam tubuhnya yang masih agak liar.

Akan tetapi segala bagian tubuh anak itu sehat sama sekali, tidak ada gangguan, apalagi pengaruh racun!

Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw.

Biarpun dia bukan seorang ahli pengobatan yang pandai, namun pengalamannya amat banyak dan dia tahu akan cara pengobatan orang terkena racun, asalakan jangan racun sehebat racun tangan Ban-tok Mo-li.

Dia memandang anak yang masih rebah seperti orang tidur itu dan mengerutkan alisnya.

Dia memutar otaknya dan akhirnya dia mengangguk-angguk dengan senyum gembira.

"Thian Maha Adil......"

Pujinya dengan hati penuh kelegaan.

Dia dapat menduga apa yang telah terjadi dalam diri anak itu.

gigitan ular yang disebut anak naga di pusaran maut Sungai Huang-ho itu, juga darah binatang aneh itu yang dihisap oleh Han Beng, tentu membuat anak ini kecarunan hebat.

Tanda keracunan itu mudah dilihat, yaitu membuat anak itu kepanasan dan memiliki kekuatan dasyat sehingga ketika anak itu mengamuk, banyak tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi roboh oleh pukulan anak yang tidak tahu ilmu silat itu.

Racun anak naga itu hebat sekali, dan mungkin Han Beng takkan kuat bertahan, mungkin akan dapat tewas karena kehebatan darah anak naga itu akan menghapuskan semua jaringan otot dan syarafnya.

Akan tetapi, sungguh suatu kemukjijatan terjadi.

Ketika anak itu terkena pukulan beracun dan goresan kuku Ban-to Mo-li maka ada semacam racun lain yang memasuki tubuhnya dan justru racun dari tangan ban-tok Mo-li inilah yang merupakan penyembuhan ketika dua macam racun yang berlawanan itu bertemu dan saling melumpuhkan!

Inilah kiranya yang terjadi, demikian, piker Liu Bhok Ki.

Dengan hati-hati Liu Bhok Ki lalau mengurut tengkuk dan punggung Han Beng.

Baru saja beberapa kali dia mengurut untuk membuka kesadaran anak itu, tiba-tiba Han Beng mengeluh, membuka matanya dan dia pun meloncat bangun.

Matanya terbelalak dan kaki tangannya tidak mau diam, bergerak-gerak seperti bukan atas kehendak sendiri, dan kaki tangan itu mengeluarkan bunyi berkerotokan.

Ketika Liu Bhok Ki mendekat dan dan hendak memegang lengan anak itu, tangan kiri Han Beng menyambar dan ada hawa pukulan demikian kuatnya mendahului tangan itu sehingga Liu Bhok Ki terkejut dan menangkis.

"Dukkkk!"

Tangkisan ini membuat tubuh Liu Bhok Ki terdorong dan hampir terhuyung.

"Ahhhhh............!"

Pendekar itu berseru penuh kagum.

Dia melangkah mundur dan melihat betapa anak itu masih menggerak-gerakkan kaki tangannya, dan ada hawa pukulan menyambar-nyambar dari kaki tangan itu.

akan tetapi sinar mata anak itu waras, hanya kini Han Beng menjadi bingung sendiri.

"Lo-cian-pwe ....... Tolong ............ tolonglah aku .......... Kaki tanganku taak dapat kuhentikan bergerak sendiri, dan ada sesuatu dalam perutku bergerak-gerak ........., seperti ........... seperti ada ularnya!"

Memang aneh.

Bukan hanya kaki tangan anak itu yang bergerak-gerak, akan tetapi ada tonjolan yang aneh bergerak-gerak di tubuhnya, kadang-kadang nampak tonjolan sebesar tikus bergerak di kedua pundaknya, di dadanya, di leher, bahkan di kepalanya!

Seolah-olah di dalam tubuhnya itu ada seekor tikus yang ingin keluar akan tetapi terhalang oleh kuli!

Liu Bhok Ki bersikap tenang.

"Abak baik, tenanglah. Pusatkan perhatianmu dan kerahkan seluruh kekuatan kemauanmu untuk menguasai dirimu sendiri. Nah, kauc ontohlah aku, duduklah bersila di atas tanah, seperti ini!"

Han Beng sudah percaya sepenuhnya kepada kakek yang telah menyelamatkannya dari tangan orang-orang aneh yang jahat, yang memperebutkan dirinya.

Maka, mendengar suara yang penuh wibawa itu, dia pun mengerahkan kemauannya untuk menguasai dirinya dan biarpun dengan susah payah akhirnya dia dapat pula memaksa tubuhnya untuk menjatuhkan diri duduk di atas tanah, lalu menekuk kedua kakinya, bersila.

"Tegakkan tubuhnmu, luruskan leher dan kepala, pusatkan perhatianmu ke tengah anatara kedua alismu, nah, begitu .......... Dan sekarang tarik napas panjang, hitung sampai delapan, tahan ......... sekarang keluarkan dari hidung perlahan-lahan. Itu kedua lengan, letakkan diatas pangkuan, begini ..........."

Liu Bhok Ki mulai mengajar anak itu untuk menenangkan diri, pelajaran permulaan Samadhi, dan dengan perlahan dia membimbing Han Beng untuk menguasai dirinya sendiri dan menguasai pula kekuatan dasyat yang terdapat dalam dirinya.

Setelah anak itu mulai tenang dan mulai dapat mengendalikan tenaga dasyat itu, Liu Bhok Ki mengajak melanjutkan Perjalanan.

Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki mengajak Han Beng yang menjadi muridnya itu ke sebuah bukit di lembah Huang-ho, bukit yang dikenal dengan nama Kim-hong-san (Bukit Burung Hong Emas).

Bukit ini kecil saja dan mereka membuat sebuah pondok di puncaknya dan dari puncak ini mereka dapat melihat sungai Huang-ho mengalir di kaki bukit.

Pemandangan di bukit itu indah sekali, sebuah bukit yang dipenuhi hutan belukar dan dusun terdekat terletak di akai bukit, di pantai sungai Huang-ho.

Bukit itu sendiri sunyi, tidak di tempatai manusia karena memang merupakan hutan belukar yang liar.

Begitu tiba di puncak Kim-hong-san, Liu Bhok Ki dibantu oleh Han Beng menebang pohon dan bamboo, membuat pondok darurat untuk mereka.

Setelah selesai, Liu Bhok Ki memanggil han Beng yang berlutut dia ats lantai tanah kering, menghadap kakek yang duduk di atas bangku kayu buatan sendiri itu.

.Han Beng, engkau sudah menceritakan semua riwayatmu dan sekarang engkau adalah seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai orang tua dan keluarga lagi.

Sudah bulatkah hatimu untuk berguru kepadaku?"

Han beng ad alah seorang anak yang tabah.

Ketika dia bersama gurunya itu mencari perahu orang tuanya di sekitar pusaran maut, dia hanya menemukan ayah ibu Giok Cu yang terluka.

Dari keluarga Bu ini dia mendengar bahwa ayah ibunya tewas dalam keributan ketika orang-orang kang-ouw memperebutkan anak naga kemudian memperebutkan dia dan Giok Cu.

Hanya sebentar dia menangis, dan setelah itu, dia tidak pernah menangis lagi, maklum betapa sia-sia saja menangis dan berduka.

Sekarang pun, diingatkan oleh gurunya bahwa dia anak yatim piatu yang tiada keluarga lagi, hatinya seperti di remas, akan tetapi dia tidak mau hanyut oleh kedukaan dan keharuan.

"Suhu, teecu sudah bertekad untuk menjadi murid suhu, dan teecu akan mentaati semua perintah dan petunjuk suhu."

"Benarkah itu? Engkau berjanji akan memenuhi semua permintaanku sebagai syarat berguru kepadaku?"

"Teecu bukan hanya berjanji, bahkan teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah suhu dengan taruhan nyawa teecu. Suhu bukan hanya guru teecu, akan tetapi juga suhu penolong dan penyelamat nyawa teecu."

"Bagus! Kalau begitu dengar baik-baik pesanku. Engkau akan belajar ilmu silat dariku selama lima tahun. Setelah lima tahun, engkau akan kuserahkan kepada Sin-ciang kai-ong. Dialah gurumu yang yang kedua dan aku sudah berjanji kepadanya selama lima tahun engkau menjadi muridku. Dialah yang melindungi kita, menyelamatkan kita dan memberikan kita kesempatan untuk terbebas dari kepungan mereka yang hendak merampasmu. Sanggupkah engkau untuk menjadi murid Sin-ciang Kai-ong selama lima tahun setelah engkau menjadi muridku selama lima tahun pula?"

"Teecu sanggup!"

"Sekarang yang kedua, dan mungkin ini akan terasa berat olehmu. Ketahuilah bahwa aku juga kehilangan keluargaku secara menyedihkan sekali, dan sampai selamanya aku tidak akan dapat melupakan sakit hati karena kehilangan keluarga itu ....."

Liu Bhok Ki melirik kea rah kepala yang berada di dalam botol besar terisi arak.

Ketika membawa pergi Han Beng, dia lebih dulu mengambil dua buah kepala ini yang disembunyikan di sebuah tempat dekat sungai, lalu membawa dua buah kepala itu ke puncak Kim-hong-san.

Ketika han Beng melihat dua buah kepala itu untuk pertama kalinya, dia terkejut dan merasa ngeri, akan tetapi tidak berani bertanya, melihat betapa gurunya amat berhati-hati merawat dua buah kepala itu dan kelihatan tidak senang kalau dia mencoba mendekati dua buah benda mengerikan itu.

kini melihat betapa gurunya bicara tentang dendam sakit hati dan melirik kea rah dua buah kepala, Han Beng tidak dapat menahan keinginan tahunya.

"Suhu, apakah sakait hati suhu itu ada hubungan dengan dua buah kepala itu?"

Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati keras dan berwatak kasar, jujur namun juga angkuh.

Kalau saja hatinya tidak sudah bulat menerima Han Beng sebagai muridnya dan dia sudah mengenal watak muridnya yang juga gagah perkasa dan tabah, tentu dia akan tersinggung dan marah karena ada orang berani menyinggung soal dua buah kepala itu.

Kini, sejenak matanya mengeluarkan sinar mencorong, akan tetapi dia lalu menarik napas panjang dan mengangguk.

Lalu dia mengambil botol anggur diatas meja dimana tersimpan sebuah kepala wanita yang cantik dan pucat, lalu dia menempelkan bibirnya di botol itu, seolah-olah hendak mencium bibir kepala wanita dalam botol itu yang menyeringai seperti menahan sakit.

"Ini ....... Ini kepala isteriku tercinta ........"

Han Beng terbelalak dan dia melihat betapa kedua mata gurunya itu berlinang air mata!

Diam-diam dia bergidik.

Kenapa isteri suhunya tewas dan kenapa pula kepalanya disimpan oleh suhunya di dalam botol arak itu ?

suhunya kelihatan demikian mencinta isterinya, akan tetapi mengapa kecintaan itu diperlihatkan dengan cara yang amat kejam dan di luar batas perikemanusiaan?

Agaknya Liu Bhok Ki dapat membaca pertanyaan yang tak terucapkan oleh muridnya itu, dan dia melanjutkan.

"Dan yang tergantung itu adalah kepala kekasih iateriku!"

Han Beng merasa semakin terkejut dan dia memandang kepada kepala yang tergantung itu.

lebih mengerikan lagi kepala ini, kepala seorang pria muda yang tampan dan juga amat pucat.

Kalau kepala wanita cantik di dalam botol itu hanya menyeringai dan tidak bergerak, kepala yang tergantung ini dapat bergerak dan berputar-putar di ujung tali kecil yang tergantung.

Mata kepala ini melotot seperti orang marah dan mulutnya setengah terbuka.

Kemudian Han Beng melihat hal yang baru pertama kali dilihatnya dan yang membuatnya menjadi semakin ngeri.

Gurunya menuangkan anggur dari botol berisi kepala itu ke dalam cawan, lalu mengangkat cawan diacungkan kepada kepala yang tergantung seolah-oalh menawarkan minuman kepada mereka, lalu dia minum arak itu dari cawan dan nampaknya nikmat sekali!

Han Beng bergidik!

Di dalam benaknya yang belum banyak pengalaman itu terjadi dugaandugaan yang mengerikan, yang dibantahnya sendiri dalam hatinya.

Gurunya adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa yang untuk menolongnya sudah menempuh bahaya maut menghadapi para orang-orang kang-ouw yang lihai.

Mungkikah suhunya melakukan hal yang begini kejam?

"Tapi .......

Tapi mengapa suhu melakukan itu ......?"

"Mereka adalah isteriku dan sahabatku, mereka telah menghianatiku, menghancurkan kebahagiaan hidupku dengan berzina! Aku bunuh mereka dan menyimpan kepala mereka, agar mereka melihat betapa mereka telah menghancurkan kebahagiaan hidupku!"

"Ahhhhh...........!"

Han Beng menundukkan mukanya, hatinya memberontak, dia tidak setuju sekali dan ingin dia mencela gurunya, akan tetapi dia tidak berani karena diam-diam dia pun merasa kasihan kepada gurunya yang entah sudah berapa puluh tahun menderita kesengsaraan batin yang amat hebat.

Dua buah kepala itu masih muda, maka tentu peristiwa itu terjadi ketika suhunya masih muda, tentu sudah puluhan tahun lamanyaa hal itu terjadi dan selama itu, suhunya tak pernah merasa bahagia hidupnya.

"Sekarang dengar, han Beng. Sakit hatiku tak pernah dapat tertebus sampai kini, dank arena aku tidak dapat lagi menghukum kekasih isteriku, maka aku ingin membalas sakit hati ini kepada puteranya yang masih hidup!"

Berkata demikian, pendekar itu mengepal tinju kanannya dan terdengar bunyi tulang-tulangnya berkerotokan.

"Akan tetapi ........, bukankah suhu sudah membalas sakit hati itu dengan membunuhnya?"

"Tidak! Aku keliru! Dia membuat aku menderita selama ahidupku, dan aku hanya membunuhnya begitu saja, membuat dia mati dan tidak lagi merasakan penderitaan hidup! Tidak, sekarang anaknya yang harus merasakan penderitaan hidup seperti yang telah kutanggung selama ini. Terlalu enak dia. Biar kepalanya kugantung, tetap saja di tidak dapat melihat dan tidak dapat merasakan! Aku telah melakukan kesalahan dengan membunuh mereka dan sekarang aku harus membetulkan kesalahan itu dan menghukum puteranya!"

Han Beng bergidik.

Suhunya yang demikian gagah perkasa, yang dihormatinya sebagai seorang pendekar sakti yang budiman, penentang segala kejahatan, kini diracun dendam dan menjadi iblis sendiri!

"Suhu, apa .........

apa yang harus teecu lakukan?"

Tanyanya dengan suara lirih dan jantung berdebar tegang.

"Aku ingin anaknya merasakan penderitaan seperti yang kurasakan Selma berpuluh tahun ini! Dengar baik-baik, muidku. Laki-laki yang kepalanya tergantung disana itu bernama Coa Kun Tian, putera ketua Hek-houw-pang di dusun Tai-bun-cung dekat Po-yang, dan isteriku bernama Phang Bi Cu, adik kandung dari ban-to Mo-li Phang Bi Cu. Engkau masih ingat nenek cantik pesolek yang memperebutkanmu di sungai itu dan yang kemudian melarikan teman perempuanmu itu? nah, ia itulah ban-tok Mo-li atau dulu pernah menjadi enci dari isteriku. Coa Kun Tian dan Phang Bi Cu sudah mati kubunuh, akan tetapi ternyata Coa Kun Tian mempunyai seorang putera! Dan akulah yang mengawinkan puteranya itu! puteranya bernama Coa Siang Lee, tampan dan mukanya mirip ayahnya. Lihat baik-baik muka kepala itu! Coa Siang Lee telah kuperdaya sehingga dia menikah dengan seorang gadis yang menjadi puteri ban-to Mo-li, keponakan isteriku yang wajahnya mirip wajah isteriku yang kepalanya berada di dalam botol ini. Nama gadis itu Sim Lan Ci. Nah, kepada kedua orang itulah aku ingin engkau mebalaskan sakit hatiku, Han Beng. Sanggupkah engkau?"

"Suhu, pembalasan yang bagaimanakah harus teecu lakukan?"

Tanpa mejawab pertanyaan gurunya, Han Beng bertanya karena dia merasa bingung sekali, juga ngeri melihat gurunya yang gagah perkasa itu ternyata mabuk oleh dendam yang amat mendalam.

"Mereka telah menjadi suami isteri, han Beng. Mereka mirip benar denganisteriku dan kekasihnya, seolah-olah isteriku dan kekasihku hidup kembali berbahagia dan saling mencinta. Nah, aku ingin engkau menghancurkan kebahagiaan mereka itu, Han Beng, seperti mereka dahulu menghancurkan kebahagiaanku!"

"Bagaimana .........caranya, suhu? Sungguh teecu tidak mengerti ........"

"Kelak engkau tentu menjadi seorng pria yang gagah perkasa dan tampan. Engkau harus merayu dan menjatuhkan hati SIm Lan Ci, seperti dulu isteriku dirayu dan dijatuhkan hatinya, engkau dapat menggunakan akal apa saja, dengan obat kalau perlu dan aku akan mengajarkan semua itu, sampa Si Lan Ci terjungkal dalam rayuanmu dan engkau harus menggaulinya, menodaianya agar suaminya, putera Coa Kun Tian, melihatnya dan kebahagiaan hidupnya akan lenyap karena isterinya telah menghianatinya seperti isteriku menghianatiku. Nah, biarkan suami isteri itu merana dan saling membenci, dan noda penuh aib itu akan terus mengejar mereka samapai mati. Engkau tidak perlu membunuh kebahagiaan mereka seperti orang tua mereka pernah membunuh kebahagiaanku!"

Han Beng tertegun, mukanya menjadi merah.

Dia masih belum dewasa akan tetapi dia sudah dapat mengerti apa yang dimaksudkan gurunya dan dia merasa ngeri membayangkan tugasnya itu.

akan tetapi, dia sudah berjanji, bahkan bersumpah untuk mentaati perintah gurunya!

"bagaimana, Han Beng.

Sanggupkah engkau?"

Liu Bhok Ki mendesak sambil menatap tajam wajah muridnya yang menunduk.

"Teecu .......... Sanggup,"

Kata Han Beng yang tidak mempunyai pilihan lain.

Betapun juga, tadinya dia mengira bahwa dia ditugaskan membunuh orang dan hal ini sungguh amat tidak disukainya, akan tetapi ternyata perintah gurunya itu bukan untuk membunuh, melainkan untuk menjatuhkan hati seorang wanita, hal yang sama sekali asing baginya, bahkan membayangkan bagaimana saja dia pun tidak mampu.

Girang sekali Liu Bhok Ki mendengar ini.

Amat girang sehingga dia merangkul anak itu dengan air mata basah.

"Han Beng, muridku yang baik, ketahuilah bahwa itu merupakan satu-satunya harapanku dalam hidup ini. Kalau aku melihat mereka menderita seperti yang pernah kurasakan, maka biar mati pun aku akan dapat memejamkan mata dengan hati tenang. Aku akan mewariskan seluruh ilmu kepandaianku kepadamu, muridku, sebagai balas jasa atas usahamu menghancurkan mereka kelak."

Demikianlah, mulai hari itu, Han Beng menerima gemblengan dari Liu Bhok Ki.

Anak ini memang telah memiliki tenaga dasyat sebagai akibat minum darah ular itu, dan dengan bimbingan yang amat bijaksana dan ahli dari Liu Bhok Ki, dia akhirnya mampu menguasai tenaga dasyat itu dan mengendalikaannya sehingga kalau dia mengerahkan tenaga itu, ketika dia berusia lima belas tahun, gurunya sendiri tidak mampu menandingi kekuatan sin-kang (tenaga sakti) yang terkandung dalam tubuhnya!

Cemburu merupakan satu di antara nafsu-nafsu yang dapat menghancurkan manusia itu sendiri dan orang-orang lain.

Cemburu merupakan akibat daripada penonjolan si-aku merasa dirugikan, dihina, miliknya, yaitu orang yang dicintainya, diambil oran-orang yang dicintainya, berpaling kepada orang lain.

Si-aku merasa diabaikan, merasa dikecilkan dan diremehkan maka timbullah cemburu yang disusul dengan kemarahan dan dendam kebencian!

Api cemburu bisa bernyala besar sekali dan membakar segalanya.

Api cemburu dapat mendatangkan kebakaran dalam batin, dan kalu cemburu sudah beranakkan dendam kebencian, maka mata akan menjadi buta dan segala pertmbangan akan lumpuh.

Yang ada hanya nafsu membalas, membikin sengsara orang yang dibencinya itu.

kalau sudah begini, muncullah perbuatan-perbuatan yang kejam dan tidak berprikemanusian, perbuatan yang hanya merupakan pelampiasan nafsu amarah dan dendam kebencian.

Kepandaian, kekayaan besar, kedudukan tinggi, tidak akan melindungi manusia daripada nafsu-nafsu ini, bahkan seringkali kelebihan-kelebihan itu memperbesar nyala nafsu.

Satu-satunya pemadam nafsu apa pun hanyalah kesadaran, kewaspadaan yang akan memungkinkan datangnya sinar cinta kasih dan kebijaksanaan.

Sadar dan waspada akan segala hal yang terjadi di dalam dan di luar lahir batin, waspada akan semua gerak-gerik lahir batin, gerakan jasmani, gerakan panca indera, gerakan hati dan pikiran.

Tidak lengah sebentar pun sehingga apabila pikiran berceloteh lalu menghidupkan si-aku yang semakin menjadi-jadi dan merajalela sehingga membangkitkan nafsu-nafsu, maka hal ini pun akan berada dalm pengamatan yang penuh kesadaran dan kewaspadaan.

oooOOooo Pembuatan terusan besar yang menyambung dua sungai besar Huang-ho dan Yang-ce, makin lama semakin terasa berat bagi rakyat jelata..

Karena pekerjaan besar itu membutuhkan tenaga manusia yang sebanyak-banyaknya dan juga membutuhkan biaya besar yang keluar dari kantung pemerintah, maka timbulah hal-hal yang meresahkan rakyat, mana ada banyak uang yang dipermainkan, tentu timbul kecurangan-kecurangan.

Para pembesar yang mendapat tugas mencari tenaga baru dan membayar tenaga itu setelah melihat kesempatan lalu timbul kecurangan mereka dan banyak sekali uang yang sebetulnya diperuntukkan para tenaga pembuat terusan masuk ke kantung para pembesar.

Rak yat yang takut terhadap pemerint mudah digertak.

Hanya sebagian saja upah yang menjadi hak mereka itu di terima oleh para pekerja.

Upah ya sudah dikebiri oleh para pejabat, dan yang kecil sampai yang besar.

Pembesar yang kecil mencatut sedikit, yang besar mencatut semakin banyak dan rakyat pekerja hanya menerima sisanya saja.

Bahkan banyak pula yang tidak dibayar seperti kerja rodi.

Namun, mereka it hanya dapat menangis dan mengelu tidak berani melawan.

Mula-mula, yang menjadi pekerja paksa tanpa dibayar adalah orang-orang hukuman yang dimanfaatkan tenaganya.

Akan tetapi, melihat lubang ini, para pembesar dan pengurus pekerjaan besar itu lalu mempergunakan akal mereka yang busuk, memperlakukan rakyat seperti orang hukuman, memaksa rakyat bekerja tanpa ijihayar, dan uangnya masuk ke dalam kantung mereka sendiri.

Ratapan rakyat ini tidak terdengar oleh pemerintah, akan tetapi terdengar oleh para pendekar.

Dan pada waktu Itu, para pendekar adalah mereka yang memiliki ilmu silat tinggi dan watak yang bersih, jujur, adil dan pemberani.

Dan pusat dari ilmu silat, sebagian besar terletak di dalam biara-biara dan tempat-tempat pertapaan.

Terutama sekali di kuil Siauw-lim-si yang menjadi pusat dari Siauw-Lim-pai, sumber para ahli silat tingkat tinggi.

Seringkali para murid Siauw-lim-pai yang sudah menjadi pendekar di luar kuil, datang berkumpul untuk berunding dengan para tokoh Siauw-lim-pai, membicarakan tentang kesengsaraan rakyat yang timbul karena adanya pembuatan terusan yang mempergunakan tenaga ratusan ribu orang itu.

Pusat dari perkumpulan Siauw-li pai ini berada di kuil Siauw-lim-si yang besar, selain menjadi pusat perguruan silat tinggi, juga menjadi pusat penyebaran Agama Buddha.

Kuil Siauw-li atau Siauw-lim-si ini berdiri di Sion san sebuah gunung yang tanahnya subur yang juga dikenal dengan nama Cong san.

Siong--san bukanlah gunung ya besar dan bukan pula pegunungan yang luas seperti Min-san, Cin-ling-san, Kun-lun-san dan masih banyak lagi.

Akan tetapi biarpun tidak berapa besar, nama Siong-san menjadi amat terkenal karena adanya vihara atau kuil Siauw-lim yang besar itu.

Terutama sekali di dunia per silatan, nama Siauw-lim-si amat terkenal,disegani dan ditakuti karena di situ menjadi sumber ahli-ahli silat yang me jadi pendekar-pendekar kenamaan.

Kuil yang megah itu dibangun ol seorang pendeta Buddha yang datang datang dari India untuk menyebar pelajaran Agama Buddha, dan pada mulanya hanya merupakan vihara di mana orang-orang belajar keagamaan.

Para calon pendeta, .calon penyebar pelajaran agama, dididik di dalam vihara ini.

Oleh karena pada zaman itu (sekitar tahun 500) merupakain jaman yang belum teratur, apalagi dengan adanya perang saudara yang tiada henti-hentinya sejak jaman Sam-Kok (T iga Negara) (Tahun 221 -265), maka perkembangan Agama Buddha pun menglami gangguan dalam suasana yang serba kacau ini.

Kemudian, sekitar tahun 520, muncullah seorang pendeta dari India pula yang memiliki kesaktian tinggi.

Berbeda dengan pendeta Pa To yang menjadi pendiri vihara Siauw-lim dan yang hanya seorang ahli tentang agama, Tat-mo Couw-su, pendeta dari India yang baru ditang ini, memiliki kesaktian yang hebat.

Apalagi ketika dalam perantauannya dari See-thian (India) ke Tiongkok dia banyak mengembara di Himalaya, bertemu dengan para per tapa yang tinggi ilmunya dan dia senantiasa memperdalam ilmu-ilmunya, maka ketika tiba di vihara Siauw-lim, dia merupakan seorang pendeta Buddha yang amat tinggi ilmu kesaktiannya.

Banyak sekali kisah yang aneh-aneh diceritakan orang turun temurun, terutama yang datang dari para hwesio (pendeta Buddha) di kuil Siau lim tentang tokoh Tat-mo Couw-su ini.

Ada yang mengatakan bahwa ketika berada di vihara Siauw-lim itu.

Tat-Couw-su pernah menggali sumur dengan hanya menggunakan kedua tangannya sampai ada air muncrat keluar!

Ada pula yang mengatakan bahwa dia membuat ukir-ukiran di atas dinding batu mengunakan jari tangannya melukiskan rakan orang bersilat dalam berbagai jurus.

Bahkan ada cerita bahwa dia bertapa di kuil itu selama sembilan tahun untuk memperdalam ilmu-ilmunya.

dan tubuhnya tercetak di atas batu tempat dia duduk, juga punggungnya tercetak di dinding batu yang menjadi sandarannya.

Pendeknya, banyak sekali dongeng tentang Tat-mo Couw-su ini yang mencereritakan tentang kesaktiannya yang seperti dewa!

Bagaimanapun juga, harus diakui berdasarkan sejarah yang ada bahwa Tat-mo-Couw-su inilah yang menjadi pelopor adanya ilmu silat di dalam kuil Siauw-lim, yang kemudian menjadi terkenal sekali, bahkan menjadi sumber banyak macam ilmu silat yang ada di daratan Tiongkok.

Pada waktu sebelum Tat-mo Couw-su datang ke kuil Siauw-lim, tentu saja tidak ada murid atau pendeta kuil Itu yang mempelajari ilmu silat.

Mereka belalah penganut-penganut agama yang Imtuh dan Agama Buddha mengajarkan cinta kasih, menjauhi pertentangan, permusuhan, apalagi kekerasaan.

Sedangkan Ilmu silat adalah ilmu berkelahi!

Tentu taja tidak ada hwesio yang mau membelajari ilmu untuk memukul orang itu!

Akan tetapi pada suatu hari, Tat-mo Couw-su melihat betapa para pendeta dan murid di kuil Siauw-lim itu bertubuh lemah dan karena kelemahan tubuh ini mereka menjadi malas dan tidak betah duduk bersamadhi, lebih suka bermalas-malasan dan tidur.

Karena tubuh yang lemah ini banyak pula diantara mereka yang terkena penyakit, selain itu, juga pada jaman itu banyak terjadi kerusuhan dan para penjahat itu agaknya tidak memandang bulu ketika melakukan kejahatan yang mengandalkan kekerasan.

Bahkan beberapa kali ki diserbu dan dirampok, para hwesio dianiaya, bahkan ada pula yang sampai dibunuh.

Dua hal ini menggerakkan hati Tat-mo, yaitu nama pendeta ini yang kemudian ditambah sebutan Couw-(Guru Besar), untuk memberi latihan kepada para pendeta dan murid Siau lim agar tubuh mereka menjadi sehat dan kuat.

Mula-mula pendeta yang sakti menciptakan semacam ilmu olah raga yang kalau dilatih dapat menyehatkan tubuh, bahkan memperkuat batin.

Ilmu ini yang kemudian terkenal dengan sebutan it-kin-keng, ilmu gerakan yang melenturkan otot-otot, membersikan darah dan memperkuat tulang-tulang.

It-kin-keng dibagi menjadi delapan belas gerakan pokok.

Manfaat ilmu ini setingkat atau bahkan lebih tinggi dari gerakan dalam Yoga.

Selain ilmu It-kin-keng, Juga Tat-mo Couw-su menciptakan ilmu silat untuk para hwesio yang bertugas jaga untuk menjaga kuil dari gangguan orang-orang jahat.

Ilmu silat ini diberi nama Cap-pwe Lo-han-kun, juga terdiri dari delapan belas jurus.

Lo-han-kun atau Silat Arhad ini memang diperuntukkan para hwesio, selain untuk memperkuat tubuh juga untuk dapat di pakai membela diri dan melindungi keamanan Kuil.

Itulah permulaan ilmu silat yang diajarkan kepada para hwesio di kuil Siauw-lim.

Kemudian, melihat kegunaan dar ilmu-ilmu itu, maka para cerdik pandai tokoh-tokoh keagamaan Buddha memperkembangkan ilmu silat itu dan mulailah ilmu silat Siauw-lim memegang peran penting di dunia persilatan.

Latihan-latihan yang dilakukan para murid di kuil Siauw-lim terkenal amat berat, namun justeru latihan berat inilah yang membuat ilmu silat Siauw-lim terkenal sebagai ilmu yang kokoh kuat, dan murid yang lulus dari perguruan ini miliki ilmu silat yang sudah matang dengan tenaga yang boleh diandalkan.

Banyak tokoh bermunculan dan ilmu silat siauw-lim terus berkembang, semakin banyak macamnya dan para cerdik pandai tiada hentinya mengerahkan segala bakat dan kepandaian mereka untuk menciptakan jurus-jurus baru.

Pada Pada jaman pemerintah Kaisar Li Wu Ti (502-549), seorang Kaisar dinasti Liang yang menjadi penganut Agama Buddha yang patuh, mempunyai hubungan dekat dengan Siauw-lim-si.

lagi ketika terjadi banyak kerusuhan pemberontakan di sana-sini, kaisar ini minta bantuan para ahli silat dari Siau lim-pai.

Pada waktu itu, sudah banyak pendekar lihai yang menjadi murid Siauw-lim-pai, dan para pendekar ini berhasil baik sekali dalam penumpasan para perusuh.

Kaisar Liang Wu Ti merasa gembira dan berterima kasih, maka kaisar itu lalu memperluas bangunan vihaha Siauw-lim.

Makin majulah vihara itu dan semakin banyak muridnya.

Usaha menyebarkan Agama Buddha juga berkembng dengan baik dan memperoleh kemajuan pesat seperti juga pengembangan pelajaran ilmu silatnya.

Semua ini karena dukungan Kaisar Liang Wu Ti yang juga beragama Buddha.

Akan tetapi, pemberontakan besar meletus ketika wangsa Sui, dipimpin oleh yang Cien, menyerbu dan utara dan menghancurkan kekuasaan dinasti Liang.

dalam perang ini, pihak Siauw-lim-pai membantu Kaisar Liang Wu Ti.

Oleh karena itu, ketika Dinasti Liang kalah, Dinasti Baru dari Wangsa Sui membasmi semua Vihara agama Buddha, juga Siauw-lim-Si ikut dimusnahkan Para murid dan pendekar Siauw-lim-pai yang berhasil meloloskan diri, lari cerai berai dan para liwesio lari bersembunyi atau bertapa di puncak-puncak gunung dan di tempat-tempat sunyi.

Akan tetapi karena para pendekar siauw-lim-pai itu di mana-mana telah menyebar perbuatan yang gagah perkasa dan baik, akhirnya Kaisar Yang Cien mau mengampuni mereka dan bahkan memperkenankan kembali vihara Sia lim-si dibangun.

Sampai Kaisar Yang Cien diganti oleh puteranya, yaitu Kaisar Yang Ti, keadaan Siauw-lim-si tetap baik walaupun Kaisar Yang Ti lebih condong medekat para to-su (pendeta) dari Agama To (Taoism) daripada Agama Buddha.

Sudah sejak lama terjadi semacam permusuhan antara para tokoh Agama Buddha dan para tokoh Agama To.

ini terjadi karena adanya semacam persaingan dan iri hati.

Kalau kaisar pemerintahnya mendekati Agama Budda maka pihak para to-su merasa iri hati sebaliknya kalau kaisar mendekati pa to-su, maka para hwesio yang merasa iri hati dan tidak senang.

Iri hati ada suatu penyakit batin yang timbul dan penonjolan dan pementingan si -aku pula..Pikiran ini membentuk si-aku dibesar-besarkan, dipentingkan sedemikian rupa sehingga kalau diabaikan timbul perasaan iri hati dan kecewa.

Ki ta sudah sedemikian egois, setiap saat selalu mementingkan diri pribadi sehingga segala hal-hal yang menyenangkan dan baik hendak kita monopoli, sedapat mungkin segalanya itu diperuntukkan diri sendiri.

Bahkan Tuhan Yang Maha Adil pun, ingin kita monopoli agar keadilan-Nya hanya untuk kita, demi kepentingan dan kesenangan kita, demikian pula kasih sayang dari Yang Maha Kasih ingin kita monopoli.

Karena setiap perorangan memiliki sikap mementingkan diri sendiri masing-masing, maka tidaklah mengherankan apabila dunia im penuh dengan permusuhan pribadi, permusuhan antara keluarga, antara golongan, antar suku dan antar bangsa.

Bertabrakanlah kepentingan masing-masing dan menimbulkan konflik.

Permusuhan selalu mendatangkan dendam.

Ketika Siauw-Lim-si dimusuhi kaisar dan pemerintah, bukan hanya jagoan-jagoan istana dan para panglima saja yang menyerbu Siauw-lim-si, akan tetapi di antara mereka terdapat pula tokoh-tokoh dari kalangan Agama To, yaitu para to-su yang membantu pemerintah.

Oleh karena itu, ketika pemerintah condong mendekati para hwesio, giliran to-su yang dimusuhi!

Dendam mendendam yang tiada habisnya agaknya sudah menjadi pakaian manusia.

Hanya kita sendiri yang mampu menanggalkannya dari diri kita masing-masing.

Kini keadaan kembali berubah, lihat betapa pelaksanaan pembuatan terusan itu mengorbankan banyak rakyat jelata, membikin sengsara rakyat dengan adanya kerja-paksa yang dilakukan oleh pembesar-pembesar daerah, dengan penjilatan ke atas atau korupsi, banyak pendekar Siauw-lim-pai menjadi penasaran.

Mulailah terjadi penentang penentangan dari pihak Siauw-lim-si.

Para pendekar Siauw-lim-pai bentrok dengan pelaksana pengumpul tenaga rakyat.

Di mana-mana terjadi perkelahian antara para pelaksana yang mempunyai jagoan-jagoan dengan para pendekar Siauw-lim-pai.

Tentu saja hal ini terdengar oleh para pejabat dan mulai timbul perasaan tidak senang kepada Siauw-Lim-si.

Inilah kesempatan yang amat baik bagi saingan para hwesio, yaitu para tosu.

Para tosu yang tadinya merasa tersisih melihat akrabnya hubungan antara para hwesio dan pemerintah, kini melihat kesempatan baik sekali untuk maju ke depan.

Mereka berusaha untuk memperlebar jurang pemisah antara pemerintah dan pihak Siauw-lim-si, ada yang menghasut dan banyak yang membantu pemerintah dalam menghadapi para pendakar Siauw-lim-pai.

Campur-tangan dari para tosu ini tentu saja memperhebat pertentangan para para hwesio dan pendekar Siauw-Lim -pai dengan pihak pemerintah sehingga seringkah terjadi perkelahian besar-besaran yang menjatuhkan korban cukup banyak, terutama di pihak pasukan pemerintah.

Hal ini terdengar oleh pihak atasan, Kaisar yang mendengar oleh berita laporan bahwa orang-orang Siauw-lim-pai menentang kebijaksanaan pemerintah untuk membangun terusan besar, bahkan menyerang para pelaksana pekerjaan besar itu, tentu saja menjadi marah dan Kaisar Yang Ti memerintahkan untuk menghukum Siauw-lim-pai, membasmi mereka yang memberontak dan mcmusnahkan vihara besar Siauw-lim-si yang dulu dibangun dengan bantuan istana juga.

Pihak Siauw-lim-pai maklum akan keadaan yang amat gawat itu dan pada pagi hari itu, para pimpinan Siauw-lim-pai berkumpul di vihara.

Pagi yang sunyi dan penuh ketegangan karena para pendekar murid-murid Siauw-lim-pai yang berdatangan membawa berita yang tidak menggembirakan, Vihara Siauw-lim itu memang luas sekali.Dikelilingi pagar tembok yang tebal dan tinggi seperti benteng.

Pintu gerbang depan besar dan tebal, selalu dijaga oleh murid-murid vihara.

Di bagian dalamnya yang luas terdapat bermacam bangunan, dan cukup banyak Pada waktu itu, para pendekar murid Siauw-lim-pai yang sudah hidup di bagian kuil dan berdatangan ke situ, berduyun-duyun naik ke bukit kecil di dalam kompleks vihara.

Bukit kecil itu tidak berapa tinggi, akan tetapi di puncaknya terdapat sebuah bangunan mungil.

Disinilah tinggalnya pimpinan tertinggi dari kuil Siauw-lim-si, bahkan menjadi tokoh tertinggi dari perguruan Siauw-lim-pai pada umumnya.

Pondok mungil itu ternyata tidak berkamar, merupakan ruangan yang luas dan terbuka.

Dua orang hwesio tua nampak duduk di atas dipan bundar, bersila dan berhadapan.

Mereka itu sudah tua.

sedikitnya tentu sudah tujuh puluh tahun usia mereka.

Yang seorang bertubuh tinggi kurus dengan jubah kuning, mukanya bersih seperti kepalanya, tanpa ada rambut sedikit pun.

Wajahnya pun dan matanya banyak menunduk, akan tetapi terbayang-ketegasan dalam sinar mata dan dalam tarikan garis-garis di tepi mulut, di dagu dan di tepi kedua matanya.

Dia adalah ketua Siauw-Im-pai pada waktu itu, seorang hwesio yang sudah pernah mempelajari keagamaan di India, dan di samping itu juga telah mewarisi ilmu-ilmu silai dari siauw-lim-pai.

Julukannya adalah Thian-cu Hwesio, dan dia terkenal sebagai seorang pemimpin yang jujur, adil, dan tegas maka disegani oleh semua murld Siauw-lim-pai.

Karena sudah merasa tua dan lebih suka bersamadhi, maka selama hampir dua tahun ini Thian-cu Hweslo hampir tidak pernah mencampuri urusan di luar kuil.

Dia hanya bersamadhi di dalam kamarnya dan baru keluar dari kamar kalau dia merasa perlu untuk member i penerangan tentang pelajar agama kepada para muridnya, atau adakalanya kalau hatinya sedang gembira dia mengamati para murid yang berlatih silat di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) dan memberi petunjuk kepada beberapa orang murid yang melakukan gerakan yang kurang sempurna.

Akan tetapi, selama beberapa hari ini, Thian-cu Hwesio kedatangan seorang tamu, yaitu seorang hwesio yang sebaya dengan dia.

Hwesio ini adalah kakak seperguruannya, juga seorang pendeta Buddha yang banyak melakuka perantauan untuk kepentingan penyebaran Agama Buddha.

Hwesio ini, karena terlalu banyak hidup di luar, kulitnya sampai berubah menghitam dan julukannya berubah Hek-bin Hwesio (Pendeta Muka Hitam) karena mukanya memang hitam sekali terbakar sinar matahari ketika merantau sampai bertahun-tahun di padang pasir di utara.

Puluhan tahun lamanya dia memperdalam ilmu-ilmunya di India, Nepal dan di Himalaya, dan di tempat terakhir itulah dia bertemu dengan Thian-Cu Hwesio dan sama-sama belajar dan seorang pertapa yang sakti sehingga Hek-bin Hwesio terhitung su-heng (kakak seperguruan) dari ketua Siauw-lim-pai itu.

Bukan main gembira rasa hati Thian-Cu Hwesio menerima kunjungan suhengnya ini dan beberapa hari lamanya mereka bercakap-cakap, bukan saja tentang perkembangan Agama Buddha, melainkan juga tentang kekacauan di antara rakyat sehubungan dengan adanya paksaan terhadap rakyat untuk bekerja menggali terusan.

"Bagaimana hati pin-ceng tidak akan merasa resah, Suheng. Biarpun sudah lama pinceng tidak pernah keluar dari kuil, akan tetapi banyak laporan para murid yang menceritakan tentang kesengsaraan rakyat jelata dengan adanya usaha pemerintah menggali terusan besar antara Sungai Huang-ho dan Ya-ce itu. Mau tidak mau, para murid Siauw-Lim-pai harus melindungi rakyat jelata dan karenanya seringkali terjadi bentrokan dengan para petugas pemerintah yang melaksanakan pengumpulan tenaga rakyat itu. Bukan bentrokan kecil-kecilan, bahkan sampai terjadi pertempuran yang menjatuhkan korban di kedua pihak. Sungguh hal ini memprihatinkan hati pin-ceng, Suheng,"

Kata Thian Hwesio yang mengeluh karena ada pertentangan itu.

Hwesio tamu itu bertubuh gendut dengan perut besar bulat, kepalanya yang gundul itu pun bundar dan licin, mulutnya selalu tersenyum lebar seperti orang yang selalu gembira, sepasang matanya juga lembut dan ramah, akan tetapi sesuatu yang mencorong di dalam yang menunjukkan bahwa di balik muka yang kekanak-kanakan penuh senyum.

Tubuh yang gendut seperti patung Ji-Lai-hud itu tersembunyi sesuatu yang dasyat dan amat kuat.

Memang Hek-Bin Hwesio yang mukanya hitam seperti pantat kuali ini seorang yang selalu ramah dan penuh senyum tawa, memandang dunia dan kehidupan manusia dari segi yang menggembirakan saja.

Akan tetapi jangan dipandang rendah semua keramahan dan kelembutan itu karena hwesio tua ini sesungguhnya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dan lebih hebat dibandingkan dengan sutenya yang menjadi ketua Siauw-lim-pai.

Mendengar keluhan sutenya, Hek-bin Hwesio tertawa, lalu membelalakkan matanya yang bundar itu, memandang sutenya.

"Sute, sebagai ketua Siauw-lim-pai, mengapa engkau membiarkan murid-muridmu menentang pemerintah? Bukanlah pemerintah pula yang telah bersikap baik dan murah hati kepada Siauw-lim-Si, membangun vihara ini dan bahkan memberi tanah yang luas?"

"Omitohud ....... tentu saja pin-ceng tidak akan melupakan itu ..... justeru karena itulah maka pin-ceng merasa prihatin dan hati menjadi resah suheng. Kami tidak menentang pemerintah, sama sekali tidak memusuhi pemerintah, kami cukup mengerti bahwa rencana pemerintah itu baik sekali. Menggali itu membangun terusan besar antara sungai Huang-ho dan Yang-ce memang amat besar manfaatnya, melancarkan lalu lintas perdagangan. Akan tetapi.... pelaksanaannya itulah, Suheng! Pelaksanaannya menyimpang dari tujuannya yang baik. Bayangkan saja. Rakyat diperas tenaganya, dipaksa bekerja tanpa dibayar, bahkan menerima ransum yang sedikit sekali, tidak ada pengobatan dan tidak ada pertolongan kalau ada yang sakit. Entah berapa banyaknya rakyat yang mati, belum lagi keluarganya yang menjadi terlantar karena terpaksa ditinggalkan. Kami menentang perlakuan tidak adil itu, yang kami tentang adalah para pelaksana itu, orang-orang yang korup dan yang mempergunakan kesempatan itu untuk mengeruk keuntungan sebesarnya, menari di atas mayat rakyat jelata, beruntung di atas ratap tangis rakyat! Bagaimana menurut pendapat Suheng?"

Senyum di wajah hitam itu melebar "Sute sendiri tentu sudah tahu sejelasnya bahwa segala macam bentuk kekerasanlah tidak benar.

Pelaksanaan kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak akan mungkin mendatangkan hasil yang penuh kedamaian.

Sute sendiri tahu bahwa betapapun baiknya tujuan, kalau pelaksanaannya tidak benar maka jadinya pun pasti tidak benar.

Nah, kalau sekarang tujuan Sute yang baik itu mendatangkan sejahtera dan damai dari kehidupan rakyat, dilaksanakan dengan kekerasan, dengan perkelahian, bagaima mungkin hasilnya akan baik?"

"Omitohud......apa yang dikatakan Suheng memang benar dan pinceng dapat melihat kebenaran itu. Akan tetapi, apakah kita harus tinggal diam saja melihat rakyat ditindas, ditekan, diperas dan dibunuh?"

"Siancai Siancai Siancai..... Masih perlu berheran-herankah kita melihat semua peristiwa itu, Sute? Tidak ada yang perlu diherankan, tidak ada yang patut disesalkan, walaupun bukan berarti bahwa kita akan tinggal berpangku tangan dan bermasa bodoh saja. Manusia wajib berikhtiar, Sute, namun segala pelaksanaan dan ikhtiar itu sendiri harus berada di jalan benar, bukan dengan kekerasan dan permusuhan. Tidakkah sebaiknya kalau misalnya Sute mengajukan pelaporan kepada Istana agar Kaisar sendiri mengetahui betapa para pelaksana pekerjaan besar itu melakukan penyelewengan?*' Thian-cu Hwesio menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang.

"Belum kami coba, Suheng. akan tetapi kiranya akan percuma saja. Pertama, tidak mungkin membuat laporan langsung kepada Kaisar tanpa melalui para pembesar dan Menteri, dan melalui mereka tentu akan sia-sia belaka dan tidak akan sampai ke telinga Kaisar. Ke dua, andaikata dapat sampai kepada Kaisar sekalipun, apakah Kaisar tidak lebih percaya kepada laporan para pembesar daripada laporan kita? Sudahlah, Suheng. Kurasa sepak terjang para murid kami tidak keliru, yaitu secara langsung membela rakyat dari penindasan para petug yang korup itu. Sekarang, ada hal lain yang lebih memprihatinkan hati pin-ceng."

"Omitohud...... Sute, kenapa engkau mengisi hidupmu dengan keluh kesah dan keprihatinan belaka? Lihatlah baik-baik Sute, bukankah segala hal itu telah terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa. Kenapa harus dibuat penasaran? Kita mengetahui bahwa segala sesuatu di permukaan dunia ini tidak akan terlepas daripada lingkaran roda Karma. Kewajiban kita bukanlah mengubah kenyataan melainkan menyadarkan manusia agar masing-masing dapat memperbaiki jalan hidupnya, karena hanya diri sendiri yang akan mampu memperbaiki karma masing masing. Diri sendiri yang menanam diri sendiri yang memelihara, dan diri sendiri yang akan menuainya kelak.. Sudahlah, semuanya itu sudah Sute ketahui, tidak perlu kuulang lagi. Sekarang coba ceritakan apakah hal lain yang lebih memprihatinkan hatimu itu, Sute?"

Kembali ketua Siauw-lim-pai itu menarik napas panjang.

Tentu saja, sebagai seorang tokoh besar, baik dalam ilmu silat maupun dalam ilmu keagamaan semua yang diucapkan suhengnya itu sudah dimengertinya dengan baik.

Namun, dia pun tahu bahwa bagaimanapun juga, dia tidak akan dapat membebaskan diri dari semua kerepotan batin seperti halnya suhengnya.

Suhengnya hidup sebatangkara, bebas lepas di udara seperti seekor burung, tidak ada ikatan sama sekali, baik lahir maupun batin.

Maka, lebih mudah bagi suhengnya untuk bebas dalam arti yang sebenarnya.

Akan tetapi dia?

Dia menjadi ketua Siauw-lim-pai biarpun dia mengusahakan agar batinnya bebas, bagaimana' dia dapat terbebas dari kewajiban sebagai ketua?

Bagaimana mungkin dia diam saja mendengar laporan para muridnya?

Tidak, dia adalah manusia biasa yang masih penuh ikatan!

Dan dia tahu, selama ada ikatan, maka aku-nya masih merajalela karena aku itulah yang terikat dan suka mengikatkan diri, dan selama ada ikatan ini pasti hidupnya akan selalu penuh dengan konflik, dengan kekhawatiran, kekecewaan,kekerasan dan kedukaan.

Kembali dia menghela napas panjang.

Nasib Ini juga karmanya?

"Tidak lain adalah pertentangan ya makin menjadi dengan para penganut Agama To, Suheng."

"Omitohud......, itu penyakit Iama kambuh kembali namanya! Sungguh ini lebih aneh lagi. Jelas bahwa kita adalah orang-orang beragama yang selalu menjauhi kekerasan, permusuhan dan menghapus kebencian. Demikian pula para penganut Agama To, pin-ceng yakin bahwa mereka pun adalah manusia-manusia yang mencari jalan terang melalui agamanya, ingin memperbaiki diri sendiri dan orang lain agar menjadi manusia yang berbudi. Akan tetapi, bagaimana sekarang antara mereka dan kita dua kelompok beragama yang gandrung akan kedamaian dan kesejahteraan hidup manusia, kini bahkan bermusuhan dan mengobarkan pertentangan dan permusuhan antara mereka sendiri?"

"Sekali ini mereka keterlaluan sekali, Suheng. Melihat betapa pihak kita menentang para pelaksana penggalian terusan dan menentang kesewenang-wenangan para petugas korup itu, mereka sengaja membantu para petugas itu dan menentang kita, bahkan merekalah yang nengatakan bahwa kita memberontak terhadap pemerintah. Mereka itu agaknya sengaja mempergunakan pertentangan antara pihak Siauw-lim-pai dan para tugas pemerintah, untuk mengadu Domba dan memburukkan nama Siauw-lun-pai kepada pemerintah. Bukankah hal itu berbahaya sekali bagi kita?"

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar Tiga orang berkelebat memasuki ruangan itu.

Mereka adalah tiga orang laki-laki yang gagah perkasa, murid-murid Siauw-lim-pai dan begitu tiba di ruangan pondok di mana dua orang hwesio tua itu bercakap-cakap, mereka segera menjatuhkan diri berlutut.

"Harap Suhu dan Supek (Uwa Guru) memaafkan teecu bertiga kalau teecu mengganggu Ji-wi Suhu."

Thian-cu Hwesio memandang kepada tiga orang muridnya itu dengan alis berkerut, lalu memandang ke luar.

"Kenapa kalian sudah datang menghadap? Bukankah pertemuan akan dimulai setelah tengah hari? Sekarang masih terlalu pagi dan kalau para murid sudah datang berkumpul semua, silakan mereka menununggu di ruang pertemuan. Nanti tengah hari pinceng akan ke sana."

"Memang para Suheng sudah datang berkumpul, Suhu, dan mereka pun sudah menanti, akan tetapi mereka tahu bahwa Suhu baru datang membuka pertemuan setelah tengah hari. Akan tetapi teecu bertiga memberanikan diri menghadap bukan karena itu, melainkan untuk laporkan bahwa di bawah bukit terjadi bentrokan besar antara banyak Suheng yang dipimpin oleh Susiok, menghadapi sekelompok to-su. Mula-mula hanya merupakan perkelahian antara dua orang saja, akan tetapi kawan-kawan mereka berdatangan sehingga akhirnya Susiok sendiri bersama beberapa orang Suheng pergi ke sana. Karena khawatir, maka teecu, setelah berunding dengan para suheng yang masih berada di sini, segera menghadap Suhu untuk memberi laporan."

"Omitohud .........! Tosu-tosu itu sungguh tidak tahu diri!"

Kata Thian-cu Hwesio dengan marah dan dia mengepal tinju, melihat sikap sutenya ini. Hek-bin Hwesio tersenyum.

"Sute, tenanglah dan sebaiknya kalau sute membuka saja persidangan dengan para murid Siauw-lim-pai itu dan biar pinceng yang akan turun dan melihat apa yang terjadi di sana."

Thian-cu Hwesio mengangguk dengan hati lega.

Kalau suhengnya itu yang maju, dia tidak khawatir lagi.

Suhengnya itu ir memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi darinya, dan dia tahu bahwa para to-su itu bukan orang-orang yang boleh dipandang ringan.

"Baiklah, Suheng. Harap Suheng dapat mengatasi keadaan di sana."

Hek-bin Hwesio lalu keluar dari pondok tempat tinggal ketua Siauw-lim itu dan setelah memperoleh keterangan di bagian mana para tosu itu bertempur melawan para murid Siauw-lim-pai, lalu berkelebat dan lenyap dari depan para murid Siauw-lim-pai yang memandang kagum.

KANGZUSI WEBSITE

http.//kangzusi.com/

Jilid 6 Dengan cepat sekali Hek-bin Hwesio berlari turun dari Siong-san (Gunung Siong) sebelah selatan.

Bagaikan terbang saja dia menuruni bukit itu sehingga tidak lama kemudian dia sudah sampai di kaki bukit, di mana dia melihat terjadi pertempuran yang sengit antara belasan orang murid Siauw-lim-pai melawan belasan orang tosu.

Para murid Siauw-Iim-pai itu dipimpin oleh seorang Hwesio tua tinggi besar yang dikenalnya sebagai Thian Gi Hwesio, yaitu sute dari Thian-cu Hwesio yang menjadi wakil ketua Siauw-lim-pai.

Biarpun antara Hek-bin-Hwesio dan Thian-cu Hwesio, ada hubungan persaudaraan seperguruan, namun dengan Thian Gi Hwesio, hwesio bermuka hitam itu tidak ada hubungan perguruan karena kalau dia satu perguruan dengan Thian-cu Hwesio ketika menjadi murid pertapa sakti di Himalaya, sebaliknya Thian Ci Hwesio men jadi saudara seperguruan dari Thia Hwesio dalam perguruan Siauw-lim Karena itu, Thian Gi Hwesio adalah orang yang ahli dalam ilmu silat Si-lim-pai dan terutama sekali, dia ahli bermain toya dalam ilmu silat Lo-kun.

Pertempuran yang terjadi di bukit itu memang tadinya disebab oleh perkelahian perorangan antara seorang murid Siauw-Lim-pai melawan seorang tosu yang lewat di tempat itu.

Karena memang sudah ada permusuhan antara kedua pihak, maka terjadilah saling mengejek yang berakhir dengan perkelahian.

Akan tetapi, teman-teman to-su itu berdatangan dan mengeroyok.

Hal ini diketahui oleh murid-murid Siauw-lim-pai yang segera membantu saudara mereka, dan terjadilah pertempuran hebat yang melibatkan belasan orang Siauw-lim-pai melawan belasan orang to-su.

Karena para murid Siauw-lim-pai yang terlibat dalam pertempuran itu adalah murid-murid kelas satu dan dipimpin sendiri oleh Thian-Gi Hwesio, sedangkan para tosu itu pun orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, maka pertempuran itu seru bukan main dan sungguhpun ketika Hek-bin Hwesio tiba disitu belum ada yang terluka parah, namun kakek ini maklum bahwa kalau dilanjutkan tentu kedua pihak akan menderita hebat dan jatuhnya banyak korban di kedua pihak takkan dapat dihindarkan lagi.

Dia juga melihat betapa Thian-Gi Hwesio yang amat lihai itu memperoleh seorang lawan yang juga amat lihai, yaitu seorang tosu berjenggot panjang yang memainkan sepasang pedang dengan amat baiknya.

Tongkat atau toya di tangan Thian Gi Hwesio yang digerakkan amat cepat berubah menjadi gulungan sinar yang lebar itu saling desak dengan gulungan sinar pedang di tangan kanannya.

Pertempuran itu sudah mempergunakan senjata dan sewaktu-waktu Musti jatuh korban kalau dia tidak segera turun tangan, pikir Hek-bin Hwesio.

Dan satu-satunya usaha terbaik untuk melerai dan mendamaikan dua pihak yang bertentangan adalah mengundurkan pihaknya sendiri lebih dahulu.

"Saudara-saudaraku dari Siauw-lim-pai, kuminta kepada kalian, mundurlah dan hentikan perkelahian!"

Berkata demikian, Hek-bin Hwesio melompat ke medan pertempuran dan menggunakan kedua tangannya untuk melakukan dorongan-dorongan ke arah Thian-Gi Hwcsio dan para murid Siauw-lim-pai.

Dari kedua tangannya menyambar hawa yang lembut namun amat kuatnya, membuat para murid Siauw-lim-pai terkejut da terdorong mundur!

Pada saat itu, terdengar suara lembut.

"Siancai ........ , orang-orang penganut To tidak akan menggunakan kekerasan menentang kekuasaan Alam atas diri manusia, mundurlah kalian, Saudara-saudaraku!"

Dan sesosok bayangan pakaian putih berkelebat, seperti yang dilakukan Hek-bin Hwesio, bayang putih ini pun mendorong ke arah para tosu sehingga mereka terpaksa mundur.

Maka, berhentilah pertempuran mati-matian itu.

Thian Gi Hwesio dan para murid Siauw-lim-pai yang tadinya merasa penasaran melihat ada orang menghalangi mereka, ketika melihat bahwa yang menghalangi adalah hwesio tua bermuka hitam, mereka terkejut.

Biarpun baru dua kali mereka bertemu dengan Hek-bin Hwesio, mereka semua telah mengenalnya sebagai suheng dari ketua mereka dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, lebih lihai daripada ketua mereka.

Maka kemarahan Thian Gi Hwesio lenyap, berubah menjadi keheranan dan juga penasaran mengapa suheng dari ketua Siauw-lim-pai ini, yang biarpun bukan anggauta Siauw-lim, akan tetapi juga seorang pendeta Buddha, melerai perkelahian itu dan tidak membantu para murid Siauw-lim-pai!

Sementara itu, para tosu juga terkejut melihat bayangan putih yang melarai dan mengundurkan mereka, akan tapi ketika mereka mengenal tosu berjenggot panjang dan berjubah putih itu, mereka pun terkejut dan segera memberi hormat.

Tosu itu memang terkenal sekali di antara para penganut Agama To, terutama sekali di kalangan para tokoh besarnya karena tosu itu merupakan seorang datuk Agama To yang berilmu tinggi.

Nama julukannya adalah Pek I Tojin (Penganut To Berbaju Putih).

Dia amat sederhana, bahkan julukannya hanya memakai Tojin (Penganut To) dan jelas julukan itu hanya menunjuk pakaiannya yang putih sebagai identitasnya.

Dia seorang pertapa di puncak Gunung Thai-san, dan kadang-kadang merantau mengunjungi kuil-kuil Agama To untuk bertemu dengan para ketuanya, memberikan pengarahan dalam Agama To, dan juga memberi petunjuk dalam ilmu silat.

Baik ilmu silatnya maupun ilmu pengetahuannya dalam Agama To, amat luas.

Setelah kedua pihak menghentikan pertempuran, bahkan mundur berkelompok di tempat masing-masing, dua orang kakek itu kini saling berhadapan dalam jarak hanya dua meter.

Mereka saling pandang, keduanya tersenyum dan Hek-bin Hwesio yang lebih dulu tertawa.

"Ha-ha-ha......,"

Sungguh menyenangkan telah bertemu dengan seorang bijaksana, apakah pin-ceng berhadapan dengan Pek-I-Tojin."

Pek-I Tojin mengelus jenggotnya dan perlebar senyumnya.

"Sian cai ........ sudah lama mendengar nama besar Hek-bin Hwesio dan sungguh bahagia rasa pin-to hari ini dapat berhadapan demgan dia."

Keduanya tertawa gembira dan dua jika yang tadi saling berkelahi dan kini berkelompok, hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan kata-kata.

Mereka masing-masing mengharapkan agar orang sakti-sakti itu membantu pihak masing-masing.

"Omitohud Pek I Tojin benar-benar mengenakan pakaian putih sesuai dengan ita julukannya!"

"Benar, dan Hek-bin Hwesio juga mempunyai muka hitam sesuai dengan jukannya!"

Kembali keduanya tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau engkau tidak mengenakan pakaian putih, mungkin julukanmu bukan lagi Pek I Tojin, akan tetapi, engkau akan tetap engkau!"

"Siancai, benar sekali! Kalau rnukamu tidak hitam, mungkin julukanmu bukan Hek-bin Hwesio, akan tetapi tentu pun engkau tetap engkau!"

Keduanya tertawa lagi, melangkah maju dan saling berpegang kedua tangan dengan sikap yang penuh damai!

Kata-kata yang keluar dari mulut dua orang sakti itu seperti kelakar saja, namun sesungguhnya mengandung pernyataan yang membuka kebenaran.

Mereka itu hendak mengatakan bahwa segala bentuk lahir belaka dan sama sekali tidak hubungannya dengan dirinya.

Boleh saja muka diubah-ubah, pakaian diganti-ganti dan nama diganti-ganti pula, namun orangnya tetap itu-itu juga, manusia yang hidup di dunia tanpa dikehendakinya sendiri!

Mereka kini saling berpegangan tangan sambil tertawa.

"Siancai, Hek-bin Hwesio, engkau aku tiada bedanya!"

"Memang, engkau dan aku sama juga Karena itu, sungguh menyedihkan melihat saudara-saudara kita saling hantam, saling benci dan berusaha untuk saling bunuh. Mari kita bicarakan baik-baik, Pek I Tojin!"

"Engkau benar sekali, Hek-bin Hwesio, mari kita duduk dan bicara."

Keduanya lalu duduk bersila di atas tanah, saling berhadapan dan melihat ini, kedua kelompok yang sejak tadi berdiri melihat dan mendengarkan, ikut pula duduk di atas tanah.

"Hek-bin Hwesio, sekarang selagi kita mempunyai keberuntungan untuk saling bertemu, pinto harap engkau tidak pelit dan suka memberi penerangan kepada kami para tosu yang bodoh. Mengapa antara para penganut Agama Buddha dan para pemeluk Agama To terdapat permusuhan?"

"Omitohud , semoga Sang Buddha mnuntun kita semua ke jalan terang, saudaraku yang baik, Pek I Tojin, kalau menurut apa yang pinceng lihat, segala bentuk permusuhan timbul karena .kebodohan! Kalau permusuhan timbul antara kedua kelompok yang beragama, .jika hal itu tentu dikarenakan kefanatikan dan kefanatikan adalah kebodohan! Apakah maksud kita memasuki suatu agama? Bukan lain untuk meninggal segala macam kejahatan dan mengambil jalan bersih dalam hidup kita. Kita dapat memulai hidup baru,mengalami jalan kehidupan yang bersih kalau meninggalkan semua kotoran dari perbuatan kita di masa lalu! Perbuatan kotor itu termasuk perbuatan yang dasari nafsu, termasuk kebencian, sekarang, dua kelompok orang beragama saling bermusuhan dan saling membenci. Bukankah ini berarti bahwa kita tidak meninggalkan jalan kotor, melainkan meninggalkan jalan baru yang bersih kembali ke jalan kotor? Mungkin tidak menyadari akan hal ini, mengingat bahwa apa yang kita lakukan ini benar dengan alasan-alasan dan pembelaan pun juga untuk membenarkan yang salah ini, untuk membersihkan yang kotor ini. Namun, jelas bahwa kebencian dan permusuhan adalah jalan kotor yang salah. Kita, dalam bakaran nafsu pementingan diri sendiri yang meluas menjadi kentingan kelompok, agama dan lain-lain, menjadi buta dan lupa bahwa inti ajaran agama kita masing-masing adalah mencari kedamaian dan meninggalkan segala bentuk pertentangan! Dan kita, dengan nafsu kita, bahkan menyeret agama ke dalam kebencian dan permusuhan. Hal inilah yang perlu kita sadari, kita harus membuka mata melihat kenyataan dan berani melihat kesalahan dalam diri sendiri, bukan selalu membuka mata melihat kesalahan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain. Bagaimana Pendapat mu, Pek 1 Tojin?"

"Siancai ! Saudara-saudaraku penganut Agama To, apakah kalian sudah mendengar semua kebenaran yang keluar dari mulut Hek-bin Hwesio tadi?"

Kalau sudah mendengar dan mengerti,kerjakanlah!

Buang semua pertikaian dan permusuhan, lenyapkan kebencian dari daam batin, dan kalau ada persoalan dengan pihak lain, rundingkanlah dengan damai, dengan musyawarah seperti yang sepatutnya dilakukan orang-orang beragama yang taat kepada ajaran agamanya!"

Setelah berkata demikian kepada para tosu di belakangnya, Pek I Tojin lalu menghadap hwesio muka hitam itu lagi dan berkata.

"Hek-bin Hwesio, semua penjelasanmu tentang kefanatikan yang bodoh itu memang tepat sekali. Pinto juga melihat akan kebenaran ini Sayangnya bahwa kita mempunyai suatu penyakit lain, yaitu selain kefanatikan juga kemunafikan. Kita adalah oran-orang munafik! Ini pun suatu kebodohan besar karena kita tidak sadar bahwa kita adalah orang-orang munafik, selalu berpura-pura, tidak ada kesatuan antara ucapan, pikiran, dan perbuatan! Kita menutupi kekotoran diri dengan bermacam cara. Kekotoran badan kita tertutup dengan pakaian bersih, perbuatan kalau kita ditutupi dengan alasan-alasan bersih, demi ini dan demi itu. Seorang bijaksana tidak akan membiarkan kepicikan pikiran menguasai dirinya, tidak membiarkan si-aku merajalela karena selagi si-aku merajalela, maka segala perbuatan pasti berpamrih demi kepentingan aku. Si-aku ini dapat membesar menjadi milikku, keluargaku, kelompokku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Seorang bijaksana akan selalu waspada akan si-aku dalam dirinya karena pikiran dan nafsu yang mencipta si-aku itulah satu-satunya musuh berbahaya selama hidupnya. Bukankah demikian keadaannya, sahabatku Hek-bin Hwesio?"

"Omitohud......!"

Mendengar engkau bicara seperti mendengar hati nurani k.ita sendiri yang bicara, sahabatku Pek I tojin.' Kakek bermuka hitam itu lalu menoleh kepada para murid Siauw-Iim-pai.

"Saudara-saudaraku dari Siauw-Iim-pai, indahkah kalian mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Pek I Tojin tadi? Kita harus menyadari bahwa selama kita membiarkan si-aku merajalela, maka hidup kita akan penuh keinginan. Kalau Keinginan-keinginan si-aku dari diri kita masing-masing itu kita kejar dalam pelaksanaan, maka akan terjadi bentrokan antara keinginan-keinginan yang saling bertentangan. Dan bentrokan ini menimbulkan permusuhan, dendam dan kebencian. Apakah kalian sebagai penganut Agama Buddha yang menuntun kita arah jalan terang dan kasih sayang, mau membiarkan diri kita bcrlepotan kotoran berupa benci, dendam dan permushhan?"

Thian Gi Hwesio dan para mu Siauw-lim-pai terkejut dan mereka pun menggeleng kepala.

Percakapan antara kedua orang sakti itu menggugah kesadaran mereka yang selama ini dibutakan oleh nafsu kemarahan dan dendam.

"Lo-cian-pwe berdua menggugah kesadaran kami,"

Demikian Thian Gi Hw sio berkata, suaranya lantang dan tegas, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.

"Kami menyadari kesalahan kami dan mulai detik ini akan berusaha kembali ke jalan benar yang terang. Akan tetapi, hendaknya ji-wi Lo-cian-pwe melihat kenyataan bahwa para murid Siauw-lim-pai menuruti bisikan jiwa untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh adanya kerja-paksa sehingga banyak jatuh korban. Apakah menurut Ji wi Lo-cian-pwe (Dua Orang Tua Gagah) kita harus tinggal diam saja melihat betapa rakyat jelata yang sudah serba kekurangan hidupnya itu kini diperas, ditekan dan dijadikan korban kekejaman para petugas? Melihat orang lain menderita dan kita diam berpangku tangan saja bukankah itu merupakan suatu dosa yang besar pula? Apalagi bagi seorang pendekar, pantaskah dia disebut pendekar kalau tidak turun tangan menolong?"

Mendengar ucapan wakil ketua Siauw-iim-pai itu, para murid Siauw-lim-pai mengangguk tanda setuju karena mereka pun menjadi bingung dan sangsi karena adanya kenyataan itu.

Tiba-tiba tosu jenggot panjang yang pandai menggunakan pedang dan yang tadi menjadi lawan tangguh Thian Gi Hwesio, berseru dengan lantang pula.

"Siancai ,bukan maksud pin-to untuk membantah siapa pun. Pinto dan para murid juga mengerti akan kebenar-kebenaran yang tadi diucapkan oleh dua orang Lo-cian-pwe, akan tetapi, ada kenyataan lain yang membuat kami merasa bingung. Bagaimanapun juga, kita semua adalah orang-orang yang bernegara, dan negara mempunyai pemerintah yang patut dipatuhi dan dibela karena tanda adanya pemerintah, kehidupan rakyat jelata akan menjadi kacau balau rusak, tanpa ada ketertiban lagi. Dan kita melihat betapa usaha pemerintah menggali terusan yang menghubungi Huang-ho dan Yang-ce-kiang adalah suatu usaha yang amat baik, walaupun merupakan pekerjaan besar yang amat sukar dan berat. Kalau usaha itu sudah jadi, maka rakyat pulalah yang akan menikmati hasilnya. Kemudian, kita melihat betapa ada golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah itu. Kami sebagai rakyat yang baik, tentu tidak mendiamkan hal ini terjadi kami bangkit untuk membantu pemeritah, menentang mereka yang hendak menghalangi pekerjaan besar itu. Nah,demikianlah keadaannya sehingga timbul bentrokan-bentrokan, maka bagaimaa baiknya, harap Ji-wi Lo-cian-pwe sudi memberi petunjuk kepada kami."

Hek-bin Hwesio dan Pek I Tojin saling pandang, kemudian tiba-tiba keduanya tertawa bergelak.

"Pek I Tojin, apakah engkau melihat kelucuan ini?"

Tanya Hek-bin Hwesio. Tosu tua itu mengangguk.

"Ya, aku melihatnya. Sama, tapi tidak serupa, serupa, tapi tidak sama!"

"Ha-ha-ha, memang lucu. Beginilah jadinya kalau orang menjadi buta oleh berkilauannya tujuan. Semua tujuan itu baik, semua cita-cita itu baik, tentu saja. Mana ada cita-cita yang buruk? ikan tetapi orang terlalu memperhatikan dan mementingkan tujuannya sehingga tidak melihat lagi apakah pelaksanaan untuk mencapai tujuan itu benar atau tidak! Para hwesio mempunyai tujuan untuk melindungi rakyat, sebaliknya para to-su juga ingin membela pemerintah demi kebaikan rakyat! Keduanya jelas mempunyai tujuan yang baik. Akan tetapi mengapa mereka sampai bermusuhan walaupun mempunyai tujuan yang sama, yaitu demi kebaikan rakyat? Karena cara Mereka untuk melaksanakan tujuan itu yang berbeda, bahkan bertentangan! Kali nn lupa bahwa yang terpenting bukanlah tujuannya, melainkan caranya, pelaksanaannya! Pelaksanaan inilah perbuatan, inilah kehidupan, sedangkan cita-cita dan tujuan itu hanyalah khayalan belaka. Yang harus diperhatikan justeru pelaksan ini, justeru cara yang melahirkan perbuatan ini. Apapun tujuannya betapa luhur cita-citanya, kalau dilaksanakan dengan cara yang tidak benar, akhirnya akan melahirkan hal yang tidak benar pula! Nah, sekarang kalian sudah melihat bahwa tujuan kalian sama, mengapa tidak mencari persamaan pula dalam cara melaksanakannya?"

Kedua pihak yang mendengarkan menjadi tertarik dan semakin tergugah kesadaran mereka.

"Siancai ....., memang Hek-bin Hwesio hanya mukanya saja, hanya kulitnya saja yang hitam! Akan tetapi isinya alangkah putih bersihnya! Nah, kalian semua sudah mendengar dan pinto akan merasa heran kalau belum juga terbuka mata batin kalian. Mata batin baru dapat terbuka kalau batin itu sendiri bebas 'dari segala bentuk kotoran, dan batin bersih dan bebas kalau di situ sudah tidak ada lagi penonjolan si-aku dengan segala dendam kebenciannya, iri hatinya, kecewaannya, harapan-harapannya kekuasaannya, dan segala macam kepentingan diri sendiri. Nah, marilah mulai detik ini kita buang jauh-jauh segala rasa dendam dan kebencian, seolah-olah semua itu telah mati dan kita hidup ba ru dengan segala kebersihan dan kebebas-batin!"

Kini semua orang dari kedua pihak itu bangkit dan saling menghampiri, tanpa diberi contoh lagi, dengan spontan mereka saling memberi hormat, saling memberi maaf dan saling mengaku salah, dipelopori oleh Thian Gi Hwesio dan tosu berjenggot yang tadi menjadi lawannya.

Melihat ini, Pek I Tojin dan Hek-bin Hwesio menjadi girang sekali dan mereka berdua lalu saling bergantian memberi wejangan-wejangan kepada lebih dari tiga puluh orang itu.

Hidup adalah belajar.

Belajar adalah hidup.

Mempelajari isi kehidupan ini tidak seperti mempelajari suatu ilmu pengetahuan yang harus dihafaldan ulang-ulang.

Hidup bukanlah suatu perulangan sehari-hari.

Hidup seperti sungai mengalir, seperti awan berger diangkasa, setiap saat berubah, setiap detik berbeda.

Tidak mungkin mengambarkan kehidupan sebagai sesuatu yang mati, sesuatu yang mandek.

Mempelajari hidup berlaku selama hidup sendiri.

Dengan membuka mata.

Dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan, penuh perhatian.

Bukan dengan menjiplak pelajaran yang sudah ada, karena penjiplakan adalah pemaksaan dan karenanya palsu, betapapun baik nampaknya.

Dan yang palsu itu, betapapun indah kelihatannya, tetap saja palsu dan karenanya tidak wajar lagi, tidak bersih lagi Kebaikan tidak mungkin dapat dipelajari, tidak mungkin dapat dihafalkan.

Kebaikan yang dipelajari dan dihafalkan, hanyalah suatu kemunafikan suatu kepalsuan karena kebaikan perti itu pasti berpamrih.Dan pamrih ingin baik, dan kalau yang ingin baik itu si-aku, sudah pasti karena si-aku melihat suatu keuntungan dalam kebaikan itu!

Si-aku ini tidak mungkin dapat bernuat tanpa pamrih demi keuntungan diri sendiri, betapapun kadang-kadang pamrih itu diselundupkan, disusupkan, disembunyikan dan diberi pakaian dan sebutan macam-macam.

Tetap saja pamrih, tetap saja akhirnya demi kepeningan si-aku.

Amat cerdiklah si-aku ini sengga kadang-kadang Sang pamrih dapat disulap sedemikian rupa sehingga titak nampak sebagai pamrih lagi.

Akan rapi, disulap bagaimanapun juga, tetap perbuatan yang didorong oleh si-aku, sudah pasti berpamrih.

Perbuatan baru bebas dari siaku, bersih dari pamrih, kalau perbuatan itu didasari cinta kasih, didorong bukan oleh nafsu, pikiran atau si-aku, melainkan terdorong oleh getaran perasaan yang tersentuh, oleh iba hati, oleh keharuan dan cinta kasih, dan cinta kasih bukan lagi cinta kalau sudah ada si-aku bercokol di situ, karena yang disangka cinta kasih itu hanyalah cinta kasih birahi semata, cinta nafsu yang selalu mengharapkan balas jasa demi kepentingan, kebaikan kesenangan diri sendiri pada akhirnya.

Waktu berjalan cepat sekali kalau tidak diperhatikan.

Mereka yang sedang mendengarkan uraian kata-kata penuh wejangan penting dari dua orang sakti itu pun lupa akan waktu.

Matahari mulai condong ke barat ketika tiba-tiba muncul seorang murid Siauw-lim-pai berlari-larian.

"Su-siok celaka .......! Siauw-lim-pai diserbu pasukan pemerintah!"

Demikian kata mereka kepada Thian Gi Hwesio.

Tentu Thian Gi Hwesio dan para murid Sia lim-pai terkejut sekali dan mereka baru ingat bahwa pada tengah hari, Siauw-Iim-si akan diadakan pertempuran antara para murid Siauw-lim-pai untuk membicarakan tentang penderitaan rakyat jelata berhubung dengan digali terusan itu.

Dan mereka semua begitu tertarik oleh wejangan kedua orang kek sakti itu sehingga lupa waktu kini tiba-tiba dikejutkan dengan berita bahwa Siauw-lim-si diserbu oleh pas pemerintah!

"Ji-wi Lo-cian-pwe, maafkan kami!"

Kata Thian Gi Hwesio dan dia cepat bangkit dan meloncat lari mendaki bukit, diikuti oleh belasan orang murid Siauw-lim-pai.

"Siancai ! Kita harus membantu para sahabat dari Siauw-lim-si kalau mereka terancam bahaya!"

Kata tosu berjenggot panjang dan dia pun meloncat dan lari diikuti belasan orang tosu lainnya.

Melihat ini, Pek I Tojin dan Hek-I n Hwesio menarik napas panjang dan saling pandang, kemudian Hek-bin Hwe-i berkata.

"Omitohud, segala sesuatu telah digariskan menurut Karma, dan manusia takkan dapat terlepas dari karmanya."

"Yang penting adalah saat ini. Kemairin sudah berlalu dan biarkan berlalu. Esok hanyalah bayangan dan biarkan esok datang seperti apa adanya. Saat Ini yang penting, dan apa pun yang terjadi saat ini, itulah yang harus kita hadapi dengan penuh kewaspadaan yang akan menimbulkan kebijaksanaan,"

Kata Pek I Tojin.

"Benar sekali, To-tiang. Mari kita lihat apa yang terjadi di sana."

Katanya lalu bangkit dan mendaki bukit itu. Ketika mereka melihat asap mengepul puncak bukit, keduanya berhenti memandang dengan alis berkerut.

"Hemmm, terjadi kebakaran di sana kata Pek I Tojin.

"Omitohud haruskah sampai begitu?"

Hek-bin Hwesio berkata seperti bertanya kepada diri sendiri.

Mereka lalu berlari dengan cepat mend bukit menuju ke Siauw-hm-si.

Apakah yang telah terjadi di Sia lim-si, di vihara yang megah dan biasanya amat sunyi penuh kedamaian itu, Seperti kita ketahui, Thian-cu Hwesl ketua Siauw-lim-pai pada saat itu dangan mempersiapkan pertemuan dengan para murid Siauw-lim-pai yang tinggal luar kuil, satu dan lain untuk membicarakan tentang pertentangan antara para murid Siauw-lim-pai dan petugas pengumpulan tenaga untuk bekerja proyek besar penggalian terusan.

Thian-cu Hwesio adalah seorang yang berwatak keras berdisiplin.

Memang watak seperti ini dibutuhkan seorang ketua yang memimpin banyak murid.

Tanpa disiplin, maka tidak akan ada ketertiban, walaupun disiplin ini mengandung kerasaan pula.

Disiplin yang dipaksa-ii pihak lain, apalagi disiplin yang melindung ancaman hukuman, pasti mendatangkan konflik.

Berbeda dengan dsisiplin diri, disiplin yang timbul karena kebijaksanaan, karena pengertian mendalam dari kewaspadaan.

Disiplin diri memang perlu, mutlak perlu bagi kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.

Ketika mendengar laporan dari para idnya tentang kekejaman para petugas terhadap rakyat jelata, betapa nyak rakyat harus melarikan diri mengungsi agar jangan sampai diambil secara paksa oleh para petugas yang diperkuat oleh pasukan pemerintah, betapa isteri dan anak-anak ditinggal suami, orang-orang tua yang membutuhkan pelayanan ditinggal putera-putera mereka, betapa para pekerja disuruh bekerja siang-malam, diperlakukan sebagai para hukuman yang melaksanakan kerja-paksa, mendengar semua ini, Thian-cu Hwesio merjadi marah.

Akan tetapi, selagi mendengar laporan seorang demi seorang dari banyak murid itu, tiba-tiba masuk seorang murid penjaga yang dengan muka pucat melaporkan bahwa ada pasukan pemerint datang menuju ke Siauw-lim-si!

Mendengar ini, para murid Siauw-lim-pai menjadi kaget dan bersiap-siap, akan tetapi Thian-cu Hwesio memperingatkan mereka agar jangan melakukan kekerasan.

"Ingat, tanpa perintahku, tidak boleh ada yang melawan pasukan pemerintah, demikian katanya.

"Pinceng sendiri ak menemui komandan pasukan dan bica ra dengan dia. Bagaimanapun juga, kita membela rakyat sebagai pendekar, bukan sebagai pemberontak. Kita buka pemberontak, karena itu, jangan ada yang menyerang pasukan itu kalau mer ka datang ke sini!"

Biarpun merasa khawatir sekali, para pendekar Siauw-lim-pai itu menyatatakan taat kepada pemimpin mereka.

"Dan ingat, mereka yang pernah bentrok degan para petugas dan dikenal, sebaik-bersembunyi di dalam saja dan jangan memperlihatkan diri agar tidak menimbulkan keributan."

Pesan pula Thian-cu Hwesio sebelum dia keluar dari ruangan pertemuan itu, menuju ke ruangan depan.

Ternyata laporan murid itu benar, sebuah pasukan yang terdiri dari kurang lebih lima ratus orang telah mengepung vihara Siauw-lim, dan kini rombongan perwira yang memimpin pasukan sudah turun dari atas punggung kuda mereka dan menuju ke pintu gerbang, Yang mengepalai mereka adalah seorang panglima berusia lima puluhan tahun, pakaian gagah gemerlapan, bersikap acuuh dan dengan pedang tergantung di pinggang dia melangkah menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh belasan orang perwira pembantu.

Beberapa orang pengawalnya memegang bendera dan tanda ngkatnya.

Panglima ini bukan orang asing ba gi para murid Siauw-lim pai.

Dia adalah Ciong Hak Ki, seorang panglima yang sudah seringkah berkunjung ke Siauw-lim-si, baik sebagai utusan pemerintah atau sebagai tamu dari ketua Siauw-lim-pai.

Akan tetapi sekarang sikapnya tidak seperti seorang sahabat atau seorang tamu yang baik.

Dia kelihatan marah, congkak, bahkan ketika para penjaga pintu gerbang memberi hormat, dia dak menanggapi, melainkan dengan angkuhnya terus melangkah masuk mela pintu gerbang yang sudah dibuka, diiringi belasan orang pembantunya yaitu rata-rata memasang wajah yang kaku dan keras.

Ketika rombongan perwira ini tiba serambi depan, mereka berhenti karena melihat Thian-cu Hwesio yang mengenakan pakaian ketua Siauw-lim-pai lengkap, dengan jubah berwarna kuning berkotak-kotak merah, dan tongkat ketua di tangan, telah berdiri menyambut di ruangan depan itu ditemani para hwesio pembantunya dan murid-murid kepala yang sebagian besar adalah para hwesio yan sudah tinggi ilmunya.

Para murid yang berdatangan dari luar vihara, tidak memperlihatkan diri.

Jumlah para Hwesio, dari para pimpinan sampai dengan para petugas rendahan, semua ada kurang lebih lima puluh orang.

Akan tapi, yang kini berada diluar kuil bersama Thian-cu Hwesio untuk menghadapi para tosu ada belasan orang sehingga yang berada di kuil tinggal tiga puluh orang lebih.

Para murid yang berdatangan dari luar kuil berjumlah dua puluh orang lebih sehingga pada saat itu, jumlah murid Siauw-lim-pai yang berada di kuil kurang lebih enam puluh orang.

Melihat ketua Siauw-lim-pai sudah berdiri menyambutnya, bersama murid-murid Siauw-lim-pai, Ciong Hap Ki atau Ciong Ciangkun (Perwira Ciong), memandang tajam.

Matanya mengerling kekanan kiri mencari-cari, seolah-olah dia hendak mencari orang-orang yang bersembunyi di dalam kuil.

Sementara itu, Thian-cu Hwesio dapat melihat betapa sikap Ciong Ciangkun tidak bersahabat, maka dia pun mendahului dengan angkat kedua tangan memberi hormat dan berkata, suaranya halus.

"Omitohud selamat datang, Ciong Ciangkun. Kunjungan Ciangkun sekali ini mengejutkan, tiba-tiba dan membawa pasukan. Ada urusan apakah gerangan, Ciangkun?"

Ciong Hap Ki adalah panglima sudah terkenal pandai dalam ilmu pe rang dan ilmu silat.

Karena dia seorang ahli silat yang pandai, maka dia bersahabat dengan ketua Siauw-lim.

Akan tetapi dia pun seorang yang berwatak keras, sesuai dengan kedudukannya sebagai panglima perang yang selalu dihadapkan kekerasan.

Karena dia sudah berprasangka buruk dan memandangi Siauw-lim-pai pada saat itu sebagai lawan dan musuh, sikapnya pun nampak keras.

Lenyap semua keramahannya yang terhadap sahabatnya itu.

"Lo-suhu,"

Katanya, suaranya lantang dan mengandung kekerasan.

"Pelukah lagi berpura-pura? Sudah berbulan-bulan lamanya Siauw lim-si memperlihatkan sikap bermusuhan, bahkan akhir-akhir ini para murid Siauw-lim-pai bertindak sebagai musuh! Apakah Lo-suhu hendak menyangkal dan kini berpu-pura tanya lagi apa maksud kedatanganku dengan pasukan?"

"Omitohud, Ciong Ciangkun. Belum pernah-pihak Siauw-lim-pai mempunyai sedikit pun maksud untuk melawan pemerintah. Harap Ciangkun jelaskan, dalam hal bagaimana Ciangkun menganggap kami bertindak sebagai musuh?"

"Thian-cu Hwesio!"

Ciong Ciang membentak, suaranya menggelegar.

"Engkau telah membiarkan murid-murid menentang pemerintah, bahkan menggunakan kekerasan membunuh banyak pasukan pengawal para petugas y ang melaksanakan pekerjaan galian terusan. Apakah engkau hendak menyangkal itu? Siauw-lim-pai hendak memberontakl Betapa rendahnya budi orang-orang yang tidak ingat akan kebaikan orang. Bukankah vihara Siauw-lim-pai dibangun karena bantuan pemerintah pula? sekarang, Siauw-lim-pai hendak menentang pemerintah, hendak memberontak?"

"Omitohud .... harap Ciangkun suka bersikap sabar dan tenang. Ciangkun sudah cukup mengenal kami, apakah kami orang-orang yang berjiwa pemberontak terhadap pemerintah? Sama sekali tidak Mungkin. Kami tidak memberontak, tidak menentang pemerintah.Yang dilakukan oleh anak murid Siauw-lim-pai hanyalah suatu kewajaran saja, melihat rakyat yang ditekan dan dipaksa harus kerja tanpa perhitungan, tanpa perikemanusiaan. Siauw-lim-pai menentang dasan, bukan menentang pemerintah!"

"Akan tetapi melawan para petugas pemerintah berarti melawan pemerintah! Itulah,"

Tidak perlu banyak cakap lagi.

Kami tahu bahwa para pemberontak itu, yang telah menentang pemerintah dan lakukan pembunuhan terhadap banyak tugas pemerintah, kini bersembunyi di kuil!

Thian-cu Hwesio, kami masih memandang muka para pimpinan Siauw-lim-si yang tidak berdosa.

Keluarkan semua pemberontak yang bersembunyi itu untuk kami tangkap, dan para anggauta Siauw-Iim-pai yang lain akan dibiar tinggal di vihara seperti biasa, tidak akan kami ganggu.

Kami hanya akan menangkap mereka yang menentang pemerintah!"

Thian-cu Hwesio mengerutkan alisnya.

Dia tahu siapa yang dimaksudkan oleh panglima itu.

Tentu para murid Siauw-lim-pai yang berdatangan tadi.

Agaknya panglima itu telah mempunyai mata-mata yang melapor akan kedatangan para murid Siauw-lim-pai dari itu.

"Ciong Ciangkun, pinceng tidak lihat adanya seorang pun pemberontak kuil ini. Ciangkun mendapatkan keterangan palsu. Tidak ada pemberontak di dalam kuil kami!"

"Bohong! Harap engkau tidak membela para pemberontak itu, Lo-suhu kalau kau ingin melihat vihara ini selamat!"

"Pinceng tidak berbohong, Ciangkun Memang tidak ada seorang pun pemberontak di dalam kuil ini!"

Ciong Ciangkun terbelalak.

Hwesio tua itu tidak mungkin berbohong, pikirnya.

Dia mengenal benar Thian-cu Hwesio dan yakin bahwa ketua Siauw-lim-pai itu tidak mungkin bicara bohong, maka dia pun menoleh kepada seseorang yang ikut dengan rombongan perwira masuk.

Orang ini bukan seorang perwira, melainkan seorang yang berpakaian seperti pendeta, seorang tosu!

Ketika melihat perwira tinggi itu memandang kenanya, orang itu lalu maju ke depan suaranya lantang ketika telunjuknya menuding kearah Thian-cu Hwesio.

"Thian-cu Hwesio, sungguh tidak pantas sekali engkau, sebagai seorang ketua yang berkedudukan tinggi, masih hendak melindungi kaum pemberontak dan bicara bohong! Pinto melihat dengan mata kepala sendiri bahwa para pemberontak itu memasuki kuil sejak pagi tadi, dan engkau berani mengatakan bahwa di dalam kuil tidak ada pemberontak?"

Thian-cu Hwesio memandang kepada Tosu itu dan sinar matanya seperti mencorong.

"Omitohud....... , kiranya ada ularnya di bawah rumput! To-tiang, siapapun juga adanya engkau, pinceng jelaskan sekali lagi bahwa di dalam kuil ini tidak pemberontak dan tidak ada penjilat!"

Wajah tosu itu berubah merah ka na dia merasa disindir dengan sebutan penjilat.

"Siancai .....! Sungguh seorang Hwesio yang sudah tua akan tetapi , pandai berdusta. Thian-cu Hwesio, kalau memang engkau tidak berbohong, beranikah engkau bersumpah bahwa di dalam kuil ini tidak ada pemberontak bersembunyi?"

"Ucapan seorang hwesio tidak pernah berbohong.Tidak perlu bersumpah akan tetapi pinceng menyatakan sekali lagi bahwa di dalam kuil ini tidak seorang pun pemberontak!"

"Thian-cu Hwesio!"

Tosu itu kini berseru marah.

"Siauw-lim-pai sungguh dak mengenal budi! Dibaiki oleh pemerintah malah kini menentang pemerintah. Begitukah pelajaran agamamu? Tidak mengenal budi orang?"

"Totiang, dengarlah baik-baik.Dalam pelajaran kami, tidak ada sebutan hutang budi! Kalau ada murid kami yang menentang, jelas bahwa yang ditentangnya itu adalah orang-orang yang tidak benar! Siapa pun dia, biar yang pernah melepas budi sekalipun, kalau bertindak jahat tentu akan ditentang oleh murid-murid kami. Seorang yang berhutang budi lalu membantu penolongnya itu melakukan kejahatan, jelas bukan orang baik, hanya seorang penjilat yang berbahaya. Kami tidak biasa begitu! Kami tidak ingin melibatkan diri dalam karma dengan hutang piutang budi dan dendam!"

"Ciong Ciangkun, sudahlah, tidak perlu banyak cakap lagi dengan pendeta tua yang pandai berbohong ini. Lebih baik lakukan penggeledahan ke dalam kuil. Pinto yakin mereka berada di dalam. Kalau sampai pinto berbohong dan mereka berada di dalam, kepala pinto menjadi penggantinya!"

Mendengar ucapan tosu itu, Ciong Ciangkun kembali bersemangat. Dia pun melangkah maju dan dengan nada mengancam dia berkata kepada Thian-cu Hwesio.

"Lo-suhu, sekali lagi kuperingatkan kepadamu agar menyerahkan para pemberontak itu baik-baik kepadaku. Engkau dengarlah, Losuhu. Lihat ini, datang atas nama pemerintah, atas nama Kaisar! Aku telah mendapat perint untuk menangkap para pemberontak! Aku datang bukan atas namaku sendi melainkan sebagai wakil pemerintah, wakil yang menjunjung perintah Kaisar sendiri!"

Dia memperlihatkan leng-ho (bendera perintah kaisar) kepada Thian-cu Hwesio yang diam-diam menjadi tekejut sekali.

Kalau kaisar yang memberi perintah, berarti hancurlah Siauw-lim-si!

Akan tetapi, bagaimana mungkin menyerahkan para murid Siauw-lim sebagai pemberontak?

Dan dia tidak pernah berbohong.

Dalam pandangan para murid itu bukan pemberontak!

Mereka menentang para petugas yang menindas rakyat, bukan berarti memberontak kepada pemerintah untuk menggulingkan Kaisar dan merampas kedudukan!

Biarpun wajahnya berubah pucat dan dia cepat memberi hormat kepada bendera tanda kekuasaan yang diberikan Kaisar itu, dia menggeleng kepala.

"Maaf, Ciong Ciangkun, di dalam kuil ini tidak ada pemberontaknya, tidak ada seorang pun pemberontak di antara kami!"

Tosu itu tiba-tiba berteriak.

"Hwesoi tua, jangan mengelabuhi kami! Para pemberontak itu adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang datang pagi hari tali dan kini berada di dalam kuil! Hayo katakan bahwa tidak ada murid-murid Siauw-lim-pai yang bukan hwesio di dalam kuil!"

Tosu ini memang cerdik dan dia mengerti mengapa ketua Siauw-lim-pai yang tidak pernah berbohong itu berani berkukuh mengatakan bahwa tidak ada pemberontak di dalam kuil.

Tentu saja, ketua itu tidak menganggap para murridnya pemberontak maka dia berani berkata demikian.

Kini Thian-cu Hwesio yang menundukkan mukanya.

"Omitohud......., tentu saja ada murid-murid kami di dalam kuil, akan tepi mereka bukan pemberontak."

Ciong Ciangkun juga baru menyadari, maka dia pun melangkah maju lagi makin dekat.

"Losuhu, minggirlah biarkan kami masuk untuk melakui penggeledahan dan penangkapan!"

Dan memberi isarat ke belakang dan masuklah pasukannya ke dalam sehingga memenuhi pekarangan depan dan bagian depan serambi itu, mereka siap dengan senjata mereka.

Tahulah Thian-cu Hwesio bahwa saat terakhir telah tiba di mana dia harus mengambil keputusan, yaitu meryerahkan para muridnya untuk ditangkap sebagai pemberontak, atau mempertahankan kehormatan Siauw-lim-pai yang hendak dilanggar.

Kini Ciong Ciangkun para pembantunya sudah bergerak melangkah maju, agaknya hendak memaksa memasuki kuil.

"Tahan !"

Bentak Thian-cu Hwesio' "Ciong Ciangkun menghentikan langkahnya, lalu membentak.

"Thian-cu Hj sio, apakah engkau hendak melawan utusan Kaisar dan menjadi pemberontak pula?"

Wajah Thian-cu Hwesio kini menjadi merah sekali, matanya mencorong ketika dia berkata.

"Ciong Ciangkun, engkau tentu tahu bahwa pinceng dan seluruh murid Siauw-lim-pai bukanlah pemberontak. Kalau andaikata ada di antara Mur id pinceng yang melawan petugas pemerintah, itu bukan berarti melawan pemerintah, melainkan karena Si petugas ng bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat dengan mengandalkan kekuasaan yang ada padanya! Memang ada murid-murid Siauw-lim-pai yang berada dalam kuil, akan tetapi sama sekali bukan pemberontak. Vihara kami adalah tempat ibadah yang suci, tidak dapat di masuki sembarang orang saja. Oleh karena itu, sesuai dengan peraturan vihara pinceng melarang siapapun juga untuk memasukinya."

"Thian-cu Hwesio, ingat, kami adalah petugas yang mewakili pemerintah, membawa perintah Kaisar! Kami akan menggeledah ke dalam kuil!"

"Maaf, pinceng melarangnya!"

Kata Thian-cu Hwesio.

"Bagus! Itu namanya pemberontak. Kalau kami memaksa masuk, engkau akan menyerang kami?"

Para murid Siauw-lim-pai sudah loncatan dan berbaris melintang, menutup jalan masuk dan sikap mereka sudah jelas.

Mereka akan mempertahankan vihara mereka mati-matian, kalau perlu dengan pertumpahan darah, tetapi Thian-cu Hwesio membentak 5 muridnya.

"Kalian mundur!"

Mendegar bentakan ini, para murid terkejut terpaksa mereka mundur, walaupun mereka merasa penasaran mengapa ketua mereka menahan mereka dan menyatakan mundur.

Bukankah sudah jelas bahwa panglima kerajaan itu mempunyai buruk terhadap Siauw-lim-pai?

Dengan sikap tenang, Thian-cu Hwesio menghadapi para perwira itu, lalu berkata kepada seorang murid dibelakang "Ambilkan seguci minyak bakar!"

Biarpun murid itu merasa heran tidak mengerti, namun dia cepat mentaati perintah gurunya dan tak lama kemudian, Thian-cu Hwesio menerima guci minyak itu.

Tanpa ragu lagi, dia menyiramkan minyak ke atas kepalanya sehingga minyak membasahi seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.

"Ciong Ciangkun, pin-ceng bukan pemberontak, juga semua murid Siauw-lim-Si bukan pemberontak. Biarpun pemerintah telah membantu kami dengan pemnangunan kuil ini, namun seluruh vihara ini adalah milik kami dan menjadi hak kami. Oleh karena itu, sekali lagi pin-ceng minta agar Ciangkun dan semua pasukan meninggalkan tempat ini, dan Pin-ceng akan menghadap Sribaginda Kaisar di kotaraja untuk menerima keputusan beliau. Akan tetapi kalau Ciangkun berkeras hendak melanggar hak kami dan memasuki vihara, apalagi menangkap murid-murid Siauw-lim-pai, terpaksa kami melarangnya."

"Kami membawa surat perintah, membawa kekuasaan dari Kaisar! Biarpun kalian melarang, kami akan tetap masuk dan menangkapi para pemberontak!"

Kata Ciong Ciangkun.

"Kalau begitu, pinceng akan membakar diri untuk memprotes tindakan Ciangkun, dan untuk menyatakan bahwa kami sungguh bukan pemberontak."

"Ha, silakan!"

Kata Ciong Ciangkun sudah marah karena dia merasa yakinbahwa orang-orang Siauw-lim-pai itupemberontak dan menentang kebijaksai pemerintah membuat terusan yang me rupakan pekerjaan besar dan penting itu.

Thian-cu Hwesio berseru lirih.

"Omitohud........"

Lalu mulutnya berkemak-kemik membaca doa dan tongkatnya dia pukulkan dengan kerasnya ke atas lantai depan kakinya.

Pukulan itu sedemikian kerasnya sehingga mengeluarkan bara api yang menyambar kaki pendeta yangbasah oleh minyak bakar.

Seketika api bernyala dan dengan cepatnya lidah api menjilat ke atas dan berkobar-kobar.

"Suhuuuuu !"

Beberapa orang mirid kepala Siauw-lim-pai terkejut dan berloncatan ke depan untuk menyelamatkan guru mereka, akan tetapi Thian Hwesio yang masih berdiri tegak berseru dengan suara nyaring.

"Berhenti! Biarkan pinceng menjadi korban demi kebersihan nama Siauw-Lim-Si. Akan tetapi ingat pesan pinceng. Para Murid Siauw-lim-pai selamanya bukanlah pemberontak-pemberontak, melainkan para Pendekar yang selalu menentang kejahatan menjadi pelindung rakyat tertindas!"

"Setelah berkata demikian, Thian-cu Hwehio roboh dan tubuhnya terus terbakar sampai hangus. Sementara itu,Ciong Ciangkun sudah memberi aba-aba Kepada pasukannya untuk menyerbu ke dalam. Melihat ini,para murid Siauw-Lim-pai berloncatan menghadang.

"Ha, jadi kalianbenar hendak melawandan memberontak?"

Bentak perwira itu.

"Tidak, kami mempertahankan hak kami!"

Ciong Ciangkun memberi isarat dan pasukannya lalu menyerang, disambut oleh para murid Siauw-lim-pai sehingga terjadilah pertempuran yang hebat di ruangan depan vihara Siauw-lim-si.

Disaksikan api yang masih bernyala-nyala membakar tubuh Thian-cu Hwesio, para murid Siauw-lim-pai mengamuk.

Juga murid bukan pendeta yang tadi bersembunyi di dalam, ketika mendengar bahwa guru mereka membakar diri' kini pasukan menyerbu dan bertempur melawan para saudara mereka yang ada diluar, kini berlarian keluar terjun kedalam medan pertempuran sehingga pertempuran menjadi semakin sengit.

Seorang di antara para murid kepala yang bukan hwesio itu bernama Lie Koan-Tek, seorang pendekar gagah perkasa berasal dari Hok-kian.

Dia memiliki pandaian tinggi karena sudah menguasai semua ilmu dari Siauw-lim-pai dan merupakan seorang di antara para pendekar yang membela rakyat yang di paksa untuk bekerja rodi di proyek penggalian terusan, bahkan oleh para murid Siauw-lim-pai lainnya dia dianggap seorang suheng yang dipercaya kepemimpinannya.

Sejak tadi, Lie Koan Tek yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun itu mengintai ke luar dan dia lihat semua yang telah terjadi.

Karena itu, begitu dia dan teman-temannya menyerbu keluar, dia lalu menerjang orang yang agaknya menjadi mata-mata pasukan pemerintah.

Dengan geramnya dia menyerang tosu itu dengan senjatanya yang, tadinya melilit pinggangnya, yaitu sebatang rantai baja.

Tosu kurus kering yang giginya ompongg di bagian depannya itu adalah Cun-bin Tosu, seorang tosu yang memang digunakan oleh para tosu yang memusuhi Siauw-lim-si untuk menjadi mata-mata Ciong Ciangkun.

Melihat seorang pria gagah perkasa menyerangnya dengan rantai baja, Cun Bin Tosu yang juga memiliki kepandaian tinggi itu menyambut dengan pedangnya.

"Tranggg !"

Bunga api berpijar ketika rantai bertemu pedang, dan keduanya merasa betapa lengan tangan mereka tergetar hebat.

Namun Lie Koan Tek menyerang terus dengan semakin dahsyat sehingga terpaksa tosu itu pun memutar pedang melindungi diri dan balas menyerang.

Terjadilah perkelahian yang sangat sengit antara kedua orang ini.

Ciong Ciangkun sendiri sudah memimpin para perwira pembantunya yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, untuk menyerang para murid Siauw-li pai, dibantu oleh pasukan mereka sehingga tempat itu menjadi hiruk pik uk oleh pertempuran, sementara api masih bernyala membakar tubuh Thian-cu Hw sio..

Para murid Siauw-lim-pai adalah pendekar-pendekar yang amat lihai, ol eh karena itu, Ciong Ciangkun dan kawan-kawannya merasa kewalahan.

Apala karena mereka tidak mungkin dapat mengerahkan seluruh pasukan mereka y ang masih berada di luar.

Tempat di serambi depan itu terlalu sempit untuk suatu pertempuran terbuka di mana lima ra tus orang pasukan itu dapat terjun semua.

Kini,.

yang terjun dalam pertempuran itu tidak lebih dari dua ratus orang pasukan saja, menghadapi kurang lebih enam puluh orang murid Sia lim-pai.

Murid-murid Siauw-lim-ini, lihai, apalagi barisan Lo-han-dengan toya ditangan mereka merupakan barisan silat yang amat tangguh Mulailah anggauta pasukan berjatuhan terluka atau tewas oleh senjata di tangan para murid Siauw-lim-pai.

Perkelahian antara Lie Koan Tek melawan Cun Bin Tosu berjalan amat seru.

Tidak ada anggauta pasukan yang membantu tosu itu.

Hal ini tidaklah aneh.

Para anggauta pasukan tentu saja t hanya membantu para perwira, dan tosu itu tidak mereka kenal, maka mereka tidak mau membantunya.

Maka, perkelahian antara Lie Koan Tek dan Cun Bin Tosu berjalan seru tanpa pengeroyokan, satu lawan satu.

Cun Bin Tosu terdesak hebat dan biarpun dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus ilmu pedangnya, tetap saja gulungan sinar rantai baja di tangan Lie Koan Tek mendesak dan menghimpitnya sehingga tosu itu terpaksa main mundur dan hanya dapat memutar pedang untuk menangkis dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran kedua ujung rantai baja di tangan lawannya.

"Singgggg !"

Tosu itu mencoba untuk membalas ketika mendapatkan kesempatan.

Pedangnya meluncur dan menyambar kearah tenggorokan lawan dengan tusukan kilat yang kuat dan cepat Lie Koan Tek miringkan tubuh menggeser kaki menjauh, rantai bajanya menyambar seperti ular ke arah pedang dan berhasil melibat pedang itu dengan ujung Rantai.

Cun Bin Tosu terkejut dan barusaha menarik kembali pedangnya Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Lie Koan Tek untuk menendang kakinya ke arah lutut kaki kiri lawan.

"Dukkk!"

Tubuh tosu itu terjungkal.

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 11

Baca Juga: Dara Baju Merah 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert