Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap 2

Eps 2 Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo

Baca online Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo

Cersil Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo.

"Jangan harap lari sebelum tinggalkan kepalamu!"

Kata gadis itu. Si penjahat menjadi jengkel, lebih-lebih ketika melihat bahwa gadis itu justeru orang yang siang tadi ia incar dan hendak dijadikan korbannya.

"Jangan kurang ajar! Hayo pergi jangan menghalangi jalanku kalau tak ingin mampus!"

Bentaknya. Han Lian Hwa tersenyum.

"Engkau tadi mencariku, bukan? Nah, aku sudah berada di sini, kebetulan sekali, karena aku membutuhkan engkau!"

"Apa katamu? Apa maksudmu?"

Penjahat itu heran.

"Aku butuh... kepalamu! Perlu kepalamu untuk membalaskan sakit hati penduduk kampung ini."

"Kurang ajar!"

Teriakan ini dibarengi dengan sinar pedangnya menyerang dengan sebuah tusukan berbahaya ke arah dada Lian Hwa.

"Hei hati-hati dengan pedangmu, kan-cat (bangsat)!"

Nona itu berkelit lincah sambil mengejek.

Setelah terpisah dari suhengnya, maka timbullah pula kejenakaan dan kenakalannya.

Tiba-tiba Hwat Khong yang sejak tadi mengintai, menjadi tak sabar lagi dan loncat menghampiri.

"Sumoi, jangan banyak buang waktu. Tangkap dia!"

"Baik, suheng,"

Jawab Lian Hwa. Tapi pada saat itu sebuah bayangan lain yang membawa pedang, terbang mendatangi.

"Jangan khawatir, koko! Bikin mampus perempuan itu, biar aku bereskan keledai gundul ini."

Segera bayangan yang baru datang ini menyerang Hwat Khong dengan pedangnya.

Serangan berbahaya itu ditangkis oleh kebutan lengan baju Hwat Khong.

Terjadilah pertempuran hebat.

Dua penjahat bersenjata pedang melawan Lian Hwa dan suhengnya yang berkelahi dengan tangan kosong.

Memang Hwat Khong melarang sumoinya menggunakan senjata, karena ia ingin menangkap mereka hidup-hidup.

Pula ia yakin bahwa ia dan sumoinya tak perlu menggunakan senjata melawan kedua penjahat itu.

Tak disangkanya bahwa perempuan jahat yang dilawannya itu cukup lihai hingga agaknya tak mudah baginya untuk mengalahkan dengan cepat, apa pula menangkapnya hidup-hidup.

Di lain pihak Lian Hwa sengaja mempermainkan penjahat cabul itu.

Ia bergerak-gerak bagaikan kupu-kupu lincah di antara sambaran pedang sambil memaki dan mengejek.

Penjahat cabul itu makin lama makin marah dan penasaran.

Ia yang bersenjata pedang dapat dipermainkan dengan begitu mudah oleh seorang gadis muda yang bertangan kosong.

Hampir ia tak dapat percaya dan merasa seakan-akan bermimpi.

Ia menjadi penasaran dan menyerang makin hebat.

Pedangnya menusuk ke arah leher dengan tipu Hui-eng-bok-thio (Elang Terbang Menyambar Kelinci), tapi dengan mudah lagi-lagi Lian Hwa berkelit sambil mengejek.

"Kurang cepat, bangsat kecil!"

Lalu dengan lincahnya meloncat ke sebelah kanan orang itu.

Si penjahat segera memutar pedangnya ke kanan menyabet dengan gerak tipu Ular Belang Memukulkan Ekornya.

Tapi yang diserang hanya meloncat sedikit dan tahu-tahu gadis itu telah berada di belakangnya.

Dipermainkan secara begitu, si penjahat menjadi pening dan keringatnya mengucur deras, napasnya mulai sengal-sengal.

Ia menjadi penasaran dan nekat.

"Malam ini aku si burung hantu Eng Kan akan mengadu nyawa dengan kau anjing betina!"

Pedangnya lalu dipakai menyerang dengan nekat. Lian Hwa tertawa dan menjawab.

"Malam ini aku Ang Lian Lihiap akan mengirim kau pulang ke neraka!"

Ia menggunakan nama julukan itu ketika ia dengar dari suhengnya bahwa di luaran ia disebut orang Ang Lian Lihiap.

Setelah berkata demikian, maka Lian Hwa mulai mengirim serangannya yang me-matikan.

Ketika pedang lawannya mengarah pinggang, ia berkelit ke samping, tapi Eng Kan melanjutkan serangannya dengan berjongkok dan menyabet ke arah kaki.

Lian Hwa meloncat ke atas dan sebelum kakinya kembali ke bawah ia menggerakkan sedemikian rupa, merupakan tendangan maut.

Kaki kirinya menotol dada penjahat itu yang segera menjerit lalu jatuh.

Pedangnya terlepas dan dari mulutnya tersembur darah merah.

Kemudian tubuhnya yang sudah tak berdaya itu bergulingan ke bawah akhirnya jatuh dari atas genteng.

Sementara itu Hwat Khong sudah mendesak musuhnya hingga perempuan jahat itu kini repot menghindari serangan-serangan Hwesio kosen itu.

Ketika mendengar jeritan Eng Kan, ia makin bingung dan ketika Hwat Khong mengirim serangan kepretan tangannya, pergelangan tangannya yang memegang pedang kena terpukul hingga pedangnya terpental dan jatuh ke atas genteng mengeluarkan suara berkerontangan.

Lin Piauw yang baru saja sampai ke situ berteriak.

"Bagus, tangkap padanya, Lo-Suhu!"

Tapi perempuan itu dengan cepat meloncat ke bawah dan kabur dengan cepatnya.

"Kejar! Tangkap!"

Teriak Lin Piauw yang segera mengejarnya. Lian Hwa berkata.

"Biarkan aku merobohkannya, saudara Lin!"

Tangannya menyambar pedang penjahat perempuan yang jatuh tadi dan siap untuk dilontarkan ke arah tubuh lawan yang masih tampak. Tapi suhengnya membentak.

"Jangan!"

Maka Lian Hwa membatalkan niatnya. Lin Piauw kembali dengan percuma.

"Tak dapat aku mengejarnya ia menghilang dengan cepat... sayang sekali! Lo-Suhu mengapa Lo-Suhu tidak mengejarnya?"

Ia menegur agak kecewa.

"Lin Lauwte, tak perlu penjahat itu dikejar-kejar, dan lebih tak perlu pula ia dibunuh karena dosanya tak sangat besar. Ia hanya pencuri biasa. Yang sangat berdosa telah membunuh jiwa orang hanya penjahat yang terbunuh oleh sumoi itu."

Kemudian ia berkata kepada sumoinya.

"Mari kita pulang, sumoi!"

Di tengah perjalanan pulang ke kelenteng Hwat Khong Hwesio menegur sumoinya.

"Sebetulnya tak perlu membunuhnya, sumoi."

"Tapi suheng, ia seorang jahat sekali. Kalau tidak dibasmi mungkin membahayakan keselamatan umum."

Suhengnya hanya menghela napas.

"Hm, biarlah karena sudah terlanjur, pula mungkin ia memang sudah pantas membalas jiwa para kurbannya. Hanya lain kali sabarlah sedikit, jangan terlampau ganas."

Lian Hwa hanya tunduk dan mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Pada suatu hari, dua orang laki-laki yang berpakaian sebagai orang-orang dari kalangan persilatan dan menunggang kuda datang ke kelenteng Ban-hok-thong.

Mereka langsung menemui Hwat Khong Hwesio yang pada saat itu tengah bercerita kepada Han Lian Hwa tentang orang-orang ternama di kalangan kang-ouw.

Begitu melihat Hwat Khong, mereka segera berlutut dan menyebut.

"Suhu (guru)."

Hwat Khong mengangkat bangun mereka dan berkata.

"Bangun dan duduklah."

Kedua orang itu bangun dan ketika pandangan mata mereka bertemu dengan Lian Hwa, mereka memandang guru mereka dengan mata mengandung pertanyaan, tapi mulut mereka diam saja tidak berani bertanya.

"Ini adalah aku punya sumoi, maka kalian masih terhitung sutit (murid keponakan) dari sumoi ini!"

Mendengar ini, kedua orang itu membuka mata lebar-lebar dengan penuh keheranan, tapi karena keterangan guru mereka itu, terpaksa menjura kepada Lian Hwa.

Karena untuk berlutut mereka sungguh merasa tidak pantas, melihat "bibi guru", mereka itu tak lebih baru berusia enambelas tahun!

Lian Hwa cepat-cepat balas menjura dan berkata sambil tersenyum.

"Jiwi (kalian) janganlah menggunakan terlampau banyak peradatan, karena kita toh orang sendiri. Juga tak perlu kiranya memanggil aku dengan sebutan bibi guru segala, karena kalian jauh lebih tua dariku. Tentu hal ini akan sangat terasa janggal dan memalukan bagi jiwi."

Hwat Khong pun tertawa.

"Sumoi, ini adalah muridku pertama bernama Can Lun, dan ini murid kedua bernama Bwee Liong. Mereka membuka piauw-tiam (kantor ekspedisi) di Kwi-ciu."

"Ah baru kutahu bahwa suheng juga mempunyai murid-murid. Masih ada lagikah muridmu, suheng?"

"Masih ada seorang lagi murid perempuan bernama Siu Loan ialah puteri seorang cong-tok (Pembesar) di Kwi-ciu juga."

Kemudian ia memperkenalkan Lian Hwa kepada muridnya.

"Sukou (bibi guru) kalian ini adalah Ang Lian Lihiap Han Lian Hwa!"

Tapi nama ini sama sekali mereka belum pernah mendengarnya.

"Kalau begitu aku akan memanggilmu saudara Can dan saudara Bwee saja dan jiwipun tak perlu menyebut bibi, sebut saja siauw-moi (adik) atau apa saja."

"Rasanya tak pantas kalau saya menyebut siauw-moi, baiklah kusebut Lihiap saja,"

Kata Bwee Liong.

"Nah, cukuplah segala macam sebutan ini,"

Mencela Hwat Khong.

"Tidak biasa kalian datang pada waktu begini. Ada keperluan apakah sebenarnya kedatangan kalian ini?"

"Teecu (murid) berdua datang, pertama untuk mengunjungi suhu karena sudah lama tidak menghadap, dan kedua teecu membawa surat undangan untuk suhu dari Ciauw Bun Liok Lo-Enghiong (pendekar tua) yang hendak merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh."

Can Lun berkata sambil menyerahkan sepucuk surat undangan. Hwat Khong menerima surat itu dan membaca, lalu berkata sambil tertawa gembira.

"Bagus, bagus. Ciauw Bun Liok si Garuda Kuku Emas (Kim-Jiauw-Eng) itu masih ingat kepada lohu yang tak ternama, Can Lun, engkau dan sute (adik seperguruan)mu Bwee Liong boleh mewakili aku pergi mengunjunginya dan antarkan suratku menghaturkan selamat."

Tiba-tiba Han Lian Hwa berkata memohon.

"Suheng, bolehkah aku saja mengantarkan surat itu?"

Hwat Kong berpaling memandang sumoinya, lalu tertawa.

"Hem, baik juga kalau kita pergi bersama agar kau dapat bertemu muka dengan para jagoan di kalangan kang-ouw. Can Lun, biarlah kauantar saja sumbanganku dan katakan bahwa aku akan datang pada waktunya bersama seorang sumoiku."

Kedua murid itu berdiam di kelenteng gurunya selama tiga hari dan kemudian mereka kembali dengan membawa sepucuk surat pernyataan selamat berikut sumbangan berupa sebuah kotak kecil kuno terbuat dari kayu hitam berukiran liong (naga) yang indah dan terisi sebuah kartu merah bertulisan nama Hwat Kong dan sumoinya.

Setengah bulan kemudian, Hwat Khong Hwesio mengajak sumoinya berangkat menuju ke kota Siang-kiu di Propinsi Holam, tempat kediaman Kim-Jiauw-Eng Ciauw Bun Liok si Garuda Kuku Emas.

Karena perjalanan itu jauh dan melalui hutan-hutan, sedangkan pada masa itu keadaannya di sepanjang jalan tidak aman, maka Hwat Kong Hwesio membawa senjatanya berupa sebatang tongkat besi yang berat, Han Lian Hwa juga membawa pedangnya Siang-liong-kiam yang digantungkan di pinggang.

Mereka berdua sengaja berjalan kaki karena Hwat Khong memang ingin menunjukkan tempat-tempat yang mereka lalui untuk menambah pengalaman sumoinya.

Lian Hwa bukan main senangnya melakukan perjalanan kali ini karena dengan dikawani suhengnya ia bisa mendapat penerangan-penerangan jelas tentang segala yang dilihatnya.

Mereka berjalan selama lima hari melalui beberapa buah kota yang menarik hati Lian Hwa.

Gadis ini mengagumi bangunan rumah-rumah yang besar dan indah di sepanjang jalan.

Tentu saja di sepanjang jalan pasangan ini tak luput dari perhatian orang.

Hwat Khong bertubuh tinggi besar berwajah angker dan agung dengan sinar matanya yang terang.

Lian Hwa merupakan seorang gadis yang cantik jelita, berpakaian ringkas warna merah muda dan di atas rambutnya yang hitam gombyok itu terhias sebuah bunga teratai emas tertabur ukiran naga dengan ronce-ronce merah membuat ia tampak gagah sekali.

Tiap orang bertemu dengan mereka pasti menganggap bahwa nona itu tentu murid si Hwesio!

Pada hari ke enam mereka tiba di kota Siang-siu.

Hwat Khong pernah datang ke kota itu, maka ia tidak asing lagi dengan jalan di kota itu.

Ia memilih hotel "Lian An"

Sebagai tempat bermalam dan menyewa dua kamar.

Keesokan harinya pagi-pagi Hwat Khong dan sumoinya berangkat menuju ke rumah Ciauw Bun Liok yang terletak di jalan sebelah barat.

Kim-Jiauw-Eng Ciauw Bun Liok si Garuda Kuku Emas adalah seorang gagah yang disegani orang, karena selain berkepandaian tinggi juga terkenal seorang jujur yang menjunjung tinggi persahabatan di kalangan rimba persilatan.

Ia terkenal dengan ilmu silatnya Kim-jiauw-kun (Ilmu Silat Garuda Emas) dan juga Kim-jiauw-kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Emas), ilmu silat keturunan keluarga Ciauw yang ditakuti lawan dan dikagumi kawan.

Terutama ilmu pedangnya yang dimainkan dengan siang-kiam (pedang sepasang) sangat terkenal kelihaiannya.

Karena memang sejak beberapa keturunan keluarga Ciauw adalah pedagang besar dan menjadi keluarga yang kaya, maka tak heran kalau rumah keluarga Ciauw merupakan gedung besar dan luas yang sangat mentereng.

Di halaman belakang gedung itu terdapat taman bunga yang luas dan di tengah-tengahnya dibangun sebuah ruangan tempat bermain silat di mana terdapat delapanbelas macam senjata tajam bermacam-macam ukuran.

Di situlah Ciauw Bun Liok menurunkan ilmu silatnya kepada kedua puteranya yang bernama Lin Eng dan Lin Houw, masing-masing berusia dua puluh tiga dan dua puluh enam tahun.

Selain ilmu keturunan Kim-jiauw-kiam-hoat dan Kim-jiauw-kun, Ciauw Bun Liok pun pandai menggunakan delapanbelas macam senjata kaum persilatan.

Pada hari itu, taman bunga gedung keluarga Ciauw penuh dengan tamu-tamu yang duduk mengelilingi meja, kurang lebih ada seratus orang tamu berkumpul di situ.

Mereka sengaja datang dari berbagai tempat untuk ikut memberi hormat dan merayakan hari ulang tahun ke lima puluh dari Ciauw-Lo-Enghiong.

Tamu-tamu itu seperti orang perantauan, ada yang seperti pendeta, pelajar dan banyak pula yang lagaknya seperti seorang pendekar silat.

Ada juga beberapa orang wanita yang menggantung pedangnya di pinggang atau di belakang pungung.

Tapi rata-rata mereka adalah ahli-ahli silat terkemuka.

Di antara mereka yang kebanyakan adalah orang kang-ouw biasa dan berkepandaian cukupan saja, Terdapat juga Liok-chiu-sin-houw Bin Goan si Harimau Sakti Tangan Enam, Hak-san-Taihiap Ong Kwie si Pendekar dari Hak-san dan Kong Sin Ek yang dijuluki orang si Dewa Arak atau Ciu-sian.

Mereka bertiga ini telah menjagoi di kalangan kang-ouw dan jarang menemukan tandingan.

Juga di situ hadir pula wakil-wakil dari cabang Siauw-lim-si ialah Beng Sun Hosiang dan Tiat Lui In dari cabang Go-bi, pula terdapat ketua Hoa-san-pai yakni Pek Siong Tosu dan dua orang muridnya.

Para ahli yang telah berusia lebih dari setengah abad itu mendapat tempat kehormatan.

Kemudian datang Hwat Khong Hwesio dan Han Lian Hwa.

Ciauw Bun Liok sendiri keluar menyambut Hwat Khong yang menjadi kawan baiknya di waktu muda.

Ketika mereka berjumpa dan saling memberi hormat dengan gembira, Ciauw Bun Liok hanya mengangguk untuk membalas penghormatan Lian Hwa.

"Selamat bertemu, sahabatku yang baik, mana sumoimu yang kaukatakan akan ikut datang itu?"

Tanya Ciauw Bun Liok sambil memegang lengan Hwat Khong. Hwat Khong tersenyum menjawab.

"Ha, Ciauw-Taihiap, jangan kau orang-tua mentertawakan pinceng. Sumoiku ialah nona ini yang bernama Han Lian Hwa."

Bukan main herannya Ciauw Bun Liok mendengar ini, karena tadi ia sangka bahwa nona muda yang elok itu adalah murid kawannya. Segera ia menjura dengan hormat.

"Maafkan, maafkan, lohu sudah terlalu tua hingga tidak melihat Gunung Thai-san di depan mata. Silakan masuk, Lihiap."

Han Lian Hwa membalas hormatnya dan berkata manis.

"Jangan sungkan-sungkan siok-hu (paman)."

Ciauw Bun Liok lalu membimbing tangan Hwat Khong dan ditempatkan di bagian tempat terhormat dan menjadi satu dengan enam orang-tua tersebut di atas.

Di antara para tamu banyak yang sudah mengenal nama dan pribadi Hwat Khong Hwesio, maka mereka merasa sudah sepatutnya Hwesio kosen itu diberi tempat terhormat.

Tapi gadis muda yang lemah lembut itu mengapa juga diberi tempat terhormat?

Gadis itu paling hebat juga murid Hwat Khong.

Maka banyak diantara kaum muda yang merasa iri hati dan menganggap Ciauw Lo-Enghiong telah berlaku menjilat dan kurang adil.

Setelah semua tamu lengkap jumlahnya kecuali beberapa orang yang tak dapat datang, Ciauw Bun Liok berdiri di tengah-tengah ruangan itu sambil mengangkat tangan memberi hormat ke sekeliling, kemudian membuat sambutan singkat.

"Para cianpwe (sebutan menghormat kepada golongan tua) yang terhormat dan sekalian Enghiong dan saudara yang terhormat. Saya menghaturkan beribu terima kasih atas kunjungan yang menyatakan kecintaan hati saudara sekalian kepada saya yang rendah. Semoga Thian (Tuhan) saja yang akan membalas kebaikan hati ini. Dan maafkanlah kiranya jika perjamuan ini kurang lengkap."

Kemudian pesta dimulai dengan ramai dan gembira.

Sementara itu Hwat Khong dengan perlahan memperkenalkan para cabang atas yang hadir di situ kepada Lian Hwa.

Tiba-tiba, di tengah-tengah pesta, seorang yang duduk di bagian para muda berdiri mengajukan usul, yakni untuk menghormat tuan rumah dan untuk menambah pengetahuan yang muda, dimohon dengan hormat agar para cianpwe dan ahli yang duduk di tempat terhormat suka memberi sedikit pertunjukan ilmu silat.

Usul ini disambut oleh semua hadirin dengan tepuk tangan yang riang gembira.

Sudah tentu para jago tua itu merendahkan diri dan mengajukan keberatan, tapi karena permintaan itu disokong oleh seratus mulut, maka terpaksa Ciauw Bun Liok berdiri dan berkata kepada para jago tua.

"Cuwi, saya mohon dengan hormat sudilah kiranya cuwi berbaik hati dan meluluskan permohonan mereka itu, hitung-hitung membantu saya yang tidak mempunyai apa-apa untuk menggembirakan hati para hadirin yang mulia."

Ciu-sian Kong Sin Ek si Dewa Arak tertawa.

"Ha, Ciauw-heng pandai memancing orang. Baiklah, aku terima permintaan ini tapi harus ada syaratnya, yaitu engkau sendiri harus membuka pertunjukan ini, bagaimana?"

Ciauw Bun Liok mengangkat alis dan pundak.

"Ini namanya terjeblos lobang sendiri,"

Katanya tertawa.

"Tapi apa boleh buat, untuk menghormat tamu aku harus capekkan tulangku yang tua ini."

Lalu dengan suara keras ia memberi tahu kepada semua tamu bahwa pertunjukan akan dibuka dan ia sendiri yang pertama kali akan memulai.

Lain-lain jago tua terpaksa meluluskan juga.

Karena ruang berlatih silat yang merupakan panggung segi empat lebar itu berada di tengah-tengah taman bunga, maka tak perlu diadakan persiapan lagi.

Ketika Ciauw Bun Liok hendak mulai bersilat, tiba-tiba dari luar mendatangi serombongan tamu baru.

Yang jalan terdepan adalah seorang berusia kurang lebih empat puluh tahun.

Tubuhnya tinggi besar dan tindakan kakinya tetap, kelihatannya angkuh sekali.

Begitu masuk, ia berkata keras.

"Ya, pantas saja Ciauw Lo-Enghiong melupakan kami, kiranya sedang sibuk sekali."

Semua orang menengok dan Ciauw Bun Liok memandang agak tidak senang tapi terpaksa ia meloncat turun dari panggung dan menyambut mereka.

"Maafkan saya orang-tua yang menyambut agak terlambat. Silakan."

Ia lalu membawa mereka berempat ke ruangan itu, tapi karena tempat yang disediakan olehnya untuk para Lo-Cianpwe golongan tua sudah penuh, terpaksa mereka berempat diberi tempat yang sama dengan tamu-tamu lainnya.

Banyak tamu terperanjat ketika melihat mereka, karena mengenal bahwa keempat orang itu adalah San-ciu Si-houw atau Empat Harimau dari San-ciu bernama Bu Houw, Tiat Houw, Cin Houw, dan Ban Houw.

Mereka ini sangat terkenal dan belakangan ini nama mereka menjulang tinggi karena keempat orang ini mempunyai kepandaian yang istimewa dan lihai.

Bahkan dikabarkan orang bahwa mereka ini beberapa kali telah melabrak jago-jago dari cabang Go-bi, hingga Tiat Hui In yang kini berada pula di situ diam-diam mengerutkan kening.

Ketika mendengar bahwa para Lo-Cianpwe hendak memperlihatkan kepandaian mereka, Bu Houw harimau tertua segera tertawa bergelak-gelak dan ketiga saudaranya bertepuk tangan.

"Bagus, bagus. Alangkah baiknya, kami paling senang melihat orang bersilat,"

Kata mereka dengan lagak menjemukan tapi tak seorangpun berani memperlihatkan perasaan tak senangnya.

Setelah menuang arak dan menawarkan hidangan untuk tamu-tamu baru itu Ciauw Bun Liok kembali ke atas panggung dan setelah mengangguk dan menjura ke sekeliling ia mulai bersilat pedang.

Ternyata gerakannya sangat gesit dan siang-kiam (pedang pasangan) yang ia mainkan bergerak-gerak merupakan gulungan dua sinar putih melindungi tubuhnya.

Sehabis bersilat semua orang memuji dan San-ciu Si-houw empat kakak beradik itu bertepuk-tepuk dan berseru.

"Bagus. Bagus."

Lagak mereka seperti anak kecil, terang bahwa mereka sengaja berlagak demikian untuk menarik perhatian.

Han Lian Hwa yang duduk di dekat suhengnya merasa sangat gemas melihat mereka, terutama melihat Ban Houw si Harimau Bungsu itu sejak tadi dengan secara menyolok dan terang-terangan selalu memandang padanya bahkan mengajak tertawa.

Kemudian Sin Ek si Dewa Arak mempertunjukkan keahliannya yang lihai juga.

Setelah meneguk habis seguci kecil arak, ia berloncat ke atas panggung dan melepaskan jubahnya.

Lalu dengan kain jubah itu ia bersilat.

Tapi sungguhpun hanya kain, di dalam tangan si Dewa Arak itu merupakan senjata yang tak boleh dipandang ringan.

Di waktu menggunakan tenaga kasar, jubah itu menyambar kaku merupakan toya (pentungan) besi dan di waktu ia menggunakan tenaga lemas, jubah itu seakan-akan ular yang dapat melibat senjata tajam.

Tentu saja permainannya ini mendapat sambutan hebat karena mereka maklum akan kelihaiannya orang-tua yang brewokan ini.

Bahkan Hwat Khong Hwesio mau tak mau memuji dan menyatakan kagumnya.

Berturut-turut Bin Goan si Harimau Sakti Tangan Enam memperlihatkan keahliannya bersilat Ta-houw-ciang, Ong Kwie si Pendekar dari Hak-san mempertunjukkan permainan silat dengan joan-pian (ruyung lemas) yang membuat ia terkenal dua puluh tahun lebih di kalangan kang-ouw, kemudian ketua Hoa-san-pai Pek Siong Tosu bersilat tangan kosong dikeroyok dua orang muridnya yang bersenjata pedang.

Beng Sun Hosiang wakil Siauw-lim-si terpaksa pula bersilat tangan kosong.

Gerakannya kuat pukulan kedua lengannya mendatangkan angin, menandakan tenaga yang besar.

Kemudian Ciauw Bun Liok menghampiri Hwat Khong dan sambil tertawa berkata.

"Nah, kaupun tak terluput harus membantuku, sahabat baik. Perlihatkan Tiat-mo-pang (Toya Ular Besi) ilmumu yang lihai itu!"

"Ah, engkau bikin pinceng malu saja. Ciauw-Taihiap, baiklah pinceng main-main sebentar, tapi perkenankanlah pinceng bersilat dengan sumoiku ini agar lebih menarik kelihatannya."

Hwat Khong sengaja berbuat ini agar nanti Lian Hwa tak usah bersilat seorang diri lagi, karena iapun maklum bahwa di antara sekian banyak tamu ada yang memperlihatkan pandangan kurang ajar pada sumoinya, sehingga jika sekarang sudah bersilat dengan ia, maka sumoi itu tak perlu lagi mempertontonkan dirinya.

Ciauw-Lo-Enghiong meluluskan dengan gembira, hanya para lo-cianpwe yang duduk dekat mereka menjadi heran mendengar Hwesio itu menyebut sumoi kepada Lian Hwa.

Kini mereka memandang gadis itu dengan penuh perhatian.

Hwat Khong mempersilakan sumoinya mencabut pedang.

Ketika pedang Sian-liong-kiam dicabut, para jngo tua diam-diam mengangguk kagum melihat cahaya kehijau-hijauan yang keluar dari mata pedang itu.

Hwat Khong sendiri lalu menyeret tongkatnya dan mereka mulai bersilat.

Ternyata permainan itu berat sebelah, karena yang tampak menyerang hanya Hwat Khong saja, sedangkan Lian Hwa hanya berkelit ke sana ke mari menghindari sambaran tongkat suhengnya.

Gadis itu tahu bahwa tongkat suhengnya tentu akan tertabas buntung jika beradu dengan mata pedangnya, maka dalam menangkis serangan ia selalu menggunakan muka pedangnya, bukan bagian tajamnya.

Tapi ia selalu berlaku lambat untuk memberi muka kepada suhengnya yang sudah ternama itu.

Dengan demikian, maka di mata sebagian besar para tamu Lian Hwa agaknya terdesak sekali.

Setelah mereka berhenti main silat, semua orang memuji kepandaiannya Hwat Khong yang memang lihai ilmu toyanya.

Pada Lian Hwa, semua orang tak pandang sebelah mata, karena sebagian besar dari mereka menganggap bahwa gadis itu hanya murid Hwat Khong.

Kini tiba giliran Tiat Lui In dari cabang Go-bi yang diminta mempertunjukkan kepandaiannya.

Orang-tua berbaju putih itu dengan merendah terpaksa meloncat ke atas panggung.

Tapi sebelum ia bersilat, tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu Tiat Houw yang berpakaian hitam berada pula di atas panggung dan menjura di hadapan Tiat Lui In.

Di antara keempat saudara Houw itu, Tiat Houw terkenal paling kejam dan berangasan.

Sejak tadi ketika melihat seorang wakil Go-bi berada di situ, ia telah menahan-nahan ketidaksenangan hatinya.

melihat Tiat Lui In mendapat ketika untuk memperlihatkan kemahirannya, ia tak dapat menahan sabar lagi dan segera meloncat ke atas pangung.

"Lo-Cianpwe maafkan saya yang muda. Melihat bahwa permainan silat pasangan lebih ramai dan menarik dari pada kalau bersilat sendirian, maka ijinkanlah saja menemani Lo-Cianpwe untuk main-main,"

Katanya dengan suara dibikin-bikin merendah dan sopan, tapi mengandung tantangan pedas.

Ciauw Bun Liok merasa sangat tidak senang melihat gangguan ini, maka ia segera menghampiri mereka.

Pada saat itu Tiat Lui In dengan sabar tersenyum menjawab.

"Congsu (orang gagah), mana lohu berani main-main dengan orang muda yang masih kuat?"

"Jangan begitu Lo-Cianpwe, sebenarnya aku Tiat Houw telah sering bertemu dan mengukur kepandaian dengan beberapa orang yang mengaku murid Go-bi, tapi mereka semua itu hanya orang-orang tak berarti. Aku rasa mereka itu hanya Gobi-gobian dan palsu belaka, maka kini setelah di sini terdapat seorang ahli yang asli dari Go-bi, bagaimana aku dapat menyia-nyiakan kesempatan untuk membuktikan kelihaian cabangnya?"

"Tiat Houw-hiante, saya harap kau suka mengalah dan membiarkan Tiat Lui In Lo-Enghiong, bersilat seorang diri. Nanti sesudah dia, barulah engkau memperlihatkan pula kepandaianmu untuk kita lihat,"

Membujuk Ciauw Bun Liok.

"Jangan bikin aku kecewa karena melepaskan kesempatan baik ini, Ciauw Lo-Enghiong. Dan apa salahnya main-main berdua, jika Tiat Lo-Cianpwe tidak menolak permintaanku?"

Jawab Tiat Houw tak senang.

"Biarkanlah, Ciauw Bun Liok. Biar aku yang tua melayani orang muda ini kalau ia mendesak."

Tapi Ciauw Bun Liok melihat gelagat tidak baik dan maklum akan adanya kebencian diantara keempat Harimau dan partai Go-bi, tetap pada pendiriannya melarang kedua orang itu bertanding, biarpun hanya secara "main-main."

Tiat Lui In merasa tidak baik memaksa dan terpaksa mundur sambil berkata kepada Tiat Houw. (Lanjut ke

Jilid 04) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo

Jilid 04

"Maaf, bukannya aku si orang-tua kurang sopan tidak mau melayani yang muda, tapi sebagai tamu aku harus tunduk kepada tuan rumah."

Ia menjura dan kembali ke tempat duduknya. Tiat Houw menjadi kurang senang kepada Ciauw Bun Liok.

"Ciauw Lo-Enghiong, akupun terpaksa membatalkan niatku mohon pengajaran dari Tiat Lo-Enghiong. Maka kini harap kau orang-tua sudi meluluskan permintaanku ini, yaitu harap kau suka memberi pelajaran sejurus dua jurus kepadaku. Tadi aku sudah menyaksikan kelihaian ilmu silatmu. Bagaimana, Ciauw Lo-Enghiong, suka kau bermurah hati dan mengajarku?"

Sungguh orang tak tahu diri, pikir Ciauw Bun Liok, tapi terpaksa ia tersenyum juga dan menjawab.

"Kalau congsu tidak merasa rendah bermain-main denganku, marilah kulayani!"

Tadi ia menyebut hiante yang lebih ramah dari pada sebutan congsu, untuk menyatakan kemendongkolan hatinya.

Tapi Tiat Hauw tidak merasa akan pergantian sebutan dan perobahan sikap tuan rumah atau memang sengaja ia berlaku nekat terdorong kesombongannya.

Mereka berdua siap untuk menguji kepandaian masing-masing, tapi pada saat itu Ciauw toa-Kongcu putera pertama dari keluarga Ciauw meloncat di antara mereka sambil membentak.

"Orang tak tahu adat, mengapa kau hendak mengacau tempat kami?"

Dan pada ayahnya ia berkata.

"Ayah, hari ini adalah hari baikmu, jangan ayah capekan hati melayani orang-orang kurang ajar. Biarlah anak mencobanya."

Tanpa banyak cakap pula ia menjotos ke arah Tiat Houw dengan tipu Pai-san-to-hai (Menolak Gunung Menguruk Laut) sebuah pukulan yang sangat berbahaya.

"Bagus,"

Teriak Tiat Houw dengan suara menyindir sambil mengelak pukulan lawan menggunakan lengannya menyampok tangan kiri lawan.

Ciauw-Kongcu merasa dorongan sampokan itu keras sekali hingga ia terhuyung ke belakang.

Tahulah ia bahwa tenaga lawan hebat sekali.

Tapi ia tidak takut bahkan maju pula menyerang dengan hebat.

Baru beberapa jurus saja terlihatlah sudah bahwa Tiat Houw jauh lebih kuat.

Ketika lawannya memukul ke arah pinggangnya dari samping, ia memutar tubuh secepat kilat menangkap tangan lawannya dan menarik ke belakang.

Tubuh Ciauw-Kongcu mendoyong ke depan dan pada saat itu kaki Tiat Houw melayang, tepat mengenai dada lawannya.

Dengan hati cemas dan marah, Ciauw Bun Liok melihat betapa anaknya roboh sambil muntahkan darah terus pingsan.

Beberapa orang pelayan buru-buru menghampiri Ciauw-Kongcu dan mengangkatnya ke dalam rumah.

Ciauw Bun Liok tak dapat menahan pula marahnya.

Ia meloncat ke atas panggung menghadapi Tiat Houw.

"Orang kurang ajar. Sungguh kau sombong sekali. Tak kusangka kedatanganmu, di sini sengaja membuat kacau. Engkau bukan hanya main-main memperlihatkan ilmu silat, bahkan telah berani melukai puteraku secara keji. Nah, jangan sesalkan kalau aku menghajar adat padamu!"

Orang-tua itu siap untuk menyerang tapi pada saat itu seorang perempuan dengan gerakan indah melayang ke atas gelanggang.

Ia adalah Han Lian Hwa yang mendapat perkenan suhengnya untuk mewakili tuan rumah.

Lian Hwa menjura kepada Ciauw Bun Liok dan berkata.

"Maafkan aku, Ciauw-siokhu. Engkau adalah golongan cianpwee orang-tua yang pantas dihormati. Kurasa tidak pantas kalau siok-hu melayani orang muda seperti Tiat Houw Enghiong ini. Biarkanlah aku yang muda mewakilimu."

Ciauw Bun Liok berdiri bingung dan bimbang, tapi ketika ia melirik ke arah Hwat Khong, Hwesio ini mengangguk-angguk dan berkedip mata. Terpaksa ia mundur dengan hati khawatir.

"Nah, Harimau Besi (Tiat Houw) engkau mau main-main cara bagaimana? Tangan kosong atau bersenjata?"

Dengan langsung Lian Hwa menantang.

Tiat Houw agak bingung juga melihat tiba-tiba Ciauw Bun Liok diganti oleh nona cantik ini.

Sebelum ia menjawab, tiba-tiba dari belakangnya meloncat seorang yang ternyata bukan lain adalah Ban Houw, harimau termuda.

Sejak tadi Ban Houw kagum melihat kecantikan Lian Hwa yang seakan-akan bunga teratai merah muda baru mekar, dan ia sudah melihat pula bahwa kepandaian silat gadis itu tak berapa tinggi, ternyata dari gerakannya ketika bersilat melawan Hwat Khong Hwesio tadi.

Maka kini melihat gadis itu masuk ke gelanggang menggantikan tuan rumah, ia menjadi gembira dan meloncat pula menyusul kakaknya.

"Ji-ko (kakak kedua)! Biarkan aku main-main dengan perempuan ini!"

Tiat Houw tersenyum dan meloncat turun.

Kata-kata yang diucapkan Ban Houw itu sungguh kurang ajar, maka para jago tua yang berada di situ mendengar dengan wajah merah.

Bahkan Hwat Khong Hwesio yang biasanya sangat sabar, mengertak gigi karena marah.

"Eh, eh! Ini harimau kecil berani unjuk gigi! Engkau mau main-main dengan aku? Boleh, boleh, nonamu sudah siap,"

Lian Hwa mengejek.

Dengan senyum aksi dibuat-buat Ban Houw mulai dengan serangannya.

Tangan kanannya menyambar ke pundak Lian Hwa untuk dicengkeram.

Ketika gadis itu berkelit, tangan kirinya menyelonong ke depan menyambar pinggang gadis itu.

Lian Hwa mengeluarkan suara mengejek dan meloncat ke samping sambil mengirim tendangan hebat!

Gerakan berkelit sambil menyerang ini sangat sukar dilakukan dan sukar pula diduga hingga Ban Houw terkejut bukan main.

Untungnya ia masih dapat memutar tangan kanannya ke bawah untuk menangkap kaki Lian Hwa yang menendang.

Tak tahunya, tendangan itu biarpun datangnya begitu cepat, tiba-tiba saja bisa ditarik pulang dan sebelum tahu bagaimana terjadinya, Ban Houw merasa tiba-tiba telinga kirinya panas dan matanya berkunang-kunang!

Terdengar suara ketawa di sana sini karena baru dua jurus saja gadis itu telah dapat menggunakan tangannya menempiling kepala lawan yang mengenakan telinganya.

Tamparan di telinga itu menerbitkan suara "plok"

Yang keras hingga nampaknya lucu.

Ban Houw menjadi marah.

Ia tadinya tidak menyerang sungguh-sungguh karena tidak mau melukai nona cantik itu, tapi kini tamparan yang memanaskan telinga dan hati itu membuat ia mata gelap.

Dengan geraman buas ia menubruk dengan tipu Siok-lui-ting (Petir Menyambar di Atas Kepala), tapi Lian Hwa sambil tertawa kecil melompat ke belakang dengan gerakan Kim-lee-coan-po (Ikan Gabus Menerjang Ombak).

Dua kali Ban Houw menubruk, tapi dua kali pula gadis itu melompat dengan gerakan indah.

Dalam murkanya Ban Houw lalu mengeluarkan ilmu silatnya Pat-kwa-kun dan menyerang dengan maksud membunuh.

Tapi ternyata gadis itu mengenal ilmu silatnya dengan baik.

Beberapa kali Ban Houw kena ditendang, ditampar dan diejek.

Setelah berlangsung hampir tiga puluh jurus, tiba-tiba Lian Hwa membentak.

"Pergilah kau!"

Dan sebelum ia mengerti musuh menggunakan gerakan bagaimana, tahu-tahu Ban Houw terlempar ke udara dan jatuh di luar kalangan.

Untung tubuhnya kuat dan lemparan itu memang bukan dimaksud untuk membanting keras, hingga ia tidak mendapat luka berat.

Ketika tadi Lian Hwa berkelit ke sana ke mari, jago tua diam-diam memuji kelincahan gadis itu dan mereka mengenal tipu-tipu silat yang digunakan gadis itu.

Tapi gerakan melempar Ban Houw keluar panggung tadi sungguh membuat mereka heran.

Tak seorangpun di antara mereka pernah melihat gerakan itu.

Gerakan itu seperti gerakan Cio-po-thian-keng (Batu Meledak Langit Gempur) sebuah tipu gerakan ilmu silat cabang Kun-lun-pai tapi agak berbeda dan jauh lebih sukar dilakukan karena ketika melempar, gadis itu mengangkat kaki kirinya ke atas.

Apakah itu kebetulan saja?

Ban Houw yang kena dilempar merasa penasaran dan malu, tapi ia tidak kapok.

Ia meloncat kembali ke panggung setelah mengambil sebatang pedang dari kakaknya.

Lian Hwa berdiri bertolak pinggang memandang lawannya dengan senyum manis.

"Eh, eh, bocah ini masih berani kembali ke sini? Lho, kau bawa-bawa pedang buat apa? Buat menakut-nakuti aku? Hati-hati, jangan main pedang nanti tanganmu sendiri terluka!"

Ejekan ini sungguh hebat. Ban Houw memandang dengan mata mendelik, lalu tanpa ingat keadaan ia memaki.

"Perempuan busuk, kalau engkau ada kepandaian ambillah senjatamu!"

"Hem, anak tak tahu diri. Sudah dihajar masih belum kapok. Kau kira kepandaianmu itu sudah cukup untuk dipakai melagak? Haya! Seperti katak dalam tempurung saja. Untuk menghadapi pedangmu yang hanya pantas dipakai dalam dapur itu tak perlu nonamu ambil senjata. Hayo, seranglah!!"

"Perempuan sombong. Jangan jadi setan penasaran kalau kepalamu menggelinding di lantai ini!"

Lalu ia menyerang dengan ganas. Lian Hwa miringkan tubuhnya dan pedang menyambar di sisi tubuhnya berbunyi "sing"

Karena kerasnya sabetan.

Ban Houw yang melihat serangannya dikelit demikian mudah menjadi penasaran dan makin marah.

Dikirimnya serangan bertubi-tubi dan pedangnya bergerak bagaikan gulungan asap berpancaran ke sana sini.

Tapi Lian Hwa dengan enak saja mengandalkan ginkangnya yang luar biasa, bergerak menyusup sana sini di antara sambaran mata pedang.

Baru sekarang para tamu tahu akan kelihaian gadis yang mereka tadinya tak pandang sebelah mata itu.

Bahkan Ciauw Lo-Enghiong yang duduk di dekat Hwat Khong tanpa terasa memegang lengan tangan kawannya itu dan meremas-remasnya.

Untung Hwat Khong bukan orang sembarangan, kalau tidak pasti lengan itu akan menjadi matang biru.

Mulut orang-tua itu ternganga dan akhirnya ia menghela napas berulang-ulang sambil menyebut.

"Ya Tuhan! Pantas saja ia menjadi sumoimu, tak tahunya ia demikian lihai."

Hwat Khong merasa girang mendengar pujian itu dan tersenyum lebar.

Keadaan sangat tegang karena kini tubuh Lian Hwa tak tampak lagi, hanya ikat pinggangnya yang berwarna merah berkibar-kibar di antara sinar pedang.

Lian Hwa merasa sudah cukup mempermainkan lawannya yang kini mulai berkeringat dan lelah.

Ketika Ban Houw menyerang dengan nekat, yakni dengan tipu Angin Selatan Menghembus, sebuah tipu yang hanya dilakukan oleh orang nekat yaitu pedang di tangan kanan menusuk dada dan tangan kiri berbareng mencengkeram ke arah kepala lawan, Lian Hwa berayal menantikan datangnya, ia berjongkok menghindarkan pedang dan tangan kiri yang mencengkeram, lalu secepat kilat ia tangkap pergelangan lengan yang memegang pedang dan mendorong pedang itu ke arah tangan kiri penyerangnya.

Terdengar teriakan ngeri dan Ban Houw melepaskan pedangnya lalu terhuyung-huyung sambil memegang tangan kirinya yang berdarah.

Ternyata dua buah jari tangannya telah terpotong oleh pedang sendiri.

"Nah, nah, nah! Apa kataku tadi? Kau main-main dengan pedang, sekarang tanganmu sendiri terpotong!"

Lian Hwa mengejek.

"Bangsat perempuan sungguh kejam! Lihat pedang!"

Seruan ini dibarengi berkelebatnya sebilah pedang yang menyambar ke arah leher Lian Hwa yang masih berdiri tertawa-tawa.

Dengan gerakan manis Lian Hwa menghindarkan diri dari sabetan sambil meloncat mundur.

"Ah, kiranya macan tua menuntut balas. Bu Houw Enghiong, apakah pandanganmu juga sepicik adikmu yang kecil itu? Kau seorang kang-ouw ternama dan tersohor gagah. Apakah kau tak dapat melihat kesalahan adikmu sendiri bahkan mau menambah kesalahan itu? Ingat, kawan, waktu ini kita semua hanya menjadi tamu dan untuk menghormat tuan rumah yang terkenal sebagai seorang budiman dan gagah, tidak seharusnya adikmu membikin ribut! Barusan aku sengaja mewakili tuan rumah menghukum adikmu, seharusnya kau sebagai kakaknya berterima kasih padaku!"

"Perempuan sombong, jangan banyak mulut! Sebelum aku balaskan kekalahan adikku, katakanlah dulu siapa kau yang ganas ini."

"Aku orang biasa saja tidak gagah seperti kalian San-ciu Si-houw Empat Harimau dari San-ciu yang terkenal suka berkelahi dan jarang dikalahkan orang! Aku adalah sumoi dari Hwat Khong suheng namaku Han Lian Hwa atau boleh juga kau ingat agar jangan lupa bahwa aku disebut orang Ang Lian Lihiap!"

"Hm, baru saja keluar kandang sudah menjadi sombong. Baiklah, Ang Lian Lihiap, adikku yang bodoh memang kalah olehmu, tapi jangan kau mencari siasat untuk melepaskan diri dariku. Ambillah senjatamu dan lawanlah aku."

Ang Lian Lihiap menggeleng-geleng kepala.

"Kalau hanya kau sendiri, aku tidak mau melayani."

"Apa maksudmu?"

Tanya Bu Houw penasaran.

"Kau mau gunakan siasat maju berganti-ganti agar aku menjadi lelah bukan? Aku tidak mau! Kalau memang kau penasaran dan tetap hendak bertempur dengan aku, majulah kamu bertiga. Atau kalau adikmu yang kecil tadi masih kuat, boleh juga berempat. Agar aku dapat membereskan sekaligus. Kalau satu demi satu ogah!"

"Sumoi!"

Bentak Hwat Khong dengan marah.

Ia tidak senang melihat sumoinya timbul pula kenakalannya hingga terdengarnya seperti sangat sombong.

Selain itu khawatir karena sumoinya telah menantang keempat harimau itu maju berbareng!

Sedangkan ia maklum bahwa mereka itu sangat lihai.

Ia sendiri, kalau satu lawan satu mungkin bisa menang, tapi kalau satu lawan tiga atau empat?

Lian Hwa menengok ke arah suhengnya dan menjura.

"Suheng kali ini maafkanlah sumoimu, karena mereka ini menang harus dihajar!"

Kemudian ia menghadap keempat penjuru sambil menjura kepada semua tamu.

"Cuwi Enghiong yang berkumpul di sini tentu telah melihat bahwa yang membikin kacau perjamuan ini adalah keempat harimau San-ciu ini. Maka kini aku yang muda mewakili Ciauw Lo-Enghiong untuk memberi hajaran kepada mereka, bagaimanakah pikiran cuwi? Aku akan menurut keputusan orang banyak. Haruskah aku turun dari panggung ini ataukah cuwi sekalian setuju?"

Hampir setengahnya para tamu itu menjawab riuh.

"Setuju!"

Dengan lagak lucu Lian Hwa mengangkat pundak tanda bo-hwat (tidak berdaya) dan menjura kepada suhengnya sambil tersenyum. Kemudian gadis itu menjura kepada Ciauw Bun Liok.

"Ciauw-siokhu, maafkan aku berlaku kurang ajar dan merampas hakmu menghajar anak-anak nakal ini."

"Perempuan rendah! Kau sungguh sombong! Awas jangan menyesal nanti, kau sendiri yang minta kami bertiga maju berbareng!"

Bentak Bu Houw dengan marah.

"Siapa menyesal? Jangan khawatir, kalian anak-anak jangankan mau mengalahkan aku, sedangkan kalau bunga teratai di rambutku ini sampai terlepas saja, aku mengaku kalah!"

Panas hati mendengar hinaan ini Tiat Houw dan Cin Houw segera meloncat ke atas panggung sambil mencabut pedang sedangkan Ban Houw yang terpotong jarinya hanya dapat melihat dengan mendongkol.

Ia hanya yakin bahwa ketiga kakaknya pasti akan dapat membalas sakit hatinya.

Melihat ketiga jagoan dari San-ciu itu dengan pedang terhunus berdiri di depan dan kanan kiri gadis kecil itu, mau tak mau Hwat Kong merasa dadanya berdebar-debar demikianpun semua orang.

Tapi Lian Hwa tetap berdiri tenang bahkan tersenyum-senyum.

"Perempuan rendah, lekas keluarkan senjatamu,"

Teriak Tiat Houw.

"Ah, senjata kalian terlampau lemah dan empuk untuk melawan pedangku, tapi apa boleh buat, karena kalian yang minta, terpaksa aku menggunakannya."

Sambil berkata demikian Lian Hwa mencabut Sian-liong-kiamnya yang mengeluarkan sinar hijau.

"Majulah berbareng!"

Tantangnya.

Betul saja, tiga harimau itu maju menerjang berbareng, seorang dari depan dua orang dari kanan kiri.

Tiba-tiba mata mereka silau ketika Lian Hwa menggerakkan pedangnya ke kanan kiri dan "Trang, trang, tring!!"

Bukan main riuh keadaan di situ dan ketiga harimau itupun kaget setengah mati ketika melihat pedang mereka ternyata semuanya terpapas buntung tinggal gagangnya saja.

"Ha, apa kataku tadi? Salahmu sendiri telah minta aku menggunakan pedangku,"

Kata Lian Hwa dengan tenang lalu menyimpan kembali senjatanya di dalam sarungnya.

"Hebat! Lihai sekali!"

Demikian seruan terdengar dari kanan kiri. Lian Hwa tak perdulikan itu semua, lalu meloncat ke arah rak senjata dan mengambil tiga batang pedang dan sebuah sarung pedang dari kulit kerbau.

"Maaf, Ciauw Lo-Enghiong, saya pinjam senjata-senjatamu ini sebentar."

Ia lalu melemparkan ketiga pedang itu ke arah lawan-lawannya yang segera disambut oleh mereka.

Hati ketiga harimau itu sudah menjadi gentar melihat kehebatan pedang gadis itu, tapi kini mereka mendapat pedang baru dan dengan heran melihat gadis itu kini hanya memegang sebatang sarung pedang dari kulit.

"Nah, sekarang majulah kalian! Aku cukup menggunakan sarung ini saja agar pedang-pedangmu takkan buntung lagi! Hati-hati, pedang itu milik tuan rumah, jangan sampai rusak!"

Hebat sekali hinaan ini hingga saking marah dan malunya Bu Houw bertiga menjadi merah mukanya dan Tiat Houw hampir saja menangis.

Tapi mereka masih ada harapan karena mustahil kalau mereka bertiga tidak mampu membikin malu atau mencelakakan gadis setan ini.

Bu Houw berseru keras dan menyerang dengan tipu-tipu dari gerakan pedang Tian-hong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Kilat dan Angin) sedangkan Tiat Houw dan Cin Houw dari kanan kiri menyerang dengan gerakan ilmu pedang Siang-houw-chut-tong (Sepasang Harimau Keluar Goa).

Pedang mereka bertiga menyerang dengan hebat, seorang menusuk dada dari depan, dari kiri membacok leher dan dari kanan menyapu pinggang Lian Hwa.

Terdengar suara ketawa gadis itu dan tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat cepat sehingga sukar dilihat karena ia menggunakan ilmu meringankan tubuh Too-tiam-leng-po-pou yang sudah dipelajari sampai sempurna.

Tubuhnya ringan dan gesit, gerakannya cepat dan tak terduga oleh musuh, hingga ketiga musuhnya menjadi kacau penyerangan mereka.

Sarung pedang kulit kerbau itu sungguhpun hanya sebuah benda yang tidak berapa keras, tapi di tangan Lian Hwa merupakan senjata yang bukan tidak berbahaya.

Tiap kali kulit itu membentur pedang musuh, musuh merasakan sebuah tenaga besar yang membuat telapak tangan mereka yang memegang pedang merasa kesemutan.

Para jago tua, terhitung juga wakil-wakil dari Siauw-lim-si, cabang Go-bi, dan yang lain, juga Hwat Khong Hwesio, kini benar-benar kagum.

Mereka tidak sangka sama sekali bahwa nona semuda itu dapat memiliki kepandaian yang luar biasa ini.

Dengan sekaligus pandangan mereka terhadap Hwat Khong jadi naik tinggi sekali.

Baru sumoinya saja begini hebat apa pula suhengnya.

Demikian pikir mereka.

Sedikitpun mereka tak menyangka bahwa pada saat itu pun sang suheng sendiri terheran-heran melihat kelihaian sumoinya.

Hanya Ciauw Bun Liok seorang yang mengerti bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada kepandaian Hwat Khong, karena ia tahu betul sampai di mana batas kepandaian kawannya itu.

Maka iapun sangat heran dan tidak mengerti siapakah sebenarnya guru Ang Lian Lihiap itu.

Lebih-lebih para tamu muda, mereka menonton dengan mulut ternganga dan mata terpentang lebar.

Mereka tak dapat melihat gadis itu dengan jelas lagi, sudah tentu hati mereka sangat kagum.

Biarpun Lian Hwa telah mendapat pimpinan seorang guru yang luar biasa dan kini memiliki kepandaian yang hampir mencapai puncak kesempurnaan, Namun tidak mudah saja baginya untuk menjatuhkan tiga jago dari San-ciu itu dengan cepat, apa pula hanya dengan bersenjatakan sarung pedang dari kulit.

Kalau sekiranya ia mempergunakan Siang-liong-kiam, sudah pasti pertempuran itu takkan berjalan lama.

Ketiga harimau dari San-ciu itu benar-benar kosen, lebih-lebih Bu Houw dengan permainannya ilmu silat Pedang Angin.

Pedangnya mengeluarkan suara angin menderu-deru, sungguh agak sukar bagi Lian Hwa memecahkannya dan mencari ketika merobohkan lawannya.

Tiba-tiba ia ingat ketika masih tinggal dengan gurunya di atas bukit Kim-Ma-San, pada suatu hari dia berjalan-jalan di hutan dan melihat seekor tikus hutan diserang oleh dua ekor anjing hutan.

Keadaan tikus itu sangat berbahaya karena lari ke sana ia dicegat anjing pertama, dan lari ke sini dicegat anjing kedua.

Kemudian tikus itu diam tidak lari lagi dan berada di tengah-tengah.

Ketika kedua anjing itu menubruknya, ia berkelit dan tak ampun lagi dua ekor anjing itu saling bertubrukan.

Hal ini terjadi berulang kali hingga lama kelamaan kedua anjing itu saling menggigit dalam tubrukan mereka, lalu akhirnya mereka berdua berkelahi dan tikus lari pergi dengan aman.

Hal ini ia ceritakan pada gurunya yang lalu berpikir keras menciptakan gerakan tipu silat untuk melawan pengeroyokan musuh-musuh yang tangguh.

Ingat hal itu Lian Hwa menjadi girang, segera ia menggunakan kelincahannya berloncat ke sana ke sini dan selalu berusaha untuk berada di tengah-tengah kurungan ketiga lawannya itu.

Usahanya berhasil baik karena musuhnya, lebih-lebih Tiat Houw dan Cin Houw yang masih bersilat dengan ilmu silat Siang-houw-chut-tong menjadi sangat repot dan kaku.

Beberapa kali dua saudara ini saling beradu pedang sendiri karena orang yang diserang di antara mereka tahu-tahu melesat pergi hingga pedang mereka seakan-akan menyerang kawan sendiri.

Lian Hwa tidak menyia-nyiakan waktu baik ini.

Selagi musuh masih kacau ia mendesak Cin Houw dengan sarung kulitnya dan pada saat kedua saudara itu sekali lagi hampir saling menusuk, ia melejit ke samping menangkis bacokan Bu Houw dan dengan gerakan Kim-liong-hian-jiauw (Naga Emas Mengulur Kuku) ia menotok iga kiri Cin Houw bagian jalan darah Thian-bu-hiat.

Cin Houw tak keburu berkelit dan tubuhnya menjadi lemas kehilangan tenaga.

Pedangnya terlempar dan ia sendiri bagaikan sehelai baju yang terlepas dari sampiran jatuh lemas tak berdaya.

Tiat Houw terkejut sekali dan membarengi menusuk dari arah kiri ke jurusan pinggang Lian Hwa dengan cepat sekali.

Hwat Khong Hwesio berbisik "Celaka"

Karena serangan itu betul-betul berbahaya, lebih-lebih cemasnya ketika si sumoi tidak menjatuhkan diri ke belakang, satu-satunya jalan untuk menghindarkan itu, tapi sumoinya itu bahkan miringkan badan menghadapi serangan itu dengan dada terbuka.

Semua jago tua menahan napas, mereka pikir kali ini Ang Lian Lihiap pasti celaka.

Ciauw Bun Liok diam-diam menyiapkan sebuah piauw untuk menolong jika perlu.

Tapi murid Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa biarpun masih muda dan belum berpengalaman, namun ia sangat cerdik.

Ia sengaja pentang dadanya agar lawannya mendapat hati dan kurang waspada.

Ketika ujung pedang sudah tinggal satu dim lagi dari dadanya, ia merendah ke kanan hingga pedang itu masuk menyusup di bawah lengannya.

Gerakan ini demikian cepat hingga para tamu menyangka pedang itu telah menembus dada gadis cantik itu.

Banyak orang berteriak dan Ciauw-Lo-Enghiong mengayun tangannya hingga sebuah piauw (senjata rahasia) menyambar ke arah Tiat Houw.

Tapi Lian Hwa segera mengayun sarung kulit dari tangannya dan menghantam jatuh piauw yang akan menancap di punggung Tiat Houw itu.

Dalam keadaan berbahaya itu ia masih ingat untuk melindungi nama baik tuan rumah yang menyerang dengan menggelap.

Lalu ia mengeraskan kempitannya dan pedang dalam kempitan lengan kirinya itu tak mungkin dicabut pula oleh Tiat Houw.

Berbareng itu kakinya melayang.

Terdengar suara "Buk"

Dan tubuh Tiat Houw terpental dua tombak lebih, lalu jatuh bergedebugan ke bawah panggung!

Semua penonton bersorak memuji dengan hati lega.

Kembali para jago tua menggeleng-geleng kepala.

Gerakan dan tipu silat macam ini belum pernah lihat seumur hidup.

Kejadian ini sangat cepat sekali hingga Bu Houw sendiri tak tahu bagaimana adiknya itu dirobohkan musuh.

Ia lalu menyerang pula dengan nekat dan mati-matian.

Kini Lian Hwa hanya menghadapi Bu Houw seorang dengan tangan kosong, karena sarung pedangnya telah dipakai menimpuk piauw dari Ciauw Bun Liok tadi.

Ia tidak mau membuang banyak waktu lagi.

Tubuhnya melesat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di belakang Bu Houw.

Sebelum Bu Houw dapat membalikkan badan, Lian Hwa menggerakkan telunjuknya dan dengan totokan It-ci-san (totokan satu jari) ia menotok ke arah jalan darah "houw-cing-hiat."

Serangan ini tak mungkin dikelit oleh Bu Houw dan sesaat kemudian saudara tertua dari San-ciu Si-houw ini berdiri kaku dengan pedang masih di tangan.

Ia berdiri bagaikan sebuah patung kayu.

Ciauw Bun Liok yang merasa malu atas perbuatannya menyambit dengan piauw tadi, untuk menutup rasa malunya lalu menitahkan orang-orangnya mengambil obat dan mengobati jari Ban Houw dan luka Tiat Houw yang terbanting ke bawah tadi.

Kini ia menghampiri Ang Lian Lihiap sambil menjura menghaturkan terima kasih sambil memohon gadis pendekar itu memulihkan keadaan Cin Houw dan Bu Houw yang tertotok.

Sambil tertawa ringan Lian Hwa menotok jalan darah in-thai-hiat kedua lawan itu dan sekejap kemudian kedua orang itu, merintih-rintih, tapi jalan darah mereka normal kembali.

Tanpa pamit, keempat saudara itu ngeloyor pergi setelah Bu Houw berkata bahwa pada suatu hari mereka tentu mencari Ang Lian Lihiap untuk "membalas budi."

Setelah keempat pengacau itu pergi, pesta diteruskan dengan gembira.

Ciauw Lo-Enghiong dan kedua puteranya Lin Eng dan Lin Houw sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Ang Lian Lihiap sambil memuji-muji tiada habis-habisnya.

Juga para Lo-Cianpwe ikut pula menyatakan kekaguman mereka.

Ketika ditanya siapa gurunya, Hwat Khong Hwesio menerangkan bahwa sumoinya itu adalah murid tunggal dari Sian-kiam Koai-jin Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa.

Barulah para jago tua itu mengangguk-anggukkan kepala, karena mereka pernah mendengar tentang seorang hiap-kek (orang gagah) yang menjagoi di kalangan kang-ouw dan membuat nama besar, ialah Sian-kiam Koai-jin Ong Lun itu, tapi yang beberapa puluh tahun kemudian lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Maka berkuranglah keheranan mereka, karena pantas sekali murid tunggal manusia aneh itu demikian lihai.

Hanya mereka kagum sekali bahwa gadis yang baru berusia tidak lebih enambelas tahun itu telah dapat mewarisi ilmu silat yang luar biasa itu.

Karena kuatir sumoinya akan menjadi sombong dengan segala puji-pujian itu, Hwat Khong segera memohon maaf kepada tuan rumah berpamit pergi dengan Lian Hwa.

Mereka kembali ke hotel "Liang An"

Dan keesokan harinya mereka kembali ke bukit Bok Lun-san.

Sebulan kemudian, setelah menganggap bahwa kini sudah sampai temponya untuk sang sumoi melakukan perjalanan membalaskan sakit hati orang-tuanya, Hwat Khong memberi tahu kepada sumoinya bahwa kampung orang-tuanya ialah kampung Ban-hok-cun di Kie-ciu.

Ia mengijinkan Lian Hwa pergi ke tempat itu, memesan gadis itu supaya berhati-hati dan jangan melupakan segala petunjuk-petunjuk dan nasihat-nasihatnya yang telah diberikan selama gadis itu diam di kelentengnya tiga bulan lebih.

Atas nasihat suhengnya, Han Lian Hwa mengenakan pakaian laki-laki berwarna putih dengan ikat pinggang warna merah darah dan sepatu serta kaus kaki warna kuning.

Topinya juga berwarna merah, tapi merah muda.

Dengan dandanan begitu ia merupakan seorang siucai (mahasiswa) yang berwajah sangat cakap.

Ia membawa pauw-hok (ransel) warna coklat yang berisikan pakaian dan uang serta pedangnya Sian-liong-kiam juga disembunyikan di dalam buntalannya itu.

Setelah berpamit kepada suhengnya yang memesannya dengan teliti agar ia menjaga diri baik-baik dan berhati-hati di sepanjang perjalanan, Ang Lian Lihiap memulai perjalanannya merantau dengan tujuan membalas sakit hati orang-tuanya.

Karena telah mendapat petunjuk yang jelas dari suhengnya, ia langsung menuju ke Kie-ciu.

Perjalanan ini ia lakukan dengan mengambil jalan besar, tidak seperti suhengnya ketika membawa ia lari dari kampungnya dulu, hingga ia tidak melalui bukit Kim-Ma-San, tapi melalui kota-kota besar dan kampung-kampung yang ramai.

Pada suatu hari ia sampai ke sebuah kampung yang terletak di kaki gunung.

Kampung itu tampak sunyi dan penduduknya rata-rata berwajah sedih, dan keadaan mereka sangat melarat.

Ang Lian Lihiap masuk di kampung itu pada waktu sore, maka ia mengambil keputusan untuk bermalam di situ.

Seorang pelayan dari rumah penginapan Thian-lok menyambutnya dan Lian Hwa melihat pelayan itupun berwajah seperti orang ketakutan dan bingung.

"Kongcu (tuan muda) lekaslah masuk, jangan lama-lama berdiri di luar!"

Katanya sambil mempersilakan tamunya masuk. Lian Hwa merasa heran tapi ia bertindak masuk juga.

"Sikapmu ini sungguh aneh, apakah yang terjadi di sini?"

Tanyanya. Pelayan itu hanya menggeleng-geleng kepala ketakutan dan pada saat itu pemilik rumah penginapan yang mendengar pertanyaan Lian Hwa segera menghampiri.

"Kongcu, marilah kita ke dalam kalau kau ingin tahu. Agaknya Kongcu orang asing di sini."

Pemilik rumah penginapan yang bernama A Sam itu segera bertindak ke ruang dalam, diikuti oleh Lian Hwa.

"Kongcu, engkau orang baru agaknya engkau keluarga kaya,"

Katanya sambil menunjuk bunga teratai emas yang menghias dada Lian Hwa.

"Ah, kau salah sangka, tuan, barang ini tidak berharga mahal, dan adalah milikku satu-satunya,"

Jawab Lian Hwa sembarangan.

"Tapi cukup untuk menarik perhatian Iblis Gelandangan!"

"Apa katamu?"

Tanya gadis itu heran.

"Dengar Kongcu, aku si tua A Sam bukan pembohong, juga bukan orang penakut, tapi apa yang akan kubicarakan ini sedikitpun tidak bohong. Telah lebih dari tiga bulan kampung ini mendapat gangguan iblis gelandangan yang keluar dari bukit Hek-mo-san (Bukit Iblis Hitam). Beberapa hari sekali pada malam hari ia pasti datang dan mengumpulkan uang yang disediakan oleh penduduk di depan pintu rumah mereka."

"Sungguh aneh. Mengapa kalian mengumpulkan uang dan menyediakan itu di depan pintu rumah di waktu malam?"

"Karena permintaannya, Kongcu. Dan siapa saja yang berani membandel, pasti celaka! Sudah ada beberapa keluarga yang terbunuh karena tidak ada uang untuk disediakan. Maka sekarang mereka yang tidak punya uang sudah pada pergi mengungsi dan yang masih bisa menyediakan uang hanya menanti bangkrutnya saja. Tiap keluarga harus menyediakan uang perak sebanyak dua tail untuk satu jiwa. Seperti rumah tanggaku ini yang mempunyai sepuluh jiwa, berikut pelayan, tiap ia datang harus menyediakan dua puluh tail perak! Coba Kongcu pikir, apa ini tidak bikin aku gulung tikar?"

"Apa sudah ada yang pernah lihat iblis itu?"

Tanya Lian Hwa dengan hati kebat-kebit, karena selama hidupnya belum pernah ia mendengar cerita aneh dan serem seperti itu.

"Sudah, siangkong (tuan muda),"

Menyambung pelayan yang sejak tadi hanya menggoyang kepala dan mendengarkan.

"Iblis itu tinggi besar dengan muka hitam, matanya besar dan mulutnya lebar bersenjata tombak cagak yang hebat!"

Tiba-tiba ia mendekap mulutnya seakan-akan takut iblis nanti mendengar ia membicarakannya.

"Maka Kongcu harus hati-hati. Iblis itu awas benar, tiap ada tamu membawa barang berharga, ia selalu menuntut agar barang-barang itu disediakan di luar pintu, kalau tidak maka tamu itu akan mati tercekik."

"Dan diminum darahnya,"

Menyambung pelayan itu.

"Ya, dan diminum darahnya sampai habis,"

Si tuan rumah membenarkan.

"Aah, aku tidak percaya. Mana ada urusan seaneh itu di dunia ini?"

Kata Lian Hwa, hingga tuan rumah dan pelayannya itu menjadi kuatir dan takut, karena mereka tahu bahwa iblis itu paling benci kepada orang yang tidak takut dan tidak percaya padanya.

Cepat-cepat si tuan rumah mengajak Lian Hwa memilih kamar, meninggalkan "pemuda"

Itu dalam kamarnya, hatinya merasa tak enak sekali.

Ketika malam tiba, tuan rumah dan seisi rumah penginapan itu makin gelisah.

Betul saja, kira-kira jam sepuluh malam, tiba-tiba terdengar bunyi tertawa seram di atas genteng rumah penginapan itu dan sebuah suara tanpa rupa terdengar.

"A Sam! Buntalan dan teratai merah kepunyaan tamu mudamu itu harus disediakan di depan pintu. Lekas!"

Lian Hwa yang berada dalam kamarnya terkejut juga.

Suara itu demikian keras hingga kalau kiranya suara itu dikeluarkan dari mulut seorang manusia, tentu ia itu memiliki khikang yang kuat sekali.

Tapi hanya sebentar ia kaget, ketabahannya timbul kembali, kemudian ia menyambar pedangnya dan meloncat keluar dari jendela terus melayang ke atas genteng.

Di atas wuwungan rumah penginapan itu berdiri seorang laki-laki tinggi besar.

Mungkin inilah iblis itu.

Tapi tiba-tiba Lian Hwa merasa geli melihat bahwa "iblis"

Itu tak lain hanya seorang manusia biasa yang berkedok hitam menakutkan. Segera ia meloncat di hadapan orang itu.

"Hm, hm, tak tahu malu. Menakut-nakuti penduduk untuk menipu barang mereka. Kaukah iblis itu? Kau mau minta barang-barangku? Perlahan dulu, bangsat!"

Orang itu kaget, ia tak menyangka ada orang yang berani keluar bahkan menghampirinya.

"Kau mau mampus barangkali!"

Bentaknya lalu menubruk.

Lian Hwa mengelak cepat dan balas menyerang.

Segera ia ketahui bahwa iblis itu memiliki kepandaian yang boleh juga.

Tapi dengan mudah ia dapat mendesaknya.

Ingin ia menjatuhkan iblis itu untuk melenyapkan gangguan penduduk kampung itu maka ia menyerang dengan hebat.

Ia mengeluarkan ilmu silatnya Pek-coa-jiu-hoat (Ilmu Pukulan Ular Putih) untuk menyerang.

Bagaimana penjahat itu bisa tahan?

Baru empat jurus saja ia sudah repot sekali.

Tiba-tiba terdengar suara di belakang Lian Hwa.

"Sam-ko jangan takut, aku datang membantumu!"

Iblis yang baru datang itu menggunakan tombak cagak dan menyerang Lian Hwa dengan tipu Naga Mabok Menyembur Mustika.

Tombaknya bergerak cepat menusuk punggung.

Tapi dengan gesit sekali Lian Hwa meloncat tiga kaki ke kiri dan menengok.

Ternyata iblis kedua inipun berkedok hitam menakutkan.

Lawannya pertama tadi tak sempat mengeluarkan senjata karena desakan Lian Hwa yang hebat.

Kini setelah datang pembantu, ia mencabut goloknya yang terselip di pungung, lalu dengan marah memainkan goloknya dengan ganas sekali.

Lian Hwa berkelit ke sana ke mari, tapi walaupun dengan mudah ia dapat menghindarkan semua serangan senjata tajam itu sukar juga baginya untuk balas menyerang.

Terutama senjata tombak cagak iblis yang baru datang itu betul-betul lihai.

Karena memang sudah merasa marah dan ingin membasmi iblis-iblis ini, terpaksa Ang Lian Lihiap mencabut pedang Sian-liong-kiamnya.

Pada saat itu ujung tombak bercagak kembali menyambar mengeluarkan angin dingin.

Lian Hwa membentak.

"Pergilah!"

Pedangnya disabetkan ke bawah dan "trang!"

Ujung tombak bercagak itu patah.

Si pemegang tombak kaget sekali dan meloncat pergi sejauh tiga tombak dan berbareng dengan itu golok penjahat pertama menyabet leher Lian Hwa.

Gadis itu berkelit ke kiri dan ujung pedangnya bagaikan mulut naga meluncur dari bawah lengan dengan memutar pergelangan tangan.

"Cap!"

Pedang itu menembus dada orang dari sebelah kanan. Tanpa dapat menjerit lagi "iblis"

Itu roboh di atas genteng dan menggelinding ke bawah, jatuh di atas tanah dengan suara berdebuk keras.

Penjahat yang bersenjata tombak melihat itu mengangkat kaki lebar-lebar dan lari.

Lian Hwa hendak mengejar, tapi karena malam gelap dan ia tidak mengenal jalan di situ, terpaksa membatalkan maksudnya dan meloncat turun.

Mendengar suasana ribut-ribut dan pertempuran di atas genteng itu, semua orang pergi bersembunyi tak berani bernapas keras-keras.

Setelah Lian Hwa menghampiri mereka dan memberi penjelasan, barulah mereka keluar sambil memasang obor.

Mayat adalah seorang laki-laki yang bermuka kejam.

"Nah, saudara-saudara sekalian,"

Kata Lian Hwa.

"Ternyata iblis-iblis yang yang mengganggu kampung ini untuk berbulan-bulan itu ternyata tak lain hanyalah manusia biasa juga. Manusia jahat dan kukira banyak pula kawan-kawannya. Sayang sekali seorang kawannya yang bersenjata tombak tadi telah dapat melarikan diri."

Pada saat itu A Sam si pemilik penginapan berkaok-kaok.

"Cung Ji! Cung Ji...! Eh, ke mana perginya orang itu?"

Ternyata ia mencari-cari pelayannya yang berwajah sedih dan penakut itu. Setelah dicari-cari tidak juga ketemu. Lian Hwa segera berkata.

"Paman A Sam, tak perlu lagi Cung Ji dicari. Ia adalah penjahat yang bersenjatakan tombak dan telah kuusir pergi."

A Sam terkejut dan semua orang heran.

Pantas saja iblis-iblis itu tahu saja apa yang terjadi di kampung.

Tak tahunya si Cung Ji adalah seorang di antara mereka atau mata-mata iblis itu.

Mereka beramai-ramai menghaturkan terima kasih kepada pemuda penolong mereka itu dan menanyakan namanya.

Tapi Lian Hwa menjawab.

"Siauwte hanya kebetulan saja lewat di sini, tak perlu perbuatan tak berarti ini diingat-ingat lagi. Aku tak mau bekerja setengah matang, kalau tidak kubasmi semua iblis itu tentu mereka akan datang mengganggu lagi setelah di sini tidak ada yang menjaga. Biarlah besok pagi kucari sarang mereka."

Semua orang pergi tidur dengan agak tenteram malam itu.

Pada keesokan harinya, setelah memaksa bayar sewa kamar yang hendak ditolak oleh A Sam, Lian Hwa menggendong pauw-hoknya dan pergi menuju ke Bukit Iblis Hitam yang tak jauh dari kampung itu letaknya.

Setelah ia sampai di sebuah hutan, di batang pohon Siong besar di pintu hutan itu terdapat huruf-huruf yang diukir di batang pohon dan berbunyi begini.

"Yang lewat di sini harus membayar uang tanda hormat sebanyak sepuluh tail perak"

Tertanda Ngo Hek Mo.

Lian Hwa tertawa keras hingga suaranya bergema di dalam hutan itu.

Ia mengeluarkan pedangnya dari bungkusan dan menggunakan senjata itu untuk menggurat-gurat pohon itu.

Sebentar kemudian di atas tulisan tersebut terdapat tulisan yang berupa syair.

Mengandalkan kedok dan tombak cagak Ngo-hek-mo (Lima Iblis Hitam) menjual lagak, Jangankan hanya Ngo-hek-mo, Biar Cap-ang-mo (Sepuluh Iblis Merah) sekalipun, Bertemu dengan Teratai Merah takkan mendapat ampun.

Kemudian ia mengikatkan pedangnya di pinggang dan berjalan terus memasuki hutan dengan tenang.

Tiba-tiba ada angin menderu dari samping.

Ia mengulur tangan kirinya dan sebuah anak panah terjepit di antara kedua jarinya.

"Ha, ha! Tidak hanya jahat tapi iblis-iblis inipun licik dan pengecut sekali,"

Ia berkata keras menyindir.

"Ah, Cung Ji pelayan rendah, kau sudah tukar tombakmu?"

Lian Hwa mengejek.

"Mengapa lima ekor iblis hanya tinggal empat saja?"

"Bangsat cilik, berhenti kamu!"

Suara bentakan itu disusul dengan meloncatnya empat orang dari belakang gerombolan dan mencegatnya.

Seorang di antaranya Lian Hwa kenal sebagai Cung Ji si pelayan yang kini memegang sebuah tombak baru.

Mereka berempat ini sekarang tidak bertopeng lagi, rata-rata bertubuh tinggi besar dan jahat.

Seorang diantara empat perampok itu maju dan menjura.

"Orang gagah dari manakah yang tanpa sebab mengganggu kami? Apakah tidak kenal aturan di kalangan rimba hijau?"

Ang Lian Lihiap tertawa menghina lalu menjawab dengan bersyair .

Lima Iblis Hitam bicara tentang aturan, Membikin aku tertawa tak tertahan, Tindas yang lemah, peras orang kampung, Adalah pekerjaan kamu iblis gunung!

Melihat kejahatan-kejahatanmu semua, Apakah aku Teratai Merah harus diam saja?

Hai iblis-iblis hitam, Rabalah mukamu dan tanya diri!

Ke mana perginya seorang kawanmu malam tadi?

Ia telah terpanggang di neraka, Dan kalian akan mengikutinya segera.

"Perempuan busuk jangan jual lagak!"

Teriak mereka dengan sangat murka, lalu berbareng mereka mengurung Lian Hwa.

Sebatang tombak cagak dan tiga buah golok berkelebatan menyilaukan mata bergerak-gerak mengurung Lian Hwa.

Lian Hwa maklum bahwa empat musuhnya ini memiliki kepandaian tinggi maka ia segera mencabut pedangnya, sambil memutar Sian-liong-kiamnya itu ia tertawa mengejek.

"Awas, pokiamnya!"

Cung Ji memperingatkan saudara-saudaranya.

Mereka berempat, berlaku sangat hati-hati dan tidak membiarkan senjata mereka beradu dengan pedang Lian Hwa.

Namun gerakan Lian Hwa gesit sekali.

Ia gunakan ilmu silat pedang Ngo-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Lima Dewa) yang mengandalkan gerakan lincah dan ginkang yang sempurna, maka biarpun sudah sangat hati-hati, tiba-tiba sebatang golok terbabat putus!

Kesempatan ini digunakan oleh Lian Hwa untuk menyambarkan kakinya yang tepat mengenai perut lawan.

Karena Ang Lian Lihiap menggunakan tenaga lweekang yang tinggi, maka lawan yang tertendang itu terlempar tiga tombak lebih dan jatuh dengan mata mendelik, berkelojotan lalu mampus!

Tiga orang kawannya menjadi keder juga melihat kehebatan lawan mereka, tapi mereka menyerang makin hebat.

Pada suatu saat, dua batang golok menyambar berbareng, satu dari, depan dan satu dari kiri, kedua-duanya menuju ke dadanya dan pada saat itu juga tombak cagak Cung Ji menusuk ke arah lehernya!

Lian Hwa menundukkan kepala menghindari tusukan tombak, melangkah mundur melepaskan diri dari sabetan golok dari depan dan ketika golok dari kiri hampir mengenai pundaknya, ia angkat kaki menendang ke arah golok itu.

"Trang!"

Dan golok itu tertendang lepas dari pegangan.

Sebelum pemiliknya dapat menghindarkan diri, Lian Hwa meloncat maju, Pedang Naga Dewanya meluncur dan penjahat itu mengangkat kedua tangan ke atas, tubuhnya terjengkang ke belakang dan kepalanya terpisah dari tubuh!

Darah mulai menyembur membasahi rumput di sekitar tempat pertempuran itu.

Makin kecil hati pengeroyoknya yang tinggal dua orang lagi itu.

Tapi Lian Hwa tidak memberi waktu.

Ia merangsek hebat dan pedangnya menyambar laksana naga menyambar-nyambar.

Sesaat kemudian untuk kedua kalinya tombak cagak patah jadi dua dan ujung pedang terus menusuk dada pemegang golok!

Cung Ji melihat gelagat jelek segera meloncat jauh sambil berteriak.

"Kalau kau memang gagah tunggulah sebentar jangan lari, aku akan panggil suhuku (guru)."

Lian Hwa tertawa menyindir.

"Jangan kata gurumu, biar sukongmu (kakek guru) sekalipun akan kujadikan siluman tak berkepala!"

Tapi mana ia sudi menunggu di situ?

Juga belum tentu berandal itu bicara sungguh-sungguh mungkin hanya mencari alasan untuk kabur.

Maka setelah membersihkan pedangnya di tubuh korbannya, Lian Hwa berjalan tujuannya ke kampung kelahirannya.

Baru saja berjalan kurang lebih tiga lie, ia mendengar suara kaki kuda bergemuruh mengejar dari belakang.

Ia tahu bahwa itu pasti berandal dan kawan-kawannya yang datang mengejarnya, maka ia membalikkan badan, berdiri tenang sambil tersenyum dan bersiap sedia.

Buntalannya ia turunkan di bawah sebatang pohon besar dan pedangnya siap tergantung di pinggang.

Yang datang itu ternyata adalah seorang Hwesio (pendeta) berbaju kuning dengan rambut terurai di atas pundak kiri kanan.

Tubuhnya tinggi kurus dan kedua matanya bersinar.

Kakinya telanjang dan ia berlari di depan dengan cepat, sedangkan di belakangnya tampak lima ekor kuda yang lari cepat, tapi tetap tak dapat mendahului Hwesio itu.

Si Hwesio itu mengempit sebatang toya kuningan yang berujung runcing.

Lian Hwa mengerti bahwa Hwesio itu tentu pandai ilmu totokan dan bahwa toya runcing tapi tumpul itu adalah senjata untuk menotok jalan darah lawan.

Ketika mereka telah datang dekat, Lian Hwa melihat bahwa Cung Ji berada pula di situ.

"Omitohud! Tak nyana sedikitpun bahwa musuh yang membunuh mati empat orang muridku hanyalah seorang anak kecil. Sungguh gagah, sungguh gagah! Mohon tanya, siapakah nama congsu (orang gagah)?"

"Aku orang she Han, orang menyebut aku si Teratai Merah,"

Jawab Lian Hwa tenang.

"Hm, Han congsu, pinceng (saya) tidak tahu mengapa kau memusuhi lima orang murid-muridku, bahkan telah membunuh empat orang di antara mereka. Tapi hal itu tak perlu disebut lagi, sekarang pinceng telah datang maka kau harus berani memikul tanggung jawabnya."

"Terima kasih kalau Lo-Suhu hendak memberi pelajaran padaku, tapi apakah Lo-Suhu hendak maju berbareng dengan lima siauw-mo (iblis kecil) ini?"

Tanya Lian Hwa sambil menunjuk lima orang di atas kuda itu.

"Ha, ha, ha! Benar saja seperti kata muridku, kau ini orang muda sungguh sombong sekali. Seperti seekor katak dalam sumur. Nah, bersiaplah, Han congsu dan jangan kuatir. Pinceng takkan mengijinkan dilakukan keroyokan."

Melihat lagak Hwesio itu tidak sejahat murid-muridnya, Han Lian Hwa pun merobah sikapnya.

"Biarlah aku yang muda memberi kehormatan kepadamu untuk menyerang dulu, Lo-Suhu,"

Katanya sambil memasang bhesi (kuda-kuda). Melihat "pemuda"

Itu pasang bhesi dengan mengangkat kaki kanan dan menempelkan ujung kaki itu di lutut kaki kiri, sedangkan kedua lengannya terangkat dengan tangan di depan dada seakan-akan memberi hormat, pendeta itu berteriak.

"Bagus!"

Dan kakinya bergeser maju sambil mengayunkan tangan kanannya menyampok ke arah pundak Lian Hwa.

Biarpun tangan yang menyampok itu masih jauh, namun angin sambarannya telah terasa oleh Lian Hwa, hingga diam-diam ia terkejut dan maklum bahwa lawannya kali ini benar-benar bukan sembarangan orang.

Ia segera menurunkan kaki kanan yang terangkat digeserkan ke sebelah belakang hingga tubuhnya membungkuk menghindari sampokan.

Tapi Hwesio itu menyusul dengan serangannya kedua, ia menggunakan kaki kanan menyapu dan ketika Lian Hwa meloncat ke atas untuk menghindarkan serampangan kaki lawannya, ia menggunakan tipu Hek-houw-to-sim (Macan Hitam Menyambar Hati) memukul ke arah dada Lian Hwa.

Melihat datangnya serangan bertubi-tubi ini maka Lian Hwa tidak berani berlaku sembrono lagi.

Dengan mengayunkan tubuhnya ia dapat berkelit ke samping dan dari situ mengirim serangannya pertama dengan jotosan tangan kiri.

Si Hwesio mundurkan kakinya dan baru saja ia berhasil mengelak pukulan itu, kepalan tangan kanan Lian Hwa telah datang pula dengan tipu Go-yang-pok-sit (Kambing Kelaparan Menubruk Makanan).

Serangan ini datangnya dengan tangan terbuka dan telapak tangan Lian Hwa yang halus menyodok ke arah ulu hati lawan.

Hwesio itupun terkejut melihat gerakan Lian Hwa yang gesit dan dapat menggunakan serangan yang susul-menyusul pula.

Ia tidak berkelit terhadap serangan kedua ini, tapi segera mengulurkan lengan kanannya pula, serta menerima datangnya pukulan Lian Hwa.

Dua telapak tangan, satu kecil halus yang kedua besar keras beradu.

Terdengar suara "plok"

Dan kedua-duanya merasa adanya tenaga hebat datang dari lengan lawan.

Lian Hwa terhuyung mundur dua tindak dan Hwesio itupun terhuyung mundur hampir jatuh.

Ternyata tenaga dalam Lian Hwa masih menang sedikit.

Hwesio itu merasa penasaran sekali, lalu menggunakan ilmu silat Bie-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) menyerang dengan hebat.

Lian Hwa berlaku hati-hati sekali dan merasa bahwa ilmu silat lawannya itu memang benar-benar hebat, terpaksa ia keluarkan ilmu simpanannya yang diwariskan oleh gurunya, ialah ilmu silat Sian-liong-kun (Naga Dewa).

Tubuhnya tiba-tiba melesat ke sana ke mari bagaikan bayangan seekor naga yang bermain-main di awan.

Tubuh kedua orang itu kini hanya tampak bayangannya saja, membuat lima orang berkuda yang menonton jalannya pertandingan menjadi kagum dan pandangan mereka kabur.

Setelah bertanding lebih seratus jurus, akhirnya Hwesio itu mulai terdesak.

Ia lebih banyak menangkis daripada menyerang, karena ia mulai merasa pusing.

Sungguhpun kepandaiannya tak kalah jauh dengan "pemuda"

Itu, tapi gerakan-gerakan Lian Hwa yang aneh dan tak tersangka-sangka datangnya ditambah dengan ginkang atau ilmu ringankan tubuhnya yang luar biasa, si Hwesio lama-lama menjadi lelah juga.

Pada suatu saat Lian Hwa melesat ke samping kanan lawannya dan kakinya menendang, ketika dapat dikelit kaki kedua menyusul dengan tendangan yang lebih hebat.

Dengan repot Hwesio itu berkelit lagi, tapi tiba-tiba kepalan kanan Lian Hwa meluncur dan sudah dekat sekali dengan pundaknya.

Hwesio itu sangat terkejut, untuk berkelit tiada waktu lagi baginya, maka terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke arah pundak itu dan menanti datangnya pukulan.

"Buk!"

Dan Lian Hwa yang tertolak tenaga dalamnya itu mundur sampai tiga tindak. Tapi si Hwesio jatuh terpelanting, biarpun dengan segera ia bangun kembali.

"Hebat,"

Katanya sambil tertawa meringis.

Lian Hwa maklum bahwa Hwesio itu menderita luka di dalam tubuh.

Ia merasa kasihan, tapi sebelum dapat berkata sesuatu, Hwesio itu sudah menyambar toyanya dari tangan Cung Ji dan berkata padanya.

"Orang muda sungguh harus kupuji kepandaianmu. Pinceng mengaku kalah dalam ilmu pukulan. Tapi pinceng ingin sekali mencoba ketajaman pedangmu!"

"Haruskah kita teruskan, Lo-Suhu?"

Tanya Lian Hwa, ia tidak mau mengatakan bahwa Hwesio itu telah luka, khawatir membuat malu.

"Ya, jangan membikin pinceng penasaran. Biarlah pinceng merasakan juga kelihaian Kiam-hoat (ilmu pedang) Congsu."

Lian Hwa menghela napas.

Ia kasihan melihat Hwesio tua itu, teringat ia akan suhengnya, tapi bagaimana juga Hwesio ini telah melakukan kesalahan besar sekali dengan mempunyai murid-murid perampok itu.

Dengan sebat Lian Hwa menghunus pedangnya yang mengeluarkan sinar kehijau-hijauan dan menyilaukan mata.

Tiba-tiba Hwesio itu tampak pucat.

"Po-kiammu (pedang pusaka) itu bukankah Sian-liong-kiam?"

Tanyanya dengan suara gemetar. Lian Hwa menjadi terkejut dan heran mendengar bahwa lawannya mengenal pedangnya. Terpaksa ia mengangguk membenarkan. Hwesio itu melempar senjatanya dan menghela napas.

"Omitohud! Mataku telah lamur, tidak tahu membedakan kawan atau lawan. Karena Sian-liong-kiam berada di tanganmu, pasti congsu masih ada hubungan dengan Sian-liong Koai-jin Ong Lun, bukan?"

Han Lian Hwa makin merasa heran.

"Siauwte (saya) adalah murid tunggal dari Sian-liong Koai-jin Ong Lun."

Tiba-tiba Hwesio itu tertawa berkakakan dan menjura dengan hormatnya.

"Maaf, maaf, aku yang tua tak mengenal Gunung Thai-san! Tidak heran ilmu kepandaian congsu demikian hebat. Kini pinceng tidak malu mengaku kalah. Kalau di tangan murid tunggal Ong Lo-Cianpwe (orang-tua she Ong yang gagah perkasa) bahkan merupakan suatu kehormatan bagiku."

Lian Hwa menjura.

"Lo-Suhu siapakah? Bagaimana kenal dengan suhuku?"

"Pinceng adalah Tui Hong Hwesio bergelar It-kak-liong (Naga Tanduk Satu). Dulu pinceng pernah menjagoi di kalangan sungai telaga (bajak air) dan rimba hijau (perampok darat), jarang menemukan tandingan. Tapi akhirnya pinceng sampai dua kali dijatuhkan oleh Ong Lo-Cianpwe dengan Sian-liong-kiamnya. Sejak itu pinceng telah bersumpah tak mau melawan Sian-liong-kiam lagi. Tidak disangka, ini hari pinceng sekali lagi dijatuhkan olehmu, untung pinceng keburu mengenal Sian-liong-kiam sebelum pinceng untuk ketiga kalinya dijatuhkan oleh pedang pusaka ini!"

Han Lian Hwa menyatakan kegembiraannya bertemu dengan seorang yang pernah kenal gurunya, tapi dengan secara terus terang ia mencela It-kak-liong karena murid-muridnya.

It-kak-liong menghela napas dan berkata.

"Han-Enghiong, memang dalam hal ini pinceng kurang teliti. Tadinya kelima orang murid-murid itu hidup sebagai anggauta rimba hijau yang mentaati peraturan-peraturan kalangan itu. Merampok pembesar-pembesar penindas rakyat yang lewat, mengambil harta orang-orang kaya yang pelit, tak lupa pula untuk membagi pendapatan mereka kepada penduduk yang miskin. Tapi belakangan ini keadaan negeri begini macam. Orang-orang hartawan dan pembesar negeri makin kuat dan mereka ini mempunyai pengawal dan penjaga-penjaga diri yang kosen. Orang-orang gagah di empat penjuru terpaksa merendahkan diri menjadi kaki tangan mereka karena keadaan yang sukar.

"Mencari makan di luar sungguh payah, hingga kelima muridku yang mempunyai banyak anak buah terpaksa minta sumbangan ke kampung. Lain jalan mereka tidak ada untuk dapat mencari makan guna diri sendiri dan kawan-kawannya. Pinceng sebenarnyapun kurang setuju, tapi apa daya pinceng?"

"Hal itu salah sekali, Lo-Suhu. Orang gagah lebih baik mengorbankan diri sendiri daripada mengorbankan atau mengganggu rakyat yang memang sudah melarat. Apa artinya menjadi orang gagah kalau takut segala tukang pukul, anjing penjilat orang-orang kaya dan pembesar bangsat, sebaliknya malahan mengganggu anak negeri yang miskin? Siauwte sama sekali tidak setuju. Harap Lo-Suhu insaf akan hal ini dan memberi jalan kepada mereka agar mereka dapat menghentikan perbuatan buruk itu dan bekerja dengan cara halal."

Tui Hong Hwesio berjanji akan menurut nasihat "pemuda"

Itu dan mereka lalu berpisah. Lian Hwa melanjutkan perjalanannya ke arah kampung Ban-hok-cun. Pada keesokan harinya tibalah Lian Hwa di kota Cin-ciu. Ia mencari kamar di penginapan "Ho Tee"

Yang besar.

Karena pada waktu itu kebetulan jatuh pada bulan delapan tanggal limabelas, maka penduduk kota Cin-ciu sedang merayakan hari Tiong Ciu dengan meriah.

Malam hari itu Lian Hwa juga tidak sudi tinggal meringkuk dalam kamarnya pada saat yang demikian ramainya.

Bulan bundar besar lagi gilang gemilang, hawa malam sejuk segar dan penduduk kota semua keluar rumah untuk pergi ke pusat keramaian yang diadakan di tengah kota, maka Lian Hwa mengikuti aliran manusia menuju ke tempat yang mereka tuju.

Han Lian Hwa merasa agak heran mengapa orang-orang kota dapat hidup demikian mewah dan gembira, sedangkan penduduk kampung banyak yang miskin menderita.

Di tempat keramaian itu terdapat beberapa restoran-restoran yang mengeluarkan asap masakan berbau harum.

Lian Hwa memasuki sebuah restoran dan memilih tempat duduk di sudut.

Yang sedang makan di situ hanya beberapa orang saja.

Di meja sebelah kanan Lian Hwa duduk seorang pemuda sendirian.

"Lauw-ko (bung), cepatan sedikit masaknya, perutku sudah sangat lapar,"

Terdengar pemuda itu berkata perlahan kepada pelayan.

Lian Hwa yang mendengar itu menjadi geli dan menengok ke arahnya.

Kebetulan sekali pemuda itupun sedang memandangnya, hingga mereka saling pandang.

Entah bagaimana, pada saat itu Lian Hwa ingat akan pesan suhengnya bahwa seorang gadis tidak layaknya memandang laki-laki yang belum dikenalnya, maka pada saat itu ia merasa mukanya panas karena malu dan segera ia buang muka.

Ia sama sekali lupa bahwa pada saat itu ia bukanlah seorang gadis, tapi berpakaian sebagai pemuda juga hingga tiada salahnya untuk memandang lain pemuda.

Untuk menutup rasa malu yang menyerang dirinya, Lian Hwa memanggil pelayan dan pesan mie, daging dan arak.

Tiba-tiba pemuda itu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Lian Hwa.

Ia menjura dengan hormat sekali lalu berkata.

"Saudara, kebetulan sekali pesananmu sama benar dengan pesananku. Saudara, tukang-tukang masak di kota ini semuanya malas dan lambat, pesanan dilayani lama sekali. Tapi kalau kita satukan pesanan kita, maka kurasa akan lebih cepat. Mie dan daging bisa dimasak sekaligus. Karena itu jika saudara tidak keberatan, siauwte yang kurang ajar mengundang saudara untuk duduk di tempatku."

Kata-kata ini diucapkan dengan sopan dan sikap yang halus sambil tersenyum-senyum.

Tapi Lian Hwa hampir saja bangun berdiri dan menamparnya.

Hm, inilah macamnya lelaki kurang ajar seperti yang diceritakan suhengnya, demikian ia pikir.

Sembarangan saja menegur seorang gadis bahkan mengajak makan bersama.

Tapi tiba-tiba ia ingat pakaiannya dan marahnya berkurang.

Apa salahnya, ia kan laki-laki juga pada saat ini.

Maka iapun segera berdiri dan menjura.

(Lanjut ke

Jilid 05) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo

Jilid 05

"Kau baik sekali. Tapi, kurasa kurang sopan kalau yang tua menjamu yang muda, lebih baik siauwte yang mengundangmu untuk duduk di sini, makan sama-sama sambil mengobrol. Bagaimana pendapatmu?"

Kata Lian Hwa.

"Ha, ha, kau baik sekali, saudara! Tapi kau agak keterlaluan, masa aku kau anggap tua?"

Ia meraba-raba mukanya. Benar-benar sudah amat tuakah aku?"

Sambil berkata demikian ia menarik muka yang lucu.

Lian Hwa hampir tak dapat menahan suara ketawanya, tapi ia tahan-tahan karena kalau tertawa keras mungkin suara wanitanya akan ketahuan orang.

Ia memandang pemuda itu dengan gembira.

Wajah pemuda itu sama sekali tak dapat disebut tua, karena kulit mukanya lemas dan putih bersih, sepasang matanya bersinar bagaikan bintang pagi dijaga oleh sepasang alis yang hitam memanjang dan berbentuk golok.

Sungguh wajah yang tampan dan tubuhnya sedang, agak tinggi.

"Bukan maksudku mengatakan bahwa kau sudah tua sekali kawan, tapi bahwa kau lebih tua daripada aku adalah satu hal nyata yang tak dapat dibantah!"

Kata Lian Hwa.

"Betulkah? Ah, belum tentu! Berapa usiamu, saudara? Aku baru dua puluh tahun."

"Dan aku baru enambelas!"

Jawab Lian Hwa cepat-cepat.

"Kalau begitu memang betul aku lebih tua. Hai! Apa-apaan ini kita belum juga saling kenal tapi sudah saling mengetahui umur masing-masing! Eh, saudara muda, apakah kau merasa juga apa yang kurasakan?"

Lian Hwa menjadi gugup, dan dengan wajah merah ia menggeleng kepala.

"Aku merasa seakan-akan kita sudah saling kenal lama sekali. Seakan-akan kau ini bukan wajah baru, tapi kawanku yang baik. Apa kau tidak merasa begitu?"

Kali ini Lian Hwa mengangguk.

"Nah, kalau begitu, perkenalkan saudara muda, ini sahabat lamamu bernama Lo Cin Han dari Kwan-tung. Dan kau bernama siapa kawan?"

Lian Hwa merasa lucu sekali dengan perkenalan yang ganjil ini, tapi dalam memperkenalkan diri ia berkata gugup.

"Aku bernama Han... Lian dari... Kie-ciu, Ciat-kang!"

"Kalau begitu, aku akan menyebutmu adik Lian dan kau boleh panggil aku..."

"Twako (kakak tertua)."

"Mengapa Twako?"

"Habis, aku tidak mempunyai kakak maupun saudara lain, jadi baiklah kau kuanggap kakakku yang tertua."

"Eh, eh, kalau begitu kita menjadi saudara?"

Tanya Cin Han.

"Terserah... kalau... kau mau!"

"Baiklah adik Lian. Aku suka kejujuranmu."

Sementara itu hidangan datang dan mereka makan bersama dengan gembira. Ternyata mereka merasa saling cocok dan dalam pertemuan pertama ini timbul satu rasa simpati besar di antara mereka.

"Adik Lian, bolehkah aku bertanya, ke mana adik hendak pergi? Apakah hendak ikut ujian?"

Lian Hwa menggelengkan kepala.

"Aku yang begini bodoh mana mungkin melakukan sesuatu ujian? Bisaku hanya menulis beberapa coretan huruf saja, itupun masih banyak kelirunya. Dan engkau sendiri, Twako, tentunya sudah pernah lulus ujian bukan?"

"Lulus ujian sih belum, tapi aku pernah belajar ilmu surat bertahun-tahun. Hanya memang kepalaku yang kurang isi, masa sampai kini masih bodoh juga. Apakah kau hendak pulang ke Kie-ciu?"

Lian Hwa mengangguk.

"Kalau begitu kebetulan sekali, akupun hendak ke sana. Kita bisa pergi bersama-sama,"

Kata Cin Han girang sekali.

"Tidak..."

Hampir saja Lian Hwa berkata "tidak mungkin"

Tapi masih ditahannya.

"Tidak... apa, adik Lian?"

"Maksudku... tidak baik kalau mengganggumu, Twako. Jalan bersama mungkin kau akan terganggu olehku."

"Mengganggu? Apanya yang terganggu? Kau aneh sekali. Tidak, aku bahkan akan merasa gembira selalu karena dekat seorang kawan yang cocok."

Mendengar pernyataan ini mau tak mau wajah Lian Hwa memerah.

Pada saat itu masuklah beberapa orang muda ke dalam restoran itu.

Mereka berpakaian indah dan mewah.

Seorang yang berjalan di depan rupa-rupanya menjadi kepalanya, karena sikapnya sombong sekali.

Mereka adalah empat orang muda pengawal di kota itu.

Di pinggang masing-masing tergantung golok dan di dada terpancang tanda pangkat.

Seorang pelayan segera menyambut mereka dan membahasakan mereka "siauw-ya" (tuan muda).

Mereka lalu memesan masakan-masakan istimewa dan mahal, lalu mengobrol ke barat ke timur.

Suara mereka makin riuh dan keras ketika menceritakan tentang pengalaman-pengalaman mereka menangkap penjahat dan menyiksa pesakitan.

Seakan-akan mereka adalah jagoan-jagoan besar.

Lo Cin Han mengeluarkan suara ejekan di hidung.

"Gentong nasi sombong. Lagaknya seperti thai-Ciangkun (panglima besar) saja."

"Kau kenapa, Twako?"

Tanya Lian Hwa. Cin Han tersenyum.

"Aku paling tidak suka melihat orang membawa-bawa golok atau senjata tajam lainnya. Lebih-lebih kalau yang membawanya berlagak sombong seperti mereka ini."

"Mengapa tidak suka, Twako? Apakah kau takut golok?"

"Takut sih tidak. Aku tak pernah mengganggu orang, kenapa mesti takut golok? Hanya aku tidak suka saja, pendeknya yang bersifat kasar-kasar seperti golongan kaum persilatan itu aku sama sekali tidak suka. Apa lagi kalau mereka menamakan diri sebagai anggauta golongan liok-lim atau kang-ouw. Ah, mereka itu rata-rata kasar kejam dan biasanya hanya mencari permusuhan belaka. Aku benar-benar tidak suka."

Lian Hwa heran melihat pemuda itu tampak merah mukanya dan seakan-akan sangat benci. Maka iapun menjawab perlahan.

"Aku sendiripun tidak suka akan kekerasan, Twako."

"Nah, apa kataku? Kita kaum sasterawan tak perlu dekat-dekat dengan para ahli pembunuh seperti itu. Lebih baik bicara tentang sastera daripada tentang silat. Bukankah kau juga berpikir begitu, adik Lian?"

Gadis itu terpaksa mengangguk.

Ia heran mengapa ia menurut dan setuju saja kata-kata pemuda itu.

Padahal, bicara sejujurnya, ia jauh lebih suka ilmu silat daripada ilmu surat, biarpun ia suka sekali akan syair-syair.

Pemuda ini seorang mahasiswa yang bertubuh lemah dan menganggapnya termasuk golongannya, maka dia setuju agar tak mengecewakannya.

"Twako, kau begitu benci kepada ahli silat, barangkali... kalau seandainya akupun seorang ahli silat, tentu kau takkan suka kenal padaku, bukan?"

Tanya Lian Hwa dengan hati kecewa. Cin Han memandang dengan tajam lalu menjawab tersenyum.

"Sebaliknya, adik Lian, bukankah kaupun takkan mau dekat aku jika seandainya aku seperti orang-orang dengan golok di pinggang itu?"

Terpaksa Lian Hwa tak dapat berbuat lain daripada mengangguk.

"Adikku, kita jangan membicarakan hal ini lagi, kita toh bukan golongan orang-orang kasar."

Pada saat itu kepala pengawal-pengawal itu yang berbaju merah dan sejak tadi memandang Cin Han dengan tajam, tiba-tiba berdiri dan menghampiri pemuda itu.

Tindakannya terhuyung-huyung, mukanya merah tanda bahwa ia setengah mabok.

Dengan menyeringai ia berkata.

"Orang muda, kenapa kau sejak tadi menengok-nengok memandang ke arah kami saja?"

Cin Han memandangnya dengan tajam lalu berkata tenang.

"Apakah ada larangan atau aturan yang melarang orang di sini menggunakan matanya?"

Kepala pengawal itu tertawa bekakakan lalu menggunakan tangannya menepuk meja, hingga arak dalam mangkok Lian Hwa muncrat membasahi pakaian gadis itu.

"Larangan? Ada sobat, dan akulah yang melarang kau menggunakan matamu melihat kami!"

"Eh, eh, tuan. Jangan kau tidak mengenal aturan! Apa kau kira aku takut kaugertak? Biarpun kau pegawal negeri, tapi aku tidak berbuat sesuatu yang salah."

"Ha, ha! Belum apa-apa sudah begini ketakutan, kau tikus kecil! Hati-hatilah dengan mata dan mulutmu, nanti kutampar mulut dan matamu. Lihat, dengan kertas dan alat tulismu kau akan dapat berbuat apa!"

Lian Hwa sangat marah, tapi ia masih menahan sabar. Ia kagum melihat Cin Han walaupun orang lemah tapi bernyali besar.

"Tentu saja aku tak dapat melawan kau orang kasar,"

Balas Cin Han dengan masih tenang.

"Tapi ingat, aku pandai menulis dan aku dapat mengarang dengan baik surat pengaduan tentang perbuatanmu itu kepada pembesar lebih tinggi."

Orang itu nampak ragu-ragu, tapi kemudian berkata.

"Baik, baik coba kita lihat saja. Nah, rasakan tamparanku!"

Tapi sebelum ia mengayun tangannya, tiba-tiba tiga orang kawannya berdiri dan memberi hormat kepada seorang berpakaian mewah, orang setengah tua yang masuk restoran itu diikuti oleh beberapa orang pengiring.

"Toa-loya datang!"

Terdengar kata-kata mereka.

Kepala pengawal yang hendak menampar muka Cin Han itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan menyambut orang itu dengan muka berseri-seri sikap menjilat, mempersilakan orang itu mengambil tempat.

Kesempatan digunakan oleh Lian Hwa untuk menarik tangan kawannya meninggalkan tempat itu setelah membayar uang makanan.

Ia tidak suka memperlihatkan kepandaiannya membela kawan itu, karena kuatir Cin Han akan mengetahui bahwa iapun tergolong "orang kasar"

Sehingga kemudian tidak sudi bergaul pula dengannya, Cin Han mengomel panjang pendek dan memaki orang-orang kasar itu, tapi Lian Hwa menghiburnya.

Karena merasa suka kepada kawan baru ini, Cin Han lalu mengambil keputusan untuk pindah ke hotel dimana Lian Hwa bermalam.

Tapi dengan alasan bahwa ia tidak biasa tidur berdua, terpaksa Cin Han mengambil lain kamar yang berdekatan dengan Lian Hwa.

Setengah malam mereka berdua mengobrol dengan gembira, bahkan Cin Han dalam kegembiraannya memamerkan kepandaiannya menulis dan bersyair yang membuat Lian Hwa sangat kagum.

Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju ke Kie-ciu, dan atas usul Cin Han yang memiliki seekor kuda, Lian Hwa membeli pula seekor kuda bulu putih, lalu mereka berangkat dengan menunggang kuda.

Sehari mereka berkuda, hanya berhenti sebentar di waktu tengah hari untuk makan roti kering yang mereka bawa.

Pada waktu hari telah hampir gelap, mereka masih berada di dalam sebuah hutan.

"Kampung Liok-wan-chun berada di depan kira-kira sepuluh lie lagi, marilah kita percepat kuda kita,"

Kata Cin Han.

Tapi tiba-tiba udara yang sejak tadi telah gelap dengan mendung kini makin gelap lagi dan angin meniup keras disusul oleh turunnya air hujan.

Mereka bingung sekali, tapi tiba-tiba Lian Hwa melihat sebuah kelenteng tua di pinggir jalan yang mereka lalui.

"Twako, mari kita meneduh di sana,"

Katanya.

"Lebih baik kita jalan terus, adik Lian, sebentar lagi sampai."

"Tidak Twako. Kalau kehujanan, aku takut masuk angin!"

Padahal ia kuatir kalau-kalau kawannya itu yang jatuh sakit karena ia tahu bahwa seorang pelajar yang tak kenal ilmu silat tentu bertubuh lemah.

Berbareng ia itu merasa heran lagi melihat diri sendiri.

Mengapa ia begitu memperhatikan Cin Han?

"Baiklah kalau begitu,"

Kata Cin Han.

Mereka segera melarikan kuda mereka ke arah kelenteng tua itu.

Pintu kelenteng tertutup dan mereka mengetuknya perlahan.

Ketika pintu terbuka, ternyata yang menyambut mereka adalah seorang nikouw (pendeta perempuan) yang memelihara rambut dan berbaju putih bersih.

Nikouw itu masih muda, takkan lebih dari dua puluh tahun usianya dan wajahnya sangat manis.

Ia sangat ramah sekali menyambut tamunya.

Cin Han mengangkat tangan dan menjura memberi hormat.

"Maafkan, jika kami mengganggu. Karena kehujanan di jalan, maka perkenankanlah kiranya kami meneduh sebentar."

"Oh, silakan masuk, jiwi siangkong,"

Suara nikouw itu sangat merdu dengan irama dibuat-buat.

Lian Hwa merasa aneh dan bercuriga melihat lagak nikouw itu.

Setelah masuk sebentar, nikouw itu datang kembali dengan seorang nikouw lain yang umurnya kira-kira dua puluh dua tahun dan juga mempunyai wajah cantik menarik.

Dengan lagak yang tak pantas dilakukan oleh orang-orang suci, kedua nikouw itu berkali-kali menjual senyum dan kerlingan mata sambil menuangkan arak hangat kepada kedua tamu mereka.

Cin Han merasa likat-likat dan malu-malu melihat sikap mereka.

Untuk menghilangkan suasana tak enak itu ia bertanya tentang keadaan kelenteng itu.

Nikouw yang tertua berkata dengan suara manis.

"Kelenteng ini adalah kelenteng Liok-ling-thong dan telah lama tidak terurus. Kami berdua kakak beradik Bwee Hiang dan Bwe Nio baru tiga bulan mendiami kelenteng ini,"

Menerangkan Bwee Hiang.

"Jiwi siangkong hendaknya bermalam di sini saja karena hari sudah malam dan gelap, serta hujan juga masih belum reda,"

Kata Bwee Nio sambil mengerling ke arah Lian Hwa.

"Kami tidak berani mengganggu jiwi,"

Kata Cin Han.

"Tidak mengganggu, sama sekali tidak,"

Sahut Bwee Hiang sambil sekali lagi menuang penuh arak hangat ke dalam cangkir pemuda itu dan Bwee Nio juga menurut contoh encinya menuangkan arak ke dalam cawan Lian Hwa yang telah kosong.

"Siapa yang mengganggu?"

Bwee Nio menyambung kata-kata encinya sambil tertawa cekikikan dengan genit sekali.

"Kami ada dua kamar, kamar enciku dan kamarku, siangkong boleh tidur di kamar enciku dan siauw-siangkong ini tidur di kamarku,"

Berkata demikian ini sambil memegang pundak Lian Hwa. Lian Hwa hampir saja berdiri memakinya, tapi Cin Han keburu berkedip mata. Cin Han tertawa.

"Habis, jiwi hendak tidur di mana?"

Bwee Hiang tertawa genit.

"Tempat tidur kami lebar, masih ada tempat bagi kami berdua."

"Di mana?"

Tanya Lian Hwa yang merasa tak enak juga mengganggu tempat orang.

"Di pembaringan itu juga. Apa salahnya kami menemani jiwi?"

Tidak tahan pula hati Lian Hwa.

Ia berdiri dengan marah dan hendak memaki, tapi tiba-tiba ia merasa kepalanya pening sekali, semua barang yang terdapat di situ berputar-putar di depan matanya dan iapun melihat dengan samar-samar Cin Han berdiri dan roboh.

Kemudian ia roboh pula tak ingat orang.

Ketika Lian Hwa sadar dari pingsannya dan membuka mata, ia mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kamar yang berbau harum.

Kamar itu mewah sekali, jauh berbeda dengan keadaan di luar kelenteng yang kotor.

Ia sedang rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk dengan kain, sprei warna merah muda.

Bantalnya berkembang.

Bwee Nio duduk pula di ranjang itu sambil tersenyum-senyum manis.

Lian Hwa merasa marah sekali dan memaki.

"Perempuan rendah!"

Lalu hendak bangun berdiri tapi ternyata kedua kaki dan tangannya telah diikat dengan kuatnya.

Pengikatnya terbuat daripada semacam kain yang lemas dan dapat mulur hingga percuma saja ia gerakkan kaki tangannya biarpun ia telah mengeluarkan tenaga dalamnya.

Ia betul-betul tak berdaya.

"Siangkong jangan mencoba berontak. Saya tahu siangkong pandai silat karena dalam buntalan siangkong terdapat sebatang pedang pusaka! Kalau kawanmu itu betul-betul anak sekolah yang lemah, maka saya beruntung sekali mendapat siangkong. Saya sangat mencinta seorang laki-laki yang selain tampan juga gagah perkasa. Maka janganlah membuang waktu selagi masih muda."

Ia mendekatkan mukanya yang berbau harum ke arah muka Lian Hwa dan tertawa genit.

Lian Hwa mengerahkan tenaganya kembali untuk memberontak, tapi sia-sia saja, kain pengikat itu terlampau ulet dan kuat, maka ia menjadi putus asa dan menahan napas karena marah dan jengkel.

Hampir saja ia menangis.

Ia hanya memejamkan mata.

Tiba-tiba nikouw cabul itu menoleh ke arah jendela di mana berkelebat bayangan orang.

Nikouw itu meniup padam pelita di dalam kamar, menyambar pedang Lian Hwa yang digantungkan di dinding, lalu meloncat keluar.

Lian Hwa membuka matanya tapi keadaan dalam kamar itu gelap gulita hingga ia tak dapat melihat apa-apa, kecuali jendela yang terbuka dan suram-suram cahaya bulan memasuki kamarnya.

Ia mendengar suara orang berkelahi di atas genteng.

Telinganya yang terlatih dapat menangkap suara kaki dua orang yang sedang bertempur di atas genteng itu, dan diam-diam ia memuji mereka itu yang mempunyai kepandaian meringankan tubuh yang tinggi, karena sungguhpun mereka sedang berkelahi, namun tindakan kaki mereka itu ringan sekali hingga kalau ia tidak memasang telinga baik-baik tentu ia takkan mendengar sesuatu.

Tak lama kemudian dari atas genteng terdengar suara wanita menjerit, lalu keadaan menjadi sunyi.

Tiba-tiba sosok bayangan secepat kilat meloncat memasuki jendela kamarnya.

Lian Hwa tak berdaya hanya dapat menyerahkan nasib kepada Tuhan.

Terasa olehnya bagaimana sepasang tangan meraba-raba kakinya hingga ia merasa geli sekali.

Sekejab kemudian tali pengikat kakinya putus dan demikianpun tali pengikat tangannya.

Sebelum ia bisa berbuat sesuatu, bayangan yang menolongnya itu melompat secepat burung terbang keluar jendela.

Ketika ia memperhatikan, ternyata pedangnya telah berada di atas meja di kamar itu kembali.

Ia menjadi girang berbareng gemas kepada dua nikouw cabul itu, dan timbul pula kekuatirannya akan keselamatan Cin Han.

Ia memungut pedangnya lalu meloncat keluar dari jendela.

Tak lama ia menemukan kamar di mana Cin Han dikeram.

Ia menghampiri jendela dan membacoknya, membuka dengan pedangnya.

Ia melihat Cin Han telah duduk di pembaringan sambil memegangi kepalanya.

Agaknya pemuda itu masih pening, nampak pula bekas-bekas tali ikatan terlepas di pembaringan itu.

Cin Han mendengar dan melihat ia masuk, tapi ketika melihatnya dengan terang barulah pemuda itu tersenyum.

"Eh, hiante (adik), dari mana kau peroleh pedang itu?"

Tanyanya heran dan kuatir melihat Lian Hwa memegang pedang.

"Mana perempuan cabul itu?"

Tanya Lian Hwa marah.

"Akan kupenggal lehernya!"

Kemudian ia ingat bahwa ia hendak menyembunyikan kepandaian silatnya dari mata pemuda itu, maka segera disambungnya cepat-cepat.

"Lo Twako, sungguh celaka, kita telah tertipu oleh dua nikouw cabul tadi. Aku bangun-bangun sudah terikat. Baiknya ada orang yang menolongku. Kulihat pedang ini di atas meja, maka segera kuambil untuk mencari perempuan tadi. Hem, biarpun aku tak pandai menggunakan pedang, tapi kalau bertemu padanya pasti akan kubacok putus batang lehernya!"

Cin Han menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aya, sungguh lihai sekali penolong itu. Akupun telah ditolongnya, tapi ia segera pergi kembali."

"Siapakah orang itu, Twako bagaimana roman mukanya?"

"Aku tidak tahu jelas, adik Lian, ia berlaku sangat cepat."

Kemudian Cin Han bangun berdiri.

"Eh, eh, kau berani juga memegang pedang setajam itu!"

Lian Hwa agak bingung dan gugup.

"Kalau terpaksa, apa boleh buat, Twako. Kita kan laki-laki, bagaimana juga, malu kalau harus menyerah begitu saja kepada kedua perempuan cabul itu. Mari kita cari mereka!"

Mereka berdua keluar mencari-cari dan alangkah kaget mereka, ketika melihat dua orang nikouw itu telah mati dipukul orang.

Bwee Hiang mati di luar kamar Cin Han dan Bwee Nio jatuh dari atas genteng karena kepalanya pecah.

Lian Hwa pura-pura ketakutan.

"Aya, ada pembunuhan di sini, Twako. Mari kita lari meninggalkan tempat terkutuk ini."

Cin Han menyatakan setuju dan mereka segera berangkat menunggang kuda meninggalkan tempat itu. Ketika melihat Lian Hwa memasukkan pedang Sian-liong-kiam di dalam buntalan, Cin Han bertanya.

"Untuk apa pedang itu kausimpan?"

"Twako, kita telah ditolong orang. Mungkin pedang ini pedangnya, atau mungkin juga pedang nikouw itu. Tapi kulihat pedang ini bukan pedang sembarangan. Maka akan kubawa, karena aku mempunyai seorang kenalan yang suka mengumpulkan pedang-pedang baik. Pedang ini hendak kuberikan padanya."

Mereka berjalan di malam gelap, tapi baiknya Cin Han telah beberapa kali melalui tempat itu hingga ia kenal jalan. Di sepanjang jalan mereka saling menceritakan pengalamannya.

"Twako, apakah kau tadi... diganggu oleh Bwee Hiang perempuan celaka itu?"

Pertanyaan ini diucapkan tanpa berani memandang wajah pemuda itu.

"Hm, tidak, mana aku sudi diganggu olehnya? Selagi aku tak berdaya, baiknya penolongku datang dan mengejar perempuan itu keluar kamar. Kemudian ia kembali lagi untuk melepaskan ikatanku."

Mereka bermalam di Liok-wan-chun, sebuah kampung kecil tak jauh dari situ dan keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan ke kampung Ban-hok-chun.

Ketika tiba di kampung Ban-hok-chun, Lian Hwa merasakan dadanya berdebar-debar dan sangat terharu.

Mengingat bahwa dahulu ia dilahirkan di kampung ini dan bahwa orang-tuanya tewas di dalam kampung ini juga, tak tertahan pula Lian Hwa merasakan matanya pedas dan mengalirkan air mata.

"Kau kenapa, adik Lian?"

Tanya Cin Han. Lian Hwa segera kucek-kucek kedua matanya dan menjawab.

"Tidak apa-apa, Twako, rupanya ada debu masuk ke mataku hingga terasa pedih dan mengeluarkan air mata."

Lian Hwa mencari sebuah rumah penginapan, tapi Cin Han tidak bermalam di situ. Ia berkata.

"Adik Lian, sampai di sini kita terpaksa harus berpisah. Aku ada urusan penting dan besok pagi harus sudah berada di kota Tiong-bie-kwan."

Lian Hwa merasa kecewa.

"Twako, apakah tidak bisa besok saja kau berangkat dan malam ini bermalam di sini?"

Ia memohon. Cin Han menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin hiante, karena kalau aku berangkat besok, tidak mungkin aku bisa sampai di sana dalam sehari, sedangkan besok malam aku harus sudah berada di sana menghadiri pesta. Pula, sekarang masih siang dan aku bisa melanjutkan perjalanan sedikitnya empat puluh lie. Nah, sampai berjumpa kembali, adik Lian yang baik. Aku yakin kita akan dapat bertemu kembali!"

Lian Hwa memandangnya sejenak dan menghela napas sambil berkata.

"Selamat berpisah dan selamat jalan, Twako. Mudah-mudahan kita akan segera berjumpa lagi."

Cin Han menjura dan ketika Lian Hwa balas menjura Cin Han memegang lengan tangan sahabat itu erat-erat.

"Sampai berjumpa!"

Katanya lalu naik kudanya yang terus dilarikan kencang diikuti oleh pandangan mata Lian Hwa.

Kemudian gadis itu masuk ke dalam rumah penginapan, mendapat kamar dan duduk di dalam kamar termenung.

Ia heran mengapa kini seakan-akan merasa kehilangan sesuatu setelah Cin Han pergi.

Ia suka sekali kepada pemuda yang sopan santun dan halus gerak-geriknya itu.

Alangkah bedanya dengan kebanyakan pemuda, terutama laki-laki yang bisa silat.

Ia merasa malu sendiri mengingat kelemahan hatinya.

Mengapa ia suka sekali kepada seorang pemuda yang baru saja dikenalnya.

"Ah, kalau aku tadi ikut dengan dia, alangkah senangnya,"

Demikian ia berpikir.

Tiba-tiba ia terkejut dan marah kepada diri sendiri.

Ikut Cin Han?

Ah, sudah gilakah ia?

Sedangkan di depan matanya menanti sebuah kewajiban besar yang harus dilaksanakan, mengapa ia memikirkan untuk ikut seorang pemuda?

Memalukan benar!

Tiba-tiba semangatnya bangkit kembali dan ia meninggalkan hotel itu untuk memulai penyelidikannya.

Karena kampung itu hanya sebuah kampung kecil saja, maka siapakah yang tidak kenal rumah keluarga Bong-wangwe (Hartawan Bong)?

Bong Him Kian yang dulu disebut Bong Toaya atau Bong Wangwe.

Ia telah kawin dengan seorang gadis keturunan bangsawan dan mempunyai dua orang putera yang kini telah berusia belasan tahun.

Pengaruhnya makin besar saja dan kekayaannya makin menumpuk pula.

Bahkan kini jagoan-jagoan yang menjadi kaki tangannya kabarnya banyak yang lihai.

Hwat Khong Hwesio, suheng Lian Hwa sengaja tidak mau memberi tahu sumoinya tentang nama-nama jagoan kaki tangan Bong-Kongcu yang dulu membunuh ayahnya karena Hwesio tua itu berpikiran luas.

Ia tidak menghendaki bahwa kelak Lian Hwa menanam bibit permusuhan dengan para jagoan di kalangan kang-ouw maupun liok-lim, karena menurut pendapatnya, yang bersalah paling besar adalah Bong Him Kian seorang.

Para kaki tangannya hanyalah menjalankan perintahnya, maka sudah sepatutnya kalau si orang she Bong itu saja yang dibinasakan untuk membalas sakit hati.

Walaupun Lian Hwa tidak mendapat keterangan dari suhengnya tentang nama-nama para jagoan yang membunuh ayahnya karena suhengnya mengatakan tidak tahu nama-namanya, namun dalam hatinya ia telah mengambil keputusan untuk membasmi semua kaki tangan musuhnya.

Maka setelah di dalam penyelidikannya selama dua hari itu ia mendengar bahwa Bong Wangwe mempunyai lima orang pengawal jempolan, hatinya makin menjadi panas.

Hm, kalau aku belum bisa membasmi bajingan she Bong sekeluarga dan semua begundalnya itu, aku tidak mau sudah, pikirnya.

Setelah mencari-cari dan bertanya-tanya, ia dapat juga menemukan kuburan kedua orang-tuanya.

Kedua kuburan itu sangat sederhana dan tidak terawat, maka ketika Lian Hwa datang ke situ pada saat kuburan itu kosong tiada seorangpun pengunjung, Ia menangis sedih sambil memeluki kedua gundukan tanah itu dan bersumpah akan membawa kepala orang she Bong itu untuk bersembahyang di depan kuburan orang-tuanya.

Kalau menurut dorongan hatinya, ingin sekali Lian Hwa pada siang itu juga pergi mendatangi rumah keluarga Bong.

Tapi ia ingat akan pesan suhengnya dan pula ia tidak suka menimbulkan kekacauan di dalam kampung itu dan menakutkan semua penduduk.

Pada malam hari itu menjelang tengah malam, ketika semua penghuni gedung Bong Wangwe telah pulas, Lian Hwa berloncat-loncatan di atas genteng gedung itu.

Seorang bujang tiba-tiba keluar dari sebuah kamar membawa baki terisi poci teh.

Bagaikan burung layang-layang Lian Hwa turun menyambar dan sebelum bujang itu dapat berteriak, Lian Hwa telah menempelkan ujung pedangnya di leher orang.

"Jangan ribut kalau tak mau pedangku ini membuat kepalamu terpisah dari tubuh. Hayo bilang, di mana kamar Bong Wangwe? Awas jangan bohong!"

Dengan gemetar dan ketakutan setengah mati orang itu berdiri menggigil.

Baki yang dipegangnya terlepas dari tangan, tapi dengan cepat dan tangkas Lian Hwa menyambarnya hingga baki dan pocinya tidak jatuh membuat ribut.

Bujang itu lalu membuka mulut, tapi tidak ada suara dari mulutnya, tenggorokannya seakan-akan.

terkancing karena takutnya.

Maka dengan jari telunjuknya menuding ke arah sebuah kamar besar.

"Di situ kamar Bong Wang-we?"

Tanya Lian Hwa.

Orang itu hanya mengangguk berkali-kali.

Lian Hwa lalu mengulurkan, jari tangannya dan menotok jalan darah orang itu yang segera roboh tak berdaya dan tak bersuara.

Untuk beberapa lama ia akan tinggal lumpuh dan gagu.

Dengan gerakan ringan Lian Hwa meloncat ke arah jendela kamar yang dimaksudkan dan mengintai dari celah-celah pintu jendela.

Di dalam kamar itu Bong Wangwe ternyata belum tidur.

Ia tengah mengeluarkan beberapa buku catatan dan mulai menggunakan mouw-pitnya (pensil bulu) menulis dan mencatat-catat, orang-tua yang berusia kurang lebih empat puluh tahun dan yang wajahnya tepat seperti apa yang digambarkan oleh suhengnya dulu.

Lian Hwa merasa dadanya seakan-akan hendak pecah dan panas seperti terbakar.

Dengan sekali dorong, jendela itu terbuka dan daunnya roboh karena dipecahkan tenaga dorongan Lian Hwa.

Bong Wangwe terperanjat mendengar suara ribut itu dan ketika ia berpaling memandang jendela kamarnya, alangkah kaget dan takutnya melihat seorang wanita muda cantik jelita meloncat masuk sambil membawa sebatang pedang yang berkilauan karena tajamnya.

Bong Wangwe hendak berteriak, tapi dengan sekali loncatan Lian Hwa melompati meja yang menghadang di antara mereka.

"Apakah kau Bong Him Kian?"

Tanyanya ketus. Bong Wangwe mengangguk.

"Ya, akulah orang she Bong itu."

Hatinya agak tenang melihat bahwa tamu malamnya itu hanya seorang gadis tanggung. Ia tidak jadi berteriak, bahkan dengan cepatnya menyambar sebatang pedang yang tergantung di dinding.

"Kau berani sekali masuk ke sini mau apa?"

Bentaknya. Mata Lian Hwa yang jernih itu tiba-tiba bersinar penuh kemarahan.

"Ingatkah kau kepada Han Bun Lim dan nyonyanya yang kau bunuh sepuluh tahun yang Ialu?"

"Han... Han Bun Lim...?"

Jawab Bong Wangwe gugup.

"Ya, dan masih ingatkah kau kepada anak yang masih kecil dan hendak kau bunuh pula itu? Akulah anak itu, anjing keparat. Dan sekarang hadapilah kematianmu untuk menebus dosamu yang bertumpuk-tumpuk!"

Dengan kata-kata ini ia meloncat maju menusuk.

Bong Him Kian yang telah belajar silat lama juga segera berkelit hingga pedang Lian Hwa menusuk tempat kosong.

Tapi gadis yang sedang marah hebat itu memutar pergelangan lengannya hingga pedangnya kini terus membabat ke arah pinggang lawan.

Bong Him Kian menjadi gugup dan silau karena gerakan Lian Hwa yang cepat itu dan sinar Sian-liong-kiam yang berkilau-kilauan.

Tapi ia percaya kepada pedangnya yang terkenal tajam, maka ia membacok ke arah pedang gadis itu untuk memotong atau setidak-tidaknya terpental karena ia memang bertenaga besar.

Tapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa seakan-akan membacok air saja ketika pedang mereka beradu dan ketika ia lihat, ternyata pedangnya hanya tinggal sepotong.

Bukan pedang lawan tapi pedangnya sendiri yang terpotong oleh pedang musuhnya.

Mau tak mau Bong Wangwe menjadi keder ketakutan, maka segera ia berteriak.

"Tolong! Pembunuh, tolong!!"

"Pengecut!"

Teriak Lian Hwa sambil menusukkan Sian-liong-kiam ke arah ulu hati musuh besarnya.

Cep!

Ujung pedangnya menembus dada orang dan sebelum tubuh Bong Him Kian roboh setelah pedang dicabut, Lian Hwa telah mengayun pedangnya pula hingga kepala musuh yang dibencinya itu terpental dari leher.

Sebelum kepala jatuh ke tanah, tangan kiri Lian Hwa telah terulur menjambak rambut kepala itu.

Kemudian ia mengambil mauw-pit musuhnya yang berada di atas meja, mencelupkan ke dalam darah musuhnya yang memenuhi lantai dan masih mengucur dari dada dan leher, lalu menulis di atas tembok yang putih.

Pada saat itu terdengar bunyi ribut-ribut di luar kamar, karena teriakan Bong Wangwe tadi telah menarik perhatian para jagoannya yang tidur di kamar belakang.

Mereka berlima membawa senjata masing-masing menyerbu ke situ.

Alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa majikan mereka telah menggeletak di lantai dengan tak berkepala pula, sedangkan di dekat tembok berdiri seorang wanita muda dengan pedang di tangan kiri dan kepala majikan mereka digantung pada rambut dengan tangan kiri pula, sedangkan tangan kanan asyik menulis di atas tembok dengan tulisan darah!

Beramai-ramai mereka menerjang masuk, tapi karena kamar itu sempit penuh barang-barang, yang maju lebih dulu adalah Cun Tin si muka iblis yang bersenjatakan ruyung besi.

Si muka iblis menggunakan ruyungnya yang berat menghantam kepala Lian Hwa yang sedang berdiri membelakanginya dan asyik menulis, seakan-akan tidak tahu bahwa di luar telah berdiri jagoan-jagoan Bong Wangwe dan bahkan seorang di antara mereka kini tengah mencoba untuk memukul pecah kepalanya!

Tapi Lian Hwa bukanlah murid si Manusia Aneh Ong Lun jika ia dapat dipecahkan kepalanya dengan begitu saja!

Tanpa menengok sedikitpun dan dengan tangan kanan masih menulis terus, ketika senjata ruyung itu menyambar ke arah kepalanya, ia hanya menggeser sedikit kakinya dan tangan kirinya yang memegang pedang dan kepala berlumuran darah itu bergerak ke belakang.

"Trang!"

Ruyung itu tersampok pedang dan si muka iblis memandang dengan mulut ternganga karena ruyungnya telah putus ujungnya.

Sebelum ia dapat kembalikan semangatnya yang seakan-akan terbang karena kagetnya, Lian Hwa yang sementara itu telah selesai menulis segera membalikkan tubuh dan pedangnya telah pindah ke tangan kanan.

Cun Tin hendak lari keluar, tapi sinar pedang mengejarnya dan sebelum ia sampai ke pintu kamar, punggungnya telah tertusuk pedang.

Ia mengeluarkan jeritan ngeri lalu roboh berkelojotan.

Lian Hwa memutar pedangnya dan meloncat keluar kamar.

Ketika ia menurunkan kakinya di pekarangan luar, ia berdiri menanti musuh-musuhnya yang datang berlari-larian mengeroyok.

Hati dan perasaan Lian Hwa pada saat itu diliputi rasa marah dan terharu.

Marah karena ingat bahwa jagoan-jagoan ini dulu telah membunuh ayahnya, dan terharu karena akhirnya ia berhasil juga membalaskan sakit hati orang-tuanya dan kepala musuh besarnya kini telah berada di tangannya.

Segera ia memainkan Sian-liong-kiam-hoat (Silat Pedang Naga Dewa ) yang hebat dan dalam beberapa jurus saja keempat lawannya semua telah roboh di atas tanah terbenam dalam darah mereka sendiri.

Pada saat itu Lian Hwa seakan-akan kemasukan iblis.

Hatinya penuh dendam dan hawa nafsu, dengan mata beringas ia menengok ke kanan kiri mencari-cari.

Maksudnya hendak membunuh seluruh isi rumah itu.

Tiba-tiba pintu sebuah kamar terbuka dan seorang anak laki-laki kira-kira berusia sebelas tahun lari keluar, di belakangnya terdengar suara wanita memanggil ketakutan.

"Lian Keng! Lian Keng! Kembalilah kau!"

Lian Hwa mengangkat pedangnya mengejar anak itu.

Setelah dekat ia mengayunkan pedangnya.

Tiba-tiba pedang itu ditahannya dan hatinya menjadi lemas, hawa marahnya buyar seakan-akan awan tertiup angin.

Sayup-sayup sampai terdengar olehnya gema suara Cin Han yang berkata dengan suara halus ketika mereka masih bersama-sama beberapa hari yang lalu.

"Adik Lian, aku tidak suka kepada kebanyakan orang dari kaum persilatan, karena cara hidup mereka itu kejam sekali. Betapa banyak jiwa dikorbankan karena dendam dan sakit hati di antara golongan mereka. Tindakan yang gila dilakukan oleh mereka kalau sudah berdaya membalas sakit hati. Balas-membalas tiada habisnya. Bahkan di dalam kebiasaan mereka, wanita dan kanak-kanak juga dibinasakan hanya untuk mengumbar hawa marah dan perasaan dendam. Alangkah kejamnya. Aku tidak suka, tidak suka..."

Mengingat suara ini, lenyaplah kegusaran Lian Hwa.

Ia telah membunuh orang yang paling berdosa, ialah Bong Him Kian dan telah membinasakan kelima kaki tangannya pula, maka boleh dikata sakit hati orang-tuanya telah terbalas penuh.

Apa gunanya membunuh semua keluarga Bong yang tidak tahu-menahu tentang sakit hati itu dan sama sekali tidak berdosa.

Dengan pikiran inilah maka Lian Hwa segera loncat memasuki kamar Bong Wangwe tadi, lalu menggunakan sehelai kertas buku catatan Bong Him Kian untuk menghapus namanya di bawah syair yang ditulisnya tadi dan ditinggalkan sebuah huruf "Han"

Saja.

Syair itu berbunyi demikian .

Ayah, ibu, seisi rumah terbunuh semua, Hingga aku menderita, sebatang kara, Sakit hati dikandung sebelas tahun lamanya, Semua ini gara-gara Bong Him Kian si iblis durhaka, Malam ini aku keturunan terakhir dan satu-satunya, Membalas sakit hati orang-tua, Teratai bersih di dalam telaga, Kini menjadi merah oleh darah musuh orang-tuanya, Aku puas dapat berbakti kepada orang-tua, Roh ayah-ibu puas, terbalaslah sakit hati mereka, Bong Him Kian puas, karena telah dapat menebus dosa!

"Han"

Lian Hwa lalu meloncat ke atas genteng membawa kepala musuhnya dan langsung menuju ke kuburan ayah-ibunya. Ia meletakkan kepala itu di depan kuburan orang-tuanya, lalu berlutut sambil menangis sedih.

"Ayah-ibu, janganlah penasaran lagi. Kepala bangsat Bong Him Kian telah anak bawa ke sini. Lihatlah... dan kelima kawannya juga telah anak bunuh mampus... Jangan penasaran, ayah... ibu... anak tak sanggup membunuh seluruh keluarga...!"

Ia menangis tersedu-sedu dan sebagai jawaban kata-katanya dan ratapannya itu, terdengar suara daun-daun tertiup angin berkeresekan dan suara kutu malam berlagu sedih.

Sampai hampir pagi Lian Hwa berlutut di situ, kemudian ia meninggalkan kampung itu menunggang kudanya.

Ia tidak berganti pakaian laki-laki karena ia pikir setelah kini tugasnya terpenuhi, maka tak perlu ia berlaku hati-hati.

Ia akan mengembara meluaskah pengalaman.

Ia tidak mempunyai tujuan hendak pergi ke mana, karena iapun sudah tidak mempunyai handai taulan lagi, tak bersanak tak berkawan.

Kembali ia ingat kepada Cin Han, karena hanya pemuda itu seoranglah kawannya yang baik.

Ia menghela napas dan membalapkan kudanya.

Pikirannya penuh dengan peristiwa yang terjadi malam tadi.

Ia sengaja tidak mau berterang memberi tahukan namanya di dalam syair itu karena ia membenarkan pendapat Cin Han bahwa tiada gunanya balas membalas terus-terusan.

Ia tidak berdosa kepada keluarga Bong Him Kian karena ia membunuhnya untuk membalas sakit hati orang-tua.

Kini sakit hati itu himpas sudah dan tidak perlu ia memusuhi keluarga Bong itu.

Namun bagaimana juga, ia masih memasukkan nama julukannya di dalam syair itu, ialah Teratai Merah.

Berhari-hari ia mengembara tak tentu arah tujuan.

Kalau berhenti di sebuah kota yang dianggapnya indah, ia tinggal beberapa hari, lalu melanjutkan pula perjalanannya.

Uangnya masih ada, karena suhengnya dulu memberi bekal cukup.

Tapi soal uang ia tidak khawatir, karena kalau sampai kehabisan, ia dapat "pinjam"

Dari simpanan seorang hartawan. Ini sesuai dengan pesan suhengnya.

"Sumoi, kalau engkau sudah terpaksa sekali kehabisan bekal boleh kau ambil secukupnya dari simpanan seorang hartawan. Tapi awas jangan mengorbankan jiwa orang dalam hal itu. Pula, sebelumnya harus diselidiki lebih dulu keadaan hartawan itu. Kalau ia orang baik dan dermawan, jangan diganggu. Ingat ini, sumoi, untuk menjaga nama gurumu dan nama kita."

Pada suatu hari sampailah Lian Hwa di kota Ang-see-mui.

Ia bermalam di hotel terbesar di kota itu.

Dan di kota itulah secara sangat kebetulan ia mendapatkan nama Gan Keng Hiap dan alamatnya!

Pembaca barangkali belum lupa bahwa ketika Sian-kiam Koai-jin Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa akan menutup mata untuk selamanya, ia telah berpesan kepada murid tunggalnya untuk membalaskan penasarannya terhadap seorang bernama Gan Keng Hiap.

Selama ini Lian Hwa belum pernah melupakan pesan gurunya tapi karena ia tidak tahu ke mana harus mencari musuh gurunya itu, ia tidak berdaya.

Pula, ketika itu ia sibuk mengurus dendam keluarganya sendiri.

Ketika ia diharuskan menuliskan nama di buku hotel, secara iseng-iseng ia membuka-buka halaman buku tamu itu dan dengan tak segaja matanya bertemu dengan nama seorang tamu yang membuat hatinya berdebar-debar.

Nama itu ialah Gan Keng Hiap dengan alamat kota Tiong-bie-kwan!

Hatinya berdebar berbareng girang.

Ia masih ingat bahwa Lo Cin Han juga pergi ke Tiong-bie-kwan ketika berpisah dengan dia.

Mungkin mereka dapat saling berjumpa di kota itu, karena siapa tahu bahwa pemuda itu masih di sana?

Tanpa membuang waktu lagi, Lian Hwa segera mencari keterangan di mana letak kota Tiong-bie-kwan.

Ternyata jarak antara Ang-see-mui dan Tiong-biekwan hanya dua hari perjalanan berkuda.

Hari itu juga Lian Hwa berangkat menuju ke Tiong-bie-kwan sambil membalapkan kudanya.

Hari telah hampir gelap ketika pada keesokan harinya ia sampai di kota itu.

Ternyata kota Tiong-bie-kwan cukup ramai, lebih besar dan ramai jika dibandingkan dengan Ang-see-mui.

Lian Hwa sebenarnya tidak mengetahui permusuhan apakah yang ada antara gurunya dan Gan Keng Hiap, karena di waktu hidupnya Ong Lun hanya pernah menyatakan bahwa hidupnya telah dibikin sakit dan penasaran oleh Gan Keng Hiap dan bahwa ia sendiri tak berdaya menuntut balas, maka kini minta muridnya mewakilinya untuk membalaskan sakit hati itu.

Di dalam hatinya Lian Hwa ada juga keragu-raguan karena ia kini menghadapi satu tindakan yang tidak diketahui ujung pangkalnya dan asal mulanya, padahal suhengnya berkali-kali berpesan bahwa sesuatu tindakan harus dilakukan dengan teliti dan tidak boleh sembrono.

Maka, jika ia kini pergi mencari dan tanpa minta keterangan lalu membunuh orang she Gan itu, bukankah itupun merupakan suatu tindakan yang sembrono sekali?

Ah, tidak bisa, bantah suara hatinya.

Ini adalah tugas yang diberikan oleh suhu, sedangkan aku sebagai murid tunggalnya harus melaksanakannya untuk membalas budinya yang begitu besar!

Dari keterangan penduduk di kota itu dengan mudah ia bisa menemukan rumah Gan Keng Hiap.

Rumah itu besar juga, tapi sudah kuno dan tidak terawat.

Ketika Lian Hwa berjalan lewat di depan rumah itu pada sore hari itu, pintu rumahnya tertutup saja dan keadaan dari dalam rumah sepi tak terdengar sesuatu seakan-akan rumah itu tiada penghuninya.

Sebenarnya setelah berjumpa dengan Cin Han, semangat Lian Hwa dalam hal bunuh-membunuh sudah turun banyak bahkan hampir lenyap.

Ia sudah menetapkan dalam hati tidak akan sembarangan mencari perselisihan dan sembarangan membunuh kalau tidak terpaksa sekali dan kalau tidak untuk kebaikan.

Ia kini insaf mengapa suhengnya bersumpah tidak membunuh lagi, satu keputusan yang dulu ia anggap sebagai tanda kelemahan hati.

Maka kali ini Lian Hwa ingin bekerja cepat.

Setelah bertemu, ia akan membunuh Gan Keng Hiap itu seperti pesan gurunya, kemudian ia akan pergi dari situ.

Lain orang ia takkan mengganggunya.

Malam hari itu dengan pakaian ringkas warna hijau dan ikat pinggang kuning, bunga teratai emas menghias rambutnya dan pedang Sian-liong-kiam tergantung di pinggang, Lian Hwa meloncat ke atas genteng dan berlari-larian meloncati wuwungan rumah orang menuju ke rumah musuh gurunya.

Ketika ia sampai di atas rumah Gan Keng Hiap, ia melihat di sekeliling rumah itu sunyi, tapi dari sebuah kamar masih tampak menyorot keluar api pelita.

Ia segera meloncat ke arah kamar itu dan menggeser genteng mengintip ke dalam.

Di dalam kamar itu ia melihat seorang-tua berusia lebih kurang enam puluh tahun dengan jenggot panjang warna putih sedang duduk di kursi dan memegang alat tulis.

Di depannya terbentang kertas putih lebar yang sedang ia tulis.

Ternyata ia sedang membuat lian (syair berpasangan) dengan tulisan yang sangat indahnya.

Melihat tulisan itu Lian Hwa merasa sangat kagum.

Wajah orang-tua itu putih dan halus, pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang sasterawan tua dengan lengan baju yang lebar dan panjang.

Di dekatnya terdapat sebatang tongkat bercagak yang disandarkan di pinggir meja.

Melihat tongkat itu Lian Hwa merasa terkejut dan sangsi pula untuk melakukan tugasnya.

Tongkat itu menandakan bahwa orang-tua di bawah itu adalah seorang penderita cacat yang hanya dapat berjalan dengan bantuan tongkatnya!

Pada saat itu si orang-tua yang rupa-rupanya sedang membuat lian untuk seorang sahabat menuliskan namanya dibawah lian.

Membaca nama yang berbunyi "Gan Keng Hiap"

Itu, Lian Hwa tidak ragu-ragu lagi bahwa orang-tua itulah musuh gurunya, sungguhpun di dalam hati ia merasa aneh mengapa gurunya yang gagah perkasa itu mempunyai seorang musuh yang demikian lemah tampaknya dan seorang sasterawan yang cacat pula?

Tapi ia tak mau perdulikan semua itu, ia mengertak gigi dan membuka genteng untuk menerobos ke dalam melalui genteng.

Tetapi pada saat itu terdengar bentakan perlahan dari belakangnya.

"He, perlahan dulu, kawan! Bukan laku seorang gagah mengintai-intai rumah orang. Apakah kehendakmu?"

Lian Hwa meloncat berdiri dan membalikkan tubuhnya.

Di bawah sinar bintang yang hanya suram saja, ia melihat seorang laki-laki muda berdiri di depannya sambil bertolak pinggang, dan memandangnya dengan marah.

"Eh, eh, engkau seorang wanita? Maaf, li-Enghiong, tapi apakah, keperluan li-Enghiong datang ke sini di malam buta sehingga kami mendapat kehormatan kunjunganmu? Kalau ada perlu silakan turun dan masuk."

Melihat dirinya kepergok orang, Lian Hwa menjadi marah dan malu.

Marah karena sikap orang yang lemah-lembut seakan-akan mau mengejeknya dan memandang ia seperti anak kecil yang nakal, dan malu karena ia yang sedang mengintai tidak tahu bahwa di belakangnya ada lain orang yang melihat perbuatannya.

Maka ia segera mengunus pedangnya dan membentak.

"Jangan banyak mulut! Setelah kauketahui kedatanganku, maka tak perlu pula aku sembunyi-sembunyi. Kedatanganku hendak membunuh Gan Keng Hiap!"

Terkejut orang itu mendengar pengakuannya. Iapun marah dan mencabut keluar pedangnya dari punggungnya.

"Gampang saja kau bicara! Apakah hanya kau seorang yang mempunyai pedang?"

Lian Hwa menggerakkan pedangnya, tapi tiba-tiba orang itu berteriak.

"Tunggu dulu!"

Dan ia meloncat ke tempat yang agak terang dan tidak tertutup bayangan pohon dan wuwungan. Walaupun heran, Lian Hwa mengejarnya. Mereka saling memandang dan...

"Twako...!"

Panggilan ini keluar dari bibir Lian Hwa dengan suara penuh kesayangan.

Benarkah Cin Han yang berdiri di depannya memegang pedang ini?

Sebaliknya Cin Han memandangnya dengan mulut ternganga dan mata terbelalak.

Matanya berputar-putar dari atas ke bawah meneliti seluruh badan gadis itu, lalu berhenti di rambut Lian Hwa, menatap bunga teratai emas.

"Jadi kau... kau... Ang Lian Lihiap?"

Ang Lian Lihiap mengangguk.

"Dan kau, Twako... ah, mengerti aku, dulu yang menolongku di kelenteng itu adalah kau sendiri. Sungguh sandiwara yang bagus!"

Cin Han menghela napas.

"Sudahlah, jangan bicarakan itu pula. Kini yang terpenting ialah pertanyaanku ini, yaitu mengapa kau datang ke sini? Untuk bertemu dengan Gan Keng Hiap dan membunuhnya? Kenapakah kau hendak membunuh Gan Keng Hiap? Ada permusuhan apa antara kau dan dia?"

"Kau jangan ikut-ikut, Twako ini urusanku sendiri."

"Tidak bisa begitu, Lihiap. Ketahuilah bahwa Gan Keng Hiap yang hendak kaubunuh itu adalah pamanku dan juga guruku mengajar ilmu surat. Apakah aku harus diam saja melihat ia hendak dibunuh orang?"

Ia tak berani menyebut "adik"

Lagi. Lian Hwa menjadi marah.

"Hm, bagus orang she Lo! Aku tadinya hanya akan membunuh Gan Keng Hiap saja, tapi bukan salahku kalau aku melawan siapa saja yang hendak menghalangi niatku. Ketahuilah olehmu, Gan Keng Hiap itu adalah musuh guruku dan aku datang untuk membalaskan sakit hatinya!"

Kembali Cin Han terkejut.

"Kalau begitu, kau adalah murid dari Sian-liong Koai-jin Ong Lun? Dengarlah Lihiap, urusan di antara gurumu dan Gan-siokhu (paman Gan) adalah..."

"Aku tidak perduli!"

Potong Lian Hwa.

"Aku harus mentaati pesan suhuku dan kau jangan menghalangi!"

Setelah berkata begitu Lian Hwa menggerakkan tubuhnya hendak meloncat turun. Cepat tubuh Cin Han berkelebat pula menghadang di depannya.

"Perlahan dulu, Lihiap. Kau tidak boleh bertindak sewenang-wenang. Aku tidak membiarkan kau membunuh orang seperti membunuh seekor ayam saja!"

"Orang she Lo, kau keterlaluan!"

Katanya dengan gemas, karena hatinya sangat menyesal mengapa pemuda yang dibuat kenangan ini ternyata membela musuhnya. Ia lalu menyerang dengan tusukan pedangnya.

"Hm, hm, dua orang sasterawan mengadu pedang, sungguh lucu,"

Kata Cin Han sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya juga.

"Trang!"

Dua mata pedang saling gempur dan kedua-duanya loncat mundur untuk memeriksa pedang masing-masing karena merasa tenaga hebat membuat tangan mereka gemetar.

Tapi kedua pedang itu ternyata tidak apa-apa.

Tahulah mereka bahwa pedang lawan adalah pedang mustika yang kuat dan tajam.

Lian Hwa menyerang kembali dengan menggunakan ilmu pedang Sian-liong-kiam-hoat yang lihai, mula-mula ia menyerang dengan tipu Sian-liong-chut-tong (Naga Sakti Keluar dari Gua).

Ia tidak menyerang secara sungguh-sungguh, karena sedikitpun tidak ada maksudnya hendak melukai pemuda itu, hanya akan memperlihatkan kelihaiannya saja untuk menundukkan "anak sekolahan"

Ini!

Tidak sangka sama sekali bahwa Cin Han dapat menangkis dan balas menyerang dengan sama lihainya!

Pedang pemuda itu berkelebat cepat dan sinar pedangnya bergulung-gulung menyilaukan!

Kaget sekali hati Lian Hwa.

Ia sama sekali tak pernah mimpi bahwa Cin Han ternyata adalah seorang ahli pedang yang tinggi ilmu pedangnya.

Maka ia lalu mengerahkan semua kepandaiannya dan mengeluarkan tipu-tipu silat Sian-liong-kiam-hoat yang paling berbahaya.

Tapi semua itu sia-sia.

Gerakan-gerakan ilmu pedang Cin Han, yang aneh, sedikit mirip ilmu dari cabang Kun-lun dan ada juga miripnya dengan ilmu pedang Go-bi itu, menjaga tubuhnya dengan sangat rapatnya, bahkan dapat balas menyerang dengan tak kalah hebatnya!

Mereka berdua lenyap dalam gulungan sinar pedang bagaikan dua naga sakti tengah bertempur mati-matian mendatangkan debu dan awan berhamburan!

Lian Hwa merasa gemas sekali.

Belum pernah selama ia keluar dari perguruan ia berjumpa seorang yang begini mahir kiam-hoatnya.

Duaratus jurus lebih telah berlalu dan hebat sekali jalannya pertandingan itu, tapi belum juga nampak siapa yang lebih unggul di antara mereka.

"Lihiap, adik... Lian... sudahlah, apa perlunya kita bertempur terus? Bukankah kita bersahabat?"

Kata Cin Han sambil menangkis dan menahan pedang Lian Hwa.

"Jangan banyak cakap! Ini hari kalau bukan kau, tentu aku yang mati di ujung pedang!"

Bentak Lian Hwa yang sudah menjadi gemas, suaranya parau karena ia menahan-nahan tangisnya! "Ah, kau keterlaluan, Lihiap."

Setelah berkata begini, Cin Han memperhebat gerakan pedangnya.

Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan pada suatu ketika ia mendapat kesempatan karena Lian Hwa yang merasa hatinya jengkel dan menyesal membuat gerakan agak lambat.

Tangan kiri Cin Han meluncur seperti seekor ular menotok pergelangan tangan Lian Hwa yang memegang pedang, sehingga Sian-liong-kiam jatuh berkerontangan di atas genteng!

Lian Hwa menjadi sedih dan malu, ia terduduk di atas genteng dan mendekap mukanya dengan kedua tangan sambil menangis tersedu-sedu.

Cin Han memungut pedang gadis itu dan menghampirinya sambil menyerahkan pedang.

"Maafkan aku Lihiap, telah kesalahan tangan. Inilah pedangmu."

Lian Hwa mengangkat muka dan sepasang matanya yang merah dan berlinang air mata memandangnya dengan benci.

Kemudian ia merebut pedang itu dan mengayun pedangnya ke arah leher sendiri!

"Moi-moi (adik)!!"

Cin Han berteriak khawatir dan untungnya pedang itu dapat dirampasnya, tapi telah melukai pundak Lian Hwa.

Gadis itu terhuyung-huyung dan kalau tidak dengan cepat Cin Han memeluknya pasti ia akan jatuh ke bawah genteng.

Ia jatuh pingsan dalam pelukan Cin Han.

Pemuda itu kaget dan bingung.

Ia mengira Lian Hwa terluka parah di pundaknya, padahal gadis itu pingsan karena hatinya sakit, sedih, menyesal dan malu.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, Cin Han memondong tubuh Lian Hwa dan membawanya meloncat turun.

Ketika sadar dari pingsannya, Lin Hwa dapatkan dirinya tengah berbaring di atas sebuah tempat tidur dan di dekatnya duduk dua orang.

Yang seorang adalah Gan Keng Hiap, seorang-tua sasterawan yang hendak dibunuhnya tadi, dan seorang pula adalah seorang wanita tua yang masih tampak bekas kecantikannya yang luar biasa.

Melihat gadis itu sudah sadar dan segera bangun duduk, Gan Keng Hiap tersenyum.

"Tenanglah nona!"

Tapi Lian Hwa masih penasaran, ia melihat ke kanan kiri tapi tidak melihat Cin Han, maka dengan suara keras ia berkata.

"Sesudah aku ditangkap, maka jangan banyak bicara lagi, bunuhlah aku!"

Kemudian ia menangis lagi. Nyonya tua itu menghampiri dan mengelus-elus rambutnya.

"Kau murid dari Ong Lun Taihiap? tanyanya dengan suara halus. Lian Hwa mengangkat mukanya dan memandang muka nyonya yang manis budi dan berwajah menunjukkan keagungan itu, kemudian ia menoleh ke arah Gan Keng Hiap. Juga orang-tua ini berwajah simpatik dan terang bukan orang jahat. Tapi mengapa gurunya bermusuh dengan mereka? "Nona, kalau kau masih saja penasaran dan hendak membunuh aku orang-tua tak berguna ini, nah, inilah pedangmu. Tikamlah aku, jangan khawatir, aku seorang lemah tak mengerti ilmu silat, tak mungkin aku dapat melawan,"

Kata Gan Keng Hiap sambil memberikan Sian-liong-kiam yang tadi terletak di atas meja. Tapi Lian Hwa tidak mau menerima pedang itu dan menundukkan kepalanya.

"Nona, dari keponakanku aku dengar bahwa kau adalah Ang Lian Lihiap yang datang hendak membalaskan sakit hati suhumu ialah Ong Lun Taihiap. Mungkin kau belum diceritakan oleh gurumu sebab-sebab mengapa ia sakit hati kepadaku. Semua ini adalah karena dia!"

Ia menunjuk ke arah nyonya itu yang kini mengalirkan air mata dengan sedih. Lian Hwa heran dan memandang nyonya itu dengan bingung.

"Mungkin kau tidak akan percaya kalau aku sendiri yang menceritakan riwayat ini padamu, maka biarlah dia yang bercerita,"

Katanya pula. Nyonya tua itu menghela napas dan menghapus air matanya.

"Dengarlah, nak. Memang benar bahwa Ong Lun Taihiap sakit hati karena aku. Duduknya hal begini."

Ia lalu bercerita dan Lian Hwa mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Dulu ketika aku masih gadis, pernah aku diculik oleh seorang kepala rampok dan di tengah jalan aku (Lanjut ke

Jilid 06) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo

Jilid 06 ditolong oleh Ong Lun Taihiap.

Ia ketika itu merupakan seorang pemuda yang gagah perkasa dan namanya dihormati oleh semua orang.

Karena perbuatannya yang gagah dan sikapnya yang sopan santun itu, aku merasa berterima kasih dan mengaguminya sepenuh hatiku.

"Tapi nasib rupanya hendak mempermainkan kami. Belakangan ternyata bahwa ia cinta padaku, dan rasa simpati dan kekagumanku terhadapnya itu diterima dengan salah sangka. Ia mengira bahwa akupun cinta padanya. Melihat sikapnya yang bersungguh-sungguh itu, aku tidak tega untuk menyangkal bahwa aku sebenarnya tidak ada perasaan cinta kepadanya seperti cintanya padaku itu, karena aku sudah bertunangan pada waktu itu, ialah dengan Gan Keng Hiap yang itu waktu masih menjadi siucai (mahasiswa).

"Setelah mengantarkan pulang dengan selamat, seringkali Ong Lun Taihiap berkunjung dengan diam-diam dan mengadakan pertemuan dengan aku. Tapi kami adalah orang yang menjunjung tinggi nama kami maka tidak terjadi apa-apa antara dia dan aku. Kemudian telah diputuskan hari kawinku dengan Gan Keng Hiap, maka aku sebagai seorang anak u-hauw (berbakti) dan memandang tinggi pribudi, menurut saja karena akupun mendengar bahwa Gan Keng Hiap adalah seorang pemuda baik-baik terpelajar, dan berbudi.

"Terpaksa pada malam itu ketika Ong Lun Taihiap datang mengunjungiku, aku tetapkan hatiku untuk memberi tahu tentangg perkawinanku yang sebentar lagi akan dilangsungkan itu. Celakanya sebelum aku membuka mulut, Ong Lun Taihiap dengan terus terang menyatakan cintanya padaku! Maka dapat kaubayangkan betapa sakit dan sedih hatinya ketika mendengar bahwa aku tak dapat menerima cintanya itu karena aku sudah bertunangan dan bahkan hendak kawin! Ong Lun Taihiap jatuh pingsan! "Demikian besar cintanya padaku, bahkan setelah sadar dari pingsannya ia hendak bunuh diri di situ. Tapi aku menubruknya dan membujuk serta meughiburnya. Akhirnya ia minta aku pergi minggat bersama. Tentu saja ajakan tidak baik ini kutolak. Ia menjadi marah dan mengancam hendak membunuh Gan Keng Hiap. Aku menjawab bahwa jika dia membunuh calon suamiku, akupun hendak bunuh diri. Maka pergilah dia dengan hati sakit dan sedih.

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 7

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 10

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger