Eps 1 Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo
Baca online Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo
Cersil Si Teratai Merah Ang Lian Li Hiap - Kho Ping Hoo.
Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 01 Malam gelap gulita.
Udara pekat dan seluruh kampung Ban-hok-cung terbungkus kehitaman malam dan hanya diterangi sedikit cahaya lampu-lampu lilin yang keluar menembus celah-celah dinding rumah-rumah kampung dan beberapa buah bintang yang kebetulan tak tertutup Mega.
Kentungan penjaga kampung berbunyi duabelas kali ketika di antara genteng rumah berkelebat bayangan tiga orang yang bergerak dengan gesit sekali.
Tiga sosok bayangan itu berloncat-loncatan melalui beberapa petak rumah dan akhirnya mereka meloncat ke atas rumah Han Siucai yang telah sunyi karena semua penghuninya telah tidur lelap.
Setelah meneliti keadaan di sekitar rumah yang sunyi senyap itu, seorang di antara mereka menggunakan goloknya membongkar jendela.
Dengan sekali bacok jendela terbuka dan berbareng dengan gerakan itu, terdengar jeritan seorang anak-anak menggema keluar dari dalam kamar itu.
Mereka tak memperdulikannya dan langsung meloncat menerobos jendela.
Han Siucai dan isterinya terkejut mendengar jeritan anak mereka, dan sebelum mereka tahu benar apa yang telah terjadi, tiba-tiba saja tampak tiga orang bersenjata golok telah berdiri di depan pembaringan!
Nyonya Han akan berteriak, tapi dengan sebat seorang dari para tamu-tamu malam itu mengulurkan tangan dan menotok urat gagu nyonya cantik itu sehingga menjadi lemas tak berdaya.
Nyonya muda itu sedikitpun tak dapat melawan ketika penjahat yang menotoknya secepat kilat memondongnya dan membawanya meloncat keluar jendela.
Timbul keberanian Han Siucai.
Ia memaki.
"Bangsat rendah! Kembalikan isteriku!"
Tapi belum juga habis makian itu keluar dari mulutnya, dua buah golok menyambar dan ia roboh mandi darah, dan tewas di saat itu juga setelah mengeluh.
"...Lian..."
Seorang nenek tua, ibu Han Siucai, dengan tergopoh-gopoh memasuki kamar itu karena mendengar suara gaduh, tapi ia datang hanya untuk menemul ajalnya di ujung golok yang menancap di dadanya!
Darah berhamburan keluar dari kedua mayat itu memenuhi kamar, merah kehitam-hitaman!
Ngeri, sungguh ngeri!
"Eh, suko, mana anaknya?"
Bertanya seorang daripada kedua penjahat itu.
"Entah, itu tempat tidurnya!"
Mereka menghampiri dengan wajah beringas.
Seorang menyingkap kelambu, seorang pula mengangkat golok siap membacok.
Tapi ternyata pembaringan kecil itu kosong.
Ke manakah larinya anak kecil yang mereka cari?
Ternyata ketika mendengar jendela dibacok orang, Han Lian Hwa, puteri Han Siucai satu-satunya yang tidur di kamar itu pula, menjerit ketakutan turun dari pembaringan dan segera lari keluar sehingga ia tidak melihat ibunya di bawa lari orang dan ayah serta neneknya dibunuh secara mengerikan.
"Mari kita cari dia, tak mungkin ia pergi jauh. Barusan ia masih menjerit di kamar ini."
Berkata penjahat yang memimpin serbuan itu.
"Baik, suko, kita harus ketemukan dan bunuh anak itu, kalau tidak, pasti Bong-Kongcu akan marah kepada kita."
Mereka mencari-cari di dalam rumah dan seorang pelayan yang membantu rumah tangga Han Siucai mereka bunuh pula.
Tapi anak itu tak tampak bayang-bayangannya!
Mereka segera mengejar keluar.
Akhirnya setelah mencari ubek-ubekan, mereka melihat anak itu berlari-lari menjauhi rumahnya, jatuh tersaruk-saruk dan menangis perlahan.
Mereka segera mengejarnya.
Pemimpin penjahat yang larinya lebih cepat daripada sutenya, dengan cepat sekali dapat mengejar anak kecil itu, dan tanpa berkata apa-apa, ia langsung mengangkat golok dan mengayunkan itu ke arah batang leher Han Lian Hwa!
"Traaang!"
Terdengar goloknya beradu dengan barang keras sehingga berpijarlah bunga api! Thai-pa-cu Kong Liat si Macan Tutul Besar terkejut dan memandang goloknya yang sedikit gempil ujungnya.
"Setan! Siapa berani main gila!"
Teriaknya. Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang ganjil diikuti keluarnya seorang Hwesio yang bertongkat toya besar.
"Siancai, siancai... sungguh kejam benar hatimu. Orang-tuanya kau bunuh, begitu pun emaknya, kini engkau masih hendak membunuhnya?"
"Eh, jangan ngoco belo! Siapa yang membunuh?"
Menyangkal Kong Liat dengan kaget dan kuatir karena perbuatannya ketahuan orang.
"Ha-ha... ternyata kamu pengecut. Berani berbuat tak berani bertanggung jawab. Kalau tak terlambat kedatanganku, tak mungkin engkau bisa menghamburkan darah begitu banyaknya,"
Menjawab pendeta itu. Sementara itu Siauw-pa-cu Ban Kim Ji dengan tak sabar dan kuatir mencela.
"Suko, untuk apa ribut-ribut? Bereskan saja si gundul ini, aku yang membereskan anak itu!"
Dengan kata-kata itu ia segera bergerak ke arah Han Lian Hwa sedangkan Thai-pa-cu memutar goloknya, lalu dengan gerakan Hui-eng-bok-tho atau Elang Terbang Menyambar Kelinci ia menyerang ke arah leher Hwesio itu.
"Hm, Siauw-jin (orang rendah) yang tak kenal perikemanusiaan!"
Hwesio itu mendamprat sambil meloncat ke arah Han Lian Hwa, dengan cepat sehingga serangan Thai-pa-cu tak berhasil.
Siauw-pa-cu yang mengayun goloknya untuk membunuh anak itu kalah cepat.
Sebelum goloknya dapat mencelakakan anak itu, si Hwesio dengan sebat telah menangkis dengan toyanya lalu menyambar Han Lian Hwa dengan tangan kiri.
Kedua macan tutul (gelaran mereka) menjadi gusar sekali dan dengan berbareng mereka menyerang.
Kong Liat menyerang dari kiri dengan tipu Liong-ting-ti-cu (Ambil Mutiara di Atas Kepala Naga), goloknya mengeluarkan desiran angin ketika menyambar ke arah leher si Hwesio, Sedangkan adik seperguruannya menyerang dengan tipu Thai-kong-tiauw-hi (Kiang Thai Kong Pancing Ikan), goloknya menyerang dari kanan ke arah pinggang musuhnya.
Tapi, biarpun dikeroyok dari kanan kiri padahal sedang memondong seorang anak kecil, Hwesio itu tidak gentar.
Ia menggunakan sebelah tangan kanannya memutar toyanya dengan gerak tipu Kiap-san-ciu-hai (Mengempit Gunung Melintasi Lautan).
Dengan menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah ia menghindarkan serangan Kong Liat dan putaran toyanya dapat membikin terpental golok Ban Kim Ji.
Baru bergebrak beberapa jurus saja ternyata kedua penjahat itu bukan tandingan Hwesio itu.
Tiap kali golok mereka beradu dengan sambaran toya, mereka merasakan telapak tangan mereka pedas dan perih sehingga hampir saja golok mereka terlepas dari cekalan.
"Mundur!"
Kong Liat memberi isarat kepada kawannya dan mereka segera meloncat ke luar kalangan pertempuran, namun Hwesio kosen itu tidak mau berhenti sampai di situ saja.
Untung toyanya menyambar gesit dan dengan suara "pletak!"
Kaki kiri Ban Kim Ji terkena sapuan toya. Ban Kim Ji berteriak ngeri dan rebah di tanah tak berdaya. Kakinya sebelah kiri ternyata patah tulangnya.
"Seharusnya manusia macam engkau ini patut dibunuh, tapi pinceng tidak mau melanggar pantangan membunuh. Nah, semoga pelajaran ini dapat mengubah kelakuanmu yang buruk,"
Gerutunya kepada korbannya itu.
Kemudian ia lalu mengenjot tubuhnya menyusul Kong Liat yang lari ketakutan ketika mendengar teriakan kawannya yang terluka.
Siapakah Han Siucai yang terbunuh itu?
Dan mengapa dibunuh?
Beberapa tahun yang lalu, pada waktu Han Bun Lim masih bertunangan dengan Lo Kim Eng, ia menanam bibit permusuhan dengan Bong-Kongcu.
Han Bun Lim hanya hidup berdua dengan ibunya dan pertunangan dengan nona Lo Kim Eng terjadi sejak mereka masih kecil.
Lo Kim Eng adalah puteri dari Lo Sim Tat, seorang pedagang kecil di kampung Lun-kee-cun beberapa puluh lie jauhnya dari kampung Han Bun Lim.
Bibit permusuhan itu sebenarnya ditimbulkan dari pihak Bong-Kongcu yang terkenal mata keranjang.
Pada suatu hari Bong-Kongcu melihat kecantikan Lo Kim Eng dan timbul cintanya kepada gadis cantik itu.
Berdasarkan kekuasaan ayahnya, hartawan Bong yang terkenal mempunyai hubungan pengaruh besar dengan para pembesar di kampung maupun di kota, Bong-Kongcu tidak memperdulikan kenyataan bahwa gadis itu telah mempunyai tunangan.
Ia mengajukan lamaran dengan perantaraan seorang comblang.
Tentu saja lamaran itu ditolak oleh pihak keluarga Lo yang menimbulkan perasaan marah di pihak Bong-Kongcu.
Tapi pemuda hidung belang itu tidak berdaya untuk mencelakakan dan mengganggu Han Bun Lim, karena pemuda ini mempunyai seorang paman di kota yang berpangkat Tihu dan terkenal sebagai seorang yang adil dan jujur.
Maka dendam hatinya ditahan-tahannya dan ia hanya dapat melihat dengan hati iri dan penasaran ketika Han Bun Lim setelah lulus ujian dan mendapat sebutan Han Siucai kawin dengan tunangannya itu.
Beberapa tahun kemudian, karena sudah terlampau tua, paman Han Siucai mengundurkan diri dari pekerjaannya, pulang ke kampung dan meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Sementara itu Han Siucai telah mendapat seorang anak perempuan yang diberi nama Han Lian Hwa.
Ia hidup berempat dengan isteri, ibu dan anaknya, karena orang-tua Lo Kim Eng telah meninggal dunia pula ketika penyakit menular yang hebat mengamuk di kampung mereka.
Pengaruh hartawan Bong makin besar ketika puteranya yang sulung diberi pangkat, yang didapatnya karena pengaruh sogokan uang kepada pembesar atasan.
Bong-Kongcu sebagai putera bungsu dan dimanja, makin menjadi binal.
Ia masih merasa penasaran dan sakit hati kepada Han Siucai dan isterinya.
Selain terkenal akan kerakusannya terhadap paras elok, Bong-Kongcu suka pula mengumpulkan guru-guru silat yang terdiri dari buaya-buaya darat, belajar silat dari mereka dan sekalian memelihara mereka sebagai tukang pukulnya.
Pada suatu sore di kampung Ban Hok Cun itu gempar dengan munculnya seorang pengemis yang minta sedekah dengan cara paksa.
Di tiap pintu ia minta uang, dan takkan pergi dari tengah ambang pintu sebelum diberi uang.
Dan ia minta uang dengan ditetapkan jumlahnya!
Tidak mau kurang dari lima chi!
Ada beberapa orang yang memberi dua chi, tapi pengemis itu meremas uang itu sehingga dua keping tembaga itu menjadi hancur!
Tentu saja hal itu menimbulkan ribut dan takut.
Bong-Kongcu yang mendengar akan hal ini segera mengumpulkan tukang pukulnya dan mencari pengacau itu.
Ia ingin memperlihatkan kekuasaannya dan ia merasa penasaran bahwa di kampungnya ada orang yang berani main gila, seakan-akan tidak takut kepadanya!
Bong-Kongcu dan tukang pukul-tukang pukulnya melihat pengemis itu tengah berdiri di depan pintu sebuah kedai arak.
Pakaiannya compang-camping, kaki kiri bersepatu baru kaki kanannya telanjang, tubuhnya kurus tinggi, tapi kedua matanya bersinar tajam.
Melihat keadaan orang yang sama sekali tidak menakutkan itu, Bong-Kongcu lalu maju menghampiri dan membentak.
"He, anjing kurus! Engkau berani mengacau desa kami? Hayo pergi dari sini, kalau kau ingin tulang-tulangmu yang kurus itu selamat!"
Si pengemis menengok kepada Bong-Kongcu dan memandang pemuda dan anak buahnya dengan mata mengejek.
"Hm, hm, banyak lalat hijau di kampung ini. Pantas saja karena ada sarang madunya!"
Ia lalu membuang muka dan tidak memperdulikan mereka lagi.
"Kurang ajar!"
Teriak Bong-Kongcu dan memerintah anak buahnya.
"Hajar anjing tua ini!"
Enam orang tukang pukul maju mendekati pengemis itu dengan wajah menyeringai.
Mereka memandang rendah kepadanya dan menyangka bahwa mereka akan mudah melakukan perintah itu.
Pang Houw jagoan yang terkenal paling galak dan paling berani di antara semua tukang pukul Bong-Kongcu, mengayun kepalan tangannya yang sebesar buah kelapa menghantam telinga pengemis itu.
Pang Houw dijuluki orang Ouw-goe si Kerbau Hitam, tenaga tangannya ratusan kati dan ia telah melatih kedua tangannya memukul pasir beberapa tahun lamanya, maka bukan main hebatnya tenaga pukulannya.
Semua orang mengira bahwa pasti kepala pengemis itu akan pecah-pecah atau sedikitnya matang biru terkena pukulan si Kerbau Hitam kali ini.
Tapi ternyata dugaan mereka meleset.
Dengan tenang pengemis itu menanti sampai kepalan tangan Pang Houw sudah datang dekat, lalu dengan sebat ia miringkan kepala mengelak, kemudian menangkap tangan itu dengan tangan kiri dan dipencet perlahan.
Alangkah herannya semua orang melihat si Kerbau Besi berkaok-kaok seperti kerbau disembelih ketika lengannya yang besar berbulu itu dipencet perlahan saja oleh tangan pengemis yang kurus kecil.
Si pengemis hanya tertawa ha-ha hi-hi.
"Heh, heh, heh, orang macam ini mau menjadi jagoan? Kongcu salah pilih orang dan menghamburkan emas dengan percuma!"
Demikian katanya sambil memandang Bong-Kongcu.
"Hayo keroyok!"
Terdengar teriakan-teriakan para tukang pukul kawan si Kerbau Besi. Tapi tiba-tiba Bong-Kongcu berseru.
"Tahan!"
Dan semua anak buahnya mengurungkan niat mereka mengeroyok si pengemis.
Bong-Kongcu mendapat pikiran baik sekali.
Ia melihat bahwa pengemis ini bukan orang sembarangan dan jauh lebih lihai jika dibandingkan dengan para tukang pukulnya.
Ia dapat menaksir bahwa gentong-gentong nasi yang tiada guna itu takkan sanggup mengalahkan si pengemis yang lihai, maka ia menggunakan siasat yang menguntungkan.
Dengan muka manis ia maju selangkah ke arah pengemis itu dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Maafkan aku yang muda tidak mengenal kelihaian Lo-Suhu."
Pengemis itu memandang Bong-Kongcu, atau lebih tepat mengamat-amati pakaian pemuda yang sangat mewah dan mahal itu. Kemudian ia tertawa bergelak-gelak.
"Ah, aku pengemis hina dina tak pantas mendapat hormatmu, Kongcu,"
Iapun membalas dengan hormat.
"Aku harap Lo-Suhu suka memberi ampun kepada para kawan-kawanku ini atas kekurangajaran mereka."
"Tidak apa, tidak apa. Kalau tidak berkelahi tentu tidak akan kenal,"
Jawab pengemis itu.
"Bolehkah kiranya aku mengetahui nama Lo-Suhu yang mulia?"
"Orang panggil aku Pek-bin-houw Cong Cit."
Bong-Kongcu merasa girang karena ia telah mendengar nama Cong Cit si Harimau Muka Putih ini.
Di kalangan Liok-lim ada seorang perampok tunggal yang bekerja seorang diri bernama Cong Cit akan tetapi kini telah mengundurkan diri dari pekerjaan merampok.
Kembali ia memberi hormat.
"Sudah lama aku mendengar nama Lo-Suhu yang terkenal gagah. Sungguh beruntung hari ini dapat bertemu muka dan berkenalan. Pertemuan ini harus dirayakan dengan minum arak dan makan besar."
"Makan besar? Arak? Ha-ha! Kongcu tahu benar kesukaanku."
Si pengemis tertawa bergelak-gelak sambil menjulurkan lidah menjilat-jilat bibir.
Sambil menggandeng tangan pengemis yang kurus itu Bong-Kongcu berjalan menuju ke arah kedai arak yang terbesar di kampung itu, diiringi oleh semua anak buahnya.
Demikianlah, dengan omongan manis dan siasat yang halus Bong-Kongcu berhasil menahan si Harimau Muka Putih untuk tinggal di gedungnya dan menjadi pelindungnya.
Pek-bin-houw Cong Cit memang seorang yang sudah rusak moralnya, sungguhpun kepandaiannya sangat tinggi, namun ia masih sangat tamak akan harta kekayaan dan kesenangan dunia.
Maka di dalam gedungnya Kongcu yang banyak uangnya itu merasa mendapat tempat istirahat atau sarang yang sangat menyenangkan.
Dengan adanya Cong Cit, pengaruh Bong-Kongcu semakin memuncak, ia ditakuti semua penduduk kampung dan desa di sekitar tempat itu melebihi orang menakuti setan.
Dan karena mempunyai seorang pelindung yang kosen ini, Bong-Kongcu merencanakan gerakan pembalasan kepada Han Bun Lim.
Pada malam hari yang gelap gulita sebagaimana telah diceritakan di permulaan cerita ini, Bong-Kongcu menyuruh tiga orang tukang pukulnya, ialah murid-murid dari Cong Cit untuk menculik nyonya Han dan membasmi semua keluarga Han Siucai.
Pekerjaan terkutuk itu berhasil baik.
Nyonya Han dapat terculik dan seisi rumah dibunuh.
Baiknya puteri satu-satunya dari Han Siucai ialah Han Lian Hwa, terlepas dari bahaya maut berkat pertolongan seorang pendekar, yaitu Hwesio bergelar Hwat Khong Hwesio dari kelenteng Ban Hok Thong yang sedang berjalan memungut derma ke kampung-kampung guna perbaikan kelentengnya.
Sebagai mana telah diceritakan, Hwat Khong Hwesio mengikuti jejak Kong Liat si Macan Tutul Besar sambil menggendong Han Lian Hwa.
Ia sengaja memperlambat jalannya karena maksudnya hendak mengikuti Kong Liat sampai ke sarangnya.
"Celaka, Kongcu!"
Demikianlah keluhan Kong Liat setelah ia meloncat turun di ruangan belakang.
Tanpa membuang waktu lagi ia menceritakan bahwa mereka telah berhasil tapi mereka telah dihalang-halangi oleh seorang Hwesio yang lihai.
Ketika Kong Liat datang, Bong-Kongcu tengah minum arak dengan Cong Cit, sedangkan Kwee Seng murid kepala yang menculik nyonya Han nampak berdiri menjaga wanita muda itu yang terikat di atas sebuah kursi dengan mulut tersumbat kain, hanya kedua matanya saja mengalirkan air mata.
Baru saja ia tersadar dari pingsannya.
Mendengar cerita Kong Liat, Bong-Kongcu menjadi marah besar dan demikianpun Cong Cit.
"Engkau, orang bodoh!"
Ia memaki muridnya.
"Kalian berdua menghadapi seorang Hwesio saja tak mampu mengalahkan. Pantaskah engkau disebut murid-muridku?"
Perhatian Bong-Kongcu beralih kepada nyonya Han atau Lo Kim Eng yang telah sadar dari pingsannya. Ia segera menghampiri nyonya muda itu dan melepaskan sumbatan di mulutnya.
"Manisku, akhirnya engkau jatuh juga ke dalam tanganku,"
Katanya dengan sikap menjemukan. Nyonya Han yang semenjak tadi mendengar cerita Kong Liat dan tahu bahwa suami dan mertuanya telah meninggal dunia, tak tertahan pula menangis tersedu-sedu.
"Kau... kau manusia berhati binatang...! Apakah kesalahan kami sehingga kau berbuat demikian jahat...?"
"Salahnya sendiri, kenapa engkau dulu tidak terima saja pinanganku dan kawin dengan siucai rudin itu? Kini suami dan anakmu telah meninggalkanmu. Suamimu mati dan anakmu entah ke mana, maka lebih baik engkau hidup beruntung dengan aku di sini..."
"Anakku... Lian Hwa... di mana anakku...?"
"Ha, ha, ha! Jangan cari anakmu, tiada guna!"
Mengejek Bong Him Kian si Kongcu mata keranjang dengan menyeringai.
"Kongcu... tolonglah anakku... tolonglah ia yang tak berdosa."
"Hem, kalau aku mendatangkan anakmu, engkau mau menjadi kekasihku di sini,"
Tanya Kongcu yang tak kenal malu itu.
"Tolonglah anakku, biar aku menjadi pelayan, biar menjadi apa saja, asal anakku selamat... tolonglah..."
Keluh ratap ibu yang sengsara itu.
Tiba-tiba Pek-bin-houw Cong Cit yang sejak tadi melihat tingkah Kongcunya dengan senyum gembira, meloncat ke sudut ruangan menyambar tombak yang berada di situ dan dengan teriakan.
"Bangsat, jangan lari!"
Ia melayang keluar dari jendela diikuti oleh Kwee Seng muridnya yang mempunyai julukan Siauw-houw si Macan Kecil.
Ternyata telinga Cong Cit yang terlatih dapat menangkap suara tindakan kaki yang bagi lain orang tak terdengar karena ringannya kaki Hwat Khong Hwesio yang mengintai dari atas genteng.
Hwat Kong Hwesio terkejut akan kelihaian si kurus itu, namun ia telah siap.
Sejak tadi ia telah mengikat Han Lian Hwa di punggungnya dan kini ia menanti datangnya musuh dengan toya di tangan.
Cong Cit meloncat di hadapannya dan memalangkan tombak.
"He, bangsat gundul tak tahu malu! Berani betul engkau malam-malam datang mengacau!"
Makinya.
"Ha, ha! Bisa saja engkau membolakbalikkan urusan. Siapa yang mengacau? Siapa yang telah membunuh orang? Siapa yang menculik bini orang?"
Jawab Hwat Khong menggerak-gerakkan toyanya.
"Perduli apa engkau dengan urusan orang lain! Apakah engkau tiada pekerjaan di kelentengmu sehingga berkeliaran ke sini? Murid-muridku yang masih hijau mungkin tak dapat melawanmu, tapi aku Pek-bin-houw Cong Cit akan menghajar kepala gundulmu!"
Kaget juga Hwat Khong mendengar nama musuhnya.
Ia maklum akan kelihaian Harimau Muka Putih itu yang dulu sangat terkenal akan permainan tombaknya sehingga ia digelari orang Sian-cio atau Tombak Dewa.
Namun ia dapat menenangkan hatinya dan segera menerjang dengan toyanya.
Cong Cit menangkis dengan tombaknya dan ketika toya beradu dengan tombak, tampak api berpijar dan keduanya terpental mundur setindak.
Ternyata bahwa tenaga mereka berimbang.
"Tahan dulu! Siapakah engkau Hwesio yang usilan ini? teriak Cong Cit penasaran.
"Pinceng tak pernah sembunyikan nama. Namaku Hwat Khong Hwesio. Sudahlah jangan banyak cakap. Lepaskan nyonya itu atau kaurasakan kerasnya toyaku!"
"Jangan sombong, kepala keledai!"
Memaki Kwee Seng yang segera menyerang dengan goloknya, tapi dengan hanya sekali tangkis, golok Kwee Seng terpental dan hampir saja terlepas dari pegangannya!
"Hm, mundur kau, biarkan aku bikin mampus kepala gundul ini,"
Membentak gurunya.
Mereka berdua telah memasang kuda-kuda dan siap untuk bertanding mati-matian.
Tiba-tiba pada saat itu terdengar jeritan ngeri dari ruangan di bawah mereka.
Jeritan ini membikin mereka berdua menahan gerakan mereka dan menujukan perhatian ke bawah.
Dari bawah meloncat beberapa orang murid Cong Cit dan Kong Liat melaporkan kepada suhunya.
"Celaka, si domba betina (dimaksudkan nyonya Han) membenturkan kepalanya di tembok dan binasa!"
"Sungguh kejam!"
Berseru Hwat Khong Hwesio sambil mulai menyerang dan sesaat kemudian Hwat Khong dan Cong Cit bertempur dengan hebat.
Tapi Hwesio itu kurang leluasa gerakannya karena Han Lian Hwa yang terikat di punggungnya bergerak-gerak sambil menangis.
Lagi pula Hwat Khong Hwesio yang di masa mudanya telah terlampau banyak membunuh penjahat-penjahat telah bertobat dan bersumpah tidak mau membunuh lagi.
Tentu saja sukar baginya untuk melayani Cong Cit yang lihai tanpa melancarkan serangan-serangan yang mematikan, hanya menjaga diri saja.
Kalau musuhnya tidak selihai Cong Cit masih mudah bagi Hwat Khong untuk mempermainkannya dan memberi pukulan-pukulan yang tidak mematikan dan bersifat menghukum saja.
Tapi Harimau Muka Putih itu tidak memberi kesempatan kepadanya untuk main-main.
Tombaknya berkelebat dan ujungnya terputar-putar hingga menjadi beberapa puluh tampaknya mengurung Hwat Khong dengan tipu Giok-tai-wie-yauw (Angkin Kumala Melibat Pinggang).
Hwat Khong memutar toyanya bagaikan seekor naga yang menembus awan dengan tipu Hing-sau-chian-kun (Menyerampang Bersih Ribuan Perajurit) dan ketika Cong Cit mengeluarkan Sian-chio-hoatnya yang terkenal lihai, Hwat Khong merasa sibuk juga.
Serangan-serangan yang dilontarkan oleh si kurus itu demikian tak terduga datangnya, tubuhnya berloncat-loncatan ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang, sehingga Han Lian Hwa yang menangis di punggungnyapun sampai terancam bahaya ujung tombak.
Terpaksa ia gunakan tipu permainan toya yang terkenal dari cabang Siauw-lim, yaitu Hok-houw-kun-hwat (Ilmu Toya Penakluk Harimau).
Gerakan toyanya merupakan lingkaran hitam yang melindungi tubuhnya dan berbareng melumpuhkan serangan Cong Cit untuk sementara, tapi si kurus yang lihai merubah gerakannya dan mengeluarkan tipu-tipu Sian-chio yang paling berbahaya sehingga kadang-kadang ujung tombaknya dapat menembus benteng hitam itu dan mengancam lawannya.
Hwat Khong berpikir bahwa keadaan itu tak menguntungkan baginya.
Ia akui bahwa kepandaian Cong Cit masih lebih tinggi dari padanya, apa pula ia sekarang harus melindungi anak kecil yang digendong di punggungnya.
Lagi pula untuk apa ia harus melawan terus?
Ibu anak ini sudah mati, membunuh diri dengan membenturkan kepala ke tembok, apa lagi yang harus dibela?
Lebih baik lari dengan anak itu, demikian pikirnya sambil menangkis serangan-serangan lawannya.
Ia mencari kesempatan baik.
Ketika ujung tombak menusuk ke arah lehernya dari jurusan kanan, ia tidak menangkis tapi setelah mata tombak datang dekat hingga terasa anginnya, tiba-tiba saja ia merendah hampir berjongkok dan menyapu kaki lawannya dengan gerak tipu Ouw-liong-chut-thong (Naga Hitam Keluar Gua).
Cong Cit terkejut melihat gerakan lawan sehebat itu dan tak tersangka-sangka pula, segera ia mengenjot kakinya mencelat mundur untuk menghindarkan diri dari sapuan musuh.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Hwat Khong untuk memutar tubuh dan meloncat pergi melarikan diri.
"Hwesio gundul hendak lari ke mana?"
Cong Cit mengejar dengan marah, namun Hwat Khong sudah lari jauh dan karena malam masih gelap, sebentar saja Cong Cit telah kehilangan jejak musuhnya.
Terpaksa ia kembali dengan kecewa dan marah.
Sesampainya di gedung Bong-Kongcu, ia melihat Kongcu itu bersedih karena Lo Kim Eng nekat menghabiskan nyawanya sendiri dengan jalan membenturkan kepala di tembok.
Tak disangka nyonya muda itu demikian nekat.
Ia menyesal urusan menjadi demikian, ketika didengarnya bahwa puteri Han Siucai dapat lolos hingga dapat diduga bahwa anak itu dikemudian hari pasti akan mendatangkan malapetaka.
Namun Cong Cit dapat menghiburnya dengan berkata bahwa kalau hanya dibawah asuhan Hwat Khong Hwesio saja, tak mungkin anak itu menjadi orang yang perlu ditakuti, karena kepandaian Hwesio itu masih jauh di bawah kepandaiannya.
Semenjak itu, Bong-Kongcu belajar silat dengan giat di bawah asuhan Cong Cit untuk menjaga diri, dan ia masih saja mengumpulkan orang-orang pandai untuk melindungi dirinya.
Adapun peristiwa keluarga Han yang terbunuh mati itu dengan mudah saja dapat dibereskan oleh pembesar setempat yang mendapat suapan dari Bong-Kongcu.
Pembesar membuat laporan bahwa Han Kongcu didatangi perampok dari luar kampung yang datang membalas dendam.
Laporan macam itu dibuat dan beres!
Marilah kita ikuti perjalanan Hwat Kong Hwesio yang menggendong Han Lian Hwa menuju ke kelentengnya.
Anak kecil berusia lima tahun itu kini telah berhenti menangis.
Ketika fajar telah menyingsing, Hwat Kong tiba di bukit Kim-Ma-San.
Ia memotong jalan menuju ke kelentengnya yang terletak di atas Gunung Bok-lun-san, ia tidak mau melalui jalan biasa karena kuatir kalau-kalau dikejar oleh Cong Cit dan kawan-kawannya.
Maka ia mengambil jalan memutar, melalui gunung-gunung dan hutan-hutan.
Sebenarnya ia belum pernah melalui jalan itu, tapi karena ia tahu arahnya dan kenal pula gunung-gunung itu dari jauh, ia tidak sampai tersesat.
Bukit Kim-Ma-San mempunyai pemandangan yang indah, tapi juga sangat berbahaya, karena di situ terdapat hutan-hutan yang liar dan jurang-jurang dalam yang tertutup alang-alang sehingga tak tampak dari luar dan mudah menjebloskan orang yang kurang hati-hati.
Hwat Kong beristirahat dan duduk di atas batu hitam.
Ia menurunkan Lian Hwa yang tertidur dalam gendongannya.
Anak itu tersadar dan segera berbisik.
"Lapar... lapar..."
Hwat Khong tertawa.
"Anak baik, jangan kuatir. Tunggu sebentar, kucarikan makanan."
Kemudian ia memandang ke sana ke mari mencari-cari sesuatu yang dapat dimakan.
Karena didekat situ tiada terdapat buah-buahan, maka ia masuk sedikit ke dalam hutan.
Tiba-tiba terdengar seruan Lian Hwa.
"Pergi... engkau pergi...!"
Hwat Khong menenggok dan alangkah kagetnya ketika dilihatnya seekor ular sebesar paha menggeleser mendekati anak itu.
Tanpa membuang waktu lagi Hwat Khong membidik dan melemparkan toyanya ke arah kepala ular.
Ini adalah jalan satu-satunya untuk menolong Lian Hwa karena untuk menghampiri sudah tidak keburu.
Toyanya bersiutan meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.
Ketika ujung toya itu telah berada, kira-kira dua dim lagi dari kepala ular, tiba-tiba sebuah sinar putih kecil menyambar ujung toya dan sinar itu demikian kuatnya sehingga jurusan luncuran toya berubah ke samping dan menancap di atas tanah sampai hampir setengahnya.
Hwat Kong terkejut ketika melihat bahwa sinar yang menyambar toyanya itu tak lain hanyalah sebuah batu koral putih yang kecil.
Dapat dimaklumi betapa lihainya penyambit batu itu sehingga batu yang demikian kecilnya dapat membentur toyanya yang berat dan yang dilepas dengan sepenuh tenaga itu hingga mencong arahnya.
"Eh, sungguh ganjil dunia ini, sampai seorang pendetapun berhati telengas dan kejam, hendak membunuh sesama hidup yang tidak berdosa."
Demikian terdengar gerutu seorang yang keluar dari gerombolan pohon kecil.
Hwat Khong menengok dan melihat seorang laki-laki yang tak menyerupai orang biasa, bahkan boleh dikata setengah binatang.
Wajahnya penuh bulu, yaitu kumis dan jenggotnya panjang tak teratur mencuat ke sana ke mari memenuhi muka, rambutnya panjang dibiarkan saja tergantung di belakang dan di atas kedua pundak bahkan sebagian rambutnya yang berwarna dua itu menutupi jidat dan muka.
Ia tak berbaju dan hanya memakai celana kulit harimau dan kakinya bertelanjang pula.
Sungguhpun mahluk itu tampak mengerikan, namun sepasang matanya yang bersinar-sinar membayangkan keagungan dan kesucian.
Tampaknya ia sudah tua benar karena biarpun rambut dan cambangnya belum putih semua namun kulit muka dan tubuhnya telah berkerut-kerut penuh keriput tanda usia tua.
"Omitohud!"
Hwat Khong berseru sambil merangkap kedua tangannya memberi hormat.
"Sahabat yang aneh, mengapa engkau katakan pinceng telengas dan kejam? Bukankah ular itu hendak mencelakakan anak ini?"
"Hm, sebaliknya jangan bertindak sebelum mengetahui benar-benar duduknya hal,"
Membantah orang itu.
"Mengapa engkau begitu yakin bahwa ular itu hendak mencelakakan anak ini?"
"Ular adalah seekor binatang, biasanya binatang itu..."
Tiba-tiba Hwat Khong menghentikan kata-katanya karena ia melihat betapa binatang ular itu kini telah mendekati Lian Hwa dan mengulurkan lidahnya menjilat-jilat, sedangkan anak itupun sama sekali tidak takut, bahkan menggunakan tangannya yang kecil mengusap-usap tubuh ular yang berkembang indah.
"Ha, ha! Memang aku yang salah,"
Demikian gerutunya, kemudian ia berkata kepada orang itu.
"Sahabat, maafkan pinceng yang tak dapat membedakan siapa baik siapa jahat sehingga hampir saja membunuh binatang yang tak berdosa."
"Kelancanganmu harus dihukum!"
Berkata orang itu dengan suara tetap.
"Dihukum?"
Hwat Khong terheran-heran.
Orang ganjil itu mengangguk-angguk, matanya bersinar.
Hwat Khong tidak tahu bahwa orang itu sedang bergembira karena telah bertahun-tahun tak berjumpa dengan sesama orang dan bahwa orang-tua itu suka bergurau.
"Ya, hukumannya dua macam. Yang kedua akan kukatakan nanti, sekarang hukuman pertama. Engkau harus mengaku terus terang dan menceritakan dengan sebenar-benarnya mengapa engkau datang ke sini membawa anak kecil dan siapa anak itu. Ayoh, ceritakan semua sejujurnya."
Hwat Khong tertawa bergelak-gelak.
"Engkau aneh dan lucu, sahabat. Pinceng bukan orang jahat, juga tak berniat jahat. Sudah tentu akan kuceritakan segala pengalamanku dengan anak itu."
Ia lalu bercerita dari awal sampai akhir tentang hal menolong Lian Hwa dan bagaimana keluarga anak itu sampai terbunuh habis oleh musuh-musuhnya.
Orang itu mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa mengganggu cerita Hwat Khong.
"Mengapa tak kau basmi sekalian orang-orang jahat itu?"
Tegurnya.
"Omitohud, pinceng tidak mau melanggar pantangan membunuh dengan begitu saja. Pula, pihak mereka sangat kuat, bahkan si Cong Cit itu kepandaiannya lebih tinggi dari padaku. Maksudku kini hanya untuk mendidik anak ini agar di kemudian hari ia dapat membalaskan orang-tuanya."
"Hm, hm, beralasan juga kata-katamu. Nah, sekarang hukuman kedua, yaitu engkau harus tinggalkan anak ini padaku!"
"Ah, hal ini tak mungkin!"
"Mengapa tak mungkin? Anak ini bukan anakmu!"
"Tapi pinceng bertanggung jawab penuh atas anak ini, karena pinceng yang membawanya. Pula pinceng bermaksud mendidiknya menjadi orang pandai."
"Apa kau kira aku tidak mampu mendidik lebih baik daripadamu?"
"Bukan demikian, tapi... tapi keadaanmu ini... dan pinceng belum tahu engkau ini sebenarnya siapa?"
"Hm, lagi-lagi engkau tak mempercayai orang seperti engkau tak mempercayai ular tadi. Ketahuilah, hai Hwesio bodoh, engkau ingin mendidik anak ini dengan ilmu kepandaianmu yang rendah itu apakah gunanya? Sedangkan engkau sendiri tak mampu mengalahkan musuh-musuhnya, apa pula muridmu! Apakah kau ingin melihat ia mati terbunuh pula kelak oleh musuh-musuhnya?"
Hwat Khong memandangnya dengan ragu-ragu dan orang itu mengerti bahwa Hwesio itu masih belum percaya benar, maka dengan menjepit toya Hwat Khong yang tertancap di atas tanah menggunakan dua jarinya lalu mencabutnya dengan mudah, ia angsurkan toya itu kepada Hwat Khong.
"Nah, cobalah, dapatkah engkau membetot terlepas toyamu ini dari jepitan jariku,"
Ia menantang.
Hwat Khong melihat toya itu hanya terjepit telunjuk dan jari tengah dari tangan kanan orang itu.
Ia teringat kepada gurunya, Hun Beng Siansu, yang dulu pernah pula mencobanya dengan cara demikian.
Apakah orang ini sekuat gurunya?
Tak mungkin, pikirnya.
Dengan berkata "maaf"
Hwat Khong memegang ujung toyanya dengan kedua tangan lalu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mencabutnya.
Tapi alangkah herannya melihat toya itu tak bergeming seakan-akan telah berakar di jepitan jari orang itu.
Tiba-tiba orang itu bersiul aneh dan Hwat Khong merasa ditarik tenaga raksasa, ia terbetot maju dengan tak tertahankan pula sampai tiga langkah menurutkan orang itu yang melangkah ke belakang!
Buru-buru Hwat Khong melepaskan toyanya dan memberi hormat.
"Maafkan pinceng yang tak bermata. Sungguh tak melihat orang pandai. Maaf, maaf. Bolehkah pinceng mengetahui nama suhu yang mulia?"
"Ha, ha, Hwat Khong, engkaupun sudah memperoleh kemajuan. Cukup bagi pemantang membunuh seperti engkau. Aku ialah Sian-kiam Koai-jin Ong Lun."
"Sian-kiam Koai-jin?"
Berkata Hwat Kong dengan terperanjat dan heran, tapi segera ia berlutut.
"Maafkan murid berlaku kurang ajar. Sama sekali tidak nyana akan berjumpa dengan Supek di sini, tapi..."
"Ya, aku mengerti kebingunganmu. Gurumu dulu pernah menceritakan tentang engkau. Tadipun lemparan toyamu ke arah ular itu telah membuka mataku bahwa engkau tentu murid Hun Beng. Engkau bingung mengapa aku masih hidup?"
Orang itu menghela napas.
"Memang Thian sewaktu-waktu suka bermain-main dengan manusia yang tak berdaya. Aku yang ingin mati tidak mati-mati sedangkan Hun Beng, gurumu yang masih ingin hidup sudah mati duluan. Apa boleh buat, aku hanya menanti panggilan Thian yang Maha kuasa."
"Murid kini menyerahkan anak itu kepada supek, terserah bagaimana keputusan supek,"
Berkata Hwat Khong dengan hormat.
"Begini maksudku, biarlah kudidik anak ini untuk beberapa tahun sebelum aku mati, agar tak percuma aku mempelajari kepandaian selama ini. Kulihat anak ini bertulang baik, sayang ia perempuan. Nanti ia akan kuserahkan kepadamu untuk dididik selanjutnya ke arah jalan kebenaran."
"Baiklah, supek, murid hanya menurut."
"Nah, sudahlah, Hwat Khong. Aku mau pergi dengan anak itu."
Tanpa menoleh lagi, Sian-kiam Koai-jin Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa itu menghampiri Lian Hwa, menggendongnya dengan hati-hati dan dengan sekali lambaian lengan bayangannya melesat di antara pepohonan dan lenyap dari pandangan Hwat Khong.
Hwesio itu menghela napas panjang.
Tak sekali-kali ia menyangka bahwa manusia aneh itu masih hidup, karena dulu pernah ia mendengar bahwa supeknya itu telah mati dikeroyok pemimpin agama Pek-Lian-Kauw.
Ia pernah mendengar dari gurunya sebelum mati dulu bahwa supeknya itu kepandaiannya masih lebih tinggi daripada gurunya sendiri dan bahwa di masa mudanya Sian-kiam Koai-jin adalah seorang hiap-kek yang ternama, sayangnya ia agak terlampau kejam terhadap musuh-musuhnya dan suka sekali bergurau.
Ilmu silat pedangnya luar biasa dan karena adatnya yang aneh maka ia diberi julukan Manusia Aneh Pedang Dewa.
"Entah bagaimana nasib Lian Hwa, anak itu,"
Pikir Hwat Khong.
"Terang sekali bahwa anak itu pasti akan mendapat didikan ilmu silat yang hebat, tapi sayang sekali kalau keadaan supek setengah liar itu akan mempengaruhi jiwa Lian Hwa..."
Dengan pikiran penuh akan hal anak itu, Hwat Khong melanjutkan perjalanan kembali ke bukit Bok-lun-san untuk mengurus kelentengnya Ban-hok-tong.
Sian-kiam Koai-jin Ong Lun membawa Lian Hwa ke dalam terowongan yang ia bikin selama dua tahun lebih di atas Gunung Kim-Ma-San.
Terowongan itu panjangnya lebih dari dua lie dan menembus ke puncak bukit di mana terdapat dataran tanah yang subur dan indah pemandangannya.
Tempat itu dikelilingi jurang-jurang dalam dan orang tak mungkin dapat turun atau naik ke tempat itu selain melalui terowongan rahasia itu.
Tapi hanya si Manusia Aneh saja yang mengetahui jalannya.
Kurang lebih sepuluh tahun lamanya Lian Hwa hidup berdua dengan gurunya dan menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi.
Ong Lun menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid satu-satunya itu, dan ia sangat menyayang muridnya itu demikian pula I.ian Hwa sangat kasih kepada gurunya.
Ia tidak hanya mewarisi kepandaian gurunya, bahkan adatnya yang kukoai (aneh) dan selalu gembira itupun diwarisinya pula.
Maka di atas gunung yang tidak ada lain orang itu, kini ditinggali oleh dua orang yang aneh.
Ong Lun suka sekali bernyanyi-nyanyi, walaupun suaranya parau seperti gembreng pecah, namun ia pandai bersyair.
Kebiasaan inipun diturut oleh Lian Hwa yang memiliki suara merdu.
Gadis inipun pan-dai pula bersyair jenaka.
Pada suatu pagi si Manusia Aneh yang kebal terhadap segala apa dan kosen itu terpaksa tunduk juga terhadap kekuasaan alam.
Ia jatuh sakit usia tua.
Usianya telah seratus tahun lebih dan begitu lama ia bisa pertahankan kesehatannya berkat kepandaiannya yang tingggi.
Tapi akhirnya ia jatuh juga.
Ia memanggil muridnya untuk datang dekat.
Lian Hwa menjadi bingung melihat gurunya berbaring saja tak dapat bangun itu.
"Lian Hwa, muridku. Kini tulangku yang tua ini terpaksa menyerah terhadap kekuasaan usia."
"Suhu, engkau mengapa? Sakitkah?"
Gurunya mengangguk.
"Ah, kenapa suhu kalah oleh penyakit ? Bukankah suhu sering bernyanyi.
"Aku bebas seperti burung di udara. Aku merdeka seperti ikan di samudra. Aku manusia aneh beruntung bahagia. Aku tak mengenal susah tak tahu duka. Apa itu penyakit? Pergilah, jangan dekat! Aku tak mengenal kamu!"
"Nah, kenapa suhu sekarang sakit? Usirlah penyakit itu, suhu!"
Kata-kata muridnya yang bersemangat dan jenaka ini membuat Ong Lun sekali lagi tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian ia berkata dengan sungguh-sungguh.
"Lian, muridku. Engkau tahu, besi yang begitu kuat masih bisa karatan. Apa pula aku yang hanya terbuat dari pada darah dan daging. Tentu kalah oleh usia tua. Aku sering ceritakan padamu tentang kekuasaan Thian yang maha kuasa. Nah, sekarang tibalah saatnya aku harus memenuhi panggilan Thian..."
Lian Hwa terkejut dan membuka lebar-lebar kedua matanya yang jernih.
"Suhu...! Apakah maksudmu? Apakah suhu akan meninggalkan aku? Apakah suhu akan pergi ma... mati...?"
Ketika melihat gurunya hanya mengangguk sambil bersenyum, Lian Hwa segera menubruk tubuh gurunya, menangis tersedu-sedu.
Ia sebenarnya jarang sekali menangis, tapi kali ini entah apa yang menggerakkan perasaannya sehingga ia tak kuat menahan membanjirnya air matanya.
"Suhu, jangan mati! Jangan tinggalkan aku seorang diri..."
Ong Lun mengelus-elus rambut Lian Hwa.
"Eh, eh, engkau mengapa Lian? Tidak patut muridku bersikap selemah ini. Diamlah jangan menangis. Manusia biar bagaimana gagah dan kosenpun, tak dapat berdaya terhadap kematian usia tua. Nah, dengarkanlah Lian. Biarpun aku akan mati, tapi aku telah puas melihatmu. Engkau murid yang baik. Dulu beberapa kali engkau bertanya tentang ibumu. Sebenarnya engkau pernah mempunyai ibu dan ayah seperti juga semua binatang yang berada di gunung ini. Dan aku bukanlah ayahmu, nak."
Lian Hwa menubruk dan memeluk gurunya lagi sambil menangis sedih.
"Tenangkan hatimu. Nanti bila aku sudah pergi, bakarlah pondok ini dan engkau pergilah ke bukit Bok-lu-san dan carilah di sana sebuah kelenteng bernama Ban-hok-tong. Di situ ada seorang suhengmu bernama Hwat Kong Hwesio. Berikan suratku ini kepadanya. Selanjutnya engkau harus menurut segala petunjuk dan nasihatnya. Ia seorang baik, Lian dan anggaplah ia sebagai penggantiku untukmu. Pedangku Sian-liong-kiam itu boleh kaubawa..."
Suaranya lemah. Lian Hwa hanya dapat mengangguk-angguk sambil terisak-isak. Tiba-tiba Sian-kiam Koai-jin Ong Lun si Manusia Aneh itu bangun duduk dan berkata dengan suara memerintah.
"Lian Hwa, engkau tentu masih ingat ceritaku tentang Gak Keng Hiap? Nah, jika engkau bertemu dengan orang itu, jangan lupa, balaskan penasaranku dan bunuhlah dia! Sudahlah, Lian jangan engkau sedih."
"Tapi, suhu... mengapa suhu akan meninggalkan aku begini saja? Aku tak kuat menahan kesedihan hatiku, suhu. Hatiku menjadi bingung..."
Ong Lun merebahkan dirinya kembali.
"Engkau ingin aku sembuh? Baiklah, Lian. Sekarang pergilah engkau mencari bunga Biauw di puncak kiri sana setangkai saja. Bunga itu jika dimasak dapat kiranya mengobati penyakitku."
"Baik, suhu."
Han Lian Hwa segera berbangkit dan dengan gesit tubuhnya melesat keluar.
Ia mempergunakan seluruh kepandaiannya berlari cepat dan meringankan tubuh, melayang-layang dan meloncati jurang-jurang di hadapannya untuk menuju ke puncak bukit sebelah kiri di mana ia tahu banyak terdapat pohon bunga Biauw.
Tapi alangkah sedihnya ketika sampai di situ ia melihat bahwa semua pohon Biauw itu tiada satupun berkembang, ia ingat bahwa waktu itu belum musimnya Biauw berkembang.
Tentu saja ia tak melihat setangkaipun bunga.
Hatinya berdebar kuatir.
Kalau tidak ada bunga Biauw maka bagaimana nasib gurunya?
Ia masih penasaran dan mencari ubek-ubekan di seluruh permukaan puncak bukit dengan harapan kalau-kalau masih ada sisa bunga Biauw di situ.
Tapi hasilnya nihil dan dengan lesu ia pulang ke pondok suhunya kembali.
Ia memasuki pondok dengan kepala tunduk dan gelisah.
Bagaimana ia harus memberi tahu suhunya?
"Suhu..."
Katanya dengan masih tunduk, tak berani memandang gurunya. Suhunya tak menyahut.
"Suhu..."
Ia memanggil lagi, tapi kembali gurunya tidak menjawab. Han Lian Hwa mengangkat kepala memandang gurunya. Ia melihat gurunya terbujur seperti orang tidur.
"Suhu..."
Tegurnya agak keras dan menghampiri lalu menjamah tangan gurunya. Mendadak ia mengerti ketika tangannya merasakan kedinginan yang kaku pada lengan gurunya.
"Suhu...!"
Kali ini panggilannya merupakan pekik mengharukan dan ia menangis tersedu-sedu tiada hentinya.
Hampir setengah hari lamanya ia berada dalam keadaan demikian, berlutut sambil terisak memanggil gurunya.
Akhirnya ia dapat menenangkan hati.
Diambilnya surat pesanan gurunya dan digantungnya pedang Sian-liong-kiam di pinggangnya, kemudian setelah berlutut memberi hormat sekali lagi, ia menghunus Sian-liong-kiam, dipukulkannya ujung pedang itu pada batu karang di sudut pondok.
Api besar memuncrat menyambar daun kering yang ditaruhnya di dekat batu itu sehingga tak lama kemudian berkobarlah api membakar pondok.
Han Lian Hwa meloncat keluar pondok.
Setelah memandang sekali lagi ke tempat yang dicinta itu, ia segera memulai perjalanannya turun gunung melalui jalan terowongan gurunya.
Hatinya yang biasanya bergembira itu diliputi awan kesedihan dan kesepian.
Ketika masih berada di puncak Kim-Ma-San, Ong Lun beberapa kali turun gunung mencarikan segala keperluan muridnya, pakaian, sepatu dan lain-lain.
Maka sungguhpun Han Lian Hwa belum pernah turun gunung, ia berpakaian seperti orang lain, hanya pakaiannya serba ringkas dan sederhana.
Perhiasan satu-satunya ialah sebuah bunga Teratai terbuat daripada emas tertabur mutiara yang menghias di rambutnya yang hitam lebat, serta pedangnya yang bergagang emas berukiran Liong itu.
Di dalam sebuah kantung kuning yang tergantung di pinggangnya, ia membawa beberapa puluh potong emas pemberian gurunya, karena gurunya pernah bercerita bahwa di dunia ramai orang harus menggunakan emas-emas itu untuk menukar dengan makanan dan pakaian atau segala macam keperluan!
Karena belum mengenal jalan, Han Lian Hwa tersesat.
Dua hari berikutnya baru ia melihat sebuah kampung.
Timbul kegembiraannya ketika ia melihat orang-orang.
Ia memandang rumah-rumah kampung dengan penuh rasa heran dan kagum.
Ia seakan-akan merupakan burung yang baru saja belajar terbang dan pertama kali keluar dari sarangnya.
Ketika ia melalui sebuah kedai arak bau sedap menyerang hidungnya dan membuat perutnya terasa lapar.
Sungguhpun ia selalu tinggal di atas gunung dan terasing, tapi ia tidak asing terhadap arak, karena gurunya membuat arak sendiri dari buah-buahan di atas gunung.
Semenjak turun gunung, ia hanya makan buah-buahan di sepanjang hutan.
Perutnya kini terasa lapar sekali.
Dengan hati-hati ia memasuki kedai itu.
Warung itu penuh orang dan meja penuh dikelilingi tamu.
Tidak ada meja yang kosong.
Selagi ia berdiri bingung, tiba-tiba seorang tinggi besar bermuka hitam yang duduk minum arak seorang diri berbangkit dan menghampirinya.
"Siocia mencari tempat duduk? Marilah ke sini, tempatku masih kosong, kita minum berdua."
Han Lian Hwa yang selama ini hidup dengan gurunya berdua saja, tidak mengerti akan adat sopan santun dan ia asing pula akan kekurangajaran laki-laki terhadap wanita.
Tawaran itu diterimanya dengan senyum girang.
"Terima kasih tuan!"
Jawabnya dan ia ikut duduk.
"He, pelayan! Tambah lagi arak dan daging!"
Teriak si muka hitam dengan gembira karena ia merasa hari itu sangat mujur.
Jarang sekali terdapat kemujuran seperti itu, seorang siocia yang demikian cantiknya suka duduk bersamanya semeja.
Alangkah bahagianya!
Ia mengangkat dada dengan sombongnya sambil mengerling kepada orang-orang di situ yang semuanya melihat Lian Hwa dengan kagum dan heran.
Kagum karena jelitanya dan heran karena ia begitu menurut dan menerima ajakan Si muka hitam.
Tanpa ditanya Si muka hitam memperkenalkan diri.
"Aku bernama Peng Bouw, orang-orang menjuluki aku Ouw-bin-ma si Kuda Muka Hitam. Lian Hwa tertawa geli. Suara ketawanya bebas keras dan nyaring sehingga semua orang menengok dan makin heran memandangnya.
"Eh, nona, mengapa tertawa?"
Tanya Si muka hitam. Tapi Han Lian Hwa tidak menjawab dan tiba-tiba saja suara ketawanya berhenti ketika ia melihat bahwa semua mata ditujukan kepadanya.
"Mengapa semua orang memandangku?"
Tanyanya perlahan.
"Karena nona tertawa terlampau keras!"
Lian Hwa menjadi bingung dan tidak mengerti.
Sementara itu pelayan datang menambah arak, daging dan mi.
Si muka hitam menawarkan, tanpa seji (sungkan) lagi Lian Hwa mengerjakan mi dan daging ke dalam perutnya.
Arak itu baginya terlampau ringan sehingga ia menceguknya seperti orang minum air saja sampai si muka hitam melihatnya dengan mata lebar dan mulut ternganga.
Setelah makan kenyang, Lian Hwa menghela napas lega.
Dan si muka hitam yang terpaksa melayani nona itu minum banyak arak, mulai menjadi sinting dan bicaranya makin berani.
Tetapi Lian Hwa tidak mengerti maksud kata-katanya yang kurang ajar itu.
"Kenapa engkau tadi tertawa, nona?"
Tanya Peng Bouw.
"Tertawa? Tadi?"
Lian Hwa mengingat-ingat dan tiba-tiba saja ia tertawa lagi dengan nyaringnya sehingga lagi-lagi para tamu di situ menengok memandangnya.
"Aku tertawa karena namamu! Si Kuda Muka Hitam! Sungguh lucu!"
Peng Bouw merasa tersindir.
"Lucu? Apakah yang lucu?"
Han Lian Hwa menjawab dengan kata-kata.
"Namamu Si Kuda Muka Hitam. Memang mukamu lebih hitam daripada arang! Tapi mengapa namamu kuda? Mukamu tidak seperti kuda, Hidungmu terlalu kecil, Lehermu terlalu pendek, Bagiku engkau tak pantas disebut kuda, Lebih tepat disebut..."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Seperti apa? Coba teruskan..."
Teriak orang-orang yang mendengarkan dengan tertarik dan gembira. Han Lian Hwa memandang muka Peng Bouw dengan teliti dan si muka hitam juga mendesak.
"Coba katakan, aku pantas disebut apa?"
Katanya sambil membusungkan dada.
"Engkau lebih menyerupai... lutung!"
Terdengar suara riuh rendah orang tertawa. Ouw-bin-ma Peng Bouw timbul marahnya, tapi ia lebih marah kepada orang banyak yang mentertawainya.
"Diam kamu semua! Siapa berani mentertawai aku? Hayo bilang, siapa berani?"
Segera suara tertawa itu berhenti, tiba-tiba bagaikan jengkerik, terinjak.
Peng Bouw berdiri dan menendang sebuah meja di kanannya sehingga mangkok dan sumpit jatuh berhamburan menimbulkan suara gaduh.
"Hayo, siapa berani kepadaku?"
Seorang pelayan menghampirinya.
"Tidak ada yang berani, maafkanlah mereka itu, Peng Toaya!"
Ia menghibur, tapi dengan sekali sampok, pelayan itu jatuh tunggang langgang mengaduh-aduh.
"Hayoh, siapa berani?"
Peng Bouw menantang makin kalap.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang nyaring dari Han Lian Hwa.
Suara ketawanya demikian sewajarnya dan menggembirakan sehingga semua orang tak dapat menahan pula gelaknya dan kembali riuh rendah suara ketawa di kedai itu.
"Sungguh lucu! Alangkah lucunya, engkau ini lutung yang lucu tapi jahat. Mengapa engkau memukul orang?"
Lian Hwa menghampiri Peng Bouw yang kini marah sekali kepadanya karena dimaki lutung beberapa kali.
"Eh, nona, jangan engkau lanjutkan kurang ajarmu. Lama kelamaan tuanmu akan hilang sabar dari mencinta berbalik menjadi benci. Sayang kecantikanmu, kalau sampai kena tampar olehku!"
"Engkau? Mau menampar mukaku? Boleh, boleh. Ini tamparlah!"
Han Lian Hwa memberikan mukanya yang halus itu ke arah Peng Bouw. Si muka hitam terheran-heran dan semua orang berkuatir melihat Lian Hwa. Melihat keraguan Peng Bouw, Lian Hwa mengejek.
"Hayo tamparlah lutung hitam jahat. Apa engkau tidak berani?"
Tak tertahankan lagi kemarahan Peng Pouw.
Tangan kanannya menampar, tangan kirinya terulur hendak memeluk gadis cantik yang menghinanya itu.
Semua orang terkejut, mereka tahu akan kekuatan Peng Bouw yang hebat.
Kalau gadis itu kena tampar...
Tapi mereka kecele!
Dengan sedikit miringkan kepala, tangan Peng Bouw menampar angin dan tangan kirinya yang terulurpun dapat dikelit dengan mudahnya oleh gadis itu.
Sebelum Peng Bouw dapat pernahkan kedua kakinya, jari tangan kiri Lian Hwa telah bergerak menotok iganya bagian hou-cing-hiat.
Totokan itu cepat sekali dibarengi suara ketawanya yang nyaring.
Sungguhpun kulit Peng Bouw bagi orang lain sekeras batu, namun mana dapat menahan totokan jari tangan Lian Hwa yang biarpun tampaknya kecil mungil tapi telah terlatih hebat.
Seketika itu juga tubuh Peng Bouw yang tinggi besar itu seakan-akan berubah menjadi patung batu!
Tampaknya lucu sekali, karena kedua tangannya terjulur ke depan, yang sebelah memukul dan sebelah mencengkeram.
Tubuhnya kaku tak bergerak, hanya kedua biji matanya saja yang melotot ke kanan kiri dengan bingung!
Sekali lagi Lian Hwa tertawa, lakunya seperti anak kecil.
Ia mengambil mangkok bakmi besar dari atas meja dan memasang itu di atas kepala Peng Bouw seperti sebuah topi.
Dan untuk dapat mencapai kepala Peng Bouw, ia harus berdiri di atas kursi!
Semua orang terheran-heran melihat betapa gadis yang paling tinggi berusia limabelas tahun itu dapat mempermainkan si Kuda Muka Hitam yang terkenal jagoan.
Dan ketika melihat kelakuan gadis yang lucu itu mau tidak mau mereka tertawa riuh!
Tiba-tiba suara ketawa riuh rendah itu terhenti dan orang-orang yang berdiri di dekat pintu menjauhkan diri.
Han Lian Hwa menengok dan melihat serombongan orang laki-laki memasuki restoran, dikepalai oleh seorang setengah tua bertubuh kekar dan bercambang bauk menakutkan.
Orang ini memandang ke arah Lian Hwa sekilas, lalu mengerling ke arah Peng Bouw yang masih berdiri kaku.
"Hm, permainan anak kecil,"
Gerutunya dan dengan sekali tepuk punggung Peng Bouw, si Kuda Muka Hitam itu berjengit dan dapat bergerak kembali.
Tapi ia tidak berani banyak bertingkah hanya terus saja menghampiri orang itu sambil berkata minta dibela.
"Suhu, setan perempuan kecil ini telah menghinaku. Tolong balaskan suhu."
"Mundur kau yang tak berguna, masakan dengan kanak-kanak seperti itu kau sampai dapat dipermainkan?"
Kemudian ia maju menghampiri Han Lian Hwa yang memandang semua itu dengan tenang dan senyum di bibir. (Lanjut ke
Jilid 02) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 02
"Nona, engkau sungguh lihai. Berilah kesempatan padaku untuk merasai kelihaianmu,"
Katanya menjura dibuat-buat sambil mulutnya yang tebal menyeringai penuh ejekan.
Sebelum orang itu berkata-kata kepadanya, Lian Hwa telah mendengar dari seorang tamu yang duduk dengan kawannya tak jauh dari tempatnya bahwa orang ini adalah guru Peng Bouw yang bernama Ma In Liang si Pagoda Besi yang lihai sekali ilmu toyanya.
Gadis itu balas menjura dan menjawab.
"Siapa yang menjual kelihaian di sini? Adalah muridmu si lutung itu yang kurang ajar dan sembarangan memukul orang."
Si Pagoda Besi salah mengartikan jawaban gadis itu yang disangkanya takut kepadanya dan kini membela diri menyalahkan muridnya. Maka hatinya jadi besar dan kesombongannya timbul.
"Nona, engkau cantik dan lihai, pantas betul menjadi muridku. Kalau engkau suka menjadi muridku untuk sedikitnya sebulan, mau aku habiskan perkara ini sampai di sini saja karena engkau akan terhitung orang sendiri! Tapi kalau kau tidak mau, terpaksa kau harus layani aku beberapa jurus."
Lian Hwa masih bersenyum, tapi kedua pipinya yang berwarna merah muda itu kini menjadi merah gelap.
Sungguhpun ia masih bodoh dan seperti kanak-kanak, namun ia dapat menangkap sindiran-sindiran yang terkandung dalam ucapan Ma In Liang.
Mana ada orang harus menjadi murid hanya untuk sebulan?
Tapi biarpun demikian ia sama sekali tidak dapat menangkap maksud sindiran orang she Ma itu yang lebih kurang ajar, kekurangajaran seorang hidung belang dan bandot tua.
Maka ia berkata dengan suara manis.
"Lo-Enghiong (orang-tua gagah), sungguh aku harus berterima kasih bahwa kau orang-tua hendak menerimaku menjadi murid. Tapi sudah sepatutnya guru harus berkepandaian lebih tinggi daripada muridnya, bukan? Nah, silakan Lo-Enghiong mengeluarkan sedikit kepunsuanmu agar kulihat, jika ternyata memang benar kepandaianmu jauh lebih tinggi dari padaku, dengan suka hati aku akan tunduk menjadi muridmu!"
Kata-kata ini biarpun sifatnya halus, namun di dalamnya mengandung tantangan, dan semua orang yang kini makin banyak berkumpul di situ makin heran melihat keberanian dan kelincahan kata-kata gadis cilik itu.
"Ha, ha! Engkau pintar, nona. Memang benar engkau harus membuktikan dulu kebisaanku. Nah, marilah kita keluar dan tontonlah pertunjukanku!"
Ia bertindak keluar dengan langkah lebar, dan dadanya terangkat sombong.
Han Lian Hwa mengikutinya sambil bersenyum-senyum dan di belakangnya mengikuti pula serombongan orang dengan hati tertarik.
Pekarangan depan kedai arak itu cukup lebar.
Tanpa membuang waktu lagi si Pagoda Besi Ma In Liang menjemput toyanya dari tangan muridnya.
Karena kesombongannya ia tidak memberi hormat kepada para penonton lebih dulu sebagaimana kebiasaan seorang ahli silat hendak mendemonstrasikan kepandaiannya dan dengan teriakan.
"Lihatlah toya!"
Ia segera bersilat dengan perlahan.
Ujung toyanya ketika ia pukulkan menggetar-getar menjadi beberapa puluh agaknya, ini menyatakan betapa besar tenaganya.
Semua penonton kagum dan mereka dengan sendirinya mundur selangkah ketika si Pagoda Besi bersilat dalam ilmu toya Jeng-liong-hian-jiauw atau Ribuan Naga Mengulur Kuku, satu cabang dari Siauw-lim-si yang telah dirobah.
Toyanya berputar-putar menjadi laksana kitiran atau ribuan naga yang menyambar-nyambar dan mengeluarkan suara mengaung-ngaung.
Tiba-tiba si Pagoda Besi berseru keras dan tahu-tahu toyanya telah dilontarkan ke udara setinggi hampir tiga tombak dan sebelum toya itu meluncur kembali ke bawah mengenai tanah ia telah menyambutnya dengan tangan dan menancapkan di atas tanah sampai masuk sepertiga lebih.
Ma In Liang menepuk-nepuk debu dari telapak tangannya sambil memandang sekeliling dengan congkaknya, kemudian ia menghadapi Han Lian Hwa sambil berkata.
"Bagaimana, nona manis? Apakah kau puas dengan ilmu toyaku?"
Lian Hwa tiba-tiba tertawa nyaring membuat penonton merasa heran dan tidak mengerti.
Mereka yang seakan-akan tidak berani bernapas keras-keras melihat kehebatan si Pagoda Besi tak habis mengerti mengapa gadis tanggung itu berani tertawa seakan-akan tidak mengindahkan sama sekali.
"Memang cukup menakutkan,"
Berkata gadis itu.
"Tapi lontaranmu kurang tinggi dan tancapanmu kurang dalam!"
Sebelum Ma In Liang dan para penonton mengerti apa yang dimaksudkannya, Han Lian Hwa telah menghampiri toya yang tertancap di atas tanah itu dan mengulurkan tangan kirinya yang berjari mungil.
Dengan dua jari ia memegang ujung toya lalu mencabutnya dengan mudah sekali, kemudian ia melontarkan toya itu ke atas!
Orang-orang bengong melihat toya itu meluncur ke atas bagaikan anak panah setinggi tak kurang dari lima tombak, turunnya disambut dengan dua jari pula dan terus ditancapkan ke atas tanah sampai masuk lebih separohnya.
Tentu saja hal ini merupakan keajaiban bagi para penonton, yang segera bersorak dan bertepuk tangan dengan ramainya.
Ma In Liang si Pagoda Besi terkejut dan heran, ia hampir tak percaya kepada mata sendiri.
Bagaimana gadis halus lembut itu dapat mempunyai tenaga demikian besarnya?
Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis itu telah memiliki kekuatan dalam yang luar biasa, dan mana bisa tenaganya yang hanya mengandalkan gwakang (tenaga luar/kasar) dapat menandingi kekuatan seorang ahli lweekeh?
Namun ternyata si Pagoda Besi tak mengenal keadaan.
Ia menjadi malu berbareng gusar, lebih-lebih ketika mendengar Lian Hwa berkata dengan tersenyum.
"Lo-Enghiong memang lihai. Suhuku dulu mempunyai seekor kera putih yang kekuatannya barang kali seimbang denganmu. Sungguh membuat aku kagum!"
Kata-kata ejekan ini memerahkan telinga Ma In Liang yang tanpa banyak cakap lagi segera membetot keluar toyanya dengan sekuat tenaga, lalu dengan teriakan.
"Bocah hina, rasakan toyaku!"
Ia menyerang ke arah dada Lian Hwa dengan tusukan hebat, Lian Hwa kenal tipu ini ialah Hek-houw-to-sim atau Macan Hitam Menyambar Hati, tapi ia berdiri saja dengan tenangnya sehingga semua penonton menahan napas bahkan ada beberapa orang meramkan mata karena tak tahan melihat dada gadis cantik itu akan tertembus toya besi.
Ketika ujung toya telah berada kira-kira satu dim saja dari baju Lian Hwa, gadis itu miringkan tubuh dan membuka lengan kirinya sehingga toya menyeplos di bawah lengannya.
Secepat kilat ia turunkan lengan mengempit ujung toya.
Ma In Liang membetot kembali toyanya dengan sepenuh tenaga, tapi ternyata toyanya seakan-akan telah berakar di dalam kempitan gadis itu.
Selagi ia kebingungan Lian Hwa melangkah maju dan tangan kirinya menyambar iganya dengan totokan berbahaya.
Ia kenal totokan ini dan tahu bahwa jalan darah cing-co-hiat sedang diarah oleh musuh, maka ia menjadi terkejut dan segera melepaskan toyanya dan menangkis tangan gadis itu.
Tapi sungguh tak terduga gadis itu ilmu silatnya sangat aneh dan gerakannya gesit membingungkan.
Lian Hwa tadi hanya berpura-pura saja, dan pada saat lawannya menangkis dan memusatkan perhatiannya kepada serangan tangannya, ia tarik kembali tangan kirinya dan kaki kanannya melayang, ujungnya menotol sambungan lutut si Pagoda Besi.
Lucu tampaknya tetapi nyata bagaimana tubuh tinggi besar itu sama sekali tidak dapat menahan ujung kaki kecil mungil itu.
Dengan menggeram kesakitan si Pagoda Besi terpaksa bertekuk lutut dan jatuh di hadapan Lian Hwa.
Kembali terdengar suara ketawa nyaring dan merdu.
"Ah Lo-Enghiong, sungguh aku tak berani menerima pemberian hormatmu. Engkau mengapa berlutut padaku? Jangan bikin orang bingung Lo-Enghiong, kini aku sungguh tidak mengerti bagaimana maksudmu, mau mengambil murid padaku atau mengangkat guru?"
Semua orang tertawa puas.
Nah, Pagoda Besi kini bertemu batunya, pikir mereka.
Memang penduduk kampung itu benci kepada Ma In Liang yang selalu membantu murid-muridnya yang jahat, lebih-lebih si Peng Bouw yang terkenal suka bertindak sewenang-wenang.
Ma In Liang merayap bangun.
Masih untung baginya tendangan Lian Hwa tidak diarahkan di sambungan lututnya benar, kalau demikian halnya tentu sambungan itu akan terlepas dan ia menjadi cacad.
Sekarang ia hanya merasakan tulang keringnya linu dan sakit-sakit.
Saking malunya, ia menjadi nekad.
Ia lebih suka mati daripada menanggung rasa malu, karena seorang jagoan yang telah membuat nama di kalangan kang-ouw kini dijatuhkan oleh seorang gadis kecil tak ternama secara demikian mudah dan memalukan!
Dengan sekali menggereng matanya menjadi merah, cambang bauknya seakan-akan berdiri, ia memungut toyanya dan menyerang pula dengan nekat.
Lian Hwa hanya tertawa nyaring dan berkelit dengan lincahnya.
Sengaja ia tidak mau menyerang, tapi hendak mempermainkan orang nekat itu.
Ia meloncat ke sana ke mari sehingga Ma In Liang merasa seakan-akan gadis itu menjadi beberapa orang yang mengepungnya dari depan, belakang kanan dan kiri.
Peng Bouw melihat suhunya dipermainkan orang seperti itu menjadi marah dan berteriak.
"He kawan-kawan, mau tunggu kapan lagi?"
Ia mencabut goloknya dan segera diikutinya oleh tujuh orang kawan-kawannya, semuanya murid si Pagoda Besi yang bekerja menjadi tukang-tukang pukul chungcu (kepala kampung) di kampung itu.
Melihat keroyokan itu, semua penonton mundur ketakutan dan hanya yang berhati tabah saja masih berani menonton dari tempat yang agak jauh.
Timbul kemarahan dalam hati Han Lian Hwa melihat tingkah para orang kasar yang mengeroyoknya, namun ia masih tetap bersenyum dan bahkan kini tertawa bergelak dengan nyaring.
"Ha, manusia tak tahu malu!"
Bentaknya sambil berkelit dari sambaran golok Peng Bouw.
"Sembilan orang laki-laki tinggi besar mengeroyok seorang anak perempuan kecil. Tak takutkah ditertawakan orang?"
"Jangan pentang bacot!"
Menjawab si Pagoda Besi menutup malunya dan pura-pura tidak melihat murid-muridnya yang datang membantunya.
"Baiklah, kalian cari penyakit sendiri!"
Berseru Lian Hwa dan seketika itu juga sembilan orang tukang pukul itu menjadi bingung karena tiba-tiba saja gadis yang mereka keroyok melesat dan tak tampak di depan mereka.
Tiba-tiba terdengar angin menyambar dari belakang dan seorang daripada mereka menjerit rubuh.
Mereka segera memutar tubuh dan melihat betapa gadis itu berloncat ke sana ke mari, menyambar-nyambar seperti seekor burung.
Sekali tangan atau kakinya bergerak, pasti seorang musuhnya jatuh terguling.
Kini tinggal Peng Bouw dan Ma In Liang saja yang masih melawannya.
Pada suatu saat Peng Bouw menyabetkan goloknya ke arah leher dengan tipu Oei-liong-coan-sin atau Naga Kuning Memutar Tubuh, goloknya terputar dari kanan ke kiri mengarah leher Lian Hwa.
Di saat itu juga toya besi Ma In Liang datang menyambar kakinya.
Karena gerakan Ma In Liang jauh lebih sebat dari muridnya, maka toya itu datang lebih dulu.
Lian Hwa meloncat ke atas dan sebelum golok Peng Bouw mendekati tubuhnya, di udara kakinya bergerak ke arah pergelangan tangan si Kuda Muka Hitam.
Karena marah dan gemas kepada si Muka Hitam itu ia mengerahkan tenaganya ke kaki, maka mana Peng Bouw dapat menahan tendangan yang lihai itu?
Ia berteriak keras, goloknya terpental jauh dan tangan kanannya menjadi teklok.
Ternyata tulang pergelangannya patah.
Ia mengaduh-aduh sambil mundur.
Kini tinggal si guru yang melawan nona itu.
Keringat panas dingin telah mengucur.
Matanya berkunang-kunang.
Tapi ia tak dapat lari dan menjadi nekat.
Toyanya menyambar pula, kini mengarah pinggang Lian Hwa.
Kembali gadis itu meloncat tinggi, tapi toya si Pagoda Besi mengejarnya dan menghantam kakinya.
Gadis itu sungguh sudah tinggi sekali kepandaiannya.
Ia gesit, ringan dan berani.
Di udara ia melihat datangnya ujung toya dengan sengaja ia memapakinya dengan tapak kakinya.
Begitu kakinya menotol ujung toya, tubuhnya mumbul lagi ke atas dan ia berpoksai (berjumpalitan) di atas, sehingga kini kepalanya di bawah kakinya di atas melayang turun.
Tangan kanannya bergerak ke arah pundak lawannya dengan cepat dan kuat.
Terdengar bunyi "Krek"
Dan si Pagoda Besi menjerit kesakitan, toyanya terlepas dari pegangan dan ia roboh pingsan.
Sambungan tulang pundaknya putus dan remuk.
Lian Hwa sengaja memberi hajaran hebat dan semenjak itu si orang she Ma Menjadi seorang yang tak berguna dan cacad seumur hidup, tak mungkin lagi ia menggunakan kepandaian silatnya untuk menindas orang lain yang lebih lemah.
Melihat sembilan tukang-tukang pukul itu menggeletak malang melintang mengaduh-aduh tak berdaya dan gadis itu berdiri tersenyum-senyum sambil mengebut-ngebut pakaiannya yang terkena debu, orang-orang tadi tidak berani datang mendekati lagi sambil memandang penuh kekaguman dan keheranan.
Tapi berbareng mereka kuatir akan nasib gadis itu.
Seorang-tua menghampiri Lian Hwa dan berkata.
"Li-Enghiong sungguh hebat. Tapi aku kuatir akan keselamatanmu. Ketahuilah, nona, orang-orang ini adalah begundal-begundal chungcu di sini dan jika ia tahu akan hal ini, sebentar lagi pasti datang membawa opas-opasnya untuk me-nangkapmu. Dan nona tak mungkin melawan pembesar negeri. Maka sebelum terlambat larilah nona!"
Han Lian Hwa berterima kasih atas nasihat itu. Ia tersenyum manis dan memberi hormat.
"Terima kasih, lopek (paman) aku tidak mau bersikap pengecut, berani berbuat tak berani bertanggung jawab. Dan aku tidak sudi menjadi orang buronan. Tolong tunjukkan padaku, di mana gedung kepala kampung di sini?"
Orang-orang tak mengerti apa kehendak nona itu, namun mereka segera menunjukkan tempat tinggal Lie chungcu (kepala kampung Lie) yang letaknya tak jauh dari tempat itu.
Dengan tindakan tetap dan ringan Han Lian Hwa menuju ke gedung kepala kampung.
Sebagaimana kebanyakan pembesar-pembesar dan pegawai-pegawai negeri besar kecil di masa itu, tiap-tiap kepala kampung merupakan seorang raja kecil di dalam kampungnya.
Lie chungcu pun tidak terkecuali.
Ia mengumpulkan harta dengan memeras rakyatnya dan untuk dapat menguasai rakyat kampungnya, di samping opas-opas yang membelanya, ia mengumpulkan pula Ma In Liang dan murid-muridnya untuk dijadikan tukang-tukang pukul agar orang-orang kampung dapat ditaklukkan benar-benar.
Pada hari itu, kepala kampung Lie karena sedang menganggur tengah mengobrol dengan bininya di sebuah taman di belakang rumahnya yang dipeliharanya baik-baik.
Pada waktu itu musim semi telah lama lewat sehingga kebun bunganya penuh kembang-kembang beraneka warna.
Kepala kampung Lie adalah seorang yang pernah bersekolah dan suka akan membuat syair.
Ketika itu ia sedang bergembira, sambil memandang kembang-kembang yang cantik dan, minum arak wangi yang disajikan oleh isterinya yang muda dan cantik, ia mencoret-coret di atas kipas bininya itu.
"Lihatlah, syairku kali ini di atas kipasmu bagus benar,"
Katanya dan kemudian ia membacakan syair itu dengan suara bangga.
"Musim Cun (semi) datang dan pergi pula, Meninggalkan keindahan di taman bunga kita Hidupku bahagia bagaikan bunga-bunga, Panjang usia isteri jelita, Banyak turunan, banyak harta! Hidup sekali sebaik ini, masih mau mencari apa lagi?"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring merdu menyambung syair itu.
"Tapi itu semua tiada gunanya. Tanpa perbuatan baik, engkau akan masuk neraka!"
Kepala kampung Lie terkejut dan marah, ia segera menengok, begitupun bininya.
Dengan heran mereka melihat seorang gadis berpakaian sederhana warna merah dadu sedang berjalan menghampiri mereka.
Entah dari mana datangnya gadis itu, dan entah dengan cara bagaimana ia dapat memasuki taman yang berpagar tinggi dan terjaga opas itu!
"He, siapa kau?"
Tegur Lie chungcu. Han Lian Hwa menjawab tajam.
"Seorang rakyat yang tidak suka ketidakadilan terjadi di kampungmu!"
"Apa maksudmu, anak kurang ajar?"
Bentak kepala kampung Lie.
"Chungcu, engkau kebetulan sekali menjadi kepala kampung ini. Tapi ternyata engkau telah berlaku sewenang-wenang menindas rakyat, memelihara bajingan-bajingan untuk menggencet orang-orang kampung, sedangkan engkau sendiri hidup mewah bersenang-senang. Di mana perikemanusiaanmu? Ketahuilah, orang-orangmu kini telah kuhajar semua, menggeletak tak berdaya di depan kedai arak. Jangan bergerak!"
Bentaknya ketika melihat kepala kampung Lie membuka mulut hendak memanggil opas-opasnya.
Lian Hwa dengan sekali loncat telah berada di depan kepala kampung itu sambil mengayun kedua kepalan tangannya.
Ia pentang jari-jari tangan kiri dan dengan sekali totok saja meja di depan kepala kampung Lie tampak berlobang lima bagaikan kertas dicoblos dengan jarum saja!
Kepala kampung itu terkejut, tubuhnya menggigil, isterinya segera berlutut.
"Nah, lihat. Kalau engkau banyak bertingkah, kepalamu akan kujadikan bulan-bulan jariku. Coba hendak kulihat, apakah kepalamu lebih keras daripada kayu meja ini,"
Katanya mengancam.
"Ampun, Lihiap,"
Kata Lie chungcu dengan suara merintih cemas.
"Apakah kehendak Lihiap datang ke sini? Kalau nona menghendaki uang, akan segera kusediakan!"
"Ngaco! Siapa menghendaki uangmu yang berlumuran darah dan keringat rakyat kampung? Aku tak lain hanya menghendaki jiwa anjingmu!"
"Ampun, nona, ampun..."
Dan isterinya ikut memohon ampun.
"Baik, kali ini kuampunkan. Tapi engkau harus menurut petunjukku. Kesembilan begundalmu yang kini malang melintang tak berdaya di pekarangan kedai arak itu harus kau tuntut semua dengan alasan menyiksa rakyat kampung. Awas, mereka harus dimasukkan penjara dan perkaranya diajukan kepada tihu yang berwajib. Dan engkau harus merobah kelakuanmu. Jangan memeras rakyatmu, harus kauingat bahwa engkau bisa menjadi kepala kampung karena di kampung ini ada rakyatnya. Kalau mereka itu tidak ada, engkau akan menjadi apa? Taman inipun harus dijadikan taman umum agar tiap penduduk dapat menikmati. Jangan mau hidup sendiri saja, mengerti!"
Kepala kampung Lie mengangguk-anggukkan kepalanya seperti burung makan gabah sambil mulutnya berkata.
"Baik... baik, li-Enghiong..."
"Nah, sekarang juga aku pergi. Tapi aku tak pergi jauh dan jika semua itu tidak kau laksanakan..."
Secepat kilat tangannya mencabut pedang, sinar pedang berkilau-kilau dan terdengar bunyi "sing!"
Pedang berkelebat dan tahu-tahu kopiah kepala kampung itu terlepas sepotong berikut rambut di dalamnya.
"Nah, kalau engkau tidak taat, aku akan datang lagi, tapi babatan pedangku akan kuarahkan lebih ke bawah, tepat di batang lehermu!"
Kemudian gadis yang memakai teratai merah di rambutnya itu berkelebat dan lenyap dari depan mereka!
Kepala kampung Lie dengan gugup dan bingung segera berteriak-teriak memanggil opasnya.
Mereka ini datang berserabutan seperti semut bau gula.
"He, apa kerja kalian? Goblok, bodoh! Lekas, lekas tangkapi orang-orang gila itu!"
"Orang gila yang mana, loya?"
Bertanya kepala opas.
"Bodoh! Itu Ma In Liang dan murid-muridnya. Tangkap mereka masukkan dalam tahanan."
"Tapi... tapi..."
"Tapi apa! Hayo lekas, mereka itu berani menghina dan menyiksa rakyatku! Tangkap mereka. Dan malam ini adakan pesta di taman ini, undang semua saudara kampung untuk menyaksikan. Lekas!"
"Baik, baik!"
Opas-opas itu bersebaran ribut untuk melaksanakan perintah yang aneh dan tidak seperti biasanya itu.
Sementara itu Han Lian Hwa kembali ke kedai arak dan menghibur para penduduk kampung bahwa kali ini kepala kampung Lie pasti akan merobah sikapnya terhadap mereka!
Kemudian ia menanyakan di mana letak bukit Bok-lun-san, karena ia bermaksud hendak mencari suhengnya, yaitu Hwat Khong Hwesio di kelenteng Ban-hok-thong.
Seorang pedagang keliling memberitahukan bahwa bukit itu terpisah ratusan lie jauhnya dari situ.
"Kalau Lihiap berjalan kaki, paling sedikit setengah bulan baru akan sampai ke sana. Kalau berkuda tentu lebih cepat, barang kali empat hari,"
Orang itu menerangkan.
Han Lian Hwa berpikir bahwa dengan menggunakan ilmu berlari cepat, ia pasti akan dapat sampai di sana lebih lekas lagi.
Tapi ia tak perlu tergesa-gesa, karena ia masih ingin melihat-lihat dunia yang baru saja dimasukinya itu.
Ketika orang-orang menanyakan namanya, ia hanya tersenyum dan menjura, kemudian sekali berkelebat lenyap dari pandangan mata.
Semua orang mengulurkan lidah keheranan dan karena gadis kosen itu memakai bunga tertabur mutiara berwarna merah di rambutnya maka semua orang kampung itu menyebutnya "Ang Lian Lihiap"
Atau Pendekar Wanita si Teratai Merah.
Pada suatu senja, Han Lian Hwa memasuki desa Liok-kee-cung yang terkenal ramai.
Kampung ini agak lebih besar dari kampung-kampung yang berdekatan, karena di situ banyak menghasilkan ikan yang didapat dari Sungai Cin-leng-kiang, sebuah cabang dari Sungai Huang-ho yang terkenal.
Di situ banyak toko-toko dan warung-warung arak, banyak pula toko-toko obat dengan mereknya yang besar-besar.
Han Lian Hwa berhenti di depan sebuah hotel "Bin Lok"
Dan segera disambut oleh seorang pelayan tua yang ramah tamah.
"Silakan masuk, siocia. Apakah siocia membutuhkan penginapan?"
Han Lian Hwa tersenyum mengangguk membenarkan.
"Kebetulan sekali, nona. Masih ada sebuah kamar yang kosong di belakang. Kamar-kamar lain semua penuh, karena datang rombongan piauw-su (pengantar barang berharga) dari piauw-kiok (semacam ekspedisi) Ular Kuning."
Dengan diantar oleh pelayan itu Han Lian Hwa memasuki ruangan hotel.
Di tengah-tengah ruangan yang lebar dilihatnya beberapa orang laki-laki berpakaian tukang-tukang piauw duduk mengitari meja bundar.
Di atas meja tertancap sebuah bendera kecil bergambarkan ular kuning.
Mereka adalah para piauwsu dari Oei-coa Piauw-kiok (Ekspedisi Ular Kuning).
Di kepala meja duduk seorang-tua tinggi kurus berambut putih.
Mereka rata-rata nampak susah dan penasaran.
Ketika Lian Hwa lewat, mereka menunda pembicaraan mereka dan mengerling ke arah gadis itu dengan tajam dan curiga.
Lian Hwa tidak memperdulikannya tapi langsung mengikuti pelayan menuju ke kamarnya di ruang belakang.
Setelah mendapatkan kamarnya dan pelayan itu hendak pergi, ia menahannya.
"Eh, tunggu dulu! Apakah orang-orang tadi para piauwsu dari Oei-coa Piauw-kiok?"
Tanyanya sembarangan.
"Ya, nona. Itu yang tua adalah Oei-coa Ong Mo Lin si Ular Kuning sendiri."
"Mereka agaknya susah, kenapakah?"
Pelayan itu memandang gadis kita dengan tajam dan mengerling sarung pedang Sian-kong-kiam yang tergantung di pinggangnya, lalu berkata.
"Hm, nona lihai juga dengan sekilas dapat tahu bahwa mereka sedang susah."
"Ah, jangan menduga yang tidak-tidak. Aku hanya mengira-ngira saja."
"Begini, nona. Seminggu yang lalu empat orang piauwsu dari Oei-coa Piauw-kiok lewat sini mengantar barang-barang berharga puluhan ribu tail. Tapi mereka sial, karena di Gunung Kong-lun-san tak jauh dari sini mereka berjumpa dengan perampok dan barang-barangnya dirampas. Keempat piauwsu terluka dalam pertempuran. Maka kini piauw-thouwnya (Kepala Piauw) sendiri yaitu Oei-coa Ong Mo Lin datang bersama murid-muridnya untuk merampas barang itu kembali."
Han Lian Hwa mengangguk-angguk dan berkata perlahan.
"Tidak tahu ada urusan besar itu."
Ia lalu memasuki kamar dan menutup pintunya.
Pada malam harinya ketika ia keluar hendak menyuruh pelayan membeli makanan.
Ia lihat para piauwsu itu masih saja berunding di sekitar meja bundar.
Tiba-tiba ia mendengar si Ular Kuning menggebrak meja sambil berseru.
"Bangsat benar si Ouw-hong-cu (si Tawon Hitam) itu!"
Lian Hwa mengerling dan melihat betapa cangkir-cangkir dan lilin di atas meja itu mencelat satu kaki lebih dari atas meja dan keempat kaki meja amblas kira-kira satu dim.
Ternyata dalam murkanya kepala piauw itu telah menggunakan tenaganya yang hebat juga.
Keesokan harinya, rombongan piauwsu yang terdiri dari tujuh orang itu berangkat.
Dengan diam-diam Han Lian Hwa mengikuti mereka setelah membayar uang sewa penginapannya.
Rombongan itu menuju ke sebuah bukit yang penuh hutan.
Tiba-tiba terdengar ngaung anak panah disusul dengan menyambarnya sebatang anak panah yang menancap di batang pohon depan mereka.
Ong Mo Lin si Ular Kuning memandang sekeliling lalu berteriak.
"He, bangsat Ouw-hong-cu! Jangan berlaku pengecut dan seperti anak kecil. Keluarlah mengadu kepandaian!"
Tantangan itu disambut oleh suara tertawa bergelak-gelak dan dari belakang gerombolan pohon meloncat keluar tiga orang.
Yang dua bertubuh tinggi besar tapi yang seorang lagi kecil pendek.
Si kecil pendek itu adalah Ouw-hong-cu sendiri.
Pakaiannya serba hitam dan di pinggangnya tergantung ruyung hitam.
Sungguhpun bentuk badannya kecil namun suaranya besar nyaring ketika ia tertawa dan berkata.
"Aha, Oei-coa Ong Mo Lin si Ular Kuning sendiri datang ke sini. Kebetulan. Sudah lama aku mendengar namamu yang besar dan sekarang ada kesempatan bagiku untuk membuktikan kebenaran berita itu."
"Hm, hm, Ouw-hong-cu! Engkau sungguh tidak memandang mata padaku. Begitukah lakunya seorang gagah dari liok-lim? Kalau engkau hendak menjajal, bilang saja terus terang. Jangan kau rendahkan diri dengan mengganggu piauwsuku."
"Siapa yang mau bersusah payah menjajalmu? Ini adalah daerahku dan semua yang lewat di sini harus membayar padaku. Soal barang-barangmu sudah kuambil, kalau kau ada kepandaian ambillah kembali!"
"Bagus, orang she Bu. Marilah kita coba-coba mengadu tenaga, jangan banyak cakap seperti perempuan!"
Ouw-hong-cu Bu Kiat kembali tertawa besar.
"Aha, engkau gagah sekali. Barangkali engkau bertujuh hendak melawan kami bertiga? Keroyokan atau satu satu?"
"Aku bukan seorang pengecut. Tak perlu keroyokan untuk melawan orang seperti engkau ini,"
Jawab si Ular Kuning dengan marah dan mencabut keluar senjatanya yang istimewa, ialah Oei-coa-to, atau Golok Ular Kuning yang beratnya seratus kati.
Tapi pada saat itu seorang muridnya yang paling pandai, ialah Khong Sin yang sering mewakili gurunya mengajar lain-lain murid.
Khong Sin terkenal pandai memainkan siang-kiam (sepasang pedang), maju menahan suhunya dan berkata.
"Suhu, biarkan teecu (murid) menghajar orang tidak tahu adat ini."
Di lain pihak, seorang kawan si Tawon Hitam yang bernama Poan Sit meloncat maju.
"Mana kau ada harga buat bertanding dengan Bu-toako (Kakak Bu)?"
Bentaknya sambil mencabut golok.
"Aku tuanmu Poan Sit cukup untuk menyambut kedua pedangmu. Hayo maju!"
Khong Sin tidak seeji-seeji (sungkan-sungkan lagi) sepasang pedangnya menyerang dengan tipu Ouw-liong-poan-cu atau Naga Hitam Melilit Tiang.
Kedua pedangnya berputar cepat dan menyambar ke arah leher dan perut musuh.
Si orang she Poan berseru.
"Bagus!"
Lalu menggerakkan goloknya sekaligus menangkis kedua pedang itu.
Karena tenaganya lebih besar, maka kedua pedang Khong Sin terpental.
Ia segera balas menyerang dengan sengit menggunakan tipu Pek-wan-hian-ko atau Lutung Putih Persembahkan Buah.
Goloknya menyambar dada lawan tapi dapat ditangkis oleh pedang Khong Sin.
Poan Sit maju selangkah mengayun kaki menendang perut lawan yang dapat dikelit dengan baik oleh lawannya.
Mereka serang menyerang dengan hebat, saling menggunakan tipu yang mematikan.
Setelah serang-menyerang lima puluh jurus lebih ternyata Khong Sin kalah ulet dan kalah tenaga.
Kedua pedangnya terkurung dan sebentar-sebentar terpental.
Gurunya mulai kuatir, dan ketika Ong Mo Lin hendak menyuruh muridnya itu mundur, golok lawan telah menyambar dengan tepat mengenai pundak Khong Sin yang segera roboh mandi darah.
Untungnya ia masih dapat berkelit sehingga pundaknya hanya terpapas kulitnya saja oleh ujung golok.
Kawan-kawan nya segera menolongnya.
"Ha, ha. Tak berapa hebat kepandaianmu,"
Poan Sit mengejek.
Dari pihak piauwsu hanya ada dua orang lagi yang kepandaiannya melebihi Khong Sin, ialah si Ular Kuning sendiri dan puteranya yang bernama Ong Bu yang kepandaiannya memainkan toya cukup lihai.
Sebelum ayahnya maju, Ong Bu sudah meloncat ke depan dan tanpa berkata-kata lagi segera menyerang Poan Sit dengan tipu loncat In-liong-san-hian atau Naga Awan Perlihatkan Diri.
Poan Sit mengangkat goloknya menangkis dan balas menyerang.
Setelah bergebrak sepuluh jurus lebih, Ong Bu merobah caranya bersilat.
Toyanya menyambar-nyambar dengan hebatnya.
Ini adalah kepandaiannya simpanan yang pernah dipelajarinya dari seorang tosu (imam) perantau.
Segera Poan Sit terdesak hebat dan buru-buru meloncat mundur dari kalangan pertempuran.
"He, pengecut! Belum juga terluka sudah mundur."
Kawan Poan Sit yang bergelar Pek-houw si Macan Putih menggantikan kawannya menghadapi Ong Bu, tapi Ong Mo Lin segera memerintah puteranya mundur.
Ia sendiri maju sambil melintangkan golok menyambut Pek-houw yang bersenjatakan pian baja (senjata rantai).
Ilmu goloknya si Ular Kuning sungguh hebat.
Bergebrak belum dua puluh jurus saja Macan Putih telah kewalahan, senjatanya hanya dapat menangkis saja dan pada jurus kedua puluh empat, terdengar suara Ong Mo Lin.
"Pergi kau!"
Dan kakinya cepat menendang lawannya.
Musuhnya terpental dua tombak dan jatuh pingsan.
Bu Kiat si Tawon Hitam menjadi marah dan berteriak keras sambil mencabut ruyungnya yang berwarna hitam.
Tanpa banyak cakap ia menyerang dengan tipu Siok-lui-kik-ting atau Petir Menyambar ke Atas Kepala.
Serangan cepat dan bertenaga sehingga menerbitkan angin dan bersuara mengaung.
Ong Mo Lin tak kalah gesit, goloknya terputar-putar sehingga golok dan ruyung saling terjang merupakan dua naga putih dan hitam saling serang.
Ilmu silat Ong Mo Lin yang disebut Oei-coa-to-hoat atau ilmu golok dari partai Go-bie.
Ilmu ini lihai sekali, gerakannya sukar diduga, bagaikan seekor ular yang melenggok-lenggok ke kiri ke kanan sehingga sukar dijaga dari arah mana golok itu akan menyerang.
Sungguhpun ruyung si Tawon Hitam pun sangat lihai dan ruyung itu sudah menjagoi selama sepuluh tahun lebih di daerahnya, namun ternyata melawan si Ular Kuning ia masih kalah setingkat.
Pada suatu ketika golok Ong Mo Lin menyambar.
Bu Kiat menangkis dengan ruyungnya.
Mereka keduanya menggunakan seluruh tenaga sehingga kedua senjata itu seakan-akan menempel.
Tak seorangpun di antara mereka berani mencabut sembarangan saja karena yang melepaskan senjata dari tempelan itu lebih dulu berarti sudah kehilangan satu ketika, dan musuhnya dapat menyerang lebih dulu.
Hal ini berbahaya dan diketahui baik oleh kedua pihak.
Tiba-tiba dari samping kiri menyambar dua sinar putih dibarengi bentakan "Lepas!"
Dan dua sinar itu menyambar ke arah ruyung dan golok.
Kedua jago yang tengah mengadu kekuatan itu merasa tangan masing-masing kesemutan dan senjata mereka terdorong oleh tenaga luar biasa sehingga hampir saja terlepas dari pegangan masing-masing.
Kedua-duanya segera meloncat mundur dengan heran.
Ternyata dua sinar putih itu adalah dua buah pelor perak yang dilepas oleh seorang tosu (pendeta) tua.
Sungguhpun ia berpakaian secara pendeta, namun pakaiannya mentereng dan di dadanya terhias bunga Bwee perak bertaburan batu kemala berkilau-kilauan.
Melihat bunga Bwee itu semua orang dengan kaget mengenal bahwa yang datang itu adalah Gin-bwee-hwa Pauw Hiap Tojin, seorang tosu yang terkenal jahat dan tamak akan harta benda dan paras cantik.
Jubah pendetanya hanya untuk kedok belaka.
Sebenarnya ia dahulu adalah seorang kepala perampok terkenal di San-kang dan setelah Tiongkok dikuasai pemerintah bangsa Boan, ia menjadi penjilat dan pelindung pembesar-pembesar pemeras rakyat.
Pengaruhnya besar sekali dan orang di kalangan kang-ouw maklum semua akan kepandaiannya yang luar biasa, terutama ilmunya Hun-kin-coh-kut atau Ilmu Pukulan Putuskan Otot dan Tulang, sehingga selain julukannya Gin-bwee-hwa iapun dijuluki orang It-ci-sin-kang atau si Jari Lihai.
"He, jiwi Enghiong mengapa bertempur mati-matian? Kalau ada urusan lebih baik diurus secara damai, aku si orang usil suka sekali menjadi perantara untuk mendamaikan urusan kalian!"
Katanya setelah meloncat ke tengah-tengah mereka.
"Perkataan totiang (bapak pendeta) benar sekali,"
Berkata Ong Mo Lin sambil menjura.
"Sebenarnya siauwte (aku yang rendah) pun tidak suka mencari musuh. Tapi apa boleh buat, rupa-rupanya Bu Kiat tidak mengindahkan persahabatan, karena barang-barang yang dikawal oleh piauwku telah diganggunya. Kalau saja barang itu dikembalikan, sekarang juga aku bersedia meminta maaf dan mengundang semua orang minum arak tanda hormatku."
"Coba totiang pikir,"
Membantah Bu Kiat si Tawon Hitam.
"Pekerjaanku telah diketahui umum, yakni memungut barang-barang di jalan (merampok) dan barang-barang itu berada di wilayahku, maka sudah sepantasnya kupungut. Tapi Ong Mo Lin tidak mau mengakui kelemahan orang-orangnya dan bahkan datang sendiri menantangku. Tentu saja aku tidak bisa tidak harus menyambut kehormatan itu. Si Jari Lihai mengangguk-anggukan kepala yang penuh uban tapi yang teratur rapi itu. Kedua matanya yang tajam melirik-lirik ke arah kedua orang itu, kemudian ia berkata kepada Ong Mo Lin.
"Hem, hem! Tuan Ong seharusnya mengalah dan mengakui kedaulatan saudara Bu di wilayahnya sendiri. Atau sebelum melalui jalan ini seharusnya datang minta permisi dan mengantar sekedar tanda persahabatan. Itu sudah menjadi aturan kaum rimba hijau. Sekarang barang-barang itu sudah pindah tangan, perlu apa diributkan lagi?"
Sebelum Ong Mo Lin yang merasa penasaran akan keputusan berat sebelah itu membantah, ia melanjutkan kata-katanya, kini ditujukan kepada si orang she Bu.
"Dan saudara Bu, sungguh engkau awas, dan lihai sekali, tidak melewatkan daging gemuk dengan percuma. Tapi karena kini aku si orang usil telah mengetahui duduknya perkara dan menjadi pemutus yang adil, engkau harus mengalah dan membagi daging itu setengahnya kepadaku!"
Walaupun merasa penasaran, namun Bu Kiat merasa agak puas juga dengan keputusan si tosu yang terang-terangan membela dia.
Ia masih beruntung mendapat bagian setengahnya dan ia maklum bahwa terhadap si tosu yang lihai itu ia tak boleh main-main, lebih baik bersahabat dari pada bermusuh.
Maka segera ia menjura dan berkata sambil tersenyum.
"Engkau adil sekali. Tentu aku setuju seratus prosen atas usulmu itu. Nah, bagaimana tuan Ong, apakah engkau juga setuju dan suka menghabiskan perkara ini sampai di sini saja dan pulang dengan damai?"
Ong Mo Lin merasa dadanya panas seperti terbakar.
Ia marah sekali dan gemas mendengar keputusan yang bo-ceng-li itu.
Masa barang antaran yang menjadi tanggungannya itu kini dengan enaknya akan dibagi-bagi orang lain!
Dengan suara nekat ia berkata.
"Tak mungkin! Barang-barang itu bukan punyaku dan aku bersumpah untuk menjaga nama piauw-tiam ku. Jika Jiwi tidak mau mengembalikan, lebih baik aku yang tak berguna ini mati di sini daripada pulang tidak membawa barang-barang itu!"
Ia memandang tosu itu dengan mata menyala.
"Ha, ha, ha! Ini berarti engkau menantang padaku, Ong piauwsu! Karena daging ini setengahnya menjadi bagianku, maka urusan inipun menjadi tanggung jawabku pula. Ketahuilah bagianku itu bukan untuk kumakan sendiri, tapi untuk dana pendirian beberapa kelenteng di Propinsi San-kang, jadi relakanlah hatimu, karena harta itu tak terbuang percuma tapi untuk menolong ribuan orang agar dapat naik ke sorga!"
"Tosu siluman! Bagus benar perbuatanmu!"
Memaki Ong Bu putera Ong Mo Lin yang segera maju menerjang dengan toyanya.
"Ha, ha! Anak kecil ini mau main-main juga?"
Si tosu tertawa mengejek dan sabetan toya ke arah kepalanya itu ditangkisnya dengan kepretan ujung bajunya.
Ong Bu hampir saja melepaskan toyanya karena toya itu terbetot oleh sebuah tenaga yang besar.
Namun ia sudah nekad dan kembali menggunakan toyanya menyodok dada tosu itu dengan sepenuh tenaga dalam tipu Naga Hitam Menyambar Mustika.
Serangan yang hebat ini tidak dikelit oleh si tosu, bahkan ia memasang dadanya yang kurus.
"Buk!"
Terdengar suara ujung toya mengenai dada si tosu dengan tepat, tapi bukannya si tosu yang jatuh, bahkan toya Ong Bu terpental lalu terlepas dari pegangannya karena tangannya terasa linu dan sakit.
Ternyata si tosu yang lihai itu menggunakan tenaga dalamnya untuk menangkis dan membentur balik tenaganya sendiri.
Sebelum Ong Bu dapat berkelit, jari-jari tangan kiri si tosu berkelebat ke arah pundaknya.
"Krak!"
Dan Ong Bu jatuh tersungkur memuntahkan darah!
Tulang pundaknya terlepas dari sambungan terkena ilmu pukulan Hun-kin-coh-kut yang lihai!
"Ha, ha!
Aku orang-tua yang beribadat masih berlaku murah dan tidak mengambil nyawamu.
Itu hanya sekedar peringatan belaka!"
Katanya sombong.
"Tosu iblis, lihat golok!"
Ong Mo Lin menerjang maju membela anaknya, goloknya bergerak dengan tipu Tiang-hong-keng-thian atau Bianglala Melintang Langit, tapi dengan mudahnya si jari lihai mengebut golok itu dengan ujung baju, lalu balas menyerang ke arah iga lawannya dengan gerakan Hong-tan-tian-cie atau Burung Hong Pentang Sebelah Sayap.
Tapi Ong Mo Lin bukan anak kemarin, ia sudah cukup berpengalaman.
Walaupun ia tahu bahwa si tosu jahat itu bukan musuhnya dan kepandaiannya jauh lebih tinggi darinya, namun ia sudah berlaku sangat hati-hati sekali.
Pukulan si imam ia kelit dengan gesit dan kembali ia mengirim serangan dengan dahsyat!
Si tosu juga maklum bahwa Ong Mo Lin tak boleh diperbuat sesukanya atau main-main, maka ia bersilat dengan lebih cepat, meloncat ke sana ke mari di antara bayangan golok mencari sasaran.
Baru bertempur sepuluh jurus lebih Ong Mo Lin sudah menjadi kewalahan dan beberapa kali hampir saja tulang-tulangnya menjadi bulan-bulan pukulan Sia-kut-hoat atau Ilmu Melepas Tulang dari siluman ini.
Gin-bwee-hwa Pauw Hiap Tojin bertempur sambil mengejek dan mempermainkan musuhnya, pada saat itu ia telah siap untuk menurunkan tangan besi guna menghajar Ong Mo Lin, tapi tiba-tiba terdengar seruan perlahan.
"Siancai!"
Suara itu tahu-tahu sudah terdengar dekat sekali dan sebuah tongkat besi dengan gerakan mengeluarkan angin hebat menyelonong di antara kedua orang yang sedang bertempur itu.
Ong Mo Lin yang sudah hampir tak berdaya segera meloncat ke belakang.
Si tosu dengan muka merah karena marah memandang orang yang mengganggu perkelahiannya.
Ternyata yang datang dan memisah dengan menggunakan tongkat besi itu adalah seorang Hwesio (pendeta) gundul yang sudah tua dan bermata tajam.
Alisnya sudah putih sehingga ia nampak alim dan agung sekali.
"Maaf, maaf,"
Demikian Hwesio itu menjura merangkapkan kedua tangan.
"Harap jiwi suka memaafkan pinto, yang telah mengganggu jiwi (tuan berdua) yang sedang bermain-main sehingga pinceng (saya) mengurangi kegembiraan jiwi. Tapi karena pinceng lihat bahwa kedua senjata jiwi tiada bermata, maka pinceng kuatir main-main ini bisa membahayakan."
Pauw Hiap Tojin sungguhpun sangat penasaran dan ingin memaki, tapi melihat yang mengganggu adalah seorang Hwesio dan ia sendiripun termasuk golongan pertapa, maka dengan senyum paksa ia balas menjura dan berkata.
"Lo-Suhu sangat baik hati. Mohon tanya nama julukan Lo-Suhu yang besar."
"Pinceng dipanggil orang Hwat Khong, seorang penunggu kelenteng yang tak ternama."
Kemudian Hwesio itu berpaling kepada Ong Mo Lin.
"Sahabat baik, mengapa engkau sampai bertempur dengan seorang suci seperti totiang ini?"
"Orang suci? Bah, ia seorang perampok! Suhu jangan kena dikelabuhi, teecu adalah seorang piauwsu yang kena dirampok oleh perampok she Bu itu,"
Jari tangannya menunjuk ke arah Bu Kiat.
"Kemudian ia dan teecu bertempur, tapi mendadak datang tosu ini membelanya bahkan akan membagi-bagi barangku. Coba Lo-Suhu pikir, adilkah itu?"
"Ha, ha! Engkau seperti seorang kanak-kanak yang merengek-rengek minta air susu, orang she Ong!"
Menyindir tosu itu, kemudian ia menghadapi Hwat Khong.
"Aku percaya penuh bahwa toyu sebagai orang beribadat takkan mencampuri urusan orang lain,"
Katanya.
"Omitohud! Tidak sekali-kali pinceng mau mencampuri, dan demikian juga Lo-Suhu sebagai orang budiman tentu mengenal pula keadilan, maka melihat keadaan sekarang ini, pinceng harap toyu suka memandang muka pinceng dan mengembalikan barang-barang tuan Ong,"
Kata Hwat Khong dengan suara manis.
"Hwesio gundul. Jangan mengimpi! Apa kau kira aku takut padamu? Pendeknya aku takkan mengembalikan barang-barang itu, habis kau mau apa?"
Inilah tantangan hebat yang sangat menghina, tapi Hwat Khong sudah cukup kuat batinnya sehingga ia hanya tersenyum.
"Kalau begitu, terpaksa pinceng campur tangan."
"Majulah!"
Si tosu berteriak dan ketika ia melihat Hwesio itu tetap berdiri tak bergerak sambil tersenyum-senyum bahkan menancapkan tongkat besinya di atas tanah, ia menjadi marah dan segera menerjang dengan hebat.
Serangannya sangat lihai karena begitu menyerang ia sudah menggunakan ilmunya Hun-kin-coh-kut dan bergerak dengan tipu Iblis Murka Menyambar Nyawa.
Tipu ini kejam dan telengas sekali, kedua tangan bergerak berbareng, yang kanan menotok iga, yang kiri mencengkeram anggauta rahasia lawan.
Karena datangnya serangan cepat dan penuh tenaga, Hwat Khong tak berani berlaku ayal, ia berkelit ke kiri menolak tangan kanan musuhnya, tapi serangan cengkeraman tangan kiri yang hendak ditangkis itu tiba-tiba berubah.
Pauw Hiap Tojin yang lihai dengan cepat-cepat merobah serangan sebelum gerakannya habis.
Tangan kiri yang tadinya akan mencengkeram kini berobah menjadi kepalan dan langsung menghantam perut lawan dengan kerasnya.
Tidak ada, jalan lain bagi Hwat Kong Hwesio selain menggunakan seluruh tenaga tangan kanannya untuk menubruk kepalan itu.
Dua kepalan tangan beradu dengan mengeluarkan suara "duk,"
Dan kedua-duanya terhuyung-huyung ke belakang, tapi Hwat Khong merasa kepalan tangannya perih.
Ia tahu bahwa tenaga lawannya tak di bawah tenaganya sendiri, maka ia berlaku sangat hati-hati, berdiri menanti datangnya serangan lawan.
"Hwesio keparat, bersedialah untuk mampus,"
Teriak si tosu lihai sambil maju perlahan-lahan, sikapnya menyeramkan.
Tapi tiba-tiba entah dari pohon mana, dari atas melayang turun tubuh seorang gadis kecil dengan gerakan ringan dan gesit sekali bagaikan seekor burung.
Gadis itu langsung menghampiri Hwat Khong dan berdiri membelakangi si tosu.
Ia menjura memberi hormat kepada Hwat Khong dengan berkata.
"Hwat Khong Suheng, terimalah hormatnya sumoimu!"
Hwat Khong Hwesio kemekmek dan untuk sesaat menjadi bingung, tapi si gadis cilik tak memberi kesempatan padanya untuk menyatakan keheranannya, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Silakan mundur, suheng, biarlah siauw-moi menghadapi tosu bedebah ini."
Hwat Khong memang segan berkelahi, Pertama-tama ia tak suka bermusuhan, kedua ia memang sudah bersumpah takkan membunuh manusia, maka bagaimana ia akan dapat melawan tosu yang lihai itu tanpa melancarkan serangan-serangan lihai karena takut menewaskan musuh?
Ia melihat gerakan gadis itu cukup gesit, maka biarlah untuk sementara gadis itu mewakilinya, kalau kiranya terdesak nanti, tentu ia takkan tinggal diam.
Pauw Hiap Tojin yang tadinya sudah siap sedia menyerang Hwat Khong, melihat datangnya si nona, hatinya seakan-akan berhenti memukul.
Kedua matanya terbelalak menatap wajah gadis itu dan mulutnya tak dapat berkata-kata.
Ia kagum sekali melihat kecantikan nona itu.
Baginya seakan-akan gadis itu adalah seorang dewi yang baru turun dari kahyangan.
Ketika mendengar suara nona itu, barulah ia tersadar dan berdiri tersenyum-senyum, sama sekali tidak marah mendengar ia dikatakan tosu bedebah.
"Eh, eh, sungguh dunia ini aneh. Tak kunyana sama sekali Hwat Khong suhu yang sudah begitu tua mempunyai sumoi begini muda dan begini manis. Hm, engkau beruntung sekali, Hwat Khong suhu."
Ia tadinya terkejut juga melihat gerakan gadis itu yang ringan dan gesit, tapi setelah mendengar bahwa gadis itu tak lain hanya sumoi (adik seperguruan perempuan) dari Hwat Khong, maka timbul keberaniannya.
Sedangkan Hwat Khong sendiri, suheng (kakak seperguruan) gadis itu, masih tak mampu menandingi kelihaiannya, apapula sumoinya yang masih kecil dan halus kulitnya ini.
"Tosu siluman, aku tahu engkau adalah penjelmaan siluman kura-kura karena mukamu hampir menyerupai kura-kura, jangan banyak cakap! Aku lihat suhengku tak pantas bertempur dengan kau, karena engkau terlampau rendah untuk bertempur dengannya! Aku sendiri sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkanmu!"
"Ha, ha, ha! Tidak hanya cantik, tapi juga pandai bicara! Engkau hendak mencoba-coba kelihaianku ? Baik, baik, mari sini! Tapi ada taruhannya!"
Gadis itu bukan lain ialah Han Lian Hwa sebagaimana pembaca tentu telah dapat menduganya, timbul pula watak nakalnya dan melihat lagak si tosu ia sudah mengarang syair pula.
"Tosu siluman kura-kura! Kau keluar dari lobang pecomberan, Membawa bau busuk tiada terkira! Membawa lagak imam suci dan bijaksana. Tapi sekali kura-kura tetap kura-kura menghadapi nonamu engkau banyak tingkah. Tunggu kepalanku nanti bikin kepalamu pecah!"
Kata-kata ini diucapkan dengan lagu suara yang merdu dan lucu, sehingga para piauwsu mau tak mau tersenyum geli, hanya Hwat Khong Hwesio yang merasa heran dan tak puas akan tingkah laku gadis yang nakal ini.
"Ha, ha! Engkau pandai sekali, nona manis. Sekarang mari kita tetapkan taruhannya. Jika engkau dapat melawan aku lebih dari dua puluh jurus saja, aku menerima kalah. Tapi kalau belum dua puluh jurus, engkau sudah kalah, maka kau harus berikan lian-hwa merah di atas kepalamu itu padaku dan selama tiga hari engkau harus menjadi pelayanku! Jangan kuatir, pekerjaanmu takkan berat, bahkan menyenangkan sekali!"
"Tosu tersesat!"
Membentak Hwat Khong melihat kekurangajaran si tosu. Tetapi Lian Hwa segera mencegah suhengnya dan berkata.
"Suheng, biarkan sumoimu kali menghadapi kura-kura busuk ini. Eh, kura-kura siluman, baik kuterima taruhanmu itu, tapi jika engkau yang kalah bagaimana?"
"Ha, ha, ha! Aku kalah? Ah, kalau aku sampai kalah, biarlah kau tetapkan sendiri taruhanmu."
Han Lian Hwa memandang sekeliling mencari bahan kenakalannya. Tiba-tiba ia melihat ke arah kuda para piauwsu dan berkata tersenyum manis.
"Karena kura-kura suka makan kotoran, maka jika kau yang kalah, engkau harus makan tahi kuda itu. Bagaimana?"
Pauw Hiap Tojin belum pernah dihina orang sedemikian hebat, kalau yang menghinanya bukan gadis secantik itu, pasti ia takkan dapat menahan murkanya lagi. Tapi ia hanya tersenyum kecut dan berkata.
"Baik, baik. Nah, perlihatkanlah ajaran-ajaran gurumu!"
Ia memasang bhesi (kuda-kuda) dan membuka jurus Naga Bumi Mengancam, menekuk lutut kanannya ke bawah pantatnya yang menempel di belakang tumit kaki kirinya dilonjorkan lempeng ke sebelah kiri, matanya memandang ke arah nona itu dengan gaya yang aksi sekali dan pandangan mata yang kurang ajar sambil mulutnya yang kempot tersenyum-seyum.
"Seranglah, nona manis!"
Katanya jenaka.
Semua orang yang berada di situ adalah ahli-ahli silat belaka dan maklum akan kelihaian sikap gerakan ini, suatu sikap yang sukar sekali untuk diserang, apa lagi mengingat akan kelihaian sepuluh jari tangan si tosu.
Tapi Han Lian Hwa seakan-akan tidak mengerti akan berbahayanya kuda-kuda si tosu dan maju menghampiri dengan sembarangan.
Tiba-tiba ia menyerang sembarangan pula dengan pukulan tangan kanan dalam tipu Go-yang-pok-sit (Kambing Kelaparan Tubruk Makanan).
Tipu ini adalah tipu biasa saja yaitu ia menyerang ke arah depan dengan tangan terbuka.
Semua orang kecewa melihat serangan yang sama sekali tidak berbahaya ini dan bahkan Hwat Khong Hwesio yang melihat kelemahan gadis itu mulai hilang kepercayaannya dan menyesal mengapa ia membiarkan gadis itu menghadapi bahaya besar.
Si tosu pun memandang rendah sekali.
Ia tertawa bergelak menanti datangnya serangan.
Ketika tangan gadis itu sudah datang dekat ke arah kepalanya, tiba-tiba ia meloncat berdiri dan kini ke dua kakinya berada dalam sikap Ciang-cip-pou, terus ia ulur tangan kirinya menyambut tangan Lian Hwa yang menyerang untuk menangkapnya sedangkan tangan kanannya terulur maju ke arah dada Lian Hwa!
Gerakan ini selain kurang ajar pun berbahaya sekali.
Semua orang kuatir.
Tapi tak terduga sama sekali, gadis itu menarik kembali tangan kanannya sambil tertawa nyaring tangan kirinya menyelonong ke arah leher lawan sambil miringkan tubuh menghindari cengkeraman ke arah dadanya.
Si tosu terkejut, karena tak ia sangka gerakan gadis itu demikian cepatnya.
Ia segera memutar tubuh memiringkan kepala, tapi tiba-tiba Lian Hwa sudah merobah pula gerakannya sambil meloncat ke samping dan mulutnya berkata nyaring.
"Jurus ke satu!"
Tiba-tiba kaki kirinya menendang dengan tiba-tiba tepat mengenai pantat si tosu.
"Bluk!"
Dan Pauw Hiap Tojin terhuyung-huyung mundur beberapa langkah!
Para piauwsu yang menonton perkelahian ini tertawa gembira.
Tak mereka sangka sedikit juga gadis itu demikian lihai dan cepat gerakannya, sedangkan ilmu pukulannya pun aneh.
Atau barangkali hasil tendangan itu hanya kebetulan saja?
Buktinya si tosu tidak terluka, hanya terhuyung ke belakang.
Mereka memandang dengan hati masih agak cemas.
Pauw Hiap Tojin mengatur kedua kakinya lagi dan matanya mulai menjadi merah.
Ia segera menubruk maju menggunakan ilmunya yang masyhur yaitu Hun-kin-coh-kut atau Ilmu Bikin Putus Otot dan Tulang.
Jari-jarinya terbuka dengan ilmu Kim-na-hoat atau Ilmu Menangkap, karena ia masih tidak tega melukai si gadis dan hanya ingin menangkapnya.
Setelah dekat ia menggunakan tipu Giok-houw-pok-yang atau Harimau Kumala Tubruk Kambing.
Melihat orang menyerang kedua pundaknya, Lian Hwa menekuk kedua kakinya ke bawah lalu melejit melalui bawah lengan orang, kemudian sambil berlompat tangan kirinya menyambar dan "plok"
Belakang kepala tosu itu kena tabokan dan ia berkata mengejek.
"Jurus kedua!"
Si tosu hanya merasakan kepalanya agak pusing yang menambahkan kemarahannya.
Sebenarnya, di luar tahunya orang, kalau Lian Hwa mau, tendangannya tadipun sudah cukup untuk merobohkan musuhnya, apalagi tabokan yang kedua ini.
Tapi ia sengaja menggunakan sedikit tenaga saja, karena wataknya yang jenaka membuat ia ingin mempermainkan si tosu jahanam itu.
Demikianlah, dengan menggunakan ginkangnya yang luar biasa ia melayani si tosu dengan menggunakan Bian-si-lui-yap-mo-sin-ciang yaitu ilmu silat dengan kepalan lemas dan dengan ilmu lompat ke sana ke mari Yan-cu-sip-pan-sian atau Burung Walet Terbang Jumpalitan, ia berhasil dalam setiap jurus menabok muka, menyentil telinga, mendorong, menendang, bahkan ketika mereka telah bertempur sembilanbelas jurus dan ia berhasil mempermainkan musuh sampai sembilanbelas kali, ia melakukan pukulan terakhir.
Ketika Pauw Hiap Tojin yang sudah menjadi murka melakukan serangan dengan tipu dari Pat-kwa-mui yang lihai dan mematikan, yaitu dengan kedua tangan mencengkeram ke arah kepala Lian Hwa dan disusul tendangan ke perut.
Lian Hwa menggunakan sebelah tangan kiri menahan kedua tangan tosu itu.
Ketika dua lengan yang berbulu itu beradu dengan lengan gadis yang halus, tenaga dalam si tosu membalik membuat sekujur badannya kesemutan!
Sebelum kakinya menyambar perut Lian Hwa.
Gadis itu menggunakan ujung kaki kirinya menotol lutut musuhnya sehingga kaki yang menendang itu turun kembali tak berdaya dan lemas, kemudian secepat kilat sehingga orang-orang tak dapat melihat betapa ia bergerak, jari tangan kanannya telah menotok dengan totokan Su-sat-ciu ke arah jalan darah hou-cing-hiat!
Si tosu terkejut hendak berkelit, tapi ia kalah cepat cepat, totokan tepat mengenai urat hou-cing-hiat dan di situ ia berdiri kaku bagaikan patung dengan kedua tangan menempel pada tangan kiri Lian Hwa!
Terdengar suara tertawa dan sorakan semua piauwsu di situ.
"Nah, nonamu ternyata sanggup melawan sampai dua puluh jurus dan kau telah kalah! Sekarang engkau harus membayar hutangmu dalam taruhan tadi!"
Lian Hwa memungut sebuah golok yang menggeletak di bawah.
Hwat Khong Hwesio kaget dan hendak melarang gadis itu yang dikiranya akan membunuh Pauw Hiap Tojin.
Tapi Lian Hwa tidak menghampiri si tosu, bahkan pergi menuju ke kumpulan kuda.
Dengan golok yang dipungutnya itu ia menyendok tahi kuda dan dari tempat itu juga ia mengayun goloknya.
Tahi kuda di ujung golok meluncur terbang ke arah si tosu dan tepat mengenai mukanya.
Tak sedikit tahi kuda yang masih basah dan hangat itu memasuki mulut dan hidungnya.
Kembali semua orang bersorak ramai.
Tapi Hwat Khong Hwesio makin tak senang.
Ia menganggap gadis itu keterlaluan dan perbuatannya tak pantas.
Maka segera ia menghampiri gadis yang masih berdiri tertawa-tawa dengan suara nyaring.
"Eh, nona, kau tadi berkata bahwa aku ini suhengmu. Tapi sepanjang ingatanku, aku belum pernah mempunyai sumoi. Apalagi sekecil nona ini, coba terangkan padaku."
Lian Hwa heran mendengar suara Hwesio itu agak kurang senang.
"Hwat Khong suheng, lupakah suheng ketika sepuluh tahun yang lampau suheng menolong seorang anak perempuan?"
Hwat Khong ternganga.
"Jadi... engkau ini... anak itu, si Lian Hwa?"
Han Lian Hwa mengangguk sambil tersenyum.
"Oh, oh... sudah kusangka..."
Hwesio tua itu berkata terharu.
"Apa, suheng?"
Tanya gadis itu. Hwat Khong sebenarnya akan berkata.
"Sudah kusangka bahwa tabiat supek yang aneh itu akan menular padanya"
Tapi ia hanya melanjutkan.
"Sudah kusangka engkau akan mewarisi kepandaian tinggi dan aneh. Aku girang sekali sumoi."
Namun ia masih merasa canggung untuk menyebut sumoi (adik seperguruan) kepada gadis kecil ini.
Hati Hwat Khong girang melihat gadis yatim piatu itu kini telah memiliki kepandaian yang begitu lihai, tapi sebaliknya ia kuatir melihat kenakalannya.
Ia masih saja merasa kurang senang, maka tanpa berkata sesuatu lagi ia menghampiri Pauw Hian Tojin yang masih berdiri bagaikan patung.
Ia mengulurkan lengan kanan dan menggunakan jarinya menepuk punggung tosu itu untuk memunahkan totokan Lian Hwa tapi sungguh heran, usahanya tak berhasil.
Hwat Khong Hwesio merasa aneh dan malu karena di situ banyak para piauwsu dan orang-orang (Lanjut ke
Jilid 03) Si Teratai Merah/Ang Lian Lihiap (Seri ke 01 -Serial Si Teratai Merah) Karya . Asmaraman S Kho Ping hoo
Jilid 03 kalangan rimba hijau (perampok) tengah melihat perbuatannya.
Dengan penasaran ia mencoba lagi dan kali ini berhasil.
Tapi hal ini bahkan membikin Hwat Khong makin merasa heran, karena jelas terlihat olehnya bahwa yang menyembuhkan Pauw Hiap Tojin bukanlah tepukan tangannya, tapi adalah sebutir batu kecil yang berkelebat dan mengenai iga tosu itu.
Ia maklum bahwa Lian Hwa telah dengan diam-diam membantunya memunahkan totokannya sendiri yang aneh itu.
Hwat Khong merasa kagum dan berbareng bersyukur bahwa gadis itu ternyata mempunyai cukup liang-sim (kebajikan) dan menjaga suhengnya dari malu.
Pauw Hiap Tojin dengan wajah merah karena malu membersihkan tahi kuda dari mukanya, lalu menjura kepada Hwat Khong Hwesio.
"Sungguh pinto (saya) tidak melihat Gunung Thai-san di depan mata dan tak kenal kebodohan sendiri. Mohon keterangan nama sumoimu yang gagah itu."
"Hem, Pauw Hiap Toheng (saudara), perlu apa memperdalam permusuhan? To-heng adalah seorang pertapa, mengapa mencemarkan nama kaummu sendiri dengan ikut mencampuri urusan harta dunia?"
Tegur Hwat Khong Hwesio. Jawaban ini membuat Pauw Hiap Tojin menjadi marah.
"Apakah kalian takut akan pembalasanku?"
Tanyanya dengan suara menyindir. Tiba-tiba Lian Hwa menghampiri mereka dan dengan senyum manis berkata.
"Eh, tosu palsu! Siapa yang takut pembalasanmu? Engkau manusia jahat yang mencari celaka sendiri. Setelah kamu mendapat pelajaran bukannya menjadi insyaf akan keburukan sendiri bahkan mau tanam permusuhan. Boleh, boleh! Dengarlah, aku bernama Han Lian Hwa dan aku selalu akan siap sedia menghadapi pembalasanmu. Kau boleh belajar seratus tahun lagi!"
Ucapan ini sungguh sombong dan Hwat Khong memandang sumoinya dengan marah. Melihat pandangan suhengnya (kakak seperguruan) Lian Hwa terkejut dan menutup mulutnya dengan heran.
"Pauw Hiap toheng jangan hiraukan sumoi, ia masih kanak-kanak,"
Kata Hwat Khong.
Tapi kata-kata ini bahkan menusuk perasaan tosu itu karena mengingatkannya betapa namanya yang telah terkenal di kalangan kang-ouw itu kini tiba-tiba jatuh rendah sekali dan disapu lenyap oleh seorang gadis kecil tak terkenal!
Kalau yang menjatuhkannya itu seorang kang-ouw ternama, ia takkan penasaran, tapi gadis ini baru saja muncul dan lagaknya masih seperti kanak-kanak.
Namun ia dijadikan seperti tikus dengan kucing.
Maka mendengar ucapan Hwat Khong tadi, ia makin marah lalu dengan mengeluarkan suara mendengus ia memutar tubuhnya dan berjalan pergi dengan tindakan lebar.
Lian Hwa hampir tak dapat menahan gelak tawanya karena geli hati tapi ia hanya mengerling ke arah suhengnya dengan senyum dikulum!
Hwat Khong Hwesio lalu memandang kepada Oei-coa Ong Mo Lin si Ular Kuning dan berkata.
"Nah, Tuan Bu dan Tuan Ong berdua sekarang pandanglah muka pinceng dan habiskan permusuhan ini."
Si Ular Kuning menjura.
"Terima kasih atas pertolongan suhu dan siocia (nona). Tentu saja siauwte (saya) akan habiskan pertikaian ini asal saja saudara Bu Kiat mau mengembalikan barang-barang tanggungan piauw kami. Lo-Suhu kiranya maklum bahwa nama baik piauw-tiam (kantor ekspedisi) merupakan mangkok nasi bagi kami sekalian piauwsu."
Ia melirik ke arah Bu Kiat dan kawan-kawannya yang berdiri dengan lemas karena tiada harapan melawan lagi setelah kini di situ ada Hwat Khong Hwesio dan sumoinya yang kosen.
Hwat Khong dengan suara halus membujuk Bu Kiat untuk mengembalikan barang-barang itu hingga terpaksa si Tawon Hitam menjawab.
"Mengingat kepada Lo-Suhu, apa boleh buat barang itu saya kembalikan kepada saudara Ong."
Ia lalu memberi tanda dengan suitan dan dari dalam rimba keluar beberapa orang mendorong gerobak terisi lima peti besar barang-barang berharga yang diperebutkan itu.
Setelah menghaturkan terima kasih, kawanan piauwsu meninggalkan tempat itu dengan gembira.
Hwat Khong dan Lian Hwa juga pergi ke jurusan lain, diawasi oleh Bu Kiat dan kawan-kawannya dengan hati mendongkol.
"Suheng, saya membawa surat suhu almarhum untukmu,"
Kata Lian Hwa yang merasa tak enak hati melihat suhengnya diam saja seakan-akan tak perdulikan padanya.
"Almarhum? Jadi supek sudah...?"
Hwat Khong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kaget dan terharu.
Lian Hwa mengangguk dan tak terasa dari kedua matanya mengalir air mata.
Hwat Khong Hwesio segera mengajaknya berhenti dan duduk di bawah sebuah pohon besar.
Ia membuka surat supeknya (paman guru) lalu membaca dengan sikap hormat.
Kemudian ia memandang sumoinya yang masih termenung sedih, lalu menghela napas.
"Sumoi tenangkan hatimu! Semua orang kalau sudah tiba masanya tentu mati. Hal kematian supek tak perlu disedihkan benar, karena supek telah dipanggil pulang oleh Thian Yang Maha Kuasa. Lebih baik sekarang kita bicarakan masa depan. Sumoi kini telah turun gunung dan... dan... ke manakah tujuanmu sekarang?"
Lian Hwa memandang suhengnya dengan sedih.
Wajah Hwesio tua yang jernih dan sopan itu menimbulkan kepercayaan dan ia sejak tadi sudah merasa seakan-akan berhadapan dengan keluarga sendiri.
Kini mendapat pertanyaan demikian, ia menjadi sedih dan bingung.
Ia hanya dapat menggeleng-geleng kepalanya yang cantik itu dan air matanya kembali mengalir ke atas kedua pipinya.
"Aku tidak tahu, suheng... aku tidak tahu..."
Hanya inilah jawabannya dengan suara pilu.
"Jangan bersedih, sumoi,"
Hwat Khong menghibur sambil menepuk-nepuk tangannya.
"Baik kukatakan terus terang. Suhumu minta supaya aku membimbingmu memasuki dunia yang agaknya masih asing bagimu."
Lian Hwa segera menjura di depan suhengnya.
"Terima kasih, suheng. Memang suhu telah pesan supaya aku menurut segala petunjukmu. Mulai sekarang, Suhenglah menjadi pengganti suhuku."
Melihat gadis itu menjura berulang-ulang sambil berlinang air mata, mau tak mau Hwat Khong Hwesio merasa terharu juga. Bagaimanapun, dia sendirilah yang pertama-tama menolong Lian Hwa.
"Sumoi, aku suka mendidikmu asal saja kau mau berjanji."
"Janji apa, suheng? Biar harus masuk ke lautan api, pasti akan kujalani asal saja suheng mau memberi petunjuk-petunjuk padaku dan mau pula... membawaku ke tempat... orang-tuaku."
Sampai di sini kembali air matanya mengucur. Hwat Khong mengangguk maklum.
"Aku mengerti, sumoi. Engkau sebagai seorang anak yang u-hauw (berbakti) tentu ingin sekali tahu keadaan orang-tuamu. Tapi karena tempat itu jauh dan kau belum ada pengalaman merantau dan bertemu dengan orang-orang kang-ouw, maka kini belum waktunya bagimu untuk pergi. Janji itu demikian, sumoi. Terus terang kuakui bahwa dalam hal ilmu silat, aku ketinggalan jauh olehmu. Hal ini segera kuketahui ketika kau bertempur dengan Pauw Hiap Tojin tadi. Maka dalam hal ilmu silat, jangan harap untuk minta petunjukku lagi. Hanya dalam tatacara kesopanan dan perilaku yang sesuai dengan dunia ramai, kiranya dapat engkau meniruku. Tapi setelah mulai sekarang engkau ikut aku di dalam segala hal engkau harus menurut kata-kataku. Tidak boleh kau membawa kehendak sendiri. Sanggupkah kau sumoi?"
Lian Hwa segera memberi hormat mengangguk-angguk.
"Sanggup suheng. Aku sanggup."
"Nah, marilah kita pulang ke kelentengku lebih dulu."
Hwat Khong Hwesio bangun berdiri dan mereka berdua lalu menggunakan ilmu lari cepat menuju ke Bukit Bok-lun-san di mana terdapat kelenteng Ban Hok Thong yang didiami oleh Hwat Khong Hwesio.
Setibanya di kelenteng tersebut, Hwat Khong lalu menceritakan riwayat Han Bun Lim, ayah Lian Hwa yang terbunuh mati oleh Bong Him Kian dan bagaimana ibunya juga telah membunuh diri ketika ditawan Bong-Kongcu yang jahanam itu, serta bagaimana Lian Hwa ditolong oleh Hwat Khong dan perjumpaan mereka dengan Siau-kiam Koai-jin Ong Lun, gurunya Lian Hwa.
Mendengar nasib kedua orang-tuanya, Lian Hwa menangis sedih, kemudian dengan gemas dan marah-marah ia tiba-tiba mencabut pedangnya hingga mengeluarkan sinar gemerlapan.
"He sumoi, kau mau apa?"
Tanya Hwat Khong, heran.
Lian Hwa tidak menjawab, hanya sepasang matanya saja mengeluarkan sinar berkeredep seakan-akan berapi, kemudian tanpa menjawab sesuatu, tubuhnya melesat ke arah luar kelenteng.
"Sumoi, tunggu!"
Hwat Khong meloncat keluar pula mengejar.
Tapi Lian Hwa tak perdulikan teriakannya dan lari terus.
Hwat Khong terpaksa harus menggunakan seluruh kepandaiannya lari cepat untuk dapat mengejar sumoi yang gesit dan cepat gerakannya itu.
Namun ia masih saja tertinggal hingga ia menjadi sangat gugup.
"Sumoi, ingat janjimu!"
Kembali ia berteriak. Lian Hwa menengok sebentar, mukanya merah dan penuh air mata yang membasahi kedua pipinya, kemudian ia lari lagi.
"Sumoi! Ke mana engkau pergi? Kau belum tahu di mana tempat tinggal musuhmu itu!"
Memang tadi Hwat Khong belum menceritakan tentang kampung tempat tinggal orang-tuanya dan Bong-Kongcu, musuhnya.
Mendengar ini, Lian Hwa berhenti dan duduk mendeprok di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.
Hwat Khong Hwesio dengan napas agak sengal-sengal sampai ke tempat itu dan berdiri di depan Lian Hwa dengan wajah bengis tapi dengan hati penuh rasa iba.
"Sumoi ternyata engkau belum dapat mengendalikan gelora hatimu. Adatmu ini sungguh tidak menguntungkan sama sekali. Bukankah kau tadi sudah berjanji akan menurut kata-kataku? Lupakah kau akan pesan suhumu sendiri?"
Suara ini sangat tegas dan bengis. Han Lian Hwa mengangkat kepala memandang suhengnya kemudian tiba-tiba ia menubruk kaki suhengnya sambil menangis sedih. Mulutnya berkata lemah.
"Suheng... ampunkan aku..."
Lalu ia roboh pingsan!
Hwat Kong Hwesio menjadi bingung.
Tanpa sungkan, seperti seorang ayah kepada anaknya, ia mendukung sumoinya dan berlari ke kelenteng.
Ternyata tubuh Lian Hwa sangat panas, napasnya memburu.
Seminggu lamanya Lian Hwa jatuh sakit.
Badannya panas dan ia selalu mengigau memaki-maki Bong-Kongcu dan mengancam hendak mencincang badannya sampai hancur, lalu ia menangis tersedu-sedu sambil menyebut-nyebut ibu dan ayahnya!
Ternyata gadis sejak kecilnya selalu gembira bahagia tak kenal artinya susah itu kali ini menerima pukulan batin yang terlampau berat hingga perasaannya sangat tertekan membuat tubuhnya menjadi sakit.
Selama itu Hwat Khong Hwesio selalu menghiburnya dengan sabar dan segala keperluan sumoinya itu dicukupinya dengan hati-hati dengan bantuan beberapa orang Hwesio kecil pengurus kelentengnya.
Setelah Lian Hwa sembuh, Hwat Khong menasihatinya dengan suara tenang.
"Sumoi, dengarlah kataku baik-baik. Tentang hal membalas dendam itu memang sudah menjadi kewajibanmu. Tapi segala tindakan itu harus diatur sebaik-baiknya. Jangan hanya menurutkan hati yang penuh napsu, karena tindakan yang berdasarkan napsu itu hanya akan menggelapkan pikiranmu hingga segala perbuatanmu takkan berhasil baik. Sekarang engkau belajarlah sabar dan sebagaimana yang dikehendaki suhumu, engkau harus tinggal dulu di sini beberapa lama untuk belajar mengerti tentang cara-cara kesopanan dan lain-lain yang perlu diketahui oleh wanita seperti engkau. Kemudian setelah kuanggap sudah tiba saatnya, maka tentu engkau akan kuberi tahu tempat musuh-musuhmu itu dan kau kuperkenankan pergi mencari dan membalaskan sakit hati orang-tuamu."
Lian Hwa terpaksa menurutkan kata-kata suhengnya, sungguhpun sukar sekali baginya untuk bersabar.
Demikianlah, sejak hari itu Lian Hwa tinggal di sebelah kamar di dalam kelenteng itu dan mendengarkan petunjuk-petunjuk suhengnya yang luas pengalamannya tentang keadaan di kalangan kang-ouw dan aturan-aturan yang bersangkutan dengan penghidupan dunia ramai.
Tak lupa Hwat Khong mengajar sumoinya tentang sikap seorang gadis yang sopan dan mengenal aturan.
Maka mengertilah kini Lian Hwa bahwa sikapnya baru-baru ini sebenarnya tidak patut.
Karena menurut ajaran suhengnya, tak pantaslah seorang gadis seperti dia tertawa keras di depan umum.
Lebih tidak pantas pula duduk semeja dengan seorang laki-laki yang belum dikenalnya seperti telah ia lakukan ketika berjumpa dengan Peng Bouw si Kuda Hitam dulu.
Ia merasa malu mengenang itu semua, tapi di dalam hatinya ada juga rasa penasaran.
Mengapa kalau laki-laki boleh saja bersikap sembarangan, tapi kalau wanita harus demikian banyak aturan-aturan?
Sayang aku bukan laki-laki, demikian pikirnya.
Ketika ia menanyakan kepada suhengnya tentang pengalamannya dengan Peng Bouw, maka secara terus terang Hwat Khong yang maklum bahwa sumoinya itu benar-benar masih "hijau"
Lalu menerangkan bahwa laki-laki bernama Peng Bouw itu adalah seorang yang kurang ajar.
Bahwa maksudnya mengajak Lian Hwa makan bersama-sama bukanlah keluar dari hati jujur dan suci, tapi mengandung kekurangajaran.
"Sumoi hati-hatilah terhadap laki-laki yang kurang ajar seperti itu. Hati-hati terhadap segala macam laki-laki yang mudah saja menegur seorang wanita yang tak dikenalnya, kecuali kalau teguran itu memang beralasan. Banyak orang laki-laki kurang ajar macam itu yang akan kau temui dalam perjalananmu kelak."
Merah wajah Lian Hwa setelah dapat menangkap maksud suhengnya, sungguhpun ia masih bodoh namun perasaan gadisnya membisiki nuraninya, membuat ia mengerti apakah arti kekurangajaran laki-laki.
Dengan tak disengaja mulutnya berkata.
"Ah, kalau begitu semua laki-laki tak dapat dipecaya dan kurang ajar..."
Suhengnya menatap tajam, membuat ia insyaf telah kelepasan bicara, tak ingat bahwa suhengnya pun seorang laki-laki! Muka Lian Hwa makin merah dan buru-buru ia berkata.
"Maaf, suheng. Bukan maksudku semua laki-laki, ada kecualinya seperti suheng, suhu dan orang-orang seperti para Hwesio di kelenteng ini."
Kata-katanya ini membuat Hwat Khong Hwesio tertawa bergelak-gelak.
Pada saat itu, tiba-tiba seorang Hwesio pelayan datang menghadap Hwat Khong dan melaporkan bahwa di luar ada seorang tamu.
Hwat Khong segera keluar dan ternyata tamu itu adalah Lin Piauw, kepala penjaga keamanan di kampung Pian-bong-kee-chung yang terletak kurang lebih hanya sepuluh lie dari kelenteng Ban-hok-tong dan termasuk sebuah kampung terbesar di kaki bukit Bok-lun-san itu.
Lin Piauw adalah seorang bekas guru silat yang dijuluki orang "Kepalan Baja"
Karena ia terkenal dengan tenaganya yang besar dan kepalan tangannya dengan mudah dapat menembus tembok.
Hwat Khong Hwesio menyambut kedatangan Lin Piauw dengan hormat dan ramah karena ia telah mengenal dan tahu bahwa Lin Piauw adalah seorang gagah yang jujur.
Bahkan ia pernah memberi petunjuk tentang ilmu pukulan kepadanya, sehingga boleh juga disebut bahwa Lin Piauw adalah "setengah"
Muridnya. Lin Piauw juga sangat mengindahkan kepada kepala Hwesio kelenteng Ban Hok Thong itu. Maka begitu berjumpa, segera ia menjura dengan sangat hormatnya dan berkata.
"Lo-Suhu, bagaimanakah keadaan di sini? Siauwte harap saja Lo-Suhu dalam selamat dan tenang."
"Terima kasih, Lin Lauwte, Lohu (aku orang-tua) baik-baik saja. Dan bagaimana dengan pekerjaanmu? Beres dan lancar bukan?"
Tapi Lin Piauw hanya tersenyum masam.
Hwat Khong Hwesio heran melihat perubahan wajah Lin Piauw yang tak sari-sarinya itu.
Ia maklum pasti ada sesuatu yang tidak beres maka setelah seorang pelayan mengeluarkan hidangan teh, ia pesan agar mereka berdua jangan diganggu.
"Lin Lauwte, kita bukan orang yang baru saling mengenal. Maka melihat wajahmu, pasti ada sesuatu yang hendak dibicarakan! Harap Lauwte (anda) katakan terus terang."
Lin Piauw mengucap terima kasih, dan menghela napas lega.
Kemudian menceritakan keadaannya yang membuat hatinya bingung seperti di bawah ini.
Kampung Pian-bong-kee-chung adalah sebuah kampung yang cukup besar dan ramai.
Banyak toko-toko, kedai arak dan rumah obat terdapat di sepanjang jalan kampung itu.
Bahkan di situ terdapat pula empat buah rumah penginapan yang lumayan besarnya, karena di kampung itu tak jarang dikunjungi pedagang dan orang pelancongan.
Kepala kampung di situ adalah seorang she Liu, orang baik dan ia mengatur kampungnya dengan adil sehingga ia disukai oleh rakyat di kampung itu.
Liu chungcu (Kepala Kampung) mempunyai seorang anak perempuan yang cantik dan baru berusia enambelas tahun bernama Liu Siu Hiang.
Gadis ini selain pandai ilmu silat pun pandai pula mengerjakan segala macam pekerjaan tangan yang indah-indah.
Hasil-hasil sulamannya terkenal di kampung itu.
Tapi beberapa hari yang lalu, tiba-tiba saja awan gelap menyelimuti kampung Pian-bong-kee-chung yang aman tenteram itu.
Tiba-tiba malapetaka menimpa dan yang pertama-tama menjadi korban adalah kepala kampung Liu sendiri!
Malam peristiwa itu terjadi gelap sekali, langit hanya diterangi beberapa buah bintang yang suram.
Ketika kentungan peronda berbunyi dua kali menandakan bahwa malam itu telah lewat tengah malam, tiba-tiba para penduduk yang tinggal di dekat gedung Liu chungcu terkejut mendengar suara jeritan wanita yang keras dan menyeramkan.
Liu chungcu sendiri dan beberapa orang penjaga bangun dan segera berkumpul, lalu memburu ke arah suara tadi.
Alangkah terkejutnya ketika mereka menghampiri kamar Liu siocia, mereka lihat pintu kamar itu terbentang lebar.
Dari situlah terdengar suara jeritan tadi.
Liu chungcu dengan hati berdebar-debar segera memasuki kamar puterinya.
Tiba-tiba para penjaga yang berada di luar kamar mendengar majikan mereka berteriak sedih.
Mereka mengintai dan apakah yang terlihat?
Ternyata Liu siocia, gadis remaja yang cantik jelita itu telah roboh di atas lantai di depan ranjangnya dengan mandi darah.
Sebilah pisau belati tertancap di dadanya dan keadaan pakaiannya tidak karuan!
Lin Piauw sebagai kepala penjaga segera memasuki kamar itu dan ia yang telah berpengalaman begitu melihat sekilas saja keadaan gadis itu, tahulah sudah bahwa ini adalah perbuatan seorang penjahat pemetik bunga!
Ia maklum penjahat itu tentu belum lari jauh, maka ia segera mengayun tubuhnya meloncat ke atas genteng dan pergi mencari-cari sambil berloncat-loncatan di atas wuwungan rumah orang.
Ketika sampai di tembok kampung sebelah selatan, tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan yang menggendong sesuatu di pundaknya terbang mendatangi ke arahnya.
Lin Piauw si Kepalan Baja cepat bersembunyi sambil mengintai.
Tiba-tiba dari jurusan yang berlawanan datang pula sesosok bayangan orang yang gerakannya gesit sekali.
Orang itu memegang sebilah pedang.
Dua bayangan orang itu bertemu di atas sebuah wuwungan rumah yang tak jauh dari situ, maka Lin Piauw segera mendekati dengan diam-diam sambil memasang mata dan telinganya.
Ternyata olehnya bahwa bayangan tu adalah seorang wanita muda dan seorang laki-laki.
Si wanita membawa sebuah kantung di pundak dan laki-laki itu memegang sebilah pedang.
Mereka berdua mengenakan pakaian serba hitam, khusus pakaian jalan malam.
"Moi-moi (adik), bagaimana hasilmu?"
Tanya laki-laki itu. Kawannya mengangkat kantung yang digantungkan di pundaknya ke atas.
"Semua emas,"
Katanya tertawa merdu.
"Dan kau bagaimana? Berhasilkah di gedung kepala kampung itu?"
Laki-laki itu menggelengkan kepala.
"Sayang, sebelum aku dapat mengambil sesuatu yang berharga, anaknya bangun dan berteriak, terpaksa kubereskan!"
"Anak gadis, bukan? Ah, lagi-lagi kau menyakiti hatiku, koko (kanda)."
Karena sudah jelas bahwa inilah orang yang dicari, Lin Piauw segera melompat keluar dan membentak.
"Bangsat cabul! Lekas menyerah kalau tak ingin mampus!"
Kedua orang itu terkejut dan perempuan itu mencabut pedangnya.
"Biarkan saja, moi-moi jangan ikut-ikut. Biar aku sendiri membereskan anjing ini,"
Kata yang laki-laki.
Lin Piauw tak banyak bicara lagi, segera menyerang dengan goloknya.
Penjahat cabul itu menangkis dengan pedangnya dan tak lama kemudian mereka berdua bertempur di atas genteng dengan hebat.
Lin Piauw segera mengetahui bahwa bangsat itu ilmu silatnya lihai juga, maka segera ia mengeluarkan ajaran dan petunjuk-petunjuk Hwat Kong Hwesio.
Goloknya menyambar-nyambar bagaikan kitiran angin dalam gerakan Hong-sauw-pai-yap (Angin Menyapu Daun Rontok).
Segera penjahat itu keteteran dan hanya dapat menangkis saja.
Pada satu saat golok Lin Piauw menyambar ke arah leher, lawannya menangkis dengan pedang tapi golok yang tertangkis itu terus terayun ke bawah mengarah kaki lawan dengan gerakan gesit sekali.
Lawannya tak sempat menangkis, hanya berkelit melompat ke atas untuk menghindari, kaki kirinya mengirim tendangan yang dapat ditangkis pula oleh lawannya dengan tangan kiri, tapi bangsat itu menjadi sangat gugup dan terdesak.
Saat yang baik ini digunakan oleh Lin Piauw untuk menyerang makin hebat.
Pada saat itu sudah hampir mendapat kemenangan, tiba-tiba dari belakang menyambar angin dingin dibarengi bentakan halus.
"Pergilah kau!"
Lin Piauw terkejut bukan main karena biarpun dengan cepat ia berkelit, namun pedang yang menyerangnya dari belakang itu masih menyerempet pundaknya dan merobek bajunya.
Segera ia berloncat ke sisi dan siap menghadapi musuh baru yang ternyata adalah perempuan muda itu.
Hebat sekali gerakan lawan baru ini, gerakan pedangnya cepat dan lincah.
Sedangkan menghadapi lawan yang tadi saja kepandaianya tidak jauh selisihnya, apa pula kini dikeroyok dua, maka baru bertempur beberapa jurus saja Lin Piauw tak kuat menahan pula.
Terpaksa ia menggunakan saat baik untuk meloncat keluar kalangan dan kabur!
Kedua penjahat itu tak mengejarnya, hanya terdengar suara ketawa mengejek dari si penjahat wanita yang membuat Lin Piauw merasa gemas dan marah sekali.
Semenjak hari itu, maka berturut-turut beberapa rumah hartawan di kampung itu didatangi penjahat yang menggondol tidak sedikit jumlahnya uang dan emas.
Dan seorang gadis she Him terbunuh pula oleh penjahat cabul pemetik bunga itu.
Lin Piauw merasa sangat bingung dan kuatir.
Ia sebagai kepala penjaga yang bertanggung jawab akan keamanan kampungnya tentu saja mendapat teguran keras dari kepala kampung.
Akhirnya ia mendengar bahwa di kelenteng Ban-hok-thong kedatangan seorang gadis cantik yang tinggal di situ.
Menurut keterangan seorang daripada beberapa mata-matanya yang sengaja disebar, gadis itu agaknya pandai silat karena datangnya membawa pedang.
Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan Lin Piauw, tapi karena mengingat Hwat Khong Hwesio, ia tidak berani bertindak serampangan.
Maka setelah menceritakan hal yang menyusahkan hatinya itu ia bertanya kepada Hwat Khong.
"Maaf, Lo-Suhu. Bukan maksud siauwte untuk berlaku kurang hormat. Tapi siauwte mendengar bahwa di kelenteng Lo-Suhu kedatangan tamu seorang wanita. Bolehkah kiranya siauwte mengetahui siapakah gerangan tamu itu?"
Hwat Khong tertawa geli.
"Ha, ha, Lin Lauwte agaknya mencurigai kelentengku?"
Lin Piauw buru-buru berdiri menjura dalam.
"Sekali-kali tidak, Lo-Suhu. Mana berani siauwte, berlaku kurang ajar? Hanya tak lain, untuk urusan ini siauwte sungguh-sungguh mengharapkan budi kebaikan dan pertolongan Lo-Suhu karena siauwte merasa tenaga sendiri tidak cakap dan lemah. Mohon kasihanlah kepadaku Lo-Suhu dan juga atas nama semua penduduk kampung Pian-bong-kee-chung siauwte mohon bantuan!"
Hwat Khong Hwesio segera membalas hormat.
"Jangan see-ji (sungkan) dan jangan gelisah, Lin Lauwte. Duduklah dan tunggu sebentar, pinceng akan perkenalkan tamu yang kaucurigai itu kepadamu."
Ia segera masuk ke dalam meninggalkan Lin Piauw yang menanti dengan hati tidak sedap.
Sebentar kemudian Hwat Khong kembali, diikuti oleh Lian Hwa.
Lin Piauw segera berdiri memberi hormat dan satu lirikan tajam ke arah gadis itu membuat ia yakin bahwa Lian Hwa bukanlah wanita yang telah melukainya pada malam itu.
"Nah, Lin Lauwte, ini adalah tamu yang kaumaksudkan itu. Ia tak lain adalah Han sumoi!"
Lin Piauw terkejut dan heran mendengar Hwat Khong Hwesio memperkenalkan gadis itu sebagai adik seperguruannya! Segera ia memberi hormat kepada Lian Hwa sambil berkata.
"Han Lihiap, mohon dimaafkan jika aku berlaku sembrono."
Han Lian Hwa membalas hormat sepantasnya. Ia tidak kikuk pula tentang cara kesopanan setelah mendapat didikan suhengnya. Sambil tersenyum ia berkata.
"Jangan sungkan, saudara Lin, silakan duduk."
Kemudian Hwat Khong menjelaskan dengan singkat tentang kedatangan Lin Piauw yang minta tolong bantuan tenaga untuk menangkap kedua pengacau kampung Pian-bong-kee-chung.
Lian Hwa lalu menyatakan kesanggupannya pula untuk membantu usaha suhengnya menolong kampung itu.
Dengan serta merta Lin Piauw menghaturkan terima kasihnya, kemudian ia bermohon diri dengan hati lega.
Tapi dalam hatinya tak bisa heran memikirkan bagaimana Hwat Khong yang lihai ilmu silatnya itu mempunyai sumoi seorang gadis kecil seperti itu!
Ia tak percaya gadis itu dapat mempunyai ilmu silat yang tinggi.
Setelah Lin Piauw pergi, Lian Hwa yang sejak tadi telah tak sabar pula menahan hatinya, kini segera mengajukan pertanyaan kepada suhengnya.
"Suheng, apakah artinya penjahat pemetik bunga seperti yang diceritakan oleh tuan Lin Piauw tadi?"
Agak bingung juga Hwat Khong Hwesio mendengar pertanyaan ini!
Bagaimana ia harus menerangkan?
Ia maklum bahwa sumoinya itu adalah seorang gadis yang jujur dan polos, maka terpaksa ia menjawab juga pertanyaan yang keluar dari hati yang jujur dan betul-betul belum mengerti itu.
"Sumoi, kau masih ingat Peng Bouw, laki-laki kurang ajar dulu itu? Nah, penjahat cabul ini juga seorang laki-laki kurang ajar, bahkan jauh lebih jahat daripada Peng Bouw, tidak segan-segan membunuh wanita yang tidak sudi dijadikan kurbannya! Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu menangkap penjahat dan kawannya perempuan si pencuri itu. Hanya sekarang bagaimana kita harus bertindak? Kita tidak tahu sarang mereka dan juga tidak kenal wajah mereka."
Han Lian Hwa sungguhpun kurang pengalaman, namun ia mempunyai kecerdikan otak yang luar biasa, kalau tidak demikian halnya tidak mungkin ia bisa mempelajari segala ilmu silat yang tinggi dari Ong Lun sedemikian mahirnya.
Maka segera ia tersenyum dan mengemukakan siasatnya kepada Hwat Kong.
Suhengnya mendengar siasat ini mula-mula mengerutkan alis, tapi kemudian mengangguk-angguk menyatakan setuju.
Pada keesokan harinya, di rumah penginapan Kim Ma Li-koan yang berada di tengah-tengah kampung Pian-bong-kee-chung dan merupakan penginapan yang terbesar dan paling mewah di kampung itu, datang seorang nona cantik dengan pakaian indah.
Ia memilih kamar terbesar, dan karena sikapnya yang royal, maka para pelayan sangat hormat padanya.
Pula, tentu saja mereka sangat senang melayani seorang nona elok seperti tamu itu.
Tamu itu bukan lain ialah, Han Lian Hwa yang mulai menjalankan siasatnya "memancing harimau keluar dari guanya."
Ia sengaja bermalam di hotel itu, dan pada siang harinya ia berjalan-jalan melihat-lihat telaga kecil di pinggir kampung yang menjadi pusat pelancong.
Belum lama ia berjalan, matanya yang tajam melihat seorang pemuda yang sangat memperhatikan dirinya.
Ketika ia masuk ke dalam sebuah rumah makan kecil di dekat telaga itu, pemuda itupun masuk pula dan duduk tak jauh dari mejanya.
Mata pemuda itu terus menerus mengincar padanya.
Lian Hwa sangat jemu melihat lagak orang itu, tapi ia bersabar diri.
Diam-diam ia perhatikan pemuda yang mencurigakan itu.
Pemuda itu kira-kira berusia dua puluh lima tahun, wajahnya cakap matanya bersinar.
Pakaiannya mewah, baju berwarna merah dan celana biru.
Dari gerak-geriknya, maklumlah Lian Hwa bahwa pemuda itu seorang yang mengerti ilmu silat.
Setelah puas berputar-putar, Lian Hwa kembali ke hotelnya, dan ia tahu bahwa pemuda itu diam-diam mengikutinya.
Kini hati gadis itu setengah yakin bahwa inilah mungkin harimau yang dipancingnya keluar itu, maka diam-diam ia berhati-hati.
Malam hari itu kebetulan terang bulan.
Kamar Lian Hwa siang-siang sudah gelap, menandakan bahwa gadis itu sudah masuk tidur.
Kira-kira menjelang tengah malam sesosok bayangan orang berkelebat di atas genteng rumah penginapan Kim Ma Li-koan.
Tindakan kakinya ringan dan gesit, menandakan tingginya ilmu meringankan diri orang itu.
Tapi ia tidak menduga sama sekali bahwa jauh di belakangnya terdapat bayangan lain yang mengintainya bayangan seorang Hwesio gundul yang berlari dan berloncatan dengan gesit sekali.
Tamu malam itu menghampiri kamar Han Lian Hwa dan dengan gerak tipu Kwie-liong-seng-thian (Naga Setan Naik ke Langit) ia melayang turun dari atas genteng.
Dengan hati-hati ia menghampiri jendela dan menggunakan pedangnya mencokel daun jendela terbuka.
Kemudian ia meloncat masuk.
Alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat, kamar itu telah kosong dan dengan cepat ia meloncat keluar lagi.
Tapi ternyata di luar jendela telah menanti Han Lian Hwa yang telah bersiap-siap di luar kamar dan melihat jelas ketika penjahat itu mencokel jendelanya.
Ia sengaja mendiamkan saja karena ingin menunggu penjahat itu dan ingin melihat bagaimana cara kerjanya.
Penjahat cabul itu melihat ada seorang di luar jendela tanpa banyak cakap lalu meloncat ke atas genteng hendak kabur.
Tapi, sungguh heran, ketika kakinya menginjak wuwungan, ternyata gadis yang tadi berdiri tersenyum-senyum di bawah ternyata telah berada pula di situ, masih berdiri tersenyum mengejek.
Baca Juga: Si Bangau Merah 1
Baca Juga: Naga Sakti Sungai Kuning 2