Eps 6 Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo.
Mendengar ucapan itu, Cu Yin merasa isi kepalanya seperti dibakar. Sepasang matanya mendelik seperti mengeluark api dan tangan kanannya bergerak.
"Singgg....."
La telah mencabut pedangnya dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Kui Lin.
"Bocah keparat bosan hidup! Katakan dulu siapa namamu agar engkau tidak mati tanpa nama!"
Bentaknya.
"Hari ini nonamu Ang Hwa Niocu akan membunuhmu!"
"Mau tahu aku siapa? Jangan gemetar ketakutan kalau engkau tahu julukanku. Aku adalah Hek I-Lihiap yang sudah terkenal di seluruh dunia sebagai tukang membunuh nenek-nenek jelek dan jahat"
"Jahanam busuuuuuukkk!"
Ang Hwa Niocu yang biasanya pandai bicara itu sekali ini mati kutu karena ia sudah terbakar isi hati dan kepalanya sehingga tidak mampu membalas ucapan pedas yang amat menghina itu.
Ia sudah menyerang dengan pedangnya, menusuk arah dada yang mulai membusung itu.
"Eiiittttt! Nenek-nenek ini galak juga!"
Kata Kui Lin yang diam-diam terkejut sekali melihat serangan yang demikian ganas dan cepat.
la melompat ke belakang dan cepat menghunus pedangnya yang dipakai sebagai sabuk.
Dua orang wanita yang sama-sama cantik ini segera saling serang dan gerakan mereka yang indah dan ringan membuat tubuh mereka berubah menjadi bayang-bayang yang terselimuti dua gulungan sinar pedang yang saling menekan dan saling menolak.
Melihat Ang Hwa Niocu sudah saling serang dengan gadis remaja yang datang memaki-maki tadi, Hong San Siansu berkata kepada Pangeran Chou Kuang Tian.
"Nah sekarang bersiaplah untuk mampus, Chou Kuang Tian!"
Setelah berkata demikian, Hong San Siansu menyerang lagi, diikuti oleh Kallon sehingga terpaksa Chou Kuang Tian memutar tombaknya sambil mundur.
Akan tetapi tampak bayangan putih kelebat dan ada angin menyambar dahsyat ke arah dua orang itu.
Hong Siansu terkejut sekali karena sambaran angin itu membuat dia tertahan dan tidak dapat maju.
bahkan Kalion sampai terhuyung ke belakang!
Ternyata di situ telah berdiri seorang pemuda berpakaian putih yang bukan lain adalah Sin-tiaw Eng-hiong Si Han Lin!
Hong San Siansu yang berpengalaman tidak memandang rendah pemuda ini, karena dari dorongannya yang mendatangkan angin dahsyat itu saja membuat dia menyadari bahwa pemuda itu adalah seorang yang amat tangguh.
Dia tidak mau berpanjang kata lagi karena kalau gagal membunuh Pangeran Mahkota dan gagal pula membunuh Pangeran Chou Kuang Tian, tentu dia akan mendapat teguran keras dari Pangeran Chou Ban Heng yang kini berpangkat Jenderal.
Maka dia segera menyerang Han Lin dengan pedangnya yang dia lontarkan atas dan menggunakan kekuatan sihir untuk mengendalikan pedang itu.
Pedang itu terbang dan berubah menjadi sinar yang menyambar ke arah leher Han Lin, Pemuda ini juga maklum akan datangnya serangan seorang lawan berat, maka cepat bagaikan kilat tangannya sudah mencabut Pek-sin-kiam.
Cahaya putih berkelebat ketika dia menggunakan Pek-sin-kiam untuk membacok ke arah pedang terbang itu sambil mengerahkan naga saktinya.
"Hyaaattttt"!"Dia berseru dan sinar putih pedangnya menyambar ke arah sinat kuning dari pedang terbang lawan.
"Trakkk""
Pedang terbang itu patah menjadi dua dan jatuh ke atas tanah.
Sepasang rnata Hong San Siansu terbelalak.
Pedangnya patah oleh pedang pemuda itu.
Hampir dia tidak dapat percaya dan dia melihat betapa pemuda itu dengan tenangnya menyarungkan kembali pedangnya.
Gerakan ini memanaskan perutnya, jelas bahwa pemuda itu memandang rendah dirinya.
Setelah pedangnya dibikin patah, pemuda itu agaknya merasa tak perlu menggunakan senjata lagi untuk melawan dia yang senjatanya sudah patah!
Tentu saja sebagai seorang tokoh besar dunia kangouw yang juga berdudukan sebagai Ketua Hong-sanpang, Hongsan Siansu Kwee Cin Lok menjadi penasaran dan marah sekali.
Masa tidak mampu menandingi seorang yang usianya baru dua puluh tahun dan yang pantas menjadi cucunya?
Akan tetapi, dia juga ingin sekali mengetahui siapa adanya pemuda ini.
"Bocah sombong, siapa engkau berani melawan aku Hongsan Siansu ketua Hong san-pang?"
"Hongsan Siansu, namaku SI Han Lin. Pergilah dan ajak dua orang temanmu itu. Tidak pantas rasanya seorang yang berjuluk Siansu sepertimu mengeroyok dan hendak membunuh orang!"
Kata Han Lin dengan tenang.
Dia memang tidak tahu mengapa ada perkelahian di situ akan tetap!
melihat orang dikeroroyok tentu saja dia dan Kui Lin turun tangan membantu pihak yang dikeroyok karena mereka berdua melihat betapa para pengeroyok itu berusaha sungguh sungguh untuk membunuh orang yang dikeroyok.
Han Lin tidak ingin membuat permusuhan dia mengalah dan hanya menyuruh mereka pergi.
Akan tetapi Hongsan Siansu sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi yang dikuasai oleh kemarahan karena merasa dipandang remeh oleh pemuda ingusan itu.
"Haiiiittt".!"
Dia berteriak lantang dengan kedua tangannya secara bergantian dia memukul dengan pukulan jarak jauh Thai-tek-jiu!.
Sebelum memukulkan kedua telapak tangannya, dia tadi menggosok-gosok kedua telapak tangannya sehingga tampak asap mengepul dan terdengar suara berkeritikan disusul munculnya bunga api!.
Itulah ilmu pukular Thai-tek-jiu (Pukulan Halilintar) yang amat ampuh.
Han Lin memang sudah siap sejak tadi.
Dia maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan tangguh, maka dia bersikap hati-hati dan waspada.
Begitu melihat kakek itu menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang mengeluarkan bara api dan asap, dia pun mengetahui bahwa Hongsan Siansu memiliki pukulan yang berhawa panas melebihi api dan kalau pukulan itu mengenai tubuh yang tidak memiliki kekebalan yang kuat, kulit tubuh dapat hancur terkelupas seperti terkena air mendidih.
Dia cepat menyambut dengan kedua tangannya didorongkan ke depan sambil mengerahkan sin-kang yang berhawa dingin.
"Wuuuttttt."
Wessssshhhhb...!"
Desis itu berkepanjangan seperti bara dimasukkan ke dalam air dan tampak dari kedua tangan Hongsan Siansu mengebulkan banyak asap.
Tadinya Hongsan Siansu yang ingin membuat lawan roboh, menyerang sambil menerjang maju sehingga kedua tangannya bertemu dengan kedua tangan Han Lin.
Akan tetapi akibatnya membuat dia kaget setengah mati karena hawa panas dari kedua telapak tangannya seperti api yang disiram air.
Seluruh tubuhnya menggigil dan ketika Han Lin melepaskan tenaganya, barulah Hongsan Siansu dapat menarik kembali kedua tangannya yang tadi seolah melekat pada telapak tangan pemuda itu.
Dia terhuyung ke belakang dan segera melompat berlindung di balik asap putih tebal.
Kini Han Lin yang tidak mempedulikan lawannya, cepat mengibaskan tangannya ke arah Ang Hwa Niocu dan Kallon yang membuat Kui Lin dan Pangeran Chou Kuang Tian terdesak.
Sambaran angin yang keluar dari kibasan tangannya pun terasa berat bagi Ang Hwa Niocu dan Kallon sehingga mereka terdorong kebelakang.
Mereka terkejut, apalagi melihat betapa Hongsan Siansu sudah melarikan diri.
Mereka juga segera berlompatan pergi mengejar ketua Hong-san-pang Itu.
Pangeran Chou Kuang Tian kini berhadapan dengan Han Lin dan Kui Lin.
Memandang kagum sekali dan amat bersyukur karena dia tahu bahwa tanpa adanya dua orang muda itu dia pasti tidak akan mampu meloloskan diri dari terkaman maut di tangan tiga orang yang berkepandaian tinggi itu.
Maka biarpun dia seorang pangeran adik Kaisar, namun Pengeran Chou Kuang Tian mendahului memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap di depan dada dan menjura.
"Terima kasih atas pertolongan ji-wi (Anda berdua) yang menyelamatkan saya dari tangan orang-orang jahat tadi"
"Ah, tidak perlu berterima kasih pada kami, Sobat. Sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu orang-orang yang terancam oleh orang-orang jahat. Akan tetapi mengapa engkau dikeroyok oleh dua orang sakti itu. Siapakah engkau?"
Tanya Han Lin sambil mengamati wajah yang gagah dan pakaian yang terbuat dan sutera halus itu. Tanpa ada nada membanggakan di Pangeran Chou Kuang Tian menjawab "Saya adalah Pangeran Chou Kuang Tian."
Tentu saja Han Lin dan Kui Lin terkejut bukan main. Bahkan Kui Lin cepat, berlutut di depan pangeran itu.
"Aih, ampunkan saya, Pangeran, saya tidak nengenal Paduka sehingga bersikap kurang hormat."
"Pangeran? Sungguh mengejutkan dapat berjumpa dengan Paduka di tempat ini."
Kata Han Lin sambil memberi hormat dan membungkuk. Pangeran Chou Kuang Tian tertawa.
"He..he.. jangan bersikap berlebihan. Nona. Di hutan seperti ini kita tidak perlu pergunakan banyak upacara peradatan. siapakah kalian dua orang pemuda yang lihai?"
"Pangeran, sayabernama Si Han Lin ini adalah Song Kui Lin. Kebetulankami dapat bertemu dengan Pangeran disini karenasesungguhnya kami berdua juga sedang dalam perjalanan menuju ke kota raja dan hendak menghadap Paduka."
"Ah, benarkah? Kalian berdua hendak menemuiku di kota raja?"
"Benar, Pangeran. Sebetulnya, Adik Song Kui Lin inilah yang hendak menghadap Paduka dan saya hanya mengantarkannya. la membawa surat dari ayah tirinya untuk disampaikan kepada Paduka."
"Ah, benarkah itu,Nona Song? Siapakah ayahmu dan di mana dia tinggal?"
"Ayah tiri saya bernama Kwa Siong dan dia menjadi perwira kepala keamanan kota Cin-an, Pangeran."
"Perwira Kwa Siong, kepala keamanan di Cln-an? Ahhh, ya, aku ingat dan engkau ini anaknya, Nona?"
"Anak tirinya. Pangeran. Perwira Kwa Siong seorang duda, ibuku seorang janda maka"..mereka..... eh, kini Pewira Kwa menjadi ayah tiri saya. Ini surat untuk Paduka."
Pangeran Chou Kuang Tian menerima surat itu, membuka dan membaca. Dia mengangguk-angguk dan alisnya berkerut.
"Hemmm, agaknya Perwira Kwa Siong lebih tahu akan pengkhianatan Jenderal Chou Ban Heng. Aku memang sudah curiga ketika melihat Hongsan Siansu tadi karena dia adalah orang kepercayaan Jenderal Chou Ban Heng! Bagus sekali. Ayahmu menganjurkan agar engkau membantu kami memperkuat Kerajaan Sung dari pemberontakan sisa-sisa orang yang berniat mendirikan kembali Kerajaan Chou. Mari, engkau ikut denganku ke istana, Song Kui Lin. Dan engkau juga Si Han Lin. Aku menyebut nama kalian begitu saja karena bagaimanapun juga kalian masih muda dan pantas menjadi anak atau keponakanku. Mari kita berangkat."
"Silakan Paduka pergi ke istana bersama Adik Kui Lin, Pangeran. Saya sendiri siap sedia membantu, akan tetapi saya ingin bebas dan akan tinggal di rumah penginapan saja."
Pangeran Chou Kuang Tian maklum akan watak para pendekar kangouw yarig tidak suka terikat, maka ia menawarkan kudanya untuk ditunggangi Kui Lin.
Dia sendiri berjalan kaki ditemani Han Lin.
Sikap ini saja membuat Han Lin dan Kui Lin kagum sekali.
Pangeran adik kaisar ini benar-benar seorang yang bijaksana dan sama sekali tidak sombong, mau mengalah kepada seorang wanita, menyuruh Kui Lin menunggangi kudanya sedangkan dia sendiri malah berjalan kaki.
Jenderal Chou Ban Heng tentu saja segera mendengar betapa usahanya menyuruh bunuh Pangeran Mahkota melalui tiga orang sekutunya telah gagal, bahkan dua orang anggota Hong-san-pang yang melaksanakan tugas pembunuhan itu telah tewas di tangan Pangeran Chou Kuang Tian.
Diam-diam dia telah mendenar berita ini dari gurunya, yaitu Hongsan Siansu yang menceritakan betapa Hongsan Siansu, Kallon, dan Ang Hwa Niocu juga gagal membunuh Pangeran Chou Kuang Tian karena munculnya Si Han Lin dan seorang gadis berjuluk Hek I Lihiap.
Peristiwa ini dengan sendirinya membuat Jenderal Chou Ban Heng berhati hati dan dia memesan agar Hongsan Siansu jangan kembali ke kota raja melainkan siap di luar kota raja menunggu perintah darinya.
Demikian pula dengan Kallon dan Ang Hwa Niocu karena mereka telah dikenal oleh Pangerai Chou Kuang Tian sebagai tiga orang yang menyuruh bunuh Pangeran Mahkota Thian Cu.
Akan tetapi kegagalan itu sama sekali tidak membuat Jenderal Chou Ban Heng gentar atau mundur.
Dia tetap bersemangat untuk menjatuhkan Kerajaan Sung yang baru berdiri selama sebelas tahun dan membangun kembali Kerajaan Chou yang telah jatuh.
Cita-citanya untukmerampas tahta kerajaan ini bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan terutama sekali karena perasaan dendam terhadap Kaisar Sung Thai Cu, kaisar pertama Kerajaan Sung.
Kaisar Sung Thai Cu dahulu adalah bernama Chou Kuang Yin, masih semarga dengannya, karena merupakan keluarga jauh dari Kaisar Chou Ong.
Chou Kuang Yin tadinya seorang panglima yang kemudian memberontak, merampas tahta kerajaan, bahkan mengganti Dinasti Chou menjadi Dinasti Sung.
Padahal dia merupakan keponakan semarga dengan mendiang Kaisar Chou Ong.
Jadi, sepantasnya dialah yang menggantikan kaisar itu dan melanjutkan Dinasti Chou.
Dendam inilah yang membuat Jenderal Chou Ban Heng bersemangat dan nekat untuk menggulingkan Kaisar Sung Thai Cu, bahkan membunuh Putera Mahkota Thian Cu yang kemudian gagal Itu.
Tentu saja Jenderal Chou Ban Heng bukan hanya mengandalkan bantuan Hongsan Siansu, Kallon, dan Ang Hwa Niocu untuk mencapai niatnya menggulingkan Kaisar Sung Thai Cu.
Dia masih mempunyai banyak pembantu pendukung yang lihai, di antaranya Kanglam Sinkiam Kwan In Su, Im Yang Tosu dan terutama sekali puteranya sendiri Chou Kian Ki yang kini memiliki kesaktian melampaui tiga orang gurunya yaitu Hongsan Siansu, Kanglam Sinkiang dan lm Yang Tosu, setelah dia menerima gemblengan dari manusia sakti mendiang Thian Beng Siansu.
Di samping dua orang sakti dan terutama puteranya sendiri itu.
Jenderal Chou Ban Heng masih mempunyai belasan orang perwira yang dahulu merupakan bekas perwira Kerajaan Chou dan dapat dibujuknya untuk membangun kembali Kerajaan Chou dan memusuhi kerajaan baru Sung Itu.
Di sini terbukti bahwa tidak ada sesuatu yang seluruhnya baik atau seluruhnya buruk.
Yang baik mendatangkan yang buruk, sebaliknya yang buruk mendatangkan yang baik.
Sikap Chou Kuang Yin setelah menjadi kaisar pertama Dinasti Sung dengan nama Kaisar Sung Cu adalah sikap lunak terhadap bekas keluarga dan bangsawan Kerajaan Chou.
Hal ini mungkin karena dia sendiri terhitung sanak keluarga Chou.
Dia merima mereka yang menakluk, bahkan memberi kedudukan terhormat kepada pejabat tinggi Kerajaan Chou.
Bahkan dia mengangkat Jenderal Chou Ban Heng yang dahulu merupakan keluar dekat kaisar, menjadi Penasehat Angkatan Perang dari Kerajaan Sung.
Dahulu, pada waktu Kerajaan Chou, dia adalah panglima yang bertugas di daerah itu tentu saja sikap Kaisar Sung Thai Cu mengandung maksud agar para bangsawan bekas pejabat tinggi Kerajaan Chou itu akan merasa senang dan setia kepada kerajaan baru Sung karena mereka sama sekali tidak dihukum atau dikucilkan, bahkan diberi pangkat dan kehormatan.
Akan tetapi segi buruknya segera muncul.
Karena mereka itu berada di pihak kerajaan yang dikalahkan dan dijatuhkan, mereka masih mendendam kepada kerajaan baru dan setelah mereka diberi kedudukan tinggi.
Justru mereka mendapatkan peluang untuk membalas dendam mereka kepada pemerintahan baru.
Kalau saja Kaisar Sung Thal tidak bersikap demikian, melainkan sikap keras kepada bekas para petinggi Kerajaan Chou, kiranya mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menghimpun kekuatan karena gerakan mereka sedikit saja akan ketahuan mudah ditumpas!
Biarpun usahanya membunuh Pangeran Mahkota gagal dan kini tidak ada sempatan lagi karena keamanan Pangeran Mahkota dijaga kuat oleh Pangeran Chou Kuang Tian, namun Pangeran Chou Ban Heng tidak mundur.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, kini bahkan Chou Kian Ki sendiri diam-diam mengamuk dalam dua atau tiga hari sekali tentu ada pejabat tinggi pemerintah yang setia kepada Kaisar Sung Thai Cu dibunuhnya.
Dia tidak meninggalkan bekas dan sang pejabat tinggi terbunuh di dalam kamarnya tanpa ada yang melihat siapa pembunuhnya.
Tentu saja bukan hanya dia yang melakukan pembunuhan ini, melainkan juga Kanglam Sinkiam dan Im Yang Tosu yang keduanya setia kepada Keraja-Chou yang sudah jatuh.
Kota raja menjadi gempar setelah ada belasan orang pejabat tinggi tewas terbunuh dan tidak ada yang tahu atau menduga siapa pelaku pembunuhan itu.
Pangeran Chou Kuang Tian tentu saja sudah menduga atau setidaknya dia curiga terhadap Jenderal Chou Ban Heng.
Akan tetapi tidak mungkin dia menuduh begitu saja tanpa ada buktinya.
Bahkan usaha Hongsan Siansu untuk membunuhnya Itu pun tidak dapat dia jadikan sebagai bukti terlibatnya Jenderal Chou Ban Heng karena dari para penyelidiknya dia mendengar bahwa kini Hongsan Siansu tidak lagi berada di istana Jenderal Chou Ban Heng.
Pada suatu pagi yang cerah, seorang pemuda melangkah lebar memasuki pintu gerbang kota raja bagian selatan, pemuda itu berusia sekitar dua puluh tiga tahun, bertubuh tinggi besar, pakaiannya sederhana terbuat dari kain kasar kuat.
Wajahnya jantan dan gagah dari sepasang mata yang membayangkan kejujuran dan keberanian.
Biarpun usia masih muda, namun pemuda itu tidak malu atau ragu untuk berjalan sambil membawa tongkat!
Sebetulnya, tentu saja dia tidak membutuhton bantuan tongkat untuk berjalan.
Langkahnya tegap lebar seperti seekor harimau.Yang dibawanya itu bukan sembarang tongkat melainkan sebatang toya yang menjadi senjata andalannya.
Tiba-tiba dia melihat orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya minggir ke tepi jalan.
Ternyata dari depan datang serombongan perajurit kuda, dipimpin oleh seorang perwira gagah yang rnenunggang kuda paling depan.
Agaknya sang perwira ini bangga sekali menunggang kuda yang tinggi dan dengan pakaian gemerlapan dia merasa seolah seorang panglima besar.
Wajahnya penuh senyum bangga melihat di kanan jalan orang-orang berdiri dan memandangnya dengan kagum.
Pasukan itu terdiri dari dua losin orang perajurit.
Tiba-tiba seorang gadis remaja menyebrang jalan sambil membawa sebuah keranjang berisi telur.
Agaknya ia tergesa-gesa hendak mengantarkan sekeranjang telur itu kepada warung langganannya dan karena ada pasukan hendak lewat, ia mendahului menyeberang.
Karena tergesa-gesa ini, dua butir telur menggelinding dan jatuh ke atas jalan.
Gadis remaja itu terkejut dan otomatis ia berjongkok seolah hendak memungut dua butir telur.
Tentu saja sia-sia karena telur itu telah pecah.
Karena berjongkok itu maka perwira yang menunggang kuda paling depan tahu-tahu telah berada di dekatnya.
Kuda yangg ditunggangi perwira itu kaget dan meringkik sambil mengangkat kedua kaki depan ke atas.
Hampir saja perwira itu jatuh akan tetapi dia segera dapat menguasai dan menenangkan kudanya.
Marahlah dia karena kalau sampai dia tadi terjatuh, dia tentu akan menjadi tertawaan para penonton.
"Gadis jahat Apa kau sudah gila."
Cambuknya melecut ke arah gadis itu "Tar-tar"."
Gadis remaja itu menjerit, keranjang itu terlepas dari tangannya yang berdarah dan tentu saja beberapa puluh butir telur dalam keranjang itu pecah semua! "Hai, jangan pukul anakku!"
Terdengar seorang laki-laki setengah tua berlari kedepan kuda sang perwira dan menudingkan telunjuknya menegur perwira sambil merangkul puterinya.
"Minggir kau. pengemis busuk!"
Perwira itu kini marah sekali dan kembali cambuknya meledak-ledak, kini tubuh dan muka petani itu yang dijadikan sasaran.
Petani Itu mengaduh-aduh, akan tetapi Sang Perwira melanjutkan lecutan cambuknya.
"Pergi kalian!"
Bentaknya.
Tiba-tiba cambuknya yang melecut Itu tertahan dan ketika dia memandang ternyata ujung cambuknya itu telah ditangkap oleh seorang pemuda tinggi besar yang membawa tongkat.
Pemuda tadilah yang segera menolong ayah dan anak Itu dengan menangkap ujung cambuk.
"Bangsat, lepaskan cambukku!"
Perwira itu menarik-narik dengan sekuat tenaga. Akan tetapi cambuknya tetap tertahan oleh tangan yang kuat dari pemuda tinggi besar itu.
"Paman, bawalah anakmu minggir, biar aku yang menghajar anjing ini!"
Katanya. Petani itu merangkul anaknya dan terseok-seok mereka melangkah ke tepi jalan raya.
"Jahanam busuk, berani engkau memaki aku anjing? Engkau bosan hidup"
Perrwira Itu marah sekali dan kini dengan sekuat tenaga dia menarik cambuknya. Tiba tiba pemuda itu melepas ujung cambuk dan mengarahkannya kepada muka perwira itu.
"Syuuut..... plakkk"
Muka perwira itu dihantam cambuknya sendiri sehingga tampak bilur merah melintang di wajahnya.
Orang-orang yang melihat ini rnenjadi geli dan mereka tertawa, biarpun sambil menahan suara tawa mereka sih tampak mulut mereka terbuka menyeringai!
Perwira Itu bagaikan kesetanan.
Sambil memaki-maki, kembali cambut melecut ke arah kepala pemuda itu.
Ketenangan pemuda itu luar biasa sekali.
Dia menanti sampai ujung cambuk menyambar dekat lalu tangan kirinya memegang tongkat dia angkat sehingga ujung cambuk perwira Itu mengenai toya dan melibat, kemudian tangan menjangkau ke depan, menangkap kaki perwira itu dan sekali tarik dengan sentakan kuat tubuh perwira itu tertarik jatuh dari atas kuda dan cambuknya yang melibat toya juga telah dapat dirampas lepas dari tangannya.
Sebelum tubuh perwira Itu dapat bangkit kembali, pemuda Itu memegang gagang cambuk dengan tangan kanannya lalu dia mencambuki perwira itu sambil berseru.
"Ini untuk gadis remaja tadi tar... tar"
Tar""! Ujung cambuk meluncur dan merobek lengan baju berikut kulit lengan sang perwira.
"lni untuk ayah gadis tadi..... tarr..tarrr...!!"
Kini ujung cambuk memecut muka dan dada sehingga perwira berkaok-kaok kesakitan.
"Dan ini untuk pengganti telur-telur yang pecah..... tar-tar-tar-tar.....!"
Baju perwira itu robek-robek dan melihat banyaknya darah berlepotan di bajunya dapat diketahui bahwa kulit tubuhnya tentu pecah-pecah tersayat cambuk.
Kejadian itu berlangsung cepat sekali sehingga para perajurit hanya bengong, akan tetapi kini melihat perwira mereka bergulingan dan merintih-rintih di atas tanah, mereka segera maju menyerbu setelah melompat turun dari kuda mereka.
Tanpa di komando mereka sudah mencabut golok dan mengeroyok pemuda itu.
Para penonton kini berlarian menjauhi, takut terlibat.
Akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum dan setelah para penyerbu dekat, dia mengamuk, menggunakan cambuk perwira tadi membagl-bagikan lecutan.
Ketika pengeroyok semakin banyak, dia melemparkan cambuknya dan memainkan toyanya yang berat itu dengan dahsyat.
Ke manapun ujung toya menyambar, tentu ada seorang pengeroyok terjungkal dengan tulang patah atau muka bengkak matang biru!
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring "Tahan semua, berhenti jangan berkelahi" (Lanjut ke
Jilid 14) Si Rajawali Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 Mendengar bentakan suara ini, perajurit yang belum roboh segera menahan senjata mereka dan cepat mundur sambil membantu para kawan mereka yang terluka sehingga kini pemuda berdiri berhadapan dengan orang yang mengeluarkan bentakan tadi.
Dia melihat seorang laki-laki tinggi besar gagah usia lima puluh tahun lebih, mengenakan pakaian panglima yang gemerlapan, dengan kumis dan jenggot pendek terpelihara rapi, turun dari atas kereta berada di dekat situ.
"Hemmm, ada apa ribut-ribut ini Apa yang telah terjadi?"
Tanya panglima yang bukan lain adalah Jenderal Chou Ban Heng itu kepada seorang perajurit terdekat. Perajurit itu memberi hormat dan menjawab.
"Lapor, Jenderal! Pemuda ini telah memukuli Perwira Tong, maka kami lalu mengeroyoknya!"
Jenderal Chou Ban Heng tadi sudah hat kehebatan ilmu silat pemuda itu. memandang penuh perhatian lalu bertanya.
"Pemuda gagah, siapakah engkau dan mengapa engkau memukuli perwira tadi sehingga pasukan lalu mengeroyokmu?"
Melihat sikap panglima yang gagah itu pemuda itu bersikap tegak dan hormat.
"Thai-ciangkun (Panglima Besar), saya bernama Bu Eng Hoat. Saya tidak akan berani memukul orang kalau tidak ada alasannya yang kuat. Ketika saya lewat di sini, saya melihat perwira itu mencambuki seorang gadis remaja yang menyeberang dan telurnya terjatuh pecah sehingga gadis itu berdarah lengannya semua telur dalam keranjangnya pecah. Ayah gadis itu hendak melarang, akan tetapi dia pun menjadi korban cambukan yang sewenang-wenang dari perwira itu. Tentu saja saya tidak dapat membiarkan dia bersikap seperti itu, kejam dan sewenang-wenang menindas rakyat kecil, maka terpaksa saya melerai. Akan tetapi dia malah melecuti saya maka saya melawan dan memberi hajaran kepadanya. Akan tetapi anakbuahnya lalu mengeroyok saya. Demikianlah, ciangkun."
Chou Ban Heng menoleh kepada ajudannya, seorang perwira yang masih muda "Tangkap Perwira-Tong dan anak buahnya, masukan ke sel.
harus diberi hukuman berat telah bertindak sewenang-wenang kepada rakyat!"
"Baik, Jenderall"
Perwira Itu memberi hormat dan pergi.
"Bu Eng Hoat, aku merasa kagum kepadamu yang muda dan gagah perkasa. Mari, naiklah ke dalam keretaku, aku ingin bicara denganmu."
Bu Eng Hoat mengangguk dan mengikuti jenderal itu memasuki kereta.
Kita pernah bertemu dengan Bu Ei Hoat ketika dia menyerang Ang Niocu Lai Cu Yin akan tetapi kemudiian Liu Cin yang belum mengenal orang macam apa adanya Ang Hwa Niocu membela wanita Itu sehingga Bu Eng Hoat terpaksa meninggalkan mereka karena tidak mungkin dapat mengalahkan mereka berdua.
Pemuda ini adalah murid Thong Leng Losu, pendeta Lama Tibet yang dahulu bersama Tiong Gi Cinjin dan Louw Kang Tojin, pernah mengadakan pertemuan di puncak Bukit Naga Kecil dan di sana mereka bertiga yang memperbincangkan soal agama dan lain-lain bertemu dengan Thai Kek Siansu.
Hal itu terjadi kurang lebih sebelas atau dua belas tahun yang lalu.
Tiga orang sakti dari tiga agama itu tertarik ketika melihat Thai Kek Siansu mempunyai seorang murid.
Mereka bertiga lalu masing-masing ingin mencari seorang murid.
Thong Leng Losu yang mengembara mencari murid bertemu dengan seorang anak laki-laki yatim piatu berusia sebelas tahun bernama Bu Eng Hoat.
Dia mengambil anak itu sebagai murid dan setelah dia mengajarkan ilmu-ilmunya kepada Bu Eng Hoat selama kurang lebih sepuluh tahun, lalu menyuruh muridnya itu turun gunung dan terjun ke dunia ramai, bertindak sebagai pendekar.
Dia Juga memberikan sekantung uang emas simpanannya kepada pemuda itu dan memesan agar di manapun dia berada, Bu Hoat selalu mempertahankan dan membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan.
Demikianlah, Bu Eng Hai merantau, membawa toyanya dan di sepanjang perjalanannya dia selalu menentang kejahatan dan membela mereka yang lemah tertindas.
Dia melihat betapa dunia penuh dengan manusia-manusia sesat yang hanya mementingkan sendiri, mengumbar hawa nafsu mengejar kesenangan tanpa pantang melakukan segala cara yang jahat demi memperoleh apa yang mereka inginkan.
Banyak sudah gerombolan penjahat yang dia basmi sehingga dalam waktu kurang setahun saja namanya terkenal sebagai seorang pendekar muda yang baru muncul di dunia kangouw.
Permainan toyanya yang amat kuat disegani banyak orang sehingga dia memperoleh julukan Sin-tung Eng-hiong (Pendekar Tongkat Sakti) Setelah duduk di dalam kereta bersama Jenderal Chou Ban Heng, barulah Bu Eng Hoat mengetahui bahwa dia berhadapan dengan seorang jenderal yang kedudukan tinggi.
Dia merasa kagum ketika panglima itu mengecam para petinggi yang suka bersikap sewenang-wenang.
"Mereka Itu menjemukan sekali"
Demikian antara lain Jenderal Chou Ban Heng berkata.
"Sayang aku tidak mempunyai kekuasaan untuk bertindak terhadap mereka. Hanya Kaisar yang mampu menindak mereka akan tetapi mereka itu pandai bermuka-muka sehingga Kaisar menganggap mereka itu pejabat-pejabat yang bijaksana dan baik. Terutama sekali Wang She Liong yang menjadi Menteri Kebudayaan itu, sungguh, membikin hatiku muak dan jengkel sekali kalau mengingat akan kelalimannya"
Jenderal Chou Ban Heng mengerutkan alisnya yang tebal dan mukanya berubah merah. Bu Eng Hoat tertarik.
"Apa yang dilakukan Menteri She Liong itu, Thai-ciangkun?"
"Hemmm, biarpun seorang pendekar seperti engkau tidak akan dapat mengusiknya, orang muda. Dia Itu menjadi kepercayaan Kaisar, gedungnya terjaga ketat. Entah berapa banyaknya sawah ladang milik para petani di luar kota raja yang dia rampas, dan entah banyak anak gadis orang yang dia paksa menjadi penghiburnya. Ah, pendeknya tidak ada satu pun bentuk kejahatan yang tidak pernah dia lakukan! Hemm, kalau saja aku menjadi seorang muda dan memiliki kesaktian, tentu sudah lama jahanam itu kubunuh!"
"Jahanam Itu patut diberi hajaran"
Kata Bu Eng Hoat dengan hati panas.
"Hemmrn, jasamu terhadap negara bangsa akan besar sekali kalau engkau dapat memberi hajaran kepada jahanam Liong Itu sehingga dia tidak akan mampu mengganggu rakyat lagi"
Kata Jenderal Chou Ban Heng "Bu Eng Hoat, apakah engkau belum mendapatkan tempat menginap? Bagaimana kalau engkau sementara tinggal di rumahku?"
Bu Eng Hoat belum mengenal keadaan jenderal itu, dan gurunya pernah berpesan kepadanya agar dia berhati-hati kalau berkenalan dengan para bangsawan karena mereka itu biasanya suka memanfaatkan tenaga orang kangouw untuk kepentingan mereka sendiri.
Maka melihat keramahan jenderal ini yang mengajaknya naik keretanya, kemudian menawarkan tempat tinggal di rumahnya, ia menolak.
"Terima kasih, Thaii-ciangkun, saya akan bermalam di rumah penginapan saja agar lebih leluasa dan tidak merasa sungkan "
"Baiklah, kalau begitu."
Jenderal BanHeng lalu memerintahkan kusir keretanya untuk menuju ke rumah penginapan Lok Koan yang merupakan sebuah di antara rumah-rumah penginapan besar dan mewah di kota raja.
Rumah penginapan Lok Koan Itu memiliki rumah makan di bagian depan dan juga memiliki sebuah po-koan (tempat perjudian) di sebelah kirinya.
Karena biaya penginapan disitu mahal, maka yang menginap hanyalah tamu-tamu hartawan dari luar kota, pedagang-pedagang atau pembesar daerah yang datang ke kota raja.
"Kita tunggu di kereta sebentar"
Kata jenderal itu kepada Bu Eng Hoat lalu kepada kusirnya dia mengutus agar si kusir memesankan kamar untuk Bu Eng Hoat.
Kusir Itu pergi dan tak lama kemudian dia datang kembali dan melapor bahwa kamar untuk pemuda itu sudah tersedia yaitu kamar nomor lima di loteng.
Bu Eng Hoat mengucapkan terima kasih ia turun dari kereta dan menuju ke rumah penginapan itu karena kereta itu berhenti di tepi jalan raya di depan halaman rumah penginapan Lok Koan.
Begitu memasuki pendapa yang di samping rumah makan, Bu Eng Hoat mulai merasa ragu.
Rumah penginapan itu besar dan mewah.
Tentu sewanya mahal sekali, pikirnya.
Dia harus menghemat uang bekal pemberian gurunya karena kalau sampai kehabisan bekal akan merepotkannya.
Akan tetapi seorang pelayan tergopoh-gopoh keluar menyambutnya.
Melihat pemuda itu berpakaian sederhana dan hanya membawa sebatang tongkat dan sebuah buntalan dari kain kasar yang digendongnya , pelayan itu termangu heran, akan tetapi memaksa diri tersenyum menyambut.
"Selamat datang, Kongcu. Kami merasa terhormat dan senang sekali menyambut kedatangan Kongcu."
Bu Eng Hoat tercengang.
Dalam perjalananya merantau selama ini, belum pernah ada yang menyebutnya Kongcu (Tuan Muda).
Ada yang menyebutnya eng-hiong atau Thai-hiap (sebutan para pendekar) setelah dia melakukan sesuatu yang sifatnya menentang para penjahat menolong orang.
Sekarang pelayan yang pakaiannya bahkan lebih bagus daripada pakaiannya sendiri, tentu saja dia menjadi sungkan.
Dia memandang pelayan setengah tua itu lalu berkata ragu sambil berhenti melangkah dan memandang ke arah pendopo yang mewah, yang menjadi indah dengan adanya lukisan-lukisan indah, tirai-tirai sutera dan pot-pot bunga besar terukir indah.
"Ah, Paman, agaknya saya telah salah masuk. Rumah penginapan ini terlalu megah bagi saya. Saya hendak mencari kamar di rumah penginapan yang sederhana dan murah saja."
Setelah berkata demikian dia membalikkan tubuhnya hendak keluar lagi. Akan tetapi pelayan lari mendahului dan menghadangnya sambil menjura dengan hormat.
"Maaf, Kongcu, kalau penyambutan kami kurang baik. Saya akan melapor kepada kepala pengurus rumah penginapan Lok Koan untuk menyambut sendiri...."
"Ah, jangan Paman! Bukan begitu maksudku... hanya... rumah penginapan ini terlampau mahal bagiku..."
Tiba-tiba pelayan itu tertawa.
"Ah, harap Kongcu tidak main-main. Kongcu tidak usah membayar sekeping pun dan boleh tinggal di rumah penginapan Lok Koan berapa lama pun, kami akan layani sebaik mungkin dan Kongcu hendak pesan makan apa akan kami persiapkan dengan baik"
Bu Eng Hoat memandang bengong. Gilakah pelayan ini? Ataukah dia yang sedang mimpi? "Apa....apa maksudmu, paman? Aku tidak mengerti ".
"Kongcu, tadi yang terhormat Jenderal Chou Ban Heng mengutus kusirnya, memerintahkan agar kami menyambut kongcu dengan baik, memberi kamar termewah dan menyediakan semua keperluan Kongcu, berapa lama pun Kongcu tinggal disini."
"Tapi...., biayanya tentu besar sekali tidak akan terbayar olehku."
"Aih, Kongcu main-main! Kalau Jenderal Chou yang memerintahkan, siapa yang tidak akan menaati? Soal biaya, Apapun tentu akan dibayar oleh beliau. Harap kongcu tidak usah khawatir. Mari, kongcu silakan"
Barulah Bu Eng Hoat mengerti dan diam-diam dia merasa senang.
Siapa yang tidak senang mendapatkan kamar di hotel mewah berikut makan setiap hari, untuk waktu yang tidak terbatas lamanya, tanpa membayar sekeping pun?
Akan tetapi di samping perasaan senang Ini, ada perasaan curiga dan khawatir.
Apa maunya jenderal itu bersikap demikian baik dan royal terhadap dirinya?
Apa maunya?
Dia teringat akan pesan gurunya dan dia bersikap waspada dan hati-hati sekali.
Akan tetapi setelah dua malam tinggal di hotel Lok Koan, tidak terjadi sesuatu dan jenderal itu pun tidak menganggu, bahkan tidak pernah menghubunginya.
Pada malam ke tiga, Bu Eng Hoat duduk termenung di dalam kamar nomor lima yang mewah dan letaknya di loteng rumah penginapan Lok Koan ini.
Jendela kamarnya dia buka dan dari dalam kamar dia dapat melihat jajaran genteng-genteng di rumah di dekat itu.
Teringat dia akan percakapannya , dan Jenderal Chou Ban Heng dalam kereta.
Menteri Kebudayaan Liong!
Tiba dia teringat akan pejabat tinggi she Liong yang amat jahat, tukang peras dan tindas rakyat, suka mempermainkan gadis orang, kejam dan sewenang yang.
Kalau dia sudah mendengar berita seperti itu tidak turun tangan memberi hajaran kepada pejabat lalim itu, percuma saja dia belajar ilmu silat bertahun-tahun kepada gurunya.
Gurunya, Thong Leng Losu yang gagah perkasa tentu akan merasa malu dan marah kepadanya!
Kemarin siang dia sudah berjalan-jalan mencari tahu di mana letak gedung tempat tinggal Menteri Liong.
Ternyata gedung besar itu tidak terlalu ketat, tidak seperti yang digambarkan Jenderal Chou.
Baginya, tidak akan menyusup masuk ke dalam gedung dilihatnya hanya dijaga belasan perajurit di gardu penjagaan, di gerbang halaman gedung itu.
Dia teringat akan ucapan Jenderal Chou yang gagah perkasa itu.
"Kalau saja aku menjadi seorang muda dan memiliki kesaktian tentu sudah lama jahanam itu kubunuh. Demikian jenderal itu berkata, bagaimana dengan dia? Apakah dia akan diamkan saja pejabat tinggi yang itu mengganggu rakyat? Bagaimana ada di antara pesan gurunya, Thong Losu, kepadanya ketika dia hendak berangkat mengembara?"
"Wi bin wi kok, hiap ci tai cia (berjuang demi rakyat dan negara, itu yang paling utama)!"
Dan sekarang terbuka kesempatan baginya untuk melaksanakan perintah suhunya itu.
Membunuh Menteri Liong yang lalim berarti telah berjuang demi kepentingan rakyat dan negara!
Setelah berpikir demikian.Bu Eng Hoat lalu berkemas, mengenakan pakaian yang ringkas, kemudian sambil membawa toyanya dia keluar dari jendela kamarnya, menutupkan daun jendela dari luar setelah meniup padam lampu dalam kamarnya, kemudian dari loteng itu dia melayang ke atas genteng rumah sebelah, kemudian dia mempergunakan ginkang berlompatan dari wuwungan sebelah rumah ke wuwungan rumah di depan.
Dia berlompatan dengan cepat dan ringan sehingga tidak menimbulkan suara dan berlari-larian menuju ke rumah Menteri Liong!
Setelah tiba di dekat gedung yang dikelilingi pagar tembok itu, dia mendekam di tempat gelap dan mengamati sekelilinginya.
malam itu sudah agak larut dan suasananya ,sunyi sekali.
Seperti dugaannya, penjagaan gedung itu tidaklah terlalu ketat.
Hanya ada beberapa orang perajurit tampak duduk di atas bangku panjang di luar gardu dekat itu gerbang, ada pula beberapa orang yang agaknya bermain kartu di dalam gardu.
Ada pula yang meronda mengelilingi gedung membawa lentera.
Dia menanti sampai bagian di belakang gedung itu dilewati petugas ronda, kemudian sekali melompat dia telah berada atas pagar tembok.
Melihat ke dalam, ternyata di bagian belakang gedung itu terdapat sebuah taman bunga yang tidak terlalu besar.
Dia cepat melompat turun dan sejenak bersembunyi di balik segerombolan Kui-hwa (Bunga mawar).
Dari jauh datang dua orang peronda.
Mereka meronda dengan santai saja.
Agaknya memang mereka sama sekali tidak mencurigai sesuatu dan merasa aman.
Setelah dua orang peronda itu lewat jauh, mulailah Bu Eng Hoat bergerak mendekati gedung.
Setelah yakin keadaannya aman dia melompat ke atas wuwungan gedung merangkak dengan hati-hati, mulai mengintai ke bawah mencari di mana adanya Menteri Liong Setelah agak lama mencari-cari dan hanya menemukan kamar-kamar di mana penghuninya telah tidur, dan dia tidak dapat membedakan mana yang menjadi kamar Pembesar Liong, akhirnya dia melihat cahaya lampu menyinari lubang jendela sebuah kamar.
Cepat dia mengintai dan dia melihat bahwa kamar itu adalah sebuah ruangan baca, semacam perpustakaan karena di sana terdapat rak buku di almari, ruangan yang luas di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja yang lebar.
Seorang laki-laki setengah tua berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dengan jenggot dan kumis terpelihara rapi, pakaianan santai sebagaimana biasa pakaian untuk tidur, wajahnya membayangkan kelembutan akan tetapi biarpun wajahnya belum keriput, rambutnya sudah hampir putih semua.
Laki-laki itu sedang membaca kitab di bawah penerangan lampu meja yang cukup besar.
Bu Eng Hoat mendengar laki-laki itu membaca dengan suara yang cukup kuat sehingga dapat terdengar jelas olehnya.
"Kun-cu souw ki wi ji neng, Put goan houw ki gwe!"
Eng Hoat mengenal bacaan itu sebagai pelajaran dalam kitab Tiong Yong dari Guru Besar Khong Cu yang berarti .
"Seorang Budiman bertindak sesuai dengan kedudukannya, dia tidak menginginkan apa-apa bukan menjadi bagiannya."
Kemudian laki-laki setengah tua melanjutkan bacaannya.
"Dalam keadaan kaya atau miskin senang atau susah, dia selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya Karena itu seorang Budiman selalu hidup tenteram bahagia dan dapat menerima apa adanya."
Laki-laki itu berhenti sejenak, agaknya dia ingin mendalami maksud pelajaran itu, kemudian melanjutkan.
"Berkedudukan tinggi dia tidak menghina bawahannya. Berkedudukan rendah dia tidak menjilat-jilat atasannya, memperbaiki diri sendiri dan tidak mengharapkan mendapat apa-apa dari orang lain. Karena itu, dia tidak pernah membenci siapa pun. Ke atas dia tidak menuntut Tuhan, ke bawah dia tidak menyalahkan orang lain."
Kembali dia merenungkan pelajaran itu lalu melanjutkan.
"Maka dari itu seorang Budiman senantiasa berada dalam keadaan tegak dan tenteram menanti Thian Beng (Karunia Tuhan). Sebaliknya seorang Siauw-jin (Manusia berbudi rendah) senantiasa melakukan perbuatan jahat membahayakan orang lain mendapatkan apa-apa yang bukan menjadi haknya!"
Laki-laki itu kini bersandar di kursinya dan menghela napas panjang, termenung seolah mengenang kembali apa telah dibacanya, yaitu sebagian dari Kitab Tiong Yong fasal 14.
Biarpun gurunya seorang Pendeta Lama Tibet, beragama Buddha dan dia mendapat pelajaran tentang agama itu, namun gurunya juga memberinya kitab-kitab lain untuk dibacanya, di antaranya, kitab Tiong Yong yang mengandung pelajaran dari Guru Besar Khong Cu, sehingga Bu Eng Hoat dapat mengenal apa yang dibaca oleh laki setengah tua itu.
Laki-laki itu menghela napas panjang.
"Hayaaa "
Dia mengeluh.
"Siapa yang tidak tahu akan semua pelajaran budi pekerti dalam segala agama? Siapa-orangnya yang tidak tahu bahwa mengganggu, menyakiti, merugikan orang lain adalah perbuatan jahat dan menolong menyenangkan, dan menguntungkan orang lain adalah perbuatan baik? Siapa yang tidak tahu bahwa dalam hidupnya setiap orang manusia harus mengharamkan perbuatan jahat dan memperbanyak perbuatan baik? Akan tetapi sungguh celaka, di mana-mana orang melakukan perbuatan jahat! Di mana sih terdapat manusia yang pantas disebut Kuncu (Budiman) sekarang ini? Aku melihat di empat penjuru dipenuhi orang-orang yang menjadi hamba nafsunya sendiri dan segala tindakannya hanya menyebar kejahatan!"
Kembali dia menghela napas.
Eng Hoat merasa heran dan diam-diam dia bertanya-tanya siapa gerangan orang setengah tua ini.
Mendengar semua ucapannya, tidak mungkin orang seperti ini berwatak jahat!
Dia mulai teringat akan niatnya mengunjungi tempat itu, Dia harus menemukan Menteri Liong yang kabarnya lalim dan jahat itu.
Tiba-tiba dia mendengar daun pintu ruangan itu diketuk dari luar.
Laki setengah tua itu menoleh ke arah pintu dan bertanya dengan suara bernada kesal karena keasyikannya terganggu.
"Siapa itu?"
"Saya, Loya (Tuan) "
Jawab suara wanita.
"Masuk!"
Daun pintu dibuka dan seorang wanita pelayan memasuki ruangan dengan sikap hormat lalu berjongkok memberi hormat.
"Ada apa?"
Tanya laki-laki itu, suaranya lembut dan sabar.
"Loya, saya diutus Hujin (Nyonya) untuk mengingatkan Paduka bahwa malam telah larut, agar Loya beristirahat karena kata Hujin besok pagi Loya harus menghadiri persidangan para menteri di istana Sribaginda Kaisar."
"Hemmm, tidak perlu diingatkan aku tidak akan melupakan kewajiban itu. Sudah, keluarlah dan katakan kepada Hujin bahwa aku sedang membaca kitab."
"Baik dan ampunkan kalau saya mengganggu, Loya."
"Sudahlah, engkau tidak bersalah, hanya diutus Hujin. Pergilah."
Pelayan itu memberi hormat lalu keluar dari ruangan dan menutupkan daun pintu.
Diam-diam Bu Eng Hoat terkejut.
Kiranya laki-laki inilah Menteri Lio Tidak salah lagi.
Siapa lagi kalau bukan Menteri Liong yang besok pagi harus menghadiri persidangan para menteri istana?
Inikah Menteri Liong yang katanya lalim dan jahat itu?
Akan tetapi rasanya tidak mungkin!
Ucapannya tadi penuh kebijaksanaan, dan sikapnya terhadap pelayan wanita tadi juga lembut dan penuh kesabaran.
Orang yang begini rasanya lebih banyak baiknya daripada buruk budinya.
Tiba-tiba daun pintu ruangan itu terbuka lagi, kini terbuka dengan sentakan dan sesosok bayangan hitam berkelebat masuk.
Eng Hoat melihat seorang yang berpakaian hitam, mukanya ditutupi kain hitam pula, memegang sebatang tongkat baja dan dengan kecepatan luar biasa dia menyerang Menteri Liong!
"Menteri jahanam, mampus kau!"
Bentak suara laki-laki di balik kain hitam itu dan tongkat bajanya sudah menyambar dahsyat. Menteri itu mencoba untuk mengelak, namun kalah cepat.
"Wuuuttttt bukkk!!"
Dia terpukul tubuhnya roboh terbanting dengan orang itu menangkis, Eng Hoat merasa betapa toyanya terpental dan kedua tangannya yang memegang toya terasa panas.
"Dukkk!"
Pada saat dia terkejut itu, dari arah belakangnya menyambar hawa pukulan dahsyat.
Eng Hoat membalik dan mengelak, akan tetapi dia melihat penyerangnya, juga seorang yang memakai topeng kain hitam, menjauh dan pada saat itu si pemegang toya yang tadi menyerang Liong Taijin menghantamkan toyanya demikian kuat ke pangkal lengannya sehingga tanpa dapat dicegahnya lagi, toya di tangan Bu Eng Hoat terlepas!
Eng Hoat cepat melompat dan melawan dengan tangan kosong.
Penyerangnya dari belakang tadi sudah melompat pergi dan kini dia menghadapi pembunuh yang memegang toya.
Ternyata lawannya itu bukan hanya miliki tenaga yang amat besar, akan tetapi juga memiliki ilmu silat yang aneh dan tangguh sekali.
Bu Eng Hoat harus mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya untuk melawan dengan tangan kosong.
Dia sama sekali tidak sempat untuk mengambil toyanya kembali karena senjata itu terpental dan menggelinding sudut ruangan.
Agaknya suara gaduh itu menarik perhatian para perajurit yang berjaga malam itu.
Terdengar langkah banyak kaki berlarian menuju ke ruangan itu dan terdengar suara mereka.
Daun pintu ruangan itu didorong terbuka dari luar dan belasan orang perajurit menyerbu masuk, melihat ini, pembunuh bertopeng kain hitam itu melompat keluar dari ruangan menyusul temannya yang sudah pergi lebih dulu.
Bu Eng Hoat menjadi bingung.
Para perajurit kini menyerbu kepadanya.
Diapun maklum bahwa memberi penjelasan.
kepada mereka adalah tidak mungkin dia tidak dapat menghindarkan lagi pengeroyokan atas dirinya.
Maka dia cepat melompat keluar dari jendela itu berlari cepat menghilang dalam kegelapan malam memasuki taman.
Beberapa orang perajurit masih mengejarnya, akan tetapi setelah dia melompat pagar tembok di belakang taman, para pengejar itu terpaksa berhenti karena mereka tidak mengetahui ke arah mana Bu Eng Hoat melarikan diri.
Dengan jantung berdebar tegang Bu Eng Hoat kembali ke dalam kamar nomor lima di loteng hotel Lok Koai duduk di atas pembaringan dan termenung.
Dia merasa bingung dan juga penasaran bercampur penyesalan.
Tentu dia disangka sebagai pembunuh Menteri Liong itu karena dia terlihat berada di kamar itu.
Adapun pembunuhnya malah lari lebih dulu, apalagi dia mengenakan!
topeng kain hitam.
Dia merasa menyesal karena kini dia merasa sangsi apakah sudah sepatutnya Menteri Liong dibunuh?!
Benarkah dia seorang pembesar lalim yang jahat?
Tidak ada buktinya untuk itu, bahkan melihat sikapnya ketika membaca kitab, rasanya sukar membayangkan menjadi seorang pembesar yang sewenang-wenang dan jahat!
Karena malam itu telah larut, hampir pagi, dan dia merasa lelah, pangkal lengan kanannya yang tadi terkena hajaran toya terasa nyeri, maka Eng Hoat merebahkan diri dan jatuh pulas.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sepasang orang muda memasuki halaman hotel Lok Koan.
Mereka adalah Liu Cin dan Ong Hui Lan.
Ketika kembali ke kota raja, Hui Lan teringat akan nasib buruk yang menimpa dirinya ketika ia tinggal di istana Jenderal Chou Ban Heng, di mana ia diperkosa oleh Chou Kian Ki setelah terbius.
Kalau menuruti gejolak perasaan dendam kebenciannya, ingin ia segera mendatangi gedung itu dan membunuh Chou Kian Ki untuk membalas dendamnya.
Akan tetapi Hui bukan seorang gadis yang bodoh, la tahu bahwa Chou Kian Ki merupakan seorang lawan yang sakti dan sukar dikalahkan.
Ia sendiri sekarang mendapatkan ilmu baru, akan tetapi ilmu Thian-te Im-yang Sin-kun itu baru akan mencapai puncak kehebatannya kalau dimainkan bersama pasangannya ketika berlatih, yaitu Liu Cin.
Untuk dapat mengalahkan Chou Kian Ki, ia harus melawan bersama Liu Cin.
Selain itu, juga ia mengetahui bahwa di gedung Jenderal Chou Ban Heng itu terdapat orang-orang yang tinggi ilmunya.
Ia tidak boleh gegabah kalau tidak ingin gagal.
Pula, kalau ia terburu nafsu, tentu akan menimbulkan kecurigaan hati Liu Cin.
Pemuda itu belum tahu bahwa kebenciannya kepada Chou Kian Ki bukan hanya karena ia tidak sudi menjadi istennya, melainkan karena pemuda itu telah memperkosanya.
Tidak mungkin ia menceritakan malapetaka yang menimpa dirinya itu kepada orang lain, apalagi kepada Liu Cin yang ia tahu dan merasa bahwa pemuda itu jatuh cinta kepadanya dan sebaliknya ia pun tertarik, kagum dan suka sekali kepada Liu Cin.
la bahkan hampir berani menguji bahwa ia juga jatuh cinta kepada pemuda yang telah berulang kali menolong dan membelanya itu.
Karena ia tidak ingin dikenal orang, apalagi dikenal anak buah Jenderal Chou Ban Heng, maka pagi itu Hui Lan mengajak Liu Cin untuk mencari kamar di lotel Lok Koan.
Seorang pelayan setengah tua cepat menyambut mereka, pelayan itu kagum melihat pasangan ini.
Pemudanya berusia sekitar dua puluh dua tahun, berpakaian serba kuning sederhana namun bersih dan rapi, tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya gagah.
Dari dua batang tongkat pendek yang tergantung di punggungnya, pelayan itu dapat menduga bahwa pemuda ini tentu seorang pendekar kangouw.
Gadisnya juga mengagumkan sekali.
Wajahnya bulat, matanya lembut namun tajam, tubuhnya ramping terbungkus pakaian yang sederhana pula, tampak pendiam, dan di punggungnya tampak tergantung sebatang pedang dengan ronce-ronce berwarna hijau.
Sungguh seorang gadis yang cantik dan gagah tentu seorang pendekar wanita.
"Selamat datang dan selamat pagi Tuan dan Nona!"
Sambut pelayan itu ramah.
"Jiwi (Anda berdua) hendak menyewa sebuah kamar?"
Jelas bahwa pelayan itu menganggap mereka sepasang suami isteri maka menawarkan sebuah kamar untuk mereka berdua. Dengan wajah berubah kemerahan Lan berkata singkat.
"Kami butuh dua buah kamar!"
"Ah, maafkan saya. Baiklah, Tuan Nona, kami masih ada beberapa beberapa kamar di loteng. Mari, silakan!"
Dua orang muda itu mengikuti pelayan dan mereka mendapatkan dua buah kamar di atas loteng, di bagian ujung dari deretan kamar loteng yang berjumlah dua belas buah itu.
Karena mereka telah melakukan perjalanan jauh sejak malam tadi, keduanya lalu mandi, sarapan pagi dan mengaso dalam kamar masing-masing.
Mereka berjanji akan keluar dari kamar setelah cukup beristirahat melepaskan lelah dan kantuk.
Sementara itu, pagi-pagi sekali para pejabat tinggi gempar karena berita tentang terbunuhnya Menteri Kebudayaan Liong tersiar cepat.
Pangeran Chou Kuan Tian menjadi marah dan merasa penasaran kali.
Banyak terjadi pembunuhan terhadap para pejabat setia, akan tetapi pembunuhan terhadap Menteri Liong ini sungguh membuatt dia terkejut dan marah.
Menteri Liong terkenal, bukan saja setia terhadap kaisar, akan tetapi juga sebagai seorang g bijaksana dan budiman, diakui oleh semua orang.
Siapa yang begitu kejam membunuh seorang yang baik budi seperti menteri Liong?
Seperti kita ketahui, Song Kui Lin kini berada di istana dan membantu Pangeran Chou Kuan Tian menjaga keamanan istana.
Pagi itu, Kui Lin sudah menghadap Pangeran Chou Kuan Tian, memenuhi panggilannya.
Setelah duduk berhadapan dengan pangeran itu, Kui Lin berkata.
"Paduka tentu memanggil saya karena berita tentang pembunuhan terhadap Menteri Liong itu, bukan?"
"Hem, engkau juga sudah mendengar akan berita itu?"
"Semua orang dalam istana membirakan berita itu, Pangeran."
"Akan tetapi belum ada yang mengetahui soal ini."
Pangeran Chou Kua Tian mengambil sehelai kertas dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Kui Lin.
"Tadi aku terbangun oleh suara di jendela dan ketika aku membuka jendela ada pisau dengan surat ini tertancap di daun jendela. Bacalah!"
Kui Lin membaca tulisan di atas kertas itu.
Tertulis denganhuruf yang rapi dan garis serta lekukannya indah, tandabahwa penulisnya seorang ahli sastra Surat itu pendek saja.
PEMBUNUH MENTERI LIONG TINGGAL DI HOTEL LOK KOAN KAMAR NOMOR LIMA DI LOTENG "Pangeran, siapa yang mengirimkan surat ini?"
Pangeran Chou Kuan Tian menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu. Akan tetapi pagi tadi perwira penyelidikku sudah melapor bahwa Menteri Liong terbunuh oleh pukulan benda keras dan di kamar itu terdapat sebuah toya, mungkin milik pembunuh yang entah bagaimana dapat ditinggalkan di sana. Sekarang, aku mengutusmu untuk menyelidiki siapa yang berada di kamar nomor lima di loteng Hotel Lok Koan itu, Kui Lin. Tangkap dia dan bawa pasukan pengawal!"
"Pangeran, saya lebih suka bekerja sendiri daripada harus membawa pasukan pengawal yang hanya membuat saya repot saja."
Pangeran itu menatap wajah Kui Lin. Dia sudah mengenal gadis yang berwatak lincah, keras dan pemberani serta juga memiliki ilmu silat yang tinggi itu.
"Baiklah, pergi tangkap orang itu. Akan tetapi berhati-hatilah, Kui Lin, karena kalau benar dia pembunuhnya, dia tentu merupakan lawan yang tangguh dan berbahaya."
Kui Lin mengangguk dan cepat ia keluar dari istana.
Para pengawal istana sudah mengenal siapa gadis berpakaian serba hitam yang cantik ini.
Mereka bahwa Song Kui Lin adalah seorang pendekar wanita yang biarpun masih muda namun sangat lihai dan galak sehingga tak seorang pun di antara para perajurit istana berani bersikap kurang ajar padanya.
Apalagi mereka semua tahu bahwa gadis itu adalah orang kepercayaan Pangeran Chou Kuan Tian.
Dengan cepat Kui Lin menuju Hotel Lok Koan.
Karena hari itu pagi, maka baru sedikit di antara tamu yang sudah bangun dan sebagian makan di rumah makan bagian depan hotel.
Seorang pelayan setengah tua yang tadi melayani dan menyambut kedatangan Liu Cin dan Ong Hui Lan, berlari menyambut.
Dia merasa gembira bahwa sepagi itu dia telah menyambut dua orang gadis yang cantik jelita.
"Selamat datang dan selamat pagi Nona!"
Dia memberi hormat sambil membungkuk.
"Apakah Nona ingin menyewa sebuah kamar?"
Kui Lin mengerutkan alisnya.
Gadis ini memang paling tidak suka melihat orang bersikap merendah dan bermanis muka buatan.
Ia menilai sikap orang yang menjilat-jilat itu palsu dan hanya dipakai sebagai topeng belaka.
Orang seperti itu berbahaya.
Gadis itu tidak tahu bahwa sikap orang seperti itu tidak semua palsu, melainkan terdorong oleh perasaan rendah diri (minder).
"Aku memang mencari kamar, yaitu kamar nomor lima di loteng hotel ini!"
Katanya tegas. Pelayan itu mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi, Nona. Kamar nomor lima itu sudah ada yang menyewa!"
Lalu disambungnya cepat.
"Dia malah agaknya belum bangun dari tidurnya."
"Hemmm, siapa dia? Orang macam apa dia?"
Kui Lin bertanya tidak sabar.
"Dia seorang pemuda gagah dan tampan, Nona "
"Cepat bawa aku ke kamar itu! Aku ingin bertemu orangnya!"
Pelayan itu meragu.
"Akan tetapi saya tidak berani mengganggu tamu yang sedang tidur, Nona. Apakah Nona ini saudaranya, sahabatnya, atau kek.. Pelayan itu tidak melanjutkan kata kekasihnya"
Ketika melihat betapa sepasang mata yang indah itu tiba-tiba mencorong.
"Apa katamu? Hayo lanjutkan! Apakah itu kek... kek...?"
"Eh, maksud saya... kek... apa Nona keponakannya?"
"Ngawur! Cerewet! Hayo cepat tunjukkan padaku di mana kamar nomor lima di loteng itu!"
Kui Lin membenak dan menyambar lengan pelayan itu. Merasa betapa pergelangan lengannya seperti dijepit besi sehingga tulangnya terasa nyeri, pelayan itu menyeringai.
"Baik baik ampunkan saya..."
Dan dia lalu bergegas melangkah ke arah tangga yang menuju ke loteng setelah Kui Lin melepaskan lengannya.
Setelah tiba di depan pintu kamar nomor lima, pelayan itu mengetuk daun pintu.
Selama menjadi pelayan belum pernah dia berani mengganggu tamu hotel itu yang berada dalam kamar.
Akan tetapi sekarang karena dia takut kepada Kui Lin yang pegangan jari-jari tangan yang mungil itu seperti cepitan besi, dia memberanikan diri.
"Tok-tok-tok!"
Pada saat itu, Bu Eng Hoat masih tidur pulas karena memang baru menjelang fajar tadi dia dapat tidur pulas.
Akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang peka, ketukan di pintu kamarnya itu cukup untuk membangunkannya.
Dia bangkit duduk, seketika sadar sepenuhnya ini pertama kali melihat bahwa dia tidur dengan pakaian lengkap berikut sepatunya dia segera teringat akan peristiwa semalam.
Dia menjadi waspada dan memandang ke arah pintu kamar itu.
"Ya, siapa di luar?"
Tanyanya dengan suara tenang.
"Saya, Kongcu, pelayan hotel. Ini ada seorang nona ingin bertemu dengan Kong-cu!"
Mendengar ini, hati Eng Hoat menjadi lega dan lebih tenang, walaupun tentu saja dia merasa heran bagaimana di tempat asing ini ada seorang nona hendak bertemu dengan dia!
Karena baru saja bangun tidur dan yang akan menemuinya adalah seorang nona, maka otomatis tanpa disengaja kedua tangannya merapikan pakaian dan rambutnya.
Setelah rapi dia lalu melangkah ke pintu membukanya.
Bu Eng Hoat tercengang ketika buka pintu dia melihat seorang g cantik manis berdiri di depannya dengan pandang mata tajam penuh selidik!
tidak mengenal gadis ini dan saking herannya dia sampai tidak dapat bersuara.
Dia mengira bahwa tentu gadis itu salah alamat dan mengira dia orang lain.
"Siapa namamu?!"
Kui Lin membentak dengan galak.
Sebetulnya ia sendiri tercengang ketika melihat munculnya seorang pemuda tinggi besar berpakaian sederhana dan berwajah ganteng, jantan dan bersih.
Tadinya ia mengira berhadapan dengan seorang laki-laki tampang pembunuh yang menyeramkan.
Bentakannya yang galak sebagian untuk menyembunyikan rasa herannya.
Kalau tadinya Eng Hoat merasa kagum kepada gadis yang cantik manis itu, kini dia mengerutkan alisnya.
Ada apa dengan gadis ini, pikirnya.
Belum mengenalnya akan tetapi sikapnya begini galak!
"Nona, mengapa engkau menanyakan namaku?
Kita tidak saling mengenal dan kenapa engkau yang mengganggu tidurku, sepatutnya kalau engkau yang memperkenalkan namamu kepadaku."
"Mengapa? Jangan berpura-pura bodoh, engkau pembunuh!"
"Aku tidak membunuh siapapun juga."
"Bohong! Engkau semalam membunuh Menteri Kebudayaan Liong!"
Bu Eng Hoat tertegun.
Kiranya urusan pembunuhan atas diri Menteri Liong?
Bagaimana gadis ini dapat mendakwanya?
Apakah gadis ini semalam melihat dia ada di ruangan perpustakan Menteri membunuh menteri itu.
Pada saat itu tampak belasan orarg menaiki tangga dan yang paling depan adalah seorang perwira yang segera menghampiri Kui Lin dan berkata.
"Lihiap, inilah toya yang ditemukan di ruangan pembunuhan."
Dia adalah perwira dari istana yang disuruh Pangeran Chou Kuan Tian menyusul Kui Lin dan mengajak sepasukan perajurit dan membawa bukti toya yang diterima oleh pangeran itu dari penyelidiknya.
Kui Lin menerima toya itu, memegangnya di kedua tangannya lalu menatap wajah Bu Eng Hoat.
"Engkau jelas berbohong. Hayo kan, toya ini milik siapa?"
Eng Hoat menggangguk mantap.
"memang milikku!"
Dia menjulurkan kedua tangan untuk mengambil senjatanya dari tangan Kui Lin. Akan tetapi Kui cepat mengelak dengan sikap memasang kuda-kuda dan siap menyerang.
"Heiittt! Jangan main-main! Hayo jawab, ke mana semalam engkau pergi Hayo jawab!"
Bu Eng Hoat menggaruk-garuk kepalanya.
Bukan main gadis ini, bertanya dengan nada seorang hakim memeriksa terdakwa, atau seorang isteri menuntut suaminya.
Dia merasa geli juga, membayangkan dirinya menjadi suami gadis ini menjadi isterinya yang memeriksa ingin mengetahui ke mana sema suaminya pergi!
"Aku.....
aku....."
Sukar dia menjawab "Alaaaaa , akui saja sejujurnya Semalam engkau pergi ke gedung Menteri Liong, bukan?
Engkau membunuh Menteri Liong dan ini toyamu tertinggal di ruangan itu.
Hayo mengaku saja, bukti sudah jelas!"
Bu Eng Hoat menghela napas panjang "Tidak akan kusangkal. Aku memang tadi malam pergi ke gedung Merteri Liong akan tetapi aku tidak membunuhnya".
"Bohong lagi! Malam-malam ke sana membawa senjata bahkan senjatanya tertinggal di sana dan Menteri Liong tewas Kalau engkau tidak membunuhnya, apakah engkau datang ke sana mau jalan-jalan lalu tersesat, begitu? Hayo menyerah, atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan menghajarmu lebih dulu!"
Bu Eng Hoat mengerutkan alisnya yang tebal. Hatinya mulai merasa panas Gadis ini menuduhnya secara keras tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk mberi keterangan. Watak pemuda ini memang keras.
"Heh, gadis sombong! Kamu ini siapa sih, lagakmu seperti seorang hakim! Ada hak apakah engkau hendak menangkapku?"
Dia bertanya marah.
"Eh-eh, aku ditugaskan oleh Istana untuk menjaga keamanandan menangkap penjahat dan pembunuh macam kamu!"
"Engkau menuduh aku bohong, engkau sendiri yang bohong! Tidak mungkin Istana mempunyai petugas seorang anak prempuan kecil macam kamu!"
"Keparat! Aku adalah Hek I Lihiap Song Kui Lin, kepercayaan Keluarga istana, tahu? Hayo engkau menyerah, atau harus kupatahkan dulu kedua kakimu?"
"Siapa takut kepadamu? Mau tangkap aku? Cobalah kalau engkau mampu!"
Bu Eng Hoat tiba-tiba menyerang dengan maksud untuk merampas toya dari tangan gadis itu.
Gerakannya cepat dan kedua tangannya mendatangkan angin yang cukup kuat.
Namun Kui Lin yang sudah siap cepat mengelak.
Kesempatan itu dipergunakan Eng Hoat untuk melompat dan menuruni loteng itu.
"Bangsat, jangan lari!"
Kui Lin juga melompat dan melayang turun mengejar. Akan tetapi setelah tiba di halaman yang luas dari hotel itu, Eng Hoat berhenti dan menanti Kui Lin.
"Siapa hendak lari? Aku bukan pengecut. Aku tidak lari melainkan mencari tempat yang luas. Nah, engkau boleh maju mengeroyokku. Aku tidak bersalah dan aku tidak sudi menyerah!"
Mendengar ini, Kui Lin menoleh mengangkat tangan kirinya menyetop para perajurit pengawal yang sudah berlari turun dari loteng.
"Kalian tidak boleh melakukan pengroyokan. Biarkan aku sendiri yang menangkap pembunuh ini!"
Teriaknya perwira itu lalu memberi isarat kepada anak buahnya untuk mengepung saja halaman itu agar si pembunuh tidak dapat melarikan diri.
Kini Kui Lin yang berhadapan dengan Bu Eng Hoat berkata sambil tersenyum mengejek.
"Nah, aku tidak akan melakukan pengeroyokan! Sebaiknya engkau menyerah saja sebelum aku mematahkan kedua kakimu!"
"Bocah sombong! Aku tidak bersalah, aku bukan pembunuh, maka aku tidak akan menyerah kepadamu!"
Lalu dia menambahkan dengan senyuman mengejek.
"Engkau boleh menggunakan senjataku itu, aku akan melawanmu dengan tangan kosong!"
Kui Lin semakin marah.
"Ini tongkat pengemismu, aku tidak butuh!"
Lalu setelah melemparkan tongkat itu yang diterima oleh Bu Eng Hoat, Kui Lin meloloskan pedang sabuknya dan tampak cahaya pedang itu berkilauan.
"Hemmm, dengan pedangku ini, mungkin bukan hanya kedua kakimu yang patah, melainkan lehermu yang akan putus. Maka, sebelum terlanjur mampus, katakan siapa namamu!"
"Aku tidak pernah menyembunyikan nama. Aku Bu Eng Hoat yang selalu akan menentang segala bentuk kejahatan termasuk wanita galak sewenang-wenang seperti kamu!"
Bu Eng Hoat sudah siap dengan tongkatnya.
"Haaaiiittttt!!"
Tiba-tiba Kui Lin mengeluarkan pekik melengking dan mulai menyerang.
Tubuhnya bergerak cepat, dan pedangnya sudah meluncur ke depan menusuk ke arah dada lawan.
Pedang sabuk milik Song Kui Lin ini ada pemberian gurunya, Louw Keng Tojin.
Tampaknya hanya sebatang pedang tipis sekali sehingga dapat dilipat sebagai sabuk.
Pedang itu lemas dan lentur, akan tetapi setelah dipegang oleh Kui Lin pedang itu seolah menyatu dengan tangannya sehingga dengan penyaluran tenaga saktinya, ia dapat membuat pedang itu menjadi kaku dan kuat seperti baja tebal yang mampu menembus batu karang dan mematahkan besi!
Melihat tusukan yang secepat kilat itu, Bu Eng Hoat segera menangkis dengan tongkatnya.
"Tranggggg!"
Pertemuan antara pedang dan tongkat itu membuat keduanynya tergetar.
Diam-diam mereka terkejut karena dari pertemuan pertama mereka itu saja mereka sudah dapat mengetahui bahwa lawan mereka memiliki tenaga dalam yang amat kuat.
Kembali Kui Lin menyerang, kini pedangnya membacok dari atas ke arah kepala lawan, lalu kaki kirinya menyusulkan tendangan ke arah perut lawan.
Serangan ini amat berbahaya karena lawan terpancing perhatiannya untuk menghadapi serangan pedangnya yang datang dari atas sehingga tendangan susulan itu yang merupakan serangan inti pada saat lawan sedang mencurahkan perhatiannya ke atas.
Akan tetapi dengan tangkas sekali Eng Hoat menggerakkan tongkatnya dengan jurus "Menyangga Langit Menekan Bumi", ujung tongkat kirinya menangkis pedang lawan dari bawah dan ujung tongkat kanannya menangkis tendangan kaki lawan dengan cara menekan.
"Cringgg dukkk'"
Kembali serangan Kui Lin gagal, bahkan kaki kirinya yang bertemu dengan tongkat terasa agak nyeri.
la marah sekali dan makin mempergencar serangannya.
Akan tetapi Bu Eng Hoat tidak tinggal diam.
Karena maklum bahwa gadis muda itu benar-benar amat hebat dan ganas, maka selain mengelak dan menangkis, dia mulai membalas dengan dahsyat.
Terjadilah pertarungan yang amat seru hebat, membuat mereka yang menyaksikannya menjadi bengong dan kagum, demikian cepatnya gerakan dua orang muda yang sedang bertanding itu sehingga badan mereka tidak tampak jelas.
Yang tampak hanya dua sosok bayangan terbungkus gulungan sinar pedang dan sinar tongkat!
Bagi mereka yang ilmu silatnya belum mencapai tingkat tinggi, tebtu tidak dapat mengikuti jalannya pertandingan dan tidak tahu siapa di antara mereka yang menekan atau tertekan.
Apalagi mereka yang tidak paham ilmu silat bahkan mungkin melihat pertandingan itu sebagai sepasang penari yang sedang menari saja!
Akan tetapi Liu Cin yang berada situ pula dengan Hui Lan, terbangun suara gaduh itu dan ikut menonton, rasa khawatir.
Liu Cin maklum bahwa orang yang bertanding itu memiliki ilmu silat yang tinggi dan keadaan mereka seimbang.
Bukan tidak mungkin seorang di antara mereka akan roboh terluka berat atau bahkan tewas.
Tentu saja dia tidak menghendaki hal ini terjadi.
, begitu tiba di pekarangan itu dia rasa mengenal pemuda yang memainkan sepasang tongkat itu.
Pemuda yang pernah dia temui ketika pemuda itu menyerang Ang Hwa Niocu Lai Cu Yin!
Setelah dia bergaul dengan Ang Hwa Niocu Cu Yin dan mengetahui orang macam apa adanya wanita itu, baru dia tahu bahwa pemuda itu berada di pihak benar.
Pemuda itu adalah seorang pendekar yang mendengar akan kejahatan Ang Hwa Niocu membunuhi para pemuda maka berkeras hendak membunuh wanita iblis itu.
"Hui Lan, pemuda itu bukan pembunuh. Aku mengenal dia sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan."
Bisik Liu Cin.
"Hemmm, kalau begitu, gadis itu tidak boleh membunuhnya. Kita harus melerai perkelahian itu dan memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk membela diri dan memberi keterangan."
Biarpun Liu Cin dan Hui Lin bukan suami isteri.
bahkan bukan sepasang kasih resmi karena sampai kini Hui masih belum berani mengaku bahwa ia mencintai Liu Cin, namun di antara dua orang itu terdapat hubungan batin yang amat erat.
Mereka amat peka satu sama lain dan hal ini terjadi setelah mereka berdua melatih ilmu Thian-te Im-yang Sin-kun bersama-sama.
Maka sedikit kata-kata tadi sudah merupakan kesepakatan dan keduanya lalu melompat ketengah halaman di mana Bu Eng Hoat dan Song Kui Lin sedang bertanding seru.
"Kalian berhentilah berkelahi!"
Liu Cin dan Hui Lan hampir berbarengan Liu Cin menghadang di depan Bu Eng Hoat sedangkan Hui Lan menghadang Kui Lin.
Terpaksa dua orang yang sedang bertanding itu menahan senjata masing-masing dan berlompatan mundur.
Melihat dua orang yang tidak dikenalnya akan tetapi yang memiliki gerakan ringan itu melerai.
Kui Lin mengira bahwa mereka tentu merupakan teman-teman si pembunuh.
Maka ia cepat berseru "Tangkap mereka!.
Mereka tentu kawan si pembunuh ini!"
Perwira tadi cepat mengerahkan para perajurit untuk menyerang Bu Eng Hoat, Liu Cin, dan Song Hui Lan sehingga terpaksa tiga orang ini membela diri dan menangkisi senjata para perajurit yang mulai mengeroyok.
Bu Eng Hoat sendiri tidak mengenal Hui Lan, akan tetapi begitu melihat Liu Cin, dia segera teringat.
Inilah pemuda yang dulu membela Ang Hwa Niocu, iblis betina pembunuh banyak pemuda itu ketika dia menyerangnya.
Tentu saja dia merasa heran karena tadinya mengira bahwa tentu Liu Cin merupakan seorang sesat pula maka membela iblis betina seperti Ang Hwa Niocu.
Akan tetapi mengapa sekarang muncul bersama seorang gadis cantik membelanya?
Karena Liu Cin dan Hui Lan tidak bermaksud menentang para perajurit maka mereka berdua hanya melindungi diri saja.
Akan tetapi segera lebih banyak perajurit datang mengepung, memenuhi halaman hotel itu.
Mereka tadinya menonton sudah bubar melarikan dan menjauhkan diri karena khawatir terlibat.
Tiba-tiba terdengar suara lembut namun berpengaruh karena mengandung getaran kuat.
"Tahan semua senjata! Lin-moi, hentikan perkelahian!!"
Mendengar suara Han Lin, Kui Lin segera berhenti, memutar badan memandang kepada kakak angkatnya itu dengan cemberut.
"Lin-ko, engkau ini bagaimana sih. Mengapa menahan kami menangkap pembunuh ini? Semestinya engkau membantu kami menangkap mereka!!"
Sementara itu, melihat Han Lin, Cin dan Ong Hui Lan juga menjadi girang sekali.
"Han Lin!"
Mereka berseru dengan berbareng. Hui Lan lalu menghampiri Han Lin dan berkata.
"Han Lin, kami ini bukan pembunuh dan tidak melakukan kejahatan. Kami berdua hanya ingin melerai dan mencegah orang ini disakiti atau dibunuh karena menurut keterangan Lui Cin, orang ini tidak bersalah dan bukan pembunuh."
Menteri Liong dan aku telah diberi tugas oleh Pangeran Chou Kuan Tian untuk menangkapnya, tapi dihalangi dua orang ini! Lin-ko, engkau harus membantuku menangkap mereka bertiga."
"Nanti dulu, Lin-moi. Agaknya ada kesalah pahaman di sini. Suruh para perajurit itu mundur dan mari kita semua masuk ke ruangan rumah makan yang kosong itu untuk membicarakannya. Di sana kita lihat, kalau memang ada yang salah baru ditangkap, dan sebagai orang gagah, yang merasa bersalah harus berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya!"
Ucapan Han Lin yang lembut namun tegas dan sikapnya yang halus itu tidak ada yang membantah.
Kui Lin menyuruh perwira tadi menarik mundur pasukannya dan mereka berlima lalu masuki ruangan rumah makan yang kosong karena semua tamunya tadi melarikan diri.
Bahkan tidak ada seorangpun pelayan tampak karena mereka semua juga pergi bersembunyi.
Mereka segera mengambil tempat duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang kosong.
"Nah, sekarang mari kita bicara dengan sejujurnya. Lin-moi, engkau bercerita, mengapa engkau hendak menangkap saudara ini."
Han Lin menuding kepada Bu Eng Hoat. Song Kui Lin cemberut, akan tetapi ia bercerita juga.
"Lin-ko, semua orang tahu semalam telah terjadi peristiwa yang menggemparkan, yaitu Menteri Liong yang bijaksana terbunuh dalam kamar gedungnya. Menurut penyelidikan, si pembunuh ketinggalan toyanya di dalam ruangan perpustakaan di mana Menteri Liong terbunuh. Kemudian Pangeran Chou Kuan Tian menerima surat pemberitahuan bahwa si pembunuh berada di kamar nomor lima di loteng hotel ini. Beliau mengutus aku untuk menangkap si pembunuh. Ketika aku datang si pembunuh Bu Eng Hoat ini, maka aku hendak menangkapnya akan tetapi dia melawan, maka kami berkelahi."
"Hemmm, adikku. Boleh saja engkau mencurigai orang, akan tetapi sebelum menyatakan dia bersalah, engkau harus yakin betul dan harus memberi kesempatan kepadanya untuk membela diri. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, Bu Eng Hoat, harap engkau sejujurnya menceritakan apakah engkau membunuh Menteri Liong dan apa alasanmu maka engkau pergi mengunjunginya dan toyamu tertinggal di ruangan rumahnya?"
Katanya sambil menatap tajam wajah Bu Eng kiat.
Mendengar cerita gadis cantik manis yang galak itu, mengertilah Bu Eng Hoat bahwa gadis itu memang benar utusan Pangeran Chou Kuan Tian dan memang tidak dapat disalahkan kalau gadis itu merasa yakin bahwa dia pembunuhnya karena memang toyanya tertinggal di tempat pembunuhan!
"Baik, aku akan bercerita sejujurnya.
Terserah kalian mau percaya atau tidak.
Memang dunia ini aneh, terkadang cerita yang sesungguhnya tidak dipercaya orang seperti pernah kualami beberapa waktu yang lalu,"
Bu Eng Hoat berhenti sebentar memandang kepada Liu Cin.
Liu Cin tersenyum mengangguk maklum karena dulu pun dia lebih percaya cerrita Ang-hwa Niocu yang bohong dan jahat daripada cerita pemuda ini yang sebenarnya.
Bu Eng Hoat melanjutkan.
"Aku adalah seorang perantau yang memenuhi perintah guruku untuk menentang kejahatan di dunia kangouw. Ketika aku memasuki kota raja aku mendengar bahwa Menteri Kebudayaan Liong ada seorang pejabat tinggi yang lalim, korup suka menindas rakyat mengandalkan kekuasaannya, menumpuk kekayaan, memeras rakyat dan mempermainkan banyak anak gadis orang. Nah, mendengar ini malam tadi aku sengaja mengunjungi gedungnya. Akan tetapi ketika aku mengintai di ruangan perpustakaan, aku lihat dia membaca kitab-kitab suci melihat kata-katanya sendiri, aku menjadi ragu karena ucapannya yang keluar adalah ucapan seorang yang bijaksana, tentu saja aku tidak gegabah menyerang atau membunuhnya sebelum aku tahu dengan jelas dia itu manusia bagaimana. Pada saat itu, tiba-tiba seorang yang berpakaian hitam dan mukanya ditutupi kain hitam melompat ke dalam ruangan lalu dan dengan toyanya dia menyerang dan membunuh Menteri Liong. Aku terkejut, akan tetapi terlambat menolongnya. Ketika aku melompat ke dalam dan menyerang pembunuh itu, dia menangkis dan dalam perkelahian singkat, aku harus mengakui bahwa dia memiliki kepandaian yang hebat. Tenaganya kuat sekali sekali sehingga dia mampu membuat toyaku terlepas dan terlempar ke sudut ruangan. Pada saat itu terdengar suara gaduh dan para perajurit pengawal berdatangan. Melihat pembunuh itu melarikan diri, akupun terpaksa melarikan diri dengan niat mengejarnya. Namun dia lenyap dan aku pun terpaksa pulang ke kamar hotel ini dan merasa amat menyesal karena aku tidak mampu menyelamatkan Menteri Liong. Nah, itulah ceritaku, terserah kalian mau percaya ataukah tidak."
"Mana bisa percaya..."
Kui Lin hendak membantah akan tetapi Han Lin mengangkat tangan menyuruh gadis itu diam. Kui Lin menutup mulutnya akan tetapi masih cemberut sambil mengerling galak kepada Bu Eng Hoat.
"Nah, sekarang tiba giliran kalian, Liu Cin dan Hui Lan."
"Aku girang sekali dapat bertemu denganmu di sini, Han Lin. Akan tetapi biarlah dia yang bercerita karena aku tadi hanya mengikuti Liu Cin untuk melerai perkelahian itu."
Kata Hui Lan. Liu Cin bercerita.
"Sebelumnya kami ingin berterima kasih padamu, Han Lin. Kami telah menemui Thian-te Siansu dan berhasil mendapatkan petunjuk beliau. Terima kasih. Sekarang akan ku ceritakan tentang campur tangan kami tadi. Kami berdua kebetulan menyewa dua buah kamar di hotel Lok Koan ini dan tadi kami mendengar ribut-ribut. Ketika kami keluar, kami melihat saudara ini sedang dituduh sebagai pembunuh dan hendak ditangkap. Aku pernah bertemu dengan dia, yaitu ketika dia beberapa waktu yang lalu menyerang Ang-hwa Niocu dan hendak membunuh wanita itu. Sayang sekali ketika itu aku membela Ang-hwa Niocu karena aku condong membela seorang wanita yang hendak dibunuh seorang pria. Akhirnya baru aku mengetahui bahwa wanita itulah yang jahat dan saudara ini adalah seorang pendekar yang menentang kejahatan. Maka, melihat dia dituduh sebagai penjahat dan pembunuh, aku tidak percaya lalu mengajak Hui Lan untuk melerai. Akan tetapi, kami berdua yang hanya ingin melerai disangka penjahat pula lalu dikeroyok pasukan."
"Habis, kalian melindungi tersangka pembunuh, tentu saja aku menjadi curiga"
Kata Kui Lin yang masih cemberut karena Han Lin agaknya tidak mau membelanya.
"Lin-moi, tenang dan bersabarlah. Mari kita semua menghadap Pangeran Chou Kuan Tian dan biarlah beliau yang memutuskan Saudara Bu Eng Hoat ini bersalah ataukah tidak."
"Bagus, kami berdua juga ingin sekali menghadap Pangeran Chou Kuan Tian karena ada hal-hal penting perlu kami laporkan kepada beliau."
Liu Cin dan Hui Lan hanya mengangguk menyetujuinya.
"Mari, Saudara Bu, agaknya kita semua masih segolongan yang suka menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Kalau memang engkau merasa tidak bersalah, tentu engkau bersedia untuk menghadap Pangeran Kuan Tian yang bijaksana."
Kata Han Lin kepada Bu Eng Hoat.
"Tentu saja aku bersedia karena memang tidak merasa membunuh."
Jawab Bu Eng Hoat dengan sikap gagah.
Kui Lin melirik padanya dan cemberut, tetapi Bu Eng Hoat yang menganggap gadis ini lucu, tersenyum simpul.
Mereka berlima lalu meninggal tempat itu dan menuju ke istana.
Karena mereka datang bersama Kui Lin yang sudah dikenal baik para perajuritt pengawal, maka mereka dapat masuk tanpa halangan (Lanjut ke
Jilid 15) Si Rajawali Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 dan langsung menghadap Pangeran Chou Kuan Tian yang sudah menanti untuk menerima mereka di ruangan tamu yang luas.
Sang pangeran tentu saja sudah menerima laporan para pembantunya tentang hasil penangkapan atas diri pemuda di Hotel Lok Koan yang disangka sebagai pembunuh Menteri Liong itu.
Dia hanya dilapori bahwa penangkapan itu tidak jadi ditakukan dan para pemuda perkasa itu mengadakan perundingann yang tidak didengarkan orang lain.
Melihat Kui Lin datang berlima dan antara mereka terdapat pula Si Han Lin, Pangeran Chou Kuan Tian menjadi girang dan melihat pemuda yang sudah dia kenal kelihaian dan kebijaksanaannya , hatinya merasa lega.
Dengan singkat Kui Lin melaporkan apa yang terjadi ketika ia hendak menangkap Bu Eng Hoat sampai muncul Liu Cin dan Ong Hui Lan yang melerai, kemudian muncul pula Si Han Lin yang menghentikan pertempuran.
Han Lin lalu memperkenalkan mereka satu demi satu.
Tadi dalam perjalanan dia sudah mendengar pengakuan Bu Eng Hoat bahwa dia adalah murid Thian Leng Losu.
"Pangeran, kami berlima sesungguhnya masih orang-orang sealiran, karena antara guru-guru kami terdapat jalinan persahabatan yang erat, bahkan guru kami semua merupakan pendukung kerajaan baru Sung yang setia. Bu Eng Hoat ini adalah murid Locianpwe Thian Leng Losu, seorang pendeta Lama . yang berilmu tinggi dan bijaksana. Liu Cin ini adalah murid tunggal dari Ceng Hosiang, tokoh Siauwlimpai yang lihai. Adapun Ong Hui Lan ini adalah murid Locianpwe Tiong Gi Cinjin datuk berjuluk Tung-kiam-ong (Raja Pedang Timur) dan ia adalah puteri dari bekas Kepala Kebudayaan Kerajaan Chou tinggal di Nan-king."
Pangeran Chou Kiang Tian mengangguk-angguk senang.
Tentu saja dia ngengenal Ong Su, ayah dari Ong Hui Lin.
Setelah Pangeran Chou mendengar kesaksian Bu Eng Hoat tentang pembunuhan atas diri Menteri Liong yang dia sakikan dan yang dia tidak mampu menolongnya, pangeran itu mengerutkan alisnya.
"Nanti dulu, Bu Eng Hoat. Menteri Liong terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang bijaksana dan baik budi, tidak pernah mengganggu rakyat, bahkan hati dan tangannya selalu terbuka untuk membantu rakyat. Dari mana engkau mendengar bahwa dia seorang pembesar lalim yang pantas dibunuh?"
Bu Eng Hoat menghela napas panjang.
"Saya sendiri masih bingung, Pangeran, begini ceritanya. Ketika saya memasuki kota raja, di jalan saya melihat seorang perwira dengan pasukannya menyiksa seorang anak perempuan dan ayahnya yang dianggap menghalang jalan. Saya lalu menghajar pasukan itu dan datang seorang panglima yang baik hati. Dia yang memintakan maaf dan dia mengajak saya naik ke dalam keretanya. Dari pembicaraannya, saya menilai bahwa dia seorang panglima yang bijaksana. Dialah yang memberitahu kepada saya bahwa banyak pejabat tinggi yang lalim di raja, di antaranya yang paling jahat adalah Menteri Liong. Karena itu, saya mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada Menteri Liong itu. Akan tetapi, ternyata sekarang bahwa Menteri Liong malah seorang pejabat tinggi bijaksana. Saya tidak tahu siapa pembunuh yang amat lihai itu. Sungguh merasa menyesal telah percaya keterangan panglima itu."
"Hemmm, ada satu hal yang kuanggap aneh dan sampai sekarang masih membangkitkan kecurigaanku kepadamu, Bu Eng Hoat. Engkau seorang perantau melihat keadaanmu engkau bukan seorang yang kaya raya. Akan tetapi ternyata engkau dapat menyewa sebuah kamar loteng Hotel Lok Koan yang paling besar dan paling mahal di kota raja!"
Wajah Bu Eng Hoat menjadi kemerahan. Hatinya merasa mendongkol sekali kepada gadis yang galak itu, walaupunwajahnya yang manis sejak semula amat menarik hatinya.
"Panglima itu pula yang telah menyewakan sebuah kamar untukku."
"Siapakah panglima yang amat baik hati terhadapmu itu, akan tetapi yang menceritakan keterangan yang menyesatkan tentang Menteri Liong?"
"Namanya adalah Panglima Chou Ban Heng"
Mendengar disebutnya nama ini, Pangeran Chou Kuan Tian tersenyum.
"Aih, pantas kalau begitu!"
Seru Song Kui Lin juga Liu Cindan Ong Hui Lan saling pandang penuh arti.
"Pangeran, Chou Ban Heng itu adalah orang yang merencanakan pemberontakan. Kami yakin bahwa yang menyuruhbunuh Menteri Liong dan para pejabat yang menjadi korban pembunuhan itu bukan lain adalah dia orangnya!"
Pangeran Chou Kuan Tian mengangguk-angguk.
"Bu Eng Hoat, jelas bahwa engkau telah dijebak agar engkaulah yang dituduh sebagai pembunuh yang selama ini kami cari-cari. Ketahuilah bahwa Panglima Chou Ban Heng itu diam-diam mengusahakan pemberontakan dan dia mendalangi pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di antara para pejabat tinggi di kota raja. Nah, sekarang kita semua mengetahui bahwa kita merupakan segolongan orang yang menentang pemberontakan itu. Sekarang harap kalian Liu Cin dan Ong Hui Lan, menceritakan pengalaman kalian yang berhubungan dengan Pangeran Chou Ban Heng."
Ong Hui Lan menceritakan betapa diutus ayahnya, Ong Su, untuk membntua Jenderal Chou Ban Heng.
"Karena ayah dahulu merupakan Kepala Kebudayaan Kerajaan Chou, maka ayah mempunyai hubungan baik dengan Jenderal Chou Ban Heng yang dahulu merupakan seorang pangeran. Ayah saya tidak tahu bahwa Jenderal Chou Ban Heng berkhianat terhadap Kerajaan Sung dan hendak memberontak, maka dia bukan saja menyuruh saya membantu, bahkan ayah menerima pula ketika Pangeran atau Jenderal Chou Ban Heng menjodohkan saya dengan puteranya yang bernama Chou Kian Ki. Akan tetapi, setelah saya mengetahui bahwa Jenderal Chou Ban Heng hendak memberontak, apalagi setelah saya kenal Chou Kian Ki sebagai seorang pemuda yang bertabiat kurang baik, saya lalu melarikan diri meninggalkan keluarga Chou Ban Heng."
Liu Cin juga menceritakan pengalamannya.
"Ketika saya bertemu dan berkenalan dengan Ang-hwa Niocu, saya tertipu dan mengira bahwa ia seorang pendekar wanita yang gagah dan baik. la yang membawa saya pergi menghadap Jenderal Chou Ban Heng dan bekerja kepadanya. Akan tetapi setelah berada di sana, saya baru mengetahui bahwa Ang-hwa Niocu adalah seorang iblis betina dan bahwa keluarga jenderal itu bukan orang baik-baik, maka saya lalu pergi meninggalkannya. Saya bertemu dengan nona Ong Hui Lan dan bersama-sama memperdalam ilmu silat. Kami kembali ke kota raja memang dengan niat menentang rencana pemberontakan Jenderal Chou Ban Heng, dan melihat Bu Eng Hoat dikeroyok perajurit, kami melerainya karena saya tahu bahwa dia seorang pendekar yang gagah dan penentang kejahatan."
Pangeran Chou Kuan Tian mengangguk-angguk.
"Kita semua kini sudah mengetahui dengan jelas bahwa Jenderal Chou Ban Heng berkhianat dan hendak memberontak. Dia pula yang mendalangi semua pembunuhan itu. Hal itu sudh kuduga ketika kami berhadapan dengan Hongsan Siansu yang menjadi guru Kallon tokoh Khitan, dan Ang-hwa Niocu. Akan tetapi kini tiga orang itu tidak berada lagi di kota raja. Lalu siapakah pembunuh yang lihai itu?"
"Saya dapat menduga siapa adanya para pembunuh itu, Pangeran."
Kata Hui Lan.
"Selain Hongsan Siansu, Jenderal Chou Ban Heng masih mempunyai orang pembantu yang lihai, yaitu Kanglam Sinkiam Kwan In Su, dan Im Yang Tosu. Mereka berdua adalah orang-orang yang lihai sekali ilmu silatnya. Akan tetapi masih ada seorang yang lebih lihai lagi, yaitu puteranya sendiri yang bernama Chou Kian Ki. Dia ini lebih lihai dibandingkan semua pembantu Jenderal Chou!"
"Benar sekali. Pangeran. Kalau ada pembunuh yang amat lihai sehingga Bu Eng Hoat sendiri tidak mampu menantanginya ketika pembunuh itu membunuh Menteri Liong, dia tentulah Chou Kian Ki"
Kata Liu Cin memperkuat pendapat Hui Lan.
"Saya pernah menghadapi Chou Kian Ki dan harus saya akui bahwa belum pernah saya melawan orang setangguh itu, Pangeran."
Pangeran Chou Kuan Tian mengangguk-angguk.
Dia lalu minta ketegasan tiga orang muda yang baru dia jumpai, yaitu Liu Cin, Bu Eng Hoat, dan Ong Hui Lan, apakah mereka benar-benar sanggup membantu pemerintah untuk menghadapi Jenderal Chou Ban Heng dan para pendukungnya.
Orang-orang muda yang berjiwa pendekar dan yang oleh guru masing-masing memang sudah dipesan agar mereka bertindak sebagai pendekar untuk membantu negara dan bangsa, segera menyatakan kesanggupan mereka.
Pangeran Chou Kuan Tian merasa lega dan girang sekali.
Dia telah mendapatkan bantuan lima orang muda yang gagah perkasa, yang membela pemerintah menentang para pemberontak karena dorongan jiwa kepahlawanan mereka, sama sekali tidak mempunyai pamrih untuk mendapatkan imbalan balas jasa berupa kedudukan atau harta benda.
Pendekar-pendekar muda seperti ini yang dapat dipercaya.
Dia menganjurkan agar mereka berlima tinggal di istana seperti Song Kui Lin yang memang sudah tinggal di situ.
Hui Lan yang segera akrab dengan Kui Lin tentu saja merasa senang karena ia ingin berlindung dari ancaman Chou Kian Ki.
Juga Liu Cin dan Bu Eng Hoat menerima tawaran Pangeran Chou dan masing-masing mendapatkan sebuah kamar di bagian istana di mana Pangeran Chou Kuan Tian tinggal.
Hanya Si Han Lin yang tetap tinggal di luar istana karena pemuda ini ingin menyendiri dan dapat bergerak bebas juga dia dapat melakukan pengamat lebih teliti dan leluasa.
Pangeran Chou Kuan Tian diam-diam telah melaporkan kepada kakaknya, Kaisar Sung Thai Cu tentang sepak terjang Jenderal Chou Ban Heng yang secara rahasia melakukan pemberontakan dengan jalan membunuhi para pejabat setia, bahkan pernah berusaha membunuh Pangeran Mahkota.
Akan tetapi Kaisar Sung ku Cu melarang dia untuk turun tangan menangkap jenderal itu karena semua perbuatanya itu tidak dapat dibuktikan "Sekarang sebaiknya begini,"
Kata Kaisar yang selalu bijaksana dan penuh perhitungan itu.
"Engkau melakukan penjagaan yang ketat agar keluarga kita tidak ada yang terancam bahaya. Sementara itu, biarkan pengkhianat itu merasa bahwa perbuatannya belum kita ketahui sehingga dia berani bertindak lebih jauh lagi. Nah, kalau dia bertindak, baru kau tangkap dia dan kaki tangannya sehingga penangkapan itu bukan atas dasar tuduhan tanpa bukti dan kita kelihatan tidak adil. Kumpulkan orang-orang yang berkepandaian tinggi dan amati semua gerak-geriknya sehingga kalau dia bertindak kita tidak sampai kecolongan dan menangkap basah dia dan anak buahnya."
Perintah Kaisar ini ditaati Pangeran Chou Kuan Tian.
Dia menyebar para penyelidiknya agar diam-diam mengamati dan membayangi gerak-gerik Panglima Chou Ban Heng dan terutama puteranya yang bernama Chou Kian Ki dan juga dua orang pengawalnya, yaitu Kanglam Sinkiam Kwan In Su dan Im-yang Tosu.
Juga mengamati siapa saja yang datang dan berhubungan dengan jenderal itu.
Demikian pula lima orang muda yang membantunya, hanya diperbolehkan melakukan pengamatan dan tidak boleh turun tangan, kecuali kalau ada pembunuh yang hendak melakukan pembunhan terhadap pejabat yang setia ke Kaisar.
Juga kepada para pejabat setia, Pangeran Chou Kuan Tian menasehatkan agar berhati-hati dan jaga keamanan diri dan keluarga masing-masing dengan ketat, menambah jumlah pengawal.
Jenderal Chou Ban Heng merasa terkejut dan menyesal akan gagalnya usaha pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota maupun Pangeran Chou Kuang Tian, akan tetapi dia merasa lega karena sebegitu jauh dirinya belum dicurigai.
Buktinya pihak pemerintah masih belum mengadakan tindakan apa pun terhadap dirinya.
Para penyelidiknya melaporkan bahwa Liu Cin dan Ong Hui Lan kini muncul dan berada di istana bersama Pangeran Chou Kuan Tian.
Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatirannya karena Ong Hui Lan yang tadinya menjadi calon mantunya tentu telah tahu banyak niatnya untuk menggulingkan Kaisar Sung dan merebut tahta.
Akan tetapi agaknya gadis itu tidak melaporkannya, mungkin takut kalau ayahnya terlibat.
buktinya belum ada tanda bahwa dirinya dicurigai.
Akan tetapi Jenderal Chou Ban Heng kini menjadi hati-hati dan waspada.
Melihat betapa para pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar kini menjaga diri dengan perlindungan ketat, dia maklum bahwa lambat laun tentu pihak pemeritah akan mencurigai dan menindaknya.
Sebelum hal itu terjadi, lebih kalau dia turun tangan lebih dulu!
Secara rahasia, Panglima Chou Ban Heng lalu mengundang para pembantu dan pendukungnya, baik yang berada luar kota raja maupun beberapa orang perwira tinggi yang berada di kota raja untuk mengadakan pertemuan rahasia dalam hutan di bukit terpencil sebelah Utara kota raja.
Dia sendiri tidak mungkin pergi memimpin pertemuan karena dia tahu bahwa dirinya selalu diawasi secara diam-diam oleh mata-mata pemerintah.
Maka dia mengutus puteranya, Chou Kian Ki untuk memimpin pertemuan itu.
Bagi Chou Kian Ki, walaupun dia juga tidak luput dari pengawasan, namun dengan ilmunya yang tinggi, dengan mudah dia mampu lolos dari istana ayahnya tanpa diketahui seorang pun yang diam-diam mengawasi keluarganya siang malam.
Dengan gerakan yang cepat seperti terbang, di suatu malam dia berhasil keluar dari gedungnya, bahkan keluar dari kota raja menuju ke hutan di mana pada keesokan harinya telah ditentukan menjadi tempat pertemuan persekutuan pemberontak itu.
Sekali ini Chou Ban Heng hendak mengerahkan semua kekuatan para pendukung dan sekutunya.
Yang diundang datang menghadiri pertemuan yang dipimpin oleh Chou Kian Ki sebagai wakil ayahnya itu merupakan yang paling lengkap dan paling besar jumlahnya semua pertemuan yang pernah diadakan.
Sejak malam sampai keesokan nya, di dalam hutan itu telah berkumpul tidak kurang dari tiga puluh orang penting.
Mereka adalah para tokoh kangouw yang sakti, yang sejak semula memang telah membantu Chou Ban Heng, sebagian pula adalah para perwira tinggi yang dapat terbujuk oleh jenderal itu karena mereka adalah para bekas pejabat pemerintah Kerajaan Chou yang sudah jatuh.
Di antara para tokoh kangouw adalah Kanglam Sinkiam Kwan In Su, Im-yang Tosu, Hongsan Siansu, Kallon, Ang-hwa Niocu, Tung-hai Tok, Ban-tok Moko, Cui beng Lokui.
Mereka ini pernah kita kenal dalam peristiwa-peristiwa yang lalu.
Malam itu muncul pula seorang pendeta Lama jubah merah yang berjuluk Thong Thian Lama, seorang pendeta Lama dari Tibet yang datang ke kota raja Kerajaan Sung dengan niat mencari sutenya (adik seperguruannya), yaitu Thong Leng Losu yang dianggap berkhianat dan menjadi buruan para pendeta Lama.
Secara kebetulan dia bertemu dengan Chou Kian Ki dan dapat dibujuk untuk membantu gerakan mereka dengan imbalan akan membantu mencari Thong Leng Losu.
Karena rnemang para pendeta Lama di Tibet tidak suka akan munculnya Dinasti Sung dan mereka kehilangan hubungan baik dengan Kerajaan Chou yang jatuh, maka Thong Thian Lama tanpa ragu lagi menerima ajakan kerja sama itu.
Tung-hai Tok diikuti pula muridnya, yaitu Boan Su Kok si muka hitam yang pernah menjadi juara dalam perebutan kejuaraan jago silat di puncak Thaisan.
Guru dan murid ini bahkan mempersiapkan anak buah mereka, yaitu para anggota Tung-hai-pang yang kini berjumlah sekitar seratus orang!
Juga Kallon, utusan dari suku Khitan itu telah mempersiapkan ratusan orang anak buahnya yang sewaktu-waktu dapat digerakkan untuk bertempur!
Tentu saja demikian juga dengan para perwira tinggi yang siap dengan pasukan masing-masing, walaupun sebagian besar dari mereka masih ragu dan belum yakin benar bahwa seluruh perajurit mereka akan menaati bila digerakkan untuk menyerbu dan menyerang pasukan kerajaan yang membela Kaisar Sung Thai Cu.
Karena itulah, dalam perundingan yang dipimpin Chou Kian Ki pagi itu sampai siang, kebanyakan para perwira tinggi tidak setuju kalau pemberontakan itu dimulai dengan penyerbuan dan mengandalkan kekuatan pasukan yang mereka pimpin.
Karena mereka pun tahu bahwa pihak pemerintah memiliki pasukan-pasukan besar dan kuat yang pemimpinnya setia kepada Kaisar.
Karena harus dilumpuhkan dulu, demikian para pembantunya yang setia.
Kalau pasukan pemerintah kehilangan para pemimpinnya, barulah penyerbuan dapat dilakukan dan harapan untuk berhasil pasti lebih besar.
Akhirnya rencana ini diterima dan diputuskan bahwa Chou Kian Ki dan ayahnya, Chou Ban Heng akan mencari cara untuk menguasai Kaisar.
Untuk itu diperlukan bantuan para pendukung yang sakti.
Dengan diam-diam dan rahasia, mereka yang akan menyusup masuk kota raja dan bersembunyi di istana Chou Ban Heng untuk membantu pelaksanaan rencana itu adalah Tung-hai Tok, Ban-Moko, Cui beng Lokui, dan Tong Thian Lama karena empat orang tokoh ini belum dikenal di kota raja.
Tentu saja Kwan In Su dan Im-yang Tosu juga bersama mereka karena dua orang ini sejak dulu menjadi pengawal keluarga Chou Ban Heng.
Hongsan Siansu, Kallon dan Ang-hwa Niocu yang sudah dikenal Pangeran Chou Kuan Tian sebagai tiga orang yang mengirim dua orang pembunuh yang berusaha membunuh Pangeran Mahkota, tentu saja tidak berani memasuki kota raja.
Mereka bertiga hanya bersembunyi di luar kota raja, siap membantu kalau pasukan pemberontak menyerbu masuk kota raja.
Pertemuan rahasia itu dilakukan dengan amat teliti sehingga para penyelidik yang disebarkan Pangeran Chou Kuan Tian tidak ada yang dapat mengetahuinya.
Bahkan Si Han Lin yang seperti biasa secara diam-diam melakukan perondaan di atas wuwungan rumah-rumah di kota raja, tidak menemukan sesuatu.
Dia hanya melihat pada keesokan harinya, sore hari, Kwan In Su Im-yang Tosu berjalan memasuki pintu gerbang kota raja dan menuju ke istana Jenderal Chou Ban Heng.
Hal ini tidaklah luar biasa karena memang dua orang itu merupakan pengawal sang jenderal.
Dia juga melihat seorang pendeta Lama tua berjalan pada malam hari itu pendeta itu menghilang dalam kegelapan malam.
Karena tidak mengenalnya tidak menaruh curiga Han Lin tidak mengikutinya, tidak tahu bahwa pendeta itu adalah Thong Thian Lama, seorang antara mereka yang secara rahasia memasuki gedung Chou Ban Heng untuk membantunya.
Betapapun pandai dan penuh rahasia jenderal Chou Ban Heng mengatur rencana sehingga semua pembantunya telah siap, namun Pangeran Chou Kuan Tian dan para pembantunya tidak kalah cerdik, mereka memang tidak dapat mengetahui bahwa Jenderal Chou Ban Heng telah menyelundupkan tambahan empat orang yang berilmu tinggi untuk membantunya, namun Pangeran Chou Kuan Tian sudah dapat menduga bahwa Jenderal Chou Ban Heng tentu akan.
mengadakan gerakan yang amat membahayakan keselamatan kaisar dan keluarganya.
Oleh karena itu, dibantu para pendekar muda dan para panglima yang setia, dia pun menyusun penjagaan dan pertahanan yang amat ketat secara rahasia pula sehingga di luarnya seolah pihak Kerajaan tidak mencurigai Jenderal itu dan tidak melakukan penjagaan apapun!
Pada suatu malam yang gelap.
Kota raja diselimuti mendung tebal sehingga langit hanya tampak hitam tanpa sebuah pun bintang.
Kilat menyambar-nyambar diselingi suara guntur menggelegar.
Tidak ada tampak orang di jalan malam itu karena semua merasa lebih aman berada dalam rumah.
Agaknya hujan lebat segera akan turun.
Istana pun tampak sunyi, agaknya semua penghuninya telah tidur di kamar masing-masing.
Bahkan para pengawalpun yang sedang bertugas jaga lebih suka duduk bergerombol di pos penjagaan masing-masing.
Hanya ada beberapa pasangan saja yang melakukan perondaan, itupun dengan sikap ogah-ogahan.
Di antara para perajurit pengawal yang malam itu melakukan penjagaan yang jumlahnya sekitar lima puluh orang dan tersebar di seluruh bagian istana terdapat sepuluh orang perajurit pengawal yang sudah "dibeli"
Dan menjadi anak buah Jenderal Chou Ban Heng.
Tentu saja sudah berbulan-bulan dia menggunakan sepuluh orang perajurit pengawal kerajaan ini sebagai mata-mata sehingga dia dapat mengetahui gerak-gerik di dalam istana.
Dari mereka pula dia mendengar bahwa keadaan penjagaan di istana mempunyai kelemahan-kelemahan.
Jenderai Chou Ban Heng mendengar pula bahwa selama beberapa pekan ini Kaisar memiliki kebiasaan yang ganjil, yaitu dia suka tidur di sebuah kamar menyendiri tidak ditemani permaisuri maupun selirnya dan kalau sudah memasuki kamar, sama sekali tidak ingin diganggu, bahkan pengawal pun tidak diperbolehkan mendekati kamar dan tidak boleh ada suara berisik di luar kamar itu.
Mendengar ini, Jenderal Chou Ban Heng yang sudah bernafsu sekali untuk menguasai tahta kerajaan, segera menyusun rencana yang akan dilakukan pada malam gelap itu.
Dia sudah mengatur rencana siasat dengan para pembantunya.
Dia akan menguasai kaisar, menyandera kaisar dan memaksa kaisar untuk menyerahkan kerajaaan dan mengangkat dia menjadi penggantl.
Adapun semua pendukung dan pembantunya harus sudah siap di luar kota raja, juga para panglima siap dengan pasukan mereka, untuk menyerbu kalau kaisar melawan dan tidak mau menyerahkan kekuasaan.
Demikianlah, dengan bantuan sepuluh orang perajurit pengawal, tanpa diketahui para perajurit lainnya.
Jenderal Chou Ban Heng, puteranya, Chou Kian Ki, Tung-hai Tok, Ban-tok Moko, Cuibeng Lokui, dan Thong Thian Lama, enam orang ini menutupi pakaian mereka dengan pakaian perajurit lalu mereka menyelundup masuk ke istana dan langsung saja menuju ke kamar Istimewa di mana Kaisar Sung Thai Cu tidur.
Suasana amat sunyi.
Selagi enam orang perajurit palsu itu berindap menghampiri kamar itu, muncul lima orang perajurit pengawal yang bertugas menjaga kamar itu dari jauh karena mereka dilarang mendekat oleh Kaisar.
Melihat enam orang itu menghampiri kamar, mereka segera mengejar dan menegur dengan suara lirih.
"Hei, kalian tidak boleh mendekat kamar itu!"
Ketika enam orang itu membalikkan tubuh mereka, lima orang perajurit itu terkejut karena tidak mengenal mereka, apalagi ketika melihat bahwa yang seorang di antara enam orang perajurit itu adalah Jenderal Chou Ban Keng.
Akan tetapi, Chou Kian Ki, Tung-hai Tok.
Bantok Moko, Cuibeng Lokui dan THong Thian Lama sekali menggerakkan tangan, lima orang perajurit pengawal itu roboh tewas tanpa sempat mengeluarkan suara.
Mereka lalu menyeret lima mayat itu dan melemparkannya ke bawah pohon, tertutup bayangan pohon yang gelap, kemudian mereka kembali berindap menghampiri kamar itu dan Jenderal Chou Ban Heng sendiri lalu membuat lubang di jendela dengan pedang lalu mengintai ke dalam.
Kamar itu diterangi lampu meja yang remang-remang.
Bukan kamar yang terlalu mewah, hanya ada sebuah dipan berkelambu, sebuah meja dengan empat kursi, dan sebuah almari berisi kitab-kitab.
Di atas dipan itu, tertutup kelambu tipis, tampak tubuh seorang laki-laki tidur telentang.
Jenderal Chou Ban Heng yang sudah mengenal baik Kaisar, yakin bahwa yang tidur itu adalah Kaisar Thai Cu.
Dia lalu mengangguk ke puteranya dan Chou Kian Ki medekat daun pintu kamar.
Dengan pengerahan tenaga saktinya yang amat kuat, dia mendorong dan berhasil membuka pintu kamar tanpa perlu merusak atau mengeluarkan suara gaduh.
Dengan mudahnya daun pintu terbuka.
Ayah anak ini lalu cepat melompat ke dalam kamar, sedangkan empat orang sakti pembantu mereka berjaga di luar kamar.
Melihat tubuh yang rebah miring, membelakangi mereka itu bergerak, jenderal Chou Ban Heng segera berseru "Jangan bergerak atau berteriak, Sribaginda, atau kami terpaksa akan membunuhmu!"
Mendengar ancaman ini, kaisar itu lalu menutupi kepalanya dengan selimut dan menggigil ketakutan.
Jenderal Chou Ban Heng tersenyum mengejek.
Kiranya kaisar kerajaan baru itu hanya seorang pengecut yang ketakutan, pikirnya.
"Dengar baik-baik, Sribaginda. Engkau menaati kami atau kami bunuh sekarang juga. Tulis pernyataan bahwa engkau menyerahkan tahta kerajaan kepadaku, akulah yang berhak melanjutkan Kerajaan Chou, bukan engkau! Tulislah dengan tangan dan cap kebesaranmu, dan tahta kerajaan akan pindah ke tanganku tanpa adanya pertempuran. Kalau engkau tidak menaati, kami akan membunuhmu dan akan mengobarkan perang yang akan, menghancurkan seluruh negeri "
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan di luar kamar, seolah merupakan jawaban dari ucapan Chou Ban Heng tadi.
"Chou Ban Heng, menyerahlah, kalian sudah terkepung"
Mendengar ini, Chou Ban Heng terkejut, akan tetapi dia tidak merasa gentar.
"Kian Ki, jaga Kaisar jangan sampai lolos, akan tetapi jangan bunuh, tunggu perintahku!"
Setelah memesan demikian kepada puteranya, dia dengan cepat melompat keluar.
Dia melihat empat orang pembantunya itu sudah berdiri tegak membawa senjata masing-masing dan siap melawan mereka yang berada di situ dengan banyak perajurit yang mengepung tempat Itu.
Dia melihat Pangeran Chou Kuan Tian berada di depan bersama dua orang pemuda dan dua orang gadis, Dia segera mengenal Liu Cin dan Bu Eng Hoat, juga mengenal Ong Hui Lan calon mantunya.
Dia lalu berseru nyaring pada Pangeran Chou Kuan Tian.
"Chou Kuahg Tlan, jangan kalian berani bergerak! Ketahuilah, Kaisar Thai Cu telah berada di tangan kami kalau kalian membuat gerakan, dia akan lebih dulu kami bunuh. Dan ketahui juga bahwa para panglimaku sudah siap dengan pasukan mereka, juga para pendukungku sudah siap dengan anak buah mereka di luar pintu gerbang. Kalau kalian menentangku, pertama Kaisar akan kami bunuh dan pasukan-pasukan pendukungku akan bergerak menyerbu istana."
Garang bagaikan lima ekor singa Chou Ban Heng, Tung-hai Tok, Bantok Moko, Ciu-beng Lokui, dan Tong Thian Lama berdiri berjajar menghadapi Pangeran Chou Kuan Tian yang didampingi Liu Cin, Bu Eng Hoat, Song Kui Lin, dan Ong Hui Lan.
Mereka agaknya merasa yakin bahwa lawan-lawan mereka tidak akan berani menyerang selama Kaisar berada dalam tawanan mereka dan menjadi sandera.
Chou Ban Heng bahkan merasa yakin bahwa gertakannya itu pasti berhasil karena tidak mungkin Pangeran Chou Kuan Tian mau mengorbankan nyawa kakaknya Sung Thai Cu, kaisar pertama dinasti Sung.
Akan tetapi sungguh sama sekali tidak disangkanya, mendengar ucapannya yang penuh semangat kemenangan, Pangeran Chou Kuan Tian tersenyum tenang, lalu berkata.
"Chou Ban Heng, pengkhianat pemberontak, manusia tak mengenal budi. Engkau diberi kedudukan tinggi oleh Kakanda Kaisar, sekarang malah memberontak! gertakanmu itu hanya gentong kosong belaka. Dengar baik-baik, tiga belas orang panglima yang dapat kau bujuk menjadi pengikutmu kini sudah kami tangkap semua sehingga tidak akan ada pasukan yang memberontak tanpa pimpinan. Juga para gerombolan penjahat luar kota kini sedang diserbu oleh pasukan pemerintah. Nah, sebaiknya kalian berlima cepat membuang senjata menyerah, rnungkin Kakanda Kaisar yang bijaksana dan murah hati masih mengampunimu."
Chou Ban Heng kalah gertak, merasa gentar juga, akan tetapi dia masih mengandalkan kenyataan bahwa kaisar berada di tanganrnya.
Melihat Pangeran Chou Kuan Tian agaknya bersungguh-sungguh dan dia bersama para pendekar muda itu melangkah maju, dia berseru.
"Berhenti! Selangkah lagi kalian maju akan kusuruh puteraku mermbunuh Kaisar yang berada di dalam kamar!"
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara yang datangnya dari atas.
"Chou Ban Heng, ambisimu itu akan menghancurkan dirimu sendiri!"
Mendengar suara itu, Chou Ban Heng terkejut bukan main dan dia segera memandang ke atas dan di sana, di sebuah loteng yang menjulur di depan kamar itu tampak Sribaginda Kaisar Sung Thai Cu berdiri dengan sikap tenang dan agung.
"Ahhh..... bagaimana ini.....?"
Chou Ban Heng berseru, terkejut dan heran dan pada saat itu terdengar suara gaduh beradunya senjata di dalam kamar dan sesosok bayangan melompat keluar dari kamar.
Bayangan itu adalah Chou Kian Ki yang membawa Hek-kong-kiam (Pedang Sinar Hitam), dengan mata terbelalak memandang ayahnya dan berkata.
"Kita terjebakl Dia bukan Kaisar!"
Bayangan putih berkelebat dan Han Lin telah berada pula di luar.
Ternyata di ketika Chou Ban Heng mengintai, yang rebah di pembaringan tertutup kelambu memang Kaisar, akan tetapi kemudian pembaringan yang sudah dipasangi alat rahasia itu turun ke bawah dan di ruangan bawah kaisar turun, digantikan Han Lin.
Kemudian pembaringan itu naik lagi dan kini yang berada di pembaringan adalah Si Han Lin yang sengaja menutupi kepalanya dengan selimut dan tubuhnya mengigil agar disangka kaisar yang ketakutan.
Setelah dia mendengar suara kaisar di luar, Han Lin membuka selimutnya.
Melihat bahwa yang berada disitu adalah pemuda lihai yang pernah bertanding dengannya.
Kian Ki terkejut dan menyerang.
Akan tetapi serangan pedang sinar hitamnya dapat ditangkis oleh Han Lin.
Tahu bahwa mereka terjebak, Kian Ki melompat keluar memberi tahu ayahnya dan teman-temannya.
"Serang.....!!"
Pangeran Chou Ban Heng yang sudah nekat mengandalkan kelihaian puteranya dan empat orang jagoannya, lalu menerjang maju.
Mereka disambut oleh Han Lin dan kawan-kawannya, dikepung para panglima dan pasukan nya.
Maklum akan kelihaian Chou Kian Ki, Si Han Lin menyambut putera jenderal ini dan mereka bertanding dengan seru.
Tadinya Ong Hui Lan yang ingin membalas dendam kepada Kian Ki, hendak menyerangnya dan ia sudah didampingi Liu Cin karena mereka berdua maklum bahwa hanya kalau mereka berdua maju menggunakan ilmu Thian-te Im-yang Kun-hoat, dapat diharapkan mereka akan mampu menandingi dan mengalahkan Chou Kian Ki.
Akan tetapi melihat Han Lin sudah menyambut putera jendra itu, Hui Lan dan Liu Cin tidak ingin mengeroyok dan mereka menghadapi yang lain.
Kian Ki tidaklah senekat ayahnya, melihat betapa para pendekar muda itu rata-rata lihai, terutama sekali pemuda pakaian putih yang menyambutnya, dan di belakang mereka masih ada para panglima dan ratusan perajurit, Kian Ki maklum bahwa ayahnya dan para pembantunya tidak mungkin akan mampu menang.
Akan tetapi Jenderal Chou Ban Heng berseru.
"Larilah engkau, Kian Ki dan kelak, balaskan sakit hati ayahmu!!"
Kian Ki beberapa kali berteriak, akan tetapi Chou Ban Heng tetap tidak mau melarikan diri, bahkan mengamuk dan mati-matian menyerang Pangeran Chou Kuan Tian yang dibencinya karena dia anggap pangeran itulah yang menjadi pimpinan lawan sehingga usaha pemberontakannya gagal.
Akan tetapi, Pangeran Chou Kuan Thian adalah seorang ahli silat yang tangguh dan setelah mereka bertanding selama tiga puluh jurus lebih, seorang panglima yang membantu pangeran Chou Kuan Tian berhasil menusuk lambungnya dari kiri dan robohlah Chou Ban Heng.
Melihat ayahnya roboh, Chou Kian Ki berteriak.
"Ayah....!"
Pangeran Chou Kuan Tian membiarkan pemuda itu menubruk ayahnya dan ia malah memberi isarat mencegah mereka yang hendak menyerang pemuda itu.
Kian Ki merangkul ayahnya dan melihat ayahnya terluka parah, dia lalu mengangkat tubuh ayahnya, dipondong lalu dipanggul di atas pundaknya.
Dengan wajah beringas dia lalu menerjang ke depan dengan pedang hitamnya dan mengamuk.
Demikian hebat gerakan Kian Ki sehingga para perajurit mundur menjauh.
Han Lin juga merasa tidak tega untuk menghalangi pemuda itu membawa pergi ayahnya yang terluka parah dan membiarkan saja pemuda itu melarikan diri, apalagi setelah melihat Pangeran Chou Kuan Tian tadi juga melarang para perajurit menyerang pemuda yang mungkin sekali kematian ayahnya melihat luka tusukan tombak yang menembus dari lambung kiri ke lambung kanan.
Melihat Pangeran Chou Ban Heng roboh dan Chou Kian Ki melarikan ayahnya yang terluka, empat orang datuk yang membantu mereka itu pun mencari jalan keluar mengikuti Chou Kian Ki melarikan diri sambil mengamuk di panjang jalan.
Pangeran Chou Kuang Tlan memang tadinya mencegah perajurit-perajurit dan pembantunya mendesak pihak lawan setelah melihat Chou Ban Heng, biang keladinya, telah roboh.
Akan tetapi melihat betapa Chou Kian Ki diikuti empat orang datuk sakti itu melarikan diri, dia teringat bahwa mereka itu tetap merupakan bahaya bagi negara.
Maka dia segera memberi aba-aba kepada para pendekar muda dan para panglima.
"Kejar mereka!"
Pengejaran dilakukan.
Lima orang itu melarikan diri keluar dari pintu gerbang keluar kotaraja sebelah utara, Apa yang diktakan Pangeran Chou Kuan Tian tadi tidak bohong karena pada saat itu, di luar pintu gerbang telah terjadi pertempuran antara ratusan orang anak buah rombongan pendukung pemberontak dan pasukan kerajaan yang memang ditugaskan untuk menggempur mereka.
Biarpun pihak gerombolan pemberontak kalah besar jumlahnya, namun mereka dipimpin oteh orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Di antara mereka terdapat Hongsan Siansu, Ang-hwa Niocu, Kanglam Sinkiam Kwan In Su, Im-yang Tosu, Kallon dan Boan Su Kak murid Tung-hal tok.
Mereka mengamuk dengan ganas dan banyak perajurit yang roboh di tangan mereka.
Ketika tiba di tempat itu, Chou Ban Heng tewas dalam pondongan puteranya.
Kepada Chou Kian Ki dia hanya meninggalkan pesan dengan suara terputus-putus "Kian Ki...
selamatkan dirimu.
agar kelak dapat membalas dendam terutama kepada.....
Pangeran Kuan Tian "
Melihat ayahnya tewas, Kian Ki Jadi marah bukan main.
Dia melihat betapa tiga orang gurunya, Hongsan Si su, Kwan In Su, dan Im-yang Tosu mengamuk, maka dia lalu meletakan jenazah ayahnya di bawah sebatang pohon besar yang agak jauh dari tempat pertempuran, lalu dia terjun ke dalam pertempuran dan ikut mengamuk.
Ketika para pengejar dari istana tiba di situ, mereka segera terjun dalam pertempuran yang dahsyat itu.
Si Han Lin segera menghadapi Chou Kian Ki yang sedang mengamuk dengan Hek-kong-kiam (Pedang Sinar Hitam) dan meroboh banyak perajurit.
"Cringgg!!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang hitam itu ditangkis pedang Pek-sim-kiam (Pedang Sinar Putih) yang bersinar putih di tangan Si Han Lin.
Ketika itu cuaca sudah mulai terang karena malam telah terganti pagi sehingga mereka dapat saling melihat dengan jelas.
Kian Ki terkejut karena pedangnya terpental akan tetapi dia segera memandang dengan mata melotot ketika melihat bahwa penangkisnya adalah pemuda yang pernah ditandinginya dua kali.
Pertama kali ketika pemuda itu melindungi Ong Hui Lan, dan ke dua kalinya ketika semalam pemuda itu menyamar sebagai Kaisar Sung Thai Cu dalam kamar.
Dia menjadi marah sekali, apalagi ketika diingat bahwa pemuda ini memiliki ilmu yang sama seperti yang pernah dipelajarinya dari mendiang Thian Beng Siansu.
"Keparat, siapakah engkau sebenarnya? Dan dari mana engkau mencuri Imu Keluarga Kok?"
Dengan tenang Si Han Lin menjawab.
"Chou Kian Ki, aku bernama Si Han Lin dan guruku adalah Thai Kek Siansu, pewaris ilmu silat Keluarga Kok. Sebaliknya bagaimana engkau dapat mempelajari ilmu warisan Keluarga Kok?"
"Aku belajar dari guruku, Thian Beng Siansu "
"Ah, kiranya engkau murid Su couw (Paman Kakek Guru) Thian Siansu?"
Si Han Lin terkejut.
"Hemmm, kalau mendiang guru susiok-couwmu, berarti engkau murid keponakanku. Mengapa memusuhiku?"
"Aku tidak memusuhimu, Chou Kian Ki, aku menentang segala bentuk perbuatan jahat seperti yang diajarkan guruku. Engkau dan ayahmu hendak merampas tahta kerajaan, membunuh banyak pejabat tinggi dan menimbulkan perang yang mengakibatkan tewasnya banyak orang. Itu kejahatan besar, maka aku harus menentangnya!"
"Huh, tahu apa engkau tentang kejahatan? Chou Kuan Yin (kini Kaisar Sung Thal Cu) itulah pemberontak penjahat besar. Kami hanya memperjuangkan hak-hak kami Engkau membantunya, berarti engkau juga pengkhianat yang patut dibunuh! Hailiiittttt...l"
Bagaikan angin badai Kian Ki menyerang dengan pedang di tangan kanannya diseling tamparan tangan kirinya yang mengandung tenaga sakti amat kuat.
Han Lin cepat menangkis sambaran sinar hitam dan mengelak dari tamparan, karena dia mengenal baik serangan lawan, maka tidak sukar baginya untuk menghindarkan diri dan Han Lin seperti masih banyak mengalah.
Dia berkelahi hanya untuk melindungi dirinya, dan dia membalas serangan hanya untuk meemahkan serangan lawan.
Kedua orang itu bertanding dengan cepat sehingga yang tampak hanya gulungan sinar hitam melawan sinar putih yang saling desak dan saling himpit.
Sementara itu, para pendekar muda yang membantu Pangeran Chou Kuan Tian juga menemukan lawan-lawan yang amat tangguh sehingga terjadilah pertempuran antara orang-orang yang berani mendekati mereka.
Para perajurit itu bertempur melawan gerombolan dan karena jumlah para perajurit jauh lebih besar, dan mereka mulai dapat mendesak para buah gerombolan yang Kini tidak dibantu oleh para pimpinan mereka yang sibuk sendiri menghadapi para pendekar muda.
Orang ke dua dari para datuk pembantu Chou Ban Heng yang paling lihai setelah Chou Kian Ki adalah Thong Lama.
Pendeta gundul jubah merah Tibet yang tinggi besar bermuka hitam ini bersenjatakan seuntai tasbih biji hitam dan sepak terjangnya dahsyat kali.
Melihat kehebatan pendeta Lama ini, Liu Cin segera melompat maju menghadapinya.
Liu Cin sekarang jauh berbeda dengan Liu Cin dulu sebelum dia bersama Hui Lan mempelajari ilmu dari kitab Thian-te Im-yang Sin-kun.
Biar ilmu itu baru tampak kedahsyatann kalau dimainkan berdua dengan Hui Lan namun latihan itu menambah kuat tenaga dalamnya, juga terdapat banyak jurusnya yang dapat dimainkan seorang diri dengan daya serang yang amat dahsyat.
Dia melompat sambil memainkan senjatanya yang terdiri dari dua buah tongkat pendek yang dimainkan seperti sepasang pedang, dapat memukul dan menotok.
Melihat lawannya seorang pemuda baju kuning yang memiliki Ilmu silat dengan dasar aliran silat Siauwlimpai Thong Thian Lama tertawa bergelak.
Sejak dulu para pendeta Lama rnemandang rendah ilmu silat Siauwlimpai karena mereka menganggap bahwa ilmu silat itu didasari ilmu peninggalan Tat Mo Couwsu yang datang dari India dan dianggap kalah tua dibandingkan ilmu yang merupakan aliran Ilmu silat para pendeta Lama di Tibet.
Mereka tidak menyadari bahwa ilmu silat Siauwlimpai telah berkembang pesat berbaur dengan ilmu-ilmu dari lain daerah.
Apalagi Lui Cin telah memperkaya ilmu silatnya dengan ilmu Thian-te Im-yang Sin-kun, sebuah ilmu yang langka dan luar biasa.
Begitu mereka berdua saling serang Thong Thian Lama tidak dapat meneetawakannya lagi karena ia mendapat kenyataan bahwa lawannya yang masih muda ini benar-benar amat tangguh, melihat sambaran tasbihnya selalu dapat ditangkis dan dielakkan lawan, dia menjadi marah, melompat ke belakang dan lontarkan tasbih itu ke udara.
Tasbih itu mengeluarkan bunyi "wirrr.."
Dan berputar-putar di udara, lalu melayang dan menyambar ke arah kepala Liu Cin bagaikan seekor burung menyambar-nyambar dengan kekuatan dahsyat kepala orang dapat pecah kalau disambar tasbih dengan biji besi atau baja hitam itu!
Sebagai murid Ceng In Hosiang tokoh Siauwlimpai, Liu Cin maklum bahwa lawannya menggunakan kekuatan sihir untuk menggerakkan tasbih itu.
Para pendeta Lama memang terkenal dengan Ilmu sihirnya.
Namun dia tidak menjadi gentar.
Di Siauwlimpai (Kuil Siauwlimsi) selain ilmu silat juga mempelajari ilmu agama Siauwlim dan dia dapat mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak pengaruh sihir itu dan menggunakan tongkatnya untuk menangkis sambaran tasbih.
Thong Thian Lama kini maju menyerang dengan kaki tangannya sehingga Liu Cin merasa dikeroyok oleh pendeta itu dan oleh tasbih yang bergerak sendiri menyerang dari atas.
Diserang secara demikian, Liu Cin menjadi terdesak juga, akan tetapi berkat meningkatnya tenaga sakti yang diperolehnya dari latihan ilmu Thian-te Im-yang Kun-hoat, dia masih dapat melindungi dirinya dengan baik.
Hongsun Siansu Kwee Cin Lok amat lihai dan karena tadi dia mengamuk di dekat Thong Thian Lama, kini Ong Hui Lan yang ingin bertarung melawan musuh dekat dengan Liu Cin segera menyerangnya.
Gerakan Hui Lan kini juga cepat dan kuat sekali berkat latihan Thian-te Im-yang Kun-hoat.
pedangnya Cheng-hwa-kiam yang bersinar hijau berkelebat menyambar ke arah leher Hongsan Siansu.
Ketua Hongsanpai ini tersenyum mengejek ketika melihat siapa yang menyerangnya.
Tentu saja dia mengenal Hui Lan yang pernah tinggal istana Jenderal Chou Ban Heng, bahkan telah menjadi tunangan Chou Kian Ki.
Dia pun telah mengetahui sampai dimana tingkat kepandaian gadis itu, maka ia memandang rendah dan merasa yakin bahwa dalam beberapa jurus saja dia akan mampu mengalahkan gadis itu.
Dia malah mendapat gagasan untuk menangkap Hui Lan hidup-hidup karena dia tahu benar bahwa Chou Kian Ki amat mencinta gadis itu dan sipemuda itu pasti akan girang dan berterima kasih sekali padanya kalau dia dapat menangkap gadis itu hidup-hidup dari diserahkan pada pemuda itu.
Maka begitu dia menghindar dari serangan Hui Lan dengan lompatan ke belakang, dia menggunakan ilmu sihirnya, melontarkan pedangnya ke atas menjadi sinar kuning dan Hui-kiam (pedang terbang) itu meluncur dan menyerang ke arah kepala Hui Lan.
Niatnya adalah membuat gadis itu repot menangkis serangan pedang terbangnya sehingga dia dapat menggunakan kedua tangannya untuk menotok dan menangkap gadis itu tanpa melukainya.
"Trang-trang-cringgg!"
Tiga kali pedang sinar hijau di tangan Hui Lan menangkis dan menghantam pedang terbang itu sedemikian kuatnya sehingga pedang itu akhirnya terpental dan kembali kepada Hongsan Siansu!
Ketua Hongsanpai ini menjadi bengong, terkejut dan memandang terbelalak.
Rasanya tidak mungkin!
Baru beberapa bulan saja kepandaian dan tenaga sakti gadis itu sudah meningkat demikian hebat sehingga bukan hanya mampu menangkis pedang terbangnya, bahkan dapat membuat Hui-kiam itu terbang kembali kepadanya!
segera menangkap gagang pedangnya dan dengan marah dia menerjang ke depan tidak ingat lagi untuk menangkap hidup-hidup gadis itu.
Sekarang tujuannya nya satu, yakni membunuh gadis yang merupakan lawan cukup berbahaya itu.
Akan tetapi dia benar-benar kecelik.
Serangannya yang dahsyat dan gencar itu dapat ditangkis dengan baik oleh Hui Lan, bahkan gadis itu pun dapat membalas dengan serangan yang cukup berbahaya.
Mereka segera bertanding dengan seru, saling serang dan biarpun Hui Lan masih kalah pengalaman dan kalah tinggi tingkatnya, namun gadis itu melawan dengan gigih dan dapat bertahan walaupun agak terdesak.
Song Kui Lin yang melihat Ang-hwa Niocu Lau Cu Yin tak dapat menahan kemarahannya.
Ia pernah bertanding melawan gadis yang cantik dan galak ini, maka ia segera berseru mengejek.
"Wah, ini nenek-nenek jelek dan jahat muncul! juga di sini. Nah, sekarang nonamu tidak akan melepaskanmu lagi. Kepalamu yang jelek dan tua itu tentu akan menggelinding putus!"
Ang-hwa Niocu segera mengenal Kui Lin yang dulu mengaku berjuluk Hek I Lihiap.
Biarpun gadis muda yang cantik ini cukup lihai, namun dulu ia mampu mendesaknya dan kalau tidak ada Si Han Lin yang amat lihai, tentu ia dapat mengalahkannya.
Maka, kini mendengar ejekannya, ia hanya mampu berseru marah.
"Bocah setan, mampuslah!"
Pedangnya yang mengeluarkan sinar merah Itu sudah menyerang dengan dahsyat. Kui Lin memutar pedangnya menangkis, pedang tipis yang biasa ia pakai sebagai sabuk.
"Tranggg.....!"
Bunga api berpijar keduanya segera saling serang dengan mati-matian.
Bu Eng Hoat yang berada dekat Kui Lin melihat pula Ang-hwa Niocu.
dulu dikejarnya karena dia tahu betapa jahatnya iblis betina itu.
Dia ingin membantu Kui Lin, akan tetapi baru saja memutar toyanya hendak membantu, Kui Lin sudah berseru marah.
"Aku tidak butuh bantuan, cari lawan lain!"
Eng Hoat mengerutkan alisnya.
Entah bagaimana, sejak pertemuan pertama hatinya amat tertarik kepada gadis yang lincah Jenaka dan galak namun cukup lihai itu.
Dia sendiri berhati keras akan tetapi terhadap Kui Lin dia tidak dapat memperlihatkan kemarahannya walaupun hatinya mendongkol mendengar teguran itu.
Selagi dia meragu, tampak seorang kakek tinggi besar bermuka merah dengan kumis jenggot dan rambut masih hitam, mukanya persegi dan bengis.
"Heh-heh, orang muda, apa engkau sudah bosan hidup dan mencari kematian. Mari kuantar engkau ke alam baka!"
Kakek itu mencabut senjatanya siangkiam (Sepasang pedang).
"Karena engkau membantu pemberontak dan berada di pihak yang jahat, engkau lah yang akan mati!"
Kata Bu Eng Hoat sambil maju menyerang dengan tongkatnya.
Pemuda murid Thong Leng Siansu ini selain memiliki ilmu toya gaya Tibet, juga memiliki tenaga yang kuat sehingga biarpun belum lama dia berkecimpung dalam dunia persilatan, dia dikenal sebagai Sin-tung Tai-hiap (Pendekar Tongkat Sakti) karena permainan toya atau tongkatnya yang luar biasa.
Namun sekali ini Bu Eng Hoat bertemu tangan lawan yang amat tangguh karena kakek muka merah itu adalah Tung-hai Tok (Racun Laut Timur) yang sakti!
Dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk dapat melindungi tubuhnya dan bertahan terhadap desakan lawan.
Di pihak pemberontak masih ada enam orang lagi yang lihai yaitu Kwan In Im-yang Tosu, Kallon, Bantok Moko, Cuibeng Lokui, dan Boa Su Kok.
Meski ini dikeroyok oleh para panglima perwira, dibantu para perajurit.
tetapi mereka adalah orang-orang yang amat lihai sehingga banyak perajurit yang roboh ketika mengeroyok mereka.
Para panglima dan perwira juga sukar untuk dapat merobohkan enam orang yang mengamuk itu.
Pertempuran itu berlangsung seru mati-matian, terutama perkelahian antara para tokoh yang mendukung pemberotak dan para pendekar muda yang membantu Pangeran Chou Kuan Tian.
Pangeran itu sendiri tidak ikut bertempur, hanya mengatur pasukannya untuk membasmi para anak buah pemberontak dan dalam ini dia mulai berhasil mendesak para pemberontak.
Banyak sudah anak pemberontak yang tewas dan terluka , kini sisanya mulai merasa gentar sehingga bertempur tidak seganas tadi, bahkan kurang semangat.
Perkelahian yang hebat terjadi antara Chou Kian Ki dan Si Han Li.
Kian Ki rasa penasaran bukan main karena semua serangannya selalu dapat dihindarkan Han Lin dengan tangkisan maupun gerakan.
Betapapun kuat dan cepat dia menyerang dengan pedangnya, selalu dapat ditangkis dengan sama kuatnya dan dielakkan dengan sama cepatnya.
"Hyaaahhhhh.....!"
Kini dia merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya, tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka didorongkan ke arah Han Lin dengan mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya.
Rupanya rasa penasaran dan marah membuat Kian Ki menyerang dengan niat mengakhir pertarungan itu.
padahal dia tahu benar bahwa pukulannya seperti itu kalau bertemu dengan tenaga yang lebih kuat.
dapat membuat tenaganya membalik dan akan melukai atau merusak isi dadanya!
Han Lin juga maklum akan serangan maut yang amat berbahaya itu.
Dia melihat telapak tangan Chou Kian Ki menjadi merah seperti berlumur darah.
Dia teringat akan keterangan gurunya.
Thai Kek Siansu, bahwa di antara pukulan-pukulan jarak jauh yang ampuh dan mematikan.
terdapat pukulan yang disebut Ang-hiat ciang (Tangan Merah Darah) dan pukulan itu kalau mengenai korban yang kurang tenaga saktinya, dapat membuat korban tewas seketika!
Bahkan pukulan ini kabar nya lebih jahat daripada Hek-tok-ciang ( Tangan Racun Hitam) atau Pek-tok-Ciang (Tangan Racun Putih), karena kalau pukulan itu membuat orang terluka dan kalau diikhtiarkan masih ada obat penawarnya sebaliknya Ang-hiat-cian membuat korban tewas seketika dan tidak disembuhkan lagi.
Han Lin segera menenggelamkan diri di dalam penyerahan kepada Thian Yang Maha Kuasa, menyimpan semua perlawanan dan yang mengalir dari tangan klrinya hanyalah hawa murni yang Adi Kodrati yang timbul dari jiwa manusia yang berserah diri dan terbimbing sepenuhnya oleh Kekuasaan Tuhan.
Dia menjulurkan telapak tangan kirinya untuk menyambut pukulan lawan.
"Wuuttt wesss!!"
Kian Ki terkejut tenaganya, yang kuat itu bertemu dengan hawa yang lunak dan lentur, membuat tangan kirinya terpental dan dia sendiri terdorong dan terhuyung ke belakang sampai enam langkah!
Dia bernapas panjang dan merasa lega karena tidak menderita luka.
Dia pun maklum bahwa lawannya ini benar-benar tangguh.
Dia harus bertanding mati-matian melawan Si Han Lin.
"Engkau atau aku yang mati di sini!!"
Ia membentak dan hendak menerjang.
"Sayang sekali kalau engkau membuat jenazah ayahmu terlantar tidak ada yang mengurusnya dengan baik,"
Kata Han Lin tenang.
Tiba-tiba Kian Ki teringat akan jenazah ayahnya yang dia tinggalkan di bawah pohon besar.
Kalau dia bertanding sampai napas terakhir dan mati di situ, bukan saja jenazah ayahnya tidak ada yang mengurus dengan semestinya, bahkan siapa yang akan membalaskan dendam sakit hati ayahnya?
Teringat akan Ini Kian Ki mengeluarkan pekik melengking dan dia lalu melompat jauh melampaui kepala para perajurit yang bertempur dan menghampiri mayat ayahnya, dipanggulnya dan dibawanya meninggalkan tempat itu sambil nangis!
Han Lin tidak mau mengejar cepat dia membantu para panglima terdesak hebat oleh enam orang yang mengamuk dan membunuhi bannyak perajurit.
Pertama-tama dia menyerbu arah Cuibeng Lokui yang bersama Bantok Moko merupakan dua orang golong sesat yang membantu pemberontakyang paling kejam membunuhi para perajurit.
Begitu dia menyerbu, Cuibeng Loku terkejut dan segera mengenal Han Li yang pernah membuat dia kewalahan dan melarikan diri ketika dia ikut murid muridnya menyerbu rumah Nyonya Kak, ibu Song Kui Lin, di Cin-an.
sebuah tamparan dari Han Lin yang di tangkisnya membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.
Kakek tinggi besar muka codet yang berpedang biru ini menjadi semakin gentar dan ini membuat gerakan nya kacau dan ketika tiga orang panglima menyerangnya, dia hanya mampu menangkis dua batang pedang.
Pedang panglima ke tiga mengenai lehernya Cui-beng Lo-kui roboh mandi darah tewas.
Bantok Moko yang sedang mengamuk dengan tongkat ularnya yang beracun, membunuhi banyak perajurit, tiba-tiba lihat bayangan putih berkelebat dan tongkat ularnya disambar sinar putih.
"Crakkk.....!!"
Tongkat ularnya terpotong menjadi dua!
Dia terkejut dan hampir tidak percaya.
Tongkat saktinya yang mampu menandingi segala macam senjata pusaka itu demikian mudah patah, hanya sekali bertemu dengan pedang sinar putih.
Ketika dia melihat siapa ng menangkis dan membikin patah, dia terkejut bukan main.
Dia segera mengenal pemuda yang dulu bersama seekor burung rajawali telah membuat dia dan Murid serta anak buahnya lari ketika mereka menangkap Ong Hui Lan!
Hatinya menjadi gentar sekali dan keadaannya itu membuat dia tidak mampu menghindarkan diri ketika empat orang perwira, menyerangnya dengan berbareng.
Sebuah tombak menembus dari punggung ke dadanya dan dia pun roboh dan tewas seketika!
Han Lin segera membantu para perwira lain dan kini pihak pemberontak menjadi semakin kacau.
Sementara itu, Hui Lan yang melawan Hongsan Siansu terdesak hebat, demikian pula Liu Cin yang melawan Thong Thian Lama juga kewalahan.
Hui Lan cerdik lalu sengaja menggeser diri mendekati Liu Cin, dikejar oleh Hongsan Siansu.
Setelah dekat, tiba-tiba Hui berseru.
"Thian-te Im-yang!"
Tiba-tiba la melompat dan menyerang Thong Thian Lama dan Liu Cin yang segera maklum yang dikehendaki Hui Lan juga melompat dan berbalik menyerang Hongsan Siansu.
Dua orang kakek sakti itu terkejut!
ketika tahu-tahu mereka telah berganti lawan dan mulailah Liu Cin dan Hui La bersama-sama memainkan Ilmu Thian-te Im-yang Sin-kunl Tubuh mereka seolah dikendalikan satu pikiran, bergerak sekali ketika merasakan betapa tenaganya yang kuat itu bertemu dengan hawa yang lunak dan lentur, membuat tangan kirinya terpental dan dia sendiri terdorong dan terhuyung ke belakang sampai enam langkah.
Dia bernapas panjang dan merasa lega karena tidak menderita luka.
Diapun maklum bahwa lawannya ini benar-benar tangguh.
Dia harus bertanding mati-matian melawan Si Han Lin.
sikap tenang karena gerakan gadis dan pemuda yang berselang-seling itu sungguh membuat mereka bingung.
Tiba-tiba Hui Lan memindahkan pedangnya ke tangan kiri, kemudian ia merentangkan tangan kanan yang disambutt oleh tangan kiri Liu Cin.
Keduanya mengerahkan tenaga sakti seperti yang mereka pelajari dari kitab Thian-te Im-yang Sin-kun, dua aliran hawa Im dan yang kini saling tunjang dan disalurkan kearah pedang di tangan mereka.
Kemudian.
mereka menerjang maju bersama ke arah Thong Thian Lama.
Pendeta Lama itu terkejut, cepat dia memutar tasbihnya dari baja hitam.
Tasbih menjadi gulungan sinar merupakan perisai menangkis tusukan pedang Hui Lan totokan tongkat pendek di tangan Liu Cin yang sudah menyelipkan tongkat kirinya ke Ikat pinggang.
"Blarrrrr.....!"
Tasbih itu putus ikatannya dan biji-biji tasbih itu jatuh bertebaran di atas tanah.
Sebelum Thong Thian Lama dapat mengatasi kagetnya pedang Hui Lan sudah menyambar dengan tenaga gabungan yang amat kuat menusuk ke arah dada pendeta itu.
"Cappp.....!"
Pedang itu menusuk dada dan ketika dicabut kembali, tubuh pendeta Lama itu terkulai roboh.
Hongsan Siansu marah sekali dan sambil mengeluarkan teriakan nyaring, pedangnya yang bersinar kuning menyambar ke arah Hui Lan sementara tangan kirinya menggunakan Thai-lek-jiu (Tangan Halilintar) memukul ke arah Liu Cin!
Sungguh merupakan serangan sekaligus kepada dua orang yang bergandeng tangan itu secara dahsyat sekali.
Akan tetapi Hui Lan dan Liu Cin yang masih bergandeng tangan dan menggabungkan tenaga mereka, tidak takut menyambut serangan itu.
Hui Lan menggunakan pedang di tangan kirinya untuk menangkis pedang Hongsan Siansu sedangkan pukulan Thai-lek-jiu itu disambut tangkisan tongkat pendek yang dialiri tenaga sakti gabungan yang amat kuat.
"Krekkk..... desss.....!"
Pedang kuning ditangan Hongsan Siansu menjadi patah dan ketika pukulan halilintar tangan kiri-nva bertemu tongkat, tangannya Itu terbantai, diikuti tubuhnya terjengkang dan terbanting keras sekali.
Wajah Hongsan siansu menjadi kebiruan dan dia tewas seketika karena tenaga sakti yang mengandung hawa beracun dalam Thai-Iek jiu tadi membalik dan menyerang jantungnya sendiri sehingga dia tewas seketika.
Setelah Hongsan Siansu dan Thong Thian Lama tewas, Hui Lan lalu membantu Kui Lin yang masih terdesak oleh Ang Hwa Niocu, sedangkan Liu Cin membantu Bu Eng Hoat yang kewalahan melawan Tung-hai Tok.
Kini keadaannya berbalik sama sekali.
Bukan hanya anak buah gerombolan pemberontak yang kocar-kacir melawan pasukan pemerintah yang lebih banyak jumlahnya, juga tokoh kangouw yang mendukung pemberontak kini terdesak hebat.
Kallon akhirnya roboh juga di bawah serangan pedang dan tombak para perwira yang dibantu Han Lin.
Juga Ban Su Kok murid Tung-hai Tok roboh dan tewas.
Melihat keadaan semakin berbahaya apalagi melihat Chou Kian Ki telah melarikan diri, Ang Hwa Niocu berseru nyaring, lalu membanting sebuah alat peledak.
"Blarrr....!"
Asap hitam mengepul tinggi.
Kul Lin dan Hui Lan yang mengeroyoknya cepat berlompatan ke belakang.
Ketika asap tebal itu membuyar Ang Hwa Niocu, Tung Hai Tok, Kwan Su, dan Im Yang Tosu sudah tidak tampak lagi.
Mereka menggunakan tirai asap hitam tadi untuk meloncat dan menyelinap di antara para anggauta gerombolan yang masih bertempur dan menghilang.
Setelah ditinggalkan para pemimpin mereka, dan banyak di antara mereka tewas atau terluka, sisa para anggota gerombolan pemberontak itu melarikan diri cerai berai dan banyak pula yang menakluk.
Maka terbasmilah pemberontakan itu.
paraa perajurit bersorak gembira atas kemenangan mereka.
Akan tetapi di antara suara sorak sorai itu terdengar keluh kesah dan rintihan mereka yang terluka dan di antara mereka yang menenggak arak yang dibagikan oleh para perwira untuk merayakan kemenangan itu, tampak banyak yang sibuk mengangkuti mayat-mayat yang banyak itu.
Mayat para perajurit di angkat dan diurus sepatutnya, sedangkan mayat para anggota gerombolan diseret dan dikubur secara bersama, dalam sebuah lubang besar diisi puluhan mayat.
Di dalam perang, mereka yang kalah memang mengalami nasib buruk.
Yang terluka mendapat perawatan sekadarnya dan yang menakluk menjadi tawanan untuk diadili dan menjalani hukuman.
Sudah lajim terjadi di seluruh dunia, setiap kali terjadi perang, baik perang antar bangsa, antar suku antar golongan, maka terjadilah kekejaman-kekejaman di luar batas prikemanusian.
Manusia dalam perang menjadi dan kejam yang sesungguhnya bukan jadi watak aselinya.
Akan tetapi dalam perang, rasa takut bahwa dirinya tertawan, disiksa atau terbunuh musuh mendatangkan dendam dan kebencian.
Ditambah lagi rasa dendam tewasnya rekan, sahabat atau keluarga.
Dendam ini ditujukan kepada pihak musuh tanpa pandang bulu karena merupakan bukan permusuhan atau dendam pribadi terhadap seseorang, melainkan terhadap pihak musuh.
Akan tetapi Pangeran Chou Kuang Tian ternyata memiliki kebijaksanaan seperti kakaknya, Kaisar Sung Thai Cu atau bernama Chou Kuang Yin.
Mungkin dia meniru atau melanjutkan kebijakan kakaknya.
Mayat para perwira pemberontak dan tokoh kangouw yang membantu pihak pemberontak dimakamkan dengan cukup pantas juga mereka yang tertawan, kecuali mereka yang benar-benar merupakan tokoh penting, pimpinan, tidak dihukum mati.
Setelah pemberontakan berhasil ditumpas, Pangeran Chou Kuang Tian mengundang lima orang pendekar muda, yaitu Si Han Lin, Liu Cin, Bu Eng Hoat, Ong Hui Lan, dan Song Kui Lin untuk datang berkunjung ke istana.
Pangeran Chou Kuan Tian menghadapkan mereka pada Kaisar Sung Thai Cu yang menerima mereka dengan ramah.
"Kalian adalah pendekar-pendekar muda yang pantas dibanggakan, selain gagah perkasa, juga merupakan pembela-pembela negara yang patriotik. Kami merasa kagum dan heran. Begini muda kalian telah dapat memiliki ilmu yang tinggi, juga memiliki budi pekerti yang baik. Si Han Lin, siapakah gurumu?"
"Guru hamba adalah Thai Kek Siansu, baginda."
Kaisar Sung Thai Cu mengangguk-angguk.
"Ah, pantas kalau engkau muridnya. Kami mengenal siapa manusia sakti Thai Kek Siansu, pertapa Cin-lin-san yang mempunyai peliharaan burung rajawali itu! Dan engkau, Liu Cin, siapa gurumu?"
Liu Cin menjawab dengan hormat "Hamba mendapat kehormatan diambil murid oleh Suhu Ceng In Hosiang Sribaginda."
"Hemmm,* engkau murid Siauwlim Kami pernah mendengar nama Ceng In Hosiang sebagai seorang tokoh Siau lim-pai. Dan engkau Bu Eng Hoat? Siapakah gurumu?"
"Hamba murid Suhu Thong Leng Losu Sribaginda."
"Thong Leng Losu?"
Kaisar Sung Cu mengingat-ingat.
"Hernmm, belum pernah mendengar nama ini. Apakah dia juga seorang pendeta Buddha?"
"Suhu adalah seorang pendeta Lama dari Tibet, Sribaginda."
Kaisar mengangguk-angguk.
"Begitukah? Kami sudah mendengar bahwa antara para pendeta Lama (Lanjut ke
Jilid 16) Si Rajawali Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 di Tibet, banyak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Sekarang para pendekar wanita yang cantik-cantik ini.
Ong Hul Lan siapa yang membimbingmu sehingga engkau menjadi seorang pendekar wanita lihai?"
"Hamba murid Suhu Tiong Gi Cin-jin Sribaginda."
"Tiong Gi Cin-jin? Maksudmu Tung kiam-ong (Si Raja Pedang Timur) yang terkenal sebagai ahli sastra dan pengikut. pelajaran Guru Besar Khong-hu-cu itu? Pantas engkau tampak begini lembut namun kuat dan lihai. Sekarang engkau, Song Kui Lin. Engkau tampak lincah sekali, murid siapakah engkau?"
Kui Lin tersenyum dan menjawab dengan suara lantang.
"Guru hamba adalah Suhu Louw Keng Tojin dan di antara mereka semua ini, hamba yang paling bodoh, Sribaginda!"
"Ha-ha-ha!"
Kaisar Sung Thai Cu tertawa.
"Agaknya selain diberi pelajaran ilmu silat tinggi engkau juga mewarisi filsafat merendahkan diri dari tosu (pendeta To) itu! Kami mengenal Louw Keng Tojin, pendeta To-kauw (Agama To) itu. Bukankah dia yang terkenal dengan julukan Lam-Liong (Naga Selatan)?"
"Benar sekali, Sribaginda Yang Mulia!"
Kata Kui Lin, girang bahwa kaisar itu mengenal pula gurunya. Kaisar Sung Thai Cu merasa gembira sekali.
"Ahhh, sungguh senang hati kami. Semua golongan agama kauw (Tiga Agama) ternyata mendukung pemerintahan kami. Ini berarti bahwa Thian memberkahi Kerajaan Sung! Ketiga agama terbesar, Buddha, To(Tao) dan Khong-kauw (Confucianism) mendukung dan di antara mereka terdapat hubungan persaudaraan yang baik, rakyat tidak akan terpecah belah dan negara akan menjadi kuat. Terima kasih kepada Thian Yang Agung."
Kaisar Sung Thai Cu ingin menghadiahkan pangkat kepada lima orang pendekar yang telah berjasa besar itu. tetapi mereka berlima tidak mau menerimanya dan menolak dengan hormat halus.
"Yang Mulia, ternyata hamba berlima tidak bersedia untuk terikat dengan dudukan. Hamba berlima lebih senang menjadi rakyat biasa saja akan tetapi hamba berjanji bahwa hamba berlima akan selalu siap untuk membela negara dan bangsa"
Si Han Lin berkata mewakili teman-temannya setelah mereka semua menyatakan tidak menerima tawaran pangkat itu. Sung Thai Cu menghela napas panjang dan mengangguk-angguk.
"Kami mengerti jiwa seorang pendekar yang selalu menghendaki kebebasan, tidak terikat oleh apa pun juga. Baiklah, kalian berlima menolak kedudukan, akan tetapi kami harap kalian berlima tidak menolak pemberian bingkisan dari kami sebagai pernyataan rasa sukur dan terima kasih kami."
Kaisar lalu memberi isarat kepada seorang pelayan pribadi yang mengambil lima buah kantung kain merah berisi uang emas yang sudah dipersiapkan.
Lalu atas perintah Kaisar pelayan itu menyerahkan lima kantung uang emas Itu pada lima pendekar Itu, masing-masing sebuah kantung.
Lima orang muda itu tidak berani menolak.
Mereka menerima dan menghaturkan terima kasih.
Setelah pertemuan Itu dinyatakan selesai, lima orang pendekar itu lalu meninggalkan istana, diantar oleh Pangeran Chou Kuan Tian sampai di halaman istana.
Liu Cih dan Ong Hui Lan yang melakukan perjalanan bersama berhenti diluar kota raja bagian selatan.
Tadi ketika meninggalkan kota raja.
Hui Lan yang menyatakan bahwa ia harus melakukan pengejaran terhadap Chou Kian Ki dan dalam perjalanan melakukan pengejaran Itu, ia sekalian akan singgah rumah orang tuanya, yaitu Ong Su yang tinggal di Nan-king.
Baca Juga: Petualang Asmara 19
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 2