Ceritasilat Novel Online

Si Rajawali Sakti 5

Eps 5 Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo.

"Aku bingung, malu dan khawatir, Han Lin. Aku malu karena telah menjadi tunangan jahanam itu dan menjadi calon mantu seorang pemberontak yang jahat karena hendak membunuh orang-orang yang setia dan tidak berdosa. Aku khawatir karena kalau orang tuaku mendengar bahwa aku melarikan diri dari rumah Jenderal Chou, mereka pasti akan merasa kecewa dan berduka. Maka aku menjadi bingung sekali sehingga aku mengambil keputusan pendek untuk menghabisi saja hidupku."

Han Lin menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

Di dalam hatinya dia tidak dapat percaya begitu saja pengakuan gadis itu.

Biarpun baru mengenal sepintas, dia tahu bahwa Hui Lan memiliki watak yang gagah berani.

Tak mungkin kalau hanya karena begitu saja ia hendak bunuh diri!

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau mendesak.

"Dan sekarang, engkau hendak kemana, Hui Lan? Apakah ingin kembali ke rumah orang tuamu?"

"Tidak, Han Lin. Aku tahu, mereka itu pasti mengabarkan hal-hal bohong mengenai diriku. Orang tuaku tentu akan marah sekali karena aku memutuskan tali perrjodohan yang dibuat orang tuaku dan Jenderal Chou. Orang tuaku tentu akan berduka sekali, maka aku tidak berani pulang karena tidak berani menghadapi orang tuaku yang berduka karena aku."

"Lalu ke mana engkau hendak pergi, kalau aku boleh tahu?"

Tiba-tiba Hui Lan teringat akan sesuatu, ia ingin rnemperdalam ilmu silatnya agar kelak dapat membalas dendamnya, dapat membunuh Chou Kian Ki yang telah menodai dirinya.

Dan ia ingin mencari guru.

Pemuda di depannya ini tadi mampu menandingi Chou Kian Ki!

Tiba-tiba gadis itu berlutut di depan Han Lin sehingga Han Lin menjadi heran dan bingung.

Dia cepat menyentuh kedua pundak Hui Lan.

"Eeiit, apa-apaan ini, Hui Lan? Apa yang kau lakukan ini?"

"Han Lin, aku mohon kepadamu, sukalah engkau menerima aku sebagai murid. Aku hendak pergi mencari guru untuk memperdalam ilmuku, dan melihat betapa engkau tadi mampu menandingi Chou Kian Ki, maka aku ingin berguru kepadamu. Tolonglah aku, Han Lin, terima aku menjadi muridmu!"

"Bangkitlah dulu, Hui Lan dan kita bicarakan hal ini dengan sebaiknya. Mungkin aku akan dapat membantu dengan cara lain."

Tiba-tiba Hui Lan merasa betapa kedua telapak tangan pemuda itu yang menyentuh pundaknnya seolah memiliki daya yang amat kuat menariknya bangkit.

Ia mencoba untuk mempertahankan dengan mengerahkan sinkang, namun tetap saja tubuhnya perlahan-lahan bangkit berdiri tanpa dapat ia pertahankan lagi.

"Nah, sekarang katakanlah, mengapa engkau ingin memperdalam ilmu silatmu? Kulihat engkau sebagai seorang gadis sudah memiliki ilmu bela diri yang cukup tangguh."

"Aku ingin... menentang Keluarga Chou yang jahat, terutama Chou Kian Ki yang berhasil mengikat tali perjodohan denganku hanya untuk menarik aku menjadi sekutu pemberontakan ayahnya! Karena aku tahu bahwa Kian Ki lihai sekali, maka aku ingin belajar ilmu silat tinggi darimu, Han Lin!"

"Hemmm, itukah tujuan perjalananmu bersama Liu Cin tadi?"

"Aku hanya kasihan kepadanya dan ingin menemani dan membantunya mencari guru yang pandai. Akan tetapi melihat kelihaianmu, aku dapat mengerti mengapa ia hendak berguru padamu."

Diam-diam Han Lin dapat menjenguk isi hati pemuda yang dari gerakan silatnya tadi dia dapat menduga bahwa Liu Cin tentu murid Siauwlimpai.

Pemuda lugu sederhana itu mencinta Hui Lan, pikirnya.

Karena cinta itulah maka baru saja berkenalan, Liu Cin sudah berbuat banyak membela gadis itu!

"Hui Lan, bukan aku tidak mau membantumu, akan tetapi tidak mungkin menjadi gurumu.

Aku sendiri sedang lakukan perjalanan merantau memenuhi perintah guruku."

"Kalau begitu, bawa aku menghadap gurumu, Han Lin. Aku akan sujud didepan kakinya dan mohon agar gurumu sudi menerimaku sebagai murid."

Han Lin menggelengkan kepalannya "Hal itu tidak mungkin, Hui Lan.

Suhu tidak akan mau menerima murid siapa juga.

Hal ini aku tahu dengan pasti.

Akan sia-sia belaka kalau engkau menghadap guruku mohon menjadi muridnya bahkan Suhu melarang aku menceritakan siapa beliau.

Akan tetapi, aku teringat akan cerita guruku.

Beliau mempunyai seorang sahabat yang sakti, pewaris ilmu silat sakti yang berinti kekuatan Im dan Yang.

Nah, kalau engkau dan Liu Cin pergi mencarinya, siapa tahu, kalau Thian mengijinkan, kalian akan diterima menjadi muridnya."

"Siapakah dia, Han Lin? Katakan, siapa dia dan di mana tempat tinggalnya "

Kata Hui Lan dengan penuh semangat.

"Suhu hanya mengatakan bahwa namakan orang sakti itu adalah Thian Te Jiankouw (Nona Dewi Langit Bumi) dan sejak puluhan tahun bertapa di Puncak bukit Tengkorak yang berada di tepi Sungai Luan. Bukit Tengkorak itu berada di sebelah utara, di luar Tembok Besar, Tidak sangat jauh dari kota raja dan dekat Tembok Besar, sebelah selatan kota Yehol (Cengkeh). Nah, carilah ke sana. Perjalanannya tentu saja amat sukar, melewati Tembok Besar dan aku juga tidak berani memastikan bahwa ia masih hidup atau masih tinggal di sana."

"Baiklah, terima kasih, Han Lin. Aku akan mencarinya ke sana."

"Aku akan menemanimu sampai engkau menemukan guru sakti itu, Hui Lan."

Kata Liu Cin.

"Aih, Liu Cin, aku menjadi tidak enak. Tidak perlu engkau bersusah payah dan mengorbankan waktumu yang berharga untuk aku."

"Sama sekali tidak susah payah atau mengorbankan waktu, Hui Lan. Engkau tahu bahwa aku juga seorang perantau dan aku senang bertualang ke tempat yang belum pernah kukunjungi. Apalagi bertemu dengan seorang sakti!"

"Hui Lan, niat baik seorang sahabat jangan ditolak. Aku tahu bahwa Liu Cin berkata dan bertindak jujur menurutkan kata hatinya. Nah, sekarang aku harus pergi!"

Han Lin mengeluarkan suara melengking dan dari atas terdengar jawaban lengkingan, lalu tampaklah rajawali itu melayang turun.

Sebelum rajawali itu hinggap di atas tanah, tubuh Han Lin Ludah melompat ke punggungnya dan burung itu pun terbang pergi dengan kepakan sayapnya yang besar dan kuat sehingga sebentar saja burung itu telah melayang tinggi dan hanya tampak sebagai sebuah titik hitam yang semakin jauh dan akhirnya tidak tampak lagi.

Hui Lan dan Liu Cin memandang dengan kagum.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan, kini tidak jadi ke selatan, melainkan ke barat karena mereka tidak ingin melalui kota raja yang mengandung bahaya bagi mereka.

Mereka mengambil jalan memutar untuk kemudian ke utara melintasi Tembok Besar.

Dalam perjalanan ini Hui Lan bercerita kepada Liu Cin akan pertemuannya yang pertama dengan Han Lin sehingga pemuda murid Siau-limpai itu menjadi semakin kagum pada Si Pendekar Rajawali Sakti.

Gadis berpakaian serba hitam itu memang cantik jelita dan manis sekali.

Usianya masih muda, sekitar delapan belas tahun lebih sedikit.

Rambutnya panjang di kuncir tebal bergantungan di belakang sampai ke pinggul, sebagian yang berada di atas berjuntai dan membentuk lingkaran anak rambut halus di dahi dan pelipisnya!

wajahnya berbentuk bulat telur, dagunya meruncing, sepasapg matanya jeli dan bersinar-sinar penuh gairah hidup seperti sepasang bintang, mulutnya yang manis dengan bibir berbentuk indah kemerahan itu selalu tersungging senyum setengah mengejek nakal.

Tubuhnya sintal, pinggang kecil akan tetapi padat dengan lekuk lengkung yang memiliki daya tarik amat kuat, terutama terhadap kaum pria.

Pakaiannya dari sutera hitam, bentuknya sederhana, la Memakai sabuk merah.

Sepatunya juga hitam.

Karena pakaiannya serba hitam maka kulit tubuhnya yang tampak, yaitu muka, leher dan sebagian lengannya kelihatan putih mulus kemerahan.

Gadis ini adalah Song Kui Lin yang pernah bertemu dengan Si Han Lin ketika ia ikut berlagak di Puncak Pegunungan Thaisan di mana menjadi arena perebutan kejuaraan silat untuk memperebutkan julukan Jago Nomor Satu Di Dunia!

Dari sepak terjangnya ketika ia membikin ribut di Puncak Thaisan karena menentang tindakan sewenang-wenang dari murid Tung Hai-tok yang bernama Boan Su Kok, dapat diketahui bahwa Song Kui Lin adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, pemberani, nakal, lincah jenaka, dan agak liar walaupun ia memiliki watak gagah perkasa penentang kejahatan.

Song Kui Lin adalah anak yang pilih oleh Louw Keng Tojin untuk menjadi muridnya.

Seperti kita ketahui, Loi Keng Tojin adalah tosu (Pendeta yang berdebat dengan Thong Leng Lojin pendeta Buddha Lama dan Tiong Gi Cinjin pendeta Agama Khong-cu, tentang agama.

Perdebatan itu berakhir ketika muncul Thai Kek Siansu yang melerai dan menjelaskan bahwa tugas semua agama itu sama, yaitu menjadikan manusia insan-insan yang baik dan penuh kasih terhadap sesamanya.

Kemudian, mereka saling berpisah dan berjanji bahwa mereka masing-masing akan mencontoh Thai Kek Siansu, mengambil seorang murid Louw Keng Tojin bertemu dengan Son Kui Lin yang ketika itu berusia tujuh tahun.

Akan tetapi dalam usia tujuh tahun Song Kui Lin sudah menguasai dasar-dasar ilmu silat yang baik karena sejak kecil sekali ia dilatih ayahnya sendiri.

Ayahnya adalah seorang pendeka silat yang terkenal bernama Song Kak yang tewas setelah menderita luka dalam pertempuran melawan segerombolan perampok yang mengganas di dusun tetangga.

Dia terluka namun berhasil mengusir para perampok dan membunuh bayak anak buah perampok dan beberapa orang pemimpin mereka.

Luka ini membawanya kepada maut, meninggalkan isterinya yang baru berusia dua puluh enam tahun dan anak tunggalnya, Song Uh Lin yang berusia enam tahun.

Ketika ouw Keng Tojin bertemu dengan Kui Li pada saat dia hendak mengunjungi Song Kak yang menjadi sahabatnya, Song Cak telah tewas setahun yang lalu.

Melihat gadis cilik ini, Louw Keng Tojin memilihnya sebagai murid dan Nyonya Song juga menyetujuinya.

Demikianlah, Kui Li dilatih oleh gurunya di rumah ibunya yang menjanda, selama sepuluh tahun lebih, la berusia sekitar delapan belas tahun kurang ketika Louw Keng Tojin meninggalkan rumah Janda Song.

Gurunya berpesan kepadanya agar ia meluaskan pengalaman dengan terjun ke dunia kangouw dan menganjurkan muridnya itu untuk menonton pertandingan silat memperebutkan juara dengan sebutan Jago Nomor Satu.

Seperti kita ketahui, di Puncak Thai-san itu Kui Lin menentang Boan Su Kok yang sombong dan ia bertemu dengan Han Lin, akan tetapi ia meninggalkan pemuda itu dengan marah karena ia buat jatuh ketika memaksa burung rajawali untuk menerbangkannya.

Pada pagi hari itu, Song Kui Lin melakukan perjalanan menuju pulang ke kota Cin-an di mana ibunya tinggal.

Ibunya, Nyonya Janda Song, telah mempelajari soal pengobatan dari mendiang suaminya dan sekarang membuka sebuah toko obat yang penghasilannya lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan hidup mereka berdua dan dua orang pembantu seorang laki-laki dan seorang perempuan keduanya sudah berusia lima puluh tahu lebih.

Setelah turun dari Pegunungan Thai-san, Kui Lin merantau dan melakukai perjalanan seenaknya.

Sudah beberapa kali ia menentang kejahatan, membela yang benar dengan cara yang adil dan keras, sesuai dengan wataknya yang galak.

Karena tindakannya sebagai seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan jarang memperkenalkan namanya, maka orang-orang menyebutnya Hek I Li-lap (Pendekar Wanita Baju Hitam).

Song Kui Lin adalah seorang gadis periang.

Biarpun pada saat itu ia berjaan seorang diri di jalan umum yang diapit banyak pepohonan karena jalan itu memang memasuki hutan, ia tidak merasa kesepian.

Dengan gembira ia mendengarkan burung-burung berkicau, melihat kupu-kupu beterbangan dan sinar matahari pagi yang hangat menembus celah-celah pohon, menimbulkan garis-garis cahaya yang tampak terang di antara halimun yang masih mengepul dari tanah ke atas.

Seperti biasa, kalau hatinya sedang riang, gadis manis itu bersenandung ria.

Suaranya memang cukup merdu dan mendengarkan lika-liku suaranya ketika bertembang, dapat diketahui bahwa Song Kui Lin memang memiliki bakat baik dalam seni suara.

Tiba-tiba suara nyanyiannya terhenti, la siap siaga karena pendengarannya yang tajam menangkap suara-suara yang tidak wajar Kui Lin berhenti melangkah, pendengarannya yang tajam terlatih menangkap suara gerakan-gerakan yang tidak wajar.

Tak lama kemudian bermunculan banyak orang yang berloncatan keluar dari balik pohon dan semak-semak.

Mereka berjumlah sekitar dua puluh lima orang, terdiri dari laki-laki yang rata-rata bertubuh kekar dan berwajah bengis menyeramkan, pakaian mereka kasar dan sembarangan.

Dari wajah, sikap dan penampilan mereka saja Kui Lin dapat menduga bahwa ia berhadapan denga segerombolan orang yang biasa melakukan kejahatan.

Gerombolan itu dipimpin oleh tiga orang kepala perampok yang sudah kita kenal, ialah Tiat-pi Sam-wan (Tiga Lutung Tangan Besi) kakak beradik seperguruan yang sudah belasan tahu menjadi kepala perampok.

Seperti kita telah ketahui, Tiat-pi Sam-wan inilah yang dahulu membunuh Si Tiong An dan Isterinya, yaitu ayah ibu Si Han Lin.

Orang pertama dari Tiat-pi Sam-wan adalah Yong Ti yang bertubuh tinggi besar muka hitam, berusia sekitar lima puluh tahun dan dia memegang sebatang tombak baja.

Orang ke dua adalah Oh Kun, berusia empat puluh tujuh tahun, tubuh tinggi tegap dan mukanya penuh brewok dan dia memegang senjata siang-to (sepasang golok).

Adapun orang ke tiga bernama Joa Gu, berusia empat tiluh lima tahun, tubuhnya gendut pendek dan mukanya kekanak-kanakan.

Kedua tangannya memegang sepasang kapak.

Tiga orang kakak beradik seperguruan ini sejak belasan tahun malang melintang bersama puluhan anak buahnya.

Pekerjaan mereka hanya merampok, nenyiksa sampai membunuh orang yang berani melawan, memperkosa wanita, dan menghamburkan uang hasil rampokan sampai habis lalu merampok lagi!

Kini, anak buah mereka tinggal sekitar dua puluh orang yang rata-rata pemberani dan pandai berkeiahi, kejam dan ganas.

Mereka tidak mengira akan melihat seorang gadis sendirian berani melakukan perjalanan dalam hutan itu.

Semula mereka tentu saja hanya ingin merampok, akan tetapi begitu melihat bahwa orang yang mereka hadang seorang gadis yang demikian muda remaja, cantik mungil menggairahkan, tentu saja tiga orang kepala perampok merasa girang bukan main.

Bukan hanya barang yang hendak mereka rampok melainkan semuanya, berikut orangnya!

Dua puluh lima orang anak buah rampok yang sudah mengepung Kui Lin menyeringai dan tertawa-tawa.

"Hah-ha-ha! Kionghi (Selamat), Samwi Twa-ko (Kakak Bertiga)!"

Sekali ini Twako menemukan seorang calon isteri yang hebat sekali!"

Demikian komentar mereka, memberi selamat kepada tiga orang pemimpin mereka.

"Bagus, tangkap gadis ini. Akan tetapi awas, jangan lukai calon isteri kami kalau sampai ada yang melukai, tentu akan kami hukum!"

Kata Yong Ti, kepala rampok tertua.

Tiga orang kakak beradik seperguruan yang berjuluk Tiga Lutung Tangan Besi ini memang rukun sekali.

Mereka tidak pernah menikah dan kalau mendapatkan seorang wanita yang mereka suka, mereka lalu menjadikannya isteri tentu lebih tepat kekasih mereka bertiga tanpa ada rasa cemburu.

Mereka saling membela dan saling setia.

Dikepung demikian banyaknya laki-laki berwajah bengis kejam, Kui Lin sama sekali tidak merasa takut.

Ia berdiri tegak menghadapi tiga orang kepala rampok itu dan membentak.

"Kalian ini orang-orang liar dari mana dan beranimati menghadang perjalananku?"

Joa Gu yang gendut pendek berwajah kekanak-kanakan itu memang yang paling pandai bicara di antara mereka bertiga.

Sebagai saudara termuda dia sering menjadi juru bicara dan biarpun mukanya seperti kanak-kanak, namun wataknya yang periang itu hanya merupakan kedok menyembunyikan hatinya yang paling kejam dan sadis di antara mereka.

"Ha-ha-ha, Nona manis! engkau hari ni sungguh beruntung sekali bertemu dengan kami. Ketahuilah, kami adalah Tiat-pi Sam-wan yang sudah terkenal sebagai jagoan-jagoan gagah berani tak terkalahkan selama puluhan tahun!"

"Aku tidak peduli kalian ini Tiga Lutung, Tiga Anjing, atau Tiga Babi yang busuk. Hayo minggir dan jangan ganggu aku kalau kalian masih ingin hidup!"

Kui Lin sudah meloloskan sabuknya dan ternyata yang dipakai sebagai ikat pinggang itu adalah sebatang pedang yang amat tipis dan berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Tiga orang kepala perampok itu terbelalak dan mata mereka mencorong marah.

Kalau yang memaki mereka seperti itu seorang laki-laki atau seorang wanita yang tidak cantik, pasti mereka sudah langsung menerjang dan membunuhnya!

Akan tetapi karena mereka sudah tergila-gila oleh kecantikan Kui Lin yang ketika bicara tampak bibirnya seolah-olah hidup, mereka hanya tersenyum masam.

"Suheng (Kakak seperguruan), kuda betina yang liar ini akan mengasyikkan sekali kalau dijinakkan, ha-ha-ha!"

Kata Joa Gu.

"Hayaaattttt!!"

Kui Lin berteriak melengking dan begitu ia bergerak, pedangnya berubah sinar kilat meluncur ke arah perut gendut Joa Gu.

Orang ini terkejut setengah mati.

Maklum betapa hebatnya serangan itu dan agaknya dia tak sempat lagi untuk menangkis, dia melempar tubuhnya ke belakang, terjengkang dan bergulingan menjauh.

Kui Lin mengejar dan menusukkan pedangnya ke arah dada Joa Gu.

"Cringgg.....!"

Bunga api berpijar keetika pedangnya ditangkis sepasang golok yang dipegang Oh Kun.

Orang ke dua ini sudah cepat maju melindungi sutenya yang terancam maut.

Kini Kui Lin dikeroyok bertiga, akan tetapi ia mengamuk dan melawan dengan gigih dan mati-matian.

Sebetulnya, biarpun tingkat ilmu silat Kui Lin masih lebih tinggi dibandingkan masing-masing lawannya, akan tetapi karena mereka maju bertiga mengeroyoknya, tentu saja Kui Lin lebih banyak bertahan melindungi dirinya daripada menyerang.

Akan tetapi karena ketiga Tiat-pi Sam-wan itu tidak berniat melukainya hanya ingin menangkapnya dalam keadaan utuh, maka tentu saja tidak mudah bagi mereka untuk menangkap Kui Lin.

Gadis itu bagaikan seekor harimau betina marah, tidak mudah ditangkap tanpa membahayakan diri.

Tiga orang kepala perampok itu juga hanya menggunakan senjata mereka untuk menangkis sambaran pedang Kui Lin yang lihai dan mereka mencoba untuk menangkap atau merobohkan gadis itu tanpa melukainya.

Karena penasaran dan kecewa setelah sebegitu lamanya tidak mampu menangkap gadis itu, Joa Gu meneriaki anak buah mereka untuk maju mengeroyok.

Akan tetapi anak buah perampok yang maju itu mencari penyakit.

Mereka hanya mengandalkan keberanian yang nekat tanpa perhitungan, mengandalkan tenaga tanpa menggunakan akal.

Baru segebrakan saja, empat orang anak buah perampok telah roboh terluka, terkena sambaran sinar pedang Kui Lin!

"Pergunakan tali dan jala!"

Yong Ti berteriak, memerintah anak buahnya, seperti baru teringat.

Para perampok itu selain pekerjaannya merampok, terkadang kalau kehabisan bahan makan mereka juga suka memburu dan menangkap binatang hutan.

Maka mereka pandai menggunakan tali dan jala untuk menangi binatang buas.

Tak lama kemudian, Kui Lin menjadi kerepotan menghadapi serangan tali-tali dan jala yang dilemparkan kepadanya.

Ia mengamuk, berloncatan ke sana sini sambil membabat dengan pedangnya.

Akan tetapi karena dara itu terkepung ketat!

akhirnya ia tertutup sehelai jala dan sebelum ia dapat membabat putus jala itu, jala-jala lain sudah menyelimutinnya dan tali-tali telah dilibatkan ke tubuhnya sehingga ia tidak mampu berkutik dan hanya memaki-maki.

"Kalian jahanam-jahanam, keparat busuk, pengecut hina dina, beraninya mengeroyok seorang perempuan! Hayo bebaskan aku dan kita bertanding sampai selaksa jurus!"

Ia meronta-ronta dan menjerit-jerit dengan makiannya, namun percuma.

Tubuhnya sudah terbelit-beli tali dan jala sehingga ia tidak mampu berkutik.

Joa Gu lalu merampas pedangnya dari balik jala.

Maki makian Kui Lin tidak dapat terdengar karena tertutup sorak sorai para anak buah perampok yang bergembira ria karena gadis liar itu dapat tertangkap.

Mereka merasa seperti kalau mereka berhasil menangkap seekor binatang liar yang berbahaya dan sukar ditundukkan.

Oh Kun yang mukanya penuh brewok memelintir kumisnya.

"Ambil kereta dorong, kita bawa calon isteri kita ini ke sarang kita!"

Anak buah perampok membawa sebuah kereta dorong.

Beramai-ramai mereka mengangkat tawanan dalam selimutan jala itu dan menaikkannya ke atas kereta dorong.

Lalu dengan gembira mereka mendorong kereta menuju ke dalam hutan yang lebih dalam di mana terdapat sarang mereka berupa pondok-pondok darurat karena kawanan penjahat ini sering berpindah-pindah tempat.

Agaknya jeritan-jeritan Kui Lin yang memaki-maki dan sorak sorai anak buah perampok yang riuh rendah itu menarik perhatian rajawali yang sedang terbang di atas hutan itu.

Burung raksasa menukik ke bawah dan setelah melihat betapa sekawanan laki-laki kasar mendorong sebuah kereta di mana terdapat seorang gadis yang tertawan dalam jala.

Han Lin yang duduk di atas punggung rajawali lalu membisikkan kata-kata, memerintah kepada burung rajawali.

Rajawali itu melayang turun dan Han Lin melompat ke atas sebatang pohon besar.

Setelah memberi kesempatan Han Lin mendarat di pohon, burung rajawali itu sesuai dengan perintah Han Lin, menukik ke bawah dan menyambar-nyambar dahsyat, menyerang para rampok itu dengan ganasnya!

Mereka yang terkena patukan, cakaran dan kibasan sepasang sayapnya yang kuat, jatuh berpelantingan dan keadaan menjadi kacau balau.

Akan tetapi Tiat-pi Sam-wan lalu memimpin anak buahnya untuk melawan dan mengeroyok burung rajawali yang mengamuk itu.

Karena mereka sama sekali tidak menghubungkan pengamukan rajawali itu dengan penangkapan atas diri Kui Lin, maka perhatian mereka hanya ditujukan kepada burung yang menyambar-nyambar itu.

Sementara itu, tanpa ada yang melihatnya, Han Lin sudah melompat turun dari atas pohon, menghampiri kereta dorong dan dia membebaskan Kui Lin dari selimutan dan libatan jala-jala dan tali temali itu.

Sejak rajawali itu mengamuk, Kui Lin yang dapat melihat dari celah-celah tali jala, melihat rajawali dan segera mengenalnya.

Maka ketika Han Lin melepaskannya, ia segera mengenal pemuda itu.

Begitu terbebas, ia tersenyum.

"Kau lagi yang menolongku!"

Katanya, akan tetapi tanpa bilang terima kasih ia lalu melompat dan sambil melepas sabuk merah yang mengikat pinggangnya ia langsung saja menyerang Joa Gu yang tadi merampas pedangnya dan kini menggantungkan pedang tipis itu di pinggangnya.

Melihat sinar panjang merah menyambar, Joa Gu cepat menggerakkan sepasang kapaknya untuk menangkis dan balas menyerang.

Segera terjadi perkelahian antara Si Gendut Pendek itu dan Kui Lin.

Biarpun gadis itu hanya senjatakan sehelai sabuk sutera, namun karena tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada Joa Gu, gadis itu mendesaknya dengan hebat.

Melihat ini, Yong Ti dan Oh Kun yang sedang sibuk membantu anak buah mereka mengeroyok burung rajawali, cepat menghampiri untuk membantu sute mereka.

Akan tetapi, segulung sinar putih menghadang dan ternyata Han Lin sudah berada di situ menghadang mereka yang hendak membantu Joa Gu.

Melihat seorang pemuda berpakaian putih sederhana, memegang sebatang pedang putih, dua orang itu menjadi marah dan mereka lalu menerjang dan mengeroyoknya.

"Wirrrrr!"

Sabuk sutera merah di tangan Kui Lin meluncur dan menotok ke arah mata Joa Gu.

Karena datangnya ujung sabuk merah itu cepat sekali, Joa Gu terkejut juga dan cepat dia menggerakkan kapak kirinya untuk menangkis.

"Prattt!"

Ujung sabuk itu melibat gagang kapak dan sekali renggut, gagang kapak itu terlepas dari tangan Doa Gu!

Kui Lin menangkap kapak itu dengan tangan kirinya dan kini ujung sabuk merahnya kembali meluncur dan menyerang ke tenggorokan lawan.

Joa Gu yang terkejut melihat kapak kirinya terampas, mengelak.

Akan tetapi Kui Lin sudah menggunakan kesempatan itu untuk menyambitkan kapak rampasannya ke arah lawan sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

"Wuttt... cappp...!!"

Kapak itu menancap di perut Joa Gu yang gendut dan orang ketiga dari Tiat-pi Sam-wan itu roboh tewas!

Kui Lin melompat dan cep mengambil pedangnya dari pinggang mayat Joa Gu.

Kemudian ia mengamuk, menerjang para anggauta perampok yang sedang sibuk mengeroyok rajawali.

Ketika Yong Ti dan Oh Kun melihat sute mereka roboh dan tewas, mereka marah sekali.

Akan tetapi mereka bukan orang orang bodoh.

Mereka tahu benar betapa lihainya gadis yang tadi mereka tawan, kemudian muncul burung rajawali yang ganas dan pemuda berpakaian putih yang amat lihai, yang sama sekali tidak terdesak oleh pengeroyokan mereka.

Maka, melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, sute mereka mati dan di antara para anak buahnya, banyak yang sudah roboh, mereka berdua lalu melompat dan melarikan diri.

Anak buah mereka juga ikut melarikan diri tunggang langgang meninggalkan kawan-kawan yang terluka dan tewas.

Kui Lin yang masih merasa marah dan penasaran, hendak mengejar, akan tetapi Han Lin cepat memegang lengan kirinya menahan.

"Musuh yang sudah melarikan diri, tidak baik untuk dikejar. Engkau dapat terjebak mereka."

Kui Lin berhenti dan membalikkan tubuhnya, berdiri berhadapan dengan Si Han Lin.

Sejenak mereka hanya saling pandang, dan gadis itu memandang dengan sinar mata penuh keheranan dan juga kekaguman.

Memang sejak pertama kali bertemu, ia merasa kagum melihat penampilan dan pemunculan Han Lin yang menunggang rajawali!

Apalagi setelah ia menyaksikan sendiri betapa pemuda itu juga memiliki ilmu silat yang amat lihai.

Kini Han Lin dapat melihat dengan jelas wajah Kui Lin yang selain cantik juga demikian cerah penuh senyum dengan pandang matanya yang bersinar sinar penuh semangat hidup.

Dia menjadi kagum.

Tadi, dia mendengar gadis iu meronta dan memaki-maki ketika menjadi tawanan seperti seekor binatang buas dalam libatan jala dan tali temali.

Sama sekali tidak kelihatan takut, apalagi menangis seperti kebiasaan wanita kalau berada dalam bahaya.

Seorang gadis yang masih muda namun dengan keberanian yang luar biasa!

"Hemmm, engkau yang sudah menolongku, kenapa sekarang malah menghalangi aku melakukan pengejaran untuk membasmi semua tikus busuk itu?"

Kata Kui Lin dengan suara mengandung teguran marah.

"Apa tiba-tiba engkau merasa kasihan dan membela mereka?"

"Bukan begitu, Adik manis "

"Jangan mencoba merayuku!"

"Lho! Siapa yang merayu?"

"Itu, kau sebut aku adik manis, berarti memuji-muji aku, dan biasanya, laki-laki kalau memuji wanita tentu ada maunya! Kau kira aku kesenangan ya, kau puji manis segala!"

Han Lin tersenyum.

"Wah, engkau ini gadis galak yang mudah menyangka buruk. Aku sebut kau Adik karena memang engkau jauh lebih muda daripada aku, dan aku sebut engkau Manis karena mukamu memang manis? Apakah engkau lebih senang kusebut Bibi Jelek?"

Muka itu cemberut, alisnya berkerut.

"Coba kalau berani. Kutampar kau!"

Han Lin tertawa.

"Heh-heh, nah, lebih enak kalau kusebut Adik manis, bukan? Atau, agar kau tidak marah, kusebut Moi-moi (Adik) saja. Sekarang kujawab pertanyaanmu tadi, Moi-moi. Aku bukan merasa kasihan atau membela mereka, aku tahu mereka itu orang-orang sesat, akan tetapi aku mencegahmu mengejar mereka justeru karena aku khawatir kalau engkau terjebak dan celaka. pula, lebih baik memaafkan orang daripada mengandung dendam kebencian."

"Enak saja kau bicara! Memaafkan mereka? Huh, engkau yang tidak mengalami apa-apa tentu mudah memaafkan akan tetapi aku yang mereka keroyok lalu secara curang mereka tawan, aku mengalami penghinaan, bagaimana mungkin aku bisa memaafkan mereka? Kalau tidak kau cegah, aku tentu sudah membunuh mereka semua!"

"Adikku yang baik, penderitaanmu karena kejahatan mereka itu belum seberapa dibandingkan dengan apa yang kualami. Ketahuilah, sepuluh tahun yang lalu, tiga orang itu dengan para anak buah mereka, merampok di dusun tempat tinggal orang tuaku. Dan mereka bertiga itulah yang telah membunuh ayah dan ibuku."

Kui Lin terkejut sekali sampai ia melompat ke belakang seperti dipagut ular.

"Astaga! Ayah ibumu dibunuh orang dan engkau tidak ingin membalas dendam? Engkau ini manusia apakah? Padahal, kalau engkau mau, tentu tidak sukar bagimu untuk membalas dendam dani membunuh mereka! Engkau memiliki kepandaian yang amat tinggi dan mempunyai pula burung rajawali yang hebat, kenapa engkau begini lemah? Kenapa semangatmu begini melempem? Atau...apa engkau takut dan ngeri melihat pembunuhan, walaupun yanjg terbunuh itu orang jahat?"

Han Lin menghela napas panjang dan memandang ke arah mayat Joa Gu yang menggeletak telentang dan lima orang yang terluka parah oleh pedang Kui Lin hingga tidak mampu bangkit.

"Memang benar, aku merasa ngeri melihat pembunuhan antara manusia, membunuh terdorong nafsu dendam kebencian. Aku muak melihat manusia saling bermusuhan, saling membenci, saling membunuh, lebih buas daripada binatang yang liar dan buas!"

"Ih, manusia aneh! Bagaimana engkau mengatakan manusia lebih buas daripada matang? Binatang bukan hanya membunuh, akan tetapi juga makan daging yang dibunuhnya! Ih, mengerikan!"

"Adikku,, yang manis, apa kau kira manusia tidak makan daging yang dibunuhnya? Berapa banyaknya daging binatang setiap hari dimakan manusia setelah dibunuh? Ketahuilah, binatang liar membunuh karena mereka harus rnembunuh untuk bertahan hidup. Maka mereka memakan daging para korbannya. Akan tetapi manusia saling bunuh dengan sesama manusia karena kebencian karena permusuhan. Manusia membunuh binatang juga dimakan dagingnya, akan tetapi bukan karena kelaparan, melainkan untuk menikmati kelezatannya, Dan manusia menyadari akan kekejamannya namun tetap saja mereka melakukannya. Aku tidak mau diracuni dendam kebencian. Biarlah Tuhan yang menilai, karena semua berkat dan hukuman hanya menjadi hak Tuhan untuk melakukannya."

"Wah-wah, engkau ini seorang pendekar atau seorang pendeta, berkotbah disini. Melihat kepandaianmu yang tinggi engkau pasti telah mempelajari ilmu silat sejak kecil dan sudah bertahun-tahun."

"Memang, sedikitnya sepuluh tahun aku mempelajari ilmu dengan tekun dan dengan sungguh-sungguh."

"Nah, kalau pendirianmu seperti sekarang ini, lalu apa artinya engkau belajar silat sampai mencapai tingkat tinggi?"

"Aduh, agaknya engkau telah keliru besar menilai artinya orang belajar silat, Adik aih, tidak enak rasanya kita sudah berbincang-bincang begini panjang dan jauh, akan tetapi belum saling mengenal nama sehingga sulit menyebut, lari kita berkenalan dulu. Namaku Si Han Lin, yatim piatu, sebatang kara, sejak kecil ikut guru di Puncak Bukit Cemara, Pegunungan Cin-lin-san, umurku dua puluh satu tahun!"

Han Lin memperkenalkan diri dengan kocak, menyebutkan umur segala.

"Sebatang kara? Tidak mempunyai sanak saudara sama sekali?"

Tanya Kui Lin.

"Wah, kalau sanak saudara sih, banyak sekali, tidak terhitung jumlahnya!"

Kata Han Lin.

"Eh? Masa ada orang mempunyai saudara vang tak terhitung jumlahnya saking banyaknya?"

"Benar, engkau ini termasuk salah satu di antara_saudara-saudaraku. Semua orang di dunia ini adalah saudaraku."

Kui Lin cemberut.

"Ngawur! kalau begitu, semua penjahat, bahkan Tiat pi San-wan dan anak buahnya tadi, mereka se mua itu juga saudaramu?"

"Ya.. karena rmereka juga sama dengan aku, dilahirkan di dunia ini, mereka mereka adalah saudara-saudara senasib penderitaan dilempar ke dalam dunia. Bersama dengan aku. Sudahlah, Adik yang baik, aku sudah memperkenalkan diri sekarang aku ingin mendengar siapa namamu dan di mana tempat tinggalmu."

"Namaku Song Kui Lin, ayahku sudah meninggal dunia dan ibuku berdagang obat, tinggal di Cin-an. Han Lin, engkau ini manusia aneh. Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang manusia aneh seperti engkau ini!"

"Aku aneh? Lho, apa anehnya? Apakah aku mempunyai buntut? Aku sama dengan semua pria lainnya, Kui Lin. Kenapa engkau mengatakan aku aneh?"

Hati Lin tersenyum. Kui Lin cemberut.

"Engkau memiliki ilmu silat yang tinggi, dan engkau sudah dua kali menolongku, berarti engkau suka menentang kejahatan dan menolong orang seperti sikap seorang pendekar. Akan tetapi, sungguh membuat orang mati penasaran....."

"Eitt! Jangan mati penasaran, Kui Lin! Sayang ah, engkau masih begini muda....."

"Aku tidak akan mati, engkau yang lebih dulu mati"

Bentak Kui Lin.

"Maksudku, engkau seorang pendekar, akan tetapi engkau juga seorang yang put-hauw!"

Han Lin tertegun.

Kata-kata put-hauw (tidak berbakti) adalah sebuah kata yang amat tidak disukai orang karena dalam kata itu bukan hanya sekadar berarti tidak berbakti, melainkan lebih daripada itu.

Put-hauw dapat berarti anak yang durhaka, anak yang terkutuk!

Semua orang di Cina merasa ngeri dan tidak ada yang mau menerima kalau disebut anak put-hauw' Han Lin mengerutkan alisnya.

"Engkau selalu salah menilai, Kui Lin."

Katanya kini tanpa senyum.

"Tadi engkau salah menilai arti orang belajar silat, sekarang engkau keliru pula menilai aku anak put-hauw."

"Kalau aku keliru seperti yang katakan, hayo katakan di mana kelirunya"

Gadis itu menantang.

"Apa kau kira belajar silat itu hanya untuk menjadi tukang pukul, tukang berkelahi, untuk melukai atau membunuhi orang, untuk menang-menangan menjadi jagoan? Pendapat demikian itu salah sama sekali, bahkan mengotori arti dari ilmu silat itu sendiri. Di jaman dahulu, ilmu silat muncul dalam kehidupan manusia, bukan diadakan oleh orang orang yang kuat dan suka menindas yang lemah. Ilmu silat lahir justeru karena adanya penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah. Si lemah yang kalah kuat itulah yang kemudian mencari akal, bagaimana caranya bagi si lemah untuk melawan si kuat, bukan untuk menyerang mencari musuh, melainkan untuk membela dirinya dari tindasan si kuat yang sewenang-wenang. Ilmu silat mempunyai tiga unsur pokok. Pertama, yaitu tadi, untuk membela diri dari si kuat yang sewenang-wenang menindasnya, ke dua, ilmu silat adalah ilmu gerak tari yang memperlihatkan keindahan gerakan tubuh manusia, dan ke tiga yang lebih penting lagi, ilmu silat adalah gerak atau olah raga yang sejalan dengan olah jiwa, sehingga yang sehat kuat bukan hanya raganya, melainkan terutama sekali jiwanya. Raga yang kuat namun jiwa yang lemah akan membuat orangnya mempergunakan kekuatan raganya untuk memuaskan nafsu-nafsunya, bertindak sewenang-wenang yang menjurus kepada kejahatan. Oleh karena itu, setiap orang guru silat haruslah mengutamakan latihan untuk membangun akhlak dan menguatkan jiwa terlebih dulu sebelum menguatkan raganya. Itulah ilmu silat, Kui Lin."

"Wah, panjang lebar bertele-tele, Han Lin. Semua yang kau ucapkan itu sudah semestinya. Guruku adalah Louw Keng Tojin yang berjuluk Lam-liong (Naga Selatan), seorang tosu (pendeta To), tentu saja selain ilmu. silat juga mengajarkan tentang kebajikan, maka aku selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan! Akan tetapi engkau bukan saja bersikap lunak terhadap para penjahat, bahkan engkau tidak ingin membalas dendam terhadap para penjahat keji yang telah membunuh ayah ibumu! Apakah itu bukan put-hauw namanya?"

"Hauw (bakti) bukan sekadar membalas dendam. Kui Lin. Orang yang berbakti kepada orang tuanya, yang terpenting adalah menjadi orang yang berkelakuan baik dan bertindak benar, karena hal ini berarti akan mengharumkan nama orang tua, walaupun orangtua sudah tidak ada di dunia. Seorang anak yang berbudi baik akan mengangkat derajat dan nama orang tuanya karena orang-orang akan bertanya-tanya siapa orang tua anak yang baik budi itu. Sebaliknya anak yang berbudi jahat akan menyeret nama orang tuanya ke dalami lumpur. Memang kuakui, Tiat-pi Sam-wan itu amat jahat telah membunuh orang tuaku. Akan tetapi kalau aku diracuni dendam kebencian terhadap mereka lalu membalas, membunuh mereka dengan kejam, lalu apa bedanya antara aku dan mereka? Apakah nama orangtuaku yang sudah meninggal dunia akan terangkat kalau aku membunuh Tiat-pi Sam-wan karena dendam kebencian?"

"Uhhh, engkau memang manusia aneh! Lalu, apa yang akan kau lakukan terhadap orang-orang yang telah membunuh orang tuamu?"

"Aku menentang kejahatan tanpa melihat orangnya, tanpa melihat apakah mereka itu membunuh orang tuaku atau tidak. Kalau mereka yang membunuh orang tuaku itu ternyata bukan orang yang melakukan kejahatan, sudah pasti aku tidak akan menentangnya. Kalau mereka jahat, aku akan menentangnya, menentang kejahatannya."

"Hemmm, menentang mereka akan tetapi tidak mau membunuh, lalu apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?"

"Terhadap semua pelaku kejahatan, tanpa pilih bulu, aku pasti akan menentangnya, bukan dengan cara membunuh mereka, melainkan kalau mungkin aku akan menyadarkan mereka agar mereka kembali ke jalan benar. Kalau perlu, akan menggunakan kepandaian silat untuk menundukkan mereka agar mereka rasa jera dan bertaubat. Akan tetapi membunuh, tidak. Yang berhak membunuh atau menghidupkan hanya Tuhan."

"Engkau aneh. Mengapa sih engkau takut membunuh orang jahat?"

"Bukan takut, Kui Lin, akan tetapi aku tidak mau menjadikan perbuatan sebagai mata rantai Karma sehingga terus berputar dan bersambung tiada putusnya."

"Hemmm, maksudmu?"

"Begini, Kui Lin. Tiat-pi Sam-wan membunuh ayah ibuku, peristiwa itu sudah pasti ada hubungannya dengan karma orang tuaku. Kalau aku membunuh mereka, apakah kau kira urusannya akan habis sampai di situ saja? Setiap pohon ada buahnya, setiap perbuatan pasti ada akibat kelanjutannya. Sudah pasti di pihak Tiat-pi Sam-wan akan ada yang juga timbul dendam kebencian seperti aku dan akan berusaha membalas dendam dengan membunuhku. Lalu, dari pihakku ada pula yang mendendam dan berusaha membalas pembunuhku. Dendam mendendam, benci membenci, bunuh membunuh. Itulah rantai Karma yang tiada putusnya. Mata rantai yang menyambungnya adalah perbuatan kita. Nah, kalau aku tidak mendendam dan tidak melakukan balas dendam, berarti aku tidak menjadi mata lantai yang menyambung sehingga rantai karma yang bunuh membunuh itu pun terputus dan berakhir, terganti karma lain yang lebih baik. Mengertikah kau, Kui Lin?"

"Ah, rumit benar! Aku tidak mengerti. Pokoknya, aku akan bertindak sesuka hatiku, menentang para penjahat, kalau perlu membunuh mereka agar mereka tidak mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat dan membela mereka yang benar dan tertindas. Pendeknya, aku akan menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang. Kalau seorang pendekar tidak mau membunuh penjahat, dia itu seorang pengecut!"

Han Lin mengerutkan alisnya. Gadis ini sungguh liar dan ganas, pikirnya dan tidak ada gunanya berbantahan dengannya.

"Terserah kepadamu, Kui Lin. Akan tetapi sekali-kali kau ingat dan kenangkan kembali percakapan kita ini."

Han Lin berseru memanggil rajawalinya.

Burung itu melayang turun dan Han Lin segera melompat ke punggungnya dan rajawali terbang membubung ke angkasa.

Setelah Han Lin pergi, barulah Kui Lin merasa kehilangan.

Ia tentu saja dapat mengerti maksud semua ucapan Han Lin tadi.

Gurunya juga mengajarkan hal yang hampir sama.

Akan tetapi kekerasan hatinya membuat ia enggan untuk mengaku salah.

Setelah Han Lini pergi, baru ia merasa betapa hatinya merasa amat kagum kepada pemuda itu, hanya ia menyayangkan bahwa pemuda itu baginya terlalu lemah!

Kui Lin tidak mempedulikan lagi mayat Joa Gu dan lima orang anak buah perampok yang terluka.

la lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Setelah hampir celaka di tangan para perampok dan ditolong Han Lin lalu percekcokannya dengan pemuda itu, Kui Lin ingin pulang.

Ia lalu melakukan perjalanan cepat pula ke rumah ibunya di Cin-an.

Nyonya Song Kak, janda yang membuka toko obat di Cin-an itu berusia sekitar empat puluh tahun, masih tampak cantik dan sehat.

Toko obatnya cukup laris karena Nyonya Song memiliki keahlian memeriksa orang sakit dan memberi obatnya yang tepat.

Ia mempelajari soal pengobatan ini dari mendiang suaminya.

Ketika Kui Lin muncul di pintu rumahnya, Nyonya Song berteriak girang, menyambut puteri yang menjadi anak tunggalnya itu dengan rangkulan dan ciuman.

Segera ia menyuruh dua orang pembantunya menjaga toko dan ia menggandeng Kui Lin memasuki rumah.

Di dalam rumah, ributlah Kui Lin menceritakan semua pengalamannya kepada ibunya yang terkadang menggelengkan kepalanya mendengar semua cerita anaknya.

Terutama sekali ia merasa khawatir mendengar akan pengalaman Kui Lin yang baru saja terjadi ketika ia tertawan para perampok.

"Jangan khawatir, Ibu. Aku sudah hajar mereka, bahkan seorang diantara tiga pemimpin mereka telah berhasil kutewaskan. Mereka pasti jera dan tidak akan berani melakukan perampokan lagi"Kui Lin menghibur ibunya.

"O ya, sebulan yang lalu guru Louw Keng Tojin, datang berkunjung sini, Kui Lin."

"Ah, Suhu datang ke sini, Ibu? Ada keperluan apakah beliau berkunjung sini?"

"Tadinya dia datang untuk bertemu denganmu, Kui Lin. Setelah kuberitahu bahwa engkau belum pulang, dia lalu pergi lagi dan meninggalkan surat untukmu."

Nyonya Song lalu mengambil sepucuk surat dari almari dan menyerahkannya kepada puterinya.

Kui Lin segera membacanya.

Dalam surat itu, Louw Keng Tojin menyuruh ia pergi ke kota raja untuk membantu gurunya dan para tokoh dunia kangouw dalam usaha mereka mencegah terjadinya perang saudara yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata.

Kita akan bertemu kelak di sana, demikian Louw Keng Tojin menutup suratnya.

Ketika Nyonya Song membaca surat itu, ia berkata.

"Kui Lin, aku tidak dapat melarangmu memenuhi permintaan gurumu, karena kurasa mendiang ayahmu juga akan menyetujui. Aku tahu bagaimana tugas seorang pendekar. Akan tetapi engkau baru saja datang, maka jangan engkau buru-buru pergi lagi, anakku. Berdiamlah di rumah bersama ibumu, setelah reda rasa kangenku, baru engkau boleh pergi lagi."

Kui Lin tidak membantah dan demikianlah, ia tinggal di rumah bersama ibunya dan setiap hari membantu ibunya melayani pembeli obat di toko mereka.

Beberapa hari kemudian.

Malam itu sunyi sekali.

Langit gelap oleh mendung tebal.

Hawa udara dingin dan karena semua orang mengetahui bahwa ada ancaman hujan lebat yang setiap saat akan turun, maka mereka lebih suka berdiam di dalam rumah.

Sejak sore tadi toko obat Nyonyi Song sudah ditutup.

Hal ini bukan hanya karena mendung mengancam akan menurunkan hujan lebat, melainkan karena sebuah peristiwa yang membuat Nyonyi Song ketakutan.

Tadi, ketika Nyonya Song masih duduk di toko dibantu dua orang pelayannya dan Kui Lin sedang pergi ke belakang untuk mandi, tiba tiba mereka mendengar suara di pintu toko.

Ketika mereka bertiga melihat ternyata suara itu ditimbulkan sebatang pisau yang menancap di pintu toko itu dan di gagang pisau terdapat sehelai kertas yang ada tulisannya.

Ketika Nyonya Song membaca tulisan itu, wajahnya berubah pucat sekali dan cepat ia memerintahkan dua orang pelayannya untuk menutup toko.

la sendiri lalu masuk dan menemui puterinya.

Kui Lin yang telah selesai mandi dan bertukar pakaian, heran melihat ibunya tampak pucat dan gelisah.

"Ibu, ada apakah? Engkau kelihatan gelisah "

Nyonya Song tidak menjawab, melainkan menyerahkan surat dan pisau itu kepada puterinya. Kui Lin menerimanya dan menjadi semakin heran, akan tetapi dibacanya surat itu. Isinya hanya singkat aja.

"Malam ini, semua mahluk yang bernyawa di rumah ini akan matil"

Surat itu tidak ditandatangani.

"Dari mana datangnya surat itu, Ibu?"

Tanya Kui Lin dengan alis berkerut karena ia marah sekali.

"Tadi ada yang menyambitkan pisau ke pintu toko dan surat itu diikat pada gagang pisau. Aku suruh menyuruh Paman dan Bibi Kwa menutupkan semua pintu dan jendela."

Melihat ibunya tampak khawatir, Kui Lin menghibur.

"Ibu, jangan khawatir. Ini pasti ulah penjahat-penjahat licik yang pengecut. Hanya gertakan saja! Biar aku akan menjaga semalam suntuk kalau betul ada yang berani datang mengacau pasti akan kupengga! leher dengan pedangku!"

Biarpun sudah dibujuk dan dihibur puterinya, tetap saja Nyonya Song merasa khawatir sekali.

Ia maklum bahwa dahulu, suaminya yang pendekar terkenal memiliki banyak musuh dari golongan sesat, bahkan suaminya tewas dikeroyok banyak tokoh sesat.

Sekarang ditambah lagi dengan puterinya yang juga telah menanam banyak bibit permusuhan dengan golongan sesat.

Ia sendiri, biarpun tidak selihai mendiang suaminya atau puterinya, bukan seorang wanita lemah.

Ia sudah menerima latihan dari suaminya sehingga memiliki kepandaian ilmu silat yang lumayan untuk menjaga dan membela dirinya sendiri.

Akan tetapi sekali ini ia merasa khawatir akan datangnya ancaman itu.

Ia seolah dapat merasakan bahwa ancaman itu bukanlah hanya gertakan saja seperti yang dikatakan puterinya.

Apalagi setelah Kui Lin bercerita tentang pengalamannya berkelahi dengan serombongan penjahat yang di pimpin Tiat-pi Sam-wan dan betapa seorang di antara tiga kepala perampok itu telah dibunuh oleh Kui Lin.

Sebagai isteri seorang pendekar, ia banyak mendengar tentang kekejaman para golongan sesat di dunia kangouw.

Seperti telah disangka dan ditunggu banyak orang, malam itu mulai turun hujan.

Hujan dan angin menderu-deru.

Hujan turun seperti air ditumpahkan dari atas.

Banyak rumah kebocoran dan penghuninya sibuk menampung air bocor atau mencoba untuk membetulkan genteng rumah mereka.

Akan tetapi ternyata bahwa hujan deras itu tidak terjadi lama, seolah-olah semua air yang terkandung dalam awan gelap itu telah ditumpahkan semua ke seluruh kota Cin-an.

Sesungguhnya tidak demikian.

Akan tetapi angin kuatlah yang membebaskan kota Cin-an dari kebanjiran.

Angin itu bertiup keras dan mendorong awan, sebagian besar dari awan, menuju ke barat sehingga awan yang berada di atas Cin-an segera habis menjadi hujan dan daerah lain di sebelah barat yang kini guyur hujan lebat.

Setelah hujan berhenti, suasana kota Cin-an menjadi semakin sunyi dingin.

Hampir tidak ada orang keluar dari rumah pada malam yang dingin kali itu.

Sebagian besar sudah pergi tidur karena dalam hawa udara sedingin itu memang paling nyaman adalah tidur di bawah selimut tebal dan hangat.

Akan tetapi di rumah Nyonya Song penghuninya tidak dapat tidur sejenakpun.

Mereka semua dalam keadaan tegang dan khawatir, yaitu Nyonya Song kakek dan nenek pelayan, ada pun Kui Lin duduk di ruangan tengah dengan sikap tenang.

Ia menyuruh dua orang pelayan itu tinggal di dalam kamar mereka dan tidak boleh keluar.

Ibunyapun, dianjurkan untuk tinggal didalam kamar dan siap dengan pedangnya untuk menjaga diri.

Berulang-ulang Kui Lin menenangkan hati mereka dengan mengatakan bahwa ia telah siap untuk menghajar siapa saja yang berani mengganggu.

Tiba-tiba dalam kesunyian malam itu, dengar suara anjing menjerit-jerit.

"Kainggg! Kainggggg!"

Lalu suara itu berhenti. Nyonya Song keluar dari kamarnya, berlari menghampiri puterinya.

"Kau dengar itu, Kui Lin? Itu suara Si Putih! Ia menjerit-jerit lalu berhenti jangan-jangan............"

"Tenanglah, Ibu. Mungkin ia tidak apa-apa, kalau Ibu merasa sangsi, mari kita lihat bersama!"

Dengan tabah Kui Lin lalu keluar, diikuti oleh ibunya, menuju ke pekarangan belakang dari mana suara anjing tadi terdengar.

Ia membawa sebuah teng lampu gantung.

Setelah tiba di pekarangan belakang, tiba-tiba mereka mendengar suara ayam-ayam berteriak, berkokoh riuh lalu berhenti dan sepi kembali.

Cepat mereka menuju ke kandang dan penerangan lampu teng di tangan Kui Lin membuat mereka dapat melihat Si Putih, anjing mereka, sudah menggeletak berlumuran darah yang keluar dari lehernya yang terluka lebar, juga tujuh ekor ayam peliharaan mereka mati semua dengan leher hampir putus.

"Jahanam ...?"

Kui Lin memaki geram.

Ibunya memegang lengan puterinya dengan jari tangan gemetar, lalu menuding ke dalam kandang.

Ketika Kui Lin melihatnya, ternyata dua ekor kucing kesayangan ibunya juga menggeletak mati dengan leher terluka.

Agaknya ancaman itu bukan gertakan kosong belaka!

Kini semua binatang peliharaan mereka telah tewas seperti bunyi ancaman dalam surat itu!

"Kui Lin, mari kita masuk....."

Nyonya Sang berbisik dengan suara gemetar Kui Lin mengangguk dan gadis ini menahan kemarahannya.

Kalau tidak bersama ibunya, ingin rasanya ia memaki maki dan menantang musuh-musuh yang membunuhi ayam, anjing dan kucing itu agar keluar dan melawannya!

Akan tetap ia tidak ingin ibunya menjadi semakin khawatir, maka ia menuntun ibunya kembali ke pintu belakang rumah mereka.

Baru saja mereka melangkah pintu belakang, tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan dari dalam rumah.

"Celaka! Pembantu-pembantu kita.......!"

Nyonya Song tiba-tiba mendapatkan keberaniannya dan ia melompat ke dalam rumah dan lari ke arah kamar dua orang pelayan mereka, bersama Kui Lin.

Ketika mereka membuka daun pintu kamar itu, mereka melihat dua orang pembantu mereka, laki-laki dan wanita berusia sekitar lima puluh tahun itu, telah menggeletak di lantai kamar dengan leher terkoyak dan sudah tewas.

Nyonya Song menjerit, menubruk dan menangis.

Akan tetapi dengan sigap Kui Lin memegang lengan ibunya dan ditariknya ibunya ke dalam kamar ibunya.

"Tenang, Ibu. Ibu di sini saja, aku akan mencari dan membasmi mereka!"

Setelah berkata demikian, ia meninggalkan kamar ibunya dan melompat keluar.

Setibanya di depan rumah yang mendapat penerangan lampu dari serambi, ia berteriak sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya melengking nyaring.

"Jahanam keparat busuk tak tahu malu! Jangan bertindak curang! Kalau memang kalian ada keberanian, mari kita bertempur di sini sampai seribu jurus!"

Kini tampak tiga sosok bayang berkelebat dan tiga orang berdiri depannya.

Kui Lin mengenal dua di antara mereka, yang bukan lain adalah Yong Ti dan Oh Kun, dua orang dari Tiat-pi Sam-wan, sedangkan yang seorang lagi ia tidak kenal.

Dia ini seorang kakek bertubuh tinggi besar, mukanya terdapat codet (bekas luka) melintang dari pipi ke pipi sehingga wajahnya tampak menyeramkan sekali.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Selain tiga orang itu, kini muncul pula belasan orang anak buah mereka mengepung pekarangan itu.

Melihat mereka, Kui Lin menjadi marah sekali dan ia menudingkan pedangnya ke arah tiga orang itu.

"Huh, kiranya jahanam-jahanam busuk Tiat-pi Sam-wan, monyet-monyet curang tak tahu malu. Kalian berdua datang untuk menyusul saudara kalian yang mampus di tanganku? Baik, aku aku. mengirim kalian ke neraka untuk menemani adik kalian!"

"He-he-heh! Yong Ti dan Oh Kun, inikah gadis yang telah membunuh Joa cu? Wah, cantik manis!"

Tiba-tiba saja Kui Lin yang tak dapat menahan kemarahannya sudah menerjang ke arah kakek itu sambil membentak.

"Kakek mesum mau mampus!"

Pedangnya menyambar seperti kilat. Gerakannya amat cepat sehingga kakek yang tadinya memandang rendah itu terkejut juga. (Lanjut ke

Jilid 12) Si Rajawali Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Kakek itu adalah guru dari Tiat-pi Sam-wan yang marah ketika dilapori dua orang muridnya bahwa muridnya yang termuda, Joa Gu, tewas di tangan seorang wanita.

Maka dia lalu ikut dua orang muridnya untuk membalas dendam.

Melihat musuhnya hanya seorang gadis muda remaja, dia memandang rendah.

Akan tetapi serangan gadis itu benar-benar mengejutkannya.

Dia melompat jauh ke belakang lalu tiba-tiba dia mencabut pedang dari punggungnya dan melontarkannya ke atas.

Ternyata itu adalah sebatang hui-kiam (pedang terbang)!

Pedang itu meluncur seperti sinar kebiruan ke arah Kui Lin.

Gadis perkasa menangkis dengan pedang tipisnya.

"Tranggggg!"

Pedang terbang terpental dan membalik ke arah pemilik nya yang menerimanya dengan tangan kanan.

Kui Lin sudah menerjang lagi dan kini ia disambut bukan hanya oleh kakek itu, akan tetapi juga oleh Yong Ti dan Oh Kun yang bertekad untuk membalas kematian sute mereka.

Segera setelah bertanding melawan tiga orang itu, K Lin merasa kerepotan dan terdesak.

Kalau hanya melawan pengeroyokan Yong Ti dan Oh Kun berdua, kiranya ia masih sanggup untuk menandingi mereka.

Akan tetapi kakek tinggi besar bermuka bopeng itu ternyata lihai sekali dengan permainan pedangnya.

Dia berjuluk Cui beng Lo-kui (Setan Tua Pengejar Arwah) guru dari Tiat-pi Sam-wan.

Tentu saja ilmu kepandaiannya tinggi.

Melawan kakek itu seorang saja akan sukar bagi Ku Lin untuk dapat menang.

Apalagi kini dikeroyok tiga.

Ia segera terdesak hebat.

Akan tetapi dara yang gagah perkasa itu sama sekali tidak menjadi gentar.

Yang membuat ia gelisah adalah karena ia teringat ibunya yang berada seorang diri dalam kamarnya.

Akan tetapi kalau hanya para anak buah penjahat saja yang nengganggu, ia yakin ibunya dapat melindungi diri sendiri dengan baik.

Ia memang terdesak hebat, terutama oleh permainan pedang kakek bermuka codet itu.

Akan tetapi ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan ibunya.

Tiba-tiba ia mendengar suara burung rajawali di atas.

Mendengar ini, jantung Kui Lin berdebar karena girang.

"Si Han Lin, tolong kami.....!!"

Sesosok bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu Han Lin telah berada di situ.

Dengan Pek-sim-kiam di tangan dia cepat mengelebatkan pedangnya yang berubah menjadi sinar putih memanjang yang menangkis senjata-senjata di tangan tiga orang pengeroyok Kui Lin.

"Trang-trang-cringgg!"

Berturut-turut tombak baja di tangan Yong Ti, siang-to di tangan Oh Kun, dan pedang di tangan Cui-beng Lo-kui, terpental oleh tangkisan Pek-sim-kiam itu.

Pek-sim-kiam (Pedang Hati Putih) milik Han Lu adalah sebatang pedang pusaka yang memiliki daya amat kuat untuk melawan atau menangkis senjata, lawan.

Namanya juga Pedang Hati Putih.

Pedang itu diberikan Thai Kek Siansu kepada Han Lin dengan pesan bahwa Pek-sim-kiam bukan pedang untuk membunuh orang, melainkan hanya untuk melindungi diri dan menangkis senjata lawan yang menyerang.

Kini belasan orang anak buah penjahat itu sudah maju pula mengeroyok dengan golok mereka setelah melihat pemuda itu membantu Kui Lin.

"Han Lin, ibuku berada sendirian di dalam "

Kata Kui Lin dan mendengar ini, Han Lin cepat mendesak maju.

Dengan dua kali serangan, tangan kiri menampar dan kaki menendang, dia dapat membuat Yong Ti dan Oh Kun terpelanting roboh dan tak dapat segera bangkit kembali.

Melihat ini, Cui-beng Lo-kui marah sekali dan sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau marah, dia menyimpan pedangnya, merendahkan tubuh hampir berjongkok dan mendorongkan kedua tangannya ke arah Kui Lin.

Angin pukulan yang dahsyat menyambar.

"Kui Lin, minggir!"

Han Lin mendorong gadis itu ke samping lalu cepat dia menyambut serangan pukulan jarak jauh yang dahsyat itu.

"Wuuuuuuttttt bresssssl!"

Tubuh kakek itu terpental dan jatuh bergulingan seolah dia tadi memukul sebuah benda lunak yang kenyal seperti karet sehingga pukulannya membalik dan membuat dia terpental.

Dia maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan tangguh, maka setelah bergulingan dia lalu bangkit dan melompat ke atas genteng, lenyap dalam kegelapan malam.

"Han Lin, tolong ibu dalam kamarnya!"

Kata Kui Lin.

Mendengar ini, Han Lin cepat berkelebat memasuki rumah itu di mana dia melihat seorang wanita setengah tua dengan pedang di tangan menghadapi pengeroyokan tiga orang anak buah penjahat.

Han Lin merobohkan tiga orang itu dengan tendangan sehingga Nyonya Song terbebas.

Sementara itu, begitu melihat Han Lin berkelebat memasuki rumah, Kui Lin yang tidak lagi mengkhawatirkan ibunya cepat menerjang ke arah Yong Ti dan Oh Kun yang baru saja merangkak hendak bangkit berdiri.

Sia-sia saja orang itu hendak menghindar karena demikian cepatnya pedang tipis di tangan Kui Lin berkelebat dan dua orang itupun roboh dengan leher tersayat sehingga tewas seketika!

Kui Lin lalu mengamuk dan tiga belas orang yang berusaha mengeroyoknya, satu demi satu dibabatnnya roboh!

Mengerikan sekali melihat gadis ini mengamuk.

Banjir darah terjadi pekarangan itu dan tidak ada seorangpun anak buah gerombolan itu dapat menyelamatkan diri.

Hanya Cui-beng Lo kui seorang diri saja yang dapat lolos dari maut!

"Kui Lin..."

Nyonya Song berseru dan ngeri melihat puterinya berdiri dengan pedang di tangan sedangkan di sekelilingnya, belasan mayat berseraka mandi darah!

Han Lin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keganasan gadis itu.

Kini banyak orang datang memasuki pekarangan sambil membawa obor.

Mereka adalah para tetangga yang berdatangan karena tertarik oleh keributan di pekarangan rumah Nyonya Song.

Semua orang merasa ngeri melihat mayat-mayat berserakan seperti itu.

Nyonya Song lalu minta tolong para tetangga untuk melaporkan kepada komandan pasukan keamanan di Cin-an tentang serbuan gerombolan penjahat yang telah dibasmi puterinya.

Tak lama kemudian pasukan keamanan datang dan sang komandan yang sudah mengenal baik Nyonya Song, segera mendengar laporan Nyonya Song.

Dia lalu memerintahkan para perajurit anak buah pasukannya untuk menyingkirkan semua mayat para penjahat.

Banyak pula tetangga yang ikut membersihkan pekarangan itu.

Mereka juga membantu menyediakan dua buah peti mati untuk dua orang pembantu Nyonya Song.

Tiga orang anak buah gerombolan yang dirobohkan Han Lin menjadi tawanan pasukan keamanan.

Nasib mereka masih lebih daripada teman-teman mereka yang tewas di tangan Kui Lin.

Sementara itu, Nyonya Song, Kui Lin dan Han Lin berada di ruangan dalam rumah itu.

Ketika Nyonya Song mendengar pengakuan Kui Lin bahwa ketika ia bertemu dengan Tiat-pi Sam-wan ia ditawan, ia juga ditolong oleh pemuda yang malam ini menolong mereka.

Nyonya Song mengucapkan terima kasih dan mengundang Han Lin masuk ke rumah.

Han Lin dan Kui Lin duduk di ruanga dalam sedangkan Nyonya Song sibuk dibantu para tetangga mengurus jenazah dua orang pembantunya yang setia.

Dua orang pembantu itu sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri.

Merekalah yang menemaninya sejak suaminya meninggal dan ketika Kui Lin merantau meninggalkan rumah, mereka pula yang menemaninya.

Maka, tentu saja Nyonya Song merasa bersedih sekali dan ia mengurus jenazah mereka seperti keluarga sendiri.

Ketika berada berdua saja itulah, Han Lin tak dapat menahan diri lagi, menegur Kui Lin.

"Kui Lin, kembali engkau melakukan kekejaman dengan membunuh lawan yang sudah roboh. Mengapa sih hatimu dapat sekejam itu?"

"Apa? Kau bilang kejam? Kau kira mereka yang datang menyerbu kami itu orang-orang baik dan tidak kejam? Mereka mengirim surat ancaman untuk membunuh semua mahluk bernyawa yang berada di rumah ini! Kemudian mereka membunuh semua anjing, kucing dan ayam peliharaan ibu, bahkan membunuh pula dua orang pembantu ibu yang setia. Dan kalau engkau tidak datang membantu, sudah pasti ibu dan aku juga mereka bunuh! Aku membela diri melawan kemudian membunuh, membasmi mereka iblis-iblis berupa manusia itu dan kau bilang aku kejam?"

"Akan tetapi, Kui Lin. Kalau engkau pun melakukan pembunuhan dan pembantaian dengan kejam, lalu apa bedanya antara engkau dan Tiat-pi Sam-wan? Mereka jelas orang jahat dan kejam, lalu apakah engkau ingin menyamai mereka dan disebut kejam pula?"

"Jelas berbeda antara aku dan mereka, Han Lin! Merekalah yang melakukan perbuatan jahat, mula-mula mengganggu dan menangkap aku, kemudian malam ini mereka menyerbu hendak membunuh kami semua. Akan tetapi aku tidak pernah mengganggu mereka, aku hanya membela diri dan kalau aku membunuh mereka, aku melakukannya seperti aku membunuh sekumpulan ular berbisa yang hanya membahayakan penghidupan oraing lain. Aku bukan penjahat seperti mereka, dan aku tidak pernah mengganggu orang lain!"

Bantah Kui Lin dengan marah dan penasaran. Han Lin juga merasa penasaran menahan diri dan tersenyum.

"Aku tahu Kui Lin. Aku tidak pernah bilang engkau jahat, namun hanya menegur karena engkau membunuh lawan yang sudah roboh tidak berdaya."

"Habis, aku harus bagaimana? Membiarkan mereka hidup agar mereka dapat terus melakukan kejahatan mereka mengganggu orang, merampok, dan menculik, melukai dan membunuh orang-orang tidak berdosa seperti dua orang pembantu kami? Begitu?"

"Kui Lin, tenanglah dan dengarkan kata-kataku. Kalau engkau terancam bahaya maut, engkau berhak membela diri dan seandainya dalam berkelahi membela diri itu engkau tidak dapat berbuat lain kecuali merobohkan penyerangmu sehingga dia tewas, hal itu masih wajar. Akan tetapi engkau membunuhi orang-orang yang sudah tidak berdaya, inilah yang kucela dan tidak semestinya dilakukan oleh seorang pendekar wanita."

"Hemm, habis apa yang harus kulakukan? Memaafkan kesalahan mereka, menolong dan mengobati mereka?"

Gadis itu bertanya dengan suara mengejek, bibirnya yang mungil merah itu cemberut dan matanya yang indah itu mengerling tajam.

Ia merasa penasaran sekali.

Akan tetapi dalam keadaan marah dan cemberut itu ia tampak semakin manis.

"Memang sebaiknya begitu, Kui Lin. Memaafkan dan menolong mereka merupakan pekerjaan dan sikap terpuji."

"Aku tidak ingin dipuji! Apakah manusia-manusia iblis macam mereka itu tidak sepatutnya dihukum?"

"Memang sepatutnya mereka dihukum.

"Nah, kau juga bilang mereka sepatutnya dihukum, dan aku sudah menghukumnya! Apalagi yang salah?"

Gadis itu mandang dengan penuh kemenangan menantang.

"Lalu menurutmu, apa yang harus kulakukan lagi?"

Engkau bukan pelaksana hukum, Kui Lin.

Setelah engkau membela diri dan merobohkan mereka, seharusnya kau serahkan kepada yang berwenang dan berwajib.

Pemerintah yang berhak menghukum orang.

Ada pengadilan sebagai alat negara yang akan mengadili, bukan engkau!"

"Si-taihiap (Pendekar besar Si) berkata benar, Kui Lin!"

Tiba-tiba Nyonya Song memasuki ruangan itu.

Tadi ia mendengar ucapan terakhir Han Lin dan segera membenarkannya.

Ia sendiri memang tahu bahwa puterinya memiliki watak yang galak, keras dan ganas dan hal ini merupakan warisan watak ayahnya.

Song Kak dahulu juga merupakan seorang pendekar yang amat galak dan ganas terhadap para penjahat.

Setiap bertemu penjahat dia tidak pernah mengenal ampun dan tentu penjahat itu dibunuhnya, sehingga selain namanya amat terkenal, juga dia amat dibenci para tokoh sesat dan akhirnya dia sendiri mati terbunuh dikeroyok banyak tokoh sesat.

"Aih, Ibu ...........! Kenapa malah Ibu berpihak kepada Han Lin?"

"Tentu saja karena Si-Taihiap ........."

"Maaf, Bibi, harap jangan menyebut saya dengan Taihiap."

Kata Han Lin sambil tersenyum ramah.

"Baiklah, Si Han Lin. Kui Lin, seperti kukatakan tadi, aku tidak berpihak kepada Han Lin, melainkan karena Han Lin memang benar. Engkau bukan algojo, Kui Lin. Lain kali, jangan menuruti kekerasan hati dan kebencianmu. Kalau engkau dapat mengalahkan penjahat, robohkan saja dan jangan bunuh, melainkan serahkan kepada yang berwajib, yang akan mengadili dan menghukumnya. Mengerti?"

Dengan alis berkerut, Song Kui Lin mengangguk.

Gadis ini, betapapun liar dan galaknya, tetap saja ia amat berbakti dan taat kepada ibunya yang amat disayangnya.

Setelah dua jenazah pembantu itu dimakamkan, Nyonya Song menerima kunjungan Perwira Kwa Siong.

Perwira Kwa Siong ini adalah komandan pasukan keamanan kota Cin-an dan dia seorang duda karena isterinya telah meninggal dunia ketika di kota itu terjangkit wabah penyakit yang berbahaya.

Perwira Kwa Siong mengenal baik Nyonya Janda Song yang tadinya menjadi sahabat baik isterinya.

Setelah isterinya meninggal, Perwira Kwa banyak memberi bantuan kepada Nyonya Janda Song dan antara kedua orang ini terjalin persahabatan yang akrab.

Sebetulnya, sudah beberapa kali Perwira Kwa melamar Nyonya Song untuk menjadi isterinya, namun janda itu masih selalu minta waktu untuk mempertimbangkan, walaupun sesungguhnya ia juga suka kepada perwira yang gagah dan baik budi itu.

Yang membuat hati Nyonya Song merasa ragu adalah puterinya.

Ia tidak ingin Kui Lin menjadi bersedih kalau ia menjadi isteri Perwira Kwa dan untuk mengatakannya kepada puterinya, ia merasa malu.

Mereka duduk menghadapi meja makan, berempat.

Nyonya Song, Perwira Kwa, Kui Lin, dan Han Lin.

Setelah makan, mereka membicarakan tentang penyerbuan para penjahat malam kemarin Kui Lin tidak asing dengan Perwira Kwa yang telah dikenalnya sejak ia kecil.

"Terima kasih, Paman Kwa. Engkau telah mengurus semua mayat penjahat itu, dan tidak menyalahkan aku yang telah membunuh mereka. Engkau tahu Paman, Ibuku dan Si Han Lin ini menyalahkan aku karena aku membunuh mereka"

Kata Kui Lin seolah minta kepada perwira itu untuk mendukung dan memihak padanya.

Perwira Kwa tersenyum.

Tentu saja dia mengenal watak gadis itu dan Nyonya Song seringkali mengeluh kepadanya tentang kekerasan watak puterinya itu.

"Kui Lin, aku tidak merasa heran akan kebencian dan keganasanmu terhadap para penjahat. Memang sudah menjadi kewajiban seorang pendekar untuk menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, Kui Lin, membunuhi mereka bukanlah menjadi tugas kewajibanmu. Mereka itu penjahat dan sudah sepantasnya dihukum, akan tetapi pemerintah telah mengadakan peraturan untuk menghukum para penjahat. Mereka harus diadili lebih dulu, baru dipengadilan yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuknya."

"Nah, betulkan omonganku? Engkau bukan algojo, Kui Lin!"

"Wah, Ibu dan Paman Kwa Siong selalu saling bantu. Sekarang juga bersekutu untuk melawanku!"

Tiba-tiba, melihat wajah ibunya berubah kemerahan, Kui Lin menyadari kesalahan ucapannya, menjadi gugup dan menyambung.

"Maaf, Ibu, maksudku, Paman Kwa selalu menyetujui pendapat Ibu dan sebaliknya Ibu juga mendukung pendapat Paman Kwa. Kalian berdua tampaknya begitu begitu sepaham dan cocok eh, maaf "

Kui Lin menjadi bingung sendiri karena tambahan kata-katanya itu bahkan membuat Ibunya tampak canggung dan menundukkan mukanya.

Akan tetapi Perwira Kwa melihat kesempatan baik dalam suasana itu, maka dia cepat berkata.

"Begitukah pendapatmu, Kui Lin? Aku dan ibumu tampak cocok? Sekarang aku hendak membicarakan hal yang serius denganmu "

"Ciangkun (Perwira)!"

Nyonya mencela.

"Tidak mengapa, Song Hujin (Nyony Song), seyogyanya kalau urusan ini dibicarakan sekarang sehingga terdapat kepastian. Begini, Kui Lin, setelah ke dua orang pembantu ibumu tewas berarti ibumu hanya tinggal berdua denganmu dan kalau engkau pergi, ibumu hanya tinggal seorang diri. Sebetulnya, yang hendak kukatakan kepadamu ini sudah terpendam selama dua tiga tahun."

"Maaf, Paman dan Bibi, sebaiknya saya keluar dulu agar percakapan keluarga ini dapat dilakukan dengan leluasa. Saya tidak mau mengganggu"

"Tidak Han Lin. Duduk sajalah, bahkan aku memerlukan seorang teman. Anggap saja aku ini pamanmu dan engkau menemani aku yang akan bicara sejujurnya kepada Kui Lin dan ibunya."

Kata Perwira Kwa yang sudah diperkenalkan dan tahu siapa adanya pemuda berpakaian putih ini yang mendatangkan kekaguman dalam hatinya.

Han Lin terpaksa duduk kembali walaupun dengan hati yang merasa canggung karena dia sudah dapat menduga apa yang akan dipercakapkan oleh perwira yang gagah itu.

"Nah, katakanlah, Paman Kwa Siong,"

Kata Kui Lin dan gadis ini pun bukan seorang bodoh.

Ia sudah tahu sejak lama bahwa terdapat hubungan yang lebih daripada hubungan biasa antara ibunya dan perwira ini, walaupun pada lahirnya mereka tampak hanya sebagai sahabat baik saja, tidak lebih.

"Begini, Kui Lin. Aku ini seorang duda yang kehilangan isteri yang meninggal dunia tanpa mempunyai anak. Sedangkan ibumu juga sudah menjadi janda sejak muda sekali, mempunyai engkau sebagai anak tunggal dan engkau tentu mengetahui dan merasakan bahwa aku pun suka sekali padamu sejak kecil, sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Nah, selama beberapa tahun ini sudah seringkali aku mengajukan lamaran kepada ibumu agar ia suka hidup bersamaku, sebagai isteriku dan engkau menjadi anakku. Akan tetapi ibumu selalu minta waktu untuk mempertimbangkan lamaran ku itu. Aku tahu bahwa ia sulit menerimanya karena merasa tidak enak kepada mu, Kui Lin. Maka sekarang, aku mengambil keputusan untuk membicarakan hal ini denganmu. Apakah engkau keberatan dan menolak kalau ibumu menikah dengan aku dan engkau menjadi anakku?"

Kui Lin yang sudah menduga pertanyaan ini tidak menjadi terkejut, bahkan sambil cengar-cengir ia memandang ibunya Nyonya Song tentu saja menjadi malu dan salah tingkah, apalagi melihat pu-terinya cengar-cengir seperti menggodanya!

"Hush!"

Akhirnya Nyonya Song membentak dengan muka berubah seperti udang direbus dan matanya melotot kepada puterinya.

"Kenapa cengar-cengir seperti monyet? Kalau engkau tidak setuju, katakan saja jangan cengar-cengir seperti itu!"

Kini Kui Lin memandang ibunya, lalu memandang perwira itu, mukanya berseri dan ia berkata.

"Paman Kwa dan Ibu, urusan perjodohan adalah urusan antara dua orang saja, orang lain tidak berhak mencampuri. Tentu saja keputusannya terserah kepada Ibu. Kalau Ibu suka untuk menjadi Nyonya Kwa dan menerima lamaran Paman Kwa, tentu saja aku tidak akan menghalanginya. Bahkan kalau ada yang akan menghalanginya, orang itu akan kuhajar!"

"Akan tetapi, bukan itulah yang merisaukan hatiku, anakku, yang penting bagiku adalah kebahagiaanmu. Maka jawablah, apa engkau suka dan rela ibumu ini menikah lagi?"

"Ya, Kui Lin, katakanlah apakah engkau suka menjadi anakku?"

"Ibu, kalau yang menjadi suamimu dan ayahku Paman Kwa, aku suka sekali. Aku juga ingin melihat engkau berbahagia, Ibu, dan aku tahu Paman Kwa seorang yang bijaksana. Aku senang dapat menjadi anaknya."

Mendengar ini, saking lega dan bahagia rasa hatinya, Nyonya Song menutup mukanya dengan kedua tangan dan menangis.

"Ibu!"

Ia merangkul ibunya.

"Kenapa menangis?"

Suaranya mengandung ke khawatiran.

"Biarkan ibumu menangis, Kui Lin. Ia menangis karena bahagia."

Kata Perwira Kwa Siong dengan wajah berseri gembira Kui Lin yang merangkul ibunya ikut pula menangis. Dua orang wanita itu saling berangkulan sambil menangis, akan tetapi tangis bahagia.

"Si Han Lin, aku minta dengan hormat dan sangat agar engkau suka menjadi saksi pernikahan kami yang akan kami laksanakan secepatnya. Untuk sementara tinggallah di rumahku sampai pernikahan dilangsungkan."

Perwira Kwa minta kepada pemuda itu dengan sikap sungguh-sungguh sehingga sukar bagi Han Lin untuk menolaknya.

Apalagi hal ini menyangkut diri Kui Lin, maka melihat gadis itu dia pun tentu saja tidak dapat menolak lagi.

Apalagi menurut rencana mereka, pernikahan akan dilangsungkan secara sederhana minggu depan.

Permintaan Perwira Kwa agar Han Lin menjadi saksinya itu selain dia menaruh kepercayaan besar kepada pemuda itu.

juga untuk mengimbangi keadan calon isterinya.

Nyonya Song mempunyai seorang anak perempuan, maka dia mengaku Han Lin sebagai keponakan yang dianggap sebagai anak sendiri, sehingga dengan demikian keadaan mereka berimbang!

Ketika hal ini dibicarakan oleh Perwira Kwa, Han Lin memandang Kui Lin dan berkata.

"Wah, kalau begitu aku mempunyai seorang adik perempuan! Mulai sekarang aku akan menyebutmu Lin-moi (Adik Lin dan karena nama akhir kita sama, engkau menyebut aku Lin-ko (Kakak Lin)!"

"Ah, mana perlu harus begitu?"

Bantah Kui Lin.

"Eh, Kui Lin, ucapan Han Lin benar"

Kata Perwira Kwa.

"Ya, Kui Lin, engkau harus menyebut Han Lin sebagai kakakmu!"

Kata pula ibunya.

"Nah, benar, bukan? Hayo, Adikku kita latihan. Sebut aku Lin-ko. Hayolah, kalau tidak latihan dan kemudian ada orang lain mendengar engkau menyebut namaku begitu saja, engkau akan dikatakan adik yang kurang ajar!"

Han Lin menggoda. Dengan mulut masih cemberut, Kui Lin terpaksa berkata.

"Lin-ko....."

"Nah, sedap didengar, bukan Lin-moi?"

Mereka semua membuat persiapan perayaan pernikahan itu dengan gembira.

Memang tidak besar-besaran, hanya mengundang sanak keluarga Perwira Kwa Siong dan beberapa orang teman pejabat di Cin-an saja.

Semua orang memuji Perwira Kwa yang pandai memilih isteri baru, karena Nyonya Song memang terkenal sebagai seorang janda yang selain cantik dan lembut, juga terhormat dan baik budi, suka menolong orang dengan pengobatan tanpa memungut bayaran tinggi, bahkan bagi yang tidak mampu, ia menolong dengan gratis.

Tiga hari setelah pernikahan dan Kui Lin bersama ibunya sudah pindah ke rumah Perwira Kwa, mengosongkan rumah lama, Kui Lin mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin memenuhi pesan dalam surat gurunya.

Mereka lalu berunding, dihadiri pula oleh Han Lin yang seolah-olah kini benar-benar sudah dianggap keluarga sendiri, sebagai kakak dari Kui Lin.

"Kui Lin, mengapa engkau tergesa-gesa hendak pergi lagi?"

Kata ibunya kini sebutannya bukan lagi Nyonya Song melainkan Nyonya Kwa.

"Ibu, aku harus mentaati perintah Suhu. pula memang aku harus memanfaatkan semua ilmu yang dengan susah payah sudah kupelajari dan kulatih bertahun-tahun. Apalagi sekarang hatiku dapat tenang meninggalkanmu karena di sini ada Paman..... eh, maaf, keliru lagi, ada Ayah yang melindungimu. Dengan adanya Ayah dan ratusan orang perajurit dalam pasukannya, tidak ada orang akan berani mengganggumu."

"Anakku, bukan diriku yang Ibu khawatirkan, akan tetapi keselamatanmu! Siapa tahu apa yang akan terjadi di kotaraja!"

Kata Nyonya Kwa.

"Saya kira Paman Kwa tentu lebih mengetahui akan keadaan di kota raja. Lebih baik kalau Lin-moi mengetahui lebih banyak akan keadaan di kota raja sebelum pergi ke sana."

"Ayah, ceritakanlah apa yang terjadi di sana? Kalau Suhu menyuruh aku ke sana untuk mencegah terjadinya perang saudara, tentu sedang terjadi sesuatu di sana."

Perwira Kwa Siong mengangguk-angguk.

"Sesungguhnya, dilihat dari luar, tidak terjadi apa-apa di kota raja. Sri-baginda Kaisar memerintah dengan adil dan bijaksana. Akan tetapi sebenarnya, di sebelah dalam memang terdapat hal-ha! yang mengkhawatirkan. Seperti diketahui, setelah menggantikan Dinasti Chou menjadi Dinasti Sung, Kaisar Sung Thai Cu dengan bijaksana menerima banyak pejabat tinggi dan bangsawan bekas Kerajaan Chou menjadi pejabat. Kebijaksanaan ini mempunyai segi buruknya, yaitu memberi kesempatan kepada bekas kelompok Kerajaan Chou untuk bersatu dan membuat persekongkolan. Bukan tidak mungkin di antara mereka itu banyak yang mempunyai ambisi untuk membangun kembali Kerajaan Chou dan menumbangkan Kerajaan Sung. Nah, agaknya keadaan ini yang membuat gurumu merasa khawatir dan mengutus engkau ke kota raja untuk membantu usaha para pendekar memadamkan kerusuhan atau pemberontakan sehingga tidak terjadi perang saudara."

"Akan tetapi bagaimana mungkin orang yang sudah diberi kedudukan masih ingin memberontak?"

Tanya Kui Lin penasaran.

"Hal itu tidak mengherankan, Kui Lin."

Kata Han Lin.

"Demikianlah watak manusia yang lemah dan tidak dapat menguasai nafsu-nafsunya sendiri. Mereka itu selalu membayangkan dan menginginkan yang lebih daripada apa yang dimilikinya. Ini yang membuat mereka selalu tidak puas dan ambisi mereka untuk memperoleh yang lebih tidak pernah padam, dan keinginan memperoleh apa yang mereka dambakan itu seringkali menimbulkan cara-cara yang tidak baik."

"Pendapat Han Lin ada benarnya,"

Kata Perwira Kwa.

"Akan tetapi ada pula orang yang masih setia kepada Kerajaan Chou, yang diam-diam mendendam kepada Kaisar Sung Thai Cu sebagai pendiri Dinasti Sung dan mereka setelah mendapatkan kedudukan tinggi, ingin sekali membangun kembali Kerajaan Chou. Mereka tentu terdiri dari para keluarga Kaisar Kerajaan Chou yang telah jatuh."

Si Han Lin menjadi tertarik sekali.

"Paman, kalau menurut pendapat Paman, siapakah yang sekiranya mempunyai ambisi untuk membangun kembali Kerajaan Chou itu?"

Perwira Kwa menghela napas panjang.

"Banyak sekali bekas orang Kerajaan Chou yang kini diberi kedudukan oleh Sribaginda Kaisar Sung Thai Cu. Hal ini mungkin sekali karena Sribaginda mengingat bahwa beliau juga masih seketurunan dengan keluarga Kerajaan Chou dan beliau dahulu bernama Chou Kuang Yin dan menjadi seorang panglima besar di Kerajaan Chou. Akan tetapi yang kini memiliki kedudukan paling tinggi dan juga merupakan kerabat terdekat dari mendiang Kaisar Chou Ong adalah Pangeran Chou Ba Heng yang dulu adalah keponakan mendiang Kaisar Chou Ong dan kini diberi kedudukan Penasehat Angkatan Perang oleh Sribaginda Kaisar. Dialah yang kabarnya selain seorang ahli perang dan ahli silat pandai, juga memiliki hubungan luas dengan para tokoh dunia kang-ouw. Maka, sudah sepatutnya kalau Chou Ban Heng yang kini berpangkat Jenderal itu diawasi gerak-geriknya". Han Lin menjadi semakin tertarik.

"Ah, kalau begitu mungkin sekali akan timbul pemberontakan dan perang saudara seperti yang dikhawatirkan gurumu, Lin-moi. Aku menjadi tertarik untuk melihat keadaan di sana."

"Bagus sekali!"

Kui Lin bangkit berdiri dan melonjak kegirangan.

"Mari kau temani aku, Han Lin! Kita pergi bersama!"

"Hushhh, Kui Lin. Kau menyebut apa kepada kakakmu?"

Bentak ibunya.

"Oh, ya!"

Kui Lin tertawa.

"Maaf, Lin-ko, aku lupa."

"Han Lin, kami girang sekali mendengar engkau juga hendak pergi ke kota raja. Kami titip anak kami, tolong jaga dan lindungi ia yang belum banyak pengalamannya dan terlalu keras kepala."

Kata Nyonya Kwa.

"Ahhh, ibu!"

Kui Lin merajuk manja.

"Han Lin, kalau ia menjadi liar dan tidak menurut kata-katamu, kau boleh mewakili aku untuk menjewer telinganya!"

Kata pula Nyonya Kwa.

Mereka lalu berkemas dan Perwira Kwa menitipkan sepucuk surat kepada Han Lin untuk diserahkan kepada Pangeran Sung Thai Cung, yaitu adik kandung Kaisar Sung Thai Cu.

Pangeran Sung Thai Cung ini dahulunya bernama Chou Kuang Tian dan kini dia dipercaya kakaknya menjadi panglima besar angkatan perang Kerajaan Sung.

Usianya empat puluh lima tahun dan dia dahulu menjadi sahabat baik Perwira Kwa.

Surat perkenalan itu akan membuat Han Lin dan Kui Lin dapat diterima sebagai orang yang boleh dipercaya.

Setelah berkemas, pemuda dan gadis itu pun meninggalkan kota Cin-an.

Setibanya di luar kota, Han Lin bersuit nyaring memanggil rajawali.

Terdengar jawaban dari dalam hutan tak jauh dari situ dan tak lama kemudian rajawali itu terbang datang.

"Aih, senang sekali mempunyai rajawali seperti itu. Akan tetapi mengapa engkau tidak membiarkan dia berada gedung ayah bersama kita, Lin-ko?"

"Dia tidak akan betah tinggal di sana! Lin-moi, tidak suka menjadi tontonan. Dia mempunyai dunianya sendiri, yaitu di antara pohon-pohon besar dalam hutan."

Rajawali itu kini meluncur turun dan hinggap di atas tanah dekat Han Lin.

Kui Lin memandang dengan kagum.

Tinggi burung itu hampir sama dengan tinggi badannya sendiri, sepasang sayap dan sepasang kakinya tampak demikian kokoh kuat.

"Lin-ko, aku ingin sekali menungganginya. Mari kita berdua menungganginya dan suruh dia membawa kita terbang ke kota raja!"

"Tidak bisa, Lin-moi. Selain kita berdua terlalu berat baginya, juga dia akan kusuruh pulang membawa suratku kepada Suhu agar Suhu mengetahui ke mana aku pergi dan apa yang akan kulakukan di kota raja."

"Aih, Lin-ko. Masa engkau begini peiit terhadap adik sendiri? Aku hanya ingin menungganginya, sebentar saja! Akan tetapi kalau sendirian, aku takut seperti dulu lagi. Dia pernah melemparkan aku dari atas. Bisa remuk badanku kalau dia lakukan itu lagi."

Han Lin tersenyum.

"Salahmu sendiri, Lin-moi. Tiauw-ko (Kakak Rajawali) ini mempunyai perasaan peka. Kalau orang bersikap hormat dan manis kepadanya, dia pun akan bersikap manis pula. Kalau engkau bersikap keras, seperti dulu engkau memaksanya terbang dan mencabut sehelai bulunya, tentu saja dia marah."

"Lalu bagaimana kalau aku ingin menungganginya, Lin-ko? Suruh dia menerbangkan aku, sebentar saja, aku ingin merasakan menunggang seekor rajawali terbang."

"Aku tidak bisa menyuruh dia menerbangkan orang lain, Lin-moi. Akan tetapi kalau engkau sendiri yang meminta, dengan sikap dan ucapan yang manis, ku kira dia tidak begitu pelit untuk nolak. Mintalah kepada Tiauw-ko, kalau dia setuju, dia akan mendekam sehingga engkau dapat naik ke punggungnya. Kalau dia tidak mau mendekam, itu tandanya dia tidak mau."

Kui Lin lalu menghampiri burung dan berdiri di depannya. Kemudian menjura, mengepalkan kedua tangan depan dada dan memberi hormat sambil berkata dengan suara merdu dan manis penuh rayuan.

"Tiauw-ko yang baik, Tiauw-ko yang gagah perkasa, maafkan aku atas kesalahanku dahulu. Sekarang aku mohon kepadamu, sukalah engkau membawa aku terbang sebentar saja. Maukah engkau Tiauw-ko? Mau, ya. Kakak Rajawali yang baik?"

Han Lin diam-diam merasa geli melihat ulah gadis itu yang bersikap bicara sambil merayu-rayu.

Kalau sudah bersikap seperti itu, Kui Lin benar-benar memiliki daya tarik yang luar biasa, tiap orang pria agaknya pasti jatuh bertekuk lutut menghadapi rayuannya.

Entah kalau rajawali itu.

Akan tetapi, dengan girang dia melihat betapa kepala rajawali itu mengangguk-angguk, lalu kedua kakinya berjongkok, tubuhnya merendah!

Kui Lin bersorak gembira.

"Terima kasih, Tiauw-ko yang baik! Nah, aku akan meloncat ke atas punggungmu, bawa aku terbang ke langit, ya? Aku ingin melancong ke bulan dan bintang-bintang!"

Kata Kui Lin dan ia pun lalu melompat dengan hati-hati sehingga dapat duduk di atas punggung rajawali itu dengan lunak. Rajawali itu memandang kepada Han Lin dan pemuda ini pun mengangguk.

"Bawa ia terbang sebentar, Tiauw-ko. Ia adalah Lin Lin, adikku."

Dia memperkenalkan dan menyebut Kui Lin dengan sebutan Lin Lin yang dianggapnya lebih manis dan menyenangkan.

Rajawali mengeluarkan bunyi melengking, kemudian mengembangkan sayapnya, mengenjotkan kakinya sehingga tubuhnya meloncat ke atas lalu sayapnya mulai bergerak dengan kuatnya.

Tubuhnya melayang dengan cepatnya ke atas.

Lin Lin bersorak gembira sehingga Han Lin ikut pula merasa senang.

Gadis itu benar-benar seperti seorang anak kecil saja.

Akan tetapi kalau teringat akan keganasannya membunuhi penjahat, dia bergidik.

Justeru karena itulah maka dia ingin menemani Kui Lin ke kota raja.

Selain dia memang ingin melihat keadaan di kota raja, dia juga ingin membimbing Kui Lin ke arah jalan yang benar.

Dia merasa sayang kalau gadis itu kelak menjadi seorang yang kejam dan sadis tak mengenal kasihan.

Sekitar seperempat jam rajawali terbang tinggi kemudian menukik turun dan hinggap di atas tanah dekat Han Lin.

"Wah, kenapa turun? Tiauw-ko yang baik, aku masih belum puas. Aku ingin terbang lebih lama lagi. Aku tidak mau turun!"

Ia menendang-nendangkan kakinya seperti anak kecil mengambek (merajuk).

"Turunlah, Lin Lin! Nanti Tiauw-ko marah dan melemparkan kau dari punggungnya!"

Kata Han Lin. Mendengar ini, Kui Lin cepat melompat turun denga takut.

"Lin-ko, kau panggil namaku apa tadi?"

"Lin Lin."

"Wah, aku ingat dulu guruku juga suka memanggil aku Lin Lin!"

"Kau suka kupanggil Lin Lin?"

Gadis itu mengangguk.

"Kalau kau yang panggil, boleh."

Han Lin lalu mengambil sesampul surat yang memang telah dipersiapkan sebelumnya, menghampiri rajawali dan berkata.

"Tiauw-ko, engkau pulanglah ke Puncak Yangliu (Cemara) di Cinlingsan dan berikan surat ini kepada Suhu. Aku akan melakukan perjalanan bersama Lin Lin."

Setelah berkata demikian, Han Lin mengikatkan sampul surat itu kepada bulu di bawah sayap rajawali. Rajawali mengangguk, mengeluarkan pekik lalu melayang dengan cepatnya ke udara.

"Lin-ko, apakah engkau yakin dia akan dapat sampai ke tempat gurumu dan memberikan surat itu kepadanya?"

"Aku merasa yakin, Lin-moi. Tiauwko adalah seekor burung yang sudah terlatih dengan baik. Suhu yang memeliharanya sejak kecil, sejak baru menetas, menyelamatkannya dari serangan ular dan merawatnya sehingga besar. Dia dapat mengerti ucapan yang sederhana, bahkan dapat merasakan getaran perasaan orang, dan lebih lagi, dia pun menguasai gerakan silat sehingga dia dapat menjadi lawan yang cukup tangguh."

Kui Lin menjadi kagum bukan main.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja di Utara.

Sepekan kemudian, Han Lin dan Kui Lin memasuki kota Kan-peng yang tidak begitu besar namun cukup ramai dan mereka menyewa dua buah kamar di sebuah rumah penginapan.

Karena mereka telah melakukan perjalanan selama dua hari dua malam melalui jalan yang sukar dan sunyi tanpa pernah melewati dusun atau pun kota sehingga terpaksa bermalam di hutan dan makan seadanya seperti buah-buahan yang mereka dapat kan di hutan atau daging binatang hutan maka keduanya merasa amat lelah.

Setelah mandi dan makan dari rumah makan yang menjadi bagian penginapan itu keduanya lalu memasuki kamar masing masing dan tidur.

Kui Lin segera menjadi pulas, dan Han Lin biarpun tidur nyenyak pula, namun tetap saja dia memilik kepekaan yang luar biasa.

Sedikit suara di atas genteng suda cukup untuk membangunkannya dari tidur.

Cepat dia melompat turun, mengenakan sepatunya dan keluar dari kamarnya menuju ke kamar Kui Lin.

Ketika itu telah tengah malam dan penginapan itu sudah sepi, semua tamu sudah tidur pulas.

Han Lin cepat menangkap bayangan hitam di jendela kamar Kui Lin.

Daun jendela itu telah terbuka, maka cepat dia menegur.

"Heiii! Siapa itu?"

Bayangan hitam itu terkejut.

Tiba-tiba tangannya bergerak dan ada benda hitam panjang meluncur bagaikan anak panah menuju ke arah dada Han Lin.

Karena khawatir kalau-kalau senjata yang disambitkan itu beracun, Han Lin tidak menangkapnya melainkan memukulnya dari samping dengan hawa pukulan yang amat kuat.

Senjata itu terdorong angin pukulan, membelok dan menancap pada daun pintu kamar Kui Lin.

"Capp "

Dari suaranya dapat diketahui bahwa itu adalah sebuah senjata runcing yang menancap dalam sekali pada daun pintu, tanda bahwa pelontarnya menggunakan tenaga sakti yang amat kuat.

Han Lin cepat melompat ke arah jendela, akan tetapi bayangan hitam itu sudah melompat jauh ke atas genteng dan lenyap dalam kegelapan malam.

Han Lin masih dapat melihat bahwa bayangan hitam itu adalah Cui-beng Lokui, guru dari Tiat-pi Sam-wan.

Agaknya kakek itu merasa sakit hati karena ketiga orang muridnya semua tewas di tangan Kui Lin maka dia datang untuk membalas dendam.

Agaknya sejak Kui Lin meninggalkan Cin-an, kakek itu diam-diam telah membayanginya, akan tetapi karena Han Lin berada di dekatnya, maka dia tidak berani turun tangan.

Baru malam hari ini dia berusaha untuk membunuh Kui Lin yang tidur seorang diri dalam kamarnya.!

Han Lin tidak mengejar kakek itu karena dia amat mengkhawatirkan keselamatan Kui Lin.

Daun jendela itu telah terbuka, siapa tahu apa yang telan dilakukan kakek itu terhadap Kui Lin yang agaknya saking lelahnya tidur begitu pulasnya sehingga tidak dapat mendengar ketika daun jendelanya dibuka orang.

Tanpa pikir panjang lagi karena khawatir akan keselamatan gadis itu Han Lin melompat masuk.

Kamar itu gelap.

Agaknya lampu meja telah dipadamkan.

Dengan jantung berdebar tegang Han Lin meraba-raba dan dapat meraba pembaringan.

Cepat dia menyingkapkan kelambunya dan kedua tangannya meraba-raba.

Kebetulan jari-jari tangannya meraba betis kaki Kui Lin yang tersembul keluar dari selimut.

Han Lin yang tidak dapat melihat, ketika merasa bahwa kedua tangannya memegang bagian tubuh yang panjang, berkulit halus, lunak dan hangat, mengira bahwa dia memegang lengan Kui Lin.

Maka dipegangnya erat-erat betis itu dan diguncangnya.

"Lin Lin! Lin Lin..."

Kui Lin terbangun dan ketika merasa ada yang bergerak-gerak di sekitar betisnya, ia meloncat turun sambil menjerit geli dan ngeri.

"Ular , ular! Ada ular!"

"Hush, Lin-moi. Ini aku, Han Lin!"

"Lin-ko? Aeh, apa-apaan engkau berada di kamarku?"

Cepat gadis itu menyalakan lampu dan setelah kamar itu menjadi terang, ia cepat menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis dan tembus pandang.

Matanya bersinar marah sekali, apalagi melihat jendela kamarnya terbuka.

Jelas pemuda ini memasuki kamarnya dari jendela dan meraba-raba kakinya!

"Kurang ajar!

Beginikah watakmu, Han Lin?

Ternyata engkau seorang laki-laki kurang ajar, tidak sopan!

Laki-laki cabul"

"Lin-moi, tenanglah "

"Jaihwacat (Pemetik Bunga, Penjahat Pemerkosa Wanita)! Kau kau pergi dari sini atau kubunuh kau!"

"Lin-moi!"

Han Lin membentak, juga marah karena dia dimaki-maki dan dituduh yang bukan-bukan.

"Cui-beng Lokui tadi sudah membuka daun jendelamu! untung aku keburu datang dan mengusirnya. Lihat saja apa yang menancap di daun pintu kamarmu!"

Setelah berkata demikian, sekali bergerak Han Lin sudah meloncat keluar dari kamar melalui jendela dan kembali ke kamarnya sendiri.

Dia duduk bersila dan menenangkan hatinya yang terguncang nafsu amarah karena tadi disangka yang bukan-bukan dan dimaki-maki gadis itu.

Setelah Han Lin pergi, cepat Kui Lin menutupkan daun jendela dan ia pun segera mengenakan pakaian luarnya, memakai sepatunya dan membuka daun pintu.

Ketika ia tiba di luar dan memandang, ia menjadi terkejut dan bengong melihat sebatang pedang menancap di daun pintu kamarnya, menancap sampai setengahnya dan menembus papan daun pintu ke dalam.

Inilah semacam hui-kiam (pedang terbang), yaitu pedang yang dapat disambitkan sebagai senjata rahasia dan ia teringat bahwa yang menggunakan Hui-kiam adalah Cui-beng Lokui, guru lari Tiat-pi Sam-wan yang telah dibunuhnya semua!

Ia menoleh ke arah kamar Han Lin yang tertutup daun pintu dan jendelanya.

Teringat ia betapa tadi ia memaki-maki dan menuduh Han Lin kurang ajar, bahkan memakinya sebagai Jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang pekerjaannya memperkosa wanita!

Wajahnya terasa panas dan jantungnya berdebar, tubuhnya terasa lemas penuh penyesalan.

Dengan tangan gemetar, ia mengetuk daun pintu kamar Han Lin.

"Tok-tok-tok "

Tidak ada jawaban. Diketuknya lebih gencar dan lebih kuat lagi.

"Tok-tok-tok-tok-tok!!"

Tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar.

"Lin-ko! Lin-ko, bukalah!"

Masih saja tidak ada jawaban.

Kui Lin termenung.

Apakah Han Lin tidak berada dalam kamarnya?

Atau memang marah dan tidak membuka pintunya, tidak mau menemuinya?

"Lin-ko, bukalah, Lin-ko, ini aku!

Bukalah pintunya, Lin-ko!"

Ia berkata dengan suara memohon dan agak parau karena ia sudah hampir menangis.

Karena tetap tidak ada jawaban, Kui Lin lalu menghampiri daun jendela dan dengan tenaga dalamnya ia mendorong daun pintu sehingga terbuka.

Di dalam kamar itu ia melihat Han Lin duduk bersila di atas pembaringan dan lampu meja masih bernyala terang, la segera melompat masuk dengan ringannya dan menghampiri Han Lin.

"Lin-ko, aku datang untuk minta maaf kepadamu"

Katanya lirih membujuk. Tanpa membuka kedua matanya Han Lin berkata.

"Jangan dekati aku, aku laki-laki kurang ajar, tidak sopan, cabul, aku seorang Jaihwacat. Pergilah, jangan dekati aku!"

Mendengar ini, Kui Lin lalu menjatuhkan dirinya berlutut menghadap pemuda itu.

"Lin-ko, aku mohon ampunkan aku........ aku bersalah padamu............ Lin-ko, jangan membenciku...."

Gadis itu menangis sesenggukan.

"Hemmm, engkau masih menganggap aku laki-laki serendah itu?"

"Tidak, tidak! Maafkan aku, Lin-ko. Aku bodoh sekali. Engkau kembali menyelamatkan nyawaku yang terancam oleh Cui-beng Lokui dan aku malah memaki-makimu! Maafkan, aku tidak sengaja, habis aku kaget, aku terbangun, gelap dan.... ada ular-ular merayap di betisku "

Gadis itu bergidik ngeri. Mau tidak mau Han Lin tertawa.

"Ha-ha-ha, aku tidak menyalahkan kalau engkau terkejut. Akan tetapi lain kali jangan memaki aku seperti itu! Masa ada adik memaki-maki kakaknya begitu rendah? Yang merayap di betismu itu bukan ular, bodoh, tapi jari-jari tanganku. Maafkan aku, habis gelap dan aku ingin melihat apakah engkau tidak celaka oleh kakek itu. Sudahlah, kembali ke kamarmu, tidak enak kalau ada orang mendengarkan kita. Besok saja kita bicarakan hal ini. Selamat tidur, Lin Lin."

Kui Lin tidak menangis lagi, kini malah tertawa.

"Selamat tidur, Lin-ko, dan terima kasih."

Ia melompat keluar dari jendela, menutupkan daun jendelanya dan kembali ke dalam kamarnya. Ia kini menyiapkan pedangnya di bawah bantal.

"Datanglah lagi kau, kakek jahanam Cui-beng Lokui, akan kucincang tubuhmu yang tua itu?"

Katanya gemas sebelum ia jatuh pulas lagi.

Pada keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan.

Han Lin menaseha-kan Kui Lin agar mulai sekarang berhati-hati karena sudah jelas bahwa Cui-beng Lokui mendendam kepadanya karena ia telah membunuh tiga orang muridnya.

"Engkau hadapi ini, Lin-moi. Inilah yang kumaksudkan dengan rantai karma. Semua perbuatan kita pasti mendatangkan akibat. Akibat buruk menyusul perbuatan buruk dan akibat baik menyusul perbuatan baik, cepat atau pun lambat. Karena itu kita harus selalu waspada akan perbuatan kita sendiri dan berusaha agar perbuatan kita selalu baik, menjauhi perbuatan buruk."

Kini Kui Lin sudah mendapat pelajaran pahit semalam dan ia mulai berhati-hati dengan sikap, ucapan, atau perbuatannya. Ia mulai melihat kebenaran yang terkandung dalam ucapan Han Lin.

"Kalau begitu, perbuatanku membunuh orang-orang jahat itu buruk?"

"Lihat saja sendiri, Lin-moi. Baru membunuh Tiat-pi Sam-wan saja, kini akibatnya engkau dikejar-kejar guru mereka yang mendendam dan hendak membunuhmu. Kalau kau lanjutkan keganasanmu suka membunuh orang-orang, bayangkan saja bagaimana nanti hidupmu? Ratusan, bahkan ribuan orang akan selalu mengejarmu dan berniat untuk membalas dendam dan membunuhmu!"

Kui Lin terdiam, agaknya merasa menyesal juga. Melihat wajah manis yang biasa cerah, liar dan gembira itu kini memanjang karena menyesal dan risau, Han Lin merasa tidak tega.

"Tenangkan hatimu, Lin Lin. Yang sudah lalu, biarkan berlalu. Hanya saja, mulai sekarang seyogianya engkau mengubah watakmu, jangan terlalu menuruti gelora perasaan emosimu. Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, akan tetapi bukan berarti kita lalu menjadi hakimi hakim yang menjatuhkan keputusan hukuman sendiri, tidak boleh kita lalu menjadi Giam-lo-ong (Raja Maut). Kita tentang perbuatan jahat akan tetapi tanpa membenci manusianya. Kita tentang yang jahat, kalau dapat kita sadarkan mereka, kalau mereka tidak tunduk, terpaksa kita pergunakan kekuatan untuk mengalahkan mereka dan membiarkan mereka dihukumi oleh yang berwajib, yaitu alat pemerintah yang berwenang untuk mengadili mereka. Hukuman itu pun suatu usaha untuk menyadarkan mereka. Ingat, Lin Lin, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Orang yang melakukan kejahatan berarti dia sedang sakit, bukan badannya yang sakit, melainkan jiwanya. Nasehat atau hukuman dapat saja mengobatinya sampai sembuh. Kalau jiwanya sudah sembuh tidak sakit lagi, tentu wataknya berubah menjadi baik. Sebaliknya, jiwa yang tadinya sehat, bisa saja sewaktu-waktu menjadi sakit karena manusia itu lemah dan nafsu-nafsunya yang amat kuat setiap saat siap untuk menggoda dan menyeretnya melakukan perbuatan sesat demi mencapai keinginan yang didorong oleh nafsunya. Maka, tidaklah bijaksana bagi seorang yang sedang baik wataknya memandang rendah orang lain yang sedang tersesat, seperti tidak bijaksananya seorang yang sedang sehat memandang rendah seorang yang sedang sakit. Harus selalu diingat bahwa yang sakit dapat sembuh, sebaliknya yang sehat dapat juga sakit. Membunuh mereka yang jahat jelas bukan cara terbaik, seperti menanam bibit pohon buah yang tidak baik."

"Lin-ko, aku akan selalu ingat nasehatmu ini akan tetapi bimbinglah aku karena terkadang kalau sedang marah menyaksikan kejahatan dilakukan orang, aku menjadi lupa segala dan ingin membasmi si jahat itu."

Demikianlah, mereka berdua melanjutkan perjalanan ke kota raja dan di panjang perjalanan Kui Lin menerima banyak petunjuk dan nasehat dari Han Lin yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri atau juga gurunya.

Bukit Tengkorak itu sebetulnya tidaklah berapa besar, tingginya juga hanya sekitar lima ratus meter.

Mengapa disebut Bukit Tengkorak, mudah diketahui karena bukit kapur itu dari jauh memang sudah tampak mirip tengkorak manusia.

Tidak ada orang mau tinggal di bukit karena bukit kapur itu tanahnya sama sekali tidak subur.

Orang-orang lebih suka tinggal di bawah bukit yang berada di lembah Sungai Luan di mana tentu saja tanahnya lebih subur.

Semua orang mengetahui bahwa sudah bertahun-tahun di puncak Bukit Tengkorak itu tinggal seorang pertapa wanita dalam sebuah gua besar.

Semua orang di dusun-dusun sekitar Bukit Tengkorak mengenal pertapa yang bernama Thian Te Siankouw itu karena setiap ada yang menderita sakit berat mereka membawanya naik dan menghadap Thian Te Siankouw yang selalu mengobati si sakit dengan suka-rela.

Banyak sudah orang yang dapat sembuh setelah diobati Thian Te Siankouw.

Maka, para penduduk dusun-dusun yang merasa hutang budi kepada pertapa itu, membalasnya dengan menyediakan semua keperluan hidupnya yang tidak banyak.

Hanya sekedar untuk makan sewaktu lapar dan beberapa helai pakaian pengganti.

Beberapa orang tokoh kang-ouw yang kebetulan lewat di daerah itu dan tertarik lalu mengunjungi Thian Te Siankouwmendapat kenyataan bahwa pertapa wanita itu memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Akan tetapi anehya, tidak pernah ia mau menerima murid walaupun banyak orang-orang muda bersujut kepadanya dan mohon menjadi muridnya.

Hal ini terkadang membuat orang-orang kangouw itu menjadi marah dan sengaja menguji kepandaian Thian Te Siankouw, namun tak seorang pun mampu membuat pertapa itu bangkit dari duduknya.

Hanya dengan duduk bersila saja ia mampu mengalahkan dan mengusir semua pengganggunya.

Pada suatu pagi, seorang pemuda berpakaian serba kuning yang gagah dan seorang gadis muda yang cantik, lembut namun tampak gagah pula, tiba di dusun yang berada di kaki Bukit Tengkorak.

Mereka adalah Liu Cin dan Ong Hui Lan.

Seperti kita ketahui, sepasang orang muda ini mendapat petunjuk dari Si Han Lin bahwa kalau mereka, atau lebih tepat Hui Lan, ingin memperdalam ilmu dan mencari guru, dia mendengar dari gurunya bahwa di Puncak Bukit Tengkorak di tepi Sungai Luan itu terdapat seorang pertapa wanita bernama Thian Te Siankouw yang sakti.

Maka Hui Lan lalu mencarinya, ditemani oleh Liu Cin yang diam-diam mencinta gadis itu.

Para penduduk dusun itu tentu saja memandang sepasang orang muda itu dengan heran.

Maklum daerah itu jarang sekali menerima kunjungan orang luar.

alau ada yang kebetulan datang juga mereka adalah orang-orang kangouw yang kasar.

Ketika Liu Cin bertanya kepada tereka tentang Bukit Tengkorak dan Thian Te Siankouw, para penduduk dusun itu dengan gembira menunjuk ke arah Bukit Tengkorak yang tampak dari situ.

"Kongcu (Tuan Muda) dan Kouwnio Nona) tentu hendak minta obat dari Siankouw, bukan? Karena kalau Ji-wi Kalian berdua) minta hal lain, pasti akan ditolaknya.

"Ya benar, kami mau minta obat,"

Jawab Hui Lan yang tidak ingin mendapat banyak pertanyaan kalau ia bilang ingin mencari guru.

"Kami mendengar bahwa selain ilmu pengobatan, Thian Te Siankouw juga merupakan seorang sakti. Benarkah itu?"

Tanya Liu Cin.

"Thian Te Siankouw adalah seorang dewi, bukan manusia biasa, tentu saja beliau sangat sakti! Karena itu, harap Ji-wi tidak main-main kalau berada di sana menghadap beliau."

Kata seorang kakek dengan suara sungguh-sungguh.

"Apakah beliau mempunyai murid?"

Tanya Hui Lan.

"Murid? Siankouw tidak pernah mau menerima murid, hanya mau mengobai orang sakit. Itu saja!"

Mendengar ini, tentu saja hati Hu Lan menjadi gelisah.

Jangan-jangan setelah melakukan perjalanan yang amat sukar, mendaki pegunungan menuruni jurang-jurang dan tebing terjal, setelah bertemu dengan orang yang dicarinya, ia akan ditolak menjadi murid!

Ia tidak boleh ragu.

Segala harus dicoba dulu!

"Mari, Liu Cin, kita pergi menghadap Siankouw!"

Katanya dan mereka mengucapkan terima kasih kepada para penduduk dusun lalu berangkat mendaki bukit kapur itu.

Di lereng bukit itu mereka bertemu dengan beberapa orang dusun yang pulang setelah mengantarkan orang yang sedang menderita sakit dan minta obat, ada pula yang pulang dari mengirim bahan-bahan makanan kepada Siankouw.

Dari mereka inilah Liu Cin dan Hui Lan mendapat petunjuk di mana adanya gua besar tempat tinggal pertapa wanita itu.

Akhirnya mereka berdiri di depan gua tu.

Karena gua itu menghadap ke timur dan saat itu matahari masih berada con-ong di timur walaupun sudah agak tinggi, maka sinar matahari memenuhi gua.

Mereka melihat seorang wanita duduk bersila di atas sebuah batu besar di depan gua, sikapnya seperti seorang dewi dan memang pantas kalau ia disebut dewi.

Wanita itu usianya sekitar lima puluh lima tahun, namun masih tampak cantik, rambutnya yang panjang masih hitam dan wajahnya yang lembut itu masih cerah dan halus tanpa keriput.

Di dalam gua, di belakang wanita itu terdapat buah-buah dan bahan-bahan makanan yang agaknya baru saja dikirimkan ke situ oleh para penduduk dusun.

Hui Lan dan Liu Cin tertegun.

Inikah calon guru yang mereka cari, guru yang ditunjuk oleh Si Han Lin?

Wanita itu mengenakan pakaian kuning dan putih dari kain yang kasar, namun bersih dengan potongan sederhana, mungkin buatan para wanita dusun.

Dua orang muda itu saling pandang, lalu Hui Lan mengangguk dan mereka berdua maju lalu menjatuhkan diri berlutut di depan batu besar itu.

"Siankouw, mohon maaf kalau kedatangan kami mengganggu ketenangan Siankouw yang terhormat."

Kata Hui Lan, karena Liu Cin tidak tahu harus berkata apa.

Yang memiliki kepentingan adalah Hui Lan, dan dia hanya mengantarkan saja.

Thian Te Siankouw membuka kedua matanya dan memandang kepada dua orang muda itu bergantian, lalu terdengar ia berkata, suaranya lembut.

"Kulihat kalian sehat saja, kenapa kalian datang ke sini? Apa yang kalian kehendaki?"

Biarpun suara itu lembut, namun didalamnya mengandung getaran yang penuh wibawa sehingga Hui Lan meras betapa jantungnya berdebar tegang.

Ia pikir, kalau ia langsung minta agar di terima menjadi murid, ia khawatir kalau kalau nenek itu menolak, maka sambi memberi hormat ia berkata.

"Siankouw yang mulia, saya mohon belas kasihan Siankouw agar sudi menolong saya "

"Hemmm, kulihat engkau sehat, tidak sakit "

"Badan saya memang tidak sakit, Siankouw, akan tetapi batin saya sakit, sakit parah sekali, rasanya ingin mati aja."

Thian Te Siankouw mengerutkan alisnya dan menatap wajah Hui Lan penuh perhatian.

Sinar matanya yang tajam itu seolah akan menembus dan menjenguk ke dalam hati gadis itu.

Agaknya ia tertarik dan berkata.

"Engkau menderita sakit hati? Sakit hati apakah yang membuatmu ingin mati saja?"

Tentu saja Hui Lan tidak ingin menceritakan bahwa dirinya telah diperkosa oleh Chou Kian Ti, apalagi di depan Liu Cin.

Malapetaka itu akan ia rahasiakan untuk dirinya sendiri, tidak akan diceritakannya kepada siapapun juga, kecuali mungkin, kalau terpaksa, kepada ayah ibunya.

"Siankouw, saya merasa sakit hati sekali karena telah ditipu. Ayah ibu saya telah menerima lamaran Jenderal Chou yang hendak menjodohkan saya dengan puteranya. Saya menerimanya karena saya harus berbakti kepada orang tua saya. Akan tetapi ternyata Jenderal Chou itu melamar saya untuk puteranya bukan karena puteranya ingin menikah dengan saya, melainkan karena keluarga Chou itu hendak memanfaatkan tenaga saya untuk membantu rencana pemberontakan mereka. Saya menolak dan mereka menghina dan memaki saya. Saya melawan akan tetapi kalah, maka saya mohon Siankouw sudi mengajarkan ilmu silat tinggi kepada saya agar saya dapat membalas perlakuan mereka dan terutama sekali agar saya mampu menantang mereka yang hendak memberontak kepada Sribaginda Kaisar."

Thian Te Siankouw menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa mengajarkan ilmu silat, kalau engkau mau belajar ilmu pengobatan, boleh saja."

"Tolong, Siankouw. Saya melakukan itu bukan sekadar membalas dendam, melainkan terutama sekali untuk menentang dan menghalangi niat mereka untuk membunuhi para pejabat tinggi yang setia kepada Sribaginda Kaisar."

Kembali Thian Te Siankouw menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak mempunyai urusan dengan dendam atau pun pemberontakan. Biar mereka yang berkepentingan saja yang mengurusnya." (Lanjut ke

Jilid 13) Si Rajawali Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Siankouw yang mulia, tolonglah saya..... saya.... tidak akan bangkit berdiri lagi sebelum Siankouw mengabulkan permohonan saya dan menerima saya sebagai murid..."

Hui Lan tidak dapat menahan kesedihan hatinya dan mulailah ia menangis teringat akan dendamnya kepada Kian Ki yang tidak mungkin dapat terbalas kalau ia tidak memperoleh bimbingan seorang guru yang sakti.

Mendengar ini, nenek itu mengerutkan alisnya lagi, akan tetapi ia tetap menggeleng-gelengkan kepalanya, bahkan ia lalu memejamkan kedua matanya lagi, tidak mempedulikan dua orang mu yang berlutut di depannya itu.

Liu Cin merasa iba sekali kepada Hu Lan.

Dia dapat merasakan betapa besa kekecewaan hati gadis itu yang ditolak mentah-mentah oleh Thian Te Siankouw.

Apalagi kini melihat gadis yang dicinta nya itu menangis sedih sedangkan nenek yang dimintai tolong sama sekali tidak mempedulikan malah memejamkan mata nya kembali.

Perutnya terasa panas!

"Sudahlah, Hui Lan!"

Katanya dengan nyaring.

"Tidak ada gunanya lagi minta minta kepadanya. Seorang yang telah menggunakan julukan Siankouw biasanya berhati penuh belas kasihan kepada orang, akan tetapi mungkin yang satu ini merupakan kekecualian. Lebih baik engkau menghadap gurumu, Locianpwe Tiong Gi Cinjin, dan minta beliau melatihmu lagi untuk memperdalam ilmu silatmu."

"Siapa??"

Pertanyaan yang merupakan teriakan ini mengejutkan Liu Cin dan Hui Lan. Mereka memandang dan melihat nenek itu sudah membuka matanya dan kini memandang tajam kepada Hui Lan.

"Siapa nama gurumu, Nona?"

"Suhu bernama Tiong Gi Cinjin,"

Kata Hui Lan sambil mengusap air matanya dan berhenti menangis.

"Dia mempunyai tahi lalat di dagu kanannya dan tubuhnya agak pendek?"

Nenek itu bertanya cepat.

"Benar, Siankouw, Suhu Tiong Gi Cinjin mempunyai tahi lalat di dagu kanannya dan beliau agak pendek dan gemuk."

"Ahhh, dulu dia tidak gemuk "

Nenek itu berdiam diri, memandang ke atas seperti orang melamun.

"Siankouw mengenal Suhu?"

Tanya Hui Lan, harapannya timbul kembali.

"Hemmm berapa lamanya engkau belajar silat dari Tiong Gi Cinjin?"

"Sekitar sepuluh tahun, Siankouw."

"Hemmm, sepuluh tahun? Kalau begitu, tingkat kepandaianrnu sudah cukup kuat. Apalagi yang dapat kuajarkan kalau Tiong Gi Cinjin sudah melatihmu selama sepuluh tahun? Dan engkau, orang muda, apakah engkau juga ingin belajar silat?"

Sebetulnya, Liu Cin hanya ingin mengantar dan menemani Hui Lan saja akan tetapi untuk mendukung gadis itu dia pun berkata dengan tegas.

' Benar Siankouw, saya ingin memperdalam ajpa yang pernah saya pelajari."

"Siapa gurumu? Apakah Tiong Gi Cin-jin juga?"

"Bukan, guru saya adalah Ceng Iri Hosiang dari Siauwlimpai."

"Hemmm, murid Siauwlimpai? Mengapa masih harus memperdalam ilmu silat! mu?"

"Agar saya memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menentang kejahatan, dan menegakkan kebenaran dan keadilan Siankouw."

Kembali Thian Te Siankouw mengamati wajah kedua orang muda itu beri gantian. Kemudian ia menghela napas panjang dan bertanya;

"Siapa nama kalian?"

"Saya bernama Ong Hui Lan, Siankouw."

"Saya bernama Liu Cin."

"Liu Cin, engkau mencinta Hui Lan, bukan?"

Tiba-tiba nenek itu bertanya dari pertanyaan tiba-tiba ini tentu saja membuat Liu Cin terkejut dan dia menjawab gagap.

"Apa maksud Siankouw? Ini..... hal ini saya "

"Seorang gagah harus berani berkata sejujurnya. Jawabanmu penting sekali bagiku untuk memutuskan apakah aku dapat mengajarkan sesuatu kepada kalian ataukah tidak. Hayo jawab sejujurnya, apakah engkau mencinta Hui Lan?"

Pada dasarnya memang Liu Cin memiliki watak yang terbuka dan jujur, maka dia menjawab dengan tegas.

"Benar, Siankouw, saya mencinta Hui Lan!"

"Dan engkau, Hui Lan, apakah engkau mencinta Liu Cin?"

Kini nenek itu bertanya kepada Hui Lan.

Gadis itu menundukkan mukanya yang berubah merah sekali.

Bukan hanya merah karena merasa malu, akan tetapi juga karena diam-diam tanpa suara ia menangis karena terharu.

Mendengar Liu Cin mengatakan bahwa dia cinta padanya dengan begitu tegas, ia merasa terharu sekali.

Memang ia dapat melihat dari sinar mata, gerak-gerik, suara dan juga sikap Liu Cin yang selama ini selalu membelanya, bahwa pemuda itu mencintanya.

Akan tetapi mendengar Liu Cin demikian tegas menyatakan cintanya, ia merasa terharu.

Liu Cin terlalu baik baginya, sedangkan ia sendiri, ia sama sekali tidak berharga untuk menerima cinta kasih Liu Cin.

Ia seorang gadis yang telah ternoda!

"Hayo, Hui Lan, engkau harus menjawab agar aku dapat menentukan apakah aku dapat membantu kalian mempelajari sesuatu ataukah tidak!"

Kata Thian Te Siankouw mendesak.

Hui Lan tidak berani berbohong.

Dalam keadaan menderita kepedihan batin seperti ini, bagaimana mungkin ia memikirkan tentang cinta?

Akan tetapi tentu saja ia kagum, dan suka kepada Liu Cin.

"Siankouw, saya merasa suka dan kagum kepada Liu Cin."

Akhirnya ia menjawab.

"Bagus! Itu sudah cukup sebagai awal cinta! Untuk mempelajari ilmu ini terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama mempelajari ilmu ini harus dilatih oleh sepasang pria dan wanita. Kedua, mereka haruslah pria dan wanita yang saling mencinta. Dan ke tiga, mereeka harus memiliki tenaga sakti yang cukup kuat untuk dapat mempelajari ilmu mi. Nah, syarat pertama dan ke dua telah kalian miliki, yaitu kalian adalah sepasang pemuda dan gadis yang saling mencinta, sekarang syarat ke tiga dan hal ini haruslah aku yang mengujinya. Kalian bangkitlah dan saling mengunci jari-jari sebelah tangan satu kepada yang lain dan berdiri di hadapanku lalu memasang kuda-kuda sambil mengerahkan seluruh tenaga sinkang kalian. Aku akan mendorong kalian dengan kedua tanganku, kalian sambut dengan sebelah tangan kalian dan pertahankan dirimu, jangan sampai kalian terdorong jatuh. Kalau kalian sampai terjatuh, berarti tenaga sinkang masih kurang kuat untuk mempelajari ilmu itu. Akan tetapi kalau dapat bertahan sehingga tidak sampai jatuh, berarti kalian boleh mempelajarinya. Nah, bersiaplah!"

Karena ingin sekali mempelajari ilmu silat tinggi, Hui Lan dengan penuh semangat sudah berdiri di sebelah kanan Liu Cin.

la dan pemuda itu menyatukan jari-jari sebelah tangan mereka, lalu dengan tubuh sedikit merendah mereka memasang kuda-kuda dan menyatukan tenaga sinkang mereka kemudian Hui Lan menjulurkan tangan kanannya ke depan sedangkan Liu Cin menjulurkan tangan kirinya ke depan, siap menyambut serangan dorongan nenek yang hendak menguji mereka itu.

Dengan masih duduk bersila di atas batu, Thian Te Siankouw berkata.

"Majulah lagi agar tangan kalian dapat bertemu kedua tanganku."

Dua orang itu melangkah dekat dan kini berdiri dekat sehingga kedua telapak tangan Thian Te Siankouw yang dijulurkan ke depan itu dapat bertemu dengan dua telapak tangan mereka.

"Kalian sudah siap?"

Dua orang muda itu mengangguk.

Tiba-tiba mereka merasa betapa dari telapak tangan nenek itu ada hawa yang panas dan kuat sekali mendorong mereka.

Mereka segera mengerahkan dan menyatukan tenaga melalui kedua tangan mereka menahan dorongan itu sekuatnya.

Tak lama kemudian, kedua tangan nenek yang amat panas itu seketika berubah dingin seperti es!

Dua orang muda itu terkejut, akan tetapi dengan penuh semangat mereka tetap bertahan walaupun perubahan hawa dari amat panas menjadi amat dingin itu menyusup ke dalam tubuh dan membuat tubuh mereka terasa ngilu.

Mereka tetap bertahan walaupun Thian Te Siankouw mengubah-ubah hawa sin-kangnya.

"Pertahankan ini!"

Nenek itu membentak dan tiba-tiba ia mendorongkan-kedua telapak tangannya itu sepenuh tenaganya.

Bagaikan disambar badai, sepasang muda mudi itu terdorong mundur, akan tetapi kaki mereka tetap menginjak tanah, tak pernah diangkat walaupun mereka terdorong mundur sampai hampir dua tombak jauhnya!

Dan mereka tidak sampai roboh!

Thian Te Siankouw bangkit berdiri lalu melompat turun dari atas batu.

Tubuhnya ternyata tampak ramping ketiak ia turun dan berdiri.

Wajahnya berseri memandang dua orang muda itu.

"Bagus, kalian berdua memenuhi tiga syarat, agaknya kalian memang berjodoh dengan Ilmu Thian-te Im-yang Sin-ku yang luar biasa itu."

Hui Lan melangkah maju dan berlutut di depan kaki nenek itu, diikuti oleh Li Cin.

"Subo (Ibu guru)!"

Mereka berdua memberi hormat.

"Eiiittt eittttt! Jangan, aku bukan gurumu, bangkitlah, aku bukan! gurunmu dan jangan sekali-kali menyebut Subo kepadaku. Duduklah di atas batu-batu di luar itu dan tunggu aku sebentar."

Liu Cin dan Hui Lan saling pandang, akan tetapi biarpun, merasa heran mereka tidak berani membantah.

Mereka bangkit dan menghampiri batu-batu di luar gua dan duduk di situ.

Sementara itu, Thian Te Siankouw memasuki gua besar itu dan tak lama kemudian ia sudah keluar lagi membawa sebuah buntalan kain kuning.

Ia lalu duduk bersila di atas batu yang berhadapan dengan dua orang muda itu dan setelah menatap wajah mereka berdua, ia menghela napas panjang lalu berkata.

"Ketika muda, aku bertemu dengan seorang nenek tua renta yang sudah mendekati ajalnya. Ia meninggalkan sebuah kitab kepadaku, yaitu kitab pelajaran ilmu silat yang disebut Thian-te Im-yang Sin-kun dengan pesan bahwa isi kitab itu harus dipelajari sepasang pria dan wanita yang saling mencinta dan yang sudah memiliki dasar tenaga dalam yang kuat. la mengatakan pula bahwa kalau dipelajari seorang saja, baik pria maupun wanita, dapat membahayakan orang itu sendiri. Pada waktu itu aku mempunyai seorang sahabat baik, yaitu Lo Tiong Gi yang kini menjadi Tiong Gi Cinjin gurumu itu, Hui Lan. Aku menawarkan untuk mempelajari dan melatih ilmu dalam kitab itu bersama, akan tetapi dia menolak menganggap aku sebagai sahabat baik, tidak lebih! Kami saling berpisah dengan perasaan tidak enak. Aku sendiri tersiksa dan memilih hidup sebagai pertapa. Aku sudah mencoba untuk memperdalam ilmuku dan sudah pernah aku memberanikan diri berlatih seorang diri menurut isi kitab ini. Akan tetapi hampir saja aku menjadi gila atau mungkin mati tersiksa sebagai akibatnya. Untung aku tidak terlambat menghentikannya. Nah, sekarang, mendengar bahwa engkau murid Lu Tiong Gi dan engkau ingin sekali mempelajari ilmu silat yang tinggi, aku berikan kitab ini kepada dan engkau dapat mempelajari dan melatihnya bersama Liu Cin. Akan tetap aku tidak mau kalian anggap sebagai guru karena gurumu adalah penulis kitab ini yang tidak kuketahui siapa orangnya. Bahkan nenek yang dulu memberikan kitab ini kepadaku juga tidak sempat kukenal namanya."

Dengan girang Hui Lan menerima kitab itu. Sambil berlutut ia mengucapkan terima kasih, diturut oleh Liu Cin.

"Banyak terima kasih kami ucapkan"

Siankouw. Biarpun kami tidak boleh menyebutmu sebagai guru, namun di dalam hati kami akan selalu menganggapmu sebagai guru."

"Hemmm, sekarang kuanjurkan kalian pergi ke sebelah selatan bukit ini. Disana ada sebuah bukit yang oleh para penduduk dusun disebut Bukit Siluman. Terdapat sebuah gua besar di puncaknya dan tak seorang pun penduduk berani mendaki puncak itu karena mereka beranggapan bahwa di sana merupakan tempat tinggal siluman. Kalian dapat melatih diri dengan tenang. Inti pelajaran kitab ini ditekankan kepada latihan ilmu sinkang. Gerakan silatnya hanya ada tujuh jurus, maka kalau memang kalian tekun dan berbakat, dalam waktu sebulan saja kalian sudah dapat merampungkan latihan kalian. Nah, pergi dan carilah Bukit Siluman itu."

Hui Lan dan Liu Cin kembali mengucapkan terima kasih, lalu mereka pergi mencari bukit itu.

Setelah menemukannya dan memasuki gua besar di puncaknya, mereka berdua mulai mempelajari isi kitab Thian-te Im-yang Sin-kun.

Ternyata benar seperti yang dikatakan Thian-te Siankouw, inti pelajarannya adalah bersamadhi, mengatur pernapasan dan menghimpun tenaga sakti yang dilakukan berdua!

Mereka harus duduk bersila berhadapan, terkadang mempertemukan kedua telapak tangan mereka satu sama lain dan mempersatukan tenaga sakti lalu mengendalikan tenaga itu bersama-sama.

Ada kalanya mereka melatih gerakan silat yang hanya tujuh jurus itu.

Namun tujuh jurus yang luar biasa dan dilakukan secara berpasangan pula!

Setelah kurang lebih satu bulan, mereka berdua dapat menguasai ilmu Thian-te Im-yang Sin-kun dan mendapat kenyataan bahwa biarpun masing-masing memperoleh kemajuan besar sehingga tenaga sakti mereka bertambah kuat sekali, namun kepandaian dan kekuatan yang mereka dapatkan itu harus mencapai puncak kehebatannya kalau mereka melakukan berdua untuk menghadapi lawan yang tangguh.

Ilmu itu adalah ilmu berpasangan antara unsur Im (positive) dan Yang (negative) Kedua unsur yang saling berlawanan ini, seperti tenaga Bulan dan Matahari, atau Wanita dan Pria, kalau dipersatukan memang akan menghasilkan kekuatan yang amat dahsyat.

Setelah merasa telah menamatkan pelajaran itu.

Hui Lan dan Liu Cin kelluar dari gua di puncak Bukit Silumai dan hendak menuruni Bukit Siluman.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan ada angin yang kuat sekali mengguncang pohon-pohon di depan mereka.

Mereka terkejut dan cepat memandang ke depan dan siap siaga.

Tak lama kemudian muncullah makhluk yang menyeramkan.

Sepasang orang muda itu maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang manusia, namun keadaan manusia itu sungguh menyeramkan.

Tubuhnya tinggi besar sekitar tujuh kaki sehingga tinggi Liu Cin hanya sampai pundak raksasa itu.

Tubuh dengan pakaian pertapa yang sudah banyak robek itu juga amat kekar, dengan otot-otot seperti kawat besar melibat-libat lengan, dan dadanya, tonjolan-tonjolan otot yang membayangkan tenaga yang mengerikan.

Mukanya seperti muka singa, penuh brewok, sepasang matanya yang lebar itu mencorong.

Liu Cin dan Hui Lan saling pandang.

Agaknya inilah yang membuat bukit itu disebut Bukit Siluman.

Tentu mahluk ini yang dianggap siluman oleh penduduk, sukar menaksir usianya, akan tetapi tentu sudah setengah abad lebih.

Liu Cin yang berhati-hati segera maju dan mengikat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan dan dia berkata.

"Maaf, Sobat. Kami hanya ingin lewat dan menuruni bukit ini, harap engkau tidak menghalangi kami."

Akan tetapi orang atau makhluk itu hanya menggereng-gereng seperti orang sambil menuding-nuding ke arah yang berlawanan, seolah mengusir mereka agar kembali dan mengambil jalan lain.

"Kami tidak mencari permusuhan, akan tetapi minggirlah dan biarkan kami lewat!"

Bentak Liu Cin dan dia lalu mendorongkan tangannya untuk membuat makhluk itu minggir.

Akan tetapi orang liar itu dapat mengelak cepat dan lengannya yang besar bergerak, tangannya menampar ke arah pundak Liu Cin!

Merasa betapa tamparan Itu mendatangkan angin pukulan yang amat dahsyat, Liu in mengelak dan dia balas memukul lawannya memapaki dengan telapak tangan.

"Desssss....!!"

Demikian kuatnya tenaga dorongan makhluk itu sehingga tubuh Liu Cin terjengkang dan dia tentu akan roboh kalau saja tidak cepat membuat poksai (salto) ke belakang sampai tiga kali sehingga terhindar dari bantingan.

Hui Lan marah melihat Liu Cin terdorong mundur.

"Haittttt....."

Ia maju menyerang dan memukul ke arah dada raksasa itu. Kembali makhluk itu menyambut dengan telapak tangannya yang lebar.

"Desssss..!"

Tubuh Hui Lan juga terlempar ke belakang.

Seperti yang dilakukan Liu Cin ia pun berjungkir balik beberapa kali sehingga tidak sampai terbanting roboh.

Setelah latihan selama satu bulan menurut petunjuk kitab Thian-te Im yang Sin-kun, bukan hanya dikerahkan kalau ia menggabungkan tenaganya dengan tenaga Liu Cin yang menjadi pasangannya berlatih.

Kini makhluk yang memiliki tenaga amat besar itu sudah lari lagi mendekati mereka.

Hui Lan dan Liu Cin tahu apa yang harus mereka lakukan.

"im-yang Sin-kang."

Keduanya berseru dan tangan kanan Liu Cin kini bersatu dengan tangan kiri Hui Lan.

Ketika makhluk itu menyerang dengan kedua telapak tangan yang dipukulkan ke depan, mereka menyambut dengan kedua tangan mereka.

"Blarrr..."

Tubuh makhluk liar Itu terlempar dan roboh.

Akan tetapi dia memang tangguh sekali.

Begitu terbanting jatuh, dia bergulingan lalu melompat bangun dan melarikan diri sambil mengeluarkan teriakan-teriakan liar, agaknya lari ketakutan.

Hui Lan dan Liu Cin merasa girang sekali.

Mereka kini dapat memperoleh bukti kehebatan ilmu yang mereka latih selama sebulan di gua puncak Bukit Siluman itu.

Mereka kini mendaki Bukit Tengkorak.

Dalam perjalanan menuruni Bukit Siluman lalu mendaki Bukit Tengkorak ini pun mereka merasa betapa mereka dapat berlari lebih cepat daripada sebelum melatih ilmu dari kitab pemberian Thian Te Siankouw.

Thian Te Siankouw duduk di atas batu depan guanya seperti biasa ketika dua orang muda itu datang menghadapnya, Hui Lan dan Liu Cin segera menjatuhkan diri berlutut di depan pertapa wanita itu karena hati mereka merasa girang dan berterima kasih sekali kepadanya.

Mereka melaporkan bahwa mereka telah melatih diri menurut kitab itu dan memperoleh kemajuan yang nyata.

Hui Lan juga mengembalikan kitab Thian-te Im-yang Si kun itu kepada Thian Te Siankouw sambil mengucapkan terima kasih.

Kemudian ia menceritakan tentang makhluk liar yang menghadang mereka dan yang dapat mereka kalahkan.

"Siancai..,..! Dia bertemu dengan kalian dan dengan Thian-te Im-yang Si kun kaitan dapat mengalahkannya? Kalau begitu kalian benar-benar telah berhasil!"

"Akan tetapi siapakah makhluk liar itu, Siankouw? Dia itu manusia ataukah siluman?"

Tanya Liu Cin. Thian Te Siankouw menghela napa panjang.

"Kasihan sekali dia Liu Cin. Dia itu seorang manusia yang lihai dan dahulu dia seorang Saikong (sebangsa pendeta To). Agaknya dia merupakan seorang yang menjadi korban cinta tidak mendapat sambutan sehingga wataknya menjadi aneh.Dia bertapa dan tidak pernah meninggalkan Bukit Siluman, makan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang hutan di bukit itu. Dan semenjak dia tinggal di situ, maka bukit itu disebut Bukit Siluman oleh penduduk dusun. Saikong itulah yang dianggap silumannya. Akan tetapi dia tidak pernah mengganggu orang, asal dia tidak diganggu. Tadi kukira dia mengira bahwa kalian akan mengganggunya, maka dia menjadi marah."

Hui Lan merasa terpukul perasaannya mendengar ucapan pertapa itu.

"Siankouw, apakah selalu cinta itu mendatangkan derita batin kepada manusia?"

Ia teringat akan keadaannya sendiri. Thian Te Siankouw tersenyum.

"Ada dua macam cinta, Hui Lan, Cinta yang suci murni tidak mementingkan diri sendiri dan cinta ini mendatangkan kebahagiaan. Yang seringkali mendatangkan derita adalah cinta nafsu yang selalu haus akan kesenangan bagi dirinya sendiri sehingga seringkali menimbulkan kekecewaan dan duka."

Setelah menerima nasehat dari Thian Te Siankouw agar mereka berdua tetap menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan membela orang-orang lemah yang tertindas, Hui Lan dan u Cin lalu turun dari Bukit Tengkorak dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke kota raja!.

Perjalanan ke kota raja sekali ini bagi Hui Lan bukan sekadar ingin membalas dendamnya kepada Chou Kian Ki, akan tetapi terutama sekali karena ia ingin membela Kaisar Sung Thai Cu dan menentang Keluarga Jenderal Chou yang merencanakan pemberontakan dengan membunuhi para pejabat tinggi yang setia kepada Kaisar!

Di antara anggauta keluarga Kaisar Sung Thai Cu yang dulunya bernama Chou Kuang Yin, yang paling dekat dengan Sri baginda Kaisar adalah Chou Kuang Tian, adik Chou Kuang Yin yang setelah kakaknya menjadi kaisar lalu memperoleh sebutan Sung Thai Cung.

Pangeran Sung Thai Cung ini berusia kitar empat puluh lima tahun.

Sewaktu mudanya dulu, seperti juga kakaknya, menjadi tentara dan sudah memperoleh kedudukan cukup tinggi dalam angkatan perang sebagai seorang perwira tinggi Setelah kakaknya menjadi kaisar, Kuang Tian atau Pangeran Sung Cung tidak memegang jabatan tertentu akan tetapi dia dekat dengan kakak nya yang menjadi kaisar dan terkadang bertindak sebagai penasehat kaisar dan melakukan pengawasan terhadap para pejabat tinggi kota raja.

Pangeran Chou Kuang Tian atau Sung Pwi Cung bertubuh tinggi tegap dan gagah.

Sebagai bekas perwira tinggi yang sudah berpengalaman tentu saja dia seperti juga kakaknya, ahli dalam ilmu perang dan memiliki iimu silat yang cukup tangguh.

Dia seorang ahli panah pandai dan ilmu tombaknya juga kuat.

Selain gagah, pangeran ini juga amat setia dan patuh kepada kakaknya yang kini menjadi Kaisar Sung Thai Cu kaisar pertama pendiri Kerajaan Sung.

Selain menjadi pena sehat kakaknya tinggal pula di dalam istana, di bahagian timur bersama keluarga Pangeran Sung Thai Cung ini pun diberi tugas untuk mendidik dan melindungi keponakannya yaitu Pangeran Thian Cu, putera Kaisar Sung Thai Cu yang ketika itu berusia lima tahun.

Biarpun sebagai putera Kaisar yang dapat juga sebut Putera Mahkota karena Pangeran Thian Cu merupakan putera permaisuri, Pangeran Thian Cu memiliki pasukan pengawal khusus yang menjaganya, namun tetap saja Kaisar minta bantuan adiknya untuk mengamati dan menjaga keselamatan puteranya.

Juga biarpun di istana terdapat banyak ahli sastra dan ahli tatanegara yang dapat mendidik Pangeran Thai Cu, Tetap saja Kaisar Sung Thai Cu minta kepada Chou Kuang Thian, adiknya itu, untuk mendidik puteranya soal kemiliteran dan mengawasi pendidikan sastra dan tatanegara yang diberikan oleh guru-guru yang pandai.

Oleh karena itu Pangeran Thian Cu yang masih kecil itu lebih banyak tinggal di bagian istana sebelah Timur yang menjadi tempat tinggal Pangeran Chou Kuang Tan.

Pada suatu sore.

Pangeran Thian Ci bermain-main di taman bunga yang berada di samping bangunan tempat tinggi Pangeran Chou Kuang Tian, bersama dua orang putera Pangeran Chou Kuang Tian yang usianya tujuh dan sembilan tahun.

Yang mengawasi dan menjaga Pangeran Thian Cu saat itu adalah tiga orang pengawal dari pasukan pengawal khusus yang diperbantukan kepada Chou Kuang Tian untuk menjaga keselamatan Pange-Mahkota Thian Cu.

Mereka bertiga duduk dengan santai di atas bangku sambil menonton tiga orang anak bangsawan bermain-main.

Tiba-tiba datang dua orang berpakaian perajurit pengawal memasuki taman itu.

Tiga orang perajurit yang menjaga keselamatan Pangeran Mahkota Thian Cu memandang dengan heran.

Mereka tidak mengenal dua orang perajurit pengawal itui padahal tentu saja mereka mengenai semua perajurit yang bertugas di situ.

Tiga orang pengawal itu menjadi curiga dan cepat mereka berlari, mengejar karena dua orang perajurit yang tidak mereka kenal itu mendekati anak-anak yang sedang bermain-main.

"Hei kalian berdua, berhentilah!"

Bentak mereka.

Tiba-tiba dua perajurit tak dikenai itu mencabut pedang.

Setelah tiga orang penjaga itu dekat, langsung saja mereka berdua menyerang dengan pedang mereka, tiga orang perajurit sudah mencabut golok dan melawan.

Seorang di antara dua perajurit palsu itu berkata kepada kawannya.

"Cepat laksanakan tugas, biar aku yang menahan tiga ekor anjing ini!"

Pangeran Mahkota Thlan Cu dan dua orang saudara sepupunya melihat perkelahian itu dan melihat pula betapa seorang di antara dua orang perajurit menghampiri mereka dengan pedang di tangan Pangeran Thian Cu yang baru berusia lima tahun itu sama sekali tidak measa takut, bahkan dia berdiri tegak, bertolak pinggang dan membentak perajurit palsu yang menghampirinya dengan sikap mengancam.

"Siapa engkau dan mau apa engkau?"

Pembunuh yang menyamar sebagai perajurit itu tiba-tiba tersentak dan tercengang karena dalam bentakan anak kecil itu terkandung wibawa yang amat besar.

Sejenak dia berdiri diam seperti patung dan hal ini menyelamatkan nyawa pangeran kecil itu karena pada saat itu muncul Pangeran Chou Kuang Tian.

Dia melihat perajurit itu menggerakkan pedangnya akan menyerang Pangeran Thian Cu.

"Jahanam!"

Chou Kuang Tian melompat dan kakinya menendang.

Pembunuh itu terpaksa mengelak dan tidak jadi membacok Pangeran Thian Cu.

Chou Kuang Tian sudah menerjangnya dengan pedang dan mereka berdua segera berkelahi dengan seru.

Akan tetapi, pembunuh itu tidak mampu menandingi kelihaian Chou Kuang Tian dan setelah lewat belasan jurus, pedang di tangan Chou Kuang Tian atau Pangeran Sung Thai Cung itu telah menembus dadanya dan dia pun terkulai roboh dan tewas.

Sementara itu, pembunuh ke dua masih dikeroyok tiga orang perajurit pengawal dan dia bahkan telah merobohkan seorang perajurit dan perajurit yang dua orang lagi sudah terdesak, tidak mampu mengimbangi kelihaian penjahat itu.

Melihat ini, Chou Kuang Tian melompat dan menyerang dengan pedangnya.

Pembunuh itu hanya mampu bertahan sepuluh jurus.

Tiba-tiba lengan kirinya terbabat pedang dan putus sebatas pergelangan tangannya.

Pedangnya terlepas dan sebelum dia dapat melarikan diri, kaki Chou Kuang Tian menendang lututnya dan dia pun roboh.

Chou Kuang Tian menodongkan pedangnya ke leher orang itu dan menghardik.

"Hayo cepat katakan siapa yang mengutusmu membunuh Pangeran Mahkota Kaiau tidak mau mengaku, akan kupotong potong sedikit demi sedikit bagian tubuhmu "

Pembunuh itu agaknya hendak bunuh diri dengan menelan sesuatu karena tangan kirinya mengeluarkan sebuah pil dari saku bajunya.

"Crakkk"

Putuslah tangan kirinya terbabat pedang Chou Kuang Tian.

"Cepat katakan atau aku mulai memotong telinga dan hidungmu!"

Diancam demikian, pembunuh itu ketakutan. Kalau dibunuh mati dia tidak takut, akan tetapi disiksat dipotong sedikit-sedikit, sungguh amat nyeri dan tersiksa setengah mati.

".... ampunkah hamba... yang mengutus.... ada tiga orang..... mereka menanti di luar tembok gerbang sebelah selatan....."

Pedang di tangan Chou Kuang Tian berkelebat dan pembunuh itu pun tewas, beberapa orang perajurit pengawal berlari-lari ke dalam taman.

"Lindungi Pangeran dan bawa ke dalam gedung. Urus mayat-mayat ini!"

Katanya dan cepat Pangeran Sung Thai Cung lari ke istal lalu tak lama kemudian kudanya sudah membalap keluar dari kota raja melalui pintu gerbang selatan.

Setelah tiba di luar tembok kota raja, di jalan umum yang sudah sepi di tepi persawahan, dia melihat tiga orang berdiri di tepi jalan.

Dia segera menahan kudanya dan setelah kuda itu berhenti tak jauh dan mereka, Chou Kuang Tian dapat melihat mereka dengan jelas.

Saat itu sudah menjelang senja, namun sinar matahari sore masih cukup terang.

Dia melihat seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus berpakaian seperti tosu akan tetapi pakaiannya dari sutera halus dan mewah, berpedang di punggungnya, dan orang ke dua juga seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun, tinggi besar berkulit kehitaman wajahnya brewok menyeramkan dan pinggangnya digantungi sebatang golok besar dan di punggungnya tampak sebatang gendewa dan tempat anak panah.

Orang ini dari pakaiannya dapat diketahui bahwa dia bukan Pribumi Han, melainkan dari Suku Khitan, suku yang terkenal gagah berani, pandai menunggang kuda dan pandai pula mempergunakan anak panah.

Orang ke tiga membuat Chou Kuang Tian merasa heran karena ia adalah seorang gadis muda, paling banyak dua puluh lima tahun usianya.

Gadis itu cantik manis, senyum dan gerakan matanya mengandung daya tarik yang amat kuat.

Pakaiannya indah dan di rambutnya terdapat tiga batang bunga merah.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Pinggangnya ramping sekali dan biarpun la berdiri, tubuhnya bergoyang-goyang lembut seperti pohon yang-liu tertiup angin sepoi-sepoi.

Chou Kian Tian merasa sangsi.

Inikah orang-orang yang mengirim dua orang penjahat untuk membunuh Pangeran Mahkota tadi?

Akan tetapi siapa mereka dan mengapa mereka menyuruh orang membunuh Pangeran Mahkota?

Satu-satunya yang mungkin melakukannya adalah orang berpakaian Khitan itu.

Tidak terlalu mengherankan kalau bangsa Khitan hendak membunuh Pangeran Mahkota karena mereka memang selalu merupakan pihak yang ingin menguasai Cina.

Tiba-tiba Chou Kuang Tian teringat.

Kakek tinggi kurus itul Dia cepat melompat turun dan atas punggung kudanya, lalu menghampiri tiga orang yang memandangnya dengan sikap tak acuh.

Chou Kuang Tian langsung saja menghadapi kakek tinggi kurus berpakaian seperti tosu itu.

"Maaf, kalau tidak salah Totiang (Bapak pendeta) adalah pembantu dari Jenderal Chou Ban Heng, dan berjuluk Hong-san Siansu, benarkah?". Kakek itu memang Hongsan Siansu Kwee Cin Lok adanya, dua orang temannya adalah Kallon tokoh Khitan dan Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin yang menjadi pembantu-pembantu atau sekutu-sekutu Jenderal Chou Ban Heng. Jenderal Chou Ban Heng memang cerdik. Dia mulai dengan rencananya, yaitu antara lain membunuh Putera Mahkota Thian Cu akan tetapi dia tidak begitu bodoh untuk turun tangan sendiri menyuruh pembunuh melakukan pembunuhan itu. Maka mengutus tiga orang tokoh sakti itu untuk melaksanakan pembunuhan terhadap Putera Mahkota Thian Cu di tempat tinggal Pangeran Chou Kuang Tian di kompleks istana. Hong San Siansu mengutus dua orang anggota Hong-sanpang yang sudah memiliki tingkat silat cukup tinggi untuk melakukan pembunuhan itu dengan menyamar sebagai perajurit sehingga dengan mudah memasuki kompleks istana. Hong San Siansu memesan kepada mereka berdua bahwa kalau tugas mereka berhasil, mereka akan memperoleh hadiah besar. Kalau gagal agar mereka membunuh diri dengan pil yang diberikan kepada mereka. Akan tetapi kalau mereka terpaksa mengaku agar membuat pengakuan bahwa yang menyuruh adalah tiga orang yang menanti di luar kota raja. Hal ini dilakukan untuk memancing Chou Kuan Tlan yang menjaga, keamanan keponakannya itu agar mau dari kota raja. Kini, melihat Chou Kuang Tian berdiri di depan mereka seorang diri, Hong San Soansu tertawa dan seperti sudah diatur sebelumnya, yang menjawab pertanyaan Chou Kuang Tian adalah Kallon, adalah Khitan yang tinggl besar dan brewok itu.

"Huh, engkau Chou Kuang Tian, panglima Kerajaan Chou yang berkhianat, memberontak dan kini menjadi adik Kaisar Sung, bukan? Kebetulan, kita adalah musuh lama. Ingat aku. Kallon panglima bangsa Khitan? Terimalah kematianmu!!"

Kallon segera menerjang maju dan menyerang dengan goloknya.

Chou Kuang Tian cepat mengelak ke kiri dan balas Setelah lewat belasan jurus.

Hong San Siansu turun tangan membantu Kallon yang mulai terdesak walaupun belum tentu Chou Kuang Tian akan dapat mengalahkannya karena tingkat kepandaian mereka seimbang.

Begitu Hong San Siansu yang amat lihai itu maju mengeroyok, tentu saja Pangeran Chou Kuang Tian menjadi repot dan terdesak hebat.

Melawan Hong San Siansu saja dia tidak mungkin dapat menang apalagi dikeroyok dua!

Sementara itu, Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin yang juga berada di situ, hanya berdiri dan menonton saja.

Ia tidak membantu dua orang rekannya dan yang menjadi penyebabnya mudah diduga.

Gadis ini sudah tertarik sekali dan timbul gairahnya melihat Pangeran Chou Kuang Tian yang gagah perkasa itu.

Belum pernah ia bercinta dengan seorang pangeran tulen, maka kini pandang matanya terhadap Chou Kuang Tian seperti mata seekor kucing melihat ikan!

Akan tetapi, bagaimanapun juga tentu saja ia tidak berani untuk membela pangeran itu dan menentang dua orang rekannya yang lihai.

Keadaan Pangeran Chou Kuang Tian benar-benar gawat dan dia sudah mandi keringat karena kini tombaknya yang masih dapat dia pergunakan untuk menyerang Kallon kini hanya dapat diputar menjadi perisai melindung diri dari hujan serangan pedang dan golok kedua orang pengeroyoknya.

Dia sama sekali tidak dapat balas menyerang dan agaknya dia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring "Hanya pengecut yang suka main keroyokan!."

Dan tampak bayangan hitam berkelebat.

Ternyata yang datang adalah Song Kui Lin.

Mendengar bentakan ini.

Hong San Siansu sebagai seorang datuk besar tentu saja merasa malu dan tidak enak, maka dia menghentikan serangannya.

Kallon juga menahan goloknya karena dia rasa agak jerih kalau maju sendiri.

Melihat yang datang seorang gadis remaja berusia sekitar delapan belas tahun, Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin tertarik dan ia memandang penuh selidik.

Ia melihat gadis muda yang cantik jelita, wajahnya bulat telur, sepasang matanya bersinar indah dan mulutnya yang kecil mungil dan manis itu dihias senyum simpul mengandung ejekan.

Tubuhnya sintal padat dengan pinggang kecil ramping.

Pakaiannya serba hitam dengan ikat pinggang merah.

Ikat pinggang ini sebenarnya adalah sarung pedangnya yang dapat dibelitkan sebagai ikat pinggang saking tipis dan lemasnya.

Rambutnya panjang dikuncir ke belakang.

"Hei, engkau anak kecil jangan mencampuri urusan orang tua. Siapa engkau, lancang sekali mulutmu. Hayo pergi kalau tidak ingin kuhajar!"

Bentak Ang Hwa Niocu galak karena seperti biasa ia merasa iri kalau melihat seorang gadis yang lebih muda dan tampak begitu cantik jelita, membuat ia merasa kalah menarik.

Kui Lan memandang Ang Hwa Niocu Lai Cu Yin dari kaki yang bersepatu hitam sampai ke rambut kepala yang dihias tiga bunga merah itu, lalu tertawa nakal.

"Hi-hik, aku memang anak kecil. Akan tetapi engkau ini nenek-nenek tua kenapa masih begini genit, pakai tiga tangkai bunga merah di rambut segala? Aih, sungguh tampak semakin jelek menggelikan dan engkau tidak malu, nenek tua!"

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 25

Baca Juga: Mutiara Hitam 30

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert