Eps 7 Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Si Rajawali Sakti - Kho Ping Hoo.
Kini di jalan umum yang sunyi, di kaki sebuah bukit, hutan, Liu Cin yang menahan agar mereka berhenti.
Hui Lan menurut dan mereka lalu duduk di bawah sebatang pohon besar yang rindang dan yang melindungi mereka dari terik sinar matahari.
Siang itu memang matahari memutahkan sinarnya yang panas sehingga, menyengat, dan dan amat enak duduk di bawah pohon yang rindang itu, disejukkan angin semilir.
"Liu Cin..... eh, maaf, Cin-ko,"
Kata Hui Lan yang belum lama ini ketika berada di kota raja. ia sudah bersepakat degan Liu Cin untuk menyebut Cin-ko dan Lan-moi.
"Kenapa engkau mengikuti aku berhenti di sini? Apakah engkau lelah dan ingin beristirahat?"
Liu Cin tersenyum.
"Ah, tidak Lan-moi. Hanya aku ingin bicara denganmu dan tidak enak rasanya kalau bicara serius sambil melakukan perjalanan."
Hui Lan memandang wajah pemuda itu penuh perhatian dan sinar matanya mienyelidik.
"Engkau hendak membicarakan apakah, Cin-ko, yang demikian serius itu?"
"Lan-moi, sejak engkau menyatakan hendak melakukan pengejaran terhadap Chou Kian Ki, aku merasa heran sekali, akan tetapi di sana, di depan banyak orang, aku tidak mau banyak bertanya. Akan tetapi hal itu selalu mengganggu pikiranku yang merasa heran dan tidak mengerti. Maka sekarang kuharap engkau suka menjelaskan, mengapa engkau susah payah hendak melakukan pengejaran terhadap putera pangeran pemberontak itu? Apa yang ingin kau lakukan kalau sudah dapat mengejarnya?"
Dengan alis berkerut, muka merah mata mencorong marah Hui Lan biasanya lembut itu berkata tegas.
"Aku...harus membunuhnya!"
Liu Cin terkejut juga melihat wajah gadis itu tampak penuh kebencian ketika mengucapkan kata-kata itu.
"Akan tetapi maafkan aku, Lan-moi, memang bukan urusanku, hanya, aku merasa penasaran sekali. Mengapa engkau begitu membencinya? Mengapa engkau begitu benci sampai harus mengejarnya dan membunuhnya?"
Hui Lan berpikir sejenak dan tampak ragu-ragu. Kemudian ia berkata, kembali lembut.
"Cin-ko, aku minta maaf padamu, terus terang saja, aku hanya dapat mengatakan bahwa aku harus membunuhnya. Aku berjanji kepadamu, kalau sudah berhasil membunuhnya, baru aku akan memberitahu kepadamu mengapa aku harus membunuh jahanam itu."
Di dalam hatinya Liu Cin menduga-duga.
Ada yang aneh dalam sikap Hui Lan ini, pikirnya.
Dulu dia menemukan dan sempat menolong Hui Lan yang hendak bunuh diri.
Gadis itu mengaku bahwa , melarikan diri dari rumah Pangeran Chou karena tidak sudi dinikahkan deng"n Chou Kian Ki dan tidak mau pulang pula ke rumah orang tuanya sendiri.
Dan sekarang, gadis itu bertekad untuk membunuh Chou Kian Ki setelah memperdalam Ilmu bersama dia, menguasai ilmu Thian-te Im-yang Sin-kun.
Dan berjanji akan memberitahu kepadanya setelah berhasil membunuh Chou Kian Ki.
Mengapa ia demikian membenci putera pangeran itu?
Apa yang telah dilakukan Chou Kian Ki kepadanya?
Liu Cin menduga-duga, akan tetapi tidak mau bertanya apa-apa, bahkan dia bersikap biasa saja.
"Baiklah, Lan-moi. Memang aku tidak berhak mencampuri urusanmu."
"Bukan begitu, Cin-ko! Engkau harus mencampuri urusanku karena terus terang saja, tanpa bantuanmu aku tidak akan berhasil membunuh Chou Kian Ki. Akulah yang akan mati di tangannya engkau tidak mau membantuku."
Ucapan gadis itu keluar dengan suara sedih.
"Tentu saja, Lan-moi. Aku pasti akan tetap membantumu. Yang kumaksud adalah bahwa engkau tidak perlu menceritakan mengapa engkau membenci Chou Kian Ki kalau engkau tidak mau menceritakannya kepadaku."
Hui Lan merasa sedih sekali sehingga ia tidak dapat menahan ketika sepasang matanya menjadi basah dan beberapa butir air mata menetes keluar dan jatuh ke atas pipinya.
"Cin-ko, sekali lagi maafkanlah aku Sesungguhnya, setelah semua budi kebaikan yang kau limpahkan kepadaku, tidak semestinya aku masih merahasiakan sesuatu darimu. Akan tetapi, aku mohon kepadamu, bersabarlah, Cin-ko. Setelah aku berhasil membunuh jahanam itu pasti aku akan memberitahu kepadamu."
Melihat kesedihan Hui Lan, Liu Ci cepat berkata.
"Ah, sudahlah, Lan-moi jangan bicarakan hal itu lagi. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kau bermaksud lebih dulu pergi ke Nan-king, bukan?"
Suara Liu Cin biasa dan gembira Seolah hendak mengalihkan percakapan tadi tidak mau mengingatnya lagi.
Padahal di dalam hatinya, pemuda ini sudah dapat menduga, apa kiranya yang menyebabkan gadis itu mendendam sedemikian besarnya terhadap Chou Kian Ki tidak terlalu sukar ditebak.
Hui Lan pernah ditunangkan dengan Kian Ki dan bahkan tinggal di gedung pemuda itu.
Kemudian tiba-tiba gadis itu meninggalkannya dan dia menemukannya hendak bunuh diri!
Malapetaka apa yang menimpa diri seorang gadis sehingga ia hendak membunuh diri dan kebenciannya sedemikian besarnya?
Dia dapat meraba dengan dugaannya.
Bencana paling hebat yang membuat seorang gadis mendendam sakit hati kepada seorang laki-laki adalah perkosaan!
Bukan hal yang mustahil kekejian itu dilakukan oleh seorang laki-laki macam Chou Kian Ki kepada Hui Lan.
Kian Ki memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga dia tentu dapat menggunakan paksaan menggagahi Hui Lan atau dengan tipu, muslihat lainnya.
Karena itu Hui Lan merahasiakannya, tentu gadis itu merasa malu untuk mengatakan kepada orang lain, terutama kepada dia.
Akan tetapi ini hanya dugaannya dan dia mengharapkan semoga dugaan itu keliru.
Mendengar pertanyaan Liu Cin yang nadanya biasa dan gembira, Hui Lan rasa lega.
Tadinya ia merasa khawatir kaau-kalau pemuda itu mendesaknya atau menjadi kecewa dan marah.
Akan tetapi ternyata Liu Cin sama sekali tidak bersikap demikian malah sebaliknya menghentikan percakapan tentang hal itu.
la merasa bersukur dan berterima kasih sekali.
Semakin yakin hatinya bahwa Liu cin adalah seorang sahabat yang paling baik baginya.
Maka ia pun menjadi gembira lagi dan menjawab sejujurnya.
"Benar, Cin-ko. Aku hendak singgah ke rumah orang tuaku, selain menceritakan tentang ditumpasnya pemberontakan yang dipimpin mendiang Jenderal Chou Ban Heng, juga aku ingin sekali memperkenalkan engkau kepada ayah ibuku!"
Wajah pemuda itu berubah kemerahandan hatinya berdebar girang.
Kalau seorang gadis hendak memperkenal seorang teman prianya kepada orang tuanya, biasanya hal itu berarti bahwa gadis itu mencinta pria itu, agar orang tuanya mengenal pria pilihan hatinya!
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan hati ringan gembira.
Keduanya merasa semakin suka dan cocok satu sama lain dan bagi Hui Lan sendiri kini rasa sukanya makin mendalam dan harus ia akui bahwa ia mulai jatuh cinta kepada Liu Cin.
Song Kui Lin juga meninggalkan kota raja dan melakukan perjalanan seorang diri menuju ke Cin-an.
Ia hendak pulang ke rumah ayah tirinya, yaitu Perwira Kwa Siong, duda yang mengawini ibunnya yang sudah menjanda.
Ayah tirinya itu tentu akan gembira sekali mendengar ia menceritakan tentang terbasminya pengkhianatan dan pemberontakan yang di pimpin mendiang Jenderal Chou Ban Heng.
Ayahnya itu, biarpun ayah tiri, amat baik kepadanya dan ia tahu bahwa ayah tirinya adalah seorang perwira yang setia terhadap Kerajaan Sung.
Sudah dua hari ia meninggalkan kota raja dan tiba di daerah pegunungan yang sunyi.
Siang itu matahari memuntahkan sinarnya yang amat panas sehingga Kui Lin yang sejak tadi merasa betapa kulitnya disengat matahari, kini merasa nyaman setelah memasuki daerah yang berhutan dan sejuk dengan bayangan pohon-pohon.
Ketika mendengar gemerciknya air, Kui Lin baru merasa betapa tenggorokannya terasa kering karena haus.
la segera menyimpang dari jalan umum menyusup di antara pepohonan mencari dari mana datangnya suara air gemercik itu.
Akhirnya dengan girang ia menemukan sebuah pancuran air, yaitu air gunung yang mengalir di antara batu-batu dan terjun ke bagian yang lebih rendah.
Air itu jernih sekali.
Kui Lin lalu minum, membasuh mukanya dengan air yang dingin sekali, juga membasahi lehernya, leher nya, melepas sepatu menggulung celana untuk membasahi kakinya.
Terasa dan sejuk bukan main.
Karena tempat sepi, saking keenakan, Kui Lin mulai membuka bajunya karena timbul keinginannya untuk mandi!
Tiba-tiba ia mendengar bunyi seperti ranting patah dan berkeresekan suara daun-daun kering terinjak kaki.
Ia cepat menoleh dan melihat seorang laki-muda melangkah ke arah tempat itu.
"Kurang ajar!!"
La membentak laki-laki itu baru melihatnya lalu cepat laki-laki itu memutar tubuh, berdiri membelakangi Kui Lin yang setengah telanjang.
Gadis itu cepat mengenakan lagi pakaiannya dan sepatunya, kemudian dengan lengan baju masih tergulung sehingga tampak kulit lengannya yang putih mulus berlawanan dengan pakaian yang serba hitam.
Dengan langkah ringan dan cepat ia menghampiri laki-laki itu dan memaki.
"Laki-laki kurang ajar, engkau mengintai aku, ya? Anjing kau. monyet, kuda, babi "
Kui Lin tiba-tiba menghentikan makiannya ketika laki-laki itu memutar tubuh menghadapinya karena ia segera mengenalnya.
Pemuda itu bukan itu adalah Bu Eng Hoat, seorang di antara para pendekar yang membantu Pangeran Chou Kuan Tian membasmi pemberontak.
Akan tetapi, biarpun ia tahu bahwa Bu Eng Hoat adalah seorang pendekar gagah perkasa yang kiranya tidak mungkin mau mengintai wanita dengan sengaja, ia pernah berkelahi melawan pemuda itu ketika ia hendak menangkapnya dengan tuduhan pemuda itu membunuh Menteri Liong.
Teringat ini, Kui Lin yang tadinya sudah tenang, menjadi marah lagi.
"Hemmm, kiranya engkau, Bu Eng Hoat? Mengapa engkau mengikuti aku. Engkau membayangi aku, ya? Mau apa engkau mengikuti aku?"
Wajah Bu Eng Hoat menjadi kemerahan karena marah. Pemudaini berwatak jujur dan keras. Dituduh membayangi tadinya malah dituduh mengintai, dia werasa penasaran sekali.
"Song Kui Lin, engkau ini sungguh keterlaluan sekali! Tanpa menyelidiki lebih dulu begitu mudah menuduh orang! dulu engkau menuduh aku membunuh Menteri Liong, sekarang kembali engkau menuduh sembarangan. Tadi menuduh aku mengintai dan memaki-maki aku, sekarang menuduh aku membayangi dan mengikutimu! Apa kau kira di dunia ini cuma engkau seorang yang paling baik dan semua orang lain jelek dan jahat?"
"Siapa menuduh sembarangan? Aku menuduh karena ada sebabnya. Ketika aku menuduhmu membunuh Menteri Liong, aku diutus Pangeran Chou Kuan Tian untuk menangkapmu. Tadi aku menuduh engkau mengintai karena memang ketika aku membasuh badan, tahu-tahu engkau muncul. Apalagi kalau bukan mengintai? Dan sekarang, kenyataannya engkau berada di sini menyusul aku, apakah itu bukan mengikuti dan membayangi namanya? Hayo jawab kalau bisa!"
Kata Kui Lin galak.
"Akan tetapi buktinya semua tuduhanmu itu kosong dan tidak benar, kenyataannya, dulu aku bukan pembunuh bahkan pembela Menteri Liong. Dan tadi aku sama sekali bukan ingin mengintaimu, tetapi aku mendengar suara gemercik air dan aku ingin minum dan cuci muka. Juga aku tidak mengikuti karena aku memang meninggalkan kota raja dan hendak mencari Suhu Thong Leng Losu yang kini beradadi Beng-san. Nah, semua dugaanmu itu kosong dan keliru,bukan? Kebetulan saja kita bertemu di sini dan terus terangsaja aku senang dapat bertemu dengan engkau yang sudahkukenal sebagai seorang pendekar wanita sehaluan. Sayang begitu bertemu, engkau menyangka yang bukan-bukan!"
"Ooo, begitukah? Kalau benar begitu maafkan aku. Aku tadi membentak dan memakimu karena kaget. Siapa yang tidak kaget tiba-tiba melihat seorang laki-laki melotot memandang ke arah.... kakiku?"
Eng Hoat tersenyum.
"Aku tidak sengaja memandang, akan tetapi ketika melihat engkau membasuh kakimu, hemm, harus kuakui bahwa aku belum pernah lihat kaki seputih dan sebagus itu. Ketika engkau hendak membuka baju, aku cepat memutar tubuh membelakangimu. Aku bukan golongan laki-laki yang kurang ajar. Kui Lin, walaupun terus terangg saja, aku aku kagum dan suka melihat kakimu yang indah tadi."
Kini sepasang pipi Kui Lin yang kemerahan.
Mendengar kakinya dipuji indah, apalagi yang memuji itu seorang pendekar yang ia tahu berwatak jujur dan bukan sekadar memuji untuk merayu, hati gadis mana yang tidak merasa bangga dan senang?
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara gaduh dan muncul belasan orang yang dipimpin oleh tiga orang yang sudah mereka kenal sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang dulu membantu Pemberontak Chou Ban Heng.
Mereka itu adalah Tung-hai tok, ketua Tung-hai-pang yang kini diikuti lima belas orang sisa anggauta Tunghai-pang yang tidak tewas dalam perang pemberontakan.
Dia ditemani pula oleh Kanglam Sin-kiam Kwan In Su yang merupakan ahli pedang yang terkenal hingga mendapat julukan Kanglam kiam (Pedang Sakti dari Kanglam).
Tosu ini berusia kurang lebih enam puluh tahun, bertubuh sedang dan mukanya bersih.
Adapun orang ke dua yang menemani Tung-hai-tok adalah Im Yang Tosu, pendeta To tokoh dari utara yang tadi juga mendukung Chou Ban Heng dan ikut melarikan diri setelah pemberontakan itu gagal.
Tung-hai-tok, kakek berusia hampir tujuh puluh tahun yang tinggi besar bermuka merah itu tertawa bergelak ketika melihat Kui Lin dan Eng Hoat.
Datuk sesat yang menjadi raja para penjahat di sepanjang pantai timur ini senang sekaali apalagi melihat Kui Lin yang jelita.
Dia memang seorang yang memiliki watak mata keranjang.
"Ha-ha-heh-heh. bagus sekali! Ji-wi To-tiang (Kedua Pendeta To), mereka ini adalah dua orang di antara para pembantu Pangeran Chou Kuan Tian. Dengan membunuh mereka, setidaknya kekalahan kita yang lalu dapat terbalas!"
"Siancai!"
Im Yang Tosu berseru.
"Pinto tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan mereka, Tung-hai Pang-cu. Kalau pin-to (aku) membantu Pangeran Chou Ban Heng, hal itu adalah untuk menegakkan kembali Kerajaan Chou. Akan tetapi usaha itu telah gagal, Pangeran Chou Ban Heng telah tewas dan lagi pin-to, tidak ada permusuhan pribadi dengan siapa pun, juga dengan pemuda dan gadis ini!"
"Hemmm, Im Yang Tosu, engkau tidak setia! Mari, Kanglam Sin-kiam, kita berdua bunuh pemuda ini dan tangkap gadis jelita ini, aku ingin bersenang-senang dulu dengannya sebelum membunuhnya. Jangan pedulikan Im Yang Tosu yang tidak setia!"
Ajak Tung-hai-tok kepada Kwan In Su. Akan tetapi tosu inipun menggelengkan kepala.
"Aku pun tidak mencari permusuhan pribadi, apalagi membantumu yang mempunyai keinginan keji menuruti nafsu setan. Tidak, aku tidak mau membantumu."
Tung-hai-tok marah sekali dan pada saat itu tampak bayangan putih berkelebat dan di situ telah berdiri seorang wanita berpakaian serba putih, semua orang memandang penuh perhatian karena mereka tidak mengenal wanita itu.
Umurnya sekitar tiga puluh tahun, wajah cantik berkulit putih, bentuk muka bulat.
Namun kecantikannya itu membayangkan kekerasan hati, mulutnya berbentuk indah itu selalu tampak sinis seperti tersenyum mengejek dan sepasang matanya tajam dan dingin galak.
Agaknya Tung-hai-tok mengenai wanita cantik itu.
"Hai, bukankah engkau Pek Bian Ci, murid pertama dari Hwa Hwa Moli di puncak Ang-hwa-san (Gunung Bunga Merah)?"
Wanita itu dengan sikap dingin menjawab.
"Benar, Tung-hai Pang-cu (Ketua Perkumpulan Laut Timur). Mengapa engkau dan para anggauta Tung-hai-pang mengepung pemuda, gadis, dan dua orang tosu itu? Siapa mereka dan apa persoalannya?"
"Kebetulan sekali engkau datang, Pek Bian Ci. Engkau tentu telah mendengar betapa perjuangan para pahlawanan untukmenegakkan kembali Kerajaan Chou yang telah direbut oleh para pemberontak yang mendirikan Kerajaan Sung telah gagal. Banyak kawan kami para pahlawan pembela Kerajaan Chou tewas. Pemuda dan gadis ini adalah dua di antara mereka yang membantu pengkhianat Chou Kuang Yin, maka aku ingin membunuh mereka untuk membalas dendam. Akan tapi dua orang tosu ini yang tadinya membantu perjuangan sekarang berbalik tidak mau membantuku membunuh pemuda dan gadis ini. Pek Bian Ci, mengingat akan persahabatanku dengan Hwa hwa Moli gurumu, kuharap engkau suka membantuku membunuh pemuda dan gadis yang membela pemberontak Chou tuang Yin ini."
Pek Bian Ci mengerutkan alisnya dan tampak ragu-ragu. Akan tetapi Tung-hai-tok segera menyambung.
"Pek Bian Ci, bukankah gadis yang berjuluk Ang hwa Niocu itu juga datang dari Ang hwa-san dan merupakan murid Hwa Hwa Moli?"
"Ia adalah Lai Cu Yin, sumoi-ku seperguruanku). Di mana dia?"
Tanya Bian Ci.
"Sumoi-mu? Ia pun tadinya membantu kami akan tetapi ketika terjadi perang ia sudah tewas juga."
Tung-hai-tok bohong untuk memanaskan hati gadis baju putih itu. Pek Bian Ci tampak marah.
"Keparat siapa berani membunuhnya? Hanya aku yang berhak membunuhnya! Marilah kita bunuh mereka untuk membalas dendam, Pek Bian Ci."
Mendengar ini, Pek Bian Ci lalu cabut pedangnya dan ia menghampiri Bu Eng Hoat.
"Biar kubunuh pemuda jahanam ini!"
Katanya dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menyerang dengan dahsyatnya.
Pedangnya meluncur menusuk ke arah dada Eng Hoat de jurus Sian-li-coan-ciam (Dewi Menusukan Jarum).
Gerakannya cepat dan pedangnya menjadi sinar perak menyerang dada lawan.
Bu Eng Hoat sudah siap dengan Toyanya.
Dia menangkis dengan gerakan Sian-jin-sui-po (Dewa Menyambut Mustika).
"Tranggg.....!"
Pertemuan pedang dan toya menimbulkan percikan bunga api dan begitu menangkis, ujung toya yang lain sudah balas menyerang dengan jurus Liong-jip-houw-hiat (Naga Masuk Gua Harimau).
Toya itu dengan dahsyat sudah menusuk ke arah perut Pek Bian Ci.
Namun dengan gerakan yang amat gesit!
Pek Bian Ci sudah mengelak dan balas menyerang.
Segera terjadi perkelahian yang amat seru antara Pek Bian Ci dan Bu Eng Hoat.
Pek Bian Ci adalah seorang wanita pembenci pria, maka begitu!
mendapat lawan seorang pria, dengan semangat berapi-api ia menyerang dengan niat membunuhnya!
Sementara itu, melihat Pek Bian Ci sudah membantunya dan menyerang Bu Eng Hoat, Tung-hai-tok sambil tersenyun menghadapi Song Kui Lin.
Dengan mulut cengar cengir dia berkata.
"Nona manis, apakah tidak lebih baik kalau engkau menyerah saja dan menyerah saja dan menjadi sahabatku? Sayang kalau sampai kullitmu yang halus itu terluka."
"Jahanam keparat tua bangka mau mampus!"
Kui Lin membentak marah sambil melepaskan pedang yang dililitkan di pinggangnya sebagai sabuk.
"Tutup mulutmu yang busuk itu dan bersiaplah untuk mampus!"
Ia menggerakkan pedangnya yang lemas itu.
"Singgggg!"
Pedang itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika ia memutarnya, kemudian sinar Itu mencuat dan menusuk ke arah dada Tung-hai-tok!
Tung-hai-tok sudah tahu akan kehebatan gadis ini, maka ia juga tidak berani memandang rendah.
Kalau tadi dia mengharapkan untuk dapat menawan gadis ini adalah karena dia mengandalkan bantuan dua orang tosu itu.
Akan tetapi ternyata Kwan In Su dan Im Yang Tosu tidak mau membantunya, maka karena dia hanya maju seorang diri, dia tidak berani memandang ringan dan segera mencabut sepasang pedangnya.
Dia menangkis lalu memutar siangkiam (sepasang pedang) itu, membalas serangan Kui Lin dengan dahsyat sehingga mereka lalu bertarung mati-matian.
Dua orang tosu itu tidak mau membantu Tung-hai-tok, akan tetapi tidak mau membantu Kui Lin dan Eng Hoat.
Mereka tadinya membantu Pangeran Chou Ban Heng untuk memperjuangkan bangkitnya kembali Kerajaan Chou.
Sekarang, perkelahian itu adalah urusan pribadi yang sama sekali tidak menyangkut perjuangan melainkan dendam pribadi.
Apalagi Tung-hai-tok mempunyai niat kotor terhadap gadis cantik itu.
Mereka tidak ingin mencampuri dan hanya menonton.
Perkelahian itu seru dan mati-mat Akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, mulai tampak betapa Kui Lin repotan melawan Tung-hai-tok, dan Eng Hoat juga terdesak oleh Pek Bian Ci yang ternyata lihai bukan main.
Kelihaian wanita itu tidaklah aneh kalau diingat bahwa ia merupakan murid tersayang dari Hwa Hwa Moli dan suci (kakak seperguruan) dari Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin yang sudah kita kenal kelihaiannya!
Kwan In Su dan Im Yang Tosu hanya menonton.
Mereka tidak mau mencampuri perkelahian itu karena merasa bahwa itu bukan urusan mereka dan tidak ada sangkut pautnya dengan perjuangan.
bahkan mereka merasa tidak enak dan telah siap untuk meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi mereka terkejut mendengar suara melengking di angkasa dan melihat seekor burung rajawali meluncur turun dengan cepat.
Di punggung rajawali Itu duduk seorang pemuda yang mereka kenal karena pemuda itu pernah membantu pemerintah Kerajaan Sung melawan pemberontak.
Karena hati mereka tertarik, maka mereka tidak jadi pergi dan ingin melihat apa yang akan terjadi.
Yang datang adalah Si Han Lin dengan rajawalinya.
Seperti diketahui, Si Han Lin dengan para pendekar muda lainnya menghadap Kaisar, diantar oleh Pangeran Chou Kuan Tian dan menolak pemberian kedudukan akan tetapi tidak mungkin menolak pemberian hadiah sekantung uang emas.
Dia tidak tergesa-gesa meninggalkan kota raja dan selama dua hari dia berjalan-jalan dan mengagumi keadaan kota raja yang ramai serba mewah.
Akan tetapi di samping gedung-gedung besar dan megah, melihat kenyataan bahwa gubuk-kecil reyot lebih banyak jumlahnya dan mereka berada di perkampungan, tersembunyi di belakang gedung-gedung megah itu.
Dia melihat pula toko-toko yag dibanjiri pengunjung yang rata-berpakaian indah dan mewah, ada yang menunggang kereta.
Namun jumlah mereka masih kalah jauh dibanding dengan mereka yang berpakaian sederhana, pakaian lusuh, bahkan banyak para pengemis berkeliaran di jalan raya mengharapkan dermaan dari para hartawan yang kebanyakan lewat tanpa menengok seolah para pengemis itu tidak tampak oleh mereka.
Melihat perbedaan yang mencolok antara si kaya dan si miskin ini, Si Han Lin menjadi terharu dan sedih, lalu menukarkan uang emasnya pemberian Kaisar kepada para pedagang besar untuk mendapatkan potongan uang yang lebih sehingga sekantung uang emas itu menjadi lima kantung uang dengan potongan yang lebih kecil.
Malamnya, dia lalu berkeliling dan diam-diam, tanpa tahu penghuninya, dia membagi-bagi dan melemparkan potongan emas kecil ke dalam gubuk mereka.
Bagi para penduduk miskin itu, sepotong emas kecil kiranya cukup untuk makan sekeluarga beberapa bulan lamanya!
Setelah uangnya habis, pada keesokan harinya Han Lin meninggalkan kota raja.
tibanya di luar kota raja di waktu pagi, tiba-tiba terdengar suara yang amat dikenalnya di udara.
Dia menengadah dan gembir"
Sekali melihat rajawali terbang melayang di udara.
"Tiauw-ko!"
Dia berseru sambil mengerahkan tenaga dalamnya sehingga nya dapat mengandung getaran kuat yang mencapai rajawali itu.
Sang rajawali mendengar dan sambil memekik girang dia meluncur turun dan hinggap di atas tanah di dekat Han Lin.
Begitu hinggap di tanah, rajawali itu lalu menghadap ke arah Han Lin, mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mendekam.
Han Lin yang sejak kecil berkumpul dengan rajawali itu, maklum akan bahasa isarat ini.
Dia tahu bahwa rajawali itu minta agar dia menungganginya dan bahwa rajawali itu memikul tugas tertentu yang diberikan Thai Kek Siansu, gurunya.
Tentu gurunya ingin agar dia menghadap.
Tanpa ragu lagi dia lalu melompat atas punggung rajawali dan terbanglah burung raksasa itu.
Akan tetapi tak lama kemudian, Han Lin melihat perkelahian di bawah di bagian hutan kecil yang terbuka hingga tampak dari atas.
Dia memberi tanda kepada rajawali untuk melayang turun dan melihat bahwa yang berkelahi adalah Kui Lin dan Eng Hoat yang tanding dengan Tung-hai-tok dan seorang wanita baju putih yang lihai.
Jelas bahwa dua orang sahabatnya itu terdesak oleh lawan.
Maka dia cepat menyuruh rajawali turun dan pada saat itu, keselamatan Kui Lin dan Eng Hoat sudah terancam bahaya maut karena Tung-hai-tok yang ingin cepat-cepat mengalahkan lawan segera mengerahkan lima belas orang anak buahnya untuk mengeroyok!
Melihat keadaan ini, Han Lin memberi aba-aba kepada rajawali dan dia sendiri lompat dan menerjang Tung-hai-tok yang mendesak Kui Lin.
Rajawali yang tanggap akan aba-aba Han Lin juga menyerang dan menyambar-nyambar ke arah belasan orang anggauta Tung-hai-pang sehingga mereka menjadi terkejut dan gentar.
Banyak yang kena cakar atau kena patuk dan banyak yang terpelanting oleh pukulan sayap burung sakti itu!
"Trang-cring!"
Sepasang pedang di tangan Tung-hai-tok terpental, kedua tangannya tergetar dan nyeri ketika sepasang pedangnya disambar Pek-sim-kiam yang menangkisnya.
Tung-hai-tok terkejut dan melompat ke belakang, terbelalak ketika melihat siapa yang datang menangkis siang-kiam di tangannya itu.
Dia merasa gentar karena dia maklum akan Kelihaian pemuda yang menunggang rajawali itu.
Sementara itu, Pek Bian Ci yang tidak mengenal Han Lin, tidak peduli akan munculnya pemuda dengan rajawali nya itu.
Dengan penuh semangat kebencian terhadap laki-laki yang dilawannya, pedangnya yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung, menyambar-nyambar Bu Eng Hoat yang sekuat tenaga melindungi dirinya dengan putaran toyanya.
Namun, desakan Pek Bian membuat dia terhuyung ke belakang.
Han Lin yang sudah membuat Tung hai-tok melompat ke belakang, melihat betapa Bu Eng Hoat terancam bahaya.
Dia melompat dan sinar putih pedang menghadang desakan Pek Bian Ci.
Ketika gadis yang membenci laki-laki ini meihat ada pemuda lain menghadangnya, menerjang dengan ganas dan dahsyat.
"Mampuslah!"
Pedangnya membacok ke arah leher dengan pengerahan sinkang (tenaga sakti) sekuatnya. Han Lin dengan tenang menggetarkan Pek-sim kiam dan menangkis.
"Tranggggg.....!"
"Aihhh!"
Pek Bian Ci terkejut bukan main.
Pedangnya hampir terlepas dari tangannya dan ia merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang panas dan pedih.
Ia memiliki sin-kang yang amat kuat.
Kalau kini ada yang yang menangkis pedangnya dan membuat tangannya tergetar hebat dan telapak tangannya panas, maka jelas bahwa tenaga sakti orang itu lebih kuat daripada tenaganya sendiri!
Ketika ia menoleh, ia melihat Tung-hai-tok juga sudah menjauh dan la terbelalak melihat seekor burung rajawali raksasa mengobrak-abrik belasan orang anggauta Tung-hai-pang.
Tung-hai-tok sendiri melihat Pek Bian Ci melompat ke belakang dengan wajah pucat dan melihat anak buahnya terpelanting ke sana sini, maklum bahwa melawan terus sama saja dengan bunuh diri.
Maka dia bersuit nyaring memberi tanda kepada anak buahnya untuk melarikan diri.
Dia sendiri melompat jauh dan pergi.
Melihat ini, Pek Bian Ci memaki dalam hatinya.
"Pengecut!"
Karena yang ia bela sudah melarikan diri, ia pun tidak ingin celaka di tangan orang yang lebih kuat daripadanya. Ia juga melompat dan larikan diri.
"Lin-ko!"
Kul Lin menghampiri Han Lin dan memegang lengan kakaknya itu, kakak angkat, dengan manja, sementara itu, Bu Eng Hoat menghampiri dua orang tosu yang masih berdiri situ.
Dia memberi hormat dan berkata kepada mereka.
"Ji-wi To-tiang (Bapak Pendeta dua), kami mengucapkan terima kasih bahwa ki-wi tidak ikut menyerang kami"
"Siancai! Untuk apa kami menyerang kalian? Kami tidak mempunyai urusan pribadi dengan kalian."
Kata Im Yang Tosu. Kui Lin menggandeng tangan Han Lin menghampiri dua orang tosu itu. Han Lin segera berkata.
"Ji-wi adalah pendeta-pendeta, sekarang tidak memusuhi kami akan tetapi mengapa ji-wi membela pemberontak Chou Ban Heng? Kami yang merasa diri sebagai para pendekar membela pemerintah, akan tetapi mengapa ji-wi malah membantu pengkhianat dan pemberontak?"
Kanglam Sin-kiam Kwan ln Su menjawab.
"Siapakah yang memberontak? Siapa pula yang membantu pengkhianat dan pemberontak? Kami adalah orang-orag setia kepada Kerajaan Chou dan kami bahkan menentang kekuasaan pemberontak."
Mendengar jawaban ini, Si Han Lin tertarik dan segera menghampiri dan berhadapan dengan dua orang tosu itu.
"Maaf, Ji-wi To-tiang. Saya merasa tertarik dan heran mendengar jawaban tadi. Maukah Ji-wi memberi penjelasan tenntang siapa yang menjadi pengkhianat dan pemberontak menurut pendapat To-liang?"
Kini Im Yang Tosu yang menjawab.
"Siancai, selalu terjadi hal seperti ini, pandangan seperti ini dari dua kelompok yang saling bertentangan. Pin-to (Aku) tahu, kalian para pendekar muda karena menganggap bahwa Chou Kuan Yin yang kini menjadi Kaisar Sung Thai Cu itu benar, maka kalian, berpihak kepadanya dan membela Kerajaan Sung yang didirikannya! Kalian menganggap bahwa Pangeran Chou Ban Heng seorang pengkhianat dan pemberontak!"
"Kenyataannya memang demikian"
Kui Lin berkata dengan galak.
"Dia hendak membunuh Sribaginda Kaisar bermaksud merebut tahta kerajaan!"
"Itu pendapat kalian. Akan tetapi pendapat kami lain sama sekali bahkan sebaliknya dari pendapat kalian. Pangeran Chou Ban Heng adalah seorang patriot yang setia kepada Kerajaan Chou. Semua orang tahu bahwa Chou Kuang Yin merebut tahta kerajaan Chou dan mendirikan Kerajaan Sung. Dialah yang menjadi pengkhianat dan pemberontak bagi Kerajaan Chou. Adapun Pangeran Chou Ban Heng adalah keturunan keluarga Kerajaan Chou yang setia dan berniat untuk menjatuhkan Kerajaan Sung dan membangun kembali Kerajaan Chou. Karena kami menganggap dia benar, dan kami juga ingin memperlihatkan kesetiaan kepada Kerajaan Chou yang dijatuhkan Chou Kuan Yin atau Kaisar Sung Thai maka kami membantu mendiang Pangeran Chou Ban Heng!"
Kata Kanglam sinkiam Kwan In Su menggantikan ucapan sahabatnya.
Kui Lin hendak membantah lagi akan tetapi Han Lin memberi isarat agar ia diam, lalu Han Lin memberi hormat kepada dua orang tosu itu dan berkata.
"Saya hargai pendapat Ji-wi To-tiang itu karena pendapat itu memang tidak dapat disangkal kebenarannya kalau hati akal pikiran kita terbebas dari keakuan yang selalu memihak demi kesenangan dan kepentingan diri pribadi. Kebenaran seseorang atau sepihak mungkin saja dipandang sebagai yang tidak benar sama sekali oleh orang atau pihak lain. Perbedaan ini timbul dari penilaian dan penilaian biasanya dipengaruhi kepentingan diri sendiri. Yang menguntungkan diri pribadi tentu saja dianggap baik dan benar, sebaliknya yang merugikan diri pribadi selalu dianggap tidak baik dan tidak benar. Demikian pula dengan adanya bentrokan antara sisa pengikut Kerajaan Chou dan pengikut Kerajaan Sung. Akan tetapi, kalau kita dapat menyisihkan keakuan yang selalu mementingkan diri sendiri itu, akan muncul kebijaksanaan dapat melihat kenyataan. Melihat Jiwi Totiang, tentu Jiwi masih ingat akan keadaan pemerintah sebelum Kerajaan Sung berdiri. Lima Wangsa timbul tenggelam dalam waktu singkat, kerajaan demi kerajaan bangun dan jatuh karena terjadinya perebutan kekuasaan dan perang saudara. Juga tercatat dalam ingatan orang-orang tua betapa Kerajaan Chou juga demikian, rapuh dan pemerintahannya dipenuhi orang-orang yang menjadi penguasa lalim, korup dan memperkaya diri sendiri, bahkan memeras rakyat jelata. Lalu bandingkan dengan kebijsanaan pemerintah Kerajaan Sung yang sekarang! Tidak ada yang dapat mengingkari akan kebijaksanaan Sribagida Kaisar Sung Thai Cu yang selalu menjauhi pertikaian dengan bersikap adil pemurah, juga bersikap adil dan keras terhadap pejabat yang menyeleweng dari peraturan pemerintah. Karena itu kami mendukung dan membela Kerajaan Sung yang pemerintahannya mulai berusaha sekuatnya untuk memerangi kemiskinan dan menyejahterakan rakyatnya. Kami para pendekar akan selalu membela kepentingan rakyat, bukan kepentingan diri pribadi."
Dua orang tosu itu memandang kagum.
"kami berdua juga bukan orang-orang yang nekat tanpa mau melihat kekeliruan diri sendiri, orang muda yang bijaksana."
Kata Kwan In Su sambil memandang kagum.
"Setelah berada di gedung mendiang Pangeran Chou Ban Heng, baru kami mengetahui bahwa dia berjuang karena ambisi priibadi, ingin menjadi Kaisar dan dia juga mengundang tokoh-tokoh kangouw yang sesat untuk membantunya. Hal ini kami sadari, maka setelah usaha merebut kekuasaan itu gagal, kami tidak mau terlibat oleh permusuhan pribadi yang diperlihatkan Tung-hai-tok tadi. Mulai sekarang, kami akan berhati-hati dan tidak mudah dipengaruhi pihak yang menuruti nafsu keinginan pribadi dengan berkedok perjuangan. Kami ingin tekun dalam pertapaan kami."
Dua orang tosu itu memberi salam lalu keduanya pergi dari tempat itu. Han Lin menghadapi Kui Lin dan Eng Hoat sejenak memandang mereka bergantian lalu tersenyum.
"Hemmm, bagus sekali kalian bekerja sama menghadapi serangan Tung hai-tok dan wanita baju putih yang lihai itu. Seandainya kalian tidak melakukan perjalanan bersama, tentu akan lain kesudahannya."
"Akan tetapi kalau engkau tidak segera muncul menolong,kami berdua tentu tidak akan hidup saat ini."
Kata Eng Hoat.
"Bukan aku yang menolongmu atau rajawali itu, melainkan Tuhan yang mengatur sehingga aku dan Tiauw-ko (Kakak Rajawali) datang pada saatnya yang tepat. Bu Eng Hoat, aku juga berterima kasih atas perlindunganmu terhadap adiku Kui Lin."
"Ah, aku tidak melindunginya, mungkin malah la yang melindungiku atau kami saling melindungi, begitulah....."
Kata Eng Hoat bingung karena dia memang tidak pandai bicara.
"Lin-ko, aku tidak melakukan perjalanan bersama dia!"
Kata Kui Lin.
"Benar, Saudara Han Lin. Kami hanya kebetulan saja bertemu di sini."
Kata Eng Hoat membenarkan. Han Lin tersenyum. Dia senang melihat adik angkatnya itu bergaul dengan Bu Eng Hoat yang gagah, ganteng jantan.
"Ha-ha, ini artinya kalian sudah jodoh..."
"Lin-ko!"
Kui Lin menjerit sambil melotot kepada kakak angkatnya, mukanya merah padam. Eng Hoat juga terkejut dan menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.
"Ha-ha-ha, dengarkan dulu omonganku dan jangan marah, dulu, anak manis!"
Kata Han Lin.
"Omonganku tadi belum selesai sudah kau sambar begitu saja. Yang kumaksudkan, kalian ini sudah jodoh untuk berjumpa di sini, menjadi kawan seperjalanan. Bukankah pertemuan kalian ini tidak disengaja? Nah, itulah artinya jodoh, sudah dipertemukan oleh Tuhan. Berjodoh untuk melakukan perjalanan bersama yang kumaksud, bukan jodoh... hemmm, kalau soal jodoh itu, terserah kepada hati kalian masing-masing. Nah, aku harus cepat pergi, Lin-moi. Guruku memanggilku dan mengirim rajawali untuk menjemputku."
"Aku ikut, Lin-ko!"
"Hush, mana mungkin? Aku menunggang rajawali dan burung ini tidak dapat membawa dua orang, selain itu guru tidak akan mengijinkan aku membawa orang lain menghadap beliau. Engkau pulanglah dulu ke rumah orang tuamu di Cin-an dan setelah aku menghadap Suhu aku akan menyusulmu ke sana. Pulang dan aku minta kepadamu, Saudara Eng Hoat, kau temanilah adikku ini lakukan perjalanan ke Cin-an."
Kui Lin hendak membantah dan Han Lin cepat melanjutkan kata-katanya "Kalian berdua tadi melihat sendiri bahwa masih ada sisa para pengikut Pangeran Chou Ban Heng yang lihai dan akan menyerang kalian kalau bertemu dengan kailan.
Nah, dengan melakukan perjalanan bersama kalian akan dapat saling bantu dan saling melindungi, sehingga akan lebih kuat kalau bertemu musuh, Nah sekarang aku harus pergi!"
Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Kui Lin untuk membantah lagi.
Han Lin melompat ke atas punggung rajawali yang sudah siap dan mendekam di situ.
Rajawali itu lalu terbang dengan cepatnya.
Bu Eng Hoat menghela napas panjang dengan amat kagum.
"Bukan main hebatnya kakakmu itu, Kui Lin. Aku pernah mendengar cerita guruku Thong Leng losuhu tentang Thai Kek Siansu yang amat sakti dan melihat kakakmu yang menjadi muridnya, baru aku tahu bahwa apa yang diceritakan guruku itu memang benar."
Tentu saja Kui Lin merasa bangga. Ia adalah adik angkat Si Han Lin dan senang hatinya mendengar kakaknya dipuji-puji.
"Kakakku memang hebat,"
Katanya. 'Akan tetapi, Bu Eng Hoat, engkau harus tahu bahwa aku sama sekali tidak pernah minta engkau untuk menemani aku pergi ke Cin-an!"
"Aku tahu, Kui Lin. Kakakmu Si Han Lin yang minta aku menemanimu, akan tetapi andaikata kakakmu tidak memintanya, aku pun sedang melakukan perjalanan searah. Aku hendak pergi ke Beng-san, mencari guruku. Karena itu, tidak ada salahnya kalau kita melakukan perjalanan bersama. Tentu saja, kalau kau sudi melakukan perjalanan bersama aku, seorang pemuda yatim piatu miskin dan bodoh."
"Ih, siapa bilang engkau bodoh? tentang miskin, aku tidak peduli orang kaya atau miskin, yang penting orang itu benar dan berwatak pendekar. Lagi pula bukankah engkau juga menerima hadiah sekantung uang emas dari Sribaginda Kaisar? Dengan memiliki sekantung emas itu, engkau tidak miskin lagi."
"Jadi, engkau sudi melakukan perjalanan bersamaku?"
Eng Hoat bertanya penuh gairah karena gembira.
"Asal engkau tidak macam-macam!' "Kui Lin, apa maksudmu dengan macam-macam itu?"
"Aih, sudahlah mari kita lanjut perjalanan!"
Kata Kui Lin sambil tersenyum simpul.
Mereka lalu melakukan perjalanan berama.
Setelah melakukan perjalanan bersama selama beberapa hari saja, pergaulan mereka menjadi akrab.
Kui Lin menndapatkan kenyataan bahwa pemuda itu adalah seorang yang berwatak bersih dan baik, selalu bersikap sopan dan hormat kepadanya.
Chou Kian Ki berlutut, mendekam dan menangis di depan gundukan tanah dimana dia baru saja selesai mengubur jenazah ayahnya.
Dia tenggelam ke dalam kenangan yang menyedihkan tentang ayahnya, tentang keluarga ayahnya, dan tentang dirinya sendiri.
Perjuangan ayahnya membangun kembali Kerajaan Chou gagal, bahkan ayahnya tewas.
Dia sendiri masih belum hilang kedukaannya karena kehilangan Ong Hui Lan, satu-satunya gadis yang sangat dikasihinya, bahkan sudah menjadi tunangannya dan lebih daripada itu, sudah digaulinya.
Biarpun dengan mudah dia dapat mencari adis-gadis lain yang cantik, namun tidak ada yang dapat dikasihinya seperti dia mengasihi Ong Hui Lan.
Perjuangan gagal ayahnya tewas, kekasihnya meninggalkannya.
Biarpun dia mendengar bahwa ibu dan keluarga ayahnya tidak dihukum oleh Kaisar Sung Thai Cu, namun dia merasa malu untuk kembali ke kota raja.
Pula belum tentu Kaisar Sung Thai Cu atau Pangeran Chou Kuan Tian akan mengampuninya dan tidak menghukumnya seperti ibu dan keluarga ibunya karena dia sendiri terjun secara langsung dalam pemberontakan ayahnya.
Setelah agak reda tangisnya dan menghapus air matanya, dia tampak lebih tenang walaupun sepasang matanya menjadi kemerahan dan wajahnya muram rambut dan pakaiannya kusut tidak seperti biasanya dia selalu berpenampiilan mentereng dan pesolek.
Tiba-tiba mendengar suara banyak orang dan ketika dia menoleh, ternyata yang datang adalah Tung-hai-tok bersama belasan anak buahnya.
Wajah kakek ini tampak muram dan marah, akan tetapi diagembira dapat bertemu dengan Chou Kian Ki di tempat itu.
"Chong Kongcu!"
Katanya sambil memberi hormat.
"Pangcu (Ketua),"
Kata Kian Ki.
"Senang hatiku melihat engkau dapat menyelamatkan diri. Di mana teman-teman lain? Apakah tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dan sudah terbunuh smnua?"
Tung-hai-tok tidak menjawab karena memandang ke arah gundukan tanah kuburan itu.
"Chou Kpngcu, siapakah yang dikubur di situ?"
Dengan lesu Kian Ki menjawab.
"Aku baru saja mengubur jenazah ayah di sini."
"Ahhh!"
Tung-hai-tok lalu menghampiri kuburan itu lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh belasan orang anak buah Tung-hai-pang.
Setelah memberi hormat kepada kuburan Pangeran Chou Ban Heng, kembali Tung-hai-tok duduk di atas tanah berumput menghadapi Kian Ki.
"Pangcu, engkau belum menjawab pertanyaanku tadi. Di mana teman-teman yang lain?"
Tung hai-tok mengepal kedua tangannya dengan wajah merah karena marah "Hemmm, sungguh menggemaskan Ketahuilah, Kongcu.
Tadi aku berhasil melarikan diri dengan belasan orang anakbuahku dan juga bersama Kwan In dan Im Yang Tosu.
Di dalam perjalan kami bertemu dengan dua orang di antara musuh-musuh kita, yaitu gadis yang bernama Song Kui Lin dan Bu Eng Hoat.
Aku sudah merasa girang akan dapat membalas dendam membunuh dua orang itu.
Akan tetapi sungguh menggemaskan, dua orang tosu brengsek itu tidak mau membantuku dan hanya menjadi penonton!"
"Hemmm, kenapa begitu? Bukankah selama ini mereka berdua menjadi pembantu setia dari mendiang ayahku?"
"Mereka mengatakan bahwa urusan memperjuangkan Kerajaan Chou telah gagal dan selesai, dan mereka tidak mau membuat permusuhan pribadi. Sungguh menyebalkan!"
"Lalu bagaimana? Bukankah engkau bersama belasan orang anak buahmu, pangcu?"
"Dua orang muda itu cukup lihai dan kebetulan pada saat itu muncul Pek Bian Ci, gadis murid Hwa Hwa Moli dari Ang-san. Ia mau membantuku karena aku mengenal baik gurunya dan kami berdua sudah mendesak dua orang musuh itu dan sudah hampir membunuh mereka akan tetapi"
Tung-hai-tok menghela napas panjang.
"Akan tetapi bagaimana, Pangcu?"
"Sungguh sialan! Mendadak saja muncul pemuda yang menunggang rajawali itu!"
"Hemmm, Si Han Lin itu?"
"Benar, Kongcu. Dia muncul dan bersama rajawalinya membantu dua orang musuh kita itu sehingga usahaku membunuh mereka gagal. Terpaksa kami melarikan diri karena dengan adanya penunggang rajawali itu, kami kalah kuat."
"Hemmm, menyebalkan sekali Si Han Lin itu! Aku pernah bertanding melawan dia dan aku belum kalah. Lain kali kalau kami saling bertemu, aku akan bunuh dia!"
Kata Chou Kian Ki geram.
Dia ingat bahwa selain menjadi penyebab gagalnya perjuangan ayahnya, juga Han Lin itu yang menggagalkan dia membawa pulang Ong Hui Lan, tunangan wanita yang dikasihinya.
Tung-hai-tok yang sudah tahu betapa lihainya putera Pangeran Chou Ban Heng ini, mengangguk-angguk.
"Aku percaya Kongcu pasti akan mampu mengalahkan dan membunuhnya. Dan kalau sewaktu-waktu Kongcu membutuhkan bantuan kami, Kongcu mengetahui ke mana mencari Tung-hai-pang. Kami selalu membantumu."
"Terima kasih, Pangcu. Aku tak akan pernah melupakan bantuan Pangcu dan Tung-hai-pang yang setia membantu mendiang ayah. Kalau kelak aku berhasil menjadi Raja Kang-ouw, aku pasti mau membantu untuk memperbesar dan memperkuat Tung-hai-pang sebagai sahabat utama."
Tung-hai-tok bersama anak buahnya melanjutkan perjalanan kembali ke pantai Timur, meninggalkan Chou Kian Ki yang kemudian duduk termenung lagi depan makam ayahnya.
Setelah merasa puas duduk termenung depan makam ayahnya, Kian Ki lalu mengambil sebuah batu gunung yang besar, menggulingkannya sampai di depan kuburan ayahnya dan pedangnya Hek-kong-Kiam (Pedang Sinar Hitam) dia pergunakan untuk mengukir nama ayahnya di permukaan batu besar itu.
Pedang pusaka sangat tajam itu, digerakkan tangan yang dipenuhi tenaga sakti, mengukir huruf-huruf besar berbunyi.
MAKAM YANG MULIA CHOU BAN HENG DARI KERAJAAN CHOU.
Setelah merasa puas dia segera pergi setelah memberi penghormatan terakhir.
Baru saja keluar dari hutan di bukit itu, tiba-tiba terdengar suara wanita memanggilnya.
"Chou Kongcu.....!"
Kian Ki berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya.
Dia melihat Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin berlari cepat menghampirinya.
Wanita itu sama sekali tidak tampak seperti seorang yang baru saja mengalami kekalahan perang dan melarikan diri.
Ia masih tampak cantik pakaiannya indah mengenakan perhiasan mencolok, dan tiga bunga merah di rambutnya masih seperti biasa, berseri seperti juga wajahnya yang cantik.
Ronce-ronce di gagang pedangnya berkibar ketika ia berlari cepat.
"Yin-moi!"
Kian Ki berseru girang.
"Sukur engkau dapat meloloskan dengan selamat."
Ketika Lai Cu mendekat, Kian Ki merangkul yang dibalas dengan penuh kemanjaan dan kemesraan oleh Lai Yu Cin.
Mereka bercumbu di tempat sunyi itu untuk melepaskan kerinduan dan terutama untuk menghibur hati mereka yang gundah karena kekalahan dalam pertempuran lawan para pendukung Kerajaan Sung.
Setelah melepaskan kerinduan hati mereka duduk di atas batu-batu yang banyak terdapat di luar hutan itu.
"Kongcu, engkau sekarang hendak pergi ke manakah?"
Tanya Cu Yin.
Kian Ki menghela napas panjang "aku masih belum tahu ke mana aku akan pergi.
Setelah kegagalan kita, aku tidak berani pulang ke kota raja dan di kota-kota besar aku tentu akan dikejar-kejar alat pemerintah sebagai seorang buruan.
Aku ingin sekali memperdalam ilmu-ilmuku agar kelak aku dapat membalas kekalahan ini dengan cara lain.
Aku ingin menjadi Raja Kangouw dan mengerahkan seluruh kekuatan dunia kangouw untuk menentang Kerajaan Sung!"
Dia menghela napas lagi.
"Sayang guruku yang terakhir, Thian Beng Siansu, telah meninggal dunia. Siapa lagi yang dapat memperdalam ilmuku?"
"Ah, yang dapat memperdalam ilmumu yang sudah hebat itu kiraku hanya la seorang saja, yaitu Ketua Beng-kauw, kongcu."
"Hemmm, Beng-kauw? Aku pernah Mendengar bahwa Beng-kauw merupakan perkumpulan rahasia yang aneh dan juga jarang ada orang luar dapat mendekati, siapakah ketuanya yang kau maksudkan itu, Yin-moi?"
"Ketuanya bernama Co Sai, berjuluk Coat-beng-kwi (Setan Penyabut Nyawa) dan kabarnya belum pernah ada orang yang mampu menandingi ilmu-ilmunya. Kukira hanya dialah yang dapat membimbingmu untuk menguasai ilmu yang tak terkalahkan, Kongcu."
"Bagus! Aku ingin berjumpa dan belajar ilmu dari Coat-beng-kwi Co san. Apakah engkau mengenalnya, Yin-moi.?"
"Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya, Kongcu... Akan tetapi guruku Hwa Hwa Moli, adalah sahabat baiknya. Kabarnya Coat-beng-kwi itu seorang duda dan mempunyai seorang anak perempuan akan tetapi selirnya banyak sekali, merupakan raja tanpa mahkota di dunia hitam dan semua orang takut kepadanya. Bahkan para pendekar sekalipun tidak berani sembarangan mencampuri urusannya dan merasa lebih aman untuk menjauh dan tidak mempunyai perkara dengan Beng-kauw."
"Wah, kedengarannya hebat sekali. Apa engkau tahu di mana adanya Coa beng-kwi? Aku ingin menghadap dia dan minta diberi pelajaran ilmu yang lebih tinggi "
"Menurut keterangan su-bo (Ibu guru), Pegunungan Beng-san terdapat sebuah bukit yang disebut Hek-kwi-san (Bukit Setan Hitam), di sanalah tempat tinggal Coat-beng-kwi Co Sai bersama anak buah beng-kauw yang terkenal. Mereka itu ahli menggunakan jebakan-jebakan, senjata-senjata rahasia yang aneh, penggunaan racun-racun, dan ditambah lagi ilmu sihir dari para pemimpinnya, yaitu murid-murid Coat-beng-kwi. Karena itu, tidak ada orang berani mendekati tempat itu dan menurut cerita guruku, siapa yang berani mendaki Bukit Setan Hitam bahkan bertemu maut!"
"Hemmm, aku tidak takut. Aku akan pergi ke sana menghadap Coat-beng-kwi Co Sai! Untuk mendapatkan ilmu yang paling tinggi, aku tidak takut mempertaruhkan nyawaku."
"Sudah bulat benarkah tekadmu itu, Chou Kongcu?"
"Sudah, memang lebih baik mati kalau aku tidak mampu mencapai cita-citaku menjadi Raja Kangouw!"
Cu Yin tertawa dan merangkul pemuda yang menjadi kekasihnya itu."
Kau tidak perlu berkorban nyawa, Kan Ada aku di sini yang akan menemani mengantarmu sampai dapat bertemu dengan Ketua Beng-kauw."
Kian Ki menjadi girang sekali dan dia sudah melupakan kesedihan hati yang dideritanya tadi.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat menuju pergunungan Beng-san.
Pegunungan Beng-san amat luas, memiliki banyak bukit besar kecil tak terhitung banyaknya.
Di antara bukit-bukit itu terdapat Bukit Hek-kwi-san (Bukit Setan Hitam) yang merupakan bukit menyeramkan yang ditakuti orang.
Apalagi orang biasa, bahkan pemburu binatang buas yang paling gagah sekalipun merasa ngeri dan tidak berani mencoba untuk berburu binatang di sekitar bukit itu apalagi mendaki lerengnya.
Sudah banyak orang yang terkenal gagah berani dan tangguh mencoba untuk mendaki, Hek-kwi-san dan akibatnya mereka tewas dalam keadaan mengerikan.
Tentu saja tidak ada setan hitam yang berada di bukit itu seperti yang didongengkan penduduk sekitar Pergunungan Beng-san.
Akhirnya semua orang mengtahui bahwa yang menguasai bukit menyeramkan itu adalah Beng-kauw, sebuah perkumpulan yang masih belum banyak dikenal.
Beng-kauw (Agama Terang) merupakan sebuah aliran atau kepercayaan yang sebetulnya sudah kuno sekali yang di dunia barat dikenal sebagai Manichaeism atau Agama dari Mani.
pendirinya adalah putera seorang bangsawan bernama Mani (tahun + 200), penduduk Ekbatana (Persia atau Iran).
Pada mulanya Manichaeism merupakan pencampuran dari berbagai agama dan begitu diperkenalkan oleh Mani, banyak pihak yang menentang.
Bahkan Mani sendiri akhirnya ditangkap oleh Kasta Magians dan dibinasakan.
Pemerintah Persia pada waktu itu berusaha untuk membasmi Agama Mani, namun tak berhasil sepenuhnya.
Para pengikutnya melarikan diri dan menyebarkan aliran baru ini ke pelbagai negara, di antara menyebarkannya ke India dan Cina.
Akan tetapi, setelah disebarkan di Cina, agama itu disebut Beng-kauw (Agama Terang).
Mula-mula memang mengandung pelajaran yang baik, karena inti pelajarannya adalah bahwa Terang adalah Kebajikan dan Geap adalah kejahatan.
Setiap anggota Beng-kauw dianggap sebagai duta Terang untuk memerangi Gelap atau menggunakan kebajikan untuk memerangi kejahatan.
Namun karena agama ini selalu dicurigai dan dimusuhi para penganut agama lain, maka timbul dendam kebencian dan akhirnya para pemimpinnya mempelajari pelbagai ilmu, dari yang tergolong putih sampai yang hitam.
Agama ini mengalami kejayaannya tersebar luas sampai abad ke tiga belas, kemudian hancur karena selain mendapat tentang banyak pihak, juga berubah menjadi aliran sesat yang penuh dendam.
Beng-kauw yang berada di Hek-kwi-san hanya merupakan sisa pengikut Beng-kauw yang kecil saja.
Anggautanya tidak lebih dari seratus orang dan perkumpulan ini bukan lagi merupakan duta terang yang memerangi kegelapan atau orang-orang yang mengutamakan kebajikan menentang kejahatan.
Mereka merupakan orang-orang aneh yang terkadang berlawanan dengan pendapat umum, bahkan banyak melakukan perbuatan sesat yang sama sekali bertentangan dengan pelajaran Beng-kauw sendiri!
Pada waktu itu, Beng-kauw telah mendirikan perkampungan yang cukup mewah dan kuat di puncak Hek-kwi-san.
Bukit itu memiliki tanah yang subur dan tanaman-tanamannya diatur sedemikian rupa sehingga tampak indah.
Namun di ballik keindahan ini mengandung bahaya maut yang amat mengerikan kalau adao rang luar berani memasuki daerah itu.
banyak jebakan dan perangkap yang berbahaya.
Akan tetapi di dekat puncak terdapat kebun-kebun yang subur, ditanami sayur-sayuran untuk dimakan, pohon-pohon buah, bahkan tanaman obatan.
Di puncaknya didirikan perkampungan dan sebuah rumah besar berada di tengah-tengah rumah-rumah yang kecil tempat tinggal ketuanya.
(Lanjut ke
Jilid 17) Si Rajawali Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Ketua Beng-kauw pada waktu bernama Co Sai berjuluk Coat-beng kwi.
Dia seorang duda, berusia sekitar enam puluh tahun.
Perawakannya sedang saja namun masih tegak dan tegap.
Apalagi melihat wajahnya masih belum ada keriput tanda ketuaan, bersih dari kumis dan jenggot, ditambah sepasang matanya yang tajam mencorong, dia tampak masih tampan dan lebih muda daripada usianya yang enam puluh tahun.
Coat-beng-kwi Co Sai ini memiliki ilmu silat aliran Beng-kauw yang amat hebat.
Ilmu silat itupun merupakan perpaduan dari ber bagai aliran ilmu silat, diperpadukan dan dikembangkan menjadi ilmu yang amat dahsyat.
Apalagi dicampur dengan ilmu sihir dan kekuatan dari daya-daya rendah yang berasal dari roh-roh sesat.
Co Sai yang sudah menduda selama beberapa tahun karena ditinggal mati istrinya yang menderita sakit parah dan menurut kepercayaan mereka jadi sebagai "tebusan"
Ilmu-ilmu hitam yang dipelajari Co Sai, mempunyai seorang anak perempuan.
Anak itu bernama Co Kim Lian, kini telah menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun yang berwajah cantik, wataknya liar dan galak namun memiliki kecerdikan luar biasa, juga aneh karena terkadang muncul watak yang amat baik akan tetapi terkadang pula amat jahat.
Ketua Beng-kauw ini dalam kedudukannya iya dibantu oleh seorang muridnya yang telah mewarisi sebagian besar ilmu kepandaian Coat-bengkwi.
Bahkan dia pula yang menggantikan gurunya meiatih ilmu silat kepada semua anggauta Beng-kauw.
Murid ini, berusia sekitar dua puluh lima tahun, bernama Gu Kian.
Tubuhnya tinggi kurus, wajahnya tampan, bermata tajam dan mulutnya selalu terhias senyum sinis seperti orang memandang rendah atau mengejek.
Pemuda ini amat mencinta Co Kim Lian yang menjadi sumoi nya (adik seperguruannya) dan agaknya Coat-beng-kwi merestui karena ketua ini mengharapkan Gu kian kelak selain menjadi mantunya, juga akan menggantikannya memimpin Beng-kauw.
Akan tetapi agaknya cinta di hati Kian tidak mendapat sambutan Kim Lian.
Gadis ini suka kepada Gu Kian akan tetapi rasa sukanya hanya rasa suka seorang adik kepada seorang kakak.
Hal yang terkadang membuat pemuda merasa kecewa sekali.
Juga Co Sai merasa prihatin melihat betapa puterinya jelas tidak memperlihatkan tanda mencinta Gu Kian.
Akan tetapi guru dan murid ini keduanya maklum benar bahwa mereka tidak mungkin dapat memaksakan keinginan mereka kepada Kim Lian.
Gadis ini memiliki kekerasan hati yang tidak dapat ditundukkan oleh siapa pun Sekali ia menolak, sampai mati pun tidak akan mau menerimanya.
Juga mereka tidak mungkin dapat menggunakan ilmu sihir atau obat yang membuat gadis itu jatuh cinta kepada Gu Kian.
Gadis itu sudah menguasai semua ilmu sihir dan obat serta racun sehingga kalau mereka menggunakan cara itu, Kim Lian pasti mengetahuinya dan akibatnya sukar dibayangkan.
Gadis itu tentu akan marah sekali, mungkin akan memusuhi ayah dan suhengnya (kakak seperguruannya), kalau bisa juga ia akan minggat atau bahkan bunuh diri!
Karena itulah maka Co Sai dan Gu Kian bersabar sambil mengharapkan agar kelak gadis itu akan dapat jatuh cinta kepada Gu Kian.
Satu-satunya upaya pemuda itu, seperti dianjurkan gurunya, adalah bersikap sebaik mungkin kepada sumoinya.
Pada suatu pagi Coat-beng-kwi Co-sai duduk di ruangan depan rumahnya yang besar dan cukup mewah, ditemani oleh Kim Lian dan Gu Kian.
Mereka bertiga membicarakan tentang pemberontakan Pangeran Chou Ban Heng yang gagal.
"Ayah, sampai sekarang aku masih merasa heran, mengapa ayah tidak membantu salah satu pihak, pihak pejuang yang setia kepada Kerajaan Chou atau pihak Kerajaan Sung?"
Tanya Kim Lian pada ayahnya.
"Hemmm, apa untungnya kita bantu satu pihak? Dahulu, Kerajaan Chou tidak pernah mengakui Beng-kauw, kini, para pendukung Kerajaan Sung malah orang-orang yang menamakan mereka pendekar dan mereka itu juga meremehkan kita. Heheh, biar saja mereka saling gempur sampai keduanya binasa!"
"Suhu, teecu (murid) mendengar bahwa Kaisar Sung Thai Cu merupakan penguasa yang bijaksana, yang dapat menerima semua pihak untuk bekerjasama. Apakah tidak baik kalau kita mendukung pemerintah Sung?"
Tanya pula Gu Kian kepada gurunya.
"Huh, apa artinya kebijaksanaan. Kalau kita membantu Kerajaan Sung dan mereka baik kepada kita, itu yang namakan kebijaksanaan? Hemmm, lebih beruntung kalau tidak mencampuri pertentangan dan perebutan kekuasaan itu. Bagi kita, makin kacau keadaan masyarakat, makin baik dan menguntungkan. Biar rakyat kehilangan kepercayaan kepada Kerajaan Sung dan sisa pengikut kerajaan Chou, maka mudah bagi kita untuk mempengaruhi rakyat yang akan mendukung Beng-kauw!"
Sementara itu, di kaki Bukit Setan Hitam itu, Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin Chou Kian Ki berdiri dengan sikap ragu. Kian Ki hendak mendaki bukit itu, tetapi Cu Yin melarangnya.
"Jangan bertindak sembarangan, Chou kongcu (Tuan Muda Chou),"
Kata wanita.
"Tempat ini sungguh berbahaya, aku mendengar cerita guruku bahwa banyak perangkap dipasang dan kalau sampai luka maka luka itu mengandung racun dan dapat menewaskan."
"Habis, lalu apa yang harus kita lakukan? Bukit ini tampak begitu sepi, jangan-jangan Beng-kauw telah berpindah tempat."
"Tidak mungkin. Lihat di atas itu. bukankah semua tanaman demikian rapi dan jelas merupakan tempat yang diatur dengan baik? Kalau ditinggalkan tentu bengkalai dan penuh tanaman liar. Biar kucoba mengirim berita ke sana melalui suara."
Setelah berkata demikian, Lai Cu Yin mengumpulkan seluruh tenaganya, dan hawa sakti yang bergerak dari bawah pusarnya mendorong suaranya sehingga terdengar melengking dan mengandung getaran kuat sehingga terdengar dari jauh.
"Yang mulia Locianpwe Co Sai, mohon diperkenankan saya, Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin, murid Subo Hwa Hwa Moli di Ang-hwa-san, menghadap Locpanpwe,"
Terdengar gema suara lengkingan lalu sunyi, tidak ada jawaban.
Cu Yin tidak putus asa, setelah menanti sejenak ia mengulangi teriakannya tadi, lalu menunggu jawaban.
Kemudian ia mengulangi lagi.
Setelah permohonan itu diulang tiga kali, tiba-tiba dari arah atas meluncur enam batang anak panah, dua orang masing-masing diserang tiga batang anak panah yang meluncur dengan cepat menuju tubuh mereka.
Pelepas anak panah itu tentu mahir sekali karena tiga batang anak panah yang datang meluncur bertubi-tubi itu tepat mengarah tenggorokan, ulu hati, dan pusar!
Akan tetapi dua orang muda itu dengan mudah cepat mengelak sehingga tiga batang anak panah Itu meluncur di samping tubuh mereka dan tidak mengenai sasaran.
Kemudian dari atas tampak belasan orang berpakaian abu-abu dipimpin seorang gadis dan seorang pemuda yang berjalan di depan.
"Kongcu, jangan melawan dengan kekerasan,"
Bisik Cu Yin.
"Tapi mereka tadi menyerang untuk membunuh."
Bantak Kian Ki.
"Tidak, kurasa itu hanya menguji karena aku mengaku murid Subo Hwa Hwa Moli. Kalau mereka nanti menawan kita, harap menyerah dan ikut saja, jangan melawan. Percayalah, mereka tidak akan mau mencelakai murid Subo Hwa Hwa Moli."
Biarpun hatinya merasa penasaran, Kian Ki terpaksa mengangguk karena dia memang amat membutuhkan bantuan orang sakti agar tercapai cita-citanya, yaitu menjadi Raja Kangouw!
Pemuda dan gadis yang keduanya mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan sulaman merah itu kini berlari turun seperti terbang saja.
Belasan orang anggauta Bengkauw yang berpakaian serba abu-abu tertinggal jauh walaupun mereka juga lari.
Setelah tiba di depan Cu Yin dan Kian Ki, mereka berhenti dalam jarak sekitar tiga tombak dan pasangan ini saling berpandangan dengan sinar mata penuh selidik.
Yang datang memimpin anak buah Bengkauw itu adalah Go Kim Lian dan Gu Kian.
Pandangan mata Kim Lian mengamati Kian Ki penuh perhatian, sedangkan Gu Kian memandang kepada Cu Yin Lai Cu Yin mendahului memberi hormat, mengangkat kedua tangan depan dada sambil tersenyum dan berkata.
"Maafkan kalau kami berdua mengganggu ketenangan Cu-wi (Anda sekalian). Kami mohon agar diperkenankan menghadap Locianpwe Co Sai, Ketua Bengkauw."
"Engkau yang bernama Lai Cu Yin dengan julukan Ang-hwa Niocu murid Hwa Hwa Moli?"
Tanya Gu Kian.
"Benar,"
Jawab Cu Yin sambil tersenyum manis.
"Aku Lai Cu Yin murid subo Hwa Hwa Moli, dan ini adalah Chou Kain Ki, putera mendiang Pangeran Chou Ban Heng. Kami berdua mohon agar diperkenankan menghadap Locianpwe Co Sai, Ketua Bengkauw. Siapakah Ji-wi (Anda berdua)?"
Yang menjawab pertanyaan itu Co Kim Lian.
"Aku puteri Ketua Bengkauw, namaku Co Kim Lian. Ini murid ayah, Suheng Go Kian, Sebetulnya, menghadap ayah bukanlah hal yang mudah dan biasanya tanpa panggilan ayah tidak ada yang boleh mengganggunya. Akan tetapi, aku tahu bahwa Hwa Hwa Moli adalah sahabat ayah, maka engkau boleh menghadap asal tidak berbuat macam-macam! Dan dia ini hemmm, benarkah engkau ini putera Pangeran Chou Ban Heng yang baru-baru ini gagal merebut kekuasaan dari Kaisar Sung?"
Gadis itu menatap tajam wajah Kian Ki. Kian Ki juga menentang pandangan mata gadis remaja yang manis itu dan menjawab.
"Benar, aku Chou Kian Ki adalah putera mendiang Pangeran Chou Ban Heng yang gugur dalam memperjuangkan bangkitnya Kerajaan Chou dirampas oleh pengkhianat Chou Kuang Yin yang kini menjadi Kaisar Sung pertama. Aku ingin menghadap Ketua Beng kauw, harap diberi kesempatan dan kabulkan."
"Kiam Lian menoleh kepada Gu Kian dan berkata dengan nada suara seorang atasan kepada bawahannya.
"Su-heng, kurasa dua orang ini cukup memenuhi syarat untuk dibawa menghadap Ayah."
"Akan tetapi, Sumoi, bagaimana kalau Suhu memarahi kelancanganku menghadapkan tamu di luar kehendak Suhu?"
"Biar aku yang bertanggung jawab! Mari, Chou Kian Ki dan engkau Lai Cu Lin, kalian berjalan bersamaku dan jaga langkah kalian agar mengikuti jejakku."
Gadis itu lalu mulai mendaki bukit, diikuti oleh Kian Ki dan Cu Yin.
Mereka berdua dengan hati-hati dan teliti mengikuti jejak kaki gadis puteri Ketua Beng kauw itu karena mereka maklum bahwa salah langkah sedikit saja dapat menimbulkan bahaya maut bagi mereka.
Gu Kian dan para anak buah Bengkauw mengiringkan dari belakang, tentu dengan maksud berjaga-jaga agar dua orang muda itu tidak melakukan hal-hal akan merugikan Bengkauw.
Ketika mendengar bahwa tamu yang tidak diundang datang untuk menghadap padanya, mula-mula Beng-kauw-cu (Ketua Bengkauw) merasa terganggu dan marah.
Akan tetapi Kim Lian yang datang melapor bersama Gu kian di depan ayahnya, segera menjawab.
"Harap ayah tidak menjadi marah tadinya, aku juga menolak mereka yang ingin menghadap ayah tanpa dipanggil akan tetapi setelah mereka mengaatakan siapa mereka, terpaksa aku mengantar mereka menghadap dan kini sudah menunggu di luar."
"Hemmm, siapa mereka yang membuat engkau terpaksa memenuhi permintaan mereka?"
Tanya Coat beng-kwi Co Sai dengan suara bengis.
Biarpun terkesan bengis dan berwatak aneh, namun penampilan ketua Bengkauw ini sama sekali tidak menyeramkan.
Dia seorang tua berusia sekitar enam puluh tahun, mukanya bersih tanpa jenggot kumis, dan tampan dengan sepasang mata yang memandang tajam.
"Ayah, yang pemuda bernama Chou Kian Ki dan dia adalah putera mendiang Pangeran Chou Ban Heng yang memberontak terhadap Kerajaan Sung. Adapun yang wanita bernama Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin, murid dari Hwa Hwa Moli Ang-hwa-san."
Mendengar disebutnya Hwa Hwa Mol, Co Sai tampak berubah cerah dan segera berkata, 'Bawa mereka menghadap!"
Melihat ketua itu menggerakkan tangan memberi isarat kepada Kim Lian Gu kian untuk pergi meninggalkan ruagan itu, mereka lalu keluar dari ruangan.
Setelah tiba di luar, Kim Lian berkata kepada Kian Ki dan Cu Yin bahwa mereka diperkenankan memasuki ruangan dimana ayahnya telah menunggu.
Kemungkinan ia sendiri mengantar mereka berdua masuk, sedangkan Gu kian menanti di luar.
Murid ini tidak berani masuk dia tidak disuruh masuk gurunya tadi Ketua Bengkauw telah mengisarat agar dia keluar.
Akan tetapi Lian yang selalu manja dan tahu ayahnya tidak akan marah kepada dengannya tenang mengantar kedua tamu itu masuk.
Sebelum melangkah ambang pintu ia berbisik kepada melangkah agar berlutut di depan ayahnya.
Kian Ki dan Cu Yin memasuki ruangan dan oleh Kim Lian di bawa menghampiri seorang laki-laki tua yang duduk dengan gagahnya.
"Ayah, inilah mereka, Chou Kian dan Lai Cu Yin!"
Kata Kim Lian Cu?
perkenalkan.
Cu Yin segera menjatu diri berlutut dan biarpun sebenarnya enggan, namun mengingat akan kebutuhannya, Kian Ki juga menjatuhkan diri berlutut.
Kim Lian berdiri di belakang mereka.
"Locianpwe, terimalah salam guru saya Hwa Hwa Moli!"
Kata Cu Yin dengan hormat.
"Heh-heh, Hwa Hwa Moli itu hidup? Gurumu itu dulu adalah kekasihku, sayang ia tidak mau menikah dengan aku dan memilih menjadi perawan tua sampai sekarang. Apakah ia baik-baik sehat?"
"Subo dalam keadaan baik-baik dan sehat, Locianpwe."
"Locianpwe, saya Chou Kian Ki memberi hormat kepada Locianpwe."
"Hemmm, engkau putera Pangeran Chou Ban Heng yang gagal dalam pemberontakannya terhadap Kaisar Sung? Dia bahkan gugur dalam usahanya itu? Lalu, engkau anaknya sekarang ada maksud apa datang menghadap kami?"
"Locianpwe, maksud saya menghadap Cianpwe adalah untuk mohon belas kasihan Locianpwe agar Locianpwe sudi memberi petunjuk dan pelajaran ilmu silat kepada saya. Saya membutuhkan ilmu silat yang tinggi untuk dapat membalas dendam atas kematian ayah saya."
Ketua Bengkauw mengerutkan alisnya Lalu memandang kepada Cu Yin dan bertanya.
"Dan engkau, Lai Cu Yin, apa keperluanmu ikut menghadap di sini. Apakah engkau murid Hwa Hwa juga ingin belajar ilmu dariku?"
"Saya akan berbahagia sekali Locianpwe sudi mengajarkan ilmu pada saya. Akan tetapi saya tidak berani merimanya sebelum Subo mengijinkan. Saya datang menghadap hanya untuk mengantar Chou Kongcu menghadap cianpwe."
"Hemmm, apakah hubunganmu Cou Kian Ki ini?"
Tanya Coat-beng-Co Sai dengan sinar matanya yang corong seperti menembus dan menjenguk isi hati wanita itu.
Akan tetapi, Ang-hwa Niocu Lai Yin cukup tenang dan tangkas menghadapi pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"Saya ikut membantu perjuangan mendiang Pangeran Chou Ban Heng dan sekarang menghambakan diri untuk memohon Chou Kongcu dalam usahanya membalas dendam."
Ketua Bengkauw itu mengerut alisnya dan berpikir sejenak, agar mempertimbangkan permintaan Kian tadi.
Kian Ki dan Cu Yin menanti!
dengan jantung berdebar tegang.
Mereka tahu bahwa kakek itu adalah seorang yang selain sakti jaga memiliki watak aneh sekali, bahkan terkadang dapat bertindak kejam.
Coat-beng-kwi Co Sai menggelengkan kepalanya lalu tiba-tiba dia berkata.
"Wah, tidak bisa, tidak bisa! Engkau Lai Cu Yin mengingat akan gurumu Hwa Hwa Moli, engkau boleh tinggal dan bermain-main di sini asalkan tidak membuat ulah. Akan tetapi engkau Chou Kian Ki, engkau harus pergi meninggalkan tempat ini. Aku tidak bisa mengajarkan ilmu kepadamu!"
Tentu saja Kian Ki menjadi kecewa dan penasaran sekali.
"Akan tetapi, Locianpwe...."
Kakek itu tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya ke arah Kian Ki.
Pemuda itu terkejut dan hampir saja dia mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi diri, akan tetapi dia teringat akan pesan Cu Yin agar tidak memperlihatkan bahwa dia telah memiliki tenaga sakti yang amat kuat berkat gemblengan mendiang Thlan Beng Siansu.
Maka dia membiarkan dirinya dilanda angin pukulan yang dahsyat sehingga tubuhnya terlempar sampai dua tombak dan jatuh ke lantai ruangan itu.
Cu Yin menjerit dan segera meloncat ke dekat Kian Ki, membantunya bangkit.
la merasa khawatir sekali melihat betapa wajah pemuda itu menjadi pucat sekali dan perlahan-lahan ada warna kelabu pada wajahnya.
"Sekali aku bilang pergi tidak boleh dibantah lagil"
Kata Coat-beng-kwi Co Sai. Tiba-tiba Kim Lian menghampiri ayahnya dan suaranya lantang ketika ia berseru.
"Ayah, perbuatan ayah ini sungguh keliru dan tidak adil"
Di dunia ini agaknya hanya Co Kim Lian yang berani menyalahkan Ketua tidak adil dan keliru.
Akan tetapi yang menyalahkannya adalah puteri tunggal yang amat disayang nya, maka rasa marah itu hanya membuat mukanya menjadi merah sekali seperti udang direbus.
"Anak bodoh! Mengapa engkau mengatakan aku keliru dan tidak adil?"
Kim Lian mengeluarkan sebuah botol kecil dari ikat pinggangnya, membuka tutup botol kecil dan mengeluarkan butir pil merah, menghampiri Kian Ki yang dipapah oleh Cu Yin dan dibawa duduk lagi di atas kursi.
"Nih, telan pil ini dan engkau tidak akan mati."
Diberikannya pil itu Kian Ki yang menerimanya dan segera menelannya.
Sebentar saja rasa nyeri dadanya menghilang.
Setelah memberi obat penawar racun akibat pukulan itu, Kim Lian kini berdiri di depan ayahnya dengan mulut cemberut dan sikapnya menantang dan manja.
"Ayah keliru! Ayah mengatakan tidak mau berpihak dengan adanya permusuhan antara Kerajaan Chou dan Kerajaan Sung, akan tetapi sekarang ayah memukul putera dari mendiang Pangeran Chou Ban Heng! Berarti ayah membela Kerajaan Sung. Bukankah hal itu bertentangan dengan perkataan ayah sendiri dan karena keliru dan salah?"
Coat-beng-kwi Co Sai cemberut juga, tetapi dia lalu menghela napas panjang "Baiklah dalam hal ini aku telah terburu nafsu. Akan tetapi kenapa engkau mengatakan aku tidak adil?"
"Tentu saja ayah tidak adil. Yang datang tanpa diundang ada dua orang, Itu Chou Kian Ki dan Lai Cu Yin akan tetapi mengapa ayah hanya memukul Chou Kian Ki saja? Apakah ayah tidak berani memukul Lai Cu Yin karena murid Hwa Hwa Moll? Atau barangkali ayah tidak mau memukulnya karena seorang wanita cantik?"
Diserang dengan kata-kata seperti Itu, muka ketua Bengkauw itu menjadi merah.
Dia marah sekali akan tetapi menghadapi puterinya yang hanya satu ini, dia seperti mati kutu.
Dia hanya melontarkan kemarahannya melalui makian.
"Kim Lian! Engkau anak gila.....!"
"Tentu aku mewarisinya dari ayahku"
Jawab gadis itu berani dan tiba-tiba Ketua Bengkauw itu tertawa bergelak seolah mendengar ucapan yang amat lucu.
"Hoa-ha.-ha-ha! 'Bagus, engkau mewarisi sesuatu dari ayahmu! Dengarlah, anak tolol, aku memukul pemuda karena aku tidak mau menerimanya sebagal muridku."
"Kembali engkau keliru, ayah, kekeliruanmu yang ini besar sekali."
"Eh-eh, berani engkau lagi-lagi mengatakan aku salah, anak setan?"
Agaknya saking marahnya, Ketua Bengkauw yang wataknya aneh itu lupa bahwa kalau Kim Lian anak setan, maka dia yang menjadi setannya.
"Tentu saja aku berani karena memang ayah keliru. Ayah mengajar silat kepada murid-murid yang berasal dari orang biasa. Sekarang ada pangeran yang bercita-cita menegakkan kembali Kerajaan Chou minta menjadi murid, ayah malah menolak? kalau Chou Kian Ki menjadi murid ayah kalau kelak dia berhasil membangun kembali Kerajan Chou dan menjadi kaisar, berarti ayah menjadi guru kaisar. Bahkan kalau dia gagal menjadi kaisar dirinya dikenal sebagai seorang pangeran pejuang. Apakah ayah tidak akan bangga kalau dikenal sebagal guru seorang pahlawan pejuang yang gagah perkasa?"
Coat-beng-Kwi termenung mendengar ucapan puterinya.
Seorang seperti dia itu, dalam segala hal memperhitungkan untung ruginya.
Setelah dia renungkan dia dapat membayangkan bahwa kalau dia menerima Chou Kian Ki sebagai murid, ruginya tidak ada sama sekali.
Akan tetapi untungnya sudah jelas seperti digambarkan puterinya tadi.
Dia kini mandang kepada Chou Kian Ki yang sudah duduk kembali mendengarkan perdebatan antara-ayah dan anak itu dengan penuh harapan.
Diam-diam dia girang bahwa gadis remaja cantik itu rnembelanyal Bukan hanya memberi obat penawar yang manjur sehingga kini dia tidak merasakan lagi bekas serangan hawa pukul beracun tadi, akan tetapi juga dengan gigih menganjurkan ayahnya untuk menerima dia sebagal murid.!
"Chou Kian Ki, sudah bulat benarkah tekadmu untuk menjadi muridku?"
Coa beng kwi bertanya sambil menatap wajah pemuda itu.
"Saya sudah bertekad untuk berguru kepada Locianpwe!"
Kata Kian Ki dengan suara mantap.
"Hei, Chou Kian Ki, kenapa engkau menyebut ayahku masih locianpwe? harusnya engkau menyebut suhu kepada gurumu!"
Tiba-tiba Kim Lian menegur. Mendengar, ini Kian Ki menjadi girang sekali dan dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, beri hormat dan berseru.
"Suhu, (murid) menghaturkan hormat!"
Coat-beng-kwi mengerutkan alis memandang kepada puterinya, akan tetapi Kim Lian balas memandang dan tersenyum manis. Kakek Itu menghela panjang lalu rnernandang. kepada Kian Ki yang masih berlutut.
"Hemmm, anak setan"
Kembali memaki puterinya.
"Chou Kian Ki, bangkit dan duduklah kembali, mulai sekarang engkau harus menaati semua perintah dan petunjukku."
"Terima kasih, Suhu."
Kata Kian Ki dengan girang, lalu dia bangkit dan duduk kembali di atas kursi.
"Sebelum aku dapat mengajarkan ilmu kepadamu, Kian Ki, aku perlu mengetahui lebih dulu dari siapa engkau belajar silat dan sampai di mana tingkat kepandaianmu."
Kian Ki teringat akan nasehat Cu Yin agar dia tidak mengaku telah memiliki Ilmu silat tinggi dan tenaga sakti yang amat kuat, maka dia berkata.
"Teecu pernah dilatih oleh mendiang Suhu Hong san Siansu Suhu."
"Hemmm, Hongsan Siansu Kwee Cin Lok ketua Hong san pai itu? Kalau begitu, tentu Ilmu silatmu tidak rendah dan engkau tentu sudah menguasai Thai-lek-jiu darinya."
"Apa yang teecu pelajarl masih amat dangkal. Suhu."
Kata Kian Ki. Tiba-tiba Lai Cu Yin berkata.
"Maaf, Locianpwe. Saya kira Chou Kongcu ini merendahkan diri saja. Saya tahu benar bahwa dia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi sehingga saya sendiri tldak mampu menandinginya? Hanya tenaga saktinya yang agaknya masih perlu mendapat tambahan. Saya mendengar dari Subo bahwa Locianpwe memiliki Ilmu simpanan yang mengangkat nama besar Locianpwe. yaitu Coat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa) Kalau Locianpwe mengajarkan ilmu itu kepada Chou Kongcu, maka tentu dia akan menjadi murid yang akan membanggakan hati Locianpwe."
Kalau orang lain yang berani mengusulkan dia mengajarkan ilmu simpanan itu, mungkin saja Coat-beng-kwi menjadi marah.
Akan tetapi ucapan Cu Yin itu agaknya membuat dia gembira dan bangga karena Hwa Hwa Moli juga mengagumi ilmunya yang dahsyat itu.
"Ha-ha-ha, engkau pintar bicara mengapa agaknya engkau amat membela dan membantu Chou Kian Ki, Cu Yin, Ha ha, aku tahu, dia ini putera paneran dan tampan, tentu engkau sangat mencintanya, bukan?"
Cu Yin melihat betapa Kim Lian tiba-tiba menoleh dan memandang padanya dengan sinar mata mengandung kemarahan.
Sebagal seorang wanita yang banyak pengalaman, tahulah ia bahwa agaknya puteri Ketua Bengkauw itu menyukai Kian Ki sehingga ucapan ayahnya tadi membuat ia merasa cemburu kepadanya.
"Locianpwe, saya hanya seorang yang mendukung dan membela Kerajaan Chou dan karena Chou Kongcu merupakan pewarisnya, maka tentu saja saya selalu Siap untuk membela dan mendukungnya."
"O, begitukah? Akan tetapi, untuk menerima pelajaran ilmu Coat-beng Tiok ciang sama sekali tidaklah mudah. Bahkan Kim Lian dan Gu Kian juga belum cukup kuat untuk mempelajarinya. Karena itu, aku harus mengukur dulu sampai di mana tingkat kepandaian Kian Ki, baru akan kupertimbangkan apakah dia cukup kuat menerima ilmu itu. Kalau tidak cukup kuat, dia boleh mempelajari ilmu-ilmuku yang lain yang tidak seberat Coat-beng Tok-ciang."
"Akan tetapi kalau Locianpwe yang mengujinya dengan pukulan seperti tadi, amat berbahaya bagi keselamatan Kongcu!"
Bantah Cu Yin berani.
"Hemmm.. tidak perlu aku sendiri yang mengujinya."
Kata Coat-beng-lalu dia berkata kepada puterinya.
"Kim Llan, panggil Gu kian ke sini!"
"Ayah, biar aku saja yang menguji Chou Suheng (Kakak seperguruan) kata Kim Lian , tanpa ragu lagi menyebut suheng kepada Kian Ki. Permintaan gadis ini wajar saja karena dalam ilmu kepandaian silat, tingkatnya tidak lebih rendah dari pada tingkat Gu kian.
"Tidak, kalau engkau yang menguji tentu kedua pihak akan merasa sungkan dan pertandingan ujian Itu hanya pura-pura saja "
Kata Coat beng-kwi "Panggil Gu Kian ke sini!"
Kim Lian tidak membantah lagi karena ucapan ayahnya tadi tepat sekali menebak isi hatinya.
Ia tertarik merasa suka sekali kepada pemuda putera pangeran itu sehingga kalau ia yang menguji, tentu ia akan berpura-pura mengalah agar pemuda bangsawan itu lulus ujian!
Maka ia segera keluar dan tak lama kemudian Ia kembali memasuki ruangan tamu yang amat luas itu bersama Gu kian.
Pemuda ini segera berlutut di depan gurunya, menanti perintah.
"Gu kian, Chou Kian Ki ini akan diterima menjadi murid dan untuk mengetahul sampai di mana tingkat kepandaiannya, engkau harus mengujinya. Tidak mengapa kalau sampai engkau melukainya, akan tetapi jangan membunuhnyal"
Di dalam hatinya, sejak semula Gu Kian merasa tidak suka kepada Chou Kian Ki karena dia melihat betapa agaknya sumoinya, yaitu Kim Lian, tertarik kepada putera pangeran Itu.
Apalagi kini mendengar bahwa gurunya akan menerima pemuda itu sebagal murid, hatinya semakin panas, penuh Iri dan cemburu.
Maka, mendengar bahwa dia diharuskan menguji Kian Ki dan boleh melukai asalkan tidak membunuh, dia merasa girang sekali.
Dia akan menghajar dan membuat pemuda Itu jerih lalu memilih pergi dari situ.
"Baik, Suhu. Kapan dan di mana teecu harus mengujinya?"
"Sekarang dan di sini juga, ini cukup luas untuk melakukan pertandingan silat."
"Apakah teecu boleh menggunakan senjata ataukah hanya dengan tangan kosong, Suhu?"
Tanya Gu Kian. Tiba-tiba Klm Lian yang menjawab ketus.
"Gu Suheng, engkau ini bagaimana sih? Suhu menyuruh engkau menguji seorang saudara seperguruan kita bukan disuruh menyerang seorang musuh. Tentu saja dengan tangan kosong tidak menggunakan senjata!"
"Ha-ha-ha, Kim Lian berkata benar. Mulailah, Gu kian dan engkau, Kian Ki bersiaplah engkau menghadapi serangan Gu kian. Tentu saja engkau juga harus melawan, ingin kulihat apakah engkau mampu menandingi Gu kian."
Kata Coa beng-kwi.
"Baik, Suhu."
Gu kian dan Kian Ki menjawab hampir berbareng.
Mereka ia melangkah ke tengah ruangan Itu, di ikuti pandang mata Coat-beng-kwl dan Kim Lian.
Cu Yin juga memandang dengan senyum senang karena ia teiah Ikut mendorong Coat-beng-kwi sehingga Kian Ki berhasil menjadi murid ketua Bengkauw yang lihai Itu.
Ia tidak khawatir melihat Kian Ki akan diuji Gu Kian karena ia yakin akan kehebatan Ilmu.kepandaian putera pangeran Itu.
Gu Kian pasti tidak akan mampu melukai Kian Ki Yang mampu mengalahkan Kian Ki mungkin hanya Coat-beng-kwi saja.
Tadi pun, ketika Coat-beng-kwi menyerang dengan pukulan jarak jauh, ia tahu benar bahwa Kian Ki menuruti nasehatnya dan tidak mengerahkan sin-kang untuk melindungi diri sehingga dapat terluka.
Kalau dia menggunakan sin-kangnya pasti pukulan Coat-beng-kwi itu dapat di tangkisnya.
Ketika dua orang pemuda Itu saling berhadapan, Kian Ki melihat betapa sinar mata Gu Kian mencorong penuh kebencian.
Tahulah dia bahwa murid utama Coat-beng-kwl ini tidak suka, bahkan benci kepadanya.
Tentu saja dia tidak menjadi takut.
Dia bahkan harus waspada, maklum bahwa Gu kian dapat menjadi seorang musuh yang berbahaya.
Sebabliknya ketika Gu Kian melihat betapa Kiam Ki memandangnya dengan mulut tersenyum mengejek, dia menjadi semakin marah.
Biarpun aku tidak boleh membunuhnya aku akan membuat dia terluka parah demikian pikirnya.
"Chou Kian Ki sambutlah serang Ini!"
Dia membentak dan begitu menyerang dia menggunakan jurus pilihan mengerahkan semua tenaganya sehingga serangan Itu dahsyatnya bukan main.
angin pukulan menyambar kuat ke arah Kian Ki.
Akan tetapi Kian ki dengan tenang sekali namun cepat mengelak lalu dari samping dia menggunakan telapak tangan mendorong ke arah kepala lawan.
"Dukkk!"
Gu Kian menangkis dengan kuat dan pertemuan kedua lengan itu membuat keduanya tergetar.
Diam-diam Gu Kian terkejut karena dia merasa betapa lengan lawannya itu kuat sekali Dia maklum bahwa lawannya ternyata memiliki tenaga yang kuat.
dapat mengimbangi tenaganya sendiri.
Dia menjadi penasaran sekali dan segera menghunjamkan serangan-serangan kilat yang berbahaya kepada Kian Ki.
Pemuda ini mengimbanginya, mengelak, menangkis berbalik menyerang dengan tamparan atau tendangan sehingga terjadi pertandingan yang seru sekali.
Tiga orang itu memandang kagum.
Terutama sekali Kim LIan.
Gadis benar-benar kagum kepada Kian Ki.
sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa Kian Ki benar-benar telah memperlihatkan kegagahannya, mampu menandingi Gu Kian.
Padahal, gadis itu tahu bahwa kepandaian Gu Kian hebat setingkat dengan kepandaiannya sendiri dan pada masa Itu, sukar mencari yang mampu menandinginya.
Akan tetapi ternyata Kian ki dapat menandingi Gu Kian, baik dalam hal kecepatan maupun tenaga.
Semua serangan yang dilakukan Gu Kian dapat dielakkan atau ditangkis nya dengan baik dan sebaliknya dia dapat membalas dengan serangan-serangan yang membuat Gu Kian tampak kerepotan untuk menghindari diri atau menangkis.
Bahkan sudah tiga kali tamparan dan tendangan Kian Ki menyerempet tubuhnya.
Tidak merobohkannya akan tetapi cukup membuat dia terhuyung.
Saking kagumnya, Kim Lian berdecak dan memuji.
Mendengar suara kekaguman Kim Lian ini, Gu Kian rnenjadi semakin marah dan dia mengeluarkan seluruh jurus simpanannya dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Namun tetap saja dia tidak mampu mendesak Kian Ki.
Sebetulnya, hal ini tldaklah aneh.
Kian Ki telah menerima pelajaran ilmu silat dari Hongsan Siansu Kwee Cin Lok almarhum dari Kanglam Sinkiam Kwan In Su dan Im Yang Tosu, dan semua ilmu ini masih diperhebat oleh gemblengan Thian Beng Siansu almarhum, pada waktu mana Kian Ki menyedot dan menerima pengoperan tenaga sakti dari empat orang sakti itu.
Kalau Kian Ki mau menggunakan tenaga saktinya, agaknya dia dapat merobohkan Gu Kian dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Akan tetapi dia membatasi tenaganya sehingga pertandingan Itu berlangsung seimbang sampai dari lima puluh jurus!
Coat-beng-kwi yang sejak tadi perhatikan, diam-diam merasa geram.
Agaknya Hongsan 5iansu sudah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Chou Kian Ki, pikirnya.
Pemuda itu benar-benar hebat, bukan hanya dapat menandingi Gu Kian.
bahkan kini mulai dapat mendesaknya.
Akan tetapi kalau Kian Ki belum dapat mengalahkan Gu Kian, tentu saja dia belum mau mengajarkan ilmu simpanannya Coat-beng Tok-ciang karena kalau hal itu dia lakukan, tentu menimbulkan iri dalam hati Gu Kian, juga akan berbahaya bagi Kian Ki sendiri kalau dia belum memiliki sinkang yang cukup kuat, lebih kuat dari sinkang yang dikuasai Gu Kian.
Gu Kian sudah kehabisan akal.
jurus simpanan telah dia keluarkan, semua tenaga sinkang telah dia kerahkan namun tetap saja dia tidak dapat mengalahkan Kian Ki.
Bahkan kini dia mulai terdesak karena serangan balasan Kian Ki amat cepat dan kuatnya.
Dalam keadaan terdesak, Gu Kian khawatir kau dia sampai roboh di tangan pemuda bangsawan itu.
Dia akan malu sekali terutama di depan Kim Lian yang dicintanya dan yang diharapkannya menjadi jodohnya kelak.
Berpikir demikian, Gu Kian menjadi nekat.
Tiba-tiba dia melangkah mundur, lalu menerjang maju degan tubuh direndahkan dan kedua telapak tangannya mendorong ke depan, ruas lengan kanannya mengeluarkan bunyi "krek-krek!"
Dan itulah tandanya bahwa dia mengerahkan ilmu pukulan Hek-in Tok-ciang.
Dari kedua telapak tangannya mengepul uap hitam.
Hek-in Tok-ciang (Tangan Beracun Awan Hitam) ini hebat bukan main.
Biarpun tidak sehebat Coat-beng Tok-ciang yang mematikan, pukulan ini juga mengandung racun berbahaya yang dapat membuat luka dalam bagi lawani "lhhhhh.....!!"
Klm Lian menjerit karena ia sendiri juga menguasai ilmu Itu yang Ia tahu amat berbahaya bagi Kian Ki.
Akan tetapi.
Kian Kl juga menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah, lalu dia mendorongkan kedua telapak tangannya menyambut.
Dia menggunakan ilmu Thai-lek-jiu (Tangan Bertenaga Besar) yang dia pelajari dari mendiang Hongsan Siansu, akan tetapi tentu saja tenaga saktinya jauh lebih kuat dibandingkan tenaga mendiang Hongsan Siansu.
Kalau dia mengerahkan seluruh sinkangnya, akan berbahayalah bagi keselamatan nyawa Gu Kian.
Kian Ki yang ingin mendapatkan ilmu yang tinggi dari Coat beng kwi, tentu saja tidak mau menggunakan seluruh tenaga yang akan dapat membunuh Gu Kian.
Dia membatasi tenaganya, akan tetapi lebih kuat daripada tenaga sakti Gu, yang sudah dia ukur dan ketahui tingkatnya ketika tadi berulang kali mengadu tenaga.
"Wuuuttttt..... desssssir Dua terapak tangan itu bertemu dan akhirnya, tubuh Gu Kian terdorong ke belakang sampai tujuh langkah! Akan tetapi Kian Kl juga terdorong mundur tiga langkah. Tentu saja Kian Kl sengaja biarkan dirinya mundur tiga langkah. Karena maksudnya hanya agar tampak bahwa dia lebih unggul sedikit dibandingkan Gu Kian sehingga akan pantas menerima pelajaran Coat-beng Tok-ciang yang dia idamkan dari Coat-beng-kwi. Wajah Gu Kian menjadi pucat. Dia merasa terkejut, penasaran dan marah. Apalagi ketika dia mendengar Kim Lian bertepuk tangan dan berseru.
"Lihat, ayah Chou Suheng dapat mengalahkan Gu Suheng Dia pantas menerima pelajaran ilmu tertinggi dari ayah!"
Akan tetapi watak Coat-beng kwi memang aneh.
Tadinya dia yang ingin tahu apakah Kian Ki cukup tangguh dan kuat untuk menerima pelajaran ilmu yang berat darinya.
Kini, melihat betapa Kian Ki dapat menandingi, bahkan mengalahkan Gu Kian, muridnya yang dia banggakan, dalam hatinya timbul penasaran!
Gu Kian yang merasa malu karena kalahkan Kian Ki, kekalahan adu tenaga yang jelas tampak karena dia mundur tujuh langkah sedang Kian Ki hanya mundur tiga langkah, sudah mencabut siang-to (sepasang golok) dari punggungnya.
"Suhu, perkenankan teecu menguji dengan senjata!"
Sebelum Coat-beng-kwi menjawab Kim Lian mendahului bangkit dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Gu Kian.
"Gu Suheng, apaKah engkau malu? Engkau disuruh ayah untuk menguji Ilmu silat Chou Suheng dan dalam pertandingan tadi sudah jelas bahwa engkau kalah dalam segala-galanya. Kalah cepat, kalah tangguh, dan kalah tenaga dalammu. Setelah menguji kalah sepatutnya engkau melaporkan kepada ayah bahwa Chou Suheng pantas menerima pelajaran tertinggi dari ayah. engkau malah menuruti kemarahan iri hati, kini hendak menggunakan senjata Begitukah sikap seorang tokoh Beng-kauw yang disegani orang?"
Menghadapi serangan kata-kata dari Kim Lian, Gu Kian tidak bicara, hanya menunduk dan salah tingkah. Kini mendengar Coat beng-kwi berkata.
"Kian Ki, engkau ternyata cukup kuat dan patut menjadi muridku. Akan tetapi, aku menjadi penasaran melihat murid mendiang Hongsan Siansu dapat mengalahkan muridku. Maka, biar aku yang menguji sendiri sampai di mana kehebatanmu. Bersiaplah!"
Ketua Bengkauw itu kini bangkit dari kursinya.
"Ayah, bukankah ujian yang dilakukan Suheng sudah cukup?"
Seru Kim Lian khawatir.
"Kim Lian, engkau anak kecil, jangan ikut-ikutan"
Ayahnya membentak dan Kim Lian cemberut manja. Cu Yin yang juga merasa khawatir akan keselamatan kian Ki, segena berkata.
"Maaf, Locianpwe. Chou Kongcu datang menghadap Locianpwe adalah untuk mohon diberi pelajaran ilmu, karena kami yakin bahwa Locianpwe memiliki kesaktian yang amat hebat. Kalau Chou Kongcu merasa lebih lihai daripada Locianpwe, pasti dia tidak akan mohon bimbingan Locianpwe. Locianpwe sudah menerimanya sebagai murid, bagaimana sekarang Locianpwe akan turun tangan sendiri? Kalau sampai dia tewas di tangan Locianpwe, apakah hal ini tidak akan menodai nama besar Locianpwe yang terhormat?"
Muka kakek itu berubah merah matanya melotot memandang Cu Yin "Bocah perempuan!
Kalau tidak ingat bahwa engkau ini murid Hwa Hwa Moli ucapanmu Itu menjadi alasan cukup ku untuk membunuhmu.
Siapa akan membunuh Chou Kian Ki yang sudah kuterima menjadi muridku?
Aku hanya ingin menguji kekuatannya, apakah cukup untuk menerima ilmu Coat-beng Tok-ciang, Kian Ki, bersiaplah engkau, sambut pukulanku ini "
Kakek itu dengan gerakan ringan cepat sekali melompat ke depan Kian Ki, lalu memukul dengan dorongan kanannya.
Angin pukulan dahsyat nyambar ke arah dada Kian Ki.
Pemuda ini cepat menyambut dan mengerahkan sinkangnya dan menggunakan kedua tangannya untuk menyambut dengan dorongan pula.
"Syuuuttt..... dessss.....!'!."
Pertemuan kedua tenaga itu seolah mengguncang seluruh ruangan.
Kian Ki mengerahkan tenaga yang lebih kuat daripada ketika ia menyambut pukulan yang dilontarkan Gu Kian tadi.
Akan tetapi tetap saja membatasi tenaganya, tidak mengerahkan seluruhnya.
Akibat benturan dua tenaga sakti yang amat kuat itu, tubuh Kian Ki terdorong mundur lima langkah akan tetapi dia tidak roboh.
Akan tetapi Coat-beng-kwi juga merasa betapa tubuhnya terguncang.
Hal ini menunjukkan bahwa pemuda itu telah memiliki tenaga yang cukup kuat, jawh lebih kuat daripada tenaga Gu Kian dan sudah cukup kuat untuk mempelajari ilmu Coat-beng Tok-ciang.
Ketua Bengkauw itu mengangguk-ngguk, diam-diam dia merasa kagum dan girang karena benar seperti yang katakan puterinya tadi, murid barunya ini akan semakin mengangkat nama besarnya di dunia persilatan.
Dia jauh lebih dapat diandaikan daripada Gu Kian, apalagi dia adalah keturunan keluarga Kerajaan Chou!
"Bagus, engkau telah lulus dari ujian, Kian Ki.
Mulai sekarang, engkau kuberi pelajaran iimu-imuku yang paling tinggi."
Kian Ki merasa girang sekali dan menjatuhkan diri berlutut di depan Coat-beng-kwi.
"Terima kasih. Suhu. Teecu akan menaati semua petunjuk Suhu"
Cu Yin ikut gembira, apalagi ketika ia diperbolehkan tinggal di perkampungan Bengkauw sebagai pengikut atau pelayan Chou Kian Ki.
Yang merasa penasan iri hati, dan marah yang terpendam adalah Gu Kian.
Dia merasa benci kepada Kian Ki, akan tetapi karena gurunya sudah menerima pemuda bangsawan itu menjadi murid, pula karena dia tahu bahwa Kian Ki memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, maka dia hanya menyimpan dendam kebenciannya dalam hati.
Coat Kim Lian juga merasa senang karena dara remaja ini diam-diam tertarik kepada Chou Kian Ki.
Akan tetapi ia juga tidak senang bahwa Cu Yin diperbolehkan ayahnya tinggal di situ.
Mulai hari itu, Kian Ki dlgembleng oleh Coat-beng-kwi, dan karena dia telah dasar yang amat kuat, bahkan sinkangnya tanpa diketahui Coat-beng kwi sendiri telah mencapai kekuatan yang bahkan tidak kalah dibandingkan degan slnkang Ketua Bengkauw itu, maka dia dapat menguasai ilmu-ilmu itu dengan mudah.
Pagi Itu udara di puncak Bukit Cemara di Pegunungan Cin-ling-san amat cerah.
Matahari pagi mulai memancarkan cahayanya yang keemasan gemilang, memngunkan alam dari tidurnya.
Halimun yang semalam menyelimuti bumi perlahan-lahan meninggalkan bumi, terbawa angin dan perlahan membubung ke atas seolah disedot sinar matahari.
Kedinginannya yang lembab meninggalkan embun-embun bergantungan di ujung daun-daun dan rerumputan.
Alangkah indah dan mendatangkan kebahagiaan menyambut hari baru dengan menikmati keindahan alam yang serba, baru itu.
Bukan keindahan yang diulang-ulang dan dikenang, karena keindahan, yang disimpan dalam ingatan untuk diulang-ulang menjadi lapuk.
Dan jauh di bawah bukit terdengar suara sapi menguak dan kambing mengembek, pertanda bahwa fajar telah berganti pagi dan para penggembala menggiring hewan ternak mereka keluar dari kandang menuju ke padang rumput.
Rumah-rumah di bagian bawah, di dusunan yang hanya tampak genteng saja dari puncak, mulai tampak mengepulkan asap, pertanda bahwa para ibu sibuk di dapur, menjerang air untuk membuat minuman penghangat atau yang mempunyai persediaan, tidaknya membuat bubur untuk keluarga nya.
Di atas puncak Bukit Cemara itu, di depan sebuah pondok sederhana namun bersih, duduk Thai Kek Siansu di atas sebuah batu bundar yang lebar dan rata permukaannya.
Di situlah sering kakek itu duduk bersamadhl atau menikmati keindahan yang terbentang di depannya, dikelilingi puncak-puncak bukit di urungan itu, dan lembah-lembah yang kehijauan.
Biasanya dia hanya duduk seorang diri saja, tertelan dalam kebesaran alam, menjadi bagian dari semua keindahan alam itu.
Akan tetapi pada hari ini, di depannya, juga di atas sebuah batu yang rata permukaannya, duduk Si Han Lin.
Pemuda itu baru saja datang di puncak itu pada waktu fajar tadi, menunggang burung rajawali yang kini bertengger di atas pondok, tampaknya beristirahat setelah melakukan penerbangan jauh dan melelahkan.
Sejak menghadap gurunya pada waktu fajar tadi, setelah menjerang air dan membuatkan air teh untuk gurunya, Han Lin duduk di depan gurunya dan dia menceritakan semua pengalamannya, tentang pemberontakan dan perang itu.
Setelah dia selesai bercerita, Thai Kek Siansu menghela napas panjang.
"Ya Tuhan, betapa menyedihkan mendengar cerita tentang perang! Perang merupakan puncak kekejaman manusia apalagi perang saudara, bunuh membunuh dalam puncak nafsu kebencian antar bangsa sendir"l Padahal, manusia adalah mahluk termulia di antara semua mahluk hidup, yang dikaruniai hati akal pikiran sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, diberi kebebasan untuk memilih. Melihat sifat-sifat yang mulia dan paling baik antara segala mahluk, dapat dimengerti bahwa Yang Maha Kuasa menghendaki agar manusia menjadi pemimpin dunia menjadi pengatur dunia, dan hidup sebagai manusia menjadi pembantu kekuasaan Tuhan, menjadi penyalur berkat dunia seisinya. Akan tetapi celaka, nafsu-nafsu daya rendah menguasai manusia meracuni hati akal pikiran sehingga jadilah segala macam bentuk kejahatan dan kekejaman di antara manusia sendiri. Betapa menyedihkan.....!"
"Suhu, teecu juga yakin bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia tentu mempunyai maksud yang baik."
"Tentu saja. Han Lin. Tiada satu ciptaanNya yang tidak ada manfaat semua yang tampak di dunia ini, hasil ciptaan Tuhan, semua itu bermanfaat. Lihat saja, adakah sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi yang lain? Bahkan tanah pun bermanfaat secara mutlak, batu-batu, pasir dan semua barang yang disebut barang mati tak bergerak itu ada manfaatnya. Sarnpah yang dianggap paling rendah tingkatnya itupun bermanfaat bagl pupuk. Lalu kini yang hidup namun tak bergerak seperti tumbuh-tumbuhan. Semua tumbuh-tumbuhan itu berguna bagi yang lain, bahkan menghidupkan!. Bayangkan saja kalau tidak ada, tumbuh-tumbuhan yang perlu untuk dimakan manusia, dimakan binatang, dan untuk keseimbangan alam. Kalau ada tumbuh-tumbuhan yang pada saat sekarang ini belum diketahui manfaatnya hal itu hanyalah karena manusia belum menemukan manfaatnya, akan tetapi akan datang saatnya manfaatnya ditemukan. Kemudian mahluk hidup bergerak seperti binatang. Adakah binatang yang tidak ada manfaatnya? Sedikitnya bermanfaat sekali bagi manusiai Bahkan ada yang dimanfaatkan air susunya, kulitnya, dagingnya, tulangnya! Semua ada manfaatnya, Karena itu, alangkah menyedihkan kalau manusia hidup yang sama sekali tidak ada manfaatnya bagi manusia atau mahluk lain! Setiap orang manusia berkewajiban untuk membantu terputarnya kesejahteraan bagi dunia seisinya. Maka perang merupakan perbuatan yang amat terkutuk dari segolongan manusia dan sudah pasti sekali Tuhan tidak menghendakinya."
"Suhu, mengapa banyak manusia jadi jahat? Mengapa manusia saling rebut kekuasaan, harta, dan sebagainya?"
"Karena pada umumnya kita manusia selalu mengejar kesenangan dunia, Han Lin. Apapun yang diperebutkan, baik kekuasaan, harta benda, wanita dan bahkan memperebutkan kebenaran sekalipun semua yang diperebutkan itu kita anggap sebagal sumber kesenangan. Kita selalu Ingin memiliki semua itu, kalau semua itu untuk kita, menjadi milik klta. Maka terjadilah perebutan yang menimbulkan kekejaman dan bunuh membunuh karena kebencian. Kita lupa bahwa segala suatu yang terdapat di dunia ini adalah milik Tuhan! Bahkan diri kita masing-masing ini pun milik Tuhan! Kalau Sang pemilik hendak mengambil kembali mlliknya, termasuk diri kita, siapa yang dapat mencegahnya? Keluarga kita, isteri dan anak-anak kita, semua Itu milik Tuhan. Kita hanya mempunyai, hanya pengakuan saja sebagai punya kita, akan tetapi pada hakekatnya adalah milik Tuhan semata! Demikian pula harta benda, kedudukan, dan sebagainya. Semua itu merupakan anugerah atau pemberian dari Tuhan yag harus kita syukuri dan kita pergunakan sesuai dengan kehendaknya, yaitu dengan jalan mempergunakan semua anugerah itu demi kesejahteraan sesama manusia. Kita tidak boleh terikat dengan semua itu, karena sesungguhnya semua itu hanya dipinjamkan saja kepada kita oleh Tuhan sebagai pemilik tunggali."
Biarpun dulu Han Lin pernah mendengar pengertian itu, namun ucapan gurunya itu merupakan pupuk dalam sanubarinya, menambah kekuatan iman dan kepasrahan hatinya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Suhu, apa yang Suhu maksudkan dengan mempergunakan semua anugerah demi kesejahteraan sesama manusia?"
"Han Lin, anugerah Tuhan kepada kita dapat berupa kepandaian, kedudukan tinggi. tenaga kuat, kekayaan, dan sebagainya. Sepatutnya kita mensyukuri semua itu dengan cara menjadi penyalur berkat anugerahNya itu Yang berlebihan kepandaian, menyalurkannya kepada yang membutuhkan kepandaian, yang berkeduduk tinggi juga menyalurkannya demi kepe tingan mereka yang perlu dilindungi demikian pula yang kuat menyalurkan kekuatannya dengan membela yang lemah dan perlu dibela, yang berkelebihan kekayaan dapat menyalurkannya untuk menbantu mereka yang miskin dan membutuhkannya, dan selanjutnya. Dengan demikian, maka para penyalur berkat karunia Tuhan Itu menjadi pembantu-pembantu Tuhan yang baik dan patut menerima karunia Itu."
"Akan tetapi, Suhu. Banyak orang mengeluh, mengatakan bahwa apa yang dapat mereka salurkan kepada orang lain kalau mereka sendiri tidak memiliki kepandaian, kedudukan, atau kekayaan, hidup mereka itu lemah, seperti misalnya seorang kakek atau nenek yang miskin bodoh?"
Thal Kek Slansu tersenyum lebar sehingga tampak giginya yang masih lengkap dan putih bersih. Sepasang matanya yang bersinar lembut berseri.
"Pertanyaan itu memang masuk akal. Apakah hanya orang berpangkat, orang kuat, orang pandai, dan orang kaya saja yang menjadi penyalur berkat Tuhan, arti menjadi pembantu Tuhan? Tentu saja tidak, Han Lin. Seorang nenek tua yang tidak terpelajar, lemah, dan miskin sekalipun dapat menyalurkan berkat Tuhan, yaitu melalui sikap terhadap sesama manusia. Sikap yang tulus, jujur dan bijak, ramah dan manis budi, merupakan pemberian yang jauh lebih berharga daripada emas. Apa artinya dapat memberi emas kepada orang lain akan tetapi pemberian itu disertai sikap yang mengejek, marah, dan menghina? Akan tetapi tanpa pemberian apa pun Juga, setiap orang akan merasa senang menerima sikap ramah dan manis budi. Sikap yang inipun merupakan berkat Tuhan menandakan adanya sentuhan Kasih dalam hati nenek tua itu."
"Suhu, teecu mohon dijelaskan tentang Kasih yang Suhu maksudkan, yang menyentuh hati sanubari nenek miskin itu. Mengapa teecu melihat bahwa Kasih seperti yang Suhu maksudkan itu jarang sekali tampak berada di hati manusia. Teecu melihat lebih banyak kebencian menghuni hati manusia daripada Kasih."
"Sesungguhnya demikian, Han Lin Kasih hanya dapat menjadi pengisi batin kita kalau kita selalu dekat dengan Tuhan. Kasih itu merupakan Sinar Tuhan dan Sinar itu dapat menyinari batin kita apabila batin kita tidak lagi tertutup dan digelapkan oleh nafsu-nafsu daya rendah yang mementingkan diri sendir. Manusia tidak mungkin dapat belajar mengasihi atau belajar baik. Segala kebaikan itu adalah buah dari Kasih. Kalau Kasih menghuni batin kita, maka nafsu daya rendah tidak akan berdaya, akan lumpuh dan Kasih itu merupakan induk yang melahirkan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang sudah pasti baik dan benar, yaitu baik dan benar. bagi orang lain, bukan bagi dirinya sendiri karena baik dan benar bagi diri sendiri adalah licik dan palsu."
"Suhu, bagaimana kalau ada orang lain melakukan perbuatan jahat kepada kita yang amat menyakitkan badan dan batin kita?"
"Han Lin, satu di antara buah Kasih lah mengampuni kesalahan orang lain pada kita. Dengan dasar Kasih, mengampunl merupakan hal yang amat mudah. dan mengampuni merupakan kewajiban mutlak dari setiap orang, karena haknya teah kita terima, yaitu pengampunan bagi kesalahan kita dari Tuhan Maha Pengasih. Bukankah kita selalu mohon pengampunan dariNya? Bagaimana Tuhan dapat mengampuni bagi kesalahan kita kalau kita sendiri tidak mau mengampuni kesalahan orang terhadap kita? Ini namanya mau menang sendiri dan mau enak sendiri dan itu merupakan kejahatan!"
"Suhu, di dunia ini begitu terdapat orang yang menderita duka nestapa dalam hidupnya. Selama teecu melakukan perjalanan, lebih banyak menjumpai orang yang berduka dari yang bersuka. Mengapa dalam kehidupan ini demikian banyak kedukaan?"
"Han Lin, adanya duka karena suka, seperti adanya susah karena senang. Keduanya yang berlawanan tidak dapat dipisahkan, seperti siang tidak dapat dipisahkan dari malam karena keduanya merupakan kembar! Senang atau susah hanya merupakan pikiran yang dipengaruhi nafsu yang bentuk si-aku dirugikan, dia susah, Karena segala sesuatu itu tidak langgeng selalu berubah, maka timbullah susah-senang mempermainkan manusia. Semua perasaan Itu, susah-senang, kecewa dengan segala macam marah, benci, iri dengki, semua disebabkan oleh pengaruh nafsu yang menguasai hati akal pikiran sehingga membuahkan perbuatan jahat"
"Kalau begitu, jika Kasih datang dari Tuhan, maka nafsu itu datang dari Setan dan kita perlu . membuang semua nafsu, Suhu?"
Thai Kek Siansu tertawa lembut.
"He-he , sama sekali tidak demikian, Han Lin. Nafsu ada pada setiap orang rnanusia sejak dia dilahirkan, maka nafsu juga merupakan pemberian dari Tuhan agar nafsu melayani kebutuhan manusia hidup di dunia ini. Tanpa adanya nafsu, manusia tidak dapat hidup di dunia. Nafsulah yang mendorong manusia sehingga dapat membuat segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan ini. Nafsu yang membuat manusia dapat menikmati kehidupan. Tanpa adanya kenikmatan dalam makan yang dipengaruhi nafsu dalam selera makan, manusia tidak akan suka makan, demikian dengan nafsu yang mempengaruhi hal-hal lain. Akan tetapi, juga nafsu yang mencelakakan manusia, yaitu apabila nafsu daya rendah berbalik menjadi majikan dan kita manusia menjadi pelayannya. Kalau sudah begitu, maka manusia berpikir, berbicara, dan bertindak sesuai dengan dorongan nafsu yang membentuk si-aku dan kegelapan nafsu daya menutupi jiwa sehingga Sinar Kasih Tuhan tidak dapat meneranginya."
"Kalau begitu, kita perlu mengendalikan nafsu, Suhu?"
Thai Kek Siansu menghela napas panjang.
"Sulit sekali bagi kita manusia untuk mengendalikan nafsu hanya mengandalkan hati akal pikiran saja, Han Lin Karena hati akal pikiran sendiri fsudah bergelimang nafsu. Satu-satunya kekuatan yang akan mampu mengendalikan nafsu daya rendah hanyalah Kekuasaan Tuhan semata. Dan agar Kekuasaan Tuhan dapat bekerja, satu-satunya kemungkinan adalah apabila kita mendekatkan diri kepadaNya."
"Bagaimana agar Tuhan dekat dengan kita, Suhu?"
"Hanya apabila kita dekat denganNya. Dekat dengan Tuhan berarti memiliki iman sepenuhnya kepada Tuhan, Iman barulah lengkap apabila kita percaya berserah diri, pasrah kepadaNya dengan sepenuh dan selengkapnya, dengan hati yang sabar dan rela menerima apa pun yang terjadi dan datang kepada kita dengan keyakinan bahwa segala yang terjai di luar kekuasaan kita untuk mengubahnya itu adalah sesuai dengan ke hendak Tuhan! Kepasrahan yang mutlak inilah yang mendekatkan kita dengan Tuhan karena Dia mengasihi orang yang beriman penuh kepasrahan. Kalau sudah gitu, kekuasaanNya akan menyinari jiwa kita sehingga nafsu daya rendah kembali bekerja sesuai dengan tugas m ereka, yaitu menjadi pelayan kita."
"Bagaimana teecu harus menjawab kalau ada yang bertanya apakah sikap pasrah itu tidak membuat kita malas berusaha sehingga tidak akan mendapatkan kemajuan dalam kehidupan kita?"
"Sikap demikian itu salah sama sekali! Tuhan menciptakan kita manusia lengkap dengan segala anggauta badan termasuk hati akal pikiran dan naisu-nafsunya. Karena itu, sudah semestinya kalau kita pergunakan semua alat pelengkap anggauta badan itu, kita pergunakan sesuai dengan fungsi masing-masing. Kekuasaan Tuhan sendiri bekerja tiada hentinya sehingga seluruh alam semesta dapat berfungsi dengan baik. Itulah yang sebut sejalan dengan Tao (Jalan), adalah Kekuasaan Tuhan, Kodrat Tuhan. Siapa menyalahi kodrat, dia membuat dosa yang akan dipikul akibatnya. Kita butuh makan, haruslah mencari makanan itu, bahkan kalau sudah dapat dan kita makan, tetap saja kita harus bekerja yaitu mengunyah dan menelan makan. Sesudah makan memasuki lambung, tentu saja anggauta badan kita berupa lambung itu bekerja menghancurkan makanan dan setiap tetes darah kita juga bekerja. Karenanya, kita manusia harus berusaha sekuat tenaga, itu merupakan kewajiban mutlak, akan tetapi sebagai dasarnya, kita harus pasrah kepada Tuhan karena bagaimanapun kita berusaha, hasil akhirnya berada di Tangan Tuhan. Karena itu hasil yang ditentukan Tuhan haruslah kita syukuri, besar atau kecil, manis atau pun pahit. Karena segala hal yang terjadi telah ditentukan Tuhan dan apa pun yang terjadi dengan kita, karena itu keputusanNya, sudah pasti yang terbaik bagi kita."
Sunyi sekali di sekitar puncak.
Hening sekali.
Tidak ada sedikit pun angin semilir.
Daun-daun pohon tidak ada yang bergoyang, bahkan semua suara terhenti, tidak tampak lagi burung terbang di udara.
Seolah segala sesuatu ikut mendengarkan apa yang diucapkan Thai Kek Siansu kepada muridnya itu.
Semenjak pagi itu, Han Lin tinggal bersama gurunya, memperdalam ilm-ilmu yang sudah dikuasainya dan memperkuat iman dan penyerahannya kepada Tuhan dengan latihan penyerahan, ditemani oleh Thai Kek Siansu.
Setelah menjadi murid Ketua Beng-kauw, Chou Kian Ki berhubungan dekat dengan Coat Kim Lian.
Gadis remaja ini memang sejak pertama telah tertarik oleh ketampanan Kian Ki, lebih-lebih ketika-melihat betapa Kian Ki dapat mengalahkan Gu Kian!
la tahu bahwa diam-diam ayahnya dahulu mengharapkan agar ia menjadi jodoh Gu Kian mungkin akan diangkat menjadi penganti ketua.
Akan tetapi setelah bertemu Kian Ki, baru Kim Lian menyadari bahwa tidak mencinta Gu Kian dan tidak ingin menjadi isterinya.
Rasa sukanya kepada Kian Ki makin bertambah melihat sikap Kian Ki yang baik dan sopan kepadanya dengan sikapnya yang lembut dan anggun seperti yang biasa menjadi sikap bangsawan.
Membandingkan Gu Kian dengan Kian Ki, ia melihat seperti seekor burung gagak dengan seekor burung merak!
Mulailah Kim Lian bergaul dengan Kian Ki, bahkan setiap kali berlatih silat, ia selalu memilih Kian Ki sebagai mitra tandingnya, padahal dahulu selalu Gu Kian yang (Lanjut ke
Jilid 18 -Tamat) Si Rajawali Sakti (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 (Tamat) menemaninya.
Melihat keadaan Kian Ki yang amat akrab dan mesra dengan Kim Lian, Cu Yin merasa tidak senang.
Cu Yin memang tidak pernah mencinta Kian Ki hanya untuk teman bersenang-senang saja menuruti hawa nafsunya, la yang sudah mulai bosan dengan Kian Ki, ditambah lagi melihat keakraban pemuda bangsawan itu dengan Kim Lian, kini merasa tidak betah tinggal di perkampungan Beng-kauw.
Rasa tidak betah dan tidak senang ini semakin bertambah ketika Coat-beng-kwi memperlihatkan sikap merayunya, bahkan sempat pernah mengatakan bahwa Coat-beng-kwi akan senang kalau Cu Yin suka menjadi selirnya yang jumlahnya sudah belasan orang itu!
la ingin pergi dari perkampungan Beng-kauw, akan tetapi Coat-beng-kwi tidak memberi ijin, juga Kian Ki tidak membolehkannya.
Biarpun kini dia mulai menjauhi Cu Yin, bagi Kian Ki, Cu Yin masih amat penting dan berguna.
Wanita yang banyak pengalaman dan cerdik itu patut dijadikan pembantunya yang boleh dipercaya.
Pula, kalau Cu Yin pergi kemudian menyebar berita bahwa dia kini berada di Hek-hwi-san, di pusat Beng-auw, mungkin Kerajaan Sung akan mengirim pasukan dan orang-orang sakti untuk menangkap atau membunuhnya.
Pada suatu malam, ketika Cu Yin duduk termenung dalam kamarnya dengan hati kesal, daun pintu kamarnya diketuk orang.
Ketika daun pintu dibukanya, melihat Coat-beng-kwi dengan muka merah dan agaknya setengah mabuk memasuki kamarnya, ia cepat mundur menjauh.
"Lai Cu Yin, malam ini aku ingin di sini."
Kata Coat-beng-kwi sambil menyeringai. Cu Yin mengerutkan alisnya.
"Locianpwe, berkali-kali sudah saya katakan bahwa saya tidak mau melayani keinginan Locianpwe. Harap Locianpwe keluar karena tidak baik kalau dilihat orang Locianpwe memasuki kamar saya."
"Huhl Siapa berani mencegah memasuki kamar siapapun juga? Akan, kubunuh dia! Dan engkau jangan selalu menolak, manis, jangan sampai kesabaranku habis!"
Setelah berkata demikian Ketua Bengkauw itu menjulurkan tangan kanannya untuk menangkap.
Cu Yin cepat melompat ke belakang menghindar akan tetapi alangkah kagetnya karena tangan itu tetap saja dapat mencengkram pundaknya.
Kiranya lengan itu dapat mulur (memanjang) seperti karet ia hendak meronta, akan tetapi jari tangan Coat-beng-kwi menekan dan tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas tak berdaya!
Dengan ringan, tangan Coat-beng-kwi mengangkat tubuh Cu Yin dan dibawa dekat pembaringan, lalu ditelentangkan di atas pembaringan.
Cu Yin menjadi marah sekali, la memang sudah sering bergaul dengan pria, akan tetapi belum pernah ia dipaksa atau diperkosa.
Bahkan ia yang memaksa pria menuruti kehendaknya.
Ia marah dan khawatir, merasa dihina.
"Locianpwe, kalau Locianpwe melanjutkan, kelak saya akan melapor kepada subo Hwa Hwa Moli bahwa Locianpwe memperkosa saya!"
Tiba-tiba saja pegangan Coat-beng-kwi mengendur. Dia tampak ragu-ragu, mendengus marah, lalu memaki.
"Anak setan.....!"
Dan keluarlah Coat-beng-kwi dari kamar itu.
Cu Yin merasa lega, akan tetapi juga sedih, la menutupkan pintu kamarnya lalu duduk di atas kursi dan menangis merasa sedih karena setelah ia beerhasil membujuk Ketua Bengkauw untuk menerima Kian Ki sebagai murid, kini sebagai balasan Kian Ki malah menjauhinya akrab dan dengan Co Kim Lian.
Juga ia rasa sedih dan marah karena Ketua Beng-kauw mulai mengejar-ngejarnya.
Ia masih berhasil menggertaknya untuk laporkan kepada gurunya, akan tetapi bagaimana kalau kemudian ketua Beng-kauw itu menjadi nekat dan memaksa memperkosanya?
la akan merasa terhina sekali.
Dan semakin sedih hatinya mengingat bahwa tidak mungkin ia melarikan diri dari situ karena jalan menuruni bukit penuh dengan perangkap dan jebakan yang amat berbahaya dan dapat menewaskannya!
Teringat akan semua ini, Cu Yin menangis.
"Tok-tok-tok!"
Tiba-tiba daun kamarnya diketok lagi dari luar.
debar rasa jantung Cu Yin karena mengira bahwa tentu Coat-beng-kwi datang lagi dan mungkin sekali ini tidak akan menghiraukan gertakannya dan maksanya untuk menuruti keinginannya.
Diam-diam ia mencabut pedangnya dan siap untuk menyerang Ketua Bengkauw itu.
Kini ia mulai membenci orang-orang yang selama ini ia kagumi dan suka.
la benci Kian Ki, benci Coat-beng-kwi, dan membenci serta menyesali kehidupannya yang sudah-sudah, la mulai menyadari bahwa semua perbuatan Jahat dan keji yang selama Ini ia lakukan pada akhirnya mendatangkan akibat yang buruk kepadanya.
Biarlah, kalau perlu ia mati di tangan Coat-beng-kwi untuk menebus semua dosanya.
Mulai sekarang ia harus mengubah jalan hidupnya.
"Tok-tok! Cu Yin, bukakan pintunya!"
Cu Yin menyimpan kembali pedangnya dan bernapas lega.
Itu suara wanita dan kalau ia tidak keliru, itu suara Co Kim Lian.
Mau apa gadis itu mengunjunginya?
Cu Yin membuka daun pintu dan Kini Lian melangkah masuk.
Begitu ia masuk dan memandang Cu Yin, Kim Lian ber kata.
"Hemmm, engkau menangis, Cu Yin?"
Cu Yin tidak dapat menyembunyikan keadaannya.
Ia mengusap air mata masih membasahi pipinya dan berkata "Aku aku tidak betah tinggal di sini Kim Lian.
Duduklah, ada keperluan apakah engkau datang ke kamar ini?"
"Aku tahu kenapa engkau menangis Cu Yin. Aku melihat tadi ayahku masuk ke sini dan keluar lagi dalam keadaan marah-marah."
Cu Yin menghela napas.
"Kim Lian aku..... aku sudah tidak tahan lagi. tidak betah tinggal di sini."
"Kalau begitu, kenapa engkau tidak pergi saja meninggalkan Hek-kwi-san?"
"Bagaimana mungkin, Kim Lian? Aku tidak bisa meninggalkan bukit yang penuh alat rahasia jebakan yang berbahaya ini. Aku akan terjebak dan mati sebelum dapat turun ke bawah."
Kim Lian tersenyum mengejek.
"Eh kau benar ingin pergi? Meninggalkan Chou Kongcu? Bukankah engkau amat setia kepadanya?"
"Aku memang pergi, meninggalkan semuanya! Dia tidak peduli lagi kepadaku. Aku ingin pergi meninggalkan tempat ini, akan tetapi bagaimana mungkin?"
"Kalau memang ingin pergi, apa sukarnya? Aku dapat membawamu turun bukit tanpa bahaya."
"Aih, benarkah, Kim Lian? Benarkah engkau mau menolongku? Kalau begitu, mari kita pergi, tolong aku dengan menjadi penunjuk jalan yang aman dari jebakan!"
"Tidak sekarang, akan tetapi nanti menjelang pagi. Bersiaplah, aku akan menjemputmu menjelang pagi nanti."
Setelah berkata demikian, Kim Lian tersenyum dan meninggalkan kamar itu.
Malam itu Cu Yin sama sekali tidak tidur.
Setelah membungkus semua pakaianya dengan kain ia lalu duduk melamun.
Terkenanglah ia akan semua pengalaman hidupnya sejak ia meninggalkan tempat tiggal gurunya, Hwa Hwa Moli, di puncak Ang-hwa-san.
Kenangan akan semua pengalamannya itu sungguh kini tampak memalukan dan menyedihkan.
Ia membiarkan dirinya diperhamba nafsu-nafsunya sehingga mencampakkan semua pertimbangan, hanya bertindak menuruti keinginan dirinya untuk bersenang-senang belaka.
Kini timbul perasaan sesal dan malu.
Tadinya ia tinggal di puncak A hwa-san bersama Hwa Hwa Moli, gurunya, dan Pek Bian Ci suci-nya (kakakseperguruannya).
Baik gurunya maupun sucinya itu keduanya merupakan wanita-wanita pembenci pria.
Perasaan membenci kaum pria ini ditanamkan Hwa Hwa Moli kepada dua orang muridnya sehingga Lai Cu Yin,.seperti juga sucinya di dasar hatinya membenci kaum pria .
Kalau ia kemudian mempermainkan pria hal itu bukan terdorong rasa suka aatau cintanya, melainkan terdorong nafsu semata.
Karena itu.
setelah ia merasa bosan dengan seorang pria, la tidak segan-segan untuk membunuhnya atau meninggalkannya begitu saja!
Hal ini lakukan setelah ia meninggalkan Ang-san dan mulai merantau.
Kini ia mulai menyadari akan semua perbuatannya yang jahat dan ia mulai merasa menyesal, malu dan muak kepada diri sendiri.
Pada waktu menjelang pagi, setelah terdengar ayam berkeruyuk, Kim Lian mengetuk pintu kamarnya.
Cu Yin menggendong buntalan pakaiannya, lalu ia mengikuti jejak kaki Kim Lian menuruni puncak sehingga ia selamat tiba di kaki Bukit Hek-kwi-san.
"Kalau engkau ingin tiba di bagian kaki Pegunungan Beng-san ini engkau pergilah menuruni lereng di kaki Bukit Hek-kwi-san ini ke selatan. Bagian selatan itu merupakan bagian paling mudah untuk menuruni Pegunungan Beng-san,"
Demikian Kim Lian berkata, lalu gadis itu pergi mendaki bukit dan naik lagi ke puncak H ek-kwi-san.
Cu Yin merasa berterima kasih sekali, la lalu melanjutkan perjalanan menuju ke, arah selatan, menuruni bukit-bukit dari Pegunungan Beng-san yang luas itu.
Matahari mulai menumpahkan sinarnya yang lembut, mengusir halimun putih yang menghalangi pandangan mata.
Akan tetapi ketika Cu Yin tiba di sebuah jalan tebing yang curam, tiba-tiba ia mendengar teriakan orang dari arah belakangnya, la cepat menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, la melihat Kian Ki dan Kim Lian berlari cepat menghampirnya.
Hatinya mulai tidak enak.
Ia tahu bahwa Kian Ki tidak setuju kalau ia pergi meninggalkan Hek kwi-san.
Bagaimana sekarang dia dapat mengejarnya?
Ah, pasti Kim Lian , memberitahu!
Apa sih niat hati gadis remaja itu?
Cu Yin sama sekali tidak mengira bahwa Kim Lian adalah seorang gadis amat cerdik.
Diam-diam Kim Lian merasa tidak suka kepada Cu Yin datang bersama Kian Ki dan tampak menjadi teman akrab pemuda yangdi kaguminya itu.
Maka ia ingin agar Yin pergi dari Hek-kwi-san, dan setelah ia sendiri yang menjadi penunjuk jalan sehingga Cu Yin dapat menuruni Bukit Setan Hitam dengan selamat, la mendaki lagi dan memberitahu kepada Kian Ki bahwa Cu Yin telah melarikan diri dari situ!
Tentu saja Kian Ki terkejut dan marah.
Dia tidak ingin Cu Yin pergi karena hal itu membahayakan keselamatannya.
Maka, bersama Kim Lian dia segera melakukan pengejaran.
Tentu saja mudah bagi Kim Lian untuk mengetahui ke arah mana Cu Yin pergi karena la sendiri yang menunjukkan kepada Cu Yin agar la lari ke arah selatan.
Setelah berhadapan dengan Cu Yin, Kian Ki berkata dengan suara ketus.
"Cu Yin, engkau hendak pergi ke mana? Beraninya engkau pergi meninggalkan Hek-kwi-san tanpa memberitahu kepadaku!"
"Chou Kongcu,"
Kata Cu Yin dengan suara memohon.
"Biarkan aku pergi. Engkau sudah berhasil mencapai keinginanmu menjadi murid Ketua Bengkauw. Aku sudah tidak betah lagi tinggal di sana, maka biarkanlah aku pergi."
"Tidak! Engkau harus kembali ke puncak Hek-kwi-san, Engkau tidak boleh pergil"
Bentak Kian Ki marah.
"Suheng, kalau ia dibiarkan pergi, ia dapat membuka rahasia Bengkauw dan mengabarkan bahwa engkau berada di Bengkauw,"
Kata Kim Lian.
"Cu Yin, hayo engkau ikut dengan kami, kembali ke perkampungan Bengkauw!"
Sekali lagi Kian Ki membentak. Cu Yin mengerutkan alisnya. Kini ia menyadari bahwa Kim Lian memang sengaja mengatur agar Kian Ki marah kepadanya dan memaksanya kembali.
"Tidak, sampai mati pun aku tak sudi kembali ke sana!"
Cu Yin berkata lantang.
"Kalau begitu terpaksa aku gunakan kekerasan kepadamu!"
Kian berseru dan dia menerjang maju he menangkap lengan Cu Yin.
Gadis ini juga sudah marah sekali, maka begitu menarik lengannya mengelak, ia langsung mencabut pedangnya yang memakai ronce-ronce merah.
Melihat gadis itu mengelak dan mencabut pedang hendak melawan.
Kian Ki memuncak kemarahannya.
Kalau tadi dia hanya ingin membawa kembali Cu Yin karena bagaimanapun juga ia masih membutuhkan Cu Yin yang cerdik dan juga dapat menjadi kekasih yang menyenangkan, kini dia menganggap gadis itu sebagai musuh.
"Singgggg.....!"
Tampak sinar hitam berkilat ketika Kian Ki mencabut Hek kong-kiam.
"Perempuan rendahi Kau bosan hidup"
Bentaknya dan dia segera menyerangan dengan pedang hitamnya.
Cu Yin menangkis dan balas menyerang.
Terjadi perrkelahian mengadu silat pedang yang seru.
Kim Lian hanya menonton, dalam hatinya merasa gembira sekali.
Siasatnya berrhasil.
Ia ingin agar Kian Ki membenci Cu Yin dan sekarang pemuda itu bahkan ingin membunuh Ang-hwa Niocu Li Cu Yin!
Kalau Kian Ki sudah membunuhnuh Cu Yin berarti ia tidak mempunyai saingan lagi untuk mendapatkan cinta pemuda putera pangeran itu.
Biarpun Cu Yin melawan mati-matian, namun kini tingkat kepandaiannya kalah jauh dibandingkan tingkat kepandaian Kian KI.
Dalam hal ilmu pedang, mungkin ia tidak kalah, juga dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat ia mampu bergerak cepat, kecepatannya tidak kalah banyak dibandingkan Kian Ki.
Akan tetapi ia kalah jauh dalam hal tenaga sakti sehingga setiap kali pedang mereka bertemu di udara, pedang Cu Yin terpental dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan nyeri.
Namun ia tetap melawan dengan gigih dan mati-matian.
Ia memang sudah nekat.
Dari pada harus kembali ke Beng kauw dan menjadi bahan penghinaan lebih baik mati saja di tangan Chou Kian Ki pemuda yang tidak mengenal budi iIa sudah membantu perjuangan ayah Kian Ki mati-matian, bahkan la yang mengusahakan agar Kian Ki diterima menjadi murid Bengkauw, akan tetapi kini Kian Ki berusaha untuk membunuhnya!
Karena kalah jauh dalam kekuatan sin-kang, maka lewat tiga puluh jurus saja Cu Yin mulai terdesak dan merasa lelah sekali karena untuk menangkis pedang lawan ia harus mengerahkan seluruh tenaganya.
Apalagi kini Kian Ki menyelingi gerakan pedang di tangan kanannya dengan dorongan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan dahsyat.
Beberapa kail Cu Yin terhuyung ke belakang.
Tanpa disadarinya, ia mulai mundur sampai di tepi tebing yang curam.
Melihat ini, tiba-tiba Kian Ki berseru nyaring dan setelah menyimpan pedangnya, dia merendahkan tubuh dan mendorong dengan kedua tangan hawa pukulan yang amat dahsyat menyambar dan mendorong tubuh Cu Yin hingga terpental ke belakangi Cu Yin menjerit ketika merasa tubuhnya melayang ke bawah.
Kian Ki melompat ke tepi tebing dan menjenguk ke bawah, diikuti oieh Kim Lian yang merasa girang melihat Cu Yin terjerumus jatuh ke jurang yang demikian curamnya.
Akan tetapi ketika mereka menjenguk ke bawah, tidak tampak apa-apa saking dalamnya jurang Itu.
Mereka yakin bahwa tubuh Cu Yin pasti hancur terjatuh dari tempat sedemikian tingginya.
Melihat Kian Ki seperti termenung, seolah menyesali tindakannya terhadap Cu Yin, Kim Lian lalu menggandeng tangannya dan menariknya bangkit.
"Sudahlah, Chou Suheng. Gadis yang genit itu telah binasa, untuk apa dipikirkan lagi? Untung ia telah tewas karena kalau ia kembali ke Bengkauw, ia hanya akan mendatangkan kekacauan saja. Kau tahu, dengan genitnya ia telah mencoba untuk merayu ayahku."
Kian Ki menatap tajam wajah Kim Lian.
"Ah. benarkah?"
"Apakah engkau tidak percaya ku, Chou Swheng? Aku melihat ketika ia mencoba untuk merayu ayahku"
Kian Ki mengerutkan alisnya.
"Hemm sungguh tak tahu malu"
Katanya marah.
"Sudahlah, Suheng, Untuk apa mikirkan orang seperti dia? Bukankah sini ada aku? Mari kita pulang!"
Kim Lian menggandeng tangan Kian Ki mereka segera kembali mendaki Bukit Setan Hitam dan tidak lagi mempedulikan Lai Cu Yin yang mereka yakini tentu sudah mati di dasar jurang.
Ong Su dan istennya menerima kedatangan Ong Hui Lan dengan girang namun juga terharu.
Mereka terharu karena sudah mendengar akan kegagalan perjuangan Pangeran Chou Ban Heng untuk merebut kekuasaan dan membangun Kerajaan Chou, akan tetapi mereka merasa girang melihat puteri mereka dalam keadaan selamat.
Bekas Kepala Kebudayaan Kerajaan hou itu juga merasa heran melihat puterinya datang bersama seorang pemuda yang diperkenalkannya sebagai Liu Cin, murid Siauwlimpai.
Karena Hui Lan ingin bicara urusan yang penting dan gawat dengan orang tuanya, maka dengan lembut gadis itu minta kepada Liu Cin Agar ia mendapatkan kesempatan bicara sendlrl dengan orang tuanya.
"Cin-ko, silakan engkau beristirahat dan menanti di ruangan tamu. Aku ingin bicara dengan ayah ibuku."
Lui Cin tersenyum dan berkata.
"Jangan repot-repot mengurus diriku, Lan-moi. Biarlah aku bermalam di rumah penginapan saja dan besok pagi aku akan datang ke sini dan berpamit. Paman dan bibi, maafkan saya, saya mohon diri."
Ong Su dan isterinya mengangguk dan mereka merasa suka melihat pemuda yang gagah dan bersikap sopan itu.
Setelah Liu Cin keluar dari rumah itu, barulah Hui Lan merasa bebas untuk bicara dengan orang tuanya.
"Ayah. dan Ibu, keadaan di kota sungguh terbalik dari apa yang Ayah bayangkan semula."
"Apa maksudmu?' tanya Ong Su.
"Pangeran Chou Ban Heng yang telah diangkat menjadi Jenderal Penasehat Perang Kerajaan itu hendak melakukan pemberontakan secara keji sekali, menyuruh para pembantunya yang terdiri dari orang-orang kangouw golongan sesat untuk membunuh pejabat-pejabat pemerintah yang adil dan bijaksana, para pendukung Jenderal Chou Ban Heng terdiri dari para penjahat besar.. Semula saya memang ingin menyesuaikan dan membantu gerakan Jenderal Chou Ban Heng, akan tetapi, malapetaka menimpa diriku sehingga saya terpaksa pergi meninggalkan keluarga Chou, Ayah."
Ong Su dan isterinya bertukar pandang dengan heran.
"Malapetaka? maksudmu, Lan-ji (anak Lan)?"
Tanya ibunya khawatir.
Mendengar pertanyaan ibunya, Hui Lan menubruk, merangkul ibunya dan menangis tersedu-sedu.
Tentu saja ayah itan ibunya terkejut sekali melihat ulah puten mereka itu.
Sebagal orang tua yang berpengalaman, mereka mendiamkannya dulu agar Hui Lan melampiaskan rasa dukanya sampai reda melalui tangisnya.
Setelah tangis gadis itu mereda, ibunya berkata lembut.
"Hui Lan, engkau adalah seorang gadis yang memiliki kegagahan. Hentikan tanggismu dan ceritakan kepada kami apa yang telah terjadi."
"Ayah, Ibu..... pada suat u malam.....Chou Kian Ki mem..... perkosa saya....."
Ong Su membelalakkan matanya dan Nyonya Ong merangkul puterinya.
"Tapi, engkau telah mempelajari ilmu silat dari Tiong Ci Cinjin sampai bertahun-tahun!"
Ong Su membentak.
"Engkau bukan seorang gadis yang lemah dan mudah diperkosa begitu saja, Apakah engkau tidak bisa melawan jahanam itu?"
Ong Su marah sekali.
"Ayah, jahanam itu menggunakan obat bius. Saya terbius sehingga tidak sadar,kata Hui Lan sambil menahan tangisnya "Setelah saya sadar, saya segera menyerang dan hendak membunuhnya. Akan tetapi, dia memiliki ilmu kepandaian silat yang lebih tinggi daripada aku Ayah. Saya tidak berdaya....."
"Keparat busuk Chou Kian Ki itu. Akan tetapi, bukankah engkau telah menjadi tunangannya, calon jodohnya? Kenapa dia melakukan perbuatan terkutuk itu?"
"Karena saya menentang perbuatan kejam yang dilakukan mereka, maka mereka sengaja mengatur hal itu. Tentu dengan harapan agar aku, setelah perkosa, terpaksa mau membantu mereka. Akan tetapi aku tidak sudi, Ayah. Setelah malapetaka itu terjadi, saya makin membenci mereka. Saya lalu melarikan diri meninggalkan rumah Keluarga Chou. Tahukah Ayah dan Ibu apa yang dilakukan si jahanam Chou Kian Ki itu? Dia mengejar saya bersama seorang wanit a iblis cabul bernama Ang-hwa Niocu Lai Cu Yin. Dia hendak memaksa saya kembali ke rumahnya. Sebelum mereka muncul, saya saya tadinya hendak membunuh diri di hutan itu. Akan tetapi lalu datang pemuda yang tadi bersama saya, Ayah, yaitu Liu Cin menyelamatkan saya dan menasehati saya agar jangan membunuh diri. Dia menyadarkan saya bahwa kalau saya sakit hati dan ingin membalas dendam, saya harus memperdalam ilmu silat. Saya menurut dan ingin mencari guru lagi, lalu muncullah jahanam Chou Kian Ki dan wanita cabul itu. Saya melawan, dibantu Liu Cin. Kami kalah dan saya nyaris tertawan. Akan tetapi muncul seorang pendekar sakti, yaitu Si Han Lin dan dialah yang menyelamatkan kami, mengusir Chou Kian Ki dan Lai Cu Yin."
Ong Su dan isterinya semakin marah kepada Chou Kian Ki dan mereka minta kepada Hui Lan untuk melanjutkan ceritanya.
Hui Lan menceritakan semua pengalamannya betapa bersama Liu Cin ia mempelajari ilmu berpasangan, yaitu Thian-te Im-yang Sin-kun sehingga tingkat Kepandaian mereka memperoleh kemajuan pesat.
Kemudian ia dan Liu Cin membantu Kerajaan Sung menentang pemberontakan Chou Ban Heng yang didukung tokoh-tokoh sesat dunia kangouw sehingga pemberontakan itu dapat dihancur bahkan Chou Ban Heng tewas di pertempuran.
"Demikianlah, Ayah dan Ibu. harap Ayah dapat mengerti mengapa saya membantu pemerintah Kerajaan Sung dan menentang Chou Ban Heng dan jahanam Chou Kian Ki itu."
Ayahnya mengangguk-angguk.
"He, kalau mereka sejahat itu, memang tak patut untuk dibantu. Agaknya memang sudah nasib Kerajaan Chou habis riwayatnya sampai di sini. Jadi, pemuda Cin itu menjadi sahabat baikmu yang telah menolong dan membelamu. Hemim katakan, apakah engkau suka padanya?"
Ditanya demikian, wajah Hui menjadi kemerahan. Sambil menunduk mukanya ia menjawab.
"Saya mengagumi dan suka padanya. Ayah. Dia seorang yang jujur, baik budi dan murid Siau iimpai yang gagah perkasa."
"Dan dia mencintamu?"
Ong Su mengejar.
Hui Lan semakin menunduk, la hanya dapat menjawab dengan anggukan kepalanya.
Biarpun Liu Cin tidak mengatakannya secara terang-terangan, akan tetapi gala gerak-gerik, ucapan, dan pandang mata pemuda itu jelas menunjukkan bahwa pemuda Itu mencintanya.
"Hui Lan, apakah dia mengetahui bahwa engkau telah telah..... diperkosa orang?"
Tanya ibunya dengan khawatir. Hui Lan menggelengkan kepalanya.
"Saya belum menceritakan hal itu, Ibu. Hanya kepada Ayah dan Ibu saja saya memberitahukan hal itu."
"Engkau tidak boleh menceritakannya, Hui Lan!"
Kata ibunya.
"Ini tidak benar!"
Ong Su mencela isterinya.
"Kalau dia benar-benar mencintamu dan ingin berjodoh denganmu, dia bahkan harus tahu benar akan keadaan dirimu. Engkau harus Derttrus-terang menceritakan hal itu kepadanya, Hui Lan. Kecuali kalau engkau tidak ingin menjadi isterinya, jangan ceritakan!"
"Akan tetapi, kalau dia tahu anak kita bukan perawan lagi, tentu dia tidak mau menikah dengan Hui Lan!"
Balas Nyonya Ong.
"Hemm, itu tandanya bahwa tidak sungguh mencinta Hui Lan.Pendeknya kalau engkau juga mencintai dan ingin menjadi istennya, engkau harus menceritakan keadaanmu itu, Hui Lan "Saya memang akan menceritakan Ayah. Akan tetapi hal itu akan saya lakukan setelah saya dapat membunuh jahanam Chou Kian Ki! Saya baru akan menikah setelah dapat membunuhnya!"
"Tidak, Hui Lan, jalan pikiranmu! tidak betul! Mengapa engkau membiar dirimu diracuni dendam? Kalau engkau mengejar Chou Kian Ki dan dapat menemukannya, belum tentu engkau dapat membunuhnya, karena dia mungkin sudah mempunyai kawan-kawan yang lebih tangguh lagi. Engkau bahkan membahayakan dirimu."
"Akan tetapi perbuatannya yang terkutuk itu harus dihukum. Ayah!"
"Apa dia kurang mendapat hukuman? Usaha pemberontakan ayahnya gagal dan hancur, ayahnya sendiri tewas, mungkin keluarga orang tuanya dihukum, dia sendiri menjadi pelarian dan buruan pemerintah, kawan-kawan pendukungnya binasa. Apakah Itu bukan merupakan hukuman yang amat berat baginya? Dia sudah terhukum, Hui Lan. Engkau tidak perlu iagi memikirkannya. Sebaiknya mengatur dirimu sendiri. Engkau sudah cukup dewasa, dan kalau ada kecocokan dengan Liu Cin, sekaranglah saatnya engkau berterus terang kepadanya dan melihat bagaimana tanggapannya. Kalau keadaan dirimu itu tidak membuat cintanya berubah, aku dan ibumu yang akan membiicarakan urusan perjodohan ini karena dia sudah yatim piatu. Kalau cintanya berubah, berarti dia tidak berharga bagimu dan sebaiknya engkau putuskan hubunganmu dengannya!"
Setelah mempertimbangkan pendapat ayahnya dan melihat kebenarannya, Hui Lan mengambil keputusan untuk membuat pengakuan kepada Liu Cin.
Atas permintaan Hui Lan, mereka berdua pada suatu sore keluar dari kota Nan-king dan mendaki sebuah bukit kecil.
Dari atas bukit itu mereka dapat melihat kota Nan-king dari atas.
Sunyi situ karena hari sudah sore.
Tidak orang lain mengganggu percakapan mereka.
"Cin-ko, engkau tentu heran mengapa aku mengajak engkau berjalan-jalan pergi ke tempat ini.?"
"Engkau agaknya hendak membicarakan sesuatu yang penting, yang tidak boleh didengar orang lain, Lan-moi. benarkah dugaanku?"
Hui Lan mengangguk.
"Benar, Cin-ko. Ingatkah engkau betapa dulu aku menggantung dan hendak membunuh diri?"
"Tentu saja aku ingat. Bagaimana dapat melupakannya? Peristiwa itu merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah kulihat sepanjang hidupku!"
"Dan ingatkah engkau betapa nekat hendak memperdalam ilmuku agar aku dapat membunuh jahanam Chou Ki?"
Kembali Liu Cin mengangguk.
"Dan tahukah engkau mengapa demikian putus asa hendak bunuh-diri dan demikian besar dendamku kepada jahanam Chou Kian Ki?"
"Hemmm, maukah engkau menceritakan hal yang dulu kau rahasiakan itu kepadaku, Lan-moi?"
"Tadinya memang hendak kurahasiaan, akan tetapi setelah aku bicara dengan ayah dan ibuku, aku mengambil keputusan untuk membuka rahasia itu kepadamu, Cin-ko. Engkau tentu tahu bahwa aku telah ditunangkan dengan Chou Kian Ki dan oleh ayah dikirim ke kota raja untuk membantu Chou Ban Heng yang menurut ayah tadinya dianggap seorang pejuang yang hendak membangun kembali Kerajaan Chou. Akan tetapi setelah berada di sana dan melihat cara-cara yang dilakukan Chou Ban Heng yang membunuhi para pejabat yang terkenal baik dan bijaksana, aku menentang mereka. Kemudian, pada suatu malam, aku terbius dan dalam keadaan tidak sadar karena terbius itu aku aku telah..... diperkosa oleh si jahanam Chou Kian Ki! Nah, legalah hatiku kini. Engkau tahu bahwa tadinya aku hendak membunuh Chou Kian Ki karena aku telah diperkosanya, aku"
Aku bukan perawan lagi, Cin-ko."
Hui Lan menahan tangisnya, la tak mau tampak lemah, tidak mau disangka minta dikasihani oleh Liu Cin.
la menanti dengan tenang, siap menghadapi tanggapan bagaimanapun dari Liu Cin.
Liu Cin tersenyum!
Bukan senyum mengejek seperti yang dikhawatirkan Lan, melainkan senyum yang tulus.
"Terus terang saja, Lan-moi. Aku banyak memikirkan keadaanmu. Melihat engkau hendak menggantung diri, bertekad membunuh Chou Kian Ki, sudah mengambil kesimpulan bahwa kau tentu mengalami penghinaan amat hebat, yang dilakukan Chou Ki. Dan penghinaan apakah yang hebat bagi seorang gadis daripada perkosaan? Aku sudah menduga bahwa kau, entah bagaimana terjadinya, telah diperkosa oleh jahanam itu."
"Engkau sudah menduganya, Cin-ko? Dan engkau..... engkau tidak memandang rendah, tidak memandang kotor diriku?"
Kini Hui Lan hampir tak dapat menahan tangisnya. Kembali Liu Cin tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Mengapa memandang rendah atau memandang kotor? Lan-moi, apakah kau kira aku sepicik itu? Aku..... aku menghormatimu, aku mencintamu dan keadaan dirimu itu terjadi karena bukan kesalahanmu. Engkau menjadi korban kejahatan, bagaimana mungkin aku malah menghinamu? Sama kali tidak, Lan-moi, aku mengasihani mu."
Keharuan dan kelegaan hatinya membuat Hui Lan tidak mampu lagi membendung air mata yang sudah sejak tadi memenuhi pelupuk matanya, la menangis tersedu-sedu.
Liu Cin mendekati dan ketika dia menaruh tangannya dengan lembut di pundak gadis itu untuk menghiburnya, Hui Lan menjatuhkan diri dalam pelukan Liu Cin, menangis di atas dada yang bidang itu.
Ia merasa lega dan bahagia, seolah ada batu besar yang selama ini menghimpit dalam dadanya ini terangkat.
"Lan-moi, engkau tentu dapat merasakan betapa aku menghormati dan menghargaimu karena aku cinta padamu, Lan-moi."
Liu Cin menahan agar suaranya tidak terdengar sedih ketika dia melanjutkan.
"Akan tetapi, patutkah orang seperti aku mencintamu, Lan-moi?"
"Cin-ko.....I"
Hui Lan membantah "Kenapa engkau berkata begitu? Aku yang tidak patut mendapatkan cintamu"
"Tidak, Lan-moi. Engkau puteri orang yang terhormat, engkau masih mempunyai ayah dan ibu. Sedangkan aku"
Aku seorang yatim piatu yang tidak mempunyai apa-apa, miskin dan papa....."
"Cukup, Cin-ko. Jangan bicarakan itu lagi. Mari, mari kita menghadap ayah dan ibu. Ayah ingin bicara denganmu Cin-ko."
"Bicara denganku? Tentang apa, Lan-moi?"
Liu .Cin bertanya, nadanya kaget dan khawatir.
"Tentang kita"
Hui Lan menggandeng tangan pemuda itu dan merekacepat menuruni bukit dan kembali ke kota Nan-king.
Atas persetujuan Ong Su dan isterinya, Liu Cin dijodohkan dengan Ong Hui Lan.
Karena Liu Cin merupakan seorang pemuda yatim piatu, maka Ong Su lalu menghubungi guru pemuda itu, ialah Ceng Im Hosiang yang kini berada di Siauw-lin-pai (Kuil Siauwlim) dan hwesio ini di anggap sebagai wali dari Liu Cin.
Tentu saja Ceng In Hosiang merestuinya dan perayaan pernikahan antara Liu Cin dan Hui Lan dirayakan di rumah keluarga Ong Su dengan meriah.
Tentu saja para sahabat diundangnya, di antaranya tidak ketinggalan hadir pula Si Han Lin, Bu Eng Hoat, dan Song Kui Lin.
Si Han Lin merasa semakin berbahagia ketika dia berhasil membujuk Perwira Kwa Siong, ayah tiri Song Kui Lin, dan ibu gadis itu, untuk menjodohkan Kui Lin dengan Bu Eng Hoat.
Seperti juga halnya Liu Cin, Bu Eng Hoat yang yatim piatu diwakili oleh gurunya, Thong Losu.
Sampai di sini pengarang mengak kisah Rajawali Sakti ini dengan harapan mudah-mudahan kisah ini ada manfaatnya bagi para pembacanya.
Kalau keadaan mengijinkan, pengarang akan merangkai kisah di mana akan muncul tokoh-tokoh dalam kisah ini, terutama sekali Han Lin, Chou Kian Ki dan yang lain.
Sampai jumpa di lain cerita.
TAMAT Penerbit .
CV.
Gema 1993, Solo Djvu dibuat oleh .
Syaugy_ar Convert .
Bintang 73, Tjandra Final Edit & Ebook oleh .
Dewi KZ
Tiraikasih Website -
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Petualang Asmara 13
Baca Juga: Dewi Maut 7