Ceritasilat Novel Online

Sejengkal Tanah Sepercik Darah 8

Eps 8 Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo

Baca online Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo

Cersil Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo.

Dia siap untuk meninggalkan negerinya, bangsanya.

Tentu saja, dia harus menyelesaikan dulu tugasnya, karena sebagai seorang pendekar, sebagai seorang petugas, dia harus melaksanakan tugas Itu sampai selesai.

Setelah dia membuat laporan kepada atasannya, dia akan berterus terang, akan keluar dari pekerjaannya sebagai seorang petugas minta perkenan dari suhengnya, yaitu Panglima Kau Seng, untuk meninggalkan pasukan dan hidup bebas, tidak lagi pulang ke negerinya.

Seminggu kemudian, luka-luka yang diderita Wulansari dan Lie Hok Yan telah sembuh.

Mereka tidak mungkin terlalu lama tinggal di dusun itu.

Terlalu dekat dengan Kalasan.

Bahkan seluruh penduduk dusun itu sudah lari mengungsi.

Setelah peristiwa pertempuran itu, setelah banyak perajurit Daha tewas di dusun Kalasan, mereka tidak mungkin terus tinggal di dusun itu.

Pasti sekali Daha akan mengirim pasukan besar untuk membasmi penduduk dusun itu pula.

Maka, Ki Lurah Sardu, ayah Sumirah, lalu menganjurkan kepada para penduduknya untuk lari mengungsi.

Hanya tinggal keluarga lurah itu saja yang tinggal, karena dua orang tamu yang mereka agungkan, yaitu Wulansari dan Lie Hok Yan, penolong mereka, masih dirawat di situ.

Seminggu kemudian mereka sembuh dan mereka terpaksa harus meningalkan dusun yang merupakan tempat berbahaya itu.

Sebelum berpisah, Sumirah dan Hok Yan sempat mengadakan pertemuan berdua di bawah rumpun bambu, tak jauh dari rumah Ki Sarlan.

Mereka berdua kelihatan prihatin.

dan rnuram.

Mereka duduk di atas batu-batu yang berada di bawah rumpun bambu itu, saling berhadapan.

"Kenapa kita harus berpisah, Hok Yan. Aku tidak ingin berpisah darimu....."

Kata gadis itu dengan sendu. Hok Yan memandang wajah tunangannya yang agak pucat dan rambutnya yang kusut itu. Jelas nampak bahwa gadis itu semalam kurang tidur, dan matanya agak kemerahan.

"Akupun demikian, Milah. Kalau bisa, mulai saat inipun aku tidak mau lagi berpisah darimu. Akan tetapi, tugas mengharuskan kita berpisah sebentar. Aku akan cepat kembali ke induk pasukan membuat laporan, setelah itu aku minta berhenti dan akan kembali ke sini maksudku, mencarimu ke tempat kediamanmu yang baru. Menurut keterangan Paman Sardu, kalian akan pergi mengungsi ke dukuh Klinren, tak jauh dari Singosari, sebelah selatan kota itu. Setelah itu, kita takkan saling berpisah lagi, Milah"

"Akan tetapi, Hok Yan, keadaan sedang tidak aman. Perang akan terus berkobar, negara dalam kacau balau ...... kejahatan terjadi di mana-mana....... ah, aku khawatir sekali, Hok Yan. Bagaimana kalau sampai kita tidak dapat bertemu kembali?"

Gadis itu tidak dapat menagan air matanya yang mengalir turun dt sepanjang pipinya.

Hok Yan menjulurkan tangannya dan memegang tangan gadis itu "Milah, percayakah engkau kepadaku?

Aku cinta padamu dan aku tidak akan pernah dapat melupakanmu.

Selama hayat dikandung badan, setelah selesai tugasku, pasti aku akan mencarimu"

"Aku percaya kepadamu, Hok Yan. Akan tetapi....... demikian banyaknya bahaya menghadang di depan, dan engkau seorang perwira, tentu banyak bertemu musuh ....... ah, aku khawatir sekali, Hok Yan"

Jari-jari tangan Hok Yan meremas jari tangan gadis itu "Milah, percayakah engkau kepada para dewa?

Kalau memang para dewa menghendaki agar kita saling berjodoh dan dapat bertemu kembali, pasti kita berdua akan dilindungi dan dapat saling bertemu kembali dalam keadaan selamat"

"Engkau benar, Hok Yan"

Jawab Sumirah dan ia membalas remasan jari tangan pemuda itu "Aku akan selalu berdoa mohon berkah para dewa agar engkau selalu dilindungi dan kelak kita akan dapat saling berjumpa pula dalam keadaan selamat"

"Akupun akan selalu bersembahyang. Milah"

Hok Yan mencabut sebuah cincin dari jari manis tangan kirinya "Aku tidak mempunyai apa apa yang cukup berharga sebagai tanda mata, Milah.

Biarlah cincin ini, cincin yang selalu berada di jari tanganku, kau simpan sebagai tanda mata dariku"

Sumirah menerima cincin itu, memandang cincin emas yang ada ukiran huruf itu dengan mata bersinar "Hok Yan, apakah artinya ukiran ini? Gambar apakah itu?"

"Itu bukan gambar, Milah. melainkan sebuah huruf yang berbunyi LIE, yaitu nama she (marga) ayahku"

Sumirah mengangguk-angguk dan iapun melepaskan sebuah tusuk konde dari perak yang berbentuk daun semanggi"Aku juga tidak punya apa-apa kecuali tusuk sanggul ini, Hok Yan. Kau simpanlah"

Hok Yan menerima dan mencium benda itu.

Melihat ini.

Sumirah juga mencium cincin pemben Han Hok Yan dan keduanya saling pandang dengan wajah berubah kemerahan.

Cinta memang aneh, getarannya sedemikian kuatnya, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengalaminya.

Melihat barang yang biasanya menjadi miliknya, dicium oleh orang yang dicintanya, jantung terasa berdebar kencang dan badan menjadi panas dingin, seakan terasa bahwa bukan benda itu melainkan dirinyalah yang dicium.

Pada saat dua pasang mata itu saling pandang, bertaut dengan sinar penuh kasih sayang dan kemesraan, Tiba-tiba pendengaran Hok Yan yang amat tajam terlatih, menangkap adanya gerakan orang di balik serumpun semak tak jauh dari situ.

Sebagai seorang pendekar yang selalu berhati-hati dan waspada, apa lagi setelah dia bertugas sebagai penyelidik atau mata-mata, Tiba-tiba Hok Yan melakukan gerakan meloncat dan dia sudah berada di balik semak belukar itu.

Ternyata di situ berjongkok seorang pemuda yang bertubuh tinggi kurus dan bermata jalang.

Pemuda itu terkejut bukan main ketika orang yang diintainya itu Tiba-tiba meloncat seperti terbang saja dan tahu tahu telah berada di sebelabnya.

Diapun bangkit berdiri dengan mata terbelalak kaget, Pada saat dia bangkit berdiri.

Sumirah melihat dan mengenalnya.

Gadis itu lalu berlari menghampiri dan ia berseru lantang dengan suara marah.

"Kakang Kabiso. Apa yang kau lakukan di situ? Engkau mengintai kami, ya?"

Sumirah kini sudah tiba di sebelah Hok Yan dan ia memandang pemuda yang bernama Kabiso itu densan muka merah dan mata bersirtar marah.

Kabiso adalah seorang pemuda Kalasan dan pernah pemuda ini menggodanya ian menyatakan cinta, akan tetapi ditolaknya karena selain ia tidak mencinta pemuda itu, juga ia tidak suka karena mendengar bahwa K.abiso pernah mencuri pisang dan jeruk di kebun tetangga satu dusun.

Ayahnya, Ki Lurah Sardu sendiri pernah mengancam pemuda itu agar tidak mengulangi perbuatannya.

"Memang kuakui bahwa aku mengintai kalian, Sumirah. Sungguh tidak tahu malu engkau, berpacaran dengan seorang pemuda Cina, pemuda asing ini. Tidak patut engkau seorang, gadis terhormat......"

"Tutup mulutmu"

Sumirah membentak dengan muka merah padam "Engkaulah yang tidak tahu malu.

Ketahuilah, hei manusia tidak sopan, bahwa Lie Hok Yan ini adalah tunanganku, calon suamiku yang sah.

Orang tuaku sudah menyetujui"

Mendengar ini, Kabiso terbelalak, lalu mengerutkan alisnya dan dia tertawa mengejek "Ha ha he h he, sungguh aneh dan menggelikan sekali.

Apakah engkau perawan tidak laku maka mau diperisteri seorang pemuda Cina?"

"Kabiso"

Sumirah membentak, tiduk lagi menyebut kakang "Apa perdulimu dengan urusan pribadadiku?

Engkau tidak berhak mencampuri, juga engkau tidak berhak menghina tunanganku.

Pergi kau, keparat jahanam tak bermalu, atau aku akan memberitahukan ayah agar engkau dihajar"

"Hahaha, ayahmu sekarang bukan lurah lagi melainkan pelarian seperti aku. Memang. aku mencampuri. Aku tidak rela kau menjadi isteri Cina ini. Kalau kau berjodoh dengan seorang pemuda Jawa lainnya, biarpun engkau menolakku, aku tidak perduli dan aku rela. Akan tetapi menolak aku lalu. menikah dengan Cina ini? Aku tidak rela"

Sumirah menjadi semakin marah.

"Laki-laki tak tahu malu. Engkau bukan apa-apa bagi keluargaku, kau tidak berhak mengurusi diriku. Kalau kau tidak rela, habis mau apa?"

"Aku mau bunuh Cina ini"

Kabiso lalu mencabut sebatang golok dari pinggangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu mengayun senjata itu ke arah kepala HoK Yan.

Tentu saja serangan ini tidak ada artinya bagi Hok Yan yang sejak tadi hanya mendengarkan saja tanpa mencampuri, akan tetapi diam-diam dia waspada, apa lagi ketika Kabiso mengatakan bahwa pemuda itu hendak membunuhnya.

Sambaran golok itu dihindarkannya dengan miringkan tubuhnya lalu melangkah ke camping.

"Sobat, diantara kita tidak ada permusuhan, kenapa engkau menyerangku?"

Tanyanya, terus melangkah mundur tiga langkah menjauhi pemuda yang sedang marah itu. Kabiso mengamangkan goloknya kepada Hok Yan lalu berkata dengan nada suara marah.

"Engkau manusia jahat. Karena gara-gara engkaulah maka dusun Kalasan dibasmi pasukan Kediri, dan seluruh penduduk terpaksa lari mengungsi meninggalkan dusun dan rumah. Engkau sudah membikin sengsara penduduk Kalasan dan masih begitu kurang ajar untuk memper-isteri Sumirah, puteri lurah kami"

Sebelum Hok Yan menjawab, Sumirah yang cepat menjawab "Kabiso, engkau yang tolol dan tidak tahu urusan.

Diserbunya Kalasan oleh pasukan Kediri adalah karena Puteri Gayatri ternyata bersembunyi di dusun kita.

Gadis yang bernama Pusparasmi itu, yang mondok di rumah mbok Randa, ternyata adalah Puteri Gayatri.

Pasukan itu hendak mencarinya.

Dan Hok Yan bahkan menyelamatkan aku, menyelamatkan penduduk dengan melawan dan mengusir para penyerbu itu"

"Tidak perduli. Dia yang melawan pasukan sehingga tentu pasukan Kediri mendendam kepada semua penduduk Kalasan. Dia harus mati di tanganku"

Kabiso kembali menyerang, kini goloknya menyambar ke arah leher Hok Yan.

Hok Yan menganggap bahwa Kabiso sudah keterlaluan.

Kalau pemuda itu menyerangnya dan hendak membunuhnya karena salah paham mengira dia menjadi gara-gara dibasminya dusun Kalasan, hal itu masih dapat dimengerti.

Akan tetapi, pemuda ini nekat menyerang dan mau membunuhnya bukan karena itu.

Sumirah telah memberl penjelasan dan pemuda itu nekat menyerangnya.

Dari sinar matanya saja dia tahu bahwa pemuda ini membencinya, bukan karena urusan penyerbuan pasukan Kediri, melainkan karena cemburu, karena iri hati.

Maka, melihat golok itu menyambar ke arah lehernya, dia miringkan tubuh dan begitu golok lewat di depan mukanya, tangannya menyambar dan sebuah ketukan dengan tangan miring ke arah pergelangan tangan yang memegang golok, membuat Kabiso mengeluarkan teriakan kesakitan dan golok itupun terpental dan terlepas dari pegangannya.

"Sobat, aku tidak ingin berkelahi denganmu. Pergilah dan jangan ganggu kami lagi"

Kata Hok Yan, masih mencoba untuk menyabarkan penyerangnya itu.

Dia tahu bahwa Kabiso adalah seorang pemuda biasa yang tidak pandai ilmu silat, maka tidak selayaknya kalau dia melayaninya, apa lagi balas menyerang.

Akan tetapi, Kabiso bahkan menjadi semakin marah.

Memang tepat dugaan Hok Yan, Pemuda ini dimabok cemburu dan iri hati..

Sudah lama dia menaruh hati kepada Sumirah puteri lurah dusun Kalasan itu, dan pernah dia menggoda Sumirah dan menyatakan cintanya, akan tetapi gadis itu menolaknya.

Dan kini, melihat Sumirah bermesraan dengan seorang pemuda Cina.

apa lagi tadi mendengar bahwa mereka telah bertunangan dengan resmi rasa cemburu membuat dia membenci sekali.

Biarpun dia sudah kehilangan goloknya, kemarahan membuat dia nekat dan sambil mengeluarkan suara gerengan marah, dia sudah menerjang dan menyerang dengan kedua tangannya.

Hok Yan kembali mengelak ke samping dan sekali kakinya bergerak menendang lutut lawan, Kabiso terpelanting jatuh.

"Kabiso, engkau akan mati kalau melawan Hok Yan. Dia seorang pendekar, bukan lawanmu. Pergilah dan jangan ganggu kami"

Sumirah berteriak marah.

Kabiso maklum bahwa ucapan itu memang benar.

Dia tidak akan mampu mengalahkan pemuda Cina itu yang demikian mudahnya membuat goloknya terlempar, dan membuat dia terpelanting keras.

Setelah melempar pandang mata penuh kebencian kepada Hok Yan, dia lalu pergi dari situ setelah berlari.

Sumirah menghampiri Hok Yan dan memegang tangannya dan memandang dengan kagum.

"Terima kasih, Hok Yan. Engkau telah memaafkan dia dan bersikap mengalah"

Katanya.

tadi melihat jelas betapa tunangannya itu sama sekali tidak kelihatan marah, bahkan ketika menghadapi serangan Kabiso, tunangannya ini hanya mengelak dan hanya merobohkan tanpa melukai Dia tahu akan kehebatan ilmu kepandaian Hok Yan, dan kalau tadi tunangannya menghendaki, tentu Kabiso sudah roboh tak mampu bangkit kembali.

Hok Yan menarik napas panjang.

Aku kasihan kepadanya, Milah"

Sumirah mengerutkan alisnya"Kasihan kepadanya? Setelah dia menghinamu seperti tadi itu?"

Hok Yan menggeleng kepalanya "Dia menjadi korban kelemahannya sendiri, Milah.

Dia diburu cemburu sehingga dia membenciku.

Dia cinta padamu dan amat sakit rasa hatinya karena cintanya kau tolak dan melihat betapa engkau memilih aku"

"Sudahlah, Hok Yan. Tidak perlu kita membicarakan dia. Bagaimanapun juga, salahnya sendiri. Dia harus tahu diri dan tidak memaksakan cintanya kepadaku atau wanita manapun juga. Cinta tidak mungkin bertepuk tangan sebelah"

Hok Yan meremas tangannya dan sambil bergandeng tangan merekapun kembali ke rumah.

Sementara itu, di sebuah rumah lain di dusun itu, dusun yang telah sepi ditinggalkan semua penghuninya, empat orang sedang bercakap-cakap.

Mereka adalah Wulansari, Gayatri, Ki Jembros dan Pertiwi.

Baru sekarang, setelah hendak meninggalkan dusun, melanjutkan perjalanan masing-masing dan saling berpamit, sebelum saling berpisah mereka sempat bercakap-cakap dengan serius dan panjang lebar.

"Belum lama ini aku berjumpa dengan Raden Wijaya dan dengan Nurseta"

Kata Ki Jembros dan mendengar ucapan itu, baik Gayatri maupun Wulansari memandang dengan wajah berseri.

Pertiwi sudah mendengar akan pertemuan gurunya itu dengan mereka, maka iapun bersikap tenang dan tersenyum melihat betapa kedua pipi Wulansari berubah kemerahan dan matanya bersinar-sinar ketika mendengar disebutnya nama Nurseta.

Ia maklum betapa besar cinta kasih gadis perkasa itu Kepada Nurseta dan ia merasa bersukur.

Ia sudah mendengar pengakuan Nurseta yang mencinta gadis ini, dan sekarang ia melihat sendiri bahwa gadis inipun membalas cinta pemuda yang dikaguminya itu.

Ia ikut merasa berbahagia.

"Ah, bagaimana dengan kakangmas Wijaya, paman?"

Tanya Puteri Gayatri dengan gembira "Dan apakah paman pernah melihat pula ayunda Tribuwana?"

Ki Jembros mengangguk "Raden Wijaya dalam sehat, dan saya melihat pula Gusti Puteri Tribuwana bersama rombongan Raden Wijaya"

"Ah, puji syukur kepada Gusti Maha Kuasa"

Puteri Gayatri berseru dengan hati terharu akan tetapi juga girang mendengar bahwa kakaknya berada dalam keadaan selamat, bahkan telah bertemu dengan tunangannya.

"Bagaimana pula dengan kakangmas Nurseta paman?"

Tanya Wulansari.

"Sebaiknya kuceritakan saja perjumpaanku dengan mereka itu"

Kata Ki Jembros "Ketika itu, Pertiwi kutinggalkan dalam goa karena ia sedang melakukan tapa dan samadhi untuk menghimpun tenaga sakti agar ia dapat mempelajari ilmu kedigdayaan dariku.

Seorang diri aku turun dari bukit itu dan di dalam hutan, aku melihat rombongan Raden Wijaya dan para senopati yang masih setia kepadanya, sedang dikepung dan diserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Ki Cucut Kalasekti......."

"Ahh, kakek iblis itu"

Wulansari mengepal tinju mendengar disebutnya nama kakek itu yang pernah menjadi kakeknya, juga gurunya, akan tetapi yang ternyata adalah musuh besar ibunya itu.

"Aku segera membantu dan pada saat itu muncul pula Nurseta yang juga membantu. Untung ada Nurseta, kalau tidak, aku sendiri tidak akan mampu menandingi Ki Cucut Kalasekti. Kami berhasil menewaskan duapuluh orang anak buah Cucut Kalasekti, akan tetapi dia sendiri dapat meloloskan diri"

"Sayang......."

Kata pula Wulansari.

"Lalu ke mana sekarang kakangmas Wijaya, paman?"

Tanya Gayatri.

"Menurut keterangan beliau, karena tidak ada tempat yang aman, beliau hendak mengungsi ke Sumenep, ke tempat tinggal Sang Bupati Wiraraja. Dan berita terakhir yang saya dengar kini Raden Wijaya telah berada di kota raja Kediri, menghambakan diri kepada Prabu Jayakatwang di Kediri"

"Ihhh........ Kenapa begitu?"

Gayatri berseru dengan mata terbelalak penuh rasa penasaran "Bagaimana mungkin kakang mas Wijaya menghambakan diri kepada musuh? Sungguh keji dan memalukan......."

"Harap puteri bersabar"

Kata Ki Jembros "Saya merasa yakin bahwa hal itu dilakukan hanya sebagai siasat untuk menyusun kekuatan.

Saya telah mendengar bahwa kini Raden Wijaya sedang membabat hutan, dan saya merasa yakin bahwa beliau sedang membangun kekuatan baru"

"Benarkah itu, paman? Ah, mbakayu Wulan, mari kita menyusul ke sana, aku ingin mendengar sendiri dari mulut kakangmas Wijaya bahwa dia bukan seorang pengkhianat"

"Jangan khawatir, kita akan menyelidik"

Sendiri ke sana"

Kata Wulansari "Paman Jembros, tahukah paman di mana adanya kakangmas Nurseta sekarang?"

"Dia pergi mencarimu, Wulan"

"Ahhh.......?"

"Ketika kami bercakap-cakap dengan Raden Wijaya, Nurseta bercerita bahwa ayah angkatnya, juga gurunya yang pertama, yaitu Ki Baka, telah tewas pula ketika mereka berdua itu ikut terjun dalam pertempuran pada saat pasukan Daha datang menyerbu Singosari. Ki Baka dan Nurseta ketika itu sedang bertamu ke rumah ayahmu, Wulansari"

"Ehhh......?"

"Mereka datang berkunjung ke rumah Ki Medang Dangdi, ayahmu untuk meminang dirimu. Pinangan itu diterima oleh ayahmu, dan pada saat mereka bertamu itulah Singosari diserbu pasukan Daha, Nurseta dan Ki Baka ikut mengamuk, dan dalam pertempuran itu muncul pula Ki Cucut Kalasekti dan Ki Baka terkena anak panah beracun dari iblis tua itu"

"Hemm, kembali kakek iblis itu........"

Wulansari bergumam marah.

"Karena lukanya, Ki Baka tewas, demikian cerita Nurseta. Sebelum tewas. Ki Baka memesan kepada Nurseta agar mencari sampai dapat tombak pusaka Ki Tejanirmala, dan agar dia mempersembahkan tombak itu kepada "Raden Wijaya. Dengan tombak pusaka itulah kiranya Raden Wijaya akan berhasil membangun kembali Kerajaan Singosari yang runtuh Nah, ketika dalam pertemuan di hutan setelah menolong rombongan Raden Wijaya itu. Nurseta menerima tugas pula dari Raden Wijaya untuk mencari dan menemukan tombak pusaka Tejanirmala itu. Dan Nurseta lalu pergi untuk mencarimu, Wulan, karena menurut dia, tombak pusaka itu berada padamu dan agaknya. telah diberikan kepada Sang Prabu Jayakatwang. Karena tombak pusaka itu maka Kediri menang perang melawan Singosari. Benarkah itu Wulan? Benarkah cerita Nurseta bahwa tombak. pusaka itu berada padamu dan kau berikan kepada Sang Prabu Jayakatwang?"

Wulansari menundukkan mukanya yang nampak menyesal "Memang benar, paman.

Seperti paman ketahui, aku telah ditipu oleh Ki Cucut Kalasekti yang menculikku dan aku diakuinya sebagai cucunya, bahkan dia mengajarkan ilmu-ilmunya kepadaku.

Karena aku menganggap dia benar kakekku yang amat sayang kepadaku.

maka ketika dia menyuruh aku mencari dan merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala, aku melakukannya.

Aku berhasil merampas pusaka itu dan kuserahkan kepadanya.

Dia menghaturkan pusaka itu kepada Sang Prabu Jayakatwang dan sejak itu, tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala menjadi milik Raja Kediri itu"

Wulansari nampak menyesal sekali ketika melanjutkan.

"Sungguh aku sama sekali tidak mengira bahwa pusaka itu yang akhirnya menyebabkan runtuhnya Singosari karena diserbut oleh Kediri........"

"Hemm, tidak benar demikian, Wulan. Kalau sebuah kerajaan besar seperti Singosari sampai runtuh, (Lanjut ke

Jilid 24) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 hal itu hanya dapat terjadi karena sudah dikehendaki oleh Sang Hyang Widhi Wasa.

Dan runtuhnya Kerajaan Singosari merupakan peristiwa besar, tentu tidak dapat terjadi begitu saja tanpa banyak hal yang menyebabkannya.

Diantara sebab-sebab itu mungkin karena Raja Kediri mendapatkan Ki Ageng Tejanirmala, juga karena kekeliruan mendiang Sang Prabu Kertanegara yang membiarkan negeri dalam keadaan kosong dan lemah dengan mengirim pasukan terbesar ke Pamalayu, Bali dan lain-lain.

Jadi, sekarang tombak pusaka itu berada di tangan Sang Prabu Jayakatwang?

Kalau begitu, akan sukar sekali tugas yang dipikul Nurseta.

Tidak mudah merampas sebuah pusaka yang telah berada di tangan Sang Prabu Jayakatwang"

Wulansari mengangkat mukanya "Jangan khawatir, paman. Aku yang akan membantu kakangmas Nurseta, dan aku yang sanggup untuk mendapatkan pusaka itu dan menyerahkannya kembali kepada kakangmas Nurseta"

Ki Jembros memandang kepada gadis itu dengan wajah berseri "Aku percaya padamu, Wulan.

Dan kalau engkau berhasil menyerahkan pusaka itu sehingga kelak dapat menjadi pusaka Raden Wijaya, sungguh aku merasa semakin berbahagia bahwa belasan tahun yang lalu aku telah menyelamatkan engkau dari gulungan ombak laut kidul"

Demikianlah, mereka semua saling berpisah dalam suasana yang akrab dan penuh haru.

Wulansari yang sudah menyamar lagi sebagai pria pergi bersama Dyah Gayatri yang berpakaian sebagai seorang gadis dusun biasa.

Mereka akan pergi ke hutan di mana kabarnya Raden Wijaya sedang mendirikan sebuah tempat pemukiman baru, Lie Hok Yan pergi seorang diri ke utara untuk kembali ke pangkalan pasukan Mongol dan menjumpai seorang diantara panglimanya, yaitu Panglima Kau Seng yang menjadi suhengnya (kakak seperguruannya), melaporkan basil penyelidikannya kemudian minta ijin untuk keluar dari pasukan dan kembali mencari tunangannya ke dusun Klintren sebelah selatan Singosari.

Ki Lurah Sardu, isterinya dan Sumirah lari mengungsi ke dukuh Klintren di mana dia memiliki seorang adik keponakan, di mana keluarga ini akan membuka hidup baru dan bersembunyi dari jangkauan tangan pasukan Daha yang tentu akan membalas dendam karena kegagalan mereka membasmi dusun Kalasan di mana banyak anggauta pasukan mereka tewas.

Ki Jembros jaga melanjutkan perjalanannya dengan Pertiwi, gadis yang telah menjadi muridnya dan yang seperti juga Wulansari, selalu berpakaian seperti seorang pemuda untuk menghindarkan gangguan dalam perjalanan.

Sebctulnya, Pertiwi yang merasa sudah cukup menerima gemblengan Ki Jembros, ingin pergi mencari sendiri musuh besarnya, yaitu Gagak Wulung.

Akan tetapi, Ki Jembros melarangnya pergi mencari sendiri.

"Gagak Wulung bukanlah seorang lawan yang lemah"

Demikian kakek itu berkata "Biarpun engkau sudah mempelajari berbagai ilmu, aku masih belum rela membiarkan engkau menghadapinya sendiri. Akulah lawan bedebah itu"

Dan Ki Jembros selalu menemani muridnya.

Mereka mulai bertanya tanya dan melakukan penyelidikan di mana kiranya musuh besar itu berada.

Setelah berputar-putar tanpa hasil, akhirnya mereka memutuskan untuk menyelundup ke wilayah Kerajaan Daha, karena Ki Jembros tahu bahwa Gagak Wulung adalah seorang tokoh Daha, walaupun namanya tidak pernah terkenal sebagai seorang senopati.

Orang macam dia tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan dalam kemenangan yang dicapai oleh Daha, tentu dia ingin memetik pula buahnya.

Biarpun Raden Wijaya berikut semua senopati yang setia kepadanya kini tinggal di Kerajaan Daha, dan nampaknya saja Raden Wijaya dan para pengikutnya menghambakan diri kepada Sang Prabu Jayakatwang, namun sesungguhnya semua itu hanya merupakan siasatnya yang telah diatur bersama Bupati Wiraraja di Sumenep.

Bupati Wiraraja yang ahli siasat itu tahu bahwa Sang Prabu Jayakatwang hanya membenci mendiang Sang Prabu Kertanagara, akan tetapi tidak membenci Raden Wijaya, Raden Wijaya tidak menyianyiakan waktunya.

Dia menyebar para pembantunya untuk mencari dan memilih tempat yang baik yang akan dijadikan pangkalan mereka.

Tak lama kemudian, para pembantu yang setia itu mengusulkan daerah Tarik sebagai tempat yang dicari oleh Raden Wijaya itu.

Daerah Tarik terletak di tepi Sungai Brantas, karena itu mempunyai tanah yang loh jinawi ( subur).

Apa lagi letaknya amat baik, dekat pelabuhan Canggu.

Banyak sekali perahu hilir mudik di pelabuhan Canggu ini untuk berdagang.

Tanahnya subur, dekat sungai sehingga perjalanan dapat dilakukan lancar, mudah berhubungan dengan daerah lain, bahkan dapat berhubungan dengan Madura melalui sungai.

Tempat yang diidamkan oleh Raden Wijaya.

Maka menghadaplah Raden Wijaya kepada Sang Prabu Jayakatwang.

Kesukaan Sang Prabu Jayakatwang adalah berburu binatang di hutan.

Maka dengan wajah yang bersungguh-sungguh, Raden Wijaya mengusulkan kepada Sribaginda raja agar memperkenankan dia untuk membuat daerah Tarik sebagai daerah hutan perburuan bagi sang raja.

Raden Wijaya sendiri setiap kali Sribaginda melakukan perburuan, tentu diajaknya.

Mendengar usul yang mengenai kesukaannya itu.

Sang Prabu Jayakatwang segera menerima dan menyetujui usul itu.

"Bagus sekali usulmu itu, Wijaya. Cepat laksanakan, dan jangan lupa untuk melepas beberapa pasang harimau, rusa dan banteng ke dalam hutan itu agar mereka itu berkembang biak dan menambab banyak jumlah binatang buruan di hutan itu"

Setelah menerima ijin dari Sang Prabu Jayakatwang, Raden Wijaya lalu membawa para pembantunya menuju ke daerah Tarik, dan diapun mengirim utusan ke Sumenep untuk memberitahukan hal itu kepada Bupati Sumenep, yaitu Arya Wiraraja atau yang juga dikenal dengan sebutan Banyak Wide.

Bupati Wiraraja girang sekali mendenga akan hal itu dan diapun cepat mengirim orang orang Madura, banyak sekali jumlahnya, untuk membantu Raden Wijaya membuka hutan itu.

Setelah menentukan tempatnya dan memilih-milih, membuat gambar, Raden Wijaya lalu menyerahkan pelaksanaan pembukaan hutan itu kepada para senopatinya yang setia.

Dia sendiri segera kembali ke Kediri untuk melaporkan kepada Sang Prabu Jayakatwang bahwa pekerjaan itu sudah mulai dilaksanakan.

Dia kembali ke Kediri agar sang prabu tidak menaruh curiga.

Namun diam-diam selalu ada utusannya yang mengadakan hubungan dengan para senopati yang mengepalai pekerjaan membabat hutan itu.

Karena banyaknya tenaga pekerja dari Madura yang dikirim oleh Bupati Sumenep, maka, pekerjaan membongkar dan membabat hutan itu berjalan lancar sekali.

Tak lama kemudian, dari utusan rahasia Raden Wijaya mendengar kabar bahwa daerah itu telah selesai dibabat dan bahwa para senopatinya mengharapkan Raden Wijaya untuk datang sendiri menyaksikan hasil pekerjaan mereka.

Raden Wijaya memang sudah bersiap-siap.

Dia lalu minta ijin kepada Raja Jayakatwang untuk memimpin sendiri pekerjaan di daerah Tarik itu.

"Hamba akan membangun sebuah bangunan pesanggrahan untuk paduka, agar perburuan di sana dapat dilakukan siang malam tanpa gangguan dan paduka mempunyai tempat yang baik dan enak untuk melewatkan malam"

Demikian antara lain Raden Wijaya menjanjikan.

Sang Prabu Jayakatwang girang sekali dan berangkatlah Raden Wijaya bersama seluruh pengikut dan pembantunya.

Dengan jantung berdebar penuh harapan, Raden Wijaya dan rombongannya melakukan perjalanan yang memakan waktu tidak kurang dari satu minggu itu.

Ternyata para senopati telah mempersiapkan pesanggrahan untuk junjungan mereka.

Sebuah bangunan yang amat sederhana, terbuat dari bambu, dan pagarnya dibuat dari bambu pula.

Di sekeliling pesanggrahan itu terdapat kolam, Letaknya pesanggrahan itu di tengah-tengah daerah yang dibabat hutannya, yang direncanakan akan dijadikan sebuah kota.

Kota ini menghadap ke sungai besar, yaitu Sungai Brantas yang mengalir dari sebelah barat, dan sungai besar ini bertemu dengan sebuah sungai kecil yang mengalir dari sebelah selatan, yaitu Kali Kencana (Kalimas).

Begitu tiba di situ, Raden Wijaya dengan penuh semangat lalu mengadakan pemeriksaan dan berjalan mengelilingi daerah yang sudah dibabat.

Dia melihat banyak pohon yang mengandung banyak buah.

Dia ingin sekati melihat dan merasakan buah dari pohon itu.

"Buah pohon itu tidak enak rasanya, Raden"

Kata Senopati Pamandana.

"Ambilkan aku sebuah, aku ingin melihat dan merasakannya sendiri"

Jawab Raden Wijaya, Segera beberapa butir buah itu diberikan kepadanya dan diapun mencicipinya. Benar saja, pahit sekali rasanya "Ihh, buah apakah ini?"

"Namanya pohon itu pohon Wilwa atau pohon Maja, Raden"

Para pekerja itu menerangkan.

"Wilwa tikta (Maja pahit)"

Kata Radent Wijaya, kemudian dia termenung seperti mengingat akan sesuatu "Majapahit......

hemm, itulah nama yang kuberikan kepada tempat ini.

Para paman dan kakang senopati sekalian, harap menjadi saksi.

Mulai sekarang, tempat ini kuberi nama Majapahit"

SETELAH mendengar bahwa Raden Wijaya telah berada di daerah baru yang diberi nama Majapahit, maka berdatanganlag orang-orang dari Daha, Tumapel dan Madura untuk ikut membuka hutan dan tinggal di daerah itu.

Orang-orang dari Madura berkelompok dan memilih bagian sebelah utara dari tempat ini, dan dinamakan dukuh Wirasaba.

Dalam waktu sebentar saja, daerah baru yang diberi nama Majapahit itu menjadi ramai dan banyak sekali penduduknya.

Raden Wijaya bersikap baik sekali kepada mereka yang berbondong datang ke daerah baru itu untuk menjadi penghuni di situ.

Dia bersikap ramah dan penuh kekeluargaan, bahkan.

membantu mereka yang kekurangan untuk dapat membangun rumah sederhana dan dia membagi-bagikan tanah garapan sehingga kehidupan para penduduk baru itu cukup terjamin.

Sikap yang baik ini tentu saja segera tersiar luas dan semakin banyaklah orang-orang terusir dari daerah Singosari berdatangan dan kemudian menetap di situ, bersumpah setia kepada Raden Wijaya.

yang mereka anggap sebagai junjungan baru.

Biarpun bangunan yang menjadi tempat tinggalnya hanya merupakan pesanggrahan amat sederhana, namun melihat bahwa dia telah memiliki potensi sebagai tempat pergerakan dan penyusun kekuatan.

Raden Wijaya lalu mengutus dua orang pembantunya yang setia, yaitu Banyak Kapuk dan Mahesa Wagal, pergi ke Madura dan menphadap Bupati Wiraraja di Sumenep.

Dua orang utusan itu berankat.

Dan giranglah hati Bupati Wiraraja mendengar bahwa Raden Wijaya telah mendapatkan suatu daerah baru yang amat baik sebagai tempat penghimpunan tenaga dan persiapan perang untuk menyerang Kerajaan Kediri.

Diapun merasa setuju dengan permintaan Raden Wijaya agar Dyah Tribuwana yang ketika dia pergi ke Kediri dititipkan di Sumenep, agar ikut pula ke Majapahit bersama para utusannya.

Diapun menitip pesan kepada para utusan itu bahwa untuk sementara ini, agar jangan sampai menyolok, dia tidak akan berkunjung dulu ke Majapahit.

Akan tetapi, pasukannya dipersiapkan untuk membantu Raden Wijaya dan dia berpesan agar Raden Wijaya segera mempersiapkan diri, menghimpun tenaga pasukan.

Dia sendiri akan mengirim utusan resmi kepada pimpinan pasukan Cina yang berada di sekitar pantai utara.

Kedatangan kembali kedua utusan bersama Dyah Tribuwana disambut gembira oleh Raden Wijaya.

Pertemuan antara dua kekasih itu tentu saja amat membahagiakan hati dan biarpun tadinya Dyah Tribuwana sejak kecil dimanja dan dilimpahi kemuliaan, berenang dalam kemewahan di dalam istana yang indah, dan kini dia melihat betapa tempat tinggal calon suaminya hanyalah sebuah pesanggrahan dari bambu yang amat sederhana bahkan miskin, namun ia berbahagia sekali.

Hidup disamping orang yang dicinta selalu mendatangkan perasaan bahagia.

Setelah menerima berita dari Bupati Wiraraja di Sumenep, makin berkobarlah semangat Raden Wijaya.

Dia lalu mengumpulkan para senopatinya yang setia.

Raden Wijaya mengajak para pembantunya yang setia itu untuk berbincang-bincang tentang persiapan untuk menyerang Kediri.

Mengajak mereka menyusun dan merencanakan siasat kalau saatnya sudah tiba, dan bagaimana mereka harus bertindak untuk mengumpulkan perajurit, membentuk pasukan yang kuat, menerima sisa-sisa pasukan Singosari yang melarikan diri cerai berai ketika kalah perang oleh pasukan Kediri, bagaimana untuk mengumpulkan senjata, kereta dan sebagainya.

Segala sesuatu mereka perbincangkan dan rencana diatur sebaiknya, bahkan sudah di rencanakan tempat-tempat yang akan mereka jadikan markas dalam gerakan mereka kalau tiba saatnya menyerbu Kediri.

"Hanya ada satu hal yang sukar untuk didapatkan"

Kata Raden Wijaya.

"Yaitu kuda tunggangan yang baik bagi para senopati. Hal ini amatlah penting karena para senopati yang selalu harus memimpin pasukan, harus memiliki kuda tunggangan yang tangkas, kuat dan cepat. Akan tetapi, kuda yang kita miliki hanyalah kuda biasa yang kurang tepat untuk menjadi tunggangan para senopati"

"Harap paduka jangan khawatir, Raden"

Kata Ronggo Lawe dengan sikap gagah perkasa.

"Perkenankan hamba pergi ke Madura. Disana terdapat banyak kuda yang berasal dari Bima, kuda pilihan yang baik, tinggi besar dan tangkas, bahkan sudah dilatih perang-perangan sehingga kuda-kuda itu tidak akan ketakutan apabila dibawa berperang"

Raden Wijaya memandang dengan wajah berseri.

"Ah, bagus sekali, Ronggo Lawe. Kalau begitu, biar kutitipkan surat untuk Paman Bupati Wiraraja, agar dia mau membantu dengan menyerahkan kuda-kuda pilihan dari Madura"

Ronggo Lawe segera berangkat ke Madura untuk memenuhi tugas penting itu, dan para senopati lainnya juga bubaran untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing yang sudah mereka terima dari Raden Wijaya.

Ada yang menyebar para perwira untuk mengumpulkan calon-calon perajurit dan mengumpulkan para pemuda yang kini tinggal di Majapahit untuk menjadi perajurit.

Ada yang melatih mereka yang menjadi perajurit baru.

Ada yang memimpin mereka yang ditugaskan membuat senjata, dan lain-Iain.

Kesibukan terjadi di Majapahit, daerah baru yang kelak akan menjadi pusat sebuah negara yang jaya dan besar kekuasaannya itu.

Mereka bekerja keras karena mereka harus cepat-cepat bersiaga karena selain khawatir kalau sampai persiapan mereka ketahuan oleh Sang Prabu Jayakatwang, juga kalau pasukan Cina dari utara sudah bergerak, mereka harus bergerak pula dengan cepat membantu pasukan dari Cina itu.

Kekhawatiran mereka memang beralasan karena pada suatu hari, tiba-tiba muncullah senopati Segara Winotan, senopati yang galak dan garang dari Kediri.

Karena senopati ini memang congkak dan tinggi hati, apa lagi ketika itu dia tiba di daerah baru Majapahit sebagai utusan Sang Prabu Jayakatwang.

maka sikapnyapun angkuh bukan main.

Sikapnya itu masih angkuh ketika dia dibawa menghadap Raden Wijaya sehingga para senopati pembantu Raden Wijaya mengerutkan alis dengan hati tak senang.

Akan tetapi Raden Wijaya menyambutnya dengan ramah.

Sikap senopati itu dianggapnya wajar saja.

Bukankah pada saat itu dia masih termasuk orang yang menghambakan diri kepada Kerajaan Kediri dan menjadi petugas Sang Prabu Jayakatwang untuk membuka hutan baru untuk berburu?

Dan yang datang adaiah seorang senopati yang dipercaya, bahkan kini menjadi utusan.

"Selamat datang, kakang Senopati Segara Winotan"

Kata Raden Wijaya dengan sikap yang cukup hormat.

"Angin apakah gerangan yang meniup kakang senopati berkunjung ke tengah hutan ini?"

Segara Winotan tersenyum menyeringai senang melihat sikap pangeran itu demikian penuh hormat. Dia membusungkan dadanya dan menjawab dengan sikap dan lagak jagoan.

"Bukan angin sembarang angin, Raden Wijaya, melainkan angin yang bertiup dari istana. Saya datang sebagai utusan resmi dari Sang Prabu Jayakatwang, junjungan kita"

Dia sengaja menyebut "junjungan kita"

Seperti hendak mengingatkan Raden Wijaya bahwa pangeran itupun kini menjadi "kawula"

Kediri.

"Ah, kiranya kakang senopati diutus oleh Paman Prabu Jayakatwang. Silakan duduk kakang senopati. Berita apakah yang kakang bawa dari kotaraja? Perintah apakah yang diberikan oleh Paman Prabu untukku?"

"Berita dari kota raja baik-baik saja, Raden Pemerintah Gusti Prabu semakin kuat dan jaya tetelah Singosari ditaklukkan. Dan Gusti Prabu mengutus saya untuk menemui Raden, dengan perintah agar Raden cepat kembali ke kota raja karena beliau sudah ingin sekali mengajak Raden untuk berburu di hutan buruan yang baru ini"

Raden Wijaya memperlihatkan muka kaget, bukan dibuat-buat karena memang dia sungguh terkejut mendengar keinginan hati Sang Prabu Jayakatwang itu.

"Bagaimana mungkin, kakang senopati? Persiapannya belum selesai seluruhnya. Penambahan binatang buruan baru terlaksana sebagian, yang ada baru kijang, harimau dan bantengnya belum dapat. Pula, perlengkapan perburuan juga belum didapatkan semua. Aku sedang menyuruh pembantuku untuk mencarikan kuda-kuda yang baik untuk berburu Paman Prabu, juga anjing-anjing pemburu yang galak dan cekatan. Dan kalau aku kembali ke Kediri, tentu pekerjaan di sini akan terbengkalai dan tidak segera selesai"

Pada saat itu terdengar bunyi derap kaki banyak kuda dan seorang pekerja melapor kepada Raden Wijaya.

"Ki Ronggo Lawe telah datang membawa banyak kuda yang besar, Raden "

Raden Wijaya lalu berkata kepada Segara Winotan.

"Nah, itulah kakang senopati. Utusanku untuk mencari kuda sudah pulang dan membawa banyak kuda yang baik untuk berburu"

"Boleh saya melihatnya, Raden?"

Tanya Segara Winotan yang sebetulnya ingin melihat dan menyelidiki sendiri pekerjaan yang dilakukan Raden Wijaya agar kalau ada sesuatu yang tidak beres, dia dapat melaporkan kepada Sang Prabu Jayakatwang.

Ketika mereka berdua keluar, mereka melihat Ronggo Lawe dan beberapa orang Madura menggiring dua puluh empat ekor kuda yang besar dan tangkas.

Bagi Segara Winotan.

cara orang-orang Madura menggiring sekelompok kuda itu kasar sekali, baik teriakan mereka maupun tingkah laku mereka.

Ketika ada seorang Madura lewat dekat di depannya sambit membunyikan cambuk yang meledak seperti di dekat telinganya, dan mendengar teriakan parau panjang, debu mengebul dan mengenai pakaiannya, senopati yang congkak itu menjadi tak senang hatinya.

"Hemm, Raden Wijaya. Kenapa kau memperbolehkan orang-orang Madura yang tak tahu aturan dan kasar ini bekerja untuk Raden? Petani-petani Madura ini sungguh menjemukan"

Ucapan itu dikeluarkan dengan suara lantang sehingga terdengar oleh Ronggo Lawe dan orang-orang Madura yang menggiring kuda itu.

Ronggo Lawe adalah seorang pemuda yang pendiam akan tetapi berhati baja dan wataknya amat keras.

Melihat sikap congkak dari senopati Daha itu.

hati Ronggo Lawe sudah merasa tidak senang, apa lagi ketika mendengar ucapan yang nadanya menghina orang-orang Madura.

Dia menghampiri tamu itu dan dengan mata mendelik diapun berkata.

"Hemm, kurasa para petani Madura lebih baik dari pada orang-orang Daha. Kalau perlu, boleh dicoba kemampuan orang Madura"

Berkata demikian, Ronggo Lawe sudah mengikatkan ujung kainnya ke pinggang, siap untuk bertanding.

Melihat sikap ini dan mendengar ucapan Ronggo Lawe, terkejutlah hati Raden Wijaya.

Kalau dibiarkan, sungguh berbabaya sekali, tentu akan terjadi perkelahiam dan semua rahasianya akan dapat terbuka sebelum waktunya.

Dia segera melerai dan mengedipkan mata kepada Lembu Sora.

Senopati yang lebih tua dan banyak pengalaman ini maklum, lalu dia menggandeng tangan Ronggo Lawe diajak pergi dari situ untuk cepat-cepat mengatur kuda-kuda yang baru tiba.

Dengan muka merah Ronggo Lawe menurut saja dibawa pergi oleh Lembu Sora.

Andaikata tidak di depan Raden Wijaya, tentu dia akan menolak dan berkeras untuk menantang Segaia Winotan.

Semeniara itu, Segara Winotan bengong melihat lagak Ronggo Lawe.

Dia tidak mengenal Ronggo Lawe yang ketika bertemu orang-orang Daha sengaja tidak menonjolkan diri seperti para senopati lain, karena maklum bahwa junjungan mereka, Raden Wijaya, sedang mengalah dan diam-diam memupuk kekuatan.

"Raden, siapakah orang kasar itu?"

Raden Wijaya tersenyum "Maafkan dia, kakang.

Dia itu keponakan Lembn Sora dan sebagai seorang yang berasal dari Tunjung di bagian barat Madura.

Dia adalah seorang dusun yang masih bodoh dan tidak tahu banyak tentang peraturan, masih lugu dan kasar sekali, akan tetapi dia amat jujur dan tidak mempunyai niat buruk di hatinya.

Oleh karena itu, harap kakang senopati suka memaafkan dia dan memandang kepadaku.

Harap kakang Segara Winotan suka melaporkan kepada Paman Prabu bahwa persiapan yang kulakukan disini sudah hampir selesai.

Kuda sudah siap, tinggal menanti kelompok anjing pemburu dan juga jaring-jaring yang kuat untuk menangkap harimau dan binatang lain yang liar dan buas"

"Hemm, sampai kapan kiranya persiapan ni selesai dan kapan kiranya Raden dapat menghadap Gusti Prabu?"

"Bulan depan, dari awal sampai pertengahm bulan, kurasa sudah selesai semua dan aku akan cepat-cepat pergi menghadap Paman Prabu"

Segara Winotan lalu dijamu makan oleh Raden Wijaya dan utusan ini melihat keramahan Raden Wijaya, percaya akan semua keterangan yang diberikan pangeran itu.

Diapun kembali ke Daha untuk memberi laporan seperti yang dikehendaki Raden Wijaya.

Seperginya utusan itu, Raden Wijaya mengumpulkan semua pembantunya dan mereka bersepakat untuk mempercepat persiapan perang.

Nurseta menyelundup ke ibu kota Kedir, sepanjang perjalanannya, dia dengan hati sedih melihat bencana yang telah melanda rakyat sebagai akibat perang yang dilakukan Kediri terhadap Singosari.

Bukan hanya Kerajaan Singosari yang hancur, bukan hanya keluarga Raja Kertanagara yang ditimpa malapetaka karena kalah perang.

Akan tetapi, yang lebih menyedihkan lagi adalah melihat akibat perang yang diderita oleh rakyat jelata.

Perang mendatangkan kekacauan yang mengerikan.

Hukum tidak berlaku lagi di pedusunan kare-na perang.

Apa lagi setelah mendengar bahwa Kerajaan Singosari kalah oleh Kerajaan Ke-diri.

Semua pamong praja, semua pejabat pemerintah yang berkuasa di daerah dan pedu-sunan, kehilangan wibawa dan keadaan itu dipergunakan oleh gerombolan dan orang-orang jahat untuk merajalela.

Pasukan keamanan tidak bergerak lagi karena takut kepada pasukan musuh.

Terjadilah kejahatan-kejahatan, perampokan, balas dendam tanpa ada yang mengadili.

Terjadilah hukum rimba di mana-mana siapa kuat dia menang dan siapa menang dia benar.

Para penjahat yang tadinya takut karena adanya kekuasaan kerajaaan yang melindungi keamanan rakyat di dusun-dusun, kini menjadi raja-raja kecii.

tidak ada yang ditakutinya lagi.

Semua ini menambah penderitaan mereka yang dusunnya dilanda atau dilewati pasukan yang sedang berperang.

Dalam keadaan perang semua orang seolah-olah menjadi, kejam dan tidak mengenal prikemanusiaan lagi.

Setan-setan merajalela menguasai hati manusia dan segala macam tindakan yang keji dan kejampun terjadilah.

Dan rakyat tidak berdaya, menderita tanpa ada yang melindungi, tanpa ada yang membela karena semua orang menyelamatkan diri dan keluarganya masing-masing.

Setiap hari terjadi perampokan, pembunuhan, perkosaan dan dunia bagaikan kiamat bagi mereka yang lemah.

Setan berpesta pora melalui orang-orang yang diperhambanya, orang-orang yang mengandalkan kekuatan, mengandalkan pengeroyokan, merayakan pesta-pesta biadab yang tiada prikemanusiaan sama sekali.

Sebagai seorang yang berjiwa satria, Nurseta tidak tahan untuk berdiam diri.

Di dalam perjalanannya itu, setiap kali bertemu dengan kejahatan, penindasan, perampokan, perkosaan atau pembunuhan, selalu dia turun tangan menentang yang jahat dan membela yang lemah tertindas.

Tidak percuma dia, menjadi anak angkat mendiang Ki Baka dan menjadi murid tersayang mendiang Panembaban Sidik Danasura.

Ilmu-ilmunya, aji kedigdayaannya, dapat dipergunakan untuk menentang kejahatan.

Nurseta berjalan menuju ke ibu kota Kediri sambil melamun.

Terbayanglah wajah Wulansari di lubuk hatinya, Wajah yang belum pernah dia lupakan, siang menjadi kenangan malam menjadi impian, Akan tetapi sekarang, wajah itu lebih jelas dari pada biasanya.

Dia sedang menuju ke ibu kota Kediri, di mana Wulansari berada.

Keterangan yang diperolehnya adalah bahwa Wulansari menjadi seorang pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatang dan hal ini sungguh merisaukan hatinya, Alangkah akan sukarnya bertemu dengan Wulansari.

Dan andaikata dia dapat bertemu dengannya, bagaimana mungkin dia dapat membujuknya agar Wulansari mau meninggalkan Kerajaan Kediri, mau meninggalkan pekerjaannya menghambakan diri kepada Sang Prabu Jayakatwang?

Dan bagaimana pula akalnya agar dia dapat merampas kembali tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala yang kabarnya sudah terjatuh ke tangan Sang Prabu Jayakatwang itu?

Bagaimana nanti sajalah, pikirnya.

Yang penting, dia harus dapat bertemu dan berbicara dengan Wulansari.

Dia akan memberitahu kepada gadis itu bahwa dia telah meminang Wulansari kepada ayah dan ibu kandung gadis itu dan bahwa pinangan itu telah diterima.

Tiba-tiba, ketika dia melihat dua orang pria menunggang kuda mendahuluinya, diapun menyelinap kaget karena dia mengenal seorang di antara mereka.

Gagak Wulung.

Tidak salah lagi.

Pria yang berusia kurang lebih enampuluh empat tahun itu masih nampak gagah duduk di atas punggung kuda dengan tegak, perutnya tidak gendut seperti pria-pria seusia itu, bahkan wajahnya masih tampan dan gagah.

Rambutnya yang sudah berwarna dua itu bahkan menambah daya tarik kejantanannya.

Pakaiannya masih tetap mewah dan pesolek.

Tak salah lagi, pikir Nurseta, pria itu adalah Gagak Wulung dan tentu saja kini wajah Pertiwi terbayang di depan matanya.

Gagak Wulung.

Pria jahanam yang telah menodai Pertiwi, memaksa gadis itu menyerahkan diri dengan kekuatan sihirnya.

Kasihan Pertiwi.

Gagak Wulung harus menerima hukumannya atas perbuatannya yang biadab itu.

Dia tidak mengenal pria ke dua yang juga menunggang kuda di samping Gagak Wulung itu.

Seorang pria berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian seperti seorang resi, seorang pendeta.

Begitu mengenal Gagak Wulung, Nurseta cepat membayanginya dari jauh.

Untung kedua orang itu membiarkan kuda mereka berjalan congklang, tidak terlalu cepat sehingga Nurseta tidak harus berlari yang tentu akan mendatangkan keheranan dan kecurigaan orang lain.

Akan tetapi, dua orang penunggang kuda itu, di suatu perempatan jalan, membelok ke kiri, menuju ke sebuah bukit kecil yang penuh dengan pohon-pohon, bukan terus menuju ke Kediri.

Nurseta tetap membayangi dari jauh.

Karena mereka menunggang kuda, maka tidak sukar baginya membayangi dari jauh tanpa mereka lihat.

Apa yang diduga Nurseta memang benar.

Pria penunggang kuda yang tampan dan gagah biarpun usianya sudah tua itu memang benar Gagak Wulung.

Dan pria lebih muda yang berpakaian pendeta itu bukan lain adalah murid Ki Buyut Pranamaya yang tadinya bernama Jaka Pati, akan tetapi kini telah menjadi seorang pendeta yang menghambakan diri kepada Sang Prabu Jayakatwang dan memiliki julukan Resi Mahapati.

Seperti kita ketahui, Ki Buyut Pranamaya, guru Resi Mahapati ini, adalah seorang datuk sesat yang berilmu tinggi.

Muridnya yang amat disayang inilah yang telah mewarisi Ilmu-ilmu dan aji-aji kesaktian kakek tua renta itu.

Karena Resi Mahapati kini telah mendapatkan kedudukan tinggi sebagai seorang pendeta kerajaan di Daha, maka dia mengajak gurunya itu agar ikut meikmati kemuliaan di Kediri.

Apa lagi mengingat bahwa kini Kediri telah berbasil mengalahkan dan menguasai Singosari.

Dan kebetulan sekali dua orang tokoh sesat yang terkenal, yaitu Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri, datang berkunjung sebagai tamu.

Maka penawaran Resi Mahapati itu amat menarik hati dua orang tokoh sesat itu.

Gagak Wulung sendiri biarpun belum pernah menjadi senopati Kerajaan Daha, namun dia adalah kawula Kediri dan dia pernah membantu para senopati Daha sebagai seorang mata-mata yang tangguh.

Karena Gagak Wulung bukan seorang ponggawa Kerajaan Daha, melainkan seorang petualang, maka ketika terjadi pemberontakan Mahesa Rangkah, murid tangguh yang tertua dari Ki Buyut Pranamaya, diapun membantu pemberontak itu.

Namun pemberontakan itu gagal dan Mahesa Rangkah yang ketika itu memberontak terhadap Kerajaan Singosari, kurang lebih duabelas tahun yang lalu, tewas.

Semenjak itu, Gagak Wulung menganggap Ki Buyut Pranamaya sebagai atasannya dan seringkali dia membantu kakek sakti mandraguna yang jahat seperti iblis itu.

Maka, tidak mengherankan kalau sekarang dia mengajak Ni Dedeh Sawitri yang menjadi rekannya, sahabat dan juga kekasihnya menghadap kakek itu.

Kemudian, mendengar bahwa Jaka Pati murid Ki Buyut Pranamaya kini telah menjadi seorang pendeta istana Daha yang dipercaya dan berkedudukan tinggi, dan yang datang mengajak Ki Buyut Pranamaya untuk mengabdikan diri kepada Sang Prabu Jayakatwang, Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri juga ikut untuk membonceng kemuliaan.

Akan tetapi, Ki Buyut Pranamaya adalah seorang yang tinggi hati.

Dia merasa bahwa dirinya bukan "orang biasa"

Melainkan seorang tua yang sakti mandraguna dan tidak sepatutnya kalau dia merangkak-rangkak di depan Sang Prabu Jayakatwang untuk mohon diberi kedudukan.

"Tidak, aku belum tahu bagaimana Sang Prabu Jayakatwang akan menerima diriku. Sebelum ada kepastian, aku tidak akan mau menghadapnya. Karena itu, muridku Mahapati, kalian pergilah dulu menghadap Sang Prabu Jayakatwang dan minta keputusannya, apakah akan suka menerima bantuan seorang tua seperti aku ataukah tidak. Aku harus disambut sebagai seorang calon pembantu yang dibutuhkan dan terbormat, bukan sebagai seorang yang datang minta-minta anugerah dan pekerjaan"

Demikianlah kata kakek itu yang menanti di sebuah gubuk darurat di dalam sebuah hutan di Bukit Srindil, tidak jauh dari ibu kota Kediri.

Mendengar ini, Gagak Wulung lalu mengajukan diri untuk menemani Mahapati menghadap Sang Prabu Jayakatwang untuk lebih meyakinkan Sribaginda akan kesaktian Ki Buyut Pranamaya dan betapa kakek itu akan dapat menjadi seorang penasibat yang amat berguna bagi kerajaan.

Sebagai seorang tokoh yang seringkali membantu Kerajaan Daha, tentu dia dipercaya oleh Sang Prabu Jayakatwang.

Tepat seperti yang sudah diduga oleh Resi Mahapati dan juga Gagak Wulung, Sang Prabu Jayakatwang dengan gembira menyatakan bahwa dia mau menerima bantuan Ki Buyut Pranamaya, apa lagi ketika mendengar bahwa kakek sakti mandragura itu adalah guru Resi Mahapati, juga guru mendiang Mahesa Rangkah yang dahulu memberontak terhadap Singosari.

"Kalian tahu, bahwa mengabdi kepada seorang raja tidaklah mudah, harus lebih dulu memperlihatkan darma baktinya"

Kata Sang Prabu Jayakatwang kepada Resi Mahapati yang menghadap bersama Gagak Wulung.

"Oleh karena itu, kalau benar Ki Buyut Pranamaya hendak mengabdi kepada kami, diapun harus memperlihatkan darma baktinya dan membuat jasa"

Resi Mahapati memberi sembah.

"Harap paduka suka memberitahu kepada hamba agar hamba sampaikan kepada Guru, tugas apa gerangan yang paduka perintahkan, tentu akan dilaksanakan, dengan sebaiknya oleh Guru"

Sang Prabu Jayakatwang mengangguk-angguk.

"Memang ada tugas penting, tugas rahasia yang akan kami berikan kepadanya. Akan tetapi tidak dapat kami katakan sekarang. Biarlah dia menanti di Bukit Srindil sampai datang utusan kami untuk memberitahukan apa yang harus dia lakukan untuk kami"

Demikianlah, Resi Mahapati dan Gagak Wulung merasa puas dan gembira, apa lagi ketika Sang Prabu Jayakatwarg mengutus nereka untuk cepat pergi mencari Ki Cucut Kalasekti atau Adipati Satyanegara di Bendowinangun.

"Minta dia untuk datang menghadap kepadaku secepat mungkin"

Mereka berdua lalu membalapkan kuda mereka mencari Adipati Satyanegara dan menyampaikan perintah Sang Prabu Jayakatwang kepada adipati tua yang sakti itu.

Ketika itu, Sang Adipati Satyanegara atau yang dahulunya terkenal dengan nama Ki Cucut Kalasekti, sedang kebingungan dan marah.

Dia telah menerima berita yang amat buruk dari Sang Prabu Jayakatwang, bahwa tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala telah lenyap bersama perginya Wulansari yang mengajak minggat Sang Puteri Dyah Gayatri.

Dan Sang Prabu Jayakatwang dengan berang mengutus agar dia mencari dan merampas kembali tombak pusaka itu.

Dia tahu bahwa kalau dia gagal mendapatkan kembali tombak itu, tentu Raja Kediri akan marah kepadanya dan kedudukannya sebagai adipati terancam.

Akan tetapi, kemanakah dia harus mencari Wulansari?

Dia tahu bahwa gadis yang pernah menjadi muridnya itu, yang pernah disayangnya sebagai cucunya, adalah.seorang gadis yang memiliki keberanian luar biasa, juga amat cerdik.

Tidak akan mudah menemukan jejak gadis itu.

Dia sudah menyebar orang-orang untuk melakukan penye lidikan, namun sampai sekarang belum juga ada laporan tentang hasil baik penyelidikan itu.

Ketika Resi Mahapati dan Gagak Wulung datang berkunjung sebagai utusan Sang Prabu Jayakatwang, dia sangat kaget, mengira bahwa tentu Raja Kediri itu akan menumpahkan kemarahan kepadanya.

Akan tetapi, Resi Mahapati memberitahukan tentang keinginan Ki Buyut Pranamaya mengabdikan diri ke Kediri.

"Mungkin guru akan dijadikan utusan Sang Prabu untuk menyampaikan tugas penting sebagai uji coba kesetiaan yang diberi kan Sang Prabu kepada Guru"

Demikian antara lain Resi Mahapati mengemukakan pendapatnya.

Mendengar ini, legalah hati Ki Cucut Kalasekti, bahkan dia seperti mendapat sinar terang.

Kenapa tidak mengajak Ki Buyut Pranamaya untuk membantu dia mencari Wulansari dan merampas kembali tombak pusaka itu?

Dia sudah mendengar akan kesaktian Ki Buyut Pranamaya, seorang datuk sesat yang kedudukannya setingkat dengan dia sendiri.

Demikianlah, Resi Mahapati dan Gagak Wulung meninggalkan Bendowinangun dan kembali ke Bukit Srindil untuk menghadap Ki Buyut Pranamaya, dan dalam perjalanan ini, tanpa setahu mereka, mereka mendahului Nurseta yang segera membayangi mereka dari jauh karena Nurseta mengenal 6agak Wulung yang memang dicarinya bertalian dengan perbuatannya kepada Pertiwi.

Adapun Adipati Satyanegara atau Ki Cucut Kalasekti sendiri, dengan cepat segera pergi ke ibu kota Kediri untuk menghadap Sang Prabu Jayakatwang.

Sang Prabu Jayakatwang membubarkan persidangan dan menerima Ki Cucut Kalasekti berdua saja karena apa yang akan dibicarakan merupakan rahasia yang raja itu tidak ingin orang lain mendengarnya.

Yaitu mengenai lenyapnya tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.

Kalau hal ini diketahui oleh para senopati dan ponggawa, tentu akan melemahkan semangat mereka karena pusaka itu dianggap sebagai wahyu kerajaan.

Para senopati bahkan seluruh perajurit Daha percaya penuh akan keampuhan Tejanirmala.

Bukankah setelah raja mereka menguasai pusaka itu, penyerbuan ke Singosari berhasil dengan cepat dan dengan baik sekali?

Maka, kalau sampai hilangnya pusaka ini ketahuan para ponggawa, tentu akan menimbulkan kegemparan dan menjatuhkan semangat mereka, Dengan alis berkerut, Sang Prabu Jayakatwang mendengarkan laporan Adipati Satyanegara tentang belum berhasilnya adipati itu melacak jejak Wulansari dan Puteri Gayatri.

Bagi Sribaginda, kedua orang gadis itu tidak terlalu banyak artinya.

Yang terpenting, tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala harus kembali ke tangannya.

"Harap paduka jangan khawatir. Hamba sudah menyebar banyak orang untuk menyelidiki di mana adanya Wulansari. Begitu hamba mengetahui di mana ia berada, biar di neraka sekalipun, tentu hamba akan mendatanginya dan kalau pusaka itu tidak dapat hamba minta dengan baik, biar ia pernah menjadi murid hamba, tentu ia akan hamba bunuh dan hamba rampas pusaka itu untuk paduka". Sang Prabu Jayakatwang mengangguk-angguk.

"Aku percaya kepadamu, akan tetapi ingat, Kau yang dahulu menjadi gurunya, maka, kau pula yang bertanggung jawab. Sekarang, kau kuutus untuk menemui Ki Buyut Pranamaya di Bukit Srindil. Ajaklah dia untuk mendapatkan kembali pusaka itu. Selain itu, ajak dia untuk melakukan penyelidikkan terhadap Raden Wijaya yang kini membuka hutan baru di daerah Tarik. Ada kabar angin yang menyatakan bahwa banyak orang Madura berdatangan di tempat itu yang dinamakan Majapahit. Biarpun belum ada tanda-tanda mencurigakan, namun kami ingin sekali merasa yakin bahwa Raden Wijaya tetap setia kepada kami. Kalau dia dapat melaksanakan dua tugas itu dengan baik, barulah kami menerimanya dan akan memberi kedudukan yang sepadan dengan jasanya"

Bukan main girang rasa hati Ki Cucut Kalasekti.

Memang itulah yang dia kehendaki.

Dengan bantuan seorang datuk seperti Ki Buyut Pranamaya, akan lebih mudahlah baginya untuk mendapatkan kembali pusaka itu.

Dia tidak khawatir menghadapi Wulansari, bekas muridnya itu.

Akan tetapi dia tahu bahwa Wulansari mencinta seorang pemuda yang amat tangguh, yaitu Nurseta dan di belakang Nurseta terdapat banyak tokoh yang pandai.

Kalau dia dan Ki Buyut Pranamaya maju bersama, dia merasa yakin bahwa mereka berdua akan mampu menandingi siapapun juga.

Biar mendiang Panembahan Sidik Danasura hidup lagi, dia tidak akan takut menandinginya kalau dibantu Ki Buyut Pranamaya.

Hari telah mulai gelap dan Nurseta terpaksa turun dari Bukit Srindil karena setelah menanti sejak tadi, yang ditunggu-tunggu, yaitu Gagak Wulung, tidak juga turun.

Ketika dia membayangi Gagak Wulung dan Resi Mahapati yang tidak dikenalnya itu, dia melihat mereka mendaki Bukit Srindil.

Karena bukit itu penuh dengan hutan, mudah baginya untuk membayangi mereka tanpa diketahui dan akhirnya, dari jauh dia melihat betapa mereka berdua itu berhenti di depan sebuah gubuk besar darurat.

Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat seorang wanita cantik berada di depan gubuk itu.

Ni Dedeh Sawitri.

Nurseta merasa betapa jantungnya berdebar tegang, dan kedua lututnya mendadak menjadi lemas.

Wanita itu, yang dikenalnya sebagai seorang iblis betina, adalah ibu kandungnya.

Seorang wanita yang cantik dan anggun memang, biarpun usianya sudah limapuluh tahun lebih.

Dia akan merasa bangga mempunyai seorang ibu yang demikian anggunnya.

Akan tetapi wataknya.

Sungguh mengerikan dan memalukan.

Terkenal sebagai iblis betina yang amat kejam dan penuh racun.

Dan wanita itu adalah lbunya, ibu kandung yang pernah mengandung dan melahirkan dirinya.

Pukulan batin ini lebih dikejutkan lagi ketika dari dalam gubuk itu muncul storang kakek tua renta yang.

berpakaian hitam, pakaian petani.

Ki Buyut Pranamaya atau yang pernah menyamar sebagai Wiku Bayunirada datuk sesat pertama yang merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala dan gara gara perbuatan datuk inilah maka tombak pusaka itu sampai terampas dari tangan mendiang Ki Baka, ayah angkatnya sehingga kini pusaka itu hilang dan kemungkinan besar berada di tangan Sang Prabu Jayakatwang di Kediri.

Bahkan mungkin sekali lenyapnya tombak pusaka itu yang mendatangkan keruntuhan dan kejatuhan bagi Singosari.

Dia mengenal kakek itu dan tahu akan kesaktiannya.

Menghadapi kakek itu dia tidak takut, akan tetapi di sana ada Gagak Wulung, ada pula Ni Dedeh Sawitri yang belum tahu bahwa dia adalah anak kandungnya, dan ada pula penunggang kuda berpakaian pendeta itu.

Selain itu masih nampak pula tiga orang pria dan tiga wanita.

Kalau dia menyerang Gagak Wulung, tentu mereka semua akan membantu Gagak Wulung dan berbahayalah bagi dirinya kalau harus menghadapi pengeroyokan mereka.

Maka, dia lalu bersembunyi dan menanti sampai Gagak Wulung meninggalkan tempat itu dan turun dari bukit.

Akan tetapi, sampai sore dan cuaca mulai gelap, Gagak Wulung tidak nampak turun.

Tahulah dia bahwa Gagak Wulung agaknya tinggal pula di sana.

Dia harus bersabar dan menanti sampai besok.

Ketika dia menuruni bukit hendak mencari dusun di kaki bukit agar dia dapat mondok melewatkan malam itu, tiba-tiba dari kaki bukit itu nampak bayangan orang mendaki naik dengan cepat sekali.

Dia menyelinap ke balik batang pohon besar dan ketika bayangan itu lewat, dia kaget bukan main mengenal orang itu sebagai Ki Cucut Kalasekti.

Kakek iblis ini berkunjung kepada Ki Buyut Pranamaya.

Ada hubungan apakah antara kedua orang datuk besar golongan hitam itu?

Kalau|mereka berdua itu bersekutu, alangkah berbahayanya dan kuatnya.

Untung dia tadi mengambil keputusan untuk turun dari bukit.

Kalau dia nekat menyerang Gagak Wulung di sana, kemudian dikeroyok dan datang pula Ki Cucut Kalasekti yang membantu mereka, sukar diharapkan dia akan dapat menyelamatkan diri.

Di kaki Bukit Srindil sebelah selatan terdapat sebuah dusun yang nampak dari atas.

Nurseta segera menuju ke dusun itu.

Di dusun itu dia tentu akan dapat mencari keterangan tentang mereka yang tinggal di puncak bukit.

Dusun itu kecil saja, hanya ditinggali tigapuluh keluarga lebih.

Mereka adalah petani-petani yang hidup sederhana.

Melihat sebuah rumah yang agak besar dan memiliki pekarangan yang luas, rumah yang kelihatan bersih dan terawat, juga dari dalam rumah itu nampak sinar pelita yang jauh lebih terang dari pada rumah-rumah lain, Narseta lalu menghampiri rumah itu.

Dia percaya akan keramahan para petam dusun yang tentu akan menerimanya dengan baik untuk melewatkan malam itu di dalam rumah.

Akan tetapi, ketika dia sudah mendekati rumah itu, dia mendengar suara ribut ribut.

Pertengkaran mulut antara suami isteri terdengar dari dalam rumah itu.

Perang mulut antara suami dan isteri, atau lebih tepat lagi serangan bertubi-tubi lewat suara mulut dari seorang isteri yang marah-marah.

"Dasar kau memang seorang isteri yang cemburuan dan cerewet"

Suara pria yang diserang bertubi-tubi itu mencoba untuk membalas. Akan tetapi balasan yang sekalimat ini segera disambut oleh serangan yang semakin ganas.

"Apa kau bilang? Seorang isteri yang cemburuan dan cerewet? Huh, kaulah laki-laki yang mata keranjang, hidung belang. Kau bermuka-muka dan menjilat-jilat secara tak tahu malu kalau sudah melihat wanita lain tidak ingat bahwa wanita itu biarpun cantik sudah tua. Engkau laki-laki muka tebal, lupa bahwa keadaan sendiri tidak mampu, berlagak kaya dan royal kalau sudah bertemu wanita cantik. Engkau sungguh memuakkan........ ahhhh........ benci aku.......benci.........benci"

Wanita itupun menangis.

"Cukup. Kalau engkau tidak menutup mulutmu, terpaksa akan kuhajar"

Ucapan laki-laki ini agaknya bagaikan minyak bakar yang disiramkan pada api. Kemarahan wanita itu semakin berkobar.

"Apa kau biiang tadi? Kau mau menghajarku? Cobalah. Lakukanlah. Kaukira aku takut? Hayo hajar aku, lekas hajar. Kau mau apa, huh, laki-laki pengecut"

"Cukup, mbokne, sekali lagi kau bicara, akan kupukul mulutmu"

Suara laki laki itu membentak dan dari suaranya, dapat dirasakan betapa dia sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi.

Nurseta sudah mengintai dari balik pintu yang masih terbuka dan dia melihat seorang laki-laki dan seorang wanita yang sedang perang mulut itu berdiri seperti dua ekor ayam aduan yang berlagak, siap akan bertarung.

Usia mereka antara empatpuluh sampai empatpuluh lima tahun.

"Apa? Mau pukul? Pukullah, hayo, Pukullah. Pukul aku sampai mati. Lebih baik mati dari pada mempunyai suami seperti kau.."

Pria itu melangkah maju dan tangannya menampar.

"Plakkk........I"

Wanita itu terpelanting dan menjerit, lalu menangis menjerit-jerit.

Bibirnya pecah dan berdarah.

Pria itu berdiri terbelalak, seolah tidak percaya akan apa yang telah terjadi.

Belum pernah dia memukul isterinya semenjak mereka menjadi suami isteri.

Pada saat itu, Nurseta batuk batuk dan bwseru.

"Kulonuwun......."

Suami itu membalikkan tubuh menghadap ke pintu, sedangkan sang isteri menghentikan tangisnya, menengok dan melihat munculnya seorang tamu, iapun masuk ke dalam sambil terisak ditahan.

Pria itu menghampiri Nurseta yang berdiri di ambang pintu.

"Mari silakan masuk, kisanak"

Kata tuan rumah dan suaranya tidak marah lagi, melainkan ramah.

"Mari silakan dudik"

"Terima kasih, dan maafKan kalau aku mengganggu"

"Ah, tidak sama sekali. Silakan duduk"

Setelah tamunya duduk berhadapan dengannya terhalang meja, tuan rumah itu mengamati wajah yang tampan dari tamunya, lalu bertanya "Siapakah kisanak, dan ada keperluan apakah datang berkunjung ke gubuk yang buruk kami ini?"

"Maafkan aku, kisanak. Namaku Nurseta dan aku sedang melakukan perjalanan jauh, lalu kemalaman di sini. Oleh karena itu, apa bila sekiranya kalian tidak berkeberatan, aku ingin mondok satu malam saja di sini. Besok pagi-pagi aku akan melanjutkan perjalanan. Akan tetapi kalau kalian merasa keberatan, tentu saja aku tidak berani memaksa dan.."

"Ah, tidak sama sekali, kisanak. Kami hanya tinggal berdua saja di rumah ini. Anak tunggal kami baru sudah setengah tahun ini tinggal bersama suammya ke dusun lain. Silakan tinggal di sini semalam. Ada sebuah bilik bekas tempat anak kami. Perkenalkan, namaku Ki Puter dan para penduduk di dusun kecil ini memilih aku sebagai kepala dusun"

Ki Puter menoleh kearah dalam.

"Mbokne....... Ada tamu, cepat sediakan makan dan minum"

"Ah, aku tidak ingin merepotkan, hanya ingin melewatkan malam. Harap kalian jangan repot-repot..."

"Tidak mengapa, kisanak. Memang kami belum makan malam dan makanan sudah sedia. Mbokneee......".

"Tungguuuu......., sedang kupersiapkan ......."

Terdengar jawaban dari dalam rumah.

Suara wanita tadi, pikir Nurseta, sudah tidak menangis lagi akan tetapi suaranya masih parau bekas tangis.

Sambil menanti dihidangkannya makan malam, Nurseta mulai memancing keterangan tuan rumah.

"Tadi aku sudah mendaki bukit ini dan sampai diatas, akan tetapi di sana tidak terdapat dusun, hanya hutan dan di puncak aku melihat sebuah gubuk besar dengan orang-orang yang aneh. Aku lalu turun kembali dan menuju ke dusun ini, melihat rumah kalian dan aku merasa tertarik"

Ki Puter mengangguk-angguk.

"Aku girang sekali bahwa kau telah memilih rumah kami, kisanak. Kulihat andika masih muda, lebih muda dariku, biarlah aku menyebutmu adi. Adi Nurseta, kukatakan tadi, aku girang kau datang karena kau telah menghentikan pertengkaran kami yang tentu telah kau dengar dari luar rumah tadi"

Nurseta tersenyum dan di dalam hatinya, dia mulai merasa kagum dan suka kepada orang ini.

"Bolehkah aku menyebutmu kakang?, akupun girang sekali tidak salah memilih tempat bermalam karena kau ternyata ramah sekali. Maafkan kalau aku mengganggu. Terus terang saja, ketika memasuki rumah ini, aku mendengar pertengkaran kalian, maka aku sengaja berseru agar pertengkaran itu berhenti"

Ki Puter tersenyum lebar.

"Ha ha, terima kasih. Kau baik sekali"

Dia menoleh ke dalam lalu berkata lirih.

"Ia memalukan saja, memang cerewetnya bukan main"

Nurseta tidak mau membicarakan keburukan isteri tuan rumah maka dia mengalihkan percakapan.

"Kakang Puter, siapakah orang-orang aneh di puncak bukit itu? Kulihat gubuk itu masih baru. Orang-orangnya kelihatan aneh"

Karena pertanyaan itu sambil lalu saja, Ki Puter tidak mencurigai sesuatu dan diapun mengangguk.

"Memang aneh. Mereka adalah orang-orang kota, berpakaian indah dan me-nunggang kuda yang tinggi besar, Anehnya, mengapa para prlyayi (bangsawan) itu membuat gubug di puncak itu dan tinggal di sana?"

"Siapakah mereka itu, kakang? Dan mau apa mereka tinggai di tempat sunyi penuh hutan itu?"

Ki lurah dusun kecil itu menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu. Mereka datang sembilan orang. Beberapa hari yang lalu mereka datang dan berhenti di dusun ini. Seorang kakek tua renta yang menyeramkan, seorang wanita cantik pesolek dan seorang pria, mungkin suami isteri, dan enam orang yang agaknya menjadi pengikut, tiga pria tiga wanita yang nampak taat terhadap kakek tua renta. Mereka lalu naik ke bukit dan membuat gubuk di sana, Karena mereka tidak mengganggu kami sedusun, kamipun tidak melakukan sesuatu, bahkan tidak berani naik karena kakek tua renta itu menyeramkan. Dan wanita cantik itu ........ ialah yang tadi membuat kami bertengkar"

Wajah Ki Puter nampak kemerahan dan dia agak tersipu.

"Kalau boleh aku bertanya, kakang. Mengapa ia menjadi bahan pertengkaran? Apakah yang telah dilakukan wanita itu?"

Nurseta membayangkan wajah cantik Ni Dsdeh Sawitri, wajah ibu kandungnya. Ki Puter menahan ketawanya.

"Ah, dasar isteriku yang cerewet bukan main. Kemarin dulu wanita itu datang ke sini dan ia ingin membeli dua ekor ayam dan beberapa butir. telur. Karena kulihat ia seorang priyayi dan sikapnya manis sekali, maka aku yang bukan pedagang merasa sungkan, lalu kuberikan saja kepadanya dua ekor ayam dan sepuluh butir telur. Nah, itulah yang membuat isteriku marah-marah sejak saat itu, penuh cemburu dan cerewet sekali"

Pada saat itu, isteri Ki Puter keluar membawa baki berisi makanan dan minuman.

Wanita itu tidak menangis lagi walaupun matanya masih merah dan bibirnya agak menjendol, akan tetapi ia masih sempat tersenyum kepada Nurseta.

"Hanya hidangan sederhana saja"

Katanya lembut.

"Nasi dan sayur gori dan sambal. Minumnya juga hanya air teh. Silakan"

"Terima kasih, mbakayu, aku hanya merepotkan saja"

Kata Nurseta.

"Ah, sama sekali tidak, hanya hidangan seperti ini. Silakan"

Katanya pula dan iapun mundur lagi masuk ke dalam.

Merekapun makan.

Karena jelas bahwa tuan rumah tidak tahu apa-apa tentang mereka yang tinggal di puncak Bukit Srindil, Nurseta juga tidak bertanya lagi.

"Kulihat isterimu ramah dan baik sekali, juga masakannya ini, walaupun hanya sayur gori dan sambal, enak sekali"

Nurseta memuji.

Tuan rumah itu tersenyum senang "Memang, ia pandai masak, rajin mengurus rumah dan pada umumnya baik.

Hanya itu Iho.......

cerewetnya tidak ketulungan lagi.

Minta ampun aku sama cerewetnya.

Kalau dia sedang marah, dia mengomel terus menerus panjang pendek dan bukan main kuatnya.

Dia dapat bertahan mengomel dari pagi_sampai malam.

Hanya satu itu saja yang kupinta darinya, yaitu jangan cerewet.

Apa sih sukarnya menutup mulut dan menelan kembali semua kata-kata yang hendak menerocos keluar itu"

"Itulah sebabnya, kakang. Keinginanmu agar ia tidak cerewet itulah yang menyebabkan ia cerewet"

Kata Nurseta.

"Wah? Apa maksudmu?"

Nurseta tidak menjawab karena pada saat itu, isteri Ki Puter keluar untuk menyingkirkan bekas makan dan membersihkan tikar. Setelah wanita ita masuk lagi, Ki Puter mendesak.

"Adi Nurseta, aku masih penasaran. Kau tadi mengatakan bahwa justeru keinginanku agar ia tidak cerewet itulah yang menyebabkan ia cerewet. Bagaimana ini? Aku tidak mengerti"

"Kakang Puter, bukankah kau ingin merobah keadaan isterimu itu, ingin melihat ia yang kakang anggap cerewet menjadi tidak cerewet?"

"Tentu saja. Dan bukankah keinginan itu baik? Aku ingin melihat ia dari keadaan yang tidak baik menjadi baik "

Nurseta tersenyum.

Teringat dia akan percakapan tentang keinginan merubah ini antara dia dan mendiang Panembahan Sidik Danasura dan mata hatinya terbuka oleh penjelasan mendiang gurunya itu, Keadaan Ki Puter sama seperti dia sebelum dia mendapatkan penjelasan dan menyadari akan kebenaran yang terbuka sihingga dia dapat dan mampu melihatnya.

"Baik untuk siapa, kakang? Bukankah yang kakang inginkan itu adalah satu keadaan dari isteri kakang yang baik untukmu? Menyenangkan untukmu? Kita selalu condong untuk mengatakan baik kalau seseorang menguntungkan kita, dan buruk kalau sebaliknya merugikan kita lahir batin. Keinginan melihat suatu keadaan seperti yang dikehendakinya, yang berlawanan dengan kenyataannya, nah, keinginan inilah yang menimbulkan sengketa dan pertentangan yang dimulai dari pertentangan jalan batin kita sendiri. Kita selalu menghendaki yang kita anggap baik dan menyenangkan kita, dan kita menuntut ini dari apa saja, dari benda sampai dari manusia lain. Kita ingin seluruh alam dan isinya ini semua menyenangkan kita belaka. Karena itu, timbullah pertentangan batin yang tiada hentinya. Kita tidak mampu menerima kenyataan apa adanya. Padahal, di sinilah letak rahasia apa yang dinamakan kebahagiaan hidup, yaitu dalam sikap dapat menerima kenyataan seperti apa adanya tanpa menilainya sebagai yang baik ataupun yang buruk, Kalau penerimaan akan kenyataan ini bebas dari penilaian, bebas dari kehendak siaku yang selalu ingin senang, tentu tidak akan timbul pertentangan" (Lanjut ke

Jilid 25) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25 Biarpun dia diangkat menjadi lurah dusun kecil itu, apa yang dikatakan Nurseta terlalu sukar bagi Ki Puter untuk dapat menerimanya dan mengerti.

"Nanti dulu, adi Nurseta. Aku sungguh tidak mengerti dan menjadi bingung. Apa yang kau maksudkan dengan semua kata-katamu itu?"

Nurseta tersenyum.

Dia lupa bahwa dia berhadapan dengan seorang petani yang polos dan sederhana.

Kata-kata hanya merupakan suatu keindahan yang muluk-muluk, tentu tidak dapat dimengerti oleh Ki Puter.

Dia mencoba yang lain, dengan contoh yang sederhana.

"Kakang Puter, kalau kakang hendak mulai menanam padi lalu turun hujan, bagaimana perasaan kakang?"

"Tentu saja girang"

"Kalau padi mulai menua lalu turun hujan lebat? Bagaimana perasaanmu?"

"Wah, tentu susah karena padi itu terancam kerusakan"

"Akan tetapi, mungkinkah kau merubah turunnya hujan? Damikianlah, kakang Puter. Hujan itu suatu keadaan, tidak baik maupun buruk. Akan tetapi kita manusia ini selalu menghendaki agar hujan, seperti juga segala keadaan di dunia ini. terjadi sesuai dengan keinginan kita, yang menguntungkan kita. Kalau terjadi sebaliknya, maka kita merasa tidak senang dan menentangnya. Kita tidak mampu menerima segala sesuatu seperti apa adanya saat itu. Kalau kita memiliki seni menerima kenyataan, maka, kita tidak akan menentang dan akan timbul kebijaksanaan bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan itu. Mengertikah kakang?"

Ki Puter mengerutkan alisnya, akan tetapi mengangguk.

"Sedikit, adi. Mengerti sedikit. Kita menerima kenyataan tentang hujan, tanpa menentang dan kita menyesuaikan diri, menjadi bijaksana sehingga kita menanam padi menurut perhitungan agar mendapat air cukup dan tidak tertimpa hujan lebat. Kita atur musimnya menanam padi......"

"Benar kakang Pater"

"Tapi, apa hubungannya antara hujan dengan....... isteri cerewet?"

Nurseta tersenyum. Alangkah sederhana jalan pikiran Ki Puter, pikirnya, kagum karena sesungguhnya, pikiran sederhana itu tidak menimbulkan banyak persoalan hidup.

"Satu contoh lagi, kakang. Ada seekor anjing menggonggong dan menggereng-gereng seperti marah kalau kita lewat. Kita menjadi marah dan memakinya sebagai anjing yang kurang ajar dan sebagainya, kita mengambil batu dan menyambitnya. Anjing itu bahkan semakin marah dan gonggongannya semakin keras. Tidak benarkah begitu?"

Ki Puter mengangguk-angguk, makin tidak mengerti mengapa contohnya seekor anjing.

"Nah, pertentangan batin timbul karena kita ingin agar anjing itu tidak bersikap seperti itu. Kita ingin melihat anjing itu duduk diam baik-baik. Kita lalu menyebutnya anjing jahat, kurang ajar dan sebagainya. Kita ingin anjing itu berubah. Inilah yang tidak mungkin. Kita tidak mungkin merobah anjing itu, seperti juga tidak mungkin merobah turunnya hujan. Apa yang seyogianya kita lakukan? Kitalah yang harus berobah. Kitalah yang harus me-nyesuaikan diri. Kalau hujan turun, kita buatkan belokan dan saluran agar tanaman kita tidak kebanjiran, kita pergunakan payung agar tidak kehujanan dan sebagainya. Bagaimana kalau kita menghadapi anjing yang menyalak dan menggonggong marah? Kalau kita tidak menentangnya, tidak menganggapnya jahat, lalu timbul kebijaksanaan dan kita dapat mempergunakan akal budi. Kita bersikap ramah, kita beri sesuatu, tanpa ingin merobah anjing itu. Dan apa yang terjadi? Bukan mustahil bahwa kalau kita sudah merobah diri kita sendiri, anjing yang tadinya menyalak-nyalak itu berubah menjadi jinak dan lunak, mengikuti kita dengan ekornya bergoyang-goyang manja"

Sejenak Ki Puter melongo, kemudian meledaklah suara ketawanya.

Dia merasa baru tergugah dari tidur nyenyak.

Kini matanya terbuka dan dia dapat melihat kenyataan itu.

Dia tertawa bergelak gelak dan melihat ini, Nurseta juga tertawa, dalam hatinya merasa girang karena melihat tuan rumah telah terbuka hatinya dan dapat melihat kenyataan itu.

Isteri Ki Puter keluar dari dalam, memandang kepada suaminya dengan heran.

"Eh, eh, apa yang terjadi? Kenapa engkau tertawatawa seperti itu, pakne? Apanya yang lucu?"

"Hahahaha........ engkau benar, mbokne. Baru sekarang aku tahu bahwa perbuatanku yang kemaren dulu itu tidak benar. Aku ingin ramah kepada seorang tamu, akan tetapi tamu itu wanita dan cantik pula. Tentu saja engkau menjadi cemburu dan marah. Bukan salahmu, akulah yang bodoh tidak melihat kenyataan. Biarlah, kalau ia datang lagi, aku akan beri harga kepada barang yang dibutuhkannya, dengan harga dua kali lipat"

Jelas nampak oleh Ki Puter dan Nurseta betapa wajah yang tadinya mengeras itu kini melunak, pandang mata yang keras itu kini melembut dan bibir yang masih menyendol bekas tamparan itu merekah dalam senyum.

"Akupun tahu engkau tidak mata keranjang, pakne. Hanya aku merasa panas. Biarlah, kalau ia datang lagi, aku yang akan urus. Akan kuberi dengan harga murah. Engkau benar, memang kita harus ramah dan murah hati terhadap tamu. Akan tetapi kalau tamunya wanita, biar aku yang menghadapi, kalau pria, bagianmulah itu. Engkau tidak bersalah, aku yang pencemburu......."

Wanita itu tersenyum lebar dan masuk kembali.

Ki Puter dan Nurseta saling pandang dan Ki Puter tertawa lagi, tertawa dengan penuh kegembiraan.

Dia kini menemukan kunci rahasia yang amat sederhana namun yang merupakan kunci penghalau semua pertentangan batin.

Segala sesuatu itu wajar, yang begitu sudah begitu, yang begini biarlah begini.

Kita tidak berhak merobah yang berada di luar diri, akan tetapi wajib merobah diri sendiri.

Dengan merobah diri sendiri, segalanya akan berjalan lancar.

Anjing galak itu menjadi jinak.

"Hahahaha, harimau galak dapat menjadi jinak. Haha, terima kasih, adi Nurseta"

Malam itu Nurseta tidur di atas dipan bambu di kamarnya.

Dia tersenyum senyum kalau ingat akan peristiwa tadi.

Sikap suami isteri itu tadi nampak begitu mesra, saling mengalah.

Dan pada keesokan harinya, ketika pagi pagi sekali dia bangun, suami isteri itu telah bangun dan mereka nampak rukun bukan main, rukun dan mesra sehingga diam diam Nurseta merasa geli akan tetapi juga girang.

"Terima kasih, kakang Puter dan mbakayu. Kalian baik sekali kepadaku. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling berjumpa kembali"

"Sepagi ini sudah hendak melanjutkan perjalanan, adi Nurseta? Wah, tahukah kau bahwa kau yang banya datang semalam ini, bagaikan karunia dewata saja bagiku? Akulah yang berterima kasih kepadamu, adi Nurseta"

Nurseta pergi dan tanpa dilihat siapapun, dia menyelinap di antara pohon pohon, lalu mendaki Bukit Srirdil karena dia hendak melanjutkan penyelidikannya.

Kini tidak hanya untuk menemui Gigak Wulung dan menghukumnya, akan tetapi kalau mungkin dia ingin pula berjumpa berdua saja dengan Ni Dedeh Sawitri, ibu kandungnya.

Tadinya Nurseta bermaksud untuk bersembunyi dan mengintai, mencari kesempatan baik menemui sendiri Gagak Wulung atau Ni Dedeh Sawitri karena dia tahu bahwa kalau dia langsung menjumpai mereka, tentu dua orang datuk sakti Ki Cucut Kalasekti dan Ki Buyut Pranamaya tidak akan membiarkan dia lolos.

Akan tetapi.

ketika dia menyusup di antara pohon-pohon besar dan semak semak belukar dan tiba di dekat gubuk itu, dia mendengar teriakan-teriakan nyaring dan kasar dari seorang laki-laki.

"Gagak Wulung jahanam busuk, manusia berhati binatang dan pengecut besar, keluarlah engkau dan jangan bersembunyi"

Berulangkali suara ini menantang, Suara yang tidak asing bagi Nurseta.

Dia cepat mendekat dan mengintai.

Tak salah dugaannya.

Suara Ki Jembros, kakek yang gagah perkasa itu.

Dan di samping kakek ini berdiri seorang pemuda yang tampan dan bersikap tenang gagah.

Celaka, pikir Nurseta.

Ki Jembros adalah seorang pendekar yang besar dan gagah perkasa, namun terlalu berani sehingga sembrono sekali.

Tempat itu merupakan sarang yang amat berbahaya.

Dia hendak menegur dan memperingatkan Ki Jembros, namun terlambat karena pada saat itu, nampak beberapa orang telah keluar dari gubuk besar itu.

Ketika melihat orang-orang yang muncul itu, Ki Jembros terbelalak.

Matanya yang lebar itu menjadi besar sekali karena dia melihat dua orang kakek tua renta yang sama sekali tak disangkanya berada di tempat itu.

"Ki Cucut Kalasekti dan........dan Ki Buyut Pranamaya.......?"

Katanya seperti tidak percaya.

Sementara itu, pemuda tampan yang berdiri di samping Ki Jembros, yang bukan lain adalah Pertiwi, begitu melihat bahwa seorang di antara mereka yang muncul itu adalah Gagak Wulung, tidak memperdulikan apapun lagi dan ia sudah mencabut kerisnya, langsung saja ia menyerang Gigak Wulung dengan ganas dan nekat.

Serangan itu cukup berbahaya, cepat dan kuat, maka Gagak Wulung yang tidak mengenal gadis yang menyamar pria itu terkejut, lalu melompat ke samping.

"Eh........, ohh......... Siapa kau dan mengapa menyerangku?"

Serunya, akan tetapi Pertiwi tidak mengeluarkan kata-kata, melainkan terus saja menyerang dengan dahsyat, dengan niat membunuh karena serangannya itu terdorong oleh hati yang amat sakit dan penuh dendam.

Kembali Gagak Wulung mengelak dan meloncat ke belakang.

"Hem, bocah setan, agaknya engkau sudah bosan hidup"

Bentak Gagak Wulung sambil mencabut pedangnya.

Dia tadi melihat betapa serangan pemuda tampan itu ganas sekali, maka dia mencabut pedang untuk membela diri dan membalas serangan.

Terjadilah perkelahian yang seru antara mereka.

Ternyata Pertiwi telah mewarisi ilmu kepandaian dari Ki Jembros, sehingga gadis itu kini mampu menandingi Gagak Wulung.

Betapapun juga, ia masih kalah pengalaman, maka pedang di tangan Gagak Wulung mulai mendesaknya.

Melihat ini, tiba-tiba Ni Dedeh Sawitri yang sejak tadi memperhatikan Pertiwi dan kagum melihat pemuda yang demikian tampan dan manisnya, melompat ke depan.

"Gagak Wulung, jangan bunuh dulu pemuda ini"

Katanya dan iapun menyerang dengan cakaran tangannya.

Tentu saja Pertiwi terkejut dan makin terdesak oleh dua orang yang selain tinggi ilmunya, juga memiliki pengalaman berkelahi yang luas itu, tidak seperti ia yang bagaikan burung baru belajar terbang.

Melihat muridnya dikeroyok dua dan terdesak, Ki Jembros tidak mungkin tinggal diam saja.

"Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri, kalian memang manusia-manusia iblis"

Bentaknya dan diapun meloncat.ke depan, tangannya bergerak menyambar mendatangkan angin pukulan dahsyat ke arah Gagak Wulung. Itulah aji pukulan Hastobairowo yang ampuhnya bukan kepalang.

"Dukkk"

Pukulan dahsyat itu tertahan di udara oleh tangkisan sebuah tangan Iain. Tangan Ki Buyut Pranamaya dan tangkisan itu membuat tubuh Ki Jembros terhuyung ke belakang.

"Bagus, Ki Buyut Pranamaya melidungi iblis-iblis ini. Sudah sepatutnya, iblis tua membela iblis-iblis yang muda. Biarlah aku mengadu nyawa dengan kalian iblis-iblisj jahat"

Setelah berkata demikian, dengan nekat, untuk membela muridnya, Ki Jembros menerjang lagi, sekali ini dia menyerang Ki Buyut Pranamaya yang disambut oleh kakek tua renta yang amat tangguh itu.

Melihat betapa Ki Jembros dan pemuda itu terdesak hebat, tentu saja Nurseta tidak mung-kin berdiam diri saja.

Dia tahu betapa lawan berjumlah banyak dan amat sakti, namun dia-pun tidak dapat membiarkan Ki Jembros terancam bahaya maut tanpa membantu.

Dia lalu meloncat dan sekali meloncat dia sudah tiba di tempat pertempuran.

"Paman Jembros, jangan khawatir, saya membantu paman"

Serunya dan pada saat itu, Ki Jembros sedang terdesak hebat karena diancam tendangan Cakrabairawa yang bertubi-tubi datangnya.

Kalau Nurseta tidak datang agaknya Ki Jembros akhirnya akan roboh tertendang.

"Desss"

Tangkisan lengan Nurseta mengenai kaki Ki Buyut Pranamaya dan kakek ini mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya sampai terputar.

Memang Nurseta telah menerima gemblengan paling akhir dari Panembahan Sidik Danasura sehingga ilmu kepandaiannya kini mencapai tingkat yang tinggi, dengan tenaga sakti yang amat kuat.

Ki Buyut Pranamaya sampai terkejut bukan main ketika tendangan kakinya yang tadi mengancam Ki Jembros tertangkis tangan pemuda itu sehingga tubuhnya sampai berputar.

"Haha, kiranya Nurseta yang datang mengantarkan nyawa"

Ki Cucut Kalasekti tertawa dan diapun maju menyerang Nurseta, dari mulutnya keluar suara mendesis seperti ular dan tangannya sudah menyambar-nyambar dahsyat karena kakek ini, yang sudah tahu akan ketangguhan Nurseta, begitu menyerang telah mengerahkan tenaganya dan mengeluarkan satu di antara aji-aji kesaktiannya yang ampuh, yaitu aji pukulan Gelap Sewu, Nurseta mengenal aji pukulan yang ampuh ini maka diapun mengerahkan tenaganya, menangkis dan membalas dengan pukulan yang tidak kalah ampuhnya, yaitu aji pukulan Jagad Pralaya yang kalau mengenai lawan tak mungkin dapat bertahan lagi.

Ki Cucut Kalasekti terkejut dan cepat dia meloncat ke belakang untuk mengelak, kemudian membalas lagi dengan pukulan jarak jauh yang disertai tenaga sakti.

"Wuuuttt........"

Angin pukulan dahsyat menyambar, ganas ke arah Nurseta dan terdengar suaranya seperti air mendidih, itulah aji pukulan Segoro Umub, pukulan yang mengandung tenaga panas.

Nurseta mengelak dan dua orang itu mulai serang-menyerang dengan aji-aji pukulan dahsyat yang mendatangkan angin menyambar nyambar.

Ki Jembros boleh jadi digdaya, memiliki kekebalan dan juga memiliki kegagahan, Namun, berhadapan dengan Ki Buyut Pranamaya dia kalah jauh.

Lawannya adalah seorang datuk besar yang memiliki aji kesaktian seperti iblis.

Biarpun Ki Jembros mengamuk seperti Werkudara, tetap saja dia terdesak.

Pada saat itu, Pertiwi juga didesak hebat oleh pengeroyokan Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri.

Pertiwi juga berkelahi dengan nekat tanpa memperdulikan keselamatan dirinya lagi.

Tujuannya hanya satu, yaitu membunuh Gagak Wulung yang amat dibencinya.

Namun arena ia selalu menyerang dan memperhatikan Gagak Wulung, akhirnya, tamparan tangan Ni Dcdeh Sawitri tak dapat dihindarkan, mengenai tengkuknya dan Pertiwi roboh dengan tubuh lemas terkulai.

"Hihik, dia tidak boleh mati dulu, Gagak Wulung. Sayang begini muda dan tampan kalau dibunuh begitu saja"

Setelah berkata demikian, wanita iblis ini menjulurkan tangannya hendak mencengkeram baju Pertiwi dan akan dibawanya pergi.

Akan tetapj begitu tangannya menyentuh dada yang padat, menyentuh payudara yang ranum, ia menjerit dan menarik tangannya.

Lalu jari tangannya bergerak kearah baju di dada itu.

"Brettt......"

Direnggutnya baju itu sehingga terobek dan nampaklah sepasang payudara Pertiwi.

"Hahaha, dia merupakan hadiah untukku, Ni Dedeh, bukan untukmu "

Kata Gagak Wulung dan sekali sambar, dia telah memondong tubuh Peitiwi dan dibawanya pergi dari tempat itu. Melihat ini, Ki Jembros marah dan merasa khawatir bukan main.

"Jahanam Gagak Wulung, lepaskan muridku"

Dia meloncat dan meninggalkan Ki Buyut Pranamaya. Saat itu, Ki Buyut Pranamaya mengejar dan menyusulkan tendangan sakti Cakrabairawa.

"Dess. DssssI"

Ki Jembros tidak mampu menghindarkan diri lagi karena pada saat itu tubuhnya sedang meloncat untuk mengejar Gaguk Wulung.

Kekebalan tubuhnya tidak cukup kuat untuk menahan tendangan sakti itu dan kakek yang gagab perkasa ini roboh pingsan.

Atas isarat Ki Buyut Pranamaya, enam orang muridnya, tiga pria dan tiga wanita, sudah cepat menubruk dan membelenggu kaki tangan Ki Jembros.

Ki Buyut Pranamaya sendiri sudah terjun ke dalam.

pertempuran, membantu Ki Cucur Kalasekti, mengeroyok Nurseta.

Tentu saja Nurseta menjadi repot sekali menghadapi pengeroyokan dua orang kakek tua renta yang sakti mandraguna itu.

Baru melawan seorang diantara mereka saja, satu lawan satu, dia tidak akan dapat mengalahkahnya dengan mudah.

Apa lagi dikeroyok dua.

Memang, dasar ilmu kepandaiannya lebih murni dari pada kedua orang lawannya, akan tetapi jelas dia kalah pengalaman dan kalah matang.

Masih untung bahwa kedua orang lawannya sudah tua renta sehingga tenaga mereka tidaklah sekuat dahulu, Akan tetapi, pada saat itu Ni Dedeh Sawitri juga meloncat dan ikut pula mengeroyoknya dengan sambaran kaku kuku jari tangan yang mengandung racun.

Pedih perih rasa hati Nurseta melihat kenyataan ini.

Ibunya sendiri, ibu yang dahulu mengandung dan melahirkannya, kini berusaha mati-matian untuk membunuhnya.

Untuk meneriakkan kenyataan itu tentu saja dia merasa malu, maka diapun diam saja dan melawan mati-matian.

Betapapun juga, karena dia sudah tahu bahwa wanita itu adalah ibu kandungnya, betapapun sakit rasa hatinya, betapapun tidak ada sedikit juga terasa kasih sayang dalam hatinya terhadap wanita itu, tetap saja dia tidak tega untuk membalas dengan serangan maut terhadap wanita itu.

Serangan balasannya hanya ditujukan kepada dua orang kakek tua renta.

Dan semua serangan itu gagal, dan dia bahkan terdesak hebat, hanya mampu menangkis atau berloncatan ke sana sini untuk menghindarkan diri dari sambaran dan hujan serangan tiga orang pengeroyok yang tangguh.

Ketika Nurseta melihat robohnya Ki Jembrds, dia terkejut dan khawatir sekali.

Keadaan ini tentu saja mengurangi kewaspadaannya dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh kedua orang lawannya yang selain tangguh juga berpengalaman luas.

Sebuah tendangan kaki Ki Buyut Pranamaya menyambar dan paha kiri Nurseta terkena sambaran ujung kaki yang amat kuat itu.

Nurseta terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ki Cucut Kalasekti untuk menggerakkan tangannya dengan aji pukulan Gelap Sewu.

Tubuh Nurseta terjungkal.

Dia hanya mampu mengeluh lirih dan |atuh pingsan.

Ketika Ki Cucut Kalasekti hendak menyusulkan pukulan maut untuk membunuh pemuda itu, Ni Dedeh Sawitri cepat menghalangi dan berkata.

"Jangan dibunuh dulu"

Dan ia lalu mengangkat tubuh Nurseta, kemudian minta bantuan para murid Ki Buyut Pranamaya untuk membelenggu kaki tangan pemuda itu.

"Hemm, tidak dibunuh untuk apa? Dia berbahaya sekali "

Kata Ki Cucut Kalasekti. Ki Buyut Pranamaya tertawa.

"Hahaha, seperti tidak mengenal kesukaan Ni Dedeh Sawitri saja, Ki Cucut. Biarkan ia bersenang-senang sejenak. Pula, kalau kita membunuh. Ki Jembros dan Nurseta, tidak ada gunanya bagi kita. Kalau membiarkan mereka ini hidup, mungkin besar manfaatnya"

"Eh? Apa maksudmu, Ki Buyut?"

"Semalam kau telah menerangkan tentang tugas yang diberikan oleh Sang Prabu Jayakatwang untuk kita berdua. Untuk tugas menyelidiki ke Majapahit memang dua orang mi tidak ada gunanya. Akan tetapi untuk mencari Wulansari yang melarikan tombak pusaka, kurasa mereka ini merupakan umpan yang baik sekali"

Ki Cucut Kalasekti mengerutkan alisnya dan mulutnya yang meruncing seperti mulut ikan itu nampak semakin meruncing ketika dia mencurahkan pikirannya. Hemm, umpan? Apa maksudmu, Ki Buyut?"

"Dahulu, aku pernah menguasai tombak pusaka itu. Ketika Wulansari merampasnya dariku, kukejar ia dan tentu pusaka itu sudah dapat kurampas kalau saja tidak muncul Nurseta yang membantu Wulansari sehingga akhirnya pusaka itu terjatuh ke tangan gadis itu. Nah, dengan bukti itu jelas bahwa ada hubungan dekat antara Wulansari dan Nurseta. Maka, kalau kita menahan Nurseta dan Ki Jembros ini tentu saja dengan menjaga ketat, besar kemungkinan Wulansari akan muncul di sini. Dengan demikian, maka tidak perlu lagi kita bersusah payah mencarinya. Bagaimana pendapatmu?"

Tiba-tiba Ki Cucut Kalasekti tertawa dan suara ketawanya aneh, bercampur desis seperti desis ular.

"Kau sungguh cerdik. Dan memang benar, bekas muridku itu memang jatuh cinta kepada Nurseta. Kalau ia mengetahui bahwa Nurseta menjadi tawanan kita, pasti ia akan datang untuk berusaba menolongnya"

"Bagus kalau begitu"

Ki Buyut Pranamaya lalu memerintahkan enam orang muridnya untuk membawa Nurseta dan Ki Jembros yang sudah dlbelenggu kaki tangannya ilu ke dalam rumah dan memasukkan mereka berdua ke sebuah kamar dengan dirantai dan dijaga ketat.

"Ki Dedeh Sawitri, kau dan Gagak Wulung harus memperkuat penjagaan. Kalian berdua yang bertanggung jawab kalau sampai penjagaan kurang ketat sehingga mereka berdua dapat lolos"

"Jangan khawatir, aku akan menjaga Nurseta dengan ketat, demikian ketat kalau perlu aku akan memeluknya dan tidak akan melepaskannya lagi"

Jawab Ni Dedeh Sawitri genit dan tanpa malu-malu biarpun di situ terdapat enam orang murid Ki Buyut Pranamaya.

Kakek ini terkekeh dan Ni Dedeh Sawitri memondong tubuh Nurseta yang masih pingsan, dibawa masuk, diikuti enam orang mund Ki Buyut Pranamaya yang membawa Ki Jembros yang juga masih pingsan.

Ketika Gagak Wulung mengetahui bahwa pemuda tampan itu ternyata seorang gadis muda yang melihat ketampanannya dalam penyamaran tentulah cantik, melihat payudaranya ketika bajunya dirobek Ni Dedeh Sawitri, seketika diapun terpesona dan bangkitlah berahinya.

Maka, tanpa memperdulikan yang lain, dia lalu memondong tubuh Pertiwi dan dibawanya gadis yang menyamar pria itu ke dalam hutan, ke sebuah tempat yang ditumbuhi rumput subur.

DENGAN lembut dia merebahkan Pertiwi di atas rumput tebal yang lunak, tersenyum senyum penuh kegembiraan karena kini dia mendapat kenyataan bahwa gadis yang menyamar pria itu sungguh seorang gadis yang masih amat muda dan berwajah manis sekali.

Dia tertawa-tawa teringat kepada Ni Dedeh Sawitri yang tadinya mengira gadis ini seorang pemuda tampan.

Kegembiraannya memuncak ketika dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu memiliki kecantikan yang menawan dan bentuk tubuh yang padat indah sekali.

Lalu dia memijit tengkuk gadis itu, berusaha menyadarkannya dari pingsan.

Bagi Gagak Wulung, yang paling menyenangkan adalah kalau seorang wanita menyerahkan diri kepadanya dengan suka rela, yang jatuh oleh rayuannya, bukan karena pengaruh sihir, apa lagi bukan karena diperkosa.

Maka, diapun menginginkan agar gadis ini menyerahkan diri dengan suka rela tanpa pengaruh sihir atau paksaan.

Pertiwi mengeluh lirih dan ia membuka matanya.

Begitu ia membuka mata, ia melihat Gagak Wulung yang duduk di dekatnya.

la cepat bangkit dan pada saat itu ia melihat bahwa ia sudah tidak berpakaian lagi, bahkan rambutnya yang hitam dan panjang sudah teturai lepas.

Ia menahan jeritnya.

"Ahhh....... kau........'"

Tangannya memukul, akan tetapi lengannya ditangkap oleh Gagak Wulung, juga lengan kirinya ditangkap dan ia tidak mampu berkutik lagi.

Kini Gagak Wulung memandangnya dengan mata terbelalak heran.

Setelah gadis itu siuman dan membuka matanya yang lebar dan bening jeli, baruluh dia teringat.

"Kau........ kau......... Pertiwi??"

Serunya kaget dan heran.

"Benar, kau Pertiwi, gadis dusun Sintren itu, gadis di lereng Ciunung Kelud, bukan?"

Pada saat itu, Pertiwi sudah menyadari keadaannya.

Kembali ia terjatuh ke tangan Gagak Wulung.

Tak berdaya.

Akan sia sia saja kalau ia melawan.

Ilmunya belum mampu menandingi Gagak Wulung, Ingin ia menjerit.

Ingin ia meronta.

Ingin ia mengutuk dan memaki.

Namun, Pertiwi sekarang adalah seorang gadis yang penuh perhitungan, yang menjadi cerdik karena sakit hati.

Ia tabu bahwa mempergunakan kekerasan, ia takkan berhasil, bahkan ia tentu akan diperkosa oleh pria iblis ini.

"Benar, aku........aku Pertiwi........ dan engkau....... engkau seorang pria yang kejam, yang tidak tahu akan kasih sayang wanita. Engkau bukan bertanggung jawab, bahkan meninggalkan aku begitu saja, meninggalkan aku merana dan merindukanmu. Ah, kakangmas Gagak Wulung, betapa kejam hatimu......"

Gagak Wulung terbelalak memandang gadis yang menangis itu.

Dia melepaskan kedua tangan Pertiwi, tetap waspada kalau-kalau gadis itu akan menyerangnya.

Akan tetapi Pertiwi menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis sedih.

"Pertiwi, kau merindukan aku? Kau cinta kepadaku? Tapi, baru saja engkau berdaya upaya sekuatmu untuk membunuhku Engkau mempelajari ilmu dan hendak membunuhku"

"Tentu saja"

Kata Pertiwi dengan suara bercampur isak.

"Hati siapa yang takkan benci? Bertahun-tahun aku mencarimu, merindukanmu, rela menyamar sebagai pria dan mempelajari ilmu agar lebih mudah mencarimu. Setelah bertemu, engkau bergaul akrab dengan wanita lain, wanita cantik yang tadi membelamu mati-matian. Kakangmas Gagak Wulung, benarkah engkau tidak ingat betapa aku telah menyerahkan jiwa ragaku kepadamu ketika itu?"

"Ah, Pertiwi, benarkah itu? Benarkah engkau cinta padaku dan merindukan aku?"

Gagak Wulung tetap waspada, lalu menangkap lengan gadis itu, ditariknya dekat lain didekapnya.

"Coba, aku ingin membuktikan apakah engkau benar merindukan aku"

Gagak Wulung yang penuh pengalaman itu lalu membelai, menciumi gadis itu.

Pertiwi menahan gejolak hatinya yang hendak meronta.

Kebencian dan dendamnya terlampau besar sehingga membuat ia mampu melakukan apa saja.

Ia membiarkan dirinya hanyut dibuai nafsu berahi dan kemesraan, ia membalas rangkulan dan ciuman pria itu dengan semangat menggebu-gebu, dengan penuh gairah yang panas seolah-olah ia benar seorang wanita yang kehausan, yang lama merindukan dekapan pria yang dicintanya.

Ia bahkan menggumuli Gagak Wulung bagaikan mabuk, penuh nafsu membakar sehingga Gagak Wulung yang kini terseret dan pria inipun kehilangan kewaspadaannya.

Bagaimana dia dapat meragukan lagi kalau Pertiwi dapat mendekap seperti itu, menciuminya seperti itu?

Diapun membiarkan dirinya tenggelam.

Dengan penuh perhitungan Pertiwi menanti kesempatan itu, Setelah tiba saatnya yang tepat, ia menggigit lidah Gagak Wulung yang bermain di dalam mulutnya, berbareng kedua tangannya mencengkeram ke bawah.

Gagak Wulung tersentak, kerongkongannya mengeluarkan gerengan aneh, tangannya menghantam dengan pengerahan tenaga seorang yang sekarat.

"Prakkk"

Tangan itu menghantam kepala Pertiwi, gadis itu terkulai, tewas seketika karena kepalanya pecah terkena hantaman Gagak Wulung.

Sebaliknya, Gagak Wulung berkelojotan dalam sekarat.

Mulutnya menyemburkan darah dari lidah yang putus, dan selangkangannya juga penuh darah dari alat kelaminnya yang remuk karena cengkeraman tangan Pertiwi yang dilakukan dengan sepenuh tenaga didorong kebencian yang amat mendalam Ki Buyut Pranamaya dan Ki Cucut Kalasekti bercakap-cakap di luar, mengatur siasat bagaimana agar mereka dapat merampas kembali tombak pusaka Ki Tejanirmala seperti diperintahkan oleh Sang Prabu Jayakatwang, juga tentang tugas mereka menyelidiki keadaan di Majapahit.

Mereka tidak memperdulikan lagi keadaan Nurseta, Ki Jembros atau gadis yang menyamar pemuda itu.

Mereka maklum bahwa di tangan Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri, tiga orang tawanau itu tidak akan mampu meloloskan diri, apa lagi dua orang pembantu yang boleh.

diandalkan itu dibantu oleh enam orang murid atau pelayan Ki Buyut Pranamaya yang bukan merupakan orang-orang lemah lembut.

Sementara itu, Ni Dedeh Sawitri membawa Nurseia ke dalam kamarnya di belakang.

"Lempar kerbau itu ke sudut kamar, biar aku yang mengawasinya. Dia sudah dibelenggu dan pingsan. Kalau banyak tingkah, akan kuhabisi sekali kerbau tua itu"

Kata Ni Dedeh Sawitri kepada enam orang yang menggotong ubuk Ki Jembros yang masih pingsan.

"Setelah itu, kalian keluarlah dari kamar ini, biar aku yang menjaga mereka berdua"

Enam orang murid Ki Buyut Pranamaya itu tiga pria dan iiga wanita, saling pandang sambil tersenyum maklum, kemudian sambil tertawa-tawa mereka keluar dari kamar itu dan menutupkan daun pintunya.

Terangsang oleh sikap Ni Dedeh Sawitri yang jelas mempunyai niat cabul terhadap tawanan yang tampan itu, mereka bertiga lalu menggandeng pasangan inasing-masing dan meninggalkan tempat itu, tiga pasang orang muda yang menjadi murid-murid dan juga pelayan pelayan Ki Buyut Pranamaya ini setiap hari menyaksikan terjadinya kecabulan yang dilakukan guru mereka, juga tamu-tamu guru mereka.

Juga mereka diharuskan melayani guru mereka dan para tamunya, maka dengan sendirinya merekapun bergelimang nafsu rendah.

Ki Jembros menggerakkan pelupuk matanya.

Dia mulai siuman dari pingsannya dan pertama kali yang dirasakannya adalah kenyerian yang menusuk pada dadanya.

Rasa nyeri ini seketika menyadarkannya dan mengingatkannya akan apa yang terjadi.

Dia berkelahi dan terkena tendangan ampuh yang dilakukan kaki Ki Buyut Pranamaya.

Dia sudah pernah mendengar akan aji kesaktian kakek itu, dan pernah mendengar akan ilmu tendangan yang disebut Cakrabairawa.

Din kini dia merasakannya.

Tendangan maut yang amat hebat sehingga biarpun dia sudah mengerahkan kekebalannya, tetap saja ketika dadanya tertendang, dia merasa seperti disambar petir dan segalanya menjadi gelap.

Dia pingsan.

Dia hendak menggerakkan tangan untuk meraba dadanya, namun tangan itu tak dapat digerakkan.

Ki Jembros maklum bahwa dia tertawan musuh, kaki tangannya dibelenggu.

Dia tidak sudi memperlihatkan kelemahan, maka iapun sama sekali tidak mengeluarkan suara.

Dia membuka matanya.

Kiranya dia rebah terlentang di atas lantai sebuah kamar, karena kepalanya terasa agak pening ketika dia membuka mata, maka dipejamkannya kembali.

Dia meraba-raba dada dengan perasaannya dan merasa lega bahwa dada itu hanya nyeri saja di bagian luarnya.

Ternyata ilmu kekebalannya telah menyelamatkan nyawanya, menahan tendangan itu sehingga hanya kulit dadanya saja yang menderita nyeri, tidak menembus ke dalam.

"Ahhh, Nurseta, bocah bagus. Sejak dahulu aku sudah tergila-gila kepadamu. Betapa jantannya engkau, betapa tampan. Aku cinta padamu Nurseta"

Mendengar suara lembut ini yang disusul suara terkekeh genit, Ki Jembros membuka matanya kembali dan menggerakkan leher menoleh ke kiri.

Dia melihat betapa Ni Dedeh Sawitri duduk di tepi sebuah pembaringan dan Nurseta rebah di atas pembaringan dengan tangan dan kaki terbelenggu pula.

Wanita itu dengan tak tahu malu sedang merayu dan membelai Nurseta.

Kedua tangan wanita itu membelai mesra, kadang kadang membungkuk untuk menciumi muka pemuda yang telentang dalam keadaan pingsan itu.

Ki Jembros melotot.

Kalau saja kedua pasang kaki tangannya tidak dibelenggu, tentu dia sudah meloncat dan menerkam wanita jahat itu.

Akan tetapi dia sendiri tidak berdaya.

"Nurseta, sekali ini engkau harus memenuhi hasratku, engkau harus melayaniku, mau tidak mau........, harus....... hihihi......... engkau pasti akan tunduk, sayangku. Akan tetapi engkau harus siuman dulu untuk dapat kuminumkan jamu ini......."

Wanita itu mengeluarkan bungkusan dan agaknya memang ia sudah mempersiapkan segalanya.

Dimasukkan isi bungkusan yang merupakan rumuan jamu , bubuk itu ke dalam sebuah cangkir, ducampurnya dengan air teh yang berada di poci lalu diaduknya sampai rata.

Setelah itu, ia meletakkan jamu dalam cangkir itu di atas meja dan kembali ia menciumi seluruh muka Nurseta sabelum berusaha membuat pemuda itu siuman.

Ki Jembros tak dapat menahan dan kemarahannya lagi.

"Ni Dedeh Sawitri, perempuan cabul, perempuan hina tak tahu malu"

Mendengar suara iri, Ni Dedeh Sawitri yang sedang merangkul dan menciumi Nurseta, menoleh dan tersenyum manis.

"Hik hik Ki Jembros, engkau kepingin? Ah, kalau ada Nurseta disini, aku tidak sudi berdekatan dengan laki-laki macam kau"

"Perempuan rendah, engkau melebihi binatang. Ketahuilah, siapa pemuda yang kau pangku itu? Siapakah Nurseta? Dia adalah anakmu. Dia anak kandungmu sendiri dan sekarang engkau hendak memaksa puteramu sendiri berzina denganmu? Huh, perempuan macam apa engkau ini. Seorang ibu hendak memaksa puteranya sendiri menggaulinya? Cuhh..! Ki Jembros meludah dan Ni Dedeh Sawtri terbelalak, mukanya pucat dan ia memandang kepada Ki Jembros, lalu kepada Nurseta.

"Bohong. kau bohong, kau iri dan kau hanya menggertak. Aku tidak percaya !"

Bentak Ni Dedeh Sawitri, akan tetapi tetap saja ia menurunkan kepala Nurseta yang tadi dipangku dan dibelainya.

"Ki Jembros, engkau pembohong besar. Engkau sengaja hendak menggertakku, agar aku kehilangan gairahku. Keparat jahanam kubunuh kau"

Wanita itu meloncat turun dari atas pembaringan dan menghampiri Ki Jembros dengan sikap mengancam, kini wajahnya yang tadi pucat berubah merah sekali karena amarah dan ia sudah mengerahkan Aji Sarpakenaka sehingga kuku-kuku jari tangannya yang panjang runcing itu kini dipenuhi hawa beracun dan sekali guratan kuku jari itu sudah cukup untuk membunuh orang.

"Ha ha ha, kau bunuhlah aku, Ni Dedeh Sawitri. Lebih baik aku mati dari pada hidup menyaksikan seorang ibu kandung memperkosa puteranya sendiri. Ibu kandung meniduri dan menggauli puteranya sendiri. Ih, iblis nerakapun tidak akan sekeji itu, Dedeh" ''Bohong. Kau bohong. Mana buktinya?"

"Buktinya? Engkau sungguh tidak tahu diri, Dedeh. Bercerminlah dan Iihat betapa mata dan mulutmu sama benar dengan mala dan mulut anakmu itu. Dan engkau tidak melihat bentuk tubuhnya? Tidak melihat dahinya dan hidungnya? Tidakkah serupa benar dengan bentuk tubuh, dahi dan hidung mendiang Pangeran Panji Hardoko?"

Kini wajah yang memerah itu pucat kembali, lebih pucat dari tadi. Ia menoleh dan mengamati wajah yang berada di atas pembaringan itu. Ia menjerit lirih.

"Tidak. Tidaaaakk.,....... Engkau bohong........"

"Hemm, engkau memang iblis betina yang tidak pernah mau bertaubat, tidak pernah mau menyadari kekotoran diri sendiri. Engkau tentu tahu siapa Nurseta? Murid dan putera angkat Ki Baka. Putera angkat. bukan anak kandung. Dari mana Ki Baka mendapatkan Nurseta? Dari kakaknya, mendiang Ki Bayaraja. Sebelum memberontak, Ki Bayaraja menyerahkan puteranya kepada Ki Baka agar dirawat. Puteranya, putera angkat, bukan anak sendiri. Dan kau tahu dari siapa Ki Bayaraja menerima anak yang bernarna Nurseta itu? Dari Pangeran Panji Hardoko"

"Tidak........, tidaaaakk........."

Kini Ni Dedeh Sawitri menutupi muka dengan kedua tangannya, akan tetapi segera diturunkannya dua tangan, itu dan ia kembali mengamati wajah Nurseta.

"Hemm, engkau meninggalkan anakmu itu kepada Pangeran Panji Hardoko ketika Nurseta masih bayi. Dan Pangeran Panji Hardoko sudah meninggal dunia karena duka, karena ulahmu. Dan engkau kini bahkan hendak berbuat cabul dengan puteramu sendiri? Cuhh!"

Kembali Ki Jembros meludah.

"Tidak....... ah, tidak....ya Tuhan, tidak...."

Ni Dedeh Sawitri hendak menjerit, akan tetapi suaranya lemah dan lirih..Pada saat itu, Nurseta membuka matanya Dia siuman dan seperti juga Ki Jembros, dia segera teringat akan keadaaanya dan tahulah dia bahwa dia terbelenggu dan berada di atas pembaringan, Ketika dia membuka mata, dia melihat Ni Dedeh Sawitri berdiri disitu, memandang kepadanya dengan mata terbelalak muka pucat sekali.

"Hahaha, Dedeh, perempuan hina. Lihat Nurseta sudah siuman, boleh kau tanya sendiri kepadanya"

Terdengar Ki Jembros berkata dengan nada suara mengejek.

Setelah mendengar suara itu, baru Nurseta menoleh dan melihat bahwa kakek itu menggeletak di atas lantai, di sudut kamar itu.

Kini Ni Dedeh Sawitri meloncat, mendekati pembaringan, lalu dengan kedua tangan menggigil dan dingin ia memegang pundak Nurseta, mengguncangnya dan suaranya gemetar ketika ia berkata.

"Nurseta, katakanlah, demi para dewata. katakan siapa ayah kandungmu dan siapa pula ibu kandungmu?"

Nurseta yang merasa betapa bajunya bagian masih terbuka dan hidungnya mencium bau harum, dapat menduga apa yang tadi terjadi dan dilakukan Ni Dedeh Sawitri terhadap dirinya.

Dia dapat pula menduga bahwa tentu Ki Jembros yang mencegah terjadinya keributan itu lebih lanjut dengan membuka rahasia mengenai hubungan antara dia dan wanita ini.

Dia tahu bahwa jawabannya akan merupakan tikaman yang lebih hebat dari pada serangan keris pusaka.

maka dengan penuh geram diapun menjawab dengan mata yang tajam mencorong menatap wajah wanita itu.

"Dengailah baik-baik. Ayah Eandungku adalah Pangeran Panji Hardoko dari Kediri, dan ibu kandungku adalafh seorang wanita gagah perkasa dari Pasundan yang bernama. Ni Dedeh Sawitri"

"Nurseta....... Aku ....... aku........ kalau begitu, akulah ibumu.........."

Wanita itu menatap.

"Tidak. Bagaimana kau berani mengaku demikian? Ibuku adalah seorang wanita gagah perkasa yang berbudi luhur. Sedangkan kau. Kau ini seorang perempuan hina dan rendah, iblis betina yang kejam dan keji, tak tahu malu........ Aku akan malu sekali menjadi anakmu. Tidak sudi aku mempunyai seorang ibu macam kau"

Ni Dedeh Sawitri mengeluarkan keluhan lirih dan iapun terkulai ke bawah pembaringan. Ia berlutut diatas lantai dan merataplah ia dengan suara merintih.

"Nurseta.......aku ibumu, nak. Kau anakku........, aduh dewa....., ampuni hamba........ kau anakku......., wajahmu itu....... ah, sama benar dengan wajahnya, ayahmu. Nurseta anakku. tahukah engkau betapa rinduku kepadamu? Setelah aku meninggalkan engkau dan ayahmu....... ah, aku lelah dikutuk untuk perbuatan itu, aku rindu kepada kalian. Aku kembali ke Kediri, akan tetapi ayahmu telah meninggal dan kau.......kau lenyap. Tak seorangpun tahu dt mana kau berada, bahkan tidak ada yang tahu tahwa Pangeran Panji Hardoko mempunyai seorang putera. Aku menjadi seperti gila"

Aduh, anakku........ anakku....... aku menjadi gila dan makin tersesat......"

"Hemm, kau perempuan keji, iblis betina, jangan mencoba merayuku. Kalau kau ibuku, mengapa kau berusahu membunuhku? Kau........ perempuan tak bermalu....... muak aku melihatmu........"

Seluruh perasaan dendam dan bencinya kepada wanita.

yang menjadi ibu kandungnya itu tercurah keluar dari dalam hati Nurseta.

Lenyaplah semua kebijaksanaannya, terbakar oleh apa dendam dan sakit hati.

Ni Dedeh Sawitri menjerit.

Bagaikan di tikam keris berkarat rasa jantungnya dan ia pun terkulai, lalu menangis tersedu-sedu, sesenggukan sampai sesak napasnya.

"Ampunkan aku........duhh dewa...... anakku....... ampunkan ibumu........ Panperan Panji Hardoko...... ampunkan aku....... duh Nurseta, ampunkan ibumu ini, anakku....... ia Merintih-rintih dan membentur-benturkan dahinya di atas lantai. Nurseta diam saja terlentang dan tidak menoleh, akan tetapi kedua matanya basah, berlinang air mata mengingat betapa yang merintih-rintih itu adalah rintihan ibu kandungnya. Terbayang di dalam benaknya betapa wanita ini dahulu merintih rintih seperti itu ketika melahirkan dia di dalam dunia ini. Ingin dia merangkul, ingin dia menyembah dan minta ampun. Akan tetapi, diberatkannya hatinya. Wanita ini memang ibu kandungnya, akan tetapi terlalu jahat, terlalu kejam. Melihat keadaan ibu dan anak itu, Ki Jembros merasa kasihan pula. Dia yang mewakili Nurseta menjawab.

"Ni Dedeh Sawitri, mintalah ampun kepada Sang Hyang Widhi, kepada Yang Maha Kuasa. Bertauhatlah dan mohon ampun kepadaNya"

Ni Dedeh Sawitri bangkit berlutut, merangkap kedua tangan, menyembah-nyembah dari membentur-benturkan dahinya ke lantai.

"Duh para dewa......., duh Hyang Widhi...... ampunilah hamba....... ya Tuhan, ampuni hambaMu ini uhhuhuuuu, ampun.... ampun...... ampun....."

La meratap-ratap dan air matanya bercucuran, rambutnya terlepas dari sanggul dan awut-awutan, wajahnya pucat dan layu, tubuhnya mengigil.

"Ni Dedeh Sawitri, apa gunanya semua itu? Kau telah membantu sehingga puteramu. anak kandungmu tertawan dan setiap saatnya? nyawanya terancam maut......."

Kata Ki Jembros mengingatkan. Tiba tiba Ni Dedeh Sawitri meloncat berseru.

"Tidak? Tidak ada yang boleh roembunuh anakku. Dia tidak boleb diganggu"

Dan bagai orang gila, ia lalu melepaskan belenggu dari kaki dan tangan Nurseta.

Pemuda ini begitu terbebas, lalu membereskan pakaiannya yang hampir ditelanjangi wanita itu tadi, dan dia meloncat ke dekat Ki Jembros dan membebaskannya dari ikatan kaki tangannya.

Pada saat itu, daun pintu terbuka dari luar dan enam orang murid Ki Buyut Pranamaya berloncatan masuk.

Mereka tadi di luar mendengar suara ribut-ribut dalam kamar itu.

Tadinya mereka sambil menahan tawa hendak menglntai, hendak melihat apa yang sedang dilakukan Ni Dedeh Sawitri terhadap tawanannya, dan mereka mengharapkan penglihatan yang menggairahkan dan mengobarkan nafsu berahi mereka.

Akan tetapi, ternyata yang mereka dengar adalah tangis Ni Dedeh Sawitri, maka mereka segera mendorong daun pintu dan berloncatan masuk.

Akan tetapi, mereka hanya mengantar nyawa, karena begitu mereka masuk, Ni Dedeh Sawitri sudah menyambut mereka dengan serangan kuku-kuku jari tangannya yang ampuh dan mengandung bisa itu.

Empat orang roboh dan tewas seketika dengan muka menghitam, dan dua orang lainnya yang hendak melarikan diri, roboh oleh tendangan Ki Jembros yang sudah bebas.

Nurseta sendiri hanya bengong saja melihat sepak terjang wanita yang sebetulnya ibu kandungnya akan tetapi selama ini menjadi musuhnya itu.

"Ni Dedeh, bawa kami kepada Gagak Wulung. Kami harus menolong Pertiwi yang tadi dibawanya lari"

Kata Ki Jembros yang teringat akan muridnya.

Ni Dedeh Sawitri memandang kepada Nurseta yang juga sedang menatapnya, dan dua pusang mata bertemu dan bertaut untuk beberapa detik lamanya.

Melihat betapa pandang mata pemuda itu kepadanya kini mulai bebas duri kebencian yang mendalam, Ni Dedeh Sawitri merasa demikian berbahagia sehingga iapun meloncat ke pintu kamar sambil berseru dengan suara ringan dan gembira, Mari kalian ikuti aku"

Tanpa banyak cakap Ki Jembros dan Nurseta mengikuti wanita itu yang keluar dari rumah melalui pintu belakang.

Karena pada saat itu, dua orang kakek gakti Ki Cucut Kalasekti dan Ki Buyut Pranamaya sedang bercakap-cakap di ruangan depan, mereka tidak tahu bahwa dua orang tawanan telah lolos dan enam orang murid Ki Buyut Pranamaya telah tewas.

Ni Dedeh Sawitri dapat menduga ke mana Gagak Wulung membawa pergi gadis tadi.

Tentu ke dalam hutan dan iapun tahu di mana terdapat lapangan rumpu yang tebal dan mengasyikkan.

Kesanalah ia berlari, diikuti oleh Nurseta dan Ki Jembros.

Setelah mereka tiba di tengah hutan, di tempat yang ditumbuhi rumput tebal, tiba-tiba Ni Dedeh Sawitri berhenti berlari dan ia tidak bicara, hanya menudingkan telunjuk kanannya ke depan.

Ki Jembros dan Nurseta memandang dan mereka terbelalak, Gagak Wulung dan Pertiwi, keduanya dalam keadaan terlanjang bulat, rebah dalam keadaan mandi darah dan tak bernyawa lagi.

"Pertiwi........"

Ki Jembros meraung dan diapun meloncat ke depan, dan di lain saat dia menubruk mayat Pertiwi sambil menangis menggerung gerung.

Nurseta terbelalak, termangu dan terharu.

Sebagai seorang pria, dia dapat merasakan apa yang dirasakan kakek itu.

Ki Jembros bukan sekedar kehilangan seorang murid, melainkan lebih dari pada itu.

jauh lebih dari pada itu.

Dia kehilangan seorang yang amat dikasihi, seorang yang amat dicintanya.

"Pertiwi...... aduh, jagad dewa bathara....... Pertiwi........"

Ki Jembros merangkul dan memangku mayat yang kepalanya pecah itu. Tiba-tiba dia menurunkan kembali mayat itu dan seperti orang yang mendadak menjadi gila, dia berteriak kepada mayat Gagak Wulung.

"Gagak Wulung, jahanam keparat kau. Terkutuk kau, semoga nyawamu disiksa di neraka yang paling rendah. Dan diapun mengayun tangannya dua kali. Terdengar bunyi keras dan kepala mayat Gagak Wulung menjadi remuk. Setelah melampiaskan kedukaan dan kearahannya dengan menghancurkan kepala mayat Gagak Wulung, kembali Ki Jembros merangkul mayat Pertiwi dan sambil menangis dia mengenakan pakaian laki-laki yang tadi ditinggalkan dari tubuh Pertiwi kepada mayat gadis itu lagi. Nurseta berdiri seperti berubah menjadi arca. Dia teringat akan nasib Pertiwi dan diamddiam dia merasa terharu dan iba. Buruk sekali nasib gadis manis itu. Gadis itu jatuh cinta kepadanya, namun dia tidak dapat membalas cinta Pertiwi karena dia telah lebih dulu jatuh cinta kepada Wulansari. Kemudian, Pertiwi dalam keadaan putus harapan dan patah hati, bertemu dengan Gagak Wulung dan gadis itu menyerahkan diri di bawah pengaruh sihir Gagak Wulung. Gadis itu menjadi sakit hati dan setelah bertemu Ki Jembros, ia mempelajari ilmu dan berusaha membalas dendan. Akan tetapi, kembali ia dikalahkan, bahkan diperkosa kembali. Dan dia dapat membayangkan apa yang telah terjadi, melihat keadaan mayat Gagak Wulung yang amat mengerikan tadi. Mulutnya penuh darah dengan lidah putus, dan alat kelaminnya remuk. Melihat betapa tangan kanan Pertiwi penuh darah, diapun dapat membayangkan betapa gadis itu tentu telah bersiasat, berpura-pura menyerah dan melayani jahanam itu, kemudian membunuhnya dengan meremas alat kelaminnya. Dan pada saat sekarat itu, Gagak Wulung sempat memukul pecah kepala Pertiwi. Gadis yang malang sekali. Padahal, Ki Jembros jelas amat mencinta gadis itu. Tiba-tiba Nurseta yang melamun itu dikejutkan oleh teriakan Ni Dedeh Sawitri.

"Nurseta. Ki Jembros. Cepat kalian lari, biar aku yang menahan dua ekor monyet tua itu"

Ki Jembros dan Nurseta cepat memutar tubuh dan mereka masih sempat melihat Ni Dedeh Sawitri meloncat dan menyerang dua orang kakek sakti yang datang ke tempat itu.

Bagaikan seekor singa betina melindungi anaknya, Ni Dedeh Sawitri menggunakan pukulan mautnya, yaitu dengan Aji Sarpakenaka mencakar ke arah muka Ki Cucut Kalasekti yang berada di depan, Namun, tentu saja kakek sakti itu dengan mudah dapat mengelak bahkan rnembalas dengan tamparan tangan Gelap Sewu yang ampuh Dengan kelincahan tubuhnya, Ni Dedeh Sawitri mengelak, meloncat ke kanan dan karena Ki Buyut Pranamaya kini berada dekat dengannya, iapun membalik dan kedua tangannya mencengkeram, yang kiri ke arah perut kakek itu, yang kanan ke arah lehernya.

Sementara itu, kakinya masih menyambar ke kiri untuk menjaga kalau Ki Cucut Kalasekti menyerangnya dari samping.

Juga Ki Buyut Pranamaya dengan mudah mengelak dengan melangkah mundur, dan pada saat itu, Ki Cucut Kalasekti sudah menangkis tendangan kaki wanita itu.

Tangkisan yang kuat membuat tubuh Ni Dedeh Sawitri terputar dan terhuyung.

Saat itu, tendangan kaki Ki Buyut Pranamaya yang terkenal hebat itu, dengan Aji Cakrabairawa, telah menyambar.

"Desss......"

Tubuh wanita itu terpelanting keras dan iapun roboh tak bergerak lagi.

Biasanya, sejak dia tahu bahwa Ni Dedeh Sawitri adalah ibu kandungnya, Nurseta merasa berduka dan bahkan amat membenci wanita itu, lebih benci dari pada sebelum dia tahu bahwa ia ibunya.

Akan tetapi, kini, melihat wanita itu roboh dan tak berkutik lagi, agaknya tewas, tiba-tiba dia menjadi beringas.

Dari dalam perutnya keluar suara melengking nyaring yang mengejutkan dua orang kakek sakti, dan tubuh Nurseta sudah menerjang ke depan dengan hebatnya, Dahsyat sekali serangan Nurseta yang dia tujukan kepada Ki Buyut Pranamaya yang telah membunuh ibu kandungnya.

Dia telah menggunakan Aji Pukulan Jagad Pralaya yang amat dahsyat itu, pemberian gurunya, Panembahan Sidik Danasura.

Melihat datangnya pukulan yang seperti halilintar itu, Ki Buyut Pranamaya terkejut dan cepat menangkis.

"Desss......."

Biarpun Ki Buyut Pranamaya telah mempergunakan seluruh tenaganya, namun pertemuan antara kedua tangan yang sama-sama mengandung tenaga ampuh itu membuat kakek itu terpental ke belakang dan terhuyung-huyung.

Gentarlah Ki Buyut Pranamaya.

Dia meloncat jauh ke belakang.

"Ki Cucut, mari kita pergi"

Katanya, menyembunyikan perasaan nyeri di dadanya akibat gempuran tenaga ampuh dari lawannya yang muda tadi.

Ki Cucut Kalasekti juga agak gentar menghadapi Nurseta.

Walaupun dia sama sekali tidak takut karena di situ ada Ki Buyut Pranamaya, akan tetapi kalau rekannya itu pergi dan dia harus seorang diri saja menghadapi Nurseta, berbahaya juga.

Pula, tugasnya adalah merampas kembali tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala dan menyelidiki Majapahit.

Biarpun dia membenci Nurseta, akan tetapi pemuda itu tidak cukup penting.

Maka, mendengar ajakan Ki Buyut Pranamaya, diapun cepat meloncat jauh dan melarikan diri bersama rekannya itu.

Nurseta dan Ki Jembros juga tidak melakukan pengejaran karena mereka segera menghampiri dua orang wanita yang telah roboh itu.

Ki Jembros kembali berlutut dekat mayat Pertiwi, sedangkon Nurseta kini berlutut dekat tubuh ibu kandungnya yang sudah tidak mampu bergerak lagi.

Dia memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa biarpun Ni Dedeh Sawitri masih bernapas, namun napasnya sesak dan dari ujung bibirnya mengalir darah segar.

Ia telah terluka hebat di sebelah dalam tubuhnya.

"Nurseta, mari kita cepat membawa mereka pergi dari sini. Kalau dua jahanam tua itu kembali membawa bala bantuan, sukar bagi kita untuk melindungi mereka ini. Aku....... aku harus mengubur jenazih Pertiwi di tempat yang layak......"

Suaranya terdengar penuh duka dan kakek perkasa ini lalu mengangkat dan memondong tubuh Pertiwi yang sudah menjadi mayat.

Nurseta juga memondong tubuh Ni Dedeh Sawitri dan merekapun meninggalkan tempat itu.

Menurut petunjuk Ki Jembros, mereka mendaki sebuah bukit yang nampak subur dan menurut pendapat Ki Jembros, merupakan tempat yang amat baik untuk mengubur jenazah.

Setelah tiba di lereng bukit itu, di tempat terbuka yang penuh rumput, Ki Jembros berhenti.

Dengan hati hati mereka menurunkan tubuh yang mereka pondong.

Ni Dedeh Sawitri bernapas satu-satu.

Tendangan Cakrabirawa dari Ki Buyut Pranamaya yang ampuh tadi telah membuat beberapa tulang iganya remuk dan isi dadanya terguncang hebat.

Setelah memeriksa dengan seksama, Nurseta terkejut dan berduka melihat keadaan dada ibunya.

Diapun menempelkan tangannya ke tempat yang tertendang itu, di sebelah kanan ulu hati agak ke bawah, lalu mengerahkan tenaga saktinya untuk membantu ibunya mengatasi lukanya.

Ni Dedeh Sawitri mengeluarkan suara keluhan lirih dan membuka matanya.

"Anakku........ kau anakku......"

Bisiknya dengan suara lirih dan terputus-putus.

"Tenanglah dan biarkan aku mencoba untuk mengobati"

Kata Narseta.

Ni Dedeh Sawitri tersenyum.

Wajahnya yang pucat itu nampak cerah dan cantik, matanya bersinar-sinar.

Jelas terbayang kebahagiaan di wajahnya, walaupun wajah itu nampak juga menahan rasa nyeri yang hebat.

Lalu ia menggeleng kepalanya.

(Lanjut ke

Jilid 26) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 26

"Percuma....... tendangan itu hebat....... aku....... aku merasa..... takkan kuat lagi...."

Tiba tiba wanita itu tumpah dan banyak darah keluar dari mulutnya.

Nurseta terkejut dan maklum bahvva memang apa yang dikatakan wanita itu benar.

Lukanya amat parah dan tidak mungkin dapat disembuhkan lagi.

Nurseta menelan ludah untuk menekan keharuan hatinya.

"Kau....... telah mengorbankan nyawa untukku......."

Ni Dedeh Sawitri kembali tersenyum dam nampak jelas oleh Narseta betapa cantik ibu kandungnya ini.

Usianya sudah kurang lebih lima puluh tahun, akan tetapi wajah itu belum dimakan keriput, masih halus dan garis-garisnya amat sempurna..

Ketika tersenyum nampak deretan giginya yang masih rapi dan putih bersih.

Tidak mengherankan kalau banyak pria tergila-gila kepada wanita ini, pikirnya.

Ada rasa bangga menyelinap di hatinya, akan tetapi juga perasaan kecewa mengingat betapa ibunya telah tersesat yang terkenal kejam dan juga cabul.

"Aku girang, aku bahagia...... setidaknya aku dapat melukukan sesuatu untuk anakku. Nurseta........ ah, maukah....... maukah kau memenuhi permintaanku yang terakhir? Anakku........ ah, anakku........ kalau kau tidak sudi mengaku ibu kepadaku, setidaknya..... maukah engkau memenuhi permintaan...... permohonan...... seorang wanita yang mendekati kematiannya?"

Nurseta mengangguk, tidak bersuara karena ia tahu bahwa keharuan dan kedukaan hatinya akan membuat suaranya gemetar mengandung isak.

"Pertama...... maukah kau....... memaafkan semua kesalahanku, nak? Kau........ kau ampunkan aku""

Nurseta merangkap kedua tangannyu "Semoga para dewata mengampuni semua kesalahanmu..."

Bisiknya.

"Tapi kau? Biar semua dewata mengampuniku, kalau kau anakku tidak mau memaafkan aku, masih mendendam dan membenciku, tidak ada artinya........ aku hanya..... butuh pengampunanmu......"

Nurseta mengangguk.

"Aku sudah melupakan semua kesalahanmu......"

"Kau maafkan dan tidak membenciku lagi?"

Tanya wanita itu penuh harap dan agaknya ada kekuatan baru datang padanya sehingga ia dapat bicara dengan lancar.

"Aku tidak membencimu lagi"

Kata Nurseta dengan suara sungguh-sungguh karena ucapan itu keluar dari lubuk hatinya.

"Ah ....... terima kasih ....... kau anakku.......satu. permintaan lagi, kalau........ aku mati........ bakarlah jenazahku dan bawa abuku ke Kediri........ kuburkan ibu di dekat makam ayahmu....... Pangeran Panji Hardoko ...... Maukah kau melaksakan itu?"

Kembali Nurseta mengangguk dan dia menggigit bibirnya, hatinya seperti diremas rasanya. Wanita ini ibunya. Dan ibunya minta abunya dikubur dekat makam ayahnya.

"Akan aku laksanakan"

Katanyu tegas.

Ni Dedeh Sawitri menggerakkan kedua tangannya dan merangkul leher Nurseta.

Dengan tenaga lemah dia menarik leher puteranya itu.

Merasakan hal ini, Nurseta mendekatkan diri karena wanita itu agaknya tiba-tiba kehilangan, suaranya dan hanya berbisik-bisik.

Dia mendekatkan telinganya.

"Anakku....... maukah........ maukah kau........?"

Senyum dan pandang mata itu amat mengharukan dan sikapnya seperti seorang wanita yang dengan penuh kasih sayang dan kemesraan membutuhkan cumbu rayu seorang pria yang dicintanya.

"Apakah itu________?"

Nurseta bertanya.

"Maukah....... maukah kau........ menyebut....... ibu kepadaku.......?"

Suara itu hanya Bisik-bisik dan napas itu makin lemah.

Nurseta menatap wajah itu dan tak terasa lagi kedua matanya menjadi basah.

Rangkulan kedua lengan ibunya pada lehernya makin melemah sehingga dia harus menopang tubuh ibunya dengan kedua lengannya yang memeluk, lalu dia berkata, suaranya penuh perasaan sayang dan iba.

"Ibu........ ibu......."

Wajah itu berseri, mata itu berkilat. mulut itu tersenyum lebar akan tetapi tenaga pada kedua lengan yang merangkul itu hilang, tubuhhnya terkulai dalam pelukan Nurseta.

"Ibu...Ibuuu"

Kini panggilan Nurseta bukan untuk memenuhi permintaan ibunya, melainkan teriakan yang keluar sebagai jeritan hati melihat wanita itu meninggalkan dunia ini dengan wajah penuh senyum kepuasan, penuh kebahagiaan.

"Ibuuuu......."

Nurseta mendekap dan menyembunyikan mukanya di dada wanita itu"

Membasahi dada itu dengan cucuran air matanya.

"Tenangkan hatimu, Narsetai"

Terdengar suara Ki Jembros.

"Bagaimanapun juga, ia mati dalam keadaan bahagia, diantar tangis puteranya yang tercinta"

Setelah berkata demikian Ki Jembros memandang kepada jenazah Pertiwi dengan sedih.

Ada sesuatu yang dirasakannya ikut mati dalam hatinya melihat Pertiwi yang kini tidak bernyawa lagi itu Dua orang pria yang kehilangan orang yang dicintanya itu kini bekerja.

Ki Jembros menggali sebuah lubang kuburan yang dalam untuk mengubur jerazah Pertiwi, sedangkan Nurseta, melaksanakan pesan terakhir ibu kandungnya, yaitu mengumpulkan kayu bakar yang amat banvak untuk memperabukan jenazah itu.

Pada keesokan harinya, dua orang laki-laki perkasa itu menuruni bukit itu dengan wajah lesu.

Nurseta membawa abu jenazah ibunya yang dibungkus dengan kain, sedangkan Ki Jembros membawa hati yang merasa sunyi melengang.

Seolah-olah semangatnya ikut dimakamkan di kuburan Pertiwi, sebuah kuburan sederhana yang ditandai dengan sebuah batu persegi tiga.

Setelah tiba di kaki bukit, keduanya berhenti dan saling pandang Mereka dapat mengetahui isi hati masing-masing.

Nurseta amat terharu melihat Ki Jembros.

Malam tadi, setelah mengubur jenazah Pertiwi, Ki Jembros menangis di depan makam.

Ketika Nurseta mendekatinya duduk pula bersama di situ sambil menanti terbakar habisnya jenazah Ni Dedeh Sawitri, Ki Jembros mengusap air matanya dan berkata kepada Nurseta.

"Nurseta, dapatkah kau merasakan betapa nyerinya hati yang merasa kehilangan dan kesepian?"

Tanpa menjawab Nurseta mengangguk.

Nurseta merasa iba sekali.

Dia tahu apa yang berkecamuk dalam hati dan pikiran orang tua itu.

Baru saja Ki Jembros kehilangan Pertiwi, satu-satunya orang yang dia anggap sebagai miliknya, entah itu sebagai murid, sebagai kawan, atau sebagai wanita yang dicintainya.

Dan Ki Jembros yang gagah perkasa itu merasa kehilangan, merasa kosong hidupnya, kesepian dan merana.

Tiba-tiba Ki Jembros berkata dengan sungguh-sungguh "Nah, Nurseta.

Di sini kita berpisah.

kau hendak melanjutkan perjalanan ke mana?"

"Aku hendak melanjutkan perjalanan memenuhi tugasku, paman. Yaitu ke dalam ibu kota Kediri. Pertama, aku akan menguburkan abu jenazah ibuku ini di dekat makam ayah. Kemudian, aku akan menyelidiki tentang Wulansari dan tombak pesaka Tejanirmala"

"Baiklah, memang tombak pusaka itu penting sekali. Kurasa Wulansari sudah mengantarkan Puteri Dyah Gayatri ke Majapahit dan ukupun akan ke sana. Kalau aku bertemu dengannya, akan kuberitahu bahwa kau mecarinya dan berada di Kediri"

"Baiklah, paman. Kita berpisah di sini dan selamat jalan"

"Selamat berpisah, Raden. Berhati-hatilah"

"Di Kediri banyak musuh yang pandai"

Kata Ki Jembros.

"Paman menyebut Raden pula?"

"Tentu saja, Kau putera pangeran, bukan?'' Ki Jembros tertawa dan merekapun berpisah. Para pimpinan pasukan dari Cina yang dikirim Kubilai Khan mengadakan perundingan. Mereka telah mendengar laporan yang dibawa oleh Lie Hok Yan dan beberapa orang perwira yang bertugas mata-mata. Musuh mereka yang menurut perintah kaisar mereka harus mereka tumpas adalah Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari. Akan tetapi kini Prabu Kertanegara telah tewas, Kerajaan Singosari telah jatuh ke tangan seorang raja lain yaitu Raja Jayakatwang dari Kediri. Padahal tidak ada perintah dari kaisar mereka untuk menyerang raja ini.

"Bagaimanapun juga, tidak bijaksana kalau kita kembali dengan tangan kosong"

Kata Pangima Kau Seng kepada dua orang rekannya, satu Pauglima She Pei dan Panglima Ji Kauw Mosu, dihadiri pula oleh para perwira yang membantu mereka, termasuk Lie Hok Yan.

"Perintah Sribaginda Kaisar adalah untuk menghukum Kerajaan Singosari. Walaupun kini Kerajaan Singosari sudah terjatuh ke tangan raja lain, namun kalau dia sebagai penguasa baru tidak mau tunduk kepada kaisar kita, sepantasnya kita serang dan kita menundukkannya agar dia mengakui kebesaran kaisar kita"

"Akan tetapi kita belum mengetahui bagaimana sikap Prabu Jayakatwang dari Kediri yang telah menaklukkan Singosari itu"

Kata Ji Kauw Mosu hati-hati.

"Benar, kita harus melihat dahulu bagaimana sikapnya. Kalau memang dia mau mengakui kebesaran Sribaginda Kaisar dan mengirimkan upeti dan tanda penghormatan melalui kita, tentu kita tidak perlu membuang tenaga untuk menyerangnya"

Kata pula Panglima She Pei.

"Akan tetapi, ada hal yang amat menarik dalam peristiwa di Singosari ini"

Kata Panglima Kau Seng.

"Kita dengarkan saja penjelasan sute Lie Hok Yan. Sute, kau ceritakanlah tentang pertemuanmu dengan orang-orang yang setia kepada Singosari dan adanya usaha pemberontakan terhadap Raja Jayakatwang itu"

Lie Hok Yan lalu menceritakan tentang semua pengalamannya, mengenai penyelidikannya dan pertemuannya dengan orang orang gagah dari Singosari.

Dia bercerita bahwa Raden Wijnya, yaitu seorang pangeran Singosari, mantu mendiang Prabu Kertanegara, kini sudah melakukan persiapan untuk memberontak dan menyerang Kerajaan Kediri dan membangun kembali Singosari yang sudah runtuh.

Sekarang, Raden Wijaya itu, dibantu oleh bupati Sumenep Arya Wiraraja atau Bupati Banyak Wide, sedang menyusun kekuatan di dekat daerah yang disebut Majapahit.

Betapa pihak Raden Wijaya mengharapkan kerja sama dengan pasukan Kubilai Khan untuk bersama-sama.

menyerang Kerajaan Daha.

Mendengar keterangan Lie Hok Yan, tiga orang panglima itu kembali berunding.

"Kita harus berhati-hati"

Kata Ji Kauw Mosu.

"Kita belum tahu bagaimana sikap Raja Jayakatwang, dan apa untungnya kalau kita membantu Raden Wijaya memerangi Kerajaan Daha"

Bagaikan suatu jawaban langsung dari keraguan yang dilontarkan Ji Kauw Mosu itu, seorang pengawal datang menghadap dan menghadap, bahwa ada tamu yang mengaku utusan dari Bupati Sumenep, yaitu Arya Wiraraja, mohon untuk menghadap pimpinan pasukan.

Orang itu adalah utusan yang dikirim oleh Arya Wiraraja, bersama beberapa orang pengikutnya.

Setelah menghadap, utusan itu menyerahkan surat dari Arya Wiraraja.

Melalui seorang penterjemah, tiga orang panglima itu meniliti isi surat.

Dalam suratnya, Arya Wiraraja menyatakan keinginannya untuk bekerja sama dengan pasukan Tartar untuk melawan Kerajaan Daha.

Dalam surat itu, Arya Wiraraja yang terkenal cerdik itu menggambarkan keadaan Daha dan tentang Sang Prabu Jayakatwang yang berwatak licik.

Sedangkan terhadap Kerajaan Singosari yang masih keluarga sendiri dan yang selalu melepas budi kebaikan saja, dia masih mau memberontak dan berkhianat, apa lagi terbadap Kaisar Kubilai Khan, demikian Arya Wiraraja menulis.

Sebaiknya, kalau Raden Wijaya yang menjadi raja, maka hubungan antara kerajaan baru itu dengan Cina akan menjadi baik kembali.

Juga Raden Wijaya dan Arya.

Wiraraja tidak akan melupakan bantuan pasukan itu, dan kalau mencapai kemenangan, tentu akan mengirim upeti yang banyak, diantaranya beberapa orang puteri kerajaan yang cantik untuk dihaturkan kepada Kaisar Kubilai Khan.

Setelah mengadakan perundingan, akhirnya para pimpinan pasukan Tartar itu menerima uluran tangan ini dan merekapun membalas surat Arya Wiraraja, menyatakan setuju untuk bekerja sama memukul Kerajaan Daha.

Perjanjian telah disepakati dan tiga orang panglima itu bersiap siap untuk mulai bergerak.

Tinggal menanti berita dari Raden Wijaya dan Arya Wiraraja.

Akan tetapi mulai saat itu hubungan diantara mereka selalu ada.

Ketika Kau Seng dihadap sute-nya (adik sepergurannya) yang menyatakan untuk mengundurkan diri karena hendak menikah dengan seorang gadis puteri lurah dusun Kalasan dan tidak kembali ke Cina, panglima itu mengerutkan alisnya.

"Sute, kalau saja kau bukan sute-ku, dan kau tidak bekerja dalam pasukanku, tentu akan kusuruh tangkap kau dan dijatuhi hukuman berat. Bagaimana mungkin kau hendak meninggalkan pasukan begitu saja untuk keperluan pribadi? Dalam pasukan, kepentingan pasukan harus didahulukan, baru kepentingan pribadi. Apa lagi kau menjadi anggata pasukan yang melakuakan perjalanan jauh dari negeri sendiri"

"Saya tahu, Tai Ciangkun (panglima)"

Jawab Hok Yan.

"Kalau bukan Ciangkun yang menjadi pemimpin saya, tentu sayapun tidak akan berani mengajukan permintaan ini"

"Hemm, sudahlah, urusan pribadimu boleh ditunda dulu, dan kau harus melaksanakan tugasmu sebagai perwira dalam pasukan kita. Kalau tugas kita ini sudah selesai dan kau tidak ikut pulang ke utara, terserah kepadamu. Hok Yan memberi hormat dan tersenyum, memang maksudnya bukan langsung meninggalkan pasukan. Kalau dia tadi menyatakan demikian hanya untuk memancing bagaimana pendapat suhengnya saja. Kini, suhengnya menyetujui kalau tugas sudah selesai dan itulah yang dia harapkan. Tanpa persetujuan suhengnya, biarpun tugas sudah selesaipun tidak mungkin dia meninggalkan pasukan.

"Terima kasih, Ciangkun"

Sementara itu, di daerah baru yang telah dibuka oleh Raden Wijaya dan para pengikutnya, yaitu yang diberi nama Majapahit, Raden Wijaya juga mengadakan perundingan dengan para pembantunya, yaitu bekas senopati Singosari.

Perundingan itu dilakukan dalam bangunan sederhana yang menjadi tempat tinggat Raden Wijaya dan Puteri Tribuwana, dan dilakukan dengan penuh rahasia.

Sekeliling, rumah itu dijaga ketat agar jangan sampai ada orang luar dapat mendengarkan perundingan itu.

"Kini agaknya waktunya sudah matang untuk melakukan gerakan"

Antara lain Raden Wijaya berkata kepada para pembantunya "Kita telah berhasil mengumpulkan sisa pasukan Singosari yang dulu lari cerai berai, juga banyak menarik tenaga baru menjadi pasukan kita.

Kita sudah melatih mereka dan mereka semua sudah dalam keadaan siap.

Juga Paman Wiraraja sudah mempersiapkan diri dengan pasukan Madura yang akan membantu kita.

bagaimana pendapat kalian sekalian?

Sebelum melangkah, kita harus merundingkannya masak-masak dan saya mengharapkan nasehat dan pendapat kalian sekalian agar gerakan kita tidak sampai mengalami kegagalan"

Segera Ronggo Lawe maju menyembah.

"Menurut pendapat hamba, seyogianya kalau perang dimulai dengan alasan yang kuat. Tanpa alasan langsung menyerbu Kediri akan menimbulkan anggapan seolah-olah paduka tidak mengenal budi dan terima kasih karena bukankah Sang Prabu Jayakatwang selama ini bersikap baik dan menerima paduka dan para pengiring paduka?"

Raden Wijaya menganguk angguk.

"Lalu, alasan apa yang harus kita pakai untuk menggempur Kediri?'' "Gusti Pangeran, sampai sekarang paduka belum dapat menemukan Puteri Dyah Gayatri, padahal menurut berita, tadinya beliau menjadi tawanan di istana Kediri. Nah, paduka dapat menuntut agar Gasti Puteri itu diserahkan kepada paduka. Kalau hal itu tidak dipenuhi maka paduka mempunyai alasan untuk menyerbu Kediri"

"Bagaimana kalau paman prabu Jayakatwang mengembalikan diajeng Gayatri kepadaku?"

"Hal itu tidak mungkin, Raden. Karena kita sudah mendengar dari para penyelidik kita bahwa Sang Puteri telah berhasil lolos dari istana Kediri dan tak seorangpun mengetahui di mana beliau berada"

Bantah Ronggo Lawe. Raden Wijaya memandang kepada para pembantunya yang lain.

"Bagaimana pendapat kalian sekalian?"

Lembu Sora menyembah.

"Kenapa kita harus menggunakan alasan itu, Raden? Sudah dapat dipastikan bahwa andaikata Gusti Pateri Dyah Gayatri masih berada di Kediri pun, Sang Prabu Jajakatwang tidak akan mengabulkan permintaan itu Pula, semua orang mengetahui belaka bahwa Sang Prabu Jayakatwang yang berkhianat dan memberontak tehadap Singosari. Kalau paduka kini menyerang Kediri, hal itu sudah jamak. Kejahatannya menghancurkan Singosari tidak mungkin dapat ditebus hanya oleh sikapnya yang baik ketika menerima paduka. Tidak perlu rasanya bersungkan-sungkan terhadap seorang yang demikian tidak mengenal budi seperti Sang Prabu Jayakatwang. Dia telah membalas kebaikan Singosari kepadanya dengan penyerbuan yang amat curang, yaitu selagi Singosari mengirimkan balatentaranya keluar Jawa"

Mendengar ucapan itu, Gajah Pagon dan Lembu Peteng menyatakan setuju dan merekapun menganjurkan agar penyerangan segera dilakukan untuk menghukum Raja Kediri.

Senopati Nambi tidak mau kalah dan diapun maju dengan usulnya.

"Menurut pendapat hamba, akan lebih menguntungkan kalau kita berusaha mendekati dan memikat para menteri dan hulubalang Kerajaan Daha, membujuk mereka agar suka memberontak. Kalau sudah begitu, akan mudah menaklukkan Sang Prabu Jayakatwang yang diserang dari luar dan dalam. Kalau paduka hendak membalas budi, paduka dapat membiarkan Prabu Jayakatwang tetap menjadi raja di bawah kekuasaan Singosari kembali, asal dia suka menyerahkan puterinya kepada paduka sehingga terdapat ikatan kekeluargaan yang lebih erat lagi. Kalau Sang Puteri Kedaton yaitu Dyah Retna Kesari dari Daha dapat menjadi isteri Paduka, tentu keluarga Kerajaan Daha tidak akan dapat berkutik lagi dan akan terdapat perdamaian antara kedua kerajaan"

Ketika Raden Wijaya minta para pembantunya yang lain, para senopati lainnya tidak setuju.

Mereka itu pada umumnya menghendaki agar tidak perlu mempergunakan siasat yang berlika-liku, melainkan terus terang saja menyerbu Kediri sebagai pembalasan atas perbuatan Prabu Jayakatwang yang telah menaklukkan Singosari.

Ronggo Lawe kembali menyembah.

"Hamba juga setuju kalau semua rekan menghendaki agar kita langsung saja menyerbu Kediri tanpa banyak urusan lagi. Memang kalau dipikir, perbuatan Prabu Jayakatwang yang telah menundukkan Singosari dengan pengkhianatannya itu amat menyakitkan hati. Akan tetapi, harap paduka tidak melupakan Pamanda Bupati di Sumenep. Saran dan nasihat beliau selalu berguna bagi paduka"

"Andika benar, Kakang Ronggo Lawe"

Seru Raden Wijaya.

"Memang seharusnya kalau kita lebih dulu minta nasihat Paman Wiraraja, karena selama ini akupun selalu bergerak sesuai dengan nasihatnya"

Raden Wijaya sudah mengambil keputusan dan pada hari itu juga dia mengutus Lembu Peteng untuk pergi ke Sumenep membawa suratnya yang isinya mohon petunjuk tentang maksud penyerbuannya ke Daha.

Sambil menanti kembalinya Lembu Peteng dari Sumenep, Raden Wijaya mengajak para pembantu yang lain untuk berburu binatang ke dalam hutan-hutan di sekitar daerah Majapahit.

Para senopati itu berpencar untuk menggiring binatang buruan ke arah Radeh Wijaya yang siap menanti dengan busur dan anak panah.

Gajah Pagon dan Banyak Kapuk, dua orang senopati setia berjalan beriringan untuk mencari binatang buruan dan menggiringnya.

Mereka memasuki hutan dari arah timur.

Pagi itu matahari cerah dan selagi dua orang senopati itu berjalan berindap-indap, tiba-tiba Gajah Pagon memberi isarat kepada kawannya untuk berhenti.

Banyak Kapuk mengira bahwa rekannya melihat binatang hutan, maka diapun diam tak bergerak sambil memandang ke arah yang ditunjuk oleh Gajah Pagon.

Akan tetapi yang dilihatnya bukan binatang hutan, melainkan seorang manusia yang berdiri di depan sebuah gubuk tua.

Gubuk iiu memang dibangun oleh para pekerja ketika mereka menjelajahi hutan dan ketika terjadi babat hutan di daerah Majapahit, sebagai tempat berteduh dan bermalam mereka yang melaksanakan tugas.

"Eh, siapa ........"

"Ssttt......."

Gajah Pagon memberi isarat kepada kawannya untuk tidak bersuara, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga kawan itu sambil berbisik.

"Dia bukan kawula di sini, siapa tahu dia mata-mata musuh.,....."

Banyak Kapuk mengangguk dan mereka berdua menyelinap di balik semak belukar dan mengintai.

Yang mereka intai itu seorang laki-laki muda sekali, dengan wajah yang amat tampan.

Mungkin usianya baru dua puluh tahun lebih.

Tubuhnya kecil saja, ramping, akan tetapi pemuda itu memiliki sepasang mata yang amat tajam mencorong seperti mata seekor harimau.

Dari tempat mereka bersembunyi, dua orang senopati pembantu Raden Wijaya itu mendengar pemuda itu bicara dengan seseorang yang agaknya berada di dalam gubuk.

"Bersembunyilah saja di dalam, dan jangan keluar. Aku mendengar suara banyak orang memasuki hutan ini"

Kata pemuda itu menjawab pertanyaan yang tidak jelas dari dalam gubuk.

Akan tetapi, Gajah Pagon dan Banyak Kapuk mendengar suara wanita dari dalam gubuk itu.

Ucapan pemuda itu menambah besar kecurigaan mereka.

Pemuda itu bersikap aneh dan agaknya dengan sembunyi-sembunyi memasuki daerah itu.

Gajah Pagon memberi isarat kepada kawannya dan merekapun berloncatan keluar dari balik semak belukar dan lari menghampiri pemuda yang berdiri di depan gubuk itu.

Mereka melihat betapa gubuk itu ditutup pintunya sehingga wanita yang berada di dalamnya tidak nampak.

Dan kini mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang amat ganteng dan tampan, yang menghadapi mereka dengan sikap tenang sekali, Pemuda itu tidak terkejut melihat munculnya dua orang laki-laki gagah itu.

"Heh, orang muda. Siapakah kau? Dan siapa pula yang berada di dalam gubuk itu? Hayo keluar dan kalian memperkenalkan diri kepada kami dengan terus terang"

Kata Gajah Pagon dengan suara lembut namun tegas dan berwibawa.

Pemuda itu memandang kepadanya dengan sorot mata penuh selidik.

Gajah Pagon adalah seorang laki-laki jantan berusia empat puluhan tubuh, bertubuh tinggi besar dengan perut agak gendut, dan sikapnya berwibawa.

"Kisanak, kita tidak saling mengenal, juga tidak mempunyai urusan satu sama lain. Pergilah dan jangan ganggu kami"

Sikap dan jawaban pemuda itu yang nampak demikian angkuh membuat Banyak Kapuk yang wataknya keras berangasan itu seketika menjadi marah.

Matanya melotot merah dan dia memelintir kumisnya yang panjang dan tebal.

"Babo babo keparat. Orang muda sombong, tahukah kau dengan siapa kau berhadapan? Aku adalah Banyak Kapuk dan ini kakang Gajah Pagon. Kami adalah bekas senopati Singosari, tahu?"

Pada saat itu terdengar suara wanita dari dalam gubuk.

"Kakang Bambang Wulandoro, siapakah mereka yang datang membikin gaduh itu?"

"Ah, mereka ini hanya dua orang bekas Senopati Singosari yang mengaku bernama Banyak Kapuk dan Gajah Pagon"

Kata pemuda dengan sikap acuh, seolah memandang rendah sekali kepada dua orang bekas senopati itu.

"Bocah sombong"

Banyak Kapuk tidak dapat menahan kesabarannya lagi.

"Siapa namanu? Bambang Wulandoro? Hayo kau menyerah untuk kami tawan karena sikapmu ini menunjukkan bahwa kau adalah seorang musuh, mungkin kau mata-mata"

"Banyak Kapuk, kau ini sesuai dengan namamu, kau seperti seekor banyak (angsa) yang kurus dan galak"

Pemuda itu mengejek. Kembali terdengar suara dari dalam gubuk.

"Kebetulan sekali, kakang. Kalau begitu suruh mereka itu minta agar Raden Wijaya datang ke sini"

Pemuda itu bukan lain Wulansari, dan wanita yang bersembunyi di dalam gubuk adalah Puteri Dyah Gayatri. Wulansari kini berkata lagi kepada dua oiang itu.

"Nah, kalian sudah mendengar, bukan? Lebih baik kalian cepat pergi dan mengundang Raden Wijaya agari datang ke sini"

Mendengar ucapan ini, Gajah Pagon yang tabiatnya lebih sabar itu menjadi merah mukanya, pemuda ini dan wanita yang berada di dalam gubuk sungguh memandang rendah kepada Raden Wijaya dan para senopatinya.

"Orang muda, kau ini masih seorang bocah, akan tetapi kau bersikap sombong bukan main. Terpaksa kami harus menangkapmu untuk kami hadapkau kepada Raden Wijaya"

Wulansari yang memang sengaja hendak memancing datangnya Raden Wijaya ke tempat itu, ia masih bersikap tinggi hati.

"Hemm, hendak kulihat bagaimana kalian akan dapat menangkap aku?"

"Babo. babo, bocah ingusan sombong. Beginilah aku menangkapmu"

Dengan gerakan cepat, bagaikan seekor harimau menubruk kelinci, Banyak Kapuk sudah meloncat dan menerkam kearah "pemuda"

Itu, Akan tetapi tentu saja dengan amat mudahnya Wulansari mengelak ke simping sehingga tubrukan itu luput dan tubuh Banyak Kapuk terhuyung ke depan.

Banyak Kapuk menjadi semakin marah dan penasaran.

Tadi dia sudah merasa yakin bahwa tubrukannya pasti akan berhasil, akan tetapi pada detik terakhir, pemuda itu dapat menyelinap ke samping sehingga tubrukannya tidak mengenai sasaran.

Dengan marah dia membalik dan kini dia menyerang sungguh-sungguh, bukan hanya untuk menangkap melainkan memukul dengan lengan kanannya yang panjang, memukul kearah dada pemuda itu sambil mengerahkan tenaganya.

"Pecah dadamu"

Bentaknya ketika kepalan tangan kanannya menyambar.

Wulansari membuat gerakan dan tubuhnya menjadi miring.

Ketika lengan lawan yang memukul itu lewat di samping tubuhnya, diapun cepat mengangkat kakinya menendang ke arah belakang lutut lawan.

"Dukk"

Dan Banyak Kapuk tak mampu mempertahankan diri lagi, kakinya tertendang, diapun jatuh bertekuk lutut.

"Sudahlah, tidak perlu memberi hormat dengan berlutut kepadaku"

Kata Wulansari mengejek. Ejekan ini tentu saja membuat Banyak Kapuk menjadi semakin marah. Dia sudah mencabut kerisnya, akan tetapi pada saat itu Gajah Pagon memegang lengannya.

"Biarkan aku menghadapinya"

Dan diapun sudah melangkah maju menghadapi Wulansari. Setelah memandang dengan penuh perhatian, Gajah Pagon lalu berkata dengan suaranya yang berwibawa.

"Orang muda, ketahulah, bahwa kau telah memasuki daerah Majapahit yang dikuasakan oleh Raden Wijaya. Kami adalah pengikut-pengikut Raden Wijaya. Karena itu, sebelum aku terpaksa menggunakan kekerasan menangkapmu, lebih baik kau berterus terang, apa keperluanmu datang ke tempat ini dan menyerahlah dengan damai"

Wulansari tersenyum mengejek "Sudah aku katakan bahwa aku tidak memiliki urusan apapun dengan kalian.

Aku tidak mengganggu kalian, maka kalianpun tidak boleh meneganggu aku.

Kalau kalian pengikut Raden Wijaya, maka pergilah kalian menghadap Raden Wijaya dan undang dia agar datang ke sini"

Tentu saja bukan maksud Wulansari untuk bersikap tinggi hati terhadap Raden Wijaya.

Dara ini hanya bertindak mewakili Puteri Gayatri saja dan mengingat betapa puteri telah mengalami banyak sekali kesengsaraan, maka sudah sepatutnya kalau kini, menghadapi pertemuan ini, Raden Wijaya yang mengalah dan mau datang menyambut atau menjemput puteri Gayatri.

Tentu saja Gajah Pagon tidak tahu akan hal itu.

Sikap pemuda itu dianggapnya terlalu sombong dan diapun memandang marah.

"Bambang Wulandoro, aku tidak mengenal siapa kau, akan tetapi sikapmu ini sungguh terlalu sombong. Terpaksa aku menggunakan kekerasan. Jangan menganggap aku yang lebih tua keterlaluan terhadap yang muda"

Wulansari mengagumi sikap senopati ini, akan tetapi ia menjawab sambil tersenyum.

"Tidak ada yang bersikap keterlaluan. Kalau memang ada kemampuan, majulah dan keluarkan semua kedigdayaanmu"

Gajah Pagon makin marah.

"Lihat serangan"

Bentaknya dan diapun sudah menerjang maju.

Biarpun tubuhnya tinggi besar, namun ternyata gerakannya amat cepat dan tenaga yang terkandung dalam kedua tangannya jauh lebih kuat dibandingkan Banyak Kapuk tadi.

Namun, bagi Wulansari, serangan itu biasa saja dan dengan mudah iapun mengelak dengan tarikan kaki ke belakang.

Namun, Gajah Pagon menyusulkan serangan bertubi-tubi.

Dengan gencar kedua tangannya menyambar-nyambar dari kanan kiri, dan dari bawah kakinyapun ikut pula menyerang dengan tendangan kilat.

Untuk beberapa jurus lamanya, Wulansari hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana-sini.

Tubuhnya bagaikan bayangan saja, atau bagaikan seekor burung walet sukar sekali dijadikan sasaran sehingga semua tamparan, pukulan maupun tendangan yang dilakukan Gajah Pagon tak pernah mampu menyentuhnya.

Bahkan menyentuh ujung bajupun tidak.

Ketika untuk kesekian kalinya kaki kiri Gajah Pagon menendang, dengan lincah Wulansari menggeser kaki dan tubuhnya miring.

Ketika kaki itu menyambar lewat, tangan Wulansari menyambar dan mendorong kaki itu ke atas.

Tanpa dapat dihindarkan lagi, tubuh yang tinggi besar itu terangkat dan terlempar, lalu jatuh terbanting ke atas tanah.

Melihat ini, Banyak Kapuk yang masih memegang keris, segera menerjang maju dan menyerang Wulansari dengan tikaman kerisnya.

Namun, sekali ini Wulansari tidak mau membuang banyak waktu.

Ia menghindar dan tusukan dengan loncatan ke samping, kemudian tangan kirinya menampar kearah pundak Banyak Kapuk.

"Plakkk"

Banyak Kapuk mengeluarkan seruan kaget, kerisnya terlepas dan diapun terpelanting.

Gajah Pagon juga sudah mencabut kerisnya yang besar luk tujuh belas, akan tetapi sebelum dia sempat menyerang, Wulansari sudah menerjangnya dengan dahsyat.

Gajah Pagon berusaha menyambut terjangan itu dengan serangan keris, namun dia kalah cepat dan tendangan Wulansari sudah mengenai lambungnva, membuat untuk ke dua kalinya dia terpelanting jatuh.

Tahulah kini dua orang itu bahwa pemuda yang menjadi lawan mereka itu sungguh memiliki kepandaian tinggi.

Tanpa bantuan teman-teman, tak mungkin mereka menang dan merekapun harus cepat membuat laporan karena siapa tahu pemuda yang sakti itu mata-mata musuh yang akan membahayakan gerakan mereka.

Mengingat akan hal ini, Gajah Pagon lalu meloncat dan melarikan diri sambil meneriaki Banyak Kapuk untuk mengikutinya.

Dua orang itu lari secepatnya meninggalkan Wulansari yang hanya memandang sambil tersenyum.

Kalau ia menghendaki, tentu tamparan dan tendangan tadi dapat ia perkuat sehingga dua orang lawannya roboh tak dapat bangun kembali.

Akan tetapi ia tidak mau melakukan hal itu tentu saja, karena yang dikehendakinya hanyalah munculnya Raden Wijaya di tempat itu untuk menjemput Dyah Gayatri.

Dua orang pengikut Raden Wijaya itu kini lari berpencar.

Gajah Pagon menyuruh kawannya untuk segera lari mencari Lembu Sora dan Ronggo Lawe, dua orang jagoan yang memiliki ilmu kesaktian paling tinggi diantara mereka.

Sedangkan dia sendiri akan lari melapor kepada Raden Wijaya tentang pemuda yang aneh dan sakti mandraguna itu.

Yang lebih dahulu datang berlari lari ke gubuk itu adalah Ronggo Lawe dan Lembu Sora.

Mereka berdua lebih dahulu dapat ditemui Banyak Kapuk.

Mendengar bahwa ada seorang pemuda berani mengalahkan dua orang rekan mereka, bahkan dengan sombong sekali berani memanggil Raden Wijaya agar datang ke gubuk itu, Ronggo Lawe dan Lembu Sora yang keduanya berwatak gagah dan keras itu segera berlari-lari mengikuti Banyak Kapuk ke tempat itu.

Pemuda itu ternyata masih berada di depan gubuk, duduk dengan santai sekali.

Ketika melihat tiga orang yang datang berlarian ke gubuk itu, dia hanya tersenyum dan tidak bangkit berdiri.

Ronggo Lawe dan Lembu Sora terkejut, heran dan kagum juga melihat bahwa yang mengalahkan Banyak Kapuk dan Gajah Pagon hanyalah seorang pemuda yang masih amat muda.

"Hei, orang muda. Cepat katakan kepada kami siapa kau. Kami adalah senopati-senopati Singosari, para pembantu Raden Wijaya. Namaku Lembu Sora dan rekanku ini Ronggo Lawe, katakan siapa kau dan mengapa pula kau datang ke sini dan menimbulkan keributan"

Kata Lembu Sora.

Wulansari bangkit berdiri dengan perlahan, mengkadapi tiga orang itu dan sejenak ia mengamati Lembu Sora dan Ronggo Lawe yang memang nampak gagah perkasa.

Ia sudah mendengar akan dua orang senopati ini.

Mereka masih paman dan keponakan.

Menurut yang pernah didengarnya, Lembu Sora adalah adik Arya Wiraraja sedangkan Ronggo Lawe adalah putera Bupati Sumenep itu.

"Heran, kiranya kau berdua adalah senopati-senopati........ eh, maksudku bekas senopati dari Singosari yang terkenal itu? Dan sekarang kalian menjadi pembantu-pembantu Raden Wijaya? Bagus, kalau begitu, kalian pargilah dan minta kepada Raden Wijaya untuk datang ke sini. Aku Bambang Wulandoro ingin bicara dengan Raden Wijaya"

"Bambang Wulandoro, katakan dulu apa keperluanmu ingin menghadap Raden Wijaya? Tidak sembarangan orang dapat bertemu dengan beliau begitu saja"

Kata Lembu Sora, masih menahan sabar. AKAN tetapi Wulansari yang sengaja hendak menguji sampai di mana kehebatan dua orang senopati yang amat terkenal itu, sengaja tersenyum mengejek.

"Hemm, aku tidak mungkin dapat bicara dengan orang-orang sembarangan saja. Aku barus bicara sendiri dengan Raden Wijaya. Oleh karena itu, kalian pergilah dan jangan ganggu aku, laporkan saja kepada Raden Wijaya bahwa aku ingin bicara dengan beliau di sini"

Sejak tadi Ronggo Lawe hanya memandang saja.

Melihat sikap yang angkuh, wajah yang terlalu tampan dan mendengar kata-kata itu, Ronggo Lawe yang dibesarkan di Madura dan memiliki watak keras, segera melangkah maju.

Dia amat tidak suka melihat pria yang sifatnya genit seperti wanita itu, terlalu halus dan terlalu tampan.

Dengan tangan kiri bertolak pinggang, telunjuk kanannya menuding ke arah muka Wulansari.

"Heh, keparat Bambang Wulandoro! Kau sungguh sombong tidak menghormati pamanku Lembu Sora. Jangan kira setelah dapat mengalahkan dua orang rekan kami Banyak Kapak dan Gajah Pagon, lalu tidak ada orang yang akan berani melawanmu. Hemm, majulah dan mari kita mengadu kesaktian. Aku Ronggo Lawe menjadi lawanmu"

Wulansari tersenyum.

"Sudah lama aku mendengar akan nama Ronggo Lawe yang kabarnya memiliki aji kesaktian yang dahsyat sebagal murid Eyang Empu Supamandrangi di puncak Bromo. Ingin sekali aku melihat apakah berita itu bukan hanya omong kosong belaka"

Setelah berkata demikian, Wulansari melangkah maju menghampiri Ronggo Lawe. Lembu Sora mulai curiga melihat keberanian "pemuda"

Tampan itu.

Dia khawatir kalau-kalau pemuda itu memang bukan orang sembarangan dan sudah pantas kalau mengundang Raden Wijaya ke situ, maka dia tidak ingin melihat Ronggo Lawe yang keras hati itu salah tangan.

Dia tidak ingin melihat pemuda tampan itu terbunuh atau terluka parah sebelum tahu siapa dia sebenarnya dan apa maksud kedatangannya.

"Ronggo Lawe, jangan lancang melukai atau membunuh orang tanpa sebab, Kau boleh mencoba saja kesaktiannya"

Ronggo Lawe menoleh dan memandang kepada pamannya dan diapun sadar.

Orang muda yang tampan ini memang penuh rahasia, tidak boleh dilukai parah atau dibunuh begitu saja tanpa lebih dulu yakin bahwa dia adalah seorang musuh yang berbahaya dan harus dienyahkan.

Tidak boleh menuruti nafsu amarah.

Diapun mengangguk lalu kembali menghadapi Wulansari.

Pandang matanya penuh selidik.

Bagaimanapun juga, pemuda tampan ini sudah mengenalnya, tahu bahwa dia adalah murid Empu Supamandrangi di puncak Bromo.

Dia harus berhati-hati.

"Bambang Wulandoro, mari kita saling menguji kepandaian. Akupun ingin sekali melihat berapa banyak bekalmu, maka kau berani bersikap seperti ini. Majulah"

Setelah berkata demikian, Ronggo Lawe memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang lebar, lutut ditekuk, kedua lengan terbuka, yang kanan di julurkan ke depan, yang kiri ditarik ke atas, dengan kedua tangan terbuka.

Tubuhnya tegak dan kokoh kekar, nampak gagah bagaikan Gatutkaca.

Wulansari memandang kagum.

Bukan main, pikirnya.

Pria ini memang jantan dan perkasa sekali.

Seakan-akan ia dapat merasakan betapa ada kekuatan dahsyat mengalir di dalam tubuh yang kokoh itu.

Seorang jantan yang mengagumkan hatinya, hati seorang wanita.

Kalau saja hatinya tidak penuh dengan bayangan Nurseta, akan mudah jatuh hati kepada seorang pria seperti Ronggo Lawe ini, Iapun tersenyum.

"Aku datang untuk bertemu dengan Raden Wijaya, bukan untuk mencari musuh. Ronggo Lawe. Pihak kalianlah yang memaksaku untuk bertanding, oleh karena itu, kaulah yang mulai, bukan aku. Aku hanya melayani saja"

Kata Wulansari dan iapun memasang kuda-kuda yang sederhana, berdiri tegak di depan Ronggo Lawe dan kedua tangannya tergantung lepas dan santai di kedua sisi tubuhnya.

"Baik, kau jaga seranganku. Heiiiiitttl"

Ronggo Lawe menyerang, dan karena dia belum tahu sampai di mana kekuatan lawan, dia hanya mempergunakan tenaga otot biasa untuk menampar ke arah pundak lawan.

Wulansari tersenyum dan makin kagum.

Satria ini memang gagah perkasa dan memegang janji, taat kepada atasan, juga di balik kekerasannya, berhati lembut.

Karena tidak ingin mencelakainya, maka dalam serangan pertama itu dia hanya mempergunakan tenaga otot.

Hal ini dapat dirasakannya dan diketahuinya.

Maka, agar lawan jangan memandang rendah kepadanya dan mau mengeluarkan semua aji kesaktiannya, ia lalu menangkis sambil mengerahkan tenaga, tidak terlalu kuat, cukup untuk menunjukkan bahwa ia "berisi"

"Dukkl"

Dan tubuh Ronggo Lawe hampir terjengkang.

Dia terhuyung dan cepat meloncat ke belakang untuk mematahkan dorongan tenaga tangkisan itu.

Mukanya menjadi agak kemerahan dan kini sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong.

Tahulah Ronggo Lawe bahwa lawannya yang muda ini memang benar seorang yang memiliki tenaga sakti, maka tanpa ragu lagi kini dia menerjang lagi.

"Hyaaattt......."

Dan sekali ini dia menyerang dengan pukulan yang mengandung tenaga sakti Gelap Sayuto, walaupun tidak sepenuhnya tenaga itu dia keluarkan.

Tangan kirinya menampar ke arah dada lawan, sedangkan tangan kanan siap menyusulkan serangan berikutnya.

Wulansari melihat tenaga pukulan yang dilakukan mirip dengan aji kesaktian yang dipelajarinya dari Ki Cucut Kalasekti, yaitu Gelap Sewu.

Hanya bedanya, pukulan Ronggo Lawe ini lebih kuat dan lebih bersih.

Pukulan pemuda seperti Gatutkaca ini sejak semula sudah nampak kekuatannya, sebaliknya pukulannya Aji Gelap Sewu, pada permulaannya tidak nampak, akan tetapi setelah mendekati lawan baru nampak kedahsyatannya.

Aji Gelap Sewu mengandung kelicikan dan kecurangan.

Karena maklum betapa hebatnya pukulan itu, Wulancari lalu mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya.

Bagaikan seekor burun> alet saja, tubuhnya sudah melonjat ke be lakang dan pukulan itupun luput, bahkan serangan susulanpun tidak dapat dilakukan lawan, karena loncatannya ke belakang itu cukup jauh.

Ronggo Lawe melakukan beberapa langkah ke depan dan menyerang lagi, namun Wulansari selalu mengelak.

Bagaikan bayangan saja ia berputar-putar, berloncatan ke sana-sini seolah mempermainkan lawan.

Melihat betapa dengan mudahnya lawannya itu selalu mengelak dan semua serangannya luput, makin panaslah hati Ronggo Lawe.

Makin lama, makin kuat serangannya sehingga angin menyambar-nyambar dan pukulan tangannya menjadi semakin berbahaya.

Lembu Sora, memandang dengan alis berkerut.

Dia kagum sekali.

Pemuda itu sangat lincah.

Baca Juga: Pendekar Buta Kho Ping Hoo

Baca Juga: Darah Pendekar 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert