Eps 7 Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo.
Dia lalu berteriak memanggil.
"Wulansari......"
Berulang kali dia berteriak memanggil, akan tetapi gadis perkasa yang menjadi pengawal pribadinya dan yang pada akhir-akhir ini ditugaskan menjaga dan menemani Gayatri tidak menjawab, juga tidak muncul.
Akibat teriakan-teriakannya, yang bermunculan adalah para perajurii pengawal, penjaga, para selir dan para dayang.
Tidak nampak diantara mereka itu Gayatri maupun Wulansari.
"Kalian cari sampai dapat Gayatri dan Wulansari. Hayo cepat. Cari mereka sampai dapat"
Sang Prabu Jayakatwang berseru marah dan dengan bersungut-sungut diapun kembali ke kamarnya sendiri.
Laporan para dayang dan selir membuat dia semakin narah.
Ternyata dua orang wanita itu benar-benar lenyap dari istana bagian puteri.
Bahkan ketika para pengawal melapor, dia mendengar bahwa mereka berdua itu tidak terdapat pula di bagian lain dari istana.
Mereka telah lolos dari istana .
"Panggil kepala pengawal istana yang di luar"
Teriak Sang Prabu Jayakatwang.
Ketika perwira yang masih kumal karena baru bangun tidur itu datang, Sribaginda memerintahkan untuk mengerahkan seluruh pasukan dan melakukan pengejaran terhadap dua orang wanita yang lolos dari istana itu.
Namun, tentu saja mereka itu gagal.
Wulansari terlampau cerdik dan pandai bagi mereka.
Selagi semua orang mencari-cari dengan bingung, Wulansari telah membawa Puteri Gayatri keluar dari tembok kota raja dan menggendong sang puteri berlari cepat naik turun bukit menuju ke selatan.
Biarpun hatinya masih merasa kecewa dan juga marah karena lolosnya Gayatri dan Wulansari dari dalam istana, namun wajah Sang Prabu Jayakatwang tidak memperlihatkan sesuatu ketika dia berada diantara para senopati dan menterinya, karena mereka semua sedang merayakan pesta Galungan.
Dan tepat ketika Kerajaan Daha sedang merayakan pesta Galungan inilah, utusan Raden Wijaya datang menghadap untuk memberitakan tentang kedatangan Raden Wijaya dari Sumenep.
Prabu Jayakatwang mengutus dua orang senopatinya menyambut dan tak lama kemudian, muncullah Raden Wijaya dengan sikapnya yang anggun dan tenang, disambut sendiri dengan rangkulan oleh Sang Prabu Jayakatwang.
Sama sekali Raden Wijaya tidak tahu bahwa tunangannya, Dyah Gayatri, baru tiga hari yang lalu, lolos dari istana yang berarti juga lolos dari cengkeraman Sang Prabu Jayakatwang yang hendak memaksanya menyerahkan diri dan menjadi selirnya.
Sang Prabu Jayakatwang sendiri juga bermain sandiwara.
Ada suatu hal yang amat membingungkan hatinya.
Bukan karena larinya Gayatri, gadis yang dirindukan, karena dia akan mampu memperoleh puluhan, bahkan ratusan orang gadis lain sebagai pengganti Gayatri, juga bukan karena kepergian Wulansari karena dia masih mempunyai banyak jagoan yang dapat melindungi dirinya.
Akan tetapi yang membuat dia merasa bingung dan berduka sekali adalah hilangnya tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Tombak pusaka itu yang dianggap sebagai pusaka yang mendatangkan wahyu kerajaan, bahkan dia tadinya merasa yakin bahwa akibat adanya tombak pusaka itu di tangannya, maka Daha berhasil menghancurkan Singosari.
Dan kini tombak itu hilang.
Dia merasa yakin bahwa tentu Wulansari yang mencurinya.
Hanya dia dan Wulansari yang mengetahui di mana disimpannya tombak pusaka itu.
Permaisuri dan para selirnyapun tidak ada yang mengetahui.
Dan diapun tahu bahwa pusaka itu memang tadinya didapatkan oleh Wulansari, yang kemudian diberikan kepada Ki Cucut Kalasekti yang menyerahkan pusaka itu kepadanya.
Siapa lagi kalau bukan Wulansari, si pengkhianat itu yang mencurinya?
Namun lenyapnya pusaka itu disimpan dan dirahasiakan sandiri.
Tidak baik kalau sampai ketahuan para ponggawa dan senopati, karena hal itu dapat menjatuhkan semangat mereka.
Namun, malam kemarin diam-diam dia mengirim utusan kepada Ki Cucut Kalasekti atau yang kini telah menjadi seorang adipati di Bendowinangun bernama Adipati Satyanegara.
Kakek yang memiliki kesaktian seperti iblis itu menghadap dan diajak bicara empat mata oleh Sang Prabu Jayakatwang, dan kepada kakek inilah Sribaginda bercerita bahwa Wulansari telah lolos dari istana dan membawa lari Ki Ageng Tejanirmala.
Sribaginda menugaskan Adipati Satyanegara untuk mencari dan merampas kembali pusaka itu, dan dia diperbolehkan memilih pembantu diantara para senopati di Daha.
Tentu saja Sribaginda menjanjikan hadiah yang amat besar kalau berhasil, dan ancaman hukuman kalau tidak berhasil.
"Ingat, yang memasukkan Wulansari ke istana adalah kau, paman"
Demikian ancaman Sribaginda kepada Adipati Satyanegara.
Raden Wijaya dan para pengikutnya menjadi pusat perhatian para senopati dan ponggawa Daha ketika mereka memasuki tempat pesta Galungan yang diadakan di alun-alun depan istana itu.
Sang Prabu Jayakatwang yang menyambut pangeran muda itu dengan rangkulan, lalu mengajaknya duduk di tempat yang paling terhormat, yaitu di samping tempat duduk sang raja.
Hidangan berlimpah ruah dan serba mewah.
Akan tetapi, Raden Wijaya hanya melihat saja dan hanya kalau ditawari oleh Sribaginda, dia mau mengambil makanan yang serba sedikit.
Pemuda ini ketika meninggalkan Sumenep, bersumpah bahwa dia akan berprihatin, tidak mau makan enak dan minum tuak sebelum cita-citanya bertemu kembali dengan Dyah Gayatri tercapai.
Dan dia tidak melihat tunangannya itu diantara para puteri dan selir Sribaginda.
Hati Raden Wijaya mulai terasa gelisah.
Kemana perginya Dyah Gayatri, pikirnya.
Jangan-jangan ia telah menjadi korban perang?
Sudah........
sudah tewas?
Hatinya semakin gelisah.
Pesta Galungan itu ramai sekali dan seperti biasa, diadakan pula perlombaan dan ketangkasan bermacam macam.
Diadakan pula adu kesaktian yang disaksikan oleh Sang Prabu Jayakatwang sendiri.
Diantara para jagoan yang memasuki medan laga, nampak seorang laki-laki berkulit kasar seperti kulit buaya, wajahnya persegi empat dengan sepasang mata besar melotot, yang memiliki kemampuan jauh melebihi para lawannya.
Satu demi satu lawannya dilemparkan keluar panggung dan kehebatannya ini disambut sorak sorai tepuk dan tangan para penonton, sedangkan para penabuh gamelan juga memukul gamelan mereka dengan gencar hingga sunsana menjadi meriah dan ramai sekali.
Sang Prabu Jayakatwang dan para ponggawanya tertawa tawa gembira dan mereka merasa bangga dan kagum akan kehebatan jagoan yang bernama Klabang Gunung itu.
Klabang Gunung adalah seorang yang kasar.
Melihat betapa semua orang memujinya, bah-kan rajanya juga mengaguminya, timbul kecongkakannya.
Dia tahu pula bahwa di tempat itu terdapat serombongan tamu dari Singosari.
Dan karena baru saja Singosari jatuh dan dikalahkan oleh Daha, maka diapun memandang rendah dan dalam kesempatan itu dia ingin meninggikan Daha dan meremehkan Singosari, agar makin menyenangkan hati Sang Prabu Jayakatwang dan para senopatinya.
Setelah tidak ada seorangpun lawan tersisa di atas panggung, diapun mengangkat tangan memberi isarat kepada para penabuh gamelan untuk menghentikan tabuhan itu agar suasana menjadi hening karena dia hendak bicara.
Gamelan berhenti dan kini Klabang Gunung memberi hormat sembah ke arah Sang Prabu Jayakatwang, lalu dia bangkit lagi memandang ke arah para tamu dari Singosari yang duduk berkelompok di sebelah kiri panggung.
"Saudara-saudara sekalian. Kalian sekalian mengetahui bahwa di Daha terdapat banyak sekali orang orang gemblengan, sakti mandraguna dan digdaya. Saya hanyalah seorang diantara mereka dan agaknya para saudara yang memiliki kesaktian, merasa sungkan untuk menandingi saya dalam lomba kedigdayaan ini. Dahulu, yang menandingi saya adalah jagoan-jagoan dari Singosari, akan tetapi saya tidak pernah kalah oleh mereka. Sayang sekali, sekarang Singosari telah kehabisan jago. Kalau saja di sini terdapat orang Singosari yang digdaya dan jantan, alangkah senangnya kalau saya dipat bertanding dengan dia"
Jelas bahwa ucapannya itu merupakan tantangan bagi orang-orang Singosari.
Para senopati, pengikut Raden Wijaya.
adalah orang-orang yang gagan perkasa, Mendengar bualan Klabang Gunung itu, tentu saja wajah mereka menjadi merah.
Terutarna sekali Ki Lembu Sora yang berwatak keras dan pemberani.
Dia melotot, kemudian dia menoleh ke arah Ridera Wijaya yang duduk di dekat Sang Prabu Jayakatwang.
Raden Wijaya sendiripun malah mendengar kesombangan Klabang Gunung, akan tetapi diapun berhati-hati dan tidak membiarkan perasaannya terpancing tantangan dan menjadi marah.
Kalau saja senopati lain yang melontarkan pandang mata kepadanya seperti yang dilakukan Lembu Sora, tentu dia akan menggeleng kepala karena dia tidak ingin membikin ribut, juga tidak ingin melihat seorang pengikutnya dilempar keluar gelanggang oleh Klabang Gunung yang sombong itu.
Akan tetapi ketika dia melihat Lembu Sora menoleh dan memandang kepadanya, Raden Wijaya segera mengangguk lirih.
Dia cukup mengenal senopatinya yang seorang ini.
Selain sakti mandraguna dan digdaya, juga Lembu Sora bukan seorang yang hanya mengandalkan keberanian dan kedigdayaan saja.
Dia seorang yang panjang akal dan waspada, tidak sembrono, maka kalau Lembu Sora yang maju, Raden Wijaya percaya sepenuhnya bahwa pengikutnya ini pasti sudah memiliki perhitungan dan tidak mau sembarangan membikin ribut pesta Galungan Kerajaan Daha itu.
Maka diapun cepat menghaturkan sembah kepada Sang Prabu Jayakatwang sambil berkata dengan sikap hormat.
"Harap paduka suka memaafkan kalau hamba menyuruh seorang pengikut hamba turut meramaikan pesta ini, Kanjeng Paman Prabu. Kalau paduka memperkenankan, hamba ingin mengajukan seorang ksatria pengikut hamba untuk menandingi Klabang Gunung agar suasana pesta bertambah meriah"
Sang Prabu Jayakatwang yang sudah terlalu banyak minum arak itu tertawa.
"Hahaha, tidak ada orang vang mampu menandingi kekuatan Klabang Gunung. Akan tetapi kalau kau hendak mengajukan seorang jagoan, silahkan. Biar suasana pesta bertambah menggembirakan"
Raden Wijaya memberi isarat kepada Lembu Sora untuk maju.
Pria yang bertubuh tegap dan bersikap tenang ini lalu bangkit dari tempat duduknya, lalu dia meloncat ke atas pang-gung.
Melihat bahwa yang meloncat ke atas panggung adalah seorang dari Singosari, seorang diantara para pengikut Raden Wijaya, suasana menjadi tegeng dan tiba-tiba saja semua suara terhenti sehingga keadaan amat hening.
Lembu Sora lalu berlutut menyembah ke arah tempat duduk Sang Prabu Jayakatwang dan Raden Wijaya sehingga dia yang menyembah ke arah Raden Wijaya itu nampaknya seperti juga menyembah ke arah Raja Daha.
"Hamba mohon diberi ijin untuk menandingi kedigdayaan Klabang Gunung"
Kata Ki Lembu Sora. Tentu saja ucapan dan sembahnya itu ditujukan kepada Raden Wijaya, dan pangeran ini mengangguk tanpa menjawab. Akan tetapi, Sang Prabu Jayakatwang menjawab dengan lantang.
"Baiklah, engkau boleh main menandingi Klabang Gunung. Jangan khawatir, kalau kau menang, akan kami beri hadiah, kalau kalah, akan kami beri bobok param untuk mengurangi rasa nyeri"
Ucapan Sribaginda ini disambut dengan tawa oleh para senopati Daha yang mengenal siapa pria yang hendak menandingi Klabang Gunung itu.
Sementara itu, karena pertunjukan diadakan di alun-alun, maka rakyat jelata banyak yang menonton, walaupun dari jarak yang sudah dibatasi.
Gelanggang adu kedigdayaan itu berada di atas panggung, maka cukup jelas dapat ditonton oleh rakyat yang berada di luar batas.
Lembu Sora kembali menyembah, lalu bangkit berdiri dan menghampiri Klabang Gunung yang memandang kepadanya sambil menyeringai sombong.
Kini mereka saling berhadapan.
Biarpun Lembu Sora termasuk seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan berotot, namun setelah berhadapan dengan Klabang Gunung, dia nampak kecil.
Klabang Gunung mirip raksasa, apa lagi karena tubuh atasnya yang telanjang itu memperlihatkan kulit yang keras dan kasar seperti bersisik, Tadi Lembu Sora sudah melihat betapa semua pukulan dan tendangan para lawan Klabang Gunung, sedikitpun tidak pernah mampu melukai kulit yang keras itu.
Dan tadi dia sudah melihat betapa besarnya tenaga tubuh raksasa ini yang mampu melemparkan para lawan satu demi satu keluar panggung.
Klabang Gunung menyambut Lembu Sora dengan mulut tersenyum lebar, menyeringai sombong.
Dia tidak mengenal Lembu Sora, maka diapun dapat menduga bahwa tentu orang ini merupakan seorang diantara para tamu dari Singosari.
"Apakah kau seorang dari Singosari?"
Tanyanya langsung saja, Memang watak Klabang Gunung ini kasar dan tidak pernah memperdulikan tata sopan santun. Apa lagi dia memang amat menyombongkan kedigdayaan dirinya.
"Siapa namamu?"
"Aku memang dari Singosari, namaku Lembu Sora"
Jawab Ki Lembu Sora dengan tenang.
"Aha. Bukankah Lembu Sora itu seorang senopati Singosari? Bagus, masih ada senopati Singosari tercecer? Lembu Sora, kau seorang tamu, maka harus disambut secara istimewa pula. Kalau tadi, para lawanku hanya kulemparkan ke bawah panggung, untuk andika akan kupatah-patahkan kedua kaki dan lenganmu, baru kulempar ke bawah panggung"
Gamelan sudah dipukul gencar sehingga ucapan Klabang Gunung itu hanya dapat terdengar oleh Lembu Sora saja.
Lembu Sora tersenyum, tidak mau dipancing kemarahannya oleh kata kata yang merendahkan itu, lalu menjawab tenang.
"Klabang Gunung, coba hendak kulihat apakah kau mampu membuktikan omonganmu itu, ataukah kau hanya tukang membual belaka"
"Jaga seranganku"
Bentak Klabang Gunung dan dia sudah mengambil sikap atau kuda-kuda yang dinamakan "Biruang Mengamuk".
Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang, kedua lengan dikembangkan ke atas dan kedua tangannya membentuk cakar, siap untuk menerkam.
Matanya melotot merah, mulutnya menyeringai dan napasnya mendengus-dengus seperti seekor kuda.
Baru sikapnya saja sudah dapat membuat lawan menjadi gentar.
Namun Lembu Sora bersikap tenang saja.
Dia berdiri dengan kaki kanan di depan kaki kiri di belakang, lutut agak ditekuk, tangan kanan menempel di pinggang kanan dengan jari terbuka dan telapak tangan telentang, sedangkan tangan kiri berada.
di depan, menempel di dada dengan jari-jari tangan lurus ke atas, sepasang matanya tajam menatap lawan, pecuh kewaspadaan.
"Grrrrr........"
Dari mulut Klabang Gunung keluar gerengan seperti seekor binatang buas dan diapun sudah menubruk ke depan, kedua tangannya menerkam dari atas untuk mencengkeram kepala dan pundak lawan.
Gerakannya itu selain amat kuat, juga cepat bukan main.
"Namun, Lembu Sora lebih cepat lagi mengelak sehingga terkaman itu hanya mengenai tempat kosong saja. Lembu Sora tidak segera membalas, banya tenang menanti sampai lawan membalik dan kini tangan kanan raksasa itu menyambar dari atas samping mengarah kepalanya, sedangkan tangan kirinya, pada detik berikutnya, menyambar dari bawah seolah-olah kedua tangan itu hendak menggencet dari atas bawah. Serangan ini berbahaya bukan main. Namun, Lembu Sora kembali memperlihatkan kelincahan gerakan tubuhnya dan dia sudah menghindarkan diri dengan melangkah mundur sehingga kedua tangan yang menyerang itu kembali mengenai tempat kosong.
"Tarrr"
Kedua telapak tangan Klabang Gunung bertemu di udara dan mengeluarkan suara seperti ledakan, Diam-diam Lembu Sora terkejut, Tak disangkanya sedemikian hebatnya tenaga lawan itu.
"Heiiiitttt......."
Kembali Klabang Gunung menyerang, kini tangan kirinya menampar ke arah pelipis kanan Lembu Sora, dan tangan anannya yang dikepal, menyusul dengan tonjokan maut ke arah dada.
"Wut....... wuuuttt"
Dan serangan kedua tangan itu menyambar.
"Wirrr......., luput lagi, Klabang Gunung"
Lembu Sora mempermainkan lawan dengan kelincahannya mengelak.
"Pengecut, jangan lari. Kalau memang jantan, terimalah seranganku"
Bentak Klabang Gunung yang semakin penasaran dan marah karena berulang kali serangannya hanya me-ngenai angin kosong belaka.
Dia lalu tiba-tiba melakukan tendangan.
Kaki kanan yang panjang dan berat itu menyambar ke arah dada lawan.
"Ambrol dadamul"
Bentaknya. Kembali Lembu Sora mengelak dengan cekatan.
"Luput, Klabang Gunung"
"Pengecut, balaslah menyerang, jangan lari saja"
Klabang Gunung membentak Lawannya terlalu cekatan, dan dia merasa seperti bertanding melawan seekor burung walet saja, sukar sekali serangannya mengenai sasaran.
"Baik, kau terima seranganku ini"
Lembu Sora kini menghantamkan kepalan kanannya Ke arah dada lawan, Klabang Gunung maklum bahwa lawannya ini bukan orang lemah, maka diapun mempergunakan tangan kanan yang berjari panjang dan besar itu untuk menangkis dari tengah, langsung tangannya diputar dan dia berhasil menangkap pergelangan tangan Lembu Sora.
Senopati Singosari ini terkejut.
Tak disangkanya bahwa si raksasa Daha ini memiliki banyak macam ilmu, diantaranya ilmu tangkapan secepat itu.
Begitu pergelangan tangannya ditangkap, Lembu Sora mengeluarkan teriakan nyaring, menarik tangan yang dicengkeram lawan, Klabang Gunung mengerahkan tenaga mempertahankan dan pada saat tubuhnya condong ke depan itu.
Lembu Sora tiba-tiba menarik lengan kanan.
yang pergelangannya dicengkeram, kakinya maju ke depan dan tubuhnya condong ke depan dengan siku kanan menghantam ke arah dada lawan.
"Dukkk"
Siku kanan Lembu Sora dengan kerasnya menghantam dada Klabang Gunung dan pada saat itu, Lembu Sora merenggut lengannya yang dicengkeram itu lepas melalui.
ibu jari dan telunjuk tangan yang.
mencengkeram.
Lengannya terlepas dan hebatnya, Klabang Gunung yang terkena hantaman siku pada dadanya tadi hanya mundur dua langkah saja.
Ternyata tubuhnya memang kebal sehingga hantaman siku yang keras tadi tidak membuatnya merasa nyeri.
Hanya membuat dia marah bukan main dan sambil mengeluarkan gerengan seperti srigala, diapun menerjang ke depan.
Kini, kedua tangannya yang dikepal melakukan pukulan bertubi tubi dari depan, atas dan bawah.
Namun, Lembu Sora juga mengelak dan menangkis sehingga semua pukulan lawan dapat dihindarkan.
Bahkan diapun mulai membalas dengan tamparan dan pukulan yang jugar dapat ditangkis dengan baik oleh Klabang Gunung.
Pertandingan itu semakin lama menjadi semakin seru.
Pukul memukul, tendang menendang, tampar menampar, kadang-kadang mereka mengadu tenaga dengan kedua tangan saling tangkap, beradu dada, mengerahkan tenaga sehingga panggung itu kadang-kadang tergetar hebat.
Penonton bersorak sorai.
Belum pernah mereka menyaksikan pertarungan sehebat itu.
Lembu Sora juga merasa penasaran sekali.
Lawannya ternyata lebih digdaya dari pada yang dia bayangkan.
Ketika lawan memukul dan dia mengelak kekiri, lalu melihat kesempatan baik selagi tubuh lawan condong membungkuk, diapun cepat mengirim tendangan dengan kaki kanan secepat kilat ke arah dada lawan.
"Wuuuuttt......."
Tendangan dahsyat itu menyambar.
Akan tetapi ternyata Klabang Gunung bukan seorang yang bodoh.
Dia cepat menarik tubuhnya ke belakang dan begitu kaki lawan menyambar, tangan kirinya sudah berhasil menangkap belakang kaki dekat tumit dan dengan pengerahan tenaga, dia mendorong kaki itu ke atas dan membuat gerakan tenaga melemparl.
Tanpa dapat dihindarkan lagi, tubuh Lembu Sora terlempar ke atas ka-rena tenaga tendangannya tadi ditambah tenaga dorongan Klabang Gunung.
Akan tetapi, dia mengerahkan tenaga dan keseimbangan tubuhnya, dapat berjungkir balik beberapa kali di udara sehingga dia dapat turun lagi ke atas panggung dengan baik.
Penonton menyambut dengan tepuk dan sorak untuk keduanya.
Mereka saling serang lagi dan Lembu Sora tidak mau kalah.
Ketika dia melihat kesempatan selagi lawannya menendang, diapun mengelak dan cepat dia menangkap tumit kaki kiri lawan yang menendangnya itu dan diapun meminjam tenaga tendangan ditambah temganya sendiri untuk mendorong.
Akan tetapi tidak seperti Klabang Gunung tadi yang mendorong ke atas sehingga tubuhnya terlempar ke atas, kini Lembu Sora mendorong ke depan sehingga tubuh lawan yang tinggi besar itu melayang ke belakang.
Tanpa dapat dihindarkan lagi, tubuhnya keluar dari panggung dan jatuh berdebak ke atas tanah dibawah panggung.
Akan tetapi dia tidak mengaku kalah.
Memang sedikitpun dia tidak terluka, dan begitu terjatuh, dia sudah meloncat lagi ke atas panggung dan menghantamkan kepalan tangan kananya ke arah dada Lembu Sora.
Lembu Sora mengukur kekuatan itu, dan dia menerima pukulan pada dadanya itu sambil mengerahkan tenaga dalam yang membuat dadanya kebal.
"Bukkk"
Kepalan itu mengenai dada, dan membalik seolah-olah memukul sebuah benda dari karet yang keras saja. Klabang Gunung menjadi penasaran.
"Babo babo, kau pamer kekebalan? Hayo boleh kau pukul tubuhku, kita mengadu kekebalan, siapa lebih kuat"
Bentaknya sambil membusungkan perut dan dadanya yang amat kokoh. Lembu Sora mengerahkan tenaganya dan memukul ke arah dada. Lawannya tidak mengelak.
"Desss......."
Pukulannya juga membalik.
Tepuk tangan dan sorak sorai mengiringi kedua orang jagoan yang saling pukul dan memperlihatkan kekebalan mereka itu.
Dalam hal kekebalan, keduanya memang setanding.
Akan tetapi, Klabang Gunung berlaku curang dan dalam gilirannya, dia memukul ke arah muka.
Lembu Sora kembali mengelak dan membalas dengan tusukan jari-jari tangan yang diluruskan ke arah leher lawan yang juga ditangkis oleh Klabang Gunung.
Mereka sudah berkelahi lagi, saling serang dan karena mereka mengarahkan seiangan pada daerah atau bagian tubuh yang lemah dan berbahaya, keduanya tidak berani mengandalkan kekebalan untuk melindungi bagian yang diserang.
Para penonton menjadi semakin gembira dan banyak terjadi pertaruhan diantara mereka, seperti orang-orang menonton adu ayam saja.
Para puteri yang juga berada di situ, banyak yang sudah menutupi muka karena merasa tegang dan ngeri.
Raden Wijaya tenang saja karena dia percaya sepenuhnya kepada Lembu Sora.
Sementara itu.
Sang Prabu Jayakatwang juga menjadi gembira bukan main menyaksikan dua jagoan yang setanding itu.
"Hebat jagomu, anak mas Wijaya. Kalau jagomu menang, kami akan menghadiahi dia dan juga kau berhak mendapatkan hadiah. Akan tetapi, belum tentu dia akan menang, heh-heh"
"Saya merasa yakin bahwa Paman Lembu Sora akan mampu mengalahkan Klabang Gunung, Kanjeng Paman Prabu"
Jawab Raden Wijaya dengan sikap tenang dan suara penuh keyakinan.
Agaknya memang Lembu Sora kalah tenaga sedikit dibandingkan musuhnya.
Beberapa kali nampak dia terhuyung dan hampir terpelanting kalau mereka mengadu tenaga dan Klabang Gunung sudah mentertawakannya karena raksasa ini yakin bahwa akhirnya dia yang akan keluar sebagai pemenang.
Pada suatu saat, keduanya saling berpegang lengan.
Keringat sudah membuat seluruh tubuh mereka basah dan licin, pernapasan mereka sudah agak terengah dan keduanya sudah lelah sekali.
Tiba-tiba Klabang Gunung membuat gerakan menyelinap dari bawah lengan lawan dan tahu tahu dia sudah tiba di belakang tubuh Lembu Sora dan kedua lengannya yang panjang dan besar itu menyusup ke bawah kedua lengan lawan, lalu jari jari tangannya saling bertemu di tengkuk Lembu Sora.
Dia sudah berhasil memiting lawan dengan kunci pitingan yang amat kuat.
Sepuluh jari dari kedua tangan itu sudah saling melekat di belakang tengkuk Lembu Sora dan agaknya sudah tidak ada jalan bagi Lembu Sora untuk melepaskan diri dari kuncian yang amat kuat ini.
"Hahaha, engkau berlututlah dan menyatakan diri kalah. Kalau tidak, akan kupatahkan tulang punggungmu"
Kata Klabang Gunung.
Gamelan dipukul bertalu-talu dan mereka yang berpihak kepada Lembu Sora dalam taruban sudah merasa cemas.
Bahkan Raden Wijaya sendiri memandang tajam, dan para pengikutnya sudah nampak gelisah pula.
Lemba Sora juga terkejut.
Tak disangkanya bahwa lawannya memiliki ilmu gulat yang membuat tubuhnya licin bagaikan belut dan tadi diapun terkecoh sehingga lawan kini dapat menguasainya dengan kunci pitingan yang demikian kuat.
Namun, Lembu Sora adalah seorang senopati yang sudah banyak pengalaman dan diapun seorang ydng tabah dan tenang, tak pernah kehilangan akal.
Jari-jari tangan lawan yang besar itu menekan tengkuknya dengan amat kuat, membuat tubuhnya membungkuk dan agaknya dia sudah tidak berdaya lagi.
Dia semakin membungkukkan tubuhnya, membuat perhitungan dengan sikap tenang.
Perhitungannya harus tepat, kalau tidak, dia gagal dan akan kalah, bukan saja dia yang akan mengalami derita kesakitan dan malu, bahkan junjungannya, Raden Wijaya, juga akan menderita malu dan terhina.
"Hahaha, anak mas Wijaya, jagomu kini kalah. Lihat, dia sudah tidak mampu berkutik lagi"
Sang Prabu Jayakatwang berseru gembira sambil tertawa.
"Harap paduka bersabar, Kanjeng Paman. Pertandingan itu saya kira belum berakhir"
Kata Raden Wijaya, masih tenang karena dia melihat sinar mata Lembu Sura mencorong penuh ketajaman, tanda bahwa jagonya itu belum putus asa dan sedang mencari akal.
"Kalau aku belum mengaku kalah, apa yang akan kau lakukan?"
Lembu Sora bertanya, membuat napasnya terengah-engah. Mendengar suara yang napasnya sudah memburu itu, Klabang Gunung tertawa.
"Hahaha, punggungmu akan kupatahkan kupatahkan"
Tiba-tiba saja dia menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, Lembu Sora menghantamkan kepalanya ke belakang.
"Dessss.."
Bagian belakang kepala Lembu Sora yang keras itu menghantam mulut dan hidung Klabang Gunung, Serangan kepala ini demikian tiba-tiba datangnya sehingga Klabang Gunung tidak sempat menghindar dan bukit hidungnya remuk, darah mengucur keluar, Pada saat itu, dengan perhitungan yang amat tepat, kedua tangan Lembu Sora sudah bergerak naik ke tengkuknya dan dia berhasil memegang kedua ibu jari lawan yang mengunci tengkuknya.
Di lain saat, kaki kirinya menyepak ke belakang seperti gerakan kaki kuda, dan tepat mengarah selakangan lawan.
"Desss........ Aughhhhh......."
Hanya mereka yang pernah ditendang atau disepak anggauta rahasianya di bawah pusar saja yang akan mampu membayangkan betapa nyeri rasanya.
ketika tumit kaki Lembu Sora memasuki selangkangan dan menghantam alat kelamin lawan.
Kiut miut rasanya, nyeri menusuk-nusuk ke jantung dan perut seketika mulas, mata berkunang.
Pada saat itu, Lembu Sora menarik ibu jari kedua tangan lawan, mengerahkan seluruh tenaga menekuk kedua ibu jari itu ke belakang.
Pada saat itu, Klabang Gunung se-dang mengalami siksaan yang amat hebat.
Bukan saja hidungnya remuk berdarah, akan tetapi alat kelaminnya kena disepak tumit sehingga tentu saja dia kurang dapat memusatkan tenaganya melindungi kedua ibu jari yang ditekuk ke belakang.
"Krekk. Krekkl"
Kedua ibu jari yang ditekuk itu akhirnya patah, atau lebih tepat lagi, terlepas sambungan buku-buku jarinya dan rasa nyeri yang amat hebat menusuk sampai ke seluruh isi dada.
Pada saat itu, kedua tangan Lembu Sora melepaskan ibu jari, mencengkeram rambut kepala lawan dan tubuhnya membuat gerakan membungkuk dengan tiba tiba, pinggulnya diangkat ke atas dan kedua tangannya menarik rambut sekuatnya lalu membuat gerakan melempar.
"Wuuuuttttt........I"
Tak dapat dihindarkan lagi, tubuh tinggi besar yang sedang menderita seribu satu macam perasaan nyeri dan tidak mampu lagi mengerahkan tenaga itu, terlempar jauh ke luar panggung dan terbanting keras ke atas tanah.
Di situ dia tidak mampu bangkit lagi, melainkan merintih dan mengaduh, kedua tangannya membuat gerakangerakan aneh, kadang-kadang ke hidung, lalu ke bawah pusar, lalu ke ibu jari masing-masing, dan raksasa itu menangis saking nyerinya.
Suasana hening sejenak karena peristiwa itu sungguh di luar dugaan semua orang.
Akan tetapi kemudian mereka yang dalam taruhan berpihak kepada Lembu Sora, bersorak sorai.
Sorakan itu terhenti ketika di atas panggung sudah muncul seorang senopati yang wajahnya bengis.
Dia mengangkat tangan memberi isarat kepada mereka yang bersorak ajar tenang.
Semua orang mengenai Senopati Segara Winotan yang galak, maka kini tidak ada seorangpun berani bersorak walaupun mereka menang, apa lagi kini mereka teringat bahwa yang menang adalah orang Singosari.
Senopati Daha itu memandang tajam kepada Lembu Sora, sinar matanya seperti hendak membakar.
Dia marah bukan main karena Klabang Gunung adalah anak buahnya.
Kekalahan Klabang Gunung dirasakannya seperti menampar mukanya.
Kalau Klabang Gunung kalah oleh seorang jagoan lain dari Daha, hal itu tentu saja tidak mengapa, Akan tetapi sekali ini lain.
Klabang Gunung dikalahkan oleh seorang jago dari Singosari yang dia tahu adalah seorang senopati Singosari, kerajaan yang telah kalah perang melawan Daha.
''Lembu Sora, aku tahu engkau seorang senopati Singosari.
Tidak mengherankan kalau engkau mampu mengalahkan Klabang Gunung dengan akal curang.
Hayo, cabutlah kerismu, lawanmu adalah aku"
Berkata demikian, Senopati Segara Wirotan sudah mencabut sebatang kerisnya dan berdiri dengan sikap menantang.
Lembu Sora mengerutkan alisnya.
Semua orang tahu bahwa bukan dia yang tadi berbuat curang, melainkan Klabang Gunung sendiri Kalau saja dia bukan pengikut Raden Wiiaya?
yang kini hendak menghambakan diri ke Daha tentu sudah disambutnya tantangan itu.
Namun dia ragu-ragu dan bingung, tidak menjawab melainkan dia menoleh kearah Raden Wijaya seperti hendak minta keputusan dan junjungannya itu.
Raden Wijaya mengenai watak Lembu Sora Kalau dibiarkan, tentu senopati itu akan menerima tantangan siapapun juga dan kalau sampai terjadi keributan, berarti gagallah semua usahanya untuk membangun kembali Kerajaan Singosari yang sudah runtuh dengan jalan menghambakan diri ke Kerajaan Daha.
Maka diapun cepat bangkit, memberi hormat kepada Prabu Jayakatwang.
"Hamba melerai pertikaian itu"
Tanpa menjawab, Raden Wijaya sudah melangkah lalu meloncat naik ke atas punggung.
"Kakang Lembu Sora, turunlah"
Katanya halus.
Lembu Sora menyembah, lalu tanpa menoleh kepada Segara Winotan dia meloncat turun dari panggung, kembali ke tempat du duknya semula, disambut dengan gembira oleh teman-temannya.
Sementara itu, ketika melihat bahwa yang menghadapinya adalah Raden Wijaya yang dia kenal sebagai seorang pangeran di Singosari, Segara Winotan menjadi bingung dan kikuk.
Akan tetapi, dia teringat bahwa bagaimanapun juga pangeran di depannya ini hanyalah se-orang pangeran dari kerajaan yang dikalahkan, maka dengan sikap hormat pura pura, yang menyembunyikan kecongkakannya, dia memberi hormat lalu berkata.
"Hamba ingin mengadu kepandaian melawan Senopati Lembu Sora, mengapa paduka melerai? Apakah paduka ingin maju sendiri untuk mencoba kemampuan saya?"
Senopati itu tersenyum, menyura mengejek.
"Paman Segara Winotan, kiranya kau juga mengetahui bahwa dua orang senopati hanya saling bertanding di dalam suatu peperangan kakang Lembu Sora naik ke panggung ini, bukan sebagai senopati, melainkan sebagai pengiringku dan kini menjadi tamu di Daha, bukan musuh. Kalau kau menantangnya, berarti sama dengan menantang aku"
Berkata demikian Raden Wijaya memandang tajam dan sinar matanya mencorong, membuat Segara Winotan menjadi gentar juga. Dia menyarungkan kerisnya dan berkata sambil menunduk.
"Hamba tidak ingin melawan seorang bangsawan tinggi seperti paduka yang menjadi tamu junjungan hamba. Maafkan hamba........"
Pada saat itu, Sang Prabu Jayakatwang sudah berteriak.
"Sudah cukup. Tidak perlu ada pertandingan lagi. Ke sinilah, anak mas Wijaya. kita bercakap cakap"
Raden Wijaya meninggalkan panggung dan menghaturkan sembah kepada Sang Prabu Jayakatwang.
"Harap paduka sudi mengampuni kakang Lembu Sora dan kami semua kalau kami dianggap membikin ribut di sini"
Raja itu tertawa.
"Ah, sama sekali tidak. Kalian bahkan sudah ikut meramaikan suasana. Lembu Sora memang hebat, dan ternyata jagomu yang menang, anak mas Wijaya. Katakan hadiah apa yang kau inginkan?"
Entah apa yang menyebabkannnya, pada saa itu Raden Wijaya teringat kepada tunangannya yang belum ditemukan, yaitu Sang Dyah Gayatri, maka dengan penuh harap dia lalu mempergunakan kesempatan itu dengan jawaban yang halus.
"Kanjeng Paman Prabu, kalau sekiranya paduka mengijinkan, hamba mohon agar diajeng Gayatri dapat diberikan kepada hamba. Ia adalah tunangan hamba......"
Mendengar disebutnya nama puteri ini, seketika wajah Sribaginda menjadi keruh dan alisnya berkerut.
Baru beberapa hari Gayatri lenyap bersama Wulansari dan hal itu masih membuat dia marah dan penasaran, sekarang disebutnya nama itu seperti mengingatkan dia kembali bahwa bersama mereka berdua, lolos pula tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Karena hatinya tidak senang, dengan alls masih berkerut diapun menjawab kaku.
"Ah, kalau yang itu tidak bisa. la adalah seorang tawanan, dan belum waktunya dibebaskan dari tawanan"
Raden Wijaya bungkam dan tidak berani lagi mengulang nama itu.
Namun, maklum akan kedudukannya, dia tidak berani memperlihatkan penyesalan walaupun di sudut hatinya, dia merasa gelisah sekali.
Melihat sikap Sang Prabu Jayakatwang, agaknya Sribaginda ini hendak menahan Gayatri dan hal itu hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa Sribaginda sendiri agaknya ingin memiliki puteri yang jelita itu.
Namun, Raden Wijaya tidak merasa putus harapan dan diapun mulai memperlihatkan sikap yang amat baik sehingga Sang Prabu Jayakatwang maka percaya kepadanya dan tidak pernah meragukannya niat hatinya untuk menghambakan diri kepadanya.
Para pengikut Raden Wijaya yang amat setiapun menahan hati mereka dan bersikap sebagai orang-orang yang beriar benar takluk sehingga timbullah kesan pada seluruh ponggawa Kerajaan Doha bahwa Kerajaan Singosari telah musnah, dan tidak ada lagi keturunan Ken Arok yang akan bangkit lagi.
Pantai Laut Selatan mempunyai banyak tebing yang curam.
Bukit Seribu di sepanjang pantai selatan memiliki banyak sekali bukit yang mencapai pantai, bukit bukit karang yang tandus, seolah-olah menjadi semacam tanggul untuk membendung air laut yang bergelombang dahsyat dan Laut Selatan agar jangan sampai menelan Pulau Jawa.
Banyak terdapat goa-goa di perbukitan selatan itu, goa-goa di bukit karang dan kapur.
Di lereng sebuah bukit terdapat sebuah goa yang aneh bentuknya.
Sebuah goa yang menghadap ke arah lautan dan bentuknya seperti tengkorak manusia.
Tidak mudah mencapai goa ini karena berada di lereng (Lanjut ke
Jilid 21) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 bukit yang penuh dengan semak berduri dan batu-batu karang malang melintang.
Tempat ini tak pernah dikunjungi orang.
Namun ternyata goa yang aneh itu dihuni orang.
Itulah Goa Siluman yang berada di bukit Garing dan yang menjadi penghuni tetapnva adalah seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih.
Dia dilayani enam orang anak remaja, tiga pria dan tiga wanita, yang melayani segala keperluan hidup sang kakek.
Memang luar biasa sekali.
Di tempat sesunyi dan segersang itu, tinggal seorang iakek dengan enam orang pelayan.
Apa lagi kalau orang dapat tiba di goa itu dan memasukinya, dia akan terheran-heran.
Goa yang bentuknya seperti tengkorak manusia itu besar sekali.
Ruangan depan saja lebarnya ada dua puluh meter dan dalamnya tidak kurang dari sepuluh meter dan karena lebarnya maka ruangan goa itu memperoleh sinar matahari yang cukup, dan di sebelah dalamnya terdapat lorong-lorong bahkan ada ruangan ruangan yang dipakai sebagai kamar-kamar tidur.
Ada tiga kamar di sebelah dalam, sebuah kamar untuk sang kakek dan yang dua kamar lagi masing-masing dipakai oleh tiga orang pelayan perempuan dan tiga orang pelayan laki-laki.
Kakek tua renta itu bukanlah orang biasa, melainkan seorang tokoh sesat yang namanya sudah amat terkenal, apa lagi ketika dua belas tahun yang lalu dia menbantu pemberontakan muridnya.
Dia adalah Ki Buyut Pranamaya yang dulu tingga| sebagai pertapa di Bukit Gandamayit di hutan Cempiring.
Ketika muridnya Mahesa Rangkah memberontak, dia mambantu sepenuhnya.
Akan tetapi pemberontakan Mahesa Rangkah itu gagal, bahkan Mahesa Rangkah sendiri tewas dalam pertempuran, Ki Buyut Pranamaya sendiri juga melarikan diri, apa lagi setelah tombak pusaka Ki Ageng Tejanirnala yang tadinya berada di tangannya itu telah terampas oleh Wulansari.
Semenjak itu, Ki Buyut Pranamaya lalu bertapa di dalam Goa Siluman itu.
Dia mendengar bahwa tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala kini terjatuh ke dalam tangan Kerajaan Daha.
Dia merasa menyesal sekali.
Kalau saja pusaka itu tidak terampas dari tangannya, tentu pemberontakan Mahesa Rangkah dahulu itu berhasil dan muridnya itu telah menjadi raja, dan dia menjadi penasihat raja.
Dia tidak merasa heran mendengar betapa Doha mampu mengalahkan Singosari.
Tentu berkat tompak pusaka itu, pikirnya.
Manusia pada umumnya, kalau usianya sudah mulai tua, teringat akan keadaan dirinya lalu berpaling kepada Tuhan, ingat akan dosa yang telah banyak ditumpuknya di waktu muda, dan selagi masih ada kesempatan, berusaha membersihkan diri lahir batin, mendekatkan diri dengan Tuhan dan menjauhi bujukan iblis dan setan.
Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Ki Buyut Pranamaya.
Dalam usianya yang sudah amat tua itu, ia masib menjadi hamba nafsu nafsunya.
Tiga orang pemuda remaja dan tiga orang gadis remaja itu, selalu menjadi para pembantunya, juga dilatih ilmu kedigdayaan dan juga mereka itu dia jadikan alat nafsu berahinya.
Dia menculik anak-anak itu sejak mereka berusia lima enam tahun, dan mendidik mereka sehingga mereka menjadi anak-anak patuh kepadanya.
Selain enam orang anak yang menjadi pelayannya, muridnya, dan juga kekasihnya itu, Ki Buyut Pranamaya juga nempunyai seorang murid yang dianggapnya amat baik.
Sejak muridnya, Mahesa Rangkah, tewas dalam pemberontakannya, dia lalu bertemu dengan seorang pemuda gemblengan bernama Jaka Pati yang berusia tigapuluh tahun lebih Pemuda ini tekun bertapa dan menumpuk ilmu dengan cita-cita mencari wahyu kraton, atau setidak-tidaknya agar dia dapat menduduki pangkat yang tinggi dan mendapatkan kemuliaan.
Ilmu-ilmu dari Agama Syiwa dipelajarinya dengan tekun.
Bertemu dengan Jaka Pati, Ki Buyut Pranamaya merasa suka sekali, maka dia yang telah kehilangan murid lalu mengambil Jaka Pati sebaga muridnya, mengajarkan banyak macam ilmu kesaktian, bahkan lalu memberi petunjuk kepada murid itu untuk bertapa di tempat-tempat yang angker.
Pada waktu itu, Ki Buyut menyuruh Jaka Pati yang usianya kini sudah empat puluh tahun lebih untuk bertapa di sebuah goa kecil tak jauh dari Goa Siluman.
Pagi hari itu, Ki Buyut Pranamaya telah keluar dari kamarnya dan berada di ruangan depan Matahari telah menyorotkan sinarnya sampai ke dalam ruangan goa, dan lautan di depan goa nampak tenang, putih keperakan tertimpa sinar matahari pagi.
Seorang pelayan wanita menuruni batu karang curam di sebelah kiri goa, lalu menghadap Ki Buyut Pranamaya sambil berkata.
"Aki Buyut, Paman Gagak Wulung dan Bibi Ni Dedeh Sawitri datang berkunjung"
Wajah kakek tua renta itu tersenyum dan dia mengangguk-angguk. Bagus, memang sudah lama mereka kunanti-nanti"
Tak lama kemudian, dua orang menuruni batu karang dengan cekatan dan mereka itu ternyata adalah dua orang tokoh yang telah erkenal sekali, yaitu Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri.
Gagak Wulung adalah seorang datuk dari Kediri, berusia hampir enampuluh tahun, namun masih nampak muda.
Wajahnya tampan, tubuhnya tegap, pakaiannya juga mewah dan pesolek, seperti seorang bangsawan saja.
Dahulu pernah dia membantu Kerajaan Daha secara diam-diam, bukan sebagai ponggawa karena dia seorang petualang yang hanya membutuhkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
Ketika Mahesa Rangkah memberontak terhadap Singosari, diapun ikut membantu.
Setelah pemberontakan itu gagal, dia melarikan diri, kemudian berhubungan dengan Ki Buyut Pranamaya dan sering berkunjung untuk minta petunjuk karena dia menganggap kakek itu sebagai orang yang jauh lebih sakti dan patut dihormati.
Bahkan dia siap membantu kalau kakek itu mempunyai suatu rencana yang menguntungkan.
Adapun wanita itu adalah Ni Dedeh Sawitri, juga seorang datuk dari Pasundan, namun di waktu mudanya, ia sudah banyak dijumpai orang di daerah Daha dan Singosari.
Wanita ini usianya hampir limapuluh tahun, akan tetapi masih nampak cantik, menggairahkan, dan genit.
Iapun pesolek dan berpakaiau indah, sungguh merupakan pasangan yang cocok dengan Gagak Wulung.
Dan seperti juga Gagak Wulung, ia memiliki kedigdayaan, bahkan ia terkenal dengan pukulan-pukulan beracun yang amat berbahaya.
Memang, sudah lama sekali, sejak belasan tahun yang lalu, Ni Dedeh Sawitri menjadi sababat baik Gagak Wulung, bahkan iapun dahulu membawtu pemberontakan Mahesa Rangkah yang kemudian gagal.
Setelah gagal, Ni Dedeh juga melarikan diri dan untuk beberapa waktu lamanya, kembali ke Pasundan.
Baru kurang lebih setahun ia kembali ke timur dan bertemu dengan dagak Wulung yang membawanya menghadap Ki Buyut Pranamaya, kemudiau mereka berdua.
oleh kakek itu diberi tugas untuk melakukan penyelidikan ke Singosari dan Daha yang kabarnya sedang berperang.
Demikianlah keadaan dua orang pasangan yang serasi itu.
Sama-sama tampan dan cantik.
Sama-sama pesolek dan cabul, dan sama-sama berbahaya dan pandai.
Karena kecocokan ini maka mereka melakukan perjalanan sebagai dua orang kekasih saja, kecocokan membuat mereka saling menyukai.
Akan tetapi, walaupun mereka saling mencinta, masing-masing tidak mengekang.
Dalam melakukan perjalanan bersama, masing-masing bebas untuk mencari pasangan masing-masing, bahkan kalau perlu mereka saling membantu untuk mendapatkan pasangan masing-masing, apa bila menemui halangan.
Memang pasangan ini istimewa sekali, dan bagi mereka tidak ada hal yang dipantang untuk mencapai kepuasan hati dan kesenangan.
Keduanya merupakan hamba-hamba nafsu yang sudah tidak ketulungan lagi.
Melihat dua orang itu menghadap padanya, duduk di atas lantai bertilam jerami kering, Ki Buyut Pranamaya tertawa senang, memperlihatkan mulut yang sudah tidak ada giginya lagi.
"He he he he, bagus........ bagus........ Kalian sudah datang? Memang amat kunanti-nanti. Wah, Dedeh, setelah pergi selama tiga bulan kau nampak semakin cantik manis saja, he he he"
Gagak Wulung tertawa.
"Paman Buyut Pranamaya, tentu saja ia nampak segar karena selama tiga bulan ini ia telah mendapatkan jamu dari belasan orang perjaka muda belia, hahaha"
Kata-kata Ga.ak Wulung yang disertai tawa ini membuat Ni Dedeh Sawitri cemberut, namun cemberut buatan agar nampak lebih mamis dan manja.
"Hemm, dan engkau sendiri? Sedikitnya duapuluh orang perawan kau hisap"
Mendengar ini, Ki Buyut Pranamaya tertawa.
Dia sudah tahu betapa dua orang pembantunya ini memang mempunyai watak yang sama kerasnya dan hampir setiap kaii mereka bercekcok.
Akan tetapi percekcokan itu akan berakhir dengan kemesraan di dalam kamar karena sesungguhnya mereka itu saling mencinta.
Sungguh merupakan dua orang pembantu yang amat baik baginya.
"Sudahlah, kalian memang sama saja. Sekarang ceritakan bagaimana keadaan di Daha. bukankah Daha telah berhasil menaklukkan Singosari?"
"Benar sekali, paman"
Kata Ni Dedeh Sawitri.
"Habislah sudah keluarga Kerajaan Singosari. Bahkan pangeran yang diharapkan akan dapat mempertahankan Singosari, yaitu Raden Wijaya, telah melarikan diri ke Madura"
"Kabar terakhir ini katanya bahwa Raden Wijaya bahkan telah menghambakan diri ke Ke-rajaan Daha"
Sambung Gagak Wulung.
"Jagad Dewa Batara........"
Kata Ki Buyut Pranamaya.
"Kalau begitu, habis sudah harapan bagi Singosari untuk bangkit lagi. Agaknya hanva sampai di sini saja riwayat keturunan Ken Arok. Semua ini gara gara tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala. Hemm, keparat gadis baju hijau bernama Wulansari itu, dan si keparat Nurseta. Mereka berdualah yang telah merampas ki Ageng Tejanirmala dan akhirnya pusaka itu terjatuh ke tangan Ki Cucut Kalasekti dan jahanam itu menukarkan pusaka dengan kedudukan sebagai Adipati Bendowmangun. Demikianlah, pusaka terjatuh ke tangan Raja Kediri, maka tidak mengherankan kalau sekarang Kediri telah menjatuhkan Singosari"
Kakek itu menarik napas panjang penuh penyesalan.
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan, paman?"
Tanya Gigak Wulung.
"Kita tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa pusaka itu. Setelah pusaka itu kembali ke tanganku, barulah kita bicara apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Dan untuk mendapatkan kembali pusaka itu, kita harus mendekati Daha. Kita semua pindah dan sini mencari tempat tinggal yang baik dan cocok di Daha"
Mendengar ini, dua orang datuk sesat itu menjadi girang sekali.
Merekapun tidak suka tinggal terlalu lama di goa ini.
tempat yang amat sunyi.
Memang di situ terdapat tiga orang pemuda remaja yang tampan dan tiga orang gadis remaja yang manis, akan tetapi enam orang anak itu adalah milik Ki Buyut Pranamaya dan mereka berdua sama sekali tidak boleh mengganggu mereka.
Pada saat itu, seorang pemuda remaja datang menghadap gurunya dan berkata lantang "Aki Buyut, Paman Pati datang hendak merghadap"
Wajah kakek itu berseri dan tak lama kemudian muncullah seorang laki laki berusia empat puluhan tahun.
Wajahnya cukup ganteng dengan kumis dan jenggot terpelihara rapi.
Ketika melihat Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri, dia tersenyum, terutama sekali kepada Ni Dedeh, dia tersenyum ramah sekali.
"Kiranya kalian berdua sudah berada disini, Selamat bertemu, Kakang Gakak Wulung dan mbakayu Dedeh Sawitri "
Katanya, kemudian dia menghadap gurunya dan memberi hormat.
"Bagus, memang kau kuharapkan datang dan kalau tidak datang tentu akan kusuruh panggil, Pati"
Kata kakek itu sambil terkekeh girang.
"Akan tetapi....... aku melihat perubahan padamu. Nanti dulu....... apa gerangan yang berubah? Ah, benar. Pakaianmu kau mengenakan jubah, pakaianmu seperti pakaian seorang resi (pendeta)"
Pria itu kembali menghormat "Memang benar sekali ucapan Guru.
Para resi yang memiliki kuil di Daha bertemu dengan saya.
Setelah menjadi kenalan dan seringkali kami bertukar pikiran tentang Agarna Syiwa, juga setelah mereka mengenai kemampuan saya, mereka lalu mengusulkan agar saya suka mengikuti mereka dan menjadi seorang resi.
Melihat betapa baiknya kedudukan mereka, juga mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar di kalangan rakyat, maka saya mengambil keputusan untuk mengikuti mereka dan saya datang untuk mohon diri dari guru dan mohon doa restu"
Ki Buyut Pranamaya mengangguk-angguk.
"Baik sekali, muridku Memang orang mengejar kemuliaan dapat melalui jalan apa saja Dan kau memang berbakat menjadi seorang resi. Aku hanya ikut memuji semoga akan tercapai apa yang kau citakan dan kalau sudah mendapatkan kedudukan yang mulia, jangan kau lupakan gurumu yang sudah tua ini"
"Saya akan selalu mengingat semua petuah dari guru. Dan para resi juga sudah memberi sebuah nama kepada saya, yaitu Resi Mahapati"
"RESI MAHAPATI?"
Ki Buyut Pranamaya berkata sambil tersenyum.
"Wah, bagus sekali nama itu. Dan Jaka Pati menjadi Resi Mahapati. Baiklah Resi Mahapati, doa restuku menyertaimu. Ketahuilah bahwa kamipun akan pindah ke Daha, mencari suatu tempat yang tepat di sana. Kita akan saling bertemu di sana dan mudah-mudahan kita akan dapat saling bantu"
Resi Mahapati girang mendengar bahwa gurunya juga akan pindah ke Daha, akan tetapi, karena para resi sudah menantinya di dataran pantai, diapun berpamit dan meninggalkan goa itu, diikuti pandang mata Ki Buyut Pranamaya.
Setelah Resi Mahapati pergi, kakek itu.
mengangguk-angguk dun berkata kepada dua orang datuk itu.
"Kalian lihat saja, muridku itu kelak akan dapat melangkah jauh dan memperoleh kedudukan yang tinggi. Dia amat cerdik, dan ilma kepandaiannya juga mendalam"
Beberapa hari kemudian, Ki Buyut Pranamaya dengan enam orang pelayannya, diikuti oleh Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri, juga meninggalkan Goa Siluman, menuju ke Daha.
Mereka itu bagaikan bayangan siluman-siluman yang berangkat untuk menyebar malapetaka di antara manusia.
Goa Siluman itu menjadi semakin sunyi dan semakin angker setelah kini tidak lagi berpenghuni.
Pemuda itu tampan bukan main.
Usianya sekitar tiga puluh tahun atau bahkan jauh lebih muda.
Kulitnya kuning bersih dan sepasang matanya bersinar seperti bintang kejora, kadang-kadang sepasang mata itu mencorong seperti mata harimau di tempat gelap.
Tubuhnya tidak berapa besar, bahkan tergolong kecil ramping, namun dalam langkahnya terkandung kegagahan.
Pakaiannya sederhana, seperti pakaian seorang pemuda dusun, namun melihat wajah dan sikapnya, orang akan menduga bahwa tentu dia bukan seorang pemuda sembarangan.
Juga sepasang mata itu bukanlah mata seorang pemuda dusun yang sederhana.
Akan tetapi, gadis remaja yang berjalan di sisinya juga luar biasa cantiknya.
Kulitnya Agak gelap, akan tetapi hitam manis, dengan dagu meruncing dan matanya jeli bersinar-sinar penuh gairah hidup, mulut yang bibirnya merah basah itu selalu tersenyum, la seorang gadis yang lincah, jenaka dan penuh gairah, Pakaiannya juga seperti seorang gadis petani, akan tetapi, gadis berusia tujuhbelas tahun ini juga tidak patut menjadi seorang gadis dusun.
Seolah-olah tingkah dan wibawanya tidak seperti seorang gadis yang bodoh dan sederhana.
Mereka berdua berjalan perlahan di dalam hutan itu.
Tiba-tiba pemuda itu memegang legan si gadis, mulutnya diruncingkan.
"Sshhhh........"
Dia memberi isarat agar gadis itu tidak mengeluarkan suara.
Gadis itupun menutup mulutnya dengan tangan, lalu ikut melirik ke kanan karena ia melihat pemuda itu menoleh ke kanan.
Benar saja, ada seekor kijang muda berjalan tak jauh dari situ, di antara semak-semak.
Saking gembiranya, gadis itu menunjuk dengan jari tangannya dan berbisik........"itu di sana ......."
Sedikit suara ini sudah cukup bagi sang kijang yang memiliki pendengaran amat peka.
Tadi binatang itu tidak mengetahui kedatangan mereka karena arah angin datang dari depan, akan tetapi begitu gadis remaja itu berbisik, binatang itu mendengarnya dan sekali bergerak, tubuhnya yang ramping itu telah meloncat dengan cepat bukan main.
Akan tetapi, pemuda tampan itu menggerakkan tangannya dan nampak sinar terang menyambar.
Kijang itu yang sedang melompat dan masih berada di udara, lalu terpelanting dan terbanting roboh, berkelojotan sebentar lalu diam Pemuda itu menggandeng tangan sang gadis remaja.
Mereka berlari mengbampiri dan ternyata kijang itu telah mati dengan dada ditembusi sebatang bambu runcing yang tadi dia lontarkan.
Akan tetapi ketika pemuda itu menjulurkan tangan hendak meraba, dia berseru.
"Ihh"
Dan menarikkembali tangannya. Melihat pemuda itu terkejut, gadis yang lincah tadi memandang heran dan bertanya "Ada apakah, mbakayu Wulan?"
"Pemuda itu sebenarnya adalab Wulansari yang menyamar sebagai pria, sedangkan gadis lincah itu adalah Puteri Gayatri. Seperti kita ketahui, Wulansari terpaksa mengajak Gayatri minggat dari istana Daha ketika Sang Prabu Jayakatwang memaksa agar Gayatri malam itu melayaninya, baik dengan sukarela maupun dipaksa. Karena tidak melihat lain jalan untuk menyelamatkan sang puteri, terpaksa Wulansari mengajaknya minggat. Ia juga merasa tidak suka kepada raja yang kini seolah mabuk kemenangan dan mengandalkan kekuasaan itu, maka sambil mengajak Dyah Gayatri melarikan diri, iapun membawa tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala bersamanya. Wulansari mengajak Gayatri melarikan diri ke utara, menyusuri sepanjang Sungai Brantas, lalu mempergunakan perahu terus mengikuti aliran sungai yang makin ke utara semakin membesar itu. Setelah melakukan perjalanan dengan perahu berhari-hari lamanya, ketika perahu membelok ke timur, Wulansari mengajak Gayatri melanjutkan perjalanan dengan kaki, terus ke utara sampai jauh meninggalkan tapal batas Kediri dan memasuki tapal batas Tuban. Dengan menyamar sebagai seorang pria dengan nama Bambang Wulandoro dan adiknya perempuan yang diberi nama Pusparasmi. Mereka tinggal mondok di rumah seorang janda tua di dusun Kalasan. Dengan simpanan barang perhiasan mereka, kedua orang ini mampu hidup serba cukup di dusun itu. Janda tua itu sama sekali tidak tahu bahwa Bambang Wulandoro sesungguhnya seorang wanita cantik. Juga sama sekali tidak pernah menduga bahwa Pusparasmi adalah Sang Puteri Dyah Gayatri. Merasa aman dalam persembunyian mereka, Wulansari kadang-kadang mengajak Puteri Gayatri untuk berburu binatang di hutan seperti yang mereka lakukan pada hari itu. Tentu saja tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala telah disembunyikan oleh Wulansari. Tidak mau ia menyimpan pusaka itu sembarangan. Ia menyembunyikan pusaka itu di dalam pohon. beringin, di puncaknya, diikatkan pada batang pohon itu dengan erat. Takkan ada seorangpun menduga pusaka itu disimpan di sana, dan tidak kelihatan dari bawah. Juga tidak ada babaya ketahuan orang karena tidak ada penduduk dusun berani memanjat pohon beringin yang tua dan besar itu. Bukan takut karena tingginya melainkan takut karena sudah menjadi kebiasaan dan kepercayaan umum mereka menganggap pohon beringin, apa lagi yang besar dan tua, sebagai pohon keramat. Demikianlah, pada hari itu Wulansari dan Gayatri memburu binatang. Wulansari yang memiliki kesaktian itu hanya mempergunakan senjata sebatang bambu runcing, bambu kuning yang kecil dan kuat. Dan dengan lontaran bambu runcing ini ia sudah berhasil merobohkan seekor kijang muda. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia hendak menjamah kijang itu, melihat sesuatu pada leher binatang itu sehingga ia menarik kembali tangannya dan mengeluarkan seruan kaget. Teguran Gayatri, yang menyebutnya "mbakayu Wulan"
Membuat ia semakin kaget dan cepat ia menangkap lengan puteri itu dan berbisik.
"Awas, jangan sebut aku mbakayu, ada orang di sini........"
Ketika puteri itu memandang semakin heran, Wulansari atau Bambang Wulandoro menudingkan telunjuknya ke arah leher kijang.
Puteri Gayatri atau Pusparasmi memandang dan iapun terbelalak.
Pada leher kijang itu nampak menancap sebatang besi yang bentuknya segi tiga runcing, dan benda itu menancap di leher kijang sampai masuk semua, yang nampak hanya sedikit gagangnya dan ronce benang merah terjurai di leher binatang itu.
"Adikku Puspa, engkau berdiamlah di sini dan jangan bergerak. Ada orang lain di sini dan biarkan aku menghadapinya"
Kata Bambang Wulandoro kepada adiknya. Pusparasmi maklum bahwa sekali ini ia harus bersandiwara, maka iapun menjawab.
"Baklah, kakang Wulandoro"
Bambang Wulandoro siap menghadapi segala kemungkinan.
Dia berdiri dengan kaki terpentang lebar, kepalanya bergerak ke kanan kiri, matanya melirik ke sekeliling dan sikapnya waspada.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang, suara yang agaknya terkejut dan terheran.
Dengan gerakan cepat, Bambang Wulandoro membalikkan tubuhnya, siap menghadapi segala kemungkinan, sedangkan Pusparasmi juga memutar tubuhnya.
Kedua orang gadis ini terkejut dan memandang terheran-heran kepada pemuda yang berdiri di depan mereka.
Seorang pemuda yang aneh bentuk pakaiannya.
Baju lengan panjang dan celana itu berwarna biru tua, kakinya dari lutut ke bawah dibelit kain tebal kuning dan kakinya bersepatu.
Rambutnya panjang digelung dan diikat ke atas.
Wajah pemuda itu tampan, hanya sepasang matanya sipit dan kulit mukanya kekuningan walaupun gelap karena banyak tertimpa sinar matahari.
Tubuhnya tinggi tegap.
Mata yang sipit itu bersinar tajam, nampak tabah, apa lagi karena dilindungi sepasang alis yang hitam tebal.
Akan tetapi mulut itu tersenyum ramah dan aneh.
Sebagai seorang puteri raja, Pusparasmi pernah melihat utusan dari Negara Cina, maka begitu melihat pemuda di depannya ini, iapun dapat menduga bahwa pemuda itu seorang Cina.
Akan tetapi, Bambang Wulandoro belum pernah melihat bangsa itu, maka diapun memandang heran.
Sejenak, tiga orang itu saling pandang dan pemuda Cina itu lalu memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.
Dia tersenyum dan ketika dia mengeluarkan suara, ternyata dia dapat berbahasa daerah, walaupun logatnya aneh dan pelo, namun cukup dapat dimengerti.
"Maafkan saya. Ini....."
Kijang ini punya saya karena saya menjatuhkannya dengan senjata piauw (senjata rahasia). Nah, itu masih nampak piauw saya di lehernya"
Pemuda itu memang seorang pemuda Cina dan dia bukan lain adalah Lie Hok Yan, pendekar yang menjadi sute dari Kau Seng, seorang di antara tiga orang panglima yang memimpin dua ratus ribu orang perajurit dari Tiongkok yang diutus oleh Kaisar Kubilai Khan untuk berlayar ke Jawa dan untuk menyerang Raja Kertanagara yang telah berani menghina utusan kaisar, yaitu Panglima Meng Ki.
Kaisar Kubilai Khan mengutus tiga orang panglimanya, yaitu She Pei, Kau Seng, dan Ji Kauw Mosu, memimpin duaratus ribu orang perajurit berlayar ke selatan menuju Kerajaan Singosari.
Di antara para perwira muda terdapat banyak pula orang Han, dan satu di antaranya adalah Lie Hok Yan.
seorang pendekar yang masih terhitung sute (adik seperguruan) dari Panglima Kau Seng.
Ketika kapal-kapal dalam suatu armada besar itu berlayar ke selatan, mereka diserang angin ribut.
Namun mereka telah siap menghadapi itu dan mereka membawa banyak ahli pelayaran sehingga pelayaran itu dapat lancar menuju selatan walaupun sebagian besar para perajurit yang biasanya hanya bergerak di darat, menjadi mabuk.
Berhari-harian mereka itu bertiduran saja, tidak mau makan.
Akhirnya, setelah armada sampai di Pulau Biliton, armada itu dipecah.
Ji Kauw Mosu berangkat lebih dulu dengan limaratus orang perajurit dalam sepuluh buah kapal, sedangkan yang lainnya melalui Karimun Jawa menuju ke Tuban.
Setelah tiba di Tuban, separuh dari balatentara mereka mendarat, sedangkan yang separuh lagi melanjutkan pelayaran mereka ke arah timur di bawah pimpinan Panglima She Pei, menuju ke Sungai Sedayu menyusul pasukan yang berangkat lebih dulu dipimpin Ji Kauw Mosu.
Mereka mendarat di muara Sungai Sedayu.
Sebelum melakukan gerakan penyerbuan ke arah selatan, Panglima She Pai lebih dulu menyebar para mata-mata untuk menyelundup dan mengamati keadaan.
Dan mereka yang diselundupkan menjadi mata-mata adalah orang-orang muda yang selain memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, juga yang sudah dipersiapkan untuk pekerjaan ini maka mereka itu rata-rata sudah mahir berbahasa daerah.
Di antara mereka itu terdapat Lie Hok Yan.
Dan pada hari itu tibalah dia di daerah Kalasan, sebuah dusun di tapal batas Tuban, dan karena perutnya terasa lapar dan dia berada di hutan, maka ketika melihat berkelebatya seekor kijang yang lari tak jauh dari situ, dia cepat menyerangnya dengan senjata rahasia piauw.
Sambitannya tepat mengenai leher kijang dan dia melihat betapa kijang itu roboh dalam semak belukar.
Maka, diapun cepat mencari kijang itu dan bertemu dengan seorang pemuda tampan bersama seorang gadis vang amat cantiknya.
Maka, setelah memberi hormat, Lie Hok Yan lalu mengatakan bahwa kijang itu miliknya karena dia telah membunuhnya dengan senjata piauw yang masih menancap di leher binatang itu.
Akan tetapi pemuda tampan itu mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar ketus ketika dia berkata.
"Apa kau bilang? Bukan engkau yang merobohkan kijang ini, melainkan aku. Lihat bambu runcing itu. Aku yang melontarkan bambu runcing dan kijang ini mati karena adanya ditembusi bambu runcingku Engkau enak saja mengaku-aku. Ini adalah hasil buruanku"
Lie Hok Yan memandang ke arah bangkai kijang itu dan matanya yang sipit agak dilebarkan.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa memang ada bambu kuning yang runcing menembus dada kijang itu dan tidak perlu diperdebatkan senjata mana yang lebih ampuh dan lebih pantas membunuh binatang itu.
Piauwnya hanya kecil saja, terbenam di leher kijang itu tidak lebih dari sejengkal.
Akan tetapi bambu runcing itu menembus dari dada sampai ke punggung.
Tadi, pandang matanya terpesona oleh gadis cantik jelita yang berdiri sambil tersenyum di situ maka dia kurang memperhatikan kijang yang menggeletak mati di antara semak-semak.
"Ah, binatang ini sungguh sial, mati di bawah serangan dua senjata. Tak dapat kusangkal, sobat. Tombak bambumu lebih mutlak membunuh binatang ini. Akan tetapi kalau diteliti, jelas bahwa senjataku yang lebih dulu mengenai tubuh kijang ini, setelah itu barulah senjatamu yang mengenainya"
"Wah, enak saja kau bicara"
Tiba-tiba Pusparasmi berseru dengan sikap galak. Ia maju dan bertolak pinggang, memandang kepada pemuda itu dengan mata bersinar-sinar.
"Apa buktinya bahwa senjatamu yang lebih dulu mengenainya? Yang jelas, senjata kakakku yang telah merobohkannya"
Hok Yan memandang dan dia terpesona sampai lama tidak mampu dia menjawabnya Sudah banyak dia melihat wanita cantik, akan tetapi selama hidupnya baru ini dia bertemu dengan seorang gadis yang begini cantik jelita dan manisnya.
Kulit wajah sampai leher, pundak dan kedua lengannya begitu putih mulus tanpa cacat sedikitpun.
Wajah itu demikian manis dan cantik, rambutnya panjang terurai ke belakang dan anak rambut yang halus melingkar-lingkar di dahi.
Sepasang mata yang seperti bintang dan biarpun ia sedang marah, namun kalau bicara matanya menari-nari dan bibirnya bergerak-gerak penuh tantangan untuk dicumbu.
Wajah yang seperti dalam dongeng saja.
Semenjak kapalnya berlabuh di pantai Tuban dan dia mendarat bersama pasukan, kemudian dia ditugaskan sebagai mata-mata mencari berita, banyak sudah dia melihat wanita Jawa, akan tetapi belum permah yang seperti ini.
Seketika jantung dalam dada Hok Yan seperti berhenti berdenyut dan dia terpesona, hanya memandang tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.
"Hei, kenapa kau bengong saja? Hayo jawab pertanyaan adikku"
Bambang Wulandoro membentak, juga diam-diam geli melihat tingkah pemuda asing itu.
Sebagai seorang wanita, tentu saja ia dapat menduga bahwa pemuda asing ini terpesona oleh kecantikan Dyah Gayatri dan iapun tidak merasa heran.
Pemuda mana yang tidak akan terpesona melihat kecantikan sang puteri itu?
Dibentak seperti itu, Hok Yan tersipu dan mukanya yang berkulit putih kekuningan itu berubah kemerahan.
"Eh....... ahh........ begini... Bukan maksud saya hendak mencari keributan. Kalau memang kalian menghendaki kijang ini, silakan. Akan tetapi saya merasa lapar sekali, kalau boleh saya mendapatkan sebuah kakinya saja, kaki belakang berikut pahanya, atau boleh juga kaki depan, sudah cukuplah......"
"Sudah, tidak perlu banyak cakap. Jawab pertanyaanku tadi. Apa buktinya bahwa senjatamu yang lebih, dulu mengenainya?"
Pusparasmi mendesak.
"Begini....... ah, mudah saja. Lihat, bambu runcing itu menusuk dari dada tembus ke punggung. Hal ini tidak mungkin terjadi kalau kijang itu sedang berlari, tentu yang terkena tombak bambu itu bagian sisi, menembus ke sisi yang lain atau kalau tombak itu meluncur dengan lengkungan, maka yang tertusuk adalah punggungnya yang menembus ke dada bukan dari dada menembus ke punggung. Maka, jelas bahwa tentu kijang itu terlebih dahulu terkena senjata piauwku dan saking kaget dan nyeri, mungkin juga sekarat, dia melompat ke atas dan tubuhnya miring sehingga tepat dadanya disambar tombak bambu itu. Dengan demikian, maka senjata rahasiaku yang lebih dulu mengenai tubuhnya"
Bambang Wulandoro mengerutkan alisnya dan dia memandang bangkai kijang itu penuh perhatian.
Diam-diam dia harus mengakui kebenaran alasan yang dikemukakan pemuda asing itu, dan dia menjadi penasaran sekali.
"Hemm, sobat. Apakah dengan demikian engkau hendak mengatakan bahwa lontaran bambu runcingku masih kalah hebat dibandingkan sambitan senjata rahasiamu itu?"
Pemuda itu menggeleng kepala dan tersenyum.
"Ah, tidak....... maksudku bukan begitu ......."
Akan tetapi Bambang Wulandoro sudah mencabut bambu rucingnya dari tubuh kijang.
"Ambil senjata rahasiamu itu dan kita boleh buktikan, sambitan siapa yang lebih jitu"
Tantang Bambang Wulandoro.
Lie Hok Yan teringat akan tugasnya.
Dia tahu betapa tidak baiknya kalau mencari permusuhan selagi dia menjalankan tugas penting itu.
Apa lagi dengan pemuda tampan itu adalah kakak dari gadis yang seperti bidadari itu?
Tidak, dia sama sekali tidak ingin mencari permusuhan.
Akan tetapi, sebagai seorang pemdekar, dia sudah merasa amat tertarik melihat betapa bambu runcing itu tepat mengenai dada kijang dan menembus ke punggung.
Juga ketika pemuda tampan itu tadi mencabut bambunya, pemuda itu tidak mempergunakan tenaga kasar dan diam-diam diapun terkejut, menduga bahwa orang ini tentu bukan orang sembarangan Dia merasa tertarik dan ingin sekali melihat sendiri betapa hebatnya orang itu melontarkan tombak bambunya.
Maka, diapun mencabut piauw yang masih menancap di leher kijang.
"Biar kubuatkan sasarannya"
Tiba-tiba Pusparasmi berseru dan ia sudah berlari kecil menuju ke sebuah pohon besar.
Di batang pohon besar itu ia menempelkan sebatang daun sirih, lalu ia menghampiri lagi mereka.
Bambang Wulandoro mengangguk.
"Dari sini, jaraknya cukup dan daun itupun cukup kecil. Hendak kulihat sampai di mana kejituan sambitanmu dengan senjata rahasia itu. Nah, sambitlah daun yang menempel di batang pohon itu"
Sebetulnya, dalam keadaan biasa, Hok Yan bukan seorang pemuda yang suka menyombongkan kepandaianya.
Dia sudah mempelajari penggunaan piauw secara mahir sekali dan belum pernah dia sengaja mempertontonkan kepandaiannya ini di depan orang lain.
Akan tetapi sekali ini, selain untuk menyambut tantangan pemuda tampan itu, juga dia secara tiba-tiba saja ingin memamerkan kepandaiannya di depan gadis jelita seperti bidadari itu.
"Baiklah, lihat piauwku"
Dengan gerakan tiba-tiba dan sangat cepat, tangannya bergerak dan nampak sinar merah meluncur cepat ke arah pohon, dan tahu-tahu senjata piauw itu telah menancap di pohon tepat di tengah daun sirih, menembus daun dan menancap dalam.
Tinggal sisa sedikit gagang piauw yang berada, di luar kulit batang pohon.
"Hebat......"
Pusparasmi berseru dan bertepuk tangan memuji.
Gadis ini memang memiliki watak yang terbuka dan langsung saja ia memuji karena ia merasa kagum sekali.
Melihat gadis seperti bidadari itu bertepuk tangan memuji, Hok Yan merasa seolah-olah, kepala dan dadanya menggelembung besar seperti balon karet ditiup.
Bambang Wulandoro mengangguk-angguk, Diam-diam diapun kagum, bukan hanya oleh ketepatan bidikan pemuda itu, melainkan terutama sekali oleh kecepatannya menggerakkan senjata rahasia itu.
Akan tetapi tentu saja dia tidak mau kalah.
"Basus, sekarang lihat kejituan bambu rancingku"
Kata Bambang Wulandoro dan diapun membidikkan bambu runcing di tangannya, dipegangnya seperti memegang tombak dengan tangan di atas pundak, kemudian tiba-tiba dia melontarkan tombak itu dari belakang pundak ke depan.
Sinar kuning berkelebat ketika bambu kuning yang ujungnya runcing itu meluncur bagaikan kilat ke arah pohon.
"Cappp......."
Gagang tombak bambu itu bergoyang-goyang dan tergetar dan bambu menancap pada batang pohon, persis di tengah daun sirih dan kini senjata rahasia piauw tadi lenyap tertekan oleh ujung bambu ke dalam batang pohon, lenyap berikut ronce merahnya.
Kembali Pusparasmi bertepuk tangan memuji.
"Engkau hebat, kakang Wulandoro"
Soraknya.
Lie Hok Yan juga mengangguk-angguk dengan penuh kagum.
Pemuda Jawa yang amat tampan ini sungguh memiiiki ilmu kepandaian vang hebat.
Bambang Wulaudoro yang merasa menang karema bambu runcing itu tepat mengenai senjata lawan sehingga senjata rahasia yang Kecil itu lenyap ke dalam batang pohon, sogera ia menghadapi Hok Yan dan bertanya.
"Nah, bukankah bambu runcingku lebih menang dibadingkan senjatamu itu?"
Tadinya Lie Hok Yan tidak ingin bersitegang, akan tetapi nada suara yang mengandung ketinggian hati dan kemenangnn itu sempat membuat hati mudanya penasaran.
Ia memberi hormat dan berkata dengan lembut.
"Sobat. Memang ilmu melontarkan tombak bambu itu sungguh hebat. Akan tetapi terlalu lambat. Dibandingkan dengan piauwku, maka tombakmu itu jauh kalah cepat penggunaannya. Kalau engkau sedang menarik tombak itu ke belakang pundak, piauwku sudah meluncur mengenai sasaran. Itulah kelebihan senjataku"
Bambang Wulandoro menjadi marah mendengar pemuda asing ini belum juga mau mengakui keunggulannya.
"Begitukah? Engkau masih merasa lebih hebat dariku? Kalau begitu, sobat asing, majulah dan mari kita coba-coba mengadu kepandaian"
Berkata demikian, Bambang Wulandoro memasang kuda-kuda dan siap berdiri di depan pemuda asing itu.
Hok Yan cepat menggerak-gerakan tangan Kanan menolak "Sobat, aku datang ke sini bukan untuk mencari permusuhan tanpa sebab.
Kalau engkau hendak mengambil kijang itu, silakan, dan kalau engkau tidak mau memberi bagian sedikit kepadaku juga tidak mengapalah.
Akan tetapi aku tidak ingin bermusuhan, tidak ingin berkelahi"
Bambang Wulandoro menurunkan kedua angannya dan berdiri tegak.
"Hemm, siapa yang mengajak bermusuhan dan siapa yang mengajak berkelahi? Aku hanya ingin menguji kepandaianmu. Kalau engkau memang memiliki kepandaian tinggi dan lantas menjadi sahabat, aku akan memberi bagian daging kijang. Sebaliknya kalau engkau hanya seorang pembual dan pengganggu saja, engkau boleh pergi tanpa bagian daging kijang. Nah, sekali lagi aku tantang kau untuk mengadu ilmu kepandaian? Majulah, kecuali kalau kau takut. Aku tidak akan. memaksa orang yang takut"
Sepasang mata yang sipit itu berkilat.
Kelemahan seorang pendekar tersentuh, dan hal ini memang disengaja oleh Bambang Wulandoro yang cerdik.
Pendekar manapun di dunia ini akan bangkit kalau disebut pengecut atau penakut.
Demikian pula Hok Yan.
Alisnya yang tebal berkerut dan diapun memandang kepada Bambang Wulandoro dengan pandang mata tajam.
"Takut? Aku .......takut? Sobat, apakah kau hanya akan menguji kepandaian? Tidak ada dendam kebencian sebagai musuh? Yakinkah hatimu? Kalau benar demikian, dengan senang hati aku akan melayanimu bertanding. Akan tetapi kalau dalam hatimu ada dendam kebencian, aku akan mundur karena aku tidak ingin berkelahi, tidak ingin mencari musuh"
Bambang Wulandoro mulai merasa suka kepada pemuda asing ini. Seorang pemuda yang pandai menyembunyikan kepandaian dibalik sikap yang rendah hati.
"Aku yakin, sobat, Marilah, aku ingin sekali mengenai ilmu silatmu"
Katanya dan kembali ia memasang kuda-kuda.
Lie Hok Yan merangkap kedua tangan depan dada, kepalan kanan digenggam menempel pada telapak tangan kiri yang dibuka, lalu.
tiba-tiba kedua kakinya dipentang lebar, kedua lutut ditekuk, tangan kanan diacungkan keatas, yang kiri ke bawah, lalu kedua lengan itu perlahan-lahan bergerak ke kanan kiri, terentang seperti sikap seekor burung hendak terbang.
Sepasang mata yang indah dari Bambang Wulandoro bersinar, wajahnya berseri dan diapun sudah menerjang ke depan sambil berseru.
"Lihat seranganku. Aiiittt ........"
Tangan kanannya menyambar, dengan jari tangan terbuka menempiling ke arah pelipis kiri kepala lawan.
Melihat tamparan yang datang dengan dihului sambaran angin pukulan yang dahsyat itu, Hok Yan terkejut dan cepat dia mengelak dan melangkah mundur.
Namun, lawannya tidak memberi kesempatan, susulan tangan kiri yang terbuka menghantam ke arah dadanya.
Sekali ini, untuk mengukur tenaga lawan.
Hok Yan menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukk"
Dua buah lengan beradu dan akibatnya, keduanya terdorong ke belakang sampai tiga langkah.
Dua orang muda itu terkejut dan saling pandang, kini kekaguman terpancar dari pandang mata mereka.
Akan tetap di samping kekaguman mereka atas kekuatan lawan, bukan kekuatan tenaga otot melainkan tenaga dalam yang terasa sekali dalam adu lengan tadi, ada pula perasaan penasaran mengganjal di hati Bambang Wulandoro.
"Lihat serangan"
Bentaknya lagi dan kini dia menyerang setelah menggosok-gosok kedua telapak tangan.
Serangannya cepat dan ketika Hek Yan mengelak, dia terkejut bukan main, karena ada hawa panas menyambar bersam apukulan itu, Dia tidak tahu bahwa Bambang Wulandoro telah mempergunakan aji kesaktiam Segoro Umub, yaitu ilmu pukulan yang mengandung hawa panas.
Tahulah Hok Yan bahwa lawannya benar amat tangguh dan memiliki ilmu yang membuat pukulannya mengandung hawa yang panas, seorang lawan yang telah memiliki sinkang (tenaga sakti) yang ampuh.
Maka, diapun mengeluarkan ilmu silatnya yang membuat tubuhnya bergerak cepat, berloncatan.
ke sana-sini menghindarkan setiap sambar tangan lawan sambil kadang-kadang membalas dengan pukulan yang tidak kalah hebatnya.
Setelah lewat tiga puluh jurus, tiba-tiba Bambang Wulandoro mengeluarkan teriakan, melengking dan tangan kirinya menyambar dahsyat bukan main, Itulah Aji Gelap Sewu yang amat berbahaya, yang terpaksa dikeluarkan olehnya karena dia merasa kewalahan untuk dapat mengalahkan lawan yang memiliki gerakan gesit laksana monyet itu.
Tamparan yang dahsyat itu tidak mungkin dapat dielakkan, maka Hok Yan lalu menangkis sambil miringkan tubuhnya.
"Desss......."
Dia mampu menangkis sehingga terhindar dari tamparan maut, akan tetapi kekuatan Aji Gelap Sewu sedemikian hebatnya sehingga Hok Yan terhuyung ke belakang dan nyaris terbanting jatuh kalau dia tidak lekas berjungkir balik membuat poksay (salto) sampai tiga kali ke belakang.
Begitu dia berdiri, pemuda ini cepat membungkuk dan memberi hormat.
"Hebat.........Sungguh engkau hebat sekali, sobat"
Akan tetapi Bambang Wulandoro masih belum puas.
Dia tidak ingin melukai lawan, dan melihat kegesitan lawan, dia percaya bahwa lawan akan mampu menghindarkan diri dari ancaman maut.
Dia hanya ingin melihat lawannya itu terjatuh, karena sebelum hal ini terjadi, dia belum dapat dikatakan menang.
Maka, diapun meloncat dengan gesitnya ke depan lawan, lalu menyerang lagi sambil membentak.
"Kita lanjutkan. Lihat seranganku"
Kembali dia menyerang dengan pukulan Gelap Sewu yang ampuh.
Melihat ini, sambil meloncat ke samping untuk menghindarkan diri, Hok Yan merasa penasaran sekali.
Mengapa orang ini mendesak terus, pikirnya.
Bukankah katanya hanya ingin menguji kepandaian?
Karena merasa penasaran, diapun mengeluarkan semua kepandaiannya dan seperti tadi mengandalkan kecepatan gerakannya berloncatan ke sana-sini sambil balas menyerang.
Kembali terjadi pertandingan yang amat seru dan demikian cepat gerakan mereka berdua sehingga Pusparasmi yang sejak tadi menonton merasa pening dan pandang matanya kabur.
Kembali belasan jurus lewat dengan cepatnya.
"Heiiitt........"
Tiba-tiba Bambang Wulandoro berteriak dan menyerang dengan gerakan menyamping, tangannya menampar ke arah dada lawan.
Hok Yan terkejut sekali dan dia miringkan tubuh sambil tangannya mencengkeram ke arah leher lawan.
"Bukkk"
Pundak Hok Yan terkena tamparan sakti.
"Brettt"
Baju yang menutupi tubuh atas Bambang Wulandoro kena dicengkeram dan terenggut robek di bagian dada.
Hok Yan terpelanting, dan ketika dia roboh terlentang, dia melihat dada itu dan dia pun mengeluarkan seruan sambil bergulingan menjauhkan dirinya.
Dia duduk membelakangi lawan, kedua tangan memegangi kepala yang terasa pening, Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Wulansari ketika bajunya tercengkeram robek sehingga dadanya nampak telanjang.
Ia tadi melihat lawannya terbelalak lalu bergulingan menjauh.
Dengan muka merah sekali dan hati panas karena marah ia menutupi dadanya dengan tangan kiri, lalu melangkah maju dengan kemarahan meluap.
"Kau........ kau........ kurang ajar......"
Bentaknya. Hok Yan tidak bergerak.
"Maaf, aku tidak tahu....... maaf........ saya tidak sengaja....."
Wulansari yang sudah marah sekali itu masih teringat akan keadaan dirinya yang kelihatan buah dadanya itu, maka ia menahan kemarahannya, lalu mempergunakan sisa baju itu untuk membalut bagian dadanya.
Bajunya menjadi tidak karuan, kedua lengannya kini telanjang, akan tetapi setidaknya, dadanya tertutup rapat.
Melihat betapa Hok Yan masih duduk membelakanginya, ia maju dan bermaksud memukul lagi karena dianggapnya pemuda asing itu telah menghinanya.
Akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan-teriakan dan muncullah belasan orang perajurit Daha yang berpakaian seragam.
Mereka dipimpin oleh seorang perwira tinggi besar seperti raksasa.
"Tangkap mata-mata musuh"
Demikian mereka berteriak-teriak dan mengepung tiga orang muda itu. Ketika perwira itu melihat Pusparasmi, dia terbelalak dan menudingkan goloknya.
"Wah, itu Sang Puteri Dyah Gayatri yang melarikan diri dari istana. Dan ini........ bukankah dia ini Wulansari yang menyamar sebagai pria?"
Dia lalu memberi isarat kepada anak buahnya.
"Tangkap mereka"
Melihat ini, Wulansari mengurungkan niatnya menghantam pemuda asing tadi dan ia alu menerjang dan menyerang si raksasa yang cepat memutar goloknya.
Dia segera dibantu oleh anak buahnya dan kini Wulansari dikeroyok oleh belasan orang.
Dua orang anggauta pasukan kecil itu kini menghampiri Dyah Gayatri dengan sikap mengancam.
Mereka menyeringai menakutkan.
"Haha, puteri cantik. Menyerah saja kami tawan dan bawa kembali ke istana Daha"
Kata seorang dari mereka.
Keduanya sudah maju untuk menubruk sang puteri yang cantik itu.
Tentu saja mereka tidak berani mengganggu, akan tetapi baru dapat memegang saja mereka sudah akan merasa puas dan senang.
"Plak. Plakk"
Dua buah tamparan membuat mereka terpelanting dan tidak mampu bangkit kembali.
Kiranya sebelum mereka tadi "berhasil menyentuh tubuh Gayatri, Hok Yan sudah meloncat dan mengirim pukulan ke arah mereka.
Pukulan cepat yang tidak tersangka-sangka dan membuat mereka berdua terpelanting untuk tidak bangun kembali karena mereka roboh pingsan.
Dan kini Hok Yan sudah terjun ke dalam medan perkelahian, membantu Wulansari yang masih dikeroyok oleh belasan orang.
Gadis perkasa itu juga sudah merobohkan tiga orang pengeroyok, akan tetapi raksasa yang memimpin pasukan itu ternyata kuat juga.
Goloknya menyambar nyambar sehingga membuat Wulansari harus waspada dan berloncatan ke sana-sini.
Melihat itu, Hok Yan sudah menerjang raksasa itu dengan tendangan kilatnya dari samping.
Raksasa itu menggunakan lengan kirinya menangkis tendangan.
"Desss......"
Tubuh raksasa itu terdorong ke belakang dan dia menjadi geram bukan main melihat pemuda asing itu membantu Wulansari.
Maka, dengan golok diputar-putar, dia sudah menyerang Hok Yan dengan ganas.
Akan tetapi, sekali ini dia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kegesitan melebihi seekor kera.
Tubuh Hok Yan berubah menjadl bayangan biru yang berkelebatan diantara sinar goloknya, bahkan setelah lewat belasan jurus, tangan kiri Hok Yan berhasil enampar pundaknya.
Perwira tinggi besar itu terhuyung ke belakang dan meringis kesakitan, akan tetapi ternyata tubuhnya juga memiliki kekuatan dan kekebalan.
Tamparan itu hanya membuat dia meringis dan merasa nyeri sebentar, lalu dia membalik dan menyerang lagi membabi buta.
Sementara itu, setelah kini perwira raksasa itu dihadapi Hok Yan dan ia hanya dikeroyok oleh para perajurit, Wulansari mengamuk bagaikan seekor harimau betina terluka.
Dua pasang kaki dan tangannya merupakan senjata-senjata ampuh dan setiap kali kaki atau tangannya menyambar, tentu disusul robohnya seorang pengeroyok, didahului teriakannya.
Hok Yan maklum bahwa sebelum perwira raksasa itu dikalahkannya, tentu para perajurit itu akan terus mengeroyok dengan nekat.
Maka, sambil terus mempergunakan kecepatan gerak badannya untuk menghindarkan diri dari semua serangan golok lawan, diapun mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk membalas.
Dua kali lagi tangannya yang menampar mengenai tubuh lawan, disusul sebuah tendangan yang tepat mengenai perut lawan dan akhirnya robohlah perwira yang kuat itu, Wulansari juga sudah merobohkan enam orang lagi.
Melihat robohnya pemimpin mereka, sisa para perajurit menjadi panik dan mereka lalu menolong teman-teman yang terluka atau pingsan, dan bersama-sama melarikan diri.
Si tinggi besar itupun terpaksa melarikan diri dengan kaki terpincang-pincang.
Wulansari dan Hok Yan berdiri saling berpandangan, Melihat betapa gadis yang menyamar pria itu kini tidak karuan lagi pakaiannya, baju lengan panjang itu kini dibelitkan dada, Hok Yan menundukkan mukanya, Gara-gara dialah gadis itu terbuka rahasia penyamarannya dan dia merasa menyesal, juga kasihan dan kagum.
Tak disangkanya bahwa pemuda tampan yang gagah perkasa itu malah hanya seorang gadis.
Seorang gadis perkasa yang bukan main.
"Nona, maafkan saya, Sungguh mati saya tadi tidak sengaja hendak menghinamu, tidak sengaja hendak merobek pakaianmu. Saya mengira bahwa engkau seorang pemuda tulen. Maafkan saya, dan saya siap menanti hukuman kalau nona merasa terhina"
Wulansari tersenyum.
Memang tadi ia marah sekali karena nafsu amarah membisikkan bahwa pemuda asing di depannya ini telah menghinanya, menelanjangi dadanya.
Akan tetapi kini, setelah melihat betapa pemuda asing itu mati-matian membelanya, bahkan mengalahkan perwira raksasa tadi, dan kini melihat pemuda itu minta maaf dan menyatakan penyesalannya, iapun menyadari bahwa pemuda asing itu sama sekali tidak bermaksud menghinanya.
"Sobat, sebetulnya, siapakah kau dan dari mana? Apa maksud tujuan kalian berada di sini"
Tadi Hok Yan mendengar ucapan para prajurit dan dia tadi terkejut bukan main mendengar bahwa gadis yang cantik seperti bidadari itu ternyata adalah Sanig Puteri Dyah Gayatri.
Sebagai mata-mata, dia tentu saja sudah mempelajari keadaan keluarga Sang Prabu Kertanegara, dan tahu bahwa Sang Dyah Gayatri adalah seorang di antara puteri raja yang akan diserang oleh pasukannya.
Dan kini sang puteri ituberada di sini.
Dari hasil penyelidikannya, diapun mendengar bahwa Raja Kertanegara telah tewas dalam perang ketika Kerajaan Singosari diserbu oleh Raja Daha.
Dia mendengar bahwa kini keadaan menjadi kacau.
Singosari yang akan diserang pasukannya telah terjatuh ke tangan Raja Jayakatwang dari Daha atau Kediri.
Dan puteri itu adalah seorang pelarian.
Juga wanita cantik yang menyamar?
sebagai pria ini jelas yang membantu pelarian Sang Puteri, maka mudah dia menduganya bahwa tentu wanita perkasa ini seorang dari Singosari, sedangkan pasukan yang menyerang tadi adalah pasukan dari Kerajaan Daha yang menang perang.
Keadaan ini jelas bagi Hok Yan, maka diapun menjawab tanpa ragu lagi.
"Nona, terus terang saja, saya bernama Lie Hok Yan dan saya adalah seorang perwira muda dari pasukan yang datang dari Negara Cina, utusan dari kaisar kami yang mulia Kubilai Khan. Saya bertugas untuk melakukan penyelidikan ke pedalaman ibu kota Kerajaan Singosari. Wulansari terkejut bukan main mendengar ini dan pandangannya terhadap pemuda asing itu berubah seketika. Kiranya seorang perwira muda dari Negeri Cina yang kabarnya amat besar dan kuat itu. Pantas memiliki ilmu kepandaian yang demikian tinggi.
"Ah, kiranya begitukah? Mari kita pergi ke tempat aman karena pasukan tadi tentu akan datang lagi membawa bala bantuan yang lebih besar. Sebaiknya kita mencari tempat aman baru bicara"
Berkata demikian, Wulansari menggandeng tangan Dyah Gayatri dan pergi meninggalkan tempat itu.
Hok Yan mengikutinya dari belakang.
Mereka keluar dari hutan itu, melewati bukit dan memasuki sebuah hutan lain yang berada di puncak sebuah bukit lain sehingga dari tempat itu mereka akan dapat melihat kalau ada pasukan yang melakukan pengejaran.
"Nah, sekarang kita bicara. Kau tadi tentu mendengar bahwa gadis ini adalah Sang Puteri Dyah Gayatri dari Kerajaan Singosari yang kini telah diduduki Kerajaan Daha. Dan aku adalah seorang bekas panglima pasukan. pengawal Raja Daha yang minggat dari istama karena tidak suka melihat kelakuan Raja Jayakatwang yang tidak senonoh. Ceritakan, apa maksud kaisarmu mengirim pasukan ke sini?"
"Tadinya, pasukan kami bertugas menyerang Singosari sebagai hukuman atas tindakan Sang Prabu Kertanegara terhadap utusan kaisar kami Akan tetapi menurut hasil penyelidikanku. Sang Prabu Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singosari telah jatuh ke tangan Raja Kediri. Aku sendiri bingung memikirkan perubahan ini dan tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh atasanku kalau sudah menerima pelaporanku"
Tiba tiba Dyah Gayatri mendapat pikiran yang amat baik.
"Sobat karena pasukanmu sudah tiba di sini, kenapa tidak membantu saja kepada Raden Wijaya untuk menyerang Kerajaan Daha yang jahat itu?"
Tentu saja Hok Yan bingung mendengar ini, karena dia sama sekali tidak berwenang untuk memutuskan apa yang harus dilakukan pasukannya.
Tugasnya hanya menyelidik, maka dia merasa kebetulan sekali berjumpa dengan dua orang ini dan mengharapkan keterangan lebih banyak dari mereka untuk dilaporkan kepada atasannya.
"Usulanmu itu akan saya sampaikan kepada atasan saya, Puteri. Akan tetapi saya harus mengetahui lebih dahulu, siapakah Raden Wijaya itu dan mengapa pula kau mengusulkan agar kami membantunya menghadapi Raja Kediri" (Lanjut ke
Jilid 22) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22 Wulansari lalu memberi keterangan.
"Selama berbulan tinggal bersembunyi di sini, kami telah mendengar banyak. Ketahuilah, bahwa Raden Wijaya adalah mantu dari mendiang "Sang Prabu Kertanegara, dan sang puteri ini adalah tunaagannya. Raja Daha amat jahat dan tidak mengenal budi. Singosari yang telah berbuat baik kepada Daha, kini malah diserangnya dan didudukinya selagi Kerajaan Singosari kosong dan lemah. Harapan rakyat tingyal kepada Riden Wijaya"
Hok Yan mengangguk-angguk mengerti. Sebagian dari apa yang diceritakan itu telah didengarnya pula dalam penyelidikan.
"Akan tetapi, di mana sekarang adanya Raden Wijaya?"
Tanyanya.
"Menurut apa yang kami dengar dari rakyat yang masih setia kepada Singosari, Raden Wijaya tadinya melarikan diri ke Madura, kemudian atas bantuan Bupati Sumenep, yaitu Arya Wiraraja, Raden Wijaya menghadap Raja Daha yang menerima dengan baik. Kini, kabarnya Raden Wijaya bertugas membuka sebuah hutan besar untuk dijadikan perkampungan besar dan tempat itu diberi nama Majapahit. Kamipun akan menyusul ke sana, akan tetapi harus berhati-hati karena kalau bertemu dengan pasukan Daha, tentu mereka itu akan berusaha mati-matian untuk menangkap kami"
Hok Yan girang sekali mendengar keterangan yang cukup berharga itu.
Terserah kepada atasannya apa yang akan mereka lakukan, akan tetapi dia telah melakukan tugasnya dengan amat baik dan berhasil mengumpulkan keterangan-keterangan yang berharga.
Tiba-tiba Hok Yan bangkit berdiri dan memandang ke arah selatan.
"Lihat, di sana ada kebakaran"
Wulansari cepat meloncat berdiri, juga Gayatri.
"Celaka"
Serunya kaget.
"Dusun Kalasan terbakar? Aku harus cepat ke sana menolong penduduk"
"Kalasan? Dusun Kalasan, tempat siapa?"
Hok Yan bertanya.
"Kami tinggal di sana. Kami harus cepat pulang. Mari, puteri. Kau aku gendong saja"
Kata Wulansari dan tanpa menanti jawaban, ia telah memondong tubuh Dyah Gayatri lalu mempergunakan kesaktiannya untuk belari cepat menuruni bukit ke arah dusun yang terbakar itu.
Hok Yan memandang kagum "Bukan main wanita itu, dan bukan main cantiknya puteri itu"
Pikirpya.
Hatinya ikut merasa khawatri akan keselamatan mereka.
Bukankah baru saja mereka itu hampir celaka di tangan pasukan Daha?
Siapa tahu kebakaran di bawah sana pada suatu dusun itu ada hubungannya dengan pasukan Daha dan kalau benar demikian, berarti dua orang wanita itu menuju ke tempat yang amat berbahaya.
Maka, Hok Yan terus membayangi Wulansari yang berlari cepat sambil memondong tubuh puteri itu.
Setelah mereka tiba di iuar dusun, api nampak berkobar semakin besar.
Agaknya ada beberapa buah rumah yang terbakar, dan terdengarlah jerit-jerit wanita.
Ketika melihat bahwa agaknya dusun itu diserang sekelompok orang, Wulansari mengkhawatirkan keselamatan Dyah Gayatri.
Maka ia menurunkan puteri itu.
"Harap puteri bersembunyi di sini dulu, di balik semak-semak belukar itu. Aku akan melihat apa yang terjadi di dalam dusun"
Katanya.
Puteri Gayatri maklum bahwa ia hanya akan menjadi beban dan ia akan dapat terancam bahaya, maka iapun mengangguk dan dengan tenang ia lalu mencari tempat persembunyian di luar dusun itu.
Kini, dengan gerakan yang amat gesit dan cepat karena sudah tidak memondong tubuh sang puteri, Wulansari meloncat dan berlari ke dalam dusun.
Hok Yan merasa kagum dan diapun berkelebat menyusul masuk dusun dari mana terdengar keributan itu.
Ketika Wulansari memasuki dusun, ia segera menuju ke rumah janda tua yang merelea pondoki.
Dapat dibayangkan betapa besar rasa kaget dan kemarahannya ketika ia melihat janda tua itu telah menggeletak menjadi mayat berlumuran darah di depan rumahnya, dan rumah itupun berkobar dimakan api.
"Keparat jahanam........."
Bentaknya dan iapun cepat lari ke arah rumah lain di mana nampak ribut-ribut dan ia melihat beberapa orang perajurit Daha sedang memukuli orang-orang dusun itu.
"Hayo katakan di mana mereka"
Terdengar bentakan seorang perajurit.
"katakan di mana Puteri Dyah Gayatri dan Wulansari"
Wulansari menjadi marah sekali.
Kiranya benar seperti dugaannya, ada pasukan Daha yang mencarinya, dan melihat banyaknya perajurit yang mengamuk di dusun itu, ia tahu bahwa tentu pasukan yang tadi dihajarnya di hutan, telah mendapat balabantuan dan sedang mencari ia dan Puteri Dyah Gayatri dan karena gagal mereka mengamuk dan membakari rumah dusun, menyiksa penduduk dusun Kalasan.
"Jahanam busuk, inilah Wulansari. Jangan kalian menyiksa orang dusun yang tidak berdosa"
Teriaknya dan iapun menerjang ke depan.
Sekali ia bergerak menyerang dua orang perajurit yang sedang memukuli beberapa orang dusun itu terpelanting dan tidak dapat bangkit lagi.
Perajurit ke tiga berteriak-teriak ketika melihat Wulansari dan sebentar saja di situ sudah berdatangan puluhan orang perajurit Daha yang mempergunakan tombak atau pedang mengeroyok gadis perkasa yang tadinya menjadi panglima pasukan pengawal Prabu Jayakatwang itu.
Sementara itu, Hok Yan juga lari memasuki dusun.
Tiba-tiba ia mendengar jerit wanita yang menyayat hati dari sebuah rumah yang cukup besar.
Rumah itu tidak terbakar.
Maka, mendengar ada wanita menjerit di dalam Hok Yan menduga bahwa tentu ada orang jahat di dalam rumah itu.
Diapun melompai masuk dari di pintu ruangan depan dia melihat seorang pria setengah tua dan seorang wanita setengah tua menggeletak di atas lantai sambil mengaduh-aduh.
Mereka terluka oleh bacokan pedang.
Ketika Hok Yan berlutut hendak menolong mereka, pria setengah tua itu berkata lemah "Tolonglah Sumirah....
tolong Sumirah......"
Hok Yan melihat pria itu menudingkan telunjuknya yang gemetar kearah sebuah kamar yang daun pintunya tertutup.
Diapun meloncat dan sekali terjang daun pintu itu jebol dan apa yang dilihatnya di dalam kamar itu membuat sepasang matanya yang sipit itu berkilat dan alisnya yang tebal hitam berkerut.
Seorang laki-laki yang berkulit hitam, dengan muka bopeng penuh brewok, bertubuh tinggi besar, sedang menggeluti seorang gadis yang mempertahankan diri mati-matian.
Tangan laki-laki itu yang kiri membungkam mulut si gadis, tangan kanannya merenggut dan merobek kain yang menutupi tubuhnya.
Kain itu sudah robek-robek dan hanya tinggal sedikit yang menempel di tubuhnya, tidak cukup untuk menyembunyikan tubuhnya yang berkulit putih kuning mulus menggairahkan.
Namun, gadis yang jelas kalah jauh tenaganya itu, yang tidak berdaya, berusaha mempertahankan diri, meronta dan mencakar.
Ketika mendengar daun pintu roboh, pria tinggi besar itu cepat membalik.
Dia sendiri sudah menanggalkan pakaian luar, tinggal sebuah celana hitam sebatas lutut saja.
Dadanya berbulu dan kekar, tanda bahwa dia memiliki tenaga yang besar.
"Jahanam. Siapa kau berani menggangguku?"
Bentaknya dan dia mendorong gadis itu ke atas pembaringan di mana gadis itu terbanting dan merintih-rintih ketakutan, berusaha menutupi ketelanjangannya secepat mungkin dengan kain-kain yang sudah compang-camping.
"Manusia busuk"
Hok Yan hanya memaki dengan marah.
Pria itu adalah seorang perwira Daha yang jagoan.
Namanya Tonggeng Cemeng dan dia terkenal sebagai seorang perwira yang galak, juga sebagai seorang jagoan yang kejam dan jarang ada yang mampu menandingi kekuatan tubuhnya yang dahsyat.
Akan tetapi dia memiliki kelemahan, yaitu mudah sekal tergila-gila wanita cantik dan kalau sudah melihat seorang wanita yang menarik hatinya dia lupa diri.
Dia tidak perduli lagi apakah wanita itu isteri orang atau anak perawan orang, tidak perduli di mana saja dan kapan saja, dia harus dapat menggauli wanita itu, baik dengan suka rela atau kalau perlu dia tidak segan untuk memperkosanya.
Tonggeng Cemeng bertemu dengan pasukan yang baru saja dihajar oleh Wulansari dan Hok Yan.
Dia menjadi marah dan dia mengerahkan pasukannya yang berjumlah limapuluh orang lebih untuk mencari Wulansari dan Dyah Gayatri.
Ketika tidak berhasil menemukan dua orang wanita itu dan pemuda asing di hutan, dia membawa pasukannya memasuki dusun Kalasan dan di sini dia menyiksa penduduk untuk mengaku di mana adanya Wulansari dan Dyah Gayatri.
Para penduduk dusun yang ketakutan, biarpun mereka masih setia kepada Singosari, namun karena.
disiksa dan dipaksa, mereka menceritakan bahwa dua orang yang dicari itu, kalau benar memang mereka, berada di rumah seorang janda tua.
Rumah janda tua ini diserbu, dan janda itu disiksa sampai mati ketika dua orang buruan itu tidak ditemukan, bahkan rumah itu lalu dibakar.
Dan mulailah para perajurit mencari dan memasuki semua rumah, menggeledah dan seperti biasa, perajurit-perajurit yang dipimpin oleh perwira yang jahat, maka tentu saja mereka mencontoh sikap pemimpin mereka.
Terjadilah pemukulan, siksaan, perkosaan dan perampasan barang berharga.
Tonggeng Cemeng sendiri memasuki rumah lurah dusun itu dan ketika dia menemukan seorang gadis yang amat manis, yaitu Sumirah puteri kepala dusun Kalasan, dia segera menangkapnya.
Dia merasa tertarik sekali dan timbul birahinya melihat gadis manis berusia delapanbelas tahun itu.
Diseretnya gadis itu, lalu dipondongnya masuk kamar.
Tentu saja lurah dan isterinya berusaha untuk mencegah dan menolong puteri mereka, akan tetapi mereka roboh oleh bacokan pedang, kemudian Jumlah dipondong masuk kamar.
Gadis itu meronta dan berhasil menjerit-jerit sebelum mulutnya dibungkam.
Jeritan inilah yang menarik datangnya Hok Yan ke dalam kamar itu.
Melihat munculnya seorang pemuda berkulit kuning bermata sipit, seorang pemuda asing di kamar itu, membuat keinginannya gagal, padahal gadis itu sudah hampir menyerah, tentu saja Tonggeng Cemeng menjadi marah bukan main.
Pemuda asing itu tidak memegang senjata, maka diapun memandang rendah dan sekali mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang marah, dia sudah menubruk ke depan, kedua lengan yang panjang besar penuh otot melingkar-lingkar itu mencengkeram dari kanan kiri.
Saking marahnya, dia ingin menangkap pemuda asing itu untuk dipatah-patahkan seluruh tulangnya, dan kepalanya dibanting hancur ke lantai.
"Wuuuuttt......."
Serangannya yang kuat dan cepat itu ternyata tidak mengenai sasaran, dan kedua tangannya hanya menangkap angin.
Tonggeng Cemeng menjadi semakin marah.
Pemuda asing itu ternyata mampu menghindarkan serangannya tadi dengan tenang melangkah mundur dua langkah.
Diapun menerjang lagi, kini lebih hebat, dengan kedua tangan menyambar dengan cengkeraman tangan kiri yang membayangi tonjokan kepalan kanannya ke arah muka Hok Yan.
Melihat gerakan itu, maklumlah Hok Yan bahwa si kasar ini hanya memiliki tenaga raksasa saja di samping kecepatannya, namun tidak memiliki dasar ilmu silat yang tinggi.
Karena kedua lengan lawan itu terangkat ke atas, diapun menyambut dengan terjangan ke depan, dengan kecepatan kilat kedua tangannya mendahului sehingga ketika kedua lengan lawan turun untuk menyerangnya, jari-jari tangannya telah lebih dulu menyambut dan mengenai lengan dekat siku.
"Tukkkk "
Tonggeng Cemeng mengeluarkan gerengan aneh dan kedua lengannya terasa lumpuh seketika.
Dia terbelalak, dan menggerak-gerakkan kedua lengan sampai akibat totokan jari tangan Hok Yan tadi lenyap.
Untung baginya bahwa Hok Yan tidak menyerangnya selagi dia lumpuh selama beberapa puluh detik itu.
Kini, Tonggeng Cemeng tidak mampu lagi menahan kemarahannya yang memuncak.
Dia menyambar tombaknya yang tadi diletakkan di atas meja bersama pedangnva ketika dia hendak memperkosa Sumirah dan dengan tombak di tangan, dia menyerang.
Tombak itu meluncur dengan cepatnya ke arah perut Hok Yan.
Ketika pemuda yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari Siauw-lim-pai ini mengelak dengan cekatan ke arah kiri, tombak yang meluncur lewat itu sudah ditarik kembali dan kini tombak meluncur ke arah lehernya.
"Hemm......."
Hok Yan kembali mengelak dan miringkan tubuhnya.
Kiranya di muka burik brewok itu pandai juga memainkan tombak pikirnya.
Begitu tombak lewat di samping pundaknya, kedua tangannya diputar dan kedua tangan yang jarinya terbuka, bagaikan dua batang golok, dimiringkan menghantam ke arah tombak itu.
"Krekkk"
Gagang tombak itu patah dan kembali mata Tonggeng Cemeng terbelalak.
Barulah dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan tangguh.
Disambarnya pedang yang berada di atas meja dan kini dia menyerang dengan pedangnya.
Karena marah, gerakan Tonggeng Cemeng membabi-buta dan pedangnya diputar cepat, mengeluarkan suara berdesing dan gulungan sinar pedang itu menyambar-nyambar ke arah tubuh Hok Yan.
Pemuda ini cepat mengelak ke sana-sini.
Dia tahu betapa besar bahayanya seorang lawan yang sudah nekat dan marah seperti itu.
Gerakan seorang yang sedang marah sukar diduga, kacau balau akan tetapi justeru malah berbahaya sekali karena tidak menurut ilmu silat yang semestinya sehingga gerakannya sukar diduga perkembangannya.
Namun, dia berhati-hati sekali dan hanya mengandalkan keringanan tubuh dan kecepatannya untuk selalu menghindar.
Sementara itu, Sumirah yang mendekam di atas pembaringannya, pucat ketakutan dan seluruh tubuhnya menggigil.
Untuk menutupi ketelanjangannya, ia meraih sehelai kain miliknya yang tergantung di tepi pembaringan dan merasa lega bahwa dirinya kini telah tertutup kembali, walaupun hanya dengan sehelai kain.
Ia memandang ke arah perkelahian itu dan diam-diam tentu saja ia mengharapkan kemenangan bagi pemuda asing yang telah menyelamatkannya dari malapetaka tadi.
Dengan penuh nafsu membunuh, Tonggeng Cemeng mendesak terus lawan yang sejak tadi hanya mengelak itu.
Karena lawan tidak pernah dapat membalas dan selalu mengelak mundur, maka Tonggeng.
Cemeng beranggapan bahwa lawannya jerih terhadap pedangnya.
Hal ini membuat dia semakin buas.
Ingin dia segera membunuh lawan ini agar dia dapat melanjutkan keasyikan yang tadi terganggu.
Alangkah akan senangnya kalau sampai gangguan ini dapat dihalau dan dia dapat memetik upahnya.
"Mampuslah"
Bentaknya dan pedangnya membacok dari atas ke bawah. Karena di belakangnya terdapat meja, Hok Yan tidak dapat mundur lagi dan tubuhnya cepat menyelinap ke samping.
"Wuuuttt, crokkl"
Meja itupun pecah menjadi dua potong ketika terbabat pedang.
Melihat meja roboh, Hok Yan menyambar sepotong kaki meja yang patah.
Hanya sebatang kayu yang panjangnya tidak lebih dari satu meter, namun lumayan untuk dijadikan senjata menghadapi pedang yang digerakkan dengan membabi-buta itu.
Tonggeng Cemeng kembali mengeluarkan bentakan dan menyerang dengan bacokan ke arah kepala lawan.
Hok Yan menggeser tubuh ke samping dan menyodorkan sepotong kayu kaki meja itu.
"Crokkk "
Sepotong kayu itu terbabat dan karena Hok Yan sengaja menyodorkan dari samping menyerong, maka kini di tangannya tinggal sepotong kayu yang panjangnya lima puluh senti dan ujungnya yang terpotong pedang itu runcing seperti mata tombak.
Sebelum Tonggeng Cemeng tahu apa yang terjadi, tiba tiba saja "tombak"
Pendek itu sudah meluncur dan mengenai dadanya.
"Cepppp "
Tonggeng Cemeng terbelalak, pedang di tangannya terlepas dan dia merasa betapa dadanya nyeri dan perih sekali.
Dia menunduk dan melihat betapa dadanya telah ditembusi sepotong kayu kaki meja.
Dia mengeluarkan gerengan hendak menubruk ke depan, akan tetapi kakinya terkulai dan diapun roboh terjengkang.
Melihat gadis itu menegigil di atas pembaringan, Lie Hok Yan cepat menghampiri dan menjulurkan tanganya.
"Marilah, nona. Turunlah dan tolong orang tuamu.............."
Tadinya Sumirah masih ketakutan walaupun melihat raksasa hitam itu roboh.
Ia tidak tahu siapa penolongnya dan pamrih apa yang tersembunyi di balik pertolongan itu.
Jangan-jangan penolongnya mempunvai niat busuk yang sama, maka ketika penolong itu mendekati pembaringan dan menjulurkan tangan, tentu saja ia ketakutan.
Akan tetapi, ketika mendengar ucapan Hok Yan dengan suara yang aneh dan kaku akan tetapi cukup dapat dimengertinya itu, ia merasa terkejut dan gelisah.
"Ayah..."
Ibu...... mereka........ kenapa dan di mana........"
"Marilah, nona. Turunlah. Mereka terluka di depan....."
Mendengar ini, Sumirah tanpa ragu-ragu lagi lalu memegang tangan Hok Yan yang membantu turun dan sambil mengikatkan ujung kainnya di atas dada.
Sumirah lalu melangkahi tubuh Tonggeng Cemeng yang menghalang di depan, lalu berlari keluar.
'Ayah, Ibu......."
Gadis itu menubruk dan menangisi mereka.
Ayahnya sudah bangkit duduk.
Lukanya hanya di pundak, cukup parah akan tetapi tidak berbahaya.
Ibu Sumirah terluka pada pahanya dan dengan bantuan Sumirah mereka lalu membalut luka masing-masing, kemudian dengan singkat Sumirah menceritakan betapa raksasa jahat tadi telah dirobohkan oleh pemuda asing dan mungkin sekarang telah tewas di kamarnya.
Ia bergidik ketika ayah dan ibunya mengajak ia menjenguk ke dalam kamarnya, Dan memang benar.
Tonggeng Cemeng telah tewas dengan dada terpanggang kayu kaki meja.
Matanya masih mendelik menyeramkan.
"Cepat, kita harus mengumpulkan semua barang berharga yang dapat kita bawa. Kita harus melarikan diri dari tempat ini"
Kata Ki Sardu, kepala dusun Kalasan itu.
"Akan tetapi, kita lari ke mana?"
Tanya isterinya.
"Dengar, di luar masih ramai orang mengamuk"
"Kalian bersembunyi di kamar besar, biar aku melihat keadaan di luar"
Kata Ki Sardu.
Ketika dia berindap keluar, dia melihat perkelahian yang amat hebat.
Dua orang muda dikeroyok oleh puluban orang perajurit Daha dan dia terbelalak kagum.
Dua orang muda itu adalah pemuda yang dikenalnya sebagai Bambang Wulandoro, yang dicari-cari oleh para, perajurit Daha, dan yang seorang lagi adalah seorang pemuda asing yang tadi telah menyelamatkan anaknya.
Dan dua orang muda itu mengamuk seperti banteng terluka.
Sudah banyak perajurit Daha yang roboh terluka atau tewas.
Sepak terjang pemuda yang dikenalnya sebagai Bambang Wulandoro itu menggiriskan.
Dengan hanya sebatang keris kecil melengkung kuning emas, pemuda tampan itu mengamuk.
Dan setiap kali ia menerjang, banyak pengeroyoknya mundur dan gentar.
Juga pemuda asing berpakaian biru itu mengamuk dengan sebatang pedang rampasan di tangannya, Gerakan pemuda asing ini cepat bukan main, seperti seekor burung walet beterbangan menyambar-nyambar ke sana-sini.
Tiba-tiba terdengar darap kaki kuda dan ada dua belas orang berkuda tiba di tempat itu.
Mereka berloncatan turun dan segera terjun ke dalam pertempuran.
Mereka itu adalah beberapa orang perwira Daha bersama para perajurit pengikut mereka.
Dan begitu mereka terjun ke dalam pertempuran, Wulansari terkejut mengenai bahwa dua orang diantara mereka adalah senopati-senopati Daha yang terkena.
Yaitu Baru Kuntul dan Banggo Ijo.
juga dua orang senopati ini segera mengenalnya walaupun ia menyamar sebagai pria.
Akan tetapi, munculnya dua orang senopati Daha ini masih belum begitu mengejutkan hati Wulansari seperti ketika ia melihat pula orang ketiga yang tak disangkanya muncul pula di situ.
Dia seorang pria yang usianya enampuluh tahun, berubuh tinggi kurus, rambutnya riap-riapan dan sudah bercampur banyak uban, pakaiannya serba hitam dengan sabuk sutera putih.
Ketika ia menjadi panglima pengawal di istana Daha, pernah satu kali ia melihat pria ini dibawa mengbadap Sang Prabu Jayakatwang dan diterima penghambaan dirinya.
Nama orang ini Ki Sardulo, seorang tokoh besar dari Banyuwangi Kakek inilah yang segera melangkah lebar menghadapi Wulansari dan berteriak agar para perajurit yang mengeroyok gadis perkasa ini mundur.
Kemudian sambil mengelus kumisnya yang seperti kumis tikus, parang dan tipis panjang, dia menyeringai, lalu ketika dia bicara, terdengar suaranya mendesis seperti suara ular atau seperti suara orang sakit gigi.
"Hemm....... ssssshh, kau yang bernama ......... ssssshh, Wulansari pengawal pribadi istana Daha yang melarikan diri? Ha, lebih baik kau menyerah ....... sayang wajahmu yang jelita itu kalau sampai terluka, sayang tubuhmu yang denok kalau sampai rusak........ ssss, menyerahlah kepadaku, hemmmm....... kubawa menghadap Sang Prabu di Daha"
Wulansari tersenyum mengejek.
"Kau tentu Ki Sardulo, jagoan dari Banyuwangi itu, bukan? Terhadap orang lain kau boleh menyombongkan diri, akan tetapi aku tidak takut kepadamu"
"Bocah sombong, kau mencari penyakit"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja tubuhnya yang tinggi kurus membungkuk dan keluarlah dari mulutnya suara yang dahsyat, gerengan yang mengandung getaran kuat sekali seperti, gerengan seekor harimau.
Wulansari terkejut karena getaran suara itu langsung menyerangnya dan mengguncang jantungnya.
Akan tetapi gadis ini adalah seorang gadis gemblengan yang bukan saja pernah menjadi murid yang diaku cucu tersayang dari Ki Cucut Kalasekti, akan tetapi sebelum itu juga sudah digembleng oleh Ki Jembros pendekar sakti itu, dan Panembahan Sidik Danasura sehingga ia tidak hanya memiliki banyak aji kesaktian yang ampuh akan tetapi juga memiliki kekuatan batin dan tenaga sakti yang kuat.
Dengan pengerahan tenaga saktinya, Wulansari dapat menolak getaran suara gerengan.
yang amat kuat itu, sehingga ia tetap waspada ketika Ki Sardulo menyerangnya sebagai lanjutan dari serangan dengan suara gerengan itu.
Nampak sinar hitam menyambar ganas dibarengi suara melengking nyaring.
Kembali Wulansari terkejut.
Ia tidak tahu bahwa gerengan, tadi memang merupakan suatu aji kesaktian yang disebut Aji Gereng Sardulo (Geraman Harimau), sedangkan kakek itu menyerangnya dengan senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang suling bambu hitam.
Permainan suling itupun disebut Aji Suling Lesus, dan merupakan andalan Ki Sardulo.
Biarpun ia terkejut, Wulansari tidak menjadi gugup.
Dengan keris kecil kuning mas di tangan, iapun menangkis ke arah sinar hitam itu dengan pengerahan tenaga saktinya.
"Trangtranggg......."
Dua kali sinar hitam bertemu dengan sinar kuning emas dan terdengar Ki Sardulo berseru kaget.
Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis yang menyamar pria itu memiliki tenaga yang demikian kuatnya sehingga lengan kanan yang memegang suling itu sampai tergetar hebat ketika sulingya ditangkis dua kali oleh keris yang kecil melengkung itu.
Dia menjadi penasaran dan marah, dan sulingnya kini melengking-lengking karena digerakkan dengan cepat dan dia mengirim serangan bertubi-tubi.
Namun, Ki Sardulo yang kini terkejut dan semakin penasaran karena semua serangan sulingnya yang biasanya ampuh itu dapat dielakkan atau ditangkis oleh gadis itu, bahkan Wulansari membalas dengan tak kalah dahsyatnya, bahkan kini mulai mendesak lawan dengan permainan kerisnya yang amat cepat.
Sinar hitam dari suling itu makin lama semakin menyempit, sedangkan sinar kuning emas dari keris di tangan Wulansari semakin melebar dan menyambar nyambar ganas.
Sementara itu, Hok Yan juga mengamuk dengan hebat, kini dia dikeroyok oleh dua orang senopati Daha, yaitu Baru Kuntul.
dan si Bango Ijo dan terjadilah perkelahian yang seru dan mati-matian, Bango Ijo mempergunakan golok dan perisai, sedangkan Baru Kuntul mempergunakan sebuah penggada atau ruyung dibantu perisai pula.
Namun kedua orang senopati itu sebentar saja bingung menghadapi lawan yang demikian cepat gerakannya, seperti seekor burung walet saja sehingga beberapa kali mereka kehilangan lawan yang tahu-tahu, membalas serangan mereka dari samping atau bahkan dari belakang.
Dan setiap kali mereka menangkis pedang yang menyambar itu dengan perisai mereka, serasa betapa lengan mereka nyeri dan tergetar, tanda bahwa lawan memiliki tenaga yang dahsyat.
Karena merasa tidak akan mampu mengalahkan Wulansari tanpa bantuan, Ki Sardulo berteriak teriak memerintahkan para perajurit untuk membantunya.
Demikian pula dua orang senopati itu.
Setelah para pimpinan mereka berteriak minta bantuan, barulah para perajurit terjun ke dalam lapangan perkelahian dan kini Wulansari dan Hok Yan dikeroyok oleh puluhan orang lagi.
Repotlah kini dua orang muda itu.
bagaimanapun juga, tiga orang senopati Daha itu merupakan lawan yang cukup tangguh.
Baru saja mereka berdua mulai mendesak lawan, belum sempat merobohkan mereka, puluhan orang perajurit telah maju mengeroyok, maka tentu saja kedua orang muda perkasa ini menjadi kewalahan dan terdesak hebat.
bahkan terancam bahaya besar.
"Wulansari, engkau........ pergilah cepat. Biar aku yang menahan mereka ini"
Teriak Hok Yan beberapa kali karena dia merasa khawatir kalau gadis perkasa itu akhirnya akan terluka dan roboh.
Robohnya Wulansari tentu berarti tertawannya Dyah Gayatri, maka dia menyuruh Wulansari pergi, tentu saja dengan harapan untuk melarikan sang puteri.
Akan tetapi Wulansari adalah seorang wanita gagah perkasa yang menjunjung tinggi kegagahan dan keadilan.
Yang dimusuhi oleh para senopati Daha ini adalah dirinya.
Pasukan Daha itu hendak menangkapnya dan juga menawan Dyah Gayatri.
Lie Hok Yan adalah orang asing yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertempuran ini walaupun dia seorang mata-mata pasukan asing.
Orang-orang Daha ini tentu belum tahu bahwa dia seorang mata-mata, maka tidak sepatutnya kalau Hok Yan mengorbankan diri untuknya dan sang puteri.
"Tidak, Hok Yan. Engkaulah yang lari selagi masih ada kesempatan. Biar aku yang menghajar mereka. Dan kau selamatkan sang puteri"
"Ah, tidak, Wulansari. Engkau seorang wanita, sedangkan aku seorang pria. Akulah yang harus tinggal di sini"
Pada saat itu, ruyung di tangan Baru Kuntul menyambar ke arah kepalanya.
Padahal, ketika itu Hok Yan sedang memutar pedang menangkis hujan tombak dari depan, kanan dan kiri.
dan sebagian perhatiannya ditujukan kepada Wulansari yang sedang bicara dengannya.
Sambaran ruyung itu cepat datangnya.
Satu-satunya jalan untuk menghindar bagi Hok Yan hanyalah mengelak dan dia tidak dapat mengelak cukup cepat karena keadaannya yang terdesak, maka dia hanya miringkan tubuh dan kepalanya, terpaksa mengerahkan sinkang (tenaga sakti) ke arah pundak kiri.
''Dessss..."
Hantaman ruyung yang mengenai pundak kirinya itu meleset karena pundaknya dilindungi kekebalan, namun tetap saja mendatangkan rasa nyeri dan saking kerasnya pukulan, tubuh Hok Yan terpelanting.
Ketika dia terjatuh itu, tombak dan pedang datang bagaikan hujan.
Namun pemuda ini lihai sekali Dia menggelindingkan tubuhnya, bergulingan dan pedangnya diputar bagaikan payung melindungi tubuhnya sehingga semua senjata yang menyerangnya terpental.
Pada saat itu, Wulansari yang melihat bahaya mengancam Hok Yan, cepat ia meloncat dan kaki tangannya bergerak cepat.
Beberapa orang pengeroyok terlempar dan roboh sehingga yang lain menjadi gentar.
Kesempatan ini dipergunakan Oleh Hok Yan untuk meloncat bangun.
"Terima kasih"
Katanya.
"Mari kita saling melindungi"
Kata Wulansari dan kedua orang ini berdiri saling membelakangi Dengan demikian, keduanya hanya menghadapi pengeroyokan dari depan, kanan dan kiri.
Tidak ada lagi lawan yang datang menyerang dari belakang dan keadaan ini lebih baik dari pada tadi, walaupun keduanya masih tetap terkepung dan hanya mampu melindungi diri saja, tidak sempat balas menyerang saking banyaknya pengeroyok.
Keduanya maklum bahwa keadaan mereka amat berbahaya, bahkan kini tidak ada kesempatan lagi untuk melarikan diri karena kepungan demikian ketat dan kuatnya.
Mereka berdua terpaksa mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaga untuk membela diri.
Wulansari, biarpun didesak hebat, masih sempat menyebar maut dengan pukulan-pukulan Gelap Sewu dan sambaran kerisnya, sedangkan Hok Yan juga mengamuk dengan pedang rampasannya yang kini menjadi pidang merah karena berlepotan darah lawan.
Hok Yan dan Wulansari telah merobohkan tidak kurang dari dua puluh orang pengeroyok.
Akan tetapi, jumlah pengeroyok masih amat banyak sisanya, dan mereka berdua sudah mulai lelah.
Untuk dapat meloloskan diri agaknya tidak mungkin lagi, kecuali kalau seorang di antara mereka mau tinggal untuk melindungi yang lari atau untuk menghadang para pengejar.
Tak seorang di antara mereka mau melakukan hal itu, yaitu meninggalkan kawan untuk menyelamatkan diri.
Celana yang menutup paha kiri Wulansari juga sudah robek berikut sedikit kulit dan daging pahanya sehingga terluka dan mengeluarkan darah, terbabat pedang yang untung hanya menyerempet saja dan pahanya masih terlindung tenaga sakti yang membuatnya kebal.
Keadaan mereka berdua sungguh gawat dan agaknya takkan lama lama lagi para pengeroyok akan berhasil merobohkan mereka.
Para perajurit Daha sudah bersorak-sorak untuk menambah semangat kawan kawan mereka.
Bagaimanapun juga, mereka juga marah kepada dua orang muda itu melihat betapa banyak sekali kawan mereka roboh, terluka hebat atau tewas oleh dua orang muda perkasa itu.
Tiba-tiba, ketika dia menangkis ruyung yang dibantamkan sekuat tenaga oleh Baru Kuntul, Hok Yan terpelanting karena sebuah tendangan dari samping yang dilakukan Bango Ijo mengenai pinggangnya.
Dalam keadaan terhuyung ini, sebatang golok menyambar, yaitu goiok di tangan Bango Ijo yang mendesak lawan yang terhuyung itu.
"Tranggg"
Hok Yan berhasil menangkis, akan tetapi tusukan sebatang tombak tetap aja mengenai paha kanannya.
Dia mengeluh dan berhasil menarik kakinya sehingga pahanya hanya terobek kulit dagingnya, cukup besar luka itu sehingga darah berencuran.
Namun, sambil memutar pedangnya, Hok Yan masih mampu menghalau hujan senjata.
"Wulansari. larilah kau........"
Hok Yan berseru, suaranya membentak karena dia merasa khawatir sekali dan juga marah melilat betapa kawan baru itu sama sekali tidak mau melarikan diri.
Akan tetapi, Wulansari tidak menjawab dan siap melawan sampai titik darah terakhir.
Kalau ia melarikan diri, bukan saja Hok Yan yang tewas, akan tetapi juga ia dalam keadaan luka, tak mungkin akan mampu melindungi Gayatri.
Tidak ada lain jalau yang lebih baik dan terhormat kecuali melawan sampai mati.
Ia menjadi nekat daa tiba-tiba ia mendapatkan pikiran yang baik sekali.
Para pengeroyoknya banya mencurahkan perhatian kepadanya, seperti juga para pengeroyok pemuda asing itu hanya memperhatikan pemuda itu.
Kalau ia dan Hok Yan mampu merobohkan, tiga orang senopati ini, tentu para perajurit akan ketakutan dan tidak akan berani melanjutkan pengeroyokan.
Tiba-tiba ia membalik dan melihat betapa Baru KuntuI sedang mendesak Hok Yan dengan ruyungnya, ia meloncat cepat sekali kebelakang meninggalkan para pengeroyoknya dan dari belakang tubuh Hok Yan, ia menerjang ke depan dan secara tiba-tiba ia menyerang Baru Kuntul dari samping, langan kirinya menyambar dengan ganasnya.
Baru Kuntul sedang mendesak Hok Yan, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dia akan diserang oleh Wulansari, maka dia terkejut bukan main dan tidak mungkin dapaf mengelak atau menangkis lagi.
"Desss ......."
Tamparan dengan Aji Gelap Sewu yang dilakukan dengan telapak tangan kiri Wulansari itu tepat mengenai pelipis kepala Baru Kuntul.
"Aughhh........"
Tubuh Baru Kuntul terpelanting dan diapun roboh tak dapat bergerak Jagi karena seketika tewas terkena pukulan yang dahsyat bukan main itu.
Hal ini sudah tentu saja membuat semua pengeroyok terkejut, dan Hok Yan girang dan kagum bukan main.
Dia mengerti akan siasat yang dipergunakan Wulansari itu, maka diapun membalik dan menerjang mereka yang tadi mengeroyok Wulansari.
Mereka bertukar lawan.
Bangkitlah semangat dua orang muda itu, sebaliknya pihak para pengeroyok menjadi semakin marah dan penasaran, juga gentar.
Kiranya dua orang muda yang sudah kelihatan terluka dan kewalahan itu, masih mampu melawan demikian hebat, bahkan berhasil menewaskan Baru Kuntul.
Namun kini mereka menjadi lebih waspada dan agaknya tidak akan mudah bagi Wulansari atau Hok Yan untuk dapat membuat serangan membalik tiba-tiba seperti tadi dengan berhasil.
Dan merekapun tidak bodoh untuk mengulang lagi akal tadi.
Kembali mereka didesak dan dihimpit dan keduanya yang terlalu banyak mempergunakan tenaga untuk dapat bergerak cepat menghadapi hujan senjata, kini mulai lelah dan gerakan mereka mulai mengendur.
Hal ini diketahui oleh para pengeroyok, maka mereka bersorak-sorak lagi dan mendesak penuh semangat.
Beberapa kali Hok Yan dan juga Wulansari terhuyung, bahkan beberapa kali mereka roboh, akan tetapi mereka bangkit kembali dan melawan mati-matian, Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba terjadi kekacauan di antara para pengeroyok dan muncuilah dua orang yang mengamuk dan menerjang para pengeroyok dari belakang.
Hok Yan melirik dengan heran melihat dua orang itu, dia tidak mengenai mereka.
Akan tetapi ketika Wulansari melihat seorang diantara mereka berdua, ia memandang dengan wajah berseri dan semangatnya bangkit lagi.
"PAMAN Jembros........!"
Serunya dengan suara mengandung kegirangan luar biasa.
Kakek yang mengamuk itu bukan lain adalah Ki Jembros, seorang tokoh besar yang berjiwa satria.
Dia adalah seorang pendekar gagah perkasa yang setia kepada Singosari, akan tetapi tidak pernah mau menjabat kedudukan.
Dia lebih suka berkeliaran dengan bebas, menentang kejahatan dan membela mereka yang lemah tertindas.
Nama Ki Jembros amat terkenal, ditakuti lawan disegani kawan.
Tentu saja Wulansari amat mengenal tokoh ini karena ketika ia masih kecil, berusia sepuluh tahun, ketika perahu yang ditumpanginya terbalik dan ia hanyut di laut selatan, Ki Jembroslah yang menyelamatkannya.
Ki Jembros menolongnya, kemudian dalam keadaan hampir mati lemas dan bilang ingatan karena hanyut itu, Ki Jembros menyerahkannya kepada mendiang Panembaban Sidik Danasura.
Pada waktu ia masih kecil itu, hanya dua orang yang amat dipuja dan disayangnya, yaitu Ki Jembros dan Panembahan Sidik Danasura.
Sudah amat lama ia berpisah dari Ki Jembros dan baru sekarang bertemu.
Berpisah sejak ia berusia limabelas tahun dan ia diculik dari tempat pertapaan sang Panembahan oleh Ki Cucut Kalasekti yang mengaku sebagai kakeknya, padahal Ki Cucut Kalasekti itu musuh besarnya.
Sudah kurang lebih sepuluh tahun ia berpisah dari penolongnya itu dan kini tiba-tiba saja Ki Jembros muncul sebagai penolong pula.
"Paman Jembros.......!"
Untuk kedua kalinya, Wulansari berseru memanggil, suaranya mengandung isak karena ia benar benar merasa terharu.
Mendengar ini, Ki Jembros yang menggunakan kedua kakinya menendangi para pengeroyok itu tertawa.
"Hahaha, Wulan. Mari kita hajar anjing-anjing Daha yang curang ini, ha ha ha"
Sepak terjang kakek ini memang menggiriskan hati para pengeroyok itu.
Dia seorang kakek yang usianya kurang lebih enampuluh tahun.
Pakaiannya seperti petani, serba hitam, baju bagian dada terbuka sehingga nampak dada yang bidang berbulu.
Mukanya brewok dan brewok itu masih hitam.
Matanya lebar sekali, mencorong dan nampak liar, sikapnya kasar dan mulutnya selalu dihias senyum gembira.
Sebetulnya, tubuhnya kurus karena tulang-tulangnya menonjol, akan tetapi karena dia memang bertulang besar, maka kelihatan tinggi besar.
Akan tetapi perutnya gendut tanda bahwa dia seorang tukang makan yang gembul.
Itulah Ki Jembros dan Ki Sardulo terbelalak.
kaget.
Juga Bango Ijo menjadi pucat melihat munculnya kakek itu.
Adapun orang kedua juga hebat.
Seorang pemuda yang usianya kurang lebih duapuluh satu tahun, berwajah tampan dan manis, dengan sepasang mata yang lebar.
Pemuda ini memakai baju lengan panjang, rambutnya digelung keatas dan ditutup kain kepala ungu, celana sampai ke bawah lutut dan berselimut kain.
Senjatanya amat sederhana, yaitu sebatang ranting sebesar lengannya, akan tetapi ranting ini sudah merobohkan empat orang sejak dia terjun ke dalam medan pertempuran itu dan dia mengamuk di samping Ki Jembros tanpa mengeluarkan kata apapun.
Wulansari tidak mengenal pemuda itu, namun ia girang bukan main melihat munculnya Ki Jembros.
Bango Ijo yang berada paling dekat dengan Ki Jembros, dengan marah menerjang dan menyerang Ki Jembros yang bertangan kosong itu dengan goloknya.
Golok jagoan Daha ini menyambar dan membacok ke arah dada yang bajunya terbuka.
Cepat dan kuat sekali golok itu menyambar ke arah dada, akan tetapi Ki Jembros yang sedang menendangi para pengeroyok itu agaknya tidak melihat datangnya serangan kilat ini sehingga golok itu dengan tepat menghantam dadanya yang telanjang.
"Dukk"
Golok itu membalik dan sebelum Bango Ijo yang merasa amat terkejut itu sempat mengelak, pinggangnya telah ditangkap oleh sepasang tangan yang amat kuat dan tahu-tahu tubuhnya terangkat tinggi lalu dibanting.
"Bresss"
Bango Ijo tidak mampu berkutik lagi karena kepalanya terbanting ke atas batu sehingga retak dan beberapa buah tulang iganya patah-patah.
Semua orang tentu saja semakin gentar melihat kehebatan Ki Jembros ini.
Memang jago tua ini terkenal memiliki ilmu kekebalan yang disebut Aji Trenggiling Wesi, maka tadi ketika dadanya dibacok golok, dia sambut sambil tertawa saja.
"Hahaha, Sardulo. Hayo majulah ke sini, kita tua lawan tua, kita adalah musuh lama, hahaha"
Ki Jembros menantang.
Akan tetapi Ki Sardulo ternyata seorang jagoan yang licik.
Setelah melihat betapa di pihaknya menderita kerugian besar dan menjadi lemah setelah dua orang senopati itu tewas, diapun berteriak menyuruh semua perajurit maju mengepung, akan tetapi dia sendiri diam-diam menyelinap pergi dan melarikan diri.
Melihat ini, tentu saja para perajurit menjadi gentar dan merekapun melarikan diri, meninggalkan korban diantara mercka yang jumlahnya lebih dari separuh.
Ada sedikitnya tigapuluh lima orang perajurit Daha tewas dalam perkelahian yang berat sebelah itu.
Setelah semua lawan melarikan diri, Wulansari dan Hok Yan terguling roboh dan pingsan saking lelahnya dan nyeri dari luka yang merek derita sejak tadi.
Hok Yan mengeluh lirh, Yang pertama te rasa amat nyeri dan pedih adalah paha kanannya, luka yang paling parah di tubuhnya.
Akan tetapi, dia merasa betapa ada benda yang dingin sejuk menutupi luka di pahanya, dan benda itu diraba-raba jari tangan yang lemah.
Dia merasa heran dan membuka matanya.
Dia merasa semakin heran.
Dirinya telah rebah telentang di atas sebuah dipan dalam sebuah kamar.
Dan di tepi dipan itu duduk seorang gadis yang wajahnya amat dikenalnya, wajah seorang gadis yang berkulit kuning langsat, wajah yang manis sekali.
Wajah itu menunduk dan tangan gadis itulah yang menaruhkan obat, yaitu semacam daun yang dilembutkan dan basah, dibalurkan pada luka di pahanya dengan sentuhan sentuhan lembut sekali.
Terasa begitu sejuk, nyaman dan menyenangkan, bukan hanya mengurangi rasa pedih dan panas, bahkan menimbulkan perasaan nyaman.
"Kau...,....?"
Dia berbisik agak lemah, Sumirah yang sejak tadi mencurahkan perhatiam kepada luka di paha itu, terkejut dan mengangkat muka memandang.
Pandang mata mereka saling bertemu dan bertaut, dan wajah gadis itu menjadi kemerahan.
"Bagaimana rasanya".?"
Hok Yan tersenyum dan mengangguk.
"Nyaman......"
Dia menggerakkan pundak hendak bangkit duduk.
"Auhhhh......"
Dia rebah kembali karena pundaknya terasa nyeri.
Dengan lembut Sumirah meraba pundaknya"Berbaringlah saja, jangan bangkit dahulu.
Pundakmu memar dan matang biru, juga lambung kirimu nampak biru.
Engkau menderita banyak luka, akan tetapi yang paling parah yang di paha ini......"
Hok Yan rebah kembali, mengingat-ingat sambil memejamkan matanya.
Kini dia teringat akan semua yang telah terjadi.
Ada pasukan mengamuk di dusun itu.
Dia menyelamatkan gadis ini yang telah ditelanjangi dan hampir diperkosa orang.
Kemudian dia keluar meninggalkannya dan dia membantu Wulansari.
Terjadi perkelahian mati-matian dan dia hampir saja roboh, juga Wulansari.
Lalu muncul seorang kakek gagah dan seorang pemuda.
Mereka mengamuk dan menyelamatkannya.
Dia membuka matanya kembali dan gadis itu sedang mengamati wajahnya.
Dan gadis itu tersenyum.
Manisnya.
Rasanya tidak kalah oleh Puteri Dyah Gayatri yang tadinya dianggap bidadari.
Gadis ini, gadis dusun ini, manis bukan main.
Apalagi saat itu ia tersenyum malu-malu.
"Kenapa kau senyumsenyum.......?"
Tanyanya lemah, karena memang tubuhnya masih terasa lemah sekali. Wajah itu makin merah, akan tetapi senyumnya melebar sehingga nampak deretan puncak gigi yang putih rata. Manisnya.
"Habis engkau lucu sih"
Gadis itu menutupi mulut dengan tangan kiri, menahan tawa. Hok Yan membelalakkan kedua matanya dan gadis itu kini tertawa lirih seolah-olah melihat sesuatu yang lebih lucu lagi.
"Apanya yang lucu?"
Hok Yan bertanya, heran mengapa dia dikatakan lucu.
"Apanya, ya? Entah, mungkin...... kedua matamu itu. Sinar matamu tajam sekali, akan tetapi selalu bersembunyi, kedua matamu hampir selalu kelihatan terpejam........ Ah. Aku....... aku tidak bermaksud mencela utau menghina, jangan kau marah, ya?"
Hok Yan tersenyum.
Bagaimana mungkin dia bisa marah kepada gadis seperti ini?
"Engkau telah bersikap baik sekali kepadaku, engkau merawatku, bagaimana aku bisa marah kepadamu?
Nona, kenapa engkau begini baik kepadaku?"
Sepasang mata yang diangga selalu bersembunyi itu kini memandang dengan penuh perhatia dan penuh selidik.
"Kenapa tidak? Engkau telah menyelamatkan aku, telah menolongku terbebas dari malapetaka yang lebih mengerikan dari pada maut. Aku hanya dapat membalas merawat lukamu, tidak dapat membalas menyelamatkan nyawamu. Aku...... aku berterima kasih sekali kepadamu"
"Tapi, nona. Kalau ayah ibumu mengetahui ........kita hanya berdua saja di kamar ini, engkau akan mendapat marah"
Gadis itu menggeleng kepalanya.
Manis sekali"Tidak ada yang marah.
Mereka bahkan menyuruh aku merawatmu.
Pula, apa salahnya, aku merawatmu?
Engkau orang baik-baik, dalam keadaan sehatpun aku tidak takut berada sekamar denganmu, apa lagi engkau sakit seperti ini, tidak berdaya.
Apa yang dapat kau lakukan"
Gadis itu tertawa lirih lagi.
Seketika hati Hok Yan jatuh.
belum pernah selama hidupnya dia merasakan dalam hatinya seperti ini terhadap seorang gadis.
Bahkan terhadap Sang Puteri Dyah Gayatri juga tidak seperti ini.
Dia hanya kagum melihat kecantikan Dyah Gayatri, dan kagum melihat kegagahan Wulansari, akan tetapi terhadap gadis ini.
Entah apa yang terjadi dengan hatinya.
Ada kemesraan yang terasa dalam lubuk hatinya, yang membuat dia ingin terus berdekatan seperti ini dengan gadis itu.
Tiba-tiba dia teringat akan orang-orang lain.
Wulansari, Puteri Gayatri, dan dua orang gagah yang tadi datang menolong mereka.
Juga orang tua gadis ini dan dimana mereka sekarang berada.
Kalau masih di dusun itu, tentu berbahaya sekali karena pasukan Daha tentu tidak akan tinggal diam.
Kalau mereka datang membawa bala bantuan.
tentu mereka semua akan celaka.
"Di manakah kita sekarang berada? Apa masih di rumahmu, di dusun itu?"
Gadis itu menggeleng kepalanya"Kita sudah berada jauh dari dusun Kalasan. Ini rumah pamanku, di balik bukit dan dusun ini sudah terlindung oleh pasukan Tubau yang belum tunduk kepada Daha"
Hok Yan menarik napas panjang, hatinya lega"Dan di mana adanya Wulansari? Dan Sang Puteri Dyah Gayatri? Dan dua orang penolong itu?"
Dihujani pertanyaan ini, Sumirah tersenyum.
"Mereka semua berada di dusun ini. Tenangkan hatimu. Kalau lukamu sudah sembuh, kalau badanmu sudah sehat kembali, engkau akan bertemu dengan mereka"
Mendengar ini, hati Hok Yan merasa lega dan senang sehingga dia memejamkan matanya dan tiba-tiba dia merasa mengantuk sekali.
Ingin dia bertanya siapa nama gadis itu, akan tetapi kepulasan menghapus pertanyaannya.
Sementara itu, di sebuah rumah lain yang tidak berjauhan dari rumah di mana Hok Yan dirawat Sumirah, Wulansari juga rebah telentang di atas dipan dalam sebuah kamar dan, yang merawatnya bukan lain adalah Sang Puteri Dyah Gayatri.
Ketika ia siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya berada diatas pembaringan, melihat sang puteri duduk di tepi pembaringan menjaganya, ia hendak bangkit duduk, akan tetapi puteri segera mencegahnva Wulansari meringis kesakitan.
Seluruh tubuh rasanya sakit-sakit.
"Kenapa puteri yang merawat....."
"Ssttt, diamlah, mbakayu Wulan. Siapa lagi kalau bukan aku yang merawatmu? engkau membelaku mati-matian dan hampir saja mengorbankan nyawamu, masa aku tidak boleh membalasmu hanya dengan merawatmu selagi engkau sakit? Tenanglah dan mengasolah"
Wulansari teringat akan semua yang terjadi dan ia menengok ke kanan kiri.
Kamar itu kosong, hanya ada mereka berdua "Kita berada di mana?
Dan mana orang asing bernama Lie Hok Yan itu?
Dia gagah bukan main dan dia membelaku mati-matian.
Oh ya, di mana pula Paman Jembros dan pemuda yang sagah tadi?"
"Mereka semua berada di dusun ini, mbakayu Wulan. Lie Hok Yan itu berada di dalam rumah lain, dirawat oleh anak bapak lurak Kalasan itu. Akan tetapi, dua orang penolong itu berada di rumah ini pula. Apakah engkau ingin bertemu dengan mereka?"
"Mana Paman Jembros? Aku ingin bicara dengan dia"
Dyah Gayatri turun dari pembaringan dan keluar dari dalam kamar itu.
Tak lama kemudian iapun masuk kembali, kini diikuti oleh dua orang.
Wulansari tidak memperhatikan pemuda yang ikut masuk itu karena ia mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Ki Jembros dan dengan wajah berseri iapun berseru.
"Paman Jembros........"
Pemuda itu dengan sikap sopan duduk di atas kursi agak jauh dari pembaringan, sedangkan Ki Jembros duduk di atas kursi dekat pembarinan dan Puteri Dyah Gayatri kembali naik ke atas pembaringan, berlutut dekat Wulansari.
Kakek itu tertawa, sepasang matanya bersinar-sinar ketika dia memandang kepada gadis perkasa itu.
"Wulan, suaramu memanggil namaku dengan demikian manisnya itu sungguh merupakan hal yang amat menyenangkan hatiku. Kiranya engkau masih belum lupa kepada Ki Jembros, hahaha"
"Aku melupakan paman?"
Wulansari berseru penasaran "Bagaimana mungkin aku melupakanmu, paman?
Sampai matipun aku tidak mungkin akan dapat melupakan ketika paman menolongku dari gelombang lautan itu.
Dan sekarang, kembali paman telah menyelamatkan aku pada, saat aku sudah hampir roboh oleh keroyokan para perajurit itu"
"Hemh, para perajurit Daha yang pengecut. Mengeroyok seorang wanita seperti itu. Tak tahu malu"
Kata kakek itu geram.
"Paman Jembros, aku tidak pernah melupakan paman. Kalau selama ini kita saling berpisah dan aku........aku bahkan menghambakan diri kepada istana Daha adalah karena....... karena aku terpaksa oleh keadaan"
Kakek itu tersenyum. dan mengangguk-angguk"
Dahulunya akupun merasa heran dan khawatir sekali mendengar bahwa engkau menjadi kepala pasukan pengawal di lstana Daha.
Aku sudah mendengar semuanya dan mendiang Paman Panembahan Sidik Danasura......"
"Mendiang?"
Wulansari bertanya kaget"
Jadi Eyang Panembahan sudah........"
"Dia sudah kembali keasalnya, Wulan, sudah terbebas dari pada segala kekacauan yang terjadi di permukaan bumi"
"Ahh, eyang......"
Wulansari memejamkan kedua matanya dan beberapa titik air mata, menuruni pipinya.
Melihat ini, Ki Jembros mengangguk-angguk.
Kecengengan seorang wanita bukan hanya menunjukkan kelemahan baginya, juga menunjukkan kepekaan perasaannya.
Dahulu dia mendengar bahwa setelah dibawa pergi Cucut Kalasekti, terjadi perubahan besar pada diri Wulansari.
Kabarnya ia menjadi seorang wanita yang dingin dan ganas, dan wanita yang digambarkan seperti itu pasti tidak pernah mencucurkan air mata.
Akan tetapi kini, bertemu dengan dia, Wulansari menitikkan air mata, juga mendengar akan kematian Panembahan Sidik Danasura, ia menitikkan air mata pula.
Itu tanda bahwa Wulansari kini telah kembali menjadi seorang wanita yang hangat dan berperasaan peka.
Pada saat itu, baru Wulansari menyadari bahwa di situ terdapat orang lain, yaitu pemuda tampan yang bersama Ki Jembros membantunya mengusir orangorang Daha, dan yang kini duduk pula dalam kamar itu, agak jauh.
Ia tersipu ketika ingat bahwa ia telah mencucurkan air mata memperlihatkan kelemahannya, apa lagi ketika sang puteri merangkulnya dan berkata.
"Ihhh, sungguh luar biasa sekali. Sejak aku mengenalmu, baru sekarang ini aku melihat air mata keluar dari matamu, mbakayu Wulan. Luar biasa sekali. Tadinya aku mengira bahwa engkau seorang wanita berhati baja yang takkan pernah dapat mengeluarkan air mata"
Wulansari hanya balas merangkul, lalu ia tersenyum "Puteri tidak tahu.
Kalau tidak ada Paman Jembros ini dan mendiang Eyang Panembahan, sejak berusia sepuluh tahun aku tentu sudah mati.
Paman, siapakah sobat yang datang bersama paman itu?"
Sebelum Ki Jembros menjawab, pemuda itu bangkit dari tempat duduknya, menghampiri pembaringan itu dan dengan senyum penuh keramahan sehingga wajahnya menjadi semakin tampan, dia berkata.
"Selamat berjumpa, mbakyu Wulansari, gembira sekali hatiku dapat bertemu kembali denganmu"
Wulansari terbelalak dan memandang heran, ia memeras ingatannya akan tetapi walaupun sepasang mata yang lebar dan jeli itu rasanya tidak asing baginya, namun ia sama sekali tidak dapat ingat (Lanjut ke
Jilid 23) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 kembali kapan dan di mana ia pernah berjumpa dengan pemuda ini.
"Siapa........ siapakah engkau, sobat"
Tanyanya heran. Ki Jembros tertawa bergelak "Hahaga, yang yang biasa menyamar sebagai pria, kini terkecoh oleh penyamaran seorang wanita lain, hahaha"
"Mbakayu Wulansari, maafkan aku. Aku adalah Pertiwi......"
"Oohhh........"
Wulansari terkejut bukan main dan matanya terbelalak menatap wajah "pemuda"
Itu, kemudian ia menarik napas panjang, hatinya terasa pedih seperti ditusuk, karena ia teringat akan segala yang pernah ia lakukan terhadap gadis dusun lereng Gunung Kelud ini "Yaaah........
aku ingat sekarang.....
engkau.....engkau tunangan Nurseta.
Ketahuilah, Nurseta masih hidup........
engkau tentu akan mencarinya......."
Akan tetapi Pertiwi tersenyum pahit dan dara ini lalu duduk di tepi pembaringan, memegang lengan Wulansari, dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, mbakayu Wulansari. Aku bukan tunangannya lagi. Perjodohan tak mungkin dapafi dipaksakan, dan ikatan jodoh antara kami sudah putus. Ingat, dia tidak mencintai aku. Diantara kami sudah tidak ada apa apa lagi, mbak ayu Wulansari"
Wulansari memandang kepada wajah Pertiwi yang menyamar pria itu, dan melihat sepasang mata yang lebar bening itu memandang penuh kejujuran, mengingat betapa Nurseta yang saling mencinta dengannya itu kini tidak lagi terikat perjodohan dengan gadis ini, ia merasa begitu terharu sehingga kembali kedua matanya menjadi basah dan iapun kini merangkul Pertiwi "Pertiwi, maafkan semua perbuatanku yang lalu......."
Pertiwi balas merangkul"
Tidak ada yang perlu dimaafkan, mbakayu. Kau tidak bersalah apapun kepadaku"
Wulansari segera dapat menguasai hatinya, lagi ketika mendengar Ki Jembros tertawa-tawa, mentertawakan dua orang wanita gagah yang menyamar pria itu kini berangkulan dan bertangisan.
Ia bangkit duduk dan memandang kepada Ki Jembros, senyum membayang di bibirnya, senyum yang berbahagia dan penuh harapan, yang timbul setelah mendengar bahwa tidak ada hubungan dan pertalian apapun kini antara Pertiwi dan Nurseta.
"Paman Jembros, apa artinya ini? Bagaimana semua ini dapat terjadi? Tiba tiba saja Pertiwi datang bersama paman, menyamar pria dan ia telah menjadi seerang gadis yang perkasa"
"Hahaha, panjang ceritanya Wulan. Mengenai riwayat Pertiwi, biar ia sendiri nanti yang akan bercerita kepadamu. Aku pergi berkunjung ke puncak Kelud, bertemu dengan Nurseta dan Kakang Baka di tempat padepokan Paman Panembahan Sidik Danasura. Dari Kakang Baka aku mendengar tentang Pertiwi yang ketika itu sedang bertapa. Aku merasa kasihan kepadanya, menemuinya dan ia suka menjadi muridku. Selanjutnya, mendengar akan geger Singosari yang diserang Daha, kami turun gunung dan di sini kami kebetuian bertemu denganmu. Sekarang kau ceritakan, bagaimana engkau dapat bertemu dengan gusti puteri ini, dan siapa pula pemuda Cina yang bersamamu melawan pasukan Daha itu"
Dengan singkat Wulansari lalu menceritakan riwayatnya, betapa setelah Singosari jatuh oleh Daha, Dyah Gayatri tertawan dan menjadi tawanan di istana Daha.
Kemudian betapa Sang Prabu Jayakatwang mempunyai niat jahat terhadap Dyah Gayatri sehingga ia terpaka membawa Dyah Gayatri lari keluar dari istana dan bersembunyi di dusun Kalasan sampai akhirnya muncul pasukan Daha yang megenalnya dan menyerang.
Memang saya sudah merencanakan untuk meninggalkan istana Daha, paman.
Yaitu setelah saya terpaksa membunuh Pangeran Sinduboyo yang hendak memperkosa Puteri Dyah Gayatri.
Adapun mengenai saudara Lie Hok Yan itu, kami bertemu dengan dia dalam hutan, memperebutkan kijang, kemudian ketika muncul pasukan Daha, tanpa diminta dia membantuku.
Dia adalah seorang penyelidik yang dikirim oleh pasukan Cina yang kini berada di pesisir Tuban dan yang bermaksud untuk menyerang Singosari" 'Jagad Dewa Barbara ........"
Ki Jembros membelalakkan matanya yang sudah lebar itu. Agaknya memang sudah ditakdirkan bahwa Singosari harus runtuh ......."
"Akan tetapi, Paman Jembros. Kita dapat mempergunukan pasukan dari Cina itu untuk membalas dendam kepada Daha, dan Lie Hok Yan sudah menyanggupi untuk menyampaikan usul itu kepada pemimpinnya"
Kata Puteri Dyah Gayatri penuh semangat. Ki Jembros mengangguk-angguk, kagum kepada puteri yang kelihatan tabah walaupun mengalami banyak hal buruk itu.
"Aku perlu sekali bicara dengan Lie Hok Yan itu. Nah, Wulan dan Pertiwi, kalian bicaralah, aku hendak menemui pemuda Cina itu"
Ki Jembros lalu meninggalkan tiga orang gadis itu.
Pertiwi lalu menceritakan semua pengalamannya.
Betapa ia sebagai seorang gadis dusus bertemu dengan Ki Baka yang menderita sakit.
Ia merawat orang tua itu, kemudian ketika bertemu dengan murid Ki Baka, yaitu Nurseta, orang tua itu telah menjodohkan mereka.
Na mun kemudian Nurseta dengan terus terang mengatakan kepadanya bahwa dia hanya menerima keputusan itu karena hendak mentaati gurunya yang juga menjadi ayah angkatnya, namun bahwa sebetulnya Nurseta tidak mencintainya.
"Dia mencintaimu, mbakayu Wulansari, Hanya engkau seorang yang dicintanya dan aku tidak menyalahkannya. Engkau gagah perkasa dan cantik, dan aku bahkan kagum kepadanya karena dia mau mengaku terus terang secara jantan"
Pertiwi melanjutkan ceritanya.
Betapa dalam kedukaannya ditinggal Nurseta yang menyatakan terus terang bahwa pemuda itu tidak cinta kepadanya, ia tertimpa rnalapetaka yang sangat hebat.
Muncullah seorang penjahat yang memperkosanya dengan penggunaan sihir sehingga ia menyerah dengan suka rela.
Betapa kemudian penjahat itu hampir membunuh ayah ibunya, kalau saja tidak muncul Ki Baka yang menyelamatkan mereka.
"Akan tetapi, aku telah ternoda, mbakayu Wulansari. Kalau tidak ada nasihat-nasihat dari Paman Baka dan juga dari Eyang Panembahan Sidik Danasura, tentu aku telah membunuh diri, Aku diberi nasihat dan diberi lempung yang dapat melindungi aku dari gangguan pria. dan aku lalu bertapa. Engkau muncul dan"."
"Adikku Pertiwi, kau maafkan aku. Ketika aku mencarimu, memang aku bermaksud membunuhmu karena aku menganggap engkaulah yang menjadi penghalang bagi aku dan Nurseta untuk berjodoh. Akan tetapi, ketika itu aku mengira Nurseta telah tewas jatuh ke dalam jurang, dan melihat keadaanmu, aku tidak jadi membunuhmu. Siapakah jahanam yang menodaimu itu, Pertiwi. Aku lupa lagi apakah dahulu engkau pernah menyebutkan namanya kepadaku. Kalau aku bertemu dengannya, dia akan kubunuh untuk membalaskan dendammu"
Pertiwi tersenyum dan menggeleng kepalan "Tidak perlu, mbakayu, karena aku telah mempelajari ilmu dari Guru, aku sendirilah yang akan mencarinya dan membalasnya. Namanya adalah Gagak Wulung"
"Gagak Wulung? Si keparat jahanam itu. memang amat jahat"
Seru Wulansari "Sekarang baru aku merasa menyesal, Pertiwi. Aku melihat bahwa engkau tidak bersalah, engkau pantas menjadi isteri Nurseta, engkau dijodohkan oleh orang tua, sedangkan aku......."
"Cukup, mbakayu Wulansari. Jodoh tak dapat dipaksakan, cinta tak dapat dibuat. Dia dan engkau saling mencinta, Cinta yang bertepuk tangan sebelah hanya akan menciptakan perjodohan yang penuh penyesalan dan duka. Sudah kukatakan, tidak ada ikatan apapun juga antara kakangmas Nurseta dan aku, mbakayu. Aku merasa tidak berharga, dan aku tahu bahwa dia amat mencintamu"
Sementara itu, di rumah lain dalam dusun kecil itu, di mana Lie Hok Yan dirawat oleh Sumirah, terjadi percakapan lain antara pemuda itu dan Ki Jembros yang mengunjunginya.
Ayah dan ibu Sumirah yang tidak begitu parah lukanya, menyambut Ki Jembros, kemudian kakek ini dipersilakan masuk ke dalam kamar Hok Yan.
Sumirah diperbolehkan tinggal di kamar itu ketika mereka berdua bercakap-cakap.
Hok Yan memaksa diri bangkit duduk untuk menghormati Ki Jembros yang dikaguminya karena dia telah melihat sepak terjang kakek perkasa ini, ketika menolong dia dan Wulansari dari kepungan para perajurit Daha.
"Aku sudah mendengar sedikit tentang dirimu dari Wulansari, saudara Lie Hok Yan. Engkau adalah seorang penyelidik yang diutus oleh pimpinan pasukan Cina yang dikirim oleh kaisarmu untuk menyerang Singosari. Akan, tetapi mengapa kaisarmu mengirim barisan besar untuk menyerang Singosari?"
Hok Yan duduk bersila di atas pembaringan.
Luka di pahanya hanya nyeri, akan tetapi tidak berbahaya dan bobok param yang dibalurkan Sumirah pada lukanya lalu pahanya dibalut, membuat luka ita tidak terasa panas lagi.
Dia menarik napas panjang.
Sungguh amat tidak enak tugas yang diberikan kepada seorang perajurit untuk menyerang negara lain.
"Saya hanya seorang perwira muda yang melaksanakan tugas, paman. Akan tetapi sepanjang yang saya ketahui, pernah Raja Singosari menghina utusan kaisar kami dan hal itu dianggap sebagai tantangan. Kaisar kami lalu mengirim pasukan besar untuk menyerang Singosari dan saya diberi tugas untuk melakukan penyelidikan ke daerah Singosari"
"Hemm, begitukah? Dan hasil apa yang kau peroleh dari penyelidikanmu itu?"
Tanyai Ki Jembros sambil mengamati wajah pemuda itu dengan penuh perhatian.
"Saya mendapatkan keterangan bahwa Kerajaan Singosari baru saja diserang dan dikalahkan oleh Kerajaan Daha, bahwa Raja Singosari telah tewas dalam perang. Keadaan ini membuat saya menjadi bingung, paman, dan kebetulan saya bertemu dengan Wulansari dan Puteri Dyah Gayatri yang mengusulkan agar pasukan kami membantu saja perjuangan Raden Wijaya, pangeran dari Singosari untuk menyerang Kerajaan Daha. Hal itu tentu saja tergantung kepada pimpinan kami dan saya akan melaporkan usul itu kepada mereka"
Ki Jembros mengangguk-angguk "Sebuah usul yang amat baik"
Katanya "Ketahuilah dan sampaikan kepada para pimpinanmu, Hok Yan.
Tidak dapat kusangkal bahwa menjelang kekalahan Singosari, mendiang Sang Prabu Kertanegara telah melakukan banyak kesalahan, diantaranya menentang dan menghina Kaisar Cina.
Akan tetapi sekarang Kerajaan Singosari telah dikalahkan oleh Kerajaan Daha yang berkhianat.
Satu satunya jalan terbaik bagi pasukan kalian adalah membantu Raden Wijaya yang akan membangun kembali Singosari dan hanya dengan cara itulah kiranya hubungan baik antara Cina dan Singosari dapat dijalin kembali"
Hok Yan mengangguk angguk "Memang saya akan melaporkan kepada pimpinan kami akan hal itu, paman"
"Ketahuilah bahwa kini Raden Wijaya sedang memupuk kekuatan di daerah baru yang dinamakan Mojopahit, dan Raden Wijaya didukung oleh Bupati Sumenep di Madura, yaitu Arya Wiraraja"
Lie Hok Yan mendengarkan dengan teliti semua keterangan tentang Raden Wijaya yang diperoleh dari Ki Jembros.
Dia mendapatkan keterangan yang amat penting tentang Raden Wijaya.
Setelah Ki Jembros meninggalkan pemuda itu, Sumirah yang sejak tadi hanya mendengarkan, lalu duduk di tepi pembaringan, minta kepada Hok Yan agar rebah kembali.
"Engkau perlu banyak beristirahat agar segera pulih kembali kesehatanmu"
"Terima kasih"
Hening sejenak dan mereka hanya saling pandang. Setiap kali bertemu pandang, Sumirah lalu menunduk.
"Aneh"
Katanya lirih.
"Apanya yang aneh, nona?"
"Engkau telah menyelamatkan aku dari malapetaka mengerikan, dan aku kini telah merawatmu, berarti kita sudah menjadi kenalan bahkan sahabat baik, bukan?"
"Tentu saja, akan tetapi mengapa aneh?"
"Aneh karena kita belum saling mengenal mama"
"Aih, aku lupa. Maafkan, namaku Lie Hok Yan"
"Lie........ Hok........ Yan .......?"
Sumirah mengulang-ulangi, seolah hendak menghafal nama yang terdengar asing bagi telinganya itu.
"Benar nona. Lie itu nama keluarga ayahku, dan Hok Yan itu artinya Taman Rejeki. Dan siapakah namamu, nona?"
"Namaku Sumirah"
"Sumilah........?"
"Bukan Sumilah, akan tetapi Sumirah"
"Ya, ya.......Sumilah"
Hok Yan mengulang, merasa sudah benar. Sumirah mengerutkan alisnya, akan tetapi tidak mendesak "Namamu Lie Hok Yan, lalu aku harus memanggilmu bagaimana?"
Ia berpikir alangkah akan lucunya kalau di depan nama itu ditambah kakang, apa lagi kakangmas. Hok Yan tersenyum"Panggil saja aku Hok Yan, nona"
"Dan kau sudah tahu namaku, jangan sebut nona, Panggil saja aku Sumirah, atau Mirah begitu saja"
"Milah, nama bagus"
Sumirah mengerutkan alisnya. Keterlaluan orang ini, pikirnya, suka mengganti nama.
"Bukan Milah, akan tetapi Mirah"
"Ya, betul. Milah...... Milah....."
"Mirah. Pakai rrr, bukan pakai lll Coba kau bilang rrrr ......"
"Lllll ........"
"Wah, repot. Kau tidak bisa mengatakan rrr. Engkau pelo, lidahmu..... lidahmu terlalu pendek, hihik...."
Sumirah tertawa geli. Hok Yan juga tertawa "Lidahku pendek? Tidak mungkin. Lihat"
Dan dia menjulurkan lidahnya keluar. Dan memang tidak pendek "Nah, tidak lebih pendek dari lidahmu kukira. Coba, Milah, apakah lidahmu luar biasa panjangnya?"
Sambil tertawa Sumirah juga menjulurkan lidahnya yang kecil dan merah jambon.
"Wah, lidahku masih lebih panjang"
Kata Hok Yan dan keduanya kini saling menjulurkan lidah, seperti dua orang anak kecil saling mengejek.
Dan keduanya merasa demikian lucu sehingga mereka tertawa-tawa.
Ki Sardu dan isterinya masuk kamar itu.
Mereka terheran-heran melihat betapa penolong puteri mereka itu tertawa-tawa geli bersama puteri mereka.
"Eh eh, ada apa ini kalian tertawa tawa seperti itu?"
Ki Sardu bertanya.
"Ayah, ibu, ini......... Hok Yan ini sungguh lucu sekali. Dia tidak dapat menyebut rrrr dan namaku dia robah menjadi Sumilah. Coba lagi, Hok Yan, coba sebut namaku, Sumirah"
"Sumilah"
Hok Yan sedapat mungkin berusaha agar pengucapannya benar.
"Mirah........"
"Milah"
"Nah, ayah dan ibu dengar, bukan? Namaku dirubahnya menjadi Sumilah atau Milah"
Kata Sumirah tertawa. Ayah dan ibunya juga tertawa.
"Mirah, jangan memperolok kekurangan orang"
Kata Ki Sardu.
"Ia tidak memperolok, paman. Memang di kampung saya, orang orang tidak pernah mempergunakan huruf yang berbunyi rrr itu, maka sukarlah bagi kami untuk mengucapkannya"
Hok Yan membela gadis itu.
Ki Sardu dan isterinya duduk di atas kursi, menghadapi pembaringan di mana Hok Yan sudah bangkit duduk kembali, tidak mentaati permintaan Sumirah agar dia rebah saja karena dia merasa tidak enak menyambut kunjungan Ki Sardu dan isterinya sambil rebahan.
"Hok Yan, aku ingin bicara dengan engkau, Engkau tentu hanya beberapa hari saja tinggal disini, oleh karena itu, kami ingin mengajak engkau bicara agar selama beberapa hari ini, sebelum engkau pergi, engkau sudah dapat mengambil keputusan"
Melihat sikap yang serius dari orang tua itu, Hok Yan merasa heran, dan dia merasa, lebih heran lagi ketika melihat wajah Sumirah, berubah kemerahan dan gadis itu lalu bangkit berdiri "Ayah, ibu, aku akan membantu bibi di dapur"
Tanpa menanti jawaban, dan tanpa pamit kepada Hok Yan, gadis itu lalu pergi setengah berlari meninggalkan kamar.
Yang dimaksudkan dengan panggilan bibi oleh Sumirah adalah nyonya rumah karena mereka tinggal di rumah Ki Sarlan, adik dari Ki Sardu.
"Silakan, paman. Apakah yang hendak paman dan bibi bicarakan?"
Tanya Hok Yan sambil memandang wajah kedua orang itu dengam penuh perhatian.
"Sebelum kami membicarakan soal itu denganmu, lebih dulu kami ingin mengetahui. Hok Yan, apakah di negerimu sana engkau meninggalkan seorang isteri?"
"Saya belum beristeri, paman"
"Tunangan?"
"Juga tidak"
Suami isteri itu saling pandang dan bernapas lega.
Bagus, itulah yang kami harapkan.
Ketahuilah, Hok Yan.
Mirah telah bicara dengan kami dan ia amat berterima kasih kepadamu, ia merasa hutang budi yang hanya dipat dibalas dengan nyawa, dan disamping hutang budi, juga ia merasa amat malu karena engkau telah melihat ia dalam keadaan yang baginya amat memalukan.
Oleh karena itu, untuk menebus aib yang memalukan itu dan untuk membalas budimu, bagi Mirah hanya ada satu jalan, yaitu menjadi isterimu"
"Ah......."
Tersentak Hok Yan merasa keharuan menyesak dadanya.
"Kami juga merasa setuju, Hok Yan. Sekarang, kami telah kehilangan segalanya dan Mirah memerlukan seorang suami yang akan mampu melindunginya dari marabahaya. Nah, bagaimana pendapatmu Hok Yan? Ataukah kami harus menanti agar engkau dapat mempertimbangkan keinginan kami ini?"
"Paman........ bibi......"
Kata pemuda itu dengan suara gemetar karena keharuan "Sungguh saya merasa terharu dan berterima kasih sekali kepada paman dan bibi dan ......
Milah.
Saya merasa terhormat sekali, bangga dan juga bahagia.
Terus terang saja, semenjak perjumpaan pertama kali saya.......
saya sudah meresa jatuh cinta kepada Milah.
Tentu saja saya tidak berani mengharapkan yang muluk-muluk.
Akan tetapi sekarang..........
paman dan bibi dan Milah justeru mengajukan usul yang memang amat saya harapkan.
Tentu saja saya setuju sekali dan terima kasih sekali.
Akan tetapi, hendaknya paman dan bibi dan juga Milah mengetahui bahwa saya adalah seorang perwira yang sedang bertugas.
Tidak mungkin tugas diabaikan atau giitinggalkan karena urusan pribadi.
Oleh karena itu, saya akan menyelesaikan tugas ini dulu, paman.
Setelah saya membuat laporan kepada atasan saya, setelah tugas dipastikan selesai, saya akan minta ijin kepada atasan saya agar ditinggal di sini dan saya berjanji akan datang berkunjung dan menerima uluran tangan keluarga paman dengan hati dan tangan terbuka"
Bukan main girang rasa hati Ki Sardu dan isterinya mendengar kesanggupan pemuda itu.
Mereka setuju dengan syarat yang diajukan Hok Yan, dan mereka segera meninggalkan pemuda itu untuk mengabarkan kepada puteri mereka tentang keputusin Hok Yan yang menerina ikatan perjodohan itu.
Tentu saja Sumirah merasa girang bukan main sehingga ia menangis seorang diri.
Ia merasa tertarik dan kagum kepada Hok Yan, juga merasa berhutang budi, disamping ia akan selamanya merasa malu kalau mengingat betapa pemuda itu merupakan satu-satunya pria yang melihatnya dalam keadaan yang amat memalukan, bertelanjang bulat.
Kalau ia dapat menjadi isteri Hok Yan, maka segalanya itu akan tertebus.
Aib dan malu akan lenyap, hutang budi terbalas, apa lagi kalau mereka memang saling mencinta.
Malam itu, setelah gelap, baru Sumirah berani memasuki kamar Hok Yan.
Yang mengirim makan malam dan menyalakan pelita dalam kamar pemuda itu adalah ibunya.
Dengan berindap ia memasuki kamar, mengharapkan pemuda itu telah pulas agar ia tidak usah tersipu malu.
Ia hanya ingin mengantarkan jamu secangkir, dan menggantikan bobok pada luka di paha itu.
Melihat pemuda itu telentang, tak bergerak dan ia selalu sukar untuk mengambil keputusan apakah mata pemuda itu terpejam ataukah terbuka.
Begitu sipit.
"Milah....."
Sumirah tersentak kaget mendengar panggilan lirih itu.
Hampir saja cangkir jamu lepas dari tangannya.
Pemuda itu tidak tidur.
Dengan jantung berdebar dan muka terasa panas ia tinggal berdiri seperti patung.
Hok Yan maklum bahwa gadis yang telah menjatuhkan hatinya itu tersipu malu.
Diapun tidak ingin menggoda, lalu berkata dengan suara biasa saja.
"Milah, engkau mengantar jamu dan obat luka yang baru?"
"Benar, Hok Yan ........."
"Taruh saja di atas meja. Nanti kuminum sendiri dan bobok itu akan kupakai sendiri. Sekarang aku sudah dapat duduk dan mengobati lukaku sendiri. Dan engkau duduklah disini, aku ingin bicara, Milah"
Kalau saja ucapan itu dikeluarkan tadi sebelum ayah lbunya bicara dengan Hok Yan, tentu Sumirah akan menolak dan marah-marah.
Akan tetapi kini ia tidak membantah, menaruh cangkir jamu dan bungkusan bobok di atas meja, kemudian iapun duduk.
Tidak di tepi pembaringan seperti biasa, melainkan di atas kursi yang berada di dekat pembaringan.
Hok Yan sendiri lalu bangkit duduk di tepi pembaringannya sehingga mereka duduk berhadapan, dekat.
Sumirah menundukkan mukanya, jantungnya berdebar demikian kerasnya sehingga ketika ia menunduk, ia melihat sendiri betapa dada yang tertutup baju itu berdetak-detak dan berguncang.
"Milah, apakah engkau sudah mendengar dari ayah dan ibumu tentang.... tentang kita?"
Sumirah tidak menjawab, melainkan menundukkan muka semakin rendah, lalu menggerakkan kepalanya, mengangguk.
Memang ayah dan ibunya sudah memberi tahu kepadanya bahwa pemuda ini menerima ikatan jodoh dengan syarat bahwa dia akan menyelesaikan tugasnya lebih dulu.
"Milah, sungguh aku heran sekali"
Kata Hok Yan, biarpun suaranya dibuat keren dan tegas namun terdengar gemetar. Dari muka yang menunduk itu, Sumirah melihat ke atas"Mengapa heran?"
"Aku heran kenapa seorang gadis seperti engkau ini suka untuk menjadi isteriku"
Kini Sumirah mengangkat mukanya. Mukanya merah akan tetapi tidak begitu kentara karena penerangan pelita di atas meja itu tidak terang benar, akan tetapi sepasang matanya berkilat-kilat.
"Dan engkau? Mengapa engkau sendiripun suka?"
"Tentu saja aku suka. Engkau seorang gadis yang cantik jelita, berbudi mulia, halus tutur sapanya, ramah dan amat baik sekali, dan sejak pertemuan pertama aku memang sudah jatuh cinta kepadamu. Tapi kau......?"
"Aku kagum dan bersukur kepadamu"
"Juga........ cinta........?"
Sumirah menjadi gemas. Mengapa tanya-tanya tentang cinta segala? Ia hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Itulah yang aneh"
Mengapa?"
"Hemm, lupakah engkau, Milah? Mataku"
"Kenapa matamu?"
"Bukankah kau bilang mataku selalu terpejam, tidak bisa melek?"
"Malah lucu"
"Dan lidahku"
"Lidahmu kenapa?"
"Katamu lidahku pendek?"
"Tentu saja, engkau seorang manusia, bukan seekor ular"
Jawab Sumirah sambil tersenyum geli.
Sejenak keduanya berdiam diri.
Lidah rasanya kelu, tidak seperti biasanya.
Sukar bagi mereka berdua untuk mengeluarkan kata-kata dan jantung mereka berdebar aneh.
Bagi mereka berdua, baru sekali ini selama bidup mereka mengalami jatuh cinta.
Cinta memang sungguh ajaib.
Kalau seseorang sudah jatuh cinta, maka apapun yang ada.
pada orang yang dicinta itu nampak mudah, nampak baik dan sempurna.
Kalaupun ada cacat pada diri orang yang dicinta, maka cacat itu bahkan menjadi pemanis, bahkan menimbulkan rasa iba.
Tidak ada manusia di dunia ini yang lebih baik dari pada orang yang dicinta, tidak ada yang lebih tampan atau lebih cantik.
Cinta tidak mengenal usia, tidak mengenal harta, tidak mengenal kedudukan, tidak mengenal golongan, suku ataupun bangsa.
Cinta adalah jerasaan yang paling halus dari seorang manusia terhadap seorang manusia lain.
Dan kalau sudah disebut manusia, maka segala embel-embel seperti harta kedudukan, bangsa atau bahkan agama tidak ada artinya lagi.
Demikian pula halnya dengan dua orang manusia itu, Hok Yan dan Sumirah.
Gidis itu menyadari bahwa Hok Yan seorang pemuda yang kulitnya terlalu putih kuning, matanya terlalu sipit, logat bicaranya aneh dan asing bahkan tidak mampu menyebut suara "r"
Atau yang dinamakan pelo.
Dia bahkan tidak tahu lagi apanya yang menarik hatinya dari diri pemuda Cina itu.
Bahkan mungkin sipitnya warna kulitnya, dan pelonya itulah.
Namun yang jelas, ia merasa kagum, merasa suka dan ingin selalu hidup berdampingan dengan pemuda Cina yang pernah menyelamatkannya dari aib dan bencana itu.
Apakah cinta yang terkandung dalam hati Sumirah itu tumbuh karena perasaan hutang budi?
Sebagian mungkin.
Banyak segi yang menyuburkan pertumbuhan cinta, akan tetapi benih cinta itu sendiri tumbuh dalam perasaan hati yang merupakan rahasia bagi akal pikiran, seolah-olah perasaan cinta itu datang karena tuntunan yang penuh rahasia.
Hok Yan sendiripun tidak mengerti mengapa dia jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Sumirah.
Gadis itu amat berbeda dengan gadis-gadis yang ada di negerinya.
Memang kulit gadis ini juga putih dan mulus, akan tetapi cara ia menggelung rambutnya.
bentuk matanya, pakaiannya, gerak geriknya, bicaranya, suaranya, semua itu sungguh berbeda dengan gadis-gadis di negerinya.
Bahkan sukar biginya menentukan dimana letak kecantikan Sumirah, karena dia sudah terbiasa dengan kecantikan yang ditentukan umum di negerinya, Kecantikan Sumirah kelihatan aneh dan asing.
Mungkin justeru keanehan ini yang menairik hatinya.
Dia takkan pernah melupakan betapa gadis itu telah ditelanjangi dan hampir diperkosa penjahat itu, betapa sepasang mata itu terbelalak ketakutan seperti mata seekor kelinci yang sudah diterkam srigala.
Dan sinar mata gadis itu kalau memandang kepadanya, begitu penuh kelembutan, begitu penuh kemesraan, mengelus perasaannya dan membuat dia tidak mampu lagi melupakan Sumirah.
Dia bersedia untuk mengorbankan apa saja asal.
dapat hidup berdampingan dengan gadis itu untuk selama hidupnya.
Baca Juga: Mestika Burung Hong Kemala 6
Baca Juga: Pedang Naga Kemala 11