Ceritasilat Novel Online

Sejengkal Tanah Sepercik Darah 6

Eps 6 Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo

Baca online Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo

Cersil Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo.

Sang Prabu Jayakatwang menyerahkan surat itu kepada patihnya yang menerimanya dengan sembah.

Akan tetapi sebelum patih itu membaca surat dari Arya Wiraraja, Raden Wirondaya cepat berkata kepada Sang Prabu Jayakatwang.

"Ampun, Sribagirida! Hamba mohon sudilah kiranva paduka berhati-hati dan tidak mengutus Paman Patih membaca surat rahasia itu di depan banyak orang, terutama mereka yang masih belum dipercaya benar kesetiaannya"

Berkata demikian, Wirondaya memandang ke arah gadis yang berdiri di belakang raja itu.

Mendengar ucapan Wirondaya dan melihat arah pandang mata utusan dari Sumenep itu Sang Prabu Jayakatwang tertawa, kemudian berkata lantang.

"Wirondaya, kau tentu telah mengenal baik semua ponggawa kami yang hadir pada saat ini, kecuali barangkali wanita ini yang belum kau kenal. Ketahuilah bahwa ia adalah Nini Wulansari, yang menjadi kepala pengawal dalam keraton, juga pengawal pribadiku yang amat kami percaya. Tidak ada rahasia baginya, bahkan ia harus mengetahui semua rahasia kami agar ia dapat melaksanakan tugas jaga dengan lebih sempurna. Jangan kau khawatir, Wirondaya"

Wirondaya melihat betapa gadis manis itu memandang kepadanya dengan mata mencorong dan alis berkerut, tanda bahwa la merasa tidak senang karena tidak dipercaya, dan Wirondaya segera menyembah kepada Sang Prabu Jayakatwang dengan muka merah.

"Mohon paduka mengampuni hamba yang tidak tahu. Kalau begitu, terserah kebijaksanaan paduka, karena paduka tentu lebih mengetahui keadaan di sini, Sribaginda"

"Kakang Patih, mulailah membaca surat dari Madura itu !"

Sejak tadi Ki Patih Mundarang sudah membuka surat itu dan membacanya dalam hati, maka kini dengan lantang dia lalu membaca surat di tangannya sehingga terdengar jelas oleh mereka semua yang hadir di situ.

"Kepada Paduka Raja Binetar patik mengirim berita gembira jika paduka hendak berburu, sekaranglah saat yang paling jitu, medan sedang tandus dan gersang, tiada semak belukar dan ilalang, tiada satupun aral melintang tiada pula suatu penghalang binatang-binatang buas tidak ada kecuali seekor macan tua tak berdaya"

"Macan tua tak berdaya! Hahaha, ya benar, dia macan ompong yang tidak berbahaya lagi"

Sang Prabu Jayakatwang berkata setelah Ki Patih Mundarang menyelesaikan bacaannya.

"Anakmas Wirondaya, banyak saudaramu menjadi senopati di Singosari, tentu kau lebih tahu bagaimana sesungguhnya keadaan disana sekarang?"

Dengan terus terang Wirondaya menceritakan betapa ambisiusnya Sang Prabu Kertanagara, dan betapa banyak diadakan perubaban yang mengejutkan oleh Sang Prabu Kertanggara yang membuat banyak pejabat dan kawula merasa tidak senang dan tidak puas.

"Semua nasehat baik dari Paman Patih Raganata yang bijaksana diabaikan, bahkan kedudukan patih setia itu dilorot. Juga semua nasehat menteri wreda tidak didengar. Yang didengar hanya bujukan para pejabat baru yang kurang pengalaman, hanya mengandalkan keberanian tanpa perhitungan. Akibatnya, kini keadaan kerajaan kosong dari balatentara yang sebagian besar dikirim ke negeri Melayu, bahkan sisanya yang sedikit menjadi semakin lemah karena dipakai menyerbu ke berbagai tempat. Tepat seperti ditulis oleh kanjeng rama, sekarang keadaan Kerajaan Singosari sedang lemah sekali.

"Akan tetapi, bukankah di sana masih terdapat banyak sekali senopati yang sakti mandraguna dan setia kepada Kerajaan Singosari?"

"Hal itu memang benar, Sribaginda"

Jawab Wirondaya, teringat akan pendapat ayahnya.

"akan tetapi apa artinya para senopati sakti mandraguna kalau mereka tidak memiliki pasukan yang kuat dan banyak? Tidak mungkin mereka akan kuat menghadapi serbuan pasukan yang puluhan atau ratusan ribu jumlahnya"

Sang Prabu Jayakatwang mengangguk-angguk, lalu menoleh kepada Ki Patih Mundarang.

"Bagaimana, kakang Patih? Apa pendapatmu tentang isi surat dari Bupati Sumenep itu?"

"Menurut pendapat hamba, apa yang dikemukakan Bupati Sumenep itu memang tepat sekali. Kalau memang kesempatan itu terbuka, memang siapa lagi kalau bukan paduka yang membalaskan kekalahan Kerajaan Kediri yang membuat Kerajaan Kediri kehilangan kejayaannya? Nenek moyang paduka, yaitu yang mulia Sang Prabu Dandang Gendis telah dikalahkan oleh seorang anak petani rendah dari Pangkur, yaitu Ken Arok yang menjadi raja pertama Singosari. Dan semenjak itu, Kerajaan Kediri yang besar dianggap sebagai negara taklukan oleh Singosari. Sekarang, kalau kesempatan itu terbuka, sudah selayaknya kalau paduka yang menegakkan kembali kejayaan Kediri dan membalas kekalahan nenek moyang paduka"

Sang Prabu Jayakatwang mengangguk-angguk lagi tanda setuju, akan tetapi alisnya berkerut kalau dia teringat kepada puteranya, yaitu Pangeran Ardaraja yang kini telah menjadi mantu Sang Prabu Kertanagara di Singosari.

"Ampunkan hamba, Gusti, kalau apa yang hamba katakan tadi tidak berkenan di hati paduka"

Kata Ki Patih Mundarang yang merasa khawatir melihat junjungannya termenung setelah mendengarkan ucapannya.

"Sama sekali tidak, Kakang Patih. Semua yang kau katakan tadi benar belaka. Kalau kami termenung, hanya karena kami mau tidak mau teringat kepada keponakanmu, Pangeran Ardaraja yang menjadi mantu Sang Prabu Kertanagara di Singosari"

Ki Patih Mundarang menyembah.

"Hal seperti itu tidak mungkin dapat dihindarkan, Gusti. Akan tetapi kiranya paduka lebih arif dan mengetahui bahwa demi perjuangan kerajaan, kadang-kadang diperlukan pengorbanan dan semua kepentingan pribadi hanya jatuh nomor dua untuk mementingkan dan menomor satukan kepentingan negara"

Mendengar ucapan patihnya ini, Sang Prabu Jayakatwang menepuk pahanya sendiri dengan telapak tangan.

"Ah, sungguh tepat ucapanmu itu, Kakang Patih! Tepat dan arif. Anakmas Wirondaya, sampaikan ucapan terima kasih kami kepada ramandamu dan disertai salam hormat kami"

Setelah Wirondaya mohon diri dan meningalkan Istana Kediri, Sang Prabu Jayakatwang segera memanggil seluruh senopatinya dan mengadakan perundingan kilat untuk mengatur rencana penyerbuan ke Singosari yang sedang kosong seperti yang dikabarkan oleh Arya Wiraraja Bupati Sumenep di Madura itu.

Semenjak datangnya surat itu sampai dengan ketika Sribaginda mengadakan musyawarah dan perundingan dengan para senopatinya, Wulansari selalu berada dekat Sribaginda karena memang gadis cantik jelita dan perkasa ini merupakan pengawal pribadi yang amat dipercaya.

Wulansari adalah seorang gadis yang berusia kurang lebih duapuluh empat tahun, seorang wanita yang sudah matang, dengan bentuk tubuh menggairahkan, namun gerak geriknya yang cekatan bagaikan seekor burung seriti itu menunjukkan bahwa di balik kelembutan itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat.

Kulilnya kuning mulus, pakaiannya ringkas sederhana, juga sikapnya sederhana bahkan seperti orang yang acuh, Namun, matanya yang seperti sepasang bintang itu tajam sekali dan pandang matanya menembus.

Hidungnya kecil mancung, bibirnya selalu basah kemerahan dan kalau ia bicara apa lagi tersenyum, muncullah lesung pipit di pipi kiri, mengimbangi kemanisan tahi lalat kecil di pipi kanan.

Rambutnya agak awut-awutan, dengan sinom melingkar lingkar di dahi.

Yang amat menarik perhatian orang adalah sinar malanya yang kadang-kadang redup, akan tetapi kadang-kadang bernyala aneh.

Seorang gadis yang manis sekali.

Akan tetapi, gadis manis ini memiliki kepandaian yang membuat pria yang sudah tahu akan keadaan dirinya menjadi gentar.

Biarpun dirinya nampak sebagai seorang gadis yang lembut dan manis, namun ia adalah seorang wanita sakti yang ketika kecil pernah digembleng ilmu oleh Sang Panembahan Sidik Danasura, kemudian setelah remaja sampai dewasa ia mewarisi ilmu ilmu yang dahsyat mengerikan dari Ki Cucut Kalasekti.

Mendiang Panembahan Sidik Danasura adalah seorang pendeta dan pertapa di padepokan Teluk Prigi Segoro Wedi, yaitu di Laut Selatan dan panembahan ini terkenal sakti mandraguna.

Adapun nama Ki Cucut Kalasekti, siapa yang tidak mengenalnya?

Tadinya dia merupakan seorang datuk Diantara golongan sesat dan namanya ditakuti di dunia hitam.

Akan tetapi, kemudian dia berjasa telah mendapatkan dan menyerahkan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala kepada Sang Prabu Jayakatwang di Kediri sehingga dia dianugerahi pangkat sebagai seorang adipati dengan julukan Adipati Satyanegara di Bendowinangun.

Hampir semua ilmu yang dahyat dari datuk ini telah diwarisi Wulansari.

Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu kedigdayaan gadis manis ini.

Memang aneh melihat betapa Wulansari kini menjadi pengawal pribadi yang amat dipercaya dari Sang Prabu Jayakatwang.

Ayah gadis ini adalah Ki Medang Dangdi, seorang Diantara para senopati yang perkasa dari Kerajaan Singosari.

Ibunya bernama Warsiyem, juga seorang wanita sakti yang baru-baru ini berkumpul kembali dengan suaminya, Ki Medang Dangdi setelah saling berpisah selama belasan tahun karena ulah Ki Cucut Kalasekti yang menculik Warsiyem.

Akan tetapi, Wulansari tidak begitu dekat dengan ayah bundanya.

Hal ini tidak aneh mengingat betapa gadis ini sejak berusia sepuluh tahun sudah saling berpisah dengan kedua orang tuanya, bahkan ia tidak ingat lagi siapa ayah ibunya.

Ingatannya pernah hilang sebagai akibat kecelakaan ketika perahu yang ditumpanginya hanyut.

Baru akhir akhir ini saja, dengan bantuan Nurseta, seorang pendekar yang gagah perkasa, ia mengetahui siapa sebenarnya ayah ibunya dan sempat berkumpul sebentar dengan kedua orang tuanya itu.

Akan tetapi tidak lama ia meninggalkan lagi orang tuanya, bahkan karena sakit hatinya kepada orang tuanya, iapun nekat menerima uluran tangan Raja Kediri untuk menjadi pengawal pribadinya.

Padahal, ia tahu bahwa Raja Kediri membenci Kerajaan Singosari di mana ayahnya menjadi senopatinya.

Ia marah kepada ayah ibunya dan sakit hatinya karena mereka, terutama ayahnya, melarang ia berjodoh dengan Nurseta setelah ayahnya mengetahui bahwa pemuda itu adalah putera kandung dari Ni Dedeh Sawitri, seorang tokoh sesat wanita dari Pasundan.

Karena perjodohannya dengan Nurseta dilarang ayah ibunya itulah maka kini ia menjadi pengawal pribadi yang setia dari Sang Prabu Jayakatwang di Kediri.

Biarpun sejak berusia limabelas tahun sampai dewasa ia diaku sebagai cucu Ki Cucut Kalasekti dan mewarisi ilmu-ilmunya, namun di dalam hatinya ia tidak suka kepada kakek itu, bahkan kemudian setelah ia bertemu dengan ayah dan ibu kandungnya, ia membenci Ki Cucut Kalasekti yang ternyata sama sekali bukan kakeknya, bahkan musuh besar yang pernah menculik dan memperkosa ibunya.

Namun, mengingat bahwa Ki Cucut Kalasekti pernah menjadi gurunya dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, maka Wulansari tidak mau sembrono menentangnya, melainkan mencari kesempatan baik untuk kelak dapat membalaskan sakit hati ibu kandungnya kepada datuk sesat itu.

Demikianlah sedikit riwayat Wulansari yang kini menjadi pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatwang dan seperti diceritakan di bagian depan, Wulansari ikut mendengarkan semua percakapan antara Sribaginda dan para ponggawanya ketika utusan dari Madura, yaitu Raden Wirondaya datang menghadap.

Bahkan ketika Sang Prabu Jayakatwang memanggil semua senopatinya untuk diajak bermusyawarah tentang siasat penyerbuan ke Singosari, Wulansari juga tetap berjaga di belakang Sribaginda.

Para senopati merasa terkejut juga mendengar akan keputusan Sribaginda untuk mengadakan penyerbuan ke Singosari dan sebagian Diantara mereka ada yang gentar.

"Mohon ampun, Gusti"

Kata Senopati Jaran Guyang sambil menyembah.

"Bukan hamba hendak menentang. Hamba siap untuk melaksanakan perintah paduka, biar dengan taruhan nyawa sekalipun. Akan tetapi, apakah paduka sudah memikirkan masak masak tentang penyerbuan ini? Hamba hanya khawatir kalau sampai gerakan ini gagal, tentu berbalik akan mencelakakan Kediri. Bagaimanapun juga, Singosari adalah kedungnya (sumbernya) para senopati yang sakti mandraguna dan digdaya "

Sang Prabu Jayakatwang mengerutkan alisnya dan memandang kepada senopatinya itu dengan sinar raata mencorong.

"Besarkan hatimu, Jaran Guyang. Semua telah kami perhitungkan dengan matang, bahkan selama bertahun-tahun ini telah kami perhitungan. Kinilah saatnya yang amat baik, dan kiranya tidak percuma kalau kami mendapat berkah dari Ki Ageng Tejanirmala"

Para senopati terkejut dan juga girang, Raja mereka telah memiliki tombak pusaka, lambang kejayaan itu?

Memang, ketika Sribaginda menerima tombak pusaka itu dari tangan Ki Cucut Kalasekti, hal itu dirahasiakan sehingga para senopatinya sendiripun banyak yang tidak mengetahuinya.

Melihat para senopatinya tercengang, Sang Prabu Jayakatwang menjadi gembira dan ingin memamerkan pusakanya agar para senopatinya menjadi besar hati mereka.

"Wulan, ambilkan pusaka Ki Ageng Tejanirmala dan bawa ke sini"

Perintahnya sambil menoleh kepada pengawal pribadinya itu.

Perintah ini saja sudah membuktikan betapa besar kepercayaan Sang Prabu Jayakatwang kepada gadis pengawal yang tadinya ingin dijadikan selir akan tetapi gadis itu menolak.

Wulansari menyembah lalu pergi ke dalam istana, langsung memasuki kamar Sribaginda dan hanya ia seorang bersama Sribaginda yang dapat membuka tempat rahasia di dalam kamar itu di mana disembunyikan tombak pusaka itu.

Setelah tombak pusaka itu berada di tangannya, dalam kamar yang sunyi karena ia telah menyuruh semua anak buahnya, para pengawal istana untuk keluar, juga para dayang, ia menimang-nimang tombak pusaka itu di tangannya dan terbayanglah semua peristiwa masa lalu ketika untuk pertama kalinya ia mendapatkan tombak pusaka itu.

Tombak pusaka ini adalah milik Ki Baka, ayah angkat Nurseta.

Tombak pusaka itu dirampas oleh Ki Buyut Pranamaya yang menyamar sebagai Wiku Bayunirada.

Ketika terjadi pemberontakan Mahesa Rangkah, murid Ki Buyut Pranamaya, Nurseta membantu pasukan pemerintah untuk menghancurkan pemberontakan itu.

Dalam pertempuran ini, Nurseta bertemu dengan Ki Buyut Pranamaya dan perauda perkasa itu diserang oleh Ki Buyut Pranamaya dengan mempergunakan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.

Pada saat itulah ia muncul dan ia berhasil merampas tombak itu dari tangan Ki Buyut Pranamaya dan melarikan tombak pusaka itu, Biarpun ia dapat disusul oleh kakek sakti itu, namun berkat bantuan Nurseta, akhirnya ia berhasil memiliki tombak pusaka itu dan tidak mau mengembalikannya kepada Nurseta, karena dianggapnya tombak pusaka itu sebagai tanda mata dari pemuda yang dicintanya itu.

Kemudian, tombak pusaka itu ia serahkan kepada Ki Cucut Kalasekti yang pada waktu itu masih ia anggap sebagai kakeknya yang baik hati.

Oleh kakek itu, tombak pusaka diserahkan kepada Sang Prabu Jayakatwang dan sebagai imbalan jasanya, kakek itu diangkat menjadi adipati di Bendowinangun.

Wulansari sadar dari lamunannya.

Di mana adanya Nurseta?

Pemuda itulah sebetulnya yang berhak memiliki tombak pusaka ini.

Akan tetapi kini tombak pusaka telah menjadi milik Raja Kediri dan ia sebagai seorang pengawal pribadi yang setia, harus membela junjungannya.

Bergegas ia keluar dari kamar membawa tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala, lalu memasuki ruangan di mana Sribaginda dan para senopati masih menanti.

Setelah menerima tombak pusaka itu dari tangan Wulansari, Sang Prabu Jayakatwang membuka kain penutup tombak pusaka itu dan mengangkatnya tinggi di atas kepala.

"Kalian lihat. Inilah Ki Ageng Tejanirmala yang akan memberkahi kita sehingga kita akan dapat mencapai kemenangan melawan Singosari"

Para senopati memandang dengan penuh khidmat dan juga gembira, hati mereka besar sekali rasanya dau mantap karena mereka percaya sepenuhnya bahwa siapa yang memiliki tombak pusaka itu seolah-olah mendapatkan wahyu kerajaan.

Kini Sang Prabu Jayakatwang mengadakan perundingan dengan Ki Patih Kebo Mundarang dan para senopati.

Bala tentara Kediri dibagi dua.

Yang sebagian dipimpin oleh Senopati Jaran Guyang, pasukan ini menyerbu Singosari dari utara dan senopati ini dibantu oleh para perwira yang sudah terkenal pandai dari Kediri, Diantaranya adalah Bango Dolog, Prutung, Pencok Sahang, Liking Kangkung, dan Kampinis.

Adapun sebagian lagi dipimpin langsung oleh Ki Patih Kebo Mundarang, menyerang Singosari dari arah selatan.

Sementara itu, jauh di utara, di negara Tiongkok, pada waktu itu terjadi pula peristiwa yang menarik di dalam istana kaisar.

Pada waktu itu, Tiongkok dijajah oleh Bangsa Mongol dan yang menjadi kaisar adalah Kubilai Khan.

Seperti juga kaisar pertama dari Kerajaan Mongol ini, yaitu Jenghis Khan, Kubilai Khan tidak kalah besar ambisi dan keangkara-murkaannya.

Dia tidak akan puas sebelum seluruh dunia ditalukkannya.

Biarpun seluruh Tiongkok telah dikuasainya, dia masih belum puas, Dikirimnya balatentara yang besar, menyerang sampai jauh ke daerah Eropa.

Dan diapun memperluas kekuasaannya ke selatan dan pada suatu hari, dia mengirim utusannya yang dikepalai oleh perwira Meng Ki menuju ke Kerajaan Singosari.

Akan tetapi pada waktu Meng Ki datang menghadap Sang Prabu Kertanagara di Singosari, Sang Prabu ini juga sedang memperbesar kekuasaannya.

Keberhasilan pasukan Singosari menundukkan daerah-daerah bahkan sampai ke negeri Melayu, membuat Sang Prabu Kertanagara merasa dirinya besar dan dia sama sekali tidak sudi tunduk kepada kebesaran Kaisar Kubilai Khan.

Untuk memperlihatkan bahwa dia tidak takut kepada kaisar di utara itu, dia menolak untuk mengakui kekuasaan Kubilai Khan, bahwa dengan cara yang menantang sekali dia menulis pesan yang menghina dan menantang di atas dahi Meng Ki, sang utusan itu.

Kaisar Kubilai Khan menerima kedatangan utusannya itu dengan kemarahan besar.

Dia segera memerintahkan tiga orang panglimanya yang bernama She Pei, Kau Seng, dan Ji Kauw Mosu, memimpin duapuluh ribu orang pasukan, lengkap dengan kapal perang dan kapal pengangkut yang membawa segala perlengkapan perang dan bahan makan untuk jangka waktu satu tahun lamanya.

Mereka diperintahkan untuk menghukum Raja kertanagara di Singosari yang telah berani menghina utusan kaisar.

Berangkatlah pasukan yang terdiri dari para perajurit pilihan itu dengan kapal-kapal besar ke selatan.

Peristiwa ini terjadi dalam tahun 1292.

Sebagian besar dari anggauta pasukan adalah prajuri perajurit Mongol yang sudah terlatih sudah berulang kali mengadakan penyerbuan ke barat, menalukkan banyak negara dan merupakan perajurit-perajurit yang perkasa.

Sedikit Diantara mereka adalah orang orang Han yang merupakan orang taklukan dari Bangsa Mongol yang menjajah Tiongkok.

Bahkan seorang Diantara tiga panglima itu, yang bernama Kau Seng, bukan pula orang Mongol, melainkan seorang peranakan Han Mancu, ayahnya orang Han dan ibunya orang Mancu.

Kau Seng adalah seorang panglima yang selain pandai dalam ilmu perang, juga pandai ilmu silat, terkenal pula dengan anak panahnya, yang menurut kabar, sekali dilepas pasti merobohkan seorang lawan.

Kau Seng yang sudah berusia enampuluh lima tahun ini mempunyai seorang sute (adik seperguruan) bernama Lie Hok Yan, seorang pemuda berusia duapuluh enam tahun yang ditariknya menjadi seorang perwira dalam pasukannya.

Sebetulnya Lie Hok Yan, seorang yang terkenal berjiwa pendekar, agak segan untuk membantu pasukan Mongol yang menjajah tanah airnya, akan tetapi karena dia sungkan terhadap suhengnya (kakak seperguruannya), maka terpaksa dia menerima pengangkatan sebagai perwira muda itu.

Apa lagi sudah lama dia mendengar akan dunia selatan yang cantik, dan sebagai seorang pemuda yang belum berumah tangga, diapun ingin meluaskan pengalaman dan bertualang.

Maka diapan ikut pula dalam ekspedisi ke selatan itu.

Pelayaran itu merupakan perjalanan yang amat melelahkan bagi pasukan besar itu.

Mereka, terutama sekali para perajurit Mongol, merupakan ahli-ahli penunggang kuda, biasanya mereka bergerak melalui daratan, dapat melakukan perjalanan cepat baik menunggang kuda atau berjalan kaki.

Akan tetapi sekali ini mereka berada di kapal dan merasa tidak berdaya sama sekali ketika kapal dipermainkan angin ribut.

Badai membuat air laut bergelombang besar dan kapal-kapal itu bagaikan benda-benda kecil yang tak berdaya, oleng dan jalannya seperti kuda mabok.

Para perajurit banyak yang mabok laut, tidak suka makan dan hanya bertiduran dengan kepala pusing.

Sementara itu, di Singosari terjadi geger ketika pasukan Kediri mulai menyerang.

Penyerangan yang terjadi tanpa disangka-sangka oleh pihak Singosari.

Pasukan yang dipimpin Senopati Jaran Guyang dan para pembantunya mengambil jalan melintas melalui sawah ladang ke jurusan utara untuk menyerbu Singosari dari utara.

Mereka membawa kereta, bende, gong dan tunggul, perlengkapan perang yang banyak dan mereka berhenti di desa Mameling.

Melihat pasukan Kediri memasuki daerah Singosari, rakyat pedesaan menjadi panik dan terkejut bukan main.

Diantara anak buah pasukan itu ada yang melakukan kekerasan, merampok dan memperkosa wanita dan tentu saja hal ini membuat penduduk dusun itu bangkit melakukan perlawanan.

Akan tetapi, apa daya mereka menghadapi serbuan pasukan yang bersenjata lengkap dan terlatih?

Banyak penduduk dusun yang tewas, dan sisanya melarikan diri mengungsi meninggalkan dusun mereka.

Titir ditabuh bertalu-talu tanda bahaya dan mereka cepat melarikan diri menjauhi Mameling, sebagian pula menjadi utusan dari dusun Mameling untuk menghadap Sribaginda Kertanagara dan melaporkan bahwa balatentara Kediri telah menyerbu dan tiba di Mameling.

Mendengar laporan ini, Sang Prabu Kertanagara tidak percaya.

Mana mungkin Raja Kediri menyerbu Singosari?

Bukankah Sang Prabu Jayakatwang itu masih besannya?

Bukankah selama ini Singosari membiarkan raja itu berkuasa di Kediri?

Akan tetapi, para pengungsi membanjir, hujah tangis Diantara mereka, dan banyak pula yang terluka parah.

Melihat keadaan ini, barulah Sribaginda percaya.

Dipanggilnya calon mantunya, Raden Wijaya, dan diperintahkannya berangkat ke Mameling memimpin pasukan untuk mengusir pasukan musuh yang berani menyerbu wilayah Singosari.

Perasaan yang marah dan penasaran mengganggu hati Sang Prabu Kertanagara.

Biaipun dia sudah memerintahkan mantunya, Raden Wijaya untuk memimpin pasukan menyambut para penyerbu yang datang dari utara itu, dia masih belum puas dan segera diutusnya Ki Patih Kebo Anengah untuk membawa pasukan besar menyusul pasukan pertama pimpinan Raden Wijaya ke dusun Mameling.

Mendengar perintah ini, Adhyaksa (jaksa) Empu Raganata, bekas patih yang diturunkan pangkatnya itu karena sudah tua, segera maju menyembah dan berkata.

"Mohon ampun, Gusti, Akan tetapi hamba kira tidaklah bijaksana kalau paduka mengutus Patih Kebo Anengah untuk membawa sisa pasukan menyusul Raden Wijaya ke Mameling. Dengan demikian, maka Singosari menjadi kosong dan tidak ada kekuatan pasukan besar yang menjaganya. Apa artinya pasukan pengawal yang kecil jumlahnya jika menghadpi bahaya serbuan musuh?"

Juga Mantri Angabaya Wirakreti, bekas tumenggung yang juga dilorot pangkatnya karena sudah tua itu, ikut membujuk.

"Hamba kira pasukan yang dipimpin Raden Wijaya sudah cukup untuk menanggulangi musuh yang menyerbu dari Mameling, Gusti. Sebaiknya ibu kota jangan dikosongkan "

"Ah, kalian ini orang orang tua yang penakut. Musuh masih amat jauh dan kalian telah menjadi gugup. Wijaya itu masih muda, kurang pengalaman, maka sebaiknya kalau dia dibantu oleh Kebo Anengah agar sekali pukul, pihak musuh akan dapat dihancurkan. Mereka menyerbu dari utara, maka bahaya hanya datang dari arah utara. Mengapa harus takut akan kemungkinan penyerbuan lain?"

Sang Prabu Kertanagara tetap tidak memperdulikan nasehat dua orang ponggawa tua itu dan berangkatlah Kebo Anengah membawa hampir semua sisa pasukan yang berada di Singosari.

Memang inilah yang dinanti nanti oleh barisan dari Kediri yang mengatur siasat memancing harimau meninggaikan sarang itu.

Diam-diam, pasukan yang dipimpin oleh Ki Patih Kebo Mundarang dari Kediri, menyusup dari selatan dan dapat menyerbu tanpa banyak perlawanan.

Dengan mudahnya pasukan Kediri ini masiuk dari selatan melalui Lawor terus ke Sidabawana.

Sementara itu, Sang Prabu Kertanagara masih enak-enak saja, seolah-olah tidak ada bahaya mengancam, bersenang-senang di keputren bersama para selir dan dayang, berpesta pora dihibur gamelan yang mengiringi alunan suara merdu dan tubuh muda indah meliak-liuk ketika para dayang bertembang dan menari.

Ki Patih Angragani menemani junjungannya berpesta pora, yakin bahwa para senopati pasti akan mampu menindas dan menumpas pemberontak itu.

Bahkan Ki Patih Angragani demikian gembira ketika Sang Prabu Kertanagara minta agar dia suka ikut berjoget, ditemani seorang dayang yang cantik.

Ki Patih memperoleh kesempatan memperagakan dirinya dan memamerkan kepandaiannya berjoget Diantara demikian banyaknya wanita ayu.

Pengaruh minuman keras membuat sang patih yang sudah setengah mabok ini agak lupa diri, berani pula ketika berjoget tangannya kadang-kadang menjamah dan menyentuh tubuh lawannya berjoget dengan genit, Sang Prabu yang melihat ini hanya tertawa saja karena dia sendiripun sudah setengah mabok.

Tiba-tiba, terdengar sorak sorai yang menggegap-gempita, mengatasi riuhnya suara gamelan.

Dengan sendirinya, tanpa diperintah lagi, para penabuh gamelan menghentikan tabuhan mereka dan para dayang menghentikan tarian dan nyanyian mereka.

Semua orang menoleh ke arah pura di depan istana karena dari sanalah datangnya sorak sorai itu.

Muncullah Adhyaksa Empu Raganata yang tua dan Mantri Angabaya Wirakreti tergopoh-gopoh menghadap Sang Prabu Kertanagara.

Melihat mereka menghadap, langsung saja sang prabu bertanya apa yang telah terjadi di luar maka demikian bising.

"Ampun, Kanjeng Gusti. Pasukan dari Kediri telah datang menyerbu"

"Apa?"

Sang Prabu Kertanagara berteriak heran.

"Bukakah Wijaya dan Mahesa Angragani telah mengerahkan pasukan untuk menggempur mereka?"

"Ampun, Gusti. Yang kini menyerbu masuk ke Singosari bukankah pasukan yang menyerbu ke Mameling, melainkan pasukan Kediri lain yang menyerbu dari selatan, pasukan besar sekali yang dipimpin oleh Kebo Mundarang"

"Patih Angragani, kerahkan seluruh sisa pasukan untuk menyelamatkan istana. Paman Raganata dan Wirakreti, ajak semua pengawal untuk mempertahankan istana. Kami.....kami menanti di sini dan berdoa...."

Ki Patih Angragani cepat keluar dari keputren untuk melaksanakan perintah junjungannya.

Akan tetapi Adhyaksa Empu Raganata dari Mantri Angabaya Wirakreti menyembah kepada Sang Prabu Kertanagara.

Kakek Empu Raganata berkata dengan suara yang tegas.

"Kanjeng Gusti, ampunkan kalau hamba mengeluarkan ucapan yang tidak sedap didengar. Akan tetapi, Gusti semenjak dahulu, para eyang paduka adalah raja-raja bijaksana yang berjiwa pahlawan. Tidak mabok kesenangan kalau negara sedang makmur, dan tidak menyembunyikan diri kalau negara sedang dilanda musibah. Bahkan pantang bagi seorang junjungan untuk bersembunyi di keputren di kala negara dilanda perang. Sungguh merupakan aib kalau sampai paduka ditemukan pihak musuh di dalam keputren. Hamba hanya mengingatkan paduka, Gusti, agar paduka tidak mengecewakan para junjungan yang terdahulu"

Bangkit semangat Sang Prabu Kertanagara mendengar nasihat bekas patih yang tua dan bijaksana ini.

Baru dia sadar akan kesetiaan dan kebijaksanaan Empu Raganata dan dia merasa menyesal mengapa sebelum ini dia tidak pernah mendengarkan nasihat nasihat yang amat bijaksana darinya.

Diapun bangkit dan merangkul bekas patih itu.

"Aduh paman Raganata, baru terbuka kesadaranku sekarang. Ucapanmu tadi sungguh tepat sekali. Bagi seorang raja yang bertenggung jawab, lebih baik gugur sebagai kusuma bangsa dari pada hidup menjadi tawanan perang pihak musuh dan menerima penghinaan. Mari paman, mari kita lawan para penghianat Kediri itu sampai titik darah penghabisan"

"Sejengkal tanah, sepercik darah"

Kakek itu berseru sambil mengepal tinju, membangkitkan semangat semua orang yang mendengarnya, Berbondong-bondong mereka keluar, Sang Prabu Kertanagara dengan tombak dan keris di tangan, Patih Anggragani yang sudah mendahului mereka, Empu Raganata dan Mantri Wirakreti.

Mereka membawa pengawal, sisa pasukan kecil yang ada dan mengamuk menahan serbuan pihak musuh yang sudah mulai menyerbu istana.

Akan tetapi, jumlah pasukan Kediri jauh lebih besar sehingga gagallah semua pertahanan dan perlawanan sisa pasukan Singosari mempertahankan istana dan melindungi raja mereka.

Mereka semua gugur dan tewas di bawah hujan senjata pihak musuh.

Ketika itu, pasukan yang dipimpin oleh Mahesa Anengah belum jauh meninggalkan Singosari, menuju ke utara untuk membantu Raden Wijaya yang menyambut serbuan pasuk an Kediri di Mameling.

Ketika mendengar sorak-sorai pasukan musuh yang menyerbu Singosari dari selatan.

Ki Patih Mahesa Anengah lalu membalik dan kembali ke Singosari, bermaksud menyelamatkan rajanya.

Namun, kedatangannya terlambat.

Bukan saja Mahesa Anengah dan pasukannya tidak mampu menyelamatkan Sang Prabu Kertanagara, bahkan pasukan yang dipimpinnya juga dihancurkan oleh pihak musuh yang jauh lebih kuat, dan Ki Patih Mahesa Anengah sendiri tewas dalam pertempuran itu.

Sambil bersorak sorai pasukan dari Kediri menyerbu istana dan pertempuran itu kini berubah menjadi pembantaian, perampokan dan perkosaan.

Terdengar jerit tangis para wanita, teriakan mereka yang tersiksa dan terbunuh.

Selagi para perajurit Kediri menjarah-rayah, menculik dan memperkosa wanita, merampoki barang berharga, membunuhi orang tua dan kanak kanak nampak ada dua orang puteri menyelinap keluar dari dalam istana melalui jalan rahasia yang berada di belakang taman istana.

Mereka tidak menangis seperti para puteri istana yang lain, yang hanya mampu menangis dan tidak berdaya ketika pasukan musuh menyerbu keputren.

Dua orang puteri ini adalah Sang Puteri Tribuwana dan Sang Puteri Giyatri, dua orang puteri dari Sang Prabu Kertanagara.

Mereka berhasil lolos dari keputren sebelum pasukan musuh menyerbu bagian paling dalam dari istana itu, dan mereka melarikan diri lewat pintu rahasia di taman.

Kini mereka melarikan diri, Diantara rumah-rumah yang terbakar, tidak tahu arah tujuan, pokoknya menjauhi istana dan menjauhi pasukan musuh.

"Aduh, diajeng Pusparasmi, di mana-mana ada musuh. Kita hanya dapat mohon perlindungan para dewata semoga kita akan dapat meloloskan diri dan tangan mereka......"

Keluh Puteri Tribuwana atau yang juga bernama Puspawati.

Adapun Puteri Gayatri juga disebut dengan nama Pusparasmi.

Pusparasmi atau Puteri Gayatri maklum bahwa kakaknya merasa lebih aman kalau mereka berdus mempergunakan nama kecil itu.

Ia mengejuh dan berhenti lari, bahkan lalu menjatuhkan dirinya duduk di bawah pohon di tepi jalan, memijit-mijit betisnya.

"Aduh, kakangmbok Puspawati........ aku sudah tidak kuat lagi. Lihat, kakiku bengkak-bengkak, ujung jarinya berdarah....... nyeri bukan main"

Puspawati melihat ke arah betis adiknya, Kain itu disingkap ke atas, nampak di bawah sinar api kebakaran, betis yang memadi bunting berkulit kuning putih mulus dan memang benar, telapak kaki yang halus itu, yang tumitnya kemerahan, nampak bengkak bengkak dan ujung jarinya luka berdarah.

Keadaan kaki Pusparasmi menyedihkan, akan tetapi kaki Puspawati sendiripun tidak lebih baik keadaannya.

Dua orang puteri ini tentu saja tidak biasa berjalan di atas batu kerikil yang tajam dan kasar.

Akan tetapi Puspawati mencoba untuk membangunkan adiknya.

"Diajeng Pusparasmi, kita tidak boleh berhenti di sini. Hayo bangunlah, kita harus berlari terus sampai jauh agar jangan sampai tertangk,ap oleh iblis-iblis itu...."

Pusparasmi dipaksa kakaknya bangkit lagi dan terhuyung huyung ketika ia dipapah kakaknya melanjutkan lari mereka.

Di sana sini masih terjadi pertempuran yang berat sebelah.

Banyak pula rakyat yang bangkit dan melawan para penyerbu karena melihat betapa barang mereka dirampok, anak gadis dan isteri mereka diculik, orang tua dan anak kecil dibunuh.

Banyak pula yang berbondong-bondong melarikan diri cerai berai.

Keadaan Singosari geser seperti sekelompok semut ditiup, lari ke sana-sini tak menentu dan para wanita menangis, anak anak memanggil manggil ayah ibunya, kakek dan nenek lari tersaruk-saruk.

Ada yang jatuh terinjak kuda, ada yang berkelahi mati-matian.

Ketika dua orang puteri itu tiba di jalan perempatan, datang serombongan pengungsi yang lari dikejar kejar beberapa orang perajurit Kediri.

Karena mereka lari tunggang-langgang, maka dua orang gadis bangsawan itu terseret dan akhirnya mereka berpisah karena tangan mereka yang saling berpegang itu terlepas oleh desakan orang orang yang lari ketakutan.

Puteri Tribuwana terkejut dan panik.

"Pusparasmi.......... Diajeng Pusparasmi........ teriaknya berkali-kali sambil mengejar ke sana-sini. ia tidak berani memanggil adiknya dengan nama Gayatri karena kalau sampai terdengar oleh pasukan Kediri, tentu akan menjadi perhatian. Namun panggilannya tidak ada jawaban. Puteri Tribuwana lari kesana ke mari sambil beiteriak teriak memanggil, tidak tahu bahwa ia mencari ke jurusan yang berlawanan sehingga semakin jauh terpisah dari adiknya. Iapun tidak tahu bahwa adiknya itu telah tertawan oleh perajurit-perajurit Kediri yang mengenal puteri itu, maka segera tawanan yang amat penting itu dipisahkan diperlakukan dengan hormat, menjadi tawanan yang akan dihaturkan ke hadapan Sang Prabu Jayakatwang di Kediri. Puspawati atau Puteri Tribuwana terpaksa melarikan diri sambil memanggil-manggil nama adiknya. Ia tidak menangis. Puteri ini memang tabah sekali dan tidak mudah putus asa. Akan tetapi, Tiba-tiba dari samping ada seorang laki-laki tinggi besar yang menubruknya. Sang puteri mengelak, akan tetapi lengannya dapat ditangkap orang itu, ia menoleh dan melihat bahwa yang menangkap lengannya adalah seorang perajurit Kediri yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, bercambang bauk mengerikan sekali.

"Lepaskan"

Bentak sang puteri dan dengan gerakan mendadak, ia berhasil melepaskan lengannya dan melarikan diri.

"Ha ha ha, engkau cantik manis sekali. Hendak lari ke mana kau, manis"

Orang itu tertawa dan mengejar.

Tentu saja dengan langkah-langkah yang lebar dengan mudah dia dapat menyusul Puspawati.

Puteri ini mendengar langkah kaki yang berat dan dengus napas seperti kerbau gila di belakangnya, lalu berhenti dan mencabut sebatang keris kecil dari pinggangnya.

Dengan keris di tangan ia menanti pengejarnya lalu membentak dengam suara nyaring berwibawa.

"Berhenti, atau engkau akan mati di tanganku"

Laki laki tinggi besar itu terbelalak dan tertawa.

"Hahaha, engkau semakin manis dan cantik jelita saja. Wah, tidak kalah oleh para puteri istana. Mari, manis, marilah engkau ikut Yuyu Rumpung dan hidup dengan mulia. Aku perajurit gemblengan dan sebentar lagi naik pangkat "

Laki-laki itu menubruk, Puspawati menyambutnya dengan tusukan kerisnya.

Akan tetapi yang dihadapinya adalah seorang perajurit kawakan yang sudah berpengalaman.

Dengan mudahnya, lengan kanan gadis itu ditangkap, dipuntir sehingga kerisnya terlepas dan di lain saat, tubuh yang ramping itu telah dirangkul dan didekap.

Akan tetapi sebelum mulut yang lebar dan basah itu sempat mencium, pundaknya ditampar orang.

"Lepaskan gadis itu"

Tamparan itu membuat Yuyu Rumpung terkejut dan rangkulannya terlepas, tulang pundaknya seperti patah patah rasanya.

Dengan penuh geram dia membalik dan melotot.

Kiranya yang menamparnya itu seorang pemuda yang memanggul seorang kakek yang agaknya menderita luka luka parah.

Tentu saja Yuyu Rumpung memandang rendah dan kemarahannya memuncak.

Dia adalah seorang perajurit Kediri yang sudah gemblengan dan terkenal diantara kawan kawannya.

Kini, melihat seorang pemuda biasa saja berani menampar pundaknya dan menghalangi kesenangannya, apa lagi menggagalkan dia memetik sekuntum mawar indah ini, tentu saja dia marah sekali.

Gadis jelita yang terlepas dari pelukannya itu kini telah lari ke belakang pemuda tadi, agaknya mencari perlidungan.

"Babo babo keparat. Engkau ini pamongan Singosari berani kurang ajar kepadaku? Haha, belum mengenal tangan besi Yuyu Rumpung kamu"

Setelah berkata demikian, Yuyu Rumpung menyerang dengan ganasnya, tangan kanannya mencengkeram ke arah leher, tangan kanan dikepal menghantam ke arah mua pemuda itu.

Pemuda itu sedang memanggul tubuh seorang kakek yang agaknya pingsan, dengan tubuh yang luka luka, memanggulnya di atas pundak kiri dan dirangkulnya dengan lengan kiri.

Lengan kanannya saja yang bebas.

Akan letapi menghadapi serangan Yuyu Rumpung yang dahsyat itu, dia bersikap tenang saja.

Ketika kedua tangan lawan itu sudah menyambar dekat, dia menggeser kaki ke kiri dan dari kiri tangan kanannya menyambar ke kanan, sekaligus menangkis kedua lengan Yuyu Rumpung.

Tenaganya demikian dahsyat sehingga begitu kedua lengan Yuyu Rumpung bertemu dengan tangan pemuda itu, Yuyu Rumpung terpekik dan terpelanting roboh seperti dibanting oleh tenaga raksasa.

Yuyu Rumpung penasaran dan semakin marah, akan tetapi begitu dia berusaha bangkit, kaki pemuda itu menyambar bagaikan kilat.

"Krokkkk "

Kaki itu mengenai dagu, demikian kerasnya sehingga tulang leher Yuyu Rumpung patah dan tubuhnya terbanting keras dengan kepala terpuntir ke belakang dan dia tewas seketika.

Sementara itu, Puspawati atau Puteri Tribuwana yang tadi ketakutan, ketika melihat penyerangnya itu mulai berkelahi melawan pemuda yang menolongnya, sudah cepat melarikan diri memasuki rombongan pengungsi.

Pemuda itu membalikkan tubuh, dengan pandang matanya mencari-cari, dan ketika dia tidak melihat gadis yang ditolongnya, dia menghela napas.

"Hemm, kalau tidak keliru, dara tadi adalah Sang Puteri Keraton Tribuwana....... Aduh, sungguh malang nasib keluarga Sang Prabu."

Pada saat itu, datang lima orang perajurit yang menjadi marah sekali melihat seorang kawannya menggeletak tewas.

Mereka segera mengepung pemuda yang memanggul tubuh kakek itu, dengan parang di tangan.

Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, mereka menyerang dengan parang, membacok sekenanya, tidak perduli apakah parang mereka itu akan mengenai si pemuda atau kakek yang dipanggulnya.

Tugas mereka sebagai perajurit Kediri hanyalah membunuh, merampok dan membasmi orang orang Singosari.

Pemuda itu nampaknya sudah lelah sekali dan selain pakaiannya robek robek, juga ada beberapa luka di tubuhnya.

Kini, menghadapi pengeroyokan lima orang itu, dia mendahului dengan loncatan ke kiri, tangan kanannya menyambar dan robohlah seorang pengepung di sebelah kiri.

Ketika empat orang lainnya maju mengejar, kakinya menendang dan kembali seorang Diantara mereka roboh dan pemuda itu lalu meloncat dan menghilang Diantara rumah rumah yang mulai terbakar.

Tiga orang perajurit itu mengejar, namun tidak dapat menemukannya dan mereka menimpakan kemarahan kepada para penduduk yang sedang lari mengungsi.

Mereka membabat siapa saja yang mereka temukan.

Siapakah pemuda perkasa itu?

Dia adalah, seorang pendekar muda yang sakti mandraguna berjiwa ksatria dan namanya adalah Nurseta.

Pemuda ini berusia tigapuluh tahun lebih, berwajah tampan dan bersikap halus dengan pakaian yang sederhana.

Biarpun nampaknya saja dia seorang pemuda biasa yang lemah lembut, namun sesungguhnya di dalam tubuhnya mengalir banyak aji kesaktian yang (Lanjut ke

Jilid 18) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 ampuh.

Kalau belum mengenai orangnya, maka tidak akan ada yang menyangka bahwa pemuda tampan yang cambangnya agak tebal, kumis tipis tanpa jenggot ini memiliki kepandaian yang hebat, yang membuatnya menjadi seorang yang digdaya, Nurseta adalah putera angkat dari Ki Baka, seorang kakek pendekar yang berjiwa pahlawan, seorang ksatria tulen yang ditakuti lawan disegani kawan.

Sebagai putera angkat Ki Baka, tentu saja Nurseta mewarisi ilmu ilmu kakek ini, antara lain yang amat terkenal adalah Aji Sari Patala yang mendatangkan kekuatan dahsyat dari bumi, aji pukulan Bajradenta dan ilmu memberatkan tubuh yang disebut Wandiro Kingkin.

Kalau hanya mewarisi ilmu ilmu dari ayah angkatnya saja, belumlah Nurseta dapat dianggap sebagai seorang pemuda yang sakti mandraguna.

Dia bahkan mendapat gemblengan dari gurunya, yaitu mendiang Sang Panembahan Sidik Danasura, seorang pertapa.yang sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu kebatinan.

Dari Sang Panembahan ini dia mewarisi aji pukulan yang dinamakan Aji Jagad Pralaya (Dunia Kiamat).

Pemuda perkasa ini pernah membantu Kerajaan Singosari ketika membasmi pemberontakan Mahesa Rangkah dan Raden Wijaya, calon mantu Sang Prabu Kertanagara, dia memperoleh hadiah sebatang keris yang diberi nama Hat Nogo.

Biarpun Nurseta seorang pemuda gagah perkasa, seorang satria utama, namun dia memiliki rahasia pribadi yang amat memprihatinkan hatinya, yaitu kenyataan yang baru diketahuinya setelah dia dewasa bahwa dia hanyalah putera angkat dari Ki Baka dan bahwa sesungguhnya dia adalah putera kandung dari mendiang Pangeran Panji Hardoko dari Kerajaan Kediri.

Dia masih darah keturunan keluarga Kerajaan.

Daha atau Kediri.

Ini masih belum menyedihkan hatinya.

Yang membuat dia selama ini merasa prihatin dan terpukul adalah bahwa ibu kandungnya adalah Ni Dedeh Sawitri, seorang wanita tokoh sesat yang terkenal sakti mandraguna akan tetapi juga kejam, jahat, cantik, genit dan cabul, ahli menggunakan racun yang amat keji dan berbahaya.

Kenyataan inilah yang menghancurkan hatinya, yang memisahkan dia dari kekasihnya.

Dia saling mencinta dengan Wulansari, gadis cantik jelita dan gagah perkasa yang kini menjadi pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatwang.

Wulansari adalah puteri dari Ki Medang Dangdi seorang diantara para senopati Kerajaan Singosari.

Ketika Ki Medang Dangdi mendengar bahwa dia putera kandung Ni Dedeh Sawitri senopati itu dengan bersikeras tidak memperbolehkan puterinya menjadi isterinya.

Inilah pukulan batin yang membuat Nurseta melarikan diri karena malu, sedangkan kekasihnya Wulansari juga melarikan diri.

Mereka saling berpisah dan tidak mengetahui keadaan masing-masing.

Ketika Kerajaan Kediri memberontak dan menyerang Singosari, kebetulan sekali Nurseta dan Ki Baka sedang berkunjung ke ibu kota Singosari.

Kunjungan ini bukan perjalanan biasa, melainkan karena Ki Baka yang usianya sudah amat lanjut itu, sudah tujuhpuluh empat tahun lebih, ikut merasa prihatin melihat nasib putera angkatnya yang dikasihinya.

Dia mengajak Nurseta ke ibu kota Singosari, untuk menemui Ki Medang Dangdi dan Ki Baka.

sendiri yang akan melamar Wulansari untuk putera angkatnya, meyakinkan hati Ki Medang Dangdi bahwa biarpun Nurseta putera kandung ibunya yang terkenal jahat, namun sejak kecil dialah yang mendidik Nurseta yang kemudian menjadi murid Sang Panembahan Sidik Danasura.

Pertemuan antara Ki Baka dan Ki Medang Dangdi berlangsung dengan akrab sekali.

Ki Medang Dangdi menghormati Ki Baka yang terkenal sebagai seorang pendekar dan pahlawan, walaupun Ki Baka tidak pernah mau memegang jabatan di Kerajaan Singosari.

Memang, Ki Baka adalah adik kandung dari men diang Ki Baya atau Bayaraja yang pernah terkenal sebagai seorang tokoh sesat, seorang penjahat besar yang pernah memberontak kepada Kerajaan Singosari sehingga ditumpas dan tewas.

Namun, Ki Baka amat berbeda dari kakaknya itu.

Ki Baka selalu membantu pemerintah kerajaan untuk menentang semua pemberontakkan dan kejahatan.

Inilah sebabnya maka Ki Baka diterima dengan penuh kehormatan oleh Ki Medang Dangdi, senopati Singosari itu.

Ketika Ki Baka mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu dengan resmi meminang Wulansari untuk dijodohlcan dengan putera angkatnya dan dengan singkat dia menceritakan riwayat Nurseta, Ki Medang Dangdi menghela napas panjang, dan isterinya yang bernama Warsiyem, juga seorang wanita gagah nampak berduka.

"Kami telah menyadari kekeliruan kami, Kakang Baka. Memang pada waktu kami mendengar bahwa anakmas Nurseta putera kandung Ni Dedeh Sawitri, hati kami terkejut bukan main. Siapa yang tidak akan merasa ngeri mendengar nama........iblis betina itu? Maafkan, anakmas Nurseta, kalau aku memakinya. Dan penolakan kami terhadap ikatan jodoh itu ternyata berakibat besar. Puteri kami, Wulansari, lolos dari sini dan pergi tanpa pamit. Kami tidak tahu ke mana anak kami itu pergi bahkan kabar yang amat menyusahkan hati kami adalah bahwa ia menghambakan diri di Kerajaan Daha"

Nurseta mengerutkan alisnya.

Kalau Wulansari meninggalkan rumah, berarti gadisi itu memang memberatkan dia dan sungguh sungguh mencintanya.

Mungkin saja gadis itu mengabdl di Kerajaan Kediri, karena bukankah gurunya, Ki Cucut Kalasekti, juga dianugerahi pangkat oleh Sang Prabu Jayakatwang, menjadi Adipati Satyanegara di Bendowinangun?

Ki Baka dapat mengerti akan perasaan hati Nurseta.

"Adimas Medang Dangdi. Mengenai kepergian puterimu, biarlah Nurseta _yang akan mencarinya, yang penting sekarang apakah adimas berdua dapat menerima pinanganku ataukah tidak. Kalau adimas menerima, serahkan saja kepada calon mantu kalian in. untuk mencari Wulansari sampai dapat"

"Seperti kami telah menyatakan tadi, Kakang Baka, kami merasa menyesal akan kesalahan kami dan tentu saja kami menerima dengan hati dan kedua tangan terbuka. Bahkan kami menghaturkan terima kasih kepada Kakangmas dan juga kepada anakmas Nurseta yang tidak menaruh hati dendam kepada kami, masih sudi datang mengajukan pinangan, Kami terima dengan hati gembira, Kakang. Akan tetapi, tentu saja kami menyerahkan selanjutnya kepada puteri kami sendiri, Kalau ia masih suka menjadi isteri anakmas Nurseta setelah penolakan kami dahulu, kami akan berbahagia sekali"

Legalah rasa hati Ki Baka.

Tugasnya yang terakhir telah diselesaikannya dengan baik Dalam usianya yang sudah tua itu, dia merasa prihatin melihat kesengsaraan putera angkatnya yang gagal dalam bercinta, Mereka menjadi tamu yang dihormati di rumah keluarga Ki Medang Dangdi, Akan tetapi baru sehari Ki Baka dan Nurseta berada di ibu kota, mendadak Ki Medang Dangdi menyampaikan berita akan penyerbuan pasukan Kediri dan bahwa dia harus berangkat untuk membantu Raden Wijaya yang mendapat tugas dari Sang Prabu untuk menyambut serbuan musuh dari utara.

Setelah Ki Medang Dangdi berangkat, Ki Baka dan Nurseta juga pergi untuk melihat keadaan.

Demikianlah, ketika pasukan besar dari Kediri menyerbu ibu kota dari selatan, di waktu pasukan kosong karena Sang Prabu Kertanagara menguras semua pasukan untuk diberangkatkan ke utara, terkena tipu daya yang dilakukan pasukan Kediri, Ki Baka dan Nurseta yang berada di ibu kota lalu mengamuk.

"Sejengkal tanah sepercik darah, Nurseta"

Bentak Ki Baka ketika mereka berhadapan dengan ratusan orang pasukan dari Kediri.

"Sejengkal tanah sepercik darah, Ayah"

Nurseta juga berseru penuh semangat kepahlawanan, berdiri tegak di samping ayah angkatnya sambil menghunus keris Hat Nogo hadiah dari Raden Wijaya.

Anak dan ayah angkat itu mengamuk, dikeroyok oleh ratusan orang perajurit.

Mereka berdua adalah orang-orang yang digdaya dan sakti mandraguna.

Ki Baka yang sudah berusia tujuhpuluh lima tahunan itu mengamuk seperti banteng terluka, juga Nurseta mengamuk seperti seekor harimau kelaparan.

Entah berapa banyaknya pihak musuh yang roboh malang melintang dan bertumpuk-tumpuk oleh pengamukan dua orang yang sakti ini.

Akan tetapi, makin banyak saja pasukan yang muncul.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis seperti ular, disusul lengkingan panjang dan nyaring.

Nurseta dan Ki Baka terkejut.

Mereka berdua walaupun digdaya dan kebal, tetap saja kewalahan menghadapi pengeroyokan ratusan orang musuh.

Apa lagi Ki Baka yang usianya sudah tua.

Dia sudah lelah sekali, keringat membasahi seluruh tubuh, bahkan kelelahan membuat kekebalannya berkurang dan sudah ada beberapa bagian tubuhnya terluka bacokan.

Bahkan Nurseta sendiripun sudah mengalami beberapa luka yang ringan di pangkal lengan, dan paha, bajunya sudah robek-robek.

Lengkingan yang mengandung tenaga dahsyat itu menunjukkan akan munculnya seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan kekuatan dahsyat.

Tiba-tiba, orang yang mengeluarkan lengking panjang itu muncul dan kedua orang.

pahlawan itu makin kaget lagi, Mereka segera mengenai orang ini, yang merupakan datuk sesat yang amat kejam dan licik, juga memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Seorang kakek yang usianya sebaya dengan Ki Baka mukanya membiru seperti muka ikan dengan mulut yang meruncing.

Jubahnya kuning menutupi pakaian adipati dan di sebelah dalamj terdapat pakaian yang seperti sisik ikan.

Inilah dia datuk sesat Ki Cucut Kalasekti yang kini telah menjadi Adipati Satyanegara, adipati yang berkuasa di Bendowinangun dekat Kali Campur, daerah Kerajaan Kediri.

Kiranya, dalam penyerbuan ke Singosari ini, Adipati Satyanegara atau Ki Cucut Kalasekti juga diperbantukan.

Nurseta juga heran melihat munculnya kakek iblis itu, Dahulu, ketika dia terjerumus ke dalam jurang oleh perbuatan Ki Cucut Kalasekti dan dia bertemu dengan Warsiyem isteri Ki Medang Dangdi atau ibu kandung Wulansari yang oleh Ki Cucut Kalasekti ditahan di dalam goa di tebing maut, dia berhasil memukul roboh datuk sesat itu sehingga pingsan.

Kemudian, dia mengajak ibu Wulansari untuk menyelamatkan diri keluar dari goa, mempergunakan perahu milik datuk sesat itu.

Datuk sesat itu ditinggalkannya di dalam goa di tebing laut yang curam.

Tanpa adanya perahu, bagaimana mungkin kini kakek itu mendadak sudah muncul kembali?

Akan tetapi dia lalu teringat akan satu Diantara ilmu-ilmu kepandaian Ki Cucut Kalasekti yang luar biasa, yaitu ilmu ikan, atau ilmu bermain di dalam air seperti ikan.

Agaknya, bagi kakek itu tidak sukar menyelamatkan diri dari goa di tebing itu dengan terjun ke lautan walaupun tidak ada perahu.

Tentu dia pandai menyelam dan berenang diantara ombak-ombak sebesar bukit dari Lautan Selatan dan berhasil mendarat dengan selamat.

Melihat ayah dan anak itu, Adipati Satyanegara tertawa bergelak lalu berkata dengan nada angkuh.

"Babo babo, kiranya Ki Baka dan Nurseta yang mengamuk di sini. Pantas saja pasukan kocar kacir. Hahaha, sungguh kebetulan sekali. Nurseta, di sinilah aku membuat pembalasan karena engkau dan Ki Baka tentu akan mampus di tanganku"

Dia lalu memberi aba aba kepada pasukan untuk mengeroyok lagi, dan dia sendiri lalu menggerakkan sebatang pedang yang dicabut dari pinggangnya, menyerang Ki Baka.

Nurseta hendak melindungi ayah angkatnya yang dia tahu sudah lelah sekali dari serangan lawan yang amat berbahaya itu.

Akan tetapi banyak sekali perajurit Kediri sudah mengepung dan mengeroyoknya sehingga tidak ada lain jalan baginya kecuali mengamuk lagi, mencoba untuk membobolkan kepungan agar dia dapat melindungi ayah angkatnya.

Ki Baka juga dikeroyok banyak perajurit, bahkan kini ada bahaya yang selalu mengancam dari pedang Ki Cucut Kalasekti yang amat berbahaya itu.

Kakek ini mengamuk dengan hebatnya.

Seorang kakek yang usianya sudah tujuhpuluh empat tahun lebih, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar itu masih kokoh kuat bagaikan batu gunung.

Kumisnya yang sudah berwarna putih itu masih tebal dan matanya yang lebar melotot penuh kemarahan.

Setiap tendangan atau tamparan tangannya tentu merobohkan seorang pengeroyok dan yang roboh itu tidak mungkin dapat bangkit kembali.

Hal ini tidak mengherankan karena tendangannya itu mengandung tenaga sakti Aji Sari Patala, sedangkan tamparan tangannya adalah Aji Bajradenta.

Akan tetapi pihak musuh terlalu banyak.

Roboh satu maju dua, roboh dua maju empat.

Terutama sekali serangan-serangan pedang di tangan Ki Cucut Kalasekti membuat kakek gagah perkasa itu menjadi repot sekali.

Terpaksa dia merampas sebatang tombak dan dengan tombak ini dia menangkis sambaran pedang Ki Cucut Kalasekti.

Namun, tetap saja tubuhnya menjadi sasaran banyak senjata lawan sehingga penuh luka-luka.

Juga dua kali ujung pedang Ki Cucut Kalasekti mengenai pundak dan pahanya.

Luka oleh pedang ini terasa nyeri bukan main, panas menggigit dan gatal, tanda bahwa pedang itu tentu mengandung racun.

"Wuuuuttt....... desss....."

Sebuah ruyung besi menghantam punggung Ki Baka dari belakang.

Ki Baka mengeluh dan muntah darah, tombaknya menyambar ke belakang, menembusi perut lawan yang menghantamkan ruyung.

Akan tetapi Ki Baka sendiri terhuyung-huyung karena hantaman ruyung tadi membuat dia terluka dalam dadanya dan pandang matanya berkunang.

Dia maklum bahwa keadaannya terancam maut, maka diapun memekik dengan suara dahsyat.

"Sejengkal tanah sepercik darah"

Tombaknya kembali menyambut para pengepung dan demikian kuatnya dia menusukkan tombaknya sehingga tombak itu menembus perut seorang pengeroyok, tembus ke punggung dan memasuki perut orang ke dua.

Akan tetapi, dia mendapat kesulitan untuk mencabut tombak yang menembus tubuh dua orang lawan itu dan pada saat itu, tangan kiri Ki Cucut Kalasekti menyambar ganas.

"Desss......."

Dada Ki Baka kena hantaman tangan terbuka dari Ki Cucut Kalasekti.

Ki Baka mengeluh lirih dan tubuhnya terjengkang ke belakang dalam keadaan pingsan.

Sementara itu, Nurseta yang mengkhawatirkan keadaan ayah angkatnya, berhasil membobolkan kepungan dengan terjangannya yang dahsyat sehingga ketika dia menerjang maju itu enam orang perajurit musuh terjengkang dan yang lain merasa jerih dan mundur.

Kesempatan iui dipergunakan oleh Nurseta untuk melompat keluar dari kepungan.

Pada saat itu dia melihat ayah angkatnya terjengkang oleh pukulan Ki Cucut Kalasekti yang tertawa-tawa bergelak melihat robohnya lawan.

Nurseta melompat ke arah Ki Cucut Kalasekti, mulutnya mengeluarkan teriakan melengking nyaring yang membuat banyak perajurit seperti lumpuh seketika dan banyak pula yang terguling roboh.

"Hyaaaaatttt........"

Angin dahsyat menyambar ke arah Ki Cucut Kalasekti yang terkejut sekali, Kakek ini mencoba untuk menangkis dengan pengerahan tenaganya sambil membacokkan pedangnya.

"Bressss"

Pedang itu terpental lepas dari tangannya dan tubuh kakek itu sendiri juga terdorong sampai beberapa meter jauhnya kemudian roboh telentang.

Hebat sekali pukulan itu, karena pukulan yang dilakukan Nurseta itu adalah Aji Jagad Pralaya.

Kalau bukan Ki Cucut Kalasekti, tentu sudah remuk isi dadanya.

Nurseta cepat menyambar tubuh ayah angkatnya, dipanggulnya tubuh itu dan diapun melarikan diri.

Ki Cucut Kalasekti bangkit duduk, tidak berani mengejar dan dia memandang ke arah dadanya, bergidik ngeri.

Bajunya Sisik Nogo telah pecah.

Pada hal, baju itu tidak dapat ditembus senjata tajam yang bagaimanapun ampuhnya.

Demikianlah, ketika dia sedang melarikan tubuh ayah angkatnya yang terluka parah dan pingsan, di dalam perjalanan itu Nurseta melihat Puspawati atau Puteri Tribuwana yang dihadang Yuyu Rumpung yang akan menangkapnya dan Nurseta menyelamatkan puteri itu yang melarikan diri setelah terlepas dari tangan Yuyu Rumpung.

Karena dia sendiri ingin menyelamatkan ayah angkatnya, maka Nurseta tidak dapat mencari lagi puteri itu dan diapun cepat melarikan diri keluar dan ibu kota Singosari yang sedang dilanda kemelut perang itu dan berhasil keluar dari pintu gerbang menuju ke sebuah bukit yang sunyi.

Maklum akan bahaya yang mengancam Singosari, Raden Wijaya yang mendapatkan tugas mengepalai pasukan untuk menanggulangi penyerbuan pasukan Kediri yang kuat, menyerahkan para pembantunya, yaitu para senopati yang setia kepadanya.

Mereka itu antara lain adalah Lembu Sora, Gajah Pagon, Medang Dangdi, Mahesa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kapetengen, Wirota Wirogati, Pamandana dan banyak lagi.

Mereka semua dengan semangat tinggi memimpin pasukan Singosari menuju ke Mameling di mana menurut para penduduk yang lari mengungsi, kini telah diduduki oleh pasukan Kediri.

Yang menjadi pembantu utama atau juga wakilnya adalah Raden Ardaraja, mantu dari Sang Prabu Kertanagara.

Raden Ardaraja ini adalah putera dari Sang Prabu Jayakatwang dari Kediri.

Akan tetapi, di hadapan ayah mertuanya, Raden Ardaraja telah bersumpah untuk setia kepada Singosari dan akan menentang ayahnya sendiri yang dianggapnya memberontak dan tidak mengenal budi itu.

Raden Wijaya juga sudah percaya sepenuhnya kepada saudara iparnya ini.

Begitu tiba di Mameling, Raden Wijaya dan Raden Ardaraja, dibantu oleh para senopati Singosari, segera mengerahkan pasukan menggempur balatentara musuh.

Terjadilah perang tanding yang seru dan matimatian antara pasukan Singosari dan pasukan Kediri.

Akan tetapi segera ternyata bahwa pasukan Kediri yang berada di Mameling itu tidaklah berapa besar.

Dengan mudah saja pasukan Singosari dapat mematahkan perlawanan pasukan Kediri dan mereka melarikan diri keluar dari Mameling.

Raden Wijaya merasa penasaran.

Dia membagi pasukannya menjadi dua, dan mengadakan perundingan kilat dengan Raden Ardaraja dan para senopatinya.

"Musuh sudah dapat dipukul mundur. Kita harus terus melakukan pengejaran dan memasuki daerah Kediri. Kalau perlu kita terus menggempur Kediri, menghukum para pemberontak itu. Kakangmas Ardaraja, kita membagi pasukan menjadi dua, kakangmas memimpin sebagian menyerbu dari sayap kanan, yang sebagian lagi menyerbu dari kiri dan kupimpin sendiri bersama para pembantuku"

Raden Ardaraja menyetujui dan demikianlah, pasukan Singosari dibagi dua dan mereka melakukan pengejaran terhadap tentara Kediri yang mengundarkan diri.

Juga para senopati dibagi dua.

Kebo Kapetengeo, Wirota Wiragati dan Pamandana membantu Raden Ardaraja memimpin pasukan melakukan pengejaran dari sayap kanan, sedangkan para senopati lainnya membantu Raden Wijaya.

Akan tetapi, pada sore harinya, tiga orang senopati yang membantu Riden Ardaraja itu berlari-lari kembali menjumpai Raden Wijaya dalam keadaan luka-luka di tubuh mereka.

"Ah, kakang senopati sekalian mengapa mundur dan luka-luka? Apakah bertemu dengan musuh yang lebih kuat?"

Tanya Raden Wijaya terkejut.

"Celaka, Raden. Agaknya Raden Ardaraja telah berkhianat. Dia membawa pasukan menyeberang dan memihak pasukan Kediri"

"Apa? Sungguh keparat"

Raden Wijaya berseru marah.

"Hamba bertiga tidak setuju dan menolak keinginannya itu. Akibatnya, kami dikeroyok dan terpaksa melarikan diri untuk memberi laporan"

Ruden Wijaya termenung.

Di dalam batinnya, dia tidak dapat terlalu menyalahkan Ardaraja.

Bagaimanapun juga, yang memberontak adalah ayahnya sendiri.

Ardaraja berdiri Diantara dua api.

Diantara ayah kandung dan ayah mertua.

Agaknya akhirnya dia memilih berpihak kepada ayahnya sendiri dan membawa pasukan itu untuk berpihak kepada Kerajaan Kediri.

"Kumpulkan sisa pasukan dan hitung ada berapa banyaknya"

Ketika pasukan dikumpulkan, ternyata hanya ada enam ratus orang lebih saja.

Berat, pikir Raden Wijaya.

Kalau Ardaraja memihak Kediri, maka kekuatan pasukannya terlalu lemah untuk dapat mengimbangi pihak musuh yang jauh lebih besar dan banyak.

Juga hatinya kesal mendengar akan pengkhianatan Ardaraja.

Pada saat itu dia mendengar berita yang amat mengejutkan lagi, yaitu bahwa Singosari telah diserang dan diduduki pasukan Kediri yang menyerbu dari selatan.

Mendengar ini, Raden Wijaya lalu membawa pasukannya kembali ke Singosari, melakukan perjalanan secepatnya untuk menyelamatkan Singosari.

Namun terlambat.

Singosari telah diduduki musuh.

Dengan semangat kepahlawanan yang berkobar, dengan nekat, Raden Wijaya memimpin para senopati dan sisa pasukannya untuk menyerbu ke dalam pura Singosari yang sudah diduduki tentara Kediri.

Namun, pihak musuh terlalu banyak sehingga selalu usaha Raden Wijaya untuk merebut kembali Singosari itu gagal.

Karena pasukannya hanya tinggal sedikit, maka dia hanya mampu mengadakan serangan serangan kecil di waktu malam, yang hanya merupakan gangguan kecil saja bagi pasukan Kediri yang sudah menguasai Singosari sepenuhnya.

Dan setiap hari terjadilah hal hal mengerikan seperti lajim terjadi di waktu perang.

Yang menang lalu mempergunakan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang.

Perampokan, penyiksaan, perkosaan, penculikan dan pembunuhan terjadi setiap hari.

Keluarga Sang Prabu Kertanagara mengalami kehancuran.

Sang Prabu Kertanagara sendiri tewas dalam pertempuran.

Banyak selirnya yang ikut pula berbela sungkawa dan berbela pati membunuh diri.

Banyak pula yang ditawan oleh pasukan musuh yang menawan mereka dan membawa mereka ke Kediri.

Diantara para tawanan ini termasuk pula Sang Puteri Gayatri atau Pusparasmi yang menjadi tawanan agung dan dibawa ke Kediri.

Seperti kita ketahui, dua orang puteri istana itu, Puteri Tribuwana atau Puspawati dan adiknya, Puteri Gayatri atau Pusparasmi, lolos dari istana untuk melarikan diri ketika Singosari diserbu musuh.

Akan tetapi mereka berdua berpisah di tengah jalan yang penuh sesak dengan para pengungsi yang melarikan diri.

Puteri Gayatri bertemu dengan perajurit musuh, dikenal dan ditawan.

Adapun Sang Puteri Tribuwana, hampir saja tertangkap oleh Yuyu Rumpung, seorang perajurit Kediri yang jahat.

Untung ia bertemu dengan Nurseta yang berhasil menyelamatkannya dan puteri ini terus menyelinap dan bersembunyi Diantara para pengungsi.

Raden Wijaya dan para pengikutnya yang setia, Diantaranya adalah para Senopati Lembu Sora, Gajah Pagon, Medang Dangdi, Mahesa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kapetengan, Wirota Wirogati, Pamandana dan beberapa orang lagi, dengan gigih mengadakan serangan-serangan gerilya di waktu malam untuk mengacaukan pihak musuh yang sudah men duduki Singosari.

Pada malam hari itu, Raden Wijaya dan para pengikutnya seperti biasa menyusup masuk ke dalam pura Singosari dan mengadakan kekacauan dan pembakaran di sanasini.

Pihak musuh membunyikan tanda bahaya dan terjadilah pertempuran kecil-kecilan.

Ketika Raden Wijaya sedang mengintai dari tempat gelap, di bawah sinar api kebakaran rumah yang dilakukan para pejuang ini, nampaklah olehnya sesosok bayangan orang melarikan diri menyusup nyusup antara rumah ke rumah yang sudah kosong ditinggalkan penghuninya yang lari mengungsi.

Karena Raden Wijaya khawatir bahwa orang itu adalah perajurit musuh atau mata-mata yang akan membahayakan kelompoknya kalau sampai diketahui tempat persembunyian mereka, diapun melompat dengan gerakan tangkas, dan di lain saat dia sudah menangkap orang itu pada pundak dan lengannya.

Akan tetapi, orang itu mengeluarkan jerit tertahan dan pundaknya lunak dan lembut.

Seorang wanita.

Dan ketika sinar api menjilat wajah mereka berdua, mereka saling pandang.

"Diajeng Tribuwana........"

"Kakangmas Wijaya......"

Gadis bangsawan itu menangis di dada tunangannya.

"Tenanglah, diajeng dan mari kita cepat keluar dari sini"

Raden Wijaya lalu memberi isarat kepada para pengikutnya untuk lolos keluar dari Singosari sambil menggandeng tangan puteri itu.

Baru setelah mereka berada jauh di tempat aman, keduanya bertangisan dan Tribuwana Dewi menceritakan betapa ia ketika melarikan diri terpisah dari adiknya, Puteri Gayatri dan ia terpaksa bersembunyi di rumah rakyat agar jangan sampai tertawan.

Karena keadaan semakin mendesak dan rumah rumah rakyat setiap hari diserbu dan digeledah, akhirnya malam itu ia berusaha untuk menyelinap keluar dari pura Singosari dan kebetulan sekali bertemu dengah tunangannya.

Ia mendengar dari rakyat yang masih setia kepadanya bahwa adiknya, Puteri Gayatri, telah tertawan musuh dan diboyong ke Kediri.

Dalam serbuan serbuan yang dilakukan Oleh Raden Wijaya, jatuh pula korban-korban sehingga pasukannya makin lama menjadi semakin lemah dan kecil jumiahnya.

Akhirnya, para senopati membujuk sang pangeran itu untuk mundur saja dan meninggalkan Singosari yang kini sudah dikuasai oleh pasukan Kediri.

"Kalau paduka tidak cepat-cepat pergi mengungsi ke tempat yang aman, lambat laun tentu kita akan terkepung pasukan musuh dan hamba sekalian kiranya tidak akan dapat bertahan menghadapi musuh yang terlalu banyak dan tidak kuat melindungi paduka berdua"

Kata Lembu Sora kepada Raden Wijaya.

Para senopati memang menjadi lebih khawatir setelah Raden Wijaya menemukan Puteri tribuwana karena bagaimanapun juga, sang puteri itu lebih membutuhkan perlindungan yang ketat.

"Akan tetapi, ke manakah aku harus pergi, kakang Lembu Sora? Di manakah ada tempat yang aman untukku yang kini menjadi pelarian?"

Tanya Raden Wijaya.

"Maaf, Raden. Agaknya paduka lupa bahwa paduka masih mempunyai seorang kerabat jauh yang dapat dipercaya dan juga bijaksana dan setia kepada Singosari, yaitu Kanjeng Paman Bupati di Sumenep, Madura"

"Ah, Kanjeng Paman Arya Wiraraja? Engkau benar, kakang. Hanya beliau saja yang kiranya dapat kumintai perlindungan. Baik kita pergi ke sana"

Raden Wijaya bersama para senopati setia yang menjadi pengikutnya, membawa sisa pasukan yang hanya tinggal beberapa ratus orang itu meninggalkan Singosari menuju ke utara.

Mereka bermaksud untuk pergi ke Terung, untuk menemui Akuwu Agraja di Terung yang tentu akan suka membantu mereka dengan tenaga-tenaga muda yang menjadi pasukan.

Rombongan ini melakukan perjalanan dengan hati-hati agar gerakan mereka tidak diketahui musuh, maka perjalanan banyak dilakukan pada malam hari, Akan tetapi ketika mereka tiba di dusun Rulawan, pada waktu fajar mereka diketahui oleh pasukan Kediri yang segera menyerang mereka.

Terjadilah pertempuran yang berat sebelah yang memaksa Raden Wijaya dan rombongannya untuk melarikan diri ke Kembangsari.

Namun di tempat ini mereka juga disergap musuh.

Jalan satu-satunya hanyalah menyeberang sungai yang pada saat itu airnya penuh mendekati banjir.

Terjadilah penyeberangan yang dipaksakan dan dalam penyeberangan ini sisa pasukan Raden Wijaya benar-benar hancur.

Banyak sekali Diantara mereka yang hanyut tenggelam, banyak pula yang tertawan musuh.

Namun, Raden Wijaya, Puteri Tribuwana dan para pengikutnya, berjumlah hanya dua belas orang, berhasil menyeberang dan lolos dari pengejaran pasukan Kediri.

Mereka terus melarikan diri ke dusun Kudadu dalam keadaan letih, lapar dan kehilangan semangat.

Untung bahwa mereka telah berhasil terlepas dari jangkauan musuh, karena dalam keadaan seperti itu, kalau ada musub menyerbu, mereka sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan.

Dalam keadaan seperti itu, Raden Wijaya melihat kenyataan betapa setianya para senopati yang mengikutinya, hal yang membuatnya terharu sekali dan diam-diam dia mencatat jasa mereka, perasaan letih, lapar dan lesu itu segera terobati ketika penduduk dusun Kudadu menyambut pangeran mereka dengan ramah dan penuh kehormatan dan kasih sayang.

Ketua dusun itu memimpin penduduknya untuk menanak nasi dan menyediakan lauk pauknya, menghidangkan makanan dan minuman seadanya kepada rombongan pelarian dari Singosan itu.

Bahkan kepala dusun memesan kepada para penghuni dusun agar merahasiakan kedatangan Raden Wijaya dan Puteri Tribuwana, menyembunyikan mereka agar jangan sampai terdengar musuh akan kehadiran mereka di usun itu.

Kemudian, setelah melepas lelah di dusun itu, kepala dusun sendiri mengantar rombongan Raden Wijaya melanjutkan perjalanan, sampai ke Rembang, semua jasa dari penduduk Kudadu inipun dicatat oleh Raden Wijaya yang merasa berterima kasih sekali.

Pangeran yang bijaksana ini tidak pernah melupakan jasa yang sekecil kecilnya dari mereka yang telah menolongnya ketika dia menderita kesengsaraan sebagai pelarian itu.

Apa lagi sikap kepala dusun Kudadu amat menggugah rasa sukur dan terima kasihnya.

Kelak, setelah Raden Wijaya menjadi raja, seluruh daerah Kudadu diberikan kepada kepala dusun dan dinyatakan sebagai daerah merdeka, bebas dari pembayaran pajak dan dapat diwariskan kepada anak keturunan selama-lamanya.

Ketika terjadi pertempuran selama penyeberangan sungai, seorang diantara pengikut Raden Wijaya terluka cukup parah.

Dia adalah Senopati Gajah Pagon yang terluka oleh senjata musuh di pahanya, Biarpun pahanya terluka parah dan jalannya terpincang-pincang, namun Gajah Pagon tidak mengeluh sedikitpun juga.

Jalannya terpincang-pincang dan mukanya agak pucat.

Ketika rombongan itu beristirahat karena selain Gajah Pagon merasa kakinya nyeri dan tubuhnya panas, juga sang puteri merasa lelah sekali, Raden Wijaya yang duduk dilingkari para senopati yang setia itu menyatakan perasaan khawatirnya.

"Kita sedang pergi mengungsi ke Sumenep, Madura. Kita belum tabu bagaimana nami sikap Kanjeng Paman Bupati Wiraraja. Baik sekali kalah beliau menerima kedatanganku dengan senang hati. Kalau tidak? Tentu aku akan merasa malu sekali"

"Raden, kiranya tidak ada alasan bagi beliau untuk menolak kedatangan paduka. Bukankah selama ini beliau seorang ponggawa yang amat setia dan bijaksana?'' Demikian para senopati itu membesarkan hatinya dan perjalanan yang amat melelahkan itupun dilanjutkan. Para senopati bergiliran memikul tandu yang diduduki Puteri Tribuwana. Ketika mereka tiba di sebuah hutan, Tiba-tiba saja dari balik pohon-pohon besar berlompatan sekitar duapuluh orang yang dipimpin oleh seorang kakek yang usianya sudah tujuhpuluh lima tahun, mukanya membiru, mulutnya meruncing seperti muka ikan. Inilah Adipati Bendowinangun, yaitu Adipati Satyanegara atau yang lebih terkenal dengan julukannya, Ki Cucut Kalasekti. TENTU saja rombongan Raden Wijaya yang sudah lelah itu terkejut melihat kakek yang memimpin duapuluh orang itu menghadang di depan mereka. Dari pakaian para perajurit itu saja mereka mengenal bahwa para penghadang itu adalah orang-orang Kediri.

"Hahahaha, akhirnya dapat juga kukepung pelarian dari Singosari. Raden Wijaya, Sang Puteri Tribuwana dan para senopati yang sudah kelelahan. Kalian lebih baik menyerah agar dengan baik-baik kalian kugiring ke Kediri untuk kuhadapkan kepada Sribaginda"

Kata Ki Cucut Kalasekti dengan lagaknya yang congkak.

Raden Wijaya belum mengenal kakek itu.

Dia tahu bahwa para senopatinya sedang lelah, maka kalau dapat dia hendak menghindarkan pertempuran.

Sambil menggandeng tangan tunangannya, diapun melangkah maju dan dengan sikap tenang berwibawa, Raden Wijaya bertanya.

"Siapakah kau, kakek tua? Kami idak pernah mengenal kau sebagai senopati Kediri, dan mengapa pula kau menghadang perjalanan kami?"

"Hahaha, Sang Pangeran Raden Wijaya. Aku bukan sekedar seorang senopati, melainkan aku seorang adipati, yaitu Adipati Satyanegara dari Bendowinangun. Sebagai seorang ponggawa Kediri, tentu saja aku membantu Kediri dan aku ditugaskan untuk menangkap rombonganmu. Menyerahlah saja demi keselamatan kalian, dari pada kami harus mempergunakan kekerasan"

Melihat sikap congkak ini, Medang Dangdi melangkah maju.

Tentu saja senopati ini marah sekali mendengar bahwa yang berada di depannya adalah orang yang pernah hampir menghancurkan kehidupan isterinya, yaitu, Warsiyem.

Ketika dia mengembara ke Singosari, datuk sesat itu telah menculik Warsiyem, memperkosanya dan bahkan menawannya ke dalam goa di tebing, tempat yang seperti neraka di mana Warsiyem merana sampai bertahun-tahun.

Akhirnya, Warsiyem dapat bertemu dengan Nurseta, dapat bersama pemuda itu menyelamatkan diri keluar dari goa dan lolos dari cengkeraman manusia iblis Ki Cucut Kalasekti itu, dan bertemu lalu berkumpul kembali dengan dia.

"Babo-babo, keparat laknat manusia iblis Cucut Kalasekti"

Bentaknya marah, mukanya merah dan dia sudah menghunus kerisnya.

"Bukalah mata dan telingamu baik-baik. Kami para senopati Singosari akan melindungi junjungan kami sampai titik darah terakhir. Kami pantang menyerah sebelum nyawa meninggalkan badan. Kebetulan sekali, saat ini aku berkesempatan untuk membalaskan sakit hati yang telah kau timpakan kepada ibunya Wulansari"

Mendengar ini, Ki Cucut Kalasekti mengamati laki-laki yang gagah perkasa itu penuh perhatian.

Terkejut juga dia mendengar disebutnya ibunya Wulansari.

Akan tetapi, dia menutupi kekagetannya dengan tawanya yang congkak.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau ini yang bernama Medang Dangdi? Bagus, kalau begitu memang kalian sudah bosan hidup"

Berkata demikian, kakek ini memberi isarat kepada para perajuritnya untuk mengepung dan menyerang.

Dia melihat betapa semua senopati Singosari telah mengeluarkan senjata, maka dia maklum bahwa tidak mungkin mereka itu akan sudi menyerah.

Terjadilah pertempuran mati-matian yang amat seru.

Andaikata di situ tidak ada Ki Cucut Kalasekti, tentu para senopati Singosari akan sanggup menandingi pengeroyokan duapuluh orang perajurit Kediri itu, bahkan dengan mudah akan mengalahkan mereka.

Akan tetapi di pihak Kediri terdapat kakek sakti Cucut Kalasekti.

Dia mengamuk dengan ilmu-ilmunya yang dahsyat.

Pukulan dengan Aji Gelap Sewu, juga Aji Segoro Umub terlalu kuat bagi para senopati itu sehingga mereka terdesak.

hebat, dan beberapa orang senopati bahkan telah menderita luka-luka, biarpun mereka semua, termasuk Raden Wijaya, masih terus membela diri dan melindungi Sang Putri Tribuwana.

Keadaan para senopati Singosari kini terdesak hebat dan agaknya tak lama kemudian mereka itu akan roboh satu demi satu.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali.

"Ki Cucut Kalasekti, keparat jahanam yang selalu mengumbar nafsu kejahatan di mana-mana"

Dan muncullah seorang kakek berusia hampir enampuluh tahun, berpakaian serba hitam dengan baju terbuka di bagian dada memperlihatkan dada yang berbulu, mukanya brewok, matanya lebar dan tajam mencorong.

kurus akan tetapi tulang-tulangnya besar kokoh kuat, perutnya gendut.

Dia adalah Ki Jembros seorang tokoh besar yang gagah perkasa, terkenal sebagai seorang gagah yang setia kepada Singosari walaupun dia tidak pernah menjadi senopati.

Terkenal pula sebagai seorang penentang kejahatan.

Di samping Ki Jembros nampak seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Nurseta.

Seperti kita ketahui, Nurseta bersama ayah angkatnya, yaitu Ki Baka, ikut mengamuk mempertahankan Singosari ketika pasukan Kediri menyerbu.

Namun, Ki Baka terluka parah oleh pukulan Ki Cucut Kalasekti sehingga Nurseta menyelamatkannya dan membawanya lari.

Dalam pelarian ini, Nurseta, sempat menyelamatkan Sang puteri Tribuwana dari tangan Yuyu Rumpung.

Dia kehilangan sang puteri yang telah melarikan diri menyusup diantara para pengungsi.

Melihat keadaan ayah angkatnya yang payah, Nurseta lalu melarikan Ki Baka keluar dari pura, membawanya ke dalam hutan.

Dengan segala daya upayanya, dicobanya untuk mengobati ayah angkatnya, namun sia-sia.

Pukulan Ki Cucut Kalasekti itu terlalu hebat, mengandung hawa beracun dan akhirnya Ki Baka yang usianya sudah tujuhpuluh lima tahun itupun meninggal dunia dalam rangkulan Nurseta.

Kematian Ki Baka diterima sewajarnya oleh Nurseta.

Dia tidak mendendam kepada Ki Cucut Kalasekti, karena dia maklum bahwa Ki Baka tewas sebagai seorang pejuang, gugur sebagai kesuma bangsa seperti yang selal diharapkan oleh kakek yang gagah perkasa dan berjiwa pahlawan itu.

Namun, kematian itu memperbesar semangatnya untuk membela Singosari yang sudah jatuh.

Dia masih teringat akan pesan mendiang Panembahan Sidik Danasura bahwa kelak yang menjadi raja penerus di Nusantara adalah Raden Wijaya.

Oleh karena itu, kini timbul semangatnya untuk mengabdikan diri atau membantu perjuangan Raden Wijaya.

Dia mengubur jenazah ayah angkatnya, kemudian diapun melakukan penyelidikan di mana adanya Raden Wijaya yang hendak dibantunya itu.

Ketika mendengar betapa pasukan Raden Wijaya dihancurkan musuh dan kini pangeran itu melarikan diri bersama pengikutnya, dia merasa prihatin sekali dan cepat-cepat dia melakukan pengejaran.

Demikianlah maka pada saat rombongan Raden Wijaya terancam malapetaka ketika diserang oleh Adipati Satyanegara atau Ki Cucut Kalasekti bersama pasukannya, dia muncul dan segera membentak nyaring.

"Ki Cucut Kalasekti, akulah lawanmu"

Berkata demikian, Nurseta sudah menerjang kakek itu.

Melihat munculnya Nurseta, Ki Jembros menjadi girang bukan main.

Dia tentu saja mengenal Nurseta yang dia tahu telah digembleng oleh mendiang Panembahan Sidik Danasura, dan kalau tadi dia nekat membant Raden Wijaya menghadapi Ki Cucut Kalasekti, adalah terdorong oleh kesetiaannya.

Dia maklum bahwa dia sama sekali tidak akan mampu menandingi kakek dari Blambangan yang amat sakti itu.

"Bagus engkau datang, Nurseta"

Seru Ki Jembros.

"Hadapi cucut busuk itu, aku akan menghajar anak buahnya"

Dan diapun membantu para senopati, mengamuk dengan hebat.

Kakek brewokan ini memiliki aji kekebalan yang disebut Aji Trenggiling Wesi.

Kalau tubuhnya sudah bergulungan ke arah musuh, biar dihujani senjata bagaimanapun juga, tidak ada bacokan yang mampu menembus kekebalannya.

Kemudian, Aji Hastobairowo, yaitu pukulan kedua tangannya yang ampuh, selalu merobohkan setiap orang pengeroyok yang, terkena pukulan ampuh itu.

Bangkitlah semangat para senopati melihat munculnya dua orang gagah perkasa ini dan merekapun menghajar anak buah Ki Cucut Kalasekti sehingga dalam waktu singkat saja, duapuluh orang anak buah Ki Cucut Kalasekti sudah roboh semua.

Sementara itu, perkelahian antara Ki Cucut Kalasekti dan Nurseta berlangsung amat hebatnya.

Nurseta yang maklum betapa saktinya kakek yang menjadi lawannya, tidak mau membuang banyak waktu dengan ilmu-ilmu yang lain.

Dia segera mengerahkan aji pukulan Jagad Pralaya yang dipelajarinya dari mendiang Panembahan Sidik Danasura.

Memang kakek sakti itu sudah memesan kepadanya agar dia tidak sembarangan mengeluarkan aji pukulan ampuh ini kalau tidak amat terpaksa.

Namun Nurseta maklum bahwa menghadapi Ki Cucut Kalasekti, kiranya hanya aji kesaktian ini sajalah yang akan mampu menahannya.

Kenyataannya memang demikian.

Begitu menghadapi aji pukulan ini, Ki Cucut Kalasekti beberapa kali terdorong mundur sampai terhuyung.

Tidak kuat dia menahan aji pukulan dahsyat yang mengandung hawa panas itu.

Namun, dia memang amat pandai.

Karena tidak; mungkin melawan aji pukulan pemuda itu dengan mengadu tenaga, diapun mempergunakan kelincahannya, selalu menghindarkan diri dari sambaran pukulan itu dan membalas dari samping atau dari belakang, mengandalkan kelincahan gerakannya.

Maka, terpaksa Nurseta mengeluarkan Aji Brajadenta yang dipelajarinya dari mendiang Ki Baka, yang memiliki gerakan lebih cepat, namun aji pukulan ini, biarpun cukup hebat, tldaklah sedahsyat Jagad Pralaya (Dunia Kiamat).

Melihat betapa duapuluh orang anak buahnya sudah roboh, hati Ki Cucut Kalasekti menjadi semakin gentar.

Apa lagi kini Ki Jembros dan para senopati Singosari, yang rata-rata merupakan ksatria-ksatria yang gagah perkasa, sudah maju dan siap mengeroyoknya.

Dia dapat celaka di tangan mereka, pikirnya, maka tiba-tiba dia mengeluarkan suara mendesis seperti seekor ular dan dari mulutnya menyambar uap hitam.

Semua senopati terkejut, tidak berani maju dan kesempatan itu dipergunakan oleh Ki Cucut Kalasekti untuk meloncat jaurr dan melarikan diri.

Ki Jembros dan Nurseta segera menghaturkan sembah kepada Raden Wijaya yang merasa girang sekali bahwa keselamatan dia serombongannya telah diselamatkan oleh dua orang gagah perkasa ini.

Dari mereka dia memperoleh keterangan bahwa mereka itu muncul secara kebetulan saja.

"Kakangmas, ki sanak inilah yang telah menyelamatkan saya dari cengkeraman penjahat yang hendak menangkap saya ketika lari mengungsi, seperti pernah saya ceritakan padamu"

Kata Puteri Tribuwana. Raden Wijaya berseru girang.

"Ah, kiranya kau pula yang telah menyelamatkan sang puteri, Nurseta. Akan tetapi, benarkah ketika itu engkau memanggul seorang kakek yang terluka?"

"Benar sekali, Raden. Yang hamba panggul itu adalah mendiang Ki Baka, ayah angkat hamba yang terluka parah oleh pukulan Ki Cucut Kalasekti pula, yang kemudian menyebabkan kematiannya.

"Jagad Dewa Bathara........"

Tiba-tiba Ki Jembros berseru lantang.

"Jadi Kakang Baka telah tewas........?"

"Benar sekali, paman"

Kata Nurseta.

Raden Wijaya lalu mengajak semua pengikutnya untuk mencari tempat yang bersih dan sunyi untuk berunding, agar tidak sampai percakapan mereka terdengar oleh para anak buah Ki Cucut Kalasekti yang diantaranya ada yang belum tewas dan hanya terluka.

Setelah memasuki sebuah hutan kecil, merekapun bercakap-cakap dengan leluasa.

Tentu saja mereka membicarakan keadaan Singosari yang sudah terjatuh ke tangan orang-orang Kediri.

Nurseta juga menceritakan keadaan Singosari seperti yang dilihatnya.

Demikian pula Ki Jembros.

Mendengar akan keadaan Singosari yang sudah sepenuhnya dikuasai musuh, Raden Wijaya merasa berduka sekali.

"Sungguh tidak kusangka sama sekali bahwa Paman Prabu Jayakatwang dari Kediri sampai hati menyerbu Singosari, pada hal Kerajaan Singosari telah memperlakukannya dengan baik-baik. Juga amat mengherankan bagaimana dia sampai berhasil"

Pangeran Wijaya termenung sedih.

"Inilah akibat dari kelalaian yang telah dilakukan oleh Sang Prabu, Raden. Pasukan yang kuat dikirim ke Melayu, dan kekuatan pasukan anyak berkurang karena telah dipergunakan untuk menggempur Bali dan daerah lain. Dalam keadaan kosong dan kekuatan pasukan kecil, maka Raja Kediri lalu menyerbu dan pasukan mereka jauh lebih besar dan lebih kuat"

Kata Lembu Sora dengan penuh penyesalan. Mendengar ayah mertuanya dipersalahkan, hati Raden Wijaya merasa tidak enak kepada tunangannya, yaitu Puteri Tribuwana, maka diapun cepat berkata.

"Maksud dari Ramanda Prabu memang baik, meluaskan wilayah dan menjalin hubungan baik dengan negara lain di seberang, Akan tetapi sungguh mengherankan bagaimana Kediri dapat menghimpun kekuatan demikian cepatnya, dan kuat pula. Sekarang, yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita akan mampu menjatuhkan kekuatan Kediri yang telah menguasai Singosari"

"Bagaimana mungkin hal itu dapat dilakukan tanpa memiliki pasukan yang kuat, Raden?"

Kata Lembu Sora.

"Nanti setelah paduka menapatkan tempat yang aman, yaitu di Madura, barulah perlahan-lahan paduka menghimpun pula kekuatan pasukan untuk menggempur dan melakukan pembalasan, merebut kembali Singosari dan menjatuhkan Kediri"

Raden Wijaya menganggukangguk dan semua senopati menyetujui pendapat Lembu Sora itu. Melihat betapa Nurseta seolah-olah hendak bicara akan tetapi selalu ditahannya, Raden Wijaya lalu berkata.

"Nurseta, walaupun kau bukan senopati Singosari, namun sudah berkali-kali kau membuat jasa besar. Dahulu membantu penumpasan Mahesa Rangkah yang memberontak, sekarang juga engkau telah menyelamatkan kami. Bagaimana menurut pendapa melihat keadaan sekarang ini?"

Memang tadinya Nurseta hendak mengemukakan sesuatu akan tetapi ragu-ragu karena dia tidak berani lancang bicara.

Dia bukan seorang ponggawa Singosari dan bukan bawahan Raden Wijaya.

Kini, mendengar uluran tangan Raden Wijaya, dia menjadi berani dan menyembah.

"Mohon maaf, Raden. Agaknya hamba dapat menduga apa yang menyebabkan Raja Kediri sampai berhasil menundukkan Singosari"

Para senopati dan Raden Wijaya memandang dengan penuh perhatian.

"Benarkah, Nurseta? Lalu apa yang menyebabkannya?"

"Karena Kediri memiliki tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala"

Semua orang terkejut, dan Raden Wijaya berseru.

"Tejanirmala? Kami sudah mendengar tentang pusaka itu? Apakah itu merupakan pusaka yang mengandung wahyu kerajaan?"

"Mungkin saja, Raden. Pusaka itu peninggalan Sang Prabu Sanjaya di Kerajaan Mataram, lebih dari limaratus tahun yang lalu. Tadinya, pusaka Ki Ageng Tejanirmala menjadi milik mendiang Ki Baka, ayah angkat hamba"

"Eh? Lalu bagaimana sampai dapat terjatuh ke tangan Raja Kediri?"

Raden Wijaya bertanya dengan penuh perhatian karena hatinya merasa tertarik sekali.

Nurseta melirik ke arah Ki Medang Dangdi, ayah Wulansari.

Ki Medang Dangdi balas memandang.

Senopati ini sejak tadi hanya mendengarkan saja, dan diam-diam dia amat kagum kepada pemuda yang pernah ditolaknya menjadi suami puterinya itu.

Diapun merasa ikut berduka mendengar betapa Ki Baka, kakek perkasa yang baru saja bertamu di rumahnya, telah gugur dalam membela Singosari yang diserbu musuh.

"Pusaka itu terampas oleh Wiku Bayunirada dari tangan ayah angkat hamba, kemudian diperebutkan oleh banyak orang. Akhirnya pusaka itu dapat terampas dari tangan Wiku Bayunirada dan terjatuh ke tangan...... diajeng Wulansari......"

Kembali Nurseta melirik ke arah Ki Medang Dangdi karena merasa tidak enak harus menyebut nama gadis itu.

Melihat sikap pemuda ini, Ki Medang' Dangdi menganggukangguk perlahan seolaholeh memberi isarat kepada Nurseta agar jangan ragu-ragu menceritakan tentang puterinya itu.

"Wulansari? Siapakah ia?"

Tanya Raden Wijaya, makin tertarik. Melihat keraguan Nurseta, Ki Medang Dangdi lalu berkata.

"Raden, Wulansari adalah anak perempuan hamba yang sejak kecil berpisah dari hamba dan kemudian menjadi murid Ki Cucut Kalasekti. Anakmas Nurseta, lanjutkanlah ceritamu dan jangan ragu-ragu"

Raden Wijaya menjadi semakin tertarik.

"Puterimu, Paman Medang Dangdi? Wah, sungguh menarik. Nurseta, lanjutkan ceritamu"

"Pusaka Ki Ageng Tejanirmala itu terjatuh ke tangan diajeng Wulansari dan hamba melakukan pengejaran ke daerah Kediri. Ternyata. pusaka itu oleh diajeng Wulansari telah diserahkan kepada gurunya, yaitu Ki Cucut Kalasekti"

"Hemm, sungguh aneh. Bagaimana puterimu? sampai dapat menjadi murid seorang sakti yang jahat seperti Ki Cucut Kalasekti itu, paman?"

Kata Raden Wijaya kepada Ki Medang Dangdi.

Senopati ini segera menyembah, hatinya terasa perih karena dia teringat akan semua peristiwa yang menimpa isterinya dan puterinya.

Kinipun, dia teringat kepada isterinya berpisah pula darinya ketika terjadi penyerbuan pasukan Kediri di Singosari.

Dia mengikuti Raden Wijaya dan entah bagaimana dengan isterinya yang ketika itu dia ditinggalkan di rumah.

"Raden, anak perempuan hamba itu berpisah dari hamba sejak kecil dan kemudian ia diambil murid olah Ki Cucut Kalasekti"

Hanya itulah yang dia katakan dan Raden Wijaya yang bijaksana itu dapat mengerti bahwa tentu ada suatu rahasia yang agaknya hendak disimpan oleh Ki Medang Dangdi, maka diapun tidak mendesak lebih jauh.

Raden Wijaya adalah seorang yang bijaksana dan menghormati rahasia pribadi semua orang.

Dia mengangguk, lalu bertanya kepada Nurseta.

"Lalu bagaimana lanjutan ceritamu, Nurseta"

"Pusaka Ki Tejanirmala yang terjatuh ke tangan Ki Cucut Kalasakti itu lalu diserahkan kepada Sang Prabu Jayakatwang dari Kediri dengan imbalan kedudukan adipati di Bendowinangun bagi Ki Cucut Kalasekti"

"Ah, pantas saja dia kini membela Kediri"

Kata Raden Wijaya.

"Dan pantas saja keadaan Kediri demikian kuatnya. Ki Tejanirmala telah berada di sana"

Ucapannya ini mengandung penyesalan besar sehingga Ki Medang Dangdi menundukkan mukanya, merasa terpukul karena bagaimanapun juga, puterinyalah yang menjadi gara-gara sehingga pusaka itu terjatuh ke tangan Raja Kediri.

"Habis, bagaimana baiknya sekarang? Pusaka itu telah berada di Kediri, apakah tidak ada harapan lagi bagi kita untuk merebut kembali Singosari?"

Pertanyaan ini diajukan kepada semua yang hadir.

Para senopati juga terdiam, masih terkesan oleh cerita Nurseta tadi.

Tak mereka sangka bahwa pusaka yang dikabarkan amat ampuh itu kini telah menjadi pusaka Kerajaan Kediri.

Mungkin pusaka itulah yang membuat Kediri menjadi jaya.

Melihat kekecewaan dan kedukaan membayang di wajah Raden Wijaya, Nurseta segera menyembah.

"Raden, ketika ayah angkat hamba hendak meninggal dunia, beliau berpesan kepada hamba bahwa hamba harus mencari dan merampas kembali pusaka Ki Ageng Tejanirmala itu, kemudian kalau sudah hamba dapatkan, hamba harus menyerahkannya kepada paduka, Raden"

Mendengar ini, teibelalak mata Raden Wijaya dan dia memandang kepada Nurseta dengan wajah berseri.

"Jagad Dewa Bhathara............. Begitu mulia hati mendiang Paman Baka, demikian setia. Nurseta, sebelumnya kami mengucap banyak terima kasih atas kemurahan hati mendiang ayah angkatmu, dan terima kasih kepadamu yang hendak merampas kembali Ki Ageng Tejanirmala. Apakah yang kau perlukan untuk tugas itu? Apakah engkau membutuhkan teman? Boleh kaupilih diantara para senopatiku"

Para senopati itu dengan penuh gairah siap untuk membantu. Akan tetapi Nurseta menggeleng kepala.

"Raden, satu-satunya jalan untuk dapat merampas kembali pusaka itu hanyalah bahwa hamba harus menyusup ke dalam pura Kerajaan Kediri. Hal ini dapat hamba lakukan karena hamba tidak dikenal. Sebaliknya, tidak mungkin kalau seorang diantara senopati Singosari yang menyusup ke sana, tentu akan dikenal dan ditangkap. Biarlah hamba akan lakukan hal itu seorang diri saja, sebagai tugas yang diberikan oleh mendiang ayah angkat hamba, dan juga sebagai tugas dari paduka"

"Baiklah, Nurseta. Mulai saat ini juga engkau kutugaskan untuk mencari dan merampas pusaka itu, dan kelak kalau berhasil, engkau boleh minta apa saja dariku Sebagai imbalan, tentu akan kupenuhi permintaanmu itu"

Para senopati saling pandang dan mengerutkan alisnya.

Janji yang diberikan Raden Wijaya itu terlalu muluk dan kalau orang yang menerima janji itu seorang yang rakus dan tamak, tentu akan dapat menimbulkan hal-hal yang menggegerkan kelak.

Bayangkan saja, akan dipenuhi permintaan apa saja dari pangeran itu.

Nurseta menyembah, lalu minta diri dan meninggalkan tempat itu untuk mulai melaksanakan tugasnya yang sulit dan berat.

Namun, Nurseta akan melaksanakan tugas ini dengan sepenuh batinya.

Bagi dia, bukan hanya mencari dan merampas kembali Ki Ageng Tejanirmala saja inti dari perjalanan dan tugasnya itu, melainkan juga berarti mencari dan berusaha menguasai kembali hati Wulansari.

Rombongan Raden Wijaya juga melanjutkan perjalanan, diiringkan oleh para Senopatinya, sedangkan Ki Jembros sudah pula memisahkan diri karena ksatria ini tidak pernah mau terlibat langsung sebagai seorang ponggawa.

Dia ingin bebas, walaupun dia selalu siap membela Raden Wijaya.

Kepala dusun Pandakan bernama Ki Macan Kuping.

Ketika rombongan Raden Wijaya tiba di Pandakan, mereka disambut dengan penuh keramahan dan kehormatan oleh Macan Kuping dan seluruh penduduk dusun Pandakan.

Mereka dipersilakan duduk di ruangan rumah kepala dusun dan dijamu hidangan nasi putih dengan lauk pauknya, dan kelapa muda.

Kembali Raden Wijaya merasa terharu dan berterima kasih atas sambutan yang amat baik dari penduduk dusun Pandakan ini.

Ketika rombongan itu melanjutkan perjalanan menuju ke Madura.

Gajah Pagon terpaksa ditinggalkan di dusun Pandakan itu.

Luka di kakinya terlalu parah dan dia perlu beristirahat dan berobat.

Karena Ki Macan Kuping maklum bahwa kalau Gajah Pagon yang merupakan seorang senopati Singosari itu sampai kedapatan pasukan Kediri, tentu orang-orang di seluruh Pandakan akan celaka.

Maka dia lalu menyembunyikan Gajah Pagon di tengah-tengah kebun yang penuh ilalang, dan diamdiam dia dirawat oleh penduduk Pandakan.

Perjalanan Raden Wijaya dan Puteri Tribuwana sungguh merupakan perjalanan yang amat sukar.

Terutama sekali bagi sang putri, sungguh perjalanan itu amat sengsara dan melelahkan.

Untung bagi mereka bahwa para pengikut Raden Wijaya adalah orang-orang gagah yang amat setia kepada junjungan mereka.

Mereka semua berusaha sedapat mungkin untuk membuat perjalanan itu tidak terlalu melelahkan bagi sang puteri.

Akhirnya, tibalah rombongan ini di daerah Sumenep setelah melakukan penyeberangan yang bukan tidak mengandung bahaya di tengah lautan atau selat yang lebar itu.

Setelah tiba di daerah Sumenep, di pesisir mereka berhenti dan Raden Wijaya lalu mengutus Lembu Sora untuk melakukan penyelidikan ke Sumenep, melihat apakah Arya Wiraraja berada di kabupaten.

Tentu saja Riden Wijaya dan para senopatinya sama sekali tidak pernah mimpi bahwa sesungguhnya penyerbuan pasukan dari Kediri yang menduduki Singosari itu adalah akibat dari bujukan Arya Wiraraja.

Lembu Sora segera melakukan penyelidikan dan dia melihat bahwa Sang Bupati itu sedang dihadap para ponggawanya di pendapa kabupaten.

Lembu Sora segera melaporkan hal ini kepada Raden (Lanjut ke

Jilid 19) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 Wijaya.

Rombongan itu lalu cepat memasuki kota Sumenep dan menuju ke Kabupaten.

Ketika itu, Arya Wiraraja, juga disebut Banyak Wide, Bupati Sumenep, Madura, sedang dihadap para ponggawa dan pembantunya.

Mereka tentu saja membicarakan peristiwa yang menggegerkan Singosari, yaitu penyerbuan pasukan Kediri yang menduduki Singosari dan betapa Sang Prabu Kertanagara telah gugur.

Di depan para ponggawanya yang sama sekali tidak tahu akan peranan yang dipegang bupati itu dalam peristiwa pengkhianatan Raja Kediri, Arya Wiraraja memperlihatkan sikap duka mendengar tewasnya Sang Prabu Kertanagara dan khawatir akan nasib keluarga raja itu.

Akan tetapi, para ponggawanya juga tidak mengemukakan pendapat mereka, karena mereka tahu bahwa atasan mereka itu tidak ingin melibatkan diri dengan perang itu.

Selagi mereka berbincang-bincang, tiba-tiba mereka melihat rombongan Raden Wijaya berjalan di alun-alun depan pendapa, menghampiri pendapa itu.

Melihat ini, tentu saja mereka semua terkejut.

Arya Wiraraja lalu membubarkan semua ponggawanya yang juga menjadi bingung melihat munculnya pangeran dari Singosari yang tidak mereka sangka-sangka itu, sedangkan Bupati Arya Wiraraja juga tergesa-gesa meninggalkan balairung, pulang ke dalam rumah gedungnya tanpa menemui atau menyambut kedatangan rombongan itu.

Melihat ini, dan menemukan pendapa itu telah kosong, dan mendengar keterangan perajurit penjaga bahwa Sang Bupati telah pulang sedangkan para ponggawa juga pergi setelah persidangan Itu dibubarkan tiba-tiba, tentu saja hati Raden Wijaya merasa tidak enak sekali.

"Nah, terjadilah seperti apa yang kukhawatirkan"

Katanya menarik napas panjang.

"Jagad Dewa Bathara........ betapa malunya hati ini menerima kenyataan yang amat pahit ini. Jauh lebih baik kalau kita tinggal di Singosari dan gugur sebagai kesuma bangsa dari pada menjadi pelarian yang terhina dinegeri orang ......."

Para senopati juga merasa terpukul dan mereka merasa kasihan mendengar keluh kesah junjungan mereka.

Selagi Raden Wijaya dan para pengikutnya kebingungan dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, tiba-tiba saja mereka melihat Arya Wiraraja datang tergopoh-gopoh diiringkan seluruh keluarganya, dengan pakaian kebesaran dan membawa hidangan persembahan sirih dan juga kereta dan kuda, menyambut Raden Wijaya dan Puteri Tribuwana.

Arya Wiraraja memberi hormat, demikian pula keluarganya, dan mengadakan penyambutan yang amat ramah dan penuh hormat, seolah-olah Raden Wijaya masih seorang pangeran dan junjungan dari Singosari, bukan seorang pelarian yang kalah perang Tentu saja peristiwa ini melegakan hati Raden Wijaya.

Kiranya tadi Arya Wiraraja membubarkan persidangan dan tergesa-gesa meninggalkan pendopo bukan untuk menghindarinya, melainkan untuk berkemas-kemas mengadakan penyambutan yang layak untuk menghormatinya.

Memang demikianlah apa yang dialami kemudian.

Keluarga bupati itu menyambut penuh kehormatan, mempersilakan Raden Wijaya menunggang kuda dan puteri Tribuwana menunggang kereta, dan keluarga itu sendiri berjalan kaki mengiringkan di belakang.

Setibanya di dalam gedung tamu-tamu agung itu mendapat pesalin pakaian bersih, bermandikan air bunga, dan memperoleh kamar-kamar yang terbesar, dijamu makan minum yang mewah.

Raden Wijaya bersukur bukan main.

Setelah membicarakan peristiwa kejatuhan Singosari di tangan Raja Kediri, Bupati Wiraraja lalu berkata dengan sikap hormat.

"Dengan hati yang penuh duka dan penyesalan, namun tidak berdaya, kami telah mendengar tentang peristiwa itu, Raden. Lalu, apakah rencana paduka selanjutnya?"

"Kanjeng paman, kalau sekiranya kanjeng paman mengijinkan, untuk sementara ini saya ingin tinggal dulu di sini, menghimpun kekuatan untuk kelak melakukan pembalasan atas pengkhianatan Paman Jayakatwang"

Jawab Raden Wijaya sambil mengepal tinju. Arya Wiraraja menarik napas panjang.

"Memang cita-cita itu baik sekali, Sang Pangeran. Tentu saja paduka dapat tinggal di sini dan anggaplah ini sebagai rumah paduka sendiri. Akan tetapi tentang pembalasan itu, sebaiknya paduka berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, semua harus diatur bagaimana baiknya karena pada waktu ini, kekuatan pasukan Daha amatlah besarnya"

Demikianlah, Raden Wijaya dan para pengikutnya tinggal di Sumenep dengan aman walaupun hati mereka selalu ingin mencari kesempatan untuk membalas atas kekalahan Singosari yang amat menyakitkan hati itu.

Wulansari menerima sebuah tugas baru, yaitu menemani dan menjaga keselamatan seorang tawanan, yaitu Sang Puteri Gayatri atau Pusparasmi, Puteri yang ditawan ini adalah adik dari Puteri Tribuwana, puteri dari mendiang Sang Prabu Kertanagara yang sudah ditunangkan dengan Raden Wijaya.

Ada pun Sang Puteri Tribuwana yang tadinya berlari dari istana bersama Puteri Gayatri kemudian mereka terpisah, telah ditemukan oleh Raden Wijaya.

Puteri Gayatri ditangkap, ditawan dibawa ke istana Daha atau Kediri.

Biarpun ia seorang tawanan, namun ia diperlakukan dengan hormat karena ia adalah puteri Raja Singosari.

Bahkan seorang diantara saudaranya, seorang puteri yang lahir dari selir, telah menjadi mantu Raja Jayakatwang dari Daha atau Kediri itu.

Berbeda dengan Puteri Tribuwana yang berwatak halus dan Iembut, Puteri Gayatri atau juga disebut Pusparasmi ini, yang baru berusia tujuhbelas tahun, adalah seorang gadis remaja yang kenes, galak dan pemberani.

Kecantikan dan daya tariknya juga berbeda dari kakaknya.

Kalau Puteri Tribuwana seorang gadis yang berkulit kuning langsat, wajahnya cantik dan bulat seperti bulan purnama, wataknya halus lembut dan tenang, sebaliknya Puteri Gayatri ini berkulit hitam manis, wajahnya cantik manis dengan dagu meruncing.

Wataknya agak keras, pemberani dan pandai bicara, manja, jenaka dan periang sehingga nampak kegenit-genitan.

Namun, seperti juga para puteri istana lainnya, masih jelas nampak darah kebangsawanannya, nampak pada bulu mata yang lentik itu, sinar mata yang tajam, lekukan dagu dan bibir.

Biarpun hatinya merasa amat berduka mendengar bahwa ayahnya telah tewas, keluarganya hancur berantakan, banyak diantara puteri yang tewas atau menjadi korban kebiadaban para perajurit Daha, dan ia sendiri kehilangan kakaknya tercinta, yaitu Puteri Tribuwana, namun Puteri Gayatri tidak mau menangis lagi setelah tiba di istana Daha la memperlihatkan sikap angkuh, bukan seperti seorang puteri tawanan dan ia bahkan tidak pernah mau menjawab kalau ditanya oleh Raja Daha dan keluarganya.

Bahkan puteri Singosari yang menjadi mantu Sang Prabu Jayakatwang, yaitu kakaknya sendiri berlainan ibu, tidak mampu menundukkan hati Puteri Gayatri, yang juga menganggap kakaknya ini sebagai keluarga pengkhianat dan musuh besarnya.

Keluarga Sang Prabu Jayakatwang kewalahan menghadapi sikap puteri yang galak ini, dan akhirnya Wulansari yang menerima tugas untuk menemaninya dan juga menjaga keselamatannya, bukan hanya dari ancaman luar, melainkan menjaga agar puteri yang berani itu tidak sampai nekat membunuh diri.

Memang benar bahwa puteri itu tidak kelihatan berduka sehingga tidak ada alasan untuk dikhawatirkan membunuh diri, akan tetapi sejak ditawan, sudah dua hari lamanya setibanya di istana Daha, Puteri Gayatri tidak mau makan atau minum sehingga wajahnya mulai pucat.

Dikhawatirkan kalau sang puteri akan berpuasa sampai mati.

Ketika pertama kali Wulansari menerima tugas ini, di dalam hati ia merasa penasaran.

Ia adalah seorang wanita digdaya, biasanya ia diserahi tugas menjadi pengawal pribadi Sang Prabu jayakatwang dengan kesaktiannya, ia menjamin keamanan dan keselamatan raja, ia selalu waspada dan ia merasa dirinya besar dan berkedudukan tinggi.

Betapa tidak?

Sang Prabu Jayakatwang, Raja Daha, telah begitu mempercayainya sehingga ia menjadi orang nomor dua di dalam istana.

Tidak ada rahasia raja yang tidak diketahuinya, bahkan benda-benda pusaka dapat diambilnya setiap saat.

Semua orang dalam istana segan dan takut kepadanya, apa lagi ketika mereka mengetahui bahwa pengawal pribadi ini bukan seperti wanita biasa.

Tidak mau tunduk dan tidak suka menjadi selir Sang Prabu Jayakatwang.

Hal ini saja membuat para selir dan puteri istana tunduk dan segan kepadanya.

Kini, ia harus menjaga dan menemani seorang puteri tawanan, seorang gadis remaja yang kelihatannya manja.

Ketika pertama kali ia memasuki kamar tawanan itu, sebuah kamar yang indah, membawa menampan (baki) terisi hidangan makanan dan minuman, ia melihat sang puteri sedang duduk bersila di atas pembaringan.

Wajahnya penuh nestapa, akan tetapi begitu mendengar langkahnya, wajah itu menjadi keras kembali dan sepasang mata yang mencorong seperti mata kucing di dalam kegelapan malam, menatapnya.

Mereka berdua saling pandang, dua pasang mata bertemu dan keduanya merasa tertarik dan kagum.

Sepasang mata Wulansari yang tajam itu memandang dan mengamati penuh perhatian selagi ia melangkah masuk dengan baki penuh hidangan itu.

Ia melihat seorang gadis remaja yang usianya kurang lebih tujuhbelas tahun, bertubuh langsing dengan pinggang kecil, tubuh yang lekuk-lengkungnya mulai menjadi, seperti setangkai bunga yang mulai mekar dari kuncupnya.

Gadis remaja itu berkulit hitam manis, mulus tanpa cacat, wajahnya yang bulat telur itu manis sekali dan setiap anggauta badannya seolah-olah memiliki daya tarik yang luar biasa.

Sepasang matanya itu.

Sepasang bintang cemerlang, bening dan jeli, bentuknya indah meruncing ke tepi dan agak berjungkit sedikit.

dengan sepasang alis yang kecil panjang menghias dahi yang landai dengan sinom (anak rambut) yang merumbai dari atas, bulu mata yang panjang melengkung sehingga bayangannya menimpa pipi, hidung kecil mancung dengan cuping tipis yang dapat bergerak kembang kempis, mulut yang amat manis setiap kali bergerak, dengan lesung pipit di kanan kiri.

Seorang gadis hitam manis yang amat cantik jelita.

Sebaliknya, Puteri Gayati juga memandang kagum.

Ia seolah melihat seorang Srikandi di depannya.

Wanita itu usianya tentu ada dua puluh lima tahun, seorang wanita yang sudah matang.

Berkulit putih kuning, wajahnya manis namun membayangkan ketabahan dan keberanian yang menantang.

Matanya seperti mata harimau mencorong dan hidup, bibirnya merah basah bukan oleh gincu, ada lesung pipit di pipi kiri dan tahi lalat di pipi kanan.

Sepasang mata yang kadang-kadang menakutkan karena amat tajam itu dapat berubah menjadi redup.

Tubuhnya penuh lekuk lengkung yang tentu akan menggairahkan setiap orang pria.

Pakaiannya menunjukkan bahwa ia bukan pelayan, bukan pula puteri, melainkan pakaian yang ringkas sederhana namun gagah, seperti pakaian seorang perajurit perwira.

Diam-diam Puteri Gayatri merasa heran sekali dan karena ia yakin bahwa wanita ini bukan keluarga raja, maka iapun bsrtanya.

"Siapakah kau?"

Wulansari adalah seorang wanita yang keras hati dan ia tidak pernah mau merendahkan diri, apa lagi kalau merendahkan diri itu untuk menjilat atau bermuka-muka.

Ia memang biasa bersikap sopan kepada siapa saja, akan tetapi tidak mau sembarangan merendahkan diri.

Bagaimanapun juga, ia telah diberi tahu bahwa gadis tawanan ini adalah seorang puteri, puteri Singosari yang kabarnya sudah dihancurkan dan sudah terjatuh ke tangan pasukan Kediri.

Diam-diam ia merasa kasihan kepada gadis ini, dan karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang istana Singosari, maka iapun bersikap sopan.

"Saya bernama Wulansari dan ditugaskan oleh Sribaginda untuk menemani dan menjaga keselamatanmu"

Berkata demikian, Wulansari menurunkan baki itu dan meletakkannya ke atas meja dekat pembaringan.

Kekerasan masih belum meninggalkan hati Puteri Gayatri, maka sambil cemberut iapun membalikkan tubuhnya dan duduk membelakangi Wulansari.

"Aku, Sang Dyah Gayatri dari Singosari bukan seorang yang sudi menerima kebaikan musuh Raja Daha telah berkhianat, dan sekarang hendak menjamu aku yang dijadikan tawanan? Lebih baik aku mati kelaparan"

Wulansari mengamati puteri itu dari belakang.

Ia tersenyum kagum.

Puteri ini masih remaja, bahkan masih kekanak-kanakan, akan tetapi tubuhnya itu sudah mulai mekar menggairahkan, dan sikapnya memang anggun dan berwibawa, juga sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut pada wajahnya dan sikapnya, bahkan sebaliknya, sikapnya menantang dan tidak takut mati.

Dengan hati-hati Wulansari lalu duduk di atas bangku setelah menarik bangku itu dekat pembaringan di mana sang puteri duduk membelakanginya.

"Saya mendengar bahwa seorang puteri sejati berjiwa ksatria dan luhur budinya. Kau adalah seorang puteri raja, tentu memiliki pula jiwa ksatria dan budi luhur. Akan tetapi mengapa kau mudah sekali putus asa?"

Mendengar teguran ini, Puteri Giyatri cepat membalik lagi dan kini kedua kakinya turun tergantung di tepi pembaringan, matanya mengamati wajah Wulansari dan sikapnya menantang.

"Mulutmu lancang sekali. Siapa yang mudah putus asa? Aku tidak putus asa.

"Aku bukan pengecut. Aku tidak putus asal Kau....... lancang mulut dan berani menghina aku?"

"Kau tidak mau makan, lebih baik mati kelaparan dari pada makan, bukankah itu sama halnya dengan membunuh din? Dan orang yang membunuh diri berati seorang pengecut yang putus asa. Saya yakin kau bukan orang. seperti itu"

Wulansari tersenyum girang. Pancingannya mengena dan ia tidak khawatir lagi gadis remaja ini akan bunuh diri.

"Saya juga tidak percaya bahwa kau pengecut atau penakut. Akan tetapi, kalau sekarang saya beritahukan bahwa makanan dan minuman ini mengandung racun untuk membunuhmu, apakah kau berani memakan dan meminumnya?. Sama-sama kita lihat saja nanti"

Berkata demikian, Wulansari sengaja meninggalkan puteri itu dan keluar dari dalam kamar, menutupkan pintu kamar itu dari luar.

Akan tetapi, dengan kepandaiannya, ia menyelinap ke balik jendela dan mengintai ke dalam kamar.

ia melihat sang, puteri marah-marah.

Puteri itu kini sudah turun dari atas pembaringan dan ia berjalanjalan hilir mudik seperti seekor harimau betina dalam kurungan.

"Kau kira aku tidak berani dengan ancaman kematian itu? Huh, pelayan keparat, lancang mulut. Kita sama lihat saja"

Tiba-tiba puteri remaja itu duduk di atas bangku menghadapi meja, membuka tutup makanan yang dihidangkan tadi lalu mulai makan dengan lahapnya.

Memang perutnya amat lapar, sudah hampir dua hari dua malam ia tidak makan apa-apa, dan diminum ya pula minuman yang tersedia.

Sedikitpun ia tidak nampak ngeri atau takut,.

bahkan setelah lidahnya terbiasa dan dapat menikmati lesatnya makanan, ia tidak ingat apa-apa lagi kecuali mengisi perutnya yang lapar.

Di luar jendela, Wulansari tertawa tanpa suara dan iapun semakin tertarik kepada puteri remaja itu.

Seorang puteri yang selain cantik jelita dan manis, juga amat menyenangkan, pemberani, lincah dan galak.

Ia tidak mau masuk sebelum puteri itu selesai makan minum dan menutupi kembali baki tempat makanan.

Setelah sang puteri duduk kembali di tepi pembaringan, barulah Wulansari memasuki kamar setelah lebih dulu ia batuk-batuk agar kedatangannya didengar oleh puteri remaja itu.

Ketika ia membuka pintu dan masuk, ia masih sempat melihat sang puteri untuk terakhir kalinya mengusap bibir dengan kain agaknya untuk yakin benar bahwa tidak ada tertinggal sebutir nasi di tepi mulutnya.

Wulansari pura-pura tidak tahu dan ia memandang ke arah baki terisi makanan yang nampaknya masih utuh dan ditutupi kain penutup.

"Aih, ternyata kau benar-benar tidak mau menyentuh makanan dan minuman yang diberi racun ini? Sudah kuduga demikian, Kau tidak akan berani......"

Kata Wulansari dengan nada suara seperti mengejek.

"Siapa yang tidak berani? Aku bukan penakut. Lihat, makanan itu telah kumakan. minuman itu telah kuminum dan aku menanti saat kematian tanpa rasa takut sedikitpun Wulansari pura pura terkejut dan ia membuka penutup baki itu, terbelalak.

"Aih, kiranya kau telah makan minum? Hebat, kau memang puteri sejati, tidak takut mati, dan juga tidak ingin membunuh diri. Saya bicara sekali kepada paduka. Sesungguhnya, nakanan dan minuman itu sama sekali tidak mengandung racun, sebaliknya mengandung bumbu penyedap dan penguat badan"

Wajah yang manis itu menjadi merah sekali, sepasang mata bintang itu terbelalak dan seperti mengeluarkan sinar api.

Puteri Gayatri meloncat turun dari atas pembaringan, telunjuk kirinya menuding ke arah muka Wulansari.

"Kau.....kau...... menipuku. Berani engkau mempermainkan aku, ya?"

Tangan kanannya menyambar sebatang keris kecil yang selalu rerselip di ikat pinggangnya, lalu dengan gerakan cepat ia menusukkan keris kecil semaam candrik itu ke arah dada Wulansari Walita ini tidak mengelak maupun menangkis, melainkan diam-diam ia mengerahkan tenaga sakti ke arah dada yang ditusuk.

"Krekk........"

Sang Dyah Gayatri terbelalak dan menahan pekiknya, matanya melihat gagang keris yang tertinggal di tangannya sedangkan kerisnya sendiri telah patah dan jatuh ke atas lantai.

Dengan tenang Wulansari membungkuk dan memungut dua potong besi patahan keris itu, meletakkannya di atas baki bersama sisa makanan.

"Kau....... kau......... begini digdaya......., siapakah sebenarnya engkau ini?"

Puteri Gayatri berkata lirih, gagap.

"Nanti dulu puteri. Saya akan menyingkirkan dulu baki ini, sekarang untuk sementara cukuplah kau ketahui bahwa saya adalah seorang kawan, bukan saorang lawan. Saya kagum kepadamu dan ingin berbaik denganmu"

Setelah berkata demikian, Wulansari membawa baki itu meninggalkan kamar Puteri Gayatri.

Sang puteri duduk melamun, masih merasa tegang dan heran.

kalau mengingat peristiwa tadi.

Kerisnya itu, biarpun kecil, merupakan keris yang terbuat dari besi mulia, atau besi aji, sebuah keris pusaka.

Akan tetapi keris itu patah ketika dipakai menusuk dada wanita itu.

Seorang gadis sakti.

Dan gadis itu oleh Sang Prabu Jayakatwang diutus untuk menemani dan menjaganya.

Bagaimana mungkin ia dapat mengharapkan perlindungan atau bantuan seorang punggawa pihak musuh?

Ia harus berhati-hati.

Setelah memperingatkan para pelayan dan pengawal istana agar mereka itu jangan mengganggu atau memasuki kamar puteri tawanan itu kalau tidak ia panpgil.

Semua karyawan di dalam istana itu, tidak ada yang tidak mentaati perintah kepala pengawal yang juga merupakan pengawal pribadi Sri baginda yang amat dipercaya ini.

Apa lagi mereka semua tahu belaka betapa sakti mandraguna gadis cantik itu.

Ketika Wulansari memasuki kamar Puteri Gayatri, ia melihat.puteri itu duduk dan wajah yang tegang, sinar matanya mengamatinya penuh selidik dan mengandung kecurigaan besar.

Iapun dapat menduga bahwa tentu puteri remaja itu mencurigainya dan masih belum percaya kepadanya, maka iapun mengambil tempat duduk di atas bangku, berhadapan dengan puteri itu.

"Nah, sekarang kita dapat bercakap-cakap dengan tenang. Kau boleh bertanya apa saja dan boleh pula menceritakan apa saja. Tentu saja kalau kau percaya kepada saya dan suka bersahabat dengan saya"

Gayatri melemparkan pandang mata penuh tuduhan.

"Engkau........ ingin membujuk aku?"

"Aduh, puteri yang jelita. Apa gunanya saya membujukmu? Untuk apa? Bukankah kau telah menjadi seorang tawanan disini?"

"Tentu membujuk agar aku suka bersikap manis dan tunduk, menakluk kepada orang orang Kediri, mau makan seperti yang tela berhasil kau lakukan dengan tipuanmu tadi bukan? Jangan mengira aku akan mudah terkena bujuk rayumu lagi dan cepatlah engkau minggat dari kamar ini sebelum aku bersikap kasar dan memaki-makimu"

Puteri itu bangkit dan biarpun ia masih remaja, tinggi tubuhnya, belum sepenuhnya, namun ia nampak angkuh, anggun dan berwibawa.

Wulansari memandang kagum dan tersenyum lebar, lesung pipit di pipi kirinya makin dalam dan mata bintangnya bersinar-sinar.

"Apa cengar-cengir. Jangan cengengesan. kau"

Puteri Gayatri membentak.

"Biarpun kau digdaya, jangan kira aku gentar dan takut padamu"

Wulansari tersenyum semakin lebar melihat sikap puteri itu Ia tahu bahwa puteri itu memaksakan diri untuk bersikap galak, pada hal pada pandang matanya jelas nampak bahwa puteri itu kagum kepadanya dan mulai suka padanya.

Ia harus dapat memenangkan kepercayaan puteri ini, pikir Wulansari dan iapun berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Puteri, apakah kau mengenal seorang yang bernama Medang Dangdi?"

"Tentu saja. Paman Medang Dangdi adalah seorang diantara para senopati Singosari yang gagah perkasa. Mengapa engkau memanyakan Paman Medang Dangdi?"

"Karena dia adalah ayah kandungku"

Sepasang mata itu terbelalak dan Putri Gayatri menatap wajah Wulansari penuh selidik, ketidak percayaan terbayang di wajahnya.

"Hemm, permainan apa pula yang kau lakukan ini? Aku tidak pernah melihat Paman Medang Dangdi mempunyai seorang anak perempuan"

"Sesungguhnya demikian, gusti. Mungkin tidak ada seorangpun di Singosari yang tahu bahwa dia mempunyai seorang anak perempuan"

Bahkan mungkin isterinya sendiripun baru beberapa tahun, sejak dia pulang dari penyerbuan Singosari ke Bali, tinggal bersamanya di Singosari"

"Hem, memang aku ada mendengar bahwa Paman Medang Dangdi telah mempunyai seorang isteri yang kabarnya juga digdaya....."

"Ia bernama Warsiyem dan ia adalah ibu kandung saya, gusti. Memang, sejak berusia sepuluh tahun, saya telah berpisah dari ayah dan ibu, dan baru setelah dewasa, saya berumpa dengan mereka"

Wulansari lalu menceritakan riwayatnya secara singkat namuni meyakinkan sehingga Puteri Gayatri mulai percaya.

"Akan tetapi, kalau engkau puteri kandung seorang senopati Singosari, kenapa engkau menjadi hamba dari Kerajaan Daha yang menjadi musuh kami?"

Setelah Wulansari mengakhiri ceritanya, Puteri Gayatri menegur dengan hati tidak puas.

"Harap kau ingat bahwa sebelum terjadi perang, Daha sama sekali bukanlah musuh Singosari. Bukanlah antara kedua Sribaginda bahkan ada hubungan kekeluargaan dan menjadi besan? Hamba bekerja di sini menjadi pengawal Sribaginda dan hamba sama sekali tidak mau mencampuri urusun perang antara Singosari dan Kediri (Daha). Bahkan hamba sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti mengapa ada perang antara kedua kerajaan ini, dan tidak tahu pula mengapa paduka menjadi tawanan di sini, pada hal seorang diantara kakak paduka menjadi mantu Sribaginda. Sungguh saya menjadi bingung, akan tetapi karena saya tidak mencampuri urusan perang, maka sayapun tidak perduli. Saya menghambakan diri di sini hanya untuk mendapatkan pekerjaan, dan juga untuk menghibur hati saya yang merasa sakit karena sikap ayah ibu saya"

Diam-diam Puteri Gayatri semakin tertarik.

Tak pernah disangkanya bahwa gadis yang digdaya dan ditugaskan menjadi pelayan dan penjaganya ini adalah puteri dari Senopati Medang Dangdi di Singosari, seorang senopati yang terkenal setia.

"Hemm, bagaimana aku dapat mempercayai keteranganmu? Betapa mungkin engkau merasa sakit hati terhadap ayah dan ibumu sendiri?"

Dengan cerdik ia memancing.

Memang Puteri Gayatri ini lincah dan cerdik sehingga kini, dengan pandainya ia memutar balik keadaan sehingga Wulansari yang dituntut menceritakan keadaan dirinya.

Wulansari juga sadar akan hal ini, akan tetapi karena ia merasa kaguni dan suka kepada puteri lincah ini, ia tidak merasa berkeberatan untuk menceritakan riwayat hidupnya.

"Bagaimana hati ini tidak akan merasa sakit, puteri? Saya mempunyai seorang pilihan hati, seorang pemuda yang saya pilih untuk. menjadi jodoh saya. Kami saling mencinta. Akan "tetapi ayah dan ibu tidak menyetujui, terutama sekali ayah. Maka, saya lalu minggat dari rumah, dan mengabdi di istana. Daha ini"

Puteri Gayatri semakin tertarik.

Cerita itu amat romantis dan menyenangkan hatinya.

Ia, ikut merasa prihatin dan tanpa disadarinya, ia kini duduk lagi di tepi pembaringan, lalu dengan tangannya mempersilakan Wulansari duduk pula di atas bangku di depannya.

Ia merasa kasihan kepada gadis itu.

"Ah, buruk sekali nasibmu, Wulansari. Siapakah perjaka yang menjadi pilihan hatimu itu?"

"Namanya Nurseta, Walaupun dia bukan seorang senopati Singosari, akan tetapi dia seorang pendekar sejati yang membela Singosari, walaupun sesungguhnya dia keturunan seorang pangeran Dhaha"

"Aih, sungguh menarik sekali"

Gayatri menjadi semakin tertarik. Bayangkan saja, pikirnya, puteri senopati Singosari kini menjadi pengawal pribadi Raja Kediri, dan putera seorang pangeran Kediri menjadi seorang pahlawan Singosari.

"Yang ingin sekali kuketahui tentang perasaanmu, bagaimana engkau rasakan sekarang setelah terjadi pengkhianatan rajamu terhadap Singosari? Kanjeng Rama telah memberi kesempatan kepada Raja Daha untuk tetap menjadi raja walaupun Kediri telah dikalahkan Singosari, bahkan telah memberi kehormatan untuk berbesan. Akan tetapi, secara pengecut sekali, Raja Kediri menyerang Singosari dan mengakibatkan hancurnya keluarga Kanjeng Rama, bahkan beliau sendiri gugur bersama banyak anggauta keluarga. Sekarang, engkau berpihak kepada siapa, Wulansari? Ingat, sekarang ayahmu itu, Paman Medang Dangdi, mungkin sudah gugur atau masih terus berjuang melawan pasukan Kediri. Dia adalah seorang diantara para pembantu....... eh, tunanganku, yaitu Raden Wijaya"

"Saya bingung, gusti puteri. Saya tidak perjnah mencampuri urusan kerajaan, dan sekarang saya bingung sekali"

Melihat kesempatan ini, Puteri Gayatri lalu mulai menceritakan keadaan Kerajaan Singosari dan Kediri, hubungan antara kedua keraiaan itu dan perbuatan Raja Kediri yang berkhianat dan pengecut, menyerang Singosari sclagi kerajaan ini mengirim pasukan besar ke Negeri Melayu.

"Aku ingin bersikap keras dan menentang terhadap keluarga Raja Kediri, maka aku menolak untuk bicara dengan mereka, bahkan adinya aku nekat untuk berpuasa sampai mati. Akan tetapi engkau malah menggagalkan tekatku itu dan mempermainkan aku"

Sang Puteri kini duduk dan menutupi kedua matanya, menangis lirih.

"Ampunkan saya, puteri. Bukan sekali-kali saya bermaksud mempermainkan kau. Hanya saya melihat bahwa tekat itu sungguh tidak ada gunanya, Kenapa paduka putus asa? Kalau kau sampai tewas karena berpuasa, apa manfaatnya? Lebih baik kau menjaga kesehatan dan menanti saatnya. Saya selalu percaya bahwa orang yang benar selalu akan dilindungi Sang Hyang Widhi. Dan apakah kau tidak ingin bertemu dengan........ tunanganmu? Jangan putus asa, percayalah, saya akan melindungi di sini"

Demikianlah, percakapan antara kedua orang gadis itu membuat mereka menjalin persahabatan yang akrab, dan dalam kesempatan itu, Puteri Gayatri membangkitkan semangat Wulansari sehingga gadis perkasa ini mulai ragu-ragu akan kedudukannya sebagai hamba Sang Prabu Jayakatwang.

Iapun mulai merasa khawatir akan keselamatan ayah ibunya ketika mendengar dari Puteri Gayatri betapa Singosari telah diduduki pasukan Kediri dan betapa pasukan itu telah menyebar maut, membunuhi rakyat yang tidak berdosa, merampok dan memperkosa.

Biarpun ia tidak ikut perang, namun karena ia menghambakan diri kepada Kerajaan Daha, ia merasa seolah-olah ia ikut berada di pihak yang lalim dan jahat.

Malam telah agak larut dan istana Kerajaan Daha sudah sunyi.

Para penghuninya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.

Malam itu, para pangeran dan bangsawan tinggi lainnya dari Kerajaan Daha masih berpesta pora merayakan kemenangan Kediri atau Daha.

Sang Prabu Jayakatwang sendiri sudah beristirahat.

Akan tetapi para pangeran masih melanjutkan pesta itu dan seperti biasa, diadakan pertunjukan tari-tarian yang dilakukan oleha penari-penari muda yang cantik dan genit dan yang menjadi pasangan menari para pangeran yang sudah mulai mabuk.

Seorang diantara para pangeran itu, pangeran yang lahir dari selir, diam-diam meninggalkan tempat pesta.

Sebagai seorang pangeran mudah saja baginya untuk memasuki istana melalui pintu samping.

Para penjaga dan pengawal tidak ada yang berani menahannya dan demikianlah, Pangeran Sindumoyo, seorang pangeran berusia tigapuluh tahunan yang terkenal sebagai seorang pria yang gila wanita, menyelinap ke dalam taman bunga di bagian belakang istana.

Pangeran ini terkenal sebagai seorang penaluk wanita dan dalam hal kesenangan ini, dia terkenal rakus dan tidak pandang bulu.

Tak perduli wanita itu seorang peIayan rendah, atau isteri orang atau seorang dusun yang miskin, kalau mata keranjangnya sudah kumat, akan diganyangnya tanpa pandang bulu lagi.

Dia mempergunakan harianya, atau kedudukannya, juga ketampanannya atau kekuasaannya, untuk menundukkan setiap orang wanita yang diinginkannya.

Suami manakah berani banyak ribut kalau melihat isterinya dihina oleh seorang pangeran yang besar kekuasaannya.

Ayah manakah berani berkutik kalau melihat puterinya dicemarkan, kemudian ditelantarkan begitu saja oleh Pangeran Sindumoyo?

Akan tetapi sekali ini Pangeran Sindumoyo tidak tertarik kepada para penari cantik itu.

Tidak, dia tidak menginginkan mereka.

Dia membutuhkan wanita yang lebih terhormat.

Dia membutuhkan seorang perawan bangsawan tinggi, bukan seorang perempuan umum yang pernah melayani pria mana saja yang mampu menyewa tubuhnya.

Dan dia sudah mendengar bahwa di istana terdapat beberapa orang puteri istana Singosari yang menjadi tawanan.

Akan tetapi diantara semua itu, yang amat menarik perhatiannya adalah Sang Puteri Gayatri.

Ketika puteri itu dibawa ke istana, dia sempat melihatnya dan dia terpesona, lalu sejak saat itu dia gandrung dan menundukan puteri yang dalam pandang matanya teramat cantik jelita dan manis itu.

Setiap malam dia bermimpi berjumpa dengan Puteri Gayatri, dan kalau tidak tidur, bayangan dan wajah puteri itu tak pernah meninggalkan ingatannya, Namun, dia tetap tidak berani karena maklum bahwa puteri itu merupakan seorang tawaran perang yang agung dan dihormati.

Akan tetapi malam ini, setelah pengaruh minuman keras membuat keberanian dan kenekatannya menjadi berlipat ganda, dia memasuki taman istana dengan niat hendak mengunjungi Puteri Gayatri untuk melampiaskan rindu dendam dan naluri birahinya.

apapun yang terjadi, malam ini dia harus mampu mendekap puteri ayu itu.

Dia tahu dimana kamar puteri itu, hal ini sudah diselidikinya dari para dayang yang menjadi talukannya pula.

Malam telah larut.

Para dayang dan pelayanpun sudah tidur.

Hanya ada penjaga di luar keputren, namun melihat bahwa yang masuk adalah Pangeran Sindumoyo, para penjaga hanya memberi hormat dan tersenyum.

Mereka sudah sering melihat pangeran ini memasuki keputren untuk berkencan dengan para dayang.

Dan merekapun sudah seringkali menerima hadiah dan suapan pangeran itu yang royal sekali membagi hadiah kepada mereka yang sudah menutup mata dan membiarkan sang pangeran memasuki daerah keputren yang terlarang itu tanpa meiaporkan kepada atasan mereka.

Pangeran Sindumoyo lalu berindap-indap menuju ke bagian keputren itu, langsung melalui lorong yang meuuju ke bagian belakang karena dia tahu bahwa kamar puteri tawanan itu berada di kamar besar paling ujung dekar tamansari.

Malam itu, Wulansari tidur pulas dalam kamarnya.

Karena mendapat tugas menjaga dan, melayani puteri tawanan, maka ia mendapatkan sebuah kamar di dekat kamar besar puteri itu.

Setelah kini mereka menjadi sahabat yang akrab, seringkali Puteri Gayatri minta kepada Wulansari untuk tidur di kamarnya saja.

Akan tetapi malam ini Wulansari minta diri dan tidur di kamarnya sendiri.

Hatinya gundah dan makin ia pikirkan, makin gelisah hatinya.

Semenjak ia bergaul dengan Puteri Gayatri dan mendengai urusan Kerajaan Singosari dan Daha, mulailah ia merasa ragu dan bingung ayahnya sendiri menjadi senopati Singosari, juga Narseta menjadi seorang pahlawan Singosari.

Selain itu, juga ia tahu bahwa Ki Jembros dan Sang Panembahan Sidik Danasura, dua orang yang dahulu menyelamatkannya dari lautan, mereka adalah orang-orang yang setia kepada Singosari.

Ibunya sendiri sekarangpun berada di Singosari dan tentu saja juga membantu kerajaan itu.

Akan tetapi, ia sendiri membantu Kerajaan Kediri.

Padahal kakek yang amat jahat itu, kakek yang mengaku sebagai kakeknya, bahkan telah menjadi gurunya, Ki Cucut Kalasekti, membantu Kerajaan Kediri bahkan diangkat menjadi seorang Adipati.

Kalau yang membantu Raja seorang seperti Cucut Kalasekti, maka sungguh meragukan kalau Kerajaan Daha berada di pihak yang benar.

Mulailah ia ragu-ragu.

Biarpun hatinya yang keras juga mempertahankan pendapat itu, namun kalau ia terkenang kepada Nurseta.

satu-sntunya pria di dunia ini yang dicintanya, hatinya seperti tertusuk, perih dan sedih dan ia menjadi semakin bingung.

Kin, Singosari sudah runtuh.

Akan tetapi menurut Puteri Gayatri, masih ada keturunan Singosari yang menjadi tumpuan harapan seluruh rekyat, yaitu Raden Wiiaya.

Dan semua senopati, termasuk ayahnya, bahkan juga Nurseta dan semua ksatria Singosari, berdiri di belakang Raden Wijaya yang dicalonkan untuk membangun kembali Singosari yang telah jatuh.

Akan tetapi ia sendiri, masih berada di istana Kediri.

Wulansari bimbang sekali, dan akhirnya karena lelah, ia tidur pulas di dalam kamarnya.

Jeritan itu hanya dua kali lalu terdiam.

Bagi orang lain tentu tidak menarik perhatian, apa lagi kalau orang itu tadinya sedang tidur pulas, tentu dianggap mimpi atau suara lain, namun, tidak demikian bagi Wulansari.

Gadis perkasa ini seketika sadar.

Pendengarannya yang terlatih amat tajam dan perasaannya amat peka sehingga begitu mendengar jeritan dua kali itu, la sudah menduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang tidak wajar.

Rambutnya agak kusut, juga pakaiannya karena tadi ia tertidur nyenyak, akan tetapi ia tidak memperdulikan pakaian dan rambutnya.

Tubuhnya sudah berkelebat cepat dan ia telah tiba di luar pintu kamar Putri Gayatri.

Walaupun pintu kamar itu tertutup, namun pendengarannya dapat menangkap gerakan dan suara yang mencurigakan di dalam kamar itu.

Sekali dorong saja, pintu kamar itu terbuka dan matanya terbelalak, mengeluarkan sinar kemarahan ketika ia melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu.

Di atas pembaringan sang puteri, Puteri Gayatri sedang bergumul dengan pria yang berusaha untuk menciumi dan merenggut lepas pakaian sang puteri.

Puteri Gayatri mempertahankan diri, meronta dan mencakar memukul, akan tetapi tidak mampu berteriak karena mulutnya dibungkam oleh tangan kiri pria itu.

"Keparat"

Wulansari mencaci dalam hatinya dan sekali melompat ia telah berada di dekat pembaringan.

Tangan kanannya diangkat, siap untuk menjatuhkan pukulan maut, akan tetapi segera ia mengenal siapa pria itu dain otomatis pukulannya berubah menjadi cengkeraman ke arah lengan pria itu dan sekali renggut, tubuh pria itu terlepas dari Puteri Gayatri dan terlempar sampai ke sudut kamar.

Puteri Gayatri terengah-engah, membetulkan bajunya yang hampir terlepas.

rambut yang panjang itu terurai dan ia nampak cantik ayu bukan main, akan tetapi sepasang mata yang lebar itu terbelalak, masih membayangkan kengerian akan malapetaka yang hampir menimpa dirinya.

Akan tetapi, melihat kehadiran Wulansari dan melihat betapa laki-laki itu telah terlempar bergulingan sampai ke sudut kamar, hatinya terasa lega dan kemarahannya bangkit.

Dengan sikap tenang, mata bersinar marah akan tetapi tetap menghormat, Wulansari berkata dengan suara dingin, memandang kepada pangeran yang mulai bangkit itu.

"Pangeraia Sindumoyo, tidak sepatutnya paduka mengganggu Gusti Putri Gayatri"

Mendengar bahwa pria yang hampir memperkosanya itu adalah seorang pangeran, Puteri Gayatri memandang dengan alis berkerut dan mata bernyala.

"Henm, jadi kau seorang pangeran? Pangeran macam apa perbuatannya melebihi seorang manusia biadab"

Kata Puteri Gayatri.

Tentu saja Pangeran Sindumoyo tadi terkejut bukan main karena ada orang berani mencegahnva bahkan melemparkannya seperti itu.

Akan tetapi ketika dia mehhat bahwa yang melakukan hal itu adalah seorang waniia cantik yang gagah, diapun mengenal Wulansari pengawal pribadi ayahnya dan pangeran ini sudah dapat memulihkan keangkuhan dan ketenangannya.

Dia mengebutkan ujing bajunya yang terkena debu, lalu tersenyum.

"Ah, kiranya engkau Wulansari, pengawa pribadi kanjeng rama? Wulansari, engkau mengenal siapa aku. Mengapa engkau berani turun tangan terhadap aku, dan melindungi wanita ini? biarpun ia seorang puteri, akan tetapi ia puteri Singosari, puteri tawanan dan musuh kita, keluarlah kau, dan biarkan aku berdua dengan sang puteri ini"

Wulansari menggeleng kepalanya.

"Tidak mungkin, gusti pangeran. Saya menerima tugas dari Sribaginda untuk menemani dan menjaga keselamatan Gusti Puteri Gavatri. Siapapun juga tidak boleh mengganggunya dan saya bertanggung jawab untuk itu. Sebaiknya paduka meninggalkan kamar ini sebelum diketahui orang lain dan terdengar oleh Sang Prabu"

Wajah pangeran itu berubah merah.

"Haha, agaknya Kanjeng Rama menginginkan sendiri puteri ini? Sungguh tak tahu diri. Akupun mendengar bahwa Kanjeng Rama merayu engkau akan tetapi engkau tetap tidak mau melayaninya, bukankah begitu, Wulansari? Engkau benar. Dia sudah tua, dan biarlah aku saja yang membahagiakanmu. Engkau keluarlah dulu, biarkan aku bersama Puteri Gayatri, baru nanti datang giliranmu. Ataukah engkau minta lebih dulu?"

Bukan main marahnya hati Wulansari mendengar ucapan tidak senonoh itu.

Kalau saja ia tidak ingat bahwa yang bicara itu seorang pangeran, tentu ia telah turun tangan dan dibunuhnya pria yang lancang mulut itu.

Matanya mencorong ketika ia memandang wajah pangeran itu dan kesopanannya menipis.

"Ucapan paduka itu tidak pantas keluar dari mulut seorang pangeran. Cepat paduka keluar dari sini, atau terpaksa saya akan melempar paduka dan mulut kotor paduka itu keluar"

"Wulan, menghadapi seorang penjahat tidak perlu memandang kedudukannya. Biar dia pangeran, dia lebih pantas kalau kau hajar biar mampus"

Tiba-tiba Puteri Gayatri berkata.

"Kalau saja aku memiliki kedigdayaan sepertimu, sudah tadi-tadi dia kubunuh"

Pangeran itu sudah terbiasa disanjung dan dihormati orang.

Kini, dia dihina dan menelan kata-kata yang amat kasar dari seorang pengawal, tentu saja dia merasa malu sekali dan menjadi marah.

Kehormatannya sebagai seorang pangeran tersinggung.

Dia pernah mempelajari ulah keperajuritan dan aji kesaktian, maka kini bangkit kemarahannya untuk memperlihatkan bahwa kekuasaannya masih berlaku dan bahwa dia tidak selemah anggapan dua orang wanita itu.

"Wulansari, keparat engkau. Lupakah engkau siapa dirimu? Engkau hanyalah seorang abdi di sini. Seorang pengawal yang sepatutnya mentaati perintahku. Aku Pangeran Daha, tahu kamu? Engkau abdiku. Adi yang kurang ajar macam engkau memang pantas dihukum"

Pangeran itu sudah menerjang maju dan menampar ke arah pipi Wulansari.

Tentu saja sikap pangeran ini bagaikan minyak disiramkan pada api kemarahan yang mulai membakar hati Wulansari.

Kemarahan itu berkobar dan iapun menangkis pukulan itu, terus menangkap lengan si pangeran dan sekali kakinya bergerak dan tangannya memuntir, tubuh pangeran itu kembali terlempar, kini lebih keras dari pada tadi sampai tubuhnya menabrak dinding kemudian terbanting mengeluarkan bunyi keras.

Diam-diam Puteri Gayatri kagum bukan main menyaksikan ketangkasan Wulansari dan iapun bertepuk tangan memuji.

Diam-diam dalam kemarahannya, Wulansari tersenyum.

Puteri itu memang jenaka sekali, seperti kanak-kanak saja, begitu gembira menyaksikan pria yang hampir memperkosanya, dihajar.

"Wah, andaikata puteri itu memiliki kepandaian. tentu akan lebih payah lagi nasib Pangeran Sindumoyo. Ia hanya mengharapkan agar pangeran itu menjadi jera dan suka segera pergi karena bagaimanapun juga, ia tidak mau melibatkan diri dalam kesulitan kalau bermusuh dengan seorang pangeran. Akan tetapi harapan Wulansari ini ternyata sebaliknya dari kenyataannya. Pangeran Sindumoyo yang terbanting keras itu hanya sebentar saja menjadi pening. Dia sudah bangkit lagi karena memang Wulansari tadi hanya membuat dia terlempar, tidak melukainya dan kini pangeran itu menjadi mata gelap. Nafsu amarah memenuhi hati dan pikirannya dan diapun lupa akan keadaan, lupa akan kewaspadaan, lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang amat sakti, walaupun seorang wanita. Dia sudah mencabut kerisnya. Keris milik seorang pangeran tentu saja bukan keris sembarangan, melainkan keris yang "bedsi""

Atau ampuh. Begitu keris itu dicabut dari sanjungnya, hawa keampuhannya sudah terasa oleh "Wulansari, akan tetapi gadis ini tidak merasa gentar sama sekali, bahkan ia yang memperingatkan pangeran itu.

"Pangeran Sindumoyo, simpanlah kembali keris paduka dan jangan main-main dengan senjata yang ampuh"

Akan tetapi peringatan yang sebenarnya menyayangkan pangeran itu, diterima keliru dan Pangeran Sindumoyo mengira bahwa ucapan itu keluar dari mulut Wulansari karena gadis itu merasa gentar menghadapi kerisnya yang ampuh.

"Perempuan tak tahu malu. Dari golongan rendah dan hina engkau diangkat ke dalam istana, dan setelah berada di sini engkau lupa diri dan besar kepala. Derajatmu tidak lebih tinggi dari pada seorang dayang istana, akan tetapi engkau telah berani menghina aku, seorang pangeran. Untuk dosa itu, hukumannya hanyalah kematian. Bersiaplah untuk mati di ujung keris pusakaku ini"

"Pangeran, sekali lagi kuperingatkan........., mundurlah sebelum terlambat"

Wulansari masih berseru ketika pangeran itu menyerang dengan tusukan kerisnya ke arah dadanya.

Wulansari mengelak dengan amat mudahnya ke kiri.

Akan tetapi pangeran itu yang mengira bahwa lawannya gentar menghadapi keris pusakanya, memperoleh semangat dan dengan gerakan cepat, tubuhnya berputar ke kanan dan kerisnya terus meluncur dengan serangan maut ke arah wanita perkasa itu.

Wulansari maklum betapa sebatang keris yang ampuh tidak boleh dibuat main-main, maka sekali lagi ia mengelak, kini dengan loncatan ke belakang dan berputar ke kanan.

Pada saat pangeran mengikuti gerakannya dan hendak melanjutkan serangannya, Wulansari sudah meloncat lagi ke kanan dan kakinya kini menyambar dengan dahsyatnya.

Sebuah tendangan kilat yang dilakukan dengan pengerahan tenaga meluncur dan mencuat ke arah pinggang Pangeran Sindumoyo.

"Dessss......."

Tubuh itu terlempar seperti daun kering tertiup angin.

"Brakkkk........ Tubuh pangeran itu meluncur dan menimpa dinding kamar, lalu jatuh terbanting dan tidak berkutik lagi. Ketika Wulansari memandang, ia mengerutkan alisnya karena ada darah mengalir di bawah tubuh yang menelungkup itu. Ketika ia menghampiri dan membalikkan tubuh itu, ternyata keris pusaka itu telah menancap di lambung pangeran itu sendiri dan dia telah tewas seketika.

"Ah, celaka, dia........ dia tewas......."

Dalam kagetnya, Wulansari berseru lirih dan cepat ia melompat dan mengunci pintu kamar itu agar jangan sampai ada orang lain mengetahui peristiwa itu.

"Bagus. Memang orang seperti dia itu lebih baik mati saja"

Kata Puteri Gayatri.

"Tidak semudah itu, gusti puteri. Yang tewas ini adalah Pangeran Sindumoyo, seorang diantara para putera Sribaginda. Dan dia tewas di kamar ini. Tentu akan geger seluruh istana, dan bukan hanya saya, akan tetapi kau juga tentu akan menghadapi akibat yang hebat"

"Aku tidak takut"

Kata dara remaja itu dengan gagah.

"Dan engkaupun tidak perlu takut. Aku akan mengatakan kepada paman Prabu Jayakatwang bahwa akulah yang membunuh pangeran ini, bukan engkau. Hendak kulihat dia mau berbuat apa kalau kukatakan bahwa aku yang telah membunuh puteranya"

Mendengar ucapan ini, Wulansari merasa kagum bukan main.

Puteri ini sungguh patut menjadi seorang puteri raja, begitu anggun, cantik jelita dan agung, juga berjiwa ksatria "Tidak, puteri.

Itu bukan penyelesaian yang baik.

Harap paduka tenang saja di sini, saya akan membawanya pergi dan menghilangkan semua jejaknya dari kamar ini"

Berkata demikian, Wulansari lalu menggulung mayat pangeran itu dengan babut yang telah kotor oleh darah.

Kemudian, dipanggulnya gulungan jenazah itu dan iapun keluar dari dalam kamar dengan cepat.

Ilmu kepandaiannya yang tinggi membuat ia tidak mengalami banyak kesukaran untuk membawa mayat itu keluar dari istana tanpa diketahui seorangpun pengawal.

Andaikata ada yang melihatnya, tentu tidak akan ada yang berani menegurnya pula, karena ia adalah kepala seluruh pengawal dalam istana, Juga kepercayaan Sribaginda.

Puteri Gayatri menanti di dalam kamarnya, agak bingung juga memandang sebagian lantai kamar yang tidak ditutup babut atau permadani hijau.

Diam-diam ia bersyukur sekali bahwa Wulansari muncul pada saat yang amat tepat.

Ia masjh bergidik kalau membayangkan betapa hampir saja ia dinodai oleh pangeran itu, dan kalau hal itu sampai terjadi, sudah pasti ia akan membunuh diri.

Tentu saja Puteri Gayatri tidak dapat tidur, bahkan berbaringpun dara ini tidak mau.

Masih nampak saja pangeran yang terbunuh oleh Wulansari tadi dan berkali-kali ia bergidik.

Ia menanti kembalinya Wulansari dengan hati gelisah.

Ia tidak memikirkan dirinya sendiri.

Bahkan ia berani untuk mengaku bahwa ia yang membunuh pangeran itu.

Akan tetapi yang ia khawatirkan adalah Wulansari.

Gadis perkasa itu telah membelanya dengan sesungguh hati, bahkan gadis itu untuk menyelamatkannya sampai berani membunuh seorang pangeran, padahal ia adalah seorang pengawal pribadi raja dan menjadi orang kepercayaan.

Kalau sampai ketahuan bahwa Wulansari yang membunuh Pangeran Sindumoyo, tentu gadis itu akan ditangkap dan dihukum berat sekali, mungkin hukum siksa sampai mati.

Baru menjelang subuh nampak bayangan berkelebat dan Wulansari telah memasuki kamarnya sambil membawa gulungan babut yang kini digelar kembali oleh gadis perkasa itu seperti semula.

Dan babut itu sudah bersih, tidak ada tanda percikan darah.

Kiranya gadisi perkasa itu telah mencuci babut itu di bagian yang ternoda darah, bahkan mengeringkan bekas yang dicuci dengan api.

"Mbakayu Wulan, bagaimana....?"

Puteri Gayatri berbisik sambil memegang lengan gadis perkasa itu.

Kini tanpa ragu dan kikuk ia menyebut mbakayu kepada Wulansari karena ia merasa seolah-olah gadis perkasa itu kakaknya sendiri yang membela dan melindunginya WULANSARI tersenyum dan nampak betapa wajahnya amat anggun, cantik, akan tetapi berwibawa.

"Sudah beres, harap paduka jangan khawatir. Dia mati di dalam hutan dan pembunuhnya tidak meninggalkan jejak. Tentu istana akan geger, akan tetapi tiada seorangpun akan menduga bahwa dia mati di sini"

Benar saja seperti yang dikatakan Wulansari, jenazah Pangeran Sindumoyo ditemukan orang dan setelah berita itu sampai ke istana, penghuni istana menjadi gempar Sang Prabu Jayakatwang marah sekali mendengar bahwa seorang diantara para puteranya tewas di dalam hutan tanpa diketahui siapa pembunuhnya.

"Tidak salah lagi. Pembunuhnya tentu pihak musuh, seorang mata-mata dari Singosari. Cari dia sampai dapat dan seret dia ke sini"

Perintahnya dengan muka merah.

Namun, tentu saja tidak ada yang mampu menangkap pembunuh yang tidak diketahui siapa itu dan pembunuh itu sama sekali tidak meninggalkan jejak.

Lebih mengherankan lagi, pangeran itu tewas dengan kerisnya sendiri menancap di lambungnya.

Karena itu, para penyelidik mengira bahwa pangeran itu tentu telah membunuh diri.

Ketika mereka membuat laporan kepada Sang Prabu Jayakatwang, raja itu hanya termenung dengan wajah muram.

Akan tetapi, kemurungan ini hanya sebentar saja karena dia sudah disibukkan kembali dengan kemenangannya atas Singosari yang telah diduduki pasukannya.

Semenjak terjadinya peristiwa itu, Puteri Gayatri bersahabat akrab sekali dengan Wulansari.

Ia tidak lagi mogok makan, tidak lagi bermuram durja.

Timbul kembali kelincahan dan kejenakaannya sehingga dara remaja menjelang dewasa ini nampak lebih cantik dan anggun.

Dan pada suatu hari, Sang Prabu Jayakatwang memanggil Wulansari menghadap.

Gadis perkasa ini merasa heran mengapa ia dipanggil menghadap Sribaginda tanpa adanya para ponggawa yang lain dan Sribaginda mengajak ia bicara empat mata.

Melihat sikap Wulansari yang nampak heran dan bingung, Sang Prabu Jayakatwang tersenyum.

"Wulansari, jangan engkau merasa heran karena. kupanggil menghadap dan bicara empat mata, Kita semua merayakan kemenangan besar yang kita capai, kita telah menguasai Singosari. Maka, biarpun engkau selama ini bertugas di sini menjaga keselamatanku dan tidak ikut menyerbu ke Singosari, namun jasamu cukup besar dan karena itu ingin aku memberi hadiah kepadamu. Terimalah hadiah ini, Wulansari. Ini sebagian dari harta pusaka yang kami rampas dari istana Singosari"

Sang Prabu Jayakatwang menyerahkan sebuah peti hitam kepada gadis itu. Wulansari menerima lalu menyembah dan menghaturkan terima kasih.

"Bukalah, Wulansari dan lihat isinya. Engkau akan gembira melihatnya"

Kata Sang Prabu Jayakatwang melihat betapa wanita itu setelah menerima kotak hitam lalu menaruhnya saja di atas lantai.

Wulansari tidak berani membantah dan iapun membuka tutup kotak atau peti kecil hitam itu.

Ia melihat perhiasan lengkap dari emas dan batu permata, amat indahnya.

Walaupun hatinya tidak begitu tertarik akan benda-benda berharga seperti itu, namun gadis yang cerdik ini sengaja membelalakkan matanya dan memandang kagum.

"Benda benda amat berharga ini bagus sekali, gusti. Sekali lagi hamba menghaturkan banyak terima kasih"

Wulansari menyembah setelah menutup kembali kotak hitam itu. Prabu Jayakatwang tertawa.

"Wulansari, hadiah yang kami berikan kepadamu itu masih belum seberapa dibandingkan dengan jasa-jasamu. Kami merasa girang sekali melihat perubahan pada Puteri Gayatri yang kini nampak sehat, gembira dan bertambah denok ayu. Dan sekarang kami membutuhkan bantuanmu, Wulansari. Kami melihat betapa hubunganmu dengan Gayatri akrab sekali"

"Sesungguhnya demikian, gusti. Semua ini hamba lakukan untuk menyenangkan hatinya dan menghibur hatinya seperti yang paduka perintahkan"

"Bagus. Engkau memang seorang hamba yang amat setia. Sayang sekali engkau tidak mau menjadi seorang selirku, Wulansari. Akan tetapi tidak mengapalah. Sekarang sudah ada penggantimu, yaitu Gayatri. Engkau bujuk ia agar suka menjadi selirku"

Wajah Wulansari berubah merah dan matanya terbelalak. Melihat ini, Sang Prabu Jayakatwang cepat menyambung.

"Diantara kami tidak ada hubungan darah sama sekali, Wulansari. Memang benar ada puteraku yang menjadi kakak ipar dari Gayatri, namun ikatan pernikahan itu dilakukan hanya sebagai siasat Daha terhadap Singosari. Antara kami dan Gayatri, tidak terdapat hubungan darah, maka sudah sepatutnya kalau ia, seorang puteri tawanan kuangkat menjadi selirku yang paling muda. Nah, aku perintahkan kepadamu agar engkau suka membujuknya, Wulansari. Kalau engkau berhasil membuat ia suka menyerahkan diri dengan suka rela, kami akan mengingat jasamu yang besar ini dan akan memberi hadiah yang lebih besar pula"

Di dalam hatinya, Wulansari merasa marah dan khawatir bukan main. Akan tetapi, tentu saja semua perasaan itu ia simpan di dalam hatinya, dan iapun menyembah.

"Hamba akan berusaha sekuat kemampuan hamba"

Setelah ia diijinkan mundur, Wulansari membawa kotak hitam itu dan ia langsung saja memasuki kamar Puteri Gayatri.

Sang puteri sedang menyisiri rambutnya yang berikal dan panjang, hitam dan semerbak harum oleh air kembang.

Melihat Wulansari tidak seperti biasanya, wajah yang cantik dan anggun itu nampak muram, mulutnya yang biasanya penuh senyum ramah itu ditekuk kaku, Puteri Gayatri segera bangkit dari duduknya dan merangkul Wulansari.

"Mbakayu Wulan, apa yang telah terjadi? Bukankah tadi engkau dipanggil oleh Paman Prabu?"

Wulansari melemparkan kotak hitam itu ke atas meja.

Tutupnya terbuka dan nampak isinya, perhiasan lengkap dari emas permata yang amat indahnya.

Melihat itu, Gayatri mengeluarkan seruan lirih dan iapun mendekati meja, lalu memegang kotak hitam itu dan mengamati isinya.

"Aihh........, ini........ ini....... perhiasan seorang selir kanjeng rama........"

Wulansari mengangguk.

"Memang itu adalah perhiasan rampasan dari istana Singosari, dan Sribaginda berkenan memberikan kepada saya sebagai hadiah"

Kata Wulansari, suaranya kaku dan wajahnya sama sekali tidak membayangkan kegembiraan. (Lanjut ke

Jilid 20) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Puteri Gayatri menengok dan memandang heran.

"Mbakayu Wulan. Perhiasan ini amat berharga, mengapa engkau tidak senang mendapat hadiah seperti ini?"

"Hemm, gusti puteri, apakah kau menganggap saya ini seorang perempuan yang tamak dan tergila-gila kepada perhiasan? Ketahuilah, Sribaginda memberi hadiah itu kepada saya bukan hanya karena jasa saya di sini, melainkan karena di balik itu, beliau memiliki pamrih"

"Eh? Pamrih? Apa pamrihnya, mbak ayu Wulan?"

"Beliau mengutus saya untuk membujuk paduka, agar paduka dengan suka rela suka menjadi selirnya termuda "

"Brakkk"

Peti kecil yang tadinya dipegang di tangan Puteri Gayatri itu terlepas dan terjatuh ke atas meja kembali. Wajah puteri itu berubah merah sekali dan matanya mencorong penuh kemarahan.

"Gila. Apakah dia sudah gila? Paman Prabu......... hendak........ mengambil aku menjadi selirnya? Bahkan seorang kakak tiriku menjadi mantunya. Apakah dia sudah gila?"

"Tidak, gusti puteri. Akan tetapi, begituIah perintahnya kepada saya. Untuk membujuk paduka agar suka menjadi selirnya"

Berkata demikian Wulansari menatap tajam wajah puteri dari Singosari itu, seperti hendak menjenguk isi hatinya.

"Tidak. Sekali lagi tidak sudi. Lebih baik aku mati dari pada menjadi selirnya. Dia telah menghancurkan kerajaan ayahku, dia telah membasmi keluargaku, sehingga kanjeng rama gugur dan entah bagaimana dengan keluarga lain. Tidak. Seribu kali aku tidak sudi"

Puteri Gayatri lalu melempar tubuhnya ke atas pembaringan, menelungkup dan menangis sesenggukan.

Wulansari memandang khawatir, lalu ia duduk di tepi pembaringan, dan merangkul puteri juwita itu.

Ia khawatir kalau kalau sang puteri kembali menjadi berduka dan putus asa maka iapun menghibur.

"Eiit, eitt......... Di manakah sang puteri yang jenaka, riang gembira, tabah dan berani menghadapi segala macam tantangan itu? Gusti puteri, tenang dan sadarlah, kembalilah menjadi Sang Puteri Dyah Gayatri yang tabah dan berwatak satrya. Saya akan melindungimu, gusti, dan percayalah, sayapun sama sekali tidak setuju kalau paduka menjadi selir Sribaginda. Percayalah, saya yang akan menjaga agar jangan sampai paduka dipaksa"

Seketika tangis itu terhenti.

Puteri Gayatri bangkit duduk dan dengan muka masih basah air mata, ia memandang kepada wajah Wulansari, penuh selidik dan suaranya masih terdengar parau bercampur isak ketika ia berkata.

"Benarkah itu, mbakayu Wulansari? Benarkah engkau akan melindungi aku dan mencegah Sribaginda memaksaku menjadi selirnya?"

Wulansari mengangguk, tersenyum dan mengusap muka yang jelita itu dengan saputangan, mengeringkan air mata. Dan wajah itupun kini tersenyum kembali, mata itu bersinar-sinar kembali.

"Terima kasih, mbak ayu Wulan. Aku percaya, kalau andika yang menjaga, aku akan selamat. Percayalah bahwa selama hidupku, aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini"

Puteri Gayatri lalu merangkul dan mencium kedua pipi Wulansari yang menahan air matanya karena terharu. la lalu berkata dengan lirih akan tetapi jelas dan dengan sikap bersungguh-sungguh.

"Sekarang dengarlah baik baik, gusti puteri. Jelas bahwa Sribaginda tergila-gila kepadamu dan ingin mengambil puteri sebagai selirnya. Akan tetapi, agaknya beliau menghendaki agar paduka menyerahkan diri dengan suka rela, tanpa paksaan, tentu saja mengingat bahwa paduka adalah seorang puteri Singosari. Oleh karena itu, masih banyak waktu bagi paduka untuk bersikap tenang saja, dan jangan memperlihatkan kedukaan atau kekhawatiran sehingga tidak mendatangkan kecurigaan kepada Sribaginda. Kalau sekali waktu Sribaginda bicara tentang niat hatinya itu, paduka katakan saja bahwa paduka masih ingin sendiri, masih belum mempunyai keinginan untuk melayani pria. Pula, paduka boleh mencari alasan, dan katakan kepada Sribaginda bahwa paduka baru mau menikah kalau sudah bertemu dengan kakak paduka, yaitu Sang Puteri Dyah Tribuwana. Bukankah menurut keterangan paduka, paduka terpisah dari kakak paduka itu dan sampai kini belum diketahui di mana adanya beliau? Tidak mungkin kakak paduka tertawan, karena tentu saya akan mengetahuinya. Nah, alasan itu cukup masuk akal dan kuat. Kalau sampai terjadi Sribaginda hendak memaksakan kehendaknya, jangan khawatir, ada saya di sini yang akan melindungi paduka"

Puteri Gayatri merasa girang sekali dan kembali ia merangkul Wulansari dan sampai lama tidak melepaskan rangkulannya.

"Ah, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau tidak ada andika di sini, mbakayu....."

"Kanjeng paman telah menerima saya dengan segala keramahan, sungguh budi paman ini teramat besar, tergores ke dalam kalbu dan sampai bagaimanapun saya tidak akan melupakannya. Saya merasa bersukur dan berterima kasih sekali kepada Kanjeng Paman dan sekeluarga"

Raden Wijaya menyatakan isi hatinya ketika dia makan bersama Bupati Sumenep, yaitu Arya Wiraraja atau juga dikenal dengan nama Arya Banyak Wide. Bupati itu tertawa mendengar ucapan Raden Wijaya.

"Ah, jangan terlalu sungkan, Raden. Raden adalah seorang pangeran, dan sekarang ini hanya padukalah harapan kami semua. Raden yang kelak berkewajiban untuk membangun kembali Kerajaan Singosari. Raden adalah junjungan kami semua, maka sudah sewajarnya kalau sekarang ini kami menerima paduka dan membantu sekuat kemampuan kami"

"Paman Bupati memang amat bijaksana dan berhati mulia,"

Kata Raden Wijaya terharu.

"Biarlah saya berjanji bahwa kalau kelak berhasil perjuangan saya, dapat menjadi raja di Pulau Nusantara, saya tidak akan lupa kepada paman dan akan membagi kerajaan menjadi dua, dan yang separuh akan saya berikan kepada kanjeng paman sebagai balas budi"

Mendengar ucapan ini, diam diam Arya Wiraraja terkejut, akan tetapi juga girang bukan main, Makin besarlah hatinya dan keyakinannya untuk membantu pangeran ini agar berhasil apa yang dicitakannya, karena dengan demikian berarti dia akan mendapat anugerag yang amat besar pula.

"Raden, tiada hasil baik datang begitu saja dari langit. Keberuntungan harus ditebus dengan usaha dan jerih payah. Kerajaan Daha kini menjadi kuat dan kekuatan kita sendiri tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan mereka. Oleh karena itu, belum waktunya untuk membalas dendam, menyerang Kerajaan Daha. Kalau gagal, berarti kita akan hancur sama sekali. Oleh karena itu, paduka harus bersabar, menanti saatnya yang tepat sehingga kelak, sekali pukul, paduka harus berhasil"

Raden Wijaya mengangguk-angguk, menyetujui ucapan itu.

"Lalu, menurut paman, apa yang sebaiknya harus saya lakukan?"

"Pertama, kita harus dapat membuat Sang Prabu di Daha tidak menaruh kecurigaan kepada paduka dan bal ini dapat dilakukan kalau paduka berbaik dengan beliau. Kedua, paduka harus dapat menyelidiki sampai dimana kekuatan pasukan Kerajaan "Daha, agar kelak dapat membuat perbandingan untuk mengimbanginya. Dan untuk mencapai hasil baik dari kedua hal ini, seyogianya kalau paduka kini pergi ke Daha dan menghambakan diri kepada Sang Prabu Jayakatwang"

"Apa......? Ti...... tidak kelirukah usul paman ini?"

Raden Wijaya terkejut bukan main mendengar usul Arya Wiraraja agar dia menghambakan diri kepada Raja Daha, kepada musuh yang telah menghancurkan Singosari.

Melihat kekagetan pangeran itu, Arya Wiraraja tertawa.

"Memang terasa aneh bahwa paduka menghambakan diri kepada pihak musuh, Raden, Akan tetapi harap paduka mengerti bahwa yang dimusuhi oleh Sang Prabu Jayakatwang bukanlah Raden, melainkan mendiang Sang Prabu Kertanagara. Dalam keluarga Sang Prabu Kertanagara, Raden hanyalah calon mantu. Percayalah, karena saya sudah seringkali bercangkerama dengan Sang Prabu Jayakatwang sehingga saya mengetahui isi hatinya. Untuk menenangkan hati paduka, baiklah saya akan menulis surat pribadi kepada Sang Prabu Jayakatwang, menceritakan tentang niat Raden menghambakan diri ke sana, dan kita lihat saja bagaimana nanti jawabannya"

Raden Wijaya menyetujui karena dia tidak melihat jalan lain yang lebih baik.

Memang dia harus dapat memasuki Daha, bukan hanya untuk menyelidiki kekuatan mereka, akan tetapi juga untuk mencari tunanganya.

Yang kedua, yaitu Puteri Gayatri yang kabarnya menjadi tawanan di Daha, Surat dibuat oleh Arya Wiraraja dan dikirimkan ke Kerajaan Daha.

Tepat seperti yang sudah diperhitungkan Arya Wiraraja, surat itu mendapat jawaban yang menyenangkan sekali.

Sang Prabu Jayakatwang yang sedang merayakan pesta kemenangannya itu berbesar hati dan memperlibatkan kebijaksanaannya untuk menerima Raden Wijaya sebagai tamu terhormat dan akan diterima kalau hendak membantu Kerajaan Daha.

Setelah menerima surat balasan ini, Raden Wijaya mengadakan pertemuan dan rapat dengan Arya Wiraraja dan sekalian pengikutnya.

Lalu diambil keputusan bahwa Raden Wijaya, dan para pengikutnya akan memasuki Daha, dan Puteri Tribuwana ditinggalkan untuk sementara di Sumenep.

Bagaimanapun juga, perjalanan menuju ke kerajaan bekas musuh itu bukan tidak berbahaya, maka demi keselamatannya, sang puteri ditinggalkan di Kabupaten Sumenep.

Rombongan itu berangkat dan diantar sendiri oleh Arya Wiraraja sampai ke dusun Terung.

Di sini mereka berpisah, Raden Wijaya dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke Daha seJangkan Arya Wiraraja kembali ke Sumenep.

Setelah tiba perbatasan Daha, Raden Wijaya dan rombongannya menuju ke Jung Bitu dan dia lalu menyuruh dua orang utusannya ke Daha untuk menghadap Sribaginda dan mengabarkan tentang kedatangannya.

Seperti yang telah dijanjikan dalam surat balasannya kepada Arya Wiraraja, Sang Prabu Jayakatwang menerima mereka dengan gembira.

Diutusnya dua orang senopatinya, yaitu Mantri Sagara Winotan dan Jangkung Angilo untuk menyambut rombongan Raden Wijaya ke kota raja.

Raden Wijaya sama sekali tidak tahu bahwa baru beberapa bari yang lalu, setelah Sang Prabu Jayakatwang menerima surat dari Arya Wiraraja telah terjadi suatu hal yang menimpa diri tunangannya yang kedua, yaitu Sang Dyah Gayatri.

Apakah yang telah terjadi?

Ketika Sang Prabu Jayakatwang menerima surat dari Bupati Sumenep, Arya Wiraraja, diapun merasa senang sekali.

Kalau Raden Wijaya hendak menghambakan diri kepadanya, hal ini berarti bahwa dari pihak keluarga Kerajaan Singosari sudah tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi usaha balas debdam.

Dan memang dia tidak membenci Raden Wijaya yang biasanya amat hormat kepadanya.

Yang dibencinya hanyalah Sribaginda Kertanagara.

Akan tetapi ada sebuah hal yang mengganjal hatinya, yaitu Puteri Gayatri.

Tentu saja dia sudah mendengar bahwa puteri itu telah ditunangkan dengan Raden Wijaya.

Kalau pemuda itu datang dan bekerja di Daha, sungguh tidak enak rasanya kalau dia tetap menahan Puteri Gayatri.

Tentu dia terpaksa akan mengembalikan sang puteri kepada tunangannya.

Dan dia sudah tergila-gila kepada dara hitam manis yang cantik jelita itu.

Satu-satunya jalan hanyalah mempersunting gadis itu, mengambilnya sebagai selir sebelum Raden Wijaya tiba.

Kalau gadis itu sudah terlanjur menjadi selirnya, sudah melayaninya, tentu Raden Wijaya tidak akan mau menerima tunangannya yang sudah bukan perawan lagi itu.

Dan dia sendiri dapat berpura-pura tidak tahu akan pertunangan itu.

"Panggil Wulansari"

Perintahnya kepada seorang dayang.

Setelah Wulansari datang menghadap, Sribaginda memerintah semua dayang, pengawal dan selir meninggalkan ruangan itu karena dia ingin bicara berdua saja dengan Wulansari.

Setelah semua orang pergi, Sang Prabu Jayakatwang memandang Wulansari dan bertanya dengan suara penuh harapan.

"Bagaimana dengan Gayatri, Wulansari? Apakah ia sekarang sudah bersedia untuk menjadi selirku?"

Wulansari menyembah.

"Sudah hamba usahakan untuk membujuknya, gusti. Akan tetapi ia selalu mengatakan bahwa ia belum bersedia melayani pria, dan bahwa ia harus menanti dulu sampai bertemu kembali dengan kakaknya, yaitu Gusti Puteri Tribuwana, baru ia mau menerima pinangan paduka. Hamba hanya mengharap agar paduka bersabar, gusti, karena ia masih seorang remaja, belum dewasa benar"

"Seorang perawan berusia tujubelas tahun belum dewasa? Ah, Wulansari agaknya ia sengaja hendak mempersulit. Mau atau tidak, malam ini aku akan bermalam dan tidur di kamarnya dan ia harus melayaniku malam ini. Kesabaranku sudah habis, dan kau usahakan agar ia menerimaku dengan suka rela, dari pada harus dipaksa"

Setelah berkata demikian, dengan wajah muram Sribaginda memberi isarat kepada Wulansari untuk pergi.

Wulansari kembali ke kamarnya dan beberapa kali ia mengepal tinju.

Ingin rasanya tadi ia turun tangan membunuh Sang Prabu Jayakatwang ketika raja itu menyatakan keinginan hatinya hendak memaksa Gayatri untuk melayani raja itu malam nanti.

Kini saat yang dikhawatirkan telah tiba.

Dan ia memang sudah bersiap-siap untuk menghadapi ini.

Maka, iapun cepat bersiap siaga dan malam itu, bagaikan bayangan setan, tanpa diketahui orang lain, ia menyelinap ke dalam kamar pribadi Sang Prabu Jayakatwang yang masih bercengkerama di luar bersama para selirnya yang menghiburnya, dan ia mengambil tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.

Lalu ia menyelinap kembali ke dalam kamar Puteri Gayatri yang siang tadi sudah ia beritahu.

Puteri itu pun sudah siap.

Nampak tegang, namun tetap tenang.

Malam inilah saatnya untuk menentukan mati hidupnya.

la akan lolos dari istana Daha bersama Wulansari.

Kalau ketahuan dan dikeroyok mungkin ia akan tewas.

Lebih baik ia mati dari pada harus melayani Sang Prabu Jayakatwang secara paksa.

Setelah mengikatkan buntalan kain berisi pakaian dan perhiasan dari Puteri Gayatri, Wulansari yang berpakaian ringkas itu lalu menggandeng tangan sang puteri dan merekapun meninggalkan bagian keputren.

Wulansari maklum betapa besar bahayanya pelarian ini.

Kalau ia sendiri yang melarikan diri, hal itu dianggapnya amat mudah.

Akan tetapi kini ia harus melarikan seorang puteri yang tidak pandai bergerak cepat, seperti dirinya, dan ia harus melindungi sang puteri, maka pelarian itu harus dilakukan dengan amat berhati-hati.

Baru tiba di pintu puri bagian puteri, dua orang pengawal istana sudah memalangkan tombak menghadang mereka.

Akan tetapi, dua orang pengawal itu terkejut dan heran ketika melihat bahwa dua orang yang mereka hadang itu adalah kepala pengawal atau komandan mereka sendiri, yaitu Wulansari.

Dan yang seorang lagi adalah Puteri Gayatri, puteri Singosari yang menjadi tawanan di istana.

"Ah, kiranya kau"

Kata seorang diantara dua penjaga itu sambil mengerutkan alisnya.

"Kenapa kau bersama puteri ini dan hendak dibawa ke manakah ia?"

Wulansari mengerutkan alisnya dan memandang marah.

"Berani kalian menyelidiki dan menghalangi aku? Aku melaksanakan tugas rahasia dari Sribaginda. Kalian tidak perlu ribut dan tidak boleh tahu. Lakukan saja penjagaan baik baik sebelum aku pulang. Mengerti?"

Dibentak seperti itu, kedua orang penjaga ini menjadi terkejut dan nyali mereka menguncup.

"Kami siap"

Mereka menjawab dengan sigap.

Wulansari tersenyum dan menggandeng tangan Puteri Gayatri, diajaknya terus menyusup-nyusup keluar dan dalam iingkungan istana.

Sementara itu Sang Prabu Jayakatwang merasa yakin bahwa malam itu dia akan berhasil menguasai diri Puteri Gayatri yang selama beberapa malam ini menjadi kembang impian dalam tidurnya.

Dia bersuka ria di ruangan dalam, dihibur oleh para selir dan dayang, makan dan minum sambil mendengarkan mereka bertembang, melihat mereka menari.

Akhirnya, setelah kenyang, dalam keadaan setengah mabok diapun melangkah menuju ke kamar Puteri Gayatri.

Biasanya, kalau dia menentukan pilihannya diantara para selir atau dayang untuk menemaninya pada malam tertentu, dia hanya menanti di dalam kamarnya dan wanita yang dipilihnya itulah yang datang ke kamarnya.

Akan tetapi sekali ini dia tidak tega membiarkan Puteri Gayatri menderita malu, harus dilihat para selir dan dayang ketika memasuki kamarnya.

Selain itu, diapun merasa agak sungkan dan malu kepada permaisuri dan para selir, karena bagaimanapun juga, Puteri Gayatri adalah adik dari seorang mantunya.

Dengan langkah gontai dan mulut tersenyum Sang Prabu Jayakatwang melangkah menuju ke kamar Puteri Gayatri.

Kadang kadang dia menjilat bibir sendiri seperti seorang kehausan membayangkan minuman segar, dan dia merasa seperti seekor kumbang yang terbang menuja ke sekuntum bunga yang sedang mekar mengharum, penuh dengan madu yang sebentar lagi akan dihisapnya.

Setibanya di depan pintu kamar Puteri Gayatri, pria yang sudah dibuai nafsu berahinya sendiri itu menanti sambil mengetuk pintu, jantungnya berdebar tegang.

"Tok tok tok. Dyah Gayatri, bukalah daun pintu kamarmu. Aku datang menjengukmu, sayang...."

Akan tetapi, bcberapa kali sudah dia mengetuk dan memanggil, tidak ada jawaban dari dalam, apa lagi dibukakan pintunya.

Dia mulai tidak sabar.

Dengan mengetuk pintu dan memanggil, dia sudah merendahkan martabatnya sebagai seorang raja besar yang biasanya mengeluarkan perintah satu kali dan selalu ditaati orang.

Maka, diapun lalu mendorong daun pintu itu.

Ternyata mudah sekali terbuka.

"Gayatri......."

Dia berseru memanggil dan jantung berdebar sambil melangkah masuk.

Akan tetapi, dia segera terbelalak heran.

Kamar itu kosong.

Tidak nampak perawan manis yang dirindukannya.

Dia merasa seperti seekor kucing memandangi sangkar burung yang kosong.

Burungnya telah terbang pergi.

Prabu Jayakatwang merasa adanya sesuatu yang janggal.

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 12

Baca Juga: Pedang Asmara 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert