Eps 5 Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo.
Sekali ini, Ki Baka tidak ingin melepaskannya.
Orang itu telah melakukan kejahatan besar, telah menodai Pertiwi, berarti bukan saja mendatangkan aib kepada keluarga gadis itu dan merusak kebahagiaan hidup Pertiwi, akan tetapi juga berarti telah menghina dia dan merusak kebahagiaan hidup Nurseta.
"Bedebah, hendak lari ke mana kau?"
Bentaknya dan diapun melompat dengan cepat, melakukan pengejaran menuruni lereng.
Gagak Wulung mengerahkan seluruh tenaganya untuk melarikan diri secepatnya menuruni lereng itu.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Dia ketakutan.
Dia maklum bahwa sekali ini Ki Baka tidak akan mau memaafkannya, dan kalau dia tidak cepat dapat tiba di tempat di mana Ki Buyut Pranamaya menantinya, dia tentu akan celaka di tangan Ki Baka yang sedang marah itu.
Gagak Wulung memang cerdik.
Dia dapat lari sambil menghindar, dengan cara berbelak belok dan tentu saja dia menuju ke kaki gunung di mana Ki Buyut Pranamaya yang diandalkannya itu berada.
Dan memang pada hari itu sudah merupakan hari ke tiga, seperti yang dijanjikannya bahwa pada hari ke tiga dia akan turun memberi laporan.
Ketika Gagak Wulung mulai merasa semakin gelisah karena Ki Baka nampaknya semakin dekat, tiba tiba saja hatinya lega melihat munculnya Ki Buyut Pranamaya di depannya.
Kiranya kakek ini menjadi tidak sabar karena pembantu yang dinanti nantikannya itu tak kunjung muncul, lalu kakek ini mendaki gunung untuk menyusul.
"Hemm, kenapa engkau lari lari seperti orang dikejar setan?"
Tanya Ki Buyut Pranamaya.
"Bu...... bukan setan....... tapi Ki Baka, paman"
Kata Gagak Wulung dengan gagap karena napasnya memburu dan muka serta lehernya penuh keringat.
"Hemm, dia?"
Ki Buyut Pranamaya membalikkan tubuh memandang dan dia melihat Ki Baka berlari cepat menuruni lereng menuju ke tempat itu.
"Kau minggirlah, kebetulan sekali dia datang "
Ki Baka tiba di tempar itu dan begitu melihat kakek itu, alisnya berkerut menduga duga.
Siapa gerangan kakek ini?
Seorang kakek yang tubuhnya sedang, meski usianya sudah tinggi sekali namun tubuhnya masib tegak, muka dan kumisnya, juga jenggotnya sudah banyak uban, pakaiannya seperti pakaian petani berwarna hitam.
Ketika matanya memandang ke bawah, dia terkejut sekali.
Jelas nampak pada kaki yang bertelanjang itu masing-masing hanya ada empat jari, tanpa ibu jari.
"Wiku Bayunirada........ Dan kau juga Ki Buyut Pranamaya"
Kata Ki Baka, teringat akan cerita Nurseta tentang kakek itu. Kumis dan jenggot kelabu itu bergerak-gerak ketika Ki Buyut Pranamaya tertawa btrgelak.
"Hahahaha, bagus kalau kau masih ingat kepada Wiku Bayunirada, Ki Baka. Kau sudah merasakan ampuhnya tangan ini, oleh karena itu, sekarang kau serahkan Tejanirmaia, baru aku akan memberi ampun kepadamu"
Ki Baka maklum bahwa dia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih pandai dan lebih tangguh dari dia, namun dia tidak memperhhatkan sikap gentar, bahkan tersenyum tenang.
"Ki Buyut Pranamaya, dengan menyamar sebagai Wiku Bayunirada, kau menipuku dan merampas Ki Ageng Tejanirmala, bahkan menurunkan tangan kejam kepadaku. Kemudian, kau tidak mampu mempertahankan pusaka itu sehingga terampas oleh orang lain. Bagaimana sekarang kau datang kepadaku menanyakan pusaka itu?"
"Huh, tidak perlu berpura-pura dan berlagak bodoh, Ki Baka. Yang merampas tombak pusaka itu adalah anakmu, si Nurseta yang dibantu oleh seorang gadis berbaju hijau. Maka, engkau tentu tahu di mana pusaka itu. Hayo cepat katakan di mana dan kembalikan kepadaku, ataukah aku harus mempergunakan kekerasan memaksamu?"
"Paman Buyut, robobkan saja dan tangkap dia, biar akan kusiksa dia sampai mengaku di mana adanya pusaka itu"
Kata Gagak Wulung yang kini timbul kembali kegalakannya setelah merasa aman.
"Ki Buyut Pranamaya, biarpun bukan aku dan bukan pula anakku yang merampas kembali tombak pusaka itu, aku tahu siapa yang merampasnya. Akan tetapi, jangan harap aku akan memberitahukannya kepadamu. Lupakah kau bahwa tombak pusaka itu bukan milikmu dan kau sama sekali tidak berhak untuk memilikinya?"
Ki Buyut Pranamaya menjadi marah, apa lagi mendengar bahwa Ki Baka tahu siapa perampasnva dan di mana tombak pusaka itu berada.
"Ki Baka, sekali lagi, katakan di mana tombak pusaka itu"
Akan tetapi Ki Baka tidak menjawab, melainkan menggeleng kepala sambil mengerahkan aji kekuatannya untuk membela diri.
Ki Buyut Pranamaya kini sudah marah sekali, Dia mengeluarkan suara melengking parau yang keluar dari perutnya melalui kerongkongan, dan tiba-tiba saja dia sudah menyerang dengan tamparan tangannya yang ampuh.
Ki Baka maklum akan kehebatan serangan ini, maka diapun cepat mengelak ke samping.
Akan tetapi, tamparan itu terus mengejarnya, seolah-olah di telapak tangan itu terdapat matanya yang dapat melihat ke mana dia mengelak dan tamparan itu tidak luput melainkan mengejar terus ke arah kepala Ki Baka.
"Haiiiittt........"
Ki Baka mengerahkan seluruh tenaganya menangkis karena tidak mungkin lagi mengelak dari ancaman tangan yang terus mengejar ke manapun dia mengelak itu.
"Dukkk........"
Lengannya bertemu dengan lengan kakek tua renta itu dan akibatnya, tubuh Ki Baka terdorong dan dia terhuyung keras.
Pada saat itu, Ki Buyut Pranamaya telah menyerang terus dengan tendangan sakti Cakrabairawa yang datang bertubi-tubi dan amat berbahaya.
Menghadapi serangkaian tendangan sakti ini, terpaksa Ki Baka harus melempar tubuhnya jauh ke belakang, lalu bergulingan di atas tanah untuk menghindarkan diri.
Begitu tendangan dihentikan, Ki Baka meloncat bangun dan langsung dia mengirim serangan balasan berupa pukulan ampuh Bajradenta.
Ki Buyut, betapapun saktinya, tidak berani sembarangan menerima aji pukulan yang ampuh ini, maka kembali dia menangkis sambil mengerahkan tenaga mendorong.
Untuk kedua kalinya tubuh Ki Baka terguling, sekali ini terpental agak jauh ketika tubuhnya terguling dekat kaki Gagak Wulung, orang ini tidak menyia-nyiakan kesempatan, lalu menendang ke arah kepala Ki Baka.
Untung Ki Baka masih dapat memutar kepala ke samping sehingga tendangan itu luput mengenai kepala, akan ietapi masih imengenai pundak Ki Baka.
"Desss........"
Tubuh Ki Baka terlempar dan da meloncat bangun, merasa nyeri pada pundaknya. Masih untung bahwa tulang pundaknya tidak patah.
"Ki Baka, engkau masih belum juga mau mengaku?"
Bentak Ki Buyut Pranamaya yang kembali sudah tiba di depannya.
Kakek ini memang memiliki gerakan yang amat cepat, yaitu dengan ilmunya Garuda Nglayang, yang membuat tubuhnya ringan dan cepat gerakannya seperti seekor burung garuda terbang.
Akan tetapi Ki Baka pantang undur.
Bagi seorang satria seperti dia, kematian bukanlah apa apa, akan tetapi mempertahankan kebenaran jauh lebih penting.
Apa lagi harus menunjukkan di mana adanya tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala, biar matipun dia tidak akan mau melakukannya.
Berbahaya sekali kalau tombak pusaka itu sampai terjatuh ke dalam tangan seorang seperti kakek ini, Buktinya, sebentar saja tombak itu terampas oleh Ki Buyut Pranamaya.
terjadilah pemberontakan Mahesa Rangkah yang.mengorbankan banyak nyawa manusia.
Entah apa akan jadinya dengan, pemberontakan jtu kalau tombak pusaka itu tidak terlepas dari tangan Ki Buyut Pranamaya.
Tentu pemberontakan itu tidak akan begitu.
mudah dibasmi seperti yang telah terjadi sekarang ini.
Maka tanpa menjawab, dia bahkan menyambut pertanyaan itu dengan serangannya, dengan pukulan Bajradenta dan pengerahan tenaga Aji Sari Patala.
Melihat ini, Ki Buyut Pranamaya menjadi marah.
"Huh, agaknya engkau sudah bosan hidup bentaknya dan dia menangkis pukulan itu sambil membarengi dengan tendangan yang mengenai paha Ki Baka. Tubuh Ki Baka terpelanting dan Ki Buyut Pranamaya mengejar menyusulkan pukulan yang ampuh bukan main, yaitu Aji Margaparastra (Jalan Kematian ) seperti yang pernah membuat Ki Baka menjadi penderita cacat dan nyaris mencabut nvawanya kalau saja dia tidak ditolong oleh Panembaban Sidik Danasura.
"Tahan pukulan itu"
Tiba tiba terdengar bentakan halus sekali, akan tetapi di dalam kelembutannya terkandung wibawa yang amat kuat sehingga Ki Buyut Pranamaya sendiri otomatis menahan pukulan Margaparastra itu sambil menoleh ke arah suara tadi Kesempatan ini dipergunakan oleh Ki Baka untuk meloncat ke belakang menjauhkan diri.
"Sadhu, sadhu, sadhu........, semoga Hyang Widhi Wisesa mengampuni kita semua. Buyut Pranamaya, tidak takutkah kau akan murka Hyang Tunggal ketika kau hendak menjatuhkan pukulan maut kepada Ki Baka? Siapakah kau ini yang berani hendak mengakhiri hidup seseorang?"
Ki Buyut Pranamaya sudah berhadapan dengan kakek yang baru tiba itu.
Kakek tinggi kurus yang usianya juga sudah tua renta, sebaya dengan Ki Buyut Pranamaya sendiri, tubuhnya agak bongkok, pakaian, ikat rambut, juga rambut kumis dan jenggotnya, semua putih.
Tangan kirinya memegang seuntai tasbeh dari batu putih, dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu gading.
Tentu saja dia mengenal siapa adanya kakek yang tadi menegurnya dengan lembut sehingga membuat dia menahan pukulan mautnya terhadap Ki Baka.
Panembahan Sidik Danasura adalah seorang tokoh yang kedudukannya amat tinggi dan biarpun dia jarang atau hampir tidak pernah mencampuri urusan duniawi, namun semua tokoh di dunia persilatan, baik dari golongan putih maupun golongan hitam, mengenal namanya.
"Hemm, kiranya Kakang Panembahan Sidik Danasura yang nadir"
Kata Ki Buyut Pranamaya dengan suara ditenangkan untuk menutupi perasaannya yang agak terguncang melihat munculnya kakek itu.
Belum pernah dia sendiri menguji kesaktian panembahan itu, namun dari keterangan yang pernah didengarnya, kabarnya kakek pertapa di Teluk Pngi Segoro Wedi itu adalah seorang yang sakti mandraguna dan memiliki kepandaiau seperti dewa saja, dan yang lebih mengerikan lagi adalah wataknya yang bersih dan murni.
Manusia dengan kebersihan dan kebebasan seperti inilah yang sukar dilawan dengan kedigdayaan.
"Benar, Adi Buyut Pranamaya, semoga para dewata memberi jalan terang kepada kau"
"Terima kasih, Kakang Panembahan. Akan tetapi agaknya kau hanya pandai memberi nasihat akan tetapi tidak pandai melaksanakannya sendiri, Kakang Panembahan"
Panembahan itu tersenyum dan mengelus jenggotnya, sikapnya tenang dan sinar matanya tak pernah melepaskan sinarnya yang lembut, mulutnyapun selalu tersenyum.
"Adi Buyut, apa maksudmu?"
"Kau menasihatkan orang untuk mengambil jalan terang dan membebaskan diri dari keramaian duniawi, akan tetapi mengapa kau datang datang mencampuri urusan orang lain, dalam hal ini urusanku dan kau sudah bertindak berat sebelah dengan memihak Ki Baka dan menghalangiku?"
"Sadhu, sadhu, sadhu, semoga para dewata memberkahi semua mahluk di dunia ini. Adi Buyut, aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri apa lagi memihak, melainkan aku melihat seseorang, dalam hal ini kau, hendak melakukan dosa besar dengan pembunuhan. Karena itu, aku segera mencegah dan mengingatkan, bukankah ini demi kebaikanmu sendiri?"
"Itu menurut pendapatmu, Kakang Penembahan. Dan pendapat orang dapat berbeda. bahkan berlawanan. Pencegahanmu tadi sama sekali bukan demi kebaikanku, bahkan sebaliknya, pencegahanmu itu amat merugikan aku kakang. Pusakaku dirampas oleh anak Ki Baka, dan aku datang untuk menuntut kembali pusaka itu, akan tetapi dia tidak mau menunjukkan di mana adanya pusaka itu. Bukankah sudah sepatutnya kalau aku memaksanya mengaku? Perbuatanku menuntut hakku sudah benar, sebaliknya perbuatanmu mencegah aku itulah yang sesat karena merugikan aku"
Panembahan Sidik Danasura kembali mengelus jenggotnya dan mengangguk angpuk. sikapnya tetap lembut dan ramah.
"Jagad Dewa Batbara......... Belumkah kau mampu meiihatnya, Adi Buyut? Setiap langkah perbuatan, apa bila mengandung pamrih, adalah perbuatan yang sesat dan palsu"
"Akan tetapi pamrihku baik"
"Yang ada hanya pamrih, tidak ada baik atau buruk. Pamrih merupakan keinginan demi kepentingan diri pribadi yang dapat meluas menjadi kepentingan goiongan dan seterusnya dari pribadi itu, terbuka maupun terselubung, dan keinginan itu menjadi dasar dari suatu perbuatan. Itulah pamrih, dan setiap perbuatan yang d dorong pamrih, sudah pasti akan menimbulkan bentrokan dan keributan belaka. Aku mencegahmu tadi sama sekali tanpa pamrih, sama sekali tanpa kepentingan pribadi, Adi Buyut. Sudahlah, coba ceritakan apa yang telah terjadi sehingga kau kulihat hendak menurunkan tangan maut kepada Ki Bika tadi"
Ki Buyut Pranamaya merasa serba salah.
Tentu saja dia mengerti bahwa sesungguhnya, slialah yang merampas pusaka itu mula mula dan tangan Ki Baka.
Akan tetapi karena sudah terlanjur, diapun menjawab dengan nekat saja.
"Sudah kukatakan tadi, pusakaku dirampas oleh anak Ki Baka yang bernama Nurseta bersama seorang gadis baju hijau, dan aku datang kepada Ki Baka untuk menuntut agar dia mengembalikan pusaka itu. Akan tetapi, dia bahkan hendak merahasiakan di mana adanya pusaka itu"
Panembahan itu menjawab.
"Mendengarkan alasan haruslah dari kedua pihak, baru adi. namanya. Oleh karena itu, Ki Baka, coba ceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi sehingga kau berkelahi dengan Adi Buyut Pranamaya"
Ki Baka tentu saja mengenal baik panembahan yang baru baru ini telah menyelamatkannya dari akibat pukulan Margaparastra dari Wiku Bayunirada yang sesungguhnya adalah penyamaran dari Ki Buyut Pranamaya.
Dia lalu memberi hormat kepada panembahan itu dan menjawab dengan sejujurnya.
"Terima kasih atas pertolongan Paman Panembahan yang untuk kedua kalinya menghindarkan diri saya dari ancaman maut di tangan Ki Buyut Pranamaya. Awal peristiwa terjadi di dusun Sintren, di mana Gagak Wulung telah secara keji menodai gadis yang menjadi calon mantu saya, calon isteri Nurseta, bahkan dia hendak melarikan gadis itu. Saya menentangnya, kami berkelahi dan dia melarikan diri, saya kejar sampai di sini. Tahu tahu muncul Ki Buyut Pranamaya yang menyerang saya setelah dia menuntut agar saya mengembalikan Ki Ageng Tejanirmala atau memberitahu kepadanya di mana adanya pusaka itu sekarang"
"Sadhu, sadhu, sadhu......... Di manamana? manusia mengumbar nafsunya mengejar kesenangan tanpa rikuh mencelakakan orang lain"
Pertapa itu menarik napas panjang dan ketika sinar matanya yang lembut bertemu dengan wajah Gagak Wulung, penjahat ini bergidik dan cepat menundukkan mukanya.
"Ki Baka, bagaimana ceritanya dengan tombak pusaka itu sehingga Adi Buyut Pranamaya menuntut dikembalikannya pusaka itu?"
"Tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala tadinya milik saya yang dirampas oleh Wiku Bayunirada yang bukan lain adalah Ki Buyut Pranamaya juga. Dia merampas pusaka dan melukai saya sampai saya tertolong oleh pengobatan Paman Panembahan. Kemudian, Nurseta mencari pusaka itu untuk merampasnya kembali. Akan tetapi pusaka itu terampas oleh seorang gadis. Baik saya ataupun Nurseta tidak bekerja sama dengan gadis itu, akan tetapi Ki Buyut Pranamaya menuduh demikian dan memaksaku memberitahu di mana adanya pusaka itu. Biarpun saya tahu di mana, tentu saja saya tidak mau memberitahukan kepadanya karena dia sama sekali tidak berhak atas pusaka itu"
"Adi Buyut, bukankah perbuatanmu itu sewenang-wenang? Kau tidak berhak memiliki tombak pusaka itu, Sudahilah saja usahamu yang tidak patut itu agar kau tidak terjerat oleh perbuatan sendiri, karena setiap orang akhirnya akan memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri"
"Aku mempergunakan wewenang dari yang menang. Yang menang itu kuasa melakukan apapun yang dikehendakinya. Pusaka itu telah berada di tanganku, maka harus kembali ke tanganku, dan aku akan memaksa Ki Baka untuk mengaku di mana adanya pusaka itu"
Ki Buyut Pranamaya membentak.
"Kakang Panembahan. Kau hendak memihak Ki Baka, membelanya dan menentang aku?"
Ki Buyut Pranamaya membentak, matanya membelalak kemerahan. Kakek tua renta itu tersenyum dan menggeleng kepala, seperti seorang guru melihat sikap muridnya yang masih bodoh dan nakal.
"Aku tidak membela dan menentang siapapun, kecuali membela yang benar dan lemah, dan menghindarkan yang sesat dan kuat dari pada perbuatan jahat"
"Babo babo, kau kira aku takut padamu, Panembahan Sidik Danasura? Kalau kau menentang aku, berarti kau seorang musuh bagiku"
Berkata demikian kakek yang berpakaian serba hitam ini sudah menerjang maju dengan pukulan dahsyatnya, yaitu Aji Margaparastra yang menggiriskan.
Angin dingin menyambar ketika pukulan itu dilakukan bagaikan tangan Sang Dewa Maut sendiri menjahgkau untuk mencari korban.
"Sadhu, sadhu, sadhu......."
Panembahan Sidik Danasura mengebutkan tangan kirinya yang tertutup lengan baju putih yang lebar Angin halus menyambar keluar dan dalam lengan baju itu, menyambut angin pukulan Margaparastra dan akibatnya, tubuh Ki Buyut Pranamaya terdorong dan terhuyung ke belakang, Kakek berpakaian serba hitam itu semakin marah.
Sambil mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau, diapun menerjang maju, sekali ini mengerahkan Aji Cakrabairawa yaitu ilmu tendangan yang dahsyat itu.
Kedua kakinya bertubi-tubi melayang ke arah tubuh kakek berpakaian serba putih.
Panembahan Sidik Danasura dengan sikap tenang lalu menggunakan tongkatnya yang terbuat dari Bambu Gading itu menyambut, menggerakkan tongkat seperti memukul anjing dan akibatnya, tubuh penyerang itu terpelanting dan terjatuh.
Namun, Ki Buyut Pranamaya meloncat bangkit kembali, memandang kepada lawannya dengan beringas, akan tetapi diapun tahu diri.
Dia maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan kakek berpakaian serba putih yang amat sakti itu.
Dan diapun tidak berani mengeluarkan ilmu hitam atau ilmu sihirnya, karena diapun tahu bahwa menghadapi kakek sakti ini, ilmu hitamnya hanya akan membalik dan memukul dirinya sendiri, dan hal ini jauh lebih berbahaya daripada tangkisan lawan terhadap serangannya tadi.
"Baiklah, Kakang Panembahan Sidik Danasura, aku mengaku saat ini belum mampu memaksa Ki Baka mengaku. Akan tetapi, masih ada saat lain. Hayo, Gagak Wulung"
Dan Ki Buyut Pranamaya lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dengan cepatnya, dengan wajah penuh kemarahan.
Gagak Wulung juga cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu mengejar kakek berpakaian hitam.
"Gagak Wulung keparat, engkau harus mempertanggung jawabkan kejahatanmu "
Ki Baka masih penasaran dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya disentuh Panembahan Sidik "Danasura maka dia tidak melanjutkan usahanya melakukan pengejaran.
Diapun maklum bahwa selama Gagak Wulung berdekatan dengan Ki Buyut Pranamaya, dia tidak akan mampu berbuat apapun terhadap penjahat cajul itu, bahkan dia yang akan terancam oleh kakek tua renta berpakaian hitam itu.
"Paman, mengapa paman melepaskan orang-orang jahat seperti iblis itu? Mereka berdua itu hanya akan mengancam kehidupan manusia lain, mengotori dunia saja"
Kata Ki Baka, dalam kemarahannya sampai lupa diri.
Memang sesungguhnyalah, mengalahkan orang lain itu mudah, namun mengalahkan diri sendiri amat sulitnya.
Ki Baka adalah seorang pertapa yang sudah cukup memiliki kebijaksanaan, maklum akan kelirunya menurutkan nafsu perasaan hati.
Namun, melihat betapa calon mantunya dinodai orang, diapun dapat menjadi mata gelap dan lupa sehingga sikapnya tiada bedanya dengan orang yang masih mudah dikuasai nafsu amarah dan dendam.
Kini, begitu bertemu pandang dengan Panembahan Sidik Danasura, tiba-tiba dia teringat dan tubuhnya terkulai lemas, jatuh berlutut di depan panembahan itu.
Panembahan Sidik Danasura memejamkan mata dan mengangkat mukanya ke atas.
Dia sengaja datang ke Pegunungan Kelud ini karena dia merasakan suatu hal yang mendorongnya untuk bertindak.
Mata batinnya yang tajam seperti melihat akan keadaan Ki Baka yang terancam bahaya, dan selain ini, dia melihat pula bahwa Ki Baka masih akan lama dapat bertemu dengan Nurseta yang juga sedang mengalami cobaan atau ujian Yang Maha Kuasa Dia tahu bahwa ancaman Ki Buyut Pranamaya bukanlah gertak kosong belaka.
Orang itu tentu tidak akan mau sudah sebelum berhasil merampas kembali Ki Ageng Tejanirmala, maka keamanan Ki Baka tentu akan terancam terus.
Satu satunya jalan hanyalah mengajak Ki Baka ke padepokannya di mana dia akan aman dan gangguan Ki Buyut Pranamaya.
"Agaknya kau sudah mengerti mengapa kita tidak sepatutnya menilai dan mengukur jahat tidaknya seseorang, apa lagi menjatuhkan hukuman. Siapakah kita ini yang lancang menghakimi seseoran? Marilah, Ki Baka, mari ikut bersamaku, menikmati ketenteraman hidup di Teluk Prigi. Kalau sudah tiba saatnya, tentu Nurseta akan menyusul ke sana"
"Maaf, Paman Panembahan. Sebelum kita berangkat, saya ingin lebih dulu melihat keadaan Pertiwi, calon mantu saya"
Panembahan itu tersenyum.
Dia maklum akan segala yang sudah dan akan teriadi maka dia tidak membantah, hanya tersenyum mengangguk dan keduanya lalu menuju ke dusun Sintren, tempat tinggal Ki Purwoko ayah Pertiwi.
Kedatangan Ki Baka disambut isak tangis oleh Pertiwi yang sejak tadi memang sudah menangis terus.
Melihat calon ayah mertuanya ini, Pertiwi yang teringat akan semua peristiwa yang terjadi dengan dirinya, menjadi malu bukan main.
Tiba tiba ia lari ke sudut kamar, mengambil sebilah keris milik ayahnya dan dengan keris itu ditsuknya dadanya sendiri.
Akan tetapi, dengan satu loncatan saja Ki Baka telah berada di dekatnya dan dengan mudah Ki Baka meranpas keris itu dari tangan calon mantunya.
"Nini Pertiwi, apa yang akan kau lakukan?"
Tanyanya dengan suara keren penuh wibawa.
"Paman........"
Pertiwi menjatuhkan diri berlutut, menyembah di kaki Ki Baka, sedangkan Panembahan Sidik Dmasura hanya memandang sambil mengelus jenggotnya.
"Mengapa paman menghalangiku yang hendak mengakhiri semua derita ini? Paman, apa gunanya hidup di dunia ini bagiku?"
"Pertiwi. Apa gunanya hidup bukanlah urusam kita. Kita ini dihidupkan untuk kelak dimatikan bukan atas kehendak kita. Urusan kita hanyalah mengisi kehidupan ini, mengisinya dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Mengakhiri hidup dengan cara membunuh diri adalah lancang dan merupakan dosa besar.
"AKAN tetapi, paman? Apa gunanva aku hidup terus? Aku hanya akan menjadi sampah yang mengotori dunia saja, aku telah mendatangkan aib dan malu kepada keluarga ayah, juga keluarga paman.......ah, bagaimana aku akan dapat menahan denta ini. Lebih baik aku mati....... mati......."
Gadis itu menangis sesenggukan.
Perasaan malu, menyesal, dendam dan duka tercampur aduk menjadi satu.
la merasa malu karena ia telah menyerahkan diri kepada seorang laki-laki asing.
Menyerahkan diri.
Bukan dipaksa.
Biarpuan ia sendiri merasa heran mengapa ia sampai dapat melakukan hal yang amat memalukan itu, namun ia ingat benar bahwa ia tidak dipaksa, tidak diperkosa, melainkan menyerahkan diri kepada orang bernama Raden Gigak Wulung itu.
Ia merasa malu dan menyesal, akan tetapi setelah sadar, iapun merasa dendam kepada orang itu karena bagaimanapun juga, ia tahu bahwa ia menyerahkan diri dalam keadaan seperti orang tak sadar.
Dan ia berduka kalau mengingat akan ucapan Nurseta, pernyataannya yang jujur bahwa pemuda yang dipujanya itu tidak mencintanya, melainkan mencinta seorang gadis lain.
"Sudahlah, nini Pertiwi. Tenanglah. Apakah kaukira bahwa dengan membunuh diri engkau akan terbebas dari penderitaan? Siapa tahu engkau malah akan menambah penderitaanmu ini. Tidak perlu engkau menyesali perbuatanmu, Ketahuilah bahwa Gagak Wulung adalah seorang penjahat besar yang keji dan suka mempermainkan wanita. Engkau tentu telah disihirnya maka engkau menjadi tidak sadar. Bukan semata-mata kesalahanmu, kalau engkau melakukan hal itu walaupun aku merasa heran mengapa seorang gadis seperti engkau selemah itu. Tentu ada sesuatu yang membuatmu lemah, tidak dapat menolak pengaruh sihirnya. Tenanglah dan buang jauh-jauh pikiran untuk membunuh diri itu. Kita tidak dapat melarikan diri dari kenyataan, betapapun pahitnya kenyataan itu, apa lagi melarikan diri dengan jalan bunuh diri. Kita harus berani menghadapi kenyataan dan berani menghadapi segala akibat dari pada apa yang kita lakukan atau apa yang telah terjadi menimpa diri kita"
Mendengar kata kata Ki Baka, Pertiwi menjadi agak tenang.
"Akan tetapi, paman. Setelah apa yang terjadi, bukankah aku hanya akan menjadi cemoohan orang orang saja? Apa lagi kakangmas Nurseta....... ah, aku....... aku malu untuk bertemu muka dengan dia, paman"
"Nini, Nurseta bukanlah seorang pemuda yang berpemandangan sempit. Apa yang menimpa dirimu itu bukan karena kesalahanmu, dan akan terjadi kepada semua wanita yang menjadi korban Gagak Wulung. Kita tunggu saja sampai Nurseta pulang. Ingat nini, jangan sekali kali engkau berani membunuh diri karena hal itu tidak akan menyelesaikan persoalan, bahkan akan melibatkan dirimu ke dalam persoalan lain yang lebih rumit. Hadapilah kenyataan dengan tabah karena bagaimanapun juga, engkau tidak melakukan perbuatan sesat dengan sadar, anakku. Aku akan pergi bersama Paman Panembahan, dan tunggulah saja sampai Raden Nurseta pulang"
"Saya........ saya akan mentaati pesan paman......."
Kata Pertiwi menahan isak.
Bagaimanapun juga, kata-kata,Ki Baka membesarkan hatinya, membuat ia semakin percaya bahwa perbuatannya yang tidak tahu malu itu terdorong oleh kekuatan tidak wajar atau semacam guna guna yang dikeluarkan Gagak Wulung dan ditujukan kepada dinnya.
Tiba tiba Ki Purwoko melangkah maju "Akan tetapi, sungguh kami khawatir sekali.
Bagaimana kalau orang jahat itu datang kembali dan memaksa Pertiwi pergi bersamanya, Apa yang dapat kami lakukan?
Kalau kami menghalangi, kami pasti dibunuhnya dan kami tidak dapat melawannya"
Ki Baka termenung.
Benar juga apa yang dikatakan ayah Pertiwi itu.
Orang seperti Gagak Wulung tentu tidak akan mau mengalah begitu saja.
Kalau Gagak Wulung mengetahui bahwa dia telah pergi, lalu penjahat itu datang kembali ke dusun Sintren, menculik Pertiwi, tentu takkan ada seorangpun yang dapat menentang atau menghalanginya.
Selagi Ki Baka bimbang, Panembahan Sidik Danasura berkata dengan suaranya yang lembut.
"Segala kejahatan dilakukan manusia, namun semua peristiwa yang dianggap baik maupun buruk ditentukan oleh kekuasaan Hyang Widhi Wisesa. Kita manusia hanya berkewajiban untuk berikhtiar saja agar selamat. Nini, jangan khawatir. Malapetaka yang menimpa dirimu disebabkan oleh kecantikanmu yang menimbulkan nafsu buruk Gagak Wulung. Nah, kau pergunakanlah segenggam tanah ini. Setiap kali ada yang datang hendak mengusikmu. pergunakanlah sedikit dari tanah ini, kau campur dengan ludahmu dan kau pakai sebapai bedak pada mukamu, tentu tidak akan ada yang mau mengganggumu lagi, nini"
Biarpun ucapan kakek tua renta itu lemah lembut, namun di dalamnya mengandung wibawa yang membuat orang mau tidak mau tunduk dan percaya sepenuhnya.
Pertiwi yang mengangkat muka memanding kakek tua renta berambut putih itu, segera menyembah, menjulurkan kedua lengan menerima segenggam tanah dan membungkus tanah itu dengan ujung kembennya sambil menghaturkan terima kasih.
Ki Baka lalu pergi bersama Panembahan Sidik Danasura, meninggalkan dukuh Sintren menuju ke selatan, ke padepokan kakek berpakaian putih itu di Teluk Prigi, Segoro Wedi dekat pantai Segoro Kidul.
Setelah tiba di tempat itu, untuk kedua kaiinya Ki Baka tinggal di tempat itu dan diapun bertapa dan memperdalam llmunya, mendapat petunjuk dari Panembahan Sidik Danasura, Beberapa kali Ki Baka bertanya kepada kakek tua renta itu tentang anak angkatnya, namua Panembahan Sidik Danasura hanya menjawab bahwa kalau waktunya tiba, tentu Nurseta akan dapat berjumpa kembali dengan Ki Baka, karena jawabannya selalu demikian, akhirnya Ki Baka tidak berani bertanya lagi dan hanya menanti dengan penuh kesabaran, maklum sepenuhnya bahwa dia, sebagai seorang manusia, tidak berdaya menentang kehendak Yang Maha Kuasa.
Bagaikan seorang anak wayang, dia hams tunduk dan patuh kepada Sang Sutradara yang sudah menenti kan jalan ceritanya, tugas utamanya hanyalah berkiprah dan bermain sebaik-baiknya dalam mengisi peran yang dipegangnya.
Setelah Ki Baka pergi, Pertiwi yang masih merasa nelangsa itu hampir tidak pernah lagi keluar dari rumah.
Bahkan lebih banyak ia berada di dalam kamarnya, jarang makan jarang tidur.
Hal ini mencemaskan ayahnya, dan menjengkelkan ibu tirinya, bahkan menjadi bahan percekcokan antara suami isteri itu.
Akhirnya, Pertiwi minta kepada ayahnya agar dibuatkan sebuah pondok kecil, mirip gubuk sederhana di tengah ladang mereka.
Ia ingin hidup menyendiri, mengerjakan ladangnva sendiri dan hidup menyepi agar tidak lagi mendatangkan keributan dalam rumah tangga ayahnya.
Ki Purwoko tidak melihat jalan lain kecuali memenuhi permintaan puterinya.
Dia tahu bahwa puterinya itu kini hanya tinggal menanti kembalinya Nurseta dan mendengar keputusan calon suami itu.
Hati orang tua ini terenyuh sekali, akan tetapi bagaimanapun juga, di dalam hati kecilnya dia menyesali kelemahan anaknya yang mudah tergoda pria sehingga mudah begitu saja menyerahkan diri sehingga ternoda.
Masih untung bahwa hasil hubungan itu tidak sampai membuahkan keturunan.
Kalau hal itu terjadi, alangkah akan malunya dan dia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukannya.
Kini Pertiwi hidup di dalam pondok atau gubuk itu.
Ia mengerjakan ladangnya dengan rajin, dan hasil ladangnya itu diambil oleh ayahnya, cukup untuk keperluan hidup gadis itu yang tidak membutuhkan banyak barang.
Makannya sederhana saja, dan sedikit karena gadis itu makan hanya untuk penyambung hidupnya saja, seperti makannya seorang pertapa.
Pakaiannya juga amat sederhana, asal bersih.
Kalau tidak bekerja di ladang, ia selalu berada dalam gubuknya, bersila dan bersamadhi memohon kepada Yang Maha Kuasa agar ia segera dibebaskan dari penderitaan batin dan diberi jalan untuk melanjutkan kehidupan yang ganas ini.
Bagaimanapun juga, Pertiwi adalah seorang gadis yang manis, yang terkenal di Sintren sebagai seorang gadis yang lemah lembut, baik budi dan juga memiliki wajah yang manis, bentuk tubuh yang denok indah.
Peristiwa yang mendatangkan aib itu hanya diketahui oleh keluarga Pertiwi saja, dan tak seorangpun di luar keluarga itu yang mengetahuinya.
Kini penghuni dusun itu hanya merasa terheran-heran melihat betapa gadis itu mengasingan diri di dalam pondok seorang diri, tidak lagi mau bergaul dengan penghuni dusun, bahkan jarang keluar dari pondok kalau tidak untuk bekerja di ladang, mencuci pakaian atau mandi di kali kecil yang mengalir di dekat pondoknya.
Tentu saja kesendiriannya itu menarik pula perhatian para pemuda, bahkan membangkitkan gairah para pemuda yang nakal.
Pada suatu malam bulan purnama, tiga orang pemuda diam-diam menghampiri pondok Pertiwi.
Agaknya sinar bulan purnama membangkitkan berahi mereka dan membayangkan betapa gadis manis itu tidur sendirian saja di dalam pondok yang sunyi dan terpencil dari rumah-rumah lain, timbul niat buruk dalam benak mereka.
Berindap-indap mereka menghampiri pondok dan mengetuk pintu pondok itu.
"Toktoktok"
Mereka mengetuk perlahan sambil cekikikan.
"Siapa itu?"
Terdengar suara Pertiwi, masih halus merdu suaranya, membuat tiga orang pemuda itu semakin bergairah.
"Pertiwi, keluarlah sebentar. Kami datang untuk mengajakmu bermain-main. Lihat, bulan bersinar indah, malam yang indah begini sayang kalau tidak dilewatkan dengan bergembira. Keluarlah, sayang"
"Keluarlah, Pertiwi manis, aku sudah rindu sekali kepadamu"
Kata pemuda yang kedua "Diajeng Pertiwi, malam dingin begini, mari kuhangatkan dirimu"
Kata pemuda ketiga, semakin berani saja kata kata mereka.
Pertiwi yang sudah maklum bahwa yang datang tentulah pemuda-pemuda yang beriktikad buruk, segera mengambil sedikit tanah pemberian Panembahan Sidik Danasura, meludahinya dan membedaki mukanya dengan tanah lumpur di telapak tangannya itu.
Ia tidak tahu apa jadinya dengan dirinya, namun ia mempunyai kepercayaan sepenuhnya kepada kakek tua renta berambut putih berbaju putih itu, lalu ia membuka daun pintu pondoknya sambil bertanya.
"Mau apa sih kalian ini, datang dan tega menggangu ketenanganku?"
Daun pintu terbuka, Pertiwi muncul dan tiga orang pemuda itu terbelalak, mulut mereka ternganga, kemudian dengan muka pucat dan tubuh gemetar, mereka lalu melarikan diri cerai berai sambil berteriak teriak ketakutan.
dan tubuh gemetar, mereka lalu melarikan diri cerai berai sambil berteriak teriak.
ketakutan.
Tentu saja Pertiwi merasa heran sekali.
Ia lalu pergi ke dalam pondok kembali, merenungkan apa yang terjadi dan merasa berterima kasih sekali kepada Panembahan Sidik Danasura.
Ia tidak tahu bahwa bedak lumpur yang sedikit iiu telah membuat ia kelihatan menyeramkan dan menakutkan sekali bagi tiga orang pemuda yang hendak mengganggunya tadi.
Belum pernah selama hidup mereka, tiga orang itu pernah melihat wajah yang lebih menakutkan dari pada wajah Pertiwi ketika keluar dari dalam pondok.
Inilah "senjata"
Pertiwi, pemberian dan Panembahan Sidik Danasura yang menjamin keselamatan dan ketenangannya, karena dengan senjata ampuh itu, tak seorangpun pria akan berani atau mau mengganggunya.
Siapakah orangnya yang mau mendekati seorang wanita yang wajahnya bukan hanya buruk, melainkan juga menakutkan seperti wajah setan dan iblis dalam dongeng?
Beberapa bulan kemudian, ketika pada suatu hari Pertiwi sedang panen jagung tanamannya, muncullah seorang gadis cantik di ladangnya.
Pertiwi tidak melihatnya karena ia sedang asik memetik jagung-jagung yang sudah tua.
Ayahnya tentu akan datang sore nanti untuk mengambil dan memikul hasil panennya itu.
Ia tidak tahu betapa gadis berpakaian serba hijau dan berwajah cantik itu sejak tadi berdiri tak jauh darinya dan mengamati gerak geriknya dengan pandang mata heran.
Agaknya, pandang mata gadis berpakaian hijau itu memiliki daya tarik, karena Pertiwi menengok ke belakang dan ia terkejut Imelihat seorang gadis berdiri di situ, seorang gadis asing dan ia yakin gadis itu bukanlah penghuni dusun Sintren.
"Engkaukah yang bernama Pertiwi?"
Pertiwi semakin heran. Gadis cantik itu memiliki suara yang nyaring, akan tetapi logat bicaranya sungguh aneh dan asing sekali walaupun ia masih mampu menangkap artinya. Ia mengangguk heran.
"Benar, namaku Pertiwi. Kau siapakah dan ada keperluan apakah?"
Gadis berpakaian hijau itu melangkah maju menghampiri.
Pertiwi juga melepaskan jagung yang sedang dipegangnya dan melangkah maju.
Kini mereka berdiri berhadapan, dalam jarak dua meter.
Dua orang gadis yang sama sama memiliki bentuk tubuh yang bagaikan bunga sedang mekar, dan keduanya sama manis, keduanya sederhana pula.
Hanya bedanya Pertiwi berkulit hitam, hitam manis, dan gadis itu berkulit kuning mulus.
"Namaku Wulansari"
Kata gadis itu sambil menatap tajam wajah Pertiwi seolah-olah hendak melihat apa reaksi gadis dusun Sintren itu mendengar namanya.
Akan tetapi Pertiwi belum pernah mendengar nama ini, maka tentu saja tidak ada reaksi apapun kecuali terheran.
"Maaf, agaknya saya belum pernah mengenal kau. Ada keperluan apakah kau mencari saya?"
Wulansari tersenyum dan Pertiwi harus mengakui betapa cantik jelita dan manisnya gadis itu kalau tersenyum, walaupun pandang matanya yang mencorong itu mendatangkan rasa was-was.
Ada lesung pipit di pipi kiri, menjadi imbangan yang manis sekali dari tahi lalat kecil di pipi kanan.
"Pertiwi, aku datang mencarimu, dan keperluannya adalah untuk membunuhmu"
Kini Wulansari yang memandang heran dan bingung.
Gadis dusun bernama Pertiwi ini, tunangan dan calon isteri Nurseta, sama sekali tidak bergeming mendengar ancamannya.
ancaman hendak membunuh.
Wajah yang hitam manis itu sama sekali tidak menjadi pucat, mata yang lebar jeli itu tidak terkejut, bahkan mulut yang manis itu masih tersenyum, seolah-olah berita yang didengarnya adalah berita biasa saja, seperti berita musim panen jagung telah tiba.
Memang tidak mengherankan kalau sedikitpun Pertiwi tidak merasa takut.
Kematian bagi Pertiwi sama sekali tidak menakutkan atau mengejutkan, bahkan kalau kematian yang wajar datang menjemputnya, bukan bunuh diri, ia akan menyambut dengan penuh kerelaan.
Karena itu, ancaman orang untuk membunuhnya sama saja dengan penawaran untuk membebaskannya dari derita batin.
Hanya ia menyayangkan kalau seorang gadis cantik seperti Wulansari ini akan menjadi seorang pembunuh tanpa sebab tertentu.
Akan tetapi, pasti ada sebabnya maka gadis cantik ini datang hendak membunuhnya, dan ia harus mengetahui dulu apa alasannya itu.
"Kalau engkau benar-benar hendak membunuhku, Wulansari, aku akan berterima kasih sekali. Akan tetapi, sebelum engkau melakukannya, kiranya aku berbak untuk mengetahui apa sebabnya engkau hendak membunuh aku"
Biarpun masih merasa heran melihat ketenangan gadis dusun itu. Wulansari yang masih merasa "sakit hati"
Ingin menyakiti hati saingannya ini lebih dahulu sebelum membunuhnya, maka iapun menjawab dengan ucapan yang ketus.
"Aku hendak membunuhmu karena engkau telah merampas kekasihku"
Pertiwi mengerutkan alisnya, menduga-duga apakah gadis ini kekasih pria bernama Gagak Wulung itu.
Pantasnya demikian, mengingat bahwa Gagak Wulung adalah seorang penjahat dan melihat sikap gadis ini, pantas kalau menjadi seorang wanita jahat yang kejam.
"Wulansari, engkau salah duga, Aku tidak merampas kekasihmu Gagak Wulung itu, melainkan dialah yang telah menodai aku dengan kekuatan sihir dan ilmu hitamnya"
"Ngawur"
Wulansari membentak.
"Siapa kekasih Gagak Wulung? Jangan lancang mulut kau. Pria yang kucinta dan yang mencintaku di dunia ini hanya ada seorang saja, yaitu Nurseta"
Kini Pertiwi nampak terkejut, matanya yang lebar jeli dan indah itu menatap wajah Wulansari, seolah-olah tidak percaya.
"Apa..... Kakangmas Nurseta? Jadi kau inikah gadis yang dicintanya itu? Sungguh sukar dipercaya, bagaimana mungkin kakangmas Nurseta yang demikian luhur budi, lemah lembut dan bijaksana dapat mencinta seorang gadis yang liar dan kejam seperti kau ini?"
Wajah Wulansari berubah merah.
"Tutup mulutmu dan jangan memaki orang. Aku datang untuk membunuhmu karena engkau yang dipilih Nurseta menjadi calon isterinya, padahal, dia mencinta aku seorang"
Wulansari lalu mencabut kerisnya, sebatang keris kecil melengkung terbuat dari emas atau setidaknya dilapis emas.
Kembali Pertiwi sama sekali tidak memperlihatkan sikap gentar, bahkan ia tenang saja ketika memandang keris itu, lalu menarik napas panjang dan membusungkan dadanya.
"Wulansari, kalau engkau hendak membunuhku. Bunuhlah, aku tidak akan lari atau melawan. Memang sudah lama aku rindu akan kematian yang wajar. Tiada gunanya lagi aku hidup di dunia ini, hanya mendatangkan aib dan duka saja kepada diri sendiri dan keluargaku, juga orang lain Bunuhlah"
Menghadapi gadis yang menyerahkan dadanya untuk ditusuk itu, Wulansari menjadi ragu.
Teringat ia akan nama Gagak Wulung yang disinggung oleh Pertiwi tadi.
Ia pernah mendengar dari eyangnya tentang nama orang orang di kalangan sesat, dan nama Gagak Wulung pernah disinggung eyangnya sebagai seorang penjahat penganggu dan pemerkosa wanita.
"Pertiwi, agaknya engkau telah menjadi korban Gagak Wulung?"
Pertiwi mengangguk.
"Banar, aku telah ternoda dan aku bukan perawan lagi, maka tidak pantas aku menjadi isteri kakangmas Nurseta. Selain itu, kakangmas Nurseta yang amat kucinta dan kupuja itu ternyata secara terus terang mengatakan kepadaku bahwa dia tidak cinta kepadaku, melainkan mencinta seorang gadis lain yang kiranya kau orangnya. Nah, Wulansari, tusukkan kerismu itu, bunuhlah aku dan aku tidak akan mendendam kepadamu. bahkan berterima kasih. Semoga kau hidup berbahagia di samping kakangmas Nurseta sebagai isterinya yang tercinta"
Keharuan menyusup ke dalam hati Wulansari.
Bagaimanapun juga, gadis ini sebenarnya memiliki dasar watak yang halus dan baik, hanya setelah dididik oleh Ki Cucut Kalasekti maka watak itu tertutup oleh perangai yang ganas dan aneh bahkan sadis.
Kini, kekerasan hatinya tidak memperkenankan keharuan menyelinap di hatinya, segera ditutupnya dengan sikap yang sadis.
Ia tertawa dan memperlihatkan wajah gembira.
"Bagus, bagus sekali"
Katanya gembira.
"Kalau begitu, engkau menderita batin yang amat hebat. Aku senang sekali, aku puas sekali dan enak engkau kalau sekarang kubunuh, berarti engkau terbebas dari derita batin. Ah, aku tidak akan membunuhmu, biar engkau menderita selama hidupmu. Dan untuk menambab derita batinmu, ketahuilah engkau, wahai Pertiwi, bahwa orang yang kauanggap calon suamimu itu ialah Nurseta, sekarang telah mati. Telah mati, dengarkah kau? Telah mati...."
Tiba tiba Wulansari meloncat jauh dan cepat lari meninggalkan Pertiwi sambil terisak menangis karena ia tidak ingin Pertiwi melihat tangisnya, Namun, Pertiwi masih mendengar isak itu dan setelah Wulansari tidak nampak lagi, Pertiwi menarik napas panjang lalu termenung dengan wajah pucat sekali.
Ketika ia diancam maut, ia menghadapi itu dengan tenang.
Akan tetapi mendengar bahwa Nurseta telah mati, seketika ia menjadi pucat, tubuhnya panas dingin, kaki tangannya gemetar dan ia hampir jatuh pingsan ketika meninggalkan ladang, tidak perduli lagi akan jagungnya dan tak lama kemudian ia telah rebah di atas dipan bambu dalam pondoknya sambil menangis dan mengeluh lirih, memanggil manggil nama Nurseta.
Setiap orane manusia, disadari maupun tidak, selalu mendimbakan dan haus akan kekuasaan Baik itu kekuasaan seorang ayah terhadap anaknya, seorang suami terhadap isterinya atau sebaliknya, seorang atasan terhadap bawahannya, seorang guru terhadap muridnya, seorang kaya terhadap si miskin, orang kuat terhadap yang lemah dan selanjutnya.
Seorang yang memiliki kekuasaan atas orang lain akan merasa aman, merasa terhormat, merasa lebih dan merasa diri besar.
Akan tetapi, seperti juga segala kesenangan yang dikejarkejar manusia, kekuasaan akan sesuatu bukan merupakan tujuan terakhir.
Haus akan kekuasaan ini selalu melar, selalu mengembang, tanpa batas dan seperti dengan nafsu mengejar apapun juga, makin terdapat makin baus dan ingin yang lebih dari apa yang telah didapatnya.
Demikian pula dengan yang dirasakan Sang Prabu Kertanegara.
Dia makin haus akan kekuasaan, tidak merasa puas dengan keadaan kerajaannya, ingin meluaskan kekuasaannya sampai tanpa batas.
Biarpun banyak pamong praja yang setia memperingatkan, dia tidafa memperdulikan semua itu dan pasukan besar dikerahkan sembilan tahun yang lalu untuk menuju ke negeri Malayu.
Peristiwa ini tentu saja merupakan pelaksanaan dari keinginannya untuk memperluas, kekuasaan.
Apa lagi setelah dia mendengar tentang hasil baik para senopatinya menindas kerusuhan atau pemberontakan yang diadakan Mahesa Rangkah, Sang Prabu Kertanegara merasa bahwa kedudukannya amat kuat.
Biarpun lebih dari separuh pasukannya berada di Malayu dan belum kembali dia merasa bahwa pasukannya amat kuat.
Hal ini mendorongnya untuk mengincar daerah di seberang lautan di timur, yailu Pulau Bali.
Sang Prabu Kertanegara lalu mengadakan sidang.
Semua senopatinya yang utama nadir, diantaranya adalah Nambi, Banyak Kapub, Medang Dangdi, Lembu Sora, Gajah Pangon.
Mahesa Wagal, Ronggo Lawe putera Wiraraja yang kini menjadi adipati di Madura, KeboKapetengan, Wirota Wiragati, Pamandana dan lain lam.
Tentu saja Riden Wijaya sebagai keponakan dan juga mantu Sang Prabu, juga hadir.
Selain para senopati, tentu saja Patih Mahesa Anengah dan pembantunya, Panji Angragani sudah lebih dahulu menghadap raja.
Kepada para senopati yang dipanggil menghadap, Sang Prabu Kertanagara lalu menyatakan niatnya untuk mengirim pasukan menyerbu dan menalukkan Pulau Bali.
Raja ini menyatakan bahwa niatnya itu telah didukung sepenuhnya oleh Patih Mahesa Anengah dan Panji Angragani, dan dia minta kepada para senopati untuk mengemukakan pendapat mereka mengenai rencana penyerbuan ke Bali ini.
Mendengar ini, para senopati saling pandang.
Di dalam hati mereka, terkejut juga mendengar rencana ini.
Pasukan besar mereka masih belum kembali dari Melayu, sedangkan bam saja mereka membasmi pemberontakan Mahesa Rangkah.
Bagi mereka, yang terpenting adalah menjaga keamanan dalam negeri, bukan menyerang ke luar daerah.
Belum tepat saatnya untuk meluaskan wilayah selagi pasukan terpecah seperti itu.
Kalau sisa pasukan dikerahkan untuk menyerang Bali, lalu siapa yang akan menjaga keamanan di dalam negeri?
Akan tetapi, sebagai senopati, tentu saja mereka tidak berani menolak perintah raja, dan hanya saling pandang.
Akhirnya, Wirota Wiragati yang merupakan seorang senopati yang sudah setengah tua, memberanikan diri berkata, mewakili teman-temannya.
"Gusti, bamba semua telah siap untuk melaksanakan perintah paduka. Sewaktu-waktu hamba semua siap ditunjuk sebagai senopati yang memimpin pasukan menyerbu ke Pulau Bali. Hanya saja, kalau boleh hanba berianya, apakah gerangan yang mendorong niat paduka untuk menyerbu dan menalukkan Pulau Bali? Selama ini Pulau Bali tidak pernah melakukan suatu gangguan kepada kita, dan tentu ada maksud yang penting sehingga paduka mempunyai niat menalukkan Bali, mengirim pasukan ke sana meninggalkan Kerajaan. Singosari yang menjadi kosong dan lemah kalau pasukan dikerahkan ke sana"
Sang Prabu Kertanegara mengerutkan alisnya, lalu berkata.
"Tentu saja niat kami itu telah kami pikirkan dan kami rundingkan masak-masak dengan Ki Patih Mahesa Anengah dan Panji Anggragani. Kalau kau ingin mengetahui alasannya, biarlah Ki Patih Mahesa Anengah yang akan menjelaskan"
Patih Mahesa Anengah kini memandang kepada Senopati Wirota Wirogati, Iaiu berkata lantang.
"Kakang Senopati Wirota Wiragati sungguh saya merasa heran sekali mengapa seorang senopati kawakan seperti kau, masih hendak bertanya lagi akan alasan perintah Sribaginda, seolah-olah meragukan kebijaksanaan yang diambil oleh beliau" (Lanjut ke
Jilid 15) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 Mendengar ucapan yang seolah-olah menegurnya itu, Wirota Wiragati mengerutkan alisnya.
Dia dan kawan kawannya tahu belaka bahwa patih yang baru diangkat menggantikan patih tua Empu Pagananta ini adalah seorang yang selalu menjilat jilat untuk memancing perhatian Sribaginda.
"Gusti Patih"
Katanya, tegas namun juga dengan sikap hormat "Sama sekali kami tidak meragukan kebijaksanaan Sribaginda, melainkan kami merasa tidak mengerti akan kebijaksanaan yang diambil beliau ini, mengingat bahwa kalau pasukan dikerahkan ke timur, tentu keadaar dalam negeri menjadi kosong dari penjagaan dan agak lemah.
Tentu ada alasan yang amat kuat dengan pengiriman pasukan ini, maka inilakyang kami ingin ketahui.
Kecuali kalau alasan ini dirahasiakan dari para senopati, tentu saja kami tidak berani banyak bertanya"
Mendengar ucapan yang tegas ini, Patih Mahesa Anengah merasa tersudut dan diapun tersenyum lebar.
"Sama sekali tidak dirahasiakan, hanya kami merasa heran mengapa para senopati tidak dapat melihat alasannya Baiklah, akan saya jelaskan. Masih dalam rangkaian mengirim pasukan ke Melayu maka sekarang Sribaginda hendak menalukkan Bali. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan, yaitu memperkuat kerajaan dan mengadakan hubungan baik dengan negara-negara di sekeliling Pulau Jawa. Semua orang tahu betapa kini Negara Tartar di utara memperbesar kekuasaan mereka dengan penyerbuan ke selatan dan bukan rahasia lagi kalau negara itupun mengincar tanah air kita yang subur. Untuk menahan mereka, tidak ada jalan lain kecuali memperkuat diri dan juga mempererat hubungan dengan negara-negara tetangga. Kalau Malayu sudah menjadi sekutu kita, juga Pulau Bali, Kalimantan dan sekitar Pulau Jawa sudah tunduk kepada kita, maka kita seolah olah dikurung benteng yang merupakan perisai untuk menahan gelombang serangan pasukan Tartar. Bukankah ini merupakan siasat yang baik sekali dari Sribaginda?"
Kini Senopati Ronggolawe yang berkata.
"Memang merupakan siasat yang amat bijaksana. Akan tetapi kami semua mengkhawatiran keadaan keamanan Kerajaan Singosari kalau pasukan dikerahkan ke Bali. Bagaimaina kalau sampai terjadi pemberontakan?"
Kembali Patih Mahesa Anengah yang menjawab.
"Adi Senopati Ronggolawe yang gagah perkasa. Mengapa kita harus menakuti bayangan yang kosong? Ingat, ketika Sang Prabu mengirim pasukan ke Pamalayu, banyak senopati yang khawatirkan akan terjadi sesuatu di sini. Buktinya, tidak ada apa-apa kecuali pemberontakan Mahesa Ringkah yang tidak ada artinya. Siapa yana akan berani memberotak terhadap Singosari? Sang Prabu telah memperlihatkan sikap yang adil dan bijaksana sehingga para adipati merasa puas dan setia. Pula, yang dikirim hanya sebagian pasiukan saja untuk menundukkan Raja Bali yang tidak berapa kuat. Sisanya tetap berjaga di sini dan sudah lebih dari cukup dan kuat untuk memadamkan setiap api pemberontakan kecil seperti yang dilakukan Mahesa Rangkah beberapa tahun yang lalu"
Sang Prabu Kertanagara mengangguk-annguk, puas dan girang mendengar alasan yang dikemukakan patihnya.
Dia lalu memerintahkan agar para senopati siap siap, lalu meunjuk Raden Wijaya untuk mengatur persiapan itu dan menentukan siapa diantara para senopati yang akan memimpin pasukan untuk menyerbu ke Bali.
Pertemuan lalu dibubarkan dan Raden Wjaya mengadakan perundingan dengan para senopati.
Lalu diambil keputusan untuk menyerahkan pimpinan pasukan yang hendak menyerbu ke Bali itu kepada Senopati Nambi, dibantu oleh Senopati Medang Dangdi dan Mahesa Wagal sebagai pimpinan, dan beberapa orang senopati din perwira menengah.
Maka berangkatlah pasukan itu meninggaikan Singosari menuju ke Bali.
Penyerbuan ini terjadi pada tahun 1284.
Sang Prabu Kertanagara boleh jadi bercita-cita besar memperbesar kekuasaan dan hendak memperkuat kedudukan untuk menghadapi ancaman dari utara, yaitu Negara Cina yang pada waktu itu dikuasai oleh Bangsa Tartar atau Morgol, akan tetapi dia bukanlah seorang yang berkepala besar, bukan hanya mengandalkan kesombongan saja untuk melakukan penyerbuan ke mana-mana.
Dia penuh perhitungan, maklum akan kehebatan para senopatinya, dan yakin akan ketanggoan pasukannya yang setia.
Bukan hanya itu, juga sebelumnya telah banyak mata-mata dan penyelidik disebar dan dikirimkan ke Pulau Bali untuk melakukan penyelidikan sampai dimana kekuatan pasukan kerajaan yang akan digempurnya itu.
Maka, hasil penyerbuan ke Bali itupun amat cemerlang, seperti yang telah diperhitungkan dengan masak masak.
Pasukan Bali dapat dikalahkan, dan raja Bali ditawan, dibawa ke Singosari.
Pada waktu pasukan Singosari berhasil mengalahkan pasukan Bali itulah, maka terjadi hal lain yang hebat di tebing yang curam dari pantai Laut Selatan.
Seperti kita ketahui, Nurseta terjebak di dalam goa di tebing itu akibat terjatuhnya dari atas tebing ketika dia terkena senjata rahasia Sisik Nogo oleh kakek Cucut Kalasekti.
Di dalam goa dia bertemu dengan seorang wanita setengah tua bernama Warsiyem yang ternyata adalah ibu kandung Wulansari.
Pemuda itu terpaksa uinggal di dalam goa selama empat tahun lebih karena memang tidak terdapat jalan keluar dari dalam goa itu.
Selama empat tahun lebih, dia tekun bersamadhi dan memperdalam ilmu-ilmunya, bahkan berhasil pula mengusai ilmu Bambu Runcing, yaitu permainan pencak silat dengan bambu yang diruncingkan ujungnya seperti tombak, ilmu yang diciptakan oleh Warsiyem selama bertahun tahun tinggal di dalam goa seorang diri sebelum Nurseta tiba di goa itu.
Dengan adanya Nurseta yang dianggap sebagai anak mantunya, dan mendengarkan keterangan pemuda itu mengenai kebatinan, Warsiyem dapat sembuh pula dari guncangan batin yang membuatnya seperti orang setengah gila.
Mereka tekun berlatih dan Nurseta berhasil menghimpun tenaga sakti yang jauh lebih kuat dari pada sebelum dia terpaksa tinggal di dalam goa itu.
Biarpun dia dan Warsiyem tidak pernah mau diganggu harapan dan keinginan untuk dapat segera terbebas dari situ, namun mereka tidak pernah mau menghentikan usaha mereka untuk mencari jalan keluar.
Dengan kepandaiannya, Nurseta sudah mencoba untuk mencari jalan keluar.
Merayap ke atas sungguh tidak mungkin.
Hanya manusia yang bersayap seperti burung saja yang akan dapat terbang ke atas.
Merayap sejauh itu merupakan pertaruhan yang tidak seimbang.
Kemungkinan untuk berhasil merayap naik sampai ke puncak tebing hanya sedikit sekali, jauh lebih besar kemungkinan terpeleset dan terjatuh untuk hancur lebur di bawah sana.
Merayap ke bawah lebih mungkin dilakukan, karena dari goa ke air laut di bawah sana hanya setinggi pohon kelapa.
Bahkan sudah bcberapa kali dia mencoba merayap ke bawah dan berhasil mencapai dasar, Akan tetapi, tepat seperti pernah dikatakan oleh Warsiyem, di bawah sanapun merupakan jalan mati.
Air laut bergelombang dahsyat, dan di waktu air surutpun, tidak mungkin turun ke air.
Tempat itu penuh batu karang yang tajam dan runcing, dan bagaimana mungkin seorang biasa turun ke air laut dan berenang mencari tepian yang dapat dipakai mendarat?
Kepandaiannya berenang terbatas sekali.
Kalau saja dia memiliki ilmu renang seperti Cucut Kalssekti, atau Wulansari, mungkin saja berani dia turun ke air laut di waktu surut.
Juga Warsiyem pernah diajaknya merayap turun, dan wanita inipun melihat betapa tidak mungkinnya untuk turun ke air laut yang mungkin mengandung banyak ikan hiu itu.
Demikianlah, mereka berdua selalu mencari kesempatan untuk dapat keluar dari tempat itu.
Akan tetapi mereka tidak mau tenggelam dalam harapan, karena maklum bahwa makin besar harapan dan makin besar keinginan untuk keluar dari situ, akan semakin parah pula kekecewaan dan kedukaan kalau eing nan itu tidak terlaksana.
Dan pada suatu hari, tanpa mereka sangka-sangka, datanglah kesempatan itu.
Pagi itu, Nurseta dan Warsiyem seaang duduk di ruangan sebelah dalam di mana terdapat bagian terbuka, melakukan samadhi karena mereka berdua dapat menghirup hawa segar dan menikmati sinar matahari pagi yang mulai masak menyerong ke dalam goa itu.
Mereka sudah mandi pagi dan keduanya nampak segar dan sehat.
Kini Warsiyem sudah jauh berbeda dibandingkan empat tahun yang lalu.
Biarpun usianya sudah mendekati limapuluh tahun.
Wajahnya nampak cantik manis, dengan kulit yang bersih dan belum berkerut.
Rambutnya juga bersih dan ada sedikit uban menghias diatas telinga, nampak karena rambut itu digelung ke atas secara sederhana.
Pikaiannya memang penuh tambalan, namun bersih karena setiap hari ia berganti pakaian.
Nurseta juga mengalami perubahan.
Dia bukan seorang pemuda yang mentah lagi, melainkan seorang pemuda yang mulai matang, sudah dewasa benar dengan usianya yang duapuluh lima tahun.
Kumisnya berbentuk indah, godegnya menebal dan ada sedikit jenggot di dagunya.
Sinar matanya kini mencorong dan penuh wibawa.
Di pinggangnya terselip sebatang keris yang bergagang indah.
Itulah keris Hat Nogo, hadiah dari Riden Wijaya setelah pemberontakan Mihesa Rangkah, empat tahun yang lalu, dihancurkan.
Keduanya tekun bersamadhi dan di dinding goa itu terdapat dua batang tombak Bambu Runcing yang mereka sering pergunakan untuk berlatih ilmu Bambu Runcing.
Warsiyem kini juga memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu bela diri karena bimbingan Nurseta yang dianggap anak mantu atau anaknya sendiri.
Juga di atas tanah di bagian yang terbuka itu kini bertambah beberapa macam pohon buah yang terjadi karena ada bibit pohon yang terbawa oleh burung dan terjatuh ke tempat itu.
Tiba-tiba terdengar suara yang mengandung gema panjang.
"Yeeemmm........ Siyeeem ......... Warsiyem........ Manisku, aku datang mengunjungimu, hahahaha"
Dua orang yang sedang bersila dengan anteng itu tersentak kaget. Wajah Warsiyem berubah pucat dan ia berbisik.
"Itu dia........ Si keparat Cucut Kalasekti. Akan kubunuh dia"
Wanita itu sudah meloncat dan menyambar sebatang tombak bambu runcingnya. Akan tetapi Nurseta juga meloncat dan sudah menangkap lengan wanita itu.
"Kanjeng bibi"
Bisiknya.
"Jangan tergesa-gesa. Ingat betapa saktinya dia. Bibi bukanlah lawannya, biar saya yang menghadapinya. Kalau perlu nanti, kanjeng bibi boleh membantu"
Mendengar ucapan ini, Warsiyem mengangguk, maklum bahwa ucapan pemuda itu memang tepat.
Biarpun ia sudah memperoleh kemajuan, namun agaknya masih jauh untuk dapat mengimbangi kesaktian Cucut Kalasekti.
Kalau ia tergesa-gesa menyerang dengan sembrono, lalu ia gagal bahkan ia yang terluka, hal itu berarti sia-sia belaka.
Nurseta sudah mempersiapkan diri, mengikat rambutnya dan ujung kainnya, mempersiapkan keris di pinggang, lalu menyambar sebatang bambu Runcing ryang biasa dia pakai berlatih.
Kemudian, diapun berindap indap keluar, diikuti dari belakang oleh Warsiyem yang juga sudah memegang bambu Runcing dan siap untuk menyerang.
"Siyem, Warsiyem.......... Hahaha, masih hidupkah engkau? Sudah lima tahun aku tidak datang berkunjung, bagaimana sekarang? Apakah engkau masih tetap cantik manis, dan apakah engkau kini tidak akan menyambutku dengan senyumanmu? Ha ha ha"
Suara Cucut Kalasekli makin dekat dan ketika Nurseta tiba di dalam goa, tiba tiba saja sosok bayangan Cucut Kalasekti muncul dari depan goa.
Kakek itu, seingat Nurseta, masih sama seperti dulu, empat tahun yang lalu ketika menyerangnya di atas tebing.
Mukanya masih membiru seperti muka ikan dengan mulut yang Runcing seperti moncong ikan, jubahnya kuning dengan baju dalam seperti sisik ikan.
Akan tetapi kini jubah itu berbeda, biarpun warnanja masih kuning akan tetapi terbuat dari kain yang mewah, juga kedua lengannya terhias emas permata.
Kakek ini sekarang berpakaian mewah seperti seorang bangsawan.
Karena sepasang mita kakek itu mencari Warsiyem, agaknya dia tidak perduli atau tidak melihat Nurseta.
Melihat Warsiyem berdiri di sudut, dia terbelalak dan tertawa lagi.
"Hahaha, engkau makin tua makin cantik saja. Ah marilah manis. Aku datang untuk menjemputmu, mengajakmu hidup mulia di atas sana. Tahukah engkau bahwa aku sekarang telah menjadi seorang adipati. Ha ha ha, inilah Sang Adipati Satyanegara, adipati di Bendowinangun"
"Keparat jahanam. Manusia busuk kau, Cucut Kalasekti. Lebih baik mati saja bagiku dari pada ikut bersamamu"
Kata Warsiyem sambil mempersiapkan bambu runcingnya. Tiba tiba saja kakek itu menjadi marah.
"Hemm, manusia tak tahu diri. Aku datang dengan hati menyayang, dengan maksud baik, akan tetapi engkau memaki aku. Aku, seorang adipati, disembah sembah orang sekadipaten, dan engkau ini perempuan hina berani memaki aku? Engkau cepat berlutut menyembah, ikut dengan sukarela bersamaku, atau kubunuh sekarang juga"
"Manusia iblis. Sampai matipun aku tidak sudi tunduk kepadamu, sejak dahulu, sekarang mau pun kapan saja"
"Bedebah"
Cucut Kalasekti marah sekali dan dia melepas dua buah sisik dari baju dalamnya.
"Kalau begitu mampuslah kau"
Tangan kirinya bergerak dan dua sinar meluncur ke arah wanita itu. Akan tetapi, Nurseta sudah menggerakkan bambu runcingnya ke arah sinar sinar yang meluncur itu.
"Tringgg. Tranggg........"
Dua sinar itu terpukul dan membalik, yang sebuah runtuh ke atas tanah, yang sebuah lagi menyambar ke arah pemiliknya.
"Ehhh........?"
Cucut Kalasekti terkejut dan cepat mengelak sehingga sisik yang ke dua itu meluncur keluar goa dan lenyap.
Kini barulah Cucut Kalasekti menoleh dan memandang penuh perhatian kepada Nurseta, dan dia terbelalak.
"Siapakah kau? Warsiyem, engkau telah menyembunyikan seorang laki-laki, ya? Jahanam, setelah kutinggal beberapa tahun saja, engkau telah mendapatkan gantinya, seorang gendak, seorang kekasih muda, ya? Dasar perempuan tak tahu malu, tidak setia dan menyeleweng"
Nurseta menggeleng geleng kepalanya.
Kakek itu sungguh tak tahu diri.
Dia melarikan Warsiyem, memaksa dan memperkosanya, membiarkan wanita itu bertahun-tahun lamanya berada di neraka itu, dan kini masih menuduhnya tidak setia dan menyeleweng.
Sungguh sukar diikuti jalan pikiran seorang datuk sesat seperti Cucut Kalasekti itu.
Dan agaknya kakek itu lupa kepadanya.
"Ki Cucut Kalasekti, jangan menyangka yang bukan bukan. Karena pikiranmu isinya kotor, maka kau menyangka yang kotor-kotor saja. Lihatlah baik-baik siapakah aku?"
Melihat sikap tenang pemuda itu, dan suaranya yang lembut berwibawa, Ki Cucut Kalasekti mengamati wajah yang tampan gagah itu "Hemm.
kau tidak kukenal.
Orang muda, siapakah kau, dan kalau kau bukan gendak Warsiyem, bagaimana kau dapat berada di tempat ini?"
Akhirnya dia bertanya menekan kemarahannya karena dia kini ingin sekali tahu bagaimana ada seorang pemuda dapat berada di tempar iiu, padahal menurut keyakinannya, tak mungkin ada orang lain mampu datang ke goa itu.
"Ki Cucut Kalasekti, sudah dua kali selama hidup kita saling bertemu. Pertama kali di tepi Laut Selatan, sembilan tahun yang lalu ketika kau menculik diajeng Wulansari. Kedua kalinya, empat lima tahun yang lalu di puncak tebing ini, ketika kau menjatuhkan aku dengan senjata rahasia Sisik Nogo"
Tiba tiba kakek itu mengeluarkan suara erengan seperti seekor srigala kelaparan.
"Aaaughhh, kiranya engkau, si bedebah. Jadi engkau belum mampus dan dapat berada di sini, ketika terjatuh dari atas tebing itu?"
Nurseta tersenyum "Tuhan Maha Kuasa, Ki Cucut, dan kalau Tuhan belum menghendaki, biar ada seribu orang seperti tidak akan dapat membunuhku"
"Siapa bilang. Sekarang juga aku akan membunuhmu, kemudian membunuh perempuan tak tabu diri itu"
Tiba tiba kakek itu mengeluarkan suara mendesis seperti ular-ular yang banyak sekali tiba-tiba datang menyerang.
Suaara mendesis itu hebat sekali, dapat membuat tubuh lawan terasa kaku dan lumpuh.
Warsiyem mengeluh karena Tiba-tiba saja tubuhnya terasa kaku dan kaki tangannya tidak dapat digerakkan.
Ia teringat akan cara menghimpun tenaga sakti seperti yang dilatihnya atas petunjuk Nurseta, maka cepat ia mengatur pernapasan dan memusatkan perhatian, menghimpun kekuatan yang disalurkan ke arah kaki tangannya dan iapun merasa betapa pengaruh suara mendesis itu segera lenyap.
Nurseta sendiri pada waktu itu telah memiliki tingkat yang tinggi sehingga suara mendesis ini hanya sempat mengejutkannya saja, akan tetapi dapat dilawannya dengan pengerahan tenaga sakti, sehingga dia tidak terpengaruh sama sekali.
Karena itu, maka ketika Cucut Kalasekti menerjangnya dengan pukuulan Aji Gelap Sewu, dia dapat mengelak dengan mudah.
Ki Cucut Kalasekti kaget, heran dan penasaran bukan main.
Aji kesaktiannya melalui suara mendesis itu bukan hanya tidak dapat mempengaruhi pemuda ini sama sekali, bahkan nampaknya Warsiyem juga mampu menolaknya.
Kalau saja aji itu mempengaruhi Nurseta sedikit saja, disusul pukulannya Gelap Sewu tentu pemuda itu takkan mampu mengelak dan sekali pukul saja sudah roboh binasa.
Dengan marah dan penasaran, diapun menyusulkan pukulan demi pukulan yang amat ampuh.
Nurseta maklum akan kesaktian lawan, maka diapun tidak membiarkan dirinya diserang terus menerus tanpa melawan.
Dia memutar tombak Bambu Runcing ke bawah lengan kanan, dan mengangkat tangan kirinya ke atas untuk menangkis sebuah pukulan sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Dukkk"
Dua tenaga raksasa yang dahsyat bertemu melalui dua buah lengan itu dan agaknya seluruh goa ikut tergetar.
Akibatnya, tubuh kedua orang itu terguncang hebat dan mereka melangkah mundur dua langkah kebelakang.
Makin terkejut rasa hati Ki Cucut Kalasekti.
Bocah ini memiliki tenaga sakti yang hebat, yang dapat mengimbangi tenaganya sendiri.
Tanpa membuang waktu lagi, dia lalu menerjang lagi, melompat ke depan dan kini kaki tangannya menyerang bagaikan gelombang lautan yang sedang mengamuk.
Itulah ilmu pukulan yang disebut Aji Segoro Umub, demikian dahsyatnya dan bertubi-tubi, sementara mulutnya mengeluarkan suara mendesis seolah-olah lautan mendidib sedang menyerang lawan.
"Dukkk"
Dua tenaga raksasa yang dahsyat bertemu melalui dua buah lengan itu dan agaknya seluruh goa ikut bergetar.
Akibatnya, tubuh kedua orang itu terguncang hebat dan mereka melangkah mundur dua langkah ke belakang.
Nurseta melihat hebatnya serangan ini, cepat diapun menggerakkan tombak bambu Runcing di tangannya.
Dia selama empat tahun ini setiap hari melatih ilmu mempermainkan bambu Runcing itu, dan telah memiliki kemahiran dan menguasai ilmu itu sepenuhnya.
Karena bambu itu ringan dan mengandung keuletan dan kekuatan tertentu yang tidak terdapat pada logam, memiliki kelenturan bahkan ketajaman yang hidup, ditambah lagi digerakkan dengan tenaga sakti yang kini sudah mencapai tingkat tinggi, maka bambu Runcing itu merupakan senjata yang amat ampuh dan begitu bambu digerakkan, lenyaplah bentuk bambu itu dan yang nampak hanya gulungan sinar kehijauan yang mengeluarkan bunyi mendengung.
Kagetlah hati Ki Cucut Kalasekti melihat betapa ujung bambu yang Runcing tajam itu menyambut kedua tangannya, menusuk ke arah lelapak tangan dan juga ke arah jalan darah di pergelangan dan siku lengan.
Gerakan bambu Runcing itu selain cepat.
juga dia melihat seolah-olah ujung yang Runcing itu berubah menjadi banyak sekali, menusuk bertubi-tubi kearah kedua lengannya.
Kedua lengan tangan yang tadinya menyerang, kini berbalik mengambil posisi membela diri, menangkisi tusukan-tusukan itu.
Sebentar saja, kakek itu terdesak hebat dan hanya mampu menangkis sambil melangkah mundur dan berputar pular di ruangan mulut goa itu.
"Dukk. Plakkk"
Sambil mengerahkan tenaga, Ki Cucut Kalasekti menangkis dengan kedua tangannya, namun dia tidak berhasil mematahkan bambu atau menolaknya terpental, hanya keduanya kembali tergetar oleh pertemuan dua tenaga dahsyat.
Cucut Kalasekti melompat ke belakang dan tangan kanannya bergerak mencabut senjatanya yang hampir tidak pernah dicabutnya, yaitu sebatang keris yang bentuknya melengkung dan berlapis emas, presis seperti keris yang pernah dilihat Nurseta ketika dipergunakan Wulansari, hanya keris milik kakek ini lebih besar.
Cucut Kalasekti hampir tidak pernah mempergunakan senjata ini, karena biasanya, hanya dengan kedua tangan dan kakinya, sudah cukuplah baginya untuk mengalahkan lawan.
Bahkan jarang dia membawa keris itu.
Setelah dia menjadi seorang adipati, barulah keris itu tak pernah berpisah dari badannya, bukan untuk melindungi diri, melainkan untuk penambah wibawa sebagai seorang adipati.
Apa akan kata orang kalau seorang adipati tidak memiliki pusaka, tidak berkeris?
Kini, menghadapi bambu Runcing yang dimainkan secara hebat oleh Nurseta, Cucut Kalasekti tidak merasa ragu atau rikuh untuk mencabut pusakanya itu.
"Babo babo. Nurseta. Pusakaku akan merobek dadamu"
Bentaknya dan diam diam kakek ini mengerahkan kekuatan batinnya untuk mempergunakan ilnu sihirnya menguasai lawan.
Diapun mengeluarkan lagi suara mendesis tadi, akan tetapi kini lebih kuat dari pada tadi sehingga kembali Warsiyem yang berdiri di sudut seketika gemetar dan cepat wanita ini duduk bersila menghimpun tenaga sakti untuk melawan pengaruh suara mendesis itu.
Nurseta sendiri terkejut bukan karena suara mendesis yang dapat ditahannya, akan tetapi dia melihat betapa kakek itu kini nampak menggiriskan, seolah-olah ada cahaya mencorong menerangi mukanya yang mirip ikan.
Pemuda ini maklum bahwa lawan mempergunakan ilmu hitam, maka diapun mempergunakan telapak tangan kiri mengusap kedua matanya tiga kali dan keadaan kakek itu menjadi biasa kembali dalam pandang matanya.
Akan tetapi pada saat itu, sinar keris meluncur ke arak dadanya.
"Cring trang trangg......Tiga kali Nurseta menggerakkan bambu runcngnya menangkis tusukan keris bertubi-tubi itu dan dia segera balas menyerang. Terjadilah perkelahian yang lebih hebat dari pada tadi. Serang menyerang teriadi dan keduanya bergerak amat cepat, menimbulkan debu di dalam goa. Warsiyem yang nonton perkelahian itu, diam-diam merasa bersukur bahwa Nurseta berada di situ Anda kata tidak, tentu ia sendiri tidak mungkin akan mampu mengalahkan Ci cut Kalasekti dan tentu ia akan mengalami penghinaan lagi, atau mungkin juga sekali ini dibunuh oleh kakek iblis itu. Menyaksikan perkelahian hebat itu, iapun maklum bahwa kalau ia ikut terjun, hal itu tidak akan membantu Nurseta, bahkan mungkin mengacaukan permainan Bambu Runcing pemuda itu. Untuk membantu dengan sambitan batu, juga selain tidak ada gunanya karena kakek itu memiliki kekebalan juga tidak mudah melihar betapa kedua orang itu berkelahi dengan cepat sehingga tubuh mereka berkelebatan, sukar diikuti dengan pandang mata biasa. Tiba tiba, serangkaian serangan keris yang dibantu dengan tamparan tamparan maut dari Aji Gelap Sewu, membuat Nurseta terpaksa terdesak mundur sampai mepet dinding goa. Tiba-tiba sinar keris meluncur, mencuat dengan cepat dan dahsyatnya. Dalam detik terakhir. Nurseta masih sempat melempar tubuh kesamping dan ujung keris itu menyentuh dinding goa. Nampak api berpijar dan dinding itu retak. Namun Nurseta sudah menghindarkan diri dan kini bambu di tangannya membalas dengan tusukan tusukan yang beruntun kearah tenggorokan, dada dan lambung lawan. Hebat bukan main pertandingan itu. Masing-masing memiliki tingkat kepandaian yang sudah tinggi sehingga sukar dapat terkena senjata lawan, sama cekatan dan juga sama-sama memiliki tenaga sakti yang kuat. Hampir satu jam mereka berkelahi, namun belum juga ada tanda tanda siapa yang akan kalah dan siapa akan keluar sebagi pemenang. Biarpun usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih, ternyata Ki Cucut Kalasekti masih kuat dan memiliki daya tahan luar biasa, tidak kehabisan tenaga dan napas. Diam diam Nurseta harus mengakui bahwa kakek yang menjadi lawannya itu memang hebat. Kiranya setingkat dengan kedigdayaan Ki Buyut Pranamaya dan agaknya hanyalah Panembahan Sidik Danasura saja yang akan dapat mengatasinya. Namun diam-diam diapun merasa girang bahwa dengan pertapaannya selama empat tahun di dalam goa itu, kini dia telah mampu mengimbangi kesaktian Ki Cucut Kalasekti, dan permainan bambu runcingnya tidak pernah mengendur. Kembali Cucut Kalasekti mengeluarkan bentakan hebat seperti gerengan harimau, kerisnya meluncur ke depan, menyilaukan mata menghunjam ke arah mata Nurseta. Pemuda itu maklum bahwa mengelak amat berbahaya, karena keris itu tentu akan merobah arah dan mengejar, maka diapun memutar tongkat bambunya, menangkis dari samping, menyambut keris itu dengan pukulan.
"Cappp"
Keris itu menancap pada bambu dan tembus, terjepit.
Ki Cucut Kalasekti menarik keris untuk mencabutnya, namun Nurseta sudah mengerahkan tenaga dalam sehingga bambu itu menjepit keris dengan kuatnya, tidak mau melepaskannya lagi.
Melihat ini, Ki Cucut Kalasekti lalu menggunakan tangan kiri menangkap bambu Runcing itu.
Terjadi tarik menarik dan kakek itu menyeringai buas.
Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa memang Nurseta mempergunakan akal untuk menahan keris Melihat betapa kakek itu menggunakan kedua tangannya, secepat kilat tangan kiri Nurseta melepaskan bambu runcingnya dan melayang, menampar dengan Aji Jagad Pralaya, pukulan maut yang amat ampuh dan dahsyat yang di pelajarinya dari Panembahan Sidik Danasura.
Ki Cucut Kalasekti melihat datangnya pukulan, tidak dapat menangkis dan cepat dia mengelak dengan memiringkan kepalanya.
Karena itu, pukulan tidak tepat mengenai kepala, melainkan meleset dan mengenai pundak dekat leher.
"Desss........"
Hebat bukan main pukulan itu.
Tubuh Ki Cucut Kalasekti terpelanting dan diapun roboh terkulai tak mampu bergerak lagi, entah mati ataukah pingsan.
Melihat ini, Warsiyem meloncat menghampiri dan mengangkat bambu runcingnya, siap untuk menusuk dada atau lambung kakek itu dengan bambu runcingnya.
"Jangan, kanjeng bibi"
Nurseta menangkap lengan itu dan mencegah dengan suara lembut namun tegas.
"Membunuh lawan yang sudah tidak berdaya lagi adalah perbuatan kejam"
Sejenak wanita itu memandang kepada tubuh kakek yang sudah tak bergerak lagi itu, tangannya masih memegang bambu runcingnya dengan kiat, lalu ia menandang wajah Nurseta, nampak keraguan pada pandang matanya karena ptda saat itu terjadi perang di dalam batinnya antara membunuh Ki Cucut Kalasekti atau memenuhi permintaan Nurseta.
"Kanjeng bibi, ingat, sejahat-jahatnya dia, bagaimanapun juga, dialah yang mendidik diajeng Wulansari dengan penuh kasih sayang"
Ucapan ini mengingatkan Warsiyem dan ia terisak, lalu mengangguk dan tangannya yang tadi menegang, kini mengendur "Baiklah.
Mari sekarang kita mempergunakan kesempatan ini untuk pergi dari sini.
Dia tentu datang dengan perahu dan sekarang saatnya air laut surut"
Kata wanita itu.
Mendengar ini, Nurseta menjadi gembira sekali.
Dengan penuh semangat mereka lalu meloncat ke mulut goa, dan tak lama kemudian keduanya sudah merayap turun.
Benar saja, di bawah terdapat sebuah perahu yang tadi dipakai Ki Cucut Kalasekti menyeberang ke tempat itu, terikat dengan tali pada batu karang, dan air laut memang sedang surut dan tenang.
"Cepat, Nurseta. Air surut tidak lama, sebentar lagi kalau pasang, kita tidak mungkin dapat pergi dari sini"
Kata Warsiyem.
Nurseta tidak menjawab melainkan cepat meloncat ke bawah, membantu wanita itu mendarat di batu karang, melepaskan perahu dan mereka segera naik perahu yang didayungnya ke tengah menjauhi batu karang.
Tak lama kemudian, nampaklah daratan jauh di depan sana dan bagaikan mendapat semangat baru, Nurseta dan Warsiyem segera mendayung perahu itu sekuat tenaga.
Perahu meluncur cepat di permukaan laut yang sedang tenang itu, dan pohon kelapa di pantai sana seperti melambai-lambai menyambut kedatangan kedua orang itu.
Tanpa mereka rasakan, air mata membasahi mata mereka, bahkan mengalir turun ke atas pipi ketika perahu itu akhirnya mendarat di pantai yang landai.
Mereka berloncatan ke atas pasir, meninggalkan perahu yang hanyut ke tengah kembali dibawa ombak, dan tiba-tiba Warsiyem merangkul leher Nurseta sambil menangis sesenggukan di atas dada pemuda itu, menangis seperti anak kecil.
Nurseta maklum apa yang dirasakan wanita itu.
Dia sendiri yang baru empat tahun lebih berada di goa yang tidak ada jalan keluarnya itu, merasa terharu dan gembira sekali dapat berada di pantai datar kembali, seolah-olah ada perasaan bahwa dia baru saja bangkit dari kubur.
Apa lagi wanita ini yang sudah berada di tempat itu selama belasan tahun.
Setelah keharuannya mereda, Warsiyem melepaskan rangkulannya, menghapus air matanya dan memandang kepada pemuda itu., Kini wajahnya berseri cerah, penuh semangat, matanya yang masih indah itu bersinar sinar dan mulutnya mengandung senyum penuh harapan.
"Nurseta, anakku, sekarang cepatlah antar aku kepada anakku Wulansari"
"Baik, kanjeng bibi. Mudah mudahan ia masih berada di sana"
Dia menunjuk ke arah, tebing tinggi itu dan mereka berdua memandang ke sana.
Tebing itu agak jauh dari situ dan dari situ saja kelihatan amat tinggi.
Nurseta bergidik.
Memang tidak ada jalan menuju ke goa itu, kecuali dari laut bebas, dari laut itu jarang sekali tenang, selalu penuh dengan ombak bergemuruh dan perahu tentu akan hancur dihempaskan pada batu karang kalau berani mendekat ke tebing itu.
Goa itu tidak nampak dari situ, tertutup oleh sudut tebing.
Sejenak dia teringat kepada Ki Cucut Kalasekti yang masih rebah di dalam goa, akan tetapi bayangan ini segera diusirnya.
Kakek itu jahat seperti iblis, lebih baik bagi kehidupan manusia di dunia ramai kalau kakek itu berada selamanya di tempat terasing itu sampai mati.
Mereka lalu meninggalkan pantai dan mendaki bukit batu karang menuju ke puncak tebing.
Sejenak mereka berdiri di tepi puncak tebing di mana Nurseta terjatuh empat tahun yang lalu.
"Di sinilah saya bercakap cakap dengan diajeng Wulansari ketika Ki Cucut Kalasekti muncul dan menyerang saya dengan Sisik Nogo"
Kata Nurseta yang menjenguk ke bawah tebing. Bukan main tingginya. Pohon yang menyelamatkannya itu tidak nampak dari situ, apa lagi goa itu.
"Di mana ia tinggal? Apakah di istana kuno milik kakek iblis itu?"
Warsiyem teringat akan rumah besar kuno di mana ia dahuiu dibawa oleh Cucut Kalasekti ketika ia dilarikan dari dusunnya.
Selama beberapa bulan ia dikeram di dalam istana tua itu, diperkosa dan dibujuk, Karena ia tetap menolak untuk menyerahkan diri dengan sukarela, akhirnya ia dibawa ke dalam goa itu dan ditinggalkan.
Karena selama berbulan di situ ia tidak pernah keluar dari rumah tua, maka iapun tidak tahu di mana letak rumah itu.
Padahal dari puncak tebing itu tidak jauh lagi.
Nurseta mengajak wanita itu menuruni puncak tebing menuju ke gedung tua itu.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di sana, gedung tua itu telah kosong dan tidak terawat sama sekali, menjadi rumah yang menyeramkan dan angker, rumah tua yang penuh dengan kenangan pahit sekali bagi Warsiyem.
Karena tidak dapat menemukan puterinya di gedung itu, Warsiyem lalu mengajak Nurseta untuk mencari anaknya di dusun asalnya di daerah Blambangan.
Nurseta menyetujui dan merekapun segera meninggalkan rumah tua itu menuju ke timur, ke dusun Paguh, dusun yang menjadi tempat asal Warsiyem, isteri Medang Dangdi yang kini telah menjadi seorang senopati kenamaan di Singosari.
Penduduk dusun Paguh tidak mengenai lagi Warsiyem yang sudah meninggalkan dusun itu selama belasan tahun.
Dulu ketika ia dibawa pergi Ki Cucut Kalasekti, usianya masih muda, baru tigapuluhan tahun dan cantik jelita.
Kini, walaupun masih ada sisa kecantikannya, ia adalah seorang nenek setengah tua hampir limapuluh tahun usianya.
Dan kedatangannva di dusun itu disambut oleh suatu peristiwa yang amat hebat, yang mengguncangkan perasaan wanita itu dan hampir saja menghilangkan nyawanya.
Seperti telah diceritakan, pasukan Singosari menyerbu ke Bali, dan pasukan itu dipimpin oleh tiga orang senopati, yaitu Senopati Nambi yang dibantu oleh Senopati Medang Dangdi dan Mahesa Wagal.
Penyerbuan itu, tepat seperti telah diperhitungkan oleh Sang Prabu Kertanegara, berhasil dengan baik.
Pasukan Bali ditundukkan, rajanya dibawa pulang ke Singosari sebagai tawanan, dan pasukan Singosari pulang dengan gembira membawa kemenangan.
Ketika pasukan Singosari dalam perjalanan pulang inilah Medang Dangdi minta perkenan dari Senopati Nambi untuk singgah di dusun Paguh, desa tempat asalnya.
Pernah dia menyuruh orang untuk memboyong puteri dan anak perempuannya, akan tetapi suruhan itu gagal mendapatkan isteri dan puterinya.
Menurut pesuruh itu, isteri dan puterinya tidak lagi tinggal di dusun Paguh dan tidak ada seorangpun penduduk dusun itu tahu ke mana perginya mereka Selama belasan tahun ini, sudah beberapa kali dia mengirim utusan dan selalu gagal.
Oleh karena itu, setelah kini pasukan yeng dipimpinnya berhasil menundukkan Bali, dalam perjalanan pulang, Senopati Medang Dangdi berkesempatan untuk singgah di dusunnya dan mencari tahu sendiri tentang isteri dan puterinya.
Ketika dia memasuki dusunnya, banyak orang sudah lupa kepadanya.
Dahulu, Ki Medang Dangdi hanya terkenal sebagai seorang laki-laki gagah, akan tetapi tetap saja dia seorang penghuni dusun yang sederhana.
Kini, dia berpakaian senopati, seperti seorang bangsawan yang gagah perkasa, menunggang seekor kuda yang besar, diiringkan beberapa orang perajurit pula.
Medang Dangdi langsung saja pergi menjenguk rumahnya dan benar saja, rumahnya sudah kosong bahkan sudah hampir ambruk karena tidak diurus.
Dari situ dia lalu pergi ke rumah kepala dusun.
Melihat seorang senopati datang ke kelurahan, tentu saja kepala dusun menyambut tergopoh-gopoh dan dengan hormat sekali mempersilakan tamunya masuk.
Akan tetapi, ketika Medang Dangdi memperkenalkan diri kepada lurah tua itu siapa dirinya, Pak Lurah ini tertegun sejenak, kemudian menjabat tangan Medang Dangdi dengan penuh.
kegembiraan dan keharuan.
Akan tetapi, ketika dia ditanya tentang isteri dan puteri senopati itu, wajah ki lurah menjadi keruh sekali.
Semua penghuni tua di dusun itu tahu belaka bahwa isteri Medang Dangdi telah dilarikan oleh Ki Cucut Kalasekti.
Akan tetapi siapakah orangnya berani menceritakan hal ini kepada para suruhan Medang Dangdi?
Mereka takut sekaii kepada Ki Cucut Kalasekti yan,g jahat seperti iblis, maka mereka merasa lebih aman untuk mengatakan bahwa mereka tidak tahu ke mana perginya ibu dan anak itu.
Kini, setelah Medang Dangdi sendiri muncul, tetap saja tak seorangpun akan berani menyebut nama Ki Cucut Kalasekti sebagai penculik Warsiyem, dan ketika ditanya oleh senopati itu, ki lurah menjadi bingung.
"Kakang lurah, mengapa kakang menjadi ragu-ragu? Katakanlah, apa yang telah terjadi dan ke mana perginya isteriku dan juga anakku? Kakang lurah tentu masih ingat bukan kepada isteriku yang bernama Warsiyem dan anakku yang bernama Wulansari? Di mana mereka?"
Ki lurah menarik napas panjang.
Bagaimanapun juga, dia tidak berani menyebut nama Ki Cucut Kalasekti yang kabarnya sakti seperti iblis dan akan tahu belaka kalau namanya disebut-sebut dan dikhianati.
Akan tetapi, karena kini Medang Dangdi sendiri yang hadir, bahkan telah menjadi senopati, diapun tidak mungkin berbohong mengatakan tidak tahu.
Mustahil dia yang menjadi lurah di dusun itu tidak tahu apa yang telab terjadi dengan penghuni dusunnya.
Maka dia menarik napas panjang sekali lagi untuk menenteramkan hatinya yang gelisah.
"Sesungguhnya, para penghuni tidak berani mengaku terus terang karena mereka merasa sungkan kepada kau. Sesungguhnya, semua orang juga mengetahui bahwa isteri kau...... telah....... telah pergi bersama seorang laki-laki asing yang tidak kami kenal"
"Apa........??"
Medang Dangdi terbelalak, mukanya berubah merah dan dia tidak mau percaya bahwa isterinya akan melakukan hal itu. Isterinya yang tercinta, yang mencintanya, isterinya yang setia.
"Maaf, Ki Senopati...... terpaksa saya berterus terang. Malam itu ia pergi bersama seorang pria, kami tidak mengenai siapa pria itu......"
"Dan Wulansari?"
Medang Dangdi memotong"
"Isterimu menyuruh adiknya untuk membawa nini Wulansari ke barat, menyusul kau ke Singosari. Apakah ia belum tiba di sana?"
Medang Dangdi tidak menjawab, hanya menggeleng kepala, masih belum percaya akan peristiwa yang telah terjadi.
Akan tetapi, yang menceritakan ini adalah ki Lurah dusun itu.
Jadi ternyata isterinya telah menyeleweng tidak setia kepadanya.
Akan tetapi Wulansari?
Di mana ia?
Kenapa kalau diajak nenyusul ke Singosari, tidak sampai ke sana?
"Siapakah laki-laki yang mengajak pergi isteriku?"
Akhirnya dia bertanya kepada lurah itu. Yang ditanya menunduk dan menggeleng kepala.
"Sudah kukatakan tadi, tidak ada seorangpun di antara kami mengetahui siapa dia, seorang asing yang tidak kami kenal......"
Tiba tiba seorang laki-laki berlari lari memasuki pekarangan ke uranan dan dari jauh dia sudah berteriak.
"Bapak Lurah.........."
"Bapak Lurah........., perempuan itu datang....... la sudah datang, bersama seorang pemuda...."
Orang itu terengah-engah karena tadi berlari-lari, seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih dan ketika tiba di pendopo kelurahan, dia melihat Ki Lurah sedang duduk berhadapan dengan seorang bangsawan.
"Bukankah kau ini Adi Santiko?"
Medang Dangdi memandang orang itu dan bertanya. Santiko balas memandane, lalu terbelalak.
"Wah........ Kakang Medang Dangdi. Wah, kang........ ia....... isterimu itu, mbakayu Warsiyem, juga datang, baru saja"
Mendengar ini, bagaikan seekor kijang, Medang Dangdi sudah melompat keluar tanpa pamit dan diapun berlari cepat menuju ke rumahnya.
Ketika tiba di depan rumahnya yang sudah bobrok, benar saja, dia melihat seorang wanita dan seorang pemuda.
Wanita itu masih cantik, dan biarpun sudah belasan tahun dia tidak pernah bertemu dengan wanita itu, dia tidak lupa bahwa wanita itu adalah Warsiyem, isterinya.
Seketika terdengar kembali keterangan Ki Lurah, tentang isterinya yang pergi bersama laki-laki lain.
Isterinya telah menyeleweng dengan laki-laki lain, dan kini isterinya kembali, juga dengan seorang laki-laki, seorang pemuda yang tampan sekali.
Hatinya seperti dibakar rasanya dan kemarahan teiah membuat wajahnya menjadi merah seperti udang direbus.
"Warsiyem......."
Teriaknya, suaranya mengguntur, mengejutkan Warsiyem dan Nurseta yang baru saja tiba di situ dan berdiri di depan rumah yang sudah rusak dan tidak terawat itu.
Warsiyem sedang merasa terharu sekali melihat keadaan rumahnya.
Lenyaplah semua kegembiraannya, keharuan menyesak di dada.
Ia kehilangan suami, kehilangan anak, kehilangan kehormatan dan kini rumahnya juga nampak rusak dan hampir ambruk.
Karena ia sedang terharu dan melamun, bentakan itu tentu saja mengejutkan hatinya.
Ia membalikkan tubuhnya dan......wajahnya berubah pucat, matanya terbelalak dan ia mengembangkan kedua lengannya.
"Kakangmas Medang Dangdi........ Suamiku........"
Ia berlari menghampiri, hendak memeluk akan tetapi Medang Dangdi mengelak sehingga tubuh wanita itu terhuyung, lalu membalik lagi dan iapun menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki suaminya.
Ia menangis sesenggukan, sampai sesak napasnya ketika menangis.
Suaranya terputus putus dan tidak jelas.
"Kakangmas........ Medang.......Dangdi......., ampunkan aku, kakangmas....... ahhhh, kakangmas suamiku ........ demi semua Dewata, mengapa diriku harus menderita seperti ini................"
"Jangan mengotorkan nama Dewata dengan mulutmu yang palsu"
Tiba-tiba Medang Dangdi membentak dan kakinya menendang. Tubuh wanita itu terjengkang sampai dua meter jauhnya.
"Perempuan hina, perempuan rendah dan lacur. Suami pergi mencari pekerjaan, bermain gila dengan laki-laki lain"
Warsiyem terbelalak, lalu merangkak menghampiri.
"Kakangmas......... Harap mendengar kan dulu keteranganku........"
"Dengar apa lagi? Engkau pergi bersama seorang laki-laki, dan engkau menyuruh adikmu membawa pergi Wulansari untuk menyusulku. Engkau perempuan tak tahu malu, keparat"
Kini Medang Dangdi yang melihat Warsiyem bangkit berdiri melayangkan tangannya menghantam ke arah kepala isterinya.
Hantaman itu keras sekali dan kalau mengenai kepala, tentu Warsiyem akan tewas seketika karena memang niat hati yang sudah diracun cemburu dan kemarahan itu hendak membunuh isteri yang dianggapnya tidak setia dan menyeleweng.
"Dukkk........"
Karena pernah mempelajari ilmu bela diri dengan tekun, otomatis Warsiyem mengangkat lengan menangkis, dan akibat tangkisan itu, kepalanya luput dari hantaman, akan tetapi saking kerasnya suaminya menghantam, ia terhuyung ke belakang.
Medang Dangdi semakin marah.
"Bagus. Engkau sudah mempelajari pula ilmu dari laki laki yang membawamu pergi, ya? Untuk melawan aku sekarang? Baik, keluarkan kepandaianmu dan mari kita mengadu nyawa untuk menebus aib ini"
"Kakangmas........ aduhh, kakangmas........ dengarlah dulu.......... ampunkan aku dan dengarkan penjelasanku......"
Akan tetapi ratap tangis Warsiyem tidak diperdulikan suami yang sudah diracuni cemburu dan dendam itu.
Dia sudah meloncat dekat dan kini mengirim pukulan yang lebih hebat lagi.
Melihat ini, agaknya Warsiyem yang merasa berduka sekali melihat sikap suaminya, tidak mau menangkis lagi dan dengan air mata bercucuran ia menengadah, memberikan kepalanya untuk dihantam biar ia mati dan terbebas dari pada penderitaan yang tak kunjung henti itu.
"Dukkk........"
Sekali ini, pertemuan antara kedua lengan itu membuat Medang Dangdi yang terdorong ke belakang, bahkan terhuyung hampir roboh.
Dia mengangkat muka memandang kepada Nurseta dengan marah sekali, lalu telunjuknya menuding.
"Jagad Dewa Bathara. Kiranya engkau ini biang keladinya. Engkau pula barangkali laki-laki yang membawanya, ataukah engkau menjadi gendaknya yang baru? Bagus. Kalau engkau memang mencinta wanita yang lebih tua darimu itu, engkau harus berani mempertaruhkan nyawamu untuknya"
Berkata demikian, Medang Dangdi sudah mencabut kerisnya dan melangkah maju menghampiri Nurseta.
"Paman Medang Dangdi, apakah kau lupa kepadaku? Memang baru sekali kita saling bertemu dan diperkenalkan, mungkin kau lupa kepadaku? Akan tetapi, apakah kau juga lupa kepada pusaka ini?" 'Nurseta mengeluarkan pusakanya, keris Kilat Nogo pemberian Raden Wijaya. Ketika dia membantu pasukan Singosari menghancurkan pemberontakan Mahesa Rangkah, dia diperkenalkan oleh Senopati Ronggo Lawe kepada Raden Wijaya dan dalam kesempatan ini, diapun diperkenal kepada para senopati Singosari termasuk Medang Dangdi. Medang Dangdi tadinya memandang dengan alis berkerut, akan tetapi ketika melihat pusaka Kilat Nogo, dia tentu saja mengenal pusaka milik Raden Wijaya itu dan diapun teringat akan pemuda gagah perkasa yang pernah dihadiahi keris itu oleh sang pangeran.
"Kau........ kau pemuda itu......."
"Aku Nurseta, paman"
"Ah, benar. Anakmas Nurseta"
Katanya kemudian kembali alisnya berkerut.
"Akan tetapi......."
Dia menoleh kepada Warsiyem yang masih menangis.
"apa artinya ini? Mengapa kau bersama perempuan ini..........?"
"Tenanglah paman. Untung bahwa paman belum membunuh isteri paman, karena kalau hal itu sampai terjadi, paman akan menyesal selama hidup paman, karena paman akan menjadi seorang pengecut yang rendah budi dan sama sekali tidak adil"
"Apa............ Apa maksudmu, orang muda?"
Medang Dangdi yang sudah menyimpan kerisnya itu kini kembali menjadi merah mukanya.
"Mari kita duduk yang baik dan biar aku yang akan menceritakan semua penderitaan yang telah dialami oleh kanjeng bibi Warsiyem, isteri paman yang bernasib malang ini. Mari kita duduk, paman"
Mereka bertiga duduk, biarpun Medang Dangdi masih ragu-ragu dan memandang penuh curiga.
Warsiyem duduk pula mendekat, akan tetapi masih menundukkan muka dan menangis terisakisak.
Nurseta lalu mulai bercerita.
Mula-mula dia bercerita tentang dirinya sendiri yang terjungkal ke bawah tebing curam oleh ulah Ki Cucut Kalasekti yang menyerangnya dengan Sisik Nogo.
Kemudian betapa dia selamat dapat mencapai goa di mana dia bertemu dengan Warsiyem yang ditawan oleh Ki Cucut Kalasekti di tempat terasing itu, kemudian betapa sampai empat tahun lebih dia bersama wanita itu tinggal di dalam goa dan berlatih ilmu bela diri.
Dan akhirnya betapa dia dan Warsiyem berhasil keluar da.
goa ketika Ki Cucut Kalasekti datang berkunjung dan dia berhasil merobohkan kakek iblis itu.
"Dan aku mendengar pengalaman kanjeng bibi Warsiyem darinya sendiri, paman. Ketika paman pergi, tak lama kemudian, Ki Cucut Kalasekti kebetulan lewat di dusun Paguh dan melihat kanjeng bibi. Ki Cucut Kalasekti lalu memaksa kanjeng bibi ikut. Kanjeng bibi tak berdaya karena siapa berani melawannya? Laripun tiada gunanya. Karena itu, untuk menyelamatkan puteri paman, diajeng Wulansari, kanjeng bibi lalu mengutus adiknya untuk membawa puterinya menyusul paman ke Singosari. Kemudian, kanjeng bibi dibawa dengan paksa oleh Ki Cucut Kalasekti. Kanjeng bibi diancam, dipaksa, diperkosa, dibujuk. Namun kanjeng bibi tetap tidak mau menyerah, sehingga akhirnya karena kecewa dan marah Ki Cucut Kalasekti lalu membawanya ke dalam goa di tebing itu. Nah, demikianlah, paman. Kanjeng bibi Warsiyem telah mengalami penghinaan, perkosaan, dan siksaan lahir batin, namun ia tetap tidak mau menyerah kepada Ki Cucut Kalasekti. Hanya karena teringat kepada paman dan puterinya maka ia tidak membunuh diri. Dan sekarang, setelah Sang Hyang Wisesa mempertemukan kalian berdua, paman bahkan menuduhnya secara keji tanpa bukti"
Selagi Nurseta bercerita, tangis Warsiyem makin menjadi-jadi sampai ia sesenggukan seperti anak kecil, Wajah Medang Dangdi berubah pucat sekali dan kini dia menoleh kepada isterinya, lalu ditubruknya isterinya itu dengan air mata bercucuran.
"Aduhhh........isteriku...... diajeng, maafkan aku........maafkan aku yang terburu nafsu mendengar diajeng pergi bersama seorang pria. Ah, betapa bodoh dan gilanya aku menuduh diajeng yang bukan-bukan........ maafkan aku.."
Dia merangkul isterinya.
Warsiyem merintih lirih dalam tangisnya, tak dapat berkata-kata dan terkulai dalam pelukan suaminya.
Sejenak mereka saling berangkulan dan Nurseta merasa betapa kedua matanya panas karena dia merasa terharu sekali.
"Tidak......... Tidak......."
Tiba-tiba Warsiyem meronta, melepaskan diri dari pelukan suaminya, lalu meloncat ke belakang, wajahnya pucat sekali, air matanya masih bercucuran di sepanjang kedua pipinya.
"Tidak, aku tidak berharga lagi untuk menjadi isterimu, kakangmas Medang........ aku telah ternoda, aku telah menjadi permainan Ki Cucut Kalasekti, diperkosa puluhan kali. Aku tidak layak menjadi isterimu, tidak ada gunanya lagi aku hidup. Kau carilah anak kita, carilah Wulansari, tanya kepada anakmas Nurseta......."
Tiba-tiba saja wanita yang nekat itu menggerakkan bambu Runcing, mengarahkan ujung bambu yang Runcing itu ke arah perutnya sendiri.
"Warsiyem........."
Medang Dangdi berteriak akan tetapi tidak mampu melakukan sesuatu.
Dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Nurseta telah merampas bambu Runcing dari tangan wanita itu, yang berlutut sambil menangis dan mengeluh.
"Biarkan aku mati ahh, biarkan aku mati......."
"Kanjeng bibi, ingatlah"
Nurseta berkata dengan suaranya yang halus namun meresap ke dalam hati wanita itu.
"Kalau suami dan anakmu memang orang orang yang bijaksana, dalam pandang mata mereka kanjeng bibi sama sekali tidak hina, tidak kotor, tidak rendah. Mereka berdua masih membutuhkan kasih sayangmu kanjeng bibi"
MENDENGAR ucapan ini, berhentilah tangis Warsiyem dan ia menengadah, memandang ke arah suaminya, wajahnya pucat, sepasang matanya memandang penuh harap, mukanya basah air mata dan bibirnya bergetar ketika terdengar ia bertanya lirih.
"Be....... benarkah itu........?"
Medang Dangdi menubruk dan merangkul isterinya, diciuminya wajah yang basah air mata itu.
"Benar sekali, isteriku. Kakek iblis itu boleh jadi merampas tubuhmu, memiliki tubuhmu, mengotori tubuhmu. Akan tetapi siapapun tidak dapat merampas hatimu, tidak dapat memiliki cintamu, tidak dapat mengotori hatimu yang hanya mencinta aku dan anak kita seorang. Engkau tidak hina dalam pandanganku, diajeng, bahkan aku menghormatimu, aku mengagumi pengorbananmu. Engkau isteriku, hatimu tidak ternoda. Noda badan dapat dicuci bersih, dan hatimu tetap milikku, cintamu hanya untuk aku dan anak kita"
Wajah itu kini agak mlerah dan gepasang mata itu agak berseri.
"Kakangmas Medang..... benar....... benarkah itu? Bukan hanya sekedar hiburan belaka? Kelak engkau........ tidak akan menghinaku dengan peristiwa itu?"
Suaminya menatapnya sambil tersenyum walaupun matanya masih basah dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, isteriku. Semua itu terjadi bukan atas kehendakmu. Engkau telah menderita lahir batin selama belasan tahun, sekarang saatnya engkau hidup berbahagia dengan aku, dengan kami, aku dan anakmu"
"Wulan........... Wulansari, dimanakah ia?"
Warsiyem nampak gelisah dan menoleh ke kanan kiri, seperti mencari-cari dan mengharapkan akan dapat menemukan puterinya di situ. Medang Dangdi memandang kepada Nurseta.
"Bukankah tadi anakmas ini bercerita bahwa puteri kita itu ikut dengan Cucut Kalasekti?"
"Benar, kanjeng paman. Kami, yaitu kanjeng bibi dan aku, telah mencari ke rumah gedung tua tempat tinggal Ki Cucut Kalasekti, namun rumah itu kosong dan agaknya sudah lama tidak terawat. Kami lalu ke sini dan melihat rumah kanjeng bibi juga kosong dan tidak terawat"
"Ah, Nurseta, sekarang aku teringat. Bukankah iblis tua itu ketika tiba di dalam goa mengatakan bahwa dia kini telah menjadi adipati bernama Adipati Satyanegara, adipati di Bendowinangun?"
Tiba-tiba Warsiyem berseru. Nurseta mengangguk.
"Benar, sayapun ingat sekarang, kita harus melakukan penyelidikan ke Bendowinangun"
Ki Medang Dangdi mengerutkan alisnya.
"Bendowinangun adalah kadipaten wilayah Kerajaan Dhaha. Aku sebagai seorang senopati Singosari, sungguh merasa kurang enak kalau harus melakukan penyelidikan ke sana. Dan pula, aku harus ikut dengan pasukan yang kembali ke Singosari setelah berhasil menaklukkan Bali. Diajeng Warsiyem, marilah engkau ikut bersamaku palang ke Singosari, nanti setelah menghadap Sribaginda, aku akan minta ijin untuk pergi mencari anak kita ke Bendowinangun"
Isterinya mengangguk.
"Kalau begitu, biarlah Nurseta yang pergi mencari Wulan ke Bendowinangun"
"Ah, bagaimana kita berani merepotkan anakmas Nurseta?"
Medang Dangdi berkata sungkan.
"Kakangmas Medang, ketahuilah bahwa anakmas Nurseta ini bukanlah orang lain. Dia dan Wulan saling mencinta, dia adalah calon mantu kita"
"Ah, begitukah?"
Wajah Ki Medang Dangdi berseri.
"Aku girang sekali. Kalau begitu, bolehkah kami berharap anakmas Nurseta akan mencari Wulansari ke Bendowinangun"
Nurseta dalam hatinya membantah bahwa dia dapat menjadi jodoh Wulansari, akan tetapi dia tidak mau mengecewakan dan membuyarkan harapan suami isteri yang baru saja saling bertemu dan dalam kebahagiaan itu.
Bagaimanapun juga, dia sudah memberitahukan dengan terus terang kepada yang berkepentingan, yaitu Wulansari sendiri bahwa biarpun dia dan gadis itu saling mencinta, namun tidak mungkin menjadi suami isteri karena dia telah bertunangan dengan seorang gadis lain.
"Baiklah, kanjeng paman dan bibi, saya akan pergi ke Bendowinangun mencari diajeng Wulansari dan akan saya beritahukan tentang keadaan dirinya yang sebenarnya, siapa sesungguhnya ayah dan ibu kandungnya, dan tentang Ki Cucut Kalasekti yang sama sekali bukan kakeknya, melainkan musuh yang mencelakakan ibunya"
Dalam hati dia menambahkan bahwa selain mencari Wulansari, diapun ingin meminta kembali tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Ki Medang Dangdi memberi isarat kepada pasukan kecil yang mengawalnya untuk mendekat, lalu minta seekor kuda yang baik untuk isterinya.
Kemudian, setelah berpamit, dia dan isterinya berpisah dari Nurseta yang menolak ketika akan diberi seekor kuda.
Nurseta melanjutkan perjalanan untuk mencari Wulansari dan tombak pusaka, sedangkan Medang Dangdi membawa isterinya bergabung dengan induk pasukan kembali ke Singosari.
Ketika empat lima tahun yang lalu Wulansari melihat Nurseta terjungkal ke dalam jurang, ia menjadi putus asa, berduka, akan tetapi juga sakit hati kepada wanita yang menjadi tunangan Nurseta.
Bersama kakeknya, ia pergi ke Pegunungan Kelud mencari calon isteri Nurseta dan setelah melakukan penyelidikan, bertanya kepada para penghuni dusun di daerah Pegunungan Kelud, akhirnya ia (Lanjut ke
Jilid 16) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 mendengar bahwa calon isteri Nurseta itu bernama Pertiwi, seorang gadis manis yang tinggal di dusun Sintren.
Ia lalu pergi ke dusun itu, dibayangi oleh Ki Cucut Kalasekti yang merasa khawatir kalau-kalau cucunya akan menghadapi bahaya.
Seperti kita ketahui, setelah bertemu dengan Pertiwi dan mendengar bahwa gadis dusun itu telah ternoda oleh Gagak Wulung, Wulansari tidak jadi membunuh Pertiwi, bahkan mentertawakan dan memberitahukan bahwa Nurseta telah mati.
Kemudian, ia lari meninggalkan Pertiwi sambil menangis.
Melihat keadaan muridnya itu, Ki Cucut Kalasekti menggeleng-geleng kepala dengan heran sekali.
Gadis yang diaku cucunya dan menjadi muridnya itu tidak jadi membunuh tunangan Nurseta, bahkan lari pergi sambil menangis.
Dia yang sudah berusia tujuhpuluh lima tahun, tetap saja merasa bingung melihat sikap wanita, dan tidak dapat menyelami perasaan mereka.
Diapun lalu mengejar Wulansari dan mereka pulang ke Bendowinangun.
Berulang kali Ki Cucut Kalasekti membujuk Wulansari untuk suka menerima kehendak hati Sang Prabu Jayakatwang agar gadis itu mau menjadi selirnya merangkap puteri pengawal dalam istana.
Namun Wulansari selalu menolak sehingga diam-diam Ki Cucut Kalasekti mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa kalau gadis itu tetap menolak, dia akan mengambilnya menjadi isterinya sendiri.
Kini, setelah dewasa, Wulansari mirip sekali dengan wanita yang membuatnya tergila gila, yaitu Warsiyem, ibu kandung gadis itu.
Wulansari sendiri nampak murung semenjak melihat Nurseta terjungkal ke bawah tebing.
Ia merasa seolaholah hidupnya kosong dan tidak mempunyai harapan.
Teringatlah ia akan tombak pusaka Ki Tejanirmala.
Tombak pusaka itulah yang menjadi gara-gara, pikirnya.
Kalau saja tidak ada pusaka yang dipej rebutkan itu, tentu ia tidak berhadapan dengan Nurseta sebagai musuh yang memperebutkan pusaka.
Dan kini tombak pusaka itu oleh kakeknya telah diberikan kepada Sang Prabu Jayakatwang dengan ditukar kedudukan adipati.
Hatinya mulai tertarik.
Mengapa untuk tombak seperti itu saja Sang Prabu Jayakatwang sampai mau menukarnya dengan sebuah kadipaten berikut kedudukan adipati?
Apa sih khasiatnya tombak itu?
Hatinya mulai diganggu penasaran dan iapun mulai tertarik, ingin hidup di sebuah kota raja seperti Daha, di mana terdadat banyak satria yang perkasa.
Ia ingin menghibur hatinya yang berduka itu dan hidup di kota raja.
Maka, iapun menerima bujukan kakeknya, akan tetapi hanya mau menjadi pengawal dalam istana, bukan menjadi selir.
"Aku suka menjadi pengawal dalam istana atau pengawal pribadi Sang Prabu, akan tetapi aku tidak mau menjadi selir siapapun juga. Kalau ada yang berani mengganggu dan menyentuhku, siapapun dia, akan kubunuh"
Karena kesanggupan Wulansari, menjadi pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatwang, Ki Cucut Kalasekti merasa girang sekali.
Hal itu jauh lebih menguntungkan dirinya dari pada kalau dia harus memaksa gadis itu menjadi mangsa nafsunya, karena dia khawatir kalau-kalau gadis itu akan bersikap seperti lbunya, tidak mau menyerahkan diri secara suka rela dan hal ini amat mengecewakan dan menyakitkan hatinya, Dia lalu mengantarkan gadis itu menghadap Sang Prabu Jayakatwang yang merasa girang sekali karena gadis itu mau menjadi pengawal dalam istana atau juga pengawal pribadinya.
Biarpun gadis itu tidak bersedia menjadi selirnya, namun sedikitnya dia akan selalu berdekatan dan merasa terlindung oleh seorang gadis yang cantik dan sakti, dan siapa tahu, lambat laun gadis itu akhirnya akan menyerahkan diri juga menjadi selirnya seperti yang diam-diam diberitahukan oleh Adipati Satyanegara atau Ki Cucut Kalasekti itu.
Demikianlah, mulai saat itu, Wulansari tinggal di dalam istana, sebagai seorang penjaga keamanan pribadi raja dan juga kepala pengawal bagian dalam kraton.
Setelah gadis yang selama ini diakui cucu dan juga diambil murid itu pergi meninggalkannya, barulah Ki Cucut Kalasekti merasa kesepian.
Maka diapun teringat kepada Warsiyem, ibu kandung gadis itu dan pergilah dia ke Blambangan, ke tebing curam di tepi pantai dan mengunjungi goa tempat dia menawan wanita itu dengan perahu, lalu memanjat ke atas.
Seperti kita ketahui, dia dirobohkan oleh Nurseta dan kunjungannya itu bahkan membuka kesempatan kepada Nurseta dan Warsiyem untuk meninggalkan tempat itu.
Setelah berpisah dari Ki Medang Dangdi dan Warsiyem, Nurseta melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat menuju ke Kadipaten Bendowinangun, di dekat Kali Campur.
Dia akan mencari Wulansari dan menceritakan tentang rahasia gadis itu, tentang ayah dan ibu kandungnya, tentang Ki Cucut Kalasekti yang sebenarnya adalah musuh besarnya.
Dan tentu saja, dia mengharapkan gadis itu akan mengembalikan tombak pusaka Ki Tejanirmala.
Setelah tombak pusaka itu dapat berada di tangannya kembali, barulah dia akan pergi ke Pegunungan Kelud mengunjungi ayah angkatnya, Ki Baka.
Tentu saja setelah dia tiba di Kadipaten Bendowinangun, dia mendapatkan gedung kadipaten itu kosong, banya ada para abdi dalem dan pasukan pengawal saja.
Dari keterangan yang diperolehnya, ternyata bahwa gadis yang dicarinya, Wulansari, kini telah menjadi seorang pengawal pribadi di kraton Sang Prabu Jayakatwang.
Dan dia memperoleh keterangan pula bahwa Sang Adipati Satyanegara, yaitu nama baru bagi Ki Cucut Kalasekti, telah beberapa hari lamanya meninggalkan kadipaten, tanpa seorangpun mengetahui ke mana perginya, Nurseta diam-diam mengharapkan kakek itu tidak akan dapat keluar lagi dari goa di tebing curam itu.
Nurseta segera menuju ke Kerajaan Daha di Kediri.
Tentu saja dia mengalami kesulitan untuk dapat berjumpa dengan Wulansari yang menjadi kepala penjaga keamanan di kraton, bahkan menjadi pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatwang, Kepala pasukan di luar kraton mencurigainya dan Nurseta telah dikepung oleh para penjaga itu, dan komandan mereka mengamati pemuda yang menanyakan dan mencari Wulansari itu dengan penuh selidik.
"Siapakah kau dan ada keperluan apakah kau mencari Raden Roro Wulansari, kepala penjaga istana?"
Hardik komandan yang berkumis melintang seperti kumis Gatotkaca itu. Nurseta bersikap tenang saja.
"Namaku Nurseta, harap dilaporkan kepada.........Raden Roro Wulansari bahwa Nurseta datang dan ingin bertemu, tentu ia akan mengenal siapa aku dan akan keluar menemuiku"
Akan tetapi komandan itu takut kalau dia dipersalahkan, maka diapun bertanya dengan nada menyelidik.
"Ki sanak, tidak begitu mudah untuk menjumpai beliau. Kami akan melaporkan, akan tetapi katakan dulu apa keperluanmu datang hendak menghadap beliau?"
Nurseta maklum bahwa dia tidak dipercaya, bahkan dicurigai, maka dia lalu teringat akan Ki Cucut Kalasekti yang menjadi adipati, dan diapun menjawab tegas.
"Aku adalah utusan dari Sang Adipati Satyanegara, kakek dari Raden Roro Wulansari, dan aku datang membawa pesan penting dari Sang Adipati untuk cucunya itu"
Tepat sekali dugaannya. Begitu mendengar bahwa dia utusan Sang Adipati Satyanegara yang semua orang mengenal sebagai kakek dari Wulansari, komandan itu merobah sikapnya, menjadi ramah sekali.
"Ah, kiranya kau utusan dari Kadipaten Bendowinangun? Mengapa tidak dari tadi kau katakan demikian? Duduklah, ki sanak, kami akan memberi laporan ke dalam istana,"
Nurseta dipersilakan duduk di ruangan tunggu, di luar istana itu.
Sambil tersenyum lega pemuda ini lalu duduk di situ, menanti dengan hati agak tegang.
Ingin sekali dia melihat bagaimana sikap Wulansari kalau berhadapan dengan dia.
Tentu, seperti juga Ki Cucut Kalasekti, gadis itu sama sekali tidak pernah mengira bahwa dia masih hidup.
Tidak terlalu lama Nurseta menunggu.
Komandan itu datang dengan sikap hormat membongkok-bongkok, mengiringkan seorang wanita yang berpakaian serba hijau, ringkas, pakaian seorang perwira yang gagah.
Rambutnya yang hitam panjang itu digelung dan dihias dengan hiasan rambut terbuat dari pada emas permata, juga lengannya terhias gelang-gelang yang bertaburan intan.
Wajahnya yang cantik itu berseri dan mengandung wibawa yang membuat seorang pria tidak akan berani sembarangan saja bersikap kurang ajar terhadap wanita cantik ini.
Ketika wanita itu berhadapan dengan Nurseta yang sudah bangkit berdiri, mereka berdta berdiri saling berbadapan, dalam jarak kurang lebih dua meter, dan keduanya seperti terpesona.
Wajah Wulansari yang tadinya berseri itu kini dibayangi keheranan dan ketidak percayaan, sebentar merah sebentar pucat, matanya terbelalak dan sampai lama ia tidak raampu mengeluarkan kata-kata, Juga Nurseta seperti orang kehilangan akal, hanya berdiri menatap wajah gadis itu, terpesona karena dalam hatinya yang penuh kerinduan itu kini penuh kagumi, matanya melihat gadis yang dicintanya itu kini bahkan lebih cantik dari pada dahulu.
"Kakangmas Nurseta......"
Akhirnya Wulansari mengeluh, suaranya lirih seperti rintihan.
"Diajeng Wulansari........"
Nurseta juga memanggil, penuh kerinduan, Hampir keduanya saling tubruk, akan tetapi Wulansari teringat bahwa ada beberapa pasang mata memandang mereka, yaitu mata para penjaga komandannya, Maka iapun membalik dan menghardik mereka.
"Tinggalkan kami di sini dan jangan ganggu"
Komandan itu memberi hormat, lalu diapun membentak para anak buahnya untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
Mereka itu dengan muka tunduk dan patuh meninggalkan ruangan dan keluar untuk berjaga di gardu penjagaan yang berada di luar pintu gerbang halaman istana.
Setelah mereka semua pergi, Wulansari melangkah maju dan tanpa dapat ditahannya lagi, langsung ia menubruk dan merangkul Nurseta dan suaranya terdengar menggetar ketika ia memanggil.
"Kakangmas........"
Mereka berpelukan, penuh kerinduan dan sejenak Nurseta mendekap kepala, yang amat dirindukan dan disayangnya itu ke dadanya, seolah ingin memasukkan kepala itu ke dalam dadanya agar jangan terpisah lagi darinya.
Kemudian, menyadari bahwa mereka berada di ruangan pendopo istana, keduanya saling melepaskan rangkulan dan Wulansari melangkah mundur dua langkah, memandang dengan mata basah dan dengan senyum manis menghias mulutnya.
"Kakangmas Nurseta, duduklah dan ceritakan bagaimana....... bagaimana engkau dapat hidup lagi. Ah, kakangmas, melihat engkau terjungkal di tebing itu, pikiranku tidak memungkinkan bahwa engkau akan terbebas dari kematian, akan tetapi sesungguhnya, hatiku tidak pernah putus mengharapkan bahwa engkau selamat dan masih hidup"
Mereka duduk berhadapan.
"Mungkin cinta kita dan doamu yang mendorong Sang Hyang Wisesa mengulurkan tangan dan menyelamatkan aku, diajeng"
"Ceritakan, kakangmas, ceritakanlah bagaimana engkau dapat menyelamatkan diri dari.... kejatuhan itu"
Mau tidak mau Wulansari bergidik membayangkan betapa tubuh kekasihnya itu terjungkal dari atas puncak tebing yang demikian curamnya.
Dengan ringkas namun jelas Nurseta lalu menceritakan betapa batang pohon yang tumbuh di dinding tebing itu yang menyelamatkannya dan betapa dia dapat merayap ke dalam sebuah goa tidak jauh dari situ.
"Dan tahukah engkau siapa yang kujumpai di dalam goa yang besar itu, diajeng?"
Tanya Nurseta sambil mengamati wajah cantik yang mendengarkan dengan penuh takjub itu, wajah yang mirip sekali dengan wajah wanita dalam goa, akan tetapi tentu saja wajah yang ini jauh lebih muda dan lebih cantik manis.
Mendengar pertanyaan ini, Wulansari yang sudah keheranan itu menjadi semakin heran.
"Engkau menjumpai orang di dalam goa itu?"
Tanyanya, dan matanya yang lebar itu memandang tanpa berkedip.
Nurseta mengangguk dan tersenyum, jantungnya berdebar tegang karena dia menghadapi saat yang dinanti-nantikan, yaitu pembukaan rahasia keluarga gadis ini.
"Dan siapakah yang kujumpai itu, diajeng? Ia seorang wanita, setengah tua dan cantik jelita, seperti engkau.."
"Ihh. Kakangmas, apa kau mau mengatakan bahwa aku sudah setengah tua?"
Wulansari terbelalak dan mengelus pipinya sendiri. Nurseta tersenyum lebar.
"Bukan begitu maksudku, diajeng. Akan tetapi wanita itu memang memiliki wajah yang cantik dan mirip sekali dengan wajahmu, tentu saja ia jauh lebih tua. Namanya.... Warsiyem.."
Nurseta sengaja mengucapkan nama ini dengan.tegas dan dia mengamati wajah cantik itu untuk melihat reaksinya.
Memang menarik sekali mempelajari reaksi gadis itu.
Ia seperti orang tertegun, kedua alisnya berkerut dan ia seperti mengingat-ingat, melamun, akan tetapi lalu menggeleng kepala perlahan.
"Aku seperti merasa tidak asing dengan nama itu, akan tetapi..... ah, aku tidak mengenalnya..."
Lalu ia menyambung cepat.
"Akan tetapi, bagaimana wanita itu dapat berada di dalam goa itu, kakangmas?"
Nurseta sedang berpikir-pikir bagaimana caranya untuk membuka rahasia gadis itu. Mendengar pertanyaan itu, diapun sudah mendapatkan cara terbaik, harus perlahan dan tidak mendadak.
"Wanita itu, kanjeng bibi Warsiyem, sudah berada di dalam goa itu selama sepuluh tahun ketika aku tiba disana, dan ia berada di sana sebagai tawanan seorang yang amat jahat. Ia diculik dari rumahnya, dipaksa menjadi isteri penjahat itu. Ia tidak mau menyerah sehingga diperkosa dan disiksa, akan tetapi ia tetap tidak mau menyerahkan diri dengan suka rela, maka penjahat itu menjadi marah dan ia ditahan di dalam goa di mana ia tidak akan mampu keluar karena goa itu berada di dinding tebing yang curam, sama sekali tidak ada jalan keluar"
"Hemm, betapa jahatnya laki-laki itu, dan betapa gagah beraninya wanita itu"
Kata Wulansari dan diam-diam Nurseta merasa girang karena memang inilah yang dikehendakinya.
Sebelum membuka rahasia itu, dia ingin menanamkan kebencian dalam hati gadis ini terhadap Ki Cucut Kalasekti dan kekaguman terhadap Warsiyem.
"Akan tetapi, kalau tidak ada jalan keluar, bagaimana engkau dapat keluar dari sana, kakangmas?"
Wulansari agaknya tidak begitu tertarik kepada wanita dalam goa dan penculiknya, maka pertanyaannya selalu mengenai diri Nurseta.
"Sampai empat lima tahun aku berada di sana, diajeng, sama sekali tidak berdaya untuk dapat keluar. Merayap naik tidak mungkin karena amat tinggi dan curam. Merayap turun sampai ke laut dapat dilakukan, akan tetapi setibanya di bawah, juga tidak ada jalan keluar karena akan disambut air laut dahsyat yang akan menghempaskan kami ke batu karang dan tidak ada perahu di sana. Terpaksa aku tinggal di sana sampai empat tahun lebih, bersama kanjeng bibi Warsiyem dan kami memperdalam ilmu dan memperkuat tenaga sakti. Akhirnya, pada suatu pagi, muncullah penculik jahat itu untuk menjenguk kanjeng bibi. Aku menyerangnya dan berhasil merobohkannya. Lalu kami berdua cepat merayap turun, menggunakan perahu penjahat itu selagi laut menyurut dan akhirnya kami berhasil lolos dan mendarat"
Wulansari mendengarkan dengan hati penuh ketegangan.
"Ah, aku girang sekali bahwa engkau selamat, kakangmas, tapi........ bagaimana engkau dapat menjadi utusan kakekku? Benarkah Eyang Adipati Satyanegara yang mengutusmu ke sini?"
Nurseta tersenyum mendengar sebutan Eyang Adipati ini kepada Cucut Kalasekti. Dia menggeleng.
"Aku berbohong agar para penjaga itu mau percaya kepadaku, diajeng. Akan tetapi nanti dulu, apakah engkau tidak ingin mengetahui siapa adanya kanjeng bibi Warsiyem itu, dan siapa pula penculiknya yang jahat?"
Wulansari menggeleng kepala dengan acub.
"Aku tidak mengenal wanita itu, dan aka tidak perduli siapa pria yang amat jahat itu...."
"Penculik jahat itu bukan lain adalah Ki Cucut Kalasekti"
Wulansari mengerutkan alisnya, Tidak aneh baginya berita ini.
Ia sudah tahu akan watak buruk kakeknya itu terhadap wanita, walaupun ia sama sekali tidak menyangka bahwa penculik wanita dalam goa itu adalah kakeknya.
Akan tetapi ia teringat betapa penculik itu dirobohkan Nurseta di dalam goa, maka kini ia memandang penuh selidik.
"Dan engkau memukul dia roboh di dalam goa? Engkau....... engkau membunuhnya?"
Nurseta menggeleng kepalanya.
"Aku merobohkannya karena dia hendak membunuhku, dan dia tidak mati. Aku dan kanjeng bibi cepat meninggalkan goa itu untuk meloloskan diri"
"Dan kau tinggalkan kakekku di sana? Ah, aku harus ke sana untuk menoIongnya"
"Nanti dulu, diajeng. Tahukah engkau siapa adanya kanjeng bibi Warsiyem?"
Gadis itu mengamati wajah Nurseta penuh selidik, tidak mengerti mengapa pemuda itu bertanya demikian.
"Kanjeng Bibi Warsiyem adalah........ ibu kandungmu sendiri, diajeng"
"Ohhhh..........."
Seketika wajah Wulansari menjadi pucat sekali, matanya terbelalak memandang wajah Nurseta.
"Apa........ apa maksudmu, kakangmas Nurseta? Kalau ia ibuku,mengapa kakekku menculiknya dan........ dan....... memperkosanya katamu tadi?"
Gadis itu benar-benar bingung sekali.
"Ki Cucut Kalasekti bukan kakekmu, diajeng. Dia hanya mengaku aku saja sebagai eyangmu. Dia membohongimu "
"Ohhh......."
Untuk ke dua kalinya gadis itu menjerit kecil dan mukanya kini berubah lagi menjadi semakin pucat, lalu berubah merah sekali.
"Apa maksudmu, kakangmas? Aku........ aku bingung sekali. Benarkah semua kata-katamu ini dapat dipercaya?"
"Tenanglah, diajeng dan dengarkan ceritaku, cerita ibumu tentang pengalamannya yang penuh derita"
Dengan hati-hati Nurseta lalu mengulang cerita Warsiyem yang pernah didengarnya dari wanita itu, betapa wanita itu yang ditinggal suaminya mencari pekerjaan di Singosari, dilarikan Ki Cucut Kalasekti, diperkosa dan dibujuk, kemudian karena ia selalu menolak, dilempar ke dalam goa itu.
Betapa anak tunggalnya, Wulansari, disuruhnya melarikan diri bersama adiknya laki-laki menunggang perahu untuk menyusul suaminya di Singosari.
Betapa kemudian setelah berhasil lolos dari goa bersama Nurseta dan berkunjung ke dusun Paguh, wanita itu bertemu dengan suaminya yang telah menjadi senopati Singosari dan yang baru saja kembali memimpin pasukan menaklukkan Bali.
"Demikianlah, diajeng Wulansari. Ayah dan ibumu itu kini kembali ke Singosari dan mengutus aku untuk mencarimu. Aku mencari di Bendowinangun, akan tetapi di sana mendengar keterangan bahwa engkau menjadi pengawal istana di sini, maka aku mencarimu di sini. Ayahmu itu adalah seorang senopati Singosari, namanya Ki Medang......"
"Medang Dangdi........"
Tiba-tiba Wulansari berseru keras dan seperti orang terkejut ia bangkit berdiri, wajahnya pucat dan matanya memandang jauh.
"Ah, kakangmas Nurseta....., sekarang teringatlah aku........ ayahku Ki Medang Dangdi, ibuku Warsiyem, dan ketika itu s.......... ibu memaksaku pergi melarikan diri, bersama Paman Sarjito...... kami naik perahu. Kemudian berganti perahu besar dengan para penumpang lainnya, dan perahu itu diserang badai dan terbalik. Kepalaku terbentur karang dan aku tidak ingat apaapa lagi....."
Nurseta mengangguk senang.
"Sampai,engkau diselamatkan oleh Ki Jembros dan disembuhkan oleh Eyang Panembahan Sidik Danasura, akan tetapi engkau lupa akan riwayat dirimu"
"Ya........ ya......., dan muncullah eyang..... ah, dia itu, Ki Cucut Kalasekti yang mengaku sebagai kakekku, dan dengan penuh kasih sayang dia menggemblengku dengan ilmu-ilmu kesaktian. Dia kelihatan begitu baik kepadaku, tapi...."
Tapi......"
"Diajeng, dialah laki-laki yang telah merusak kehidupan ibu kandungmu"
"Dan dia bahkan hampir membunuhmu, kakangmas. Dia jahat sekali, akan tetapi dia begitu sayang kepadaku......... ah, sungguh bingung aku, kakangmas. Aku harus pergi menemui ayah dan ibu kandungku........"
"Memang seharusnya demikian. Mereka telah menantimu di Singosari dengan hati penuh kerinduan. Marilah, diajeng, mari kita pergi bersama ke Singosari"
"Aku akan minta ijin dulu dari Sribaginda. Engkau tunggulah di sini, kakangmus"
Dan gadis itu dengan wajah masih tegang lalu meninggalkan Nurseta dan masuk ke dalam istana Selama hampir empat tahun menjadi pengawal istana, Wulansari memperlihatkan kesetiaan dan semua orang di istana menghormatinya dan segan kepadanya.
Bahkan Sang Prabu Jayakatwang sendiri merasa suka kepadanya, dan melihat bahwa gadis itu sama sekali tidak dapat digoda, raja yang pandai inipun tidak mau mendesak, Baginya, lebih penting tenaga dan kesetiaan Wulansari.
Kalau hanya wanita, akan mudah baginya mendapatkan yang jauh lebih cantik menggairahkan dari pada gadis perkasa itu.
Maka, ketika Wulansari minta ijin kepada Sang Prabu Jayakatwang untuk pulang ke Bendowinangun dan menengok kakeknya, ia tidak berani mengatakan bahwa ia akan menemui ayahnya yang menjadi senopati Singosari yang diam-diam dimusuhi oleh Raja Kediri itu, Sang Prabu dengan senang hati memberi ijin.
Berangkatlah Wulansari dan Nurseta, bukan ke Bendowinangun melainkan langsung ke Singosari.
Sebelum berangkat, Nurseta sempat bertanya kepada Wulansari.
"Diajeng, jangan lupa, bawalah tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala, karena pusaka itu harus kukembalikan kepada ayahku"
Tiba-tiba sikap Wulansari berubah kaku dan ia memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut.
"Kakangmas, apakah yang menjadi pikiranmu hanya tombak pusaka itu saja? Jadi kedatanganmu ini bukan sengaja mencari aku melainkan mencari tombak itu?"
"Kedua duanya, diajeng. Tombak pusaka itu amat penting bagi kami, dan harus kukembalikan kepada ayahku. Di manakah pusaka itu, diajeng Wulansari?"
"Pusaka itu disimpan oleh eyang........ eh, oleh Ki Cucut Kalasekti"
Gadis itu membohong.
Ia sudah tahu bahwa pusaka itu oleh kakeknya diberikan kepada Sang Prabu Jayakatwang, akan tetapi iapun sudah bersumpah, seperti semua pejabat di Kediri, untuk tidak membocorkan hal itu.
Setelah beberapa tahun menghambakan diri di istana itu, ia merasa suka dan timbul kesetiaannya, maka iapun tidak mau membocorkan rahasia itu.
Bagaimanapun juga, bukan ia yang menyerahkan pusaka itu kepada Raja Kediri, melainkan Ki Cucut Kalasekti.
"Ah......"
Nurseta nampak menyesal. Dia percaya kepada keterangan Wulansari itu.
"Kalau aku tahu begitu, tentu takkan kulepaskan dia yang sudah tidak berdaya menggeletak di dalam goa itu......"
"Sudahlah, kakangmas. Sekarang yang terpenting adalah menemui ayah ibuku. Tentang tombak pusaka itu, kita bicarakan kelak saja"
Karena pada saat itu tidak mungkin menjumpai Ki Cucut Kalasekti untuk minta kembali Ki Ageng Tejanirmala, terpaksa Nurseta tidak membantah lalu menemani gadis itu pergi ke Singosari.
Tidaklah sukar bagi mereka untuk mencari rumah kediaman Senopati Medang Dangdi di kota raja Singosari.
Ki Medang Dangdi melupakan seorang di antara para senopati yang terkenal, apa lagi baru saja dia pulang memimpin pasukan yang menang perang.
Sungguh merupakan pertemuan yang amat mengharukan dan juga menggembirakan yang terjadi di pagi hari itu di rumah kediaman Senopati Medang Dangdi.
Begitu bertemu.
Wulansari dan ibunya saling tubruk dan saling rangkul sambil menangis, Tanpa kata-kata, ibu dan anak ini sudah saling mengenal walaupun ketika berpisah dahulu, usia Wulansari baru sepuluh tahun dan kini gadis itu sudah berusia hampir dua puluh lima tahun.
"Kanjeng ibu......."
"Wulan......... Wulansari anakku........"
Setelah bertangis tangisan dengan ibunya, Wulansari lalu menyembah ayahnya yang juga merangkulnya. Ayah ini memandang puterinya penuh perhatian, lalu tertawa girang.
"Wah, wah, engkau sudah begini besar, anakku. Sudah menjadi seorang gadis dewasa dan nampak gagah perkasa. Anakmas Nurseta sudah menceritakan bahwa engkau kini memiliki kesaktian yang hebat"
Mereka duduk di ruangan sebelah dalam.
Nurseta juga diajak masuk dan suami isteri itu menganggap Nurseta seperti keluarga sendiri.
Ketika mendengar bahwa puterinya kini menjadi pengawal istana di Daha, Ki Medang Dangdi mengangguk angguk.
"Tidak ada salahnya menjadi pengawal istana Daha, apa lagi kepala pengawal istana, pangkat itu cukup terhormat. dan Kerajaan Daha juga merupakan kerajaan keluarga Singosari dan juga mengakui kekuasaan Singosari. Akan tetapi, setelah kita berkumpul, engkau harus melepaskan pekerjaanmu itu, nini, dan tinggal bersama ayah ibumu di sini"
"Memang seharusnya begitu. Usiamu sudah cukup dewasa, nini, dan di sini....... sudah ada anakmas Nurseta, calon suamimu, Mau tunggu sampai kapan lagi? Engkau pulanglah dan kita segera mempersiapkan pernikahan kalian"
"Aih, kanjeng ibu........."
Wulansari memeluk ibunya dengan sikap manja.
Hatinya senang sekali melihat ayah ibunya agaknya sudah tahu akan percintaannya dengan Nurseta dan agaknya menyetujuinya.
Sejenak ia teringat akan Pertiwi, akan tetapi ingatannya itu tidak menggelisahkan hatinya.
Kini, Pertiwi tidak merupakan saingan lagi.
Bukankah gadis dusun itu telah ternoda dan sudah pasti Nurseta tidak akan mau memperisterinya setelah dia mendengar akan hal itu.
Melihat kemanjaan Wulansari, Ki Medang Dangdi dan isterinya tersenyum penuh kebahagiaan, sedangkan Nurseta hanya termenung.
Harus diakuinya bahwa cintanya terhadap Wulansari tidak pernah berubah, bahkan makin mendalam.
Akan tetapi juga dia tetap memegang kesetiaannya terhadap tunangannya, Pertiwi.
Akan tetapi, bagaimana mungkin dia tega merusak kebahagiaan keluarga yang baru saja berkumpul ini dengan penolakannya?
Maka diapun diam saja, hanya menundukkan muka.
"Yaaa, aku sudah mendengar dari ibumu tentang anakmas Nurseta, anakku. Memang dia pantas menjadi suamimu, dia gagah perkasa, tampan dan berbudi luhur......"
"Ah, ya, aku belum memberitahu kepadamu bahwa selain itu semua, diapun berdarah bangsawan. Ayahnya adalah seorang pangeran "
Mendengar ini, baik Ki Medang Dangdi maupun Wulansari terkejut karena Wulansari sendiri baru sekarang mendengar akan hal itu.
"Putera pangeran kiranya? Siapakah ayahnya itu?"
Tanya Ki Medang Dangdi. Isterinya tersenyum.
"Engkau "juga mengenalnya, kakangmas. Mendiang avahnya adalah Pangeran Panji Hardoko dari Daha," 'Ahhhh........"
Ki Medang Dangdi nampak terkejut sekali.
"Benar,"
Kata isterinya yang tetap gembira, mengira bahwa suaminya terkejut dan gembira.
"sayang bahwa pangeran itu telah meninggal, dan menurut cerita anakmas Nurseta, ketika masih kecil sekali oleh ayahnya dia diberikan kepada mendiang Ki Bayaraja yang dulu memberontak itu, dan dari mendiang Ki Baya lalu diserahkan kepada Ki Baka yang gagah perkasa......"
"Nanti dulul"
Tiba-tiba Ki Medang Dangdi berseru dan dalam suaranya terkandung kekerasan yang mengejutkan isterinya dan juga Wulansari memandang ayahnya, bahkan Nurseta mengangkat muka memandang senopati itu.
Senopati itu bangkit dari kursinya dan wajahnya berubah merah sekali, nampaknya seperti orang marah sehingga mengejutkan mereka bertiga.
"Kenapa, kangjeng rama?"
Wulansari bertanya heran.
"Anakmas Nurseta, tahukah kau siapa ibu kandungmu?"
Pertanyaan ini terdengar agak kaku, tidak ramah seperti tadi sehingga Nurseta memandang heran. Dia menggeleng kepalanya.
"Saya tidak tahu, kanjeng paman. Ayah Baka sendiri juga tidak tahu siapa ibu kandung saya, sedangkan Ki Baya dan ayah kandung saya sudah meninggal sehingga tidak ada seorangpun yang dapat memberi keterangan siapa ibu saya"
"Akan tetapi aku tahu. Aku tahu siapa ibumu. la adalah seorang tokoh golongan sesat dari Pasundan, namanya terkenal sekali, yaitu Ni Dedeh Sawitri"
"Ahhh........."
Tentu saja Nurseta terkejut bagaikan disambar petir.
Dia melompat berdiri dan matanya terbelalak memandang kepada Ki Medang Dangdi.
Tentu saja dia terkejut mendengar bahwa ibu kandungnya adalah Ni Dedeh Sawitri, wanita iblis itu yang pernah bersama Gagak Wulung nyaris membunuhnya kalau saja dia tidak ditolong oleh Panembahan Sidik Danasura.
Wanita iblis yang amat jahat dan keji itu ibu kandungnya?
"Tidak mungkin...."
Dia berteriak, wajahnya berubah pucat lalu merah sekali. Lebih baik dia tidak mempunyai ibu kandung dari pada ibu kandung seorang wanita iblis seperti Ni Dedeh Sawitri.
"Aku masih ingat benar akan semua peristiwa itu,"
Kata pula Ki Medang Dangdi seperti kepada diri sendiri, matanya termenung memandang jauh.
"Kami sama sama masih muda, Pangeran Pan ji Hardoko dan aku, Kami bersahabat dan aku kagum dan suka kepada bangsawan yang berbudi baik dan tidak sombong itu. Sayang, dia tergila gila kepada seorang wanita cantik, yang bukan lain adalah Ni Dedeh Sawitri, wanita muda yang cantik menarik, tokoh dari Pasundan yang agaknya memang dikirim oleh Kerajaan Pasundan untuk memata matai Singosari dan Daha. Hubungan antara mereka akrab dan mesra, bahkan Ni Dedeh Sawitri lalu menjadi seorang selir dari pangeran yang belum menikah itu. Dan hubungan itu membuahkan lahirnya seorang anak laki-laki. Akan tetapi, agaknya Ni Dedeh Sawitri merasa bosan kepada sang pangeran yang mulai sakit-sakitan, bahkan mungkin karena tugasnya selesai, pada suatu hari ia meninggalkan Pangeran Panji Hardoko dan anaknya, tanpa pamit. Hal ini, mengguncang batin pangeran yang sudah lemah itu. Dan itulah sebabnya mengapa dia menyerahkan puteranya kepada Ki Baya yang pada waktu itu juga merupakan seorang kepercayaan sang pangeran. Tak lama sesudah menyerahkan puteranya, diapun meninggal dunia. Agaknya, kepergian Ni Dedeh Sawitri yang sesungguhnya amat dicintanya itu telah menghancurkan hatinya dan membuat penyakitnya menjadi semakin parah. Nah, itulah yang kuketahui dan kalau kau ini putera mendiang Pangeran Panji Hardoko yang diberikan kepada mendiang Ki Baya, maka kaulah putera kandung Ni Dedeh Sawitri"
"Ahh......... ahhh......"
Nurseta tidak dapat berkata-kata, kepalanya seperti tiba tiba menjadi pening.
"Aku adalah seorang yang biasa bersikap terus terang dan jujur, anakmas Nurseta. Oleh karena itu, setelah mengetahui bahwa kau adalah anak kandung Ni Dedeh Sawitri, terpaksa aku menyatakan bahwa hubunganmu dengan puteri kami Wulansari harus putus sampai di sini saja, karena tidak mungkin kami mengijinkan puteri kami menjadi mantu Ni Dedeh Sawitri "
"Kanjeng rama........"
Wulansari berseru kaget.
"Nanti dulu "
Kata Warsiyem yang juga terkejut sekali mendengar ucapan suaminya.
"Andai benar dia putera Ni Dedeh Sawitri, lalu mengapa? Apa salahnya dia menjadi suami Wulansari?"
"Hemm, engkau belum tahu siapa itu Ni Dedeh Sawitri, isteriku. Dan engkaupun belum tahu, anakku. Dengarlah kalian baik-baik, Ni Dedeh Sawitri adalah seorang wanita iblis. seorang tokoh jahat yang amat keji, kejam dan cabul. Entah berapa banyak orang yang tewas di tangannya tanpa sebab, orang-orang tidak berdosa. Dan entah berapa ratus banyaknya pria yang menjadi korban kecabulannya, banyak pula yang dibunuh kalau tidak mau menuruti kehendaknya. Ia cabul dan kotor, lebih hina dari pada seorang perempuan peiacur"
"Ahhh......."
Isterinya berseru.
"Kanjeng rama........"
Wulansari juga kembali menjerit.
"Agaknya anakmas Nurseta sudah tahu orang macam apa adanya Ni Dedeh Sawitri, Coba jawab sejujurnya, anakmas, tidak benarkah apa yang kukatakan mengenai diri Ni Dedeh Sawitri tadi?"
Nurseta tidak menjawab, hanya mengangguk karena memang diapun tahu orang macam apa adanya Ni Dedeh Sawitri.
"Ah, kalau begitu, tidak mungkin anakku menjadi mantu wanita semacam itu"
Teriak Warsiyem.
"Wulansari, engkau tidak boleh menjadi isteri Nurseta. Aku tidak sudi berbesan dengan seorang wanita cabul, seorang tokoh sesatyang rendah budi dan tak tahu malu"
Dipat dibayangkan betapa sakit rasa hati Nurseta.
Kalau benar dia putera Ki Dedeh Sawitri, wanita iblis yang amat jahat itu, kalau memang benar demikian, salahkah dia?
Namun, dia masih dapat menguasai dirinya dan berkata dengan suara mengandung kegetiran.
"Kanjeng Paman Medang Dangdi dan kanjeng Bibi Warsiyem harap kau berdua tenang dan tidak khawatir. Memang saya akui bahwa saya mencinta diajeng Wulansari, akan tetapi aku tidak dapat menjadi suaminya, karena saya telah dijodohkan dengan seorang gadis lain. Karena itu, jangan khawatir, kau berdua tidak akan berbesan dengan ibuku, wanita yang jahat itu. Saya mohon pamit. Diajeng Wulansari, selamat tinggal dan maafkan semua kesalahanku, diajeng"
Berkata demikian, Nurseta mengerahkan kepandaiannya dan sekali meloncat, tubuhnya berkelebat keluar dari rumah gedung itu.
"Kakangmas Nurseta........"
Wulansari mengeluh dan gadis inipun menutupi mukanya, menangis.
Biasanya, Wulansari jarang bahkan hampir tidak pernah menangis.
Semenjak menjadi murid Ki Cucut Kalasekti, hatinya telah mengeras.
Akan tetapi kini ia merasa amat duka dan sengsara kehilangan pria yang dicintanya, maka tidak dapat ia menahan dirinya dan menangis.
Ketika ayah dan ibunya merangkul dan mencoba untuk menghiburnya, tiba-tiba Wulansari menepiskan tangan mereka, meloncat berdiri dan sambil menyusut air matanya, ia memandang ayah bundanya itu dengan mata berang.
"Kanjeng rama dan kanjeng ibu mendatangkan perasaan bahagia dalam hatiku karena pertemuan antara kita, akan tetapi juga mendatangkan perasaan duka dengan sikap menolak kakangmas Nurseta. Biarlah saya akan kembali ke Daha dan melupakan semua ini"
Setelah berkata demikian, gadis yang merasa hancur hatinya karena perpisahannya dengan Nurseta itu juga mempergunakan ilmunya, meloncat dan berlari keluar gedung dan meninggalkan tempat itu.
"Wulan......."
Warsiyem berseru memanggil, akan tetapi anaknya tidak menjawab dan karena tidak kuasa mengejar, wanita ini terkulai dan menangis dalam pelukan suaminya yang menghiburnya.
"Sudahlah, diajeng. Lebih baik begitu, biar ia kembali ke Daha dan melupakan kedukaan dan kekecewaannya, Lebih baik begitu dari pada ia menjadi isteri putera Ni Dedeh Sawitri. Bagaimannpun juga, ia adalah anak kita. Kelak kalau rindu, kita dapat mencarinya di Kediri dan tentu sekali waktu ia akan kembali ke sini menengok kita"
Warsiyem hanya terisak, akan tetapi dapat menerima hiburan suaminva.
Bigaimanapun juga, ia tidak rela kalau anaknya harus menjadi mantu seorang wanita iblis seperti Ni Dedeh Sawitri yang khabarnya amat jahat dari keji, juga berwatak hina dan rendah itu.
Nurseta berlari cepat meninggalkan Singosari.
Hampir saja dia lupa diri saking hebatnya guncangan batin yang dirasakannya ketika dia mendengar bahwa ibu kandungnya adalah Ni Dedeh Sawitril Akan tetapi, dia segera dapat menguasai dirinya, dapat membuka mata dan menghadapi kenyataan dengan sewajarnya, betapapun pahit dan menyakitkan adanya kenyataan itu.
Kini dia berjalan menuju ke Gunung Kelud yang sudah nampak di depannya.
Dia harus menerima kenyataan.
Kalau memang benar dia putera Ni Dedeh Sawitri, mengapa dia harus kecewa, mengapa dia harus berduka, atau merasa malu?
Ini merupakan kenyatakan dan tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang mampu merobah kenyataan.
Baik buruk hanya penilaian.
Dia harus berani menghadapi kenyataan itu, tanpa menilainya.
Dia akan menghadap Ki Baka lebih dulu, menjenguk orang tua itu yang tentu merasa gelisah sekali karena selama hampir lima tahun dia pergi tanpa berita.
Setelah itu, barulah dia akan mencari Ki Cucut Kalasekti kalau perlu ke goa di tebing itu, entah dengan cara bagaimana nanti, untuk meminta kembalinya tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Membayangkan wajah ayah angkatnya itu, timbul perasaan rindu di hatinya.
Entah bagaimana, setelah dia mendengar bahwa ibu kandungnya adalah Ni Dedeh Sawitri, perasaan cintanya terhadap Ki Baka menjadi semakin mendalam.
Betapa luhur budi ayah angkatnya itu.
Maka Nurseta lalu cepat cepat mempergunakan kepandaiannya berlari seperti terbang mendaki Gunung Kelud, menuju ke padepokan Ki Baka.
Akan tetapi, setibanya di pondok yang menjadi padepokan Ki Baka, Nurseta termangu-mangu memandang pondok yang kosong.
Agaknya sudah lama pondok itu ditinggalkan, nampak terlantar, bahkan ladang di belakang pondokpun kini penuh dengan rumput dan semak-semak, tanda bahwa tidak dirawat sejak lama.
Nurseta termenung.
Ki Baka sudah pergi?
Pindah?
Ataukah sudah tidak ada lagi, sudah meninggal dunia?
Alisnya berkerut membayangkan kemungkinan terakhir itu.
Dia harus mencari keterangan dan dia tahu ke mana harus bertanya.
Ke dusun Sintren, di rumah Pertiwi.
Maka diapun cepat menuruni lereng Kelud dan menuju ke dusun Sintren.
"Raden Nurseta......."
Ki Purwoko menyambut kedatangan Nurseta dengan seruan kaget.
Nurseta melihat wajah Ki Purwoko nampak tua dan sinar matanya suram, wajahnya buram tanda bahwa orang ini telah menderita tekanan batin dan berada dalam duka.
Hatinya semakin tidak enak maka segera dia bertanya.
"Paman Purwoko, saya tadi naik ke atas akan tetapi padepokan ayah Baka kosong dan....."
"Ayah angkatmu itu telah pergi beberapa tahun yang lalu, ikut dengan Panembahan Sidik Danasura, Raden"
Legalah rasa hati Nurseta, wajahnya berseri dan diapun ingat akan basa basi lagi.
"Bagaimana kabarnya, Paman? Baik baik saja, bukan? Dan bagaimana dengan bibi, dan dengan diajeng Pertiwi?"
Mendengar disebutnya nama puterinya, Ki Purwoko memejamkan kedua matanya.
"Kami........ kami baik-baik saja, tapi........ tapi Pertiwi....... ahhhh......"
Dia tidak dapat melanjutkan kata katanya dan matanya tetap terpejam.
"Paman. Apa yang terjadi dengan diajeng Pertiwi? Kenapa ia........?"
Hati Nurseta terasa tidak enak sekali.
Teringatlah dia akan pertemuannya terakhir dengan tunangannya itu, di pagi hari pada saat dia akan meninggalkan Gunung Kelud.
Pada waktu itu, dia berterus terang kepada Pertiwi bahwa dia tidak mencinta calon isterinya itu walaupun dia akan setia kepadanya.
Terbayang kembali ketika gadis itu lari sambil menangis, maka kini melihat sikap dan mendengar kata-kata Ki Purwoko, dia merasa gelisah dan tegang sekali.
Ki Purwoko menuding ke arah belakang rumah.
"Ia berada di gubuk, di kebun belakang, kau temuilah ia dan bicara saja sendiri, Raden"
Diam-diam Nurseta terkejut.
Dia tahu bahwa tentu Pertiwi merasa kecewa dan berduka karena dia berterus terang dahulu titu, akan tetapi sama sekali tidak menyangka bahwa kedukaan itu akan membuat Pertiwi hidup menyendiri di dalam sebuah gubuk di kebun belakang.
Maka diapun bergegas pergi ke kebun belakang, Nampak sebuah gubuk sederhana di belakang, agak jauh dari rumah Ki Purwoko, menyendiri dan terpencil.
Hatinya diliputi keharuan dan diapun cepat menghampiri gubuk itu.
"Diajeng Pertiwi......."
Dia memanggil dari luar gubuk.
"Aku Nurseta datang berkunjung, diajeng"
Diri dalam gubuk terdengar oleh Nurseta suara tertahan, lalu disusul isak tertahan, dan keluarlah Pertiwi dari dalam gubuk itu, Nurseta terkejut melihat gadis itu kini menjadi kurus, dan begitu keluar dari dalam gubuk, Pertiwi lari menghampiri Nurseta lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis.
Nurseta menarik napas panjang.
Dia merasa terharu sekali, kasihan kepada gadis ini.
Namun, betapapun juga hatinya lega melihat gadis itu dalam keadaan sehat selamat walaupun kurus.
"Diajeng Pertiwi, tenanglah. Mari kita bicara yang baik. Kenapa engkau menangis,? Dan mengapa pula engkau berada di gubuk ini, tidak di rumah ayahmu?"
"Kakangmas Nurseta....... hanya kaulah yang kutunggu........ sekarang setelah kau datang, aku....... aku rela untuk mati......"
Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan menangis lagi tersedu sedan.
Tentu saja Nurseta terkejut bukan main.
Dia membungkuk, memegang kedua pundak gadis itu, menariknya berdiri lalu mengajak gadis itu duduk di atas bangku di depan gubuk.
Bagaikan orang yang kehilangan semangat Pertiwi menurut saja.
Mereka duduk di atas bangku bambu, berdampingan.
"Nah, sekarang keringkan air matamu dan ceritakanlah, apa maksud ucapanmu tadi, diajeng,"
Nurseta berhenti sebentar, lalu melanjutkan.
"Apakah karena bertahun tahun ini aku tidak memberi kabar kepadamu? Percayalah, hal itu tidak kusengaja, diajeng, Aku tidak berdaya. Setelah sekarang aku dapat datang, aku pasti akan segera menemui ayahku untuk melaksanakan pernikahan kita, Akupun sedang mencarinya dan ingin bertanya kepada keluargamu di mana adanya ayahku. Ayahmu memberitahu bahwa dia pergi bersama Eyang Panembahan Sidik Danasura, maka sekarang aku akan menyusul ke sana dan akan kuminta agar pernikahan kita segera dilangsungkan"
Nurseta bicara seperti itu karena dia ingin menebus kesalahannya yaitu menyakiti hati gadis itu ketika dia mengaku mencinta gadis lain.
Akan tetapi, mendengar ucapannya itu, Pertiwi bahkan menangis semakin sedih, sampai sesenggukan.
"Tidak, kakangmas....... tidak........, aku tidak mungkin menjadi isterimu......., tidak mungkin........"
Nurseta mengerutkan alisnya. Gidis ini tentu merasa sakit hati sekali mendengar bahwa dia tidak mencintanya, melainkan mencinta gadis lain.
"Diajeng Pertiwi, apakah engkau demikian sakit hati karena pengakuanku ketika aku hendak pergi dahulu itu? Maafkan kalau begitu, karena aku tidak ingin membohongimu, tidak ingin berpura pura kepada gadis yang kusayang dan kukasihani"
"Tidak, kakangmas, bukan karena itu. Aku........ aku tidak patut menjadi isterimu, aku hanya akan menyeretmu ke lembah penghinaan, aku hanya akan mendatangkan aib. Aku......... aku telah ternoda, kakangmas Nurseta........."
Kalimat terakhir ini seperti jerit yang keluar dari lubuk hatinya.
"Diajeng Pertiwi. Apa........... apa maksudmu.......?"
Pertiwi menangis sampai mengguguk, baru ia dapat menjawab setelah beberapa lamanya.
"Aku....... aku bukan perawan lagi, kakangmas, aku....... aku telah menyerahkan diri kepada pria lain........"
"Diajeng Pertiwi. Engkau....... engkau tidak setia kepadaku?"
Pertiwi mengangguk sambil menangis.
"Ya, begitulah......... karena itu aku tidak berharga menjadi isterimu, kakangmas. Karena itu aku mengasingkan diri agar lain orang tidak ada yang ternoda oleh kotoran yang menempel padaku. Engkau nikahilah saja gadis yang kaucinta itu, kakangmas, ia........ ia cantik jelita dan pantas menjadi isterimu....."
Nurseta mengerutkan alisnya.
"Hem, engkau cemburu lalu engkau menyerahkan diri kepada pria lain?"
Pertiwi menangis dan tidak menjawab, tangisnya semakin mengguguk ketika Nurseta meloncat pergi meninggalkannya.
Ia sengaja bersikap demikian agar Nurseta marah dan membencinya.
Biarlah pemuda yang tidak mencintanya itu menikah dengan gadis yang dicintanya.
la sendiri harus mengalah, ia bahkan harus menghukum diri sendiri karena bagaimanapun juga, ia ternoda bukan karena diperkosa, melainkan karena ia menyerahkan diri dengan suka rela, karena ia lemah.
Ada dua hal yang mendorongnya sengaja bersikap demikian untuk membuat pemuda itu meninggalkan dirinya, pemuda yang sesungguhnya amat dicintanya.
Pertama, pemuda itu tidak mencintanya, maka orang yang dicintanya itu hanya akan hidup menderita batin saja kalau sampai menikah dengannya, dan ke dua, ia akan selalu rendah diri dan tak berharga setelah ternoda kalau sampai menjadi isteri Nurseta.
Ia tahu bahwa seorang pemuda seperti Nurseta akan memegang janji, setia sampai mati walaupun tidak ada cinta.
Dan satu-satunya jalan hanyalah memperlihatkan sikap seperti tadi, agar Nuiseta membencinya, dan agar perjodohan di antara mereka diputuskan saja.
Tanpa pamit lagi kepada orang tua Pertiwi, Nurseta meninggalkan Gunung Kelud dan langsung saja dia melakukan perjalanan cepat ke selatan, ke padepokan Panembahan Sidik Danasura di Teluk Prigi Segoro Wedi.
Pada saat pemuda itu melakukan perjalanan cepat dan sudah mendekati daerah Teluk Prigi, Panembahan Sidik Danasura dan Ki Baka sedang duduk bersantai di luar pondok, duduk bersila di atas dua buah batu datar sambil bercakap cakap.
Biasanya, pada saat-saat seperti ini, di waktu menjelang senja, kesempatan bersantai itu dipergunakan oleh Sang Panembahan untuk bicara tentang kehidupan dan dari percakapan ini Ki Baka menimba kesadaran yang banyak dan mendalam.
Akan tetapi pada sore hari itu, Sang Panembahan nampak gembira dan wajahnya berseriseri.
Ki Baka juga merasakan kegembiraan ini.
Hawa amat sejuk dan warna langit di barat nampak amatlah indahnya, penuh awan yang keperakan dibentuk oleh sinar matahari yang mulai mengendur, siap untuk tenggelam di barat.
"Alangkah nyaman sore ini,"
Demikian Sang Panembahan berkata.
"Sayapun merasakan hal itu, Paman Panembahan. Rasanya nyaman dan menyenangkan sekali"
Tak lama kemudian, dari jauh nampak bayangan Nurseta yang berlari cepat menuju ke tempat itu.
"Raden Nurseta......."
Ki Baka berseru gembira bukan main.
Panembahan Sidik Danasura tersenyum pula dan pada saat mata mereka saling bertemu tahulah Ki Baka bahwa kakek tua renta itu gaknya sudah tahu bahwa pertanda ada hubungannya dengan kemunculan Nurseta ini.
"Ayah, Eyang......... Saya menghatur salam hormati........."
Nurseta sudah menjatuhkan diri berdiri di depan mereka dan menyembah.
Bagaimanapun juga, hati pemuda ini diliputi keharuan.
Kedua orang itu telah nampak tua.
Panembahan Sidik Danasura memang telah berusia kurang lebih delapanpuluh tahun, sedangkan Ki Baka sendiri juga sudah tujuhpuluh tahun usianya.
"Jagad Dewa Bathara...... kulup Nurseta, akhirnya kau datang juga. Ayahmu dan aku seringkali bertanya-tanya dalam hati, apa yang telah terjadi denganmu maka selama bertahun-tahun kau tidak pernah pulang"
"Benar sekali ucapan Paman Panembahan, Raden. Ke mana saja kau pergi dan apa yang telah terjadi?"
Tanya Ki Baka.
Nurseta lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa ketika dia mencari Wulansari untuk meminta kembali tombak pusaka, dia diserang oleh Ki Cucut Kalasekti sehingga jatuh terjungkal ke bawah tebing curam dan betapa dia bertemu dengan ibu kandung Wulansari.
Semua dia ceritakan dengan jelas sampai pertemuannya terakhir dengan keluarga atau ayah bunda Wulansari di mana dia mendapat keterangan bahwa ibu kandungnya adalah Ni Dedeh Sawitri.
"Jagad Dewa Bathara........"
Ki Baka berseru dengan terkejut bukan main sedangkan Panembahan Sidik Danasura hanya mengelus jenggotnya sambil tersenyum.
"Ni Dedeh Sawitri.......? Ah, aku hanya pernah mendengar bahwa ia menjadi selir seorang pangeran di Daha, akan tetapi sama sekali tidak mengira bahwa kau adalah puteranya"
"Inilah hal yang menghancurkan perasaanku dan membuat hatiku menjadi bimbang sekali, ayah....."
Nurseta mengeluh.
"Hemm, kulup Raden Nurseta, mengapa terluka? Mengapa bimbang? Bukan kehendakmu dilahirkan di dunia ini, dari ibu yang manapun juga"
Tiba-tiba Panembahan Sidik Danasura berkata dan ucapan ini sungguh mengejutkan dan menyadarkan Nurseta sehingga sertamerta diapun menyembah.
"Maafkan saya, Eyang. Saya sesat dan keliru, dan terima kasih atas peringatan Eyang"
Dengan suara ringan karena beban batin itu telah lenyap seketika oleh ucapan sang panembahan, Nurseta melanjutkan ceritanya sampai pertemuannya dengan Pertiwi. Di sini dia menarik napas panjang.
"Mohon nasihat Eyang dan Ayah, apa yang harus saya lakukan sekarang? Diajeng Pertiwi agaknya sudah tidak mau lagi menjadi isteri saya, dan terus terang saja, sayapun sejak dahulu tidak ada rasa cinta kepadanya. Cinta saya hanya terhadap diajeng Wulansari, akan tetapi dengan iapun agaknya tidak berjodoh, apa lagi ayah bundanya kini tidak setuju"
Ki Baka menarik napas panjang.
"Sekarang akupun menyadari bahwa jodoh ditentukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa, anakku. Kalau nini Pertiwi memang tidak menghendaki perjodoban itu dilanjutkan, sudahlah. Akan tetapi satu hal perlu kau ketahui, yaitu dalam peristiwa yang menimpa dirinya, jangan sekali-kali menyalahkan Nini Pertiwi "
Nurseta mengangkat muka menatap wajah ayah angkatnya.
"Akan tetapi, Ayah, menurut keterangan diajeng Pertiwi sendiri, ia........ ia telah....... menyerahkan dirinya kepada pria lain. Ia telah...... melanggar susila, tidak setia terhadap pertunangan kami "
Ki Baka tersenyum.
"Agaknya nini Pertiwi memang terlalu menyalahkan diri sendiri, atau hal itu dilakukannya agar mendapat alasan bagimu untuk memisahkan diri dan memutuskan ikatan. Sesungguhnya, ia menjadi korban kekejian seorang yang amat jahat, anakku. Apakah ia tidak menceritakan siapa yang telah........ menodainya"
Nurseta menggeleng kepala. Tadinya dia memang sama sekali tidak ingin mengetahui, Pria mana yang telah menerima penyerahan diri tunangannya itu.
"Dia adalah Gagak Wulung"
"Ahh...,......"
Nurseta terkejut bukan main, matanya terbelalak lebar dan mukanya berubah merah.
"Apa...... apa yang sesungguhnya telah terjadi, Ayah? Bagaimana tokoh sesat yang keji itu dapat menjadi pria yang dipilih diajeng Pertiwi?"
"Bukan dipilih, anakku. Pada pagi hari itu, setelah engkau berahgkat, Gagak Wulung mempergunakan sihir, memikat dan membawa pergi Pertiwi dan dengan ilmu hitamnya, dengan guna-guna dan pengasihan, dia berhasil membuat nini Pertiwi tidak berdaya. Kalau tidak ada aku, tentu ayah nini Pertiwi sudah dibunuh pula oleh penjahat itu"
Ki Baka lalu menceritakan apa yang telah terjadi. (Lanjut ke
Jilid 17) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Mendengar ini, Nurseta mengepal tinju.
"Ayah, aku akan pergi lagi. Akan kucari Gagak Wulung sampai dapat, akan kuhancurkan dia. Dan akupun akan pergi mencari Ki Cucut Kalasekti, akan kupaksa dia menyerahkan kembali Ki Ageng Tejanirmala"
"Nanti dulu, Raden. Harap jangan terburu nafsu dan tanyakanlah dulu kepada Eyangmu, karena segala hal yang dilakukan tergesa-gesa dan didorong oleh nafsu amarah dan dendam, sungguh tidak baik akibatnya"
"Eyang, mohon petunjuk"
Kata Nurseta.
"Sadhu, sadhu, sadhu........."
Panembahan Sidik Danasura yang sejak tadi diam mendengarkan saja, kini mengangkat kedua tangan ke depan daseperti berdoa.
"Benar apa yang dikatakan ayahmu Baka, kulup. Apa yang terjadipun terjadilah, tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang mampu merobah apa yang telah dan sedang terjadi, sedangkan apa varg akan terjadi tidak terlepas daii pada perbuatan kita sekarang. Jangan mencoba menjadi hakim mewakili kekuasaan Sang Hyang Pamungkas, angger, Perbuatan yang didorong dendapi merupakan perbuatan jahat pula. Orang berdosa akan menerima hukumannya sendiri, entah dari mana datangnya"
"Terima kasih. Eyang, Kalau begitu, saya tidak akan pergi dan sengaja mencari Gagak Wulung, akan tetapi saya akan pergi untuk merampas kembali tombak pusaka...."
"Kukira belum waktunya, angger. Agaknya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa bahwa tombak pusaka itu masih belum kembali ke tangan yang berhak. Waktunya belum tiba. Akan terjadi perubahan besar sekali di tanah air kita, pergolakam yang bukan main hebatnya. Nampaknya satu hal yang terjadi amat merugikan, namun sesungguhnya tidak,"
Karena segala peristiwa mengandung hikmah.
Yang nampak merugikan mungkin hanya merupakan jalan untuk mendatangkan keuntungan, yang nampaknya buruk menyembunyikan sesuatu yang amat baik.
Bakankan jamu itu pahit sekali namun mengandung manfaat yang amat besar?
Karena itu, kalau kau dapat menerima nasihatku, tunggulah di sini dan memperdalam llmu agar kelak, di saatnya yang tepat, dapat kau pergunakan untuk nusa dan bangsa"
"Eyang, mohon tanya, apa artinva semua yang Eyang gambarkan tadi? Apa yang akan terjadi di tanah air kita?"
Nurseta bertanya, merasa betapa tengkuknva meremang, kakek itu seperti sadar dari keadaan termenung dan dia memandang wajah pemuda itu, tersenyum.
"Aku ini manusia biasa, tanpa kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih tidak akan mampu berbuat sesuatu. Oleh karena itu, bagimana aku berani membuka rahasiaNya? Sadhu, sadhu, sadhu"
Setelah berkata demikian, kakek itu duduk bersila, diam tak bargerak dan kedua matanya terpejam.
Melihat ini, Ki Baka lalu menyentuh lengah Nurseta dan diajaknya pemuda itu berjalan jalan di tepi laut kidul yang sedang bergelora.
"Patuhi saja nasihat Eyangmu, Raden. Yang penting, engkau memperdalam llmu di sini agar kelak dapat kaupergunakan untuk membela nusa bangsa. Ingat, sejengkal tanah sepercik darah. Agaknya akan terjadi peristiwa hebai mengenai Singosari dan kelak harus kau pertahankan tiap jengkal tanah dengan tiap percik darah kalau perlu. Mungkin sekali pergolakan yang digambarkan oleh Paman Panembahan ada hubungannya pula dengan lenyapnya tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala. Juga, engkau baru saja pulang setelah pergi selama lima tahun. Engkau baru saja mengalami guncangan lahir batin, perlu menenteramkan batin di sini, angger. Taatilah petunjuk Eyangmu. Kalau saatnya tiba, tentu Eyangmu akan inemberi petunjuk pula. Sebagai seorang satria, tentu saja engkau tidak boleh tinggal diam, siap untuk mempertahankan setiap jengkal tanah air dengan setiap percik darahmu"
"Baiklah, Ayah. Saya akan mentaati semua petunjuk Eyang dan Ayah"
Kata pemuda itu dengan patuh.
Bagaimanapun juga, dia memang baru saja mengalami guncangan batin yang hebat, yaitu persoalannya dengan Wulansari, kemudian dengan Pertiwi, lalu kenyataan tentang ibu kandungnya, tentang Gagak Wulung yang menodai tunangannya.
Kalau menuruti nafsu, tentu dia ingin sekali menghadapi semua itu dengan kekerasan, ingin dia menghancurkan Gagak Wulung, ingin dia menjumpai Ni Dedeh Sawitri yang ternyata ibu kandungnya entah apa yang akan dilakukannya kalau ia berhadapan dengan wanita itu.
Ingin dia merampas kembali tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Ingin pula minta keputusan Wulansari tentang cinta kasih mereka, dan ingin pula dia menjumpai Pertiwi dan minta maaf karena ternyata gadis itu tidak berdosa seperti yang semula diduganya.
Akan tetapi, kalau dia menurutkan semua keinginan itu, batinnya akan semakin kacau.
Dia membutuhkan ketenteraman, ketenangan dan agaknya Panembahan Sidik Danasura merasa perlu agar dia memperdalam ilmu ilmunya, mungkin.
untuk menghadapi peristiwa besar yang agaknya akan terjadi di tanah airnya.
"Maafkan"
Saya, kanjeng rama.
Bukan maksud saya hendak membantah pendapat paduka.
Akan tetapi, bukankah pekerjaan menentang Kerajaan Singosari itu amat berbahaya?
Hendaknya paduka ingat bahwa di sana masih terdapat orang-orang terkemuka, senopati-senopati yang digdaya seperti misalnya Senopati Nambi, Lembu Sora, Lembu Pereng, Medang Dangdi, Gajah Pagon dan yang lain-lain.
Saya khawatir, kanjeng rama, bahwa usaha itu akan menemui kegagalan"
Demikianlah Wirondaya memperingatkan"
Ayahnya, yaitu Arya Wiraraja yang juga dikenai sebagai Banyak Wide, bupati di Sumenep, Madura.
Wirondaya, putera sang bupati itu, adalah seorang pria berusia kurang lebih tigapuluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan berkulit hitam manis, sepasang matanya mengandung kecerdikan seperti mata ayahnya.
Adapun Sang Bupati Wiraraja memang terkenal akan kecerdikannya.
Bupati ini berusia kurang lebih limapuluh lima tahun.
Tadinya Bupati Arya Wiraraja adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Singosari.
Akan tetapi, semenjak Sang Prabu Kertanagara menjadi Raja dan melakukan peremajaan di antara para pejabat tinggi, menggantikan tenaga tua dengan tenaga muda sehingga banyak pembantu setia menjadi sakit hati, maka Arya Wiraraja juga diam-diam menaruh dendam kepada sang raja.
Dia menganggap bahwa Sang Prabu Kertanagara tidak patut menjadi raja, dan dia menginginkan agar Sang Prabu Kertanagara jatuh dan kedudukannya diganti oleh orang yang selama ini dikaguminya dan dicalonkannya untuk menjadi raja baru, yaitu Sang Pangeran Wijaya.
Kesempatan dia nanti-nantikan dan sekarang, dia melihat betapa Sang Prabu Kertanagara yang ambisius itu mengirim balatentaranya ke mana mana untuk menundukkan raja raja yang tidak mau menakluk kepada kekuasaan Singosari.
Banyak hal yang tidak disetujui oleh Arya Wiraraja telah dilakukan oleh Sang Prabu Kertanagara.
Pertama-tama diturunkannya pangkat dan kedudukan patih yang setia dan tua, yaitu Empu Raganata yang dilorot menjadi Jaksa di Tumapel, dan diturunkannya pula pangkat Tumenggung Wirakerti yang tua menjadi Mantri Angabaya, bahkan Pujangga Santasmerti yang bijaksana mengundurkan diri dan menjadi pertapa dari pada mengalami penurunan pangkat yang dianggap penghinaan dan melupakan budi dan jasa.
Yang ke dua adalah pengiriman balatentara besar besaran ke Negeri Malayu yang disebut Pamalayu sehingga pengiriman itu sama dengan pengosongan kekuatan dalam negeri yang membahayakan keadaan dan keselamatan negeri sendiri.
Ke tiga adalah penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan sehingga makin melemahkan keadaan dalam negeri, penyerbuan ke Bali dan ke Pasundan.
Bahkan Sang Prabu Kertanagara begitu sembrononya untuk menghina dan mengusir utusan dari Kulai Khan, Raja Tartar yang amat terkenal kekuatannya dari utara itu.
Masih belum puas dengan ambisinya, sang prabu juga mengirim pasukan untuk menyerang ke Kalimantan.
Pengosongan demi pengosongan dalam kerajaan dari pasukan-pasukan pilihan ini membuka kesempatan bagi Arya Wiraraja.
Maka, pada pagi hari itu, dia memanggil puteranya, yaitu Wirondaya, diajak berbincang-bincang mengenai niat hatinya untuk menjatuhkan Sang Prabu Kertanagara, Namun Bupati Sumenep ini memang cerdik sekali, Biarpun di dalam Kerajaan Singosari kini kekurangan pasukan, namun dia sendiri masih tidak berani untuk melakukan peraberontakan.
Tidak, dia tidak sebodoh itu.
Dia tidak akan turun tangan sendiri, melainkan hendak meminjam lain tangan, yaitu Sang Prabu Jayakatwang, raja di Kediri yang dia tabu amat mendendam kepada Kerajaan Singosari, Dia sendiri juga merasa sakit hati karena diangkatnya dia menjadi Bupati Sumenep dianggapnya juga merupakan penurunan pangkat atau semacam penyingkiran agar dia berada jauh dari kerajaan.
"Sekali lagi saya mohon kanjeng rama ingat bahwa di. Sana terdapat pula saudara-saudara saya yang amat sakti mandraguna seperti Seperti senopati Nambi, Senopati Ronggolawe......"
"Cukup, puteraku. Mengagungkan kekuatan musuh berarti melemahkan semangat sendiri. Ketahuilah bahwa aku sama sekali tidak memusuhi kerajaan tidak niemusuhi para senopati yang menjadi rekan-rekan, bahkan anak-anakku. Yang kutentang hanyalah Sang Prabu Kertanagara yang tidak bi jaksana. Dia harus dilorot dari singasana dan sudah sepatutnya singasari diduduki orang yang lebih tepat menjadi raja, seperti misalnya Pangeran Wijaya. Bupati Arya Wiraraja mengemukakan alasan-alasan yang tepat, sehingga akhirnya Raden Wirondaya, puteranya? dapat melihat alasan itu dan membenarkan keinginan ayahnya. Diapun tidak membantah lagi ketika ayahnya mengakibatkan dia sebagai seorang utusan untuk menyerahkan sepucuk 'surat dari ayahnya yang ditujukan kepada Sang Prabu Jayakatwang di Kediri. Memang telah lama terdapat hubungan baik antara Bupati Sumenep ini dengan Raja Kediri. Keduanya memiliki dedam terhadap Sang Prabu Kertanagara. Apa lagi Raja Kediri ini, mengingat betapa Kerajaan Kediri yang tadinya merupakan kerajaan besar dan berkuasa, dikalahkan dan ditundukkan oleh Ken Arok raja pertama dari Singosari. Biarpun Raja Singosaro kemudian membiarkan keturunan raja-raja Kediri untuk melanjutkan pemerintahan mereka dan membiarkan Kerajaan Kediri tetap berdiri, namun selama itu Kerajaan Kediri menjadi negara taklukan dan hal ini dianggap amat merendahkan martabat Kediri. Seringkali terjadi perundingan antara Arya Wiraraja dan Sang Prabu Jayakatwang, dan tanpa sungkan lagi, Sang Prabu Jayakatwang menyatakan kebenciannya terhadap Kerajaan Singosari dan menyatakan niatnya untuk sewaktu-waktu menggempur kerajaan yang dianggap musuh besar itu. Adanya kenyataan bahwa puteranya, yaitu Raden Ardaraja, telah menjadi mantu Sang Prabu Kertanagara, tidak mengurangi kebenciannya terhadap Kerajaan Singosari. Justru pernikahan antara puteranya dan seorang puteri Singosari membuktikan kelemahannya karena dia tidak berani mencoba untuk berbesan dengan Raja Singosari. Setelah menerima petunjuk dan juga sepucuk surat dari ayahnya, barangkatlah Raden Wirondaya menuju ke Kediri. Kedatangannya di istana Sang Prabu Jayakatwang mendapat sanbutan meriah oleh Raja Kediri sendiri dan diapun dipersilakan masuk ke ruangan dalam dan diterima sebagai seorang tamu agung oleh Sang Prabu Jayakatwang. Pida saat menerima kunjungan Wirondaya sebagai putera dan utusan Arya Wiraraja, Sang Prabu Jayakatwang dihadap oleh Ki Patih Mundarang, para Senopati Jaran Guyang, Bango Dolog, Prutung, Pencok Sahang, Liking Kangkung, Kampanis dan beberapa orang senopati lain yang dipercaya. Raden Wirondaya mengenal mereka semua dan maklum bahwa mereka adalah para ponggawa yang setia dan dipercaya. Oleh karena itu, tanpa ragu lagi diapun menghaturkan sembah kepada Sang Praba Jayakatwang disusul dengan penyerahan sepucuk surat dari ayahnya kepada raja itu. Sang Prabu Jayakatwang menerima surat dari sahabatnya itu dengan gembira dan langsung dia membaca surat itu. Sementara itu, Wirondaya beberapa kali melirik ke arah seorang di antara penghadap Sang Prabu Jayakatwang dan beberapa kali alisnya berkerut. Ponggawa itu belum pernah dilihatnya, agaknya seorang kepercayaan yang baru, Akan tetapi ponggawa ini seorang wanita. Seorang wanita muda yang amat cantik jelita dan sikapnya gagah perkasa. Gadis itu tidak duduk bersila di depan Sang Prabu Jayakatwang seperti para senopati, juga tidak duduk di samping raja itu seperti kebiasaan para selir dan dayang, melainkan berdiri tegak di belakang Sang Prabu Jayakatwang dengan sikap gagah. Lagaknya seperti seorang pengawal pribadi, akan tetapi kalau benar pengawal kenapa seorang wanita? Diam-diam putera Arya Wiraraja ini melirik sambil memperhatikan gadis itu. Ia seorang gadis yang cantik manis, berkuiit kuning mulus, sepasang matanya mencorong seperti bintang, hidungnya kecil mancung. Mulutnya amat menggairahkan, dengan bibir yang merah basah tanpa pemerah, dihias lesung pipit di kanan kiri kalau mulut itu menyungging senyum, dan di atas dahi yang halus bagaikan lilin itu tumbuh sinom yang halus. Bentuk tubuh yang tertutup pakaian yang indah dan ringkas itu menambah daya tariknya. Sesosok tubuh yang padat, ranum, membayangkan kelembutan, kehangatan, namun juga kekuatan tersembunyi. Diam-diam Raden Wirondaya bertanya-tanya di dalam hatinya, siapa gerangan gadis ini dan apa kedudukannya di Kediri? Gadis itu memang benar seorang pengawal-Pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatwang yang dipercaya sekali. Namanya adalah. Wulansari dan biarpun, ia seorang gadis berusia duapuluh empat tahun yang cantik manis, namun dibalik sifat yangmenggairahkan hati setiap orang pria itu, tersembunyi kedigdayaan yang akan membuat setiap orang laki-laki menjadi gentar, Ia adalah murid seorang yang sakti mandraguna, yaitu Ki Cucut Kalasekti yang telah dianugerahi pangkat Adipati Satyanegara dan berkuasa di Bendowinangun karena jasa-jasanya. Bahkan bagi Sang Prabu Jayakatwang sendiri, Wulansari bukan hanya dipandang sebagai seorang pengawal pribadi, bahkan juga seorang wanita yang menggairahkan dan pernah Raja Kediri ini ingin mempersuntingnya sebagai seorang selir. Namun, Wulansari menolak dengan halus walaupun ia akhirnya menjadi seorang pengawal pribadi yang boleh dipercaya. Suasana dalam balairung itu sunyi sepi ketika Sang Prabu Jayakatwang membaca surat yang baru saja diterimanya dari Wirondaya itu. Agaknya penting sekali surat itu karena dia membacanya dengan serius, sepasang matanya tidak pernah berkedip, bahkan diulang bacanya surat itu sekali lagi.
"Bagus, bagus ! Kami gembira sekali menerima surat ayahmu, Wirondaya, dan kami merasa setuju sekali. Terima kasih atas petunjuk ayahmu kepada kami !"
Lalu dia menoleh kepada Ki Patih Mundarang yang usianya sudah mendekati enampuluh tahun itu.
"Kakang Patih Mundarang, surat dari Arya Wiraraja ini penting sekali diketahui oleh semua ponggawa. Bacalah keras-keras agar didengar oleh semua senopati, setelah itu baru kita akan merundingkannya"
Baca Juga: Pedang Pusaka Thian Hong Kiam 3
Baca Juga: Naga Beracun 2