Eps 10 Pedang Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Asmara - Kho Ping Hoo.
la ingin membawa ilmu-ilmunya mati bersamanya!
Sebagai seorang yang selama belasan tahun bertualang di dunia persilatan, ia tentu saja mempunyai banyak musuh, oleh karena itu ia memilih lereng bukit itu yang dipasangi banyak rahasia, perangkap dan racun-racun mematikan.
Masih ditambah pula dengan ketelitian para pembantunya menjaga keamanan tempat tinggal itu.
Maka, kiranya memasuki rumah Pek-mo Kui-bo ini lebih sukar daripada menyusup ke dalam benteng yang terjaga ketat.
Lebih berbahaya.
Salah langkah sedikit saja, orang akan dapat tewas secara mengerikan karena racun!
Penjagaan ketat ini pula yang membuat Pek-mo Kui-bo tahu akan kedatangan Kui Lan dan Tiong Sin pada saat dua orang muda itu mendaki lereng bukit.
Akan tetapi ketika ia mengetahui bahwa yang datang adalah Kui Lan, puteri suhengnya, ia pun siap menanti di ruangan tamu.
Ia mengenal Kui Lan, bahkan menyayang murid keponakan itu karena watak Kui Lan mirip ayahnya, mirip suheng dan bekas kekasihnya.
Dan ia tahu bahwa Pak Ong Ji Hiat telah menjadi duda.
isterinya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Diam-diam Pak-mo Kui-bo yang masih mencinta Pak Ong mengharapkan suhengnya itu mau tinggal bersamanya, menghabiskan sisa usia tua di rumah itu dengan tenang dan bahagia.
Akan tetapi Pak Ong selalu menolak, maklum akan watak sumoinja yang selalu tidak mau kalah.
Dia lebih senang tinggal di utara, menjadi Datuk Besar Utara, sesuai dengan julukannya Pak Ong (Raja Utara).
Ketika terjadi pergolakan di utara karena pergerakan orang Mongol, Pek-mo Kui-bo yang mengenal watak suhengnya yang pasti tidak sudi tunduk kepada orang Mongol, mengharapkan suheng itu akan suka mengungsi dan tinggal di rumahnya di mana mereka akan menjalin lagi hubungan mereka yang terputus belasan atau bahkan dua puluh tiga puluh tahun yang lalu!
Dan kini Kui Lan datang kepadanya!
Adakah narapan ayah anak itu akan suka datang mengungsi dan tinggal di rumahnya?
Akan ada suatu kepuasan lain kalau sampai suhengnya itu mau tinggal di rumahnya.
Hal itu berarti suatu macam kemenangan baginya!
Runtuhlah keangkuhan suhengnya ia akan dapat berkuasa dalam sikap terhadap suhengnya yang juga sama keras kepalanya seperti ia sendiri!
Maka, ia menyambut kedatangan murid keponakannya itu dengan senyum ramah, membuat wajahnya nampak sermakin cantik dan Tiong Sin memandang dengan kagum.
"Kiranya engkau, Kui Lan? Masuklah, anak manis!"
Katanya menyambut dengan ramah dan ketika senyumnya melebar, Tiong Sin melihat betapa gigi wanita itu masih rapi dan putih.
Kui Lan memasuki ruangan itu dan menjatuhkan diri berlutut memberi hormat, diikuti pula oleh Tiong Sin.
"Sukouw, teecu Bu Tiong Sin rnenghaturkan hormat."
Katanya.
Mendengar pemuda tampan itu menyebut bibi guru kepadanya, Pek-mo Kui bo mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mencorong tajam ketika ia menatap wajah pemuda yang datang bersama murid keponakannya itu.
"Hemmm, Kui Lan, siapa pemuda ini?"
"Dia Bu Tiong Sin, murid ayah yang baru, Sukouw."
Sejenak pandang mata Pek-mo Kui bo menjelajahi wajah dan seluruh tubuh pemuda itu.
Matanya yang berpengalaman dapat menangkap sifat pemuda itu yang tidak dapat diketahui orang biasa.
Dia tahu bahwa pemuda itu adalah seorang yang suka mengumbar nafsu berahinya seorang pemuda yang romantis dan memiliki bentuk tubuh yang menggairahkan.
"Murid ayahmu? Hemmm, agaknya ayahmu belum puas mempunyai murid anaknya sendiri. Kalian bangkitlah dan duduk di bangku-bangku itu."
Katanya tetap ramah karena ia masih mengharapkan bahwa kedatangan dua orang muda itu sebagai utusan Pak Ong yang ingin mengungsi ke rumahnya.
"Terima kasih, Sukouw."
Dua orang muda itu berkata lalu bangkit dan mengambil tempat duduk di atas bangku merah, berhadapan dengan wanita berambut putih itu.
"Kui Lan, ada kepentingan apakah ayahmu menyuruh engkau dan muridnya datang menghadapku tanpa kuundang?"
Keangkuhannya sudah muncul kembali mengusir keramahannya tadi dan selain suaranya terdengar dingin, juga senyumnya menghilang dari wajahnya yang cantik.
Diam-diam Tiong Sin menjadi gentar.
Wanita ini sungguh berwibawa dan menyeramkan, walaupun kecantikannya sempat membangkitkan gairahnya.
"Su-kouw, ayah mengirim salam untukmu dan mengharapkan Sukouw dalam keadaan sehat dan gembira selalu."
Sepasang bibir yang masih merah itu agak cemberut.
"Katakan kepada ayahmu bahwa aku selamanya sehat dan gembira, jauh lebih gembira daripada ayahmu yang sekarang aku kira sedang pusing memikirkan penyerbuan orang-orang Mongol ke selatan!"
Kui Lan mengangguk-angguk.
Gadis ini pernah mendengar pengakuan ayahnya bahwa di antara ayahnya dan bibi gurunya ini dahulu pernah terjalin cinta kasih yang mendalam dan mereka berpisah karena ayahnya menikah dengan ibunya.
"Memang benar, Su-kouw. Ayah sedang bingung dan marah melihat bangsa biadab itu menyerbu ke selatan dengan kekuatan yang amat besar. Karena ayah tidak sudi bekerja sama dengan orang-orang Mongol, terpaksa ayah meninggalkan segalanya di utara dan mengungsi ke selatan....."
"Kenapa ayahmu tidak 1angsung saja ke sini?"
Pek-mo Kui-bo memotong.
"Tidak, Su-kouw, ayah mengungsi ke kota Shu-nyi dan sekarang kami tinggal di sana."
"Hemmm, dan kini dia menyuruh kalian ke sini untuk minta persetujuanku agar dia boleh tinggal di sini? "
Pertanyaan ini penuh harap. Kui Lan menggeleng kepalanya dan wajah Pek-mo Kui-bo menjadi muram lagi.
"Tidak, Sukouw. Ayah mengutus kami berdua datang ke sini menghadap Sukouw untuk mohon kemurahan hati Su-kouw, agar Sukouw suka mengajarkan satu dua macam ilmu pukulan ampuh kepada kami berdua....."
"Huh! Mengapa aku mesti mengajarkan ilmuku kepada kalian?"
Tanya Pek mo Kui-bo dengan wajah dingin dan mata tajam penuh selidik mengamati wajah Kui Lan.
"Apakah ayahmu masih kurang lihai? Kalian bukan muridku, bagaimana kalian minta belajar ilmu dariku?"
"Su-kouw, tidak sampai setahun lagi. Empat Datuk Besar akan mengadakan pertemuan di puncak Kabut Putih di Thai-san, di mana seperti biasa, selain Empat Datuk Besar mengadu ilmu untuk menentukan siapa Datuk Nomor Satu di antara mereka, juga masing-masing mengangkat seorang murid sebagai wakil. Empat orang wakil masing-masing ini yang akan mengadu ilmu melalui perkelahian atau pertandingan. Oleh karena Su-kouw memiliki ilmu-ilmu ampuh, pukulan-pukulan beracun, maka ayah menyuruh kami untuk menghadap Su-kouw dan mohon kemurahan hati Su-kouw untuk mengajarkan kepada kami agar kami kelak dapat memenangkan pertandingan itu."
Wanita itu mengerutkan alisnya, mukanya semakin muram dan mulutnya semakin cemberut.
"Kui Lan, engkau dengar baik-baik dan sampaikan kepada ayahmu. Ada dua hal yang membuat aku terpaksa harus menolak permintaan ayahmu untuk mengajarkan ilmu kepada kalian. Pertama, aku tidak ingin mengambi murid dan tidak ingin mengajarkan ilmu ilmuku kepada siapapun juga. Ke dua aku tidak ingin mencampuri urusan ayah mu yang seperti kanak-kanak itu, bersaing dengan para datuk lain. Nah, jelas bukan? Kalian boleh bermalam di sini semalam dan besok pagi, sebelum mata hari timbul, kalian harus sudah meninggalkan tempat ini. Mengerti?"
Kui Lan juga berwatak keras dan aneh seperti ayahnya.
Kalau saja yang bersikap seangkuh itu bukan bibi gurunya tentu ia sudah menyerang untuk membunuhnya.
Mukanya sudah berubah merah sekali dan matanya bersinar-sinar.
Melihat ini.
Tiong Sin yang cerdik mendahului sumoinya, memberi hormat kepada wanita berambut putih itu.
"Terima kasih atas kebaikan Su-kouw. teecu hendak menyampaikan pesan Sukouw kepada suhu. Sumoi, marilah kita mengaso. Kita telah lelah sekali melakukan perjalanan jauh."
Pek-mo Kui-bo bertepuk tangan tiga kali dan seorang pelayan wanita muncul.
"Tunjukkan dua buah kamar untuk dua orang murid keponakanku ini. Mereka bermalam di sini dan besok pagi-pagi antar mereka keluar. Layani mereka dengan baik!"
Pelayan itu memberi hormat.
Kui Lan cemberut dan tanpa bicara lagi, dengan sikap marah, ia meninggalkan ruangan itu mengikuti si pelayan.
Akan tetapi Tiong Sin memberi hormat dengan berlutut kepada Pek-mo Kui-bo.
Wanita ini memandang kepadanya dengan alis berkerut, merasa heran bagaimana suhengnya dapat mempunyai seorang murid yang sikapnya demikian sopan!
Lalu ia memberi isyarat dengan tangan agar Tiong Sin keluar dari ruangan itu.
Tiong Sin hendak menempati sebuah kamar lain, akan tetapi Kui Lan dengan sikap tidak peduli menariknya masuk kedalam kamarnya.
"Kami menggunakan sebuah kamar saja!"
Katanya kepada pelayan wanita yang hanya mengangguk dan wajahnya tidak memperlihatkan keheranan sedikit pun.
Setelah melempar buntelan pakaian di atas meja, Kui Lan duduk di atas pembaringan dan mengomel panjang pendek "Dasar orang tua bawel, pelit!
Jauh-jauh kita datang dan ia sama sekali tidak mau mengajarkan apa-apa!
Sialan!"
Tiong Sin melirik ke arah sumoi yang menjadi kekasihnya pula itu. Sumoi, tenanglah. Aku ingin kepastian darimu apakah perlu benar kita mempelajari ilmu silat dari su-kouw!"
"Tentu saja!"
Kui Lan bersungut-sungut "Kita membutuhkan ilmu-ilmu pukulan beracun dari su-kouw untuk mengimbangi ilmu pukulan beracun dari Nam Tok.
Hanya su-kouw yang mampu menandingi Nam Tok dalam hal penggunaan racun!"
"Sesudah ia menolaknya, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Apa lagi? Kita tidak mungkin dapat memaksa su-kouw, juga merengek dan memohon percuma. Hati su-kouw sekeras baja, sekali bilang tidak, sampai mati pun tidak. Tidak ada jalan lain kecuali pulang dan melaporkan penolakan ini kepada ayah. Mudah-mudahan ayah marah dan menghajarnya!"
"Kalau begitu, penting sekali bagi kita untuk belajar ilmu dari su-kouw?"
"Kenapa engkau begini bodoh, Suheng?"
Kui Lan semakin mendongkol.
"Masih perlu kau tanyakan lagi itu?"
"Memaksa tidak mungkin, memohon juga percuma. Lalu bagaimana caranya? Kurasa hanya ada satu cara, Sumoi."
Gadis itu memandang kekasihnya dengan sinar mata penuh selidik, juga penuh harapan.
"Ada satu cara? Apa itu, Suheng?"
"Merayunya!"
"Hemmm, sudah kukatakan hatinya sekeras baja, memohon tidak ada gunanya"
"Memohon dan merayu tidaklah sama Sumoi. Hati yang bagaimana keras pun dapat luluh oleh rayuan."
"Akan tetapi ia sudah tua, ia dingin dan, keras kepala!"
Tiong Sin menggeleng kepalanya dan tersenyum.
"Tidak, Sumoi. Aku seorang laki-laki maka aku lebih tahu daripada engkau dalam menilai seorang wanita Biarpun usianya sudah setengah abad akan tetapi ia masih kelihatan muda dan masih cantik, la pesolek, dan dari pandang matanya, dari gerak bibirnya aku tahu bahwa ia masih memilik gairah yang besar. Wanita seperti itu mudah dirayu, Sumoi."
"Jadi engkau hendak merayunya? "
Gadis itu bertanya.
"Kalau engkau memang menganggap bahwa penting sekali bagi kita untuk mempelajari ilmu silat darinya, dan tentu saja kalau engkau menyetujui siasat itu. Kalau tidak, tentu saja aku tidak berani........,"
Gadis itu mengerling ke arah Pedang Asmara yang masih bergantung di pinggang pemuda itu.
"Hemmm, kau mengandalkan pedang pusakamu itu?"
Tanyanya tersenyum. Tiong Sin mengangguk, menepuk-nepuk pedangnya dengan bangga. Kekasihnya itu, seperti juga gurunya, sudah tahu akan khasiat Pedang Asmara itu.
"Hemmm, terhadap diriku mungkin pedang itu manjur karena memang aku suka kepadamu. Akan tetapi sukouw.....?"
"Kita lihat saja nanti. Engkau setuju?"
Kui Lan masih tersenyum, dan mengangguk, lalu dari pembaringan di mana ia kini menelentangkan diri, kedua lengannya berkembang dan tangannya menggapai Suhengnya dengan gairah.
Akan tetapi sekali ini, tidak seperti biasanya, Tong Sin menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.
Lalu dia berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Sumoi, kalau memang engkau menyetujui siasat itu, biarkan aku bebas malam ini. Kalau aku sudah menghabiskan tenagaku denganmu di sini, bagaimana aku akan dapat melayaninya dengan baik? Siasat kita bisa gagal!"
"Eeemmm.....!"
Kui Lan menggeliat manja sambil cemberut akan tetapi bangkit duduk dan berkata.
"Baik, akan tetapi kalau engkau sampai gagal dan diancam bunuh oleh sukouw jangan kau bawa-bawa namaku!" (Lanjut ke
Jilid 27) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 Diam-diam Tiong Sin mendapat kenyataan lagi betapa licik dan kejamnya sumoinya yang telah menjadi kekasihnya ini.
Kalau mengingat akan watak sumoinya ini, diam-diam timbul penyesalannya karena dia dapat membayangkan betapa sengsara hatinya kelak kalau mempunyai seorang isteri seperti ini.
Sama sekali tidak setia, memikirkan kepentingannya sendiri saja dan tega melihat dia terancam bahkan merelakan kematiannya asal ia sendiri selamat!
Dia pun dapat melihat dengan jelas bahwa gadis ini menyerahkan tubuhnya kepadanya bukan karena cinta, melainkan karena berahi semata.
Dia dapat melihat ini karena sejak kecil dia telah menerima pendidikan dari Yeliu Cutay, sungguhpun hasil pendidikan itu tidak mampu menekan watak dasarnya yang memang buruk.
Hidup merupakan suatu masa di mana kita diuji.
Tuhan Yang Maha Kasih melimpahkan kasih sayang dengan berkah yang melimpah-limpah.
Setiap orang manusia, tidak peduli bangsa apa, kaya atau pun miskin, pintar atau pun bodoh, telah dilimpahi berkah sehingga setiap orang dapat menikmati segala apa yang terdapat di alam mayapada ini melalui panca indera dan perasaannya.
Bulan dan jutaan bintang di langit akan nampak tetap indah di mata siapa saja, baik di mata seorang raja maupun di mata seorang pengemis.
Bunga mawar akan tetap semerbak harum, baik bagi penciuman seorang pendeta maupun seorang penjahat yang penuh dosa.
Setiap orang manusia sudah sepatutnya merasa bahagia, bersyukur setiap saat akan berkah yang berlimpahan ini dan memuji nama Tuhan.
Setiap orang manusia sudah sepatutnya kembali kepada sumbernya, yaitu cinta kasih yang menguasai seluruh alam mayapada, membiarkan diri terbuka sehingga sinar cinta kasih akan memeranginya.
Kalau ada sinar cinta kasih di dalam dirinya lahir batin, maka segala macam tindakan yang dilakukannya sudah pasti benar.
Tanpa adanya sinar cinta kasih, yaitu kekuasaan Tuhan, maka apa pun yang kita lakukan hanya merupakan hasil daripada hati dan akal pikiran yang dibimbing oleh nafsu-nafsu.
Kalau sudah begini, panca indera kita menjadi tumpul dan hilang kepekaannya, menjadi seperti buta dan menurut saja dituntun oleh nafsu yang arahnya hanya satu, yaitu mengejar kesenangan.
Kalau sudah begitu malapetaka kehidupan berdatangan!
Setelah mendapatkan persetujuan Kui Lan, Tiong Sin lalu mempersiapkan diri.
Dia mandi membersihkan dirinya, mengharumkan badannya dengan minyak milik Kui lan , menyisir rambutnya, berganti pakaian bersih, kemudian dengan wajah berseri dia meninggalkan Kui Lan, pergi menuju ke kamar Pek-mo Kui-bo.
Tidak lupa dia membawa pedangnya, Pedang Asmara!
Berindap-indap dia menghampiri pintu kamar Pek-mo Kui-bo.
Dari Kui Lan dia sudah tahu di mana kamar itu, dan gadis itu pula yang menjamin bahwa dari kamar mereka menuju ke kamar sukouw mereka itu tidak ada ranjau atau perangkap yang menghalang.
"Ambil saja jalan lorong biasa, dan hampiri kamar melalui pintunya, jangan sekali-kali mencoba untuk masuk melalui genteng atau jendela karena di sanalah dipasangi alat perangkap. Ketuk saja daun pintunya seperti biasa dan setelah bertemu, terserah bagaimana engkau akan merayunya,"
Demikian pesan Kui Lan.
Bagaimanapun juga, setelah dia berdiri di depan pintu kamar itu, Tiong Sin merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan, dan kaki tangannya gemetar sungguh berbahaya permainannya sekali ini.
Sekali salah langkah, sekali gagal, nyawa taruhannya.
Kalau dia gagal merayu nenek cantik itu, tentu dia akan dibunuhnya dan tak mungkin dia dapat menyelamatkan diri dari tangan nenek beracun itu!
Akan tetapi dia percaya akan keampuhan Pedang Asmara.
Tidak mungkin gagal, pikirnya.
Pula, dia sudah melihat tanda-tanda pada diri Pek-mo Kui-bo bahwa nenek itu masih berhati muda, masih berdarah panas!
Tiong Sin menoleh ke kanan kiri.
Sunyi saja di sekeliling kamar itu.
Di depan pintu kamar yang tertutup itu terdapat ruangan duduk yang luas, di luar itu terdapat taman bunga, yaitu taman yang menembus kamar tamu.
Bau semerbak harum bunga-bunga yang sedang mekar menusuk hidungnya, agak menenteramkan hatinya yang terguncang karena tegang dan takut.
Dia menelan ludah beberapa kali, menenangkan hatinya dan mengetuk pintu kamar itu tiga kali, per lahan saja.
"Tok-tok-tok.....!"
Tidak ada jawaban. Dia menanti sampai beberapa menit. Dia mengulang lagi, disusul panggilan lirih.
"Tok-tok-tok.....! Su-kouw.....!"
Hening sejenak dan tiba-tiba terdengar suara yang lembut namun dingin berwibawa.
"Mau apa kau malam-malam begini mengetuk pintu kamarku?"
Tiong Sin terkejut bukan main karena jawaban itu bukan terdengar dari balik pintu kamar di depannya, melainkan terdengar dari belakangnya!
Cepat dia memutar tubuh dan ternyata Pek-mo Kui bo sudah berdiri di tengah ruangan duduk yang tadinya dia tahu benar kosong karena ruangan ini dilewatinya.
Wanita itu mengenakan pakaian tidur dari sutera tipis dan karena lampu gantung berada di belakangnya maka sinar lampu itu mencetak bentuk tubuhnya di dalam pakaian tidur yang tipis itu dan Tiong Sin kagum.
Nenek setengah abad ini benar benar masih memiliki tubuh yang denok!
Akan tetapi pemuda yang cerdik ini tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kekaguman.
Dia sudah cepat melangkah maju dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada, membungkuk akan tetapi tidak berlutut.
"Maafkan kalau saya mengganggu, Sukouw. Saya ingin bicara dengan Sukouw."
Sepasang alis yang ditambah dengan celak sehingga menjadi panjang melengkung hitam itu berkerut, dan sinar mata mencorong marah.
Kalau ia tidak ingat bahwa pemuda ini adalah murid suhengnya, tentu sudah dihantamnya roboh dan mungkin dibunuhnya pada saat itu juga.
"Bocah lancang! Engkau mau bicara apa. lagi?"
Berkata demikian, Pek-mo Kui-bo lalu duduk di atas kursi dan memandang wajah pemuda itu dengan sikap angkuh.
Tiong Sin merasa dirinya kecil sekali, akan tetapi dia sudah mengambil langkah pertama, harus disusul dengan langkah selanjutnya yang sudah direncanakan.
"Su-kouw, saya belum begitu lama menjadi murid suhu, oleh karena itu selain baru sekarang saya bertemu dengan Su-kouw, juga saya tidak tahu sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian Su-kouw."
Kerut alis itu semakin mendalam dan sepasang mata itu kini memandang penuh selidik, lebih heran daripada marah, heran melihat sikap pemuda itu demikian beraninya.
"Katakan saja apa maksud dan kehendakmu, tidak perlu bicara berputar-putar"
"Su-kouw menolak untuk mengajarkan Ilmu kepada kami dua orang murid keponakan Su-kouw. Hal ini membuat saya yang belum mengenal Su-kouw merasa heran sekali. Karena itu, saya ingin menemui Su-kouw dan bertanya, sesungguhnya sampai di mana kemampuan Sukouw? Apakah karena ilmu kepandaian Su-kouw tidak ada yang melebihi kepandaian suhu maka Su-kouw merasa malu untuk mengajarkan kepada kami? Ingin sekali saya mengetahui dan mengukur sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Su-kouw."
Wajah yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah.
Sinar mata itu pun berubah-ubah, kadang heran kadang marah bukan main.
Anak ini berani menantangnya!
"Bocah lancang!
Apakah nyawamu rangkap maka engkau berani lancang dengan mulutmu?
Engkau berani menantangku?"
Tiong Sin sudah membayangkan kemarahan ini, maka dia pun cepat memberi hormat kepada wanita itu.
"Sama sekali tidak, Sukouw. Apakah Sukouw lebih senang melihat saya diam-diam mengira Su-kouw tidak memiliki kepandaian tinggi untuk mengajar kami daripada melihat saya secara jujur menanyakan dan menguji Sukouw?"
"Bocah yang bosan hidup! Apakah engkau tidak tahu bahwa menantang aku berarti mati? Engkau akan mampus di tanganku!"
"Saya kita tidak, Sukouw. Sukouw tidak akan membunuh saya....."
"Keparat sombong! Kaukira aku takut membunuhmu karena engkau murid Pak Ong?"
"Bukan karena itu, Sukouw. Kalau Sukouw membunuh saya, tidak ada artinya sama sekali. Kalau Sukouw tidak mau memperlihatkan ilmu kepandaian Sukouw kepada saya, bagaimana saya bisa tahu bahwa Sukouw memang lihai sekali? Dan kalau Sukouw memperlihatkan kepandaian lalu membunuh saya, bagai mana pula, saya dapat mengabarkan bahwa Sukouw memang pandai dan sakti! Sukouw tahu, saya telah mewarisi ilmu golok Swat-sin-to dari suhu, yang saya mainkan dengan pedang saya. Di dunia ini, jarang yang mampu menandingi ilmu pedangku yang berdasarkan Swat-sin-to. Kalau Sukouw mampu mengalahkan ilmu pedang saya, barulah saya mengakui bahwa Sukouw memang sakti, dan saya tidak berani banyak bicara lagi."
Diam-diam Pek-mo Kui-bo tertegun.
Pemuda ini memang luar biasa, pikirnya.
Pemberani dan juga amat cerdik.
Jelas bahwa keinginannya untuk melihat ilmunya bukan terdorong oleh pandang rendah atau ingin menantangnya, melainkan ingin membuktikan kesaktiannya sehingga kalau pemuda itu dapat membanggakan kepandaian bibi gurunya kepada orang lain.
Dan bagaimanapun juga, tentu saja ia pun tidak ingin membunuh murid suhengnya, apalagi karena urusan yang amat kecil itu.
Dan pemuda ini memiliki wajah yang tampan, tubuh yang kuat, dan nyali besar, penuh keberanian sehingga diam-diam ia sudah merasa kagum dan suka.
Jarang menemukan pemuda yang sikapnya demikian berani, terhadap dirinya!
Wanita itu tersenyum mengejek.
"Huh-huh-huh, engkau membanggakan Swat sin-to dari gurumu? Orang lain boleh jadi gentar menghadapinya, akan tetapi aku tidak! Nah, coba kauperlihatkan ilmu itu dan engkau akan melihat betapa mudahnya aku mengalahkannya"
"Terima kasih sebelumnya atas petunjukmu Sukouw!"
Kata Tiong Sin dengan wajah girang.
Bukan kegirangan yang dibuat-buat lagi karena memang hatinya merasa girang melihat bahwa siasatnya berjalan dengan baik dan pancingannya mengena.
Dia lalu mundur ke tengah ruangan di depan kamar itu dan mencabut pedangnya.
Tadi sebelum berangkat, dia telah melumuri pedang pusaka itu dengan bubuk pupur yang dibasahi, sehingga kini pupur itu menutup Pedang Asmara.
Hal ini dia lakukan agal Pek-mo Kui-bo tidak segera mengenal pedang itu dan menjadi curiga.
"Su-kouw, harap suka mengeluarkah senjata. Sukouw, karena menghadapi pedang saya ini dengan tangan kosong saja sungguh terlalu berbahaya bagi Sukouw. Saya takut kalau-kalau pedangku akan melukaimu."
Ucapan ini pun merupakan bagian dari siasatnya dan benar seperti diharapkannya, wanita itu menjadi marah.
"Orang muda, demikian rendahkah engkau menilai diriku? Hemmm, biar engkau keluarkan semua kepandaianmu dan menggunakan seribu macam senjata, dengan kedua tangan kosong aku masih sanggup mengalahkanmu. Nah, kau majulah dengan pedangmu itu!"
Bentak Pek-mo Kui-bo dengan suara nyaring sehingga Tiong Sin khawatir kalau kalau suara sukouwnya itu akan memanggil datang para pelayan.
Siasatnya akan terganggu bahkan mungkin gagal kalau di situ terdapat orang lain, karena sukouwnya tentu akan menjadi malu.
Akan tetapi kekhawatirannya ini tidak berdasar.
Mana ada pelayan berani muncul di depan Pek-mo Kui-bo tanpa dipanggil?
"Saya.....
saya.....
tidak tega menyerang Sukouw yang bertangan kosong!
Khawatir pedangku...
akan melukaimu...!"
Katanya sambil menggerak-gerakkan pedangnya.
Hawa aneh yang tidak wajar dari pedang itu bertiup ke arah Pak mo Kui-bo dan wanita ini mengerut alisnya.
Kini matanya menatap wajah Tiong sin dengan heran.
Pemuda demikian tampan dan menarik!
Jantungnya mulai berdebar aneh.
"Bu Tiong sin, tidak usah banyak cakap. Maju dan seranglah! "
Katanya, akan tetapi kini suaranya tidak segalak tadi, bankan ketika ia bicara, ada senyum genit mengiringi kata-kata itu.
Tiong Sin merasa girang bukan main merasa seolah hasilnya sudah berada telapak tangannya.
"Sukouw, sambut seranganku!"
Katanya dan dia pun mulai memasang kuda kuda, dengan pinggul digoyang goyang dan sambil tersenyum, memasang diri setampan dan semenarik mungkin.
Pedangnya dia putar-putar di atas kepala lalu pedang itu meluncur dan mulailah dia menyerang wanita itu.
Pek mo Kui-bo terpesona.
Dalam pandang matanya, pemuda itu demikian tampan dan gagahnya, demikian menariknya.
Ia cepat mengelak membalas dengan tamparan dari samping.
Namun, ternyata pemuda itu pun bukan seorang lemah karena dengan mudah dia dapat mengelak dari tamparan itu dan menyerang lagi dengan pedangnya.
Pedang itu berkelebatan dan mengeluarkan angin menyambar-nyambar.
Memang ilmu pedang yang berdasarkan Swat-sin to itu merupakan ilmu yang dahsyat.
Bukan saja sangat cepat dan mengandung tenaga yang hebat, akan tetapi juga membawa hawa dingin.
Pek-mo Kui-bo semakin kagum.
Pemuda ini merupakan murid yang baik dari suhengnya.
Beberapa kali ia membalas dengan tamparan atau tendangan, namun pemuda itu dapat menghindarkan diri dengan baik, bahkan beberapa kali desakan pedang membuat wanita itu terpaksa harus mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk bergerak cepat sekali sehingga dapat lolos dari desakan pedang, la pun mulai merasa gembira, dan sungguh aneh sekali, makin lama, rasa suka dan gairah yang timbul di hatinya terhadap pemuda itu menjadi semakin menggelora.
Di samping mempergunakan siasat dengan bantuan pengaruh Pedang Asmara untuk merayu dan menjatuhkan hati wanita itu, juga diam diam Tiong Sin ingin menguji benar-benar sampai di mana kelihaian.
bibi guru yang diharapkan dapat mengajarkan beberapa macam ilmu yang dahsyat kepadanya itu.
Maka, kini dia pun menggerakkan pedangnya dengan pengerahan tenaga dan mengeluarkan semua ilmu kepandaiannya untuk menyerang dengan sungguh-sungguh.
Pedang Asmara berubah menjadi gulungan sinar terang kehijauan karena kini bedak yang melekat pada pedang itu sudah terbang semua dan nampaklah warna aseli pedang itu, warna kehijauan yang cerah sehingga ketika digerakkan dengan cepat, yang nampak hanya gulungan sinar kehijauan.
"Pedang Batu Dewa Hijau.....!!"
Kini Pek-mo Kui-bo mengenal pedang yang dibuat dari Batu Dewa Hijau itu.
Pada saat itu, Tiong Sin menusukkan pedangnya ke dada lawan.
Pek-mo Kui-bo memiringkan tubuh ke samping dan mengangkat lengan kiri.
Pedang itu meluncur di bawah ketiak kirinya dan ketika menurunkan lengan dengan cepatnya, maka ketiaknya telah mengempit dan menjepit pedang itu.
Tangannya juga sudah menangkap pergelangan tangan kanan Tiong Sin.
Pemuda itu merasa betapa lengannya seketika lumpuh dan kalau saat itu lawan merampas pedang, tentu dia tidak akan mampu mempertahankan lagi.
Akan tetapi dia sengaja tidak mau merampas, bahkan memuji lawan yang berdiri dekat sekali itu dan dengan pergelangan tangan kanannya masih ditangkap oleh tangan kiri Pek-mo Kui-bo.
"Sukouw..... engkau sungguh hebat..... engkau... lihai sekali dan amat cantik....."
Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi lalu meredup dan tangan kanan Pek mo Kui-bo tadinya bergerak terangkat hendak memukul, akan tetapi tidak jadi dan tangan itu bahkan kini memegang dahi sendiri, dan ia pun menjadi lemas terhuyung-huyung.
"Eh, Sukouw, engkau kenapakah..... Tiong Sin pura-pura berseru karena wanita itu melepaskan kempitan pada pedangnya, lalu terhuyung ke belakang. Tiong Sin cepat merangkul pundak wanita itu, dan gerakan ini membuat pedangnya yang masih terpegang menekan punggung dan muka mereka dekat sekali.
"Aku..... kepalaku pening..... ahhh....! "
Wanita itu tentu roboh kalau saja Tiong Sin tidak cepat merangkulnya!
Tentu saja Tiong Sin tidak merasa heran bahkan girang bukan main melihat bahwa siasatnya sudah berhasil, wanita itu telah dikuasai melalui pengaruh Pedang Asmara!
"Tiong Sin.....
bawa aku.....
ke kamarku....."
Tiong Sin lalu memondong tubuh sukouwnya itu dan membawanya ke kamar.
Dengan kakinya dia mendorong pintu kamar itu terbuka, menutupkan kembali dari dalam dan dia merebahkan tubuh Pek-mo Kui-bo ke atas pembaringan.
Akan tetapi, Tiong Sin tidak sempat mengagumi keindahan kamar itu karena bagaikan orang yang kemasukan setan Pek-mo Kui-bo masih merangkulnya, bahkan lalu menariknya, ke atas pembaringan, menggeluti dan menciumi dengan napas terengah engah.
Tentu saja Tiong Sin melayaninya dengan penuh semangat, apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa bibi gurunya ini memang memiliki tubuh seperti yang telah dia bayangkan, seperti tubuh seorang wanita muda.
Demikianlah, siasat yang dilakukan Tiong Sin berhasil dengan baik.
Dan mulai keesokan harinya, dengan senang hati Pek-mo Kui-bo mulai mengajarkan ilmu-ilmu pukulan beracun yang amat dahsyat kepada Tiong Sin dan Kui Lan.
Demikian rusaknya sudah akhlak orang-orang yang hidup di dunia hitam itu sehingga Pek-mo Kui-bo sama sekali tidak merasa canggung.
Sama sekali ia tidak merasa malu terhadap para pelayannya atau terhadap Kui Lan.
Hubungannya dengan Tiong Sin tidak ia rahasiakan, bahkan di depan mereka ia tidak canggung untuk membelai dan memperlihatkan kesayangannya kepada pemuda yang pandai menyenangkan hatinya itu.
Dan Kui Lan juga sedikit pun tidak merasa cemburu!
Apalagi karena ia sendiri memperoleh untung dari hasil siasat suhengnya itu.
Ia kini dapat pula mempelajari ilmu pukulan yang beracun dari sukouwnya.
Mereka berdua berlatih dengan rajin dan penuh semangat, dan dengan penuh semangat pula untuk menyenangkan hati Pek-mo Kui-bo, setiap saat Tiong Sin bersedia untuk melayani wanita yang besar nafsunya itu.
"Tapi..... tapi aku ini isterimu, engkau suamiku.....!"
Siangkoan Leng berseru sambil menahan suaranya agar jangan terlampau keras karena khawatir kalau pertengkaran mereka akan terdengar oleh ayah ibunya atau orang lain dalam rumah itu.
Suaminya, Kok Tay Ki atau Kok Kongcu, tersenyum mengejek dan melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan pakaian untuk disatukan dalam sebuah buntalan kain kuning.
"Memang, akan tetapi semua itu sudah berakhir. Selama seratus hari aku mempelajari dua macam ilmu silat keluargamu, dan selama seratus hari pula aku menjadi suamimu. Sudah lunas, bukan? Sudahlah, jangan rewel. Mari kita berpisah secara baik-baik....."
Wajah Siangkoan Leng menjadi pucat dan matanya terbelalak.
Selama kurang lebih tiga bulan ia menjadi isteri pria ini, dan harus diakuinya bahwa sikap suaminya amat baik, amat ramah dan lembut, juga kelihatan amat mencintanya.
Karena sikap yang amat baik dan penuh kasih sayang itu, maka ia pun benar-benar telah jatuh cinta pada suaminya ini.
Siapa kira, pagi ini suaminya tiba-tiba saja membenahi pakaiannya dan menyatakan bahwa hari ini dia akan pergi meninggalkannya.
"Tapi, aku ini isterimu! Kita saling mencinta, bukan? Aku isterimu, aku berhak untuk mengetahui ke mana engkau akan pergi, bahkan berhak untuk mengikutimu ke manapun engkau pergi! Aku tidak mau kautinggalkan!"
Ia mulai menangis dengan hati bingung dan khawatir sekali.
"Leng-moi, ingat baik-baik. Ketika aku ingin belajar ilmu silat di sini, ayahmu sendiri yang mengatakan bahwa aku baru boleh mempelajari dua macam ilmu silat itu kalau aku mau menjadi suamimu! Nah, aku sudah menjadi suamimu dan selama aku mempelajari ilmu-ilmu silat itu, apakah aku kurang memuaskan menjadi suamimu? Sekarang, aku telah berhenti belajar, maka berhenti pula menjadi suamimu dan aku harus pergi."
Sepasang mata yang basah itu semakin terbelalak.
Tak disangkanya sama sekali bahwa suaminya yang biasanya begitu lembut dan halus tutur sapanya kini dapat mengeluarkan kata-kata yang biarpun halus namun amat keji!
"Koko.....
kau.....
kau.....
bagaimana dapat berkata begitu?
Selama ini kita saling mencinta.....
engkau begitu mencintaku!
Apa yang terjadi denganmu?
Kenapa mendadak engkau begini berubah...?"
Siangkoan Leng menangis dan menubruk suaminya, merangkul dan menangis di pundaknya.
Biasanya, kalau ia bersikap manja, suaminya lalu merangkulnya dan menciumnya, memanjakannya.
Akan tetapi sungguh aneh.
Sekali, ini suaminya bahkan mendorongnya, walaupun lembut namun dorongan itu kuat sekali dan ia sampai terjengkang, terjatuh ke atas pembaringan!
Bukan seperti kalau mereka yang bergurau, karena suaminya tidak menubruknya di atas pembaringan, melainkan berdiri dengan alis berkerut, wajah yang biasanya cerah dan ramah itu kini nampak dingin sekali.
Demikian jauh bedanya dari biasanya, seperti seekor harimau yang menanggalkan kedok dombanya!
"Sudah!
Aku sudah cukup bosan denganmu.
Selama seratus hari kutahan tahan kejemuan itu.
Dan aku bosan pada ilmu silat keluargamu yang tidak ada nilainya!"
Kini sepasang mata yang terbelalak itu menjadi tajam bersinar penuh kemarahan.
Siangkoan Leng bangkit dari tempat tidur, perlahan-lahan ia turun dan berdiri, matanya tak pernah melepaskan wajah suaminya.
"Kau.....! Jadi engkau menikah dengan aku hanya agar dapat mempelajari Ngo-heng-kun kami?"
Kok Kongcu tersenyum sehingga nampak giginya yang berderet rapi dan putih satu di antara daya tarik pria itu.
"Habis, apa lagi? Kalau bukan untuk menimba ilmu, aku tidak sudi berjodoh denganm! Engkau tidak pantas menjadi isteriku Yang pantas menjadi isteriku hanyalah seorang puteri istana kaisar! "
"Keparat .........!"
Siangkoan Leng memaki dan tidak dapat menahan kemarahannya lagi, ia menerjang maju dan menyerang suaminya dengan pukulan tangan kanannya.
"Plakkk.....!"
Pukulan itu bukan saja tertangkis, bahkan sekali Kong Kongcu mendorong, tubuh wanita itu terjengkang dan jatuh ke atas lantai! "Hemmm! Selamat tinggal!"
Kata Kok Kongcu yang menyambar buntalan kuning dan keluar dari kamar itu.
"Jahanam busuk, jangan lari!"
Bentak Siangkoan Leng, kini tidak peduli lagi menimbulkan gaduh dan ia sudah berlari keluar sambil membawa pedang yang sudah terhunus.
Baru ia tahu bahwa suaminya itu seorang manusia iblis yang berhati keji, maka ia mengambil keputusan untuk membalas semua penghinaan itu dengan membunuhnya.
"Keparat, kau harus mati di tanganku!"
Bentaknya sumbil meloncat ke luar dan tanpa banyak cakap lagi, Ia sudah menerjang dari belakang dengan pedangnya, menusuk sekuat tenaga karena terdorong sakit hati dan kemarahan.
Tentu saja ia menggunakan jurus ilmu pedang Ngo-heng Kiam-sut.
Akan tetapi, andaikata Kok Kun belum mempelajari ilmu pedang pun Siangkoan Leng sama sekali bukan tandingannya, apalagi sekarang setelah dia menguasai ilmu pedang itu, tentu saja serangan dahsyat itu tidak ada artinya bagi Kok Kongcu.
Dia membalik mengelak ke samping.
Siangkoan Leng yang sudah dikuasai kemarahan yang berkobar, tidak menghentikan serangannya dan menyerang lagi semakin hebat.
Pedangnya mengeluarkan suara berdesing ketika menyambar-nyambar.
Melihat betapa wanita yang pernah menjadi isterinya selama tiga bulan itu menyerang dengan sungguh-sungguh untuk membunuhnya, Kok Kongcu menjadi marah sekali tangannya bergerak, dia telah mencabut huncwenya.
Senjata aneh ini tak pernah berpisah darinya, akan tetapi dia sembunyikan dan baru sekarang dia keluarkan.
"Trang-trang-cringgg.....!"
Huncwe itu diputarnya sedemikian rupa sehingga bukan hanya menangkis, akan tetapi juga mengait dan akhirnya dengan sentakan yang kuat, pedang di tangan Siangkoan leng itu terlepas dari pegangan tangan wanita itu dan terlempar!
"Ohhh.....!"
Siangkoan Leng berseru kaget, akan tetapi kemarahannya membuat ia nekat, Ia menyerang lagi dengan tendangan Ngo heng twi, ilmu tendangan keluarga Siangkoan yang amat hebat.
Kok Kongcu sudah menguasai pula ilmu tendangan ini, maka begitu kaki isterinya menyambar, dia mengelak ke samping dan melangkah maju, huncwenya berkelebat dan tubuh Siangkoan Leng terjengkang, wanita itu meringis kesakitan karena dadanya telah disodok huncwe hingga sebatang tulang iganya patah.
"Huhhh!"
Kok Kongcu mendengus marah lalu membalikkan tubuhnya.
"Heiii! Apa yang terjadi?"
Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan di depannya telah berdiri Siangkoan Kun Hok ayah mertuanya!
Guru silat ini terkejut dan heran bukan main melihat mantunya memukul roboh Siangkoan Leng, lebih heran lagi melihat kini Kok Kongcu yang biasainya amat hormat dan ramah kepadanya, kini berdiri dengan sikap angkuh memandang kepadanya dan tersenyum mengejek.
Sambil mendekap dada dengan tangan kirinya dan menahan rasa nyeri, Siang koan Leng bangkit berdiri.
"Ayah.... dia......dia jahat sekali...... dia mengawini aku hanya untuk mempelajari ilmu silat kita, kini dia..... dia mau pergi begitu saja....."
Mendengar ini, Siangkoan Kun Hu mengerutkan alisnya.
Dia lebih merasa terkejut dan heran daripada marah karena dia hampir tidak percaya akan kebenaran kata-kata puterinya itu.
Di sangkanya puterinya berkata demikian karena mereka habis bercekcok.
"Kok Tay Ki, apa artinya ini? Benarkah apa yang dikatakan isterimu itu?"
Tanyanya.
Kok Kongcu sudah menanggalkan semua kedoknya.
Dia berdiri dengan sikap acuh, bahkan tersenyum mengejek memandang Siangkoan Kun Hok.
Kemudian, dengan suara yang masih lembut seperti biasanya, dia berkata.
"Siangkoan Kun Hok, di antara kita telah terjadi pertukaran yang cukup adil. Aku memperoleh dua macam ilmu keluargamu, dan engkau memperoleh aku sebagai mantumu. Telah seratus hari aku mempelajari ilmu-ilmu itu, dan telah seratus hari puterimu disenangkan hatinya dan tubuhnya olehku. Sekarang, aku sudah bosan dengan puterimu dan ilmu-ilmu itu, maka aku akan pergi. Puterimu menyerangku, maka terpaksa aku merobohkannya."
Wajah Siangkoan Kun Hok berubah pucat, kemudian merah sekali ketika dia mendengar ucapan itu.
Sungguh ucapan yang membayangkan watak manusia yang amat keji!
Dia telah tertipu.
Anaknya menjadi korban.
Kiranya Kok Tay Ki hanyalah seekor harimau berkedok domba, seorang iblis dalam tubuh seorang pemuda yang tampan, gagah dan ramah!
"Jahanam busuk!
Engkau berani menghina keluarga kami?"
Bentaknya marah. Kok Kongcu tertawa mengejek.
"Siangkoan Kun Hok, engkau juga hendak marah-marah? Pertukaran sudah terjadi dengan adil, lalu engkau mau apa? Aku hendak pergi dan tak seorang pun boleh menghalangiku!"
"Keparat!"
Siangkoan Kun Hok tidak banyak bicara lagi, lalu menerjang dengan tendangan Ngo-heng-twi yang amat dahsyat itu.
Namun, Kok Kongcu memang memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi, apa lagi dia sudah menguasai tendangan Ngo-heng-twi dengan baik maka dia pun mengejek.
"Jangan coba pamerkan Ngo-heng-twi padaku!"
Dan dia pun mengelak lalu tangan kirinya menghantam ke arah dada lawan.
Tangan itu berubah merah seperti darah dan melihat ini, Siangkoan Kun Hok terkejut bukan main.
Dia menangkis dan mengerahkan seluruh tenaganya.
"Plakkk!"
Siangkoan Kun Hok terpelanting dan ketika dia meloncat bangun, lengan yang menangkis tangan merah itu terasa nyeri dan panas dan ada tanda jari merah di sana.
"Iblis keji!"
Siangkoan Kun Hok membentak lagi dan kini dia sudah mencabut pedangnya.
Begitu dia menggerakkan pedang, nampak sinar kilat bergulung-gulung dan angin mendesir keras dibarengi bentakan-bentakan nyaring.
Itulah ilmu pedang Ngo-heng Kiam-sut yang dimainkan oleh ahlinya!
Namun, Kok Kongcu juga sudah menguasai ilmu pedang ini.
Bahkan mengingat akan tingkatnya yang lebih tinggi, sin-kangnya yang lebih kuat, dia dapat memainkan Ngo-heng Kiam-sut lebih dahsyat lagi dibandingkan bekas ayah mertua dan juga gurunya itu.
Akan tetapi dia masih memegang huncwenya dan dia pun mengggerakkan huncwe untuk menangkis dan balas menyerang.
Terjadi perkelahian seru di situ.
Akan tetapi gerakan huncwe di tangan Kok Kongcu terlalu aneh dan terlalu kuat bagi Siangkoan Kun Hok.
Sebaliknya, semua serangan guru silat itu sudah di kenal Kok Kongcu, maka kenyataan ini saja sudah amat menguntungkan dia.
Dan Siangkoan Leng juga tidak berdaya, tidak dapat membantu ayahnya karena kalau ia bergerak, dadanya terasa nyeri.
Baru belasan jurus saja, ujung huncwe di tangan Kok Kongcu sudah dapat memukul pundak kiri Siangkoan Kun Hok Guru silat itu terpelanting dan tulang pundaknya remuk.
Kok Kongcu tersenyum mengejek.
"Mengingat akan kebaikan kalian keluarga Siangkoan, biarlah aku tidak melakukan pembunuhan hari ini. Selamat tinggal!"
Dan dia pun meninggalkan rumah itu dengan langkah lebar.
"Ayah.....!"
Siangkoan Leng menghampiri ayahnya dan mereka berangkulan.
Wanita muda itu menangis, ayahnya hanya menghela napas panjang berkali-kali.
Tang Hu, murid utama Siangkoan Kun Hok yang baru saja masuk, berlari-lari dan segera berlutut di dekat gurunya.
"Suhu, apa yang telah terjadi? Sumoi, kulihat tadi Kok suheng tergesa-gesa ke luar? Apa yang terjadi?"
Dengan suara terputus-putus bercampur isak, Siangkoan Leng menceritakan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Siangkoan Kun Hok menyambung.
"Kami telah salah pilih..... ah, kami telah tertipu. Dia bukan manusia baik-baik. Dia iblis..... hanya ingin menguasai ilmu kita..."
"Akan kukejar dia"! teriak Tang Hu dan pemuda ini sudah meloncat keluar. Teriakan gurunya dan sumoinya tidak dia niraukan. Tang Hu berhasil menyusul Kok Kongcu setelah orang yang dikejarnya telah tiba di luar kota Yu-sian, melalui pintu gerbang timur. Di tempat sunyi itu mereka berhadapan. Tang Hu adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang menjadi murid utama Siangkoan Kun Hok. Dia berrwatak gagah dan keras, kasar dan berani, akan tetapi adil dan pembela kebenaran. Begitu dapat menyusul, dia segera berteriak memanggil.
"Kok-suheng, berhenti dulu....."
Dia menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada Kok Kongcu karena suami sumoinya itu telah lebih tua, dan pula mengingat bahwa Kok Kongcu memiliki kepandaian lebih tinggi.
Kok Kongcu menghentikan langkahnya dan membalik.
Kini mereka berdiri saling berhadapan.
Kok Kongcu tersenyum simpul.
Tang Hu melotot marah.
"Tang Hu, engkau mau apakah mengejarku?"
Tanya Kok Kongcu, kini tidak berpura-pura lagi maka dia menyet nama orang yang pernah menjadi saudara seperguruannya itu begitu saja, tidak menyebut sute lagi.
Sikap ini saja sudah menunjukkan bahwa dia tidak mengakui pemuda tinggi kurus ini sebagai saudara seperguruan lagi.
Melihat sikap ini dan mendengar ucapan Kok Kongcu, apalagi mengingat betapa orang ini telah melukai sumoinya juga menghina dan melukai suhunya Tang Hu juga meninggalkan sikap hormatnya.
"Orang tidak mengenal budi! Engkau telah diambil mantu dan diberi pelajaran ilmu silat keluarga Siangkoan, akan tetapi engkau malah melakukan pengkhianatan. Engkau manusia jahat yang tidak ayak dibiarkan hidup. Engkau akan mati di tanganku!"
Kok Kongcu tertawa mengejek.
"Ha ha, kita lihat saja siapa yang mati!"
Tang Hu yang sudah memuncak kemarahannya, segera menyerang dengan ganasnya.
Hanya Tang Hu seoranglah yang bukan keluarga Siangkoan namun mendapatkan kepercayaan gurunya untuk mempelajari ilmu Ngo-heng kun, yaitu ilmu keluarga Siangkoan yang biasanya hanya dipelajari anggauta keluarga saja.
Ini saja menunjukkan bahwa Siangkoan Kun Hok amat percaya kepada murid utama ini, bahkan dahulu sebelum muncul Kok Kongcu, pemuda inilah calon mantu guru silat itu.
Maka, begitu menyerang, Tang Hu sudah mempergunakan ilmu silat Ngo-heng-kun, terutama sekali ilmu tendangan Ngo-heng-twi yang dahsyat!
Melihat serangan dengan ilmu Ngo-heng-kun itu, Kok Kongcu tertawa mengejek.
"Ha-na-ha, engkau mau melihat ilmu Ngo-heng-kun yang sesungguhnya! Nah, lihat ini!"
Dia pun cepat bergerak memainkan ilmu silat yang sama.
Kalau ada orang yang menjadi penonton perkelahian itu, tentu akan mengira bahwa mereka itu berlatih saja karena gerakan mereka sama!
Akan tetapi, sebenarnya mereka saling serang mati-matian, dan terutama sekali Tang Hu memang bernafsu besar untuk membunuh laki-laki yang sejak pertama telah dibencinya itu.
Akan tetapi, segera dia mendapat kenyataan bahwa dia kalah cepat dan kalah tenaga.
Setiap kali lengan mereka bertemu, atau kakinya bertemu dengan lengan atau kaki Kok Kongcu, dia merasa lengan atau kakinya nyeri, seperti patah tulangnya dan tubuhnya tergetar hebat.
"Ha-ha-ha, Ngo-heng-kun belum kau kuasai dengan baik, Tang Hu. Engkau perlu berlatih sepuluh tahun lagi baru mungkin dapat mengimbangiku, akan tetapi engkau takkan mempunyai waktu lagi. Ha-ha-ha!"
Menggunakan kesempatan selagi Kok Kongcu bicara itu, tiba-tiba Tang Hu menyerang dengan tendangan Ngo-heng twi amat dahsyatnya!
Dimulai dengan tendangan kecil kaki kiri, disusul tendangan dahsyat kaki kanan.
Tendangan kilat ini sukar sekali dihindarkan lawan, selain cepat juga mengandung tenaga sepenuhnya.
Namun, Kok Kongcu memang menang segala-galanya, maka menghadapi tendangan yang sudah dikenalnya ini, dia bersikap tenang saja.
Setelah menangkis kaki kiri, dia membiarkan kaki kanan lawan menyambar.
Setelah dekat, barulah dengan tiba-tiba dia mencondongkan tubuh ke kanan, tangannya bergerak cepat dan tangan kirinya sudah dapat menangkap pergelangan kaki yang menyambar lewat, kemudian dia menggunakan tenaga sakti mendorong kaki itu ke atas dan ke depan Tak dapat dicegah lagi, tubuh Tang Hu terangkat dan terlempar sampai tujuh meter jauhnya, terbanting ke atas tanah.
Kalau bukan seorang pemuda yang gemblengan, tentu akan celakalah terjatuh seperti itu.
Akan tetapi biarpun terkejut sekali, Tang Hu dapat menggulingkan dirinya sehingga ketika terjatuh itu dia tidak menderita luka parah.
"Ha-ha-ha-ha-ha!"
Kok Kongcu berdiri bertolak pinggang sambil tertawa-tawa.
"Untung aku mengubah pikiranku, Tang Hu. Engkau tidak kubunuh karena aku kasihan kepada Siangkoan Leng. Kasihan ia menjadi seorang janda muda. Pulanglah dan kawinilah ia! Engkau sejak dulu tergila-gila kepadanya, bukan? ha-ha!"
Kemarahan dan kebencian membubung ke atas, memasuki kepala Tang Hu dan. membuat kepala itu terasa puyeng dan mukanya menjadi merah sekali.
"Singgg.....!"
Dia mencabut pedangnya dan hal ini membuat Kok Kongcu semakin geli, suara ketawanya semakin keras.
"Ha-ha-ha, engkau mencabut pedang hendak memamerkan Ngo-heng Kiam sut kepadaku? Buang pedangmu dan pulanglah, kawinilah Siangkoan Leng. Kalau tidak, engkau akan mampus oleh pedangmu sendiri!"
"Keparat jahanam.....!!"
Dengan kemarahan meluap-luap, Tang Hu sudah berlari ke depan dan menerjang dengan pedangnya.
Dia bukan seorang bodoh.
Dia tahu bahwa dia bukan lawan pemuda tampan halus yang sudah mengalahkan sumoinya dan suhunya itu.
Akan tetapi dia tidak peduli.
Dia rela mati untuk membela kehormatan sumoinya dan gurunya.
Maka, dengan mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya kini dia menyerang Kok Kongcu dengan pedangnya.
Sekali ini, Kok Kongcu tidak main-main lagi.
Dia tentu saja mengenal gerakan pedang itu, akan tetapi ia tidak mau menggunakan huncwe mautnya.
Menghadapi Tang Hu baginya merupakan lawan yang ringan.
Dan sekali ini dia menggunakan ilmu silatnya sendiri, ilmu silat dari ayahnya, See-thian Mo-ong Kok Bong Ek atau lebih terkenal dengan julukan singkat See Mo (Iblis Barat) mempunyai banyak macam ilmu silat yang aneh-aneh dan tinggi.
Memang yang amat terkenal dan ditakuti hanyalah ilmu silat menggunakan ruyung atau huncwe mautnya, dan juga ilmu pukulan Ang-see ciang (Tangan Pasir Merah) yang sekali pukul dapat menewaskan seorang lawan tangguh.
Akan tetapi di samping itu masih banyak ilmu silat yang dikuasainya dan sudah diturunkan kepada Kok Kongcu.
Menghadapi permainan pedang Ngo heng Kiam-sut, yang sesungguhnya merupakan ilmu pedang yang cukup berbahaya bagi Kok Kongcu kalau saja tidak menguasai ilmu pedang itu, Kok Kongocu mempergunakan kelincahan tubuhnya yang didasari gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi.
Tubuhnya berkelebatan di antara sambaran sinar pedang.
Tiba-tiba dia mengeluarkan lengkingan panjang dan dengan tangan berubah merah dia memukul ke arah lengan kanan Tang Hu.
"Aughhh.....!"
Tang Hu berteriak.
Lengannya terasa panas seperti dibakar.
Pegangannya mengendur dan tahu-tahu pedangnya telah berpindah tangan.
Ketika dia masih terhuyung, tiba-tiba nampak sinar meluncur dan pedangnya sendiri tanpa dapat dihindarkannya menusuk dadanya sampai tembus!
Tepat seperti dikatakan oleh Kok Kongcu dalam ancamannya tadi.
Tang Hu tewas oleh pedangnya sendiri dalam membela kehormatan sumoinya yang dicintanya dan suhunya yang dihormatinya.
Kiranya di antara segala mahluk di dunia ini, hanya manusia sajalah yang suka membunuh bukan karena kebutuhan hidup, melainkan karena kebencian!
Seekor binatang yang paling buas, sekalipun seperti harimau yang.
dianggap paling buas di antara semua binatang darat, hanya membunuh untuk kebutuhan hidupnya, membunuh untuk menjadi makanannya.
Seekor burung rajawali, raja di antara binatang udara, juga hanya membunuh untuk mengisi perutnya yang lapar.
Demikian pula ikan hiu, raja di antara binatang air, membunuh untuk keperluan makan.
Dan binatang-binatang itu oleh manusia dikatakan buas dan kejam!
Sekarang kita tengok keadaan kita sendiri.
Manusia yang katanya merupakan mahluk yang paling utama, yang paling pandai, yang paling agung dan paling segalanya Apakah ini juga berarti paling jahat dan paling kejam?
Kita membunuh bukan hanya untuk kepentingan makan, akan tetapi juga kita membunuh untuk kesenangan hati kita!
Kita membunuh untuk main-main.
Bahkan kita membunuh sesama manusia karena kebencian, yang tidak pernah dilakukan oleh mahluk lain, oleh binatang apa pun.
Kita lebih kejam daripada binatang apa pun di dunia ini!
Inilah kenyataannya dan kita tidak perlu mengelak dari kenyataan Hanya kita sendiri yang mampu melihat kenyataan ini, hanya kita sendiri yang mampu mengubah tindakan kita yang jelas menyimpang daripada kebenaran ini.
Saling mengiri, saling bersaing, saling membenci, saling bermusuhan dan saling membunuh!
Dapatkah kita menyadari akan penyelewengan ini dan menghentikannya sekarang juga?
Dapatkah kita MELIHAT ini?
Seni hidup yang paling hakiki adalah kemampuan melihat.
kesalahan diri sendiri, di samping penyerahan diri kepada Tuhan agar kekuasaan Tuhan yang akan membimbing dan mengembalikan kekuatan nafsu daya rendah di tempat masing-masing sebagaimana mestinya, yaitu sebagai pelayan dalam kenidupan manusia.
Sambil tersenyum simpul Kok Kongcu meninggalkan Tang Hu yang sudah tewas itu.
Pengakuannya bahwa dia kasihan kepada Siangkoan Leng tadi pun sesungguhnya hanya merupakan ucapan untuk merendahkan dan menghina saja, bukan timbul dari dalam hatinya.
Hati Kok Kongcu amat angkuh terhadap wanita, bahkan dia selalu menganggap wanita bukan sebagai manusia yang sejajar kedudukannya dengan dia, melainkan sebagai penghiburnya!
Dalam hati yang seperti ini, mana mungkin terdapat perasaan iba?
Perasaan iba hanya terdapat dalam hati yang masih peka, yang masih tersentuh sinar cinta kasih.
Kalau kita tidak pernah merasa iba lagi kepada siapapun, perlu kita mawas diri, perlu kita menyelidiki dan meneliti keadaan batin sendiri, karena hal itu merupakan tanda bahwa batin kita pun kosong dari sinar cinta kasih.
Dan untuk membuka hati agar sinar cinta kasih dapat memasuki batin, hanya ada satu jalan saja, yaitu menyerahkan segalanya kepada Tuhan.
Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membetulkan keadaan batin yang sudah "rusak"
Kehilangan kepekaan dan sudah buntu, tertutup oleh nafsu daya rendah. Belum dua li jauhnya Kok Kongcu meninggalkan mayat Tang Hu, tiba-tiba terdengar seruan nyaring.
"Sobat, tunggu dulu.. .!!"
Kok Kongcu menahan langkahnya, la membalikkan tubuhnya.
Dia terkejut melihat bayangan yang datang bagaik terbang.
Bayangan itu masih jauh jaraknya, akan tetapi suaranya tadi terdengar seperti di belakangnya saja!
Melihat gerakan orang itu berlari, dan mendengar suara yang dikirim dari jauh dengan kekuatan khi-kang tadi, tahulah Kok Kongcu bahwa dia dikejar orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Dia tidak merasa gentar, hanya merasa heran ingin tahu siapa orang itu dan mengapa pula mengejarnya.
Dia tahu bahwa Siangkoan Bu-koan (Perguruan Silat Siangkoan) tidak ada orang yang lebih lihai daripada Siangkoan Kun Hok, dan orang yang datang ini jelas jauh lebih pandai dari guru silat itu, Ketika orang itu tiba di depannya, Kok Kongcu memandang dengan penuh perhatian.
Seorang pemuda yang usianya sebaya dengan dia, mungkin lebih tua setahun, berwajah tampan dan gagah.
Pakaiannya seperti seorang sastrawan, terbuat dari kain sutera yang mahal, termasuk mewah dan pesolek.
Seperti juga dia, pemuda itu menggendong sebuah buntalan yang agak panjang dan dia pun dapat menduga bahwa di dalam buntalan itu tentu tersimpan senjata, mungkin pedang.
Pemuda yang baru datang itu tersenyum dan dia merasa seperti pernah mengenalnya.
Pemuda itu memperlebar senyumnya ketika melihat Kok Kongcu mengamatinya dengan ragu.
Dia lalu memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada, dengan sikap sopan seorang terpelajar sejati.
"Sobat, engkau meninggalkan mayat itu menggeletak begitu saja di tepi jalan....."
"Hemmm, habis engkau mau apa?"
Kok Kongcu menantang, menduga bahwa orang ini memang mengejarnya karena kematian Tang Hu tadi.
Tentu dia seorang jagoan yang dikirim keluar Siangkoan untuk menghadapinya.
Akan tetapi, pemuda tampan itu tersenyum, sama sekali tidak kelihatan marah.
"Aku hanya mau mengatakan bahwa bodoh sekali membiarkan mayat itu di sana, kelihatan oleh semua orang dan menimbulkan keributan. Maka aku telah mewakilimu melemparkan mayat itu jauh dari jalan raya....."
"Peduli apa denganmu?"
Kok Kongcu berkata.
"Ha-ha-ha, begitu hebatkah ilmu yang kaudapatkan dari keluarga Siangkoan maka engkau menjadi secongkak ini?"
"Hemmm, dengar baik-baik. Tanpa menggunakan sedikit pun ilmu dari keluarga Siangkoan, aku sanggup merobohkanmu!"
"Ha-ha-ha, Kok Tay Ki! Benarkah engkau telah lupa kepadaku?"
Pemuda itu tertawa. Kok Kongcu mengerutkan alisnya dan memandang lebih teliti. Dia memang rasa pernah bertemu dengan orang ini, akan tetapi lupa lagi kapan dan di mana.
"Aku..... aku lupa. Siapa engkau?"
Kok Kongcu berkata ragu.
"Hemmm, agaknya kehidupan yang penuh madu di rumah keluarga Siangkoan membuat engkau menjadi pelupa. Aku she Cu....."
"Ahhh! Cu See Han! Engkau putera Tung Kiam! Mau apa kau mengejar aku? Saat bagi kita untuk bertanding masih belum tiba."
Kok Kongcu mengerutkan alisnya, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh.
Dalam pertandingan terakhir antara murid-murid Empat Datuk Besar, pernah dia berhadapan dengan Cu See Han dan mereka telah saling serang sampai kedua lengan mereka bengkak-bengkak, namun belum juga ada di antara mereka yang menang atau kalah sampai pertandingan itu dihentikan guru-guru atau ayah-ayah mereka.
Pemuda itu memang Cu See Han, putera Tung Kiam.
Setelah Tung Kiam mengadakan pertemuan dengan See Mo yang biasanya menjadi seorang di antara saingannya, akan tetapi yang kini menjadi sekutunya untuk membantu gerakan pasukan Mongol, maka Tung Kiam memberi tahu kepada puteranya, Cu See Han untuk segera pergi menemui Kok Tay Ki putera See Mo dan bekerja sama dengan pemuda itu.
Juga dia menyerahkan tugas yang diberikan kepadanya oleh Jenghis Khan, yaitu untuk menyelidiki keadaan Kaisar Wai Wang dari Kerajaan Cin.
Bahkan kalau mungkin menimbulkan kekacauan di kota raja untuk melemahkan kedudukan kaisar itu.
See Mo mewakilkan tugas itu kepada puteranya yang dianjurkan untuk mencari Kok Kongcu dan diajak bekerja sama.
Ketika melakukan penyelidikan, Cu See Han mendengar bahwa Kok Tay Ki atau Kok Kongcu berada di kota Yusian, di sebelah barat kota raja.
Dia cepat menyusul ke sana dan ternyata baru saja Kok Kongcu meninggalkan Siangkoan Bu-koan dan keluar dari kota.
Dia cepat melakukan pengejaran dan dia melihat Kok Kongcu merobohkan dan membunuh Tang Hu, kemudian meninggalkan mayat itu begitu saja di tepi jalan raya.
Untuk membantu calon sekutunya itu, See Han lalu menyeret mayat itu ke tempat yang tersembunyi di balik semak belukar agak jauh dari jalan raya, kemudian dia melakukan pengejaran dengan cepat dan berhasil menyusul Kok Tay Ki.
"Kok Tay Ki, aku khawatir kalau aku bicara, engkau tidak akan percaya, olen karena itu sebaiknya kalau aku menyerahkan surat ini lebih dulu kepadamu. Inilah surat titipan ayahmu kepada ayahku, untuk diserahkan kepadamu agar engkau mengetahui duduknya perkara."
See Han lalu mengeluarkan sebuah sampul surat dan menyerahkannya kepada Tay Ki.
Tay Ki tahu siapa pemuda di depannya ini.
Putera Tung Kiam seorang di antara Empat Datuk Besar yang amat berbahaya.
Oleh karena itu, dia tidak mau lengah dan menderita malapetaka.
Dia tidak mau menerima surat itu, melainkan hanya memandang.
Ketika dia melihat tulisan di atas sampul, dia mengenal tulisan ayahnya.
Barulah dia menerima surat dalam sampul itu.
Dia mengeluarkan suratnya dan makin percayalah dia melihat cap dari ayahnya di sudut bawah surat itu.
Baru dia membaca tulisan ayahnya.
Setelah membacanya, wajahnya berseri.
Kiranya ayahnya memberi tahu kepadanya bahwa ayahnya kini telah bersekutu dengan Tung Kiam untuk membantu gerakan "Khan Yang Besar"
Dari bangsa Mongol!
Dan ayahnya menjuruh dia untuk bekerja sama dengan Han yang telah diserahi tugas oleh Jenghis Khan melalui See Mo, membantu See Han dengan pekerjaannya itu.
Tay Ki memandang wajah See Han dan dia tersenyum, wajahnya berseri "Hemmm, jadi mulai sekarang kita menjadi sahabat?"
"Lebih dari sahabat! Kita rekan seperjuangan! Kautahu, Tay Ki, ayah bukan hanya menjadi sekutu dalam membantu Jenghis Khan. Akan tetapi juga kita bersekutu untuk kelak merebut kedudukan pada saat diadakan pertandingan antara Empat Datuk Besar. Kalau ayah kita bersekutu, pasti Nam Tok dan Pak Ong takkan mampu menang, dan murid murid mereka pun bukan lawan kita berdua kalau kita bersekutu."
"Tapi, pekerjaan apakah yang harus kita lakukan? Ayah menyuruh aku membantumu melaksanakan tugas. Tugas apakah itu, See Han?"
See Han menengok ke kanan kiri. Sudah mulai ada orang berlalu lalang di jalan itu, maka dia lalu menggandeng tangan Tay Ki.
"Mari kita cari tempat sepi agar leluasa bicara."
Mereka lalu memasuki sebuah lorong kecil yang menyimpang ke persawahan yang sunyi.
Mereka lalu duduk di tepi sawah dan dari tempat itu mereka dapat melihat jauh ke sekeliling yang terbuka sehingga mereka tidak khawatir percakapan mereka akan didengarkan orang lain.
"Perkerjaan yang diserahkan kepada kita berdua merupakan pekerjaan yang amat menyenangkan, akan tetapi amat berbahaya, Tay Ki."
"Ha, semakin berbahaya semakin mengasyikkan, See Han. Itu pekerjaan laki-laki namanya, kalau mengandung bahaya. Akan tetapi, tugas apakah itu? Membunuh orang?"
See Han tersenyum, senang melihat kegembiraan kawannya. Seorang kawan seperti ini, boleh diandalkan dan kalau dibantu Tay Ki, dia yakin tugasnya akan berhasil dengan baik.
"Kalau perlu mungkin membunuh. Begini, Tay Ki. Orang-orang Mongol tidak dapat bergerak leluasa di kota raja. Bahkan orang dari suku bukan Mori kalau mempunyai wajah seperti orang Mongol pun akan ditangkap, disiksa dan dibunuh. Karena itu, Jenghis Khan membutuhkan bantuan orang-orang seperti kita untuk bergerak di kota raja."
"Bergerak untuk apa?"
"Untuk melakukan penyelidikan dan membuat laporan tentang keadaan kota raja, keadaan istana, keadaan pasukannya kepada mata-mata dari utara. Dan kita juga bertugas untuk mengadakan pengacauan, kalau perlu membunuh, mengadu domba, pendeknya apa saja untuk melemahkan keadaan di kota raja."
"Siapakah mata-mata itu?"
"Mari kita cari. Dia seorang pedagang keliling yang suka membawa barang dagangan ke luar kota raja. Dia yang akan memberi tempat pemondokan untuk kita dan mencukupi semua kebutuhan kita. Hayo kita berangkat."
"Hayo!"
Tay Ki gembira bukan main.
Ini merupakan petualangan baru baginya.
Dengan seorang kawan seperti See Han, tentu dia akan dapat banyak bersenang senang di kota raja.
Pekerjaan membuat kekacauan merupakan pekerjaan yang cocok dan menyenangkan baginya!
Dan dua orang sekawan itu bergandeng tangan, melanjutkan perjalanan menuju kota raja dengan wajah gembira.
Orangorang yang bertemu dengan mereka berdua di jalan raya, tentu akan menganggap bahwa mereka adalah dua orang pemuda pelajar yang tampan dan menyenangkan.
"Hyaaattt..... ehhh, haittt.....!"
Lo Koay menggunakan tongkat bututnya menghadapi pengeroyokan San Hong dan Siang Bwee.
Sudah empat bulan dua orang muda itu hidup berkeliaran dengan kakek jembel itu di dalam hutan-hutan dan lembah-lembah gunung.
Pekerjaan mereka setiap hari berulang-ulang kembali, yaitu San Hong mencari daging binatang apa saja yang dipesan dan di butuhkan Siang Bwee, gadis itu sendiri pergi ke dusun atau kota untuk mencari bumbu-bumbu masakan yang aneh-aneh dan mahal, dicurinya dari rumah-rumah makan.
Kemudian mereka menemani Lo Koay makan minum hasil masakan Siang Bwee yang memang pandai sekali memasak itu.
Lo Koay selalu memuji-muji masakan itu dan makan dengan gembira sampai perutnya menjadi gendut.
Kalau sudah kenyang, dia duduk di bawah pohon dan Siang Bwee menari-nari dan bernyanyi di depan kakek itu yang membuat irama dengan tepuk tangan.
Setelah membiarkan kakek itu tidur barang satu jam, Siang Bwee lalu menggoyang-goyangkan kakinya, membangunkannya dan mulai merengek minta dilatih silat, terutama sekali kepada San Hong.
dan kakek itu pun tidak berani menolak.
Walaupun dia bersungut-sungut, namun dia tidak dapat menolak.
Siang Bwee selalu mengingatkannya akan budinya yang telah membuat masakan "hidangan kaisar"
Dan telah menari dan menyanyi, dan mengancam tidak akan masak dan menari lagi untuk kakek itu kalau tidak mau mengajar silat.
Kalau bujukan pertamanya gagal, ancamannya itu selalu berhasil.
Dan hari pun ditutup dengan latihan silat yang aneh-aneh.
Agaknya Lo Koay hendak membalas budi dan mengimbangi keroyalan Siang Bwee dalam hal pemberian.
Gadis itu secara royal memberikan masakan lezat dan menari dengan sungguh-sungguh, maka dia pun mengeluarkan ilmu-ilmu yang aneh, simpanan-simpanan rahasianya, diajarkan kepada San Hong atas permintaan Siang Bwee.
Pada saat dia sedang bergembira, Lo Koay sengaja mengajak mereka berlatih.
Dia sendiri memainkan tongkat bututnya dikeroyok oleh San Hong dan Siang Bwee Dua orang muda ini, terutama San Hong telah memperoleh kemajuan pesat sekali walaupun hanya beberapa bulan digembleng oleh kakek sakti itu.
Kalau pada pertemuan pertama kali San Hong dan Siang Bwee sudah tertotok roboh dalam pertandingan selama belasan jurus saja kini mereka dapat bertahan sampai hampir lima puluh jurus.
"Whuuuuuhhh...... sudah....., cukup... napasku bisa putus!"
Kakek itu tiba-tiba saja lenyap dari depan dua orang yang mengeroyoknya itu.
Tentu saja keduanya terkejut dan ketika melihat ke atas, kakek itu sudah nongkrong, berjongkok di atas dahan pohon.
Gerakannya tadi demikian cepatnya seperti menghilang saja!
Dua orang itu memandang kagum dan diam diam Siang Bwee maklum bahwa tingkat kepandaian kakek ini jauh di atas tingkat ayahnya sendiri.
Dan ia tahu bahwa kakek itu masih menyimpan ilmu silat yang dirahasiakan sekali, maka diam-diam merasa penasaran.
Ilmu ilmu silat yang dirahasiakan itu harus dapat ia "kuras"!
dengan tekad ini Siang Bwee lalu cerita kepada kakek itu.
"Hei, Siauw-koay, sudah berapa banyak engkau makan masakanku dan melihat tarianku, mendengar nyanyianku?"
"Wah, sudah banyak. Semuanya hebat rasanya sudah cukup aku menikmati semua itu, heh-heh-heh!"
Timbul kekhawatiran di hati gadis itu mendengar ucapan si kakek yang wataknya seperti kanak-kanak itu.
"Siauw-koay, pernahkah engkau makan sup sirip naga laut, daging setan laut dimasak saus tomat, cacing goreng kering?"
"Hahhh?"
Sepasang mata kakek itu terbelalak dan air liurnya sudah membasahi mulutnya.
"Hebat! Tapi..... gorengan cacing?"
"Hemmm, engkau belum banyak pengalaman dalam menikmati masakan untuk raja-raja, Siauw-koay. Cacing digoreng kering sekali sungguh lezat untuk dimakan dengan ditemani arak wangi dari Su-couw! Pernah engkau minum arak dari buah apel buatan Su-couw?"
"Belum.....! Belum.... !"
Kini ada liur menetes dari bibir itu.
"Dan pernah engkau melihat tari bidadari? Untuk menarikan tarian bidadari ini, aku harus bersamadhi dulu, harus mengenakan pakaian yang khas dari sutera putih. Tarian ini akan membuat engkau tak mampu bernapas, Siauw koay! Pernah engkau melihatnya?"
"Belum.....! Belum.....!"
"Apakah engkau ingin makan tiga macam masakan itu, kemudian sambil makan menikmati tarian bidadari?"
"Tentu saja! Aihhh, enci yang baik. Cepat kaubuatkan masakan itu dan engkau menari tarian bidadari untukku."
Kakek itu merengek, sudah memuncak keinginannya untuk menikmati itu semua. Gadis itu cemberut.
"Enaknya! Engkau mau yang enak saja, Siauw koay. Engkau mau enak-enak dan kami berdua yang susah payah."
"Wan wah-wah! Siapa bilang aku enak enakan saja? Baru saja aku melatih kalian sampai napasku hampir putus!"
Bantah Lo Koay.
"Ih! Ilmu silat rendahan saja yang kuberikan kepada kami! Siauw Koay, kalau memang engkau menikmati masakan dan tarianku, kenapa engkau tidak membolehkan kami menikmati dua ilmumu yang pernah kauperlihatkan akan tetapi tidak pernah kauajarken kepada kami itu?"
"Heh? Ilmu apa?"
Kakek itu berlagak bodoh.
"Sudahlah, engkau memang tidak suka kepadaku!"
Siang Bwee pura-pura marah.
"Dalam latihan yang lalu, engkau mempergunakan ilmu yang membuat semua pukulan kami meleset sebelum menyentuh tubuhmu. Ilmu apa itu dan mengapa tidak kauajarkan kepada Hong-koko? Dan tadi, semua seranganku gagal karena engkau tiba-tiba saja lenyap dan tahu-tahu telah nongkrong di atas pohon. Ilmu ginkang (meringankan tubuh) apa ini pula dan kenapa tidak kauajarkan kepada kami?"
"Wah, dua ilmu itu adalah ciptaanku sendiri, dan kuciptakan untuk melindungi diriku yang lemah ini. Yang pertama adalah ilmu sinkang (tenaga sakti) Perisai Diri, dan yang ke dua adalah ilmu gin-kang. Menunggang Angin. Dua ilmu abadi ini bagaimana dapat kuajarkan pada orang lain? Kalau kalian menguasai ilrnu-ilmu itu, bukankah berarti aku tidak akan mampu menyelamatkan diri kalau kalian serang?"
"Ihhh, Siauw Koay. Siapa yang akan menyerangmu? Kami hanya berlatih denganmu, siapa yang mau benar benar mencelakaimu? Kami amat sayang kepadamu. Akan tetapi engkau tidak sayang kepadaku. Sudahlah, kami mau pergi saja kalau begitu!"
Siang Bwee lalu menggandeng tangan San Hong dan diajak pergi. (Lanjut ke
Jilid 28) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28
"Heiii, nanti dulu! Pergi ya pergi akan tetapi masakkan dulu dong sup sirip naga laut, daging setan laut saos tomat dan cacing goreng kering itu! Dun perlihatkan tarian bidadarimu!"
"Boleh, akan tetapi sebagai gantinya dan imbalannya engkau harus mengajarkan sinkang Perisai Diri dan ginkang Menunggang Angin kepada Hong-koko!"
"Enak saja! Kaukira mudah menguasai Ilmu-ilmu itu, terutama sinkang Perisai diri? Sedikitnya harus bertapa selama tiga tahun, atau waktu itu dapat dipersingkat menjadi tiga bulan saja kalau orang seperti engkau atau Hong-ko ini dapat makan jamur emas!"
"Jamur emas! Apa itu? Di mana bisa kita dapatkan jamur emas?"
Siang Bwee bertanya. Kakek itu menyeringai.
"Huh, bukan di kahyangan tempat para bidadari dan dikawal oleh siluman-siluman, melainkan di tempat yang tidak kalah sukarnya! Yang mempunyai jamur emas itu hanyalah Kaisar Wai Wang. Jamur Emas itu tersimpan di dalam gudang pusaka istana, dan dijaga oleh seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!"
Siang Bwee lalu memegang kedua tangan kakek itu.
"Siauw Koay, sekarang aku mau bicara terus terang kepadamu. Mari kita saling berbaik hati. Engkau mengajarkan kedua ilmu itu kepada Hong-ko dan membantu kami memperoleh jamur emas itu, dan aku akan memasakkan tiga masakan langka itu, dan aku akan menarikan tarian bidadari. Kalau engkau setuju, kita sekarang juga berangkat ke kota raja mengambil jamur emas, lalu kau ajarkan ilmu-ilmu itu. Baru aku mau masak dan menari. Kalau engkau suka, kita berangkat sekarang. Kalau tidak, aku pun tidak memaksamu dan kami akan pergi. Akan tetapi selamanya engkau akan mengiler memikirkan tiga masakan itu dan biarpun engkau memaksa koki istana kaisar, dia tidak akan mampu memasaknya. Masakan itu adalah ciptaanku sendiri! Bagaimana?"
"Waaaaahhh.....! Ditambah lagi dengan Jamur Emas? Ini..... ini....."
Lo Koay menggeleng-geleng kepala dan nampaknya susah.
"Kalau begitu, selamat tinggal, Lo Koay!. Dan engkau boleh mengiler sampai tua!"
Kata Siang Bwee yang segera menarik tangan San Hong dan memaksa pemuda itu pergi dari situ dengan langkah cepat.
Setelah pergi sejauh beberapa li diam-diam Siang Bwee merasa menyesal bukan main karena agaknya Lo Koay tidak mengejarnya.
Ia dan San Hong akan rugi besar kalau kakek itu benar-benar mogok!
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu telah berdiri di depan mereka!
"Mau apa engkau mengejar kami, Siauw Koay.
Sampai mati pun aku tidak mau masak dan menari untukmu kalau engkau tidak memenuhi permintaanku tadi."
Kakek itu menarik napas dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Waaahhh, aku mulai merasa menyesal sekali mengapa aku bertemu dengan engkau, enci Bwee. Engkau sungguh berbahaya, jauh lebih berbahaya lagi dibandingkan Empat Datuk Besar. Huuuhhh!"
Kakek itu bergidik dan nampak seperti orang yang merasa ngeri. Siang Bwee tersenyum. Manis bukan main.
"Jadi engkau ingin aku pergi dan tidak mau lagi melihat tarianku dan merasakan masakanku?"
"Tidak begitu..... ahhh, marilah. Mari kita berangkat ke kota raja dan mencuri Jamur Emas!"
Kata kakek itu dengan sikap apa boleh buat karena dia sungguh merasa tidak berdaya menghadapi Siang Bwee.
"Nah, begitu baru Siauw Koay yang baik dan pantas kusayang!"
Kata gadis itu.
"Jangan khawatir, sebelum memasakkan tiga macam masakan istimewa itu setiap hari aku akan membuatkanmu masakan lezat!"
Berangkatlah mereka, ke kota raja dan di sepanjang perjalanan, setiap kali merasa lapar, tentu Siang Bwee membuatkan masakan yang sedap.
Dan setiap malam, kalau mereka tidak melakukan perjalanan, gadis itu mendesak San Hong untuk melatih ilmu-ilmu yang telah di pelajarinya dari Lo Koay dan membujuk agar Lo Koay memberi petunjuk kalau gerakan San Hong ada yang kurang tepat.
Malam itu langit gelap.
Tiada bulan tiada bintang karena langit di kota raja tertutup awan hitam.
Karena gelapnya malam, lampu-lampu penerangan di istana nampak lebih cerah dan indah daripada biasanya.
Memang, terang dan gelap tak terpisahkan.
Tanpa adanya gelap, takkan ada terang dan sebaliknya tanpa adanya terang, takkan ada gelap.
Keduanya saling menunjang, saling menghidupkan.
Udara amat dinginnya malam itu biarpun musim salju belum tiba.
Masih musim semi, akan tetapi dinginnya musim salju yang lalu masih tertinggal walau sudah tidak ada lagi salju turun.
Hawa yang dingin, cuaca yang gelap, membuat para petugas, yang mendapat giliran jaga di pintu gerbang dan di sekitar tembok tinggi yang mengelilingi kompleks istana menjadi lengah dan mengantuk.
Andaikata mereka tidak mengantuk dan tidak lengah sekalipun, belum tentu mereka akan mampu melihat berkelebatnya tiga sosok bayangan yang gerakannya amat cepat seperti burung terbang saja ketika mereka melewati pagar tembok istana.
Bagaikan bayangan setan, tiga sosok itu menyelinap ke sebelah dalam tembok dan menyusup ke dalam taman.
Mereka adalah Lo Koay, San Hong dan Siang Bwee.
Pemuda dan gadis itu kagum bukan main kepada Lo Koay.
Kakek yang kekanak-kanakan ini ternyata hafal akan keadaan dan jalan di dalam kompleks istana!
Tanpa ragu-ragu di menjadi penunjuk jalan, berada di depi dan menyusup-nyusup dengan cekatan.
Jelas bahwa dia memang sudah mengenal baik tempat itu!
Mereka melewati beberapa lapis penjagaan tanpa diketahui para penjaga, belum memasuki istana, Lo Koay memesan kepada dua orang muda itu agar selalu mengikutinya dan jangan membuat gaduh karena sekali mereka ketahuan mereka akan dikepung oleh pasukan pengawal dan sukar untuk dapat meloloskan diri dari istana!
Setelah dekat dengan tempat yang mereka tuju, yaitu bangunan di mana terdapat gudang pusaka, kakek itu berbisik kepada Siang Bwee.
"Sekarang, cepat pukul dadaku dengan Hek in-ciang dari Nam Tok"
"lhhh.....?"
Siang Bwee berseru kaget.
Pukulan Hek-in-ciang (Tangan Awan Hitam) merupakan pukulan beracun yang amat hebat dari ayahnya.
Bahkan pernah ayahnya menggunakan jurus Hek-in-pay san memukul San Hong dan kalau tidak ditolong oleh pengobatan tusuk jarum dari Tung Kiam, tentu nyawa kekasihnya itu tak dapat diselamatkan lagi.
Kini Lo Koay minta agar ia memukul dadanya dengan Hek-in-ciang!
"Apakah engkau telah gila, Siauw Koay?
Aku tidak mau mencelakaimu!"
Lo Koay menyeringai.
"Kaukira dapat mencelakai aku? Kalau engkau tidak mau memukulku dengan Hek-in-ciang, kita tidak mungkin bisa mendapatkan jamur emas itu. Jamur emas itu merupakan obat mujarab yang akan menyembuhkan akibat pukulan beracun ayahmu itu!"
"Tapi.... tapi....."
"Ssttt.....! Sebentar lagi kedatangan kita akan diketahui orang. Cepat pukul atau kita akan gagal sama sekali!"
"Jangan pukul dia, Bwee-moi!"
San Hong sama sekali tidak setuju kali kakek itu dipukul dengan ilmu pukul beracun yang amat jahat itu.Akan tetapi Siang Bwee percaya sepenuhnya kepada Lo Koay.
"Dia yang minta, Koko, dan tentu ada alasannya. Siauw Koay, terimalah pukulanku!"
Dan tangan Siang Bwee menyambar dengan pengerahan tenaga dari ilmu Hek-in-ciang.
"Plakkk!"
San Hong menangkis dari samping.
"Tidak boleh, Bwee-moi!"
Katanya. Akan tetapi pada saat itu, kaki Lo Koay menyambar dari samping dan serangan yang tak disangka-sangka ini membuat kedua kaki San Hong terkena sabetan dan tubuh pemuda itu pun terpelanting.
"Cepat pukul!"
Kata Lo Koay. Siang Bwee mengerti maksudnya dan ia pun memukul lagi.
"Plakkk.....!"
"Bwee-moi.....!"
San Hong berseru akan tetapi terlambat. Tubuh kakek ini terjengkang dan ketika dia bangkit, dia terengah-engah.
"Siapa itu.....?"
Tiba-tiba terdengar bentakan suara wanita yang nyaring dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang membuat Siang Bwee dan San Hong terkejut bukan main.
Wanita itu dapat bergerak demikian cepatnya.
Ia orang wanita yang usianya sudah setengah abad lebih, namun masih nampak cantik dan tubuhnya ramping dengan pakaian ringkas.
Tangan kirinya memegang sebuah hud-tim, yaitu semacam kebutan dari bulu dan sikapnya angkuh.
"Hemmm, kalian berani sekali datang ke sini tanpa ijin?"
Kebutan itu sudah bergerak cepat bukan main, menyambar ke arah dada San Hong.
Pemuda ini cepat melempar tubuh ke belakang dan dapat terhindar dari sambaran kebutan.
Akan tetapi, kebutan itu bergerak lagi, kini bulu-bulunya menjadi kaku dan menusuk ke arah muka Siang Bwee.
Gadis ini cepat mengelak ke samping dan menggerakkan tangan untuk menangkis.
"Plakkk!"
Tubuh Siang Bwee terhuyung dan ia merasa lengannya tergetar. Bukan main hebatnya tenaga yang terkandung dalam kebutan itu.
"Cun Cun, jangan menyerang.....!"
Tiba-tiba Lo Koay berkata, tangan kiri masih memegangi dadanya yang tadi terpukul oleh Siang Bwee.
"Gu Kiong San.....! Engkaukah ini.....?"
Nenek cantik itu berseru.
"Apa artinya ini? Kenapa engkau datang lagi dan mengapa pula membawa pemuda dan gadis ini?"
Kini Lo Koay berdiri di bawah sinar lampu maka nenek itu dapat melihatnya.
"Dan kau..... kau..... kenapa menjadi seperti ini.....?"
Di dalam suara ini terkandung keharuan yang membuat Siang Bwee dan San Hong terheran heran.
"Panjang ceritanya, tapi..... tapi aku datang untuk mohon pertolonganmu, Cun Cun.....!"
"Mari, masuklah ke dalam. Kalau ketahuan pengawal, kalian membuat aku repot sekali!"
Wanita tua itu lalu mendahului mereka, memasuki sebuah pintu kecil yang menembus kegelapan.
Lo Koay, Siang Bwee dan San Hong mengikutinya dan tak lama kemudian, setelah melalui sebuah lorong, mereka diajak masuk ke sebuah kamar, kamar tidur wanita itu.
Kini mereka saling pandang di bawah sinar lampu yang cukup terang dan nenek cantik itu nampak terkejut ketika memandang kepada San Hong dan Siang Bwee.
Sepasang alis yang kecil hitam melengkung panjang itu berkerut.
"Bukankah kalian ini dua orang muda yang pernah dijamu oleh Sribaginda Kaisar sebagai tamu setelah menyelamatkan Sribaginda dari sergapan musuh di hutan?"
San Hong dan Siang Bwee cepat memberi hormat kepada wanita yang amat lihai itu.
"Benar sekali, Bibi yang mulia,"
Kata Siang Bwee dengan sikap gembira.
"Hemmm, lalu bagaimana kalian dapat bersama dia datang ke sini?"
Tanpa menanti jawaban, ia menyambung sambil memandang kepada Lo Koay.
"Dan mengapa engkau sekarang menjadi seperti jembel begini? Dan kau..... ah, engkau terluka parah.....!"
Wanita itu nampak terkejut.
Lo Koay mengeluh dan Siang Bwee melihat dengan heran betapa kini sifat kekanak-kanakan kakek itu jauh berkurang "Aku memang terluka dan kalau engkau, tidak mau menolongku, aku akan segera mati, Cun Cun."
"Coba kuperiksa lukamu!"
Wanita itu tanpa banyak cakap lagi lalu membuka baju Lo Koay dan meraba dadanya. Melihat ada tanda menghitam di dada itu. dan setelah meraba-raba, wanita itu berseru kaget sekali.
"Engkau menderita luka beracun yang hebat!"
"Memang! Aku terkena pukulan Hek in-ciang dari Nam Tok dan kalau engkau tidak memberikan Jamur Emas kepadaku aku tentu mati!"
Wanita itu bernama Coa Eng Cun dan dahulu, di waktu mudanya, pernah ia menjadi kekasih Lo Koay yang ketika itu bernama Gu Kiong San.
Akan tetapi, Coa Eng Cun bertemu dengan Kaisar Wai Wang yang ketika itu masih seorang pangeran.
Eng Cun tertarik oleh kedudukan tinggi dan ia pun rela menjadi selir Wai Wang, meninggalkan Kiong San yang menjadi patah hati!
Akan tetapi, ketika Kaisar Wai Wang mulai tidak mempedulikannya karena di situ terdapat banyak saingan para selir muda, dan Eng Cun mendapat kenyataan bahwa kedudukan tinggi ternyata juga tidak mendatangkan kebahagiaan melainkan hanya kesenangan sementara, ia lalu minta diberi tugas yang sesuai dengan kemampuannya.
Kaisar Wai Wang lalu menugaskan ia sebagai penjaga gudang pusaka karena kaisar tahu akan kemampuan bekas selir itu.
"Gu Kiong San, bagaimana engkau dapat mengharapkan aku memberikan Jamur Emas kepadamu? Kau menyuruh aku berkhianat kepada Sribaginda?"
Lo Koay menarik napas panjang.
"Aku sudah menduga. Engkau tentu tidak peduli dan akan tega melihat aku mati, dan aku pun sudah tidak peduli akan nyawaku. Akan tetapi dua orang ini yang membujuk dan memaksaku. Aihhhhh, ternyata perjalanan kami yang susah payah hanya sia-sia belaka!"
Jelaslah bahwa Lo Koay minta bantuan Siang Bwee yang cerdik untuk menghadapi nenek cantik yang nampaknya keras hati itu.
Siang Bwee memang cerdik.
Biarpun ia tidak pernah mendengar akan hubungan kedua orang tua itu, namun melihat sikap mereka, cara mereka saling memanggil nama masing-masing, dapat menduga bahwa dahulu terdapat hubungan dekat antara Lo Koay dan wanita itu.
Maka, ia pun membantu Koay mendapatkan Jamur Emas, bukan semata-mata untuk keperluan San Hong melatih ilmu silat aneh dari Lo Koay akan tetapi yang lebih ia pentingkan untuk mengobati Lo Koay yang membiarkan diri terluka oleh pukulan Hek-in ciang.
"Bibi yang baik, kuharap Bibi suka menaruh kasihan kepada Siauw Koay ini. Dia seorang yang baik sekali, dan nyawanya terancam maut. Sebaliknya, Sribaginda Kaisar mempunyai banyak pusaka dan benda aneh, kehilangan sebuah Jamur Emas pun tidak ada artinya bagi beliau. Pula, dibandingkan dengan Sribaginda Kaisar, Siauw Koay ini jauh lebih baik, lebih bijaksana dan lebih pantas untuk di tolong!"
"Siauw Koay.....?"
Coa Eng Cun bertanya heran sambil memandang kepada bekas kekasihnya itu. Lo Koay tersenyum malu-malu.
"Aih, Cun Cun. Di luaran aku disebut Lo Koay, akan tetapi Enci Bwee dan Hong-ko ini lebih suka menyebutku Siauw Koay!"
Diam-diam Coa Eng Cun merasa terharu sekali.
Bekas kekasihnya ini, yang memiliki ilmu yang hebat, yang pernah menjadi orang yang dikaguminya, kini telah menjadi seorang kakek yang pikun dan kekanak-kanakan!
Dan di sudut hatinya, ia merasa bertanggung jawab.
Karena patah hatilah Gu Kiong San menjadi seperti ini!
"Jelaskan, mengapa engkau mengatakan bahwa dia ini lebih bijaksana dan lebih pantas ditolong daripada Sribaginda Kaisar!"
Katanya sambil memandang kepada Siang Bwee.
"Bibi sudah mengenal bahwa aku dan Hong-ko pernah menyelamatkan kaisar bahkan kemudian diundang menjadi tamu di istana ini. Akan tetapi tahukah Bibi kenapa kami berdua pada keesokan harinya pagi-pagi menghilang dari istana tanpa pamit?"
Wanita itu mengerutkan alisnya.
"Aku sudah mendengar bahwa kalian diam-diam minggat, akan tetapi aku tidak tahu mengapa. Kalian begitu kurang ajar sudah diundang sebagai tamu kehormatan lalu pergi tanpa pamit."
"Biarlah sekarang kuceritakan kepada Bibi agar Bibi mengetahui bahwa Siauw Koay ini jauh lebih bijaksana daripada Sribaginda Kaisar. Malam itu ketika kami dijamu oleh Sribaginda, diam-diam aku dibius oleh beliau dalam hidangan itu. Kemudian, malam itu Sribaginda mengatakan agar aku suka memilih, menjadi selir beliau atau selir seorang di antara para pangeran! Aku menolaknya dan karena itu maka beliau menggunakan bius! Untung Hong-koko dapat mencegah seorang pangeran yang hampir saja memperkosa aku yang dalam keadaan terbius. Kami lalu melarikan diri malam itu juga keluar istana."
Coa Eng Cun yang mendengarkan keterangan ini menarik napas panjang.
Ia tahu akan kerakusan Sribaginda dan para pangeran terhadap wanita cantik dan itulah sebabnya mengapa ia minta keluar dari istana bagian puteri dan lebih suka menjadi pengawal gudang pusaka.
"Nah, apakah seorang penguasa seperti itu patut untuk dijunjung dan di bela dengan setia? Belum lagi berita tentang sikap Sribaginda terhadap pasukan Mongol! Memalukan sekali! Beliau membawa bangsa kita menjadi rendah dan hina, mau saja dipermainkan dan diperhina oleh bangsa biadab dari utara."
"Enci Bwee, cukup.....!"
Kata Lo Koay yang merasa kasihan kepada bekas kekasihnya itu.
Hanya dia yang tahu bahwa Coa Eng Cun pernah menjadi selir Sri baginda, dan kini Sribaginda dijelek-jelekkan oleh Siang Bwee.
Nenek cantik itu menundukkan mukanya.
Semua yang dikatakan gadis itu memang benar, la sendiri merasa muak ketika melihat betapa kaisar demikian merendahkan diri, seperti menyerah tanpa perlawanan kepada pasukan Mongol ketika pasukan itu mengepung kota raja Padahal, kalau kaisar bersikap gagah mengerahkan seluruh tenaga pasukan untuk melawan, belum tentu akan kalah.
Sribaginda yang setiap hari hanya bersenang senang saja itu telah menjadi seorang yang bersikap pengecut.
Kini, selagi nenek itu termenung ragu, terdengar suara Lo Koay, suaranya tidak kekanak kanakan lagi, melainkan lembut dan mengandung getaran keharuan.
"Eng Cun, kita sudah tua sekarang. Apakah sisa usia yang tinggal sedikit ini hendak kaugantungkan kepada tugasmu di sini? Tidakkah engkau ingin menikmati kebebasan dunia luar istana? Cun Cun kebebasan di luar istana jauh lebih indah daripada segala gemerlapan yang berada di sini. Cun Cun, maukah engkau meninggalkan tempat ini dan menghabiskan sisa hidup kita bersamaku di alam bebas? Kita bersama dapat mengarungi samudera luas, dapat menjelajah gunung gunung, bagaikan dua ekor rajawali tua melayang-layang di angkasa. Bagaimana, Cun Cun?| Masihkah ada harapan bagiku menjelang akhir hidupku ini mengecap kebahagiaan yang telah lama meninggalkan aku?"
Siang Bwee menundukkan mukanya.
Hatinya terharu sekali.
Ingin rasanya ia menangis.
Betapa seorang seperti Lo Koay dapat mengeluarkan kata-kata seindah itu, sesedih itu!
Juga San Hong menundukkan mukanya.
Dan nenek itu agaknya tidak mempedulikan bahwa di situ terdapat dua orang muda itu.
ia mengangkat mukanya, memandang kepada Lo Koay dan perlahan-lahan sepasang mata yang masih jeli itu menjadi basah, dan runtuhlan dua titik air mata ke atas pipinya.
"Gu Kiong San, setelah apa yang kulakukan selama ini.., engkau..... masih mengharapkan itu..? Aku yang telah menyakiti hatimu, dan engkau..... masih mengharapkan kehadiranku di sampingmu....?"
Lo Koay tertawa dan suara ketawa nya juga berbeda dari biasanya. Suara ketawa seorang laki-laki yang dalam dan tenang.
"Tidak tahukah engkau, Cun Cun? Tak pernah sehari pun aku tidak mengharapkan kembalimu di sampingku. Aku ingin.. kalau aku mati.....ada engkau di sampingku..... aku ingin menggunakan sisa tenagaku untuk membahagiakanmu, memenuhi segala keinginanmu, mengusir semua duka nestapa dari hatimu."
"Kiong San.....!"
Dan kini nenek cantik itu menangis, seolah menangisi sesuatu yang telah bertanun-tahun hilang dan baru kini ia menemukannya kembali.
Akan tetapi ia seorang wanita yang kuat.
Hanya sebentar saja terseret oleh keharuan hatinya, lalu ia berhenti menangis.
"Pergilah engkau, Kiong San dan ajak dua orang muda ini keluar dari sini. Tunggulah aku di luar pintu gerbang selatan. Besok pagi-pagi aku akan berada di sana membawa Jamur Emas."
"Cun Cun.....! Ah, terima kasih Tuhan terima kasih atas berkah ini.....! Hayo enci Bwee dan Hong-ko, kita pergi!"
Di lalu bangkit dan menangkap tangan Siang Bwee dan San Hong, diajaknya mereka pergi dari situ dengan sikap yang gembira sekali.
Siang Bwee dan San Hong tidak membantah walaupun di dalam hatinya, Siang Bwee merasa kecewa dan ragu-ragu.
Namun, karena perjalanan keluar istana bukan merupakan pekerjaan mudah, bahkan amat berbahaya, maka ia pun tidak berani mengeluarkan suara, hanya bersama San Hong mengikuti Lo Koay yang menjadi petunjuk jalan.
Akhirnya, mereka berhasil keluar dari tembok istana dengan selamat dan Lo Koay mengajak mereka memutar dan menanti di luar pintu gerbang selatan.
Malam telah larut akan tetapi mereka tidak berani membuat api unggun karena hal itu akan menarik perhatian para penjaga di pintu gerbang dan akan membangkitkan kecurigaan mereka.
Mereka hanya duduk saja di balik pohon-pohon yang tumbuh tak jauh dari pintu gerbang, dan jarak mereka cukup jauh dari pintu gerbang sehingga mereka dapat bercakap cakap dengan leluasa tanpa khawatir terdengar orang lain.
Setelah berada di situ, barulan Siang Bwee berani bicara untuk melampiaskan perasaan tidak puas dan penasaran di hatinya.
"Siauw Koay, bagaimana sih engkau ini? Engkau membiarkan dirimu menerima pukulan Hek in ciang, engkau terluka dan berada dalam bahaya. Menurut keteranganmu, hanya Jamur Emas yang dapat menyelamatkanmu. Kita sudah bersusah payah menyelundup ke dalam istana dan tiba di gudang pusaka. Akan tetapi, engkau menerima janji bibi itu begitu saja! Kenapa tidak kauminta malam tadi juga obat itu? Bagaimana kalau ia tidak memenuhi janjinya?"
Lo Koay tersenyum dan kini sifat kanak-kanaknya hilang sama sekali. Akan tetapi dia masih bersikap biasa.
"Enci Siang Bwee, jangan khawatir. Eng Cu bukan seorang yang suka melanggar janji. Ia pasti akan muncul. Pasti! Dan jamur emas itu akan dibawanya ke sini Percayalah!"
"Siauw Koay, kalau boleh aku mengetahui, siapakah sesungguhnya bibi yang lihai itu?"
San Hong ikut bertanya karena dia merasa tertarik dan kagum sekali kepada nenek cantik yang amat lihai itu.
"Aku pun ingin tahu sekali, Siau Koay. Ceritakanlah, siapakah bibi itu? Agaknya engkau amat mencintanya!"
Kata biang Bwee tanpa sungkan lagi. Lo Koay tertawa. Dia memang paling suka kepada Siang Bwee karena sikapnya yang terbuka itu.
"Ha ha ha, dugaanmu benar, enci Bwee. Aku mencinta Coa Eng Cun, sejak kami berusia dua puluh tahun sampai sekarang dan selamanya. Dahulu kami pernah menjadi kekasih, akan tetapi sebelum kami menikah, ia dipilih oleh pangeran yang kini menjadi Kaisar Wai Wang. Ia dibawa ke istana sebagai selir pangeran....."
"Ihhh! Dan engkau diam saja, Siauw Koay?"
Siang Bwee berseru penasaran.
"Ha ha-ha, enci Bwee. Habis, aku disuruh bagaimana? Eng Cun masih amat muda, dan bagaimana mungkin menyalahkan seorang gadis muda yang silau oleh gemerlapnya kemuliaan di istana pangeran? Aku mengalah, ia menjadi selir pangeran."
"Hemmm, dan sejak muda ia sudah lihai sekali?"
Kakek itu mengangguk.
"Tingkat ilmu kepandaiannya hanya berselisih sedikit dengan aku. Sebetulnya ia masih terhitung sumoiku. Ketika ia berada di istana, ia memperdalam ilmunya dan belajar dari para jagoan istana sehingga ia semakin lihai saja."
"Akan tetapi, ketika pangeran itu menjadi kaisar, berarti ia seorang selir kaisar, Siauw Koay! Lalu bagaimana kini ia menjadi penjaga gudang pusaka?"
"Biarpun kami sudah saling berpisah jauh, aku tidak pernah melupakannya begitu saja dan aku selalu menyelidiki keadaannya, maka aku tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Segala yang gemerlapan itu hanya nampak indah bagi yang belum memilikinya saja. Sekali yang gemerlapan itu sudah dimilikinya, maka akan hambarlah, akan pudarlah keindahannya. Wai Wang lupa diri. Setelah menjadi kaisar, dia membiarkan diri tenggelam dalam kesenangan. Eng Cun merasa ditinggalkan dan ia pun merasa kecelik. Sudah sepuluh tahun yang lalu ia mengundurkan diri dari kumpulan selir kaisar, dan minta tugas sebagai penjaga gudang pusaka. Nah, demikianlah, sampai malam ini kami saling bertemu karena..... karena ingin makan masakanmu dan melihat tarianmu, enci Bwee. Ha-ha-ha.....!"
Siang Bwee juga tertawa. Kakek ini sudah kembali menjadi seorang kakek yang gembira namun berwibawa, tidak lagi kekanak-kanakan walaupun masih jenaka.
"Siauw Koay, katakan saja bahwa engkau rindu kepada Bibi Coa Eng Cun, jangan pakai alasan ingin merasakan masakanku segala!"
"Sungguh, enci Bwe. Kalau tidak karena masakan dan tarianmu, kalau tidak ingin menukarnya dengan ilmuku, aku tidak akan berani datang menemuinya. Aku.. aku takut kalau kalau menderita kekecewaan dan kedukaan yang kedua kalinya. Aku takkan kuat menahan derita itu. Dan sekarang, terima kasih kepada Tuhan! Agaknya Tuhan menaruh iba kepada kami dan kami akan dipersatukan kembali, menghabiskan sisa hidup berdekatan selalu!"
San Hong merasa terharu sekali dan dia pun cepat memberi hormat kepada kakek itu dan berkata.
"Lo-cianpwe, saya menghaturkan kionghi (selamat) atas berkumpulnya kembali ji-wi lo-cian-pwe (dua orang tua gagah)!"
Jelas bahwa kakek itu telah berubah.
Disebut lo cian-pwe oleh San Hong yang biasanya menyebut Siauw Koay, dia menerimanya biasa saja.
Seolah baginya tidak ada bedanya disebut Siauw Koay atau pun lo-cian-pwe!
"Terima kasih, San Hong!
Engkau anak baik dan aku girang telah memberi kau sebagian ilmuku kepadamu.
Kalau engkau bertemu dengan lima orang gurumu, Katakan bahwa tak lama lagi mungkin aku akan tinggal pula di Thaisan!"
"Baik, Lo-cian-pwe.!"
"Wah-wah-wah, bagaimana ini? Dari Siauw Koay menjadi lo-cian-pwe! Bagaimana pula aku harus menyebutmu? Masih tetap Siauw Koay ataukah juga harus lo-cian-pwe?"
Tanya Siang Bwee sambil tertawa tawa. Lo Koay juga tertawa.
"Sesukamulah! Sebutan hanyalah suara, bukan bendanya, atau orangnya! Disebut apa pun juga, apa| bedanya? Si benda tidak berubah. Yang berubah-ubah hanyalah sebutannya. Nah, kalau engkau masih menyebut Siauw Koay, tentu aku akan menyebutmu Enci Bwee, agar sesuai. Terserah kepadamu. Kalau aku disebut Siauw Koay, senang saja karena berarti aku awet muda, belum tua dan tetap seperti kanak-kanak. Sebaliknya, kalau engkau suka disebut enci oleh seorang kakek, berarti engkau sudah nenek-nenek, sudah jompo dan tua sekali, ha-ha-ha-ha-ha!"
Tentu saja Siang Bwee cemberut mendengar ini.
"Ih, engkau nakal! Aku tidak sudi disebut enci lagi olehmu! Biar sebut engkau Lo Koay saja!"
"Jangan marah, Siang Bwee yang manis. Kalau engkau memanggil Lo Koay aku akan memanggilmu Siang Bwee. Nah sudah cocok, bukan? Akan tetapi engkau jangan berubah menjadi pemarah, akan hilang manismu kalau engkau pemarah."
"Dan engkau pun jangan melanggar janji. Engkau harus mengajarkan ilmu sinkang Perisai Diri dan ilmu ginkang menunggang Angin kepada Hong-ko!"
"Tidak bisa dua ilmu itu untuk dua orang. Dia tidak akan kuat. Biar kuujarkan sin-kang Perisai Diri kepadanya setelah dia makan sebagian dari jamur emas, dan gin-kang Menunggang Angin Kuajarkan kepadamu."
"Horeee.....! Engkau Lo Koay yang baik!"
"Ssttt... ! Jangan ribut, Bwee-moi. Apa kau ingin para penjaga di pintu gerbang sana itu mendengar suaramu?"
Sun Hong menegur Siang Bwee.
"Pasti kuajarkan, kedua ilmu itu akan kuberikan kepada kalian, akan tetapi dengan syarat....."
"Aih, kaukira aku pun orang yang suka melanggar janji? Akan kumasakkan sup sirip naga laut, daging setan laut saos tomat, dan goreng cacing kering kepadamu, ditambah tarian bidadari!"
"Bukan itu saja, ada tambahannya!"
"Wah kau setelah menjadi Lo Koay, mau curang? Bukankah janjinya hanya itu?"
"Ditambah sedikit, yaitu engkau mengajarkan rahasia masak-masak agar dapat lezat seperti masakanmu itu kepada Cui Eng Cun!"
Siang Bwee tersenyum geli.
"Hemm dan mengajarkan ilmu menari juga?"
"Tidak usah. ia sudah mulai tua, tidak perlu menari, asal pandai masak pun bagiku sudah cukup."
"Lo Koay, ada satu hal yang ingin sekali kutanyakan kepadamu. Akan tetapi janji dulu, kau tidak akan marah oleh pertanyaanku ini."
Lo Koay tersenyum.
"Apakah aku pernah marah kepadamu, Siang Bwee? Sungguh aneh kalau ada orang dapat marah kepada seorang gadis seperti engkau ini.Tanyakan, apakah yang ingin kau ketahui itu?"
"Begini, Lo Koay. Setelah melihat pertemuan antara Lo Koay dan Bibi Cun aku merasa heran sekali. Apakah orang tua kalian berdua masih mempunyai gairah berahi maka kalian begitu mesra dan hendak hidup bersama?"
San Hong terbelalak dan berusaha untuk mengamati wajah gadis itu.
Akan tetapi cuaca terlampau gelap sehingga dia tidak dapat melihat apa-apa pada muka itu kecuali bayangannya saja.
Dia merasa heran sekali walaupun sudah mengenal watak Siang Bwee yang terbuka dan tidak malu malu, akan tetapi pertanyaan yang diajukan kepada Lo Koay itu sungguh luar biasa.
Dia sendiri sebagai seorang laki-laki saja akan merasa sungkan dan malu bertanya seperti itu!
Akan tetapi gadis itu bertanya dengan nada suara polos saja, seolah yang di tanyakan itu soal biasa sehari-hari.
Bagaimanapun juga San Hong mempunyai latar belakang kehidupan dan kebudayaan yang berbeda dibandingkan Siang Bwee.
Lingkungan hidupnya jauh berbeda.
San Hong masih terikat banyak belenggu kesusilaan dan kesopanan, sedangkan Siang Bwee lebih bebas dan polos.
Pertanyaan yang diajukannya itu sesungguhnya juga biasa saja baginya, pertanyaan yang timbul dari hati, bukan bermaksud untuk kurang ajar atau tidak sopan.
Mendengar pertanyaan ini, dan pendengarannya yang tajam mendengar napas tertahan lalu agak memburu dari San Hong, Lo Koay tertawa geli.
Dia dapat membayangkan betapa terkejutnya seorang pemuda biasa seperti San Hong mendengar gadis yang dicintanya itu mengajukan pertanyaan seperti itu pada seorang kakek!
Akan tetapi dia sendiri menerima pertanyaan itu dengan gembira, sedikit pun tidak merasa tersinggung.
"Ha-ha-ha, anak baik. Kau kira kebahagiaan bisa diperoleh hanya melalui pelepasan gairah berahi saja? Kau kira cinta kasih adalan cinta berahi? Itu kesalahan banyak orang sehingga akhirnya mereka kecewa! Siapa yang menganggap bahwa cinta kasih itu gairah berahi, akan kecelik dan kecewa oleh nafsu berahi itu sendiri. Segala macam nafsu tidak membahagiakan, hanya menyenangkan. Kesenangan bukanlah kebahagiaan Kesenangan hanya saudara kembar kesusahan. Yang puas akan kecewa, yang senang akan susah. Orang setua kami tidak lagi terbelenggu oleh gairah berahi, Siang Bwee. Kami sudah cukup bahagia kalau melihat bahwa orang yang kita cinta itu hidup dalam keadaan gembira, tidak menderita sengsara. Karena itu, kebersamaan merupakan suatu kebahagiaan pula, baik itu antara saudara, antara sahabat, atau antara suami isteri."
Mendengar jawaban itu, tahulah kini betapa pentingnya pertanyaan yang diajukan kekasihnya tadi, walaupun nampaknya kasar dan tidak sopan.
Pertanyaan itu sesungguhnya merupakan pertanyaan biasa, dan menyangkut kepentingan kehidupan setiap orang manusia yang sudah dewasa.
Cinta kasih sudah demikian sarat oleh arti seperti ditafsirkan semua orang.
Kalau bisa digambarkan, kiranya bukan cinta kasih, karena yang dapat digambarkan hanyalah sesuatu yang menyenangkan.
Dan segala yang menyenangkan itu menimbulkan nafsu untuk mengejarnya, untuk mempertahankan dan memilikinya.
Yang jelas, kita hanya dapat mengerti apa yang bukan cinta kasih.
Yang mendatangkan sengsara, yang mendatangkan duka, yang mendatangkan pertentangan, jelas bukan cinta kasih.
Karena itu, gairah berahi bukanlah cinta kasih karena gairah berahi dapat mendatangkan banyak macam masalah, dapat mendatangkan kekecewaan dan makin banyak orang meneguknya, dia akan menjadi semakin kehausan.
Cemburu, iri hati, rasa takut keinginan menyenangkan diri sendiri bukanlah cinta kasih karena semua itu dapat mendatangkan duka dan perselisihan.
Segala macam keinginan untuk senang jelas bukanlah cinta kasih.
Keinginan menimbulkan pamrih, dan pamrih jelas pekerjaan nafsu.
Bukan berarti bahwa kita harus melenyapkan segala nafsu.
Hal ini tidak mungkin sekali dan hanja terdapat dalam angan-angan mereka yang ingin menemukan kebahagiaan melalui akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu pula!
Ada orang bertapa ke puncak gunung ke gua-gua atau di tepi samudera, seolah tidak mempedulikan lagi urusan dunia tidak mempedulikan urusan badani, jarang makan jarang tidur dan hampir telanjang.
Seolah dengan penyiksaan diri mereka itu dapat mengendalikan nafsu, menghajar nafsu, memusuhi nafsu dan akhirnya akan mencapai apa yang mereka idamkan, yaitu kesempurnaan hidup, kebahagiaan hidup.
pendeknya suatu keadaan yang amat baik atau lebih baik daripada keadaan sehari-hari kehidupan yang masih dikuasai oleh nafsu.
Usaha seperti itu akan sia-sia belaka dan andaikata ada yang berhasil, maka tentu dia bukan manusia lagi!
Kalau kita masih menjadi manusia, yaitu manusia yang hidup di dunia ini, memakai badan jasmani seperti sekarang ini, kita tidak mungkin ditinggalkan nafsu-nafsu.
Karena nafsu-nafsu inilah bahan bakar kehidupan, mendorong kehidupan.
Segala macam daya rendah yang menjadi nafsu inilah yang menjadi alat bagi badan kita untuk tetap hidup.
Nafsu yang timbul dari daya kebendaan membuat manusia mampu menggunakan akal pikirannya untuk membuat segala macam benda keperluan kehidupan kita.
Tanpa adanya nafsu dari daya rendah kebendaan, kita tidak akan mampu membuat apa-apa.
Nafsu yang timbul dari daya rendah tumbuh-tumbuhan membual kita dapat makan, terasa enak sehingga tubuh kita dapat bertumbuh, terpelihara dan makanan itu menjadi darah daging kita.
Daya rendah hewani juga menghidupkan, melalui daging yang kita makan, melalui binatang kecil-kecil yang kita telan melalui sayuran, melalui ai melalui udara, menimbulkan nafsu da semangat kekuatan kepada kita.
Hubungan antar manusia juga mendatangkan nafsu, membuat kita berkeinginan untuk berkembang biak, hubungan antara pria dan wanita.
Tuhan Yang Maha Kasih memang sudah memberkahi manusia dengan berkah yang berlimpahan.
Kita dilahirkan dunia dengan bekal nafsu-nafsu yang sungguhnya amat penting bagi kehidupai manusia di dunia sebagai alat, sebagai abdi, untuk menjaga agar tubuh yang di huni jiwa itu terpelihara, sehat dan jug dapat menikmati segala macam kesenangan di dunia.
Itulah rahmat, berkah yang berlimpahan.
Namun, nafsu merupakan alat yang amat penting, merupakan abdi yang amat berguna dan baik, kalau saja tidak dibiarkan merajalela dan mengubah kedudukannya dari alat menjadi yang memperalat, dari hamba menjadi majikan!
Celakalah hidup ini kalau kita yang diperalat nafsu, kalau kita yang diperhamba nafsu.
Jungkir balik jadinya!
Nafsu yang sudah memperalat manusia, yang sudah memperhamba manusia, dapat membuat manusia-manusia menjadi mahluk yang sekejam-kejamnya dan sejahat-jahatnya.
Dan kalau sudah begitu, hidup hanya berarti siksa dan derita, duka dan sengsara sebagai imbalan merajalelanya nafsu dan kesenangan.
Sejak kita lahir, kita telah disertai oleh nafsu yang timbul karena adanya daya-daya rendah, namun ketika kita masih bayi dan akal pikiran belum menguasai seluruh diri, maka kita masih dekat sekali dengan kekuasaan Tuhan yang membimbing kita.
Namun, semakin besar, semakin banyak pengertian kita, semakin dewasa akal pikiran kita, semakin tergantunglah kita kepada alat-alat kita itu.
Akhirnya seluruh hidup kita dikuasai oleh hati dan akal pikiran yang digelimangi nafsu daya rendah.
Dan beginilah jadinya kehidupan di dunia ini.
Penuh konflik, penuh pertentangan, kebencian, permusuhan, perang!
Semua ini adalah ulah kita yang telah diperhamba oleh nafsu.
Setan yang memegang kemudi dalam diri kita.
Kalau ada kesadaran akan keadaan ini dalam batin kita, lalu kita berusaha untuk melepaskan diri dari nafsu, maka selalu kita menghadapi kegagalan.
Betapa banyaknya contoh di dunia ini.
Agama agama berkembang luas dan setiap pemerintahan negara manapun mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada rakyatnya, agar kembali ke jalan benar dan jangan terjadi kekacauan, kejahatan dalam bentuk apapun.
Pemerintah negara manapun juga, para pemimpin negara manapun juga selalu berusaha untuk mendatangkan ketenteraman dan kemakmuran bagi kehidupan rakyatnya.
Namun, apa hasilnya.
Semua usaha itu hanyalah usaha yang dilakukan oleh hati dan akal pikiran padahal hati dan akal pikiran itu sejak lama telah bergelimang nafsu daya rendah.
Orang boleh pergi ke puncak bukit, ke gua-gua, ke tempat sunyi mengasingkan diri, dengan pamrih untuk membebaskan diri dari nafsu, untuk memperoleh kembali kepribadiannya yang hilang sebagai seorang manusia yang ber-Tuhan.
Namun, usaha ini saja sudah berpamrih untuk membebaskan diri dari kesengsaraan akibat mengamuknya nafsu, pamrih untuk mendapatkan kebahagiaan, kesenangan.
Dan biasanya, usaha ini tidak berhasil, bahkan mungkin saja kita dibawa menyeleweng oleh setan ke arah jalan sesat yang penuh keanehan kekuasaan hitam, kekuasaan setan yang dapat membuat kita pandai melakukan hal yang aneh-aneh!
Dan kalau sudah begitu, berarti kita terperosok ke dalam lumpur yang lebih dalam lagi!
Lalu kepada siapakah kita dapat minta tolong?
Tidak ada lain kekuasaan yang dapat menolong kita, dapat membebaskan kita dari cengkeraman nafsu daya rendah, selain kekuasaan Tuhan!
Kita hanya dapat menyerahkan diri dengan penuh keikhlasan, ketawakalan dan kesabaran.
Kita hanya dapat mengembalikan kesemuanya itu kepada Sang Maha Pencipta!
Pasrah dan waspada terhadap keadaan diri sendiri.
Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu melepaskan kita dari cengkeraman nafsu, yang akan dapat memulihkan keadaan seperti semula, yaitu semua nafsu daya rendah itu menjadi pengikut, menjadi pelayan, menjadi alat untuk kepentingan hidup badaniah kita.
Bukan menjadi majikan lagi!
Dan kalau sudah begitu, maka kehidupan kita akan dipenuhi cahaya kekuasaan Tuhan.
Kekuasaan Tuhan yang akan membimbing kita, bukan lagi hati dan akal pikiran.
Hati dan akal pikiran lalu melaksanakan tugas yang semula, yang sebenarnya yaitu tugas menjaga agar badan kita tetap pelihara dalam kehidupan ini sehingga nafsu daya rendah tidak lagi merajalela tidak dapat lagi menimbulkan dengki, iri, cemburu, benci, takut dan sebegainya yang mengakibatkan perbuatan-perbuatan yang sesat dan jahat.
Kekuasaan Tuhan memenuhi diri kita dengan Kasih, seperti yang menjadi sifatNya.
Semalam itu mereka bertiga tidak tidur, karena bagaimanapun juga, janji nenek Coa Eng Cun yang akan menyusul mereka di pagi hari mendatangkan perasaan tegang di dalam hati mereka, walaupun tak seorang pun di antara mereka pernah mengatakannya.
Terdengar ayam jantan berkeruyuk di kejauhan.
Ada pula kokok ayam hutan di sebelah utara dan suara burung-burung berkicauan.
Betapa indahnya suara-suara di pagi hari menjelang matahari mengirim sinarnya itu.
Indah nian!
Seolah semua suara itu merupakan nyanyian puja puji terhadap kebesaran, keagungan dan kecintaan Yang Maha Kuasa terhadap segala mahluk, yang nampak maupun yang tidak nampak.
Pohon-pohon besar pun seperti baru terjaga dari tidur dan memanjatkan doa kepada Sang Maha Pencipta, doa tanpa suara yang hanya di dengar oleh yang berdoa dan Sang Penerima Doa.
Sesosok bayangan berpakaian kuning keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan.
Mula-mula, komandan jaga di pintu gerbang itu bersama belasan orang anak buahnya menghadang dengari sikap keren karena sebelum pintu gerbang dibuka, umum dilarang keras untuk keluar masuk kota raja tanpa ijin.
Akan tetapi, begitu komandannya melihat siapa yang berpakaian kuning dan ingin keluar melalui pintu gerbang itu, dia cepat memberi hormat.
Tentu saja dia mengenal nenek Coa Eng Cun, bekas selir kaisar yang kini dikenal pula sebagai seorang di antara kepercayaan kaisar dan menjadi jagoan istana yang menjaga keamanan istana dan keluarga kaisar!
"Buka pintu gerbang, aku hendak keluar melaksanakan tugas!"
Kata nenek itu setelah melihat komandan itu dan anak buahnya berdiri tegak memberi hormat.
Komandan itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk membuka pintu gerbang.
Nenek berpakaian kuning itu pun keluar.
Ia menggendong buntalan pakaian dan gerakannya gesit dan cepat sekali ketika ia melesat keluar.
Karena sudah janji lebih dahulu, nenek itu dapat menduga di mana Lo Koay, bekas kekasihnya itu, dan dua orang muda yang datang bersamanya itu menantinya.
Maka ia pun cepat berlari menuju ke sekelompok pohon di luar sebuah hutan tak jauh dari pintu gerbang itu.
Lo Koay juga cepat bangkit menyambut ketika dia melihat berkelabatnya bayangan kuning, diikuti olah Siang Bwee dan San Hong.
Cuaca masih remang-remang bahkan gardu penjagaan di pintu gerbang tidak nampak dari situ, yang nampak hanya berkelap-kelipnya lampu gantung yang dipasang di luar dan di dalam pintu gerbang.
Nenek itu berhenti di depan Lo Koay.
Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan dua orang muda hanya menjadi penonton di sebelah kiri kakek itu.
"Cun Cun, engkau memenuhi janjimu.....!"
Akhirnya Lo Koay berkata dan suaranya terdengar mengandung keharuan dan kegembiraan.
Nenek yang masih nampak cantik dan ramping itu menundukkan muka seperti orang yang merasa malu-malu!.
Kemudian ia pun mengeluarkan ucapan lirih.
"Mulai saat ini aku akan berusaha untuk memenuhi apa saja yang kujanjikan, Kiong San."
Ucapan ini membuat Siang Bwee dan San Hong merasa terharu pula.
Mereka semalam telah mendengar cerita Lo Koay tentang hubungan antara kakek dan nenek.
itu, betapa dahulu di waktu muda mereka berdua saling mencinta, akan tetapi sayang, mereka terpaksa saling berpisah karena Coa Eng Cun, nenek itu yang dahulunya seorang gadis cantik jelita, lebih suka menjadi selir pangeran!
Dan agaknya peristiwa itulah yang membuat nenek itu tadi mengatakan bahwa mulai saat ini ia akan memenuhi apa saja yang janjikan!
Jelas bahwa dahulu, ia telah menyalahi janji cintanya kepada Lo Koay dan sekarang mereka telah bertemu dan berkumpul kembali, dan nenek itu merasa menyesal akan perbuatannya yang sudah lalu.
"Eng Cun, engkau tidak lupa membawa jamur emas itu, bukan?"
Tanya Lo Koay.
"Tentu saja tidak. Akan tetapi tidak enak kita bicara di sini. Aku merasa bahwa ada yang mencurigai kepergianku. Mari kita pergi dari sini, menjauhi kota raja....."
Tiba-tiba nenek itu menghentikan ucapannya dan serentak ia dan kakek itu membalikkan tubuh.
Juga San Hong dan Siang Bwee membalik dan benar saja pendengaran mereka yang tajam tadi menangkap suara tidak wajar.
Kiranya di situ telah berdiri lima orang laki-laki yang usianya antara lima puluh tahun, berpakaian ringkas dan di punggung mereka nampak gagang pedang beronce beraneka warna.
Di antara mereka ada yang gendut, ada pula yang kurus, ada yang brewok, ada pula yang mukanya bersih, akan tetapi kelimanya bersikap gagah dan angkuh.
Melihat lima orang ini, nenek Coa Eng Cun nampak terkejut, akan tetapi ia menenangkan hatinya lalu melangkah maju menghampiri mereka.
"Hemmm, kiranya Sin-kiam Ngo-liong (Lima Naga Pedang Sakti) yang datang!"
Nenek itu menegur dengan suara halus, akan tetapi disambung dengan suara yang keren.
"Mau apa kalian membayangi aku sampai di sini?"
Lima orang yang sikapnya angkuh itu kini nampak seperti orang yang sungkan dan salah tingkah, mereka lalu memberi hormat ke arah nenek itu dengan merangkap kedua tangan depan dada, kemudian orang tertua di antara mereka yang bertubuh kurus dan mukanya bersih tak berkumis atau berjenggot, melangkahi, maju mewakili teman-temannya.
"Harap maafkan kami....."
"Hemmm, Sin-kiam Ngo-liong, tidak tahukah kalian siapa aku?"
Bentak pula nenek itu.
"Tentu saja !"
Kata pula orang kurusi itu.
"Toa-nio (Nyonya Besar) adalah Coa Cun Eng Toa-nio yang terhormat, kepala jaga yang bertanggung jawab atas keamanan gudang pusaka, bahkan Paduka pernah menjadi selir Sribaginda Kaisar....."
"Nah, kalau sudah tahu, bagaimana kalian berani kurang ajar membayangi aku? Pergilah kalian!"
"Maaf, Toanio. Bukan kami hendak kurang ajar. Hanya tadi di istana, kami melihat sikap Toanio yang tidak wajar. Toanio meninggalkan gudang pusaka tanpa mengunci daun pintunya juga tidak memberi tahu kepada pasukan pengawal. Toanio keluar secara diam-diam dari istana, bahkan Toanio lalu keluar kota dan mengadakan pertemuan dengan mereka ini. Dan ah, bukankah dua orang muda ini yang pernah dijamu sebagai tamu oleh Sribaginda akan tetapi kemudian melarikan diri? Ah, kami harus menangkap mereka berdua, Toanio!"
"Jangan kalian berani mencampuri urusanku! Pergi kataku!"
Bentak nenek itu dengan sikap yang berwibawa.
"Maaf Toanio. Terpaksa kami tidak dapat pergi karena telah menjadi tugas kami untuk melakukan dua hal, yaitu yang pertama, menangkap pemuda dan gadis itu, dan ke dua, mengajak Toanio kembali ke istana dengan menghadap Sribaginda Kaisar karena bagaimanapun juga, kami mencurigai kepergian Toanio dari istana secara rahasia itu."
Kini wajah nenek itu berubah merah dan matanya memancarkan sinar kemarahan.
"Kim Liong (Naga Emas), engkau sudah mengenal aku dan masih berani membangkang? Apakah engkau sudah bosan hidup dan ingin merasakan lihainya hud-tim (kebutan) di tanganku?"
"Kami hanya melaksanakan tugas!"
Kata orang pertama dari Sin-kiam Ngo liong itu.
Mereka adalah lima orang bersaudara yang telah menjadi pengawal atau jagoan-jagoan istana, selalu bekerja sama dan mereka memiliki ilmu silat yang tinggi.
Terutama sekali ilmu pedang mereka amat hebat sehingga mereka dikenal dengan julukan Sin-kiam Ngo-liong.
Orang pertama yang bicara tadi yang bermuka halus dan bertubuh kurus berjuluk Kim Liong (Naga Emas), orang ke dua bermuka halus pula akan tetapi perutnya gendut dijuluki Sui Liong (Naga Air), Yang ke tiga Thian Liong (Naga Angkasa) bermuka brewok dan bertubuh tinggi besar.
Ke empat Tee Liong (Naga Bumi) bermuka bopeng dan hitam, sedangkan orang ke lima yang termuda berjuluk Hay Liong (Naga Lautan) bermuka kemerahan dan halus, berperawakan sedang.
Kini, mendengar ucapan pemimpin mereka, tangan mereka bergerak dan sebatang pedang mengkilap telah melintang di depan dada masing-masing.
Mereka sudah siap siaga mempergunakan kekerasan untuk melaksanakan tugas mereka, yaitu menangkap Siang Bwee dan San Hong, dan mengiringkan nenek Coa En Cun kembali ke istana.
"Srattt.....!"
Nampak sinar putih berkelebat dan sebatang hud-tim (kebutan pertapa) telah berada di tangan nenek itu.
"Keparat, kalian berlima memang sudah bosan hidup!"
Bentaknya.
"Heiiit..... heiiiiittt....., nanti dulu, Cun Cun. Jangan perjumpaan kita yang membahagiakan ini dirayakan dengan pertumpahan darah, biarpun hanya darah lima ekor cacing istana. Kita berdua sudah tua, tidak pantas lagi berkelahi Biarlah kita wakilkan saja kepada yang muda-muda. Hei, Hong-ko dan Bwee ci, kini coba perlihatkan apa yang pernah kalian pelajari. Wakili kami berdua untuk mengusir lima ekor cacing Istana itu!"
Setelah berkata demikian, Lo Koay memegang tangan nenek Coa Eng Cun dan diajaknya duduk di atas batu besar di bawah pohon untuk nonton.
Kalau San Hong masih ragu-ragu karena dia disuruh memusuhi dan berkelahi dengan lima orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tanpa sebab sama sekali, sebaliknya Siang Bwee sudah meloncat ke depan dan menudingkan telunjuknya ke arah lima orang itu, satu demi satu seperti menghitung mereka dengan menunjuk hidung mereka.
"Haiii, kalian ini lima ekor cacing tanah berani sekali menantang dua orang lo-cian-pwe yang kami hormati, ya? Tidak usah dengan mereka, hayo kalian lawan aku saja kalau memang kalian sudah bosan hidup! Mau maju satu lawan satu atau mau maju semua silakan, aku tidak takut! Kalian disuruh kaisar kalian untuk menangkap aku? Katakan kepada kaisar kalian itu bahwa dia tidak tahu diri, sudah kami selamatkan dari serangan musuh, eh, malah hendak menghina aku. Hayo, majulah, pengecut!"
Gadis ini memang pandai bicara dan galak, juga cerdik sekali.
Dengan memaki dan menghina kalang-kabut itu, dengan sendirinya ia menyinggung harga diri lima orang itu yang terkenal sebagai lima orang jagoan istana.
Apalagi di akhir ucapannya tadi ditambah dengan makian "pengecut", maka tentu saja kalau mereka maju berlima, jelas bahwa makian itu memang tepat.
Lima orang jagoan istana, semua pria yang usianya sudah setengah abad, tentu saja amat memalukan kalau harus mengeroyok seorang gadis belia!
Itu benar perbuatan dan sikap pengecut namanya!
Sui Liong, orang ke dua yang perutnya gendut, terkenal sebagai seorang yang mata keranjang dan gila wanita cantik, tidak seperti empat orang saudara lainnya.
Melihat tingkah gadis Itu, perutnya yang gendut sudah bergerak naik turun, bukan hanya karena marah, akan tetapi juga karena gemas dan bangkit gairahnya.
Seorang gadis remaja yang binal seperti seekor kuda betina yang liar!
Sungguh menyenangkan kalau dia dapat menjinakkannya!
Maka, dia pun segera meloncat ke depan menghadapi Siang Bwee.
Sejenak mereka berpandangan, akhirnya Siang Bwee yang tertawa terkekeh-kekeh sambil memegangi perut dengan tangan kiri dan menutup mulut dengan tangan kanan.
Melihat ini, San Hong mengerutkan alisnya.
Kenapa sih kekasihnya itu!
Menghadapi lawan yang lihai, jagoan istana belum apa-apa sudah terpingkal-pingkal seperti itu!
Jangan-jangan ketawanya itu tidak wajar, terkena sihir!
"Heiii, Bwee-moi, kau kenapa sih?
Kenapa tertawa-tawa seperti itu?"
Teriaknya khawatir. Siang Bwee menghentikan tawanya dan kini telunjuk kirinya menuding ke arah perut Sui Liong.
"Hong-koko, kau lihat baik-baik. Cacing itu perutnya gendut bukan main! Kata orang cacing suka makan lumpur. Entah isi perutnya itu lumpur atau bangkai, sukar diketahui!"
Mendengar ini, San Hong tersenyum lalu menarik napas panjang.
Kekasihnya itu memang bengal bukan main.
Menghadapi lawan tangguh masih berkelakar seperti itu.
Sebaliknya, Sui Liong kini memandang dengan mata melotot dan muka merah seperti udang direbus.
Dia menudingkan pedangnya ke arah muka Siang Bwee dan lenyaplah semua gairah berahinya yang tadi bangkit karena dia membayangkan akan dapat menangkap gadis itu, merangkul dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping itu.
Kini dia marah dan yang dibayangkan adalah membabat leher dan pinggang gadis itu dengan pedangnya sehingga patah-patah!
"Bocah lancang mulut!
Cepat kau keluarkan senjatamu.
Aku tidak sudi menyerang lawan yang tidak memegang senjata!
Aku akan memenggal lehermu dan membawa kepalamu ke istana!"
Siang Bwee menjulurkan lidahnya yang kecil merah dan panjang, mengejek.
"Mudah dan enaknya! Kaukira leherku ini begitu lunak? Hemmm, jangan-jangan perutmu yang gendut itu yang akan kulubangi sehingga anginnya membocor keluar dan mengempis. Hanya aku khawatir, aku tidak akan dapat menahan bau busuknya!"
"Keparat, tutup mulutmu dan keluarkan senjatamu!"
Teriak Sui Liong yang sudah tidak dapat menahan marahnya lagi.
Sambil tersenyum-senyum Siang Bwee lalu mengambil sebatang ranting tak jauh dari situ.
Hanya sebatang ranting yang besarnya tidak melebihi lengan tangannya yang kecil dan panjang kurang lebih satu meter.
Sungguh merupakan sebuah senjata yang tidak sepadan dan amat lemah kalau harus dipergunakan menghadapi sebatang pedang tajam di tangan musuh.
Akan tetapi tentu saja San Hong lebih mengetahui dan dia pun tenang-tenang saja.
Kekasihnya itu baru benar-benar amat berbahaya sekali kalau sudah memegang tongkat di tangannya!
Ilmunya yang lain masih boleh dilawan, akan tetapi sekali ia menggunakan tongkat, ia berbahaya dan amat sukar dikalahkan!
"Nah, gendut, inilah senjataku.
Kalau memang kau berani, majulah dan coba kalahkan aku!"
Melihat betapa gadis itu hanya memegang sebatang ranting, tentu saja Sui Liong merasa dihina.
Kalau saja dia hanya berhadapan berdua dengan gadis itu, tentu dia tidak peduli dan sudah diserangnya gadis itu habis-habisan.
Akan tetapi di situ ada empat orang saudaranya, bahkan ada pula pemuda itu, kakek tua renta dan juga Coa Toanio yang dihormatinya.
Dia akan menjadi bahan tertawaan.
Seorang jagoan istana seperti dia memegang pedang menyerang seorang gadis remaja yang hanya memegang ranting!
"Bocah sombong!
Jangan main-main kau.
Cepat keluarkan senjatamu, jangan sampai aku kehabisan kesabaran!"
Bentaknya, masih belum mau menggerakkan pedangnya. Siang Bwee membelalakkan matanya seperti orang terheran dan terkejut.
"Eh-eh-eh, bocah gendut ini! Berani sekali menghina senjataku ini, ya. Kau tahu? Dibandingkan pedangmu, ranting di tanganku ini seribu kali lebih berharga! Pedangmu itu hanya dibuat oleh tangan manusia, ditempa dari baja. Akan tetapi kau tahu siapa yang membikin ranting ini? Tangan Tuhan sendiri yang menciptakan kau tahu? Manusia mana jang mampu membuat dan membentuk sebatang ranting? Nah, hayo jawab. Mana lebih berharga, ranting buatan Tuhan ini ataukah pedangmu yang hanya buatan seorang pandai besi?"
Sui Liong termangu.
Biarpun sifatnya berkelakar dan mempermainkan saja, namun harus dia akui bahwa ucapan gadis itu memang benar!
Setiap orang pandai besi dapat membuat pedang, akan tetapi tak seorang manusia mampu membuat ranting pohon!
"Bocah sombong, aku sudah memperingatkan agar engkau menggunakan senjata, akan tetapi engkau berkeras hendak menggunakan ranting itu melawan aku!
yang berpedang.
Semua orang di sini menjadi saksi bahwa aku tidak berbuat curang.
Nah, majulah!"
"Nanti dulu, Gendut! Engkau dan empat orang kawanmu ini siapa sih yang mengundang datang ke sini? Kami tidak mengundang, kami tidak pula mengajak berkelahi. Melainkan kalian yang hendak menangkap dan menyerang kami. Maka, kalau memang engkau berani, bukan hanya besar mulut dan besar perut, hayo cepat kau mainkan pedang dapurmu itu!"
Ini sudah keterlaluan!
Sui Liong yang biasanya pandai mengejek orang dan mata keranjang pandai merayu wanita itu sekali ini mati kutu tidak pandai bicara karena kalah jauh oleh Siang Bwee, juga kemarahan membuat dia tidak lagi mampu membuka suara.
Pedangnya menyambar ganas dan dia sudah menyerang dengan dahsyatnya.
Di dalam hatinya sudah tidak ada lagi sisa gairah berahinya terhadap gadis itu, yang ada hanyalah kebencian dan kemarahan.
Dia merasa pasti bahwa pedangnya akan mampu membikin putus ranting itu berikut leher si gadis, maka sambaran pedang itu pun penuh dengan pengerahan tenaga sin-kang.
Namun, orang ke dua dari Sin-kiam Ngo-liong ini sama sekali tidak tahu dengan siapa dia berhadapan.
Kalau saja dia tahu bahwa gadis itu adalah puteri tunggal Nam-san Tok-ong atau Nam Tok, yang tentu saja sudah didengar nama besarnya, tentu akan lain sikapnya.
Siang Bwee bukan saja telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari ayahnya, akan tetapi juga bersama San Hong ia telah berhasil "mencuri"
Ilmu-ilmu dari Tung Kiam dan Pak Ong, bahkan telah pula mematangkan kepandaiannya setelah bertualang bersama Lo Koay yang aneh.
Melihat gerakan pedang si gendut itu diam-diam Siang Bwee menjadi geli Kalau hanya seperti itu saja kepandaian lawannya, biar dikeroyok dua pun ia merasa mampu menandingi dan mengalahkan mereka!
Karena ia ingin memamerkan kepandaiannya kepada Lo Koay yang sengaja.
menyuruh ia dan San Hong untuk mewakili kakek dan nenek itu, begitu menggerakkan tongkat menyambut serangan lawan.
Siang Bwee sudah memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat ayahnya yaitu Hwe-liong-jio-cu!
Ilmu tongkat ini memang hebat.
Kalau dimainkan, maka tongkat di tangan itu berubah seperti naga beterbangan dan menyambar-nyambar dahsyat, seperti hendak memperebutkan mustika.
Dalam hal ini, yang menjadi mustikanya adalah kepala lawan.
Repotlah Sui Liong menghadapi tongkat yang berubah menjadi gulungan sinar kehijauan yang panjang seperti naga itu, menyambar-nyambar dan mengancam kepala dan tubuh bagian atas.
Terpaksa karena tidak mungkin dapat mengimbangi kecepatan gerakan tongkat itu, dia memutar pedangnya di atas kepala untuk melindungi tubuhnya dari ancaman tongkat naga itu.
(Lanjut ke
Jilid 29) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29
"Menggelindinglah!"
Tiba-tiba Siang Bwee berseru dan kaki kirinya melayang.
"Bukkk!!"
Perut yang gendut itu terkena tendangan dan tubuh Sui Liong terjengkang dan terlempar, dan terpaksa dia melempar diri ke belakang dan bergulingan kalau tidak ingin terbanting.
"Gadis jahat!"
Bentak Kim Liong, orang pertama dari lima jagoan istana itu.
Dia pun sudah memegang pedang.
Akan tetapi sebelum dia sempat menyerang Siang Bwee, San Hong sudah menghadang di depan gadis itu dan berkata.
"Bwee-moi baru saja melayani seorang! di antara kalian, biar ia mengaso dan akulah yang menghadapimu!"
Katanya.
Biarpun pedang Pek-lui-kiam berada di dalam buntalan pakaiannya, namun San Hong tidak mengambil pedang itu karena melihat gerakan orang yang tadi menyerang Siang Bwee, dia pun merasa sanggup menghadapi lawan seperti itu hanya dengan tangan kosong saja.
"Kiong San, bukankah ilmu tongkat yang dimainkan gadis itu tadi Hwe-liong jio-cu dari Nam Tok?"
Nenek Coa Eng Cun bertanya heran kepada Lo Koay ketika tadi ia melihat permainan tongkat itu.
Lo Koay yang sejak tadi nonton perkelahian hanya mengangguk sambil tersenyum.
Kini, Kim Liong sudah mencabut pedang dan memasang kuda-kuda.
Akan tetapi, seperti juga Sui Liong tadi, dia merasa malu kalau harus melawan seorang pemuda yang tidak memegang senjata.
Bagaimanapun juga, nama Sin-kiam Ngo-liong sebagai jago-jago istana sudah terkenal, apalagi Kim Liong adalah orang pertama.
"Orang muda, keluarkan senjatamu!"
Namun San Hong menjawab tenang.
"Paman, aku tidak ingin berkelahi denganmu, akan tetapi kalian yang memaksa. Kalau engkau hendak menyerangku dengan pedang, silakan. Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong."
"Hong-koko, kau boleh mencoba kehebatan Kuda Goyang!"
Tiba-tiba Siang Bwee berkata dengan tertawa. San Hong tersenyum. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh gadis itu. Dia disuruh mencoba ilmu yang berhasil mereka "curi"
Dari Pak Ong, dan ilmu silat dari Pak Ong memang mempunyai ciri khas, yaitu dalam gerak pinggul yang bergoyang-goyang seperti pinggul kuda!
Dia mengerti maksud gadis itu, agar dalam kesempatan ini dia mencoba ilmu hasil curian itu, maka dia pun mengangguk, lalu memasang kuda-kuda dengan pinggul ditunggingkan ke atas dan digoyang-goyang!
Nampak lucu dan seperti mengejek lawan!
Merahlah Kim Liong.
Karena semua orang tadi mendengar ucapan pemuda itu yang mengaku sendiri hendak menghadapi padangnya dengan tangan kosong, maka dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring kemudian menggerakkan pedangnya meluncur, menusuk ke arah dada pemuda itu.
Namun, sekali pinggul itu bergoyang ke kiri, tubuh itu telah mengelak dan pedang meluncur lewat di samping tubuh dan pada saat itu, tangan San Hong yang miring membacok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang!
"Ehhh.....!"
Kim Liong terkejut dan terpaksa dia menarik tangannya sambil meloncat ke belakang, karena dengan keadaan menyerang, dialah sebaliknya yang terancam!
Sambil melompat ke belakang, dia membalik dan kini pedangnya menyerang dengan jurus-jurus pilihan, mengurung diri pemuda yang menjadi lawan-nya itu dari segala penjuru dengan sinar pedangnya.
Dan kini San Hong benar benar memainkan ilmu silat Hek-ma Sin kun yang telah dicurinya dari Pak Ong!
Kemana saja pedang menyambar, dia selalu dapat mengelak, apalagi karena dia menyempurnakan gerakan ilmu curian itu dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dia pelajari dari Bu Eng Sian-jin, seorang di antara Thian-san Ngo-sian, yaitu lima orang gurunya.
"Gerak pinggul itu, bukankah itu ilmu dari Pak Ong?"
Kembali nenek Coa Eng Cun berseru lirih kepada Lo Koay yang kembali hanya mengangguk dan terus menonton dengan gembira.
"Hakkk!"
Tiba-tiba tangan kiri San Hong berhasil menampar pundak belakang lawannya dan tubuh Kim Liong terpelanting.
Akan tetapi dia masih dapat menggulingkan tubuhnya dan meloncat bangkit kembali dengan pedang masih di tangan.
Melihat betapa saudara pertama dan ke dua kalah, walaupun tidak terluka parah, tiga orang yang lain menjadi marah dan seperti dikomando saja, mereka lalu menerjang dengan pedang di tangan, mengeroyok San Hong!
"Hei-hei, kalian curang!"
Bentak Siang Bwee dan dengan tongkatnya, gadis ini pun sudah menyambut terjangan mereka.
Tongkatnya menyambar-nyambar ganas dan tiga orang itu terkejut karena setiap kali tongkat bertemu pedang, mereka merasakan getaran hebat pada tangan mereka yang memegang pedang.
Melihat keadaan yang berbahaya ini, karena kalau mereka berlima itu maju bersama merupakan lawan yang amat tangguh, San Hong cepat melompat, mengambil pedang dari buntalannya dan nampaklah pedang Pek-lui-kiam menyambar-nyambar.
"Wah, bukankah itu Pek-lui-kiam? Dan pemuda itu memainkan ilmu pedang yang seperti pernah kukenal..... ah, bukankah itu ilmu pedang dari Tung kiam?"
Lo Koay hanya mengangguk, akan tetapi dia meringis seperti orang kesakitan.
Barulah nenek itu teringat.
Cepat ia mengeluarkan buntalannya dan mengeluarkan sebungkus benda yang bentuknya aneh seperti payung kecil dan warnanya kuning emas.
Itulah Jamur Emas!
"Kau makanlah ini untuk menghilangkan racun di tubuhmu."
Kata si nenek sambil mengeluarkan pula seguci anggur.
Lo Koay menerima bungkusan itu, dan hanya mengambil sedikit untuk cepat dikunyahnya dan ditelannya bersama anggur yang diminumnya.
Sisanya dia bungkus kembali dan dia masukkan ke dalam saku bajunya.
Agaknya nenek itu tidak mempedulikan hal ini.
"Duduklah bersila, selagi obat itu bekerja, biar kubantu pengerahan tenaga pada punggungmu!"
Lo Koay tidak membantah.
Dia menanggalkan bajunya, kemudian duduk bersila menghadap ke arah mereka yang berkelahi.
Nenek itu duduk di belakangnya dan menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung kakek itu, mengerahkan sin-kang yang mengalir lembut ke dalam tubuh sang kakek yang agaknya merasa keenakan.
Keduanya agaknya tidak khawatir sama sekali akan nasib dua orang muda itu karena mereka maklum bahwa dua orang muda itu pasti akan mampu mengalahkan lima orang pengeroyok itu.
Dan keduanya, biarpun duduk tak bergerak, tak pernah melepaskan perhatian terhadap pertandingan yang kini berlangsung amat seru.
Memang sesungguhnya, setelah maju bersama, lima orang itu ternyata merupakan lawan yang amat tangguh.
Mereka merupakan kiam-tin (barisan pedang) vang teratur rapi, dengan kerja sama.
yang baik dan kokoh kuat sehingga kalau bukan Siang Bwee dan San Hong yang mereka keroyok, tentu akan menjadi kewalahan.
Namun, pada waktu itu, tingkat kepandaian dua orang muda ini sudah tinggi sekali.
Jangankan baru lima orang itu mengeroyok mereka, biar ditambahi lima lagi, akan sukarlah untuk dapat mengalahkan dua orang muda ini.
Siang Bwee tetap memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat ayahnya, yaitu Hwee-liong jio-cu, sedangkan San Hong dengan pedang kilatnya memainkan ilmu pedang yang dicurinya dari Tung Kiam.
Mereka berdua teringat akan teguran dan anjuran Lo Koay tadi untuk memperlihatkan apa yang telah mereka pelajari.
Maka, mereka pun tidak ingin cepat-cepat merobohkan lima orang pengeroyok mereka.
Demikianlah, Siang Bwee juga mencampurkan ilmu tongkatnya dengan ilmu-ilmu lain, seperti Jurus Kuda Goyang dari Pak Ong, kemudian mencoba pula ilmu totok It-sin-ci juga dari Pak Ong, memainkan Tung-hai Mo-kun dari Tung Kiam, dan juga mengeluarkan ilmu-ilmunya sendiri dari ayahnya.
Demikian pula San Hong yang mengubah-ubah ilmunya.
Kadang dia mengubah ilmu pedang Tung-hai Liong-kiam itu dengan ilmu golok Swat-sin-to dari Pak Ong, bahkan mengeluarkan pula ilmu pedang Pek-lut kiamsut dari gurunya yang pertama, yaitu Lui-kong Kiam-sian, seorang di antara Thian-san Ngo-sian.
Nenek Coa Eng Cun mengeluarkan seruan kaget, bukan hanya melihat kelihaian dua orang muda yang menguasai banyak macam ilmu silat itu, melainkan terutama sekali melihat keadaan tubuh bekas kekasihnya yang tadinya mengaku luka berat karena pukulan beracun.
Ketika tadi ia menyalurkan tenaga sakti melelui telapak tangannya, ia mendapat kenyataan bahwa luka beracun di tubuh kakek itu ternyata hanya ringan saja kalau diukur menurut kemampuan dan kesaktian Lo Koay.
"Ihhh, Kiong San. Siapa sebenarnya mereka itu dan mengapa engkau menipu aku?"
Kakek itu menarik napas, lalu mengenakan kembali pakaian atasnya karena nenek itu pun sudah menurunkan kembali telapak tangannya.
"Nanti kuceritakan semua, sekarang mari kita usir dulu lima ekor anjing itu agar tidak terlalu lama mengganggu!"
Mereka bangkit berdiri dan biarpun keduanya sudah tua renta, namun sekali kaki mereka bergerak, tubuh mereka sudah berkelebat ke medan perkelahian dan entah apa yang terjadi, terlalu cepat diikuti pandang mata, tahu-tahu lima orang jagoan istana itu berpentalan dan roboh terbanting keras sehingga pedang mereka terlepas dari pegangan.
Nenek Coa Eng Cun dengan penuhi wibawa melangkah maju menghadapi mereka yang merangkak bangkit duduk sambil mengaduh aduh.
"Sin-kiam Ngo-liong, kami tidak membunuh kalian karena kalian hanya melaksanakan tugas kalian. Akan tetapi jelas kalian bukan lawan kami dan kembalilah kalian ke istana, katakan kepada Sribaginda Kaisar bahwa aku sudah terlalu lama tinggal di istana dan sudah banyak pula mengabdi kepada beliau. Biarlah gudang pusaka diperiksa baik-baik. Tidak ada yang hilang kecuali Jamur Emas yang kuambil untuk menolong nyawa orang sebagal obat. Apa artinya Jamur obat itu dibandingkan jasaku selama puluhan tahun ini? Nah, pergilah kalian, aku tidak akan kembali ke istana lagi."
"Baik, Toa-nio, dan terima kasih....."
Kata Kim Liong sambil merangkak bangun, dan diikuti oleh empat orang saudaranya mereka lalu memungut pedang masing-masing dan pergi dari tempat itu.
Bagaimanapun juga, mereka merasa terbebas dari maut karena kalau nenek itu menghendaki tentu mereka berlima akan tewas di tempat itu tanpa ada yang dapat menyelamatkan mereka.
Setelah lima orang itu pergi, nenek Coe Eng Cun berkata.
"Sekarang kita harus cepat pergi dari sini, setelah jauh dan tidak akan dapat dikejar jagoan-jagoan istana yang lain, baru kita bicara."
Berkata demikian, ia lalu meloncat jauh ke depan.
Melihat ini, Lo Koay menarik napas panjang, mengomel lemah akan tetapi lalu meloncat pula mengejar.
Melihat ini, Siang Bwee menutup mulutnya agar suara ketawanya tidak terdengar keras.
"Hi-hi-hik, habis sudah kebebasan Siauw Koay. Mulai detik ini, dia menjadi seperti seekor kerbau jantan yang diikat hidungnya!"
"Uhhh, kalau begitu kelak engkau pun akan mengikat hidungku seperti kerbau, Bwee-moi?"
Gadis itu tertawa.
"Aku tidak menganggap engkau kerbau, Hong-ko!"
"Tapi Lo Koay....."
"Dia lain dengan kamu. Sudah ah, lihat mereka sudah jauh. Mari kita kejar mereka!"
Gadis itu meloncat dan lari cepat sekali.
Terpaksa San Hong juga mengerahkan gin-kangnya dan lari mengejar.
Tanpa disadarinya sendiri, dia pun menghela napas dan menggeleng kepala, presis seperti yang dilakukan Lo Koay tadi.
Akan tetapi dia tidak mengomel.
Tidak, segala perbuatan dan gerak-gerik yang dilakukan Siang Bwee selalu menarik dan menyenangkan baginya.
"Nah, sekarang engkau harus menceritakan sejujurnya kepadaku, Gu Kiong San. Kalau engkau berbohong, maka aku akan meninggalkanmu dan selamanya aku tidak akan sudi bertemu muka kembali denganmu."
"Aihhh, Cun Cun....."
"Hayo cepat ceritakan, atau sekarang juga aku akan pergi!"
Melihat ini, Siang Bwee segera berkata.
"Lo Koay, ceritakanlah segalanya. Perlu apa berbohong. Engkau dan Bibi ini saling mencinta bukan? Kalau engkau bercerita sejujurnya, aku yakin bahwa Bibi ini tentu akan selamanya tinggal bersamamu, hidup sampai di akhir jaman. Bukankah benar kata-kataku tadi, Bibi?"
Nenek itu cemberut, merasa disudutkan oleh ucapan gadis yang ia tahu luar biasa cerdiknya itu.
"Engkau anak kecil tahu apa, tidak perlu ikut-ikut. Dan aku tahu tentang keadilan, tentu saja kalau dia jujur, aku pun jujur. Hayo, Kiong San, berceritalah engkau!"
Lo Koay nampak gugup!
"Wah, bagaimana, ya?
Ceritanya panjang sekali, dan aku sudah pikun, banyak lupa.
Enci Bwee, engkau saja yang bercerita tentang pertemuan kita, dan kalau ada yang keliru, aku yang akan membetulkan.
Bagaimana?
Tolonglah, enci Bwee, aku tidak bisa bercerita.
Bukan tukang dongeng sih!"
Siang Bwee mendongkol juga dimaki anak kecil tadi oleh nenek itu.
Akan tetapi ia tahu bahwa tanpa bantuan nenek itu, kekasihnya tidak akan dapat mewarisi ilmu yang hebat dari Lo Koay, maka ia menahan amarahnya dan melirik ke arah nenek itu.
"Aku hanya anak kecil tahu apa?"
Ia sengaja mengulang untuk menyatakan kedongkolan hatinya.
"Aku mau bercerita asal omonganku tidak dianggap anak kecil lagi."
"Ho-ho-ho, Bwee ci. Engkau kusebut enci, bagaimana bisa dibilang anak kecil? Berceritalah, dan aku yakin Cun Cun akan percaya kepadamu."
Coa Eng Cun mengenal watak kekasihnya yang selain aneh, juga tidak suka banyak membicarakan diri sendiri.
Dan ia pun tahu pula bahwa gadis yang amat cerdik itu tentu tidak berani berbohong, maka ia berkata singkat,"Ceritakanlah!"
Lalu ia mengerling ke arah San Hong dan melanjutkan.
"Akan tetapi sebelum menceritakan tentang pertemuan kalian dengan Lo Koay ini, dan tentang permainan sandiwara kalian untuk mendapatkan Jamur Emas, aku lebih dulu ingin mengetahui, siapa sebenarnya kalian orang-orang muda ini. Dari ilmu-ilmu silat kalian, aku telah mendapatkan kesan buruk atas diri kalian!"
"Baik, Bibi, dan harap jangan terkejut kalau aku mengaku terus terang. Ketahuilah bahwa namaku adalah Ang Siang Bwee, dan ayahku bernama Ang Leng Ki..."
"Heiiiiitttttt.....!"
Tubuh nenek itu melambung tinggi sekali dan bagaikan seekor burung elang, ia menyambar ke bawah, ke arah Siang Bwee dengan lecutan kebutannya.
"Eng Cun, jangan.....!"
Lo Koay juga meloncat dan mendorong tubuh Siang Bwee sehingga gadis itu terpental sampai jauh. Gadis itu terkejut bukan main dan juga marah.
"Ihhh, apa yang Bibi lakukan itu? Kenapa tiba-tiba Bibi hendak membunuh aku dengan serangan keji tanpa alasan? Kalau memang aku bersalah, terangkan dulu duduknya perkara, bukan langsung menyerang seperti itu! Dan engkau, Lo Koay, mengapa kau lemparkan aku dengan doronganmu tadi, kukira aku tidak akan mati hanya dengan sekali serang oleh bibi Coa! Kalau memang ia mau membunuh aku tanpa alasan, silakan, aku akan membela diri dan engkau tidak perlu membantuku!"
Gadis itu marah sekali, berdiri tegak dan memandang kepada nenek itu dengan sinar mata berapi.
"Bwee-moi, sabarlah dan tenanglah."
Kata San Hong yang juga sudah berdiri di sampingnya karena pemuda ini pun sudah siap untuk melindungi kekasihnya.
Sementara itu, nenek Coa Eng Cun kini juga sudah turun dan berdiri berhadapan dengan Lo Koay, mukanya merah karena marah dan mulutnya cemberut.
"Gu Kiong San, apa yang kau lakukan ini? Engkau bahkan melindungi puteri si jahanam Nam Tok? Dan agaknya hubunganmu dengan puteri jahanam itu baik sekali. Pantas aku tadi mengenal ilmu tongkatnya, kiranya ia puteri Nam Tok! Hayo jelaskan apa artinya semua ini!"
"Eng Cun, engkau harap bersabar. Memang ia puteri Nam Tok, akan tetapi dibandingkan ayahnya, bedanya seperti bumi dengan langit. Dan engkau, enci Bwee, jangan kaget kalau Eng Cun tadi hendak menyerangmu karena memang ayahmu pernah bersalah besar terhadap dirinya. Dahulu sekali, ayahmu pernah bertanding melawan Eng Cun. Ayahmu kalah lihai, akan tetapi ayahmu lalu bertindak curang, ketika Eng Cun hendak mengobati lukanya, ayahmu menyerangnya sehingga ia menderita luka pukulan beracun. Itulah yang membuat ia membenci ayahmu setengah mati."
Akan tetapi keterangan itu masih belum memuaskan hati Siang Bwee.
"Ayahku memang dikenal sebagai Nam-san Tok-ong, seorang datuk besar yang tidak pantang melakukan kekerasan. Kalau bibi Coa pernah dicuranginya dan membencinya, aku pun tidak peduli. Akan tetapi kenapa bibi Coa hendak menumpahkan kebenciannya kepadaku? Apa kesalahanku terhadap dirinya? Hayo jawab, apa kesalahanku?"
"Kesalahanmu karena engkau puteri Nam Tok!"
Bentak nenek itu.
Siang Bwee tertawa!
Tertawa mengejek dan tentu saja perbuatannya ini membuat kakek dan nenek itu heran dan terkejut.
Bahkan San Hong sendiri terkejut sekali.
Betapa beraninya Siang Bwee, mentertawakan nenek yang amat lihat itu.
"Kalau begitu engkau adalah manusia yang lebih jahat daripada siapapun yang jahat, bibi Coa. Bayangkan saja, engkau adalah manusia yang membenci dan menentang Tuhan! Tidak jahat bukan mainkah itu?"
Kalau tadinya marah-marah, kini nenek itu melengak saking herannya.
"Apa kau bilang? Aku membenci dan menentang Tuhan? Apa maksudmu, anak setan?"
"Bibi tentu tahu bahwa aku terlahir sebagai puteri Nam Tok, sama sekali bukan kehendak Nam Tok, melainkan kehendak Tuhan. Dan sekarang Bibi membenci dan hendak membunuh aku, bukankah itu berarti Bibi membenci kehendak Tuhan. Hayo, betapapun lihainya Bibi, beranikah Bibi menentang kehendak Tuhan?"
Nenek itu tertegun.
Biarpun ucapan gadis itu seperti ngawur dan kacau, namun di balik itu terkandung suatu makna yang membuat ia tertegun dan tidak dapat membantah lagi!
Melihat ini, Lo Koay diam-diam merasa geli.
Dia sendiri sudah mengenal kelihaian otak gadis itu, yang amat cerdik sehingga dia sendiri pun kena dikibuli dan telah diperas pula ilmu-ilmunya tanpa dia merasa rugi!
"Sudahlah, Eng Cun.
Seperti kukatakan tadi, biarpun ia puteri Nam Tok, namun ia lain lagi.
Ia bukan orang jahat, bahkan selama ini ia telah membuat aku bahagia.
Bayangkan saja, setiap hari ia membuat masakan-masakan yang hanya pantas dihidangkan kepada kaisar, setiap hari ia bernyanyi dan menari untuk menghibur aku.
Akulah yang mintakan ampun baginya kepadamu, Eng Cun."
Nenek itu menghela napas panjang.
Tanpa dimintakan ampun oleh Lo Koay sekalipun, semua nafsunya untuk menyerang dan membunuh gadis itu telah lenyap sama sekali, bahkan ia merasa ngeri ketika gadis itu menyebut-nyebut bahwa ia membenci dan hendak menentang Tuhan!
"Dan siapakah pemuda ini?
Apakah dia juga putera seorang iblis dunia kang ouw?"
"Lo-cian-pwe, nama saya San Hong,"
Kata pemuda itu dengan sikap hormat.
"Cun Cun, pemuda ini masih terhitung cucu muridku sendiri. Dia murid Thian-san Ngo-sian."
"Hemmm, murid macam apa dia ini? Murid Thian-san Ngo-sian akan tetapi kulihat tadi dia memainkan ilmu-ilmu sesat kalau tidak salah dari Tung Kiam dan dari Pak Ong! Kiong San, tak kusangka engkau makin tua makin gila, bergaul dengan segala macam orang muda yang tidak karuan!"
"Ho-ho-ho, engkau keliru sangka, Cun Cun. Dia hanya mempelajari ilmu-ilmu dari para datuk besar itu karena cintanya kepada enci Siang Bwee ini! Demi cintanya, agar kelak dapat menikah dengan enci Bwee, Hong-ko ini mau melakukan apa saja, ho-ho-ho."
"Hemmm, apa pula maksudnya ini?"
Nenek ini kini benar-benar bingung mendengar keterangan yang simpang siur itu.
"Sudah kukatakan, aku tidak pandai bercerita. Biarlah enci Bwee yang melanjutkan ceritanya, akan tetapi engkau jangan marah-marah dulu. Enci Bwee, lanjutkan ceritamu."
Siang Bwee seorang gadis yang galak dan pemberani, akan tetapi juga cerdik, walaupun hatinya masih mendongkol kepada, nenek itu, ia tahu juga batasnya.
Nenek itu harus diberitahu sampai jelas, kalau tidak, mungkin ia dan San Hong akan kesulitan untuk memperdalam ilmu mereka dari Lo Koay.
"Begini, Bibi yang baik. Harap Bibi dengarkan dengan sabar, akan kuceritakan semuanya. Aku adalah puteri Nam Tok dan pada suatu hari aku bertemu dengan koko Kwee San Hong ini. Kami saling jatuh cinta!"
Mendengar ini, San Hong menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.
Bukan main kekasihnya itu.
Demikian enak saja membuat pengakuan tentang cinta mereka, tanpa sungkan sedikit pun.
Akan tetapi, Siang Bwee adalah puteri Nam Tok, tentu saja berbeda dengan gadis biasa, tidak pernah malu-malu kucing, bak pernah berpura-pura.
"Akan tetapi ayahku tidak setuju kalau kami berjodoh, Bibi. Malah ayah hampir membunuhnya. Aku maju menghalangi dan siap membela dengan nyawaku!"
Pandang mata nenek itu yang tadinya keras kini melembut.
Ia terharu.
Betapa besar rasa cinta dan kesetiaan puteri Nam Tok itu kepada kekasihnya, tidak seperti ia!
"Ayah, lalu memukul Hong-koko dengan pukulan beracun yang akan membunuhnya kalau dia tidak cepat mendapatkan pengobatan yang tepat, dan mengajukan syarat bahwa kalau kelak Hong-koko mampu mengalahkan semua murid para datuk lain, dan bahkan mampu menahan serangan ayah sampai ayah merasa puas.
Jelas ayah menentang.
Akan tetapi aku tidak takut.
Aku lalu membawanya kepada Tung Kiam dan menggunakan akal sehingga Tung Kiam bukan saja mau mengobati Hong-ko dengan tusuk jarum, akan tetapi juga berkenan menurunkan beberapa macam ilmu silat agar kelak Hong-ko mampu mengalahkan Nam Tok, musuh besarnya.
Aku ingin melihat Hong-koko mendapat ilmu-ilmu yang akan membuat dia mampu mengalahkan murid semua datuk, maka kami lalu pergi menemui Pak Ong.
Aku menggunakan akal dan Pak Ong berkenan mengajarkan pula beberapa ilmu pukulan penting."
"Hemmm, engkau cerdik dan licik. seperti iblis!"
Kata nenek itu, akan tetapi bukan memaki atau marah, melainkan ada pujian terkandung di dalam suaranya.
"Ingat, Bibi. Aku puteri Nam Tok. anak satu-satunya. Kalau aku tidak cerdik, mana pantas menjadi puteri Nam Tok? Baik aku lanjutkan ceritaku. Kami berdua berhasil mempelajari ilmu-ilmu simpanan Tung Kiam dan Pak Ong, juga kuajarkan ilmu simpanan dari ayahku, Nam Tok, kepada Hong-koko. Ketika kami melanjutkan perjalanan, kami melihat Tung Kiam dan See Mo sedang mengadakan pertemuan. Mereka bersekutu untuk mengkhianati negara, untuk membantu masuknya pasukan Mongol....."
"Jahanam mereka itu! Pengkhianat bangsa! Tak tahu malu!"
Nenek itu mengepal tinju.
"Benar sekali pendapat Bibi itu! Aku pun mengutuk mereka. Aku yakin ayahku sendiri, walaupun dia seorang di antara Empat Datuk Besar, tidak sudi menghambakan diri kepada orang Mongol. Tung Kiam dan See Mo bukan saja bersekutu untuk membantu orang Mongol, bahkan mereka berdua juga bersekongkol untuk kelak, dalam pertemuan antara Empat Datuk Besar di Puncak Kabut Putih di Thaisan pada bulan purnama bulan ke sepuluh, mereka berdua akan bertindak curang, mengeroyok dan membunuh Nam Tok dan Pak Ong agar mereka berdua yang merajai dunia kang-ouw. Ketika aku dan Hong-ko sedang mengintai mereka mengadakan pertemuan gelap itu, sayang sekali mereka memergoki kami. Kami berdua tentu saja mengadakan perlawanan mati-matian. Lalu muncul Lo Koay ini membantu kami. Kalau tidak muncul dia, tentu.... agak sukar juga kami akan dapat mengalahkan mereka!"
"Ha-ha-ho-ho-ho, kau bocah sombong besar kepala!"
Lo Koay berseru.
"Enci Bwee, kalau tidak aku si tua bangka, engkau dan Hong-koko tentu sudah menjadi tawanan mereka, mati atau hidup!"
"Teruskan ceritamu."
Kata nenek itu.
"Dengan bantuan Lo Koay, kami berhasil mengusir Tung Kiam dan See Mo, Bibi. Kemudian, karena bersyukur atas bantuan Lo Koay, aku lalu membuat masakan yang enak-enak untuknya, bernyanyi dan menari untuk menyenangkan hatinya, melayani segala keperluannya bersama Hong-ko....."
"Ehhh, enak saja! Apa kaukira aku seorang yang tidak mengenal budi dan mau memperbudak kalian? Kalian juga menerima beberapa macam ilmu dariku sebagai gantinya !"
Lo Koay berseru. Siang Bwee cemberut.
"Hanya beberapa pukulan dan tendangan cakar ayam itu? Bibi, bayangkan saja. Setiap hari aku membuat masakan yang tiada duanya di dunia ini, dan aku bersusah payah menari dan bernyanyi untuknya dan apa yang dia berikan kepada kami Hanya beberapa macam pukulan dan tendangan untuk kanak-kanak saja. Dia pelit dan licik. Akhirnya, kami mengadakan perjanjian. Aku akan menghidangkan masakan-masakan yang tak mungkin dia peroleh di dunia ini, Juga tarian yang hanya ada di sorga. Tiga macam masakan dan sebuah tarian sorga kujanjikan kepadanya, ditukar hanya dengan dua macam ilmu. Bukankah itu sudah adil namanya?"
Kini nenek itu tersenyum.
Ia mulai mengenal Siang Bwee dan tahu bahwa ketika ia masih muda, banyak persamaannya dengan gadis ini.
Lincah, lihai, pemberani dan cerdik seperti setan!."Hemmm, jangan engkau menipu Lo Koay yang memang tolol sejak dulu!
Mana ada masakan dan tarian sorga?
Masakan apa yang kaujanjikan itu, dan tarian apa pula?
Kalau benar-benar hebat, aku pun ingin mencicipi dan menontonnya."
"Benar, Bibi? Boleh, asal sebagai biayanya engkau akan mengajarkan semacam ilmu kepadaku."
"Ilmu apa?"
"Ilmu awet muda dan awet cantik!"
Kini nenek itu tertawa. Memang masih manis sekali ia kalau tertawa. Dan ia mengangguk.
"Baik! Akan tetapi kalau engkau membonongi dan menipu kakek tolol yang kebetulan menjadi kekasihku ini, aku pasti akan menghukummu! Nah, katakan masakan-masakan macam apa itu? Dan tarian apa?"
Dengan suara bangga Siang Bwee menjawab.
"Tiga macam masakan itu adalah sup sirip naga laut, daging setan laut dimasak saos tomat, dan cacing gemuk goreng kering, ditambah arak wangi dari Su-couw, arak buah apel!"
Nenek itu terbelalak.
Ia pernah menjadi selir pangeran, bahkan kemudian pangeran itu menjadi kaisar.
Tentu saja ia pernah makan masakan yang lezat, langka dan mahal-mahal, masakan istana.
Akan tetapi selama nidupnya belum pernah ia mendengar masakan-masakan se-aneh itu.
Bagaimana bisa mencari daging setan laut, dan sirip naga laut?
Dan cacing gemuk digoreng kering?
Hihhh!
"Benarkan semua itu?"
Tanyanya, terbelalak.
"Engkau dapat membuat semua masakan aneh itu?"
Cuping hidung Siang Bwee berkembang.
"Tentu saja, Bibi! Kalau tidak pandai, bagaimana mungkin aku berani menjanjikan kepada Lo Koay? Dan aku tidak berani membohongi Lo Koay dan engkau. Memangnya nyawaku rangkap berapa berani membohongi kalian?"
"Ia tidak bohong, Cun Cun. Memang masakan-masakannya luar biasa, dan tarian-tariannya juga hebat. Ia malah sudah berjanji akan mengajarkan seni memasak kepadamu sebelum mereka berdua itu berpisah dengan kita."
"Baik, aku percaya. Sekarang, ceritakan tentang sandiwara untuk mendapatkan Jamur Emas itu?"
Wajah Lo Koay yang tadinya gembira itu kini menjadi muram dan dia kelihatan khawatir sekali, memandang kepada Siang Bwee dengan sinar mata minta tolong.
Siang Bwee tersenyum tenang saja, lalu ia berkata kepada nenek Coa.
"Begini, Bibi. Untuk membuat tiga macam masakan yang kusebutkan tadi, bukan main sukarnya, karena itu, aku sudah berjanji dengan Lo Koay bahwa dia akan menukar masakan dan tarian itu dengan dua macam ilmu. Dia akan mengajarkan gin-kang Menunggang Angin kepadaku,dan mengajarkan sin-kang Perisai Diri kepada Hong-ko....."
"Wah, Kiong San tua bangka tolol Habis sudah kalau kau berikan kedua ilmu itu kepada mereka! Mereka akan menjadi orang-orang yang sukar dikalahkan, bagaimana kalau mereka menggunakan kedua ilmu itu untuk kejahatan? Engkau yang bertanggung jawab!"
Tiba-tiba San Hong menjatuhkan diri berlutut di depan nenek dan kakek itu.
"Teccu Kwee San Hong bersumpah untuk tidak mempergunakan ilmu yang teecu dapatkan dari Jiwi Lo-cian-pwe untuk melakukan kejahatan!"
Melihat ini, siang Bwee juga cepat berlutut di sebelah pemuda itu dan berkata.
"Aku pun bersumpah!"
"Heh, enci Bwee, engkau bersumpah apa?"
Tanya Lo Koay.
"Bersumpah seperti itu tadi! Seperti yang dikatakan Hong ko!"
Kakek itu tertawa bergelak dan nenek Coa juga tersenyum.
"Aih, sekarang aku mengerti. Untuk mempelajari sin kang Perisai Diri, orang harus makan Jamur Emas baru akan dapat mempelajari dalam wuktu lebih singkat. Jadi, Jamur Emas itu kau butuhkan untuk San Hong ini?"
"Aku tahu, engkau memang cerdik sekali, Eng Cun."
Kata kakek itu memuji sambil menundukkan muka seperti orang merasa malu.
"Dan untuk memaksa agar aku menyerahkan Jamur Emas itu, engkau sengaja membiarkan dirimu dipukul dengan pukulan beracun dari Nam Tok, hemmm, tentu gadis ini yang melakukannya, agar engkau terluka dan kelihatan membutuhkan Jamur Emas itu, bukan?"
"Lihat, enci Bwee. Bukankah Eng Cun cerdik sekali? Mengakulah bahwa engkau masih kalah cerdik! Ia wanita paling cerdik di dunia ini!"
Lo Koay bersorak dengan sikap yang gembira sekali, Siang Bwee tahu bahwa nenek itu memang cerdik, akan tetapi di dalam hatinya mana ia mau mengaku kalah cerdik?
Hanya ia masih membutuhkan mereka, maka ia harus pandai pula mengambil hati orang.
"Memang bibi Cou Eng Cun cerdik sekali, dan aku kalah cerdik kecuali dalam hal membuat masakan!"
Bagaimana pun, ia masih mengurangi kekalahannya dengan menonjolkan kepandaiannya memasak."Baiklah, aku akan ikut menikmati masakan-masakanmu itu dan menonton tarian, dan sebagai upahnya, aku akan menurunkan pula semacam ilmuku kepada kalian,"
Akhirnya nenek Coa Eng Cun berkata.
Bukan main gembiranya San Hong dan Siang Bwee yang segera menjatuhkan diri berlutut lagi menghaturkan terima kasih.
Sekali ini, karena ada nenek Coa Eng Cun.
Siang Bwee tidak berani main main.
la lalu mengajak mereka semua menuju ke tepi laut karena hanya di sanalah ia bisa mendapatkan "daging setan laut"
Dan "sirip naga laut"
Untuk masakannya.
Mereka memilih tempat yang sunyi di tepi Lautan Po-hai, di sebelah timur kota raja.
Diam diam Siang Bwee membisikkan siasatnya kepada San Hong.
Mereka membiarkan kakek dan nenek itu melepas rindu dengan bercakap-cakap, dan Siang Bwee mengajak San Hong mencuri bahan-bahan masakan itu.
Juga ia pergi ke kota untuk membeli bumbu bumbu yang dibutuhkan, tidak lupa arak apel yang lezat.
Kakek itu telah memberi Jamur Emas untuk dimakan oleh San Hong dan sampai tiga hari pemuda itu rebah saja dengan tubuh panas keracunan jamur itu.
Akan tetapi setelah lewat tiga hari tubuhnya terasa segar dan kuat sekali.
Kini dia telah siap untuk menerima latihan sinkang Perisai Diri dari Lo Koay.
Pagi hari itu, Siang Bwee telah pergi dan berpamit kepada mereka semua untuk mempersiapkan masakan masakannya yang akan dapat dinikmati siang nanti sebagai makan siang.
Dan pagi itu, Sun Hong mohon dengan sangat kepada Lo Koay dan Coa Eng Cun untuk menguji ilmu-ilmunya.
Dia belum menerima latihan sin-kang Perisai Diri karena menurut anjuran nenek Cou, ilmu itu baru diberikan kalau Siang Bwee telah memenuhi janjinya!
Akan tetapi, untuk melayani pemuda itu berlatih, kakek dan nenek yang sedang bergembira pagi itu, memenuhinya, Sun Hong mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, berlatih dan dilayani secara bergantian oleh kakek dan nenek itu.
Diam-diam nenek Coa Eng Cun kagum bukan main dan harus diakuinya bahwa Kwee San Hong merupakan seorang pemuda yang berbakat baik sekali.
Belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda setangguh itu.
Kalau pemuda itu sudah menguasai ilmu sin kang Perisai Diri, agaknya ia sendiri pun akan sukar untuk mengalahkannya!
Begitu banyaknya ilmu silat tinggi telah dikuasai pemuda itu, dan ternyata bakat alamnya membuat dia mampu mengombinasikan ilmu-ilmu itu sehingga kalau dia bertempur, semua unsur ilmu silat bermacam-macam itu keluar dengan penuh daya gunanya!
Karena gembira melayani San Hong yang agaknya tidak mengenal lelah, tahu tahu matahari telah naik tinggi dan kedua orang kakek dan nenek itu yang merasa kelelahan.
"Tok-tok-tok-tokkk!"
Tiba-tiba terdengar bambu dipukul. Mereka semua menoleh ke arah suara itu dan melihat Siang Bwee melambaikan tangan di depan gubuk darurat yang mereka bangun di tepi pantai.
"Makan siang sudah siap!"
Teriak gadis itu.
Kakek dan nenek itu saling pandang Tanpa bicara mereka menduga-duga apakah gadis itu benar-benar akan memenuhi janjinya hari ini.
Sedangkan San Hong juga memandang dan ketika kedua orang tua itu melangkah menuju ke gubuk, dia mengikuti dari belakang dengan hati tegang.
Dia tahu benar bahwa siang inilah hidangan istimewa itu akan dikeluarkan oleh Siang Bwee untuk kakek dan nenek itu dan diam-diam dia berdua semoga usaha gadis ini berhasil.
Jauh sebelum tiba di gubuk itu, hidung Lo Koay sudah berkembang kempis.
"Hemmm, sedap, sedaanppp.....!"
Serunya gembira. Memang dari tempat itu telah tercium bau masakan yang amat sedap, juga nenek itu mengangguk angguk.
"Hemmm, aku mencium bau bawang dan jahe!"
Katanya dan mereka mempercepat jalan mereka menuju ke dalam gubuk.
Ketika mereka bertiga memasuki gubuk, di atas sebuah meja kasar telah terdapat tiga panci besar terisi masakan yang masih mengepulkan uap dan baunya memang sedap sekali!
Kakek dan nenek itu cepat duduk menghadapi meja makan.
Dengan sikap bangga Siang Bwee menunjuk ke arah sebuah panci yang kuahnya berwarna putih kuning dan agak berminyak."Inilah sup sirip naga laut!"
Kakek dan nenek itu menyambar sumpit masing-masing, lalu memungut sepotong daging yang putih kemerahan bercampur sirip tipis kuning dan memasukkan ke dalam mulut masing-masing.
Mereka mengunyah dan kakek itu mengangguk-angguk.
"Lezat..... lezat......!"
Bahkan nenek Coa itu pun harus mengakui bahwa daging dan sirip itu lezat.
"Dan yang itu adalah daging setan laut dimasak saos tomat!"
Kata pula Siang Bwee.
Di dalam panci ini terdapat masakan yang kuahnya kental, warnanya merah dan nampak lezat sekali dengan daging melingkar yang kuning kemerahan.
Dua orang tua itu pun mencicipi dan kembali mereka mengangguk-angguk, akan tetapi diam-diam nenek itu mengenal daging itu yang rasanya kenyal seperti daging udang!
"Dan inilah cacing gemuk goreng kering!"
Kini dua orang kakek dan nenek itu memandang.
Di dalam panci itu terdapat potongan daging dengan kulitnya yang kekuningan seperti potongan tubuh cacing besar, atau ular, atau belut.
Mereka mencobanya setelah mengambil sepotong dan mencelupkannya ke dalam saosnya, yaitu kecap bercampur bumbu lain.
Rasanya memang enak bukan main!
"Hebat, masakan hebat!
Pernahkah engkau merasakan seperti ini, Eng Cun?"
Kakek itu lalu makan dengan gembul.
Nenek itu pun memuji dan makan dengan enaknya.
Diam-diam San Hong merasa lega dan gembira sekali dan dia pun sibuk menyuguhkan arak apel kepada dua orang tua itu.
Setelah merasa kenyang, kakek dan nenek itu keluar dari dalam gubuk, memberi kesempatan kepada dua orang muda itu untuk makan minum karena masakan itu cukup banyak.
San Hong kagum bukan main.
Memang tiga macam masakan itu lezat sekali, sambil makan, dia bertanya dan berbisik.
"Bagaimana engkau dapat masak yang seperti ini, Bwee-moi? Dari mana kau bisa mendapatkan sirip naga laut, daging setan laut dan cacing gemuk...."
"Sssttt, mana ada sirip naga laut? Ini hanyalah hi-sit biasa, sirip hiu, dan setan laut itu adalah udang setan yang bentuknya menakutkan akan tetapi dagingnya enak, dan cacing? Ini adalah belut!"
Hampir San Hong tak dapat menahan tawanya, akan tetapi harus diakuinya bahwa masakan itu memang enak bukan main.
Setelah selesai makan dan mereka berdua mencuci mangkok dan panci, mereka lalu keluar menuju ke tempat kakek dan nenek itu duduk berdua di tepi laut.
Bagaimanapun juga, San Hong masih merasa tegang, mengingat akan permainan yang dilakukan Siang Bwee dengan masakan-masakan tadi.
"Hebat, masakanmu hebat, enci Bwee! Engkau harus mengajarkan cara memasak seperti itu kepada Cun Cun!"
Kata kakek itu menyambut mereka.
"Memang, enak, akan tetapi engkau telah membohongi kami, Siang Bwee. Engkau telah mempermainkan kami orang-orang tua!"
Kata nenek Coa. Siang Bwee nampak tenang saja, tidak seperti San Hong yang merasa semakin tegang.
"Bibi Coa yang baik, kebohongan apakah yang telah kulakukan? Aku tidak pernah merasa mempermainkan kalian yang kuhormati dan apalagi Lo Koay yang kusayangi."
"Benar, Cun Cun, Siang Bwee ini anak baik, mana ia mau membohongi kita dan mempermainkan kita?"
Kakek itu membela dengan suara sungguh-sungguh.
"Dasar engkau tolol dan pikun!"
Nenek itu membentak Lo Koay yang segera diam dan menunduk dan takut-takut sehingga San Hong merasa kasihan melihatnya.
"Siang Bwee, engkau boleh membohongi dan mengelabui kakek pikun ini akan tetapi mana mungkin engkau dapat menipu aku? Masakanmu tadi memang harus kuakui lezat dan enak sekali, akan tetapi yang kaumasak itu sama sekali bukan sup sirip naga laut, bukan pula masak daging setan laut dan goreng cacing gemuk! Kau kira aku tidak tabu? Sirip itu sirip ikan hiu yang dapat dibeli di toko makanan besar, daging saos tomat itu daging udang, dan goreng cacing itu goreng belut atau ular. Benarkah?"
Gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan wajah takut, bahkan tersenyum manis sekali dan mengedipkan matanya sebagai isyarat antara wanita kepada nenek itu!
"Ihhh, Bibi ini!
Kenapa sih membongkar rahasia dapur wanita?
Tentu saja.
Di mana ada naga laut dan setan laut?
Yang kusebutkan itu hanyalah nama masakannya, memang nama masakan itu sup sirip naga laut, hanya namanya saja.
Dibuatnya dari apa itu rahasia dapur!
Demikian pula dengan setan laut dan cacing gemuk!
Bibi, justeru di situlah letak seni memasak.
Bukankan daging ayam atau daging sapi tidak kita sebut bangkai ayam atau bangkai sapi?
Padahal yang dimasak jelas bangkai.
Binatang yang mati dinamakan bangkai, bukan?
Baca Juga: Dewi Maut 2
Baca Juga: Pendekar Penyebar Maut 8