Eps 9 Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo.
Pada hal pemuda itu sama sekali belum membalas serangan Ronggo Lawe, baru menggunakan kelincahan tubuhnya saja dan Ronggo Lawe nampaknya tidak berdaya.
Seperti orang yang menyerang bayangannya sendri.
Kemanapun Ronggo Lawe menyerang, lawannya sudah dapat menghindar dengan luar biasa cepatnya.
Sukar membayangkan bagaimana jadinya, kalau pemuda tampan itu membalas.
Ataukah dia hanya memiliki ilmu yang membuat tubuhnya ringan dan lincah saja dan tidak memiliki kepandaian untuk menyerang lawan?
Agaknya Ronggo Lawe juga penasaran sekali.
Sudah puluhan kali dia menyerang, namun tak pernah serangannya itu menyentuh lawan, bahkan satu kalipun tidak pernah ditangkis sehingga sukar baginya untuk mengukur tenaga lawan.
Maka, dengan gemas diapun mengerahkan kecepatan tubuhnya dan mulailah dia menyerang dengan cepat sekali.
Dan sungguh hebat.
Makin cepat dia menyerang, semakin cepat pula lawannya berloncatan mengelak sampai tubuhnya lenyap bentuknya, berubah menjadi bayangan yang berkelebatan.
Bukan main.
Dari penasaran, Ronggo Lawe yang wataknya keras itu menjadi marah.
Dia menghentikan serangannya dan berkata dengan keras "Kisanak.
Kalau kau memang takut menghadapi seranganku, katakan saja dan aku akan menghentikan serangan.
Kalau berani, hadapilah seranganku sebapai laki-laki, bukan berlari-larian seperti itu"
Wulansari tersenyum.
"Ah, begitukah? Kau menghendaki agar aku menggunakan kekerasan pula untuk menangkis dan balas menyerang?"
"Kalau kau ada kemampuan"
Balas Ronggo Lawe marah.
"Hemm, bagus. Majulah, Ronggo Lawe dan aku akan menangkis dan membalas"
Mendengar ini, Ronggo Lawe merasa ditantang dan diapun menerjang maju sambil mengayun tangan menampar ke arah kepala lawan.
"Wuuutttt........ plakkk"
Kini pukulannya ditangkis oleh tangan yang halus namun yang mengandung kekuatan hebat, sehingga dia merasa seluruh lengannya tergetar hebat.
Akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan terus memukul dan menampar.
Kini Wulansari selalu menangkis dan ia juga mengerahkan tenaganya sehingga beberapa kali dua tangan itu bertemu dalam benturan yang dahsyat, yang menggetarkan tubuh mereka, juga bahkan getarannya terasa oleh Lembu Sora dan Banyak Kapuk yang menonton pertandingan itu.
Diam-diam keduanya kagum bukan main.
Wulansari maklum bahwa kalau ia mengandalkan tenaga sakti yang keras seperti yang ia pelajari dari Ki Jembros dan Ki Cucut Kalasekti, biarpun ia tidak kalah kuat, namun akhirnya ia sendiri dapat menderita luka.
Kedua lengannya sudah merasa nyeri karena beradu kekerasan dengan lengan lawan.
Ia harus dapat mengalahkan lawan, akan tetapi dengan cara yang halus dan tidak sampai membahayakan keselamatan lawan.
"Haiiiitttt......."
Kembali Ronggo Lawe menyerang dengan tamparan tangan kanannya.
Wulansari menangkis dan sekali ini Ronggo Lawe terkejut bukan main.
Tangan yang menyambut tamparannya itu terasa demikian lembut sehingga tenaga kerasnya seperti tenggelam ke dalam kelembutan, seperti sebuah palu godam yang kuat dan keras dipukulkan pada air atau pada kapas.
Pada saat dia terkejut dan tidak mampu menarik kembali lengannya, dadanya sudah didorong oleh telapak tangan yang kuat dan tak dapat dipertahankan lagi, tubuhnya terjengkang dan diapun terbanting jatuh.
Dengan muka merah sekali Ronggo Lawe meloncat bangun dan kini dia sudah mencabut sebatang keris luk lima yang mengeluarkan sinar mencorong merah.
Itulah keris pusaka Kolonadah, pemberian Empu Supamandrangi yang menjadi gurunya.
"Bambang Wulandoro, keluarkan pusakamu dan mari kita mengadu kesaktian menggunakan pusaka"
Tantangnya marah. Lembu Sora hendak melerai, akan tetapi pada saat itu terdengar teriakan.
"Wulan........"
Dan muncullah seorang laki-laki gagah berusia. Lima puluhan tahun. Melihat pria ini, Wulansari menundukkan mukanya.
"Kanjeng rama......"
Pada saat dia terkejut dan tidak mampu menarik kembali lengannya, dadanya sudah didorong oleh telapak tangan yang kuat dan tak dapat dipertahankan lagi.
tubuhnya terjengkang.
Lembu Sora, Banyak Kapuk dan juga Ronggo Lawe sendiri memandang heran dan kaget.
Mereka tentu saja mengenal rekan mereka, yaitu Medang Dangdi, seorang diantara para pengikut Raden Wijaya.
"Dimas Medang. Kiranya pemuda ini puteramu?"
Tanya Lembu Sora.
"Bukan putera, melainkan puteri"
Jawab Medang Dangdi.
"Anakmas Ronggo Lawe, maafkanlah puteriku Wulansari"
"Puteri.......?"
Lembu Sora dan terutama sekali Ronggo Lawe terbelalak dan wajah Ronggo Lawe menjadi merah padam.
Dia tadi telah dikalahkan oleh seorang puteri.
Juga Banyak Kapuk terbelalak.
Dia akan kehilangan muka kalau diketahui orang bahwa dia dipermainkan dan dikalahkan oleh seorang wanita.
Untung baginya bahwa dia menjadi saksi akan kekalahan Ronggo Lawe pula.
"Kanjeng rama, aku tidak bersalah"
Wulansari membela diri ketika melihat sikap ayahnya yang memintakan maaf itu.
Akan tetapi Medang Dangdi memandang puterinya itu dengan sinar mata penuh teguran walaupun dia merasa gembira dan terharu melihat puterinya berada dalam keadaan selamat dan sehat itu.
"Wulansari, kau tahu bahwa ayahmu senopati Singosari dan pengikut Raden Wijaya yang setia. Ayahmu seorang satria yang rela mengorbankan nyawa untuk membela tanah air dan bangsa. Kau datang di tempat ini dan membikin ribut, menentang para senopati dan pengikut Raden Wijaya yang menjadi rekan rekanku. Dan kau masih mengatakan bahwa kau masih mengatakan bahwa kau tidak bersalah?"
Suara senopati ini penuh teguran dan penyesalan.
"Kanjeng rama, bertahun-tahun aku menjadi murid Ki Jembros dan menerima gemblengan Eyang Panembahan Sidik Danasura apakah kanjeng rama masih belum percaya akan kata-kataku dan menyangka aku berbohong? Tanyakan saja kepada para senopati yang terhormat ini, siapa yang lebih dulu mengajak bertanding, siapa yang lebih dulu melakukan penyerangan. Aku sama sekali tidak membuat ribut sama sekali tidak mengganggu mereka, sebaliknya merekalah yang mengganggu aku. Kanjeng rama tanyakanlah dan kalau memang mereka itu satria-satria sejati tentu tidak akan malu mengakui perbuatan mereka"
Berkata demikian, dengan sepasang matanya yang tajam Wulansari menatap wajah Banyak Kapuk, Lembu Sora dan Ronggo Lawe. Tiga orang senopati ini menjadi semakin rikuh dan terdengar Lembu Sora berkata.
"Adimas Medang, terus terang saja kami akui bahwa kami yang bersalah. Kami melihat pemuda .......eh, puterimu ini berada seorang diri disini dan ketika kami tanya, ia mengatakan bahwa ia ingin bicara dengan Raden Wijaya dan minta kepada kami untuk mengundang Raden Wijaya ke sini. Terus terang saja, kami mengira ia seorang pemuda dan kami mencurigainya sebagai seorang mata-mata musuh"
"Tentu saja kau curiga, kakang Lembu Sora dan aku tidak menyalahkan kau bertiga. Kalau ia bukan anakku, mungkin sekali akupun merasa curiga kepadanya dalam kemunculannya seperti ini di tempat ini. Wulansari, sebetulnya apa yang menjadi kehendakmu maka kau muncul di sini dan minta bicara dengan Raden Wijaya, bukan mencari aku ayahmu?"
"Kanjeng rama, aku memang datang di sini untuk menemui Raden Wijaya, karena urusan yang teramat penting. Hanya kepada beliau sajalah aku dapat bicara, oleh karena itu tadi aku berkeras minta kepada mereka ini untuk melaporkan kepada Raden Wijaya, bahwa aku datang ke sini ingin bicara dengan beliau"
"Wulansari. Apakah kau hendak membikin ayahmu ini kehilangan muka di depan Raden Wijaya? Bagaimana mungkin kau mengundang Raden Wijaya begitu saja untuk menemuimu? Sepantasnya, kaulah yang ikut dengan para senopati ini untuk menghadap beliau, kalau memang ada suatu keperluan yang hendak kau bicarakan atau haturkan kepada Raden Wijaya"
"Begitukah pendapatmu, kanjeng rama? Tentu saja karena kanjeng rama dan para senopati ini mengabdi kepada Raden Wijaya. Akan tetapi aku tidak, dan kalau kanjeng rama mentaati Raden Wijaya, akupun mentaati seseorang, dan karena beliau itulah maka aku minta agar Raden Wijaya datang ke sini"
Ki Medang Dangdi terbelalak.
Dia teringat bahwa puterinya ini kabarnya mengabdi kepada Sang Prabu Jayakatwang, walaupun ia tidak ikut maju berperang ketika Kediri menyerang Singosari dan kabarnya puterinya itu bahkan menjadi pengawal pribadi Prabu Jayakatwang.
Diam-diam dia sudah merasa heran mengapa ketika dia mengikuti Raden Wijaya yang berpura-pura mengabdi kepada Prabu Jayakatwang, dia tidak melihat puterinya itu bersama Raja Daha itu.
Dan kini puterinya tahu-tahu muncul di daerah Majapahit dan mengatakan mengabdi seseorang.
"Wulansari, siapakah orang yang kau taati itu?"
"Hemm, aku hendak melihat bagaimana sikap kanjeng rama dan kalian sekalian kalau melihat orang yang kutaati. Nah, lihatlah baik-baik" (Lanjut ke
Jilid 27) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 Wulansari mendorong daun pintu gubuk itu terbuka, Ki Medang Dangdi, Lembu Sora, Banyak, Kapuk dan Ronggo Lawe terbelalak, kemudian mereka berempat menjatuhkan diri berlutut dan menyembah ketika mereka mengenal siapa yang berada di dalam gubuk itu.
Akan tetapi, Puteri Dyah Gayatri tidak memandang kepada mereka, melainkan kepada seorang pria yang berjalan menuju ke gubuk itu.
Pria itupun memandang dan keduanya berseru hampir bersamaan.
"Diajeng Gayatri........"
"Kakangmas pangeran ......."
Dyah Gayatri keluar dari dalam gubuk, menyongsong Raden Wijaya yang kini juga berlari-lari, diikuti oleh para pengiringnya.
Dua orang kekasih itu saling rangkul dan Gayatri menangis di dada Raden Wijaya, Para senopati hanya berlutut sambil menundukkan muka.
Mereka ikut berbahagia menyaksikan pertemuan yang mengharukan itu.
Setelah membiarkan puteri jelita itu menangis dalam rangkulannya beberapa saat, Raden Wijaya mengelus rambutnya dan sang puteri menjadi tenang kembali.
"Diajeng, aku mendengar bahwa kau ditawan di istana Daha. Bigaimana tahu-tahu dapat berada di sini?"
"Memang benar demikian, kakangmas, akan tetapi ia yang telah menolongku, membebaskanku dan istana Daha dan mengajakku ke sini untuk menghadap paduka....."' Raden Wijaya mengangkat muka memandang kepada pemuda yang berdiri di situ, pemuda tampan yang tidak berlutut seperti yang lain, melainkan berdiri saja dan pangeran ini merasa hatinya tidak nyaman. Alisnya berkerut dan perasaan cemburu muncul dalam hatinya. Kekasihnya itu ditolong oleh seorang pemuda yang amat tampan, bahkan melakukan perjalanan berdua saja sampai sekian jauh dan lamanya.
"Hemm, siapakah pemuda ini?"
Tanyanya.
"Maafkan, Raden. Ia adalah Wulansari, puteri hamba....."
Kata Ki Medang Dangdi. Seketika wajah Raden Wijaya menjadi merah padam dan dia mengamati "pemuda"
Tampan itu, merasa malu sekali kepada dirinya sendiri dan sampai beberapa saat lamanya dia tidak mampu mengeluarkan suara.
Merasa malu dan juga menyesal karena dia tadi telah diserang perasaan cemburu terhadap "pemuda"
Itu.
"Jagad Dewa Bhatara......."
Akhirnya dia berseru lirih sambil menarik napas panjang dan mengamati gadis berpakaian pria itu.
Kini dia mengerti mengapa ada pemuda yang demikian tampannya.
Dan dia teringat akan nama ini.
Wulansari puteri Medang Dangdi.
Teringat dia akan pertemuannya dengan Nurseta.
"Paman Medang Dangdi. Jadi inikah tunangan Nurseta itu?"
Tanyanya.
"Benar, Raden"
"Ah, Wulansari, kami berterima kasih sekali bahwa kau telah berhasil menyelamatkan diajeng Giyatri, membawanya lolos darl istana Daha. Sekarang aku ingat. Kau sedang dicari Nurseta dan dia hendak bicara tentang tombak pusaka......"
Raden Wijaya memandang ragu. Wulansari mengangguk.
"Paduka maksudkan Ki Ageng Tejanirmala?"
"Benar sekali, Wulansari. Dia berjanji kepadaku untuk mencarimu dan minta kembali tombak pusaka itu, kemudian, memenuhi pesan terakhir mendiang Ki Baka, dia akan menyerahkan tombak pusaka itu kepadaku"
"Jangan khawatir, Raden. Saya akan membantunya mendapatkan kembali Ki Ageng Tejanirmala"
Kata Wulansari dengan suara tegas.
"Wulan, anakmas Nurseta sekarang mencarimu ke Daha"
Tiba tiba Ki Medang Dangdi berkata, suaranya membayangkan kekhawatiran. Gadis perkasa itu kini menatap wajah ayahnya dengan penuh ketajaman dan teguran.
"Mengapa kanjeng rama memperdulikan benar kepadanya? Bukankah dia keturunan orang jahat?"
Medang Dangdi terkejut.
Watak puterinya ini sungguh kasar dan keras bukan main.
Di depan banyak orang, bahkan di depan Raden Wijaya, puterinya itu secara langsung saja menyerangnya, tentu karena gadis itu merasa sakit hati bahwa dulu dia melarang puterinya berjodoh dengan Nurseta karena dia tidak suka mendengar pemuda itu putera Ni Dedeh Sawitri.
Diapun maklum bahwa dia tidak lagi berpura-pura atau malu menghadapi watak puterinya yang demikian terbuka.
"Anakku, bagaimana aku tidak akan memperdulikan anakmas Nurseta? Dia adalah calon mantuku. Dan jangan bicara lagi tentang keturunan. Ayahmu inipun bukan orang baik-baik. Lupakan saja semua penolakanku dahulu Anakmas Nurseta dan mendiang Ki Baka telah datang kepadaku dan meminangmu. Ibumu dan aku telah menerima pinangan itu, Wulan, kau telah menjadi calon isteri anakmas Nurseta. Wulansari telah mendengar akan hal ini dari Ki Jambros maka iapun tenang saja mendengar keterangan ayahnya itu.
"Kalau saja kanjeng rama dahulu berpendirian seperti ini, tentu aku tidak sampai mengabdikan diri ke istana Daha"
Kata Wulansari dan Ki Medang Dangdi menarik napas panjang, merasa menyesal sekali. Melihat ini, Raden Wijaya yang bijaksana segera menengahi.
"Wulansari, mengapa kau berkata demikian? Sungguh beruntung sekali bahwa kau menjadi abdi di istana Daha. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin diajeng Gayatri dapat lolos dari sana? Sungguh besar rasa sukur dan terima kasih kami kepadamu, Wulansari. Apa lagi kalau kau mau membantu agar Ki Ageng Tejanirmala dapat diserahkan kepada kami, sungguh jasamu teramat besar"
Wulansari menyembah sambil tetap berdiri.
"Akan saya coba, Raden. Akan saya cari kakangmas Nurseta di Daha, dan saya berani memastikan bahwa setelah saya bertemu dengan kakangmas Nurseta, Ki Ageng Tejanirmala pasti akan dapat paduka terima"
Bukan main gembiranya hati Raden Wijaya mendengar kesanggupan ini dan mereka lalu bubaran.
Wulansari minta bicara empat mata dengan ayahnya sebelum ia meninggalkan hutan itu Dalam kesempatan ini, dengan hati lega Wulansari mendengar dari ayahnya bahwa ayah dan ibunya selamat dan kini mereka berdua berada di daerah baru Majapahit, menjadi pengikut Raden Wijaya yang setia.
Dia mendengar pula akan rencana Raden Wijaya untuk menyusun kekuatan dan menyerang Daha.
"Aku sudah mendengar akan hal itu dari Ki Jembros, kanjeng rama. Dan tahulah Raden Wijaya bahwa kini di pantai utara telah mendarat pasukan Tartar yang amat kuat? Pasukan itu tadinya hendak menyerang Kerajaan Singosari dan kini mereka masih ragu-ragu karena mereka mendengar bahwa Singosari telah jatuh ke tangan Kerajaan Daha"
Wulansari lalu bercerita tentang perjumpaannya dengan Lie Hok Yan. Ki Medang Dangdi mengangguk.
"Kami sudah mendengar akan hal itu, dan kini Raden Wijaya sedang menanti berita dari Bupati Sumenep yang dimintai nasihat. Wulansari, kau anakku dan kau memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti dan digdaya. Kalau kau mau, kau dapat menjadi seorang senopati wanita yang dapat diandalkan, membantu perjuangan Raden Wijaya"
"Tidak, kanjeng ramal Aku tidak mau terlibat dalam perang. Bagaimanapun juga, aku pernah mengabdi Kerajaan Daha dan pernah menerima budi kebaikan Prabu Jayakatwang. Ketika aku mengabdi di sanapun dan terjadi perang, aku sama sekali tidak mau mencampuri dan Sang Prabu Jayakatwang tidak dapat memaksaku. Aku ingin bebas dalam pertikaian antara keluarga Kerajaan Singosari dan Daha"
"Akan tetapi, kau mau menyerahkan Ki Ageng Tejanirmala kepada Raden Wijaya, bukan?"
"Hal itu baru akan ditentukan setelah aku bertemu dengan kakangmas Nurseta"
Dara perkasa itu menolak ketika oleh ayahnya diajak ke Majapahit untuk bertemu dengan ibunya.
"Tidak ada waktu lagi, kanjeng rama. Aku akan segera kembali ke Daha mencari kakangmas Nurseta. Sampaikan saja sembah sujudku kepada ibu"
Pergilah Wulansari setelah berpamit kepada Dyah Gayatri dan Radtn Wijaya yang saling menumpahkan rasa rindu mereka.
Raden Wijaya lalu kembali ke Majapahit dengan gembira sekali dan di sana, terjadilah pertemuan yang mengharukan dan juga membahagiakan antara Dyah Gayatri dan kakaknya, yaitu Dyah Tribuwana.
Lembu Peteng yang diutus Raden Wijaya menyerahkan suratnya kepada Bupati Sumenep, telah datang kembali membawa balasan Arya Wiraraja.
Dalam balasannya itu, Arya Wiraraja yang terkenal ahli siasat itu, menasihatkan Raden Wijaya agar pangeran ini bersabar dan tidak tergesa-gesa melakukan penyerbuan ke Kediri.
Dalam surat balasannya, Arya Wiraraja mengatakan bahwa dia sedang mengadakan hubungan dengan pasukan Tartar yang telah mendarat.
Dia mengajak pasukan Tartar yang sedianya hendak menghukum Sang Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari itu untuk bersama-sama menyerbu Kerajaan Daha dengan janji bahwa kalau Daha dapat ditalukkan maka para penguasa baru akan mengakui kekuasjan Kaisar Kubilai Khan dan akan mengirim upeti yang besar, bahkan menjanjikan akan mengirimkan beberapa orang puteri istana, juga Puteri Kedaton Kediri, yaitu Sang Dyah Ayu Retna Kesari.
Raden Wijaya adalah seorang pangeran keturunan Singosari yang terkenal memiliki harga diri tinggi.
Nasihat dalam surat dari Arya Wiraraja itu membuat alisnya berkerut.
Haruskah dia merendahkan diri demikian rupa kepada Kaisar Kubilai Khan?
Akan tetapi diapun segera mengadakan perundingan dengan para pembantunya.
"Harus kita sadari bahwa bagaimanapun juga, kekuatan yang telah kita susun tidaklah berapa besar, Raden. Biarpun ada bantuan dari Madura, namun tidak akan mudah mengalahkan pasukan Daha yang kuat. Tentu akan membutuhkan waktu lama sekali untuk dapat mencapai kemenangan, dan perang yang berkepanjangan akan menyengsarakan rakyat. Kalau pasukan Tartar itu datang membantu, kiranya kita akan dapat mengalahkan Kediri lebih cepat dan lebih mudah sehingga rakyat tidak akan menderita banyak"
Demikian pendapat Lembu Sora.
"Pendapat Paman Lembu Sora itu benar, Raden"
Kata Ronggo Lawe.
"Bagaimanapun juga, janji yang dikemukakan oleh kanjeng rama itu hanyalah merupakan siasat saja. Pasukan Tartar datang sebagai musuh Singosari, dan menyalahi janji kepada musuh merupakan siasat perang, tidak akan merendahkan martabat"
Raden Wijaya menghela napas.
Biarpun di lubuk hatinya, dia kurang setuju, namun tidak ada pilihan lain.
Kalau dia menghendaki agar Kediri segera dapat ditundukkan, dia harus menerima bantuan pasukan Tartar.
Demikianiah, Raden Wijaya setuju dengan nasihat Arya Wiraraja dan sementara itu, para pembantunya mempersiapkan diri menghadapi perang yang sudah akan meletus itu.
Setelah mengadakan hubungan dengan para pimpinan pasukan Tartar, Arya Wiraraja lalu mempertemukan Raden Wijaya dengan Panglima She Pei, Kau Seng, dan Ji Kauw Mosu.
Dan mulailah pasukan Tartar bergerak ke selatan dengan satu tujuan, ialah menyerbu Kerajaan Daha.
Sedangkan pasukan yang terdiri dari orang-orang Madura dan dari Jawa Timur bagian ujung, dipimpin oleh Arya Wiraraja sendiri.
Raden Wijaya juga menggerakkan pasukannya dan yang dijadikan titik pusat dari mana mereka semua bergerak adalah di Tegal Bobot Sari.
Pasukan Tartar sudah membuat pertahanan di Ujung Galuh, sebagian menduduki Canggu dan sebagian pula bergabung dengan pasukan Majapahit dan Madura di Tegal Bobot Sari.
Kesibukan yang terjadi oleh gerakan pasukan-pasukan yang hendak menyerbu Kerajaan Daha itu tentu saja segera terdengar oleh para penjaga dan mereka itu bergegas memberi laporan ke Kediri.
Terkejutlah Sang Prabu Jayakatwang dan wajahnya berubah merah padam, matanya melotot dan dia menggebrak meja mendengar berita itu.
"Si keparat Wijaya. Bocah itu sungguh tidak tahu diri. Dia kami terima baik-baik disini, kiranya diam-diam dia mempersiapkan pemberontakan. Dan Bupati Sumenep, Arya Wiraraja yang menjadi botohnya. Babo babo keparat. Kita harus hancurkan mereka"
Para senopati Daha juga marah sekali mendengar berita itu. Apa lagi mendengar bahwa pasukan Tartar juga bergabung dengan para pemberontak itu.
"Semua ini kesalahan Segoro Winotan"
Tiba-tiba senopati Kebo Rubuh menudingkan telunjuknya ke arah senopati Segoro Winotan.
Memang sudah lama terdapat persaingan antara kedua orang senopati itu, dimulai dengan perebutan seorang wanita yang mereka jadikan selir, kemudian ketika Segoro Winotan diutus oleh Sang Prabu Jayakatwang untuk melakukan penyelidikan ke Majapahit, Kebo Rubuh merasa iri hati.
Kini, terbukalah kesempatan bagi Kebo Rubuh untuk menumpahkan kebenciannya.
"Bukankah dia sudah paduka utus untuk melakukan penyelidikan ke Majapahit baru-baru ini? Dan dia melaporkan bahwa segalanya baik-baik saja di Majapahit, bahwa Raden Wijaya membuat persiapan untuk perburuan. Jelaslah bahwa Segoro Winotan seorang pengkhianat. Diam-diam dia melindungi Raden Wijaya"
"Kebo Rubuh, tutup mulutmu yang busuk"
Segoro Winotan memaki dengan mata melotot.
"Bukan hanya mataku yang meligat persiapan perburuan itu, juga pasukan yang kubawa. Lancang mulutmu menuduhku dan melontarkan fitnah"
"Siapa menuduh? Jelas bahwa kau adalah seorang pengkhianat. Gusti Prabu, ijinkan hamba menghukum pengkhianat ini"
Kata Kebo Rubuh dan dia sudah menghunus kerisnya.
"Cukup, kalian jangan ribut"
Sang Prabu Jayakatwang membentak.
"Kebo Rubuh, sarungkan kerismu"
Mendengar perintah ini, Kebo Rubuh menyarungkan kembali kerisnya dan menyembah, mohon maaf.
"Kita diancam musuh dan kalian ribut sendiri. Kita harus cepat mempersiapkan pasukan untuk menghancurkan para pemberontak jahanam itu"
Pasukan Daha lalu dibagi menjadi tiga bagian dan mereka bergerak ke utara untuk menyambut musuh yang kabarnya mulai bergerak Pagi hari itu, serombongan pasukan Daha yang terdiri dari lima belas orang berkeliaran memasuki dusun Klintren.
Seperti pasukan-pasukan Daha yang lain, mereka itu bersiap siaga dan mengadakan perondaan ke dusun-dusun, dengan dalih mengamati keadaan dan melakukan pembersihan lerhadap mata-mata musuh.
Memang, perang masih jauh dari situ, namun pasukan lima belas orang perajurit Daha yang memasuki dusun Klintren pada pagi hari itu bersikap seolah-olah musuh sudah berada di depan hidung mereka.
Cara mereka memegang pedang, golok atau tombak dalam tangan seperti sudah siap untuk menusuk atau membacok musuh.
Langkah merekapun tidak wajar lagi, langkah yang penuh dengan gejolak nafsu sehingga nampak seperti dibuat-buat agar kelihatan gagah, penuh kuasa.
Pada umumnya, para perajurit Daha itu menganggap balwa semua orang di daerah Singosari adalah musuh mereka, Singosari telah dtundukkan Daha, dan kini Raden Wijaya memberontak, maka mereka menduga dengan mudahnya saja bahwa semua orang Singosari tidak dapat dipercaya karena mereka tentu akan membantu Raden Wijaya.
Dugaan inilah yang menimbulkan perbuatan yang kejam dan jahat, dilakukan oleh sebagian perajurit Daha yang tidak berjiwa satria terhadap rakyat Singosari.
Dusun Klintren berada di sebelah selatan Singosari, termasuk daerah Singosari.
Kekejaman para perajurit Daha semenjak timbulnya kabar bahwa Raden Wijaya mulai bergerak untuk menentang Daha, sudah terdengar oleh penduduk dusun Klintren.
Maka tidaklah mengherankan apa bila pagi hari itu, penduduk menggigil ketakutan melihat limabelas orang perajurit Daha berkeliaran di dusun mereka itu.
Penduduk yang terdiri dari kaum petani itu, yang tadinya telah siap berangkat ke sawah ladang, segera kembali ke rumah masing-masing.
Anak-anak berlarian pulang dipanggil ibu masing-masing, dan terutama para gadis bersembunyi dalam kamar dengan tubuh gemetar, seperti kelinci-kelinci yang mencium bau segerombolan srigala yang datang mendekat.
Setelah tiba di dusun Klintren dan melihat betapa orang-orang dusun itu yang tadinya sudah memenuhi dusun kini berlarian dan bersembunyi sehingga sebentar saja dusun itu nampak sunyi karena semua orang masuk ke dalam rumah, limabelas orang itu saling pandang dan tertawa-tawa.
Mereka merasa gembira dan lucu melihat tingkah para penduduk yang ketakutan itu dan mereka merasa seperti segerombolan kucing yang mempermainkan tikus-tikus yang ketakutan.
Rombongan itu lalu dipecah menjadi tiga rombongan kecil terdiri dari lima orang, masing-masing dipimpin seorang kepala.
"Kami akan menangkap ayam-ayam gemuk dan kambing untuk pesta malam nanti"
Kata kepala rombongan pertama yang mukanya penuh bopeng bekas penyakit cacar.
"Kami akan mencari beberapa orang perawan dusun yang manis untuk teman berpesta malam nanti"
Kata kepala rombongan kedua yang tubuhnya gemuk dengan perut gendut. Kepala rombongan ke tiga, yang masih muda dan bertubuh tinggi kurus, memimpin rombongannya dan dia berkata kepada mereka.
"Mari ikut dengan aku. Kalau kita berhasil membunuh ayah dan ibu gadis itu dan menangkap gadis itu, aku takkan melanggar janji dan akan membagi hadiah kepada kalian seperti yang telah kujanjikan"
Kepala rombongan itu lalu mengajak rombongannya menuju ke rumah yang berada di sudut dusun itu.
Tak lama kemudian, suasana yang sunyi di dusun itu segera terisi dengan keributan, suara wanita menjerit-jerit dan suara orang-orang mengaduh kesakitan.
Gerombolan Daha yang sebetulnya lebih tepat dinamakan gerombolan penjahat dari pada pasukan perajurit itu mulai beraksi.
Ada yang merampas barang berharga, menangkapi kambing dan ayam, dan ada pula yang menyeret gadis-gadis manis keluar dari kamar persembunyian mereka.
Orang orang yang berani menghalangi perbuatan mereka, dirobohkan dengan kejam, dibacok atau ditusuk dan darahpun mulai mengalir.
Rombongan yang dipimpin pemuda tinggi kurus itu mendatangi rumah yang didiami oleh keluarga Ki Sardu, yaitu Ki Sardu, isterinya dan puterinya.
Seperti kita telah ketahui, Ki Sardu adalah bekas lurah di dusun Kalasan yang pergi mengungsi ke dusun Klintren dan di tempat ini dia tinggal di sebuah rumah kecil bersama isterinya dan puterinya, Sumirah.
Pada pagi hari itu, Sumirah sedang menyapu pekarangan.
Ibunya sedang sibuk mempersiapkan sarapan untuk Ki Sardu dan Ki Sardu sendiri sudah siap untuk pergi ke ladang setelah sarapan.
Mereka sama sekali tidak tahu akan bahaya yang mengancam, tidak tahu betapa orang-orang dusun yang melihat masuknya pasukan kecil orang Daha ke dusun itu segera melarikan diri dan bersembunyi.
Selagi Sumirah menyapu, ia mendengar teriakan wanita dan ia terkejut lalu mengangkat muka.
Pada saat itu, lima orang berlari masuk ke pekarangan rumahnya dan iapun terbelalak dan memandang dengan sinar mata gelisah.
Akan tetapi, orang muda tinggi kurus itu telah melompat dan menangkap lengannya.
Sumirah memandang dan iapun menjadi marah bukan main.
"Kabiso"
Teriaknya marah.
"Apa yang kaulakukan ini? Lepaskan aku. Lepaskan"
Ia meronta-ronta.
Perajurit tinggi kurus itu memang Kabiso, pemuda dari Kalasan yang cintanya ditolak oleh Sumirah itu.
Setelah lari meninggalkan desanya, Kabiso dapat mengabdikan diri kepada pasukan Kerajaan Daha dan karena dia pandai mengambil hati atasan, maka diapun memperoleh kepercayaan menjadi anggauta pasukan peronda.
Ketika pasukannya meronda ke dusun Klintren, di mana dia tahu Sumirah dan orang tuanya berada, diapun membujuk empat orang kawannya itu untuk membantunya menyerbu rumah Ki Sardu dan menjanjikan upah dan hadiah kepada mereka.
Dia mengatakan bahwa Ki Sardu adalah seorang yang setia kepada Raden Wijaya dan merupakan mata-mata yang amat berbahaya.
"Kita bunuh dia dan isterinya, akan tetapi puterinya untuk aku karena aku cinta kepadanya"
Demikian dia berkata kepada para temannya.
"Lepaskan aku. Lepaskan........ Kabiso, kau jahanam keparat"
Sumirah meronta-ronta, akan tetapi sambil tertawa-tawa Kabiso malah memeluknya dan menelikung kedua lengan gadis itu ke belakang, lalu menyeretnya keluar pekarangan.
Empat orang temannya hanya tertawa-tawa saja melihat ulah kawan itu.
Mendengar jerit puterinya, isteri Ki Sardu berlari keluar.
Melihat Sumirah ditarik-tarik oleh Kabiso yang segera dikenalnya, Nyi Sardu lari mengejar dan menarik-narik tangan Kabiso.
"Lepaskan anakku. Lepaskan........"
Kabiso memberi isarat kepada kawan-kawannya dan seorang diantara "
Mereka mengayun golok yang menyambar ke arah leher Nyi Sardu. Wanita itu menjerit dan roboh terkulai.
"ibu........ Ibu........"
Sumirah terbelalak dan menjerit-jerit meronta-ronta untuk melepaskan diri.
Akan tetapi Kabiso sudah mengikat kedua pergelangan tangan gadis itu dengan tali di belakang tubuhnya.
Ki Sardu berlari keluar.
Bukan main kagetnya melihat isterinya menggeletak berlumuran darah dan puterinya diseret Kabiso.
"Keparat........."
Bentaknya.
Dia sedang memegang cangkul karena memang sudah siap untuk bekerja di ladang.
Ki Sardu menjadi mata gelap dan nekat ketika dia melihat isterinya menggeletak mandi darah dan puterinya diseret seorang perajurit Daha yang tinggi kurus.
Apa lagi ketika dia mengenal orang itu sebagai Kabiso.
Dia sudah mendengar dari puterinya tentang perbuatan Kabiso dan dia kini tahu bahwa Kabiso yang telah menjadi perajurit Daha itu datang untuk membalas dendam, membunuh isterinya dan menculik puterinya.
Dengan cangkul diayun di atas kepala, dia lari untuk menyerang Kabiso.
Akan tetapi, dari kanan kiri menyambar tombak dan golok.
Tombak itu menancap di perutnya dan golok menyambar ke lehernya.
Ki Sardu mengeluh dan diapun roboh terguling, mandi darah.
"Ayah........"
Sumirah menjerit-jerit dan akhirnya ia roboh pingsan dalam rangkulan Kabiso.
"Kalian boleh ambil semua barang mereka, haha"
Kata Kabiso gembira sekali melihat betapa ayah ibu Sumirah telah tewas dan gadis manis itu telah berada dalam pondongannya.
Kini tidak ada lagi orang yang akan menghalangi dia memiliki tubuh gadis yang montok dan kuning langsat mulus itu.
Akan tetapi, ketika empat orang kawannya hendak memasuki rumah yang sudah kosong itu, untuk merampas apa saja yang berharga, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Lepaskan Sumirah"
Kabiso cepat menoleh, juga empat orang kawannya berhenti berlari dan membalikkan tubuh memandang.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja di situ sudah berdiri seorang wanita yang membuat empat orang teman Kabiso itu terbelalak kagum, dan Kabiso sendiri juga memandang heran.
Dia seperti sudah pernah mengenal wanita ini, akan tetapi lupa lagi di mana.
Seorang wanita yang cantik jelita.
Tentu saja Kabiso lupa lagi karena ketika untuk pertama kalinya Wulansari bertemu dengan dia, yaitu ketika Wulansari menolong penduduk Kalasan, gadis perkasa itu menyamar sebagai seorang pria.
"Hahaha, Kabiso, kini muncul lagi seorang wanita yang malah lebih cantik jelita. Kita harus menangkapnya"
Empat orang itu seperti hendak berebut saja, ulahnya seperti empat ekor harimau kelaparan melihat seekor kelinci gemuk.
Mereka menyergap dan menubruk dari empat penjuru, berlumba untuk lebih dulu merangkul wanita yang cantik jelita itu.
"Bresss......"
Wulansari memutar tubuhnya seperti gasing dan sekaligus ia menyambut mereka dengan tamparan kedua tangannya.
Empat orang itu terpelanting dan mereka terbelalak sambil memegangi mulut mereka yang berdarah.
Tamparan itu membuat beberapa buah gigi mereka copot dan bibir mereka berdarah.
Marahlah mereka.
Dengan muka merah mereka bangkit dan menyambar tombak masing-masing, lalu menyerang Wulansari, Lenyaplah semua gairah berahi dari benak mereka, sebagai gantinya, kini nafsu amarah dan keinginan membunuh yang membakar hati dan mereka kini berlumba untuk menembus tubuh yang ramping itu dengan tombak mereka.
Melihat ini, Wulansari menjadi marah.
Ia melompat ke kiri sambil mengelak ketika tombak dari arah kiri meluncur dan sekali tubuhnya bergerak, kakinya menendang tubuh penyerangnya dan tangannya merampas tombak.
Orang itu terjengkang dan tewas seketika karena tulang tulang iganya remuk dan isi dadanya terguncang.
Wulansari memutar tombaknya dan terdengar suara beradunya tombaknya dengan tiga batang tombak penyerang lainnya.
Tiga orang pengeroyok itu terpekik kaget karena tombak mereka patah-patah dan sebelum mereka sempat menghindar, tombak di tangan Wulansari menyambar-nyambar dan merekapun roboh terjengkang dengan darah bercucuran dari dada dan perut.
Tewaslah mereka termakan tombak di tangan gadis perkasa itu.
Sepuluh orang anggauta pasukan yang sedang merampok itu, segera datang berlarian dan melihat empat orang kawan mereka tewas, merekapun segera maju mengeroyok, mempergunakan senjata tombak dan golok mereka"
Dan Wulansari mengamuk.
Gadis ini tidak memperhatikan lagi siapa mereka, tidak tahu bahwa mereka itu pasukan dari Daha.
Dalam keadaan seperti itu, yang dimusuhinya bukanlah pasukan dari manapun, melainkan orang-orang jahat yang dengan kejam merampok dan mengganggu sebuah dusun.
Bagaikan seekor singa betina terluka, Wulansari mengamuk.
Tombak tadi sudah dibuangnya dan kini ia mengamuk dengan menggunakan kaki tangannya saja.
Sepuluh anggauta pasukan Daha itu tentu saja memandang rendah dan merasa yakin bahwa mereka akan mampu merobohkan seorang wanita yang bertangan kosong itu.
Mereka tidak mengenal Wulansari, karena biarpun mereka itu perajurit Daha dan Wulansari pernah menjadi pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatwang, namun Wulansari tidak pernah keluar dari istana, bahkan di dalam perang menyerbu Singosari, iapun tidak ikut.
Senjata golok dan tombak di tangan sepuluh orang pengeroyok itu menyambar-nyambar bagaikan hujan lebat ke arah tubuh Wulansari.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, tentu saja Wulansari tidak gentar dan tubuhnya dapat dibuat kebal sehingga tidak akan terluka oleh sambaran semua senjata itu.
Akan tetapi, ia khawatir kalau pakaiannya terobek dan rambutnya terputus, maka iapun mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk berloncatan ke sana-sini mengelak, dan kadang ia menangkis dengan kedua lengan tangannya yang berkulit putih lembut dan yang kecil saja itu.
Namun, kedua lengan itu telah terisi kekuatan dahsyat dan kebal sehingga tidak terluka oleh bacokan golok dan tusukan tombak.
Dan sambil berloncatan mengelak, iapun mulai membagi-bagi pukulan.
Setiap tamparan tangannya tentu mengenai sasaran dan mulailah terdengar pekik kesakitan disusul robohnya tubuh yang menggelepar karena kepalanya pecah, atau yang roboh karena tulang iganya patah-patah oleh tendangan kaki mungil itu.
Dalam waktu yang tidak begitu lama, sepuluh orang perajurit Daha itupun sudah roboh semua, tewas atau sekarat.
Wulansari tidak memperdulikan lagi mereka.
Ia mencar-icari, akan tetapi tidak melihat Sumirah yang tadi dipondong seorang perajurit muda.
Laki laki itu telah lenyap bersama Sumirah.
Dan pada saat itu, orang-orang dusun itu berdatangan dan mereka semua berterima kasih kepada Wulansari karena merasa sudah diselamatkan.
"Sudahlah, para paman dan bibi, lebih baik kalian cepat urus mayat mereka ini. kuburkan mereka baik-baik dan......."
Tiba-tiba ia melihat mayat Ki Sardu dan isterinya.
Iapun berlari menghampiri dan setelah ia melihat bahwa memang benar itu mayat suami isteri lurah yang sudah dikenalnya, Wulansari mengepal tinju dan teringatlah ia lagi kepada Sumirah.
Cepat ditanyakannya kepada para penduduk kalau kalau ada diantara mereka.
yang melihat Sumirah.
"Sumirah ditangkap seorang diantara mereka dan dibawa lari ke sana"
Kata seorang penduduk yang tadi kebetulan melihat gadis itu dipondong dan dilarikan seorang pemuda tinggi kurus.
"Aku akan mencarinya"
Kata Wulansari dan iapun cepat melompat dan lari cepat sekali bagaikan terbang saja ke arah yang ditunjuk orang itu.
Akan tetapi, betapapun Wulansari berusaha menemukan Sumirah yang dilarikan orang, usahanya gagal, ia telah kehilangan jejak.
Sampai sehari ia mencari-cari di daerah itu, namun sia-sia.
Akhirnya ia hanya dapat menenarik napas panjang dan merasa kasihan sekali kepada gadis dusun itu yang kehilangan ayah bundanya dan sekaligus terancam bahaya di tangan penculiknya.
Ia hanya dapat menyerahkan segalanya ke tangan Sang Hyang Widi saja.
Karena ada urusan yang lebih penting lagi baginya, yaitu mencari Nurseta yang kabarnya menyelundup ke dalam kota raja Kediri, Wulansari terpaksa meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanannya ke Kediri Kemana perginya Kabiso yang melarikan Sumirah?
Pemuda ini sudah mengenal daerah pegunungan itu dan ketika Wulansari mencari-cari tadi, dia bersembunyi di dalam sebuah goa kecil yang tertutup rumpun semak belukar.
Sumirah masih pingsan, akan tetapi Kabiso yang cerdik telah mempergunakan kain untuk mengikat mulut gadis itu sehingga ketika siumanpun Sumirah tidak marnpu mengeluarkan teriakan.
Dan diapun terus memegangi kedua lengan gadis itu sehingga tidak mampu meronta pula.
Setelah hari menjadi gelap dan dia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang mencarinya, baru Kabiso memanggul tubuh Sumirah dan membawanya keluar dari goa itu.
Dia terus membawa gadis itu pergi mendaki sebuah bukit yang penuh hutan.
Malam telah tiba ketika dia tiba di tengah sebuah hutan di lereng bukit, Dengan girang dia melihat sebuah gubuk yang agaknya didirikan oleh para pemburu binatang hutan untuk beristirahat.
Direbahkannya tubuh itu ke atas lantai gubuk itu dan sambil masih memegangi kedua pergelangan tangan Sumirah, Kabiso berkata.
"Sumirah, kau tahu aku sayang padamu, aku tergila-gila kepadamu. Maka, kau harus menjadi milikku, menjadi isteriku, lebih baik kau menyerah dari pada harus kupergunakan kekerasan"
Dia lalu melepaskan kain yang menutupi mulut gadis itu. Begitu ia mampu bicara, Sumirah lalu berteriak.
"Tidak sudi. Lebih baik aku mati. Lepaskan aku. Ah, lepaskan aku, keparat. Tolonggg........"
Kabiso tertawa.
"Hahaha, di dalam hutan yang sunyi ini, percuma saja kau menjerit, Sumirah. Hanya monyet dan kijang yang akan dapat mendengarmu. Kau tidak mau menyerah? Kau ingin aku mempergunakan kekerasan? Mau tidak mau, sekarang ini kau harus menjadi milikku"
Bagaikan seekor harimau kelaparan menubruk domba, Kabiso menerkam Sumirah dan mereka bergumul di dalam gubuk itu, di dalam kegelapan yang pekat.
Terdengar kain robek dan pakaian Sumirah sudah dicabik-cabik oleh pria yang sudah dibuat seperti gila oleh nafsu berahi itu.
Sumirah mempertahankan diri mati-matian.
Ia menampar, mencakar, menggigit, menggeliat.
Namun, tenaga seorang gadis seperti ia tentu saja tidak mampu melawan tenaga Kabiso.
seorang pemuda yang sudah dipenuhi nafsu dan gairah yang membara.
Makin lama Sumirah menjadi semakin lemah, teriaknya juga melemah dan yang terdengar hanya isak tangisnya saja.
Akan tetapi, ia terus melawan mati-matian sehingga Kabiso akhirnya menjadi marah.
"Plak. Plakl"
Ditamparnya muka Sumirah dua kali sehingga gadis itu terkulai.
Akan tetapi tetap saja Sumirah melawan sehingga sukarlah bagi Kabiso untuk dapat menggagahinya.
Dia mengambil keputusan untuk memukul Sumirah agar pingsan, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk berhasil menguasai gadis itu.
Dalam gairah berahinya yang bernyala-nyala itu Kabiso lupa segala bahkan sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya.
Dia bahkan tidak melihat betapa kini di dalam gubuk tidak segelap tadi.
Dia mulai dapat melihat wajah Sumirah, mulai dapat melihat kulit tubuhnya yang putih mulus, yang sudah tidak tertutup kain lagi karena pakaian gadis itu sudah dicabik-cabik dan direnggutnya dalam pergumulan mereka tadi.
Karena dapat melihat lekuk lengkung tubuh gadis itu, berahinya semakin memuncak dan diapun lupa diri dan lupa keadaan.
Baru setelah keadaan di situ menjadi terang sekali, dia terkejut dan heran.
Dia belum berhasil menguasai Sumirah sepenuhnya dan kini dia menoleh dan.......
wajahnya pucat, matanya terbelalak karena di dalam gubuk itu telah hadir belasan orang yang wajahnya bengis dan buas, ada beberapa orang diantara mereka yang memegang obor.
Dengan pakaian kedodoran Kabiso meloncat bangun, akan tetapi dia disambut pukulan-pukulan sehingga jatuh bangun, berusaha melawan akan tetapi dikeroyok dan akhirnya dia roboh lalu merintih dan minta-minta ampun.
Seorang diantara belasan orang yang memasuki gubuk itu, yang bertubuh tinggi besar dan mukanya buruk sekali karena ada cacat bekas luka melintang, mengeluarkan bentakan.
"Jangan bunuh dia. Terlalu enak. Gantung kakinya di pohon, sayat-sayat kulit jahanam ini. Dia perajurit Daha, siksa dia sampai mati, hahaha. Dan gadis ini, hemmm, aku suka padanya. beri pakaian yang baik, dan siapkan dia untuk menjadi pengantinku besok"
Belasan orang itu tertawa bergelak.
Sumirah juga bangkit duduk dan sedapat mungkin menutupi tubuhnya dengan rambut dan kedua tangan.
Akan tetapi, seorang anggauta gerombolan itu menyelimutinya dengan kain, kemudian, iapun ditarik keluar.
Karena baru saja diselamatkan dari malapetaka yang mengerikan, dan karena iapun sudah lelah dan lemas, Sumirah tidak dapat melawan dan pasrah saja ketika dengan lembut tangannya ditarik oleh seorang laki-laki tua.
Gerombolan itu ternyata adalah sisa-sisa perajurit Singosari yang sudah dikalahkan oleh pasukan Daha.
Mereka tidak mau menakluk, dan mereka melarikan diri ke hutan-hutan.
Karena sudah kehilangan induk, kehilangan keluarga dan harapan, mereka menjadi buas dan merekapun menjadi perampok-perampok yang ganas dan buas.
Sumirah yang terjatuh ke tangan mereka...
biarpun ia menangis dan mohon agar dibebaskan, namun gerombolan itu memaksanya untuk mandi dan berganti pakaian baru.
Gerombolan perampok itu ternyata mempunyai sarang di puncak bukit itu.
Disitu terdapat pondok-pondok darurat yang agaknya baru saja dibangun.
Sumirah berada di sebuah diantara pondok-pondok sederhana itu.
Ia sudah mandi dan mengenakan pakaian baru.
Ia tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri sama sekali karena selalu ada dua orang anggauta perampok yang menjaganya.
Biarpun kedua orang penjaga ini kasar sikapnya, namun mereka tidak berani mengganggunya karena ia sudah dianggap sebagai calon isteri kepala gerombolan.
Sumirah duduk di atas dipan kayu, satu-satunya prabot rumah yang berada di dalam pondok itu, dengan wajah pucat dan jantung berdebar penuh ketegangan dan perasaan ngeri.
Dua orang yang selalu menjaganya itu memasuki pondok.
"Kau diharuskan keluar dan ikut berpesa. Pesta akan dimulai, Hayolah"
Kata seorang diantara mereka. Sumirah tidak mau bangkit, hanya menggeleng kepalanya.
"Hemm, kau calon isteri pemimpin kami. Kami tidak ingin berbuat kasar, akan tetapi kalau kau menolak, terpaksa akan kami seret atau pondong keluar"
Kata orang kedua.
ancaman ini berhasil.
Bagaimanapun juga, jauh lebih baik berjalah sendiri daripada diseret apa lagi dipondong.
Dengan tubuh lemas Sumirah bangkit dan melangkah keluar, diapit oleh dua orang pen jaga itu.
Matahari pagi telah muncul.
Pagi itu cerah sekali.
Akan tetapi, ketika Sumirah tiba di tempat yang dimaksudkan, ia terbelalak.
Tempat itu merupakan lapangan terbuka.
Ada sedikitnya tigapuluh orang anggauta perampok berkumpul disitu.
Mereka itu nampak bergembira dan apa yang membuat Sumirah terbelalak ngeri, adalah ketika ia melihat sesosok tubuh digantung di pohon tak jauh dari situ, Kabiso.
Orang ini digantung dengan kaki di atas kepala di bawah, dalam keadaan telanjang bulat.
Dan tubuh itu penuh dengan darah, berlepotan di seluruh tubuh.
Kulit tubuh itu disayat-sayat benda tajam.
Agaknya Kabiso menderita siksaan yang amat hebat.
Tubuh itu belum tewas, masih bergerak-gerak menggeliat-geliat dan terdengar rintihan panjang lemah dari mulutnya.
Sumirah membuang muka dengan hati penuh rasa ngeri.
"Hehhehheh, manis, kenapa kau membuang muka? Lihat, itu orang yang hampir memperkosamu semalam. Hahaha, puas hatimu, bukan? Jangan khawatir, mulai saat ini kau berada dalam perlindunganku, engkau akan menjadi isteriku. Aku, Bandupati, ditakuti semua orang dan kau akan hidup aman dan senang. Akan tetapi, isteriku yang manis aku belum mengenal siapa namamu, hahaha"
Melihat laki-laki tinggi besar yang wajahnya buruk menakutkan itu demikian dekat dengannya, Sumirah merasa ngeri dan takut sekali. Ia memberanikan dirinya.
"Paman, namaku Sumirah dari dusun Klintren. Kasihanilah aku, paman dan biarkan aku pulang ke Klintren....... ayah dan ibuku luka ketika pasakuan Daha menyerbu........ ah, biarkan aku pulang untuk menengok keadaan ayah ibuku......."
"Paman? Hahaha, jangan sebut paman padaku, manis. Aku ini akan menjadi suamimu, kau harus menyebut kakangmas"
Bandupati tertawa bergelak dan sekali tangannya bergerak, pergelangan lengan gadis itu telah ditangkapnya.
"Kau ingin menengok ayah ibu di Klintren? Boleh, nanti kalau sudah menjadi isteriku, akan kuantarkan kau ke Klintren, aku menghadap ayah dan ibu mertua, hahaha"
"Jangan........aku tidak mau, aku sudah mempunyai tunangan......"
Tiba tiba sikap kepala gerombolan itu berubah.
"Apa?"
Dia memandang dengan mata mendelik sehingga Sumirah menjadi semakin ketakutan.
"Kau lihat itu?"
Dia menuding ke tubuh telanjang bulat yang mandi darah dan tergantung di pohon itu.
"Kau ingin seperti itu? Kalau kau menolak, nasibmu akan lebib buruk dari pada itu. Kau akan kupaksa, dan kalau aku sudah bosan, kau akan kuberikan kepada anak buahku, kau akan dipaksa melayani mereka semua sampai mati. Nah, kau pilih menjadi isteriku atau kami paksa sampai mati?"
Sumirah bergidik dan ia hanya dapat menangis.
"Sumirah manis, sudahlah jangan menangis. Mari kita makan minum dulu untuk merayakan pernikahan kita, hahaha"
Dengan paksa Gandupati menarik Sumirah untuk duduk di atas rumput di mana telah disediakan hidangan untuknya.
Kepala gerombolan itu makan dengan rakus dan gembulnya, sambil melihat tubuh Kabiso yang menggeliat-geliat dan merintih-rintih.
Sumirah tentu saja tidak mau makan atau minum.
Bagaimana mungkin ia dapat makan minum kalau hatinya dipenuhi perasaan takut, ngeri dan penuh duka.
Baru saja ia terlepas dari tangan Kabiso, ia terjatuh ke tangan kepala perampok yang lebih kejam dan lebih menakutkan lagi.
Dan kalau ia teringat akan nasib ayah ibunya, hatinya seperti disayat-sayat rasanya.
Teringatlah ia kepada Hok Yan.
Kalau saja ada Hok Yan di situ, tentu tunangannya itu akan dapat menyelamatkannya "Hok Yan.......
ah, Hok Yan........I"
La merintih dan ia hanya menangis, bahkan tidak berani memandang ke arah tubuh Kabiso yang masih tergantung dan menggeliat-geliat mengerikan.
Pikiran yang penuh duka dan takut, juga pengalaman-pengalaman yang amat hebat yang baru saja menimpanya, membuat Sumirah menjadi lemas dan seperti orang yang kehilangan semangat.
la hanya menangis dan menangis lagi.
Ketika pesta itu berakhir dan kepala perampok memegang lengannya dan menariknya bangkit, ia hanya menurut saja.
Ia seperti orang dalam mimpi dan sama sekali sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
Akan tetapi, ketika kepala perampok tinggi besar yang wajahnya mengerikan itu menariknya masuk ke dalam sebuah pondok, iapun teringat dan dapat menduga apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Mendadak teringatlah kesemuanya oleh Sumirah.
Teringat bahwa ia akan dijadikan isteri kepala perampok ini dan tentu akan mengalami perkosaan yang lebih mengerikan dibandingkan apa yang akan dilakukan Kabiso kepada dirinya.
Seketika itulah lahir batinnya memberontak.
"Tidaaaaak. Aku tidak sudi........J"
Teriaknya dan sekali renggut ia dapat melepaskan diri dari pegangan kepala perampok yang tidak menyangka bahwa calon korban yang tadi kelihatan penurut itu tiba-tiba memberontak, Akan tetapi, melihat gadis itu melarikan diri, kepala perampok itu tertawa bergelak dan dengan beberapa langkah saja dia sudah dapat menubruk dan menangkap Sumirah.
"Ha ha ha ha, manisku, kau akan pergi ke mana? Ha ha, kau akan menjadi isteriku tercinta, jangan lari, sayang"
Dan diapun meringkus kedua lengan Sumirah, lalu mengangkat tubuh gadis itu yang ringan sekali baglnya, kemudian memondong Sumirah yang tidak mampu berkutik lagi, membawanya masuk ke dalam pondok.
Sumirah meronta-ronta ketika ia dilempar keatas pembaringan, meronta dan melawan, mencakar, menampar dan menggigit.
sambil menjerit jerit dan menangis.
Akan tetapi kepala perampok itu hanya tertawa saja karena jerit tangis itu tentu hanya akan disambut gembira saja oleh para anak buahnya.
Dan kepala perampok ini jauh lebih kuat daripada Kabiso, maka semua perlawanan Sumirah tidak ada artinya sama sekali.
Pada saat kepala perampok itu sudah tertawa bergelak dan hampir memperoleh kemenangan, pada saat Sumirah sudah hampir putus asa dan keadaannya gawat sekali, tiba-tiba pintu pondok itu terbuka dari luar dan seorang wanita melangkah masuk dan terdengar suaranya membentak nyaring.
"Bagus. Begitu ya tingkahmu kalau aku pergi, kakang Bandupati? Sebulan saja aku pergi, dan kau sudah melakukan penyelewengan. Huh, agaknya kau sudah bosan hidup"
Ucapan ini disusul menyambarnya sebatang pecut dan terdengar suara ledakan-ledakan pecut yang menyambar ke arah tubuh Bandupati si kepala perampok.
"Tar tar tarrr......."
Kepala perampok itu terkejut bukan main, apa lagi ketika ujung pecut mencambuki mata, leher dan punggungnya.
Dia melepaskan 5uimirah dan meloncat turun dari atas pembaringan, berdiri seperti seorang anak kecil ketakutan berhadapan dengan gurunya.
"hahhh, Minten, maafkan aku. Aku hanya iseng-iseng ....... habis aku kesepian karena engkau terlalu lama pergi ....."
Katanya dan sungguh aneh sekali, semua sikap garangnya lenyap, dan dia menjadi begitu jinak dan takut seperti seekor anjing galak yang menghadapi majikannya, Sumirah cepat membereskan pakaiannya dan ia masih terisak-isak, akan tetapi ia memandang kepada wanita itu dengan penuh harapan akan mendapatkan pertolongan.
Wanita itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, Hitam manis dan galak, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang pecut yang panjang.
"Tarr "
Pecut itu bergerak menyambar dan ujungnya menimpa muka Bandupati. Nampa muka itu dihiasi garis merah berdarah dam Bandupati menutupi mukanya.
"Ampunkan aku, Minten ....."
Dia mengeluh.
"Huh, berapa kali aku harus mengampunimu?. kau mengotori perjuangan kita"
"Tidak, Minten. Lihat yang digantung itu. Dia adalah perajurit Daha, berarti kita telah mampu menghukum seorang musuh"
"Akan tetapi gadis ini adalah orang Singosari. Hei, kau. katakan kau ini orang Singosari atau orang Daha?"
Tentu saja Samirah walaupun masih menggigil karena baru saja terlepas dari cengkeraman Bandupati segera menjawab.
"Aku........aku orang Singosari....... aku anak lurah Kalasan yang mengungsi ke dukuh Klintren....."
"Nah, kau dengar itu? Kau malah akan memperkosa anak seorang lurah ponggawa Singosari"
Wanita itu merobentak Bandupati.
"Tidak, Minten, sama sekali tidak. Aku tidak memaksa, tidak memperkosa, ia memang suka menjadi selirku........ eh, bukankah begitu. Sumirah?"
"Bohong. Siapa sudi menjadi selirmu, kau memaksaku, dan aku lebih baik mati dari pada menjadi isterimu"
Sumirah membentak.
"Jahanam. Hayo bicara lagi. Apa kau ingin sekarang juga kubunuh?"
Wanita bernama Suminten itu membentak.
Ia adalah isteri Bandupati, akan tetapi ia jauh lebih berkuasa dari pada suaminya karena memang Suminten ini seorang wanita yang memiliki kedigdayasn melebihi suaminya.
"Ampun, Minten, ampunkan aku........ aku memang bersalah dan aku bersumpah takkan berani lagi......"
Bandupati meratap karena dia maklum hahwa isterinya itu bukan hanya mengeluarkan gertak kosong belaka.
Codet da mukanya juga akibat pedang isterinya.
Suminten mengeluarkan suara mendengus dari bidungnya.
"Huh, tidak perlu minta ampun. Sekali lagi aku melihat kau melakukan perbuatan seperti ini, aku tidak akan banyak omong lagi dan kau akan aku bunuh"
Suaminya mengangguk-angguk seperti ayam makan beras dan Suminten kini menghadapi Sumirah.
"Kau boleh pulang ke dusunmu. Pergilah"
Sumirah mengangguk dan merasa seolah-olah terlepas dari cengkeraman harimau ganas.
Ia lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, keluar dari perkampungan perampok di puncak bukit.
Suminten bertepuk tangan dau dua orang anggauta gerombolan dataog menghadap.
"Huh, kalian berdua amat-amati perjalanan gadis itu sampai ia selamat tiba di dusun Klintren. Kalau ada yang berani mengganggunya, awas, aku sendiri yang akan menghukumnya"
Dua orang anggauta gerombolan itu memberi hormat lalu pergi dan membayangi perjalanan Sumirah.
Lewat tengah hari, menjelang sore, barulah Sumirah yang melakukan perjalanan dengan susah payah itu tiba di luar dusun Klintren, dan dua orang anggauta perampok itupun segera kembali ke puncak bukit untuk memberi laporan.
Dengan tubuh lunglai dan hati masih terguncang oleh pengalaman pengalaman yang menengerikan itu, rambutnya awut-awutan dan mukanya pucat, Sumirah memasuki dusun Klintren.
Beberapa orang penduduk yang mengenal Sumirah.
segera berlari menghampirinya.
"Sumirah......., ah kau Sumirah......."
Dengan muka pucat, mata terbelalak penuh kekhawatiran, Sumirah lalu bertanya kepada saereka.
"Bagaimana ayah........? Bagaimana buku.......?"
Beberapa orang itu hanya menggeleng kepala, tidak mampu menjawab.
Melihat ini, Sumirah menjadi semakin cemas dan iapun mengerahkan sisa tenaganya untuk berlari menuju ke rumah orang tuanya.
Dengan terhuyung-huyung ia mendorong daun pintu rumahnya yang tertutup dan memasuki rumah itu.
"Ayaaaahhhh..... Ibuuu....."
Berulang-ulang ia memanggil ayah ibunya sambil mencari-cari di dalam rumah itu.
Akan tetapi rumah itu kosong sama sekali.
Ketika dengan nanar ia melangkah keluar, ia melihat banyak tetangga sudah berkumpul di pekarangan depan rumahnya, memandang dengan wajah penuh prihatin.
Bahkan ada beberapa orang tetangga wanita menangis.
"Mana ayahku. Mana ibuku? Di mana mereka...."
Berulang-ulang ia bertanya dengan suara lirih dan penuh kekhawatiran. Seorang tetangga wanita yang sudah tua melangkah maju dan merangkul Sumirah sambil menangis.
"Sumirah...... ahh, sungguh kasihan kau ....... ayah ibumu........ mereka"."
Wanita itu tidak dapat melanjutkan dan sudah terisak-isak menangis. Sumirah terbelalak, mengguncang kedua pundak wanita itu.
"Kenapa? Ayah ibu kenapa.? Katakanlah........"
"Mereka........ mereka...... tewas dibunuh gerombolan......"
Sumirah menjerit dengan lengkingan panjang, lalu mengeluh dan terkulai pingsan.
Beberapa orang tetangga merangkulnya dan mengangkutnya ke dalam rumah.
Ketika ia sadar, ia menangis tersedu-sedu, dihibur oleh para tetangga wanita.
"Di mana ayah ...... di mana ibu ........ dimana mereka dikubur ....."
Karena ia berkeras ingin berkunjung kekuburan orang tuanya, akhirnya iapun diantar oleh beberapa orang tetangganya ke tanah perkuburan.
Melihat dua gundukan tanah kuburan yang masih baru itu, yang oleh para tetangga dikatakan bahwa itu kuburan kedua orang tuanya, Sumirah menjatuhkan diri berlutut di atas kedua makam itu dan terkulai pingsan lagi.
Ketika Sumirah siuman dari pingsannya, ia sudah dikelilingi para tetangganya di tanah kuburan itu.
Mereka mencoba untuk menghibur gadis itu, akan tetapi Sumirah hanya menangis terisak-isak.
"Ayah........ibu........ah, kalian telah mati meninggalkan aku....... seorang diri......... ayah dan ibu ......kenapa tidak membawa saja aku bersama kalian........? Ayah......ibu........ kalian terbunuh oleh si keparat Kabiso ...... si jahanam Kabiso....."
Tiba-tiba tangisnya terhenti.
Semua orang memandang.
Wajah itu pucat, mata itu terbelalak dan tiba-tiba Sumirah tertawa "Heh hi hi hik, kau telah digantung Kabiso.
Hi hik, rasakan sekarang .......
haha, kau digantung dengan kepala di bawah, tubuhmu disayat sayat .......
terkutuk kau, Kabiso ......."
Sumirah tertawa-tawa.
"Sumirah, ingatlah, nak, ingatlah........"
Seorang tetangga tua berkata dengan hati penuh perasaan iba.
"Ya, ingatlah, Sumirah. Jangan terlalu berduka......" (Lanjut ke
Jilid 28) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28
"Hahaha, Kabiso, kau telah menerima hukuman. Hihik, puas hatiku, Kematian ayah ibu sudah terbalas. Kematian.......? Ayah ibu sudah mati, aohhh ......."
Dan iapun menangis lagi.
Semua orang saling pandang dan maklum Pengalaman-pengalaman yang amat hebat, yang diderita Sumirah selama sehari semalam itu.
terlampau berat baginya.
Perasaan penah kongerian dan ketakutan, disusul pula kedukaan karena kematian orang tuanya, merupakan hantaman terlalu berat baginya sehingga batinnya terguncang hebat.
Sumirah menjadi gila karena semua perasaan yang amat menekan dan mengguncang itu.
Ia menangis dan tertawa.
Menangis memanggil ayah dan ibunya, kadang-kadang memanggil nama Hok Yan, dan tertawa-tawa kalau menyebut nama Kabiso.
Kita tinggalkan dulu Sumirah yang tergoncang batinnya dan menjadi seperti orang gila di dukuh Klintren itu, dan mari kita ikuti perjalanan Wulansari yang mencari Nurseta ke kota raja Kediri.
Dengan menyamar sebagai seorang pria Wulansari dengan mudah menyusup masuk ke kota raja Kediri walaupun pintu gerbang dijaga ketat karena pada waktu itu, Kerajaan Daha sedang menghadapi perang dan telah mempersiapkan diri melawan pemberontakan Raden Wijaya dan Adipati Wiraraja yang bergerak bersama dengan datangnya pasukan Tartar dari utara.
Akan tetapi, begitu masuk kota raja, di mana-mana ia mendengar berita bahwa Nurseta telah ditawan oleh Sang Prabu Jayakawang Wulansari melakukan penyelidikan dan agaknya memang berita itu sengaja disebar karena di mana-mana dengan mudah ia dapat mendengar tentang ditawannya Nurseta.
Bagaimana Nurseta sampai dapat tertawan dan benarkah berita yang didengar Wulansari itu?
Seperti kita ketahui, Nurseta memang pergi ke kota raja Kediri, pertama untuk menguburkan abu jenazah Ni Dedeh Sawitri, ibu kandungnya ke dekat makam ayah kandungnya, yaitu Pangeran Panji Hardoko, dan kedua kalinya untuk mencari Wulansari dan berusaha mendapatkan kembali tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Dengan aji kesaktiannya, mudah pula bagi Nurseta untuk memasuki kota roja Kediri.
Akan tetapi, sekali ini Nurseta tidak tahu bahwa dua orang manusia sakti, yaitu Ki Bjyut Pranamaya dan Ki Cucut Kalasekti, telah bersekutu dan kedua orang kakek sakti ini telah menyebar kaki tangannya untuk diam-diam membuat pengamatan yang teliti.
Tidak aneh kalau kedua orang kakek ini dapat mengetahui bahwa Nurseta memasuki kota raja Kediri.
Mereka berdua cepat membuat persiapan karena menurut dugaan mereka, hanya ada dua orang saja di dua ini yang mungkin menyimpan Ki Ageng Tejanirmala di saat itu.
Mereka adalah Wulansari atau Nurseta.
Nurseta melakukan penyelidikan di mana adanya makam Pangeran Panji Hardoko.
Ternyata tidak sukar mencarinya karena pangeran itu dimakamkan di tanah kuburan agung yang diperuntukkan pemakaman keluarga Kerajaan Kediri.
Pada sore hari, setelah tanah kuburan itu sunyi, Nurseta menyelinap masuk dengan melompati pagar tembok, tidak berani memalui pintu gerbang yang selalu terjaga.
Dia Sama sekali tidak mengira bahwa setiap gerak geriknya sudah diikuti oleh dua orang kakek.
SETELAH menemukan makam ayah kandungnya, yaitu sebuah makam yang tidak begitu mewah di antara para makam yang lebih besar itu, dengan batu nisan yang ada tulisan nama Pangeran Panji Hardoko, Nurseta lalu cepat menggali lubang di tanah dekat makam itu.
Tidak terlalu besar karena abu jenazah ibu kandungnya hanya satu periuk yang sudah dibawanya dan dibungkus kain kuning Cepat sekali dia bekerja dan tak lama kemudian dia sudah selesai mengubur periuk terisi abu jenazah ibunya itu di dekat makam ayahnya, tepat seperti pesan terakhir ibu kandungnya.
Dan ketika dia berlutut di depan makam ayahnya dan ibunya itu, diam-diam dia memaafkan semua perbuatan ayah dan ibunya yang telah menyia-nyiakan dirinya.
Dia memaafkan mereka dengan hati rela, Dan dia berdoa semoga ayah dan ibunya memberi doa restu kepadanya.
Tiba-tiba Nurseta mengangkat mukanya dan cepat dia sudah bangkit berdiri.
Ada suara yang mencurigakan tertangkap pendengarannya.
Ketika dia membalik, dia sudih melihat betapa tempat itu terkurung banyak orang, dan di depannya telah berdiri dun orang kakek yang diam-diam mengejutkan hatinya, Ki Buyut Pranamaya dan Ki Cucut Kalasekti, dua orang musuh besarnya telah berdiri di situ.
Di belakang dua orang kakek sakti itu, dan juga kini sudah mengepung dirinya, terdapat sedikitnya duapuluh orang perwira dan senopati Daha, dan dia dapat melihat pula bahwa tanah kuburan itu sudah dikepung oleh pasukan yang entah berapa orang banyaknya.
Tidak ada jalan kehiar baginya kecuali membela diri mati-matian.
"Haha, bocah sombong Nurseta. Kini kau telah terkepung dan tidak akan dapat melarikan diri dari kami. Lebih baik kau cepat berlutut dan menyerahl"
Kata Ki Cucut Kalasekti yang diam-diam amat membenci pemuda ini karena beberapa kali dia pernah kewalahan, bahkan pernah di dalam goa di tebing itu dia hampir tewas oleh pemuda ini.
"Nurseta, cepat serahkan tombak pusaka itu kepada kami, baru kami akan mempertimbangkan nyawamu"
Kata pula Ki Buyut Pranamaya dengan suara yang berwibawa.
Dari ucapan itu tahulah Nurseta bahwa tombak pusaka itu tentu telah terlepas dari tangan Prabu Jayakatwang dan diapun dapat menduga dengan hati penuh kegembiraan bahwa siapa lagi yang mengambil tombak pusaka itu kalau bukan Wulansari.
Kegembiraannya membuat dia lupa akan bahaya yang mengancam dirinya, dan diapun tertawa.
"Ki Buyut Pranamaya dan Ki Cucut Kalasekti. Aku datang untuk menghormati makam orang tuaku, dan aku sama sekali tidak tahu tentang tombak pusaka. Kalian percaya atau tidak terserah. Jangan harap aku akan sudi menyerah kepada kakek kakek Iblis macam kalian"
Ki Buyut Pranamaya baru-baru ini menderita luka di dalam dadanya oleh serangan Nurseta.
Dia mendendam kepada pemuda ini, maka kini dia memperoleh kesempatan untuk membalas, karena sekarang pemuda itu hanya seorang diri sedangkan dia berdua dengan Ki Cucut Kalasekti masih dibantu para senopati Daha dan pasukan mereka.
"Bocah setan, sekarang saatnya kau mampus di tanganku"
Bentaknya dan kakek ini sudah menerjang dengan tendangan-tendangannya yang amat ampuh, yaitu aji tendangan Cakrabairawa.
Nurseta sudah mengenal ilmu tendangan yang amat berbahaya ini, maka cepat diapun mengelak dan membalas dengan tamparan tangan kirinya Ki Buyut Pranamaya tidak berani lagi memandang ringan lawan muda ini, maka diapun melompat mundur untuk menghindarkan diri.
Ki Cucut Kalasekti tidak mau kalah.
cepat diapun maju menyerang dengan pukulannya Aji Gelap Sewu.
Nurseta menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dakkk"
Keduanya terdorong mundur, akan tetapi Ki Cucut Kalasekti menyeringai menahan rasa nyeri pada lengannya ketika bertemu dengan lengan pemuda itu.
Dan orang kakek itu lalu mengeroyok Nurseta.
Pemuda perkasa ini terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua kepandaiannya karena dia maklmn bahwa dua orang kakek pengeroyoknya adalah lawan-lawan paling tangguh yang pernah dia hadapi.
Diapun cepat menggunakan jurus-jurus pukulan aji kesaktian Jagad Pralaya, yaitu aji kesaktian yang dia pelajari dari mendiang Panembahan Sidik Danasura.
Aji kesaktian ini hebat bukan main, bahkan pertapa itu pernah memesan kepada Nurseta bahwa kalau tidak terpaksa sekali agar dia jangan mengeluarkan aji kesaktian itu.
Akan tetapi sekarang, menghadapi dua orang kakek itu, tidak ada pilihan lain bagi Nurseta.
Kalau dia ingin selamat, dia harus meugeluarkan aji itu.
Dan memang dua orang kakek itupun sudah mengenal aji kesaktian ini.
Mereka berdua nampak gentar dan berloncatan mundur begitu Nurseta mengeluarkan ilmu ini.
Nurseta yang melihat dua orang lawannya mundur, cepat dia membalik dan bermaksud untuk melarikan diri.
Akan tetapi pada saat itu, duapuluh orang lebih perwira yang tangguh dari Daha sudah mengepungnya dan mengeroyoknya dengan segala macam senjata di tangan mereka.
Ada yang bertombak, berpedang, ada pula yang menggunakan ruyung, golok dan keris.
Repotlah Nurseta menghadapi pengeroyokan dan hujan senjata ini.
Dia melawan mati-matian, dengan tamparan-tamparan saktinya dia berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok, akan tetapi pengeroyokan tidak menjadi longgar, bahkan menjadi semakin ketat karena kini dua orang kakek itu sudah maju pula mengeroyoknya.
Aji kesaktian Jagad Pralaya adalah suatu aji pukulan yang hanya dapat dimainkan kalau menghadapi satu atau dua orang lawan saja.
Kalau menghadapi pengeroyokan, biarpun aji pukulan ampuh itu mampu memukul tewas dengan sekali pukul beberapa orang pengeroyok, namun gerakannya tidaklah begitu cepat sehingga pertahanannya terbuka dan diapun tentu akan dapat terkena serangan para pengeroyok yang bagaikan hujan datangnya itu.
Untuk mempertahankan dirinya, terpaksa dia mainkan ilmu lain, yaitu mempergunakan kuda-kuda Wandiro Kingkin dan memainkan pukulan Bajradenta.
Bahkan kemudian dia terpaksa mencabul keris Hat Nogo pemberian Raden Wijaya untuk membela diri.
Dengan keris itu, dia menangkis sambaran senjata-senjata lawan yang tak dapat dielakkan, sementara itu, kedua kakinya dan tangan kirinya melakukan serangan balasan yang kembali berhasil merobohkan beberapa orang pengeroyok, akan tetapi jumlah pengeroyok tidak pernah berkurang karena selalu bertambah orang kalau ada pengeroyok yang roboh.
Cuaca menjadi semakin gelap dan Nurseta sudah terkena pukulan bermacam senjala lawan.
Akan tetapi karena dia mengerahkan kekebalan, maka yang robek-robek hanya pakaiannya saja sedangkan kulit tubuhnya belum ada yang terluka sedikitpun.
Akan tetapi, dia menjadi lelah bukan main.
Sejak tadi dia terus menerus mengerahkan tenaga menghadapi pengeroyokan banyak orang.
Ketika gerakannya agak mengendur, tiba-tiba sebuah tendangan kaki Ki Buyut Pranamaya menyambar dan mengenai pinggangnya.
"Desss........"
Tendangan Aji Cakrabairawa itu amat kuatnya dan biarpun Nurseta sudah menahan dengan kekebalan tubuhnya, telah mengerahkan tenaga sakti ke dalam pinggang yang tertendang, tetap saja dia terpelanting roboh.
Pada saat itu, sebatang pedang dan sebatang tombak menyambar dari kanan kiri.
Dia mengeluarkan bentakan nyaring, tangannya mendorong ke atas dalam keadaan telentang, dan dari kedua tangan itu menyambar tenaga dahsyat dari Aji Jagad Pralaya.
Dua orang perwira yang menyerangnya itu menjerit dan tobuh mereka terlempar sampai jauh dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Akan tetapi pada saat itu juga, Ki Cucut Kalasekti sudah menubruk dari samring dan kedua lengan Nurseta dapat ditangkap dan ditelikungnya, Ki Buyut Pranamaya datang membantu, tangannya menghantam tengkuk pemuda itu dan Nurseta terkulai pingsan.
"Jangan bunuh dia"
Ki Cucut Kalasekti membentak dan melarang para perwira Daha yang hendak menyerang pemuda yang sudah pingsan itu.
Karena semua perwira mengenal Ki Cucut Kalasekti atau Adipati Satyanegara dari Bendowinangun sebagai seorang kepercayaan Snbaginda, maka merekapun tidak berani membantah.
Ketika Ki Buyut Pranamaya bertanya mengapa pemuda yang amat berbahaya itu tidak dibunuh saja, Ki Cucut Kalasekti tertawa.
"Hahahaha, kita rugi besar kalau dia dibunuh. Ingat, tombak pusaka itu belum jatuh ke tangan kita. Nurseta inllah yang akan mendatangkan tombak pusaka itu kepada kita. Untuk menebus nyawanya, kalau tombak itu berada padanya, tentu dia akan menukar tombak itu dengan nyawanya. Sebaliknya kalau tidak ada padanya dan masih berada di tangan WuJansari, maka kalau gadis setan itu mendengar bahwa Nurseta menjadi tawanan di Kediri, tentu ia akan datang ke sini"
"Hemm, gadis itu bukan orang bodoh. Bagaimana kalau ia tidak datang? Berarti kita akan membuang waktu sia-sa saja"
Kata Ki Buyut Pranamaya.
"Ha haha, ia memang bukan orang bodoh, akan tetapi apakah kau kira aku ini bodoh? Ingat, Wulansari itu aku yang mendidiknya sehingga menjadi pintar, maka tentu aku lebih pintar dari padanya. Aku mengenalnya sejak ia masih remaja, dan aku tahu benar akan wataknya. la seorang gadis yang keras hati dan pemberani, juga ia amat mencinta Nurseta. Kalau ia mendengar bahwa orang yang dikasihinya itu tertawan, tentu ia akan menggunakan segala dayanya untuk menyelamatkan Nurseta. Aku merasa yakin bahwa ia tentu akan muncul disini"
Demikianlah, Nurseta menjadi seorang tawanan yang ditahan di dalam penjara bawah tanah yang amat kuat.
Bukan hanya kaki tangannya yang dibelenggu.
juga tempat tahanan itu dijaga ketat bahkan selalu diamati oleh dua orang kakek sakti sehingga dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk lolos dari situ.
Mulailah Narseta merasa menyesal mengapa dia tidak ingat akan dua orang kakek yang sakti itu sehingga dia sampai tertawan.
Dia tidak menyesal menjadi tawanan, bahkan andaikata dia matipun dia tidak akan menyesal.
Yang disesalkan adalah karena tugasnya belum selesai.
Ki Ageng Tejanirmala belum dapat dia serahkan kepada Raden Wijaya.
Sang Prabi Jayakatwing girang mendengar laporan Ki Cucut Kalasekti bahwa tombak pusaka itu tentu akan dapat ditemukan kembali dengan ditawannya Nurseta.
Hal ini sedikitnya menjadi penghibur hatinya yang gelisah karena adanya gerakan pemberontakan dari Majapahit dan Madura, apa lagi dengan adanya berita bahwa dari pantai utara datang pasukan Tartar yang amat kuat.
Dugaan Ki Cucut Kalasekti memang tidak ngawur.
Ketika Wulansari yang menyamar sebagai pria menyelundup ke dalam kota raja Kediri, dan ia mendengar berita yang sengaja disebar bahwa Nurseta telah menjadi tawanan Sang Prabu Jayakatwang, ia terkejut bukan main.
Dengan hati-hati ia meiakukan penyelidikan dimana pemuda yang dikasihinya itu ditahan.
Ketika ia mendengar bahwa Nurseta ditahan di dalam penjara bawah tanah dan dijaga sendiri oleh Ki Cucut Kalasekti dan Ki Buyut Pranamaya, ia terkejut bukan main dan iapun tahu bahwa menolong kekasihnya dengan kekerasan merupakan suatu hal yang tidak mungkin terjadi.
Sebagai seorang bekas pengawal pribadi Sang Prabu Jayakatwang, ia tahu apa artinya ditahan di dalam penjara bawah tanah, yaitu bahwa orang yang ditahan di sana tidak mungkin dapat dibebaskan dari luar.
Selain penjagaan amat ketat, juga memiliki banyak pintu yang tebal.
Apa lagi ada dua orang kakek sakti itu yang berjaga.
Jalan kekerasan tidak mungkin dapat membebaskan kekasihnya, akan tetapi bagaimanapun juga ia harus membebaskan Nurseta.
Hidupnya takkan ada artinya lagi kalau sampai Nurseta tewas, apa lagi tewas sebagai seorang tawanan.
Andaikata kekasihnya itu gugur di medan pertempuran, hal itu masih dapat diterimanya, Akan tetapi mati dalam tawanan musuh.
Tidak, ia harus dapat menolongnya.
Harus.
"Berhenti. Siapa kau yang berani lancang masuk ke sini?"
Bentak seorang komandan jaga dan selusin perajurit pengawal diluar istana Kerajaan Daha sudah menodongkan tombak mereka kepada pemuda yang berani memasuki pekarangan itu.
"Hemm, apakah kalian sudah tidak mengenalku lagi?"
Kata Wulansari dengan suara biasa, suara wanita.
"Ia...... ia........ seorang wanita......"
"Seperti........ Wulansari........"
Wulansari tersenyum"Benar, aku Wulansari. Aku ingin menghadap Sribaginda. Harap laporkan ke dalam, katakan bahwa aku Wulansari ingin menghadap Gasti Prabu Jayakatwang. Penting sekali"
Gegerlah keadaan para perajurit pengawal itu.
Mereka tentu saja sudah mengenai Wulansari, bahkan biasanya mereka kagum dan juga jerih terhadap pangawal pribadi Sribaginda yang sakti ini.
Akan tetapi merekapun mendengar bahwa gadis perkasa ini telab minggat dan kini menjadi buruan.
Dan merekapun sudah mendengar pesan Ki Cucut Kalasekti agar cepat melapor kalau Wulansari muncul.
Selagi mereka itu kebingungan, tiba-tiba terdengar suara ketawa dan muncullah dua orang kakek sakti yang membuat para perajurit itu bernapas lega.
Ki Cucut Kalasekti dan Ki Buyut Pranamaya yang kebetulan baru keluar dari istana segera mengenal "pemuda"
Yang dihadapi oleh para perajurit pengawal dengan sikap bingung itu.
"Ha haha, tidak salah dugaanku. Kau pasti akan muncul, Wulansari cucuku yang cantik, hehheh "
Kata Ki Cucut Kalasekti sambil menghampiri gadis yang berpakaian pria itu.
"Ki Cucut Kalasekti, ingat, aku bukan cucumu"
Kata Wulansari dengan sikap angkuh"Heh heh, Wulansari muridku yang manis""
"Hanya bekas murid, Ki Cucut. Ingat, sekarang aku musuhmu, bukan lagi muridmu"
"Ha ha ha, baru mendapatkan beberapa petunjuk dari mendiang Panembaban Sidik Danasura, kau sudah menjadi begini sombong, Wulan. Nah, katakan kepadaku, bukankah kedatanganmu ini karena Nurseta?"
Wulansari mengerutkan alisnya.
Sebelum ia datang ke istana Daha, ia telah mengatur siasat sematangnya, bahkan munculnya dua orang kakek sakti inipun tidak mengejutkan hatinya karena memang sudah ia perhitungkan dan iapun sudah mengatur siasat bagaimana untuk menghadapi dua orang kakek sakti ini.
"Ketahuilah. Ki Cucut Kalasekti, juga kau Ki Buyut Pranamaya. Aku datang ini sama sekali tidak ada urusannya dengan kau berdua, atau dengan siapa saja. Aku datang untuk menghadap Sang Prabu Jayakatwang sendiri"
"Wah, Ki Cucut, bekas muridmu ini sungguh tinggi hati dan besar kepala"
Ki Buyut Pranamaya mencela dengan hati panas karena dia sama sekali tidak dipandang mata oleh gadis itu.
"Wulan, jangan kau bersikap begini. Kau datang untuk minta agar Nurseta dibebaskan, bukan? Nah, serahkanlah tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala kepada kami, dan kami akan menyerahkan Nurseta kepadamu"
"Ki Cucut, sudah kukatakan bahwa aku tidak mau berurusan dengan kalian berdua. Aku hanya mau berurusan dengan Sang Prabu Jayakatwang"
"Babo babo, bocah sombong"
Ki Buyut Pranamaya berseru "Kalau kami turun tangan menangkapmu, apa kau kira akan mampu lolos dari tangan kami?
Kau sudah berada di sini.
terkepung, biar pandai terbangpun takkan dapat lolos.
Tidak perlu berlagak lagi"
"Siapa perduli obrolanmu, Ki Buyut? Kalian boleh. tangkap aku, boleh bunuh aku, akan tetapi jangan harap bisa mendapatkan tombak pusaka itu. Boleh pilih, hadapkan aku kepada Sang Prabu Jayakatwang sekarang juga dan aku akan menyerahkan tombak pusaka kepadanya, atau kalian menghalangiku dan aku akan melawan sampai mati, akan tetapi jangan harap tombak pusaka itu akan dapat kalian peroleh"
Ki Buyut Pranamaya membentak.
"Huh, kau kira bisa menggertakku? Kalau kau sudah kusiksa, hendak kulihat apakah kau tidak akan menyerahkan tombak itu"
Dia sudah hendak bergerak menyerang, akan tetapi Ki Cucut Kalasekti menengahi.
Dia sudah mengenai watak gadis yang pernah menjadi murid dan cucu terkasih ini.
Dia tahu bahwa Wulansari amat keras hati dan tidak takut mati.
Biar disiksa bagaimacapun juga, sampai mati, ia pasti tidak akan sudi menyerah.
Dan akibatnya, dia dan Ki Buyut Pranamaya yang akan menanggung kemarahan Sang Prabu Jayakatwang.
Dan hal itu tentu saja amat berbahaya bagi mereka.
"Baiklah, Wulansari. Kami akan mengantarmu menghadap Prabu Jayakatwang. Akan tetapi awas, kami selalu berada di dekatmu dan kalau kau membuat ulah yang tidak-tidak, kami tidak akan segan segan untuk membunuhmu"
Kata Ki Cucut Kalasekti.
"Dan menyiksamu"
Tambah Ki Buyut Pranamaya.
Seorang perajurit lalu diperintah oleh Ki Cucut Kalasekti untuk melapor ke dalam agar disampaikan kepada Sang Prabu Jayakatwang bahwa dia dan Ki Buyut Pranamaya mohon menghadap bersama Wulansari.
Mendengar laporan itu, Sang Prabu Jayakatwang dengan bersemangat sekali lalu memerintahkan tiga orang itu menghadapnya.
Dia pun mempersiapkan pasukan pengawal pribadi untuk menjaga keselamatannya, karena bagaimanapun juga, dia masih curiga kepada Wulansari yang telah melarikan Dyah Gayatrt dan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala dari dalam istana.
Ketika dua orang kakek sakti itu menyembah kepada Sang Prabu Jayakatwang, Wulansari juga memberi hormat, akan tetapi ia tidak berlutut, hanya menyembah sambil berdiri saja.
Melihat sikap ini, Sang Prabu Jayakatwang memandang kepada gadis yang pernah disayangnya itu.
"Hemm, kiranya kau, Wulansari. Kalau kami menghendaki, sekarang juga tanpa banyak cakap, aku dapat memerintahkan agar kau ditangkap dan dijatuhi hukuman berat. Akan tetapi sebelum aku lakukan itu, aku ingin mendengar dulu apa maksudmu datang menghadap kami"
Jelas babwa dalam suara Sribaginda mengandung kemarahan terhadap gadis ini. Akan tetapi Wulansari bersikap tenang saja. Hal inipu sudah diperhatikannya dan sudah diduganya akan terjadi.
"Hamba mengerti akan kemarahan paduka, gusti. Akan tetapi hambapun tidak merasa bersalah. Kepergian Puteri Gusti Dyah Gayatri adalah atas kehendaknya sendiri......."
"Akan tetapi kau telah berani mencurl Ki Ageng Tejanirmala"
Sang Prabu Jajakatwang membentak marah.
"Bagaimanapun juga, tombak pusaka itu daiulunya adalah hamba yang mendapatkan. Akan tetapi, gusti, Hamba datang bukan untuk membicarakan soal yang telah lalu, Hamba datang untuk menyerahkan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala kepada paduka dengan syarat agar kakangmas Nurseta yang paduka tawan itu dibebaskan. Hamba hendak menukarkan Ki Ageng Tejanirmala dengan kakangmas Nurseta"
"Omong besar"
Raja itu membentak, marah karena ada orang berani mengajukan tuntutan kepadanya seperti itu, seolah-olah dia yang hendak diperintah "Kau sungguh sumbong, Wulansari.
Kalau sekarang aku perintahkan kau ditangkap, dan kami paksu untuk mengembalikan tombak pusaka itu, apa kau kira akan mampu lolos?"
Wulansari tersenyum. Senyum yang dahulunya selalu mendatangkan perasaan aman dalam hati Sribaginda, kini senyum itu seperti keris penusuk ulu hatinya.
"Gusti, kalau hamba takut akan ancaman itu, tentu hamba tidak akan datang ke sini. Kalau paduka menyuruh menangkap dan membunuh hamba, tombak pusaka itu selamanya tidak akan kembali ke tangan paduka. Biar paduka menyuruh orang menyiksa hamba sampai mati, hamba tidak akan menyerahkan tombak pusaka itu. Maka, paduka tinggal pilih. Menurutl permintaan hamba agar kakangmas Nurseta ditukar dengan Ki Ageng Tejanirmala, atau hamba akan mengamuk. Dan kiranya tidak akan mudah menangkap hamba, biar di sini ada dua orang kakek iblis ini"
Kini suara Wulansari penuh tantangan.
Wajah raja itu menjadi agak pucat.
Dia marah sekali dan ingin dia mengeluarkan perintah agar gadis ini dikeroyok dan ditangkap, akan tetapi dia teringat akan kepentingan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Tombak pusaka itu adalah wahyu kerajaan.
Kerajaan Daha akan selalu jaya kalau dia memiliki tombak pusaka itu.
Pada hal, sekarang Kerajaan Daha sedang terancam malapetaka karena pemberontakan Raden Wijaya.
Dia merasa bimbang, diombang-ambingkan kemarahan dan juga keinginan memiliki kembali tombak pusaka itu.
Pada saat itulah Ki Cucut Kalasekti yang maklum akan isi hati junjungannya, menyembah dan berkata.
"Ampunkan hamba, gusli. Kalau paduka mengijinkan, biarlah hamba berdua Ki Buyut Pranamaya berurusan dengan Wulansari. Hamba berdua yang akan menanggung bahwa tombak pusaka itu pasti akan diserahkan oleh Wulansari kepada hamba berdua. Hamba yang akan mengawal Nurseta ketika pertukaran terjadi, dan hamba jamin Wulansari tidak akan dapat menipu paduka. Percayalah, segalanya tentu akan berakhir dengan beres dan menyenangkan, sesuai dengan keinginan hati paduka"
Raja Jayakatwang dapat menangkap apa yang tersembunyi dalam katakata Ki Cucut Kalasekti itu.
Dalam kalimat terakhir itu jelas tersimpul janji kakek sakti itu bahwa dia tidak akan begitu bodoh untuk memenuhi permintaan gadis itu begitu saja.
Tentu kakek itu telah mengatur akal agar tombak pusaka dapat dikuasai kembali, dan di samping itu, selain Nurseta tidak perlu dibebaskan, juga agar gadis itu dapat ditangkap.
"Heh, Wulansari. Kau sungguh berani mati sekali mengajukan tuntutan kepadaku. Mengapa kau begitu mati-matian untuk membebaskan Nurseta? Apakah alasanmu?"
Tanpa merasa sungkan sedikitpun, Wulansari menjawab dengan suara lantang "Gusti, hendaknya paduka ketahui bahwa kakangmas Nurseta sebenarnya masih sanak keluarga paduka sendiri"
"Ehhh........??"
Sang Prabu Jayakatwang terbelalak, lalu memandang kepada Ki Cucut Kalasekti.
"Bagaimana ini, Adipati Satyanegara, benarkah ucapan Wulansari itu?"
"Hamba sendiri juga tidak tahu, gusti"
Kata Ki Cucut Kalasekti yang memandang heran kepada bekas muridnya itu.
"Wulansari, bagaimana kau dapat mengatakan demikian? Ada hubungan apa antara Nurseta dengan keluargaku?"
"Hendaknya paduka ketahui bahwa kakangmas Nurseta adalah putera kandung mendiang Pangeran Panji Hardoko"
Sepasang mata Sribaginda makin melebar. Mendiang Pangeran Panji Hardoko adalah adik tirinya, seorang pangeran putera seorang diantara selir ayahnya.
"Tapi.... setahuku, dia meninggal dunia tanpa meninggalkan putera"
Katanya menyangkal.
"Memang tidak ada yang mengetahui hal itu, gusti. Ayahnya adalah mendiang Pangeran Panji Hardoko dan ibunya adalah Ni Dedeh Sawitri. Sebelum meninggal dunia, Raden Panji Hardoko menyerahkan Nurseta yang masih, bayi kepada Ki Bayaraja yang kemudian memberontak kepada Kerajaan Singosari dan tewas. Nurseta oleh Ki Bayaraja diserahkan kepada adiknya, yaitu mendiang Ki Baka. Demikianlah, gusti. Karena kakangmas Nurseta adalah darah keluarga paduka sendiri, sudah sepatutnya kalau dia diampuni"
"Hemmm, akan tetapi, andaikata dia itu benar keluarga kami, masih tidak ada hubungannya denganmu. Kenapa kau bersusah payah mempertaruhkan nyawa untuk membebaskannya?"
"Dia adalah tunangan hamba"
Jawab Wulansari dengan berani.
Prabu Jayakatwang tertawa dan mengelus jenggotnya "Aha, kiranya demikian.
Pantaslah kalau begitu.
Baik, Wulansari.
Aku mau menukar Nurseta dengan Ki Ageng Tejanirmala.
Apakah sekarang juga kau akan menyerahkan tombak pusaka itu kepada kami?"
"Tombak pusaka itu hamba simpan di suatu tempat dan di sanalah pertukaran itu dapat hamba lakukan, Kakangmas Nurseta harus dibawa ke tempat itu dan di sana hamba akan menukarkan tombak pusaka itu dengan kakangmas Nurseta"
"Hemm, di manakah tempat itu?"
Ki Cucut Kalasekti bertanya.
"Di sebuah goa di suatu bukit"
Jawab Wulansari dengan cerdik.
Kalau ia menyebutkan tempat itu dengan jelas, tentu dua orang kakek jahat dan licik ini akan melanggar janji, akan menangkapnya dan mereka akan mengambil sendiri pusaka itu.
"Katakan di mana?"
Ki Buyut Pranamaya membentak. Wulansari tersenyum mengejek "Tidak akan kuberitahu di mana. Pendeknya, tempat itu baru dapat kalian ketahui kalau kakangmas Nurseta sudah dibawa ke sana"
"Hah. Jauhkah dari sini?"
Ki Cucut Kalasekti bertanya, khawatir kalau-kalau gadis itu telah mempersiapkan perangkap untuk dia "Hanya setenjah hari perjalanan"
Jawab Wulansari dan hati kakek itu merasa lega.
Kalau hanya perjalanan setengafa hari, berarti tempat itu masih termasuk wilayah Kediri dan tidak begitu jauh dari kota raja.
Tempat itu tentu aman baginya, tidak termasuk daerah musuh.
"Baiklah, mari kita berangkat"
Katanya kepada Wulansari, dan dia menyembah kepada Sang Prabu Jayakatwang "Gusti, hamba mohon diri, hamba akan membawa Nurseta dari dalam tahanan untuk ditukar dengan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala"
Prabu Jayakatwang, dengan wajah berserl, mengangguk "Baik, paman adipati. Laksanakan tugasmu sebaik mungkin"
Ki Buyut Pranamaya juga berpamit, dan Wulansari berkata kepada raja itu "Gusti..
hamba menghaturkan terima kasih atas segala kebaikan paduka kepada hamba, dan hamba berjanji bahwa hamba tidak akan mencampuri perang antara Kediri dengan musuh dari manapun juga"
Prabu Jayakatwang mengangguk dan tersenyum.
Kau boleh bicara apa saja, gadis manis, pikirnya.
Tombak pusaka itu akan kembali kepadanya, dan Nurseta akan tetap ditahan, juga gadis ini akan ditangkap, hidup ataupun mati.
"Diajeng Wulan......."
Nurseta terbelalak memandang kepada gadis itu ketika dia dibawa keluar dari dalam penjara bawah tanab oleh Ki Cucut Kalasekti dan Ki Buyut Pranamaya dengan kedua tangan dibelenggu ke belakang.
Wulansari memandang pemuda itu.
Kerinduan membayang di matanya.
Ingin ia menubruk pemuda yang dicintanya itu, akan tetapi ia menahan gejolak hatinya dan ia hanya tersenyum.
"Kakangmas Nurseta, sukur kau masih selamat dan sehat"
Katanya lirih dan singkat.
Setelah sejenak menatap wajah pemuda itu dengan sepenuh kasih sayangnya, ia lalu menundukkan pandang matanya.
Sikap ini saja sudah dapat ditangkap oleh Nurseta bahwa gadis itu sungguh masih amat mencintanya seperti dia mencinta Wulansari, akan tetapi gadis itu sengaja menunduk dan ini berarti bahwa keadaan gawat dan dia tidak boleh banyak bicara.
Akan tetapi, kalau dia diam saja, hal itu bahkan akan menimbulkan kecurigaan dua orang kakek sakti itu, pula, hatinya juga merasa tidak enak sekali kalau dia belum mengetahui apa maksudnya dia dibawa keluar dari penjara dan di situ dia melihat Wulansari telah menanti di alun-alun istana Kerajaan Daha.
"Diajeng Wulansari, apa artinya semua ini? Kenapa kau berada di sini? Apa yang terjadi?"
Sikap dan pertanyaan Nurseta demikiam wajarnya, akan tetapi Wulansari melihat suatu ketidak-wajaran.
Dara ini sudah mengenal benar watak Nurseta yang biasanya tenang sekali.
Kini pemuda itu kelihatan begitu terheran-heran disertai kekhawatiran, maka iapun dapat menduga bahwa memang pemuda itu sengaja bersikap demikian agar tidak mendatangkan perasaan curiga kepada dua orang kakek sakti.
Diam-diam Wulansari kagum bukan main.
Kekasihnya itu selain tampan dan sakti, juga cerdik sekali.
Akan tetapi ia menymipan kegembiraan dan kekagumannya ini dalam hati, lalu iapun menarik muka khawatir, dan menjawab lirih.
"Kakangmas Nurseta, aku mendengar bahwa kau ditahan di sini. Hatiku menjadi risau dan gelisah bukan main, maka aku lalu nekat menghadap Prabu Jayakatwang untuk memintakan pengampunan untukmu"
"Apa? Kau yang sudah menjadi pelarian dan orang buruan karena melarikan Puteri Dyah Gayatri datang menghadap Sang Prabu Jayakatwang? Diajeng Wulan, itu namanya sama dengan mencari penyakit"
Nurseta berseru dan menegur, kembali hal ini tidak wajar bagi Wulansari dan iapun semakin yakin bahwa pemuda itu bersandiwara untuk membantunya menyempurnakan siasat yang sedang ia jalankan.
"Hahaha, Nurseta. Muridku ini bukan mencari penyakit, akan tetapi ia datang untuk menolongmu, dan ia berhasil, hahaha. Kalau tidak ada muridku ini, jangan harap kau dapat hidup"
Ki Cucut Kalasekti berkata mengejek.
"Ki Cucut Kalasekti, aku bukan muridmu lagi"
Wulansari membentak.
"Tapi....... tapi...... bagaimana kau dapat menolongku, diajeng? Aku masih dibelenggu, dan di sini........ ada dua orang kakek iblis ini........"
"Kakangmas, jangan khawatir. Kau pasti akan dibebaskan, karena sudah kujanjikan kepada Sang Prabu Jayakatwang bahwa engkau, akan kutukar dengan tombak pusaka......"
"Ki Ageng Tejanirmala?"
Nurseta berseru seperti orang terkejut?
dan Wulansari tahu pula bahwa ini adalah buatan, karena betapapun terkejutnya, kekasihnya itu tidak akan memperlihatkannya seperti itu kalau memang tidak disengaja.
"Benar, kakangmas. Hanya itulah yang akan dapat membebaskanmu. Dua orang kakek ini akan ikut bersamaku dengan membawamu, ke tempat pusaka itu kusimpan. Setelah pusaka kuberikan kepada mereka, kau akan dibebaskan. Aku harus melakukan ini, kakangmas, untuk menyelamatkanmu"
"Hahaha, benar sekali itu. Pusaka, tombak pusaka, untuk apa sih bagi seorang gadis manis seperti Wulansari? Tombak pusaka tidak bisa bicara, tidak hidup, tidak bisa bergerak, tidak dapat diajak bercumbu rayu......."
"Tutup mulutmu"
Nurseta membentak dan sekali ini bukan hanya pura-pura karena memang dia marah mendengar ucapan itu Ki Cucut Kalasekti.
"aku tidak pernah tunduk dan menyerah kepadamu, sampai sekarangpun. Karena itu, jaga baik-baik mulutmu yang kotor"
Demikianlah, kakangmas Nurseta. Mari kau ikut dengan kami, dan kau akan dibebaskan di sana....."
"Tidak. Bagaimana kau hendak menyerahkan tombak pusaka kepada orang-orang ini, diajeng? Tombak pusaka itu berharga sekali, jauh lebih penting dari pada diriku"
"Kakangmas, tombak pusaka itu kuserahkan kepada mereka ini untuk dihaturkun kepada Sang Prabu Jayakatwang. Dan bagiku, di dunia ini tidak ada yang lebih penting dari pada keselamatanmu. Sudahlah, kakangmas, harap jangan membantah lagi. Mari, Ki Cucut dan Ki Buyut, kita berangkat"
"Nanti dulu, Wulansari. Kami akan membawa pasukan pengawal karena kami khawatir kalau-kalau kau akan menjebak kami, hahaha"
Kata Ki Cucut Kalasekti tertawa.
Diam-diam Nurseta terkejut.
Kalau benar dugaannya bahwa Wulansari pasti tidak akan menyerahkan pusaka itu begitu saja melainkan hendak menggunakan akal, maka dengan adanya pasukan pengawal, maka tentu usaha Wulansari itu akan sia-sia belaka.
"Hemm, Ki Cucut Kalasekti, sungguh kau tidak patut dinamakan seorang datuk yang sakti. Kau sudah berdua bersama Ki Buyut Pranamaya, keduanya orang-orang tua yang katanya sakti mandraguna, digdaya dan tidak takut melawan siapapun juga. Kini, menghadapi seorang gadis seperti diajeng Wulansari saja, kalian sudah ketakutan setengah mati sehingga kalian merasa perlu membawa pasukan pengawal. Sungguh tidak tahu malu sekali"
"Hahaha, kami berdua tidak takut kepada Wulansari dan kepadamu, Nurseta"
Kata Ki Cucut Kalasekti "Akan tetapi siapa tahu Wulansari menyembunyikan teman temannya di tempat itu. Kami harus membawa pasukan"
"Sesukamulah, Ki Cucut Kalasekti. Aku memang tahu bahwa kau seorang pengecut. Berapa ribukah pasukan yang kau bawa serta?"
Kata Wulansari dengan suara dan sikap mengejek sekali sehingga mau tidak mau wajah kakek itu berubah kemerahan.
"Keparat, berani kau memaki aku pengecut? Pasukan ini hanya untuk berjaga-jaga, seratus orangpun sudah cukup"
"Wulansari, awas kau kalau menipu kami"
Kata Ki Buyut Pranamaya "Diajeng Wulan, hati-hatilah. Aku tahu bahwa kau jujur dan memegang janji, akan tetapi mereka ini orang-orang yang amat kejam dan curang. Aku tetap tidak percaya kepada mereka"
"Jangan khawatir, kakangmas. Sang Prabu sendiri sudah berjanji kepadaku. Akan tetapi, baik juga kalau kau berdua, Ki Cucut Kalasekti dan Ki Buyut Pranamaya, sekarang mengucapkan janji bahwa kalian di sana tidak akan mengganggu kami dan melepaskan kakangmas Nurseta"
"Aku berjanji tidak akan mengganggu Nurseta dan akan melepaskannya"
Kata Ki Cucut Kalasekti.
"Dan aku berjanji tidak akan menpganggumu, Wulansari"
Kata Ki Buyut, Pranamaya cepat-cepat.
"Mari kita berangkat"
Kata Wulansari, agaknya tidak perduli bahwa dua orang kakek itu membawa seratus orang perajurit pengawal.
Mereka semua menunggang kuda.
Wulansari menunggang kuda, dan Nurseta juga mendapatkan seekor kuda.
Kedua tangannya yang tadinya dibelenggu ke belakang, kini dibelenggu di depan sehingga dia dapat memegang kendali kuda, akan tetapi kalau Wulansari menunggang kuda di depan sendiri, Nurseta harus menjalankan kudanya di antara dua orang kakek itu.
Pasukan seratus orang perajurit pengawal mengikuti dari belakang.
Karena mereka menunggang kuda, maka rombongan ini dapat tiba di tempat tujuan lebih cepat.
Tengahari lewat sedikit mereka sudah mendaki sebuah bukit, yaitu Bukit Menur.
Bukit itu merupakan satu diantara ribuan bukit yang memanjang di sebelah selatan dari barat ke timur, sebuah bukit kapur di mana terdapat banyak goa.
Bukit yang hutannya tidak begitu lebat namun daerahnya liar dan tidak ditinggali penduduk.
Dua orang kakek itu memberi isarat kepada pasukannya agar berhati-hati walaupun bukit ini masih berada di wilayah Kediri.
Setelah tiba di bawah sebuah puncak batu karang dan kapur, Wulansari menghentikan kudanya, lalu melompat turun., Melihat ini, dua orang kakek itupun berlompatan turun dan Nurseta juga disuruh turun akan tetapi tetap berada di antara dua orang kakek itu yang menghampiri Wulansari.
Wulansari menunjuk ke puncak itu "Pusaka itu kusimpan di sana, dan untuk mendaki ke sana harus berjalan kaki, tidak dapat berkuda"
Dua orang kakek itu, juga Nurseta, memandang ke atas.
Puncak itu penuh dengan batu-batu besar dan dari bawah memang nampak lubang-lubang goa, akan tetapi entah di goa yang mana pusaka itu disimpan.
Ki Cucut Kalasekti memberi isarat dengan gerak tangannya kepada empat orang perwira yang memimpin pasukan itu, kemudian dia berkata kepada Wulansari.
Baiklah, mari kita mendaki ke atas"
Dan diapun menggapai kepada seorang perwira agar ikut mendaki ke atas.
Wulansari melihat betapa pasukan itu bergerak mengepung puncak, akan tetapi ia berpura-pura tidak melihat ini, lalu ia menjadi penunjuk jalan dan mendaki naik.
Ternyata memang hanya ada jalan setapak menuju puncak itu.
Jalan setapak yang tidak dapat dilalui kuda.
Selain jalan itu, tidak ada jalan lain yang lebih baik karena selain di bawah puncak terdapat benyak jurang, juga penuh dengan batu-batu yang mudah longsor.
Puncak itu sendiri merupakan dataran yang penuh batu dan goa.
Nurseta merasa betapa jantungnya berdebar kcras.
Dia tidak tahu apa yang akan dilakakan gadis itu, namun dia yakin bahwa tentu Wulansari telah mempergunakan perhitungan yang matang maka berani melakukan penukaran yang nampaknya sia-sia ini.
Pihak lawan adalah dua orang kakek sakti, dan masih ada lagi seratus orang perajurit yang mengepung puncak itu.
Agaknya, keadaan mereka berdua sungguh lemah sekali dan kalau dua orang kakek itu tidak melanggar janji, merekapun agaknya sukar untuk dapat meloloskan diri.
Wulansari berhenti di depan dinding batu besar di mana terdapat tiga buah lubang goa "Kalian tunggu di sini, biar aku mengambil dulu pusaka itu.
Akan tetapi, kakangmas Nurseta harus dibebaskan dari belenggunya"
Ki Buyut Pranamaya hendak membantah. akan tetapi Ki Cucut Kalasekti yang sudah yakin akan kekuatan pihaknya, segera mengambil kunci dan membuka belenggu besi dari kedua pergelangan tangan Nurseta.
"Nah, kau ambillah, Wulan. Dia harus di sini dulu sebelum pusaka itu kau serahkan kepada kami"
Katanya. Dua orang kakek itu bersiap menyerang dengan pukulan maut kepada Nurseta yang berdiri di antara mereka. Wulansari mengangguk.
"Tunggulah sebentar"
Dan iapun melompat ke dalam goa yang berada di tengah.
Dua orang kakek dan Nurseta memandang dan menunggu dengan jantung berdebar penuh ketegangan.
Goa itu gelap dan tidak nampak lagi gadis itu dari luar.
Tak lama kemudian, gadis itu keluar lagi.
dan kini ia membawa sebuah bungkusan panjang dari kain kuning "Inilah tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Terimalah, Ki Cucut Kalasekti, dan bebaskan kakangmas Nurseta, biar dia masuk ke goa ini"
"Nanti dulu"
Kata Ki Cucut Kalasekti "Ki Buyut, kau jaga dulu Nurseta karena aku harus memeriksa dengan teliti apakah tombak itu aseli ataukah palsu"
Wulansari membuka kain pembungkus benda itu dan nampaklah sebatang tombak. Mata tombak itu putih seperti perak yang berkilauan.
"Ki Cucut Kalasekti, kau pernah menerima tombak ini dariku, tentu dapat mengenalnya. Ki Buyut Pranamaya, kaupun pernah merampas tombak ini, tentu kau mengenalnya pula"
Kata Wulansari.
"Ki Ageng Tejanirmala........"
Dua orang kakek itu berseru hampir berbareng.
"Ki Ageng Tejanirmala. Itu tombak pusaka ayahku, itu tombak milikku, diajeng Wulansari. Jangan kau serahkan kepada orang lain. Aku tidak sudi menyerahkannya kepada mereka, lebih baik aku mati"
Teriak Nurseta dan teriakan ini menyenangkan hati dua orang itu karena ini merupakan bukti bahwa tombak pusaka itu memang aseli.
Mereka tadi sudah melihatnya dan tidak ragu lagi, akan tetapi pernyataan Nurseta itu lebih meyakinkan hati mereka.
"Serahkan tombak itu kepadaku, Wulan"
Kata Ki Cucut Kalasekti. Wulansari membungkus kembali tombak itu.
"Hemm, janjinya adalah ditukar, maka kalian harus pula membiarkan kakangmas Nurseta ke sini lebih dulu"
"Kau serahkan tombaknya dulu"
Kata Ki Cucut Kalasekti sambil menjulurkan tangan.
"Kakangmas Nurseta biar ke sini dulu"
Kata Wulansari. Melihat mereka tidak mau saling mengalah, Ki Buyut Pranamaya berkata.
"Berbareng saja. Kau serahkan tombak dan biar pemuda ini lari ke situ"
Tentu saja dia tidak khawatir kedua orang muda itu akan dapat lari.
Kemana mereka akan lari?
Pasukan sudah mengepung puncak itu, dan di situ ada pula mereka berdua.
Agaknya Ki Cucut Kalasekti juga berpikir demikian, maka diapun berkata.
"Baiklah, berbareng saja. Nah, lemparkan tombak itu, biar Nurseta lari ke situ"
"Baiklah. Kakangmas Nurseta, kalau kulemparkan tombak ini kepada mereka, kau larilah ke sini"
"Tidak. Aku tidak mau ditukar dengan Ki Ageng Tejanirmala. Jangan berikan tombak pusaka itu kepada mereka, diajeng Wulan'"
Kata Nurseta dengan suara keras, tanda bahwa dia marah.
"Kakangmas Nurseta, kuharap kau tidak akan menghalangiku. Kakangmas, maukah kau........ demi aku..........?"
Kalau tadinya Nurseta terkejut dan meragu melihat bahwa agaknya gadis ini benar-benar hendak menyerahkan tombak pusaka Tejanirmala kepada dua orang kakek itu, kini pulih kembali kepercayaannya.
Mustahil Wulansari akan sebodoh itu.
Dengan mengambil sikap apa boleh buat dan masa bodoh, dia menggerakkan kedua pundaknya.
"Terserahlah, diajeng, akan tetapi jangan sesalkan aku kalau nanti mereka itu menipumu"
"Kesinilah, kakangmas, Ki Cucut terimalah tombak pusaka ini"
Kata Wulansari sambil menjulurkan tombak itu ke arah Ki Cucut, sedangkan Nurseta melangkah memasuki goa.
Melihat bahwa tombak sudah dijulurkan, Ki Buyut Pranamaya tidak menghalangi Nurseta memasuki goa.
Untuk apa dihalangi, pikirnya.
Dua orang muda itu tidak akan mampu melarikan diri.
Setelah Ki Cucut Kalasekti menerima tombak pusaka itu, dia cepat menyerahkannya kepada perwira yang tadi diajaknya naik.
"Cepat kau larikan pusaka ini ke istana dan haturkan kepada gusti prabu"
Agaknya memang telah mereka atur sebelumnya.
Perwira itu menyembah, menerima pusaka, lalu diapun lari menuruni puncak tadi dan tak lama kemudian diapun sudah membalapkan kuda, dikawal oleh selusin perajurit, meninggalkan lereng Bukit Menur, membawa pusaka itu.
Akan tetapi dua orang kakek itu tidak meninggalkan depan goa, bahkan kini keduanya tertawa bergelak, agaknya mereka merasa lega dan gembira sekali karena tombak pusaka telah mereka selamatkan dan kirimkan kepada Sang Prabu Jayakatwang, sedangkan dua orang muda itu berada di dalam cengkeraman mereka.
"Hahahaha. Nurseta dan Wulansari, kalian seperti dua ekor tikus berada di dalam perangkap, hahaha"
Ki Cucut Kalasekti tertawa bergelak, diikuti oleh Ki Buyut Pranamaya yang kagum melihat keberhasilan siasat kawannya.
"Ki Cucut Kalasekti, apa maksudmu? Ingat, kau sudah berjanji untuk tidak mengganggu kakangmas Nurseta"
Wulansari membentak marah sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu.
"Hahahaha, aku tidak akan melanggar janji, Wulan manis. Aku berjanji tidak akan mengganggu Nurseta, bukan? Nah, sekarang aku akan menangkap kau, bukan Nurseta"
"Dan aku berjanji tidak akan mengganggu Wulansari, sekarang aku akan menangkap kembali Nurseta, haha"
Ki Buyut Pranamaya juga berkata sambil tertawa.
"Hemm, kalian dua orang manusia iblis. Kalian kira mudah saja menangkap kami?"
Bentak pula Wulansari.
"Hehheh, Wulansari, lebih baik kalian menyerah saja untuk kami tawan dan kami bawa ke Kediri. Lihat, seratus orang perajurit sudah mengepung tempat ini. Percuma saja kalian melawan kami"
Kata pula Ki Cucut Kalasekti.
"Nah, diajeng, dari tadi aku sudah menduga bahwa dua orang iblis ini pasti akan menggunakan muslihat"
Kata Nurseta yang kini menjadi gelisah juga melihat bahwa keadaan mereka memang tidak berdaya.
Tiba-tiba Wulansari tertawa, ketawanya bebas akan tetapi tidak kasar dan wajahnya menjadi manis dan cerah sekali "Hahahihihi, kakangmas Nurseta.
Aku tidak akan pantas menjadi calon garwamu (isterimu) kalau aku sebodoh itu.
Heh, Ki Cucut Kalasekti dan Ki Buyut Pranamaya, bukan kami yang terjebak dalam perangkap, melainkan kalian yang seperti dua ekor srigala tua masuk dalam perangkap.
Lihat baik-baik"
Setelah berkata demikian tiba-tiba Wulansari memegang pergelangan tangan Nurseta dan menariknya ke belakang, ke sebelah dalam goa yang gelap itu dan tiba-tiba terdengar sorak sorai gemuruh.
Dari kanan kiri goa itu, yaitu dari dalam kedua goa yang lain, muncul duapuluh orang, dan dari batu-batu besar di puncak itupun berlonqatan keluar duapuluh orang lain.
Mereka itu segera mendorong batu-batu di atas puncak dan terdengarlah suara gemuruh ketika batu-batu itu menggelundung ke bawah, menerjang batu-batu lain sehingga kini dari puncak itu turun hujan batu ke arah lereng di mana seratus orang perajurit Daha itu menanti.
Tentu saja para perajurit menjadi kacau balau, apa lagi ketika dari bawah bukit kini berlarian naik sedikitnya duaratus orang yang telah mengepung lereng itu.
Terpaksa mereka berloncatan turun dan melakukan perlawanan mati matian untuk membela diri sedapatnya.
Ternyata bahwa jumlah lawan dua kali lebih banyak dari mereka.
Tentu saja dua orang kakek itu terkejut bukan main.
Ketika mereka hendak melarikan diri, tiba-tiba nampak dua bayangan berkelebat keluar dari dalam goa itu dan dua orang muda itu sudah berdiri di depan mereka sambil tersenyum.
Ki Cucut Kalasekti marah bukan main, Mulutnya yang bentuknya meruncing seperti mulut ikan itu menjadi semakin runcing.
Mukanya yang berwarna kebiruan itu kini menjadi gelap bercampur warna merah.
"Wulansari, kau bocah durhaka, kubunuh kau"
Sambil mengeluarkan suara mendesis seperti seekor ular, kakek itu sudah maju.
menubruk dan menyerang bekas muridnya itu dengan gerakan dahsyat penuh kemarahan.
Begitu menyerang, dia telah mengerahkan Aji Segoro Umub dan pukulan Gelap Sewu.
Wulansari mengenai aji-aji itu, dan iapun menggunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dan balas menyerang.
Gadis ini telah mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaian Ki Cucut Kalasekti, maka ia sama sekali tidak merasa gentar.
Apa lagi, selama ini diam-diam ia telah melatih dan menggembleng dirinya, dan juga ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari Panembahan Sidik Danasura, menambah kehebatan tenaga saktinya sehingga dibandingkan dengan Ki Cucut Kalasekti yang usianya sudah tujuhpuluh empat tahun, ia tidak dapat dibilang lebih lemah.
Ia bahkan memiliki kecepatan melebihi bekas gurunya itu, dan tentu saja memiliki napas lebih panjang walaupun harus diakuinya bahwa ia masih kalah pengalaman dan bahwa Ki Cucut Kalasekti memiliki, banyak akal yang aneh-aneh.
"Wuuuttt....... dukkk"
Ketika Wulansari membalas dengan serangan tamparan Aji Gelap Sewu, Ki Cucut Kalasekti menyambut dengan tangkisan dengan maksud untuk menangkap pergelangan tangan bekas murid itu.
Akan tetapi, tak disangkanya begitu kedua lengan bertemu, tubuhnya tergetar hebat dan jangankan dapat menangkap lengan gadis itu, bahkan dia hampir saja terjengkang.
"Ssssshhhh........."
Dia mengeluarkan suara mendesis, jari jari tangannya mencengkeram ke depan dengan gerakan aneh dan cepat sekali.
Namun, Wulansari sudah maklum akan akal ini dan iapun berloncatan ke belakang, lalu ke kiri dan dari kakinya melayang dan menendang ke arah pinggang lawan.
Ketika Ki Cucut Kalasekti mengelak sambil menggerakkan tangan ke kanan untuk menangkis, tiba-tiba gadis itu menggerakkan tangannya dan jari tangannya yang runcing itu sudah mencuat dan menusuk ke arah mata dan muka lawan.
Itulah ilmu pukulan yang pernah ia pelajari dari mendiang Panembahan Sidik Danasura.
Dan jari-jari (Lanjut ke
Jilid 29) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 tangannya menyambar hawa yang amat panas sehingga Ki Cucut Kalasekti terkejut dan cepat melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan diri dari pukulan panas yang tak dikenalnya itu.
Itulah Aji Dahana Puspita (Bunga Api) yang pernah dipelajari gadis itu dari Panembahan Sidik Danasura dan yang telah mematangkan dengan latihan yang tekun sehingga ilmu itu kini menjadi ilmu pukulan yang bebat karena jari-jari tangannya itu seperti besi-besi panas menyerang lawan.
Ki Cucut Kalasekti yang melempar tubuh ke belakang terpaksa bergulingan karena dikejar oleh gadis itu yang mengirim tendangan-tendangan ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuhnya.
Akhirnya, dia mampu pula melompat bangun dan membalas dengan serangan dahsyat yang dapat dielakkan oleh gadis itu.
Terjadilah perkelahian yang mati-matian antara bekas guru dan murid ini, yang pada umumnya memiliki gerakan yang sama.
Pertempuran yang terjadi antara Nurseta dan Ki Buyut Pranamaya tidak kalah hebatnya.
Ki Buyut Pranamaya amat membenci Nurseta yang dianggap penghalang keberuntungannya itu.
Dan diapun tahu bahwa murid mendiang Panembahan Sidik Danasura ini memiliki kesaktian yang hebat, sakti mandraguna dan amat digdaya sehingga biarpun lawan itu masih muda, pantas menjadi cucunya, namun dia tidak berani memandang ringan.
Begitu menyerang, dia sudah mengeluarkan pukulan ampuhnya, yaitu Aji Marga Parastra (Jalan Maut).
Kedua lengannya bergerak-gerak seperti dua ekor ular menyambar nyambar.
Kedua tangannya yang terbuka itu mengeluarkan angin dan mengeluarkan bunyi bercuitan dan sekali saja tangan itu mengenai tubuh lawan, akan hebat akibatnya, karena kalau tangan itu mengenai batu karang saja akan remuklah batu karang itu, mengenai batang pohon akan tumbanglah pohon itu.
Apa lagi kalau mengenai tubuh orang"
Terutama kepalanya.
Nurseta bersikap tenang.
Dia lebih mengkhawatirkan Wulansari dari pada dirinya sendiri.
Dia mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk mengelak ke sana-sini sambil memperhatikan keadaan Wulansari.
Setelah dia melihat dengan kagum betapa gadis itu sama sekali tidak terdesak oleh Ki Cucut Kalasekti dan dapat melawan dalam keadaan seimbang, legalah hati Nurseta dan dia dapat memusatkan perhatiannya kepada lawannya.
"Hahl Ambrol dadamu"
Ki Buyut Pranamaya yang menjadi marah karena semua pukulannya dapat dielakkan oleh Nurseta, tiba-tiba mengirim tendangannya yang ampuh, yaitu Aji Cakrabairawa.
"Wuuuuttt......."
Tendangan yang dilakukan dengan tubuh melayang itu memang berbahaya bukan main.
Selain cepat, juga tendangan itu.
mengandung tenaga yang amat dahsyat.
Nurseta sudah mengenal tendangan ampuh ini, maka diapun cepat meloncat ke samping untuk mengelak.
Akan tetapi begitu tubuh kakek itu turun ke tanah, dia sudah mengeluarkan bentakan lagi dan tubuhnya membalik, melayang dan kembali tendangan maut menyambar.
Terpaksa Nurseta harus mengelak lagi.
Sekali ini, begitu membalik Ki Buyut Pranamaya menyusulikan pukulan-pukulannya yang ampuh dengan bertubi-tubi.
Pukulan berantai itu amat cepat datangnya, susul menyusu dan setiap pukulan mendatangkan angin dan terasa berat dan kuat bukan main.
Nurseta menghadapinya dengan tenang.
Kalau dia mengelak, maka lengan kakek itu meluncur dan mengeluarkan suara mendesir.
Nurseta maklum bahwa dia tidak mungkin mengelak terus.
Setelah terdesak terus, akhirya diapun mengumpulkan tenaga dan menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Dukkkl"
Dua lengan bertemu dan akibatnya, keduanya terpental dan meloncat ke belakang.
Ki Buyut Pranamaya mengerutkan alisnya yang tebal.
Lengan kirinya yang bertemu dengan lengan kanan Nurseta terasa nyeri seolah tulangnya akan patah.
Akan tetapi, dia tidak memperlihatkan hal ini dan sudah menyerang lagi.
Serangannya bertubi, diseling dengan tendangan Aji Cakrabairawa yang amat berbahaya itu.
Namun, kini Nurseta melawan dengan sama kerasnya.
Tamparan-tamparan tangan Nurseta mengandung Aji Bajradenta menyambar-nyambar ketika dia membalas serangan lawan.
Ki Buyut Pranamaya juga mengenal pukulan ampuh.
Pemuda itu adalah seorang murid yang sudah digembleng oleh mendiang Panembahan Sidik Danasura, satu-satunya orang yang ditakuti ketika masih hidup.
Maka diapun berhati-hati sekali, tidak berani menyambut tamparan pemuda itu secara langsung walaupun kakek ini memiliki aji kekebalan.
Dia mengelak atau menangkis dari samping, dan membalas dengan tak kalah sengitnya.
Perkelahian antara Nurseta dan Ki Buyut Pranamaya berlangsung dengan hebat sekali.
Ki Buyut Pranamaya terkenal memiliki ilmu meringinkan tubuh yang disebut Garuda Nglayang yang membuat dia dapat berlari cepat seperti terbang dan membuat gerakannya ringan dan cepat sekali, seperti seekor burung garuda vang melayang dan menyambar-nyambar.
Akan tetapi, menghadapi Nurseta, dia tidak berani bergerak terlalu cepat karena dia harus membuat setiap pukulan dan tendangannya mantap dan penuh dengan tenaga sakti.
Kalau tidak, dia akan kalah karena pemuda itu menggunakan tenaga yang sakti dan kuat sekali.
Maka, perkelahian antara mereka berjalan lamban dibandingkan dengan perkelahian antara Wulansari dan Ki Cucut Kalasekti yang nampak lebih cepat.
Bayangan tubuh kedua orang ini berkelebatan dan keduanya berusaha keras untuk saling menekan mengandalkan kecepatan dan kekuatan.
Sementara itu, pertempuran antara seratus orang perajurit pengawal Daha dengan kurang lebih dua ratus orang itu terjadi dengan ramainya.
Memang seperti telah diduga dan diharapkan Nurseta, Wulansari telah mengatur siasat yang direncanakan dengan matang sebelum dara ini menghadap Sang Piabu Jayakatwang.
Setelah ia menyelidiki keadaan Nurseta yang ditawan di dalam penjara bawah tanah, ia tidak melihat cara lain untuk menolong kekasihnya itu.
Maka, satu-satunya jalan hanyalah menukarkan tombak pusaka Tejanirmala dengan keselamatan Nurseta.
Ia tahu pula akan kelicikan dua orang kakek itu, maka diam-diam ia meninggalkan kota raja itu lagi untuk mengatur persiapan.
Perlu diketahui bahwa ketika Singosari jatuh ke tangan pasukan Daha, banyak perajurit Singosari yang terpaksa melarikan diri dan menyusup ke gunung-gunung dan ke dusun-dusun, menjadi petani-petani biasa.
Hal ini diketahui benar oleh Wulansari.
Sebagai seorang pendekar wanita yang selalu turun tangan membasmi kejahatan, namanya terkenal dan dikagumi.
Maka, ketika ia membutuhkan tenaga bantuan, tidak sukar bagi Wulansari untuk menghubungi para bekas perajurit Singosari dan merekapun segera mengumpulkan kawan kawan untuk membantu Wulansari ketika gadis itu mengatakan bahwa dia perlu bantuan untuk menghadapi pasukan Daha.
Dalam waktu dua hari saja ia sudah berhasil mengumpulkan lebih dari duaratus orang laki laki yang siap untuk membantunya karena mereka adalah orang-orang yang membenci pasukan Daha.
Ia lalu mengatur siasat, menyuruh duaratus orang lebih itu menjadi semacam barisan pendam, bersembunyi di dalam goa dan di balik batu-batu di puncak, dan sebagian besar lagi menanti di kaki Bukit Menur, agar mereka bersembunyi dan siap menunggu saat ia memberi isarat untuk menyerang.
Demikianlah, setelah saatnya tiba, Wulansari menarik Nurseta memasuki goa dan ternyata di dalam goa itu terdapat atap goa yang terbuka dan dari lubang itu Wulansari melepas sebatang anak panah ke udara.
Anak panah ini membawa ronce-ronce merah sehingga ketika melayang ke udara, nampak jelas oleh mereka yang bersembunyi dan itulah isaratnya.
Mereka lalu menyerbu dan berloncatan keluar dari tempat persembunyian mereka, mengejutkan pasukan pengawal Daha yang seratus orang banyaknya itu.
Pertempuran itu terjadi berat sebelab.
Bukan saja pasukan Daha kalah banyak jumlahnya, akan tetapi juga semangat mereka kalah besar.
Pasukan Daha itu terkejut dan sama sekali tidak mengira akan diserang oleh orang demikian banyaknya.
Juga kedudukan mereka terjepit sekali.
Kuda tunggangan mereka tidak dapat bergerak luasa dan ketika mereka berloncatan turun, kuda mereka itu lari cerai-berai.
Karena tidak terpimpin dengan baik, keadaan kacau balau, hal ini sudah membuat nyali mereka menjadi kecil dan semangat mereka pudar.
Sebaliknya, orang-orang yang menyerbu memang sudah merencanakan sebelumnya, kedudukan mereka lebih baik, jumlah mereka lebih besar dan ditambah pula dendam yang membara di hati mereka, maka tentu saja semangat merekapun jauh lebih besar.
Para perajurit Daha roboh bergelimpangan.
Ada yang lari dan terjerumus ke dalam jurang, ada pula yang nekat menuruni bukit melalui jalan lain dan merekapun ikut longsor terbawa batu-batu yang menggelundung turun.
Pekik dan jerit kesakitan terdengar dan disambut sorak-sorai para pembantu Wulansari.
Lebih dari setengah jumlah perajurit Daha roboh dan sebagian lagi ada yang terjerumus ke dalam jurang atau jatuh bergulingan ke bawah bukit.
Hanya sebagian kecil saja yang berhasil lolos dari maut.
Perkelahian tingkat tinggi antara Nurseta melawan Ki Buyut Pranamaya dan Wulansari melawan Ki Cucut Kalasekti masih berlangsung dengan hebatnya.
"Ahhhh........"
Ki Buyut Pranamaya menubruk bagaikan seekor beruang marah, lengan kanannya yang panjang itu meluncur dan telapak tangan terbuka yang mengandung tenaga sakti yang berbahaya itu memukul kearah dada Nurseta.
Pemuda ini miringkan tubuh, menangkis dengan lengan kanan pula, dan ketika kakinya bergeser, tangan kirinya membalas dengan pukulan kearah muka lawan.
Ki Buyut Pranamaya menekuk lengan kanan yang tadi gagal memukul, memutarnya dan menangkis pukulan tangan kiri Nurseta, lalu kaki kirinya maju dan dengan kiri ditekuk, sikunya disodokkan ke arah dada Nurseta.
Pemuda ini melangkah mundur mengelak, akan tetapi siku yang ditekuk itu dilonjorkan dan tangan kiri itu mencengkeram ke arah bawah pusar.
ini merupakan serangan yang amat curang dan berbahaya sekali.
Namun, Nurseta tidak menjadi gugup.
Lengannya mengibas ke bawah dan menangkis.
Akan tetapi, kiranya cengkeraman ke arah bawah pusar itupun hanya pancingan saja karena tiba-tiba, dalam keadaan yang dekat itu, Ki Buyut Pranamaya menekuk lututnya dan lutut itu sudah menghantam ke arah perut Nurseta.
Hal ini sungguh tidak tersangka sama sekali dan Nurseta tidak mampu mengelak atau menangkis lagi, hanya mengerahkan kekebalan kearah perutnya.
"Desss.........."
Perut itu ditumbuk lulut seperti dihantam palu godam dan biarpun kekebalannya membuat isi perut tidak terguncang, namun tetap saja saking kerasnya tumbukan lutut itu, tubuh Nurseta terjengkang, Dia malah sengaja melempar tubuh ke belakang, lalu bergulingan.
Untung dia melakukan ini, karena kalau tidak, tentu dia sudah celaka oleh lawannya yang sudah mengejar dan kini kedua kaki Ki Buyut Pranamaya berusaha untuk menendang kepala atau dada pemuda itu.
Nurseta yang bergulingan mampu menghindar dan diapun meloncat bangun lagi.
"Hahaha, hancur isi perutmu"
Bentak Ki Buyut Pranamaya dan diapun menyerang dengan tendangan tendangannya yang hebat.
Dengan sigap, Nurseta mengelak terus.
Akan tetapi dia mulai terdesak.
Dia terus mundur kearah Wulansari yang juga nampak terdesak oleh Ki Cucut Kalasekti.
Sebetulnya, Nurseta tidak terdesak, hanya dia memang sengaja terus mundur untuk mendekati Wuiansari yang sudah terdesak sampai ke dekat jurang oleh lawannya.
Wulansari memang terdesak oleh Ki Cucut Kalasekti yang mempunyai banyak sekali jurus-jurus pukulan yang curang.
Bahkan kaki kini gadis itu pernah tersabet tendangan Ki Cucut Kalasekti, sehingga terasa nyeri dan membuat gadis itu agak terpincang.
Namun, Wulansari tidak pernah mengeluh dan terus mempertahankan dirinya.
Kini ia memegang kerisnya yang kecil bersinar kuning emas itu, sedangkan Ki Cucut Kalasekti juga memegang sebatang keris panjang yang hitam dan bentuknva seperti ular.
Wulansari maklum bahwa keris di tangan bekas gurunya itu adalah sebatang keris yang beracun.
Akan tetapi keris di tangannya juga beracun dan kini perkelahian diantara mereka sudah merupakan perkelahian mati-matian.
Wulansari memang kalah pengalaman dan kalah matang gerakannya, namun ia menang ulet dan menang napas.
Ki Cucut Kalasekti, seperti halnya Ki Buyut Pranamaya, sadah mulai berkeringat dan napas mereka sudah mulai terengah-engah.
Perkelahian itu terlalu lama dan terlalu banyak memeras tenaga mereka yang sudah tua.
Melihat keadaan kekasihnya, Nurseta merasa khawatir juga.
Dia harus dapat cepat merobohkan Ki Buyut Pranamaya agar dia dapat membantu Wulansari.
Para pembantu Wulansari yang sudah menang dalam pertempuran itu, kini hanya berani menonton dari jauh saja, karena mereka semua maklum bahwa kalau mereka membantu, mereka seperti mengantar nyawa dan akan mati konyol saja.
Nurseta mulai memperhatikan keadaannya.
Ki Buyut Pranamaya terus melancarkan serangan berhati-hati, pukulan dan cengkeraman susul menyusul, diselingi tendangan Cakrabairawa.
Agaknya kakek yang sudah terengah-engah itu bendak mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mencapai kemenangan karena dia sudah mulai mendesak lawan sehingga lawan itu mundur terus.
Nurseta bergerak sampai dia dekat dengan sebuah jurang yang amat curam, dan ketika lawannya menendang lagi, dia mengerahkan tenaganya meloncat ke atas melampaui atas kepala lawan.
Ki Buyut Pranamaya terkejut dan cepat membalikkan tubuh dan pada saat itu, Nurseta sudah mengerahkan seluruh tenaga saktinya melalui kedua lengannya, kemudian, dengan Aji Jagad Pralaya yang dahsyat dia menyerang dengan kedua telapak tangan mendorong.
"Hyaaaatttt........"
Bukan main hebatnya serangan ini.
Setiap kali menghadapi serangan jurus dari Aji Jagad Pralaya, selalu Ki Buyut Pranamaya tidak berani menangkis, dan selalu menghindarkan diri mengelak.
Akan tetapi sekali ini dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengelak ke kiri atau ke kanan, sedangkan untuk meloncat mundur berarti membunuh diri karena di belakangnya terdapat jurang yang menganga seperti mulut Sang Batara Kala yang siap menelannya bulat-bulat.
Terpaksa sekali diapun mengerahkan tenaga terakhir dan menyambut serangan Aji Jigad Pralaya itu dengan Aji Marca Parastra (Ular Maut).
"Dessss........'"
Hebat bukan main pertemuan dua pasang telapak tangan itu, dan akibatnya, Nurseta terhuyung ke belakang akan tetapi tubuh Ki Buyut Pranamaya terjengkang dan langsung saja dia terjatuh ke dalam jurang yang teramat curam itu.
Terdengar pekik melengking mengerikan keluar dari mului tubuh kakek yang melayang ke dalam jurang itu, betapapun saktinya, terjatuh seperti itu ke dalam jurang yang tak nampak dasarnya dari atas, agaknya akan sulit baginya untuk menyelamatkan dirinya.
Nurseta tidak memperdulikan lagi lawannya yang sudah lenyap, juga tidak merasakan dadanya yang sesak.
Dia terlalu mengkhawatirkan Wulansari yang terdesak oleh hujan tusukan keris hitam di tangan Ki Cucut Kalasekti.
Pada saat itu, Ki Cucut Kalasekti juga terkejut dan tertegun mendengar pekik dari rekannya.
Dia menjadi gugup, maka ketika Nurseta meloncat dan menyerangnya dengan pukulan Jagad Pralaya, dia menggulingkan tubuh ke bawah.
Saat itu dipergunakan oleh Wulansari untuk menendangkan tanah dan batu kerikil ke arah muka kakek itu.
Ada sepotong batu yang mengenai mata kiri Ki Cucut Kalasekti, sehingga dia menggereng dan melompat berdiri.
Akan tetapi, Wulansari sudah menyambitkan kerisnya.
Keris kecil itu meluncur seperti anak panah.
"Ceppp"
Keris kecil melengkung milik Wulansari yang dulunya pemberian Ki Cucut Kalasekti sendiri itu dengan tepatnya menghunjarn dada Ki Cucut Kalasekti sampai ke gagangnya.
Kakek itu tersentak kaget dan dia masih dapat melemparkan keris hitamnya yang meluncur ke arah Wulansari, dengan ilmu melempar keris yang sama.
Namun, Wulansari dapat mengelak dan keris itu meluncur terus dan lenyap.
Dengan nekat, Ki Cucut Kalasekti yang melihat kini Nurseta terhuyung, segera menarik pemuda yang berada di tepi jurang itu.
Nurseta memang terhuyung.
Kiranya tadi ketika dia menyerang Ki Buyut Pranamaya dan ditangkis pertemuan tenaga yang membuat Ki Buyut Pranamaya itu terlempar ke dalam jurang membuat Nurseta menderita luka di dadanya.
Ketika dia kembali mengerahkan tenaga menggunakan Aji Jagad Pralaya menyerang Ki Cucut Kalasekti untuk membantu Wulansari dan dapat dielakkan oleh kakek itu.
Nurseta merasa betapa dadanya nyeri sekali dan dia terhuyung.
Tubrukan Ki Cucut Kalasekti tidak tersangka-sangka datangnya dan Nurseta sedang terhuyung, maka tak dapat dihindarkan lagi, pemuda itu kena ditubruk dengan keras dan keduanya terjungkal ke dalam jurang.
"Kakangmas Nurseta... ah, kakangmas...."
Wulansari terbelalak pucat, lalu menangis sambil lari menghampiri tebing jurang itu.
Dunia bagaikan gelap baginya dan hampir saja ia jatuh pingsan, dan kalau hal itu terjadi, tentu ia akan terguling pula ke dalam jurang.
Untung pada saat itu, dari bawah terdengar suara Nurseta.
"Diajeng Wulan......."
Hampir Wulansari tidak percaya akan pendengarannya sendiri, akan tetapi suara kekasihnya itu menghidupkan lagi secercah harapan dan mencegah ia jatuh pingsan.
Ia menjenguk ke bawah jurang dan harus memejamkan lagi matanya saking ngerinya.
Kiranya kekasihnya itu tersangkut pada sebatang pohon semak yang tumbuh di bawah tebing itu, hanya kurang lebih tiga meter dari atas.
Dan bukan hanya Nurseta yang menggunakan tangan kirinya menggantung pada dahan pohon, juga Ki Cucut Kalasekti bergayut di pohon itu dalam jarak hanya dua meter dari Nurseta.
Pohon yang tumbuh miring itu tidak terlalu besar maka kini digantungi tubuh dua orang dewasa, sudah bergoyang-goyang dan seperti akan patah.
Kalau sampai patah, habislab.
sudah riwayat dua orang itu.
Yang hebat adalah Ki Cucut Kalasekti, karena biarpun dia sudah terluka parah, keris kuning kecil itu masih menancap di dadanya namun dia masih berusaha untuk menendang-nendang ke arah Nurseta sambil tertawa seperti orang gila.
"Heh heh ha ha ha, Nurseta. Sekali ini kita akan mati bersama. Tidak, kau harus mampus lebih dulu. Hahaha, aku ingin melihat kau jatuh lebih dulu ke dalam jurang, ingin mendengar pekik kematianmu, hahaha"
Dan dia menendang-nendang sehingga pohon kecil itu semakin bergoyang-goyang.
Nurseta sudah merasa lemah sekali.
Ketika terjatuh tadi, lengan kanannya menjadi salah urat ketika dia menangkap dahan pohon, dam kini lengan kanan itu tergantung lemas dan nyeri.
Dia hanya menggunakan tangan kiri saja untuk bergantung, sedangkan dadanya semakin sesak rasanva karena luka dalam yang dideritanya.
Tendangan kaki kakek itu hanya kurang belasan senti saja nyaris mengenainya dan kalau sampai dia terkena tendangan, tak mungkin tangannya kuat bertahan.
Dan pobon kecil itupun sudah bergoyang-goyang, akarnya mengeluarkan bunyi berkeretakan.
"Kakangmas, pertahankan...... kakangmas, tangkap ujung kembenku ini"
Tiba-tiba Wulansari berseru sambil menahan napas sakin tegangnya.
Biarpun ia memakai pakaian pria, namun kemben itu tak pernah lepas dari pinggangnya yang ramping dan tadi, begitu melihat keadaan kekasihnya, ia cepat melolos kembennya dengan membuka bajunya, tidak perduli akan banyak orang yang melihat dari jauh.
Sebagian perut dan punggungnya nampak telanjang tak diperdulikannya dan kini ia sudah menelungkup dengan kepala dan pundak di tepi jurang, menjulurkan kemben itu ke bawah.
Akan tetapi, lengan kanan Nurseta tak dapat dipergunakan lagi dan tangan kirinya memegang dahan pohon erat-erat.
Tangan kiri itulah yang menjadi penahan nyawanya, sekaii lepas diapun akan tewas.
Akan tetapi dia tidak mau menggelisahkan hati kekasihnya diatas.
Ketika ujung kemben itu menyentuh lehernya, cepat dia membuka mulut dan menggigit ujung kemben, setelah menggigitnya dengan kuat, baru dia berani melepas tangan kiri dari dahan dari cepat menangkap ujung kemben itu dengan tangan kirinya.
Pada saat itu, Ki Cucut Kalasekti yang melihat kemben itu sudah menyumpah-nyumpah dan berusaha sekuat tenaga untuk menendang tubuh Nurseta.
"Wuuut"
Plakk...... kreekkkkk......."
Tendangan itu mengenai pinggul Nurseta sehingga tubuh Nurseta bergoyang goyang di ujung kemben dan Wulansari yang memegang ujung lain kemben itu sambil menelungkup harus mengerahkan seluruh tenaga agar kemben itu tidak sampai terlepas dari pegangannya.
Akan tetapi karena Ki Cucut Kalasekti bergerak terlampau kuat ketika memaksakan tendangan tadi, pohon kecil yang sudah hampir jebol itu tidak kuat menahan lagi.
Dahan yang dipegang Ki Cucut Kalasekti patah dan tubuhnya meluncur ke bawah menyusul rekannya.
Bedanya, kalau tadi Ki Buyut Pranamaya mengeluarkan pekik mengerikan ketika terjatuh, kini terdengar suara gelak tawa yang aneh dari Ki Cucut Kalasekti.
Dengan seluruh tenaganya, hati-hati sekali dan hampir tak bernapas karena ketenangan hatinya, takut kalau kalau kembennya tidak kuat menahan berat tubuh kekasihnya, Wulansari menarik tubuh Nurseta melalui kemben itu perlahan-lahan ke atas.
Akhirnya, disaksikan oleh puluhan pasang mata yang ikut merasa tegang dan menahan nafas, Nurseta dapat ditarik ke atas tebing.
"Kakangmas Nurseta........."
"Diajeng Wulan........"
Mereka berangkulan.
Wulansari merangkul pemuda itu dan menciumi mukanya dengan penuh kasih sayang, penuh keharuan dan rasa bahagia sehingga air matanya bercucuran.
Sampai lama mereka berlutut sambil saling berangkulan.
Akhirnya Wulansari menyusupkan mukanya ke dada kekasihnya.
Nurseta juga merasa berbahagia sekali.
Nyaris nyawanya melayang dan kekasihnya ini yang menyelamatkannya.
Nyeri pada lengan kanannya tak dirasakannya lagi, bahkan sesak pada dadanya juga tidak dirasakan.
"Kakangmas........ akhirnya kita dapat bertemu kembali......"
Bisik Wulansari.
Nurseta seperti ditarik kembali ke dunia setelah tadi tenggelam ke dalam alam sorga penuh kebahagiaan dan diapun teringat akan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Dia menarik napas panjang, penuh penyesalan.
Wulansari merasa benar tarikan napas panjang itu karena telinganya menempel di dada kekasihnya.
la mengangkat mukanya dan menatap wajah kekasihnya dengan sinar mata penuh selidik.
"Kau"
Kenapakah, kakangmas? Kenapa menarik napas panjang?"
"Ki Tejanirmala......."
Nurseta mengeluh. Wulansari tersenyum.
"Kakangmas, masihkah kau belum percaya kepada calon isterimu yang bodoh ini? Apakah kau kira aku begitu bodoh untuk menyerahkan tombak pusaka itu kepada mereka? "Tapi.... tapi.... sudah kau berikan, diajeng..."
Senyum itu melebar sehingga nampak kilatan gigi putih berderet rapi.
"Itu yang palsu, kakangmas. Yang aseli masih kusimpan, dan hanya akan kuserahkan kepadamu seorang, kakangmas"
"Diajeng........."
Kini Nurseta yang merangkul dan saking girangnya.
dia mencium mulut yang mengeluarkan kata-kata yang amat menyenangkan hatinya itu sampai Wulansari gelagapan dan meronta lemah.
Ketika Nurseta melepaskan ciumannya yang berapi-api itu, Wulansari berbisik.
"ihh, kakangmas, apakah tidak malu? Lihat, puluhan, bahkan seratus lebih orang memandang kita........"
Nurseta terkejut, menoleh dan wajahnya berubah kemerahan.
Benar saja, banyak sekali orang-orang yang tadi membantu Wulansari berdiri memandang dari jauh dan tentu saja miereka semua melihat ketika dia dan kekasihnya berangkulan dan berciuman tadi.
Dia lalu menarik bangun kekasihnya dan pada saat itu, orang-orang itu bersorak gembira dan mereka mendaki ke puncak sambil tertawa-tawa.
Sambil bergandeng tangan dengan Nurseta, Wulansari menyambut mereka dengan senyum "Kita telah menang"
Katanya "Sekarang, kalian cepat kumpulkan kuda merea dan kumpulkan pula semua senjata yang ada.
Mulai sekarang, kalian haras menghambakan diri kepada Majapahit.
Kami berdua akan membawa kalian ke sana"
Kembali orang-orang itu bersorak dan merekapun berlarian turun untuk menangkap kuda yang bercerai-berai tadi, mengumpulkan pula senjata-senjata lawan, merawat teman yang terluka.
Nurseta mengeluh.
Baru sekarang terasa nyeri lengan kanannya dan dadanya.
Wulansari merangkui "Kau kenapa, kakangmas?"
"Hemm, lengan kananku rerkilir rupanya.
"Mari kuperiksa, kakangmas"
Dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, Wulansari memeriksa lengan kanan kekasihnya setelah mernbuka bajunya.
Diam-diam gairahnya timbul melihat lengan yang kokoh berotot dan berkulit halus bersih itu.
Ditahannya gairah dan iapun memeriksa.
Memang terkilir lengan itu, dipangkal lengan agak membengkak.
"Tahankan, kakangmas, akan kutarik"
Kata Wulansari dan iapun menggunakan sediki tenaga untuk membetot lengan itu.
Terdengar bunyi dan lengan itu sudah pulih kembali.
Nurseta menggerak-gerakkan lengan kanannya dan Wulansari memandang penuh perhatian.
"Bagaimana, kakangmas?"
"Kau hebat, sudah sembuh, tapi........"
Dia menggit bibir karena dadanya terasa nyeri dan sesak. Dia meraba dadanya.
"Kenapa dadamu, kakangmas?"
"Tadi ketika beradu tenaga dengan Ki Buyut Pranamaya, biarpun dia terlempar ke alam jurang, aku sendiri agaknya menderita guncagan hebat sehingga terluka dalam. Aku harus cepat memulihkannya, diajeng"
"Kau memang hebat, kakangmas. Mari aku bantu kau"
Mereka duduk bersila dan Nurseta memejamkan matanya, mengatur pernapasan untuk memulihkan keadaan dalam dadanya yang terguncang.
Wulansari bersila di depannya, menjulurkan kedua lengan ke depan, telapak kedua tangannya menempel di dada kekasihnya yang telanjang.
Mereka berdua harus memejamkan mata karena kalau membuka mata, tidlak mungkin mereka akan dapat memusatkan perhatian dan tenaga.
Begitu dekat, bersila berhadapan seperti itu, tentu akan membangkitkan gairah dan kemesraan.
Mereka itu bagaikan dua orang yang kehausan akan kasih sayang dan kini setelah saling menemukan kembali, mereka bagaikan dua orang kehausan melihat air sejuk segar.
Hal ini tidaklah mengherankan.
Keduanya sudah saling mencinta sejak mereka masih remaja.
Namun, kasih sayang itu selalu terpendam dan selalu terhalang.
Kini, Nurseta telah berusia tigapuluh tiga tahun dan Wulansari tigapuluh dua tahun.
Bagaikar kembang sudah mekar sepenuhnya, bagaikan buah sudah matang pohon.
SETELAH lewat kurang lebih satu jam Nurseta merasa betapa dadanya sudah pulih kembali.
Dia mampu cepat memulihkan kesehatan dalam dadanya berkat bantuan Wulansari.
Dua telapak tangan gadis itu terasa hangat dan menyalurkan tenaga getaran yang hangat dan lembut.
"Cukuplah, diajeng"
Katanya dan diapun memegang kedua tangan yang kecil itu.
Wulansari membuka kedua matanya dan mereka saling pandang.
Muka dan leher mereka berkeringat dan mereka saling pandang dengan senyum penuh kasih sayang.
Jari-jari tangan mereka saling genggam dan terasa getaran mesra sampai ke lubuk hati masing-masing.
"Terima kasih, diajeng"
Bisik pula Nurseta. Sekarang kita dapat berangkat"
"Berangkat?"
Tanya Wulansari seperti mimpi indah.
"Tentu saja. Ke Majapahit, bukan?"
"Ya, menyerahkan tombak pusaka itu kepada Pangeran Raden Wijaya. Akan tetapi kakangmas yang menyerahkannya"
"Kenapa, diajeng? Bukankah pusaka itu berada padamu?"
"Mari kita ambil, kakangmas. Akan kuserahkan kepadamu"
Ia bangkit berdiri sambil menenarik tangan Nurseta, kemudian menggandeng tangan pemuda itu memasuki goa di tengah tadi.
Kiranya pusaka itu disimpan di dalam goa ini oleh Wulansari.
Terbungkus kain putih bersih.
Dengan sikap yang sungguh-sungguh dan penuh hormat gadis itu memegang tombak pusaka itu dengan kedua tangan, lalu membungkuk dan menyerahkannya kepada Nurseta.
"Kakangmas Nurseta, terimalah tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala ini dari tanganku. Dahulu aku merampasnya darimu, dan maafkanlah semua kesalahanku, kakangmas. Aku menyerahkan pusaka ini sebagai bukti cintakasih dan baktiku kepadamu, calon suamiku yang kupuja dan kuhormati"
Sepasang mata Nurseta menjadi basah. Dia merasa terharu sekali, terharu dan berbahagia.
"Duhai diajeng Wulansari yang kukasihi melebihi segala apapun di dunia ini. Terima kasih, diajeng. Kau tidak bersalah apapun, tidak perlu meminta maaf. Marilah kita lupakan segala hal yang telah lewat, diajeng, dan mulai detik ini, kita bersama membangun suatu kehidupan baru yang bersih dan penuh dengan kasih sayang. Semoga para dewata memberkahi kita berdua, diajeng"
Kata Nurseta sambil menerima pusaka itu dengan kedua tangan pula Kedua tangannya memegang kedua tangan Wulansari yang menyangga pusaka itu dan sejenak mereka saling berpandangan di dalam ruangan goa yang remang remang itu.
Sinar matahari masuk dari lubang di atas, amat indahnya seperti seberkas cahaya putih, jatuh menimpa pusaka yarg berada di tengah-tengah antara mereka.
"Semoga para dewata memberkahi kita, kakangmas"
Mereka lalu melangkah keluar sambil bergandeng tangan dan pusaka itu sudah berada di tangan Nurseta.
dia tidak membuka lagi kain putih pembungkus pusaka, karena dia tidak ragu lagi, dia sudah percaya kepada calon isterinya dan merasa yakin sepenuhnya bahwa pusaka itu tentulah yang aseli.
Orang-orang yang tadi mengumpulkan kuda dan senjata, telah siap pula.
Mereka menyerahkan dua ekor kuda kepada Nurseta dan Wulansari, setelah dua orang muda ini menuruni puncak.
Berangkatlah rombongan ini menuju ke Majapahit.
Sepasang orang muda perkasa itu menunggang kuda di depan, Rombongan hampir dua ratus orang itu mengikuti dari belakang, ada yang berkuda, ada yang berjalan kaki.
Mereka bergantian menunggangi kuda yang terkumpul kurang dari seratus ekor itu.
Kadang-kadang Nurseta dan Wulansari saling menceritakan pengalaman masing-masing ketika mereka melakukan perjalanan seenaknya ini.
Kuda-kuda itu tidak dapat dilarikan karena banyak diantara rombongan yang berjalan kaki.
"Kakangmas, aku sudah berjanji kepada Sang Prabu Jayakatwang bahwa aku tidak akan ikut berperang melawan Kediri, tidak akan membantu pihak manapun dalam perang yang timbul"
Tiba-tiba Wulansari berkata lirih.
Nurseta menoleh dan memandang gadis yang menunggang kuda di sebelahnya itu.
Alisnya berkerut dan hati kecilnya merasa tidak setuju dengan janji yang diceritakan kekasihnya itu.
"Hemmm, kenapa begitu, diajeng? Bukankah baru saja kau dengan para pembantumu ini telah menyerbu dan membasmi sepasukan perajurit Kediri?"
"Ah, hal itu lain lagi, kakangmas, Apa yarg baru saja terjadi di Bukit Menur itu bukan merupakan perang antara dua kerajaan, melainkan pertempuran yang kulakukan untuk menentang yang jahat dan untuk menyelamatkan kau. Akan tetapi kalau terjadi perang, aku tidak mau terlibat, kakangmas. Aku tidak mau berperang memusuhi Kediri"
"Kenapa begitu, diajeng? Kau adalah puteri Paman Senopati Medang Dangdi, seorang senopati Singosari yang setia. Dan kau pernah digembleng oleh mendiang Eyang Panembahan Sidik Danasura sendiri, dan juga ditolong oleh Paman Jembros yang juga seorang pendekar yang berjiwa pahlawan. Sudah sepantasnya kalau kau juga kini membela Sineosari sebagai tanah air dan bangsamu"
Wulansari tersenyum "Kalau kau bicara tentang tanah air dan bangsa, aku menjadi semakin bingung, kakangmas.
Bukankah Kediri juga setanah air dan sebangsa dengan kita?
Ingat, keluarga Kerajaan Kediri bahkan masih keluarga Kerajaan Singosari pula.
Memang, sudah sepatutnya kalau aku membela dan membantu Singosari, akan tetapi tidak kalau memusuhi Kediri, kakangmas.
Bayangkan saja Aku pernah menjadi seorang bayangkara di Kediri, menjadi seorang panglima pengawal pribadi Prabu Jayakatwang dan ketika itu aku dipercaya, dihargai dan dihormati.
Hanya karena urusan pribadi aku meninggalkan Kediri Bagaimana mungkin sekarang aku harus memusuhi kerajaan itu, padahal seluruh keluarga Prabu Jayakatwang di istana pernah bersikap baik sekaii kepadaku?
Tidak, kakangmas, aku bukan seorang yang tidak mengenal budi seperti itu"
Nurseta mengangguk-angguk.
Dia merasa betapa alasan yang dikemukakan Wulansari memang masuk diakal dan kuat pula.
Bahkan diam-diam dia merasa kagum dan senang bahwa calon isterinya ini ternyata memiliki dasar watak yang baik dan lembut, juga mengenal budi dan tidak mudah merobah pendirian demi keuntungan pribadi.
"Aku dapat memaklumi dan menerima pendapatmu itu, diajeng. Apa lagi kalau kita mengingat akan semua petuah mendiang Eyang Panembahan Sidik Danusura, perang merupakan peluasan dari pada nafsu-nafsu angkara murka manusia yang menimbulkan kekejaman-kekejaman dan dendam kebencian"
"Dan bagaimana dengan kau sendiri, kakangmas Nurseta? Maafkan kalau aku berterus terang. Aku tahu bahwa kau adalah putera Pangeran Panji Hardoko seorang pangeran Kediri. Tanah tumpah darahmu adalah Kediri. Bagaimana kalau sampai terjadi perang antara Kediri dan keturunan Singosari yang kini berada di Majapahit?"
Nurseta mengerutkan alisnya, akan tetapi dia tersenyum.
Bukan main kekasihnya ini.
Lembut, setia, gagah perkasa, adil, akan tetapi juga jujur bukan main sehingga tidak ragu lagi untuk bertanya kepadanya tentang hal yang sebetulnya amat peka itu.
Diapun terpaksa harus berterus terang mengemukakan pendapatnya karena menghadapi seorang yang berwatak terbuka seperti itu, tidak perlu menyembunyikan sesuatu "Pertanyaanmu itu tepat dan baik sekali, diajeng.
Juga amat jujur, maka akupun akan menjawab sejujurnya pula.
Kurasa, amat tidak bijaksana bagi setiap orang manusia untuk mengikatkan diri secara berlebihan dan kaku terhadap keturunannya .
Biarpun aku keturunan Kediri, akan tetapi sejak kecil aku hidup di bumi Singosari, diasuh oleh pendekar Singosari, yaitu mendiang Ayah Baka.
Sejak kecil aku hidup di bumi Singosari, bergaul dengan kawula Singosari, mengalami suka duka di Singosari.
Biarpun kemudian kenyataannya aku keturunan seorang pangeran Kerajaan Kediri, namun apa artinya keturunan kalau hidupku selama ini di bumi Singosari?
Tentu saja seluruh perasaan hatiku condong membela Singosari.
Kediri seperti kerajaan asing bagiku, Aku sudah mengalami banyak senang dan susah bersama Singosari.
Apa lagi mendiang Ayah Baka selalu mengajarkan bahwa seorang gagah harus selalu dapat mempertahankan tanah airnya.
Sejengkal tanah sepercik darah.
Demikian kata Ayah Baka selalu.
Jelaslah, diajeng, kalau terjadi perang dengan Kediri atau dengan siapapun juga, hatiku condong untuk membela Singosari"
Gadis itu mengangguk-angguk dan tersenyum manis sekali, sepasang mata bintang itu bersinar-sinar.
"Aduh gagahnya calon suamiku. Aku kelak ingin mempunyai seorang anak laki-laki yang seperti ayahnya ini"
Nurseta tersipu. Calon isterinya ini sungguh terbuka dan jujur. Ini tentu pengaruh didikan Ki Cucut Kalasekti yang diharapkannya kini sudah tewas benar-benar.
"Ihh, diajeng, kau terlalu memuji, membuat aku malu saja"
Katanya dan kekasihnya itu menutupi mulut, tertawa geli melihat kecanggungan Nurseta.
"Kalau begitu, jika nanti timbul perang antara Majapahit dan Kediri, kau akan maju perang, kakangmas"
Dalam pertanyaan ini terkandung kekhawatlran dan Nurseta dapat merasakan ini.
Dia merasa tidak tega untuk mendatangkan kekecewaan dan kedukaan di dalam hati kekasihnya yang sudah demikian lamanya terbenam di dalam kedukaan dan keputus-asaan.
Kini mereka telah bertemu dan bersatu, tidak ada apapun di dunia ini yang lebih penting dari pada itu, tidak ada apapun yang akan mampu memisahkan mereka lagi.
"Bagaimana baiknya kalau menurut pendapatmu, diajeng Wulan?"
Dalam jawaban inipun Nurseta sudah menjelaskan bahwa dia akan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, bahkan kalau perlu mentaati nasihat dan pendapat calon isterinya.
Wulansari dapat menangkap apa yang tersembunyi di balik kata-kata kekasihnya, maka iapun merasa berbahagia sekali dan juga bersukur.
Ia yakin benar akan besarnya kasih sayang Nurseta kepadanya dan dalam percakapan itu saja sudah nampak jelas rasa cinta kasih calon suaminya itu.
Maka iapun tidak ingin dianggap mau menang sendiri, tidak ingin memaksakan kehendak atau mementingkan diri sendiri.
"Begini, kakangmas Nurseta Semua pendirianmu tadi kuhormati dan kubenarkan Sejengkal tanah sepercik darah, memang demikianlah sepatutnya pendirian seorang satria sejati. Akan tetapi, kakangmas. Masih kurangkah jasamu terhadap Pangeran Raden Wijaya? Kalau kakangmas sudah menyerahkan tombak pusaka Ki AgengTejanirmala, bukankah itu merupakan jasa yang jauh lebih besar dibandingkan andaikata kakangmas berhasil membunuh seribu orang musuh? Karena itu, kakangmas, kalau setelah kita menyerahkan pusaka itu kepada Raden Wijaya, lalu kakang mas mengundurkan diri dan tidak mencampuri perang, aku yakin tidak ada seorangpun yang akan mencelamu. Ingatlah, sudah lama sekali kita saling terpisah oleh keadaan. Apakah kakangmas tega untuk sekali lagi meninggalkan aku, menempuh bahaya dalam perang sehingga hidupku akan selalu was-was dan gelisah? Aku tidak memaksamu, kakangmas Nurseta, hanya mengharapkan keadilan dan pertimbanganmu"
Nurseta menoleh dan memandang kekasihnya.
Terkejutlah dia melihat betapa sepasang mata yang jeli dan jernih itu berlinang air mata.
Tahulah dia bahwa kekasihnya itu benar-benar amat merindukan hidup dalam damai dan bahagia di sampingnya, tidak terpisahkan apapun juga dan Wulansari memang berhak mengingat betapa sejak kecil ia hidup selalu diliputi kekerasan dan kedukaan.
Kalau gadis itu tidak memiliki dasar watak yang baik, watak satria seperti dimiliki ayah ibunya, kemungkinan besar ia telah menjadi seorang wanita, yang menyeleweng dari pada jalan kebenaran, mengingat betapa ia hidup dalam asuhan seorang datuk iblis seperti Ki Cucut Kalasekti.
Sudah sepatutnya kalau dia mengalah dan menyenangkan bati calon isterinya itu.
Pula, apa yang dikatakan kekasihnya tadi memang mendatangkan kesan mendalam di hatinya.
Bagaimunapun juga, Kediri adalah sedarah dan sebangsa dengan Singosari.
Perang yang terjadi antar saudara atau antara keluarga kerajaan itu pada hakekatnya.
adalah urutan dendam mendendam antara mereka.
Dendam turun menurun sejak Ken Arok.
Para senopati dan perajurit hanyalah terbawa-bawa, terseret arus perang yang ditimbulkan karena urusan pribadi atau dendam keluarga kerajaan.
Dia sendiripun bukan seorang senopati, bukan ponggawa kerajaan.
Bahkan lebih dari itu, dia masih keturunan seorang pangeran Kediri, ayah kandungnya adik tiri Sang Prabu Jayakatwang sendiri.
"Baiklah, diajeng. Aku berjanji tidak akan ikut berperang"
Wulansari mendekatkan kudanya, menjulurkan tangan kanannya dan memegang lengan kiri kekasihnya.
"Terima kasih kakangmas. Aku semakin kagum dan semakln cinta padamu. Percayalah, aku hanya tidak ingin kita terlibat dalam perang saudara itu, akan tetapi tentu saja kalau kita menghadapi kejahatan, baik kejahatan itu dilakukan orang-orang Kediri ataupun orang-orang Singosari, tentu kita harus turun tangan menentang mereka dan menolong rakyat tak berdosa yang tertindas oleh kejahatan mereka"
Pandang mata wanita itu lebih jelas lagi membayangkan rasa haru dan terima kasihnya kepada Nurseta. Pemuda itupun memandang kepadanya dengan senyum.
"Diajeng, kalau aku mau menuruti kehendakmu, bukan berarti bahwa aku mengalah, hanya karena aku melihat bahwa alasanmu tadi memang benar dan tepat. Tentu saja aku mengerti bahwa pada dasarnya, kau berjiwa pendekar. Lihat di sana, agaknya pasukan Majapahit sudah mulai bergerak, diajeng"
Wulansari memandang dan mereka menahan kuda dan memberi isarat dengan tangan agar pasukan rakyat itu berhenti.
Semua orang berhenti dan memandang kearah pasukan besar yang bergerak dari depan itu dengan hati gembira.
Segera kehadiran mereka dilihat oleh para senopati Majapahit yang mulai bergerak.
Dua orang penunggang kuda yang gagah memacu kuda mereka dari pasukan Majapahit itu dan menghampiri mereka.
"Kanjeng rama......."
Wulansari berseru girang.
"Ah, kau kiranya, Wulansari"
Seru pula segtopati Ki Medarg Dangdi, ayah gadis perkasa itu "Dan bersama kau pula, anakmas Nurseta"
Kini Ki Medang Dangdi girang bukan main melihat puterinya telah dapat bertemu dan pulang bersama calon mantunya itu dalam keadaan sehat.
"Dan bagaimana dengan tugas kalian? Berhasilkah?"
Segera dia teringat akan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala "Berkat bimbingan Gusti Yang Maha Kuasa dan doa restu ayah, kami berhasil dan pusaka itu telah kami bawa untuk dihaturkan kepada Pangeran Raden Wijaya"
Mendengar ucapan puterinya ini, Ki Medang Dangdi memandang dengan wajah berseri.
"Bugus sekali, Wulansari. Aku bangga sekali menjadi ayahmu. Akan tetapi, siapakah pasukan kecil di belakangmu itu?"
"Apalah kanjeng rama tidak mengenal mereka? Harap ayah lihat baik-baik, tentu ada diantara mereka yang ayah kenal karena mereka adalah orang orang Singosari, bahkan ada yang bekas perajurit Singosari"
Sementara itu, ketika melihat kedua orang senopati, Ki Medang Dangdi dan Ki Mahesa Wagal, diantara pasukan rakyat yang mengenal mereka segera berseru.
"Hidup senopati Medang Dangdi dan Mahesa Wagal. Hidup Singosari"
Dua orang senopati itu tersenyum, lalu Ki Medang Dangdi berseru kepada mereka.
"Apakah kalian sudah siap semua untuk menyerbu Kediri dan membaias kekalahan Singosari?"
"Siaaaaapp"
Teriak mereka serempak.
"Bagus, kalau begitu kalian boleh bergabung dengan pasukan kami"
Beberapa orang perwira Majapahit segera menerima dan menampung mereka bergabung dengan pasukan besar.
"Wulansari. lebih baik kau dan anakmas Nurseta segera menghadap Raden Wijaya dan menghaturkan pusaka itu, kemudian kalian cepat menyusul kami dan membantu kami menyerbu Kediri"
Kata pula Ki Medang Dangdi kepada puterinya.
"Ayah, kami berdua sudah bersepakat untuk menghaturkan pusaka kepada Raden Wijaya, setelah itu kami tidak akan lkut bertrmpur dalam perang, melainkan kami akan melakukan perondaan dan penjagaan keamanan dalam kehidupan rakyat agar jangan sampai mereka, seperti biasanya, kalau terjadi perang, menjadi korban kejahatan yang timbul di mana-mana. Yang akan kami musuhi dan hadapi adalah penjahat-penjahat pengganggu keamanan kehidupan rakyat jelata, dari manapun datangnya"
Ki Medang Dangdi mengangguk-angguk dan tidak membantah kehendak puterinya.
Sebagai seorang senopati kawakan yang sudah sering melakukan perang, dia tahu apa yang dimaksudkan oleh puterinya itu.
Sudah banyak dia melihat dan mendengar mengalami sendiri akan timbulnya kejahatan setiap kali terjadi peperangan.
Penjahat-penjahat mendapat kesempatan untuk mengumbar nafsu angkara murka mereka tanpa ada alat pemerintah yang dapat menen tang karena alat pemerintah sibuk dalam perang.
Bahkan tidak jarang nggauta pasukan yang mabuk kemenangan, atau putus asa karena kekalahan, menumpahkan segala gejolak nafsu mereka kepada rakyat jelata yang tidak mampu melawan.
Mereka lalu berpisah.
Nurseta dan Wulansari berdua saja melanjutkan perjalan mereka, membalapkan kuda memasuki wilayah Majapahit.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan pasukan induk Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya sendiri.
Tentu saja mereka diterima oleh Raden Wijaya dengan ramah dan gembira.
Apa lagi setelah Nurseta mempersembahkan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala kepada pangeran itu.
Sang Pangeran Wijaya membuka bungkusan tombak pusaka itu dan melihat sinar mencorong penuh wibawa dari tombak pusaka itu, Raden Wijaya mengangkatnya tinggi di atas kepalanya.
"jagad Dewa Bathara....... Akhirnya, berkat kemurahan para dewata, pusaka ini sampai juga ke tanganku. Agaknya Sang Hyang Widhi memang sudah memberi restu agar aku membangun kembali Singosari yang runtuh dan mendirikan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar. Nurseta, dan kau juga, Wulansari. Kalian telah berjasa besar kepada Majapahit. Kami masih ingat akan janji kami, Nurseta. Kami pernah berjanji kepadamu bahwa kalau tombak pusaka ini dapat kau serahkan kepada kami sampai Majapahit berhasil berdiri dengan jaya, maka apapun yang kau minta akan kami penuhi. Sekarang, tombak pusaka sudah kau serahkan kepada kami. Bantulah kami untuk mengalahkan Kediri, agar kejayaan Singosari dapat bangkit kembali dalam kerajaan yang baru, yaitu Majapahit yang akan mempersatukan bukan saja Singosari dan Kediri, akan tetapi juga seluruh kerajaan dan kadipaten di Nusantara. Setelah itu, baru kami akan bertanya, balas jasa apa, anugerah apa yang kau minta, dan kami pasti akan memenuhinya"
Nurseta cepat menghaturkan sembah "Hamba menghaturkan banyak terima kasih atas segala kemurahan hati paduka, Gusti Pangeran.
Akan tetapi, hamba tidak mengharapkan balas jasa karena penyerahan pusaka ini selain merupakan pesan terakhir dari mendiang ayah Baka, juga merupakan tugas kewajiban hamba terhadap Singosari, terhadap paduka yang melanjutkan perjuangan Singosari.
Yang hamba harapkan hanya satu, gusti.
Yaitu hamba dan diajeng Wulansari mohon perkenan paduka untuk tidak ikut dalam perang ini"
Raden Wijaya terbelalak dan mengerutkan alisnya.
"Tidak kelirukah pendengaranku, Nurseta? Coba ulangi lagi permintaanmu tadi"
Nurseta menyembah.
"Hamba berdua diajeng Wulansari mohon perkenan paduka untuk tidak ikut dalam perang ini, Gusti Pangeran"
"Sungguh aneh sekali, Nurseta. Kau dan Wulansari adalah dua orang muda perkasa yang berjiwa satria, dan yang sudah membuat jasa besar dengan mendapatkan tombak pusaka untuk kami. Akan tetapi kalian tidak mau membantu kami berperang melawan Kediri. Sungguh kami tidak dapat mengerti mengapa kau berdua mengambil sikap seperti ini"
Melihat kekasihnya tersudut, Wulansari cepat menghaturkan sembah dan berkata dengan suara lantang.
"Mohon paduka ampunkan kalau hamba yang mewakili kakangmas Nurseta menjawab pertanyaan paduka itu, gusti pangeran. Menurut pendapat hamba, untuk mengabdi negara dalam perjuangan, bukan hanya dengan jalan melibatkan diri dalam perang saja. Masih banyak jalan untuk mengabdi kepada negara dan bangsa, gusti. Dan hamba berdua mengambil keputusan untuk mengabdi dengan cara lain. Selagi paduka dan semua pasukan mengadakan perang melawan Kediri, maka keamanan hidup rakyat jelata tidak akan terjamin, kejahatan muncul di mana-mana. Hamba berdua akan mengadakan perondaan dan akan menanggulangi kekacauan yang timbul, menghadapi orang-orang jahat yang mempergunakan kesempatan dalam kesempitan mengail di air keruh. Terutama sekali di daerah yang telah dikuasai pasukan paduka. Dengan demikian, rakyat akan menyambut kemenangan paduka dengan gembira, dan dengan pengabdian seperti itu, hamba berdua sudah menjaga kewibawaan dan nama baik paduka"
Raden Wijaya mengangguk-angguk, Diapun maklum bahwa setiap kali terjadi perang, ketika Singosari dahulu menundukkan pemberontak, ketika Daha menyerbu Singosari, selalu timbul kekacauan karena para penjahat tentu akan keluar merajaiela.
Maka, apa yang dikemukakan Wulansari itu memang benar.
Disamping itu, calon raja yang bijaksana ini dapat pula menduga bahwa tentu ada alasan lain yang sifatnya pribadi, namun dia cukup bijaksana untuk tidak mendesak.
Bagaimanapun juga harus diakuinya bahwa jasa kedua orang itu sungguh sudah teramat besar dengan diserahkannya tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala ke tangannya.
Dahulu, ketika Prabu Jayakatwang menguasai tombak pusaka itu, Kerajaan Singosari jatuh oleh Daha.
Kini, tombak pusaka itu berada di tangannya, maka dia merasa yakin bahwa tentu dia akan mampu menaklukkan Daha.
Dia tidak akan mendirikan kembali Singosari, yang telah jatuh.
Dia cukup cerdik.
Kalau dia mendirikan lagi Singosari, maka tentu akan terus menerus terjadi pemberontakan, karena Kerajaan Singosari merupakan kerajaan turunan yang diperebutkan oleh keturunan Ken Arok, keturunan Tunggul Ametung, dan keturunan Kerajaan Kediri.
Akan tetapi dia akan membangun sebuah kerajaan baru, Kerajaan Mijapahit.
Dengan demikian, tidak akan terjadi keributan dan perebutan kekuasaan.
Karena kesanggupan dua orang muda perkasa itu untuk menjaga keamanan juga merupakan suatu perjuangan yang tidak kecil artinya, maka Raden Wijaya segera memberikan persetujuannya.
Menghadapi para penjahat bukan tidak berbahaya bahkan lebih berbahaya dari pada kalau bertempur dalam perang di mana terdapat banyak kawan dalam satu pasukan.
Mereka bahkan akan menentang orang-orang jahat yang berbahaya, dan banyak diantara para datuk sesat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Raden Wijaya lalu menyerahkan tanda kekuasaan berupa dua helai kain yang ditulisnya sendiri kepada dua orang muda itu.
"Dengan tanda kekuasaan ini, kau berdua dapat bergerak dengan bebas dan semua ponggawa Majapahit akan tunduk dan mentaati keinginan kalian berdua sebagai wakil kami"
Demikian pesannya sebelum pasukan itu melanjutkan gerakan, dipimpin sendiri oleh pangeran (Lanjut ke
Jilid 30) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30 itu.
Wulansari dan Nurseta menghaturkan terima kasih dan mereka berduapun melanjutkan perjalanan memasuki daerah baru Majapahit untuk bertemu dengan Warsiyem, isteri Ki Medang Dandi dan ibu kandung Wulansari.
Tentu saja ibu yang pernah menderita siksaan ketika menjadi tawanan Ki Cucut Kalasekti ini gembira dan terharu bukan main dapat bertemu kembali dengan puterinya, apa lagi bersama Nurseta, calon mantunya yang sudah banyak berjasa ketika mereka berdua berada di dalam goa di dalam jurang akibat perbuatan Ki Cucut Kalasekti.
Iapun merasa girang dan puas mendengar bahwa Ki Cucut Kalasekti, musuh besar yang amat jahat itu telah terjatuh ke dalam jurang yang amat dalam dan besar kemungkinan tewas, bersama Ki Buyut Pranamaya.
Ia memuji puteri dan mantunya ketika mendengar bahwa mereka telah menyerahkan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala kepada Raden Wijaya.
"Ah, betapa bahagia hatiku mendengar itu semua, Wulansari dan Nurseta Ayahmu pernah bercerita bahwa tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala itu bukan saja memilikl khasiat tolak bala, akan tetapi juga dapat dianggap sebagai wahyu keraton. Agaknya sudar menjadi kehendak Sang Hyang Widhi bahwa Gusti Pangeran Raden Wijaya yang akan membangun kembali Singosari dan menjadi seorang raja yang adil dan bijaksana, maka pusaka itu dapat kalian serahkan kepadanya"
"Saya yakin akan hal itu, kanjeng ibu. Buktinya, ketika Sang Prabu Jayakatwang menguasai tombak pusaka itu, dia berhasil menalukkan Singosari. Kini pusaka berada di tangan Gusti Pangeran Raden Wijaya, maka tentu Majapahit yang akan menang"
Kata Wulansari.
"Akan tetapi, anak-anakku, ketika kalian bertemu dengan pasukan Majapahit yang dipimpin gusti pangeran di mana terdapat pula ayahmu, kenapa kalian tidak ikut menggabung dan membantu gerakan pasukan yang hendak menyerbu Kediri itu?"
"Tidak, ibu. Kami memang sudah bersepakat untuk tidak ikut dalam perang dan hal itu sudah kami jelaskan kepada Raden Wijaya. Kami hanya akan menjaga keamanan, saja, memberantas semua penjahat yang mempergunakan kesempatan selagi terjadi peperangan untuk mengacau kota dan dusun yang tidak terjaga. Dan kanjeng pangeran sudah memberi ijin, bahkan telah memberikan tanda kuasa kepada kami"
Kata Wulansari.
Warsiyem mengangguk-angguk.
Tanpa bicarapun ia dapat mengerti akan isi hati puterinya dan mantunya.
Ia tahu bahwa puterinya pernah menjadi pengawal pribadi Raja Kediri dan calon mantunya itu bahkan putera seorang pangeran Kediri.
Tentu saja mereka merasa rikuh untuk ikut menyerbu Kediri.
"Kalau begitu, kurasa sebaiknya kalau kalian melangsungkan pernikahan sekarang juga. Biarpun secara sederhana, disaksikan oleh para ibu, aku dapat mengatur peresmian pernikahan kalian, Wulansari dan Nurseta"
Wajah Wulansari berubah kemerahan.
"Tidak ibu, Kami tidak akan meresmikan pernikahan kami sekarang"
Nurseta juga mengangguk membenarkan ucapan calon isterinya, karena memang urusan pernikahan itu telah mereka bicarakan sebelumnya.
"Akan tetapi mengapa, anak-anakku? Kalian berdua sudah cukup lama saling mencinta, cukup lama terpisah dan menanti, dan usia kalian juga sudah lebih dari cukup? Menunggu apa lagi?"
"Ibu, hal inipun sudah kami sepakati bersama. Biarpun kami berdua tidak ikut bertempur dalam perang, namun kami ikut berprihatin dan kami sudah mengambil keputusan untuk menikah setelah perang ini selesai dan pangeran sudah berhasil dan menang"
"Kalian memang anak-anak yang tabah dart tahan uji. Semoga perang ini cepat selesai, kalian menikah dan menerima anugerah kedudukan tinggi dari Gusti Pangeran"
"Tidak demikian, ibu. Cita-cita kami, kalau perang sulah selesai dan keadaan negara kembali aman, kami akan mecnikah, kemudian kami akan mengundarkan diri, menjadi petani-petani di pegunungan, hidup bersih, tentram dan damai, jauh dari keramaian dan kekerasan. Kami sudah muak karena sejak kecil bergelimang dengan kekerasan, dengan perkelahian dan permusuhan, ibu"
Warsiyem menarik napas panjang.
"Alangkah akan bahagia dan tenteramnya hidup seperti itu, anak-anakku. Akupun merindukan kehidupan yang penuh damai dan ketenteraman, akan tetapi ayahmu adalah seorang senopati....... mana mungkin....."
"Ayah sudah telalu banyak jasanya terhadap kerajaan, Ibu. Setelah perang selesai, bisa aja ayah dan ibu mengundurkan diri dan hidup tenteram di pegunungan"
Warsiyem diam saja, akan tetapi di dalam batinnya, ia tahu bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi, ia mengenal baik watak suaminya, seorang senopati yang setia kepada kerajaan yang tidak akan mau mundur selama tenaganya masih dibutuhkan.
Nurseta dan Wulansari hanya beberapa hari saja tinggal bersama ibu gadis itu.
Mereka lalu berangkat untuk melakukan perondaan, terutama di daerah yang sudah dikuasai pasukan Majapahit, untuk menjaga keamanam Melindungi rakyat dan menentang segala bentuk kejahatan yang timbul akibat perang.
Setelah Prabu Jayakatwang menerima tombak pasaka dari tangan seorang perwiranya yang diutus oleh Ki Cucut Kalasekti untuk menyerahkan pusaka itu ke istana Kediri, hatinya menjadi besar.
Sama seekali ia tidak menduga bahwa pusaka itu adalah tombak pusaka yang palsu, karena demikian miripnya pembuatan benda tiruan itu.
Maka, Prabu Jayakatwang lalu mengratur barisannya untuk menghajar pasukan Majapahit yang dibantu oleh pasukan Madura dan bergabung dengan pasukan Tartar itu.
Prabu Jayakatwang maklun akan ancaman bahaya besar setelah menerima laporan bahwa pihak musuh telah menguasai daerah utara, dari Tuban sampai mendekati daerah kediri.
Cepat diperintahkannya untuk membuat persiapan.
Belatentara Kediri dibagi dalam tiga barisan pertahanan yang kuat.
Pertahanan di bagian utara dipimpin oleh Mahesa Antaka dan Ki Bowong, dan karena pertahanan ini merupakan pasukan induk, Prabu Jayakatwang sendiri juga ikut memimpin pertahanan utara ini.
Pertahanan di bagian timur dipimpin oleh Senopati Segoro Winotan dibantu oleh Senopati Ronggo Janur.
Pertahanan di selatan dipimpin oleh Ki Patih Kebo Mundarang dan Senopati Pangelet.
Terjadilah pertempuran hebat di mana-mana.
Kekuatan pasukan gabungan dari Majapahit.
Madura, dan Tartar itu amat kuatnya.
Sehingga di mana-mana balatentara Kediri mengaiami kekalahan dan kehancuran.
Pertahanan di bagian timur yang dipimpin oleh Segoro Winotan, mengalami serbuan hebat dari tentara Majapahit yang dipimpin oleh Ronggo Lawe.
Baca Juga: Pendekar Baju Putih 1
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 6