Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baju Putih 1

Eps 1 Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo.

Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Puncak Thian-san menjulang tinggi di angkasa menembus awan putih.

Sukar bagi manusia untuk mencapai puncak yang diliputi salju itu.

Dusun-dusun yang ditinggali orangpun hanya sampai di lereng paling bawah, di tengah-tengah Pegunungan Thian-san itu.

Dari lereng yang tertinggi, kalau orang memandang ke bawah, akan menikmati tamasya alam yang amat indah menakjubkan.

Bagaikan kain lebar berkembang-kembang, nampak dataran di bawah dengan sebagian besar warna hijau dan warna kuning di sana sini.

Warna genteng-genteng rumah pedusunan nampak seperti bunga berkelompok-kelompok.

Dan dataran di mana tumbuh rumput hijau seperti permadani hijau terhampar di dataran itu.

Di sebuah di antara lereng-lereng itu terdapat sebuah perkampungan yang cukup besar, dengan sedikitnya seratus buah rumah dan itulah pusat Thian-san-pang, Sebuah partai Persilatan, yang biarpun tidak sebesar partai-partai Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai atau Go-bi-pai, namun cukup terkenal karena Thian-san-pang juga sudah menghasilkan banyak pendekar silat yang bijaksana, budiman dan tangguh.

Tamasya alam indah seperti yang terdapat di Thian-san merupakan anugerah Tuhan yang tersebar di mana-mnna.

Alam semesta yang indah sekali diberikan Tuhan untuk manusia, untuk dimanfaatkan dan dinikmati karena selain indah juga mengandung sarana kehidupan bagi umat manusia dengan hasil-hasil sawah ladangnya, hasil-hasil air sungainya.

Keindahan dan kebesaran alam terdapat di mana saja, hanya tinggal bagi kita untuk membuka mata menikmatinya.

Sayang, kebanyakan dari kita tidak mau membuka mata menemukan segala keindahan ini, karena mata kita sudah penuh dengan penderitaan, dengan masalah dan kedukaan.

Kita seperti buta terhadap sinar matahari yang cerah indah dan menghidupkan, kita seakan sudah tuli akan suara burung di angkasa, desah angin di antara daun-daun pohon, hidung kita sudah buntu untuk dapat menikmati kesedapan tanah tersiram air, bunga-bunga yang sedang mekar dan bau rumput bermandikan embun, sudah lupa untuk menikmati udara yang sedemikian sejuk dan segarnya memasuki hidung terus ke paru-paru.

Semua itu demikian indahnya, demikian nikmatnya, namun kita sudah tidak dapat merasakan semua itu.

Keindahan dan kenikmatan yang diberikan Tuhan melalui alam di sekeliling kita, tidak terasa lagi karena hati akal pikiran kita sepenuhnya tertuju untuk mencari kesenangan dan akibatnya, kita dibelenggu dan tenggelam ke dalam ketidakpuasan, kekecewaan dan kesedihan.

Adakah yang lebih indah dari pada jutaan bintang di langit tanpa bulan, atau bulan sedang purnama, atau tamasya alam di pegunungan atau lautan?

Adakah yang lebih indah didengar dari pada kicau burung-burung di pagi hari, menimpali gemercik air anak sungai, atau rintik hujan di malam hari, atau gemuruh gelombang samudera luas, atau tawa seorang ibu yang menimang anaknya?

Adakah yang lebih harum semerbak dari pada tanah basah, rumput berembun, bunga berkembang dan aneka daun pohon?

Thian-san memiliki semuanya itu.

Namun, sungguh manusia sudah menjadi budak nafsunya sendiri, manusia dengan nafsunya selalu mencari yang tidak dimilikinya, mencari yang tidak ada.

Karena itulah, maka orang yang tinggal di pegunungan sudah tidak lagi dapat mengagumi dan menikmati tamasya alam pegunungan dan mereka yang tinggal di pesisir samudera tidak lagi dapat menikmati keindahan gelombang lautan.

Mereka itu, penduduk pegunungan dan pantai lautan, rindu akan kehidupan di kota!

Seolah di kotalah letak semua keindahan yang didambakan.

Pada hal, orang-orang yang tinggal di kota merindukan keindahan alam pegunungan dan pantai lautan!

Selalu mencari yang baru, selalu mencari yang tidak dimilikinya, itulah ulah nafsu.

Bosan dengan yang ada, mencari yang lain lagi yang dianggapnya akan lebih menyenangkan itulah kerjanya nafsu.

Dia menuruti daya pikat nafsu ini yang kita namakan kemajuan!

Perkampungan Thian-san-pai nampak sibuk di pagi hari itu.

Para anak buah atau murid Thian-san-pai mulai bekerja, dan mereka yang tidak membersihkan bangunan induk yang menjadi tempat tinggal ketua dan merupakan tempat pusat bagi mereka untuk mengadakan pertemuan atau berlatih silat, pergi ke sawah ladang.

Mereka hidup sebagai petani, dan bumi di Pegunungan Thian-san itu memang subur.

Mereka menanam sayur mayur, juga menanam rempah-rempah yang tidak habis dimakan dan dipergunakan sendiri.

Selebihnya dijual ke bawah gunung dan ditukar dengan kebutuhan lain.

Mereka hidup sederhana dan menerima sokongan dari para murid Thian-san-pai yang sudah bekerja di luar sebagai guru silat atau piauwsu (pengawal barang).

Pada hari itu, ketua mereka tidak berada di rumah.

Tiong Gi Cinjin ketua Thian-san-pang atau Thian-san-pai, sedang pergi ke luar kota, berkunjung ke rumah seorang sahabatnya dan kepergiannya makan waktu lima-enam hari.

Akan tetapi, biarpun ketuanya tidak berada di rumah, para murid, laki perempuan, tetap saja bekerja dengan rajin dan di antaranya ada yang berlatih silat.

Pada pagi hari itu tiba giliran murid-murid wanita yang berlatih silat, dipimpin oleh seorang gadis yang menjadi murid kepala bagian wanita.

Gadis ini bernama Song Bi Li, seorang gadis, berusia duapuluh tahun yang cantik dan gagah.

Dia mengajarkan ilmu silat kepada belasan orang wanita yang menjadi murid di situ, ada yang masih gadis, ada pula yang sudah bersuami.

Akan tetapi di antara para murid wanita ini, kecantikan Bi Li memang menonjol.

Ia berpakaian sederhana saja, dari kain kuning, rambutnya digelung ringkas ke atas, diikat pengikat rambut dari pita sutera merah.

Ia baru memberi contoh bermain pedang kepada para murid lainnya.

Memang di antara para murid, bahkan juga murid pria, tingkat kepandaian Bi Li paling tinggi.

Ia merupakan murid kesayangan dari Tiong Gi Cinjin, seorang gadis yatim piatu yang sejak berusia enam tahun sudah dipelihara dan diambil murid Tiong Gi Cinjin sehingga kini menjadi murid yang paling pandai.

�Jurus Sin-liong-jut-tong (Naga Sakti Keluar Guha) ini memang agak sulit gerakannya, maka harap perhatikan baik-baik!� sekali lagi Bi Li menerangkan, lalu ia menggerakan pedangnya unluk memberi contoh gerakan itu.

Mula-mula pedangnya menusuk ke depan, lalu tubuhnya berputar namun terus menyerang ke depan sampai tiga langkah.

Cara berputar itulah yang sukar dan semua murid satu demi satu disuruh mencoba sampai dapat menguasai gerakan itu dengan benar.

Ketika para wanita itu sedang berlatih di lian-bu-thia (ruang belajar silat) yang luas dan jendelanya terbuka, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa bergelak.

Semua wanita kaget dan Bi Li cepat memutar tubuhnya dan melihat bahwa di luar sebuah jendela yang terbuka nampak seorang laki-laki sedang menonton sambil tertawa-tawa.

Laki-laki ini berusia kurang lebih tigapuluh tahun, berwajah tampan dan berpakaian mewah seperti seorang sasterawan, juga tangannya memegang sebatang suling yang warnanya hitam mengkilap.

�Ha-ha-ha, begini sajakah ilmu pedang Thian-san-pang yang terkenal itu?

Dan murid-murid wanita begini bodoh, membuat gerakan Sin-liong-jut-tong saja tidak ada yang mampu, ha-ha-ha!� Bi Li mengerutkan alisnya.

Akan tetapi ia menjaga kesopanan sebagai nona rumah, maka iapun memberi hormat dan bertanya, �Engkau siapakah dan siapa pula yang memberi ijin kepadamu untuk masuk ke sini?� Laki-laki yang tubuhnya jangkung itu tertawa dan mendengar teguran itu dia malah menggerakkan kakinya dan bagaikan seekor burung saja dia telah melayang masuk ke dalam lian-bu-thia itu.

�Nona, aku datang mnncari Tiong Gi Cinjin.

Panggil dia keluar untuk menemui aku.

Katakan bahwa aku Hek-siauw Siucai (Pelajar Bersuling Hitam) yang datang untuk membuat perhitungan dengannya!� Bi Li memandang tajam.

Ia maklum bahwa gurunya, sebagai ketua Thian-san-pang dan sebagai seorang pendekar, tidak aneh kalau mempunyai banyak musuh, terutama mereka yang pernah dikalahkan dan menaruh dendam.

Agaknya Sasterawan Bersuling Hitam inipun seorang di antara mereka, pikirnya.

�Amat sayang, Suhu tidak berada di rumah.� Orang itu mengerutkan alisnya.

�Hemm, sesungguhnyakah?

Dia pergi ke mana?� �Suhu tidak pernah memberi tahu kami ke mana perginya dan berapa lama.� �Wah, sialan!

Jangan-jangan dia sengaja menyembunyikan diri dan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membuat perhitungan!� Bi Li memandang dengan mata bernyala dan kepala ditegakkan.

�Suhu bukan seorang pengecut!

Kalau suhu berada di rumah, tentu engkau sudah dihajar sejak tadi!� �Ha-ha-ha, aku memang minta pengajarannya.

Dan siapa di antara muridnya yang terpandai di sini?� �Akulah murid kepala!� kata Bi Li bukan karena sombong, melainkan karena ingin bertanggung jawab.

�Bagus sekali!

Engkau sudah mewakili gurumu melatih murid-murid lain, tentu engkau sudah memiliki ilmu silat yang memadai.

Sekarang begini saja, engkau mewakili gurumu dan kalau dalam waktu duapuluh jurus engkau mampu bertahan terhadap sulingku, anggap saja aku kalah dan aku tidak akan berani mengganggu gurumu.� Bi Li adalah seorang gadis pemberani.

Tantangan ini dianggap suatu penghinaan.

Biar gurunya sendiri belum tentu akan dapat mengalahkannya dalam duapuluh jurus.

Kalau orang ini benar dapat mengalahkannya dalam dua puluh jurus, berarti bahwa mungkin saja gurunya akan kalah melawannya.

�Aku tidak mencari permusuhan, akan tetapi kalau engkau datang untuk mencari Suhu, dalam beberapa hari kembalilah dan mungkin engkau akan dapat bertemu Suhu.

Tidak perlu membuat kekacauan di sini karena kami tidak mencari permusuhan!� �Ha-ha-ha, begini sajakah murid kepala dari Tong Gi Cinjin?

Jadi engkau tidak berani menerima tantanganku untuk mampu bertahan selama duapuluh jurus?

Ha-ha-ha ternyata engkau tidak memiliki keberanian.

�Hek-siauw Siucai, siapa tidak berani melawanmu!

Aku hanya tidak ingin melancangi Suhu, akan tetapi kalau engkau memaksa, aku tidak akan undur selangkahpun.� �Bagus, tempat ini cukup luas, biar para anggauta Thian-san-pang menjadi saksi.

Hayo, mulailah, nona.

Aku sudah siap!� kata orang itu sambil memalangkan suling hitamnya di depan dadanya.

Karena ditantang di depan saudara-saudara seperguruannya, Bi Li tidak dapat mundur kembali.

Apalagi saudara-saudaranya juga kelihatan ingin sekali melihat ia memberi hajaran kepada tamu yang dianggap terlalu memandang rendah itu.

Bi Li juga menghadapi tamu itu dan memasang kuda-kuda, lalu berkata dengan lantang, �Karena engkau memaksa, Hek-siauw Siucai, akupun siap menghadapimu.

Lihat pedang!� Bi Li sudah menyerang dengan daya serang yang amat kuat dan cepat, pedangnya berkelebat menyambar dengan tusukan ke arah dada lawan.

�Singg...

tranggg...!� Bunga api berpijar ketika suling hitam itu menangkis pedang dan Bi Li merasa betapa tangannya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga yang mendukung suling itu sungguh amat kuat.

Namun ia membuat pedangnya yang terpental itu membalik dan digerakkannya pedang itu untuk membacok lawan dengan jurus �Naga Sakti Jungkir Balik�.

Tubuhnya membuat gerakan membalik dan pedang yang tadinya terpental itupun membalik lalu menukik dengan bacokan ke arah leher lawan.

�Bagus!� Hek-siauw Siucai berseru memuji, akan tetapi suara yang memuji itu mengandung ejekan.

Dengan menggerakkan tubuhnya mundur dia sudah menghindarkan bacokan pedang itu.

Dan selagi pedang lawan menyambar lewat, dia sudah membalas dengan totokan sulingnya ke arah lambung gadis itu.

Bi Li mengelebatkan pedangnya menangkis.

Akan tetapi, tangkisannya membuat tangannya tergetar dan suling itu kembali sudah menotok ke arah pundaknya.

Terpaksa Bi Li membuang tubuh ke belakang dan berjungkir balik tiga kali agar tidak terdesak.

Akan tetapi Hek-siauw Siucai hanya memandang sambil menyeringai lebar dan setelah gadis itu berdiri kembali, dia sudah mengirim serangkaian serangan bertubi-tubi yang membuat Bi Li terdesak hebat.

Gadis itu mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk bertahan, dan selama belasan jurus dia terdesak hebat.

Akhirnya pada jurus ke delapanbelas, ia mengeluarkan jurusnya yang ampuh, yang tadi diajarkan kepada saudara-saudaranya, yaitu jurus Sin-liong-jut-tong.

Tubuhnya membuat gerakan membalik diikuti pedangnya yang tiba-tiba mencuat dengan tusukan cepat ke arah dada lawan.

Hek-siauw Siucai menggerakkan sulingnya dan pedang itu bertemu suling, terus melekat dan tak dapat ditarik kembali!

Selagi Bi Li berusaha melepaskan pedangnya, tiba-tiba tangan kiri lawan bergerak ke arah pundaknya dan iapun menjadi lemas karena tertotok.

Ia telah dikalahkan dalam sembilanbelas jurus, jadi kurang dari duapuluh jurus.

Hek-siauw Siucai menangkap lengan gadis yang lemas itu sehingga tidak sampai jatuh.

Akan tetapi pada saat itu, semua murid Thian-san-pang yang menjadi marah lalu mengepung dengan pedang di tangan.

Tidak kurang dari tigapuluh orang murid Thian-san-pang mengepung.

Melihat ini, tentu saja Hek-siauw Siucai menjadi gentar.

Betapapun lihainya, kalau dikeroyok demikian banyaknya lawan, bisa berbahaya.

Maka dia lalu menempelkan sulingnya pada kepala Bi Li dan berseru dengan nyaring.

�Kalau ada yang berani mendekat, aku akan membunuh nona ini lebih dulu!� Gertakannya ini tentu saja mengejutkan semua murid dan mereka menjadi takut akan ancaman itu.

Melihat ini, Hek-siauw Siucai lalu memondong tubuh Bi Li yang lemas sambil tetap menodongkan sulingnya di tengkuk gadis itu.

Kemudian dia melompat keluar dari kepungan tanpa ada yang berani menyerangnya.

�Kalau ada yang mengejar, gadis ini mati!� dia mengancam lalu melarikan diri.

Semua murid semula ragu-ragu, akan tetapi lalu ada yang melakukan pengejaran, namun lawan sudah lari jauh.

Mereka lalu mencari ke semua jurusan, berkelompok karena lawan terlalu lihai untuk dihadapi sendirian saja.

Hek-siauw Siucai dapat berlari cepat sekali sehingga dalam waktu sebentar saja dia sudah lari turun gunung.

Setibanya di sebuah hutan di kaki gunung, dia lalu menurunkan tubuh Bi Li dan sekali menepuk tengkuk gadis itu, Bi Li terkulai pingsan.

Hek-siauw Siucai tertawa bergelak lalu meninggalkan tempat itu.

Hatinya sudah puas karena biarpun dia belum dapat membalas kekalahannya terhadap Tiong Gi Cinjin, setidaknya dia sudah dapat mengacau Thian-san-pang dan mengalahkan murid utamanya.

Dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah lenyap dari situ, meninggalkan Bi Li menggeletak dalam keadaan pingsan.

Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda di tempat itu.

Pemuda ini berusia duapuluh lima tahun, wajahnya tampan akan tetapi matanya yang sipit itu nampak licik.

Melihat Bi Li menggeletak pingsan di atas tanah, dia memandang ke sekeliling.

Pemuda ini bukan lain adalah suheng dari Bi Li sendiri yang bernama Ban Koan.

Sudah lama dia tergila-gila kepada sumoinya ini, akan tetapi tidak pernah mendapat tanggapan dari Bi Li.

Bahkan Bi Li nampak tidak suka kepadanya.

Sikap Bi Li itu menyakitkan hatinya, apalagi setelah mendapat kenyataan betapa guru mereka lebih sayang kepada Bi Li dan lebih mempercayainya, dianggap sebagai murid terpandai, maka hatinya lebih sakit lagi.

Kini, melihat Bi Li menggeletak tak berdaya dan pingsan, timbul pikiran jahatnya yang terdorong nafsu iblisnya.

Dia menghampiri gadis itu, memondongnya dan membawanya ke balik semak belukar.

Nafsu bersarang di dalam panca-indera dan berpusat di dalam hati akal pikiran.

Melalui mata hidung telinga rasa dan perasaan, nafsu menggelitik hati, akal pikiran manusia dan kalau sudah terangsang maka manusia menjadi lupa diri, tidak segan melakukan perbuatan apapun demi pemuasan nafsu yang sudah menguasainya.

Demikian pula dengan Ban Koan.

Melihat Bi Li yang membuatnya tergila-gila itu menggeletak pingsan tak sadarkan diri, dia melihat kesempatan baik untuk melampiaskan nafsunya, yang tidak akan berani dia lakukan kalau gadis itu dalam keadaan sadar.

Kesempatan itu dipergunakannya dan setelah berhasil, dia menjadi ketakutan sekali dan cepat melarikan diri sebelum gadis itu sadar kembali.

Totokan yang dilakukan Hek-siauw Siucai amat ampuh, dan memang dia sengaja menotok seperti itu untuk memperlihatkan kelihaiannya terhadap Tiong Gi Cinjin.

Demikian ampuh totokan itu sehingga Bi Li tetap pingsan biarpun dirinya dipermainkan orang dan diperkosa.

Setelah ia sadar kembali, ia menjadi amat terkejut melihat dirinya tak berpakaian dan pakaian itu berserakan di situ.

Tahulah ia apa yang terjadi.

Ia telah ternoda, diperkosa orang selagi pingsan!

Sambil mengenakan kembali pakaiannya, Bi Li menangis sejadi-jadinya.

Segala macam perasaan yang pahit getir melanda hatinya.

Duka, malu, dan dendam bercampur aduk menjadi satu.

Ia sudah mencabut pedangnya dan hampir saja ia menggorok leher sendiri.

�Apa artinya hidup bagi gadis yang sudah ternoda, lebih baik mati, mencuci aib dengan darah,� bisik perasaan dukanya.

�Ah, kalau aku mati, lalu apakah perbuatan ini dibiarkan begitu saja tanpa dibalas?

Perbuatan terkutuk ini hanya dapat dibalas dengan nyawa!� bisik pula perasaan dendamnya.

Terjadilah perang antara perasaan putus asa dan duka melawan perasaan dendam sakit hati, dan akhirnya perasaan dendam yang menang.

Tidak, ia tidak boleh mati dan membiarkan perbuatan terkutuk itu lewat begitu saja tanpa dibalas.

Biarlah ia menghabiskan sisa hidupnya untuk satu tujuan, yaitu membalas dendam!

�Hek-siauw Siucai, tunggulah, pada suatu saat aku akan memenggal batang lehermu dan mencincang hancur tubuhmu!� katanya dengan suara dingin dan wajah pucat.

Akhirnya, ia bangkit berdiri dan terhuyung-huyung keluar dari balik semak belukar di hutan itu.

Ketika tiba di sebuah tikungan, muncullah Ban Koan.

Dengan pedang di tangan Ban Koan beraksi seolah mencari-cari musuh, dan ketika melihat Bi Li, dia segera lari menghampiri.

�Sumoi...!

Engkau tidak apa-apa....!� Bi Li memaksa diri tersenyum.

�Aku selamat, suheng.� �Di mana bedebah itu?

Di mana si sombong itu?

Akan kupenggal batang lehernya!� katanya sambil mengamangkan pedangnya ke udara.

�Engkau terlambat, suheng,� kata Bi Li sungguh-sungguh walaupun ia ragu apakah suhengnya ini mampu mencegah perbuatan Hek-siauw Siucai.

�Dia sudah pergi dan aku ditinggalkan di hutan.� �Ahh, sayang.

Sumoi, mari kita kejar jahanam, itu!� kata Ban Koan bersikap amat gagah.

�Tidak ada gunanya, suheng.

Andaikata terkejar juga, kita berdua bukanlah lawan dia.� Kini bermunculan murid-murid Thian-san-pang dan semua orang menyatakan kegembiraan hati mereka melihat bahwa Bi Li dalam keadaan selamat.

Bi Li menyambut kegembiraan para saudaranya itu dengan senyum duka, dan diam-diam ia mengeluh.

Ia harus merahasiakan malapetaka yang lebih hebat dari pada kematian, yang menimpa dirinya.

Akhh, andaikata kalian tahu, pikirnya sambil menahan mengucurnya air matanya.

�Mari kita pulang, tidak ada gunanya dikejar.

Nanti saja apabila Suhu pulang, kits menceritakan semuanya!� Mereka semua kembali ke perkampungan Thian-san-pang dan semua orang membicarakan tentang kunjungan musuh yang lihai itu.

Tak seorang menyadari bahwa Bi Li sendiri, orang yang menandingi musuh itu, bahkan tak pernah menyinggungnya dalam percakapannya, seolah ia telah melupakan lawan tangguh itu.

Beberapa hari kemudian Tiong Gi Cinjin pulang.

Orang pertama yang melaporkan tentang kunjungan Hek-siauw Siucai adalah Bi Li.

Ia menceritakan sejelasnya tentang kunjungan tiba-tiba dari siucai itu.

Tentang bagaimana siucai itu mencari Tiong Gi Cinjin akan tetapi kemudian menantang Bi Li sehingga terjadi pertandingan yang akhirnya dimenangkan pihak musuh.

Tentang Hek-siauw Siucai yang menyandera dirinya untuk loloskan diri dari kepungan murid-murid Thian-san-pang dan melepaskan dirinya di sebuah hutan bawah gunung.

Tiong Gi Cinjin mengepal tinjunya dan mengerutkan alisnya.

Perbuatan Sasterawan Bersuling Hitam itu sungguh keterlaluan.

Dia tahu bahwa perbuatan itu sengaja dilakukan untuk menghinanya lewat murid-muridnya.

�Suhu, kita harus membuat perhitungan dengan jahanam itu!� kata Bi Li mengakhiri laporannya.

�Benar, Suhu,� sambung Ban Koan yang juga hadir di situ.

�Kalau Suhu tidak membuat perhitungan, tentu dia mengira kita takut kepadanya!� Tiong Gi Cinjin menghela napas panjang, �Hemm, sudahlah!

Dia pernah kalah olehku, maka kini melampiaskan penasarannya dengan mengalahkan Bi Li.

Akan tetapi itu belum berarti bahwa dia telah mengalahkan aku.

Sedikit kekacauan yang dilakukannya itu tidak ada artinya, belum patut kalau kita beramai harus melakukan penyerbuan ke tempat tinggal mereka.� Tentu saja diam-diam Bi Li terkejut dan kecewa.

Kalau gurunya tidak hendak membuat perhitungan, kapan ia akan dapat membalaskan dendamnya?

Kalau Suhunya tidak mau, biarlah ia yang kelak akan membalas sendiri dendamnya.

�Suhu, siapakah jahanam itu sebenarnya dan mengapa pula dia memusuhi Suhu?� tanya Bi Li, diam-diam hendak menyelidiki musuh besarnya itu.

�Dan di mana tempat tinggalnya?� �Permusuhan antara kami tidaklah hebat, hanya kami pernah saling salah paham sehingga timbul pertandingan di mana Hek-siauw Siucai itu mengalami kekalahan dariku.

Ketika aku mengalahkannya, akupun menganggap bahwa urusan itu sudah selesai, siapa kira hari ini dia sengaja mencari aku dan membikin kacau di sini.

�Sebetulnya, dia bukan seorang jahat, bukan golongan sesat.

Mereka semua ada lima orang yang terkenal sekali dengan sebutan Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Kuning).

Orang yang pertama berjuluk Kim-liong Sin-eng, kedua Tok-jiauw-liong (Naga Cakar Beracun), ketiga adalah Toat-beng Cinjin (Manusia Sakti Pencabut Nyawa), keempat adalah Hek-siauw Siucai itu sendiri dan ke lima Sin-to Koai-hiap (Pendekar Aneh Golok Sakti).

�Seperti kukatakan tadi, mereka bukan orang-orang jahat, bahkan orang pertamanya yang berjuluk Kim-liong Sin-eng (Pendekar Sakti Naga Emas) adalah ketua dari partai Kim-liong-pang (Perkumpulan Naga Emas) yang terkenal gagah perkasa dan berjiwa pendekar.

Karena itulah, maka aku minta kepada kalian untuk menghabiskan saja urusan ini dan tidak ada gunanya menanam bibit permusuhan dengan mereka.� Semua murid dapat menerima alasan guru mereka itu, akan tetapi tentu saja Bi Li menjadi semakin penasaran.

�Akan tetapi, Suhu.

Hek-siauw Siucai itu sengaja datang ke sini untuk menghina, teecu (murid) sendiri merasa sangat terhina.

Tidak bolehkah teecu untuk membalas penghinaan itu?� �Tentu saja engkau bebas untuk membalas kekalahanmu darinya, Bi Li.

Akan tetapi ingat, dia itu bukanlah lawanmu.

Aku sendiri saja mungkin sekarang seimbang dengannya, apa lagi engkau.

Kalau engkau hendak membalas kekalahanmu, engkau harus berlatih dengan tekun sekali sehingga tingkatmu dapat menyamai tingkatku atau melebihi.� Mendengar ini tentu saja Bi Li berdiam diri dengan hati hancur.

Apakah dendamnya harus selalu disimpan dan takkan pernah ia mampu membalasnya?

�Suhu, yang mengganggu kita bukan Huang-ho Ngo-liong, melainkan Hek-siauw Siucai seorang, maka yang lain-lain tidak ada hubungannya dengan kita.

Kalau Suhu hendak menghajar Hek-siauw Siucai karena kekurang ajarannya di sini, tentu yang lain juga tidak akan mencampuri.� �Aih, engkau tidak tahu, Bi Li.

Hek-siauw Siucai itu merupakan seorang di antara Huang-ho Ngo-liong dan mereka itu adalah saudara-saudara angkat yang saling menyayang dan saling membela.

�Dahulu, ketika Hek-siauw Siucai kalah olehku, yang empat orangpun akan membelanya.

Akan tetapi dicegah oleh Hek-siauw Siucai.

Hal ini saja mendatangkan rasa kagumku, dan ternyata kini, ketika membalas kekalahannya dariku, diapun datang sendiri, tidak bersama empat orang saudara angkatnya.

�Karena itu, sudahlah, lupakan semuanya.

Kalau kita terlalu mendesak Hek-siauw Siucai, bukan mustahil kalau kita akan berhadapan sekaligus dengan Huang-ho Ngo-liong dan ini merupakan suatu keadaan yang amat berat.

Kita hanya akan menderita malu, Bi Li.� Malam itu Bi Li menangis dalam kamarnya.

Habis sudah harapannya untuk membalas dendam mengandalkan suhunya.

Akan tetapi, dendam itu sedemikian besarnya sehingga ia mengambil keputusan nekat untuk berlatih dengan tekun agar kelak ia dapat membalas sendiri dendamnya itu, tanpa bantuan orang lain.

Banyak sekali peristiwa yang nampaknya bagi kita aneh dan penuh rahasia terjadi di dunia ini.

Misalnya seseorang yang kita kenal sabagai seorang yang baik, berbudi, dermawan, bijaksana dan saleh, mengalami mnsibah dan hidup dalam kesengsaraan.

Sebaliknya orang yang kita anggap sejahat-jahatnya orang, dapat hidup sejahtera dan nampaknya amat berbahagia.

Memang jalan yang diambil oleh kekuasaan Tuhan takkan dapat dimengerti oleh akal pikiran manusia.

Kita hanya dapat menerima kenyataan yang ada, dapat menerima apa saja yang menimpa diri kita dapat mengerti mengapa demikian.

Akan tetapi bagi orang yang sudah menyerahkan segala-galanya kepada Tuhan, maka apapun yang terjadi dengannya diterima dengan bersabar karena segala Kehendak Tuhan Terjadilah.

Semua itu sudah pas, sudah adil, dan di mana letak keadilannya, hanya Tuhan Yang Tahu.

Kita, dengan alam pikiran kita yang terbatas ini, tidak mampu menjenguk apa yang berada di balik rahasia besar itu.

Nasib manusia berada sepenuhnya di tangan Tuhan.

Dan di dalam nasib ini tersembunyi Kekuasaan Tuhan yang mengatur segalanya, mengatur matahari dan bulan cerah, juga mengatur awan mendung, halilintar yang membawa badai mengamuk.

Tidak ada baik buruk bagi Kekuasaan Tuhan, karena baik buruk hanya dikenal manusia nafsunya.

Bi Li mengandung!

Bagi Bi Li, tentu saja hal ini merupakan malapetaka terbesar dalam sejarah hidupnya!

Ia mengandung dan ia tahu bahwa ini adalah akibat perkosaan yang dideritanya dua bulan yang lalu.

Ia hanya mampu menjerit dan menangis.

Hanya dendam jualah yang menahan ia tidak membunuh diri.

Setiap kali timbul keinginan membunuh diri dan mengakhiri segala aib dan kehinaan itu, setiap kali pula muncul wajah Hek-siauw Siucai dan dendam sakit hatinya demikian hebat bergelora mengusir keinginan membunuh diri.

Setelah kandungannya tidak dapat disembunyikan lagi, pada suatu hari, di dalam kamar Suhunya, tidak terlihat oleh orang lain, Bi Li meratap dan menangis di kaki Suhunya.

�Suhu, ah...

Suhu...

lebih baik suhu bunuh saja teecu sekarang juga...� Ia meratap dan menangis seperti seorang anak kecil, sesenggukan dan bergulingan di depan kaki gurnnya.

Tiong Gi Cinjin yang menganggap Bi Li seperti puterinya sendiri, terkejut melihat halnya Bi Li.

Melihat betapa tangis Bi Li seperti kesetanan, dia menghampiri, mencengkeram pundak wanita itu dan menariknya bangkit berdiri, lalu menampar muka itu dua kali untuk menyadarkannya.

�Bi Li!

Tenangkan hatimu!

Tidak sepatutnya engkau bersikap seperti ini, begitu cengeng dan lemah.

Huh, ceritakan dengan tenang apa yang terjadi dan hentikan tangismu!� �Ah, suhu...!� Bi Li menangis terisak-isak, berlutut dan merangkul ke dua kaki suhunya.

Tiong Gi Cinjin mendiamkannya saja sampai akhirnya isak tangis itu berhenti dan mereda.

�Nah, duduklah dan ceritakan kepadaku, anakku.

Engkau membikin aku menjadi sedih dan bingung dengan sikapmu ini.� �Suhu, teecu minta mati saja.

Suhu....

teecu...

teecu telah mengandung...!� Kini Tiong Gi Cinjin yang meloncat berdiri, mukanya pucat, matanya terbelalak memandang kepada muka muridnya yang ditundukkan.

�Apa...?!?� Dia mengepal tinjunya, agaknya siap untuk menghantam muridnya itu.

�Jadi engkau...

hamil?

Engkau sudah berbuat...

tak patut...?� Sukar dia bicara saking marahnya.

�Suhu, bukan teecu yang berbuat, tapi Hek-siauw Siucai.

Ketika teecu ditawan, teecu ditotok sampai pingsan dan ketika teecu siuman, teecu mendapatkan diri teecu sudah diperkosa orang, Hek-siauw Siucai itu...� �Keparat!

Jahanam!

Kenapa engkau tidak ceritakan ketika itu?� Gurunya menghardik, akan tetapi kini tidak lagi marah kepada muridnya, melainkan kasihan karena muridnya tidak melakukan perbuatan hina, melainkan diperkosa orang selagi pingsan.

�Teecu malu.

Tadinya teecu hendak merahasiakan dari semua orang, akan tetapi...

ah, Suhu....

teecu mengandung...

bagaimana baiknya, suhu?

Teecu rela kalau Suhu turun tangan membunuh teecu...� Kembali ia menangis dan ketua Thian-san-pang itu kini berjalan hilir mudik seperti orang kebingungan.

�Dia harus bertanggung jawab.

Harus!

Biar aku mati di tangan Huang-ho Ngo-liong!� �Tidak, Suhu tidak boleh berkorban diri untuk teecu.

Teecu kelak akan membalas dendam semua ini seorang diri, teecu akan mempelajari ilmu dengan tekun.

Dan tentang kandungan ini biar teecu bunuh saja!� Bi Li sudah menggerakkan tangan untuk dipukulkan pada perutnya sendiri, akan tetapi gurunya cepat bergerak.

�Plakkk!� Pukulan itu ditangkis gurunya dan Tiong Gi Cinjin memegangi kedua tangan muridnya.

�Bi Li, dengar!

Apa yang kaulakukan ini salah besar, berdosa besar.

Apa kesalahan si kecil itu maka engkau hendak membunuhnya dalam kandungan?

Kandungan ini adalah kehendak Thian dan engkau akan berdosa besar.

�Anak ini tidak bersalah, jangan sekali-kali engkau hendak membunuhnya.

Biarkan ia lahir seperti haknya dan memeliharanya.

Bahkan, siapa tahu anak ini yang kelak akan dapat mewakilimu membalas dendam!� Kalimat terakhir dari gurunya ini membuat Bi Li tersentak kaget dan juga girang.

Mengapa tidak?

Ia akan memelihara dan mendidik anak itu kelak, dan pada suatu hari ia akan menyuruh anak itu membunuh ayahnya sendiri!

Barulah akan puas hatinya.

Untuk menjauhkan Bi Li dari pada rasa malu dan aib, maka diam-diam Tiong Gi Cinjin lalu mengirim Bi Li kepada seorang adik perempuannya yang tinggal di Bi-ciu, di kaki Gunung Thian-san, untuk beberapa bulan.

Setelah ia melahirkan seorang putera, barulah murid itu ditarik kembali ke Thian-san-pang, membawa seorang anak laki-laki kecil.

Semua murid merasa heran, akan tetapi jawaban Bi Li bahwa ia memungut seorang anak laki-laki bayi yang ditinggal mati ayah ibunya, membuat mereka berdiam diri.

Ada beberapa orang yang menduga bahwa itu adalah putera Bi Li sendiri, akan tetapi tidak ada yang berani berterang mempertanyakannya.

Kembali Bi Li menjadi murid kepala di situ, dia seringkali disuruh Suhunya mewakilinya melatih para saudaranya.

Hal ini membuat Ban Koan menjadi semakin tak senang.

Ketika Bi Li mengungsi ke rumah bibi guru mereka, dialah yang oleh suhunya dianggap murid kepala dan disuruh mewakili Suhunya.

Bahkan dia mengharapkan kelak menjadi pengganti Suhunya, menjadi ketua Thian-san-pang.

Akan tetapi kembalinya Bi Li membuat dia menjadi murid tidak berarti lagi.

Kemudian, dia mengajukan usul untuk berjodoh dengan Bi Li.

Dengan terus terang Ban Koan mengaku bahwa dia mencinta Bi Li dan mohon perkenan gurunya untuk berjodoh dengan sumoinya itu.

�Suhu, sejak dahulu teecu mencinta sumoi, dan mengingat bahwa usia kami sudah cukup dewasa, teecu akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menjadi suami isteri dengan sumoi.� Tiong Gi Cinjin mengangguk-angguk.

Memang sebaiknya kalau Bi Li menikah dengan Ban Koan, dan tentu saja Ban Koan harus diberi tahu tentang keadaan Bi Li yang sebetulnya sudah bukan perawan lagi, bahkan sudah mempunyai seorang anak.

Akan tetapi dia tidak berani membuka rahasia itu sebelum bertanya kepada Bi Li.

�Usulmu memang baik sekali, Ban Koan.

Akan tetapi engkau sendiri tahu bahwa pernikahan baru dapat terjadi kalau ada persetujuan kedua pihak yang bersangkutan.

Karena itu, aku akan lebih dulu bertanya kepada sumoimu, apakah ia mau menerima pinanganmu ataukah tidak?� �Suhu, sepatutnya sumoi mau menerima pinanganku yang bagaimanapun juga telah mencuci aib dan noda yang dideritanya.� Tiong Gi Cinjin terkejut setengah mati memandang kepada muridnya dengan mata terbelalak.

�Ban Koan!

Apa maksudmu dengan ucapanmu itu?� �Ah, hendaknya Suhu tidak berpura-pura lagi.

Para murid banyak yang sudah dapat menduga bahwa anak itu adalah anak kandung sumoi Bi Li.

Kami semua sudah melihat betapa sumoi kelihatan sakit dan seringkali muntah-muntah sebelum ia pergi berguru kepada bibi guru, dan sekarang ia pulang menggendong bayi.

Anak siapa lagi kalau bukan anaknya sendiri?� �Engkau yang sudah dapat menduga demikian masih mau untuk meminangnya sebagai isteri?� �Teecu amat mencintanya, Suhu, dan teecu bahkan merasa kasihan kepadanya atas musibah yang membuatnya melahirkan anak.

Teecu akan melindunginya penuh kasih sayang, dan menerima anak itu sebagai anak teecu sendiri.� �Ahh, Ban Koan, betapa mulia hatimu.

Kuharap saja Bi Li akan menyetujui.� Tiong Gi Cinjin lalu pergi menemui Bi Li yang sedang menggendong anaknya.

Baru sekarang teringat oleh ketua Thian-san-pang ini bahwa sejak peristiwa itu, Bi Li selalu mengenakan pakaian serba putih seperti orang berkabung.

Dan kini dia melihat bahwa anak bayi itupun mengenakan pakaian putih-putih.

�Bi Li, engkau dan anakmu memakai pakaian putih-putih, berkabung untuk siapa?� �Kami berkabung untuk diri kami sendiri, Suhu.

Juga berkabung untuk ayah anak ini yang pasti akan tewas di tangan anak teecu Cin Po pada suatu hari.� Mendengar ini, Tiong Gi Cinjin hanya dapat menghela napas panjang.

Dia tahu bahwa hati dan akal pikiran muridnya dipenuhi oleh dendam sakit hati yang setinggi langit sedalam samudera.

�Bi Li, engkau selalu menolak dan menghalang kalau aku hendak pergi mencari Hek-siauw Siucai.

Aku ingin memaksa dia untuk bertanggung-jawab dan mengawinimu.� Bi Li hampir menjerit.

�Kawin dengan dia?

Seratus kali lebih baik mati, Suhu.

Aku tidak sudi kawin dengan jahanam keparat busuk itu!� �Tapi itu satu satunya jalan untuk mencuci aib dan noda dari diri dan namamu.� �Teecu sudah ternoda, dendam teecu setinggi gunung.

Teecu tidak mau menikah dengan orang iblis itu!� �Bagaimana kalau ada orang lain yang hendak meminangmu menjadi isterinya, Bi Li?� BI Li terkejut dan menatap wajah suhunya penuh pertanyaan.

�Siapa yang mau?

Siapa yang sudi menikah dengan teecu?� �Ada orangnya.

Dia seorang pemuda yang baik, juga berhubungan dekat sekali denganmu.

Dia adalah suhengmu sendiri, Ban Koan.

Baru saja suhengmu menyatakan kepadaku bahwa dia ingin meminangmu sebagai isterinya.� Wajah Bi Li menjadi sebentar pucat, sebentar merah.

Ia sudah tahu bahwa suhengnya menaruh hati kepadanya, akan tetapi selalu ia tidak menanggapinya.

Biarpun suhengnya tampan dan gagah, ada sesuatu pada dirinya, mungkin pada pandang matanya, yang tidak berkenan di hatinya.

�Tapi, Suhu, kalau saja suheng tahu keadaan diriku, tentu dia tidak sudi dan akan menghinaku...� �Tidak, Bi Li.

Dia sudah tahu...

atau setidaknya sudah dapat menduga bahwa Cin Po adalah anak kandungmu.� �Tapi, bagaimana dia bisa tahu, Suhu?� �Menurut dia, banyak di antara murid yang sudah dapat menduga-duga, menghubungkan keadaanmu yang tidak sehat ketika akan pergi mengungsi ke rumah bibi gurumu, kemudian melihat engkau pulang menggendong anak.

Mereka dapat menduga bahwa kepergianmu tentu untuk menyembunyikan bahwa engkau mengandung.� �Ahh...!� Bi Li merasa terpukul sekali dan ia menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis, bahkan lalu melemparkan bayinya ke atas tempat tidur.

Anak itu menangis pula, melebihi kerasnya tangis ibunya.

Setelah mereda tangis Bi Li, Tiong Gi Cinjin berkata, �Bi Li kukira ini suatu pemecahan yang baik.

Suhengmu orang baik dan dia amat mencintaimu.

Buktinya, biarpun sudah menduga bahwa engkau telah mempunyai anak, tetap saja dia meminangmu.

Dan dia mengatakan bahwa dia akan menerima Cin Po sebagai anaknya sendiri.� Bi Li merasa terharu juga, akan tetapi suaranya terdengar tegas ketika berkata, �Tidak Suhu.

Biarpun teecu amat berterima kasih kepada suheng, akan tetapi teecu tidak mau menikah dengan dia.

Dia seorang perjaka yang baik, biar dia memilih jodohnya di antara sumoi atau gadis lain, akan tetapi bukan teecu.

Teecu hanya hidup untuk menanti membalas dendam kepada jahanam itu, dan teecu tidak ingin menyeret orang lain ke dalam urusan dendam pribadi ini.� Tiong Gi Cinjin menjadi kecewa sekali.

�Kalau begitu, sesuka hatimulah, Bi Li.

Engkau yang berpegang kepada nasib dirimu dan anakmu sendiri.� �Teecu telah menyerahkan nasib kami kepada Thian, Suhu.� Dengan murung, Tiong Gi Cinjin memasuki rumahnya, disambut oleh isterinya yang masih muda, baru berusia tigapuluh tahun dan masih cantik.

Ini adalah isterinya yang kedua, isteri pertamanya meninggal dunia karena penyakit.

Dan isterinya ini sedang mengandung muda.

�Engkau kenapa, suamiku?

Mengapa nampak murung?� �Hatiku sedang kesal memikirkan kekerasan kepala Bi Li!� �Kenapa ia?� �Engkau sendiri tahu, ia mempunyai anak tanpa suami.

Sekarang ada seorang pemuda yang dengan baik hati mau berkorban dan mau menikah dengannya, eh, ia malah menolak keras.� �Siapa pemuda itu?� �Dia Ban Koan.� �Heran sekali kenapa Ban Koan mau menikahi Bi Li?

Biasanya, seorang pria akan mengelak menikah dengan gadis yang bukan perawan lagi!

Apa lagi seorang gadis yang mempunyai anak tanpa suami!� �Mungkin karena dia amat mencinta Bi Li.

Akan tetapi Bi Li menolaknya dan aku merasa kecewa sekali.

Kalau saja ia mau, tentu bereslah semua persoalan, ia mendapatkan suami, anaknya mendapatkan seorang ayah dan aib itu akan terhapus.� �Alasan penolakannya?� �Ia hanya ingin hidup untuk memenuhi balas dendamnya kepada pria yang telah menodainya!

Bahkan ketika aku menawarkan untuk menyeret Hek-siauw Siucai ke sini dan memaksanya mempertanggungjawabkan perbuatannya dan menikahi Bi Li, ia menolak keras.

Ia mengatakan tidak sudi menjadi isteri laki-laki yang telah menodainya itu.

Ia hanya ingin membalas dendam!� �Ah, kasihan sekali Bi Li.

Hatinya telah diracuni dendam,� kata isteri Tiong Gi Cinjin sambil menghela napas panjang dan mengelus perutnya yang sudah hamil muda itu.

�Kesehatanmu baik-baik saja, bukan?� tanya sang suami penuh perhatian dan kasih sayang.

�Baik-baik saja, aku hanya merasa khawatir setelah terjadi pengacauan itu.� �Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Engkau harus menjaga dirimu baik-baik, demi anak kita yang berada dalam kandunganmu itu.� Pada saat ita, tiba-tiba di luar terdengar kentungan dipukul bertalu-talu tanda bahwa ada bahaya!

Tiong Gi Cinjin cepat meninggalkan isterinya dan berlari keluar, dikejar isterinya yang juga merasa khawatir dan terkejut.

Ketika mereka tiba di luar, ternyata telah terjadi pertempuran antara lima orang melawan para murid Thian-san-pang yang dipimpin oleh Bi Li.

Duapuluh orang lebih mengeroyok lima orang itu dan agaknya mereka kewalahan menghadapi lima orang yang amat lihai itu.

Tadinya Tiong Gi Cinjin menyangka bahwa yang menyerang adalah Huang-ho Ngo-liong, akan tetapi ketika memandang penuh perhatian, ternyata mereka itu bukan Huang-ho Ngo-liong, melainkan lima orang laki-laki yang baju atasnya bersisik seperti sisik ular atau naga.

Sisik itu mengkilat dan ketika ada beberapa batang pedang para muridnya membacok, lima orang itu tidak mengelak, akan tetapi pedang-pedang itu mental kembali bertemu dengan baju yang bersisik itu!

�Tok-coa-pang (Perkumpulan Ular Beracun)!� seru Tiong Gi Cinjin dan dia teringat bahwa pernah dia bentrok dengan tiga orang dari perkumpulan itu dan kini agaknya mereka datang untuk membalas dendam.

Dan yang datang ini bukanlah anggauta biasa karena kepandaian mereka amat lihai.

Melihat betapa Bi Li dan para murid kewalahan, Tiong Gi Cinjin lalu mencabut pedangnya dan meloncat ke dalam arena pertempuran.

Begitu dia mengelebatkan pedangnya, lima orang itu mengeluarkan teriakan kaget akan tetapi mereka nampaknya gembira ketika melihat bahwa yang maju sendiri adalah Tiong Gi Cinjin yang memang mereka cari.

�Bagus, engkau mengantarkan nyawamu kepada kami, Tiong Gi Cinjin!� seru seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.

Kemudian dengan gerakan seperti seekor ular, tububnya menggeliat dan pedangnya sudah menusuk ke arah tenggorokan Tiong Gi Cinjin.

Ketua Thian-san-pang ini menggetarkan pedangnya menangkis dan pedang lawan itu terpental.

Dua orang lain datang mengeroyok sehingga ketua Thian-san-pang dikeroyok tiga orang sedangkan yang dua orang lagi menghadapi pengeroyokan puluhan anak murid Thian-san-pang.

Terjadilah perkelahian yang amat seru, terutama antara Tiong Gi Cinjin yang dikeroyok tiga orang lawannya yang lihai itu.

Yang membuat Tiong Gi Cinjin kewalahan adalah karena tiga orang lawan itu mengenakan baju yang kebal dan tahan bacokan atau tusukan pedangnya.

Pedangnya selalu meleset kalau mengenai tubuh mereka bagian atas, maka diapun mengubah caranya bermain pedang.

Kini dia menyerang bagian bawah tubuh mereka yang tidak dilindungi pakaian kebal dan barulah dia dapat mengimbangi mereka.

Tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat dan membantunya.

Ternyata yang membantu adalah isterinya.

Tentu saja Tiong Gi Cinjin merasa khawatir sekali.

Ilmu kepandaian isterinya memang cukup tinggi dan akan meringankan dia kalau membantu, akan tetapi isterinya sedang mengandung dan berbahaya sekali kalau dipakai berkelahi, apalagi lawan-lawannya amat lihai.

Tiga orang itu benar saja terdesak hebat begitu isteri Tiong Gi Cinjin ikut membantu suaminya.

Mereka terdesak dan demikian pula dua orang rekan mereka yang dikeroyok puluhan orang itupun terdesak.

Si tinggi kurus mengeluarkan suara bersuit nyaring dan itu merupakan tanda bahwa mereka harus segera angkat kaki melarikan diri dari situ.

Si jangkung sendiri memimpin teman-temannya untuk melepaskan senjata rahasia mereka berupa sisik-sisik yang sebesar uang logam.

Terdengar suara bersuitan ketika mereka menyambit-nyambitkan senjata rahasia ini dan beberapa orang anak buah Thian-san-pang berteriak roboh.

Tiong Gi Cinjin sendiri dihujani senjata rahasia dan dia memutar pedangnya untuk meruntuhkan semua senjata rahasia.

Namun, sial bagi isterinya yang juga memutar pedangnya, sebuah senjata rahasia terpental dan mengenai perutnya!

Ia mengeluh dan terhuyung.

Kesempatan itu dipergunakan oleh orang-orang Tok-coa-pang untuk melarikan diri, dikejar anak buah Thian-san-pang.

Tiong Gi Cinjin sendiri tidak ikut mengejar karena dia sibuk menolong isterinya yang terluka.

Dipondongnya isterinya itu masuk ke dalam rumah dan diperiksanya lukanya.

Tidak hebat luka itu, tidak terlalu dalam, akan tetapi sekitar luka kecil itu menghitam, tanda bahwa luka itu beracun!

Sebagai ketua perkumpulan silat yang berpengalaman, Tiong Gi Cinjin memiliki bermacam obat luka, juga yang anti racun, maka dia segera mengobati luka di perut isterinya.

Diam-diam dia merasa khawatir sekali.

Isterinya tentu dapat diselamatkan, akan tetapi bagaimana dengan kandungannya?

Kalau racun itu sudah menjalar dan mempengaruhi kandungannya, dapat berbahaya.

Sementara itu, puluhan orang Thian-san-pang melakukan pengejaran kepada lima orang Tok-coa-pang yang berlari cerai berai itu.

Ban Koan juga melakukan pengejaran dan dia melihat seorang di antara musuh itu, si tinggi kurus, bersembunyi di balik rumpun bambu dan agaknya orang itu terluka.

Memang benar, tadi pedang di tangan Tiong Gi Cinjin sudah berhasil melukai paha kanannya sehingga mengeluarkan banyak darah.

Melihat munculnya Ban Koan, orang itu menodongkan pedangnya dan siap melawan.

Akan tetapi Ban Koan tidak menyerangnya.

�Engkau terluka?

Aku tidak akan membunuhmu, dan kalau aku menolongmu memberi obat, apakah engkau kelak mau menolongku pula?

Aku menghendaki agar Tok-coa-pang bersahabat denganku dan kelak membantuku menjadi ketua Thian-san-pang.

Bagaimana?� Laki-laki tinggi kurus itu memandang kepada Ban Koan dengan matanya yang tajam seperti mata ular.

�Siapakah engkau?� �Namaku Ban Koan, aku murid kepala dari Thian-san-pang.

Nah, kau pilih mati ataukah bersahabat dengan aku?� Orang itu menyeringai.

�Tentu saja kami akan senang bersahabat dengan orang yang cerdik seperti engkau.

Nah, mana obat luka-lukanya, berikan kepadaku.� �Tunggu sebentar!� Ban Koan lalu merobek celana itu, dan memberikan obat bubuk, lalu membalut paha itu.

�Lukanya tidak berbahaya dan untungnya bahwa kami tidak biasa menggunakan racun, jadi lukamu tidak beracun.� �Terima kasih, Ban Koan.

Aku akan melaporkan tentang dirimu kepada ketua kami.� �Katakan, siapakah engkau?

Agar kelak, aku tidak lupa dengan siapa aku berurusan.� �Aku dijuluki Coa-siauw-kwi (Setan Cilik Ular), seorang di antara para pembantu utama dari ketua kami.

Nah, selamat tinggal, Ban Koan.

Engkau sudah kuanggap sahabatku.� �Jangan mengambil jalan sana.

Di sana menanti banyak murid Thian-san-pang.

Sebaiknya kau mengambil jalan ini, jalan setapak yang akan membawamu turun gunung dengan selamat.

Nah, selamat jalan, Coa-siauw-kwi!� Orang itupun menyelinap pergi, meningggalkan Ban Koan yang tersenyum-senyum seorang diri dengan hati gembira sekali.

Dia sudah berhasil menarik perhatian seorang tokoh Tok-coa-pang (Perkumpulan Ular Beracun) yang tentu kelak akan suka membantunya kalau saatnya sudah tiba!

Kalau tidak menggunakan siasat seperti itu, bagaimana mungkin dia dapat menjadi ketua Thian-san-pang?

Gurunya bahkan memilih Bi Li menjadi calon penggantinya, dan Bi Li tidak sudi menikah dengan dia!

Seperti yang dikhawatirkan Tiong Gi Cinjin, semenjak terkena senjata rahasia dari Tok-coa-pang, kesehatan isterinya amat memburuk.

Sebetulnya racun sudah dapat dibersihkan, akan tetapi karena dia dalam keadaan mengandung, maka obat anti racun itupun mempunyai akibat sampingan yang membuat tubuhnya lemah sekali.

Dan ketika tiba saatnya wanita itu melahirkan seorang puteri, ia tidak dapat ditolong lagi.

Anaknya lahir dengan selamat, akan tetapi ibunya tewas karena terlampau banyak mengeluarkan darah.

Dapat dibayangkan kedukaan hati Tiong Gi Cinjin.

Isterinya yang tercinta, dari siapa dia memperoleh seorang anak karena isterinya yang pertama tidak mempunyai anak, kini telah meninggalkannya.

�Ini semua gara-gara Tok-coa-pang, Suhu!

Kita harus membuat pembalasan!� kata Bi Li gemas.

Gurunya menghela napas panjang.

�Tidak ada gunanya balas membalas itu.

Baru menghadapi persoalanmu saja, kita sudah mempunyai musuh, apakah perlu ditambah lagi dengan musuh baru?

�Tidak, kematian subomu adalah karena akibat perkelahian, sudahlah wajar bagi seorang ahli silat untuk tewas akibat perkelahian.

Yang kusedihkan hanyalah anak ini...� Dia memondong anak bayi yang menangis keras ceolah mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

�Berikan kepadaku, suhu.

Biar aku yang menjadi inang pengasuhnya, biar kuberi air susu bersama-sama Cin Po.� Cin Po sudah agak besar, sudah tidak begitu membutuhkan lagi air susu ibunya.

Bi Li menerima anak itu dari Suhunya, lalu mendekapnya dan memberinya minum dari dadanya dan anak itupun terdiam.

�Hui Ing, namanya Hui Ing, Kwan Hui Ing,� kata Tiong Gi Cinjin yang nama aselinya Kwan Bu Hok.

Demikianlah, mulai hari itu, Kwan Hui Ing dirawat oleh Bi Li, bersama-sama Cin Po yang sudah agak besar, lebih tua setengah tahun.

Bahkan Bi Li agaknya lebih menyayang Hui Ing dari pada Cin Po.

Hal ini tidak dapat dipersalahkan kepadanya, karena setiap kali ia teringat betapa Cin Po adalah hasil pemerkosaan atas dirinya, iapun teringat kepada Hek-siauw Siucai dan menjadi tidak senang kepada Cin Po, bahkan ada sedikit perasaan benci.

Akan tetapi, ia harus memelihara bahkan mendidik anak itu agar kelak dapat diharapkan akan bisa membalaskan sakit hatinya, membunuh laki-laki yang telah merusak kehidupannya!

Demikian pandainya Ban Koan menyimpan rahasia sehingga selama bertahun-tahun dia mengadakan hubungan dengan Tok-coa-pang tanpa ada yang mengetahuinya.

Bahkan dia berhasil pula mempelajari ilmu-ilmu dari para pimpinan Tok-coa-pang, yang melihat dalam dirinya seorang yang kelak amat berguna bagi Tok-coa-pang.

Tanpa ada yang mengetahuinya, Ban Koan telah mempelajari Ilmu silat dan iImu tentang racun dari pimpinan Tok-coa-pang, bahkan dia telah mendapat kepercayaan sedemikian besarnya sehingga secara sembunyi dia telah memiliki sebuah baju sisik naga yang kebal senjata.

Waktu melesat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.

Kalau tidak diperhatikan, waktu begitu cepatnya lewat sehingga bertahun-tahun lewat bagaikan beberapa hari saja.

Pada suatu pagi yang cerah, di pekarangan depan rumah induk perkumpulan Thian-san-pang, yaitu rumah yang menjadi tempat tinggal Tiong Gi Cinjin, di mana juga tinggal Bi Li yang menumpang pada gurunya, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun sedang sibuk menyapu.

Pekarangan itu terpelihara baik dan pagi itu penuh dengan daun gugur, maka merupakan pekerjaan yang lumayan membersihkannya.

Anak laki-laki itu adalah Cin Po, atau lengkapnya Song Cin Po.

Ibunya memberinya marga Song, yaitu marga ibunya sendiri, karena ibunya bernama Song Bi Li.

Dia seorang anak laki-laki yang termasuk jangkung dalam usianya, tubuhnya sehat dan kuat, gerak geriknya sederhana, bahkan agaknya merasa rendah diri.

Pakaiannya serba putih, dari kain kasar dan jahitannya juga bersahaja sekali.

Dilihat dari pakaian dan pekerjaannya, dia lebih pantas kalau menjadi kacung di situ, bukan putera seorang tokoh besar Thian-san-pang.

Anak itu sebetulnya tampan sekali.

Wajahnya bundar dengan lekukan yang kuat pada pipi dan dagunya.

Sepasang alisnya tebal, sepasang matanya tajam dan mencorong seperti mata naga, hidungnya besar mancung, dan mulutnya yang pendiam itu kadang ditarik demikian keras sehingga membayangkan kejantanan dan keberanian.

Dia menyapu dengan penuh perhatian sehingga tidak ada sehelai daunpun terlewat dari sapuannya.

Dan ketika menggerakkan sapu itu, maka jelaslah nampak bahwa dia telah menguasai ilmu silat dengan baiknya.

Gerakan sapunya bertenaga dan juga begitu lentur, dengan langkah-langkah kaki yang tegap.

Memang, boleh jadi Bi Li kurang memperhatikan kesejahteraan anak ini, maka anak itupun kelihatan begitu sederhana, bahkan miskin.

Akan tetapi ibu ini amat memperhatikan pelajaran silatnya.

Sejak berusia lima tahun, Cin Po sudah digembleng oleh ibunya, bahkan juga oleh kakek gurunya, yaitu Tiong Gi Cinjin.

Ketika berusia tiga-empat tahun, sering kali dia dimandikan dengan arak dan dipukuli dengan sapu lidi sehingga tubuhnya menjadi amat kuat.

Dan dalam usia sepuluh tahun, kalau hanya laki-laki dewasa biasa saja jangan harap akan mampu mengalahkannya dalam suatu perkelahian.

Bi Li memang tidak menyayang Cin Po.

Setiap kali mengenang peristiwa itu sehingga terlahirnya Cin Po, makin bencilah ia kepada anak ini.

Dan makin benci, semakin pula ia menggembleng anak itu agar kelak menjadi seorang yang lihai untuk membalaskan dendam hatinya.

Pernah Cin Po bertanya kepada ibunya, setelah mereka beristirahat dari berlatih silat.

�Ibu, boleh aku bertanya?� Dia memang biasanya takut sekali kepada ibunya yang tidak segan-segan untuk bersikap galak kepadanya, memberi hukuman kalau sedikit saja dia melakukan kesalahan, terutama kalau lalai berlatih silat.

�Hem, tanyalah, kenapa tidak boleh?� jawab Bi Li acuh.

�Ibu, sejak dulu aku selalu memakai pakaian putih, demikian juga ibu.

Aku mendengar dari orang-orang bahwa pakaian putih yang kupakai ini adalah untuk berkabung.

Benarkah, ibu?� �Benar,� jawabnya singkat.

�Ibu dulu bilang bahwa kita berkabung untuk ayah yang sudah mati.

Benarkah ayah sudah mati, ibu?

Siapa sih ayahku dan bagaimana dia masih muda sudah mati?� �Ayahmu mati dibunuh orang.

Dengar baik-baik, ayahmu mati dibunuh orang jahat.

Karena itulah maka engkau harus selamanya memakai pakaian putih selama musuh yang membunuh ayahmu itu belum dapat kaubalas.

�Kalau kelak engkau sudah besar dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan berhasil membunuh musuh besar itu, barulah kita boleh memakai pakaian biasa, tidak lagi putih berkabung.� �Ibu berilmu silat tinggi, kenapa ibu sendiri tidak pergi membunuh musuh besar itu?

Juga kakek amat lihai, apakah kakek tidak mau membantu ibu untuk membunuhnya?� �Kami berdua bukan lawannya, Cin Po.

Ingat baik-baik ini.

Engkau kelak harus memiliki ilmu yang lebih tinggi dari pada kami, sehingga engkau akan berhasil membunuh musuh-musuh besar kita.� �Musuh besar kita yang membunuh ayahmu itu berjuluk Hek-siauw Siucai.

Akan tetapi kalau engkau hendak membunuh dia, engkau akan harus berhadapan pula dengan saudara-saudaranya.

Mereka semua ada lima orang yang dijuluki Huang-ho Ngo-liong.

Musuhmu memang hanya Hek-siauw Siucai, akan tetapi mungkin engkau akan berhadapan dengan mereka berlima.

Karena itu, engkau harus berlatih dengan tekun karena tanpa ilmu silat tinggi sekali, engkau tidak mungkin akan dapat membalas sakit hati ayahmu.� Percakapan itu berkesan benar di hati Cin Po.

Berulang kali nama Hek-siauw Siucai terngiang di telinganya dan nama ini tidak akan pernah dilupakannya, juga nama Huang-ho Ngo-liong.

Dan cerita ibunya membuat dia semakin tekun berlatih silat.

Tiong Gi Cinjin sendiri merasa bergembira sekali (Lanjut ke

Jilid 02) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 karena ternyata Cin Po merupakan seorang anak yang amat cerdik dan berbakat besar di dalam ilmu silat.

Selagi Cin Po asyik menyapu pekarangan, tiba-tiba dari dalam rumah berlari-larian keluar seorang anak perempuan yang mungil dan manis sekali.

Usianya sebaya dengan Cin Po, akan tetapi walaupun Cin Po hanya setengah tahun lebih tua, nampak Cin Po jauh lebih tinggi.

Anak itu hanya setinggi pundaknya.

�Cin Po!� anak perempuan itu memanggil dan suaranya terdengar manja sekali.

Cin Po menghentikan gerakan sapunya dan mengangkat muka memandang.

Wajahnya yang tadinya pendiam itu kini menjadi cerah dan mulutnya, matanya, tersenyum gembira.

�Hui Ing, sepagi ini engkau sudah bangun?

Malah sudah mandi kulihat.

Biasanya sepagi ini engkau masih tidur.� �Cin Po, ambilkan setangkai bunga yang di pohon itu untukku.

Untuk penghias rambutku.

Ibu hendak mengajakku pergi!� Cin Po tersenyum lalu dia memanjat pohon dan memetik dua tangkai bunga untuk gadis cilik itu.

Hui Ing menerima dengan gembira lalu menancapkan setangkai di rambutnya sehingga menambah kecantikannya.

�Ibu hendak mengajakmu pergi ke manakah, Hui Ing?� �Ibu hendak mengajak aku pergi ke rumah nenek di kaki bukit.� Cin Po mengerti siapa yang dimaksudkan, tentu yang disebut nenek oleh Hui Ing itu adalah adik dari kakek guru mereka, seorang pendeta wanita yang tinggal di kuil di bawah bukit.

Dia belum pernah diajak ke sana namun dia sudah mendengar bahwa kakek gurunya mempunyai seorang adik di sana, menjadi kepala sebuah kuil, bahkan namanyapun dia sudah tahu, yaitu Liauw In Nikouw yang mengepalai kuil Ban-hok-si.

�Hui Ing...!!� Bi Li muncul dari pintu memanggil Hui Ing.

Puteri Suhunya ini sejak kecil ia yang merawatnya, sehingga anak itu menyebut ibu kepadanya dan merasa menjadi puterinya, sedangkan kepada ayah kandungnya sendiri ia menyebut kakek!

Hui Ing berlari mendekati ibunya.

�Ibu, kenapa Cin Po tidak diajak?

Ajaklah dia, ibu agar perjalanan lebih menyenangkan,� kata Hui Ing manis.

�Tidak, Cin Po mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Cin Po, ke sini kau!� Cin Po berlari menghampiri ibunya.

�Ya, ibu.� �Kalau sudah selesai menyapu, engkau harus memikul air, penuhi semua tempat air, setelah itu carilah kayu bakar karena persediaan tinggal sedikit.

Dan selebihnya waktunya pergunakan untuk berlatih jurus-jurus yang kuajarkan kemarin.� �Baik, ibu.

� �Aku akan pergi dengan Hui Ing selama tiga hari.

Setelah aku pulang engkau harus sudah dapat memainkan tiga jurus baru itu.

Jangan malas, Cin Po!� �Baik, ibu.� Ibu dan anak itu lalu berangkat.

Hanya sebentar Cin Po memandang ke arah mereka, sedikit perasaan ingin ikut ditekannya sehingga dia melupakannya dan melanjutkan pekerjaannya menyapu.

Sesudah itu, dia lalu mengambil pikulan air dan mengambil air di sumber air terjun tak jauh dari puncak.

Karena sudah terbiasa memikul air di jalan naik turun itu, maka dia tidak merasa berat lagi.

Setelah selesai pekerjaan itu, barulah dia membawa golok untuk pergi mencari kayu bakar dan memasuki hutan.

Selagi dia memasuki sebuah hutan lebat di mana banyak terdapat kayu keringnya, tiba-tiba dia melihat bayangan orang berkelebat.

Cepat dia menyusup ke balik semak belukar karena dia ingin tahu sekali siapa yang berkelebat cepat itu.

Alangkah herannya ketika dia melihat paman gurunya, Ban Koan, berdiri tak jauh dari situ.

Setelah memandang ke sekeliling dan yakin bahwa di sini tidak ada orang lain, Ban Koan mengeluarkan suara siulan nyaring.

Tak lama kemudian terdengar dari jauh jawaban siulan yang sama dan muncullah seorang laki-laki jangkung yang pakaian atasnya seperti sisik naga.

Orang itu bercakap-cakap dengan Ban Koan dan diam-diam Cin Po merangkak mendekat dan sembunyi di balik semak untuk mendengarkan apa yang dibicarakan.

Biarpun dia belum pernah melihatnya, namun dia sudah mendengar bahwa orang yang memakai pakaian atas dari sisik naga itu adalah orang Tok-coa-pang yang menjadi musuh besar Thian-san-pang!

�Bagaimana, Ban Koan?

Apakah engkau sudah siap?� �Sudah, Coa-siauw-kwi, semua sudah siap.

Bahkan kebetulan sekali sumoi pergi turun gunung untuk beberapa hari lamanya.

Kinilah saatnya yang tepat untuk bergerak.� �Bagus, kalau begitu, nanti malam kita bergerak.

Siapa-siapa saja yang harus disingkirkan selain Tiong Gi Cinjin?� �Sstt, jangan keras-keras.

Mari kubisikkan nama-nama mereka yang harus dilenyapkan karena mereka itu tidak mendukung aku.� Ban Koan berbisik-bisik dan orang berpakaian sisik naga itu kelihatan terkejut.

�Wah, banyak benar.

Kalau begitu bisa habis anggauta Thian-san-pang.� �Tidak mengapa.

Membasmi tikus harus sampai ke sarang dan anak-anaknya.

Soal anggauta, mudah saja kan untuk menambah, berapapun yang kuinginkan.

Bahkan anggauta baru akan selalu taat dan tunduk kepadaku.� �Ha-ha-ha, engkau memang cerdik, Ban Koan.

Sudah lama kuketahui ini dan para pimpinan kami juga senang bekerja sama denganmu.� �Jangan khawatir, kalau aku sudah menjadi ketua Thian-san-pang tentu kami dapat membuat banyak demi keuntungan Tok-coa-pang.� �Nah, sekarang aku harus membuat persiapan.

Engkau juga.

Sebentar malam kita bergerak.� �Baik!� Orang yang berjuluk Coa-siauw-kwi itu lalu melompat dan lenyap dari situ.

Setelah tertawa-tawa seorang diri saking gembiranya, seperti seorang gila, Ban Koan juga pergi dari situ, meninggalkan Cin Po yang menggigil tubuhnya saking tegang hatinya mendengar semua itu.

Setelah yakin benar bahwa kedua orang itu telah pergi jauh, Cin Po mengumpulkan kayu kering dan berlari pulang.

Ibunya sudah pergi, maka satu-satunya orang yang dapat dilaporinya adalah kakek gurunya, Tiong Gi Cinjin.

Dia mencari orang tua itu yang sedang duduk bersamadhi di dalam kamarnya.

Dia tidak berani masuk, melainkan berlutut di luar pintu kamarnya sambil berseru, �Su-kong (kakek guru), teecu hendak bicara soal penting sekali, su-kong.

Mohon diperkenankan masuk!� Sampai berulang kali dia memohon, agaknya belum terdengar juga oleh Tiong Gi Cinjin.

Tiba-tiba terdengar bentakan di belakangnya, �Cin Po, apa yang kaulakukan di sini?� Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Cin Po ketika mengenal suara orang yang membentaknya itu.

Ban Koan!

Namun, dia adalah seorang anak yang tabah sekali.

Wajahnya tidak menunjukkan kekagetannya dan suaranya juga tidak tergetar ketika dengan cepat dia dapat menjawab.

�Susiok (paman guru), teecu sedang dihukum oleh su-kong, disuruh berlutut di sini sampai su-kong membukakan pintu.� �Dasar anak bodoh dan malas, pantas sudah dihukum.

Untung kau tidak dihukum cambuk!� Ban Koan mengejek sambil pergi meninggalkan anak itu.

Ban Koan sepenuhnya menyadari bahwa anak yang bernama Cin Po ini sesungguhnya adalah darah dagingnya sendiri, akan tetapi dia bahkan membenci anak itu yang dianggap sebagai kunci rahasia yang busuk darinya.

Sebaiknya kalau anak itu mati saja sehingga rahasianya yang busuk terhadap Bi Li dapat tertutup rapat-rapat.

Terutama melihat anak laki-laki itu sedikitpun tidak mirip dia, melainkan mirip ibunya.

Dia membenci anak itu!

Setelah Ban Koan pergi, Cin Po mengetuk daun pintu itu dan akhirnya terdengar suara dari dalam, suara yang besar dalam, suara Tiong Gi Cinjin.

�Siapa itu?� �Saya, su-kong.

Maafkan kalau saya mengganggu su-kong, akan tetapi saya mempunyai hal yang amat penting untuk disampaikan kepada su-kong.� Hening sejenak.

Kalau ada orang yang menaruh kasihan dan rasa suka kepada anak ini, hanya orang tua itulah.

Ibunya sendiri tidak suka kepadanya.

Dan hanya Tiong Gi Cinjin yang merasa iba kepadanya, juga suka melihat kerajinannya, melihat ketekunannya berlatih dan melihat bakatnya yang besar.

Terdengar langkah kaki dari dalam dan pintu dibuka.

�Masuklah, Cin Po.� Cin Po masuk, menutupkan lagi daun pintunya dan langsung saja dia menjatuhkan diri di depan kaki kakek itu.

�Su-kong, celaka, su-kong!� katanya, kini menumpahkan semua perasaan cemas dan tegangnya yang sejak tadi ditahan-tahannya.

�Hemm, tenanglah.

Ada apa, apanya yang celaka?� �Celaka, su-kong.

Ada komplotan gelap hendak membunuh su-kong dan banyak paman dari Thian-san-pang, komplotan yang hendak menguasai Thian-san-pang!� Tiong Gi Cinjin tersenyum.

�Aih, engkau mimpi, barangkali, Cin Po, Mana ada komplotan yang demikian nekat hendak menguasai Thian-san-pang dan membunuhku?� �Benar, su-kong, saya tidak berbohong.

Tadi, ketika saya sedang mengumpulkan kayu kering di dalam hutan, saya melihat seorang paman guru mengadakan pertemuan dengan orang berbaju sisik naga, dan mereka bercakap-cakap mempersiapkan diri untuk malam ini mengadakan gerakan.

Mereka akan membunuh su-kong, membunuh banyak paman guru di sini, kemudian paman guru itu yang akan menjadi ketua Thian-san-pang.

Saya bersumpah tidak akan berbohong, su-kong!� Tiong Gi Cinjin mengerutkan alisnya.

�Hemm, siapa paman guru yang hendak berkhianat itu?� �Dia adalah paman guru Ban Koan, su-kong.� Kakek itu terbelalak dan mengerutkan alisnya.

�Ban Koan?

Ah, tidak mungkin dia berani.

Cin Po, urusan ini bukan main-main, engkau tidak boleh berbohong, akibatnya akan hebat.� �Saya bersumpah tidak berbohong dan malam ini mereka akan bergerak!� Tanpa diketahui oleh kakek dan anak itu, di luar kamar itu berkelebat bayangan yang pergi dari situ.

Bayangan itu adalah Ban Koan yang cepat seperti terbang mencari komplotannya dan di dalam hutan itu dia bertemu lagi dengan Coa-siauw-kwi.

�Wah, gawat!

Rahasia kita sudah terbongkar oleh setan cilik itu!� kata Ban Koan.

�Kita harus mengubah siasat!� Coa-siauw-kwi mengerutkan alisnya, �Hemm, agaknya ketika kita bicara, ada, bocah setan yang ikut mendengarkan.

Apakah Tiong Gi Cinjin percaya akan omongannya?� �Mungkin juga tidak.

Akan tetapi tentu saja mereka akan siap siaga menjaga segala kemungkinan.� �Ha-ha, biarkanlah, Ban Koan.

Kalau malam ini tidak terjadi sesuatu tentu anak itu dianggap berbohong dan mengkhayal, dan tentu Tiong Gi Cinjin tidak akan mengadakan persiapan apapun pada keesokan harinya.

Maka, gerakan itu kita undurkan sampai besok malam.

Biar mereka lengah dulu dan menganggap anak itu hanya membual.� �Baik, sekarang begitu yang paling baik,� kata Ban Koan yang segera kembali ke Thian-san-pang agar tidak mencurigakan.

Dia bersikap biasa, mewakili Bi Li yang sedang pergi untuk melatih ilmu silat kepada para murid Thian-san-pang.

Dia tahu bahwa dirinya diamati oleh Suhunya, akan tetapi dia pura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa sehingga Tiong Gi Cinjin menjadi semakin ragu akan kebenaran laporan Cin Po.

Malam itu Tiong Gi Cinjin bersiap-siap untuk berjaga diri.

Bahkan kepada semua murid diperintahkan untuk melakukan penjagaan ketat.

Akan tetapi semua usaha itu sia-sia belaka.

Tidak terjadi sesuatu di malam hari itu!

Pada keesokan harinya Tiong Gi Cinjin memanggil Cin Po dan memarahi anak itu.

�Nah, apa yang telah kau perbuat!

Engkau membuat kami semalaman tidak tidur.

Semua ini gara-gara cerita khayalmu yang tidak ada kenyataannya.� Banyak ucapan Tiong Gi Cinjin yang pada dasarnya memarahi anak itu yang dianggap berbohong dan berkhayal yang bukan-bukan.

Cin Po merasa bersedih sekali dan ketika dia mendapat kesempatan mencari kayu bakar, kembali dia pergi ke hutan di mana dia melihat Ban Koan mengadakan pertemuan dengan Coa-siauw-kwi.

Dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika kembali dia melihat adegan yang sama, yaitu Ban Koan mengadakan pertemuan dengan tokoh Tok-coa-pang itu!

Kembali dia mengintai, akan tetapi dia tidak tahu bahwa sekali ini, kedua orang itu bukan sekedar melakukan pertemuan melainkan memancing dia agar mendekat untuk mendengarkan percakapan mereka.

Dan sekali ini, karena memang sudah menduga sebelumnya, mereka dapat mendengar gerakan Cin Po yang mendekati tempat mereka, bersembunyi di balik semak belukar.

Tiba-tiba Ban Koan tertawa bergelak dan sekali melompat dia sudah berada di belakang Cin Po dan sekali dia menggerakkan tangan dia sudah menjambak rambut anak itu dan diangkatnya ke atas!

�Ha-ha-ha, kiranya engkau setan kecil masih tidak juga jera, berani mengintai kami dan melapor kepada Tiong Gi Cinjin!� kata Ban Koan yang membawa anak itu ke depan Coa-ciauw-kwi yang juga tertawa-tawa.

Cin Po tidak kehilangan keberaniannya.

�Ban-susiok, aku memperingatkanmu agar jangan mengkhianati Thian-san-pang!

Apakah engkau sebagai seorang gagah tidak merasa malu untuk melakukan sekongkol dengan orang luar dan hendak menghancurkan Thian-san-pang!

Ingatlah, susiok, sebelum terlambat!� �Ha-ha-ha, engkaulah yang terlambat bocah setan!� kata Coa-siauw-kwi sambil tertawa.

Pada saat itu Ban Koan melepaskan jambakan pada rambut Cin Po dan kesempatan ini dipergunakan oleh Cin Po untuk menyerang orang Tok-coa-pang itu dengan golok kecil yang biasa dia pakai memotong kayu.

Dan anak ini memang cerdik.

Dia sudah mendengar bahwa orang Tok-coa-pang memakai baju yang kebal terhadap senjata tajam, maka ketika menubruk maju dia menerjang dan menyerang paha orang itu.

Coa-siauw-kwi adalah seorang yang lihai, akan tetapi dia lengah dan memandang rendah anak kecil itu sehingga tahu-tahu golok kecil yang tajam itu sudah melukai pahanya!

�Anak setan!� bentaknya dan tangannya yang mengandung racun itu sudah menghantam ke arah dada Cin Po.

�Bukk...!!� Tubuh Cin Po terpental dan terguling-guling.

Ban Koan melompat dekat anak itu yang mukanya sudah menjadi kehitaman karena pukulan tadi mengandung racun yang amat ampuh.

Akan tetapi sungguh luar biasa sekali dan di luar dari prikemanusiaan, Ban Koan yang mengetahui benar bahwa anak itu adalah anak kandungnya, tidak merasa kasihan sama sekali.

Dia menganggap anak itu berbahaya bagi siasatnya, karena itu harus dibunuh.

Melihat bahwa anak itu telah tak berdaya dan rebah di dekat jurang amat dalam, diapun segera menggerakkan kakinya menendang.

�Mampuslah, anak setan!� Dan tubuh Cin Po terlempar jatuh ke dalam jurang yang amat dalam itu.

Dari atas jurang, melihat tubuh anak itu terguling-guling ke bawah, Ban Koan tertawa bergelak-gelak dengan hati senang.

�Kenapa tidak dibunuh di sini saja?� tanya Coa-siauw-kwi.

�Bagaimana kalau dia masih hidup di bawah jurang sana?� �Ha-ha-ha, tidak mungkin.

Tendanganku tadi kulakukan dengan keras, tentu semua tulang iganya sudah rontok!� �Aku tidak khawatir karena pukulanku tadi jnga mengandung racun yang mematikan.

Mari kita pergi, jangan sampai ada orang lain lagi mengetahuinya.

Ingat, malam nanti kita laksanakan siasat yang kita rencanakan.� �Jangan khawatir, Coa-siauw-kwi.

Beres!� Mereka berpisah.

Manusia kalau sudah diperbudak oleh hawa nafsu, dapat menjadi jahat melebihi binatang buas apapun.

Binatang membunuh karena memang dia harus membunuh untuk penyambung hidupnya, membunuh untuk memperoleh makanan dari yang dibunuhnya.

Andai kata harimau tidak membunuh, dia akan mati karena harimau tidak dapat makan sayuran.

Demikian pula ikan-ikan besar yang memakan ikan-ikan kecil.

Memang sudah demikian hukum alam yang berkuasa atas dirinya.

Akan tetapi manusia lain lagi.

Manusia yang sudah diperbudak oleh nafsu, dapat saja membunuh bukan karena kepentingan mutlak, melainkan karena nafsu angkara murkanya.

Membunuh karena benci, membunuh karena ingin memiliki sesuatu, membunuh karena saling berebutan, kemudian saling bunuh antara ratusan ribu manusia hanya untuk mencari kemenangan dalam perang!

Malam yang dingin dan gelap.

Perkampungan Thian-san-pang sudah sepi, sebagian besar murid Thian-san-pang sudah memasuki kamar mereka.

Lenyapnya Cin Po tidak begitu menarik perhatian orang karena bukan saja Tiong Gi Cinjin yang marah kepada anak itu juga para murid Thian-san-pang merasa mendongkol, merasa dipermainkan oleh anak itu.

Maka biarpun sejak sore Cin Po tidak nampak, mereka mengambil sikap tidak perduli.

Para murid yang bertugas jaga, empat orang banyaknya, merasa kedinginan dan mereka membuat api unggun di dalam gardu penjagaan, merasa malas untuk pergi meronda.

Perkampungan mereka biasanya aman dan siapa berani mengganggu Thian-san-pang sama dengan mencari penyakit sendiri!

Tiba-tiba muncul Ban Koan di luar gardu penjagaan.

�Heii, kalian ini berjaga malam mengapa berada di gardu saja mendekati api unggun?

Seharusnya kalian melakukan ronda!� tegurnya.

Empat orang itu menjadi terkejut dan merekapun keluar dari gardu penjagaan, terheran-heran melihat Ban Koan tahu-tahu muncul, pada hal biasanya Ban Koan tidak pernah perduli tentang jaga malam.

�Akan tetapi, suheng.

Keadaan di sini aman.� �Aman?

Goblok kalian dan harus dihukum!� Tiba-tiba saja Ban Koan sudah mencabut pedangnya dan sekali menggerakkan pedangnya.

Dua orang penjaga roboh dan tewas seketika.

Dua orang yang lain terkejut dan cepat menghunus pedang untuk melawan, akan tetapi segera bermunculan orang-orang Tok-coa-pang dan dengan beberapa gebrakan saja dua orang penjaga malam itupun roboh dan tewas.

�Mari...!� kata Ban Koan memberi isyarat kepada sekutunya.

Sedikitnya duapuluh lima orang Tok-coa-pang dengan senjata di tangan lalu mengikuti Ban Koan yang menuju ke rumah induk, rumah ketua Thian-san-pang.

Dengan mudah Ban Koan mencokel pintu rumah dan mereka semua menyerbu ke dalam.

Tiong Gi Cinjin sedang tidur lelap.

Tiba-tiba dia mendengar suara gaduh di luar kamarnya.

Cepat ia menyambar pedangnya dan membuka pintu kamarnya.

Dan dia melihat pemandangan yang mengerikan.

Beberapa orang anak muridnya sedang dikeroyok oleh orang-orang yang berbaju sisik naga, orang-orang Tok-coa-pang!

Dan dia melihat Ban Koan di antara mereka.

�Ban Koan, terkutuk kau...!� bentaknya dan segera dia menyerang muridnya sendiri itu.

Akan tetapi dengan tangkasnya Ban Koan menangkis dan pedangnya terpental ketika menangkis pedang gurunya sendiri itu.

Secepat kilat pedang di tangan Tiong Gi Cinjin meluncur ke arah dadanya.

Demikian cepat gerakan Tiong Gi Cinjin sehingga tahu-tahu pedang itu telah menusuk dada Ban Koan dengan tepat.

�Tukkk...!� Pedang mental kembali dan Ban Koan tertawa.

Lalu dia membalas dengan serangan pedangnya.

Tiong Gi Cinjin terkejut dan meloncat ke belakang.

Kiranya di balik jubah muridnya itu tersembunyi baju sisik naga yang membuat tubuhnya bagian atas menjadi kebal.

�Kau...

kau murid murtad...

pengkhianat...!� bentak Tiong Gi Cinjin.

Akan tetapi pada saat itu muncul seorang berpakaian baju sisik naga yang tubuhnya tinggi besar dan bermuka hitam, dan seorang lagi bermuka kuning yang juga tinggi besar.

Melihat mereka berdua, Tiong Gi Cinjin membentak.

�Bagus, kiranya kakak beradik Coa sudah datang pula!

Kalian pengecut curang, kalau memang hendak mengadu ilmu, mengapa harus mempengaruhi seorang murid kami sehingga dia menjadi pengkhianat!� Tiong Gi Cinjin tidak mendapat jawaban, akan tetapi kini bahkan Ban Koan yang membentak, �Orang tua rewel, saat kematian sudah tiba!� Dan murid ini menyerang gurunya dengan cepat.

Dua orang kakak beradik Coa yang menjadi pimpinan Tok-coa-pang juga sudah menerjang dengan pedang mereka sehingga kakek itu dikeroyok tiga!

Tiong Gi Cinjin mengamuk.

Kalau dua orang saudara Coa itu maju satu demi satu, tidak mungkin mereka akan dapat mengalahkan Tiong Gi Cinjin.

Akan tetapi mereka maju berdua dan dibantu pula oleh Ban Koan yang tentu saja mengenal ilmu pedang Suhunya.

Maka Ban Koan yang menjadi pelindung kakak beradik Coa itu, Ban Koan yang tahu ke arah mana pedang Suhunya berkelebat melakukan tangkisan-tangkisan dan lebih-lebih lagi tubuh mereka bertiga terlindung baju sisik naga, maka sebentar saja Tiong Gi Cinjin terdesak hebat.

Sementara itu, ribut-ribut telah mendatangkan semua murid Thian-san-pang.

Kurang lebih limapuluh orang murid Thian-san-pang kini bertanding melawan duapuluh lima orang murid Tok-coa-pang.

Akan tetapi sungguh aneh, lebih dari setengah jumlah murid Thian-san-pang tidak bertempur dengan sungguh-sungguh dan mereka main mundur.

Mereka ini adalah para murid yang sudah terpengaruh oleh Ban Koan, dijanjikan kehidupan yang lebih menyenangkan kalau dia yang menjadi ketua!

Maka, pertempuran menjadi berat sebelah dan para murid Thian-san-pang yang setia kepada perkumpulannya mulai roboh seorang demi seorang.

Tiong Gi Cinjin sendiri juga tidak dapat bertahan lama.

Ketika pedangnya menyambar, pedang itu diterima begitu saja oleh Ban Koan dengan dadanya, lalu lengannya mengempit pedang gurunya karena lengan itu terlindung baju sisik naga.

Kesempatan ini dipergunakan oleh kakak beradik she Coa untuk menusukkan pedang mereka dan robohlah Tiong Gi Cinjin dengan dua lubang di perut dan dadanya.

Dia roboh, sambil menudingkan telunjuknya ke arah Ban Koan sambil berseru, �Terkutuk engkau, Ban Koan...!� dan kakek itu terkulai, tewas.

Semua murid yang setia juga tewas, lebih dari duapuluh orang jumlahnya.

Mereka yang tidak setia sudah melempar pedang dan berjongkok tanda takluk.

Ban Koan tertawa bergelak.

�Ha-ha-ha, bagus, kalian menyerah.

Dan mulai sekarang, akulah ketua Thian-san-pang.

Siapa yang tidak setuju katakanlah!� Semua murid itu lalu berseru, �Kami setuju, Pang-cu!� Sebutan Pang-cu (ketua) itu terdengar amat merdu di dalam telinga Ban Koan dan diapun tertawa-tawa, disambut tawa pula oleh kakak beradik Coa.

Para murid segera disuruh mengurus semua mayat, disuruh menguburkan malam itu juga dan Ban Koan sendiri bersama dua orang sekutunya lalu merayakan kemenangan di dalam sambil makan minum.

�Ban-pangcu, kami harap engkau tidak melupakan jasa kami malam ini dan akan memenuhi janji.� �Tentu saja, harap ji-wi pang-cu tidak khawatir.

Kalian menghendaki kitab Thian-san-kiam-sut?

Akan segera kuberikan, dan mulai sekarang kita bersahabat, susah sama dipikul, senang sama dinikmati.

Kita bekerja sama untuk mencari kekayaan dan kesenangan.� Dua orang itu tertawa-tawa gembira dan Ban Koan lalu menyuruh seorang murid kepercayaan untuk mengambilkan kitab Thian-san-kiam-sut dan diberikan kepada kedua saudara Coa yang menjadi ketua Tok-coa-pang itu.

Pesta dilakukan sampai pagi dan lebih mengerikan lagi, Ban Koan memaksa isteri-isteri dari murid yang tewas, yang disukai oleh ke dua orang ketua Tok-coa-pang itu, untuk melayani mereka makan minum dan bersenang-senang!

Yang tidak mau lalu dibunuh begitu saja.

Kekuasaan dapat membuat seseorang menjadi gila, gila kekuasaan, mabok kemenangan.

Apapun yang dikehendaki harus terlaksana, demikianlah mimpi seorang yang menang dan berkuasa.

Karena itu, seorang yang bijaksana selalu berhati-hati apabila dia memperoleh kedudukan dan kekuasaan.

Berhati-hati terhadap nafsunya sendiri dan kalau sudah waspada, dia akan mempergunakan kekuasaan demi kebaikan sesama manusia, bukan demi kesenangan diri pribadi.

Karena kekuasaan membuat setiap orang yang memilikinya selalu menang, selalu benar, selalu di atas, maka mudah sekali memabokkan.

Orang bijaksana akan selalu menyadari bahwa kekuasaan, kedudukan, harta benda, kepandaian dan sebagainya adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa, anugerah yang diberikan kepadanya untuk menggunakan kekuasaan itu di jalan yang benar, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Yang kuasa hanyalah Tuhan dan manusia yang diberi kekuasaan hanyalah alat belaka.

Ban Koan yang sudah lama sekali mencita-citakan kekuasaan, setelah mendapatkannya menjadi gila kekuasaan, menjadi mabok dan dia ingin memenuhi semua keinginan hatinya.

Kitab Thian-san-kiam-sut adalah sebuah kitab pusaka perkumpulan itu, hanya dipelajari oleb para murid kepala yang sudah tinggi tingkatnya.

Kini, dengan mudah saja kitab itu dia berikan kepada kakak beradik Coa, hanya untuk membalas jasa mereka membunuh ketua Tiong Gi Cinjin, dan membantunya merampas kedudukan ketua Thian-san-pang.

Peristiwa penyerbuan Thian-san-pang oleh Tok-coa-pang itu tersiar luas dan terdengar pula oleh Bi Li yang sedang berada di kuil Ban-hok-si di kaki gunung.

Liauw In Nikouw juga mendengar tentang diserbunya Thian-san-pang dan tewasnya kakaknya.

�Omitohud...

apa yang terjadi di sana?� Nikouw itu berseru dan mulutnya komat-kamit membaca doa.

Tidak seperti kakaknya, nikouw ini tidak pernah mempelajari ilmu silat tinggi, hanya memperdalam pengetahuannya tentang agama maka ia menjadi kepala kuil Ban-hok-si.

�Bi Li, sebaiknya engkau cepat-cepat naik ke sana dan lihat apa yang terjadi.

Hui Ing biar kau tinggal di sini bersamaku, agar leluasa engkau bergerak.� Bi Li segera berangkat mempergunakan ilmu berlari cepat naik di atas gunung.

Ketika tiba di perkampungan Thian-san-pang, suasananya sepi sekali dan di luar perkampungan ia melihat gundukan-gundukan tanah kuburan yang masih baru.

Hatinya terharu sekali dan air matanya sudah membasahi pipinya ketika masuk ke perkampungan itu.

Para murid Thian-san-pang berbisik-bisik ketika melihat Bi Li muncul, akan tetapi mereka tidak berani menegur.

Bi Li juga tidak memperdulikan mereka, dan langsung ia memasuki rumah besar yang menjadi tempat tinggal gurunya dan juga tempat tinggalnya.

Hampir saja ia bertabrakan dengan Ban Koan yang baru keluar dari dalam rumah karena dia mendengar bahwa Bi Li sudah kembali.

�Aih, sumoi...!� katanya dan suaranya gemetar seperti orang yang berduka sekali.

�Suheng, apa yang telah terjadi?

Bagaimana...

bagaimana dengan Suhu...??� Wajah wanita itu pucat sekali dan matanya terbelalak memandang ke kanan kiri, mencari-cari.

Ban Koan segera memegang tangan Bi Li dan menuntunnya duduk di atas kursi.

�Tenanglah, akan kuceritakan semuanya kepadamu.� Bi Li membiarkan saja dirinya dituntun karena memang perasaan tegang dan khawatir membuatnya terhuyung.

Setelah saling berhadapan duduk di atas kursi terhalang meja, barulah Ban Koan bercerita.

�Terjadinya malam, tidak terduga-duga sama sekali.

Karena semua nampak aman maka kami semua tidur.

Tahu-tahu, ada duapuluh lima orang lebih memasuki perkampungan kita.

Mereka adalah orang-orang Tok-coa-pang yang menyerang kami.

�Tentu saja kami melakukan perlawanan mati-matian.

Namun mereka itu kebanyakan amat lihai sekali.

Suhu sendiri tewas oleh mereka dan duapuluh orang lebih saudara kita tewas.

Ada beberapa orang di antara merekapun tewas dan terluka, dan dibawa oleh kawan-kawan mereka yang tidak luka ketika akhirnya mereka melarikan diri.

�Nah, demikianlah terjadinya, sumoi.

Kemudian atas permintaan semua saudara yang masih hidup, saya memimpin mereka menggantikan kedudukan Suhu karena khawatir kalau-kalau musuh akan datang kembali.� Bi Li menangis.

�Suhu, ah, suhu...!� ia meratap.

�Kenapa begitu tergesa-gesa mereka dimakamkan?� �Tentu saja, sumoi.

Korban demikian banyak dan luka-luka, mereka tentu akan membuat jenazah mudah membusuk.

Maka, aku memutuskan untuk merawat dan mengubur semua jenazah pada malam hari itu juga.

Juga jenazah Suhu telah kami kuburkan baik-baik.� Bi Li masih menangis sampai terisak-isak.

�Aku...

aku menyesal sekali kenapa aku tidak ada pada waktu itu!� �Mengapa, sumoi.

Beruntung engkau tidak ada sehingga engkau tidak sampai menjadi korban.� �Suheng, kenapa engkau berkata demikian?

Aku kalau ada di sini, tentu dapat membantu suhu dan belum tentu Suhu sampai tewas.� �Sudahlah, sumoi.

Semua telah terjadi, tidak dapat diubah kembali.

Penyesalan tidak ada gunanya lagi.� �Oya, di mana Cin Po...?� Tiba-tiba Bi Li baru teringat akan puteranya.

Memang ia tidak begitu suka kepada puteranya itu, maka dalam kesedihan ini, baru sekarang teringat.

�Ahh, anak itu?

Kami semua juga heran, karena tidak menemukan dia, juga tidak terdapat di antara korban.

Mungkin dalam keributan itu, karena merasa ketakutan, dia melarikan diri dan sampai sekarang belum pulang.� Bi Li tidak mengurus lagi kepergian Cin Po, melainkan bersama Ban Koan lalu pergi ke makam gurunya.

Di depan makam yang baru itu ia berlutut dan menangis sesenggukkan.

Ban Koan menghiburnya dan setelah mereka bersembahyang di depan setiap gundukan tanah kuhuran itu dan tangis Bi Li mereda, Ban Koan lalu berkata, �Sumoi, di mana Hui Ing?� �Kutinggalkan di rumah bibi.� Lalu disambungnya cepat.

�Akupun hendak kembali ke sana sekarang juga suheng.� �Eh, kenapa sumoi?

Sebaiknya engkau kembali ke rumah Suhu, dan...

dan...

seandainya engkau tidak keberatan, setelah aku menjadi ketua Thian-san-pang, kupikir...

sudah waktunya kuberitahu, bahwa aku...

ingin sekali kalau engkau menemaniku memimpin Thian-san-pang, sebagai...

eh, sebagai isteriku.� Bi Li mengangkat muka memandang dengan mata merah bekas tangis.

Ia anggap suhengnya ini keterlaluan sekali.

Dalam keadaan berkabung seperti itu, di depan makam yang tanahnya masih baru, membicarakan soal perjodohan!

Melihat wajah suhengnya, yang tersenyum dengan matanya yang sipit itu memandang tajam, timbul rasa tidak sukanya.

Ia tidak akan pernah merasa suka kepada laki-laki ini, pikirnya.

�Suheng, pantaskah bicara tentang perjodohan di saat seperti ini.

Tidak, suheng.

Aku bahkan ingin pindah saja ke Kuil Ban-hok-si, ingin tekun mempelajari ilmu agama dari bibi pendeta Liauw In Nikouw.

�Tolong saja kalau Cin Po pulang, kauberitahu padanya agar menyusul ke Ban-hok-si.

Sekarang aku hendak mengumpulkan semua pakaian dan milikku untuk kubawa pindah, suheng.� Biarpun hatinya merasa kecewa, Ban Koan tidak berani memaksa.

Memang kalau menurut siasat dan perhitungannya, Bi Li termasuk orang pertama yang harus dibunuh bersama Tiong Gi Cinjin, karena wanita ini akan menjadi penghalang dan pengganggu baginya kelak.

Akan tetapi dia mencinta Bi Li dan tidak tega untuk membunuhnya.

Maka dia berusaha untuk membujuk agar Bi Li menjadi isterinya.

Dan kalau Bi Li tidak mau, memang sebaiknya Bi Li pergi saja dari situ.

Kalau tinggal di situ, pasti dia akan terpaksa membunuhnya dan dia tidak tega melakukannya.

�Baiklah, kalau engkau menghendaki demikian, sumoi,� katanya dan dia malah membantu Bi Li berkemas.

Demikianlah, pada hari itu juga Bi Li pergi dan pindah ke dusun di kaki bukit, tinggal bersama Liauw In Nikouw di Ban-hok-si, dan biarpun tidak menjadi nikouw namun hidup sebagai seorang pertapa dan pendeta wanita, tekun mempelajari ilmu keagamaan dan bersamadhi.

Segala kehendak Tuhan Terjadilah!

Kalau Tuhan menghendaki seseorang mati, maka biar dia bersembunyi di lubang semut, maut akhirnya akan datang menjemput, tepat pada waktunya, tidak lebih atau tidak kurang semenit pun.

Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki dia hidup, biar terancam maut sampai selisih serambut, akhirnya dia akan luput dari cengkeraman maut.

Banyak sudah peristiwa membuktikan kebenaran mutlak ini, betapa kalau menurut akal manusia, seseorang yang terancam maut amat hebat tentu akan mati.

Akan tetapi ternyata berkat Kehendak dan Kekuasaan Tuhan orang itu selamat.

Sebaliknya orang yang pada hari kemarin masih segar bugar, bisa saja hari ini mendadak tewas!

Demikian pula dengan Cin Po.

Semua orang kalau melihat keadaannya pada saat dia terkena pukulan beracun Coa-siauw-kwi, kemudian ditendang oleh Ban Koan, lalu terjatuh ke dalam jurang yang amat dalam, tentu tidak ada di antara mereka yang berani mengatakan bahwa anak itu selamat.

Semua tentu mengira anak itu tewas, seperti yang disangka oleh Ban Koan dan Coa-siauw-kwi.

Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian!

Ketika dia terjatuh kebetulan sekali dia tidak menimpa batu atau tanah keras, melainkan menimpa semak-semak yang tebal sehingga tubuhnya tidak sampai remuk, dan dia bergulingan ke bawah di atas tanah berumput dan inipun menolong nyawanya.

Akan tetapi ketika tiba di dasar jurang, Cin Po tidak bergerak lagi, seperti telah mati.

Wajahnya pucat sekali dan dia pingsan.

Dan kebetulan yang lain menyusul kebetulan yang satu.

Pada saat itu, kebetulan sekali ada seorang tua yang sedang mencari daun-daun dan tanaman obat di dasar jurang itu.

Dan orang ini bukanlah orang biasa.

Dia adalah seorang datuk dari utara!

Dia di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Pat-jiu Pak-sian (Dewa Utara Bertangan Delapan)!

Orangnya sudah berusia enampuluh tahun, namun masih nampak muda.

Tubuhnya sedang saja dan melihat ujudnya, tidak begitu mengesankan.

Pakaiannya jubah yang longgar seperti seorang pendeta, kepalanya botak tanpa topi, sepatunya dari kulit yang nampak mengkilap, kepala yang botak itu besar dan alisnya tebal.

Matanya mencorong seperti mata harimau, hidungnya pesek dan mulutnya besar.

Telinganya juga besar seperti telinga gajah.

Pendeknya wajahnya tidak mengesankan dan bahkan dapat dikatakan buruk.

Akan tetapi dunia kang-ouw amat mengenal nama ini.

Jangankan bertemu orangnya, baru mendengar namanya saja orang yang mengenal namanya sudah merasa gentar dan ngeri.

Pat-jiu Pak-sian ini terkenal dengan wataknya yang ugal-ugalan, semaunya sendiri.

Dia dapat saja menjadi seorang yang berwatak lembut dan baik budi, akan tetapi dalam sekejap mata dia dapat menjadi raja maut yang amat kejam dan tidak mengenal kasihan.

Apalagi kalau bertemu dengan urusan yang tidak menyenangkan hatinya, bisa saja dia menyebar maut seenaknya.

Pat-jiu Pak-sian sudah menduda.

Isterinya meninggal dunia meninggalkan seorang anak laki-laki yang usianya ketika itu sekitar sepuluh tahun.

Dan pada suatu hari anaknya itu sakit keras.

Pat-jiu Pak-sian mendatangkan tabib-tabib yang pandai, dipaksanya untuk mengobati anaknya, akan tetapi sia-sia belaka.

Menurut seorang tabib yang pandai, anaknya itu menderita penyakit hati yang amat gawat dan obatnya sukar dicari di dunia ini.

Ada semacam daun obat dan kabarnya daun itu dapat dicari di sekitar Thian-san.

Karena itulah maka Pat-jiu Pak-sian pergi sendiri mencari obat itu dan kebetulan dia sedang mencari-cari obat ketika kebetulan sekali dia melihat tubuh Cin Po bergulingan dari atas dan jatuh pingsan tak jauh dari tempat dia berdiri.

Semula Pat-jiu Pak-sian acuh saja, sedikitpun tidak memperdulikan anak laki-laki yang menggelinding jatuh dari atas jurang itu karena dianggapnya itu bukan urusannya.

Akan tetapi, ketika dia lewat dekat dan mengerling ke arah wajah anak itu, dia terbelalak dan mulutnya berseru, �Anakku!!� Cepat sekali dia bergerak, tahu-tahu sudah berjongkok di dekat Cin Po.

Setelah memeriksa teliti, barulah dia yakin bahwa anak itu bukan anaknya, akan tetapi ada kemiripan luar biasa antara anaknya yang sakit dan rebah di rumah dan anak ini.

Dan kemiripan yang kebetulan inilah yang menolong Cin Po.

Andaikata wajahnya dan bentuk tububnya tidak mirip dengan putera kakek itu, tentu dia ditinggalkan begitu saja dan mati.

Akan tetapi, kini kakek itu memeriksanya.

Pat-jiu Pak-sian adalah seorang datuk yang juga memiliki keahlian pengobatan.

Kalau anaknya sakit dia tidak mampu mengobati, hal itu adalah karena anaknya menderita semacam penyakit yang hanya dapat disembuhkan dengan obat.

Akan tetapi kalau sakit yang diakibatkan pukulan atau racun sekalipun, dialah ahlinya untuk menyembuhkannya.

Setelah memeriksa dengan teliti keadaan Cin Po, dia merasa heran sendiri.

�Luar biasa!

Seorang anak sekecil ini sudah menderita luka-luka pukulan yang begini ganas.

Siapa yang begitu gila untuk memukul seorang anak kecil seperti ini?

Tulang-tulang iganya patah-patah dan ada pukulan beracun.

Agaknya memang sudah takdir anak ini dan aku untuk bertemu di sini.

Baiklah, aku akan menyembuhkanmu, nak!� Dia lalu duduk bersila di dekat Cin Po, menelanjangi anak itu, menelentangkan anak itu dan kedua tangannya ditempelkan di dadanya.

Dengan pengerahan sin-kangnya, dia mengobati anak itu, mengusir hawa beracun karena pukulan Coa-siauw-kwi, kemudian menelungkupkannya.

Dan setelah hawa beracun itu bersih terusir dari tubuh anak itu, mulailah dia menyambungkan tulang-tulang yang patah dari iga anak itu.

Diambilnya daun-daun dari sekeliling tempat itu, ditaruh di sekeliling dada dan punggung anak itu, kemudian dibalut dengan kain panjang.

Setelah memeriksa lagi dengan teliti, dia lalu menggerakkan tangannya dengan cepat, menotok sana sini dan akhirnya Cin Po mengeluh dan merintih.

Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum gembira.

�Anak yang memiliki tenaga dan daya tahan tubuh seperti ini sukar ditemukan keduanya di dunia ini!� Ucapan itu seperti menyadarkan Cin Po.

Dia membuka matanya dan begitu dia sadar, dia teringat akan peristiwa tadi dan melompat bangun, akan tetapi dia roboh terkulai kembali.

Dia merasa terkejut dan terheran-heran melihat dirinya bertelanjang bulat dan pakaiannya berserakan di situ.

�Ha-ha-ha-ha, anak bodoh.

Jangan mencoba-coba untuk banyak bergerak atau tulang-tulang igamu akan patah-patah kembali.

Bangkitlah perlahan-lahan dan kenakan pakaianmu kembali.� Cin Po adalah seorang anak yang cerdik sekali.

Dia ingat bahwa dia tadi dipukul dan ditendang jatuh ke jurang, dan sekarang dada dan punggungnya dibalut, siapa lagi yang menolongnya kalau bukan kakek ini?

Maka, serta merta dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek yang duduk bersila itu.

�Locianpwe telah menolong nyawa saya, budi locianpwe yang sebesar gunung sedalam lautan ini tidak pernah saya lupakan selama hidup.� Kakek itu tertegun.

Tak disangkanya anak yang ditemukan di dalam jurang di Thian-san ini dapat bersikap seperti itu, seperti seorang anak yang terpelajar saja.

Dan timbul penyesalan dalam batinnya.

Anak yang mirip puteranya ini sungguh menang dalam segala-galanya kalau dibandingkan puteranya.

Menang dalam daya tahan tubuhnya, dan tadi dia sudah meraba-raba tulang anak ini yang ternyata berbakat baik sekali dalam ilmu silat, menang pula dalam sikap dan pembawaan diri.

Anaknya sendiri kalah jauh!

�Simpan saja terima kasihmu dan pakailah pakaianmu kembali!� katanya dingin.

Cin Po sudah seringkali mendengar dari percakapan antara murid-murid Thian-san-pai bahwa orang orang sakti di dunia persilatan banyak yang berwatak aneh.

Dia mengerti bahwa orang sakti ini tentu seorang tokoh kang-ouw dan juga berwatak aneh.

Maka dia lalu mengangguk, dan mengenakan pakaiannya yang serba putih kembali.

�Sekarang duduk bersila di depanku,� kata Pat-jiu Pak-sian.

Cin Po menaati perintah itu.

�Ambil pernapasan yang dalam, dan ikuti petunjukku.

Tarik napas yang dalam dan hitung delapan kali dalam hati baru berhenti menarik napas, simpan di di dalam lalu dorong dari perut ke arah tulang-tulang igamu yang patah.

Setelah tidak bertahan baru keluarkan napas dari mulut dengan suara mendesis seperti ini.� Cin Po sudah pernah mendapat petunjuk cara pernapasan dari kakek gurunya, maka dia dapat menuruti petunjuk itu dengan baik.

Dan setelah beberapa puluh kali mengulang petunjuk itu, dia merasa betapa dadanya tidak nyeri lagi!

�Cukup, dan sekarang ceritakan kenapa engkau terjatuh dari atas sana.� Cin Po meragu.

Sebetulnya, urusan Thian-san-pang tidak ingin dia ceritakan kepada orang luar.

Akan tetapi, mengingat akan apa yang terjadi, tidak mungkin dia kembali lagi ke Thian-san-pang.

Kakeknya sudah tidak mempercayainya.

Kalau dia naik dan melaporkan kepada kakek gurunya bahwa dia ditendang oleh Ban Koan, tentu kakeknya juga tidak akan percaya karena tidak ada buktinya.

�Di atas sana saya bertemu dengan dua orang jahat yang hendak menyerbu Thian-san-pang, locianpwe.

Karena saya melihat mereka, maka mereka lalu menyerangku, yang seorang memukulku dan orang kedua menendangku jatuh ke dalam jurang ini,� katanya singkat.

Dan anehnya, kakek itu juga agaknya acuh saja mendengar ceritanya.

�Hemm, di dunia ini banyak orang baik, banyak pula orang jahat.

Semua sama saja.

Akan tetapi yang paling menjemukan adalah orang yang pengecut dan curang!

Dan memukuli seorang anak yang tidak berdaya adalah pengecut dan curang, tidak akan dilakukan orang gagah.� �Locianpwe, kalau boleh, saya ingin berguru kepada locianpwe.

Biar saya disuruh bekerja apa saja, asal saya boleh berguru kepada locianpwe, akan saya taati,� Cin Po kini berlutut kembali ke depan kakek itu.

�Heh-heh, benarkah engkau akan menaati semua perintahku?

Biarpun perintahku itu membuat engkau terancam bahaya maut sekalipun?� �Locianpwe,� kata Cin Po dengan sungguh-sungguh.

�Kalau tidak ada locianpwe tentu saya sudah mati.

Maka, kalau locianpwe memerintahkan saya dengan pengorbanan nyawa sekalipun, saya akan menaati.� �Bagus, kalau begitu aku mau menerima engkau menjadi muridku!� �Suhu...!!� Cin Po mengangguk-angguk sampai delapan kali sambil berlutut dengan hati girang bukan main.

�Sekarang bangkitlah dan kau naik ke punggungku.

Aku akan menggendongmu naik dari jurang ini.� Tanpa ragu lagi Cin Po menurut.

Di lain saat dia sudah menempel di punggung kakek itu, merangkul lehernya.

Kakek itu tertawa lalu tubuhnya bergerak cepat sekali mendaki jurang itu!

Cin Po terbelalak ketakutan.

Bagaimana orang dapat mendaki jurang yang curam dan terjal itu?

Seperti seekor monyet besar kakek itu merayap naik, bukan merayap, melainkan berlari sehingga sebentar saja dia sudah tiba di atas tebing jurang.

Cin Po lalu melorot turun dari gendongan dan memandang kakek ini dengan takjub.

�Sekarang, engkau perlu beristirahat semalam suntuk untuk memulihkan kekuatanmu,� kata kakek itu dan dia sendiri duduk bersila tidak memperdulikan anak itu.

Cin Po merasa tersiksa sekali.

Dia harus bersila semalam suntuk tidak berani bergerak, padahal seluruh tubuhnya masih terasa nyeri dan perutnya terasa lapar sekali.

Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi kakek itu sudah membuka matanya, mengeluarkan roti kering dari keranjang obatnya dan memberikan sepotong roti kering kepada Cin Po.

�Makanlah roti kering ini agar engkau tidak kelaparan.

Sesudah makan, ini minumnya, hanya air jernih.

Lalu kau istirahat lagi.

Ambil pernapasan seperti yang kuajarkan kemarin.

Ingat, engkau harus berlatih pernapasan dengan tekun, barulah tulang-tulangmu dapat pulih kembali dengan baik.� Tiga hari tiga malam lamanya Cin Po disuruh berlatih seperti itu di dalam hutan di tepi jurang.

Sehari hanya diberi makan roti kering dua kali dan minum air jernih.

Tubuh anak itu lemas, akan tetapi rasa nyerinya lenyap berganti rasa tenang dan nyaman.

Pada hari keempatnya, barulah kakek itu bangkit berdiri.

�Bagus dalam hal kesabaran engkaupun telah lulus.

Sekarang, mari kita mencari makanan.

Kita harus makan enak dan sekenyangnya, baru kita lanjutkan perjalanan kembali ke tempat tinggalku.� �Di tempat ini, mana mungkin ada makanan enak, Suhu?� �Apakah dekat sini tidak ada kampung atau dusun di mana kita dapat memperoleh makanan enak?� �Yang terdekat hanyalah Thian-san-pang, perkampungan perkumpulan itu.� �Kalau begitu, ke sanalah kita!� �Ke Thian-san-pang, Suhu...?� �Eehh, membantah, ya?� �Tidak Suhu, hanya meragu.� �Jangan pernah meragukan omonganku, kalau engkau ingin menjadi muridku.

Hayo kita berangkat ke Thian-san-pang!� Dengan hati berdebar-debar tidak karuan membayangkan bagaimana nanti penerimaan kakek gurunya kalau dia datang bersama guru barunya, bagaimana penerimaan paman gurunya, Ban Koan, yang sudah menganggap dia mati?

Cin Po menjadi penunjuk jalan ke arah Thian-san-pang.

Di luar perkampungan dia melihat begitu banyaknya tanah kuburan baru dan hatinya merasa tidak enak sekali.

�Eh, agaknya baru saja terjadi kematian yang besar-besaran,� kata Pat-jiu Pak-sian.

�Siapa saja yang mati ini, muridku?

Eh, siapa sih namamu, tidak enak memanggil engkau hanya muridku saja.

Siapa namamu?� �Nama saya Song Cin Po, Suhu.� �Nama yang tidak bagus, tapi sudahlah.

Kuburan siapa ini, Cin Po?� �Teecu tidak tahu Suhu, karena sewaktu teecu pergi dari sini, empat hari yang lalu kuburan ini belum ada.� Dengan hati tidak enak Cin Po memasuki perkampungan bersama gurunya.

Para murid Thian-san-pang melihat Cin Po kembali, segera berseru heran karena anak itu sudah empat hari tidak nampak.

�Heii, Cin Po.

Ke mana saja engkau selama ini?

Semua orang mencarimu!� �Aku pergi jauh dari sini.

Ke mana Su-kong (kakek guru)?� Ditanya demikian semua murid itu hanya saling pandang dan menunjuk ke rumah besar.

Cin Po segera berjalan cepat ke arah rumah besar diikuti Pat-jiu Pak-sian.

Tanpa ragu Cin Po memasuki rumah besar itu dan dia dihadang beberapa orang murid yang berjaga di situ.

�Eh, engkau hendak ke mana?� kata seorang sambil memegang lengan anak itu.

�Tidak boleh sembarangan masuk kalau tidak mendapat ijin Pang-cu.� �Ehh?

Siapa Pang-cu.

Su-kong, bukan?� �Sekarang Pang-cunya adalah Ban-pangcu.

Su-kong telah meninggal dunia.� Cin Po menjadi pucat dan dia mengibaskan tangan itu, lalu berlari masuk ke dalam.

Kakek itu mengikutinya.

Ketika tiga orang murid Thian-san-pang hendak mencegahnya, hanya dengan mengebutkan ujung lengan bajunya, dia membuat tiga orang itu terlempar ke kanan kiri dan dengan tenangnya dia mengikuti Cin Po masuk.

Di ruangan dalam, Cin Po melihat Ban Koan duduk di kursi yang biasa diduduki su-kongnya.

Ban Koan terbelalak kaget ketika melihat anak itu, seperti tidak percaya pada penglihatannya sendiri, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.

�Kau...

kau...?� katanya tergagap.

�Susiok, di mana su-kong,� tanya Cin Po seolah tidak pernah terjadi sesuatu antara dia dan paman gurunya itu.

Mata Ban Koan kini tertuju kepada kakek tua yang berdiri di belakang Cin Po dan tahulah dia bahwa Cin Po tentu ditolong oleh kakek itu.

Maka dia segera mengubah siasat dan sikapnya.

�Ah, kau terlambat, Cin Po.

Tempat kita diserbu musuh, kakek dan duapuluh orang lebih saudara kita tewas, itu kuburannya berada di luar perkampungan kita!� �Su-kong....!� Cin Po menjerit dan diapun berlari keluar, diikuti kakek yang menjadi seperti bayangannya itu.

Setelah mereka pergi, Ban Koan cepat mempersiapkan anak buahnya untuk berjaga-jaga karena dia mendapat firasat tidak enak dengan munculnya Cin Po dan kakek tua itu.

Cin Po menangis menggerung-gerung di depan makam Tiong Gi Cinjin.

Dia amat mencinta kakek ini karena kakek itulah satu-satunya orang yang menyayangnya.

Bahkan dari ibu kandungnya sendiri dia tidak pernah merasakan kasih sayang seperti dari kakeknya ini.

Setelah puas menangis, dengan lunglai Cin Po menggeletak piagsan di depan makam kakeknya.

Pat-jiu Pak-sian menotoknya beberapa kali dan dia siuman kembali.

�Bocah tolol.

Untuk apa bertangis-tangisan sampai pingsan, menangisi orang mati?

Perutmu lapar kau buat menangis seperti itu, tentu saja engkau tidak tahan dan pingsan.

Hayo kita kembali ke perkampungan mencari makanan dan minuman!� Sebetulnya Cin Po enggan kembali, akan tetapi dia ingat akan janjinya.

�Suhu, yang membunuh su-kong dan semua saudara ini adalah paman guru Ban Koan tadi yang bersekutu dengan Tok-coa-pang.� �Hemm, begitukah?

Dia yang telah menendang sampai tulang igamu patah-patah?� �Benar, Suhu.� �Kalau begitu, hayo cepat ke sana untuk menghajarnya!� Kini kakek itu yang berjalan di depan.

Cin Po tentu saja ragu-ragu.

Bagaimana dia bisa membalas menghajar paman gurunya?

Akan tetapi dia harus patuh maka diapun mengikuti gurunya kembali memasuki perkampungan.

Benar saja dugaannya.

Baru saja tiba di depan rumah besar, mereka telah dikepung oleh duapuluh orang lebih murid Thian-san-pang yang memegang senjata pedang.

�Para paman harap jangan menyerang kami.

Aku datang hanya untuk bicara dengan Ban-susiok!� kata Cin Po dengan tenang.

Pasukan itu terkuak dan muncullah Ban Koan dengan pedang di tangan.

�Aku Ban-pangcu berada di sini!

Engkau mau bicara apa, anak setan?� �Ban-pangcu, engkau pernah menendang aku sampai terlempar ke dalam jurang, sekarang aku datang hendak menghajarmu!� kata Cin Po, teringat akan ucapan gurunya tadi.

Ban Koan terbelalak, lalu tertawa bergelak dan menyimpan kembali pedangnya.

�Engkau?

Hendak menghajar aku?

Bocah setan, agaknya engkau sudah menjadi gila!

Bukan engkau yang menghajar aku, melainkan aku yang harus menghajarmu karena sikapmu yang kurang ajar ini.

Nah, rasakan pukulanku!� Dia lalu memukul dengan sekuat tenaga ke arah kepala Cin Po.

Anak ini hendak mengelak, akan tetapi tidak jadi karena pukulan paman gurunya itu tertahan di udara, tidak dilanjutkan seperti tertahan sesuatu.

�Cin Po, hayo kau pukul tulang-tulang iganya!� terdengar gurunya memerintah.

Cin Po menaati perintah itu.

Dia menerjang ke depan dan memukul ke arah tulang iga lawan.

Anehnya Ban Koan tidak mengelak dan menangkis sama sekali.

Terdengar suara �bak-bik-buk� dan tubuh Ban Koan terhuyung ke belakang.

Semua murid Thian-san-pang menjadi terkejut dan heran bukan main.

Yang lebih heran adalah Ban Koan karena setiap kali dia hendak menggerakkan tubuh untuk mengelak atau menangkis, tubuhnya itu tidak mampu dia gerakkan.

Dia hanya melihat kakek itu mengibaskan lengan baju ke arahnya dari jarak jauh.

�Terus hantam tulang iganya sampai patah!� kata kakek itu kepada Cin Po.

Biarpun baru berusia sepuluh tahun, namun tubuh Cin Po kuat sekali karena sudah terlatih maka pukulannya pun tidak dapat disamakan dengan pukulan anak biasa.

�Anak bodoh, begini kalau memukul!!� Pat-jiu Pak-sian memegang lengan kiri Cin Po lalu dipukulkan ke arah dada Ban Koan.

�Dessss...!!� Tubuh Ban Koan terjengkang keras seperti dihantam kekuatan yang amat besar dan dia muntah darah.

Barulah para anak buah Thian-san-pang membelanya.

Akan tetapi begitu kakek itu mengebutkan lengan bajunya ke kanan kiri, semua orang menjadi terlempar seperti daun-daun kering diterbangkan angin.

Cin Po mendapat hati.

Dia menghajar Ban Koan yang sudah roboh itu dan memukuli dadanya sampai Ban Koan berteriak-teriak kesakitan.

�Sudah, jangan bunuh dia,� kata kakek itu.

�Minta saja disediakan makanan dan minuman untuk kita.� Cin Po berdiri dan menginjak dada Ban Koan, lalu menghardik, �Hayo cepat menyuruh orang menyediakan makanan dan minuman yang lezat untuk Suhu dan aku!� �Baik, baik...� Cin Po melepaskan kakinya dan Ban Koan merangkak bangun.

Ada beberapa tulang iganya yang patah oleh pukulan terakhir tadi.

Sambil memegangi dadanya dia memerintahkan orang-orangnya yang menjadi jerih untuk menyediakan makanan dan minuman yang diminta Cin Po.

Guru dan murid ini lalu makan minum dengan lahapnya.

Setelah tiga hari tiga malam hanya makan roti kering sepotong setiap hari, Cin Po merasa lapar sekali.

�Sekarang kita pergi,� kata kakek itu sambil mengusap mulutnya yang berlepotan minyak.

Akan tetapi Cin Po masih belum puas.

Dia menghadapi Ban Koan yang berdiri terbungkuk kesakitan dan mengancam.

�Ban Koan, agaknya sudah tercapai niat jahatmu dan engkau kini menjadi ketua Thian-san-pang.

Jadilah (Lanjut ke

Jilid 03) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 ketua yang baik, kalau tidak, kelak aku akan datang lagi untuk mengambil nyawamu!� Setelah berkata demikian barulah puas hatinya dan dia mengikuti gurunya yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu.

�Engkau salah,� kata gurunya di tengah perjalanan.

�Salah bagaimana, Suhu?� �Seharusnya tikus itu kau bunuh!� �Teecu tidak berani membunuh orang, suhu.

Dan siapa tahu dia akan mengubah wataknya dan menjadi orang baik-baik yang memimpin Thian-san-pang ke arah jalan yang baik.� �Uuuh, percuma saja.

Orang sesat tidak akan menjadi baik oleh ancaman.

Kebaikan harus datang dari hati nurani sendiri, kalau tidak, maka kebaikan yang datang karena nasehat atau ancaman, tidak akan bertahan lama.

�Kemana kita sekarang?

Apakah engkau masih mempunyai keperluan lain?

Kalau tidak, kita langsung pulang ke tempat tinggalku.� �Nanti dulu, Suhu.

Kalau boleh, teecu ingin sekali berpamit kepda ibuku.� �Ibumu?

Hemm, engkau masih mempunyai ibu?

Di mana ia sekarang?� �Teecu kira ia berada di kuil Ban-hok-si di kaki bukit sana, di kuil yang diketuai nenek Liauw In Nikouw.� �Dan ayahmu?� �Ayahku telah meninggal dunia, terbunuh, orang jahat.� �Hemm, jadi untuk ayahmu itu, engkau berkabung, mengenakan pakaian putih?� �Benar, Suhu.

Ibu berpesan agar teecu selalu mengenakan pakaian putih, berkabung, untuk ayah dan teecu baru boleh mengenakan pakaian berwarna apabila teecu sudah berhasil membalas dendam atas kematian ayah.� �Wah, ibumu agaknya seorang yang berhati keras.

Nah, mari kita ke sana!� Kembali Cin Po menjadi petunjuk jalan, menuruni gunung dan menuju ke dusun di mana berdiri Ban-hok-si, kuil yang diketuai oleh Liauw In Nikouw itu.

Ketika akhirnya Bi Li berhadapan dengan Cin Po, ibu itu menegur puteranya, �Cin Po, engkau ke mana saja?

Kemarin ketika aku berkunjung ke Thian-san-pang, engkau tidak berada di sana?

Dan siapa pula kakek ini?� �Ibu, agak panjang ceritanya, dan kakek ini adalah guruku, bernama Pat-jiu Pak-sian.� Bi Li mengerutkan alisnya.

Ia hendak menggembleng puteranya agar kelak dapat membalaskan dendam sakit hatinya.

Ia tidak suka kalau ada orang lain menjadi gurunya, apa lagi kalau ia belum yakin benar akan kepandaian orang itu.

Akan tetapi ia adalah seorang pendekar wanita yang mengenal sopan santun, maka cepat ia memberi hormat kepada Pat-jiu Pak-sian.

�Terima kasih bahwa locianpwee sudi menerima puteraku menjadi murid.

Akan tetapi sebagai ibunya, aku berhak untuk menguji kepandaian orang yang akan menjadi guru puteraku.

Maukah locianpwe kuuji dalam adu silat?� �Ha-ha-ha, benar dugaanku, engkau seorang yang keras hati.

Aku paling pantang untuk berkelahi dengan wanita, akan tetapi kalau hanya menguji ilmu saja, bolehlah.

Nah, engkau boleh menyerangku, kalau dalam sepuluh jurus engkau mampu menyerangku, berarti aku kalah!� Bi Li terkejut bukan main.

Tingkat kepandaiannya sudah tinggi, dan di Thian-san-pang, selain mendiang gurunya, tidak ada yang dapat menandinginya.

Tetapi kakek ini dengan sombongnya memberi waktu hanya sepuluh jurus kepadanya.

Benarkah dalam sepuluh jurus ia akan kalah?

Sungguh tidak masuk diakal.

�Sepuluh jurus, locianpwe?

Baiklah, aku akan menggunakan pedang menyerangmu selama sepuluh jurus!

Nah, bersiaplah, locianpwe!� Ia menghunus pedangnya dan kakek itu hanya tersenyum sambil berdiri biasa saja.

�Setiap saat aku sudah bersiap, nyonya muda.� �Lihat pedang!!� Bi Li membentak dan ia sudah menyerang dengan tusukan pedangnya, menggunakan jurus Pek-hong-koan-jit (Bianglala Putih Tutup Matahari), pedangnya membuat gulungan sinar seperti pelangi melengkung.

Namun tusukan yang mengarah tenggorokan kakek itu, diterima oleh Pat-jiu Pak-sian dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Tahu-tahu ujung pedang itu telah terjepit dua buah jari itu dan sekali sentakan ke belakang pedang itu tidak dapat dipertahankan tangan Bi Li dan sudah berpindah tangan!

Bi Li terbelalak, akan tetapi kakek itu melemparkan pedang ke arah Bi Li.

�Engkau boleh menyerang lagi, akan tetapi harus lebih hati-hati, jangan memandang rendah kepadaku seperti tadi!� katanya.

Maklumlah Bi Li bahwa kakek ini lihai bukan main.

Diam-diam ia merasa girang kalau Cin Po dapat menjadi murid orang sakti ini, akan tetapi iapun masih penasaran dan kini ia menyerang dengan lebih dahsyat, menggunakan jurus Hun-in-toan-san (Awan Melintang Putuskan Gunung), sabetan yang amat kuat menuju ke arah leher.

Kakek itu kini menggerakkan tangannya dan lengan bajunya menangkis pedang, lalu langsung melibat pedang dan untuk kedua kalinya pedang itu terlepas dari tangan Bi Li.

�Terimalah pedangmu!� kata kakek itu dan melontarkan pedang dengan ujung lengan bajunya.

Ketika menerima pedang yang menyambar ke arahnya, Bi Li berhasil menangkapnya akan tetapi ia terhuyung ke belakang.

Maklumlah ia kini bahwa ia sama sekali bukan tandingan kakek itu dan iapun memberi hormat sampai dalam sekali.

�Maafkan saya yang tidak melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata.

Ilmu kepandaian locianpwe hebat sekali dan saya merasa ikut bangga dan bahagia kalau locianpwe sudi menerima puteraku Cin Po sebagai murid.

Cin Po, hayo mintakan maaf untukku kepada gurumu!� Cin Po lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan gurunya dan berkata, �Suhu, harap maafkan kelancangan ibu yang hendak menguji kepandaian suhu.� �Ha-ha, tidak apa, dan sekarang engkau boleh berbincang-bincang dengan ibumu.

Aku menanti di luar.

Berada di dalam kuil membuat aku merasa berdosa sekali.� Sekali berkelebat kakek itu sudah lenyap dari situ dan Bi Li merasa benar-benar tunduk kepada kakek yang sakti itu.

�Cin Po, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi denganmu, mengapa engkau tidak nampak ketika Thian-san-pang diserbu musuh dan bagaimana pula engkau dapat bertemu dengan gurumu itu.� �Ceritanya dimulai dua hari sebelum serangan itu, ibu.

Pada siang hari itu tanpa disengaja aku melihat pertemuan antara susiok Ban Koan dan seorang anggauta Tok-coa-pang.

Mereka membicarakan rencana mereka untuk menyerbu Thian-san-pang.� �Ahh, Ban Koan...?

Sudah kuduga dia manusia yang jahat sekali!� seru Bi Li dengan gemas.

Pada saat itu Liauw In Nikouw masuk dan bertanya.

�Siapa yang jahat, Bi Li?

Dan ini Cin Po sudah datang!� Bersama nenek ini muncul pula Hui Ing yang segera mendekati Cin Po.

�Lama sekali engkau baru datang.

Ke mana saja, Cin Po?� tanya Hui Ing, seperti biasa bersikap manja kalau berhadapan dengan Cin Po yang dianggap kakaknya sendiri.

�Bibi, dan Hui Ing.

duduklah dan dengarkan cerita Cin Po.

Baru saja dia menceritakan pengalamannya yang amat aneh.

Cin Po, ulangi kembali ceritamu tadi agar nenek dan Hui Ing ikut mendengarkan.� �Dua hari sebelum terjadi serangan di Thian-san-pang, aku melihat pertemuan rahasia antara susiok Ban Koan dan seorang anggauta Tok-coa-pang.

Mereka merencanakan penyerbuan ke Thian-san-pang pada malam hari itu.

Mendengar ini, tanpa mereka ketahui, aku lalu meninggalkan mereka dan aku bercerita kepada su-kong tentang hal itu.

�Su-kong merasa ragu dan kurang percaya kepadaku.

Akan tetapi tetap saja Su-kong dan semua saudara melakukan persiapan dan penjagaan malam itu untuk melawan kalau Thian-san-pang diserbu musuh.

�Akan tetapi, ternyata tidak terjadi apa-apa.

Agaknya Ban Koan sudah mengetahui bahwa rahasianya bocor maka dia menunda penyerangannya.

Karena tidak terjadi seperti yang saya laporkan, Su-kong marah-marah kepadaku.� Tiga orang itu mendengarkan dengan heran dan Bi Li merasa betapa sejak dulu anak ini seringkali mendapatkan marah, baik dari ia sendiri atau dari orang lain.

Agaknya tidak ada yang suka kepada anak ini, kecuali mendiang Suhunya.

Ia sendiri mengusahakan agar anak ini kelak berhadapan sebagai musuh dengan ayah kandungnya, untuk membunuh atau dibunuh!

Itulah pembalasan dendamnya.

�Lalu bagaimana?� ia mendesak.

�Setelah mendapatkan marah dari su-kong, aku lalu pergi mencari kayu bakar dan datang ke hutan yang kemarin.

Dan benar saja, kembali aku melihat Ban Koan mengadakan pertemuan dengan seorang anggauta Tok-coa-pang.

Akan tetapi kehadiran mereka di situ agaknya untuk memancingku.

Mereka mengetahui tempat persembunyianku dan mereka lalu memukuli aku dan menendang aku jatuh ke dalam jurang yang sangat curam!� �Ihhh, jahat sekali mereka!

Kasihan engkau, Cin Po!� kata Hui Ing dan agaknya kalau ada orang yang merasa sayang kepada Cin Po, satu-satunya orang adalah gadis cilik ini.

Hal ini adalah karena Cin Po juga sayang kepadanya dan selalu menuruti permintaannya.

�Ketika aku terjatuh dalam keadaan tiga perempat mati, muncullah Suhu Pat-jiu Pak-sian...� �Pat-jiu Pak-sian?� Tiba-tiba Liauw In Nikouw berseru, �Omitohud, dia itu bukankah datuk dari Utara yang namanya disohorkan orang sejak puluhan tahun yang lalu?� �Bibi, aku belum pernah mendengar nama julukan itu!� �Mungkin saja karena selama beberapa tahun ini namanya tidak lagi muncul di dunia kang-ouw.

Akan tetapi puluhan tahun yang lalu, dia pernah menggegerkan dunia kang-ouw.

Biarpun aku tidak mempelajari ilmu silat, karena sahabatku banyak dari kalangan kang-ouw, maka aku mendengar pula namanya.� �Pantas dia lihai bukan main!� kata Bi Li.

�Lalu bagaimana, Cin Po?� �Pat-jiu Pak-sian yang kemudian menerimaku sebagai murid itu lalu mengobatiku sampai sembuh.

Aku disuruh bersamadhi melatih napas selama tiga hari tiga malam dan aku ternyata sembuh kembali.

�Kemudian aku mengajaknya ke Thian-san-pang untuk menengok keadaan di sana.

Dan tadi...

ketika kami ke Thian-san-pang, aku melihat kuburan-kuburan itu....� Cin Po menghentikan suaranya yang gemetar dan dia mulai menangis, demikian pula Hui Ing karena semua orang teringat akan malapetaka yang menimpa Thian-san-pang dan mengakibatkan tewasnya Tiong Gi Cinjin pula.

�Omitohud, hentikan tangis-tangis itu, tidak ada gunanya ditangisi mereka yang sudah meninggal dunia,� kata Liauw In Nikouw.

�Teruskan ceritamu, Cin Po,� kata Bi Li menghentikan tangisnya.

�Melihat aku, Ban Koan hendak memukulku.

Akan tetapi suhu membela dan aku bahkan oleh Suhu disuruh memukuli Ban Koan yang entah mengapa tidak bisa melawan sama sekali.

�Akhirnya suhu menggunakan tanganku memukul patah-patah tulang iga Ban Koan sebagai pembalasan ketika dia mematahkan tulang-tulang igaku dengan tendangannya.

Dan para anak buah Thian-san-pang hendak membela Ban Koan, akan tetapi mereka semua dihajar oleh suhu.� Hui Ing bertepuk tangan.

�Bagus sekali, kenapa engkau tidak mengajak aku, Cin Po?� �Lalu bagaimana, Cin Po!� tanya ibunya.

�Aku lalu mengancam kepada Ban Koan bahwa kalau dia membawa Thian-san-pang menyeleweng, kelak aku akan membunuhnya.� �Bagus, apa yang kau lakukan itu sudah tepat sekali, anakku,� kata Bi Li, pada hal jarang ia menggunakan sebutan anakku seperti itu.

Tiba-tiba terdengar suara lirih namun jelas sekali seolah yang memanggil itu berada di dekat mereka, �Cin Po, hayo kita berangkat!� Mendengar ini, Cin Po lalu menjatuhkan diri berlutut di depan ibunya dan neneknya.

�Nenek, ibu, aku mohon pamit, hendak ikut dengan suhu.� �Baiklah, Cin Po.

Belajarlah engkau baik-baik dan jangan engkau lupakan pesanku dahulu tentang musuh-musuh kita.� �Jangan khawatir, ibu.

Sampai mati aku tidak akan melupakannya.� Cin Po bangkit dan tiba-tiba Hui Ing memeluknya.

�Cin Po, aku ikut!

Aku juga mau belajar kepada gurumu itu!� �Hussh, Hui Ing, engkau belajar di sini saja bersama ibu,� kata Bi Li.

�Benar, Hui Ing, suhuku tidak mau menerima murid lain.

Kelak kalau aku sudah pandai, aku akan mengajarimu!� kata Cin Po.

Hui Ing hendak merengek akan tetapi dibentak ibunya dan iapun bersungut-sungut dan matanya menjadi basah.

Sekali lagi Cin Po memandang kepada mereka bertiga, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu.

Ternyata gurunya telah menanti di tepi jalan dan mereka lalu pergi meninggalkan dusun itu.

Pada waktu itu Kerajaan Zaman Lima Wangsa (907-960) berakhir.

Pada tahun 960 itu, seorang panglima dari Wangsa Ke Lima yang bernama Cao Kuang Yin, memimpin pasukannya yang besar jumlahnya menundukkan penguasa-penguasa lainnya dan diapun diangkat menjadi Kaisar oleh para pengikutnya.

Dia mendirikan wangsa Sung dan kemudian terkenal dengan julukan Sung Thai Cu, kaisar pertama dari wangsa atau dinasti Sung.

Sung Thai Cu (960-976) mempersatukan semua daerah yang tadinya terpecah belah.

Dia menundukkan semua daerah itu dan dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Sung.

Pusat kerajaan berada di tangan Kaisar dan pusat pemerintahan berada di kota raja.

Sung Thai Cu tidak membagi-bagikan propinsi kepada para jenderalnya, melainkan mengangkat mereka sebagai pegawal tinggi.

Tidak ada jenderal yang diberi kekuasaan atas pasukan yang besar sehingga tidak ada kemungkinan untuk berontak.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, kerajaan Sung tidaklah sebesar kerajaan Tang dalam memulihkan wilayah di seluruh Cina.

Pada waktu itu daerah Timur Laut termasuk Mancuria selatan dan Ho-peh, berada dalam kekuasaan bangsa Khi-tan.

Di barat, daerah San-si terdapat kerajaan Hou-han.

Di sebelah Tenggara sepanjang pantai terdapat kerajaan Wu-yeh, dan di selatan, yaitu di Yunan terdapat kerajaan Nan-cao.

Bukan saja kerajaan Sung tidak dapat menundukkan ke empat kerajaan yang mengepungnya itu, bahkan ke empat kerajaan itu selalu berusaha untuk menjatuhkan kerajaan Sung dan mereka tidak mau mengakui kekuasaan dan kedaulatannya.

Maka, sejak Kerajaan Sung berdiri, tiada henti-hentinya terjadi perang dengan empat kerajaan itu.

Di antara empat kerajaan yang selalu merongrong kerajaan Sung itu, yang terkuat adalah Kerajaan Khi-tan di utara dan timur laut.

Bangsa Khi-tan memang merupakan bangsa nomad yang pandai berperang dan tahan uji.

Mereka seringkali memindah-mindahkan perbentengan mereka sehingga sukarlah bagi pasukan Sung untuk menggempur mereka.

Mereka pandai melakukan perang gerilya.

Pada suatu pagi, di perbatasan antara kerajaan Sung dan wilayah Khi-tan, nampak Pat-jiu Pak-sian dan Cin Po.

Memang datuk utara itu tinggal di Bukit Merak, terletak di wilayah Tai-goan di Propinsi Ho-peh.

Selagi mereka berjalan memasuki wilayah Ho-peh melewati perbatasan, tiba-tiba dari sebuah tikungan muncul belasan orang penunggang kuda.

Mereka adalah para perajurit Khi-tan yang sedang mengadakan patroli dan melihat seorang kakek dan seorang bocah berjalan di tempat sunyi itu, mereka menjadi curiga dan cepat menghampiri.

�Hei, kakek.

Siapa engkau dan mau apa memasuki wilayah kami?� �Engkau mata-mata Sung, ya?� �Tangkap mereka!� Kakek itu terkekeh melihat tingkah para perajurit itu.

�Aku adalah orang sini.

tinggal di bukit Merak.

Kalian mau apa sih?� �Kami tidak percaya!� teriak pemimpin perajurit Khi-tan itu.

�Geledah bawaan mereka!� Dua orang perajurit meloncat turun dari kuda mereka dan dengan sikap kasar hendak menggeledah pakaian Pat-jiu Pak-sian dan Cin Po.

Akan tetapi kakek itu mengibaskan tangannya dan dua orang itu terpelanting jatuh.

�Jangan kalian berbuat kurang ajar terhadap aku orang tua!� Bentak Pat-jiu Pak-sian.

�Kalian belum tahu siapa aku?� �Engkau tentu mata-mata Sung, buktinya berani memukul dua orang anggauta kami!� kata pemimpin itu dan diapun sudah mencabut goloknya dan bersama semua anak buahnya lalu menerjang dengan senjata golok sambil berlompatan turun dari atas kudanya.

Cin Po tidak tinggal diam, biarpun dia masih kanak-kanak berusia sepuluh tahun, akan tetapi ketika ada yang membacokkan golok ke arahnya, dia dapat mengelak dan meloncat ke depan mengirim tendangan dengan kakinya yang mengenai bawah pusar orang itu sehingga dia berjingkrak kesakitan.

Akan tetapi yang hebat adalah gerakan kakek itu, dengan kibasan ujung lengan bajunya saja dia membuat semua orang bergulingan.

�Pasukan yang buta matanya!� Kakek itu berseru.

�Kalau kalian tidak mengenal aku, tentu mengenal ini!� Dia mengeluarkan sehelai bendera dari saku bajunya dan melambaikan bendera itu.

Ketika melihat bahwa bendera itu adalah sebuah leng-ki bendera kekuasaan dari raja, serta merta mereka yang sudah bangkit kembali lalu menjatuhkan diri berlutut.

�Harap paduka memaafkan kami yang seperti buta tidak mengenal paduka!� kata pemimpin pasukan tadi.

�Hemm, bangkit dan pergilah.

Sampaikan saja hormatku kepada Sribaginda, katakan bahwa yang memberi hormat adalah Pat-jiu Pak-sian dari Bukit Merak.� Mendengar disebutnya nama ini, semua orang menjadi semakin ketakutan.

Masih untung mereka tidak dibunuh, pada hal mereka mendengar bahwa datuk ini biasanya suka sekali membunuh orang.

Datuk ini memang merupakan orang kepercayaan kaisar dan seringkali kalau kaisar membutuhkan bantuannya, dia dipersilakan datang ke istana.

Akan tetapi datuk ini tidak mau memegang jabatan dan tidak suka pula tinggal di istana memilih di Bukit Merak yang sunyi.

Pat-jiu Pak-sian tidak memperdulikan lagi mereka itu.

Dia memegang tangan muridnya dan dibawanya murid itu berlari cepat seperti terbang menuju ke Bukit Merak.

Dia harus cepat pulang untuk mengobati puteranya dengan daun yang sudah dipetiknya jauh-jauh dari Thian-san.

Rumah di Bukit Merak yang terpencil itu nampak sunyi.

Hal ini agaknya merupakan pertanda buruk bagi Pat-jiu Pak-sian.

Cepat dia melompat ke dalam melalui pintu depan yang terbuka dan begitu dia masuk terdengarlah jerit tangis orang di dalam rumah itu.

Cin Po ikut masuk dan ia berdiri tertegun.

Di ruangan tengah terdapat sebuah peti mati dan sedikitnya limabelas orang berada di situ, ada yang menangis dan ada yang hanya berdiri dengan muka pucat memandang kepada Pat-jiu Pak-sian yang berdiri sebagai sebuah patung di depan peti mati.

Wajahnya nampak menyeramkan dan pucat sekali, matanya terbelalak.

Semua orang yang berada di situ berlutut dan tidak ada yang berani bergerak, hanya ada yang menangis terisak-isak bukan hanya karena duka melainkan terutama sekali karena takut.

Melihat ini, Cin Po teringat akan sikap suhunya ketika dia menangis di depan kuburan Su-kongnya.

Maka, takut kalau Suhunya marah mendengar orang menangis, dia pun berseru, �Kalian menangis untuk apa?

Mengapa mesti menangisi orang mati?

Tidak ada gunanya lagi.

Hayo kalian diam dan jangan menangis!� Suasana yang tadi sunyi itu membuat suara Cin Po terdengar lantang sekali dan semua orang memandang heran, akan tetapi mereka yang menangis segera menghentikan tangisnya.

Pat-jiu Pak-sian agaknya baru sadar bahwa sejak tadi dia hanya berdiri seperti patung.

�Dia benar, tidak perlu ditangisi lagi!

Kapan dia meninggal?� �Baru kemarin, locianpwe,� jawab seorang diantara mereka.

Mereka itu adalah para pembantu Pat-jiu Pak-sian yang ditugaskan menjaga puteranya selagi dia pergi mencari daun obat.

Mendengar bahwa kematian itu baru kemarin, kakek itu lalu membuka tutup peti mati dan dia memanggil Cin Po mendekat.

�Lihat, lihat baik-baik wajah Hok Jin anakku ini.

Pantas menjadi saudaramu, bukan?� Cin Po mendekat dan dia melihat sebentuk wajah yang tampan akan tetapi pucat bukan main.

Dia hanya mengangguk, tidak membantah atau membenarkan karena dia sendiri tidak hafal akan keadaan wajahnya sehingga dia tidak tahu apakah wajah itu mirip wajahnya sendiri ataukah tidak.

Pat-jiu Pak-sian menutupkan kembali peti mati itu lalu diapun melakukan sembahyang di depan meja sembahyang.

�Hok Jin, mengasolah engkau dengan tenang, nak.� Demikian katanya dalam sembahyang itu.

Cin Po juga ikut sembahyang seperti orang lain.

Pemakaman dilakukan hari itu juga, di belakang rumah besar itu.

Ternyata rumah kakek itu cukup mewah.

Hal ini adalah karena kaisar kerajaan Khi-tan memberi banyak hadiah kepada kakek ini yang banyak sudah jasanya untuk pemerintah Khi-tan.

Sesudah itu, Pat-jiu Pak-sian menyuruh pulang semua pembantunya.

Setelah ada Cin Po dia tidak membutuhkan pembantu lagi.

�Mulai sekarang, engkau harus menjadi pengganti anakku, juga pengganti pembantuku dan menjadi muridku sekaligus.� �Baik, Suhu.

Sudah teecu katakan bahwa teecu akan melakukan apa saja yang Suhu perintahkan,� kata anak itu dengan sikap bersungguh-sungguh.

Demikianlah, sejak hari itu, Cin Po menjadi murid Pat-jiu Pak-sian dan tinggal di rumah besar itu.

Dia bekerja dengan rajin sekali, mengerjakan semua kebutuhan gurunya.

Dan diapun mulai dilatih ilmu silat tinggi oleh kakek itu, terutama sekali latihan untuk menghimpun tenaga sin-kang tingkat tinggi.

Oleh karena Cin Po memang sudah memiliki dasar-dasar yang baik berkat gemblengan ibunya dan kakek gurunya dan memiliki bakat yang luar biasa, tulang kuat dan baik, maka dia dapat menyerap semua ilmu yang diajarkan kepadanya dengan mudah.

Melibat betapa bakat yang ada pada muridnya ini jauh melebihi bakat yang terdapat pada mendiang puteranya, hati Pat-jiu Pak-sian segera terobati setelah kematian puteranya.

Apa lagi Cin Po anaknya penurut dan taat sekali sehingga dia merasa semakin sayang kepadanya.

Sang waktu melesat lewat melebihi anak panah cepatnya.

Kalau orang tidak memperhatikan, maka waktu melesat dengan amat cepatnya sehingga tanpa terasa lagi hari-hari, bulan-bulan, bahkan tahun demi tahun terlewat begitu saja tanpa dirasakan lagi.

Namun, apabila kita memperhatikan jalannya waktu, misalnya kita sedang menanti datangnya seseorang yang kita harap-harapkan, satu jam rasanya seperti sehari, sehari seperti sebulan dan sebulan seperti setahun!

Kalau kita teringat masa lalu, betapa cepatnya semua peristiwa itu terjadi, peristiwa puluhan tahun seolah hari kemarin saja terjadi.

Tanpa merasa orang-pun makin hari makin menjadi tua dimakan usia, seperti perjalanan matahari, tanpa terasa.

Dari pagi tahu-tahu sudah senja hari dan sebentar lagi tenggelam.

Maka, setiap orang perlu meneliti, dalam kurun waktu hidup yang tidak lama ini, apa saja yang sudah dilakukan demi diri sendiri, demi keluarga, demi orang lain, demi bangsa dan negara dan dunia?

Ataukah kita hidup hanya untuk sekedar hidup lalu mati, tiada bedanya dengan semua mahluk lain?

Lalu apa artinya manusia dianggap sebagai mahluk tertinggi martabat dan harga dirinya kalau selama hidupnya sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kemanusiaan dan dunia, kalau hidupnya hanya menunggu mati saja, sementara itu bahkan menyebar benih-benih kejahatan belaka?

Waktu terbang lalu dengan cepatnya dan empat-lima tahun telah lewat sejak Cin Po tinggal bersama Pat-jiu Pak-sian di rumah kakek itu.

Siang malam dia digembleng oleh kakek itu yang amat menyayanginya karena Cin Po dianggap sebagai pengganti puteranya yang telah meninggal dunia.

Dalam waktu lima tahun itu, Cin Po menerima pelajaran ilmu silat, menghimpun tenaga sakti, dan sebagian besar ilmu Pat-jiu Pak-sian telah diresapinya sehingga dalam usianya yang baru limabelas tahun, masih perjaka remaja, Cin Po telah menjadi seorang ahli silat yang pandai bukan main.

Pat-jiu Pak-sian yang amat menyayang muridnya yang dianggap sebagai pengganti puteranya ini telah mengajarkan ilmu pedang Hwi-sin-kiam-sut (Ilmu Pedang Sakti Api), dan Pat-jiu Sin-kun (Silat Sakti Tangan Delapan).

Juga pemuda ini telah diajar menghimpun tenaga sin-kang sehingga dia memiliki tenaga yang kuat sekali, dan gerakan lincah karena gin-kangnya juga sudah mencapai tingkat tinggi.

Pendeknya, sukar dicari seorang pemuda limabelas tahun yang sehebat itu kepandaiannya.

Dan kini, dalam usia limabelas tahun Cin Po sudah kelihatan dewasa, bukan saja dalam sikap dan pembawaan, juga tubuhnya sudah seperti seorang dewasa.

Tinggi tegap, dengan wajah yang sangat gagah.

Namun, sampai usia limabelas tahun dia masih setia kepada pesan ibunya, selalu mengenakan pakaian putih sehingga dia kelihatan sederhana sekali.

Biarpun gurunya seorang yang dapat disebut tidak kekurangan sesuatu, dan kalau dia menghendaki dia dapat minta dibelikan kain yang halus, namun Cin Po tidak menghendaki demikian.

Dia tetap sederhana dan pakaiannya yang putih itu terbuat dari kain kasar saja dengan potongan sederhana.

Dan gurunya juga tidak perduli karena Pat-jiu Pak-sian sendiri seorang yang sederhana dalam hal berpakaian.

Pada hal dia seringkali menghadap Kaisar Khi-tan!

Bahkan di waktu menghadap sekalipun, pakaiannya juga biasa, jubah yang longgar, hanya bersih akan tetapi sama sekali tidak mewah.

Pada suatu hari Pat-jiu Pak-sian memanggilnya menghadap, gurunya berkata, �Cin Po, minggu depan Kaisar akan mengadakan pemilihan perwira-perwira muda yang baru.

Nah, engkau boleh memasuki pemilihan perwira itu.� �Akan tetapi suhu.

Teecu tidak ingin menjadi perwira?

Teecu ingin bebas seperti Suhu.� �Aku mengerti maksudmu.

Akupun tidak sudi terikat menjadi pembesar atau pejabat, akan tetapi ini hanya untuk menambah pengalamanmu saja.

Kalau engkau kebetulan terpilih, dan engkau merasa suka menjadi perwira, engkau boleh mencari jasa dan siapa tahu engkau akan menjadi seorang panglima besar.

Berarti engkau akan mengangkat namaku, Cin Po.� Akhirnya Cin Po menurut nasihat gurunya dan ikut memasuki sayembara atau ujian yang diadakan oleh Kaisar kerajaan Khi-tan untuk memilih perwira-perwira baru.

Ketika diadakan ujian kemahiran menunggang kuda dan memanah, kepandaian Cin Po biasa saja akan tetapi dia dapat lulus.

Akan tetapi ketika diadakan ujian kepandaian perkelahian adu ilmu silat, tidak ada peserta sayembara yang dapat menandinginya, bahkan pengujinya sendiri kalah olehnya!

Tentu saja dia mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian itu dan serta merta diterima menjadi seorang perwira muda.

Para panglima seolah berebutan untuk menarik dia dalam pasukan mereka karena mempunyai seorang perwira pembantu selihai pemuda itu amatlah menguntungkan.

Akhirnya, atas perkenan kaisar, Panglima Can berhasil memenangkan perebutan itu dan Cin Po diperbantukan dalam pasukannya.

Akan tetapi, seminggu kemudian, Panglima Can mendapat tugas untuk memerangi perbatasan barat dengan kerajaan Hou-han.

Perbatasan ini diperebutkan antara kerajaan Khi-tan dan kerajaan Hou-han, maka kaisar lalu memerintahkan Panglima Can membawa pasukannya untuk melakukan pembersihan di sekitar perbatasan barat itu.

Cin Po tentu saja terbawa.

Sebelum berangkat dia menghadap Suhunya, Suhunya memberi nasihat kepadanya, �Nah sekaranglah saatnya engkau membuat jasa besar, Cin Po.

Bunuh pihak musuh sebanyak mungkin.

Panglima Can tentu akan mencatat jasamu dan engkau akan memperoleh kenaikan pangkat dengan cepat.� Di dalam hatinya Cin Po meragu.

Mengapa dia harus bertempur membela bangsa Khi-tan dan membunuhi orang Hou-han?

�Akan tetapi, Suhu.

Teecu sama sekali tidak ada permusuhan dengan orang-orang Hou-han.

Bagaimana teecu harus membunuhi mereka?� �Anak bodoh.

Di dalam perang mana ada permusuhan pribadi?

Yang bermusuhan adalah pemerintah melawan pemerintah, kerajaan melawan kerajaan.

Adapun para perajuritnya hanya membela kerajaan masing-masing di mana dia bekerja.

Dalam perang, yang ada hanya dua hal, membunuh atau dibunuh.

Lebih baik membunuh dari pada dibunuh, bukan?� Cin Po hanya mengangguk walaupun di dalam hatinya masih merasa bimbang harus membunuhi orang yang sama sekali tidak mempunyai kesalahan apapun terhadap dirinya.

Kalau jasa dan kehormatan yang dicari maka berarti dia membunuhi orang untuk mendapatkan jasa dan kedudukan!

Betapa bedanya ini dengan pelajaran yang dahulu diterimanya dari kakek gurunya, ketua Thian-san-pang.

Kakek gurunya selalu mengatakan bahwa mempelajari ilmu silat adalah untuk menghadapi kejahatan, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, sama sekali bukan untuk membunuh orang yang tidak berdosa, apapun alasannya.

Namun, dia telah mengikuti ujian, dan telah diangkat menjadi perwira, maka dia tidak dapat mengelak lagi.

Aksi pembersihan yang dilakukan Panglima Can di sepanjang perbatasan Hou-han itu bagi Cin Po tidak lebih dari perampokan dan pembantaian rakyat pedusunan yang tidak tahu apa-apa.

Memang terjadi pertempuran kecil ketika sepasukan Hou-han mempertahankan diri.

Dan dalam pertempuran ini diapun terpaksa ikut bertempur dan merobohkan banyak perajurit Hou-han karena dia tahu bahwa yang ada hanya membunuh atau dibunuh.

Akan tetapi dia tidaklah haus darah, tidak sembarang membunuh, hanya kalau dia diserang dia merobohkan penyerangnya.

Akan tetapi ketika dia memimpin seregu pasukan melakukan pengejaran, regunya itu ketika tidak menemukan musuh, lalu menyerbu pedusunan dan melakukan perampokan, pembunuhan dan bahkan perkosaan terhadap gadis-gadis dusun.

Hal itu membuat Cin Po marah bukan main.

Dengan pedangnya dia membunuhi mereka yang melakukan perkosaan itu dan melihat ini, anak buahnya memberontak dan dia dikeroyok limapuluh orang perajuritnya sendiri.

Cin Po mengamuk dan para perajurit itu roboh satu demi satu dan selebihnya melarikan diri.

Setelah mengamuk itu, barulah Cin Po menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan besar terhadap pasukan Khi-tan.

Seperti mimpi dia melihat betapa ratusan penduduk dusun berlutut menghaturkan terima kasih kepadanya.

Dan dia membayangkan betapa dia kemudian ditangkap oleh pasukan kerajaan Khi-tan dan tentu akan dijatuhi hukuman mati.

Takkan ada yang mampu menolongnya, bahkan gurunya sendiri juga tidak, karena gurunya juga tentu akan ikut membantu kerajaan Khi-tan untuk menangkap dan menghukumnya sebagai seorang pengkhianat!

Bayangan ini membuat dia menjadi ketakutan dan dia lalu melarikan diri, bukan kembali ke timur melainkan terus lari ke barat, memasuki daerah pedalaman kerajaan Hou-han!

Dari uang bekalnya, Cin Po membeli beberapa stel pakaian putih dan membuang pakaian seragam perwiranya.

Kemudian dia melanjutkan perjalanan dengan memggendong buntalan pakaian.

Bahkan pedangnya jaga dibuang, karena pedang itu merupakan ciri khas perwira Khi-tan, yang bentuknya agak melengkung.

Baca Juga: Pendekar Bodoh 6

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert