Pendekar Baju Putih 2

Eps 2 Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo.

Kini dia nampak sebagai seorang pemuda sederhana, pemuda petani biasa.

Nampaknya sebagai seorang yang masih sangat muda, masih remaja dan sederhana, dan tidak akan ada orang percaya bahwa baru saja dia telah membunuh lebih dari tigapuluh orang perajurit Khi-tan yang melakukan perkosaan dan perampokan.

Takkan ada yang menyangka bahwa pemuda remaja ini telah menguasai ilmu silat sakti seperti Pat-jiu-sin-kun dan ilmu pedang Hwi-sin-kiam-sut, menguasai pula tenaga sin-kang dan gin-kang yang tinggi.

Pada suatu hari tibalah dia di luar sebuah dusun di kaki Bukit Menjangan.

Dari jauh terdengar olehnya suara orang-orang menangis dan ketika dia mempercepat langkahnya, ternyata yang menangis itu adalah serombongan orang dusun yang sedang mengantar jenazah ke tanah kuburan.

Yang mengherankan adalah banyaknya peti mati yang mereka pikul!

Ada empat orang yang sekaligus tewas dan empat buah peti mati itu kelihatan kecil-kecil, tanda bahwa yang tewas adalah anak-anak.

Yang menangis adalah keluarga empat orang anak yang mati itu dan suasananya sungguh menyedihkan.

Hal ini mengingatkan Cin Po akan kematian yang diderita oleh su-kongnya dan para anggauta Thian-san-pang ketika dibantai oleh orang-orang Tok-coa-pai.

Pada suatu hari dia akan membalas dendam kematian para anggauta Thian-san-pang itu.

Melihat iring-iringan itu, dia tertarik sekali dan dia mengikuti dari belakang, melihat betapa empat orang anak yang berada dalam empat buah peti mati itu dikubur.

Ketika orang merubung penguburan itu, dia duduk menyendiri dengan hati yang ikut bersedih.

Dan teringatlah dia akan keadaan perang.

Baru saja dia meninggalkan pasukan, meninggalkan perang di mana manusia saling bunuh membunuh.

Tak terhitung banyaknya manusia yang dibunuh atau membunuh, juga tidak saling mengenal, bahkan tidak ada urusan pribadi antara mereka.

Betapa kejamnya perang dan dia membayangkan betapa keluarga yang ditinggal si mati juga akan bertangisan seperti orang-orang yang menguburkan empat orang anak itu.

Bahkan menangisi kematian yang mayatnya saja tidak dapat mereka lihat dan rawat!

Seorang laki-laki tua yang ikut melayat melihat Cin Po dan dia merasa heran karena tidak mengenal pemuda itu.

Bukan orang sedusun.

Maka dia mendekati dengan heran.

Cin Po juga cepat bangkit dan memberi hormat kepada laki-laki tua itu.

�Paman, apakah di dusun paman berjangkit penyakit menular maka sekaligus jatuh korban empat orang anak?� tanya Cin Po.

Kakek itu menghela napas panjang dan duduk di atas batu, memberi isyarat kepada Cin Po untuk duduk juga.

�Sudah kuduga,� katanya, �Engkau tentu bukan orang dusun kami, sobat muda.

Maka engkau tidak tahu.

Bukan penyakit yang berjangkit di kampung kami, akan tetapi...

siluman...� Laki-laki tua itu menoleh ke kanan kiri dan kelihatan ngeri.

�Dalam waktu sebulan ini sudah ada tujuh orang anak-anak menjadi korban.� Tentu saja Cin Po terkejut bukan main.

Dari hasil pendidikan ibunya dan su-kongnya, dia tahu bahwa penduduk dusun amat percaya akan adanya siluman-siluman.

�Sebetulnya belum pernah ada yang melihat siluman,� demikian kata kakeknya, �akan tetapi manusia yang jahat memang kadang ada yang lebih kejam dari pada siluman manapun yang terdapat di dalam dongeng.� Dari keterangan kakeknya itu dapat disimpulkan bahwa kalau toh ada siluman maka siluman itu tentulah manusia yang amat jahat.

�Bagaimana ceritanya, paman?

Apa yang terjadi dengan adik-adik kecil itu?� Kembali orang itu memandang ke sekeliling, agaknya takut kalau ada yang mendengar ceritanya.

�Mereka semua menderita luka yang sama, di leher dan di kepala berlubang!� Kakek itu menggigil.

�Mengerikan sekali!

Dan selain yang tujuh orang anak itu, sekarang masih ada dua lagi yang belum pulang.� �Bagaimana mereka bisa terjatuh ke tangan siluman?� �Mereka diambil dari rumah masing-masing pada malam hari.

Orang-orang tidak melihat yang mengambilnya, hanya ada bayangan hitam berkelebat dan terbang ke atas genteng dan anak itupun hilang.� �Dan mereka ditemukan di mana?� �Di luar hutan, di lereng Bukit Menjangan.� Kakek itu lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Cin Po.

�Sudah, anak muda, aku sudah terlalu banyak bicara.� Dan dia bergegas kembali ke kelompoknya.

Di tengah kelompoknya barulah dia merasa aman.

Cin Po pergi dari situ.

Dia mengambil keputusan pasti.

Agaknya yang dianggap siluman itu tentu orang jahat seperti yang diterangkan mendiang su-kongnya.

Akan tetapi kalau orang jahat, untuk apa membunuhi anak-anak kecil.

Dan luka-luka di leher dan kepala berlubang itu, untuk apa?

Dia teringat akan cerita guru pertamanya, yaitu Pat-jiu Pak-sian bahwa di dunia kang-ouw terdapat banyak orang yang mempelajari ilmu-ilmu gaib, ilmu-ilmu setan yang amat berbahaya, termasuk ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun.

Dan untuk mempelajari ilmu ini, kadang orang menggunakan cara yang aneh-aneh dan keji.

Pat-jiu Pak-sian biarpun seorang datuk pula, tidak pernah sudi menggunakan cara-cara seperti itu, maka dia bercerita kepada muridnya dan mencela perbuatan semacam itu.

Dia harus menyelidiki peristiwa ini, dan kabarnya masih ada dua orang anak lagi yang belum pulang.

Siapa tahu dia akan dapat menyelamatkan dua orang anak itu.

Bukit Menjangan menjulang di depannya.

Dia lalu berangkat ke sana dan setelah tiba di luar hutan dia terus menyusup memasuki hutan itu.

Setelah tiba di tengah hutan, dia melihat sebuah pondok dan tiba-tiba terdengar tangis anak-anak dari belakang pondok.

Cepat dia berlari ke sana dan melihat seorang pemuda sedang mengempit tubuh dua orang anak kecil, hendak dibawa masuk ke dalam pondok.

�Lepaskan anak-anak itu!� bentak Cin Po menghadang pemuda itu agar jangan memasuki pondok.

Dan dia terheran-heran melihat seorang pemuda berusia duapuluh tahunan yang wajahnya tampan sekali dan gagah, pakaiannya juga pesolek dan rapi, mengempit seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang usianya kurang lebih tujuh tahun.

Dua orang anak itu menangis ketakutan.

Melihat tiba-tiba muncul seorang pemuda remaja di depannya dan membentaknya, pemuda itu terkejut dan terheran, lalu tersenyum dan dia melepaskan dua orang anak itu.

Dua orang anak kecil itu agaknya menyadari bahwa pemuda remaja itu hendak menolong mereka, maka mereka berdua lalu berlari dan bersembunyi di belakang Cin Po.

�Mau kau apakan dua orang anak itu?� bentak Cin Po.

�Hendak kau bunuh seperti tujuh orang anak yang lain?� Ditegur demikian, pemuda tampan itu mengerutkan alisnya dan sinar matanya mencorong marah.

�Apakah engkau seorang gila yang sudah bosan hidup, mencampuri urusan kami?� Mendengar ini, Cin Po menjadi waspada.

Agaknya pemuda ini tidak sendirian, dan tentu keadaan makin berbahaya.

Tadi melihat cara pemuda itu mengempit dua orang bocah sambil berlari menunjukkan bahwa pemuda itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi dan akan merupakan lawan tangguh, apa lagi kalau masih ada temannya.

�Aku tidak hendak mencampuri urusan siapapun juga.

Akan tetapi kalau ada siluman yang membunuhi anak-anak kecil entah untuk keperluan apa, aku harus mencegahnya!� �Jahanam, sombong amat engkau.

Siapakah engkau, jangan mati tanpa nama!� Pemuda itu membusungkan dada.

�Engkau agaknya tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan.

Aku adalah Kam Song Kui yang berjuluk Kang-siauw Taihiap (Pendekar Besar Suling Baja).

Hayo cepat pergi dan tinggalkan dua orang anak itu kalau engkau belum bosan hidup!� Manusia yang sombong, pikir Cin Po.

Akan tetapi agaknya kesombongannya bukan hanya bualan, melihat betapa tangan itu kini telah memegang sebatang suling yang mengkilat, agaknya baja itu disepuh perak.

Sebatang suling yang panjangnya seperti pedang dan nampak indah.

Sungguh cocok dengan orangnya yang tampan.

Sayang ketampanan dan kegagahan pemuda ini agaknya palsu kalau benar dia yang membunuhi anak-anak itu.

�Kam Song Kui, namaku Sung Cin Po, dan aku tidak akan memusuhi siapapun juga.

Akan tetapi aku minta engkau membebaskan dua orang anak ini.

Mereka adalah anak-anak yang tidak berdosa, engkau mau apakan mereka?

Dan tujuh orang anak yang tewas dengan leher dan kepala berlubang itu, apakah itu perbuatanmu?� �Sung Cin Po, agaknya engkau seorang pemuda kang-ouw juga.

Engkau tentu tahu bahwa tidak ada kematian tanpa sebab, dan tidak ada pembunuhan tanpa sebab.

Guruku sedang mempelajari ilmu, maka membutuhkan anak-anak itu.

Nah, aku sudah berterus terang, kalau engkau tetap menghalangiku, berarti engkau akan mati di sini.

�Sudah jelas aku menghalangi.

Selama aku masih ada di sini, jangan harap engkau akan dapat membunuh dua orang bocah yang tidak berdosa ini!� Pemuda tampan itu menjadi marah sekali.

�Keparat, engkau memang sudah bosan hidup!� Dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyerang dengan hebatnya, menggunakan sulingnya yang mengkilap itu dipukulkan ke arah kepala Cin Po.

Namun, Cin Po yang sudah siap dan tidak berani memandang rendah lawan, sudah mengelak dengan cepat ke samping dan kakinya mencuat dalam sebuah tendangan ke arah lambung lawan.

Kam Song Kui yang berjuluk Kang-siauw Taihiap itupun dapat mengelakkan diri dari tendangan itu dan menyerang lagi.

Karena maklum bahwa lawannya lihai, Cin Po segera memainkan jurus-jurus dari ilmu silat Pat-jiu-sin-kun.

Ilmu silat tangan kosong dari Pat-jiu Pak-sian ini memang hebat sekali.

Terutama gerakan kedua tangan itu sedemikian cepatnya sehingga seolah tangan itu berubah menjadi delapan buah, sesuai dengan nama ilmunya, Pat-jiu-sin-kun (Silat Sakti Tangan Delapan)!

Dan Kam Song Kui terkejut bukan main, dia menjadi bingung melihat lawannya yang masih remaja itu bersilat sedemikian cepatnya sehingga tahu-tahu pundaknya terkena tamparan Cin Po, membuatnya terhuyung.

Pada saat itu dari dalam pondok keluar seorang kakek berusia enampuluh tahun yang bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dan kepalanya bersorban seperti orang Sheik.

�Ada apakah, Song Kui?� tanya orang tua ini kepada pemuda bersuling itu, sambil memandang kepada Cin Po yang telah membuat lawannya terhuyung.

�Jahanam ini melarang teecu membawa dua orang anak itu, Suhu!� kata Song Kui sambil menunjuk ke arah dua orang anak yang bersembunyi di belakang Cin Po.

Kiranya si sorban itu adalah guru Kam Song Kui, guru yang sedang mempelajari ilmu aneh yang mengorbankan banyak anak kecil!

�Heh, bocah gila, kau berani menghalangi kami?� Berkata demikian, kakek itu lalu mencengkeram dengan tangan kanannya ke arah kepala Cin Po.

Gerakan tangannya demikian cepatnya sehingga Cin Po terkejut dan cepat dia melompat ke belakang.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tangan itu mulur panjang dan tetap mengancam kepalanya dengan jari-jari tangan yang panjang itu membentuk cakar setan.

Kalau kepalanya kena dicengkeram jari-jari itu, akan celakalah dia!

Akan tetapi karena dia tidak dapat melompat lagi maka dia miringkan kepalanya dan mengangkat tangannya menangkis.

�Dukkk!� Tangannya terpental dan cengkeraman itu mengenai pundaknya!

Cin Po meronta akan tetapi sia-sia belaka, karena cengkeraman itu seperti cengkeraman baja kuatnya, dan sebuah jari tangan menotoknya, membuatnya tak mampu bergerak lagi!

Akan tetapi tangan yang mencengkeram pundaknya itu kini lalu meraba-raba, menekan sana sini dan kakek itu berseru, �Hebat!

Anak ini memiliki tulang yang hebat, tubuh yang sehat sekali.

Mendapatkan tulang sumsumnya sama dengan mendapatkan tulang sumsum selusin kanak-kanak!

�Ha, aku beruntung sekali mendapatkan dia.

Song Kui, kini tidak perlu lagi engkau mencari anak kecil.

Pemuda remaja ini saja sudah mencukupi kebutuhanku akan sumsum tulang yang baik dan kuat.� Dan kakek itu tertawa terbahak saking girangnya.

Tentu saja Cin Po terkejut sekali dan bergidik ngeri.

Kiranya anak-anak yang mati itu diambil tulang sumsumnya dan kini dia menjadi pengganti anak-anak itu.

Akan diambil semua sum-sum dari tulangnya dan mungkin disedot semua darahnya!

Dia benar-benar berhadapan dengan manusia yang lebih pantas disebut siluman atau iblis!

Dia hendak mengerahkan tenaganya, namun sia-sia.

Totokan itu sedemikian ampuhnya sehingga dia tidak mampu menggerakkan tangan kaki sama sekali.

Tiba-tiba suara tawa itu berubah menjadi dual.

Ada suara tawa lain yang menggetarkan tempat itu, seolah menandingi suara tawa guru Song Kui.

Si sorban itu menjadi terkejut karena dari getaran suara tawa itu maklumlah dia bahwa ada orang pandai tertawa dan sengaja mengisi suara tawanya dengan khi-kang sehingga mengandung getaran yang sedemikian hebatnya.

Kakek bersorban itu adalah seorang datuk persilatan yang amat terkenal, terutama di dunia barat.

Dia berjuluk See-thian Tok-ong (Raja Racun Dunia Barat), seorang datuk sesat yang ditakuti orang.

Kini dia terkejut mendengar suara tawa itu, maka jelaslah bahwa orang yang tertawa itu juga bukan orang sembarangan.

Dan tahu-tahu di tempat itu telah muncul seorang kakek.

Seorang kakek yang pendek kecil, nampaknya lemah saja, berusia enampuluh tahunan dan pakaiannya kebesaran sehingga kedodoran, seperti pakaian seorang pendeta dengan jubah berlengan lebar.

Memang kakek ini bukan orang biasa.

Kalau See-thian Tok-ong merupakan seorang datuk dari barat, maka kakek kecil ini adalah seorang datuk dari selatan yang juga amat terkenal, berjuluk Nam-san Sianjin (Manusia Dewa Pegunungan Selatan).

Dan di sebelah kirinya berdiri seorang gadis berusia kurang lebih delapanbelas tahun yang cantik manis dan gagah.

Gadis ini adalah seorang di antara murid-muridnya yang bernama Souw Mei Ling.

Dari cara kedua orang itu muncul di situ tanpa diketahui dan tahu-tahu telah berada di situ saja sudah dapat dimengerti betapa lihainya guru dan murid itu.

Setidaknya mereka memiliki ginkang yang hebat sekali.

Dan dari suara tawanya, juga Nam-san Sianjin telah menunjukkan kekuatan sin-kangnya.

�Ha-ha-ha, kiranya Nam-san Sianjin si kecil yang muncul di sini.

Angin apa yang meniupmu dari selatan ke tempat kami ini, Sianjin!� �Angin baik yang meniupku ke sini, karena aku dapat memperingatkanmu akan tindakanmu yang keliru sama sekali dan akan membahayakan dirimu sendiri.� See-thian Tok-ong mengerutkan alisnya yang tebal hitam itu dan memandang dengan mata mencorong.

�Apa maksudmu!� �Kumaksudkan pemuda remaja itu.

Jangan jadikan dia sebagal korbanmu, Tok-ong, kalau engkau ingin selamat.� �Kenapa?

Apamukah pemuda ini?� �Bukan apa-apaku.� �Kalau bukan apa-apamu, lalu kenapa engkau melarangku?� �Tok-ong, apakah engkau tidak melihat ketika dia melawan muridmu tadi?� �Tidak, mengapa?� �Kalau engkau melihatnya, engkau akan tahu bahwa dia telah menggunakan jurus-jurus ilmu silat Pat-jiu-sin-kun.� �Ahh...?

Kau mau bilang bahwa dia itu murid Pat-jiu Pak-sian?� �Begitulah kenyataannya.

Aku tidak salah lihat, pemuda itu tentu murid Pat-jiu Pak-sian!� �Kalau begitu, kenapa?

Aku tidak takut kepada Pat-jiu Pak-sian!� �Ha-ha-ha, ho-ho!

Engkau tidak takut kepada Pat-jiu Pak-sian, diapun tidak takut kepadamu seperti juga aku tidak takut kepadamu.

�Ketahuilah, Pat-jiu Pak-sian adalah sahabatku.

Kalau aku melihat engkau hendak membunuh muridnya dan aku diam saja, sungguh aku merasa tidak enak kepadanya.

Karena itu Tok-ong, engkau boleh membunuh berapapun orang anak aku tidak perduli karena itu urusanmu, akan tetapi kau lihatlah mukaku, jangan bunuh murid Pat-jiu Pak-sian dan bebaskanlah dia.� �Enak saja kau bicara!

Aku mau membebaskan dia.

Kalau engkau sanggup mengalahkan aku!� �He-he-ha-ha!

Apa sukarnya mengalahkanmu?� Kakek kecil itu memainkan tongkat butut yang tadi dibawanya.

�Majulah!� See-thian Tok-ong menantang dan raksasa hitam ini mengeluarkan sebatang pedangnya yang melengkung, berwarna hitam agaknya mengandung racun berbahaya.

�Hati-hati menghadapi tongkat wasiatku!� Si kecil itu lalu mulai menyerang dan gerakannya hebat sekali.

Tubuhnya seperti tidak berpijak kepada tanah, demikian tinggi ilmunya meringankan tubuh sehingga tahu-tahu seperti terbang saja dia sudah melayang ke atas dan menyerang raksasa itu dengan tong-katnya.

Tongkat itu menusuk bertubi-tubi ke arah kedua mata See-thian Tok-ong sehingga raksasa bersorban ini terkejut bukan main.

Cepat dia memutar pedangnya untuk menangkis, akan tetapi kakek itu sudah melayang ke belakangnya dan menotok punggungnya.

Dia membalikkan tubuh dan pedangnya membuat gulungan sinar hitam untuk melindungi seluruh tubuhnya.

Harus diakui bahwa dalam hal kecepatan gerakan dan keringanan tubuh, dia kalah jauh dibandingkan Datuk Selatan ini.

�Mei Ling, bebaskan anak itu!� kata Nam-san Sianjin sambil terus menghujankan tusukan dan totokan kepada tubuh lawannya.

Souw Mei Ling melompat ke dekat Cin Po.

Melihat ini, Song Kui hendak menghalangi akan tetapi Mei Ling sudah mencabut pedangnya dan menyerang Song Kui.

Song Kui terkejut.

Serangan itu bukan main cepatnya dan pedang itu bagaikan seekor burung walet saja, ketika hendak ditangkis dengan sulingnya, sudah berubah arah membacok dari samping.

Diserang gencar dengan cepat, Song Kui terpaksa meloncat mundur dan kesempatan itu dipergunakan oleh Mei Ling untuk menotok Cin Po.

Harus diketahui bahwa selain amat lihai dalam hal gin-kang, Datuk Selatan itupun lihai dalam ilmu totok, maka muridnya pun lihai sehingga dalam dua kali totokan saja Cin Po telah berhasil dibebaskan dari totokan See-thian Tok-ong.

Begitu dibebaskan, Cin Po membantu gadis itu mengeroyok Song Kui yang menjadi kewalahan sekali.

Menghadapi Song Kui, Cin Po kembali memainkan Pat-jiu-sin-kun dan Song Kui sudah kewalahan, apa lagi di situ terdapat gadis yang ilmu pedangnya amat cepat itu.

Dia terdesak mundur.

�See-thian Tok-ong, hentikan perlawanan ini, kalau tidak muridmu tentu akan celaka di tangan muridku dan pemuda murid Pat-jiu Pak-sian itu,� kata Nam-san Sianjin.

Agaknya See-thian Tok-ong tahu diri dan tahu akan bahaya yang mengancam muridnya, maka diapun melompat mundur dan berseru, �Song Kui, lepaskan dia!� Song Kui juga melompat mundur dan guru dan murid itu kini hanya melihat saja ketika Nam-san Sian-jin bersama dua orang muda itu pergi dari situ tanpa tergesa-gesa.

Mereka maklum bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, pihak mereka yang akan menderita kerugian.

Biarpun See-thian Tok-ong belum tentu kalah oleh kakek kecil itu, akan tetapi muridnya tentu akan menderita kekalahan dikeroyok dua orang muda yang lihai itu.

Pula, kalau sampai kelak Nam-san Sianjin bersatu dengan Pat-jiu Pak-sian memusuhinya, See-thian Tok-ong merasa jerih juga.

�Locianpwe, saya Sung Cin Po menghaturkan terima kasih kepada locianpwe, karena kalau tidak ditolong, saya tentu akan menderita kematian yang amat mengerikan di tangan iblis-iblis itu.� �Ha-ha-ha, kau bilang mereka itu iblis?

Mereka bukan iblis, melainkan rajanya setan!

See-thian Tok-ong itu adalah datuk barat yang kejamnya melebihi iblis.

�Dan engkau tidak usah berterima kasih kepadaku, orang muda.

Katakan saja kepada gurumu, si botak Pat-jiu Pak-sian itu bahwa perhitungan di antara kami telah lunas.

�Dahulu pernah dia menolong seorang muridku yang akan terbunuh oleh Tung-hai Mo-ong.

Kini aku menolong muridnya yang akan terbunuh oleh See-thian Tok-ong.

Jadi sudah lunas, tidak ada lagi hutang menghutang budi antara dia dan aku.

Bahkan melihat engkau terpilih oleh See-thian Tok-ong untuk diambil sumsum tulangmu, aku menjadi tertarik.

Ke sinilah mendekat padaku!� Cin Po menurut dan dia mendekati kakek yaug tingginya hanya sepundaknya itu.

Kakek itu seperti yang dilakukan See-thian Tok-ong tadi, meraba-raba dan memencet-mencet bagian tubuhnya dan mengeluarkan decakan kagum.

�Pantas engkau dipilih oleh See-thian Tok-ong.

Aku juga suka memilihmu, akan tetapi bukan untuk kuambil sumsum tulangmu, melainkan untuk kuajarkan beberapa ilmu silat karena engkau bertulang baik dan berbakat sekali.

Begaimana?� Cin Po memang sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk kembali kepada gurunya, Pat-jiu Pak-sian.

Dia sudah memberontak terhadap pasukan Khi-tan, kalau gurunya mendengar tentu akan marah sekali dan mungkin tidak akan mengampuninya.

Maka, mendengar tawaran kakek kecil itu, yang memiliki murid demikian cantik dan yang telah menolongnya, dia merasa girang dan segera dia menjatuhkan diri berlutut.

�Kalau suhu berkenan mengambil murid teecu, tentu teecu merasa berterima kasih dan berbahagia sekali,� katanya.

�Ha-ha-ha-ho-ho, ingin kulihat bagaimana muka Pat-jiu Pak-sian kalau melihat muridnya mengangkat guru kepadaku.

Cin Po, mulai sekarang engkau menjadi muridku, dan ini adalah Mei Ling suci mu.� �Suci!� Cin Po memberi hormat kepada gadis manis itu.

Mei Ling tersenyum manis.

�Biarpun engkau menjadi suteku, akan tetapi aku sendiri belum tentu akan dapat menandingimu, sute.� �Ah, suci terlalu memuji.

Aku yang masih harus mendapatkan banyak petunjuk dari suci!� kata Cin Po merendah dan gadis itu merasa senang sekali dengan sikap sutenya itu.

Alangkah berbeda sikap anak ini dengan para saudara seperguruannya, yang rata-rata karena mengandalkan nama besar guru mereka, bersikap sombong dan seolah-olah tidak ada yang akan mampu menandingi mereka.

Demikianlah, mulai hari itu Cin Po menjadi murid Nam-san Sianjin.

Berbeda dengan Pat-jiu Pak-sian yang pro Khi-tan, dan See-thian Tok-ong yang tinggal di daerah kerajaan Hou-han dan juga mempunyai kecondongan membela Hou-han, sebaliknya Nam-san Sianjin yang tinggal di (Lanjut ke

Jilid 04) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 daerah kerajaan Nan-cao di selatan berpihak kepada kerajaan Nan-cao.

Nam-san Sianjin tinggal di pegunungan Tai-liang-san, yaitu di perbatasan antara kerajaan Nan-cao dengan kerajaan Sung.

Biarpun Nam-san Sianjin tinggal di daerah kerajaan Nan-cao dan di dalam hatinya berpihak kepada kerajaan ini, namun dia tidak aktip seperti Pat-jiu Pak-sian yang pro Khi-tan, atau See-thian Tok-ong yang pro Hou-han.

Kakek kecil ini seperti yang acuh saja, walaupun seringkali dia membantu pasukan Nan-cao kalau bentrok dengan pasukan Sung di perbatasan, dan sudah beberapa kali kakek ini membasmi bajak laut yang merajalela di pantai laut selatan.

Kerajaan Nan-cao mengakuinya sebagai seorang tokoh kang-ouw yang baik, dan bahkan beberapa kali Kaisar telah mengirim utusan untuk membujuknya agar menduduki jabatan membantu pemerintah, namun selalu ditolak halus oleh kakek ini.

Juga tidak seperti para datuk lainnya yang membatasi diri dalam menerima murid, Nam-san Sianjin mempunyai beberapa orang murid.

Akan tetapi murid utamanya hanya ada dua orang, yaitu Souw Mei Ling yang disayangnya seperti anak sendiri, dan yang kedua adalah seorang suheng dari Mei Ling bernama Kim Pak Hun.

Hanya dua orang murid inilah yang tinggal bersama kakek itu di rumahnya yang berada di satu di antara puncak-puncak bukit Tai-liang-san.

Murid-murid lain tinggal di luar dan sebagian besar sudah tamat belajar.

Akan tetapi tidak ada di antara mereka yang tingkat kepandaiannya dapat menyamai tingkat kepandaian Souw Mei Ling atau Kim Pak Hun.

Cin Po diajak naik ke Tai-liang-san.

Di sebuah puncak terdapat sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal Nam-san Sianjin dan mereka bertiga disambut oleh seorang pemuda tinggi besar berusia duapuluh tahun.

Pemuda itu adalah Kim Pak Hun, seorang pemuda yang berwajah, tampan dan gagah.

Ketika Pak Hun melihat betapa suhu dan sumoinya pulang bersama seorang pemuda yang berperawakan gagah, dia mengerutkan alisnya karena tidak mengenalnya.

Suhunya setelah menerima penghormatannya langsung masuk rumah, maka dia bertanya kepada Souw Mei Ling.

�Sumoi, siapakah sobat ini?� �Dia bernama Sung Cin Po, murid suhu yang baru, jadi dia adalah sute kita, suheng.

Sute, ini adalah suheng Kim Pak Hun.

Suhu tinggal di sini bersama kami berdua, adapun para murid lain tinggal di luar.

Perkenalkan, sute.� Cin Po segera memberi hormat kepada Pak Hun dan berkata, �Suheng, aku mengharapkan banyak petunjukmu.� �Suheng, biarpun sute ini murid baru, akan tetapi dia lihai sekali.

Dia pernah menjadi murid Pat-jiu Pak-sian yang terkenal di utara itu.

Kepandaiannya tidak kalah dengan kita, setidaknya berimbang,� puji Mei Ling.

Pak Hun mengerutkan alisnya.

�Ah, begitukah?

Ingin sekali aku menguji kepandaianmu, sute.� Alisnya yang berkerut menunjukkan bahwa hatinya merasa tidak senang mendengar pujian Mei Ling terhadap sute yang baru itu.

�Aku tidak berani, suheng.� �Kenapa tidak berani, aku hanya akan memberi petunjuk kepadamu.

Bukankah kau katakan tadi mengharapkan petunjuk dariku, sute?� Pak Hun mendesak.

Mei Ling melerai.

�Suheng, sute belum pernah belajar sejuruspun ilmu silat kita, bagaimana engkau akan mengujinya?

Kalau engkau memukul sute, tentu Suhu akan menjadi marah sekali kepadamu.

Pula, sute masih remaja, usianya baru limabelas tahun dan sudah sepantasnya kalau engkau memberi petunjuk kepadanya, bukan menguji ilmunya yang sudah ada.� Mendengar bahwa Cin Po baru berusia limabelas tahun, kemarahan Pak Hun mereda.

Sebetulnya kemarahannya adalah terutama sekali karena cemburu.

Dia tidak senang Mei Ling memuji pemuda lain.

�Engkau baru berusia limabelas tahun sute?

Akan tetapi tubuhmu seperti seorang pemuda dewasa saja,� katanya agak ramah karena dia tidak merasa perlu cemburu kepada seorang berusia limabelas tahun, masih kanak-kanak!

Demikianlah, mulai hari itu Sung Cin Po mendapatkan guru baru.

Memang peruntungannya baik sekali.

Pertama kali dia digembleng ibunya sendiri dan kakek gurunya ketua Thian-san-pang, kemudian selama lima tahun kurang dia menerima gemblengan Pat-jiu Pak-sian, dan kini dia menjadi murid Nam-san Sianjin.

Dari Pat-jiu Pak-sian dia sudah menerima ilmu-ilmu silat yang tinggi, di antaranya Pat-jiu-sin-kun dan ilmu pedang Hwi-sin-kiam-sut, dan sekarang dia menerima gemblengan dalam ilmu gin-kang yang luar biasa dari kakek kerdil itu.

Nam-san Sianjin memang seorang ahli gin-kang yang sukar dicari tandingnya di masa itu.

Cin Po dilatih gin-kang sehingga kini dia dapat bergerak lebih cepat lagi.

Dengan penambahan tenaga gin-kang dengan sendirinya ilmu-ilmu silat yang telah dia kuasai menjadi lebih ampuh lagi karena digerakkan dengan tubuhnya yang ringan dan gerakan yang amat cepatnya.

Selain ilmu gin-kang, diapun diajari ilmu totokan maut yang biasanya menggunakan tongkat atau jari tangan.

Nama ilmu ini Tiam-hiat-tung (Tongkat Penotok Jalan Darah) dapat dipergunakan dengan tongkat atau hanya dengan jari tangan saja.

Juga dia dilatih ilmu meringankan tubuh yang disebut Coan-hong-hui (Terbang Menembus Angin).

Tiga tahun lamanya Cin Po berlatih dengan giat sekali sehingga kepandaian silatnya meningkat dengan amat cepatnya.

Memang dia bertulang baik dan berbakat sekali sehingga apa yang orang lain pelajari selama sepuluh tahun, dapat dikuasainya selama tiga tahun saja.

Kini usianya sudah delapanbelas tahun, sudah dewasa!

Perubahan dirinya dari remaja menjadi dewasa agaknya mempengaruhi sikap Mei Ling kepadanya.

Mei Ling memang lebih tua darinya, usianya sudah dua puluh satu tahun, akan tetapi karena tubuh Cin Po jauh lebih besar, maka kalau tidak diperhatikan, Cin Po nampak lebih tua.

Dan kini terjadi perubahan dalam sikap Mei Ling.

Ia tidak lagi memandang Cin Po sebagai kanak-kanak dan sikapnya lebih akrab dengan sutenya ini karena memang Cin Po pandai membawa diri.

Dan hanya Mei Ling lah yang suka menemani dia berlatih dan memberi petunjuk-petunjuk.

Kadang-kadang keduanya berlomba lari mempergunakan ilmu Coan-hong-hui sehingga tubuh mereka melesat seperti kilat cepatnya menembus angin.

Biarpun selalu Cin Po masih kalah cepat, namun tidak begitu jauh selisihnya.

Juga dalam ilmu silat menotok jalan darah, selalu Cin Po masih terdesak dan dia yang lebih banyak menerima totokan jari tangan gadis itu, yang tentu saja tidak menotok terus, melainkan hanya mencolek atau meraba saja.

Demikian pula Cin Po, kalau sempat menyerang diapun hanya mencolek saja dengan jarinya sehingga mereka berdua itu seolah saling colek dan saling raba!

Namun, kalau di pihak Mei Ling hal ini membuat mukanya kemerahan dan terasa panas, bagi Cin Po biasa saja.

Ketika mencolek atau meraba tubuh gadis itu, dia tidak merasa sesuatu di dalam hatinya.

Pada hal dia tidak tahu bahwa colekkannya membuat Mei Ling berdebar-debar dan salah tingkah sehingga permainan silatnya menjadi kacau.

Dan ia seolah membiarkan dirinya lebih sering diraba atau dicolek oleh jari tangan Cin Po.

Hubungan akrab kedua orang muda ini tidak terlepas dari pandang mata Kim Pak Hun.

Hatinya menjadi panas sekali.

Sekarang Cin Po tidak boleh dibilang kanak-kanak lagi, melainkan seorang pemuda dewasa yang sudah mulai nampak membayang kumis melintang di bawah hidungnya!

Sore hari itu dia mendengar suara mereka berlatih di dalam taman bunga dan kadang dia mendengar kekeh Mei Ling yang kegelian karena tubuhnya teraba.

Ketika Pak Hun mengintai, kedua telinganya terasa berdengung dan seluruh wajahnya menjadi merah dan terus panas.

Hatinya menjadi panas sekali melihat kedua orang muda itu saling colek seperti itu!

Kenapa Mei Ling tidak pernah mau kalau dia yang mengajak berlatih Tiam-hiat-tung?

Kenapa sekarang dengan Cin Po saling colek, bahkan gadis itu lebih banyak membiarkan dirinya diraba, dengan gerakan yang seolah sengaja diperlambat?

Dan kekeh tawa itu!

Pak Hun menjadi marah bukan main.

Rasa cemburu meracuni hatinya, menjadi api yang membakar hatinya sehingga dia tidak dapat menahan dirinya lagi.

Dia segera menghampiri mereka dan kemunculannya menghentikan Cin Po dan Mei Ling yang seolah-olah sedang bercanda dalam latihan yang saling colek itu.

Melihat suhengnya, Cin Po bersikap biasa saja karena memang tadipun dia tidak terpengaruh sekali akan colekan-colekan itu.

Berbeda dengan Mei Ling yang menjadi merah mukanya seolah tertangkap basah sedang bermesraan dengan Cin Po.

�Bagus!� kata Kim Pak Hun.

�Ilmu yang kaupelajari dari Suhu sudah maju pesat, sute.

Sekarang ingin sekali aku berlatih, denganmu dalam ilmu Tiam-hiat-tung dan agar lebih tepat, kita menggunakan tongkat, tidak main colek dengan jari seperti itu!� Dia mengejek akan tetapi Cin Po tidak merasa diejek, hanya Mei Ling yang merasa.

�Ladeni suheng, sute.

Engkau belum tentu kalah!� kata Mei Ling yang menjadi marah juga karena merasa malu.

�Ah, aku belum mahir benar, suheng!� Akan tetapi Pak Hun sudah melompat ke atas, menyambar dahan pohon, mematahkannya dan batang dahan itu patah menjadi dua potong, lalu menghampiri Cin Po.

�Pilihlah!� katanya.

Terpaksa Cin Po menerima sepotong.

�Awas, aku akan mulai menyerangmu.

Lihat tongkat!� kata Pak Hun sambil menotokkan ujung dahan ke arah dada Cin Po.

Pemuda ini cepat menangkis, akan tetapi serangan Pak Hun dilanjutkan secara bertubi-tubi sehingga Cin Po main mundur.

Bagaimanapun juga, dia masih kalah matang dalam latihan dan gerakannya tidak dapat mengimbangi kecepatan gerakan Pak Hun.

Setelah lewat tigapuluh jurus, Pak Hun berhasil menyarangkan ujung tongkatnya menotok lutut Cin Po sehingga Cin Po jatuh berlutut!

�Bangkitlah!� seru Pak Hun dan dengan tongkatnya dia mencokel dan memaksa Cin Po bangkit.

Begitu Cin Po bangkit dia sudah diserang lagi, tertotok di sana sini sampai jatuh bangun.

�Suheng, hentikan!� teriak Mei Ling yang melihat Cin Po jatuh bangun.

�Tidak, kami belum puas berlatih.

Hayo, sute.

Bangkitlah, atau engkau sudah kehilangan keberanian?� Diejek begitu, Cin Po bangkit kembali dan dia mulai membalas dengan serangan jurus-jurus Tiam-hiat-tung.

Akan tetapi bagi Pak Hun, gerakannya masih kurang cepat sehingga mudah saja Pak Hun mengelak atau menangkis dan membalas dengan totokan yang lebih kuat, membuat Cin Po jatuh terjengkang!

Dengan tangan kirinya Pak Hun menggapai Cin Po agar bangun kembali.

Lagaknya amat mengejek dan kini Cin Po mulai menjadi panas hatinya.

�Sekarang aku akan memukulmu, suheng!� katanya dan diapun menyerang lebin ganas lagi, mengerahkan semua tenaganya, akan tetapi makin marah dia, semakin kacau gerakannya dan kembali lututnya tercium ujung tongkat Pak Hun sehingga kembali dia jatuh berlutut.

�Tidak perlu berlutut, sute, marilah keluarkan semua kepandaianmu!

Ha-ha, begini saja yang kaudapatkan selama tiga tahun?

Agaknya engkau malas berlatih, hanya bermain-main saja dengan sumoi!

Aku akan melapor kepada Suhu tentang kemalasanmu!� �Keluarkan semua kepandaianmu?

Baik, akan kukeluarkan!� Dan kini Cin Po meloncat bangun lalu menyerang dengan tongkatnya.

Pak Hun terkejut bukan main.

Kini ranting di tangan Cin Po itu bergerak sedemikian aneh dan cepatnya, seolah ranting itu berubah menjadi delapan dan mengandung hawa panas!

Ini adalah karena Cin Po yang sudah marah itu menggunakan Hwi-sin-kiam-sut yang mendatangkan hawa panas dicampur dengan Pat-jiu-sin-kun yang membuat tongkatnya berubah menjadi delapan!

Pak Hun mencoba untuk membela diri, memutar tongkatnya dengan cepat.

Akan tetapi tetap saja, dia dihujani totokan dan pukulan tongkat oleh Cin Po sehingga dia jatuh bangun, jatuh lagi dan setiap kali hendak bangun dipapaki tongkat yang membuatnya jatuh lagi bergulingan sehingga bajunya kotor semua.

Sekali ini dia yang menjadi bulan-bulanan tongkat Cin Po dan menjadi permainan seperti sebutir bola saja.

Kalau dia jatuh, Cin Po mencokel dengan tongkatnya sehingga dia bangkit lagi, lalu dirobohkan lagi dengan totokan atau kemplangan dengan rantingnya.

Berulang kali begitu sehingga Pak Hun sudah tidak berdaya sama sekali, tidak mampu membalas sekali seranganpun!

�Sute, cukup, sute!� Mei Ling menjerit.

Tadinya gadis ini merasa senang melihat sutenya kini membalas mempermainkan Pak Hun, ia lalu menjerit, menghalangi Cin Po dengan kedua tangannya.

Cin Po berdiri dengan ranting di tangan, tubuhnya penuh keringat dan bajunya yang putih menjadi kotor semua ketika tadi dia dibuat jatuh bangun oleh Pak Hun.

Melihat Pak Hun rebah dan tidak bangkit lagi, keduanya menjadi terkejut.

Mei Ling cepat berlutut memeriksa dan ternyata Pak Hun jatuh pingsan, dengan pakaian kotor dan robek-robek.

�Celaka, sute.

Kalau suhu tahu, tentu dia marah sekali.

Apalagi engkau tadi menggunakan jurus lain.

Suheng pasti mengadu dan kalau Suhu mendengar engkau menghajar suheng dengan jurus silat lain, pasti Suhu akan menghukummu!� �Aku....

aku telah lupa diri.

Sebaiknya aku pergi saja sebelum Suhu datang dan membunuhku!� Mei Ling bangkit berdiri lalu merangkul sutenya.

�Aku terpaksa membenarkan engkau pergi, sute.

Hatiku berat sekali untuk kau tinggal pergi, akan tetapi...

betul kata-katamu, kalau Suhu tahu engkau merobohkan suheng dengan jurus silat lain, mungkin Suhu akan membunuhmu.� �Kalau begitu, selamat tinggal, suci...� �Selamat jalan, jagalah dirimu baik-baik, sute dan janganlah engkau melupakan diriku.� �Bagaimana mungkin melupakanmu, suci?

Engkau begitu baik kepadaku.

Selama hidupku akan kuingat engkau dalam hatiku.

Nah, aku pergi, suci!� Cepat Cin Po meninggalkan tempat itu.

�Sute,� gadis itu memanggilnya dan Cin Po segera berhenti.

Gadis itu menghampirinya sambil berlari.

�Engkau jangan kembali ke rumah, takut Suhu mengetahuinya.� �Aku hanya mengambil buntalan pakaianku.� �Tidak usah.

Ini...

bawalah ini untuk bekal di jalan dan membeli pakaian.� Mei Ling melepaskan kalung dan gelangnya, menyerahkannya kepada Cin Po.

Cin Po merasa terharu sekali.

Baru sekarang terasa olehnya betapa sucinya itu amat sayang kepadanya dan juga betapa berat hatinya berpisah dari sucinya yang selalu ramah dan baik kepadanya itu.

�Suci...

engkau baik sekali, aku...

tidak akan melupakanmu.� �Sudah, cepatlah pergi....� Mei Ling menyuruhnya pergi akan tetapi dalam suaranya terkandung isak.

Cin Po hendak bicara lagi akan tetapi ia membalikkan tubuh, agar tidak nampak beberapa butir air mata tergenang di matanya.

Cin Po mendengar suara Suhunya dari rumah, agaknya memanggil Mei Ling.

Maka diapun lalu berlari cepat meninggalkan rumah itu, meninggalkan semua pakaiannya dan hanya membawa kalung dan gelang sucinya.

Dia berlari terus dengan cepatnya menuju ke utara, dengan niat untuk kembali ke kerajaan Song.

Akan tetapi karena kekurang tahuannya, dia malah menuju ke timur!

Tanpa disadarinya sendiri, Cin Po memasuki daerah kerajaan Wu-yeh, sebuah kerajaan lain di daerah Tenggara sepanjang pantai laut timur dan selatan.

Pada suatu hari, setelah melewati tapal batas dan memasuki kota Wu-couw di tepi Sungai Mutiara, barulah dia mengetahui bahwa dia telah tersesat masuk ke wilayah kerajaan Wu-yeh!

Dia memasuki sebuah toko perhiasan dan terpaksa menjual gelang pemberian Mei Ling.

Akan tetapi kalung pemberian gadis itu dia pakai di lehernya dan dia berjanji kepada diri sendiri tidak akan pernah menjual kalung itu dan akan disimpannya sebagai tanda mata atau tanda kenangan.

Ternyata gelang itu terbuat dari emas murni, maka ia menerima uang cukup banyak untuk biaya hidup selama beberapa bulan!

Dia membeli beberapa stel pakaian putih dan membawanya dalam sebuah buntalan kain kuning.

Lalu dia melanjutkan perjalanannya.

Dalam usianya yang hampir sembilanbelas tahun, Cin Po sudah merupakan seorang pemuda tinggi besar yang tampan dan gagah perkasa, pemuda yang selalu berpakaian putih bersih seperti orang berkabung!

Dia berjalan terus menyusuri Sungai Mutiara.

Ketika tiba di sebelah timur kota Wu-couw, dia memasuki sebuah hutan dan pegunungan di mana air sungai itu mengalir.

Jalannya sungguh sukar dan selagi dia mengambil keputusan untuk kembali ke barat dan menyeberangi sungai itu untuk melanjutkan perjalanan ke utara.

Tiba-tiba berlompatan duapuluh lebih orang berpakaian serba hitam, dipimpin oleh seorang tinggi besar yang memegang sebatang golok besar.

Orang tinggi besar ini mukanya brewok dan sikapnya galak sekali.

�Ha-ha, pemuda yang lewat.

Jangan engkau pergi sebelum meninggalkan buntalan pakaianmu dan juga pakaian yang kaukenakan di tubuhmu harus kautinggalkan di sini!

Engkau boleh merangkak pergi seperti anjing tanpa pakaian!� Mendengar hinaan ini, para anak buahnya tertawa bergelak-gelak, seolah sudah melihat pemuda itu merangkak telanjang seperti anjing takut dipukul.

Cin Po mengerutkan alisnya.

Dia sudah dapat menduga bahwa orang-orang ini tentulah sebangsa perampok.

�Mengapa buntalan ini mesti kutinggalkan dan pakaian yang kupakai mesti ditanggalkan?

Ini buntalan dan pakaian adalah milikku sendiri!� �Ha-ha-ha, milikmu tadi, akan tetapi sekarang harus diserahkan kepada kami!� kata si brewok sambil tertawa lantang.

�Mengapa?� Cin Po bertanya penasaran walaupun dia tahu bahwa para perampok itu tentu saja pekerjaannya merampas barang-barang milik orang lain dengan kekerasan.

�Mengapa?

Engkau lewat di jalan ini, harus membayar pajak kepada kami.� �Ini jalan umum, milik pemerintah!� �Ha-ha-ha, ini wilayah kami, milik kami.

Hayo pilih saja, menyerahkan semua milikmu atau menyerahkan nyawa kepada kami!� �Kalian perampok jahat!� kata Cin Po.

�Jangan menghina!

Kami bukan perampok.

Kami adalah bajak-bajak yang gagah perkasa.

Seluruh lembah Sungai Mutiara ini termasuk kekuasaan kami.

Hayo cepat serahkan buntalan itu!� �Takkan kuserahkan kepada siapapun.

Ini hanya pengganti pakaian yang tidak ada harganya.

Harap kalian jangan mengganggu aku lagi.

Sesungguhnya aku tidak ingin bermusuhan, akan tetapi kalau kalian memaksa, akan kulawan.� Si brewok itu terbelalak heran.

Baru sekarang dia bertemu seorang pemuda dusun yang tidak takut kepada dia dan kawan-kawannya bahkan mengatakan berani melawan mereka!

�Engkau sudah bosan hidup!� bentak si brewok dan karena marah, dia sendiri yang maju dan mengayun golok besarnya membacok ke arah leher Cin Po dengan keyakinan bahwa sekali goloknya melayang, pemuda bandel ini tentu akan terpenggal lehernya!

Akan tetapi dia kecelik.

�Wuuuttt...!� Golok besar itu menyambar lewat dan luput dari sasaran.

Dan sebelum si brewok dapat membalikkan goloknya, sebuah tendangan keras mengenai perutnya.

�Bukk...!� Biarpun tubuhnya kuat, tendangan kaki Cin Po itu membuat dia terjengkang!

Semua anggauta bajak itu menjadi marah sekali.

Dan tanpa dikomando lagi mereka segera menyerbu ke arah Cin Po dengan golok mereka.

Duapuluh empat orang kini mengeroyok Cin Po bagaikan serombongan semut mengeroyok seekor jangkerik.

Dan Cin Po mengamuk!

Kaki tangannya bergerak dan tubuhnya dapat bergerak sedemikian cepatnya sehingga duapuluh empat orang itu tidak dapat melihatnya, hanya melihat sebuah bayangan berkelebatan ke sana sini dan tubuh mereka bergelimpangan!

Melihat ini, kepala bajak yang brewok dan yang kini sudah bangkit kembali, lalu berseru.

�Pergunakan jala!� dan anak buahnya lalu menaati perintah ini.

Setiap dua orang kini memegang jala yang lebar dan kuat, dan mereka lalu menyerang Cin Po dengan jala atau jaring yang biasa mereka pergunakan untuk menangkap ikan, juga kini dapat dipergunakan untuk berkelahi, sebagai senjata yang ampuh.

Biarpun memiliki gerakan gesit, karena di sana sini disambut tebaran jala, beberapa kali Cin Po tertangkap dalam jala.

Dia meronta dan dengan kedua tangannya dapat merobek jala, akan tetapi sehelai jala lain sudah menutup tubuhnya lagi, disusul jala-jala lain.

Karena banyak jala yang menutup dirinya, agak sukar bagi Cin Po untuk melepaskan diri dan pada saat seperti itu, banyak golok menyambar ke arah tubuhnya.

Cin Po terpaksa menggunakan sin-kang melindungi kedua lengannya yang dipakai untuk menangkis.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara tawa.

�Ha-ha-ha, lagi-lagi sekawanan perampok busuk yang melakukan kejahatan!� Dan tiba-tiba seorang kakek tinggi kurus berusia enampuluhan tahun sudah berada di situ.

Sekali dia meraih, dia telah menangkap si brewok pada tengkuknya dan golok besar di tangan si brewok itu tahu-tahu telah berpindah tangan.

�Semua akan kubasmi!� kata kakek itu dan sekali tabas, golok itu memenggal leher si kepala bajak sampai putus!

Semua penjahat terkejut dan ketakutan, akan tetapi kakek itu sudah menggerakkan goloknya bertubi-tubi dan mayat-mayat jatuh bergelimpangan bermandikan darah sendiri.

Dalam waktu beberapa menit saja, lebih dari sepuluh orang sudah roboh dan tewas, dengan leher atau tubuh terpotong!

Sisanya lalu melarikan diri cerai berai, ketakutan menghadapi kakek tinggi kurus yang ganas itu.

Sesosok bayangan lain melakukan pengejaran, akan tetapi kakek tinggi kurus itu berkata, �Ciok Hwa, jangan kejar!� Setelah berkata demikian, kakek itu melontarkan golok rampasannya ke arah mereka yang berlari dan...

dengan jitu sekali golok itu menyambar dan membikin putus leher dua orang sekaligus!

Cin Po melihat ini semua dari balik jala dan dia kini berusaha melepaskan semua jala, akan tetapi menemui kesukaran.

�Ciok Hwa, bebaskan ikan itu dari dalam jala!� kata pula kakek tinggi kurus dan gadis itu lalu meloncat ke dekat Cin Po.

Dari balik jala yang berlapis-lapis itu Cin Po tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas, akan tetapi dia dapat melihat bentuk tubuh yang amat hebat.

Dada dan pinggul membusung, pinggang ramping sekali dan kulit tangan itu putih kemerahan.

Seorang gadis yang memiliki bentuk tubuh yang amat menggairahkan dan jarang terdapat bentuk tubuh seperti itu.

Gadis itu menggerakkan pedangnya dan dengan hanya beberapa kali sambaran sinar pedangnya saja, jala itu telah putus semua dan Cin Po keluar dari jala-jala itu dengan bebas.

Pertama-tama yang dipandangnya adalah sepasang mata yang aduhai bening dan indahnya, seperti mata burung Hong.

Akan tetapi ketika matanya menjelajahi wajah itu, dia tertegun kaget.

Wajah itu!

Bentuk-bentuk hidung dan mulutnya memang bagus, akan tetapi kulit wajahnya itu penuh dengan cacat, seperti penyakit kudis yang tebal atau penyakit kusta.

Wajah itu penuh benjolan yang berwarna hitam kebiruan membuat wajah itu nampak amat mengerikan, menakutkan dan bahkan menjijikkan!

Dia tidak mau memandang lebih lama lagi takut menyinggung perasaan yang punya wajah jelek, dan cepat dia menoleh kepada kakek tinggi kurus dan memandang penuh perhatian.

Kakek itu berusia kurang lebih enampuluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya seperti orang berpenyakitan.

Rambutnya jarang dan tipis sehingga kepalanya nampak kulitnya, kulitnya banyak keriput.

Kumisnya hanya lima helai dan jenggotnya juga jarang.

Karena kurusnya maka wajah itu nampak meruncing mirip wajah tikus, seekor tikus yang berpenyakitan.

Bajunya juga sederhana dan lebar seperti jubah pendeta.

Setelah mengamati orang tua itu, Cin Po segera memberi hormat kepada kakek itu dan berkata, �Terima kasih atas bantuan locianpwe dan nona.

Kalau ji-wi (kalian) tidak datang membantu, tentu aku sudah ditangkap seperti seekor ikan oleh para bajak itu.� �Tidak perlu berterima kasih, orang muda.

Para penjahat itu membikin keadaan tidak aman dan mengacau di Wu-yeh, sudah menjadi kewajiban kami untuk membasminya.

�Akan tetapi kulihat tadi ilmu silatmu hebat.

Mereka itu sama sekali bukan lawanmu dan karena belum berpengalaman maka engkau dibikin kacau dan bingung oleh jala-jala itu.

�Engkau bahkan berani menangkis senjata mereka dengan kedua lenganmu.

Apakah lenganmu tidak terluka?

Coba aku memeriksanya.� Cin Po melangkah maju dan kakek itu lalu menyingkap lengan baju Cin Po yang sudah robek-robek terkena senjata tajam.

Akan tetapi kedua kulit lengan itu masih utuh, sedikitpun tidak ada tanda goresan, apalagi terluka.

�Hebat...!

Semuda ini telah memiliki sin-kang yang demikian kuat.

Heii, nanti dulu...� kakek itu kini meraba-raba dan menekan-nekan tulang di kedua lengan Cin Po.

�Bukan main!

Engkau memiliki tulang yang bersih dan berbakat sekali untuk menjadi seorang pendekar besar dan pantas orang seperti engkau menerima pelajaran ilmu-ilmu silat tertinggi.

Siapa namamu?� �Nama saya Sung Cin Po, locianpwe.� �Tadi ketika engkau dikeroyok, aku melihat engkau seperti menggunakan ilmu silat Pat-jiu-sin-kun.

Benarkah dugaanku?� Cin Po diam-diam terkejut.

Bukan orang sembarangan kalau dapat mengenal Pat-jiu-sin-kun, setidaknya orang ini pasti sudah mengenal Pat-jiu Pak-sian dan melihat ilmu silat itu.

�Dugaan locianpwe memang benar dan ini menunjukkan bahwa locianpwe adalah seorang yang sakti.� �Ha-ha-ha, siapa tidak mengenal ilmu pukulan Delapan Tangan dari Pat-jiu Pak-sian itu?

Eh, Cin Po, kalau begitu engkau murid Pak-sian?� �Saya pernah berguru kepada beliau, locianpwe.� �Akan tetapi gerakanmu yang seperti terbang tadi mengingatkan aku akan gerakan ilmu ginkang Coan-hong-hui (Terbang Menembus Angin).

Benarkah?� Cin Po terbelalak.

Bukan main kakek ini.

Pengetahuannya tentang ilmu silat demikian luas.

�Bagaimana locianpwe bisa tahu?

Memang benar saya tadi menggunakan Coan-hong-hui.� �Luar biasa, luar biasa!

Jangan katakan bahwa engkau pernah menjadi murid Nam-san Sianjin pula!� �Tidak salah, locianpwe.

Memang pernah saya belajar ilmu silat kepada beliau selama tiga-empat tahun!� �Sekaligus menjadi murid Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin!

Luar biasa sekali.

Akan tetapi kedua orang iblis tua itu sejak dahulu memang bersahabat.

Tapi engkau beruntung, Cin Po.

Berapa usiamu sekarang?� �Sembilanbelas tahun, locianpwe.� �Bagus!

Dan engkau tentu belum menikah?� �Belum.� �Cocok!

Anakku Ciok Hwa berusia delapanbelas tahun dan iapun belum bertunangan.

Engkau murid Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin, sedangkan Ciok Hwa adalah puteriku, Tung-hai Mo-ong.

Sudah cocok sekali.

Cin Po, engkau pantas menjadi mantuku, menjadi calon suami anakku Ciok Hwa!

Ha-ha-ha-ha!� kakek itu tertawa-tawa dengan riangnya.

Jantung Cin Po seolah berhenti berdetak.

Menjadi mantunya?

Tak terasa lagi Cin Po menoleh ke arah Ciok Hwa dan kebetulan sekali gadis itupun memandang kepadanya.

Mata itu!

Demikian lembut, demikian jeli.

Akan tetapi pipi itu!

Begitu buruk dan mengerikan.

Benjolan-benjolan hitam itu sungguh menjijikkan.

Bagaimana mungkin dia menikah dengan seorang yang cacat berat seperti itu?

Setiap orang anak menertawakannya.

Kalau gadis itu lewat di depan banyak orang, tentu menimbulkan perhatian dan semua orang akan merasa ngeri dan jijik.

Sejenak dua pasang mata itu bertemu dan bertaut, kemudian Ciok Hwa lebih dulu menundukkan mukanya, seolah hendak menyembunyikan wajah yang buruk sekali itu.

�Bagaimana pendapatmu, Cin Po?

Ketahuilah bahwa Ciok Hwa seorang anak yang baik.

Engkau tidak akan bisa menemukan wanita kedua seperti anakku ini.

Ilmu silatnya sudah hampir menyusulku dan ia baik budi.� �Maaf, locianpwe.

Pada waktu ini saya sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan.� Kakek itu membelalakkan matanya dan kini wajahnya yang seperti tikus itu nampak menyeramkan dan menakutkan, sepasang mata itu seperti mencorong mengeluarkan api.

�Apa?

Engkau berani menolak anakku?� �Maaf, locianpwe.

Saya sama sekali bukan menolak, hanya berkata terus terang bahwa saya belum memikirkan soal pernikahan.

Wanita manapun yang hendak dijodohkan dengan saya, pasti tidak dapat saya menerimanya karena memang belum ada niat untuk mengikatkan diri dalam pernikahan.

Pula, mengenai perjodohan saya tentu akan diatur oleh ibu saya.� �Hem, engkau masih mempunyai ibu?

Di mana ibumu?� �Ibu saya tinggal di Bi-ciu, di kaki gunung Thian-san, dalam kuil Ban-hok-si.� �Kalau begitu, aku akan ke sana mencari ibumu dan akan kuajak bicara tentang perjodohanmu dengan anakku.� �Harap jangan lakukan itu, locianpwe.

Biarpun yang mengurus perjodohanku adalah ibuku, akan tetapi tentu baru dapat terlaksana kalau ada kemauan dari saya.

Pada waktu ini, saya belum mau menikah, locianpwe.� �Siapa bilang menikah sekarang?

Asalkan engkau mau menerima dan sudah bertunangan, soal pernikahan dapat dilangsungkan kemudian kalau engkau sudah bersedia!� Sampai di situ, Ciok Hwa mencela ayahnya.

�Ah, ayah...!� dan iapun sekali berkelebat lenyap dari tempat itu.

Tung-hai Mo-ong tertawa bergelak.

�Ha-ha-ha-ha, engkau melihat sendiri, Cin Po.

Anakku pergi itu berarti ia malu, dan kalau ia malu itu berarti ia mau.

Kalau ia menolak, sudah sejak tadi ia membantah dan menolak.� �Maaf, locianpwe.

Jawabanku tetap tidak.

Saya tidak mau memenuhi permintaan locianpwe.

Saya belum mau terikat...� �Keparat, engkau berani menolak permintaan Tung-hai Mo-ong?

Berarti itu penghinaan!

Kalau perlu, aku akan menemui kedua orang gurumu itu, Pak-sian dan Sianjin, untuk mendapatkan perkenan mereka.

Nah, kurang bagaimana?� �Aku tidak dapat memenuhi permintaan itu.� �Engkau tetap membangkang?� �Saya tidak ingin menikah.� �Kalau begitu aku akan memaksamu!� �Locianpwe tidak akan dapat memaksaku.

Perjodohan tidak dapat dipaksakan!� �Aku akan menahanmu sampai engkau mau!� Dan tiba-tiba saja kakek ini menubruk dan melakukan serangan menotok ke tujuh jalan darah di tubuh Cin Po secara bertubi-tubi.

Cin Po sangat terkejut.

Gerakan kakek ini memang luar biasa, akan tetapi diapun cepat mengelak dan menangkis, mengerahkan seluruh tenaganya karena maklum bahwa dia menghadapi seorang datuk sakti.

Karena tujuh kali totokannya dapat dielakkan dan ditangkis, Tung-hai Mo-ong menjadi semakin marah dan dia mulai bersilat dengan ilmu yang amat diandalkannya dan yang mengangkat namanya menjadi besar sebagai seorang datuk.

Ilmu silat tangan kosong ini bernama Toat-beng-sin-ciang (Tangan Sakti Pencabut Nyawa) dan gerakannya dahsyat bukan main.

Cin Po harus bersikap hati-hati sekali dan diapun mengerahkan gin-kangnya dan mengelak.

Tubuhnya menjadi seperti bayangan saja yang sukar disentuh lawan.

Akan tetapi, dia berhadapan dengan seorang datuk.

Selain tingkatnya masih kalah, juga dia kalah pengalaman.

Setelah lewat limapuluh jurus, datuk itu menjadi marah dan penasaran sekali.

Masa dia tidak mampu merobohkan seorang pemuda, biar pemuda itu murid Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin sekalipun?

�Hiaaaattt...!!� Kini pukulannya mengandung hawa pukulan amat dahsyat, pukulan jarak jauh yang mengandalkan khi-kang.

Cin Po mencoba untuk menahan, akan tetapi tetap saja dia terhuyung.

Dan selagi dia terhuyung, kakek itu kembali mengirim pukulan dengan tangan kosong.

Sekali ini Cin Po menangkis.

�Plakk!� Pukulan itu tertangkis akan tetapi tiba-tiba Cin Po mengeluh dan terhuyung.

Kiranya tangan Tung-hai Mo-ong yang memukul tadi, diam-diam mengeluarkan sebatang jarum ketika ditangkis yang sudah dipersiapkan di antara jari-jarinya dan jarum itu tepat mengenai pundak Cin Po.

Jarum itu mengandung racun pembius dan Cin Po roboh pingsan!

�Ha-ha-ha, anak kecil mau melawan orang tua!� Lalu dia memondong tubuh itu, dibawanya lari.

Setelah tiba di rumahnya yang berada di tepi kota Wu-couw, dia memasuki pekarangan rumahnya dan di depan pintu telah menanti Kui Ciok Hwa.

�Ayah, dia itu kenapa?� tanya gadis itu sambil menunjuk kepada tubuh Cin Po yang dipanggul ayahnya.

�Anak bandel ini perlu dihajar.

Aku akan menahannya di sini sampai dia mau menerima uluran tanganku agar dia menikah denganmu.� �Ah, ayah tidak boleh memaksa orang.� �Apa yang kukehendaki harus kudapatkan.

Dia seorang pemuda yang hebat, anakku.

Dalam dunia ini sukar didapatkan keduanya.

�Semuda ini ilmu kepandaiannya sudah mengagumkan.

Kalau dia lebih berpengalaman, kukira aku sendiri tidak akan mudah untuk merobohkannya.

Dia akan menjadi suami dan mantu yang baik.

Orang seperti ini kelak akan mengangkat derajatku sebagai ayah mertua, Ciok Hwa.

�Sekarang engkau cepat mengambil obat penawar racun, dan engkaulah yang harus merawat dan mengobatinya.

Pundak kirinya terkena jarum beracunku.� Kakek itu membawa Cin Po ke sebuah kamar dan merebahkannya di tempat tidur.

�Agar aman dan dia tidak melarikan diri, biar kubelenggu lebih dulu kakinya.

Nah, sekarang engkau kuserahi dia, rawatlah baik-baik, tentu dia akan merasa berterima kasih dan suka padamu.

Aku hendak pergi, sore nanti baru akan kembali.� Ciok Hwa tidak membantah semua ucapan ayahnya.

Ia sudah mengenal benar watak ayahnya yang keras, makin dibantah semakin keraslah dia.

Maka iapun diam saja dan setelah ayahnya membelenggu kaki Cin Po dengan rantai dan meninggalkannya, barulah dia menghampiri pemuda itu.

Ia duduk di tepi pembaringan dan mengamati wajah pemuda itu.

Jantungnya berdebar tegang.

Ayahnya memang benar.

Pemuda ini hebat dan begitu melihatnya, hatinya telah jatuh cinta.

Ia segera memeriksa pundak yang terkena racun jarum.

Tanpa ragu lagi didekatkan mukanya pada pundak itu, lalu ditempelkan bibirnya pada luka kecil itu dan sambil mengerahkan sin-kang, iapun menyedot.

Setelah jarum itu keluar sedikit, lalu digigitnya dan dicabutnya keluar.

Kemudian, tiga kali dihisapnya luka itu sampai banyak darah yang keluar.

Setelah itu baru ia menempelkan obat bubuk ke atas luka dan membalut pundak itu.

Tak lama kemudian Cin Po siuman.

Dia mengeluh karena pundak kirinya terasa panas dan nyeri.

Dia membuka mata, melihat gadis buruk rupa itu duduk di pembaringannya, membuatnya terkejut dan berkata, �Maafkan, nona.� Dan diapun bangkit duduk.

Ciok Hwa bangkit berdiri dan pindah duduk ke atas kursi tak jauh dari pembaringan.

Ketika Cin Po hendak turun dari pembaringan, baru dia tahu bahwa kedua kakinya dibelenggu dan diikatkan pada tiang rumah.

Rantai untuk mengikat kakinya itu besar dan kuat sekali sehingga tidak mungkin dia membikin putus rantai seperti itu.

�Nona, kenapa kakiku dibelenggu?� tanyanya sambil memandang kepada gadis itu.

Masih ngeri dia melihat wajah yang penuh benjolan itu dan diam-diam dia merasa kasihan kepada gadis itu.

Sebetulnya gadis itu tidak buruk, bahkan cantik dan bentuk tubuh yang amat menggairahkan, kulitnya putih kemerahan pada lehernya.

Akan tetapi benjolan-benjolan pada muka itu.

Mengerikan!

�Ayah menghendaki engkau tinggal di sini maka kakimu dibelenggu ayah.� Cin Po membuat gerakan akan berdiri dan merasa nyeri pada pundaknya.

Dia meraba dan baru tahu bahwa pundaknya dibalut, lalu dia teringat sebelum pingsan bahwa pundaknya terasa nyeri ketika dia menangkis pukulan Tung-hai Mo-ong.

�Siapa mengobati pundakku, nona?� �Aku yang melakukannya.

Engkau dibawa pulang ayah dalam keadaan pingsan.

Nih, minumlah dulu obat ini dan semua hawa beracun akan terusir keluar dari tubuhmu.� Dan gadis itu menghampiri, menyerahkan semangkok obat yang masih hangat.

Tanpa curiga dan ragu, Cin Po menerima mangkok itu dan minum isinya sampai habis.

Rasanya sedap dan nyaman dan khasiatnya sungguh hebat dan cepat karena rasa nyeri di pundaknya itu seketika lenyap.

�Nona, ayahmu tidak berhak menahanku di sini.

Nona, aku hendak bertanya kepadamu.

Apakah engkau akan suka kalau dipaksa menikah di luar kehendakmu?� Gadis itu menunduk dan menggeleng kepalanya.

�Dan tentu saja akupun demikian.

Aku tidak suka dipaksa menikah dan biarpun ayahmu akan membunuhku, aku tetap menolak.

�Aku baru akan menikah kalau memang aku menghendakinya.

Kalau aku belum mau, biar dipaksa sampai matipun aku tidak akan mau.

Heran sekali, ayahmu seorang datuk yang berkedudukan tinggi, mengapa dapat melakukan paksaan seperti ini?� �Ayah adalah seorang datuk besar, segala keinginannya harus dipenuhi orang, tidak ada yang boleh menolak kehendaknya.

Dia menghendaki engkau menjadi mantunya, tidak ada seorangpun di dunia ini yang boleh melarangnya.� �Akan tetapi persoalan ini mengenai kehidupan dua orang, nona!

Kehidupanmu dan kehidupanku?

Kita yang akan dinikahkan dan kita berdua yang akan menderita akibatnya, bukan dia!� �Aku tahu...� kata gadis itu dengan nada sedih, �dan engkau menolak.

Engkau pasti membenciku, bukan?

Engkau amat tidak suka kepadaku karena wajahku yang buruk dan cacat ini, bukan?� Tiba-tiba Cin Po merasa kasihan.

�Tidak sama sekali, nona.

Aku tidak benci padamu, juga bukan tidak suka kepadamu.

Akan tetapi aku belum memikirkan tentang perjodohan, usiaku baru sembilanbelas tahun.

�Aku masih ingin meluaskan pengetahuanku dan mencari pengalaman hidup, bahkan aku masih mempunyai tugas-tugas penting yang belum ku laksanakan.

Bagaimana aku dapat memikirkan pernikahan?

Pula, andaikata saatnya tiba, masih ada ibuku yang akan mengatur pernikahanku, bukan orang lain.� Ciok Hwa menghela napas panjang.

�Aku mengerti, dan seandainya aku tidak buruk rupa, tentu engkau akan bicara lain.� �Tidak!

Sungguh mati tidak.

Biarpun gadis yang cantik seperti bidadari sekalipun, kalau aku dipaksa menikahinya seperti sekarang, aku akan menolak.� �Benar kata-katamu itu, Cin Po?� Gadis itu memandang dengan sepasang matanya yang tajam, dan suaranya penuh harap.

�Aku berani bersumpah.

Ucapanku itu keluar dari lubuk hatiku.

Aku menolak bukan karena wajah cantik atau tidak cantik, melainkan karena pendirianku tadi.

Terserah nona mau percaya kepadaku atau tidak.� �Namaku Ciok Hwa, dan tidak perlu menyebut nona.

Setidaknya, engkau mau bukan kalau bersahabat dengan aku?� �Tentu saja aku mau, Ciok Hwa.� �Nah, kalau engkau sudah menjadi sahabatku, aku juga mau menolongmu, Cin Po.� Gadis itu mengambil kunci dan membuka belenggu kaki, yang dikunci itu.

Seketika kaki Cin Po bebas dari rantai yang kokoh kuat itu.

Tentu saja dia menjadi girang sekali.

Tak disangkanya bahwa gadis yang buruk rupa ini tidak marah karena ditolaknya, bahkan sebaliknya menolongnya bebas.

�Akan tetapi, ayahmu pasti akan marah sekali, Ciok Hwa.� �Itu adalah urusanku, engkau tidak perlu memusingkannya, Cin Po.

Nah, sekarang engkau boleh pergi dari sini sebelum ayah pulang.� Cin Po merasa terharu sekali.

Gadis ini hanya buruk wajahnya, akan tetapi hatinya sungguh berbeda sekali dengan ayahnya.

�Mengapa engkau menolongku dan berkorban diri dimarahi ayahmu, nona?� Gadis itu memandang dengan Sepasang matanya yang jernih tajam, lalu menunduk.

�Aku juga tidak ingin ada orang menikahiku karena dipaksa.

Aku...

aku hanya ingin agar engkau mengenangku sebagai seorang sahabat, bukan sebagai musuh.� �Tentu, tentu sekali, Ciok Hwa.

Aku akan mengenangmu sebagai seorang gadis yang paling baik hati dan aku telah berhutang budi kepadamu.� �Pergilah, Cin Po.

Kalau ayah pulang, aku tidak akan mampu melindungi atau membelamu lagi.� �Selamat tinggal, Ciok Hwa.

Semoga Tuhan memberkahimu.� Gadis itu menghela napas.

�Tuhan sudah mengutukku dengan wajah seperti ini...� Melihat gadis itu nampak berduka sekali, Cin Po melangkah maju dan meletakkan tangannya di kedua pundak gadis itu yang masih duduk.

�Kalau saja aku dapat membantumu, Ciok Hwa.

Tentu ada obat yang akan menyembuhkan penyakit di mukamu itu.� Ciok Hwa menggeleng kepala.

�Ayah saja sudah berusaha ke mana-mana akan tetapi tidak ada yang dapat menolongku.

Tidak ada...� dan gadis itu lalu menutupi mukanya sambil menangis.

Cin Po semakin kasihan.

�Ciok Hwa, aku berjanji, kelak aku akan ikut berusaha mencarikan obat untuk mukamu itu.� Si Gadis itu mengangkat mukanya dari balik ke dua tangannya dan memandang Cin Po dengan muka basah air mata.

�Engkau mau, Cin Po...?� Cin Po tersenyum, mengangguk.

�Tentu saja, bukankah seperti katamu tadi, kita sudah menjadi sahabat?

Hari ini engkau menolongku, mungkin engkau telah menyelamatkan nyawaku dari ancaman maut.

Sudah sepatutnya kalau akan kuusahakan sedapatku untuk mencarikan obat untukmu.

Nah, selamat tinggal, Ciok Hwa.� �Selamat jalan, Cin Po.

Harap jaga dirimu baik-baik.� �Engkau juga jaga dirimu baik-baik, Ciok Hwa.� Setelah memberi hormat, Cin Po lalu keluar dari rumah itu dan melarikan diri dengan cepat.

Pada sore harinya, Tung-hai Mo-ong Kui Bhok pulang.

Melihat tawanannya sudah tidak ada, dia menjadi marah sekali dan memanggil puterinya.

�Di mana tawanan kita?� tanya ayah dengan alis berkerut.

�Ayah, dia tidak mau menikah denganku, maka aku membebaskannya!� �Kau...

apa...?

Membebaskannya?� �Aku tidak ingin memaksanya menjadi suamiku, ayah.� �Kalau dia tidak mau, harus diusahakan agar mau.

Kenapa engkau melepaskan dia?

Engkau anak lancang, durhaka.

Kaukira akan muda mencari seorang mantu seperti dia?

Murid Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin, dengan tulang dan bakat yang baik sekali!

Dan engkau melepaskannya.

�Kalau aku tidak memaksa seorang pria menjadi suamimu, mana ada yang mau secara suka rela?

Siapa yang mau menikah dengan gadis berwajah mengerikan seperti kamu?

Engkau sungguh tak tahu diri!� Ayah ini marah sekali dan menuding-nudingkan telunjuknya kepada puterinya.

�Ayah...!� Ciok Hwa menjerit dan lari ke dalam kamarnya.

Tung-hai Mo-ong tidak memperdulikannya.

�Dasar anak tak tahu diri, anak sial!� Dia malah memaki lagi dengan suara lantang.

Saking marahnya dan jengkelnya terhadap anaknya yang dianggapnya mendatangkan sial dengan wajahnya yang buruk itu, Tung-hai Mo-ong tetap tidak perduli melihat puterinya itu keluar lagi membawa buntalan pakaian dan pergi dari rumah tanpa pamit lagi kepadanya.

Sebetulnya, Tung-hai Mo-ong sayang kepada puterinya, puteri yang ditinggal mati ibunya sejak masih kecil!

Akan tetapi ketika berusia sepuluh tahun, anak itu terkena penyakit yang aneh, yang membuat mukanya timbul benjolan-benjolan hitam sehingga muka itu menjadi buruk menjijikkan.

Datuk ini telah berusaha sedapat mungkin untuk mencarikan obatnya, namun tidak berhasil.

Bahkan dia telah memaksa tabib-tabib yang pandai untuk mengobati anaknya, semua sia-sia belaka.

Hal ini membuatnya sedih dan juga kecewa.

Sebelum sakit, puterinya amat membanggakan hatinya karena cantik, mungil dan cerdas pula.

Ilmu-ilmunya telah dipelajari oleh anaknya itu dengan lancar sehingga kini ilmu kepandaian Ciok Hwa sudah mencapai tingkat tinggi.

Puterinya itu memiliki kulit yang putih kemerahan, bentuk tubuh yang menggairahkan, rambut yang hitam subur.

Bahkan wajah itu memiliki bentuk yang cantik, dengan sepasang mata seperti bintang kembar.

Akan tetapi benjolan-benjolan pada wajahnya itu sama sekali merusak semua kecantikan itu!

Setelah sehari semalam marah-marah, baru dia menyadari bahwa anak perempuannya telah minggat.

Dia merasa menyesal sekali, lalu tak lama kemudian, Tung-hai Mo-ong juga pergi merantau untuk mencari anak perempuannya.

Kota Ceng-tao masih termasuk wilayah kerajaan Sung bagian timur, terletak di tepi Laut Kuning.

Kota ini amat ramai karena selain menjadi kota pelabuhan di mana banyak perahu-perahu besar membawa dan mengangkut barang-barang dagangan, juga ramai para nelayan memperdagangkan hasil lautan.

Akan tetapi seringkali para pedagang dan nelayan ini mendapat gangguan para bajak laut yang kebanyakan berbangsa Jepang.

Bahkan ada bajak laut yang berani mendarat di dekat kota itu untuk mengganggu penduduk pantai.

Oleh karena itu pemerintah pusat menempatkan seorang panglimanya dengan pasukannya untuk menjaga keamanan di sepanjang pantai wilayah Ceng-tao, dengan markas besarnya berada di kota itu.

Akan tetapi, seringkali para serdadu pasukan penjaga keamanan ini bahkan mabok-mabokan dan mengganggu rakyat jelata, meminta sumbangan dengan paksa seperti perampok, bahkan berani pula melakukan pemaksaan dan perkosaan kepada para wanita.

Ulah mereka tidak jauh bedanya dengan ulah para bajak laut sehingga rakyat menjadi semakin menderita, seolah menghadapi harimau kemudian keamanan mereka dijaga segerombolan anjing srigala!

Seperti lajimnya, rakyat tidak berdaya dan merekapun hanya dapat berusaha melakukan penyuapan kepada para perwira untuk melindungi mereka.

Hanya mereka yang mampu menyuap para perwira sajalah yang lepas dari gangguan para serdadu itu.

Mereka yang miskin dan tidak mampu menyogok, terpaksa harus berhati-hati jangan sampai bentrok dengan para serdadu, dan kalau mempunyai anak gadis yang cantik, cepat-cepat mereka pindahkan ke kota lain yang jauh.

Pada suatu pagi, seorang wanita yang menunggang kuda memasuki kota itu.

Wanita ini amat menarik perhatian.

Ketika duduk di atas punggung kudanya, nampak betapa indah menggairahkan bentuk tubuh wanita itu, duduknya tegak dan lekuk lengkung tubuhnya begitu mempesonakan.

Ia mengenakan pakaian sederhana akan tetapi tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya yang elok, kepalanya ditutup topi petani untuk melindungi muka dari sengatan matahari dan topi ini mempunyai kerudung yang menyembunyikan mukanya.

Karena tertutup kerudung warna hitam maka muka itu tidak kelihatan bentuknya, hanya nampak kilatan matanya yang mencorong tajam dari balik kerudung.

Melihat betapa di punggung wanita ini tergantung sebatang pedang, mudah saja diduga bahwa wanita itu tentu seorang wanita kang-ouw.

Dan biarpun wajahnya tidak nampak, dari bentuk tubuhnya yang padat berotot itu dapat diduga bahwa tentu ia masih muda.

Wanita ini bukan lain adalah Kui Ciok Hwa!

Setelah meninggalkan rumah ayahnya ia lalu membeli seekor kuda, menutupi mukanya dengan kerudung hitam, dan ia menunggang kuda melanjutkan perantauannya menuju ke timur dan setelah tiba di pantai, ia lalu melanjutkan perjalanannya ke utara.

Dan pada pagi hari itu tibalah ia di Ceng-tao, menarik perhatian banyak orang akan tetapi gadis itu tidak memperdulikan pandangan semua orang dan menjalankan kudanya lambat-lambat mencari sebuah rumah penginapan.

Karena Ceng-tao merupakan kota perdagangan dan pelabuhan, di situ terdapat banyak sekali rumah penginapan dan rumah makan.

Setelah menemukan rumah penginapan yang nampaknya bersih dan tidak terlalu sibuk, Ciok Hwa lalu membelokkan kudanya dan seorang pelayan rumah penginapan segera keluar menyambut.

�Apakah masih ada kamar kosong yang berada di pinggir, menghadap ke laut?� tanyanya.

Pelayan itu memandang wajah tertutup kerudung itu dengan penuh perhatian, seolah ingin menembusi kerudung itu dengan pandang matanya.

Suara itu demikian merdu, akan tetapi terdengar dingin sekali.

�Ada, ada nona.

Silakan turun.� �Rawat kudaku baik-baik,� katanya sambil melompat turun dan menurunkan pula buntalan pakaiannya.

Pelayan meneriaki seorang rekannya untuk membawa kuda itu ke istal di belakang, dan dia sendiri lalu mengantarkan Ciok Hwa menuju sebuah kamar yang berada di pinggir, menghadap lautan.

Ciok Hwa merasa cocok dengan kamar ini dan ia memesan agar diantar sebaskom air hangat untuk mencuci badan.

Setelah mencuci badan dan berganti baju bersih, dengan masih memakai cadar hitam iapun keluar dari kamarnya, lalu memasuki rumah makan yang berada di depan rumah penginapan itu karena rumah makan ini masih merupakan bagian dari rumah penginapan.

Sejak jaman dahulu, lebih dulu orang membuka rumah makan.

Kemudian karena banyak tamu yang membutuhkan kamar untuk melewatkan malam, maka rumah-rumah makan yang besar membuka rumah penginapan dengan kamar-kamar terpisah untuk para tamu yang membutuhkannya.

Pagi itu rumah penginapan telah ramai dengan pengunjung.

Hampir semua mata laki-laki memandang ketika Ciok Hwa memasuki rumah makan.

Siapa yang tidak tertarik melihat seorang wanita dengan bentuk tubuh ramping menggairahkan itu dengan kulit tangan dan leher nampak putih kemerahan dan rambut yang hitam lebat!

Semua orang menahan napas dan diam-diam mengeluh sayang bahwa si pemilik tubuh yang hebat itu menyembunyikan mukanya di balik cadar hitam sehingga mereka tidak dapat menikmati kecantikan wajah wanita itu.

Namun, melihat pedang di punggung wanita itu, tidak ada yang berani mengeluarkan suara menggoda.

Dan suasana dalam rumah makan itu mendadak menjadi lebih meriah, suara para lelaki yang bicara mendadak menjadi lebih lantang dan suara tawa mereka lebih keras.

Memang selalu demikianlah.

Di antara banyak lelaki, kalau ada seorang perempuan cantik datang hadir, tiba-tiba saja mereka menjadi lebih gembira, bicara dan tertawa keras seolah setiap orang ingin didengar oleh perempuan itu!

Ciok Hwa tidak memperdulikan pandang mata semua lelaki itu.

Ia sudah seringkali melihatnya.

Betapa menyakitkan hati, kalau ia ingat ketika ia masih belum memakai cadar, mata laki-laki yang tadinya memandangnya penuh kagum, tiba-tiba terbelalak ngeri ketika melihat wajahnya.

Seorang pelayan rumah makan segera menyambutnya dengan hormat dan membawanya ke sebuah meja yang masih kosong, yang berada di tengah ruangan itu sehingga Ciok Hwa menjadi tontonan dari segenap penjuru.

Ia tidak perduli karena meja di pinggir telah penuh semua dan minta disediakan sarapan pagi berupa bak-pauw dan air teh.

Tak jauh dari meja di mana Ciok Hwa duduk, terdapat sebuah meja lain yang dikelilingi empat orang berpakaian serdadu.

Mereka itu sepagi ini sudah agak mabuk karena terlalu banyak minum arak.

Empat orang serdadu ini juga tertarik ketika melihat Ciok Hwa masuk dan kini mereka membicarakan Ciok Hwa sambil menuding-nuding tanpa sungkan lagi.

Kalau orang-orang gentar melihat pedang di punggung Ciok Hwa, agaknya tidak demikian dengan empat orang serdadu itu.

Di antara mereka, seorang perwira, lalu berkata kepada tiga anak buahnya dengan suara lantang.

�Aih, sayang sekali seorang bidadari yang cantik menyembunyikan mukanya di balik cadar hitam!

Aduh betapa ramping pinggang itu!� �Lihat, ciangkun, betapa halus dan putih mulus kulit leher itu!

Dan tangan itu, mungil sekali!� �Aku berani bertaruh potong tangan bahwa ia tentu cantik jelita seperti dewi dari kahyangan!

Empat orang itu dengan terang-terangan membicarakan Ciok Hwa dan memuji-muji segalanya yang nampak.

�Akan tetapi hati-hati, ciangkun, ia membawa-bawa pedang,� kata seorang anak buah.

(Lanjut ke

Jilid 05) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 �Ha-ha-ha,� perwira itu terkekeh, �Itu menandakan bahwa ia cerdik.

Pedang itu untuk menakut-nakuti orang yang ingin menggodanya!

Seperti bunga mawar, tentu ada durinya, bukan?� �Ciangkun kita berempat akan mati penasaran kalau tidak dapat melihat wajahnya.� �Benar, aku akan selalu digoda mimpi kalau tidak dapat melihat wajahnya,� kata perwira itu.

Dia seorang perwira berusia tiga puluhan tahun, berwajah tampan gagah dan lagaknya angkuh dan sombong sekali.

�Ciangkun, kami bertiga tidak berani, akan tetapi beranikah ciangkun memintanya untuk bersikap baik dan mengasihani kita untuk dapat mengagumi wajahnya?� �Kenapa tidak?

Wanita cantik tentu berhati lembut seperti Kwan Im Pouwsat.

Kalau kita meminta tentu ia akan mengabulkannya.

Aduh, aku, sudah dapat membayangkan betapa senyumnya akan membuat kita terkagum-kagum.� �Dan mulutnya pasti menggairahkan sekali, dengan bibir merah delima, hidungnya kecil mancung, matanya seperti mata burung Hong dan ahhh, tidak dapat aku membayangkan kecantikannya,� kata seorang serdadu lain.

Perwira yang sudah mulai mabok itu termakan bujukan anak buahnya dan diapun bangkit berdiri, lalu dengan terhuyung menghampiri meja Ciok Hwa yang sedang makan bak-pauw nya dengan kadang menggigitnya sepotong dari balik cadarnya.

Perwira itu berhadapan dengan Ciok Hwa, memegangi meja agar jangan jatuh, lalu berkata, �Nona, aku harap nona suka memenuhi permintaan kami untuk membuka cadar nona, agar kami dapat menikmati dan mengagumi kecantikanmu...� Ciok Hwa merasa betapa mukanya panas sekali.

Akan tetapi karena sikap orang ini cukup sopan, ia lalu menjawab.

�Perwira, pergilah dan jangan mengusikku lagi.

Aku tidak akan membuka cadarku untuk siapapun juga.

Pergilah!� �Aih, nona, mengapa begitu galak?� Perwira itu terhuyung kembali ke kursinya.

Seorang serdadu bangkit berdiri dan menghampiri Ciok Hwa.

�Hei, nona manis.

Engkau berani menolak permintaan atasanku?

Buka cadarmu seperti yang dia minta!� serdadu yang bertubuh tinggi besar itu menggertak dan menggebrak meja Ciok Hwa.

Semua tamu yang berada di situ memandang khawatir, mengkhawatirkan Ciok Hwa.

Mengapa gadis itu tidak mau membuka saja cadarnya agar tidak menimbulkan perkara.

Akan tetapi tentu saja Ciok Hwa tidak mau membuka cadarnya.

Bahkan sekarang, berhadapan dengan serdadu yang bersikap kasar dan hendak memaksanya, menjawab, �Aku tidak mau membuka cadarku!

Pergilah, jangan mengganggu aku lagi.

Engkau hanya menghilangkan selera makanku saja!� Serdadu tinggi besar itu tidak seperti sang perwira.

Dia adalah seorang yang sama sekali tidak terpelajar dan biasanya hanya menggunakan kedudukan untuk memaksakan kehendaknya kepada siapapun juga.

�Buka cadarmu kataku!� �Aku tiduk sudi!� jawab Ciok Hwa dengan suara lantang, menandakan bahwa iapun telah menjadi marah.

�Kalau engkau tidak mau membukanya, aku yang akan membukanya dengan paksa!� kata pula serdadu itu mengancam.

Ciok Hwa bangkit berdiri, di balik cadarnya, matanya mencorong dan cuping hidungnya kembang kempis saking marahnya.

�Sudah lama aku mendengar bahwa kalian para serdadu hanyalah perampok-perampok yang berpakaian seragam.

Kini aku melihat kenyataannya bahwa kalian mengandalkan kedudukan untuk memaksakan kehendak.

Kuulangi, aku tidak sudi membuka cadarku dan siapapun juga yang berani memaksa dan membuka cadarku, akan kehilangan tangannya!� Serdadu yang biasanya memang bertindak sewenang-wenang itu terkekeh, �He-he-heh, berani engkau menentang kami.

Akan kurenggut terbuka cadarmu, hendak kulihat engkau dapat berbuat apa?� Setelah berkata demikian, orang itu meraih dengan tangan kirinya, menyambar ke arah muka Ciok Hwa untuk membuka cadarnya.

Ciok Hwa bangkit berdiri dan melompat ke belakang sehingga sambaran tangan itu luput.

Akan tetapi serdadu itu menjadi penasaran, melompati meja dan menyerang terus, kini kedua tangannya bergerak, yang kiri mencengkeram ke arah cadar dan yang kanan mencengkeram ke arah dada!

Menghadapi serangan yang kurang ajar ini, Ciok Hwa menggerakkan tangan kanannya.

Nampak sinar berkelebat dan terdengar suara, �crakk!� disusul orang itu terhuyung ke belakang memegangi tangan kiri dengan tangan kanannya.

Dan ternyata tangan kiri itu telah buntung sebatas pergelangan.

Tangan yang buntung itu terlempar ke atas meja, masih membentuk tangan yang mencengkeram seperti cakar setan!

Tidak nampak ketika Ciok Hwa mencabut pedang dan membuntungi tangan terus memasukkan pedangnya kembali.

Tadi yang nampak hanya sinar pedang berkelebat saja.

Serdadu yang kehilangan tangan kirinya itu berteriak-teriak kesakitan dan tiga orang temannya lalu bangkit berdiri.

Perwira itu marah melihat anak buahnya dibuntungi tangannya, maka bersama dua orang anak buahnya, dia lalu menyerang ke arah Ciok Hwa.

Dikeroyok tiga, Ciok Hwa sama sekali tidak gentar, ia tidak menggunakan pedangnya lagi melainkan menggunakan kedua tangannya, memainkan jurus Toat-beng-sin-ciang (Tangan Sakti Pencabut Nyawa).

Ke dua tangan menyambar-nyambar dengan cepat dan tiga orang pengeroyok itu berpelantingan dan terkapar pingsan menabrak meja kursi.

Para tamu menjadi panik dan mereka segera membayar harga makanan dan meninggalkan rumah makan itu.

Perkelahian dengan serdadu pemerintah hanya akan menimbulkan kesukaran bagi mereka.

Pemilik rumah makan itu melihat betapa empat orang serdadu dibuat tidak berdaya dan pingsan, segera menghampiri Ciok Hwa dan berkata dengan suara lirih.

�Lihiap (Pendekar wanita) harap cepat pergi jauh-jauh dari sini.

Lihiap telah menghajar serdadu pemerintah, tentu pasukannya akan segera datang menangkap lihiap.

Lihiap tidak mungkin dapat melawan ratusan dari mereka.� Ciok Hwa menyadari keadaannya dan membenarkan pemilik rumah makan itu.

Dia mengeluarkan sekeping emas.

�Ini untuk mengganti kerusakan!� katanya dan iapun bergegas memasuki kamar hotel itu, mengambil buntalan pakaiannya dan mengeluarkan kudanya dari istal.

Biarpun ia belum bermalam di rumah penginapan itu, ia membayarnya dan segera menunggang kuda membalap keluar dari kota Ceng-tao.

Benar saja, tak lama kemudian sepasukan serdadu yang puluhan orang banyaknya melakukan pengejaran keluar kota.

Ciok Hwa membalapkan kudanya menuju ke sebelah utara kota itu, terus dikejar oleh pasukan.

Ketika tiba di sebuah hutan, ia lalu memasuki hutan dan membiarkan kudanya lari terus dan ia sendiri melompat turun dan menyelinap di antara pohon-pohon.

Akan tetapi, ketika pasukan itu tiba di luar hutan, tiba-tiba ada sekelompok bajak laut yang menyemhunyikan diri di situ, muncul dari balik semak belukar dan menyerang pasukan itu.

Terjadilah pertempuran hebat antara puluhan orang serdadu melawan puluhan orang bajak laut.

Ciok Hwa keluar dari tempat sembunyinya dan melihat betapa pihak bajak laut kewalahan, timbul suatu gagasan dalam pikirannya.

Tidak mungkin ia kembali kepada ayahnya dan inilah kesempatan baik untuk mendapatkan pasukan bajak.

Kalau ia dapat menguasai para bajak dan memimpinnya, ia akan bertualang dan akan melupakan semua kedukaannya.

Berpikir demikian ia lalu mencabut pedangnya dan membantu para bajak menerjang ke arah pasukan kerajaan!

Begitu gadis itu mengamuk, di pihak pasukan segera menjadi kocar-kacir.

Siapa saja yang berhadapan dengan gadis berkerudung itu pasti roboh terkapar!

Setelah banyak rekan menjadi korban, akhirnya sisa pasukan itu melarikan diri dan para bajak laut bersorak penuh kegembiraan karena menang.

Seorang yang bermata satu, yang menutupi mata kirinya dengan kain hitam, menghampiri Ciok Hwa dan sejenak matanya yang tinggal satu itu menatap Ciok Hwa penuh kagum.

�Nona, kenapa nona membantu kami melawan para pasukan kerajaan?� tanyanya dengan suara parau.

Kini kawan-kawannva juga berdatangan mengepung karena merekapun kagum melihat sepak terjang gadis bercadar yang membuat pasukan itu kocar-kacir.

Dan semua mata kagum menggerayangi bentuk tubuh yang indah itu, akan tetapi setelah melihat cadar itu, semua mata menjadi gentar dan ragu.

�Aku sengaja membantu kalian karena aku ingin menjadi pemimpin kalian!� jawabnya dengan singkat.

Mendengar ini, si mata satu tertawa bergelak.

�Ha-ha-ha, engkau seorang wanita hendak memimpin kami para bajak laut yang gagah berani!

Ha-ha-ha, kawan-kawan, dengar baik-baik, kalian hendak dipimpin oleh ia ini, ha-ha!� Semua bajak laut lalu tertawa bergelak karena memang lucu mendengar bahwa mereka akan dipimpin oleh seorang gadis yang bentuk tubuhnya mempesonakan itu.

Seorang gadis akan menjadi bajak laut?

Aneh dan menggelikan!

�Mata satu, jangan tertawa dulu!

Apakah aku kurang gagah berani sehingga tidak dapat memimpin kalian?

Lihat, apapun yang kau lakukan, akupun sanggup melakukannya!� Kembali si mata satu tersenyum menyeringai.

�Mungkin engkau mempunyai sedikit kepandaian bermain pedang.

Akan tetapi lebih dari itu, engkau hanya seorang wanita.

Wanita itu mahluk lemah, bagaimana mungkin akan memimpin kami, laki-laki yang jantan?

Bagaimana kalau engkau menjadi isteriku saja, menjadi isteri kepala bajak laut.

Begitu lebih baik, bukan?

Ha-ha-ha!� Semua bajak laut tertawa bergelak dan menyatakan setuju dengan pendapat kepala mereka itu.

Bagaimanapun juga, mereka masih memandang rendah kepada Ciok Hwa, seorang wanita.

Memang biasanya, para bajak laut itu menganggap wanita hanya sebagai benda mainan.

Ciok Hwa membentak.

�Dengar kau, mata satu!

Kalau engkau tidak mau menyerahkan kedudukan kepala bajak laut kepadaku secara baik-baik, terpaksa aku merampasnya dari tanganmu!� Mata yang tinggal satu itu terbelalak.

�Bagus!

Coba majulah melawanku.

Kalau engkau kalah, engkau harus menjadi isteriku, akan tetapi buka dulu cadarmu agar kami melihat mukamu.� Semua bajak laut berteriak, �Buka cadarnya!� Ciok Hwa memutar tubuhnya menghadapi mereka.

�Siapa berani membuka cadarku berarti dia bosan hidup!� Semua anak buah bajak agak gentar menghadapi bentakan ini, akan tetapi si mata satu lalu maju.

�Marilah, hendak kucoba sampai di mana kelihaianmu, nona!� Dia lalu menyerang dengan dahsyat, menggunakan kedua tangannya yang kokoh kuat dengan otot-otot menggelembung dan melingkar-lingkar.

Akan tetapi, sampai tiga jurus dia menyerang, dia hanya menangkap dan memukul udara kosong belaka karena dengan sigap dan cepatnya Ciok Hwa sudah mengelak.

Begitu si mata satu menyerang lagi dalam jurus ke empat, dengan pukulan ke arah kepala Ciok Hwa dengan tangan kanan, gadis itu lalu mengelak sambil menggerakkan tangan menotok pergelangan tangan kanan itu sehingga seketika itu juga lengan kanan itu menjadi kejang.

Dan sebelum Si mata satu sempat menyerang lagi, Ciok Hwa menampar dengan kerasnya, mengenai pundak si mata satu dan tanpa dapat dicegah lagi si mata satu terpelanting dan terbanting roboh dengan keras!

Semua bajak laut terlongong.

Kepala mereka yang berjenggot itu roboh hanya dalam empat jurus!

Si mata satu merangkak bangun dan matanya menjadi merah.

Dia meraba goloknya dan di lain saat dia sudah menyerang dengan goloknya sambil berteriak nyaring seperti seekor biruang buas.

Namun kembali Ciok Hwa menggunakan kegesitannya.

Kepala bajak itu terlalu lamban baginya dan sambaran goloknya dapat dilihat dengan jelas, maka mudah saja ia mengelak sampai sambaran golok yang ke lima kalinya.

Begitu mendapat kesempatan, tangannya membacok ke arah pergelangan tangan kanan, kuat sekali sehingga golok itu terlepas dan di lain saat, kakinya menendang dan tubuh kepala bajak laut itu terlempar dan jatuh berdebuk.

Dia nanar dan sejenak tak dapat bangkit kembali.

Ciok Hwa memandang ke sekeliling.

�Hayo siapa lagi yang tidak setuju aku menjadi kepala bajak laut?� tantangnya.

Mata di balik cadar itu menyambar-nyambar seperti kilat dan semua orang menjadi gentar.

Wanita itu benar-benar berbahaya sekali.

Kepala merekapun dibuat tidak berdaya dalam beberapa gebrakan, hanya dengan tangan kosong, belum mempergunakan pedang.

Mereka semua tidak berani menantang pandang mata dari balik cadar itu dan menundukkan kepalanya.

Ciok Hwa lalu menghadapi si mata satu yang sudah merangkak bangun.

�Mata satu, bagaimana apakah engkau masih penasaran dan hendak melawanku lagi?� Si mata satu yakin bahwa dia tidak akan menang melawan wanita yang aneh ini.

�Aku mengaku kalah,� katanya merendah.

�Kalau engkau mau, boleh saja engkau memimpin kami!� �Bagus, kalau begitu, mari kita cepat kembali ke perahu kita dan kalian semua, tidak terkecuali, harus menaati semua perintahku.

Siapa yang melanggar akan dihukum berat!� Para bajak laut itu lalu pergi ke tepi laut di mana diikat perahu-perahu kecil mereka, kemudian mereka mendayung perahu-perahu kecil itu ke arah tengah di mana terdapat sebuah perahu besar yang membuang sauh di situ.

Ciok Hwa ikut di salah sebuah perahu bersama si mata satu.

Dan sedikitpun ia tidak kelihatan gentar ketika perahu diombang-ambingkan ombak lautan.

Ketika semua orang menggunakan tali bergelantungan naik perahu besar, tidak demikian dengan Ciok Hwa.

Sekali mengayun tubuhnya, ia telah melompat dari perahu kecil ke atas perahu besar!

Perbuatan ini disambut tepuk sorak para bajak laut, yang merasa kagum.

Akan tetapi pada saat itu, tanpa diketahui oleh Ciok Hwa, si mata satu yang berada di belakangnya, mendorongnya keluar dari perahu.

Ciok Hwa meraih lengan si mata satu sehingga keduanya terlempar keluar dari perahu besar, dan tercebur ke dalam lautan!

Semua bajak laut menjenguk keluar.

Kini mereka merasa yakin bahwa kepala mereka, si mata satu, tentu akan dapat menundukkan wanita bercadar itu karena si mata satu terkenal sebagai ahli dalam air, pandai berenang dan menyelam seperti seekor ikan saja.

Kedua orang itu telah tenggelam di dalam lautan dan para anak buah bajak yang memandang dan menanti telah menduga bahwa tak lama lagi si mata satu akan menyeret wanita itu dalam keadaan telah pingsan!

Air laut bergerak dan muncullah sebuah kepala ke permukaan air.

Para anak buah bajak laut memandang dan mereka terbelalak, karena bukan kepala si mata satu yang muncul, melainkan kepala wanita bercadar itu!

Dan wanita itu yang menyeret si mata satu dengan menjambak rambutnya dan membawanya berenang ke atas sebuah di antara perahu kecil.

Ia menarik si mata satu ke atas perahu kecil dan dengan kedua tangannya, ia melontarkan tubuh yang pingsan itu ke atas perahu besar dan jatuh berdebuk di atas dek perahu besar.

Lalu diikuti melayangnya tubuh Ciok Hwa ke atas perahu besar.

Tubuhnya basah kuyup, pakaian yang basah itu mencetak tubuhnya sehingga nampak jelas bentuk tubuh yang indah menggairahkan dengan lekuk lengkung yang sempurna.

Cadarnya masih menutupi muka dan air menetes-netes dari dagunya.

�Hayo, siapa lagi yang berani mencoba-coba denganku?

Di darat atau di air pun boleh!� bentak Ciok Hwa dan kini para anak buah bajak laut tidak ada yang berani bergerak.

Mereka semua sudah takluk dan ketakutan menghadapi wanita aneh itu.

Ketika si mata satu siuman, Ciok Hwa mendekati.

Ketika dia hendak bangun.

Ciok Hwa menginjak dadanya dan berkata.

�Ini yang penghabisan, mengerti!

Sekali lagi engkau melakukan perlawanan kepadaku, matamu yang tinggal sebelah akan kubikin buta.

Mengerti?� Si mata satu mengangguk.

�Sekarang aku menyatakan takluk kepadamu, nona.

Mulai saat ini, engkaulah pemimpin kami!� Si mata satu sama sekali tidak mengerti bahwa gadis itu adalah puteri Tung-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Timur), seorang datuk yang bukan saja lihai ilmunya di darat, akan tetapi juga lihai dengan ilmunya di air.

Sejak kecil Ciok Hwa telah mempelajari ilmu dalam air itu sehingga ia dapat bergerak seperti seekor ikan hiu saja di dalam air.

Maka, tadipun dengan mudah ia dapat menalukkan si mata satu dalam pergumulan di dalam air.

Demikianlah, mulai hari itu, Ciok Hwa menjadi seorang pemimpin bajak laut yang limapuluh orang lebih banyaknya.

Mereka semua takut dan taat kepadanya karena Ciok Hwa memimpin dengan tangan besi.

Yang melanggar larangan dihukum berat.

Dan semenjak dipimpin Ciok Hwa, terjadi perubahan besar pada kelompok bajak laut ini.

Mereka memang diperbolehkan membajak, akan tetapi kalau yang dibajak tidak melakukan perlawanan, mereka dilarang keras membunuhi orang yang tidak melawan.

Apa lagi memperkosa wanita merupakan larangan yang amat keras dengan ancaman hukuman mati bagi pelakunya.

Hasil bajakan dibagi rata, bukan seperti ketika si mata satu menjadi kepala, dialah yang mendapat bagian terbesar.

Ciok Hwa bahkan jarang minta bagian, semua dibagi rata kepada anak buahnya!

Larangan-larangan itu memang pada mulanya tidak ditaati oleh para bajak.

Akan tetapi ketika Ciok Hwa benar-benar melakukan hukuman berat kepada pelanggarnya, mereka menjadi jerih.

Yang masih penasaran hanyalah si mata satu.

Pada suatu hari, mereka membajak perahu besar seorang saudagar yang melakukan perjalanan bersama keluarganya.

Mereka dihadang dan dibajak habis-habisan.

Si mata satu melihat puteri saudagar itu yang amat cantik, tidak dapat menguasai dirinya dan dengan buas dia hendak memperkosa gadis itu.

Ciok Hwa mendengar akan hal ini, maka ia segera datang dan sebuah tamparan di tengkuk si mata satu membuat si mata satu melepaskan korbannya.

Si mata satu bangkit dengan marah dan memberi isyarat dengan teriakannya.

Lima orang bajak laut yang tinggi besar mengepung Ciok Hwa.

Agaknya si mata satu sudah bersekongkol dengan lima orang rekannya untuk memberontak terhadap pimpinan wanita itu.

Kini mereka mengepung Ciok Hwa dengan golok di tangan.

Pada hal, Ciok Hwa ketika itu tidak membawa senjatanya.

Namun, wanita ini dengan tenang berdiri di tengah kepungan mereka.

�Keparat, kalian ini sudah bosan hidup.

Kalian akan mampus semua kecuali si mata satu.

Aku sudah berjanji akan membutakan matanya yang sebelah lagi agar dia hidup tersiksa, akan tetapi yang lain akan mampus.

Hayo buang senjata kalau masih ingin hidup!� �Serang...!!� Si mata satu menggerakkan goloknya dan karena mereka maju berenam, hati mereka besar dan mereka segera menyerang Ciok Hwa.

Mereka tidak tahu bahwa Ciok Hwa sudah siap dengan jarum-jarum beracunnya.

Ia mengelak ke sana ke mari dan ketika ke dua tangannya bergerak mengirim pukulan, dari jari-jari tangannya menyambar jarum-jarum halus.

Pertama-tama si mata satu yang roboh dan menjerit-jerit menggaruk matanya yang tinggal satu karena mata itu kini ditembusi sebatang jarum.

Saking sakitnya, dia menggunakan jarinya mencokel matanya sendiri sehingga biji matanya keluar dan kini butalah kedua matanya.

Lima orang yang lain juga berteriak dan roboh, tubuh mereka ditendangi oleh Ciok Hwa sehingga tubuh yang sudah tak bernyawa lagi itu terlempar ke dalam lautan.

�Bawa dia ke darat!

lepaskan dia di sana!� perintah Ciok Hwa kepada anak buahnya dan si mata satu yang masih meraung-raung itu lalu dibawa dengan perahu kecil ke darat dan ditinggalkan di sana.

Semenjak peristiwa itu, semua anak buah tidak ada lagi yang mencoba-coba untuk membantah perintah Ciok Hwa.

Gadis bercadar ini lebih ditakuti dari pada pimpinan yang dahulu, bahkan ditakuti seperti takut setan.

Perahu saudagar itu dilepaskan dan tidak diganggu setelah barang-barang berharganya dirampas.

Demikianlah, Ciok Hwa menjadi kepala bajak laut yang ditakuti.

Anak buahnya yang merasa kagum dan bangga mempunyai pimpinan seperti ia, memberi julukan Huang-hai Sian-li (Dewi Laut Kuning) kepadanya dan sejak memberi julukan itu, mereka tidak lagi menyebut Nona, melainkan Sianli (Dewi)!

Ciok Hwa menerima saja julukan itu dan bahkan merasa bangga.

Ayahnya adalah Tung-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Timur) dan ia adalah Huang-hai Sian-li (Dewi Laut Kuning).

Sudah tepat sekali!

Akan tetapi, setiap kali terang bulan dan ia duduk melamun seorang diri di geladak perahunya, ia memandangi bulan dan kadang menangis seorang diri.

Teringatlah ia kepada Cin Po dan berulang kali ia menghela napas panjang.

Ia telah jatuh cinta kepada Cin Po!

Kalau bukan karena pemuda itu, tidak mungkin ia menjadi seperti sekarang ini, menjadi bajak laut!

Ia merasa rindu sekali kepada Cin Po, akan tetapi juga bersedih kalau mengingat bahwa tidak mungkin Cin Po membalas cintanya karena wajahnya yang amat buruk.

Kita tinggalkan dulu Ciok Hwa yang menjadi kepala bajak laut di Lautan Kuning dan mari kita ikuti perjalanan Cin Po yang berhasil lolos dari tangan Tung-hai Mo-ong yang hendak memaksanya menjadi mantu, atas pertolongan Ciok Hwa.

Di dalam hatinya Cin Po berterima kasih sekali kepada Ciok Hwa yang biarpun berwajah buruk namun berhati mulia itu.

Dia meninggalkan daerah kekuasaan kerajaan Wu-yeh dan langsung menuju ke utara untuk kembali ke wilayah kerajaan Song.

Ketika dia meninggalkan ibunya bersama Pat-jiu Pak-sian, dia berusia sebelas tahun.

Dia menjadi murid Pak-sian selama lima tahun, kemudan menjadi murid Nam-san Sianjin selama tiga tahun.

Usianya sekarang sudah sembilanbelas tahun!

Sebagai seorang pemuda yang berpakaian sederhana serba putih, Cin Po melakukan perjalanan dengan cepat menuju ke Thian-san.

Ibunya tinggal di kaki Pegunungan Thian-san, di kuil Ban-hok-si yang terletak di dusun Bi-ciu.

Ke sanalah dia menuju.

Ketika pegunungan Thian-san sudah nampak menjulang tinggi di depan, dia teringat akan semua pengalamannya di Thian-san-pang dan dia mengepal tinju, teringat akan perbuatan Ban Koan yang jahat.

Ban Koan telah berkhianat, telah bersekongkol dengan orang-orang Tok-coa-pang, membunuh kakek gurunya, Tiong Gi Cinjin dan membunuhi para murid Thian-san-pang, setelah itu mengangkat diri sendiri menjadi ketua Thian-san-pang.

Orang sejahat itu sesungguhnya tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi.

Akan tetapi ketika itu dia masih kanak-kanak dan hanya mampu memberi hajaran karena bantuan gurunya, Pat-jiu Pak-sian.

Sekarang kalau mengingat akan semua itu, hatinya sudah mendorongnya untuk pergi ke Thian-san-pang melihat keadaan.

Kalau Thian-san-pang dibawa menyeleweng oleh Ban Koan, dia harus membunuh orang itu dan membersihkan Thian-san-pang demi nama besar dan nama baik kakek gurunya dan juga ibunya.

Bagaimana kalau Ban Koan sudah berubah dan memimpin Thian-san-pang dengan baik?

Dia menjadi bimbang ragu.

Sebaiknya harus menanyakan pendapat ibunya tentang hal itu, maka dia tidak jadi mendaki pegunungan, melainkan menyimpang dan menuju ke dusun Bi-ciu.

Tiba-tiba dia melihat ribut-ribut di depan.

Dia baru tiba di kaki pegunungan yang sunyi, di dekat sebuah hutan.

Ketika dia berlari cepat ke arah tempat itu, dia melihat tujuh orang sedang mengepung dan mengeroyok seorang gadis yang berpakaian merah.

Gadis itu mempergunakan pedangnya, namun para pengeroyoknya yang menggunakan golok juga memiliki kepandaian lumayan sehingga gadis itu mulai terdesak.

Agaknya tujuh orang itu tidak ingin melukai si gadis baju merah, hanya hendak menangkapnya saja.

Bujukan-bujukan kotor terdengar dari mulut mereka.

Jelas bahwa mereka mempunyai maksud yang jahat terhadap gadis itu.

�Nona manis, buang saja pedangmu dan mari ikut kami bersenang-senang!� kata seorang di antara mereka.

�Benar, nona, sayang kalau kulitmu yang halus itu tergores golok kami!� �Menyerahlah saja, manis.� Gadis itu menggerakkan pedangnya lebih cepat lagi dan berhasil menusukkan pedangnya ke arah dada seorang pengeroyok.

�Tak...!� Pedang itu meleset, seperti menusuk benda keras.

Melihat gadis itu memainkan ilmu pedang Thian-san Kiam-hoat mengertilah Cin Po bahwa gadis itu tentulah murid Thian-san-pang, dan setelah tadi tusukan itu tidak melukai para pengeroyok, diapun menduga bahwa tentu pengeroyok itu orang-orang Tok-coa-pang, karena para anggauta Tok-coa-pang memang memiliki baju kebal di balik baju biasanya.

Mengingat bahwa gadis itu berada dalam bahaya, Cin Po segera melompat keluar dari tempat pengintaiannya dan dia berseru dengan nyaring.

�Orang-orang Tok-coa-pang jahat!

Kalian pantas diberi hajaran!� Diapun bergerak cepat membagi-bagi pukulan.

Karena maklum bahwa tubuh bagian atas mereka kebal, maka pukulan dan tamparannya dia tujukan kepada muka para pengeroyok itu.

Gerakan Cin Po sedemikian cepatnya sehingga setiap tamparan mengenai sasaran membuat yang ditampar terpelanting dan mengaduh-aduh tidak dapat bertanding lagi.

Ada yang giginya rontok semua, ada yang pipinya menjadi bengkak besar sampai sebelah matanya terpejam, ada yang kepalanya benjol.

Dalam waktu beberapa gebrakan saja, tujuh orang itu telah kebagian tamparan semua dan mereka yang menyadari berhadapan dengan lawan yang amat lihai, lalu melarikan diri tanpa menanti aba-aba lagi!

Cin Po berdiri memandang mereka tanpa melakukan pengejaran, tidak tahu bahwa gadis berpakaian merah tadi memandangnya dengan mata terbelalak.

Akhirnya pandang mata itu menariknya dan dia menoleh.

Dua pasang mata bertemu dan bertaut sampai beberapa lamanya, penuh selidik dan keraguan.

Kemudian, mulut gadis cantik itu bergerak dan berseru lirih, �Ko...

koko...!� Seruan itu lirih dan masih penuh keraguan.

Namun cukuplah bagi Cin Po yang segera maju dan berseru girang sekali.

�Hui Ing...!!� �Koko Cin Po...!

Benar engkau ini...?!� Gadis itu maju dan kedua orang muda itu sudah saling berpegang tangan dengan penuh kegembiraan.

Dari kedua mata gadis itu keluar dua titik air mata.

Agaknya ia menyadari bahwa mereka bukan kanak-kanak lagi, maka dengan canggung dan malu-malu ia melepaskan pegangan tangannya.

�Koko Cin Po..., engkau baru datang....?� �Hui Ing, nih, adikku!

Engkau sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita sekarang!� Cin Po memandang kagum.

Kalan tadi Hui Ing tidak memanggilnya terlebih dahulu, tentu dia tidak dapat mengenalnya.

Mereka saling mengamati, dan Hui Ing melihat betapa kakaknya ini telah menjadi seorang pemuda yang tinggi besar dan gagah.

�Engkau juga, koko.

Kalau tadi tidak melihat matamu yang sama sekali tidak berubah, masih seperti dulu, tentu aku tidak akan mengenalmu.

Tadi aku ragu-ragu.

Wah, engkau telah menjadi seorang yang sakti, koko.

Aku girang dan bangga sekali!� Gadis itu memandang penuh kagum.

�Hui Ing-moi, kenapa engkau dikeroyok orang-orang tadi?

Bukankah mereka itu orang-orang Tok-coa-pang?� �Benar, koko.

Mareka itu orang-orang Tok-coa-pang, mereka selalu mengganas di daerah ini dan sudah berulang kali aku bentrok dengan mereka.

Akan tetapi mereka itu lihai-lihai sehingga ibu sering melarangku untuk bentrok dengan mereka.� �Bagaimana dengan ibu?� �Ia baik-baik saja, dan seringkali membicarakan engkau, koko.

Ibu tentu girang sekali melihat engkau pulang telah menjadi seorang yang sakti.

Melihat engkau merobohkan tujuh orang Tok-coa-pang tadi, sungguh mengagumkan sekali!� �Kalau Tok-coa-pang mengganas di sini, mengapa Thian-san-pang mendiamkannya saja?� �Aih, engkau tidak tahu, koko.

Thian-san-pang yang dipimpin oleh pengkhianat Ban Koan bersahabat dengan Tok-coa-pang, bahkan melakukan kejahatan memeras penduduk bersama-sama.� Cin Po mengepal tinjunya dan memandang ke arah lereng Thian-san, �Si keparat Ban Koan.

Aku akan naik ke Thian-san-pang untuk menghajarnya!� �Nanti dulu, koko.

Sebaiknya kalau koko pulang dulu menemui ibu.

Ibu sudah rindu sekali kepadamu!

Marilah, koko, kita pulang dulu dan membicarakan tentang Thian-san-pang dengan ibu.� Kini Hui Ing tidak ragu-ragu lagi, memegang dan menggandeng tangan Cin Po diajaknya menuju ke dusun Bi-ciu.

Cin Po menurut saja.

Masih banyak waktu untuk naik ke Thian-san dan mengunjungi Thian-san-pang.

Dalam perjalanan ini Hui Ing bercerita banyak tentang ibunya.

Betapa ibunya kini lebih banyak berdoa dan bersamadhi memperdalam keagamaan walaupun tidak menjadi seorang nikouw.

Dan ia mendesak dengan hujan pertanyaan tentang pengalaman Cin Po semenjak mereka saling berpisah.

�Nanti saja kuceritakan di depan ibu,� kata Cin Po.

�Aku ingin mendengar dulu, apakah engkau selama ini belajar silat kepada kakek botak yang berjuluk Pat-jiu Pak-sian itu?� �Benar, aku belajar ilmu darinya selama lima tahun.� �Dan selanjutnya, engkau belajar dari mana lagi, Koko?

Ilmu silatmu demikian hebat, dengan tangan kosong mampu merobohkan tujuh orang Tok-coa-pang tadi dengan demikian mudahnya.� �Aku masih mempelajari ilmu selama tiga tahun kepada Nam-san Sianjin.� �Wah, Nam-san Sianjin?

Aku mendengar dari nenek bahwa Nam-san Sianjin adalah datuk selatan, sama seperti Pat-jiu Pak-sian yang datuk utara itu!

Jadi engkau murid dari dua orang datuk sakti?� Gadis itu memandang dengan kagum dan Cin Po yang menoleh kepadanya harus mengakui kecantikan adiknya itu.

Sepasang mata itu seperti mata burung Hong, demikian jernih dan tajam.

Dan mulut itu sungguh manis, terhias lesung pipit di sebelah kiri.

�Dan engkau, adikku?

Bagaimana dengan latihanmu?

Kulihat engkau memainkan Thian-san-kiam-sut dengan cukup baik tadi.� �Aih, memalukan!

Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi tujuh orang Tok-coa-pang tadi.

Kalau engkau tidak segera datang, aku tentu sudah celaka di tangan mereka.� �Engkau mampu menandingi tujuh orang dari mereka yang mengeroyokmu, itu sudah cukup baik, Ing-moi.� �Tidak, aku minta engkau mengajariku ilmu-ilmu yang lebih tinggi, koko.� Cin Po tersenyum melihat gadis itu masih manja seperti dulu.

Mereka lalu berjalan cepat dan agaknya Hui Ing hendak memamerkan ilmu berlari cepatnya kepada kakaknya.

Ia lalu mengerahkan tenaga dan berlari seperti terbang menuju ke dusun Bi-ciu.

Ia tidak melihat kakaknya berlari cepat, akan tetapi sungguh aneh setiap kali ia menengok, kakaknya itu tetap berada di sebelahnya, tak pernah tertinggal selangkahpun!

Hal ini tidak mengherankan karena Cin Po telah menggunakan ilmu meringankan tubuh Coan-beng-hui (Terbang Menembus Angin) sehingga kalau dia menghendaki, tentu Hui Ing yang tertinggal jauh.

Akan tetapi Cin Po tidak mau melakukan ini dan hanya mengimbangi kecepatan lari gadis itu dan selalu berada di sampingnya.

Ketika akhirnya mereka tiba di dusun Bi-ciu, Hui Ing sudah bermandikan keringatnya sendiri sedang Cin Po tidak apa apa.

Dengan agak terengah Hui Ing tersenyum memandang kakaknya, dan kekagumannya bertambah besar.

Tahulah ia bahwa kakaknya tadi mengalah dan sengaja tidak mau mendahului, buktinya untuk membarenginya tadi, kakaknya sama sekali tidak mengerahkan tenaga, berkeringatpun tidak, pada hal ia sampai terengah-engah kewalahan.

�Larimu seperti terbang saja, Ing-moi.� �Wah, dibandingkan denganmu, bukan apa-apa, koko.

Engkau seperti tidak berlari saja, berkeringatpun tidak!� kata Hui Ing sambil mengusap keringatnya dengan satu tangan.

Wajahnya berubah menjadi segar kemerahan karena berlari itu sehingga nampak lebih cantik jelita seperti sekuntum bunga tersiram embun pagi.

Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di depan kuil Ban-hok-si.

Hui Ing langsung saja masuk sambil berteriak-teriak memanggil ibunya dan neneknya, tidak memperdulikan para nikouw yang berada di situ.

Cin Po tidak berani sembarangan memasuki kuil untuk para pendeta wanita itu dan menanti di luar.

Ketika dia melihat ibunya dan nenek gurunya keluar bergegas, dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan mereka.

�Cin Po...!� Seru Sung Bi Li dan hatinya tergetar melihat pemuda tinggi besar yang tampan itu berlutut di depan kakinya.

Teringat ia betapa ia telah mengandung anak selama sembilan bulan dan menyusuinya selama setahun lebih.

Matanya bersinar lembut dan ada air mata bergantung di pelupuknya.

�Ibu...!

Ibu baik-baik saja, bukan?� kata Cin Po sambil memberi hormat.

�Berdirilah, Cin Po, biarkan aku melihatmu!� kata ibu ini dengan suara bergembira sekali.

Cin Po bangkit berdiri di depan ibunya dan Sung Bi Li harus berdongak untuk memandang wajah puteranya yang sekepala lebih tinggi darinya itu.

�Kau...

kau sudah dewasa...� katanya, akan tetapi tiba-tiba saja sinar mata yang lembut tadi kini berubah mengeras.

Ia teringat betapa pemuda yang berdiri di depannya ini adalah hasil perkosaan orang terhadap dirinya!

Seketika kebencian yang dulu sering mengusik hatinya itu muncul kembali ke permukaan.

�Cin Po, sudahkah kaulaksanakan tugasmu seperti kupesankan dulu?� Cin Po terkejut, tak menyangka akan ditanyakan hal itu.

Dia menggeleng kepalanya.

�Belum, ibu.

Aku baru saja berhenti belajar dan akan pulang lebih dulu menemui ibu.

Setelah itu, apapun yang ibu perintahkan akan kulaksanakan.� �Marilah masuk dulu, Cin Po.

Kita bicara di dalam!� kata Lauw In Nikouw yang sudah mengetahui semuanya dari cerita Bi Li, dan maklum dalam hatinya bahwa kalau teringat masa lalu, Bi Li agaknya merasa benci kepada anaknya sendiri itu.

Mereka semua lalu masuk dan Hui Ing berkata dengan girangnya kepada ibunya, �Wah, ibu.

Koko sekarang telah menjadi seorang yang sakti.

Tadi, dialah yang menolongku ketika aku dikeroyok oleh tujuh orang Tok-coa-pang...� �Hui Ing!

Bukankah sudah kularang kepadamu untuk berkelahi dengan mereka!� cela Bi Li.

�Sudahlah,� kata Lauw In Nikouw.

�Biarkan sekarang Cin Po menceritakan semua pengalamannya selama delapan tahun lebih meninggalkan kita.� Bi Li mengangguk.

�Nah, ceritakanlah pengalamanmu, Cin Po.

Engkau berguru kepada Pat-jiu Pak-sian, bukan?� Cin Po lalu menceritakan semua pengalamannya ketika dia menjadi murid Pat-jiu Pak-sian selama lima tahun.

�Akan tetapi Suhu Pak-sian menyuruh aku menjadi perwira Khi-tan.

Ketika aku melihat regu serdadu yang kupimpin itu merampok dan memperkosa, aku menjadi marah dan membunuhi mereka.

Maka aku lalu takut untuk kembali karena tentu akan dihukum sebagai pemberontak, dan aku melarikan diri.� �Hemm, baik engkau melarikan diri, aku tidak akan senang mendengar engkau menjadi seorang perwira Khi-tan,� kata ibunya dengan alis berkerut.

Cin Po melanjutkan kisahnya, betapa dia bertemu dengan See-thian Tok-ong dan muridnya yang bernama Kam Song Kui.

Guru dan murid ini menangkapi anak-anak kecil untuk dipakai latihan ilmu sesat.

Dia mencegah mereka dan malah tertawan oleh See-thian Tok-ong.

�Aku akan dibunuhnya dan diambil sum-sum tulang dan darahku.

Aku nyaris tewas di tangan See-thian Tok-ong, akan tetapi pada saat itu muncul Nam-san Sianjin yang menyelamatkan aku.� �Omitohud!

Orang yang baik tentu akan berada dalam lindungan Thian.

Nam-san Sianjin adalah datuk dunia selatan,� kata nenek ini.

Biarpun ia sendiri bukan seorang tokoh persilatan, namun Lauw In Nikouw banyak mengetahui tentang dunia persilatan dan para tokoh besarnya.

�Nam-san Sianjin berhasil menggertak See-thian Tok-ong sehingga dia mau melepaskan aku.

Aku ikut dengan Nam-san Sianjin dan diambil murid olehnya selama tiga tahun.� Diam-diam Bi Li merasa girang sekali.

Anaknya telah menjadi murid dua orang datuk besar, tentu akan tercapai cita-citanya membalas dendam kepada musuh besarnya.

�Pada suatu hari aku didesak oleh seorang murid suhu yang mengajak aku berlatih.

Mula-mula dia yang lebih lama menjadi murid Suhu menghajarku jatuh bangun karena ilmuku masih kalah matang.

Akan tetapi aku menggunakan ilmu dari suhu Pak-sian dan aku berhasil membuat dia jatuh bangun.

Aku diingatkan suci bahwa suhu tentu akan menghukumku kalau mendengar betapa aku mengalahkan suhengku itu dengan ilmu lain, maka aku menjadi ketakutan dan melarikan diri lagi.� Dia tidak mau banyak bercerita tentang Souw Mei Ling, sumoinya yang amat baik kepadanya sehingga ketika ia pergi atas anjuran sucinya, ia diberi uang dan kalung, yang kalungnya sampai sekarang masih dipakai di lehernya.

�Hemm, engkau selalu menjadi pelarian, koko.

Kasihan benar,� kata Hui Ing sambil memandang wajah kakaknya.

�Lalu bagaimana, koko?� �Aku melarikan diri, maksudku hendak kembali ke wilayah Sung, akan tetapi aku tersesat jalan memasuki daerah Wu-yeh.

Pada suatu hari aku dihadang puluhan orang perampok, aku dikeroyok dan mereka menggunakan senjata jaring.

Aku melawan mati-matian dan muncul Tung-hai Mo-ong dan muridnya yang menolong dan membantuku membasmi para perampok.� �Omitohud!

Luar biasa sekali pengalamanmu, Cin Po,� kata Lauw In Nikouw.

�Dalam waktu delapan tahun ini, engkau sudah bertemu dengan Pat-jiu Pak-sian, datuk utara, lalu See-thian Tok-ong datuk barat, dan Nam-san Sianjin untuk selatan, kemudian terakhir bertemu dengan Tung-hai Mo-ong datuk timur.

Bukan main!� �Lalu bagaimana, koko?

Datuk Timur itu menolongmu?

Baik benar dia!� �Ekornya yang tidak baik, Ing-moi.

Setelah membantuku membasmi perampok, dia lalu hendak menjodohkan aku dengan puterinya.

Aku tidak mau dan dia memaksaku.

Kami berkelahi dan aku kalah, tertawan.

Untung aku kemudian dibebaskan oleh puterinya dan dapat melarikan diri, lalu menuju ke sini!� �Puterinya itu kautolak dan ia masih menolongmu dan membebaskanmu?

Ah, baik sekali hatinya!� seru Kwan Hui Ing memuji.

�Memang, baik sekali hatinya,� kata Cin Po mengenang, dengan suara sungguh-sungguh.

�Ia begitu baik, kenapa engkau menolaknya, koko?

Apakah ia cantik?� �Cantik juga.� �Cantik mana dibandingkan aku?� �Ah, masih cantik engkau, Ing-moi!� Cin Po tersenyum.

�Kalau ia cantik dan begitu baik, kenapa engkau tidak mau dijodohkan dengannya, koko?� �Eh, Ing-moi.

Aku pergi meninggalkan rumah untuk mempelajari ilmu, bukan untuk mencari jodoh.

Bagaimana di luar pengetahuan ibu aku berani berjodoh dengan seorang gadis.� �Dia bicara benar,� kata Sung Bi Li.

�Dia memang tidak boleh menikah dulu, masih banyak tugas menantinya, dan dia harus melaksanakan dulu tugas itu.� �Oh, ya.

Lebih dulu memberi hajaran kepada pengkhianat Ban Koan dan membersihkan Thian-san-pang, lalu membasmi Tok-coa-pang, bukan?� kata Hui Ing.

�Benar, ibu,� kata Cin Po.

�Thian-san-pang harus dibersihkan dan pengkhianat Ban Koan itu perlu diberi hajaran.

Juga Tok-coa-pang yang telah mengakibatkan kematian kakek guru Tiong Gi Cinjin dan banyak murid Thian-san-pang harus dibasmi.� Bi Li bersikap sungguh-sungguh, memandang kepada puteranya dan berkata dengan tegas.

�Cin Po, sudah lupakah engkau akan pesanku dulu itu?

Lebih dulu setelah engkau memiliki kepandaian, engkau harus membalas atas kematian ayahmu!� �Aku tidak pernah melupakan hal itu ibu.� �Masih ingat nama pembunuh ayahmu itu?� �Masih, nama julukannya Hek-siauw Siucai, bukan?� �Dan masih ingat engkau, siapa dia, dari kelompok mana?� �Dia adalah seorang di antara Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Kuning).� �Bagus, nah engkau harus lebih dulu pergi mencarinya di sepanjang Sungai Kuning.

Setelah berhasil membunuhnya, barulah kita bicarakan tentang Thian-san-pang dan Tok-coa-pang.� �Eh, eh, apa artinya ini ibu?� tiba-tiba Hui Ing bertanya, kepada Bi Li.

�Setiap kali aku bertanya tentang ayah, ibu tidak mau, memberitahu.

Sekarang, baru aku tahu bahwa mendiang ayah dibunuh orang dan ibu minta kepada koko, untuk membalasnya.

Kenapa ibu tidak pernah menceritakan kepadaku?� Bi Li memandang kepada Lauw In Nikouw, dan seolah bertanya.

Nikouw tua ini hanya berkata lirih, �Omitohud...!� dan ia memberi isyarat dengan anggukan kepala.

Lalu nikouw itu yang berkata lembut kepada Hui Ing.

�Hui Ing, kini setelah Cin Po pulang dan engkau sudah cukup dewasa, tibalah saatnya untuk kau ketahui rahasia tentang dirimu yang selama ini kami tutupi.

Ketahuilah, anak yang baik, sebetulnya engkau bukanlah puteri kandung dari ibumu ini.� Hui Ing terbelalak dan wajahnya menjadi pucat.

�Apa...

bagaimana...?� katanya gagap.

Bi Li mendekati dan merangkul Hui Ing.

�Biarpun benar demikian, aku amat sayang kepadamu, Hui Ing.

Kuanggap engkau puteriku sendiri karena sejak kecil engkau kurawat, dan engkau minum air susu dari dadaku.

�Aku yang membesarkanmu.

Akan tetapi sesungguhnya memang engkau bukan anak kandungku.

Engkau adalah anak kandung dari Suhu Tiong Gi Cinjin.� �Ahhhh...!� Demikian kaget dan heran rasa hati Hui Ing, sehingga ia tidak dapat berkata-kata sambil tetap dirangkul oleh Bi Li.

Cin Po juga merasa kaget dan heran, lalu dia berkata, �Kini baru aku mengerti mengapa ibu hanya menyuruh aku yang memakai pakaian berkabung, akan tetapi Ing-moi tidak.

Kiranya Ing-moi bukan adik kandungku dan ia puteri mendiang su-kong Tiong Gi Cinjin!� �Dan ibu kandungku siapa, ibu?

Di mana ia sekarang?� tanya Hui Ing dengan suara gemetar.

Bi Li merangkul gadis itu dengan kasih sayang, �Ibu kandungmu meninggal ketika melahirkanmu,� Hui Ing terisak dalam rangkulan Bi Li.

�Sebulan sebelum engkau lahir, Thian-san-pang diserang oleh orang-orang Tok-coa-pang dan dalam pertempuran itu, ibu kandungmu terkena senjata rahasia.

Ia menjadi sakit-sakitan dan ketika melahirkanmu, ia meninggal.

Akan tetapi engkau selamat dan selanjutnya, ayahmu, yaitu mendiang suhu menyerahkan engkau kepadaku untuk kurawat.

Ketika itu Cin Po baru berusia setahun.� Hui Ing nampak marah sekali.

�Ah, jadi ayah dan ibu kandungku semua mati di tangan orang-orang Tok-coa-pang!

Aku harus menuntut balas!� �Bersabarlah, Hui Ing.

Mereka itu lihai sekali.

Tunggulah sampai Cin Po menuntut balas kematian ayahnya, setelah itu baru kita akan membantunya membasmi Tok-coa-pang dan membersihkan Thian-san-pang,� kata Bi Li membujuk.

�Ibu benar, Ing-moi.

Akulah kelak yang akan membalaskan kematian orang tua kandungmu.

Ah, siapa kira bahwa kita bukanlah saudara kandung!

Begitu banyak rahasia menyelimuti kehidupan kita.

Ibu, masih ada satu hal lagi yang ingin sekali kuketahui.

Siapakah nama mendiang ayah kandungku?� Bi Li menghela napas panjang.

�Itu memang kurahasiakan, Cin Po.

Tunggu, kalau kelak engkau sudah berhasil membunuh musuh besar kita, baru akan kuberitahu kepadamu siapa namanya!� Cin Po mengerutkan alisnya.

�Ibu bermarga Sung, kenapa aku juga bermarga Sung?

Tidak mungkin ayah kandungku bermarga Sung.� �Karena nama ayahmu masih kurahasiakan, maka untuk sementara engkau kuberi nama margaku.

Tidak usah banyak bertanya, lakukan balas dendam itu dan engkau kelak akan mengetahui semuanya.� Sejak tadi Lauw In Nikouw hanya mendengarkan saja dan kadang ia menghela napas, menyebut nama Buddha dan menggeleng kepala.

Kini Hui Ing menangis dalam rangkulan Bi Li.

�Kalau begitu aku sudah yatim piatu!

Ahhh, ayah dan ibu kandungku telah mati, aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi...� Gadis itu menangis sedih.

�Hushh, engkau masih mempunyai aku.

Bukankah selama ini aku telah menjadi pengganti ibumu yang menyayangimu?� �Dan engkau masih mempunyai kakak seperti aku, Ing-moi.

Jangan berduka.� �Omitohud, akulah menjadi anggauta keluarga satu-satunya bagimu, Hui Ing.

Karena aku adalah adik kandung ayahmu.� �Nenek...!� Hui Ing kini merangkul orang yang biasanya disebut nenek akan tetapi ternyata adalah bibinya itu.

Setelah bermalam di dalam kuil itu selama tiga hari, pada hari ke empatnya Cin Po berpamit dari ibunya, nenek gurunya dan juga dari Hui Ing untuk mulai dengan tugasnya, yaitu mencari musuh besar pembunuh ayahnya yang berjuluk Hek-siauw Siu-cai (Sasterawan Suling Hitam).

Hui Ing mengantarkan Cin Po sampai di luar dusun Bi-ciu.

Setelah tiba di luar dusun, Cin Po berkata, �Sudahlah Ing-moi, sampai di sini saja engkau mengantarku.

Kembalilah dan aku pesan kepadamu, ingat baik-baik.

Jangan sekali-kali engkau mencoba untuk seorang diri membalas dendam kematian ayah dan ibu kandungmu.

�Tunggu sampai aku kembali.

Mereka itu jahat dan berbahaya sekali dan engkau bukanlah lawannya, Ing-moi.� Hui Ing sudah dapat memulihkan keadaan hatinya yang terguncang mendengar akan riwayatnya itu.

Kini ia memandang wajah pemuda itu dengan sinar mata tajam.

Pemuda itu bukan kakak kandungnya, bukan apa-apanya, melainkan orang lain!

Semenjak ia mengetahui bahwa Cin Po orang lain, terjadi perubahan di dalam hatinya.

Kini ia memandang Cin Po dengan sinar mata yang lain.

Perasaan kagumnya, sayangnya tidak lagi kagum dan sayang seorang adik kepada kakaknya, melainkan kagum dan sayang seorang gadis dewasa terhadap seorang pemuda!

Perubahan ini mengguncangkan perasaannya, membingungkannya sehingga ketika mereka hendak berpisah itu, ada perasaan sedih di hati gadis itu.

�Selamat jalan, koko.� Akhirnya ia berkata.

�Dan jangan engkau melupakan aku...� �Aih, engkau ini aneh-aneh, Ing-moi.

Bagaimana mungkin aku dapat melupakanmu.

Nah, selamat tinggal dan jaga ibu baik-baik.� �Selamat jalan, jaga dirimu baik-baik, koko.� Cin Po pergi, setelah agak jauh membalikkan tubuhnya.

Gadis itu masih berdiri di sana memandangnya.

Dia melambaikan tangannya, dibalas oleh lambaian tangan Hui Ing, akan tetapi jaraknya terlampau jauh kini bagi Cin Po untuk dapat melihat betapa butir-butir air mata menuruni kedua pipi gadis itu.

Cin Po sama sekali tidak tahu bahwa kemenangannya atas tujuh orang Tok-coa-pang ketika dia membantu Hui Ing menjadi perhatian Tok-coa-pang.

Perkumpulan Tok-coa-pang adalah perkumputan sesat yang tidak segan melakukan segala macam kejahatan.

Perkumpulan ini didirikan oleh dua orang kakak beradik she Coa.

Nama mereka tidak dikenal dan orang hanya mengenal mereka sebagai Coa Ta Kui (Iblis Besar Ular) sebagai ketua dan Coa Siauw Kui (Iblis Kecil Ular) sebagai wakil ketua.

She mereka memang dapat diartikan ular.

Mereka berdua memiliki ilmu silat yang tinggi, terutama sekali ahli dalam urusan ular dan penggunaan racun ular.

Mereka dahulunya memang pernah menjadi pawang ular dan berdagang ular-ular berbisa, yang bisanya banyak dibutuhkan untuk pengobatan dan dagingnya dimakan sebagai makanan penguat tubuh.

Setelah mendirikan perkumpulan, mereka memberi nama perkumpulan mereka Tok-coa-pang (perkumpulan Ular Berbisa).

Yang terkenal dengan Tok-coa-pang adalah karena mereka semua mengenakan baju yang kebal senjata, dan mereka itu rata-rata pandai silat, dan pandai mempergunakan bisa ular yang mereka oleskan pada senjata rahasia dan senjata golok mereka sehingga sekali saja lawan tergores senjata mereka, lawan itu akan mengalami keracunan bisa ular yang amat berbahaya.

Karena sifatnya yang jahat, maka perkumpulan Tok-coa-pang ini terkenal di dunia persilatan sebagai pekumpulan sesat, dan semua perkumpulan para pendekar yang termasuk polongan putih tidak mau bergaul dengan mereka.

Bahkan para pendekar memusuhi mereka.

Oleh karena itu, ketika Ban Koan yang mengobati Coa Siauw Kwi yang terluka, membuka pintu untuk melakukan hubungan.

Uluran tangan Ban Koan ini disambut dengan gembira oleh Coa Ta Kui.

Mereka lalu bersekutu dan persekutuan ini berhasil merebut kekuasaan atas Thian-san-pang sehingga kini Thian-san-pang diketuai oleh Ban Koan yang telah menjadi tokoh Tok-coa-pang.

Melalui Thian-san-pang, Coa Ta Kui hendak memperluas pengaruhnya ke dunia kang-ouw.

Coa Ta Kui dan adiknya, Coa Siauw Kwi masih murid keponakan dari See-thian Tok-ong, dan tentu saja mereka itu mempunyai hubungan dengan See-thian Tok-ong yang bekerja untuk pemerintah kerajaan Hou-han.

Melalui Tok-coa-pang, mereka itu hendak mempengaruhi golongan kang-ouw agar kelak mau membantu Hou-han yang berambisi untuk menalukkan kerajaan Sung!

Demikianlah, Tok-coa-pang dan Thian-san-pang telah menjadi sekutu dan merupakan jaringan luar demi kepentingan kerajaan Hou-han yang berkedudukan di Shan-si.

Mereka merupakan jaringan mata-mata yang bertugas membujuk para orang di dunia kang-ouw untuk memusuhi kerajaan Sung, dan juga bertugas untuk membikin kacau dalam daerah kerajaan Sung dengan berbagai kejahatan.

Setelah Cin Po mengalahkan tujuh orang Tok-coa-pang, segera orang-orang itu melapor kepada ketua mereka betapa muncul seorang pemuda yang amat lihai, yang mengalahkan mereka bertujuh dengan tangan kosong belaka.

Tentu saja hal ini menjadi perhatian para pimpinan dan mereka memasang mata-mata sehingga akhirnya Ban Koan yang ikut pula mengambil bagian dalam penyelidikan ini tahu bahwa pemuda yang amat lihai itu bukan lain adalah Cin Po yang dulu bersama Pat-jiu Pak-sian pernah datang dan menghajarnya.

Mendengar bahwa pemuda lihai itu adalah murid Pat-jiu Pak-sian, Coa Ta Kui dan Coa Siauw Kwi segera mengajak Ban Koan untuk menghadap See-thian Tok-ong yang kebetulan sedang datang berkunjung ke Tok-coa-pang.

See-thian Tok-ong memang seringkali datang berkunjung untuk mengadakan hubungan dengan dua orang murid keponakannya itu dan melihat perkembangan jaringan mata-mata yang telah dipasang di wilayah kerajaan Sung melalui perkumpulan Thian-san-pang yang dikenal sebagai perkumpulan orang gagah oleh dunia kang-ouw.

Baru sekali ini Ban Koan bertemu dengan See-thian Tok-ong.

Dia memberi hormat dengan kagum sekali melihat seorang kakek yang berusia enampuluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar seperti raksasa, bermuka hitam menyeramkan dan kepalanya bersorban.

Ban Koan sendiri kini telah menjadi seorang yang usianya sudah empatpuluh tahun lebih, tubuhnya kini menjadi agak gendut dan mata nya menjadi semakin sipit.

Dia telah menikah dengan seorang murid Thian-san-pang sendiri, akan tetapi sampai sekarang belum juga mempunyai keturunan.

Karena itu, maka dia mengambil dua orang selir yang masing-masing memberikan seorang putera dan seorang puteri kepadanya, yang kini telah berusia sekitar sepuluh tahun.

Coa Ta Kui juga seorang yang bertubuh tinggi besar, usianya sebaya dengan Ban Koan, wajahnya seperti seekor singa, penuh brewok di seputar wajahnya, membuat wajah itu nampak menyeramkan.

Adapun Coa Siauw Kwi bertubuh tinggi kurus, amat berbeda dengan kakaknya, karena Coa Siauw Kwi berwajah bersih tanpa kumis tanpa jenggot.

Setelah menerima mereka bertiga, dengan tenang See-thian Tok-ong mendengarkan laporan Coa Ta Kui.

�Supek, di Thian-san ini telah muncul seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan agaknya dia merupakan ancaman bagi kita, karena menurut kererangan Ban Koan, pemuda itu adalah murid Pat-jiu Pak-sian.� �Hemm, betulkah?� tanya See-thian Tok-ong dengan sikapnya yang acuh sambil menoleh kepada Ban Koan.

�Betul, locianpwe, saya mengenal betul anak itu yang berkunjung kepada ibunya di kuil Ban-hok-si.

Dia dahulu tinggal pula di Thian-san-pang karena ibunya adalah sumoi saya sendiri.� �Hemm, berapa usianya?� �Sekitar sembilanbelas tahun.� Datuk Barat itu tertarik.

�Nanti dulu, murid Pat-jiu Pak-sian, usianya sembilanbelas tahun, tubuhnya tinggi besar?

Kira-kira tiga-empat tahun yang lalu...

hemm, ya, mungkin sekali dia!� �Tepat sekali, tubuhnya tinggi besar, dan namanya Cin Po, Sung Cin Po,� kata Ban Koan yang tentu saja mengetahui bahwa Cin Po adalah anaknya sendiri!

�Bagus!

Aku amat membutuhkan pemuda itu.

Kita atur supaya dapat menangkap dia!� See-thian Tok-ong lalu memberi perintah dan petunjuk kepada dua orang murid keponakannya dan Ban Koan.

Siasat lalu diatur dan segala gerak-gerik dari mereka yang tinggal di Ban-hok-si telah diamat-amati oleh orang-orang Tok-coa-pang.

Karena itu, kepergian Cin Po tentu saja juga diketahui, bahkan ketika Hui Ing mengantar Cin Po sampai (Lanjut ke

Jilid 06) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 keluar dusun, para mata-mata itupun melihatnya.

Ketika bayangan Cin Po sudah tidak nampak lagi, barulah Hui Ing membalikkan tubuhnya dan hendak kembali ke kuil, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat lima orang telah berdiri di belakangnya.

Dan seorang di antara mereka adalah Ban Koan yang masih dikenalnya biarpun sudah bertahun-tahun ia tidak melihat orang itu.

Ia memandang kepada orang itu dengan mata bersinar penuh kemarahan.

Inilah orangnya yang mengkhianati ketua Thian-san-pang, mengkhianati ayah kandungnya dan bahkan karena orang ini bersekutu dengan Tok-coa-pang maka ayah dan ibu kandungnya sampai tewas!

Inilah musuh besarnya!

Ban Koan tersenyum ramah memandang kepada Hui Ing, �Eh, engkau Hui Ing, bukan?

Engkau yang dirawat oleh sumoi Bi Li!

Lupakah engkau kepadaku, Hui Ing?

Aku adalah supekmu sendiri, Ban Koan.� �Aku tahu siapa engkau!

Engkau adalah pengkhianat busuk dari Thian-san-pang!

Engkau yang telah menjual Thian-san-pang kepada orang-orang jahat.

Engkau mengkhianati ketua Thian-san-pang, mengkhianati guru sendiri dan membunuh banyak anggauta Thian-san-pang.

Engkau adalah manusia yang licik dan busuk!� Setelah berkata demikian, mengingat bahwa orang ini yang mengakibatkan kematian ayah dan ibu kandungnya, Hui Ing sudah mencabut pedangnya dan menyerang kalang kabut menggunakan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya.

Ban Koan terkejut, tidak mengira gadis itu akan sedemikian marahnya dan menyerangnya.

Dia menduga bahwa gadis ini tentu telah mengetahui rahasia tentang dirinya, bahwa ia bukan puteri kandung Bi Li melainkan puteri kandung mendiang Tiong Gi Cinjin maka menuduhnya seperti itu.

Ia cepat mengelak dan herloncatan ke sana sini untuk menghindarkan diri dari serangan Hui Ing, bahkan lalu menghunus pedangnya untuk membuat perlawanan.

Biarpun dalam hal ilmu pedang Thian-san-kiam-sut dia lebih matang dari kemahiran Hui Ing, akan tetapi karena gadis itu hendak membalas dendam dan nekat sekali sehingga serangan-serangannya amat berbahaya.

Ban Koan lalu memberi isyarat kepada empat orang kawannya dari Tok-coa-pang untuk mengeroyok.

Dikeroyok lima, tentu saja Hui Ing terdesak hebat.

Baru melawan Ban Koan saja, kalau orang itu menghendaki kematiannya, tentu ia akan kalah.

Selain ilmu pedangnya kalah matang, juga Ban Koan telah mempelajari ilmu dari Tok-coa-pang bahkan telah mengenakan baju kebal di bawah bajunya yang biasa.

Kini, dikeroyok lima sebentar saja Hui Ing terdesak hebat.

Kemudian, saat ia terdesak itu, sebuah totokan tangan Ban Koan mengenai pundaknya dan iapun roboh lemas.

Ban Koan menyuruh seorang kawannya untuk cepat memanggul tubuh yang lemas itu dan mereka pergi dengan cepat.

Sementara itu, Cin Po yang berangkat meninggalkan Thian-san, hendak memulai dengan tugasnya mencari musuh besarnya, baru berjalan kira-kira empat lie jauhnya, tiba-tiba ada seorang mendahuluinya dan menghadang perjalanannya.

�Berhenti dulu.

Engkau yang bernama Sung Cin Po, bukan?� Cin Po merasa heran karena dia tidak mengenal orang kurus yang gerakannya gesit itu.

�Benar, aku bernama Sung Cin Po.

Siapa engkau dan ada urusan apakah menghadangku?� �Sung Cin Po, kalau engkau tidak ingin melihat gadis yang bernama Hui Ing itu tewas, kau ikutilah aku!� Orang itu lalu berlari dengan cepat, kembali ke arah Thian-san.

Tentu saja Cin Po menjadi terkejut sekali.

Biarpun orang itu larinya cepat sekali, dengan beberapa lompatan saja dia sudah dapat menyusulnya dan tangannya mencengkeram arah pundak orang itu.

Si kurus itu hendak mengelak, akan tetapi sia-sia saja.

Pundaknya sudah kena dicengkeram oleh Cin Po dan dia mengeluh kesakitan.

�Hayo katakan, apa artinya ini!� bentak Cin Po.

�Ampun, aku hanya disuruh menjadi penunjuk jalan agar engkau dapat menemukan gadis bernama Hui Ing yang telah ditawan.� Cin Po terkejut.

�Kalau begitu cepat bawa aku ke sana!� Orang itu dilepaskan dan orang itu berlari secepatnya menuju ke sebuah hutan di kaki gunung Thian-san.

Cin Po, dengan hati gelisah, mengikuti di belakangnya.

Setelah tiba di tengah hutan yang lebat, orang itu menyusup ke dalam semak belukar dan berkata, �Sudah sampai!� Cin Po tidak memperdulikannya lagi karena perhatiannya tertuju kepada Hui Ing yang dia lihat terbelenggu pada sebatang pohon.

�Hui Ing...!� teriaknya.

�Koko, jangan mendekat, engkau nanti terjebak.

Orang-orang Tok-coa-pang bersekongkol dengan Ban Koan menawan aku.� Hui Ing berteriak-teriak ketika melihat munculnya Cin Po.

Akan tetapi Cin Po tidak takut dan dia melangkah maju.

Tiba-tiba dari balik pohon besar itu muncul dua orang dan tentu saja dia terkejut sekali karena melihat bahwa dua orang itu bukan lain adalah See-thian Tok-ong dan muridnya yang bernama Kam Song Kui!

Dari arah belakangnya terdengar gerakan orang dan ketika menengok, ternyata dia telah dikepung oleh belasan orang anggauta Tok-coa-pang!

�See-thian Tok-ong, apa artinya ini?� bentak Cin Po marah.

See-thian Tok-ong bergelak-gelak.

�Ha-ha-ha-ha, akhirnya engkau muncul juga!� Tahulah Cin Po bahwa Hui Ing ditawan hanya untuk memancing dia datang, maka teriaknya, �See-thian Tok-ong, bebaskan Hui Ing.

Ia tidak bersalah apa-apa, jangan ganggu ia!� �Suhu, jangan bebaskan.

Aku menginginkan gadis itu!� tiba-tiba Kam Song Kui yang tampan dan berpakaiaa mewah itu berkata.

Mendengat ini, See-thian Tok-ong tertawa lagi.

�Ha-ha-ha, memang sudah tiba waktunya engkau mengambil isteri dan kalau engkau menyukai gadis itu, baik sekali.� Cin Po menjadi khawatir bukan main, dan Hui Ing berteriak, �Aku tidak sudi menjadi isterimu, keparat busuk!� �See-thian Tok-ong, engkau seorang datuk dari barat yang terkenal, mengapa tidak malu melakukan perbuatan yang pengecut, menghina orang-orang muda?

Kalau engkau tidak membebaskan Hui Ing, aku akan melawanmu!� �Biarkan aku menghajar dan menangkap orang kurang ajar ini untukmu, suhu!� kata Kam Song Kui sambil mencabut sulingnya yang seperti perak.

Suling terbuat dari baja yang baik berwarna hitam, akan tetapi disepuh perak sehingga nampak putih mengkilap.

Karena sulingnya menggunakan julukan yang gagah, yaitu Kang-siauw Taihiap (Pendekar Besar Suling Baja).

See-thian Tok-ong teringat bahwa pemuda ini adalah murid Pat-jiu Pak-sian dan pernah ditolong oleh Nam-san Sianjin, maka dia khawatir kalau-kalau muridnya tidak akan mampu menang.

Maka dia memberi isyarat kepada murid-murid keponakannya, yaitu Coa Ta Kui dan Coa Siauw Kui, para pimpinan Tok-coa-pang untuk membantu.

Ke dua orang pimpinan Tok-coa-pang ini segera menghunus golok masing-masing dan bersama Kam Song Kui, mereka sudah mengepung Cin Po.

Pemuda ini tidak membawa senjata, maka diapun cepat menyambar sebuah ranting kayu dari pohon di dekatnya.

Ranting sepanjang lengannya inilah yang menjadi senjatanya.

Ketika tiga orang lawannya menyerangnya, diapun memutar rantingnya, bersilat dengan ilmu Tiam-hiat-tung (Tongkat Penotok Darah) dan menggunakan gin-kangnya bergerak cepat mengirim totokan ke arah tiga orang itu.

Tiga orang lawannya cepat menangkis dan mengelak, lalu mereka pun membalas dengan serangan senjata mereka.

Namun, Cin Po memiliki gerakan jauh lebih cepat dan ringan dibandingkan mereka, maka dia mampu mengelak dari sambaran senjata mereka dan balas menyerang dengan cepatnya.

See-thian Tok-ong memandang kagum.

Pemuda itu ternyata benar seperti dugaannya, telah mempelajari ilmu-ilmu dari Nam-san Sianjin pula.

Dia mengenal Tiam-hiat-tung itu.

Dengan menggabungkan ilmu yang dipelajarinya dari Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin, pemuda itu dapat bergerak dengan lincah dan hebat.

Muridnya dan dua orang murid keponakannya akan sukar mendapatkan kemenangan kecuali kalau mereka menggunakan senjata maut beracun.

Dia tidak ingin melihat pemuda itu tewas, karena dia membutuhkannya, untuk diambil darah dan sumsumnya untuk menyempurnakan ilmunya.

Melihat muridnya dan kedua orang murid keponakan itu belum juga mampu mendesak Cin Po, kakek ini lalu meloncat ke depan, berhadapan dengan Cin Po.

Melihat ini, Cin Po menggerakkan rantingnya untuk menotok, akan tetapi tiba-tiba See-thian Tok-ong menudingkan telunjuknya kepada Cin Po, matanya memandang dengan sinar aneh dan terdengar dia membentak.

�Orang muda, berlututlah!� Dalam suara itu terkandung kekuatan sihir yang hebat.

Dan Cin Po tiba-tiba merasa ada dorongan kuat untuk menjatuhkan diri berlutut.

Dia mencoba melawannya dan menolak dorongan keinginan ini sehingga dia terhuyung.

Dan kesempatan itu dipergunakan oleh See-thian Tok-ong tangannya yang dapat mulur panjang untuk mencengkeram pundak Cin Po dan seketika Cin Po menjadi lemas dan roboh!

Cengkeraman kakek itu mengandung racun dalam kuku-kukunya, racun yang membuat lawan menjadi lemas tak berdaya lagi, seperti racun pembius.

�Tua bangka tak tahu malu!

Beraninya mengeroyok!� Hui Ing yang masih terbelenggu di pohon itu memaki-maki ketika melihat Cin Po tertawan pula.

Kam Song Kui sudah cepat membelenggu kaki tangan Cin Po dan diikat pula di pohon dekat pohon di mana Hui Ing diikat.

Keduanya kini terikat di pohon, tak berdaya.

Ternyata pengaruh racun yang membuat lemas itu hanya sebentar, dan Cin Po sudah dapat bergerak kenbali.

Akan tetapi kaki tangannya terikat dan dia memandang kepada Hui Ing.

�Aku menyesal tak dapat menolongmu, Ing-moi,� katanya jujur.

�Aku yang menyesal, koko.

Engkau terjebak karena mereka menangkap aku.� Keduanya saling pandang, dan biarpun tahu bahwa mereka sudah tidak berdaya dan terancam bahaya besar, keduanya sama sekali tidak kelihatan takut.

Melihat sikap gadis itu yang sedikitpun tidak takut, diam-diam Cin Po merasa girang dan bangga.

Sekali lagi dia berusaha menyelamatkan Hui Ing.

�See-thian Tok-ong, sekali lagi aku minta kepadamu agar membebaskan adikku ini.

Engkau sudah berhasil menangkap aku, maka bebaskanlah ia yang tidak bersalah!� �Koko, aku tidak takut mati!

Aku akan bangga dapat mati bersamamu!� teriak Hui Ing dengan lantang dan Cin Po merasa terharu sekali.

Tiba-tiba dia merasa menyesal sekali.

Kalau Hui Ing bukan adiknya, kalau gadis itu tidak mengenalnya, tentu hari ini tidak sampai terjatuh ke tangan iblis tua See-thian Tok-ong.

Pada saat itu, tiba-tiba angin bertiup keras dan entah dari mana datangnya, di situ terdapat angin berpusing yang kuat sekali.

Daun-daun dan debu beterbangan dan berputar cepat.

Putaran angin ini bergerak maju, orang-orang yang terlanggar jatuh bergelimpangan.

See-thian Tok-ong sendiri merasa heran dan dia sudah duduk bersila sambil memejamkan mata mengerahkan tenaganya.

Baca Juga: Pedang Sinar Emas 10

Baca Juga: Dewi Sungai Kuning 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger