Eps 3 Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo.
Dari pusaran angin itu terdengar suara lembut, �See-thian Tok-ong, dari Hou-han berani mengacau di daerah Sung.
Kembalilah ke asalmu!� Suara itu lembut namun berwibawa sekali.
See-thian Tok-ong tidak menjadi gentar, bahkan dia marah sekali.
Sebagai seorang datuk besar yang terkenal lihai dan juga ahli dalam ilmu hitam dan sihir, dia maklum bahwa ada orang sakti menggunakan kekuatan ilmunya untuk mendatangkan angin berputar itu.
Maka, dia lalu bangkit berdiri, menekuk kedua lututnya dan dalam keadaan setengah berjongkok itu dia mendorongkan kedua tangannya.
Uap hitam mengepul dari kedua tangan itu ke arah angin berpusing yang berada di depannya.
�Wuuuttt...
Desss...!!� Hawa pukulan yang dahsyat menyambar ke arah angin berputar itu dan akibatnya, tubuh See-thian Tok-ong terlempar ke belakang seperti didorong oleh tenaga yang amat kuat.
Ternyata tenaga dorongannya tadi ketika bertemu dengan angin berputar, lalu kembali dan mendorongnya sendiri sampai terpental.
Melihat kenyataan ini, See-thian Tok-ong menjadi gentar.
Baru sekali ini selama hidupnya dia menghadapi kenyataan pahit.
Pukulannya yang amat hebat, bukan saja hebat karena tenaga sakti, akan tetapi juga pukulan ini mengandung hawa ilmu hitam yang amat kuat dan berbahaya, tertolak begitu saja oleh angin berputar itu dan membuat dia terpental jauh ke belakang!
Darah tersembur keluar dari mulutnya dan tahulah dia bahwa dia telah terluka dalam, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu pergi dari situ, diikuti dengan tergesa-gesa dan penuh rasa gentar oleh para murid dan pengikutnya.
Cin Po dan Hui Ing melihat angin berputar itu menghampiri diri mereka.
Tentu saja mereka terkejut dan khawatir.
Akan tetapi tiba-tiba, entah bagaimana, belenggu kaki tangan mereka putus semua dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, mereka terangkat oleh angin berputar itu dan dibawa terbang cepat!
Dalam waktu beberapa menit saja mereka telah jauh meninggalkan daerah Thian-san dan tibalah mereka di sebuah padang rumput.
Angin berputar yang menyeret dan menerbangkan mereka itu masih berputar di situ, lalu tiba-tiba angin itu berhenti berputar dan tubuh mereka berdua terpelanting ke atas rumput!
Cin Po terkejut bukan main.
Tadi dia sudah mengerahkan tenaga sakti sekuatnya untuk melepaskan diri dari daya tarik angin berputar itu, akan tetapi semua usahanya sia-sia.
Angin berputar itu terlalu kuat sehingga dia tak mampu melepaskan diri.
Dan begitu angin itu berhenti berputar, tubuhnya terpelanting seperti sehelai daun kering!
Begitu tubuhnya jatuh ke atas padang rumput sampai bergulingan.
Cin Po lalu melompat bangun.
Dia melihat Hui Ing juga sudah merangkak bangun dan mereka berdua memandang ke arah angin berputar tadi.
Akan tetapi tidak nampak lagi angin berputar dan yang berada di situ adalah seorang kakek yang tua renta.
Kakek berambut putih, berkumis dan berjenggot putih dan panjang.
Dan pakaiannya!
Dari kain kasar penuh tambalan pula, walaupun pakaian itu bersih namun jelas itu adalah pakaian seorang pengemis!
Cin Po menjadi bingung dan ragu.
Apakah pengemis tua ini yang tadi mendatangkan angin berputar dan menolong dia dan Hui Ing dari tangan See-thian Tok-ong?
Hui Ing juga berdiri dan memandang bengong, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana karena ia tidak tahu siapa pengemis tua ini, dan kemana perginya angin berputar tadi.
Akan tetapi, Cin Po yang berada di sebelahnya sudah memegang tangannya dan ditariknya tangannya oleh Cin Po yang mengajak ia berlutut menghadap pengemis tua itu.
�Locianpwe telah menyelamatkan kami berdua dari tangan See-thian Tok-ong, sungguh budi locianpwe amat besar dan kami berdua menghaturkan banyak terima kasih,� kata Cin Po sambil memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, diikuti oleh Hui Ing.
Kakek yang berpakaian seperti pengemis itu tersenyum dan wajahnya nampak seperti wajah seorang kanak-kanak ketika dia tersenyum ramah, sepasang matanya yang lembut itu juga ikut tersenyum.
�Siapakah kalian anak-anak muda dan kenapa kalian sampai terjatuh ke tangan See-thian Tok-ong?� Pertanyaan ini bagi Cin Po seperti sambil lalu saja dan dia yakin bahwa tanpa diberi keteranganpun agaknya kakek ini sudah mengetahui segalanya.
Akan tetapi dia menjawab juga memperkenalkan diri.
�Teecu bernama Sung Cin Po dan ini adalah adik teecu bernama Kwan Hui Ing.
Kami berdua adalah cucu-cucu murid Thian-san-pang yang kini diduduki seorang pengkhianat yang bersekutu dengan Tok-coa-pang.
�Ketika teecu meninggalkan tempat tinggal ibu teecu, yaitu di Ban-hok-si, di tengah perjalanan teecu diberitahu bahwa kalau teecu ingin melihat adik teecu selamat, teecu harus mengikuti orang itu.
�Ternyata adik teecu telah ditangkap oleh See-thian Tok-ong.
Teecu hendak membebaskannya, akan tetapi teecu malah tertawan pula.� Kakek itu mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk sambil tersenyum.
�Sebetulnya engkau sudah memiliki bakat yang membuat engkau tidak akan kalah menghadapi orang seperti See-thian Tok-ong itu, hanya sayang bakatmu masih terpendam dan belum digali.
Aku melihat bahwa kalian berjodoh denganku, dan melihat pula bahwa belum waktunya kalian tewas, maka aku membawa kalian ke sini.� Mendengar ini Cin Po lalu memberi hormat.
�Locianpwe, kalau benar teecu berdua berbakat dan berjodoh dengan locianpwe, teecu mohon agar locianpwe sudi menerima teecu berdua sebagai murid.� Karena yakin bahwa kakek ini adalah seorang yang luar biasa saktinya, Hui Ing mendengar ucapan kakaknya, juga ikut memberi hormat dan memohon.
Kakek itu mengangguk-angguk.
�Aku tidak akan menjadi guru kalian, hanya memberi sedikit petunjuk kepada kalian agar kalian dapat mematangkan ilmu yang sudah kalian miliki.
Marilah kalian ikut aku!� Kakek itu lalu melangkah pergi.
Langkahnya begitu ringan seolah dia tidak, menginjak tanah, dan kedua orang muda itu cepat-cepat mengikuti.
Cin Po saling pandang dengan Hui Ing dan seolah mereka dapat membaca isi hati masing-masing.
Biarpun kakek itu melangkah begitu ringan dan seenaknya, namun kedua orang muda itu harus mengerahkan tenaga untuk tidak sampai tertinggal.
Dan dalam tatapan mata Hui Ing, Cin Po dapat merasakan sedikit keraguan.
Tentu adiknya ingat akan ibunya.
Mereka menjadi murid kakek sakti ini begitu saja dan Hui Ing mengikutinya tanpa lebih dulu memberitahu ibunya.
Tentu ibunya akan menjadi cemas dan mencari-carinya.
Sampai berapa lama mereka akan menerima petunjuk kakek itu?
Memang semula Hui Ing merasa khawatir karena tidak lebih dulu memberitahu ibunya.
Orang tua itu tentu akan merasa gelisah sekali karena ia menghilang begitu saja tanpa pamit.
Akan tetapi ketika ia teringat bahwa Cin Po berada bersamanya, hatinya menjadi tenang kembali dan gadis ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat mengimbangi tubuh kakek yang seperti meluncur terbawa angin itu.
Kakek itu membawa mereka ke sebuah bukit.
Orang menyebut bukit ini Pek-liong-san (Bukit Naga Putih).
Menurut dongeng kuno, katanya bukit ini pernah menjadi tempat bertapa seekor naga putih!
Dan di puncak bukit itu terdapat lantai batu yang ada bekas tapak kaki naga itu!
Tentu saja kebenaran dongeng ini masih perlu dibuktikan, akan tetapi yang jelas bukit itu disebut Bukit Naga Putih.
Dan karena puncak bukit itu gundul, terdiri dari tanah padas dan kapur, maka jarang ada manusia mendaki bukit yang tidak ada apa-apanya itu.
Agaknya justeru kesunyian bukit inilah yang membuat kakek itu memilih tempat ini sebagai tempat tinggalnya, yaitu di sebuah guha besar.
Seperti biasa, bukit kapur selalu mempunyai banyak guha-guha.
Setelah tiba di guha besar itu, kakek tadi duduk bersila dan kedua orang muda itu berlutut di depan kakinya.
�Cin Po, dan kau Hui Ing, tidak biasanya aku memberi petunjuk kepada orang-orang muda seperti kalian.
Akan tetapi seperti kukatakan tadi, agaknya ada jodoh antara kalian denganku, maka aku akan memberi petunjuk kepada kalian.
�Akan tetapi ketahuilah bahwa ilmu yang akan kuajarkan kepada kalian mempunyai pantangan, yaitu kalau kalian pergunakan untuk kejahatan, ilmu itu akan menghancurkan kalian sendiri.
Aku percaya bahwa kalian orang-orang muda yang bijaksana, maka aku berani mengajarkan kepada kalian.� �Terima kasih sebelumnya atas segala petunjuk Suhu!� kata Cin Po gembira.
�Terima kasih, Suhu,� kata pula Hui Ing.
Demikianlah, mulai hari itu, Cin Po dan Hui Ing menerima petunjuk dari kakek itu.
Selain memperdalam ilmu yang telah mereka kuasai, mereka juga menerima pelajaran ilmu silat yang diberi nama Ngo-heng-sin-kun (Ilmu Silat Lima Anasir).
Di samping itu, mereka juga menerima ilmu kekuatan sihir untuk mempengaruhi pikiran lawan.
Akan tetapi mereka berdua dipesan bahwa ilmu sihir ini tidak, boleh dipergunakan untuk mencelakai lawan, hanya boleh untuk menjaga atau membela diri saja.
Mereka berdua selain berlatih ilmu, juga melayani keperluan kakek itu, mencuci pakaian, menyediakan makanan atau minuman.
Akan tetapi kakek itu jarang sekali makan, lebih banyak berpuasa, bahkan jarang bercakap kalau bukan untuk menerangkan ilmu yang diajarkannya.
Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya sehingga dua tahun telah lewat sejak Cin Po dan Hui Ing berlatih ilmu dari kakek aneh itu.
Kakek itu memang aneh.
Ketika pada suatu hari Cin Po dan Hui Ing bertanya siapa sebenarnya nama kakek itu, dia hanya terkekeh dan menjawab, �Aku ini seorang yang sudah tua dan tidak mempunyai nama, kenapa tanya-tanya soal nama?
Aku tidak mempunyai nama.� Setelah terkekeh lagi, dia menyambung, �Apa sih artinya nama?
Betapa baik atau buruknya pun sebuah nama, itu tidak menunjukkan kenyataan atau keadaan yang diberi nama itu.� �Kalau begitu, Suhu ini Bu Beng Lojin (Orang Tua Tanpa Nama)!� kata Cin Po.
�Heh-heh-heh, biarpun artinya Orang Tua Tanpa Nama, kalau sudah disebut, menjadi nama juga.
Ha-ha, terserah, diberi nama apapun, tidak akan mengubah keadaan diriku yang sebenarnya.� �Kalau boleh teecu bertanya, sebenarnya Suhu ini siapakah dan berasal dari mana?� �Sudahlah tidak perlu ditanyakan hal itu, aku sendiripun sudah lupa dari mana aku berasal dan siapakah diriku ini.
Yang terpenting bagi kalian adalah bahwa selama hidup ini kalian berlakulah benar.
Ambillah jalan benar di manapun kalian berada, karena hanya jika kalian dapat melalui jalan kebenaran maka hidup kalian di dunia tidak akan sia-sia.� �Akan tetapi Suhu,� kata Cin Po.
�Apakah kebenaran itu?
Semua orang selalu mengatakan bahwa dia bertindak demi kebenaran.
Kalau ada dua pihak bermusuhan, keduanya tentu akan mengaku bahwa pihak mereka yang benar.
Kebenaran diperebutkan oleh semua orang, sesungguhnya apa yang disebut kebenaran itu, Suhu?
�Ini penting bagi teecu berdua karena tadi Suhu menasihatkan agar teecu berdua bertindak melalui jalan kebenaran, sehingga sudah semestinya kalau teecu mengerti apa yang dinamakan kebenaran itu.� �Kebenaran tidak bisa diperebutkan, kalau bisa diperebutkan itu bukan kebenaran lagi namanya.
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang ada manfaatnya bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Kalau hanya baik bagi diri sendiri akan tetapi tidak baik bagi orang lain, itu bukan kebenaran namanya.
�Perbuatan menuruti nafsu sudah tentu tidak benar, satu-satunya perbuatan benar adalah perbuatan yang dituntun oleh kekuasan Tuhan.
Dan untuk memperoleh tuntunan itu, kalian haruslah menyerah dengan sepenuh hatimu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Barulah perbuatanmu akan benar.
�Ingat benar, kalau dibalik perbuatan itu ada pamrih demi kepentingan atau kesenangan diri pribadi, maka perbuatan itu pasti mengandung ketidak-benaran.
�Nah, sudah cukup aku bicara tentang kebenaran, selanjutnya, serahkan saja kepada Tuhan yang pasti akan memberi bimbinganNya kepada kalian.
Tuhan pasti memberi bimbingan kepada hati yang benar-benar baik dan bersih.� �Terima kasih atas nasihat Suhu dan teecu berdua pasti akan menaatinya sekuat mungkin,� kata Cin Po.
�Suhu, teecu ingin sekali bertanya tentang sesuatu,� kata Hui Ing.
�Ayah dan ibu kandung teecu dibunuh orang.
Kalau teecu membalas dendam dan membunuh orang itu, apakah perbuatan teecu itu tidak benar?� �Dendam kebencian merupakan racun bagi hati dan pikiran.
Buanglah jauh-jauh dendam kebencian itu.
Seorang yang pernah melakukan kejahatan belum tentu selamanya dia jahat.
Mungkin dia telah sadar dan berobat dan kemudian menjadi orang yang baik.
Kalau engkau hendak menentang seseorang, tentanglah kejahatannya.
Menentang kejahatan memang menjadi tugas kalian, akan tetapi penentangan itu bukan berdasarkan dendam pribadi, melainkan berdasar menyelamatkan banyak orang dari pada kejahatan orang itu.
Mengertikah kalian?� �Teecu mengerti, Suhu,� kata Hui Ing.
�Teecu mengerti, Suhu,� kata pula Cin Po yang juga teringat akan dendam yang ditanamkan sejak dia kecil oleh ibu kandungnya terhadap musuh besar yang telah membunuh ayah kandungnya.
Kini dia merasa lega.
Dia akan mencari orang itu dan kalau mendapatkan orang itu jahat, dia akan menentangnya dan kalau perlu membunuhnya karena kejahatannya, bukan karena dia hendak membalaskan kematian ayahnya.
Demikian pula dengan Hui Ing.
Di dalam hatinya, tadinya gadis ini mendendam kepada Ban Koan dan Tok-coa-pang.
Setelah mendengar pesan kakek itu, iapun merasa lega.
Kalau Ban Koan masih jahat, tentu akan dibasminya, demikian pula dengan Tok-coa-pang.
Akan tetapi kalau Ban Koan sudah bertobat dan menjadi orang baik tidak ada alasan baginya untuk membunuhnya.
�Bagus, yang terpenting adalah pengertian kalian tentang tugas hidup karena kalian dijelmakan menjadi manusia tidaklah sia-sia.
Tuhan menghendaki agar manusia melakukan kebaikan dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi manusia lain.
�Sekarang kalian telah mempelajari ilmu.
Ingat, ilmu itu tiada batasnya.
Jangan sekali-kali menganggap bahwa setelah mempelajari ilmu dariku, kalian lalu merasa yang paling pandai.
Sama sekali tidak.
�Kepandaian yang dapat dimiliki manusia hanyalah sekelumit, dan Yang Maha Pandai hanyalah Tuhan.
Dari Tuhan semuanya datang, kita ini hanyalah alat belaka, maka jadilah alat yang baik, jadilah alat yang berguna!
�Janganlah sekali-kali suka mengunggulkan diri.
Makin rendah hati, kalian akan menjadi lebih waspada dan semakin dekat dengan kekuasaan Tuhan.
Yang tinggi hati dan sombong, sekali waktu pasti akan jatuh dan menyadari bahwa segala kekuasaan, kepandaian dan segalanya adalah milik Tuhan.
�Sekarang kalian boleh melanjutkan perjalanan ke mana kalian suka.
Akan tetapi ada sedikit pesanku.
�Belasan tahun yang lalu, aku memiliki sepasang pedang, yaitu Im Yang Siang-kiam (Sepasang Pedang Langit Bumi) Pedang itu dicuri orang dan kini dia bersembunyi di Pulau Iblis, di Lautan Kuning.
Kalau kalian dapat merampas sepasang pedang itu baik sekali, untuk kalian seorang sebatang.
�Kalau dibiarkan berada dalam tangan orang yang sesat jalan, sepasang pedang itu dapat dipergunakan untuk kejahatan, dan hal itu sungguh sayang sekali.
Nah, sekarang kalian boleh pergi.� �Suhu hendak ke mana?� tanya Hui Ing.
Kakek itu tersenyum.
�Manusia tidak akan dapat melepaskan diri dari maut.
Selama tinggal di dalam badan yang terdiri dari daging, tulang dan kulit ini, pasti badan ini akan rusak, sakit dan mati.
Akan tetapi sebelum kematian tiba, aku ingin pergi ke Atap Dunia.� �Suhu maksudkan pergi ke Pegunungan Himalaya?� tanya Cin Po.
�Engkau sudah mengerti.
Nah, aku mau pergi sekarang.
Ingat semua pesanku kalau kalian ingin selamat dan berbahagia dalam kehidupan kalian.� Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan dan melambaikan tangannya, lalu dia berkelebat dan lenyap dari depan guha itu.
Cin Po dan Hui Ing menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah guru mereka pergi dan keduanya berbisik mengucapkan selamat jalan.
Sejenak mereka berlutut seperti patung, mengingat segala kebaikan guru itu dan segala ilmu yang telah mereka pelajari selama dua tahun itu.
�Ing-moi...!� Akhirnya Cin Po yang menegur terlebih dahulu.
Hui Ing menoleh dan Cin Po melihat betapa kedua mata adiknya itu basah dan agak kemerahan.
�Engkau menangis?� �Aku terharu, koko.
Suhu begitu baik kepada kita, dan sudah dua tahun ini kita hidup bersamanya, menerima gemblengan darinya.
Sekarang, tiba-tiba suhu pergi meninggalkan kita, bagaimana hatiku tidak menjadi sedih?
Semangatku seakan-akan pergi mengikuti suhu.� Cin Po menghela napas panjang.
Betapa pada dasarnya setiap orang manusia ini selain merasa sendirian, kesepian dan mudah sekali hati ini melekat kepada siapa saja dan apa saja.
Dia sendiri pun tidak ada bedanya, maka diapun berkata, �Aku mengerti bagaimana perasaanmu Ing-moi.
Akan tetapi kita semua harus berani menghadapi kenyataan bahwa setiap pertemuan tentu diakhiri dengan perpisahan.
Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini Ing-moi, dan kita harus selalu siap menghadapi segala perubahan yang tiba menimpa diri kita.
�Biarlah kita mengikuti suhu dengan perasaan terima kasih kita, dan untuk memberi ujud kepada rasa terima kasih kita itu, kita harus memenuhi semua harapan dan nasihatnya.
Tidakkah kau pikir begitu?� �Engkau benar, koko.
Sekarangpun aku sudah mengalihkan perhatianku, membayangkan betapa akan senangnya hati ibu dan nenek, kalau melihat kita kembali ke Ban-hok-si setelah dua tahun pergi tanpa pamit.� �Akan tetapi, Ing-moi.
Ingat akan pesan suhu.
Bukankah kita harus merampas kembali Im-yang Siang-kiam milik suhu yang dicuri orang itu?� �Apakah kita tidak pulang saja lebih dulu agar ibu tidak menjadi gelisah, koko?� �Kupikir lebih baik kita pergi mencari pedang itu lebih dulu, Ing-moi.
Kalau kita pulang lebih dulu, tentu ibu dan nenek tidak akan memperkenankan kita pergi lagi.
Sudah kepalang kita meninggalkan mereka setelah kita berhasil merampas pedang, baru kita kembali.
Atau engkau saja kembali lebih dulu, dan aku yang berusaha merampas pedang?� �Tidak, koko!
Bukankah ini merupakan tugas kita berdua karena pedang itu untuk kita berdua?
Marilah, aku menurut bagaimana sebaiknya kau yang menentukan saja.� Mereka lalu meninggalkan Pek-liong-san, menuruni bukit itu dan melakukan perjalanan menuju ke timur, ke Lautan Kuning.
Kita menengok dulu keadaan Bi Li dan Liauw In Nikouw di Ban-hok-si.
Mereka sama sekali tidak menduga ada peristiwa buruk menimpa Hui Ing ketika seorang penduduk dusun berlari-larian menemui mereka dengan muka pucat dan napas terengah-engah.
�Celaka, toanio..., celaka...
nona Hui Ing...!� Sung Bi Li memegang pundak orang itu dan mengguncangnya.
�Ada apakah, paman?
Apa yang terjadi dengan Hui Ing?
Tenangkan hatimu dan ceritakan yang jelas.� Lauw In Nikouw mengambilkan air teh untuk diminumkan orang itu.
Setelah minum, barulah orang itu agak tenang sedikit.
�Saya baru saja lewat di luar pintu gerbang dusun kita.
Saya melihat nona Hui Ing berkelahi melawan lima orang, kemudian nona Hui Ing roboh dan dipanggul oleh seorang di antara mereka, dibawa lari.� �Celaka!� Sung Bi Li berlari masuk mengambil pedangnya dan ia segera berlari keluar dari dusun itu untuk melakukan pengejaran.
Memang ia melihat bekas tapak kaki orang-orang berkelahi di situ, akan tetapi tidak nampak lagi bayangan lima orang yang menculik Hui Ing.
Ia lalu teringat kepada Thian-san-pang.
Siapa lagi kalau bukan mereka atau Tok-coa-pang yang menculik Hui Ing?
Ia sudah mendengar desas-desus bahwa orang-orang Thian-san-pang dan Tok-coa-pang seringkali melakukan penculikan, terhadap gadis-gadis dusun.
Ia lalu pulang dan mengajak Lauw In Nikouw pergi ke Thian-san-pang.
Kalau ia tidak berhasil membujuk Ban Koan, mungkin Lauw In Nikouw akan berhasil agar Ban Koan menyelidiki anak buahnya dan membebaskan Hui Ing kalau benar diculik oleh mereka.
Dua orang wanita itu bergegas naik ke lereng Pegunungan Thian-san, langsung menuju ke markas Thian-san-pang.
Para anggauta Thian-san-pang yang lama tentu saja mengenal mereka dan tidak ada yang berani mengganggu ketika Sung Bi Li dan Lauw In Nikouw memasuki pintu gerbang perkampungan itu.
Seorang anggauta lalu memberi laporan kepada Ban Koan tentang kunjungan ini.
Ban Koan bergegas keluar dan menyambut mereka.
Begitu melihat Bi Li, jantungnya masih berdebar.
Ah, setelah sekian tahun tidak bertemu sumoinya itu, ternyata hatinya masih terguncang begitu bertemu.
Dia masih mencintai sumoinya itu!
�Aih, kiranya engkau, sumoi.
Dan Su-kouw (bibi guru) juga datang berkunjung.
Selamat datang dan mari silakan masuk!� �Tidak usah masuk, suheng.
Kita bicara di sini saja!� kata Bi Li dengan ketus dan dingin.
Ban Koan menarik napas panjang.
�Engkau masih tidak berubah, sumoi.
Baiklah, ada keperluan apakah engkau mencari aku?
Apa yang dapat kulakukan untukmu, sumoi?� �Suheng, bebaskan sekarang juga, Hui Ing!� teriak Bi Li dengan marah.
�Sumoi, apa maksudmu?� Ban Koan pura-pura kaget, pada hal tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi dengan Hui Ing yang telah ditolong oleh angin berputar yang aneh.
�Suheng, tidak usah berpura-pura.
Hui Ing diculik oleh lima orang pria.
Siapa lagi mereka itu kalau bukan engkau atau anak buahmu?
Cepat perintahkan anak buahmu untuk membebaskan Hui Ing atau aku akan mengadu nyawa denganmu!� �Sabarlah, sumoi.
Sungguh mati aku tidak tahu di mana Hui Ing berada.� �Bohong...!� teriak Bi Li.
�Ban Koan, harap jangan mencari keributan dan bebaskanlah Hui Ing, kalau benar ditawan oleh orang-orangmu,� Lauw In Nikouw membujuk dengan sauaranya yang lembut.
�Su-kouw, saya sama sekali tidak tahu, di mana adanya Hui Ing.
Bagaimana harus membebaskannya?� �Suheng Ban Koan!
Ingat, kalau engkau berkeras tidak mau menyelidiki anak buahmu dan membebaskan Hui Ing, aku akan menyiarkan ke seluruh pelosok agar dunia kang-ouw mengetahui akan pengkhianatanmu, dan bahwa Thian-san-pang kau ajak menyeleweng dan bersekutu dengan Tok-coa-pang!� �Sumoi, jangan marah dulu.
Engkau sudah hafal akan keadaan di perkampungan kita ini.
Nah, kenapa tidak kau selidiki dan geledah sendiri apakah Hui Ing berada di sini?� �Baik, aku akan mengadakan penggeledahan!� kata Bi Li dan ia lalu melangkah masuk diikuti oleh Louw In Nikouw.
Ban Koan mengikuti pula dari belakang.
Bi Li menggeledah ke dalam rumah, tidak memperdulikan keluarga Ban Koan yang menjadi terkejut.
Ia tentu menuju ke belakang dan kini bagian belakang rumah itu telah dijadikan tempat tahanan oleh Ban Koan.
Bi Li menggeledah tempat ini, memasuki setiap tahanan dan mencari-cari.
Ketika ia memasuki sebuah kamar tahanan besar yang kosong, tiba-tiba dari luar Ban Koan menutupkan pintu tahanan itu dan menguncinya.
Bi Li terkejut sekali, melompat ke pintu itu dan mendorong-dorongnya sekuat tenaga.
Akan tetapi pintu itu terbuat dari besi, kokoh kuat dan tidak dapat terbuka.
�Ban Koan, apa yang kaulakukan ini?
Lepaskan aku, cepat!� Bi Li mencabut pedangnya dan mengamuk kalang kabut membacoki pintu, akan tetapi hanya mengeluarkan suara berkerontangan, tidak mampu membuka pintu itu.
�Bi Li, engkau tenang-tenanglah tinggal di sini, engkau akan diperlakukan dengan baik.
Ingat, aku tetap sayang padamu, Bi Li, hanya engkaulah yang tidak tahu dicinta orang.� �Bebaskan aku, Ban Koan, lepaskan aku!� �Dan membiarkan engkau berteriak-teriak di dunia kang-ouw memburuk-burukkan Thian-san-pang?
Tidak, Bi Li, kau tinggal dulu di sini untuk sementara.� Lauw In Nikouw menjadi marah.
�Omitohud...!
Mengapa engkau berubah menjadi jahat begini, Ban Koan?
Ingat, Bi Li adalah sumoimu sendiri dan Hui Ing adalah murid keponakanmu.
Aku sendiri yang akan menyiarkan di dunia kang-ouw kalau engkau tidak segera membebaskan Bi Li dan Hui Ing!� �Ah, Su-kouw sudah tua.
Jangan ikut-ikut urusan ini, pergi saja sana bersembahyang di kuilmu!� kata Ban Koan yang menjadi marah dan dia menggunakan tangannya mendorong tubuh nenek itu agar pergi keluar.
Didorong oleh tangan yang kuat itu, Lauw In Nikouw terpental keras dan menabrak dinding kuat-kuat.
Nenek itu mengeluh dan tubuhnya terkulai lemas, kepalanya berdarah.
Ban Koan terkejut.
Dia telah lupa bahwa nenek ini adalah seorang yang lemah.
Dorongannya tadi terlampau kuat dan nenek itu menabrak dinding, kepalanya terbentur dinding dan kini ia terkulai dengan kepala retak.
Ban Koan cepat berjongkok dan memeriksa, kaget juga melihat nenek itu sudah tewas!
�Ban Koan, engkau...
engkau telah membunuh Su-kouw...!
Ah, keparat, Ban Koan, engkau membunuh Su-kouw...!� Bi Li berteriak, teriak dan mengguncang-guncang pintu kamar tahanan.
�Ia tidak mati, aku akan mengobatinya,� kata Ban Koan berbohong dan dia memondong tubuh tubuh nenek itu keluar dari situ, menutupkan pintu yang menyambung ke arah tempat tahanan itu sehingga dia tidak mendengar lagi teriakan dan makian Bi Li.
Setibanya di luar, Ban Koan menyuruh anak buahnya menyediakan peti mati dan kereta.
Setelah meletakkan jenazah nenek itu ke dalam peti mati, dia menyuruh anak buahnya mendorong kereta dorong menuruni lereng.
Dia sendiri yang mengantar jenazah itu ke kuil Ban-hok-si.
Dan dia mengatakan kepada para nikouw di situ bahwa Lauw In Nikouw menderita kecelakaan, terjatuh ketika hendak mengunjungi Thian-san-pang.
Para nikouw menyambut dan mengurus pemakaman jenazah itu sebaik-baiknya.
Mereka tidak berani banyak bicara lagi karena mereka semua sudah tahu bahwa Ban Koan adalah ketua Thian-san-pang dan penguasa daerah itu.
Demikianlah, Sung Bi Li menjadi tahanan dalam Thian-san-pang dan biarpun dia bebas tidak terbelenggu, namun ia tidak dapat meninggalkan ruangan tahanan itu, di mana ia ditahan dan dijaga ketat siang malam.
Bi Li menjadi putus asa dan harapan satu-satunya, hanyalah Cin Po.
Ia tidak tahu bagaimana nasib Hui Ing, akan tetapi ia tahu benar bahwa Cin Po bebas di luar.
Tentu sekali waktu Cin Po akan pulang ke kuil Ban-hok-si dan mendengar dari para nikouw bahwa Lauw In Nikouw telah tewas sedangkan ia setelah pergi ke Thian-san-pang tidak kembali lagi.
Pasti Cin Po akan mencarinya ke Thian-san-pang.
Kalau tidak mempunyai gantungan harapan ini, mungkin Bi Li telah membunuh diri!
Setiap kali mengingat akan nasib Hui Ing yang dikabarkan tertawan oleh orang-orang jahat, hati Bi Li menjadi risau sekali.
Ia tidak tahu bagaimana keadaan Hui Ing, dan ia hanya dapat berdoa semoga gadis itu terlepas dari bencana.
Sekarang kita tinggalkan Bi Li yang sudah dua tahun menjadi kurus karena memikirkan Hui Ing yang lenyap dan Cin Po yang tak kunjung pulang, dan mari kita ikuti perjalanan Hui Ing dan Cin Po yang melakukan perjalanan menuju ke Lautan Kuning untuk mencari pedang Im-yang Siang-kiam milik Bu Beng Lojin yang lenyap dicuri orang.
Mereka melakukan perjalanan dengan cepat dan pada suatu hari mereka tiba di tepi Lautan Kuning.
Mereka mencari pantai yang terdapat dusun nelayan dan memasuki dusun itu.
Mereka tidak tahu di mana letaknya pulau yang dimaksudkan guru mereka.
Pulau yang agaknya menjadi tempat tinggal pencuri pedang itu.
Pula, mereka berdua asing dengan lautan.
Andaikata tahu letaknya pulau itupun, bagaimana mereka akan mampu mencarinya Mereka tidak biasa berlayar, apalagi mengemudikan perahu melalui lautan yang bergelombang dahsyat itu.
Baru melihatnya saja mereka sudah merasa ngeri.
Mereka mulai bertanya-tanya kepada para nelayan, kalau-kalau ada yang mengetahui di mana adanya Pulau Iblis dan kalau-kalau ada yang dapat mengantar mereka ke sana.
Akan tetapi para nelayan itu menggeleng kepala.
Tidak seorangpun mengetahui di mana adanya Pulau Iblis itu.
�Aku tahu di mana Pulau Iblis itu...!� Tiba-tiba seorang nelayan berkata.
Cin Po dan Hui Ing menjadi girang sekali dan mereka memandang kepada nelayan itu.
Yang bicara itu seorang nelayan yang kulitnya terbakar sinar matahari sampai menghitam, usianya sekitar empatpuluh tahun dan tubuhnya kokoh kekar nampak kuat sekali.
Bukan hanya Cin Po dan Hui Ing yang memandang orang itu, juga para nelayan lain, akan tetapi para nelayan itu agaknya tidak mengenal nelayan ini.
�Sobat, benarkah engkau mengetahui di mana adanya Pulau Iblis itu?� Nelayan itu mengangguk.
�Aku seorang nelayan pendatang dari pantai sebelah selatan.
Aku pernah mencari ikan di dekat sebuah pulau yang nampaknya kosong dan para nelayan lain menyebutnya Pulau Iblis.
Pulau itu kelihatan menyeramkan, apalagi dengan nama itu, sehingga tidak ada seorangpun berani mendarat di sana.� �Sobat, dapatkah engkau mengantar kami ke sana?
Berapapun biayanya akan kami bayar!� kata Hui Ing penuh semangat karena tidak menyangka demikian mudahnya mereka akan mendapatkan keterangan tentang pulau itu.
�Jauhkah pulau itu dari sini?� tanya Cin Po.
�Pulau itu cukup jauh dari sini sehingga tidak tampak dari sini.
Pula, pulau itu kecil saja.
Untuk mengantar kalian ke sana?
Wah, tidak semudah itu, kecuali tentu saja kalau kalian mempunyai cukup emas untuk membayarku!� Mendengar ini, Hui Ing mengerutkan alisnya dan ia lalu mengeluarkan sehelai saputangan dari bajunya.
�Apakah emas sebegini sudah cukup untuk membayarmu, sobat?� katanya dan dalam suaranya terkandung getaran aneh.
Nelayan itu memandang dan matanya terbelalak karena dalam buntalan saputangan itu dia melihat emas berkilauan yang amat banyak.
�Ing-moi...!� Cin Po mengeluarkan seruan yang nadanya menegur dan sambil tersenyum Hui Ing lalu mengantungi lagi saputangannya.
Nelayan itu berseri-seri wajahnya dan dia berkali-kali mengangguk.
�Sudah cukup, lebih dari cukup.
Nah, mari kita segera berangkat, pelayaran ke Pulau Iblis memakan waktu setengah hari!
Itu, di sana perahuku, silakan naik!� Perahu itu ternyata sedikit lebih besar dari pada perahu-perahu nelayan yang berada di tempat itu, dilengkapi pula dengan layar.
Dengan girang Cin Po dan Hui Ing naik ke perahu dan duduk di dalamnya.
Nelayan itu mendayung perahunya ke tengah, setelah terlepas dari ombak yang menghempas ke pantai dia lalu memasang layar.
Cin Po berbisik.
�Engkau tidak seharusnya melakukan itu, Ing-moi.� �Hanya untuk main-main, koko.
Agar dia mau mengantar kita dan juga untuk menguji apakah ilmuku sudah cukup kuat,� kata Hui Ing sambil tersenyum manis.
Cin Po menghela napas.
Tadi Hui Ing telah memperlihatkan sihirnya sehingga saputangan kosong itu kelihatan banyak emasnya oleh nelayan itu.
Dan ternyata ilmu sihir Hui Ing sudah cukup kuat sehingga nelayan itu terpengaruh.
�Aku masih memiliki beberapa buah perhiasan, koko.
Tentu aku akan membayarnya,� kata pula Hui Ing yang takut kalau Cin Po mengira ia hendak menipu dengan ilmu sihirnya.
Cin Po tersenyum.
�Aku tahu dan percaya, Ing-moi, hanya ilmu itu tidak seharusnya dipakai untuk main-main.
Akan tetapi sudahlah, pelayaran ini membuat aku ngeri.
Lihat, gelombangnya begitu besar.
Aku merasa seperti tidak berdaya sama sekali di antara gelombang samudera ini, Ing-moi.� �Apakah engkau tidak bisa berenang, koko?� �Berenang sih bisa, sekadar tidak tenggelam.
Dan engkau?� �Di dekat kuil terdapat telaga kecil dan aku suka bermain-main dan mandi di sana.
Aku pun hanya dapat berenang sekadar tidak tenggelam.� �Itupun sudah cukup untuk membesarkan hati.� �]angan khawatir, koko.
Tukang perahu kita ini agaknya seorang nelayan yang berpengalaman berlayar, tentu perahu ini aman.� Memang nelayan itu nampaknya amat mahir mengemudikan perahu di antara gelombang.
Perahu meluncur dengan lajunya dan layar mengembang.
Perahu semakin ke tengah dan akhirnya daratan yang mereka tadi tinggalkan hanya nampak seperti sebuah garis hitam yang kecil, menandakan bahwa mereta sudah jauh berada di tengah samudera.
Setelah berlayar kurang lebih dua jam lamanya dan mereka sudah berada amat jauh dari pantai yang kini sudah tidak nampak lagi, tiba-tiba dari depan nampak sebuah perahu yang besar dengan bendera berwarna hitam.
Setelah dekat baru nampak bahwa selain perahu besar itu, terdapat pula lima buah perahu kecil seperti perahu yang dikemudikan nelayan itu.
Mula-mula Cin Po dan Hui Ing tidak menaruh curiga.
Mengira bahwa perahu-perahu itupun perahu nelayan dan yang besar itu perahu saudagar yang lewat.
Akan tetapi ketika perahu-perahu kecil itu melakukan gerakan mengepung perahu nelayan, mereka mulai menjadi curiga.
Dan nelayan itupun menggulung layarnya dan melempar sauh untuk menghentikan perahunya.
�Kalian telah terkepung!� Tiba-tiba nelayan yang membawa mereka tadi bangkit berdiri dan berkata dengan suara garang.
�Cepat serahkan semua emas dan bawaan kalian kalau kalian ingin selamat!� Barulah Cin Po dan Hui Ing menyadari bahwa mereka telah terjebak dan yang mereka tumpangi adalah perahu bajak yang kini membawa mereka kepada teman-temannya yang sudah mengepung.
Di setiap perahu kecil itu terdapat tiga orang bajak, sehingga jumlah mereka ada belasan orang, belum lagi yang berada di perahu besar berbendera hitam itu!
�Heii, engkau ini kiranya pembajak, ya?� bentak Hui Ing.
�Kami tidak mempunyai apa-apa, kenapa kalian hendak membajak kami?� �Jangan bohong, nona.
Serahkan emas tadi dan juga semua perhiasan yang kaumiliki berikut buntalan itu, dan engkau juga, orang muda!� �Bagaimana kalau tidak kami berikan?� kata Hui Ing.
�Kalau tidak kalian berikan, terpaksa kami akan melemparkan kalian ke lautan!� �Jahanam busuk, aku akan memberikan apa-apa kepadamu kecuali ini!� kata Hui Ing dan kakinya mencuat dengan kecepatan yang tak dapat diikuti dengan mata sehingga bajak laut itu tak dapat menghindar lagi.
Perutnya kena ditendang kaki Hui Ing dan tubuhnya terlempar keluar dari dalam perahu, tercebur ke dalam lautan!
Para bajak laut marah melihat ini.
Beberapa orang berloncatan dari perahu-perahu kecil ke atas perahu yang ditumpangi Cin Po dan Hui Ing.
Kedua orang muda ini sudah siap dan berdiri di atas perahunya.
Setiap ada orang dari perahu-perahu kecil itu meloncat ke perahu mereka, mereka sambut dengan tamparan atau tendangan dan para bajak laut itu terlempar dan tercebur ke dalam air!
Gerakan Cin Po dan Hui Ing demikian cepatnya sehingga para bajak laut tidak ada yang dapat bertahan ketika disambut serangan.
Sebentar saja sudah delapan orang bajak laut yang tercebur ke dalam air.
Tiba-tiba perahu di mana Cin Po dan Hui Ing berdiri itu berguncang.
Dari perahu besar itu terdengar teriakan melengking suara wanita.
�Jangan serang!
Tenggelamkan perahu mereka itu!� Kiranya itu merupakan perintah bagi para bajak laut.
Yang masih di perahu lalu berloncatan ke dalam air, bergabung dengan mereka yang terlempar ke dalam air oleh serangan Cin Po dan Hui Ing.
Ke dua orang muda ini ketika menampar atau menendang memang membatasi tenaga mereka karena mereka tidak ingin membunuh.
Dan kini mereka berada dalam bahaya besar.
Perahu itu terguncang ke kanan kiri lalu terbalik tanpa dapat dicegah lagi dan dengan sendirinya tubuh Cin Po dan Hui Ing ikut terguling ke dalam air!
Mereka berdua gelagapan dan mencoba berenang.
Mereka memang dapat mencegah tubuh mereka tenggelam, akan tetapi ketika para bajak itu menyerang mereka keduanya menjadi panik karena mereka sama sekali tidak biasa bertanding di dalam air.
Dan dalam keadaan seperti itu tidak mungkin pula mempergunakan kekuatan sihir mereka untuk mempengaruhi para lawan.
Kembali mereka mendengar teriakan dari atas perahu besar, �Tangkap mereka, jangan sampai membunuh mereka dan bawa mereka ke sini!� Banyak tangan menangkap kaki Hui Ing dan Cin Po lalu mereka diseret ke dalam air.
Tentu saja mereka gelagapan dan sebentar saja mereka kehabisan napas, minum air dan akhinya keduanya dalam keadaan pingsan telah dibawa naik ke perahu besar berbendera hitam.
Ketika Cin Po siuman dari pingsannya, dia mendapatkan dirinya berada dalam sebuah kamar yang cukup lebar.
Tempat tidurnya tidak bergerak-gerak, maka tahulah dia bahwa dia tidak lagi berada di perahu.
Dia memandang ke sana-sini dan melihat seorang wanita yang bertubuh menggairahkan duduk tak jauh dari tempat tidurnya.
Cin Po bangkit duduk.
Pakaiannya kering dan ternyata yang dikenakan di tubuhnya itu bukan pakaiannya.
Semua pakaiannya berwarna putih dan pakaian yang dipakainya itu berwarna kuning.
Tentu semua pakaian dalam buntalannya basah kuyup, pikirnya.
Dia teringat betapa dia dan Hui Ing diseret ke dalam air dan tidak berdaya, akan tetapi teringat pula suara wanita yang memesan agar dia dan Hui Ing tidak dibunuh.
Kini dia membalikkan tubuhnya menghadapi wanita yang pakaiannya dari sutera hitam namun wajahnya tersembunyi di balik cadar hitam itu.
Hanya nampak kulit tangan dan sebagian lehernya yang putih mulus, dan bentuk tubuh di balik pakaian ringkas itu yang sempurna benar lekuk lengkungnya!
Seorang wanita yang cantik, pikir Cin Po.
Mungkin pemilik suara tadi dan kalau benar demikian, wanita inilah yang menjadi kepala bajak!
Sebelum dia bicara, pintu terbuka dan masuklah seorang wanita yang pakaiannya ringkas dan serba hitam pula.
�Sian-li, tamu wanita itu telah siuman, kami menunggu perintah Sian-li!� Wanita bercadar itu lalu berkata, dan suaranya dikenal oleh Cin Po sebagai suara wanita yang tadi memerintah dari perahu besar.
�Sudah kalian ganti pakaiannya yang basah?� �Sudah, Sian-li juga sudah kami keluarkan air dari dalam perutnya.� �Bagus, beri minum obat yang telah kuberikan tadi dan tenangkan ia, suguhkan air teh yang baik dan minta kepadanya untuk menanti sebentar.� Wanita itu memberi hormat dan pergi meninggalkan kamar itu.
Cin Po merasa heran sekali.
Wanita ini disebut �sian-li� atau dewi!
Cin Po memberi hormat.
�Agaknya nona yang menjadi pemimpin para bajak dan yang telah menyelamatkan kami.
Siapakan nona dan mengapa menahan kami di sini?
Kami orang miskin tidak mempunyai apa-apa, kalau hendak menawan, tidak akan ada yang memberi uang tebusan.� Wanita itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa kecil dan bertata.
�Aku disebut Huang-hai Sian-li dan memang aku pemimpin para bajak laut tadi.
Tentu saja aku tidak menghendaki dibunuh karena kalian tadi juga tidak membunuh orang-orangku, bukan?
Apa lagi setelah engkau berada di sini, tentu saja aku tidak akan membunuhmu, Sung Cin Po!� Cin Po terkejut setengah mati.
�Engkau...
engkau sudah mengenal namaku?� �Tentu saja, twako.
Apakah engkau tidak mengenal suaraku?� Wanita itu mendekat dan menyingkap cadarnya.
Sejenak Cin Po menjadi bengong melihat wajah yang penuh benjolan itu.
Cadar itu segera tertutup kembali.
�Kau...
eh, nona...
Ciok Hwa...!� katanya gagap, karena sama sekali tidak menyangka bahwa kepala bajak laut itu adalah Kui Ciok Hwa, puteri dari Tung-hai Mo-ong yang dulu hendak dinikahkan dengan dia!
�Ah, siapa kira, sudah dua kali engkau yang menyelamatkan nyawaku, Ciok Hwa!� �Ssttt, semua orang mengenalku sebagai Huang-hai Sian-li, karena itu jangan menyebut aku selain dengan nama itu, twako.
Dan jangan mengucapkan kata-kata sungkan.
Bukankah kita berdua telah menjadi sahabat sejak dulu?
�Ketika orang-orangku mengeroyokmu, aku tidak mengira bahwa engkaulah pemuda itu.
Akan tetapi aku melihat engkau dan gadis itu tidak membunuhi anak buahku, maka akupun memerintahkan untuk menangkap kalian hidup-hidup.
Setelah dibawah ke sini, barulah aku tahu bahwa pemuda itu adalah engkau.
Dan siapakah gadis itu, twako?
Isterimu, atau tunanganmu?� �Ihh, Ciok...
eh, Sian-li.
Jangan menduga yang bukan-bukan.
Sudah kukatakan bahwa dua tahun yang lalu aku belum ingin menikah, juga sekarang aku belum ada pikiran untuk itu.
Gadis itu bernama Hui Ing, dan ia adalah adikku, eh, adik tiri maksudku.� �Ah, begitukah?� Pada saat itu, seorang anak buah laki-laki berlari masuk dan memberi hormat kepada ketuanya.
�Sian-li, celaka, gadis tamu kita itu mengamuk!� Mendengar ini, Cin Po segera lari ke pintu diikuti oleh Huang-hai Sian-li.
Sian-li yang memimpin sebagai penunjuk jalan.
Ternyata rumah itu cukup luas dan mereka memasuki sebuah kamar.
Dan terdapatlah pemandangan yang aneh.
Hui Ing sudah duduk di atas kursi dan terdapat tujuh orang anak buah bajak laki-laki perempuan yang berdiri bagaikan boneka hidup.
Begitu melihat Sian-li masuk, Hui Ing segera berseru membentak, �Berhenti dan jangan bergerak!� Akan tetapi karena Huang-hai Sian-li memakai cadar sehingga ia tidak dapat langsung memandang mata gadis bercadar itu, maka pengaruh sihir yang dilancarkan Hui Ing hanya lemah saja mempengaruhi Huang-hai Sian-li.
Biarpun demikian, kepala bajak laut ini terkejut karena seketika ia merasa tubuhnya seperti kaku tidak mampu bergerak!
Ketika Cin Po masuk, kembali Hui Ing menudingkan telunjuknya ke arah laki-laki berpakaian kuning itu.
�Berlutut engkau!� Akan tetapi pria itu tidak mau berlutut, bahkan menegurnya, �Hui Ing, kembali kau...� Hui Ing terkejut mengenal kakaknya.
Ia lalu melompat bangun dan menghampiri kakaknya, memegang kedua tangan kakaknya.
�Koko, engkau tidak apa-apa?
Syukurlah.
Aku sudah khawatir sekali!� Huang-hai Sian-li sudah dapat bergerak kembali dan ia menghampiri.
�Enci, maafkanlah kami.
Kami tidak bermaksud buruk dengan menahanmu di sini, hanya ada (Lanjut ke
Jilid 07) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 kesalahpahaman di antara kita.
Sung-twako ini adalah seorang sahabatku yang baik.� Hui Ing memandang kepada wajah bercadar, memandang dari kepala sampai ke kaki dan ia kagum sekali.
Seorang wanita yang memiliki bentuk tubuh yang hebat dan kulitnya putih kemerahan.
Tentu wajah tertutup cadar itu cantik bukan main.
Hatinya merasa sangat tidak enak mendengar wanita itu mengakui Cin Po sebagai seorang sahabat yang baik.
Lalu dipandangnya wajah kakaknya.
�Koko, siapakah ini?� �Ing-moi, perkenalkan.
Ini adalah Huang-hai Sian-li yang memimpin para bajak laut di sini.
Memang anak buahnya sudah biasa melakukan pembajakan kepada siapa yang lewat di sini.
Ketika tadi ia melihat kita tidak membunuhi anak buahnya, iapun memerintahkan untuk menangkap kita hidup-hidup.
Setelah kita dibawa ke sini, barulah ia tahu bahwa pemuda itu adalah aku yang sudah dikenalnya.� �Ah, begitukah?� Lalu Hui Ing melihat pakaian kering yang menempel di tubuhnya.
Pakaian sutera hitam, sama dengan yang dikenakan wanita itu.
�Jadi pakaian ini milikmu?� tanyanya.
�Benar, enci Hui Ing.
Karena semua bekal pakaianmu basah kuyup.
Aku memberi pinjam pakaianku untuk kaupakai.
Tadi anak buahku yang wanita yang membantumu berganti pakaian di kamar ini.
Maafkan aku.� �Akan tetapi, Sian-li, kita berada di manakah ini?
Bukankah tadi kita naik perahu lalu...� �Kalian berdua dibawa ke perahuku dalam keadaan pingsan.
Setelah mengenalmu, maka aku memerintahkan perahu cepat-cepat dibawa pulang.
Ini adalah sebuah pulau kosong yang diberi nama Pulau Hiu dan menjadi tempat tinggal kami.
Marilah kalian ikut aku melihat-lihat keadaan pulau ini.� Mereka akan keluar, akan tetapi setibanya di pintu, Cin Po berkata kepada adiknya, �Ing-moi, bebaskan mereka.� �Ah, aku sampai lupa!� Hui Ing lalu melambaikan tangan kepada tujuh orang yang berdiri dan berjongkok seperti boneka hidup itu dan berseru, �Bergeraklah kembali kalian!� Dan seketika itu tujuh orang itupun lalu dapat bergerak seperti orang-orang baru habis bangun tidur.
Mereka keluar dari kamar itu.
�Ilmu apakah itu?
Bagaimana engkau dapat membuat mereka semua tidak mampu bergerak, enci Hui Ing?
Dan tadipun ketika engkau meneriaki aku agar jangan bergerak, hampir saja aku tidak dapat bergerak sama sekali.� Cin Po berkata, �Ah, adikku ini memang nakal.
Ia mengerti sedikit ilmu sihir.� �Ahhh...
betapa lihainya!� Huang-hai Sian-li berseru kaget dan kagum.
Kini kakak beradik itu yang berbalik kagum.
Rumah ini ternyata besar dan lengkap dengan perabot-perabot rumah yang serba indah.
Dan ketika mereka tiba di luar, terdapat taman yang indah sekali, terdapat pula rumah-rumah lain di Pulau Hiu itu yang ditempati anak buah bajak.
Banyak keluarga bajak yang bekerja di ladang, anak-anak bermain-main dan tampaknya sebagai sebuah perkampungan biasa dengan penduduknya yang hidup tenteram dan aman.
�Mereka itu semua anak buahmu, Sian-li?
Mereka nampak seperti keluarga perkampungan biasa, bahkan penuh damai dan tenteram,� kata Cin Po kagum.
�Dahulu mereka tidak begitu.
Kehidupan mereka dahulu liar dan ganas, mudah membunuh orang.
Akan tetapi setelah aku yang memimpin mereka, mulailah mereka hidup sebagai keluarga-keluarga biasa.
�Bahkan dalam pekerjaan membajak, kami jarang sekali membunuh orang kalau bukan terpaksa, yaitu kalau ada perlawanan yang membahayakan diri kita sendiri.
Aku melarang setiap anggauta membunuh orang, kecuali kalau membela diri.
Mereka kini berkeluarga dan hidup tenang di pulau ini.� �Sungguh luar biasa.
Seorang gadis seperti engkau kenapa menjadi kepala bajak laut?� tanya Hui Ing sambil mencoba untuk menembus cadar itu dan melihat wajah Sian-li.
Akan tetapi ia tidak berhasil hanya melihat bentuk wajah yang elok, dengan garis-garis yang menunjukkan bahwa wajah itu indah bentuknya.
Rambutnya demikian hitam dan subur.
�Akupun heran sekali, Sian-li.
Bagaimana engkau, selama dua tahun ini, tiba-tiba saja sudah menjadi kepala bajak laut dan tinggal, di sini?� Mereka sudah tiba di tepi sebuah tebing.
Dari situ mereka dapat melihat laut yang bebas dan luas.
Di situ terdapat beberapa batang pohon yang rindang dan bangku-bangku di bawahnya.
�Panjang ceritanya, twako.
Mari duduklah dan aku akan bercerita.� Mereka bertiga lalu duduk di atas bangku dan tak lama kemudian dua orang anak buah wanita datang berlari-lari sambil membawa minuman untuk mereka bertiga.
Ternyata Sian-li amat dihormati dan juga agaknya disayang oleh para anak buahnya.
Hal ini nampak dari sikap mereka dan pelayanan mereka.
Setelah meletakkan minuman dan makanan kecil di atas meja, dua orang itu berdiri di depan kepala mereka.
�Apa yang dapat kami bantu untuk Sian-li?� �Sudah, kalian boleh tinggalkan kami di sini, dan beritahukan kepada Tok-gan Kim-go (Buaya Emas Mata Satu) agar mulai hari ini tidak ada yang melakukan pembajakan sampai aku memberi perintah lagi.
Yang melanggar akan dihukum berat!� �Baik, Sian-li!� Kedua orang pembantu wanita itu segera mundur.
Cin Po dan Hui Ing kagum melihat cara Huang-hai Sian-li mengatur anak buahnya.
Mereka lalu mendesaknya untuk segera menceritakan riwayatnya.
�Twako, setelah kita berpisah dahulu, ayah marah-marah sekali kepadaku, dan aku lalu minggat.
Ternyata ayah juga tidak mengejar atau mencariku.
�Dalam perjalanan ini aku bertemu dengan kelompok bajak laut yang dipimpin oleh Tok-gan Kim-go.
Aku mendapat pikiran untuk memimpin mereka dan aku menaklukkan mereka.
Sejak itulah aku lalu menjadi pimpinan mereka dan aku mengatur kehidupan mereka sehingga tidak lagi liar dan ganas, walaupun tetap menjadi bajak laut.� �Akan tetapi, bagaimana engkau dapat menundukkan mereka, adik Sian-li?
Kami sendiri ketika meaghadapi mereka dalam air, juga tidak berdaya.� Cin Po mengerti dan tertawa.
�Ing-moi, engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan!
Sian-li ini adalah puteri dari Tung-hai Mo-ong, datuk besar Laut Timur dan tentu saja ia memiliki keahlian bermain dalam air.� Sian-li tersenyum di balik cadarnya.
�Tidak salah dugaanmu, twako.
Aku menaklukkan mereka di darat dan di air.
Sebetulnya kalau di darat, dibandingkan dengan Sung-twako aku bukan apa-apa.� �Aih, engkau merendahkan diri, adik Sian-li!� kata Hui Ing.
�Aku percaya bahwa ilmu silatmu tentu lihai sekali maka engkau dapat memimpin bajak laut yang puluhan orang jumlahnya.� �Tidak, sesungguhnya saat inipun kehidupan kami terancam sekali, dan aku khawatir tidak akan dapat mempertahankan kedudukanku, bahkan para anggautaku mungkin akan mengalami kehancuran.� �Eh, apa yang terjadi, Sian-li?� �Kami mempunyai musuh besar, yaitu gerombolan bajak laut Tengkorak Putih, bajak laut yang para pemimpinnya terdiri dari bangsa Jepang dan anak buahnya campuran.
Mereka itu biasanya mengganas di lautan timur.
Akan tetapi akhir-akhir ini mereka juga mengganas di lautan Kuning.
�Tindakan mereka ganas.
Membunuh, memperkosa wanita.
Karena itu, kami menantangnya dan beberapa kali terjadi bentrokan antara kami dan mereka.
�Akan tetapi, akhir-akhir ini mereka mengumpulkan anak buah yang jumlahnya dua-tiga kali lebih besar dari pada anak buahku, dan juga mereka mendatangkan jagoan-jagoan dari Jepang yang khusus didatangkan untuk menghancurkan kelompokku.
�Sudah dua kali mereka mencoba menyerang pulau ini, akan tetapi masih untung kami dapat memukulnya mundur.
Aku khawatir, suatu ketika kami akan kalah kuat dan kami akan dapat dihancurkan.� �Kalau saja kami dapat membantumu, Sian-li,� kata Hui Ing penuh semangat.
Huang-hai Sian-li tersenyum di balik cadarnya.
Ia mengulurkan tangannya yang berkulit putih kemerahan dan lembut itu dan memegang tangan Hui Ing.
�Enci Hui Ing, ternyata engkau seorang gadis yang amat baik, seperti kakakmu.
Terima kasih, tidak usah engkau melibatkan diri dengan urusan para bajak laut.
Dan kalian ini bagaimanakah dapat berperahu dengan seorang anak buah kami yang memancing korban?
Ada keperluan apakah dan hendak ke manakah kalian?� �Kami memang sedang membutuhkan perahu berikut tukang perahunya untuk mengantarkan kami ke Pulau Iblis, Sian-li!� Sian-li terbelalak di balik cadarnya.
�Pulau...
Iblis...?
Ada keperluan apakah kalian hendak ke pulau yang menakutkan itu?!
Bahkan anak buah kamipun gentar untuk singgah di pulau hantu itu.
Di sana tidak ada apa-apa, hanya dihuni oleh hantu dan iblis.� �Hemm, engkau percaya akan hal itu, Sian-li?
bukankah hantu dan iblis merupakan dongeng belaka?� �Bukan, bukan dongeng, twako.
Aku telah mengalaminya sendiri.
Pernah pada suatu hari perahuku lewat dekat Pulau Iblis.
Karena tertarik, aku lalu memerintahkan anak buahku untuk mendekati karena aku ingin melihat apa sebenarnya yang berada di pulau itu.
Aku ingin mendarat.
�Akan tetapi begitu kami turun dari perahu dan mendaratkan kaki di pulau itu, mendadak terdengar suara gerengan keras yang menggetarkan tanah pulau itu dan dari jauh muncullah makhluk tinggi besar yang menyeramkan sekali.
�Kami semua ketakutan dan kembali ke dalam perahu, lalu mendayung perahu itu cepat-cepat pergi meninggalkan pulau iblis itu.
Hiiih, masih meremang bulu tengkukku kalau membayangkan peristiwa yang aneh dan mengerikan itu.
Bukan hanya dongeng belaka, twako.� Akan tetapi cerita itu tidak membuat Cin Po dan Hui Ing menjadi takut.
�Bagaimana pun juga, kami ingin pergi ke pulau itu, Sian-li.
Dapatkah anak buahmu mengantar kami ke sana?� �Bukan anak buahku, melainkan aku sendiri yang akan mengantar kalian ke sana,� kata Sian-li.
�Bukankah engkau ngeri dan takut untuk kembali ke sana?� tanya Cin Po.
�Kalau dengan engkau, aku tidak takut apapun juga, twako.� Ucapan ini demikian sungguh-sungguh dan nadanya penuh kepercayaan dan penyerahan sehingga diam-diam Hui Ing mengerutkan alisnya.
Terasa benar olehnya betapa dalam suara itu terkandung kepercayaan dan kemesraan yang menjadi tanda bahwa gadis bercadar ini sebetulnya mencinta Cin Po.
Perasaan hatinya menjadi tidak enak sekali, karena secara diam-diam iapun mencinta Cin Po, bukan sebagai adik!
Pada saat itu terdengar sorak sorai gemuruh.
Mereka terkejut dan melihat ke arah datangnya suara, yaitu dari lautan.
Dan nampaklah tiga buah perahu sedang berlayar dekat dengan Pulau Hiu itu, agaknya hendak mendarat.
Dari tempat itu, dapat nampak bendera berdasar hitam dengan gambar tengkorak putih.
�Gerombolan bajak laut Tengkorak Putih!� seru Sian-li.
�Mereka telah datang menyerbu lagi.
Sekali ini dengan anak buah tiga perahu besar, tentu jumlahnya seratus orang lebih!� �Jangan khawatir, kami akan membantumu, Sian-li!� kata Hui Ing.
�Mari kita menyambut ke pantai!� kata pula Cin Po.
Mereka segera meninggalkan tebing itu dan berlari ke arah perkampungan di tengah pulau.
Berita tentang datangnya musuh itu sudah didengar oleh semua anggauta bajak.
Mereka sudah bersiap-siap dengan senjata di tangan, anak-anak disembunyikan ke dalam rumah oleh ibu-ibu yang merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melawan.
Akan tetapi para wanita yang mempunyai kepandaian, juga ikut bersiap dan terkumpullah kurang lebih tujuhpuluh orang laki perempuan.
Ketika Sian-li tiba, mereka semua siap menerima perintah sang ketua.
�Kita semua pergi ke pantai dan menyambut mereka di sana.
Jangan biarkan mereka mengacau dalam perkampungan!� kata Sian-li.
Dan berlari-larianlah semua orang menuju ke pantai.
Tiga buah perahu besar berbendera tengkorak putih itu kini sudah mendekati pantai.
Dari atas perahu berloncatanlah orang-orang yang berpakaian biru, dan di depan sendiri nampak lima orang yang melihat pakaian dan pedang samurai mereka mudah dikenal bahwa mereka adalah bangsa Jepang.
Tubuh mereka pendek gempal dan kokoh kuat seperti batu karang.
Melihat bahwa penghuni Pulau Hiu menyambut mereka dengan pasukannya yang jumlahnya hanya separuh dari jumlah para penyerbu, lima orang Jepang itu tertawa bergelak dengan nada yang mengejek.
Sian-li berdiri di depan anak buahnya, sikapnya tenang sekali.
Di kanan kirinya berdiri Tok-gan Kim-go, pembantu utamanya dan Cin Po serta Hui Ing.
Lima orang Jepang itu melangkah maju dan melihat Hui Ing dan Sian-li, mereka bicara dalam bahasa Jepang lalu ke limanya tertawa bergelak-gelak.
Lalu seorang di antara mereka, yang agak tinggi tubuhnya dan merupakan kepala bajak laut Tengkorak Putih, sambil bertolak pinggang lalu berkata.
�Huang-hai Sian-li, kami sudah lama mendengar tentang gerombolanmu di Pulau Hiu ini.
Melihat bahwa pemimpin gerombolan Pulau Hiu hanyalah seorang wanita, maka kami usulkan agar kalian semua menyerah saja kepada kami.
�Kami akan menerima kalian sebagai anggauta kami dan engkau Huang-hai Sian-li dan gadis di sebelahmu itu, jadilah isteri-isteri kami.
Tentu hidup kalian akan senang sekali.
�Tidak perlu ada pertempuran di antara kita, karena bukankah kita adalah rekan-rekan bajak laut sendiri?
Lebih baik bercinta dari pada bersengketa, bukan?
Ha-ha-ha-ha!� Lima orang Jepang itu tertawa-tawa dan anak buah mereka yang jumlahnya sedikitnya seratus duapuluh orang itu ikut-ikut tertawa.
�Pimpinan bajak laut Tengkorak Putih.
Jangan samakan kami dengan kalian!
Biarpun kami juga bajak laut, akan tetapi kami mempunyai aturan-aturan, tidak mengganas tanpa prikemanusiaan macam kalian.
Kalian adalah binatang-binatang buas yang sepantasnya dibasmi.
Karena itu jangan harap kami mau bergabung dengan kalian!� �Ho-ho-ha-ha-ha, sayang kalau sampai anak buah kalian terbunuh semua.
Kami juga masih dapat menampung mereka karena makin banyak anak buah semakin baik dan kuat.
Karena itu dari pada pertempuran besar, marilah kita para pemimpinnya bertanding.
�Kalau kalian kalah melawan kami, kalian harus menyerah dan semua anak buah kalian menyerah pula tanpa pertempuran lagi.
Sebaliknya kalau kami kalah, kami akan pergi dan tidak akan mengganggu kalian lagi!
Bagaimana?� Sebelum Sian-li menjawab, Hui Ing yang mendahuluinya dan gadis ini berkata lantang, �Heii, pimpinan bajak laut Tengkorak Putih!
Siapa sih yang takut akan tantanganmu?
Akan tetapi, kalian mengandalkan banyak orang untuk main keroyokan, ataukah hendak bertanding satu lawan satu?
�Aku berani bertaruh orang-orang macam kalian itu pengecut dan licik.
Tentu mengandalkan jumlah besar untuk mengeroyok.
Kami di sini ada empat orang yang akan mewakili kelompok kami bertanding.
Nah, siapa di antara kalian yang akan maju!
Kamipun tidak takut keroyokan!� Ketua Tengkorak Putih tertawa mengejek.
�Tidak keroyokan juga tidak mengapa.
Kami di sini ada lima orang pimpinan.
Nah, siapa di antara kalian berempat yang hendak maju lebih dulu?� Si mata satu Tok-gan Kim-go lalu melangkah maju.
�Akulah yang akan maju lebih dulu mewakili Pulau Hiu!� tantangnya dan diapun sudah mengeluarkan senjatanya, sepasang kapak yang besar dan berat.
Melihat ini ketua Tengkorak Putih tertawa.
�Ha-ha, bagus sekali.
Sudah lama aku mendengar akan kehebatan Tok-gan Kim-go.
Biarlah aku sendiri yang menandinginya!� Setelah berkata demikian, diapun mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang ruyung baja yang juga berat.
Ketua Tengkorak Putih ini berusia empatpuluhan tahun dan tubuhnya yang pendek itu gempal dan kokoh sekali, otot-otot di lengannya melingkar-lingkar, juga dadanya yang terbuka itu penuh dengan otot mengembung.
�Bagus!
Aku sudah siap, majulah!� bentak Tok-gan Kim-go sambil menyilangkan kapaknya.
Orang Jepang itupun mengeluarkan suara gerengan hebat dan mengayun kedua ruyungnya di atas kepalanya.
�Haiiiiittt...!!� Dia menyerang dengan dahsyat sekali, suara ruyungnya ketika bergerak, menampar angin bersiutan.
Tok-gan Kim-go menggerakkan kapaknya untuk menangkis.
�Trang-trang-trang-tranggg...!� Berkali-kali ruyung bertemu kapak dan keduanya nampak seimbang dalam hal tenaga, karena ke duanya terhuyung ke belakang.
Akan tetapi Tok-gan Kim-go yang sudah marah sekali itu terus menyerang balik dengan sepasang kapaknya yang menyambar-nyambar ganas seperti kapak seorang algojo yang hendak menyambar batang leher korbannya.
Terjadilah pertandingan yang hebat dan menegangkan karena semua orang tahu bahwa senjata mereka itu adalah senjata berat dan siapa yang terkena lebih dulu tentu akan tewas.
Suara berdentangan sepasang senjata mereka kalau bertemu menambah tegang keadaan dan Huang-hai Sian-li memandang dengan alis berkerut.
Pihak lawan memang lihai sekali, dan dia melihat betapa pembantunya itu mulai sibuk dan terdesak.
Kini, orang Jepang itu bersilat dengan cara aneh, yaitu dengan cara bergulingan dan menyerang ke arah ke dua kaki Tok-gan Kim-go.
Si mata satu menjadi bingung dan dia berloncatan, sukar sekali untuk membalas serangan itu karena lawan bergulingan dan main di bawah.
Melihat ini, Sian-li mengepal tinjunya karena sudah nampak bahwa pembantunya akan kalah!
Melihat ini, Hui Ing merasa tidak tega.
Bukan tidak tega kepada si mata satu, melainkan tidak tega kepada Sian-li yang jelas nampak tegang dan gelisah.
Maka, ia tak memandang kepada si Jepang yang bergulingan itu, dan berseru, �Silat macam apa bergulingan seperti trenggiling itu?
Kalau mencium batu yang menonjol baru tahu rasa!� Baru saja ia berkata begitu dengan pengerahan khi-kang sehingga terdengar jelas oleh orang yang sedang bergulingan, tiba-tiba orang Jepang itu mengeluh karena bibirnya benar-benar telah membentur sebongkah batu yang entah kapan sudah menonjol di situ!
�Aduhhh...!� serunya dan gerakannya menjadi kacau.
Kesempatan ini dipergunakan oleh si mata satu untuk menindih ruyungnya dan tahu-tahu sebatang kapaknya telah menempel di leher lawan!
Akan tetapi si mata satu menahan gerakannya dan leher itu tidak sampai terpenggal, hanya luka sedikit.
Tentu saja dengan peristiwa itu, kepala gerombolan Tengkorak Putih dinyatakan kalah.
Kalau Si Mata Satu menghendaki, kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya.
Ini saja sudah membuktikan bahwa Sian-li benar-benar dipatuhi anak buahnya, yaitu tidak sembarangan membunuh orang!
Seorang Jepang yang berjenggot panjang melompat ke depan dan mencabut pedang samurainya.
�Hayo siapa berani maju melawanku!� teriaknya marah karena melihat rekannya kalah.
Empat orang Jepang yang lain itu adalah orang-orang undangan, jagoan-jagoan Samurai yang terkenal, kawan-kawan dari ketua Tengkorak Putih.
Melihat gerakan orang ini, ketika mencabut samurai, tahu bahwa dia memiliki kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan Si Mata Satu, maka ia berseru, menyuruh pembantunya itu mundur disambut sorak sorai anak buahnya yang melihat pimpinannya maju.
Kemudian Sian-li mencabut pedangnya dan melangkah maju.
�Aku yang akan menandingimu,� katanya tenang.
Lawannya tertawa.
�Nona, sebaiknya nona membuka kerudung penutup muka itu agar aku dapat melihat wajah lawanku!� katanya dengan suara yang pelo karena logatnya aneh dan asing.
�Aku sudah bersumpah siapa membuka cadarku ini, dia akan mati di tanganku!� kata Sian-li dengan suara dingin dan sungguh-sungguh.
�Bagus, kalau dalam pertandingan ini engkau kalah, aku sendiri yang akan membuka cadarmu, seperti seorang pengantin pria membuka cadar dari muka isterinya.
Ha-ha-ha!� �Bersiaplah!� bentak Sian-li yang sudah memainkan pedangnya.
Orang Jepang itu melintangkan samurainya dengan kedua tangan memegangi gagang samurai yang panjang.
Samurai yang melengkung itu berkilauan saking tajamnya.
Karena lawan tetap diam tidak mau menyerang lebih dulu, Sian-li lalu membentak, �Lihat pedang!� dan pedangnya sudah menusuk dengan gerakan kilat.
Akan tetapi orang Jepang itu melompat ke samping dan saat itulah samurainya menyambar dengan dahsyatnya.
Kiranya dia menanti sampai lawan menyerang, baru dia mengelak sambil menggerakkan samurainya dengan ke dua tangan.
�Haiiiiittt...!!� Melihat samurai itu menyambar dahsyat, Sian-li tidak mau menangkis, melainkan mengelak dan ia mengandalkan kelincahan gerak tubuhnya untuk meloncat dan menghindar.
Sian-li mengerti bahwa kalau serangannya kurang cepat, berarti ia membuka peluang bagi lawan untuk menyerangnya dengan gerakan samurai yang amat berbahaya itu.
Maka, iapun lalu bersilat dengan cepat, menggunakan pedangnya untuk menyerang secara sambung-menyambung.
Kalau dielakkan pedangnya terus mengejar ke arah mana lawan mengelak.
Dihujani serangan seperti ini, orang Jepang itu menjadi repot, tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk balas menyerang bahkan kini kadang-kadang dia harus melindungi dirinya dengan pedang samurainya karena serangan bertubi-tubi itu kadang tidak sempat lagi dielakkannya.
Huang-hai Sian-li adalah murid datuk besar Tung-hai Mo-ong, tentu saja ia lihai bukan main.
Ilmu pedangnya berdasarkan ilmu silat Toat-beng-sin-ciang (Silat Sakti Pencabut Nyawa) yang sifatnya ganas sekali.
Maka, lawannya menjadi semakin repot dan belum sampai limapuluh jurus, selagi orang itu menangkis dengan samurai yang dipegang ke dua tangannya, tangan kiri Sian-li telah mendorong ke arah dadanya dengan pukulan Toat-beng-sin-ciang yang amat lihai itu.
Dari jari tangan pukulan ini, sebetulnya dapat diisi dengan jarum-jarum halus beracun, akan tetapi, Sian-li tidak melakukan hal itu, hanya mendorong ke arah dada, itupun dengan tenaga yang dikendalikan.
�Plakk...!� Biarpun tidak sepenuh tenaga pukulan itu tetap saja membuat orang Jepang itu terjengkaug dan muntah darah.
Sorak sorai anak buah pulau Hiu menyamhut kemenangan kedua ini.
Dari pihak Tengkorak Putih kini meloncat seorang Jepang yang usianya sudah limapuluh tahun.
Diapun memegang sebatang samurai yang tajam melengkung.
�Kepandaian ketua Pulau Hiu, Huang-hai Sian-li, sungguh mengagumkan, beranikah engkau menghadapi aku barang seratus jurus?� Tentu saja Sian-li merasa malu kalau harus mundur, maka iapun melintangkan pedangnya dan membentak, �Siapa takut kepadamu?
Majulah!� Cin Po dan Hui Ing terlambat untuk mencegah.
Dan melihat bahwa keadaan Sian-li masih segar setelah memenangkan pertandingan tadi, merekapun hanya menonton saja.
�Ha-ha-ha, kalau aku kalah dari seorang wanita, jangan sebut namaku Yamoto lagi.
Aku Yamoto Si Samurai Tanpa Tanding!� Si Jepang itu bersikap sangat congkak, menggerakkan samurainya di atas kepala dengan gerakan yang mahir sekali dan gerakan itu membuat samurainya menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan suara berdesingan dan bersuitan!
Maklumlah Sian-li bahwa lawannya sekali ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan yang tadi, muka iapun memasang kuda-kuda dengan sikap waspada.
Yamoto ini memang lihai sekali.
Begitu lawan memasang kuda-kuda, dia langsung menyerang, menggerakkan samurainya hanya dengan sebelah tangan kanan.
Memang samurainya tidak panjang seperti samurai temannya tadi dan tentu saja lebih ringan sehingga dapat dimainkan dengan sebelah tangan.
Dan serangannya juga bertubi-tubi datangnya, setiap serangan mendatangkan angin dahsyat.
Sian-li mengimbanginya dengan kecepatan gerakannya.
Kadang terpaksa ia menangkis dan terkejutlah Sian-li ketika tangkisan itu membuat seluruh lengan kanannya tergetar.
Lawan ini memiliki tenaga yang kuat sekali!
Iapun dengan hati-hati memainkan Toat-beng-kiam-sut dan membalas serangan lawan.
Pertandingan sekali ini merupakan pertandingan paling ramai dibandingkan dengan yang dua kali tadi.
Sian-li harus mengerahkan seluruh tenaganya karena kalau tidak, pedangnya akan dapat terpental kalau bertemu samurai lawan.
Dan lawan yang bernama Yamoto itu makin lama makin lihai saja.
Setelah lewat limapuluh jurus, Sian-li terpaksa main mundur karena ia sudah tidak tahan lagi.
Ketika mundur itu, ia mendekati Hui Ing dan sekali Hui Ing menggerakkan tangan, ia sudah menarik tangan kiri Sian-li sehingga terhuyung ke belakang namun terlepas dari desakan lawan.
�Heii, hendak lari ke mana kau?� Yamoto hendak menyerang lagi.
Hui Ing berdiri menghadangnya.
�Huang-hai Sian-li mengaku kalah karena ia sudah terlalu lelah.
Engkau licik sekali menantang orang yang sudah kelelahan.
Biarlah ia dianggap kalah dan pertandingan antara ia dan engkau sudah selesai.
�Akan tetapi keadaan masih kemenangan di pihak kami, masih dua satu untuk kami.
Nah, sekarang aku yang maju mewakili Pulau Hiu.
Aku akan melawan siapa saja yang berani menghadapi aku.� Yamoto tertawa bergelak.
�Ha-ha-ha, yang ada hanya tinggal wanita-wanita cantik.
Aku sudah menang dan belum membuka cadar dari muka Huang-hai Sian-li.� �Tidak ada perjanjian seperti itu!
Itu hanya kemauanmu sendiri.
Enak saja.
Sudahlah, jangan banyak mulut.
Kalau engkau sudah merasa lelah dan hendak mundur, mundurlah dan suruh dia yang berani melawan aku maju.� �Ha-ha-ha, aku paling suka melawan wanita cantik.
Dan engkau cantik sekali, nona.
Keluarkan pedangmu atau senjatamu yang mana, hendak kulihat.� Hui Ing mengacungkan kedua kepalan tangannya.
�Inilah senjataku, dan aku akan melawanmu dengan kedua tangan kakiku saja.
Untuk memukul anjing kudisan seperti engkau, tidak perlu menggunakan pedang pusaka, cukup dengan tendangan kaki saja.� Yamoto menjadi merah mukanya.
Tadinya sorak sorai anak buah Tengkorak Putih membuat dia bangga sekali, akan tetapi kini dia dipandang rendah dan dimaki-maki oleh seorang wanita.
�Keparat, mulutmu lebih tajam dari pada samuraiku!
Engkau bertangan kosong?
Baiklah, aku akan melayanimu dengan tangan kosong pula.
Ha-ha-ha, aku ingin menangkapmu dan memelukmu erat-erat!� Dia tertawa dan semua temannya juga tertawa sehingga kini Hui Ing yang menjadi kemerahan mukanya.
Matanya bersinar tajam dan ia menudingkan telunjuknya ke arah Yamoto dan membentak.
�Engkau anjing kudisan bisanya memang menggonggong.
Hayo menggonggonglah yang keras!� Yamoto hendak tertawa akan tetapi sungguh aneh, sekarang yang keluar dari mulutnya adalah gonggongan menirukan suara anjing!
Kawan-kawannya yang tadinya sudah siap tertawa menjadi terbelalak dan biugung.
Mengapa Yamoto kini menggonggong seperti anjing?
�Heii, Yamoto.
Kenapa kau?� seorang kawannya memegang pundaknya dari belakang dan mengguncangnya.
�Hahh?
Kenapa...?
Aku tertawa....!� katanya bingung, akan tetapi karena melihat betapa Hui Ing mentertawakannya dan semua anak buah Pulau Hiu juga tertawa sambil menuding-nuding kepadanya, dia menjadi marah sekali.
�Awas seranganku!� katanya dan diapun menubruk dengan cepat sekali bagaikan seekor biruang yang menubruk korbannya.
Maksud hatinya sekali tubruk dia sudah dapat menangkap gadis yang menggemaskan itu untuk diringkus dan dipeluk kuat-kuat, agar dia dapat melampiaskan kedongkolan hatinya.
�Hemm...!� Hui Ing mengelak dengan lebih cepat lagi sehingga tubrukan itupun hanya mengenai angin belaka.
Yamoto membalik karena tadi dia melihat lawannya menyelinap ke kanan ketika mengelak dan kembali kedua tangannya yang berlengan pendek itu sudah mencengkeram untuk menangkap lengan lawan.
Sekali ini dia berhasil.
Dengan girang dia mencengkeram kedua lengan Hui Ing.
�Heiittt...!�� Hui Ing menggeliat dan tubuhnya menjadi licin bagaikan belut sehingga tangkapan itupun terlepas lagi.
Kini Hui Ing berhati-hati sekali karena tidak disangkanya bahwa ke dua tangan lawan dapat bergerak secepat itu.
Ketika lawan menubruk kembali, dia melompat ke atas dan tangannya menampar pundak.
Seketika tubuh Yamoto tergetar dan dia terhuyung hampir roboh karena pundaknya telah tertotok oleh jari tangan Hui Ing.
Sebaliknya, Hui Ing juga maklum bahwa tubuh lawannya ternyata kuat dan kebal sehingga totokannya hanya membuatnya tergetar dan terhuyung, tidak merobohkannya.
Terjadilah pertandingan yang aneh.
Bagaikan seekor biruang berusaha menangkap seekor burung walet yang amat gesit.
Tubrukan dan tangkapan Yamoto selalu gagal dan hanya mengenai angin, sebaliknya beberapa kali dia harus menderita karena tendangan kaki dan tamparan tangan Hui Ing.
Harus diketahui bahwa ilmu silat Hui Ing adalah ilmu silat dari Thian-san-pang, Akan tetapi ilmu silat itu kini sudah menjadi sedemikian ampuh karena diperdalam dan dimatangkan oleh petunjuk Bu Beng Lojin.
Apa lagi ia telah menerima pelajaran ilmu Ngo-heng-sin-kun yangmerupakan dasar dari semua ilmu silat, karena dalam Ngo-heng-sin-kun (Silat Sakti Lima Unsur) terdapat sifat-sifat Ngo-heng, Swee (Air), Huo (Api), Bhok (Kayu), Kim (Logam), dan Tee (tanah).
Lima unsur pokok ini yang menjadikan segala sesuatu di dunia ini, termasuk manusia yang tubuhnya tidak terlepas dari lima unsur ini.
Di samping itu, Hui Ing juga telah memiliki kekuatan sihir yang ampuh, maka tentu saja jagoan Jepang itu dapat ia permainkan.
Setelah berkali-kali terhuyung bahkan yang terakhir kalinya sebuah tamparan yang agak keras dari tangan Hui Ing mengenai lehernya membuat Yamoto terpelanting roboh.
Orang Jepang itu menjadi penasaran dan marah sekali.
�Singgg...!!� Yamoto telah mencabut samurainya dan melintangkan samurai itu di depan dadanya dan tangan kirinya dengan jari-jari terpentang menunjuk ke atas kepala lurus ke atas.
�Keparat, keluarkan senjatamu!� bentaknya merasa malu sekali telah dipermainkan seorang gadis muda.
�Aku tidak perlu menggunakan senjata seperti engkau, Yamoto.
Dan pula, untuk apa engkau memegang seekor ular sebagai senjata?
Lihat, ular itu bisa menggigit engkau sendiri!� kata Hui Ing sambil menuding dengan telunjuknya.
Yamoto dengan sendirinya memandang kepada samurainya dan dia terbelalak.
Samurai itu kini telah menjadi seekor ular yang dia pegang pada ekornya, dan ular itu kini membalik dengan moncong terbuka hendak menyerangnya!
Tentu saja dia menjadi ngeri dan cepat dilepaskan �ular� itu jauh-jauh.
Akan tetapi begitu tiba di atas tanah, ular itu berkerontang dan menjadi samurainya kembali.
Dia merasa heran dan menyadari dengan marah bahwa dia telah ditipu, dan gadis itu agaknya menggunakan ilmu sihir sehingga dia melihat samurainya benar-benar berubah menjadi seekor ular.
Dengan marah dia lalu menyambar samurainya itu dan sebelum gadis itu sempat berbuat atau berkata sesuatu, dia sudah menyerang dengan samurainya, dengan gerakan yang dahsyat sekali.
�Heiiittt!
Sayang luput, Yamoto!� ejek Hui Ing yang dapat mengelak dengan merendahkan tubuhnya sehingga samurai menyambar lewat di atas kepalanya.
Melihat betapa Hui Ing menghadapi Yamoto yang lihai sekali ilmu pedangnya itu hanya dengan tangan kosong saja, Huang-hai Sian-li menjadi khawatir sekali.
Ngeri ia membayangkan gadis yang membantunya itu akan menjadi korban samurai yang tajam itu.
�Enci Hui Ing, ini pergunakan pedangku!� teriaknya.
Akan tetapi Hui Ing menoleh sambil tersenyum.
�Terima kasih, Sian-li.
Tidak usah.
Sayang pedangmu kalau sampai kotor terkena darah anjing ini!� �Singgg...!� Samurai itu menyambar lagi ke arah pinggang Hui Ing yang sedang menoleh.
Sekali terkena sambaran samurai itu, pinggang Hui Ing yang ramping itu akan dapat terbabat putus!
Akan tetapi, biarpun sedang menengok, namun pendengaran Hui Ing amat tajam sehingga ketika samurai menyambar, ia sudah melompat lagi menghindarkan diri dengan gerakan ringan sekali.
Kembali terjadi adegan seperti tadi.
Yamoto dengan samurainya menyerang dan menyambar-nyambar, sedangkan Hui Ing dengan gerakannya yang ringan dan amat cepat itu menghindarkan diri.
Namun sekali ini Hui Ing juga maklum akan bahayanya samurai itu, maka tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara bentakan nyaring.
�Tahan...!!� Seketika gerakan samurai itu terhenti dan saat itu dipergunakan Hui Ing untuk menendang tangan yang memegang samurai, dilanjutkan dengan dorongan tangan kiri ke arah dada lawan.
�Dessss...!!� Tubuh Yamoto terlempar ke belakang sampai bergulingan, samurainya terlepas dari pegangannya dan diapun muntah darah segar dari mulutnya dan selanjutnya dia tidak dapat melanjutkan perkelahian, dipapah oleh teman-temannya.
Kini tinggal dua orang jagoan Jepang dan mereka maju hersama.
�Hayo siapa berani melawan kami!� tantang seorang di antara mereka yang matanya sipit sekali.
Hui Ing hendak maju akan tetapi dicegah Cin Po.
�Ing-moi, biar yang ini aku yang menghadapi!� Mendengar ini, Hui Ing tersenyum dan mundur ke dekat Sian-li.
Sian-li menyambutnya dengan penuh kekaguman.
Tak disangkanya bahwa Hui Ing ternyata hebat dan lihai sekali.
Ia memegang tangan Hui Ing.
�Ah, engkau lihai sekali, enci Ing.
Aku sungguh amat kagum kepadamu.� �Aih, tidak sama sekali, adik Sian-li.
Bukan aku yang lihai melainkan anjing-anjing itu yang tolol.
Lihat saja yang dua itu tentu akan dipermainkan oleh koko Cin Po.� Cin Po kini sudah berhadapan dengan ke dua orang Jepang itu.
Dia memandang tajam dan melihat betapa kedua orang Jepang itu sudah mencabut samurai mereka.
Yang seorang memegang samurai putih dan orang kedua memegang samurai hitam.
�Kami maju berdua, hayo kalian keluarkan dua orang jagoan kalian!� kata yang memegang samurai hitam, yang mukanya agak hitam pula.
Sedangkan yang bermata sipit dan memegang samurai putih, diam saja.
�Majulah kalian berdua, aku akan menandingi kalian,� kata Cin Po dengan sikapnya yang tenang.
Melihat seorang pemuda tanpa senjata berani menghadapi dan menantang mereka berdua, dua orang jagoan samurai Jepang itu menjadi penasaran dan marah sekali.
Mereka adaah jagoan yang paling lihai di antara lima orang itu dan mereka maju berdua, masa akan dihadapi Cin Po seorang?
�Kami bukan golongan pengecut tukang mengeroyok!� kata yang bermata sipit.
Tentu saja dia merasa malu kalau harus mengeroyok seorang pemuda.
Dia sudah merasa menjadi jagoan yang sukar menemukan tanding, dan dia maju bersama adik seperguruannya, masa hanya dihadapi seorang pemuda yang harus dikeroyoknya?
Biarpun dia membantu kawannya yang menjadi bajak laut, akan tetapi dia masih memiliki watak gagah sebagai seorang pendekar.
Mendengar ucapan itu, diam-diam Cin Po menghargainya dan kini Hui Ing meloncat mendekati kakaknya.
�Kalau mereka menghendaki satu lawan satu, biar aku yang maju melawan seorang di antara mereka!� katanya dan Cin Po tidak melarangnya.
Dia menganggap adiknya cukup kuat untuk menghadapi lawan, akan tetapi karena dari sikap mereka, dia dapat menduga bahwa dua orang lawan ini tidaklah seperti lawan-lawan yang sudah dikalahkan, melainkan orang-orang yang menjunjung kegagahan dan karenanya tentu mempunyai kepandaian istimewa, diapun berkata kepada adiknya.
�Ing-moi, kau pergunakan pedang Sian-li!� Hui lng percaya kepada kakaknya.
Kalau kakaknya berkata demikian, tentu kakaknya tahu bahwa ia memerlukan sebatang pedang untuk menghadapi lawan itu.
Maka, ketika Sian-li menyodorkan pedangnya, ia menerima pedang itu dan segera menghadapi dua orang Jepang itu.
�Nah, aku yang maju lebih dulu, Siapa yang akan melawanku?� tantangnya.
Si mata sipit menoleh kepada si muka hitam dan adik seperguruannya inilah yang maju menghadapi Hui Ing dengan samurai hitamnya.
�Nona, aku sudah melihat bahwa ilmu kepandaian nona tadi cukup hebat sehingga pantaslah melawan aku.
Akan tetapi lebih dulu aku ingin mengenal nama orang yang akan menjadi lawanku.
Aku Komura berjuluk Samurai Hitam.� �Namaku Kwan Hui Ing,� jawab gadis itu yang sejak diberitahu bahwa ia puteri ketua Thian-san-pang, ia lalu menggunakan nama keturunan mendiang Tiong Gi Cinjin yang bermarga Kwan.
�Bagus, nah mulailah nona,� kata si muka hitam yang bernama Komura itu.
�Baik, lihat pedang, hiaaaattt...!� Hui Ing lalu menggerakkan pedangnya menggunakan jurus-jurus ilmu pedang Thian-san-kiam-sut.
Kalau mendiang ayahnya melihat ilmu pedang yang digerakkan puterinya itu, tentu dia akan merasa heran bukan main.
Ilmu pedang itu memang Thian-san-kiam-sut, akan tetapi gerakannya sedemikian cepatnya dan mengandung tenaga yang amat dahsyat.
Lenyaplah bentuk pedang itu dan yang nampak hanyalah gulungan sinar pedang yang menyambar-nyambar ganas sekali.
Komura yang berjuluk Samurai Hitam itu lalu menggerakkan samurainya untuk menangkis dan kedua orang itu segera terlibat dalam pertandingan senjata yang amat seru dan menegangkan.
Gerakan Samurai Hitam itupun cepat bukan main, akan tetapi dia masih kalah cepat oleh Hui Ing.
Namun, setidaknya Komura dapat melindungi diri sendiri dengan putaran samurainya sehingga pedang di tangan Hui Ing yang menyambar-nyambar itu selalu bertemu dengan tangkisan Samurai Hitam.
Tiba-tiba, setelah lewat limapuluh jurus, Hui Ing mengeluarkan bentakan yang mengandung getaran hebat sehingga mendebarkan hati Komura.
Karena terkejut dan jantungnya tergetar hebat, gerakan Komura menjadi agak lamban dan kesempatan itu dipergunakan oleh Hui Ing untuk membabatkan pedangnya ke arah kepala Komura.
Dan tiba-tiba saja Komura merasa kepalanya dingin dan ketika dirabanya, rambutnya yang digelung ke atas itu telah lenyap dan tak lama kemudian nampaklah rambut itu runtuh berhamburan!
Tentu saja Komura terkejut bukan main, mukanya pucat dan matanya terbelalak.
Ini merupakan kekalahan besar yang harus ditelan dan diakuinya.
Dia maklum bahwa kalau gadis yang amat lihai itu menghendaki, bukan rambutnya yang melayang jatuh, melainkan kepalanya!
Akan tetapi diapun yakin bahwa kekalahannya bukan karena ilmu pedang melainkan oleh bentakan melengking yang mengejutkan hatinya tadi.
�Aku mengaku kalah!� katanya gagah dengan suara yang lemas sambil menyimpan samurai hitamnya.
Kini tinggal si mata sipit.
Dia melangkah maju dihadapi Cin Po.
�Nona muda itu memiliki ilmu yang mujijat.
Akan tetapi akupun memiliki ilmu yang sama mujijatnya.
Nah, dengarlah!� Tiba-tiba si mata sipit mengeluarkan suara tawa yang demikian menggema sehingga suara itu menggetarkan jantung semua orang.
Bahkan kini banyak anak buah Pulau Hiu ikut pula tertawa.
Huang-hai Sian-li cepat duduk bersila dan mengerahkan sin-kangnya karena ia maklum bahwa suara tawa itu merupakan serangan dengan menggunakan khi-kang yang amat kuat.
Ia yang tidak diserang langsung saja merasakan daya kekuatan yang terkandung dalam tawa itu, apa lagi Cin Po dan Hui Ing yang berhadapan dengan si mata sipit dan diserang langsung itu.
Akan tetapi ke dua orang muda ini telah digembleng oleh Bu Beng Lojin, mereka dapat menolak kekuatan yang menyerang mereka, bahkan mereka ikut tertawa bukan karena terseret melainkan menertawakan si mata sipit.
�Ha-ha-ha, tertawalah terus, sobat.
Tertawa itu sehat, bukan?
Nah, tertawalah terus!� kata Cin Po sambil mengerahkan kekuatan sihirnya dan si mata sipit terkejut setengah mati karena tidak mampu menghentikan tawanya!
Pada hal tawa itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khi-kang, kalau terus begitu bisa dia kehabisan tenaga!
Maka dia menyimpan tenaga khi-kangnya, akan tetapi tawanya masih terus saja tidak dapat dihentikan, terpingkal-pingkal!
Kini daya serang tawanya tidak ada, maka mereka yang ikut tertawa, kini berhenti tertawa dan yang tertawa tinggal si mata sipit seorang diri!
Melihat ini, teman-temannya menjadi terheran-heran dan si muka hitam menepuk pundaknya sambil membentak, �Hinaka-san, kenapa tertawa terus?� Barulah Hinaka sadar dan dengan sendirinya tawanya terhenti.
Dia memandang kepada Cin Po dengan mata mencorong karena dia teringat bahwa pemuda ini yang tadi menyuruhnya tertawa dan dia lalu tertawa tiada hentinya.
Tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki ilmu sihir seperti yang dimiliki gadis itu, dan dipermalukan di depan banyak orang itu, dia menjadi marah sekali.
�Orang muda, siapakah namamu?
Aku Hinaka tidak biasa bertempur dengan seorang yang tanpa nama.� �Hinaka, namaku adalah Sung Cin Po,� jawab pemuda itu dengan sikap tenang sekali biarpun si mata sipit sudah mencabut samurainya yang berkilauan putih.
�Bagus, Sung Cin Po.
Keluarkan senjatamu!� Dia mengelebatkan samurainya dan ujung sehelai ranting pohon di situ melayang jatuh disambar sinar samurainya.
�Twako, pakailah pedangku ini!� kata pula Huang-hai Sian-li setelah tadi menerima kembali pedangnya dari Hui Ing.
Akan tetapi Cin Po tersenyum menoleh kepadanya, �Tidak perlu memakai pedang, Sian-li,� katanya dan diapun lalu memungut ujung ranting yang tadi melayang turun karena disambar sinar pedang samurai si mata sipit.
Ujung ranting itu panjang seperti lengan dan besarnya hanya sejari kelingking, pantasnya senjata seperti itu hanya untuk memukul anjing.
�Hinaka, senjataku ini sudah cukup.
Majulah!� katanya sambil membuangi daun yang menempel pada ranting itu.
Tentu saja Hinaka menjadi marah sekali karena terlalu dipandang rendah oleh lawannya.
Akan tetapi diam-diam diapun merasa girang karena dengan senjata seperti itu, tidak mungkin pemuda itu dapat menandingi samurainya.
�Baik, engkau sendiri yang memilih ranting itu sebagai senjata.
Agaknya engkau sudah bosan hidup!� katanya sambil mengangkat samurainya tinggi-tinggi di atas kepalanya lalu dia lari maju menyerang sambil berteriak lantang, �Haiiiiikkkk...!!� �Wuuut, singgg...!� Samurai itu menyambar luput karena Cin Po, sudah melangkah ke samping dan memutar tubuhnya.
Hinaka mengejarnya dengan mengelebatkan samurainya membalik.
Samurai itu membuat gerakan melengkung di atas kepalanya dan sudah menyambar lagi ke arah tubuh Cin Po.
Gerakan si mata sipit ini memang cepat sekali dan tidak terduga datangnya.
Akan tetapi sekali ini, yang dihadapinya adalah seorang pemuda yang bukan saja mahir Thian-san-kiam-sut, melainkan sudah mendapat gemblengan dari Pat-jiu Pak-sian dan menguasai Pat-jiu-sin-kun dan Hui-sin-kiam-sut, juga sudah menerima gemblengan dari Nam San Sianjin dengan ilmu Tiam-hiat-tung dan Coan-hong-hui.
Lebih dari itu, semua ilmu ini telah disempurnakan ketika dia menjadi murid Bu Beng Lojin, bahkan juga sudah menguasai Ngo-heng-sin-kun.
Dengan ilmu Coan-hong-hui (Terbang Menembus Angin), dengan mudah saja dia dapat mengelakkan semua serangan samurai bersinar putih itu, bahkan ketika pedang itu menyambar pinggangnya, dia meloncat ke atas dan turun di atas punggung samurai!
Sejenak dia menginjak samurai itu, lalu melompat ke atas lagi dan berjungkir balik ketika samurai menyambar-nyambar.
Hinaka merasa seperti dipermainkan seekor burung wallet yang gesit sekali.
Setelah belasan jurus lewat dengan menyambar-nyambarnya samurai yang selalu dielakkan Cin Po, kini Cin Po membalas.
Dia bersilat dengan Tiam-hiat-tung (Tongkat Penotok Jalan Darah), dan rantingnya itu meluncur ke sana sini mengejar tubuh Hinaka dengan mencari jalan darahnya.
Hinaka terkejut sekali karena dia merasa betapa ranting itu menyambar dengan kekuatan dahsyat mendatangkan angin!
Dia mencoba untuk menggunakan samurainya menangkis dan membabat putus ranting itu, akan tetapi ranting itu bergerak cepat sekali sehingga tangkisannya tidak pernah mengena.
Setelah menyerang berulang kali dengan totokan rantingnya, dan selalu meleset atau tertangkis pedang, akhirnya Cin Po berhasil menotok pundak si mata sipit itu dengan ujung rantingnya.
�Tukk!� Si mata sipit terhuyung ke belakang, akan tetapi tidak roboh!
Tahulah Cin Po bahwa Hinaka ini memiliki tubuh yang kebal, maka dia lalu mengubah gerakannya.
Kini memainkan Hui-sin-kiam-sut.
Yang membuat rantingnya seperti seekor ular terbang yang menyambar-nyambar ganas sekali dan berulang kali mengarah kedua mata lawan!
Hinaka terkejut dan seketika dia terdesak mundur.
Gerakan ranting lawannya sedemikian cepatnya sehingga dia tidak sempat untuk membalas sama sekali.
Pada saat itu, melihat Hinaka terdesak, ketua bajak Tengkorak Putih lalu memberi aba-aba kepada anak buahnya.
Menyeranglah anak buah bajak laut Tengkorak Putih itu, menyerbu ke arah anak buah Pulau Hiu.
Melihat ini, Huang-hai Sian-li dan Hui Ing mengamuk.
Biarpun jumlah para penyerbu itu jauh lebih besar, akan tetapi dengan adanya dua orang wanita itu, mereka menjadi kocar-kacir.
Kepala bajak laut Tengkorak Putih dan tiga orang temannya juga sudah maju, mereka dihadapi Hui Ing, Sian-li dan Tok-gan Kim-go.
Melihat pihak musuh yang bertindak curang dan tidak memegang janji, Cin Po menjadi marah.
Rantingnya bergerak cepat dan sekali ini, leher Hinaka tertotok yang membuatnya sejenak menjadi kaku.
Saat itu dipergunakan oleh Cin Po untuk menendangnya sehingga dia roboh terjengkang.
Cin Po lalu membantu Hui Ing yang dikeroyok dua oleh Komura dan Yamoto sehingga dalam beberapa jurus saja kedua orang Jepang itu sudah roboh tersungkur.
Keadaan anak buah bajak laut Tengkorak Putih menjadi semakin panik dan akhirnya mereka semua melarikan diri sambil menyeret teman-teman yang terluka.
Huang-hai Sian-li dan anak buahnya mengejar sampai musuh melarikan diri ke dalam tiga perahu besar dan berlayar meninggalkan Pulau Hiu dengan menderita kekalahan besar.
�Mudah-mudahan mereka akan jera untuk mengganggu kami lagi!� kata Sian-li dengan gembira.
�Terima kasih, toako dan engkau, juga Enci Hui Ing.� Huang-hai Sian-li lalu mengadakan pesta besar untuk merayakan kemenangan itu.
Beberapa kali ia mengangkat cawan arak untuk menghormati ke dua orang tamunya dan melihat sikap yang demikian ramah dan mesra dari Huang-hai Sian-li, Hui Ing seringkali mengerutkan alisnya.
Setelah pesta selesai, Cin Po dapat menukar bajunya yang dipinjamkan kepadanya itu dengan bajunya sendiri yang sudah kering.
Dia lalu mendapat kesempatan bicara berdua dengan Hui Ing.
�Sian-li itu baik sekali, koko.
Tidak pantas ia menjadi kepala bajak laut,� kata Hui Ing.
�Biarpun menjadi kepala bajak laut, akan tetapi ia menggunakan peraturan yang keras melarang anak buahnya menggunakan kekejaman terhadap para korbannya.� �Engkau agaknya sudah mengenal baik padanya, koko.� �Memang aku sudah mengenalnya dengan baik sekali.
Lupakah kau, Ing-moi?
Aku sudah memberitahu kepadamu bahwa ia adalah puteri Tung-hai Mo-ong!� �Kalau begitu, mengapa?� �Aih, benar saja engkau sudah lupa.
Bukankah aku dahulu sudah bercerita kepadamu betapa aku ditawan oleh Tung-hai Mo-ong dan nyawaku terancam karena dia hendak memaksaku menjadi mantunya?� Hui Ing terbelalak.
Baru sekarang ia teringat.
�Aihh...
jadi Sian-li itulah puteri Tung-hai Mo-ong yang hendak dikawinkan denganmu, koko?� �Begitulah.
Aku tidak setuju dan Tung-hai Mo-ong merobohkanku, menawanku dan membelenggu kakiku, dan Sian-li itulah yang membebaskan aku.
Kemudian, menurut ceritanya tadi, ayahnya marah kepadanya karena membebaskanku dan kemarahan ayahnya itu membuat ia minggat sehingga menjadi kepala bajak laut di sini.� �Ahhh...
ohhh...
ahhhh...� �Heii, kenapa engkau ber ah-oh-ah seperti itu?� �Aku sungguh heran sekali, koko.
Heran setengah mati.
Sian-li adalah seorang gadis yang luar biasa, lihai pandai dan cantik seperti bidadari!� �Kenapa engkau tahu ia cantik seperti bidadari?
Bagaimana engkau tahu, kalau ia bercadar terus?� �Dari suaranya, dari bentuk mukanya, dan bentuk tubuhnya, warna kulitnya, aku yakin ia seorang gadis yang luar biasa cantiknya, akan tetapi engkau menolak untuk menjadi jodohnya!� �Ingat Ing-moi.
Ketika itu aku baru berusia sembilanbelas tahun, masih remaja, masih belum memikirkan perjodohan sama sekali.
Bahkan sekarangpun tidak.� �Akan tetapi ia kelihatannya amat memperhatikanmu, koko.
Kelihatan begitu mesra.
Hal ini dapat kutangkap dari cara ia berbicara kepadamu.� �Sudahlah, Ing-moi.
Jangan bicarakan urusan itu lagi.
Yang terpenting bagi kita, Sian-li mau mengantar kita ke Pulau Iblis mencari siang-kiam seperti yang dipesan oleh suhu itu.� Akan tetapi diam-diam Hui Ing masih merasa penasaran sekali.
Biarpun Cin Po tidak memperlihatkan bahwa pemuda itu cinta kepada Sian-li, hanya bersikap akrab, namun ia tidak dapat salah lihat atau salah dengar.
Gadis berkerudung itu pasti mencinta kakak angkatnya.
Pasti!
Maka, ia belum puas kalau belum mendengar sendiri hal itu dari Sian-li.
Ketika ia mendapat kesempatan bertemu berdua saja dengan Sian-li, di taman yang indah belakang rumah besar itu, ia langsung saja bicara tentang kakaknya kepada ketua bajak laut Pulau Hiu itu.
�Sian-li, bagaimana pendapatmu tentang kakakku, Cin Po?� Sian-li memandang dari balik kerudungnya, sepasang mata yang bersinar tajam.
�Apa...
maksudmu, enci Ing?� tanyanya.
�Aku pernah mendengar dari kakakku itu bahwa...
ayahmu pernah hendak mengambil koko sebagai mantu.
Tentu akan dijodohkan denganmu, bukan?� �Ah, enci Ing...!� Sian-li terlejut sekali, tidak menyangka bahwa Hui Ing tahu akan hal itu, hal yang membuat hatinya terasa nyeri sampai sekarang.
Bahkan sampai ia menjadi kepala bajak laut adalah gara-gara ikatan jodoh yang terputus itu!
�Aku...
aku tidak mengerti mengapa engkau menanyakan soal itu kepadaku.� �Aku ingin sekali tahu, adik Sian-li.
Kakakku menolak dijodohkan denganmu karena memang dia belum memikirkan tentang perjodohan pada waktu itu.
Akan tetapi engkau yang ditolak, engkau malah membebaskannya.
Dan engkau malah bercekcok dengan ayahmu sehingga engkau melarikan diri dan menjadi kepala bajak laut di sini.
Kemudian, engkau bahkan menyelamatkan kami dari kematian tenggelam.
Sian-li, engkau tentu..., amat mencinta kakak Cin Po, bukan?� �Aih, enci Ing, kenapa engkau bicara tentang itu?
Bicaralah tentang lain hal!� �Tidak, adik Sian-li, aku ingin kepastian.
Aku yakin bahwa engkau melakukan itu karena engkau mencinta kakak Cin Po.
Dan sampai kinipun engkau masih mencintanya, hal ini dapat kudengar dari ucapanmu kalau bicara dengannya, dari sikap dan sinar matamu yang seolah menembus cadarmu.
Engkau mencinta kakak Cin Po, bukan?� �Enci Ing, kau...
kau cemburu kepadaku?� Hui Ing terkejut sekali.
Wajahnya berubah kemerahan.
Bagaimana gadis berkerudung itu dapat menduga demikian tepat?
Seolah menyerang dengan tusukan pedang yang menembus jantungnya.
Akan tetapi ia mencoba untuk mengelak.
�Ihh, aku adalah adiknya!� katanya seperti membantah suara hatinya sendiri.
�Bukan, enci Ing.
Kalau engkau adiknya, tentu engkau juga bermarga Sung seperti dia.
Akan tetapi margamu Kwan, hal itu saja sudah membuktikan bahwa engkau bukan apa-apanya, mungkin hanya adik seperguruan.
Dan aku dapat melihat jelas bahwa engkau amat mencintanya, enci Ing.
Karena itu engkau cemburu kepadaku.� �Ngawur!
Kakak Cin Po mencintamu, adik Sian-li.
Dahulu, dua tahun yang lalu mungkin dia belum memikirkan perjodohan.
Akan tetapi sekarang, hemm, dia tentu mencintamu.
Engkau begini bijaksana, pandai dan cantik jelita.
Aku yakin dia pasti mencintaimu!� �Enci Ing, harap jangan khawatir.
Engkau keliru kalau mencemburuiku.
Aku tidak patut kau cemburui, karena...
karena...� Tiba-tiba ia membuka kerudungnya dan berkata, �Lihatlah sendiri!� Hui Ing (Lanjut ke
Jilid 08) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 memandang dan matanya terbelalak, mukanya berubah agak pucat.
Hanya sebentar kerudung itu menutup kembali.
�Kau lihat sendiri.
Mungkinkah orang seperti aku ada yang mencintai?
Mungkinkah?� Suara itu mengandung kegetiran dan kesedihan.
Sejenak Hui Ing tidak mampu bicara.
Perasaan iba yang sangat besar menyelinap di hatinya dan iapun lalu merangkul Sian-li, �Adik Sian-li, ah, maafkan aku...
percayalah, yang pasti aku mencintamu, adik Sian-li!� Sian-li menghela napas panjang dan menepuk-nepuk pundak Hui Ing, �Enci Ing, engkau memang pantas kalau berjodoh dengan twako Cin Po.
Kalian memang cocok sekali, sama-sama lihai, dan sudah lama melakukan perjalanan hidup berdua.
Dan engkau baik sekali, enci Ing, aku mengiri atas keberuntunganmu.� �Jangan menyangka yang bukan-bukan, adik Sian-li.
Terus terang saja, aku memang amat mencinta koko, akan tetapi kadang terasa betapa hatiku bimbang ragu.
Kadang aku menganggap dan mencintainya seperti seorang adik kepada kakaknya, dan terkadang...� Ia tidak mampu melanjutkan.
�Hal itu adalah karena sudah lama kalian berkumpul sebagai kakak beradik.
Akan tetapi kalau memang dia mencintaimu seperti seorang pria mencinta wanita...� �Ah, aku tidak tahu, adik Sian-li.
Aku tidak tahu dan aku kadang merasa bingung sendiri!� Kembali Sian-li menghela napas panjang.
�Cinta memang aneh, dan ganjilnya, lebih banyak mendatangkan tangis dari pada tawa.
Akan tetapi aku memujikan engkau akan berbabagia dalam cintamu, enci Ing.� �Aku juga mendoakan semoga engkau akan dapat sembuh dari penyakit yang menodai wajahmu, adikku.
Kalau wajahmu bersih dari noda itu, engkau akan menjadi wanita tercantik di dunia ini dan semua pemuda tentu akan bertekuk lutut di bawah telapak kakimu!� �Aih, engkau bisa saja, enci.
Sudahlah, mari kita bicarakan urusan lain.
Nah, itu dia orang yang kita bicarakan muncul.� Cin Po memasuki taman itu dan melihat ke dua orang gadis itu sedang bercakap-cakap maka segera dia menghampiri.
�Eh, Ing-moi, kiranya engkau berada di sini?
Kebetulan sekali, aku juga sedang mencarimu, Sian-li!� �Hemm, kenapa engkau mencari adik Sian-li?� tanya Hui Ing.
�Ingin menanyakan tentang Pulau Iblis.
Kapan kita dapat berangkat ke sana?� �Oya, Sian-li, siapakah yang akan dapat mengantar kami ke pulau itu?
Kami ingin segera mengunjunginya!� Sian-li menghela napas.
�Sebetulnya aku khawatir sekali melihat kalian hendak mengunjungi tempat yang mengerikan itu.
Akan tetapi aku telah menyaksikan sendiri kelihaian kalian, maka aku menjadi berani.
Aku sendirilah bersama beberapa orang pembantuku yang akan mengantar kalian ke sana.
�Akan tetapi sebelum kita berangkat, bolehkah aku mengetahui apa keperluan kalian pergi ke tempat yang mengerikan itu?
Kalau tidak untuk keperluan yang teramat penting, mengapa tempat seperti itu dikunjungi?� Hui Ing bertukar pandang mata dengan Cin Po dan gadis itu berkata.
�Koko, tidak ada buruknya kalau kita memberi tahu Sian-li, bagaimanapun juga ia adalah sahabat kita yang baik, bukan?� Cin Po mengangguk.
�Terus terang saja, Sian-li, kami memenuhi permintaan Suhu kami untuk mencari kembali pedang Suhu kami yang dicuri orang.
Pencurinya berada di pulau Iblis itulah.� �Ahhh...!
Sudah kuduga dan kucurigai bahwa yang beraksi sebagai iblis itupun manusia juga.
Tentu manusia yang sakti.
Kalian harus berhati-hati sekali!� �Demi memenuhi permintaan suhu, kami tentu saja akan berani menghadapi bahaya apapun!� kata Hui Ing.
�Aku tertarik sekali.
Aku sendiri yang akan memimpin para pembantuku mengantar kalian ke sana.
Kita menggunakan perahu kami yang terbaik!� �Lalu kapan kita akan berangkat?� tanya Hui Ing.
�Biarpun perjalanan menuju ke pulau itu hanya makan waktu seperempat hari, akan tetapi sebaiknya kalau kita berangkat pagi-pagi sekali besok, agar kita tiba di sana, setelah matahari cerah.� �Bagus!
Aku sudah lama ingin sekali melihat lagi munculnya matahari pagi dari permukaan laut!� kata Hui Ing gembira.
Ia pernah satu kali melihat munculnya matahari pagi di permukaan laut dan ingin sekali menikmati kembali pemandangan yang hebat itu.
Berbeda jauh pemandangannya antara munculnya matahari dari permukaan laut dengan munculnya matahari dari balik puncak gunung yang sudah seringkali dilihatnya.
Malam itu mereka berkemas.
Hui Ing dan Cin Po dalam kamar masing-masing melakukan samadhi untuk menghimpun tenaga murni karena besok mereka akan melakukan tugas penting yang mungkin sekali mengandung bahaya.
Cin Po tetah selesai bersamadhi dan hendak tidur.
Akan tetapi entah mengapa dia merasa gelisah.
Mungkin karena hawa udara agak panas malam itu.
Dia harus mendapatkan hawa segar.
Maka, dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara, dia membuka pintu jendelanya.
Bau harum semerbak menerpa hidungnya.
Daun jendela terbuka, hawa masuk dari taman membawa keharuman aneka bunga.
Hal ini menimbulkan semangat baginya.
Dia melihat beberapa lampu gantung di taman.
Sebaiknya mencari kesegaran dan kesejukan dalam taman, pikirnya.
Dengan gerakan ringan, setelah mengenakan sepatunya, dia melompat keluar melalui jendela kamarnya dan berjalan-jalan dalam taman itu.
Setelah tiba di tengah taman, tiba-tiba dia menahan kakinya.
Ada suara orang terisak di dalam taman!
Berindap-indap dia menghampiri dan dalam keremangan cahaya lampu gantung dia melihat bahwa yang menangis itu adalah Kui Ciok Hwa atau Huang-hai Sian-li!
Gadis itu duduk di atas bangku dekat kolam ikan dan menangis terisak-isak.
Begitu sedih tangisnya sehingga Cin Po tidak berani bernapas keras, hanya mengintai dari balik batang pohon besar yang tumbuh di situ.
�Cin Po ahhh...
twako Cin Po...� Gadis itu mengeluh dan menangis sesenggukkan.
Tentu saja dia terkejut sekali.
Gadis itu menangis karena dia!
Dan teringatlah dia akan peristiwa dua tahun yang lalu.
Dia hendak dijodohkan dengan gadis ini dan karena dia menolak, dia dihajar dan ditawan oleh Tung-hai Mo-ong.
Akan tetapi gadis ini membebaskannya, dengan berkorban diri dimarahi ayahnya!
Dan ketika berpisah, gadis ini ingin dianggap sebagai seorang sahabat baik!
Sekarang, secara kebetulan saja, mereka bertemu lagi dan kembali gadis itu telah menolongnya, menyelamatkan nyawanya dan nyawa Hui Ing!
Dan kini, malam-malam di taman, gadis itu menangis dan menyebut-nyebut namanya.
Cin Po terharu bukan main.
Kini mengertilah dia bahwa Kui Ciok Hwa mencinta dirinya!
Dan menangis karena merasa ditolak olehnya, ditolak karena wajahnya yang cacat.
�Twako Cin Po....
mengapa aku tidak mati saja...?
Ah, mengapa aku harus hidup menderita begini...?� Isak tangis yang memilukan hati itu, membuat Cin Po tidak dapat menahan dirinya lagi.
Sebetulnya, dia merasa amat tertarik kepada gadis ini, kepada kepribadiannya.
Entah itu perasaan cinta atau bukan, dia sendiri tidak tahu.
Akan tetapi dia merasa sangat kasihan, dan ingin sekali melihat gadis itu berbahagia, tidak bersedih seperti sekarang ini.
�Ciok Hwa...!� Dia memanggil dan mendekat.
Huang-hai Sian-li tersentak kaget, berbangkit dan membalikkan tubuhnya.
Ketika dia melihat bahwa yang memanggil namanya itu Cin Po yang sedang ditangisinya, tentu saja ia terkejut bukan main.
Ia merasa malu dan salah tingkah.
�Kau...
kau...?� Ia tergagap.
�Ciok Hwa, kenapa engkau menangis seorang diri di sini, malam-malam begini?� �Aku...
aku..., ah, tidak apa-apa twako...!� Cin Po memegang kedua tangan gadis itu.
Serasa begitu lembut dan halus, begitu hangat dan kedua tangan itu terasa seperti anak-anak ayam yang menggetar dalam genggamannya.
�Hwa-moi, engkau...
menangis karena aku?
Tadi kudengar engkau menyebut-nyebut namaku...� �Tidak...
tidak...
aku tidak berani...
ahh, lepaskan tanganku, twako...� Ia menangis lagi, mengguguk.
Cin Po tidak melepaskan tangan itu, bahkan merangkul pundak Huang-hai Sian-li.
�Hwa-moi, katakan terus terang saja, engkau mencinta aku, bukan?� �Ohhhh...
bagaimana aku berani?
Aku yang seburuk ini...� �Engkau tidak buruk, Hwa-moi.
Engkau gadis yang paling bijaksana, baik dan berhati mulia bagiku.
Terus terang saja, Hwa-moi, sekarang aku berani menyatakan bahwa akupun cinta padamu.� Ciok Hwa menjerit kecil dan melepaskan tangannya, melompat ke belakang.
Ia menyingkap kerudungnya.
�Lihat, lihat baik-baik, twako!
Apakah engkau tidak jijik, tidak ngeri melihat wajahku yang cacat ini?� Cin Po tersenyum.
�Sama sekali tidak, Hwa-moi.
Engkau memiliki batin yang cantik, dan engkau juga memiliki jasmani yang cantik jelita, hanya wajahmu cacat karena sakit, dan aku bersumpah akan mencarikan obat untuk menyembuhkan cacat di wajahmu itu.
Aku cinta padamu, Ciok Hwa.� Cin Po menghampiri lagi dan merangkul.
Ciok Hwa seperti tidak percaya kepada semua itu.
Ia menatap wajah Cin Po, menatap matanya, kemudian dia menjerit dan menangis di atas dada Cin Po, sesenggukan dan pundaknya terguncang-guncang.
�Ciok Hwa, demikian besar pengorbananmu demi cintamu kepadaku.
Aku dapat merasakan besarnya cintamu padaku, dan aku menghargainya, aku berterima kasih sekali dan dari cintamu yang demikian besar itulah tumbuh perasaan sayang dan cinta dalam hatiku untukmu.
Biarlah kelak aku akan menghadap ayahmu untuk meminangmu.
Mudah-mudahan dia tidak marah lagi kepadaku dan kepadamu.� �Twako Cin Po, ahh...
twako...� Dapat dibayangkan kebahagiaan yang terasa di dalam hati gadis itu.
Baru saja ia merasa menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini, mencintai seorang laki-laki yang tentu merasa benci dan jijik kepadanya.
Dan kini, tanpa disangka-sangkanya, pemuda itu menyatakan cintanya kepadanya.
Dari orang yang paling sengsara hidupnya kini berubah menjadi orang yang paling bahagia!
Betapa anehnya cinta!
Dalam sekejap waktu saja dapat mengubah keadaan hati seorang manusia.
Dapat mengubah neraka menjadi sorga, dari sorga berbalik menjadi neraka.
Dari jauh Hui Ing melihat ini semua.
Iapun tidak dapat tidur dan keluar dari kamarnya memasuki taman mencari udara segar.
Tadinya ia merasa curiga melihat seorang wanita dan seorang pria di taman, lalu ia menyusup agak mendekat dan masih sempat melihat betapa Huang-hai Sian-li menangis dalam pelukan Cin Po.
Hampir ia tidak dapat percaya akan penglihatannya sendiri.
Kalau Huang-hai Sian-li jatuh cinta kepada kakaknya, ia sama sekali tidak merasa aneh.
Kakaknya memang pantas untuk menjatuhkan hati gadis yang mana saja.
Akan tetapi kakaknya mencinta Huang-hai Sian-li?
Rasanya tidak mungkin.
Pria mana yang dapat jatuh cinta, kepada wanita yang mukanya buruk dan cacat seperti itu, menjijikkan dan mengerikan?
Tidak, tidak mungkin Cin Po mencinta Sian-li, tentu hanya kasihan saja.
Dan kasihan bukanlah cinta.
Ia harus minta ketegasan dari Cin Po.
Ia tidak mau kehilangan pemuda yang dicintanya itu.
Dengan muka merah dan mata basah Hui Ing menyelinap pergi, kembali ke dalam kamarnya akan tetapi semalam itu ia tidak dapat tidur pulas.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hui Ing sudah menemui Cin Po dan mengajak kakaknya ini bicara empat mata.
Cin Po merasa heran melihat sikap adiknya tidak seperti biasa, sekali ini sikapnya demikian serius.
�Ada apakah, Ing-moi?� �Koko, katakanlah terus terang, apakah engkau menyayangku seperti aku menyayangmu, mencintaku seperti aku mencintamu?� Tentu saja Cin Po tertegun mendengar pertanyaan yang lebih menyerupai serangan dan tuntutan itu.
Dia tertawa memandang kepada gadis itu dengan mata terbelalak, merasa lucu dan berkata, �Aih, engkau semalam mimpi apakah, Ing-moi?
Pagi-pagi sudah menanyakan yang aneh-aneh.
Tidak usah kau tanya juga tentu engkau sudah mengerti dan yakin bahwa aku sayang dan cinta padamu.
Engkau adalah adikku, mana ada kakak yang tidak sayang kepada adiknya?� �Akan tetapi, aku bukan adikmu, koko, dan engkau bukan kakakku.
Bahkan di antara kita tidak ada hubungan darah sedikitpun juga!� �Heii, kenapa engkau berkata demikian, adikku?
Ingat, kita dibesarkan dari dada yang sama!
Kita dirawat sejak bayi oleh sepasang tangan ibu yang sama!
Masih kurangkah itu menjadi penghubung di antara kita?
�Aku selalu memandangmu sebagai adikku sendiri, Ing-moi.
Sukar rasanya untuk memandang demikian, karena sejak berusia kecil sekali, sejak bayi kita telah bersama-sama.� Hati kecil Hui Ing menjerit.
�Aku tidak mau menjadi adikmu!� Akan tetapi mulutnya tidak mengatakan itu dan iapun menangis.
Cin Po merasa heran dan khawatir, dihampirinya Hui Ing dan dia mengelus rambut gadis itu dengan sikap menyayang.
Akan tetapi hal ini bahkan mengiris perasaan hati Hui Ing sehingga ia bangkit berdiri dan lari meninggalkan pemuda itu sambil terisak, kembali ke dalam kamarnya.
Tentu saja Cin Po menjadi terheran-heran.
Dia mengerutkan alisnya dan sedikit dapat menduga apa yang menyebabkan adiknya bersikap seperti itu.
Agaknya adiknya itu mencintanya seperti seorang gadis mencinta seorang pria!
Akan tetapi tidak, hal itu harus dicegah!
Dia sudah terlanjur memandang gadis itu seperti adiknya sendiri.
Bagaimana mungkin dia mencintanya seperti seorang pria terhadap seorang wanita?
Apa lagi cintanya telah diberikannya kepada Ciok Hwa, dan semalam dia telah menyatakan cintanya itu.
Diapun berkemas dan ketika bertemu dengan Hui Ing lagi, ternyata gadis itu telah pulih dan sikapnya telah biasa kembali, lincah gembira sehingga diapun terhibur dan tidak mau menyatakan sesuatu yang mengingatkan gadis itu akan percakapannya pagi tadi.
Diapun bersikap pura-pura tidak pernah ada percakapan itu.
�Enci Ing, sekali ini engkau dan twako Cin Po harus memperlengkapi diri dengan sebatang pedang.
Aku merasa bahwa dia yang tinggal di Pulau Iblis itu tentulah orang yang sakti sekali, maka kalian berdua harus bersiap-siap menjaga diri,� kata Huang-hai Sian-li sambil menyerahkan sebatang pedang kepada masing-masing.
Hui Ing memandang kepada kakaknya dan Cin Po mengangguk, maka mereka menerima bekal pedang itu dan mengikatkan di punggung mereka.
Ketua bajak laut Pulau Hiu itu membawa anak buah pilihan sebanyak limabelas orang dan merekapun berangkatlah menggunakan perahu mereka yang paling baik.
Setelah layar dikembangkan, perahu meluncur dengan pesatnya menuju ke tengah samudera.
Berbeda rasanya menumpang perahu besar dibandingkan perahu kecil ketika mereka berlayar kemarin dulu.
Perahu besar tidak begitu terguncang ombak sehingga Cin Po dan Hui Ing dapat menikmati pelayaran ini.
Kurang lebih tiga jam pelayaran, akhirnya Sian-li menudingkan telunjuknya dan berkata, �Lihat!
Itulah Pulau Iblis!� Berdebar juga rasa hati Cin Po dan Hui Ing mendengar ini dan mereka memutar tubuh memandang ke arah yang ditunjuk.
Benar saja, nampak sebuah pulau yang nampak menghitam dari tempat itu.
Tidak besar dan bentuknya bundar, berdiri terpencil sendiri di tengah samudera itu.
Para anak buah jelas kelihatan ketakutan karena mereka adalah mereka yang dulu pernah bersama Huang-hai Sian-li menderita ketakutan hebat ketika mencoba untuk mendarat di pulau itu.
Akan tetapi Cin Po minta kepada Sian-li dengan suara lantang, �Sian-li, harap dekatkan perahu ke pulau itu.� Huang-hai Sian-li memberi perintah anak buahnya.
�Jangan takut.
Dekatkan perahu ke pulau dan pilih daratan yang landai.
Kita akan mendarat!� Biarpun ketakutan, para anak buah itu menaati perintah ketua mereka dan tak lama kemudian perahu itu telah menempel di daratan yang landai.
Ternyata pulau itu cukup subur dengan pohon-pohon besar dan banyak pula batu-batuan yang besar di sana sini.
Nampaknya seperti pulau kosong karena tidak kelihatan apa-apa kecuali pohon-pohon dan batu-batu.
Bahkan tidak kelihatan seekor binatang, tidak nampak seekorpun burung beterbangan di atas pulau itu.
�Seperti pulau mati saja,� kata Huang-hai Sian-li berbisik dan dari suaranya jelas bahwa gadis ini nampak gentar.
Mendengar suara ini, Cin Po memegang tangan Huang-hai Sian-li dan berkata, �Tenanglah, kita telah siap siaga menghadapi apapun juga, bukan?� Merasa tangannya dipegang pemuda itu, Sian-li mengangguk dan nampak bersemangat.
Hal ini tidak lepas dari pandang mata Hui Ing.
Gadis ini menjadi tak senang dan marah, lalu melampiaskan kemarahannya dengan berteriak nyaring melengking.
�Ahooiiii...!
Kalau ada penghuni Pulau Iblis ini, keluarlah menemui kami!� Cin Po agak terkejut juga melihat kelancangan adiknya, akan tetapi dia tidak menegur karena bagaimanapun juga, mungkin teriakan adiknya itu ada gunanya untuk memancing keluar penghuni pulau.
Memang lebih baik kalau penghuni pulau itu yang keluar menyambut mereka dari pada mereka memasuki daerah yang tidak dikenal dan mudah masuk perangkap.
Tidak lama mereka menanti setelah Hui Ing mengeluarkan kata-kata tadi, terdengarlah suara gerengan yang menggetarkan seluruh pulau.
Anak buah bajak laut Pulau Hiu jatuh bangun melarikan diri kembali ke perahu mendengar gerengan itu.
Akan tetapi Huang-hai Sian-li meneriaki mereka agar kemhali dan siap siaga.
Ia sendiri agak gemetar berdiri di belakang Cin Po seolah berlindung kepada pemuda itu.
Hui Ing sama sekali tidak kelihatan gentar.
Ia dan Cin Po berdiri tegak menanti apa yang akan muncul setelah ada suara yang demikian nyaring menggetarkan itu.
Dan seperti pernah diceritakan Sian-li kepada mereka.
Mendadak dari balik sebuah batu besar muncul seekor makhluk yang menyeramkan sekali.
Makhluk itu besar dan makin membesar seperti asap hitam bergumpal-gumpal.
Nampak seperti seorang raksasa dengan mulut seperti mulut harimau dan matanya bernyala-nyala, kedua lengannya yang besar itu dikembangkan dan tangannya membentuk cakar.
Sungguh mengerikan dan tidaklah mengherankan kalau semua anak buah bajak menjatuhkan diri berlutut sambil menggigil ketakutan.
Hui Ing dan Cin Po memandang tajam, sedangkan Sian-li yang ketakutan memegang tangan Cin Po dari belakang, tangannya sendiri berubah dingin.
�Tenanglah,� bisik Cin Po kepadanya dan melepaskan tangannya yang dipegang.
Dia sendiri harus siap siaga maka kalau tangannya dipegang dia tidak akan leluasa bergerak.
Setelah memandang sejenak, dia dan Hui Ing maklum bahwa makhluk itu hanyalah makhluk jadi-jadian, bukan makhluk biasa hanya muncul karena kekuatan ilmu hitam belaka.
Hui Ing lalu membungkuk, mengambil tanah dan melompat ke depan makhluk itu sambil menyambitnya dengan segenggam tanah.
�Yang berasal dari tanah kembali kepada tanah!� bentaknya dan ia melontarkan tanah dari tangannya dengan pengerahan tenaga sinkangnya.
�Desss...!� Asap bergumpal-gumpal ketika makhluk itu dihantam tanah dan asap itu membuyar dan tak lama kemudian lenyaplah makhluk yang menyeramkan itu!
Kemudian terdengar suara tawa, tawa terbahak-bahak seperti seorang gila tertawa, atau seperti iblis tertawa dan dari belakang pohon muncullah seorang laki-laki tua menunggang seekor harimau!
Kakek itu kurus kering, pakaiannya kedodoran, mukanya seperti tengkorak dan hanya matanya saja yang mencorong dan bergerak liar seperti mata orang gila.
Rambutnya awut-awutan dan kakek itu sukar ditaksir usianya, namun jelas bahwa dia tentu sudah berusia lanjut, mungkin tujuhpuluh tahun lebih.
Dia tertawa-tawa seperti orang gila sambil memandang ke arah Hui Ing.
�Wah, wah, seorang gadis cilik dapat memusnahkan makhluk yang kuciptakan.
He, heh, anak perempuan kecil, engkau mau apakah datang ke tempat ini?� Sekarang Cin Po yang maju.
Dia merangkap kedua tangan depan dada, kemudian berkata dengan sikap hormat.
�Locianpwe, kami berdua menerima perintah dari Suhu kami untuk datang ke pulau ini dan mencari kembali Im-yang Siang-kiam.
Tidak tahu apakah locianpwe mengetahui di mana Im-yang Siang-kiam itu?
�Ha-ha-ha, siapakah gurumu itu?
Hayo katakan, siapa gurumu yang menyuruh kalian mencari Im-yang Siang-kiam?� Hui Ing cepat menjawab.
�Guru kami tidak bernama, karena itu kami menyebutnya Bu Beng Lojin!
Kalau engkau mengetahui, lekas beritahukan kepada kami.
Jangan-jangan engkaulah pencuri pedang itu, kakek tua!� �Ha-ha-ha, aku Bhok Seng Cun tidak pernah berbohong.
Aku tidak takut mengakui bahwa memang akulah yang mencuri pedang itu dari Orang Tua Tanpa Nama.
Aku yang melarikannya darinya.
�Dan sekarang dia menyuruh kalian berdua datang untuk mendapatkan kembali?
Ha-ha, apakah kalian orang-orang muda sudah bosan hidup?
Pergilah, pergilah, jangan membuat aku marah karena kalau aku marah kalian pasti akan hancur lebur!� �Kakek Bhok Seng Cun, kami harap engkau suka menyadari bahwa mencuri itu merupakan perbuatan yang buruk sekali.
Suhu kami telah bersikap sabar dan membiarkan engkau melarikan pedang itu dan sekarang mengutus kami untuk minta kembali pedang itu darimu.
�Kami menaati perintah Suhu, biar bagaimanapun, kami tidak akan takut dan mundur sebelum engkau mengembalikan pedang itu kepada kami.
Karena itu, orang tua yang baik, kalau engkau tidak ingin melihat dilawan oleh orang-orang muda yang pantas menjadi cucumu, harap kembalikan Im-yang Siang-kiam kepada kami!� �Ha-ha-ha, kalian orang-orang muda berani bicara besar!
Lihat, Im-yang Siang-kiam!� katanya aambil memasukkan tangan ke balik jubahnya yang terlalu besar untuknya itu dan di lain saat, dia telah memegang sepasang pedang yang mengeluarkan cahaya berkilauan.
Yang sebatang mempunyai sinar putih dan yang sebatang lagi agak kemerahan.
Melihat pedang itu, Cin Po dan Hui Ing menjadi kagum.
Itulah pedang yang harus mereka rampas dan oleh Bu Beng Lojin telah diberikan kepada mereka.
Mereka harus merampasnya, bukan karena ingin memiliki pedang yang hebat itu, melainkan demi menaati pesan guru mereka!
�Kakek Bhok Seng Cun, serahkan pedang itu kepada kami!� kata Hui Ing dengan nyaring.
�Ha-ha, siapakah kalian ini berani memaksaku untuk menyerahkan pedang?
Hayo katakan siapa nama kalian agar aku tidak membunuh orang-orang tanpa nama!� �Aku bernama Sung Cin Po dan ini adikku bernama Kwan Hui Ing!
Orang tua, alangkah malunya menyimpan pedang curian, sebaiknya berikan kepada yang berhak!� kata Cin Po.
�Sung Cin Po dan Kwan Hui Ing, kalian bertemu dengan aku orang tua, tidak lekas berlutut menanti apa lagi!
Hayo kalian cepat berlutut!� katanya dan menudingkan ke dua pedangnya ke arah dua orang muda itu.
Dan tanpa dapat dicegah lagi, tiba-tiba saja Cin Po dan Hui Ing menjatuhkan diri berlutut!
Kakek itu tertawa bergelak akan tetapi di tengah-tengah tawanya dia berhenti karena melihat dua orang muda itu telah melompat bangun kembali.
Kiranya sihirnya hanya sebentar saja mempengaruhi ke dua orang muda itu.
Tiba-tiba dia tertawa bergelak, suara tawanya demikian hebat sehingga para anak buah bajak jatuh bergulingan, sedangkan Huang-hai Sian-li sendiri cepat duduk bersila mengerahkan khi-kang untuk menahan suara tawa yang seperti ujung pedang menusuk-nusuk ke dua telinganya.
Akan tetapi Cin Po dan Hui Ing tidak terpengaruh sama sekali.
Kakek itu lalu menggerakkan pedang, mulutnya berkemak kemik dan menudingkan kedua pedangnya ke depan.
Seketika muncul dua ekor naga yang menyerbu ke arah dua orang muda itu.
Melihat ini, Huang-hai Sian-li gemetar dan khawatir sekali akan keselamatan Hui Ing dan Cin Po.
Akan tetapi, kedua orang muda itu kembali mengambil tanah dan sekali sambit, dun ekor naga jadi-jadian itupun runtuh dan lenyap.
Kembali kakek itu menggerak-gerakkan Im-yang Siang-kiam dan berkemak kemik, kini dari udara datang kilat menyambar-nyambar disertai suara bergemuruh menyambar ke arah mereka semua.
Para anak buah bajak menjerit-jerit dan mereka jatuh berpelantingan.
Huang-hai Sian-li sendiri tubuhnya berguncang ketika kilat-kilat itu menyambarnya.
Akan tetapi Cin Po dan Hui Ing menggerak-gerakkan tangan lalu telunjuknya menuding ke atas dan seketika kilat-kilat itupun berhenti dan lenyap.
Akan tetapi di antara anak buah bajak laut itu banyak yang babak belur dan bahkan ada pula yang tewas saking ketakutan!
Melihat ini, marahlah Cin Po.
�Bhok Seng Cun, engkau membunuhi orang yang tidak bersalah, dosamu sungguh besar dan kami mewakili suhu untuk memberi hukuman kepadamu!� Setelah berkata demikian, Cin Po lalu memukul dari jarak jauh dengan dorongan ke dua tangannya.
Ada angin keras menyambar ke arah kakek itu yang melompat dari atas punggung harimau.
Kemudian kakek itu berteriak aneh dan sang harimau besar agaknya mengerti akan perintah itu karena tiba-tiba saja dia menubruk ke arah Cin Po sambil menggereng keras.
Melihat ini, Cin Po mengelak ke samping sambil mencabut pedang yang diberikan oleh Sian-li tadi.
Begitu tubuh harimau itu menyambar lewat, pedangnya bergerak seperti kilat menusuk dada harimau.
Pedang itu menembus jantung dan sang harimau menggereng, kemudian jatuh berkelojotan dan tewas seketika.
Kini kakek itu yang menjadi marah sekali.
�Jahat, jahat sekali engkau, orang muda.� �Tidak lebih jahat dari engkau, kakek Bhok Seng Cun.� �Apa kejahatanku?
Selama puluhan tahun aku melayani orang tua itu, aku selalu patuh dan setia.
Akan tetapi dia membatasi diri dalam mengajarkan ilmu kepadaku.
�Maka aku lalu minggat membawa siang-kiam ini, sebagai upah atas pelayananku selama puluhan tahun, apa itu salah?
Aku tinggal mengasingkan diri di sini, tidak mengganggu siapapun juga, kalian malah datang mengganggu.
Kalau membunuh beberapa dari orang-orangmu, apa itu salah?� �Kamipun datang bukan untuk mengganggumu, melainkan untuk memenuhi perintah Suhu mengambil kembali siang-kiam itu.
Engkau tidak mau menyerahkan secara baik-baik, bahkan menyerang kami.
Harimaumu buas dan dapat membunuh orang, maka terpaksa aku membunuhnya!
�Engkau mengatakan telah melayani suhu selama puluhan tahun, akan tetapi buktinya engkau mendapatkan ilmu yang tinggi, apakah itu bukan merupakan imbalan yang cukup?
Akan tetapi engkau memilih jalan sesat, mencuri pedang.
Maka, sebelum terlambat, kembalikanlah Im-yang Siang-kiam kepada kami!� �Oho-ho, tidak semudah itu, orang muda!
Kaukira setelah engkau mampu memunahkan ilmu sihirku dan membunuh tungganganku, engkau dapat menangkan aku?
Nah, majulah kalian!� tantangnya sambil memegang sepasang pedang itu menyilang di depan dadanya.
�Kakek Bhok Seng Cun, engkau masih belum mengaku salah, memang sepatutnya orang macam engkau dihajar!� bentak Hui Ing dan gadis ini sudah menyerang dengan pedangnya.
Melihat Hui Ing sudah bergerak menyerang, Cin Po membantunya dan menyerang dengan gerakan kilat.
Kakek itu mengelebatkan kedua pedangnya.
�Trang-tranggg...!� Cin Po dan Hui Ing terkejut bukan main karena pedang mereka patah bagian ujungnya.
Akan tetapi mereka tidak menjadi gentar, lalu menyerang lagi dengan pedang buntung ujungnya itu, dan sekali ini karena maklum bahwa lawan memegang sepasang pedang yang ampuh, mereka tidak mau mengadu pedang mereka.
Dengan gerakan yang lincah dan ringan cepat bukan main, kedua kakak beradik itu segera dapat mendesak lawannya.
Ternyata dalam hal ilmu pedang, kakek itu tidak mampu menghadapi mereka berdua.
Memang dia memiliki ilmu pedang yang baik sekali, akan tetapi mungkin karena usianya, gerakannya jauh kalah cepat dibandingkan Hui Ing dan Cin Po sehingga kini dia terpaksa hanya mengelak dan memutar sepasang pedangnya untuk melindungi tubuhnya.
Setelah lewat limapuluh jurus, napasnya sudah mulai memburu.
Melihat bahwa kalau dilanjutkan dia akan kalah, kakek itu lalu mengeluarkan bentakan nyaring yang mengandung kekuatan sihir.
Kakak beradik ini dapat menahan serangan ini, akan tetapi terpaksa mereka berhenti menyerang untuk menahan serangan suara itu dan kesempatan ini dipergunakan oleh kakek itu untuk meloncat dan lari ke tengah pulau.
Tiba-tiba dari dalam pulau itu muncul seorang pemuda berpakaian serba hijau dan pemuda itu membawa sebatang pedang.
�Siluman Tua, engkau hendak lari ke mana?� bentaknya dan diapun menyerang kakek itu dengan pedangnya yang mengeluarkan sinar terang.
Kakek itu terpaksa menangkis dan pedang pemuda itu tidak patah, dan mereka lalu bertanding dengan seru.
Ternyata pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat pula.
Pedangnya bergerak dengan indahnya bagaikan seekor naga bermain di angkasa.
Dari gerakan ini Cin Po mengenal bahwa ilmu pedang itu tentulah ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat yang terkenal indah dan berbahaya.
Karena tertahan oleh pemuda itu, sebentar saja Cin Po dan Hui Ing sudah sampai di tempat itu dan merekapun menerjang kakek itu yang kini dikeroyok oleh tiga orang muda yang lihai.
Tidak kuatlah kakek itu dan dia pun melarikan diri lagi setelah mengeluarkan bentakan nyaring.
Kalau Hui Ing dan Cin Po hanya tertahan sebentar penyerangan mereka menghadapi bentakan itu, adalah si pemuda yang terhuyung ke belakang.
Agaknya ia tidak tahan menghadapi bentakan yang mengandung kekuatan sihir ini.
Cin Po dan Hui Ing mengejar lagi dan kini larinya kakek itu menuju ke sebuah tebing yang tinggi.
Dan nampaknya kakek itu sudah kehabisan napas dipakai berlari mendaki tebing sehingga larinya semakin lambat.
Setelah tiba di tepi tebing pantai laut itu, dia berhenti dan ketika membalikkan tubuhnya, dia melihat betapa dua orang muda yang lihai itu telah tiba di depannya.
Marahlah dia.
�Kalian menghendaki siang-kiam ini?
Nah, terimalah!� Dengan sisa tenaganya, dia melontarkan pedang itu.
Pedang itu bagaikan anak panah meluncur ke arah Cin Po dan Hui Ing.
Bagi orang lain, serangan ini dapat merupakan serangan maut karena pedang yang meluncur seperti anak panah itu memang berbahaya sekali.
Namun, Hui Ing dan Cin Po telah memiliki kepandaian yang hebat.
Mereka miringkan tubuh dan ketika pedang meluncur lewat dekat tubuh, mereka menyambar dengan tangan dan pedang itu dapat mereka tangkap!
Melihat ini, kakek itu terbelalak.
Tak disangkanya bahwa pemuda dan gadis itu telah menerima ilmu dari orang sakti itu, melebihi yang diterimanya.
Habislah harapannya dan dia sambil berteriak menyeramkan meloncat dari atas tebing, menuju ke bawah.
Cin Po dan Hui Ing lari ke tepi tebing dan melongok ke bawah.
Tubuh kakek itu terhempas di bawah sana, diterima oleh batu-batu karang lalu disambar ombak lautan dan lenyap.
Mereka menghela napas panjang, diam-diam menyesali nasib kakek itu yang begitu menyedihkan.
Pada ssat itu, pemuda baju hijau itu sudah tiba di situ dan dari bawah nampak Huang-hai Sian-li berlari-larian naik.
Sian-li lalu menghampiri Cin Po dan berkata dengan girang, �Twako, engkau selamat!
Syukurlah!� �Akupun selamat, adik Sian-li!� kata Hui Ing mengejek.
�Ah, aku girang sekali kalian dapat menundukkan iblis itu.� �Berkat bantuan saudara ini,� kata Cin Po yang lalu memberi hormat kepada pemuda itu!
Pemuda baju hijau itupun membalas penghormatan mereka.
�Bantuanku tidak berarti.
Kepandaian ji-wi amat hebat sehingga tanpa bantuanku yang tidak berarti, siluman tua itu pasti dapat ditundukkan!� �Im-yang Siang-kiam itu telah dapat kalian rampas, twako?� tanya Sian-li sambil memandang pedang di tangan Cin Po dan Hui Ing.
�Kakek itu pada saat terakhir melontarkan pedang untuk menyerang kami, dan untung kami dapat menangkapnya,� kata Cin Po.
�Dan dia agaknya seperti sudah diatur saja, dia melontarkan Im-kiam kepadaku dan Yang-kiam kepada koko, sesuai dengan yang dikehendaki guru kami.� Mereka mengamati pedang-pedang itu dan menjadi kagum sekali.
Pemuda baju hijau itu memberi hormat lagi.
�Aku merasa kagum sekali atas ilmu kepandaian ji-wi, bolehkah aku mengetahui nama ji-wi yang mulia?
Dan juga nona yang baru datang ini?
Aku sendiri bernama Yang Kim Sun.� �Aku bernama Sung Cin Po, ini adikku Kwan Hui Ing dan ini adalah ketua bajak laut pulau Hiu bernama Huang-hai Sian-li.� �Ah, aku sudah mendengar tentang bajak laut Pulau Hiu yang merupakan bajak laut yang berjiwa gagah dan tidak kejam seperti para bajak lainnya,� kata Yang Kim Sun sambil memandang kepada Sian-li dengan kagum akan tetapi juga heran mengapa wajah gadis yang memiliki bentuk tubuh sempurna itu ditutupi cadar hitam.
�Akan tetapi mengapa engkau dapat berada di Pulau Iblis ini, saudara Yang?� tanya Cin Po sambil memandang wajah pemuda ini.
Seorang pemuda yang tampan, pikirnya.
Usianya sekitar duapuluh tiga tahun, rambutnya hitam digelung ke atas dan diberi pita sutera kuning.
Alis matanya seperti bentuk golok dan sepasang matanya menunjukkan kecerdasan, tajam dan lembut.
Hidungnya mancung dan mulutnya amat ramah penuh senyum, dengan dagu berlekuk.
Tubuhnya sedang saja namun tegap dengan dada yang bidang.
�Ceritanya agak panjang,� kata Kim Sun.
�Aku adalah seorang murid Kun-lun-pai.
Beberapa tahun yang lalu, iblis yang bernama Bhok Seng Cun itu pernah datang bertamu ke Kun-lun-pai dan diterima dengan penuh kehormatan dan keramahan oleh para pimpinan Kun-lun-pai, bahkan diberi kesempatan menginap sebagaimana layaknya seorang tamu agung dari dunia kang-ouw.
�Akan tetapi ternyata dia telah menyalah-gunakan keramahan pihak kami.
Pada suatu hari dia menghilang dan bersama dia hilang pula beberapa buah kitab pusaka pelajaran ilmu silat Kun-lun-pai yang penting.� �Ihh, dasar pencuri, sampai tua pencuri juga!� kata Hui Ing.
�Kami mencarinya juga untuk mengambil kembali pedang ini yang dia curi dari Suhu kami!� Kim Sun tersenyum dan memandang kagum.
�Dan nona sudah begitu lihai untuk dapat merampasnya kembali.
Aku, setelah menyelesaikan pelajaran ilmu silatku, mendapat tugas dari para pemimpin Kun-lun-pai untuk menyelidiki di mana adanya kakek Bhok Seng Cun itu.
�Dalam perantauanku yang sudah berjalan setahun lebih akhirnya aku tiba di pantai daratan sana dan aku mendengar tentang adanya Pulau Iblis yang mencurigakan itu.
Aku tertarik walaupun ketika itu aku tidak menghubungkannya dengan Bhok Seng Cun.
Aku hanya tertarik untuk mengetahui apa yang terdapat di pulau penuh rahasia ini.
�Aku membeli sebuah perahu dan mencari sendiri pulau ini setelah mendapat petunjuk dari seorang nelayan.
Akhirnya aku dapat juga mendarat di pulau ini.� �Wah, engkau seorang pemberani, saudara Yang!� kata pula Hui Ing kagum.
Ia sendiri tadi merasa berdiri bulu tengkuknya karena keseraman tempat itu.
Kim Sun tersenyum, girang dengan pujian itu.
�Aku tidak tahu bahwa Bhok Seng Cun berada di sini.
Tiba-tiba dia muncul dan setelah aku tahu bahwa dia adalah Bhok Seng Cun, lalu kuminta kitab-kitab itu.� �Hemm, mana dia mau memberikan?� kata Cin Po.
�Bukan saja dia tidak mau menyerahkan, bahkan dia menyerangku.
Dalam hal ilmu pedang, aku masih sanggup melayaninya.
Akan tetapi iblis itu menggunakan ilmu hitam, ilmu sihir dan aku tidak berdaya.
�Aku lalu ditangkapnya, dibawa ke guhanya dan diikat kaki tanganku.
Ketika mendengar teriakan tantangan, dia pergi keluar meninggalkan aku, dan aku lalu berusaha untuk melepaskan ikatan kaki tanganku.
�Akhirnya aku berhasil.
Kuambil pedangku dan aku lalu mengejar keluar dan melihat dia hendak melarikan diri maka aku lalu menyerangnya.� �Wah, hebat pengalamanmu, saudara Yang,� kata Cin Po.
�Dan sudah berhasilkah engkau menemukan kembali kitab-kitab itu?� �Aku belum sempat mencarinya, karena tadi begitu terbebas dari ikatan, aku langsung mengejar keluar.� �Kalau begitu, mari kita mencarinya di guha tempat tinggalnya!� Empat orang itu lalu menuju ke tengah pulau dan di sana memang terdapat sebuah guha besar.
Setelah mencari ke dalam guha, akhirnya Yang Kim Sun menemukan tiga buah kitab milik Kun-lun-pai yang dicarinya itu.
Dia merasa girang sekali dan cepat menyimpan kitab itu.
�Sungguh aneh manusia itu,� kata Huang-hai Sian-li, �Hidupnya menyendiri, bersembunyi di tempat ini, usianya sudah begitu lanjut, lalu untuk apa dia mencuri pedang dan kitab-kitab itu?
Apakah hanya untuk menemaninya sampai dia mati di sini?� Cin Po menghela napas panjang.
�Sukar diduga isi hati orang-orang kang-ouw yang aneh.
Akan tetapi sungguh sayang sekali bahwa dia mengakhiri hidupnya secara demikian menyedihkan.
Bahkan jenazahnyapun tidak dapat kita urus dan makamkan sebagaimana mestinya.� Mereka lalu kembali ke perahu besar.
Yang Kim Sun ikut pula karena setelah dia cari-cari, perahunya yang kecil sudah tidak ada, terbawa hanyut ombak samudera.
Mereka semua pergi ke pulau Hiu, dan bermalam satu malam di sarang bajak laut itu.
Malam itu, kembali Huang-hai Sian-li Kui Ciok Hwa mengadakan pertemuan dengan Cin Po di dalam taman.
�Twako, apakah engkau harus pergi juga besok?� �Benar, Hwa-moi.
Aku harus pergi karena masih banyak tugas yang harus kuselesaikan, seperti yang telah kuceritakan padamu.
Membersihkan Thian-san-pang dan juga mencari musuh besar pembunuh ayah kandungku.� �Setelah itu?� �Setelah itu aku akan mencari ayahmu, dan aku akan meminangmu, Hwa-moi.� �Twako...!� gadis itu berkata lirih, terharu sekali.
�Sudah yakin benarkah engkau...?� �Tentu saja!
Aku cinta padamu, Hwa-moi dan aku yakin benar akan hal ini.� �Akan tetapi aku belum yakin, twako.
Mungkin engkau tidak memperdulikan wajahku yang cacat, akan tetapi bagaimana kalau ibumu melihat aku seperti ini?
Tentu beliau tidak akan sudi memiliki mantu seperti aku, dan akan ngeri melihatku.� �Jangan berkata demikian, Hwa-moi.
Ibuku seorang wanita bijaksana!� �Aku ragu, twako.
Akan tetapi, aku akan menanti di sini dengan setia.
Hanya ada satu hal yang membuat aku bingung, tentang enci Hui Ing...� �Kenapa dengannya, Hwa-moi?� �Ketahuilah, twako.
Enci Ing amat mencintamu.� Cin Po tersenyum.
�Tentu saja.
Ia adalah adikku, tentu saja amat mencintaku seperti juga aku sayang dan cinta kepada adikku itu.� �Bukan...
bukan itu yang kumaksudkan.
Ia mencintamu seperti seorang gadis mencinta seorang pemuda, bukan seperti adik mencinta kakaknya.
Dan aku merasa seolah-olah aku merampas engkau darinya.� �Ah, itu tidak mungkin.
Biarpun kami bukan saudara sekandung, akan tetapi kami dibesarkan bersama, bahkan minum dari dada wanita yang sama.
Ibu kandungku menganggap ia seperti anak kandungnya sendiri dan demikian pula Ing-moi menganggap ibu seperti ibunya sendiri.
Kalau benar katamu itu, akan dapat aku mengingatkannya, Hwa-moi.� �Bagaimanapun, hatiku merasa tidak enak kalau harus menjadi orang yang menyengsarakan hatinya.
Ia begitu baik kepadaku.� �Sudahlah, Hwa-moi, jangan berpikir yang tidak-tidak.
Engkau tunggu saja aku di sini, pada suatu hari aku tentu akan membawa kabar baik dari ayahmu.� Demikianlah, pada keesokan harinya, Huang-hai Sian-li sendiri yang mengantar Cin Po, Hui Ing, dan Kim Sun dengan perahu besarnya menuju ke daratan besar.
Setelah mereka semua turun dan berpamit, sepasang mata di balik cadar itu menjadi basah air mata.
�Sampai jumpa, adik Sian-li.
Percayalah, lain waktu kita pasti akan bertemu kembali!� kata Hui Ing sambil merangkul gadis berkerudung itu.
�Adik Sian-li, selamat tinggal dan jaga dirimu baik-baik,� kata Cin Po dengan suara lembut penuh perasaan.
�Terima kasih atas segala kebaikan nona kepadaku,`selama aku berada di Pulau Hiu,� kata pula Kim Sun.
�Selamat jalan...
selamat jalan, jaga dirimu baik-baik,� kata Ciok Hwa dan matanya tidak pernah lepas dari Cin Po sampai tiga orang itu pergi jauh.
Barulah ia kembali ke perahunya dan perahu dilayarkan.
Ciok Hwa memasuki bilik perahu dan menangis tanpa suara, merasa betapa hidupnya menjadi kosong dan kesepian setelah ditinggalkan Cin Po.
Setelah jauh meninggalkan pantai, Kim Sun berpamit dari ke dua orang kakak beradik itu, karena dia harus kembali ke Kun-lun-pai untuk menyerahkan kitab-kitab kepada para pimpinan Kun-lun-pai.
�Aku merasa beruntung sekali dapat berkenalan denganmu, saudara Cin Po dan juga engkau, nona Hui Ing.
Aku kagum sekali kepada kalian dan akan kuceritakan kepada para pimpinan Kun-lun-pai tentang kalian.
Kuharap, kelak aku akan mendapat kesempatan untuk dapat bertemu kembali dengan ji-wi (kalian).� Dia memberi hormat, dan matanya menatap wajah Hui Ing penuh kagum.
Melihat sinar mata penuh kagum itu ditujukan kepada dirinya, Hui Ing menjadi kemerahan wajahnya.
�Aihh, Yang twako, engkau terlalu memuji.
Engkau sendiri seorang murid Kun-lun-pai yang gagah berani, memiliki ilmu pedang yang hebat!� �Yang twako, harap sampaikan hormat kami kepada para locianpwe di Kun-lun-pai,� kata Cin Po, menirukan adiknya menyebut twako kepada murid Kun-lun-pai itu yang dianggapnya sebagai sahabat setelah mengalami hal yang dahsyat di Pulau Iblis bersama-sama.
Tentu saja Yang Kim Sun girang sekali melihat keramahan dan keakraban mereka.
�Baik, Sung-te, akan kusampaikan kepada para Suhu di sana.
Dan Ing-moi, engkau sungguh baik dan ramah sekali.
Nah, selamat berpisah, jaga diri kalian baik-baik.� �Engkau juga berhati-hatilah di jalan, twako!� kata Hui Ing.
Baca Juga: Suling Naga 11
Baca Juga: Si Bangau Merah 10