Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baju Putih 4

Eps 4 Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo.

Mereka berpisah dan Cin Po melanjutkan perjalanannya bersama Hui Ing.

Melihat Cin Po berjalan sambil menundukkan mukanya yang kelihatan muram, Hui Ing mengerutkan alisnya.

�Koko, engkau kenapakah?� �Kenapa?

Aku tidak apa-apa!� �Aih, koko, jangan berbohong kepadaku.

Engkau kelihatan lesu dan seperti orang bersedih.

Tentu karena meninggalkan adik Sian-li itu bukan?

Maksudku, adik Ciok Hwa.

Bukankah ia bernama Kui Ciok Hwa?� Cin Po menarik napas panjang.

�Terus terang saja, Ing-moi.

Aku memang mengingat ia dan aku merasa amat kasihan kepadanya, juga aku merasa berdosa sekali kepadanya.� �Eh?

berdosa?

Mengapa?� �Bayangkan saja.

Ia kini hidup menyendiri sebagai kepala bajak laut di Pulau Hiu, meninggalkan kehidupan biasa dengan ayahnya.

Semua itu karena aku.

�Ia membebaskan aku dari tawanan ayahnya dan karena itu ayahnya menjadi marah, membuat ia terpaksa pergi dan akhirnya membawanya menjadi bajak laut.

Semua itu adalah karena aku!

Bagaimana hatiku tidak akan merasa berdosa kepadanya?� �Jadi engkau mencinta padanya karena merasa kasihan dan merasa berdosa?� �Apa...

apa maksudmu...?

Mencinta...?� �Aihh, koko, tidak usah berpura-pura.

Aku sudah tahu bahwa engkau mencintanya, bukan?

Pantas saja engkau menganggap aku adikmu sendiri, berkeras menganggap aku sebagai adik, ternyata engkau mencinta adik Sian-li.

�Sudahlah, aku tidak menyesal, koko, engkau berhak menentukan cintamu.

Hanya yang mengherankan hatiku, kalau memang engkau mencintanya, mengapa dulu engkau menolak ketika hendak dijodohkan dengannya?� Diam-diam Cin Po merasa terharu.

Teringat dia akan peringatan Ciok Hwa bahwa Hui Ing mencintanya, bukan seperti adik, melainkan seperti seorang wanita terhadap pria.

Dan baru saja Hui Ing berterus terang.

Gadis yang keras hati dan jujur itu demikian jujurnya mengakui, akan tetapi tidak merasa menyesal karena dia berhak menentukan cintanya!

Sungguh suatu sikap yang gagah luar biasa, bukan sikap cengeng seperti kebiasaan gadis kalau ditolak cintanya!

�Ing-moi, ah, bagaimana aku harus menerangkannya kepadamu?

Dahulu, ketika dua tahun yang lalu aku dijodohkan, aku sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan.

Akan tetapi setelah pertemuanku yang kedua kalinya dengannya, entah bagaimana, entah mengapa, hatiku tertarik sekali, hatiku penuh iba, penuh kagum dan penuh terima kasih.

�Baru aku menyadari betapa besar cintanya kepada diriku, maka aku tak dapat mengingkari hatiku sendiri bahwa aku mencintanya, Ing-moi.

Adapun engkau sudah kukatakan bahwa aku menganggap engkau adikku sendiri, lahir batin, engkau adikku yang tersayang, tak mungkin aku memandangmu sebagai orang lain kecuali sebagai adikku yang kukenal sejak masa kanak-kanak.� Hui Ing menyapu ke dua matanya dengan tangan, mengusir beberapa butir air matanya.

�Sudah, jangan sebut-sebut aku, koko, membikin aku ingin menangis saja.

Mari kita bicara tentang adik Sian-li.

Tentu engkau sudah melihat wajahnya yang cacat itu, bukan?� �Tentu saja, Ing-moi.

Dan justru cacat di wajahnya itulah yang membuat aku menjadi semakin iba kepadanya, membuat aku semakin menyayangnya.� �Akan tetapi aku memperingatkanmu, koko.

Jangan anggap ringan soal wajah.

Mungkin karena cintamu kepada Sian-li, engkau tidak memperdulikan cacat di wajahnya, bahkan cacat itu menimbulkan rasa iba hatimu, menambah dalam cintamu.

�Akan tetapi bagaimana kelak dengan perasaan ibu kalau melihat wajah calon mantunya?

Dan bagaimana pula kalau ia sudah menjadi isterimu dan engkau hendak memperkenalkannya kepada orang lain?

Bagaimana kalau wajah isterimu kelak menjadi bahan tertawaan orang?

�Aku tidak iri, koko.

Sudah kuusir semua rasa cemburu dari hatiku sejak aku bicara dengan Ciok Hwa, akan tetapi aku hanya menggambarkan segala kemungkinan yang pasti akan kauhadapi kelak.� �Aku mengerti, Ing-moi, dan terima kasih atas peringatanmu.

Akan tetapi aku siap menghadapi itu semua.

Aku juga akan berusaha untuk mencari obat, untuk menyembuhkan cacat di mukanya itu.

Pendeknya, bagiku jelek atau baik wajah Ciok Hwa, aku tetap mencintainya.� Hui Ing menghela napas dan tidak berkata-kata lagi.

Di dalam hatinya ia memang iri atas kebabagiaan Ciok Hwa yang mendapatkan cinta begitu murni dari seorang pria yang diam-diam dicintanya.

Andaikata Ciok Hwa berwajah cantik, mungkin saja ia akan merasa penasaran, akan merasa cemburu dan iri karena merasa bahwa ia dikalahkan.

Akan tetapi karena wajah Ciok Hwa demikian buruk, maka ia yakin bahwa cinta Cin Po kepada gadis itu memang luar biasa, cinta yang tidak dipengaruhi oleh wajah cantik dan menghadapi cinta seperti itu, ia rela mengalah.

Jantung mereka berdebar penuh ketegangan ketika mereka tiba di depan kuil Ban-hok-si.

Kuil itu nampak sunyi saja.

Mereka memasuki halaman kuil dan tiga orang nikouw yang sedang bekerja di situ, menengok dan mereka semua terbelalak, lalu menangis menyongsong kedatangan Cin Po dan Hui Ing.

Hui Ing terkejut sekali melihat tiga orang nikouw itu menangis megap-megap tanpa dapat bicara.

Pada hal biasanya para nikouw itu berwatak tenang sekali.

Ia tahu bahwa tentu terjadi hal yang hebat, maka ia dan Cin Po lalu menuntun mereka memasuki kuil.

�Nah, katakanlah apa yang telah terjadi?!

Mana ibu dan Su-kouw?!� Para nikouw itu dengan suara terputus-putus lalu bercerita betapa dua tahun yang lalu, ketika Hui Ing tidak pulang, ibunya dan Liauw In Nikouw pergi naik ke Thian-san-pang untuk mencarinya di sana.

Akan tetapi, ibu mereka tidak pernah pulang lagi dan Liauw In Nikouw diantarkan oleh Ban Koan dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

�Menurut kata Ban Koan, Lauw In Nikouw terjatuh ketika naik ke Thian-san-pang dan tewas,� kata mereka, dan mendengar ini, Hui Ing menangis.

Mereka lau pergi ke makam Lauw In Nikouw, dan melakukan sembahyang.

�Si keparat Ban Koan!� kata Hui Ing.

�Sekarang juga akan kudatangi dia.

Siapa lagi yang membunuh Su-kouw kalau bukan dia!

Dan bagaimana dengan ibu, tentu dia tahu di mana ibu!� Melihat gadis itu hendak langsung pergi, Cin Po memegang tangannya.

�Sekarang malam hampir tiba, sungguh tidak baik kalau kita berkunjung ke sana.

Sebaiknya besok pagi saja kita pergi ke sana bersama-sama.

Bersabarlah, Ing-moi, sampai besok pagi.� Dibujuk oleh kakaknya, akhirnya Hui Ing setuju juga biarpun semalam itu ia gelisah tidak dapat tidur memikirkan ibunya yang kabarnya lenyap setelah mengunjungi Thian-san-pang.

Ia khawatir kalau ibunya juga sudah dibunuh seperti halnya Liauw In Nikouw, adik dari ayah kandungnya itu.

Pagi hari itu di Thian-san-pang sedang diadakan pesta untuk menjamu para tamu penting yang datang berkunjung.

Dua orang tamu itu bukan lain adalah dua orang saudara Coa, ketua dan wakil ketua Tok-coa-pang yang datang berkunjung.

Mereka berdua, Coa Ta Kui (Setan Besar Coa) dan Coa Siauw Kui (Setan Kecil Coa) kini telah menjadi sahabat baik Ban Koan sebagai ketua Thian-san-pang.

Mereka kemarin datang bertamu, bermalam di Thian-san-pang dan sebelum mereka pergi, mereka telah dijamu dengan pesta kecil oleh Ban Koan yang amat menghormati mereka karena sebetulnya dia sendiri sudah menjadi anggauta Tok-coa-pang.

Mereka tidak tahu bahwa di pintu gerbang Thian-san-pang terjadi keributan.

Cin Po dan Hui Ing telah tiba di depan pintu gerbang.

Biarpun di antara para penjaga pintu gerbang terdapat anggauta lama Thian-san-pang, namun tidak ada yang mengenal Cin Po dan Hui Ing karena kedua orang itu meninggalkan Thian-san-pang ketika mereka masih kecil, Cin Po ketika itu berusia sebelas tahun dan Hui Ing sepuluh tahun.

Sikap para anggauta Thian-san-pang saja sudah membuat kedua orang muda itu mengerutkan alisnya.

Melihat Hui Ing, mereka menyeringai dan ada yang bersuit-suit.

�Aih, nona manis hendak mencari siapakah?� tanya seorang di antara mereka dan di sana sini terdengar ucapan yang tidak sopan terhadap Hui Ing.

Tentu saja wajah Hui Ing menjadi merah sekali.

�Panggil Ban Koan keluar menemui kami!� kata Hui Ing.

�Aih, nona manis.

Ketua kami sedang menjamu tamu.

Sebaiknya nona bicara di sini dengan kami saja!� Akan tetapi ada pula anggauta yang marah mendengar gadis itu menyebut ketua mereka dengan namanya begitu saja bahkan menyuruh panggil ketua mereka dengan sikap tidak menghormat sama sekali.

�Bocah perempuan yang tidak tahu sopan.

Siapakah engkau menyuruh panggil ketua kami?� �Aih, twako, biarkan ia main-main dengan kita di sini!� kata orang lain yang disambut tawa oleh semua orang.

Jumlah mereka ada belasan orang.

�Anjing keparat, kalian sudah bosan hidup!� bentak Hui Ing dan ia sudah hendak bergerak menerjang mereka akan tetapi Cin Po menahannya.

Lalu Cin Po melangkah maju dan menuding ke arah mereka semua.

�Hai, kalian anjing-anjing, kenapa tidak lekas beraksi, merangkak dan mencari-cari jejak musuh?

Hayo merangkak dan bersikap sebagai anjing-anjing yang baik!� Terjadi keanehan setelah Cin Po berkata demikian.

Empatbelas orang itu tak terkecuali segera berlutut (Lanjut ke

Jilid 09) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 lalu merangkak-rangkak, ada yang mengendus-endus seperti mencari jejak sesuatu, ada yang menyalak-nyalak, persis seperti serombongan anjing.

Ternyata Cin Po telah menggunakan sihirnya untuk menghajar mereka yang bersikap kurang sopan terhadap Hui Ing, mencegah adiknya melampiaskan kemarahannya karena kalau dia membiarkan saja, tentu semua orang itu telah tewas atau setidaknya luka-luka oleh amukan Hui Ing!

Pada saat itu ada dua orang anggauta Thian-san-pang datang dari dalam.

Mereka terbelalak melihat ulah empatbelas orang kawan mereka itu, dan melihat di situ ada seorang pemuda dan seorang gadis, mereka terkejut dan cepat melapor ke dalam.

Ban Koan marah sekali mendengar laporan yang tidak karuan itu.

�Pang-cu, di luar terjadi hal yang mencurigakan sekali.

Kawan-kawan kita merangkak-rangkak dan ada yang menggonggong seperti anjing, dan di sana terdapat seorang pemuda dan seorang wanita muda.� Ban Koan dan dua orang tamunya merasa curiga dan merekapun segera bangkit, diikuti oleh duapuluh lebih anggauta, mereka lalu berlari keluar.

Setelah tiba di pintu gerbang, Ban Koan terbelalak karena dia melihat sendiri betapa belasan orang anak buahnya itu merangkak-rangkak dan menggonggong, ada yang mengendus-endus, persis seperti anjing-anjing yang kebingungan.

�Sadarkan mereka!� katanya kepada anak buahnya.

Anak buah Thian-san-pang lalu berlari ke arah teman-teman mereka itu dan mengguncang mereka.

Sedangkan Ban Koan dan dua orang ketua Tok-coa-pang berloncatan menghadapi Cin Po.

Hui Ing tidak nampak lagi karena memang gadis ini oleh Cin Po disuruh menyelinap lebih dulu memasuki perkampungan itu dan mencari di sebelah dalam kalau-kalau dapat menemukan ibu mereka.

Ban Koan berhadapan dengan Cin Po, memandang dengan mata terbelalak.

Dia merasa seperti mengenal Cin Po, akan tetapi lupa lagi bilamana dan di mana.

�Orang muda, siapa engkau dan apa yang kaulakukan di sini?� bentaknya.

�Ban Koan, lupakah engkau kepadaku?

Aku adalah Sung Cin Po.� Ban Koan terbelalak.

Teringatlah dia ketika bocah yang ditendangnya ke dalam jurang itu muncul kembali bersama Pat-jiu Pak-sian dan menghajarnya setengah mati.

Kini bocah itu kembali sebagai seorang pemuda yang berpakaian putih, bocah anak kandungnya sendiri!

Dia menjadi ketakutan dan cepat memerintahkan anak buahnya.

�Tangkap dia!

Bunuh dia?� Para anak buah, apa lagi yang tadi bersikap sebagai anjing, segera menerjang dan menyerang kepada Cin Po dengan dahsyat sekali, karena mereka semua seperti srigala-srigala yang haus darah menerima perintah ketua mereka itu.

Akan tetapi Cin Po sudah siap siaga.

Menghadapi pengeroyokan puluhan orang yang semua memegang senjata pedang atau golok itu, dia dengan tenang menyambut mereka dengan kaki tangannya.

Bukan orang-orang itu yang menyerangnya, bahkan dia yang mengamuk, membagi-bagi tendangan dan tamparan dan tubuh para pengeroyok itu jungkir balik dan berpelantingan.

Dalam waktu beberapa menit saja semua anak buah Thian-san-pang sudah roboh semua, ada yang patah tulang ada yang rontok gigi dan yang benjol-benjol kepalanya dan mulas perutnya.

Mereka semua mengaduh-aduh dan menjadi jerih, senjata mereka terpental ke mana-mana dan pemuda itu sama sekali tidak pernah tersentuh senjata mereka.

Melihat kelihaian Cin Po, Coa Siauw Kui dan Coa Ta Kui yang lihai menjadi marah.

Mereka berdua segera berkelebat maju dan berbareng menyerang pemuda itu.

Harus diketahui bahwa ilmu kepandaian Coa Siauw Kui sudah hebat sekali, apa lagi ilmu kepandaian Coa Ta Kui yang menjadi kakaknya dan ketua Tok-coa-pang.

Pukulan mereka berdua mengandung racun ular yang amat berbahaya, bahkan di balik pakaian mereka, mereka mengenakan baju kebal yang dapat menahan serangan senjata tajam sekalipun.

Cin Po menghadapi mereka dengan tenang.

Dia masih ingat bahwa dua orang ini mengenakan baju yang tahan pukulan, bahkan tahan senjata tajam.

Akan tetapi begitu dia mengerahkan tenaga dan kedua tangannya mendorong ke depan, dua orang kakak beradik itu terdorong dan terjengkang!

Mereka tentu akan terbanting jatuh kalau saja tidak cepat berjungkir balik ke belakang sampai tiga kali dan mereka kini memandang dengan muka pucat.

Terkejut dan terheran.

Kedua tangan pemuda itu tidak menyentuh mereka, akan tetapi angin pukulannya saja mampu mendorong mereka sampai terjengkang!

Maklumlah mereka bahwa mereka menghadapi seorang pemuda yang tangguh sekali maka keduanya lalu cepat menghunus golok mereka, golok beracun ular!

Golok itu bentuknya seperti kepala ular dan lidahnya menjadi ujung golok, tajam dan mengeluarkan sinar hitam dan berbau amis!

Sekali saja tubuh dapat ditoreh golok itu, orangnya tentu akan mati seketika keracunan.

Melihat senjata yang berbahaya itu, Cin Po tidak mau mengambil resiko dan diapun mencabut pedangnya.

Pedang Yang-kiam berkilat mengeluarkan cahaya kemerahan dan begitu dia menggerakkan pedang itu, nampak gulungan sinar merah menyilaukan mata.

�Haiiiittt...!� Coa Siauw Kui menyerang lebih dulu, disusul kakaknya yang menyerang dari sisi lain.

Cin Po mengelebatkan pedangnya ke kanan kiri.

�Cringgg...!

Tranggg...!!� Kembali kedua orang saudara itu terkejut karena mereka merasa betapa senjata mereka terpental dan tangan kanan mereka tergetar hebat, tanda bahwa pemuda itu memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya.

Mereka lalu menyerang lagi dengan tenaga sepenuhnya, akan tetapi dengan mudah, Cin Po berloncatan ke sana sini, mengelak dan kadang menangkis.

Pada saat itu, Hui Ing seperti terbang meloncat dengan pedang Im-kiam telah terhunus dan begitu pedangnya menyambar menyerang Coa Siauw Kui, orang kedua dari Tok-coa-pang ini terkejut sekali dan cepat menangkis.

�Cringggg...!!� Kembali goloknya terpental dan tangannya tergetar hebat.

Gadis yang baru muncul ini ternyata juga lihai bukan main dan memiliki pedang yang bersinar putih dan bergulung-gulung seperti seekor naga bermain-main di angkasa.

Dia mencoba untuk memutar goloknya lebih hebat, akan tetapi kemana pun goloknya menyambar, tubuh gadis itu lebih dulu berkelebat lenyap atau goloknya ditangkis pedang itu dan gadis itu membalas dengan serangan bertubi-tubi yang membuat dia kewalahan.

Pada hal, ilmu pedang gadis itu adalah Thian-san-kiam-sut yang telah dikenalnya!

Bagaimana mungkin Thian-san-kiam-sut dimainkan seperti itu?

Demikian cepat, demikian mengandung tenaga mujijat dan sukar dibendung?

�Haitttt...!� Tiba-tiba dia menekan alat rahasia pada gagang goloknya dan beberapa batang jarum beracun menyambar ke arah Hui Ing.

Akan tetapi gadis ini tiba-tiba lenyap dan jarum-jarum itu tidak mengenai sasaran.

Dan tahu-tahu gadis itu menyerang dari atas, pedangnya menyambar dan biarpun Siauw Kui berusaha untuk membuang diri ke belakang dia terlambat dan mukanya terbabat Im-kiam sehingga muka itu terbelah dari telinga ke telinga!

Tentu saja orangnya jatuh tersungkur dan tewas seketika.

Ketika Hui Ing menoleh.

ternyata Cin Po juga sudah mendesak lawannya.

Coa Ta Kui kini hanya main mundur saja dan mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Dia merasa takut sekali, apa lagi melihat adiknya tewas karena dia tahu bahwa dia tidak akan menang melawan pemuda baju putih itu.

Ketika mendapat kesempatan, dia meloncat untuk lari.

�Berhenti!� terdengar bentakan di belakangnya dan seketika ke dua kakinya seperti berubah menjadi batu tak dapat digerakkan.

Ketika dia menoleh, dia hanya melihat gadis cantik itu menggerakkan pedangnya dan...

sekali sabet saja lehernya putus dan kepalanya menggelinding lepas dari tubuhnya!

Cin Po menoleh ke arah Ban Koan yang berdiri pucat.

Semua anak buahnya telah tak dapat melakukan perlawanan selain terluka juga agaknya ketakutan dan ke dua orang pimpinan Tok-coa-pang yang dia andalkan itu telah tewas dalam waktu singkat!

Kini, Cin Po melangkah menghampirinya dan dia menjadi pucat, terbelalak dan tidak mempunyai tenaga dan keberanian untuk melawan.

Kalau ke dua pimpinan Tok-coa-pang itu saja tewas dalam waktu singkat, apa lagi dia.

Dia mundur-mundur dengan ketakutan.

Cin Po memandangnya dengan mata mencorong.

�Ban Koan, apa yang hendak kaukatakan sekarang?

Engkau mengkhianati Thinn-san-pang, engkau membunuh su-kong Tiong Gi Cinjin, engkau membunuh pula nenek Lauw In Nikouw, engkau membunuhi banyak anggauta Thian-san-pang yang setia...� �Dan dia telah memenjarakan ibu selama dua tahun lebih!� kata Hui Ing.

�Koko, kitu butakan matanya, buntungi kaki tangannya dan biarkan dia hidup seperti binatang tak berdaya agar tahu kesengsaraan yang telah dia berikan kepada orang-orang lain!� Ban Koan menjadi semakin pucat dan dia terus mundur menuju ke rumah besar.

Kemudian dia menjadi nekad.

Dia menghunus pedangnya dan berteriak nyaring, �Locianpwe, tolonglah saya...!� Berkata demikian, dia menerjang Cin Po dengan dahsyat.

Akan tetapi sebuah tendangan kaki Cin Po membuat pedangnya terlempar dan dia jatuh terjengkang dan terpental sampai jauh.

Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang tinggi besar bersorban.

Tanpa banyak cakap lagi, orang itu menyambar tubuh Ban Koan dan melarikan diri seperti terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.

�Kejar...!� seru Hui Ing dan bersama Cin Po ia mengejar keluar kampung Thian-san-pang.

Akan tetapi, orang tinggi besar bersorban itu telah lenyap.

�Percuma dikejar juga.

Orang itu memiliki ilmu yang amat tinggi.

Dia adalah See-thian Tok-ong.

Entah bagaimana iblis tua itu dapat berada di sini,� kata Cin Po.

�Biarlah, lain kali masih ada kesempatan untuk mencarinya dan membunuhnya.

Mari kita temui ibu!� Mereka lalu kembali dan melihat ibu mereka berdiri tegak dan semua anggauta Thian-san-pang menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu sambil beramai-ramai minta ampun.

�Ibu...!� kata Cin Po yang segera memberi hormat.

�Cin Po, dan engkau Hui Ing, kalian lama sekali baru pulang.

Akan tetapi syukur belum terlambat.

Aku nyaris tewas dalam kurungan jahanam Ban Koan itu.

Akan tetapi bagaimana dia dapat meloloskan diri?

Siapakah orang tinggi besar bersorban yang melarikannya tadi?� �Dia adalah datuk besar dari Hou-han, namanya See-thian Tok-ong, ibu.

Akan tetapi, kelak kami pasti akan dapat mencari Ban Koan dan membunuhnya.� �Baik, biar sekarang ku urus dulu orang-orang sesat ini?� Bi Li menuding ke arah empat puluh orang lebih yang berlutut menghadapnya itu.

�Heii, kalian orang-orang sesat.

Kalau sekarang aku menggunakan pedang membunuh kalian semua, hal itu kiranya sudah sepatutnya.

Kalian telah melakukan penyelewengan menuruti semua kehendak Ban Koan si pengkhianat!� Seorang anggauta tertua segera maju berlutut mewakili teman-temannya.

�Ampunkan kami, toanio.

Kami tidak berdaya.

Kalau kami menentang kehendak Ban Koan, tentu kami sudah dibunuh seperti teman-teman yang lain.

Sungguh, kami tidak senang melakukan semua perintahnya, akan tetapi kami terpaksa.

Mohon ampun, toanio!� �Hemm, aku bisa mengampuni kalian kalau kalian membuktikan bahwa kalian benar-benar bertaubat.

Sekarang, pimpinan Tok-coa-pang telah tewas.

Bagaimana kalau kalian kami pimpin untuk menyerbu Tok-coa-pang, membasmi perkumpulan itu.

Setuju dan beranikah kalian?� �Kami setuju dan berani, toanio!� sorak mereka.

�Nah, Cin Po dan Hui Ing.

Setelah kalian pulang dan memiliki kepandaian, jangan kepalang.

Membasmi ular harus sampai ke telur-telurnya.

Mari kita serang Tok-coa-pang dan membasmi perkumpulan jahat itu!� �Baik, ibu!� Berbondong-bondong mereka lalu pergi ke Tok-coa-pang yang perkampungannya tidak tidak begitu jauh letaknya dari situ.

Setelah berkumpul semua, ternyata ada limapuluh orang lebih anggauta Thian-san-pang lama.

Sedangkan para anggauta baru, dengan sendirinya menjadi ketakutan dan sudah melarikan diri entah ke mana.

Limapuluh tiga orang anggauta Thian-san-pang dipimpin oleh Cin Po dan Hui Ing bersama Bi Li menyerbu ke perkampungan Tok-coa-pang.

�Ingat baik-baik, serang bagian kaki mereka atau muka mereka.

Jangan serang tubuh atas mereka yang terlindung baju kebal,� kata Bi Li memperingatkan para anggauta Thian-san-pang.

Sebelum rombongan itu tiba di perkampungan Tok-coa-pang, sudah ada anggauta yang tadi melarikan diri dari Thian-san-pang, memberi kabar bahwa kedua orang ketua mereka telah tewas di Thian-san-pang.

Maka ketika penyerbuan itu tiba, para anak buah Tok-coa-pang menjadi panik karena mereka tidak mempunyai pimpinan.

Mereka melakukan perlawanan dengan kacau balau dan banyak di antara mereka yang tewas di tangan Hui Ing dan Cin Po.

Juga Bi Li mengamuk dengan pedangnya, agaknya wanita ini hendak membalaskan semua sakit hatinya pada para anggauta Tok-coa-pang.

Setelah pertempuran yang berat sebelah ini, akhirnya sisa para anggauta Tok-coa-pang melarikan diri dan banyak di antara mereka yang tewas, Bi Li menyuruh bakar sarang mereka dan membebaskan para tawanan yang dipenjarakan oleh orang-orang Tok-coa-pang.

Banyak gadis yang diculik mereka dan para gadis itu lalu disuruh pulang ke dusun masing-masing.

Dan biarpun Bi Li tadi mengatakan untuk membasmi ular sampai ke telur-telurnya, ketika melihat keluarga para anggauta, isteri dan anak-anak mereka, tetap saja ia menjadi tidak tega.

Dan membiarkan mereka melarikan diri tanpa diganggu.

Dengan kemenangan, rombongan Thian-san-pang kembali ke Thian-san dan mulai saat itu, Bi Li mengetrapkan lagi larangan-larangan dan peraturan-peraturan ketat dengan ancaman siapa yang berani melanggar akan menerima hukuman seberat-beratnya.

Kemudian, ia mengajak Hui Ing dan Cin Po untuk bicara di dalam.

Rumah mereka masih utuh dan mereka membuangi barang milik Ban Koan, membolehkan anak isteri Ban Koan meninggalkan tempat itu sambil membawa semua barang mereka yang berharga.

�Ibu, keluarga Ban Koan itu kelak hanya akan menjadi penyakit bagi kita!� celah Hui Ing.

�Habis, apakah kita tega membunuhi orang-orang yang tidak bersalah sama sekali?

Kalau anak-anaknya kelak menjadi jahat seperti bapaknya, sudah menjadi tugas kalian untuk membasminya.

Akan tetapi mudah-mudahan tidak demikian.

Ibu-ibu mereka bukan orang jahat dan tentu akan membimbing anak-anak mereka menjadi orang yang berguna.� Setelah membereskan semuanya, barulah mereka mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap menghilangkan rindu.

�Hui Ing, engkau menjadi penyebab kematian bibimu dan membuat aku dipenjara sampai dua tahun lebih.

Sebetulnya, apa yang terjadi denganmu dan ke mana saja engkau selama ini pergi?� �Ketika aku mengantar koko pergi sampai ke luar dusun dan ingin kembali, tiba-tiba aku ditangkap penjahat, ibu.

Yang menangkapku bukan lain adalah datuk yang tadi menyelamatkan Ban Koan beserta muridnya.

�Mereka lihai sekali dan aku ditangkap, lalu dijadikan umpan untuk memancing datangnya koko.

Kami berdua ditangkap dan nyaris celaka.

See-thian Tok-ong itu memang mempunyai hubungan dengan Tok-coa-pang maka tidak mengherankan kalau tadi dia menyelamatkan Ban Koan.

�Ketika kami terancam bahaya itu, kami ditolong seorang sakti yang tidak kami ketahui namanya, hanya kami sebut sebagai Orang Tua Tanpa Nama saja.

Dan kami dijadikan muridnya selama dua tahun.

�Demikianlah, ibu, maka selama dua tahun ini kami tidak pulang.

Setelah kami tamat belajar, kami memenuhi pesan Suhu untuk mencari sepasang pedangnya yang dicuri penjahat.

Dan kami berhasil menemukan pedang itu, ibu.

�Barulah kami pulang ke sini, sama sekali tidak mengira bahwa bibi Lauw In Nikouw telah tewas dan ibu dijadikan tawanan si jahanam Ban Koan.� Bi Li menghela napas panjang.

Dia girang bahwa Ban Koan tidak mati di tangan puteranya, karena bagaimanapun juga, Ban Koan mencintanya dan biarpun ia dijadikan tawanan, akan tetapi selalu diperlakukan dengan baik.

Biarlah lain waktu Ban Koan akan dapat terbunuh oleh Hui Ing yang lebih berhak membalas dendam atas kematian ayah kandung dan bibinya.

�Cin Po, bagaimana dengan pembalasan dendam alas kematian ayah kandungmu?� �Maaf, ibu.

Karena ketika dalam perjalanan mencari mereka aku seperti juga Ing-moi menjadi murid Bu Beng Lojin, kemudian mencari sepasang pedang Suhu.

Setelah itu langsung ke sini maka aku belum melaksanakannya!� Bi Li mengerutkan alisnya.

�Hemm, kalau begitu sebaiknya cepat kau cari musuh besar kita itu.

Setelah engkau membunuh dia, barulah engkau dapat melepaskan pakaianmu berkabung.

Carilah Hek-siauw Siu-cai itu sampai dapat, Cin Po.

Hui Ing jangan ikut, karena ia harus membantuku membenahi Thian-san-pang.� �Baiklah, ibu.

Besok aku akan berangkat.� �Bagus, memang lebih cepat lebih baik.� Para penduduk di dusun-dusun sekitar Bukit Harimau menjadi gempar.

Selama beberapa bulan ini muncul siluman yang mengganggu penduduk, membunuh atau menculik wanita muda.

Siluman itu tidak meninggalkan jejak sama sekali dan setiap orang yang dibunuh, nampak bekas-bekas cakaran seperti dicakar oleh kuku harimau.

Tak lama kemudian muncul desas desus bahwa semua itu dilakukan oleh siluman harimau yang menjadi penghuni bukit Harimau.

Memang, bukit itu walaupun dinamakan Bukit Harimau, tak seorangpun penduduk pernah melihat ada harimau di situ.

Maka desas-desus itu tentu saja termakan oleh akal pikiran penduduk yang masih tahyul.

Kiranya bukit itu disebut Bukit Harimau karena memang ada �penghuni� nya, yaitu Siluman Harimau!

Kemudian muncul seorang tosu yang rambutnya panjang riap-riapan dan yang mukanya seperti singa, penuh brewok, dan tubuhnya tinggi besar seperti raksasa.

Tosu ini begitu muncul di pedusunan sekitar Bukit Harimau, lalu mengatakan dengan suara lantang.

�Siancai...!

Di sini penuh dengan hawa siluman!

Kalau siluman harimau ini tidak dibikin senang hatinya, dalam waktu setahun saja seluruh penduduk di sini akan habis diterkamnya!� Mendengar ucapan tosu ini, semua orang menjadi gempar dan segera tosu itu diajak berkunjung ke rumah kepala dusun.

Pada masa itu penduduk dusun masih amat percaya akan tahyul, percaya akan setan dan siluman yang suka mengganggu penduduk, dan percaya kepada bangsa pendeta yang katanya pandai mengusir siluman!

Dan penampilan tosu ini memang mengesankan sekali.

Tubuhnya tinggi besar, mukanya seperti singa, matanya mencorong seperti mata naga, dan suaranya juga lantang seperti guntur.

�Totiang yang budiman,� kata kepala dusun.

�Kami memang menderita selama beberapa bulan ini.

Banyak penduduk yang tewas seperti bekas dicakar dan digigit harimau, dan ada pula wanita yang lenyap digondolnya.

Akan tetapi tak seorangpun pernah melihat bayangannya.� �Tentu saja.

Mana bisa melihat bayangan siluman?

Dan yang digondol wanita tentu karena dagingnya lebih lunak.� �Mohon pertolongan totiang agar siluman itu dapat dilenyapkan!� kata kepala dusun dan dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan tosu itu, diturut oleh para penduduk dusun yang percaya benar kepadanya.

�Aih, mana bisa dilenyapkan?

Para siluman tidak mungkin dilawan dengan kekerasan, paling-paling bisa diajak berdamai agar tidak mengganggu.

Kalau kalian semua mau memberikan korban apa saja agar dia tidak mengganggu, pinto mau menjadi penghubung dan pinto akan mencoba mengadakan hubungan dengan dia.� Karena sudah ketakutan kalau-kalau dalam setahun semua orang dibasmi habis oleh siluman, orang-orang itu tentu saja menyatakan setuju.

Dengan diikuti dari belakang, dalam jarak agak jauh oleh para penduduk di lima buah dusun di sekitar bukit itu, sang pertapa lalu mendaki bukit dengan rambut terurai, membawa pedang yang ditempeli hu (surat jimat) dan membaca mantera di sepanjang jalan.

Di dekat puncak dia berhenti dan memutar tubuhnya, berkata kepada semua orang yang mengikutinya, �Sudah dapat!

Sudah ada hubungan!

Dia tinggal di dalam sumur di puncak!� Kemudian dia melanjutkan perjalanannya, dan mantera yang dibacanya lebih gencar lagi.

Semua orang ketakutan dan mengikuti dengan tubuh gemetar.

Semua orang tahu bahwa di puncak memang terdapat sebuah lubang, akan tetapi tidak berair dan tak seorangpun berani menuruni lubang yang tidak diketahui berapa dalamnya itu.

Memang dari dulu terdapat desas desus bahwa lubang itu adalah bekas lubang ular naga yang tentu saja dianggap keramat!

Tadi sebelum berangkat, tosu itu minta disediakan segala keperluan bersembahyang dengan segala macam korban, dari babi panggang, ayam dan bebek panggang, roti dan kuih, juga buah-buahan.

Setelah tiba di dekat lubang atau sumur itu, dia berhenti dan memberi isyarat agar alat-alat sembahyang itu dipersiapkan di dekat lubang.

Kemudian dia menyalakan hio (dupa) dan mulailah bersembahyang sambil berdoa dan berjalan mengitari lubang.

Para penduduk berlutut agak jauh dari situ, tidak ada yang herani mendekat, seolah-olah takut kalau sewaktu-waktu siluman itu akan keluar dari lubang dan menerkam mereka.

Setelah bersembahyang beberapa lamanya, tosu itu lalu melempar-lemparkan hidangan yang menjadi korban itu ke dalam lubang, sampai habis semua hidangan itu.

Barulah dia menghadapi semua orang dan berkata, �Percayalah, untuk seminggu ini, tidak akan ada gangguan.

Harimau Putih telah menjanjikan kepada pinto.

Akan tetapi kalian terus berjanji bahwa sewaktu-waktu dia membutuhkan apa-apa, kalian harus memberikannya.

�Baik dia meminta tebusan, makan, atau bahkan emas, atau kalau sewaktu-waktu membutuhkan seorang gadis yang dipilihnya, kalian harus merelakannya.

Kalau tidak tentu dusun-dusun di sini akan dibasminya.� �Baik, totiang.

Kami berjanji, asalkan penghuni dusun kami tidak mendapat gangguan!� kata kepala dusun mewakili para penghuni dusun.

Mereka turun dari bukit itu dan sang tosu lalu dijamu dengan penuh kehormatan.

Dia dianggap sebagai penolong oleh rakyat di situ.

Dan diapun memperkenalkan diri dengan nama Thian Beng Seng-cu!

Kepala dusun segera memberikan sebuah kamar di rumahnya untuk sang tosu yang mengaku dukun pandai itu.

Dan benar saja, semenjak hari itu, selama seminggu tidak pernah ada gangguan dari �siluman harimau putih� seperti telah dijanjikan kepada tosu itu.

Akan tetapi tidak ada yang mengetahuinya betapa pada malam hari tosu itu lolos dari dalam kamarnya, menggunakan jalan melalui atap dengan gerakan yang ringan sekali seperti terbang saja dan seorang diri pada malam hari itu dia pergi ke lereng bukit itu.

Ada sebuah batu besar sekali yang didorongnya tergeser, lalu dia masuk di guha yang berada di balik batu, lalu menggeser batu itu menutupi guha.

Guha itu ternyata sebuah lorong yang panjang dan akhirnya dia tiba di ruangan yang luas di perut bukit.

Dan di situ terdapat dua orang lain yang tampangnya seperti tampang penjahat.

Melihat tosu itu masuk, mereka tertawa bergelak dan tiga orang itu lalu berpesta pora dengan barang-barang yang tadi dikorbankan dan dilempar ke dalam sumur.

Kiranya lubang itu menembus ruangan ini yang sengaja dibuat oleh mereka bertiga selama beberapa bulan, dan di dasar lubang itu mereka pasangi jaring sehingga apa saja yang dilempar dari atas lubang itu mendarat dengan lunak di dalam jaring.

�Ha-ha-ha, toako.

Kalau begini terus kita akan menjadi gemuk!

Usaha kita selama berbulan-bulan mulai memperlihatkan hasilnya!� kata seorang yang mukanya bopeng.

�Tunggu saja nanti kalau mereka sudah melemparkan segala macam perhiasan dan barang berharga, dan melemparkan gadis-gadis tercantik dari dusun, ha-ha-ha!� Mereka bertiga tertawa bergelak.

�Akan tetapi bagaimana dengan tiga orang gadis itu yang sudah beberapa lama kita sekap di sini?

Lama-lama kita menjadi bosan juga...!� kata yang bercodet pada dahinya.

�Ah, jangan khawatir, akan datang yang baru dan tidak perlu lagi kita harus menculik.

Merekalah yang mengantarkan untuk kita, ha-ha-ha!� kata tosu yang ternyata adalah tosu palsu itu.

Setelah makan minum dengan puas, tosu itu lalu menyuruh temannya mengeluarkan tiga orang gadis yang disekap di dalam kamar dan yang selama beberapa bulan ini semenjak mereka diculik menjadi permainan mereka.

Tiga orang gadis itu pucat-pucat dan kurus-kurus, keluar dari kamar dengan sikap takut-takut.

Orang yang mengaku bernama Thian Beng Seng-cu lalu memasuki kamar dan menyuruh gadis itu satu demi satu masuk ke dalam kamar.

Seorang gadis berbaju hijau memasuki kamar dengan langkah perlahan, sikapnya takut-takut.

Selama ini ia menjadi semacam boneka hidup yang mandah saja dipermainkan tiga orang pria itu sesuka hati mereka.

�Hei, nona manis, berbaringlah di sini!� kata tosu palsu itu.

Si gadis tidak membantah lalu merebahkan dirinya.

Tosu itu yang berdiri di tepi pembaringan lalu memandangnya dengan mata mencorong, lalu berkata dengan suara yang mengandung kekuatan sihir.

�Engkau mengantuk dan ingin sekali tidur.

Tidurlah, pejamkan matamu.

Satu, dua, tiga...!� perlahan-lahan gadis ini memejamkan ke dua matanya.

�Engkau tidur dengan enak dan tidak ingat apa-apa lagi.

Nanti kalau engkau sudah sadar, engkau tidak ingat apa-apa lagi, yang teringat olehmu hanya bahwa engkau menjadi pelayan si Harimau Putih!� Berulang-ulang tosu itu menanamkan ingatan ini kepada orang yang disihirnya.

�Sekarang bangkitlah, engkau masih belum sadar dan berlututlah di sana,� kata tosu itu.

Dengan mata masih terpejam, gadis itu lalu bangkit, turun dari pembaringan dan berlutut di sudut kamar itu.

Gadis kedua yang berbaju merah disuruh masuk dan kembali disihirlah gadis itu oleh Thian Beng Seng-cu sehingga iapun dibekali ingatan bahwa selama ini ia dijadikan pelayan oleh Si Harimau Putih!

Setelah itu iapun disuruh berlutut seperti gadis pertama.

Setelah menyihir gadis ke tiga, tosu itu lalu memerintahkan mereka untuk mengikutinya, melalui lorong dan tiba di luar guha di mana batu penutup disingkirkan.

Setelah itu, dia berkata kepada mereka yang masih berada dalam kekuasaan sihirnya.

�Sebentar lagi kalian akan sadar kembali, akan tetapi kalian telah melupakan semua yang terjadi dengan diri kalian, hanya satu yang kalian ingat, yaitu bahwa kalian selama ini menjadi pelayan dari Si Harimau Putih di dalam bukit Harimau!

Nah, sadar dan pergilah kalian!� Setelah melambaikan tangan ke arah mereka, tosu itu lalu cepat menyelinap ke dalam guha sehingga tidak tampak oleh tiga orang gadis itu.

Tiga orang gadis dusun itu seperti orang baru terbangun dari tidur.

Mereka nampak nanar dan bingung sekali, tidak saling mengenal akan tetapi tahu-tahu mereka berada di tempat yang sama, di lereng bukit.

�Di mana aku...?� �Ahh, kenapa aku di sini?� �Aku...

ingin pulang...!� Mereka bertiga lalu menuruni lereng itu seperti orang yang baru sembuh dari sakit, kurus pucat dan pening.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan beberapa orang penghuni dusun dan tentu saja para penghuni itu terkejut mengenal mereka sebagai para gadis yang selama ini lenyap diculik siluman!

Ketika gadis-gadis itu dihujani pertanyaan, apa yang mereka dapat katakan hanyalah, �Aku telah menjadi pelayan Sang Harimau Putih di dalam Bukit Harimau!� Hanya itu saja yang dapat mereka katakan sehingga para penduduk dusun menjadi semakin percaya kepada sang tosu bahwa benar-benar siluman harimau putih yang telah mengganggu mereka selama ini.

Dan mereka juga bergembira bahwa gadis-gadis yang diculik itu telah dipulangkan, walaupun dalam keadaan yang menyedihkan, kurus pucat dan lemah seperti orang berpenyakitan.

Sejenak Thian Beng Seng-cu menjadi perantara hubungan masyarakat lima buah dusun itu dengan sang siluman harimau putih.

Segala permintaannya dipenuhi dan semua benda yang dimintanya dimasukkan ke dalam sumur.

Dan pada suatu hari, Thian Beng Seng-cu berkata kepada kepala dusun.

�Chung-cu, semalam aku mendapat perintah dari Harimau Putih bahwa besok harus dikorbankan seorang gadis untuknya.

Dan gadis itu harus seperti yang dipilihnya, tidak boleh yang lain!� katanya dengan suara sungguh-sungguh.

Sang lurah terkejut.

Korban gadis?

Kalau makanan atau benda sih masih mudah, akan tetapi seorang gadis?

�Akan tetapi bagaimana kalau gadis itu tidak mau?� �Kenapa tidak mau?

Gadis itu hanya dijadikan pelayan untuk sementara waktu, kalau sudah tiba saatnya akan dikembalikan dalam keadaan selamat.

Ia harus mau, atau seisi dusun akan ditumpasnya!� �Ya...

ya...

benar juga.

Akan tetapi siapakan gadis yang dipilihnya itu?� �Ada tiga orang gadis, dua orang gadis dari dusun ini dan seorang lagi dari dusun seberang sungai.� �Dari dusun sini dua orang?

Ah, siapakah mereka?� �Hemm, menurut pesan dalam perintahnya, yang seorang adalah puterimu yang bungsu, Chung-cu, dan yang kedua adalah anak perempuan si A-cun yang rumahnya di dekat batu besar itu.� Lurah itu terbelalak dan mukanya menjadi pucat.

�Tolonglah, totiang, tolonglah beritahukan Sang Harimau Putih agar jangan puteriku yang dijadikan pelayan, diganti dengan wanita lain saja.� �Tidak bisa, Chung-cu aku tidak berani.

Bagaimana kalau marah dan mengamuk.

Pula, anakmu tidak apa-apa, hanya menjadi pelayan dan akan dikembalikan kelak kalau tiba masanya.� Biarpun dengan hati berat sekali, terpaksa lurah itu membujuk anak bungsunya yang paling cantik di antara saudara-saudaranya, berusia enambelas tahun, untuk rela menjadi pelayan siluman Hariman Putih, sebagai tumbal agar seisi dusun tidak dibasmi oleh siluman itu.

Demikian pula dengan gadis-gadis lainnya, dibujuk oleh para orang tua masing-masing, dan oleh lurah mereka, agar mau menjadi korban karena mereka hanya akan menjadi pelayan selama beberapa waktu dan akan dipulangkan kembali kelak.

Karena takut, para gadis itupun akhirnya hanya dapat menangis.

Malam itu, ketika tiga orang gadis bertangisan dengan orang tua mereka, Thian Beng Seng-cu berpesta pora dengan dua orang pembantunya.

Sebetulnya mereka adalah tiga sekawan yang biasa melakukan kejahatan.

Ketika melihat keadaan di Bukit Harimau dan segala ketahyulan itu, mereka lalu mengatur siasat untuk mencari kesenangan dengan cara yang paling mudah.

Mereka menggali terowongan sampai ke guha dalam tanah dan menembus sumur itu dan diaturlah segala sesuatunya oleh Thian Beng Seng-cu, nama baru yang diambil pemimpin tiga sekawan yang jahat itu.

�Twako, engkau enak-enak tinggal di rumah lurah dan dihormati, akan tetapi kami berdua yang tidak enak sekali harus tinggal di tempat sunyi ini,� kata si codet.

�Benar, twako.

Aku sudah tidak betah tinggal di sini lebih lama lagi,� kata si muka bopeng.

�Ha-ha, bersabarlah sebentar lagi.

Emas dan perhiasan kita sudah memperoleh cukup banyak untuk modal hidup dan besok pagi kita akan diberi tiga orang gadis yang molek dan cantik.

Puteri lurah itu untukku, dan yang dua orang untuk kalian.

Setelah tiga orang gadis itu diantarkan kepada kita, barulah kita boleh menghilang dari sini, membawa gadis-gadis itu menjadi isteri kita dan kita dapat hidup serba kecukupan.

Ha-ha-ha!� �Benarkah, twako?

Wah, aku girang sekali,� kata si codet.

�Bagus kalau begitu.

Akupun mulai khawatir kalau-kalau ada yang curiga dan memeriksa sumur.

Bisa celaka kita!� �Hemm, takut apa?

Andaikata ada yang mengetahui akal kita, orang-orang dusun itu akan dapat berbuat apa terhadap kita?� kata si tosu palsu dengan sikap sombong.

Dan ini bukan kesombongan kosong.

Dua orang temannya juga merupakan tukang-tukang pukul yang lihai dan dia sendiri, selain ilmu silatnya lebih tinggi dari pada ketiga orang temannya, juga dia memiliki ilmu sihir yang dapat mengalahkan lawan-lawannya tanpa menggerakkan kaki tangan!

Apa yang perlu ditakuti menghadapi orang-orang dusun yang bodoh itu?

Akan tetapi, mereka bertiga tidak tahu bahwa ada bahaya besar mengancam mereka.

Bahaya yang datangnya dari dua orang.

Pertama, bahaya besar itu datangnya dari seorang gadis bernama Hui Ing!

Seperti kita ketahui, Hui Ing tinggal di Thian-san-pang bersama ibu angkatnya.

Dengan bantuan Hui Ing, maka Thian-san-pang dapat ditegakkan kembali sebagai sebuah perkumpulan orang gagah.

Beberapa orang anak buah yang sudah terlanjur sesat melakukan pelanggaran dihukum berat oleh Bi Li, dilenyapkan kepandaiannya sehingga mereka menjadi penderita cacat.

Setelah itu, tidak ada lagi yang berani bermain gila dan semua anak buah menjadi patuh seperti dahulu lagi.

Banyak pula anggauta Thian-san-pang yang ketika Ban Koan berkuasa melarikan diri, kini berdatangan dan masuk menjadi anggauta kembali setelah mendengar bahwa yang menjadi ketua sekarang adalah Sung Bi Li.

Maka, dalam waktu beberapa bulan saja Thian-san-pang menjadi kuat lagi dan anak buahnya lebih dari seratus orang!

Setelah Thian-san-pang menjadi kuat kembali, Bi Li menjadi ketuanya, Hui Ing pada suatu hari berpamit kepada ibunya.

�Ibu, aku ingin pergi dari sini!� �Eh?

Pergi ke manakah, Hui Ing?� �Ibu tentu mengetahui bahwa yang membunuh ayah kandungku dan bibiku adalah Ban Koan dan kini dia masih berkeliaran.

Aku akan mencarinya dan membalaskan dendam kematian ayah dan bibi.

Hatiku tidak akan merasa tenteram sebelum niat itu tercapai, ibu.� �Hemm, niatmu itu baik-baik saja.

Akan tetapi ke mana engkau akan mencarinya.

Dia telah dibawa pergi oleh See-thian Tok-ong dan kakek itu lihai bukan main.� �Aku tidak takut, ibu.

Kalau See-thian Tok-ong melindunginya, aku akan menggempurnya.

Aku pernah mendengar dari koko Cin Po bahwa See-thian Tok-ong tinggal di Bukit Menjangan, di daerah Hou-han.

Aku akan mencari ke sana.� Demikianlah, Hui Ing berangkat untuk mencari musuh besar itu.

Dan dalam perjalanan menuju Hou-han inilah ia tiba di kaki Bukit Harimau itu.

Pada suatu pagi, selagi ia berjalan melalui hutan di kaki Bukit Harimau, ada sesuatu yang membuatnya menengok dan ia melihat berkelebatnya orang yang membayanginya.

Tentu saja ia menjadi mendongkol dan ingin mempermainkan orang yang membayanginya itu.

Ia berlari cepat dan ketika diam-diam menengok ke belakang, orang itupun berlari cepat.

Hemm, orang itu memiliki kepandaian ilmu berlari cepat pula.

Ia menjadi curiga dan cepat ia menyelinap, lalu meloncat dengan ringannya ke atas pohon, bersembunyi di balik daun pohon yang rimbun.

Tak lama kemudian, orang itu lewat di bawahnya dan ketika melihat orang itu, Hui Ing terbelalak girang.

Orang itu bukan lain adalah Yang Kim Sun, murid Kun-lun-pai itu?

Memang benar, pemuda yang membayanginya itu adalah Yang Kim Sun.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kim Sun berhasil mendapatkan kembali tiga buah kitab Kun-lun-pai dari tangan Bhok Seng Cun di Pulau Iblis dan setelah dia mengantarkan kitab-kitab itu ke Kun-lun-pai yang diterima penuh rasa syukur dan girang oleh para pimpinan, dia lalu pergi merantau.

Yang Kim Sun adalah seorang pemuda yatim piatu dan yang menjadi pengganti orang tuanya adalah ketua Kun-lun-pai, maka setelah menyerahkan kitab, dia lalu merantau sebagai seorang pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan.

Ketika tiba di daerah Bukit Harimau itu, dia mendengar desas-desus akan adanya Siluman Harimau Putih yang kabarnya mengganggu para penduduk dusun di sekitar bukit itu, maka dia lalu mengambil keputusan untuk singgah dan melakukan penyelidikan.

Pagi hari itu, dari jauh dia melihat seorang wanita yang berlari cepat di dalam hutan.

Tentu saja dia merasa curiga dan cepat diapun membayangi karena tidak mungkin kalau wanita itu orang dusun.

Ilmu lari cepatnya demikian hebat.

Akan tetapi tiba-tiba dia kehilangan jejak.

Dia berhenti di bawah pohon besar, sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang dibayangi tadi telah berada di atas pohon itu.

�Hemm, kemana ia pergi?

Siluman barangkali, tiba-tiba saja menghilang!� Dia mengomel dengan suara keras sehingga Hui Ing yang mendengarnya menjadi dongkol hatinya.

Ia dianggap siluman!

Maka timbul pikirannya untuk mempermainkan pemuda Kun-lun-pai itu.

Ia mengerahkan kekuatan sihirnya lala melompat turun, membuat suara dan ketika Kim Sun menengok, ia terbelalak melihat seekor kijang yang bulunya berkilauan seperti emas!

�Kijang emas...!� serunya dan segera ia menubruk untuk menangkap binatang yang langka itu.

Akan tetapi kijang itu melompat dan mengelak, lalu berlari.

Kim Sun mengejar akan tetapi tiba-tiba, kijang itu lenyap pula.

Selagi ia celingukan, ia mendengar suara di belakangnya.

�Yang-twako, engkau mencari apakah?� Dengan kaget dia memutar tubuh dan melihat kijang emas itu berdiri di belakangnya!

Wajahnya berubah agak pucat dan mulutnya mengomel.

�Engkau siluman!� Dan dia menubruk lagi untuk menangkap kijang emas yang pandai bicara itu.

Tiba-tiba kijang lenyap dan di situ berdiri Hui Ing!

�Eh...

ah...

kau, nona...

eh, adik Ing??� Hui Ing tertawa kecil dan seketika lenyap lagi dan berubah menjadi kijang emas, lalu berlari lagi.

Sejenak Kim Sun melongo, akan tetapi dia lalu mengejar sekali ini dapat menduga bahwa gadis yang pandai ilmu sihir itu sengaja mempermainkannya.

Karena kijang itu lenyap lagi, Kim Sun yang sudah kelelahan, lalu duduk di akar pohon dan mengomel panjang pendek.

�Aih, Ing-moi, tega benar mempermainkan orang...� Tiba-tiba Hui Ing muncul dan gadis itu berkata dengan mulut diruncingkan, �Siapa suruh engkau memaki aku siluman?� Yang Kim Sun segera melompat berdiri dan memberi hormat kepada gadis itu.

�Ing-moi, maafkan aku, seribu kali maaf karena ketika itu aku tidak tahu akan kehadiranmu dan mengira bahwa yang menggodaku itu siluman.

Ini adalah karena dikabarkan bahwa tempat ini sedang diganggu oleh Siluman Harimau Putih.� �Siluman Harimau Putih?� �Jadi engkau belum mendengarnya, Ing-moi?� �Aku baru saja datang dan tidak tahu apa yang terjadi di sini.� �Kalau begitu kebetulan sekali, kita dapat melakukan penyelidikan bersama.

Ketahuilah, sepanjang pendengaranku, di daerah Bukit Harimau ini muncul siluman yang suka mengganggu penduduk di dusun-dusun sekitar bukit ini.

�Tentu saja aku tidak percaya bahwa ada siluman mengganggu manusia, maka aku ingin menyelidiki.

Ketika melihat engkau yang lenyap begitu saja dan menjadi kijang emas, tentu saja aku mengira siluman yang mengganas itu!� �Aih, menarik sekali!

Mari kita menyelidiki ke dusun di depan itu!� �Baik, Ing-moi.

Dan aku girang bukan main dapat bertemu denganmu di sini.

Dan di mana adik Sung Cin Po?

Mengapa dia tidak kelihatan?� �Aku tidak datang bersama dia.

Kami mengambil jalan masing-masing untuk menunaikan tugas masing-masing pula.

Hayo, kita ke dusun itu!� Mereka lalu berjalan keluar dari hutan menuju ke dusun di depan.

Akan tetapi begitu tiba di luar pintu gerbang, mereka melihat penduduk dusun itu berduyun-duyun keluar dari pintu gerbang dusun.

Seperti ada keramaian.

Ada beberapa orang yang memikul bermacam barang.

Ada makanan untuk peralatan sembahyang, ada barang-barang dalam peti, dan ada pula tiga joli yang terisi tiga orang gadis berpakaian indah!

Tentu saja mereka tertarik sekali dan mereka mengikuti dari belakang, lalu bertanya kepada seorang warga dusun yang berjalan di belakang.

�Sobat, ada apakah keramaian ini?

Apa yang sedang terjadi?� �Ah, kalian tentu pendatang dari luar daerah ini.

Apakah kalian tidak tahu bahwa hari ini kami sedang mengantar korban untuk Dewa Harimau Putih?� �Diantar ke mana?� �Ke mana lagi kalau bukan ke Bukit Harimau, seperti biasa.� Hui Ing menjadi penasaran melihat tiga orang gadis dalam joli itu.

�Dan gadis-gadis itu?

Hendak dibawa ke mana?� Orang itu berbisik.

�Merekapun hendak dikorbankan kepada Dewa Harimau Putih.� Tentu saja Kim Sun dan Hui Ing terkejut setengah mati, Hui Ing lalu menarik tangan Kim Sun, diajak menyingkir.

Kim Sun yang tangannya dipegang dan ditarik, merasa betapa jantungnya berdebar tidak karuan.

Gadis ini sungguh ramah dan akrab bukan main.

Menarik-narik tangannya seolah mereka telah menjadi sahabat selama bertahun-tahun!

�Kita harus bertindak sesuatu,� bisik Hui Ing setelah mereka jauh dari orang-orang itu.

�Tentu, akan tetapi bagaimana?� �Aku ada akal.

Aku akan menggantikan seorang di antara tiga orang gadis itu.� �Aihh, itu berbahaya sekali, Ing-moi!� �Tidak ada bahaya.

Bukankah ada engkau di sini yang mengamati dan menjaga?

Aku ingin bertemu dengan siluman yang minta korban tiga orang gadis itu.� �Apakah tidak lebih baik kalau kita memperingatkan mereka dan mencegah agar mereka tidak mengorbankan para gadis itu?� �Kurasa percuma saja, twako.

Lihat, kepala dusun ikut pula memimpin.

Agaknya mereka semua sudah percaya benar dan tahyul itu.

Nah, kau harus mendahului aku bertindak.

Keluarlah dan kau culik gadis di joli terakhir.

Bawa ia pergi dari sini dan sementara orang-orang ribut, aku akan menggantikannya di dalam joli.� �Akan tetapi mereka akan melihat perbedaan antara engkau dan gadis itu!� �Percayalah kepadaku.

Bukankah tadipun engkau melihat aku seperti seekor kijang emas?� Wajah Kim Sun menjadi kemerahan.

�Kau pergunakan sihir?� Hui Ing mengangguk dan mereka lalu berbisik-bisik mengatur siasat.

Kebetulan sekali di jalan tikungan, pemikul joli gadis terakhir agak ketinggalan di belakang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Kim Sun.

Dia melompat ke depan, menotok berturut-turut empat pemikul joli sehingga mereka menjadi lemas tak mampu bergerak.

Kim Sun membuka joli dan menotok pula gadis itu, lalu memondongnya dari situ.

Hui Ing melihat dengan jelas wajah gadis itu, kemudian dengan gerakan seperti seekor burung ia sudah berada di dalam joli itu setelah membebaskan totokan pada empat orang pemikul joli.

Empat orang itu mampu bergerak lagi dan mereka terheran-heran lalu menyingkap tirai joli untuk melihat apakah gadis yang dipikulnya masih ada.

Setelah mendapat kenyataan bahwa gadis itu masih berada di dalam joli, mereka berempat segera memikulnya dan setengah berlari-lari mengejar kawan-kawan mereka karena mereka menjadi ketakutan!

Kim Sun mengajak gadis itu ke sebuah rumah dusun yang terpencil, berkata kepada tuan rumah yang menjadi kebingungan, �Paman dan bibi, harap sembunyikan dulu gadis ini.

Aku sedang mengurus dan akan membereskan siluman yang mengganggu kalian!� Setelah berkata demikian, sekali berkelebat dia lenyap dari depan suami isteri itu yang menjadi ketakutan dan mereka mengajak gadis yang tadinya hendak dikorbankan kepada siluman itu ke dalam.

Gadis itu hanya dapat menerangkan bahwa tiba-tiba ia diculik dari dalam joli dan tentu saja diam-diam ia merasa girang karena seperti para gadis lain, ia terpaksa saja mau dijadikan korban karena takut kalau seluruh keluarga dusun dibasmi.

Iring-iringan itu diterima oleh Thian Beng Seng-cu di lereng bukit dekat sumur yang kini sudah dibangun, diberi meja untuk sembahyang.

Lalu semua barang dan makanan diturunkan, juga tiga orang gadis dusun itu disuruh turun dan disuruh berdiri di belakang meja sembahyang.

Kemudian sembahyangan itu dilakukan oleh Thian Beng Seng-cu yang diam-diam merasa girang sekali melihat banyaknya benda berharga dan terutama melihat tiga orang gadis yang cantik manis itu.

Setelah selesai sembahyang, dengan suara nyaring dia memerintahkan untuk memasukkan benda-benda dan makanan korban itu ke dalam lubang sumur.

Hui Ing diam-diam memperhatikan tosu itu dan ketika makanan dan benda-benda itu dimasukkan ke dalam lubang sumur, ia sudah dapat menduga apa yang terjadi.

Ia berani bertaruh bahwa di bawah sumur itu ada kawan si tosu yang menyambut makanan dan benda-benda berharga itu.

Ada segulung kain, ada perhiasan dan guci-guci arak dan makanan lain.

Setelah semua benda itu habis, kini tiba giliran tiga orang gadis itu dan si tosu berkata, �Mereka ini adalah calon-calon pelayan Dewa Harimau Putih, maka tidak boleh disentuh tangan lain.

Seperti biasa, pinto sendiri yang akan menghaturkannya kepada beliau!� Dia lalu menghampiri seorang gadis yang wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya gemetaran, lalu memondongnya dan memasukkannya ke dalam lubang sumur.

Terdengar gadis itu menjerit, lalu sunyi.

Gadis kedua diperlakukan sama dan ketika tiba giliran Hui Ing, gadis ini merasa betapa ketika memondongnya, jari tangan tosu itu mencubit pinggulnya!

Iapun terpaksa diam saja dan ketika tubuhnya dilepaskan meluncur turun ke dalam lubang sumur, ia sudah siap dengan gin-kangnya untuk menjaga segala kemungkinan.

Kalau dugaannya salah dan ia akan terjatuh ke dalam sumur, ia sudah siap untuk turun dengan ringan agar jangan sampai terluka.

�Wuuutttt...!� Tubuhnya diterima sebuah jaring yang lunak dan mengertilah Hui Ing bahwa dugaannya tidak keliru.

Ia melihat barang-barang dan makanan, juga ke dua orang gadis tadi sudah berada di sebuah ruangan yang luas di bawah tanah.

�Wah, yang ini cantik sekali!� kata orang berwajah bopeng ketika dia membantu Hui Ing keluar dari dalam jaring.

�Jangan sentuh dia sebelum twako datang.

Kau akan mendapat marah besar.

Seperti biasa, twako yang akan memilih lebih dulu baru yang dua orang untuk kita,� kata yang bermuka codet.

Dapat dibayangkan kemarahan Hui Ing mendengar percakapan itu dan kini sudah jelas semua baginya.

Dua orang ini adalah kaki tangan tosu yang di atas itu dan semua ini hanyalah tipuan belaka.

Orang-orang dusun itu ditipu karena ketahyulan mereka.

Entah berapa banyak sudah benda-benda berharga diserahkan kepada komplotan penipu ini dan berapa banyak gadis yang menjadi korban!

Kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin ia menghajar kedua orang itu seketika itu jnga, akan tetapi karena mereka agaknya takut kepada twako mereka dan tidak berbuat kurang ajar, maka Hui Ing juga menahan kesabarannya, hendak menanti sampai twako itu datang.

Iapun saling rangkul dengan dua orang gadis lainnya, pura-pura ketakutan.

Sementara itu, setelah melihat Hui Ing dan dua orang gadis lain dilepaskan ke dalam lubang sumur, Kim Sun lalu melompat ke atas tanah tinggi di dekat meja sembahyang.

Dia menghadapi para orang dusun yang berlutut di bawah dan berseru, �Saudara-saudara sekalian!

Kalian telah tertipu!

Tidak ada siluman, tidak ada dewa yang minta korban.

Semua ini adalah tipuan belaka!� �Bukan tipuan!� terdengar jawaban lurah dari bawah.

�Kami melihat sendiri Dewa Harimau Putih mengamuk, membunuhi orang ketika kami tidak melaksanakan permintaan beliau.� �Hemm, pembunuhan setiap kali dapat terjadi, dilakukan orang-orang jahat!� �Pemuda jahanam, berani engkau menghina Dewa Harimau Putih!� Terdengar bentakan nyaring dan ketika Kim Sun membalikkan tubuhnya, tosu tinggi besar bermuka singa itu sudah menyerangnya dengan cengkeraman tangannya yang berbentuk cakar setan.

Kim Sun mengelak dengan cepat.

�Tosu palsu, tentu engkau yang menipu mereka ini!� bentaknya dan diapun balas menyerang dengan pukulan tangan kanan.

�Dukkk!� Tosu itu menangkis dan ternyata dia memiliki tenaga yang kuat sehingga pukulan tangan Kim Sun terpental.

Keduanya memiliki tenaga yang berimbang dan tosu itu lalu mencabut sebatang golok besar yang disembunyikan di balik meja sembahyang.

Melihat tosu itu mencabut golok besar, Kim Sun juga mencabut pedangnya dan segera terjadi perkelahian yang seru di antara mereka.

Meja sembahyang terlanggar senjata mereka menjadi roboh.

Tentu saja para penduduk dusun yang melihat perkelahian itu menjadi bingung.

Mereka belum percaya sepenuhnya kepada pemuda itu, akan tetapi mereka juga tidak mau membantu tosu yang betapapun juga sudah membuat mereka semua menjadi miskin karena tosu itu sebagai penghubung Harimau Putih telah menguras harta kekayaan mereka.

Mereka hanya menonton saja.

Sementara itu, di bawah sumur, dua orang itu agaknya mulai tidak sabar.

Tiga orang gadis itu demikian cantik-cantik dan segar, membuat air liur mereka menetes-netes.

�Ji-ko (kakak kedua), twako sudah mengatakan bahwa puteri lurah ini untuknya.

Tentu dia akan memilih puteri lurah yang berpakaian biru ini.

Nah, sekarang yang dua orang untuk kita!

Boleh kaupilih dulu yang mana.

Bagiku sama saja, keduanya sama cantik dan molek!� Dua orang itu mulai mendekati Hui Ing dan gadis yang berbaju hijau.

Melihat ini Hui Ing tidak mampu menahan kemarahannya lagi.

�Hei kalian berdua, kalau hendak memilih kami, hayo kalian berkelahi dulu.

Siapa menang boleh mendapatkan aku!� Begitu mendengar ucapan Hui Ing yang disertai dengan gerakan jari-jari tangan itu, ke dua orang itu lalu mulai saling gebuk dan tonjok.

�Hei, kenapa engkau memukulku?� �Kau juga menjotosku!� Mereka berdua kini bertinju dan bergulat, saling serang dengan serunya di dalam ruangan itu.

Akhirnya, seorang di antara mereka terpukul roboh, yaitu si muka bopeng dan tidak dapat bangkit kembali, agaknya pingsan.

Dan si muka codet yang mendapatkan kemenangan itu menghampiri Hui Ing, untuk segera roboh kembali ketika Hui Ing meluncurkan kakinya menendang ke arah dadanya.

�Enci, jangan takut.

Engkau tinggal dulu di sini, aku akan keluar untuk menangkap tosu siluman itu!� Hui Ing lalu membungkus tubuh kedua orang itu dengan jaring, lalu ia merayap naik melalui lubang sumur sambil membawa tali jaring yang panjang dan kuat.

Semua orang dusun terkejut bukan main ketika dari dalam sumur tiba-tiba muncul seorang gadis cantik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Gadis itu melompat begitu saja dari dalam sumur, kemudian menarik sebuah tali yang panjang dan perlahan-lahan dari dalam sumur itu keluar segulung jaring di dalam mana terdapat dua orang yang setengah pingsan!

Sementara itu, Thian Beng Seng-cu yang melihat munculnya seorang gadis asing yang membawa keluar pula dua orang pembantunya yang nampaknya ditawan, menjadi heran, terkejut dan juga panik.

�Orang muda, berlututlah engkau!� bentaknya dan mengangkat golok ke atas sambil berkemak-kemik.

Sungguh aneh, Kim Sun yang tadi sudah mulai mendesak lawan dengan ilmu pedangnya, tiba-tiba saja menjatuhkan diri berlutut.

�Sun-ko, jangan berlutut!

Bangkit!� teriak Hui Ing dan Kim Sun seperti diguyur air dingin, segera menyadari keadaannya yang tidak wajar itu maka dari keadaan berlutut dia menyerang dengan gerakan jurus Tit-ci-thian-lam (Menuding ke Arah Selatan).

Serangan tiba-tiba ini membuat si tosu terkejut dan cepat menangkis dengan goloknya.

Dia terus main mundur dan mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Kesempatan itu tiba ketika tangan kirinya menyebar jarum ke arah Kim Sun.

Pemuda ini memutar pedangnya menangkis sehingga jarum-jarum itu runtuh semua.

Dan ketika dia memandang, tosu itu sudah melompat jauh dan melarikan diri.

�Heii, Thian Beng Seng-cu, engkau hendak lari ke mana?

Kembalilah ke sini!� teriak Hui Ing.

Sungguh aneh bukan main.

Tosu yang sudah mulai lari agak jauh itu, tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan lari kembali ke situ!

Dia terbelalak heran dan setelah tiba di depan Hui Ing, dia menyabetkan goloknya.

Akan tetapi Hui Ing berteriak, �Lepaskan golok!� Seperti di luar kehendaknya, tosu itu melepaskan goloknya dan Kim Sun sudah menotoknya dari belakang.

Tosu itu roboh lemas dan tidak mampu bergerak lagi.

Kini Hui Ing menghadapi semua orang.

�Saudara saudara, kalian semua telah tertipu oleh komplotan tiga orang ini.

Siluman Harimau Putih tidak pernah ada.

Yang ada adalah tiga siluman berujud manusia ini, yang menipu kalian.

Semua benda dan gadis yang dilemparkan ke dalam sumur itu diterima oleh kedua orang pembantu tosu gadungan ini dengan jaring.

�Mereka mengumpulkan kekayaan di perut bukit, dan bersenang-senang dengan gadis-gadis yang dipaksa melayani mereka.

Dan agaknya tosu ini mengerti sedikit ilmu sihir untuk membius gadis-gadis itu sehingga mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Sekarang terserah kalian bagaimana?

Apakah masih percaya kepada siluman harimau putih?� Orang-orang itu menjadi marah dan berteriak-teriak untuk menuntut balas, kemudian, didahului oleh lurah mereka, mereka menyerbu dan memukuli dua orang pembantu tosu dan tosu itu sendiri.

Kim Sun dan Hui Ing tersenyum dan cepat pergi dari situ, tidak akan mencampurinya lagi.

Tosu itu dan dua orang pembantunya tidak diampuni oleh penduduk dusun.

Mereka dihajar sampai mati.

Kemudian para penduduk itu menuruni sumur dengan tali dan menemukan gadis yang selamat di dalam sumur, juga menemukan semua harta yang sudah dikumpulknn oleh tiga orang komplotan yang sudah siap hendak meninggalkan tempat itu membawa tiga orang gadis dan harta.

Dua orang gadis itu lalu diselamatkan melalui lobang rahasia yang ditemukan oleh orang-orang dusun.

Batu penutup guha didorong beramai-ramai dan ketahuanlah sekarang semua rahasia �Siluman Harimau Putih� itu.

Gadis ketiga ditemukan orang di rumah penduduk dusun dalam keadaan selamat sehingga semua orang menjadi senang sekali.

Akan tetapi ketika mereka mencarinya, dua orang gadis dan pemuda yang menolong mereka membongkar kejahatan tiga komplotan itu sudah lenyap entah ke mana!

Pesta besar-besaran diadakan oleh orang-orang dusun itu.

Adapun mayat tiga orang penjahat itu tidak dikuburkan, melainkan dimasukkan ke dalam sumur itu yang kemudian ditutup batu-batu sehingga menjadi kuburan (Lanjut ke

Jilid 10) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 batu.

Sementara itu, Yang Kim Sun dan Kwan Hui Ing sudah lari jauh dari Bukit Harimau.

Mereka baru berhenti setelah tiba di sebuah hutan yang lebat.

Mereka duduk mengaso di bawah pohon, duduk di atas batu yang banyak terdapat di tempat itu.

Sejenak mereka saling pandang dan Kim Sun berkata dengan suara memuji.

�Wah, sungguh senang sekali aku dapat bekerja sama denganmu, Ing-moi.

Engkau memiliki ilmu kepandaian hebat sekali sehingga dengan mudah kita dapat menundukkan komplotan jahat yang mengacau di pedusunan itu.� �Jangan terlalu memuji, Sun-ko.

Makin tinggi dipuji, akan makin sakit kalau sampai jatuh.

Kepandaianku biasa saja, kalau bertemu lawan yang lebih pandai, tentu aku akan kalah.

�Eh, bagaimana engkau dapat muncul di sini begini tiba-tiba, Sun-ko?

Engkau hendak pergi ke mana dan dari manakah?� �Begini, Ing-moi.

Setelah menyerahkan kembali kitab-kitab yang dicuri oleh Bhok Seng Cun itu kepada para pimpinan Kun-lun-pai, aku lalu merantau lagi.

Tanpa tujuan, hanya untuk melihat-lihat daerah yang indah dan juga untuk mempergunakan ilmu yang selama ini kupelajari, menegakkan keadilan dan kebenaran, menentang kejahatan.� �Wah, engkau memang seorang pendekar budiman dan aku kagum sekali, Sun-ko!� �Nah-nah, kini engkau sudah berbalik memujiku, membuat aku malu saja.

Dan engkau hendak ke manakah, Ing-moi!� �Aku sedang melaksanakan tugas, mencari seorang jahat pengkhianat Thian-san-pang yang bernama Ban Koan.

Apakah engkau mengetahui atau mungkin mendengar di mana dia berada, Sun-ko?� �Mendengar namanyapun baru sekarang, Ing-moi.

Kalau engkau tidak tahu dia berada di mana, bagaimana engkau hendak mencarinya?� �Dalam pertemuan terakhir, dia ditolong dan dibawa lari oleh datuk See-thian Tok-ong.

Nah, maksudku aku hendak mencari di kediaman datuk itu, di Bukit Menjangan.� �Maksudmu di Bukit Menjangan yang berada dalam wilayah Hou-han?

Aku mengenal daerah itu, Ing-moi.

Kalau engkau tidak berkeberatan melakukan perjalanan bersamaku, aku mau menjadi penunjuk jalan.� Hui Ing merasa girang sekali.

Ia memang sudah tertarik kepada pemuda ini sejak pertemuan mereka yang pertama kali di Pulau Iblis.

Seorang pemuda yang gagah perkasa dan berwatak baik, seorang pendekar sejati dari Kun-lun-pai.

Bertemu pemuda ini merupakan hiburan besar baginya dari rasa nyeri di hatinya karena melihat Cin Po mencinta seorang gadis lain yang cacat mukanya, nyeri hatinya karena Cin Po menganggap ia sebagai adik sendiri yang patut disayang akan tetapi tidak patut dicinta sebagai seorang gadis!

�Ah, terima kasih sekali, Sun-ko.

Aku memang belum tahu jalan ke sana, apa lagi termasuk wilayah Hou-han yang belum pernah kukunjungi.� �Jadi engkau tidak menolak melakukan perjalanan bersamaku, Ing-moi?� Kim Sun bersorak gembira dalam hati.

�Aku akan menunjukkan kepadamu, dan akan menunjukkan pula tempat-tempat lain yang indah dari kerajaan Hou-han.

Akan tetapi, aku agak khawatir, Ing-moi.� �Apa yang kau khawatirkan?� �See-thian Tok-ong adalah seorang datuk yang sakti.

Ilmu kepandaiannya hebat sekali dan terutama sekali, dia adalah seorang penasihat yang dihormati oleh Kaisar Hou-han.

Karena itu, kalau orang buruan itu itu dilindungi olehnya, kurasa akan sukar sekali untuk dapat menemukannya.

Andaikata dapat dttemukan juga amat berbahaya kalau harus menentang See-thian Tok-ong.� �Jangan takut, Sun-ko.

See-thian Tok-ong tidak berhak mencampuri urusan Thian-san-pang.

Urusanku dengan Ban Koan adalah urusan dalam Thian-san-pang.

Kalau dia berkeras melindungi, apa boleh buat, aku akan melawannya!� �Aku tidak takut, Ing-moi.

Aku hanya memberitahu agar engkau berhati-hati.

Datuk itu mempunyai banyak anak buah.

Sedapat mungkin kita menghindarkan bentrokan langsung dengan dia karena kalau dia dibantu oleh pemerintah, mungkin saja kita bahkan dianggap sebagai pemberontak-pemberontak di kerajaan itu dan menjadi orang orang buruan pemerintah.� �Baik, aku akan berhati-hati dan tidak bertindak dengan gegabah, karena engkau yang menjadi penunjuk jalan, aku akan mentaati semua pesanmu.� Kim Sun tersenyum.

�Bukan begitu, ilmu kepandaianmu jauh lebih tinggi dari pada ilmu yang kumiliki.

Kita bekerja sama dan untuk menghadapi setiap persoalan kita rundingkan bersama.

Setuju?� �Akur!� Keduanya tertawa, merasa saling cocok dan mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke wilayah kerajaan Hou-han di daerah Shan-si.

Semalam suntuk Kui Ciok Hwa atau yang oleh semua bajak laut dikenal sebagai Huang-hai Sian-li menangis di dalam kamarnya.

Tidak ada seorangpun mengetahui akan kedukaan hati gadis ini.

Ia merasa sengsara dan kesepian setelah Cin Po meninggalkan Pulau Hiu.

Ia menjadi tidak betah lagi tinggal di situ.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia telah mengumpulkan semua pembantu dan para anggautanya.

�Sekarang tiba saatnya aku harus meninggalkan kalian,� katanya.

Suaranya agak parau dan tidak ada yang tahu betapa sepasang mata itu merah membengkak karena terlalu banyak menangis semalam.

Muka itu tetap tertutup cadar.

Betapa ingin hati para anggauta bajak laut untuk memandang wajah ketua mereka, akan tetapi tak seorangpun berani menyatakannya.

Mereka telah mengetahui bahwa membuka cadar merupakan pantangan besar bagi ketuanya.

Siapa berani menyingkap cadar akan kehilangan tangannya!

Begitu mendengar ucapan itu, semua orang terkejut.

Juga Tok-gan Kim-go, yang dahulunya merupakan kepala bajak laut yang kemudian oleh Huang-hai Sian-li diangkat menjadi wakilnya atau pembantu utamanya, terkejut sekali.

�Sian-li, apa artinya ucapan Sian-li itu?� tanyanya heran.

�Artinya, aku akan meninggalkan kalian, meninggalkan tempat ini.

Dan aku menyerahkan kepimpinan kepadamu, Tok-gan Kim-go.

Akan tetapi ingat, jangan engkau membawa teman-teman melakukan kejahatan.

�Pakailah peraturan seperti yang telah kugariskan.

Jangan membunuh sembarangan, kecuali kalau dalam pertempuran menghadapi orang yang melakukan perlawanan.

Jangan membajak orang miskin.

�Dan pantangan yang paling besar, jangan menculik dan memperkosa wanita.

Kelak, sekali waktu aku akan datang mengadakan penelitian dan kalau ada yang melanggar akan kuberi hukuman berat sekali.� Semua anggauta bajak laut Pulau Hiu itu merasa terharu sekali.

Semenjak dipimpin oleh Huang-hai Sian-li mereka memperoleh kemajuan pesat.

Bahkan mereka dapat menemukan tempat tinggal di Pulau Hiu dan sebagian besar di antara mereka telah membentuk keluarga dengan berumah tangga.

Sebelum itu, kehidupan mereka liar, hanya mengenal membajak lalu menghamburkan uang hasil bajakan sampai habis, membajak lagi dan demikian selanjutnya.

Akan tetapi keputusan Ciok Hwa sudah tetap.

Ia harus pergi.

Semenjak Cin Po menyatakan cinta kepadanya, ia menemukan kebahagiaan luar biasa, membuat hidupnya mempunyai arti yang gemilang.

Akan tetapi, perpisahan dengan pemuda yang dicintanya itu, membuat ia tidak betah lagi tinggal di Pulau Hiu.

Ia harus pergi, harus mencari pemuda itu.

Ia, tidak kuat lagi untuk berpisah dari Cin Po.

Dengan sebuah perahu kecil Ciok Hwa meninggalkan Pulau Hiu, diantarkan oleh seluruh anggauta bajak laut sampai jauh.

Baru setelah Ciok Hwa memerintahkan mereka pulang, mereka itu tidak mengantar lebih jauh.

Dengan cepat perahu kecil itu meluncur menuju ke daratan.

Dan Ciok Hwa seolah merasa bahwa dirinya baru saja terlepas dari pada belenggu yang amat kuat.

Barulah ia merasakan betapa menjadi ketua bajak laut itu merupakan belenggu bagi dirinya, membuat tidak dapat bebas.

Kini ia merasa bebas dan lega.

Setelah tiba di pantai, ia melihat seorang nelayan tua sedang menjala ikan di pantai.

Ia melompat ke darat dan memanggil nelayan tua itu.

�Paman, maukah paman kuberi perahu ini?� Tentu saja nelayan tua itu melongo, seolah tidak mengerti arti ucapan gadis itu.

Dia hanya memandang, dengan sinar mata penuh pertanyaan.

Ciok Hwa menjadi terharu.

Tentu orang ini miskin sekali sehingga membeli sebuah perahu merupakan suatu hal yang tidak mungkin baginya.

Dan kini tiba-tiba ada seorang yang sama sekali tidak dikenalnya hendak memberikan sebuah perahu yang baik kepadanya.

Tentu saja dia menjadi heran dan tidak dapat berkata-kata.

�Paman, aku sudah tidak membutuhkan lagi perahuku ini.

Kalau paman mau, hendak kuberikan kepadamu,� sekali lagi Ciok Hwa berkata ramah.

Nelayan itu memandang wajah yang tertutup cadar dan baru dia menyadari bahwa orang tidak bermain-main dengannya.

�Diberi perahu?

Mau?

Tentu saja aku mau, nona.

Akan tetapi..., kenapa nona memberikannya kepadaku?� �Aku melihat paman menjala ikan di sini, tentu hasilnya kurang sekali.

Kalau menggunakan perahu tentu lebih baik hasilnya untuk kehidupan keluarga paman.� �Terima kasih, ohhh, terima kasih, nona.� Nelayan itu menghampiri dan memegangi perahu itu, mengamatinya dan nampak gembira bukan main.

Ciok Hwa lalu meninggalkannya pergi, membiarkannya menikmati miliknya yang seperti jatuh dari atas langit itu.

Ia termenung sendiri dan merasa terharu.

Sekelumit peristiwa yang baginya tidak berarti apa-apa, kehilangan perahu yang memang tidak dibutuhkannya lagi itu, bagi si nelayan mempunyai arti yang luar biasa besarnya.

Mungkin akan mengubah keadaan hidupnya!

Tanpa ia ketahui, ketika melakukan perjalanan menuju pulang ke tempat tinggal ayahnya sambil melakukan perjalanan mencari jejak Cin Po ia tersesat memasuki daerah Sung.

Daerah itu masih berbatasan dengan daerah Wu-yeh, akan tetapi ia tidak menyadari.

Pada suatu hari tibalah ia di sebuah dusun yang cukup ramai.

Ketika ia sedang berjalan itu, terdengar derap kaki kuda yang banyak dan serombongan orang menunggang kuda memasuki dusun itu.

�Minggir!

Minggir dan biarkan kami lewat!� Bentak seorang perwira dan ternyata rombongan terdiri dari tigapuluhan orang berkuda itu adalah pasukan kerajaan Wu-yeh.

Di tengah-tengah terdapat sebuah kereta kecil yang ditumpangi seorang laki-laki tua yang nampak ketakutan.

Di kanan kiri kereta dikawal oleh dua orang perwira yang nampak gagah.

Ciok Hwa tertarik sekali ketika ia melihat orang tua itu melongok keluar melalui tirai kereta yang tersingkap dan pandang mata orang laki-laki itu penuh perasaan takut.

Jelas bahwa laki-laki itu merupakan orang tangkapan, atau setidaknya dia duduk di atas kereta itu da1am keadaan terpaksa.

Ia tertarik sekali dan bertanya kepada seorang laki-laki setengah tua yang juga menonton iring-iringan berkuda itu.

�Paman, siapakah laki-laki tua dalam kereta itu?� Orang itu menghela napas dan sejenak memandang gadis berkerudung dengan curiga.

Akan tetapi mendengar suara yang lembut dan ramah itu dia menjawab juga.

�Itu adalah Yok-sian (Dewa Obat) yang baru saja dibawa pergi oleh pasukan.

Mungkin sekali ada orang penting yang sedang sakit keras dan memerlukan bantuan Yok-sian.� Ciok Hwa tidak merasa heran.

Pada waktu itu, orang-orang berpangkat kekuasaan yang tak terbatas besarnya, bahkan kuasa untuk memaksa setiap orang.

Dan iapun maklum bahwa keselamatan tabib itu tentu terancam.

Biasanya, orang berkedudukan tinggi mengharuskan seorang tabib untuk menyembuhkan penyakitnya dan kalau sampai gagal, mungkin saja nyawa tabib itu menjadi taruhannya!

Terbayang kembali sinar mata tabib tua itu yang seperti mata kelinci yang ketakutan, dan ia merasa kasihan sekali.

�Ke mana Yok-sian itu dibawanya, paman?� �Ke mana lagi kalau bukan ke perbentengan pasukan Wu-yeh?

Kalau ketahuan oleh pasukan Sung, tentu bakal ramai dan terjadi pertempuran hebat.

Yok-sian itu adalah seorang warga negara Sung, dan dia dipaksa untuk mengobati seorang Wu-yeh.� Mendengar ini, Ciok Hwa tertarik sekali.

Ayahnya, biarpun tidak aktif sekali, adalah seorang yang dikenal baik oleh para pejabat tinggi Wu-yeh, bahkan pernah ayahnya diterima raja Wu-yeh dan menerima penghargaan karena ayahnya pernah membantu pasukan Wu-yeh memukul mundur pasukan Sung.

Dan kini pasukan Wu-yeh membawa seorang tabib ke daerahnya, pada hal daerah ini masih termasuk perbatasan Sung, sehingga keadaannya berbahaya sekali.

Berpikir demikian, iapun lalu membeli seekor kuda dan menunggang kudanya mengejar pasukan yang membawa tabib tadi.

Ternyata usahanya mengejar itu terlambat.

Ketika ia dapat menyusulnya, telah terjadi pertempuran hebat antara pasukan Wu-yeh tadi dengan pasukan Sung yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Tigapuluh orang pasukan Wu-yeh melawan limapuluh orang tentara Sung!

Tanpa diminta, Ciok Hwa lalu terjun ke dalam pertempuran membantu pasukan Wu-yeh yang sudah terdesak itu.

Begitu ia masuk dan mengamuk, pasukan Sung menjadi kocar kacir.

Sepak terjang gadis berkerudung ini hebat sekali dan banyak tentara Sung jatuh bergelimpangan disambar pedang di tangan Ciok Hwa.

Seorang perwira mendekatinya.

�Nona siapakah?� tanyanya dengan sikap hormat.

�Aku adalah puteri Tung-hai Mo-ong!� jawab Ciok Hwa.

Kalau ia memperkenalkan namanya tentu perwira itu tidak akan tahu, akan tetapi ayahnya lebih dikenal.

Dan benar saja, mendengar ini, perwira itu lalu berkata, suaranya terdengar girang.

�Kiranya lihiap yang menolong kami.

Akan tetapi kuharap lihiap suka melindungi tabib itu yang amat diperlukan oleh panglima kami!� Mendengar ini, Ciok Hwa lalu melompat dan menuju ke kereta di mana telah terjadi pertempuran di sekitar kereta.

Akan tetapi, tiba-tiba ia melihat seorang pemuda tampan berpakaian mewah, melompat dan beberapa kali suling peraknya menyambar dan robohlah pengawal yang menjaga kereta, lalu pemuda itu menyingkap tirai kereta, menotok tabib tua itu dan memanggulnya dibawa lari dari tempat itu.

�Heiii, berhenti...!!� Ciok Hwa berteriak dan iapun melakukan pengejaran.

Pemuda itu melarikan Yok-sian sampai jauh dari tempat pertempuran.

Larinya cepat sekali dan Ciok Hwa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan pengejaran.

Ia masih belum tahu siapa pemuda itu dan apa maksudnya melarikan si Tabib Dewa, maka ia hanya mengejar terus.

Setelah tiba di sebuah hutan, pemuda itu berhenti berlari dan membalikkan tubuhnya.

Melihat seorang gadis berkerudung dengan bentuk tubuh yang demikian menggairahkan, pemuda itu tersenyum.

Dia memang tampan dan pakaiannya rapi mewah, tangan kanan memegang sebatang suling yang berkilauan seperti perak, tangan kiri memanggul tubuh Yok-sian.

�Hemm, nona.

Siapakah engkau dan apa maksudmu melakukan pengejaran kepadaku?� tanya pemuda itu yang bukan lain adalah Kang-siauw Tai-hiap (Pendekar Besar Suling Baja) Kam Song Kui, murid dari See-thian Tok-ong!

Tentu saja pemuda yang tinggi hati ini memandang rendah kepada Ciok Hwa, akan tetapi karena diapun seorang yang mata keranjang, melihat bentuk tubuh gadis bercadar itu dia sudah merasa tertarik sekali.

�Tidak perduli aku siapa, lepaskan dan bebaskan Yok-sian!� kata Ciok Hwa sambil mencabut pedangnya.

�Wah, enak saja kau bicara.

Susah-susah aku merampasnya, engkau suruh membebaskan.

Kami amat membutuhkan bantuannya, maka dia harus pergi bersamaku dan tidak seorangpun boleh melarangnya.� �Aku yang akan melarangnya!� bentak Ciok Hwa dan ia sudah menerjang pemuda itu dengan pedangnya.

�Trang!

Trang!� Pedang bertemu suling dan Kam Song Kui terkejut setengah mati.

Lengan kanannya tergetar hebat ketika dia menangkis pedang itu, berarti bahwa tenaga gadis berkerudung itu seimbang dengan tenaganya.

Karena dia memanggul tubuh Yok-sian, tentu saja gerakannya kurang leluasa dan menghadapi lawan tangguh ini, berbahayalah kalau dia memanggul tubuh Yok-sian.

Karena itu dia melemparkan tubuh kakek tabib itu ke atas tanah dan kini dia melawan dengan sulingnya.

Terjadilah perkelahian hebat antara dua orang ini.

Song Kui adalah murid datuk barat See-thian Tok-ong sedangkan Ciok Hwa adalah puteri datuk timur Tung-hai Mo-ong.

Maka perkelahian antara mereka terjadi dengan sengit dan hebat dan seimbang.

Terdengar bunyi derap kaki kuda.

Dua orang perwira Wu-yeh dan empat orang perajurit yang tadi ikut mengejar sudah tiba di situ dan mereka langsung saja membantu Ciok Hwa yang telah dikenal perwira itu sebagai puteri Tung-hai Mo-ong.

Melihat ini, Ciok Hwa merasa perlu untuk lebih dulu menyelamatkan Yok-sian.

Ia lalu menghampiri orang tua yang masih menggeletak tertotok itu, membebaskan totokannya dan menggandeng tangan orang tua itu diajak berlari dari tempat itu.

�Marilah, paman, kita lari dari tempat berbahaya ini!� kata Ciok Hwa sambil menarik tangan kakek itu untuk berlari-lari meninggalkan Song Kui yang dikeroyok enam orang itu.

Terengah-engah kakek itu setelah mereka lari agak jauh keluar dari hutan.

�Berhenti dulu, nona...

ah, napasku hampir putus...!� kakek itu mengeluh dan merekapun berhenti untuk mengatur pernapasan.

�Nona, engkau siapakah yang telah menolongku?� �Namaku Kui Ciok Hwa, paman, dan aku puteri Tung-hai Mo-ong,� kata Ciok Hwa terus terang.

Ternyata Tabib Dewa itu merupakan seorang tokoh kang-ouw juga dan mengenal semua datuk dan tokoh dunia kang-ouw.

�Aih, kiranya puteri Tung-hai Mo-ong.

Nona, engkau telah menyelamatkan aku.

Sungguh aku berhutang budi kepadamu.� �Jangan berkata demikian, paman.

Pula, belum tentu aku dapat menolongmu.

Engkau belum terbebas dari bahaya penculikan pemuda bersuling tadi.� �Biarpun demikian, setidaknya engkau sudah berusaha mati-matian, ini saja sudah menunjukkan kebaikan hatimu.

Sungguh tidak kusangka bahwa Tung-hai Mo-ong dapat mempunyai seorang puteri sebaik engkau.� �Marilah kita lari lagi, paman.� �Hem, berlari juga apa gunanya?

Ketahuilah, pemuda yang membawa aku lari tadi adalah Kang-siauw Tai-hiap...� �Kang-siauw Taihiap?� �Murid dari See-thian Tok-ong.

Kalau ada muridnya, biasanya tentu ada juga gurunya.� �Ha ha-ha-ha, ingatanmu masih baik sekali, Yok-sian!� terdengar suara nyaring disertai tawa bergelak dan ketika keduanya menoleh, ternyata di situ telah berdiri dua orang yang bukan lain adalah See-thian Tok-ong sendiri dan muridnya, Kam Song Kui.

Tahulah Ciok Hwa bahwa tentu para perajurit Wu-yeh tadi telah tewas oleh mereka berdua ini, maka iapun menjadi nekat.

Dengan pedang di tangan ia menyerang ke arah See-thian Tok-ong, tangan kanan menusuk dan tangan kiri menggunakan jurus ilmu silat Toat-beng-sin-ciang, menampar ke arah muka.

See-thian Tok-ong hanya meloncat ke kiri dan dua serangan itu luput, kemudian tangan See-thian Tok-ong menyambar ke depan.

Melihat sambaran tangan ke arah mukanya ini, Ciok Hwa terkejut sekali dan cepat ia melompat ke belakang untuk mengelak.

Akan tetapi lengan tangan See-thian Tok-ong mulur panjang dan di lain saat tanpa dapat dicegah lagi, Tok-ong telah menyingkap kerudung yang menutupi muka gadis itu.

Mereka bertiga, See-thian Tok-ong, Kam Song Kui, dan juga Yok-sian sendiri terkejut menyaksikan wajah yang amat buruk dari gadis itu, muka yang penuh dengan benjolan-benjolan menghitam!

Terutama sekali Kam Song Kui yang tadinya sudah tergila-gila oleh bentuk tubuh dan warna kulit gadis itu, menjadi terkejut dan memandang dengan jijik.

�Ihhh, Iblis...

siluman...!� teriaknya dan dari suling bajanya menyambar keluar banyak jarum beracun ke arah muka gadis itu.

Ciok Hwa yang masih tertegun kaget dan marah karena cadar hitamnya tersingkap, tidak mengira akan diserang dengan senjata rahasia ini.

Ia masih mencoba untuk mengelak akan tetapi beberapa batang jarum mengenai pipi dan lehernya.

Iapun roboh tak sadar diri.

Kam Song Kui melangkah maju untuk menggerakkan sulingnya dan membunuh wanita yang mukanya seperti setan itu, akan tetapi Yok-sian berseru, �Jangan bunuh!

Ia puteri Tung-hai Mo-ong!� Mendengar ini, tangan kanan See-thian Tok-ong mulur dan menangkap tangan muridnya yang memegang suling, mencegahnya untuk membunuh gadis itu.

�Puteri Tung-hai Mo-ong?� tanyanya, kaget dan heran.

�Benar, ia sendiri tadi mengaku kepadaku.� �Sudahlah, tinggalkan saja ia di sini.

Yok-sian, mari engkau ikut dengan kami!� kata See-thian Tok-ong.

�Aku harus mengobati gadis ini lebih dulu dan membiarkan ia pergi dengan selamat.� �Tidak!

Membuang-buang waktu saja!� bentak See-thian Tok-ong.

Tabib itu bangkit berdiri dan tegak menantang, �See-thian Tok-ong.

Engkau adalah seorang datuk besar yang hendak membawa kemauanmu sendiri.

Akan tetapi aku juga Yok-sian dan aku tidak dapat dipaksa atau diancam.

Kalau engkau tidak membolehkan aku mengobati gadis ini, biar aku dibunuh sekali pun, aku tidak akan sudi memenuhi permintaanmu!� Sejenak kedua orang tua ini saling berhadapan saling berpandangan.

Kalau saja saat itu dia tidak membutuhkan tenaga Yok-sian, tentu sudah dipukulnya mati tabib yang keras kepala itu.

Akan tetapi dia tahu bahwa tabib itu juga seorang tokoh kang-ouw yang aneh dan keras hati.

Kalau dia membunuh Yok-sian, tentu dia akan berhadapan dengan banyak tokoh kang-ouw yang marah kepadanya dan juga, dia tidak akan dapat mengharapkan pertolongan tabib itu.

Pula, gadis yang akan ditolong tabib itu adalah puteri Tung-hai Mo-ong.

Tidak enak kalau sampai penyerangan muridnya itu akan menewaskan puteri Tung-hai Mo-ong, hanya akan membuat dia bermusuhan dengan Datuk Timur itu.

�Baiklah, obati ia cepat!� katanya sambil menghela napas panjang, lalu dia berkelebat lenyap dari situ.

�Ah, Suhu memang aneh,� Kam Song Kui mengomel.

�Gadis setan seperti itu untuk apa dibiarkan hidup?

Kalau aku, sebaiknya dipukul mati agar kelak tidak menimbulkan bencana!� Tabib itu memandang dengan mata marah kepada pemuda itu.

�Orang muda yang kejam, tinggalkan kami sendiri, tak sudi aku, pekerjaanku ditonton olehmu!� Biarpun Yok-sian seorang tabib yang lemah saja, namun sikap dan suaranya mengandung wibawa besar.

Pemuda itu menggerakkan pundaknya.

�Kutinggalkan juga, engkau akan mampu pergi ke mana?� Dia lalu ngeloyor pergi meninggalkan tabib itu.

Setelah guru dan murid itu meninggalkannya, Yok-sian lulu memeriksa Ciok Hwa.

Jarum-jarum itu menancap di kedua pipi dan di dahinya, dan ada sebatang lagi menancap di lehernya.

Untung tidak masuk ke dalam daging.

Dengan hati-hati Yok-sian mencabuti jarum-jarum itu dan bekas tusukan jarum nampak biru menghitam.

Setelah membuang jarum-jarum itu, tabib Dewa itu memeriksa kembali muka dan leher yang terluka tadi.

�Hemm, racun ular!

Sedikitnya ada lima macam racun ular terkandung dalam jarum itu.

Keji!

Sungguh keji sekali!� Dia mengeluarkan obat bubuk, mencampurnya dengan arak lalu mengoles dan menekan-nekankan pada luka jarum tadi.

Kemudian dia mengeluarkan jarum-jarum emas dan perak dan mulailah dia mengobati gadis itu dengan tusukan jarum pada beberapa tempat di wajahnya dan di lehernya.

Setelah membiarkan jarum-jarum untuk sementara menancap di wajah dan leher itu, Yok-sian lalu mengeluarkan alat-alat masak obat dari saku bajunya yang lebar, dan pun mengeluarkan obat bubuk dan memasaknya.

�Obat menjadi racun dan racun menjadi obat, itu sudah menjadi kehendak Thian!

Orang yang berwatak baik selalu mendapatkan pertolongan, itupun sudah menjadi kehendak Thian!� demikian katanya lirih.

Ciok Hwa merintih lirih.

Yok Sian mendekatinya dan ketika gadis itu membuka matanya, ia berkata lembut.

�Nona, jangan bergerak, wajah dan lehermu penuh dengan jarum.

Aku sedang berusaha mengobatimu, maka tetap rebah sajalah dan jangan banyak bergerak!� Ciok Hwa menahan diri untuk tidak bergerak.

Ia menggerak-gerakkan biji matanya untuk memandang ke sana sini, akan tetapi di situ sunyi saja, hanya ada mereka berdua.

�Paman, di manakah mereka?� �Mereka sudah pergi, guru dan murid iblis itu, walaupun mereka tidak pergi jauh dan sewaktu-waktu dapat muncul,� kata Yok-sian bersungut-sungut.

�Akan tetapi jangan khawatir, aku bersumpah bahwa kalau mereka mengganggumu lagi, aku tidak akan sudi memenuhi permintaan mereka yang kecil sekalipun.� �Paman, parahkah lukaku?

Aku tadi terkena senjata rahasia, bukan?

Beracun?� �Ya, senjata rahasia jarum.

Keji sekali.

Beracun amat jahat.

Kalau tidak diobati secepatnya, dalam waktu beberapa jam saja engkau tentu akan tewas dengan tubuh hangus.

Racun ular itu jahat sekali!� �Terima kasih, paman.

Engkau telah menyelamatkan nyawaku.� �Tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan pengorbananmu untukku, nona.

Engkau berusaha menolongku dan engkau menderita begini justeru karena aku.

Engkau puteri Tung-hai Mo-ong, siapakah namamu tadi, nona?� �Namaku Kui Ciok Hwa, paman.� �Baik, takkan kulupakan nama itu.

Percayalah, pertolonganmu kepadaku tidak akan sia-sia, nona.� �Engkau seorang yang baik hati sekali, paman.� �Itu mereka datang.

Cepat tutupi mukamu lagi dengan cadarmu, dari pada engkau menjadi bahan olok-olok mereka yang keji.� Ciok Hwa menutupkan cadarnya yang tadi disingkapkan secara paksa oleh See-thian Tok-ong.

Guru dan murid iblis itu datang dan mereka melihat betapa Ciok Hwa sudah sembuh kembali.

�Ha-ha, kepandaianmu hebat, Yok-sian.

Engkau dapat menyembuhkan gadis itu dalam waktu singkat.

Tentu engkau akan dapat menyembuhkan orang kami yang sedang sakit berat.

�Nona, buka cadarmu, aku ingin bicara denganmu.

Tidak enak bicara dengan orang yang menyembunyikan wajahnya di balik kerudung!� kata See-thian Tok-ong.

Dengan suara dingin Ciok Hwa berkata, �Aku sudah mengeluarkan ucapan bahwa siapa yang membuka cadarku akan kubuntungi tangannya.

Aku tidak sudi membukanya dan kalau hendak membukanya, harus melalui mayatku!� �Ha-ha-ha, masih bicara besar.

Kau kira aku takut kepada ayahmu, Si Datuk Timur tua bangka?

Hayo buka cadarmu!� �Tidak sudi!� �Suhu, lebih baik biarkan saja jangan dibuka.

Aku menjadi ngeri dan takut melihat wajahnya yang seperti setan!� kata Kam Song Kui dan ucapan ini dirasakan lebih menusuk perasaan hati Ciok Hwa, maka ia diam-diam berjanji kepada diri sendiri bahwa kalau ada kesempatan dan saatnya tiba, ia akan membunuh pemuda tampan bersuling baja disepuh perak itu.

�Ha-ha-ha, engkau benar juga.

Nah, nona buruk rupa, kaukatakan kepada ayahmu bahwa melihat mukanya, aku masih mengampunimu.

Akan tetapi kalau engkau berani lagi menentangku, aku tidak akan mengampunimu lagi.

Yok-sian, mari kita pergi!� Yok-sian mengambil obat yang dimasaknya tadi, menyerahkan mangkok obat kepada Ciok Hwa.

�Nona, minumlah obat ini dan engkau akan sembuh sama sekali!� Ciok Hwa tidak membantah dan minum obat dalam mangkok itu.

Rasanya sepat dan pahit, akan tetapi baunya sedap.

Diminumnya habis semua obat itu dan ia mengembalikan mangkoknya kepada Yok-sian sambil mengucapkan terima kasih.

Yok-sian membenahi alat-alatnya dan memasukkan kembali ke dalam saku jubahnya yang longgar.

Kemudian dia bangkit berdiri, �Nona, jagalah dirimu baik-baik dan cepatlah pulang ke rumah orang tuamu.� Setelah berkata demikian, baru dia menghadapi See-thian Tok-ong dan berkata, �Tok-ong, aku sudah siap berangkat.� Guru dan murid itu lalu mengawal si tabib pergi dari situ.

Ciok Hwa merasa tubuhnya masih agak lemah, maka iapun duduk bersila di situ sambil menghimpun tenaga murni.

Ia merasa betapa obat itu mulai meresap ke dalam tubuhnya dan terasa gatal-gatal pada muka dan lehernya.

Akan tetapi ia menahannya dan tidak menggaruknya, tetapi ia merasa gatalnya berkurang dan tubuhnya menjadi segar kembali.

Ia menemukan pedangnya yang tadi terpental, lalu membawa pedangnya dan melanjutkan perjalanan.

Di sepanjang perjalanan Ciok Hwa tidak pernah menanggalkan cadarnya dan kalau terpaksa memperkenalkan namanya, ia selalu menggunakan nama Huang-hai Sian-li!

Kerajaan Sung yang dipimpin oleh bekas Jenderal Cao Kuang Yin yang kini bergelar Kaisar Sung Thai Cu memang dapat dikatakan mengalami kemajuan setelah jaman Lima Wangsa (907-960).

Pada tahun 960 itu Jenderal Cao Kuang Yin oleh para tentara dan pengikutnya diangkat menjadi Kaisar.

Dan berturut-turut dia memimpin pasukannya untuk menundukkan kembali daerah-daerah yang dulunya menjadi daerah Kerajaan Tang dan kini melepaskan diri berdiri sendiri, dan dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Sung yang semakin luas.

Akan tetapi, betapapun juga, kejayaan Kerajaan Sung tidak dapat menyamai kebesaran kerajaan yang lalu, yaitu Kerajaan Tang.

Pada masa kerajaan Tang, kerajaan ini mampu mempersatukan seluruh wilayah Cina pedalaman.

Sedangkan kerajaan Sung tidak dapat mencapai kejayaan seperti itu.

Ada empat daerah besar yang tidak dapat dikuasainya, terutama sekali daerah Mancuria Selatan dan Ho-peh serta daerah Timur Laut yang dikuasai sepenuhnya oleh bangsa Khi-tan yang menamakan dirinya dinasti Liao.

Dan di daerah Yunan terdapat Kerajaan Nan-cao.

Masih ada lagi dua kerajaan lain yang selalu mengganggu, yaitu kerajaan Hou-han di Shan-si dan kerajaan Wu-yeh di sebelah Tenggara.

Empat buah kerajaan ini bukan saja tidak mau tunduk, bahkan mereka seringkali mengacau di perbatasan, dan berusaha memperluas wilayah mereka dengan menyerbu ke daerah Sung.

Sejak jaman dahulu sampai pada jaman kerajaan Tang, pemerintah yang berkuasa selalu menujukan perhatian mereka ke arah utara dan barat.

Bahaya terbesar dianggap datang dari utara dan barat, maka pertahanan Tembok Besar selalu diperkuat dan lalu lintas perdagangan juga ramai melalui jalan melalui Tibet ke Dunia Barat, India, Turki dan lain-lain.

Akan tetapi semenjak kerajaan Sung, keadaannya menjadi lain.

Kerajaan Sung tidak mampu bertahan di utara dan barat, dan lebih memperhatikan daerah selatan.

Mulailah terjadi perdagangan dengan negara-negara di selatan, di seberang lautan.

Kalau dahulu perdagangan utama melalui Mongolia, Sin-kiang, Tibet menuju ke Iran dan ke Timur Tengah, atau membelok ke India, kini lebih banyak perdagangan dilakukan melalui lautan, ke negara-negara di selatan.

Kalau negara Tang menghimpun pasukan besar untuk membendung bahaya dari utara dan barat, kerajaan Sung mengambil jalan yang lebih murah, walaupun ini merendahkan martabat kerajaan.

Kerajaan Sung, untuk menjaga agar jangan ada bahaya serangan dari utara dan barat, tidak segan-segan untuk �menyogok� berupa upeti kepada kerajaan Khi-tan yang terkuat pada masa itu.

Memang harus diakui bahwa membayar upeti ini jauh lebih murah dibandingkan kalau harus memelihara tentara yang kuat untuk menjaga keamanan di utara dan barat, akan tetapi dengan mengirim upeti, berarti kerajaan Sung kehilangan kehormatan dan kebesarannya.

Sungguh besar bedanya dengan jaman kerajaan Cin, Han maupun Tang.

Sikap yang diambil kerajaan Sung ini membuat banyak pendekar yang berjiwa patriot menjadi penasaran dan marah.

Mereka menganggap kaisar terlampau lemah.

Kaisar hanya bersenang-senang, tidak mau bersikap keras terhadap musuh yang merongrong, bahkan menyogok dengan upeti besar.

Kaisar sendiri hanya bersenang-senang di istana dan kekuasaan sebagian besar dipegang oleh para Thai-kam yang hanya pandai menjadi penjilat akan tetapi tidak becus mengurus negara dengan baik.

Rasa penasaran dan marah ini memunculkan banyak pendekar yang menghimpun kekuatan sendiri untuk melawan bangsa Khi-tan, Hou-han, Wu-yeh dan Nan-cao dengan cara mereka sendiri.

Mereka seringkali menyerang pasukan ke empat negara ini di perbatasan dengan cara perang gerilya.

Kalau musuh mengerahkan tenaga dengan pasukan besar mereka melarikan diri, kalau musuh lengah maka pasukan-pasukan musuh itu diserang secara mendadak.

Sedikit banyak ini merupakan rong-rongan bagi pemerintah-pemerintah itu dan mereka tidak dapat menyalahkan kerajaan Sung karena penyerang itu bukan pasukan Sung, melainkan gerombolan yang mereka namakan �perampok dan penjahat.� Di sepanjang sungai Huang-ho terdapat gorombolan gerilya seperti itu yang selalu merongrong pasukan Khi-tan di sepanjang perbatasan.

Pasukan kecil yang hanya terdiri dari sekitar seratus orang ini dipimpin oleh Huang-ho Ngo-liong (Lima Naga Sungai Kuning) dan gerombolan inilah yang membuat pasukan Khi-tan tidak berani dalam kelompok kecil melakukan penjagaan di perbatasan selatan bagi mereka.

Sudah terlalu sering pasukan yang kurang dari seratus orang jumlahnya disergap dan sebagian dari mereka dibunuh.

Bahkan dari seratus orangpun gerombolan itu berani menggempur karena mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, apa lagi kelima orang pemimpin mereka!

Huang-ho Ngo-liong sejak belasan tahun yang lalu telah terkenal sebagai lima orang jagoan di dunia kang-ouw yang berilmu tinggi.

Seorang di antara mereka sudah kita kenal baik, yaitu Hek-siauw Siucai, pria tampan berusia tigapuluh tahun yang dahulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, pernah datang ke Thian-san-pang dan bertanding melawan Sung Bi Li.

Hek-siauw Siucai yang begitu lihai saja adalah orang kelima.

Apa lagi orang yang pertama sampai dengan yang keempat, yang menjadi kakak-kakak seperguruan Hek-siauw Siucai!

Orang pertama dari mereka disebut Toa-liong (Naga tertua) bernama Ouwyang Koan.

Yang kedua disebut Ji-liong (Naga kedua) bernama Ji Siok.

Ketiga disebut Sam-liong (Naga ketiga) bernama Bang Kiu It.

Yang keempat disebut Su-liong (Naga keempat) bernama Tang Giok dan yang kelima adalah Hek-siauw Siucai itulah yang disebut Ngo-liong (Naga kelima) dan bernama Bhe Koan Sui.

Lima orang ini adalah murid-murid Go-bi-pai yang sudah mencapai tingkat tinggi dan mereka semua berjiwa pendekar patriot.

Karena mereka adalah kawula kerajaan Sung, tentu saja yang mereka bela adalah kerajaan Sung, walaupun di dalam hati mereka itu merasa penasaran dan tidak senang melihat kaisar tidak memperhatikan pertahanan negara dan hanya bersenang-senang saja.

Pada suatu hari ke lima saudara ini berkumpul dan bercakap-cakap membicarakan keadaan.

�Sungguh menyebalkan sekali.

Pemerintah kita sama sekali tidak mengacuhkan bahwa para penduduknya di perbatasan utara ini mengalami gangguan dari bangsa Khi-tan!� �Kaisar hanya bersenang-senang saja dan memerintahkan Menteri Keuangan untuk mengirim upeti besar-besaran kepada Khi-tan.

Ini sungguh merupakan pukulan besar kepada perasaan para patriot,� kata Ji-liong menyambung ucapan Toa-liong.

�Sungguh amat mengherankan,� kata Ngo-liong atau Hek-siauw Siucai Bhe Koan Sui yang termuda dan tampan.

Usianya sekitar empatpuluh tahun sedangkan kakak-kakaknya beberapa tahun lebih tua dan Toa-liong sendiri yang tertua berusia limapuluh tahun.

�Kalau diingat bahwa Kaisar Sung Thai Cu dahulunya adalah seorang panglima besar bernama Cao Kuang Yin yang pantang menyerah, bahkan berhasil menundukkan banyak daerah sehingga akhirnya dia dapat mempersatukan semua daerah dan mendirikan kerajaan Sung.

Kenapa sekarang dia menjadi seorang lemah yang hanya mengejar kesenangan dan menyerahkan urusan pemerintahan kepada para Thai-kam?� �Sungguh penasaran sekali!� kata Su-liong Tang Giok yang pendek gendut.

�Bagaimana seseorang dapat begitu berubah?

Kalau dulunya seorang pejuang gagah perkasa, sekarang berubah menjadi boneka yang tidak malu-malu mengirim upeti kepada bangsa Khi-tan?� �Tidak ada yang aneh,� kata Sam-liong Bang Kiu It yang bertubuh tinggi kurus.

�Seseorang memang dapat saja berubah karena keadaan.

Dulu seorang pejuang ketika keadaannya masih miskin, akan tetapi begitu menduduki pangkat tinggi dan merasakan kenikmatan harta dan kemuliaan, maka menjadi lupa diri dan tenggelam ke dalam kesenangan.

�Apanya yang aneh?

Hal itu hanya menunjukkan bahwa dia seorang yang pada dasarnya lemah.

Seorang yang kuat tidak akan berubah, dalam keadaan dan kedudukan bagaimana jugapun.� �Sam-te benar,� kata Ji-liong Ji Siok yang mukanya brewok.

�Memang harta benda dan kedudukan dapat membuat orang menjadi lupa diri.� �Akan tetapi hal ini sungguh merugikan bangsa kita,� kata Toa-liong Ouwyang Koan yang bertubuh tinggi besar.

�Kaisar selemah itu sebaiknya diganti saja!� �Aih, toako, ucapanmu itu sungguh berbahaya kalau terdengar orang lain.

Bisa-bisa kita ini dicap sebagai pemberontak!� kata Ngo-liong.

�Pemberontak?

Huh, kita melakukan lebih banyak dari pada kaisar sendiri.

Kita sudah mempertaruhkan nyawa untuk melindungi rakyat di perbatasan, untuk menghalau pasukan Khi-tan yang berani melewati perbatasan dan membikin kacau di daerah Sung!

Bukan kita yang pemberontak, melainkan kaisar sendiri yang pengkhianat bangsa, membiarkan bangsanya sengsara hanya karena ingin hidup bersenang seorang diri saja!� Selagi mereka bercakap-cakap, pintu diketuk dari luar.

�Masuk!� kata Toa-liong dengan suara berwibawa.

Pintu dibuka dari luar dan seorang anggauta kelompok mereka masuk, lalu melapor.

�Tai-hiap, di luar dusun Hek-bun terdapat serombongan tentara Khi-tan yang agaknya hendak mengacau.

Jumlah mereka kurang lebih tigapuluh orang!� Karena yang mengacau hanya tigapuluh orang saja, Toa-liong lalu memerintahkan kepada adiknya yang paling muda.

�Ngo-liong, kaubawa teman sebanyak empatpuluh orang dan basmi mereka!� �Baik, toako!� kata Hek-siauw Siucai, orang termuda itu yang selalu berpakaian seperti seorang sasterawan dan membawa suling yang diselipkan di ikat pinggangnya.

Dia lalu keluar dan tak lama kemudian berangkatlah Ngo-liong bersama empatpuluh orang anak buahnya melakukan perjalanan cepat menuju ke dusun Hek-bun seperti yang dilaporkan anak buah tadi.

Setelah tiba di dusun itu benar saja mereka melihat segerombolan pasukan Khi-tan memasuki dusun itu.

Penduduk dusun itu sudah menjadi ketakutan sekali karena biasanya para pasukan Khi-tan itu suka bertindak sewenang-wenang, merampasi hewan ternak dan juga menculik wanita-wanita muda.

Melihat ini, Ngo-liong lalu membentak keras, �Perampok-perampok Khi-tan keparat!

Serbu...!� Dan anak buahnya segera menyerbu.

Para perajurit Khi-tan ketika melihat serombongan orang gagah itu, segera melakukan perlawanan gigih dan terjadilah pertempuran di dusun itu.

Sementara itu, secara kebetulan sekali Cin Po yang sedang mencari musuh besarnya di sepanjang lembah Sungai Kuning, hari itu tiba di dekat dusun.

Melihat keributan itu dan melihat pula penduduk banyak yang lari mengungsi keluar dusun, dia segera bertanya kepada mereka apa yang sedang terjadi.

�Segerombolan perajurit Khi-tan sedang mengacau di dusun kami dan sekarang sedang dihadapi para pendekar Lembah Huang-ho.� Memang pasukan yang dipimpin Ngo-liong itu oleh para penduduk dikenal sebagai �Para pendekar Lembah Huang-ho.� Mendengar ini, tentu saja Cin Po tertarik sekali.

�Siapakah para pendekar Lembah Huang-ho itu?� tanyanya.

Orang dusun itu memandang Cin Po dengan heran.

Pemuda berpakaian serba putih ini tentu datang dari jauh maka tidak mengenal para pendekar Lembah Huang-ho yang namanya sudah terkenal di seluruh daerah itu sebagai pembela rakyat dari gangguan para perajurit Khi-tan.

�Mereka adalah orang-orang gagah yang selalu membela rakyat yang diganggu oleh pasukan Khi-tan yang menyeberangi perbatasan.

Sudahlah, kami akan menjauhkan diri mengungsi ke tempat yang lebih aman.� Orang itu pergi tergesa-gesa dan Cin Po segera lari ke arah dusun itu untuk melihat keadaan.

Segera dia melihat sebuah pertempuran yang ramai dan seru sekali antara orang-orang berpakaian perajurit Khi-tan dan orang-orang berpakaian preman.

Dia melihat betapa para perajurit Khi-tan itu terdesak oleh orang-orang yang berpakaian ringkas seperti orang-orang ahli silat itu.

Dan memang rata-rata mereka yang disebut para pendekar Lembah Huang-ho itu pandai sekali memainkan senjata dengan gerakan silat yang cukup lumayan.

Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang kakek yang berkepala botak dan tubuhnya sedang saja akan tetapi matanya menyeramkan, mencorong seperti mata harimau, hidungnya pesek dan mulutnya besar, kedua telinganya seperti telinga gajah.

Begitu muncul, kakek ini mendorong-dorongkan kedua tangannya dan para orang gagah itu jatuh bergelimpangan.

Seorang pemimpin mereka yang berpakaian sasterawan dan gagah perkasa menyerang kakek itu dengan senjata sulingnya, gerakannya gesit dan juga bertenaga.

Akan tetapi kakek itu dengan mudahnya mengelak lalu balas menyerang.

Terjadi perkelahian di antara mereka berdua, namun jelas bahwa kakek itu jauh lebih lihai sehingga belum sampai dua puluh jurus, pemegang suling itu telah terpental jauh.

Melihat kakek itu, Cin Po terkejut sekali karena mengenalnya sebagai Pat-jiu Pak-sian, datuk utara yang memang berpihak kepada Khi-tan itu.

Bahkan dia sendiri pernah dibujuk gurunya itu untuk menjadi perwira Khi-tan dan kemudian dia melarikan diri setelah membunuh para perajurit Khi-tan yang berbuat jahat kepada rakyat jelata, merampok dan memperkosa.

Karena takut menjadi orang buruan pemerintah Khi-tan, juga takut kepada gurunya yang tentu akan marah sekali, maka dia melarikan diri.

Siapa kira kini dia bertemu dengan guru pertamanya itu di sini, dan gurunya membela para perajurit Khi-tan yang sedang merampoki rakyat.

Dia harus membela orang-orang gagah Lembah Huang-ho itu, kalau tidak, mereka semua akan tewas bertanding melawan Pat-jiu Pak-sian.

Cepat dia melompat ke dekat sasterawan yang roboh tadi.

�Cepat, bawa orang-orangmu lari, aku yang akan menghadapi kakek itu.

Kalian bukan lawannya!� katanya.

Agaknya sasterawan yang bukan lain adalah Hek-siauw Siucai atau Ngo-liong Bhe Koan Sui itu mengerti benar apa yang dimaksudkan Cin Po.

Dia tadi sudah merasakan sendiri kehebatan kakek itu.

Memang kelompoknya adalah kelompok gerilya, dan selalu bergerak seperti pasukan gerilya, kalau pihak musuh terlalu kuat mereka melarikan diri kemudian menyerang kalau musuh lengah.

Dia lalu bersuit keras, memberi tanda kepada anak buahnya dan mereka segera melarikan diri, terpaksa meninggalkan beberapa orang yang sudah tewas dan membawa kawan-kawan yang terluka.

Pat-jiu Pak-sian tercengang, ketika tiba-tiba dia berhadapan dengan Cin Po.

Para perajurit Khi-tan yang merasa mendapat kemenangan karena dibantu kakek sakti itu, memperlihatkan kegagahan mereka dengan mencoba-coba mengejar para pendekar yang melarikan diri.

Akan tetapi ini hanya untuk berlagak saja.

�Kau...??� bentak Pat-jiu Pak-sian dan teringatlah dia betapa murid yang tadinya amat disayangnya sebagai pengganti puteranya yang tewas ini pernah membunuhi banyak perajurit lalu melarikan diri.

�Engkau pengkhianat dan pemberontak!� kembali dia membentak dan siap untuk menyerang.

�Engkau malah membantu para pemberontak yang menyerang pasukan kami?� �Tidak, Suhu.

Aku tidak termasuk golongan mereka.

Akan tetapi aku memang menentang pasukan Khi-tan kalau pasukan itu melakukan perbuatan jahat!� katanya gagah.

�Hemm, engkau dahulu juga membunuh banyak perajurit Khi-tan lalu melarikan diri tanpa pamit kepadaku!

Murid macam apa engkau ini?

Ditolong bahkan membalas mencemarkan nama baikku sehingga aku mendapat teguran dari Raja?� �Maaf, Suhu.

Ketika aku menjadi perwira Khi-tan, Suhu tidak mengajarkan aku untuk merampok dan memperkosa wanita.

Karena melihat para perajurit Khi-tan itu melakukan perampokan, pembunuhan dan perkosaan, maka aku menjadi marah dan membunuh mereka.

�Demikian pula sekarang, para perajurit ini mengganggu rakyat dan orang-orang gagah tadi membela rakyat.

Seharusnya perbuatan mereka itu patut dihargai dan perbuatan pasukan Khi-tan patut dicela.� �Apakah engkau tidak mengerti bahwa orang boleh bertindak apa saja terhadap musuh negara?� bantah Pat-jiu Pak-sian marah.

�Akan tetapi, suhu.

Kerajaan Sung tidak menjadi musuh kerajaan Khi-tan.

Bukankah kedua kerajaan itu bersahabat?

Tidak semestinya pasukan Khi-tan melanggar perbatasan dan menyerang penduduk dusun di perbatasan yang termasuk wilayah Sung.� �Bocah pengkhianat, kau tahu apa?� kata kakek itu dan diapun menyerang Cin Po dengan ganas.

Cin Po merasa menyesal sekali tidak dapat menyadarkan orang tua itu.

Betapapun juga, nyawanya pernah ditolong oleh Pat-jiu Pak-sian, dan bahkan dia pernah digembleng selama tiga tahun dengan tekun.

Tentu saja dia tidak ingin bermusuhan dengan orang yang telah pernah menyelamatkan nyawanya itu.

Dengan gerakan yang gesit sekali dia mengelak dari serangan bekas gurunya.

Melihat pukulan tangan kirinya dielakkan dengan mudah, Pat-jiu Pak-sian menjadi semakin marah dan dia lalu bersilat dengan ilmu Pat-jiu-sin-kun.

Sebagai orang yang merangkai ilmu itu, tentu saja gerakannya hebat bukan main.

Akan tetapi dia tidak tahu bahwa setelah mendapat gemblengan dari Bu Beng Lojin, Cin Po dapat memainkan Pat-jiu-sin-kun bahkan lebih hebat darinya!

Namun, Cin Po tidak mau melakukan ini.

Dia tidak ingin mengalahkan bekas gurunya dengan ilmu gurunya sendiri, juga dengan ilmu lain.

Sekali ini dia harus membalas budi gurunya itu dengan tidak melukai atau bahkan mengalahkannya.

Diam-diam dia lalu mengerahkan ilmu sihirnya dan mengenangkan wajah Hok Jin, yaitu putera Pat-jiu Pak-sian yang meninggal dunia karena sakit, wajah yang mirip dengan wajahnya sendiri itu.

Kemudian sambil menudingkan telunjuknya kepada Pat-jiu Pak-sian, dia berkata, �Ayah, apakah ayah tega untuk membunuh putera sendiri?� Seketika Pat-jiu Pak-sian menahan serangannya, terbelalak memandang Cin Po yang tiba-tiba dalam pandang matanya berubah menjadi puteranya yang telah tewas, dan dia lalu menangis sejadi-jadinya.

�Hok Jin...

ah, Hok Jin...!� Cin Po melambaikan tangannya dan dalam pandangan gurunya, dia telah berubah lagi menjadi sedia kala.

Pat-jiu Pak-sian terbelalak dan memandang Cin Po dengan terheran-heran.

�Suhu, maafkanlah saya dan harap suhu jangan membiarkan para perajurit Khi-tan itu mengganggu rakyat jelata!� Setelah berkata demikian, sekali berkelebat diapun lenyap dari pandang mata kakek itu.

Pat-jiu Pak-sian masih tercengang dan sekarang mengertilah dia bahwa tadi dia dipengaruhi sihir oleh bekas muridnya itu.

Dan teringat dia betapa tadi murid itu dengan mudah menghindarkan diri dari semua serangannya.

Muridnya telah menjadi seorang yang amat pandai, bahkan kuat sekali dengan ilmu sihirnya.

Dia berkelebat begitu saja lenyap dari depannya dan untuk dapat melakukan hal seperti ini di depan matanya, belum tentu ada keduanya.

Dia menghela napas lalu memanggil para perwira pasukan itu dan melarang mereka melanjutkan niat mereka mengganggu penduduk dan meminta mereka untuk kembali ke daerah Khi-tan.

Cin Po yang melarikan diri dari depan Pat-jiu Pak-sian, tiba-tiba berhadapan dengan puluhan orang yang dinamakan orang-orang gagah Lembah Huang-ho itu.

Dia menahan kakinya dan memandang.

Dia melihat pria berusia empatpuluh tahun yang gagah tadi, yang berpakaian seperti sasterawan sehingga menimbulkan rasa hormat di hatinya.

Dia tidak tahu bahwa pria itu memandangnya dengan penuh kecurigaan.

Pria itu adalah Hek-siauw Siucai Bhe Koan Sui.

Tadi ketika terjadi pertandingan antara Cin Po dan Pat-jiu Pak-sian, Bhe Koan Sui ini sempat mengintai dan dia merasa heran sekali mengapa pemuda yang telah menolong dia dan kawan-kawannya itu menyebut Suhu kepada Pat-jiu Pak-sian.

Dia tahu benar siapa Pat-jiu Pak-sian.

Seorang datuk utara yang berpihak kepada Khi-tan.

Kenapa pemuda itu menolong mereka kalau dia murid Pat-jiu Pak-sian?

Maka, kini dia memandang penuh curiga walaupun tadi jelas pemuda itu telah menyelamatkan mereka.

Bhe Koan Sui mengangkat ke dua tangan memberi hormat kepada Cin Po, diikuti semua anggautanya.

�Kami semua menghaturkan terima kasih atas pertolongan sicu,� katanya sambil memandang tajam.

�Ah, tidak perlu dibicarakan hal itu.

Aku hanya menyuruh kalian mundur karena kakek itu hebat bukan main ilmu kepandaiannya dan kalau dilanjutkan tentu kalian semua akan tewas di tangannya.� �Kau maksudkan Pat-jiu Pak-sian, sicu?

Dan bagaimana sicu sendiri dapat terbebas dari tangannya?� �Aku...

sempat melarikan diri,� kata Cin Po yang tentu saja segan menceritakan bahwa dia pernah menjadi murid datuk itu.

�Sicu, mari silakan sicu singgah di tempat kami.

Para pimpinan kami tentu akan senang sekali bertemu dengan sicu dan kita dapat membicarakan urusan perjuangan ini.� Sebetulnya Cin Po tidak tertarik dengan urusan perjuangan yang tidak dimengertinya, akan tetapi dia pikir bahwa orang-orang ini mungkin saja tahu di mana adanya musuh besarnya.

Maka dia menggunakan kesempatan ini untuk bertemu dan berkenalan dengan mereka.

Dia mengangguk dan mengikuti orang-orang itu menuju ke perkampungan mereka yang terletak di tepi Sungai Kuning.

Mereka tinggal di situ bersama seluruh keluarga mereka, maka tempat itu menjadi sebuah perkampungan besar.

Rumah pimpinan mereka yang lima orang itu berada di tengah-tengah perkampungan, merupakan rumah besar karena Huang-ho Ngo-liong juga tinggal bersama isteri-isteri dan anak-anak mereka di tempat ini.

Para pimpinan pejuang itu sudah mendengar betapa pasukan mereka terancam dengan munculnya Pat-jiu Pak-sian akan tetapi lalu muncul pula seorang pemuda gagah perkasa yang menyelamatkan mereka.

Maka, begitu mendengar bahwa pemuda itu ikut datang berkunjung bersama Bhe Koan Sui, empat orang pemimpin yang lain segera keluar dari rumah untuk menyambut.

�Kami adalah pemimpin para pejuang, sicu,� kata Bhe Koan Sui memperkenalkan, �Ini adalah kakak kami tertua bernama Ouwyang Koan dan ini kakak kedua bernama Ji Siok, kakak ketiga bernama Bang Kiu It, kakak keempat bernama Tang Giok dan aku sendiri saudara kelima bernama Bhe Koan Sui.� Cin Po lalu memberi hormat kepada mereka semua dan dia dipersilakan masuk.

Mereka memberi hormat kepadanya dengan suguhan arak, kemudian Ouwyang Koan bertanya dengan sikap yang menghormat.

�Tidak tahu, siapakah nama besar sicu?� �Nama saya Sung Cin Po, paman.� �Sicu masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang hebat menurut cerita para anak buah, sungguh mengagumkan sekali!� kata pula Ji Siok orang kedua.

�Ah, sama sekali tidak.

Hanya kebetulan saja saya sudah mengenal Pat-jiu Pak-sian dan dapat saya bujuk agar tidak menyerang para pendekar.

Akan tetapi kalau saya sendiri tidak cepat-cepat melarikan diri, mungkin saya juga akan celaka di tangannya.

Datuk Utara itu adalah seorang yang sakti,� kata Cin Po merendah.

Hidangan lalu dikeluarkan dan Cin Po dijamu makan minum oleh ke lima saudara itu.

Sambil makan minum Cin Po mendengarkan penuturan mereka mengapa mereka membentuk kelompok yang memusuhi pasukan Khi-tan.

�Sungguh sangat disesalkan bahwa kerajaan Sung begitu lemah,� kata Ouwyang Koan antara lain, �Bukan saja kerajaan Sung memperlihatkan kelemahannya untuk mengirim upeti sebagai tanda persahabatan kepada kerajaan Khi-tan, akan tetapi pemerintah juga menutup mata dan telinga, seolah tidak tahu betapa pasukan Khi-tan seringkali melanggar perbatasan dan mengganggu rakyat yang tinggal di perbatasan.

Melihat hal ini, kami merasa penasaran.

Untuk melindungi rakyat tidak dapat diandalkan bantuan pemerintah, maka kami menghimpun saudara-saudara yang berjiwa patriot untuk mengadakan perlawanan setiap kali pasukan Khi-tan melanggar dan mengganggu rakyat.� Mau tidak mau Cin Po merasa kagum bukan main.

Ternyata dia berhadapan dengan orang-orang yang berjiwa pendekar patriot dan dia merasa malu kepada diri sendiri.

Apa yang dia lakukannya untuk rakyat?

Bahkan dia pernah menjadi perwira bangsa Khi-tan!

�Sungguh perbuatan yang patut dipuji.

Ngo-wi (kalian berlima) adalah orang-orang gagah sejati.

Saya ingin minum untuk menghargai kegagahan Ngo-wi itu!� Dia mengangkat cawan araknya dan disambut oleh lima orang itu dengan gembira.

�Sung-sicu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa.

Mengapa sicu tidak bergabung saja dengan (Lanjut ke

Jilid 11) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 kami?

Kalau ada sicu yang membantu, tentu perjuangan kami akan lebih berarti lagi!

Kita melindungi rakyat, juga sekaligus menjunjung nama dan kehormatan kerajaan Sung agar jangan diinjak-injak oleh orang-orang Khi-tan!� kata Bhe Koan Sui.

�Terima kasih, paman.

Kiranya belum saatnya sekarang bagi saya untuk membantu perjuangan karena saya masih mempunyai banyak urusan pribadi yang harus diselesaikan.

Oya, kebetulan sekali saya bertemu dengan paman berlima.

�Sebetulnya kedatangan saya ke daerah ini adalah untuk mencari seorang yang sudah lama saya cari.

Barangkali ngo-wi (anda berlima) dapat memberi petunjuk kepada saya ke mana saya harus mencari orang itu.� �Ah, tentu kami akan suka sekali membantu, Sung-sicu!� kata Bhe Koan Sui dengan gembira.

Agaknya dia akan merasa gembira sekali kalau dapat melakukan sesuatu untuk membantu orang muda yang gagah itu untuk membalas budi.

�Siapakah nama orang yang kau cari itu?� �Itulah sulitnya, saya sendiri tidak tahu siapa namanya, akan tetapi saya tahu bahwa dia berjuluk Hek-siauw Siucai.

Apakah di antara ngo-wi ada yang mengenalnya?� Semua orang terbelalak memandang kepada Cin Po.

�Sung-sicu, tentu saja kami mengenal orang itu.

Ada keperluan apakah sicu mencari dia?� tanya Bhe Koan Sui dengan suara agak gemetar.

�Saya mempunyai perhitungan yang harus diselesaikan dengan orang itu.

Di mana saya dapat menemukan Hek-siauw Siucai?� �Di sini!

Akulah Hek-siauw Siucai Bhe Koan Sui!� kata sasterawan itu sambil memandang dan wajahnya sedikit pucat.

Kini Cin Po yang terbelalak dan dia bangkit dari kursinya, memandang tajam ke arah lima orang yang berhadapan dengan dia terhalang meja itu.

�Ahhhh, begitukah?

Kalau begitu ngo-wi ini adalah apa yang disebut Huang-ho Ngo-liong?� �Benar sekali!

Sung sicu, ada urusan apakah engkau dengan adik kami yang termuda itu?� tanya Ouwyang Koan dengan pandang mata penuh selidik.

�Urusan hutang nyawa bayar nyawa!� kata Cin Po, kini suaranya terdengar ketus dan marah karena dia teringat akan ibunya.

Orang di depannya ini adalah pembunuh ayahnya yang membuat dia sejak kecil mengenakan pakaian berkabung!

Ibunya melarang dia mengenakan pakaian berwarna karena ini, dan sebelum dia dapat membalas dendam kematian ayahnya dia tidak boleh melepaskan perkabungannya.

�Hek-siauw Siucai, cabutlah senjatamu dan mari kita selesaikan hutang piutang nyawa ini!� �Nanti dulu, Sung sicu.

Aku tidak mengerti.

Aku berhutang nyawa siapakah?

Seingatku, yang pernah kubunuh hanyalah para penjahat dan aku tidak percaya bahwa engkau adalah putera seorang penjahat!

Tentu saja aku berani mempertanggung-jawabkan perbuatanku!

Katakan siapa ayahmu agar dapat kuingat apakah benar aku telah membunuhnya!� Hek-siauw Siucai bersikap gagah dan sedikitpun tidak kelihatan gentar melainkan penasaran, dan pertanyaan itu membuat Cin Po bingung karena dia sendiri juga tidak tahu siapa ayahnya!

�Aku tidak dapat mengatakan siapa nama ayahku, akan tetapi ibuku yang menyuruh aku membalas dendam kepada Hek-siauw Siucai.

Kalau engkau benar Hek-siauw Siucai, majulah dan mari kita selesaikan urusan ini.

Aku hanya menaati perintah ibuku!� kata Cin Po sambil mendorong kursinya dan melangkah mundur mencari tempat yang luas.

�Nanti dulu, sicu.

Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebelum kita bertanding menentukan mati hidup, aku harus tahu lebih dulu dengan siapa aku bertanding dan untuk urusan apa.

Siapakah ibumu yang menyuruh engkau membunuhku itu?

Mungkin aku mengenalnya!� �Ibuku bernama Sung Bi Li!� Hek-siauw Siucai mengerutkan alisnya.

�Bantulah aku.

Aku tidak ingat nama itu, akan tetapi di mana ibumu tinggal?� �Ibu adalah murid kepala dari Thian-san-pang!� Mata sasterawan itu terbelalak, lalu dia teringat semuanya, peristiwa yang terjadi kurang lebih dua puluh satu tahun yang lalu.

Ketika itu dia masih muda dan masih berwatak keras.

Karena pada suatu hari dia salah paham dengan ketua Thian-san-pang maka terjadi perkelahian dan dia dikalahkan oleh ketua Thian-san-pang yang bernama Tiong Gi Cinjin.

Kekalahan ini membuatnya penasaran sekali dan dia lalu berlatih keras untuk menebus kekalahannya itu.

Dan pada suatu hari, dua puluh satu tahun yang lalu, dia naik ke Thian-san untuk mencari Tiong Gi Cinjin di Thian-san-pang.

Akan tetapi dia bertemu dengan Sung Bi Li, murid kepala Thian-san-pang karena Tiong Gi Cinjin kebetulan tidak berada di rumah.

�Ahhh, tentu saja aku ingat.

Murid kepala Thian-san-pang itu ibumu?

Ketika itu ia belum menikah.

Akan tetapi mengapa ia menyuruh engkau membunuhku?

Memang benar ia pernah kalah olehku, akan tetapi sungguh aneh sekali kalau hanya karena kekalahan itu, ia menyuruh puteranya membunuhku?� �Ibu menyuruh aku membunuhmu untuk membalaskan kematian ayahku!

Engkau yang membunuh ayahku, maka engkau harus menebusnya dengan nyawamu sekarang.

Aku hanya menaati ibuku, maka engkau atau aku yang hari ini akan mati menyusul mendiang ayah!� �Nanti dulu, orang muda.

Ada sesuatu yang janggal di sini.

Ketika aku bertemu dan bertanding dengan ibumu, ia masih belum menikah.

Bagaimana mungkin aku membunuh ayahmu.?

Dengarlah, biar kuceritakan dari semula.

Setahun sebelum aku bertemu ibumu, aku telah dikalahkan dalam pertandingan melawan Tiong Gi Cinjin, ketua Thian-san-pang.

Dalam setahun aku berlatih tekun untuk membalas kekalahanku itu.� �Ah, sikapmu itu keterlaluan, Ngo-te.

Kalah dalam pertandingan adalah soal biasa,� Ouwyang Koan mencela adiknya.

�Toako, ketika itu usiaku masih muda sekali, masih belum sanggup menerima kekalahan.

Nah, kulanjutkan ceritaku.

Setelah berlatih dengan tekun selama setahun, pada suatu hari aku berkunjung ke Thian-san-pang untuk mencari Tiong Gi Cinjin.

Akan tetapi, Tiong Gi Cinjin tidak ada, yang ada hanya murid kepalanya, yaitu ibumu.

�Sung Bi Li marah mendengar aku ingin menantang gurunya.

Kami lalu bertanding.

Aku tidak ingin mencelakai ibumu maka aku hanya menotoknya.

�Siapa kira, para murid Thian-san-pang marah dan mengepungku.

Aku tidak berani melawan murid Thian-san-pang yang demikian banyaknya itu, lalu untuk menyelamatkan diri, aku menyandera ibumu.

�Dalam keadaan tertotok pingsan ibumu kularikan sampai aku terbebas dari kepungan.

Aku lalu melepaskan ibumu yang pingsan itu di lereng Thian-san dan pergi meninggalkannya.

�Nah, hanya itulah yang terjadi.

Kalau kini aku dituduh membunuh ayahmu, sungguh suatu penasaran besar apa lagi engkau tidak dapat menerangkan siapa nama ayahmu yang katanya kubunuh itu.� Tentu saja Cin Po menjadi bingung.

Dia bukan seorang pemuda yang singkat pandangan.

Dia dapat melihat kebenaran dalam ucapan siucai itu.

Akan tetapi bagaimana lagi?

Dia harus memenuhi perintah ibunya.

Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin dapat meragukan kata-kata ibunya.

Mungkinkah ibunya berbohong?

Tidak mungkin!

Maka dia lalu melangkah mundur.

�Hek-siauw Siucai, apapun yang kaukatakan, aku tetap akan menantangmu.

Bagaimanapun juga, aku lebih percaya kepada ucapan ibuku yang memesan dengan keras agar aku membunuhmu demi membalas kematian ayahku!� Mendengar ucapan itu, Tang Giok yang pendek gendut itu melompat dari tempat duduknya.

�Orang muda, kalau engkau tidak mau mendengarkan kata-kata adikku yang cukup beralasan, berarti engkau hendak mencari perkara.� �Su-ko, biarlah aku menghadapinya sendiri,� kata Hek-siauw Siucai Bhe Koan Sui.

�Bagaimanapun aku juga sudah curiga kepadanya.

�Dia mengenal baik Pat-jiu Pak-sian dan dia mampu menghentikan serangan orang-orang Khi-tan.

Aku kini bahkan mencurigainya bahwa dia adalah seorang mata-mata Khi-tan yang bertugas menyelidiki kita dan kini hanya berdalih kosong hendak membalas dendam kematian ayahnya.

�Mana mungkin orang membalas dendam kematian ayahnya yang tidak diketahui siapa namanya?

Sung Cin Po, kalau engkau menghendaki kematianku, mari majulah!� Berkata demikian, Hek-siauw Siucai lalu melompat ke depan dan melintangkan sulingnya di depan dada, siap untuk bertanding.

Cin Po menjadi semakin ragu mendengar itu semua, akan tetapi dia serba salah.

Setelah kini bertemu orang yang dicari-cari, mana mungkin pembalasan dendam tidak dilanjutkan, dan apa nanti jawabannya kepada ibunya kalau dia pulang?

Diapun tidak berani memandang rendah lawan.

Biarpun dia merasa yakin bahwa dengan tangan kosongpun dia akan mampu menang, namun untuk menghormati lawan dia lalu menghunus pedangnya.

Nampak sinar putih kemerahan berkelebat ketika pedang Yang-kiam dicabutnya.

Hek-siauw Siucai tidak menjadi gentar melihat pedang pusaka ampuh ini.

�Sung Cin Po, engkau yang menantangku, maka mulailah!� Cin Po mengelebatkan pedangnya menyerang dengan tusukan.

Bhe Koan Sui mengelak dan membalas serangan itu dengan sulingnya.

Ternyata suling itu digerakkan seperti pedang karena dia memang memainkan Go-bi-kiam-sut yang hebat.

Sulingnya menjadi gulungan sinar hitam yang mengeluarkan suara mengaung-ngaung ketika dipakai menyerang.

Akan tetapi tentu saja bagi Cin Po yang sudah memiliki kesaktian, gerakan siucai itu nampak masih terlampau lamban.

Dia lalu mengimbangi dengan pedangnya yang menjadi gulungan sinar putih kemerahan.

�Trang-trangg-trangg...!!� Ketika pedang bertemu suling berulang kali, Hek-siauw Siucai berjungkir balik ke belakang karena dia terdorong oleh tenaga raksasa yang membuatnya terlempar ke belakang.

Selagi lawan berjungkir balik ke belakang, Cin Po mengejar dan berseru, �Hek-siauw Siucai, rasakan pembalasanku!� �Traanggg...!� Pedangnya ditangkis oleh pedang di tangan Tang Giok.

�Engkau mau membunuh adikku?

Harus melampaui mayatku lebih dulu!� katanya dan dia menyerang dengan pedangnya.

Gerakannya juga dahsyat sekali karena ilmu pedangnya Go-bi-kiam-sut digerakkan secara hebat.

Tiga orang kakak yang lain juga sudah mencabut pedang dan kini mereka semua mengepung Cin Po.

�Orang muda, kalau benar engkau mata-mata Khi-tan, terpaksa kami akan mengeroyokmu!

Engkau musuh kami dan setiap orang mata-mata Khi-tan harus mati di tangan kami!� Setelah berkata demikian lima orang itu serentak maju mengeroyok!

Hek-siauw Siucai tidak percaya bahwa pemuda itu hendak membalas dendam, dan yakin bahwa dia tentu mata-mata Khi-tan, mungkin sekutu Pat-jiu Pak-sian yang lihai.

Oleh karena itu, diapun tidak raga-ragu lagi untuk mengeroyok karena mata-mata Khi-tan adalah musuh yang harus dibunuh!

Terjadilah perkelahian yang amat seru.

Setelah dikeroyok lima barulah keadaannya agak seimbang.

Lima orang Huang-ho Ngo-liong itu terkejut bukan main.

Mereka berlima maju bersama, namun tetap saja mereka tidak mampu mendesak, pemuda itu memiliki gerakan yang luar biasa sekali.

Ilmu silatnya tinggi dan gerakannya seperti seekor burung saja.

Apa lagi pedangnya demikian hebat sehingga dalam beberapa gebrakan saja pedang Tang Giok dan pedang Ji Siok yang berani beradu secara langsung telah patah menjadi dua potong!

Cin Po tidak mau memperpanjang perkelahian itu.

Dia hanya ingin membunuh Hek-siauw Siucai seperti yang dipesan ibunya dan dia tidak mau membunuhi orang-orang gagah yang patriotik itu.

Maka, dia lalu mengerahkan khi-kang dan kekuatan sihirnya, lalu membentak dengan suara nyaring sekali.

Lima orang itu seketika lumpuh dan roboh bergelimpangan!

Tentu saja mereka terkejut setengah mati menghadapi serangan melalui bentakan aneh itu.

�Hek-siauw Siucai, pilihlah.

Engkau ingin membunuh diri sendiri atau terpaksa harus aku yang membunuhmu?� Empat orang kakaknya berlutut dan menghadap Cin Po.

�Kalau hendak membunuh, bunuhlah kami semua!

Kami yakin bahwa adik kami tidak bersalah.

Kalau memang dia bersalah, tidak usah engkau datang menghukumnya, kami sendiri yang akan menghukum.

Kami berpantang melakukan segala bentuk kejahatan!

Kami sudah kalah, mau bunuh cepatlah bunuh, kami tidak takut mati!� Hek-siauw Siucai bangkit berdiri.

�Ke empat koko, jangan berbuat bodoh.

Dia menghendaki kematianku, biarlah aku mati di depannya agar dia tidak mengganggu kalian lagi.

Aku sudah kalah dan aku layak mati!� Berkata demikian, Hek-siauw Siucai menggerakkan sulingnya menghantam kepalanya sendiri.

�Tranggg...!!� Suling itu terlepas dari tangannya, mencelat entah ke mana.

Ternyata suling itu tadi ditangkis oleh Cin Po!

Melihat sikap mereka, Cin Po semakin ragu bahwa Hek-siauw Siucai memang bersalah.

Dia harus tanya lagi kepada ibunya dengan jelas.

Kelak masih belum terlambat mencarinya untuk membunuhnya setelah ibunya memberi penjelasan.

Dia harus tahu siapa nama ayahnya dan bagaimana ayahnya sampai terbunuh oleh Hek-siauw Siucai.

�Orang muda, kenapa engkau lakukan itu?� tanya Hek-siauw Siucai dengan heran dan juga penasaran.

�Jangan mengira aku pengecut dan penakut.

Biarlah aku mati agar ke empat kakakku tidak kauganggu lagi.

Apakah engkau hendak menghinaku dengan mencegah aku membunuh diri?� Cin Po menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

�Sikap kalian yang gagah perkasa meragukan hatiku dan aku akan bertanya lagi kepada ibuku.

Kalau sudah yakin, barulah aku akan mencarimu lagi!� Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Cin Yo lenyap dari depan mereka.

�Orang muda yang sakti!� kata Tang Giok.

Ouwyang Koan memandang kepada adiknya yang termuda.

�Ngo-te, sesungguhnya apakah yang telah kau lakukan terhadap ibunya atau ayahnya?

Aku melihat pemuda itu seorang yang gagah perkasa dan kiranya tidak mungkin dia menjadi mata-mata Khi-tan.� �Toako, yang kuceritakan tadi adalah benar.

Aku berani bersumpah.

Apakah toako juga percaya bahwa aku telah membunuh orang tanpa berani bertanggung jawab?

�Ketika aku bertemu ibu kandung pemuda itu, ia masih gadis.

Bagaimana aku tahu-tahu didakwa telah membunuh suami gadis itu yang sama sekali aku tidak kenal?

�Dan yang amat mencurigakan, bagaimana pemuda itu sendiri tidak mengetahui nama ayah kandungnya?

Aku yakin terdapat rahasia yang aneh dalam urusan ini.� �Kita berharap saja dia akan mendapatkan keterangan yang benar sehingga dia tidak akan mencari kita lagi.

Ilmu kepandaiannya sungguh hebat dan dia memiliki tenaga mujijat untuk mengalahkan kita.

Kita sama sekali bukan lawan pemuda aneh itu,� kata pula Ouwyang Koan.

�Kita tidak perlu takut, toako.

Yang penting, aku tidak bersalah.

Soal mati hidup adalah permainan kita sehari-hari, bukan?

Tidak mengapa mati, asal mati tidak dalam kesalahan, melainkan dalam kebenaran,� kata Hek-siauw Siucai dengan sikap yang gagah.

Para kakaknya mengangguk membenarkan.

Mereka adalah pejuang-pejuang membela rakyat dan dalam setiap pertempuran melawan pasukan Khi-tan, mereka selalu mempertaruhkan nyawa.

Dengan keberanian luar biasa Hui Ing akhirnya tiba juga di lereng Bukit Menjangan.

Pada hal, sepanjang jalan dara ini mendengar keterangan bahwa bukit itu keramat dan ditakuti semua orang.

Di puncak bukit terdapat serombongan orang yang galak dan berilmu tinggi.

Yang Kim Sun yang melakukan perjalanan bersamanya, menyatakan kekhawatirannya.

�Sun-ko, See-thian Tok-ong itu lihai bukan main.

Kukira sebaiknya engkau menanti di lereng ini, biar aku saja yang menemuinya.

Jadi, aku tidak perlu harus melindungimu kalau ada bahaya mengancam.

Percayalah kepadaku, dia sakti dan ahli sihir.� Kim Sun menurut dan menanti di lereng itu.

Hui Ing tidak memperdulikan peringatan penduduk dusun itu.

Mereka boleh jadi takut kepada See-thian Tok-ong, akan tetapi ia justeru ingin bertemu dengan datuk itu.

Ia melangkah dengan waspada karena tahu bahwa ia telah memasuki daerah kekuasaan datuk itu.

Tiha-tiba terdengar suara suitan bersambung-sambung dan segera dibalas oleh suitan dari arah lain.

Tahu-tahu Hui Ing telah terkepung.

Ia memilih padang rumput yang luas agar mendapatkan tempat yang leluasa kalau sampai terjadi pengeroyokan nanti dan ia berdiri menanti.

Tidak lama kemudian, dari segala penjuru bermunculan orang-orang yang berpakaian hitam mengepungnya.

Jumlah mereka ada tujuh belas orang.

Dan mereka semua memegang senjata tajam, dengan sikap mengancam memperkecil lingkaran mereka mengepung Hui Ing.

�Siapakah engkau, nona?

Memasuki wilayah kami tanpa ijin!� bentak seorang di antara mereka.

Dengan sikap tenang Hui Ing memandang ke sekeliling, memutar tubuhnya dengan tangan menuding ke arah mereka semua.

�Apakah kalian tidak dapat melihat?

Aku adalah seorang gadis berkepala harimau!� Terdengar gadis itu mengeluarkan suara auman seperti harimau dan tujuh belas orang itu mundur dengan mata terbelalak ketakutan.

�Siluman...!� Mereka berseru dan hendak lari karena mereka melihat bahwa Hui Ing benar-benar menjadi seorang gadis yang berkepala harimau!

�Jangan lari!� Terdengar bentakan dan muncullah Kang-siauw Tai-hiap Kam Song Kui, murid See-thian Tok-ong.

Bentaknya mengandung khi-kang kuat sehingga Hui Ing melepaskan kekuatan sihirnya.

Di antara para pengepung itu terdapat bekas anak buah Tok-coa-pang dan kini ada yang mengenal Hui Ing lalu berseru nyaring.

�Ia adalah gadis yang telah membunuh Tok-coa Pang-cu berdua!� Kam Song Kui juga teringat.

Gadis ini bersama Sung Cin Po pernah ditawan oleh gurunya, akan tetapi kemudian tertolong secara aneh oleh angin berpusing.

Mendengar gadis ini yang telah membunuh kakak beradik Coa, ketua dan wakil ketua Tok-coa-pang, Kam Song Kui memberi perintah.

�Tangkap gadis ini!!� Dia sendiri sudah menerjang maju dengan suling bajanya.

Hui Ing menangkis dan mengamuk, karena tujuh belas anak buah itupun agaknya hendak berlomba untuk menangkapnya.

Hui Ing mencabut pedang Im-kiam dan pedang itu mengeluarkan sinar putih seperti perak yang bergulung-gulung seperti seekor naga putih mengamuk.

�Ada apa ribut-ribut ini?� terdengar bentakan dan muncullah See-thian Tok-ong bersama Ban Koan.

Melihat munculnya dua orang ini, Hui Ing juga berteriak.

�Tahan senjata!

Aku ingin bicara dengan See-thian Tok-ong!� See-thian Tok-ong memberi isyarat agar orang-orangnya menghentikan pengeroyokan.

Dia memandang dengan senyum mengejek, sedangkan Ban Koan memandang dengan wajah ketakutan.

�Nona muda, engkau hendak bicara apakah denganku?� tanya See-thian Tok-ong.

Biarpun menghadapi datuk barat yang ia tahu amat sakti, Hui Ing tidak menjadi gentar.

Dengan berani ia menentang sinar mata orang tinggi besar bermuka hitam dan bersorban itu, dan dari pertemuan sinar mata ini saja ia tahu bahwa datuk inipun memiliki kekuatan mujijat dari ilmu hitam, yang amat berwibawa dan mempunyai pengaruh yang tidak wajar.

Namun, ia mengangkat mukanya dan berkata dengan suara lantang dan dingin.

�See-thian Tok-ong, engkau adalah seorang datuk dari barat dan selamanya tidak mempunyai urusan dengan Thian-san-pang.

Aku adalah Kwan Hui Ing, puteri mendiang ketua Thian-san-pang!

�Kini aku datang untuk menangkap Ban Koan karena dia adalah seorang murid Thian-san-pang yang murtad, seorang pengkhianat keji.

Aku mengharap engkau orang tua tidak akan mencampuri urusan dalam Thian-san-pang dan membiarkan aku menangkap Ban Koan ini!� Ia menudingkan telunjuknya kepada Ban Koan yang menjadi pucat.

�Suhu, gadis ini yang telah membunuh kakak beradik Coa dari Tok-coa-pang!� tiba-tiba Kam Song Kui berkata kepada gurunya.

Mendengar ini, alis yang tebal dan panjang itu berkerut, dan dia bertanya dengan suara dalam.

�Benarkah, engkau telah membunuh ketua dan wakil ketua Tok-coa-pang, nona?� �Benar, karena mereka bersekongkol dengan Ban Koan dan merampas Thian-san-pang!� jawab Hui Ing dengan berani.

�Hemm, kedua orang kakak beradik Coa adalah sahabat kami, engkau telah membunuh mereka.

Maka aku tidak dapat mengampunimu dan engkau sudah selayaknya dibunuh!� Akan tetapi sebelum See-thian Tok-ong turun tangan, Ban Koan sudah mendekatinya.

�Locianpwe, harap jangan bunuh ia, akan tetapi tawan saja.

Dengan ia menjadi tawanan kita, kita dapat memaksa mereka menyerahkan kembali Thian-san-pang!� See-thian Tok-ong mengangguk-angguk dan tertawa bergelak.

Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 4

Baca Juga: Jaka Lola 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert