Eps 5 Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo.
�Nona, mulai sekarang engkau menjadi tawananku.
Menyerah dan berlututlah engkau nona muda!� Setelah berkata demikian, tangannya membuat gerakan.
memerintah dan sinar matanya mencorong menatap wajah Hui Ing.
Akan tetapi, diam-diam Hui Ing juga sudah mengerahkan tenaga sihirnya menolak pengaruh yang keluar dari pandang mata, suara dan gerakan tangan kakek tinggi besar itu.
�See-thian Tok-ong, aku tidak akan menyerah, apa lagi berlutut kepadamu!� See-thian Tok-ong terkejut bukan main.
Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan bentakan nyaring.
Diserang dengan tenaga sihir seperti ini, lawan biasanya akan merasa lumpuh dan roboh.
Akan tetapi gadis itu berdiri tegak, matanya mencorong, bahkan ia melintangkan Im-kiam di depan dadanya dengan sikap menantang.
Sekarang maklumlah See-thian Tok-ong bahwa gadis itu memang memiliki kekebalan terhadap pengaruh sihirnya, maka dia menjadi penasaran dan juga malu.
Diambilnya pedang melengkung yang menempel di punggungnya dan diapun menggereng sambil menerjang ke arah Hui Ing dengan gerakan seperti angin puyuh.
Hui Ing menggerakkan pedang Im-kiam untuk menangkis dan balas menyerang.
Akan tetapi dalam hal ilmu pedang, biarpun ilmu pedang Thian-san-kiam-sut yang dimainkannya telah disempurnakan dengan petunjuk Bu-beng Lo-jin, Tetap saja dara itu masih belum mampu menandingi See-thian Tok-ong yang sudah banyak pengalaman dan yang memiliki sin-kang amat kuat itu.
Apa lagi ke dua tangannya dapat mulur sehingga beberapa kali Hui Ing terkejut karena tidak mengira bahwa pedang itu dapat menjadi panjang karena tangan yang mulur.
Betapapun juga, dengan gigihnya ia membela diri dan dapat menahan desakan kakek itu sampai limapuluh jurus.
Akhirnya, tangan kiri See-thian Tok-ong mulur dan dapat mencengkeram pundak Hui Ing, lalu menotoknya dan gadis itu roboh terguling.
Ban Koan yang sudah siap cepat meringkus dan membelenggu kedua tangannya dengan kuat sekali.
Dia merasa girang bukan main karena telah mendapatkan jalan untuk merampas kembali Thian-san-pang dari tangan Sung Bi Li, yaitu dengan menjadikan gadis ini sebagai sandera!
Dia tahu benar akan sifat mata keranjang Kam Song Kui, maka karena tidak ingin gagal mendapatkan kembali kedudukannya sebagai ketua Thian-san-pang, dia sendiri yang menjaga agar gadis itu tidak diganggu oleh murid See-thian Tok-ong itu.
Tak lama kemudian, berangkatlah Ban Koan, See-thian Tok-ong dan Kam Song Kui menuju ke Thian-san, membawa Hui Ing sebagai tawanan.
Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa perjalanan mereka dibayangi seseorang, dan orang itu bukan lain adalah Yang Kim Sun.
Pemuda ini terkejut melihat Hui Ing menjadi tawanan, akan tetapi dia seorang yang cerdik, tidak nekat mencoba untuk menyerang mereka.
Dia tahu bahwa kalau Hui Ing saja tertawan, apa lagi dia.
Maka, dia hanya membayangi saja dari jauh.
Sung Bi Li menyambut puteranya dengan kecewa dan marah.
�Apa katamu?
Engkau sudah berhadapan dengan Hek-siauw Siucai dan tidak membunuhnya?
Bagaimanakah engkau ini?
Aku bersusah payah mendidikmu hanya dengan satu tujuan ini, yaitu membunuh musuh besar itu.
Dan sekarang engkau mengatakan bahwa engkau tidak dapat membunuhnya?� Sung Bi Li berkata gemas, wajahnya berubah merah.
Sudah dua puluh tahun ia menanti saat yang dinanti-nanti ini, yaitu mendengar bahwa puteranya telah dapat membunuh musuh besarnya, dan apa kenyataannya?
�Harap ibu suka menenangkan hati, ibu.
Dengarkanlah dulu penjelasanku,� kata Cin Po dengan lembut.
�Sama sekali aku tidak bermaksud untuk tidak mentaati perintah ibu, sama sekali tidak bermaksud untuk mengecewakan hati ibu.
Akan tetapi, ibu, setelah bertemu dengan Hek-siauw Siucai, aku menghadapi kenyataan yang mengejutkan.
�Hek-siauw Siucai dan empat orang kakaknya, yang terkenal dengan sebutan Huang-ho Ngo-liong, adalah pendekar-pendekar sejati, patriot-patriot gagah perkasa yang membela rakyat dari pengacauan orang-orang Khi-tan di perbatasan.
Mereka sama sekali bukan penjahat!� �Penjahat atau bukan, Hek-siauw Siucai telah membunuh ayahmu, dan dia harus dibalas!� bentak Bi Li yang masih kecewa.
�Justeru itulah yang membingungkan hatiku, ibu.
Dia bersumpah bahwa dia tidak mengenal ayah kandungku, tidak merasa telah membunuhnya.
Dan dia kulihat bukan seorang yang suka berbohong, orangnya gagah perkasa, seorang pendekar sejati.� �Cukup!
Apakah engkau lebih percaya dia dari pada ibumu sendiri?
Dia bohong kalau mengatakan tidak mengenal, apakah dia juga berkata tidak mengenal aku?� �Dia bertanya siapa ibu dan aku sudah memberitahukan, dan dia mengaku mengenal ibu.
Bahkan dia menduga apakah ibu mendendam kepadanya karena ibu pernah dikalahkan olehnya?
Setahu dia, ibu belum bersuami ketika itu.
Maka, aku pulang dulu untuk minta penjelasan kepadamu, ibu.
�Siapakah sebenarnya nama ayahku?
Ketika aku ditanya siapa ayahku, aku tidak dapat menjawab!
�Setelah aku mengetahui nama ayahku, baru aku akan kembali kepada Hek-siauw Siucai dan kutanyakan kepadanya.
Siapa ayahku dan bagaimana sampai dia tewas di tangan Hek-siauw Siucai?� Ditanya demikian, tiba-tiba Bi Li menutupi muka dengan kedua tangannya dan menangis.
Cin Po menjadi bingung sekali, akan tetapi pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar.
Seorang anggauta Thian-san-pang berlari masuk dengan muka pucat.
�Pang-cu...
ada...
ada Ban Koan datang berkunjung...!� katanya.
Mendengar ini, Bi Li menghentikan tangisnya dan bersama Cin Po ia melangkah keluar.
Dan di luar ternyata telah berdiri Ban Koan dan See-thian Tok-ong bersama muridnya Kam Song Kui.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, Hui Ing telah menjadi tawanan mereka!
Gadis itu diikat ke dua tangannya dan Ban Koan yang berdiri di dekatnya menempelkan sebatang pedang di leher gadis itu!
Tentu saja Bi Li dan Cin Po terkejut sekali, akan tetapi melihat Hui Ing dalam ancaman maut dan di situ terdapat pula datuk sakti See-thian Tok-ong, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
�Ban Koan, apa yang kaulakukan itu?� bentak Sung Bi Li.
Ban Koan tertawa.
�Ha-ha, sumoi, Kau kira aku sudah kalah?
Lihat, Hui Ing sudah berada di ujung pedangku.
Kembalikan Thian-san-pang kepadaku dan aku tidak akan membunuh Hui Ing.
Berjanjilah bahwa engkau menyerahkan Thian-san-pang kepadaku dan selamanya tidak akan menuntut, atau kalau tidak, gadis ini akan kubunuh lebih dulu baru kemudian kalian semua akan tewas!� Dengan adanya See-thian Tok-ong di situ, Hui Ing tidak dapat mempengaruhi Ban Koan dengan sihirnya dan ia benar-benar tidak berdaya.
Diam-diam Cin Po memutar otaknya.
Dia membiarkan ibunya berbantahan dengan Ban Koan.
Bi Li memaki-maki Ban Koan sebagai seorang pengkhianat tak tahu malu.
Tiba-tiba Cin Po menudingkan telunjuknya ke arah See-thian Tok-ong.
�See-thian Tok-ong, semua ini gara-gara engkau, dan aku akan membuat perhitungan denganmu, Ing-moi, lawanlah!� Dan tanpa menanti lebih lanjut, Cin Po sudah menggunakan pedang Yang-kiam untuk menyerang See-thian Tok-ong.
Serangannya sungguh dahsyat sekali sehingga datuk itu terpaksa mencurahkan seluruh perhatiannya, mencabut pedang melengkungnya dan menangkis.
Segera ke duanya terlibat dalam pertandingan yang amat seru.
Melihat See-thian Tok-ong sudah sibuk melawan kakaknya, Hui Ing memandang kepada Ban Koan, �Ban Koan, ular di tanganmu itu menyerang dirimu sendiri.
Lihat!� Ban Koan berteriak melihat betapa pedangnya berubah menjadi ular yang kini membalik dan hendak mematuknya.
Terpaksa dia melompat ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Hui Ing untuk meloncat ke dekat ibunya.
Bi Li menggerakkan pedangnya membabat putus ikatan tangan Hui Ing.
Akan tetapi, pada saat itu Kang-siauw Taihiap Kam Song Kui juga sudah menggerakkan suling bajanya menyerang Hui Ing yang baru saja terlepas ikatan tangannya.
Serangan itu hebat sekali datangnya dan Bi Li menangkis dengan pedangnya untuk melindungi puterinya.
�Traaggg...!� Bi Li terhuyung ke belakang dan merasa betapa tangannya seperti lumpuh.
Kam Song Kui melanjutkan serangannya kepada Hui Ing yang masih kaku ke dua tangannya karena lama dibelenggu.
Hui Ing terpaksa melempar tubuh ke belakang dan bergulingan untuk menghindarkan diri dari hujan serangan yang dilakukan Kam Song Kui kepadanya.
Dalam keadaan yang gawat itu, tiba-tiba muncul Yang Kim Sun menerjang Kam Song Kui.
Kam Song Kui terkejut dan cepat mengalihkan penyerangannya kepada pemuda Kun-lun-pai ini sehingga mereka bertempur dengan seru dan hebatnya.
Sementara itu, Hui Ing merasa girang melihat munculnya kawan baru itu dan ia mengurut-urut kedua pergelangan tangannya untuk melancarkan darahnya.
Ia melihat betapa pedangnya Im-kiam yang tadi dipergunakan Ban Koan untuk menodongnya telah terlempar dari tangan Ban Koan yang ketakutan melihat pedang itu beruhah menjadi ular dan secepat kilat Hui Ing lalu melompat ke arah pedang yang menggeletak di atas tanah itu dan mengambilnya.
Hui Ing yang melihat betapa Cin Po bertanding dengan See-thian Tok-ong yang amat sakti dan berbahaya, lalu membantu kakaknya itu karena ia melihat bahwa Yang Kim Sun agaknya mampu mengimbangi permainan suling Kam Song Kui.
Ban Koan sudah tidak terpengaruh sihir lagi.
Kini dia menghadapi Bi Li.
Melihat anak buah Thian-san-pang masih mengepung tempat itu, dia lalu memberi perintah, �Kawan-kawan aku datang kembali untuk memimpin kalian.
Hayo tangkapi orang-orang ini!� Akan tetapi, para anggauta Thian-san-pang tidak ada yang bergerak mentaati perintahnya, bahkan mereka memandang kepada Ban Koan dengan sinar mata penuh kebencian.
�Ban Koan, tidak perlu engkau membujuk anggauta kami, sia-sia saja.
Mereka tidak mau kau bawa menyeleweng lagi.
Riwayatmu sudah tamat, pengkhianat!� Bi Li lalu menyerang dengan pedangnya, menusukkan pedangnya ke arah dada Ban Koan.
Ban Koan menangkis dan meloncat ke belakang.
�Sumoi, aku tidak ingin membunuhmu!� katanya, akan tetapi sebagai jawaban Bi Li menyerang lagi dengan penuh kebencian.
Mereka lalu bertanding dengan hebat.
Sebetulnya, dalam hal ilmu pedang Thian-san-kiam-sut, tingkat Bi Li lebih tinggi dari pada Ban Koan.
Akan tetapi sejak Ban Koan menjadi anggauta Tok-coa-pang dan mempelajari ilmu dari perkumpulan itu, juga dia memakai baju kebal senjata, maka kalau dia menghendaki, tentu dia akan dapat membuat Bi Li roboh.
Akan tetapi kenyataannya dia memang tidak ingin membunuh Bi Li, bahkan melukaipun tidak.
Sampai sekarang dia mencinta Bi Li!
Sebetulnya pertandingan antara See-thian Tok-ong melawan Cin Po amat seru dan seimbang.
Biarpun Cin Po sudah mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi dari Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin, Bahkan ilmu-ilmu itu menjadi sempurna setelah dia menerima petunjuk Bu Beng Lojin, akan tetapi yang dia lawan adalah See-thian Tok-ong seorang datuk barat yang sakti.
Apa lagi See-thian Tok-ong memiliki ilmu hitam yang amat kuat, yang besar sekali pengaruhnya dalam gerakan silatnya, maka Cin Po harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk dapat mengimbangi datuk sesat itu.
Akan tetapi, begitu Hui Ing menyerbu masuk membantunya, terjadi ketidak-seimbangan dan mulailah See-thian Tok-ong terdesak.
Terutama sekali ketika dua orang muda itu tidak hanya menggunakan pedang mereka mendesak, sepasang pedang Im-yang Siang-kiam yang ampuh, akan tetapi juga mereka menggunakan tangan kiri menyerang dengan Ngo-heng-sin-kun.
Dari tangan kiri mereka itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat.
Ketika dalam keadaan terdesak itu tangan kiri Cin Po sempat mengenai dada See-thian Tok-ong, kakek itu terjengkang.
Dia berjungkir balik beberapa kali dan setelah menginjak tanah, ternyata ujung bibirnya berdarah, tanda bahwa dia muntah darah dan sudah menderita luka dalam.
Maklum bahwa keadaan dapat berbahaya baginya, See-thian Tok-ong membanting sebuah benda yang mengakibatkan tempat itu digulung asap hitam yang tebal.
See-thian Tok-ong juga melihat keadaan muridnya yang belum mampu mengalahkan lawannya, maka dia menerjang ke depan dan memegang tangan muridnya lalu diajak lari di balik asap tebal.
Tidak mungkin mengejar See-thian Tok-ong dalam keadaan seperti itu, dapat berbahaya sekali, maka Cin Po segera melompat mendekati ibunya yang masih bertanding melawan Ban Koan.
�Ibu, biarlah aku yang menghadapi pengkhianat ini!� kata Cin Po.
Dia melangkah maju dan Ban Koan yang menjadi ketakutan itu terbelalak.
Tak disangkanya sama sekali bahwa See-thian Tok-ong dan Kam Song Kui meninggalkannya begitu saja.
Tadinya dia mengharapkan bantuan anak buah Thian-san-pang, akan tetapi anak buah itu sama sekali tidak taat lagi kepadanya.
Dan setelah See-thian Tok-ong dan muridnya pergi meninggalkannya seorang diri tentu saja dia menjadi ketakutan sekali.
Habislah semua harapannya untuk berkuasa kembali di Thian-san-pang dan kini dia malah dihadapi Cin Po yang ditakutinya!
Dengan nekat Ban Koan lalu menggerakkan pedangnya menyerang Cin Po.
Cin Po menangkis dengan Yang-kiam.
�Trakkk...� Pedang di tangan Ban Koan patah menjadi dua potong.
Ban Koan mundur-mundur dan wajahnya pucat sekali.
�Tidak..., jangan...!
Cin Po, jangan bunuh aku..., jangan bunuh ayah kandungmu sendiri...!� katanya dalam keadaan amat ketakutan.
Mendengar ini, Cin Po mengerutkan alisnya.
�Apa kau bilang?
Siapa ayah kandungku?� �Akulah ayah kandungmu, Cin Po.
Engkau puteraku..., maka jangan bunuh aku, Cin Po...!� Ban Koan meratap dan dia menjatuhkan diri berlutut.
�Bohong...!� Terdengar teriakan nyaring dan yang berteriak ini adalah Bi Li yang sekali meloncat sudah berada di dekat Ban Koan dan menodongkan pedangnya.
�Pombohong busuk kau...!� �Tidak, sumoi...
engkau tentu tahu betapa aku amat mencintamu...
ketika engkau dibawa Hek-siauw Siucai dan ditinggalkan di semak belukar dalam keadaan pingsan itu, aku...
aku tidak dapat menahan diri...
aku menggaulimu...
dan Cin Po...
Cin Po ini adalah anakku, anak kandung kita, sumoi.� �Jahanam keparat!� Wajah Bi Li menjadi pucat sekali, kemudian berubah merah sekali.
�Masih belum terlambat, sumoi.
Marilah kita bangun rumah tangga baru, aku...
aku cinta padamu dan kita sudah mempunyai seorang putera...� �Jahanaaaaaam...!� Pedang itu berkelebat dan putuslah leher Ban Koan, kepalanya menggelinding seperti bola, tubuhnya terjengkang dan darah muncrat-muncrat dari lehernya.
Bi Li membuang pedangnya, menutupi muka dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu.
Cin Po sendiri terbelalak memandang itu semua.
Dia tetap tidak mengerti.
Ibunya mendidiknya sejak kecil untuk membuat dia membalas dendam atas kematian ayah kandungnya kepada Hek-siauw Siucai, dan kini tiba-tiba Ban Koan mengaku sebagai ayah kandungnya!
Dia melihat ibunya terhuyung dan hampir roboh, maka cepat dia meloncat dan tepat sekali menerima tubuh ibunya yang terguling pingsan.
Cin Po lalu memondong tubuh ibunya diajak masuk diikuti oleh Hui Ing dan Yang Kim Sun yang sudah dikenalnya pula.
Dalam perjalanan masuk itu Hui ing sempat bertanya kepada pemuda Kun-lun-pai itu.
�Kenapa engkau baru muncul sekarang?� �Maafkan aku, Ing-moi.
Melihat engkau ditawan See-thian Tok-ong, aku tidak berdaya.
Kalau aku muncul dan berusaha menolongmu tentu akan sia-sia malah aku tentu ditangkap pula.
Maka aku membayangi dan mengikuti sampai di sini, mencari-cari kesempatan untuk menolongmu.� Hui Ing mengangguk puas.
Temannya ini ternyata setia, terus mengikuti sampai ke Thian-san-pang.
Memang pemuda itu benar juga.
Kalau pemuda itu nekat hendak menolongnya, tentu dia tertangkap atau bahkan dibunuh oleh See-thian Tok-ong.
Cin Po merebahkan ibunya di atas pembaringan.
Setelah siuman, Bi Li menangis dan mengeluh panjang pandek.
Cin Po menghibur ibunya, mengatakan bahwa kini Ban Koan telah tewas, dan ibunya tidak perlu bersedih lagi.
�Aihh, engkau tidak tahu...!� kata ibunya menangis.
Ketika itu yang berada di dalam kamar hanya Hui Ing dan Cin Po, sedangkan Yang Kim Sun yang merasa tidak enak sebagai orang luar, menunggu di ruangan depan.
�Apakah sesungguhnya yang terjadi, ibu?
Aku masih belum mengerti sama sekali.� �Dia, ayah kandungmu, Cin Po.
Ayah kandungmu...
ahhh, aku sendiripun baru tahu sekarang.� �Akan tetapi ibu selalu mengatakan bahwa ayah kandungku terbunuh oleh Hek-siauw Siucai...� �Dengarlah ceritaku, Cin Po.
Aku telah bersalah, aku telah berdosa padamu.
Dengarlah ceritaku, engkau juga, Hui Ing, agar ceritaku menjadi contoh bagi kalian berdua.
�Duapuluh tahun lebih yang lalu, tepat seperti diceritakan Hek-siauw Siucai kepadamu, Cin Po, Hek-siauw Siucai datang ke Thian-san-pang untuk mencari kakek gurumu, yaitu mendiang Tiong Gi Cinjin.
Mereka berdua pernah bentrok dan dalam pertandingan itu Hek-siauw Siucai dikalahkan kakek gurumu.
�Agaknya dia merasa penasaran dan dia datang untuk menebus kekalahannya.
Akan tetapi kakek gurumu sedang tidak berada di rumah, yang ada hanya aku yang menjadi murid kepala dan sedang melatih murid-murid lain.
Hek-siauw Siucai mencela ilmu silatku dan kami bertanding.
�Dia berhasil menotokku dan melihat para murid Thian-san-pang hendak mengeroyoknya, dia lalu menawanku, dan membawaku turun dari puncak untuk mencegah para murid Thian-san-pang mengejarnya.
Di lereng, dia lalu meninggalkan aku di padang rumput dalam keadaan pingsan.
�Ketika aku siuman kembali dari pingsan, aku mendapatkan diriku telah ternoda.
Tentu saja aku menganggap bahwa yang menodai aku adalah Hek-siauw Siucai dan aku bersumpah untuk membalas dendam kepadanya.
�Peristiwa itu membuat aku mengandung Cin Po dan lahirlah engkau!
Aku lalu mendidikmu dengan cita-cita bahwa kalau engkau sudah besar, engkau akan membalaskan sakit hatiku kepada Hek-siauw Siucai dan membunuhnya!� �Akan tetapi, menurut pendapat ibu, bukankah dia itu ayah kandungku?� �Itulah, anakku.
Maafkan ibumu.
Saking sakit hatiku karena peristiwa itu, aku membencinya, aku membencimu pula dan aku menghendaki agar ayah anak saling berbunuhan!
Itulah pembalasan dendamku!
�Akan tetapi kemudian muncul Ban Koan dengan pengakuannya!
Tuhan Maha adil, aku sendiri yang membunuhnya.
Bukan engkau.
Engkau anak Ban Koan, biarpun aku sendiri baru mengetahuinya sekarang.� Wajah Cin Po menjadi pucat sekali.
Ingin rasanya dia menangis menggerung-gerung kalau teringat bahwa dia putera Ban Koan, manusia yang licik dan curang itu, yang berkhianat dan berwatak buruk sekali, bahkan Ban Koan yang sudah tahu bahwa dia adalah anak kandungnya pernah berusaha untuk membunuhnya dengan menendangnya ke dalam jurang!
Ayah macam apa itu?
�Aih...
ibu..., aku akan lebih berbahagia kalau aku menjadi anak Hek-siauw Siucai...!� katanya dengan suara sedih sekali.
�Aku mengerti, anakku.
Sekarang, setelah aku dapat membalas dendamku kepada orang yang bersalah, engkau tidak perlu berkabung lagi.� �Tidak, ibu!
Aku akan tetap berkabung, berkabung untuk diriku sendiri yang mempunyai ayah kandung begitu jahatnya!
Ini semua gara-gara Tok-coa-pang dan See-thian Tok-ong.
Ibu, aku akan mencari See-thian Tok-ong, aku akan membunuhnya sekedar untuk menebus dosa-dosa ayah kandungku yang jahat!� Setelah berkata demikian, Cin Po meloncat dengan cepat dan berkelebat lenyap dari situ.
�Cin Po...!� Ibunya berteriak memanggil sambil menangis.
Hui Ing merangkul ibunya.
�Sudahlah, ibu.
Koko sedang berduka sekali, percuma saja mencoba untuk menghalangi dia pergi.
Ibu harus istirahat dulu.� �Aku...
aku bersalah kepadanya, aku berdosa...� �Sudahlah, ibu,� Hui Ing merangkul dan ibunya lalu menangis dalam pelukannya.
Dendam, dalam bentuk bagaimanapun, hanya meracuni hati sendiri.
Dendam menimbulkan kebencian yang amat mendalam dan di dalam kebencian terkandung kekerasan dan kekejaman.
Bi Li yang mendendam itu bahkan mendendam kepada anaknya sendiri, karena anak itu dilahirkan bukan atas kehendaknya, bahkan berlawanan dengan kehendaknya.
Akan tetapi setelah anaknya besar, mulai terasa kasih sayangnya kepada anaknya sehingga dia merasa berdosa telah bermaksud mengadu anaknya dengan ayah kandung anak itu sendiri.
Bi Li jatuh sakit.
Hui Ing yang merawatnya dan selama itu, Yang Kim Sun dengan setia menunggu di Thian-san-pang.
Dia berada di situ sebagai tamu.
Ketika Bi Li berangsur sehat kembali, Yang Kim Sun sudah tinggal di Thian-san-pang selama satu bulan.
Pada suatu hari Bi Li seolah baru tahu bahwa di Thian-san-pang ada tamu, yaitu pemuda yang tempo hari membantu mereka menghadapi See-thian Tok-ong dan puteranya.
�Hui Ing, siapakah pemuda itu?
Dan kenapa sampai sekarang dia masih berada di sini?� tanya Bi Li.
Mendengar pertanyaan ini, wajah Hui Ing menjadi merah sekali.
Selama sebulan ini, hubungannya dengan Kim Sun menjadi semakin akrab, bahkan Kim Sun telah menyatakan perasaan hatinya yang penuh cinta kepadanya!
Dan dara inipun membalas cintanya karena Hui Ing yang kehilangan Cin Po sebagai pria yang dicintanya, kini mendapatkan pengganti dalam diri Kim Sun.
Ia sudah melepaskan harapannya dari Cin Po yang ia tahu mencinta Ciok Hwa yang berwajah buruk.
�Dia adalah sahabatku, ibu.
Namanya Yang Kim Sun, murid Kun-lun-pai,� jawab Hui Ing sambil menundukkan mukanya.
�Bukankah dia yang datang membantu kita menghadapi See-thian Tok-ong dengan puteranya?� �Benar, ibu.
Dia yang telah menandingi Kang-siauw Tai-hiap Kam Song Kui, murid See-thian Tok-ong itu.� �Hemm, sudah sebulan lewat, mengapa dia masih berada di sini?� �Anu, ibu...
dia melihat ibu sakit dan kakak Cin Po pergi, dia...
dia sengaja tinggal di sini untuk menemani dan menghiburku.� �Hemmm, Hui Ing, engkau saling cinta dengan pemuda ini?� Ditodong pertanyaan seperti itu, wajah dara itu menjadi semakin kemerahan dan ia hanya tersenyum malu-malu dan menundukkan mukanya, tangannya dengan jari-jari gemetar sibuk bermain-main dengan ujung bajunya.
Melihat ini, Bi Li menahan senyumnya.
�Siapakah ayah bunda pemuda itu, Hui Ing?� Hui Ing mengangkat mukanya memandang wajah ibunya.
�Ibu, dia...
dia sudah yatim piatu.
Gurunya, ketua Kun-lun-pai menjadi pengganti orang tuanya.� �Hemm...� Bi Li memandang gadis itu dengan kasihan.
Pemuda itu ternyata sama dengan Hui Ing, tidak mempunyai ayah bunda lagi.
�Kalau begitu, aku akan merasa terhormat sekali kalau pimpinan Kun-lun-pai suka datang ke sini dan membicarakan urusan perjodohanmu denganku.� �Ah, ibu...!� Hui Ing merangkul ibunya dengan malu-malu.
Bi Li tersenyum, akan tetapi sekali ini kedua matanya basah.
Ia terharu sekali dan baru ia teringat bahwa Hui ing telah menjadi seorang gadis dewasa, bukan kanak-kanak lagi.
�Sudahlah, beritahu kepadanya agar dia memberitahukan guru-gurunya.
Tidak baik kalau terlalu lama dia tinggal di sini, tentu hanya akan menimbulkan omongan yang tidak baik.� �Baik, ibu.� Gadis itu lalu keluar dan mencari Yang Kim Sun.
Ia menemukan Kim Sun sedang duduk di dalam taman bunga.
Ditemuinya pemuda itu.
�Sun-ko...!� �Ah.
Ing-moi, engkau mencari aku?� �Benar, Sun-ko.
Eh...
tadi ibu sudah bicara dengan aku tentang dirimu.� �Tentang diriku?� �Ya, dan ibu...
ibu agaknya setuju dengan hubungan kita.� �Bagus!
Aku girang sekali mendengarnya, Ing-moi!� �Akan tetapi ibuku minta agar pimpinan Kun-lun-pai segera datang ke sini menemui ibu untuk membicarakan tentang...
kita.� �Tentang kita?� �Maksudku tentang perjodohan kita.� �Kalau begitu, aku akan segera pulang ke Kun-lun-pai dan menyampaikannya kepada suhu.
Ing-moi.� �Memang begitulah yang paling baik, Sun-ko.� Sejenak mereka saling pandang dengan sinar mata penuh pernyataan hati masing-masing, Hari itu juga Kim Sun berpamit untuk pulang ke Kun-lun-san dan kepergiannya diantar Hui Ing sampai di luar perkampungan Thian-san-pang.
Lahirnya kerajaan Sung merupakan peristiwa yang luar biasa.
Seperti diketahui, kerajaan Sung berdiri dan sebagai kaisar pertamanya adalah jenderal Cao Kuang Yin (960-976).
Akan tetapi sesungguhnya, bukanlah kehendak dia untuk menjadi kaisar yang berjuluk Sung Thai Cu, kaisar pertama dari kerajaan Sung.
Pada waktu itu, yang memegang pemerintahan adalah kerajaan Chou.
Kaisar Chou terakhir sakit keras dalam tahun 959 dan sebagai penggantinya diangkatlah puteranya, seorang pangeran yang masih kanak-kanak.
Jenderal Cao Kuang Yin sendiri pada waktn itu (tahun 959) dikirim oleh pemerintah ke utara untuk memerangi bangsa Khi-tan di utara.
Di luar pengetahuan Jenderal Cao Kuang Yin, para panglima dan perwira bawahannya merasa tidak senang dengan pengangkatan seorang kaisar baru yang masih kanak-kanak yang diwakili oleh walinya, yaitu ibunya sendiri, permaisuri yang kini menjadi Ibu Suri setelah pangeran kecil itu menjadi kaisar.
Apa artinya seorang kaisar kecil dan diwakili oleh seorang wanita?
Tentu tidak akan mampu mengurus pemerintahan dan kelak tidak akan dapat menghargai jasa-jasa para panglima dan perwira yang maju perang.
Demikianlah, ketika malam hari Jenderal Cao Kuang Yin mengaso dalam tendanya, para panglima itu dengan pedang di tangan, memasuki tendanya, memaksanya untuk mengenakan pakaian kuning, yaitu pakaian kaisar, dan mengangkatnya menjadi kaisar secara paksa?
Tentu saja Jenderal Cao Kuang Yin terkejut bukan main.
Akan tetapi para panglima itu memaksanya dengan pedang di tangan.
Dia lalu berkata, �Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan kalian dengan syarat bahwa kalian semua harus tunduk dan menaati semua perintahku.
Kalau kalian tidak mau berjanji demikian, biar dipaksapun aku tidak akan menerima pengangkatan kaisar ini.
Para panglimanya setuju.
Barulah Jenderal Cao Kuang Yin memberi perintah, �Kita memasuki kota raja, akan tetapi aku melarang kalian mendatangkan kekacauan.
Semua warga istana tidak boleh dibunuh, juga para pembesar dan pejabat istana tidak boleh diganggu, kecuali tentu saja kalau mereka melawan.
Kalau mereka semua sudah menyerah, tidak boleh mengganggu keadaan kota raja, agar tetap tenang dan aman.
Aku tidak menghendaki kekerasan dan keributan dalam pergantian kekuasaan ini.
Kalian semua setuju?� Semua panglima setuju.
Demikianlah, Cao Kuang Yin membawa pasukannya ke kota raja dan terjadilah perebutan kekuasaan tanpa pertumpahan darah.
Ibu Suri menyerah dan tidak melakukan perlawanan.
Setelah disahkan menjadi Kaisar Sung Thai Cu, kaisar pertama dari kerajaan baru Sung, Sung Thai Cu membuat gerakan-gerakan yang cerdik sekali.
Dia tidak membasmi keluarga raja yang lama, bahkan memberi kedudukan yang tidak penting kepada mereka sehingga tidak ada yang mendendam kepadanya.
Dia menukar-nukar jabatan di antara para pejabat lama, memberikan kedudukan yang penting kepada orang-orang kepercayaannya.
Setelah semua diaturnya, dia masih kurang puas.
Bagaimanapun juga, dia menjadi kaisar atas desakan bahkan paksaan para panglima bawahannya, maka hatinya masih tidak enak kalau memikirkan mereka.
Kelompok panglima ini tentu dapat saja pada suatu hari mengangkat seorang kaisar lain untuk menggantikannya!
Pada suatu hari, baru beberapa bulan setelah dia menjadi kaisar, dia mengundang semua panglima yang terlibat dalam pemaksaan dia menjadi kaisar dahulu, dan menjamu mereka makan minum sampai mereka itu mabok dan berada dalam suasana gembira.
Kaisar lalu berkata kepada mereka, �Kami tidak dapat tidur nyenyak di malam hari.� �Apakah yang menjadi sebabnya, Yang Mulia?� tanya para panglima itu.
�Kalianlah penyebabnya,� jawab Kaisar.
�Mudah saja dimengerti.
Siapakah di antara kalian yang tidak merasa iri akan kedudukanku sebagai kaisar?� Para panglima itu memberi hormat dengan membungkuk dalam dan mereka membantah.
�Mengapa Yang Mulia berkata demikian?
Paduka telah menjadi Kaisar yang sah, siapa yang masih mempunyai niat-niat buruk terhadap paduka?� Kaisar tersenyum dan berkata lagi, �Kami sama sekali tidak pernah ragu akan kesetiaan kalian.
Akan tetapi apabila pada suatu hari seorang di antara kalian tiba-tiba dibangunkan di waktu pagi dan dipaksa untuk mengenakan pakaian kuning, biarpun kalian tidak menghendakinya, bagaimanakah dia akan dapat menolak mengadakan pemberontakan seperti yang telah kalian lakukan kepadaku?� Para panglima itu mengatakan bahwa tidak seorangpun di antara mereka yang cukup dikagumi dan disayang untuk mendapatkan kesempatan seperti itu dan mereka memohon kepada Kaisar untuk mengambil langkah-langkah yang bijaksana untuk mencegah terjadinya kemungkinan yang dikhawatirkan itu.
Setelah Kaisar dapat memberi isyarat akan apa yang dikhawatirkan itu, diapun berkata dengan nada suara bersungguh-sungguh.
�Kehidupan manusia tidaklah lama.
Kebahagiaan adalah kalau orang memiliki harta benda dan sarana untuk menikmati hidup ini dan dapat mewariskan keadaan yang membahagiakan itu kepada anak cucunya.
�Kalau kalian, panglima-panglimaku, mau meninggalkan kedudukan kalian sebagai panglima, hidup di kampung halaman, memilih tanah yang subur dan baik, dan selanjutnya hidup berkecukupan penuh damai dan kebahagiaan di antara keluarga kalian sampai kalian mengakhiri hidup dalam usia tua, bukankah itu jauh lebih baik dari pada hidup penuh bahaya dan serba tidak menentu?
Sehingga tidak akan tersisa kecurigaan dan keraguan antara raja dan para pejabatnya, dan kita dapat saling melibatkan keluarga dalam ikatan-ikatan pernikahan sehingga di antara kita akan terdapat ikatan keluarga dan persahabatan yang kekal.� Para panglima itu mengerti akan maksud kaisar dan mereka segera memenuhi kehendak kaisar karena merekapun ingin menikmati hidup serba berkecukupan di dalam keluarga mereka, tinggal di kampung halaman dengan senang dan tenang.
Demikianlah, Kaisar Sung Thai Cu dapat melenyapkan keraguan dan kekhawatiran dari dalam hatinya.
Dia mengangkat panglima-panglima baru dan merasa terhindar dari ancaman para panglima yang dulu memaksanya menjadi kaisar.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, banyak raja-raja muda yang tunduk dan mengakui kekuasaan kerajaan Sung yang berhasil menyatukan daerah-daerah yang tadinya berdiri sendiri-sendiri itu.
Yang masih menunjukkan sikap menentang, dengan mudah ditundukkan.
Akan tetapi ada empat kerajaan yang tetap tidak dapat ditundukkan, bahkan empat kerajaan ini seringkali merupakan ancaman bagi kerajaan Sung.
Mereka itu adalah kerajaan Khi-tan di utara, di Ce-kiang sebelah tenggara sepanjang pantai ada kerajaan Wu-yeh, di Shan-si ada kerajaan Han atau Hou-han dan di selatan sebelah barat (Lanjut ke
Jilid 12) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12 terdapat kerajaan Nan-cao.
Empat kerajaan inilah yang belum dapat ditundukkan.
Sung Thai Cu tidak mengangkat seorang di antara puteranya yang masih kecil-kecil menjadi putera mahkota, melainkan mengangkat adiknya sendiri.
Hal ini adalah atas permintaan Ibu Suri, seorang wanita yang amat cerdik.
Ketika wanita ini menderita sakit keras, sebelum meninggal dunia ia memanggil Kaisar Sung Thai Cu, lalu bertanya, �Tahukah engkau mengapa engkau bisa mendapatkan kedudukan sebagai kaisar ini?� Sebagai seorang anak yang berbakti, kaisar menjawab, �Semua ini berkat kebijaksanaan ibu dan nenek-moyang...� �Sama sekali tidak!
Bukan aku, bukan pula nenek moyangmu yang menyebabkannya.
Satu-satunya alasan mengapa engkau hari ini dapat duduk di singgasana adalah karena kaisar kerajaan Chou telah begitu bodoh untuk mengangkat seorang anak kecil menjadi penggantinya.
Kalau sekarang engkau mewariskan kerajaan kepada seorang anak kecil, nasib yang sama mungkin akan menimpa kerajaan kita seperti yang dialami kerajaan Chou.� Demikianlah, setelah diingatkan oleh ibunya yang bijaksana, Kaisar Sung Thai Cu mengangkat adiknya menjadi pangeran mahkota dan dalam tahun 976, dia wafat digantikan oleh adiknya sendiri yang berjuluk Sung That Cung.
Kaisar Sung That Cung (976-1004) melanjutkan usaha yang telah dirintis oleh kakaknya dan pada saat ini, dia baru setahun menggantikan kakaknya.
Cin Po meninggalkan Thian-san-pang dengan berlari cepat.
Hatinya merasa berduka sekali setelah dia mengetahui bahwa dia adalah putera Ban Koan.
Ban Koan ayah kandungnya akan tetapi ayah kandung macam apa.
Dia dilahirkan ibunya sebagai hasil pemerkosaan Ban Koan atas diri ibu kandungnya.
Dia adalah seorang anak haram.
Lebih dari itu, dia dilahirkan dari seorang ibu yang tidak menghendaki kelahirannya.
Akibat perkosaan!
Dari anak yang lahir dari perbuatan jahat sejahat-jahatnya.
Dan ayahnya adalah seorang penjahat besar, seorang pengkhianat dan telah banyak melakukan kejahatan!
Cin Po menangis sambil berlari cepat.
Dia merasa rendah diri.
Dia tidak menyalahkan ibunya kalau hendak mengadu dia dengan ayah kandungnya sendiri.
Memang ayahnya, yang kemudian ternyata adalah Ban Koan, sepantasnya dibunuh.
Manusia itu amat jahat dan dia adalah anaknya, darah dagingnya!
Pukulan batin ini terlalu hebat baginya.
Sampai tidak kuat dia menanggungnya dan dalam keadaan yang sengsara itu teringatlah dia akan kekasihnya.
�Ciok Hwa...
Hwa-moi...!� Dia merintih dalam hatinya.
Hanya Ciok Hwa yang akan dapat menghiburnya dan mendapat kenyataan siapa dirinya, dia merasa lebih lega.
Sudah sepatutnya dia berjodoh dengan Ciok Hwa.
Bukan saja Ciok Hwa berwajah buruk sekali, akan tetapi juga Ciok Hwa adalah puteri seorang datuk sesat, Tung-hai Mo-ong yang juga jahat.
Ayah mereka sama-sama jahat jadi mereka sudah cocok kalau menjadi suami isteri.
�Ciok Hwa...!� Dia mengeluh dan kakinya membawanya lari menuju ke tempat tinggal Ciok Hwa.
Dia harus pergi ke Pulau Hiu, mengunjungi Ciok Hwa karena dalam keadaan seperti itu dia merasa rindu sekali kepada gadis yang baginya memiliki watak yang paling bijaksana dan paling baik itu.
Dia membeli perahu kecil di pantai dan mendayung perahu itu menuju ke Pulau Hiu.
Baru setengah pelayaran menuju ke Pulau itu, mendadak bermunculan perahu-perahu hitam dan dia telah dikepung.
Cin Po mengenal mereka dan berdiri di perahunya, melambaikan tangan.
�Haiiiii, antarkan aku ke Pulau Hiu.
Aku ingin bertemu Huang-hai Sian-li...?� teriaknya.
Mereka itu memang benar anak buah pulau Hiu.
Mereka juga mengenal Cin Po dan seorang di antara mereka, yaitu Tok-gan Kim-go, moloncat ke atas perahu Cin Po dan memberi hormat.
�Kiranya Sung-taihiap yang datang.
Akan tetapi, kalau tai-hiap datang hendak mengunjungi Huang-hai Sian-li, kedatangan tai-hiap terlambat.� Cin Po terkejut!
�Terlambat?
Apa maksudmu?� �Huang-hai Sian-li telah sebulan yang lalu meninggalkan kami, tai-hiap.
Ia menyerahkan pimpinan bajak laut kepada saya, dan ia tidak akan kembali ke sini lagi.
Akan tetapi selama ini, kami menjalankan tugas sesuai dengan pesan Sian-li dan tidak pernah kami melanggarnya.� Cin Po merasa kecewa bukan main.
�Kim-go, tahukah engkau ke mana ia pergi?� �Sian-li tidak memberitahu, hanya mengatakan hendak pulang ke kampung halamannya!� �Ah, kalau begitu tentu pulang ke tempat tinggal ayahnya.
Baik aku akan menyusulnya ke sana!� katanya dan merekapun berpisah.
Cin Po mendayung kembali perahunya ke pantai.
Dia tahu ke mana harus pergi karena pernah dia berkunjung ke rumah Tung-hai Mo-ong di daerah Wu-yeh, di sepanjang pantai laut Timur di Propinsi Ce-kiang.
Pada suatu pagi tibalah Cin Po di perbatasan antara kerajaan Wu-yeh dan kerajaan Sung.
Ketika dia sedang berjalan di padang rnmput, dari jauh dia melihat sebuah pertempuran.
Sekelompok pasukan kerajaan Sung bertempur melawan sekelompok pasukan kerajaan Wu-yeh.
Mengingat bahwa tempat pertempuran itu masih termasuk wilayah Sung, lebih dari sepuluh lie dari tapal batas, maka jelas bahwa pasukan Wu-yeh itu yang melanggar perbatasan.
Sebetulnya Cin Po tidak tertarik oleh perang, biarpun dia termasuk orang yang tinggal di daerah kerajaan Sung, namun belum pernah terpikirkan olehnya untuk membantu kerajaan Sung menghadapi kerajaan lain.
Baginya, kerajaan manapun juga bangsanya adalah satu, kecuali bangsa Khi-tan yang merupakan bangsa Mancu.
Akan tetapi sekali ini perhatiannya tertarik oleh adanya sebuah kereta yang indah.
Kereta itu dilindungi oleh belasan orang pengawal yang berilmu tinggi.
Dengan pedang mereka, belasan orang pengawal itu melindungi mereka dari serangan para perajurit Wu-yeh dan kepandaian para pengawal ini memang cukup tinggi sehingga usaha para perajurit Wu-yeh tidak ada yang berhasil.
Perlahan-lahan pasukan Wu-yeh terpukul mundur.
Tiba-tiba muncul seorang kakek tinggi kurus yang mukanya meruncing seperti muka tikus dengan kumis dan jenggot jarang.
Seorang kakek berwajah buruk dan nampak berpenyakitan dengan rambutnya yang tipis botak.
Akan tetapi begitu dia memasuki pertempuran membantu pasukan Wu-yeh, tentara Sung menjadi kocar-kacir!
Bahkan para pengawal yang menjaga kereta itu kini kewalahan menghadapi kakek itu.
Cin Po segera mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Tung-hai Mo-ong Kui Bhok, ayah Kui Ciok Hwa!
Sejenak Cin Po menjadi bimbang ragu.
Kakek itu adalah calon mertuanya yang dia harapkan akan menerima pinangannya.
Akan tetapi sekarang kakek itu menyerang pasukan Sung.
Bagaimana dia dapat mendiamkannya saja?
Entah siapa yang berada di dalam kereta itu, akan tetapi jelas agaknya keselamatan orang dalam kereta itu terancam dan melihat keretanya yang indah, Jelas bahwa dia tentu seorang yang berkedudukan tinggi di istana kerajaan Sung!
Bagaimanapun juga, dia harus menolong dan menyelamatkannya, akan tetapi kalau dia melakukan hal itu, berarti dia harus bentrok melawan ayah Ciok Hwa.
Cin Po tidak lama bersangsi.
Pemuda ini telah menerima gemblengan Bu Beng Lojin, sudah segera dapat memutuskan mana yang harus dia lakukan dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Kalau dia mendiamkan saja pembesar kerajaan Sung itu terancam bahaya, maka perbuatannya itu sungguh tidak benar.
Biarpun dia tidak memegang jabatan dan terang-terangan membantu kerajaan Sung, akan tetapi dia adalah warga Sung dan sudah menjadi kewajibannya untuk membantu Sung menghadapi kerajaan lain.
Apa lagi kalau di pihak sana terdapat seorang sakti seperti Tung-hai Mo-ong.
Kalau dibiarkannya saja, tentu pasukan Sung itu, berikut orang dalam kereta, akan dibasmi habis oleh Tung-hai Mo-ong.
Biarpun para pengawal itu memegang pedang dan kakek itu bertangan kosong, namun dalam beberapa gebrakan saja para pengawal itu roboh satu demi satu.
Setiap sambaran tangannya merupakan jurus maut dan tidak dapat dielakkan atau ditangkis oleh para pengawal itu.
Mereka menjadi kocar-kacir dan keadaan pasukan Sung kini terdesak hebat karena pasukan Wu-yeh mendapat angin setelah Tung-hai Mo-ong datang membantu mereka.
Sekali meloncat Cin Po sudah berada di depan kakek itu dan pada saat itu Tung-hai Mo-ong sedang melancarkan pukulan jarak jauh kepada para pengawal yang terdesak hebat.
Cin Po mengangkat tangannya menangkis.
�Dukkk...!!� Dua tangan bertemu dan kakek itu terdorong ke belakang dua langkah.
Dia terkejut sekali dan memandang dengan penuh perhatian.
Dia melihat seorang pemuda berpakaian putih berdiri di depannya.
Segera dia mengenal Cin Po dan matanya terbelalak marah.
Pemuda ini yang menolak menjadi mantunya, bahkan yang kemudian berhasil melarikan diri atas bantuan puterinya.
Dia memarahi puterinya yang kemudian bahkan menghilang dan baru saja kembali kepadanya.
Kini pemuda ini muncul lagi menentangnya dan membela orang-orang Sung!
�Sung Cin Po, kau...
kau berani melawanku?� bentaknya marah.
�Maaf, locianpwe.
Bukan maksudku untuk melawanmu, akan tetapi aku harus melindungi pasukan kerajaan Sung karena aku warga negaranya.
Harap locianpwee suka memandang mukaku dan tidak melanjutkan pertempuran.
Bukankah tempat ini termasuk wilayah Sung dan pasukan Wu-yeh itu yang melanggar perbatasan?� Dalam hatinya pemuda itu berteriak pada si kakek bahwa dia tidak ingin bermusuhan dengan ayah gadis yang dicintanya!
�Sung Cin Po, baru mengingat urusan lama saja aku harus membunuhmu, apalagi sekarang setelah engkau berani menentangku.� �Locianpwe, urusan lama sudah tidak ada lagi antara kita.
Ketahuilah bahwa adik Ciok Hwa dan aku sudah bersepakat untuk berjodoh.� �Ha-ha-ha, enak saja.
Sekarang kalau hendak berjodoh dengan anakku, siapapun juga harus lebih dulu dapat mengalahkan aku!� Mendengar ini, Cin Po mendapat pikiran yang baik.
�Kalau begitu, marilah kita bertanding berdua saja, locianpwe, dan kita tarik mundur semua pasukan yang bertempur.
Biarlah pertandingan antara kita saja yang menentukan kalah menang!� �Baik!� teriak Tung-hai Mo-ong yang memandang rendah pemuda itu.
Dia pernah merobohkan Cin Po tanpa banyak kesukaran, maka tantangan itu diterimanya dengan hati besar.
Dia lalu meneriaki pasukan Wu-yeh agar mundur dan menghentikan pertempuran.
Kedua pihak kini tidak lagi bertempur, melainkan menjadi penonton ketika dua jagoan tua dan muda itu saling berhadapan.
Bahkan dari tirai kereta itu mengintai dua pasang mata dengan penuh ketegangan dan kekhawatiran.
Sepasang mata seorang laki-laki setengah tua dan sepasang mata seorang gadis cantik jelita bermata bintang.
Mereka adalah ayah dan anak, seorang pejabat tinggi yang datang bersama puterinya di tempat itu sehabis pulang mengunjungi kampung halaman dengan pengawalan ketat.
Tung-hai Mo-ong adalah datuk yang jarang sekali mempergunakan senjata tajam biarpun di dalam ilmu pukulannya yang ampuh kadang menyembunyikan jarum-jarum beracun yang menyambar bersama pukulannya.
Kini menghadapi Cin Po yang dipandangnya rendah, diapun tidak menggunakan senjata, dan kedua tangannya sudah diangkat ke atas kepala dan membentuk cakar.
Itulah pembukaan dari ilmu silat Toat-beng-sin-ciang (Tangan Sakti Pencabut Nyawa).
Melihat orang yang diharapkannya menjadi ayah mertuanya itu menghadapinya tanpa senjata, Cin Po juga segan menggunakan Yang-kiam yang tergantung di punggungnya.
Diapun bertangan kosong dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.
�Locianpwe, aku sudah siap, mulailah!� �Ha-ha-ho-ho, orang muda.
Kalau aku yang mulai menyerangmu, aku akan ditertawakan orang sedunia.
Engkau yang muda mulailah!� tantang Tung-hai Mo-ong, bersikap gagah-gagahan karena disaksikan demikian banyaknya orang.
�Locianpwe, lihat seranganku!� Cin Po mulai menyerang, dengan tamparan perlahan saja, akan tetapi tamparan itu mendatangkan angin pukulan yang hebat sehingga membuat rambut tipis di kepala kakek itu berkibar.
Tung-hai Mo-ong terkejut.
Tak disangkanya pemuda itu demikian hebat tenaga dalamnya, maka diapun cepat menggerakkan tangannya menangkis dan sekalian menangkap pergelangan tangan lawan.
Cin Po tidak mau tangannya ditangkap, maka dia menarik kembali tangannya dan tangan kirinya kini menyambar dengan totokan ke arah dada.
Tung-hai Mo-ong mengelak dengan memutar tubuhnya lalu memukul dari atas ke arah kepala Cin Po dengan jurus �Siok-lui-kek-teng� (Petir Menyambar di Atas Kepala), sebuah serangan yang dahsyat sekali apa lagi yang melakukan itu Tung-hai Mo-ong yang memiliki tenaga sakti amat kuat sehingga baru hawa pukulannya sudah cukup ampuh untuk melukai dalam kepala lawan.
Namun Cin Po menghindarkan diri dengan loncatan Lo-wan-teng-ki (Monyet Tua Melompati Cabang) sehingga kepalanya terhindar dari sambaran tangan lawan.
Cin Po maklum akan hebatnya ilmu silat lawan, maka diapun tidak membuang waktu lagi, segera memainkan Ngo-heng-sin-kun yang dipelajarinya dari kakek Bu-beng Lojin.
Dan menghadapi ilmu silat sakti ini, Tung-hai Mo-ong gelagapan.
Belum pernah selama hidupnya dia menghadapi ilmu silat seperti ini yang mengandung bermacam tenaga.
Kadang keras, kadang lunak, kadang panas, dan kadang dingin.
Dan hebatnya, semua serangannya kandas dalam ilmu silat pemuda itu!
Tentu saja Tung-hai Mo-ong menjadi penasaran sekali.
Tidak mungkin dalam waktu kurang lebih dua tahun saja pemuda ini telah menguasai ilmu yang mampu menandinginya!
Dia lalu memainkan Toat-beng-sin-ciang yang paling ampuh sambil mengerahkan tenaganya dan bersilat dengan hati-hati sekali.
Namun, pemuda itu dapat menghindarkan diri dengan baik melalui elakan atau tangkisan yang demikian kuatnya sehingga tiap kali lengan mereka bertemu, Datuk Timur itu terhuyung ke belakang.
Semua anak buah pasukan, baik dari tentara Sung maupun Wu-yeh, menonton pertandingan itu dengan hati tegang.
Pasukan Wu-yeh sudah mengenal Tung-hai Mo-ong dan mereka sudah merasa yakin bahwa datuk mereka itu pasti akan keluar sebagai pemenang.
Tidak demikian dengan pasukan Sung.
Mereka sama sekali tidak mengenal siapa pemuda baju putih itu, maka biarpun pemuda itu mewakili mereka, mereka masih ragu dan kini menonton dengan hati diliputi penuh ketegangan dan kekhawatiran.
Mereka maklum bahwa kalau pemuda itu kalah, tentu mereka akan diserang oleh pasukan Wu-yeh dan dengan adanya kakek itu pihak mereka tentu akan hancur.
Pembesar yang berada di dalam kereta juga menonton dengan hati tegang, demikian pula puterinya.
Pembesar itu bernama Lu Tong Pi, berpangkat Menteri Kebudayaan dan puterinya bernama Lu Bwe Kim, seorang gadis berusia delapanbelas tahun yang cantik jelita.
Mereka berdua baru saja berkunjung ke kampung halaman Lu Tong Pi, hanya berdua saja, karena ibu gadis itu sudah meninggal dunia ketika dara ini berusia sepuluh tahun.
Sebagai seorang Menteri, Lu Tong Pi dikawal ketat oleh pasukan keamanan.
Baik Lu Tong Pi maupun puterinya tidak pernah mempelajari ilmu silat, Menteri itu ahli sastera dan pandai menulis dan melukis, sedangkan puterinya soorang ahli tari, juga menulis sajak dan mempunyai pengertian mendalam tentang sastera.
Maka, menghadapi pertandingan itu, mereka hanya menonton, tanpa mengerti siapa yang lebih unggul di antara kedua orang itu.
Akan tetapi mereka, biarpun juga tidak mengenal pemuda itu, maklum bahwa pemuda itu berpihak kepadanya dan agaknya keselamatan mereka tergantung dari pertandingan itu.
Maka, tentu saja mereka berdua mengharapkan kemenangan bagi si pemuda baju putih.
�Ayah, kenapa kita tidak mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri saja?� bisik gadis itu yang juga tegang dan ketakutan seperti ayahnya.
�Ah, tidak mungkin, anakku.
Itu berbahaya sekali.� �Akan tetapi, ayah.
Kalau pemuda baju putih itu kalah...� �Paling banyak kita akan menjadi tawanan.
Percayalah, orang-orang kerajaan Wu-yeh adalah bangsa Han juga, mereka tidak ganas dan liar seperti orang Khi-tan.
Akan tetapi belum tentu pemuda itu kalah.� Pertandingan antara Cin Po melawan Tung-hai Mo-ong sudah berlangsung semakin seru.
Seratus jurus telah terlewat dan masih belum ada yang kelihatan terdesak.
Hal ini benar-benar membuat Tung-hai Mo-ong merasa penasaran sekali.
Sungguh tidak pernah disangkanya bahwa Cin Po sekarang telah menjadi seorang pemuda yang demikian tangguhnya.
Bahkan dia sendiri beberapa kali sempat sibuk terdesak menghadapi ilmu silat pemuda itu yang aneh dan memiliki daya serang amat dahsyat.
Dan diam-diam diapun merasa girang.
Bukankah tadi pemuda ini menyatakan sudah bersepakat dengan Ciok Hwa untuk berjodoh?
Alangkah bangga dan senangnya kalau dia mempunyai mantu sehebat ini!
Akan tetapi mereka bertanding di depan puluhan pasang mata.
Tentu akan merendahkan martabatnya kalau sampai dia kalah.
Apa lagi dalam pandangan para perajurit Wu-yeh.
Dia adalah datuk di daerah Wu-yeh yang amat terkenal, sebagai datuk nomor satu.
Bagaimana kalau mereka melihat dia kalah melawan seorang pemuda?
Cin Po adalah seorang pemuda yang berperasaan halus.
Setelah bertanding seratus jurus lebih dia tahu bahwa kalau dia menghendaki dia akan mampu mengalahkan datuk ini.
Diam-diam dia merasa girang bukan main.
Gemblengan selama dua tahun oleh Bu Beng Lojin membuat dia mampu menandingi datuk timur!
Akan tetapi dia merasa tidak enak kalau harus mengalahkan ayah kekasihnya itu di depan orang banyak.
Apa lagi sampai melukainya.
Maka, setelah mencari akal, dia lalu mengarahkan seluruh tenaga sihirnya dan sambil mendorongkan ke dua tangannya, dia mengeluarkan suara melengking yang hebat sekali.
Itulah ilmu yang disebut Tong-te-ho-kang (Suara Sakti Getarkan Bumi), dan yang ditujukan ke arah depan.
Pasukan Wu-yeh yang menonton pun diterpa suara ini banyak yang berpelantingan.
Apa lagi dari ke dua tangan yang didorongkan itu timbul angin yang keras.
Tung-hai Mo-ong mencoba untuk menahan diri dengan dorongan ke dua tangannya dengan pukulan jarak jauh pula.
Akan tetapi hawa pukulan yang menerjangnya itu terlampau hebat dan diapun terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung.
Biarpun tidak sampai roboh dan sama sekali tidak terluka, namun datuk ini maklum bahwa ia telah kalah.
Karena itu dia berteriak keras kepada pasukan Wu-yeh untuk mundur, dan dia mendahului melompat jauh dan menghilang dari tempat itu!
Pasukan Wu-yeh tentu saja menjadi ketakutan dan kehilangan semangat untuk bertempur setelah kakek itu pergi karena tadipun sebelum dibantu kakek itu mereka sudah mulai terdesak.
Apa lagi sekarang di pihak musuh terdapat pemuda baju putih yang agaknya telah mampu mengalahkan datuk timur.
Mereka lalu lari berserabutan kembali ke timur, ke wilayah Wu-yeh.
Pasukan Sung merubung Cin Po dan memberi pujian kepada pemuda itu.
Komandan mereka, seorang panglima pengawal segera mengajaknya menghadap Menteri Lu yang juga turun dari keretanya bersama puterinya.
Biarpun dia tidak menghendaki imbalan jasa atau pujian, akan tetapi demi sopan santun, Cin Po tidak menolak ketika dihadapkan kepada Menteri Kebudayaan Lu Tong Pi.
Dia merasa terkejut dan juga malu ketika melihat gadis itu.
Demikian agung, damikian anggun dan cantik jelita.
Baru sekali ini dia berhadapan dengan seorang pembesar tinggi, juga dengan seorang puteri bangsawan yang memandangnya dengan mata seperti bintang yang mengaguminya!
Dengan sikap hormat dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada, lalu agak membungkuk memberi hormat kepada ayah dan anak itu.
�Tai-hiap,� kata sang komandan memperkenalkan.
�Engkau berhadapan dengan Yang Mulia Menteri Kebudayaan, paduka Menteri Lu Tong Pi dan puteri beliau, nona Lu Bwe Kim.� Diam-diam hati Cin Po terkejut juga mendengar bahwa orang dalam kereta itu adalah seorang Menteri negara.
Kembali dia memberi hormat dan berkata, �Tai-jin, maafkan kalau saya bersikap kurang hormat karena tidak mengetahui.� �Aih, tai-hiap tidak perlu bersikap sungkan.
Bagaimanapun juga, tai-hiap telah menolong kami, mungkin telah menyelamatkan nyawa kami berdua.
Siapakah namamu tai-hiap?� �Nama saya Sung Cin Po, tai-jin,� jawabnya dengan lancar karena sejak semula dia tidak sudi menggunakan nama marga ayah kandungnya, yaitu marga Ban.
Dia lebih suka menggunakan marga ibu kandungnya.
�Bagus, semuda ini engkau telah memiliki ilmu silat yang begitu tinggi.
Engkau tidak boleh menyembunyikan diri saja, tai-hiap.
Engkau dapat berbuat banyak demi negara dan bangsa.� �Maaf, tai-jin.
Saya tidak mempunyai ambisi untuk itu,� kata Cin Po merendahkan diri.
�Akan tetapi tidakkah engkau melihat betapa kerajaan-kerajaan lain merupakan ancaman bagi kerajaan kita?
Marilah ikut dengan kami ke kota raja, tai-hiap dan peristiwa tadi akan kulaporkan kepada Yang Mulia Kaisar.� �Ah, terima kasih, tai-jin.
Sungguh saya tidak mengharapkan apa-apa, tidak mengharapkan imbalan jasa karena semua itu sudah saya anggap sebagai suatu kewajiban.
Ijinkan saya pergi, tai-jin.� �Nanti dulu, Sung Cin Po!� Tiba-tiba terdengar suara merdu dan ternyata yang bicara adalah Lu Bwe Kim, puteri Menteri itu.
Berdebar rasanya jantung dalam dada Cin Po ketika namanya dipanggil oleh gadis bangsawan yang cantik jelita itu.
Diapun menghadapinya sambil menunduk, tidak berani menatap wajah cantik itu atau bertemu pandang dengan sepasang mata bintang itu.
�Apakah yang dapat saya perbuat untuk nona?� tanyanya, lembut.
�Sung Cin Po, perjalanan pulang ke kota raja masih jauh dan baru saja kami mengalami ancaman bahaya yang mengerikan.
Biarpun telah diantarkan pasukan pengawal, buktinya tadi hampir saja kami celaka, kalau tidak ada engkau yang menolong kami, tentu kami mengalami kecelakaan.
�Karena itu, hati kami akan selalu merasa gelisah dalam perjalanan pulang ini.
Engkau yang telah menolong kami, maukah engkau berbaik hati, tidak kepalang tanggung dan membantu mengawal kami sampai kami tiba di tempat tujuan, yaitu di kota raja?� �Ah, benar seperti yang dikatakan Bwe Kim puteriku.
Tai-hiap, tolonglah kami, bantulah pengawalan kami sampai ke kota raja!� Cin Po merasa tersudut.
Apa yang diucapkan gadis itu memang tepat dan tentu kelihatan pihaknya yang keterlaluan kalau menolak permintaan tolong ayah dan anak itu.
Bukan hendak mencari imbalan jasa dia pergi ke kota raja, melainkan untuk mengawal mereka.
Pula, dia belum pernah melihat kota raja, hanya mendengar dari dongeng saja dan inilah kesempatan baginya untuk melihatnya.
Tadi ketika Bwe Kim bicara kepadanya, gadis itu menyebut namanya saja dan terdengar demikian akrab, akan tetapi ayahnya menyebut tai-hiap, sebutan yang membuatnya rikuh sekali.
Dia menghela napas panjang.
�Baiklah, tai-jin.
Akan tetapi saya mohon tai-jin tidak menyebut tai-hiap kepada saya, cukup dengan menyebut nama saya saja.� Pembesar itu tertawa.
�Ha-ha-ha, engkau yang begini lihai kalau tidak disebut tai-hiap lalu siapa yang berhak atas sebutan itu?
Engkau berilmu tinggi akan tetapi rendah hati, Sung Cin Po.
Panglima beri seekor kuda yang baik untuk Sung Cin Po!� perintah Menteri Lu Tong Pi.
Tak lama kemudian dia bersama puterinya memasuki kereta lagi dan rombongan itu berangkat, kini ditambah dengan Cin Po yang mengawal dengan menunggang seekor kuda yang besar, yang atas permintaan menteri Lu dijalankan di dekat kereta sehingga sang menteri dapat bercakap-cakap dengan Cin Po.
Dengan ramah tamah dan akrab pembesar itu bertanya, �Cin Po, dari manakah engkau datang?
Di mana tempat tinggalmu?� �Saya datang dari Thian-san, tai-jin.� �Ah, pegunungan Thian-san?
Di sana kalau tidak salah ada sebuah perkumpulan persilatan bernama Thian-san-pang...� �Memang dari sanalah saya datang.� �Ah, jadi murid Thian-san-pang?
Siapakah ayah bundamu, Cin Po?� Ditanya siapa ayah bundanya, wajah Cin Po diliputi kabut.
Bagaimana dia harus mengakui bahwa ayahnya adalah mendiang Ban Koan seorang yang bersifat jahat, berhati palsu, pengkhianat dan pembunuh?
�Ayah saya sudah meninggal dunia, hanya tinggal ibu saya yang kini menjadi ketua Thian-san-pang.� �Wah, pantas engkau lihai sekali!
Kiranya engkau adalah putera ketua Thian-san-pang.� Cin Po merasa gembira bahwa pembesar itu tidak bertanya lebih jauh tentang orang tuanya, agaknya pembesar itu juga melihat betapa wajahnya menjadi muram ketika ditanya tentang ayah bundanya dan pembesar ini mengira bahwa pemuda itu berduka mengenang ayahnya yang sudah tiada.
Sebetulnya alasan yang diucapkan Lu Bwe Kim bahwa perjalanan jauh itu menggelisahkan dan mungkin terdapat bahaya mengancam adalah alasan belaka untuk membujuk pemuda itu agar suka mengikuti ayahnya ke kota raja.
Perjalanan makin mendekati kota raja, tentu saja makin jauh dari bahaya.
Kalau hanya gerombolan perampok biasa saja mana berani mengganggu kereta pembesar itu yang dikawal puluhan orang pasukan?
Maka perjalanan itu berjalan lancar.
Setiap kali berhenti melewatkan malam di sebuah kota, tentu pembesar setempat menyambut rombongan Menteri Kebudayaan ini penuh penghormatan dan menjamunya.
Cin Po sebagai seorang di antara para pengawal pribadi, tentu saja ikut pula dijamu.
Cin Po melihat betapa penjabat daerah bersikap menjilat terhadap Menteri itu, bahkan ada yang hendak memberi sumbangan dan bekal yang berlebihan.
Dan Cin Po juga melihat betapa Lu-taijin bersikap biasa saja, sama sekali tidak congkak dan bahkan menolak pemberian sumbangan dan bekal yang berlebihan itu.
Hal ini tentu saja membuat Cin Po semakin suka dan kagum kepada pejabat tinggi itu.
Selama hidupnya, baru satu kali Cin Po mengenal tentang pangkat dan kedudukan, yaitu ketika dia berusia enambelas tahun, mengikuti ujian menjadi perwira dan lulus sebagai seorang perwira kerajaan Khi-tan.
Di sanapun dia melihat betapa pejabat rendahan menjilat-jilat pejabat atasan dan betapa pejabat atasan bersikap congkak terhadap bawahannya.
Kemudian dia melihat betapa pasukan merampok dan membunuh, memperkosa, maka dia lalu mengamuk, membunuhi anak buahnya sendiri yang melakukan kejahatan lalu melarikan diri.
Kini dia melihat sikap yang berbeda sekali dari Lu-taijin.
Bahkan para pengawalnya tidak ada yang berani bersikap kasar terhadap rakyat.
Ketika rombongan itu memasuki dusun, Lu-taijin selalu memerintahkan agar keretanya dijalankan lambat-lambat dan dia selalu membalas lambaian tangan rakyat yang menghormatinya.
Juga Lu Bwe Kim bersikap ramah dan menghadiahkan senyum dan lambaian tangan kepada rakyat.
Cin Po tidak merasa menyesal telah menyelamatkan keluarga Lu ini, yang ternyata memang pantas menjadi seorang pembesar.
Setelah tiba di kota raja, Cin Po tidak dapat menolak ajakan pembesar itu untuk singgah di gedungnya.
Sebuah gedung yang besar, akan tetapi tidaklah terlalu mewah.
Ini saja membuktikan bahwa Lu Tong Pi bukan semacam pejabat yang suka mengumpulkan uang untuk diri sendiri.
Dibandingkan dengan gedung tempat tinggal Pat-jiu Pak-sian umpamanya, gedung ini masih kalah jauh.
�Sung Cin Po, besok aku akan melaporkan kepada kaisar tentaug perjalananku.
Ketahuilah bahwa selain pergi mengunjungi kampung halamanku, juga aku bertugas menyelidiki dan mendengar-dengar tentang keadaan di perbatasan.
Maka, penyerangan terhadap rombonganku itu merupakan peristiwa penting yang perlu kulaporkan kepada kaisar.
�Karena itu, aku mengharap sekali lagi agar engkau ikut dengan aku menghadap kaisar, karena kalau tidak, kaisar tentu akan menanyakan tentang dirimu yang sudah menyelamatkan aku dan sungguh tidak enak kalau aku tidak dapat membawamu ke sana.� Karena sikap yang baik dari Lu Tong Pi, Cin Po sudah mulai tertarik.
Diapun ingin sekali melihat bagaimana macamnya istana yang pernah didengarnya dari ibunya sebagai dongeng.
Menurut penuturan ibunya yang juga belum pernah melihatnya, istana adalah sebuah tempat yang luar biasa indahnya.
Seperti sorga di atas bumi!
Diapun mendengar bahwa Kaisar Sung Thai Cung yang sekarang bertahta adalah kaisar yang baru satu tahun dinobatkan menjadi kaisar dan kabarnya merupakan seorang kaisar yang bijaksana.
Di rumah Menteri Lu diapun diterima dengan sikap hormat sekali, bukan seperti orang bawahan, melainkan sebagai tamu yang dihormati.
Dia diperkenalkan dengan para selir menteri itu yang jumlahnya ada empat orang, dengan anak-anak para selir itu yang semua menjadi kagum mendengar bahwa pemuda berbaju putih itu telah menyelamatkan nyawa sang menteri berikut nyawa puterinya dari ancaman orang-orang Wu-yeh.
Juga Lu Bwe Kim, gadis bangsawan itu, bersikap ramah dan bersahabat dengannya.
Bahkan kini Bwe Kim menyebutnya �twako� sebutan yang sungguh amat menghormatinya, tanda bahwa gadis itu menganggapnya seperti seorang sahabat sendiri.
Dan malam itu diadakan sebuah pesta keluarga kecil untuk menghormati Cin Po.
Dalam kesempatan ini, para selir menabuh yang-kim dan suling, dan Bwe Kim lalu menari, suguhan yang mengasyikkan dan merupakan kehormatan besar bagi Cin Po!
Sungguh Cin Po mengalami perasaan yang menggembirakan sekali, dan sedikit banyak mengusir kedukaannya yang terbawa dari Thian-san-pang, kedukaan yang timbul ketika dia mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah Ban Koan!
Tarian Bwe Kim memang indah, indah dan lemah gemulai, seperti tarian bidadari saja layaknya.
Cin Po merasa terayun, belum pernah dia melihat yang seindah itu.
Apa lagi pengaruh arak membuatnya menjadi agak mabok sehingga dia terpesona dan setelah gadis itu selesai menari, dia tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertepuk tangan memuji.
Mendapat tepukan tangan Cin Po, Lu Bwe Kim dengan gaya luwes menekuk sedikit lututnya dan menghadapi Cin Po sambil berkata, �Aihh, Sung-twako, tarianku jelek, tidak pantas kaupuji!� �Ah, nona.
Siapa bilang jelek?
Belum pernah seumur hidupku melihat yang begitu indah!� kata Cin Po sejujurnya dan karena maklum bahwa pemuda itu tidak menjilat melainkan berkata sejujurnya, tentu saja hati Bwe Kim girang bukan main.
�Ha-ha-ha, di istana engkau akan dapat melihat hal-hal lain yang indah-indah, Cin Po,� kata Lu Tong Pi.
�Selagi muda sebaiknya membuat jasa dan memperoleh kedudukan tinggi, dengan demikian berarti engkau telah memenuhi dua kewajiban.
Pertama, engkau mengangkat derajat orang tuamu, dan kedua, engkau membangun dasar yang kokoh kuat untuk keturunanmu kelak.� Mendengar ucapan ini, Cin Po mengangguk-angguk.
Dia dapat merasakan kebenaran dalam ucapan menteri itu.
Orang tuanya, terutama ayah kandungnya, adalah seorang laki-laki brengsek yang namanya buruk dan tercemar.
Kalau orang mengetahui bahwa dia adalah anak Ban Koan, tentu dia akan ikut dikutuk orang.
Untuk membersihkan nama keluarga itu, memang jalan satu-satunya membuat jasa dan nama besar, barulah noda yang melekat pada keluarganya dapat terhapus.
Juga, dia akan dapat membahagiakan ibunya kalau dia memperoleh kedudukan baik di kerajaan.
Ibunya yang sejak muda menderita sengsara.
Dia harus dapat membahagiakannya dan mengangkatnya menjadi seorang wanita yang dihormati dan dimuliakan orang!
Dan selain itu, dia akan dapat menarik wanita yang dicintanya, yaitu Ciok Hwa, ke tempat yang tinggi pula.
Dan anak-anaknya kelak juga akan menjadi orang-orang yang dihormati.
Benar Lu-taijin.
Berbakti kepada orang tua dan memberi landasan yang kuat bagi anak-anak cucunya kelak!
�Akan tetapi, paman, saya tidak memiliki kepandaian apapun.
Bagaimana saya akan dapat menghambakan diri kepada Sribaginda Kaisar?� Cin Po bertanya.
Pembesar itu telah minta kepadanya untuk menyebut paman kepada pembesar itu, suatu kehormatan yang membuat Cin Po merasa rikuh juga.
Bahkan Bwe Kim minta agar dia menyebut adik, akan tetapi lidahnya masih sering menolak dan dia menyebut nona kepada gadis bangsawan itu.
�Ha-ha-ha,� Lu Tong Pi yang sudah setengah mabok itu tertawa.
�engkau bilang tidak mempunyai kepandaian apapun?
Kiraku di istana tidak ada seorangpun panglima yang dapat menandingi kepandaianmu, Cin Po.
Kalau menurut aku, engkau pantas menjadi seorang panglima!� �Panglima...� Cin Po teringat ketika dia menjadi perwira rendahan di Khi-tan dan dia merasa ngeri kalau membayangkan betapa dia akan mengepalai lebih banyak tentara lagi.
Bagaimana kalau tentara bawahannya itu juga jahat seperti tentara Khi-tan?
�Ya, mengapa tidak?
Jangan khawatir, akulah yang akan menghadap dan melapor kepada Yang Mulia Kaisar!� Demikianlah, malam itu Cin Po tidur di sebuah kamar yang indah dan pembaringan yang lunak, sedemikian lunak dan bersih indahnya kamar itu sehingga membuat dia tidak dapat tidur nyenyak!
Pada keesokan harinya Cin Po mengenakan pakaian serba putih yang baru, dibuatkan oleh Menteri Lu karena sang menteri menghendaki dia memakai pakaian yang pantas kalau menghadap Kaisar, akan tetapi Cin Po minta agar pakaian itu berwarna putih.
�Engkau selalu berpakaian putih, Cin Po?� �Benar, paman.
Sejak kecil saya berpakaian serba putih.� �Bagus, kalau begitu aku akan memperkenalkanmu, sebagai Pek I Tai-hiap (Pendekar Besar Baju putih).� �Ah, mana aku berani, paman,� kata Chin Po merendah.
�Kalau engkau diangkat menjadi panglima, aku akan mengusulkan agar engkau diperkenankan pula memakai pakaian putih agar engkau disebut Panglima Baju Putih,� menteri itu berkelakar.
Ketika mereka sedang tertawa-tawa dan siap hendak berangkat, muncullah Lu Bwe Kim.
Gadis itu nampak cerah dan cantik jelita di pagi itu.
�Wah, engkau gagah sekali mengenakan pakaian itu, twako!� kata Bwe Kim, dan sikapnya sudah akrab dan bebas memuji biarpun di depan ayahnya.
Agaknya ayah dan anak ini merasa berhutang budi benar kepada Cin Po sehingga sikap mereka demikian ramah dan akrab.
�Wah, pakaian serba putih mana bisa membuat orang kelihatan gagah, nona?� �Twako, sudah berapa kali aku bilang.
Kita ini sudah seperti keluarga sendiri, setidak-tidaknya seperti sahabat-sahabat baik, kenapa engkau masih sungkan-sungkan dan menyebut nona kepadaku.
Apakah engkau tidak mau menyebut adik kepadaku?� �Bukan begitu, non...
ah, siauw-moi, hanya aku merasa kurang pantas...� �Siapa bilang tidak pantas?
Kalau engkau tidak menyebutku adik dan tetap menyebut nona, akupun akan menyebut tai-hiap kepadamu.� �Maafkan aku.
Baiklah, Kim-moi (adik Kim)...!� �Nah, begitu kan lebih enak?� Gadis itu tertawa, ayahnyapun tertawa dan Cin Po ikut tersenyum, akan tetapi senyumnya penuh rasa sungkan.
Keluarga ini demikian baik kepadanya, dan dia merasa rikuh bukan main.
Mereka lalu berangkat, diantar Bwe Kim sampai ke beranda depan.
Ketika mereka tiba di istana, Cin Po merasa rikuh dan sungkan sekali.
Berdebar jantungnya melihat segala kemegahan, kebesaran dan kemewahan di istana.
Segalanya serba besar.
Bahkan pintu-pintunya pun besar seperti pintu raksasa, dicat indah dan di mana-mana terdapat hiasan, hiasan dinding yang serbaneka dan berharga.
Para pengawal istana berjaga dengan pakaian mereka yang indah pula, apa lagi setelah tiba di sebelah dalam di mana penjagaan dilakukan oleh pasukan pengawal Kim-i-wi (Pasukan Baju Emas) sungguh mereka itu nampak gagah dan berwibawa.
Memasuki bangunan yang serba megah besar dan mewah itu Cin Po merasa betapa dirinya kecil tak berarti.
Maka jantungnya berdegup tegang ketika akhirnya pasukan pengawal menyambut dan mengantarkan mereka ke ruangan persidangan di mana kaisar menerima para menteri dan panglimanya.
Ruangan itu luas sekali.
Sudah banyak pembesar yang hadir ingin menghadap Kaisar dengan laporan-laporan mereka, dan singgasana masih nampak kosong.
Akan tetapi singgasana yang kosong itu agaknya mempunyai pengaruh kekuasaan yang mendalam karena semua pejabat menghadap ke arah kursi kebesaran itu dengan sikap hormat, walaupun mereka berdiri dan bercakap-cakap dengan suara bisik-bisik.
Menteri Lu Tong Pi disambut rekan-rekannya dan Cin Po terpaksa berdiri di pinggiran, tidak berani mencampuri mereka dan Menteri Lu agaknya juga belum ingin memperkenalkan penolongnya kepada mereka sebelum dia memperkenalkan kepada Kaisar.
Suara thai-kam (sida-sida) yang meninggi nyaring mengumumkan bahwa Yang Mulia Kaisar telah tiba.
Semua orang berdiam diri dan ketika Kaisar muncul diiringkan serombongan thai-kam dan pengawal pribadi, semua orang menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar dan berseru dengan suara nyaring dan serempak, �Ban-swe..., ban-ban-swe (Hidup selaksa tahun)!� Cin Po memang sudah diberi keterangan lebih dulu oleh Menteri Lu bagaimana harus bersikap kalau menghadap kaisar, maka dia pun sudah berlutut bersama yang lain di belakang Menteri Lu dan menyerukan pujian panjang umur itu sebagai penghormatan.
Dari balik bola matanya karena kepalanya menunduk tidak berani diangkat seperti pesan Menteri Lu, Cin Po melirik untuk memandang ke arah Kaisar.
Seorang laki-laki yang agak gemuk dengan wajah kemerahan dan mata tajam bersinar-sinar, mulut tersenyum mengejek, berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan pakaiannya serba gemerlapan, kini mengangkat kedua tangan ke atas dan berkata dengan suaranya yang agak parau.
�Kalian bangkitlah!� �Terima kasih, Yang Mulia!� kata mereka serempak dan kini semua orang bangkit berdiri sambil menundukkan kepala menghadap Kaisar.
Di hadapan Kaisar semua orang harus menundukkan mukanya, tidak ada yang diperbolehkan mengangkat muka menatap wajah kaisar, kecuali mereka diajak bicara.
Kemudian, sesuai dengan daftar yang dibacakan oleh seorang thai-kam, seorang demi seorang mereka yang datang membawa laporan diperkenankan maju dan berlutut menyampaikan laporannya.
Seorang pembantu lain, juga seorang thai-kam, siap untuk mencatat semua pelaporan para pejabat tinggi itu.
Ketika tiba giliran menteri Kebudayaan Lu Tong Pi dipanggil untuk maju, Menteri itu memandang Cin Po kemudian melangkah maju dan menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan kaisar.
Lu Tong Pi masih terhitung paman luar dari Kaisar Sung Thai Cung, maka tentu saja dia merupakan seorang pembesar yang terpandang dan dihormati semua rekannya.
Akan tetapi dia menjadi menteri bukan karena dia masih paman kaisar, karena sebelum Kaisar Sung Thai Cung naik tahta, Lu Tong Pi sudah lama menjadi seorang pejabat tinggi.
Dia menjadi pejabat tinggi karena kepandaiannya, dan keahliannya tentang sastera, maka dia diangkat menjadi Menteri Kebudayaan.
Ketika Kaisar memandang kepada Menteri Lu, kaisar tersenyum dan berkata ramah, �Ah, engkau sudah pulang, Paman Menteri Lu?
Bagaimana kabarnya di kampung halamanmu?� �Terima kasih, Yang Mulia.
Semua dalam keadaan sehat dan selamat.� �Bagus!
Dan bagaimana dengan penyelidikanmu tentang keadaan di perbatasan timur?� �Setelah mengunjungi kampung halaman, dalam perjalanan pulang hamba sengaja mengambil jalan di sepanjang perbatasan.
Dan ternyata banyak sekali pelanggaran perbatasan dilakukan oleh pasukan Wu-yeh.
�Menurut keterangan para penduduk di dekat perbatasan, hampir setiap hari pasukan Wu-yeh melanggar wilayah Song dan membikin kacau.
Bahkan hamba sendiri dihadang oleh pasukan Wu-yeh dan mereka menyerang pasukan pengawal yang mengiringkan hamba.� �Hemm,...!
Bagaimana kesudahannya?
Pasukan pengawalmu menang, bukan?� kata kaisar, tertarik.
�Mula-mula memang demikian, Yang Mulia.
Pasukan hamba dapat memukul mundur mereka, akan tetapi lalu muncul seorang kakek yang sakti dan kakek ini yang membuat pasukan hamba kocar kacir.
Untunglah muncul seorang pendekar muda yang gagah perkasa, dan pendekar inilah yang menyelamatkan hamba sekeluarga dan dia mampu mengalahkan kakek sakti yang kemudian dikenal oleh pendekar itu sebagai Tung-hai Mo-ong!� Semua pembesar, terutama para panglimanya, terkejut mendengar disebutnya nama ini, nama yang sudah terkenal sebagai datuk sesat dari timur yang berilmu tinggi.
�Aha, bagus sekali.
Siapakah pendekar itu dan di mana dia?� tanya kaisar dan semua orang juga ingin mengetahui siapakah pendekar muda yang dapat mengalahkan Tung-hai Mo-ong.
�Hamba sudah mengajaknya menghadap di sini, Yang Mulia.
Kalau paduka menghendaki, akan hamba suruh maju menghadap.� �Ya, panggil dia ke sini, kami ingin melihatnya.� Menteri Lu lalu memberi isyarat ke belakang kepada Cin Po.
Pemuda ini melangkah maju dan segera menjatuhkan dirinya berlutut menghadap Kaisar di samping Menteri Lu.
�Inilah Yang Mulia.
Inilah pendekar muda yang telah menyelamatkan hamba, inilah Pendekar Baju Putih.� Kaisar mengamati wajah Cin Po yang menunduk.
�Pendekar muda, coba angkat mukamu, ingin kami melihatmu.� Dengan hati berdebar tegang Cin Po mengangkat sedikit mukanya tanpa berani memandang kepada kaisar sehingga kaisar dapat melihat wajahnya yang tampan gagah.
�Siapakah namamu?� tanya kaisar dengan suara senang.
�Hamba bernama Sung Cin Po, Yang Mulia.� �Engkau murid dari perguruan manakah?� Inilah saatnya untuk mengangkat nama ibunya sebagai ketua Thian-san-pang, mengangkat nama perkumpulan itu.
�Hamba murid Thian-san-pang, Yang Mulia!� Sribaginda Kaisar mengangguk-angguk lalu berkata kepada Menteri Lu, �Lanjutkan, ceritamu, Paman Menteri Lu.� �Setelah pasukan Wu-yeh dapat dipukul mundur, hamba mengajak Sung Cin Po untuk menghadap paduka, bukan untuk menonjolkan jasanya melainkan untuk mengusulkan kepada paduka bahwa dia pantas sekali untuk diangkat menjadi seorang panglima.
Mohon paduka ketahui bahwa pihak Wu-yeh selalu melakukan pelanggaran dan keadaan mereka kuat sekali.
�Bahkan hamba mendengar desas-desus bahwa pihak Wu-yeh sedang melakukan pendekatan untuk bersekutu dengan pihak Hou-han.
Karena itu, perlu sekali seorang panglima yang pandai untuk melakukan penyelidikan dan kalau memang benar demikian, menghancurkan persekutuan itu sebelum merepotkan pihak kita!� �Dan paman mengusulkan agar Sung Cin Po ini melakukan tugas itu?� �Benar demikianlah, Yang Mulia.
Hamba kira hanya dia yang sanggup memikul tugas yang amat penting itu.� Pada saat itu, seorang kakek berusia kurang lebih enampuluh tahun yang pakaiannya seperti sasterawan melangkah maju dan berlutut kepada kaisar.
�Mohon beribu ampun.
Yang Mulia, kalau hamba hendak memberi pandangan tentang pengusulan pengangkatan panglima oleh Menteri Kebudayaan Lu.� �Bicaralah, Kok-su,� kata kaisar.
Orang itu ternyata adalah Kok-su (Guru Negara) yang tugasnya sebagai penasehat kaisar dan dia bernama Lauw Thian Seng-cu, yang dahulu sebelum menjadi Kok-su adalah seorang tosu yang pandai ilmu perbintangan, ilmu silat dan ilmu sihir.
Dia menjadi penasehat karena memang orangnya pandai dan ahli dalam segala hal sehingga kaisar amat percaya kepadanya.
�Ampun, Sribaginda.
Di dalam peraturan istana disebutkan bahwa setiap pengangkatan pejabat atau panglima baru haruslah melalui ujian.
Hal ini untuk mencegah terjadinya pengangkatan orang yang tidak cakap dan tidak cocok untuk jabatannya.� �Akan tetapi Sung Cin Po yang berjuluk Pendekar Baju Putih ini sudah menolong Paman Menteri Lu dan kepandaiannya dalam ilmu silat tinggi,� bantah Kaisar.
�Bagaimanapun juga, paduka belum menyaksikan sendiri, bukan?
Bukannya hamba tidak percaya akan keterangan Lu-taijin, akan tetapi mengingat bahwa Lu-taijin adalah seorang ahli bun (sastera) sedangkan kedudukan panglima bertalian dengan keahlian bu (silat) maka penilaian Lu-taijin bukan penilaian seorang ahli.� Kaisar mengangguk-angguk.
�Hemm, paman menteri Lu.
Keterangan Kok-su tadi memang masuk diakal.� Diam-diam Lu Tong Pi mendongkol akan tetapi cepat dia memberi hormat kepada kaisar.
�Tentu saja sebaiknya diuji agar paduka dapat menyaksikannya sendiri.� �Bagus, setelah selesai persidangan ini, nanti kami akan menyaksikan ujian itu di lian-bu-thia (ruangan silat)!� kata kaisar gembira dan Menteri Lu beserta Cin Po diperbolehkan mundur untuk memberi tempat kepada para menteri lain yang hendak memberi laporan mereka.
Setelah persidangan selesai, kaisar lalu dikawal pergi ke lian-bu-thia.
Kaisar naik di panggung dan duduk di kursi kebesaran yang berada di panggung, siap untuk menonton ujian pertandingan yang akan diatur oleh Kok-su sendiri karena pengangkatan panglima ini bukan panglima pasukan di luar istana, melainkan panglima penyelidik yang berada di bawah kekuasaan panglima pengawal istana.
Dan Kok-su adalah seorang pejabat yang tertinggi di istana setelah kaisar, maka tentu saja dia boleh melakukan ujian ini untuk memilih panglima yang sudah sepatutnya dipercaya oleh kaisar.
�Engkau berhati-hatilah, Cin Po.
Kok-su adalah seorang yang banyak akalnya,� pesan Lu Tong Pi sebelum pemuda itu memasuki ruangan ujian silat itu.
Para menteri yang menonton disediakan ruangan di samping ruangan itu sehingga ruangan itu tidak terganggu kehadiran orang lain.
Semua orang, termasuk kaisar, melihat Cin Po memasuki ruangan itu dan di sudut ruangan itu duduklah Kok-su Lauw Thian Seng-cu.
Lauw Thian Seng-cu lalu menghadap kaisar dan memberi hormat, bertanya, �Apakah hamba sudah boleh memulai, Yang Mulia?� Kaisar memberi tanda dengan tangannya dan Lauw Thian Seng-cu memberi isyarat ke pintu tembusan sebelah dalam.
Dari pintu itu lalu keluarlah seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa.
Dan melihat munculnya orang ini, semua yang hadir terkejut.
Terutama sekali menteri Lu Tong Pi.
Dia terkejut sekali, tidak menyangka bahwa Lauw Thian Seng-cu akan memilih orang ini untuk menguji kepandaian silat Cin Po.
Orang itu adalah jagoan istana yang paling tangguh, bernama Un Liong Tek.
Menurut kabar, belum pernah jagoan ini kalah oleh siapapun juga, karena itu diapun tidak pernah diajukan untuk menguji seseorang karena tentu akan kalah dan gagal.
Akan tetapi mengapa sekali ini Lauw Thian Seng-cu justeru memilih dia untuk menghadapi Cin Po?
Akan tetapi sudah terlambat untuk mencegah.
Un Liong Tek yang tubuhnya seperti orang utan itu sudah memberi hormat kepada kaisar dan kaisar menganggukkan kepalanya.
Kaisar juga tahu akan kehebatan Un Liong Tek, maka dia menjadi gembira sekali, ingin menyaksikan pertandingan yang menegangkan.
Mampukah Pendekar Baju Putih menandingi raksasa yang menjadi kebanggaan istana ini?
Dengan suara lantang, Lauw Thian Seng-cu berkata kepada Un Liong Tek yang sudah berpangkat panglima pasukan pengawal dalam istana itu.
�Un-ciangkun, engkau terpilih menjadi orang yang harus menguji ilmu kepandaian silat calon panglima ini.
Dia bernama Sung Cin Po.
Kalian boleh saling serang, tidak boleh menggunakan senjata apapun dan tidak usah bersungkan-sungkan karena pertandingan ini harus sungguh-sungguh untuk menilai sampai di mana kepandaian calon ini.
�Sung Cin Po, kalau engkau ingin lulus dalam ujian ini, engkau harus mampu menandingi Un-ciangkun.
Dan ingatlah kalian berdua bahwa kalau ada yang terluka dalam pertandingan, itu sudah menjadi resiko pertandingan ujian.
Nah, mulailah!� Cin Po merasa tidak enak kalau harus menyerang lebih dulu.
Dia adalah pihak yang diuji, maka dia akan menyerahkan kepada pengujinya untuk mulai lebih dulu.
Karena dia melihat orang tinggi besar itupun hanya memasang kuda-kuda dan memandang kepadanya, seolah menanti dia menyerang lebih dulu, diapun berkata dengan sikap hormat.
�Ciangkun, silakan mulai, saya sudah siap.� �Lihat serangan!� panglima itu membentak dan dia sudah menerjang ke depan seperti seekor biruang.
Gerakannya cepat sekali dan dari kedua tangannya menyambar angin pukulan yang kuat.
Melihat sifat serangan, Cin Po tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang yang mengandalkan tenaga otot dalam penyerangannya dan bahwa orang ini memiliki tenaga besar sekali.
Dengan sigapnya dia mengelak ke kiri.
Akan tetapi, cepat sekali tubuh penyerangnya juga sudah membelok ke kiri dan melanjutkan serangan pertama yang luput tadi.
Kembali Cin Po mengelak mundur sehingga serangan kedua itupun tidak mengenai tubuhnya.
Un Liong Tek menjadi penasaran sekali.
Gerakan pemuda itu demikian lincah dan dia merasa dipermainkan.
Dia mengeluarkan suara geraman di kerongkongan dan kini dia menyerang dengan ilmu silat yang dahsyat, yang datangnya seperti ombak bergulung-gulung.
Itulah ilmu silat Lo-hai-kun-hoat (Ilmu Silat Pengacau Lautan) yang hebat.
Bukan hanya kedua tangan yang menghantam secara bergantian dan bertubi-tubi, akan tetapi juga kedua kakinya berselang-seling mengirim tendangan.
Dan setiap pukulan atau tendangan dilakukan dengan amat kuatnya.
Sampai belasan jam lamanya Cin Po berhasil mengelak dengan loncatan ke sana sini, akan tetapi karena serangan itu bertubi-tubi datangnya, akhirnya dia harus menangkis juga.
Dan inilah yang dikehendaki oleh lawannya.
Un Liong Tek segera mengetahui bahwa pemuda itu memiliki kelincahan sehingga sukar dipukul, maka dia mainkan Lo-hai-kun-hoat untuk mendesak dan memaksa lawannya untuk menangkis.
Kalau lawan menangkis, tentu mereka harus mengadu tenaga dan dia yakin bahwa pemuda itu tentu akan terpental dan roboh.
Cin Po mengangkat kedua lengannya untuk menangkis kedua tangan lawan yang menghantamnya dari atas ke bawah.
Dua pasang lengan bertemu di udara.
�Dessss...!!� Akibatnya bukan Cin Po yang terpental dan roboh, melainkan tubuh Un Liong Tek yang terhuyung ke belakang.
Tentu saja panglima tinggi besar itu terkejut setengah mati.
Tadi ketika memukul dia telah mengerahkan hampir seluruh tenaganya dan dia yakin bahwa jarang ada orang yang mampu menangkis pukulannya itu tanpa terpental atau terdorong ke belakang.
Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak goyah, bahkan dia sendiri yang terhuyung ke belakang karena merasa ada tenaga yang bukan main kuatnya keluar dari tangkisan pemuda itu dan mendorongnya.
Dari rasa kaget dan heran, Un Liong Tek kini menjadi penasaran dan marah.
Tentu saja dia tidak berani memperlihatkan kemarahannya karena di situ hadir banyak pejabat tinggi, bahkan kaisar sendiri menonton adu kepandaian ini.
Dia hanya mengatupkan gigi kuat-kuat dan menyerang lagi, sekali ini mengerahkan seluruh tenaganya dan juga mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Kembali Cin Po mengelak dan pemuda ini merasa penasaran juga.
Dia tadi sudah mengalah, kalau dia mau tangkisan itu dapat membuat lawannya terjengkang.
Namun dia membatasi tenaganya sehingga Un Liong Tek yang ditangkisnya itu hanya terhuyung ke belakang.
Penguji itu tidak mau mengaku kalah malah sebaliknya kini menyerang mati-matian.
Selagi dia mengelak ke sana sini, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang berada dekat sekali dengan telinganya, seolah ada orang berbisik kepadanya.
�Sung Cin Po, engkau kehilangan tenagamu, hayo engkau menjatuhkan diri berlutut!� Suara itu mengandung daya yang kuat dan dia merasa seakan-akan lututnya harus ditekuk.
Dia segera menyadari bahwa ini merupakan serangan dengan ilmu sihir.
Ketika dia memandang, ternyata Lauw Thian Seng-cu yang tadi duduk kini telah berdiri dan kakek itulah yang menyerangnya!
Dia menjadi penasaran sekali.
Kenapa kakek itu harus bertindak curang dan menyerangnya, hendak memaksanya agar kalah dalam ujian ini?
Dia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya seperti yang dipelajarinya dari Bu Beng Lojin dan menuding ke arah kakek itu.
�Engkau yang jatuh berlutut!� katanya dengan pengerahan khi-kang sehingga dia hanya berbisik dan yang mendengar suaranya hanya kakek itu.
Sementara itu, pukulan Un Liong Tek datang menyambar.
Dia menangkap lengan itu dengan tangannya, memutar sekaligus membanting.
Tak dapat dihindari lagi, lengan Un Liong Tek terputar dan tubuhnya terbanting keras, hampir berbareng dengan jatuhnya tubuh Lauw Thian Seng-cu yang berlutut!
Terdengar tepuk tangan dari Kaisar Sung Thai Cung dan para pejabat tinggi juga ikut bertepuk tangan memuji kemenangan Cin Po.
Un Liong Tek yang terkejut sekali karena tiba-tiba saja dia terbanting roboh, segera berlutut ke arah kaisar dan mengundurkan diri dekat Kok-su.
Kaisar mengangkat tangan dan semua yang bertepuk tangan berhenti bertepuk.
Terdengar suara kaisar yang merasa heran.
�Kok-su, kenapa engkau tadi tiba-tiba saja berlutut?� Semua orang melihat ini dan semua orang juga merasa heran.
Wajah Lauw Thian Seng-cu menjadi merah.
Dia sendiri heran setengah mati melihat betapa kekuatan sihirnya membalik dan dia seolah memerintahkan diri sendiri untuk berlutut!
�Hamba...
hamba tadi saking tegangnya bangkit dan hampir lupa bahwa paduka hadir di sini, maka setelah teringat hamba lalu berlutut memberi hormat kepada paduka.� Kaisar mengangguk-angguk dan hanya Cin Po seoranglah yang tahu persis mengapa Kok-su itu tiba-tiba berlutut tadi.
Diam-diam Cin Po waspada dan berhati-hati karena dia menemukan seorang yang berbahaya sekali dalam diri Kok-su itu.
�Sung Cin Po!� kata kaisar dengan nada suara gembira, �Engkau telah lulus ujian dan kami menerima usul Paman Menteri Lu Tong Pi.
Engkau kami angkat menjadi seorang panglima penyelidik yang bertugas menyelidiki daerah perbatasan dengan kerajaan-kerajaan lain dan mengamankannya.
Kalau membutuhkan pasukan, engkau boleh minta bantuan panglima pasukan keamanan kota raja.� Cin Po yang sudah lebih dulu menerima keterangan dari menteri Lu, segera menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan terima kasih.
Demikianlah, Cin Po diangkat menjadi panglima penyelidik, diperbolehkan minta pasukan berapa saja untuk membantu dalam tugasnya.
Dan untuk sementara Kaisar memenuhi permintaan Menteri Lu agar panglima muda baru itu diperbolehkan tinggal di rumahnya.
Cin Po juga menerima tanda pangkat yang diperlukan dalam tugasnya untuk memperkenalkan diri kepada para pejabat daerah.
Dengan girang Menteri Lu membawa Cin Po pulang.
Ketika mendengar tentang pengangkatan Cin Po sebagai panglima penyelidik Lu Bwe Kim menjadi girang sekali dan gadis ini cepat memberi selamat.
�Selamat atas pengangkatan itu, twako.
Engkau memang tepat sekali untuk menjadi seorang panglima besar sekalipun!� kata gadis itu sambil mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai pemberian selamat.
Cin Po cepat membalas.
�Terima kasih, Kim-moi.
Sebetulnya semua ini adalah atas jasa dan bantuan ayahmu.
Tanpa bantuan Paman Lu, mana mungkin aku menjadi panglima!� �Aih, Cin Po, kenapa berkata begitu?
Biarpun aku yang membawamu ke istana, kalau engkau tidak memiliki ilmu kepandaian tinggi tentu tidak akan berhasil.
Bayangkan saja kalau engkau tadi gagal dan kalah!
Hatiku sudah berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran karena kalau engkau gagal tentu aku ikut menjadi bahan ejekan dan tertawaan.� �Paman Lu, saya melihat sikap Kok-su itu seolah tidak percaya dan tidak suka kepada paman, benarkah (Lanjut ke
Jilid 13) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 penglihatan saya itu?
Dan kalau benar mengapa dan siapakah dia?� Lu Tong Pi menarik napas panjang.
�Memang penglihatanmu benar, Cin Po.
Aku pernah bentrok dengan Kok-su Lauw Thian Seng-cu yang hendak mencampuri urusan kebudayaan yang menjadi wewenangku.� �Dia seorang yang berbahaya, paman.
Agaknya dia pandai ilmu silat dan ilmu sihir.� �Memang akupun mendengar bahwa dia ahli ilmu silat dan sihir.
Sungguh keadaannya mencurigakan dan mengkhawatirkan melihat betapa kekuasaannya semakin besar dan Kaisar berada di dalam pengaruhnya.� Kekuasaan memang dapat memabokkan orang.
Semua orang berebutan kekuasaan, semua orang berambisi dan menganggap bahwa ambisi atau cita-cita itu sesuatu yang amat baik, yang mendorong orang untuk maju dan berhasil dalam tujuannya.
Pada hal, tujuanlah yang seringkali menyeret manusia ke arah penyelewengan.
Tujuan menghalalkan segala cara.
Orang terlalu mengejar tujuan sehingga membuta terhadap cara yang dipergunakannya untuk mencapai tujuan itu.
Tujuan menjadi kaya mendorong orang melakukan penipuan, curang dalam perdagangan, korupsi dalam jabatan, bahkan mencuri dan merampok.
Tujuan untuk memperoleh kedudukan membuat orang lupa diri dan saling berebutan kekuasaan dengan berbagai tipu muslihat untuk menjatuhkan dan mengalahkan lawan.
Tujuan dikejar-kejar, dinamakan dengan istilah muluk seperti cita-cita dan sebagainya.
Pada hal, tujuan ini bukan lain hanyalah keinginan untuk menjadi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kesenangan, akan membuat keadaannya lebih baik dan lebih menyenangkan dari pada keadaannya sekarang.
Dan keinginan untuk senang adalah ulah dan gejolak nafsu yang menyeret manusia.
Yang terpenting bukanlah tujuannya, melainkan caranya.
Hasil dari pada cara itu tidak terpisah dari caranya sendiri karena hasil hanya merupakan akibat dari cara yang ditempuhnya.
Kalau cara itu baik, tentu akibat atau hasilnya baik pula.
Mungkinkah mengharapkan suatu hasil yang baik kalau caranya tidak benar?� �Kalau begitu, sebaiknya paman berhati-hati menghadapi Kok-su itu.
Terus terang saja, Paman Lu, tadi ketika saya menghadapi ujian, diam-diam Kok-su itu membantu dengan kekuatan sihirnya untuk membuat saya kalah.
Masih untung saya dapat mengatasinya sehingga saya dapat keluar sebagai pemenang.� Menteri Lu terkejut sekali.
�Ahh, aku melihat hal yang ganjil tadi.
Tiba-tiba saja Kok-su itu berlutut dan hampir berbareng dengan itu, engkaupun mengalahkan Un-ciangkun.� �Benar, paman.
Dia mendorongku dengan kekuatan sihir agar saya jatuh berlutut, akan tetapi masih untung saya dapat menangkis serangan gelapnya itu.� �Sungguh licik dan curang.
Karena itu, engkau harus berhati-hati terhadap orang itu, Cin Po.
Siapa tahu, dia masih merasa penasaran karena selain engkau telah mengalahkan Un-ciangkun, juga engkau mampu menangkis serangan sihirnya.� Setelah menteri itu pergi untuk mengurus pekerjaannya, Cin Po ditinggal berdua dengan Lu Bwe Kim.
Gadis ini memandang dengan matanya yang indah, penuh kagum.
�Twako, engkau memang hebat.
Kau tahu, Un-ciangkun itu terkenal sebagai jagoan nomor satu di istana dan engkau telah dapat mengalahkannya dengan mudah.
Sungguh aku kagum sekali dan aku merasa amat girang bahwa engkau kini telah menjadi seorang panglima.� �Engkau baik sekali, Kim-moi.
Dan sekarang, maafkan aku.
Aku hendak menghadap panglima pasukan keamanan karena setelah Sribaginda mengangkatku, aku harus segera melaksanakan tugas.
Aku akan berunding dengannya dan minta disediakan pasukan untuk membuat pembersihan di sepanjang tapal batas dengan kerajaan Wu-yeh.� �Baiklah, twako.
Selamat bekerja dan berhati-hatilah.
Aku akan menunggumu pulang dengan berhasil dan selamat,� kata gadis itu dan pandang matanya membuat jantung Cin Po berdebar tegang karena dari kata-kata dan pandang mata gadis itu dia dapat menangkap isyarat cinta!
Cin Po membawa seratus orang pasukan dan pergilah dia ke perbatasan.
Setiap melihat pasukan Wu-yeh yang melanggar wilayah Sung, segera diserangnya pasukan itu dan dalam setiap pertempuran, Cin Po mengamuk sehingga pasukan musuh menjadi kocar-kacir.
Dalam waktu sebulan lebih Cin Po mengadakan pembersihan di tapal batas dan dia sendiri tidak mengijinkan pasukannya melanggar perbatasan, hanya menyerang kalau lihat pasukan musuh melanggar perbatasan.
Ada kalanya dia bertemu dengan pasukan yang lebih besar jumlahnya sehingga dalam pertempuran itu diapun kehilangan banyak anak buah.
Walaupun akhirnya pasukannya keluar sebagai pemenang, akan tetapi banyak anak buahnya yang terluka atau tewas.
Terpaksa dia minta bantuan tambahan tenaga dari panglima yang berjaga di benteng dekat perbatasan.
Perang antara manusia memang merupakan puncak dari keganasan nafsu.
Dalam perang, nyawa manusia tidak ada harganya lagi.
Manusia berbunuh-bunuhan dengan bebas.
Dalam keadaan biasa, membunuh seorang manusia merupakan dosa dan dianggap sebagai kejahatan, dan akan dihukum oleh peraturan pemerintah yang manapun juga.
Akan tetapi dalam perang, manusia boleh membunuh sebanyak-banyaknya.
Lebih banyak dia membunuh, lebih hebat dan dikagumilah dia, dianggap sebagai seorang pahlawan yang pantas dihormati.
Perang dengan dalih apapun, merupakan bentuk kekerasan dan kekejaman yang berada di puncaknya.
Dan kalau ada dua pihak saling bermusuhan, saling berperang, sudah pasti...
mereka itu masing-masing mempunyai alasan tersendiri yang membenarkan tindakannya itu.
Pada hal, yang bermusuhan itu hanyalah mereka yang mengatur perang, yang sebagian besar biasanya malah tidak ikut dalam pertempuran.
Yang bertempur, yakni para pasukan, para perajurit, babkan tidak tahu apa-apa.
Tahunya hanya saling bunuh-membunuh atau dibunuh.
Untuk itu mereka mungkin dibayar, mungkin digerakkan oleh bujukan dan propaganda.
Ada yang mengatakan bahwa perang perlu diadakan untuk memperoleh kedamaian!
Betapa menggelikan dan menyedihkan.
Damai melalui perang!
Tentu merupakan damai paksaan, damai karena takut, bukan damai karena persahabatan.
Yang kalah tentu takut dan menurut saja kehendak yang menang, dan nampaknya ada kedamaian karena yang kalah tidak berani berkutik.
Akan tetapi jauh di lubuk hati yang kalah tentu terdapat dendam dan sekali waktu kalau terdapat kesempatan, yang kalah tentu akan membalas dendam dan menebus kekalahannya.
Dan perang berlarut-larut tiada hentinya.
Kalau padampun hanya sama seperti api dipadamkan dengan timbunan sekam.
Api dalam sekam.
Tidak bernyala akan tetapi membara di dalam.
Seperti lahar dalam gunung berapi, sewaktu-waktu dapat meletus dan membakar.
Setelah lebih dari sebulan mengadakan pembersihan, mengusir pasukan Wu-yeh yang melanggar perbatasan dan mengacau di dusun-dusun sekitar perbatasan, Cin Po kembali ke kota raja.
Dia dianggap berjasa besar dan mendapat kenaikan pangkat.
Ketika kembali ke rumah Menteri Lu, dia disambut dengan pesta.
Terutama sekali Lu Bwe Kim menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
Gadis ini merasa bangga sekali dan dengan terang-terangan ia memperlihatkan perasaan hatinya yang mencinta Cin Po.
Dia dengan ayah dan keluarganya yang menyambut pemuda itu dalam sebuah pesta kecil, Lu Bwe Kim mengangkat cawan arak sampai tiga kali untuk memberi selamat kepada Cin Po!
Tentu saja pemuda ini menyambut dengan berterima kasih dan dengan wajah kemerahan karena penyambutan Bwe Kim kepadanya itu agak berlebihan.
�Ha-ha-ha,� Menteri Lu Tong Pi tertawa melihat sikap Cin Po yang menjadi salah tingkah itu.
�Dalam keadaan begini, makan sekeluarga, kami menganggap engkau seperti anggota keluarga sendiri, Cin Po.
Berapakah usiamu sekarang, Cin Po?
� �Saya berusia duapuluh satu tahun, paman,� jawab Cin Po dengan muka menunduk karena semua mata memandang kepadanya, dan dia sudah dapat menduga ke arah mana pertanyaan itu menuju.
�Duapuluh satu tahun dan sudah menjadi seorang panglima yang naik pangkat!
Ah, engkau sudah sepatutnya membentuk rumah tangga dan menikah, Cin Po!� Semua keluarga itu tersenyum dan Bwe Kim juga tersenyum malu-malu karena ayahnya memandang kepadanya penuh arti.
�Paman, saya...
saya belum memikirkan tentang itu,� kata Cin Po agak tersipu karena ucapan Menteri Lu itu dikeluarkan di depan banyak orang.
Menteri Lu tertawa dan pesta itu dilanjutkan, dan pembesar itu yang melihat Cin Po tersipu tidak melanjutkan lagi pembicaraan mengenai hal itu.
Setelah selesai, Menteri Lu mengatakan bahwa dia hendak ke istana mengurus pekerjaannya.
�Bwe Kim, temani kakakmu yang harus beristirahat setelah bekerja keras selama sebulan lebih,� pesannya kepada puterinya dan pesan ini saja sudah menunjukkan bahwa sang Menteri itu sudah setuju sekali kalau puterinya berhubungan erat dengan Cin Po!
Ketika mendapat kesempatan untuk bicara berdua saja, Bwe Kim memberanikan diri berkata, �Twako, harap engkau suka memaafkan ayahku tadi.� �Eh, mengapa, Kim-moi?
Apa yang harus dimaafkan?� �Tadi ayah menyinggung-nyinggung tentang pernikahan, membuat engkau menjadi rikuh dan malu, twako.� Wajah pemuda itu berubah merah.
�Ah, sebetulnya tidak mengapa.
Pertanyaan seperti itu wajar saja, dari seorang yang lebih tua kepada yang muda.
Tidak perlu engkau mintakan maaf, Kim-moi?� �Akan tetapi tahukah engkau ke mana tujuan pertanyaan dan pembicaraan ayah tadi, twako?� �Tidak, mengapa?� Kini wajah gadis itu yang berubah kemerahan akan tetapi ia memaksakan diri menjawab juga.
�Dia maksudkan...
eh, ayah agaknya ingin sekali melihat engkau menjadi mantunya.� �Ehh...!� Cin Po memandang kepada gadis itu dengan mata terbelalak.
Kalau Menteri Lu ingin mengambil dia sebagai mantu, berarti dia akan dijodohkan dengan Bwe Kim!
�Aku sudah cukup mengenal watak ayah dan aku dapat menduga apa yang dikehendakinya, twako.
Karena itu aku berterus terang saja dan ingin sekali aku mendengar darimu sendiri, bagaimana pendapatmu dengan kehendak ayah itu?� Cin Po merasa tidak enak sekali.
Dari sikap dan pertanyaan gadis itu, dia dapat menduga bahwa Bwe Kim agaknya setuju dengan kehendak ayahnya, berarti gadis ini �ada hati� kepadanya.
Ini sama sekali tidak boleh.
Dan agar gadis itu jangan terus mengharapkan dan salah duga, sebaiknya kalau dia berterus terang saja.
Dia memberanikan dirinya, mengangkat muka dan memandang kepada gadis itu penuh perhatian.
�Kim-moi, aku adalah seorang yang amat berterima kasih kepadamu dan kepada ayahmu sekeluarga.
Kalian begitu baik kepadaku dan tidak semestinya kalau aku mengecewakan harapan kalian.
�Akan tetapi dalam hal perjodohan...
bukan aku tidak suka kepadamu, engkau seorang gadis yang mengagumkan, cerdik dan cantik jelita, berdarah bangsawan pula.
Akan tetapi, bagaimana lagi, Kim-moi, aku terpaksa harus menyatakan tidak sanggup menerima kehendak ayahmu yang begitu berbudi, karena aku...
aku sudah bertunangan dengan seorang gadis lain.� Bwe Kim menundukkan mukanya dan sejenak ia memejamkan matanya dan menahan napas untuk menelan semua kekecewaannya.
Sejenak kemudian, ia membuka matanya kembali dan memandang kepada pemuda itu.
�Terima kasih, twako, atas kejujuranmu.
Aku percaya bahwa apa yang kau katakan itu semuanya benar, dan maafkan ayahku.
Aku yang akan memberitahu ayahku bahwa engkau sudah bertunangan agar ayah menghilangkan kehendaknya yang tidak pada tempatnya itu.� �Terima kasih, Kim-moi.� Pada saat itu, datang seorang pengawal memberi tahu bahwa Cin Po dipanggil ke istana sekarang juga.
Mendengar ini, Cin Po lalu mengenakan pakaian panglimanya yang serba putih, dan berangkatlah dia ke istana.
Setibanya di depan kaisar, ternyata di situ kaisar dihadap para Menteri dan panglima.
Cin Po diberi tahu bahwa menurut berita laporan para penyelidik, terjadi lagi kerusuhan di perbatasan Wu-yeh dengan munculnya pasukan Wu-yeh yang agak besar jumlahnya, bukan saja melanggar tapal batas akan tetapi juga membikin kacau daerah itu.
Dan Cin Po mendapat tugas lagi untuk mengusir dan membasmi para pengacau dari Wu-yeh itu.
Setelah mendapatkan pasukan tentara, Cin Po segera berangkat melaksanakan tugasnya.
Pasukan yang dipimpin Cin Po tiba di perbatasan dan segera dia mencari pasukan Wu-yeh yang dikabarkan membuat kerusuhan itu.
Setelah bertemu, dia terkejut melihat bahwa pasukan Wu-yeh yang besarnya lebih dari seratus orang itu dipimpin oleh Tung-hai Mo-ong dan puterinya, Ciok Hwa!
Tentu saja Cin Po tidak menghendaki pertempuran dengan kekasihnya itu, maka dia tidak memerintahkan pasukannya untuk menyerbu, melainkan menahan pasukannya dan dia sendiri lalu maju menemui Tung-hai Mo-ong dan puterinya.
Setelah bertemu, Cin Po cepat memberi hormat kepada Tung-hai Mo-ong.
�Kiranya Paman Kui Bhok yang berada di sini,� katanya setelah memberi hormat.
�Dan engkau, Hwa-moi.� �Dan engkau di sini membawa pasukan mau apa?� bentak Tung-hai Mo-ong.
�Mau membasmi kami?� �Sribaginda mendengar bahwa di perbatasan terjadi kerusuhan dan beliau memerintahkan aku untuk memadamkan kerusuhan itu.
Aku tidak percaya bahwa engkau dan adik Ciok Hwa yang mengadakan kerusuhan, paman.
�Karena itu, kuharap dengan hormat dan sangat agar paman menarik mundur pasukan dan tidak melanggar wilayah Sung sehingga tidak sampai terjadi bentrokan.
Aku sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan paman, apa lagi dengan adik Ciok Hwa,� katanya sambil memandang kepada wajah yang tertutup cadar hitam itu.
�Kembalilah, Cin Po.
Aku akan menjaga agar anak buah kami tidak akan melakukan kerusuhan apapun.
Katakan kepada kaisarmu bahwa kerusuhan sudah tidak ada lagi.� �Akan tetapi...� �Twako, aku yang menanggung akan kebenaran janji ayah,� kata Ciok Hwa dan mendengar ini, Cin Po menjadi lega hatinya.
�Baiklah, aku akan menarik mundur kembali pasukanku dan melapor ke kota raja.� Cin Po membedal kudanya kembali kepada pasukannya dan dia memerintahkan pasukannya untuk mundur dan kembali ke kota raja.
Di antara pasukannya itu terdapat kaki tangan Kok-su dan melihat betapa Cin Po bergaul demikian akrabnya dengan pimpinan pasukan Wu-yeh, cepat dia melapor kepada atasannya setelah tiba di istana.
Cin Po sedang beristirahat di rumah gedung Menteri Lu, siap untuk menghadap dan memberi laporan kepada kaisar ketika tiba-tiba Menteri Lu datang berlari-lari.
�Wah celaka, Cin Po!� �Kenapa, paman?� �Celaka, kaisar memerintahkan panglima untuk menangkapmu!� Tentu saja Cin Po terkejut sekali sehingga dia bangkit dari tempat duduknya.
�Akan tetapi kenapa paman?� �Ada anak buah pasukan melapor bahwa engkau bergaul akrab dengan pimpinan Pasukan Wu-yeh.
Celaka, cepat kau pergi, engkau sudah dituduh mata-mata musuh, pemberontak.
Cepat pergi sebelum mereka datang!� Mendengar ini, Cin Po segera lari ke kamarnya, membawa buntalan pakaian lamanya dan diapun pergi meninggalkan gedung itu, bahkan langsung keluar dari kota raja.
Setelah keluar dari kota raja, Cin Po teringat kepada kekasihnya dan diapun segera lari ke arah perbatasan untuk menemui kekasihnya.
Akan tetapi ternyata pasukan Wu-yeh yang dipimpin Tung-hai Mo-ong itu sudah meninggalkan perbatasan, agaknya sudah kembali ke wilayah Wu-yeh.
Maka Cin Po lalu hendak menyusul ke Wu-yeh.
Pada suatu hari, selagi dia berjalan seorang diri melalui jalan yang sunyi, dia melihat serombongan orang menunggang kuda.
Karena khawatir bahwa dia akan dikenal orang dan terjadi keributan, Cin Po menyelinap ke balik rumput alang-alang dan mengintai.
Alangkah kaget dan herannya ketika dia mengenal See-thian Tok-ong berada di antara rombongan lima orang itu.
Sungguh aneh dan mengherankan, pikirnya, See-thian Tok-ong adalah seorang datuk dari kerajaan Hou-han, bagaimana kini tahu-tahu berada di daerah Wu-yeh?
Dia menjadi curiga sekali dan diam-diam Cin Po mempergunakan kepandaiannya membayangi lima orang yang lewat dengan cepatnya di jalan itu.
Tidak sukar bagi Cin Po yang berilmu tinggi untuk membayangi lima orang penunggang kuda itu.
Ketika rombongan itu tiba di sebuah lapangan rumput di lereng bukit dalam sebuah hutan, mereka berhenti dan seorang anggauta rombongan membunyikan peluit seperti memberi isyarat rahasia.
Tak lama kemudian terdengar suara peluit lain yang menjawab dan muncullah tujuh orang dari lereng sebelah atas.
Mereka ini tidak berkuda dan ketika mereka sudah mendatangi tempat itu, Cin Po yang bersembunyi dan mengintai tak jauh dari situ terkejut mengenal bahwa yang muncul adalah rombongan orang yang dipimpin oleh Tung-hai Mo-ong!
Tentu saja dia merasa tidak enak sekali, akan tetapi hatinya merasa agak lega bahwa Ciok Hwa tidak ikut dalam rombongan itu.
Dia menyusup makin dekat untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Dia tahu dari sikap mereka, bahwa pertemuan ini memang sudah direncanakan dan agaknya mereka hendak merundingkan sesuatu.
Wakil dari kerajaan Hou-han hendak berunding dengan wakil dari kerajaan Wu-yeh!
See-thian Tok-ong tertawa bergelak ketika dia melihat Tung-hai Mo-ong.
�Ha-ha-ha, ternyata Tung-hai Mo-ong masih merupakan seorang datuk yang memegang janji.
Ini pertanda bahwa kerajaan Wu-yeh memang pantas untuk dijadikan sekutu kerajaan Hou-han!
�Nah, kami dari Hou-han sudah berani datang menyusup ke dalam wilayah Wu-yeh, sekarang pesan apa yang akan kausampaikan dari rajamu untuk kami teruskan kepada raja kami, Tung-hai Mo-ong?� Tung-hai Mo-ong yang kurus kering itu bersikap tenang dan berwibawa, nampaknya tidak mau kalah dengan sikap See-thian Tok-ong.
Bagaimanapun juga tingkat mereka berdua adalah seimbang, maka tidak ada yang perlu merendahkan diri di antara mereka.
�See-thian Tok-ong, bagus sekali engkau sudah datang.
Kami memang merupakan orang-orang yang selalu memegang janji.
Persekutuan di antara kita sudah disetujui oleh kedua orang raja kita, tinggal pelaksanaan tugas kita saja yang harus dipenuhi.
�Pihakmu berjanji untuk menghubungi sutemu di kerajaan Sung, bagaimana beritanya?
Kami telah siap dengan pasukan kami di perbatasan, dan sewaktu-waktu usaha pembunuhan kaisar Sung Thai Cung itu berhasil, kami segera akan bergerak menyerbu Sung dari arah timur.
Dan bagaimana dengan persiapanmu?� �Beres, kami juga sudah mempersiapkan pasukan besar di perbatasan dan begitu usaha pembunuhan itu berhasil, kami juga akan segera bergerak!� �Kalau begitu, harap siap dengan pembawa berita tentang usaha pembunuhan itu kepada kami.
Kami siap menanti datangnya berita baik itu.� �Ha-ha, jangan khawatir, Tung-hai Mo-ong.
Kami telah mempersiapkan segalanya.
Dan usaha pembunuhan itu pasti berhasil karena yang melakukannya adalah orang dalam istana sendiri.� �Bagus, kita menyerang dari kedua pihak selagi istana dalam keadaan kacau karena kematian kaisarnya, sudah pasti usaha kita sekali ini akan dapat menghancurkan kekuasaan Sung!� �Memang demikian, dan raja kita masing-masing tentu akan memegang teguh perjanjian untuk membagi kerajaan Sung menjadi dua, masing-masing menjadi wilayah kita berdua.� Cin Po demikian terkejut dan khawatir mendengar percakapan itu sehingga dia membuat gerakan yang terdengar oleh dua orang datuk yang lihai itu.
Ke dua orang datuk itu cepat menengok dan segera mereka seperti berlomba melompat ke balik semak di mana Cin Po bersembunyi.
Akan tetapi, Cin Po juga sudah mendapat kembali ketenangannya, maka begitu ke dua orang itu melompat ke arahnya, diapun melompat melarikan diri.
�Cin Po...!� Dia mendengar Tung-hai Mo-ong berteriak memanggil, akan tetapi dia terus berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Dia telah ketahuan ayah kekasihnya, akan tetapi dia tidak perduli.
Bagaimana pun juga Tung-hai Mo-ong telah bersekutu dengan pihak Hou-han dan merencanakan pembunuhan atas diri kaisar Sung Thai Cung.
Biarpun dengan perasaan tidak enak karena dia tahu saat itu dia menjadi orang buruan, akan tetapi Cin Po tidak mungkin dapat mendiamkan saja kaisar terancam bahaya maut.
Dia harus memperingatkan kaisar akan bahaya maut yang mengancam.
Akan tetapi bagaimana?
Begitu muncul di istana dia tentu akan ditangkap karena dia telah dianggap sebagai mata-mata musuh, sebagai pengkhianat yang bersekutu dengan Wu-yeh!
Dengan nnenggunakan kepandaiannya yang telah mencapai tingkat tinggi, tanpa banyak kesukaran Cin Po mampu melewati pagar tembok kota yang menjadi benteng itu dan akhirnya dia dapat menyeludup ke dalam kota raja.
Cepat dia menyelinap dari rumah ke rumah dan akhirnya dia dapat melompati pagar tembok rumah Menteri Kebudayaan Lu Tong Pi.
Kebetulan Menteri itu berada di rumah dan dia sampai melompat saking kagetnya melihat betapa tiba-tiba Cin Po muncul di dalam ruangan itu.
�Twako...!!� Bwe Kim berseru dengan girang dan juga kaget melihat betapa pemuda itu kembali tanpa diduga-duga.
�Cin Po, apa yang kaulakukan di sini?
Bukankah engkau sudah keluar dari kota raja...?� Menteri Lu bertanya dengan khawatir sekali, sambil menutupkan pintu ruangan itu agar jangan ada penjaga yang melihat pemuda itu.
�Paman Lu, terpaksa saya kembali ke sini karena ada sesuatu yang amat gawat.
Nyawa Sribaginda Kaisar terancam bahaya maut dan aku menghendaki agar paman yang memperingatkan baginda!� Wajah Menteri Lu menjadi pucat.
�Apa...
apa yang terjadi?� Cin Po lalu menceritakan apa yang didengarnya dari percakapan para wakil Hou-han dan Wu-yeh dan mengadakan persekutuan untuk membunuh Sung Thai Cung dan menjatuhkan kerajaan Sung.
�Tung-hai Mo-ong adalah wakil dari kerajaan Wu-yeh dan dia telah menyebut-nyebut soal sute dari See-thian Tok-ong wakil Hou-han.
Entah siapa yang dimaksudkan dengan sutenya yang agaknya bekerja di sini.� �Wah, kalau begitu bisa gawat!
Bagaimana harus dijaga keselamatan Sribaginda Kaisar kalau pembunuhnya adalah orang dalam istana sendiri?
Cin Po, engkau menanti dulu di sini!
Aku akan segera menghadap Sribaginda dan akan kuceritakan terus terang segala apa yang engkau dengar itu.
�Dengan demikian, selain namamu akan dibersihkan dari fitnah bahwa engkau mata-mata musuh, juga mungkin sekali Sribaginda Kaisar akan mempercayamu untuk melakukan penjagaan di istana sebagai pengawal pribadinya.� �Memang sebaiknya begitu, paman.
Kalau tidak dijaga dengan ketat, keselamatan Sribaginda amat terancam.
Aku mengenal orang-orang seperti Tung-hai Mo-ong dan See-thian Tok-ong.
Mereka adalah orang-orang yang amat berbahaya dan tentu sute dari See-thian Tok-ong yang sudah menyeludup di dalam istana Sung itu amat lihai pula.� Demikianlah, bergegas Menteri Kebudayaan Lu pergi menghadap kaisar dan mohon bicara empat mata dengan kaisar Sung Thai Cung.
Tidak sembarangan pejabat dapat memohon bicara empat mata dengan Sribaginda, akan tetapi karena Menteri Kebudayaan Lu Tong Pi masih terhitung paman sendiri dari Kaisar, maka Kaisar segera memenuhi permintaannya itu.
�Ada apakah paman Lu?
Sikapmu begini penuh rahasia,� kata Sribaginda kaisar sambil tersenyum ramah.
�Ini memang merupakan rahasia besar, Yang Mulia.
Rahasia besar yang mengancam keselamatan paduka, juga keselamatan kerajaan Sung yang terancam kehancuran.� �Heii, paman!
Apa yang kaumaksudkan?� �Tentu paduka masih ingat kepada Sung Cin Po, bukan?� �Ah, pemuda yang menjadi mata-mata musuh dan pengkhianat itu?� �Sama sekali tidak, Yang Mulia.
Semua itu hanya fitnah belaka.
Dan sekarang Cin Po membuktikan bahwa dia adalah seorang hamba yang setia.
�Dia kembali ke kota raja membawa berita yang teramat penting.
Dia melihat utusan-utusan dari Hou-han dan Wu-yeh mengadakan pertemuan dan mereka mengadakan persekutuan busuk untuk membunuh paduka dan setelah usaha jahat itu berhasil, pasukan mereka yang sudah siap di perbatasan akan segera menyerbu.� Kaisar terbelalak, wajahnya menjadi agak pucat.
�Ceritakan yang jelas, Paman.
Apa yang telah terjadi?� Lu Tong Pi lalu mengulang apa yang didengarnya dari Cin Po dan menambahkan, �Kalau benar yang akan melaksanakan pembunuhan itu sute dari See-thian Tok-ong dan orangnya sudah berada di dalam istana, maka hal ini sungguh berbahaya sekali, Yang Mulia.
Harus ada seorang yang sakti selalu melindungi paduka untuk menjaga kalau-kalau setiap saat pembunuh itu akan turun tangan.� �Hemm, pengawalku sudah cukup banyak, tentu mereka akan mampu menangkap pembunuh itu!� kata kaisar, namun tetap saja suaranya agak gemetar karena ketakutan.
�Yang mulia, bagaimana kalau Cin Po dipekerjakan di sini untuk menjadi pengawal pribadi paduka.
Kita semua telah menyaksikan kelihaiannya.� �Ah, bagaimana kalau dia benar-benar mata-mata musuh dan pengkhianat?� �Hamba yang menanggung, Yang Mulia.
Kalau dia berlaku khianat biarlah kepala hamba menjadi tanggungan.
Dahulu dikabarkan dia bersekutu dengan Tung-hai Mo-ong, hal itu fitnah belaka.
Buktinya kini dia malah membawa berita tentang ancaman Tung-hai Mo-ong dan See-thian Tok-ong.
Percayalah, Yang Mulia.
Apakah Yang Mulia masih menyangsikan kesaksian hamba?� Setelah berpikir sejenak, Sribaginda Kaisar mengangguk.
�Baiklah, panggil Cin Po ke sini dan biar dia menjadi pengawal pribadiku yang bertugas menjaga keselamatanku dan sedapat mungkin menangkap pembunuh yang kabarnya menyusup ke istana.� Menteri Lu Tong Pi bergegas pulang dan membawa kabar gembira ini kepada Cin Po.
Akan tetapi bagi Cin Po, kabar ini tidaklah terlalu menggembirakan.
Tugasnya itu teramat berat.
Kalau benar sute dari See-thian Tok-ong yang hendak melakukan pembunuhan, hal itu berbahaya sekali karena sang sute itu tentu lihai bukan main, dan sulitnya, dia tidak tahu siapa sute itu maka dia harus melakukan penjagaan dengan waspada sekali.
Begitu berada di istana dan diberi kekuasaan untuk mengatur pasukan pengawal pribadi, Cin Po lalu membagi tugas kepada semua pengawal, diperintahkan untuk melakukan pengawalan ketat siang malam dan selalu waspada terhadap semua petugas dalam istana tanpa kecuali.
Dia sendiri hampir tidak pernah jauh dari kaisar, kecuali di waktu kaisar beristirahat dan tidur, dia berjaga di luar kamar.
Karena dia harus bertugas secara rahasia maka Cin Po dalam tugas ini menyamar sebagai tentara pengawal biasa, berpakaian seperti pengawal pula agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Yang tahu bahwa dia merupakan pengawal rahasia hanyalah para anggauta pengawal dan kaisar sendiri.
Bahkan para thai-kam tidak diberitahu dan ini adalah kehendak Cin Po yang tentu saja juga mencurigai kalau-kalau pembunuh itu adalah seorang di antara para thai-kam!
Demikian hati-hati dan waspada Cin Po dalam penjagaannya sehingga setiap makanan atau minuman yang disuguhkan kepada kaisar harus lebih dulu melalui pemeriksaannya!
Tidak akan mungkin kaisar dibunuh dengan racun melalui minuman atau makanan karena kaisar sendiri juga sudah tahu bahwa dia tidak boleh menyentuh makanan atau minuman sebelum diperiksa oleh Cin Po.
Sudah tiga hari tiga malam tidak pernah terjadi sesuatu.
Cin Po yakin bahwa pembunuh pasti akan segera turun tangan dengan nekat karena jalan untuk membunuh melalui racun tidak mungkin dilakukan.
Pada hari keempat akan diadakan persidangan dan sejak kaisar keluar dari peraduan, Cin Po sudah mengawalnya, selalu siap tak jauh dari kaisar.
Kaisar sudah berdandan dan siap untuk menuju ke balai persidangan.
Yang mengantarkan kaisar seperti biasa adalah serombongan thai-kam dan pengawal.
Baru saja sampai di tempat persidangan, tiba-tiba seorang thai-kam tersandung kakinya dan terjatuh.
Tentu saja semua orang, termasuk kaisar, menengok untuk melihat thai-kam yang terjerembab ini.
Dan pada saat itu seorang anggauta pengawal mencabut pedang dan meloncat, dengan cepat sekali menyerang kaisar dengan sebuah tusukan ke arah dadanya!
Cin Po tentu saja terkejut, tidak menduga bahwa pembunuh itu adalah seorang di antara anak buahnya sendiri.
Namun dia telah waspada, tubuhnya berkelebat dan dengan tangan telanjang, dia menepis dengan tenaga sepenuhnya, tenaga Ngo-heng-sin-kun.
�Plakk...
Cappp...!� Pedang yang ditepis dengan tenaga sin-kang amat kuatnya itu membalik dan menusuk dada pemegangnya sendiri sehingga dia mengeluarkan teriakan dan roboh terjengkang.
Thai-kam yang terjerembab tadi tiba-tiba menghunus sebatang pisau belati dan dengan nekat diapun meloncat dan hendak menancapkan pisaunya di punggung kaisar!
Akan tetapi Cin Po sudah waspada dan sekali kakinya menendang, tubuh thai-kam itu terlempar ke bawah anak tangga.
Melihat ini, semua pembesar yang berada di situ menjadi terkejut dan sekali lompat, Kok-su sudah mendekati thai-kam yang ditendang jatuh itu dan tangannya bergerak ke arah kepala thai-kam itu.
�Krekkk!� Kepala itu retak dan thai-kam itu tewas seketika!
Cin Po cepat mendekati penyerang tadi, dan mendapat kenyataan bahwa penyerang itupun sudah tewas oleh pedangnya sendiri yang menembus jantungnya!
Suasana menjadi ribut, akan tetapi Kok-su dapat menenangkan keadaan dan persidangan dilanjutkan setelah kedua mayat penyerang itu disingkirkan.
Tentu saja kaisar membicarakan tentang penyerangan itu di dalam sidang.
Akan tetapi siapa yang hendak dipersalahkan?
Kedua pelakunya itu telah tewas dan tidak dapat menceritakan apa-apa.
Diam-diam Cin Yo merasa mendongkol sekali.
Tadi dia sudah merobohkan thai-kam itu tanpa membunuhnya, sengaja untuk menangkapnya hidup-hidup agar dapat ditanyai dan diperiksa.
Siapa kira Kok-su begitu cepat turun tangan membunuhnya sehingga tidak ada lagi saksi yang dapat dimintai keterangan.
Baik pengawal maupun thai-kam itu adalah pekerja-pekerja lama maka semua orang merasa heran mengapa mereka itu tiba-tiba saja dapat menjadi pembunuh!
Tentu saja Cin Po berjasa besar.
Bukan saja dia telah menyelamatkan nyawa kaisar, akan tetapi jasa dengan gagalnya pembunuhan itu, pasukan Hou-han dan Wu-yeh tidak jadi menyerang walaupun pihak Sung juga sudah siap siaga menjaga kalau-kalau mereka melakukan penyerangan.
Setelah kaisar memperkenalkan pengawal yang menyelamatkan nyawanya itu, barulah semua orang mengenalnya sebagai Cin Po yang pernah dituduh sebagai pengkhianat dan menjadi orang buronan!
Kaisar hendak mengangkatnya kembali sebagai panglima, namun sambil berlutut Cin Po menghaturkan terima kasih.
�Hamba bersumpah untuk setia terhadap kerajaan Sung dan akan hamba bantu sekuat tenaga kalau kerajaan membutuhkan tenaga hamba.
Akan tetapi ampunkan hamba, Yang Mulia, hamba tidak ingin terikat oleh suatu kedudukan.
Hamba mohon diperkenankan untuk tetap bebas, akan tetapi hamba siap menghadap sewaktu-waktu tenaga hamba dibutuhkan untuk negara.� Penolakan terhadap anugerah kaisar dapat dikenakan hukuman karena dianggap tidak taat.
Akan tetapi kaisar yang baru saja diselamatkan nyawanya oleh Cin Po itu tidak menjadi marah dan kaisar bahkan menyetujui dan memberi surat kuasa kepada Cin Po sebagai seorang kepercayaan kaisar yang harus diterima dengan kehormatan oleh semua pejabat pemerintah!
Juga pemuda itu menerima hadiah sekantung emas dari kaisar, yang diterima dengan pernyataan terima kasih.
Kesetiaan Cin Po terhadap pemerintah kerajaan Sung adalah kesetiaan yang tulus.
Dia bekerja tanpa pamrih memperoleh imbalan jasa.
Seorang pejuang yang berpamrih memperoleh imbalan bagi jasanya, pada hakekatnya bukanlah seorang pejuang karena dia mempergunakan perjuangannya hanya sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu.
Segala macam bentuk perbuatan baik di dunia ini bukan lagi merupakan kebaikan kalau perbuatan itu dilakukan dengan pamrih apapun juga.
Pamrih dipuji, pamrih dibalas imbalan, pamrih mendapatkan sorga, pamrih mendapatkan uang, pamrih dijauhkan dari kesengsaraan.
Segala macam pamrih ini sebenarnya sama saja.
Apa bedanya antara pamrih mendapatkan uang atau kedudukan dengan pamrih mendapatkan sorga?
Tidak ada bedanya.
Keduanya dianggap akan mendatangkan kesenangan.
Pamrih selalu bertujuan memperoleh kesenangan, melalui pujian, melalui uang, kedudukan, sorga, beban dosa dan segala macam cara untuk memperoleh kesenangan.
Perbuatan itu baru benar, bukan baik, kalau dilakukan dengan wajar, timbul dari dasar hati, tanpa pamrih, tidak memandang perbuatan itu sebagai baik buruk.
Hasil atau akibat setiap perbuatan itu pasti ada, seperti orang menanamkan sesuatu, pasti akan bertunas, berbunga dan berbuah.
Tuhan Maha Adil, hukum sebab akibat akan berjalan terus, berputar terus, seperti berputarnya bumi dan alam semesta.
Akan tetapi perbuatan yang mengandung pamrih adalah perbuatan palsu.
Kebaikan berpamrih adalah kebaikan palsu dan tentu buahnyapun palsu.
Kita sudah terbiasa melihat keluar, tidak melihat ke dalam.
Seorang yang menyumbangkan uang satu juta disanjung-sanjung, disebut-sebut, sedangkan orang yang menyumbang seribu tidak disinggung-singgung, lewat begitu saja.
Pada hal, apakah penyumbang sejuta itu lebih dermawan dari pada penyumbang seribu?
Belum tentu!
Kalau penyumbang sejuta itu memiliki harta seratus juta, maka sumbangannya itu tidak berarti.
Sebaliknya kalau penyumbang seribu itu hanya memiliki uang dua ribu, maka dialah penyumbang yang dermawan!
Orang biasa melihat lahirnya, tidak menjenguk batinnya.
Jauh lebih benar menjadi penyumbang seribu dengan hati rela dan tanpa pamrih apapun dari pada menjadi penyumbang sejuta dengan pamrih agar dipuji sebagai dermawan, agar diperhatikan orang, agar masuk koran, agar kelak mendapatkan sorga dan sebagainya.
Palsu semua ini, dan yang palsu itu kotor, yang palsu itu berdosa!
Cin Po tidak lama tinggal di rumah Menteri Lu Tong Pi.
Setelah dua hari tinggal di situ, dia lalu pamit dan sekali ini, tidak terasa terlalu berat bagi Bwe Kim.
Semenjak gadis ini mendengar dari Cin Po bahwa pemuda itu sudah mempunyai tunangan, gadis itu menghibur diri sendiri dan menganggap bahwa pemuda yang amat dikaguminya itu bukanlah jodohnya.
Cin Po melakukan perjalanan ke timur, memasuki wilayah Wu-yeh untuk mencari kekasihnya, Ciok Hwa.
Dia menduga bahwa Ciok Hwa tentu berada di Pulau Hiu dan tidak mengikuti ayahnya yang bekerja demi kepentingan pemerintah kerajaan Wu-yeh.
Dan hal ini menyenangkan hatinya.
Cin Po menyewa sebuah perahu dan seorang diri berlayar menuju ke Pulau Hiu.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak dia memasuki wilayah Wu-yeh, telah ada mata-mata musuh yang melihatnya dan diam-diam membayanginya.
Karena itu, ketika memasuki perahu dan meluncurkan perahunya, ada perahu lain, sebuah perahu besar, yang juga meluncur dan mengikutinya.
Dan di atas perahu besar ini terdapat dua orang yang amat marah kepadanya, yaitu See-thian Tok-ong dan Tung-hai Mo-ong.
Kedua orang datuk ini mendengar bahwa yang menggagalkan usaha mereka mombunuh kaisar adalah Cin Po.
Maka, ketika mendengar dari penyelidik bahwa pemuda itu memasuki wilayah Wu-yeh, mereka berdua sendiri turun tangan membayangi dengan perahu.
Setelah tiba dekat Pulau Hiu, Cin Po yang sedang melamun dan merasa gembira melihat pulau itu sudah nampak sebagai sebuah titik hitam, tiba-tiba terkejut melihat sebuah perahu besar hampir menabraknya.
Dia bangkit berdiri dan menegur tukang perahu.
�Hei...!� akan tetapi tegurannya tidak dilanjutkan ketika dia melihat See-thian Tok-ong dan Tung-hai Mo-ong menjenguk keluar dari perahu besar itu.
�Cin Po, engkau terlalu mencampuri urusan kami.
Sekarang engkau harus mati di tangan kami!� bentak Tung-hai Mo-ong dengan marah.
Tadinya dia memang sudah setuju kalau puterinya menikah dengan pemuda ini, apa lagi dia telah membuktikan sendiri bahwa kini ilmu kepandaian pemuda itu sudah hebat sekali.
Puterinya berwajah buruk, kalau dapat menikah dengan pemuda ini, maka hal itu sudah menguntungkan sekali.
Akan tetapi ketika mendengar betapa usahanya membunuh kaisar digagalkan pemuda ini yang dulu juga telah mendengarkan percakapannya dengan See-thian Mo-ong, hatinya menjadi penuh kemarahan dan kebencian terhadap pemuda itu.
�Paman Kui, aku tidak ingin bermusuhan denganmu.
Kalau aku menolong Kaisar Sung Thai Cung, hal itu sudah menjadi kewajibanku karena aku adalah kawula Sung.
Pula, kalau dua negara bermusuhan, sebaiknya diselesaikan melalui perang, bukan dengan tindakan curang untuk melakukan pembunuhan kepada kaisarnya.
Tidak, paman Kui, aku tidak merasa bersalah dan aku tidak ingin bermusuhan denganmu!� �Mo-ong, kenapa mesti banyak cakap dengan bocah itu?
Mari kita turun tangan membunuhnya!� teriak See-thian Tok-ong dan begitu tangan kirinya bergerak, sinar hitam menyambar ke arah Cin Po.
Pemuda ini maklum bahwa Raja Racun dari Barat itu menggunakan senjata yang pasti beracun, maka diapun cepat mencabut Yang-kiam dan memutar pedang itu menangkis.
Akan tetapi kedua orang kakek itu menggunakan kesempatan selagi Cin Po menangkisi senjata rahasia itu, sudan melayang turun ke arah perahu kecil itu.
Cin Po menjadi terkejut dan segera menggerakkan pedangnya untuk melindungi dirinya.
Akan tetapi perahu itu terlampau kecil, kini menahan tubuh tiga orang yang sedang bertanding, tentu saja menjadi tidak kuat, lalu miring dan hampir terbalik, membuat ketiganya terlempar dan terjatuh ke dalam air!
Tung-hai Mo-ong yang ahli dalam air segera menangkap lengan rekannya dibawa meloncat ke atas perahu besar.
Akan tetapi Cin Po yang maklum bahwa kalau tertawan tentu dirinya akan celaka, lalu menyelam dan membiarkan dirinya terbawa gulungan ombak lautan sehingga sebentar saja dia sudah jauh dari perahu besar dan tidak nampak lagi oleh ke dua orang musuhnya.
Tung-hai Mo-ong dan See-thian Tok-ong menganggap bahwa pemuda itu tentu telah tewas tenggelam, lalu melanjutkan perjalanannya.
Cin Po bukan seorang ahli renang yang pandai.
Setelah beberapa lamanya terbawa ombak, dia merasa lelah sekali.
Untung dia tidak kehilangan pedangnya dan sudah menyimpan kembali pedangnya, lalu berusaha untuk tidak tenggelam dengan menggerak-gerakkan kaki tangannya.
Akan tetapi dia telah kehilangan arah, tidak tahu di mana arah Pulau Hiu yang tadi sudah agak dekat.
Dia menjadi bingung dan terpaksa hanya mengikuti saja ke mana air laut yang bergelombang itu membawanya.
Namun keganasan air membuat dia beberapa kali terpaksa harus menelan air laut sehingga terasa asin dan membuat kerongkongannya seperti kering.
Tiba-tiba dia melihat sebuah benda terapung tidak jauh dari tubuhnya.
Betapa girangnya melihat bahwa benda itu adalah sebuah perahu terbalik.
Itulah perahunya yang tadi terbalik ketika dia bertanding melawan dua orang datuk itu.
Cepat dia menggerakkan kaki tangan berenang menghampiri dan akhirnya dia dapat meraih perahu itu.
Dia lalu membalikkan perahu itu dan duduk di dalamnya.
Akan tetapi dia sudah kehilangan dayung.
Dan ketika dia melihat ke sekelilingnya, Pulau Hiu tidak nampak lagi.
Bahkan daratan besar nampak jauh sekali, hanya merupakan garis menghitam dari situ.
Betapapun juga, ini sudah merupakan petunjuk dan dia lalu menggerakkan perahu sedapatnya, menggunakan lengannya sebagai dayung menuju ke garis hitam itu.
Entah berapa lama dia akan mencapai pantai karena setiap kali perahunya terdorong dan terbawa ombak.
Tenaga kedua tangannya untuk mendayung hampir tidak ada artinya.
Cin Po merasa cemas juga.
Tiba-tiba nampak sebuah perahu hitam meluncur cepat.
Cin Po merasa khawatir, mengira bahwa penumpang perahu itu musuh-musuhnya dan di atas air itu dia merasa tidak berdaya.
Ilmu silatnya tidak banyak menolong kalau perahunya terguling.
Akan tetapi setelah perahu mendekat, hampir dia bersorak saking girangnya.
Penumpang perahu itu adalah Ciok Hwa, kekasihnya!
�Hwa-moi...!� Serunya girang bukan main.
Akan tetapi gadis yang memakai cadar menutupi mukanya itu tidak menyambutnya dengan seruan girang.
�Twako, mengapa engkau selalu membuat ayahku marah kepadamu?� ia malah menegur.
�Akan tetapi aku...� �Sudahlah, cepat pindah ke perahu ini.
Akan kuantarkan engkau ke pantai,� kata Ciok Hwa, suaranya terdengar seperti seorang yang berduka.
Memang gadis ini merasa berduka.
Ayahnya marah bukan main kepadanya, marah karena Cin Po telah menggagalkan rencana ayahnya yang membela kepentingan kerajaan Wu-yeh.
Ayahnya memaki-maki Cin Po dan melarang ia berhubungan lagi dengan pemuda itu, apalagi berjodoh!
�Hwa-moi, kalau ayahmu marah kepadaku, itu sama sekali bukan karena salahku, bukan karena aku memusuhinya.� Cin Po mencoba untuk menghibur hati kekasihnya yang nampak murung dari sikapnya yang diam saja sambil mendayung perahunya.
�Tidak memusuhi akan tetapi selalu menantangnya.
Ayah marah sekali kepadamu karena semua rencananya gagal karena engkau, demikian kata ayah.� �Hwa-moi, tahukah engkau dalam hal apa aku menggagalkan rencana ayahmu?� �Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu.
Aku hanya menghendaki agar engkau tidak menantang ayahku, twako.
Bagaimana mungkin ayah dapat merestui hubungan kita kalau engkau selalu menentangnya dan membuat ayah marah dan benci kepadamu?� �Aku tidak menentang kepribadian ayahmu, akan tetapi apa yang dia rencanakan itu, tentu saja aku harus menentangnya.
Dia bersekutu dengan See-thian Tok-ong dari Hou-han untuk membunuh Kaisar Sung Thai Cung.
Melihat kenyataan ini, tentu saja aku mencegahnya.
Aku adalah kawula Sung, melihat kaisarnya akan dibunuh, apakah aku harus berdiam diri saja!� �Ahhh..., ayah tidak bicara tentang itu kepadaku!� �Tentu saja.
Itu merupakan rahasia besar.
Agaknya kerajaan Wu-yeh bersekutu dengan Hou-han dan merencanakan untuk membunuh kaisar Sung kemudian dalam keadaan kacau itu mereka berdua akan mengerahkan pasukan untuk menggempur kerajaan Sung.
Itulah sebabnya maka aku menggagalkan usaha pembunuhan itu, Hwa-moi.
Salahkah aku?� Ciok Hwa menghentikan gerakan dayungnya sehingga perahu itu berhenti, terapung-apung di atas air lautan.
Ia menghela napas dan menundukkan mukanya.
�Aku bingung, twako.
Kalau mendengarkan keteranganmu, aku memang tidak dapat menyalahkanmu.
Akan tetapi ayah juga membela Wu-yeh, kami kawula Wu-yeh.
Aih, perang memang amat jahat, twako.
Aku membenci perang!� �Akupun membencinya, Hwa-moi.
Akan tetapi kita tidak berdaya, kita terlibat.
Kau tahu, Hwa-moi, kaisar Sung hendak memberikan kedudukan panglima kepadaku, akan tetapi kutolak.
Aku tidak mau terlibat langsung, aku tidak ingin perang, kalau tidak terpaksa sekali.
Bagaimana, Hwa-moi, dapatkah engkau memaafkan aku bahwa, aku telah mengecewakan hati ayahmu?� Mendengar ini, Ciok Hwa malah menangis di balik cadarnya.
Suara tangisnya jelas terdengar, isak tertahan dan ke dua pundaknya bergoyang-goyang.
�Hwa-moi kau kenapakah?� �Ayah telah marah sekali, dia memutuskan agar aku tidak lagi mengadakan hubungan denganmu, twako, atau dia tidak akan mengakuiku sebagai anak lagi.
Akan tetapi aku...
aku...� Cin Po merangkul dan kini meledaklah, tangis Ciok Hwa di dada kekasihnya.
�Hwa-moi, tenangkanlah hatimu.
Percayalah, aku cinta padamu seorang dan aku bersumpah tidak akan menikah dengan wanita lain kecuali engkau!� Hiburan ini menenangkan hati Ciok Hwa dan kini Cin Po yang menggantikannya mendayung perahu sampai mereka tiba di tepi pantai.
Keduanya, melompat ke darat dan Cin Po menarik perahu itu ke darat.
Akan tetapi baru saja mereka mendarat, secara tiba-tiba muncul Tung-hai Mo-ong dan See-thian Tok-ong.
�Bocah setan, engkau masih belum tewas?� bentak See-thian Tok-ong yang terkejut juga melihat Cin Po Masih hidup.
�Ciok Hwa, apa yang kaulakukan ini?
Aku sudah melarangmu!� bentak Tung-hai Mo-ong.
�Ayah, aku...
aku cinta padanya...� Ciok Hwa membuat pengakuan yang membuat ayahnya semakin marah akan tetapi pengakuan itu mendatangkan rasa bangga dan girang di dalam hati Cin Po.
�Anak durhaka...� Tung-hai Mo-ong lalu menampar ke arah muka Ciok Hwa yang bercadar.
�Dukkk...� Lengan datuk itu bertemu dengan lengan Cin Po yang sudah menangkis pukulan itu karena dia melihat kekasihnya sama sekali tidak berusaha mengelak.
Tangan Tung-hai Mo-ong terpental ketika ditangkis pemuda itu dan dia menjadi semakin marah.
Sementara itu, See-thian Tok-ong juga sudah marah dan dia menyerang Cin Po dengan pukulan yang beracun.
Namun Cin Po sekarang bukanlah Cin Po dahulu yang pernah dipukulnya roboh.
Dengan mudah Cin Po mengelak dari pukulan itu dan ketika pukulan kedua melayang, pemuda itu menggerakkan tangan menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya.
�Desss...!� Dan akibat pertemuan dua tenaga itu, See-thian Tok-ong terhuyung ke belakang.
Datuk ini terkejut dan juga marah sekali, bersama Tung-hai Mo-ong dia lalu maju lagi dan tanpa malu-malu ke duanya mengeroyok pemuda yang lihai itu!
Cin Po menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini sambil mencari kesempatan untuk membalas.
Akan tetapi dia mendengar teriakan kekasihnya.
�Twako, jangan lawan ayahku.
Mengalah dan pergilah, twako!� Mendengar suara kekasihnya yang demikian lemah mengandung tangis, Cin Po tidak tega dan diapun melompat jauh ke belakang lalu berkelebat lenyap, melarikan diri dari tempat itu.
Terdengar suaranya dari jauh disertai pengerahan khi-kang, �Selamat berpisah, Hwa-moi!� Dua orang datuk itu tidak melakukan pengejaran.
Agaknya mereka maklum bahwa mereka tidak akan mungkin dapat mengejar dan menyusul pemuda yang memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian hebatnya.
Tung-hai Mo-ong memandang kepada puterinya.
�Kembali kau ke Pulau Hiu dan awas, sekali lagi aku melihat engkau berhubungan dengan Cin Po, engkau akan kubunuh!� Setelah berkata demikian, Tung-hai Mo-ong lalu pergi dari situ bersama See-thian Tok-ong.
Ciok Hwa masih berdiri dan menangis.
Hatinya terasa berat dan bingung.
Di satu pihak ia tidak ingin melihat ayahnya marah dan membencinya, di lain pihak ia tidak mungkin dapat memutuskan hubungannya dengan Cin Po.
Ia terlalu mencinta pemuda itu!
Cintanya terhadap pemuda itu amat besar dan tulus ikhlas.
Hal ini bukan saja karena ia merasa suka dan kagum kepada pemuda itu, karena ketampanannya, karena kesederhanaannya, karena kebaikan budinya, atau karena ilmu kepandaiannya, melainkan terutama sekali karena cinta pemuda itu kepadanya!
Ciok Hwa merasa yakin sekali akan cinta kasih pemuda itu kepadanya.
Ia merasa yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan cinta kasih seorang pemuda yang seperti itu kepadanya.
Cin Po tentu benar-benar mencintanya, dan hal ini amat mengharukan hatinya.
Setiap orang pria, tua ataupun muda, akan merasa jijik dan takut melihat wajahnya yang demikian buruk.
Akan tetapi Cin Po bukan jijik, bahkan pemuda itu terang-terangan menyatakan cintanya kepadanya.
Cinta karena kepribadiannya, bukan karena sekadar wajah cantik.
Bahkan pemuda itu baru saja bersumpah tidak akan menikah dengan wanita lain kecuali ia!
Bagaimana mungkin ia akan dapat menjauhi pemuda seperti itu?
Apa yang dipikirkan Ciok Hwa memang benar.
Cinta asmara antar pria dan wanita memang selalu mengandung nafsu yang mendorongnya.
Karena itu, maka ketampanan dan kecantikan memegang peran penting sekali dalam cinta kasih mereka.
Maka, melihat betapa Cin Po tetap mencintanya walaupun telah melihat betapa wajahnya cacat dan buruk menjijikkan, tentu saja hati Ciok Hwa merasa terharu dan iapun menumpahkan seluruh perasaan cinta kasihnya kepada pemuda itu.
Cinta kasih kita kepada orang lain selalu mengandung nafsu ingin senang sendiri.
Kita boleh jadi tidak merasakan hal ini, akan tetapi kalau kita suka bercermin dan meneliti keadaan dalam hati kita sendiri, maka akan jelaslah bahwa seperti juga dalam hal-hal lain dalam kehidupan ini, nafsu juga sudah menyusup ke dalam perasaan yang kita namakan cinta itu, bahkan kita namakan cinta suci.
Kita mengaku mencinta suami, isteri, ataupun pacar.
Benarkah cinta kita itu tulus dan ikhlas?
Tidakkah terdapat pamrih yang besar tersembunyi di balik cinta itu?
Kita mencinta, akan tetapi kita menghendaki imbalan yang lebih besar lagi.
Kita ingin dia yang kita cinta itu juga mencinta kita, melayani kita, menurut kita, pendeknya menyenangkan kita.
Bagaimana kalau yang kita cinta itu membenci kita, mengacuhkan kita, tidak menyenangkan hati kita?
Masih akan adakah cinta kita itu?
Demikian pula dengan cinta terhadap anak.
Kita menganggap cinta kita itu murni, bersih dari segala pamrih.
Benarkah itu?
Bagaimana kalau anak kita itu durhaka terhadap kita, tidak berbakti, bahkan membenci kita dan melawan kita?
Akan tetap adakah cinta kita terhadap anak yang demikian itu?
Jangan lagi cinta terhadap seorang sahabat.
Kita cinta kepada seorang sahabat karena dia baik kepada kita, karena dia menyenangkan kita, menguntungkan kita.
Coba andaikata sahabat itu tidak menyenangkan, merugikan kita, masih adakah cinta kita itu?
Cinta yang hinggap di hati kita manusia hanyalah cinta nafsu.
Cinta kasih yang sesungguhnya suci dan murni hanyalah cinta Tuhan kepada semua umatNya!
Cintanya tak terbatas dan melimpah ruah.
Tuhan adalah Cinta!
Dosa manusia tak terhitung banyaknya, setiap saat manusia membuat dosa.
namun Tuhan tak pernah melepaskan cintanya terhadap diri manusia, tetap dipeliharanya, tetap dihidupkannya.
Bahkan orang yang sejahat-jahatnya pun di dunia ini masih tetap menikmati karunia cintanya.
Tuhan tidak, pernah menginginkan sesuatu, apa lagi imbalan.
Terpujilah Nama Tuhan dengan cinta kasihnya yang sejati.
Cin Po melakukan perjalanan cepat pulang ke kota raja Hang-cou, menggunakan surat kekuasaannya untuk menghadap kaisar dan setelah menghadap Kaisar Sung Thai Cung, dia melaporkan tentang penyelidikannya.
�Tidak dapat diragukan lagi, Yang Mulia.
Kerajaan Wu-yeh bersekutu dengan kerajaan Hou-han dan hal ini akan merupakan bahaya besar bagi kerajaan Sung.
Baca Juga: Pendekar Pedang Pelangi 5
Baca Juga: Lembah Selaksa Bunga 1