Eps 6 Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Baju Putih - Kho Ping Hoo.
Mereka dapat serentak menyerang dari arah timur dan selatan.
Terutama sekali bangsa Wu-yeh kelihatan amat bersemangat untuk merebut kerajaan paduka.� Mendengar laporan ini, Kaisar Sung Thai Cung segera memanggil semua menteri dan panglimanya, termasuk pula Kok-su, untuk diajak berunding.
Biarpan Kok-su mengusulkan agar mengajak ke dua negara itu berdamai dengan mengirim upeti hadiah yang besar, namun sebagian besar para menteri dan panglima mengusulkan kepada kaisar bahwa sudah tiba saatnya untuk membasmi ke dua musuh yang selalu mengganggu perbatasan itu.
Kaisar akhirnya menurut dan segera pasukan besar dikerahkan dan berangkatlah pasukan dipimpin oleh panglima besar Ciu Kok Ciang menyerang ke kerajaan Wu-yeh.
Cin Po juga ikut dalam pasukan itu, akan tetapi bukan untuk berperang.
Dia tidak suka akan perang dan kalau dia pergi mengikuti pasukan besar itu adalah karena dia teringat akan kekasihnya dan mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya.
Kalau Ciok Hwa tetap tinggal di pulau Hiu, ia tentu akan selamat.
Akan tetapi bagaimana kalau gadis itu dipaksa ayahnya dan ikut pula bertempur?
Karena itulah dia ikut untuk melindungi kekasihnya, kalau-kalau gadis itu ikut dalam pertempuran.
Pasukan Wu-yeh yang berjaga di perbatasan menjadi terkejut sekali ketika tiba-tiba muncul pasukan Sung yang amat besar jumlahnya.
Pertempuran terjadi dengan hebatnya, akan tetapi hanya sebentar karena pasukan Wu-yeh yang jauh kalah besar jumlahnya itu dapat didesak mundur.
Pasukan Sung terus menggempur dan maju sampai ke kota raja Wu-yeh.
Perang terjadi di mana-mana dan seperti biasanya, kalau terjadi perang, maka rakyatlah yang menderita paling hebat.
Bahkan pasukan sendiri dapat menjadi musuh dengan tiba-tiba karena mereka yang berperang itu seperti kehausan darah.
Mungkin karena perasaan takut yang menyelinap di hati membuat pasukan menjadi kejam dan berprasangka.
Mereka merampoki rakyat dengan tuduhan membantu musuh.
Belum lagi pasukan yang menyerang.
Kemenangan membuat mereka mabok dan agaknya bagi yang menang, perbuatan apa saja halal.
Cin Po yang ikut dengan pasukan itu melihat ini semua.
Dia tentu selalu turun tangan mencegah dan melarang kalau melihat sendiri ada pasukan yang menindas rakyat, akan tetap bagaimana mungkin dia seorang diri mencegah terjadinya semua kebuasan itu?
Dia hanya dapat berduka dan penasaran sekali melihat kesengsaraan rakyat jelata yang dusun atau kotanya dilanda perang.
Pasukan Sung terus maju menuju ke kota raja.
Wu-yeh adalah sebuah kerajaan kecil dan pasukannyapun tidak berapa besar.
Karena itu, mereka kewalahan menghadapi penyerbuan pasukan Sung yang jumlahnya jauh lebih besar.
Akhirnya, pertahanan dipusatkan di kota raja dan di sini terjadilah pertempuran yang paling hebat.
Bahkan Tung-hai Mo-ong sendiri ikut mempertahankan kota raja ini.
Namun, betapapun lihainya Tung-hai Mo-ong, menghadapi pasukan yang banyak dan di antara para perwira Sung terdapat banyak orang yang lihai maka akhirnya pertahanan itu bobol dan Tung-hai Mo-ong sendiri menderita luka-luka parah yang memaksa dia untuk melarikan diri!
Istana kerajaan Wu-yeh jatuh ke tangan pasukan Sung dan semua perlawanan pun berhenti.
Kerajaan Sung menang dan seluruh wilayah Wu-yeh terjatuh ke tangan kerajaan Sung.
Cin Po yang tidak ikut berperang, tiba-tiba melihat seorang kakek tinggi kurus menggunakan ilmu berlari cepat.
Kakek itu berlari cepat sekali akan tetapi dia terhuyung-huyung maka cepat dia pergi mengejarnya.
Setelah dekat, dia melihat bahwa kakek itu adalah Tung-hai Mo-ong!
Dan pada saat dia dapat menyusulnya, kakek itu tidak kuat lagi dan terguling roboh, pingsan!
Cin Po cepat memeriksanya.
Dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
Luka-luka yang diderita kakek itu parah sekali.
Agaknya tubuhnya telah menjadi sasaran banyak senjata dan terutama sekali dia mendapat pukulan-pukulan yang membuatnya terluka di sebelah dalam tubuhnya.
Cin Po lalu menggendong tubuh itu, dibawanya masuk ke dalam hutan agar jangan terlihat orang bahwa dia menolong seorang tokoh bear di pihak musuh.
Setelah berada di dalam hutan, dia merebahkan tubuh kakek itu di atas rumput, kemudian menempelkan ke dua tangannya di dada kakek itu dan dia mengerahkan sin-kang untuk membantu kakek itu.
Tak lama kemudian, Tung-hai Mo-ong mengeluh dan membuka matanya.
Ketika melihat siapa yang menolongnya, kembali dia mengeluh.
(Lanjut ke
Jilid 14) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 �Paman Kui Bhok, harap jangan banyak bergerak, engkau terluka parah sekali.
Biarkan aku berusaha mengobatimu!� Kakek itu merintih.
�Percuma.
Habis semua sudah.
Bantu aku duduk, Cin Po.� Terpaksa Cin Po menghentikan pengobatannya dan merangkul kakek itu, dibantunya duduk.
Napas kakek itu tinggal satu-satu dan ia berkata, �Cin Po, engkau anak yang baik...
engkau masih suka membantuku...
Aku sekarang mengerti, mengapa Ciok Hwa mati-matian mencintaimu.
Engkau anak baik...
aku titip Ciok Hwa kepadamu...
Jadikanlah ia seorang isteri yang baik...
auhhh...� �Paman, di mana Ciok Hwa?
Di Pulau Hiu?� Kakek itu menggeleng kepalanya.
�Tidak...
ia lari lagi karena aku melarang ia berhubungan denganmu...
Ia lari entah ke mana, kau...
kau...
carilah sampai dapat...� Kakek itu terkulai dan tewaslah dia.
Cin Po menghela napas.
Dia merasa bingung dan sedih sekali mendengar Ciok Hwa tidak berada di Pulau Hiu.
Ke mana perginya gadis itu?
Dia merasa khawatir sekali kalau-kalau gadis itu terlibat dalam pertempuran pula.
Dia tidak dapat melakukan apa-apa lagi terhadap Tung-hai Mo-ong Kui Bhok kecuali mengubur jenazahnya.
Dia lalu menggali lubang di hutan itu juga dan mengubur jenazah kakek itu.
Kemudian dia menggulingkan sebuah batu besar, diletakkan di depan makam sebagai batu nisan agar kelak kalau dia dapat bertemu dengan Ciok Hwa dia akan dapat mengajak gadis itu berkunjung ke makam ayahnya.
Perang itu selesai dan pasukan pulang membawa kemenangan besar.
Cin Po juga ikut pulang ke Hang-cou.
Kaisar girang sekali mendengar laporan akan kemenangan itu dan kaisar membagi-bagi hadiah dan kenaikan pangkat.
Setelah selesai pembagian hadiah, dalam perundingan selanjutnya, Panglima Ciu Kok Ciang melapor kepada kaisar, �Yang Mulia, setelah pasukan paduka mengadakan serangan ke Wu-yeh, maka terbuktilah bahwa kerajaan Wu-yeh yang selama ini menjadi sebab kekacauan di perbatasan, hanya merupakan kekuatan yang amat kecil saja dan dengan mudah dapat ditalukkan.
�Oleh karena itu, mengingat bahwa kerajaan Wu-yeh telah bersekutu dengan kerajaan Hou-han untuk merobohkan kerajaan Sung, kalau menurut pendapat hamba, sebaiknya kalau mempergunakan kesempatan ini untuk melanjutkan pembersihan ke Hou-han.
Hamba sanggup memimpin pasukan untuk menundukkan kerajaan Hou-han yang juga merupakan duri di dalam daging.� Mendengar laporan itu, suasana menjadi hening dan sebagian besar para menteri dan panglima mengangguk setuju.
Cin Po yang mendengarkan juga diam-diam merasa setuju.
Kalau Hou-han sudah dapat ditundukkan, berarti musuh Sung hanya tinggal dua, yaitu Khi-tan dan Nan-cou, berarti mengurangi bahaya yang mengepung kerajaan Sung.
Akan tetapi tiba-tiba Kok-su berkata dengan suaranya yang lantang, �Mohon ampun kalau hamba berani mengemukakan pendapat hamba, Yang Mulia.� Kata-kata ini membuat semua orang memandang kepada Lauw Thian Seng-cu, Kok-su yang berpengaruh itu.
�Bicaralah, Kok-su,� kata kaisar.
�Menurut pendapat hamba, sungguh tidak bijaksana kalau sekarang kita menyerang Hou-han.
Baru saja pasukan mendapat kemenangan, akan tetapi tidak berarti bahwa pasukan tidak lelah.
Kita telah kehilangan banyak pasukan yang tewas dan terluka.
�Dalam keadaan lelah, perlukah dibebani lagi dengan penyerangan ke Hou-han?
Sebaiknya ditunda dulu dan disusun lagi pasukan yang lebih kuat, baru beberapa waktu kemudian mengadakan penyerangan ke Hou-han.� Kaisar mengangguk-angguk, lalu memandang kepada para panglima.
�Usul itu baik juga, bagaimana pendapat kalian para panglima?� Panglima Ciu Kok Ciang menjawab, �Hamba kira kekhawatiran Kok-su itu tidak beralasan.
Pasukan yang menang perang justeru sedang dalam keadaan bersemangat tinggi, dan sebaliknya, pasukan Hou-han yang tentu sudah mendengar akan kemenangan kita atas Wu-yeh tentu sedang dalam keadaan gelisah dan khawatir.
�Sekaranglah saat terbaik untuk memukul mereka.
Kalau dibiarkan sampai lain waktu, hamba khawatir Hou-han akan menghimpun kekuatan yang lebih besar untuk berjaga diri, dan kalau hal itu terjadi, tentu tidak mudah bagi kita untuk menundukkan Hou-han.� Kembali kaisar mengangguk-angguk.
�Bagaimana pendapat para Menteri dan panglima yang lain?� Ternyata semua menteri dan panglima mendukung usul Panglima Ciu, maka akhirnya kaisar memutuskan untuk sekarang juga mengirim pasukan ke kerajaan Hou-han dan menundukkan kerajaan itu.
Dan kembali Cin Po mendapat perintah dari kaisar sendiri untuk membantu Panglima Ciu.
Dengan hati berat sekali Cin Po menerima tugas ini.
Sebetulnya dia sedang bersedih karena mengingat Ciok Hwa.
Dia belum tahu di mana adanya Ciok Hwa dan bagaimana keadaannya setelah berakhir perang di Wu-yeh.
Dia ingin sekali pergi mencari Ciok Hwa sampai dapat, akan tetapi dia menerima perintah kaisar yang tidak berani dia tolak.
Dia harus berangkat ke Hou-han bersama pasukan!
Setelah diperkenankan bubaran, Cin Po pergi ke taman umum di kota raja dan duduklah dia di bangku taman itu seorang diri melamun.
Pasukan baru diberangkatkan besok, akan tetapi dia tidak mempunyai waktu untuk pergi mencari Ciok Hwa.
Mungkin membutuhkan waktu lama untuk dapat menemukan kekasihnya itu.
Dia merasa seluruh tubuhnya lemas dan semangatnya melayang kalau teringat kepada Ciok Hwa.
Mendiang Tung-hai Mo-ong mengatakan dengan jelas bahwa Ciok Hwa tidak berada di Pulau Hiu, sudah melarikan diri karena dimarahi ayahnya yang melarang ia berhubungan dengan dia.
Ke mana perginya gadis itu?
Pergi dalam keadaan negara sedang perang itu amat mengkhawatirkan hatinya.
Dari mana timbulnya kekhawatiran?
Kekhawatiran timbul dari pikiran yang mengada-ada, membayangkan yang bukan-bukan, membayangkan hal yang belum terjadi.
Seperti seorang yang sehat, kalau ada wabah membayangkan dirinya terkena wabah penyakit dan diapun khawatirlah.
Kalau dirinya sudah terkena penyakit, maka kekhawatiran terhadap penyakit itupun, tidak ada lagi.
Yang menimbulkan kekhawatiran adalah hal yang belum terjadi lagi, misalnya khawatir kalau penyakitnya tidak akan sembuh dan membawanya ke kematian!
Demikian selanjutnya.
Berbahagialah orang yang tidak membayangkan apa yang akan terjadi, melainkan pasrah kepada Kekuasaan Tuhan dan hanya menghadapi apa adanya saja, soal nanti bagaimana nanti, dan diapun akan terbebas dari kegelisahan dan kekhawatiran.
Duka timbul dari perasaan iba diri.
Karena memikirkan kekasihnya, khawatir kalau kekasihnya tertimpa malapetaka sehingga dia akan ditinggalkan kekasihnya, maka timbullah iba diri yang mendatangkan duka dalam hati Cin Po.
Orang yang berduka di kala kematian orang yang disayang juga berduka karena iba diri.
Dia kehilangan yang tercinta, dia ditinggalkan yang tercinta, maka timbullah iba diri dan duka.
Berbahagialah orang yang tidak mementingkan diri sendiri, yang tidak selalu memikirkan dirinya sehingga dapat menerima apa adanya dan bersikap wajar, karena dia tidak akan dihinggapi iba diri dan bebas dari pada duka.
Mengapa duka kehilangan sesuatu yang dianggap menjadi miliknya?
Kita manusia tidak memiliki apa-apa, bahkan dirinya sendiripun bukan miliknya, sewaktu-waktu dapat saja lenyap atau mati!
Berbahagialah orang yang batinnya tidak memiliki apa-apa, yang batinnya tidak terikat dengan apapun, karena hanya batin yang bebas demikianlah yang akan mampu mengenal apa artinya bahagia.
Kembali terjadi perang!
Sekali ini, pasukan Sung menyerang ke selatan, ke daerah yang diduduki kerajaan Hou-han, yaitu di daerah Shan-si.
Dan sekali ini perang terjadi dengan hebatnya karena selain pasukan Hou-han lebih besar jumlahnya dibandingkan pasukan Wu-yeh, juga mereka telah membuat persiapan lebih dulu.
Begitu mendengar bahwa sekutu mereka, yaitu Wu-yeh telah digempur dan diduduki oleh pasukan Sung, kerajaan Hou-han sudah merasa khawatir kalau-kalau Hou-han mendapatkan gilirannya.
Maka, mereka segera menyusun kekuatan dan berjaga-jaga sehingga ketika pasukan Sung benar-benar menyerang, mereka dapat melakukan perlawanan yang gigih.
Pertempuran berlangsung sampai berbulan-bulan.
Cin Po yang juga berada di pasukan Sung, tidak ikut bertempur dan seperti biasa, dia lebih banyak mengurus penduduk yang lari mengungsi dan mencegah rakyat terganggu, baik oleh pasukan Sung maupun pasukan Hou-han.
Pada suatu hari dia melihat pertempuran antara dua kelompok pasukan Sung melawan pasukan Hou-han.
Seperti biasanya, Cin Po tidak ingin terlibat pertempuran, akan tetapi ketika dia melihat See-thian Tok-ong muncul dan mengamuk, membunuhi banyak perajurit Sung, dia tidak dapat tinggal diam saja.
�See-thian Tok-ong, akulah lawanmu!� bentaknya dan dia sudah melompat ke depan kakek itu.
Kakek tinggi besar bermuka hitam dan bersorban itu marah sekali melihat Cin Po.
Tadinya dia mengamuk menggunakan ke dua tangannya yang besar panjang membunuhi para perajurit, akan tetapi begitu berhadapan dengan Cin Po, dia mencabut senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang pedang melengkung yang berkilauan saking tajamnya.
Cin Po maklum akan kelihaian datuk dari barat itu, maka diapun telah mencabut Yang-kiam dari punggungnya.
�Bocah setan, kembali engkau yang berani menentangku.
Engkau telah menggagalkan semua rencana kami, sekarang bersiaplah untuk mampus di tanganku!� See-thian Tok-ong membentak.
�Tok-ong, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk.
Agaknya sekali ini engkau yang akan mengakhiri hidupmu, bukan aku!� kata Cin Po dengan sikap tenang, sama sekali tidak terpancing kemarahan oleh ucapan kakek itu.
�Mampuslah!� bentak pula See-thian Tok-ong dan dia mengeluarkan teriakan menyeramkan.
Kalau bukan Cin Po diserang oleh teriakan yang mengandung kekuatan ilmu hitam itu saja sudah cukup untuk merobohkannya.
Akan tetapi pemuda berpakaian serba putih ini sudah menerima gemblengan dari Bu Beng Lojin, sudah menguasai kekuatan sihir yang dahsyat, maka teriakan itu ditolaknya dan dia tidak terpengaruh.
Ketika pedang melengkung menyambar lehernya, dia cepat mengelak dengan langkah ke belakang dan mengelebatkan Yang-kiam di tangannya untuk menangkis.
�Cring...
trang-trang...!� Beberapa kali pedang itu bertemu pedang melengkung dan menimbulkan percikan bunga api.
See-thian Tok-ong merasa betapa tangannya tergetar hebat, maka dia menjadi semakin penasaran.
Tiba-tiba dia menyerang lagi dengan sabetan pedangnya dan ketika Cin Po mengelak, tangannya mulur panjang dan pedang itu, tetap mengejar.
Cin Po menggerakkan pedangnya menangkis dan ketika pedang lawan terpental, pedangnya menyambar ke arah lengan yang berubah panjang itu.
Cepat See-thian Tok-ong menarik kembali tangannya, kemudian sekali tangan kirinya bergerak, sebatang benda hitam meluncur ke arah dada Cin Po.
Pemuda ini maklum bahwa pisau terbang itu tentu mengandung racun yang jahat sekali, maka dia tidak berani menyambut dengan tangannya melainkan mengelak.
�Crapp...!� Pisau yang terbang lewat itu mengenai tubuh seorang perajurit Sung yang segera roboh dan seketika tubuhnya menjadi hitam seperti arang!
Di sekitar tempat itu memang masih terjadi pertempuran yang hebat antara pasukan Sung dan pasukan Hou-han.
Kini Cin Po tidak mau mengalah dan hanya bertahan saja.
Dia segera memainkan pedangnya dengan ilmu silat Ngo-heng-sin-kun dan begitu dia mendesak, See-thian Tok-ong menjadi sibuk sekali.
Baginya, pedang yang berkilauan itu seolah berubah menjadi banyak yang menyerangnya dari segala penjuru.
Dia berusaha untuk melindungi dirinya dengan pedangnya yang melengkung itu, akan tetapi setelah lewat seratus jurus, pertahanannya bobol dan pedang Yang-kiam dapat menembus gulungan sinar pedang yang dipakai sebagai perisai dan tepat mengenai dada See-thian Tok-ong.
Karena pedang itu menembus jantungnya, maka See-thian Tok-ong roboh dan tewas seketika.
Melihat ini, pasukan Hou-han menjadi gentar dan kacau, mereka melarikan diri meninggalkan banyak mayat kawan mereka.
Pertempuran berlangsung terus sampai berbulan-bulan, barulah akhirnya pasukan Sung dapat menduduki kota raja.
Akan tetapi biarpun mendapat kemenangan besar, pasukan Sung kehilangan banyak perajurit.
Demikianlah, dalam waktu setahun saja, kerajaan Wu-yeh dan Hou-han terjatuh ke tangan kerajaan Sung yang kini wilayahnya menjadi meluas ke timur sampai di lautan dan ke selatan.
Hanya tinggal Khi-tan dan Nan-cou saja yang masih belum dapat mereka taklukan.
Kaisar menyambut kemenangan atas Hou-han ini dengan penuh kegembiraan.
Para panglima lalu mengajukan usul agar kerajaan menghimpun pasukan-pasukan baru untuk memperbesar kekuatan balatentara untuk menggempur Nan-cou dan Khi-tan.
Akan tetapi usul ini ditentang dengan keras oleh Kok-su.
�Yang Mulia, kemenangan memang sepatutnya dirayakan.
Akan tetapi kalau sampai mabok kemenangan dapat membuat kita sendiri kehilangan kewaspadaan.
Harap paduka ingat bahwa menghimpun pasukan yang besar membutuhkan biaya yang luar biasa besarnya.
�Kini, Khi-tan dan Nan-cou sudah tahu akan kekuatan kita, dan tentu mereka tidak berani sembarangan membuat kacau.
Kalau kita gunakan sedikit emas untuk mengirim hadiah kepada mereka setiap tahun, tentu mereka akan menjadi tetangga yang baik.
�Menghimpun pasukan akan memakan biaya yang beberapa kali lebih banyak dari pada kalau kita mengirim upeti tanda persahabatan.
Sebaliknya, kalau kita menghendaki perang, peperangan belum tentu membuat kita menang.
�Harap diingat bahwa Khi-tan tidak boleh disamakan dengan Hou-han dan Wu-yeh.
Khi-tan terlalu kuat dan kalau sampai terjadi perang dan kita kalah, kita akan kehilangan segala-galanya.� Nasehat ini diterima sepenuhnya oleh Kaisar dan demikianlah.
Perang dihentikan dan Kaisar mengutus untuk mengirim upeti tahunan kepada Khi-tan, bahkan kerajaan Nan-cou yang lebih kecilpun tidak diganggu.
Para panglima diam-diam merasa prihatin sekali.
Kekuatan pasukan Sung amat kecil, hanya beberapa ratus ribu orang saja, padahal wilayahnya menjadi semakin luas setelah Wu-yeh dan Hou-han ditundukkan.
Cin Po juga merasa penasaran.
Diam-diam dia mencurigai Kok-su.
Kenapa Kok-su agaknya tidak setuju kalau kerajaan Sung memerangi Khi-tan?
Akan tetapi kecurigaannya tidak ada buktinya, dan sungguh bodoh untuk menyerang Kok-su yang kedudukannya amat kuat dan amat dipercaya oleh kaisar itu.
Kekuasaan memang diperebutkan semua orang.
Tanpa disadari lagi setiap orang memperebutkan kekuasaan, Baik kekuasaan itu dimulai dari dalam rumah sendiri sampai keluar menjadi kekuasaan negara.
Kekuasaan merupakan perkembangan dari si-aku yang ingin dikenal dan diakui.
Si-aku, yaitu angan-angan dan gambaran tentang diri, diagungkan dan dibesarkan, ingin dikenal sebagai sesuatu yang besar dan karenanya haus akan kekuasaan.
Kekuasaan dianggap sebagai identitas diri.
Identitas si-aku.
Disamping itu, juga kekuasaan menjadi sumber dari segala macam kesenangan.
Kekuasaan diperebutkan dan siapa menang dia berkuasa, siapa berkuasa dia pasti besar karena kekuasaan memang diperalat untuk membesarkan si-aku.
Bahkan hukumpun berada di tangan yang berkuasa.
Sebetulnya, kecurigaan Cin Po bukanlah kecurigaan kosong belaka.
Kok-su Lauw Thian Seng-cu sebetulnya adalah seorang manusia yang berwatak palsu.
Dia itu, ketika masih mudanya dahulu, pernah menjadi sute dari See-thian Tok-ong dan dialah sebetulnya yang tadinya bersekongkol dengan See-thian Tok-ong untuk membunuh Kaisar Sung.
Tentu saja dengan cita-cita bahwa dia sendiri yang kemudian akan memegang kekuasaan dan menjadi kaisar!
Dia masih keturunan bangsa Tibet, karenanya dekat dengan bangsa Khi-tan dan Yu-cen.
Dia tidak mungkin dapat setia kepada Kaisar Sung, karena banyak sanak saudaranya, tanpa setahu kaisar, menjadi korban dalam perang melawan kerajaan Sung.
Demikianlah, dengan pandainya dia menyusup ke dalam istana kerajaan Sung dan dapat menduduki jabatan Kok-su dan mendapat kepercayaan sepenuhnya oleh Kaisar Sung Thai Cung.
Dalam sikapnya, Kok-su memang selalu berhati-hati dan memperlihatkan kesetiaannya sehingga Kaisar sendiri dan para pejabat tinggi terkecoh.
Ketika pembunuhan terhadap Kaisar gagal dan pembunuhnya hampir tertangkap oleh Cin Po, dengan cerdiknya Kok-su turun tangan membunuhnya agar rahasianya tidak sampai bocor.
Kini kerajaan Hou-han sudah jatuh, bahkan See-thian Tok-ong telah tewas, demikian pula kerajaan Wu-yeh.
Diam-diam dia mengatur siasat lagi, mendekati kerajaan Khi-tan dan mengadakan kontak rahasia dengan Pak-jiu Pak-sian yang menjadi tokoh Khi-tan dan juga dengan Nam-san Cinjin tokoh Nan-cao.
Dia berusaha untuk membikin kerajaan Sung menjadi semakin lemah dan dia sudah berhasil membujuk kaisar agar tidak memperbesar pasukannya dan bahkan mengirim upeti kepada kerajaan Khi-tan sebagai tanda persahabatan!
Biarpun Kok-su Lauw Thian Seng-cu sudah bertindak dengan hati-hati sekali dalam menghubungi kedua tokoh ini, namun karena sudah menaruh kecurigaan, Menteri Lu Tong Pi yang memasang banyak mata-mata mulai dapat mencium ketidakwajaran ini.
Beberapa kali orang-orangnya melihat berkelebatnya orang di waktu malam yang berkunjung ke gedung tempat tinggal kok-su dan melihat pakaiannya bayangan itu seperti bayangan orang Khi-tan.
Akan tetapi gerakan orang itu terlalu cepat sehingga tidak dapat tertangkap atau dilihat dengan jelas.
Diam-diam Menteri Lu mencatat semua ini dan dia menghubungi Cin Po, memberitahu tentang kecurigaannya terhadap Kok-su dan minta agar Cin Po diam-diam melakukan penyelidikan atas diri Kok-su Lauw Thian Seng-cu.
Pada suatu pagi yang cerah.
Sebuah kereta yang indah meluncur menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah barat.
Ketika tiba di gardu penjagaan, kereta itu berhenti sebentar dan tirai kereta disingkap.
Ketika melihat siapa yang berada di dalam kereta, para penjaga yang tadinya hendak memeriksa kereta, terkejut dan cepat memberi hormat.
Siapa yang tidak mengenal Kok-su Lauw Thian Seng-cu?
Melihat para penjaga sudah memberi hormat, Kok-su menutupkan lagi tirai keretanya dan memerintahkan kusir kereta untuk melanjutkan perjalanan.
Kereta keluar dari pintu gerbang dan kuda-kuda penarik kereta dilarikan dengan cepat menuju ke barat.
Sekitar tiga puluh lie jauhnya dari kota raja, kereta itu mendaki sebuah bukit menuju ke sebuah bangunan yang merupakan tempat peristirahatan Kok-su.
Bukit itu sunyi dan bangunan itu menyendiri.
Setelah tiba di pekarangan bangunan itu, kereta berhenti dan Kok-su meloncat turun dari dalam keretanya.
Kusirnya lalu membawa kereta itu ke belakang bangunan dan Kok-su melangkah ke beranda depan.
Dari dalam gedung itu muncul dua orang kakek yang menyambutnya.
Yang pertama seorang kakek berusia enampuluh dua tahun, tubuhnya sedang dan kepalanya botak, alisnya tebal dan matanya seperti mata harimau, hidungnya pesek dan mulutnya besar.
Yang menarik adalah telinganya yang lebar seperti telinga gajah.
Kakek itu bukan sembarang orang karena dia adalah datuk dari Utara, yaitu Pat-jiu Pak-sian tokoh Khi-tan!
Adapun kakek yang kedua adalah seorang kakek yang pendek kecil, seorang yang katai karena tingginya tidak lebih dari satu setengah meter.
Akan tetapi jangan dipandang ringan kakek pendek kecil ini karena diapun seorang datuk, yaitu datuk dari selatan Nam-san Sianjin tokoh Nan-cao!
�Ha-ha-ha, kalian berdua sudah datang lebih dulu?� tegur Kok-su sambil tertawa.
Pat-jiu Pak-sian juga tertawa.
�Ha-ha, yang menjadi tuan rumah malah terlambat.
Aku sudah datang sejak kemarin dan Nam-san Sianjin ini sudah datang sejak pagi tadi!� Mereka saling memberi hormat dengan mengangkat ke dua tangan depan dada.
Pada saat itu, dari dalam rumah muncul pula tiga orang muda, seorang gadis dan dua orang pemuda.
Nam-san Sianjin segera memperkenalkan gadis yang berusia sekitar duapuluh tiga tahun, cantik manis dan bertahi lalat di pipi kirinya itu.
�Kok-su, ini adalah muridku bernama Song Mei Ling dan yang ini muridku pula bernama Kim Pak Hun!� Dia menuding ke arah seorang pemuda yang tinggi besar dan nampak gagah, yang berdiri di samping Mei Ling.
�Wah, murid-muridmu ini nampak gagah, cantik dan tampan, Sianjin,� kata Kok-su memuji.
�Dan yang seorang ini, siapakah dia?� �Apakah locianpwe sudah lupa lagi kepada saya?
Kita pernah satu kali saling jumpa ketika Kok-su mengadakan pertemuan dengan mendiang Suhu See-thian Tok-ong.
Saya datang untuk membantu Kok-su, karena saya ingin membikin pembalasan atas kematian mendiang suhu.
Nama saya Kam Song Kui!� �Ah, benar!
Tentu saja kami menerima bantuanmu dengan senang hati, Song Kui.
Sayang sekali gurumu telah tewas, akan tetapi jangan khawatir.
Kita semua sudah tahu siapa yang membunuh gurumu, dan kita kelak tentu akan dapat membalas dendam itu!� �Mari kita bicara di dalam saja, Kok-su,� kata Pat-jiu Pak-sian sambil memandang ke kanan kiri karena bagaimanapun juga dia merasa khawatir kalau-kalau pertemuan rahasia ini akan terlihat orang lain.
�Baik, mari silakan masuk semua.� �Tiga orang muda ini sebaiknya menjaga di luar kalau-kalau ada orang luar menyusup masuk,� kata Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin mengangguk.
�Kalian jaga di luar,� katanya kepada dua orang muridnya.
�Dan engkau menemani mereka di sini, Song Kui,� kata Kok-su dengan nada suara memerintah.
Tiga orang muda itu mengangguk dan mereka tidak ikut masuk, melainkan menjaga di luar.
�Sungguh tidak tepat kalau berjaga dalam tempat terbuka seperti ini.
Sebaiknya kita berjaga sambil bersembunyi agar kalau ada orang luar berani masuk, kita dapat menangkapnya,� usul Kam Song Kui.
Dua orang kakak beradik seperguruan itu menganggap usul ini tepat maka mereka lalu menyelinap ke ruangan depan dan menjaga sambil mengintai ke luar.
Dengan masuknya tiga orang muda itu, suasana di luar rumah itu nampak sunyi sekali.
Dan ternyata usul Kam Song Kui tadi memang tepat sekali.
Setelah suasana di luar gedung menjadi sunyi, tiba-tiba nampak berkelebat bayangan orang.
Gerakannya cepat sekali dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang memakai cadar hitam di depan mukanya!
Wanita itu bukan lain adalah Kui Ciok Hwa.
Seperti yang dikatakan oleh mendiang Tung-hai Mo-ong kepada Cin Po, Ciok Hwa melarikan diri dari ayahnya karena ayahnya melarang ia berhubungan dengan Cin Po.
Dalam pelariannya ini ia melihat pertempuran besar terjadi di mana-mana yang mengakibatkan kerajaan Wu-yeh takluk.
Ia tidak memperdulikan pertempuran itu, tidak mau melibatkan diri, akan tetapi ia amat mengkhawatirkan ayahnya.
Ia berlari-lari ke sana ke mari mencari ayahnya, akan tetapi tidak berhasil menemukan orang tua itu.
Sampai kerajaan Wu-yeh roboh dan takluk kepada kerajaan Sung, ia tidak berhasil menemukan ayahnya.
Ia menjadi khawatir dan penasaran sekali.
Ayahnya pernah bersekutu dengan See-thian Tok-ong dan juga dengan Kok-su Kerajaan Sung.
Bagaimana sekarang kerajaan Sung malah menyerang Wu-yeh?
Dan ke mana ayahnya pergi?
Ia tidak percaya kalau ayahnya melarikan diri.
Ayahnya bukan orang pengecut macam itu.
Kok-su Lauw Thian Seng-cu!
Kepadanyalah ia harus menanyakan ayahnya.
Tentu Kok-su itu mengetahuinya karena bukankah mereka bekerja sama?
Itulah sebabnya, pada hari itu ia melakukan perjalanan memasuki daerah Sung untuk mencari Kok-su Lauw Thian Seng-cu.
Di tengah perjalanan, ketika ia sudah hampir sampai di kota raja, ia melihat kereta itu.
Pernah satu kali ia melihat kereta milik Kok-su Lauw Thian Seng-cu, maka ia lalu membayangi dan ketika kereta itu tiba di rumah atas bukit, iapun mengintai.
Benar saja dugaannya, kereta itu milik Kok-su Lauw Thian Seng-cu.
Akan tetapi ia menjadi ragu ketika melihat Kok-su itu bertemu, dengan dua orang kakek yang, diketahuinya adalah datuk-datuk dari utara dan selatan.
Ia ingin sekali menyelidiki apa yang akan mereka bicarakan.
Mungkin saja mereka akan membicarakan tentang ayahnya!
Setelah melihat mereka bertiga dan juga tiga orang muda itu masuk dan keadaan di luar gedung itu sunyi senyap, Ciok Hwa lalu meloncat dan menggunakan keringanan tubuhnya.
Ia sudah berada di pendopo gedung itu ketika tiba-tiba tiga orang muda yang tadi dilihatnya memasuki gedung, tiba-tiba kini telah keluar dan mengepungnya!
�Tangkap mata-mata musuh!� bentak Souw Mei Ling dan ia sudah menggerakkan pedangnya menyerang.
Ciok Hwa juga sudah mencabut pedangnya dan menangkis.
Terjadilah pertempuran antara kedua orang gadis itu.
Kim Pak Hun segera membantu sumoinya, menyerang dengan pedangnya pula.
Tentu saja Ciok Hwa menjadi terdesak karena baru melawan Mei Ling seorang saja keadaan mereka sudah seimbang.
Melihat betapa gadis itu memiliki bentuk tubuh yang amat menggairahkan dan kulit tangan dan lehernya demikian putih kemerah-merahan, Kam Song Kui yang mata keranjang itu, sudah menjadi tergila-tergila, akan tetapi dia tahu betapa buruknya wajah gadis itu.
�Jangan bunuh, tangkap agar kita dapat periksa apa kehendaknya!� katanya dan iapun menggunakan sulingnya menyerang untuk menotok dan merobohkan gadis itu.
Dikeroyok tiga, tentu saja Ciok Hwa menjadi terdesak hebat dan akhirnya, sebuah totokan dari suling Kam Song Kui dapat membuatnya roboh terkulai dan lemas tak berdaya.
�Biar kubuka cadarnya agar kita tahu siapa ia dan apa maunya menyusup ke sini!� kata pula Kam Song Kui dan cepat dia lalu menggunakan tangan kirinya menyingkap cadar itu.
Tiga orang itu melihat wajah yang penuh totol-totol hitam sehingga wajah itu nampak buruk sekali.
Melihat ini, terkejut dan meloncatlah Mei Ling dan Pak Hun ke belakang.
�Ihhh...!
Muka setan...!� katanya Mei Ling jijik.
�Kita bunuh saja gadis ini!� kata pula Kim Pak Hun.
Tiga orang itu sudah menggerakkan pedang masing-masing, siap untuk membunuh.
Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring, �Tahan senjata!� Tiga orang itu terkejut dan menengok, dan melihat seorang pemuda berpakaian putih yang sudah mereka kenal baik.
Cin Po telah berdiri di sana.
Pemuda ini menudingkan telunjuknya dan membentak, �Lepaskan pedang...!� Sungguh aneh, tiga orang itu tidak kuasa membantah dan merekapun melepaskan pedang masing-masing sehingga jatuh berdentingan ke atas lantai.
Cin Po melompat dengan cepatnya, menyambar tubuh Ciok Hwa dan membebaskan totokan gadis itu.
�Twako...!� kata Ciok Hwa terharu bahwa pada saat yang tepat kekasihnya muncul.
Cin Po sudah mengambil pedang gadis itu dan menyerahkan pedang itu kepada Ciok Hwa.
�Hwa-moi, berhati-hatilah engkau.� Kini tiga orang muda itu sudah merasa biasa kembali.
Mereka masih terkejut melihat betapa mereka telah melepaskan pedang masing-masing.
Kini mereka menyambar kembali pedang mereka dan memandang kepada Cin Po.
�Sung Cin Po, gadis itu adalah mata-mata musuh!
Berani engkau membelanya?
Suhu berada di dalam, apakah engkau hendak menentang suhu?� bentak Kim Pak Hun sambil menudingkan pedangnya.
Sementara itu Mei Ling memandang dengan penasaran.
Bagaimana mungkin Cin Po membela gadis yang wajahnya seperti setan itu dan nampaknya demikian akrab?
�Kalian tidak tahu rupanya.
Nona ini adalah Kui Ciok Hwa, puteri dari Tung-hai Mo-ong Kui Bhok!� Benar saja, kedua orang muda itu terkejut mendengar ini, akan tetapi Kam Song Kui membentak, �Kami sudah tidak mempunyai urusan lagi dengan Tung-hai Mo-ong!
Cin Po, menyerahlah engkau sebelum kami terpaksa menggunakan kekerasan!� �Hemm, engkau tentu murid See-thian Tok-ong yang berjuluk Kang-siauw Tai-hiap itu.
Twako, biarkan aku melawannya!� kata Ciok Hwa gemas.
Ia sudah tidak senang ketika, ayahnya bersekutu dengan See-thian Tok-ong yang dianggapnya seorang yang amat jahat.
�Tangkap mata-mata Sung!� Kim Pak Hun juga berseru karena dia sejak dahulu membenci Cin Po yang pernah menjatuhkan hati sumoinya.
Tanpa diperintah lagi, kedua orang muda itu sudah maju menyerang.
Mei Ling yang tadinya masih nampak ragu, terpaksa menerjang pula membantu suhengnya.
Ciok Hwa menyambut suling Kam Song Kui dengan pedangnya, sedangkan Cin Po menyambut kakak dan adik seperguruan itu dengan tangan kosong.
�Suci dan suheng, aku tidak ingin bertempur dengan kalian!� katanya, akan tetapi Kim Pak Hun tidak mau mendengarkan kata-katanya, bahkan menyerang lebih hebat pula.
Cin Po menggunakan kecepatan gerakannya yang dahulu juga dipelajarinya dari Nam-san Sianjin, yaitu Coan-hong-hui untuk mengimbangi kecepatan kedua saudara seperguruan itu, kemudian dengan pengerahan tenaganya, dia mengeluarkan bentakan Tong-te-ho-kang.
Seketika ke dua orang saudara seperguruan itu terhuyung ke belakang dan roboh bagaikan didorong angin badai!
Sementara itu, Ciok Hwa juga sudah mulai mendesak Kam Song Kui dengan pedangnya.
Akan tetapi pada saat itu, dari dalam bermunculan tiga orang kakek yang tadi terkejut mendengar suara yang nyaring dari Cin Po.
Mendengar bentakan yang menggetarkan ruangan di mana mereka duduk berunding, tiga orang kakek itu terkejut dan maklum bahwa ada orang pandai menggunakan ilmu khi-kangnya.
Maka, mereka bergegas keluar dan melihat pertempuran itu, mereka cepat berseru, �Hentikan pertempuran!� Kam Song Kui yang sudah mulai, terdesak dan juga khawatir melihat dua orang kawannya sudah roboh, cepat meloncat ke belakang.
Ciok Hwa meloncat ke dekat Cin Po yang berdiri dengan tegak dan sikap tenang menghadapi tiga orang kakek itu.
Kok-su tentu saja terkejut setengah mati ketika mengenal Cin Po berada di situ.
Dan Cin Po tersenyum mengejek melihat kekagetan Kok-su.
�Kok-su, bagus sekali.
Ternyata engkau seorang pengkhianat besar yang mengadakan perkutuan dengan kerajaan Khi-tan dan Nan-cao!
Pantas saja engkau tidak menghendaki perang!� Saking kagetnya Kok-su tidak dapat menjawab apa-apa hanya memandang dengan mata terbelalak.
Dia harus membunuh pemuda itu, kalau tidak, akan hancurlah semua rencananya, bahkan akan berbahayalah baginya.
Akan tetapi dasar dia seorang yang ahli siasat dan banyak pengalaman, maka akhirnya dia dapat juga menjawab.
�Sung Cin Po, engkau anak kemarin sore tahu apakah?
Aku mengusahakan perdamaian demi ketenteraman kehidupan rakyat dan keselamatan negara Sung!
Aku mengadakan pertemuan dengan para tokoh ini untuk membicarakan bagaimana agar perdamaian itu tetap terjaga baik, tidak dirusak oleh setan-setan perang yang membinasakan banyak nyawa manusia dan menghancurkan banyak harta benda!� Pat-jiu Pak-sian yang pernah menjadi guru Sung Cin Po, segera maju dan menegur bekas muridnya itu.
�Cin Po, lupakah engkau dengan siapa engkau berhadapan?
Siapakah yang menyelamatkanmu ketika engkau terjatuh ke dalam jurang?
Siapa yang menggemblengmu selama lima tahun dengan penuh kasih sayang?� Cin Po mengangkat tangan ke depan dada dan menjura kepada kakek itu.
�Saya tidak akan pernah melupakan budi kebaikan suhu yang telah dilimpahkan kepada saya.
Akan tetapi bagaimanapun juga, saya juga tidak dapat mengabaikan negara dan kerajaan di mana saya menjadi kawulanya.
Kalau negara saya dikhianati, tentu harus saya bela.� �Cin Po, jangan engkau mencampuri urusanku.
Urusanku dengan Kok-su Lauw-thian Seng-cu adalah demi kebaikan, dan siapapun tidak boleh mencampuri, termasuk engkau yang pernah menjadi muridku.� �Maaf, suhu.
Saya harap Suhu tidak salah mengerti.
Suhu adalah seorang tokoh Khi-tan dan kalau Suhu membantu Khi-tan, hal itu sudah sepatutnya.
Akan tetapi saya juga berhak untuk membela Sung, dan sebaiknya suhu kembali ke Khi-tan dan jangan mengganggu kerajaan Sung.� �Bocah kurang ajar!
Murid murtad!
Engkau hendak melawanku?� �Saya tidak berani kalau ini mengenai urusan pribadi.
Akan tetapi untuk membela kerajaan Sung, saya berani menghadapi dan melawan siapapun juga.� �Bagus!
Engkau berani menentangku?
Nah, hendak kulihat sampai di mana sekarang kemajuanmu maka engkau berani melawan aku!
Sambutlah!� bentak Pat-jiu Pak-sian dan kakek ini sudah menyerang dengan ilmu pukulan Pat-jiu-sin-kun.
Ilmu silat Pat-jiu-sin-kun (Silat Sakti Delapan Tangan) ini merupakan ilmu silat tangan kosong yang digerakkan dengan cepat bukan main sehingga dua tangan seolah telah berubah menjadi delapan.
�Maafkan saya Suhu!� kata Cin Po dan dia pun bergerak dengan ilmu silat yang sama!
Tentu saja dia kalah pengalaman dan kalah matang dalam hal ilmu silat ini, akan tetapi kakek itu tidak tahu bahwa Cin Po telah menerima gemblengan dari seorang sakti, yaitu Bu Beng Lojin yang mematangkan semua ilmu silat yang pernah dipelajari Cin Po.
Gerakannya menjadi lebih cepat, tenaganya menjadi lebih kuat sehingga setelah mereka saling serang selama limapuluh jurus, Pat-jiu Pak-sian terkejut bukan main karena sama sekali dia tidak mampu mendesak bekas muridnya itu!
Dengan marah dia lalu mencabut sebatang pedangnya lalu dia mainkan ilmu pedang Hui-sin-kiam-sut.
Cin Po tidak berani memandang ringan dan diapun mencabut Yang-kiam.
Dia menggerakkan pedangnya dengan ilmu pedang yang sama dan setelah lewat belasan jurus, suatu ketika kedua pedang bertemu dengan dahsyatnya dan akibatnya, ujung pedang kakek itu menjadi patah!
Kakek itu meloncat ke belakang dengan muka pucat!
Patahnya pedang dalam hal ilmu adu pedang dapat dianggap sebagai kekalahan!
Melihat ini, Nam-san Sianjin meloncat maju.
�Cin Po, apakah engkau juga akan melawan aku, gurumu yang telah mengajarkan ilmu kepadamu selama tiga tahun dengan sungguh hati?� bentaknya.
Cin Po sungguh merasa tidak enak sekali!
Gurunya yang kedua ini memang amat menyayangnya, demikian pula sucinya, Souw Mei Ling, selama tiga tahun hidup bersamanya seperti seorang adik yang menyayangnya.
Dan sekarang dia harus berhadapan sebagai musuh dengan mereka!
Diapun memberi hormat kepada Nam-san Sianjin, lalu berkata dengan suara mengandung penyesalan.
�Suhu, sungguh, saya sama sekali tidak berani melawan Suhu.
Maka harap suhu suka kembali saja ke Nan-cao dan kita tidak saling berhadapan sebagai musuh.
Biarlah lain kali saya datang berkunjung untuk menghaturkan terima kasih dan hormatku kepada Suhu!� �Cin Po, mengingat akan hubungan kita dahulu, kuharap engkau suka pergi meninggalkan tempat ini dan jangan membicarakan pertemuan ini dengan siapapun juga.
Kalau engkau tidak mau, berarti engkau menantangku dan terpaksa kita harus bertanding.� �Maaf, suhu.
Saya terpaksa akan menangkap Kok-su Lauw-thian Seng-cu dan membawanya kepada Sribaginda Kaisar untuk diadili.
Harap Suhu tidak mencampuri, ini urusan dalam kerajaan Sung!� �Anak keras kepala!
Engkau hendak durhaka terhadap gurumu?� �Apa boleh buat, Suhu.
Bukan saya yang memaksa, melainkan Suhu sendiri.� �Bagus, sambutlah tongkatku ini!� Nam-san Sianjin bergerak dengan cepat luar biasa.
Dia adalah seorang ahli ginkang yang memiliki, gerakan cepat seperti terbang, dan tongkatnya sudah menyambar dengan cepat bagaikan kilat melakukan serangan totokan ke arah tigabelas jalan darah di sebelah depan tubuh Cin Po secara bertubi.
Akan tetapi Cin Po tentu saja mengenal baik serangan ini dan sudah memutar pedangnya seperti kitiran.
Sinar pedang itu bergulung-gulung membentuk perisai sehingga semua totokan tertahan dan tidak dapat menembus gulungan sinar pedang itu.
Nam-san Sianjin menjadi penasaran dan dia lalu memainkan Hai-liong Sin-tung (Tongkat Sakti Naga Lautan) yang amat dahsyat.
Akan tetapi semua serangannya itu kandas dalam gulungan sinar pedang, bahkan ketika Cin Po membalas, Dia menjadi terdesak hebat dan hanya main mundur sambil memutar tongkat melindungi tubuhnya dari gulungan sinar pedang yang menekan dan menindih itu.
Melihat betapa Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin kalau maju satu lawan satu tidak mampu mengalahkan Cin Po, Kok-su menjadi terkejut sekali.
Dia memang sudah tahu bahwa pemuda itu lihai, akan tetapi tidak menyangka sama sekali bahwa pemuda itu mampu menandingi kedua orang datuk itu yang pernah menjadi gurunya!
Timbul kekhawatirannya, maka dengan seruan yang menyeramkan kakek yang pandai ilmu sihir ini lalu mencabut pedangnya dan membantu Nam-san Sianjin.
Melihat ini, karena khawatir pula rencananya akan gagal, Pat-jiu Pak-sian tanpa malu-malu lagi juga terjun ke dalam pertempuran dan mengoroyok bekas muridnya sendiri!
Melihat ini, Ciok Hwa menjadi marah.
�Orang-orang tua pengecut!� bentaknya dan dengan pedangnya, ia nekat maju hendak membantu kekasihnya, akan tetapi Souw Mei Ling, Kim Pak Hun dan Kam Song Kui sudah maju menyambutnya sehingga kembali Ciok Hwa dikeroyok tiga!
Kini keadaan Cin Po terdesak hebat.
Betapapun pandainya, kalau harus melawan tiga orang datuk yang amat lihai itu sekaligus, tentu saja dia tidak mampu dan kini pedang Yang-kiam yang ampuh itu hanya dipergunakan sebagai perisai diri, diputar sehingga gulungan sinar itu melindungi tubuhnya dari serangan tiga orang kakek sakti itu.
Keadaan Cin Po maupun Ciok Hwa dalam keadaan gawat.
Sama saja seperti halnya Cin Po, Ciok Hwa terdesak hebat dan ia terancam roboh di tangan tiga orang lawannya.
Dalam keadaan yang amat gawat itu, tiba-tiba terdengar seruan lembut, �Siancai...!
Orang-orang tua tidak tahu diri, mengeroyok seorang muda...!� Dan nampaklah angin berpusing membawa debu dan daun-daun beterbangan dan tiga orang datuk itu terhuyung ke belakang karena terdorong oleh angin yang amat dahsyat.
�Suhu...!� Cin Po berseru dan cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan seorang kakek yang berpakaian butut namun bersih, seperti kakek pengemis tua renta yang bukan lain adalah Bu Beng Lojin!
�Siancai..., selama ini sepak terjangmu cukup menggembirakan hati, Cin Po,� kata kakek itu sambil memandang kepada muridnya, kemudian menoleh kepada yang lain.
Tiga orang muda yang tadi mengeroyok Ciok Hwa kini juga berhenti mengeroyok dan melihat kekasihnya berlutut di depan seorang kakek tua renta, Ciok Hwa juga menjatuhkan dirinya berlutut karena bagaimanapun juga, kedatangan kakek itu tadi telah menyelamatkannya.
Kakek itu tersenyum.
�Kalian bangkitlah dan jangan takut.
Para datuk yang salah jalan ini tidak akan mengganggu kalian lagi.� Kemudian kakek itu menudingkan telunjuknya kepada Pat-jiu Pak-sian.
�Pat-jiu Pak-sian, selama belasan tahun tidak bertemu, aku tidak pernah mendengar engkau melakukan penyelewengan, demikian pula engkau, Nam-san Sianjin.
Akan tetapi apa yang kalian lakukan hari ini sungguh membuat hati tidak enak.
Pat-jiu Pak-sian adalah seorang warga Khi-tan dan Nam-san Sianjin seorang warga Nan-cao, kenapa hari ini berada di wilayah Sung dan mengeroyok orang-orang muda?
Apakah kalian tidak mempunyai rasa malu lagi?� �Orang tua, sejak dahulu engkau tidak pernah memperkenalkan nama, kenapa sekarang mencampuri urusan kami?� kata Pat-jiu Pak-sian namun suaranya terdengar menghormat dan halus.
�Aku melakukan ini demi membela negara Khi-tan, apa salahnya?� �Aku juga berurusan dengan bekas muridku dan aku membela Nan-cao, apakah engkau hendak menyalahkan aku, pengemis tua?� tanya Nam-san Sianjin, akan tetapi diapun nampak jerih.
Dahulu, belasan tahun yang lalu, baik Pak-sian maupun Nam-san Sianjin pernah bertemu dan merasakan kesaktian kakek itu, maka kini merekapun menjadi jerih.
�Siancai...!
Alasan yang dicari-cari.
Kalau kalian memang begitu cinta kepada negara, kenapa kalian tidak berdiam di negara masing-masing dan mengatur ketentraman dalam negara kalian?
�Dengan memerangi kejahatan kalian akan berjasa membuat negara masing-masing tenteram, damai dan makmur.
Bukan dengan jalan bersekongkol dengan Kok-su negara Sung untuk menjatuhkan kerajaan Sung.
�Sekarang kalau kalian melanjutkan hendak menjatuhkan negara Sung dengan cara licik itu, terpaksa aku yang tua harus turun tangan mencegahnya dan terserah kepada kalian, mau kembali ke negara masing-masing ataukah hendak mencoba-coba aku orang tua?� Sungguh aneh sekali.
Datuk-datuk seperti Pat-jiu Pak-sian dan Nam-san Sianjin kini menjadi kemerahan mukanya dan mereka nampak gentar.
Tadi saja ketika kakek sakti itu muncul, mereka sudah merasakan dorongan angin yang membuat mereka terhuyung, dan maklumlah mereka bahwa mereka sama sekali bukan tandingan kakek yang sakti itu.
�Hemm, Cin Po, bagaimanapun juga, engkau yang pernah menjadi muridku ternyata tidak mengecewakan!� kata Pat-jiu Pak-sian.
�Sekarang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan kembali ke Khi-tan!� Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar kakek itu meninggalkan tempat itu.
�Pak Hun, Mei Ling, mari kita pulang.
Tidak ada urusan lagi di negara Sung!� kata pula Nam-san Sianjin dan diapun melangkah pergi.
Kim Pak Hun segera mengikuti gurunya, akan tetapi Souw Mei Ling memandang kepada Cin Po.
�Sute, selamat berpisah!� katanya.
Cin Po berseru.
Bagaimanapun juga, sucinya ini tetap baik.
Kalau tadi mengeroyoknya, adalah karena terpaksa.
�Selamat jalan, suci, jaga dirimu baik-baik!� katanya.
Mereka semua pergi, tinggal Kam Song Kui yang masih berada di situ.
Akan tetapi tentu saja diapun sudah kehilangan semangat untuk melawan.
�Sung Cin Po, lain kali aku akan membuat perhitungan denganmu atas kematian suhu!� Setelah berkata demikian, Si Suling Baja ini lalu meloncat pergi dari situ.
Kini tinggal Kok-su Lauw-thian Seng-cu seorang.
�Lauw-thian Seng-cu, engkau seharusnya malu,� kata Bu Beng Lojin.
�Engkau sudah mendapat kedudukan dan kemakmuran di kerajaan Sung, namun engkau tiada henti-hentinya mengkhianatinya.
Engkau agaknya sudah tidak dapat mengubah jalan hidupmu yang sesat, Lauw-thian Seng-cu.
�Sekarang tinggal engkau memilih satu di antara dua.
Engkau meninggalkan kedudukanmu sebagat Kok-su dan kembali ke tempat asalmu di barat, atau engkau akan ditangkap Cin Po dan dibawa menghadap Kaisar untuk menerima hukumanmu.� Lauw-thian Seng-cu memandang marah.
�Pengemis tua!
Aku tidak ada urusan denganmu, kenapa engkau usil?
Kalau Cin Po hendak menangkap dan melaporkan aku, coba suruh dia lakukan kalau dapat!
Lebih baik aku mati dari pada menuruti dua macam permintaanmu itu!� �Siancai...!
Cin Po, engkau telah berjanji akan setia kepada Kaisar.
Laksanakanlah kesetiaanmu dan tangkaplah pengkhianat besar ini!� �Haiiiittt...!!� Lauw-thian Seng-cu sudah mengeluarkan bentakan nyaring, tangannya mencakar tanah dan sekali lempar ke udara, muncullah seekor naga hitam yang besar yang akan menubruk ke arah Cin Po.
�Siancai...!� Bu Beng Lojin berseru dan dia menarik tangan Ciok Hwa untuk mundur, membiarkan Cin Po menghadapi naga itu.
Ciok Hwa khawatir sekali akan keselamatan kekasihnya, akan tetapi ia melihat Cin Po dengan tenang mengambil segenggam tanah dan menimpuk ke arah naga itu.
�Asal dari tanah kembali kepada tanah!� bentak Cin Po dan begitu naga itu tertimpuk tanah, maka kembalilah dia kepada asalnya yaitu segenggam tanah dan jatuh berhamburan.
Bu Beng Lojin tersenyum melihat kemahiran muridnya akan tetapi Lauw Thian Seng-cu menjadi semakin marah.
�Sambutlah!� Teriaknya dan begitu kedua tangannya bergerak, meluncurlah empat buah hui-to (pisau terbang) menyambar ke arah tubuh Cin Po.
Pemuda ini tidak menjadi gugup, dengan tenangnya dia meloncat, berjungkir balik dan begitu kedua tangannya menyambar, dia telah menangkap gagang empat pisau itu dan sambil melompat turun dia menyambitkan pisau-pisau itu kepada pemiliknya.
Lauw Thian Seng-cu menangkis pisau-pisaunya sendiri sehingga runtuh semua dan dia lalu menerjang dengan pedangnya, menyerang dengan dahsyat karena dia tahu bahwa kalau dia tidak dapat membunuh pemuda itu, maka dia sendiri yang akan celaka, terbunuh atau dihukum mati oleh kaisar.
Kenekadan dan kemarahannya membuat tenaganya bertambah besar, akan tetapi kewaspadaannya berkurang.
Cin Po menggunakan ilmu meringankan tubuh Coan-hong-hui (Terbang Menembus Angin) untuk menghindarkan semua serangan itu, dan kalau mendapat kesempatan dia membalas.
Namun lawannya juga cukup pandai sehingga tidak mudah dirobohkan.
Keduanya kini terlibat dalam pertandingan mati-matian yang hebat sekali sehingga Ciok Hwa yang menonton kekasihnya bertanding itu merasa khawatir juga.
Gadis ini mengenal orang sakti dan kakek itu memang sakti, ilmu pedangnya yang dari Tibet itu seperti ilmu pedang para pendeta Lhama.
Juga kadang-kadang dia mengeluarkan geraman yang menggetarkan hati, tentu menggunakan kekuatan sihir untuk menyerang Cin Po.
Akan tetapi pemuda ini sudah siap siaga dan selalu dapat menolak kekuatan sihir yang melanda dirinya.
Pedang mereka berputar semakin cepat dan lenyaplah bentuk pedangnya, yang nampak hanya dua gulungan sinar pedang.
Sinar pedang Yang-kiam lebih cemerlang dan makin lama sinar pedang Cin Po semakin mendesak dan menindih, tanda bahwa dia mulai dapat mendesak lawannya.
Memang Lauw Thian Seng-cu mulai merasa terdesak hebat.
Dia sudah tua dan tenaganya berkurang, juga pernapasannya tidaklah sekuat dahulu.
Kalau lawannya yang masih muda masih segar, dia sudah mulai loyo dan gerakan pedangnya sudah kurang cepat dan kurang kuat.
�Lauw Thian Seng-cu, menyerahlah engkau untuk kubawa menghadap Sribaginda Kaisar!� bentak Cin Po sambil mendesak dengan tusukan bertubi-tubi yang membuat lawannya terhuyung ke belakang dan main mundur.
�Lebih baik mati!� bentak Lauw Thian Seng-cu.
Dia sudah lelah sekali karena mereka bertanding sudah lebih dari duaratus jurus lebih dan kini dia mencari jalan keluar untuk melarikan diri.
Ketika dia terhuyung mundur itu, tiba-tiba saja dia melontarkan pedangnya dengan kekuatan sepenuhnya ke arah lawan lalu membalikkan tubuh hendak lari dari situ.
Cin Po menangkis pedang yang dilontarkan ke arahnya itu.
Tangkisannya demikian kuatnya, membuat pedang Lauw Thian Seng-cu itu meluncur balik dan tanpa dapat dicegah lagi pedang itu mengenai punggung Lauw Thian Seng-cu, menusuk dan menembus sampai keluar dari dada!
Lauw Thian seng-cu mengeluarkan teriakan mengerikan dan robohlah dia, tewas seketika oleh pedangnya sendiri.
Cin Po tertegun.
Gerakan menangkis dan mengembalikan pedang itu sama sekali tidak disengajanya.
Dia hanya menangkis dengan pengerahan tenaga saja, sama sekali tidak mengira bahwa pedang itu akan meluncur balik dan membunuh pemiliknya sendiri.
�Siancai...!, Lauw Thian Seng-cu sudah memetik buah dari ulahnya sendiri!� kata Bu Beng Lojin dan mendengar ucapan gurunya ini, barulah Cin Po merasa lega karena tidak dipersalahkan.
Dia lalu menghadap kakek sakti itu sambil menggandeng tangan Ciok Hwa yang menjadi girang bukan main melihat kekasihnya keluar sebagai pemenang.
�Suhu, teecu perkenalkan nona ini bernama Kui Ciok Hwa dan ia adalah puteri Tung-hai Mo-ong.
Suhu, Ciok Hwa dan teecu sudah saling berjanji untuk saling berjodoh, dan teecu mohon doa restu dari suhu.� Kakek itu tertawa ramah.
�Nona, mengapa engkau menyembunyikan mukamu di balik cadar?
Singkaplah, aku ingin melihat mukamu.� Cin Po terkejut sekali dan hendak melarang karena khawatir kalau gurunya akan tidak setuju dengan perjodoban itu setelah melihat wajah yang cacat dari Ciok Hwa.
Akan tetapi dia tidak sempat melarang karena Ciok Hwa dengan cepat sudah menyingkap cadarnya.
Dia melihat muka yang penuh totol-totol hitam itu, akan tetapi hanya sebentar karena gadis itu sudah menutupkan lagi cadarnya.
Dan dia merasa heran, juga kagum dan berterima kasih kepada gurunya karena gurunya sama sekali tidak kelihatan terkejut atau jijik, malah gurunya tertawa seperti orang merasa kegelian, lalu berkata, �Ciok Hwa, engkau memang sudah sepantasnya menjadi isteri Cin Po karena kulihat engkau berbeda dari ayahmu.
Nah, aku mendoakan semoga kelak kalian menjadi suami isteri yang baik.
�Cin Po, kau urus jenazah Lauw Thian Seng-cu ini.
Sebelum pergi, kuburlah jenazahnya kemudian laporkan segalanya kepada Sribaginda Kaisar.
Untuk mencegah agar Sribaginda Kaisar tidak ragu lagi kepadamu dan percaya akan ceritamu, ambil pedang itu dan perlihatkan kepadanya bahwa pedang itu adalah milik Lauw Thian Seng-cu.
Cabutlah pedang itu!� Cin Po mencabut pedang yang menancap di punggung kakek yang tewas itu dan ternyata pedang itu mempunyai ukiran bunga teratai sebagai tanda bahwa Lauw Thian Seng-cu dahulunya adalah seorang tokoh dari perkumpulan Lhama Teratai Biru, yaitu golongan Lhama yang menjadi orang-orang buruan pemerintah Tibet sendiri karena tindakan mereka yang menyeleweng dari kebenaran.
�Nah, aku hendak melanjutkan perjalanan.
Selamat tinggal!� Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bu Beng Lojin telah lenyap dari situ.
Cin Po menjatuhkan dirinya berlutut ke arah perginya kakek itu diturut pula oleh Ciok Hwa yang merasa gembira bukan main melihat guru kekasihnya menyetujui perjodohan mereka.
Cin Po lalu mengubur jenazah Lauw Thian Seng-cu.
Ketika dia memasuki rumah itu, ternyata kusir dan para pembantu Lauw Thian Seng-cu sudah melarikan diri, meninggalkan rumah itu kosong.
Cin Po lalu menggeledah rumah itu, menemukan surat-surat penting yang menjadi bukti lebih lanjut tentang persekutuan antara Lauw Thian Seng-cu dengan pemerintah Khi-tan dan Nan-cao.
Semua bukti surat ini dia bawa untuk diperlihatkan kepada kaisar.
Barulah dia mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Ciok Hwa.
�Hwa-moi, aku mempunyai berita yang buruk bagimu dan yang sejak tadi kusimpan saja karena aku menanti saat baik agar engkau tenang lebih dulu.� Ciok Hwa memandang kepada Cin Po dan suaranya terdengar tegang ketika ia bertanya, �Berita mengenai ayahku?� Cin Po memegang kedua tangan kekasihnya dan berkata dengan suara tegas, �Tenangkan hatimu, Hwa-moi.
Benar, berita mengenai ayahmu.
Ayahmu telah tewas dan akulah yang menguburkan jenazahnya.� �Ahhh...!� Gadis itu terisak menangis, Cin Po membiarkannya saja menangis karena pada saat seperti itu, menangis merupakan obat terbaik bagi orang yang dikejutkan oleh berita duka.
Setelah tangis itu mereda, dia lalu menceritakan tentang kematian Tung-hai Mo-ong.
�Aku dapatkan ayahmu terluka parah.
Banyak sekali luka di tubuhnya dan semua itu akibat pertempuran dalam perang.
Mungkin karena terlalu banyak yang dilawannya, akhirnya dia menderita luka parah.
�Dia dapat melarikan diri akan tetapi luka-lukanya membuat dia roboh.
Aku melihatnya dan memondongnya pergi, berusaha mengobatinya akan tetapi percuma.
Dia meninggal dunia karena luka-lukanya.� Ciok Hwa mengangkat mukanya, memandang wajah kekasihnya dari balik cadarnya.
�Aku percaya bahwa bukan engkau yang merobohkan dan melukainya?� �Dugaan yang bodoh.
Kalau aku yang merobohkannya mengapa aku membawanya pergi dan berusaha mengobatinya?
Percayalah, Ciok Hwa, tidak mungkin aku melukai ayah dari kekasihku sendiri.
Dan dia meninggalkan pesan kepadaku, bahwa dia menyetujui perjodohan kita.� �Ah, ayah...!
Aku tahu bahwa sebetulnya dia amat sayang kepadaku dan tidak membencimu.
Hanya sayang dia terlibat dalam urusan kenegaraan dan perang.
Aku harus membalas dendam atas kematiannya!� gadis itu mengepal tinju.
Cin Po merangkulnya.
�Keliru, Hwa-moi!
Engkau hendak membalas dendam kepada siapakah?
Ayahmu tewas dalam perang, dan kematian dalam perang tidak perlu menimbulkan dendam.
Selain kita tidak tahu siapa pembunuhnya, juga dalam perang memang selalu terjadi saling bunuh.
�Bagaimana dengan mereka yang terbunuh demikian banyaknya, sampai ratusan ribu orang, baik di pihak Hou-han, Wu-yeh, maupun Sung?
Apakah keluarganya juga lalu menaruh dendam?
Kepada siapa?
�Tidak akan ada habisnya kalau begitu, Hwa-moi, oleh karena itu tebarkanlah dendammu itu biar dihembus dan dibawa pergi angin.
Dendam hanya akan meracuni hatimu, Hwa-moi!� Ciok Hwa terisak.
�Koko, aku ingin mengunjungi makam ayahku, ingin bersembahyang di depan makam ayahku.� �Mudah saja, mari kita ke sana sebelum kita kembali ke Hang-cou.� Demikianlah, Cin Po membawa Ciok Hwa ke dalam hutan di mana dia menguburkan jenazah Tung-hai Mo-ong dan di depan makam yang masih baru, yang ada tandanya batu besar sebagai pengganti nisan, Ciok Hwa menangis dan bersembahyang dengan sedih.
Kesedihan yang melanda hati gadis itu tentunya kesedihan karena mengingat akan keadaan diri sendiri.
Ia tidak dapat menyedihi ayahnya karena ayahnya telah tiada dan ia tidak tahu lagi bagaimana keadaan ayahnya sesudah mati.
Akan tetapi yang jelas, ia sedih karena dirinya menjadi sebatang kara, yatim piatu.
�Ayah, ayah...
engkau telah pergi, bagaimana dengan diriku ini?
Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, ayah...� demikian ia meratap.
Cin Po segera merangkulnya.
�Hwa-moi, tenanglah dan bagaimana engkau bisa berkata demikian di depan makam ayahmu?
Siapakah aku ini, Hwa-moi?
Ingatlah, engkau masih memiliki aku, dan aku yang akan menjadi pengganti ayahmu, pengganti seluruh keluargamu, aku yang akan menemanimu, melindungimu, menyayangmu...� �Koko...!� Dan gadis ini merangkul dan menangis di dada Cin Po.
Setelah bersembahyang beberapa lamanya, mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju Hang-cou, kota raja kerajaan Sung Selatan.
Kita tinggalkan dulu Cin Po dan Ciok Hwa yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Hang-cou dan mari kita menengok keadaan di Thian-san-pang yang sudah lama kita tinggalkan.
Seperti kita ketahui, Sung Bi Li dan Kwan Hui Ing tinggal di Thian-san-pang, membangun kembali Thian-san-pang dan membersihkan kembali nama perkumpulan itu yang dicemarkan oleh perbuatan Ban Koan.
Pada suatu hari, serombongan orang yang terdiri dari tujuh orang mendaki bukit Thian-san dan berkunjung ke Thian-san-pang.
Mereka itu adalah para tokoh Kun-lun-pai yang datang berkunjung.
Di antara mereka terdapat Yap Kim Sun, pemuda berpakaian hijau yang tampan dan gagah itu, bersama seorang pamannya, dan para tokoh Kun-lun-pai yang dipimpin oleh Kong Hi Tojin dan sute-sutenya.
Rombongan ini bukan sekedar berkunjung untuk pesiar, melainkan terutama sekali untuk mengajukan pinangan atas diri Kwan Hui Ing untuk dijodohkan dengan Yap Kim Sun.
Paman Yap Kim Sun yang menjadi wali pemuda yang sudah tidak berayah lagi itu bernama, Yap Siong Kun.
Dia sendiri tidak berani mengajukan pinangan puteri mendiang ketua Thian-san-pang, maka dia mengajak para tokoh dari Kun-lun-pai untuk menemaninya dan �memperkuat� kedudukannya.
(Lanjut ke
Jilid 15 -Tamat) Pendekar Baju Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 (Tamat) Para tokoh Kun-lun-pai dengan senang hati memenuhi permintaannya karena Yap Kim Sun merupakan seorang murid keponakan yang baik dan yang sudah mengangkat nama besar Kun-lun-pai dengan sepak terjangnya sebagai seorang pendekar.
Kong Hi Tojin adalah seorang paman guru dari Yap Kim Sun, karena pemuda ini adalah murid ketua Kun-lun-pai dan Yap Kim Sun bersama empat orang tokoh lain adalah para sute dari ketua Kun-lun-pai.
Di antara empat orang sute dari Kong Hi Tojin itu terdapat pula seorang tosu yang dahulunya sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak perempuan.
Tosu ini bernama Yang Seng Cu berusia limapuluh tahun, seorang laki-laki yang jangkung kurus dan berjenggot panjang.
Yang Seng Cu ikut dalam rombongan ini dengan hati yang tidak senang karena sesungguhnya Yang Seng Cu sudah lama mengandung keinginan hatinya untuk menjodohkan anak perempuannya dengan Yap Kim Sun.
Maka, kini mendengar bahwa Kim Sun hendak meminang seorang gadis puteri mendiang ketua Thian-san-pang, tentu saja hatinya merasa tidak senang.
Akan tetapi dia menyembunyikan perasaannya ini dan malah ikut pula dengan rombongan itu, tentu saja dengan niat untuk sedapat mungkin menggagalkan porjodohan antara Yap Kim Sun dan puteri Thian-san-pang itu.
Ketika rombongan tiba di Thian-san-pang, tentu saja pihak perkumpulan ini menyambutnya dengan hormat karena mereka tahu apa maksud kunjungan itu, setelah melihat Yap Kim Sun berada di antara mereka.
Sung Bi Li sendiri menyambut, bersama Kwan Hui Ing, dan para tamu itu dipersilakan masuk ke ruangan besar di mana pihak Thian-san-pang menyambutnya dengan sebuah pesta.
Dalam pesta makan ini mereka berkenalan dan bergembira dan setelah pesta makan selesai, barulah Sung Bi Li dengan sikap hormat menanyakan maksud kunjungan rombongan itu kepada kepala rombongan, yaitu Kong Hi Tojin.
�Kami dari Thian-san-pang merasa menerima kehormatan besar sekali dapat menyambut kedatangan cu-wi (anda sekalian) dari Kun-lun-pai.
Ada petunjuk dan maksud penting apakah kiranya yang mengantar kunjungan cu-wi ini?� �Toanio, maafkan kalau kami bersikap lancang.
Sebetulnya, kedatangan kami ini adalah karena permintaan murid keponakan kami yang bernama Yap Kim Sun, untuk mengajukan pinangan atas diri puteri toanio yang bernama Kwan Hui Ing.� Gadis itu menjadi sedikit merah mukanya karena iapun hadir dalam pertemuan itu.
Ia hanya menundukkan mukanya saja setelah tadi mengerling ke arah pemuda yang meminangnya itu.
�Nanti dulu, suheng.
Sebuah pernikahan adalah sebuah peristiwa yang teramat penting, dan perjodohan haruslah diteliti benar siapa yang akan menjadi jodohnya, agar kelak kemudian hari tidak sampai menimbulkan penyesalan besar.
Toanio, sebelum urusan pinangan dibicarakan lebih lanjut, maafkan saya kalau saya hendak menanyakan sesuatu kepada toanio.� Yang bicara ini adalah Yang Seng Cu dan sikapnya cukup sopan.
Sung Bi Li yang tidak menduga buruk, tentu saja tidak merasa keberatan.
�Totiang, tanyakanlah apa saja kepada kami, tentu akan kami jawab dengan sejujurnya dan sejelasnya.� �Yang ingin kami tanyakan adalah keadaan dan kedudukan Thian-san-pang.
Karena kami semua pernah mendengar berita bahwa Thian-san-pang telah melakukan banyak kejahatan, bahkan kabarnya Thian-san-pang pernah bersekongkol dengan Tok-coa-pang dan dengan See-thian Tok-ong.
Dengan begitu berarti Thian-san-pang telah bersekongkol dengan kerajaan Hou-han yang kini telah takluk kepada kerajaan Sung.
Benarkah berita yang kami dengar itu, toanio?� Semua orang terkejut, termasuk Yap Kim Sun.
Akan tetapi ucapan itu telah dikeluarkan dan nampak betapa wajah Sung Bi Li berubah kemerahan, dan sinar kemarahan menyorot dari kedua matanya.
Akan tetapi bagaimana pun juga, ia harus menjawab tuduhan yang mencemarkan nama baik Thian-san-pang itu dan ini berarti bahwa ia harus membongkar rahasia yang pernah menimpa perkumpulannya.
�Apa yang totiang dengar itu tidak kami sangkal, akan tetapi semua itu telah berlalu.
Memang di Thian-san-pang pernah terjadi pengkhianatan yang dilakukan oleh seorang murid yang diam-diam membawa Thian-san-pang ke arah penyelewengan, bahkan bersekutu dengan Tok-coa-pang.
Akan tetapi berkat kepandaian anak-anakku, pengkhianat telah disingkirkan sehingga kini Thian-san-pang telah kembali ke jalan yg benar.� �Hemmm, jawaban toanio sudah cukup jelas.
Akan tetapi, kami dari Kun-lun-pai bagaimana dapat mengetahui dengan pasti bahwa Thian-san-pang adalah sebuah perkumpulan yang bersih?
�Apa yang akan dijadikan bukti oleh toanio bahwa Thian-san-pang kini tidak menyeleweng lagi?
Sebetulnya kami tidak ingin mencampuri urusan Thian-san-pang, akan tetapi kalau Kun-lun-pai hendak berbesan dengan Thian-san-pang, kami harus lebih dulu mengehui bahwa Thian-san-pang benar-benar bersih!� Sung Bi Li bangkit berdiri saking marahnya.
Ia memandang kepada tosu itu dengan dada bergelombang.
Hampir saja ia memaki tosu itu kalau saja pada saat itu tidak muncul Cin Po dan Ciok Hwa!
Ketika dari luar, Cin Po mendengar, bahwa orang-orang Kun-lun-pai sedang diterima di ruangan besar.
Sebagai orang dalam, dia langsung saja memasuki ruangan itu bersama Ciok Hwa.
Seperti diketahui, ke dua orang muda ini pergi ke Hang-cou dan Cin Po sendiri pergi menghadap kaisar dan menceritakan semua tentang pengkhianatan Kok-su di depan para Menteri dan panglima.
Sebagai buktinya, dia membawa pedang milik Lauw Thian Seng-cu.
Kaisar marah sekali mendengar ini dan memerintahkan untuk menangkap semua keluarga Kok-su untuk dihukum.
Setelah diberi ijin mengundurkan diri, Cin Po mengajak Ciok Hwa untuk pergi ke Thian-san-pang untuk diperkenalkan kepada ibunya.
Demikianlah, kedatangan mereka itu tepat sekali pada waktu Thian-san-pang menerima kunjungan rombongan Kun-lun-pai dan Cin Po masih sempat mendengar ucapan Yang Seng Cu yang menuduh Thian-san-pang itu.
�Sayalah yang dapat membuktikan bahwa Thian-san-pang adalah sebuah perkumpulan yang bersih!� kata Cin Po.
Melihat puteranya datang bersama seorang wanita yang bercadar, Sung Bi Li girang sekali, �Cin Po...
!� Dia lalu memperkenalkan pemuda itu kepada semua tamunya.
�Harap cu-wi ketahui bahwa pemuda ini adalah anakku bernama Cin Po!� Yap Kim Sun yang sudah mengenalnya, segera maju dan memberi hormat, �Bagaimana keadaanmu selama ini, tai-hiap?
Kuharap baik-baik saja.� Semua tokoh Kun-lun-pai heran melihat sikap Kim Sun yang demikian menghormati Cin Po.
Akan tetapi, Yang Seng Cu merasa penasaran.
�Orang muda, apa buktinya bahwa Thian-san-pang adalah sebuah partai yang bersih?� �Kalau Thian-san-pang dituduh bersekongkol dengan musuh, itu adalah fitnah dan bohong belaka.
Dahulu memang Thian-san-pang diselewengkan oleh seorang pengkhianat, akan tetapi kini Thian-san-pang telah benar-benar bersih.
�Buktinya?
Lihat saya ini.
Saya adalah seorang Thian-san-pang dan saya telah mengabdi kepada kaisar sehingga memperoleh kepercayaan dari Sri baginda Kaisar sendiri.
Inilah buktinya!� Cin Po mengeluarkan cap dan surat kuasa yang diterimanya dari kaisar Sung Thai Cung.
Tanpa malu-malu lagi karena memang ingin menggagalkan perjodohan itu, Yang Seng Cu bangkit dan memeriksa surat kuasa dan cap itu.
Kemudian dia mengembalikannya kepada Cin Po sambil tersenyum mengejek.
�Semuda ini sudah, menjadi kepercayaan kaisar dan menjadi panglima penyelidik?
Orang muda, sungguh luar biasa sekali dan bagaimana pinto dapat percaya bahwa engkau pantas untuk menjadi seorang panglima penyelidik dan kepercayaan kaisar sebelum pinto merasakan sendiri kehebatanmu?
Kalau engkau berani, aku minta bukti dan marilah beri aku sedikit pelajaran agar membuka mataku!� Ini merupakan sebuah tantangan halus, juga penghinaan karena sama saja dengan mengatakan bahwa Cin Po berbohong mengaku sebagai panglima penyelidik dan kepercayaan kaisar.
Hui Ing yang lebih keras hatinya itu sudah bangkit berdiri dan kedua matanya mencorong marah.
�Kalian datang tidak diundang!
Kenapa kalian datang hanya untuk menghina kami?
Kalau kalian tidak percaya kepada kami, kenapa kalian datang?� �Ing-moi...!� Yap Kim Sun berseru dengan suara memohon.
Cin Po segera menyabarkan hati adiknya, �Ing-moi, jangan menuruti hati yang panas!
Kepala harus tetap dingin.
Mereka adalah orang-orang Kun-lun-pai, sebuah perkumpulan yang amat besar dan terkenal.
Sudah sepatutnya kalau mereka itu meneliti agar pilihan murid mereka tidak sampai keliru.� Lalu ia menoleh kepada Yang Seng Cu.
�Totiang, kalau totiang menghendaki untuk menguji kebenaran keteranganku bahwa aku menjadi panglima penyelidik dan kepercayaan Sribaginda Kaisar, silakan!� Dia lalu mundur dan memilih tempat yang luas.
Ruangan itu memang besar dan luas sehingga masih terdapat tempat bagi mereka untuk mengadu ilmu silat.
Hui Ing sudah menghampiri Ciok Hwa dan digandengnya gadis itu, diajaknya duduk di dekatnya.
Akan tetapi karena keadaan, belum sempat ia memperkenalkannya kepada ibunya.
Melihat Cin Po sudah pergi ke tempat yang luas, Yang Seng Cu bangkit dan menghampirinya.
Akan tetapi Kong Hi Tojin berkata kepadanya.
�Sute harap jangan membuat keributan, cukup untuk menguji saja.� Tosu ini tidak setuju dengan sikap sutenya, akan tetapi karena sudah terlanjur, maka diapun tidak dapat berbuat apa-apa.
Dan juga dia ingin melihat sampai di mana kehebatan pemuda yang disebut tai-hiap oleh Yap Kim Sun.
Yang Seng Cu adalah seorang tosu yang mengandalkan ilmu kepandaian sendiri sehinggga dia memandang rendah orang lain.
Apa lagi yang dihadapinya hanyalah seorang pemuda, maka dia lalu bertanya, �Orang muda, dengan apa engkau hendak memperlihatkan kepandaianmu?
Kalau hendak mempergunakan senjata, keluarkanlah, akan pinto hadapi dengan tangan kosong saja.� Cin Po tersenyum, sedangkan Hui Ing mengigit bibirnya.
Betapa sombongnya!
�Totiang, kita bukanlah musuh dan permainan ini hanya untuk menguji saja.
Kenapa harus menggunakan senjata?
Marilah kita main-main sebentar dengan tangan kosong saja, biar totiang lebih leluasa untuk menguji aku yang masih rendah kepandaianku.� �Tidak perlu merendah.
Mulailah!� bentak Yang Seng Cu, yang sudah memasang kuda-kuda.
�Totiang yang menantang dan hendak mengujiku.
Totiang yang mulai lebih dulu.
Aku telah siap diuji,� kata Cin Po dengan tenang dan semua orang mendengar ucapannya itu.
Pada saat melihat sikap pemuda itu, Kong Hi Tojin sudah merasa kagum sekali dan dia dapat menduga bahwa sutenya akan kecelik dan kalah.
Namun Yang Seng Cu bahkan merasa ditantang dan sambil berseru keras diapun mulai menyerang dengan pukulan yang dahsyat sekali karena dia mempergunakan jurus Cun-lui-tong-te (Guntur Musim Semi getarkan Bumi).
Baru angin pukulannya saja sudah menyambar dahsyat.
Akan tetapi dengan sikap tenang sekali dan gerakan yang ringan, tubuh Cin Po sudah mendahului pukulan itu dan menghindar bagaikan sehelai bulu ringan dihantam dengan keras.
Yang Seng Cu terkejut bukan main dan terheran-heran.
Bagaimana pemuda itu dapat menghindarkan diri sedemikian mudahnya, seolah-olah pukulannya yang tidak dapat menyentuh tubuh itu.
Cepat dia lalu membalikkan tubuh sambil menyerang lagi ke arah pemuda itu mengelak dan sekali ini dia menggunakan jurus Sin-liong-pai-bwe (Naga Sakti Menyabetkan Ekor), akan tetapi kembali pukulannya hanya mengenai tempat kosong belaka.
Dengan memutar tubuh pula, tangannya diputar membentuk cakar dan dia menyerang terus dengan cengkeraman tangannya, dengan jurus Tai-peng-tiam-ci (Garuda Mementang Sayapnya).
Sekali ini Cin Po tidak mengelak melainkan menggerakkan tangannya untuk menangkis.
�Dukkk!� Kedua lengan bertemu dan Yang Seng Cu meringis kesakitan.
Dia merasa seolah lengannya bertemu dengan sepotong baja yang luar biasa kerasnya.
Namun dia masih penasaran dan tidak percaya bahwa dia tidak mampu menundukkan lawan yang masih amat muda ini.
Lalu dia mengeluarkan ilmu silat andalannya, yaitu Pai-san-to-hai (Menolak Gunung Menguruk Lautan).
Sebuah ilmu silat yang dahsyat sekali karena setiap gerakannya disertai tenaga sin-kang yang amat kuat.
Melihat lawan yang menggunakan ilmu yang dahsyat dan keras ini, Cin Po merasa tidak senang juga.
Orang ini terlalu angkuh dan juga memiliki hati yang agak kejam, tidak mau mengalah sedikit pun.
Tentu saja dia tidak tahu apa yang menyebabkan Yang Seng Cu bersikap seperti itu.
�Maaf totiang!� katanya dan diapun menggunakan jurus dari ilmu silat Ngo-heng-sin-kun, menotok kedua siku lawan sehingga tiba-tiba saja Yang Seng Cu merasa betapa kedua lengannya menjadi lemas tak dapat digerakkan lagi.
Akan tetapi hanya sebentar karena cepat Cin Po membebaskan lagi totokannya dengan menepuk kedua lengan itu.
Sekali ini wajah Yang Seng Cu berubah pucat sekali kemudian merah.
Barulah dia maklum bahwa pemuda ini sejak tadi mengalah kepadanya dan kalau pemuda itu menghendaki, sudah sejak tadi dia dapat dirobohkan!
Bagaimanapun juga, Yang Seng Cu adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan kalau dia bersikap keras terhadap Thian-san-pang, hal itu adalah karena dia ingin menggagalkan perjodohan itu.
Kini, dia yakin bahwa Thian-san-pang memang telah bersih, bahkan seorang tokoh mudanya telah menjadi orang kepercayaan kaisar, dan panglima penyelidik.
Baru menggunakan surat kuasa itu saja, kalau pemuda itu berniat jahat, dia sudah dapat ditangkap karena dianggap melawan petugas kaisar yang mempunyai surat kuasa!
�Pinto menyerah!
Kepandaianmu memang luar biasa sekali, orang muda!� katanya sambil merangkap tangan depan dada memberi hormat.
Cin Po merasa girang melihat sikap gagah ini dan diapun membalas penghormatan itu.
�Terima kasih bahwa totiang telah suka mengalah,� katanya dan kembali sikap ini membuat Kong Hi Tojin menjadi kagum bukan main.
Seorang pemuda yang selain lihai sekali juga pandai membawa diri, tidak sombong dan amat rendah hati.
Perundingan tentang peminangan itupun dilanjutkan tanpa banyak kesulitan lagi dan akhirnya pinangan itu diterima dengan baik setelah diajukan oleh Yap Siong Kun sebagai paman Kim Sun.
Pertunangan telah diikat dengan penukaran sebuah hiasan rambut dari batu permata dengan seuntai kalung milik Hui Ing ditukar dengan hiasan rambut itu.
Tinggal pernikahannya saja akan dilangsungkan dalam waktu setengah tahun mendatang.
Para tamu merasa puas dan mereka pulang dengan hati senang, demikian pula pihak nyonya rumah yang ditinggalkan merasa puas dengan ikatan pertunangan yang memang sudah disetujui oleh ke dua orang muda yang berpasangan itu.
Setelah para tamu pulang, barulah Cin Po mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan Ciok Hwa kepada ibunya.
Mereka semua tetap duduk di ruangan yang tadi, akan tetapi kini meja telah dibersihkan dan yang duduk menghadapi meja hanya mereka berempat, Sung Bi Li, Kwan Hui Ing, Cin Po dan Ciok Hwa.
�Ibu, aku perkenalkan nona ini kepadamu.
Ini adalah Kui Ciok Hwa dan kami berdua sudah sepakat untuk saling berjodoh, ibu,� kata Cin Po kepada ibunya.
Sung Bi Li tersenyum girang.
�Ahh!
Kiranya engkau sudah mendapatkan pilihan hatimu?
Bagus sekali, Cin Po!
Namanya Kui Ciok Hwa?
Nama yang bagus.
Berapa usiamu sekarang, Ciok Hwa?� �Usia saya sudah duapuluh tahun, bibi,� kata Ciok Hwa, tidak berani menyebut ibu, karena perjodohan mereka belum diterima dan disahkan.
�Dan siapakah orang tuamu?� Ditanya demikian, Ciok Hwa agak tertegun.
Ia merasa bahwa ayahnya adalah seorang datuk, Datuk Timur yang menjadi pembantu kerajaan Wu-yeh yang dianggap musuh, maka ia ragu untuk memperkenalkan nama ayahnya.
Melihat ini, Cin Po mendahuluinya.
�Ibu, Hwa-moi ini sudah yatim piatu, tidak berayah tidak beribu lagi.� �Ah, kasihan engkau, Ciok Hwa,� kata Bi Li, �Akan tetapi, siapa nama mendiang ayahnya?� �Nama ayah almarhum adalah Kui Bhok...� kata Ciok Hwa lirih.
Kedua mata.
Sung Bi Li agak terbelalak.
�Kui Bhok...?
Aku seperti pernah mengenal nama itu!
Kui Bhok...?
Ah, Tung-hai Mo-ong juga bernama Kui Bhok, bukan?� �Memang mendiang ayah berjuluk Tung-hai Mo-ong, bibi,� kata Ciok Hwa yang tidak dapat menahan diri untuk menyembunyikan siapa ayahnya itu.
Lebih baik berterus terang, pikirnya penasaran.
Bagaimanapun juga, Cin Po sudah mengenal siapa ayahnya!
Kini sepasang mata itu benar-benar terbelalak lebar.
�Tung-hai Mo-ong...?
Ciok Hwa, coba kau singkap cadarmu, ingin aku melihat mukamu.� Cin Po memandang kepada kekasihnya dengan hati penuh iba, akan tetapi, dia tidak dapat mencegah dan agaknya Ciok Hwa juga tidak ragu-ragu lagi untuk membuka cadarnya.
Hui Ing memandang dengan wajah penuh kekhawatiran.
Cadar dibuka, seraut wajah yang penuh totol-totol hitam diangkat memandang kepada Bi Li dengan matanya yang bersinar-sinar.
Terdengar Sung Bi Li menjerit dan berteriak.
�Puteri Tung-hai Mo-ong berwajah setan...!
Tidak, aku tidak mau mempunyai mantu seperti ini...!� �Ibu...!� seru Cin Po.
Cadar itu tertutup kembali dan tubuh Ciok Hwa berkelebat keluar dari ruangan itu.
�Hwa-moi...!!� Cin Po mengejar keluar dan sampai agak jauh dari Thian-san-pang, barulah ia dapat menyusul dan ia menangkap lengan gadis itu.
�Hwa-moi, kau maafkanlah ibuku...
kau maafkanlah aku..., mari kita kembali dan akan kubicarakan baik-baik dengan ibu.� �Tidak, aku tidak mau kembali ke sana hanya untuk mendengar hinaan.
Koko, kau turutilah ibumu, jangan berjodoh dengan aku.
Aku anak seorang datuk sesat, dan wajahku seperti setan.
Aku hendak kembali ke Pulau Hiu...!� kata gadis itu dengan suara terisak-isak.
�Hwa-moi...!� Akan tetapi Ciok Hwa merenggut lepas lengannya.
�Koko, jangan paksa aku atau aku akan melawanmu!� Dan ia berlari lagi secepatnya meninggalkan pemuda itu.
Cin Po maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, kalau dia memaksa keadaannya akan menjadi semakin buruk, maka dengan tubuh terasa lemas dan hati terasa kosong dia lalu kembali kepada ibunya.
Hui Ing menyongsongnya.
�Mana enci Ciok Hwa, koko?� tanyanya.
Cin Po menggeleng kepalanya dan menghela napas.
�Ia tidak mau kembali ke sini...� �Lebih baik begitu, bagaimanapua juga aku tidak setuju mempunyai mantu seperti setan begitu, apa lagi ia puteri Tung-hai Mo-ong!� kata Sung Bi Li dengan nada suara masih marah.
�Ibu, apakah ibu menilai seseorang dari ayahnya?
Kalau begitu, orang macam apakah aku ini?
Orang macam apakah dia yang menjadi ayah kandungku?
Ayahku jauh lebih jahat dari pada Tung-hai Mo-ong, ibu.
Apakah ibu sudah lupa akan hal ini?
�Ciok Hwa memang puteri Tung-hai Mo-ong, akan tetapi ia tidak jahat seperti ayahnya dan biarpun wajahnya buruk, namun hatinya amat baik.
Dan tentang ayahnya itu, mengingat aku adalah anak ayah yang lebih jahat lagi, sudah sepatutnya kalau aku berjodoh dengan puteri seorang datuk seperti mendiang Tung-hai Mo-ong.� �Benar seperti yang dikatakan koko Cin Po, ibu.
Enci Ciok Hwa itu biarpun wajahnya cacat dan buruk, namun ia seorang gadis yang gagah perkasa, berjiwa pendekar dan baik sekali.
Bahkan tanpa pertolongannya, mungkin kedua orang anakmu ini sudah tewas,� Hui Ing juga membujuk ibunya.
�Tapi...
tapi...� Bi Li masih mencoba membantah.
�Ibu, akulah yang menanggung bahwa enci Ciok Hwa itu seorang gadis yang bijaksana dan berhati mulia!� tambah pula Hui Ing dengan suara mantap.
Kini Sung Bi Li menangis.
Ia tidak setuju bermantukan Ciok Hwa karena merasa kehormatan dan harga dirinya tersinggung.
Apa akan kata orang nanti kalau melihat ia mempunyai seorang mantu yang wajahnya seperti setan, apa lagi puteri datuk Tung-hai Mo-ong?
Tentang keadaan puteranya sendiri yang berayahkan Ban Koan yang jahat, ia memang berusaha melupakan aib itu, dan pula tidak ada orang lain yang mengetahuinya.
Kita sejak kecil sudah dijejali dengan penjagaan kehormatan dan harga diri ini, sehingga setelah dewasa kita melakukan apa saja untuk menjaga kehormatan dan harga diri.
Dalam berpakaian, dalam tindak tanduk sehari-hari, kita tidak segan untuk berpalsu-palsu demi kehormatan dan harga diri.
Kehormatan dan harga diri sudah disatukan dalam bentuk pakaian, kedudukan, harta benda, sikap, nama dan bukan kepada pribadi orang itu sendiri sehingga setiap orang selalu berusaha ke arah peningkatan kehormatan dan harga diri.
Dalam memilih mantupun, seperti Bi Li, orang condong untuk melihat keadaan dan latar belakang orang itu, bukan melihat pribadinya.
Bi Li menangis sesenggukan.
Hui Ing dan Cin Po saling pandang dan Hui Ing yang mendesak ibunya, �Ibu, apakah ibu masih juga berkeberatan kalau koko Cin Po berjodoh dengan enci Ciok Hwa?� �Sesukamulah...
aku...
aku tidak melarang, hanya...
ah, sudahlah, kalau memang Cin Po mencinta gadis itu terserah, aku tidak akan mencegahnya lagi...� �Terima kasih, ibu!� Cin Po berlutut di depan kaki ibunya.
Sepekan kemudian Cin Po meninggalkan Thian-san-pang untuk pergi menyusul Ciok Hwa ke Pulau Hiu.
Cin Po melakukan perjalanan cepat untuk menyusul Ciok Hwa ke Pulau Hiu.
Setelah sekarang Wu-yeh terjatuh ke tangan kerajaan Sung, melakukan perjalanan ke daerah ini menjadi aman bagi Cin Po.
Akhirnya, tanpa adanya gangguan, tibalah dia di tepi pantai dan dia membeli sebuah perahu kecil dan dengan cepat didayungnya perahu itu menuju ke Pulau Hiu.
Ketika tiba di dekat Pulau Hiu, dia melihat perahu-perahu hitam milik para bajak laut Pulau Hiu dihias dengan bunga-bunga kertas warna warni.
Dia menjadi tertarik sekali dan ketika dia mendarat, suasana di pulau itupun semarak dengan hiasan di sana sini!
Seorang anggauta bajak melihat dan mengenal Cin Po, lalu menegur, �Tai-hiap baru datang?� �Apa yang terjadi di sini?
Apa artinya semua hiasan ini?� �Kami sedang mempersiapkan sebuah pesta pernikahan, tai-hiap.
Besok pagi akan diadakan perayaan pernikahan!� kata orang itu dengan nada suara gembira.
�Bukankah kedatangan tai-hiap ini untuk menghadiri pesta pernikahan itu?� Cin Po terkejut dan di luar kesadarannya dia memegang lengan orang itu sehingga yang dicengkeram lengannya mengaduh.
Dia mengendurkan cengkeramannya dan bertanya, �Siapa yang menikah?
Hayo katakan, siapa yang akan menikah besok pagi?!� �Eh...
eh, apa tai-hiap belum tahu?
Ketua kami akan menikah dengan bekas ketua kami Si Mata Satu...� Orang itu tidak melanjutkan kata-katanya karena Cin Po sudah lenyap dari situ.
Bagaikan seorang yang kesetanan Cin Po masuk ke dalam rumah Ciok Hwa.
Beberapa orang penjaga yang berada di rumah itu berusaha untuk menahannya, akan tetapi dengan menggerakkan tangan ke kanan kiri, enam orang penjaga itu roboh jungkir balik dan dia terus berlari masuk, mengejutkan Ciok Hwa yang sedang duduk melamun seorang diri di dalam kamarnya.
�Kau...??� Ciok Hwa bangkit berdiri memandang pemuda itu dari balik cadarnya.
�Hwa-moi, apa-apaan kau ini!
Hendak menikah dengan Si Mata Satu!� �Cin Po, kau tidak berhak mencampuri!
Perduli apa engkau?� balas Ciok Hwa dengan suara ketus.
�Hwa-moi, engkau adalah calon isteriku.
Tidak mungkin menikah dengan orang lain!� �Tidak, ibumu telah menghinaku, telah menolakku!� �Akan tetapi aku tidak pernah menolakmu!� �Tidak, aku tidak dapat menjadi isterimu, ibumu telah...� �Hwa-moi, engkau tidak mengenal ibuku.
Ia bukanlah seorang wanita yang jahat dan kejam.
Mungkin karena terkejut, ketika itu, ia menolakmu.
Akan tetapi aku telah bicara dengannya dan ia mau menerimamu sebagai mantunya.� �Tidak, aku tidak mau dihina lagi.
Biar aku menjadi isteri Si Mata Satu, atau Si Mata Buta sekalipun, lebih tepat untukku.
Engkau putera ketua Thian-san-pang yang terhormat, sedangkan aku hanya anak datuk sesat dan wajahku cacat, buruk seperti setan!� �Hwa-moi, aku cinta padamu dan engkau mencinta aku.
Aku larang engkau menikah dengan siapapun juga!� bentak Cin Po.
�Aku tidak perduli!� �Aku akan membawamu pergi dari sini!� �Aku tidak sudi!� �Aku akan memaksamu!� �Aku akan melawanmu!� teriak Ciok Hwa dan ia sudah menyerang Cin Po dengan pukulan tangannya ke arah dada pemuda itu.
Cin Po tidak mengelak.
�Bukk!� pukulan mengenai dada Cin Po dan Ciok Hwa menjerit dan kaget sendiri melihat Cin Po tidak mengelak atau menangkis.
Akan tetapi Cin Po sudah menggerakkan tangan menotoknya dan iapun roboh lemas dalam rangkulan Cin Po, tertotok.
Cin Po memondongnya dan membawanya keluar.
Semua anggauta Pulau Hiu sudah berkumpul di luar dan Si Mata Satu sudah pula berdiri di situ.
Melihat Si Mata Satu, Cin Po memandang dengan tajam.
�Engkau berani hendak menghalangi aku membawa pergi Ciok Hwa?� bentaknya dengan geram.
Si Mata Satu memberi hormat.
�Tai-hiap, pernikahan ini adalah kehendak ketua kami dan aku sama sekali tidak berani membantah.
Harap jangan persalahkan diriku dan kalau sekarang tai-hiap hendak membawanya, aku hanya dapat merasa bersyukur.� Tahulah Cin Po bahwa pernikahan itu memang kehendak Ciok Hwa semata-mata untuk menghancurkan hatinya, untuk membalas penghinaan yang diterimanya dari ibunya.
�Anak bodoh kau...!� Dia mengomeli Ciok Hwa yang kini menangis di dalam pondongannya lalu Cin Po melompat dan membawa Ciok Hwa lari ke pantai.
Dimasukkan tubuh gadis itu ke dalam perahunya dan didayungnya perahu itu ke tengah, disaksikan oleh Si Mata Satu dan kawan-kawannya dengan gembira.
Mereka melambaikan tangun.
Si Mata Satu yang paling merasa gembira.
Sebetulnya dia sendiri tidak suka untuk menikah dengan wanita yang bermuka buruk mengerikan itu, akan tetapi dia tidak berani menolak kehendak Ciok Hwa yang ditakuti.
Maka, kini melihat Cin Po datang dan membawa pergi wanita itu, tentu saja pernikahannya menjadi urung dan dia bergembira sekali.
Setelah berada di perahu, Cin Po membebaskan totokannya dari tubuh Ciok Hwa.
�Nah, sekarang kita berada di perahu, di atas air.
Di sini aku tidak berdaya dan kalau engkau akan membunuhku, lakukanlah!� kata Cin Po kepada gadis yang masih menangis itu.
Mendengar ucapan Cin Po, Ciok Hwa menangis semakin sedih.
Cin Po mendiamkannya saja, hanya mendayung perahunya tanpa berkata apa-apa lagi.
�Engkau...
akan membawaku ke mana?� tanya Ciok Hwa setelah reda tangisnya.
�Engkau akan kubawa lagi menghadap ibu di Thian-san-pang.� �Aku tidak mau menerima penghinaan lagi.
Lebih baik aku mati!� �Ciok Hwa, percayalah kepadaku.
Ibu telah berubah pendiriannya.
Aku tanggung bahwa ia tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar lagi.
Ia telah menyadari keadaan dan tidak akan menolakmu lagi.
Ketika itu ia hanya terkejut dan dalam kekagetannya itu, ia telah menyinggungmu, maafkanlah ibuku, Hwa-moi.� Kembali Ciok Hwa terisak.
�Koko...� �Ya...?� �Katakanlah terus terang.
Apakah cintamu kepadaku itu benar-benar?
Ingat, aku puteri Tung-hai Mo-ong yang pernah hendak membunuhmu dahulu.
Dan lebih lagi, aku memiliki wajah yang buruk menjijikkan seperti setan.
Benar-benarkah cintamu kepadaku?� �Hwa-moi, apakah aku harus bersumpah?
Aku mencinta pribadimu, mencinta kebijaksanaan dan kebaikanmu, bukan sekedar mencinta wajahmu.
Wajahmu boleh bercacat, akan tetapi bagiku, pribadimu tidak bercacat!� Mendengar ucapan ini, Ciok Hwa membalik dan merangkul Cin Po, menangis di dada pemuda itu.
�Ah, koko...
betapa aku cinta padamu...
aku...
aku rela mati untukmu...
aku...
aku tadinya hendak membunuh diri begitu pernikahanku dirayakan.� �Hwa-moi...!� Cin Po memeluknya erat-erat seolah tidak ingin gadis itu terlepas darinya.
�Betapa bodoh engkau!
Aku tidak akan melepaskanmu, biar apapun juga yang terjadi.
Andaikata ibuku sungguh-sungguh tidak setuju, aku tetap akan pergi bersamamu, hidup berdua denganmu.
Percayalah!
Akan tetapi ibuku telah insaf dan ia menyetujui perjodohan kita.� �Benarkah, koko?� �Aku tidak pernah mau berbohong kepadamu, kekasihku.� �Koko Cin Po...!� Perahu di dayung terus dan tak lama kemudian merekapun sudah mendarat.
Mereka langsung pergi ke Thian-san-pang.
Karena percaya kepada kekasihnya, Ciok Hwa mau datang lagi ke Thian-san-pang walaupun jantungnya berdebar keras penuh ketegangan.
Pertama-tama yang menyambut mereka adalah Hui Ing.
�Enci Ciok Hwa, syukurlah engkau mau datang kembali bersama koko!
Kami girang sekali, enci!� Kemudian Sung Bi Li keluar.
Sejenak kedua orang wanita itu berdiri saling berhadapan, diam tak bergerak seperti patung.
Sinar mata Ciok Hwa seolah menembus cadarnya mempelajari keadaan wajah calon ibu mertuanya.
Kemudian Bi Li melangkah maju dan merangkul gadis itu.
�Ciok Hwa, maafkan ibumu, nak!� Mendengar ucapan itu, Ciok Hwa merangkul calon ibu mertuanya berbisik, �Sayalah yang mengharapkan maaf darimu, ibu...� Keduanya bertangisan dan terobatilah hati Ciok Hwa yang pernah luka di tempat ini.
Karena Ciok Hwa sudah yatim piatu, maka perjodohan dirundingkan mereka bersama.
Kemudian diputuskan bahwa hari pernikahan mereka dibarengkan dengan hari pernikahan Hui Ing, dan akan dirayakan di Thian-san-pang.
Setelah tinggal beberapa hari lamanya di Thian-san-pang, Ciok Hwa berpamit dari ibu mertuanya untuk lebih dulu berkunjung ke makam ayahnya dan bersembahyang.
Cin Po menemaninya dan setelah tiba di makam itu, mereka bersembahyang.
Kemudian mereka duduk bercakap-cakap di depan makam.
�Kalau aku teringat akan kehidupan ayah di masa lalu dan kehidupanku sendiri, aku tidak terlalu menyalahkan ibumu kalau ia dahulu itu menolakku.
Ayah adalah seorang datuk sesat dari Timur sedangkan aku?
Aku pernah menjadi kepala bajak laut di Pulau Hiu.
Sedangkan engkau adalah putera ketua Thian-san-pang yang terhormat!� Ia menghela napas panjang.
�Entah bagaimana engkau membujuk ibumu sehingga akhirnya ia menyetujui perjodohan kita, koko.� Cin Po merasa bahwa sudah tiba waktunya bagi dia untuk berterus terang kepada Ciok Hwa tentang rahasia dirinya.
�Mudah saja, Hwa-moi.
Kaukira aku ini keturunan orang baik-baik?
Mendiang ayah kandungku jauh lebih jahat dibandingkan mendiang ayahmu.� Ciok Hwa terkejut sekali dan berseru, �Aku tidak percaya!� �Nah, dengarlah baik-baik riwayatku.
Engkau ingat ketika para tokoh Kun-lun-pai menuduh Thian-san-pang pernah menyeleweng dan bersekongkol dengan Coa-tok-pang yang jahat?
Dan ibuku mengaku kepada mereka bahwa memang pernah ada seorang pengkhianat mengacau di Thian-san-pang, menguasai Thian-san-pang dan membawanya menyeleweng?
Nah, pengkhianat itu adalah ayah kandungku!� �Mana mungkin?
Engkau putera ibumu yang menjadi ketua Thian-san-pang!� bantah Ciok Hwa.
�Memang benar, dan pengkhianat itu adalah suheng dari ibuku.
Mereka bukan suami isteri, akan tetapi pada suatu saat...
ahh, biarlah aku berterus terang kepadamu, Ciok Hwa karena di antara suami isteri tidak boleh ada rahasia, biar engkau tahu orang macam apa calon suamimu ini.
�Pada suatu waktu, selagi ibuku pingsan, ia telah diperkosa oleh suhengnya itu.
Dan akibatnya...
terlahirlah aku.
Nah, sudah lega hatiku sekarang setelah menceritakannya kepadamu.� �Ahhh, begitukah, koko?
Dan siapa nama...
ayah kandungmu itu?� �Namanya Ban Koan.
Aku benci nama itu, seorang pengkhianat dan penjahat kejam sekali.� �Koko, sudah benarkah itu kalau engkau membenci ayahmu sendiri?
Biarpun dia jahat akan tetapi tetap dia ayahmu.
Dan mengapa engkau memakai marga Sung, bukan Ban?� �Aku menggunakan marga ibuku.� �Sudah benarkah itu, koko?
Engkau adalah seorang yang jujur dan bijaksana, kenapa tidak berani menggunakan marga ayah kandungmu?
Malu?� Ciok Hwa menegur.
Cin Po menghela napas dan menyadari kesalahannya.
�Apa yang harus ku lakukan, Ciok Hwa?
Aku menjadi bingung mendengar teguranmu!� �Aku tidak akan merasa puas kalau engkau tidak menggunakan nama marga ayah kandungmu, yaitu marga Ban, dan aku tidak akan tenang kalau engkau tidak mengajak aku bersembahyang di depan makam ayah kandungmu.
Boleh jadi ayah kita jahat, akan tetapi mereka adalah orang tua kita, dan kini mereka telah meninggal dunia.
�Sepatutnya sebagai anak, kita harus berdoa memintakan ampun kepada Tuhan atas segala dosa mereka.
Bukan malah membenci mereka!� Cin Po merangkul kekasihnya.
�Alangkah mulia hatimu, Hwa-moi.
Baiklah, aku berjanji bahwa mulai saat ini nama lengkapku adalah Ban Cin Po dan nanti di Thian-san-pang engkau akan kuajak bersembahyang di depan makam ayah kandungku.� Senang dan legalah hati Ciok Hwa, maka iapun balas merangkul pemuda itu.
Kebahagiaan terasa bagi dua hati yang sepaham sependirian, dua hati yang mencinta dengan tulus, biarpun melihat cacat cela dalam diri masing-masing.
Pernikahan dua pasang mempelai itu dirayakan dengan meriah di Thian-san-pang.
Bukan hanya para tokoh kang-ouw yang datang sebagai undangan, juga banyak pejabat tinggi termasuk Menteri Kebudayaan Lu Tong Pi hadir!
Setelah semua tamu bubaran, Cin Po dan Ciok Hwa berada di dalam kamar pengantin yang berbau harum dupa.
Dengan lembut Cin Po menghampiri Ciok Hwa yang duduk di tepi pembaringan dan perlahan-lahan dia menyingkap cadar hitam itu.
Ditatapnya wajah isterinya yang totol-totol hitam itu tanpa jijik, bahkan dengan penuh iba dan sayang.
Dia melihat air mata mengalir turun di kedua pipi, isterinya yang menundukkan mukanya dengan malu-malu.
�Isteriku sayang!
Kenapa menangis?� �Aku menangis karena bahagia, suamiku, karena aku kini yakin benar akan cintamu kepadaku...� Cin Po merangkul.
�Apakah selama ini engkau belum yakin?� �Siapa bisa yakin, koko?
Bagaimana mungkin seorang pria akan dapat mencinta seorang gadis yang mukanya cacat...� �Husssshhh, tidak usah menyebutkan lagi hal itu.
Aku cinta padamu, moi-moi!� Dan Cin Po lalu mendekatkan mukanya, menciumi muka yang totol-totol hitam itu.
Setelah dia melepaskan isterinya, Ciok Hwa memandang kepadanya sambil tertawa geli.
Sudah tentu saja Cin Po menjadi terheran dan mengerutkan alisnya.
�Kenapa engkau tertawa geli, isteriku?� �Hi-hi-hik, lihat mukamu seperti...
seperti badut!
Sungguh lucu...!� Cin Po terkejut sekali, juga khawatir karena sikap isterinya seperti seorang yang tidak waras pikirannya.
Dia lalu lari ke meja dan mengambil cermin, bercermin.
Dia terbelalak melihat mukanya coreng-moreng hitam, memang seperti badut.
Dia terheran-heran.
Bagaimana mukanya bisa coreng moreng seperti itu?
Ah, baru saja dia menciumi isterinya!
Kedua pipi isterinya diciuminya dan mukanya lalu coreng moreng.
Dia lalu melompat mendekati isterinya memegang wajah isterinya dengan ke dua tangan dan memaksa isterinya mengangkat muka.
Totol-totol hitam itu?
Dia lalu memondong isterinya ke kamar mandi dan dengan paksa dia mencuci muka isterinya dengan air, lalu membersihkannya dengan bajunya.
Dan...
totol-totol hitam itu lenyap sama sekali.
Wajah isterinya putih kemerahan, mulus tanpa cacat dan bahkan cantik jelita bagaikan bidadari!
Dia terbelalak.
�Kau...
kau..., benar Ciok Hwa...?� Ciok Hwa tersenyum dan bukan main manis dan indahnya senyum itu.
�Apakah engkau sudah lupa lagi kepadaku, suamiku?� Cin Po merangkul.
Kedua matanya basah.
�Engkau...
engkau...
sudah sembuh?� �Sudah sejak lama!
Sejak Yok-sian mengobatiku dari luka beracun, cacat di mukaku sembuh.
Justeru serangan jarum beracun dari Kam Song Kui itu telah menyembuhkan cacat di mukaku, walaupun sempat membahayakan keselamatan nyawaku.� �Akan tetapi, kenapa engkau masih menutupi mukamu dengan cadar dan memberi totol-totol hitam dengan tinta bak?� Ciok Hwa tersenyum dan merangkul suaminya.
�Engkau bodoh, tidakkah kaulihat bahwa totol-totol hitam itu tidak sama dengan keadaan mukaku yang dahulu, penuh benjolan-benjolan?
Dan aku memang sengaja membiarkan engkau mengira mukaku masih tetap buruk, kalan tidak begitu, bagaimana aku dapat menguji sampai di mana besarnya cintamu kepadaku?
Aku tidak ingin dicinta karena wajahku cantik.� �Ah, engkau isteriku yang bijaksana...� Cin Po kembali menciumi wajah isterinya sampai Ciok Hwa terengah-engah.
�Pantas saja Suhu Bu Beng Lojin menyetujui perjodohanku denganmu.� �Suhumu seorang sakti yang bijaksana.
Dia sudah tahu bahwa totol-totol hitam itu hanya buatan, akan tetapi dia tidak membuka rahasiaku.
Aku dapat melihat ini dari pandang matanya yang penuh senyum maklum.� Cin Po menarik isterinya keluar kamar.
�Heii, mau engkau bawa ke mana aku!� teriak isterinya.
�Akan kupamerkan kepada semua orang!� kata Cin Po sambil tertawa dan seperti orang kesetanan, dia berteriak-teriak membangunkan ibunya, bahkan mengetuk-ngetuk pintu kamar Hui Ing dan suaminya, membangunkan semua orang.
�Lihat...!
Lihat ini isteriku, Kui Ciok Hwa yang cantik seperti bidadari!� teriaknya kegirangan.
Hui Ing dan suaminya terkejut pintu kamarnya diketuk dan mereka keluar dari kamar.
Demikian pula Sung Bi Li dan mereka semua terbelalak memandang gadis yang cantik jelita, yang digandeng Cin Po.
Hui Ing lebih dulu maju dan merangkul Ciok Hwa.
�Sungguh ajaib.
Engkau seorang gadis yang cantik jelita, enci.
Aku merasa bangga dan girang sekali mempunyai kakak ipar sepertimu!� Kini giliran Sung Bi Li merangkul mantunya.
�Akupun bangga dan girang sekali, Ciok Hwa.
Engkau mantuku yang baik...� Dan nyonya ini tidak dapat menahan air matanya.
Setelah kembali ke dalam kamar, Cin Po merangkul isterinya.
�Semua orang bangga kepadamu, isteriku.
Apa lagi aku!� �Ahh, aku hanya isterimu yang jelek, bodoh dan...� �Dan hebat!� Cin Po menutup kata-kata merendahkan diri itu dengan ciumannya.
Sampai di sini, selesailah sudah kisah Pendekar Baju Putih ini.
Semoga kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca, dan sampai jumpa di dalam kisah yang lain.
T A M A T Solo, akhir tahun 1986.
andu0396 04 November 2017
http.//indozone.net
/users/profile/25769
http.//indozone.net
/literatures/literature/1977
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 2
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 1