Ceritasilat Novel Online

Harta Karun Kerajaan Sung 3

Eps 3 Harta Karun Kerajaan Sung - Kho Ping Hoo

Baca online Harta Karun Kerajaan Sung - Kho Ping Hoo

Cersil Harta Karun Kerajaan Sung - Kho Ping Hoo.

"Tidak begitu, Pouw-sicu. Tidak ada nafsu yang boleh dimatikan! Nafsu-nafsu memang sudah disertakan kepada manusia sejak lahir dan nafsu-nafsu itulah yang mendorong dan menjamin keberadaan dan kelangsungan hidup manusia. Bahkan nafsu berahi merupakan nafsu yang teramat penting, terutama untuk jaminan perkembang-biakan manusia di dunia. Akan tetapi kalau hubungan antara pria dan wanita hanya dilandasi nafsu berahi saja, tanpa adanya cinta kasih sejati, maka hal itu akan menghancurkan manusia itu sendiri. Nafsu berahi tanpa cinta kasih membuat orang mencari kesenangan sendiri, ingin menguasai, memiliki, mendatangkan cemburu dan dapat mengubah cintanya menjadi benci kalau yang dicinta tidak menyenangkannya lagi! Adapun nafsu berahi yang didasari cinta kasih membuat orang bersikap menghormati, melindungi, menyayangi, menaruh iba, menanamkan kewajiban, kesetiaan dan mendatangkan sikap ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, senang sama dinikmati dan susah sama ditanggung."

"Terima kasih, Lo-cianpwe. Apa yang saya dengar dari keterangan Lo-cianpwe menerangi hati saya yang selama ini dirundung kegelapan,"

Kata Cun Giok yang teringat akan Ceng Ceng.

Dia mencintai gadis itu sepenuh hati, mencinta selengkapnya.

Memang terasa olehnya ada dua macam cinta dalam hatinya terhadap Ceng Ceng.

Yang pertama adalah cinta kasih berahi yang timbul karena kecantikan gadis itu.

Adapun yang kedua adalah cinta sejati seperti yang disinggung Ketua Thai-san-pai tadi, yang timbul karena kebijaksanaan dan budi pekerti gadis itu.

Cinta berahi dapat saja menguap bahkan beralih kepada gadis lain, sebaliknya cinta sejati akan tetap ada, walaupun dia harus berpisah dari yang dicintanya dan tidak dapat menjadi satu.

Dia dapat merasakan bahwa cinta kasih Ceng Ceng terhadap dirinya tentu merupakan cinta kasih sejati seperti yang diuraikan Ketua Thai-san-pai tadi.

Buktinya, dulu Ceng Ceng pernah mengalah kepada Li Hong yang mencintanya, bahkan biarpun ia diserang oleh Li Hong kemudian dikhianati Li Hong yang memihak Kim Bayan, Ceng Ceng masih tetap membela Li Hong dan rela menyerahkan peta harta karun.

Ceng Ceng adalah seorang gadis yang memiliki cinta kasih murni seperti itu!

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari arah belakang gedung rumah induk Thai-san-pai itu.

"Hemm, apa yang terjadi di sana?"

Kata Ketua Thai-san-pai dengan sikap masih tenang, namun alisnya berkerut, agaknya merasa tidak senang oleh gangguan itu.

"Lo-cianpwe, pasti terjadi sesuatu di sana!"

Tiba-tiba dua orang murid memasuki ruangan itu, memberi hormat kepada ketua mereka dan melapor.

"Suhu, beberapa orang liar memasuki perpustakaan dan mengacau di sana, kini dihadapi oleh Lima Suhu."

"Lo-cianpwe, biar saya yang melihat ke sana!"

Kata Cun Giok sambil bangkit dari tempat duduknya.

Ketua Thai-san-pai mengangguk dan Cun Giok segera mengikuti dua orang murid itu menuju ke belakang.

Di ruangan tengah dia bertemu Kui Lan dan Kui Lin yang juga mendengar keributan itu dan mereka keluar dari kamar mereka.

"Ada apakah, Giok-ko?"

Tanya Kui Lin.

"Menurut laporan dua orang ini, ada beberapa orang datang membuat kekacauan di sini!"

"Mari kita pergi lihat!"

Kata Kui Lan dan mereka bertiga lalu mengikuti dua orang murid Thai-san-pai itu.

Ketika mereka tiba di luar ruangan perpustakaan yang merupakan sebagian dari taman yang cukup luas, Cun Giok dan dua orang gadis kembar melihat kelima Thai-san Ngo-sin-kiam sedang berkelahi melawan lima orang laki-laki tinggi besar berusia sekitar empatpuluh tahun.

Lima orang tinggi besar itu tampak garang dan pakaian mereka serba hijau dan mereka masing-masing memegang sebatang golok besar yang punggungnya bergigi seperti gergaji.

Ilmu silat mereka ternyata cukup hebat dan gerakan mereka liar dan aneh sehingga agaknya mereka mampu mengimbangi permainan pedang dari Lima Pedang Sakti Thai-san itu.

Di sekitar tempat perkelahian itu tampak belasan orang murid Thai-san-pai yang sudah terluka dan sedang ditolong oleh para murid lainnya.

Kui Lin yang galak sudah hendak menyerbu dan membantu Ngo-sin-kiam, akan tetapi Cun Giok memegang lengannya.

"Jangan, Lin-moi. Membantu mereka tanpa diminta akan menyinggung harga diri mereka, dan lihatlah, mereka tidak terdesak oleh lawan."

Dicegah oleh Cun Giok yang memegang lengannya, Kui Lin tidak jadi menyerbu dan jantungnya berdebar, mukanya berubah kemerahan karena pegangan tangan itu pada lengannya seolah mengandung getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya!

Ia menyimpan kembali pedangnya dan menonton perkelahian Ngo-sin-kiam melawan lima orang musuh mereka itu.

Benar seperti yang dikatakan Cun Giok, biarpun lima orang berpakaian hijau itu memiliki gerakan yang amat aneh dan dahsyat, golok mereka menyambar-nyambar bagaikan naga mengamuk, namun ilmu pedang Ngo-sin-kiam memang hebat.

Mereka berlima telah menguasai ilmu pedang Thai-san-pai dengan baik sehingga mereka bukan saja mampu menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan terhadap serangan lawan, bahkan kini mereka mulai dapat mendesak orang-orang berpakaian hijau itu.

Cun Giok melihat betapa Ngo-sin-kiam itu memiliki gerakan pedang yang teratur, saling dukung baik dalam pertahanan maupun penyerangan.

Mereka merupakan barisan pedang yang amat tangguh, jauh lebih tangguh daripada kalau mereka maju sendiri-sendiri.

Setelah terus mendesak lawan, akhirnya Ngo-sin-kiam dapat merobohkan lima orang penyerbu itu.

Ada yang terluka lengan atau pundaknya, ada yang terlempar goloknya, ada pula yang terkena pukulan tangan kiri atau tendangan.

Ketika Thai-san Ngo-sin-kiam hendak melanjutkan serangan untuk menangkap lima orang penyerbu itu, tiba-tiba ada angin bertiup dibarengi suara gerengan seperti binatang buas.

Entah darimana datangnya, tahu-tahu di depan lima orang tosu Thai-san-pai sudah berdiri seorang raksasa berusia sekitar limapuluh tahun dan keadaannya sungguh amat menyeramkan.

Laki-laki tinggi besar ini mempunyai muka yang seperti singa bentuknya, penuh berewok dan yang mengerikan, rambut, kumis dan jenggotnya berwarna merah!

Lalu sambil membentak dengan suara melengking, raksasa itu mendorongkan kedua tangannya yang besar beberapa kali dan lima orang tosu Thai-san-pai itu seolah terdorong angin yang amat kuat sehingga mereka berlima terhuyung-huyung ke belakang!

Ketika Ngo-sin-kiam dapat menguasai diri, baru saja mereka hendak maju menghadapi lawan yang tinggi besar itu, Si Raksasa rambut merah kembali mendorongkan kedua tangannya sambil mengeluarkan bentakan melengking-lengking.

Dan, angin pukulan yang amat kuat kembali melanda lima orang tosu itu, membuat mereka yang sudah mempersiapkan diri itu tetap saja terdorong ke belakang, sehingga ada yang menjatuhkan diri dan bergulingan agar terhindar dari bantingan.

"Hayo, serahkan harta karun itu kepadaku, kalau tidak, seluruh Thai-san-pai akan kubasmi habis!"

Kakek rambut merah itu berteriak dan kini dia berdiri tegak sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang lebar.

Kedua telapak tangan yang saling digosokkan itu kini berubah merah seperti api membara dan asap putih membubung ke atas.

Melihat ini, Ngo-sin-kiam terkejut dan Song Bu Tosu berkata heran.

"Kiranya Huo Lo-sian (Dewa Api) yang sedang berkunjung! Di antara pihakmu dan pihak kami tidak pernah ada permusuhan, mengapa hari ini anak buahmu datang membuat kacau dan melukai beberapa orang murid kami?"

Ngo-sin-kiam sudah lama mendengar akan nama besar Huo Lo-sian, akan tetapi baru sekarang mereka melihat orangnya yang sungguh menyeramkan.

"Ho-ho-hoh! Thai-san-pai mendapatkan rejeki besar, sudah sepatutnya membagi-bagi rejeki itu dengan teman-teman sepegunungan. Serahkan harta karun itu, setidaknya setengah bagian, dan kami akan tetap tinggal menjadi tetangga yang baik. Kalau kalian murka dan hendak memilikinya sendiri, aku akan membasmi Thai-san-pai dan merampas harta karun itu!"

Tiba-tiba Kui Lin yang sejak tadi sudah menahan-nahan rasa penasaran dan kemarahannya, melompat ke depan kakek rambut merah itu.

Matanya yang jeli melotot, alisnya berkerut, mulutnya cemberut dan tangan kanan bertolak pinggang, telunjuk tangan kiri menuding ke arah muka singa itu.

"Hei, siluman jelek dan sombong! Jangan ngoceh asal membuka mulutmu yang lebar itu saja! Siapa yang mendapatkan harta karun? Andaikata ada yang mendapatkan sekalipun, siapa sudi membagi dengan siluman sombong macam engkau? Boleh jadi engkau dapat menakut-nakuti anak-anak kecil, akan tetapi aku The Kui Lin, puteri Lembah Seribu Bunga, sama sekali tidak gentar kepadamu!"

Terlambat bagi Kui Lan maupun Cun Giok untuk mencegah gadis pemberani yang galak itu mengeluarkan ucapan menantang.

Mereka berdua hanya maju mendekati Kui Lin untuk melindunginya karena mereka tahu betapa lihai dan berbahayanya raksasa itu.

Huo Lo-sian (Dewa Api) terbelalak memandang kepada Kui Lin.

Datuk ini lebih merasa heran daripada marah.

Bagaimana mungkin seorang gadis remaja semuda ini berani menantangnya!

Dengan sikap dan kata-kata sombong pula!

Saking herannya datuk ini sampai berdirl tercengang, kemudian kemarahannya mulai berkobar, membuat dia sukar mengeluarkan suara.

Wajahnya yang seperti singa itu tampak semakin menyeramkan, rambut, kumis dan jenggotnya yang merah itu seperti bangkit berdiri!

Sebagai seorang datuk besar, walaupun kini jarang terjun ke dunia persilatan, dia sudah mendengar akan nama besar Lembah Seribu Bunga.

Akan tetapi sesuai dengan wataknya yang tekebur dan selalu mengagulkan diri sendiri memandang rendah orang lain, tentu saja dia tidak gentar.

Apalagi yang muncul dari Lembah Seribu Bunga hanya seorang gadis remaja yang masih ingusan!

"Kamu......

kamu bocah setan!

Apa kamu sudah bosan hidup!?"

Bentaknya dengan mata melotot dan seperti mengeluarkan sinar berapi. Kui Lin tersenyum mengejek.

"Kamulah yang bosan hidup! Memang kamu layak mampus karena selain sudah tua, juga dosamu sudah bertumpuk-tumpuk! Setan-setan sudah menunggumu di neraka!"

"Lin-moi......!"

Kui Lan menegur adiknya.

Ia menganggap adiknya itu seolah menyulut permusuhan dengan Dewa Api yang tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Buktinya, Thai-san Ngo-sin-kiam yang berilmu tinggi itu pun tadi kewalahan menghadapi dorongan tangan yang mengandung tenaga sakti amat kuatnya dari datuk itu.

"Biarkan aku, Lan-ci (Kakak Lan)! Aku akan menghajar siluman tua ini agar dia tidak berani sombong lagi!"

Kata Kui Lin yang terlampau berani namun kurang perhitungan itu. Huo Lo-sian sudah habis kesabarannya.

"Bocah gila, mampuslah kamu!"

Bentaknya dan dia sudah mendorongkan kedua tangannya yang merah membara itu ke arah dada Kui Lin!

Dasar gadis muda yang hanya mengandalkan keberanian, seolah seekor burung muda yang baru keluar dari sarangnya, Kui Lin tidak menjadi gentar menghadapi serangan dahsyat itu.

Ia malah mengerahkan seluruh tenaga saktinya dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, lalu mendorongkan kedua tangan pula menyambut serangan lawan!

Biarpun Kui Lan juga seperti adiknya, tidak mempunyai banyak pengalaman bertanding, namun ia lebih cerdik dan hati-hati.

Ia dapat menduga bahwa tidak mungkin adik kembarnya mampu menahan serangan tenaga sakti lawan yang amat kuat itu dan bukan tidak mungkin nyawa adiknya terancam maut, maka cepat ia lalu menjulurkan kedua telapak tangannya, menempel punggung adiknya dari belakang dan menyalurkan sin-kangnya membantu adiknya sehingga kini yang menyambut serangan Huo Lo-sian adalah tenaga sinkang gabungan dua saudara kembar itu.

"Wuuuuuttt......plakkk!"

Kedua telapak tangan Huo Lo-sian yang seperti membara itu bertemu dengan kedua telapak tangan Kui Lin.

Kalau saja gadis ini tidak dibantu encinya dan tenaga sepasang gadis kembar itu tidak bergabung, memang amat berbahaya bagi keselamatan Kui Lin.

Namun gabungan dua tenaga itu cukup kuat untuk menahan gempuran lawan.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, setelah mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan tenaga raksasa rambut merah itu, tetap saja tubuh kedua orang gadis kembar itu tergetar.

Dari dua pasang telapak tangan yang saling menempel itu kini keluar asap, dan dua orang gadis kembar itu mandi keringat!

"Wah, panas......

panas......!"

Kui Lin menjerit-jerit ketika merasa betapa kedua telapak tangannya seperti menempel pada besi membara yang amat panas!

Cun Giok maklum bahwa saatnya tiba baginya untuk turun tangan membantu dan menyelamatkan dua orang gadis itu.

Dia menjulurkan kedua tangannya dan kedua telapak tangannya menempel pada punggung Kui Lan.

Dia mengerahkan sinkangnya dan berseru.

"Lin-moi, dorong!"

Kui Lin yang merasa kepanasan segera mendorong. Kekuatannya bergabung dengan kekuatan Kui Lan dan Cun Giok, maka dorongannya mengandung sin-kang yang amat kuat.

"Wesss......!!"

Tubuh Huo Lo-sian terpental dan dia terhuyung ke belakang sampai tujuh langkah!

Sepasang matanya terbelalak kaget dan heran karena tadi dia merasa betapa dari telapak tangan halus dan kecil dari gadis remaja itu keluar tenaga yang amat dahsyat, yang bukan saja membuat kedua lengannya tergetar dan nyeri, bahkan membuat dia terpental ke belakang seperti dilontarkan!

Dia merasa gentar juga.

Baru tiga orang muda itu saja sudah demikian kuatnya.

Apalagi Ketua Thai-san-pai!

Maka, dia laiu menoleh kepada lima orang pembantunya.

"Kita pergi!"

Dan dia pun melompat jauh, diikuti lima orang berpakaian hijau itu dan sebentar saja mereka lenyap dari perkampungan Thai-san-pai.

"Heii, siluman rambut merah! Mau lari ke mana kamu!"

Teriak Kui Lin yang hendak melakukan pengejaran, merasa seolah ia yang mengalahkan datuk tadi! Akan tetapi Kui Lan segera memegang lengannya.

"Jangan dikejar!"

Katanya.

"Wah, Enci Lan, siluman seperti dia itu yang amat sombong sebaiknya dibasmi saja. Kalau engkau tidak menahanku, tentu ia dapat kukejar dan kupenggal lehernya, betul tidak, Giok-ko?"

Kata Kui Lin sambil memandang pemuda itu. Cun Giok tersenyum.

"Lin-moi, aku kagum akan keberanianmu."

"Bukan berani, melainkan nekat dan ngawur!"

Kui Lan mengomel karena ia tahu benar bahwa kalau tadi tidak dibantu Cun Giok, tenaga mereka berdua tidak cukup untuk mengalahkan Huo Lo-sian dan bukan tidak mungkin nyawa mereka terancam maut.

Mereka bertiga lalu kembali ke dalam gedung induk bersama Ngo-sin-kiam, menghadap Ketua Thai-san-pai, dan lima orang tosu itu melaporkan kepada suheng mereka tentang munculnya Huo Lo-sian.

"Siancai......! Urusan harta karun mulai menimbulkan kekacauan. Pinto kira ekornya akan menimbulkan persaingan dan perebutan."

"Siapa tahu, kakek siluman itu malah yang menjadi pencurinya!"

Tiba-tiba Kui Lin berseru.

"Kiranya hal itu tidak mungkin, Lin-moi,"

Kata Kui Lan lembut.

"Kalau dia yang mencuri harta karun, untuk apa dia dan para pembantunya menyerbu ke sini dan mencari di perpustakaan Thai-san-pai?"

"Mungkin sekali, Enci Lan! Dia melakukan penyerbuan ke sini untuk mengalihkan perhatian agar yang disangka mencuri harta karun adalah Thai-san-pai! Huh, dikira aku tidak tahu akan akal bulusnya itu!"

Kui Lin lalu memandang Cun Giok.

"Betul tidak, Giok-ko?"

"Memang segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa seperti yang disangka Lin-moi bahwa dia pencuri harta karun dan ingin mengalihkan perhatian kepada Thai-san-pai. Akan tetapi mungkin juga benar seperti yang dikatakan Lan-moi, dia hanya menduga bahwa Thai-san-pai yang mengambil harta karun maka dia ingin mencari dan merampasnya."

Cun Giok lalu memandang Ketua Thai-san-pai.

"Lo-cianpwe, kami yang muda-muda hanya bingung dengan dugaan kami masing-masing. Bagaimana kalau menurut pendapat Lo-cianpwe. Harap suka memberi petunjuk kepada kami."

"Siancai......!"

Kakek itu mengelus jenggotnya.

"Memang semua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Akan tetapi, Huo Lo-sian adalah seorang datuk sesat yang kasar dan mengandalkan kekuatan dan kelihaian ilmu silatnya. Orang berwatak kasar seperti dia, kiranya tidak akan dapat menggunakan cara-cara yang mengandung muslihat rumit. Maka, pinto kira bukan dia pencuri harta karun itu."

"Kalau begitu, Lo-cianpwe, kita sudah mendapatkan dua kenyataan, yaitu dua di antara penghuni Thai-san, yang pertama Thai-san-pai dan kedua Huo Lo-sian, bukan pencuri harta karun. Dengan demikian, kita dapat menjuruskan penyelidikan kita kepada pihak lain yang berada di Thai-san ini,"

Kata Cun Giok.

"Wah, aku tahu sekarang! Sudah pasti yang mencurinya adalah sepasang iblis yang berjuluk Hek Pek Mo-ko itu! Bukankah sisa para tokoh di sini hanya tinggal dua, yaitu Hek Pek Mo-ko dan Ang-tung Kai-pang? Menurut keterangan Lo-cianpwe tadi, perkumpulan Pengemis Tongkat Merah itu tidak biasa bahkan membenci pencurian dan mereka juga menentang penjajah Mongol sehingga tidak sangat mencurigakan. Tinggal Hek Pek Mo-ko yang patut kita curigai,"

Kata Kui Lin.

"Hemm, pendapat Lin-moi itu benar sekali. Aku setuju dengan pendapatnya,"

Kata Kui Lan. Hati Kui Lin gembira sekali. Biasanya, encinya itu selalu menegur dan menyalahkannya, akan tetapi sekali ini mendukung pendapatnya! Ia berseru girang dengan wajah berseri.

"Nah, betul bukan pendapatku? Giok-ko, mengapa kita tunggu lebih lama? Mari kita pergi menyelidiki Iblis Hitam Putih itu!"

"Tidak perlu tergesa-gesa, Nona,"

Kata Ketua Thai-san-pai.

"Sebentar lagi malam tiba dan perjalanan ke Bukit Batu, tempat tinggal Hek Pek Mo-ko dan anak buah mereka yang berada di bagian Utara pegunungan ini, tidaklah mudah dan cukup jauh. Kalian perlu mempelajari perjalanan yang akan kalian tempuh, dan sebaiknya dilakukan besok pagi."

"Lo-cianpwe berkata benar. Kita tidak perlu tergesa-gesa, Lin-moi,"

Kata Kui Lan.

Malam itu, Cun Giok, Kui Lan, dan Kui Lin bermalam di markas Thai-san-pai dan mendengarkan keterangan tentang perjalanan ke sana dari para murid Thai-san-pai yang sudah pernah mengenal daerah Utara di mana terdapat Bukit Batu.

Yauw Tek, Ceng Ceng, dan Li Hong yang melakukan perjalanan jauh dari Pulau Ular yang berada di Lautan Po-hai menuju Pegunungan Thai-san, setelah makan waktu berbulan-bulan menunggang kuda, akhirnya mereka tiba di kaki pegunungan Thai-san.

Mereka kini menjadi akrab sekali karena dalam perjalanan panjang yang makan waktu berbulan itu, Yauw Tek memperlihatkan sikap sopan dan budi yang baik sekali.

Bahkan Ceng Ceng juga merasa tertarik dan kagum karena ketika beberapa kali mereka dihadang perampok dan diganggu, Yauw Tek selalu mencegah Li Hong kalau gadis itu hendak membunuh para penjahat.

Kemudian pemuda itu mengalahkan semua perampok dengan mudah tanpa melukai mereka.

"Ingat, Hong-moi. Mereka itu menjadi jahat oleh keadaan. Para penjajah itulah yang membuat kehidupan rakyat jelata menjadi susah dan serba kekurangan dan hal ini mendorong mereka untuk merampok! Bagaimanapun juga, mereka itu adalah bangsa kita sendiri, maka bersikaplah murah, jangan sembarangan membunuh mereka. Musuh utama kita adalah penjajah Mongol. Kalau kita sudah berhasil mengenyahkan penjajah, kuyakin kehidupan rakyat kita akan dapat membaik dan kejahatan pun pasti berkurang."

Ceng Ceng mengagguk-anggukkan kepalanya.

"Apa yang dikatakan Yauw-twako memang benar, Adik Hong. Banyak sekali kejahatan terjadi karena desakan keadaan, karena kekurangan dan penindasan. Yauw-twako berjiwa patriot dan cinta bangsa, hal itu patut dijadikan contoh."

"Yauw-twako, bagaimana kalau kita bertemu pasukan Kerajaan Mongol? Apa yang akan kaulakukan?"

Tanya Li Hong.

"Tentu bodoh sekali kalau kita menyerang pasukan yang besar jumlahnya, sama dengan bunuh diri. Akan tetapi kalau ada pasukan kecil mengganggu kita, sudah sepatutnya kita basmi mereka."

Dan Yauw Tek bukan hanya bicara saja untuk menyatakan permusuhannya dengan Pemerintah Mongol.

Dalam perjalanan mereka, setiap kali mereka berada di kota atau desa di mana terdengar ada pembesar Mongol yang sewenang-wenang, pemuda itu pasti turun tangan memberi hajaran keras!

Tiga orang muda itu tiba di kaki Pegunungan Thai-san bagian Selatan.

Hari telah menjelang senja ketika mereka memasuki sebuah dusun di kaki gunung itu.

Dusun Kok-lo merupakan dusun yang cukup ramai dan memiliki banyak penduduk.

Kehidupan di dusun itu cukup makmur karena daerah ini merupakan daerah yang subur tanahnya sehingga para penduduk yang bekerja sebagai petani mendapatkan penghasilan yang lumayan.

Bahkan banyak pedagang hasil bumi dan rempa-rempa dari kota berdatangan ke dusun itu untuk membeli dagangan.

Hal ini membuat dusun itu semakin maju dan selain terdapat pedagang-pedagang barang dari kota raja untuk keperluan keluarga petani, di situ terdapat pula dua buah rumah penginapan yang lumayan besarnya, berikut rumah makannya.

Dua buah rumah penginapan berikut rumah makan ini untuk melayani para tamu pedagang yang terpaksa harus bermalam selama beberapa hari di situ.

Tiga orang itu merasa lega, terutama sekali Li Hong yang selama lima hari ini mengomel terus karena mereka terpaksa bermalam di tempat terbuka karena tidak ada dusun yang menyediakan rumah penginapan dan rumah makan.

Dusun-dusun yang mereka lewati selama belasan hari terdiri dari dusun-dusun kecil dan sepi.

Kini, memasuki dusun yang cukup besar dan ramai, dan terdapat rumah penginapan berikut rumah makannya, tentu saja Li Hong merasa gembira sekali.

Ia mendahului dua temannya dan memimpin di depan menuju ke sebuah rumah penginapan AN HOK.

Semenjak memasuki dusun itu, mereka bertiga menarik perhatian banyak orang.

Memang banyak di situ kedatangan orang-orang kota, namun belum pernah mereka melihat dua orang gadis sejelita itu dan melihat tiga ekor kuda yang besar dan bagus.

Tiga orang muda itu memang sudah beberapa kali terpaksa berganti kuda karena kuda mereka sudah kelelahan melakukan perjalanan sejauh itu.

Dan setiap kali berganti kuda, Li Hong pasti memilih kuda-kuda terbaik untuk mereka bertiga.

Gadis ini membawa bekal yang cukup banyak pemberian orang tuanya di Pulau Ular.

Setibanya di depan rumah penginapan, Li Hong melompat turun dari atas kudanya, diikuti Yauw Tek dan Ceng Ceng yang tersenyum melihat kegembiraan Li Hong.

Di dalam hatinya, Yauw Tek dan Ceng Ceng merasa kasihan juga di samping geli melihat sikap Li Hong.

Mereka tahu bahwa Li Hong banyak menderita dalam perjalanan itu.

Gadis yang sudah biasa hidup enak di Pulau Ular itu, kini benar-benar menderita melakukan perjalanan jauh yang melelahkan.

Pantaslah kalau kini ia demikian gembira mendapatkan sebuah dusun yang memiliki rumah penginapan dan rumah makan!

Tiga orang pelayan rumah penginapan segera menyambut dan mengurus tiga ekor kuda itu yang mereka bawa ke kandang kuda di pekarangan belakang rumah penginapan.

Rumah penginapan itu memang mempunyai banyak pelayan untuk melayani para pedagang yang bermalam di situ.

Seorang pelayan setengah tua menyambut mereka dengan sikap hormat dan ramah.

"Selamat datang di rumah penginapan AN HOK kami, Kongcu (Tuan Muda) dan ji-wi Siocia (Nona Berdua). Apakah Sam-wi (Anda Bertiga) ingin menyewa kamar?"

"Ya, cepat siapkan sebuah kamar biasa dan sebuah yang agak besar untuk aku dan Enciku, akan tetapi pilih kamar yang paling bersih, ganti semua tilamnya dengan yang baru dan bersih!"

Kata Li Hong dengan sikap keren dan memerintah.

"Baik, Nona, akan kami siapkan sekarang,"

Kata pelayan itu dengan sikap hormat.

Li Hong lalu mengambil sekeping uang dari balik ikat pinggangnya dan memberikan kepada pelayan itu.

Pelayan itu menerima dengan mata terbelalak karena hadiah ini amat banyak dan tidak seperti biasanya para tamu memberi hadiah setelah akan meninggalkan penginapan.

"Jangan lupa, sediakan air yang banyak untuk kami mandi, setelah itu siapkan makan malam dengan lauk-pauk komplit dari rumah makan,"

Perintah Li Hong.

"Baik-baik, Siocia, akan kami siapkan semua,"

Kata pelayan itu yang lalu membawa mereka kedua buah kamar yang kosong.

Dia memerintahkan pelayan lain untuk segera mengganti tilam-tilam di kedua kamar itu, bahkan menyuruh bersihkan lantai dan semua perabot dalam dua kamar itu.

Tiga orang muda itu lalu mandi dan bertukar pakaian, lalu mereka makan hidangan yang sudah disediakan.

Memenuhi pesanan Li Hong, hidangan itu cukup mewah sehingga Ceng Ceng setelah mereka selesai makan, berkata sambil tersenyum.

"Wah, engkau royal sekali, Hong-moi, dan engkau minum banyak sekali arak. Akan tetapi kulihat engkau sama sekali tidak mabok!"

"Ih, Enci Ceng, kalau puteri Pulau Ular mabok oleh minuman arak, sungguh memalukan! Bukankah engkau juga sama sekali tidak tampak mabok setelah minum cukup banyak pula? Lihatlah Yauw-twako itu! Mukanya menjadi merah seperti kepiting direbus, hi-hi-hik!"

Yauw Tek yang memang merah mukanya karena melayani dua orang gadis yang amat kuat minum arak itu, tertawa pula.

"Ha-ha, tentu saja aku tidak dapat menandingi kalian, Ceng-moi dan Hong-moi! Dahulu, ketika kecil dan menjadi pemuda remaja, aku hidup di antara pertapa dan pendeta, sama sekali tidak diperbolehkan minum arak. Kalian berdua tentu saja kuat minum. Ceng-moi seorang ahli pengobatan, tentu sebelumnya sudah menelan obat penjaga mabok, demikian pula engkau, Hong-moi. Pulau Ular terkenal dengan racun-racunnya yang berbahaya, tentu saja engkau dapat mengatasi pengaruh racun arak yang bagimu kecil tidak ada artinya itu!"

Kata Yauw Tek dan dari suaranya yang ringan, dua orang gadis itu dapat mengetahui bahwa pemuda itu memang agak teler (mabuk).

Mereka berdua tertawa walaupun tawa Ceng Ceng tidak selebar dan selantang Li Hong.

"Maaf, Yauw-twako, kami hanya berkelakar, bukan mentertawakanmu!"

Kata Li Hong.

"Yang membuat aku heran, bagaimana engkau kulihat tidak pernah merasa janggal menanggapi segala kemewahan, seolah engkau sudah biasa dengan kamar yang nyaman dan makanan yang mewah."

Ceng Ceng juga memandang pemuda itu karena baru sekarang ia teringat bahwa pemuda itu agaknya tak pernah tertarik atau heran menyaksikan kemewahan, bahkan pakaian pemuda ini juga terbuat dari sutera halus, seolah Yauw Tek seorang pemuda kaya raya yang biasa hidup mewah.

Yauw Tek tersenyum.

"Ah, itukah yang membuat kalian heran? Ceng-moi dan Hong-moi, ketahuilah bahwa selama tinggal di rumah para Pendeta Lhama di Tibet sebagai murid mereka, aku sudah terbiasa hidup mewah. Kalian tahu, banyak di antara pendeta Lhama itu memiliki gedung yang mewah, kehidupan mereka juga serba mewah dan kaya raya."

Dua orang gadis itu kini baru mengerti.

Tidak heran Yauw Tek bersikap biasa saja menghadapi hidangan mewah, kiranya pernah hidup di rumah para pendeta Lhama yang kaya raya.

Mereka merasa heran juga mengapa para pendeta di Tibet dapat hidup mewah dan kaya, tidak seperti para hwesio (Pendeta Buddha) yang berada di kuil-kuil di Cina.

Pada keesokan harinya mereka mendapat keterangan bahwa di atas bukit di depan, yaitu Bukit Cemara, terdapat pusat Perkumpulan Ang-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Merah).

Mereka bertiga berkemas untuk melanjutkan perjalanan.

Karena Ang-tung Kai-pang merupakan satu di antara golongan yang kuat dan mungkin menjadi pencuri harta karun, maka mereka sudah mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan kepada perkumpulan pengemis yang terkenal memiliki cabang di mana-mana.

Pagi-pagi sekali tiga orang muda itu sudah keluar dari rumah penginapan dan berada di jalan umum depan rumah penginapan merangkap rumah makan itu.

Tadi, mereka sudah sarapan bubur yang disiapkan oleh pelayan.

Sepagi itu, jalan umum di depan rumah penginapan itu sudah ramai dengan orang-orang yang lalu-lalang.

Mereka adalah orang-orang yang memikul barang dagangan berupa hasil bumi daerah itu.

Selagi mereka berdiri di tepi jalan, memandang ke arah Bukit Cemara yang menurut keterangan menjadi markas Ang-tung Kai-pang, tiba-tiba mereka melihat serombongan orang berpakaian tambal-tambalan, pakaian pengemis, berbondong pergi ke arah timur.

Mereka terdiri dari lima orang berpakaian tambal-tambalan dan masing-masing memegang sebatang tongkat yang berwarna merah.

Mudah saja bagi Yauw Tek untuk menduga bahwa mereka berlima itu tentulah para anggauta Ang-tung Kai-pang.

Karena mereka memang berniat mengunjungi dan menyelidiki keadaan perkumpulan pengemis itu, maka lima orang itu menarik perhatian mereka.

Dengan saling pandang saja, ketiganya bersepakat untuk membayangi lima orang pengemis itu.

Usia lima orang itu antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun.

Biarpun di antara mereka, yang tiga orang bertubuh kurus seperti kebanyakan pengemis, sedangkan yang dua orang sedang-sedang saja, namun mereka itu sungguh jauh berbeda dari pengemis biasa.

Pakaian mereka memang tambal-tambalan, namun bersih dan mudah diduga bahwa mereka tentu sering bertukar pakaian.

Sepatu mereka yang berwarna hitam juga tidak butut seperti pengemis biasa.

Gerak-gerik mereka ketika mereka berjalan tergesa-gesa itu pun membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak lemah.

Terutama sekali tongkat mereka yang berwarna merah itu mencolok dan membuat mereka tampak lebih mirip regu yang berpakaian seragam daripada serombongan pengemis.

Juga keberadaan mereka di dusun yang ramai itu agaknya sama sekali tidak menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di jalan umum, hal ini menandakan bahwa kehadiran para pengemis di dusun itu merupakan hal yang biasa.

Selain itu, sikap para penduduk yang tenang saja melihat mereka membuktikan bahwa golongan pengemis itu tidak ditakuti.

Ini saja sudah membuat Yauw Tek dan dua orang gadis itu mengambil kesimpulan bahwa para pengemis tongkat merah itu bukan golongan yang suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuatan mereka seperti dilakukan banyak anggauta perkumpulan yang merasa dirinya kuat.

Lima orang pengemis itu melangkah lebar dan berjalan tanpa bicara.

Setelah tiba di pintu gerbang dusun sebelah timur, mereka tidak berhenti dan berjalan terus.

Terang bahwa mereka tidak hendak pergi ke Bukit Cemara yang menjadi tempat asrama mereka, karena Bukit Cemara berada di sebelah Barat sedangkan mereka kini melangkah terus menuju ke arah Timur.

Tiga orang muda itu tetap mengikuti rombongan pengemis itu dari belakang, agak jauh karena mereka tidak ingin diketahui bahwa mereka sedang membayangi rombongan pengemis itu.

Setelah keluar dari pintu gerbang dan berada di jalan yang sepi, lima orang pengemis itu mulai berlari!

Yauw Tek, Ceng Ceng dan Li Hong juga berjalan cepat, terus membayangi.

Tak lama kemudian mereka tiba di tepi sebuah hutan kecil dan dari jauh sudah tampak ada dua orang sedang berkelahi!

Yang seorang adalah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun, tinggi kurus, pakaiannya serba putih dan dia menggunakan senjata sebatang pedang.

Adapun lawannya adalah seorang pengemis berusia sekitar limapuluh tahun dan dia bersenjatakan sebatang tongkat merah.

Jelaslah bahwa yang sedang berkelahi itu seorang anggauta Ang-tung Kai-pang melawan seorang yang berpakaian putih-putih dan yang memiliki ilmu pedang cukup tangguh.

Perkelahian itu memang seimbang dan ramai, akan tetapi agaknya pengemis bertongkat merah itu mulai terdesak oleh permainan pedang lawannya.

"Apakah lima orang pengemis itu hendak mengeroyok Si Baju Putih itu?"

Kata Ceng Ceng lirih.

"Wah, biarpun aku tidak mengenal Si Baju Putih itu, kalau dia dikeroyok, aku pasti akan membelanya!"

Kata Li Hong.

"Ceng-moi dan Hong-moi, kuharap kalian tidak tergesa-gesa bertindak sebelum kita mengetahui permasalahannya maka mereka itu berkelahi. Jangan sampai kita salah tangan,"

Kata Yauw Tek.

Mereka mendekati lalu mengintai dari balik pohon-pohon.

Lima orang pengemis tongkat merah itu kini telah tiba dekat mereka yang bertanding, akan tetapi mereka berlima hanya berdiri menonton pertandingan itu dan agaknya tidak akan turun tangan membantu rekan mereka.

Laki-laki berpakaian putih itu tampak terkejut ketika dia melihat munculnya lima orang pengemis tongkat merah.

Dia agaknya tahu benar bahwa kalau lima orang itu mengeroyoknya, dia pasti akan terancam bahaya maut.

Baru melawan seorang ini saja, dia hanya mampu mendesak setelah bertanding lebih dari limapuluh jurus dan ini pun baru mendesak, belum mampu melukai apalagi merobohkannya.

Sebaliknya, pengemis yang sedang bertanding itu ketika melihat lima orang rekannya, bangkit semangatnya dan dia kini membalas desakan lawan dengan serangan-serangan maut.

Tongkatnya yang berwarna merah itu membentuk gulungan sinar merah yang cepat dan kuat.

Pria berpakaian putih itu melompat jauh ke belakang.

"Huh, orang Ang-tung Kai-pang curang. Kalian hendak mengeroyok aku?"

Bentaknya sambil melintangkan pedang di depan dada. Pengemis yang tadi menjadi lawannya menudingkan tongkat merahnya dan menjawab.

"Ang-tung Kai-pang bukan perkumpulan orang-orang yang curang dan suka main keroyokan!"

Seorang di antara lima pengemis yang baru datang, berseru lantang.

"Manusia sombong! Kalau kami melakukan pengeroyokan, apa kaukira sekarang engkau masih hidup?"

Bagaimanapun Si Baju Putih itu agaknya sudah gentar menghadapi enam orang pengemis tongkat merah, maka dia lalu berkata dengan sikap menantang.

"Baik, sekarang aku mengajukan tantangan atas nama kedua orang pimpinan kami. Esok lusa, setelah matahari terbit, pimpinan kami akan datang ke tempat ini dan menantang pimpinan kalian. Hendak kita lihat siapa yang lebih unggul dan yang patut mendapatkan harta karun, majikan Bukit Batu ataukan pimpinan Ang-tung Kai-pang di Bukit Cemara! Kalau esok lusa pimpinan kalian tidak muncul, berarti Ang-tung Kai-pang pengecut!"

Setelah berkata demikian, orang berpakaian putih itu melompat ke dalam hutan dan melarikan diri. Pengemis yang marah tadi mengepal tinjunya dengan marah.

"Jahanam itu seharusnya tidak kita biarkan pergi!"

Pengemis yang tadi berkelahi dan lebih tua di antara mereka, berkata.

"Ah, tidak ada gunanya, Sute (Adik Seperguruan). Bukankah Pangcu (Ketua) berpesan agar kita tidak mengambil sikap bermusuhan dengan siapa saja yang tinggal di pegunungan ini? Sudahlah, tidak perlu penasaran, akan tetapi bagaimana kalian berlima dapat datang ke sini dan mengetahui bahwa aku sedang bertanding?"

"Seorang rekan memberi tahu kami ketika kami sedang berada di dusun Kok-lo, bahwa engkau sedang bertengkar di sini dengan seorang anak buah Bukit Batu. Maka kami cepat menyusul ke sini, dan melihat Suheng (Kakak Seperguruan) tadi bertanding dengan Si Baju Putih brengsek itu. Suheng, kita tidak pernah bermusuhan dengan orang-orang Bukit Batu, bagaimana Suheng sampai bertengkar lalu berkelahi dengan orang itu?"

Pengemis yang berjenggot seperti kambing itu menghela napas dan mengelus jenggotnya.

"Aku pun tahu akan larangan Pangcu agar kita tidak mencari permusuhan. Akan tetapi orang itu ketika bertemu dengan aku di sini, langsung menghinaku dan mengatakan bahwa orang-orang Ang-tung Kai-pang adalah pencuri-pencuri, mencuri harta karun dan tidak tahu malu. Tentu saja aku marah sekali dan kami lalu bertengkar dan berkelahi."

"Jahanam sombongan itu! Mereka yang tak tahu malu, mereka yang tidak pantang melakukan kejahatan, malah menuduh kita! Biarpun pekerjaan kita mengemis, mencuri merupakan pantangan besar bagi kita. Semua orang juga mengetahuinya!"

Kata yang lain. Mereka berenam tampaknya marah dan penasaran sekali.

"Mari, kita laporkan kepada Pangcu. Dikiranya kita takut menghadapi tantangan mereka!"

Pada saat itu, Yauw Tek yang merasa sudah cukup mengintai, mengajak Ceng Ceng dan Li Hong keluar dari tempat pengintaian mereka tadi.

Begitu melihat tiga orang muncul dari balik pohon-pohon, enam orang anggauta Ang-tung Kai-pang ini melompat dengan gerakan ringan dan mereka sudah berdiri di depan tiga orang muda itu dengan tongkat merah siap di tangan untuk menyerang.

"Hemm, apakah kalian juga ingin mencari gara-gara dengan kami?"

Tanya pengemis tertua dengan pandang mata penuh kecurigaan. Yauw Tek cepat maju dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan lalu berkata lembut.

"Maafkan, kami sama sekali tidak mempunyai niat buruk. Tadi secara kebetulan kami melihat seorang di antara kalian berkelahi melawan orang berpakaian putih itu, maka kami tidak keluar dan bersembunyi di balik pohon. Setelah orang itu pergi, baru kami berani menghampirl kalian."

Enam orang pengemis itu mengerutkan alisnya.

"Kalian bertiga ini siapakah dan apa maksud kalian menghampiri dan memperhatikan kami?"

Li Hong tidak sabar melihat sikap Yauw Tek demikian hormat kepada enam orang pengemis itu.

"Kami tertarik mendengar ada orang menuduh kalian mencuri harta pusaka! Benarkah kalian mencuri harta karun itu?"

"Hong-moi......!"

Ceng Ceng menegur adik angkatnya.

"Nona, apakah engkau juga bermaksud menghina kami?"

Tanya pengemis tertua dengan suara kaku. Li Hong membelalakkan mata dan bertolak pinggang.

"Siapa yang menghina siapa? Aku hanya bertanya, apa salahnya orang bertanya? Kalau engkau bertanya kepadaku apakah aku mencuri harta karun, aku akan menjawab tidak karena aku tidak mencurinya. Kalau aku mencuri, tentu akan kuakui karena aku bukan pengecut!"

Dijawab seperti itu, pengemis itu gelagapan, tidak mampu bicara.

Yauw Tek yang melihat bahwa sikap dan ucapan Li Hong mungkin menyulut kemarahan dan permusuhan, segera memberi hormat kepada enam orang pengemis itu dan berkata dengan lembut.

(Lanjut ke

Jilid 07) Harta Karun Kerajaan Sung (Seri ke 02 -Pendekar Tanpa Bayangan) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07

"Harap Paman berenam suka memaafkan kami. Sesungguhnya, kami bertiga tertarik sekali mendengar orang baju putih tadi bicara tentang harta karun karena kami bertiga justeru hendak menyelidiki, siapa pencuri harta karun itu. Untuk penyelidikan kami inilah maka kami hendak pergi menghadap Ketua Ang-tung Kai-pang untuk mohon petunjuk."

Ucapan Yauw Tek menyabarkan para pengemis itu. Pengemis tua lalu bertanya, suaranya kini juga halus.

"Siapakah kalian bertiga dan mengapa pula kalian hendak menyelidiki tentang pencurian harta karun yang menggemparkan dunia kang-ouw itu?"

"Lo-pek (Paman Tua), harta karun itu adalah peninggalan mendiang Lo-cianpwe Liu Bok Eng yang harus diberikan kepada yang berhak, akan tetapi ternyata dicuri orang. Menjadi kewajiban kami bertiga untuk mencarinya. Ketahuilah bahwa Nona ini bernama Liu Ceng Ceng berjuluk Pek-eng Sianli, dan yang ini adalah Nona Tan Li Hong puteri majikan Pulau Ular. Adapun aku sendiri bernama Yauw Tek, seorang pengembara yang membantu kedua orang gadis ini."

Enam orang pengemis itu terbelalak.

Mereka sudah mendengar bahwa harta karun itu kabarnya milik seorang gadis pendekar berjuluk Pek-eng Sianli dan kini gadis berpakaian serba putih di depan mereka itu adalah gadis yang nama julukannya amat terkenal setelah terjadinya geger tentang harta karun itu!

Juga mereka mengenal betul Pulau Ular dengan majikannya yang berjuluk Ban-tok Kui-bo dan yang dikenal sebagai seorang datuk wanita yang ditakuti.

Pantas gadis itu demikian galak, kiranya puteri majikan Pulau Ular.

Hanya nama pemuda itu yang tidak mereka kenal, akan tetapi sikap pemuda itu hormat dan lembut sehingga mendatangkan rasa suka dalam hati mereka.

"Ah, kiranya kalian bertiga adalah pendekar-pendekar muda yang ternama. Maafkan sikap kami tadi dan kalau Sam-wi (Anda Bertiga) ingin menghadap ketua kami, mari silakan, kami antarkan."

Mereka bertiga lalu mengikuti enam orang pengemis itu mendaki Bukit Cemara.

Ternyata bukit yang ditumbuhi banyak pohon cemara itu merupakan daerah subur dan di situ terdapat banyak sawah ladang penuh dengan tanaman sayur dan buah-buahan.

Dari keadaan ini saja tiga orang muda itu dapat mengetahui bahwa para pengemis itu ternyata juga bertani dan tampak belasan orang anggauta Ang-tung Kai-pang sedang sibuk bekerja di sawah ladang.

Ketika mereka tiba di perkampungan Ang-tung Kai-pang di puncak bukit, mereka pun kagum melihat betapa perkampungan itu tidak seperti daerah kumuh yang biasa merupakan ciri tempat tinggal para pengemis.

Perkampungan itu terdiri dari puluhan bangunan rumah yang kecil sederhana, namun teratur dan bersih, di halaman setiap rumah terdapat taman bunga sehingga kampung itu kelihatan indah dan bersih terpelihara.

Rumah induk perkumpulan berada di tengah dan merupakan bangunan terbesar.

Di situlah tinggal ketua perkumpulan itu dan Yauw Tek bertiga diajak masuk ke dalam rumah besar itu.

Mereka bertiga diterima Ketua Ang-tung Kai-pang di ruangan depan yang luas.

Pengemis tertua yang tadi berkelahi melawan orang berpakaian putih hadir pula dalam pertemuan itu.

Yang lima lainnya tidak ikut hadir.

Tiga orang muda itu memperhatikan Sang Ketua.

Kui-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Setan) adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus berusia sekitar enampuluh tahun.

Wajahnya masih membayangkan ketampanan dan jenggotnya panjang terpelihara rapi.

Pakaiannya sederhana, juga tambal-tambalan namun bersih.

Sikapnya penuh wibawa seorang yang biasa memimpin banyak anak buah.

Yauw Tek dan dua orang gadis itu memberi hormat dengan merangkap tangan depan dada, dibalas dengan hormat oleh ketua itu yang lalu mempersilakan mereka duduk berhadapan dengannya.

Kemudian dia memberi kesempatan pertama kepada anak buahnya untuk membuat laporan.

Pengemis itu lalu melaporkan tentang pertemuannya dengan Yauw Tek bertiga, setelah lebih dulu dia berkelahi melawan seorang anak buah dari Bukit Batu dan lawannya itu kemudian pergi sambil menantang agar Ketua Ang-tung Kai-pang berani bertanding melawan ketuanya pada esok lusa pagi hari di tempat di mana mereka berkelahi tadi.

Kui-tung Sin-kai mengerutkan alisnya.

Suaranya mengandung teguran ketika dia berkata kepada anak buahnya.

"Hemm, bagaimana engkau berani mengabaikan pesanku agar jangan membuat permusuhan, sekarang bahkan menimbulkan pertentangan sehingga aku terbawa-bawa ditantang oleh Hek Pek Mo-ko?"

Pengemis itu menjawab dengan sikap takut-takut.

"Mohon maaf, Pangcu. Sesungguhnya saya tidak berani melanggar pesan Pangcu, akan tetapi orang itu muncul dan tanpa sebab memaki bahwa Ang-tung Kai-pang adalah pencuri-pencuri dan katanya perkumpulan kita mencuri harta karun. Dimaki pencuri, saya tentu saja membantah sehingga terjadi pertengkaran yang berekor menjadi perkelahian. Harap Pangcu sudi memaafkan saya."

"Pangcu, kami yang menjadi saksi! Bukan Paman pengemis ini yang mulai dan menantang untuk mengadakan pertandingan antara pemimpin kedua golongan adalah orang berbaju putih itu!"

Kata Li Hong dengan lantang. Ketua Ang-tung Kai-pang mengangguk-angguk dan menghela napas sambil mengelus jenggotnya yang panjang, lalu berkata kepada anak buahnya.

"Sudahlah, engkau boleh keluar, aku akan bicara dengan tiga orang tamu ini."

Setelah pengemis itu keluar, Kui-tung Sin-kai memandang kepada tiga orang muda itu dan berkata.

"Anggauta perkumpulan kami tadi hanya mengatakan bahwa kalian bertiga adalah pendekar-pendekar muda yang sedang menyelidiki tentang harta karun yang dihebohkan di dunia kang-ouw, dan kalian hendak minta petunjukku tentang pencurian harta karun itu. Coba perkenalkan dulu, kalian ini siapa?"

Yauw Tek yang menjadi wakil pembicara segera menjawab.

"Pangcu, ini adalah Nona Liu Ceng Ceng dan yang ini adalah Nona Tan Li Hong. Saya sendiri bernama Yauw Tek."

"Mengapa kalian hendak menyelidiki dan mencari pencuri harta karun yang kabarnya memperkenalkan diri sebagai penghuni Thai-san?"

Yauw Tek lalu menceritakan asal mula pencarian harta karun itu.

Bagaimana dari peta yang ditinggalkan Liu Bok Eng kepada puterinya, Liu Ceng Ceng, tempat harta karun itu telah ditemukan oleh Panglima Kim Bayan, akan tetapi ternyata hanya tinggal petinya yang kosong dan di dalam peti itu terdapat tulisan THAI SAN.

"Nona Liu Ceng Ceng ini merasa berkewajiban untuk menemukan kembali harta karun yang ditinggalkan mendiang ayahnya. Nona Tan Li Hong dan saya membantunya dan kami menghadap Pangcu untuk mohon petunjuk, siapa kiranya yang patut dicurigai sebagai pencuri harta karun itu."

"Nanti dulu, Yauw-sicu. Katakan dulu, untuk apa kalian mencari pencuri harta karun itu!"

"Tentu untuk merampasnya kembali, habis untuk apa lagi?"

Jawab Li Hong mendahului Yauw Tek.

Li Hong yang dibesarkan di Pulau Ular oleh ibu tirinya yang dulu terkenal sebagai datuk wanita berjuluk Ban-tok Kui-bo memang berwatak keras dan tidak mengenal segala macam aturan bersopan santun, apalagi bermanis muka, namun ia jujur.

Kini ketua itu memandang kepada tiga orang muda itu dengan alis berkerut, kemudian dia berkata lantang dan tegas.

"Aku pernah mendengar akan nama Liu Bok Eng sebagai seorang gagah yang setia kepada Kerajaan Sung dan berjiwa patriot dan aku akan suka membantunya mencari harta karun karena aku yakin bahwa dia akan mempergunakannya demi nusa dan bangsa. Akan tetapi kalau kalian orang-orang muda mencari harta karun untuk diri kalian sendiri, jangan harap akan mendapat dukungan dariku. Aku tidak sudi membantu orang-orang memperebutkan harta seperti anjing-anjing kelaparan memperebutkan tulang!"

"Apa? Engkau menganggap kami ini anjing-anjing?"

Li Hong sudah merah mukanya karena ia marah sekali.

Akan tetapi Ceng Ceng menyentuh lengannya dan ketika adik angkatnya memandangnya, ia menggeleng kepala mencegah adiknya itu bicara terus.

Kemudian ia menoleh kepada Kui-tung Sin-kai dan berkata dengan suaranya yang lembut dan sikapnya yang ramah.

"Pangcu, agaknya Pangcu salah paham. Saya hendak menjelaskan keadaan kami yang sebenarnya. Ketika Ayah saya meninggal dunia karena terbunuh oleh panglima Mongol, Ayah meninggalkan sebuah peta harta karun kepada saya dengan pesan agar saya mencari harta karun itu dan menyerahkannya kepada yang berhak, yaitu para pejuang yang berjuang membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajahan bangsa Mongol. Kenyataannya harta karun itu telah dicuri atau diambil oleh orang yang mengaku dari Thai-san. Kami bertiga mencari harta karun yang dicuri itu, sama sekali bukan untuk kami miliki sendiri, melainkan untuk kami serahkan kepada para pejuang seperti yang dipesan Ayah Liu Bok Eng. Kami mendengar bahwa Ang-tung Kai-pang juga menentang Pemerintah Mongol, maka kami percaya bahwa Pangcu tentu suka membantu para pejuang kemerdekaan tanah air dari cengkeraman penjajah Mongol. Karena itu maka kami berani menghadap Pangcu dan mohon petunjuk."

Mendengar ucapan Ceng Ceng, ketua Kai-pang (Perkumpulan Pengemis) itu tersenyum dan wajahnya berubah cerah.

"Ah, sekarang aku tidak ragu akan kebenaran berita bahwa mendiang Liu Bok Eng adalah seorang gagah perkasa yang bijaksana setelah melihat puterinya! Nona Liu, maafkan sikapku tadi. Kalau memang kalian hendak mendapatkan kembali harta karun itu untuk diserahkan kepada para pejuang kemerdekaan, tentu saja kami sepenuhnya mendukung! Bahkan kami bersama seluruh anggauta yang sekitar seratus orang jumlahnya di sini, siap untuk membantu. Bukan itu saja, kami juga dapat mengerahkan semua anggauta yang tersebar di banyak cabang Ang-tung Kai-pang, yang ribuan jumlahnya, untuk membantu!"

"Terima kasih, Pangcu!"

Kata Yauw Tek dengan gembira.

"Akan tetapi kami kira belum tiba saatnya kami membutuhkan bantuan para anggauta Ang-tung Kai-pang. Untuk saat ini kami hanya membutuhkan petunjuk Pangcu, siapa kiranya di antara para penghuni Thai-san yang patut dicurigai sebagai pencuri harta karun itu. Kami mohon pefunjuk Pangcu."

"Kami kira hanya ada dua golongan yang seyogianya tidak dimasukkan daftar mereka yang dicurigai, yaitu Thai-san-pai dan Ang-tung Kai-pang. Kami kira kedua perkumpulan ini tidak mungkin melakukan pencurian itu karena kami berdua bukan golongan orang-orang yang murka akan harta benda. Akan tetapi ada banyak orang atau golongan lain berada di Thai-san. Yang terbesar dan mempunyai banyak anak buah adalah Huo Lo-sian dan anak buahnya yang tinggal di daerah Barat pegunungan ini dan yang kedua adalah Hek Pek Mo-ko dengan anak buah mereka yang tinggal di Bukit Batu dan berada di daerah Utara pegunungan ini. Selain mereka tentu saja masih terdapat banyak pertapa yang kabarnya memiliki kesaktian, tinggal bertapa di tempat-tempat terasing di pegunungan yang luas ini."

Pangcu itu menerangkan.

"Pangcu, orang berbaju putih yang berkelahi dengan anak buah Ang-tung Kai-pang itu, katanya adalah anak buah dari Bukit Batu. Kalau begitu, dia itu anak buah Hek Pek Mo-ko?"

Tanya Li Hong.

"Benar, Nona,"

Kata Ketua Kai-pang itu yang kini dapat mengerti bahwa gadis ini memang memiliki watak yang keras, kasar dan jujur, hal yang tidak aneh karena ia berasal dari Pulau Ular!

"Si Baju Putih itu adalah seorang murid dari Pek Mo-ko.

Dua orang iblis itu yang disebut Hek Pek Mo-ko terdiri dari Hek Mo-ko ( Iblis Hitam ) dan Pek Mo-ko (Iblis Putih), masing-masing mempunyai murid sendiri.

Murid Hek Mo-ko berpakaian serba hitam dan murid Pek Mo-ko berpakaian serba putih.

Akan tetapi keduanya selalu bekerja sama seolah hanya ada satu perkumpulan."

"Hemm, kalau begitu yang menantang Pangcu untuk mengadakan pi-bu (adu ilmu silat) esok lusa ada dua orang, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko?"

Ceng Ceng juga bertanya, nadanya khawatir. Pangcu itu mengangguk.

"Benar, Nona Liu. Yang menantang adalah mereka berdua."

"Ah, itu tidak adil sama sekali, Pangcu. Masa dua orang menantang seorang?"

Kata Yauw Tek sambil mengerutkan alisnya yang tebal karena merasa penasaran.

"Jangan khawatir, Pangcu! Kalau mereka maju berdua, biar aku yang akan membantumu sehingga pi-bu itu seimbang, dua lawan dua!"

Kata Li Hong bersemangat.

"Kalau hanya melawan dua orang berandal itu saja, aku tidak takut!"

"Tenanglah, Hong-moi,"

Kata Ceng Ceng yang lalu bertanya kepada ketua itu.

"Pangcu, bagaimana kepandaian Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko?"

"Aku sendiri belum pernah bertanding dengan mereka berdua. Akan tetapi menurut kabar, kedua orang itu memiliki tingkat kepandaian yang seimbang, Hek Mo-ko memiliki ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang dahsyat dan senjata goloknya juga terkenal lihai. Sedangkan Pek Mo-ko memiliki ilmu Pek-tok-ciang (Tangan Racun Putih) yang tak kalah dahsyatnya, dan senjatanya adalah sebatang pedang yang kabarnya juga amat tangguh. Kukira, kalau aku menghadapi seorang di antara mereka, aku masih dapat menandingi, akan tetapi entah kalau mereka maju berdua karena menurut keterangan yang pernah kudengar, Hek Pek Mo-ko selalu maju bersama sebagai pasangan yang amat kuat."

"Pangcu, untuk menghadapi mereka besok lusa pagi, tentu Pangcu sudah mengatur sebaiknya dan tentu ada orang lain dari Ang-tung Kai-pang yang akan menemani Pangcu menghadapi mereka,"

Kata Yauw Tek. Ketua Kai-pang itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Murid-murid Kai-pang tidak ada yang dapat diandalkan kepandaiannya. Tingkat mereka masih terlalu jauh untuk dapat melawan Hek Pek Mo-ko. Aku memang mempunyai beberapa orang Sute (Adik Seperguruan) yang agaknya memiliki tingkat yang sudah boleh diandalkan, namun pada waktu ini mereka semua tidak berada di sini. Mereka bertugas memimpin cabang-cabang Ang-tung Kai-pang di kota-kota besar. Akan tetapi, aku sendiri tidak gentar melawan Hek Pek Mo-ko yang telah menghina dan menantang."

Kembali Li Hong berkata.

"Jangan khawatir, Pangcu. Aku besok lusa akan menemanimu, kita berdua akan menghadapi mereka!"

Ketua itu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak mungkin, Nona Tan. Nama dan kehormatan Ang-tung Kai-pang akan tercemar kalau aku minta bantuan orang luar bukan anggauta kami untuk menghadapi tantangan Hek Pek Mo-ko."

"Akan tetapi siapa yang akan tahu bahwa aku bukan anggauta Ang-tung Kai-pang, Pangcu?"

Bantah Li Hong.

"Kulihat di sini juga terdapat banyak wanita."

"Memang benar di sini terdapat banyak keluarga para anggauta dan diantara mereka terdapat pula gadis-gadis muda, akan tetapi ilmu silat mereka rata-rata lemah, dan kalau engkau yang maju menemani aku menghadapi Hek Pek Mo-ko, ada dua hal yang menjadi pantangan bagi kami. Pertama, berarti kami bohong mengakuimu sebagai murid, dan kedua, murid kami bersenjatakan tongkat merah, bukan pedang. Terima kasih atas maksud baikmu hendak membantu, Nona Tan, akan tetapi mengingat akan pantangan kami berbohong, terpaksa kami tidak dapat menerima bantuanmu itu."

Sekali ini Li Hong tidak dapat membantah biarpun ia merasa kecewa dan penasaran sekali.

Ceng Ceng juga tidak melihat adanya kemungkinan untuk membantu ketua yang kini terancam bahaya itu.

Ia tahu bahwa biarpun Ang-tung Kai-pang merupakan sebuah perkumpulan pengemis, akan tetapi ketuanya merupakan seorang gagah yang pantang melanggar aturan mereka sendiri.

"Pangcu,"

Tiba-tiba terdengar suara Yauw Tek memecahkan kesunyian setelah ketua itu bicara.

"Menurut ucapan Pangcu kepada Hong-moi tadi, berarti bahwa yang dapat membantu Pangcu menghadapi musuh yang menantang hanyalah orang yang menjadi anggauta perkumpulan Ang-tung Kai-pang dan juga yang menggunakan tongkat merah sebagai senjata?"

Ketua itu mengangguk-angguk.

"Demikianlah keadaannya, Yauw-sicu. Aku tentu tidak bisa mempertaruhkan nama dan kehormatan perkumpulan kami hanya untuk mencari kemenangan pribadi. Seperti kukatakan tadi, kalau ada seorang saja suteku di sini, kami berdua pasti akan mampu menandingi Hek Pek Mo-ko. Akan tetapi para suteku berada di tempat-tempat yang cukup jauh dan untuk memanggil mereka membutuhkan waktu sedikitnya seminggu. Padahal tantangan pi-bu itu harus disambut besok lusa."

"Pangcu, biarlah aku Pangcu terima sebagai murid sehingga dengan sendirinya aku menjadi anggauta Ang-tung Kai-pang. Aku akan menemani Pangcu menghadapi Hek Pek Mo-ko dan menggunakan sebatang tongkat merah sebagai senjata. Dengan demikian, Pangcu tidak akan kehilangan muka dan nama Ang-tung Kai-pang tidak akan tercemar."

Ketua itu termenung, menghela napas dan menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.

"Agaknya usulmu itu sukar dilaksanakan, Sicu."

"Hei, Pangcu!"

Teriak Li Hong.

"Yauw-twako memberi jalan yang baik dan engkau masih saja berkeras menolak! Sebetulnya, apa sih maumu menolak semua bantuan yang kami tawarkan? Sekarang begini saja, Yauw-twako dan Enci Ceng, kita tidak perlu membantu Ang-tung Kai Pangcu! Kita bertiga langsung datang ke tempat Hek Pek Mo-ko dan membasmi mereka sehingga mereka tidak dapat menantang Ang-tung Kai-pang lagi!"

"Aih, Hong-moi, mengapa engkau menjadi tidak sabaran seperti itu?"

Ceng Ceng menegur sambil tersenyum.

"Ingat, kedatangan kita ke Thai-san adalah untuk mencari pencuri dan menemukan kembali harta karun, bukan untuk mencari permusuhan yang hanya akan menghalangi dan menggagalkan usaha kita."

Li Hong cemberut.

"Habis, Pangcu ini bisanya hanya menolak saja, bikin hatiku menjadi gemas!"

"Pangcu, harap jelaskan, mengapa usulku tadi sukar dilaksanakan?"

Tanya Yauw Tek.

"Begini, Sicu. Pertama, untuk menjadi anggauta Ang-tung Kai-pang, engkau harus memakai pakaian tambal-tambalan, ciri khas pakaian pengemis anggauta Ang-tung Kai-pang adapun yang kedua, sebagai anggauta Ang-tung Kai-pang, engkau harus menggunakan sebatang tongkat merah untuk melawan musuh. Bagaimana mungkin kedua syarat itu dapat terpenuhi?"

Setelah berpikir sejenak Yauw Tek menjawab.

"Pangcu, aku pernah mempelajari ilmu silat menggunakan delapanbelas macam senjata termasuk senjata tongkat sehingga untuk menggunakan senjata itu bukan masalah bagiku. Akan tetapi untuk terus mengenakan pakaian tambal-tambalan......"

Pemuda itu tidak melanjutkan karena takut menyinggung perasaan Kui-tung Sin-kai.

Semua kini terdiam mendengar ucapan ketua itu tadi.

Mereka menjadi bingung karena alasan ketua itu membuat mereka kehabisan akal.

Untuk membiarkan ketua itu seorang diri menghadapi kedua Hek Pek Mo-ko, hati mereka tidak rela.

Hal itu akan membahayakan keselamatan ketua itu, padahal Ang-tung Kai-pang merupakan perkumpulan yang kiranya akan dapat membantu usaha mereka mendapatkan kembali harta karun.

Perkumpulan ini juga menentang penjajah Mongol dan berjiwa patriot maka patut dibela.

"Aku ada akal!"

Tiba-tiba suara Li Hong mengejutkan semua orang dan mereka memandang kepada gadis lincah ini.

"Yauw-twako diterima menjadi anggauta Ang-tung Kai-pang dan mengenakan pakaian tambal-tambalan untuk melawan Hek Pek Mo-ko. Setelah pi-bu itu selesai, Yauw-twako boleh menyatakan dengan resmi keluar dari keanggautaan Ang-tung Kai-pang sehingga tentu saja dia boleh melepaskan pakaian tambal-tambalan. Nah, bagaimana akalku itu, Pangcu?"

Kui-tung Sin-kai mengangguk-angguk, namun alisnya masih berkerut.

"Bagus sekali akal itu dan memang akal itu telah menyelesaikan masalah pakaian pengemis. Akan tetapi bagaimana dengan ilmu tongkat Yauw-sicu? Harap diketahui bahwa Hek Pek Mo-ko itu kabarnya lihai bukan main. Senjata mereka, baik golok Hek Mo-ko maupun pedang Pek Mo-ko, merupakan senjata-senjata pusaka ampuh. Aku sungguh akan merasa berdosa sekali kalau sampai Yauw-sicu cedera atau tewas dalam membantu aku menghadapi mereka."

"Pangcu meragukan kemampuanku, hal itu memang wajar saja. Akan tetapi, masih ada kesempatan bagi Pangcu untuk memberi petunjuk kepadaku dalam ilmu tongkat,"

Kata Yauw Tek.

"Tepat sekali,"

Kata Ceng Ceng.

"Sebaiknya sekarang juga Pangcu menguji ilmu silat tongkat Yauw-twako, kalau ada kekurangannya, Pangcu dapat memberi petunjuk."

Ketua itu mengangguk-angguk dan tampak gembira.

Dia lalu mengajak tiga orang muda itu memasuki lian-bu-thia (ruangan latihan silat) yang luas.

Dia mengambil dua batang tongkat merah dan menyerahkan sebatang kepada Yauw Tek.

Mereka berdiri saling berhadapan di tengah ruangan itu.

Ceng Ceng dan Li Hong menonton dan duduk di bangku dekat dinding.

"Yauw-sicu, perlihatkan ilmu tongkatmu kepadaku!"

"Silakan, Pangcu!"

Kata Yauw Tek sambil melintangkan tongkatnya depan dada.

"Sambut seranganku, Sicu!"

Ketua itu mulai menyerang dan dia menyerang dengan sungguh-sungguh sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) sekuatnya.

Dia benar-benar ingin menguji ilmu tongkat pemuda itu agar yakin sampai di mana tingkat kepandaian pennuda itu.

Kalau sekiranya ilmu tongkat dari Yauw Tek tidak berapa tinggi tingkatnya, lebih baik dia menolak bantuannya.

Dia tidak ingin pemuda itu celaka karena membantunya.

"Syuuttt".. trak-trak-trak-trak-trak!"

Lima kali tongkat di tangan Kui-tung Sin-kai menyerang dengan pukulan dan tusukan dahsyat sekali, akan tetapi kelima serangan itu selalu dapat ditangkis dengan baik oleh Yauw Tek.

Bahkan ketua itu merasa betapa kedua tangannya yang memegang tongkat tergetar hebat!

Dia terkejut bukan main akan tetapi masih belum yakin dan melanjutkan se-rangannya dengan jurus-jurus pilihan yang dahsyat sekali.

Akan tetapi, bukan saja semua serangannya dapat dihindarkan Yauw Tek dengan tangkisan kuat atau elakan yang cepat, bahkan kini pemuda itu mulai membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah hebatnya.

Gerakan pemuda itu amat ringannya, juga mengandung tenaga sin-kang yang membuat tangan ketua itu tergetar berulang kali!

Hati Kui-tung Sin-kai menjadi gembira sekali dan dia juga mengeluarkan seluruh jurus simpanannya.

Namun selalu Yauw Tek mampu mengimbanginya.

Sudah hampir seratus jurus lewat dan keduanya masih terus bertanding dengan serunya.

Kini, ketua itu mulai berkeringat, sedangkan Yauw Tek masih biasa saja dan jelaslah bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ketua itu akan kalah dan kehabisan tenaga dan napas!

Dia maklum akan hal ini dan merasa sudah puas menguji ilmu tongkat Yauw Tek.

"Cukup, Sicu!"

Katanya sambil terhuyung ke belakang ketika kedua tongkat itu bertemu kuat sekali.

Yauw Tek menghentikan gerakannya dan dengan tongkat tersembunyi di belakang lengan kanannya, dia memandang ketua itu dengan senyum dan tampak masih segar.

"Bagaimana, Pangcu? Apakah aku memenuhi syarat?"

Kui-tung Sin-kai terengah-engah, wajahnya berseri dan dia merangkap kedua tangan depan dada.

"Ah, maafkan keraguanku tadi, Sicu. Aku sungguh seperti Si Buta tak melihat tingginya langit! Kalau engkau mau membantuku dengan ilmu tongkatmu tadi, hatiku menjadi tenang karena harus kuakui bahwa ilmu tongkatmu membuat ilmuku tidak ada artinya sama sekali!"

"Ah, Pangcu terlalu memuji,"

Kata Yauw Tek dan tiba-tiba dia melontarkan tongkat merah itu ke atas.

Kui-tung Sin-kai, Ceng Ceng dan Li Hong memandang dengan heran, akan tetapi segera mata mereka terbelalak ketika melihat betapa tongkat merah itu kini berputar lalu melayang di udara seperti hidup dan meluncur ke arah rak senjata, kemudian dengan tepat memasuki lubang rak senjata sehingga tongkat itu kembali ke tempatnya semula!

Kalau hanya melempar biasa saja agar tongkat itu masuk kembali ke lubang masih terbilang wajar.

Akan tetapi apa yang diperlihatkan pemuda itu sungguh luar biasa.

Tongkat itu tadi berputar-putar di udara lalu melayang seolah mencari sasarannya!

Dua orang gadis yang baru sekarang menyaksikan kehebatan ilmu tongkat Yauw Tek ketika melawan ketua tadi, kini menjadi bengong dan kagum bukan main kepada sahabat baru mereka yang memang sudah mengagumkan hati dengan sikapnya yang sopan dan lembut.

"Wah, Yauw-twako! Ilmu aneh apakah yang kau perlihatkan dengan tongkatmu tadi? Tongkatmu seperti hidup dan dapat bergerak sendiri!"

Seru Li Hong sambil melompat bangkit berdiri. Yauw Tek tersenyum.

"Ah, sama sekali tidak aneh. Itu adalah semacam Hoat-lek (llmu Sihir) yang pernah kupelajari dari para pendera Lhama di Tibet,"

Katanya sederhana.

"Akan tetapi...... bagaimana benda mati dapat bergerak seperti hidup?"

"Benda itu digerakkan oleh kekuatan gelombang pikiran."

"Apa dapat dikendalikan untuk menyerang musuh, Sicu?"

"Tentu saja dapat, Pangcu."

"Aduh, hebat sekali! Aku ingin mempelajari ilmu itu, Engkau ajari aku, ya?"

Kata Li Hong yang merasa kagum bukan main kepada pemuda yang selain tampan, lembut dan sopan, ternyata juga berkepandaian tinggi.

Diam-diam ia teringat kepada kakak misannya, Pouw Cun Giok yang pernah dicintanya sebelum ia tahu bahwa pemuda itu kakak misannya.

Dan ia membandingkan keduanya.

Agaknya Yauw Tek ini tidak kalah hebat, baik ketampanannya, sikapnya maupun kepandaiannya.

Dan Li Hong kini benar-benar telah jatuh cinta kepada pemuda yang dikaguminya itu!

"Hong-moi, mempelajari ilmu yang tinggi bukan semudah membalikkan telapak tangan,"

Kata Ceng Ceng.

"Membutuhkan bakat, waktu, dan ketekunan. Yauw-twako mana bisa menggunakan banyak waktu untuk mengajarkan Hoat-lek kepadamu?"

Yauw Tek tersenyum.

"Benar seperti yang dikatakan Ceng-moi tadi, Hong-moi. Mempelajari itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan bertingkat. Pertama harus mampu menguasai diri sendiri, lalu menguasai orang lain, kemudian menguasai semua mahluk, baru dapat menguasai benda mati."

Kui-tung Sin-kai dengan gembira lalu menyuruh anak buahnya menyiapkan dua buah kamar untuk tiga orang tamunya yang kini dia hormati.

Tahulah dia bahwa bukan Yauw Tek saja yang lihai, juga dua orang gadis itu bukanlah ahli silat sembarangan.

Dia juga mengadakan perjamuan untuk menghormati mereka dan sebelum saat pibu tiba, yaitu besok lusa, tiga orang tamu itu diberi kebebasan sepenuhnya tinggal di perkampungan Ang-tung Kai-pang.

Malam itu bulan bersinar terang, hampir bundar sempurna.

Langit cerah jernih tanpa ada awan menghalang sehingga permukaan Bukit Cemara itu tampak gemilang bermandikan cahaya bulan yang lembut.

Udara sejuk dengan hembusan angin semilir lembut.

Sejak bulan muncul tadi, anak-anak diperkampungan Ang-tung Kai-pang bermain-main di luar rumah, bernyanyi-nyanyi dan menari dengan gembira.

Seluruh keluarga para anggauta Ang-tung Kai-pang bergembira bukan hanya karena malam itu cerah dan indah, akan tetapi juga mereka merasa gembira dan lega karena ketua mereka kini dibantu oleh tiga orang pendekar muda yang lihai sehingga tidak perlu khawatir dengan tantangan pi-bu dari Hek Pek Mo-ko.

Setelah malam agak larut, anak-anak disuruh masuk rumah oleh orang tua mereka.

Di dalam taman bunga di belakang gedung rumah induk tempat tinggal ketua Ang-tung Kai-pang, tampak Ceng Ceng duduk seorang diri.

Taman itu indah sekali menerima sinar bulan, ditambah udara yang segar dan penuh keharuman bunga, membuat Ceng Ceng seperti dalam keadaan samadhi atau melamun.

Ketika kenangan muncul dalam hatinya, teringat akan keadaan dirinya yang telah kehilangan orang tua, kehilangan guru, hidup sebatang kara dan kini bahkan pesan ayahnya tak dapat ia laksanakan dengan baik, perasaan sedih menyelimuti hatinya.

Kemudian muncul bayangan Pouw Cun Giok, pemuda yang dicintanya dan yang mencintanya.

Pemuda itu ternyata telah bertunangan dengan gadis lain.

Ini berarti ia telah kehilangan segala-galanya, kehilangan orang-orang yang dicintanya.

Hatinya semakin tertekan rasa duka.

Akan tetapi kesadarannya mengingatkan bahwa membiarkan pikirannya sendiri memperdalam rasa iba diri, hal itu hanya akan melemahkan hatinya dan dapat berakibat mengganggu kesehatan tubuhnya.

Maka, ia menghela napas panjang berulang kali, mengumpulkan hawa udara segar dan perlahan-lahan semua kesenduan hatinya dapat dikurangi.

"Ceng-moi,"

Suara Yauw Tek lembut sekali memanggil di belakangnya.

Ceng Ceng bangkit berdiri dari bangku dan memutar tubuhnya.

Mereka berdiri berhadapan.

Ceng Ceng melihat betapa sinar mata pemuda itu tampak aneh, tidak seperti biasanya.

Sepasang mata itu bersinar tajam mencorong dan bibir itu tersenyum.

Wajah Yauw Tek tampak tampan bukan main.

Ada suatu dorongan kuat sekali yang membuat hati Ceng Ceng tertarik dan seolah terpesona oleh ketampanan wajah pemuda itu.

Namun, ia kembali mengambil napas panjang dan dapat membebaskan diri dari pengaruh daya tarik ini, walaupun jantungnya masih berdebar aneh.

Ia tahu bahwa perasaan tertarik ini terdorong nafsu berahi yang tidak wajar, maka ia segera melangkah mundur.

"Ah, kiranya engkau, Yauw-twako,"

Katanya lembut.

"Sialakan duduk, Twako."

Yeuw Tek tersenyum dan kini pandang matanya biasa lembut lagi, tidak mencorong mempesonakan seperti tadi.

"Terima kasih, Ceng-moi. Aku tidak tahu bahwa engkau berada di sini dan maaf kalau aku mengganggu ketenanganmu."

"Ah, sama sekali tidak, Twako. Aku sedang menikmati malam yang begini indah. Bulan bersinar terang, udara sejuk menyegarkan dan keharuman bunga sungguh membuat hati menjadi nyaman,"

Kata Ceng Ceng bersungguh-sungguh sambil menyedot napas panjang.

Yauw Tek memandang ke sekeliling, lalu menengadah memandang bulan dan dia pun menyedot udara yang segar itu sehingga dada dan perutnya penuh hawa segar.

"Benar sekali, Ceng-moi. Malam ini sungguh teramat indah. Sesungguhnyalah kalau aku mengatakan bahwa selama hidupku yang duapuluh dua tahun ini, baru saat ini aku menyaksikan saat yang begini indah dan membahagiakan hatiku. Ceng-moi dapatkah engkau menerangkan kepadaku mengapa aku saat ini memiliki perasaan yang begini berbahagia dan segala sesuatu tampak indah sekali?"

"Twako, sesungguhnyalah kebahagiaan tidak pernah meninggalkan kita. Kalau kita dapat menerima segala sesuatu seperti apa adanya tanpa menolak tanpa mengharapkan, maka bahagia juga akan selalu ada bersama dengan kita. Hanya kalau nafsu perasaan menguasai hati akal pikiran, maka segala sesuatu tidak akan terasa bahagia lagi karena muncul segala macam keinginan akan kesenangan yang tak kunjung habis ingin kita raih. Yauw-twako, engkau berbahagia saat ini karena engkau menikmati apa adanya dan tidak menginginkan apa pun yang tidak ada padamu. Bukankah demikian, Yauw-twako?"

Yauw Tek mengangguk-angguk dan memandang kagum.

"Pendapatmu itu memang benar sekali, Ceng-moi. Sungguh aku merasa heran dan kagum bagaimana seorang gadis muda seperti engkau ini memiliki pendapat tentang kebahagiaan yang sama dengan pendapat para pendeta Lhama di Tibet dan pendapat para pertapa di Himalaya. Akan tetapi kebahagiaan dan keindahan yang kurasakan saat ini bukan hanya disebabkan oleh penerimaan keadaan tanpa diganggu hati akal pikiran, Ceng-moi. Aku yakin betul bahwa kebahagiaan ini muncul dalam hatiku hanya oleh adanya suatu sebab."

"Eh? Apakah yang menjadi sebabnya, Twako?"

Ceng Ceng mengangkat muka menatap wajah pemuda itu.

Yauw Tek juga sedang menatapnya dan dua pasang mata bertemu dan bertaut.

Kembali Ceng Ceng merasa getaran yang amat kuat menyentuh perasaannya dan jantungnya berdebar.

"Yang menyebabkan semua keindahan dan kebahagiaan ini adalah engkau, Ceng-moi, dirimu......"

Kedua tangan Yauw Tek menyentuh kedua pundak gadis itu dan dia hendak menarik dan mendekapnya.

Akan tetapi, sentuhan tangan itu bahkan seolah menyentak, membuat gadis itu terkejut dan lenyaplah getaran aneh yang amat menarik hatinya tadi.

Dengan lembut namun cepat dan kuat, ia membebaskan kedua pundak dari pegangan tangan pemuda itu dan cepat melangkah ke belakang.

"Tidak, Twako! Jangan sentuh aku. Sayang kalau seorang pemuda seperti Twako terseret oleh gelombang nafsu!"

Setelah berkata demikian, Ceng Ceng membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan taman menuju rumah induk di mana ia bermalam.

Yauw Tek masih berdiri dan pemuda itu menundukkan kepalanya, tak bergerak seperti sebuah patung.

Agaknya sikap Ceng Ceng tadi membuat dia terkejut, heran, dan kecewa.

Tak disangkanya sama sekali gadis itu akan menolak pendekatannya.

Padahal setiap harinya, sikap Ceng Ceng demikian ramah dan akrab.

Sejak pertemuan pertama dia memang sudah kagum sekali kepada Ceng Ceng.

Tiba-tiba terdengar gerakan kaki orang di belakangnya.

Yauw Tek menyadari keadaannya dan bersikap biasa kembali.

"Yauw-twako......!"

Yauw Tek cepat membalikkan badannya dan Li Hong sudah berdiri di depannya. Sepasang mata gadis itu bersinar dan alisnya yang hitam melengkung itu berkerut.

"Eh, engkau, Hong-moi? Engkau juga tertarik oleh malam yang indah ini? Duduklah, Hong-moi,"

Kata Yauw Tek dengan sikap ramah dan lembut seperti biasanya. Akan tetapi gadis itu tidak duduk dan matanya menatap wajah Yauw Tek dengan penuh selidik.

"Twako, apa yang terjadi antara engkau dan Enci Ceng tadi?"

Ditanya dengan nada marah itu, Yauw Tek tersenyum lebar.

"Aih, Hong-moi apa maksudmu dengan pertanyaan ini?"

"Tidak perlu menyangkal, Twako. Ketika aku memasuki taman ini tadi, aku melihat Enci Ceng berada di sini denganmu, lalu ia pergi. Apa yang kalian lakukan, berduaan di sini?"

"Hong-moi, mengapa engkau bersikap seperti ini dan seperti menyangka yang bukan-bukan? Kami hanya bicara biasa, tidak terjadi sesuatu yang tidak semestinya. Akan tetapi, kalau engkau masih penasaran, engkau tanyalah saja kepada Ceng-moi sendiri. Mengapa engkau tampak seperti orang marah, Hong-moi?"

Kata Yauw Tek yang sudah tahu akan watak Ceng Ceng sehingga dia yakin bahwa Ceng Ceng pasti tidak akan bicara tentang peristiwa dengannya tadi.

"Betulkah tidak terjadi sesuatu antara kalian, Twako? Aku hanya khawatir. Aku harap engkau tidak mengganggu Enci Ceng. Ketahuilah bahwa selain ia Enciku yang tersayang, juga Enci Ceng telah mencinta seorang pemuda lain, yaitu Kakak Misanku sendiri!"

Yauw Tek mengembangkan kedua lengannya dan tertawa.

"Ha-ha, engkau ini lucu dan aneh. Hong-moi. Aku tidak berbuat apa-apa terhadap Ceng-moi dan syukurlah kalau ia sudah memiliki pilihan hati. Aku memang sayang ia sebagai seorang sahabat, Hong-moi, lain tidak!"

"Dan engkau tidak sayang padaku?"

Li Hong bertanya penuh iri.

"Sayang padamu? Aih, Hong-moi, apakah selama ini engkau belum merasakan atau menyadari betapa besar rasa sayangku kepadamu?"

Yauw Tek memandang wajah Li Hong dengan tajam dan mesra.

Memang sejak pertemuan pertama dengan dua orang gadis itu, hati Yauw Tek sudah terpikat oleh keduanya.

Baik Ceng Ceng maupun Li Hong amat cantik jelita dan mempesonakan hatinya, keduanya memiliki daya tarik yang luar biasa dan amat kuat walaupun sifat mereka itu berbeda seperti bumi dan langit.

Ceng Ceng bagaikan air telaga yang tenang dan dalam sehingga berdekatan dengan Ceng Ceng membuat dia merasa tenteram, aman, dan damai yang menyejukkan hati.

Sebaliknya, Li Hong bagaikan air samudera yang menggelora sehingga dekat dengan gadis itu membuat dia bersemangat dan gembira!

"Sayangmu padaku juga sebesar sayangmu kepada Enci Ceng?"

Tanya Li Hong, kini kemarahannya tadi sirna dan ia merasa senang sekali mendengar pernyataan Yauw Tek tadi.

Ia harus mengakui dalam hatinya bahwa terhadap Yauw Tek timbul perasaan seperti yang ia rasakan dahulu terhadap Pouw Cun Giok!

Ia jatuh cinta kepada Yauw Tek.

"Sama besarnya tapi tak sama, Hong-moi. Kalau aku sayang Ceng-moi dan ingin ia menjadi sahabatku yang terbaik, aku menyayangmu dan ingin agar engkau menjadi......"

Yauw Tek tidak melanjutkan ucapannya. Tentu saja Li Hong semakin penasaran dan tertarik. Saking tegang hatinya, ia memegang tangan Yauw Tek, mengguncang-guncang tangan itu dan mendesak.

"Menjadi apa, Twako? Hayo katakan, engkau ingin aku menjadi apa?"

"......menjadi ......menjadi ......teman hidupku selamanya......"

"Ahh""!"

Li Hong menjatuhkan diri duduk di atas bangku.

Rasanya lemas seluruh sendi tulangnya.

Jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya agak gemetar.

Berbagai perasaan mengaduk hatinya.

Ada rasa senang bahagia, ada terharu, ada pula perasaan lain yang ia tidak mengerti benar.

Ia hanya menundukkan mukanya karena baru pertama kali ini ia menerima pengakuan cinta seorang pemuda yang memang telah menjatuhkan hatinya!

Dengan hati-hati Yauw Tek duduk pula di atas bangku, namun tidak terlalu dekat dengan Li Hong, melainkan di ujung bangku.

"Maafkan aku, Hong-moi. Maafkan kalau ucapanku tadi menyinggung hatimu. Ah, aku terlalu lancang dan kurang ajar. Bagaimana mungkin seorang pemuda sebatang kara dan miskin seperti aku ini berani mencinta seorang gadis puteri majikan Pulau Ular seperti dirimu? Maafkan aku, atau kalau engkau tersinggung dan marah, pukullah aku, aku tidak akan melawan, Hong-moi......"

Suara pemuda itu bernada penuh sesal dan sedih.

Mendengar ucapan yang bernada sedih dari Yauw Tek, Li Hong mengangkat muka memandang.

Dua pasang sinar mata bertemu, bertaut, dan jantung Hong tergetar hebat.

Sinar mata pemuda itu demikian penuh kasih sayang, seolah membelal-belai hatinya.

"Yauw-twako, mengapa engkau berkata begitu? Tidak ada perlu dimaafkan, dan jangan engkau terlalu merendahkan diri. Aku hargai pernyataan hatimu tadi, bahkan aku merasa berbahagia sekali, Twako, aku senang sekali......"

Yauw Tek menjulurkan kedua tangannya dan memegang kedua tangan Li Hong.

Seolah ada getaran keluar dari duapuluh buah jari tangan itu dan terasa oleh keduanya.

Jari-jari tangan yang hanya saling pegang itu seolah saling cengkeram dengan penuh kemesraan.

"Aduh, terima kasih, Hong-moi! Aku menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini! Katakanlah, Hong-moi, engkau menerima cintaku dan engkau juga mencintaku?"

Li Hong menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.

"Aku...... aku terima cintamu, Twako, dan tentang perasaan hatiku...... entahlah, saat ini belum dapat aku memastikan. Akan tetapi aku bahagia, aku senang......!"

Mereka saling pandang dan bibir mereka merekah dalam senyum.

Yauw Tek tidak berani mendesak.

Juga dia menahan diri membatasi tindakannya yang mungkin akan membuat gadis yang lincah ini marah.

Kedua tangan mereka masih saling berpegangan dan ketika dengan lembut Yauw Tek menarik, Li Hong tidak menentang dan di lain saat gadis itu telah menyandarkan kepalanya di dada Yauw Tek, membiarkan pemuda itu merangkul dan memeluknya!

Mereka berdiam diri namun keduanya seolah tenggelam dalam kemesraan.

Hanya jantung mereka yang berdetak keras seolah hati mereka yang bicara.

"Twako, dapatkah aku percaya kata-katamu, bahwa engkau sungguh mencintaiku dan tidak akan membagi cinta dengan wanita lain?"

"Aku bersumpah demi Langit dan Bumi, disaksikan Bulan yang bersinar terang itu, Hong-moi, bahwa aku sungguh mencintaimu dan tidak akan membagi cintaku dengan wanita lain."

Yauw Tek memperkuat rangkulannya dan Li Hong menghela napas panjang.

"Aku bahagia sekali, Twako......"

"Engkau juga mencintaiku, bukan?"

"Belum saatnya aku mengatakan itu, tunggulah, Twako, sampai aku dapat mengambil keputusan."

Li Hong lalu melepaskan diri dari rangkulan pemuda itu.

"Mari kita kembali ke rumah induk, Twako, tidak baik kalau dilihat orang kita berdua berada di sini malam-malam begini."

"Engkau benar sekali, Hong-moi. Memang dapat menimbulkan dugaan yang bukan-bukan. Marilah kita kembali ke sana,"

Kata Yauw Tek dan mereka bergandeng tangan meninggalkan taman menuju ke rumah Ketua Kai-pang.

Li Hong semakin girang dan bangga.

Pemuda yang mencintanya itu benar-benar seorang pemuda yang sopan dan menghormatinya.

Belum pernah ia dicinta dan diperlakukan laki-laki seperti yang dilakukan Yauw Tek!

Ia sudah hampir yakin bahwa ia jatuh cinta kepada pemuda itu, hanya tinggal menanti waktu dan kesempatan saja untuk menyatakan perasaan hatinya secara terbuka.

Baru sekali ini Li Hong merasa betapa indahnya suasana.

Bahkan awan putih yang mulai menutupi bulan pun tidak mengurangi keindahan itu, Bayang-bayang pohon pun tampak indah serasi, menyenangkan dan hatinya penuh oleh rasa bahagia.

Keindahan bukan terletak pada bendanya, juga bukan pada alat panca-indera, melainkan dalam hati.

Kalau batin sudah ditumpulkan oleh bermacam gangguan, maka dia tidak akan mampu merasakan keindahan.

Wajah Li Hong masih berbinar-binar ketika ia memasuki kamar tidurnya.

Ceng Ceng yang duduk di atas bangku dalam kamar mereka itu, dan sedang membaca kitab seperti yang biasa ia lakukan sewaktu menganggur, mengangkat muka memandang dan ia melihat keceriaan wajah adik angkatnya.

"Adik Hong, kulihat wajahmu berseri-seri, matamu bersinar dan mulutmu tersenyum manis sekali. Agaknya engkau berbahagia benar, Adikku!"

"Benar, enci Ceng, hatiku sedang merasa bahagia. Terlalu bahagia sehingga jantung ini berdebar seperti hendak memecahkan dada!"

"Aih, apa yang terjadi, Adikku? Aku ikut girang mendengar engkau bahagia, akan tetapi juga ingin tahu sekali. Engkau datang dari manakah dan mengapa kembali ke kamar begini cerah dan gembira?"

"Aku tadi berjalan-jalan di dalam taman, Enci Ceng. Wah, indah sekali taman bunga di sini, apalagi bulan bersinar terang. Aku sungguh berbahagia sekali!"

"Hemm, Hong-moi, pasti terjadi sesuatu denganmu. Masa kalau hanya berjalan-jalan di taman saja membuat engkau demikian bahagia? Apakah yang terjadi denganmu?"

Li Hong tersenyum dan mengerling tajam.

"Ah, tidak terjadi apa-apa, Enci. Aku tadi bertemu Yauw-twako dan kami berbincang-bincang......"

"Hemm, apa saja yang kalian perbincangkan sehingga membuat engkau demikian gembira dan bahagia, Adikku?"

"Bermacam-macamlah! Eh, Enci Ceng, ketika aku memasuki taman tadi, aku melihat engkau meninggalkan Yauw-twako di taman! Kalian bercakap-cakap di dalam taman, bukan? Apa saja yang kalian bicarakan?"

Melihat betapa Li Hong memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik, Ceng Ceng tersenyum tenang.

"Mengapa engkau bertanya demikian, Adikku? Memang aku bertemu dengan Yauw-twako di sana, akan tetapi pertemuan itu hanya sebentar dan kami bercakap-cakap biasa saja."

Li Hong menyadari bahwa pertanyaannya memang agak berlebihan, sehingga terdengar seperti orang menaruh curiga. Maka cepat ia merangkul kakak angkatnya itu.

"Ah, aku tidak bermaksud apa-apa, Enci. Maafkan aku""! Eh, Enci Ceng yang baik, bagaimana sih rasanya orang jatuh cinta itu?"

"Ih, anak nakal! Mengapa engkau tanyakan hal itu? Bagaimana aku dapat menjawabnya?"

"Ah, Enci Ceng, aku bertanya kepadamu karena engkau pernah merasakannya. Bukankah engkau dan kakakku Pouw Cun Giok saling mencinta? Nah, yang kutanyakan, bagaimana sih rasanya jatuh cinta itu?"

Ceng Ceng menghela napas panjang.

"Adikku, kuharap engkau jangan menyinggung tentang Giok-ko. Engkau akan dapat merasakan sendiri kalau jatuh cinta. Akan tetapi, sebagai kakakmu, aku peringatkan engkau, Adikku. Berhati-hatilah jangan terlalu mudah jatuh cinta karena kalau engkau hanya terdorong gairah kemudian salah pilih, jatuh cinta itu mendatangkan duka. Hong-moi, melihat sikap dan mendengar kata-katamu, timbul dugaan di hatiku bahwa tentu ada apa-apa antara engkau dan Yauw-twako. Benarkah?"

"Enci Ceng sayang, aku percaya sepenuhnya kepadamu, maka aku mau bicara terus terang. Memang telah terjadi sesuatu yang teramat penting. Enci Ceng, dia...... Yauw-twako...... dia mengatakan bahwa dia...... dia mencintaiku!"

Sepasang pipi yang berkulit halus putih itu kemerahan, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum malu-malu, tampak cantik sekali.

Ceng Ceng tersenyum walaupun hatinya merasa tidak nyaman mendengar pengakuan adik angkatnya itu.

Baru saja Yauw Tek mencoba untuk merayunya dan di lain saat pemuda itu kini menyatakan cinta kepada Li Hong!

Biarpun sikap pemuda itu baik, sopan, ramah, juga gagah perkasa, akan tetapi mengapa dia seolah mengobral cinta?

"Adikku, lalu bagaimana tanggapanmu?

Apakah engkau juga mencintanya?"

"Dia juga menanyakan hal itu, Enci. Akan tetapi aku masih ragu, aku memang amat suka dan kagum kepada Yauw-twako, akan tetapi...... aku tidak yakin betul bagaimanakah rasanya kalau jatuh cinta. Maka tadi kutanyakan kepadamu."

Ceng Ceng merangkul Li Hong.

"Li Hong, Adikku, tidak ada salahnya bagi setiap orang untuk jatuh cinta. Bahkan hidup tanpa adanya cinta akan hampa. Sungguh merupakan kebahagiaan besar bagi seorang gadis apabila ada seorang pemuda yang mencintanya, yang benar-benar mencintanya dengan tulus, bukan sekedar cinta terdorong nafsu gairah berahi, dan pemuda itu juga ia cinta. Akan tetapi, setiap orang gadis haruslah berhati-hati untuk jatuh cinta, harus waspada agar tidak sampai hanyut oleh cinta palsu karena hal itu akhirnya akan menyakitkan sekali. Wanitalah yang paling menderita kalau sampai pasangan yang tadinya saling mencinta itu akhirnya gagal dan berpisah, bahkan saling membenci."

"Mengapa wanita yang paling menderita, Enci?"

"Memang, pria dan wanita itu sama saja, akan tetapi sudah menjadi kenyataan sejak sejarah berkembang bahwa dalam masalah hubungan antara pria dan wanita, si wanitalah yang berada di pihak lentah. Kalau sebuah perkawinan sampai gagal dan terjadi perceraian, si wanita akan dikecam dan dipandang kurang baik di mata masyarakat, sebutan janda merupakan sebutan yang diucapkan dengan nada mencibir dan dengan prasangka buruk, sedangkan si pria tidak terpengaruh nama atau kehormatannya. Tidak ada yang mencibir kalau seorang duda menikah lagi, akan tetapi kalau seorang janda yang menikah lagi, banyak orang, terutama kaum wanita, akan mencibir dan mengejek."

"Wah, ini tidak adil! Harus diberantas!"

Li Hong seperti terbakar, penasaran dan marah.

"Kalau ada laki-laki yang palsu cintanya dan menyia-nyiakan wanita yang tadinya saling mencinta dengannya, akan kupecahkan kepalanya!"

"Husshh, Hong-moi. Tahanlah kemarahanmu. Kalau sampai terlaksana kehendakmu itu, kukira dunia ini akan kehilangan prianya lebih dari setengah jumlahnya!"

Ucapan Ceng Ceng ini mengandung kebenaran karena pada jaman itu, derajat kaum wanita di Cina memang amat rendah.

Pada masa itu wanita mudah dikawini dan mudah pula diceraikan, bahkan dihargai seolah barang yang indah dan berharga.

Akan tetapi karena cinta kaum prianya pada masa itu seperti yang dikenal umum adalah cinta berahi, maka para pria itu mudah bosan terhadap wanita yang tadinya dicintanya dan yang dulu diperebutkannya dengan taruhan nyawa!

"Aih, Enci Ceng, pendapatmu tentang pria tadi amat menakutkan hatiku.

Apakah Yauw-twako termasuk pria seperti itu, yang tidak menghargai wanita, yang palsu cintanya dan mudah bosan sehingga mudah menyia-nyiakan pasangannya?

Rasanya aku tidak percaya, Enci!"

"Aku pun mengharap dengan sangat agar Yauw-twako bukan termasuk laki-laki yang palsu cintanya. Apalagi kalau dia menjadi laki-laki pilihan hatimu, laki-laki yang engkau cinta. Kalau sampai dia kelak menyia-nyiakanmu dan ternyata cintanya palsu, aku sendiri yang akan menghajarnya, Hong-moi. Akan tetapi kuharap sebelum terlanjur, engkau sebaiknya berhati-hati dan setelah yakin bahwa cintanya murni dan tulus, baru engkau dapat menerima cintanya."

Li Hong mengangguk-angguk.

"Tadi aku pun mengatakan bahwa aku belum dapat mengambil keputusan apakah aku mencintanya atau tidak, Enci Ceng. Kuharap saja cintanya murni. Aku tidak ingin kelak menderita sengsara karena cinta, seperti yang pernah diderita oleh guruku yang kini menjadi ibu tiriku itu selama belasan tahun."

"Akan tetapi akhirnya gurumu menemukan kebahagiaan karena sebetulnya cinta ayah kandungmu terhadapnya adalah murni. Sudahlah, Hong-moi, tidak baik membicarakan Yauw-twako. Yang penting engkau berhati-hati dan jangan hanya menuruti keinginan hati, melainkan pergunakan kewaspadaanmu sehingga engkau tidak akan salah pilih."

Li Hong mengerutkan alisnya ketika memandang wajah kakak angkatnya. Ia menemukan kesedihan tertahan yang tersembunyi di balik ucapan encinya itu.

"Enci Ceng, aku yakin bahwa engkau tidak salah pilih ketika engkau saling mencinta dengan kakak misanku Pauw Cun Giok. Dia telah bertunangan karena diikatkan perjodohan itu oleh mendiang gurunya. Kelak, kalau aku bertemu dengan dia, pasti aku akan menegurnya karena dia telah membuatmu menderita dan sedih."

Mendengar ini, Ceng Ceng tersenyum dan awan kesedihan tadi lenyap dari wajahnya yang jelita dan penuh kelembutan.

"Aih, mengapa engkau menyinggung hal itu, Hong-moi? Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Selalu ingatlah, Hong-moi bahwa hidup di dunia ini hanya ada dua hal yang teramat penting dan yang mempengaruhi seluruh jalan hidupmu. Kedua hal itu adalah menanam dan memetik buahnya. Segala perbuatan kita, termasuk pemikiran dan pengucapan, merupakan benih yang kita tanam. Karena benih itu akan menjadi pohon dan berbuah, maka seyogianya kita menanam benih yang terbaik, berarti kita melakukan perbuatan yang terbaik. Kemudian segala peristiwa yang menimpa diri kita, itu bukan lain adalah memetik buah dari benih kita tanam sendiri. Oleh karena itulah, Hong-moi, semua hal yang menimpa diriku, baik maupun buruk, adalah hasil petikan buah dari pohon yang kutanam sendiri, entah kapan aku menanamnya. Maka, aku tidak perlu bersedih, tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena sudah sepantasnyalah kalau aku memetik dan makan buah dari hasil tanamanku sendiri."

"Aduh, Enci Ceng, engkau seorang gadis yang luar biasa dan bijaksana sekali!"

"Tidak, Hong-moi. Aku pun tiada bedanya dengan engkau atau siapapun juga, lemah dan mudah terpengaruh. Yang penting kita harus selalu waspada setiap saat, terutama sekali, di samping waspada terhadap segala di luar diri, harus waspada terhadap diri sendiri. Waspada terhadap apa yang kupikirkan, apa yang kukatakan, dan apa yang kulakukan. Kewaspadaan yang terus menerus terhadap diri sendiri ini mendatangkan kebijaksanaan, Adikku, walaupun tidak mungkin manusia itu sempurna, namun setidaknya akan selalu ingat untuk menanam benih terbaik melalui pemikiran, ucapan, dan perbuatan."

Malam telah larut dan kedua orang gadis itu tidur untuk menjaga kesehatan dan kesiapan diri karena mereka maklum bahwa mereka masih menghadapi banyak tantangan dalam usaha mereka mencari harta karun yang dicuri orang.

Dua hari kemudian, pagi-pagi sekali mereka telah siap.

Pagi itu adalah saat yang ditentukan oleh tantangan Hek Pek Mo-ko terhadap ketua Ang-tung Kai-pang.

Kui-tung Sin-kai sudah berdiri di halaman depan rumahnya, dihadap para anggauta Kai-pang yang berjumlah sekitar seratus orang, tidak termasuk anak bini mereka.

Ketua itu mengenakan pakaian tambal-tambalan baru, memegang tongkat merahnya dan tampak gagah berwibawa.

Di sebeiahnya berdiri Yauw Tek, juga mengenakan pakaian tambal-tambalan dan memegang sebatang tongkat merah.

Ceng Ceng dan Li Hong yang berada di dekat merasa lucu melihat Yauw Tek, akan tetapi juga harus mereka akui bahwa dengan pakaian pengemis itu pun Yauw Tek tampak tampan dan gagah.

"Para anggauta Kai-pang!"

Seru ketua itu dengan lantang.

"Kami akan turun bukit memenuhi tantangan Hek Pek Mo-ko. Kami hanya mengajak limapuluh orang anak buah. Yang lain, sisanya harus melakukan penjagaan di perkampungan kita. Hari ini semua pekerjaan ditunda dan yang penting adalah menjaga keamanan kampung. Kepada mereka yang mengikuti kami turun bukit, sekali lagi kuperingatkan. Kalian ikut bukan untuk bertempur, melainkan hanya untuk menjaga agar kami yang melakukan pi-bu (adu silat) tidak sampai dikeroyok. Ingat, tanpa adanya perintah dariku, semua dilarang turun tangan menyerang!"

Setelah menyampaikan pesan dan perintahnya, rombongan itu turun bukit.

Kui-tung Sin-kai berjalan di depan, ditemani Yauw Tek, Ceng Ceng, dan Li Hong.

Di belakang mereka berjalan limapuluh orang anak buah yang semua berpakaian tambal-tambalan dan memegang tongkat merah.

Ketika mereka tiba di tempat dekat hutan di mana kemarin dulu anggauta Kai-pang berkelahi melawan anak buah Hek Pek Mo-ko, rombongan itu melihat rombongan lawan sudah berada di situ.

Di depan rombongan itu berdiri dua orang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh tahun yang bukan lain adalah Hek Pek Mo-ko.

(Lanjut ke

Jilid 08) Harta Karun Kerajaan Sung (Seri ke 02 -Pendekar Tanpa Bayangan) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 Hek Mo-ko bermuka hitam arang, pakaiannya juga hitam tubuhnya sedang dan sikapnya sombong.

Sebatang golok besar tergantung di punggungnya dan dia berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum mengejek.

Di sebelah kirinya berdiri Pek Mo-ko yang lebih muda beberapa tahun.

Pek Mo-ko juga bertubuh sedang, akan tetapi mukanya seputih kapur dan pakaiannya juga serba putih.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Sikapnya juga sombong seperti kakaknya.

Di belakang mereka berdiri dua gerombolan orang, ada yang berpakaian serba hitam dan ada yang serba putih.

Jumlah mereka sekitar limapuluh orang.

Seperti sudah disepakati sebelumnya, yang maju menghadapi dua orang majikan Bukit Batu itu adalah Kui-tung Sin-kai dan Yauw Tek yang juga berpakaian pengemis dan memegang tongkat merah.

Kini mereka berdua berdiri berhadapan dengan, Hek Pek Mo-ko.

Hek Mo-ko yang berwajah hitam sambil tersenyum mengejek berkata dengan nada tinggi hati.

"Heh-heh, engkau datang juga memenuhi tantangan kami, Kui-tung Sin-kai!"

Ketua Ang-tung Kai-pang masih bersikap tenang lalu berkata dengan lantang penuh wibawa.

"Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko, selama ini antara kalian dan kami tidak pernah terjadi permusuhan apa pun dan tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Akan tetapi mendadak ada anak buah kalian yang menghina anak buah kami dan memaki kami sebagai pencuri! Apa sebenarnya niat buruk kalian karena agaknya kalian mendukung anak buah kalian yang jahat itu?"

"Heh-heh-heh-heh!"

Pek Mo-ko tertawa dan menudingkan telunjuknya kepada Ketua Kai-pang.

"Bukan menuduh sembarangan, karena kami hampir yakin bahwa kalian yang mencuri harta karun Kerajaan Sung itu!"

"Hemm, tuduhan membabi buta! Apa dasar dan alasan maupun buktinya bahwa kami melakukan pencurian itu?"

"Ha-ha-ha, alasannya sudah jelas! Kalian ini hidup sebagai pengemis yang selalu kekurangan makan, tentu saja haus akan harta benda. Kalau yang mencuri itu tinggal di Thai-san ini, seperti pengakuan mereka, siapa lagi pelaku pencurian itu kecuali Ang-tung Kai-pang?"

Kata Hek Mo-ko.

"Heii! Babi muka hitam dan anjing muka putih! Aku tahu sekarang! Kalian sengaja menuduh Ang-tung Kai-pang untuk mengalihkan perhatian, padahal sebetulnya kalian dua binatang bermulut kotor inilah yang menjadi pencuri!"

Seru Li Hong.

Tentu saja Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko marah sekali.

Belum pernah selama hidup mereka dimaki dengan kata-kata demikian menghina, apalagi oleh seorang gadis muda seperti ini!

"Perempuan keparat!"

Hek Mo-ko mendorongkan tangan kanannya ke arah Li Hong yang memakinya.

Sinar hitam menyambar ke arah Li Hong, akan tetapi dengan beraninya Li Hong menyambutnya dengan Hek-tok-tong-sim-ciang yang juga mengeluarkan asap hitam.

"Derrrr......!"

Hek Mo-ko terkejut ketika merasa betapa hawa pukulannya membalik, sungguhpun Li Hong juga merasa betapa kuatnya pukulan manusia muka hitam itu. Ketua Kai-pang melangkah maju.

"Hek Pek jangan menyerang lain orang. Kita selesaikan urusan antara kita. Kami dari Ang-tung Kai-pang menyambut tantanganmu untuk mengadakan pi-bu di sini. Dengan cara apa kalian hendak mengadu kepandaian? Satu lawan satu? Aku yang akan maju! Kalian maju berdua? Aku akan maju bersama saudara mudaku ini! Ataukah kalian mau secara keroyokan mengerahkan orang-orangmu? Kami juga tidak akan mundur dan sudah siap!"

Hek Mo-ko memandang kepada Yauw Tek penuh perhatian. Dia merasa heran dan curiga melihat betapa teman Ketua Kai-pang itu seorang pemuda tampan dan tidak patut mengenakan pakaian pengemis.

"Kui-tung Sin-kai, siapakah pemuda ini? Benarkah dia anggauta Kai-pang? Orang muda, benarkah engkau anggauta Kai-pang dan siapa namamu?"

"Aku anggauta Kai-pang baru dan namaku Yauw Tek,"

Kata pemuda itu singkat.

Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko saling pandang.

Kedua orang ini sudah memperhitungkan dan maklum bahwa kalau mereka bertanding keroyokan, pihak mereka yang akan menderita rugi.

Tadi Hek Mo-ko mengalami sendiri betapa gadis muda cantik jelita itu mampu menahan pukulan sinar hitamnya.

Padahal dia terkenal dengan pukulan Hek-kong-ciang (Tangan Sinar Hitam) seperti juga Pek Mo-ko terkenal dengan pukulannya yang ampuh Pek-kong-ciang (Tangan Sinar Putih).

Nah, di pihak Ang-tung Kai-pang terdapat orang-orang muda yang lihai, semuanya ada tiga orang, berarti di pihak musuh ada empat orang yang tinggi tingkat kepandaiannya.

Sedangkan di pihak mereka hanya ada mereka berdua.

Juga mereka melihat betapa Ang-tung Kai-pang mengerahkan anggautanya yang jumlahnya sekitar limapuluh orang, sebanding dengan anak buah mereka sendiri.

Hek Pek Mo-ko, keduanya adalah laki-laki yang mata keranjang.

Mereka masing-masing telah memiliki lima orang isteri, akan tetapi setiap kali melihat wanita muda yang jelita, mata mereka masih berminyak.

Kini, melihat Ceng Ceng dan Li Hong yang memiliki kecantikan luar biasa, jauh melebihi kecantikan wanita yang pernah mereka miliki, tentu saja mereka berdua tertarik sekali.

Apalagi melihat seorang di antara dua gadis itu memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Alangkah senangnya kalau mereka berdua mendapatkan dua orang gadis jelita dan sakti itu sebagai isteri dan pembantu mereka!

"Kui-tung Sin-kai, kami bukan pengecut yang suka mengandalkan keroyokan.

Kami menantangmu untuk bertanding satu lawan satu, atau dua lawan dua.

Kami berdua yang akan maju.

Nah, dari pihakmu siapa yang akan menandingi kami?"

"Aku sendiri dan rekanku Yauw Tek ini yang akan menandingi kalian berdua,"

Kata Kui-tung Sin-kai menjawab.

"Heh-heh-heh, bagus sekali!"

Pek Mo-ko tertawa dengan sikap memandang rendah.

"Akan tetapi, sebuah pertandingan harus ada taruhannya! Kui-tung Sin-kai apa yang hendak kaupertaruhkan dalam pi-bu (adu silat) ini?"

Ketua Kai-pang itu mengerutkan alisnya dan memandang marah.

"Hek Pek Mo-ko, pihakmu yang pertama menghina kami, kemudian kalian pula yang menantang pi-bu! Kalau kalian kalah, kalian harus menarik kembali tuduhan kalian bahwa kami mencuri harta karun dan minta maaf kepada kami!"

"Ha-ha, baik, kami terima taruhanmu itu. Akan tetapi sebaliknya kalau kalian kalah dan kami yang menang, engkau harus menyerahkan dua orang nona manis itu kepada kami, untuk kami jadikan isteri kami!"

Kata Pek Mo-ko sambil memandang kepada Li Hong dan Ceng Ceng dengan mata penuh gairah.

Li Hong merasa dadanya seperti dibakar dan hendak meledak mendengar ucapan Pek Mo-ko itu.

Tak mungkin ia mendiamkan saja hinaan itu.

"Anjing belang putih busuk!"

Ia berteriak dan sudah melompat dengan cepat, menyerang Pek Mo-ko bagaikan seekor singa yang menerkam lawan!

Begitu menyerang, ia telah mempergunakan Hek-tok-tong-sim-ciang yang ampuh.

Telapak tangannya berubah menghitam dan begitu angin pukulannya menyambar, Pek Mo-ko sudah merasakan sambaran angin pukulan yang dahsyat itu.

Dia terkejut dan cepat dia miringkan tubuh dan menangkis dengan ilmu andalannya, yaitu Pek-tok-ciang!

"Wuuutt......

derrr......!!"

Tubuh Pek Mo-ko terdorong ke belakang dan Li Hong juga merasa betapa lengannya tergetar.

Namun ia tidak gentar dan menyerang terus.

Pek Mo-ko cepat mencabut pedangnya dan balas menyerang!

"Anjing, mampuslah!"

Li Hong membentak dan tampak sinar hitam menyambar.

ketika ia mencabut Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun) lalu pedangnya berkelebat menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi mencicit mengerikan!

Pek Mo-ko makin terkejut, akan tetapi dia pun bukan seorang lemah, melainkan seorang ahli pedang yang lihai, maka dia pun melawan mati-matian sehingga terjadilah perkelahian dengan pedang yang amat seru.

Melihat betapa lihainya Li Hong, Hek Mo-ko mengkhawatirkan adiknya.

Mereka berdua memang memiliki keistimewaan, yaitu ketangguhan mereka menjadi berlipat ganda kalau mereka maju bersama.

Mereka telah membentuk ilmu pedang dan golok yang disatukan saling bantu dalam penyerangan dan saling melindungi dalam pertahanan.

Maka Hek Mo-ko lalu melompat dan maju mengeroyok Li Hong!

"Hemm, kalian berdua manusia curang!"

Terdengar seruan lembut dan bayangan putih berkelebat cepat sekali ketika Pek-eng Sianli Liu Ceng Ceng sudah melompat dan terjun ke arena pertempuran untuk membantu adik angkatnya yang dikeroyok.

Ceng Ceng yang menggunakan senjata ranting, namun karena gerakannya yang luar biasa cepat dan ringannya, dan tenaga sin-kang tinggi yang membuat ranting itu menjadi senjata yang kuat dan berbahaya, maka begitu diterjang oleh gadis ini, Hek Mo-ko terpaksa melindungi dirinya dari ancaman bayangan putih yang seolah mengepung dan mengitari dirinya itu!

Kui-tung Sin-kai dan Yauw Tek hanya saling pandang dan Yauw Tek menggerakkan kedua pundaknya tanda bahwa dia tidak berdaya.

Memang tidak mungkin mencegah Li Hong bertindak.

Tidak mungkin mencoba untuk menghentikan Li Hong yang mengamuk itu.

Dan Ceng Ceng hanya membantu Li Hong melihat adiknya dikeroyok.

Tentu saja kedua orang gagah ini tidak mau maju mengeroyok walaupun pi-bu itu kini salah alamat.

Yang ditantang adalah Ketua Kai-pang, akan tetapi kini yang maju adalah dua orang gadis luar yang sama sekali bukan anggauta Ang-tung Kai-pang!

Akan tetapi melihat Yauw Tek agaknya tidak dapat menghentikan amukan Li Hong yang kini dibantu Ceng Ceng, Kui-tung Sin-kai juga tidak berani turun tangan dan terpaksa dia hanya menjadi penonton.

Ketua Kai-pang ini pun terkejut dan kagum bukan main.

Dia sudah tahu akan kelihaian Yauw Tek, akan tetapi melihat sepak terjang dua orang gadis cantik itu ketika melawan Hek Pek Mo-ko, dia benar-benar kagum.

Sama sekali tidak pernah diduganya bahwa dua orang gadis itu memiliki ilmu silat yang demikian hebatnya sehingga mereka bedua mampu menandingi Hek Pek Mo-ko!

Sementara itu, Yauw Tek juga tidak dapat berbuat sesuatu.

Dia tidak berani menghentikan atau mencegah dua orang gadis itu, terutama Li Hong, untuk berhenti mengamuk.

Dan dipikir memang dua orang macam Hek Pek Mo-ko itu pantas untuk diberi hajaran keras!

Anak buah kedua pihak juga tercengang melihat perubahan keadaan ini.

Mereka tidak jadi melihat kedua pimpinan mereka melakukan pi-bu, melainkan dua orang gadis jelita yang amat lihai bertanding mati-matian melawan Hek Pek Mo-ko!

Ketika Kui-tung Sin-kai memandang kepada Yauw Tek dengan sinar mata mengandung pertanyaan dan minta pendapat, Yauw Tek menggelengkan kepala.

"Biarkan saja, Pangcu. Tidak mungkin menghentikan Hong-moi, dan aku kira mereka tidak akan kalah. Aku sudah siap melindungi mereka kalau terancam bahaya."

Legalah hati Kui-tung Sin-kai mendengar ini.

Tentu saja hatinya merasa khawatir dan tidak enak sekali kalau sampai dua orang gadis itu menderita luka atau tewas karena membela perkumpulannya.

Perkelahian itu memang seru dan hebat sekali.

Mula-mula mereka memang bertanding secara terpisah.

Pek Mo-ko melawan Li Hong, dan Hek Mo-ko melawan Ceng Ceng.

Akan tetapi dalam pertandingan satu lawan satu ini, Pek Mo-ko kalah ganas dibandingkan Li Hong, sedangkan Hek Mo-ko kalah cepat dari lawannya, Ceng Ceng.

Maka, melihat pihaknya terdesak, Hek Mo-ko memberi isyarat dan mereka berdua kini bekerja sama, menggabungkan ilmu silat pedang dan golok mereka.

Begitu mereka bergabung, memang dua orang gadis itu terkejut dan agak kewalahan.

Lawan yang bergabung itu menjadi kuat bukan main, juga mereka menggunakan penggabungan tenaga Hek-tok-ciang dan Pek-tok-ciang, menambah serangan senjata mereka dengan dorongan pukulan tangan kiri mereka yang berubah hitam dan putih.

Namun, Li Hong menyambut dengan dorongan tangan kiri dengan ilmu andalannya, yaitu Hek-tok-tong-sim-ciang, sedangkan Ceng Ceng mengandalkan kelebihannya dalam gin-kang (ilmu meringankan tubuh) sehingga tubuhnya berubah menjadi bayangan putih yang berkelebatan dan sulit untuk dapat dijadikan sasaran.

Melihat betapa Hek Pek Mo-ko menjadi kuat sekali setelah menjadi pasangan yang tergabung, Yauw Tek mengerutkan alisnya.

Berbahaya juga bagi dua orang gadis itu kalau keadaannya terus begini, pikirnya.

Dia diam sejenak memperhatikan jalannya pertandingan lalu dia berseru kepada dua orang gadis itu.

"Ceng-moi, engkau bagian pertahanan dan Hong-moi di bagian penyerangan!"

Dua orang gadis itu dapat menangkap apa yang dimaksudkan Yauw Tek dengan seruan itu.

Yauw Tek memang sudah memperhitungkan ketika dia mengamati perkelahian itu.

Li Hong amat ganas dengan penyerangannya, membahayakan lawan.

Sedangkan Ceng Ceng yang memiliki gerakan luar biasa cepatnya itu, lebih kuat dalam pertahanan.

Hal ini mungkin karena watak lembut dan hati penuh kedamaian itu membuat Ceng Ceng tidak terlalu kejam dan bahkan tidak tega untuk membunuh lawan sehingga penyerangannya kurang ganas, tidak seperti Li Hong yang mengamuk seperti seekor naga marah!

Dua orang gadis perkasa itu percaya sepenuhnya kepada Yauw Tek.

Maka, mendengar seruan pemuda itu, mereka lalu mengubah cara tata kelahi mereka.

Li Hong mengamuk dan membagi-bagi serangannya kepada dua orang lawan itu, sedangkan Ceng Ceng dengan gerakannya yang cepat membentuk pertahanan dan rantingnya membentuk perisai yang kuat dan yang dapat menahan atau menangkis semua serangan golok dan pedang Hek Pek Mo-ko!

Perkelahian itu semakin seru dan menegangkan.

Akan tetapi juga indah ditonton.

Menakjubkan sekali melihat bayangan putih Ceng Ceng berkelebatan seolah menjadi banyak, berkelebatan di antara bayangan hitam dan putih dari Hek Pek Mo-ko, ditambah sinar pedang Ban-tok-kiam di tangan Li Hong, sinar putih pedang dan golok di tangan Hek Pek Mo-ko, dan sinar kuning dari ranting yang digerakkan Ceng Ceng!

Para anak buah kedua pihak menonton dengan penuh rasa kagum, tegang dan juga terkejut karena semula tidak ada yang mengira bahwa dua orang gadis cantik itu memiliki kepandaian setinggi itu.

Yang paling terkejut dan juga cemas adalah Hek Pek Mo-ko.

Tadi ketika mereka bergabung, mereka hampir yakin akan mampu mengalahkan dua orang gadis itu.

Akan tetapi sekarang ternyata pertahanan yang dilakukan gadis baju putih yang memiliki gerakan amat ringan dan cepat itu kokoh sekali, juga serangan-serangan gadis yang memiliki pedang hitam mengerikan itu amat berbahaya dan ganas.

Kini mereka menyadari bahwa kalau dilanjutkan, mereka akan kalah dan mendapat malu.

Maka, untuk mencari jalan agar dapat keluar dari desakan Li Hong, Hek Mo-ko berseru memberi isyarat kepada anak buahnya.

Mendengar isyarat ini, sekitar limapuluh orang anak buah Hek Pek Mo-ko bersorak dan mereka maju dengan senjata di tangan, hendak mengeroyok dua orang gadis itu.

Tentu saja Kui-tung Sin-kai segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyambut mereka.

Dia sendiri juga mengamuk dengan tongkat merahnya.

Anak buah Hek Pek Mo-ko itu pun maju dua-dua seperti pimpinan mereka.

Seorang anggauta berpakaian hitam ditemani seorang anggauta berpakaian putih dan senjata mereka yang berlainan, yang hitam bersenjata golok, yang putih pedang, dan mereka bergerak saling bantu dengan kompak sekali!

Terjadilah pertempuran yang seru di antara anak buah kedua pihak.

Yauw Tek sendiri hanya menonton karena dia merasa kurang adil kalau dia melawan para anak buah Hek Pek Mo-ko yang tentu saja tidak akan mampu menandinginya.

Hek Pek Mo-ko yang sudah memperhitungkan keadaan, ketika beberapa orang anak buah mereka datang membantu, mereka menggunakan kesempatan selagi terjadi kekacauan itu, mereka melompat jauh ke belakang dan melarikan diri!

"Anjing-anjing busuk, kalian hendak lari ke mana?"

Li Hong melompat dan melakukan pengejaran memasuki hutan.

"Hong-moi......!"

Ceng Ceng hendak mengejar, akan tetapi Yauw Tek sudah berada di dekatnya.

"Ceng-moi, biarkan aku yang mengejar Hong-moi."

Pemuda itu memandang ke sekeliling di mana terjadi pertempuran itu.

"Engkau di sini saja membantu Ketua Kai-pang."

Sebelum Ceng Ceng menjawab Yauw Tek sudah melompat dan mengejar ke arah larinya Li Hong yang mengejar dua orang lawannya itu.

Pertempuran itu masih berlangsung seru.

Ketika para anak buah Hek Pek Mo-ko melihat dua orang pemimpin mereka melarikan diri, hati mereka merasa gentar.

Sudah ada belasan orang rekan mereka yang roboh.

Maka setelah tidak ada lagi yang memimpin, mereka lalu melarikan diri sambil membawa teman-teman yang terluka dan meninggalkan lima orang rekan yang sudah tewas.

Kui-tung Sin-kai melarang anak buahnya untuk melakukan pengejaran terhadap lawan yang melarikan diri.

Ceng Ceng sibuk memeriksa dan mengobati sembilan orang anak buah Kai-pang yang terluka.

Tidak ada yang tewas di antara mereka.

Sebelum kembali ke perkampungan mereka, Kui-tung Sin-kai memerintahkan anak buahnya untuk mengubur mayat lima orang anggauta Hek Pek Mo-ko.

Melihat ini, Ceng Ceng semakin suka kepada Ketua Kai-pang itu.

Sebaliknya, Kui-tung Sin-kai kagum bukan main melihat betapa cekatan dan pandainya Ceng Ceng mengobati mereka yang terluka.

Gadis yang lemah lembut ini, selain lihai ilmu silatnya, ternyata juga merupakan seorang ahli pengobatan yang pandai pula.

Setelah semua selesai dan para anggauta Kai-pang disuruh pulang, Kui-tung Sin-kai berkata kepada Ceng Ceng.

"Nona Liu, bagaimana dengan Nona Tan dan Yauw-sicu yang mengejar musuh tadi?"

"Pangcu, tadi ketika terjadi serbuan dari anak buah Hek Pek Mo-ko, dalam kekacauan itu Hek Pek Mo-ko lalu melarikan diri. Hong-moi segera mengejar mereka. Hong-moi tidak dapat dicegah, Pangcu, karena ia memang berhati keras dan membenci Hek Pek Mo-ko yang telah menghinanya. Aku hendak mengejar, akan tetapi Yauw-twako melarangku, menyuruh aku tinggal dan dialah yang melakukan pengejaran."

"Hemm, berbahaya sekali."

Ketua Kai-pang itu mengelus jenggotnya yang panjang.

"Sekarang Hek Pek Mo-ko berada di bagian Utara pegunungan ini, di Bukit Batu yang terletak jauh dari sini yang berada di bagian Selatan. Dua orang itu licik dan berbahaya, aku khawatir kalau-kalau Nona Tan akan terjebak oleh mereka."

"Tidak perlu khawatir, Pangcu. Hong-moi memiliki ilmu silat yang amat tangguh, cukup kuat untuk menjaga diri. Apalagi ada Yauw-twako yang mengejarnya."

"Syukurlah kalau begitu, hatiku tidak gelisah lagi. Nona Liu, sekarang terbuktilah bahwa urusan harta karun Kerajaan Sung yang kabarnya dicuri orang yang berasal dari Thai-san sudah diketahui banyak orang dan pasti akan menggegerkan dunia kang-ouw. Hek Pek Mo-ko sudah menuduh bahwa Ang-tung Kai-pang sebagai pencurinya. Bagaimana menurut pendapatmu? Benarkah pendapat Nona Tan tadi bahwa agaknya Hek Pek Mo-ko sendiri yang mencurinya dan hendak mengalihkan perhatian agar orang-orang mengira kami yang mencurinya?"

"Biarpun perkiraan Hong-moi itu mungkin dilakukan oleh pencuri harta karun untuk mengalihkan perhatian sehingga si pencuri sendiri tidak dicurigai, akan tetapi menurut pendapatku, agaknya Hek Pek Mo-ko tidak mencuri harta itu. Mereka memang mengira bahwa harta itu ada pada Ang-tung Kai-pang, maka mereka sengaja mencari permusuhan. Tentu saja dengan harapan kalau mereka dapat mengalahkan dan menguasai Ang-tung Kai-pang, harta karun itu akan dapat mereka miliki. Tidak, Pangcu, kukira pencurinya adalah orang yang jauh lebih lihai dan berbahaya dibandingkan Hek Pek Mo-ko. Orang yang berani menantang seperti pencuri itu dengan mengaku bahwa dia datang dari Thai-san, pasti bukan orang sembarangan dan dia sudah yakin bahwa dia mampu menandingi siapa saja yang hendak mengganggunya."

Mereka lalu pulang dan menanti kembalinya Li Hong dan Yauw Tek di perkampungan Ang-tung Kai-pang.

Akan tetapi setelah menanti sehari semalam Li Hong dan Yauw Tek belum juga kembali ke perkampungan itu, Kui-tung Sin-kai mulai merasa gelisah.

Bagaimanapun juga, Li Hong dan Yauw Tek adalah tamunya yang telah membela Ang-tung Kai-pang sehingga mereka terlibat permusuhan dengan Hek Pek Mo-ko.

Kalau mereka tertimpa bencana, dia merasa bertanggung jawab.

Ketika dia mengemukakan kekhawatirannya kepada Ceng Ceng, gadis itu berkata tenang.

"Harap Pangcu tenang. Aku percaya sepenuhnya kepada Hong-moi dan Yauw-twako. Mereka pasti mampu menjaga diri dengan baik. Tentu ada sesuatu yang sedang mereka selidiki maka mereka belum kembali ke sini."

"Akan tetapi, bagaimana kalau sesuatu itu mengancam keselamatan mereka? Aku merasa tidak enak sekali karena mereka terlibat karena membela kami."

Ceng Ceng tersenyum memandang ketua itu.

"Baiklah, Pangcu. Aku akan menyusul mereka."

Setelah berkata demikian, Ceng Ceng berkemas lalu pergi mencari Yauw Tek dan Li Hong.

Ketika Kui-tung Sin-kai hendak menemaninya atau menyuruh anak buahnya mengawal, Ceng Ceng menolaknya dengan halus.

Ia mengatakan bahwa ia biasa melakukan perjalanan seorang diri dan minta agar ketua itu tidak khawatir.

Dengan penuh kemarahan Li Hong melakukan pengejaran terhadap Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang melarikan diri ke dalam hutan.

Dua orang itu telah berani menghinanya, karena itu ia tidak akan merasa puas sebelum dapat membunuh mereka!

Sebetulnya, dalam hal ilmu berlari cepat, Li Hong masih lebih unggul dibandingkan Hek Pek Mo-ko.

Akan tetapi kelebihannya ini tidak ada artinya karena ia sama sekali tidak mengenal daerah itu.

Maka terkadang ia kehilangan bayangan dua orang yang dikejarnya.

Li Hong tidak mau menghentikan pengejarannya.

Ia mencari terus dan setelah mendapatkan jejak mereka, ia mengejar terus dengan penuh semangat.

Saking semangatnya, ia tidak menyadari bahwa ia telah melakukan pengejaran setengah hari lebih, juga tidak menyadari bahwa ia telah jauh meninggalkan tempat pertandingan tadi.

Ia telah keluar masuk beberapa buah hutan, naik turun beberapa buah bukit dan masih terus ia membayangi dua orang itu, seperti seorang pemburu sedang mengejar dua ekor binatang buruannya!

Perubahan cuaca tidak disadarinya.

Perlahan-lahan cuaca menjadi kurang cerah karena matahari telah condong ke barat.

Baru setelah ia memasuki sebuah hutan lebat di lereng Thai-san itu, menyadari bahwa cuaca mulai gelap.

Hutan itu lebat, penuh pohon-pohon yang tinggi dan besar sehingga sinar matahari yang mulai melemah itu sukar dapat menembus celah-celah pohon.

Begitu menyadari bahwa hari telah mulai sore dan ia kembali kehilangan jejak dua orang yang diburunya, Li Hong menyadari keadaannya dan ia menjadi bingung juga.

Ia berada di tengah hutan lebat, tidak akan mudah mencari jalan pulang ke perkampungan Ang-tung Kai-pang.

Ia juga menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi melanjutkan pengejaran karena sebentar lagi tentu gelap dan tak mungkin ia melanjutkan pengejaran.

Dua orang itu tidak akan dapat disusulnya.

Ia merasa gemas dan penasaran sekali.

Ia berdiri di tengah hutan, menghentikan pengejarannya, mengepal kedua tangan dan berkata gemas.

"Biarlah! Hari ini kalian dapat melarikan diri. Tunggu, aku akan mendatangi sarangmu dan di sana aku akan membunuh Hek Pek Mo-ko!"

Setelah berkata demikian, ia mulai mencari jalan untuk kembali ke perkampungan Ang-tung Kai-pang.

Namun ia menjadi bingung karena di dalam hutan lebat itu ia kehilangan arah.

Akan tetapi ia tidak mau kemalaman dalam hutan lebat itu dan melangkah terus untuk dapat keluar dari dalam hutan.

Senja telah masuk ke dalam hutan.

Cuaca mulai remang-remang.

Li Hong mulai merasa khawatir.

Kalau ia tidak mampu keluar dari dalam hutan sebelum malam tiba, berarti ia harus melewatkan malam di dalam hutan lebat dan gelap itu!

Karena cuaca mulai gelap dan hatinya merasa penasaran, jengkel dan agak bingung, kewaspadaannya berkurang.

Ketika ia melangkah di bawah sebatang pohon besar, ia menginjak tanah berumput, tiba-tiba kedua kakinya terperosok ke sebuah lubang, disambut sebuah jala dan ia pun terangkat ke atas di dalam sebuah jala hitam yang kuat!

"Keparat!"

Li Hong mengutuk.

Ia telah terjerat jebakan yang agaknya dipasang orang untuk menjebak binatang dan menangkapnya hidup-hidup!

Li Hong meronta dan meraba gagang pedangnya di punggung.

Karena jala itu kuat dan ketat membungkus tubuhnya, agak sukar baginya untuk mencabut pedangnya guna membabat putus jala itu.

Tiba-tiba, sebelum ia berhasil mencabut pedangnya, sesosok bayangan berkelebat dalam keremangan cuaca itu, lalu cepat sekali bayangan itu memukul tengkuk Li Hong yang masih rebah telentang dalam jala dan tergantung.

Li Hong tidak mampu menghindarkan diri dan begitu tengkuknya ditepuk, ia pun pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi!

Ketika siuman dari pingsannya, Li Hong mendapatkan dirinya berada dalam pondongan seorang laki-laki tinggi besar.

Tubuhnya telungkup di pundak orang itu dan ketika dengan marah ia hendak mengerahkan tenaga untuk meronta dan melepaskan diri, dengan kaget ia mendapatkan bahwa kaki tangannya tidak mampu digerakkan!

Ternyata ia telah tertotok secara lihai sekali sehingga tubuhnya menjadi lemas dan tidak dapat mengerahkan tenaga!

Li Hong adalah seorang gadis pemberani yang cerdik.

Ia tidak merasa takut dan tidak bergerak, berpura-pura masih pingsan akan tetapi ia diam-diam memperhitungkan segalanya.

Laki-laki tinggi besar yang tak dapat dilihat wajahnya dengan jelas karena cuaca sudah gelap itu, melangkah lebar dan di sebelah kirinya terdapat orang kedua yang berjalan.

Orang kedua ini pun tinggi besar dan mereka berjalan tanpa mengeluarkan suara.

Tak lama kemudian, mereka sudah keluar dari dalam hutan itu dan berjalan di atas jalan umum yang kasar berbatu-batu.

Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah gubuk yang berada di tepi jalan, di luar sebuah hutan lagi.

Pemanggul tubuh Li Hong berkata dengan suara yang kasar, dalam logat bahasa orang Mongol, kepada temannya.

"Buka pintunya dan nyalakan lampu,"

Sambil memindahkan tubuh Li Hong dari pundak kiri ke pundak kanan.

"Magu, gubuk ini punyaku, maka berikanlah gadis itu lebih dulu kepadaku, baru kemudian engkau boleh......"

"Enak saja engkau! Siapa yang menangkap gadis ini? Perangkapku! Yang masuk perangkapku berarti milikku! Akan tetapi karena engkau rekanku dan engkau yang punya gubuk ini, maka nanti engkau boleh mengambil bagian. Akan tetapi aku lebih dulu! Kalau engkau tidak mau, biar aku mencari tempat lain. Untuk bersenang-senang, tidak harus di dalam gubukmu!"

"Baiklah, mari masuk,"

Kata orang kedua.

Mereka memasuki gubuk dan sebuah lampu dinyalakan.

Si Pemanggul itu lalu melepaskan tubuh Li Hong ke atas sebuah dipan kayu yang kasar.

Tubuh gadis itu rebah telentang.

di atas dipan dan kini ia dapat melihat agak jelas wajah kedua orang laki-laki itu dan diam-diam ia merasa ngeri.

Mereka itu ternyata merupakan dua orang yang berpakaian kasar seperti para pemburu.

Wajah mereka pun tampak bengis dan kasar, dengan mata, hidung dan bibir serba besar.

Tubuh mereka juga kokoh dengan otot melingkar-lingkar di lengan dan dada mereka yang bajunya terbuka lebar.

Li Hong merasa muak ketika tercium bau keringat dan badan mereka yang apak.

Dua orang laki-laki tinggi besar yang usianya sekitar empatpuluh tahun itu memandang kepada Li Hong dan mereka tampaknya terkejut dan terpesona.

Agaknya mereka tidak pernah membayangkan bahwa tangkapan mereka ternyata seorang gadis yang demikian cantik jelitanya seperti bidadari!

Mata mereka yang melotot seperti hendak menelan dan melahap tubuh langsing yang terbujur di hadapan mereka.

Sinar mata mereka seperti menggerayangi seluruh tubuh Li Hong, membuat gadis itu merasa ngeri.

"Wah, Magu, kita untung besar! Seorang dewi yang cantik jelita menjadi kekasih kita! Ha-ha-ha, sungguh beruntung sekali kita!"

"Ya, dan engkau cepat pergi dari sini. Baru besok malam engkau mendapatkan giliran. Malam ini dan besok sehari aku tidak mau diganggu! Engkau berjagalah di luar agar jangan ada yang mengganggu kita!"

Kata orang yang tadi memanggul Li Hong dan bernama Magu.

Temannya mengomel, akan tetapi keluar juga dan duduk di atas batu yang terdapat di luar gubuk itu.

Sejak tadi Li Hong sudah berusaha untuk meronta, namun tubuhnya belum juga dapat digerakkan.

Rasanya lemas seluruh badannya, lemah lunglai.

Bahkan ketika ia mencoba untuk mengeluarkan suara, yang terdengar hanya suara lirih saja.

"Lepaskan aku, jahanam...... lepaskan......!"

Ia sudah berteriak, namun karena tidak ada tenaganya, suara itu terdengar lirih seperti bisik-bisik saja.

Akan tetapi kerut merut di tubuhnya, pandang matanya yang penuh kebencian, agaknya dimengerti oleh Magu bahwa gadis ini dalam hatinya menolaknya dan berusaha untuk meronta.

Dia terkekeh.

"Heh-heh-heh, rupanya engkau keras nati dan tidak mau menyerah, manisku. Engkau perlu dipaksa!"

Dia lalu mengambil tali yang cukup kuat dari sudut gubuk itu dan dengan tali itu dia mengikat kedua pergelangan tangan dan kedua pergelangan kaki Li Hong, diikatkan pada keempat kaki dipan itu.

Tentu saja Li Hong ingin memberontak, akan tetapi ia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya.

Kembali Magu tertawa dan memandang kepadanya dengan mata penuh nafsu.

"Manisku, aku tidak ingin memaksamu, aku ingin engkau menyerahkan diri dengan manis!"

Setelah berkata demikian, dia mengambil sebuah bungkusan dari saku bajunya yang kotor, kemudian membawa bungkusan ke meja di sudut di mana terdapat sebuah guci dan beberapa cawan kosong.

Dibukanya bungkusan dan dituangkan isinya, bubuk merah, ke dalam cawan lalu cawan itu diisi minuman dari guci.

Kemudian dibawanya cawan kecil berisi arak itu ke dekat dipan dan disodorkannya cawan itu kepada Li Hong.

"Nah, minumlah arak ini, manis, dan engkau akan merasa senang dan sehat!"

Akan tetapi tentu saja Li Hong tidak sudi minum, akan tetapi ia tidak mampu menolak dengan tangannya yang telah diikat dan terbentang.

Ia hanya berusaha untuk memalingkan mukanya dan mengatupkan mulutnya, walaupun dengan gerakan lemah.

"Minum!"

Orang itu membentak, lalu duduk di tepi dipan dan menggunakan tangan kirinya memaksa mulut Li Hong terbuka dengan menekan rahangnya, lalu dia menuangkan arak itu ke dalam mulut Li Hong!

Gadis itu tak dapat menolak lagi, mencoba untuk menutup kerongkongannya, namun akhirnya arak itu memasuki perutnya dan ia tersedak-sedak.

Li Hong merasa betapa ada hawa panas mengamuk di dalam perutnya dan hawa panas itu menjalar ke dalam kepalanya, membuat ia merasa pening.

Akan tetapi ia terkejut bukan main karena tiba-tiba saja ia merasakan rangsangan yang amat hebat dan kuat!

Ia memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk melawan rangsangan yang tidak wajar itu.

Biarpun selama hidupnya ia belum pernah merasakan rangsangan seperti itu, namun nalurinya mengatakan bahwa itu merupakan pengaruh yang tidak baik.

"Tidak...... tidak""!"

Berulang kali ia berseru sekuatnya, namun terdengar suara lirih saja.

Makin lama semakin pusing dan ia segera merasakan sesuatu yang membuatnya merasa ngeri bukan main.

Pakaiannya dilucuti orang!

Ia masih memejamkan matanya dan ia pun dapat menduga apa yang akan terjadi padanya.

Sesuatu yang dianggapnya lebih mengerikan daripada maut!

Ia tidak berani membuka matanya, hanya menggelengkan kepalanya dan agaknya pengaruh totokan itu mulai berkurang karena tiba-tiba dapat menjerit nyaring.

"Jangan......! Ah, jangan......! Tolong...... tolonggg......!"

Laki-laki itu terkejut juga mendengar Li Hong mampu menjerit nyaring, akan tetapi dia tertawa dan berkata.

"Percuma engkau menjerit, manisku, tidak ada yang dapat mendengarmu, ha-ha-ha! Mengapa engkau menjerit? Kita akan bersenang-senang!"

Li Hong merasa betapa rangsangan dalam tubuhnya, terutama pada otaknya, semakin kuat dan panas. Ia melawannya dengan menanamkan dalam ingatannya sambil berbisik.

"Kalau kalian memperkosaku, kelak aku akan mencabik-cabik jantung kalian dan melumatkan kepala kalian!!"

Pikiran ini merupakan hiburan satu-satunya, dan ini untuk melawan rangsangan itu sehingga ia tidak akan menyerah dengan suka rela.

Ia akan membunuh dan menyiksa mereka, baru kemudian ia akan membunuh diri!

Ini tekadnya dan ia mengerahkan seluruh tenaga ingatannya agar tidak merasakan apa pun yang akan terjadi dengan dirinya, hanya air matanya yang mengucur deras.

Tiba-tiba terdengar suara gedobrakan di luar gubuk, disusul teriakan mengaduh.

Laki-laki yang hendak menggerayangi tubuh Li Hong itu terkejut dan melompat ke pintu.

"Apa yang terjadi?"

Dia bertanya kepada kawannya yang tadi menjaga di luar gubuk.

Tiba-tiba daun pintu gubuk itu roboh dan sesosok bayangan berkelebat masuk.

Laki-laki yang hendak memperkosa Li Hong itu terkejut, cepat mencabut goloknya dan menyerang.

Akan tetapi bayangan itu dengan tangkas mendahului dengan tendangan.

Begitu kakinya mencuat, perut laki-laki tinggi besar itu tertendang dan dia roboh terjengkang!

Penolong itu menangkap kakinya dan sekali dia melempar, tubuh Magu yang tinggi besar itu terlempar keluar.

Penolong itu melompat keluar mengejar dan terdengar teriakan-teriakan dua orang itu, lalu terdiam.

Li Hong yang menangis tanpa mengeluarkan suara, membuka matanya dan ia sempat melihat penolongnya itu melemparkan penjahat itu ke luar pintu gubuk.

Karena api lampu bergerak-gerak tertiup angin yang masuk melalui pintu yang terbuka, Li Hong tidak dapat melihat siapa penolongnya.

Setelah teriakan dua orang itu tak terdengar lagi, dara ini melihat seorang laki-laki memasuki gubuk dan menutupkan pintu yang jebol pada lubang pintu sehingga api lampu itu tidak lagi bergerak-gerak tertiup angin dan Li Hong dapat melihat jelas wajah pemuda yang kini mendekati dipan.

"Twako......!"

Serunya dengan terisak-isak.

Pemuda yang menolongnya itu adalah Yauw Tek.

Cepat Yauw Tek melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Li Hong dan menepuk pundak gadis itu.

Begitu dapat bergerak, Li Hong bangkit duduk sambil menangis dan merangkul Yauw Tek.

Tadi ia ketakutan setengah mati, takut dan ngeri, maka pelepasan ini membuat ia merasa sangat bersyukur, girang dan juga terharu sehingga ia menangis mengguguk di dada Yauw Tek yang merangkulnya.

Demikian terguncang batin Li Hong oleh peristiwa dan kengerian yang tadi mengancam dan nyaris melanda dirinya, membuat ia lupa bahwa ia masih dalam keadaan telanjang bulat karena tadi pakaiannya telah dilucuti semua oleh Magu dan hampir tidak dirasakan Li Hong dengan cara menanamkan dendamnya.

Setelah tangisnya mereda, Li Hong berbisik.

"Yauw-twako...... engkau telah menolongku...... aku berhutang budi dan nyawa kepadamu......"

"Hushh, Hong-moi, hal ini sudah wajar. Aku pasti akan membelamu dan melindungi selamanya......"

"Selamanya, Twako......"

Lengan Li Hong merangkul leher sehingga Yauw Tek agak terkejut.

"Tentu saja selamanya, Hong-moi karena aku cinta padamu."

"Aku...... aku pun...... cinta padamu, Yauw-twako......"

Merangkul gadis yang telah menjatuhkan hatinya sejak pertama kali bertemu itu, yang kini dalam keadaan bugil sehingga terasa hangat dalam dekapannya, membuat Yauw Tek gemetar.

Pengakuan cinta Li Hong terasa merdu sekali, mengobati hatinya yang tadinya kecewa oleh penolakan cinta Ceng Ceng.

Dia lalu mendekatkan mukanya dan mencium pipi Li Hong.

Akan tetapi, mendadak Li Hong memperketat rangkulannya dan membalas ciumannya dengan panas!

"Hong-moi......!!"

Yauw Tek terkejut dan menegur, agak menarik dan menjauhkan mukanya dari Li Hong.

Saat itu, semua pertahanan dalam batin Li Hong sudah buyar dan hilang.

Pengaruh racun perangsang yang diminumnya secara paksa kini sedang bekerja mencapai puncaknya.

Tadi daya rangsangan itu sudah menyerangnya, namun dengan sekuat tenaga batinnya ia melawan dan mempertahankan diri agar tidak hanyut, dengan penanaman dendam kebencian terhadap orang yang memperkosanya itu.

Akan tetapi sekarang, ia merasa lega, girang, dan terharu ketika diselamatkan oleh Yauw Tek, pemuda yang memang telah menarik hatinya.

Ditambah Iagi kesadarannya bahwa ia ditemukan pemuda itu dalam keadaan tanpa pakaian, membuat ia mengambil keputusan bahwa ia hanya dapat menghapus rasa malu itu dengan menjadi isteri Yauw Tek.

Semua ini merupakan dorongan sehingga rangsangan yang dibangkitkan racun perangsang itu menjadi berlipat ganda kuatnya, membuat ia tidak ada keinginan lain kecuali menyerahkan dirinya kepada pemuda yang dicintanya itu.

Dalam pandangannya, sepasang mata Yauw Tek itu demikian indah cemerlang, demikian penuh wibawa sehingga membuat ia kagum dan tunduk.

Akan tetapi melihat Li Hong semakin kuat merangkulnya dengan napas terengah-engah, Yauw Tek menarik diri ke belakang dan kedua tangannya menahan kedua pundak gadis itu, matanya memandang tajam.

"Hong-moi, ingat dan sadarlah! Perbuatan ini kalau dilanjutkan tidak baik sama sekali! Jangan, Hong-moi, aku hanya seorang manusia biasa, kalau engkau bersikap seperti ini, aku tidak akan kuat bertahan! Hong-moi, aku cinta padamu dan aku tidak ingin merusak kehormatanmu, aku cinta dan hormat padamu......"

Li Hong mendengar dan menyadari akan kebenaran ucapan itu, akan tetapi justeru penolakan itu membuat ia semakin nekat.

"Aku pun cinta padamu, Twako. Aku ingin menyerahkan segala milikku, kalau perlu nyawaku, kepadamu. Yauw-twako......!"

Li Hong kembali menubruk, merangkul dan Yauw Tek tidak kuat bertahan untuk menolak lagi.

Dia pun balas merangkul dan keduanya tenggelam dalam nafsu berahi, terbuai asmara yang membuat manusia lupa akan segala sesuatu, lupa akan baik buruk, kehilangan semua pertimbangan, bahkan kehilangan kesadaran, diri sendiri pun terlupa dan yang hidup menguasai seluruh diri hanya nafsu berahi yang mendesak untuk disalurkan dan dipuaskan.

Sejak jaman dahulu, para manusia yang dipilih Tuhan, menerima wahyu untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, sejak yang primitip (kuna) sampai yang paling modern, selalu menekankan agar manusia waspada dan berhati-hati terhadap setan yang menguasai diri manusia melalui nafsu-nafsu manusia sendiri.

Namun kenyataannya, jarang sekali terdapat manusia yang mampu menguasai atau mengendalikan nafsunya sendiri.

Bermacam usaha yang timbul dari ulah hati akal pikiran dilakukan untuk mengalahkan nafsu, namun sebagian besar atau hampir semua usaha itu menemui kegagalan.

Hal ini terjadi karena semua usaha itu dilakukan oleh pikiran yang selalu mementingkan diri sendiri, mementingkan si-aku yang selalu mengejar kesenangan dan tidak menghendaki kesusahan.

Maka, usaha untuk menguasai nafsu itu pun bersumber dari keinginan untuk kepentingan si aku.

Pikiran yang mengaku-aku ini melihat betapa nafsu dapat menjerumuskannya dan akhirnya mencelakakannya, maka timbul keinginan untuk menghentikan hal yang membahayakan itu.

Jadi, yang mendorong menghentikan nafsu itu pun nafsu juga!

Nafsu untuk menyenangkan diri, memetingkan si aku yang bukan lain adalah pikiran kita sendiri.

Nafsu sudah disertakan oleh Sang Maha Pencipta kepada kita manusia sejak kita lahir di dunia.

Nafsu itu teramat penting bagi kehidupan.

Nafsu membuat kita ingin menikmati segala sesuatu dalam kehidupan ini melalui panca indera kita.

Nafsu datang tanpa dipelajari karena memang sudah ada pada diri kita.

Setiap orang bayi sudah memiliki nafsu makan atau minum yang amat diperlukan bagi hidupnya.

Nafsu membuat dia menikmati air susu yang diminumnya.

Seperti juga nafsu-nafsu lain, nafsu berahi juga sudah disertakan manusia, menjadi alat atau menjadi peserta, juga hamba dari manusia.

Nafsu ini, seperti nafsu-nafsu lain, juga teramat penting karena dengan adanya nafsu ini, maka manusia dapat berkembang biak.

Akan tetapi kalau sampai nafsu yang disertakan oleh Sang Maha Pencipta kepada kita untuk menjadi hamba kita ini kita biarkan menguasai dan memperhamba diri kita, maka malapetaka yang timbul.

Nafsu berahi yang mendorong hubungan suami isteri adalah baik, benar, dan bersih karena sesuai dengan Kehendak Sang Maha Pencipta.

Namun, kalau nafsu ini menguasai diri manusia, maka muncullah perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari Kehendak Tuhan, seperti pelacuran, perjinaan, pemerkosaan, dan sebagainya.

Segala perbuatan yang disebut jahat di dunia ini, segala macam kebencian, permusuhan, perang, dan semua kejahatan umum, semua itu adalah ulah manusia yang sudah diperhamba oleh nafsu yang menguasai dirinya.

Masalahnya sekarang, bagaimana kita dapat terbebas dari pengaruh nafsu?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kita INGIN BEBAS dari nafsu.

Lalu siapa yang ingin itu?

Yang ingin itu aku, karena aku tidak mau diperbudak nafsu yang mendatangkan sengsara.

Aku tidak mau sengsara.

Aku ingin hidup tenteram.

Aku ingin hidup damai!

Aku ingin ini, aku ingin itu, ingin yang lebih baik, lebih menyenangkan dari pada yang ada.

Si aku yang ingin tenteram ini apakah berbeda dengan si-aku yang ingin menikmati kesenangan melalui pemuasan nafsu?

Kita dipermainkan oleh pikiran sendiri, berputar-putar dalam ruangan yang itu juga.

Tetap saja pada dasarnya adalah yang ingin senang.

Menuruti nafsu agar puas berarti mengejar kesenangan.

Menghentikan nafsu agar tenteram juga berarti mencari kesenangan karena tenteram itu mendatangkan kesenangan pula.

Lalu bagaimana?

Kalau menuruti nafsu salah dan meniadakan nafsu salah, apa yang harus kita perbuat?

Yang salah adalah keinginan itu sendiri!

Keinginan mendapatkan kesenangan melalui pemuasan nafsu ataupun keinginan mendapatkan kesenangan melalui penghentian nafsu.

Maka, satu-satunya hal yang dapat dilakukan manusia adalah tidak menginginkan kesenangan dalam bentuk apa pun selama keinginan itu timbul dari pementingan diri sendiri.

Kita tidak mungkin dapat menguasai nafsu.

Yang dapat menguasai nafsu itu hanyalah Sang Maha Pencipta yang menciptakan nafsu dan memberikan itu kepada kita sebagai pelayan dalam hidup.

Hanya kalau Jiwa kita disinari Kekuasaan Tuhan, maka Jiwa itu akan dapat melaksanakan tugas semula, yaitu menjadi Kusir (Sais) dari kendaraan yang berupa tubuh kita.

Hanya dengan bimbingan Kekuasaan Tuhan sajalah yang akan membuat Jiwa kuat untuk mengendalikan nafsu-nafsu sehingga dengan sendirinya, pikiran, ucapan, dan perbuatan kita tidak lagi selalu ditujukan untuk kepentingan dan kesenangan diri pribadi.

Jiwa yang dibimbing Kekuasaan Tuhan saja yang mampu membebaskan kita dari perbudakan nafsu atau membebaskan kita dari kekuasaan setan!

Pada keesokan harinya, ketika matahari mulai bersinar mengusir kegelapan malam dan mengangkat halimun membubung ke atas, ketika burung-burung menyanyikan pujian bagi Sang Maha Pencipta sebelum mereka mulai dengan kehidupan baru di hari itu, diseling kokok ayam hutan yang membungkam segala macam jengkerik belalang dari senandung malam mereka, Yauw Tek terbangun dari tidur nyenyak.

Dia melihat dirinya tadi rebah di dipan kayu yang kasar dalam gubuk itu.

Dia terkejut ketika teringat akan peristiwa semalam.

Li Hong tidak ada di situ.

Cepat dia mengenakan pakaiannya dan keluar dari gubuk.

Dilihatnya Li Hong, dengan pakaian kusut dan rambut tidak tersisir, duduk di atas batu sambil menangis tanpa suara.

Yauw Tek cepat menghampiri dan dia menjatuhkan diri berlutut di dekat batu di mana Li Hong duduk.

"Hong-moi......, aku telah berdosa padamu""

Ah, Hong-moi, dosaku terlalu besar...... engkau boleh bunuh aku, Hong-moi, untuk menebus kesalahanku padamu......"

Suara Yauw Tek tergetar. Li Hong menurunkan kedua tangannya yang tadi dipakai menutupi mukanya. Kedua matanya basah, wajahnya agak pucat dan ia memandang pemuda yang berlutut di depannya itu.

"Yauw-twako......"

Suara Li Hong juga gemetar dan ketika Yauw Tek mengangkat muka memandang, melihat wajah yang memelas (menimbulkan iba) dengan sepasang mata basah itu, Yauw Tek juga menangis tanpa suara.

Air matanya bercucuran keluar dari sepasang matanya dan dia berkata dengan suara lirih gemetar.

"Li Hong...... ampuni aku...... ah, tidak, jangan, ampuni aku...... bunuhlah aku dengan pedangmu...... aku akan menerima kematian di tanganmu dengan bahagia karena telah dapat menebus dosaku......"

Dalam tangisnya, Li Hong tersenyum, menjulurkan kedua tangannya, menarik Yauw Tek agar duduk di atas batu, di sampingnya.

"Twako, aku tidak menyesal, aku tidak marah kepadamu. Engkau tidak bersalah, Yauw-twako. Sekarang aku ingat betul. Iblis-iblis itu memaksaku minum arak, lalu tubuhku terasa tidak karuan...... kemudian engkau menyelamatkan aku...... aku begitu bahagia...... aku lupa segala...... dan terjadilah itu dengan kita. Aku sungguh tidak menyalahkanmu, dan aku tidak menyesal, Twako. Apakah engkau menyesal?"

"Bukan salahmu, Hong-moi. Akulah yang salah, aku tidak dapat menahan diri, aku hanyut. Aku memang menyesal kalau sampai hal itu membuat engkau berduka......"

"Sama sekali tidak, Twako! Aku tidak berduka dan aku tidak menyesal."

"Tapi...... engkau tadi menangis......"

"Aku menangis karena bahagia, Twako. Aku kini menjadi milikmu, untuk selamanya! Bukankah engkau sangat mencintaku, Twako?"

"Tentu saja, aku sangat mencintamu, Hong-moi."

"Dan engkau berjanji tidak akan meninggalkan aku?"

"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."

"Juga tidak akan mencinta wanita selain aku?"

Yauw Tek menggelengkan kepalanya.

Li Hong menghela napas penuh kelegaan dan kebahagiaan dan ia lalu menyandarkan kepalanya di dada Yauw Tek yang merangkulnya dengan mesra.

Sampai lama mereka hanya duduk diam, kediaman yang menenggelamkan Li Hong dalam kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bagaikan dalam mimpi ia membayangkan semua yang terjadi sejak ia terjebak dan ditawan dua orang jahat itu.

Pagi tadi, ketika ia terbangun, ia cepat berpakaian dan menyambar Ban-tok-kiam lalu melangkah keluar, pikirannya masih termenung dan kacau oleh ingatan semalam.

Ia masih merasakan kemesraan yang dialaminya bersama Yauw Tek dan merasa berbahagia sekali, merasa betapa kini ia menjadi milik Yauw Tek dan pemuda itu menjadi miliknya!

Saking terharu dan berbahagia, ia menangis tanpa suara.

Kini ia teringat akan dua orang penjahat itu.

"Yauw Twako, di mana mereka?"

Tanya Li Hong sambil bangkit duduk kembali.

Yauw Tek kaget juga merasa betapa Li Hong yang tadi begitu lembut, hangat dan pasrah dalam rangkulannya, kini menjadi tegang dan kekerasan membayang di sinar matanya yang jernih tajam.

"Siapa maksudmu? Ah, dua orang penjahat itu? Aku sudah melempar mereka ke dalam jurang di sana."

Dia menuding dan Li Hong lalu melompat dari atas batu dan lari ke tepi jurang tak jauh dari situ. Yauw Tek menyusulnya.

"Nah, itu mereka, Hong-moi. Sudah tewas!"

Kata Yauw Tek sambil menunjuk ke bawah jurang.

Jurang itu cukup dalam dan Li Hong melihat dua orang yang semalam menangkapnya itu.

Yang seorang rebah miring dan seorang lagi, yang semalam memperkosanya, rebah telentang.

Dengan kebencian masih mengganjal hatinya, Li Hong mengambil sebuah batu sebesar kepala orang lalu melontarkan batu itu ke bawah.

"Wuuuttt...... prakk!"

Kepala penjahat yang telentang itu pecah tertimpa batu yang ditimpukkan dengan kuat. Batu kedua menyusul memecahkan kepala penjahat kedua.

"Mari kita kembali ke perkampungan Ang-tung Kai-pang, Twako. Tentu Enci Ceng sudah merasa khawatir karena aku belum kembali ke sana,"

Kata Li Hong setelah merasa puas dapat membalas dendam dengan menghancurkan kepala dua orang penjahat yang menculiknya itu, walaupun yang dihancurkan adalah kepada yang sudah menjadi mayat.

Mereka berdua lalu melakukan perjalanan cepat ke Bukit Cemara di bagian Selatan pegunungan Thai-san.

Hari telah siang ketika mereka tiba di perkampungan Kai-pang, disambut gembira oleh Ang-tung Kai-pang.

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 6

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert