Eps 2 Harta Karun Kerajaan Sung - Kho Ping Hoo
Baca online Harta Karun Kerajaan Sung - Kho Ping Hoo
Cersil Harta Karun Kerajaan Sung - Kho Ping Hoo.
"Selagi Kim Bayan dan kawan-kawannya merasa kebingungan, kecewa dan marah-marah, saya dan Ceng Ceng larikan diri dan membebaskan Li Hong dari penjara, kemudian kami bertiga melarikan diri, kata Cun Giok. Dia tidak menceritakan persoalan antara Li Hong, Ceng Ceng dan dia.
"Hemm, ceritamu menarik sekali, Sicu. Kiranya engkau seorang pendekar yang selalu menentang para pembesar Mongol yang bertindak sewenang-wenang dan yang jahat. Engkau tidak mengecewakan menjadi putera keturunan keluarga Pouw! Juga Tan Li Hong murid Ban-tok Niocu dan Liu Ceng Ceng puteri pendekar Liu Bok Eng itu amat mengagumkan! Beruntunglah tanah air kita yang kini dikuasai penjajah Mongol memiliki pendekar-pendekar muda seperti kalian bertiga. Selama masih ada pendekar-pendekar pejuang seperti kalian, aku yakin, cepat atau lambat, tanah air dan bangsa pasti akan dapat dibebaskan dari cengkeraman pemberontak Mongol!"
"Ah, Ibu selalu melarang kami untuk keluar dari Lembah Seribu Bunga sehingga kami tidak dapat membantu para pendekar pejuang menentang orang-orang jahat macam Kim Bayan!"
Kata Kui Lin merajuk.
"Giok-ko, lalu bagaimana dengan harta karun itu? Kukira kalau harta itu dapat diberikan kepada para pejuang, akan besar sekali manfaatnya bagi perjuangan menentang penjajah Mongol,"
Kata Kui Lan.
"Benar apa yang dikatakan Kui Lan, Pouw-sicu, lalu bagaimana dengan harta karun itu?"
Tanya Nyonya The.
"Tidak ada yang tahu di mana adanya harta karun itu, Toanio. Semua orang hanya menduga bahwa harta karun itu tentu sudah ada yang mengambilnya dan melihat huruf THAI SAN yang dituliskan di dasar peti, saya hanya menduga bahwa yang mengambilnya tentu seorang lihai yang tinggal di Thai-san."
Nyonya The mengangguk-angguk.
"Memang itu merupakan satu-satunya kemungkinan. Lalu apa yang hendak kau lakukan, Sicu?"
"Saya bermaksud pergi ke Thai-san dan menyelidikinya."
"Ibu, menurut Ibu, siapa kiranya tokoh Thai-san yang dapat mengambil harta karun itu?"
Tanya Kui Lan.
"Hemm, setahuku yang berada di sana hanyalah aliran Perguruan Silat Thai-san-pai yang diketuai Thai-san Sianjin Thio Kong. Dia memang lihai sekali, juga dibantu lima orang sute (adik seperguruan) yang terkenal dengan sebutan Thai-san Ngo-sin-kiam (Lima Pedang Sakti dari Thai-san). Akan tetapi, aku sangsi apakah tosu-tosu di Thai-san itu mau melakukan pencurian. Thai-san adalah sebuah pegunungan yang besar dan luas, memiliki ratusan buah bukit dengan puncak masing-masing. Di sana tentu terdapat banyak pertapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri atau bertapa."
"Ibu, aku ingin mencari harta karun itu di Thai-san!"
Tiba-tiba Kui Lin berseru kepada ibunya.
"Aku akan menemani Lin-moi, Ibu,"
Kata pula Kui Lan.
"Kami berdua telah belajar silat dari Ibu selama bertahun-tahun. Sekaranglah saatnya memanfaatkan ilmu itu. Kami juga ingin membantu para pejuang."
Nyonya The menghela napas panjang.
"Kalau kalian berdua pergi, laIu bagaimana aku dapat hidup tenang seorang diri di sini? Kui Lan dan Kui Lin, bukannya aku melarang kalian pergi membantu para pendekar menentang penjajah Mongol, akan tetapi walaupun kalian pernah belajar silat dan sudah menguasai ilmu bela diri yang cukup kuat, kalian sama sekali belum berpengalaman. Di luar sana terdapat banyak orang jahat yang bukan saja memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi terutama sekali yang berwatak curang dan penuh muslihat licik dan jahat. Bagaimana hatiku dapat tenang melepas kalian pergi mengembara?"
"Ibu, di sini ada Kakak Pouw Cun Giok yang sudah berpengalaman dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia tentu tidak keberatan kalau kami berdua membantunya mencari harta karun ltu. Giok-ko, apakah engkau berkeberatan kalau kami Enci dan Adik melakukan perjalanan bersama dan membantumu mencari harta Kerajaan Sung itu?"
Kata Kui Lin dengan lincahnya.
Tentu saja Cun Giok tidak dapat menolak dan tidak berani mengatakan tidak mau atau keberatan.
Jawaban demikian akan tampak sama sekali tidak sopan.
Maka, walaupun dalam hatinya dia merasa ragu untuk melakukan perjalanan bersama dua orang gadis kembar itu, terpaksa dia menjawab.
"Tentu saja aku tidak merasa keberatan, Lin-moi."
"Nah, benar kan, Ibu? Kalau kami pergi bersama Glok-ko, tentu Ibu tidak akan merasa khawatir lagi, bukan?"
Kui Lin mendesak ibunya.
"Lin-moi, jangan mendesak Ibu. Kalau Ibu tidak setuju, kita tidak akan pergi,"
Kata Kui Lan yang seolah bersikap sebagai pengendali adiknya yang liar.
"Tentu saja, Lan-ci! Kalau Ibu percaya bahwa Giok-ko pasti akan melindungi kita, dan kita sendiri pun mampu membela diri, tentu Ibu menyetujui keinginan kita untuk berbakti kepada tanah air dan bangsa!"
Kata Kui Lin dengan gembira, lalu disambungnya dan sekali ini tiba-tiba suaranya terdengar sedih, bahkan seperti hendak menangis.
"Akan tetapi kalau Ibu tidak percaya kepada kita dan kepada Giok-ko, dan melarang kami pergi, biarlah kami akan menaati kehendak Ibu, tidak akan meninggalkan Lembah Seribu Bunga ini sampai tua......"
Nyonya The menahan tawanya dan tersenyum sambil memandang Kui Lin.
"Anak nakal! Macam-macam saja akalmu! Tidak perlu engkau merayu seperti itu, aku tentu akan mempertimbangkan semua keinginan kalian berdua......"
"Terima kasih, Ibu! Ibu setuju, bukan?"
Kui Lin sudah menghampiri dan merangkul ibunya. Nyonya The mengangguk.
"Baiklah, setelah mempertimbangkannya, kurasa memang sudah waktunya kalian menyumbangkan tenaga untuk membantu para pejuang. Aku yakin Sicu Pouw Cun Giok akan membimbing kalian dan mudah-mudahan saja kalian akan berhasil membantu Pouw-sicu menemukan harta karun Kerajaan Sung itu. Akan tetapi, Kui Lin, engkau harus berjanji akan menaati semua nasehat encimu."
"Tentu saja, Ibu. Aku akan taat sekali kepada Enci Lan!"
"Dan kalian berdua harus menurut semua petunjuk yang diberikan Pouw-sicu. Selain dari itu, aku memberi waktu kepada kalian selama satu tahun. Setelah satu tahun kalian mengembara, kalian harus pulang ke sini!"
"Baik, Ibu, kami berjanji,"
Kata Kui Lan.
Dua orang gadis kembar itu lalu berkemas dan malam itu Cun Giok bermalam di gedung Lembah Seribu Bunga.
Dalam kesempatan selagi Nyonya The berdua saja dengan Cun Giok karena kedua orang puterinya sedang sibuk berkemas, Nyonya The bertanya kepada Cun Giok.
"Pouw-sicu, setelah kedua orang tuamu tidak ada lagi, siapakah yang menjadi anggauta keluarga terdekat? Tentu engkau mempunyai sanak keluarga, Paman, Bibi, atau Saudara misan. Di mana mereka dan siapakah mereka?"
Cun Giok menggelengkan kepalanya dan hatinya merasa sedih.
"Saya tidak mempunyai sanak keluarga lagi, Toanio. Semua Paman dan Bibi saya, juga Saudara misan, semua telah tewas oleh bangsa Mongol. Mendiang Ibu saya bermarga Tan, akan tetapi saya tidak pernah mendengar apakah Ibu saya mempunyai keluarga ataukah tidak! Bahkan saya tidak pernah mengenal Ayah Ibu kandung saya, karena Ayah terbunuh ketika saya masih dalam kandungan dan Ibu meninggal ketika melahirkan saya."
Dengan singkat Cun Giok menceritakan riwayat keluarganya yang terbasmi oleh mendiang Panglima Kong Tek Kok.
"Demikianlah, Toanio, saya tidak tahu apakah mendiang Ibu mempunyai sanak keluarga. Sejak lahir saya hanya mengenal Suhu Suma Tiang Bun sebagai satu-satunya orang yang hidup dengan saya, kemudian setelah Suhu tewas, saya melanjutkan latihan silat kepada Sukong (Kakek Guru) Pak-kong Lojin yang sekarang masih bertapa di Ta-pie-san. Beliau itulah kini satu-satunya keluarga saya."
"Aduh, riwayatmu sungguh menyedihkan, Sicu. Memang jahat sekali bangsa Mongol. Mereka menjajah tanah air kita dan entah berapa banyak bangsa kita menjadi korban dan keluarga-keluarga berantakan karena kekejaman mereka."
Kemudian Nyonya The melanjutkan kata-katanya dan bertanya.
"Sicu, apakah engkau juga tidak mempunyai tunangan yang menjadi calon jodohmu?"
Cun Giok menghela napas panjang.
Hatinya menjadi pedih ketika dia teringat kepada Siok Eng.
Sampai lama dia tidak menjawab pertanyaan itu.
Sebetulnya, dia sama sekali tidak berniat untuk menceritakan tentang Siok Eng kepada siapa pun juga.
Akan tetapi kalau sekarang dia tidak menjawab pertanyaan Nyonya The, hal itu akan membuat dia merasa tidak enak dan bahkan menimbulkan kecurigaan karena dia merahasiakan sesuatu.
Setelah dapat menekan kesedihannya, dia berkata lirih.
"Saya pernah mempunyai seorang tunangan yang menjadi calon jodoh saya, Toanio. Akan tetapi tunangan saya itu pun tewas di tangan seorang putera Panglima Kim Bayan yang bernama Kim Magu."
"Keparat! Mendengar akan kejahatan Kim Bayan dan puteranya itu, mengingat pula bahwa suamiku juga terbunuh oleh pasukan yang dipimpin Kim Bayan, rasanya ingin sekali aku terjun ke dunia kang-ouw untuk mencari dan membunuhnya! Akan tetapi karena sudah puluhan tahun aku terbiasa tinggal di tempat sunyi yang tenang tenteram ini, aku merasa enggan pergi ke dunia ramai. Biarlah kedua orang puteriku yang akan membantumu menghadapi orang-orang Mongol jahat seperti Kim Bayan itu."
Setelah mendengar bahwa tunangan Cun Giok telah tewas, berarti pemuda itu bebas tidak ada ikatan, timbul dalam hati Nyonya The untuk menjodohkan seorang puterinya dengan Pouw Cun Giok!
Pemuda itu adalah putera keluarga Pouw yang terkenal gagah perkasa, juga murid Suma Tiang Bun dan dia melihat betapa pemuda ini memiliki ilmu silat yang tinggi, juga baik budi.
Akan tetapi karena ia dan puterinya baru hari itu bertemu dan berkenalan dengan Cun Giok, tentu saja amat tidak enak untuk membicarakan urusan perjodohan.
Pada keesokan harinya, ketika pagi-pagi dua orang puterinya yang menggendong buntalan pakaian dan membawa pedang, berangkat bersama Pouw Cun Giok, Nyonya The hanya memesan kepada dua orang anak kembarnya agar mereka berhati-hati, menaati petunjuk Cun Giok setelah dalam setahun mengembara harus segera pulang ke Lembah Seribu Bunga.
Hanya di dalam hatinya ia mengharapkan agar dalam waktu satu tahun itu seorang di antara dua orang puterinya akan saling jatuh cinta dengan Cun Giok.
Perahu kecil itu melaju pesat, padahal hanya didayung oleh dua orang gadis yang tampak lemah-lembut dan cantik jelita.
Mereka tadi meninggalkan pantai daratan dan mendayung perahu meluncur pesat menuju Pulau Ular yang tampak kecil dari jauh.
Dua orang gadis itu masih muda, sekitar sembilanbelas tahun usia mereka.
Yang seorang bertubuh denok sedang, kulitnya putih mulus, wajahnya berbentuk bulat telur, matanya tajam namun lembut, anak rambut yang berjuntai di dahi dan pelipis membuat wajah itu tampak semakin manis, apalagi ditambah lesung pipi kanan dan bibir indah yang selalu mengembangkan senyum ramah.
Gadis jelita itu berpakaian sutera serba putih sehingga tampak seperti sekuntum bunga mawar putih yang indah bentuknya dan semerbak harum.
Gadis kedua juga amat cantik jelita walaupun sifat kecantikannya berbeda, bahkan agak berlawanan dengan gadis pertama.
Gadis kedua berpakaian indah dan wajahnya yang cantik itu tampak lincah karena sepasang matanya seperti bintang.
Bibirnya merah dan bentuk mulutnya menggairahkan dan ia tidak tampak lemah gemulai seperti gadis pertama, melainkan tampak mengandung kegagahan dan keberanian.
Bagaikan setangkai bunga, ia adalah setangkai bunga hutan yang liar dan tumbuh bebas.
Kalau gadis pertama berpakaian putih tidak tampak membawa senjata, hanya buntalan pakaian yang tergantung di punggung, gadis kedua ini membawa pula sebatang pedang yang tergantung di punggung dengan buntalan pakaiannya.
Rambutnya pun tidak seperti gadis pertama yang disanggul sederhana.
Gadis kedua ini menyanggul rambutnya ke atas seperti model rambut para puteri bangsawan di kota!
Mereka adalah Liu Ceng Ceng dan Tan Li Hong.
Setelah keduanya berpisah dengan Pouw Cun Giok, Ceng Ceng dan Li Hong mengambil keputusan untuk melanjutkan tugas Ceng Ceng mencari harta karun Kerajaan Sung seperti dipesan mendiang ayahnya.
Harta karun itu telah hilang dari tempat persembunyiannya, diambil orang yang meninggalkan huruf THAI SAN di peti yang telah kosong.
Setelah mendayung perahu beberapa lamanya, mereka melihat gugusan pulau-pulau di depan.
Ceng Ceng yang berbaju putih itu bertanya kepada Li Hong, gadis lincah yang telah mengangkat saudara dan kini menjadi adik angkatnya.
"Hong-moi (Adik Hong), yang manakah pulau tempat tinggalmu? Aku melihat begitu banyak pulau di depan itu,"
Kata Ceng Ceng sambil memandang ke arah gugusan pulau-pulau itu.
"Aih, Enci Ceng, apakah engkau tidak dapat menduga? Hayo, aku uji kecerdikanmu. Coba terka yang mana yang Coa-to (Pulau Ular) tempat tinggal Ibuku. Masa engkau tidak dapat menebak? Bukankah engkau pernah bersama Giok-ko berkunjung ke pulau kami?"
"Benar, akan tetapi ketika itu kami diantar seorang nelayan dan tidak memperhatikan keadaan seperti sekarang. Akan tetapi, kalau tidak keliru tebakanku, agaknya Pulau Ular itu yang terletak paling kanan itu, bukan?"
"Wah, tebakanmu tepat, Enci Ceng! Bagaimana engkau dapat menebak begitu tepat?"
"Mudah saja. Pulau itu berbeda bentuknya dengan pulau-pulau lainnya. Bentuknya memanjang dan berlekuk-lekuk seperti ular."
"Benar sekali perkiraanmu, Enci Ceng. Pulau itu dinamai Pulau Ular oleh para nelayan karena bentuknya."
"Akan tetapi di sana memang terdapat banyak ular. Bukankah kekayaannya akan ular itu yang membuatnya disebut Pulau Ular?"
"Bukan. Sebelum Ibuku tinggal di sana, pulau itu sama dengan pulau kecil lainnya, tidak ada ularnya. Setelah Ibu mengambil keputusan untuk tinggal di pulau itu, untuk menyesuaikan nama pulau itu dan juga untuk keperluan mengambil racunnya, Ibuku yang juga guruku itu membawa ribuan ular, di antaranya banyak yang berbisa, dan dilepas di pulau itu."
Karena kini datang ke Coa-to bersama Li Hong, maka tentu saja dengan mudahnya mereka mendarat di Pulau Ular dan dapat mengambil jalan yang aman dari jebakan menuju ke perkampungan yang berada di tengah pulau.
Setelah tiba di gedung tempat tinggal ayah dan kedua ibunya, Li Hong dan Ceng Ceng disambut dengan gembira sekali.
Tan Kun Tek dan isterinya gembira melihat Li Hong pulang.
Juga Ban-tok Niocu gembira karena Li Hong yang diberi waktu satu setengah tahun untuk merantau kini baru kurang dari setahun telah pulang.
Lebih-lebih lagi karena murid atau anak angkatnya itu ditemani oleh Liu Ceng Ceng, gadis berpakaian putih yang ia kagumi.
Li Hong memperkenalkan Ceng Ceng kepada ayah dan ibunya.
Tan Kui Tek merasa girang mendengar bahwa gadis berpakaian putih yang diakui oleh Li Hong sebagai kakak angkatnya itu adalah puteri mendiang Liu Bok Eng yang diketahuinya sebagai seorang pendekar patriot.
Ayah dan kedua ibu Li Hong menjadi kagum dan senang sekali ketika melihat Ceng Ceng yang diperkenalkan kepada mereka, segera memberi hormat sebagai seorang anak kepada orang tuanya!
Ini menunjukkan bahwa Ceng Ceng yang sudah mengangkat persaudaraan dengan Li Hong, juga menganggap mereka sebagai orang tuanya sendiri!
"Ceng Ceng, kami girang sekali bahwa engkau telah menjadi kakak dari Li Hong.
Kami harapkan engkau akan dapat memberi bimbingan kepada anak kami, Adikmu itu,"
Kata Tan Kun Tek. Ibu kandung Li Hong merangkul Ceng Ceng.
"Aku sungguh beruntung, bukan hanya dapat menemukan anakku kembali, bahkan kini bertambah mempunyai anak lain lagi."
Ban-tok Niocu juga berkata.
"Ceng Ceng, bangga sekali hatiku mendapatkan seorang anak seperti engkau!"
Ceng Ceng merasa amat terharu.
Ia sendiri sudah yatim piatu dan kini ia mendapatkan bukan hanya seorang adik, akan tetapi juga seorang ayah dan dua orang ibu yang menerima dan mengakuinya sebagai seorang anak!
Dua orang gadis itu disambut dengan sebuah pesta keluarga dan mereka berlima makan minum dengan gembira.
Setelah selesai makan minum, mereka duduk di ruangan dalam dan di situ Li Hong diminta untuk menceritakan semua pengalamannya ketika meninggalkan pulau selama hampir satu tahun lamanya.
Dengan gayanya yang lincah Li Hong lalu menceritakan semua pengalamannya ketika ia bertemu dengan Ceng Ceng dan Cun Giok, lalu mereka bertiga sama-sama menentang Kim Bayan dan rekan-rekannya.
Ia bercerita tentang peta harta karun peninggalan mendiang Liu Bok Eng yang diwariskan kepada Ceng Ceng, kemudian betapa mereka tertawan oleh Kim Bayan yang memaksa mereka untuk menyerahkan peta dan membantu Kim Bayan mencari harta karun itu menurut petunjuk peta yang dirampasnya.
"Akan tetapi mengapa engkau menyerahkan peta itu kepada Kim Bayan, Ceng Ceng?"
Tanya Ban-tok Niocu kepada Ceng Ceng yang tidak dapat menjawab, melainkan hanya memandang kepada Li Hong dengan ragu.
Tentu saja ia tidak mau menceritakan betapa Li Hong pernah memusuhinya dan bahkan bergabung dengan Kim Bayan!
Li Hong cepat menjawab pertanyaan ibu tiri yang juga gurunya itu.
"Ibu, karena kurang hati-hati aku terjebak dan menjadi tawanan Kim Bayan. Aku dijadikan sandera dan mengancam akan membunuhku kalau Enci Ceng Ceng tidak mau menyerahkan peta. Untuk menolongku, maka Enci Ceng Ceng lalu menyerahkan peta dan bersama Giok-ko ia lalu menyerah dan terpaksa mau membantu mencari harta karun karena aku tetap dijadikan sandera."
"Ah, betapa mulia hatimu, Ceng, Ceng!"
Ibu Li Hong berseru terharu.
"Engkau telah menyelamatkan Adikmu, Ceng Ceng. Kami berterima kasih sekali,"
Kata Tan Kun Tek.
"Lalu bagaimana dengan pencarian harta karun Kerajaan Sung itu?"
Tanya Ban-tok Niocu kepada Li Hong.
"Tempat di mana harta karun itu tersimpan, dengan bantuan peta dapat ditemukan. Akan tetapi ketika peti harta karun dibuka, ternyata telah kosong dan di dasar peti terdapat tulisan huruf THAI SAN. Giok-ko dan Enci Ceng Ceng dapat meloloskan diri dan membebaskan aku. Kami bertiga lalu dapat melarikan diri dari sarang mereka."
Li Hong menceritakan semua pengalamannya, akan tetapi tentu saja ia tidak berani menceritakan tentang urusan cinta dan kesalahan-pahamannya dengan Ceng Ceng dan Cun Giok.
"Hemm, setelah itu, bagaimana engkau akan bertindak untuk memenuhi pesan mendiang Ayahmu, Ceng Ceng?"
Tanya Ban-tok Niocu.
"Saya bertekad untuk mencari harta karun itu, ...... Ibu, dan Hong-moi hendak membantu saya. Karena itulah maka kami pulang ke Coa-to, selain untuk menjenguk Ayah dan Ibu berdua, juga untuk minta petunjuk Ibu yang mungkin dapat menduga siapa kiranya tokoh Thai-san yang mengambil harta karun itu."
Ban-tok Niocu mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat.
"Hemm, setahuku, aliran persilatan terbesar yang berada di sana adalah Thai-san-pai yang diketuai oleh Thai-san Sianjin Thio Kong. Thai-san-pai terkenal sebagai sebuah di antara partai-partai (Lanjut ke
Jilid 04) Harta Karun Kerajaan Sung (Seri ke 02 -Pendekar Tanpa Bayangan) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 persilatan besar yang gagah perkasa, murid-muridnya menjadi pendekar-pendekar.
Tidak mungkin mereka itu mencuri harta karun untuk kepentingan mereka sendiri.
Andaikata mereka mengambilnya, tentu harta karun itu akan mereka sumbangkan untuk kebaikan!"
"Kalau begitu, kita kunjungi Thai-san-pai dan bertanya kepada mereka. Kalau betul mereka yang ambil, kita minta agar harta karun itu diserahkan kepada yang berhak, yaitu para pejuang,"
Kata Li Hong.
"Aku masih sangsi, Hong-moi. Menurut keterangan Ibu tadi, mereka adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Kiranya kalau mereka yang mengambilnya, mereka tidak akan meninggalkan tulisan THAI SAN itu di dalam peti karena perbuatan itu menunjukkan bahwa yang mengambilnya adalah seorang yang sombong. Tulisan itu seolah merupakan tantangan."
"Pendapat Ceng Ceng itu ada benarnya. Aku pun sangsi kalau Thai-san-pai yang mengambilnya,"
Kata Tan Kun Tek.
"Aku pun berpendapat begitu,"
Kata Ban-tok Niocu.
"Selain Thai-san-pai ada lagi beberapa tokoh sesat yang bermukim di sekitar pegunungan Thai-san-pai yang luas itu. Yang sudah kuketahui ada beberapa orang. Pertama adalah Huo Lo-sian (Dewa Api Tua) yang berwatak ganas dan dia memiliki banyak pengikut yang mudah dikenal karena pakaian mereka serba merah. Huo Lo-sian itu selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga dia pandai menggunakan ilmu sihir. Akan tetapi dia tidak pernah berani mengganggu Thai-san-pai yang memiliki banyak murid pandai."
"Huh, patut dicurigai orang itu!"
Kata Li Hong.
"Apakah masih ada tokoh lain di Thai-san, Ibu?"
Tanya Ceng Ceng.
"Masih ada beberapa orang lagi. Orang kedua yang patut dicurigai adalah Hek Pek Mo-ko (Iblis Hitam Putih), sepasang saudara kembar yang dlsebut Hek Mo-ko (Iblis Hitam) dan Pek Mo-ko (Iblis Putih). Mereka berdua ini biarpun tidak mempunyai pengikut, namun mereka berdua juga terkenal sebagai datuk kang-ouw yang sesat, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan mereka. Adapun pihak keempat adalah Ang-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Merah). Ang-tung Kai-pang terdapat di mana-mana sebagai cabangnya, terutama di kota-kota besar. Ciri-ciri mereka adalah setiap orang anggautanya memegang sebatang tongkat merah. Yang berada di Thai-san adalah pusatnya di mana terdapat ketuanya yang berjuluk Kui-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Setan)! Nah, yang empat inilah setahuku yang bermukim di Thai-san dan masing-masing memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi hanya Thai-san-pai tergolong pendekar, sedangkan tiga yang lain adalah tokoh-tokoh sesat. Kalau ada penghuni baru lagi, aku belum mengenalnya."
"Wah, kiranya Thai-san dihuni banyak tokoh sesat!"
Kata Li Hong.
"Menghadapi orang-orang seperti mereka engkau harus sangat hati-hati, Li Hong. Mereka itu berbahaya dan terutama sekali ilmu sihir dan kelicikan mereka yang harus diwaspadai,"
Kata Tan Kun Tek.
"Bukan saja mereka lihai, akan tetapi juga di antara mereka memiliki banyak anak buah,"
Kata Ban-tok Niocu.
"Pekerjaan kalian itu dapat berbahaya sekali. Kalian masih muda dan belum mempunyai banyak pengalaman, bertemu dengan tokoh-tokoh sesat seperti itu, dapat berbahaya sekali."
"Ah, aku tidak takut, Ibu. Enci Ceng memiliki kepandaian yang tinggi, baik ilmu silat maupun ilmu pengobatan! Apalagi kalau dibantu Giok-ko, eh...... tentu kami tidak khawatir lagi. Sayang...... dia telah pergi......"
"Maksudmu pemuda yang dulu datang bersama Ceng Ceng dahulu itu? Hemm, memang, dia itu lihai sekali, terutama ilmu pedangnya. Dan aku sudah tahu akan kelihaian Ceng Ceng dan Cun Giok. Ceng Ceng berjuluk Pek Eng Sianli, sedangkan Cun Giok berjuluk Bu-eng-cu, keduanya memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, aku sendiri pun tidak mampu menandinginya."
"Ah, Ibu terlalu memuji saya,"
Kata Ceng Ceng.
"Hemm, aku menjadi tertarik. Siapakah pemuda yang kalian semua amat mengaguminya itu?"
Tanya Tan Kun Tek.
"Dia memang seorang pendekar muda yang luar biasa, Ayah. Ilmunya amat tinggi, wataknya juga gagah perkasa dan bijaksana, akan tetapi......"
Li Hong memandang Ceng Ceng dan tanpa diketahui orang lain, Ceng Ceng memberi isyarat dengan kedipan mata dan gelengan kepala agar tidak menceritakan tentang peristiwa asmara mereka bertiga.
"Akan tetapi apa, Li Hong?"
Tanya ayahnya.
"Tidak apa-apa, Ayah. Pendeknya, Giok-ko adalah seorang pendekar yang pantas menjadi keturunan keluarga Pouw yang gagah perkasa dan terkenal sebagai patriot-patriot besar, demikianlah yang kudengar."
"Keturunan keluarga Pouw? Maksudmu, dia itu bermarga Pouw?"
Tanya Kun Tek dan tampaknya terkejut. Melihat Li Hong agak ragu-ragu seolah takut kesalahan bicara dan menoleh, memandang kepadanya, Ceng Ceng lalu menjawab.
"Benar sekali...... Ayah. Giok-ko adalah keturunan keluarga Pouw yang terkenal sekali dan tinggal di So-couw."
"Akan tetapi...... aku telah menyelidiki ke So-couw setelah mendengar akan malapetaka yang menimpa keluarga itu. Menurut keterangan yang kuperoleh, mereka semua tewas dan tidak ada seorang pun keturunan keluarga Pouw yang tersisa dan selamat. Ceng Ceng, dari mana engkau mengetahui bahwa Pouw Cun Giok itu keturunan keluarga Pouw di So-couw?"
"Saya mendengar cerita dari Giok-ko sendiri, Ayah,"
Kata Ceng Ceng tenang.
"Apakah dia menceritakan siapakah nama ayah ibunya?"
Kini Tan Kun Tek bangkit dari tempat duduknya dan mengamati wajah Ceng Ceng penuh perhatian.
"Kalau saya tidak salah ingat, nama ayahnya Pouw Keng In dan nama ibunya Tan Bi Lian......"
"Tidak mungkin""!!"
Tan Kun Tek berteriak sedemikian kuatnya sehingga mereka semua terkejut.
"Ayah, apa artinya ini? Mengapa Ayah terkejut mendengar nama orang tua Giok-ko?"
Juga Nyonya Tan dan Ban-tok Niocu memandang heran dan hampir mereka bertanya berbareng.
"Apa artinya semua ini?"
"Tan Bi Lian itu adalah Adikku yang menikah dengan Pouw Keng In! Ketika aku menyelidiki di So-couw, aku mendapat keterangan bahwa keduanya telah mati di tangan pasukan Mongol dan ketika mereka tewas, mereka belum mempunyai anak."
"Ah, mengapa Ayah tidak pernah menceritakan hal ini kepada aku atau Ibu?"
Tanya Li Hong, dan ibunya juga memandang heran. Tan Kun Tek menghela napas.
"Adikku Tan Bi Lian sudah ditunangkan dengan pemuda lain, akan tetapi ia jatuh cinta kepada Pouw Keng In dan melarikan diri, meninggalkan orang tua kami dan sejak itu kami putus hubungan. Belakangan aku mendengar bahwa mereka di So-couw, akan tetapi karena khawatir aku tidak akan diterima dengan baik, aku pun tidak berani berkunjung ke sana. Setelah aku mendengar akan malapetaka yang menimpa keluarga Pouw, aku pergi ke sana dan mendengar bahwa mereka semua, termasuk Adikku Tan Bi Lian, telah tewas. Ceng Ceng, ceritakanlah apa lagi yang kau dengar dari Pouw Cun Giok? Apa dia menceritakan tentang orang tuanya?"
"Dia menceritakan semuanya padaku, Ayah. Dia menceritakan bahwa ketika malapetaka itu menimpa keluarga Pouw, dia masih berada dalam kandungan ibunya. Ayah dan ibunya melarikan diri, akan tetapi dapat dikejar Panglima Kong Tek Kok yang menyerang dengan anak panah sehingga Pouw Keng In tewas, juga ibu Giok-ko terluka dan hanyut di sungai. Akan tetapi ibunya ditolong oleh seorang pendekar......"
"Wah, Bibi Tan Bi Lian tertolong? Bagaimana selanjutnya, Enci Ceng?"
Li Hong bertanya, wajahnya berubah merah dan matanya bersinar-sinar.
Pouw Cun Giok itu kakak misannya!
"Suma Tiang Bun adalah pendekar yang menyelamatkan Tan Bi Lian dan merawatnya sampai wanita itu melahirkan.
Akan tetapi......
ia meninggal ketika melahirkan dan puteranya itu adalah......"
"Pouw Cun Giok! Jadi benar, dia adalah putera Bibi Tan Bi Lian! Aku mempunyai seorang Piauw-ko (Kakak Misan)!"
Kembali Li Hong berseru girang mendengar bahwa pemuda yang pernah dicintanya itu adalah kakak misannya. Wajah Tan Kun Tek berubah pucat dan bayangan duka menyelimuti wajahnya.
"Aduh, kasihan Adikku Tan Bi Lian. Ceng Ceng, engkau yang sudah mendengar riwayat keponakanku Pouw Cun Giok itu, ceritakanlah bagaimana selanjutnya."
Ceng Ceng menceritakan kembali apa yang pernah didengarnya dari Cun Giok.
Betapa Cun Giok dibesarkan oleh Suma Tiang Bun sebagai muridnya dan betapa kemudian Cun Giok dapat membalas dendam, membunuh Panglima Kong Tek Kok.
Akan tetapi gurunya juga tewas di tangan panglima itu.
Setelah Ceng Ceng selesai bercerita, Tan Kun Tek berseru.
"Terima kasih Tuhan! Aku bangga mempunyai seorang keponakan seperti Pouw Cun Giok!"
Berita tentang Pouw Cun Giok itu bagaikan secercah sinar yang menerangi kegelapan yang menyelubungi hatinya mendengar akan nasib adiknya.
"Ayah, ada yang lebih menggembirakan lagi! Kakak Pouw Cun Giok dan Enci Ceng Ceng saling mencinta""!"
"Hong-moi......!"
Ceng Ceng menegur Li Hong lalu menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.
"Heh-heh, ketika Ceng Ceng datang ke sini bersama Cun Giok dahulu, aku sudah menduga bahwa di antara mereka terdapat hubungan batin yang erat, dapat dilihat dari pandang mata dan suara mereka ketika bicara!"
Ban-tok Niocu tertawa.
"Bagus sekali! Aku akan merasa berbahagia kalau keponakanku itu menjadi jodohmu, Ceng Ceng!"
Kata Tan Kun Tek sambil tertawa pula.
"Akan tetapi, ......bolehkah anak kita menikah dengan keponakan kita? Mereka bersaudara misan......"
Nyonya Tan ragu.
"Mengapa tidak boleh? Biarpun kita telah menerima Ceng Ceng seperti anak kita sendiri, akan tetapi ia tidak mempunyai hubungan darah dengan Cun Giok!"
"Kalau begitu, aku pun akan merasa gembira,"
Kata Nyonya Tan.
"Ayah dan Ibu berdua, saya harap janganlah membicarakan urusan ini lagi karena...... karena Giok-ko sudah mempunyai tunangan."
"Hemm, ketika Giok-ko mengaku bahwa dia telah bertunangan, aku marah sekali dan menyerangnya! Karena itulah maka kami berdua berpisah darinya!"
Kata Li Hong cemberut.
"Sudahlah, Ceng Ceng berkata benar. Untuk sementara ini kita tidak perlu bicara soal perjodohan ltu. Tunggu sampai kita bertemu dengan Cun Giok."
Pada saat itu, seorang anak buah Pulau Ular datang berlari-lari memasuki gedung.
Dengan terengah-engah dia berdiri di ambang pintu dan memberi hormat dengan membungkuk.
Ban-tok Niocu mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mencorong tanda kemarahan.
Sebelum ia menjadi isteri Tan Kun Tek, kelancangan anak buah ini cukup untuk membuat ia menjatuhkan hukuman mati kepada pelanggar itu.
Akan tetapi semenjak Tan Kun Tek berada di situ sebagai suaminya, wataknya sudah berubah sama sekali.
Hal ini terjadi karena wajahnya yang dulu cacat kini mencadi sembuh dan mulus kembali, ditambah lagi Tan Kun Tek kini menjadi suaminya!
Kebahagiaan ini mengubah wataknya yang kejam mengembalikan wataknya semula ketika ia masih muda dan menjadi seorang pendekar wanita.
Bahkan kesembuhan wajahnya itu saja sudah membuat ia membuang julukan Kui-bo (Biang Iblis) menjadi Niocu (Nona).
Akan tetapi karena mereka terganggu, ia menghardik anak buahnya itu.
"Hemm, engkau datang mengganggu kami tanpa dipanggil ada kepentingan apakah?"
"Ampunkan kalau saya mengganggu, Niocu. Saya hendak melaporkan bahwa tak jauh dari pulau ini tampak ada seorang laki-laki berperahu dikepung dan dikeroyok pasukan Mongol yang berada di empat buah perahu besar. Kami tidak berani mengambil tindakan sebelum ada perintah dari Niocu."
"Ibu, kita harus bantu siapa saja yang dimusuhi pasukan Mongol!"
Kata Li Hong yang sudah bangkit berdiri. Ibu atau gurunya mengangguk.
"Mari kita lihat!"
Ban-tok Niocu, Tan Kun Tek, Li Hong, dan Ceng Ceng segera berlari keluar dari gedung itu mengikuti anak buah yang menjadi penunjuk jalan.
Adapun Nyonya Tan yang tidak memiliki ilmu silat tinggl, tidak ikut dan berdiam di rumah saja.
Setelah tiba di pantai pulau itu, mereka berempat melihat seorang laki-laki yang berpakaian serba biru sedang dikeroyok duapuluh orang lebih.
Laki-laki itu bagaikan seekor burung berlompatan dari satu ke lain perahu besar, mengamuk dengan pedangnya dan tampak dia merobohkan beberapa orang pengeroyok.
Biarpun dari pantai itu tidak dapat dilihat jelas, namun dari seragam para pengeroyok mudah dikenal bahwa mereka adalah para perajurit Mongol.
"Mari kita bantu orang yang dikeroyok pasukan Mongol itu!"
Kata Tan Kun Tek.
Dia dan Ban-tok Niocu masuk ke sebuah perahu kecil, sedangkan Li Hong dan Ceng Ceng masuk ke perahu lain.
Dua buah perahu itu segera didayung cepat menuju ke tempat di mana perkelahian masih berlangsung seru.
Setelah agak dekat, mereka melihat bahwa yang dikeroyok itu adalah seorang pemuda berpakaian serba biru yang cukup lihai.
Biarpun dikeroyok demikian banyaknya lawan, dia dapat bergerak lincah dan tidak terdesak.
Akan tetapi kini empat buah perahu besar itu saling mendekat dan para perajurit berkumpul di sebuah perahu di mana pemuda itu dikeroyok sehingga kini dia dikeroyok banyak perajurit Mongol.
Karena yang mengeroyoknya banyak sekali, mulailah pemuda itu memutar pedang melindungi dirinya sambil mundur dan dia melompat ke arah perahu kecil yang tadi ditinggalkannya ketika dia melompat ke atas perahu besar para pengeroyoknya.
Perahu itu berada di tempatnya karena sebelum melompat ke perahu besar, pemuda itu telah melepas jangkar untuk menahan perahu agar jangan hanyut oleh ombak.
Pada saat dia melompat itu, beberapa orang perajurit melepaskan anak panah ke arah tubuh yang masih melayang dari perahu besar ke perahu kecil itu!
Pemuda itu memutar pedangnya sehingga beberapa batang anak panah tertangkis dan terpental.
Akan tetapi sebatang anak panah agaknya mengenai tubuhnya karena sebelum dia mencapai perahu kecil, tubuhnya sudah terjungkal ke air laut!
"Ah, dia terkena anak panah!"
Seru Li Hong.
"Kalian jaga serbuan mereka, biar aku yang menolongnya!"
Kata Tan Kun Tek yang mempunyai keahlian renang.
Dia lalu terjun ke air dan berenang dengan cepat ke arah pemuda yang kini tampak tersembul di permukaan air dan berusaha untuk berenang dengan gerakan kaku karena dia telah terluka.
Sementara itu, Ban-tok Niocu cepat mendayung perahunya ke arah perahu besar seperti yang dilakukan Li Hong dan Ceng Ceng.
Ketika banyak anak panah meluncur ke arah mereka, Ceng Ceng memutar dayung menangkis sehingga banyak anak panah terpental.
Li Hong dan Ban-tok Niocu berhasil menangkap masing-masing dua batang anak panah, lalu mereka melemparkan anak panah ke arah para perajurit di atas perahu besar.
Terdengar teriakan mengaduh dan empat orang perajurit di perahu besar itu roboh!
Melihat ini, perwira yang memimpin pasukan itu agaknya menjadi jerih dan dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk memutar perahu mereka dan meninggalkan tempat yang berbahaya itu.
Mereka agaknya maklum bahwa empat orang yang datang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Apalagi mereka memang sudah mendengar akan berbahayanya Pulau Ular.
Tan Kun Tek berhasil merangkul pemuda baju biru yang tampaknya sudah lemas dan membawanya berenang mendekati perahu Ban-tok Niocu.
Pemuda itu lalu dinaikkan ke perahu dan mereka lalu mendayung perahu menuju pulau.
Pemuda itu agaknya pingsan.
Sebatang anak panah menancap di pundak kanannya.
Untung tidak terlalu dalam dan Tan Kun Tek segera mencabut anak panah itu selagi pemuda itu masih pingsan sehingga tidak merasakan kenyerian hebat.
Karena tidak membawa obat, maka Tan Kun Tek lalu menggunakan robekan baju pemuda itu untuk membalut luka itu.
Agar darahnya tidak banyak keluar, dia menotok jalan darah di sekitar pundak.
Pemuda itu masih pingsan dan suami isteri itu mengamati wajah itu dengan penuh perhatian.
Pemuda itu berusia sekitar duapuluh dua tahun.
Tubuhnya sedang namun tegap berisi, dengan dada bidang dan pinggang kecil.
Wajahnya berkulit putih bersih.
Alisnya tebal hitam berbentuk golok.
Hidungnya mancung dan bentuk bibirnya bagus.
Sebuah wajah yang amat tampan!
Pakaiannya dari sutera biru dengan pakaian dalam putih.
Melihat sutera yang dijadikan pakaian itu, dapat diduga bahwa dia pemuda dusun yang sederhana.
Ketika dia ditolong oleh Tan Kun Tek, walaupun dalam keadaan pingsan pemuda itu masih memegang pedangnya!
Kini pedang itu oleh Kun Tek diletakkan di perahu.
Sebatang pedang yang indah, namun agak aneh karena ujungnya terbelah dua.
Sebagai ahli silat tinggi, suami isteri itu maklum bahwa keadaan pedang yang ujungnya bercabang ini dapat dipergunakan untuk merampas senjata lawan.
Dua buah perahu itu tiba di tepi pulau dan pada saat itu, pemuda baju biru itu siuman dari pingsannya.
Begitu membuka kedua matanya, dia cepat bangkit duduk, lalu melompat ke daratan dalam sikap siap bertanding!
Akan tetapi ketika melihat Tan Kun Tek, Ban-tok Niocu, Ceng Ceng dan Li Hong menghampirinya dan berdiri di depannya, dia membelalakkan sepasang matanya yang lebar dan bersinar tajam, memandang heran dan mengendurkan kembali urat-urat tubuhnya yang tadi siap membela diri.
"Kami bukan musuh, orang muda. Kami bahkan tadi membantumu, mengusir para perajurit Mongol dan aku menolongmu dari air,"
Kata Tan Kun Tek sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya yang memegang pedang pemuda itu.
"Ini pedangmu, terimalah."
Akan tetapi pemuda itu tidak menerima pedangnya, melainkan menjatuhkan diri berlutut.
"Ah, Lo-cianpwe (Orang Tuan Gagah) sekalian telah menolong dan menyelamatkan nyawa saya, sungguh saya berhutang budi dan nyawa. Banyak terima kasih saya haturkan......"
Tiba-tiba dia terkulai dan terguling roboh.
Pingsan!
Ceng Ceng yang memiliki keahlian mengobati orang sakit tanpa disuruh lagi cepat menghampiri tubuh pemuda yang rebah telentang itu.
Setelah memeriksa denyut nadi, biji mata, dan meraba dada pemuda itu, ia bangkit dan berkata kepada ayah, ibu, dan adiknya.
"Bagaimana keadaannya, Enci Ceng?"
Tanya Li Hong yang sejak tadi memandang ke arah pemuda itu dengan jantung berdebar. Baginya, wajah itu tampan, dan gagah menarik sekali.
"Luka tusukan anak panah di pundaknya itu tidak berbahaya, akan tetapi aku mendapatkan bahwa dalam tubuhnya terdapat luka-dalam yang cukup hebat, yang membuat detak jantungnya lemah sekali dan jalan darahnya kacau. Kalau tidak segera diobati, keadaannya dapat membahayakan nyawanya."
Mendengar ini, Ban-tok Niocu berjongkok dan meraba-raba dada pemuda itu dengan tangan kirinya. Lalu ia bangkit berdiri dan berkata kepada Ceng Ceng.
"Aku tidak menemukan akibat keracunan dalam tubuhnya."
"Benar, Ibu. Luka dalam tubuhnya bukan karena hawa beracun, melainkan oleh getaran hebat, mungkin pukulan sakti yang membuat jalan darahnya kacau dan ini mengancam jantungnya."
Tan Kun Tek lalu menyuruh anak buah Pulau Ular yang sudah berdatangan di situ untuk menggotong pemuda itu menuju perkampungan mereka.
Ceng Ceng diserahi tugas merawat dan mengobati pemuda itu.
Gadis itu memeriksa dengan teliti lalu memberi obat.
Malam itu, dengan ditemani seorang pelayan wanita setengah tua yang siap membantu Ceng Ceng mempersiapkan keperluan berobat, Ceng Ceng menjaga pemuda yang dirawatnya.
Hal ini adalah wajar saja karena memang ia yang menjadi tabibnya dan yang bertanggung jawab atas kesembuhan orang itu.
Tadinya Li Hong menemaninya, akan tetapi gadis ini lalu kembali ke kamarnya sedangkan Ceng Ceng duduk di atas kursi, tak jauh dari pembaringan di mana pemuda itu rebah telentang.
Sekitar tengah malam, keadaan yang sunyi itu membuat Ceng Ceng yang duduk di kursi mulai tenggelam dalam samadhi.
Tubuhnya seperti orang tidur akan tetapi perasaannya masih peka sehingga apabila terdengar suara yang tidak wajar, ia pasti akan terbangun.
Pelayan setengah tua itu sudah tidur nyenyak di atas lantai yang bertilam babut.
Tiba-tiba Ceng Ceng membuka matanya.
Ia melihat pemuda itu telah berdiri di depannya.
Sepasang mata pemuda itu tampak bersinar-sinar tertimpa cahaya lampu dalam kamar itu.
Sejenak pandang mata pemuda itu seperti terpesona, kemudian tiba-tiba saja dia menjatuhkan diri berlutut di depan Ceng Ceng dan berkata lembut, dengan suara agak gemetar dan seperti kata-katanya ketika pertama kali dia bicara, dalam katanya terkandung logat asing yang aneh.
"Saya telah merasa sehat, dalam dada saya sudah tidak ada lagi rasa nyeri dan sesak. Melihat Nona yang berada di sini, pasti Nona yang telah mengobati dan menyembuhkan saya. Ah, Nona seperti seorang bidadari yang menyelamatkan nyawaku."
Dia memberi hormat sambil berlutut.
Tentu saja Ceng Ceng menjadi tersipu dan cepat ia turun dari kursi dan mundur agak jauh sambil membalikkan tubuh, tidak mau menerima penghormatan yang berlebihan seolah-olah ia seorang bidadari yang menerima penghormatan seorang manusia biasa.
"Jangan bersikap begitu, sobat. Aku hanya seorang manusia biasa. Bangunlah dan bersikaplah wajar saja!"
"Hi-hik, engkau memang benar, sobat! Ia memang seorang dewi yang berjuluk Pek-eng Sianli (Dewi Bayangan Putih), ahli pengobatan yang berhati mulia!"
Tiba-tiba Li Hong muncul dan berkata sambil tersenyum lebar. Li Hong menghampiri pemuda itu yang kini sudah bangkit berdiri.
"Engkau sudah sembuh? Bagus, sekarang engkau harus menceritakan siapa namamu, di mana tempat tinggalmu, dan mengapa engkau dikeroyok pasukan Mongol itu?"
Li Hong menghujankan pertanyaannya.
"Hong-moi, jangan ganggu dia. Dia baru saja sembuh dan masih lemah. Sobat, engkau istirahat dan tidurlah dulu agar kesehatanmu pulih. Besok saja engkau ceritakan keadaanmu kepada Ayah dan kedua Ibu kami."
Setelah berkata demikian, Ceng Ceng memegang tangan Li Hong, membangunkan pelayan yang tidur lalu mereka semua keluar dari kamar itu.
Pada keesokan harinya, setelah mandi dan bertukar pakaian, Ceng Ceng dan Li Hong yang tidur sekamar keluar dari kamar mereka.
Matahari pagi telah menyinari taman di luar rumah itu, sebuah taman yang penuh dengan bunga beraneka warna.
Ketika mereka melewati kamar yang dipergunakan oleh pemuda baju biru itu untuk tidur, mereka melihat seorang pelayan wanita setengah tua sedang membersihkan kamar itu.
Dari pintu yang terbuka Li Hong bertanya kepada pelayan itu.
"Di mana tamunya yang tidur di kamar ini?"
"Dia tadi menyuruh saya membersihkan kamar dan setelah mandi, dia keluar memasuki taman, Nona."
Li Hong dan Ceng Ceng saling pandang.
Tentu pemuda itu telah sembuh betul.
Pagi-pagi sudah bangun, mandi, dan berjalan-jalan di taman.
Tanpa bicara, hanya dengan pandang mata, mereka berdua sepakat keluar dan memasuki taman.
Di tengah taman itu, dari balik rumpun bambu, mereka melihat pemuda itu sedang berlatih silat pedang.
Setelah menonton beberapa saat lamanya, Ceng Ceng berbisik.
"Bagus, dia telah sembuh dan sehat kembali."
Dari kecepatan gerakan dan tenaga yang mendukung gerakan itu Ceng Ceng maklum bahwa pemuda itu sudah sehat kembali.
"Wah, kiam-hoat (Ilmu Pedang) itu lihai sekali!"
Li Hong berseru dan suaranya cukup kuat sehingga terdengar oleh pemuda itu yang segera menghentikan latihan pedangnya dan dia pun dengan cepat menghampiri dua orang gadis yang berada di balik rumpun bambu.
Dengan sikap hormat dan bibir tersenyum ramah pemuda itu mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi salam.
"Maafkan, saya telah lancang berlatih di dalam taman ini, Nona."
"Ah, tidak mengapa. Kami malah senang sekali melihat ilmu pedangmu yang hebat!"
Kata Li Hong dengan gembira.
"Aih, harap jangan terlalu memuji, Nona. Saya hanya dapat mainkan beberapa gerakan sederhana saja dan masih banyak mengharapkan petunjuk dari Nona berdua,"
Kata pemuda itu yang ternyata selain berwajah tampan dan bersikap gagah, juga pandai bicara dan sopan, juga rendah hati.
Li Hong semakin tertarik.
Memang tadinya, walaupun ia mengalah terhadap Ceng Ceng, hatinya masih terisi bayangan Pouw Cun Giok.
Akan tetapi setelah mendengar dari ayahnya bahwa Cun Giok adalah kakak misannya, putera dari bibinya, ia sudah menghilangkan bayangan itu.
Sekarang, ia benar-benar terpesona dan tertarik sekali kepada pemuda yang belum dikenalnya ini.
"Sobat, mari kita menghadap Ayah dan kedua Ibu kami yang biasanya sepagi ini sudah berada di ruangan depan,"
Kata Ceng Ceng.
Pemuda itu mengangguk, menghapus keringatnya dengan saputangan dan menyimpan pedangnya, lalu mengikuti mereka memasuki gedung.
Benar saja seperti dugaan Ceng Ceng tadi.
Tan Kun Tek bersama dua orang isterinya telah duduk di ruangan depan menghadapi meja di mana dihidangkan minuman air teh dan makanan kecil.
Melihat dua orang puterinya datang bersama pemuda yang menjadi tamu mereka, Kun Tek berkata dengan gembira.
"Ah, orang muda, agaknya engkau telah sembuh benar!"
Pemuda itu sudah memberi hormat kepada mereka dan berkata dengan lembut.
"Berkat budi kebaikan Lo-cianpwe berlima yang telah menolong dan menyelamatkan saya."
"Duduklah, orang muda. Kami sama sekali tidak melepas budi. Memang sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu orang yang dimusuhi pasukan Mongol."
Pemuda itu mengangguk, lalu duduk di atas kursi. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja. Tan Kun Tek lalu melanjutkan kata-katanya.
"Sebaiknya sebagai tuan rumah kami memperkenalkan diri kami lebih dulu. Orang muda, kini engkau berada di Pulau Ular dan kami sekeluarga berlima tinggal di pulau ini bersama anak buah kami. Aku bernama Tan Kun Tek, ini isteriku pertama bernama Lu Siang dan yang itu isteriku kedua bernama Gak Li. Dua orang gadis ini adalah anak-anak kami, yang ini bernama Ceng Ceng dan yang itu bernama Li Hong. Nah, sekarang kami ingin mendengar tentang dirimu dan bagaimana engkau sampai dikeroyok pasukan Mongol itu."
"Sungguh berbahagia sekali saya dapat bertemu dengan keluarga Lo-cianpwe yang gagah perkasa......"
"Mengapa menyebut Lo-cianpwe? Ayahku akan lebih senang kalau engkau menyebutnya Paman saja. Bukankah begitu, Ayah?"
Kata Li Hong.
"Ha-ha-ha, memang lebih baik begitu, karena bukankah kita semua memiliki pendirian yang sama, yaitu menentang kejahatan, apalagi yang dilakukan oleh para pembesar Mongol?"
"Terima kasih atas keramahan dan kehormatan yang diberikan kepada saya. Baiklah, Paman Tan, saya akan menceritakan tentang diri saya yang tak berharga dan bodoh ini. Nama saya Yauw Tek. Saya tidak tahu siapa orang tua saya. Ketika terjadi perang, balatentara Mongol menyerbu dan masuk desa kami. Ketika itu saya berusia tiga tahun dan tidak tahu apa-apa. Yang saya ingat hanyalah rumah-rumah terbakar dan saya lari keluar rumah. Saya ditolong seorang kakek tua yang membawa saya lari keluar dusun kami yang terbakar. Kakek itu menanyai saya, akan tetapi saya yang tahu hanyalah bahwa saya Yauw Tek. Maklum, ketika itu usia saya baru tiga tahun."
"Aduh kasihan"' kata Nyonya Tan yang bernama Lu Siang.
"Lalu bagaimana selanjutnya? di mana orang tuamu?"
"Pendeta yang menolong saya itu sudah menyelidiki dan katanya seluruh dusun terbakar dan...... Ayah Ibu saya...... menjadi korban, tewas di tangan pasukan Mongol,"
Kata pemuda itu dengan suara mengandung kedukaan.
"Jahanam benar pasukan Mongol!"
Li Hong berseru marah.
"Sudah banyak sekali rakyat yang tidak berdosa menjadi korban!"
"Tenanglah, Hong-moi, biarkan Yauw-twako (Kakak Yauw) melanjutkan ceritanya,"
Kata Ceng Ceng.
"Mulai hari itu saya menjadi murid Suhu Bu Beng Cu, yaitu pertapa yang telah menolong saya. Saya diajak pergi ke Pegunungan Himalaya dan hidup bersama Suhu selama belasan tahun sampai Suhu meninggal dunia karena usia tua."
"Nanti dulu, Yauw-sicu, engkau belum menceritakan dari dusun mana asalmu."
"Dusun kami yang dibasmi itu adalah dusun Kao-chun, sebuah dusun kecil di Propinsi Sin-kiang. Setelah Suhu meninggal dunia, saya lalu merantau sampai ke Tibet dan berguru kepada para Pendeta Lhama di Tibet."
"Ah, pantas ilmu silatmu lihai sekali, Yauw-twako!"
Kata Li Hong.
"Sekarang aku tahu mengapa logat bicaramu terdengar kaku dan asing. Kiranya engkau berasal dari Sin-kiang dan tumbuh besar di Himalaya dan Tibet,"
Kata Ceng Ceng.
"Akan tetapi bagaimana engkau bisa berada di Laut Timur ini dan dikeroyok pasukan Mongol!"
Tanya Ban-tok Niocu. Yauw Tek menghela napas dan termenung, agaknya mengumpulkan ingatannya lalu dia melanjutkan ceritanya.
"Setelah saya mempelajari ilmu dari para Lhama di Tibet dan sudah merasa dewasa, maka sekitar dua tahun yang lalu saya meninggalkan Tibet. Saya pergi ke dusun Kao-chun untuk menyelidiki, dan memang benar, hampir seluruh penduduk dusun itu, termasuk Ayah ibu saya, tewas oleh pasukan Mongol yang lewat di dusun itu. Saya lalu mengambil keputusan untuk merantau ke timur dan membalas dendam dengan menentang para pembesar Mongol di mana pun saya berada. Sudah banyak saya menentang, memusuhi bahkan membunuh para pembesar yang menindas rakyat sehingga saya menjadi buronan. Saya terus merantau dan dalam perjalanan saya mendengar akan nama-nama besar para datuk dan tokoh kang-ouw yang berjiwa patriot dan menentang penjajah, di antaranya saya mendengar akan nama Pulau Ular. Maka, saya mencoba untuk datang berkunjung dan berkenalan dengan Paman sekalian. Akan tetapi ketika saya sedang mendayung perahu, ada empat perahu besar penuh perajurit Mongol mengejar dan mengepung. Agaknya mereka memang sudah membayangi saya sejak di daratan sana. Saya berusaha untuk melawan mati-matian, akan tetapi karena saya tidak biasa bermain di air, saya takut kalau terjatuh ke air sehingga saya harus berlompatan dari perahu ke perahu. Akan tetapi akhirnya, ketika saya hendak melarikan diri dan melompat ke perahu kecil saya, saya dihujani anak panah. Saya sudah mencoba untuk menangkis, akan tetapi sebatang anak panah mengenai pundak saya sehingga saya terjatuh ke dalam air......"
"Ya, selanjutnya kami sudah melihat sendiri,"
Kata Ban-tok Niocu.
"Untung Paman berempat datang menolong, kalau tidak, tentu saya tewas tenggelam dalam air laut, atau mati dihujani anak panah dari perahu mereka. Maka, sekali lagi saya menghaturkan banyak terima kasih kepada Cu-wi (Anda Sekalian)."
Yauw Tek segera berlutut dan memberi hormat kepada mereka berlima. Tan Kun Tek cepat menghampiri dan mengangkat bangun pemuda itu.
"Sudahlah, Yauw Tek, jangan terlalu sungkan. Orang-orang seperti kita adalah segolongan, sudah sepatutnya kalau di antara kita saling menolong. Tidak perlu berterima kasih kepada kami. Akan tetapi ada satu hal yang ingin kuketahui. Kemarin ketika aku melihat permainan pedangmu melawan pengeroyokan para perajurit, aku melihat ilmu pedangmu aneh dan lihai. Mirip ilmu pedang Go-bi-pai, akan tetapi agak lain. Apakah ilmu pedangmu itu, Yauw Tek?"
Kata Tan Kun Tek dengan ramah.
"Paman, seperti sudah saya ceritakan, guru saya yang pertama adalah pertapa yang merawat dan membesarkan saya sejak dia menolong saya sewaktu saya kecil. Mendiang guru saya itu hanya saya ketahui mengaku bernama Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama), juga tidak pernah mengatakan ilmu silatnya dari aliran perguruan mana. Kemudian, saya berguru kepada para pendeta Lhama di Tibet selama sekitar dua tahun dan saya menghimpun ilmu-ilmu yang saya pelajari dari Suhu Bu-beng-cu dan para Suhu Pendeta Lhama, maka terbentuklah ilmu pedang saya itu."
"Wah, ilmu silatmu pasti lihai sekali, Yauw-twako!"
Kata Li Hong memuji. Lalu ia memandang ayahnya dan ibu tirinya.
"Ayah dan ibu, kalau Yauw-twako mau membantu aku dan Enci Ceng mencari harta karun Kerajaan Sung itu, hal ini tentu baik sekali!"
"Harta karun......??"
Yauw Tek bertanya, keheranan terbayang di wajahnya.
"Ayah, Ibu, bolehkah aku menceritakannya kepada Yauw-twako?"
Tanya Li Hong.
Tan Kun Tek dan Ban-tok Niocu yang percaya bahwa, pemuda yang dimusuhi pasukan Mongol ini tentu seorang pendekar yang berjiwa patriot, apalagi orang tuanya terbunuh oleh pasukan Mongol.
Maka tidak ada lagi yang perlu dicurigakan dan Tan Kun Tek bersama kedua isterinya sudah percaya sepenuhnya kepada pemuda itu.
Maka mendengar pertanyaan Li Hong, ayah dan ibu gadis itu mengangguk.
Setelah memperoleh persetujuan ayah ibunya, Li Hong lalu bercerita kepada Yauw Tek dengan suara lantang.
"Begini, Twako. Sebelum Lo-cianpwe Liu Bok Eng, Ayah dari Enci Ceng ini, tewas dibunuh Panglima Mongol dan pasukannya, dia meninggalkan sehelai peta harta karun kepada Enci Ceng dengan pesan agar harta karun itu ditemukan kemudian diberikan kepada para pejuang yang hendak menentang dan merobohkan kekuasaan orang Mongol."
"Ah, baik sekali itu!"
Seru Yauw Tek.
"Akan tetapi, milik siapakah harta karun itu?"
"Harta karun itu berasal dari harta Kerajaan Sung yang dicuri dan disembunyikan oleh seorang Menteri Thaikam yang jahat dan korup. Thaikam itu dibinasakan oleh Panglima Kerajaan Sung, yaitu Lo-cianpwe Liu Bok Eng dan peta itu terjatuh ke tangannya. Setelah Kerajaan Sung jatuh, maka mendiang Lo-cianpwe Liu Bok Eng meninggalkan pesan kepada Enci Ceng untuk mencari harta pusaka itu. Nah, ketika itu aku membantu Enci Ceng Ceng, dibantu pula oleh Pouw Cun Giok yang berjuluk Bu-eng-cu."
"Bu-eng-cu? Ah, mirip julukan Guru saya, Bu-beng-cu walaupun artinya jauh berbeda. Bu-eng-cu berarti Si Tanpa Bayangan sedangkan Bu-beng-cu berarti Si Tanpa Nama,"
Kata Yauw Tek yang sejak tadi tertarik sekali mendengar cerita Li Hong.
Li Hong lalu melanjutkan ceritanya sampai ditemukannya peti harta karun oleh Panglima Kim Bayan yang menangkap mereka bertiga dan betapa peti itu kosong.
Pencurinya meninggalkan huruf THAI SAN di dasar peti.
"Nah, begitulah ceritanya, Twako. Maka sekarang Enci Ceng Ceng dan aku bertekad untuk menyelidiki ke Thai-san, mencari pencuri itu dan berusaha mendapatkan kembali harta karun untuk diserahkan kepada mereka yang berhak, yaitu para pejuang yang berusaha membasmi penjajah Mongol. Sekarang setelah engkau mendengar cerita ini, maukah engkau membantu kami berdua untuk mencari harta karun itu?"
Yauw Tek mengalihkan pandang matanya kepada Tan Kun Tek dan kedua orang isterinya.
"Tentu saja aku bersedia, Hong-moi, kalau Paman Tan dan kedua Bibi mengijinkannya."
"Ayah dan Ibu tentu setuju, bukan? Kalau Yauw-twako mau membantu kami, selain keadaan kami menjadi lebih kuat, juga lebih besar kemungkinan kami akan berhasil mendapatkan kembali harta karun itu,"
Kata Li Hong yang lalu bangkit dan merangkul Ban-tok Niocu.
"Ibu, tentu boleh dia menemani kami, ya......?"
Ia merengek manja. Li Hong tahu benar bahwa kalau gurunya ini menyetujui, tentu Ayah dan Ibu kandungnya juga tidak keberatan. Ban-tok Niocu tersenyum.
"Perjalanan kalian berdua ke Thai-san mencari harta karun itu bukan pekerjaan ringan. Kukira banyak tokoh kang-ouw yang mendengar akan harta karun itu akan berdatangan dan memperebutkannya. Apalagi seperti telah kuberitahukan kepadamu, di Thai-san banyak terdapat tokoh yang sesat dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Oleh karena itu, Yauw Tek ini baru ada gunanya menemani kalian berdua kalau dia memiliki ilmu kepandaian yang dapat diandalkan. Untuk mengetahui kekuatannya, perlu diuji dulu. Nah, Yauw Tek, bersediakah engkau kami uji kemampuanmu?"
Yauw Tek memberi hormat kepada Ban-tok Niocu Gak Li.
"Bibi, saya adalah seorang yang bodoh, akan tetapi saya akan merasa sangat bahagia kalau sedikit kepandaian yang saya miliki ini dapat saya pergunakan untuk membantu Ceng-moi dan Hong-moi menemukan harta karun itu. Tentu saja saya tidak keberatan kalau akan diuji, hanya saya mohon Bibi agar mengasihani dan bertindak lunak terhadap diri saya."
Ban-tok Niocu tersenyum, girang mendengar ucapan yang merendah itu, menandakan bahwa pemuda ini memang sangat rendah hati, sikap yang menyenangkan dari seseorang.
"Kami ingin melihat kelihaian ilmu silatmu, maka biarlah Li Hong yang menguji ilmu silat tangan kosongmu, kemudian Ceng Ceng yang akan menguji ilmu pedangmu. Bagaimana, bersediakah engkau, Yauw Tek?"
"Saya siap, Bibi."
"Nah, mari kita ke Lian-bu-thia (Ruangan Berlatih Silat),"
Kata Tan Kun Tek yang gembira juga mendengar itu. Mereka lalu pergi menuju ke ruangan tempat latihan yang cukup luas.
"Li Hong, engkau ujilah ilmu silat tangan kosong Yauw Tek dan jangan bersikap sungkan, pergunakan seluruh kemampuanmu untuk mengalahkan dia!"
Ban-tok Niocu agaknya sudah melihat tanda-tanda bahwa murid yang menjadi anaknya itu agaknya tertarik dan suka kepada Yauw Tek maka dipesannya agar menguji dengan kesungguhan hati.
"Baik, Ibu. Mari, Yauw-twako!"
Li Hong mengajak pemuda itu dan ia sudah menuju ke tengah ruangan.
Setelah memberi hormat kepada Tan Kun Tek dan kedua isterinya, Yauw Tek menghampiri Li Hong dan setelah mereka saling berhadapan dia berkata.
"Hong-moi, harap engkau menaruh iba kepadaku dan jangan menjatuhkan tangan maut."
Li Hong tersenyum.
"Bersiaplah, Twako."
Ia memasang kuda-kuda dan setelah Yauw Tek juga memasang kuda-kuda dan siap, Li Hong berseru nyaring.
"Twako, sambut seranganku!"
Ia lalu menyerang dengan cepat dan kuat sekali.
Karena selain untuk menguji pemuda itu, ia pun ingin memamerkan kelihaiannya, maka begitu menyerang ia sudah menggunakan jurus Pai-in-jut-sui (Dorong Awan Keluar Puncak).
Kedua tangannya terbuka dan menyerang dengan dorongan kuat ke arah dada Yauw Tek.
Pukulan ini bukan main-main karena dari kedua tangannya menyambar hawa pukulan yang amat kuat ke arah lawan.
Hanya saja kalau dalam perkelahian menghadapi musuh Li Hong dapat mengisi serangan ini dengan dorongan yang mengandung hawa beracun, sekali ini ia tidak menggunakannya.
Namun angin dorongan itu masih tetap kuat dan terasa menyambar dada pemuda itu sebelum kedua tangan yang menyerang itu menyentuhnya.
Yauw Tek cepat miringkan tubuhnya dan dari samping kedua tangannya membuat gerakan melingkar untuk menangkis kedua tangan Li Hong.
Akan tetapi gadis itu menarik kembali kedua tangannya yang gagal menyerang, lalu menyambung dengan tendangan kaki miring dari samping, tendangan yang mencuat dengan cepat ke arah leher lawan.
Kaki kanannya itu mencuat tinggi dan mengandung kekuatan besar.
Kembali Yauw Tek mengelak dengan mudah.
Li Hong merasa kagum di samping penasaran juga karena dua serangannya yang cukup dahsyat itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Yauw Tek.
"Haiiiittt......!"
Kini ia menyerang lebih dahsyat lagi karena ia menggunakan jurus Pai-san-to-hai (Tolak Gunung Uruk Laut).
Kedua tangannya menyerang dengan pukulan-pukulan kuat ke arah kepala dan diseling tendangan kaki ke arah perut.
Yauw Tek terkejut juga dan diam-diam dia memuji ketangkasan gadis itu.
Akan tetapi dengan tenang dia mundur dan setiap kali kaki dan tangan gadis itu menyambar, dia menyambut dengan tangkisan sehingga terdengar suara dak-duk-dak-duk berulang-ulang.
Li Hong merasa betapa lengan dan kakinya tergetar setiap kali bertemu tangan pemuda itu yang menangkisnya.
"Twako, jangan mengalah terus. Balas seranganku!"
Li Hong berseru ketika pada serangan selanjutnya pemuda itu hanya mengelak atau menangkis. Sampai belasan jurus semua serangannya dapat dihindarkan lawan, akan tetapi pemuda itu belum pernah membalas.
"Haiiiittt""!"
Kini Li Hong mengeluarkan ilmu silat simpanannya yang disebut Pat-hong-hong-i (Delapan Penjuru Angin Hujan)!
Gerakannya cepat sekali, tubuhnya seolah menjadi bayangan yang berkelebatan dari delapan penjuru, kedua tangannya menghujankan serangan berupa tamparan, dorongan, pukulan, atau totokan yang amat cepat dan dahsyat.
Serangan kedua tangan yang bertubi-tubi masih diselingi tendangan-tendangan yang membahayakan lawan.
Yauw Tek semakin kagum menghadapi serangan ini.
"Bagus!"
Dia berseru dan tiba-tiba tubuhnya berputar-putar seperti gasing! Demikian cepatnya tubuh itu berputar sehingga yang tampak hanya bayangannya saja, putarannya makin lama semakin cepat.
"Silat Angin Puyuh!"
Ban-tok Niocu Gak Li berseru heran dan memandang kagum.
Ia pernah mendengar akan ilmu silat yang dilakukan dengan tubuh berpusing seperti itu yang disebut Silat Angin Puyuh dan menjadi andalan para ahli silat dari daerah barat, terutama dari Tibet!
Li Hong sendiri terkejut sekali karena pandang matanya tidak dapat mengikuti gerakan tubuh lawan yang berpusing itu sehingga ia tidak dapat mengarahkan serangannya.
Bahkan ketika pandang matanya mengikuti bayangan yang berpusing itu, kepalanya menjadi pening!
"Haiiitt......!"
Dengan nekat Li Hong kini menggunakan pukulannya yang terampuh yang biasanya disebut Hek-tok Tong-sim-ciang (Tangan Racun Hitam Getarkan Hati), akan tetapi sekali ini ia tidak menyertakan hawa beracun pukulannya.
Namun tetap saja pukulannya mengandung sin-kang (tenaga sakti) yang kuat sekali.
Yauw Tek menyambut pukulan tangan kanan Li Hong yang terbuka dan didorongkan itu dengan tangan kirinya.
"Plakk......!"
Li Hong terkejut karena merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan telapak tangan yang lembut dan dingin, lunak seperti karet.
Ia hampir menjerit karena tangannya itu tidak dapat ditarik kembali, seolah melekat pada telapak tangan pemuda itu.
Akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang tangguh, ia dapat menenangkan hatinya dan kini tangan kirinya menotok ke arah dada Yauw Tek.
Kalau totokannya itu mengenai sasaran, tubuh Yauw Tek tentu akan menjadi lemas sehingga ia mampu merenggut lepas tangan kanannya yang melekat pada tangan kiri lawan.
Akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangan kirinya dapat ditangkap oleh tangan kanan Yauw Tek!
Ia berusaha untuk memutar lengannya dan berbalik menyerang, akan tetapi tiba-tiba, entah dengan gerakan bagaimana, tanpa dapat dia hindarkan lagi, kedua lengannya itu telah terputar ke belakang tubuhnya dan ia telah ditelikung ke belakang tubuhnya!
Betapa pun kuat usahanya untuk melepaskan diri, ia sama sekali gagal.
Akan tetapi tiba-tiba Yauw Tek melepaskan kedua lengannya dan tubuhnya berkelebat ke depan Li Hong sehingga mereka saling berhadapan lagi.
"Hong-moi, maafkan aku dan terima kasih bahwa engkau telah banyak mengalah,"
Kata pemuda itu dengan suara tulus, bukan mengejek.
Muka Li Hong berubah kemerahan dan ia tetap gembira, hal yang bagi Ceng Ceng mengherankan karena ia mengenal adik angkatnya itu sebagai seorang gadis keras hati yang sukar menerima kekalahannya.
Diam-diam ia menduga bahwa Li Hong tentu tertarik dan jatuh hati kepada Yauw Tek!
"Aih, Yauw-twako, engkaulah yang banyak mengalah.
Ilmu silatmu lihai sekali dan aku merasa kalah,"
Kata Li Hong dan ia pun lari mendekati keluarganya dan duduk pula di atas bangku.
"Bagus! Lihai sekali gabungan ilmu silat dan Siauw-kin-na-jiu-hwat (IImu Silat Menangkap dan Mencengkeram) itu!"
Seru Ban-tok Niocu.
"Engkau lihai sekali, Yauw Tek. Kami merasa kagum!"
Kata pula Tan Kun Tek. Sebagai seorang murid Bu-tong-pai dia pun mengenal ilmu silat yang aneh dan yang memiliki ciri khas ilmu bela diri dari luar.
"Ah, Paman dan Bibi terlalu memuji. Saya harus menerima banyak petunjuk dari Paman sekalian,"
Kata Yauw Tek merendah.
"Ceng Ceng, sekarang giliranmu untuk menguji ilmu pedang Yauw Tek!"
Kata Ban-tok Niocu dengan gembira.
Wanita majikan Pulau Ular ini sudah mendengar dari Li Hong bahwa selain ilmu pengobatannya yang manjur, Ceng Ceng juga memiliki ilmu pedang yang hebat walaupun ia hanya menggunakan sebatang ranting kayu sebagai pengganti pedang.
Ceng Ceng mengangguk dan melangkah lembut ke tengah ruangan sambil memegang sebatang ranting yang sudah ia siapkan.
Kini mereka berhadapan dan Ceng Ceng berkata lembut.
"Yauw-twako, marilah kita berlatih pedang sebentar. Kami semua ingin menyaksikan kehebatann ilmu pedangmu. Cabutlah pedangmu, Twako."
Yauw Tek memandang gadis itu dan ketika melihat gadis itu hanya memegang sebatang ranting yang besarnya seperti lengan tangannya, dia bertanya.
"Ceng-moi, mana pedangmu? Mengapa engkau hanya membawa sebatang ranting kayu?"
Ceng Ceng tersenyum.
"Twako, aku tidak pernah menggunakan pedang. Aku ngeri melihat pedang yang tajam dan runcing, maka aku akan menggunakan ini sebagai pengganti pedang."
Yauw Tek mengerutkan alisnya.
Dia bukan seorang bodoh.
Kalau gadis ini berani menghadapi pedangnya dengan senjata ranting kayu maka sudah dapat diduga bahwa gadis cantik jelita yang lemah lembut ini pasti memiliki ilmu yang amat tinggi!
Dia mencabut pedangnya yang ujungnya bercabang, lalu berkata dengan sikap lembut dan hormat.
"Ceng-moi, sebelum kita mulai berlatih silat pedang, bolehkah lebih dulu aku memeriksa ranting yang kaujadikan senjata itu?"
"Eh? Apakah engkau mencurigai rantingku ini, Twako? Kalau engkau ingin memeriksanya, boleh saja!"
Ia lalu menjulurkan tangan menyerahkan ranting itu kepada Yauw Tek. Dengan tangan kirinya Yauw Tek menerima ranting itu dan tiba-tiba pedangnya berkelebat cepat.
"Crakk!!"
Ranting itu telah disambar pedang dan terbelah menjadi dua dengan membujur!
Kini ranting itu telah menjadi dua batang yang sama panjangnya dan agak tipis.
Yauw Tek lalu menyimpan pedangnya dan sambil memegang sebatang belahan ranting dengan tangan kanan seperti orang memegang pedang, dia menyerahkan belahan yang lain kepada Ceng Ceng sambil tersenyum dan berkata.
"Maaf, Ceng-moi. Sebaiknya kita berlatih secara adil, masing-masing menggunakan sebatang ranting."
Tadinya Ceng Ceng dan yang lain-lain terkejut melihat pemuda itu menggunakan pedang membacok ranting, akan tetapi setelah melihat maksud yang sebenarnya, Ceng Ceng menerima ranting itu sambil tersenyum.
Ceng Ceng menerima dengan tangan kanan lalu berkata.
"Gerakan pedang Yauw-twako membelah ranting tadi saja sudah membuktikan betapa hebatnya ilmu pedang Twako. Mari kita bermain pedang dengan ranting ini!"
Setelah berkata demikian, Ceng Ceng menyerang dengan tusukan.
Akan tetapi sebagai pembukaan, untuk memberi kesempatan kepada lawan menjaga diri, tusukannya itu dilakukan dengan gerakan lambat.
Setelah Yauw Tek mengelak dan memutar rantingnya untuk menjaga diri, barulah Ceng Ceng melanjutkan serangannya dengan gerakan yang cepat bukan main.
Yauw Tek terkejut sekali.
Tak disangkanya Ceng Ceng memiliki gerakan yang demikian ringan dan cepatnya.
Dia segera memutar rantingnya dan terjadilah pertandingan adu ilmu pedang yang seru.
Ceng Ceng berseru lirih dan menyerang dengan tusukan dalam jurus Giok-li-tauw-so (Sang Dewi Menenun) dan begitu tusukannya tertangkis lawan, ia melanjutkan dengan jurus Lian-cu Sam-kiam (Tiga Tikaman Pedang Berantai).
Serangannya ini hebat sekali, pedangnya menikam secara sambung menyambung dengan amat cepatnya sehingga sukar untuk dielakkan lawan.
Melihat ini, Yauw Tek cepat melindungi dirinya dengan jurus Pek-kong-koan-jit (Pelangi Putih Menutup Matahari).
"Trik-trik-trikk......!"
Tiga kali ranting itu bertemu dan sungguh hebat.
Biarpun yang bertemu itu hanya ranting kayu, namun tampak bunga api berpijar!
Makin lama pertandingan ilmu pedang itu menjadi semakin hebat, keduanya mengeluarkan jurus-jurus yang dahsyat, namun selalu dapat dielakkan atau ditangkis lawan.
Semua serangan kedua pihak selalu gagal.
Ceng Ceng mulai memperlihatkan andalannya, yaitu gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa.
Kini gerakan tubuh sedemikian cepatnya sehingga tubuh gadis itu seolah berubah dan lenyap berganti bayangan putih yang berkelebatan ke sana-sini.
Melihat ini, agaknya dia merasa tidak mampu menandingi kecepatan gerakan lawan, Yauw Tek mengambil sikap diam dengan kuda-kuda kokoh dan melindungi tubuhnya dengan perisai sinar rantingnya.
Pertandingan itu menarik sekali, seolah melihat seekor burung yang amat cepat menyambar-nyambar ke arah lawannya yang seolah menjadi seekor ular yang melingkar diam akan tetapi selalu menyambut serangan burung dengan patukan moncongnya.
"Ah, pantas ia dijuluki Pek-eng Sianli Bayangan Putih), lihat betapa cepat gerakannya!"
Kata Tan Kun Tek memuji anak angkatnya.
"Bocah she Yauw itu pun hebat,"
Kata Gak Li atau Ban-tok Niocu.
"Lihat, dia menggunakan pertahanan Sin-coa-pai-bwe (Ular Sakti Menyabetkan Ekornya)."
Pertahanan yang dipergunakan Yauw Tek itu memang kuat sekali sehingga semua serangan Ceng Ceng dapat ditangkisnya.
Juga karena dia lebih banyak berdiam diri menanti serangan, maka dia tidak membuang banyak tenaga seperti halnya Ceng Ceng yang berkelebat ke sana-sini dan ini menyerap banyak tenaganya.
Tentu saja dengan cara menutup diri dan hanya menangkis, Yauw Tek sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menyerang balik.
Setelah pertandingan lewat sekitar limapuluh jurus, Ceng Ceng melompat menjauhi dan berdiri sambil tersenyum dan mengusap keringat dari leher dan dahinya.
Yauw Tek juga melompat ke depannya dan menjura.
"Ah, Kiam-sut (Ilmu Pedang) Ceng-moi sungguh membuatku kagum sekali. Aku mengaku kalah."
Ceng Ceng tersenyum dan menoleh ke arah keluarganya yang duduk di pinggir ruangan. Ia menggunakan tangan kirinya menunjuk ke arah rambut kepalanya, lalu menjura kepada Yauw Tek sambil berkata.
"Ah, Yauw-twako terlalu merendahkan diri. Akulah yang mengaku kalah. Ilmu pedang Twako sungguh amat lihai, aku masih perlu mendapatkan banyak petunjuk tentang ilmu pedang darimu."
Semua orang melihat betapa pita sutera putih yang tadinya mengikat rambut Ceng Ceng telah terlepas.
Hal ini berarti bahwa dalam gebrakan terakhir tadi ranting di tangan Yauw Tek telah berhasil "mencuri"
Dan membuat pita rambut itu terlepas! Li Hong bertepuk tangan dan ia pun melompat berdiri, menghadapi ayah ibunya.
"Ayah, jelas bahwa Yauw-twako telah dapat menandingi dan mengungguli ilmu silat tangan kosongku dan ilmu pedang Enci Ceng! Dia pantas menemani kami mencari harta karun itu, bukan?"
Tan Kun Tek dan dua orang isterinya tersenyum.
Dia dan Gak Li tadi dapat melihat betapa dalam ilmu silat tangan kosong, Yauw Tek jelas lebih tangguh dibandingkan Li Hong dan dalam pertandingan ilmu pedang, walaupun Ceng Ceng unggul dalam kecepatan gerakan, namun pemuda itu memiliki ilmu pedang yang aneh sehingga tahu-tahu dapat mencuri di antara hujan serangan Ceng Ceng untuk menyentuh pita rambut gadis itu dengan ujung rantingnya.
Jelas bahwa ilmu pedang pemuda itu memang hebat sekali.
"Mari kita bicarakan hal ini di dalam,"
Kata Tan Kun Tek dan mereka semua menuju ke ruangan dalam dan duduk mengelilingi meja besar yang bundar. (Lanjut ke
Jilid 05) Harta Karun Kerajaan Sung (Seri ke 02 -Pendekar Tanpa Bayangan) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Kami mengakui bahwa ilmu silat Yauw Tek cukup tangguh untuk dapat menemani kalian berdua dan memperkuat keadaan kalian. Akan tetapi, Yauw Tek, engkau harus mengetahui bahwa perjalanan mencari harta karun ini merupakan pekerjaan yang berat dan berbahaya. Banyak tokoh kang-ouw tentu akan berusaha untuk mendapatkannya karena berita tentang harta karun yang mungkin dicuri orang yang tinggal di Thai-san pasti tersiar luas. Pula, kami kira engkau perlu juga mengetahui siapa yang tinggal di Thai-san agar engkau dan dua orang anak kami tidak bertindak gegabah,"
Kata Gak Li.
Lalu ia menceritakan kepada Yauw Tek tentang tokoh-tokoh di Thai-san seperti yang pernah ia ceritakan kepada dua orang gadis itu.
Setelah mendengarkan Gak Li memperkenalkan tokoh-tokoh itu sampai selesai, Yauw Tek berkata.
"Bibi, maafkan pertanyaan saya. Karena saya masih hijau dan tidak banyak mengenal tokoh-tokoh dunia kang-ouw (sungai telaga), maka mohon petunjuk Bibi sekalian, siapakah di antara para tokoh di Bu-lim (Rimba Persilatan) yang patut dicurigai sebagai pencuri harta karun itu?"
Gak Li menghela napas panjang.
"Inilah yang harus kalian bertiga selidiki. Tadi engkau telah mendengar cerita anak kami tentang hilangnya harta karun yang tersembunyi di Bukit Sorga. Pencuri itu hanya meninggalkan tulisan THAI SAN dalam peti harta. Tulisan ini dapat juga diartikan sebagai kesombongan Si Pencuri yang mengaku dan menantang bahwa dia berada di Thai-san, akan tetapi bukan tidak mungkin hal ini dilakukan Si Pencuri hanya untuk menipu dan menyesatkan para pencari harta karun. Karena itu, tugas kalian tidak ringan, sebelum berusaha merampas harta karun, haruslah lebih dulu menyelidiki secara teliti apakah benar pencuri itu tinggal di Thai-san dan kalau benar, siapa orangnya."
Setelah menerima nasihat dari Ban-tok Niocu Gak Li dan Tan Kun Tek yang lebih banyak mengenal Bu-lim (Rimba Persilatan) dengan tokoh-tokohnya, dua hari kemudian berangkatlah Yauw Tek, Ceng Ceng, dan Li Hong meninggalkan Pulau Ular.
Kini dua orang gadis itu percaya betul kepada Yauw Tek yang selain lihai juga halus budi bahasanya dan sopan santun.
Sementara itu Yauw Tek semakin kagum kepada keluarga Majikan Pulau Ular.
Bukan hanya kagum kepada keluarganya yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi juga kagum akan kehebatan pulau yang selain mempunyai banyak anak buah, juga mengandung banyak rahasia sehingga kuat menghadapi penyerbuan dari luar.
Setelah tiba di daratan, mereka bertiga menggunakan tiga ekor kuda yang sudah dipersiapkan, melanjutkan perjalanan jauh mereka menuju Thai-san.
Selama dalam perjalanan ini, hubungan antara tiga orang itu semakin akrab dan dua orang gadis itu yakin benar bahwa Yauw Tek adalah seorang pendekar muda pilihan yang hanya dapat disejajarkan dengan seorang pendekar muda seperti Pouw Cun Giok.
Bahkan mereka menganggapnya lebih baik dari Cun Giok karena pemuda itu telah mengecewakan hati mereka.
Mengecewakan hati Ceng Ceng karena ternyata dia telah mempunyai tunangan sehingga Li Hong yang kini amat sayang kepada Ceng Ceng menjadi sakit hatinya.
Setelah kini mendengar bahwa Pouw Cun Giok adalah kakak misannya, putera bibinya yang sudah meninggal, Li Hong menjadi semakin gemas dan ia berjanji kepada diri sendiri bahwa kalau bertemu dengan Cun Giok nanti, ia akan memarahi kakak misannya itu!
Laki-laki tinggi besar bermuka merah itu mengerutkan alisnya yang tebal.
Jenggot dan kumisnya yang terawat baik itu menambah kegagahan dan kejantanannya.
Usianya sekitar limapuluh enam tahun dan dia duduk di atas kursi yang diukir dengan kepala singa.
Laki-laki gagah perkasa ini adalah Cu Liong yang berjuluk Bu-tek Sin-liong (Naga Sakti Tanpa Tanding).
Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak membayangkan tenaga yang amat kuat.
Dari julukannya saja, mudah diduga bahwa dia tentu seorang yang amat lihai dan tangguh sekali.
Hanya ada kesan sombong dalam julukannya itu, seolah dia hendak mengatakan bahwa dialah orang yang paling kuat dan paling lihai ilmu silatnya sehingga tidak ada orang lain yang mampu menandingi dan mengalahkannya!
Majikan Bukit Merak ini duduk berhadapan dengan seorang pemuda.
Pemuda berusia sekitar duapuluh empat tahun ini pun bertubuh tinggi besar dan gagah.
Wajahnya cukup tampan, sepasang matanya membayangkan ketinggian hatinya.
Mungkin karena dia merasa menjadi murid Naga Sakti Tanpa Tanding, dia pun merasa dirinya seperti naga muda yang tanpa tanding pula!
Pemuda tinggi besar berpakaian mewah ini adalah murid Bu-tek Sin-liong yang bernama Kong Sek.
Murid Cu Liong yang mendapatkan pelajaran ilmu silat secara khusus hanya Kong Sek seorang, di samping puteri datuk itu sendiri yang bernama Cu Ai Yin.
Anak buah Pulau Merak yang berjumlah sekitar limapuluh orang hanya diberi pelajaran ilmu silat tingkat dasar saja.
Bu-tek Sin-liong bukan seorang antek penjajah Mongol, juga bukan golongan patriot yang menentang Kerajaan Mongol.
Dia tidak peduli akan pertentangan kekuasaan itu.
Maka baginya tidak pantang untuk bersahabat dengan orang-orang Bu-lim yang menentang penjajah Mongol, juga memiliki sahabat orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi dan menjadi pembesar Mongol.
Satu di antara sahabatnya adalah mendiang Panglima Besar Kong Tek Kok.
Karena persahabatan inilah dia menerima putera panglima itu, ialah Kong Sek menjadi muridnya.
Andaikata mendiang Kong Tek Kok dulu bukan seorang panglima Mongol, tetap saja dia akan menerima Kong Sek menjadi muridnya, mengingat bahwa ayahnya sahabat baiknya yang dengan dia saling mengagumi ilmu silat masing-masing.
Akan tetapi terjadilah peristiwa itu.
Puterinya, Cu Ai Yin, menyelamatkan nyawa pemuda bernama Pouw Cun Giok itu dari ancaman bahaya karena menderita sakit.
Kemudian, diketahuinya bahwa Pouw Cun Giok adalah Si Tanpa Bayangan yang telah membunuh Kong Tek Kok dan Pangeran Lu, Cu Liong membela muridnya Kong Sek, yang dikalahkan Cun Giok untuk menangkap dan membawa Cun Giok ke kota raja sebagai pembunuh agar diadili.
Hal ini tidak dapat diterima oleh Cu Ai Yin yang melarikan diri dari rumah tanpa pamit.
Dan sekarang, muridnya, Kong Sek, datang menghadap sambil mengeluh dan lengannya terluka goresan pedang yang menurut laporan muridnya dilakukan oleh puterinya.
Bu-tek Sin-liong Cu Liong mengerutkan alis dengan marah sekali.
Hampir dia tidak percaya akan laporan muridnya, maka dia membentak dengan kaku.
"Benarkah laporanmu itu? Hayo coba ulangi!"
Kata datuk itu sambil meraba-raba jenggotnya.
Terpaksa Kong Sek mengulang pelaporannya.
Dia menceritakan betapa ketika dia membawa Pouw Cun Giok sebagai tawanan, dikawal para perajuritnya, tiba-tiba muncul Cu Ai Yin yang memaksa membebaskan tawanan itu!
"Sumoi ( Adik Seperguruan ) bukan hanya membebaskan Pouw Cun Giok dengan paksa, bahkan ia dan tawanan itu mengamuk, merobohkan para perajurit dan Sumoi melukai lengan teecu (murid)."
"Kurang ajar! Berani ia berbuat begitu? Membela orang luar dan menentang ayahnya sendiri?"
"Sumoi memang keterlaluan, Suhu. Akan tetapi teecu dapat memaafkannya. Harap Suhu jangan terlalu memarahinya kalau ia pulang. Tentang si jahanam Pouw Cun Giok, harap Suhu jangan khawatir, teecu pasti akan dapat menangkapnya. Teecu akan membawa pasukan untuk mengejar, mencari dan menangkapnya."
Kemudian dia menambahkan, suaranya lirih membujuk.
"Suhu, melihat betapa Sumoi terkadang liar membawa kehendak sendiri dan tidak dapat dikendalikan, bagaimana kalau Suhu melangsungkan dengan segera pernikahan kami? Kalau ia sudah menjadi isteri teecu, tentu ia akan berubah sehingga Suhu tidak akan terlalu pusing dibuatnya."
Bu-tek Sin-liong Cu Liong mengelus jenggotnya, mengangguk-angguk lemah dan pandang matanya tampak ragu.
"Sebaiknya begitu, mungkin lebih baik begitu......"
Dia lalu memberi tanda dengan tangannya menyuruh muridnya pergi.
"Selamat tinggal, Suhu. Teecu hendak kembali ke kota raja dan melaporkan tentang Pouw Cun Giok kepada panglima bagian keamanan, minta dibantu pasukan untuk mencari jahanam itu."
Cu Liong hanya mengangguk dan pemuda itu segera meninggalkan tempat itu lalu turun dari Bukit Merak dan menuju ke kota raja.
Setelah muridnya pergi, Bu-tek Sin-liong Cu Liong duduk termenung di kursinya.
Teringat dia akan keadaan keluarganya.
Dia telah malang melintang di dunia persilatan dan berhasil mengumpulkan kekayaan yang cukup besar.
Ketika usianya hampir empatpuluh tahun, dia menikah dan mempunyai seorang anak, yaitu Cu Ai Yin.
Setelah mempunyai anak, barulah dia merasa berkeluarga dan dia lalu tinggal di Bukit Merak bersama Isteri dan anaknya.
Akan tetapi, baru setahun tinggal di situ, isterinya meninggal dunia karena sakit, padahal ketika itu usia Cu Ai Yin baru tiga tahun.
Setelah isterinya meninggal dan dia harus memelihara puterinya seorang diri, Cu Liong lalu mengambil empat orang wanita muda menjadi selir-selirnya, bahkan dia lalu menerima sebanyak limapuluh orang yang menjadi anak buahnya di Bukit Merak.
Bu-tek Sin-liong Cu Liong menghela napas panjang.
Dia amat menyayang puterinya, akan tetapi sekali ini Ai Yin bertindak keterlaluan.
Tidak saja gadis itu berani minggat tanpa pamit, juga puterinya itu telah membebaskan Pouw Cun Giok bahkan melukai Kong Sek, putera mendiang Panglima Besar Kong Tek Kok, suhengnya sendiri.
Mengingat puterinya, terbayanglah semua kenangan tentang Cu Ai Yin.
Gadis itu amat disayangnya, juga biasanya gadis itu amat sayang dan patuh kepadanya walaupun agak manja.
Dan dia tahu betul bahwa Ai Yin adalah seorang gadis yang keras hati dan teguh pendiriannya.
Bahkan niatnya untuk menjodohkan puterinya itu dengan muridnya, Kong Sek, agaknya tidak disetujui Ai Yin.
Dan sekarang, agaknya Ai Yin jatuh cinta atau memilih seorang pemuda buruan pemerintah seperti Pouw Cun Giok.
Dia sendiri memang kagum kepada pemuda itu yang memiliki ilmu silat lihai sekali, juga wajah pemuda itu cukup tampan, tidak kalah oleh ketampanan Kong Sek.
Akan tetapi Pouw Cun Giok yang berjuluk Bu-eng-cu itu adalah seorang buronan yang telah membunuh sahabat baiknya, Kong Tek Kok, dan Pangeran Lu Kok Kong, di samping membunuh banyak perajurit.
Pemuda itu adalah seorang pemberontak yang selalu menjadi buruan pemerintah.
Dia membayangkan betapa kehidupan puterinya akan selalu menderita dan terancam bahaya kalau menjadi isteri Pouw Cun Giok.
Sebaliknya kalau Ai Yin menjadi isteri Kong Sek, ia tentu akan menjadi seorang puteri bangsawan yang dimuliakan dan dihormati.
Berhari-hari lamanya laki-laki setengah tua yang jantan dan gagah perkasa ini lebih banyak duduk melamun di dalam kamarnya.
Bahkan dia melarang empat orang isterinya mendekatinya.
Dia merasa tidak bahagia.
Empat orang isterinya itu tidak ada yang mempunyai anak.
Anaknya hanya Cu Ai Yin seorang dan kini anaknya itu pergi meninggalkannya.
Baru terasa betapa sunyi hidupnya tanpa adanya Ai Yin di situ.
Dia ingin menyusul dan mencari puterinya, akan tetapi ke mana?
Anaknya pergi tanpa pamit dan dia tidak dapat menduganya ke mana anaknya pergi.
Setelah mengurung diri dengan muka muram selama beberapa bulan lamanya, akhirnya Bu-tek Sin-liong Cu Liong tidak kuat menahan lagi keinginannya untuk mencari dan menemukan puterinya.
Pada suatu hari dia memanggil keempat isterinya lalu berkata kepada mereka.
"Kalian berempat jagalah rumah baik-baik, Aku akan pergi meninggalkan Bukit Merak untuk entah berapa lamanya, tergantung kapan aku dapat menemukan Ai Yin. Aku akan pergi mencari Ai Yin dan baru pulang kalau ia telah dapat kutemukan. Sekarang panggil semua anak buah untuk berkumpul di sini."
Setelah semua anak buahnya datang, Cu Liong memesan agar mereka semua melaksanakan tugas seperti biasa dan jangan ada yang melanggar peraturan.
Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba terdengar seruan seorang anak buah yang bertugas jaga di gapura perkampungan, yang berseru sambil berlari-lari datang ke ruangan depan gedung di mana para anak buah berkumpul menghadap majikan Bukit Merak.
"Thai-ya (Tuan Besar)...... Siocia (Nona) telah pulang!"
Mendengar ini Cu Liong bangkit dari duduknya, wajahnya yang beberapa hari lamanya ini muram dan kusut, tiba-tiba menjadi berseri dan pandang matanya bersinar gembira.
Tak lama kemudian dia melihat Cu Ai Yin berjalan cepat memasuki pekarangan dan menuju ke ruangan depan gedung itu.
Begitu melihat ayahnya, Ai Yin yang juga rindu kepada ayahnya lari menghampiri dan di lain saat ia telah berada dalam rangkulan ayahnya.
"Anak nakal!"
Cu Liong mengomel akan tetapi mulutnya tersenyum lega.
"Ke mana saja engkau pergi? Hayo kita bicara di dalam!"
Ayah dan anak itu bergandengan tangan memasuki ruangan dalam dan empat orang selir itu lalu membubarkan para anak buah yang ikut merasa lega bahwa nona majikan mereka sudah pulang dengan selamat.
Empat orang wanita selir yang usianya antara tigapuluh lima tahun itu tidak berani mengganggu ayah dan anak yang bicara di ruangan dalam.
Mereka tidak berani memasuki ruangan itu tanpa dipanggil.
Cu Liong tidak mau langsung memarahi puterinya.
Dia khawatir kalau-kalau puterinya yang berhati keras itu marah dan pergi lagi.
Setelah mereka duduk, dia bertanya.
"Ai Yin, ke mana saja engkau pergi selama ini?"
Sambil memandang kepada ayahnya dengan sikap manja, Ai Yin menjawab.
"Ayah, telah lama sekali aku ingin melihat dunia ramai di luar wilayah Bukit Merak. Aku pergi merantau."
"Hemm, mengapa engkau pergi tanpa pamit?"
"Maafkan aku, Ayah......"
Ai Yin merengek.
"Hemm, jawab dulu mengapa engkau pergi tanpa pamit kepada Ayahmu?"
"Karena aku...... ketika itu, aku marah dan jengkel, Ayah."
"Eh? Marah dan jengkel? Kepadaku? Mengapa?"
"Karena Ayah hendak memaksa aku menikah dengan Suheng......"
"Hemm, siapa yang memaksa? Aku hanya ingin engkau menjadi isteri bangsawan dan terhormat. Pula, apa salahnya menjadi isteri Kong Sek? Dia seorang pemuda bangsawan yang baik, cukup tampan dan gagah. Pula, aku melihat bahwa hubunganmu dengannya tampak akrab."
"Aku memang suka kepada Suheng, Ayah, akan tetapi tidak mencintanya dan tidak ingin menjadi isterinya. Ayah tidak akan memaksa aku melakukan sesuatu yang tidak kusukai dan tidak ingin kulakukan, bukan?"
"Ya sudahlah, aku tidak akan memaksamu menikah dengan siapapun juga apabila tidak engkau sukai. Akan tetapi ada sebuah hal yang membuat aku menjadi penasaran. Mengapa engkau membela seorang asing seperti Pouw Cun Giok itu, menentang keputusanku untuk membawa pembunuh dan pemberontak itu ke kota raja untuk diadili, bahkan engkau tega melukai lengan Suhengmu sendiri? Nah, jawab, apa alasanmu membela Pouw Cun Giok mati-matian?"
Cun Ai Yin tersenyum dan mengangguk-angguk "Hemm, aku mengerti, Ayah.
Sudah pasti Suheng Kong Sek itu mengadu kepada Ayah, bukan?
Hal ini saja membuktikan bahwa dia adalah seorang yang curang dan pembohong besar!"
"Eh? Apa maksudmu, Ai Yin? Engkau malah memaki dia curang dan pembohong besar?"
"Ayah, Ayah tahu bahwa sejak kecil Ayah mendidikku untuk bersikap adil dan hidup sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan sebagai seorang gagah. Pouw Cun Giok berada di sini adalah aku yang menolongnya ketika dia kudapatkan pingsan di tepi sungai, berarti dia adalah tanggung jawabku. Kemudian Ayah dapat menerimanya sebagai tamu setelah kita mengujinya dan ternyata dia adalah seorang pendekar yang tinggi ilmunya. Kemudian muncul Suheng yang menyerang Cun Giok dan dalam perkelahian mereka Suheng juga bukan tandingan Cun Giok. Akan tetapi Ayah mencampuri urusan mereka dan membela Suheng."
"Tentu saja!"
Bantah Cu Liong.
"Pouw Cun Giok itu membunuh ayah Kong Sek, yaitu Panglima Besar Kong Tek Kok yang menjadi sahabat baikku. Dan tentu saja aku membela Kong Sek karena dia muridku. Apa salahnya dengan itu?"
"Ayah telah khilaf dan tidak adil, membela satu pihak saja tanpa mempertimbangkan persoalannya. Ketahuilah, Cun Giok membunuh Kong Tek Kok karena panglima itu telah membasmi seluruh keluarganya, yaitu keluarga Pouw di So-couw. Kakek Buyutnya, Ayahnya, Ibunya, semua terbasmi oleh Panglima Kong Tek Kok! Bukankah sudah sepantasnya kalau Cun Giok membalas dendam yang bertumpuk-tumpuk itu? Kemudian ketika diserang Suheng, Cun Giok mengalah dan tidak melukainya, padahal kalau dia mau, tentu dengan mudah dia dapat membunuh Suheng! Dia tidak mau mengaitkan Suheng dengan dosa-dosa Ayahnya. Kemudian, Ayah mencampuri dan hendak menangkap Cun Giok agar dibawa Suheng ke pengadilan di kota raja. Lagi-lagi Cun Giok mengalah, tidak melawan dan menyerah karena dia merasa telah ditolong Ayah maka tidak mau membantah dan menentang kehendak Ayah yang berat sebelah itu. Bukankah itu menunjukkan bahwa Cun Giok memiliki watak jantan dan seorang pendekar sejati?"
Cu Liong mengangguk-angguk.
"Hemm, mungkin aku telah keliru, akan tetapi agaknya engkau membela Cun Giok' mati-matian, membebaskannya dengan kekerasan dan melukai Kong Sek. Apakah tindakanmu itu bisa dianggap adil dapat dibenarkan?"
"Lebih dari adil dan seratus persen benar, Ayah! Ayah telah dikelabuhi kebohongan Suheng Kong Sek. Sesungguhnya kejadiannya begini, Ayah. Ketika aku melarikan diri dari sini, di tengah perjalanan tanpa kusengaja aku melihat Kong Sek mengayun pedang hendak membunuh Cun Giok yang menjadi tawanan tak berdaya itu. Tentu saja aku tidak bisa melihat perbuatan licik dan curang lagi sewenang-wenang itu. Aku lalu menangkis dan ketahuilah, Ayah, pada saat itu Cun Giok dengan mudah mampu mematahkan belenggu dan membebaskan diri sendiri! Jelas dia di sini mengalah dan mau ditawan karena melihat muka Ayah. Suheng Kong Sek tidak mau mengerti, mengerahkan pasukan untuk menyerang aku dan Cun Giok. Tentu saja kami berdua melakukan perlawanan dan aku melukai, lengan Suheng. Kalau aku tidak ingat dia itu Suhengku, tentu pedangku bukan menggores lengan, melainkan memenggal lehernya! Akhirnya dia melarikan diri bersama pasukannya. Nah, harap Ayah pertimbangkan. Kalau Ayah masih tetap menganggap aku yang bersalah, silakan Ayah menghukumku, biar dihukum mati sekalipun aku tidak akan membantah, Ayah."
Setelah berkata demikian, Ai Yin yang merasa penasaran dan terharu, tak dapat menahan diri dan menangis terisak-isak! Melihat puterinya menangis, Bu-tek Sin-liong merangkulnya.
"Sudahlah, kalau begitu halnya, ternyata aku telah salah pilih ketika menerimanya sebagai murid. Sudah, jangan menangis. Aku tidak menyalahkanmu dan kalau Kong Sek datang ke sini, aku akan memaki dan memarahinya!"
"Apakah sekarang setelah melihat kelakuannya, Ayah masih ingin mengambil dia sebagai mantu?"
Tanya Ai Yin sambil menahan isaknya.
"Hemm, untuk itu...... ah, kalau engkau tidak mau, aku pun tidak akan memaksamu."
"Ah, terima kasih, Ayah! Hatiku menjadi lega sekarang. Ternyata Cun Giok memang benar sekali!"
"Eh? Cun Giok benar sekali? Apa maksudmu?"
"Ayah, dalam perjalananku ketika aku melewati sebuah dusun, ada tiga orang perajurit Mongol bersikap kurang ajar terhadapku. Aku menghajar mereka dan membunuh dua orang di antara mereka akan tetapi yang seorang dapat lolos. Agaknya yang lolos itu lalu memberi tahu kawan-kawannya dan aku dikejar-kejar. Ketika aku menyeberangi sungai dengan sebuah perahu, tiba-tiba muncul dua perahu besar yang penuh dengan perajurit Mongol. Aku melawan dan mengamuk, berhasil membunuh banyak perajurit yang mengeroyokku, akan tetapi ketika aku dihujani anak panah, sebatang anak panah mengenai punggungku sehingga aku terjatuh ke dalam air sungai."
"Ah......! Keparat pasukan itu! Lalu bagaimana, Ai Yin?"
"Dalam keadaan pingsan aku hanyut, akan tetapi ada yang menolongku dan membawaku berenang ke darat. Orang itu menyelamatkan aku dari maut dan mengobati luka di punggungku."
"Bagus, siapa orang itu?"
"Dia adalah Pouw Cun Giok, Ayah."
"Ahh! Dia? Hemm, dia telah membayar hutang kepadamu karena engkau juga menyelamatkan nyawanya."
"Setelah menolongku dia lalu bercerita tentang urusannya dengan Panglima Besar Kong Tek Kok. Setelah itu, mendengar ceritaku bahwa aku minggat dari Bukit Merak karena hendak dipaksa menikah dengan Kong Sek, Cun Giok menasihati aku agar aku segera pulang dan minta maaf padamu, Ayah. Dia meyakinkan aku bahwa Ayah yang menyayangku pasti tidak akan memaksaku menikah dengan orang yang tidak aku suka."
Bu-tek Sin-liong mengelus jenggotnya dan tersenyum.
"Hemm, Ai Yin, agaknya engkau akrab dengan Pouw Cun Giok dan dia amat baik kepadamu. Katakan, apakah pemuda itu mencintaimu?"
Wajah gadis itu menjadi kemerahan.
"Aku...... aku mana tahu, Ayah? Dia memang baik sekali padaku, akan tetapi tentang hal itu, aku...... ah, bagaimana aku dapat mengetahui isi hatinya?"
"Hemm, apakah engkau mencintanya?"
Wajah Ai Yin menjadi semakin merah dan beberapa kali ia mengerutkan alis, menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya sebelum menjawab.
"Ini...... aku pun tidak tahu, Ayah! Dia memang baik sekali dan aku kagum padanya, akan tetapi cinta? Ah, aku tidak tahu cinta itu bagaimana."
"Ha-ha, kalau engkau cinta padanya, dia harus mau menjadi suamimu. Akan kuceritakan hal ini dengan dia kalau aku bertemu dengan Cun Giok."
"Ih, Ayah! Malu dong kalau kita yang mulai membicarakan soal itu! Sudahlah, Ayah, jangan kita bicarakan soal itu sekarang. Ada berita yang lebih penting lagi dan Ayah pasti tertarlk mendengarnya."
"Berita tentang apa, Ai Yin?"
"Tentang Harta Karun Kerajaan Sung!"
"Harta karun Kerajaan Sung? Apa itu dan bagaimana ceritanya?"
Bu-tek Sin-long tertarik sekali.
Ai Yin sudah mendengar tentang harta karun itu dari Cun Giok maka ia menceritakan dengan singkat bahwa harta karun itu milik Kerajaan Sung yang disembunyikan, akan tetapi ketika tempat persembunyian itu ditemukan, harta karun telah lenyap.
Peti harta karun itu kosong dan di dalamnya hanya terdapat tulisan huruf THAI SAN.
"Sekarang, berita itu telah tersebar luas, Ayah. Semua orang di Bu-lim (Rimba Persilatan, kaum pendekar) dan Kang-ouw (Sungai Telaga, kaum sesat) hendak mencari dan memperebutkan harta itu. Mereka semua mencari ke Thai-san. Cun Giok juga hendak pergi ke sana untuk mencari pencuri harta dan merebutnya."
"Hemm, untuk apa mereka semua memperebutkan harta itu?"
"Ayah, menurut cerita Cun Giok, harta itu adalah hasil korupsi seorang pembesar korup dari Kerajaan Sung yang bernama Thaikam Bong. Dia mencuri harta karun itu dan menyembunyikannya, lalu membuat peta. Peta itu tadinya terjatuh ke tangan Cun Giok dan kawan-kawannya, akan tetapi mereka tertawan oleh Panglima Kim Bayan, bahkan Suheng Kong Sek juga berada dalam rombongan Panglima Kim Bayan. Cun Giok dan kawan-kawannya dipaksa membantu Panglima Kim Bayan mencari harta karun menurut petunjuk peta. Akan tetapi, ketika ditemukan tempat itu hartanya telah lenyap, tinggal peti kosong di mana terdapat tulisan THAI SAN."
"Hemm, biarkan mereka berebut. Aku tidak butuh harta karun. Hartaku sudah cukup."
"Akan tetapi, Ayah. Harta karun itu banyak sekali dan pula, perebutan itu juga berarti persaingan nama, siapa yang berhasil mendapatkan harta karun, berarti dialah yang paling kuat!"
Kelemahan Bu-tek Sin-liong adalah soal nama besar.
Dia menggunakan julukan Bu-tek (Tidak Terlawan) sudah menunjukkan betapa dia amat mementingkan nama besar.
Maka begitu Ai Yin yang cerdik menyebut tentang persaingan nama besar, hatinya segera tertarik.
"Siapa saja yang memperebutkan harta karun itu?"
"Aku tidak tahu, Ayah. Akan tetapi yang jelas ada tiga golongan. Pertama adalah orang-orang Kerajaan Mongol seperti Panglima Besar Kim Bayan dan mungkin juga Suheng Kong Sek dan mereka ini berusaha mendapatkan harta karun mungkin untuk diserahkan kepada pemerintah Kerajaan Mongol atau mungkin juga untuk diri mereka sendiri. Golongan kedua adalah para tokoh sesat, para petualang yang ingin memiliki harta besar itu, atau para datuk dan tokoh besar yang ingin membuat nama besar. Adapun golongan ketiga adalah para pendekar yang menentang Kerajaan Mongol dan seperti yang diceritakan Cun Giok, mereka ini berusaha mendapatkan harta karun untuk diserahkan kepada para pejuang yang menentang dan ingin menumbangkan kekuasaan penjajah Mongol."
Bu-tek Sin-liong mengangguk-angguk. Hatinya semakin tertarik.
"Dan bagaimana dengan engkau, Ai Yin? Apakah engkau juga ingin mencari harta itu?"
"Aku ingin sekali, Ayah, bukan karena ingin memiliki harta itu, melainkan ingin mencari pengalaman. Perebutan harta karun itu tentu ramai sekali, Ayah. Banyak orang-orang sakti akan datang ke tempat itu. Kalau aku datang ke sana, tentu aku akan mendapatkan banyak pengalaman. Akan tetapi, terus terang saja, aku agak takut, Ayah. Dengan kepandaian yang kumiliki, bagaimana mungkin aku dapat menghadapi orang-orang sakti itu dengan aman?"
"Apakah engkau tidak ingin ke sana agar dapat bertemu dengan Cun Giok?"
Tanya Sang Ayah.
"Aih, Ayah. Tentu saja kalau bertemu dia, kami dapat bekerja sama. Aku akan membantunya memperebutkan harta itu."
"Dan dia akan menyerahkan kepada para pejuang? Bukankah kita ini orang-orang yang tidak ingin memihak, baik memihak Kerajaan Mongol maupun memihak para pejuang yang memusuhinya?"
"Tentu saja, Ayah. Akan tetapi aku hanya membantu, karena Cun Giok adalah sahabat baikku. Akan tetapi kalau Ayah pergi juga, tentu saja aku akan membantu Ayah."
"Baik, kita pergi ke Thai-san!"
Akhirnya Bu-tek Sin-liong tertarik juga karena kalau dia dapat merampas harta karun itu, seluruh tokoh di dunia persilatan akan mengakuinya sebagai pendekar yang benar-benar Bu-tek (Tanpa Tanding)!
Ai Yin gembira sekali mendengar ini dan ia merangkul ayahnya dengan gembira dan manja.
Pegunungan Thai-san adalah sebuah pegunungan yang amat luas.
Thai-san memiliki banyak puncak yang tinggi menjulang ke langit dan menembus awan.
Ratusan bukit-bukit terdapat di pegunungan itu.
Biasanya, pegunungan ini sepi karena biarpun tanah pegunungan itu cukup subur, namun banyak bagian daerah itu merupakan daerah rawan yang ditakuti penduduk.
Hanya di bagian timur, yang menjadi pusat Partai Persilatan Thai-san-pai saja yang tidak ditakuti rakyat sehingga di daerah itu terdapat beberapa buah desa yang dihuni para petani.
Akan tetapi di daerah barat, utara, dan selatan merupakan daerah rawan yang amat berbahaya dan dikabarkan sebagai daerah maut oleh penduduk di sekitar Thai-san.
Di daerah Barat dikuasai oleh seorang yang oleh penduduk dianggap sebagai seorang manusia iblis.
Tidak ada yang mengetahui nama tokoh ini, karena hanya julukannya saja dikenal orang.
Julukannya adalah Huo Lo-sian (Dewa Api) dan siapa saja yang kebetulan melihat dia, dari jauh saja orang itu akan melarikan diri ketakutan.
Tokoh ini berusia sekitar limapuluh tahun, tubuhnya tinggi besar, mukanya mirip muka singa penuh berewok.
Hebatnya, baik rambutnya yang panjang riap-riapan maupun berewoknya yang menutupi muka itu berwarna kemerahan seperti api!
Huo Lo-sian yang menguasai pegunungan bagian barat ini mempunyai anak buah sebanyak kurang lebih limapuluh orang.
Mereka tinggal di sebuah perkampungan bersama keluarga para anak buahnya dan Huo Lo-sian sendiri tinggal di sebuah rumah gedung di tengah perkampungan, sedangkan anak buahnya tinggal di pondok-pondok di sekeliling rumah gedung itu bersama keluarga mereka.
Huo Lo-sian tidak mempunyai keluarga.
Sejak dulu datuk ini tidak pernah berkeluarga, hanya hidup seorang diri saja.
Wataknya amat aneh dan ganas maka andaikata dia berkeluarga, tentu keluarganya tidak akan dapat tinggal bersama seorang seperti dia.
Tentu saja wataknya yang ganas liar dan kasar itu dicontoh anak buahnya.
Anak buahnya dapat dikenal dengan pakaian mereka yang serba hijau.
Mereka memang segolongan perampok, akan tetapi kalau saja ada yang berani melanggar wilayah kekuasaan mereka, jangan harap orang itu dapat keluar dari situ dengan selamat!
Adapun tokoh yang menguasai bagian Utara pegunungan itu adalah sepasang orang kembar yang di dunia kang-ouw dikenal sebagai Hek Pek Mo-ko (Iblis Hitam Putih), Yang pertama atau yang lebih tua berjuluk Hek Mo-ko (Iblis Hitam), disebut demikian karena memang mukanya hitam seperti arang, juga kedua telapak tangannya hitam.
Adapun orang kedua atau yang lebih muda dijuluki Pek Mo-ko, yang artinya Iblis Putih.
Muka Pek Mo-ko juga aneh, putih seperti kapur sehingga lebih mengerikan lagi dibandingkan kakaknya.
Juga telapak tangan Pek Mo-ko berwarna putih seperti kapur.
Kalau bagian barat yang menjadi tempat tinggal Huo Lo-sian disebut Bukit Merah, maka bagian Utara tempat tinggal Hek Pek Mo-ko inl dlkenal dengan sebutan Bukit Batu.
Hek Pek Mo-ko juga mempunyai anak buah sebanyak kurang lebih limapuluh orang.
Di bagian selatan pegunungan itu, disebut Bukit Cemara, menjadi markas perkumpulan Ang-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Merah).
Ang-tung Kai-pang sebetulnya memiliki cabang hampir di semua kota besar, bahkan di kota raja juga ada.
Akan tetapi pusatnya, atau tempat tinggal tokoh utama berada di Bukit Cemara di bagian Selatan Pegunungan Thai-san.
Ketuanya adalah seorang pengemis tua berusia sekitar limapuluh lima tahun yang berjuluk Kui-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Setan).
Di situ tinggal kurang lebih seratus orang murid atau anggautanya.
Perkumpulan ini dahulunya juga merupakan perkumpulan orang-orang yang anti penjajah.
Akan tetapi setelah penjajah Mongol berkuasa, mereka menjadi diam dan tidak acuh.
Hal ini adalah karena mereka takut kalau-kalau pemerintah baru akan membasmi mereka.
Karena mereka merupakan perkumpulan pengemis, maka tentu akan mudah diketahui pemerintah dan tidak sulit membasmi para pengemis ini.
Demikianlah, Kui-tung Sin-kai memberi peringatan keras kepada para anggautanya di seluruh kota-kota besar agar tidak mengambil sikap memusuhi pemerintah.
Demikianlah, di empat penjuru Pegunungan Thai-san terdapat empat golongan yang dipimpin orang-orang yang berkepandaian tinggi.
Tentu saja besar kemungkinan masih ada tokoh-tokoh rahasia yang lain yang menyendiri, pertapa-pertapa sakti yang mengasingkan diri dari dunia luar.
Akan tetapi, yang paling terpandang dan disegani di dunia persilatan tentu saja adalah Thai-san-pai, sebuah perguruan silat yang terkenal memiliki murid-murid yang menjadi pendekar gagah perkasa.
Thai-san-pai, seperti aliran persilatan lain kecuali Siauw-lim-pai yang dipimpin para hwesio (Pendeta Buddha) yang menyebarkan Agama Buddha, dipimpin oleh para tosu (Pendeta Agama To).
Pada waktu itu, yang menjadi ketua Thai-san-pai adalah Thai-san Sianjin Thio Kong, seorang laki-laki berusia sekitar enampuluh tahun.
Wajahnya bersih tanpa kumis, hanya terhias jenggot pendek yang dipotong rapi sehingga tampak tampan.
Namun tarikan mulut dan pandang matanya menimbulkan kesan angkuh, seperti sikap kebanyakan pemimpin perkumpulan yang besar dan kuat.
Selain lihai ilmu silatnya dan amat kuat tenaga saktinya.
Thai-san Sianjin ini amat terkenal kelihaian siang-kiamnya (sepasang pedang nya).
Murid Thai-san-pai terdiri dari sekitar seratus orang dan ketuanya diwakili lima orang sutenya (adik seperguruannya).
Mereka berlima itu dikenal dengan sebutan Thai-san Ngo-sin-kiam (Lima Pedang Sakti Thai-san).
Sebagai adik-adik seperguruan Ketua Thai-san-pai, tentu saja ilmu silat mereka juga tinggi.
Bahkan kalau mereka berlima maju bersama, tingkat kepandaian mereka hanya kalah sedikit dibandingkan tingkat suheng (kakak seperguruan) mereka.
Pada masa itu, biarpun terdapat banyak agama dan aliran kebatinan, namun yang terbesar dan dianut sebagian besar rakyat adalah tiga agama, yaitu Agama Buddha, Agama To, dan Agama Khong-hu-cu.
Sungguhpun semua agama di dunia ini berdasarkan wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa, yang diturunkan kepada manusia untuk memberi tuntunan agar manusia hidup di dunia ini dapat menjadi penyalur berkat dari Tuhan, saling mengasihi, saling tolong, dan bersama-sama mengatur agar kehidupan manusia di dunia ini tenteram, damai, aman dan sejahtera, namun kenyataannya oleh manusia bahkan dipertentangkan.
Banyak yang tidak dapat melihat kenyataan bahwa semua agama itu menuntun manusia agar mendekati dan kembali kepada Sang Sumber, yaitu Tuhan Yang Maha Tunggal.
Memang cara yang ditempuh saling berbeda karena wahyu-wahyu itu diturunkan dalam waktu yang berbeda, kepada bangsa yang latar beIakang kebudayaannya berbeda.
Namun, biarpun cara atau jalan itu berlainan dan berbeda, itu hanya merupakan upacaranya belaka.
Intinya adalah membimbing manusia agar berusaha mendekati Tuhan dengan hidup sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing.
Bukti bahwa semua agama itu merupakan wahyu dari Tuhan adalah bahwa semua agama, biarpun dengan cara yang berbeda, pada intinya adalah hidup melalui jalan kebenaran dan kebajikan, dan menjauhi dosa dan kejahatan.
Namun sungguh menyedihkan melihat betapa manusia dikuasai oleh nafsu-nafsunya sendiri sehingga memiliki ke-akuan yang amat kuat, lebih kuat daripada pelajaran agama masing-masing.
Karena ke-akuan inilah yang masing-masing menganggap agama sendiri yang benar, jalannya sendiri yang tepat menuju kepada Tuhan, sedangkan agama lain itu salah dan nyeleweng, bahkan ada yang lebih bengis lagi menganggap bahwa Tuhan yang disembah agama lain itu bukan Tuhan mereka, bukan Tuhan yang aseli!
Masing-masing memperebutkan Kebenaran, lupa bahwa kebenaran yang diperebutkan itu sudah tidak benar lagi.
Ada pula golongan yang dapat menerima tiga agama terbesar saat itu.
Mereka mempelajari ketiganya dan melihat perpecahan bahkan permusuhan di antara agama-agama itu, mereka lebih suka mengasingkan diri, bertapa di tempat-tempat sunyi, tidak mencampuri urusan manusia ramai yang hanya mendatangkan pertentangan dan permusuhan.
Thai-san-pai termasuk umat beragama To yang bersikap keras, yang menolak pelajaran agama lain, menganggap golongan sendiri yang paling benar, paling baik, dan karenanya paling dekat dengan Tuhan, seolah Tuhan hanya milik pribadi golongan mereka sendiri.
Sikap umat beragama seperti inilah yang menimbulkan persaingan dan pertentangan sehingga seringkali terjadi perang di antara mereka.
Biarpun Thai-san-pai menganut aliran agama yang teguh dan fanatik, namun mereka tidak pernah memusuhi golongan atau agama lain secara terbuka.
Mereka bukanlah golongan sesat yang memiliki watak jahat.
Karena berita tentang harta karun yang dicuri orang yang mengaku berasal dari Thai-san itu tersebar luas, maka Thai-san-pai juga sudah mendengar berita itu.
Thai-san Sianjin memanggil kelima orang sutenya dan mengadakan perundingan.
Mereka maklum bahwa akibat pengakuan pencuri harta karun itu, pasti Thai-san-pai merupakan satu di antara golongan yang dicurigai mencuri harta karun.
Juga diam-diam mereka ingin ikut menemukan harta karun itu, karena di lubuk hati para pimpinan Thai-san-pai itu, mereka juga membenci pemerintahan penjajah Mongol dan mereka akan merasa lebih suka kalau harta karun terjatuh ke tangan para pejuang.
Mulai hari itu, para murid diperintahkan untuk melakukan penjagaan ketat di sekeliling perkampungan Thai-san-pai.
Bahkan Thai-san Ngo-sin-kiam sendiri sering mengadakan perondaan, menjaga segala kemungkinan.
Pada suatu pagi, ketika matahari telah naik agak tinggi sehingga sinarnya mulai mengusir hawa dingin di puncak bukit yang menjadi markas Thai-san-pai, tampak Pouw Cun Giok berjalan santai di samping sepasang gadis kembar, yaitu The Kui Lan dan The Kui Lin.
Seperti kita ketahui, Cun Giok bersahabat dengan sepasang gadis kembar puteri The Toanio majikan Lembah Seribu Bunga dan ketika dia bercerita tentang harta karun Kerajaan Sung yang dicuri orang, Kui Lan dan Kui Lin merengek kepada ibu mereka, minta agar diperkenankan ikut dan membantu Cun Giok mencari harta karun itu ke Thai-san.
Ketika mereka bertiga tiba di kaki Pegunungan Thai-san yang amat luas, Kui Lin berkata dengan alis berkerut.
"Wah, Thai-san merupakan pegunungan yang demikian panjang dan luasnya. Bagaimana mungkin mencari pencuri itu? Untuk menjelajahi pegunungan ini, kukira biar sampai bertahun-tahun sekalipun pasti tidak akan dapat selesai!"
"Kukira tidak perlu menjelajahi seluruh pegunungan ini, Lin-moi,"
Kata Cun Giok.
"Aku mendengar bahwa perkumpulan terbesar di daerah ini adalah Thai-san-pai, aliran persilatan yang cukup terkenal walaupun tidak sebesar Siauw-lim-pai atau Bu-tong-pai. Aku memang tidak percaya kalau Thai-san-pai yang terdiri dari para pendekar itu melakukan pencurian harta karun dan dengan sombongnya menantang para ahli silat dengan memberitahukan tempat tinggalnya. Akan tetapi setidaknya kita akan bisa mendapatkan keterangan dari mereka."
"Kalau begitu sebaiknya kita mencari dan mengunjungi Thai-san-pai, Giok-ko!"
Kata Kui Lan.
Mereka lalu mencari keterangan kepada penduduk dusun di sekitar kaki Pegunungan Thai-san.
Dengan mudah mereka mendapatkan keterangan karena semua orang di daerah itu tahu belaka di mana adanya markas Thai-san-pai, yaitu di bagian Timur pegunungan itu.
Demikianlah, pagi hari itu, Cun Giok, Kui Lan dan Kui Lin mendaki bukit yang menjadi asrama Thai-san-pai.
Keindahan pemandangan alam di sekeliling mereka ketika mereka mendaki bukit di pagi hari itu membuat mereka berjalan dengan santai sambil menikmati keindahan panorama sepuas hati.
Kui Lin yang berwatak riang dan lincah itu berulang-ulang mengeluarkan seruan kagum memuji keindahan itu.
Setelah tiba di lereng paling tinggi, mereka bertiga memandang takjub.
Bukan main luasnya pegunungan itu.
Puncak-puncak bukit menjulang di sekelilingnya dan mereka merasa betapa di setiap bukit itu mungkin saja menjadi kediaman si pencuri harta karun!
Akan tetapi yang mana?
Benar Kui Lin tadi, kalau harus dikunjungi satu demi satu, mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun!
Akhirnya mereka itu tiba di depan perkampungan Thai-san-pai.
Terdapat sebuah gapura besar dan di atas gapura terdapat papan nama THAI-SAN-PAI yang ditulis dengan huruf-huruf besar yang gagah dan indah.
Tiba-tiba dari dalam gapura itu berloncatan tujuh orang laki-laki yang memegang pedang terhunus.
Mereka adalah anak murid Thai-san-pai yang melakukan penjagaan.
Ketika dari jauh mereka melihat seorang pemuda dan dua orang gadis mendaki puncak, mereka bersembunyi di balik gapura dan mengintai gerak-gerik mereka.
Melihat tiga orang pengunjung itu tampak santai dan tidak menimbulkan kesan mencurigakan, setelah Cun Giok dan dua orang gadis kembar tiba di depan gapura, mereka bertujuh berlompatan keluar dan menghadang di depan tiga orang pengunjung itu.
"Berhenti!"
Seorang di antara mereka yang paling tua, berusia sekitar empatpuluh tahun, menegur dengan suara lantang.
"Kalian bertiga melanggar wilayah Thai-san-pai! Siapakah kalian dan ada keperluan apa datang berkunjung ke tempat kami?"
Sikap tujuh orang yang memandang penuh kecurigaan itu membuat Kui Lin merasa jengkel.
"Uih, Giok-ko, apakah mereka ini murid-murid Thai-san-pai yang kaubilang terdiri dari para pendekar? Sikapnya lebih mendekati penjahat daripada pendekar!"
Biasanya, kalau atasan bersikap keras kepada bawahannya, maka si bawahan itupun bersikap keras kepada yang lebih rendah kedudukannya, dan yang paling bawah tentu bersikap keras pula kepada orang lain.
Tujuh orang murid atau anak buah Thai-san-pai ini pun demikian.
Karena sudah terbiasa menghadapi sikap keras dari atasan mereka, kini mereka pun memuntahkan sikap keras mereka terhadap orang lain.
"Kami adalah murid-murid Thai-san-pai yang gagah, dan kalian bertiga tentulah orang-orang yang tidak mempunyai niat baik. Maka, menyerahlah kalian untuk kami tangkap dan kami hadapkan kepada pimpinan kami!"
Hardik kepala regu penjaga itu.
Dia memandang dengan mata melotot dan tujuh orang murid itu melintangkan pedang di depan dada dan tangan kiri mereka bertolak pinggang.
Kui Lin yang lincah dan galak itu bertolak pinggang dengan kedua tangannya, melangkah maju dengan sikap menantang dan berkata sambil tersenyum mengejek.
"Apa? Tikus-tikus macam kalian ini hendak menangkap kami? Tidak usah menangkap kami bertiga, kalian coba tangkap aku saja, kalau kalian berhasil baru kalian patut menjadi murid-murid Thai-san-pai!"
Tantangan dengan sikap mengejek dan merendahkan ini tentu saja membuat tujuh orang murid Thai-san-pai itu marah sekali.
"Tangkap gadis sombong ini!"
Teriak kepala regu itu dan tujuh orang murid Thai-san-pai itu bergerak maju setelah menyimpan pedang masing-masing.
Tangan-tangan mereka meluncur seolah berebutan untuk dapat menangkap gadis yang tertawa-tawa mengejek itu.
"Lin-moi, jangan lukai orang!"
Seru Kui Lan yang khawatir kalau-kalau adiknya melukai dan membunuh orang.
Padahal mereka datang berkunjung ke Thai-san-pai bukan dengan niat bermusuhan.
Biarpun wataknya keras, namun Kui Lin bukan seorang gadis kejam dan dia selalu taat kepada kakak kembarnya.
Maka, ketika tujuh orang itu menyerbu, ia pun mengandalkan kelincahan gerakannya, mengerahkan gin-kang dan tubuhnya berkelebatan di antara para pengeroyoknya.
Jari-jari tangannya yang lembut dan kecil runcing itu pun menotok ke kanan kiri dan tubuh tujuh orang murid Thai-san-pai itu pun berpelantingan roboh dan tidak dapat berkutik pula karena jalan darah mereka tertotok sehingga tubuh mereka lemas tidak mampu menggerakkan tangan dan kaki lagi!
Kui Lin mengusap-usap dan mengebut-ngebutkan kedua telapak tangannya seolah hendak membersihkan bekas sentuhan tangannya kepada tubuh tujuh orang pengeroyok itu.
Tiba-tiba terdengar seruan "Siancai......!"
Dan tampak bayangan lima orang berkelebat.
Tahu-tahu di situ muncul lima orang berpakaian tosu (Pendeta To) yang masing-masing mempunyai pedang di punggung mereka.
Seorang di antara mereka yang paling tua, usianya sekitar limapuluh dua tahun, berjenggot panjang dan rambutnya diikat ke atas dengan sehelai pita putih, memandang ke arah tiga orang muda itu, lalu memandang kepada tujuh orang murid yang rebah tanpa luka namun tidak mampu bergerak itu.
Dia lalu menghampiri para murid dan jari tangannya menotok mereka satu demi satu.
Tujuh orang murid itu dapat bangkit berdiri dan dengan suara ribut mereka berkata.
"Suhu, gadis liar ini......"
Tosu itu membentak dengan suara tegas.
"Kalian mundur! Bikin malu saja!"
Mendapatkan bentakan ini, tujuh orang murid itu pun mundur dengan patuh setelah membungkuk dengan hormat. Kui Lin terkekeh senang.
"Nah, bagus! Murid-murid kurang ajar harus mendapatkan teguran keras!"
Tosu itu adalah Song Bu Tosu, orang pertama dari Thai-san Ngo-sin-kiam (Lima Pedang Sakti dari Thai-san). Dia mengerutkan alisnya memandang kepada Kui Lin yang masih tersenyum.
"Nona, engkaukah yang menghina murid-murid kami dan menotok mereka?"
Sebelum Kui Lin menjawab, Cun Giok yang tidak ingin gadis lincah galak itu memperburuk keadaan dengan sikapnya yang keras, cepat melangkah maju dan mengangkat kedua tangan depan dada dengan sikap hormat.
"To-tiang (Bapak Pendeta), harap maafkan kelancangan Adik kami. Kami datang tidak dengan niat buruk, melainkan hendak menghadap Lo-cianpwe Thai-san Sianjin. Akan tetapi tujuh orang murid tadi bersikeras hendak menangkap kami sehingga timbul pertengkaran antara mereka dengan Adik kami ini. Maafkan kami, To-tiang dan perkenankan kami menghadap Ketua Thai-san-pai."
Song Bu Tosu yang tadinya marah kepada Kui Lin, menjadi agak reda kemarahannya melihat sikap dan kata-kata Cun Giok yang lembut dan sopan.
"Orang muda, kalian bertiga ini siapakah dan apa keperluan kalian ingin bicara dengan Ketua Thai-san-pai?"
"Perkenalkan, To-tiang, saya bernama Pouw Cun Giok......"
"Siapa gurumu?"
Song Bu Tosu memotong, seolah nama pemuda itu tidak ada artinya baginya, maka dia menanyakan gurunya.
"Suhu adalah mendiang Suma Tiang Bun, kemudian Kakek Guru saya Pek-kong Lojin membimbing saya."
Mendengar nama dua orang tokoh itu, lima orang tosu itu agak terkejut juga.
"Hemm, siapa tidak mengenal nama besar Suma Tiang Bun, pendekar pahlawan bangsa murid Siauw-lim-pai itu? Sayang sungguh sayang, sekarang Siauw-lim-pai bukan lagi perkumpulan pahlawan bangsa, melainkan penjilat bangsa Mongol! Siapa dua orang gadis kembar ini? Apakah juga murid-murid Siauw-lim-pai?"
"Kami bukan murid Siauw-lim-pai!"
Kui Lin berseru.
"Kami adalah puteri Ibu kami yang menjadi majikan Lembah Seribu Bunga!"
Mendengar ini, lima orang tosu itu saling pandang dan mereka merasa terkejut.
Mereka sudah pernah mendengar tentang Lembah Seribu Bunga yang kabarnya merupakan tempat yang amat gawat, tempat yang amat sukar didatangi karena mengandung banyak alat rahasia dan jebakan berbahaya.
Juga mereka mendengar bahwa majikan Lembah Seribu Bunga yang disebut The Toanio adalah seorang wanita aneh yang tidak pernah mencampuri urusan dunia kang-ouw akan tetapi yang memiliki kepandaian tinggi.
"To-tiang, sekali lagi kami bertiga mohon maaf atas kelancangan kami berkunjung ke Thai-san-pai dan mohon Totiang memberi kesempatan kepada kami untuk bertemu dan menghadap Ketua Thai-san-pai,"
Kata Cun Giok.
"Siancai! Suheng kami Ketua Thai-san-pai tidak mempunyai banyak waktu untuk bertemu dengan sembarang orang. Akan tetapi mendengar bahwa kalian bertiga adalah murid-murid orang pandai, kami hendak menguji kebenaran keterangan kalian."
Tosu itu menggerakkan tangan kanannya ke belakang punggung dan tahu-tahu dia sudah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
"Kalau engkau sebagai wakil kalian bertiga mampu menandingi ilmu pedang pinto (aku) selama lebih dari tigapuluh jurus, maka kalian cukup berharga untuk menghadap Ketua Thai-san-pai."
"Giok-ko, biarkan aku yang maju menandinginya!"
Kata Kui Lin.
"Lin-moi, biar aku yang mewakili kalian,"
Kata Cun Giok.
"Giok-ko, aku tidak takut padanya!"
Kata Kui Lin.
"Lin-moi, jangan mencampuri. Biarkan Giok-ko yang mengambil keputusan!"
Kata Kui Lan menegur adiknya dan Kui Lin tidak membantah lagi, hanya memandang kepada lima tosu itu dengan mulut diruncingkan, cemberut. Cun Giok menjura kepada Song Bu Tosu.
"Totiang, kami datang berkunjung bukan untuk menguji kepandaian. Kami percaya sepenuhnya bahwa ilmu pedang Totiang berlima pasti amat tinggi dan lihai. Kami tidak berani main-main dan harap Totiang perkenankan kami menghadap Ketua Thai-san-pai."
"Tidak bisa, kalau kalian tidak mau diuji tingkat kepandaian kalian atau seorang di antara kalian, maka terpaksa kami tidak dapat mengijinkan kalian memasuki markas kami."
Cun Giok menghela napas panjang. Dia tahu bahwa lima orang tosu itu agaknya berwatak keras dan seperti kebanyakan ahli silat, selalu haus untuk menguji kepandaian dengan orang lain.
"Baiklah, Totiang, saya akan melayani kehendak Totiang, akan tetapi harap Totiang menaruh hati kasihan kepada saya yang bodoh."
Setelah berkata demikian, dengan perlahan Cun Giok mencabut pedangnya dan tampaklah sinar keemasan ketika pedang Kim-kong-kiam berada di tangannya.
"Kim-kong Po-kiam (Pedang Pusaka Sinar Emas)?"
Kata Song Bu Tosu sambil memandang pedang di tangan Cun Giok dengan mata terbelalak.
"Benar, Totiang. Pedang ini pemberian mendiang Suhu Suma Tiang Bun,"
Jawab Cun Giok sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
Biarpun kaget melihat Kim-kong-kiam, Song Bu Tosu tentu saja tidak merasa gentar karena melihat bahwa calon lawannya itu masih amat muda usia sehingga betapapun pandainya tidak mungkin dapat menandinginya yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun!
Dia membuat gerakan perlahan mengatur pasangan kuda-kuda ilmu pedang Thai-san Kiam-hoat (Ilmu Pedang Thian-san), pedangnya menjulur lurus ke depan menyambung pundak dan dua jari tangan kirinya menunjuk ke atas.
"Orang muda, bersiaplah dan coba tahan seranganku."
"Saya sudah siap, Totiang. Harap Totiang tidak terlalu mendesak."
"Sambutlah, hiaaaattt""!"
Tosu itu menggerakkan tubuhnya dan pedangnya berubah menjadi sinar yang gemilang menyambar ke arah leher Cun Giok dengan jurus San-jin-sia-houw (Orang Gunung Menahan Harimau).
Cun Giok maklum bahwa lawannya seorang ahli pedang yang amat tangguh, maka dia pun cepat memutar tubuh ke samping sambil mengelebatkan pedangnya untuk menangkis.
Tentu saja dia membatasi tenaganya karena dia sadar akan keampuhan Kim-kong-kiam dan tidak ingin merusak pedang tosu itu.
"Tranggg""!"
Bunga api berpijar dan merasa betapa tangannya tergetar, Song Bu Tosu melangkah ke belakang untuk memeriksa pedangnya.
Bagaimanapun juga, melihat Kim-kong-kiam tadi, dia merasa khawatir kalau pedangnya rusak walaupun pedangnya itu juga sebatang pedang pusaka yang ampuh.
Melihat pedangnya masih utuh tidak rusak sama sekali, tosu itu berbesar hati dan mengira bahwa lawannya tadi telah mengerahkan seluruh sin-kangnya akan tetapi pedangnya tidak sampai rusak.
Nama besar Kim-kong-kiam itu agaknya hanya kosong belaka.
"Hiaaattt""!"
Dia menyerang lagi dengan jurus Cap-sha-kiam-ci-tian (Tigabelas Pedang Mengeluarkan Kilat).
Ini merupakan jurus ampuh dari Thai-san Kiam-hoat.
Merupakan serangan berantai yang kesemuanya terdiri dari tigabelas jurus serangan pedang yang susul menyusul dan amat sukar bagi lawan untuk dapat membebaskan diri dari serangan berantai susul menyusul yang amat cepat ini.
Cun Giok membela diri dengan mengelak, berlompatan ke sana-sini, bahkan terkadang harus bergulingan dan ada kalanya pedangnya menangkis.
Rangkaian serangan itu datang seperti hujan, seolah olah pedang di tangan tosu itu telah berubah menjadi tigabelas batang pedang yang menyambar-nyambar seperti kilat.
Bukan main heran dan penasaran rasa hati tosu itu setelah tigabelas jurus serangannya sama sekali tidak mengenai tubuh lawan, dan semua serangan dapat dielakkan atau ditangkis.
Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus simpanannya, namun semua hasilnya sia-sia belaka.
Karena pemuda itu hanya mengelak dan menangkis, sama sekali tidak pernah membalas, dia merasa penasaran dan juga marah karena sikap pemuda itu seperti mempermainkan atau memandang rendah padanya.
Maka, sambil mempercepat serangannya, dia berseru.
"Orang muda, balaslah seranganku!"
Tadinya dia mengira bahwa Cun Giok tidak mampu membalas karena terdesak olehnya dan tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangannya.
Akan tetapi kini dia mulai menyadari bahwa pemuda itu mengalah dan tidak mau membalas.
Hal ini membuat dia penasaran sekali.
Kini Song Bu Tosu mengeluarkan jurus simpanannya, yaitu Sin-kiam-toat-beng (Pedang Sakti Pencabut Nyawa), yaitu ilmu pedang yang tidak pernah diajarkan kepada para murid.
Yang menguasai ilmu pedang ini hanyalah Sang Ketua dan lima orang sutenya ini.
Maka dapat dibayangkan betapa dahsyat ilmu pedang ini yang merupakan ilmu pedang simpanan dari para pimpinan Thai-san-pai dan hanya kalau keadaan amat mendesak, baru ilmu ini dikeluarkan.
Agaknya, Song Bu Tosu yang berwatak keras itu lupa bahwa dia hanya ingin menguji kepandaian Cun Giok.
Baginya, karena sejak tadi serangannya gagal, dia merasa dipermalukan kalau tidak mampu mengalahkan pemuda itu.
Ketika dia mainkan ilmu pedang ini, terdengar suara berdesingan, dan angin gerakan pedang itu menyambar-nyambar, pedangnya lenyap menjadi gulungan sinar putih yang melingkar-lingkar.
Sepasang gadis kembar itu sampai merasa khawatir, bahkan Kui Lin yang biasanya tak kenal takut dan galak itu kini diam dan hanya memandang dengan mata terbelalak, demikian pula Kui Lan.
Empat orang tosu itu pun terbelalak, bukan karena kehebatan ilmu pedang Song Bu Tosu yang juga mereka kuasai itu, melainkan karena kini tampak pemandangan yang luar biasa dalam pertandingan ilmu pedang itu.
Tiba-tiba saja bayangan Cun Giok lenyap sama sekali dan yang ada hanya sinar kuning emas yang bergulung-gulung mengelilingi Song Bu Tosu dan gerakan pedangnya.
Gulungan sinar pedang putih dari tosu itu makin lama semakin mengecil dan menciut, seolah terdesak dari luar oleh sinar kuning emas yang berputar mengelilinginya!
Setelah beberapa lama saat lamanya, terdengar seruan Song Bu Tosu.
"Siancai......! Cukup sudah......!"
Bayangannya melompat jauh ke belakang dan dia sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan, lalu dimasukkannya pedangnya itu kembali ke sarung pedang di punggungnya.
Gulungan sinar kuning emas itu pun lenyap dan tahu-tahu Cun Giok sudah berdiri di depan Song Bu Tosu dengan pedang sudah disimpannya kembali.
(Lanjut ke
Jilid 06) Harta Karun Kerajaan Sung (Seri ke 02 -Pendekar Tanpa Bayangan) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Kini Song Bu Tosu memandang pemuda itu dengan sinar mata kagum.
Dia tadi kehilangan lawannya dan menjadi bingung, juga khawatir.
Kalau lawannya menyerangnya, maka amat berbahaya baginya.
Akan tetapi pemuda itu tidak menyerangnya sehingga dia melompat keluar dari medan perkelahian karena merasa bahwa kalau dilanjutkan, dia pasti akan kalah.
"Pouw-sicu (Orang Gagah Pouw), ilmu pedangmu sungguh luar biasa sekali!"
Katanya dengan nada suara sungguh-sungguh.
"Totiang telah banyak mengalah. Terima kasih atas petunjuk Totiang,"
Kata Cun Giok merendah.
"Hemm, sekarang baru tahu akan kelihaian Bu-eng-cu!"
Kata Kui Lin dengan lantang. Mendengar disebutnya julukan ini, Song Bu Tosu membelalakkan matanya.
"Ah, jadi engkaukah Bu-eng-cu yang menggemparkan kota raja itu?"
"Tentu saja Giok-ko adalah Bu-eng-cu!"
Kata Kui Lin.
"Sekarang bagaimana? Bolehkah kami bertemu Ketua Thai-san-pai ataukah kami enci adik juga akan kau uji?"
Kini tahulah lima orang tosu itu bahwa tiga orang muda yang datang ini memang benar-benar memiliki kepandaian tinggi dan mereka tidak ragu lagi bahwa dua orang gadis kembar itu juga benar-benar puteri majikan Lembah Seribu Bunga.
Mereka kini bersikap lain dan Song Bu Tosu menghela napas panjang.
"Pouw-sicu dan Ji-wi The-siocia (Kedua Nona The), apakah kedatangan kalian ini ada hubungannya dengan harta karun Kerajaan Sung yang ramai dibicarakan itu?"
"Hei! Bagaimana Totiang tahu?"
Kui Lin bertanya heran.
"Berita itu kami dengar dibicarakan ramai di dunia kang-ouw, kabarnya harta karun itu dicuri orang yang bertempat tinggal di Thai-san-pai. Keadaan yang tidak menentu ini, yang mungkin membuat sebagian orang menduga bahwa kami yang menjadi pencurinya, membuat kami mencurigai siapa saja yang datang ke sini. Karena itu ketika kalian muncul, tentu saja kami menaruh curiga. Sekarang kami percaya bahwa engkau adalah Bu-eng-cu dan dua orang Nona ini puteri-puteri majikan Lembah Seribu Bunga. Maka, marilah kalian kami antarkan menghadap Suheng Thai-san Sianjin."
Mereka lalu memasuki perkampungan Thai-san-pai yang terdiri dari sebuah kuil besar dan beberapa bangunan kecil.
Thai-san Sianjin, ketua Thai-san-pai yang tinggal di kuil itu menerima mereka dalam sebuah bangunan tanpa dinding yang berada di tengah sebuah taman.
Ketua itu bersama lima orang sutenya mempersilakan Cun Giok, Kui Lan dan Kui Lin duduk dalam ruangan tanpa dinding yang kecil namun indah itu.
Udara amat sejuknya dan keharuman bunga di taman itu menyambut mereka.
Ketika Cun Giok bertiga memberi hormat kepada Thai-san Sianjin dan diperkenalkan oleh Song Bu Tosu, Thai-san Sianjin Thio Kong tersenyum mengangguk-angguk sambil merangkap kedua telapak tangan depan dada sebagai sambutan penghormatan.
"Siancai......!"
Dia berseru gembira.
"Sungguh merupakan kegembiraan besar sekali bagi Thai-san-pai dapat menyambut kunjungan murid Suma Tiang Bun dan Pek-kong Lojin, juga dua orang puteri Nyonya The dari Lembah Seribu Bunga. Duduklah, Pouw-sicu dan kalian juga, dua orang Nona, dan ceritakan apa keperluan kalian bertiga datang berkunjung ke Thai-san-pai dan ingin berjumpa dengan pinto (saya)."
"Maafkan kami bertiga yang telah mengganggu ketenangan di sini, Lo-cianpwe. Terus terang saja kunjungan kami bertiga ini ada hubungannya dengan hilangnya harta karun Kejaraan Sung. Kami bertiga bertugas untuk mencarinya......"
"Siancai......!"
Ketua Thai-san-pai itu memotong sambil mengerutkan alisnya yang sudah beruban.
"Berita yang menggemparkan itu sudah pinto dengar. Akan tetapi, apakah kalian tiga orang-orang muda ini mempunyai dugaan bahwa kami yang mencuri harta karun itu?"
Suaranya mengandung penasaran karena kalau Thai-san-pai dituduh mencuri, hal itu sungguh merupakan penghinaan!
"Sama sekali tidak, Lo-cianpwe.
Justeru kedatangan kami menghadap Lo-cianpwe adalah untuk mohon petunjuk Lo-cianpwe, siapa kiranya pencuri yang berani mengambil harta karun yang menjadi hak para pejuang untuk membela tanah air dari penjajahan bangsa Mongol,"
Kata Cun Giok.
"Siancai, pinto tidak berani sembarangan menyangka seseorang sebelum mendengar bagaimana terjadinya pencurian itu, dan siapa yang memiliki peta harta karun sehingga jelas siapa yang berhak. Akan tetapi, besar kemungkinan yang merampas atau mencurinya tentulah pihak Pemerintah Mongol."
"Saya kira bukan, Lo-cianpwe, karena mereka pun masih mencari."
Cun Giok lalu menceritakan betapa dahulu Thaikam Bong dari Kerajaan Sung korup mencuri harta itu dari istana Sung dan menyembunyikan harta karun itu lalu membuat sehelai peta.
Ketika mendiang Panglima Sung Liu Bok Eng membasminya, Liu Bok Eng mendapatkan peta itu dan sebelum dia dibunuh para panglima Mongol, dia meninggalkan peta itu kepada puterinya, yaitu Liu Ceng Ceng.
Kemudian dia menceritakan dengan singkat betapa Liu Ceng Ceng, dia dan seorang gadis lain tertawan oleh Panglima Mongol Kim Bayan dan terpaksa mereka bertiga menyerahkan peta dan bahkan membantu panglima itu mencari harta karun.
Harta karun itu akhirnya ditemukan, berada di Bukit Sorga di dekat kota raja yang kini menjadi tempat tinggal Cui-beng Kui-ong.
"Demikianlah, Lo-cianpwe. Tempat harta karun dapat ditemukan akan tetapi ketika digali, yang ada hanya peti harta yang sudah kosong dan di dalamnya terdapat tulisan THAI SAN. Maka, jelaslah bahwa pencuri itu bukan Pemerintah Mongol, kemungkinan besar pencurinya bertempat tinggal di Thai-san. Maka kami mohon petunjuk Lo-cianpwe, siapa kiranya yang patut dicurigai."
Mendengar cerita Cun Giok tadi, Ketua Thai-san-pai dan lima orang sutenya saling pandang dan kini Thai-san Sianjin menghela napas panjang.
"Siancai......! Panglima Kim Bayan itu dibantu Cui-beng Kui-ong dan Song-bun Mo-li, sepasang iblis yang sakti dan amat jahat itu? Wah, kalau bukan Pemerintah Mongol yang mengambilnya, tentu dicuri orang yang berilmu tinggi! Akan tetapi mungkinkah ada pencuri yang mengakui tempat tinggalnya? Pinto kira pencuri harta karun yang amat berharga itu bukan orang yang demikian tololnya untuk memberitahukan tempat tinggalnya. Siapa tahu hal itu hanya untuk menyesatkan para pencarinya dan untuk menghilangkan jejaknya, Pouw-sicu."
"Memang kami juga sudah memikirkan kemungkinan itu, Lo-cianpwe. Akan tetapi karena kami tidak tahu harus mencari ke mana, maka terpaksa kami melakukan penyelidikan ke Thai-san, siapa tahu pencuri itu memang seorang yang amat sombong sehingga dia berani menentang siapa saja yang hendak merampas harta karun dari tangannya."
"Pouw-sicu dan The-siocia berdua, Thai-san-pai sejak dulu membenci penjajah Mongol. Tentu saja kami tidak dapat berbuat apa-apa karena apa artinya kekuatan kami yang hanya kurang lebih seratus orang dibandingkan balatentara mereka yang ratusan ribu jumlahnya. Akan tetapi, kalau ada usaha perjuangan menentang mereka, kami pasti akan mendukung dan membantu. Kami siap membantu kalian yang hendak mencari pencuri itu dan merampas kembali harta karun Kerajaan Sung yang sepatutnya diserahkan kepada para pejuang untuk membiayai perjuangan mereka mengusir penjajah Mongol dari tanah air."
"Bagus sekali!"
Kui Lin berseru gembira.
"Sekarang baru aku percaya bahwa Thai-san-pai adalah perkumpulan para pendekar!"
"Lo-cianpwe, terima kasih atas kesiapan Thai-san-pai untuk membantu agar harta karun itu dapat dirampas kembali dan diserahkan kepada yang berhak. Sekarang kami mohon petunjuk, siapakah kiranya tokoh di daerah pegunungan ini yang pantas dicurigai."
"Memang ada beberapa tokoh dari berbagai golongan yang bertempat tinggal di daerah pegunungan Thai-san ini. Akan tetapi, untuk menduga siapa yang kiranya mencuri harta karun itu, memang sukar. Huo Lo-sian (Dewa Api) yang tinggal di Bukit Merah sebelah Barat pegunungan ini memang merupakan datuk sesat. Akan tetapi dia seorang yang kaya raya sehingga meragukan juga kalau menyangka dia yang melakukan pencurian itu."
"Bagaimana kalau Hek Pek Mo-ko (Sepasang Iblis Hitam Putih) itu, Lo-cianpwe?"
Tanya Kui Lin.
"Siancai, agaknya kalian sudah menyelidiki tentang tokoh-tokoh yang berada di pegunungan ini!"
Kata Ketua Thai-san-pai itu.
"Sepasang Iblis Hitam Putih itu memang dapat digolongkan tokoh sesat juga. Mereka ganas, kejam, dan tinggal di Bukit Batu sebelah Utara pegunungan. Akan tetapi entahlah, apakah mereka berdua dengan anak buah mereka yang sekitar limapuluh orang banyaknya itu mencuri harta pusaka Kerajaan Sung. Mereka memang terkenal suka memaksakan kehendak sendiri dengan mengandalkan kekuatan dan kekerasan, akan tetapi pinto belum pernah mendengar mereka melakukan pencurian."
"Dan Ang-tung Kai-pang itu bagaimana, Lo-cianpwe?"
Tanya Pouw Cun Giok.
"Mereka itu golongan pengemis dan biasanya mereka itu membenci pencurian. Selain itu, biasanya mereka pun tidak suka kepada Pemerintah Penjajah Mongol. Ketuanya, Kui-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Setan) merupakan kenalan baik dari kami dan sukar menuduh mereka melakukan pencurian."
"Selain mereka itu, apakah masih ada tokoh lain, Lo-cianpwe?"
Ketua Thai-san-pai mengangguk-angguk.
"Thai-san ini amatlah luasnya, Sicu dan terdapat banyak tempat yang sunyi dan baik sekali bagi mereka yang ingin mengundurkan diri dari dunia ramai dan bertapa. Tentu banyak pertapa di daerah ini yang tidak mau mencampuri urusan dunia dan bukan mustahil kalau di antara mereka itu terdapat banyak orang-orang sakti. Sebaiknya sekarang kalian bertiga mengaso dulu. Pinto melihat kedua orang Nona ini sudah tampak kelelahan."
Ketua Thai-san-pai lalu menoleh kepada Song Bu Tosu dan berkata.
"Sute, ajaklah kedua orang Nona ini ke dalam dan suruh beberapa orang anggauta wanita menyiapkan kamar untuk mereka."
Song Bu Tosu mengangguk, lalu dia bangkit berdiri dan berkata kepada sepasang gadis kembar itu dengan sikap hormat.
"Marilah, Nona-nona, pinto antar ke bangunan samping yang memang menjadi bangunan untuk tamu yang kami hormati."
Sepasang gadis kembar itu memandang kepada Cun Giok dan pemuda itu mengangguk.
"Sebaiknya kalau kalian beristirahat, Lan-moi dan Lin-moi."
Dua orang gadis itu lalu mengikuti Song Bu Tosu.
Di bangunan samping tosu itu memanggil dua orang wanita yang menjadi anggauta Thai-san-pai, dan dua orang wanita setengah tua ini segera mengantar Kui Lan dan Kui Lin ke sebuah kamar yang cukup rapi dan bersih.
Kini Thai-san Sianjin berkata kepada lima orang sutenya setelah Song Bu Tosu kembali ke ruangan itu.
"Sute, kalian lanjutkanlah mengatur penjagaan yang ketat, pinto masih ingin berbincang-bincang dengan Sicu Pouw Cun Giok."
Setelah lima orang tosu itu keluar dari ruangan, Ketua Thai-san-pai berkata kepada Cun Giok.
"Pouw-sicu, kalau Sicu tidak terlalu lelah, pinto ingin mengobrol denganmu. Banyak yang ingin pinto tanyakan tentang dunia ramai yang sudah lama sekali pinto tinggalkan. Sebelumnya, pinto ingin sekali mengetahui bagaimana Sicu yang menjadi murid Lo-cianpwe Pak-kong Lojin dapat melakukan perjalanan dengan gadis kembar puteri The Toanio majikan Lembah Seribu Bunga. Maukah engkau menceritakannya kepada pinto, Sicu?"
Cun Giok hanya menceritakan bahwa dia bertemu dengan gadis kembar itu di tepi sungai tak jauh dari Lembah Seribu Bunga.
Mereka berkenalan dan dia diajak naik ke Lembah Seribu Bunga, bertemu dan berkenalan dengan Nyonya The, majikan lembah yang penuh rahasia itu.
"Ketika mendengar bahwa saya hendak mencari pencuri yang mengambil harta karun Kerajaan Sung, dua orang gadis kembar itu lalu ingin ikut pergi membantu saya. Begitulah, Lo-cianpwe."
"Siancai, pinto sudah menduga bahwa engkau adalah seorang pemuda yang jujur, polos dan baik hati. Terus terang saja, Sicu, pinto adalah seorang yang sudah banyak pengalaman dan pinto melihat bahwa kedua orang Nona kembar itu menaruh hati cinta kepadamu."
"Eh? Bagaimana Lo-cianpwe dapat mengetahui atau menduga begitu?"
"Sicu, dari pandang mata dan sikap mereka saja pinto yakin bahwa kakak beradik itu jatuh cinta kepadamu. Hal ini berbahaya karena mereka dapat bersaing untuk mendapatkan cintamu. Pinto dapat melihat pula bahwa tidak atau belum ada perasaan cinta dalam hati Sicu kepada mereka, hanya rasa suka sebagai sahabat saja."
"Lo-cianpwe sungguh memiliki pandangan yang tajam dan waspada. Saya sendiri yakin bahwa agaknya tidak mungkin saya jatuh cinta kepada seorang wanita. Tidak lagi......"
Cun Giok menghela napas panjang, hatinya terasa hampa.
"Ah, semuda ini Sicu sudah mengalami gagal cinta agaknya. Apakah Sicu sudah menikah? Atau bertunangan?"
"Saya pernah ditunangkan kepada seorang gadis oleh mendiang Guru saya. Akan tetapi, tunangan saya itu mati terbunuh. Saya sudah membalaskan kematiannya dengan memberi hajaran keras kepada pembunuhnya. Biarpun ia sudah mati, saya akan tetap menganggap ia itulah isteri saya."
Tosu tua itu mengangguk-angguk.
"Sicu, engkau seorang laki-laki yang setia. Akan tetapi kesetiaanmu itu tidak pada tempatnya. Pinto kira tunanganmu itu pun tidak akan tenang melihat engkau menutup dirimu terhadap cinta seorang wanita."
"Lo-cianpwe, justeru cinta yang membuat saya merasa berdosa dan merana. Saya sudah ditunangkan dengan seorang gadis, akan tetapi saya jatuh cinta kepada seorang gadis lain. Ah, Lo-cianpwe, benarkah pendapat bahwa cinta itu selain mendatangkan kebahagiaan, juga seringkali mendatangkan kedukaan?"
Tosu itu tersenyum.
Pertanyaan yang sebetulnya janggal karena urusan cinta ditanyakan kepada seorang tosu!
Akan tetapi sebagai seorang yang banyak pengalaman dalam kehidupan, Ketua Thai-san-pai merasa berkewajiban untuk menerangkan apa yang dianggapnya benar.
"Sicu, cinta kasih tidak pernah mendatangkan senang maupun susah walaupun cinta kasih tidak pernah terpisah dari setiap mahluk hidup. Yang dapat mengumbang-ambingkan manusia antara suka dan duka bukanlah cinta kasih, melainkan cinta berahi atau cinta nafsu yang tidak didasari cinta kasih."
"Bagaimana sifat cinta kasih, Lo-cianpwe, dan bagaimanakah yang dinamakan cinta kasih sejati itu?"
"Cinta kasih sejati menuntun manusia untuk menyerahkan diri sepenuhnya dalam Kekuasaan Tuhan karena Kekuasaan Tuhan itulah ujud cinta kasih sejati. Dituntun cinta kasih, manusia akan merelakan diri sepenuhnya demi kesejahteraan dunia dan manusia pada umumnya, lembut sabar dan tulus setia, tidak mementingkan diri sendiri, seperti halnya sinar matahari, keharuman bunga, kemerduan kicau burung, kesejukan angin, keindahan tamasya alam. Semua itu adalah Kekuasaan Tuhan dan di situ terkandung cinta kasih. Tanpa pamrih untuk diri pribadi dan selalu bermanfaat bagi semua mahluk, terutama manusia. Seluruh alam dan isinya ini dicipta oleh Tuhan dengan cinta kasih. Cinta kasih bekerja setelah nafsu mementingkan diri sendiri tidak hadir dalam hati dan akal pikiran kita. Tindakan yang didasari cinta kasih sudah pasti benar karena dibimbing oleh Kekuasaan Tuhan, mendatangkan perasaan iba dan sayang dalam hati terhadap sesama manusia tanpa pandang bulu. Seperti sinar matahari, mendatangkan kehidupan dan kenikmatan kepada siapa saja, seperti keharuman bunga akan tetap harum ketika dicium siapapun juga tanpa memandang bangsa, agama, pintar atau bodoh, kaya atau miskin, yang berkedudukan tinggi atau rakyat jelata yang paling bawah sekalipun."
"Alangkah indahnya, Lo-cianpwe. Lalu bagaimana sifat cinta berahi atau cinta nafsu?"
"Cinta berahi mengandung nafsu untuk mencari kesenangan diri sendiri dan condong untuk menganggap orang yang dicintanya itu sebagai sumber kesenangan diri sendiri."
"Alangkah kotornya, Lo-cianpwe. Kalau begitu, untuk apa kita membiarkan diri dikuasai cinta berahi semacam itu? Lebih baik dimatikan saja nafsu berahi seperti itu. Bukankah begitu, Lo-cianpwe?"
"Siancai......!"
Tosu itu tersenyum lebar.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 11
Baca Juga: Pendekar Sakti 8