Ceritasilat Novel Online

Ilmu Golok Keramat 8

Eps 8 Ilmu Golok Keramat - Chin Yung

Baca online Ilmu Golok Keramat - Chin Yung

Cersil Ilmu Golok Keramat - Chin Yung.

Ia tidak menduga sama sekali kepandaiannya Sim Pek Hian sangat tinggi, pengalaman bertempur pun sudah sangat matang dalam Kalangan Kang ouw, maka tak sampai Ho Tiong Jong memainkan habis babak kedua dari ilmunya delapan belas jurus, sudah kena dibikin kewalahan oleh ilmu Lingkaran bumi langit Sim Pek Hian.

orang liar, rasakan akibat kesombonganmu teriak nona Kho.

melihat sipemuda tidak berdaya kena dikurung oleh serangan lingkaran tangan Sim Pek Hian.

Ho Tiong Jong jengkel mendengar ejekan si nona sebelum ia menyahut Kho Siu sudah berkata lagi, Kalau kau jempol sambil unjukan jempolnya yang kecil mungil.

Ia bersuara sambil mesem, hingga hatinya si pemuda menjadi panas.

Tapi badannya yang sudah letih menekan hatinya untuk bersabar, justru ia sedang repot menghalau serangan siorang tua, dengan mendadak berkelebat satu tubuh yang kecil langsing menyerang padanya dan tidak ampun lagi ia kena dirubuhkan.

Pelahan-lahan ia merangkak bangun, kiranya bayangan langsing tadi adalah Kho Siu yang saat itu sudah lari menghilang ke dalam pepohonan lebat.

Kurang ajar ini gadis cilik...ia menggerendeng sendirian, tapi ia merasa lega hati nya, karena dengan dirubuhkannya ia oleh Kho Siu, niscaya si nona akan merasa senang hati nya.

Tidak lama si nona sudah muncul lagi dan wajahnya ramai dengan senyuman.

Ho Tiong Jong mesem, sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sementara Sim Pek Hian tampak berdiri ketawa mengawasi kelakuannya dua muda mudi itu.

Hei, Siu, kenapa bocah liar ini tahu rahasia disini?

tiba tiba Kho siu berkata hingga sang-ayah angkat mendelik matanya Anak tolol.

bentak Sim Pek Hian, Dengan berkata demikian kau membuka rahasia disini yang hanya diketahui oleh kita saja, kau tahu?

Hatinya Ho Tiong Jong bercekat, pikirnya mungkin si nona berkata demikian seakanakan memberi kisikan padanya bahwa ditempat itulah ada rahasianya jikalau keluar dari kebun sayur itu.

Ho Tiong Jong celingukkan dan jalan ke sana sini, yang dilihat saja oleh Kho Siu dan Sim Pek Hian, Ternyata Ho Tiong Jong sangat cerdas otaknya, berdasarkan petunjukpetunjuk lukisan perkataan dipapan yang di tancap sana sini, ia sudah mulai paham jurusan jalan keluar.

Hal mana membuat Sim Pek Hian memuji kecerdasan otaknya si pemuda.

Ketika Ho Tiong Jong setelah terputar-putar balik kembali, ternyata Sim Pek Hian sudah tidak berada disitu, hanya ketinggalan Kho Siu yang sedang berdiri mengawasi kepadanya.

Ketika ia datang dekat, hatinya sangat heran, karena nona Kho berlinang-linang air mata, Kenapa dia menangis?

Tanyanya dalam hati sendiri.

Tadi ia begitu lincah dan berandalan, mengejek menusuk hati, kenapa kini dia menangis?

Sunggrh mengherankan.

Dengan kelakuan sopan Ho Tiong Jong menanya, Nona Kho, kau kenapa menangis?

Apa kau merasa sakit hati karena perbuatanku terhadapmu kurang sopan?

Baiklah sekarang aku mohon maaf padamu..

orang tolol, bukan karena itu aku menangis..

sahut si nona dengan terisak-isak dan tundukan kepala, tangannya yang mungil memegang setangan dan dipakai menyeka air matanya yang berlinang-linang.

Ho Tiong Jong mendapat jawaban demikian jadi melengak.

Habis kenapa kau menangis?..

ia menanya pula.

Si nona tidak menjawab.

Tapi ketika Ho Tiong Jong dengan lemah lembut menanya lagi, Kho Siu sudah mulai berkata.

Kau sekarang sudah kena ditangkap oleh gihu, rasanya sukar kau dapat lolos dari tempat ini.

Kau pasti dikurung ditempat rahasia didalam tanah, yaitu didalam kuburan itu.

kata si nona sambil menunjuk pada sebuah kuburan yang tidak jauh dari mereka letaknya.

Kho Siu melototkan matanya diiringi dengan sebuah senyuman manis.

celaka tiga belas pikir Ho Tiong Jong.

Apakah memang sudah nasibnya harus berhutang budi kepada perempuan, apa sudah ditakdirkan sepanjang hidupnya terusterusan terlibat dalam asmara?

Sudah ada empat gadis jelita yang meny intai dirinya,yalah Seng Glok cin, ceng Ie, Ie Ya Kim Hong Jie.

Sekarang kembali ada gadis cantik yang berupa dirinya Kho Siu.

Tidak.

aku harus keraskan hati, supaya jangan terlibat dalam asmara.

Aku sudah ada seng Giok Cin, kenapa harus membuat orang patah hati lagi ?

Terima kasih Nona Kho, tapi..

ia tidak melampiaskan bicaranya, hanya enjot tubuhnya dan sebentar lagi ia sudah berada diatas kuburan termaksud, ia celingukan di atasnya, lalu matanya dapat melihat sebuah rawa berlumpur disampingnya kuburan, panjangnya tiga tumbak dan lebarnya delapan kaki.

Tidak jauh dari padanya ada papan yang bertulisan KUBURAN DIJAGA DEWA, YANG TAHU RAHASIANYA PASTf MATI.

Apa rawa berlumpur itu ada kuburannya suci sampai dijaga oleh dewa?

ia menanya pada diri sendiri.

Betul-betul ia penasaran, kepingin melihat apa sebenarnya dalam rawa berlumpur itu.

Maka dengan tidak memikir pula akan akibatnya, ia sudah siap hendak melompat kerawa lumpur itu.

Tiba tiba terdengar suara teriakan Sim Pek Hian, Bocah tolol, kau cari mampus.

Tapi teriakan itu tidak dihiraukan oleh Ho Tiong Jong, ia sudah lantas lompat masuk kedalam rawa berlumpur itu.

Alangkah kagetnya ia ketika kakinya menginjak lumpur lantas melesak.

makin lama dirinya terbawa masuk oleh lumpur sehingga batas lutut, ia kebingungan karena bagaimana juga ia berdaya hendak menggunakan ilmu mengentengi tubuhnya tetap tak berhasil, lumpur itu seolah-olah telah menyedot tubuhnya dibawa kedalam.

ooOOoo TiBA-tiba terdengar suara ketawanya Sim Pek Hian dibelakangnya.

Bocah, kau benar-benar sangat gegabah, lumpur ini sangat lengket sekali, jangan kata manusia, sedang burung saja yang kakinya nempel di lumpur lantas tidak bisa terbang lagi.

Dalamnya ada satu tumbak, kau disini setelah melesak tujuh hari tujuh malam akan melayang jiwamu dan badanmu akan berubah menjadi lumpur Ha ha ha..

Ho Tiong Jong sebenarnya tidak takut mati.

Cuma saja, menghadapi kematian secara konyol itu benar-benar ia tidak rela, Apalagi kalau ia ingat pada kekasihnya Seng Giok Cin yang cantik jelita, pikirannya menjadi cemas dan ia menghela napas beberapa kali.

Tarikan napas itu terdengar tegas oleh Sim Pek Hian, hingga si orang tua kelihatannya tidak tega melihat si anak mudah harus melayang jiwanya oleh lumpur.

Ha ha..

bocah kau kelihatannya seperti tidak rela mati dimakan lumpur.

Aku bukanya takut mati, orang tua Habis, kalau bukan takut mati, kenapa kau romannya seperti yang berduka ?

Kau lihay melihat roman muka orang, memang juga aku tidak rela kalau mesti mati konyol begini karena aku masih mempunyai tugas yang belum kulaksanakanTugas apa yang masih kau beratkan ?

Aku harus melaksanakan tugasku menuntut balas.

Haa...menuntut balas pada siapa ?

Menuntut balas kepada..

oh.

sudahlah, percuma saja aku omong, sebab kau orang tua toch tidak ada sangkut pautnya.

Biarlah aku mati saja.

Sim Pek Hian kasihan melihat keadaan Ho Tiong Jong.

Baiklah aku tolong kau keluar dari rawa lumpur ini...katanya, berbareng ia gunakan ilmu mengentengi tubuhnya Rajawali menyambar korbanDengan satu lompatan seperti burung rajawali menyambar, tubuhnya Ho Tiong Jong diangkat oleh Sim Pek Hian dan dilain saat anak muda itu sudah berada ditepi rawa dengan selamat, sungguh hebat sekali ilmu mengentengi tubuhnya Sim Pek Hian, hingga diam diam Ho Tiong Jong sangat memuji.

Disamping itu Ho Tiong Jong juga merasa heran, kenapa orang tua ini menolongi dirinya?

Bukankah ia lebih suka melihat dirinya mati?

Tengah ia keheranan, terdengar Sim Pek Hian berkata.

Bocah, kan bilang tak takut mati.

Nah, sekarang baik baiklah menjawab pertanyaan ku.

Silahkan menanya, lotiang.

jawab Ho Tiong Jong.

Aku lihat kau bawa bawa golok Lam tian to senjata itu mula mulanya ada miliknya orang she Ho dari Lok-yang, setelah turun termurun akhirnya jatuh pada Seng An, ayahnya seng Eng.

Apa betul golok itu berasal dari keluarga Seng?

Betul jawab Ho Tiong Jong sambil anggukkan kepala.

Apa kau datang kemari diutus oleh Seng Eng dari Seng ke-po?

, Bukan.

Siapa yang mengutus kau datang kemari?

Adalah keinginanku sendiri datang ke-sini.

Kau datang tentu ada membawa itu sembilan Lencana Rahasia Tuhan, bukan?

Ho Tiong Jong geleng-geleng kepala.

Tempo hari aku dapat satu benda pusaka itu, tapi aku sudah kembalikan lagi pada pemiliknya.

kata Ho Tiong Jong.

Siapa pemiliknya.

Seng Eng, pocu dari Seng-ke po.

Apa mereka bersembilan orang itu kini sudah bersatu lagi?

Aku tidak tahu?

jawab Ho Tiong Jong dan mulai ogah-ogahan kelihatannya melayani pertanyaan si orang tua yang mendesak padanya seperti juga polisi yang sedang mengempos persakitan.

Apa kau tahu rahasia dari benda pusaka itu?

mendesak Sim Pek Hian.

Aku tidak tahu-suaranya perlahan, hampir tidak kedengaran.

Bagaimana kau bisa tahu tentang kitab.

Kumpulan ilmu silat sejati?

dan tentang mendiang suhuku?

Ho Tiong Jong tidak menjawab.

Ketika pertanyaan tadi diulangkan, juga Ho Tiong Jong membisu.

orang tua itu menjadi jengkel, Dengan kecepatan kilat ia menotok jalan darah Ho Tiong Jong yang melumpuhkan badannya, seketika itu Ho Tiong Jong rubuh tak bertenaga.

Bocah kau menghina aku?

IHmm, kau berani tak menjawab segala pertanyaanku?

Bagus, bagus Pasti satu hari sembilan benda pusaka itu ada ditanganku dengan mana aku tak melanggar janjiku untuk mendapatkan kitab Kumpulan ilmu silat sebati , setelah aku mahir.

sembilan orang itu tak akan luput dari tanganku, Aku akan menghajar mereka habis-habisan, Ha ha ha...Ho Tiong Jong meskipun tertotok tubuhnya tapi penglihatan dan kupingnya bekerja sebagaimana biasa.

Ia heran si orang tua marah-marah dan tidak mengerti dengan ocehannya barusan.

Sim Pek Hian tampak menghampiri kuburan, dimana ia melihat ada anak angkatnya selang berdiri dengan wajah seperti yang ketakutan.

Mungkin si nona sangat menguatirkan tentang dirinya Ho Tiong Jong sipemuda cakap jatuh ditangan ayah angkatnya bakal tidak dapat pengampunan dan akan dibunuhnya.

Ketika ia melihat ayahnya muncul, ia cepat cepat menyambut Gihu...SiuJie, kau pulang lebih dahulu sang ayah angkat memerintah.

Kho Siu cemberut, tapi ia tak berani membantah perintah Sim Pek Hian.

DENGAN tidakan ayal-ayalan ia melangkahkan kakinya.

Dilain saat orang tua jtu sudah balik kembali dan lalu angkat tubuhnya Ho Tiong Jong, dikempit dibawa kekuburan, ia merabah pada tulisan yang berbunyi DEWA dan menekan dengan telunjuknya, tak lama kemudian batu nisan menggeser dan terbukalah sebuah lubang.

Ia masuk kedalamnya dan ketemu dengan pintu besi kecil yang tidak berlubang kunci, tapi ketika ia menggeserkan batu nisan tadi ketempat biasa, lantas ada terbuka sebuah lubang, ia mengulur tangannya dimasukkan kelubang itu, tak lama lantas terdengar suara gedobrakan, piatu besi itu lantas terbuka dan dengan menggendong Ho Tiong Jong orang tua itu berjalan masuk.

Pintu digebrukkan dan tertutup pula dengan sendirinya seperti semula keadaannya.

Keadaan didalam situ ada sangat gelap.

Ho Tiong Jong rasakan dirinya dibawa menurun dan terputar-putar, Sebentar lagi Sim Pek Hian masuk kesuatu ruangan kamar yang diterangi api lilin yang cukup terang.

Kiranya ruangan itu ada sebuah kamar batu yang lebar, ditengah-tengahnya ada ditaruh tiga buah peti mati, tubuhnya Ho Tiong Jong lantas diletakkan ditanah, kemudian Sim Pek Hian menghadapi tiga peti mati tersebut dan berdiri beberapa saat dengan mulut kemak-kemik seperti juga ada mengucapkah apa-apa.

Kemudian berkata pada Ho Tiong Jong.

Bocah, kau ini sebenarnya ada satu pemuda yang berbakat hanya saja kau terlibat didalam sebuah komplotan Persatuan benteng perkampungan.

Barusan sebenarnya aku hendak membunuhmu, tapi mengingat aturan kami tidak boleh membunuh sembarangan orang kalau tidak terhadap orang yang sangat jahat, maka aku urungkan tindakanku itu, Aku sekarang didepan peti mati memutuskan untuk menghukum kau.

Kau bebas dari hukuman mati, tapi tak terluput daii hukuman hidup, Ya, sesuka lotiang.

Sekali aku sudah ditawan, katanya dengan gagah aku menyerahkan nasibku padamu.

Kau boleh punya suka menghukumku.

Hmm..

bocah bernyali besar Ho Tiong Jong tinggal tenang-tenang saja.

Bocah, kau jangan enak enakan.

kata pula Sim Pek Hian, apa kau tahu hukuman macam apa yang aku sudah tetapkan untuk dirimu?

Aku mana tahu?

jawab Ho Tiong Jong acuh tak acuh.

Dengarlah, pertama ku bikin buta matamu, kedua potong lidahmu dan ketiga telingamu aku tusuk supaya tidak dapat mendengar.

Setelah kau menjadi seorang cacad yang tidak melihat mendengar dan bicara, tentu kau tidak dapat membocorkan halnya tempat disini kepada orang lain-Sim Pek Hian menduga sianak mula akan terkejut mendengarnya dan menggigil karena ketakutan, tapi kenyataannya Ho Tiong Jong tinggal tenang-tenang saja, hingga membuat orang tua itu sangat heran.

Bagaimana, apa kau tidak jeri dengan hukuman yang barusan aku sebutkan sebagai gantinya hukuman mati?

tanya Sim Pek Hian, ketawa nyengir.

Ho Tiong Jong tertawa dingin, Lotiang, katanya, soal kematian aku pandang seperti juga aku pulang kerumah.

Aku tak takut mati, Kau akan menghukum aku dengan cara yang barusan kau sebutkan tidak menjadi soal, hanya..

Hanya apa, bocah ?

Hanya aku perlu meninggalkan pesan Bagus, memang baik begitu, sebelum kau menjadi cacad kau boleh nyatakan keinginanmu, mungkin aku dapat melakukannya.

Ho Tiong Jong menghela napas.

Ingin aku meninggalkan pesan, supaya disampaikan kepada tiga orang.

Lalu, siapa mereka itu ?

Mereka itu semuanya ada wanita.

Sim pek Hian melengak, Kau maksudkan mereka itu ada ibumu dan dua saudaramu?

Bukan, Aku Ho Tiong Jong tidak punya anak saudara dalam dunia ini, Mereka bertiga mengasihi diriku yang bernasib buruk maka perlu mereka diberi penjelasan tentang menghilangnya aku.

Karena kalau tidak.

mereka akan mencarinya dengan hati patah dan ini aku tidak mau.

Habis bagaima aku harus berbuat?

memotong Sim Pek Hian.

Meskipun kau tidak langsung membunuh aku tapi dengan hukuman mu itu akibatnya toch sama juga aku bakalan mati, Maka aku ingin kau sampaikan pesanku pada mereka.

Baik, sebutkanlah apa pesanmu.

Pertama aku minta kau menyampaikan pada nona Giok Cin puterinya Seng Eng dari Seng kepo.

Seng Glok Cin puterinya Seng Pocu?

Sim Pek Hian menegasi heran.

Ya, dia, Katakan padanya bahwa racun yang ada dalam tubuhku tiba-tiba telah kambuh dan karena tidak tahan sakitnya aku telah membunuh diri dan mayatnya hanyut dalam sungai.

Giok Cin dalam perjalanan menemui ayahnya, untuk mengembalikan lencana pusaka itu, entah, apakah dia dapat diterima atau tidak oleh ayahnya?

Karena dia dituduh oleh ayahnya telah berkomplot dengan aku mencuri benda pusakanya itu, maka ayahnya menjadi begitu murka dan mengusir anaknya yang paling dikasihinya itu.,.

sampai disini Ho Tiong Jong berhenti, sejenak pikirannya ia tak dapat menemui mukanya pula.

Lalu, selanjutnya bagaimana?

tegur Sim Pek Hian.

Pesan kedua, tolong disampaikan kepada nona ie Ya yang bergelar Li lo sat.

Katakan padanya bahwa aku Ho Tiong Jong sudah bersuami isteri dengan seorang gadis yang dipenujunya.

Kini sudah membuang semua ilmu silatnya dan hidup dengan isterinya disebuah desa yang sepi sebagai petani..

Kembali Ho Tiong Jong berhenti sejenak sampai disini, ia membayangkan wajahnya Ie Ya yang cantik menarik.

iblis cantik yang sangat ditakuti kawan dan lawan, tapi terhadap dirinya ada demikian ramah dan telaten, senyumannya yang segar dan perbuatan perbuatannya yang banyak menolong pada dirinya tak dapat ia melupakan nona itu.

Dan..

pada nona yang ketiga, apa pesanmu?

tegur Sim Pek Hian.

Dia adalah nona Kim Hong Jie, puteri nya Kim Po cu dari Kim liong po.

Katakan padanya bahwa Ho Tiong Jong dalam suatu pertempuran melawan banyak orang sudah jatuh dalam jurang yang dalam, Dia telah binasa dan bangkainya dimakan binatang liar.

Nona Kim tak usah mengharap akan ketemu kembali dengannya..

Ho Tiong Jong mengembang air mata setelah mengucapkan pesannya.

Pikirannya melayang pada nona cantik jelita dua sujennya yang memikat tak dapat ia lupakan, Masa lampau terbayang dimatanya, dimana Kim Hong Jie masih jadi gadis cilik, itulah pada masa ia menerima pelajaran dua belas jurus ilmu golok keramatnya si engkong nya si nona.

Ia paham, bahwa setelah dewasa, nona Kim tampaknya telah merubah cinta dalam arti adik terhadap engkonya menjadi seorang gadis terhadap pemuda impiannya.

Bagaimana mesra ia bergurau dengan sinona ketika pertemuannya di sarangnya kakek Souw Kie Han.

Cubitannya yang hangat, sampai saat itu ia masih rasakan Entahlah, bagaimana dengan keadaannya nona Kim sekarang ini?

Sim Pek Hian dapat mengerti dengan kesedihannya sipemuda saat itu.

Ia paham, bahwa Ho Tiong Jong tidak akan berkedip menghadapi kematian, Tapi ia mengucurkan air mata kalau mengingat tiga gadis yang mencintainya dengan besar, sebelumnya menjadi tua, Sim Pek Hian juga tentu pernah mengalami saat-saat romantis, maka juga ketika melihat sipemuda tundukkan kepala, ia diam diam merasa terharu.

Saat itu pikirannya pun melamun pada masa mudanya.

Kemudian terdengar ia menghela napas beberapa kali.

Bocah.

katanya, sebenarnya aku mau menghukum kau dengan apa yang aku katakan barusan, tapi mengingat pesanmu yang demikian dan mengharukan aku jadi tak tega untuk membuat dirimu menjadi cacad.

Sekarang aku mau menanya padamu, apa maksudmu sebenarnya kau datang kemari.

Kedatanganku sebenarnya bermaksud baik baik saja.

jawab Ho Tiong Jong.

Apa maksudmu itu?

Tadinya aku berniat untuk mengangkat lotiang menjadi guruku.

Kau mau angkat aku jadi gurumu?

itulah maksudku.

cuma sayang kedatanganku tak disambut sebagaimana pantasnya, malah diajak setori oleh nona Kho, kemudian lotiang sendiri juga ikut-ikutan membuat aku jadi kecewa dengan maksudku yang semula itu.

Sim Pek Hian tampak termenung.

Pikirnya ia sudah tua, belum ada seorang yang berbakat untuk menjadi akhli warisnya, Kebetulan Ho Tiong Jong ada satu pemuda yang mempunyai tulang-tulang bakat yang sukar didapatkan keduanya pada waktu itu, sebenarnya baik sekali kalau ia menerima anak muda itu menjadi muridnya.

Tapi ia tak dapat memberi putusan ketika itu juga, maka ia berkata.

Bocah, kau sudah berguru kepada berapa banyak guru?

Aku lihat ilmu silatmu campur aduk banyak sekali macamnya.

Aku belum pernah mempunyai guru.

Habis darimana kau dapat itu kepandaian?

Aku belajar sendiri dengan beberapa pengunjukan dari kawan-kawan.

Sim Pek Hian tidak percaya, tapi ia tidak mendesak lagi.

Baiklah, sekarang kau tinggal dahulu disini untuk sepuluh hari lamanya, aku akan pikir dahulu, apakah aku akan terima kau jadi muridku atau tidak.

tergantung dari keputusanku nanti.

Ho Tiong Jong tidak menjawab.

EH, darimana kau tahu aku ada disini dan mempunyai sedikit kepandaian yang diturunkan oleh mendiang guruku ?

tiba tiba Sim Pek Hian menanya.

oh, hal itu dari pikiranku saja, dari dugaan-dugaanku saja bahwa lotiang ada akhli waris dari In Kie Locian-pwee almarhum.

Mana bisa begitu, kalau tidak ada pengunjukan orang lain tentu kau tak dapat mengetahui asal usulku disini..

Itulah terserah pada lotiang, mau percaya syukur, tidak mau percaya ya apa mau dikata.

Sebab apa yang aku terangkan ada dengan sejujurnya hati.

Sim Pok Hian kewalahan ketika mendengar jawaban sipemuda.

orang tua itu kemudian menepok pundaknya dan bebokongnya sipemuda, yang satu untuk membuka totokan, lainnya katanya ada totokan untuk menghilangkan tenaganya, ia berkata.

Aku sudah bebaskan kau dari totokan, tapi aku menotok jalan darahmu yang penting, supaya kau jangan bergerak berat-berat, Kalau kau bergerak yang berat-berat, tahu sendiri akibatnya, tenaga dalammu akan musnah dan kau akan menjadi orang biasa lagi, Kau mengerti?

Nah, setelah sepuluh hari aku akan menengoki kau disini, apakah aku nanti dapat menerima kau menjadi murid atau tidak?

Setelah berkata, Sim Pek Hian lalu meninggalkannya anak muda itu dalam goa kuburan sendirian Kini ia gerakkan badannya, ternyata tidak lemas lagi.

ia bisa bergerak dengan baik.

Tapi untuk bergerak berat-berat ia masih takut, sebab ia seperti benar ada merasakan totokan Sim Pek Hian.

Diwaktu sore ia diantari makanan oleh nona Kho dengan melalui lubang pada pintu, beda dengan sikapnya yang sudah, ternyata kali ini ia bertemu si nona bersikap sangat ramah dan manis budi.

Toako, aku membawakan makanan untukmu, Harap kau terima dan makan biar kenyang demikian sinona berkata sambil bergurau.

Sebenarnya Ho Tiong Jong tidak mau makan, tapi dipikir lagi kalau ia tidak terima makanan itu diwaktu malam ia kelaparan ia nanti makan apa?

ia masih ada harapan hidup, maka adatnya yang badung ia tekan, ia sebenarnya jengkel pada nona Kho, karena gara-garanya menyebabkan ia bentrok dengan orang yang ia ingin jadikan gurunya.

ia pura-pura menolak.

Nona Kho, terima kasih, Biar saja aku mati kelaparan, buat apa kau perhatikan aku membawaKan makanan segala ?

oh, masih marahan nih?

Hi hi hi...sinona kata sambil tertawa cekikikan.

Memang juga aku marah padamu, karena gara garamu aku jadi dikeram begini.

Tidak apa hitung-hitung mengasoh bolehkan Maksud baik kau tak mau terima, kau dapatkan maksud apa lagi ?

Ho Tiong Jong bercekat hatinya mendengar kata-kata si nona paling belakang.

Apa maksudnya?, tapi ia masih gemas saja pada nona jumawa itu.

Sudahlah, bawa lagi saja makanan itu..

katanya.

Jangan begitu toako, Kau terima saja, kalau malam kau tidak lapar tak usah kau makan, Tapi kalau lapar, kau sudah ada makan yang buat diganyang ?

Ah, ini nona bawel amat sih ?

Kata-katanya amat jenaka, beda dengan ketika ia menghadapi pada saat yang lalu, Maka akhirnya ia terima juga makanan yang disodorkan itu sambil mengucapkan terima kasih.

Tak usah pakai terima kasih, toako.

cuma aku pesan, kalau api lilin yang menerangi ini sudah dekat habis kau sambung terus, sebab dalam ruangan ini tak boleh apinya padam.

Lilin sudah sedia banyak disitu, bukan?

Ho Tiong Jong melirik pada empat lilin, benar saja ada sedia banyak sekali lilin.

Baiklah nona Kho, jawabnya, tapi nona Kho, apa maksud sebenarnya ayah angkatmu menahan diriku ini disini ?

Si nona ketawa manis, Kau nanti tahu sendiri, kau tenang-tenang saja tinggal dalam goa kuburan ini, aku nanti saban-saban antari kau makanan....

Si nona sambil berkata telah meninggalkan Ho Tiong Jong, hingga si pemuda tiiak mendapat kesempatan untuk berbicara terlebih jauh.

Setelah menaruh makanan diatas meja, Ho Tiong Jong duduk termenung.

Ia memikirkan kata-katanya si nona tadi.

Maksud baik kau tidak mau terima kau mau maksud apa apa.

ia menebak nebak sekian lama, tak dapat ia menecahkannya.

Keisengan, ia lalu jalan lihat-lihat tiga peti mati yang ada disitu.

Pada peti nomor satu ia melihat tulisan .

TEMPAT ISTIRAHAT SIANSU KUI KOK CU USIA 152 TAHUN, yang nomor dua TEMPAT ISTIRAHAT THIAN KIE TEE PIT USIA 220 TAHUN dan yang ke tiga, TEMPAT ISTIRAHAT IN KIE LOJIN, USIA 150 TAHUN.

Hatinya Ho Tiong Jong ketarik oleh peti mati yang ketiga (in Kie Lojin), maka didepan peti mati siapa ia lantas berlutut, memohon kerelaan hatinya in Kie Lojin untuk ia membuka peti matinya.

Demikian setelah ia cukup berkemak-kemik, lantas perlahan tangan membuka tutup peti mati.

ia tidak berani mengerahkan tenaganya, karena kuatir totokannya Sim Pek Hian bekerja dan dirinya berbahaya, ia geser peti mati itu perlahan-lahan, didalamnya ternyata sangat bersih, sebagai gantinya mayat ada kedapatan, disitu sebuah kitab dan sebuah pedang dengan gagangnya terbuat dari kayu pohon tho.

pedang dan kitab itu terbungkus oleh sehelai kain warna kuning.

Ia dapat melihat ini semua dengan bantuan penerangan lilin yang dibawa kedalam peti mati, Ketika tersorot oleh terangnya api lilin, pedang tadi memancarkan sinar berkeredepan menandakan bahwa pedang itu ada pedang pusaka.

Sedang bukunya, ketika ia buka lembaran pertama, lantas dapat melihat dengan kalimatnya.

KITAB KUMPULAN ILMU SILAT SEJATI

Jilid KE-SATU.

HATINYA Ho Tiong Jong terkesiap membaca kalimatnya buku.

Buku keduanya ia sudah miliki, kalau ia dapat memahami buku yang ke satu ini terang ilmu silatnya akan meningkat sangat tinggi.

Dengan tangan gemetar ia mengambil buku itu.

Dalam hati berdoa dengan sujut, minta karunianya in Kie Lojin supaya ia dapat memahami isinya kitab itu, kalau memangnya ia ada berjodoh menjadi muridnya orang tua yang sangat tersohor itu pada jamannya.

Kemudian ia tutup rapih lagi peti mati itu.

Dengan hati berdebar debar Ho Tiong Jong mulai membaca isinya kitab pada sebuah kursi disisi meja diatas mana ada barang hidangan yang dikirim oleh nona Kho.

Saking asyiknya ia memahami isinya sampai ia lupa ada makanan dari nona Kho, kalau tidak perutnya berkeroncongan minta diisi.

ia baru engah, perutnya sudah lama minta diisi, maka ia tangsal perutnya sebentara n, setengah mana ia melanjutkan memahami isinya kitab.

Pada lembaran pertama Ho Tiong Jong sudah dapat pengunjukan penting yalah cara-cara bagai mana mengembalikan tenaga asli, misalnya kena totokan jalan darah atau kena keracunan bagaimana jalannya untuk mengetahui dan memunahkannya bahaya itu.

ia rajin sekali mempelajari bagian ini, lantas dicoba menurut pengunjukan itu, mencari tahu bagaimana keadaan dirinya sendiri.

Ternyata ia sekarang sudah bebas dari keracunan dan juga...totokan.

Jadi tidak benar bahwa Sim Pek Hian telah menotok jalan darahnya yang penting dan dilarang mengerahkan tenaganya berat-berat.

Setelah dapat mengunjukkan itu, ia coba gerakan tenaga dalamnya, mengerahkan dengan sungguh-sungguh seluruh kekuatannya ternyata tidak apa apa, jadi bohong apa kata nya Sim Pek Hian itu.

Diam-diam hatinya Ho Tiong Jong menjadi heran dan menanya pada dirinya sendiri.

apa maksudnya Sim Pek Hian membohongi dirinya?

Tadi ia tak dapat memikirkan hal itu, karena perhatiannya sangat ketarik oleh isinya buku yang memuat berbagai ilmu silat, Semuanya pada mempunyai keistimewaannya, ilmu silat dengan pedang, golok dan lain-lain senjata termuat lengkap dalam kitab itu, juga ilmu pukulan tangan kosong.

banyak sekali yang menarik hatinya Ho Tiong Jong, terutama ia ketarik oleh dua macam ilmu yang dinamai Tan-ci Sin kang atau Sentilan satu jari tenaga sakti dan Te-it Thiam hiat atau llmu menotok jalan darah No.

Wahid.

Pikirnya, ia dapat memahami ilmu ini saja, rasanya sudah cukup menjagoi dikalangan rimba persilatan, karena jarang sekali orang mempunyai ilmu yang demikian hebatnya.

Tapi semua itu harus diyakinkan dengan betul oleh orang yang berbakat dan yang mengalami keanehan sepanjang hidupnya, justru Ho Tiong Jong ada satu pemuda berbakat untuk menjadi jago silat ternama, juga ia pernah menemui keanehan dalam hidupnya, yalah makan dua pilnya si Dewa obat Kong Yat Sin dari pelayannya Seng Giok Cin, tidak jadi mati, kemudian kena racunnya Tok kay, lantas dihajar oleh Uang Emas Beracun (Tok-kim chi) ceng ciauw Nikou, belakangan racun dari Souw Kie Han punya jarum maut tidak juga ia dapatkan kematiannya.

Semuanya itu sudah merupakan keanehan dan membuat tenaga sakti dalam tubuhnya Ho Tiong Jong jadi luar biasa.

Sejak malam itu Ho Tiong Jong meyakinkan betul-betul segala ilmu silat yang terdapat dalam kitab

Jilid ke satu itu. Berkat otak nya yang cerdik, juga karena ia meyakinkan

Jilid ke duanya, maka semua pelajaran hampir dapat dicangkok semua dalam otaknya.

Yang ia utamakan dari semua petunjuk petunjuk ilmu silat itu, adalah Tan-ci Sinkang dan Te-it Thiam hiat, yang lainnya, pikirnya, akan meyakinkan lebih jauh diluar goa kuburan itu, jikalau tidak sampai keburu diyakinkan.

Asal ia tahu garis garis besarnya saja, selanjutnya ia dapat memperaktekkan sendiri dengan pecahan ciptaannya sendiri.

Boleh dikata siang dan malam Ho Tiong Jong meyakinkan kitab tersebut.

Nona Kho terus saban saban mengantarkan makanan untuknya, yang ia sambut dengan penuh terima kasih, ia tidak marah lagi kepada sinona, malah kalau sinona bergurau ia lawan bergurau lagi, hingga keduanya kelihaian sangat gembira.

Tepat sepuluh hari Ho Tiong Jong juga tepat mencatat semua isinya dalam kitab

Jilid kesatu itu, kemudian ia simpan pula dalam peti mati ia berlutut mengucapkan banyak terima kasih atas karunia in Kie Lojin yang sudah menurunkan ilmu kepandaiannya kepada dirinya.

Ia justru sedang berlutut, tiba-tiba ia mendengar ada suara pintu dibuka.

Ketika ia menoleh, kiranya yang datang ada Sim Pek Hian.

Ho Tiong Jong dalam sepuluh hari itu dalam goa kuburan sudah dapat memahami apa arti kata-katanya nona Kho tempo hari.

Maksud baik kau tidak mau terima kan mau dapatkan maksud apa?

Artinya Sim Pek Hian menjebloskan ia dalam goa kuburan itu, adalah supaya Ho Tiong Jong dapat memahami isinya kitab Kumpulan lima Silat Sejati lalu menjadikan dirinya seorang jago tanpa tandingan.

Tak usah ia berguru lagi kepala Sim Ptk Hian, sudah cukup dengan apa yang ia dapat pelajari dari kitab itu.

dia seorang cerdik, mempraktekkannya sangat mudah.

Mungkin, dengan kecerdikannya, berdasarkan dari ilmu yang didapat dari kitab itu bisa dipecah-pecah digodok menjadi lebih lihay lagi.

Sikap sim Piek Hian sekarang berubah.

Kalau sepuluh hari yang ia ia selalu bersikap mengejek dan memanggilnya juga bocah saja, tapi sekarang lain.

Ketika melihat Ho Tiong Jong datang memburu padanya dan menjatuhkan diri berlutut, ia sambil mengusap-usap kepalanya si anak muda berkata.

Ho Tiong Jong, kau bangunlah.

Aku datang kemari bukannya mau menerima engkau menjadi muridku, akan tetapi aku mau memberi selamat padamu, yang kau sudah dapat memahami isinya kitab Kumpulan ilmu Silat Sejati ,

Jilid keduanya sudah ada padamu maka untukmu ada lebih mudah lagi meyakinkannya.

Lotiang, oh..

bagaimana kau dapat tahu itu?

menyelak Ho Tiong Jong.

Ha ha ha..

tertawa Sim Pek Hian, Dari ilmu silatmu yang campur aduk itu aku tahu kau ada menggunakan beberapa tipu ilmu silat yang ada tersebut dalam kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati cuma sayang itu kurang benar sebab kau tak meyakinkan ilmu silat itu dalam

Jilid ke 1, yang kau yakinkan ada dari dalam

Jilid ke dua, hanya keterangan kebagusannya ilmu silat yang kau mainkan itu. Ho Tiong Jong terbengong mendengar penjelasan itu. Lotiang benar, nah inilah ada

Jilid kesatu, kata Ho Tiong Jong sambil merogoh kitab yang dimilikinya. Sim-Pek Hian ketawa sambil menyambuti kitab

Jilid ke duanya dibulak balik lembarannya sebentaran, kemudian diserahkan kembali pada Ho Tiong Jong. Ya ini benar ada

Jilid kedua, Kau simpan baik-baik, sebab isinya ada petunjuk lebih terang dari ilmu silat dalam

Jilid kesatu, jangan sampai jatuh ditangannya orang sembarangan sebab berbahaya sekali kalau orang jahat yang mendapatkannya, ibarat macan nanti tumbuh sayap.

Aku sebenarnya sudah merasa kurang tenteram untuk melindungi kitab pusaka disini, hanya terpaksa sebab tidak ada lagi yang jadi akhli warisnya.

Apa sampai begitu berat menjaganya?

menyelak Ho Tiong Jong.

Ya, begitulah, sembilan jago dari Perserikatan Benteng perkampungan mengarah buku pusaka itu.

Kalau seandainya mereka sudah dapat memahami apa artinya yang tertulis pada sembilan Lencana Rahasia Tuhan sudah pasti mereka akan menyerbu kemari, Kalau sampai sebegitu jauh mereka belum berhasil memahaminya karena mereka satu dengan lain saling curiga.

coba mereka persatu padu, pasti dapat diketahui dimana disimpan nya kitab pusaka yang dicarinya.

Lalu apa lotiang tidak ungkulan mengusir mereka pergi?Aku bukannya takut, hanya kuatir mereka merusak peti mati mendiang suhu dan su-couwku..

Mereka tentu datang dengan bergelombang.

sembilan orang datang menyerbu atau membawa kawan lainnya siapa tahu.

Ho Tiong Jong angguk anggukan kepalanya Sebenarnya, kata pula Sim Pek Hian, aka sudah mau berikan buku itu padamu, cuma saja sudah terikat dengan perjanjian, yalahpada siapa yang membawa sembilan buah Lencana Rahasia Tuhan kepadanya kitab itu diberikan.

jadi kalau umpama kau ung kulan merampas pulang sembilan lencana itu, baik sekali, kau bawa disini dan ditukar dengan kitab pusaka.

Ho Tiong Jong termenung.

Baiklah, aku nanti akan mencobanya.

katanya.

Bagus, aku harap kau berhasil.

Sebab aku sangat kuatir kitab itu akan jatuh di tangan orang jahat dan membikin repot dunia persilatan oleh karenanya.

Nah, sekarang kau bangunlah Ho Tiong Jong menurut atas undangannya siorany tua, anak muda itu duduk berhadap hadapan diatas kursi, Atas pertanyaan Sim Pek Hian, Ho Tiong Jong tuturkan pengalaman hidupnya yang penuh kegetiran, ia tidak tahu dimana adanya orang tuanya, ia merasa berhutang budi terhadap orang-orang yang telah berlaku baik terhadap dirinya seperti kepada Seng Giok Cin, Kho Kie, Li-lo sat ie Ya.

Kim Hong Jie dan menuturkan pula persahabatannya dengan co Kang Hay sejak dalam penjara air sampai sudah keluar dari penjara neraka dunia itu.

Sim Pek Hian angguk anggukkan kepala beberapa kali selama Ho Tiong Jong menutur dan ia tak memotong orang punya pembicaraan.

Sehabis pemuda itu bercerita, Sim Pek Hian lantas menanya.

sekarang kau mau pergi kemana kalau sudah keluar dari sini.

Aku akan menemui adik Giok, dengan siapa kita telah berjanji akan menikah dan merantau bersama sama.

Apa janji itu sudah tiba waktunya.

oh, tidak.

Masih ada kira kira dua bulan lagi.

Nah, kaiau begitu kau tinggal saja disini barang sebulan disini, supaya dapat memberikan kau pengunjukan yang amat perlu dalam banyak macam ilmu silat yang kau dapatkan dari buku pusaka mendiang suhuku.

Ho Tiong long bangkit dan duduknya dan kembali berlutut.

Terima kasih atas perhatian lotiang, memang ada maksudku yang suci untuk mengangkat kau menjadi guruku..

oo, tidak, tidak, bukan begitu maksud-ku, menyelak Sim Pek Hian, sambil angkat pemuda itu bangun lagi, Kau sudah belajar langsung dari kitab pusaka siansu, otomatis kau sudah menjadi murid siansu, Kau selanjutnya boleh anggap aku sebagai suhengmu, bukan sebagai gurumu, Ha ha ha..

Ho Tiong Jong melongo.

Tapi kemudian dengan hati terharu dan air mata bercucuran ia memeluk Sim Pek Hian sambil berseru, ..Su...heng..

Sute..

jawab Sim Pek Hian dengan suara sangat terharu.

Sejenak lamanya kedua orang itu saling peluk dengan hangat.

Sungguh diluar dugaan sekali, maksudnya Ho Tiong Jong datang pada Sim Pek Hian hendak mengangkat orang tua itu menjadi gurunya, tidak tahunya tidak berjodo menjadi guru dan murid tapi berjodo menjadi suheng dan Sute.

Atas pertanyaan Ho Tiong Jong, bagaimana orang tua itu dapat tahu kalau ia ada menyakinkan isi kitab Kumpulan ilmu Silat Sejati dengan ketawa sang Suheng menjawab.

oo, itu mudah saja, Memang sengaja aku menahan kau sepuluh hari dalam goa kuburan ini, maksudku, kalau kau ada berjodo menjadi murid Siansu kau dapat memahami isinya kitab pusaka Siansu yang ada didalam peti matinya.

Dugaanku benar tidak salah kau adalah orangnya yang berjodo, sebab selama sepuluh hari itu aku mengintip diluar tahumu gerak gerikmu mengapalkan isinya kitab sangat tekun dan otakmu sangat encer untuk mengingat semua isinya, sekarang isinya kitab boleh dikata sudah ada dalam otakmu dan dalam waktu ini kau hanya memerlukan latihan saja lantas semuanya dapat kau praktekkan dengan baik.

Ho Tiong Jong sangat kagum akan kelihayan matanya sang Suheng.

Sebelum ia membuka mulut, Sim Pek Hian sudah berkata pula.

Nah, Sutee, sekarang mari kita berlutut di depan peti mati siansu, untuk meneguhkan persaudaraan kita dalam seperguruanHo Tiong Jong menurut, sim Pek Hian memperkenalkan suteenya dan Ho Tiong Jong yang menyatakan dengan hati tulus mengangkat saudara, In Kie Lojin sebagai gurunya, dan sebagai murid ia berjanji akan bantu melindungi kitab pusaka gurunya itu supaya tidak terjatuh dalam tangannya orang orang jahat, ia bersumpah dalam hidupnya selalu akan membela keadilan membasmi kejahatan dan menentramkan dunia persilatan, ilmu silat dari kitab pusaka akan diwariskan kepada orang-orang yang berjodoh atas pengunjukan abahnya sang guru dialam baka.

Tidak akan diturunkan kepada sembarang orang.

Demikianlah, sejak hari itu Ho Tiong Jong saban hari mendapat pertunjukan dari Sim Pek Hian untuk melancarkan ilmu ilmu silat yang sudah dicatat dalam otaknya, Tapi dalam hati diam-diam Ho Tiong Jong merasa heran, sebab ada ilmu silat yang hebat tapi sulit, ketika ditanyakan keterangannya pada Sim Pek Hian sang Suheng tak dapat menerangkannya, karena katanya ia belum menerima pelajaran itu dari suhunya.

Rupanya, tidak semua kepandaian ilmu silat yang dikumpulkan dalam kitab pusaka itu, diturunkan pada Sim Pek Hian.

Entahlah, apakah Sim Pek Hian kurang berbakat atau sebelum itu ilmu silat itu dipelajari Sang suhu sudah keburu meninggal dunia?

Tapi hal ini tidak ditanyakan lebih jauh oleh Ho Tiong Jong.

Hubungan Ho Tiong Jong dan Kho Siu juga, selama Ho Tiong Jong tinggal ditempatnya Sim Pek Hian menjadi bertambah erat, Sering-sering mereka pasang omong dengan gembira, Kini nona Kho berbalik bahasa kalau dulu mulai bertemu suka menyebut orang liar kemudian berubah memanggil toako , sekarang ia harus memanggil susiok (paman), derajat Ho Tiong Jong jadi lebih tinggi lagi.

Sering panggilan susiok ini dipakai bergurau nona Kho, tapi Ho Tiong Jong hanya ganda tertawa saja.

Kecantikan nota Kho yang menggiurkan dan sikapnya yang Jenaka pandai bergurau membuat Ho Tiong Jong bimbang.

ooOOoo DI LIHAT sikapnya makin hari makin berubah.

Ho Tiong Jong mendusin bahwa si nona ada jatuh hati kepadanya, Hatinya menjadi bingung, ia kuatir akan terlibat dalam asmara lagi, pikirnya, sebaiknya ia siang siang pergi dari situ, Waktu ini ia sudah tinggal satu setengah bulan dalam rumahnya Sim Pek Hian.

Pada suatu malam, ia gelisahan tak dapat tidur, karena romannya Seng Giok Cin selalu berbayang didepan matanya, ia seolah-olah mempunyai firasat kurang enak maka pada keesokan harinya ia mohon diri dari Sim Pek Hian-Sang suheng tidak berkeberatan, malah ia berkata sambil ketawa.

Memang sudah cukup kau dapat penjelasan dari aku, tak dapat memberikan penjelasan lainnya, malah aku percaya dikemudian hari ilmu silatmu akan jauh lebih tinggi dari padaku yang menjadi Suhengmu, Ha ha ha...tapi aku tidak mengiri, malah merasa bangga mempunyai seorang Sutee yang lihay seperti kau Tiong Jong...Ho Tiong Jong merendahkan diri.

Mana dapat aku akan lebih lihay dari Suheng, yang mendapat pendidikan langsung dari Siansu.

katanya sambil ketawa.

Tiba tiba Sim Pek Hian seperti ingat sesuatu, Eh, Sutee, kafanya, apakah kau tidak mau menunggu Siu-cie pulang dahulu menengoki orang tuanya.

Ah, tidak apa, jawab Ho Tiong Jong sambil ketawa, tolong Suheng sampaikan terima kasihku yang besar kepadanya dan minta maaf aku berlalu dari sini diluar kehadirannya.

Ho Tiong Jong seperti yang kesusu, Hatiku sudah dua hari ini merasa tak enak.

aku kuatir adik Gok sudah kembali dan menanti kedatanganku, ia berkata pula.

Kemudian berpamitan sambil memberi hormat pada sang Suheng dan tidak lupa mengucapkan terima kasihnya atas kebaikannya orang tua itu, ia berjanji satu waktu akan datang kembali menyambangi tuan rumah.

Sim Pek Hian tak dapat mencegah kepergiannya sipemuda, sambil berdiri ia mengelus elus jenggotnya pikirannya berduka.

ingat kepada anak angkatnya, sebagai orang tua matanya tak dapat dikelabuhi bahwa anak angkatnya ada jatuh cinta kepada pemuda tampan dan lihay itu, tapi apa mau dikata, ia sendiri tak berdaya untuk mempersatukan mereka menjadi suami istri, karena Ho Tiong Jong sudah banyak pacarnya, yang menyintai dirinya.

Terang Ho Tiong Jong tentu akan menolak kalau ia bicarakan urusannya Siu-jie untuk diambil istri oleh pemuda itu.

orang tua itu menghela napas sambil mengawasi berlalunya si anak muda dari kebun sayurnya, sampai tidak kelihatanpula bayangannya.

Mari kita ikuti Ho Tiong Jong yang kembali kerumahnya co Kang cay.

Kebetulan saat itu tampak si orang tua sedang berdiri disamping pintu.

Ia tampak sangat gelisah.

Dengan jalan dingkluk-dingkluk dibantu oleh tongkatnya ia menyongsong kedatangannya Ho Tiong Jong.

Ketika berhadapan ia lantas berkata.

Tiong Jong kau kemana sampai begitu lama?

Aiya kau bikin susah orang saja, sekarang bagaimana baiknya ini?

Ah, kau Tiong Jong..

co Kang cay bicara sangat gugup, hingga Ho Tiong Jong tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh si orang tua itu, Maka ia menanya.

co lopek, ada apa sih kau begitu gugup?

Nona Ie sudah pergi menyusulmu pada setengah bulan yang lalu, lima hari yang lalu ada datarg nona Seng mencarimu, menunggu sampai lima hari, maka ia sudah tidak sabaran dan menyusulmu lagi.

Ha Adik Giok sudah datang?

Kapan dia perginya?

tanya Ho Tiong Jong.

Kira-kira dua jam berselang ia sudah pergi, katanya hendak mencarimu.

Apa co lopek tidak kasih tahu aku pergi kemana kepada dua nona itu.

Tidak, sebab aku takut mtreka bikin huru-hara dirumahnya Suheng, nanti aku yang dimarahi oleh Suheng.

Bagus sekarang kasih tahu padaku, kejurusan mana nona Seng pergi?

Ke jurusan Barat, entah dia sudah sampai dimana ?

Baik, nah selamat tinggal, sampai lain kali kita ketemu lagi.

Anak muda itu tampak menanti co Kang cay menjawab, sudah lantas putar badannya dan lari kejurusan Barat menyusul pada nona Seng Giok Cin.

co Kang cay hanya berdiri melongo mengatasi berlalunya si anak muda.

Perjalanan kejurusan Barat tidak banyak tempat tempat yang ramai, maka ia enak menggunakan ilmu jalan cepatnya untuk menyusul Seng Giok Cin.

Kini kepandaian dalam hal mengentengi tubuhnya sangat hebat Tak lama ia sudah sampai pada suatu tempat pegunungan.

Pikirnya, menurut dugaan ia sudah dapat menyandak nona Seng, tapi masih juga ia belum dapat menyusulnya.

Ia celingukan dan memperhatikan disekitar tempat itu.

Dalam herannya ia menghampiri sebuah pohon untuk meneduh, Belum lama ia duduk sambil menebak-nebak kemana jalannya sang kekasih atau kupingnya telah mendengar seperti ada beradunya senjata orang bertempur.

Ia pasang kupingnya lebih hati-hati, suara itu ternyata datangnya seperti dari bawah jurang.

Tanpa memikir lama-lama lagi, ia lalu enjot tubuhnya melesat melayang seperti burung dan dilain saat ia sudah sampai d itempat pertempuran.

Ternyata yang bertempur ada seorang wanita dikerubuti oleh tiga orang lelaki yang semuanya ada berkerudung kepalanya dengan kain hitam, hatinya Ho Tiong Jong sangat kaget ketika nampak wanita itu bukan lain daripada kekasihnya, siapa sedang keteter dikerubuti oleh tiga lelaki yang semuanya berkepandaian tidak rendah.

Tapi ia tidak ingin turun tangan lekas-lekas, ingin melihat dahulu kepandaiannya sang kekasih, apakah ia dapat mempertahankan diri dari keroyokannya tiga laki laki berkerudung kain hitam itu?

Seng Giok Cin ternyata sangat gesit, pedangnya menari-nari diantara berkelebatnya tiga senjata musuh, hingga kelihatannya sukar ia dijatuhkan untuk sementara waktu.

Diam-diam Ho Tiong Jong menghampiri lebih dekat pada medan pertempuran mereka satu juga tidak ada yang engah bahwa saat itu ada jago lihay.

Satu diantara lawan Giok Cin berkata.

Sudah baik-baik kau menjadi orang penting dalam perserikatan kita, kenapa kau jadi tergila-gila kepada itu maling kecil?

Hari ini kalau tidak dapat membekuk kau untuk dibawa ketempat kami, kami bersumpah untuk mengambiljiwamu ditempat ini juga.

Jangan banyak bacot manusia rendah, Apa kau kira nonamu takut pada kalian?

IHm lihat pedang nonamu akan ambil kepalamu satu persatu.

Jangan kasih hati Samte, bekuk saja kita kerjain-kata yang satunya lagi.

Mereka lantas mengurung rapat, ilmu silatnya berubah lebih cepat dan ganas, hingga biar bagaimana Seng Giok Cin menjadi gelisah juga.

Kalau ia dikerubuti oleh dua saja masih ia dapat menandingi dan mungkin dapat mengalahkannya akan tetapi ia, ditigain, benar berat untuk melawannya.

Hatinya jadi melamun pada Ho Tiong Jong, Dimana dia sekarang?

Karena hatinya terpencar, maka Seng Giok cin jadi lengah memusatkan tenaga dalamnya, hingga ketika pedangnya kebentur dengan senjata musuh terpaksa ia mundur, Apa celaka justru ia diserbu dan hendak dipeluk oleh salah satu lawannya.

Ia tak dapat meloloskan diri, karena dalam posisi sulit, ia sudah mandah terima nasib dengan meramkan mata.

tapi tiba tiba ia mendengar lawannya keluarkan jeritan tertahan.

Ketika ia membuka matanya, kiranya Ho Tiong Jong sudah berdiri diantara mereka.

oooh bukan main girangnya si nona.

Engko Jong, kau.

serunya kegirangan sambil memburu dan berdiri disampingnya sang kekasih.

Adik Giok kau kaget barusan?

Hm si manusia rendah tadi aku sudah kasih persen kau lihat dia sekarang sedang kesakitanSeng Giok Cin memandang pada orang tadi yang hendak memeluk dirinya, benar saja tampaknya seperti sedang merasakan kesakitan lengannya.

Entah bagaimana rupanya ia dalam keadaan demikian, sebab mukanya ditutup kerudung kain hitam dan hanya mendengar rintihannya yang sakit.

Barusan orang tadi ketika lengannya hampir menyentuh pinggangnya Seng Giok Cin yang langsing, tiba-tiba ia berjengit dan cepat menarik pulang sepasang lengannya, karena ia rasakan lengan kanannya seperti kena ditusuk-tusuk jarum sakitnya, ia heran dengan kesakitan ia mundur beberapa tindak.

Tidak tahu dari mana datangnya, seketika itu sudah ada Ho Tiong Jong dihadapannya tengah bersenyum-senyum, ia jadi menggigil karena sudah tahu sampai dimana kelihayannya anak muda ini yang dahulunya ia sangat pandang rendah.

Pelahan-lahan rasa sakitnya hilang dan lengannya dapat digeraki lagi, orang tadi lantas berkumpul dengan dua kawannya yang lain menghadapi si pemuda yang saat itu masih bersenyum-senyum mengawasi pada mereka..

Mereka sangat jahat engko Jong, tiba-tiba Seng Giok Cin berkata, kau harus kasih hajaran pada mereka supaya tahu diri.

Adik Giok.

kau kenali mereka ini ?

Aku sudah lantas kenali dari mereka punya lima silat dan juga suaranya.

Ho Tiong Jong bersenyum lagi, Siapa?

tanyanya.

Mereka ada muridnya itu siluman Khoe Tok Si pemuda anggukkan kepalanya.

Aku penasaran kalau belum menggampar mukanya satu persatu sebagai hadiah perbuatannya mereka yang tidak sopan barusan terhadapku.

Baik, kau boleh laksanakan sebentar.

Maling kecil, kau jangan banyak lagak.

Apa kau kira kami bertiga boleh buat sembarangan?

IHm..

lihat kami bekuk batang lehermu dan sekalian dengan ini budak penghianat itu kami akan gusur kemarkas.

Perkataannya tak lampias, karena tiba tiba mendengar suaranya Ho Tiong Jong yang aneh sekali, ia ketawa bergelak gelak seperti biasa kelihatannya, akan tetapi kedengaran di kuping masing-masing seperti guntur berbunyi hingga mereka menjadi berubah wajah nya dan merasa jerih.

Seng Giok Cin mendengarnya seperti biasa saja, maka ia jadi heran tatkala melihat tiga orang itu pada menekap kupingnya masing-masing dengan tangannya dan matanya pada terbelalak mengawasi pada Ho Tiong Jong dengan penuh rasa heran dan jerih.

Masing-masing dalam hatinya menanya, Dari mana Ho Tiong Jong dapat ilmu yang lihay itu.

Apa kepandaiannya lebih hebat dari duluan ?

Dari takut mereka jadi nekad, sebab pikirnya, daripada mereka sebentar mendapat hinaan lebih baik unjuk kepandaian dulu, siapa tahu dapat menjatuhkan sianak muda dengan mengandalkanjumlah mereka ada lebih banyak.

Mereka mengasih tanda dengan isyarat mata.

Kemudian dengan serentak telah menyerang pada Ho Tiong Jong yang barusan saja berhentikan ketawa nya, serangan mereka ada hebat sekali, tiga senjata berbareng berkelebat mengarah tubuhnya sang korban.

Suara senjata terdengar trang trang saling bentur tapi yang saling bentur ada senjata mereka sendiri, Sedang Ho Tiong Jong telah menghilang entah kemana?

Mereka celingukan melihat sebentar ada dibela kang satu kawannya, kemudian dibelakang kawan lainnya begitu seterusnya, hingga mereka tak dapat menyerang dengan senjatanya dikuatirkan nanti salah menyerang kena kawan sendiri.

Bukan main mereka herannya menyaksikan kepandaian Ho Tiong Jong, Kau jangan keluarkan ilmu iblis, lekas hadapi kami, kalau kan benar satu laki laki, kau..

belum kata-katanya ini lampias, tiba tiba telah terdengar suara..

Baiklah lantas tubuhnya Ho Tiong Jong berkelebat seperti kilat.

Entah bagai mana ia bergerak, sebab dilain saat satu persatu tiga lawannya itu kena ditotok dan berdiri seperti patung, Hanya matanya saja yang berputaran mengawasi pada Ho Tiong Jong yang saat itu sudah berdiri pula disampingnya Seng Giok cin sambil ketawa.

Seng Giok Cin sangat kagum dengan kepandaiannya sang kekasih, ia tidak tahu dari mana kekasihnya itu dapatkan kepandaian yang demikian hebat?, ia terbengong mengawasi Ho Tiong Jong, hanya bisa mengeluarkan kata kata, Eng..

.koJong..kau..

Ho Tiong Jong ketawa, ia mengerti akan kagum dari kekasihnya itu.

Tangan kananaya merangkul tubuh si cantik, dua pasang mara saling berpandangan dengan penuh rasa cinta dan bahagia, Adik Giok.

bukankah kau hendak menampar mereka satu persatu...kata sipemuda pelahan.

Seng Giok Cin anggukkan kepalanya sambil bersenyum manis.

Hatinya sangat bangga mempunyai kekasih yang demikian tampan romannya dan demikian lihay ilmu kepandaiannya.

Ilmu apakah itu, Engko Jong?

tanya si gadis.

ilmu mengentengi tubuh meminjam berkesiurnya angin dan ilmu menotok jalan darah nomor satu.,.

Aku mau diajar itu, engko Jong.

Tentu, kau akan jadi isteriku, segala apa milikku dan menjadi milikmU juga, cuma tergantung kepada kekuatan tenaga dalammu saja sesuai atau tidak untuk menerima pelajaran itu, bukan ?

Sambil mendongak menatap wajah sang kekasih yang tampan, Seng Giok Cin manggutkan kepalanya, kemudian rebahkan kepalanya yang berambut harum itu didadanya Ho Tiong Jong yang kokoh.

Pelukan Ho Tiong dirasakan makin erat, itulah lebih lebih dari seratus kata-kata bahagia dengan lisan.

Keduanya saling peluk sesaat lamanya pelukan bahwa adegan itu disaksikan oleh tiga orang musuhnya yang sedang pada berdiri dengan tak dapat menggerakkan tubuhnya.

Hanya matanya yang pada melotot dan hatinya penuh rasa jelus dan iri hati, si cantik dari Seng-keepo berada didalam pelukannya orang yang mereka sangat benci dan ingin membunuhnya....adik, Giok.

bukankah kau mau memberi persen pada mereka?

bisik Ho Tiong Jong sesaat kemudian.

Seng Giok Cin seperti yang baru mendusin dari kelelepnya dalam kebahagiaan mata, dengan perlahan-lahan ia melepaskan diri dari pelukan Ho Tiong Jong.

Kau benar, engko Jong.

katanya seraya menghampiri kepada mereka Masmgmasing dalam posisi mereka tadi bergerak hendak menghajar Ho Tiong Jong, senjata masih di tangan, kelihatannya lucu sekali.

Senjata mereka dilucuti, lalu kerudungnya masing masing dibuka dan benar saja mereka ada Seng Boe Ki dan dua saudara oet ti engko Jong kau lihat cecongornya tiga orang jahat ini..

kata si nona, serentak ia menggampar mukanya satu per-satu hingga mereka meringis-ringis, pedas rasanya gamparan si nona.

Ketika dalam gemasnya si nona hendak persen gamparannya yang kedua kali, HoTiong Jong mencegah Sudah.

sudah cukup, Biar kita bebaskan supaya mengadu kepada gurunya, aku mau lihat itu siluman jahat apa ada punya kepandaian serta nyali untuk membalas dendam murid-muridnya ini?

Ho Tiong Jong ingat akan cerita tempo hari yang ia dengar bahwa Khoe Tek ada sangat jahat, tukang hirup darah manusia dan darah darah wanita yang datang bulan dibuat obat, kemudian orangnya diperkosa dan dibunuh mati, ia sekarang sudah mempunyai kepandaian tinggi, ingin ia ketemu orang ganas kejam itu untuk membinasakannya.

oleh sebab mengingat itu, maka tiga muridnya dilepaskan oleh Ho Tiong Jong.

Ia hanya menepuk punggungnya masing-masing, lantas mereka sudah bebas dari totokan dan diusir dari situ.

Dengan masing-masing membawa senjata, mereka ngacir terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

seng Giok Cin tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan mereka itu.

Balik pada urusannya sendiri, atas pertanyaannya sang kekasih, Seng Giok Cin bercerita.

Sepanjang perjalanan seratus lie sampai ke rumahnya orang orang ayahnya pada menghalang-halangi padanya, tidak mengijinkan ia berkunjung kerumahnya atas perintah ayahnya, ia lalu menulis sepotong surat mengabarkan maksud kedatangannya ada membawa Lencana Rahasia Tuhan yang hilang maka barulah perjalanannya lancar.

Ayah girang mendapat kembali barang pusakanya itu, kepada sang ayah ia berterus terang, bahwa ia akan berumah tangga dengan Ho Tiong Jong.

Ayah tidak ambil perduli, hanya kepala-kepala Perserikatan lainnya tidak puas dan menahan ia sampai Ho Tiong Jong datang baru dilepaskannya.

Belakangan putusan dirubah, menyuruh ia kembali pada Ho Tiong Jong untuk mengabarkan bahwa pemuda itu ditunggu kedatangannya dalam tempo lima belas hari dikota Tong an pada sebuah kuil, untuk mengadu kekuatan.

Sebagai penutup Seng Giok cin sambil berlinang air mata berkata.

engko Jong, karena cintaku yang besar pada dirimu, aku sampai tega meninggalkan ayahku hidup bersendirian dirumah, Entahlah bagaimana dengan kesehatannya nanti..

Adik Giok.

Ia orang tua tak dapat melupakan kasihnya kepada anaknya yang sangat disayang seperti kau.

Maka senangkan-lah hatimu.

Sekarang, kepaksa aku minta bantuanmu untuk pergi ke Siauw lim si di gunung Ko-san, tempatnya Beng Tie Taysu, Kau bawa ini gelang batu giok, Ho Tiong Jong sambit keluarkan gelang batu giok kepercayaan dari orang orang Siauw-lim-pay.

Serahkan padanya dan minta supaya Beng Tie Taysu hadir ditempat yang ditetapkan oleh orang-orang dari perserikatan pada hari pertemuan mereka dengan aku.

Kau mau minta bantuan dari Siauw-lim-sie?

tanya Seng Giok Cin.

Terpaksa, karena aku belum tahu tenagaku apa cukup untuk menghadapi mereka sembilan orang dengan barisannya Kim liong-pat hong thian-bee tinYa memang barisan itu memang lihay, sekarang aku pergi dah.

Dua kekasih itu terpaksa berpisahan pula, karena menghadapi urusan yang sangat penting dan berbahaya.

Tanggal yang dijanjikan kebetulan jatuh pada harian cap-go-meh.

Menjelang magrib Ho Tiong Jong sudah ada di kelenteng Po in-si di kota Tang-san, tempat yang telah dijanjikan Dibawahnya terang bulan, Ho Tiong Jong jalan-jalan disekitar kelenteng tersebut sambil menikmati pemandangan yang permai, ia melamun, pada hari-hari yang akan datang, ia akan menghadapi pertempuran kemudian akan menikah dengan sicantik Seng Giok cinooh, bagaimana bahagianya kalau ia sudah berumah tangga dengan gadis yang menjadi pujaannya itu.

Tengah ia enak-enakan melamunkan kebahagiaannya, tiba-tiba dari balik sebuah pohon muncul sesosok bayangan menghadang didepannya.

Ha ha ha..

., Tiong Jong kau benar-benar satu kuncu dapat memegang janjimu.

orang itu adalan Khoe Cong, si muka jelek.

yang jelus hatinya.

Kau jangan muncul sendirian, panggil keluar kawan-kawanmu sekalianKhoe Cong bersiul nyaring, segera pada muncul dengan beruntun delapan orang dari segala jurusan, Mereka lengkap sembilan orang yang merupakan kepala dari Perserikatan Benteng Perkampungan.

Mereka dikepalai oleh Kim Toa Lip.

ayahnya Hong Jie.

Sambi tertawa nyaring Kim Toa Lip berkata Kau kelihatannya tenang-tenang saja, aku tidak sangka kau belani muncul disini.

Jangan banyak omong, lantas jelaskan apa maksud kalian mengundang aku datang kesini?

memotong Ho Tiong Jong dengan suara dingin.

Seng Eng dan ciauw Toa Nio menanyakan halnya Lencana Rahasia Tuhan yang dibawa-bawa oleh Ho Tiong Jong, apakah diberitahukan kepada orang lain?

Meskipun aku bilang tidak kalian toch tak akan percaya, sekarang mau apa, aku dapat mengiringinya tantang Ho Tiong Jong.

Bocah sombong itu tidak boleh dikasih hati h ayo kurung dia bersama barisan kita, Biar tahu kelihayan kita.

teriak ciauw Toa Nio Ho Tiong Jong tertawa bergelak gelak.

Kalian boleh atur barisan, aku Ho Tiong Jong tidak akan tinggal lari, kata sipemuda sikapnya jumawa.

Semua jago-jago tua itu pada heran melihat sikapnya Ho Tiong Jong yang demikian tenang, Apakah mungkin ia sudah tambah kepandaiannya lagi?

Tapi ketelanjur sudah menonjolkan barisannya yang lihay, maka Kim Toa Lip sebagai kepala lantas perintah kawan-kawannya berbaris mengurung pada sipemuda.

Silahkan kau menerjang dan pukul pecah pecah barisan kata Kim Toa Lip.

Ho Tiong Jong tidak tawar menawar lagi, ia hunus goloknya dan menerjang pada Kim Toa Lip.

Siapa tinggal tidak bergerak.

tapi ketika goloknya Ho Tiong Jong hampir sampai ia menangkis dengan pedangnya, ia terhuyung-huyung mundur tiga tindak.

sedang Ho Tiong Jong masih tetap ditempatnya.

Bukan main kagetnya orang she Kim itu.

Ho Tiong Jong sampai demikian hebat tenaga dalamnya, sungguh diluar segala dugaan.

Semua orang-orang Perserikatan pada membelalakkan matanya.

Tiba-tiba terdengar suara-suara orang yang memuji Budha, ternyata yang datang ada Beng Tie Taysu diiringi oleh sembilan kawannya.

orang-orang yang mau bergebrak urungkan bergeraknya, Kim Toa Lip dan kawankawannya saling pandang dan menduga-duga apa maksud kedatangannya Beng Tie Taysu dari Siauw lim si itu, Sedang Ho Tiong Jong diam-diam merasa girang.

Ketika sudah datang dekat, Beng Tie Taysu sambil memberi hormat, berkata.

Harap kalian jangan bertempur dahulu, Loceng ingin bicara dengan Ho Sicu sebentar.

Yang mana satu Ho Sicu harap suka datang pada Loceng.

Ho Tiong Jong keluar dari kepungan musuh, sambil menjura ia memohon maaf untuk kelancangannya memohon kedatangannya sang paderi dengan mengirimkan gelang batu kumala.

Diterangkan batu kumala itu dikasih oleh Ie Boen Hoei dari kantong Suheng-nya yang telah meninggal dunia.

Asal usulnya permusuhan sehingga ia hendak bergebrak dengan sembilan orang itu diberitahukan dengan singkat.

Beng Tie Taysu menghela napas, Tapi ketika ia mendengar kawanan orang dari Perserikatan pada beberapa bulan yang lalu telah membakar gerejanya Tay Hong Hosiang sehingga musnah, matanya Beng Tie Taysu berkilat sejenak.

tapi kemudian tenang lagi.

Musnahnya Kong-beng si karena gara-gara orang orang jahat ini yang tidak kesampaian maksudnya mengambil jiwaku, ini ada tanggung jawab ku.

Harap Taysu bersabar, setelah aku dapat membasmi sembilan orang ini sebagai balas dendam atas kematiannya Tay Hong Hosiang dan murid.

muridnya serta musnahnya gereja Kong-beng si, aku nanti serahkan diri pada Taysu, bagaimana Taysu hendak menghukumku, aku juga bersedia dengan rela..

Ho Sicu jangan merendah begitu rupa, penanggung jawab dari musnahnya Kong beng-si dan kematiannya Tay Hong serta murid-muridnya adalah mereka ini.

Sembilan orang itu terkejut mendengar pembicaraan mereka, Kiranya kedatangan Beng Tie Taysu itu adalah hendak membantu pada Ho Tiong Jong.

Anak haram, jangan banyak rewel, Lekas terima kematian untuk mengganti jiwa anakku demikian terdengar teriakan dari pihak Perserikatan.

Yang berteriak itu ternyata Han Siauw ceng, ia yang sudah tidak sabaran menanti Ho Tiong Jong pasang omong dengan Beng Tie Taysu.

Ho Sicu, silahkan kata Beng Tie Taysu.

Dilain saat Ho Tiong Jong sudah dikepung lagi oleh sembilan orang dalam barisan Kim liong pat-hong thian bee tin, setelah terlebih dahulu menyerahkan golok Lam-cun-tonya kepada Seng Giok Cin, ia menghadapi mereka dengan tangan kosong.

Anak haram.

bentak Hui Siauw Ceng, Kau mau cari mampus siang-siang masuk dalam barisan kami dengan tangan kosong.

Ho Tiong Jong sangat mendongkol dikatakan anak haram, orang tua dekat mampus, jangan banyak bacot.

Lihat saja nanti, siapa yang akan menemui Giam lo ong...Kim Toa Lip sementara itu sudah memberi aba-aba kepada orang-orangnya untuk lantas turun tangan.

Tidak tempo lagi Ho Tiong Jong dihujani senjata dan dikepung rapat sekali, tapi Ho Tiong Jong dengan bersiul nyaring badannya berkelebatan seperti kilat cepatnya ia menggunakan ilmu mengentengi tubuh.

Berkesiuran angin, Tanci Sin-kang dan Te it Thiam.

hiat Dari buku Kumpulan ilmu Silat Seiati ia sudah paham benar, cara bagaimana memecahkan barisan yang sangat dibanggakan oleh sembilan orang itu.

in Kie Lojin tempo hari kena dijatuhkan oleh barisan demikian, sejak mana ia sudah menyusun satu cara, bagaimana untuk memecahkan barisan tersebut dan ia telah menulisnya didalam kitab pusakanya.

Bagian ini dipelajari oleh Ho Tiong Jong khusus untuk menjatuhkan sembilan orang dari Perserikatan Benteng Perkampungan.

Menghadapi kegesitan seperti kilat itu, bukan main sibuknya sembilan orang jago kelas satu itu, mereka punya senjata saling bentur dengan kawannya sendiri sebagai ganti sasarannya yang menghilang pergi datang.

Dalam tempo pendek saja ke-9 orang itu sudah kena ditotok semuanya dan masing masing pada berdiri dalam gerakannya masing-masing ketika kena tertotok.

Lucu sekali, ada yang sedang angkat kaki menendang, ada yang sedang menyabetkan pedangnya, menusukkan senjata pitnya, menggunakan pentungannya dan lain-lain sebagainya.

Hanya matanya saja yang dapat digerakan berputaran mulutnya tak dapat berbicara, inilah hasilnya dari ilmu Te-it Thiam hiat (ilmu menotok jalan darah nomor satu) yang dipelajari oleh Ho Tiong Jong yang istimewa untuk menghadapi mereka.

Beng Tie Taysu geleng-geleng kepala dan memuji namanya Budha menyaksikan kepandaian Ho Tiong Jong yang luar biasa, Dengan tangan kosong dapat menjatuhkan sembilan jagoan dalam perserikatan yang telah tersohor namanya.

Seng Giok Cin bengong saking kagum menyaksikan kepandaian sang kekasih.

Ho Tiong Jong lalu menghampiri satu persatu dan mengompes siapa yang telah melakukan pembakaran kelenteng Kong beng-si, ternyata yang menjadi biang keladinya ada Hui Siauw Ceng.

Sambil menghadapi dua orang tersebut, Ho Tiong Jong menengadah kelangit.

Mulutnya kemak-kemik seperti yang mengucapkan apa-apa kata katanya yang penghabisan nyaring juga kedengarannya.

Taysu yang jadi orang alus harap saksikan Ho Tiong Jong membalas sakit hati Taysu.

Berbareng ia mendekati Hai Siauw Ceng dan menepuk pinggangnya, kemudian Khoe Cong di tepuk pundaknya, sambil berkata.

Nah kalian boleh pulang, sebentar malam boleh merasakan akibat dari perbuatan jahat kalianSeiring dengan kata-katanya Ho Tiong Jong menendang satu demi satu, Dua-duanya terlepas dari totokan dan pada angkat kaki dari situ tanpa menoleh lagi kebelakang.

Taysu aku sudah membalaskan sakit hatinya Thay Hong Hosiang pada orang-orang yang bersalah, bagaimana pikirnya Taysu terhadap lainnya?

Apakah hendak dibebaskan saja, sebab mereka tidak turut campur dalam pembakaran Kong bengsi.

Beng Tie Taysu menghela napas, ia mengerti Ho Tiong Jong barusan sudah turun tangan berat terhadap orang yang bersalah, Mereka sebentar malam baru akan merasa tepukan Ho Tiong Jong yang lihay, sekujur tubuhnya seperti ditusuk-tusuk dengan jarum, setelah menderita tiga hari tiga malam mereka akan melayang jiwanya.

Ia tidak hendak mencari musuh, maka ia lalu anggukkan kepalanya.

Ya, kasihlah mereka bebas...katanya.

Satu persatu dibuka totokannya oleh Ho Tiong Jong dengan tendangan dan gamparan pada muka masing-masing kecuali ketika gilirannya Seng Eng dan Kim Toa Lip.

orang muda itu masih ingat dan pandang mukanya Seng Giok Cin dan Kim Hong Jie, maka ia tidak mau keterlaluan ia gunakan Tan ci Sin-kang, menyentil dari kejauhan membuka totokanpada dua orang tua ini.

Mereka semuanya tanpa mengucapkan apa apa sudah pada angkat kaki dari tempat itu dengan penuh rasa penasaran dan malu.

Kejadian ini telah menggemparkan dunia persilatan ketika jago jago dalam kalangan Kang-ouw mengetahuinya, hingga namanya Ho Tiong Jong telah meningkat tinggi sekali.

Ho Sicu, hebat sekali kepandaian Ho Si-cu, Loceng belum pernah menyaksikan kepandaian yang demikian lihay, dengan tangan kosong dapat memecahkan barisan Kim-liong-pat hong thian be-tin-..

memuji Beng Tie Taysu.

Ah, ini berkat anjuran semangat dari Taysu saja..

jawab Ho Tiong Jong merendah, hingga Beng Tie Taysu diam-diam memuji pada pemuda yang bisa membawa diri itu.

Nah, Ho Sicu, sampai disini saja kita berpisah, Kalau sicu dibelakang hari ada keperluan dengan tenaga kami orang dari Siauw-lim-si, boleh suruhan orang saja untuk membawa ini gelang batu kumala kepadaku..

sambil menyerahkan kembali gelang batu kumala hijau kepada Ho Tiong Jong.

Ho Tiong Jong menyambuti sambil mengucapkan terima kasih.

Beng Tie Taysu ajak kawan kawannya berlalu dari tempat itu diawasi oleh Ho Tiong Jong dan Seng Giok Cin sampai lenyap dari pandangannya.

Seng Giok Cin yang tengah melayang-layang pikirannya menjadi terkejut ketika tiba tiba satu tangan yang kuat menyambar pinggang nya yang langsing dan dipeluk erat-erat?

Suara bisikan yang tak asing lagi baginya mengusap ngusap dalam telinganya....Adik Giok.

mari kita pergi......

Kemana engko Jong ?

...

Merantau...Dua pasang mata berpandangan diiringi senyuman pelukan makin erat..

itulah lebih dari seratus satu kata-kata mesra dan yang dapat diucapkan dengan mulut mereka berdua...

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 9

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert