Eps 11 Medali Wasiat - Yin Yong
Baca online Medali Wasiat - Yin Yong
Cersil Medali Wasiat - Yin Yong.
"Ya, benar, aku memang bangsat keparat!"
Teriak Pek Cu-cay sambil tiada hentinya menghantam dada sendiri.
"Su Siau-jui adalah istri orang, apakah dia masih hidup atau sudah mampus peduli apa dengan kau, mengapa kau ikut ribut dan memaki orang?"
Tiba-tiba suara seorang wanita yang tajam melengking mendamprat Ting Put-si.
Itulah suara si wanita she Bwe.
Mendengar itu seketika Ting Put-si menjadi bungkam.
Sebaliknya Pek Cu-cay lantas menyalahkan Ciok Boh-thian.
"Jika sudah tahu nenekmu akan terjun ke laut pada tanggal 8 bulan satu, mengapa tidak kau beri tahukan padaku sejak dulu?"
Karena hatinya sedih, Boh-thian tidak ingin membantahnya, ia biarkan orang tua itu mengomel sesukanya.
Dalam pada itu kapal mereka telah laju dengan pesatnya karena mendapat angin buritan, Pek Cu-cay masih terus mencaci maki Ciok Boh-thian, sedangkan Ting Put-si suka mengolok-oloknya, beberapa kali mereka hampir-hampir berkelahi, tapi dapatlah dilerai oleh kawan-kawan sekapal.
Sampai petang hari ketiga, dari jauh tertampaklah daratan pantai selatan, seketika bersoraklah semua orang.
Namun Pek Cu-cay masih terus melotot memandangi ombak laut yang mendebur-debur seakan-akan mencari jenazah Su-popo dan A Siu.
Makin lama makin dekatlah, Boh-thian melihat pemandangan pantai itu masih tetap sama seperti waktu dia berangkat.
Di tepi pantai berderet-deret pohon nyiur.
Pada puncak tebing karang yang menonjol di sebelah kiri sana tumbuh tiga batang pohon kenapa.
Ia masih ingat waktu itu Su-popo, A Siu dan lain-lain mengantar kepergiannya dengan berdiri di tepi pantai, sekarang dirinya pulang dengan selamat, namun gurunya dan A Siu itu sudah menjadi isi perut ikan laut, sampai jenazah pun tak tertinggal lagi.
Teringat demikian, tanpa merasa air matanya lantas meleleh.
Kapal mereka masih terus laju menuju ke tepi pantai.
Pada waktu sudah dekat, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan orang, dari atas tebing karang itu tampak melayang ke dalam laut dua sosok tubuh orang.
Mata Ciok Boh-thian cukup jeli, sekilas dikenalnya orang-orang yang terjun ke laut itu taklain-tak-bukan adalah Su-popo dan A Siu.
Kecut dan girang Ciok Boh-thian sungguh tak terhingga.
Pada saat demikian sudah tentu tak terpikir olehnya mengapa kedua orang itu belum mati.
Segera ia angkat sepotong papan terus dilemparkan sekuatnya ke arah tempat jatuhnya kedua orang, menyusul ia kumpulkan segenap tenaga ke ujung kaki, sekali loncat, seketika tubuhnya melayang ke depan secepat anak panah.
Di sinilah dia telah perlihatkan manfaat ilmu sakti yang diperolehnya dari lukisan dinding batu di Liong-bok-to itu.
Ketika melayang turun, sebelah kakinya tepat menginjak di atas papan yang terapung di permukaan air sehingga meluncur ke depan dengan lebih cepat.
Pada saat itu dengan cepat sekali tubuh A Siu sedang terjun ke bawah dan tepat berada di sampingnya.
Tanpa pikir lagi tangan kiri Ciok Boh-thian lantas menjulur, pinggang nona itu tepat kena dirangkul olehnya.
Karena bobot kedua orang ditambah daya terjun si A Siu, seketika papan yang diinjak Boh-thian itu tertekan ke bawah.
Pada waktu itu juga Su-popo tampak jatuh ke bawah tepat di sebelah kanannya, untuk menyambar tubuh nenek itu terang tidak dapat, terpaksa tangan kanan Boh-thian meraih punggung Supopo dan sekalian didorong ke atas, kembali ia keluarkan ilmu sakti lukisan dinding Liong-bok-to, segera tubuh Su-popo melayang ke arah kapal.
Orang-orang di atas kapal sama berteriak-teriak.
Pek Cu-cay dan Ting Put-si lantas memburu ke haluan kapal, melihat Supopo melayang tiba, berbareng kedua orang menjulurkan tangan hendak menangkapnya.
"Enyah kau!"
Bentak Pek Cu-cay sambil memukulkan sebelah tangan kepada Ting Put-si.
Mestinya Ting Put-si hendak menangkis, tak terduga si wanita she Bwe mendadak mendorongnya dari belakang, tanpa ampun lagi ia lantas kecebur ke dalam laut.
Pada saat itu juga Pek Cu-cay sudah dapat menangkap badan Su-popo.
Namun melayang datangnya itu membawa tenaga dorongan Ciok Boh-thian yang mahakuat, Cu-cay tidak dapat berdiri tegak, ia terhuyung-huyung ke belakang dan jatuh terduduk dengan masih tetap memeluk Su-popo sekencangkencangnya.
Dalam pada itu Ciok Boh-thian sambil memondong A Siu dengan pinjam daya luncur papan juga sudah mendekati kapal, sekali lompat ia sudah berada kembali di atas kapal.
Untung juga Ting Put-si mahir berenang sehingga tidak sampai mati tenggelam.
Segera kelasi-kelasi kapal melemparkan tambang ke bawah untuk mengereknya naik ke atas.
Di sebelah sana orang ribut membicarakan kejadian-kejadian yang mendadak itu, di sebelah sini dengan basah kuyup Ting Put-si sedang memandangi si wanita berkerudung she Bwe dengan kesima, tiba-tiba ia berseru.
"Kau... kau bukan adik perempuannya, tapi kau adalah dia, adalah dia sendiri!"
Wanita itu tertawa dingin dan menjawab.
"Hm, asal kau tahu saja. Sungguh besar amat nyalimu, di hadapanku kau masih berani memeluk Su Siau-jui?"
Ketika mendadak ia menyingkap kerudungnya, maka tertampaklah mukanya yang penuh keriput dan amat pucat, mungkin lantaran terlalu lama diberi kurudung dan tidak pernah terkena cahaya matahari.
"O, Bun-sing, ternyata memang betul adalah kau,"
Kata Ting Put-si dengan terharu.
"Mengapa kau mem... membohongi aku bahwa kau sudah meninggal dunia?"
Kiranya wanita berkerudung muka itu bernama Bwe Bun-sing, bekas kekasih Ting Put-si di masa mudanya.
Namun Ting Put-si tergila-gila kepada Su Siau-jui dan meninggalkan dia, tak terduga sesudah beberapa puluh tahun kemudian bisa berjumpa pula.
Sekonyong-konyong tangan kiri Bwe Bun-sing menyambar ke depan, seketika telinga Ting Put-si kena dijewer olehnya, jeritnya melengking.
"Kurang ajar! Jadi kau berharap-harap agar aku lekas mati saja supaya kau bisa bebas dan senang, ya?"
Karena merasa berdosa, Ting Put-si tidak berani melawan, jawabnya dengan meringis kesakitan.
"E-e-eh, lekas lepas tangan! Kan malu dilihat para kesatria itu!?"
"Biarkan kau tahu rasa!"
Sahut Bun-sing dengan menjewer semakin keras.
"Di manakah Hong-koh, hayo kembalikan dia!"
"Lekas, lekas lepaskan tanganmu!"
Seru Ting Put-si.
"Liong-tocu mengatakan dia tinggal di Koh-chau-nia di lereng Him-ni-san, marilah sekarang juga kita pergi mencarinya."
"Ya, marilah kita pergi mencarinya, jika tidak ketemu biar kujewer putus kedua kupingmu!"
Omel Bwe Bun-sing.
Di tengah ribut-ribut itu kapal pun sudah menepi.
Ciok Jing dan istrinya, Pek Ban-kiam dan orang-orang Swat-san-pay sama menyambut kedatangan mereka dengan girang.
Hanya Seng Cu-hak, Ce Cu-le, dan Nio Cu-cin bertiga yang merasa kecewa, tapi terpaksa mereka harus mengucapkan selamat juga atas pulangnya ciangbunjin.
"Ayah, seperti sudah dinyatakan oleh ibu, hari ini adalah Ciagwe Je-pek (bulan satu tanggal , karena ayah belum kelihatan pulang, pada waktu anak sedikit lena, kesempatan itu lantas digunakan oleh ibu dan A Siu untuk terjun ke laut. Tapi syukurlah akhirnya mereka telah dapat diselamatkan, coba kalau ayah datang terlambat sedikit saja tentu takkan berjumpa lagi dengan ibu untuk selamanya,"
Demikian tutur Pek Ban-kiam.
"Apa katamu? Kau bilang hari ini adalah Cia-gwe Je-pek?"
Cucay menegas.
"Benar, hari ini memang Je-pek,"
Sahut Ban-kiam. Cu-cay menggaruk-garuk kepala dengan bingung. Ia menggumam sendiri.
"Pada Cap-ji-gwe Je-pek (bulan 12 tanggal kami sampai di Liong-bok-to. Kami tinggal lebih 50 hari di sana, mengapa hari ini baru Cia-gwe Je-pek?"
"Aha, agaknya ayah sudah lupa bahwa tahun yang lalu adalah Lun-cap-ji-gwe, bulan panjang, bulan kabisat ke-12,"
Kata Bankiam. Mendengar itu barulah Pek Cu-cay sadar. Segera ia rangkul Ciok Boh-thian dan berseru.
"Hahaha, mengapa tidak kau katakan sejak dulu-dulu, cah? Hahahaha, Lun-cap-ji-gwe ini benar-benar sangat bagus!"
"Apakah Lun-cap-ji-gwe itu?"
Tanya Boh-thian.
"Lun-cap-ji-gwe artinya dalam setahun ada dua bulan ke-12,"
Sahut Pek Cu-cay dengan tertawa.
"Tapi peduli apa dengan lun segala, asal bini tidak mati sudahlah cukup!"
Maka bergelak tertawalah semua orang. Waktu Cu-cay menoleh, mendadak ia berseru pula.
"He, di manakah tua bangka Ting Put-si itu, mengapa menghilang?"
"Kau peduli apa dengan dia?"
Semprot Su-popo.
"Dia telah dijewer Bwe Bun-sing dan diajak pergi mencari putrinya yang bernama Bwe Hong-koh!"
"Hahhh, kau bilang Bwe Hong-koh?"
Demikian Ciok Jing Bin Ju menegas berbareng dengan terkejut.
"Ke manakah mereka hendak mencarinya?"
"Waktu di atas kapal tadi kudengar wanita she Bwe itu bilang akan mencari putri mereka ke Koh-chau-nia di lereng Him-nisan,"
Jawab Su-popo.
"O, Thian, akhirnya dapatlah kami mengetahui jejak orang itu, Engkoh Jing,"
Kata Bin Ju dengan suara gemetar.
"Ma... marilah sekarang juga kita susul ke sana."
"Baik,"
Sahut Ciok Jing dan segera mereka berdua mohon diri kepada Pek Cu-cay dan lain-lain.
"Kita sedang ramai-ramai bergembira ria, sedikitnya kita harus merayakannya barang beberapa hari, kalian jangan pergi dulu,"
Ujar Pek Cu-cay.
"Agaknya Pek-supek tidak tahu bahwa Bwe Hong-koh itu adalah musuh pembunuh anak kami yang telah lama kami cari itu,"
Tutur Ciok Jing.
"Syukurlah sekarang kami telah mengetahui tempat sembunyinya, kami harus lekas-lekas menyusul ke sana. Jika terlambat bukan mustahil dia akan melarikan diri dan sembunyi pula di lain tempat."
"Kau bilang wanita itu telah membunuh putramu?"
Cu-cay menegas.
"Hah, kurang ajar! Ya, dia harus dicincang untuk menebus dosanya. Urusanmu adalah urusanku, hayo berangkat, kita semua ikut berangkat. Tentu tua bangka Ting-Put-si dan Bwe Bun-sing itu akan membantu putri mereka, kalian juga harus membawa bala bantuan supaya dapat menuntut balas."
Karena dapat bertemu dan kumpul kembali dengan Su-popo dan A Siu sesudah mengalami macam-macam rintangan, maka perasaannya menjadi amat gembira.
Dalam keadaan demikian apa pun yang orang minta padanya tentu akan diluluskan olehnya.
Maka tanpa diminta juga secara sukarela dia menyatakan ingin membantu Ciok Jing.
Mengingat Bwe Hong-koh tentu akan dibela oleh Ting Put-si, sakit hatinya memang sukar dibalas, maka Ciok Jing dan Bin Ju merasa kebetulan juga jika Pek Cu-cay suka membantunya.
Segera mereka mengucapkan terima kasih.
Ketua Siang-jing-koan sebenarnya belum tiba karena rombongan mereka berada di kapal yang lain, namun Ciok Jing dan istrinya buru-buru ingin menuntut balas, maka tanpa menunggu lagi segera mereka berangkat lebih dulu.
Ciok Bohthian dengan sendirinya juga ikut bersama mereka.
Sepanjang jalan tiada mengalami aral rintangan, akhirnya sampailah mereka di lereng Him-ni-san.
Pegunungan itu seluas beberapa ratus li sehingga sukar dicari di manakah letak Kohchau-nia, bukit rumput kering.
Sampai beberapa hari lamanya mereka mencari kian-kemari di lereng-gunung itu, lama-lama Pek Cu-cay menjadi kesal, ia mengomeli Ciok Jing.
"Ciok-laute, kalian Hian-soh-siang-kiam kan bukan kaum keroco biarpun bukan tandinganku, masakah putranya sendiri juga tidak mampu menjaga sehingga kena dibunuh oleh bangsat perempuan itu? Ada permusuhan apakah antara bangsat wanita itu dengan kau, sampai-sampai anakmu juga dibunuh olehnya?"
"Ai, urusan ini mungkin sudah suratan nasib sehingga sukar diterangkan,"
Sahut Ciok Jing sambil menghela napas.
"Engkoh Jing, jangan-jangan kau seng... sengaja menyesatkan kita supaya tidak menemukan dia untuk membalas sakit hati Anak Kian?"
Tiba-tiba Bin Ju berkata dengan air mata berlinang-linang.
"Aneh, mengapa suamimu sengaja menyesatkan kita supaya tidak menemukan musuh kalian?"
Cu-cay menegas dengan heran. Tapi ia lantas berseru.
"Ah, tahulah aku! He, Ciok-laute, tentunya bangsat wanita itu sangat cantik dan dahulu pernah... pernah main gila dengan kau, betul tidak?"
Ciok Jing menjadi kemalu-maluan, sahutnya.
"Pek-supek suka berkelakar ini!"
"Tapi tentu begitulah halnya,"
Kata Cu-cay pula sambil menatap Ciok Jing.
"Tentu disebabkan bangsat wanita itu cemburu padamu, maka sengaja membunuh putra dari perkawinanmu dengan Bin-lihiap."
Jika mengenai urusannya sendiri Pek Cu-cay suka angin anginan dan linglung, tapi kalau mengulas urusan orang lain ternyata sangat jitu, sekali tebak lantas kena.
Maka Ciok Jing menjadi bungkam.
Namun Bin Ju lantas menyela.
"Pek-supek, bukanlah Engkoh Jing mempunyai hubungan gelap dengan dia, tapi... tapi perempuan she Bwe itulah yang rindu sepihak dan tergila-gila kepada Engkoh Jing, dari cinta timbul cemburu dan menjadi dendam pula, akhirnya putra kami menjadi korban keganasannya."
"Hehhh!"
Pada saat itulah mendadak Ciok Boh-thian berteriak heran. Lalu katanya.
"Aneh, mengapa... mengapa kita bisa sampai di sini?"
Habis berkata ia terus angkat kaki dan berlari-lari ke atas bukit yang berada di sebelah kiri sana.
Kiranya mendadak dia merasa pemandangan di sekitar bukit situ sudah sangat hafal baginya, ternyata bukan lain adalah tempat kediamannya sejak kecil.
Cuma dahulu dia turun dari balik bukit sebelah sana, maka dia tidak bisa lantas mengenal keadaan bukit itu.
Dengan ginkangnya yang mahahebat sekarang, dalam sekejap saja ia sudah sampai di atas bukit itu.
Sesudah memutar ke sebelah hutan sana, sampailah dia di depan sebuah rumah gubuk.
Segera terdengar suara anjing menyalak, seekor anjing kuning telah berlari keluar dari rumah gubuk itu terus menubruk padanya.
Cepat Boh-thian merangkul anjing itu sambil berteriak girang.
"Kuning, si Kuning! Kiranya kau sudah pulang lebih dulu! Di manakah ibuku? He, ibu, ibu!"
Maka tertampaklah dari dalam rumah gubuk itu muncul tiga orang.
Seorang yang berdiri di tengah itu berwajah sangat buruk dan aneh, siapa lagi dia kalau bukan ibunya Ciok Bohthian.
Sedangkan kedua orang yang berdiri di kanan-kirinya adalah Ting Put-si serta Bwe Bun-sing.
"Ibu!"
Sapa Boh-thian dengan girang sambil mendekatinya dengan memondong si Kuning.
"Ke mana perginya kau, sampai sekarang baru pulang?"
Semprot wanita jelek itu. Baru saja Boh-thian hendak menjawab, sekonyong-konyong suara Bin Ju telah menyela di belakangnya.
"Bwe Hong-koh, biarpun kau menyamar dan ganti rupa juga takkan dapat mengelabui mataku! Sekalipun kau lari sampai di ujung langit juga akan... akan...."
Boh-thian terperanjat, cepat ia berpaling dan berseru.
"He, Ciok-hujin, ke... kelirulah kau! Dia adalah ibuku dan bukan musuh pembunuh putramu itu."
Ciok Jing dan Bin Ju juga terperanjat sekali demi mendengar Ciok Boh-thian mengatakan wanita jelek itu adalah ibunya.
"Wanita ini benar-benar ibumu?"
Ciok Jing menegas.
"Ya,"
Sahut Boh-thian tegas.
"Sejak kecil aku hidup bersama ibu. Mendadak pada hari itu ibu telah hilang, aku lantas pergi mencarinya bersama si Kuning, tapi akhirnya aku kesasar dan si Kuning juga hilang. Coba lihat, bukankah si Kuning itu berada di sini!"
Segera ia angkat anjing kuning itu ke atas dengan gembira. Namun Ciok Jing lantas berkata kepada wanita bermuka jelek itu.
"Hong-koh, jika kau sendiri juga punya anak, mengapa dahulu kau tega membunuh putraku?"
Wanita bermuka jelek itu memang betul Bwe Hong-koh adanya. Dia tertawa-tawa dingin. Sebelum menjawab, tiba-tiba Boh-thian menyela.
"Ibu, apakah betul putranya Ciok-cengcu dan Ciok-hujin telah... telah kau bunuh? Apa... apa sih sebabnya?"
"Hm, aku suka membunuh siapa segera kubunuh, peduli sebab apa segala?"
Jawab Hong-koh dengan mendengus. Perlahan-lahan Bin Ju lantas melolos pedang, katanya kepada sang suami.
"Engkoh Jing, aku tidak ingin mempersulit dirimu, silakan kau berdiri di samping saja. Jika aku tidak mampu membunuh dia, hendaklah kau pun tidak perlu membantu padaku."
Ciok Jing mengerut kening, ia merasa serbasusah dan runyam.
"Ting-losi,"
Tiba-tiba Pek Cu-cay menimbrung.
"biarlah kita bicara di muka dulu. Jika kalian suami-istri diam-diam menonton saja di samping, maka kita semua pun akan menonton saja. Tapi kalau kalian akan membantu putri mestikamu itu, maka biarlah kalian mengetahui bahwa kedatangan kami ke sini ini tidak cuma untuk melancong saja."
Melihat jumlah pihak lawan sangat banyak, mendadak Ting Put-si mendapat akal, jawabnya.
"Baik, kita boleh berjanji untuk tidak saling membantu. Biarlah kedua pihak sama-sama terdiri dari satu lelaki dan satu perempuan untuk menentukan kalah atau menang. Di pihak kalian adalah suami-istri Ciokcengcu, di sebelah sini biar mereka ibu dan anak yang maju."
Sudah beberapa kali ia bergebrak dengar Ciok Boh-thian, ia tahu ilmu silat pemuda ini jauh lebih tinggi daripada Ciok Jing berdua, dengan bantuan Ciok Boh-thian pastilah Bwe Hong-koh akan dapat mengalahkan lawannya.
Bin Ju memandang sekejap kepada Boh-thian, tanyanya.
"Adik cilik, apakah kau tidak mengizinkan aku menuntut balas?"
"Ciok-hujin, aku... aku...."
Kata Boh-thian dengan tergagapgagap. Mendadak ia berlutut dan menjura kepada nyonya Ciok sambil berkata.
"Biarlah aku meminta maaf padamu, hendaklah kau jangan mencelakai ibuku."
"Berdiri, Kau-cap-ceng! Siapa yang suruh kau mintakan ampun kepada perempuan hina itu?"
Bentak Bwe Hong-koh dengan bengis. Mendadak hati Bin Ju tergerak. Ia tanya.
"Mengapa kau memanggil demikian kepadanya? Kan dia adalah putra kandungmu? Jangan-jangan... jangan-jangan...."
Ia menoleh kepada sang suami dan berkata.
"Engkoh Jing, adik cilik ini mirip benar dengan anak Giok, jangan-jangan dia adalah putramu dari hubungan gelap dengan Bwe-siocia?"
Dasarnya dia memang ramah tamah dan halus budi, walaupun menghadapi perkara besar demikian bicaranya tetap sopan santun. Maka cepat Ciok Jing menjawab.
"Tidak, tidak! Mana bisa terjadi demikian?"
Namun Pek Cu-cay sudah lantas terbahak-bahak, katanya.
"Hahaha, kau tidak perlu mungkir lagi. Sudah tentu dia adalah putra haram kalian berdua ini, kalau tidak masakah ada seorang ibu tega menyebut putranya sendiri sebagai ‘Kau-capceng’? Rupanya Nona Bwe ini teramat benci padamu!"
Mendadak Bin Ju menaruh pedangnya ke atas tanah, lalu berkata.
"Baiklah, silakan kalian bertiga berkumpul kembali. Aku... aku akan pergi saja."
Habis berkata ia terus putar tubuh hendak berangkat. Cepat Ciok Jing menarik tangannya, serunya cemas.
"Adik Ju, jika kau juga menyangsikan diriku, biarlah kubunuh dulu perempuan hina ini untuk membuktikan kemurnian hatiku."
"Tapi... tapi anak ini memang sangat mirip dengan anak Giok, bahkan juga sangat mirip engkau,"
Sahut Bin Ju dengan suara lembut.
Tanpa bicara lagi pedang Ciok Jing terus menusuk ke arah Bwe Hong-koh.
Tak tersangka Bwe Hong-koh itu sama sekali tidak berkelit, bahkan membusungkan dada menerima ajal.
Tampaknya tusukan itu segera akan menembus dadanya, mendadak jari Ciok Boh-thian menyelentik.
"cring", pedang Ciok Jing tergetar patah menjadi dua.
"Bagus, Ciok Jing, kau sengaja hendak membunuh aku, ya?"
Tanya Bwe Hong-koh dengan tersenyum pedih.
"Benar, Hong-koh,"
Kata Ciok Jing tegas.
"Biarlah kukatakan sekali lagi secara blakblakan bahwa di dunia ini hatiku hanya terisi Bin Ju seorang. Selama hidupku ini tiada pernah mempunyai perempuan yang kedua. Jika kau suka padaku, itu berarti pula kau membikin susah diriku. Ucapanku ini sudah kukatakan pada 22 tahun yang lalu, hari ini tetap demikian ucapanku."
Sampai di sini mendadak suaranya berubah menjadi ramah, katanya.
"Hong-koh, putramu sendiri pun sudah begini besarnya. Adik cilik ini adalah seorang baik, seorang jujur, ilmu silatnya tiada bandingannya, dalam waktu beberapa tahun namanya tentu akan mengguncangkan Kangouw dan menjagoi Bu-lim. Sebenarnya siapakah ayahnya, mengapa tidak kau terangkan padanya?"
"Ya, ibu, sebenarnya siapakah ayahku?"
Segera Boh-thian menyela.
"Aku she apa? Ka... katakanlah padaku. Mengapa engkau selalu memanggil aku sebagai ‘Kau-cap-ceng’?"
"Siapakah ayahmu, di dunia ini hanya akulah yang tahu,"
Sahut Hong-koh dengan tersenyum pilu. Lalu ia berpaling kepada Ciok Jing.
"Ya, sudah lama aku pun tahu bahwa di dalam hatimu hanya terdapat Bin Ju seorang. Maka dari itu dahulu aku telah merusak wajahku sendiri."
"Kau... kau merusak wajah sendiri, buat apa sih?"
Ciok Jing menggumam haru.
"Buat apa? Buat apa? Wajahku dahulu dengan wajah Bin Ju sebenarnya siapa lebih cantik?"
Tanya Bwe Hong-koh. Untuk sejenak Ciok Jing menjadi ragu-ragu sambil memegangi tangan sang istri, akhirnya ia menjawab.
"Pada 20 tahun yang lalu engkau adalah wanita cantik yang termasyhur di dunia persilatan. Meski wajah istriku tidaklah jelek, tapi tak dapat menandingi kau."
Bwe Hong-koh tersenyum dan mendengus satu kali. Sebaliknya Ting Put-si lantas berteriak.
"Itu dia, dasar kau Ciok Jing ini memang anak bergajul, sudah tahu wajah Hong-koh kami sangat cantik dan jarang ada bandingannya, mengapa kau tidak suka padanya?"
Ciok Jing tidak menjawab, ia pegang tangan Bin Ju dengan lebih kencang seakan-akan khawatir sang istri menjadi marah dan hendak tinggal pergi lagi.
"Lalu tentang ilmu silatku dahulu kalau dibandingkan Bin Ju siapa yang lebih tinggi?"
Tanya Hong-koh pula.
"Bwe-hoa-kun keluargamu ditambah dengan macam-macam ilmu silat aneh dari keluarga Ting sudah tentu kepandaian istriku yang belum sempurna waktu itu tak dapat menandingi engkau,"
Sahut Ciok Jing.
"Dan tentang ilmu kesusastraan siapa lagi yang lebih pandai?"
Tanya Hong-koh lagi.
"Engkau pandai mengarang dan mahir bersyair, kami suamiistri mana dapat menandingi kau,"
Sahut Ciok Jing.
Diam-diam Boh-thian sangat heran.
Jika sang ibu sedemikian serbapandai, mengapa sedikit pun tidak pernah mengajarkan padanya?
Dalam pada itu dengan tertawa dingin Bwe Hong-koh telah berkata.
"Jika begitu, mungkin pekerjaan tangan dan kepandaian di dapur adik Bin ini lebih mahir daripada diriku."
"Tidak, memegang jarum saja istriku tak bisa, menggoreng telur saja dia juga tidak mahir, mana dia dapat menandingi keterampilanmu,"
Sahut Ciok Jing sambil menggeleng.
"Habis apa sebabnya bila bertemu dengan aku sedikit pun kau tidak memperlihatkan sikap yang ramah, sebaliknya jika berada bersama Bin-sumoaymu lantas banyak omong banyak tertawa? Sebab apa... sebab apa...?"
Sampai di sini suara Hong-koh sampai gemetar.
"Aku sendiri pun tidak tahu, Nona Bwe,"
Sahut Ciok Jing perlahan.
"Segala apa engkau melebihi Bin-sumoay, bahkan melebihi aku. Bila berada bersama kau aku merasa rendah dan merasa tidak sesuai mempersunting dikau."
Untuk sekian lamanya Bwe Hong-koh termangu-mangu, mendadak ia menjerit terus berlari ke dalam rumah gubuk. Cepat Bwe Bun-sing dan Ting Put-si menyusul ke dalam.
"Engkoh Jing,"
Kata Bin Ju sambil menggelendot di tubuh sang suami.
"Nona Bwe seorang yang bernasib malang, biar dia sudah membunuh anakku, namun aku masih lebih bahagia daripada dia. Aku tahu di dalam hatimu selalu hanya terisi diriku seorang. Marilah kita pergi saja, sakit hati ini tak perlu dibalas lagi."
"Kita tidak menuntut balas?"
Ciok Jing menegas.
"Ya, sekalipun kita membunuh dia juga Anak Kian tak dapat hidup kembali,"
Kata Bin Ju. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar teriakan Ting Put-si.
"Anak Hong, mengapa kau membunuh diri? Biar kulabrak keparat she Ciok itu!"
Ciok Jing dan lain-lain sama terkejut.
Tertampaklah Bwe Bunsing berjalan keluar dengan memondong tubuh Bwe Hong-koh.
Lengan baju kiri Hong-koh tampak tersingsing tinggi sehingga kelihatan kulit badannya yang putih halus.
Di atas lengan terdapat setitik andeng-andeng merah.
Itulah "siu-kiong-seh" (merah cecak) pertanda masih perawan (menurut cerita kuno, cecak diberi makan obat-obat tertentu sehingga sekujur badan berubah menjadi merah, diambil darahnya dan dicocokkan di atas badan anak gadis dan jadilah setitik andeng-andeng merah.
Jika hilang kesucian perawannya, lenyap pula andengandeng merah itu).
"Ini bukti Hong-koh masih suci bersih, sampai sekarang masih tetap perawan, dengan sendirinya Kau-cap-ceng ini bukanlah anaknya,"
Demikian Bwe Bun-sing berteriak. Serentak sorot mata semua orang beralih ke arah Ciok Bohthian, pikir mereka.
"Ya, jika Bwe Hong-koh masih perawan suci, dengan sendirinya bukan ibu pemuda ini. Lalu siapakah ibunya dan siapa pula ayahnya? Mengapa Bwe Hong-koh mau mengaku sebagai ibunya?"
Ciok Jing dan Bin Ju sama berpikir.
"Jangan-jangan mayat Anak Kian yang dikirim kepada kami oleh Hong-koh itu bukanlah Anak Kian yang sesungguhnya, tapi adalah mayat anak orang lain, sebaliknya Anak Kian telah dibesarkan oleh Hong-koh dan jadilah pemuda ini? Kalau tidak, buat apa Hong-koh memanggilnya sebagai ‘Kau-cap-ceng’, apalagi mukanya juga sangat mirip sekali dengan anak Giok?"
Ciok Boh-thian sendiri pun merasa bingung dan penuh pertanyaan.
"Siapakah ayahku? Siapakah ibuku? Siapa pula diriku sendiri?"
Tapi karena Bwe Hong-koh sudah mati membunuh diri, dengan sendirinya pertanyaan-pertanyaan itu tiada seorang pun dapat memberi jawaban.
Hanya para pembaca yang cerdik kami yakin telah dapat menduga dan memberi jawaban yang tepat.....
TAMAT ..
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Jaka Galing 1
Baca Juga: Bagus Sajiwo 7