Ceritasilat Novel Online

Bagus Sajiwo 7

Eps 7 Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo

Baca online Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo

Cersil Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo.

Kata Dhirasani yang tidak marah malah merasa betapa lucunya gadis itu, menganggap ia hanya berkelakar ketika menyebut nama dia dan adiknya sebagai Citraksi dan Citraksa.

"Perkenalkanlah, kami berdua adalah saudara kembar, putera-putera Sang Adipati Santa Guna Alit penguasa Blambangan. Namaku adalah Dhirasani dan ini adik kembarku bernama Dhirasanu!"

"Sudahlah, diperkenalkan juga aku tetap akan bingung membedakan mana yang Dhirasani dan mana yang Dhirasanu. Nah, kalau kalian ingin melanjutkan bicara dengan kami, sekarang yang bernama Dhirasani harus menanggalkan ikat kepalanya dan biar yang bernama Dhirasanu tetap memakai ikat kepala. Dengan begitu aku tidak akan menjadi bingung. Kalau tidak mau, kami pun tidak sudi bicara dengan kalian karena aku menjadi bingung."

Kata Ken Darmini.

Dua orang saudara kembar itu saling pandang, kemudian Dhirasani yang memang sudah tergila-gila kepada Ken Darmini, terpaksa memenuhi tuntutan itu dan dia menanggalkan kain kepalanya.

Tanpa kain pengikat kepala ini tentu saja sekarang mudah membedakan diantara mereka.

"Nah, bagus begitu. Sekarang katakan apa mau kalian mengejar kami!"

Kini Ratna Manohara yang bertanya. Karena yang bertanya gadis murid perguruan Driya Pawitra ini, gadis yang menjatuhkan hatinya, Dhirasanu yang cepat menjawab.

"Begini, Nimas Ratna Manohara. Sebetulnya kami berdua menyusul Andika berdua atas kehendak kami sendiri, tidak diutus siapa pun, karena kami merasa kasihan melihat Andika berdua. Sudah jauh-jauh Andika berdua datang berkunjung, sebelum Andika berdua kami sambut dengan baik Andika sudah pulang lagi!"

"Hemm, untuk apa kami hadir dalam pertemuan yang hendak membicarakan urusan mengacau di daerah Mataram dan mencari penyakit? Tidak ada sangkut pautnya dengan kami!"

Kata Ratna Manohara.

"Karena itulah maka kami berdua mengejar Andika untuk minta maaf akan apa yang telah terjadi dalam ruangan pertemuan tadi. Kami berdua ingin bersahabat baik dengan Andika berdua, karena itu kini kami mengundang Andika berdua untuk menjadi tamu kehormatan kami. Ini merupakan urusan pribadi dan kami berjanji tidak akan bicara tentang urusan negara. Kami ingin menjamu Andika berdua dengan pesta yang tentu akan menyenangkan hati Andika berdua!"

Kata Dhirasani.

"BENAR, kami akan menyuguhkan hidangan terlezat dan pertunjukan tari-tarian, pendeknya, kami akan meng-hibur Andika berdua sebagai tamu-tamu agung kami."

Kata pula Dhirasanu.

Ratna Manohara dan Ken Darmini saling pandang.

Ratna mengerutkan alisnya dan Niken tersenyum geli, lalu keduanya menggeleng kepala pertanda bahwa keduanya tidak setuju dan tidak bersedia menerima undangan dua orang pemuda kembar itu.

"Terima kasih, Dhirasani dan Dhirasanu. Akan tetapi maaf, kami tidak bersedia menerima undangan kalian. Kami akan melanjutkan perjalanan dan selamat berpisah!"

Kata Ratna Manohara. Setelah berkata demikian, ia menggandeng tangan Niken Darmini dan mengajaknya memutar tubuh dan melanjutkan perjalanan.

"Eh, tunggu dulu!"

Kata Dhirasam mengejar.

"Katakan dulu kenapa kalian berdua menolak undangan kami?"

Sekarang Niken yang menjawab. la memutar tubuhnya menghadapi pemuda itu dan berkata.

"Kami menolak karena kami melthat ada udang di balik batu!"

"Eh? Apa maksud Andika?"

"Ada niat buruk di balik undangan itu!"

"Aeh, Nimas! Niat kami hanya ingin sekali bersahabat baik dengan Andika berdua!"

Kata Dhirasani penasaran.

"Ya itulah udangnya! Kami tidak ingin bersahabat baik dengan kalian. Sudahlah, kami hendak pergi!"

Kata Niken Darmini dan la lalu membalikkan tubuh diikuti oleh Ratna Manohara dan melangkah pergi.

Akan tetapi tampak dua sosok bayangan berkelebat dan dua orang pemuda kembar itu telah melewati mereka dan kini berdiri menghadang di depan mereka.

(Lanjut ke

Jilid 22) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 Dhirasani sudah memakai lagi kain ikat kepalanya.

Wajah kedua orang pemuda kembar itu kemerahan.

Mereka merasa penasaran dan marah.

Mereka adalah putera-putera Adipati Blambangan yang biasa dihormati semua orang, bahkan disanjung dan mereka mengira bahwa semua gadis memuja mereka dan berlumba untuk menarik hati mereka.

Dan kini, biarpun mereka telah merendahkan diri terhadap dua orang gadis ini, mereka ditolak mentah-mentah!

Dua orang gadis dari desa dan gunung berani menolak mereka yang mengundang dua orang gadis itu untuk disambut sebagai tamu agung!

Ini amat merendahkan dan menyinggung kehormatan mereka.

Mereka adalah putera-putera Adipati, tampan kaya raya dan juga sakti mandraguna!

Melihat dua orang pemuda kembar itu menghadang di depan mereka dengan muka merah dan alis berkerut, Ratna Manohara menegur.

"Hemm, mau apa kalian menghadang perjalanan kami?"

"Nimas berdua! Tadi dalam pertemuan Andika berdua mengatakan bahwa Andika berdua setia kepada Blambangan dan siap membela Kadipaten Blambangan, akan tetapi apa buktinya sekarang? Kalian menolak undangan yang kami ajukan dengan hormat dan baik-baik. Andika berdua agaknya lupa bahwa kami adalah putera-putera Adipati Blambangan dan kami berhak untuk memaksa siapa pun memenuhi perintah kami, termasuk Andika berdua!"

Kata Dhirasani dengan suara bernada marah dan penasaran.

Bagi dia dan adiknya, ditolak oleh seorang wanita, apalagi hanya gadis-gadis gunung, merupakan penghinaan yang menyakitkan hati.

Mendengar ucapan itu, Niken Darmini maju menghadapi Dhirasani sambil bertolak pinggang, kepalanya tegak dan dadanya dibusungkan, sikapnya penuh tantangan.

"Aeh-aeh, jangan asal membuka mulut seenaknya kamu, Dhira..."

Ia bingung karena kini tidak lagi dapat membedakan dua orang pemuda itu yang sudah memakai kain ikat kepala semua.

"... Dhira... masa bodoh yang mana saja! Jangan bicara seenaknya! Kami menyatakan setia kepada Kadipaten Blambangan dan rakyatnya, bukan kepada kalian dua orang pemuda sombong yang suka GR (Gede Rasa)! Kami tidak lupa bahwa kalian berdua adalah anak-anak Adipati yang besar kepala! Dan dengarlah baik-baik, Citraksi-Citraksa, kalau kaliah berhak memaksa, kami pun berhak menolak! Nah, sekali lagi kami menolak undangan kalian! Lalu kalian mau apa?"

Sikap Niken Darmini menantang sekali sehingga Ratna Manohara yang wataknya lebih halus itu merasa tidak enak juga.

Wajah kedua orang putera Adipati itu menjadi kemerahan dan pandang mata mereka berkilat.

Kakak beradik kembar ini memang bukan orang-orang yang suka mengumbar nafsu, tidak termasuk golongan jahat.

Akan tetapi sebagai putera Adipati yang selalu dimanja, selalu dihormati semua orang di Blambangan, mereka menjadi tinggi hati dan merasa lebih tinggi derajatnya danpada orang lain.

Mereka tidak jahat atau sewenang-we-nang, akan tetapi karena segala keinginan mereka selalu dituruti, hal ini membuat mereka tersinggung dan marah kalau sekali waktu keinginan mereka ditentang.

Sekali ini pun sebetulnya mereka tidak berniat buruk terhadap dua orang gadis itu, bahkan mereka berdua yang jatuh cinta kepada kedua orang gadis itu merasa tidak enak akan peristiwa di ruangan pertemuan.

Mereka menyusul untuk mintakan maaf dan ingin menyenangkan hati dua orang gadis itu dengan mengundang dan menjamunya dengan pesta.

Akan tetapi ternyata mereka kini malah mendapat penghinaan dan undangan mereka ditolak.

Tentu saja mereka menjadi marah sekali.

Dhirasani dan Dhirasanu tahu benar bahwa dua orang gadis yang mereka hadapi itu adalah gadis-gadis yang sakti mandraguna, bukan gadis-gadis biasa yang boleh mereka paksa.

Akan tetapi mereka sendiri pun bukan pemuda-pemuda biasa.

Mereka adalah murid-murid Bhagawan Ekabrata, pertapa di Gunung Agung, Bali.

Mereka memiliki aji kanuragan yang cukup kuat dan dahsyat.

Oleh karena itu, kini diperhina dan ditantang oleh dua orang gadis, tentu saja mereka merasa malu, penasaran dan marah sekali.

"Niken Darmini dan Ratna Manohara!"

Bentak Dhirasani.

"Apakah kalian berdua menantang kami?"

Ratna Manohara mendahului sahabat barunya agar keadaan tidak makin meruncing.

"Sesungguhnya kami sama sekali tidak menantang kalian, akan tetapi kalau kami tidak dapat menerima dan memenuhi undangan kalian karena kami berdua mempunyai urusan lain, seyogianya kalian tidak memaksa kami. Sudahlah, kami tidak mencari keributan atau permusuhan dan biarkan kami pergi. Mari, Mbakayu Niken!"

Ratna Manohara lalu menggandeng tangan Niken Darmini, diajak pergi meninggalkan dua orang pemuda itu.

Niken Darmini hendak membantah, akan tetapi Ratna Manohara menariknya dan memaksanya pergi meninggalkan dua orang putera Adipati itu.

Dhirasani hendak mencegah mereka pergi, akan tetapi sebelum berkata atau berbuat sesuatu, Dhirasanu memegang lengannya dan ketika kakak kembarnya itu memandang kepadanya, dia menggeleng kepala melarangnya.

Setelah dua orang gadis itu pergi jauh, Dhirasani menegur adik kembarnya.

"Adi Sanu, kenapa kita harus diam saja? Mereka itu menghina kita, kita harus memperlihatkan kepada mereka bahwa kita bukan pemuda-pemuda tempe!"

"Kakang Sam, bukankah engkau mencinta Niken Darmini? Aku tahu bahwa engkau mencinta Niken Darmini dan aku pun terus terang saja jatuh hati kepada Ratna Manohara. Karena itu, tidak baik kalau kita ribut dengan mereka. Sebaiknya kita menunggu saat yang baik dan tepat untuk mohon kepada Kanjeng Rama untuk meminang mereka secara resmi kepada orang tua mereka. Bukankah itu lebih baik?"

Mendengar ucapan adik kembarnya, Dhirasani mengangguk-angguk lalu memegang pundak adiknya.

"Engkau benar sekali, Adikku. Benar sekali. Untung engkau mengingatkan aku. Kalau sampai kita bermusuhan dengan mereka, tentu saja tidak mungkin kita dapat mempersunting mereka. Mari kita pulang."

Sementara itu, ketika mereka sudah pergi jauh, Niken Darmini mengomel.

"Hemm, bagaimana sih engkau ini, Ratna? Mereka begitu sombong hendak memaksa kita, masa kita diam saja? Mereka patut dihajar. Tadi aku sudah hendak turun tangan memberi hajaran kepada mereka, eh, engkau malah mencegahku. Bagaimana sih engkau ini?"

"Maaf, Mbakayu Niken. Aku rasa tidak baik bermusuhan dengan mereka. Ingat, mereka itu putera-putera Adipati Blambangan dan aku mendengar mereka itu murid-murid Sang Bhagawan Ekabrata di Gunung Agung, Bali.

"Aih..., jadi engkau jerih dan takut, ya?"

Niken Darmini mencela.

"Bukan takut, Mbakayu Niken, melainkan berpikir panjang dan mempertimbangkan akibatnya. Kalau kita berkelahi dan bermusuhan dengan mereka, berarti kita menyeret gurumu dan bahkan perguruanku ke dalam kesulitan karena mungkin akan dianggap pemberontak oleh Adipati Blambangan dan akan timbul permusuhan dengan Bhagawan Ekabrata. Pula, dan ini yang terpenting, kedua orang itu bersikap sopan kepada kita. Mereka hanya mengundang makan dan minta maaf atas peristiwa tadi di gedung kadipaten. Andaikata mereka itu kurang ajar dan mengganggu kita, aku sendiri tidak akan perduli akibatnya dan akan menghajar mereka. Akan tetapi kaiau hanya dengan alasan mereka mengundang kita makan dan kita menolak lalu timbul keributan yang menyeret gurumu dan perguruan kita, bukankah itu merupakan hal yang bodoh sekali?"

Niken Darmini memandang wajah temannya dengan kagum lalu ia mengangguk-angguk.

"Waduh, benar juga ucapanmu itu, Ratna! Senang aku mendapatkan seorang sahabat baru yang selain cantik jelita, gagah perkasa, juga amat cerdik seperti engkau ini!"

Niken Darmini lalu merangkul dan mencium pipi Ratna Manohara.

"Aih, engkaulah yang lebih cantik jelita, lebih sakti mandragurta, sayangnya..."

"Sayangnya apa, hayo?"

"Sayangnya... galak!"

"Hemm, memangnya aku ayam yang sedang bertelur?"

Keduanya tertawa dan Niken Darmini berkata.

"Hemm, kalau dikenang, sebetulnya mereka itu ganteng juga, ya?"

Ratna Manohara memandang wajah Niken Darmini dengan alis berkerut.

"Ah, kiranya engkau ini sir (naiksir) juga, ya?"

Niken Darmini menggoyang kepalanya.

"Sama sekali tidak. Biarpun mereka itu cukup ganteng, akan tetapi mereka bukan calon suami seperti yang kuidamkan."

"Eh? Lalu yang kau idamkan itu yang bagaimana?"

Ratna mengejar. Niken mengerutkan alisnya dan memejamkan matanya seperti membayangkan dalam benaknya.

"Tampan atau ganteng maupun kesaktian bukan menjadi tolak ukur, juga kekayaan dan kedudukan, bagi pria yang kuidamkan. Idamanku adalah seorang pria yang kalau bertemu dengan aku dapat membuat jantungku melompat-lompat dan tadi ketika aku bertemu dengan mereka, jantungku diam saja! Dan bagaimana dengan engkau, Ratna?"

Kembali mereka tertawa-tawa.

"Ah, aku sama sekali belum mempunyai niat untuk urusan itu, Mbakayu Niken. Membayangkan sedikitpun belum."

"Engkau harus mulai dari sekarang mempunyai idaman agar kelak bertemu dengan orang yang cocok dengan yang kau idamkan. Andaikata kita menjadi isteri dua orang putera Adipati tadi, wah, tidak sudi aku hidup dekat denganmu, Ratna!"

Niken Darmini bersikap genit, bibirnya berjebi dan hidungnya yang ujungnya agak menjungkat itu digerakkan seperti mencium bau tidak enak.

"Memangnya kenapa?"

Tanya Ratna Manohara yang biasanya pendiam, akan tetapi bicara dengan Niken Darmini, bagaimana bisa tetap pendiam?

"Aku khawatir suami kita itu akan saling tertukar-tukar tanpa kita mengetahuinya.

Ih, geli dan serem!"

Kembali kedua orang gadis itu terkekeh, bahkan Ratna Manohara sampai terpingkal-pingkal.

Setelah tiba di jalan perempatan dimana mereka harus berpisah, Ratna Manohara harus berbelok ke kiri sedangkan Niken Darmini terus ke barat, keduanya berhenti di tepi jalan, duduk di atas batu-batu besar yang terdapat disisi jalan.

"Mbakayu Niken, aku senang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu!"

Kata Ratna.

"Hemm, aku pun menyesal mengapa baru sekarang kita saling mengenal, Ratna. Aku suka sekali kepadamu dan senang menjadi sahabatmu. Padahal kita baru saja bertemu dan berkenalan."

"Karena itu, sebagai sahabat, kiranya sudah sepatutnya kalau kita mengetahui keadaan kita masing-masing. Maukah engkau menceritakan riwayatmu kepadaku?"

"Wah, Ratna. Kita sudah mengetahui bahwa aku berusia sembilan belas tahun, dan engkau delapan belas sehingga engkau menyebut aku Mbakayu. Sekarang, siapa yang sepantasnya bercerita lebih dulu, yang muda atau yang tua?"

"Aih, engkau ini belum tua, Mbakayu, bicaramu seolah engkau ini sudah ompong peyot!"

"Siapa yang ompyot?"

"Heh? Apa itu ompyot? Mbakayu Niken?"

"Ompyot itu ya ompong peyot itu tadi. Aku belum ompyot akan tetapi aku lebih tua, jadi seharusnya sang adik yang lebih dulu bercerita. Hayo ceritakan riwayatmu dulu."

Kembali Ratna Manohara tertawa geli, lalu menghela napas panjang.

"Apa sih yang menarik tentang diriku? Seperti tadi telah kaudengar, aku adalah puteri Ki Sarwaguna yang menjadi ketua Perguruan Driya Pawitra. Aku adalah anak tunggal dan Ayahku adalah seorang duda. Ibu meninggal ketika aku masih kecil sehingga aku sudah tidak ingat lagi bagaimana wajah ibuku."

"Wah, kasihan engkau, Ratna. Sekarang ceritakan tentang perguruan yang dipimpin ayahmu itu."

"Perguruan Driya Pawitra dahulu didirikan oleh mendiang Kakekku. Setelah Kakek meninggal dunia, perguruan dipimpin oleh Ayahku, dibantu oleh tiga orang Paman Guruku. Sekarang perguruan kami mempunyai murid sejumlah seratus orang. yang sudah lulus pulang ke tempat kediaman masing-masing, sedangkan yang masih belajar sekarang berjumlah lima puluh orang lebih dan mereka tinggal bersama kami di dusun Grajagan, dalam sebuah perkampungan kami. Sekarang aku bertugas mewakili Ayah untuk melatih para murid wanita yang jumlahnya tujuh belas orang. Dan ketika perguruan kami menerima undangan Adipati Blambangan, Ayah mengutus aku untuk datang mewakilinya. Nah, tidak ada apa-apanya yang menarik, bukan? Sekarang giliranmu. Mbakayu Niken."

"Nanti dulu, Ratna. Mendengar engkau menyebut mbakayu kepadaku, aku jadi merasa tua dan juga sedih."

"Eh, mengapa sedih?"

"Aku pernah mempunyai seorang adik perempuan, akan tetapi ia meninggal dunia ketika berusia tiga tahun. Ia yang biasa menyebut aku Mbakayu. Kalau engkau menyebut begitu engkau mengingatkan aku kepada adikku dan membuat aku sedih. Karena itu, aku minta engkau tidak usah menyebut Mbakayu, sebut saja nama aku!"

"Baiklah, Niken. Memang engkau tidak pantas menjadi Mbakayuku, malah lebih pantas mehjadi adikku. Engkau tampak begitu muda!"

Tentu saja senang hati Niken dikatakan tampak muda.

Wanita mana yang tidak senang hatinya disebut lebih muda daripada usianya yang sesungguhnya?

"Bagus, Ratna.

Engkau memang seorang sahabat yang baik sekali.

Sekarang aku bercerita tentang diriku.

Kalau engkau seorang anak yatim, tidak beribu lagi, maka aku adalah anak yatim piatu, tidak punya Ayah dan Ibu lagi."

"Aduh, kasihan sekali engkau, Niken!"

Ratna Manohara merasa terharu dan ia merangkul sahabat barunya. Akan tetapi Niken Darmini tertawa dan melepaskan rangkulan Ratna.

"Wah, sudahlah, Ratna. Aku tidak mau menjadi gadis cengeng yang suka menangis dan kalau engkau bersikap begini terus, aku bisa menangis! Sejak berusia lima tahun aku dipelihara dan digembleng oleh guruku, yaitu Nini Kuntigarba. Aku masih samar-samar ingat akan wajah Ayah lbuku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, akan tetapi guruku hanya mengatakan bahwa Ayah Ibuku sudah meninggal dunia, tidak menceritakan lebih banyak lagi. Aku tahu bahwa guruku, Nini Kuntigarba, adalah seorang datuk sesat dan orang-orang menjulukinya Biang Iblis. Akan tetapi ia amat sayang kepadaku dan menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Karena itu, biarpun aku tidak setuju dengan wataknya yang keras dan amat kejam, aku tidak bisa membencinya. Aku berhutang budi kepadanya dan aku juga merasa sayang kepadanya. Ketika ia diundang oleh Adipati Blambangan, ia menyuruh aku yang datang. Nah, begitulah riwayatku, sama tidak menariknya dengan riwayatmu."

"Bagiku riwayatmu amat menarik, Niken. Akan tetapi, engkau tadi menolak ajakan Adipati Blambangan yang hendak mengadakan kekacauan di daerah Mataram. Mengapa engkau membenarkan pendapat Wiku Menak Jelangger dan tidak mau membantu?"

"Dan engkau sendiri bagaimana, Ratna? Engkau juga menolak untuk membantu mereka."

"Perguruan Driya Pawitra yang dipimpin Ayah selalu mengutamakan pembelaan kebenaran dan keadilan. Tentu saja kami akan melaksanakan tugas sebagai kawula Blambangan dengan membela Blambangan dan rakyatnya, akan tetapi kalau harus menuruti keinginan Adipati Blambangan untuk membuat kekacauan di daerah Mataram, itu sudah berlawanan dengan pendirian kami membela kebenaran dan keadilan. Kami tidak sudi mengacaukan kehidupan rakyat di daerah Mataram. Bagaimana pendapatmu?"

"Aku tahu bahwa biarpun guruku seorang yang tidak perduli akan kebenaran dan keadilan, namun aku yakin bahwa ia tidak sudi dijadikan antek Adipati Blambangan. Guruku tidak kekurangan harta benda dan ia pun tidak ingin mendapatkan kedudukan. Akan tetapi aku sendiri, secara pribadi, berpendapat bahwa seorang warga negara haruslah membela negaranva kalau diserang musuh dari luar. Ratna, biarpun latar belakang kita berbeda, akan tetapi aku girang sekali bahwa dalam menghadapi ajakan Adipati Blambangan kita sepaham. Aku ingin sekali mengunjungimu dan melihat perguruan kalian di Grajagan."

"Ah, aku akan senang sekali, Niken. Kalau begitu, marilah, sekarang saja engkau langsung ikut aku ke Grajagan. Ayahku juga tentu akan senang menerimamu sebagai sahabatku yang baik!"

"Wah, jangan sekarang Ratna. Aku harus melapor dulu kepada guruku. Kalau guruku memberi ijin kepadaku untuk pergi merantau, maka tempat yang pertama kukunjungi tentu tempat tinggalmu."

Kedua orang gadis itu setelah tidak ada lagi soal yang dibicarakan, lalu berpisah.

Ratna kembali ke Grajagan dan Niken menuju ke Gunung Betiri.

Setelah Wiku Menak Jelangger, Ratna Manohara, dan Niken Darmini meninggalkan ruangan pertemuan, Adipati Blambangan melanjutkan perundingannya dengan para tamu undangan.

= ooOoo = "Kadipaten Pasuruan merupakan benteng pertama Mataram bagi kita,"

Antara lain Adipati Santa Guna Alit berkata.

"Kalau Kadipaten Pasuruan dapat kita duduki, maka jalan menuju daerah-daerah Mataram lain terbuka. Maka, kami kira penyerbuan ke Kadipaten Pasuruan merupakan langkah pertama yang amat pending."

Semua orang setuju dengan pendapat Sang Adipati dan mereka menyatakan siap membantu. Tejakasmala, sebagai utusan Raja Klungkung, Bali berkata tegas.

"Seperti yang pernah kami lakukan sejak dahulu, pasukan Kerajaan Klungkung selalu siap untuk memperkuat barisan Blambangan. Mataram merupakan ancaman bagi kita bersama, karena itu Kerajaan Klungkung akan selalu siap membantu Kadipaten Blambangan untuk menantang Mataram. Kami bertiga, sava, senopati Cakrasakti dan senopati Candrabaya, siap membantu semua rencana Paman Adipati Blambangan."

"Terima kasih, Anakmas Tejakasmala, kami tidak meragukan lagi bantuan Kerajaan Klungkung yang sejak dulu selalu bekerja sama dengan kami."

Adipati Blambangan. lalu memandang kepada Arya Bratadewa yang menjadi utusan Kumpeni Belanda.

"Bagaimana dengan Kumpeni Belando, Arya Bratadewa? Apa kesanggupan yang Andika bawa dari Kapten Van Klompen selain dua peti senapan dan pelurunya tadi?"

"Hak-hak-hak-ha-ha!"

Arya Bratadewa tertawa ngakak (terbahak) sehingga mukanya yang pucat seperti mayat itu tampak menyeramkan.

"Pihak Kumpeni Belanda akan mendukung dan membantu, Sang Adipati. Akan tetapi karena hubungan antara Mataram dan Kumpeni sekarang sedang damai, maka tentu saja Kumpeni tidak dapat membantu dengan pasukan. Namun, Kumpeni berjanji untuk membantu secara diam-diam, mengirim kami dan banyak telik sandi (mata-mata) yang lain untuk membantu selain mengirim senjata api untuk memperkuat pasukan Blambangan dan sekutunya."

Sang Adipati Santa Guna Alit merasa girang dan mereka lalu merundingkan rencana selanjutnya dari gerakan mereka. Pada saat itu, Dhirasani dan Dhirasanu memasuki ruangan dengan wajah agak muram.

"Dari mana saja kalian?"

Sang Adipati menegur.

"Kanjeng Rama, kami berusaha membujuk dua orang gadis itu untuk kembali, akan tetapi kami tidak berhasil. Akan tetapi kita bicarakan urusan ini nanti saja secara kekeluargaan, Kanjeng Rama."

Sang Adipati mengangguk dan Bhagawan Kalasrenggi terkekeh.

"Heh-heh-heh, Sang Adipati. Mereka yang tidak mau mendukung gerakan kita dengan sepenuhnya, patut dicurigai dan diawasi. Terutama sekali Wiku Menak Jelangger itu. Dia sungguh berbeda dengan mendiang Adi Wiku Menak Koncar yang sepenuhnya berjuang untuk kepentingan Kadipaten Blambangan dan mati-matian menentang Mataram sampai berkorban nyawa!"

Mendiang Wiku Menak Koncar adalah adik seperguruan Bhagawan Kalasrenggi dan juga merupakan kakak seperguruan Wiku Menak Jelangger, akan tetapi tidak ada hubungan apa-apa antara Wiku Menak Jelangger dan Bhagawan Kalasrenggi.

Ketika Wiku Menak Koncar telah berpisah dari Wiku Menak Jelangger, dia berguru lagi kepada guru Bhagawan Kalasrenggi dan dia mulai tersesat oleh lingkungan perguruan yang baru ini, dimana Bhagawan Kalasrenggi menjadi murid utama.

"Hemm, kami akan mengutus telik sandi untuk mengawasi mereka bertiga. Kalau sekiranya mereka hendak berkhianat, kami akan turun tangan membasmi mereka. kata Sang Adipati.

"Selain itu, menurut pendapat saya, sebelum kita menggempur benteng pertama Mataram, yaitu Pasuruan, kita harus dapat membasmi lebih dulu para pendekar yang mendukung Mataram karena kalau mereka tidak dibinasakan, tentu akan menjadi penghalang besar yang menyulitkan pasukan kita."

Kata pula Bhagawan Kalasrenggi yang menjadi penasihat Adipati Blambangan.

Semua orang setuju dan Sang Adipati minta kepada semua yang hadir untuk memberitahu siapa kiranya pendekar yang berpihak kepada Mataram dan akan merupakan hambatan bagi Blambangan.

"Kami setuju, mereka harus dibinasakan lebih dulu."

Katanya.

Banyak nama pendekar, perguruan, bahkan pertapa disebut sebagai pembela dan pendukung Mataram yang setia.

Tejakasmala, pemuda tampan gagah murid Bhagawan Ekabrata pertapa Gunung Agung di Bali itu berkata sambil tersenyum.

"Mudah saja untuk membasmi mereka. Biarlah aku dan dua orang pembantuku yang akan menumpas mereka!"

Katanya dengan tenang dan gagah.

"Para tokoh yang tadi disebutkan masih belum merupakan hambatan yang berarti, Kanjeng Adipati!"

Kata Bhagawan Kalasrenggi.

"Yang benar-benar merupakan bahaya bagi gerakan kita adalah dua pasang suami isteri yang selain pernah menjadi pejuang membantu pasukan Mataram yang menyerang kadipaten-kadipaten di daerah-daerah lalu membantu Mataram dalam penyerbuan ke Batavia, juga terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sakti mandraguna."

Mendengar kakek tua renta itu memuji-muji tokoh yang akan menjadi lawan, Tejakasmala yang berwatak angkuh mengerutkan alisnya.

"Hemm, katakanlah, Eyang Bhagawan. Siapa mereka itu? Aku sanggup untuk membinasakan mereka!"

Bhagawan Kalasrenggi memang tidak mengenal pemuda ini sebelumnya, akan tetapi mendengar bahwa Tejakasmala murid terbaik Sang Bhagawan Ekabrata dari Gunung Agung di Bali, dia dapat menduga bahwa pemuda ini memang sakti mandraguna.

Maka, mendengar pertanyaan itu dia lalu berkata.

"Dua pasang orang sakti itu adalah pasangan suami isteri Ki Tejomanik yang terkenal dengan Pecut Sakti Bajrakirana miliknya dan isterinya Retno Susilo. Mereka tinggal di dusun Bayeman, di lereng Gunung Kawi. Dan pasangan yang lain, yang mungkin malah lebih sakti lagi dari pada pasangan pertama tadi adalah Parmadi yang terkenal dengan Seruling Gading senjata pamungkasnya dan isterinya Muryani. Suami isteri ini tinggal di Pasuruan. Nah, dua pasang suami isteri inilah yang merupakan lawan amat berat dan kalau keduanya tidak dibasmi lebih dulu, pasti rencana kita menyerbu Pasuruan akan menghadapi kesukaran karena mereka dan para pendekar lain tentu akan membela pasuruan."

"Apa sih hebatnya dua pasang suami isteri itu? Aku yang akan membasmi mereka!"

Kata Tejakasmala dengan sombong.

Pemuda ini bukan sekedar membual karena dia memang memiliki kesaktian yang hebat, yang mungkin lebih kuat dibandingkan kesaktian Bhagawan Kalasrenggi yang sudah tua itu.

"Sebaiknya kalau kita semua membagi tugas,"

Kata Bhagawan Kalasrenggi.

"Yang terpenting menghadapi dua pasang suami isteri yang sakti mandraguna itu. Kalau Kanjeng Adipari menyetujui dan kalau para utusan Kerajaan Klungkung sanggup, sebaiknya diatur begini. Tiga utusan Kerajaan Klungkung yaitu Teja-kasmala dan kedua orang senopati Klungkung bertugas untuk membunuh suami isteri Permadi dan Muryani yang tinggal di Pasuruan yang lebih dekat. Sedangkan aku sendiri bersama dua orang muridku akan pergi ke Gunug Kawi dan membunuh Ki Tejomanik dan isterinya!"

Adipati Blambangan mengangguk-angguk.

"Itu baik sekali, Paman Bhagawan. Dan biarlah para pendekar yang lain yang dapat merupakan penghalang, dibasmi oleh saudara yang lain."

Semua orang setuju dan mereka menerima tugas masing-masing untuk melaksanakan rencana pertama, yaitu membunuhi para pendekar yang dianggap setia kepada Mataram dan akan menjadi penghalang penyerbuan pasukan Blambangan ke Pasuruan.

Persidangan ditutup dengan pesta makan yang mewah sehingga semua tamu undangan merasa gembira.

Pesta dihibur oleh tarian dan nyanyian belasan orang ledek dari daerah Banyuwangi yang rata-rata cantik menarik dengan tubuh denok melakukan tarian yang menggairahkan sehingga para tamu makan minum sampai mabok.

-ooOoo -Lindu Aji dan Sulastri sebagai pengantin baru melaksanakan perjalanan berkuda diiringkan Ki Parto.

Mereka menuju pulang ke Gampingan di Pegunungan Kidul.

Karena perjalanan itu melewati Loano, maka mereka singgah di rumah Ki Sumali, paman dari Sulastri.

Ki Sumali yang berusia sekitar lima puluh enam tahun dan isterinya, Winarsih yang berusia dua puluh tiga tahun, menyambut kedatangan Lindu Aji dan Sulastri dengan gembira sekali.

Apalagi ketika mendengar bahwa mereka sudah menikah!

Winarsih merangkul Sulastri dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Aduh, Lastri! Bukan main bahagia rasa hatiku mendengar engkau telah menjadi isteri Lindu Aji. Aiii, terlalu sekali engkau, kenapa menikah diam-diam saja dan tidak mengundang kami?"

"Maafkan kami, Bibi dan juga Paman Subali. Kami merayakan hanya sederhana saja, mengundang teman dan para tetangga dekat."

Ki Sumali dan isterinya menjamu tiga orang tamu itu yang menginap satu malam di rumah mereka.

Malamnya mereka mengajak Lindu Aji dan Sulastri bercakap-cakap, sedangkan Ki Parto beristirahat di kamar yang diperuntukkannya.

Mendengar sepasang pengantin itu hendak pulang ke rumah ibu Aji, Ki Sumali berkata.

"Jadi kalian hendak pergi ke Gampingan di Gunung Kidul. Kemudian, apa rencanamu selanjutnya, Anakmas? Apakah kalian akan tetap tinggal disana?"

"Entah kelak, Paman. Akan tetapi sementara ini, setelah kami melangsungkan upacara ngunduh panganten (menyambut mempelai), kami berdua akan pergi ke Jawa Timur, ke Gunung Kawi."

"Ke Gunung Kawi?"

"Juga ke Gunung Liman, Paman."

Kata Sulastri.

"Ketahuilah, Paman. Selama dua tahun aku tinggal di Gunung Liman dan menjadi ketua perguruan Melati Puspa disana dan aku telah meninggalkan mereka untuk sementara. Aku harus kembali kesana dan memilih seorang ketua baru sebelum aku meninggalkan perguruan itu."

"Heh hebat! Engkau semuda ini telah menjadi ketua sebuah perguruan?"

Kata Ki Sumali. Terpaksa Sulastri menceritakan pengalamannya bagaimana ia sampai menjadi ketua perkumpulan Melati Puspa untuk menghibur kedukaannya karena berpisah dari Lindu Aji.

"Wah ceritamu menarik sekali, Lastri,"

Kata Ki Sumali.

"Kalian juga hendak pergi ke Gunung Kawi, ada keperluan apakah?"

"Kami hendak menemui Paman Tejo-manik yang dikenal dengan nama julukan Pecut Sakti Bajrakirana, Paman."

Kata Lindu Aji.

"Ah, pendekar yang terkenal sakti mandraguna itu? Sudah lama aku mendengar namanya yang besar sebagai seorang satria yang besar jasanya terhadap Mataram!"

Seru Ki Sumali kagum.

"Benar, Paman. Akan tetapi nasibnya buruk dan kepergian kami kesana pun akan menyampaikan berita yang amat tidak enak.

"Hemm, apakah yang telah terjadi?"

Lindu Aji menoleh kepada isterinya dan Sulastri yang bercerita.

"Begini, Paman. Aku pernah bertemu dengan Ki Tejomanik dan isterinya yang bernama Retno Susilo, bahkan kami sama-sama membantu pasukan Mataram ketika menyerang Batavia. Mereka menceritakan bahwa putera tunggal mereka yang bernama Bagus Sajiwo lenyap diculik orang ketika baru berusia enam tahun. Paman Tejomanik dan isterinya mencarinya dan aku berjanji akan ikut mencarinya dalam perjalananku. Nah, ketika aku menjadi ketua perguruan Melati Puspa di Gunung Liman, pada suatu hari aku menemukan sebuah guha di dekat puncak Gunung Wilis tak jauh dari Gunung Liman dan guha itu tertutup reruntuhan dari atas, agaknya longsor. Ketika aku keluar lagi, di mulut guha aku melihat tulisan yang berbunyi KUBURAN MAYA DEWI DAN BAGUS SAJIWO. Karena itu, maka kini Kakangmas Aji hendak mengajak aku ke Gunung Kawi untuk menyampaikan berita duka itu kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo."

Ki Sumali mengerutkan alisnya, mengingat-ingat.

"Nanti dulu! Siapa nama anak yang hilang itu?"

"Namanya Bagus Sajiwo, Paman!"

Kata Sulastri.

"Dan kuburan itu kuburan Bagus Sajiwo dan Maya Dewi?"

"Begitulah bunyi tulisan itu, Paman. Tentu kuburannya berada dalam terowongan guha yang tertimbun batu-batu itu."

"Coba ingat, kapan engkau menemukan guha yang menjadi kuburan mereka itu, Lastri?"

Sulastri mengingat-ingat.

"Hemm, beberapa bulan yang lalu, sebelum aku pergi ke muara Sungai Lorog..."

"Wah, engkau juga pergi kesana, Lastri? Kenapa tidak bertemu dengan aku, Lastri? Aku pun pergi kesana dan hadir dalam pondok Pangeran Jaka Bintara yang mengundang semua tokoh yang hadir. Akan tetapi tidak apa, coba ceritakan dari semula, Lastri. Engkau menemukan tulisan di depan guha itu, kemudian engkau melakukan perjalanan ke muara Sungai Lorog?"

"Benar, Paman. Aku meninggalkan perguruan Melati Puspa lalu melakukan perjalanan ke muara Sungai Lorog untuk menonton pencarian Jamur Dwipa Suddhi. Setelah tiba disana, aku melihat muara itu kosong, tidak ada seorang pun. Selagi aku melihat dari atas bukit kapur, tiba-tiba aku diserang seorang wanita gila. Ia menyerangku tanpa sebab dan kami bertanding. Ia sakti bukan main dan setelah bertanding beberapa lamanya, ia bahkan berhasil merampas Pedang Naga Wilis. Aku tentu sudah tewas di tangannya kalau tidak muncul Kakangmas Aji yang menyelamatkan aku. Wanita yang bernama Candra Dewi itu melarikan diri membawa pedangku. Kami berdua lalu turun ke muara dan disana kami hanya melihat banyak orang yang telah menjadi mayat. Kami berdua menguburkan semua mayat itu lalu meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Kami lalu pulang ke Dermayu dan kemudian Kakangmas Aji pulang ke Gampingan lalu mengajukan pinangan dan kami menikah di Dermayu. Demikianlah nwayat singkatnya, Paman."

Ki Sumali menghela napas panjang, lalu mengangguk-angguk.

"Aneh, aneh sekali. Kalian tahu, aku bertemu dengan Maya Dewi dan Bagus Sajiwo itu di dalam pondok Pangeran Jaka Bintara dan mereka berdualah yang menyelamatkan aku ketika aku dikeroyok dan dituduh sebagai mata-mata Mataram!"

Lindu Aji dan Sulastri saling pandang dengan mata terbelalak heran.

"Benarkah itu, Paman? Wah, kalau begitu Bagus Sajiwo belum mati! Ah, alangkah bahagianya Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo!"

Sulastri berkata dengan suara seolah bersorak. Akan tetapi Ki Sumali menunduk dengan wajah muram.

"Baiklah kuceritakan pengalamanku. Memang semua peristiwa itu amat aneh, sampai sekarang pun aku masih belum mengerti mengapa semua itu terjadi. Begini ceritanya. Seperti juga engkau, Lastri, aku tertarik oleh cerita tentang Jamur Dwipa Suddhi. Aku pergi kesana dan ikut hadir di pondok yang didirikan Pangeran Jaka Bintara dari Banten karena semua tokoh diundang. Disana terjadi keributan karena aku dituduh sebagai mata-mata Mataram yang melakukan penyelidikan. Aku dikeroyok dan berada dalam keadaan gawat dan terancam. Lalu tiba-tiba muncul Maya Dewi dan ia... ia membelaku!"

"Iblis betina itu membantumu, Paman?"

Tanya Sulastri, hampir tidak percaya kepada pamannya.

"Bagaimana mungkin itu?"

"Ya, bagaimana bisa terjadi Maya Dewi membelamu, Paman?"

Kata pula Lindu Aji. Dia dan Sulastri tahu benar siapa Maya Dewi, wanita yang amat jahat dan kejam bagaikan iblis betina dan dulu wanita itu menjadi mata-mata Kumpeni Belanda yang berbahaya sekali.

"Ya, ya, aku sendiri pasti tidak percaya kalau mendengar itu. Akan tetapi aku mengalaminya sendiri! Maya Dewi membelaku mati-matian dan disampingnya ada seorang pemuda, masih amat muda, sekitar enam belas tahun dan namanya... namanya Bagus Sajiwo! Pemuda itu sakti mandraguna, dan mendengar percakapan antara mereka, pemuda luar biasa dan agaknya dialah yang telah mengubah jalan hidup Maya Dewi. Wanita itu kini sama sekali tidak liar dan jelas-jelas ia menentang mereka yang mengeroyok aku. Belasan orang yang tangguh kalah semua oleh Maya Dewi dan Bagus Sajiwo. Akan tetapi mereka itu tidak terbunuh, bahkan tidak terluka berat, hanya roboh pingsan atau tertotok jalan darahnya. Semua itu sungguh luar biasa sekali!"

"Bukan main!"

Sulastri berseru.

"Kalau pemuda itu bernama Bagus Sajiwo, tentu dialah putera Paman Tejomanik. Dia masih hidup!"

Lindu Aji melihat betapa wajah Ki Sumali tetap muram seperti orang yang kecewa atau bersedih.

"Cerita Paman menarik sekali. Lalu bagaimana selanjutnya, Paman?"

Tanyanya.

"Setelah semua orang melarikan diri, Maya Dewi dan Bagus Sajiwo juga keluar dari pondok itu. Aku diam-diam membayangi mereka karena aku merasa kagum dan juga heran. Mereka berdua menuju ke dekat muara Sungai Lorog. Aku mengintai dari jarak jauh. Tiba-tiba aku mendengar letusan-letusan senjata api. Beberapa orang telah menembaki Maya Dewi dan Bagus Sajiwo dari balik batu karang. Aku melihat Maya Dewi dan Bagus Sajiwo terjatuh ke dalam muara! Tujuh orang penembak muncul dari balik batu karang dan menjaga di tepi muara, akan tetapi Maya Dewi dan Bagus Sajiwo tidak pernah muncul lagi. Mereka agaknya tenggelam dan terseret arus air muara ke laut. Tak dapat disangsikan lagi, mereka agaknya tewas terkena tembakan itu..."

Sulastri bangkit berdiri dan mengepal tinjunya.

"Keparat! Jahanam! Tujuh orang itu tentu antek-antek Kumpeni karena mereka memiliki senjata api!"

Lindu Aji menghela napas panjang.

"Lastri, sebelum ditemukan jenazah mereka, aku masih belum yakin bahwa mereka berdua itu tewas. Paman Sumali, apakah jenazah mereka ditemukan?"

"Aku tidak tahu. Aku lalu meninggalkan tempat itu yang berbahaya bagiku."

"Aduh, sungguh celaka!"

Kata Sulastri.

"Hatiku tadi sudah merasa gembira bukan main mendengar Bagus Sajiwo masih hidup setelah dulu melihat kuburan atas namanya itu dan ternyata sekarang... dia tertembak senjata api dan mati...!"

"Bukan mati, Lastri, hanya hilang. Hilang. belum tentu berarti mati."

Kata Ki Sumali.

"Benar seperti apa yang dika-takan Anakmas Lindu Aji tadi."

"Benar begitu, Diajeng, jangan putus asa dulu. Ingat, dulu engkau pun jatuh dari jurang dan menurut perhitungan manusia, pasti engkau tewas. Akan tetapi ketika aku mencari jenazahmu tidak kutemukan, aku tidak putus asa dan aku yakin bahwa engkau masih hidup. Ternyata keyakinanku itu kemudian terbukti benar."

"Mudah-mudahan begitu, Kakangmas Aji. Akan tetapi sebaiknya kita cepat memberitahukan berita ini kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo."

Demikianlah, Lindu Aji dan Sulastri, diikuti Ki Parto, meninggalkan Loano dan mereka pulang ke dusun Gampingan. Di dusun itu dirayakan upacara "ngunduh panganten"

Secara sederhana, dihadiri para penduduk dusun itu.

Setelah tinggal selama satu minggu, sepasang pengantin baru itu lalu berangkat menuju Gunung Kawi, tempat tinggal Ki Tejomanik dan Retno Susilo di dusun Bayeman.

Ki Tejomanik dan isterinya, Retno Susilo tiba di rumah mereka yang terletak di sudut paling pinggir dusun Bayeman.

Rumah itu sedang saja akan tetapi mempunyai pekarangan dan kebun yang luas sehingga agak jauh terpisah dari para tetangga.

Ketika tiba dekat rumah, jantung mereka berdebar mengharapkan putera mereka yang hilang itu telah berada di rumah.

Akan tetapi yang menyambut mereka hanya Ki Dirjo, pria berusia lima puluh tahun yang mereka tugaskan untuk menjaga rumah selama mereka pergi.

Dari Ki Dirjo mereka mendengar bahwa selama mereka pergi, tidak ada seorang pun yang datang berkunjung.

Tentu saja Bagus Sajiwo juga tidak pernah datang berkunjung!

Retno Susilo menjadi lemas dan murung.

"Sudahlah, Diajeng. Kita harus bersabar dan aku yakin, kalau sudah tiba saatnya anak kita tentu akan pulang. Dia telah menjadi murid Eyang Ki Ageng Mahendra, tentu telah memiliki aji-aji yang linuwih (tingkat tinggi) sehingga dia menjadi sakti mandraguna dan dapat melindungi dirinya sendiri."

Tejamanik menghibur isterinya setelah mereka memasuki rumah.

Sejak hari itu, suami isteri ini hanya dapat menunggu dan menunggu, karena mereka tidak tahu kemana harus mencari anak mereka dan kalau mereka pergi lagi mencarinya dengan ngawur, mereka khawatir kalau anak mereka itu sewaktu-waktu pulang!

Maka, tidak ada lain jalan bagi mereka kecuali menanti dan menanti dengan penuh kesabaran sambil berserah diri kepada kekuasaan Gusti Allah.

Mereka sudah cukup berusaha selama berta-hun-tahun ini dan mereka sudah cukup merasa bahagia mendengar tentang putera mereka itu.

Kini mereka hanya tinggal menanti saat putera mereka pulang.

Kurang lebih dua bulan kemudian, ketika Ki Tejomanik dan Retno Susilo sedang bekerja di ladang, kesibukan yang membuat mereka sejenak melupakan penantian mereka itu, tiba-tiba Ki Dirjo datang berlari-lari dari rumah ke tempat suami isteri itu bekerja, agak jauh dari rumah mereka.

"Denmas... Denmas...!"

Pembantu itu berteriak sambil berlari menghampiri. Suami isteri itu merasa heran dan berlari ke tepi ladang.

"Ki Dirjo, ada apakah?"

Tanya Ki Tejomanik dengan alis berkerut, tidak senang melihat pembantunya demikian gugup.

"Denmas... ada tamu... seorang pemuda dan seorang gadis. Pemuda itu tampan gagah...ah, mungkin dia..."

"Kau tanya siapa namanya?"

Retno Susilo bertanya.

"Tidak, Masayu, akan tetapi... dia lembut, tampan dan gagah sepantasnya kalau dia putera Andika..."

"Bagus Sajiwo...!"

Suami isteri itu melompat dan mengerahkan tenaga sakti sehingga mereka berlari seperti terbang cepatnya menuju ke rumah.

Ketika mereka tiba di pendopo, seorang pria muda dan seorang wanita muda bangkit dari bangku yang mereka duduki dan Ki Tejomanik dan Retno Susilo memandang dengan wajah tampak kecewa sekali.

Mereka tak dapat menyembunyikan kekecewaan hati mereka, bahkan Retno Susilo segera terisak dan menutupi muka dengan kedua tangan.

Orang muda itu bukan anak mereka karena ia mengenal dia yang bukan lain adalah Lindu Aji bersama Sulastri, keduanya sudah dikenal dengan baik.

"Paman Tejomanik...!"

Lindu Aji memberi salam dengan sembah di depan dada.

"Bibi Retno Susilo, Bibi kenapakah?"

Sulastri sudah menghampiri Retno Susilo dan memegang lengannya. Ki Tejomanik menghela napas panjang.

"Maafkan kami, Anakmas Lindu Aji dan Sulastri... terus terang saja, kami kecewa karena mengira bahwa putera kami yang pulang..."

"Ah, kami mengerti, Paman dan Bibi, kami mengerti. Sesungguhnya kami berkunjung ini pun ada hubungannya dengan putera Paman berdua."

"Tentang puteraku? Bagaimana... dimana...?"

Retno Susilo menghentikan tangisnya dan merangkul Sulastri.

"Nanti dulu, Diajeng. Mari kita mengajak mereka duduk dan bicara di dalam."

Kata Tejomanik dan mereka berempat lalu memasuki rumah dan duduk di ruangan dalam.

"Apakah Paman berdua sudah mendengar tentang putera Andika, Bagus Sajiwo?"

Tanya Lindu Aji hati-hati.

"Kami sudah mendapat keterangan yang melegakan hati, Anakmas Lindu Aji. Putera kami itu ternyata ketika diculik oleh Wiku Menak Koncar, telah tertolong oleh Eyang Ki Ageng Mahendra dan menjadi murid eyang guru. Kami mendapat kabar bahwa setelah Eyang Ki Ageng Mahendra wafat sekitar empat tahun yang lalu, putera kami itu lalu turun gunung. Bagaimanapun juga, hati kami lega mendengar bahwa Bagus Sajiwo selamat bahkan menjadi murid mendiang eyang guru."

Kata Tejomanik.

"Akan tetapi kami tunggu-tunggu sampai sekarang dia belum juga pulang. Tadi... tadi kukira dia yang pulang...! Sudah empat tahun turun gunung, kenapa anakku itu belum juga pulang kesini?"

Retno Susilo berkata sedih.

"Aduh, Adik Bagus Sajiwo itu sungguh aneh s#ekali. Baru beritanya saja membuat semua panas dingin, sebentar gembira sebentar khawatir!"

Kata Sulastri.

"Anakmas Lindu Aji, apa yang Andika ketahui tentang anak kami? Ceritakanlah, kami ingin sekali mendengarnya."

"Saya kira Diajeng Sulastri yang lebih mengetahui akan hal itu, Paman, karena ia mengalami sendiri, akan tetapi sebelumnya perlu kami beritahukan bahwa kami telah menjadi suami isteri."

Tejomanik dan Retno Susilo gembira mendengar ini.

"Ah, kami mengucapkan selamat!"

Kata Retno Susilo.

"Akan tetapi, Sulastri, cepat ceritakan kepadaku tentang Bagus Sajiwo. Apakah engkau berjumpa dengan dia?"

Sulastri menghela napas panjang. Rasanya berat untuk menyampaikan berita yang akhirnya akan membuat suami isteri itu gelisah dan berduka.

"Seperti saya katakan tadi, Adik Bagus Sajiwo itu beritanya membuat kita semua panas dingin, karena itu saya harap kalau saya bercerita tentang dia, janganlah Paman dan Bibi bersenang atau berduka karena ada lanjutannya dan sampai sekarang pun cerita tentang Adik Bagus Sajiwo masih merupakan teka-teki yang penuh rahasia."

"Aih, ucapanmu membuat hatiku berdebar tegang saja, Sulastri. Cepat ceritakanlah!"

Kata Retno Susilo.

"Beberapa bulan yang lalu, di dekat puncak Pegunungan Wilis, yaitu di puncak Bukit Keluwung, saya menemukan sebuah terowongan guha yang ketika saya masuki ternyata terowongan itu tertimbun batu-batu yang agaknya longsor dari atas. Ketika saya keluar lagi, saya melihat di depan guha itu ada tulisan di atas batu yang berbunyi.

"KUBURAN MAYA DEWI DAN BAGUS SAJIWO..."

"Ah...!"

Retno Susilo berseru dan wajahnya menjadi pucat.

"Tenang, Bibi, sudah kukatakan tadi bahwa Bibi jangan merasa susah atau senang lebih dulu karena ceritanya masih bersambung! Memang cerita tentang Adik Bagus Sajiwo ini menyenangkan dan menyusahkan silih berganti, membuat kita panas dingin."

"Tenanglah Diajeng. Sulastri, lanjutkan ceritamu, kami siap mendengar yang terburuk sekalipun!"

Kata Ki Tejomanik yang kini merangkul pundak isterinya yang duduk di sampingnya.

"Saya bertemu dengan Kakangmas Aji dan kami lalu melangsungkan pernikahan kami, direstui kedua orang tua kami. Kemudian kami melakukan perjalanan kesini, sengaja untuk mengabarkan tentang penemuanku di puncak bukit Keluwung Pegunungan Wilis itu. Kami melewati Loano dan mampir ke rumah Pamanku, Ki Sumali dan dari Ki Sumali kami mendapatkan kabar tentang Adi Bagus Sajiwo."

"Bagaimana kabarnya, Sulastri?"

Tanya Retno Susilo, akan tetapi kini wanita itu bertanya dengan suara yang tenang. Rangkulan tangan suaminya agak membuat ia lebih tabah dan tenang.

"Paman Sumali menceritakan bahwa belum lama ini, jadi lama sesudah saya menemukan guha itu, dia bertemu dengan Bagus Sajiwo di muara Sungai Lorog di pantai Laut Kidul. Ini berarti bahwa tulisan di depan guha itu bohong, dan bahwa Adi Bagus Sajiwo masih hidup!"

"Terima kasih kepada Gusti Allah!"

Ki Tejomanik dan Retno Susilo berseru.

"Yang amat aneh, Paman dan Bibi, ketika itu Paman Sumali dikeroyok orang-orang sesat yang menuduhnya sebagai mata-mata Mataram yang hendak merebut pusaka yang sedang dicari-cari..."

"Maksudmu memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya muncul di muara Sungai Lorog itu? Kami juga mendengarnya, akan tetapi karena kami menanti-nanti pulangnya anak kami, maka kami tidak ikut pergi kesana. Ah, kalau saja kami pergi, tentu akan dapat bertemu anak kami!"

Kata Retno Susilo.

"Benar, Bibi. Ketika Paman Sumali dikeroyok dan berada dalam keadaan terancam bahaya, muncullah Maya Dewi yang membelanya!"

"Ah, Maya Dewi mata-mata dan antek Kumpeni Belanda itu? Tidak mungkin...!"

Kata Retno Susilo.

"Bagaimana iblis betina itu membela pendekar yang dituduh menjadi mata-mata Mataram?"

Kata pula Ki Tejomanik heran.

"Itulah yang juga amat mengherankan Paman Sumali dan kami berdua. Menurut Paman Sumali, Maya Dewi sudah berubah dan ia menentang para tokoh sesat dan semua itu menurut Ki Sumali agaknya disebabkan oleh Adik Bagus Sajiwo yang muncul bersamanya di tempat itu. Maya Dewi dan Bagus Sajiwo dikeroyok belasan orang tokoh sesat yang sakti-sakti, diantara mereka terdapat Pangeran Jaka Bintara dari Banten dan Kyai Gagak Mudra, lima orang Panca Warak, Kyai Jagalabilawa, dan Ki Kebondanu. Akan tetapi mereka semua kalah dan tidak seorang pun dari mereka yang dibunuh. Mereka melarikan diri dan Paman Sumali selamat."

"Bukan main! Alhamdulillah (Puji Tuhan), anak kita telah menjadi seorang yang sakti mandraguna dan baik budi!"

Kata Ki Tejomanik kepada isterinya. Retno Susilo mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, kenapa dia bergaul dengan iblis betina Maya Dewi? Di Puncak Bukit Keluwung tertulis kuburan dia dan Maya Dewi, kemudian di Loano dia juga bersama Maya Dewi. Apa artinya ini?"

"Inilah yang aneh sekali dan membuat Paman Sumali terheran-heran dan tidak mengerti, terutama melihat Maya Dewi telah berubah menjadi seorang yang bersikap dan bertindak seperti seorang pendekar."

Kata Lindu Aji, membantu isterinya yang sejak tadi dia biarkan bercerita terus.

"Betapapun juga, kabar ini menggembirakan sekali karena terbukti bahwa Bagus Sajiwo masih hidup dan dalam keadaan selamat."

Kata Tejomanik.

"Lalu bagaimana ceritanya Ki Sumali itu, Sulastri?"

"Inilah, Paman, yang membuat kami tidak enak hati untuk menceritakan."

Kata Sulastri.

"Cerita tentang Adik Bagus Sajiwo memang aneh, sebentar menyenangkan, sebentar menyusahkan."

"Ceritakan saja, kami siap mendengarkan!"

Kata Tejomanik sambil masih merangkul isterinya.

"Ki Sumali yang merasa heran membayangi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi dari jauh. Dia melihat mereka mendaki muara Sungai Lorog dan tiba-tiba ada tujuh orang yang menyerang mereka dengan tembakan senjata api." (Lanjut ke

Jilid 23) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23

"Ahh! Lalu... lalu bagaimana?"

Retno Susilo bertanya.

"Menurut cerita Paman Sumali, dia melihat Bagus Sajiwo dan Maya Dewi terjatuh ke dalam muara sungai dan lenyap. Tujuh orang bersenjata senapan itu menunggu di tepi muara sampai lama, akan tetapi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi tidak muncul lagi. Paman Sumali lalu meninggalkan tempat itu, kembali ke Loano. Tentu saja pada waktu itu, Paman Sumali sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang bersama Maya Dewi membelanya itu adalah putera Paman dan Bibi."

"Aih, Bagus...!"

Retno Susilo tertegun lemas dengan wajah pucat.

Akan tetapi ia menahan tangisnya dan bersandar ke pundak suaminya.

Tiba-tiba ia bangkit berdiri, matanya mencorong dan kedua tangannya dikepal lalu diamangkan ke atas.

"Katakan siapa tujuh orang yang menembak anakku itu? Siapa mereka? Akan kuhancurkan kepala mereka, kupecahkan dada mereka!"

"Tenang dan bersabarlah, Diajeng."

Tejomanik menarik lengan isterinya, diajak duduk kembali.

"Menurut perkiraan Paman Sumali, orang-orang yang memiliki senjata itu mungkin sekali kaki tangan Kumpeni Belanda."

Kata Sulastri.

"Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo, benar seperti dikatakan Diajeng Sulastri tadi, cerita tentang Bagus Sajiwo belum habis. Saya merasa yakin bahwa Bagus Sajiwo tidak tewas oleh tembakan itu."

"Hemm, bagaimana engkau dapat begitu yakin, Anakmas Lindu Aji?"

Tanya Tejomanik dan Retno Susilo memandang kepada Lindu Aji penuh harapan.

"Begini, Paman dan Bibi. Dulu pernah Diajeng Sulastri terjatuh dari tebing yang amat tinggi dan menurut perhitungan manusia, ia tidak mungkin hidup terjatuh dari tempat yang demikian tingginya. Akan tetapi ketika saya mencari ke bawah tebing, saya tidak menemukan jenazahnya, maka saya merasa yakin bahwa ia masih hidup dan ternyata keyakinan saya itu benar dan ia masih hidup. Demikian pula dengan Bagus Sajiwo. Biarpun dia ditembaki dan tampak terjatuh ke dalam muara sungai, akan tetapi kemudian dia dan Maya Dewi tidak muncul lagi dan jenazah mereka tidak ditemukan. Selama jenazahnya belum ditemukan, maka saya yakin bahwa dia belum tewas. Seorang dengan kesaktian seperti Bagus Sajiwo, saya kira tidak akan tewas begitu saja terkena peluru senapan. Harap Paman dan Bibi tenang dan kita hanya dapat berdoa kepada Gusti Allah semoga Bagus Sajiwo mendapatkan perlindungannya selalu."

"Amin!"

Kata Ki Tejomanik dan dia memegang lengan Lindu Aji.

"Terima kasih, Anakmas Aji. Kata-katamu membesarkan hati kami!"

Ki Tejomanik dan Retno Susilo merasa suka dan cocok sekali dengan suami isteri muda ini, maka mereka minta dengan sangat agar Lindu Aji dan Sulastri tinggal di rumah mereka beberapa hari lamanya dan tidak tergesa-gesa meninggalkan mereka.

Pengantin baru ini pun memenuhi permintaan mereka karena dari dua orang suami isteri yang banyak pe-ngalaman hidup ini mereka dapat menimba banyak pengetahuan.

Setelah tinggal di rumah Ki Tejomanik selama satu minggu, barulah Lindu Aji dan Sulastri berpamit.

"Terima kasih atas kunjungan kalian, Anakmas Aji. Berita yang kalian bawa tentang anak kami berharga bagi kami."

Kata Ki Tejomanik ketika sepasang pengantin baru itu berpamit.

"Kami juga merasa gembira sekali dapat berkunjung kesini, Paman. Paman dan Bibi sungguh telah memberi banyak kebaikan kepada kami. Kami berjanji bahwa kami akan selalu mendengarkan berita tentang diri Bagus Sajiwo dan kalau kami mengetahuinya, pasti akan kami kabarkan kepada Paman dan Bibi disini."

"Terima kasih dan selamat jalan, Aji dan Sulastri."

Kata Retno Susilo dengan akrab.

"Selamat tinggal."

Kata Lindu Aji dan Sulastri.

Setelah meninggalkan Gunung Kawi, suami isteri ini lalu pergi ke Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis.

Sekitar lima puluh orang murid atau anggauta perkumpulan Melati Puspa menyambut ketua mereka dengan gembira, dipimpin oleh Suwarni yang mewakili gurunya memimpin perkumpulan selama Sulastri atau yang mereka kenal dengan nama Ni Melati Puspa tidak berada disitu.

Para anak buah perkumpulan Melati Puspa itu terkejut bukan main ketika mereka berkumpul dan mendengar pengakuan ketua mereka.

"Ketahuilah, kalian semua anggauta Melati Puspa! Pria ini adalah suamiku, namanya Lindu Aji. Aku telah menikah dengan dia, oleh karena itu aku datang untuk berpamit karena menurut peraturan, setiap anggauta Melati Puspa yang menikah, harus keluar dari perkumpulan ini. Maka aku menyatakan diri keluar dan aku datang untuk mengatur pengangkatan ketua baru!"

Akan tetapi mendengar ucapan ketua ini, semua anggauta yang berjumlah sekitar lima puluh orang wanita itu terbelalak, bahkan ada yang menangis.

Suwarni, pejabat ketua itu yang berlutut paling depan bersama Kasmi, menangis sesenggukan.

Melihat ini Sulastri mengerutkan alisnya.

"Hei, sejak kapan kalian menjadi orang-orang cengeng seperti ini? Kenapa menangis?"

"Ampunkan kami, Ni Dewi, kami... kami mohon jangan Ni Dewi meninggalkan kami. Hanya Andika pembimbing kami, guru dan pemimpin kami. Kalau kami ditinggal, kami akan kehilangan pegangan dan kami takut, kalau sampai ada laki-laki yang jahat seperti Ki Surogento yang dulu memimpin dan menindas kami, kami akan celaka. Kalau Andika memaksa pergi meninggalkan kami, terpaksa kami pun akan membubarkan perkumpulan ini dan kami akan pergi kemana saja nasib membawa kami."

Mendengar ucapan ini, kini semua anggauta menangis karena mereka itu rata-rata sudah tidak mempunyai keluarga, tidak mempunyai rumah lagi.

Sementara itu, Lindu Aji diam-diam merasa kagum dan suka sekali akan tempat itu.

Pemandangan alamnya sungguh amat indah, dan tanahnya juga subur.

Dia melihat tadi sawah ladang yang amat luas, dengan tanahnya yang subur.

Tempat ini baik sekali dijadikan tempat tinggal.

"Bagaimana ini, Kakangmas?"

Tanya Sulastri kepadanya karena ia sendiri merasa bingung dan kasihan kepada anak buahnya.

"Hemm, bubarkan dulu mereka, kita bicarakan ini secara mendalam."

Katanya kepada isterinya. Sulastri berkata dengan suara tegas.

"Hentikan semua tangis itu! Aku, tidak suka melihat kalian cengeng begitu. Cepat kembali kepekerjaan masing-masing dan buatlah masakan yang enak untuk kita semua merayakan kembaliku kesini. Aku dan suamiku akan merundingkan urusan perkumpulan ini dan besok pagi baru aku akan mengambil keputusan bagaimana baiknya. Sekarang bubarlah!"

Semua wanita menghentikan tangisnya dan sebagian besar dari mereka tersenyum penuh harapan.

Mereka memberi hormat dengan sembah di depan dada lalu cepat meninggalkan pendapa untuk melaksanakan tugas.

Sudah terdengar tawa riang mereka sehingga diam-diam Sulastri merasa terharu.

Sulastri mengajak suaminya memasuki rumah.

Kamarnya masih terpelihara dengan baik dan bersih.

Mereka duduk berdua dalam kamar dan membicarakan urusan perkumpulan itu.

"Kakangmas, terus terang saja aku merasa tidak tega meninggalkan mereka begitu saja. Sayang sekali kalau mereka yang sudah kubina menjadi orang baik-baik, nanti terbawa oleh lingkungan ke dalam jalan sesat. Akan tetapi, aku harus ikut denganmu, Kakangmas. Sebagai isterimu, aku akan meninggalkan apa pun juga untuk mengikutimu."

"Engkau isteriku yang bijaksana dan setia, Diajeng. Akan tetapi, setelah tadi melihat keadaan di tempat ini, aku merasa suka sekali. Apakah perkumpulanmu ini memiliki sawah ladang yang cukup luas sehingga dapat mendatangkan hasil yang cukup untuk keperluan kita?"

"Wah, sawah ladang kami luas sekali dan kalau dikelola dengan baik hasilnya akan lebih dari cukup."

"Bagus! Diajeng, bagaimana kalau kita tinggal disini? Perkumpulan ini dapat kita ubah, bukan hanya perkumpulan wanita, melainkan perguruan besar yang mempuriyai murid pria dan wanita. Bagaimana pendapatmu?"

Wajah Sulastri berseri dan matanya bersinar-sinar.

Tadi memang ia mempunyai pikiran seperti itu dan alangkah senang hatinya ketika mendengar ucapan suaminya itu.

Ini berarti bahwa mereka berdua akan hidup di tempat yang memang sudah amat disenanginya itu.

"Itu baik sekali, Kakangmas. Engkau yang menjadi ketua bagian anggauta pria dan aku yang memimpin para anggauta wanita. Ah, kita akan hidup berbahagia disini!"

Suami isteri itu lalu berunding.

Sampai jauh malam mereka berunding dan akhirnya mereka mengambil keputusan untuk tetap tinggal di lereng dekat puncak Gunung Liman itu.

Para anggauta Melati Puspa tetap dipertahankan dan mereka akan mengajak para pemuda berbakat di pedusunan sekitar Gunung Liman untuk menjadi anggauta atau murid.

Nama perkumpulan baru itu pun harus diubah karena tidak sesuai lagi kalau mereka mempunyai murid atau anggauta pria.

PADA keesokan harinya, Sulastri memanggil semua anggauta perkumpulannya untuk datang berkumpul ke pendapa rumahnya yang cukup besar itu.

Lima puluh lebih wanita yang berusia antara delapan belas sampai mendekati tiga puluh tahun itu duduk bersimpuh di atas lantai yang bersih mengkilap.

Sulastri dan Lindu Aji duduk di atas dua buah kursi berhadapan dengan para anggauta.

"Saudara sekalian!"

Kata Sulastri. Ia biasa menyebut para anggauta itu pada nama mereka saja, akan tetapi terkadang ia menyebut saudara sedangkan mereka menyebut Ni Dewi.

"Kami berdua, aku dan suamiku, telah bersepakat untuk melanjutkan pimpinan kami! atas perkumpulan ini."

Lima puluh lebih wanita itu bersorak gembira. Mereka tersenyum dan wajah mereka menjadi cerah, ada yang tertawa"tawa gembira. Sulastri mengangkat tangan kiri ke atas dan mereka semua diam.

"Akan tetapi mulai sekarang, perkumpulan kita bukan merupakan perkumpulan khusus wanita saja karena suamiku yang akan memimpin, dan aku membantunya. Kami akan menerima anggauta pria juga. Suamiku akan memimpin anggauta pria dan aku tetap memimpin anggauta wanita. Apakali kalian setuju akan perkumpulan kita diubah menjadi perkumpulan umum dengan anggauta pria dan juga wanita?"

"Setuju...!!"

Mereka serempak menjawab dengan gembira.

"Akan tetapi peraturan lama masih tetap dipakai, yaitu kalau ada anggauta, baik dia pria maupun wanita, menikah, dia harus berhenti menjadi anggauta perkumpulan kita. Dan karena akan ada anggauta pria, maka nama perkumpulan kita pun tidak akan tepat lagi kalau memakai nama Melati Puspa. Mulai sekarang perkumpulan kita memakai nama perguruan Mega Liman, ketuanya Ki Lindu Aji dan wakilnya Ni Sulastri. Aku tidak memakai nama samaran Ni Melati Puspa lagi. Namaku adalah Sulastri."

Semua anggauta itu bertepuk tangan tanda setuju dan gembira.

"Hidup Ki Aji! Hidup Ni Dewi!"

Teriak Suwarni dan semua rekannya ikut berteriak.

"Maaf Ni Dewi, kami akan tetap menyebut Andika Ni Dewi Sulastri dan ketua kami Ki Aji, kalau Andika tidak keberatan."

Kata Suwarni.

Sulastri memandeng kepada suaminyo dan Lindu Aji tersenyum mengangguk.

Demikianlah, mulai hari itu, berdirilah Perkumpulan Mega Liman dan suami isteri itu menjadi ketua dan wakilnya.

Mereka mulai menerima murid-murid atau anggauta-anggauta pria, yaitu para pemuda yang tinggal di pedusunan sekitar Gunung Liman.

Lindu Aji memberi tahu ibunya di Gampingan dan menawarkan kepada ibunya kalau-kalau ibunya suka pindah ke Gunung Liman.

Akan tetapi Nyi Warsiyem menolak karena sudah senang tinggal di Gampingan.

Setahun kemudian, Sulastri melahirkan seorang anak perempuan yang mungil dan anak itu mereka beri nama Dewi Wulandari karena lahirnya tepat pada malam purnama.

Wulandari berati Wulan Ndadari (Bulan Purnama berlingkaran).

Tentu saja suami isteri itu merasa gembira dan kehidupan terasa bahagia sekali bagi mereka.

Juga Perkumpulan Mega Liman menjadi semakin besar.

Setelah lewat tiga tahun dan Wulandari sudah berusia dua tahun, Perkumpulan Mega Liman telah memiliki hampir seratus lima pulUh anggauta terdiri lima puluh orang murid wanita dan hampir seratus orang murid pria.

Lindu Aji dan Sulastri hidup berbahagia dan perkumpulan Mega Liman menjadi semakin kondang (terkenal) sebagai perkumpulan orang-orang muda, baik pria atau wanita, yang berwatak satria, suka menolong orang-orang yang tertindas dan menentang "mereka yang jahat.' Juga sawah ladang yang menjadi milik perkumpulan itu dikelola dengan baik sehingga mendatangkan hasil yang cukup untuk membeli kebutuhan hidup mereka, Pondok-pondok dibangun untuk para murid dan dipisahkan antara tempat tinggal para murid pria dan para murid wanita.

Ada pula diantara para, murid yang saling jatuh cinta.

Mereka.

menikah dengan baik-baik dan terpaksa meninggalkan Mega Liman.

Setahun sekali, Lindu Aji dan Sulastri melakukan perjalanan berkunjung ke Gampingan lalu terus"

Ke Dermayu.

Terkadang mereka mengajak orang tua mereka untuk berkunjung ke Gunung Liman dan mereka semua merasa berbahagia.

Suami isteri ini tidak melupakan pesan Ki Tejomanik dan isterinya agar mereka membantu mendengarkan kalau-kalau ada berita tentang Bagus Sajiwo.

Anak buah perguruan Mega Liman mereka pesan agar ikut mendengar, bahkan mereka yang menikah lalu meninggalkan perkumpulan itu.

juga agar segera memberitahu kalau mendengar berita tentang Bagus Sajiwo.

Akan tetapi tiga tahun lebih telah lewat dan mereka sama sekali tidak pernah mendengar tentang Ragus Sajiwo yang menurut Ki Sumali telah ditembaki para antek Kumpeni dan terjatuh ke dalam muara Sungai Lorog lalu lenyap.

Pada suatu pagi Lindu Aji dan Sulastri duduk di pendapa rumah mereka.

Seorang murid wanita menghidangkan minuman teh hangat dan ubi goreng, Disitu terdapat pula Nyi Warsiyem, ibu Lindu Aji yang memangku Dewi Wulandari yang berusia dua tahun dan sedang lucu-lucunya.

Wanita penduduk Gampingan ini sudah sepekan berada disitu, ikut Lindu Aji ketika puteranya itu berkunjung ke Gampingan.

Nyi Warsiyem amat mencinta cucunya dan anak itu pun sebentar saja lengket dengan neneknya.

Anak-anak yang masih kecil mempunyai perasaan yang amat peka.

Hal ini adalah karena nafsu akal pikiran mereka belum menguasai dirinya sehingga jiwanya masih bersih dan perasaannya amat peka, dapat menangkap getaran rasa kasih sayang ataupun kebencian orang yang diarahkan kepada mereka.

Mereka bertiga bercakap-cakap dalam suasana tenteram bahagia, terkadang diseling teriakan-teriakan Dewi Wulandari yang membuat mereka tertawa gembira.

Seorang laki-laki muda memasuki pekarangan itu dan terus menuju pendapa.

Lindu Aji dan Sulastri memandang.

Laki-laki itu menghampiri mereka dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada Sebagai sembah.

"Hei, engkau Kasman?"

Tegur Lindu Aji sambil tersenyum.

"Mari duduklah di atas kursi sini, jangan di lantai. Engkau sudah bukan murid Mega Liman lagi!"

Ucapan ini ramah sekali.

Laki-laki muda itu bernama Kasman dan sudah setengah tahun ia meninggalkan Mega Liman karena menikah dengan seorang gadis dusun yang tinggal di sebuah dusun di kaki Gunung Liman.

Kasman biarpun dengan sungkan, duduk di atas kursi dengan sikap hormat.

"Kasman. berita apakah yang kau bawa kesini?"

Sulastri bertanya.

"Denmas Aji dan Ni Dewi, saya mendengar berita tentang Denmas Bagus Sajiwo, maka saya cepat datang kesini untuk menyampaikan berita itu yang dipesan ketika saya hendak meninggalkan Mega Liman."

"Ah, bagus sekali!"

Seru Lindu Aji dengan gembira. Kalau ada berita tentang Bagus Sajiwo, hal itu membuktikan bahwa keyakinan tentang pemuda itu benar, yaitu bahwa putera Ki Tejomanik itu masih hidup! "Cepat ceritakan!"

"Saya mendengar dari seorang penduduk dusun yang baru datang dari Tulung-agung bahwa di daerah sana tidak aman karena adanya gangguan gerombolan liar yang dipimpin oleh orang-orang sakti. Akan tetapi kemudian muncul seorang pria muda dan seorang wanita cantik mengobrak-abrik sarang gerombolan itu dan mengalahkan mereka sehingga gerombolan itu kocar-kacir dan melarikan diri. Daerah itu menjadi aman kembali dan pemuda serta gadis itu mengaku bernama Bagus Sajiwo dan Maya Dewi. Hanya itulah ceritanya, dan tetangga saya itu tidak tahu kemana perginya dua orang pendekar muda itu."

Lindu Aji dan Sulastri menjadi girang bukan main.

Setelah Kasman pamit, mereka membuat persiapan untuk berangkat ke Gunung Kawi dan menyampaikan berita menggembirakan itu kepada Ki Tejomanik dan isterinya.

Mereka tidak merasa khawatir meninggalkan Dewi Wulandari karena selain disitu banyak murid wanita yang biasanya menjaga anak mereka, juga ada Nyi Warsiyem yang tentu akan mengasuh anak itu dengan penuh kasih sayang.

Maka, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami isteri ini berangkat meninggalkan Gunung Liman menuju ke Gunung Kawi di timur.

Setiap orang manusia dalam dunia ini mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya akan tetapi amatlah sukar menemukan seorang manusia yang benar-benar hidup berbahagia.

Kesalahan kita adalah mengartikan kebahagiaan sebagai kesenangan.

Ada yang menganggap bahwa kebahagiaan terdapat dalam harta benda.

Kalau banyak harta benda berarti bahagia.

Benarkah itu?

Orang yang menderita sakit yang menimpa diri sendiri maupun keluarga terdekat, suami, isteri, orang tua, maupun anak, akan melihat kenyataan bahwa bukan harta benda yang mendatangkan kebahagiaan karena dia akan rela menukar semua harta bendanya dengan kesehatan.

Lalu, apakah harta benda plus kesehatan sekeluarga menjadi sarong.

bahagia yang didamba-dambakan?

Orang Vang sedang menderita perten-tangan atau bentrokan dengan keluarga, antara anak dan orang tua, antara suami dan isteri, atau antara saudara, tidak akan merasa bahagia walaupun sekeluarga sehat badannya dan banyak hartanya.

Terutama sekali akan terasa kalau suami dan isteri bentrok, tidak rukun sehingga cinta mereka berubah menjadi benci, maka semua harta dan kesehatan jasmani itu sama sekali tidak menolong dan mereka akan tidak merasa bahagia.

Bagaimana kalau berharta, sehat, ditambah rukun sekeluarga?

Apakah sudah berbahagia?

Orang-orang yang mengalami permusuhan dengan tetangga, dengan orang lain, dalam menghadapi urusan dengan yang berwajib, atau menghadapi malapetaka, perang, kehilangan dan sebagainya, tetap saja tidak akan merasa bahagia walaupun dia berharta, sehat dan rukun sekeluarga.

Tidak mungkin bahagia itu dicapai oleh keadaan lahiriah atau duniawi.

Memang, kesenangan dapat diraih lewat semua itu.

Hanya kesenangan, bukan kebahagiaan!

Dan kesenangan itu hanya merupakan tercapainya keinginan nafsu.

Seperti biasa, pengejaran kesenangan itu hanya mempunyai dua akibat.

Pertama, kecewa dan duka kalau pengejaran kesenangan itu tidak tercapai, dan yang ke dua, merasa bosan kalau kesenangan itu sudah tercapai dalam waktu tertentu, hanya sementara.

Lalu dimana letak kebahagiaan yang didambakan semua orang?

Teramat jauh tidak mungkin terjangkau kalau dicari, namun terama dekat.

Karena sesungguhnya kebahagiaan tidak pernah terpisah dari diri pribadi.

Bukan kesenangan, melainkan kebahagiaan!

Dalam keadaan tidak senang pun kita dapat berbahagia!

Dalam keadaan miskin pun kita dapat berbahagia.

Dalam keadaan sakit pun kita dapat berbahagia.

Dalam keadaan terancam bahaya maut sekalipun kita dapat berbahagia karena kebahagiaan tidak pernah meninggalkan diri kita.

Bagi seorang manusia yang berserah diri sepenuhnya, lahir batin, dengan ikhlas, tawakal, kepada Gusti Allah yang Maha Esa, dia akan merasa betapa kasih dan bahagia selalu berada dalam dirinya.

Dia akan selalu bersukur dan berterima kasih kepada Gusti Allah, dalam keadaan bagaimanapun juga, berserah diri sepenuhnya sebagai dasar dari semua tindakan dan ikhtiar dalam hidupnya dan yakin bahwa kehendak Gusti Allah saja yang terjadi, bukan kehendak kita.

Yakin bahwa segala sesuatu itu milik Gusti Allah, hati akal pikiran yang mengaku-aku sebagai "aku"

Ini tidak memiliki apa-apa, apalagi yang berada di luar diri seperti harta benda, kedudukan dan lain-lain, bahkan badan kita sendiri ini bukan milik kita, melainkan milik Gusti Allah.

Kita tidak menguasai dan tidak dapat mengatur tumbuhnya sehelai rambut pun di tubuh kita!

KekuasaanNya yang mengatur itu semua, kita hanya tinggal menerima.

Semua yang ada ini adalah kurniaNya karena kasihNya yang.berlimpah kepada kita.

Semua yang ditiadakan dan diambil dari kita itu pun adalah karena kuasaNya dan juga hakNya untuk mengambil apa saja yang dikehendakiNya karena semua itu milikNya!

Sekali lagi, hanya kalau kita berserah diri sepenuhnya, lahir batin, dengan ikhlas dan tawakal kepada Gusti Allah, kita akan dapat merasakan apa yang disebut bahagia itu.

Akan tetapi kalau kita menjauhiNya, maka Setan akan menggunakan kesempatan itu untuk mendekati dan memancing kita dengan umpan kesenangan yang serba enak, serba nikmat menyenangkan jasmani kita termasuk hati akal pikiran sehingga kita dikuasai sepenuhnya oleh nafsu dan diperbudaknya, dan kita akan terseret ke dalam perbuatan dosa sehingga kita akan jauh dari kebahagiaan.

Ki Tejomanik dan Retno Susilo adalah suami isteri yang sakti mandraguna, juga orang-orang yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan.

Akan tetapi, mereka pun hanya orang-orang biasa, manusia biasa seperti kita yang tidak sempurna, maka mereka pun tidak dapat terbebas dari duka nestapa.

Semenjak mereka mendengar dari Lindu Aji dan Sulastri tentang putera mereka, Bagus Sajiwo yang ditembaki orang kemudian jatuh dan hilang dalam muara Sungai Lorog, tiga tahun mereka menunggu di rumah.

Setiap hari mereka menungu-nunggu, sampai tubuh mereka menjadi kurus namun yang ditunggu tidak pernah muncul dan kabar tentang putera mereka itu pun tidak pernah terdengar.

Retno Susilo hampir merasa putus asa.

Akan tetapi dalam keadaan amat nelangsa itu, Ki Tejomanik menghihurnya.

"Sudahlah, Diajeng. Kita tidak boleh putus asa, kita harus selalu percaya akan kekuasaan Gusti Allah. Segala sesuatu yang terjadi kepada anak kita, juga yang terjadi kepada diri kila sendiri, sudah ditentukan oleh Gusti Allah dan percayalah, apa yang terjadi atas kehendakNya itu pasti yang terbaik bagi kita!"

"Aduh, Kakangmas, bagaimana aku dapat menerimanya sebagai yang terbaik kalau anak kita satu-satunya itu hilang dan tidak akan kembali lagi kepada kita?"

Kata Retno Susilo dan la tidak dapat menahan mengalirnya air matanya yang entah sudah beberapa ribu kali membanjir dalam tangis dan keluh-kesahnya.

"Sekarang dengarlah baik-baik, Diajeng, aku akan mendongeng!"

Retno Susilo memandang heran kepada suaminya sambil menyusut air matanya.

"Mendongeng?"

"Ya, dongeng yang ada hubungannya dengan keadaan kita. Di jaman dahulu kala, ada seorang janda muda yang telah ditinggal mati suaminya dan ia memiliki seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Tentu saja ia amat menyayang puteranya itu karena di dunia ini ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Seluruh tujuan dalam hidupnya sepenuhnya diarahkan untuk merawat puteranya dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi pada suatu hari anak itu terserang penyakit ganas dan meninggal dunia."

"Aduh kasihan sekali!"

Kata Retno 'Susilo dan pada saat itu ia lupa akan kesedihannya sendiri, mendengar kedukaan yang ia rasakan amat berat menimpa janda muda yang hidup seorang diri itu.

"Ya, begitulah pendapat manusia tentang musibah yang menimpa dirinya. Janda muda itu tentu saja merasa penasaran sekali. Ia hidup sebagai seorang wanita yang baik budi, maka ia menganggap Gusti Allah tidak adil. Maka ia lalu naik ke Surgaloka, ingat, ini hanya dongeng, untuk menghadap Gusti Allah dan mengajukan protesnya!"

"Aku tidak heran kalau ia berbuat begitu. Sekarang pun, kalau bisa, aku juga ingin menghadap Gusti Allah untuk memprotes hilangnya anakku!"

Tejomanik tersenyum dan tidak menyalahkan pendapat isterinya itu.

"Baik kulanjutkan ceritaku. Dengarkan baik-baik ketika janda itu tiba di pintu gerbang Surgaloka, ia dihadang oleh seorang malaikat yang bertanya kepadanya apa maunya naik ke Surgaloka. Janda itu menjawab bahwa ia hendak memprotes Gusti Allah yang telah mengambil nyawa anaknya. Ia berkata bahwa selama ini ia hidup dengan saleh, berbudi baik, tidak pernah melakukan kejahatan, selalu berdoa kepada Gusti Allah, akan tetapi kenapa Gusti Allah begitu kejam mengambil anaknya, satu-satunya teman dalam hidupnya yang sebatang kara? Apakah dosa anaknya yang baru berusia tiga tahun itu? Kalau memang ia sendiri yang mempunyai dosa, kenapa bukan ia saja yang diambil nyawanya? Kenapa anaknya? Kenapa Gusti Allah begitu tega menyiksa hatinya?"

"Hemm, aku tidak menyalahkan janda itu,"

Kata Retno Susilo.

"Memang tidak salah kalau ia merasa penasaran."

"Malaikat penjaga pintu gerbang itu lalu berkata kepada janda muda agar tidak tergesa-gesa menghadap Gusti Allah dan agar lebih dulu menonton sesuatu yang akan diperlihatkannya kepada janda itu, kalau ia tidak mau, maka ia tidak diperkenankan memasuki pintu gapura. Janda itu terpaksa menurut. Malaikat itu lalu membentangkan sehelai layar putih dan tampaklah oleh janda muda itu pemandangan yang aneh. Ia melihat seorang pemuda sedang mengamuk, melakukan perampokan dan pembunuhan secara kejam dan melakukan segala macam kejahatan yang hanya dapat dilakukan seorang penjahat yang kejam sekali. Janda itu memalingkan mukanya dan minta agar pertunjukan itu dihentikan karena hatinya yang selalu penuh belas kasihan itu tidak tega menyaksikan kejahatan yang demikian kejamnya oleh pemuda itu."

"Aneh sekali,"

Kata Retno Susilo.

"Apa maksud dan artinya pertunjukan yang diadakan oleh malaikat itu?"

"Malaikat itu lalu memberitahu kepada Sang Janda bahwa pemuda yang dilihatnya tadi, yang begitu kejam dan jahat bukan lain adalah anak janda itu kelak kalau dibiarkan hidup dan tumbuh menjadi seorang pemuda. Dia menjelaskan bahwa Gusti Allah amat sayang kepada janda yang saleh itu sehingga Gusti Allah menghindarkan ia dari kesengsaraan hati melihat puteranya menjadi penjahat yang amat kejam, dan menghindarkan putera janda itu menjadi jahat. Semua itu dilakukan Gusti Allah sebagai karunia karena kebaikan budi dan kesalehan janda itu! Kemudian malaikat itu bertanya kepada Sang Janda, apakah ia tetap menghendaki anaknya dihidupkan kembali agar kelak menjadi seorang pemuda seperti yang ditontonnya tadi? Sang Janda menangis dan mohon ampun kepada Gusti Alah atas ketidak-percayaannya dan protesnya, lalu mengucap sukur dan terima kasih kepadaNya, kemudian pulang ke rumahnya dengan hati damai dan tenteram dan imannya kepada Gusti Allah menjadi semakin kuat."

"Akan tetapi..., anak kita tidak mungkin akan menjadi seorang penjahat seperti itu, Kakangmas!"

Kata Retno Susilo. Suaminya mengangguk-angguk.

"Diajeng, dongeng itu hanya menjadi contoh dan pelajaran. Janda itu mengalami kesengsaraan yang jauh lebih hebat daripada kita, namun ternyata di balik peristiwa menyedihkan itu terdapat hikmahnya yang luar biasa yang bahkan merupakan anugerah atau karunia baginya. Segala peristiwa yang terjadi karena kehendak Gusti Allah pasti baik dan benar. Biar pun tampaknya oleh pendapat manusia dianggap tidak baik dan mendatangkan duka, tidak enak, namun pasti baik dan benar karena di balik itu ada hikmahnya yang kita tidak ketahui. Kehendak Gusti Allah itu tidak sama dengan kehendak kita yang hanya didorong nafsu ingin enak dan senang belaka. Karena itu, apakah artinya peristiwa yang menimpa diri kita. ini dibandingkan dengan yang menimpa diri janda dalam dongeng itu. Memang benar anak kita satu-satunya hilang, akan tetapi dia belum pasti mati, dan pula, bagaimanapun juga, kita berdua masih saling memiliki, bukan ditinggal menjadi sebatang kara tidak mempunyai siap-siapa lagi seperti janda itu. Karena itu, merasa penasaran dan mengeluh bahkan menuduh Gusti Allah kejam dan tidak adil seperti dilakukan janda itu sebelum ia sadar, bukanlah sikap yang benar, Diajeng."

Retno Susilo menghela napas panjang.

"Alangkah beratnya derita hidup ini, Kakangmas. Akan tetapi aku kini dapat melihat kebenaran yang terkandung dalam dongeng tadi. Jadi, kita harus menerima keadaan apa pun yang menimpa kita dengan penuh kesadaran bahwa semua itu merupakan kehendak Gusti Allah yang tidak sama dengan kehendak kita, bahwa di balik semua itu terkandung hikmah yang tidak kita ketahui akan tetapi yang pasti merupakan yang terbaik bagi kita. Begitukah, Kakangmas?"

"Benar, Diajeng. Bukan hanya yang terbaik untuk kita, akan tetapi juga untuk anak kita. Aku juga berduka, Diajeng, aku juga manusia biasa yang tidak dapat terbebas daripada suka duka, akan tetapi aku tetap berserah diri kepada Gusti Allah, aku pasrah dengan penuh keyakinan bahwa Gusti Allah itu Maha Murah dan Maha Kasih dan segala apa yang terjadi itu demi kebaikan kita manusia. Semoga Gusti Allah akan selalu menguatkan iman kita dan akan selalu membimbing kita, semoga kelak Gusti Allah memberi berkah dan karunia kebahagiaan dan mempertemukan kita dengan anak kita, kalau dia menghendaki!"

"Insya Allah (kalau Allah menghendaki), Kakangmas. Amin-amin-amin."

Kata Retno Susilo dan berkembanglah senyum manis di bibirnya, senyum penuh penyerahan, penuh kepercayaan dan penuh harapan.

Akan tetapi, sering kali terjadi, apa yang diharapkan manusia itu bukan saja tidak terjadi, bahkan yang terjadi adalah hal yang berlawanan dan yang tidak diharap-harapkan!

Pada suatu pagi yang sejuk, Ki Tejomanik dan Retno Susilo sedang sarapan di ruangan makan, sebelah dalam rumah mereka.

Tiba-tiba terdengar suara keras jebolnya pintu depan yang mereka palangi karena pintu itu belum dibuka oleh pelayan.

Kita tinggalkan dulu Ki Tejomanik dan Retno Susilo di Gunung Kawi dan kita ikuti perjelanan Bagus Sajiwo dan Maya Dewi.

Seperti kita ketahui, dua orang ini meninggalkan batu karang di muara Sungai Lorog dan menuju ke Gunung Kawi untuk pulang ke rumah Ki Tejomanik karena Bagus Sajiwo merasa bahwa kini dia telah berusia dua puluh tahun dan sebagai mana telah dipesan mendiang Ki Ageng Mahendra, setelah berusia dua puluh tahun baru dia boleh puiang ke rumah orang tuanya.

Dalam perjalanan itu, setiap menemui keadaan yang membutuhkan bantuan mereka, mereka lalu turun tangan, membela kebenaran dan keadilan, membela rakyat kecil yang tertindas oleh kekuasaan yang sewenang-wenang dan jahat, menentang mereka yang jahat dan pengganggu kehidupan rakyat.

Setiap kali!

mendengar keluhan penduduk kota mau-\ pun dusun akan adanya gerombolan yang mengacau dan mengganggu, mereka langsung mendatangi sarang gerombolan dan menghajar mereka sehingga mereka lari kocar-kacir dan gerombolam itu bubar.

Akan tetapi atas anjuran Bagus Sajiwo, mereka tidak pernah membunuh lawan, cukup hanya merobohkan mereka saja dan' membuat mereka lari ketakutan.

Ketika mereka tiba di Tulungagung, mereka mengobrak-abrik sarang gerombolan besar yang jumlah anggautanya tidak kurang dari seratus orang.

Pimpinan mereka adalah orang-orang sakti, Akan tetapi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi dapat mengalahkan mereka dengan mudah sehingga para pimpinan itu terluka dan semua anak buah kocar-kaclr.

Nama Bagus Sajiwo dan Maya Dewi mulai terkenal dan disanjung-sanjung oleh rakyat sehingga nama mereka mulai dikenal sampai jauh.

Banyak diantara para tokoh yang mengenal nama Maya Dewi, menjadi terkejut dan terheran-heran mendengar kini Maya Dewi memusuhi orang-orang dari golongan sesat.

Padahal mereka mengenal Maya Dewi sebagai seorang datuk wanita sesat yang dijuiuki Iblis Betina!

Karena tindakan mereka menentang gerombolan penjahat, terkadang membantu pasukan pamong-praja setempat, maka perjaianan Bagus Sajiwo dan Maya Dewi menjadi lambat.

Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan lamanya, pada suatu pagi mereka tiba di padang rumput terbuka, di dekat sebuah hutan.

Dari padang rumput itu sudah tampak Gunung Kawi menjulang tinggi.

Mereka berhenti dan Bagus Sajiwo menunjuk ke arah gunung itu.

"itulah Gunung Kawi, Dewi. Disanalah orang tuaku tinggal dan disana aku dibesarkan sejak lahir sampai berusia enam tahun ketika aku diculik orang."

Maya Dewi mengerutkan alisnya, tampak pendiam dan wajahnya muram, hanya menunduk setelah memandang ke arah gunung itu sekilas.

"He, engkau kenapa, Dewi? Kau tampak gelisah!"

"Memang aku gelisah, gelisah sekali, Bagus."

"Kenapa? Selama ini engkau gembira sekali, kini setelah hampir tiba di tujuan, semestinya engkau girang, malah engkau gelisah."

"Bagus, aku takut..."

"Engkau? Takut? Ha-ha-ha!"

Bagus Sajiwo tertawa.

"Siapa yang kau takuti? Setan pun akan jerih untuk menggangumu!"

"Aku khawatir dan takut bertemu dengan orang tuamu, Bagus."

Kata Maya Dewi dan suaranya agak gemetar.

"Ketahuilah, Ki Tejomanik dan Retno Susilo adalah sepasang suami isteri yang terkenal gagah perkasa dan setia kepada Mataram. Mereka sudah mengenal betul siapa Maya Dewi. Dalam pandangan mereka, aku adalah seorang iblis betina yang Jahat, seorang datuk sesat dan bukan itu saja, malah seorang antek Kumpeni Belanda. Mereka tentu benci sekali kepadaku dan aku tidak menyalahkan mereka, aku sendiri benci kepada diriku sendiri kalau ingat akan kesesatanku dahulu. Aku sungguh takut berhadapan dengan orang tuamu, Bagus."

"Tidak, Jangan takut, Dewi!"

Kata Bagus Sajiwo sambil tertawa.

"Engkau bukanlah Maya Dewi yang dulu lagi. Engkau sekarang adalah seorang yang telah meninggalkan Jalan sesat, telah menjadi seorang yang takut, taat dan tawakal, berserah diri kepada Gusti Allah. Aku yang akan menanggung kalau oran tuaku marah. Aku akan menjelaskan kepada mereka yang meyakinkan mereka bahwa engkau bukanlah Maya Dewi empat tahun yang lalu."

"Benar engkau hendak melindungi dan membela aku, Bagus? Ah, aku ngeri, aku menyesal dan aku malu sekali kalau aku teringat akan kelakuanku dahulu..."

"Bagus, itulah yang membuat Gust Allah senang dari seorang manusia, ya itu merasa malu dan menyesali dosanya lalu bertaubat mohon pengampunanNya seperti yang kau lakukan ini, Dewi. Su dahlah, kalau engkau sudah berserah diri sepenuhnya kepada Gusti Allah, apalagi yang kau takuti?"

Tiba-tiba mereka berdua waspada dan siap siaga.

Sesosok bayangan putih berkelebat dan Candra Dewi telah berdiri di depan mereka, dalam jarak lima enam depa!

Biarpun sudah lewat empat tahun namun ia masih tetap tampak cantik dengan daya tarik yang kuat.

Tangan kirinya memegang sebuah kebutan berbulu putih dan pedangnya tergantung dipunggung.

Sepasang mata tajam yang tadinya memandang liar, kini bersinar-sinar, wajahnya cerah berseri, mulutnya tersenyum manis ketika ia mengamati wajah Bagus Sajiwo.

"Engkau...? Bagus Sajiwo, engkau ternyata masih hidup? Ah, betapa senang rasa hatiku, Bagus suamiku...!"

Kata Candra Dewi melangkah maju menghampiri.

Bagus Sajiwo merasa bulu tengkuknya meremang karena geli melihat wanita itu memandangnya dengan mata mengandung gairah nafsu dan kedua tangannya bergerak seperti hendak merangkulnya sehingga dia' melangkah mundur.

Karena Bagus Sajiwo mundur beberapa langkah, maka kini Maya Dewi yang berada di depan menghadapi Candra Dewi.

"Mbakayu, janganlah bersikap seperti ini! Bagus Sajiwo bukan suamimu."

Kata Maya Dewi suaranya lembut membujuk.

Agaknya baru sekarang Candra Dewi melihat Maya Dewi karena tadi seluruh perhatiannya tertuju kepada Bagus Sajiwo.

Matanya yang tadi bersinar gembira itu kini melotot dan alisnya berkerut.

"Kali bilang apa, Maya Dewi? Jangar membikin aku marah! Melihat Bagus Sajiwo masih hidup dan aku dapat bertemu dengannya membuat aku begitu bahagia sehingga aku mau memaafkan engkau dan tidak membunuhmu. Jangan membikin aku berubah pikiran dan marah sehingga aku akan membunuhmu. Hayo minggir dan pergi dari sini, aku hendak mengajak suamiku pergi bersamaku!"

Akan tetapi Maya Dewi tidak mau pergi atau minggir, dan Bagus Sajiwo berada di belakangnya segera berkata.

"Candra Dewi, sejak kapan aku menjadi suamimu? Aku bukan suamimu!"

"Sejak kapan? Sejak engkau memeluk tubuhku dan minum darahku melalui gigitan pada leherku. Hayo minggir, Maya Dewi, aku hendak mengajak suamiku pergi!"

Akan tetapi Maya Dewi tidak mau minggir.

"Mbakayu Candra Dewi, tindakanmu ini tidak benar dan sesat! Mana ada wanita memaksa seorang pria menjadi suaminya? Sadarlah, Mbakayu, dan tinggalkan kami dengan segera agar kesesatanmu Jangan berlarut-larut."

Lalu Maya Dewi menudingkan telunjuknya ke arah pedang yang tergantung di punggung Candra Dewi.

"Aku mengenal pedang itu, Mbakayu Candra Dewi! Bukankah itu Pedang Pusaka Nogo Wilis milik Retno Susilo? Berikan pedang itu kepadaku, Mbakayu, untuk kukembalikan kepada pemiiiknya!"

Bagus Sajiwo terkejut mendengar ini dan dia pun memandang ke arah pedang yang tergantung di punggung Candra Dewi.

Dia pun teringat bahwa ibunya, Retno Susilo, memang memiliki pedang pusaka Nogo Wilis, akan tetapi dia sudah lupa lagi akan pedang itu sehingga tidak mengenalnya.

Akan tetapi Maya Dewi mengenalnya dan ia sudah banyak mendengar dari para datuk tentang pedang itu yang kabarnya dicuri oleh Kyai Sidik Kawasa akan tetepi dirampas seorang pertapa sakti dan akhirnya pedang itu terjatuh ke tangan Sulastri.

Ia tahu akan semua ini, maka ia minta pedang itu karena kalau ia dapat mengembalikan pedang pusaka itu kepada Retno Susilo tentu ibu Bagus Sajiwo itu akan berkiurang kebenciannya kepadanya!

Candra Dewi marah bukan main.

"Maya Dewi, apa engkau sudah bosan hidup? Sekali lagi, demi suamiku, aku ampuni engkau dan minggirlah. Kalau engkau tidak menurut, aku tidak aka mengampunimu lagi dan akan membunuhmu!"

Candra Dewi sudah mengayun-ayun kebutan ditangan kirinya itu, mengancam untuk menyerang.

"Engkaulah yang sepantasnya pergi dan meninggalkan kami, jangan ganggu kami lagi, Mbakayu Candra Dewi!"

Kata Maya Dewi.

"Syuuuuttt... tar-tar-tar!!"

Tiga kali kebutan itu melecut dan menyambar-nyambar ke arah kepala Maya Dewi.

Akan tetapi Candra Dewi terkejut bukan main karena tiga kali serangannya itu luput.

Tubuh Maya Dewi bergerak amat lincahnya sehingga ia merasa seolah-olah ia menyerang sebuah bayangan saja!

Candra Dewi menjadi semakin marah dan penasaran sekali.

Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya, menggunakan semua tenaga dan kecepatannya, menyerang bertubl-tubi, namun semua serangannya gagal.

"Keparat!"

Ia memaki dan sekali tangan kanannya bergerak, tampak sinar hijau.

menyilaukan mata dan ia segera menyerang Maya Dewi dengan pedang dan kebutannya.

Tampak dua gulungan sinar hijau dan putih menyambar-nyambar, mengepung dan menyerang tubuh Maya Dewi dari semua jurusan, namun tetap saja kedua senjata itu tidak mampu menyentuh tubuh Maya Dewi.

Candra Dewi hampir tidak percaya akan kenyataan ini.

Maya Dewi dengan tangan kosong mampu menghadapi serangan yang menggunakan pedang pusaka dan kebutan!

Padahal, tingkat kepandaian adik tirinya telah jauh dibandingkan tingkatnya.

Ia tidak tahu bahwa sejak Maya Dewi makan Jamur Dwipa Suddi tenaga saktinya menjadi berlipat ganda kuatnya dan kitab Aji Sari Bantalanya sudah dipelajari dan dilatihnya membuat ia dapat bergerak secara aneh, seperti lambat namun cepat, seperti lemah namun kuat sekali.

Sementara itu, sejak tadi Bagus Sajiwo hanya menonton saja dan ia merasa girang dan kagum sekali melihat gerakan Maya Dewi melayani serangan Candra Dewi itu.

Jelas tampak olehnya betapa Maya Dewi jauh lebih unggul dan dia tahu bahwa kalau Maya Dewi menghendaki, sudah sejak tadi ia akan dapat merobohkan dan membunuh lawannya.

Ternyata Maya Dewi tidak mau membunuh kakak tirinya yang jahat itu.

Semenjak keluar dan perut bukit karang di muara Sungai Lorog, baru sekarang Maya Dewi memperlihatkan kepandaiannya.

Ketika berkali-kali mereka berdua menghadapi para gerombolan yang menjadi lawan Maya Dewi hanyalah penjahat-penjahat kecil yang kemampuannya terbatas sehingga tidak tampak ketangguhan Maya Dewi.

Akan tetapi kini, lawannya adalah Candra Dewi, datuk wanita dari Banten yang amat sakti itu.

Melihat Maya Dewi dapat mengatasi lawannya walaupun ia bertangan kosong, Bagus Sajiwo diam saja, hanya menonton.

Maya Dewi seolah mendapatkan kesempatan untuk berlatih dan menguji ilmu silatnya, yaitu Aji Sari Bantala yang telah dilatihnya sampai selesai.

Sebetulnya, ilmu itu baru dapat sempurna sepenuhnya kalau dimainkan oleh sepasang pria dan wanita.

Kalau dia dan Maya Dewi yang menggunakan ajian itu bersama, maka mereka dapat saling mengisi dan menutup segala kekurangan dan kelemahannya sehingga Aji Sari Bantala itu akan menjadi kuat sekali.

Akan tetapi dimainkan sendiri juga ternyata sudah hebat sekali karena buktinya Maya Dewi mampu dengan tangan kosong melayani Candra Dewi yang menyerangnya dengan senjata pedang pusaka dan kebutan ampuh.

Dugaan Bagus Sajiwo benar.

Maya Dewi memang sengaja hendak menguji ilmu yang baru saja dikuasainya dan ia merasa girang sekali karena dengan Aji Sari Bantala ternyata ia mampu menghindarkan semua serangan kakak tirinya yang datang bertubi-tubi menghujaninya.

Kemudian, ia pun balas menyerang dengan tamparan tangan dan totokan jari tangan.

Begitu ia balas menyerang, Candra Dewi menjadi terkejut dan terdesak hebat.

Tamparan tangan Maya Dewi yang kecil dan berkulit halus itu datangnya bagaikan sambaran palu godam dan totokan jari tangannya bagaikan tusukan anak panah yang meluncur cepat.

Candra Dewi terpaksa memutar pedangnya sehingga pedang itu berubah menjadi gulungan sinar hijau yang bagaikan perisai melindungi dirinya dari depan.

Hebat memang kepandaian Candra Dewi.

Tenaga saktinya juga sudah mencapai tingkat tinggi sehingga ketika ia melindungi dirinya dengan putaran pedang yang menjadi sinar hijau bergulung-gulung itu, Maya Dewi merasa sulit untuk merampas pedang seperti yang dikehendakinya.

Kalau ia menggunakan pukulan yang merupakan inti Aji Sat Bantala, ia khawatir akan membunuh kakak tirinya itu.

Hal ini tidak ia kehendaki.

Ia tidak mau mengotori tangannya yang sudah ia cuci dan jaga jangan sampai menjadi kotor seperti dulu kembali, dengan membunuh, apalagi yang dibunuh adalah kakak tirinya sendiri betapa pun.jahatnya Candra Dewi.

Bagus Sajiwo menonton dengan tertarik.

Dia tahu akan kesulitan Maya Dewi untuk merampas pedang.

Dia sendiri tentu saja tahu bagaimana caranya agar dapat merampas pedang tanpa membunu Candra Dewi.

Akan tetapi dia diam saja ingin dia melihat apakah Maya Dewi dapat menggunakan akal agar niatnya merampas pedang itu berhasil.

Dalam keadaan seperti itu, agaknya hanya kecerdikan yang akan dapat membuatnya berhasil.

Tiba-tiba Maya Dewi berhasil mengeluarkan pekik melengking dan ia mempercepat gerakannya.

Candra Dewi terkejut karena suara lengkingan itu menggetarkan jantungnya!

Hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga sakti yang dimiliki adik tirinya itu.

Maka untuk melindungi dirinya, ia memusatkan seluruh perhatian dan tenaganya untuk memutar pedangnya secepat mungkin agar dirinya terlindung.

Ia tidak mampu lagi menyerang, hanya mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melindungi dirinya.

Tiba-tiba ia terkejut karena tubuh Maya Dewi lenyap!

Ia tadi hanya melihat bayangan berkelebat melewati sebelah kanannya, maka cepat ia memutar tubuh dari kanan.

Maya Dewi yang sudah berada dibelakangnya, ketika Candra Dewi memutar tubuhnya itu, mendahuluinya dengan cepat sekali menotok siku tangan kanan itu.

Biarpun lengan kanan Candra Dewi hanya terasa lumpuh selama beberapa detik saja, namun secepat kilat Maya Dewi menggerakkan tangan dan pedang pusaka Nogo Wilis telah dapat dirampasnya!

"Kembalikan pedangku!"

Candra Dewi berteriak marah.

"Ini bukan pedangmu dan akan kukembalikan kepada pemiliknya."

Jawab Maya Dewi tenang.

Candra Dewi marah dan penasaran akan tetapi ia juga merasa agak gentar.

Tadi sudah terbukti bahwa kini adik tirinya itu memiliki kesaktian yang amat hebat sehingga ia dengan dua macam senjata tidak mampu mengalahkan Maya Dewi yang bertangan kosong, bahkan kini pedangnya terampas.

Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga saktinya dan mendorongkan tangan kanannya ke arah Maya Dewi sambil membentak nyaring.

"Aji Bajradenta...!!"

Maya Dewi yang sudah siap menyambut serangan pukulan jarak jauh yang ampuh ini dengan dorongan tangan kirinya.

"Syuuuuuttt... desss...!!"

Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya tubuh Candra Dewi terjengkang dan roboh lalu ia bergulingan menjauh.

Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak dan muncullah seorang laki-laki berusia enam puluh tahun yang tubuhnya sedang dan mukanya pucat seperti mayat.

Begitu tiba dia langsung saja menyerang ke arah Maya Dewi dengan pukulan yang mendatangkan badai panas!

Bagus Sajiwo sudah waspada, maka dia mendahului Maya Dewi, berkelebat dekat dan menepiskan pukulan dahsyat itu dengan tangan kirinya.

"Blarrrr...!!"

Tubuh laki-laki muka mayat itupun terlempar ke belakang dan dia juga menggulingkan diri seperti yang dilakukan Candra Dewi tadi.

Dua belas orang laki-laki bermunculan dan mereka menyerang Bagus Sajiwo dan Maya Dewi dengan tembakan senapan dan pistol, Terdengar bunyi meledak-ledak ketika dari moncong senapan dan pistol itu mengeluarkan' asap dan belasan buah peluru menyambar ke arah mereka.

Maya Dewi cepat memutar pedang Nogo Wilis yang sudah berada di tangannya sehingga gulungan sinar hijau menyelimuti dirinya, Terdengar bunyi nyaring ketika peluru-peluru yang menyambar kepadanya tertangkis dan terpental oleh gulungan sinar hijau.

Adapun Bagus Sajiwo yang berdiri tenang menyambut peluru-peluru yang menyambar ke arah dirinya dengan kedua telapak tangannya.

Peluru-peluru itu juga runtuh ketika mengenai kedua telapak tangannya!

Melihat ini, para penyerang menjadi gentar bukan main dan mereka semua, termasuk Candra Dewi segera berlompatan melarikan diri!

Maya Dewi hendak mengejar, akan tetapi Bagus Sajiwo.

menangkap pergelangan lengan kirinya.

"Tidak perlu dikejar; Dewi."

"Akan tetapi diantara mereka itu ada penembak-penembak yang dulu menembaki, kita di muara Sungai Lorog sehingga pundakku terluka!"

"Akan tetapi serangan mereka dulu itu malah menguntungkan kita, bukan? Tanpa penyerangan itu, bagaimana mungkin kita dapat menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan kitab Sari Bantaia? Terkadang Gusti Allah memakai cara yang aneh untuk memberi kasih karunia dan berkatnya, Dewi." (Lanjut ke

Jilid 24) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 Maya Dewi menjadi lemas kembali. Ia melihat kebenaran ucapan Bagus Sajiwo yang memang sesuai dengan kenyataan. Lalu ia memandang ke arah kedua tangan Bagus Sajiwo.

"Aku belum berani menyambut serangan peiuru dengan tangan seperti yang kau lakukan tadi, Bagus."

"Aku yakin engkau juga mampu melakukannya, Dewi. Dengan tenaga sakti yang kau dapat melalui Jamur Dwipa Suddhi dan latihan Aji Sari Bantala, engkau juga dapat membuat tubuhmu kebal terhadap peluru. Engkau bersusah payah tadi untuk merampas pedang itu. Untuk apakah, Dewi?"

"Untuk apa? Bagaimana sih engkau ini? Pedang pusaka Nogo Wilis ini dahulu adalah milik Nyi Retno Susilo, ibu kandungmu dan aku mendengar bahwa akhirnya pedang ini menjadi milik seorang gadis pendekar yang gagah perkasa bernama Sulastri. Aku harus mengembalikan pedang ini kepada ibumu!"

Bagus Sajiwo mengangguk-angguk sambil tersenyum.

"Ibuku tentu akan senang sekali. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Gunung Kawi sudah tampak, itu yang menjulang disana."

Mereka lalu meninggalkan tempat itu dan pergi menuju gunung yang sudah tampak itu.

Sementara itu, Candra Dewi melarikan diri bersama laki-laki yang tadi membantunya bersama dua belas orang yang membawa senapan dan pistol.

Setelah melarikan diri cukup jauh dan tidak melihat lawan yang sakti mandraguna itu mengejar, mereka lalu berhenti.

Candra Dewi memandang laki-laki muka mayat itu.

"Paman Arya Bratadewa terima kasih atas bantuanmu."

Kata Candra Dewi. Ia mengenal Arya Bratadewa karena mereka berdua sama-sama tokoh Banten.

"Ah, sudah sepantasnya kalau kita saling membantu, Ni Candra Dewi. Akan tetapi, bukankah wanita tadi Maya Dewi adik tirimu? Bagaimana ia sekarang menjadi begitu sakti? Dan siapa pula pemuda yang luar biasa itu?"

"Benar, ia adalah adik tiriku Maya Dewi dan pemuda itu bernama Bagus Sajiwo. Mereka memang sakti mandra-guna karena merekalah yang agaknya telah menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan kitab rahasia yang dicari banyak orang itu. Selama kurang lebih tiga tahun mereka menghilang dan agaknya selama itu mereka telah mempelajari isi kitab rahasia dan menjadi sakti mandra-guna seperti sekarang."

"Ah, benarkah? Bukan main kalau begitu, pantas mereka demikian sakti mandraguna! Akan tetapi kalau engkau bermusuhan dengan mereka, Ni Candra Dewi, bergabunglah dengan kami. Dengan menyatukan tenaga, kita akan mampu membasmi mereka!"

"Hemm, Paman Arya, bagaimana engkau dapat berada disini? Engkau jauh-jauh meninggalkan Banten, apa yang kau lakukan disini dan siapa pula mereka yang membawa senjata api ini?"

"Mereka ini adalah para pembantuku dan kami adalah utusan Kumpeni Belanda yang telah menghadiri undangan Adipati Blambangan untuk mengadakan rapat pertemuan. Kami mengadakan persekutuan untuk menentang Mataram. Kalau engkau mau bergabung dengan kami dan menjadi kepercayaan Kumpeni Belanda, tentu engkau akan dapat membunuh musuh-musuhmu dan engkau pun akan menerima hadiah apa saja yang kau inginkan kelak. Kedudukan tinggi harta benda, semua dijanjikan oleh Kumpeni!"

Mereka bercakap-cakap dan Arya Bratadewa menceritakan tentang keadaan dalam rapat pertemuan di Kadipaten Blambangan itu dan hasil rapat pertemuan itu.

Dia membujuk Candra Dewi untuk menjadi seorang pembantu Kumpeni dan ia menjanjikan akan membantu Candra Dewi menangkap Bagus Sajiwo hidup-hidup karena wanita itu tetap menganggap Bagus Sajiwo sebagai suaminya Hanya ada dua pilihan baginya yaitu menjadikan pemuda itu suaminya dan kalau Bagus Sajiwo menolak dan tidak dapat dibujuk, pemuda itu harus mati ditangannya!

Akhirnya Candra Dewi terbujuk dan bersedia menjadi pembantu Kumpeni.

Ia lalu ikut dengan Arya Bratadewa meninggalkan tempat itu.

= ooOoo = "Braaaakkk...!!"

Daun pintu depan nimah Ki Tejomanik Jebol, mengeluarkan suara hiruk pikuk.

Ki Tejomanik dan isterinya Retno Susilo terkejut mendengar suara ini.

Ki tejomanik cepat mengambil Pecut Bajrakirana dan Retno Susilo mengambil pedangnya lalu keduanya berlari keluar.

Setelah tiba di luar, mereka melihat tiga orang berada di pekarangan dan mereka terkejut bukan main mengenal bahwa mereka itu adalah Bhagawan Kala-srenggi yang sudah tua renta bersama dua orang muridnya yang seperti raksasa, yaitu Kaladhama dan Kalajana.

Tiga orang ini pada tiga tahun yang lalu pernah bentrok dengan mereka nyaris celaka kalau saja tidak muncul Parmadi dan Muryani yang membantu mereka sehingga tiga orang itu dapat dikalahkan.

Dan sekarang, setelah lewat tiga tahun, mereka bertiga itu muncul di depan rumah.

Suami isteri itu menanti-nanti datangnya putera mereka, yang datang malah musuh yang amat tangguh dan berbahaya!

"Hemm, Bhagawan Kalasrenggi, apa perlunya Andika berkunjung secara tidak sopan seperti ini, merusak daun pintu rumah kami?"

Ki Tejomanik menegur. Biarpun maklum bahwa tiga orang itu merupakan lawan yang amat tangguh dan berbahaya, namun suami isteri pendekar ini sedikit pun tidak merasa gentar.

"Heh-heh-heh-hi-hik!"

Bhagawan Kalasrenggi terkekeh-kekeh seperti tawa seorang wanita, lalu berkata dengan suaranya yang tinggi kecil.

"Ki Tejomanik, tiga tahun yang lalu Andika berdua dapat lolos dari tangan kami. Akan tetapi hari ini kalian akan mati di tangan kami untuk menghadap roh Adi Menak Koncar dan kawan-kawan yang telah tewas di tangan kalian!"

Sekali ini Bhagawan Kalasrenggi merasa yakin bahwa dia dan dua orang muridnya pasti akan berhasil membunuh suami isteri yang dibencinya itu karena sebelumnya dua orang muridnya telah melakukan penyelidikan dan yakin bahwa suami isteri yang mereka hendak bunuh itu hanya berdua saja di rumah itu ' dan tidak ada orang-orang lain yang dapat membantu mereka.

"Heh, keparat pendeta palsu dukun lepus!"

Retno Susilo memaki marah teringat betapa dulu ia terpengaruh oleh aji pamelet yang dikerahkan kakek tua renta itu.

Sekarang dalam keadaan siap, ia tidak takut karena dengan tenaga saktinya ia dapat memperkuat batinnya dan menolak segala macam aji guna-guna dan sihir hitam yang mempergunakan kekuatan roh Jahat.

Ki Tejomanik.

juga menggerakkan pecutnya ke udara dan terdengar suara meledak-ledak dan pada saat ujung pecut melecut udara tampak asap mengepul menyusul bunyi ledakan-ledakan itu.

Lalu pendekar gagah perkasa itu berkata dengan suara tegas dan mantap.

"Bhagawan Kalasrenggi, kami tahu betapa sakti mandraguna Andika bertiga, akan tetapi Andika membela dua orang murid Andika yang melakukan kejahatan keji terhadap penduduk dusun dan kami berdua akan selalu menentang perbuatan jahat yang dilakukan oleh siapapun juga. Kami tidak takut menghadapi ancamanmu!"

"Heh-heh-heh, Tejomanik, engkau boleh bicara sombong sesukamu, ini adalah kata-katamu terakhir."

Lalu dia menoleh kepada dua orang muridnya yang sejak tadi sudah menyeringai lebar menyeramkan.

"Serang mereka!"

Sambil tertawa Kaladhama lalu mencabut golok gergajinya dan dia menerjang kearah Retno Susilo, sedangkan adiknya, Kalajana, menggunakan golok gergajinya menyerang Tejomanik.

Ketika Tejomanik menggerakkan pecutnya menyambut, Bhagawan Kalasrenggi menggerakkan tongkat kayu cendana dan maju membantu Kalajana.

Memang sebelumnya telah mereka atur.

Kaladhama yang akan menghadapi Retno Susilo yang sudah dia ketahui sampai dimana tingkat kepandaiannya dan dia merasa dapat mengungguli wanita itu, ada pun Tejomanik yang amat berbahaya dan tangguh dengan pecut Sakti Bajrakirana, dikeroyok oleh Kalajana dan Bhagawan Kalasrenggi sendiri!

Pembagian tugas ini memang telah mereka perhitungkan dan ternyata tepat sekali.

Retno Susilo memang merasa kewalahan menghadapi golok gergaji yang berat dan kuat ditangan Kaladhama itu, sedangkan Tejomanik juga tahu bahwa dua orang lawannya itu amat tangguh.

Andaikata Tejomanik harus menghadapi Kalajana seorang diri saja dia pasti akan mampu mengalahkannya, juga andaikata harus menghadapi Bhagawan Kalasrenggi seorang dia pun akan mampu menandingi walaupun kakek tua renta itu amat berbahaya dengan ilmu-ilmu sihirnya yang dia perdalam ketika dia berguru di Bali-dwipa.

Kini, Kalajana menggerakkan golok gergajinya dengan dahsyat, diperkuat oleh sambaran tongkat cendana di tangan Bhagawan Kalasrenggi.

Biarpun hanya tongkat biasa, namun karena digerakkan dengan dorongan tenaga sakti yang amat kuat ditambah pengaruh sihir yang menggiriskan, tongkat cendana itu seperti "hidup"

Dan menyambar-nyambar dengan amat cepat seperti kilat dan juga mendatangkan angin kuat yang membawa bau cendana yang amat tajam menyengat hidung dan membuat kepala menjadi pening.

'"Tar-tar-tar-tarrr...!"

Pecut Sakti Bajrakirana berubah menjadi gulungan sinar yang meledak-ledak dan bunga api berpercikan, namun ujung pecut itu hanya dapat dipergunakan oleh Tejomanik untuk melindungi dirinya saja, menangkis serbuan golok gergaji dari tongkat.

cendana!

Serangan Bhagawan Kalasrenggi dan Kalajana sedemikian gencar din dahsyat sehingga Tejomanik yang gagah perkasa dan sakti mandraguna itu kini hanya dapat mengandalkan pecut saktinya untuk membela diri dan menjaga agar tubuhnya tidak sampai terkena serangan dua orang lawannya.

Keadaan Retno Susilo tidak lebih baik dari suaminya.

Desakan Kaladhama yang menyerang sambil terbahak-bahak itu sedemikian kuatnya sehingga Retno Susilo terpaksa memutar pedangnya untuk menangkis golok gergaji itu.

Akan tetapi setelah puluhan kali terpaksa menangkis karena untuk mengelak tidak ada kesempatan lagi, ia mulai merasa betapa tangannya tergetar hebat setiap kali bertemu dengan golok gergaji yang berat itu.

"Hua-ha-ha! Manis, engkau masih cantik jelita. Menyerahlah untuk menjadi biniku dan aku akan mengampunimu, ha-ha-ha!"

Kaladhama mengejek.

"Jahanam busuk, mampuslah!"

Retno Susilo dengan nekat mengelak ke kiri lalu menerjang dengan tusukan pedangnya.

Hebat dan cepat sekali serangan balasan yang dilakukannya dengan tiba-tiba itu.

Akan tetapi Kaladhama memang tangguh dan dia sudah menguasai ilmu-ilmu yang cukup tinggi.

Dia menggerakkan goloknya menangkis dari samping.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan pedang Retno Susilo terpental, tangan wanita ini terguncang hebat.

Retno Susilo marah dan tangan kirinya lalu meluncur dengan aji pukulan Gelap Sewu.

Aji pukulan ini hebat bukan main, bagaikan kilat menyambar dan mengandung tenaga sakti yang, panas sekali.

Aji pukulan Gelap Sewu ini adalah ilmu yang diturunkan kepada Retno Susilo oleh gurunya, mendiang Nyi Dewi Rukmo Petak.

Hebat bukan main aji pukulan ini.

Jangankan sampai tangan yang mungil halus itu sampai menyentuh tubuh lawan, baru angin pukulannya saja cukup untuk merobohkan lawan yang tidak memiliki kesaktian tinggi.

Apa lagi saking marahnya, Retno Susilo sudah mengisi pukulan Aji Gelap Sewu itu dengan hawa dari Aji Wiso Sarpo yang mengandung hawa beracun sari dari bisa ilar!

Akan tetapi sekali ini lawannya adalah seorang tokoh sesat yang juga menguasai ilmu-ilmu sesat termasuk yang mengandung hawa beracun.

Dengan beraninya Kaladhama menyambut pukulan telapak tangan yang didorongkan itu dengan dorongan tangan sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

"Wuuutttt... dessss...!!"

Dua tenaga sakti bertabrakan dan tubuh Retno Susilo terpental kebelakang.

Kaladhama terbahak dan mengejar, akan tetapi biarpun kepalanya terasa pening dan dadanya sesak, wanita itu masih dapat memutar pedangnya melindungi diri sehingga Kaladhama belum dapat menangkap seperti yang dikehendaki raksasa muka-hitam itu.

Sambil tertawa-tawa Kaladhama menyerang dengan golok gergajinya dan Retno Susilo hanya dapat menangkis.

Makin lama ia terdesak semakin hebat dan hanya dapat mundur berputaran.

Sementara itu Tejomanik juga terdesak hebat.

Melihat betapa satria yang terdesak itu masih juga mampu membuat pertahanan yang amat kuat sehingga serangan dua orang pengeroyok itu tidak mampu menembus tirai sinar pecutnya, Bhagawan Kalasrenggi menjadi penasaran sekali.

Dia berkemak-kemik membaca mantera dan tiba-tiba tubuh dua orang pengeroyok itu diselubungi uap hitam sehingga tidak tampak oleh Ki Tejomanik.

Dari dalam bungkusan uap hitam ini, Bhagawan Kalasrenggi dan Kalajana menyerang sehingga Tejomanik menjadi semakin repot karena dia tidak dapat melihat dua orang pengeroyoknya sehingga dia tidak tahu dari mana datangnya serangan.

Tejomanik mengeluarkan pekik melengking disertai pengerahan tenaga sakti yang kuat.

Pekik melengking ini mendatangkan getaran kuat sekali dan tiba-tiba uap hitam itu membuyar dan lenyap!

Bhagawan Kalasrenggi mengerutkan alisnya.

Dia marah dan penasaran sekali melihat betapa ilmu sihirnya dapat dipunahkan oleh lengkingan pekik Tejomanik.

Dia lalu berkemak-kemik lagi dan menudingkan tongkat cendananya ke arah Tejomanik.

Tiba-tiba bola-bola api meluncur dari ujung tongkat bagaikan peluru-peluru meriam menyerang tubuh Tejomanik yang masih memutar pecut untuk menangkis serangan Kalajana.

Melihat datangnya serangan bola-bola api yang jumlahnya lima buah itu Ki Tejomanik lalu menghantamKan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka mehyambut bola-bola api itu sambil mengerahkan aji pukulan Bromokendali yang amat dahsyat.

Terdengar ledakan lima kali dan bola-bola api itu runtuh!

Bukan main marahnya Bhagawan Kalasrenggi.

Lawan yang sudah terdesak dan kepepet (tertekan) itu masih mampu memunahkan serangan ilmu-ilmu sihirnya!

Dia berkemak-kemik lagi dan keluarlah gerengan seperti suara setan sendiri dari kerongkongannya dan Tejomanik terkejut ketlka melihat betapa kakek tua renta itu kini berubah menjadi Leyak (Iblis di Bali).

Tinggi besar dengan mata melotot dan mencorong berapi, mulutnya lebar bertaring, lidahnya panjang seperti ular hidup, jarl-jari tangannya berkuku panjang, mengerikan sekali wujud itu.

Tejomanik kembali mendorong dengan Aji Bromokendali yang berhawa panas, namun sekali ini serangannya membalik ketika mengenai Iblis jadi-jadian itu!

Kerlngat dingin membasahi tubuh Tejomanik.

Lawan ini terlalu tangguh baginya, pikirnya dan dia membagi perhatiannya kepada keadaan isterinya.

Retno Susilo sudah terdesak hebat.

Kaladhama yang merasa penasaran juga melihat betapa wanita itu, dalam keadaan terdesak dan tidak mampu balas menyerang, masih mampu bertahan dan menangkis semua serangannya, tiba-tiba mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas dan golok gergajinya menyambar dahsyat sekali.

Agaknya karena penasaran, dia marah dan kini serangannya dilakukan dengan tenaga sepenuhnya karena dia hendak membunuh wanita yang tadinya hendak diringkus hidup-hidup itu.

Goloknya menyambar dahsyat ke arah leher Retno Susilo!

Retno Susilo cepat menangkis dengan pedangnya, pedang Nogo Wilis tiruan.

"Trakkkk...!"

Pedang di tangan Retno Wilis patah-patah dan ia terhuyung ke belakang!

Kaladhama menubruk dan hendak meringkusnya.

Retno Susilo menggunakan sisa pedang di tangannya untuk menikam, akan tetapi karena ia dalam keadaan terhuyung, serangannya tidak tepat dan tangan Kaladhama yang berbulu, besar dan kuat itu sudah menangkap pergelangan tangan Retno Susilo, mencengkeramnya sehingga terpaksa wanita itu melepaskan gagang pedang yang sudah patah itu.

Kaladhama memutar lengan Retno Susilo sehingga dengan mudah ia ditelikung dan kedua tangannya lalu diikat dibelakang tubuhnya.

Akan tetapi ketika Kaladhama sambil tertawa-tawa hendak menggerayangi tubuhnya, Retno Susilo menendang dengan kakinya ke arah perut raksasa itu!

Kaladhama mengelak, menangkap tumit kaki yang menendang dan sekali dorong tubuh Retno Susilo terjengkang dan roboh.

Pada saat itu, terdengar bunyi ledakan dan ujung pecut Bajrakirana menyambar ke arah Kaladhama yang hendak menubruk Retno Susilo yang sudah roboh.

Kaladhama terkejut dan cepat menghindarkan diri dengan lompatan kesamping.

Tadi Tejomanik melihat isterinya roboh maka dia cepat melindungi isterinya, melompat kebelakang meninggalkan dua orang pengeroyoknya dan menyerang Kaladhama sehingga Retno Susilo tidak jadi ditubruk oleh raksasa itu.

Akan tetapi Bhagawan Kalasrenggi dan Kalajana mengejar.

Bhagawan Kalasrenggi tetap masih menjadi wujud Leyak dan lengan yang panjang dengan jari tangan berkuku panjang itu kini meluncur ke arah leher Tejomanik.

Pendekar ini menggerakkan pecutnya menangkis.

"Tarrr...!"

Pecutnya membalik. Dia lalu mengerahkan tenaganya dan menggunakan Aji Bromokendali untuk menghantam ke arah tangan yang masih mengancamnya itu.

"Blarrrr...!"

Pertemuan dua tenaga itu sedemikian hebatnya sehingga wujud Leyak tadi pudar dan kembali menjadi Bhagawan Kalasrenggi yang mundur beberapa langkah.

Akan tetapi tubuh Tejomanik terpental dan roboh.

Ternyata dia masih kalah kuat dari lawannya, walaupun tidak banyak.

Tentu saja saat itu merupakan saat yang gawat bagi Tejomanik dan Retno Susilo, karena tiga orang lawannya itu kini sudah maju dan siap membunuh Tejomanik yang sudah rebah telentang walaupun tidak terluka parah.

TiBA-TIBA berkelebat dua bayangan orang dan tahu-tahu tiga orang yang haus darah itu berhadapan dengan Lindu Ayi dan Sulastri!

Seperti kita ketahui, suami isteri ini mendengar berita tentang Bagus Sajiwo dan mereka sengaja pergi ke Gunung Kawi untuk menyampaikah berita menggembirakan itu kepada Tejomanik dan Retno Susilo.

Kedatangan mereka tepat sekali sehingga mereka dapat melindungi Tejomanik dan Retno Susilo yang terancam bahaya maut!

Melihat munculnya Lindu Aji dan Sulastri, Tejomanik dan Retno Susilo menjadi girang sekali.

Tejomanik segera menghampiri isterinya dan melepaskan ikatan kedua tangannya.

Retno Susilo bangkit berdiri dalam keadaan tidak terluka.

Melihat pedang isterinya telah patah-patah, Tejomanik segera melepaskan kain pengikat kepalanya, itu adalah senjatanya yang kedua yang disebut Si-hung Nila dan.

isterinya pernah mempelajari cara menggunakan kain pengikat kepala yang panjangnya satu setengah depa ini sebagai senjata.

Dia memberikan senjata istimewa itu kepada isterinya.

Sementara itu Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya menjadi marah sekali.

Semula mereka terkejut karena mengira bahwa yang muncul itu Parmadi si Seruling Gading dan Muryani, akan tetapi ketika melihat Lindu Aji dan Sulastri yang tidak mereka kenal, mereka menjadi lega dan memandang ringan.

"Heh, sepasang orang muda! Jangan coba-coba mencampuri urusan Bhagawan Kalasrenggi. Pergilah kalian berdua kalau tidak ingin mati ditangan kami!"

Teriak kakek tua renta itu dengan suaranya yang tinggi.

Sebelum Lindu Aji menjawab, Sulastri yang tadinya merasa betapa ucapan kakek itu amat mempengaruhinya sehingga hampir saja ia menggerakkan kaki pergi, akan tetapi setelah ia berpegang kepada lengan suaminya, pengaruh itu lenyap, membentak dengan marah.

"Heh, tua bangka budak iblis! Engkaulah yang sudah mau mati, jangan menggunakan kekuatan iblis busuk untuk mempengaruhi kami! Kami tidak takut padamu, biar ada seratus orang macam engkau ini boleh maju semua, kami tidak akan mundur!"

Mendengar ucapan dan melihat sikap galak wanita itu, Dhagawan Kalasrenggi marah bukan main.

Dia mendengus seperti seekor kerbau gila dan matanya menjadi merah.

Dia pun tahu bahwa kekuatan sihirnya yang tadi dipergunakan untuk mengusir suami isteri muda itu telah gagal.

"Keparat!"

Dia memaki dan tongkat kayu cendana di tangannya sudah terbang seperti ular hidup ke arah Sulastri. Wanita ini sudah mencabut pedang dan menangkis.

"Tranggg...!"

Tongkat itu tertangkis akan tetapi Sulastri terhuyung kebelakang.

"Mundurlah!"

Kata Lindu Aji dan dia pun melompat ke depan Bhagawan Kalasrenggi yang sudah memegang tongkatnya yang kembali ke tangannya.

Melihat pemuda ini maju menghampirinya dengan tangan kosong, Bhagawan Kalasrenggi lalu menyerangnya dengan tongkat cendananya.

Biarpun gerakannya lambat dari tampak lemah tenaganya, namun tongkat kayu cendana itu menyambar dahsyat, membawa angin dan bau yang menyengat hidung.

Lindu Aji menyambutnya dengan tangan kosong dan dengan Aji Bayu Sakti, tubuhnya berkelebatan ringan sekali.

Dia menghadapi serangan kakek itu dengan ilmu silat Wanara Sakti.

Gerakannya seperti Sang Hanoman yang lincah bukan main.

Tak pernah dapat tersentuh tongkat lawan.

Sementara itu, melihat kakek sakti mandraguna itu kini dilawan Lindu Aji dan dia yakin akan kesaktian pemuda ini, Tejomanik lalu memutar Pecut Sakti Bajrakirana menyerang Kalajana yang tadi mengeroyoknya.

"Tar-tar-tarrr...!"

Bunga api berpijar dari ujung pecut dan Kalajana sudah sibuk memutar golok gergajinya untuk melawan dengan hati merasa jerih. Sulastri menghampiri Retno Susilo.

"Bibi, mari kita hajar buto (raksasa) Galiuk muka hitam ini. Aku ingin sekali membuntungi dua buah telinganya yang seperti telinga kelelawar itu!"

Katanya sambil memandang ke arah sepasang telinga raksasa muka hitam itu.

"Baik, Lastri. Akupun ingin meremukkan batang hidungnya yang besar dan belang itu!"

Kata Retno Susilo yang wataknya juga amat keras dan suka bergurau di waktu mudanya.

Tentu saja ia hendak mengatakan bahwa raksasa itu adalah seorang hidung belang yang pantas dihajar!

Kaladhama menjadi makin hitam kulit mukanya karena marah mendengar dua orang wanita itu berkelakar dengan kata-kata yang menghina dan memandang rendah kepadanya.

"Kalian mampus di tanganku!"

Bentaknya dan kini dia benar-benar hendak membunuh dua orang wanita itu, betapa pun cantik menariknya mereka karena dia melihat pihaknya kini terancam.

Bagaikan seekor singa kelaparan dia menubruk dan menerjang dua orang wanita itu dengan golok gergajinya.

Akan tetapi Retno Susilo dan Sulastri dengan mudah menghindar, lalu mereka mengeroyok Kaladhama dari kanan kiri.

Gurauan mereka tadi bukan sekedar anCaman gertak sambal, melainkan kini gulungan sinar pedang Sulastri terus-menerus menyambar ke arah kedua telinganya, dan gulungan sinar kebiruan dari kain ikat kepala berwarna biru itu benar-benar selalu menyambar kearah hidungnya!

Serangan dua orang wanita itu membuat Kaladhama benar-benar terkejut.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa wanita muda yang baru muncul itu ternyata juga merupakan seorang wanita yang sakti mandraguna dan gerakan pedang itu ganas bukan main.

Tingkat kepandaian Kaladhama memang sedikit lebih tinggi dibandingkan tingkat Retno Susilo, akan tetapi setelah kini Sulastri membantu dan Kaladhama dikeroyok, sebentar saja raksasa itu menjadi repot sekali.

Dia terdesak hebat dan hanya mampu menggerakkan goloknya untuk menangkis sinar pedang dan sinar kain ikat kepala.

"Sing...!"

Sinar pedang untuk kesekian kalinya menyambar dahsyat kearah telinga kirinya. Kaladhama menggerakkan goloknya menangkis.

"Tranggg...!"

Dia terkejut sekali melihat ujung goloknya patah sedikit disambar pedang lawan.

Karena kaget, dia tidak mampu menghindar ketika sinar biru menyambar kearah mukanya.

Dia hanya dapat miringkan mukanya namun tetap saja sinar biru itu menyerempet ujung hidungnya.

"Prattt...!"

Darah mengucur dan ujung bukit hidung besar itu remuk! Kaladhama mengeluarkan teriakan dan pada saat itu, sinar pedang menyambar.

"Crettt...!"

Daun telinga kiri Kaladhama terbabat putus! "Aduhhh...!"

Raksasa muka hitam itu melompat kebelakang dan memutar golok melindungi dirinya.

Darah menetes-netes dari telinga kiri dan batang hidungnya.

Sementara itu, Kalajana juga sudah terdesak hebat dan dua kali pundak dan hidungnya disengat ujung pecut Bajrakirana sehingga baju berikut kulit dagingnya tersayat, berdarah dan terasa perih panas.

Dia juga hanya mampu melindungi dirinya dengan putaran goloknya.

Bhagawan Kalasrenggi meraSa penasaran bukan.

main.

Segala ajian dan ilmu sihirnya telah dia keluarkan untuk merobohkan Lindu Aji, namun semua usahanya sia-sia belaka karena semua sihirnya dapat dipunahkan oleh orang muda itu.

Ketika melihat betapa dua orang muridnya terluka, dia mengeluarkan pekik tinggi dan tampaklah asap hitam mengepul memenuhi udara disitu.

Lindu Aji cepat menggunakan kedua tangan untuk mendorong asap itu, sedangkan Sulastri, Retno Susilo, dan Tejomanik berlompatan kebelakang, khawatir kalau-kalau asap hitam itu beracun.

Tiga orang lawan mereka kini sudah tidak tampak, tertutup asap hitam.

Tiba-tiba asap hitam yang mulai memudar itu kini meluncur kearah Lindu Aji.

Tentu saja dia terkejut dan cepat menyambut dengan dorongan kedua tangan dengan tenaga Sakti Surya Candra.

"Wuuuuttt... blaarrr...!"

Tubuh Lindu Aji terguncang keras akan tetapi dia tidak roboh, hanya terpaksa melangkah mundur tiga kali karena pertemuan tenaga itu membuat dia terdorong amat kuatnya.

Asap hitam menghilang dan tampaklah kini pihak musuh.

Bhagawan Kalasrenggi masih berdiri dengan tongkat cendana di tangan, terkekeh girang.

Kalajana berdiri dengan muka pucat dan wajahnya menyeringai menahan rasa nyeri di pundak dan punggungnya yang terpatuk ujung pecut Bajrakirana.

Kaladhama berdiri disampingnya, juga menyeringai menahan rasa nyeri karena ujung hidungnya penyok dan daun telinga kirinya buntung.

Agaknya dia sudah menggunakan obat bubuk putih ditaburkan ditempat luka sehingga kini tidak mengucurkan darah lagi.

Dan ternyata, ketika asap hitam mengepul tebal tadi, di pihak musuh telah muncul tiga orang yang tidak ketahuan kedatangan mereka.

Lindu Aji memandang.

kepada laki-laki yang berdiri menghadapinya.

Dia menduga bahwa tentu orang ini yang tadi menyerangnya, mendorong asap hitam ke arahnya karena dari tempat orang itu berdiri asap itu tadi menyambar.

Dia memandang penuh perhatian karena maklum bahwa orang ini memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga tenaga Surya Candra yang dia kerahkan masih kalah kuat.

Laki-laki itu seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh empat tahun.

Wajahnya tampan dan gagah.

Melihat pakaian dan ikat kepalanya, mudah diduga bahwa tentu pemuda itu seorang ber-suku Bali dan melihat pakaiannya yang mewah, dapat diduga bahwa dia seorang hartawan.

Tampan dan gagah, namun pandang mata dan senyumnya membayangkan kesombongan.

Pemuda itu bukan lain adalah Tejakasmala, pemuda dari Bali yang menjadi utusan Raja Klungkung bersama Cakrasakti dan Candrabaya, dua orang Senopati Klungkung yang diperbantukan kepada Tejakasmala.

Seperti telah diatur dalam rencana persekutuan di Blambangan, kalau Bhagawan Kalasrenggi dan juga dua orang muridnya bertugas membunuh Ki Tejomanik dan isterinya, maka Tejakasmala dan dua orang pembantunya itu ditugaskannya untuk membunuh Parmadi yang berjuluk Seruling Gading dan isterinya, Muryani.

Tejakasmala dan dua orang senopati Klungkung berangkat ke Pasuruan, tempat tinggal suami isteri yang akan dibunuhnya.

Akan tetapi ternyata rumah itu kosong dan dia mendapat keterangan bahwa Parmadi dan Muryani tidak berada dirumah, sedang melakukan perjalanan entah kemana.

Para tetangga yang ditanyai tidak ada yang tahu kemana suami isteri itu pergi.

Karena tidak berhasil menemukan suami isteri yang harus dibunuhnya, Tejakasmala lalu mengajak dua orang pembantunya pergi ke Gunung Kawi, untuk melihat bagaimana pelaksanaan tugas Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang anak muridnya membunuh Ki Tejomanik dan istrinya.

Demikianlah, kedatangan Tejakasmala tepat sekali pada saat Bhaigawan Ki Kalasrenggi dan dua orang muridnya terdesak hebat.

Kakek itu mengeluarkan awan hitam dan hendak melarikan diri, akan tetapi pada saat itu muncul Tejakasmala dan dua orang pembantunya sehingga dia tidak jadi melarikan diri karena ia tahu bahwa pemuda dari Bali itu boleh diandalkan.

Maka Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya tidak jadi melarikan diri.

Lindu Aji melihat betapa dua orang yang lain juga mengenakan pakaian seperti bangsawan dari Bali-dwipa.

Melihat keakraban sikap Bhagawan Kalasrengi dan dua orang muridnya dengan tiga orang Bali itu, dia menduga bahwa mereka itu pasti ada hubungan.

Sementara itu.

Ki Tejomanik juga memperhatikan tiga orang yang baru muncul dan dengan pecut Brajakirana yang sudah tergulung ditangan kanan dia melangkah dan berdiri disamping Lindu Aji menghadapi Tejakasmala yang memandang dengan bibir tersenyum mengejek dan sinar mata memandang rendah.

"Kami melihat bahwa Andika bertiga adalah orang-orang yang datang dari Bali-dwipa. Apakah yang menjadi keperluan Andika datang ke rumah kami dan siapakah Andika?"

Tanya Tejomanik.

"Anakmas Tejakasmala, orang muda dan isterinya itu yang membantu Tejomanik sehingga kami gagal!"

Kata Bhagakala dan Kalasrenggi kepada Tejakasmala.

Pemuda ini tersenyum memandang kepada Ki Tejomanik, lalu kepada Lindu Aji dan kepada Retno Susilo dan Sulastri yang berdiri dibelakang suami mereka.

Lalu dia memandang kepada Ki Tejomanik dan melihat pecut tergulung di tangan satria ini, dia lalu menjawab pertanyaan tadi.

"Kalau aku tidak salah duga, Andika tentu Ki Tejomanik yang terkenal sebagai pembela Mataram dan pecut ditangan Andika itu agaknya yang disebut Pecut Sakti Bajrakirana."

"Benar, orang muda."

Jawab Ki Tejomanik tegas.

"Dan siapakah Andika?"

"Namaku Tejakasmala dan dua orang ini adalah Cakrasakti dan Candrabaya yang menemani aku. Kedatanganku ini untuk membantu Paman Bhagawan Kalasrenggi untuk membunuh engkau dan isterimu, Ki Tejomanik!"

Pemuda itu berkata dengan sikap sombong sekali, seolah apa yang diucapkan itu pasti akan terjadi. Retno Susilo tak dapat menahan lagi kesabarannya. Ia lalu berkata dengan nada keras dan marah.

"Bocah sombong! Engkau dan kawan-kawanmu yang berjumlah enam orang hendak mengeroyok kami? Bagus, kiranya engkau seorang pemuda Bali yang lagaknya saja sombong, akan tetapi ternyata hanya seorang pengecut yang beraninya mengandalkan keroyokan dengan jumlah banyak!"

Mendengar ucapan ini, Tejakasmala hanya memperlebar senyumnya. Dia adalah seorang pemuda gemblengan yang tidak mudah dibakar perasaannya, tetap tenang dan waspada.

"Ha, Andika tenti isteri Ki Tejomanik yang bernama Retno Susili! Hemm, biarpun Andika pantas menjadi bibiku, namun harus kuakui bahwa Andika masih tampak muda dan cantik jelita! Retno Susilo dan Andika sekalian, aku Tejakasmala sama sekali bukan seorang sombong yang pengecut. Untuk mengalahkan kalian kami tidak perlu melakukan pengeroyokan! Dengarlah tantanganku. Aku menantang siapa saja diantara kalian untuk menandingi aku! Dan kalau Andika sekalian berani disebut pengecut, kalian bahkan boleh maju bersama mengeroyok aku seorang!"

Bukan main sombongnya tantangan itu! Tejakasmala menantang agar dia seorang diri dikeroyok dua pasang suami isteri itu.

"Keparat sombong! Biar aku yang melawannya!"

Teriak Sulastri marah."

Akan tetapi Lindu Aji yang sudah tahu bahwa pemuda di depannya itu bukan sekedar membual dan menyombongkan diri, segera mencegahnya.

"Mundurlah, Diajeng."

Katanya dan Sulastri tidak jadi melangkah maju.

"Biarkan aku saja yang menghajar bocah sombong bermulut lancang ini!"

Bentak Retno Susilo.

"Mundurlah, biar aku saja yang menandinginya!"

Kata Ki Tejomanik mencegah isterinya.

"Ha-ha-ha,"

Daripada berebut lebih baik kalian berempat maju semua, agar lebih mudah bagiku untuk membasmi kalian!"

Kata Tejakasmala yang tidak membawa senjata. Lindu Aji berkata kepada Ki Tejomanik.

"Paman, biarkan saya yang maju melawan Tejakasmala ini, kami sama-sama muda."

Ki Tejomanik yang juga dapat menduga bahwa Tejakasmala tentu seorang yang tangguh sekali, mengangguk dan mundur.

"Berhati-hatilah, Anakmas."

Kini Tejakasmala memandang kepada Lindu Aji penuh perhatian.

"Hemm, engkau yang bosan hidup mewakili mereka maju seorang diri melawan aku? Katakan dulu siapa namamu agar engkau tidak mati tanpa nama."

"Tejakasmala, namaku Lindu Aji."

Tejakasmala yang tinggal di Bali-Dwipa pernah mendengar nama ini. Akan tetapi Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya terkejut mendengar nama ini. Mereka sudah mendengar ketenaran nama Lindu Aji.

"Anakmas Tejakasmala, dia itu senopati Mataram yang terkenal."

Bisik Bhagawan Kalasrenggi kepada rekannya.

Akan, tetapi Tejakasmala adalah seorang yang jumawa, percaya akan kesaktian sendiri hingga selalu memandang rendah orang lain.

Dia memandang wajah Lindu Aji dengan sinar mata mencorong, lalu berkata.

"Hemm, bagus sekali! Kalau engkau senopati Mataram, lebih kuat alasanku untuk membunuhmu lebih dulu. Bersiaplah engkau untuk menerima kematianmu!"

"Aku sudah siap melayanimu, Tejakumala!"

Kata Lindu Aji dan dia pun telah mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya dan waspada karena maklum akan kesaktian lawan.

"Sambut ajiku Bayutantra, hyaaaaa-aahh!"

Tejakasmala mengangkat dua tangannya ke atas dengan dua telapak tangan menghadap ke atas, kemudian kedua tangan itu turun dan dihadapkan ke arah Lindu Aji.

"Sirrrrrr... wuuuussss...!"

Dari kedua tangan Tejakasmala itu keluar angin yang amat kuat, menerpa ke arah Lindu Aji.

Bahkan angin itu membawa getaran yang dahsyat sehingga terasa pula oleh Ki Tejomanik, Retno Susilo, dan Sulastri walaupun mereka itu tidak diserang langsung dan hanya keserempet saja.

Ki Tejomanik cepat duduk bersila, diturut oleh Retno Susilo dan Sulastri, mengerahkan kekuatan batin dan tenaga sakti mereka untuk melindungi diri karena merasa betapa jantung mereka berdebar keras!

Lindu Aji tentu saja yang paling hebat merasakan karena dialah yang menjadi sasaran serangan angin dahsyat itu.

Lindu Aji dengan tenang lalu bersedekap dan mengerahkan Aji Tirta Bantala sehingga pada saat itu, dia laksana air atau tanah.

Angin itu menyambar, mendorong dengan kekuatan dahsyat, bahkan lalu berputar seperti angin lesus (beliung), angin berputar yang kalau mengamuk di pedusunan mampu mencabut sebuah rumah dan membawanya membubung ke atas!

Akan tetapi, Lindu Aji bersikap bagaikan tanah diserang angin.

Sedikit pun tidak bergeming walaupun dia merasa betapa hebatnya serangan itu sehingga hampir saja pertahanannya jebol.

Tejakasmala hampir tidak dapat mempercaya apa yang dilihatnya.

Pemuda bernama Lindu Aji itu mampu menahan serangan Aji Bayutantra yang biasanya tidak pernah gagal mengalahkan seorang musuhnya.

Dia merasa penasaran bukan main dan setelah menghentikan Aji Bayutantra sehingga angin itu lenyap ketika dia menurunkan kedua tangannya, dia mengerahkan ajiannya yang lain.

"Lindu Aji, jangan bangga karena engkau mampu menahan serangan pertamaku tadi. Sekarang lawanlah ini, Sang Nagakala."

Tejakasmala mengembangkan kedua tangannya dan muncullah uap putih bergumpal-gumpal di atas kepalanya dan uap putih itu perlahan-lahan berubah menjadi bentuk seekor naga!

Naga itu kini menerkam ke arah Lindu Aji.

Serangan ke dua ini pun merupakan serangan ilmu sihir yang merupakan keahlian Tejakasmala, disamping aji kedigdayaan tubuhnya yang sudah digembleng dengan aji kanuragan tingkat tinggi.

Melihat serangan ini, Lindu Aji merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua kakinya, yang kanan di depan dan yang kiri dibelakang, lalu dia mendorong dengan kedua telapak tangannya kearah naga yang hendak menerkamnya.

"Wuuuuttt... wesss...!"

Bayangan naga terdorong mundur ketika bertemu dengan dorongan kedua tangan Aji. Beberapa kali naga itu mencoba untuk menerjang lagi, namun setiap kali terdorong mundur oleh dorongan kedua tangan Aji.

"Haiiiiiiittt...!"

Ketika naga itu masih mencoba menyerang, Lindu Aji mengeluarkan pekik melengking ini dan mengerahkan seluruh tenaga sakti Surya Candra.

"Wuuuuttt... blarrrr...!"

Bentuk naga itu terpental kebelakang dan lenyap, berubah menjadi gumpalan uap yang melayang kembali ke arah kedua telapak tangan Tejakasmala.

Akan tetapi diam-diam Lindu Aji terkejut karena ketika tenaga saktinya menghantam naga jadi-jadian itu, dia merasa seluruh tubuhnya tergetar sehingga dia maklum bahwa lawannya itu benar-benar tangguh bukan main!

Padahal tadi dia telah mengerahkan seluruh tenaganya!

Gumpalan uap berbentuk naga itu tidak ambyar atau sirna, melainkan melayang kembali kearah kedua telapak tangan Tejakasmala.

Ini membuktikan bahwa tidak mustahil pemuda itu memiliki tenaga sakti yang lebih kuat daripada tenaganya sendiri!

Sementara itu, Tejakasmala semakin penasaran!

Selama turun gunung meninggalkan gurunya, belum pernah dia bertemu tanding setangguh ini!

Dua ajiannya yang ampuh telah gagal mengalahkan Lindu Aji.

Padahal, biasanya Aji Bayu-tantra, apalagi Aji Nagakala, dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya yang terkenal sakti mandraguna.

Kini, kedua ilmunya itu sama sekali tidak mampu mengalahkan lawan, apalagi merobohkan dan menewaskannya!

Saking penasaran, dia nenjadi marah sekali dan begitu dia marah, seluruh tubuhnya bergerak menggigil dan terdengar bunyi tulang-tulangnya berkerotokan!

Pemuda yang tampan itu kini menjadi menakutkan, memiliki wibawa yang membuat orang merasa ngeri!

Matanya seperti mencorong dan tubuhnya seolah menjadi semakin besar, rambutnya berdiri dan dari tenggorokannya keluar suara menggereng yang menggetarkan bumi!

Inilah Prabawasinga yang mendatangkan wibawa seolah seekor singa yang menakutkan semua musuhnya!

"Lindu Aji sekaranglah saatnya engkau akan mampus ditanganku.

Aauuurrr-ggghhhh...!"

Tiba-tiba Tejakasmala mengeluarkan suara gerengan yang dahsyat bukan main.

Bahkan Ki Tejomanik, Retno Susilo, dan Sulastri sendiri, tiga orang yang sakti mandraguna dan yang sudah duduk berslla itu, tergetar dan terguncang tubuhnya dengan jantung seperti dilanda getaran yang dahsyat.

Mereka bertiga mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka untuk menahan diri agar jangan sampai menderita luka dalam.

Lindu Aji yang langsung menerima serangan suara sakti itu tentu saja dilanda kekuatan yang paling dahsyat.

Dia terkejut dan maklum bahwa kalau dia melawan ajian lain yang mengandalkan kekuatan tenaga sakti, dia tidak akan kuat bertahan.

Aji kesaktian yang dipergunakan Tejakasmala itu adalah kekuatan dari Iblis yang amat hebat dan kiranya tidak mungkin dapat dilawan dengan kekerasan pula.

Dia akan kalah kalau dia menggunakan kekerasan melawannya.

Maka dia pun lalu berdiam diri, menyerahkan diri seutuhnya kepada kekuasaan Gusti Allah seperti yang dahulu diajarkan kepadanya oleh mendiang Resi Tejo-budi.

Inilah yang disebut sarinya aji sikap Tirta Bantala.

Dirinya seolah berubah memiliki sifat air atau tanah.

Terasa olehnya getaran dan guncangan dahsyat itu melandanya, namun hanya guncangan saja yang diakibatkan serangan Aji Singabairawa yang dipergunakan Tejakasmala itu.

Getaran atau guncangan dahsyat itu melanda dan lewat tanpa melukainya, hanya mengguncangkannya, akan tetapi karena tidak ada kekuatan kasar darinya, maka dia tidak terluka atau terbanting roboh.

Hampir Tejakasmala tidak percaya akan apa yang dihadapinya.

Juga teman-temannya memandang dengan takjub.

Mereka yang berdiri dibelakang Teja-kasmala, tidak terlanda semua serangan tadi.

Namun mereka dapat merasakan hebatnya serangan-serangan yang dilancarkan Tejakasmala kepada Lindu Aji.

Namun ternyata Lindu Aji dapat menahan diri dan belum juga dapat dirobohkan!

Bagaimanapun juga, Tejakasmala bermata jeli dan dia melihat bahwa biar pun dapat menahan serangan-serangannya, namun Lindu Aji tampak berkeringat, wajahnya agak pucat dan pernapasannya memburu.

Hal ini menandakan bahwa lawannya itu terpengaruh juga dan kekuatan batinnya berkurang sebagai akibat menahan gempuran-gempurannya.

"Bagus! Makin tangguh engkau, semakin puas hatiku dapat akhirnya membunuhmu, Lindu Aji!"

Bentaknya dan kini dia membuat gerakan mencakar-cakar dengan kedua tangan menyilang seperti seekor kucing mencakar-cakar.

Semua orang melihat dan terbelalak betapa tangan pemuda tampan itu kini membara merah sekali dan mengeluarkan asap.

Demikian hebat panas yang keluar dari kedua telapak tangan itu sehingga terasa oleh semua orang yang berada disitu!

"Ha-ha, Lindu Aji.

Perlihatkan ketangkasanmu dan sambutlah Aji Condro-mowo ini!"

Kata Tejakasmala setelah tertawa dan dia mulai membuat gerakan silat seekor kucing atau harimau yang hendak menyerang lawannya.

Lindu Aji waspada dan berhati-hati sekali karena dia maklum bahwa Sekali ini dia berhadapan dengan seorang pemuda yang benar-benar sakti mandraguna dan tangguh sekali.

Dia pun cepat mengerahkan Aji Bayu Sakti untuk kecepatannya, Aji Surya Candra untuk mengisi tenaganya, dan bersilat dengan ilmu silat Wanara Sakti.

Begitu Tejakasmala menerkam seperti seekor harimau dengan kedua tangannya yang membara dan panas itu membentuk cakar, Aji cepat mengelak.

Dari samping dia pun membalas dengan tamparan tangannya ke arah lambung lawan.

Ini bukan sembarang tamparan karena mengandalkan tenaga sakti yang hebat, yang mampu menghancurkan batu karang.

"Plakk!"

Lengan Tejakasmala menangkis lengan Lindu Aji dan akibatnya, Lindu Aji terhuyung ke belakang, sedangkan Tejakasmala hanya mundur dua langkah.

Ini saja sudah membuktikan bahwa pemuda Bali itu benar-benar memiliki tenaga yang lebih kuat.

Dia terkekeh lalu menyerang lagi dengan gencar.

Gerakannya cepat, trengginas, dan kuat.

Kedua cakar membara itu seolah menjadi banyak sekali, bertubi-tubi menyerang ke arah Lindu Aji.

Hawa panas menerpa, tubuh dan muka Aji sehingga dia mulai terdesak hebat.

Melihat lawannya terdesak namun dengan gesitnya dapat selalu mengelak, Tejakasmala tidak sabar lagi.

Lindu Aji memang menyeling ilmu silat Wanara Sakti dengan ilmu silat gubahannya sendiri dari gerakan ular dan burung alap-alap sehingga tubuhnya dapat bergerak amat cepatnya, apalagi dia menggunakan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya ringan seperti angin.

Melihat ini Tejakasmala tiba-tiba menekuk kedua lututnya dan dengan mengeluarkan suara menggereng seperti singa tadi, dia menyerang dengan dorongan kedua tangannya ke arah Lindu Aji.

Angin dahsyat menyambar, membawa sinar merah dari api membara menyergap Lindu Aji.

Pendekar ini mengerahkan tenaga dan menyambut denfean dorongan kedua tangannya.

"Aauuurrgghhhhh...!!"

"Hyaaaatttt...! Blaarrrr"!"

Tubuh Lindu Aji terpental dan terbanting roboh telentang.

Sulastri menubruknya dan terdengar Tejakasmala tertawa bergelak.

Akan tetapi, ketika dia hendak mengirim pukulan terakhir yang akan dapat membunuh Lindu Aji dan Sulastri, tiba-tiba terdengar cambuk meledak dan Ki Tejomanik sudah menyerangnya dengan sambaran Pecut Bajrakirana!

Pecut ini adalah sebuah senjata yang amat ampuh dan Tejakasmala agaknya tahu benar akan hal itu, Maka dia pun tidak berani menyambut dan dengan menggulingkan tubuhnya dia mengelak lalu kedua tangannya mendorong selagi tubuhnya bergulingan ke arah Tejomanik.

Satria gagah ini mencoba bertahan, namun dia pun terpental dan terbanting roboh.

Retno Susilo cepat menubruk suaminya dan memeriksa keadaannya.

"Ha-ha-ha-ha! Sekarang, kalian ber-empat, dua pasang suami isteri pembela Mataram, akan tewas di tangan Tejakasmala! Sambutlah......aauurrrggghhhh...!"

Kedua tangan yang merah membara itu mendorong ke arah empat orang yang kebetulan berada ditempat yang saling berdekatan.

Lindu Aji dan Tejomanik sedang dalam keadaan tidak siap karena benturan tenaga tadi mengguncangkan tubuh mereka.

Dan dua orang wanita itu pun sedang berjongkok dan menolong suami masing-masing, maka serangan itu dahsyat sekali dan mengancam keselamatan nyawa empat orang itu.

"Syuuuuutttt... wessss...!!"

Dua sosok bayangan berkelebat seperti kilat menyambar dan dorongan tangan yang membara dari Tejakasmala itu bertemu dengan hawa pukulan yang menyambutnya dari depan.

Tejakasmala terkejut, bukan main sampai melompat ke belakang ketika ia merasa betapa hawa yang amat dingin menyambut pukulannya yang panas sehingga dia merasa betapa tangannya yang panas seperti api bertemu air dingin!

Semua orang memandang dan disitu sudah berdiri seorang wanita cantik dan seorang pemuda tampan.

Ki Tejomanik, Retno Susilo, Lindu Aji, dan Sulastri berempat memandang dengan mata terbelalak ketika mereka mengenal bahwa wanita cantik itu adalah Maya Dewi!

Masih tetap cantik jelita, akan tetapi kini pakaiannya tidak mewah seperti dulu, tidak lagi pesolek, melainkan berpakaian sederhana dan mukanya tidak berbalut bedak!

Ki Tejomanik dan Retno Susilo memandang dengan mata terbelalak penuh keraguan kepada pemuda yang berdiri dekat Maya Dewi.

Mereka sudah mendengar kabar bahwa putera mereka, Bagus Sajiwo, kini tampak bersama-sama Maya Dewi.

Apakah pemuda tinggi tegap ini putera mereka?

Mereka kehilangan Bagus Sajiwo ketika anak itu berusia enam tahun.

Kini mereka, menghadapi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun.

Tentu saja mereka meragu.

Besar perbedaan antara anak berusia enam tahun dan pemuda berusia dua puluh tahun!

(Lanjut ke

Jilid 25) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25 Maya Dewi, yang jantungnya berdebar tegang melihat Ki Tejomanik dan Retno Susilo, apalagi melihat Lindu Aji dan Sulastri yang pernah menjadi musuh besarnya, sengaja menghadapi enam orang yang memusuhi Ki Tejomanik itu.

Ia tersenyum mengejek memandang kepada Tejakasmala, Candrabaya dan Cakra-sakti, ketiganya dari Bali, lalu kepada Bhagawan Kalasrenggi, Kaladhama dan Kalajana.

Enam orang, tiga dari Bali dan tiga dari Blambangan ini memang merupakan tokoh-tokoh baru yang baru saja datang dari Bali dan Bhagawan Kalasrenggi beserta dua orang muridnya juga baru satu dua tahun pindah ke Blambangan dari Bali, maka melihat mereka berenam, Maya Dewi sama sekali tidak mengenal mereka.

Sebaliknya enam orang itu pun tidak mengenal wanita cantik yang dulunya merupakan datuk sesat yang dikenal semua tokoh dunia petualangan.

Maya Dewi dianggap seorang Iblis Betina yang kejam, curang, bahkan pernah merendahkan diri menjadi antek dan telik sandi Kumpeni Belanda yang tangguh dan dipercaya.

Melihat betapa tadi Tejakasmala yang tampan itu nyaris membunuh Ki Tejomanik dan Lindu Aji bersama isteri mereka, Maya Dewi tersenyum lebar dan tertawa mengejek.

Biarpun ia kini bagaikan seekor singa betina kelaparan berubah menjadi seekor domba yang lembut, namun tetap saja wataknya yang lincah masih kadang muncul, walaupun kini kelincahannya tidak melanggar kesopanan.

Ia sudah dapat membedakan dan mengerti benar mana yang sopan dan tidak sopan, mana yang bersusila dan tidak, terutama sekali mana yang baik dan jahat.

"He-he melihat pakaian kalian, aku berani memastikan bahwa kalian ini tentu orang-orang dari Bali dan yang tiga itu pakaiannya seperti bangsawan Blambangan. Apa yang mendorong kalian berkeliaran sampai kesini dan mencoba membunuh orang-orang gagah perkasa, para satria pembela Mataram? Sudah pasti kalian ini antek-antek Kadipaten Blambangan yang kudengar kini sedang bersiap-siap menentang Mataram. Hi-hik, lucunya. Orang-orang macam kalian mana mungkin dapat mengalahkan para satria? Melawan aku seorang pun kalian berenam takkan mampu menang! Apalagi itu badut yang hidung dan sebelah telinganya buntung! Hiiih, buruk sekali! Hayo kalian cepat pergi dari sini atau terpaksa aku akan membuntungi hidung kalian semua, baru tahu rasa!"

Empat orang pendekar pembela Mataram itu bengong melihat aksi dan mendengar ucapan Maya Dewi.

Hampir mereka tidak dapat percaya kepada pendengaran, mereka sendiri dan dalam keadaan biasa mereka tentu mengira Maya Dewi hanya berlagak dan sesungguhnya wanita itu berpihak kepada musuh.

Akan tetapi mereka teringat akan cerita Ki Sumali bahwa Maya Dewi juga membela Ki Sumali.

Akan tetapi Ki Tejomanik dan Retno Susilo tetap memandang kepada Bagus Sajiwo dengan mata tak pernah berkedip.

Melihat Maya Dewi menghadapi dan mengejek enam orang itu, Bagus Sajiwo tidak perduli.

Dia percaya akan kemampuan Maya Dewi.

Dia juga sejak tadi memandang kepada Ki Tejomanik dan Retno Susilo.

Hanya keteguhan batinnya saja yang membuat pemuda ini tidak digoyahkan oleh keharuan yang amat sangat.

Dengan tenang dia maju melangkah menghampiri suami isteri itu, lalu menjatuhkan dirinya berlutut menyembah kepada ayah ibunya dan berkata, suaranya agak gemetar karena dia menahan keharuan.

"Ayah dan Ibu, ampunkan anakmu Bagus Sajiwo yang baru sekarang pulang"

"Bagus...!"

Retno Susilo menjerit.

"Bagus Sajiwo...!"

Ki Tejomanik jugd berseru.

Kini mereka tidak ragu lagi dan Retno Susilo sudah menubruk dan merangkul puteranya sambil menangis tersedu-sedu.

Ki Tejomanik juga menepuk-nepuk pundak puteranya dengan hati ber-bunga-bunga.

Suami isteri ini merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Akan tetapi Ki Tejomanik.

menyadari keadaan lalu berkata kepada puteranya!

"Bagus Sajiwo, nanti saja kita rayakan pertemuan yang membahagiakan ini.

Sekarang waspadalah karena kita menghadapi lawan yang amat tangguh dan berbahaya!"

Retno Susilo juga menyadari keadaan, maka ia melepaskan rangkulannya.

Bagus Sajiwo bangkit berdiri dan mereka semua memandang ke arah Maya Dewi yang masih memperolok-olok Tejakasmala dan kawan-kawannya.

Tantangan Maya Dewi tadi membuat telinga Tejakasmala menjadi merah.

Akan tetapi dia juga merasa kagum kepada wanita yang amat cantik itu.

Dia maklum bahwa wanita itu bukanlah seorang gadis yang masih hijau.

Biarpun tampak masih muda namun jelas bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang sudah matang, cerdik, sakti dan berbahaya.

"Hemm, wanita cantik bermulut tajam dan bernyali harimau, siapakah Andika? Mengaku Siapa Andika agar aku dapat mempertimbangkan apakah Andika juga layak dibunuh atau tidak!"

Kata Tejakasmala.

Maya Dewi tersenyum manis sekali.

Tadi, ia melihat betapa pemuda tampan ini telah mengalahkan Lindu Aji!

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa pemuda itu memang sakti mandraguna dan merupakan lawan yang amat tangguh sekali.

Ia pun ingin sekali mengetahui siapa orang masih begini muda tiba-tiba muncul sebagai orang yang amat sakti ini.

Sengaja ia memancing kemarahan orang dengan kata-kata yang meremehkan.

"Eh, engkau ini cucuku berani bersikap tidak tahu aturan kepada Nenekmu? Orang muda harus memperkenalkan diri lebih dulu!"

Wajah Tejakasmala menjadi merah. Wanita ini benar-benar berlidah tajam.

"Baik, aku Tejakasmala, murid utama Sang Bhagawan Ekabrata dari Gunung Agung di Bali-dwipa! Nah, mengakulah engkau, siapa namamu berani menantang kami!"

Diam-diam Maya Dewi terkejut.

Tentu saja ia sudah mendengar akan nama besar Sang Bhagawan Ekabrata, pertapa di Gunung Agung, Bali-dwipa itu.

Nama besarnya sudah tersohor sampai ke Banten!

Akan tetapi ia sengaja tersenyum seperti memandang ringan.

"Ah, ruranya murid Bhagawan Ekabrata dari Gunung Agung? Ketahuilah, Tejakasmala, aku Maya Dewi..."

"Babo-babo!"

Tiba-tiba Candrabaya, senopati Klungkung yang berusia tiga puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah bopeng itu berseru.

"Aku pernah mendengar nama Maya Dewi! Bukankah Andika yang dijuluki Iblis Cantik dari Banten itu?"

Maya Dewi tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih berkilat.

"Dahulu memang benar, akan tetapi sekarang aku berjuluk Dewi Pembunuh Iblis macam engkau ini!"

"Bojleng-bojleng Iblis Laknat!"

Candrabaya memaki.

"Aku mendengar bahwa Maya Dewi musuh bebuyutan Mataram! Akan tetapi sekarang malah mcmbantu orang-orang Mataram, keparat! Engkau pengkhianat!"

"Heh, muka buruk yang buruk! Aku mau begini begitu, apa pedulimu? Kalau engkau, berani, majulah, biar kukirim ke akhirat. menjadi intip neraka kau!"

"Raden Tejakasmala, serahkan perempuan ini kepada kami, akan kujuwing-juwing (cabik-cabik) tubuhnya, kuhancur-lumetkan kepalanya!"

Candrabaya berteriak dan Candrasakti, rekannya yang juga senopati dari Kerajaan Klungkung sudah bergerak mendampinginya menghadapi Maya Dewi!

Tejakasmala lebih memperhatikan Bagus Sajiwo yang tadi telah menangkis serangan mautnya yang dia tujukan kepada Ki Tejomanik dan Lindu Aji beserta isteri mereka.

Dia tahu bahwa pemuda yang baru datang ini yang kemudian melihat adegan singkat tadi dia ketahui bahwa dia adalah putera Ki Tejomanik, merupakan seorang lawan yang tangguh, bahkan lebih tangguh dibandingkan Ki Tejomanik atau Lindu Aji!

Maka, dia tidak begitu memperdulikan Maya Dewi dan ketika Candrabaya dan Cakrasakti berdua menghadapi Maya Dewi, dia hanya mengangguk saja untuk menjawab ucapan Candrabaya tadi.

Pandang matanya masih terus ditujukan kepada Bagus Sajiwo yang kini sudah berdiri di depan kedua orang tuanya, menghadapinya.

Sementara Itu, Maya Dewi yang sudah menghadapi dua orang senopati Klungkung itu, mengejek.

"Hai, kalian berdua orang-orang jelek dari Bali. Katakan dulu siapa kalian agar kelak aku dapat mengabarkan kepada keluarga kalian bahwa kalian sudah mampus hari ini!"

"Maya Dewi, perempuan keparat!"

Bentak Candrabaya marah.

"Kami Candrabaya dan Cakrasakti, dua orang senopati Kerajaan Klungkung, hari ini akan menamatkan riwayatmu. Haaiilihhh!!". Candrabaya sudah menerjang maju, tangan kanannya yang panjang dan besar itu menyambar dalam bentuk cakar ke arah dada Maya Dewi! . Melihat sambaran tangan. itu, Maya Dewi maklum bahwa kepandaian orang ini tak perlu dikhawatirkan, Sebelum ia bertemu Bagus Sajiwo dan memperoleh tambahan tenaga sakti karena makan Jamur Dwipa Suddhi dan berlatih AJI Sari Bantala, tingkat kepandaian Candrabaya ini masih tidak akan mampu menandinginya. Apalagi sekarang. Dengan amat mudahnya is mengelak. Hanya sedikit saja menggeser kaki miringkan tubuh, cengkeraman tangan Candrabaya hanya mengenai tempat kosong. Pada saat itu Cakrasakti berseru nyaring sambil menghantam dengan kepaian tangannya yang panjang kurus.

"Ciaaaattt...!!"

Kepalan tangan yang hanya merupakan tulang terbungkus kulit itu menyambar cukup hebat, mendatangkan.

angin bersiut.

Namun, sambil tersenyum Maya Dewi mengelak lagi.

Dua orapg senopati itu menjadi penasaran sekali.

Serangan pertama mereka dielakkan demikian mudahnya oleh Maya Dewi dan gerakan wenita itu ketika mengelak mengejek sekali, seperti orang merem saja, seperti seorang dewasa mempermainkan dua orang anak nakal!

Mereka menyerang lebih hebat lagi, dan dengan gencar.

Bertubi-tubi mereka menyerang, dari kanan kiri, dari depan, belakang, menggunakan segala macam pukulan dan tendangan.

Semua orang yang menonton menjadi kagum.

Maya Dewi masih tersenyum-senyum, terkadang tertawa mengejek.

"Luput! Wah luput lagi!. ih, gerakan kalian seperti siput lambatnya den pukulan kalian seperti gudir (agar-agar) lunaknya!"

Ia mengejek dan tubuhnya bagaikan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan diantara sambaran, tangan dan kaki kedua orang yang menyerangnya.

Mendapat ejekan seperti, itu, Candrabaya dan Cakrasakti menjadi marah bukan main.

Seolah terbakar hati mereka, kemarahan membuat mata mereka menjadi merah dan napas mereka panas, rambut serasa berdiri dan mereka menerjang dan menubruk seperti gila.

Maya Dewi sengaja mempermainkan mereka sambii mentertawakan dengan maksud agar orang-orang yang memusuhi orang tua Bagus Sajiwo ini menjadi buah tertawaan dan mendapatkan penghinaan.

Dengan tenaga sakti dahsyat yang mengaiir dalam tubuhnya, ia dapat bergerak sedemikian cepatnya sehingga dua orang itu sama sekali tidak mampu menyentuh ujung bajunya, apalagi melukainya.

Setelah merasa cukup mempermainkan mereka, tiba-tiba bayangan Maya Dewi meluncur ke atas dan tiba2 ketika tubuhnya berada diatas, kakinya bergerak mencuat dua kali.

"Crot! Crot!"

Bayangan Maya Dewi meluncur turun kembali dan ia berdiri sambil bertolak pinggang melihat dua orang itu terhuyung dan memegangi pipi mereka yang bengkak dan bibir mereka yang pecah berdarah terkena tendangan tadi!

Tejakasmala terkejut bukan main!

Wanita itu sungguh tak boleh dipandang ringan, pikirnya.

Gerakan-gerakannya menunjukkan bahwa Maya Dewi seorang yang sakti mandraguna dan dapat bergerak sedemikian ringan dan gesitnya seperti seekor burung srikatan saja!

Dia hendak mencegah dua orang senopati yang mengikutnya itu, akan tetapi terlambat.

Tenaga sakti dan Candrabaya menjadi demikian marahnya sehingga mereka melupakan rasa nyeri pada pipi mereka yang membuat kepala terasa nyut-nyutan dan mereka sudah mencabut sebatang keris yang panjang dan besar menyeramkan.

Kemudian, tanpa banyak kata lagi, bahkan hampir tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking marahnya, mereka mengeluarkan gerengan seperti dua ekor biruang marah, lalu menerjang ke arah Maya Dewi dengan ganas.

"Eiit-eiiit. kalian main-main dengan pisau pencokel kelapa itu, ya?"

Kata Maya Dewi dan dengan lincahnya ia mengelak dari tusukan-tusukan dua batang keris yang menyambar dahsyat itu.

Kembali ia menggunakan keringanan tubuhnya untuk menghindarkan semua serangan keris dengan elakan-elakan.

"Dewi, tidak baik mempermainkan orang!"

Tiba-tiba terdengar Bagus Sajiwo berkata, suarnnya lembut seperti membujuk.

Ki Tejomanik dan Lindu Aji beserta isteri mereka sejak tadi menonton dengan kagum betapa Maya Dewi mempermainkan dua orang senopati Bali yang sebetulnya telah memiliki tingkat kedigdayaan yang cukup tinggi itu.

Terutama sekali Lindu Aji dan Sulastri.

Mereka berdua memang mengetahui bahwa Maya Dewi adalah seorang yang sakti, akan tetapi tak pernah mereka membayangkan sehebat itu kepandaian Maya Dewi.

Dan yang lebih mengherankan mereka berempat, Maya Dewi benar-benar menentang mereka yang jelas memusuhi Mataram.

Maya Dewi membela Mataram!

Hal ini benar-benar merupakan sesuatu yang amat mengherankan hati mereka.

Rasanya mustahil kalau mengingat akan sepak terjang Maya Dewi dahulu, beberapa tahun yang lalu.

Padahal Lindu Aji dan Sulastri maklum benar bahWa wanita itu adalah seorang antek Kumpeni Belanda yang setia kepada Belanda!

Kini, setelah mendengar suara Bagus Sajiwo tadi, terjadi hal yang lebih mengherankan mereka lagi.

Begitu mendengar kata-kata lembut itu, Maya Dewi berkata.

"Maaf, Bagus!"

Dan tiba-tiba ia berseru.

"Robohlah kaliah berdua!"

Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan tiba2 saja dua orang Senopati Rali itu roboh terkena tamparan tangan kiri Maya Dewi dan hebatnya, keris mereka sudah pindah ke dalam tangan kanan Maya Dewi!

Dua orang itu terpelanting roboh dan mereka memegangi kepala yang terasa seperti disambar petir!

Dengan senyum rnanis Maya Dewi menghampiri mereka dengan dua bilah keris di kedua tangannya.

Setelah dekat ia bergerak hendak menghunjamkan keris kepada pemiliknya masing-masing.

"Dewi, jangan bunuh orang!"

Kembali terdengar suara Bagus Sajiwo.

Seruan ini menghentikan gerakan kedua tangan Maya Dewi dan sebagai gantinya, dua kali kakinya menendang dan tubuh dua orang senopati itu terlempar ke arah Tejakasmala!

Pemuda itu menjulurkan tangan dan menangkap tubuh dua orang pembantunya sehingga mereka tidak menabraknya dan tidak terbanting.

Maya Dewi tersenyum dan ia menyatukan kedua batang keris itu ke dalam kedua tangan, meremasnya dan terdengar bunyi krek-krek dan dua batang keris itu telah patah-patah.

Ia melemparkan patahan' keris itu ke depan dan potongan baja itu melayang ke arah Tejakasmala!

Tejakasmala mengebutkan tangannya dan beberapa potong baja itu runtuh dan menancap ke atas tanah!

Pemuda Bali ini marah bukan main.

Wanita itu terlalu menghinanya!

Dua orang pembantunya telah dikalahkun secara mutlak dan bukan hanya sampai disitu saja penghinaannya, melainkan keris mereka yang bagi senopati Klungkung merupakan pusaka yang dihormati, dipatah-patahkan dan patahannya dilemparkan kepadanya!

Sementara itu, Bhagawan Kalasrenggi dan kedua orang muridnya yang raksasa, yaitu Kaladhama dan Kalajana, merasa kecewa sekali melihat sepak-terjang dua orang senopati Klungkung itu.

Mereka bertiga dapat menilai bahwa tingkat kepandaian dua orang senopati itu masih lebih rendah daripada tingkat mereka, sehingga menjadi permainan Maya Dewi.

Terutama sekali Bhagawan Kalasrenggi merasa penasaran sekali.

Dia sendiri merasa dapat mengalahkan Maya Dewi, akan tetapi karena dia tadi sudah dikalahkan Lindu Aji, maka dia merasa gentar untuk menantang lagi dan menyerahkan kepada Tejakasmala untuk membersihkan nama dan muka mereka.

Harapan mereka kini hanya pada Tejakasmala yang mereka tahu merupakan orang yang sakti mandraguna dan tadi sudah dibuktikan dengan mengalahkan Ki Tejomanik dan Lindu Aji beserta isteri mereka.

Biarpun semua kawannya sudah kalah, namun Tejakasmala tidak merasa gentar atau kecil hati.

Dia terlalu percaya kepada diri sendiri.

Ketika dia berhasil menyampok sambitan potongan keris dari Maya Dewi, sambil tersenyum dia bersenyum dia berkata.

"Aku sudah menyambut seranganmu. sekarang sambutlah ini!"

Setelah berkata demikian, tangan kirinya mendorong ke depan, ke arah Maya Dewi.

Ada uap hitam menyambar dari telapak tangan itu, meluncur ke arah Maya Dewi dan mengeluarkan suara mencicit.

Melihat serangan ini, Maya Dewi tidak berani memandang ringan.

ia mengenal aji kesaktian yang ampuh dan berbahaya, maka ia pun mendorongkan kedua tangan untuk menolak serangan jarak jauh tangan kiri Tejakasmala itu.

"Syuuuuuttt... wusssss!!"

Tubuh Maya Dewi seperti sebuah bola karet ditendang, terpental kebelakang sampai sekitar sepuluh tombak jauhnya!

Akan tetapi ia turun ke atas tanah dengan ringan dan berdiri tegak sambil tersenyum.

Ini menunjukkan bahwa biarpun ia kalah kuat, namun ia sama sekali tidak terluka dan tadi ia menggunakan keringanan tubuhnya sehingga tubuh itu terdorong jauh kebelakang tanpa terluka sedikit pun.

Melihat ini diam-diam Tejakasmala merasa terkejut juga.

Bagus Sajiwo maklum bahwa Tejakasmala itu tangguh sekali.

Dia khawatir kalau Maya Dewi nekat melawan lagi karena hal itu depat membahayakan keselamatan Maya Dewi.

Maka dia berkata sambil menengok kebelakang, memandang wanita itu.

"Dewi, biar aku yang menghadapi Kisanak ini!"

Dia lalu melangkah maju dan berdiri berhadapan dengan Tejakasmala dalam jarak kurang lebih tiga tombak.

Dua orang pemuda yang sama-sama bertubuh tegap dan berwajah tampan itu saling pandang tanpa berkedip, tanpa bergerak sedikit pun seolah telah menjadi patung.

Wajah Bagus Sajiwo tenang seperti permukaan air telaga yang dalam, sedikit pun tidak membayangkan perasaan hatinya, wajah yang cerah dengan mata lembut penuh pengertian, tenang dan menanti apa yang akan terjadi tanpa prasangka, tanpa kecurigaan.

Adapun wajah Tejakasmala yang juga tampan itu tampak dipengaruhi gelombang perasaannya yang marah.

Sepasang matanya mencorong dan bibirnya tersenyum mengejek, membayangkan ketinggian hatinya.

Biarpun keduanya tampak diam saja, namun seoiah mereka itu dengan kediaman mereka saling menguji, saling menilai kekuatan lawan.

Akhirnya dalam adu kesabaran ini, agaknya Tejakasmala tidak begitu tahan uji dibandingkan Bagus Sajiwo.

Dia mulai tidak sabar dan gelisah, seolah-olah gerak-gerik Cakil menghadapi Arjuna.

"Hei, bocah bosan hidup! Agaknya engkau ini putera Ki Tejomanik. Siapakah namamu?"

Pertanyaan ini diajukan dengan nada suara memandang rendah, tentu dengan maksud untuk membikin gentar hati lawan.

Apalagi dalam suaranya terkandung kekuatan sihir yang dapat mempengaruhi perasaan lawan sehingga menimbulkan perasaan gentar.

Namun dengan sikap tenang Bagus Sajiwo menjawab, suaranya lembut, sedikit pun tidak mengandung kemarahan atau kebencian.

"Benar sekali, Kisanak. Aku adalah putera Ayahanda Ki Tejomanik. Namaku Bagus Sajiwo."

"Hemm, ketahuilah, Bagus Sajiwo. Aku adalah Raden Tejakasmala, keturunan Raja Kerajaan Gel-gel. Aku adalah murid utama dari Sang Bhagawan Ekabrata di Gunung Agung, Bali-dwipa! Bagus Sajiwo besar sekali nyalimu, berani menentang aku?"

Tejakasmala menceritakan semua itu tentu untuk membuat lawannya gentar.

Siapa yang tidak mendengar akan kebesaran nama Raja Gel-gel di Bali dan nama Sang Bhagawan Ekabrata di Gunung Agung Bali?

Akan tetapi sekali ini dia kecelik.

Bagus Sajiwo sama sekali belum pernah mendengar nama Raja Gel-gel maupun Sang Bhagawan Ekabrata, maka tentu saja mendengar nama-nama besar itu baginya tidak ada bedanya, dengan kalau dia mendengar nama Suto atau Kromo sehingga jangankan gentar, heran pun tidak ada dalam perasaannya.

"Tejakasmala, aku. sama sekali tidak bermaksud untuk menentang Andika. atau siapa pun juga. Akan tetapi, kalau Andika hendak membunuh orang-orang yang tidak bersalah, apalagi membunuh orang tuaku, tentu saja aku akan menghalangi perbuatanmu yang jahat itu. Untuk membela mereka, aku tidak akan mundur setapak pun, Tejakasmala!" .

"Babo-babo, sumbarmu seperti engkau dapat meruntuhkan gunung membendung lautan! Kau kira hanya engkau sendiri yang memiliki kesaktian? Bagus Sajiwo, bersiaplah, sekali ini engkau akan bertemu lawan yang akan mengalahkan semua ajianmu. Sebelum engkau menggeletak tanpa nyawa, hayo katakan lebih dulu siapa gurumu agar aku tahu murid siapa yang sekali ini kurobohkan."

Bagus Sajiwo sampai lama tidak menjawab karena dia merasa bingung ditanya siapa gurunya.

Dia tidak ingin menyebut nama Ki Ageng Mahendra karena dia tidak mau mem-bawa2 nama gurunya dalam permusuhan dengan Tejasmala.

Gurunya itu dahulu telah sering menasihati agar dia tidak bermusuhan dengan siapa pun juga, lebih baik mengalah dan mengambil jalan damai sedapat mungkin.

"Angger,"

Suara mendiang Ki Ageng Mahendra masih terngiang di dalam telinganya.

"ngalah (mengalah) itu ngelmu ne Allah (ilmunya Allah). Maka orang yang berani mengalah itu dhuwur wekas ane (akhirnya ditinggikan)."

"Berani, Eyang?"

Ketika itu dia bertanya.

Mengapa mengalah saja membutuhkan keberanian?

"Tentu saja, Angger.

Tersinggung dan marah itu dapat dilakukan oleh siapa pun juga, akan tetapi mengalah dengan sabar membutuhkan keberanian yang tinggi.

Mengalah bukan berarti kalah, dan orang yang sabar itu kekasih Gusti Allah.

Benar tanpa menyalahkan orang lain, menang tanpa mengalahkan orang lain."

Baca Juga: Bu Kek Siansu 21

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert