Eps 6 Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo
Baca online Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo
Cersil Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo.
Lindu Aji juga berseru girang. Mereka lalu keluar dari pendapa dan lari menyambut mereka yang datang.
"Sulastri...!"
"Neneng...!"
Dua orang gadis itu saling berangkulan dan Neneng Salmah menangis.
"Lastri..., maafkan aku..."
Ia berbisik diantara tangisnya. Sulastri mencium pipi Neneng Salmah yang basah air mata.
"Neneng, hentikan tangismu dan keringkan mukamu. Nanti engkau tampak jelek kalau matamu membengkak dan merah. Tidak ada yang perlu dimaafkan!"
Sementara itu, Jatmika dan Lindu Aji juga saling berpegang tangan dan menepuk pundak.
"Adi Lindu Aji, aku bersalah padamu, maafkan aku."
Lindu Aji tersenyum.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kakang Jatmika. Jatuh cinta bukan kesalahan, bahkan membahagiakan kalau datangnya dari kedua pihak, seperti... hemm, seperti andika dan Neneng..."
Wajah Jatmika berubah kemerahan dan dia memandang Lindu Aji dengan mata heran.
"Eh? Bagaimana engkau dapat tahu... eh... menduga begitu?"
Lindu Aji tertawa.
"Ha-ha! Neneng Salmah itu adik angkatku, ingat? Tentu saja aku mengenalnya dengan baik dan melihat wajah dan pandang matanya, aku tahu bahwa ia sedang jatuh cinta dan...kepadamu, kakang!"
"Hemm, bisa saja kau!"
Jatmika juga tertawa.
"Hei, apa yang kalian tawakan itu? Menertawakan kami, ya?"
Sulastri menegur sambil menggandeng tangan Neneng menghampiri dua orang pemuda itu.
Neneng Salmah melepaskan tangan Sulastri dan ia menghampiri Lindu Aji, berdiri memandang pemuda itu dengan sikap bimbang dan salah tingkah.
"Heeii! Neneng, kutahu engkau hendak mengatakan sesuatu. Nah, katakanlah, adikku yang manis!"
Kata Lindu Aji dengan wajah gembira dan suara wajar. Kewajaran sikap Lindu Aji banyak menolong Neneng Salmah. Akan tetapi tetap saja ia tergagap ketika bicara.
"Kakang Aji..., engkau... sudah berbaik kembali dengan Sulastri...?"
Lindu Aji tersenyum dan mengangguk, wajahnya berseri dan senyumnya menyakinkan.
Seakan terangkatlah beban berat yang menghimpit hati Neneng Salmah.
Kedua matanya basah dan dua tetes air mata turun ke pipinya, akan tetapi mulutnya tersenyum.
"Ohh... Kang Aji, aku girang sekali... girang sekali...!"
Ia merangkul pinggang Lindu Aji dan pemuda itu merangkul lehernya. Neneng Salmah menangis di dada Lindu Aji. Lindu Aji menepuk-nepuk pundak Neneng.
"Sudah, jangan menangis, Neneng. Lihat, Kakang Jatmika turut menangis melihat engkau menangis!"
Mendengar ini, Neneng Salmah cepat mengangkat mukanya dari dada Lindu Aji, membalikkan tubuh dan melihat ke arah Jatmika.
Lindu Aji dan Sulastri tertawa geli.
Jatmika tersenyum dan dalam hatinya dia merasa kagum kepada Lindu Aji dan Sulastri.
Mereka adalah dua orang yang sungguh baik budi, pikirnya.
Cinta mereka murni siap untuk berkorban demi kebahagiaan orang lain.
Begitu penuh pengertian.
Sungguh pantas dijadikan sedulur sinarawedi (saudara sejati).
Neneng Salmah mengusap pipinya yang basah dan iapun ikut tertawa geli melihat Lindu Aji dan Sulastri tertawa.
Hatinya berbahagia sekali, lenyap semua ganjalan dan kegelisahan.
Sulastri merangkulnya.
"Mari, Neneng, kita menghadap ayah dan ibu."
Lalu digandengnya sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri itu memasuki rumah.
"Mari, Kakang Jatmika."
Kata Lindu Aji dan dua orang pemuda itupun mengikuti dua orang gadis itu memasuki rumah.
Ki Subali dan Nyi Subali menerima kedatangan Jatmika dan Neneng Salmah dengan gembira.
Akan tetapi ketika mendengar bahwa Ki Salmun tewas terbunuh Tumenggung Jayasiran, Ki Subali dan Nyi Subali terkejut sekali.
Nyi Subali segera merangkul Neneng Salmah dan Sulastri bangkit dari duduknya dengan tangan terkepal.
"Jahanam Tumenggung Jayasiran itu! Aku harus menghajarnya!"
"Kukira hal itu tidak perlu lagi,"
Kata Jatmika.
"karena dia telah tewas ketika terjadi pertempuran antara pasukan Mataram dan Pasukan Sumedang."
Ki Subali menghela napas panjang.
"Ah, siapa kira dia telah tewas. Pada hal baru saja kami bertemu di Sumedang ketika aku mendalang dan dia memimpin para penabuh gamelan dan Neneng yang menjadi waranggana. Setelah wayangan itu usai, aku terus pulang kesini, jadi tidak tahu bahwa malapetaka menimpa Ki Salmun dan Neneng."
"Kang Jatmika yang menolong saya, paman."
Kata Neneng Salmah dan ia menceritakan pengalamannya dan Jatmika.
Ketika ia menceritakan tentang pengalamannya menyamar sebagai Jaka Salman, kemudian ditawan Muntari dan hendak dipaksa menjadi suami gadis puteri kepala bajak dan perampok Sungai Cimanuk, meledaklah suara tawa yang mendengarkan.
Sulastri terkekeh-kekeh, bahkan ibunya terpingkal-pingkal sampai keluar air mata!
"Ha-ha-ha, untung yang tergila-gila padamu seorang perempuan, Neneng.
Coba dia seorang laki-laki, tentu Kakang Jatmika menjadi panas dingin!"
Ucapan Lindu Aji ini kembali memancing tawa dan diam-diam Neneng Salmah merasa heran mengapa jalan pikiran Lindu Aji sama benar dengan jalan pikiran Jatmika yang dulu juga berkata demikian kepadanya.
Setelah Neneng Salmah berhenti bercerita, Ki Subali lalu berkata.
"Cukuplah semua cerita yang lucu-lucu ini. Sekarang kita bicara tentang hal yang serius. Anakmas Jatmika, setelah kini Ki Salmun meninggal dunia, berarti Neneng tidak mempunyai keluarga lain. Sejak dulu kami berdua sudah menganggap Neneng Salmah sebagai anak sendiri, oleh karena itu, kini yang mengurus perjodohan Neneng adalah tanggung jawab kami. Jadi kalau andika hendak mengajukan pinangan atas diri Neneng Salmah, pinangan itu harus ditujukan kepada kami sebagai orang tua angkatnya."
Neneng Salmah merasa terharu, hanya dapat merangkul Nyi Subali yang sudah dianggap ibu sendiri sejak ia bersama ayahnya dulu tinggal mondok di rumah itu.
Jatmika yang mendengar ucapan Ki Subali itu, sejenak tertunduk dan wajahnya membayangkan kemuraman.
Hatinya risau dan sejenak dia tidak mampu bicara.
Lindu Aji yang mengetahui bahwa Jatmika juga seorang yatim piatu yang sebatang kara, segera membantunya.
"Bapa dan ibu,"
Kini dia menyebut Ki Subali dan isterinya bapa dan ibu?
"agar diketahui bahwa Kakang Jatmika juga seperti Neneng, yatim piatu dan tidak mempunyai sanak kadang sama sekali.
Saudaranya adalah saya dan Sulastri yang masih terhitung saudara seperguruan."
Ki Subali dan isterinya saling pandang, kemudian Ki Subali memandang wajah Jatmika yang menunduk itu dan bertanya.
"Benarkah itu, Anakmas Jatmika?"
"Apa yang dikatakan Adi Lindu Aji benar, paman. Saya adalah seorang yatim piatu yang miskin dan papa, sesungguhnya saya merasa sungkan dan malu untuk meminang Neneng, karena saya... tidak pantas..."
"Wah, Kakang Jatmika! Kenapa engkau berpendapat sepicik itu? Saudaraku Neneng ini seorang wanita utama, cinta-kasihnya sama sekali tidak memandang harta atau kedudukan!"
Kata Sulastri agak ketus karena ia marah melihat Neneng Salmah menangis ketika mendengar ucapan Jatmika tadi.
"Sudahlah...!"
Kata Ki Subali.
"Anak-mas Jatmika hanya berkata demikian karena dia rendah hati. Kami semua percaya bahwa kalau Anakmas Jatmika mau mencari harta dan kedudukan, sudah lama ia mendapatkannya karena diapun berjuang keras dan berjasa terhadap Mataram. Kalau dia mau, Gusti Sultan Agung pasti akan memberi anugerah kedudukan dan harta."
Mendengar omelan Sulastri tadi, Jatmika memandang kepada Neneng Salmah dan melihat gadis itu menangis, dia segera menyadari bahwa ucapannya tadi, tanpa disengaja telah mendatangkan kesedihan di hati kekasihnya.
"Neneng, maafkan aku... bukan... bukan maksudku untuk menyakiti hatimu... ah, maafkan aku..."
Neneng Salmah menghampiri Jatmika lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu.
"Akang Jatmika... jangan merendahkan diri seperti itu... akang, akupun seorang yang tak berharga... akulah yang tidak pantas untuk menjadi isteri seorang satria sepertimu..."
"Neneng...!"
Jatmika merangkul gadis itu dan mengangkatnya berdiri.
Neneng Salmah menangis di dada Jatmika.
Sulastri menyentuh tangan Lindu Aji yang menoleh kepadanya, keduanya saling berpandangan dan tersenyum bahagia.
Lindu Aji memberi isarat dengan matanya dan Sulastri maklum, lalu ia menghampiri Neneng Salmah dan merangkul Neneng, diajaknya duduk kembali.
Lindu Aji juga memegang tangan Jatmika dan diajaknya duduk menghadapi meja.
"Neneng, engkau tidak boleh merendahkan diri seperti itu! Akang Jatmika memang seorang pemuda pilihan, akan tetapi engkau pun seorang gadis pilihan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah diantara kalian! Kalau kalian saling mencinta seharusnya berdiri sama tinggi dan dyduk sama rendah!"
Kata Sulastri.
"Kakang Jatmika, mengapa engkau merendahkan diri seperti tadi? Kalau engkau merasa rendah diri, bagaimana engkau akan dapat menjadi kepala rumah tanggamu? Engkau harus berdiri tegak dan siap mendayung biduk rumah tanggamu bersama Neneng Salmah, harus berani bertanggung-jawab sebagai seorang suami dan kelak sebagai seorang ayah! Benar kata Sulastri tadi, dua orang yang saling mencinta dan bersepakat untuk hidup sebagai suami isteri, haruslah hidup bahu-membahu, bekerja sama, senasib sependeritaan, ringan sama dijinjing berat sama dipikul, senang sama dinikmati susah sama ditanggung. Bukankah begitu, bapa dan ibu?"
Kata Lindu Aji. Ki Subali dan isterinya saling pandang dan tertawa.
"Heh-heh, anak sekarang pintar-pintar, ya pak? Di jaman aku muda, seorang isteri hanyalah menjadi pelayan, melayani suami, melakukan semua pekerjaan rumah tangga, lalu mengandung dan melahirkan disambung dengan momong anak dan momong bapaknya juga. Pendeknya seorang isteri harus tunduk dan taat sepenuhnya kepada suaminya, nasibnya berada di tangan suami, swarga nunut neraka katut (ke Sorga ikut ke neraka terbawa)!"
"Ha-ha-ha!"
Ki Subali tertawa mendengar ucapan isterinya, lalu memandang isterinya sambil tersenyum dan bertanya.
"Ibunya Lastri, apakah aku juga memperlakukanmu sebagai seorang pelayan?"
"Hemm, kalau engkau sih tidak! Akan tetapi berapa banyaknya suami sebaik engkau?"
Kata isterinya sambil tersenyum bangga.
"Wah, sekarang sih bukan jamannya lagi, ibu! Suami isteri harus bekerja sama dan sama-sama berjuang untuk mencari kebahagiaan sekeluarga, baik kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di sorga!"
Kata Sulastri.
"Aduh, siapa yang mengajarkan semua itu kepadamu, Lastri?"
Tanya Nyi Subali kepada puterinya. Dengan manja Sulastri menudingkan telunjuknya kepada Lindu Aji.
"Siapa lagi yang mengajarkan kalau bukan dia, ibu?"
Semua orang tertawa dan Neneng Salmah yang tadi menangis karena terharu, kini juga sudah tersenyum manis.
"Cukup semua gurauan ini, sekarang kita bicara serius!"
Kata Ki Subali.
"Anakmas Jatmika, karena engkau tidak mempunyai sanak keluarga lagi dan yang ada hanya saudara-saudara seperguruanmu, yaitu Lindu Aji dan Sulastri, apakah mereka berdua yang menjadi wali-mu dan mengajukan pinangan kepada kami untuk menjodohkan anak angkat kami Neneng Salmah denganmu? Akan tetapi, mereka berdua itu adalah anak dan mantu kami! Bagaimana ini?"
Biarpun keadaannya lucu, akan tetapi Ki Subali bicara serius dan mengerutkan alisnya.
"Bagaimana kalau diatur begini, bapa? Ibu kandung saya sendiri mengajukan pinangan atas diri Sulastri dengan mengirim wakilnya yang sekaligus menjadi wali dalam pernikahan saya dengan Sulastri. Bagaimana kalau sekarang saya dan Lastri juga mewakilkan kepada seseorang yang sekaligus juga menjadi wali dari Kakang Jatmika?"
Kata Lindu Aji.
Ki Subali mengangguk-angguk "Hemm, gagasan itu baik sekali.
Tentu saja boleh mengirim seorang wakil yang juga menjadi wali Anakmas Jatmika.
Akan tetapi siapa yang akan menjadi wakilmu sebagai wali Anakmas Jatmika yang akan mengajukan pinangan itu?"
"Siapa lagi kalau bukan Paman Parto, orang kepercayaan ibu dan saya? Biarlah dia sekalian menjadi wali saya dan wali Kakang"
Jatmika."
Kata Lindu Aji.
"Wah, bagus sekali! Mari, Mas Aji, kita cari Paman Parto!"
Kata Sulastri dan dia sudah menarik tangan Lindu Aji diajak ke belakang mencari Ki Parto.
Jatmika dan Neneng Salmah juga mengikuti mereka ke belakang.
Setelah menemukan Ki Parto, Aji lalu mengutarakan permintaan tolong mereka agar Ki Parto suka pula menjadi wali Jatmika dan melamarkan Neneng Salmah kepada Ki Subali dan isterinya untuk Jatmika.
Dengan senang hati ki Parto memenuhi permintaan itu dan pada hari itu juga, secara "resmi", disaksikan oleh beberapa orang tetangga yang sudah tua, Ki Parto mengajukan pinangan atas diri Neneng Salmah sebagai anak angkat Ki Subali dan isterinya kepada kedua orang tua angkat itu sebagai wakil dari keluarga Jatmika, yaitu Lindu Aji dan Sulastri!
Pinangan diterima dengan baik dan diambil keputusan bahwa pernikahan antara Jatmika dan Neneng Salmah dilaksanakan perayaannya berbareng dengan pernikahan Lindu Aji dan Sulastri.
Demikianlah pada hari yang telah ditentukan, upacara pernikahan dua pasang pengantin itu dilaksanakan dan diadakan perayaan yang cukup meriah oleh Ki Subali dan isterinya.
Dua pasang pengantin itu tenggelam ke dalam kebahagiaan berbulan madu.
Lindu Aji dan Sulastri tinggal di rumah Ki Subali, sedangkan Jatmika mengajak Neneng Salmah ke pantai laut di sebelah utara Dermayu, mengunjungi dua makam kakek dan ayahnya yang berada di belakang pondok.
Pondok itu masih kokoh walaupun kotor karena lama tidak ditinggali orang.
Jatmika dan Neneng Salmah membersihkan pondok itu dan mereka melewatkan bulan madu mereka di pondok tepi pantai lautan itu.
Setelah bersenang-senang sebagai pengantin baru selama dua minggu, karena maklum bahwa setelah dua minggu Lindu Aji dan Sulastri akan pergi ke rumah ibu Aji di Gampingan, Jatmika dan Neneng Salmah kembali ke rumah Ki Subali.
Sedih juga rasa hati Neneng Salmah harus berpisah dari Sulastri yang ia anggap sebagai saudara sendiri dan dari Ki dan Nyi Subali yang ia anggap sebagai pengganti ayah ibunya.
"Jangan bersedih, Neneng,"
Kata Sulastri ketika mereka saling berangkulan.
"Mulai saat pernikahan dua minggu yang lalu, engkau adalah isteri Kakang Jatmika dan kemana pun dia pergi, engkau harus ikut. Demikian pula aku, sebagai isteri Mas Aji, kemana pun dia pergi, ke sana pula aku pergi. Kelak, lain waktu kita pasti dapat saling berjumpa kembali."
Lindu Aji bercakap-cakap dengan Jatmika.
"Kakang Jatmika, aku dan Lastri akan pergi ke Gampingan dan akan tinggal di sana bersama ibu. Dan engkau akan tinggal dimana?"
"Aku dan Neneng sudah bersepakat untuk pergi ke Sumedang."
"Kenapa engkau hendak pergi ke Sumedang, Jatmika? Kenapa tidak tinggal disini saja dan mencari pekerjaan disini?"
Tanya Ki Subali.
"Benar, Jatmika. Sulastri akan pergi ke Gampingan bersama suaminya. Kalau Neneng juga pergi bersamamu ke Sumedang, aku akan kehilangan kedua anakku dan akan merasa kesepian."
Kata Nyi Subali dengan suara sedih.
"Ah, jangan berpikir seperti itu, ibunya Lastri! Anak-anakmu sudah bukan kanak-kanak yang membutuhkan pemeliharaanmu lagi. Mereka sudah menikah, sudah mempunyai suami. Mana mungkin kita tahan saja untuk tetap tinggal bersama kita? Tentu saja mereka harus mengikuti suami mereka kemana suami mereka pergi, seperti yang dikatakan Sulastri. Setiap orang tua harus siap menghadapi perpisahan dengan anak perempuannya kalau mereka sudah menikah. Aku hanya ingin tahu apa yang akan dikerjakan Jatmika di Sumedang?"
"Begini, Bapa. Kami akan pergi ike Sumedang dan tinggal disana karena selain rumah Neneng disana masih ada, juga sekarang keadaan Sumedang sudah berubah. Sudah dipimpin oleh seorang adipati baru yang ditunjuk oleh Gusti Sultan Agung. Saya dapat mencari pekerjaan disana."
Kata Jatmika.
"Baiklan, kalau begitu, kami orang tua hanya membekali doa restu semoga kalian dua pasang anak-anakku menemukan kebahagiaan dimanapun kalian berada, menjunjung tinggi dan memuliakan asma (nama) Gusti Allah dengan hidup yang baik dan benar sehingga kalian akan selalu diberkahi ketenteraman dan kebahagiaan."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dua pasang pengantin baru itupun berangkat meninggalkan rumah Ki Subali di Dermayu.
Lindu Aji dan Sulastri, di-ikuti Ki Parto, pergi menuju Gampingan dan Jatmika berdua Neneng Salmah pergi ke Sumedang.
Ki Subali dan Nyi Subali mengantar sampai ke pintu halaman rumah mereka, melambaikan tangan sampai kedua pasangan itu tak tampak lagi.
Setelah mereka tak tampak, barulah Nyi Subali melepaskan kepedihan hatinya dengan tangis.
Ki Subali merangkul pundaknya dan mengajaknya masuk ke rumah, menghiburnya.
"Mereka itu, anak-anak kita, berbahagia. Mengapa engkau menangis? Sudahlah, kita doakan saja semoga mereka itu hidup berbahagia dan... segera mendapat momongan. Aku sudah ingin sekali menimang cucu-cucuku!"
Terhibur juga hati Nyi Subali membayangkan cucu-cucunya yang mungil lucu.
-ooOoo -Ki Tejomanik atau yang waktu mudanya terkenal dengan nama Sutejo berjalan bersama Retno Susilo, isterinya di kaki Pegunungan Raung.
Dataran tinggi Ijen sudah dekat dengan Gunung Raung.
Tujuan mereka adalah dataran tinggi Ijen untuk mencari Ki Ageng Mahendra yang menurut keterangan Wiku Menak Jelangger telah merampas putera mereka, Bagus Sajiwo, dari tangan mendiang Wiku Menak Koncar yang menculik putera mereka itu.
Biarpun Sutejo sudah berusia empat puluh tahun lebih dan Retno Susilo hampir empat puluh tahun, namun suami isteri ini masih tampak jauh lebih muda dan orang-orang akan merasa kagum dan heran kalau melihat mereka berlari cepat bagaikan sepasang kijang melalui daerah pegunungan itu.
Akan tetapi yang sudah mengenal sepasang suami isteri pendekar ini, tidak akan merasa heran karena mereka berdua memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Matahari telah naik tinggi ketika mereka tiba di daerah Pegunungan Ijen yang mempunyai banyak bukit-bukit penuh dengan hutan lebat.
"Ah, perutku terasa lapar sekali!"
Kata Retno Susilo.
"Pagi tadi hanya sarapan sedikit ketan. Mari kita mencari dusun untuk membeli makanan, kakang-mas."
Tejomanik tersenyum dan menoleh kepada isterinya.
"Kasihan perutmu, di-ajeng. Biar kulihat dari atas dimana ada dusun terdekat."
Katanya dan dia sudah melompat dan memanjat pohon besar. Setelah tiba di cabang tertinggi, dia melihat ke sekeliling. Lalu dia melompat ke bawah.
"Adakah tampak dusun terdekat?"
Tanya Retno Susilo.
"Ada, tak berapa jauh disana!"
Kata Tejomanik sambil menunjuk ke arah timur.
Mereka lalu berlari lagi dengan cepat dan benar saja, tak lama kemudian mereka melihat sebuah dusun yang cukup besar di lereng bukit.
Mereka memasuki dusun itu dan merasa heran mengapa di luar dusun, dimana terdapat sawah ladang.
yang cukup luas dan subur, tidak tampak seorangpun.
Tidak ada yang bekerja di ladang, juga tidak ada yang berlalu-lalang.
Suami isteri itu saling pandang dan tanpa sepatah kata pun mereka sudah saling mengerti dan keduanya memasuki dusun itu dengan hati-hati dan waspada karena mereka merasa bahwa tentu terjadi sesuatu di dusun itu.
Apalagi ketika pendengaran mereka yang peka mendengar gerakan orang dalam rumah-rumah yang daun pintu dan jendelanya tertutup rapat.
Penduduk dusun itu bersembunyi di dalam rumah mereka, seolah-olah takut akan sesuatu sehingga tidak berani membuka pintu dan keluar dari rumah.
Tejomanik mencoba untuk mengetuk daun pintu dari rumah ke rumah, namun seperti yang telah mereka duga, tak seorang pun berani membuka pintu.
Karena menduga bahwa penduduk dusun itu tentu takut akan sesuatu yang merupakan ancaman bagi mereka semua dan kalau dia dan isterinya mengetuk daun pintu mereka itu bisa salah duga mengira yang datang itu yang mengancam mereka, maka Tejomanik lalu berseru lantang sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar oleh seluruh penduduk yang bersembunyi dalam rumah masing-masing.
"Haili! Saudara-saudara warga dusun! Ketahuilah bahwa kami suami isteri bukan penjahat, bukan musuh kalian. Bahkan kalau ada sesuatu yang mengancam andika sekalian, kami berdua sanggup melindungi dan menolong kalian!"
"Bukalah pintu dan temui kami, saudara sekalian!"
Retno Susilo juga berseru lantang, suaranya bergema sampai ke ujung dusun.
"Jangan takut, biar penjahat maupun iblis yang berani mengganggu kalian, akan kami binasakan!"
Agaknya para penduduk yang rumahnya berdekatan dengan suami isteri itu, mengintai dari dalam rumah dan melihat suami isteri yang tampan dan cantik dengan sikap gagah perkasa, timbul kepercayaan mereka dan satu demi satu daun pintu rumah-rumah itu dibuka dari dalam.
Mula-mula mereka berindap keluar dengan takut-takut, akan tetapi setelah melihat sikap suami isteri yang tersenyum ramah itu, mereka berani mendekat dan sebentar saja Tejomanik dan Retno Susilo sudah dirubung banyak orang, tua muda, laki perempuan.
Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun membuka jalan diantara orang-orang.
itu dan dia menghadapi Tejomanik dan Retno Susilo, memberi salam dengan hormat.
"Denmas dan Masayu, benarkah andika berdua hendak menolong kami warga dusun Krenting ini?"
Tanya orang itu. ' "Tentu saja kalau memang andika sekalian terancam bahaya. Akan tetapi bahaya apakah yang mengancam andika sehingga semua penghuni dusun menjadi ketakutan seperti ini?"
Tanya Tejomanik.
"Mari, mari masuk ke rumah kami, Denmas. Saya adalah Ki Selowono, kepala dusun Krenting ini. Mari silakan."
Tejomanik dan isterinya mengikuti Ki Lurah Selowono memasuki rumah yang terbesar di antara rumah-rumah di dusun itu.
Semua orang mengikuti mereka dan berkumpul di pekarangan rumah itu.
Agaknya mereka ketakutan dan menggantungkan harapan mereka kepada suami isteri yang berjanji hendak melindungi mereka itu.
Suami isteri itu dipersilakan duduk di atas kursi, di pendopo rumah.
Orang-orang yang memenuhi pendopo dan pekarangan tidak ada yang mengeluarkan suara karena mereka semua ingin dapat mendengarkan percakapan antara lurah mereka dan suami isteri itu.
"Sebelumnya kami ingin mengetahui, siapakah nama denmas dan masayu yang terhormat dan andika berdua datang dari mana?"
"Ki Lurah, aku bernama Tejomanik dan ini isteriku bernama Retno Susilo. Kami tinggal di lereng Gunung Kawi dan kini sedang melakukan perantauan sampai disini. Ceritakanlah, Ki Lurah, apa yang menyebabkan kalian ketakutan ini?"
Kata Tejomanik dan sengaja dia bicara kuat-kuat agar mereka yang berada di pekarangan rumah itu dapat mendengarnya karena dia tahu bahwa mereka semua ingin. sekali mendengarnya.
"Untuk menceritakan juga kami takut ..."
Kata Ki Lurah dengan wajah pucat dan tubuhnya gemetar. Retno Susilo mengerutkan alisnya dan berkata marah.
"Kenapa begini ketakutan, Ki Lurah? Jangan takut, biar iblis setan brekasakan, akan kuhajar kalau berani mengganggu penduduk dusun!"
"Ceritakanlah, Ki Lurah dan jangan takut."
Kata Tejomanik.
"Ceritakan, Ki Lurah, ceritakan."
Beberapa suara penduduk mendesak lurah mereka. Ki Lurah Selowono menoleh ke kanan kiri, lalu bercerita dengan suara lirih.
"Telah hampir sebulan ini, di daerah ini muncul... sepasang manusia iblis yang mengaku bernama Kaladhama dan Kala-jana. Mereka adalah dua orang yang bertubuh tinggi besar berbulu seperti raksasa. Mereka telah merajalela di pedusunan daerah ini. Setiap kali mereka minta disediakan dua orang anak gadis tercantik dari dusun berikut domba dan sekantung uang. Kalau permintaan itu tidak dipenuhi mereka lalu mengamuk, membunuh beberapa orang lalu menculik wanita muda. Beberapa dusun sudah berusaha untuk mengumpulkan para pemuda dan mengeroyok dua orang manusia iblis yang menyebut diri sebagai Dwi Kala itu, akan tetapi puluhan orang pemuda masih tidak mampu mengalahkan mereka, bahkan setiap dikeroyok, belasan orang pemuda tewas secara mengerikan. Dua orang itu selain digdaya, juga berracun. Mereka yang terluka pasti tewas karena lukanya menjadi kehitaman seperti digigit ular berbisa. Dan pagi tadi... dusun kami mendapat giliran. Mereka minta disediakan dua orang gadis cantik kambing, dan sekantung uang. Maka, sejak pagi tadi, kami semua ketakutan dan menutupkan pintu dan jendela, Denmas..."
"Hemm, bagaimana cara mereka minta semua itu? Apakah mereka muncul disini?"
Tanya Tejomanik.
"Tidak, Denmas. Yang terdengar hanya suara mereka saja, seperti geledek, mengajukan permintaan itu pagi tadi. Mereka bilang bahwa kalau sampai tengah hari permintaan mereka belum disediakan di pintu gapura dusun, mereka akan membunuhi penduduk dusun ini!"
"Keparat!"
Tiba-tiba Retno Susilo berseru marah, matanya mencorong dan alisnya berkerut.
"Dan kalian sudah menyediakan permintaan iblis keparat itu?"
"Tidak, masayu. Tidak ada orang"
Tua yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada mereka. Kalau yang diminta hanya kambing dan ayam tentu akan kami berikan. Akan tetapi dua orang gadis..."
Ki Selowono memandang keluar lalu melanjutkan.
"dan sekarang... sekarang hampir tengah hari, denmas... kami takut..."
"Jangan takut. Kami akan menghadapi dua orang setan itu. Akan tetapi kalian harus memenuhi permintaan kami dan menurut petunjuk kami."
Kata Tejomanik.
"Tentu saja, denmas. Apa yang andika perlukan?"
"Begini, sediakan dua orang gadis, seekor kambing, seekor ayam dan sekantung uang..."
Terdengar seruan dari banyak mulut dan orang-orang itu mundur dengan muka pucat, mengira bahwa Tejomanik mengulangi permintaan Dwi Kala itu.
jangan-jangan suami isteri ini penjelmaan dua orang manusia iblis itu!
Tejomanik tersenyum geli.
"Dengarkan dulu kata-kataku. Aku minta itu semua agar disediakan di gapura, untuk memancing datangnya dua jahanam itu. Percayalah, dua orang gadis itu hanya menjadi umpan, kami yang menanggung bahwa mereka tidak akan ada yang mengganggu!"
Biarpun Tejomanik berkata demikian, orang-orang itu menggeleng kepala dan tidak ada seorang pun mau memberikan gadis mereka menjadi umpan!
Melihat semua orang tampak menggeleng kepala ketakutan, Retno Susilo menjadi marah.
"Kalian ini semua orang-orang pengecut! Kami berani menjamin bahwa dua orang gadis itu tidak ada yang mengganggu, kenapa masih juga ketakutan? Kalau begitu, kalian tidak mau membantu kami yang bermaksud menolong kalian dan membinasakan dua orang manusia iblis itu?"
Tiba-tiba dua orang gadis berlari keluar dari dalam dan memasuki pendopo itu.
"Kami berdua mau menjadi umpan!" (Lanjut ke
Jilid 19) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19
"Sarti dan Sarni...! Apa-apaan ini...?"
Ki Lurah Selowono membentak kedua orang anaknya itu.
"Bapak, kalau semua orang tidak mau membantu para penolong kita ini, lalu mereka pergi, bukankah kita akan terus terancam dua orang manusia iblis itu? Berilah kami kesempatan untuk membantu paman dan bibi yang mau menolong kami ini!"
Kata Sarti, gadis berusia sekitar delapan belas tahun yang cukup manis dengan kulit putih mulus mengangguk-angguk.
"Denmas... mereka ini adalah dua orang puteri kami, hanya dua orang ini anak kami, bagaimana kalau sampai..."
"Tenanglah, aku yang bertanggung jawab, Ki Lurah. Dua orang anakmu ini adalah gadis-gadis yang berhati harimau, tabah dan berani!"
Kata Retno Susilo.
"Mengingatkan aku ketika masih gadis! Hanya sayang, mereka adalah gadis-gadis lemah."
"Bibi yang cantik dan gagah berani, yakinkah bibi akan dapat mengalahkan dua orang manusia iblis itu? Mereka kabarnya sakti mandraguna, dikeroyok tidak kalah, bahkan kabarnya kebal, tubuhnya keras seperti baja!"
Kata Sarti kepada Retno Susilo.
Mendengar ini Retno Susilo menghampiri sebuah patung terbuat dari besi yang berdiri di sudut pendopo itu.
Dengan ringan diangkatnya patung yang berat itu, kemudian ia bertanya.
"Apakah tubuhnya lebih kuat daripada besi ini?"
Setelah berkata demikian, Retno Susilo mengeluarkan bentakan melengking, tangannya terbuka menghantam patung itu dan retaklah patung besi itu seolah dihantam palu godam yang kuat dan berat!
Semua orang menahan napas melihat ini dan wajah mereka berseri penuh harapan.
Kini Sarti dan Sarni menjadi semakin berani menjadi umpan untuk memancing munculnya Dwi Kala yang ditakuti itu.
Sarti dan Sarni lalu mengenakan pakaian baru, berhias diri sehingga tampak manis dan segar bagaikan dua tangkai kembang yang sedang mekar.
Mereka berdua kini duduk di atas bangku di gapura dusun dan disitu terdapat pula seekor domba gemuk dan seekor ayam.
Sarti memangku sebuah kantung terisi uang.
Penduduk mengintai dengan jantung berdebar penuh ketegangan, dari rumah-rumah yang berdekatan dengan pintu gapuro.
Tejomanik dan Retno Susilo mengintai dari balik batang pohon besar yang tumbuh tak jauh dari pintu gapura.
Setelah matahari berada tepat di atas kepala, tiba-tiba ada angin bertiup.
Padahal tadinya tidak ada angin sama sekali.
Tejomanik dan Retno Susilo dapat merasakan bahwa angin itu bukan angin sewajarnya, melainkan angin yang timbul dari kekuatan sihir!
Diam-diam suami isteri ini waspada dan berhati-hati karena dari angin buatan sihir itu saja mereka berdua maklum bahwa tawan yang mereka hadapi bukan penjahat biasa, melainkan orang-orang sakti yang pandai pula menggunakan sihir yang kuat!
Angin itu membuat daun-daun pohon tergetar dan ranting-ranting pohon naik turun menari-nari.
Sarti dan Sarni tampak gemetar dan dengan mata terbelalak dan muka agak pucat mereka memandang ke arah pohon besar di balik mana suami isteri pelindung itu bersembunyi.
Bagaimanapun juga, gadis-gadis dusun puteri Pak Lurah Selowono ini hanyalah gadis dusun yang sejak kecil percaya akan cerita tahyul tentang setan, iblis, gendruwo memedi, pocongan dan banyak lagi golongan setan yang menakutkan.
Rambut mereka yang sudah digelung rapi itu kini tertiup angin, agak awut-awutan akan tetapi justeru menambah daya tarik dua orang gadis manis ini.
"Hoa-ha-ha-ha, Kakang Kaladhama, pengantin-pengantin kita sudah menanti untuk kita jemput dan kita boyong, ha-ha-ha!"
Suara itu parau dan dalam, juga lantang sekali sehingga terdengar menggelegar.
"Hiya, Adi Kalajana! Wah, pengantin kita sekali ini malah paling bahenol diantara mereka yang terdahulu!"
Terdengar suara kedua yang juga lantang dan mengandung getaran kuat.
Tejomanik dan Retno Susilo maklum bahwa dua orang manusia iblis itu sengaja mengerahkan tenaga sakti ketika bicara agar terdengar lantang menyeramkan untuk menakut-nakuti warga dusun Krenting.
Dan memang, semua warga, termasuk Ki Lurah Selowono, yang mengintai, ketika mendengar suara itu, mereka menggigil ketakutan dan dengan hati penuh ketegangan dan ketakutan mereka mengintai ke arah Sarti dan Sarni yang duduk di bangku dekat pintu gapura dusun itu.
Tiba-tiba angin berhenti bertiup dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu di dekat pintu gapura telah berdiri dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa.
Yang seorang bermuka hitam, matanya besar melotot kedua lengannya yang kokoh dengan otot-otot menggelembung itu berbulu.
Usianya sekitar empat puluh tahun.
Pakaiannya mewah seperti pakaian seorang priyayi (bangsawan).
Orang kedua juga sama tinggi besarnya, kokoh dan berbulu seperti orang pertama, akan tetapi mukanya burik (bopeng) sehingga tampak lebih jelek dan lebih menyeramkan daripada orang pertama.
Orang kedua ini usianya lebih muda dua tiga tahun.
Di pinggang dua orang ini tergantung senjata tak bersarung yang mengerikan, yaitu sebatang golok yang punggungnya merupakan gergaji!
Kepala mereka memakai kain pengikat kepala model Blambangan.
Melihat dua orang raksasa itu tiba-tiba muncul tak jauh di depan mereka, dalam jarak lima meter, Sarti dan Sarni menjadi pucat wajahnya dan tubuh mereka menggigil, kedua kaki mereka lemas sehingga mereka mencoba untuk bangkit berdiri dan melarikan diri, mereka terduduk kembali karena kedua kaki mereka tidak kuat berdiri!
Tejomanik dan Retno Susilo dapat melihat berkelebatnya tubuh dua orang itu ketika mereka datang.
Suami isteri ini mencatat bahwa dua orang seperti raksasa itupun memiliki gerakan yang amat ringan dan cepat.
Mereka berdua menjadi semakin waspada dan atas isyarat Tejomanik, mereka berdua segera melompat sambil mengerahkan kepandaian mereka.
Tejomanik menggunakan Aji Harina Legawa (Kijang Tangkas) ketika melompat dan Retno Susilo mengerahkan Aji Ktywung Sakti (Pelangi Sakti).
Ilmu meringankan tubuh dan kecepatan gerakan mereka itu membuat mereka meluncur cepat dan tahu-tahu mereka sudah berdiri berhadapan dengan dua orang raksasa itu, menghadang diantara dua orang manusia iblis itu dengan calon korban mereka.
"Sarti dan Sarni, pergilah kalian, masuk ke rumah yang terdekat!"
Kata Retno Susilo.
Dua orang gadis puteri Ki Lurah itu mendapatkan kembali tenaga mereka ketika melihat dua orang pelindung mereka muncul.
Mereka lalu bangkit dan berlari ke sebuah rumah terdekat, dimana ayah mereka juga bersembunyi.
Pintu rumah segera dibuka dari dalam dan dua orang gadis itu menghilang kedalam rumah.
Pintu rumah itu ditutup kembali.
Tak seorang pun warga dusun tampak di luar rumah.
Semua bersembunyi di dalam dan mengintai dengan jantung berdebar.
Mereka semua ketakutan karena maklum bahwa kalau dua orang penolong mereka kalah, dua orang manusia iblis itu tentu akan mengamuk dan membunuhi warga dusun Krenting!
Dua orang raksasa itu melotot marah melihat suami isteri itu menghalang di depan mereka dan dua orang gadis yang dipersembahkan kepada mereka itu melarikan diri.
Mereka hampir tidak percaya ada orang-orang berani menentang mereka.
"Heh, bojleng-bojleng Iblis Laknat! Siapa kalian berani mengganggu kami berdua?"
Bentak yang bermuka hitam.
"Kalian ini sudah bosan hidup! Siapakah kalian?"
Tanya yang bermuka burik. Dengan sikap tenang Tejomanik menjawab.
"Kami adalah..."
Belum habis Tejomanik bicara, Retno Susilo sudah memotongnya dengan suara galak.
"Kalian ini manusia-manusia iblis yang harus memperkenalkan nama lebih dulu kepada kami! Kalian berdua yang mengganggu warga dusun-dusun di daerah ini dan sudah menjadi kewajiban kami untuk membasmi iblis-iblis pengganggu manusia macam kalian!"
"Babo-babo, perempuan sombong!"
Bentak yang mukanya burik.
"Ha-ha-ha, Adi Kalajana, perempuan ini hebat, jauh lebih cantik menarik daripada perawan-perawan dusun yang bodoh itu. Yang ini cocok untukku, sudah masak, tidak hijau seperti mereka. Hei, perempuan cantik jelita, aku adalah Ki Kaladhama dan ini adikku Ki Kalajana. Kami dikenal sebagai Dwi Kala, jagoan-jagoan tanpa tanding di Blambangan! Nah, lebih baik engkau menyerah saja kepadaku, manis dan engkau kuboyong ke Blambangan, hidup mulia dan bahagia sebagai isteriku!"
Wajah Retno Susilo berubah merah sekali, akan tetapi selagi ia hendak memaki dan menerjang, suaminya memberi isarat kepadanya sehingga ia menahan kemarahannya dan berdiam diri.
Ki Tejomanik lalu berkata kepada dua orang itu.
"Dwi Kala, ketahuilah bahwa aku bernama Ki Tejomanik dan ini isteriku bernama Retno Susilo. Seperti dikatakan isteriku tadi, kami adalah orang-orang yang selalu menentang mereka yang berbuat jahat kepada orang lain dan kami membela mereka yang lemah tertindas. Andika berdua membuat kacau di pedusunan daerah ini, terpaksa kami harus menentangmu. Sadarlah akan kesalahan kalian, Dwi Kala, sebelum terpaksa kami mempergunakan kekerasan untuk membasmi kalian!"
"Ha-ha-ha, Tejomanik. Sumbarmu seolah kalian dapat memindahkan gunung! Kalian mau membasmi kami?"
Dua orang raksasa itu tertawa bergelak.
"Lebih baik engkau yang cepat minggat dari sini dan tinggalkan isterimu karena aku menyukainya!"
Kata Kaladhama yang bermuka hitam.
"Jahanam kuantar engkau ke neraka jahanam!"
Teriak Retno Susilo dan ia sudah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar kehijauan dan ia sudah menerjang dengan serangan pedangnya itu kepada Kaladhama.
Biarpun pedangnya itu hanya pusaka Nogo Wilis tiruan karena yang aselinya ia berikan kepada Sulastri, namun pedang itupun terbuat dari baja yang baik dan ketika menyambar berubah menjadi sinar hijau yang berbahaya.
"Huh, lumayan juga kepandaianmu!"
Kaladhama berseru kaget dan cepat melompat ke belakang.
Ketika Retno Susilo mengejar, raksasa muka hitam ini sudah mencabut senjatanya yang menyeramkan.
Golok dengan punggung gergaji itu panjang, lebar dan tebal.
Tentu berat sekali.
Akan tetapi di tangan raksasa ini, golok itu tampak ringan saja ketika dia membabatkan golok itu ke arah leher Retno Susilo.
Wanita perkasa itu tidak mengelak melainkan menangkis dengan pengerahan tenaga karena ia ingin membuat senjata lawan terpental dan terlepas.
"Wuuuttt... trangggg...!!"
Keduanya terkejut dan melompat kebelakang karena mereka merasakan betapa tangan mereka yang memegang gagang senjata tergetar hebat.
Baik Retno Susilo maupun lawannya, Kaladhama tahu bahwa lawannya memiliki tenaga sakti yang kuat.
Mereka lalu saling serang dengan dahsyat dan ternyata memang kepandaian mereka seimbang!
Sementara itu, Kalajana juga sudah menyerang Tejomanik dengan golok gergajinya.
Goloknya yang besar dan berat itu mengeluarkan suara berdengung-dengung ketika meayambar-nyambar ke arah tubuh Tejomanik.
Orang gagah dari Gunung Kawi ini menggunakan kecepatan gerakannya untuk mengelak kesana-sini, akan tetapi setelah dia tahu bahwa lawannya ini juga tangguh sekali dan akan berbahaya kalau dia hanya melawan dengan tangan kosong, dia lalu melolos pecutnya.
"Tar-tar-tarrrr...!!"
Cambuk Bajrakirana meledak-ledak dan menyambar-nyambar laksana kilat.
Kalajana terkejut sekali dan sebentar saja dia kewalahan, hanya mampu melindungi dirinya dengan putaran goloknya agar jangan sampai tersengat ujung pecut itu.
Dia teringat akan sesuatu dan segera melompat jauh ke belakang sambil berseru.
"Tahan...Andika... Sutejo dan pecut itu Sang Bajrakirana...?"
Mendengar seruan adiknya itu, Kaladhama juga terkejut dan diapun melompat ke belakang dan memandang ke arah Tejomanik dengan mata terbelalak.
"Benarkah andika Sutejo, Sang Bajra-kirana?"
Dia juga bertanya.
Retno Susilo berdiri di dekat suaminya, tangan kanan masih memegang gagang pedangnya dan tangan kiri bertolak pinggang, merasa penasaran karena perkelahiannya melawan Kaladhama tadi masih berimbang.
Tejomanik mengamati kedua orang itu dan merasa bahwa dia tidak pernah bertemu dengan dua orang Blambangan itu.
"Benar, di waktu muda aku bernama Sutejo dan senjataku ini memang benar pusaka Bajrakirana. Mengapa engkau menghentikan pertandingan? Kalau kalian tidak mampu menandingi kami, bertaubatlah, bebaskan para gadis yang kalian tawan, kembalikan semua benda yang kalian rampas dan jangan melakukan kejahatan lagi karena lain kali kami tidak akan dapat mengampuni kalian!"
Kaladhama tertawa bergelak. Mukanya menengadah dan perutnya terguncang ketika dia tertawa.
"Ha-ha-ha, kau kira kami takut padamu? Kami hanya khawatir kalau kalian menggunakan warga dusun untuk mengeroyok kami! Maka, kami tantang kalian untuk datang ke pondok kami di puncak bukit sana, kalau kalian berani dan disana kita lihat siapa diantara kita yang lebih kuat!"
Raksasa itu menuding ke arah puncak bukit yang tidak begitu jauh dari dusun di lereng itu.
"Siapa takut kepada manusia iblis macam kalian?"
Bentak Retno Susilo marah.
"Tunggu saja, aku akan memecahkan kepala kalian!"
"Ho-ho-ha-ha, bagus sekali! Kalau aku kalah, kepalaku boleh kau pecah, akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau akan menjadi isteriku, ha-ha-ha!"
Setelah berkata demikian, kedua orang itu lalu berlompatan dan lari ke arah puncak. Gerakan mereka gesit sekali, tidak se-suai dengan tubuh mereka yang tinggi besar dan tampak lamban.
"Jahanam!"
Retno Susilo memaki.
"Hayo kita kejar ke puncak, Kakang-mas!"
Ia mengajak suaminya. Akan tetapi Tejomanik menggeleng kepalanya.
"Lihat, Diajeng. Matahari mulai condong ke barat, tak lama lagi menjelang sore. Kalau mereka menantang kita untuk melanjutkan pertandingan di puncak, tentu mereka mempunyai alasan yang kuat untuk mendapatkan kemenangan dan bukan mustahil kalau mereka sudah mengatur perangkap untuk kita. Pergi kesana dan tiba di puncak setelah hari mulai gelap, amat berbahaya."
"Hemm, akan tetapi mereka menantang! Kalau kita tidak kesana tentu dapat dianggap bahwa kita takut!"
"Tentu saja kita harus kesana menyambut tantangan mereka, Diajeng. Akan tetapi tidak sekarang, melainkan besok pagi. Kalau siang hari dan cuaca terang, kita tidak takut akan perangkap mereka."
Pada saat itu, pintu-pintu rumah terbuka dan Ki Lurah Selowono, diikuti kedua orang puterinya dan para warga dusun, berbondong-bondong keluar dengan wajah berseri.
Mereka tadi mengintai dan melihat betapa dua orang raksasa yang mereka takuti itu benar-benar kalah dan melarikan diri setelah bertanding dengan hebat melawan suami isteri penolong mereka itu.
Para warga dusun kini berjongkok menghadap suami isteri itu, dan Ki Lurah Selowono memberi hormat dengan sembah dan tubuhnya membungkuk.
"Denmas berdua telah menyelamatkan kami warga sedusun, untuk itu kami menghaturkan terima kasih dan tidak akan melupakan budi kebaikan Denmas dan Masayu!"
Tejomanik berkata dengan lantang agar terdengar semua warga dusun yang berjongkok di sekelilingnya.
Lebih dari seratus orang berkumpul disitu dan suara mereka ramai membicarakan perkelahian dahsyat yang tadi terjadi.
Ketika Tejomanik mengangkat kedua tangannya ke atas, semua orang berdiam untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan penolong mereka itu.
"Saudara-saudara warga dusun Krenting, dengarlah baik-baik. Dua orang penjahat itu, Dwi Kala biarpun melarikan diri namun mereka belum menyerah dan ancaman mereka terhadap pedusunan di daerah ini masih tetap ada. Mereka menantang kami berdua untuk datang ke tempat tinggal di puncak bukit. Kami hanya ingin memperingatkan kepada andika semua bahwa sikap mengalah dan menuruti permintaan orang-orang jahat seperti mereka adalah sikap yang salah. Orang-orang jahat seperti mereka itu, makin diberi hati akan semakin murka. Kami yakin, kalau andika sekalian mau bersatu dengan para warga dusun-dusun lain di daerah ini, lalu bersatu padu melakukan perlawanan, dua orang jahat itu pasti tidak akan mampu mengalahkan ratusan orang. Nah, mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi Andika sekalian. Bersatu dan bangkitlah untuk melawan para penjahat yang mengganggu ketenteraman dusun-dusun di daerah ini. Kami berdua besok pagi akan mendaki puncak untuk memenuhi tantangan mereka karena sekarang hari telah menjelang sore. Kami tidak ingin menghadapi mereka dan berada disana di waktu malam gelap."
Setelah Tejomanik menghentikan ucapannya, para warga dusun kembali menjadi bising, membicarakan usul atau peringatan yang diucapkan penolong mereka tadi.
Ki Lurah Selowono lalu berkata kepada Tejomanik dan Retno Susilo.
"Mari, Denmas dan Masayu, kami persilakan andika berdua untuk beristirahat di rumah kami."
Tejomanik dan Retno Susilo tidak menolak dan mereka pun mengikuti ki lurah ke rumahnya.
Para warga dusun bubaran untuk melakukan pekerjaan masing-masing dengan gembira karena dua orang suami isteri perkasa itu masih tinggal di dusun mereka, menjamin keselamatan mereka dari ancaman Dwi Kala.
Ki Lurah Selowono menjamu tamunya dengan pesta keluarga yang cukup meriah.
Isteri ki lurah dan dua orang puterinya melayani.
Malam itu Tejomanik dan Retno Susilo bersamadhi dalam kamar mereka untuk menghimpun kekuatan karena besok mereka akan menghadapi lawan berat yang mungkin kini sedang mengatur diri agar lebih kuat menghadapi mereka besok.
Dengan adanya urusan ini, keduanya menahan diri dan tidak bicara tentang Bagus Sajiwo dan Ki Ageng Mahendra yang menjadi tujuan utama kedatangan mereka di daerah Pegunungan Ijen ini.
Sementara itu, diam-diam Ki Lurah Selowono mengumpulkan para pemuda dusun dan mengadakan hubungan dengan dusun-dusun lain di daerah itu.
Pada keesokan harinya, setelah matahari muncul dari balik puncak sehingga seluruh permukaan bukit menjadi terang, Tejomanik dan Retno Susilo berangkat mendaki puncak.
Mereka berdua diantar oleh para warga dusun yang dipimpin Ki Lurah Selowono, akan tetapi mereka tidak melihat para pemuda dusun diantara mereka yang mengantar sampai ke pintu gerbang dusun Krenting.
Akan tetapi suami isteri itu tidak mau bertanya dan mengira bahwa mereka tentu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke sawah ladang.
Setelah meninggalkan dusun Krenting dan mulai mendaki ke arah puncak, suami isteri itu bergerak dengan hati-hati sekali karena mereka menduga bahwa dua orang raksasa itu mungkin saja memasang perangkap.
Dengan penuh kewaspadaan mereka mendaki, menggunakan aji meringankan tubuh sehingga mereka dapat mendaki dengan gesit dan ringan.
Dalam keadaan seperti itu, mereka tidak saling bicara, tidak mau memecah perhatian.
Kewaspadaan mereka membuat mereka peka sekali.
Ada suara yang tidak wajar sedikit saja pasti akan dapat mereka tangkap dengan pendengaran mereka.
Andaikata mereka diserang secara tiba-tiba, mereka tentu akan dapat menghindarkan diri karena seluruh panca indera mereka sudah siap dalam keadaan peka sekali.
Akan tetapi tidak terjadi sesuatu.
Perjalanan mereka lancar tidak mengalami gangguan sama sekali.
Matahari naik semakin tinggi dan akhirnya mereka tiba di puncak.
Di puncak bukit itu terdapat bagian yang datar dan di tengah tengah dataran padang rumput itu berdiri sebuah pondok kayu yang kokoh.
Suami isteri itu merasa heran.
Mereka tiba di puncak dan dalam pendakian itu mereka sama sekali tidak menemui rintangan apa pun!
Mereka menjadi curiga.
Apakah Dwi Kala diam-diam melarikan diri?
Karena dalam pertandingan di dusun kemarin dua orang raksasa itu terdesak lalu memakai alasan menantang agar mereka mendapat kesempatan melarikan diri?
Tejomanik dan Retno Susilo berhenti melangkah dan berdiri di depan rumah itu, dalam jarak belasan tombak.
Tejomanik lalu mengerahkan tenaga sakti dan berseru lantang sehingga suaranya menggema disekitar puncak.
"Dwi Kala, keluarlah! Kami sudah datang memenuhi tantangan kalian!"
Hanya gema suara itu yang menjawab.
Selagi Tejomanik hendak mengulang teriakannya, tiba-tiba mereka mendengar bunyi mendesis-desis dan tercium bau amis.
Ketika mereka memandang kebawah, Retno Susilo menutup mulutnya agar jangan menjerit karena ia jijik sekali melihat puluhan ekor ular berlenggak-lenggok cepat menghampiri ke arah mereka!
Bau yang amis itulah yang amat mengganggu Retno Susilo yang merasa jijik sehingga ia merasa napasnya sesak.
Melihat ini Tejomanik berbisik.
"Jangan panik, kita basmi ular-ular itu. Pasti ini kiriman mereka!"
Setelah berkata demikian, dia melolos pecut sakti Bajrakirana.
Begitu menggerakkan pecutnya, terdengar suara ledakan bertubi-tubi.
Ular yang terkena lecutan ujung cambuk itu putus menjadi dua.
Akan tetapi tubuh ular itu tidak mengeluarkan darah, bahkan potongan tubuh itu tiba-tiba lenyap.
Ular-ular yang lain terus merayap hendak menyerbu.
"Hemm, hanya ular jadi-jadian!"
Kata Retno Susilo melihat ini dan iapun mengamuk dengan pedangnya, membabati ular-ular itu sampai akhirnya pecut suaminya dan pedang di tangannya membabat habis ular-ular itu yang begitu terbabat lalu menghilang.
Baru saja puluhan ekor ular itu dapat dibasmi, terdengar bunyi bercicitan dan kelepak sayap.
Ketika suami isteri itu memandang ke atas, mereka terkejut melihat puluhan ekor kelelawar hitam beterbangan menuju ke arah mereka, mengeluarkan bunyi dan mata mereka yang merah itu amat menyeramkan.
Hemm, mana mungkin ada kelelawar muncul di siang hari, pikir Tejomanik.
"Hajar mereka, Diajeng. Inipun hanya kelelawar jadi-jadian. Kelelawar tidak dapat berkeliaran di siang hari!"
Kembali suami isteri itu mengamuk, menggunakan senjata mereka untuk menyambut puluhan ekor kelelawar yang beterbangan menyambar-nyambar menyerang mereka itu.
Dan setiap ada kelelawar terkena sabetan pecut atau bacokan pedang, binatang itu jatuh ke atas tanah dan hilang!
Setelah semua kelelawar itu musnah, Ketno Susilo berseru dengan suarg melengking nyaring.
"Jahanam busuk Dwi Kala! Kalau memang berani keluarlah terima kematian, jangan menggunakan ilnlu setan yang tidak ada gunanya!"
Tiba-tiba dari dalam pondok terdengar suara tawa yang bergelombang, naik turun seperti suara tawa iblis sendiri.
Suara itu mengandung getaran jang amat kuat sekali sehingga suami isteri itu merasakan guncangan pada jantung mereka!
Cepat mereka mengatur pernapasan dan mengerahkan tenaga batin untuk melindungi diri sehingga suara tawa itu lewat begitu saja tanpa mendatangkan akibat buruk pada mereka.
Akan tetapi mereka harus mengakui bahwa serangan dengan suara tawa itu sungguh dahsyat dan orang yang mengeluarkan suara tawa seperti itu pasti memiliki kepandaian tinggi.
Diam-diam mereka merasa heran.
Dwi Kala pernah bertanding dengan mereka dan agaknya dua orang itu tidak akan mampu mengeluarkan suara tawa sehebat itu!
Mereka berdua makin waspada.
ketika suara tawa itu berhenti, daun pintu pondok terbuka dan muncullah Dwi Kala.
Mereka menyeringai dan senjata golok gergaji sudah berada di tangan kanan mereka, sedangkan tangan kiri mereka memegang sebatang dupa biting yang kini mereka tancapkan di balik kain putih yang diikatkan di kepala mereka!
Tejomanik yang sudah mempunyai banyak pengalaman itu maklum apa artinja itu.
Dua orang raksasa itu menggunakan ilmu sihir dan dupa membara yang mengeluarkan asap putih menghubungkan mereka berdua dengan sumber kekuatan setan, atau orang yang mampu mempergunakan kesaktian setan!
Akan tetapi dia tidak takut dan berbisik kepada isterinya.
"DIAJENG, biarkan aku yang menghadapi Si Muka Hitam karena dia lebih tangguh."
Retno Susilo mengangguk dan iapun sudah memegang pedangnya, siap menyambut serangan lawan.
Sedikitpun wanita gagah perkasa dan pemberani ini tidak merasa gentar walaupun ada hawa aneh menyeramkan, seperti kalau berada seorang diri di tanah kuburan, terbawa oleh munculnya dua orang raksasa itu.
Apalagi bau dupa itu, mengingatkan ia akan "makanan"
Setan yang sering dihidangkan oleh mereka yang memujanya.
Kini dua orang Dwi Kala telah melangkah menghampiri mereka dan telah berhadapan dengan suami isteri itu dalam jarak dua tombak.
Mereka saling pandang dengan sinar mata mencorong, seperti hendak menjajaki kemampuan masing-masing.
"Bojleng-bojleng Iblis Laknat!"
Kata Kalajana.
"Kalian berani datang juga untuk menyerahkan nyawa?"
"Ha-ha-ha! Adi Kalajana, yang ini bukan menyerahkan nyawa saja, akan tetapi juga badannya yang denok ayu!"
Kata Kaladhama sambil memandang kepada Retno Susilo.
Wanita ini bergidik dan marah sekali karena pandang mata raksasa muka hitam itu seolah menelanjangi dan menggerayangi seluruh tubuhnya!
"Tidak perlu banyak cakap, Dwi Kala.
Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul!"
Kata Tejomanik yang sudah siap dengan pecut sakti Bajrakirana.
"Ha-ha-ha, Tejomanik! Engkau yang harus mati di tangan kami untuk menenangkan arwah paman-paman guru Ki Klabangkolo dan Resi Menak Koncar!"
Kata Kaladhama. Tejomanik mengerutkan alisnya.
"Hemm, jadi kalian ini murid-murid keponakan mendiang Ki Klabangkolo dan Resi Menak Koncar?"
"Juga untuk membalaskan kematian mendiang Kyai Sidhi Kawasa, sahabat baik guru dan para paman guru kami! Tejomanik atau Sutejo, kami tak pernah dapat melupakan dendam ini. Selama bertahun-tahun kami mempelajari ilmu untuk mencari Sutejo, si pemegang pecut sakti Bajrakirana! Paman Guru Klabangkolo tewas di tangan ayahmu, Ki Harjodento, dan Kyai Sidhi Kawasa tewas di tanganmu! Maka, hari ini engkau harus mati dan isterimu yang denok ayu ini akan menjadi milikku!"
Kata Kaladhama dan tiba-tiba saja dia dan adiknya, Kalajana sudah menerjang ke arah Tejomanik dengan menggunakan senjata mereka yang menggiriskan, yaitu golok be-sar yang punggungnya berbentuk gergaji.
Tejomanik cepat menggerakkan pecut sakti Bajrakirana yang meledak-ledak dan ujungnya mengeluarkan kilatan api, menangkis serangan dua orang lawan yang tangguh itu.
Ketika mereka hendak menerjang lagi, Retno Susilo sudah maju menyerang ke arah Kalajana dengan pedangnya.
Raksasa ini menangkis lalu balas menyerang.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat.
Diam-diam Tejomanik dan Retno Susilo terkejut bukan main karena terasa oleh mereka betapa dua orang lawan itu lebih tangguh daripada kemarin!
Selain tenaga sakti mereka seolah bertambah kuat dan besar sekali, juga bau dupa yang mengepul dari kepala mereka itu benar-benar membikin pusing!
Setelah lewat puluhan jurus, hanya berkat kehebatan pecut sakti Bajrakirana Saja mereka masih mampu bertahan.
Dengan gulungan sinar pecutnya, Tejomanik bukan saja mampu melindungi dirinya, akan tetapi juga mampu membantu isterinya yang terdesak oleh Kalajana!
Kemudian, ledakan-ledakan pecut sakti yang disertai api pada ujungnya memiliki tenaga yang mampu melawan bau dupa yang mengandung pengaruh kuat membuat mereka pusing itu.
Akan tetapi pertahanan yang kokoh kuat dari Tejomanik dengan pecut saktinya itu, tidak dapat berlangsung lama karena tiba-tiba saja datang angin besar seperti badai!
Anehnya, dua orang Kala itu tidak terpengaruh, akan tetapi suami isteri itu diterpa angin yang membuat gerakan mereka menjadi tidak tetap.
Bahkan angin itu mulai berputar dan terjadilah angin lesus (pusaran angin) yang menyerang suami isteri itu, padahal kedua raksasa itu sama sekali tidak terpengaruh!
Retno Susilo terhuyung.
Tejomanik maklum bahwa mereka diserang ilmu sihir yang amat kuat.
Dia mengerahkan seluruh tenaga batinnya dan memutar pecut sakti Bajrakirana untuk melindungi diri sendiri dan isterinya.
Mendadak, dalam angin lesus itu terdengar suara yang menyeramkan, seolah suara dari neraka, suara setan-setan.
Ada suara tangis ada tawa, ada yang berteriak-teriak, memaki-maki, merintih, dan suara itu benar-benar mengguncangkan hati.
Retno Susilo hanya dapat memutar pedangnya melindungi dirinya dengan lemah saja.
Untung pecut Bajrakirana masih menjadi gulungan sinar yang melindunginya, kalau tidak tentu ia sudah dapat ditangkap Kaladhama yang ingin sekali menangkap dan memeluknya.
Kemudian, terdengar suara orang bicara.
Suara itu tinggi kecil seperti suara wanita, melengking dan menggetar penuh wibawa.
"Tejomanik dan Retno Susilo, kalian tidak mampu menguasai diri dan harus menurut semua perintahku! Lepaskan senjata kalian! Tejomanik, Retno Susilo, lepaskan senjata kalian kataku! Hayo, lepaskan!!"
Pengaruh yang amat kuat mendorong suami isteri itu untuk melepaskan senjata mereka.
Tejomanik mengerahkan tenaga dan dia berhasil mempertahankan senjata dan memutar pecut sakti Bajrakirana untuk melindungi dirinya dan isterinya.
Akan tetapi Retno Susilo tidak mampu lagi mempertahankan diri.
Ia melepaskan pedang dari tangannya dan berdiri seperti patung yang kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa!
Kaladhama girang sekali dan hendak menubruknya, akan tetapi gulungan sinar pecut Bajra-kirana menghalanginya.
Dia menjadi marah dan tahu bahwa sebelum dia dan adiknya merobohkan Tejomanik, akan sukarlah dia dapat merangkul Retno Susilo!
Maka dia lalu bersama adiknya menerjang dan mengeroyok Tejomanik yang pertahanannya agak goyah karena dia harus mempertahankan diri terhadap ilmu sihir yang mendatangkan angin lesus dan suara-suara mengerikan itu.
Terdengar pula suara tinggi melengking itu, menembus sampai ke telinga Retno Susilo.
"Retno Susilo, bagus andika sudah menurut kepadaku, sekarangj kesinilah, Retno Susilo. Andika tidak dapat menolak, tidak dapat menguasai kaki sendiri. Melangkahlah kesini, Retno Susilo!"
Bagaikan dalam mimpi, Retno Susilo tidak mampu mempertahankan kedua kakinya yang mulai bergerak, melangkah ke arah pondok! Melihat ini, Tejomanik menjadi khawatir sekali.
"Diajeng Retno, jangan pergi kesana! Berhentilah!"
Agaknya suara suaminya ini membuat Retno Susilo meragu sehingga sejenak ia berhenti.
Akan tetapi suara yang memanggil-manggil itu membuat kedua kakinya bergerak sendiri.
Hatinya menahan, akan tetapi pertahanannya itu hanya membuat langkahnya perlahan-lahan dan pendek-pendek.
Tejomanik menjadi khawatir dan kebingungannya ini membuat pertahanannya kacau sehingga dia mulai terdesak hebat oleh pengeroyokan dua orang raksasa yang tangguh itu.
"Sambutlah Aji Kalabendu!!"
Kala-dhama membentak dan tangan kirinya memukul dengan tangan terbuka.
Angin dahsyat menyambar dan tahu bahwa dia diserang pukulan sakti, Tejomanik juga mendorongkan tangan kiri dengan menggunakan Aji Bromokendali untuk menyambut serangan lawan.
"Blarrr...!!"
Dua hawa sakti bertemu dengan hebatnya dan tubuh Kaladhama terpental ke belakang.
"Aji Tatit Geni!"
Bentak Kalajana yang juga menyerang dengan tangan kirinya.
Tampak kilatan api menyambar dari tangan kirinya.
Kembali Tejomanik menyambut dengan Bromokendali dan tubuh Kalajana juga terhuyung.
Dalam adu tenaga sakti ini ternyata Tejomanik masih lebih kuat.
Akan tetapi dua orang lawannya itu juga hebat.
Serangan mereka yang tertangkis dan gagal itu tidak membuat mereka terluka dan kini mereka mengeroyok dengan senjata mereka.
Kalau dibuat perbandingan, Tejomanik memiliki tingkat kepandaian yang lebih kuat dibanding Kaladhama atau Kalajana.
Akan tetapi dua orang raksasa itu maju bersama dan mereka dibantu oleh kekuatan sihir yang amat kuat, yang sampai sekarang penyerangnya belum memperlihatkan diri.
Semua itu ditambah lagi dengan kekhawatirannya melihat betapa Retno Susilo sudah terpengaruh sihir yang kuat dan kini isterinya itu menghampiri pondok perlahan-lahan.
Bahkan bentakannya tadi pun tidak dapat menyadarkan Retno Susilo.
Tentu saja dia menjadi gelisah dan hal ini semakin memperlemah pertahanannya.
Dia kini mengamuk dan menggunakan tangan kiri membantu pecutnya, mengirim pukulan Gelap Musti dan Bromo-kendali berganti-ganti.
Aji pukulan yang dua ini hebatnya bukan main.
Akan tetapi dua orang lawannya itu bukan hanya sakti, melainkan juga cerdik dan mereka tidak mau menyambut pukulan-pukulan yang mengandung tenaga sakti amat kuat itu.
Mereka kini bergerak cepat sekali, menyerang dengan golok gergaji di tangan kanan dan melancarkan serangan pukulan sakti dengan tangan kiri.
Karena perhatian Tejomanik terpecah, sebagian memperhatikan Retno Susilo yang kini sudah tiba dekat pondok, dia menjadi lengah.
"Wuuuttt... desss...!"
Sebuah pukulan tangan kiri Kaladhama mengenai pundaknya.
Pukulan itu menggunakan Aji Kala-bendu yang mengeluarkan hawa panas.
Tubuh Tejomanik terpelanting.
Untung dia memiliki Aji Kekebalan Kawoco sehingga tidak terluka, namun karena terpelanting roboh pertahanannya menjadi semakin lemah.
Kedua orang raksasa itu dengan girang melompat ke depan dan menggerakkan golok mereka menyerang.
"Singgg... trang-tranggg...!"
Pecut sakti Bajrakirana dapat menangkis dan Tejomanik sudah melompat berdiri lagi.
Akan tetapi tiba-tiba datang angin lesus dibarengi suara-suara yang mengerikan itu, membuat Tejomanik merasa kepalanya pusing dan jantungnya tergetar karena guncangan yang diakibatkan suara-suara setan itu.
Karena angin lesus itu agaknya tidak mampu membuat satria yang gagah perkasa itu terseret, agaknya si pelepas kekuatan sihir lalu mengubah sihirnya dan tiba-tiba datang asap hitam menggelapkan pandang mata Tejomanik.
Cuaca menjadi gelap pekat dan suara itu semakin mengerikan.
Dua orang lawannya menyerang dengan dahsyat dari kanan kiri.
Tejomanik tidak dapat melihat mereka, hanya dapat menangkap gerakan penyerangnya itu dengan pendengarannya yang juga dikacau oleh suara-suara itu.
Dia lalu memutar pecut saktinya.
Pecut Bajrakirana menjadi gulungan sinar yang melindungi tubuhnya sehingga semua serangan kedua golok gergaji itu tertangkis oleh sinar pecut.
Bagaimanapun keadaan Tejomanik gawat sekali.
Apalagi Retno Susilo yang sudah sampai di depan pondok, maju perlahan sekali seperti orang linglung!
Tiba-tiba terdengar suara tiupan seruling.
Suara itu merdu sekali, melengking-lengking dengan nada yang aneh, mengalunkan lagu yang aneh pula.
Akan tetapi lengkingan suara seruling itu membawa getaran yang amat lembut dan asap hitam itu segera menghilang!
Semua suara setan itu pun berhenti sehingga Tejomanik dapat melihat dua orang lawan-nya dengan baik.
Kepalanya tidak terasa pusing lagi.
Yang membuat hatinya girang, Tejomanik melihat betapa isterinya, yang tadi telah tiba di depan pondok, tiba-tiba berseru keras dan melompat ke tempat perkelahian, mengambil pedangnya yang tadi ia lepaskan lalu menerjang lawan, membantunya menghadapi Dwi Kala!
"Uh-uh-uh...
siapa berani memunahkan ajianku...?"
Terdengar suara serak dan seorang kakek berusia kurang lebih tujuh puluh lima tahun muncul dari pintu pondok.
Kakek itu bertubuh kurus kering dan bongkok, pakaiannya dari kain hitam yang dilibat-libatkan di tubuhnya yang kurus, mukanya tampak tua sekali dan kurus seperti tengkorak terbungkus kulit, matanya mencorong seperti mata kucing di tempat gelap dan tangannya memegang sebatang tongkat kayu cendana.
"Kakek iblis, ilmu setanmu tidak akan dapat mengalahkan manusia baik-baik yang dilindungi Kekuasaan Gusti Allah!"
Terdengar suara lembut namun berwibawa.
Kakek tua renta itu memandang dan tahu-tahu disitu telah muncul dua orang yang menentangnya dengan pandang mata tajam.
Yang seorang adalah pria berusia kurang lebih tiga puluh tiga tahun, wajahnya tampan matanya lembut, wajah yang cerah dan selalu tersenyum.
Tubuhnya sedang saja namun pembawaannya menunjukkan bahwa dia memiliki kekuatan tersembunyi yang amat kuat.
Adapun orang kedua adalah seorang wanita, sekitar tiga puluh satu tahun usianya.
Cantik dan gerak-geriknya juga lembut namun sinar matanya dapat mencorong galak.
Wajahnya bulat dengan dagu runcing, matanya seperti bintang, hidung mancung dan mulutnya memiliki sepasang bibir yang menggairahkan.
Mereka adalah sepasang suami isteri.
Yang pria bernama Parmadi, seorang satria dan pendekar ternama yang juga banyak berjasa terhadap Mataram, akan tetapi menolak pemberian kedudukan oleh Sultan Agung dan kini tinggal di Pasuruhan.
Dia pendekar yang terkenal dengan julukan Seruling Gading karena itulah senjatanya yang amat ampuh.
Adapun wanita itu, isterinya, bernama Muryani, juga seorang wanita gagah perkasa yang dulu menjadi murid Nyi Rukmo Petak.
Bersama suaminya, ia membantu bala tentara Mataram ketika berperang melawan Kumpeni Belanda.
Suami isteri ini sudah sepuluh tahun menikah, namun mereka belum dikaruniai anak.
Inilah yang membuat mereka tidak merasa betah tinggal di rumah dan mereka berdua banyak merantau dan dimanapun mereka berada, mereka selalu melaksanakan tugas sebagai pendekar.
Mereka menegakkan keadilan, membela kebenaran yang berada di pihak tertindas, dan menentang semua pelaku-pelaku kejahatan.
Tadi Parmadi meniup seruling gadingnya meniupkan nada-nada dari Aji Sunyatmaka lewat suara suling.
Aji Sunyat-maka (Jiwa Bebas) merupakan keadaan jiwa yang bebas dan menyerah kepada Gusti Allah sehingga kekuasaanNya yang membimbing dan melindungi.
Kalau kekuasaan ini melindungi seseorang, segala macam ilmu yang datangnya dari Kuasa Kegelapan (Setan) akan mundur ketakutan.
Maka ketika dia meniup sulingnya, semua kekuatan sihir yang dilepas kakek tua renta itu yang sejak tadi tinggal di dalam pondok, menjadi buyar.
Siapakah kakek tinggi kurus dan bongkok itu?
Dia bernama Bhagawan Kolasrenggi, seorang pertapa yang berasal dari Blambangan dan tinggal di Bali, akan tetapi yang kini pindah dan kembali ke Blambangan, bertapa di sebuah bukit di Semenanjung Blambangan.
Dia adalah kakak seperguruan dari Wiku Menak Jelangger dan Wiku Menak Koncar.
Watak kakek ini sama sekali berbeda dengan watak Wiku Menak Jelangger yang baik budi, dan bahkan lebih tersesat dibandingkan mendiang Wiku Menak Koncar yang menyeleweng dari jalan kebenaran.
Selama tinggal puluhan tahun di Bali, dia telah memperdalam ilmu-ilmunya, terutama sekali ilmu sihir, tenung, santet dan sebagainya.
Sang bhagawan ini pindah ke Blambangan membawa dua orang muridnya dari Bali, yaitu Dwi Kala, yang selalu melayani dan mencukupi segala kebutuhannya.
Dwi Kala ini juga merupakan orang-orang sesat dan terkenal sebagai pelaku-pelaku kejahatan di Bali, maka mereka dan guru mereka dimusuhi para pendekar di Bali.
Bahkan Raja Klungkung di Bali juga mengerahkan pasukannya yang bersama para pendekar lalu memusuhi Bhagawan Kalasrenggi dan Dwi Kala sehingga akhirnya mereka bertiga melarikan diri menyebrangi Selat Bali dan kembali ke Blambangan.
Setelah tiba di Blambangan, Bhagawan,.
Kalasrenggi mendengar akan kematian adik seperguruannya, yaitu Wiku Menak Koncar dan juga adik seperguruannya yang lain, yaitu Ki Klabangkolo.
Marahlah dia dan mendengar Kyai Sidhi Kawasa yang dulu menjadi sahabatnya juga tewas, dia lalu menganggap Sutejo atau Tejomanik dan para satria Mataram sebagai musuh besarnya.
Itulah sebabnya mengapa Kaladhama dan Kalajana, ketika merasa tidak mampu mengalahkan Tejomanik dan Retno Susilo, lalu menantang suami isteri itu ke pondok mereka dengan maksud agar guru mereka membantu mereka merobohkan satria yang dianggap musuh besar mereka itu.
Akan tetapi setelah dua orang Dwi Kala dan guru mereka sudah hampir berhasil merobohkan Tejomanik dan menawan Retno Susilo, tanpa mereka sangka-sangka, muncul suami isteri lain yang juga amat digdaya, bahkan yang pria dengan tiupan seruling gadingnya mampu membuyarkan semua pengaruh ilmu sihir Bhagawan Kalasrenggi!
Bhagawan Kalasrenggi merasa penasaran sekali dan ia keluar dari pintu pondok untuk melihat siapa orangnya yang telah membuyarkan ilmu sihirnya.
Dia hampir tidak percaya kalau yang mampu membuyarkan ilmu hitam yang dipelajari selama berpuluh tahun itu hanyalah seorang laki-laki yang masih muda, baru tiga puluh tahun lebih usianya!
"Babo-babo, orang muda sombong.
Ubun-ubunmu masih bau kencur, engkau berani menantang aku?
Sambut ini, baru engkau mengenal siapa Bhagawan Kala srenggi!!"
Kakek itu menodongkan tongkatnya dan dari ujung tongkat itu keluar asap putih bergulung-gulung dan asap itu membentuk wujud yang mengerikan.
Seorang mahluk seperti setan, bertaring, matanya melotot besar, lidahnya terjulur keluar dan dari mulutnya tampak api bernyala-nyala.
Mahluk itu lalu menyemburkan bola-bola api ke arah Parmadi dan Muryani.
Maklum akan kedahsyatan ilmu setan ini, Muryani cepat menyelinap ke belakang tubuh suaminya.
Parmadi tidak mengelak, juga tidak menangkis, melainkan segera meniup dan memainkan sulingnya.
Kembali terdengar alunan nada aneh keluar dari seruling gading itu, nadanya mengalun syahdu, mendatangkan rasa tenang di hati para pendengarnya.
Bola-bola api yang disemburkan jejadian itu menyambar, akan tetapi anehnya, sebelum mengenai tubuh Parmadi, dalam jarak sejengkal, bola-bola api itu rontok dan jatuh ke atas tanah!
Melihat serangannya gagal, Bhagawan Kalasrenggi menyimpan kembali mahluk itu dan kini dia menancapkan tongkatnya di depan tubuhnya, lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah Parmadi.
Melihat serangan yang mengandung hawa pukulan tenaga sakti yang kuat itu, Parmadi menyambutnya dengan dorongan kedua tangan pula setelah menyelipkan seruling gading di pinggangnya.
Muryani tadi tidak dapat membantu ketika suaminya bertanding menghadapi sihir kakek itu.
Akan tetapi begitu melihat kakek itu menyerang dengan pukulan jarak jauh, iapun membantu suaminya ikut menyambut dengan mendorongkan kedua tangan dan mengerahkan Aji Bromo Latu yang mengandung hawa panas.
"Wuuutt... blarrr...!"
Tenaga gabungan suami isteri itu bertemu dengan tenaga sakti Bhagawan Kalasrenggi.
Demikian dahsyat pertemuan tenaga itu sehingga tanah di sekitarnya tergetar.
Suami isteri itu mundur tiga langkah, akan tetapi kakek tua renta itu terhuyung ke belakang.
Biarpun kakek sakti mandraguna itu tidak terluka, namun dia tahu bahwa mengadu tenaga sakti melawan dua orang itu, dia kalah kuat.
Pada saat itu, terdengar sorak sorai dan ratusan orang warga pedusunan daerah itu berlari-larian mendaki puncak bukit.
Melihat ini, gentarlah hati Bhagawan Kalasrenggi.
Dia lalu mengacungkan tongkat yang sudah dia cabut dari atas tanah, membaca mantra dan menggoyang-goyangkan tongkat itu.
Angin besar datang bertiup dan muncul asap hitam yang amat tebal, membuat cuaca menjadi gelap.
Kaladhama dan Kalajana yang sudah terdesak sekali melawan Tejomanik dan Retno Susilo, menjadi terkejut dan panik melihat munculnya ratusan orang yang mengacung-acungkan senjata golok, linggis, cangkul dan lain-lain.
Maka, begitu melihat asap hitam, mereka maklum bahwa guru mereka mengajak mereka melarikan diri.
Cepat mereka melompat kebelakang dan menghilang dalam asap hitam, mengikuti guru mereka.
Terdengar suling mendayu-dayu ketika Parmadi meniup serulingnya dan perlahan-lahan asap hitam dan angin ribut menghilang.
Akan tetapi tiga orang itu telah lenyap dari situ.
Ratusan orang warga pedusunan itu tercengang dan berhenti ketika melihat asap hitam.
Akan tetapi setelah asap hitam menghilang, mereka bersorak lagi dan berlari-larian menghampiri.
Mereka langsung menyerbu ke dalam pondok dan berhasil menemukan enam orang gadis yang diculik oleh Dwi Kala, juga menemukan uang yang juga secara terpaksa !
karena takut diserahkan oleh warga dusun.
Mereka menyelamatkan semua itu, kemudian ramai-ramai membakar pondok.
Sementara itu dua pasang suami isteri yang sudah saling mengenal itu ber-cakap-cakap.
Mereka berempat pernah sama^sama membantu pasukan Mataram ketika Mataram menyerang Kumpeni Belanda di Batavia.
"Wah, berbahaya sekali Bhagawan Kalasrenggi itu! Dia sakti mandraguna, sayang sekali kesaktiannya dipergunakan untuk berbuat jahat!"
Kata Parmadi sambil menghela napas panjang.
"Mungkin yang jahat itu dua orang muridnya, Dwi Kala itu, dan dia hanya membantu murid-muridnya. Sungguh mengherankan, bagaimana ada orang-orang sesat yang begitu sakti berada disini? Adi Parmadi, untung andika berdua muncul, kalau tidak, kami berdua sudah terancam bahaya besar tadi. Terima kasih!"
Kata Tejomanik.
"Ah, Kakangmas berdua tentu akan melakukan hal yang sama sekiranya melihat kami berdua diancam bahaya! Kita patut berterima kasih kepada Gusti Allah sehingga mampu mengusir tiga orang manusia iblis tadi."
Kata Parmadi.
Retno Susilo sudah saling rangkul dengan Muryani.
Mereka adalah kakak beradik tunggal guru walaupun mereka baru saling bertemu satu kali ketika sama-sama membantu pasukan Mataram.
Dua orang wanita ini adalah murid mendiang Nyi Rukmo Petak.
"Muryani, bagaimana engkau dan suamimu dapat muncul pada saat yang sangat tepat? Kalian hendak pergi kemana?"
Tanya Retno Susilo.
"Mbakayu Retno Susilo, kami berdua sedang melakukan perjalanan merantau dan di lereng bukit tadi kami melihat ratusan orang berbondong-bondong mendaki puncak. Karena ingin tahu apa yang terjadi, kami bertanya dan mereka mengatakan bahwa mereka sedang hendak menyerang dua orang manusia iblis berwujud raksasa di puncak. Mendengar keterangan mereka bahwa Kakangmas Tejomanik dan Mbakayu Retno Susilo sudah lebih dulu naik ke puncak untuk membasmi para penjahat, kami berdua segera menyusul kesini."
Kata Muryani.
Mereka berempat bercakap-cakap dengan gembira karena tidak disangka-sangka dapat saling bertemu dan bekerja sama menghadapi Dwi Kala dan guru mereka yang sakti mandraguna, tidak memperdulikan para warga dusun yang mengobrak-abrik isi pondok bahkan lalu membakar pondok itu.
Setelah para warga pedusunan disekitar bukit itu melampiaskan kemarahan mereka dan menyelamatkan enam orang gadis, kini mereka, dipimpin Ki Lurah Selowono, lalu berlutut menghadap ke arah empat orang penolong mereka.
Empat orang kepala dusun maju menghampiri dua pasang suami isteri pendekar itu dan Ki Lurah (Lanjut ke
Jilid 20) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 Selowono mewakili mereka memberi hormat dan berkata.
"Kami seluruh keluarga warga empat buah dusun menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Den mas berempat sehingga kdmi dapat membebaskan enam orang gadis yang diculik para penjahat tadi. Kami sudah mengenal nama Denmas Tejomanik dan Masayu Retno Susilo, akan tetapi kami ingin mengetahui juga nama andika berdua yang baru datang dan yang menjadi penolong kami pula."
Parmadi tersenyum.
"Paman, kami hanya orang-orang biasa, sama seperti andika sekalian. Namaku Parmadi dan ini isteriku bernama Muryani."
Tejomanik lalu berkata dengan suara lantang.
"Para warga pedusunan daerah ini, dengarkan baik-baik! Kalau dusun-dusun andika sekalian diganggu orang-orang jahat, lakukanlah seperti yang kalian lakukan sekarang ini. Kalau kalian bersatu padu menentang penjahat, dengan ratusan orang seperti ini, kami yakin tidak akan ada penjahat berani mengganggu kalian!"
"Terima kasih, Denmas Tejomanik. Kami menyadari akan kebenaran itu. Sekarang, kami mohon sudilah Denmas ber-empat memberi kesempatan kepada kami untuk menyambut Denmas berempat sebagai tamu kehormatan dan untuk menyampaikan rasa terima kasih kami."
Kata Ki Lurah Selowono yang serempak di-ikuti oleh tiga orang lurah lainnya.
Parmadi mengerutkan alisnya dan hendak menolak.
Apa yang mereka ber-empat lakukan adalah hal wajar saja dan sudah menjadi kewajiban mereka.
Tidak perlu disanjung dan dipuji.
Akan tetapi Tejomanik memandang kepadanya dan berkata.
"Adimas Parmadi, kami perlu sekali bicara dengan mereka untuk bertanya tentang putera kami. Maka, marilah kita terima undangan mereka."
Parmadi mengangguk dan tersenyum.
Mereka menerima undangan itu bukan karena ingin disanjung, melainkan karena ada hal yang perlu sekali ditanyakan oleh Ki Tejomanik.
Semua orang kini beramai-ramai turun dari puncak, dimana pondok itu masih terbakar.
Tiga orang lurah dari dusun lain ikut pula ke rumah Ki Lurah Selowono untuk menyambut empat orang tamu kehormatan mereka itu.
Setelah dijamu dalam pesta makan bersama dengan empat orang lurah dan isteri mereka, dua pasang suami isteri itu lalu mengajak para lurah itu bercakap-cakap dan dalam kesempatan ini Tejomanik mulai dengan penyelidikannya.
"Paman Lurah Selowono, aku ingin sekali mendengar keterangan andika sekalian tentang seorang pertapa yang bertapa di Pegunungan Ijen ini. Namanya Ki Ageng Mahendra. Apakah andika sekalian mengenal nama itu dan mengetahui dimana tempat padepokannya?" ' Mendengar pertanyaan itu, empat orang kepala dusun itu saling pandang dan Ki Lurah Selowono menghela napas panjang.
"Justeru inilah yang membuat kami semua merasa berduka dan tidak berdaya. Kalau saja ada Ki Ageng Mahendra, tak mungkin ada manusia-manusia iblis datang mengganggu dan mengacau dusun-dusun kami."
"Andika mengenal beliau, Paman? Dimana padepokannya?"
Tejomanik didahului Retno Susilo yang sudah bertanya dengan suara mendesak.
"Tentu saja kami seluruh warga pedusunan di daerah ini mengenal Ki Ageng Mahendra. Akan tetapi sayang ... beliau telah wafat sekitar tiga empat tahun yang lalu."
Tejomanik dan isternya saling pandang dan merasa kecewa, lalu Tejomanik bertanya.
"Paman, apakah andika mengenal muridnya yang bernama Bagus Sajiwo?"
Empat orang lurah itu mengangguk-angguk. Ki Lurah Selowono cepat menjawab.
"Tentu saja kami mengenal Den Bagus dengan baik!"
"Ah, bagaimana keadaannya, Paman? Apakah Bagus Sajiwo sehat-sehat saja?"
Retno Susilo bertanya, wajahnya berseri, matanya bersinar.
"Hampir empat tahun yang lalu Den Bagus Sajiwo dalam keadaan baik-baik saja dan sehat, Masayu. Akan tetapi setelah Ki Ageng Mahendra wafat empat tahun yang lalu, dia pergi meninggalkan padepokan yang telah dibakarnya untuk memperabukan jenazah Ki Ageng Mahendra."
"Pergi? Kemana, Paman? Dimana dia sekarang?"
Retno Susilo mengejar. Ki Selowono menggeleng kepalanya.
"Kami semua tidak tahu, Masayu. Ketika Ki Ageng Mahendra wafat, kami datang ke padepokannya untuk melayat. Akan tetapi Den Bagus Sajiwo tidak memberitahu kepada kami kemana dia pergi. Kami semua amat kehilangan Ki Ageng Mahendra, juga kehilangan Den Bagus Sajiwo."
"Ohhh...!"
Tak dapat ditahannya lagi, Retno Susilo menutupi mukanya dengan kedua tangan, akan tetapi semua orang mengetahui bahwa ia menangis.
Biarpun ia menahan suara tangisnya, namun ia terisak dan air mata menetes keluar dari celah-celah jari tangannya.
Muryani segera menghampiri dan merangkul kakak seperguruannya itu.
Tejomanik menghibur dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Diajeng, mendengar bahwa dia sehat selamat saja, kita sudah bersyukur dan berterima kasih kepada Gusti Allah. Memang agaknya belum tiba saatnya kita berjumpa dengan dia, akan tetapi percayalah, Gusti Allah Maha Pengasih yang telah melindungi anak kita dengan selamat, pasti akan mempertemukan kita dengannya pada saatnya."
"Kakangmas Tejomanik berkata benar, Mbakayu. Saya juga merasa yakin bahwa Mbakayu kelak akan bertemu kembali dengan Bagus Sajiwo."
Mendengar ucapan dua orang satria itu, Retno Susilo merasa terhibur dan ia menghentikan tangisnya, mengusap air mata dari pipinya.
Sementara itu, empat orang kepala dusun mendengar percakapan itu, tercengang dan saling pandang.
"Waduh, kiranya Denmas dan Masayu ini adalah ayah dan ibu dari Den Bagus Sajiwo? Sungguh kami merasa berbahagia sekali dapat bertemu dengan Denmas sekalian."
Kata Ki Lurah Selowono.
Dua pasang suami isteri itu tinggal di rumah kepala dusun Krenting malam itu dan mereka mendengarkan para kepala dusun itu bercerita Ki Ageng Mahendra dan Bagus Sajiwo.
Terutama sekali Tejomanik dan Retno Susilo, ingin menguras semua yang diketahui orang-orang itu tentang diri Bagus Sajiwo.
Mereka merasa senang dan bangga mendengar bahwa putera mereka telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan yang diakui oleh semua kepala dusun sebagai seorang pemuda yang ramah, rendah hati, dan baik budi, seringkali menolong para penduduk dusun dengan mengobati mereka yang sakit.
Juga beberapa kali putera mereka itu menentang dan mengusir orang-orang jahat dari dalam dusun.
Pada keesokan harinya, Tejomanik dan Retno Susilo berdua naik ke puncak bukit yang pernah menjadi tempat tinggal Bagus Sajiwo dan Ki Ageng Mahendra, sedangkan Parmadi dan Muryani melanjutkan perantauan mereka.
Biarpun di puncak bukit itu kini telah sunyi dan pondok bekas padepokan Ki Ageng Mahendra telah lenyap dan hanya tinggal bekas-bekas puing sedikit saja karena menurut cerita para kepala dusun, puing-puing rumah itu bersama abu jenazah terbawa angin lesus dan menjadi hujan abu di permukaan bukit, namun hati kedua orang tua itu berdebar dan rasa haru menyelinapi perasaan mereka ketika mereka berdiri di bekas pondok yang terbakar itu dan memandang ke seliling.
Di sinilah putera mereka, Bagus Sajiwo, tinggal selama sepuluh tahun!
Sejak anak berusia enam tahun sampai menjadi seorang pemuda remaja berusia enam belas tahun!
Seakan terasa oleh mereka disitu, seolah terdengar suara anak mereka diantara bisikan angin di dedaunan.
Tiba-tiba Tejomanik menyentuh pundak isterinya.
Retno Susilo memandang kepada suaminya dengan kedua mata basah dan melihat suaminya menuding ke kiri.
Ia memandang dan melihat dua buah batu besar yang atasnya datar.
Mereka tanpa bicara, segera menghampiri.
Dua bongkah batu itu yang satu lebih besar dafipada yang lain, permukaannya bersih dan licin.
Tanpa bicara keduanya sudah dapat menduga bahwa tentu guru dan murid itu suka duduk di atas batu-batu ini yang memang diduduki untuk bersamadhi.
Langsung saja Retno Susilo mendekati batu yang lebih kecil dan meraba-raba, seolah membelai tubuh puteranya.
Kemudian ia duduk bersila di atas batu itu.
Tejomanik juga duduk di atas batu yang lebih besar, bersila dan suami isteri itu duduk bersamadhi.
Setelah beberapa lamanya bersamadhi dengan khusuk, mereka merasa betapa tenang dan tenteram hati mereka, penuh kedamaian dan lenyaplah segala perasaan haru dan kecewa.
Mereka membuka mata dan memandang ke sekeliling.
"Agaknya disini empat tahun yang lalu menjadi sebuah taman yang indah."
Kata Retno Susilo. Suaminya mengangguk.
"Dan aku dapat membayangkan betapa Ki Ageng Mahendra memberi pelajaran dan wejangan kepada anak kita di atas batu ini. Lihat kesana, pemandangan dari tempat kita duduk ini begitu indah. Tempat ini memang cocok sekali untuk menjadi tempat padepokan seorang pertapa."
"Siapakah sebetulnya Ki Ageng Mahendra yang menjadi guru anak kita itu? Engkau belum menceritakan dengan jelas."
"Aku sendiri juga tidak tahu dengan jelas. Mendiang Eyang Guru Resi Limut Manik hanya pernah mengatakan bahwa beiiau mempunyai seorang adik seperguruan bernama Ki Ageng Mahendra yang sejak muda hanya bertapa dari gunung ke gunung, berbeda dengan Eyang Resi Limut Manik yang membangun perguruan Jatikusuma. Dan kebetulan sekali, guruku pertama, Bhagawan Sidik Paningal, pernah berguru kepada Resi Limut Manik Dengan demikian maka Resi Limut Manik adalah eyang guruku dan Ki Ageng Mahendra masih terhitung eyang guruku pula. Maka, kalau Bagus Sajiwo menceritakan siapa ayahnya kepada Ki Ageng Mahendra, tentu beliau mengetahui bahwa Bagus Sajiwo masih buyut muridnya sendiri!"
Retno Susilo menghela napas panjang, merasa lega bahwa puteranya menjadi murid seorang yang amat sakti mandraguna.
"Yang membuat aku merasa heran, kenapa Bagus tidak segera pulang ke Gunung Kawi setelah gurunya wafat? Kemana saja dia selama hampir empat tahun ini? Ah, dia tentu kini sudah berusia hampir dua puluh tahun!"
"Karena itulah, kita harus segera pulang ke Gunung Kawi, Diajeng. Mungkin saja sewaktu-waktu dia akan pulang dan bagaimana kalau dia mendapatkan rumah kosong?"
"Engkau benar, Kakangmas. Mari kita segera pulang. Siapa tahu dia sekarang sudah berada di rumah menanti kita!"
Suami isteri itu lalu turun dari bukit dan melakukan perjalanan ke barat, menuju pulang ke Gunung Kawi dengan hati penuh harapan untuk segera berjumpa dengan putera mereka.
-ooOoo -Bagus Sajiwo duduk bersila di atas batu yang datar dan permukaannya halus.
Kedua tangannya berada di pangkuan, tubuhnya tegak lurus dan kedua matanya terpejam.
Tak jauh dari situ, terpisah sekitar sepuluh meter, Maya Dewi juga duduk bersila di atas sebuah batu lain, dengan sikap yang sama dengan Bagus Sajiwo.
Sinar matahari menerobos memasuki ruangan dalam perut bukit karang itu melalui celah-celah antara batu-batu karang di atas.
Sudah kurang lebih tiga tahun lamanya mereka berdua berada di dalam perut bukit karang itu, dalam ruangan yang luas.
Mereka hidup seolah mengasingkan diri disitu untuk mempelajari isi kitab Aji Sari Bantala (Sari Bumi).
Selain kitab itu memuat keterangan pelajaran dengan huruf-huruf kuno sehingga agak sukar dimengerti walaupun Bagus Sajiwo pernah mempelajari tulisan kuno dari Ki Ageng Mahendra, ditambah lagi dengan sulitnya mempelajari ilmu itu, maka setelah lewat tiga tahun baru mereka kini melatih bagian terakhir isi kitab itu.
Isi kitab itu terdiri dari dua tingkat.
Tingkat pertama adalah cara berlatih pernapasan dan penguasaan atas tenaga sakti dahsyat yang berada dalam tubuh mereka berkat makan "Jamur Dwipa Suddhi".
Untuk melatih tingkat pertama ini saja mereka membutuhkan waktu setahun.
Setelah melatih dengan tekun selama setahun, barulah mereka berhasil menguasai hawa yang dahsyat itu sehingga dapat dipergunakan sekehendak hati mereka.
Kemudian barulah mereka mempelajari dan melatih pelajaran tingkat ke dua.
Ini merupakan gerakan ilmu silat yang lambat namun yang bergerak dengan sendirinya, tidak direka-reka dan tidak dibuat atau disengaja.
Pada mulanya gerakan mereka tidak karuan bahkan liar dan sifatnya merusak sehingga dinding batu karang disitu banyak yang pecah berantakan terkena tamparan tangan mereka.
Akan tetapi setelah tekun berlatih selama dua tahun, barulah gerakan-gerakan mereka teratur dan indah seperti menari-nari, dan begitu lembut sehingga tampak tanpa tenaga.
Beberapa saat setelah Bagus Sajiwo dan Maya Dewi duduk bersila, mulailah ada tenaga menggetarkan seluruh jasmani mereka, dari ubun-ubun kepala sampai ke jari kaki dan perlahan-lahan getaran itu menggerakkan tubuh mereka.
Keduanya bangkit atau dibangkitkan oleh getaran tenaga itu dan mulailah mereka bersilat, menggerakkan kaki tangan seperti orang menari.
Dalam setiap gerakan, mereka merasa seolah-olah tangan atau kaki yang bergerak itu berada dalam air, terasa nyaman dan gerakan itu menjadi gerakan sambung menyambung tiada hentinya.
Pikiran mereka terasa tenang tapi terang penuh kesadaran, bukan seperti mimpi atau tidak sadar.
Namun hati akal pikiran mereka tidak mengendalikan gerakan tubuh mereka.
Ada SESUATU yang lebih hebat, lebih dahsyat, lebih kuat dari hati akal pikiran yang menggerakkan seluruh tubuh.
Hati akal pikiran hanya menyerah, hanyut, tanpa kehendak, tanpa pamrih.
Untuk melatih ini, sungguh tidak mudah dan kini Bagus Sajiwo dan Maya Dewi sudah berhasil dengan latihan mereka.
Itulah Aji Inti Bumi seperti yang diterangkan dalam kitab kuno itu.
Setelah bergerak sendiri-sendiri, membiarkan diri hanyut dalam gerakan otomatis itu, hati akal pikiran hanya menjadi saksi, maka keduanya lalu saling menghampiri dan mulailah mereka saling menyerang dalam latihan.
Kini hati akal pikiran mereka bekerja, mengarahkan gerakan otomatis itu dalam pembelaan diri, kalau yang satu menyerang, yang lain mempertahankan diri.
Sampai berjam-jam mereka bergerak-gerak, indah seperti dua orang penari ulung melakukan tari yuda (perang).
Akhirnya mereka menghentikan gerakan itu, dan duduk bersila kembali mengatur pernapasan.
"Bagus, bukankah kita sudah selesai mempelajari Kitab Sari Bantala itu?"
Terdengar Maya Dewi bertanya, suaranya kini lembut dan tenang.
Wanita ini sudah berusia sekitar tiga puluh lima tahun, akan tetapi sungguh luar biasa, ia masih tampak seorang gadis berusia dua-puluh tahun saja!
Kecantikannya wajar, tanpa ditambah pemutih atau pemerah muka, akan tetapi kulit mukanya begitu halus, putih kemerahan dan bibirnya merah basah dan segar tanda kesehatan yang sempurna.
Rambutnya yang hitam panjang itu digelung secara sederhana, seperti gelung perawan desa, namun kesederhanaan itu bahkan membuat kejelitaannya semakin menonjol.
Ia pun mengenakan pakaian model wanita dusun, yang dibelinya di pedusunan di tepi pantai ketika ia mendapat giliran keluar dari ruangan perut bukit karang untuk mencari segala kebutuhan hidup mereka.
Bagus Sajiwo kini sudah tampak lebih dewasa.
Usianya sudah hampir dua puluh tahun, tubuhnya tinggi tegap, jantan dan rambutnya yang hitam itu agak berombak, dahinya lebar, alisnya tebal hitam.
Hidungnya mancung dan bibirnya selalu mengembangkan senyum, matanya lebar dan tajam lembut, penuh pengertian namun terkadang mencorong seperti hendak menjenguk ke dalam hati orang yang dipandangnya.
Belahan di tengah dagu membuat dia tampak gagah berwibawa.
Pemuda ini juga mengenakan pakaian seperti seorang pemuda dusun yang bersahaja.
Kecuali kecantikan dan ketampanan, sikap halus lembut dan tutur sapanya yang tertatur, tidak ada petunjuk lain yang menyatakan bahwa mereka itu bukan orang-orang dusun biasa.
Apalagi sama sekali mereka tidak mempunyai ciri-ciri dua orang yang menguasai kepandaian tinggi membuat mereka menjadi sakti mandraguna.
"Benar, Dewi. Akan tetapi setelah melatih diri dengan Aji Sari Bantala, hanya engkau dan aku yang tahu karena mengalami sendiri bahwa yang terlatih adalah jiwa kita, bukan raga kita. Raga kita hanya mengikuti jiwa, walaupun ke-duanya itu kait-mengait dan saling menunjang."
"Coba jelaskan lagi, Bagus!"
"Dewi, asal engkau terus-menerus teringat kepada Gusti Allah dengan penyerahan diri sebulatnya, engkau tentu akan mengerti sendiri."
"Aku yakin akan hal itu seperti telah diajarkan dalam Aji Sari Bantala, Bagus. Akan tetapi, yang menyerat kita ke jalan penyelewengan adalah pikiran, karena itu aku membutuhkan penerangan darimu agar pikiranku mengerti benar karena pengertian itu menjadi sarana untuk menentukan langkah hidup, bukan?"
"Baiklah, Dewi. Seperti kita ketahui dari ajaran itu, dalam latihan kita mengalami pembersihan rohani dan jasmani. Akan tetapi, pembersihan dalam bentuk apapun juga, tetap dibayangi bahaya pengotoran kembali. Kalau yang dibersihkan setiap kali hanya setakar, lalu kita kotori sendiri dua takar, lalu kapan bersihnya? Pengotoran ini melalui hati akal pikiran yang membuahkan perbuatan. Apa artinya iman kepada Gusti Allah kalau tidak disertai perbuatan yang nyata, yang keluar dari hati pikiran? Iman itu percaya dan percaya yang benar itu berarti penyerahan diri sebulatnya. Menyerah berarti taat! Jadi, kita menyerahkan diri kepada kekuasaan Gusti Allah harus diikuti dengan ketaatan akan segala kehendakNya. Gusti Allah itu Maha baik, walaupun kita yang sudah menyerah kepadaNya juga harus selalu berbuat baik, menegakkan keadilan, membela kebenaran dan menjauhi perbuatan jahat. Kalau kita melangkah dalam hidup ini, melakukan segala hal menggunakan hati akal pikiran yang menuju kebaikan, sudah pasti kekuasaanNya akan selalu menuntun kita."
Maya Dewi mengangguk-angguk.
"Bagus, apakah ini berarti bahwa kita harus mematikan nafsu-nafsu kita karena nafsu yang menyeret kita ke dalam kesesatan?"
"Dewi, banyak orang berpendapat demikian dan aku yakin bahwa pendapat seperti itu sebenarnya keliru. Manusia hidup, ketika dilahirkan sudah disertai nafsu-nafsunya yang merupakan karunia Gusti Allah. Bagaimana mungkin dimatikan? Nafsu adalah alat, peserta, bahkan pelayan kita. Untuk dapat hidup di dunia, mencukupi sandang-pangan-papan, menurunkan manusia baru, mengusahakan segala sesuatu untuk menyejahterakan kehidupan di dunia ini, kita harus mempergunakan nafsu. Untuk dapat tetap tinggal hidup pun membutuhkan nafsu. Nafsu amat berguna karena itu adalah karunia Gusti Allah. Akan tetapi sayang, kuasa kegelapan atau iblis justeru menggunakan nafsu-nafsu kita untuk menyeret kita ke lembah dosa. Iblis yang memperkuat nafsu-nafsu kita sehingga keadaannya berbalik. Kita yang diperalat dan diperhamba oleh iblis melalui nafsu, dengan umpan yang serba enak, serba nikmat. Nah, kalau kita sudah dikuasai nafsu, kita menjadi manusia yang celaka, Dewi."
Maya Dewi mengangguk-angguk.
"Aku mengerti sekarang, Bagus. Justeru latihan Sari Bantala itu membuat kita penuh penyerahan kepada kekuasaan Gusti Allah sehingga kekuasaanNya saja yang dapat menundukkan merajalelanya nafsu yang dikemudi oleh iblis. Kalau dalam cerita pewayangan, Sang Dewa Ruci sudah masuk ke dalam pribadi Werkudara! Sari Bantala berarti bersikap seperti tanah, menyerah terhadap kekuasaan Gusti Allah, akan tetapi dengan demikian bahkan menguasai dan mengalahkan segala-galanya yang berada di atas permukaan Bumi. Memberi segala-galanya dan juga mengambil segala-galanya dan semua itu terjadi diluar kehendaknya, melainkan kehendak Gusti Allah." ' "Benar, Dewi. Akan tetapi kita harus ingat bahwa seperti juga tanah kita juga harus rendah hati, tidak pamer dan menyadari bahwa kita, raga kita ini, bukan apa-apa dan tidak berkuasa apa-apa. Selama jiwa kita berada dalam raga ini, kita selalu condong menjadi kotor dan lemah. Ingat bahwa bagaimana pun, betapa saktinya seseorang, dia tidak dapat menghindarkan diri dari kodrat. Badan manusia tidak kebal terhadap penyakit dan kematian. Kita juga dapat sakit, dapat mati. Karena itu, sadar akan hal ini, sudah sepatutnya kalau kita berserah diri kepada Gusti Allah, hanya Dia yang Maha Sempurna, Maha Baik, Maha Bisa, Maha Kuasa dan Maha Segalanya. Semoga saja Dia dengan kekuasaanNya akan selalu membimbing kita, seperti Werkudara yang selalu dibimbing oleh Dewa Ruci. Ruci itu berarti Roh Suci, Dewi."
"Amin-amin-amin. Bagus."
Sungguh amat luar biasa dan mengherankan sekali bagi orang yang pernah mengenal Maya Dewi kalau dia mendengarkan percakapan itu sekarang. Dahulu, Maya Dewi dikenal sebagai "wanita iblis"
Yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan nafsunya.
Tidak ada kejahatan yang dipantang olehnya sehingga ia amat ditakuti dan dimana-mana ia dibenci dan dimusuhi orang-orang dari golongan pendekar.
Akan tetapi, sekarang ia berubah sama sekali dan semua ini terjadi setelah bergaul dan hidup bersama Bagus Sajiwo, sejak pemuda itu masih remaja berusia enam belas tahun lebih sampai kini berusia hampir dua puluh tahun.
Bahkan kelemahan utamanya, yaitu nafsu gairah berahi yang sudah memperbudak dirinya, kini tidak tampak bekasnya lagi!
Kini ia dapat melihat dengan mata terbuka semua kenyataan tentang kotornya ulah nafsu berahi kalau sudah menguasai manusia seperti menguasai dirinya dahulu.
Perubahan ini membuktikan bahwa pada hakekatnya, manusia itu dilahirkan dalam keadaan baik dan sempurna jiwanya.
Sang Maha Pencipta adalah juga Maha Sempurna, maka segala ciptaanNya sudah pasti sempurna pula.
Kalau ada ciptaanNya yang kemudian tidak sempurna, seperti kalau ada manusia yang berubah menjadi jahat dan sesat, hal itu terjadi karena keadaan yang sempurna itu menjadi tidak sempurna karena dosa.
Akan tetapi bukan berarti kalau sudah berdosa dan menjadi jahat tidak dapat menjadi baik kembali!
Gusti Allah itu selain Maha Pencipta, juga Maha Kuasa dan Maha Pengampun.
Orang yang sesat dapat di-ampuni kalau saja dia mau bertaubat, tidak menjadi hamba nafsunya lagi, berserah diri kepada Gusti Allah.
Demikian pula dengan Maya Dewi.
Sungguh merupakan hal yang hampir tidak masuk akal adanya kenyataan bahwa wanita ini tinggal dalam ruangan di perut bukit batu karang itu, berdua saja dengan seorang pemuda tampan gagah selama tiga tahun dan sama sekali ia tidak pernah terusik gairah berahinya!
Hal ini bukan karena ia tidak mencinta Bagus Sajiwo.
Maya Dewi amat mencintanya dan menyayangnya, mengaguminya, dengan cinta yang tulus dan bersih.
Biarpun batinnya telah dibersihkan dari pengaruh nafsu, namun Maya Dewi hanya seorang manusia biasa, maka akan bohonglah kalau sekali waktu tidak timbul gairahnya dan ingin menyatakan cintanya itu dengan kemesraan.
Namun, bimbingan kekuasaan Tuhan telah membuat ia waspada dan peka kesadarannya sehingga ia dapat melihat bahwa gairah itu tidak baik dan tidak benar sehingga dengan mudah ia dapat menundukkan gairah nafsu itu.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, akan tetapi kalau manusia selalu ingat dan dekat dengan Gusti Allah, maka Roh-Nya yang suci akan selalu membimbing dan menyadarkannya apabila iblis datang menggoda dan hendak menyeretnya ke dalam dosa.
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka menyatakan selamat tinggal kepada ruangan yang mereka huni selama tiga tahun itu.
Biarpun cuaca masih gelap pekat karena sinar matahari belum memasuki ruangan itu lewat celah-celah batu karang, namun kini ke dua orang itu memiliki penglihatan yang seolah dapat menembus kegelapan.
Mereka memanjat dinding karang dengan mudah dan cepat menuju ke atas.
Setelah tiba di atas mereka disambut pemandangan alam yang amat indahnya.
Matahari baru tersembul dari puncak bukit di timur, masih kemerahan namun sudah cukup menyilaukan dan cahayanya keemasan mulai menghidupkan seluruh permukaan bumi yang dapat menerima cahayanya.
Langit cerah berwarna biru, hanya dihias beberapa kelompok awan putih tipis seperti kapas.
Burung-burung beterbangan, berkelompok sambil berceloteh riang.
Burung gelatik dan burung pipit selalu terbang berkelompok, berbeda dengan burung prenjak dan burung kutilang yang hanya terbang berdua atau tidak lebih dari lima ekor.
Burung gereja juga berkelompok, akan tetapi kelompoknya kecil dan mereka tidak suka terbang tinggi melainkan lebih suka berdekatan dengan tanah.
Terdengar pula ayam jantan berkokok, namun tidak seramai pagi tadi sebelum matahari terbit atau menjelang terbit seolah mereka tahu bahwa tidak perlu lagi berkeruyuk membangunkan semua mahluk karena kini mereka semua telah terbangun dari tidurnya.
Dari lereng itu tampak beberapa orang bapak tani jalan beriringan, memanggul pacul menuju ke sawah ladang.
Terdengar pula' sayup-sayup bunyi kambing mengembik dan ayam betina berkotek memanggil anak-anaknya.
Angin berhembus sepoi-sepoi semilir menyegarkan badan.
Bagus Sajiwo dan Maya Dewi menghirup napas dalam-dalam, merasa betapa sedapnya hawa udara yang memasuki paru-paru mereka.
Dengan suara penuh hormat dan kagum Bagus Sajiwo berkata perlahan.
"Alangkah maha besar kekuasaan Gusti Allah dan alangkah maha indah ciptaanNya. Puji syukur kepadaNya yang melimpahkan berkahNya kepada kita semua!"
Maya Dewi juga memandang ke bawah dengan kagum.
"Betapa besar kasih dan karunia yang diberikan kepada kita. Sudah sepatutnya kalau kita berbahagia karenanya. Akan tetapi mengapa begitu banyak terjadi kesengsaraan dan duka nestapa di antara manusia?"
Kedua orang itu saling pandang.
Ketika masih berada di ruangan dalam perut bukit batu karang, cahaya tidak pernah terang sekali sehingga setelah kini saling berhadapan di alam terbuka, mereka dapat saling pandang dengan sejelas-jelasnya.
Maya Dewi memandang kagum!
Pemuda remaja dahulu itu kini telah menjadi seorang pria dewasa yang ganteng dan sinar matanya itu membuat orang merasa tenang dan sungkan, bukan takut.
Ada sesuatu dalam sinar mata pemuda itu yang membuat orang merasa bersalah dan tunduk.
Betapa kekasihnya, demikianlah ia selalu menganggap Bagus Sajiwo, orang yang paling dikasihinya di dunia ini, kini menjadi seorang pria dewasa yang sederhana dan pandang matanya lembut, namun memiliki wibawa yang amat kuat, Sebaliknya Bagus Sajiwo juga kagum dan senang melihat Maya Dewi.
Wanita ini seolah tidak berubah setelah usianya bertambah tiga tahun.
Masih seperti dulu.
Masih cantik jelita penuh daya tarik, akan tetapi sekarang keliaran yang tampak pada sinar mata dan gerak-geriknya dahulu itu telah lenyap, sinar matanya tenang bercahaya mengandung kebahagiaan, gerak-geriknya juga lembut.
Hal ini bahkan menambah daya tariknya menjadi ayu manis merak ati (cantik manis memikat hati).
Dia tahu bahwa daya tarik jasmaniah yang amat kuat ini tentu akan membuat banyak pria tergila-gila.
Akan tetapi dia sendiri, sejak pertemuan pertama, tidak terpengaruh oleh daya tarik kecantikan Maya Dewi.
Yang ada dalam hatinya adalah kasih sayang yang menimbulkan perasaan belas kasih dan setia-kawan.
Dia hanya ingin membimbing wanita itu kembali ke jalan kebenaran, ingin membela dan rasa kasih sayangnya itu seperti kasih sayang seorang saudara.
"Bagus, kita sekarang hendak pergi kemana?"
Bagus Sajiwo tersenyum.
"Dan eng kau sendiri, Dewi?"
"Sudah kukatakan sejak dulu, Bagus. Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, tidak ada tempat yang kutuju, maka aku akan pergi kemana engkau pergi."
"Akan tetapi, Dewi, kita tidak mungkin begini terus, melakukan perjalanan bersama selalu. Engkau tentu tahu, ada waktunya bertemu, ada waktunya berkumpul, ada pula waktunya untuk berpisah. Dengan bekal kemampuan yang kau miliki, kukira engkau akan mampu hidup seorang diri dengan aman, asal engkau selalu berpijak pada jalan kebenaran."
"Aku tahu, Bagus. Akan tetapi aku belum merasa bisa untuk kau tinggaikan. Dahulu, sebelum bertemu denganmu, aku merasa seolah hanyut dalam samudra kehidupan yang penuh gelombang dahsyat yang menyeret dan hendak menenggelamkan aku. Aku merasa tidak berdaya, merasa sengsara, tidak mengenal kebahagiaan, hanya mabok dengan kesenangan jasmani yang berakhir dengan kebosanan, kekecewaan dan duka nestapa. Lalu engkau muncul. Aku merasa seolah aku menemukan sepotong papan yang kuat untuk kupegang dan menjadi tempat aku bergantung agar tidak terus hanyut dan tenggelam. Kalau sekarang engkau hendak meninggalkan aku dan kita harus berpisah, aku akan kehilangan pegangan dan aku takut akan hanyut kembali, Bagus. Aku takut!"
"Dewi, kenapa mesti takut? Engkau harus mempunyai kepercayaan kepada dirimu sendiri. Ingat bahwa engkau telah membuka hatimu terhadap Gusti Allah dan dengan sepenuh jiwa raga berserah diri kepadaNya. Itu berarti bahwa kekuasaan Gusti Allah selalu mendampingimu, selalu membimbingmu. Apalagi yang perlu kau takuti kalau kekuasaanNya berada dalam dirimu? Aku ini hanya manusia biasa seperti juga dirimu, dengan segala kelemahanku. Aku juga hanya merasa kuat karena yakin bahwa Gusti Allah menyertaiku."
"Bagus, tolonglah, Bagus. Aku bukan takut akan ancaman bahaya dari luar, melainkan terhadap diriku sendiri. Aku... aku... aku cinta padamu, aku menyayangmu, aku tidak tahan untuk berpisah darimu, Bagus. Engkaulah satu-satunya manusia di dunia ini yang kukasihi, yang kupercaya, yang akan kubela sampai mati karena aku yakin bahwa engkau pun selalu melindungiku dan membelaku, selalu memberi tuntunan kepadaku. Bagus, demi Gusti Allah, jangan tinggalkan aku, Bagus..."
Maya Dewi tak dapat menahan keharuan dan kesedihan hatinya membayangkan betapa ia akan hidup seorang diri seperti dulu lagi, kehilangan Bagus Sajiwo yang amat dipuja dan dicintanya sehingga ia tak dapat menahan jatuhnya air mata yang menetes-netes dari kedua matanya.
Bagus Sajiwo menghela napas panjang.
Dia merasa iba kepada wanita itu dan merasa tidak tega untuk memaksakan perpisahan antara mereka.
"Dewi, engkau tentu tahu bahwa akupun amat menyayangmu dan aku merasa berbahagia sekali melihat engkau dapat menyadari akan kesalahanmu yang sudah-sudah, mau bertaubat dan mengubah jalan hidupmu. Aku tadi hanya ingin menjelaskan kepadamu bahwa ada waktunya bertemu, berkumpul kemudian berpisah. Perpisahan tidak dapat kita hindarkan, Dewi."
"Bagus, sekali lagi kuminta padamu, biarkan aku mengikutimu, berilah aku waktu sampai aku merasa kuat untuk hidup seorang diri. Kasihilah aku, Bagus."
Bagus Sajiwo tidak dapat membantah lagi. Dia mengangguk dan tersenyum memandang wajah wanita itu.
"Baiklah, Dewi, kalau itu yang kau kehendaki."
"Ah, Bagus! Terima kasih, Bagus, terima kasih!"
Maya Dewi berseru dengan gembira sekali, wajahnya berseri-seri, matanya yang masih basah itu berbinar-binar dan mulutnya tersenyum lebar.
"Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita ini."
Ajak Bagus Sajiwo dan dengan gembira Maya Dewi melangkah di samping pemuda itu sambil memegang tangan Bagus Sajiwo.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuruni bukit karang dan Bagus Sajiwo tidak merasa sungkan atau aneh bergandengan tangan seperti ini karena dia memang sudah merasa akrab sekali dengan wanita itu yang dia anggap sebagai seorang saudara sendiri.
"Kita sekarang menuju kemana, Bagus?"
Tanya Maya Dewi.
"Aku akan ke Gunung Kawi, dimana ayah ibuku tinggal."
"Kenapa baru sekarang setelah engkau berusia dua puluh tahun engkau boleh kembali ke rumah orang tuamu? Kenapa gurumu mengadakan peraturan yang begitu aneh?"
"Entahlah, Dewi. Mendiang Eyang Guru adalah seorang yang arif bijaksana, tentu beliau memberi pesan itu demi kebaikanku, atau kebaikanmu?"
"Eh, mengapa demi kebaikanku?"
Bagus Sajiwo tersenyum.
"Aku tiba-tiba teringat akan peristiwa yang kita alami. Andaikata eyang guru tidak berpesan seperti itu, tentu tiga tahun lebih yang lalu, begitu meninggalkan Pegunungan Ijen, aku langsung saja pulang ke rumah orang tuaku di Gunung Kawi dan aku tidak akan bertemu denganmu, Dewi. Bukankah itu semua telah diatur demi kebaikan termasuk kebaikan untuk dirimu?"
"Ah, kalau direnungkan, benar juga ucapanmu itu, Bagus. Karena itu, aku berterima kasih kepadamu, berterima kasih pula kepada mendiang Eyang Ki Ageng Mahendra, gurumu yang bijaksana itu."
"Engkau lupa, Dewi. Semestinya engkau mengucap syukur dan terima kasihku kepada Gusti Allah, karena sesungguhnya segala pertolongan itu datang dari Gusti Allah. Dalam keadaanmu, pertolongan Gusti Allah padamu itu hanya melalui aku dan mendiang Eyang Guruku."
Maya Dewi mengangguk-angguk.
"Aku tidak lupa, Bagus. Sejak engkau menyadarkan aku akan keberadaan Gusti Allah Yang Maha Kuasa, Maha Sempurna. Maha Kasih dan Maha pengampun, aku tidak pernah melupakanNya dan setiap saat aku bersyukur dan berterima kasih kepadaNya, doaku kupanjatkan tiada hentinya sehingga pernapasanku seolah telah menjadi doaku yang selalu mohon pengampunan atas dosa-dosaku dan berterima kasih atas segala berkat yang dilimpahkan kepada diriku yang kotor dan hina ini. Semoga semua doaku itu diterimaNya, Bagus."
"Amin-amin-amin."
Kata Bagus Sajiwo, hatinya merasa bahagia sekali mendengar ucapan dan melihat sikap Maya Dewi itu.
Kalau dia ingat pertemuannya pertama kali dengan Maya Dewi, pada tiga tahun lebih yang lalu, dia masih bergidik.
Ketika itu Maya Dewi merupakan seorang manusia yang kejam, liar dan sesat.
-ooOoo -Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan sejak jaman Mojopahit tak pernah mau tunduk terhadap Kerajaan Mojopahit dan sampai Sekarang, pada masa jaya-jayanya Kerajaan Mataran di bawah pemerintahan Sultan Agung, Blambangan tetap merupakan kerajaan atau kadipaten yang belum ditundukkan oleh Kerajaan Mataram yang pada waktu itu sudah menundukkan hampir semua kadipaten termasuk Madura dan Surabaya.
Bahkan Kadipaten Blambangan semakin memperkuat diri karena selain sejak dulu Blambangan diperkuat dukungan Kerajaan.
Bali, juga setelah Mataram menundukkan Kadipaten-kadipaten lain, mereka yang tidak mau tunduk, orang-orang yang sakti, para jagoan, semua melarikan diri ke Blambangan yang masih merupakan kadipaten yang berdiri tegak tidak mengikuti kekuasaan Mataram.
Memang, menurut catatan sejarah, pada permulaan abad ke tujuh belas, Blambangan diserang dan kemudian diduduki Kadipaten Pasuruan.
Akan tetapi kekuasaan Kadipaten Pasuruan atas Blambangan hanya berlangsung selama belasan tahun saja karena setelah Sultan Agung di Mataram menyerang dan menundukkan Pasuruan pada tahun 1617, Blambangan pun melepaskan diri dari Kadipaten Pasuruan dan kembali Blambangan bangkit dan dengan dukungan Bali menjadi kuat kembali.
Pada waktu kisah ini terjadi, Blambangan dipimpin oleh seorang Adipati yang menggunakan nama Adipati Santa Guna Alit, cucu dari Raja Santa Guna yang dulu pernah memimpin Blambangan dan menjadikan Blambangan sebuah kerajaan yang kuat.
Raja kecil atau Adipati Santa Guna Alit merasa dirinya cukup kuat, namun tetap saja dia merasa khawatir Kalau-kalau Mataram akan mengirim pasukan besar untuk menaklukkan Blambangan.
Karena itu, dalam usahanya untuk mempertahankan Blambangan, dia menjalin hubungan yang lebih erat dengan para raja di Bali, terutama Kerajaan Bali Selatan.
Para raja di Bali siap membantu Blambangan menghadapi ancaman Mataram karena Blambangan merupakan benteng pertama untuk menentang gerakan pasukan Mataram kalau Mataram berniat menyerang Bali.
SELAIN mempererat hubungan dengan para raja di Bali, juga Adipati Blambangan mengumpulkan para datuk yang sakti mandraguna untuk memperkuat kadipatennya.
Dulu, ketika Mataram menyerang daerah Jawa Timur, dia mengirim datuk yang menjadi kepercayaannya, yaitu Wiku Menak Koncar, untuk membantu daerah-daerah yang diserang Mataram.
Akhirnya Wiku Menak Koncar tewas di tangan Ratu Wandansari yang dibantu oleh Lindu Aji.
Sang Adipati lalu mengundang para pertapa dan para orang sakti untuk membantu dia dalam menyusun kekuatan untuk membela Kadipaten Blambangan kalau sewaktu-waktu diserang oleh pasukan Mataram.
Diantara para datuk itu terdapat Bhagawan Kala-srenggi dan dua orang muridnya yang juga sakti mandraguna, yaitu Kalajana dan Kaladhama, Sang Wiku Menak Jelangger adik seperguruan mendiang Wiku Menak Koncar.
Biarpun Wiku Menak Jelangger termasuk orang baik budi, akan tetapi sebagai warga atau kawula Kadipaten Blambangan, dia tidak dapat menolak ketika diajak membela negaranya.
Bahkan Adipati Blambangan berhasil pula membujuk Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi dan Bhagawan Dewokaton pertapa Gunung Bromo untuk membantunya dengan menjanjikan imbalan tanah dan harta-benda.
Tidak hanya sampai disitu saja usaha Adipati Blambangan untuk memperkuat diri.
Selain mengumpulkan para datuk sakti, dia pun mengadakan kontak dengan Kumpeni Belanda.
Ketika sebuah kapal Kumpeni singgah di Blambangan, dipimpin oleh Kapten Van Klompen, Adipati Blambangan menyambutnya dengan baik.
Kumpeni Belanda yang memang merasa terancam oleh Mataram, merasa senang melihat betapa Blambangan memperkuat diri dan dibantu pula oleh Bali untuk menentang Mataram.
Memang sudah menjadi siasat Kumpeni sejak semula untuk mengadu domba semua kadipaten yang ada melawan Mataram.
Dengan cara mengadu domba berarti melemahkan kedudukan para penguasa pribumi.
Para kadipaten itu akan menderita rugi besar karena perang antara bangsa sendiri dan yang untung besar adalah Kumpeni!
Maka ketika Adipati Blambangan menjamu Kapten Van Klompen dan para pembantunya dan Sang Adipati minta bantuan untuk menghadapi Mataram, Kapten Van Klompen menjanjikan bantuan itu.
Akan tetapi Kumpeni Belanda amatlah cerdiknya.
Kapten Van Klompen mengatakan bahwa tidak bisa membantu dengan pasukan Kumpeni, melainkan akan mengirim beberapa orang sakti dari Banten yang juga memusuhi Mataram untuk membantu Blambangan dan Kumpeni sendiri membantu dengan beberapa ratus buah senapan.
Agaknya Belanda masih merasa ngeri untuk secara terang-terangan memusuhi Mataram yang pernah menyerbu Batavia sampai dua kali.
Biarpun Belanda dapat mengalahkan pasukan Mataram dalam perang itu, namun mereka juga telah kehilangan banyak perajurit.
Maka, bantuan itu diberikan secara gelap.
Demikianlah, pada suatu hari yang telah ditentukan, Sang Adipati Santa Guna Alit mengadakan pertemuan dengan para pembantunya.
Sejak pagi para datuk yang diundang berdatangan dan diterima di kadipaten dengan ramah dan dianggap sebagai tamu kehormatan.
Berturut-turut mereka berdatangan dan berkumpul di sebuah ruangan luas yang tertutup dalam gedung Kadipaten Blambangan.
Sebelum Sang Adipati sendiri keluar menyambut para orang sakti yang menjadi tamu dan pembantu, Bhagawan Kalasrenggi mewakilinya karena kakek ini memang sudah diangkat menjadi penasehat Sang Adipati.
Bhagawan Kalasrenggi dibantu oleh dua orang muridnya, Kaladhama dan Kalajana, menyambut para tamu yang berdatangan dengan hormat dan mempersilakan mereka memasuki ruangan itu dan segera hidangan disuguhkan kepada mereka secara royal sekali.
Bhagawar.
Kalasrenggi yang sudah berusia tujuh puluh lima tahun itu pun hanya duduk dalam ruangan khusus itu dan hanya membalas salam para tamu dengan merangkap kedua tangan di depan dada sambil terkekeh-kekeh seperti kebiasaannya.
Yang menyambut tamu adalah dua orang muridnya, Kaladhama dan Kalajana.
Tamu pertama yang datang adalah Wiku Menak Jelangger, diantar oleh Kaladhama dan Kalajana memasuki ruangan itu.
Tentu saja Wiku Menak Jelangger dapat datang paling dulu karena dia pun tinggal di daerah Blambangan, di pantai Selat Bali.
Kakek berusia enam puluh satu tahun ini, biarpun menjadi saudara seperguruan mendiang Wiku Menak Koncar dan mendiang Resi Wisangkolo yang keduanya sesat, adalah seorang pertapa yang baik budi.
Tubuhnya sedang, agak kurus, gerak-gerik dan sikap serta budi bahasanya lembut, pakaiannya juga sederhana namun bersih.
Wiku Menak Jelangger adalah seorang yang sakti biarpun tampaknya lemah lembut namun sesungguhnya dia memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Seperti juga mendiang Wiku Menak Koncar, saudara seperguruannya, dia memiliki dua macam aji pamungkas yang ampun, yaitu Aji Bayu Bajra (Angin Ribut) dan Aji Nandaka Kroda (Banteng Mengamuk).
Karena mendengar bahwa Wiku Menak Jelangger terkenal sebagai seorang pertapa alim yang menentang kejahatan dan tidak suka keluar di dunia ramai dan kini mau memenuhi undangan Adipati Blambangan hanya karena merasa wajib sebagai kawula Blambangan, maka Bhagawan Kalasrenggi menyambut kedatangan Sang Wiku dengan dingin saja.
Akan tetapi Wiku Menak Jelangger juga tidak mengacuhkannya.
Dia sudah tahu bahwa kakek tua renta yang memakai julukan Bhagawan ini adalah seorang datuk sesat yang bahkan diusir ke luar dari Bali-dwipa karena kesesatannya yang dilakukan bersama dua orang muridnya itu.
Ketika dipersilakan duduk oleh Dwi Kala (Dua Kala), yaitu dua orang murid Bhagawan Kalasrenggi, Wiku Menak Jelangger memilih kursi yang paling pinggir, lalu duduk bersila di atas kursi dan bersamadhi, duduk tepekur sambil menanti datangnya para undangan lainnya.
Tak lama kemudian Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton muncul diantar oleh Dwi Kala.
Resi Sapujagad, pertapa Merapi itu berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka pucat, pakaiannya serba kuning dan tangannya memegang seuntai tasbeh merah dan sebatang keris terselip di pinggangnya.
Adapun Bhagawan Dewokaton, pertapa Gunung Bromo itu berusia sekitar lima puluh lima tahun, tubuhnya gemuk, mukanya selalu menyeringai seperti hendak tertawa sehingga muka yang bulat itu tampak lucu.
Pakaiannya serba putih dan dia mempunyai sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya.
Mereka berdua inipun terkenal sebagai dua orang pertapa yang sakti.
Resi Sapujagad mempunyai senjata pamungkas, yaitu Aksa-mala Rakta (Tasbeh Merah) dan Bhagawan Dewokaton terkenal dengan senjata pamungkasnya, yaitu Candrasa Langking (Pedang Hitam).
Selain itu, juga mereka memiliki tenaga sakti yang kuat.
Kedua orang pertapa adalah dua orang yang biarpun sudah puluhan tahun bertapa, namun mereka bertapa dengan pamrih kesenangan duniawi.
Selain memperdalam dan memperkuat aji kesaktian, mereka pun mendambakan kedudukan dan harta benda.
Oleh karena itu, mereka tertarik oleh ajakan Adipati Blambangan, dan seperti seringkali terjadi, manusia yang menjadi hamba nafsunya mengejar nafsu keinginan untuk menyenangkan diri dengan menghalalkan segala cara!
Manusia sebagai ciptaan Gusti Allah Yang Maha Sempurna, terlahir dalam keadaan sempurna pula, akan tetapi roh yang sempurna itu mengenakan jubah jasmani yang sudah disertai nafsu-nafsu daya rendah yang teramat kuat.
Kalau dia tetap dekat dengan Gusti Allah, maka nafsu daya rendah pun akan menjadi alat yang baik dan berguna bagi kehidupan.
Akan tetapi kalau dia lengah, jauh dari Gusti Allah, maka iblis akan mendekatinya dan iblis akan menggunakan nafsu-nafsu daya rendah manusia itu sendiri untuk membuat dia menjadi hambanya.
Dalam mengejar nafsu keinginannya yang berki-lauan dan tampak menyenangkan itulah manusia terseret ke dalam perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan seorang manusia, ciptaan Gusti Allah yang paling baik dan paling sempurna.
Dia akan menjadi hamba iblis yang tidak segan melakukan kejahatan apa pun demi memperoleh kesenangan du-niawi, kenikmatan daging yang dikejarnya.
"Heh-heh-heh, Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, selamat datang! Kami girang sekali Andika berdua datang memenuhi undangan Sang Adipati Blambangan!"
Kata Bhagawan Kalasrenggi menyambut mereka berdua dengan gembira.
Dia tahu bahwa dua orang pertapa ini patut diajak berkawan karena sepaham atau setidaknya, mereka berdua bukan orang yang bersikap alim seperti Menak Jelangger!
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh!
Tentu saja kami datang, Kakang Bhagawan Kalasrenggi!
Kami juga sudan lama merasa tidak suka kepada Mataram!"
Kata Bhagawan Dewokaton sambil menyeringai lebar.
"Kami juga sudah bosan bertapa di tempat sepi dan ingin mencicipi kemuliaan dan kesenangan!"
Kata Resi Sapujagad sambil memutar-mutar biji tasbeh dengan jari-jari tangannya.
"Heh-heh-heh, bagus-bagus! Andika berdua adalah orang-orang jujur dan tidak berpura-pura alim. Sikap begini yang kusuka, heh-heh-heh!"
Kata Bhagawan Kalasrenggi.
Sungguhpun sikapnya tidak menunjukkan sesuatu, namun Wiku Menak Jelangger merasa bahwa kakek tua renta itu menyindirnya.
Namun dia hanya tersenyum penuh kesabaran, maklum bahwa Bhagawan Kalasrenggi berbeda pendapat dengannya.
Dua orang pertapa itu pun mengerti kemana arah ucapan Bhagawan Kalasrenggi ketika mereka melihat Wiku Menak Jalangger duduk bersila di atas kursi paling ujung.
Karena Sang Wiku duduk bersila memejamkan mata, keduanya tidak mau mengganggu dan mengambil tempat duduk di dekat Bhagawan Kalasrenggi.
Berturut-turut para datuk yang diundang itu pun berdatangan karena pagi hari itulah yang ditentukan untuk berkumpul dan mengadakan perundingan dengan Sang Adipati Blambangan.
Tidak kurang dari sepuluh orang jagoan dari sekitar daerah Blambangan berdatangan dan disambut oleh Bhagawan Kalasrenggi dengan ramah.
Ketika Bhagawan Kalasrenggi dan Dwi Kala bangkit dari duduk mereka untuk menyambut kehadiran Sang Adipati Santa Guna Alit dan Sang Bhagawan mengumumKannya dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita, belasan orang yang menjadi tamu itu pun bangkit berdiri untuk menghormati Sang Adipati.
Dengan diiringkan selosin perajurit pengawal, Adipati Santa Guna Alit memasuki ruangan itu.
Para pengawal itu setelah mengiringkan Sang Adipati memasuki ruangan, lalu keluar dan menjaga diluar ruangan.
Adipati Santa Guna Alit yang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan kulit mukanya merah itu berusia sekitar empat puluh lima tahun.
Dengan langkah tegap berwibawa dia memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di atas sebuah kursi kebesaran dan mengangkat tangan kanan sebagai salam kepada semua yang hadir.
Setelah dia duduk, semua orang lalu duduk kembali dan Sang Adipati menoleh ke pintu.
Dari luar ruangan masuklah dua orang pria muda, berusia kurang lebih dua puluh dua tahun.
Mereka itu bertubuh tinggi besar dan gagah, dan yang menyolok adalah persamaan diantara mereka.
Wajah sama, sikap sama, bahkan pakaian mereka serupa sehingga bagi yang belum mengenal mereka tentu akan merasa heran dan menjadi bingung karena tidak dapat membedakan mana yang satu dan mana yang lain.
Akan tetapi bagi mereka yang sudah mengenal, tahu bahwa mereka adalah sepasang anak kembar dari Sang Adipati.
Mereka bernama Dhirasani dan Dhirasanu dan di antara mereka ada sebuah tanda kelahiran yang membuat orang dapat mengetahui perbedaan di antara mereka, yaitu sebuah tembong (tanda hitam) selebar ibu jari di kulit leher sebelah kanan dari Dhirasani.
Sepasang pemuda kembar ini selain ganteng dan gagah, juga mereka berdua memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna karena mereka adalah murid-murid Sang Bhagawan Ekabrata yang bertapa di Gunung Agung yang berada di Bali-dwipa.
Baru setahun mereka pulang ke Kadipaten Blambangan dari Bali dan karena kesaktian mereka maka ayah mereka lalu mengangkat mereka menjadi senopati-senopati muda yang bekerja sama dengan Bhagawan Kalasrenggi dan kedua orang muridnya.
Dua orang muda itu mengambil tempat duduk di sebelah kanan ayah mereka.
Adipati Santa Guna Alit tersenyum kepada dua orang puteranya yang dibanggakan lalu bertanya.
"Kenapa kalian datang berdua saja? Mana Anakmas Tejakasmala yang kalian tunggu-tunggu?"
Dhirasani menjawab.
"Kakang Tejakasmala belum juga datang, Kanjeng Rama, maka kami tinggal masuk dan sudah kami pesan para pengawal kalau dia datang agar langsung diantar masuk kesini."
Dhirasanu juga berkata.
"Harap Kanjeng Rama tidak khawatir. Kakang Tejakasmala pasti datang dan kalau tidak salah, dia akan datang sebagai utusan dari Raja Dewa Agung di Klungkung bersama rombongan dari Bali."
Baru saja ayah dan dua orang anaknya itu berhenti bicara, seorang pengawal melaporkan bahwa rombongan dari Bali-dwipa sudah tiba.
Pemuda kembar Dhirasani dan Dhirasanu dengan wajah berseri bangkit dan keluar dari ruangan untuk menyambut kedatangan kakak seperguruan mereka yang mereka duga pasti datang bersama rombongan dari Bali itu.
Dugaan mereka benar.
Rombongan yang terdiri dari tiga orang yang dikawal dua losin perajurit (Lanjut ke
Jilid 21) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 Kerajaan Klungkung di Bali itu terdiri dari Tejakasmala dan dua orang jagoan lain dari Bali yang bernama Cakrasakti dan Cakrabaya.
Setelah tiba di gedung kadipaten, dua losin perajurit pengawal diperintahkan beristirahat di pendapa, disambut oleh pengawal Blambangan, sedangkan tiga orang utusan Raja Klungkung itu disambut oleh sepasang saudara kembar dan dipersilakan memasuki ruangan.
Semua orang memandang ke arah tiga orang utusan dari Bali itu.
Tejakasmala adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh empat tahun yang berwajah tampan dan bersikap gagah.
Pakaiannya mewah dan serba rapi.
Wajah yang tampan itu memiliki sepasang mata yang mencorong tajam dan mulutnya selalu tersenyum manis.
Akan tetapi pembawaan dirinya, sikapnya dengan samar menunjukkan ketinggian hatinya.
Biarpun usianya masih muda, akan tetapi Tejakasmala ini adalah seorang pemuda yang amat sakti mandraguna karena dia adalah kakak seperguruan kedua saudara kembar itu, atau murid tersayang dari Sang Bhagawan Ekabrata yang telah menurunkan semua ilmu kepandaiannya kepada Tejakasmala.
Adipati Blambangan yang sudah mengenalnya dan tahu betapa saktinya pemuda ini, segera menyambut dengan ramah.
"Selamat datang, Anakmas Tejakasmala, bahagia sekali hati kami menyambut kedatangan Anakmas! Silakan duduk, Anakmas!"
Sang Adipati juga menyambut dua orang yang datang bersama pemuda itu karena dia pun sudah mengenal Cakrasakti dan Cakrabaya, dua orang senopati Klungkung yang terkenal sakti dan ahli perang.
Cakrasakti berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan sepasang matanya sipit, hidungnya pesek dan mulutnya cemberut seperti orang mau menangis.
Adapun Candrabaya berusia sekitar tiga puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar wajahnya bopeng bekas cacar, matanya lebar dan jarang berkedip, hidungnya besar dan mulutnya selalu menyeringai.
Setelah mereka semua duduk, Adipati Blambangan lalu membuka pertemuan itu dengan kata-kata lantang.
"Para undangan dan utusan, para sahabat yang kami hormati. Kami merasa berbahagia sekali dan berterima kasih bahwa Andika sekalian hari ini telah datang memenuhi undangan kami. Hanya sayang bahwa pihak yang juga kami harap-harapkan, yaitu utusan dari Kumpeni Belanda, belum juga tiba disini..."
Tiba-tiba terdengar suara nyaring.
"Sang Adipati, kami datang!"
Dan tampak berkelebat sebuah bayangan.
Seorang pria berusia enam puluhan tahun, bertubuh sedang, berpakaian mewah, kedua lengannya dilingkari akar bahar hitam, wajahnya licin tanpa kumis atau jenggot, mukanya seperti mayat karena pucat pasi, telah berdiri dalam ruangan itu.
Dengan matanya yang bersinar tajam dia menyapu ke arah semua tamu, lalu dia memandang kepada Adipati Blambangan dan tertawa.
"Ha-ha-ha, maafkan kelambatan kami, Sang Adipati. Perkenalkan, aku adalah Arya Bratadewa, utusan Kumpeni Belanda dan mewakili pihak Kumpeni untuk menghadiri pertemuan ini. Kami agak terlambat karena kapal kami bertemu kapal pasukan Mataram sehingga terjadi pertempuran, akan tetapi kapal kami dapat mengusir tiga buah kapal Mataram itu!"
Dia tertawa bangga. Adipati Blambangan maklum bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi juga, terbukti dari cara dia memasuki ruangan itu.
"Ah, selamat datang, Arya Bratadewa, dan silakan duduk. Kami berbahagia sekali menerima utusan dari Kumpeni Belanda. Apakah Andika membawa pesan dari Kapten Van Klompen?"
"Tepat sekali! Aku datang membawakan sesuatu dari Kapten Van Klompen yang pasti akan membuat Andika senang."
Arya Bratadewa bertepuk tangan sambil menoleh ke arah pintu dan tampak empat orang bertubuh tinggi besar seperti raksasa menggotong dua buah peti.
Setelah empat orang itu meletakkan dua peti di atas lantai, Arya Bratadewa menyuruh mereka membuka tutup peti.
Dua buah peti dibuka dan semua orang tercengang melihat isinya.
Ternyata isinya adalah senapan-senapan dan peluru senapannya!
Wajah Adipati Santa Guna Alit berseri melihat ini.
Dengan adanya senjata-senjata itu kedudukannya menjadi semakin kuat untuk menentang Mataram!
Dia berterima kasih dan mempersilakan Arya Bratadewa mengambil tempat duduk dan memerintahkan para pengawal untuk menyingkirkan dan menyimpan dua peti senjata api itu ke dalam gudang kadipaten.
"Nah, sekarang rasanya semua undangan telah lengkap."
Kata Adipati Blambangan dengan suara girang setelah mendapatkan kiriman dua peti senapan itu.
"Kanjeng Rama, kalau tidak salah masih ada dua utusan yang belum datang, yaitu utusan dari Perguruan Driya Pawitra dari Grajagan dan juga kalau tidak salah, kita mengundang pula datuk wanita pertapa dari Gunung Betiri, ia juga belum datang."
Kata Dhirasanu mengingatkan Ayahnya.
"Ah, benar juga! Perguruan Driya Pawitra terkenal kuat dan Nini Kunti-garba dari Gunung Betiri juga merupakan tokoh sakti mandraguna. Mereka belum datang!"
Pada saat itu, seorang perajurit pengawal masuk dan melaporkan dengan sikap ragu-ragu.
"Hamba melapor, Gusti Adipati. Seorang wakil dari Perguruan Driya Pawitra telah datang, akan tetapi..."
"Akan tetapi apa? Lapor yang betul!"
Bentak Dhirasani kepada perajurit itu.
"Ampun, Gusti. Wakil itu... ia hanya seorang gadis remaja!"
"Hem mm, seorang gadis remaja?"
Kata Sang Adipati. Dia menengok ke arah Bhagawan Kalasrenggi yang mengatur siapa-siapa yang akan diundang. Bhagawan Kalasrenggi terkekeh.
"Heh-heh-heh, biarpun seorang gadis remaja atau seorang bocah sekalipun, kalau dia sudah menjadi wakil yang dikirim oleh Perguruan Driya Pawitra dari Garjagan, tak boleh dipandang ringan. Harap Andika berdua sendiri yang menyambut wakil itu, Denmas Dhirasani dan Denmas Dhirasanu!"
Dua orang pemuda itu mengangguk dan mereka segera bangkit dan keluar dari ruangan.
Setibanya di luar, Dhirasani dan Dhirasanu tertegun.
Disana berdiri seorang gadis yang masih muda sekali, paling banyak delapan belas tahun usianya.
Namun, dari sikap dan pandang mata yang tajam, dari tarikan mulut yang bibirnya merah basah dan indah itu, terbayang wibawa yang amat kuat.
Berdirinya tegak dan sikapnya lemah lembut dan sopan sehingga menimbulkan kesan terhormat.
Jarang ada laki-laki iseng yang berani menggoda seorang wanita bersikap seperti itu karena kelemah-lembutan dan kewibawaannya sanggup mencairkan kekurang-ajaran yang timbul dalam benak pria karena melihat kecantikannya yang memiliki daya pikat amat kuatnya.
Tubuhnya sedang dengan pinggang ramping.
Bagaikan setangkai bunga sedang mekar, atau sebutir buah sedang ranum, bentuk tubuhnya sudah mendekati sempurna.
Mungkin sebatang pedang yang tampak tergantung di punggungnya itu menambah wibawanya membuat laki-laki iseng tidak berani sembarangan menggodanya.
Dhirasani dan Dhirasanu terpesona, kagum akan kecantikan dara jelita itu.
Akan tetapi mereka segera menyadari bahwa sikap mereka tidak sepatutnya, maka keduanya segera memberi hormat dengan membungkuk dan merangkap kedua tangan depan dada sebagai salam sembah.
Dara itu pun membalasnya dengan sopan.
"Nimas Ayu, apakah Andika yang diperkenalkan oleh pengawal kami sebagai wakil dari Perguruan Driya Pawitra?"
Dara itu mengangguk dan menjawab singkat.
"Benar, aku mewakili Perguruan Driya Pawitra dari Grajagan untuk memenuhi undangan Sang Adipati Blambangan."
"Ah, maaf kalau kami terlambat menyambut. Kami adalah putera-putera Kanjeng Rama Adipati, namaku Dhirasani dan ini adalah adik kembarku Dhirasanu."
Dhirasani memperkenalkan diri.
Gadis itu kini tersenyum sekilas.
Sejak dua orang pemuda itu muncul, ia sudah memandang penuh perhatian dan tampak bingung.
Setelah mereka memperkenalkan diri, ia pun berkata sambil menahan senyumnya.
"Ah, Andika berdua sama benar. Akan sukar bagiku untuk mengenal mana yang adik dan mana yang kakak. Namaku adalah Ratna Manohara dan aku menjadi utusan guru atau ketua kami untuk menjadi wakil Driya Pawitra memenuhi undangan ini."
"Nimas Ayu Ratna, silakan masuk, semua orang sudah menunggu dan Kanjeng Rama Adipati sudah mengharapkan kedatangan Andika!"
Kata Dhirasani sambil memandang wajah ayu manis merak ati itu dengan hati terguncang.
"Mari Nimas Ayu Ratna, tanpa kehadiran Andika, rapat pertemuan ini akan menjadi kering dan sepi!"
Kata pula Dhirasanu, tak mau kalah dengan saudaranya untuk menarik hati Si Jelita.
Ratna Manohara hanya mengangguk dan mengikuti dua orang saudara kembar itu memasuki ruangan pertemuan.
Ketika ia masuk, semua mata memandang, kagum dan heran.
Kagum karena kecantikan gadis itu dan heran bagaimana Perguruan Driya Pawitra mengirim utusan seorang wanita dan masih begitu muda lagi!
Padahal, pertemuan itu merupakan pertemuan orang-orang yang berilmu tinggi, datuk-datuk yang sakti mandraguna!
Yang diam-diam merasa dongkol adalah Bhagawan Kalasrenggi karena dia mengundang ketua Perguruan Driya Pawitra akan tetapi ketua itu yang bernama Ki Sarwaguna tidak datang melainkan mengirim wakil seorang gadis muda!
Dia menganggap hal ini tidak patut, apalagi karena dia memang tahu bahwa Ki Sarwaguna selama ini bersikap tak acuh terhadap usaha Blambangan untuk menentang Mataram.
Bhagawan Kalasrenggi menganggap sikap ketua Driya Pawitra ini tidak patut bahkan memandang rendah kepadanya yang menjadi orang kepercayaan Sang Adipati dan sudah mengirim undangan.
Karena mendongkol, dia ingin memberi peringatan kepada Perguruan Driya Pawitra dengan membikin malu gadis muda yang menjadi utusannya itu.
Diam-diam dia memasang "Rajah"
Kepada sebuah kursi. Rajah ini merupakan sebuah ilmu sihir yang "mengisi"
Kursi itu dengan tenaga panas sehingga orang yang mendudukinya akan merasa pinggulnya seperti dibakar!
Semua orang yang berada disitu tentu saja merasa terheran melihat gadis muda cantik jelita menjadi utusan sebuah perguruan yang amat terkenal di daerah Blambangan.
Hal ini adalah karena tidak mengenal siapa gadis itu.
Kalau saja mereka sudah mengenalnya tentu tidak akan merasa heran.
Ratna Manohara yang baru berusia delapan belas tahun ini adalah puteri tunggal Ki Sarwaguna, ketua perguruan Driya Pawitra dan semuda itu sudah memiliki kesaktian yang cukup hebat.
Sejak kecil sekali ia telah digembleng oleh ayahnya sendiri dan karena ia memang memiliki bakat besar, maka dalam usianya yang delapan belas sekarang ini ia telah hampir mewarisi semua aji kesaktian ayahnya!
Ratna Manohara sama sekali bukan seorang gadis jelita yang lemah!
"Nona, silakan duduk disini!"
Kaladhama menyodorkan kursi yang sudah diisi dengan rajah oleh Bhagawan Kalasrenggi tadi, atas isyarat gurunya itu.
Ratna Manohara mengangguk dan semua orang yang tadi melihat Bhagawan Kalasrenggi membuat rajah dengan gerakan tangan di atas kursi itu, memandang dengan hati tegang.
Gadis cantik itu tentu akan menjerit kalau duduk di atas kursi itu.
Akan tetapi Ratna Manohara menggerakkan tangannya seperti mengusap permukaan kursi itu, seperti hendak membersihkannya dari debu dan tiba-tiba saja kursi itu patah-patah!
"Hemm, kursi ini sudah rusak,"
Kata gadis itu dengan tenang sambil memandang kepada Adipati Santa Guna Alit.
"Paman Adipati, apakah tidak ada kursi lain yang tidak rusak?"
Dhirasani dan Dhirasanu dengan gerakan berbareng masing-masing mengambil sebuah kursi kosong dan menghampiri Ratna Manohara.
"Silakan duduk di kursi ini, Nimas Ayu!"
Kata mereka berbareng pula.
Ratna Manohara tersenyum geli.
Baginya, dua orang pemuda kembar ini sungguh membingungkan dan juga menggelikan.
Ia menerima dua buah kursi itu karena merasa tidak enak kalau hanya menerima sebuah saja yang berarti menolak pemberian yang lain.
Dengan kedua tangannya ia menerima dua buah kursi itu lalu mengerahkan tenaga sakti, mempertemukan sisi dua buah kursi itu.
Terdengar suara keras dan dua buah kursi itu saling menempel sehingga menjadi sebuah kursi yang lebar.
Ia lalu duduk di atas kursi lebar itu dengan sikap tenang!
Sekarang baru Bhagawan Kalasrenggi dan semua orang tahu bahwa Driya Pawitra tidak mengirim orang sembarangan sebagai wakil, melainkan seorang gadis muda cantik jelita yang sakti mandraguna!
Pada saat itu terdengar suara gaduh diluar, suara orang jatuh berdebukan diiringi keluh kesakitan.
Mendengar ini, Adipati Santa Guna Alit mengerutkan alis dan memandang ke arah pintu.
Dia merasa marah karena rapat pertemuan itu terganggu.
Seorang perajurit pengawal dengan memegangi pipi kanannya yang membengkak kebiruan melapor dengan suara pelo karena bibirnya sebelah kanan turut membengkak.
"Ampun, Gusti Adipati, di luar ada seorang gadis mengamuk dan merobohkan para perajurit pengawal yang berjaga..."
Sang Adipati dan juga Bhagawan Kalasrenggi menjadi marah mendengar laporan ini. Kakek pendeta itu segera memerintahkan Kalajana muridnya.
"Coba lihat siapa yang berani membikin ribut diluar!"
Kalajana segera bangkit dan keluar dari ruangan, menuju ke depan.
Ketika tiba di depan, dia melihat belasan orang perajurit pengawal rebah malang melintang di depan pendopo, merintih kesakitan sambil memegangi bagian muka yang membengkak.
Ada yang bibirnya berdarah, ada yang giginya rompal, ada yang tulang hidungnya patah dan ada yang matanya menghitam.
Dan disana masih ada belasan orang perajurit lain yang mengeroyok seorang gadis muda.
Para pengeroyok itu kini menggunakan senjata tajam setelah melihat betapa rekan-rekan mereka dihajar berpelantingan.
Belasan golok dan pedang berkelebatan menyerang ke arah gadis itu, akan tetapi gadis itu berkelebatan dan tubuhnya bagaikan bayangan menari-nari diantara sambaran senjata tajam sambil membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga beberapa orang berpelantingan.
Kalajana terkejut.
Gadis itu sama sekali tidak bersenjata walaupun ia memiliki sebuah keris yang terselip di pinggang dan sehelai sabuk yang diikat di pinggangnya.
Kalajana mengenal sabuk seperti itu yang juga dapat dipergunakan sebagai senjata.
Gadis itu menghadapi pengeroyokan belasan orang bersenjata golok dan pedang dengan tangan kosong saja!
Melihat betapa beberapa orang perajurit roboh, dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, semua perajurit itu akan roboh.
Dia melompat ke depan pendopo dan berseru.
"Semua perajurit mundur!!"
Mendengar seruan ini dan melihat bahwa yang berseru adalah Kalajana, para perajurit yang masih mengeroyok itu segera berlompatan ke belakang.
Gadis itu berdiri sambil bertolak pinggang dan tersenyum manis, namun senyum dan pandang matanya mengandung ejekan ketika ia memandang kepada Kalajana yang maju menghampirinya.
Kalajana memandang kagum.
Gadis ini juga cantik jelita seperti utusan Perguruan Driya Pawitra tadi, usianya sekitar sembilan belas tahun.
Pakaiannya mewah dan indah, rambutnya hitam panjang terurai di punggung dan berombak.
Wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu meruncing manis, sepasang matanya berkilat tajam, hidungnya lucu, mancung menjungat ke atas sehingga ada kesan menantang, mulutnya berbentuk indah menggairahkan.
Namun, berbeda dengan Ratna Manohara tadi, gadis ini sikapnya ugal-ugalan, liar, galak dan pemberani.
Melihat kini ada dua puluh orang lebih yang telah roboh, Kalajana maklum bahwa gadis itu seorang yang berkepandaian tinggi.
Dia tidak berani sembarangan, maka dia menoleh kepada seorang perajurit yang pipinya bengkak dan berada di dekatnya.
"Apa yang terjadi? Mengapa kalian mengeroyok wanita itu?"
Tanya Kalajana. Sambil memegangi pipinya yang bengkak membiru, perajurit itu menjawab.
"Gadis itu memukul pemimpin regu penjaga sampai giginya rontok semua dan pingsan, maka kami lalu mengeroyoknya."
Kalajana mengerutkan alisnya.
Ternyata gadis cantik ini telah sengaja membuat kekacauan, pikirnya.
Itu berarti menantang Sang Adipati!
Hendak kulihat sampai dimana kedigdayaannya maka ia berani lancang memukul perwira pengawal.
"Bocah perempuan jahat, agaknya engkau hendak memamerkan kepandaian disini. Coba sambutlah Aji Tatit Geni dariku ini, kalau engkau memang sakti. Hyaaaaaaattt...!"
Kalajana mendorongkan kedua tangannya dari jarak sekitar empat depa dari gadis itu.
Dari kedua telapak tangannya menyambar kilat api ke arah gadis itu!
Tentu saja dia membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh gadis itu sebelum dia ketahui siapa dara itu sesungguhnya.
Dia menyerang hanya untuk menguji kepandaian orang, akan tetapi aji pukulannya itu memang dahsyat bukan main.
Gadis itu malah tertawa!
"Hi-hi-hik, ini ada pula monyet besar jelek hendak membadut di depanku."
Dan gadis itu lalu mendorongkan kedua tangannya yang berkulit putih dan bentuknya indah itu menyambut serangan itu.
Dari kedua telapak tangan yang mungil dan putih mulus itu menyambar keluar semacam awan yang kemerahan.
Itulah Aji Niraja Jingga (Awan Merah).
"Wuuuttt... dessss...!"
Tenaga pukulan Kalajana terpental dan membalik sehingga amat mengejutkan murid Bhagawan Kalasrenggi itu.
Dia lalu mengerahkan tenaganya, mendorong kembali tenaga serangannya yang membalik.
Akan tetapi dia bertemu dengan tenaga yang amat kuat dari awan merah itu sehingga aji pukulannya itu tidak mampu mendesak pertahanan lawan.
Dia menghentikan serangannya.
"Hemm, kiranya Nona memiliki kesaktian. Akan tetapi kenapa Andika datang membikin kekacauan dan memukul roboh para perajurit pengawal kami?"
Tegur Kalajana. Gadis itu tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang rapi dan putih.
"Heh-heh-hi-hi! Engkau ini orang yang munafik, lahirnya bersih batinnya kotor seperti buah mangga yang kulitnya mulus dalamnya berulat! Engkau memutar balikkan kenyataan. Engkau yang lebih dulu menyerangku dan sekarang kau katakan aku membikin kacau?"
"Akan tetapi engkau memukul roboh para perajurit pengawal kami!"
"Tentu saja! Apa kalau dikeroyok aku harus diam saja membiarkan tubuhku dicincang oleh mereka?"
"Hemm..."
Kalajana agak kewalahan. Gadis itu terdengar galak dan pandai berdebat. Akan tetapi dia masih mengejar.
"Lalu kenapa engkau dikeroyok? Dan kenapa engkau memukul roboh perwira mereka?"
Gadis itu menjawab dengan mudah tanpa dipikir dulu, hal ini menunjukkan bahwa ia memang seorang yang pandai berdebat.
"Aku bukan anak kecil yang cengeng dan suka melapor kepada kakeknya kalau diganggu orang. Maka pertanyaan itu mengapa tidak kau ajukan saja kepada mereka yang mengeroyokku?"
Wajah Kalajana yang bopeng itu menjadi kemerahan.
Dalam kata-kata itu seolah-olah gadis ini menyamakan dia dengan seorang kakek-kakek!
Padahal dia tidaklah begitu tua, baru tiga puluh tahun usianya.
Akan tetapi ucapannya itu benar juga maka dia lalu menoleh kepada perajurit tadi dan bertanya.
"Katakan, mengapa kalian mengeroyok nona ini!"
Pertanyaan itu lebih merupakan bentakan sehingga perajurit itu menjadi ketakutan.
"Tadi kau katakan bahwa ia memukul roboh perwira pasukan pengawal. Nah, kenapa perwira itu dipukul oleh nona ini?"
"Begini awal mulanya, Denmas."
Kalajana dan Kaladhama menuntut agar disebut Denmas oleh para perajurit seolah mereka itu keturunan bangsawan tinggi!
"Tadi gadis itu muncul dan dengan sikap sombong minta kepada kami agar dipanggilkan Gusti Adipati atau wakilnya supaya keluar menyambut kedatangannya.
Perwira kami yang merasa tidak senang dengan sikap gadis itu, lalu menggodanya dan gadis itu lalu menghajarnya sampai roboh pingsan dengan gigi rontok."
Karena ingin mengetahui sejelasnya, Kalajana bertanya lagi.
"Godaan bagaimana yang dilakukan perwira penjaga?"
"Dia berkata begini, 'Nimas yang ayu manis merak ati, daripada engkau minta yang bukan-bukan, lebih baik engkau ikut dengan aku ke dalam gardu dan kita bersenang-senang karena aku cinta padamu, Nimas!' Begitulah dia menggoda."
"Nah, engkau sudah mendengar semua, bukan? Ada akibat tentu ada sebabnya. Aku merobohkan para perajurit, itulah akibat dan sebabnya adalah karena mereka mengeroyok aku! Mereka mengeroyokku sebab aku memukul pingsan perwira mereka. Aku menghajar perwira itu karena dia mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan. Perwira itu mengeluarkan kata-kata tidak sopan, itulah akibat dan sebabnya adalah karena dia adalah seorang yang wataknya busuk dan kurang ajar, maka kuhajar! Sekarang engkau lihat, siapa yang menjadi sebab dan bersalah dalam peristiwa ini?"
Kalajana merasa kewalahan dan bagaimanapun juga, semua ucapan gadis itu tidak dapat dibantah kebenarannya.
"Akan tetapi, Nona, kenapa engkau minta agar Gusti Adipati atau wakilnya keluar menyambutmu?"
"Tentu saja karena dia adalah tuan rumah dan aku adalah tamu yang diundang!"
"Ah, maaf, kalau begitu para pengawal yang salah. Jadi Nona adalah seorang diantara para tamu yang diundang oleh Gusti Adipati?"
"Yang diundang adalah guruku dan aku adalah murid yang mewakilinya untuk memenuhi undangan itu."
"Kalau begitu selamat datang dan mari kita masuk ke dalam ruangan dimana para tamu yang lain telah datang dan berkumpul. Akan tetapi, siapakah namamu, Nona?"
"Kau katakan dulu siapa namamu agar kuketahui apakah engkau layak menyambut aku!"
Kalajana menghela napas. Gadis ini benar-benar luar biasa. Selain sakti, juga amat angkuh dan luar biasa pandainya berdebat.
"Ketahuilah, Nona. Yang mengundang untuk pertemuan ini memang Gusti Adipati, akan tetapi pelaksanaannya adalah Bhagawan Kalasrenggi dan aku adalah muridnya yang bernama Kalajana. Nah, apakah engkau puas disambut oleh murid yang mewakili gurunya?"
"Hemm, boleh juga. Aku datang mewakili guruku yang bernama Nini Kunti-garba dari Gunung Betiri dan aku muridnya bernama Ken Darmini."
Terkejutlah Kalajana mendengar bahwa gadis ini murid Nini Kuntigarba.
Tentu saja dia mengenal siapa itu Nini Kunti-garba, seorang nenek yang sakti mandraguna dan ditakuti semua orang, seorang datuk wanita yang diam-diam dijuluki orang Biyang Iblis!
"Ah, sekali lagi maafkan anak buahku, Nona.
Mari silakan masuk menemui Gusti Adipati Blambangan yang sudah berada di ruangan pertemuan bersama semua tamu undangan."
Sekali ini, Ken Darmini tidak membantah dan ia mengikuti Kalajana memasuki gedung dan langsung menuju ke ruangan pertemuan dimana semua orang telah menanti-nanti kembalinya Kalajana.
Setelah Kalajana memasuki ruangan bersama seorang gadis muda yang cantik jelita dan tersenyum-senyum menyapu semua orang yang berada di ruangan itu, mereka merasa kagum dan heran.
Kalajana cepat melapor kepada Adipati Santa Guna Alit.
"Gusti Adipati, ini adalah Nona Ken Darmini yang datang sebagai murid atau utusan gurunya, yaitu Nini Kuntigarba dari Gunung Betiri. Tadi telah terjadi kesalah-pahaman antara Nona ini dengan para perajurit pengawal sehingga terjadi sedikit keributan, akan tetapi semua telah dapat diselesaikan."
Kata Kalajana.
"Eh-he-he-heh! Ken Darmini, kenapa gurumu, Nini Kuntigarba tidak datang sendiri? Aku, Bhagawan Kalasrenggi yang mengundangnya atas nama Sang Adipati Blambangan. Apakah dia tidak menganggap kami sebagai sahabat?"
Tanya Bhagawan Kalasrenggi dengan suaranya yang tinggi.
"Bhagawan Kalasrenggi, guruku bilang bahwa ia tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Andika. Kalau ia mengutus aku menjadi wakilnya memenuhi undangan pada hari ini, hanya karena guruku menghormati Sang Adipati Blambangan sebagai penguasa daerah ini."
Jawab Ken Darmini lantang. Mendengar ini, Sang Adipati Blambangan tersenyum dan berkata dengan ramah.
"Ken Darmini, kami merasa girang bahwa Andika mewakili Nini Kuntigarba datang menghadiri pertemuan ini, Silakan duduk."
Tiba-tiba terdengar suara yang tinggi dan suara itu menggetar penuh wibawa yang amat kuat.
"Ken Darmini, Andika duduklah disini...!"
Itu adalah suara Bhagawan Kalasrenggi yang mengerahkan tenaga sihirnya untuk mempengaruhi Ken Darmini agar duduk di sebelahnya!
Kekuatan sihir ini terasa oleh semua orang dan mereka memandang kepada Ken Darmini dengan wajah tegang karena perintah itu sudah merupakan serangan ilmu sihir dan kalau gadis itu mentaati perintah itu berarti dara itu telah kalah!
Semua orang melihat betapa Ken Darmini yang mendengar ucapan itu menoleh dan memandang kepada Bhagawan Kala-srenggi, lalu...
ia menggerakkan kakinya menghampiri kakek itu!
Semua orang memandang dengan hati tegang.
Bahkan Ratna Manohara berdiri dari kursinya.
Ia tidak mengenal Ken Darmini walaupun ia juga pernah mendengar nama besar Nini Kuntigarba yang dijuluki Biyang Iblis.
Akan tetapi melihat bahwa dalam pertemuan itu hanya ada dua orang wanita, ia dan Ken Darmini, maka tentu saja hatinya condong membela Ken Darmini.
Akan tetapi biarpun ia tahu bahwa kakek yang mengerikan itu menyerang Ken Darmini dengan kekuatan sihir, ia tidak boleh membantu Ken Darmini, karena hal itu dianggap tidak sopan melakukan pengeroyokan!
Maka ia pun diam saja hanya memandang dengan penuh perhatian dan sepasang alisnya yang hitam kecil melengkung panjang itu berkerut.
Akan tetapi terjadi perubahan yang tidak tersangka-sangka.
Setelah melangkah menghampiri Bhagawan Kalasrenggi dan tampaknya Ken Darmini kalah dan taat, duduk di atas kursi disamping kakek yang memerintahnya itu, dan kini telah tiba dalam jarak tiga meter dari Bhagawan Kalasrenggi, tiba-tiba Ken Darmini berhenti melangkah dan memandang kakek itu dengan mata mencorong dan bibir yang manis itu tersenyum mengejek, lalu jari tangan kanannya menuding ke arah muka kakek itu dan tangan kirinya bertolak pinggang.
"Heh, kakek tua bangka tengik! Mentang-mentang kamu ini dukun lepus, kamu yang tua bangka hendak mempermainkan orang muda, ya? Dan begitu itu yang kau katakan bersahabat tadi? Hemm, jangan kira aku gentar menghadapi tenung dan santetmu!"
Semua orang tertegun sekali.
Pertama, melihat kenyataan bahwa gadis yang usianya belum ada dua puluh tahun itu mampu mengatasi pengaruh kekuatan sihir Bhagawan Kalasrenggi yang amat dahsyat.
Dan ke dua mendengar betapa ucapan gadis itu amat keras dan nadanya menantang Sang Bhagawan!
Bhagawan Kalasrenggi menjadi merah mukanya karena malu.
Sihirnya gagal dan bukan dia yang mempermalukan gadis itu, sebaliknya Ken Darmini yang mempermalukan dia di depan banyak orang!
Akan tetapi karena mereka berada di depan Sang Adipati dan tujuan pertemuan ini untuk bersatu padu menghimpun kekuatan menghadapi Mataram, maka dia menahan kemarahannya dan terkekeh.
"Heh-heh-heh, Ken Darmini! Aku tidak berniat buruk, hanya ingin menguji sampai dimana kehebatan seorang murid Nini Kuntigarba dan ternyata Andika memang hebat dan kuat sekali!"
Melihat ini, Sang Adipati Blambangan lalu cepat berkata.
"Kami harap agar pertemuan penting ini tidak diganggu oleh urusan pribadi. Ken Darmini, kami mempersilakan Andika memilih dan mengambil tempat duduk karena pembicaraan akan segera kami mulai."
Ken Darmini yang tadinya memandang kepada kakek itu dengan mata mencorong, kini tersenyum dan menghadap Sang Adipati sambil berkata.
"Terima kasih dan maafkan saya, Paman Adipati!"
Gadis ini memang watak dan sikapnya liar, bahkan ia begitu saja menyebut Adipati Blambangan dengan panggilan "paman"!
"Ken Darmini, disini ada kursi kosong.
Aku Ratna Manohara murid Driya Pawitra mengundangmu duduk di sebelahku kalau engkau suka."
Ken Darmini memandang ke arah gadis dari Grajagan itu, lalu ia menyapu ke arah para datuk dan undangan yang hadir disitu. Ia tersenyum lebar.
"He-he-heh! Kulihat bahwa hanya kita berdua sajalah wanita yang hadir disini. Baik, aku suka duduk disebelahmu, Ratna!"
Ia lalu melangkah cepat menghampiri Ratna Manohara dan duduk di atas kursi di sebelahnya.
Dua orang dara jelita yang muda dan sakti mandraguna ini segera bercakap-cakap dengan suara setengah berbisik, tampaknya gembira dan asyik, tanpa mengacuhkan orang-orang yang berada disitu.
Melihat ini, Sang Adipati Blambangan mengerutkan alisnya, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia menggeleng-geleng kepalanya.
Para tamu juga hanya dapat menggeleng-geleng kepala, merasa tidak berdaya.
Mereka semua tahu bahwa kalau dua orang wanita saling bertemu dan mereka merasa suka satu sama lain, tentu mereka berdua akan berceloteh dan ngobrol dengan gembira.
Sebetulnya yang banyak bicara adalah Ken Darmini.
Sang Adipati Blambangan memperkuat suaranya ketika dia berkata.
"Kami ulangi lagi ucapan selamat dalang dan terima kasih kami bahwa Andika sekalian suka memenuhi undangan kami. Kita datang dari berbagai daerah, akan tetapi mempunyai satu persamaan, yaitu kita semua menentang Mataram. Persamaan ini membuat kita dapat bekerja sama dengan baik untuk menghadapi ancaman Mataram dan menentangnya kalau Mataram berani datang menyerang. Dengan mempersatukan segenap kekuatan kita, kita bahkan akan mampu menyerang dan menundukkan Mataram atau sedikitnya dapat menimbulkan kekacauan di Mataram sehingga melemahkan kekuatan mereka. Apakah diantara Andika sekalian ada yang ingin memberi tanggapan atas pendapat yang kami kemukakan itu?"
Kebanyakan dari mereka mengangguk-angguk, merasa setuju.
Tejakasmala utusan dari Raja Klungkung yang masih muda dan berwajah tampan dan gagah itu, berbisik kepada Cakrasakti, seorang diantara dua orang Senopati Klungkung yang duduk disebelahnya.
Senopati Bali Cakrasakti lalu berkata dengan suara lantang.
"Kami wakil Kerajaan Klungkung di Bali-dwipa setuju sekali. Mataram memang musuh kita!"
Terdengar suara tawa yang serak dan terbahak-bahak.
"Hak-hak-hak! Tepat sekali, kami utusan Kumpeni Belanda juga setuju sepenuhnya. Kita harus menghentikan keangkara-murkaan Mataram yang ingin menjajah semua daerah!"
Suara ini diucapkan oleh Arya Bratadewa, datuk Banten yang menjadi antek Kumpeni.
Mendengar pernyataan utusan Kerajaan Klungkung di Bali dan utusan Kumpeni Belanda yang merupakan dua kekuatan terbesar, hampir semua tamu menyatakan setuju.
Sejak tadi Bhagawan Kalasrenggi memperhatikan sikap Wiku Menak Jelangger yang dia tahu biasanya tidak memperlihatkan sikap bermusuhan terhadap Mataram.
Dia melihat Sang Wiku tidak ikut ramai-ramai menyatakan setuju dengan ucapan Sang Adipati, hanya duduk diam saja, maka dia pun bertanya dengan suara nyaring sehingga semua orang terdiam mendengarkan.
"Heh-heh-heh, sahabat Wiku Menak Jelangger!"
Suara Bhagawan Kalasrenggi itu tinggi melengking seperti suara wanita.
"Aku melihat Andika diam saja. Bagaimana tanggapan Andika terhadap pernyataan Sang Adipati tadi? Karena Andika adalah seorang datuk dari Blambangan maka kami ingin sekali mendengar pendapat Andika!"
Semua orang kini memandang kepada Wiku Menak Jelangger dan ingin sekali mengetahui jawaban tokoh Blambangan ini.
Sang Wiku bersikap tenang saja mendengar pertanyaan Bhagawan Kalasrenggi yang berhasil menarik hati Adipati Blambangan sehingga diangkat menjadi penasihat dan orang kepercayaan.
Dia lalu menjawab, suaranya lembut.
"Jagad Dewa Bathara! Sahabat Bhagawan Kalasrenggi, kenapa Andika masih menanyakan hal itu kepadaku? Aku adalah seorang kawula Blambangan, oleh karena itu, kerajaan mana pun, siapa pun kalau mengacau dan mengganggu rakyat di Blambangan, pasti akan kutentang. Aku akan membela Blambangari dengan taruhan nyawa!"
"Heh-heh, sahabat Wiku Menak Jelangger, Andika belum menjelaskan apakah Mataram itu Andika anggap musuh atau bukan?"
Bhagawan Kalasrenggi mendesak.
"Sudah kukatakan bahwa aku akan menganggap siapa saja yang mengganggu kehidupan rakyat Blambangan sebagai musuh. Dan siapapun juga yang tidak menyerang Blambangan dan tidak mengganggu rakyatnya, tentu saja tidak kutentang."
"Wah, tepat sekali ucapan Sang Wiku Menak Jelangger itu! Aku setuju sepenuhnya. Kalau orang tidak mengganggu kita, untuk apa kita tentang? Siapa yang mengganggu kita, itulah musuh kita!"
Kata Ken Darmini dengan suara lantang. Ia adalah seorang gadis yang galak, ugal-ugalan, berani, akan tetapi terbuka dan jujur, apa yang keluar dari mulutnya langsung keluar dari hatinya.
"Eh, Ratna, engkau sebagai wakil Driya Pawitra, bagaimana pandapatmu dengan ucapan Wiku Menak Jelangger tadi?"
Dengan suara lembut namun cukup tegas Ratna Manohara menjawab pertanyaan itu.
"Aku pun setuju dengan pendapatmu tadi, Ken Darmini. Kami sama sekali tidak ingin mencari permusuhan, akan tetapi kalau kami diganggu, tentu saja kami akan melawan dengan taruhan nyawa kami!"
Semua orang lalu saling bicara sendiri mendengar ucapan Wiku Menak Jelangger, Ken Darmini dan Ratna Manohara itu.
Mendengar ucapan tiga orang itu, diam-diam Adipati Blambangan merasa tidak puas.
Dia mengumpulkan semua kekuatan untuk digabungkan bukan hanya untuk mempertahankan Blambangan kalau diserang Mataram, akan tetapi juga untuk menyerang dan kalau mungkin menundukkan Kerajaan Mataram.
Maka dia ingin sekali mendengar utusan Kumpeni Belanda karena dia yakin bahwa Kumpeni akan menyokong niatnya menyerbu daerah Mataram.
Dia mengangkat tangan kanan ke atas minta mereka tenang dan suara biasing itu perlahan-lahan mereda karena semua orang ingin mendengar apa yang akan dikatakan Sang Adipati.
"Saudara sekalian, kita masih ingin mendengarkan pendapal pihak lain. Kami persilakan utusan Kumpeni untuk menyatakan pendapatnya."
"Hak-hak-hak! Kalau Sang Adipati menanyakan, sekali lagi kami tegaskan bahwa Kumpeni selalu menganggap Mataram sebagai musuh! Bahkan beberapa tahun yang lalu Mataram pernah dua kali berturut-turut menyerbu Batavia, akan tetapi pihak Kumpeni dapat bertahan dan mengusir mereka. Tentu saja kami mendukung Blambangan untuk memusuhi Mataram dengan segala cara! Ha-ha-hak!"
Arya Bratadewa tertawa lagi terbahak-bahak.
Tiba-tiba terdengar suara yang halus, namun mengandung getaran kekuatan yang mengguncang hati semua orang.
Itulah suara Tejakasmala yang bicara sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya mengandung getaran kuat dan berwibawa.
"Paman Adipati, saudara-saudara sekalian! Pendapat Andika sekalian itu benar. Juga pendapat Nimas Ayu Ratna Manohara dan Nimas Ayu Ken Darmini tadi tidak salah! Mereka berdua, maksud saya bertiga dengan Paman Wiku Menak Jelangger, menyatakan pendapat berdasarkan kepentingan pribadi, bukan seperti kami yang pendapatnya berdasarkan kepentingan kerajaan. Saya kira hal ini adalah karena mereka bertiga itu, belum mengerti akan urusan politik negara. Mereka tidak menyadari akan keangkara-murkaan Mataram yang sudah mendudukkan dan menjajah banyak daerah, yang terakhir daerah Kadipaten Surabaya, Madura dan Giri. Karena tidak mengerti, biarlah mereka itu berdiri di atas pendapat mereka sendiri. Setidaknya, Blambangan tentu akan mereka bela mati-matian kalau sampai diserang Mataram. Bukankah demikian, Paman Wiku Menak Jelangger, Nimas Ayu Ken Darmini dan Nimas Ayu Ratna Manohara?"
Sang Wiku Menak Jelangger hanya mengangguk-angguk, mau tidak mau membenarkan ucapan utusan Kerajaan Klungkung yang masih muda itu, walau pun di dalam hatinya ada perasaan tidak suka kepada pemuda yang tampan halus ini, mungkin perasaan ini timbul karena pancaran sinar mata pemuda tampan gagah itu.
"Ya, aku tidak menyangkal. Aku akan membela Blambangan kalau diserang musuh karena aku pun merasa menjadi warga-negara Blambangan, akan tetapi aku tidak mau diajak memusuhi kerajaan lain yang tidak mengganggu Blambangan!"
Kata Ken Darmini lantang.
"Aku setuju sekali dengan pendirian Mbakayu Ken Darmini!"
Kata Ratna Manohara.
"Heh-heh-heh, kalau pendirian Andika bertiga seperti itu, lalu apa gunanya mengikuti rapat pertemuan ini? Kami hendak membicarakan usaha kami menyerbu ke daerah Mataram yang menjadi musuh kami, kalau Andika bertiga tidak menyetujui tindakan yang akan kami lakukan itu, tidak perlu Andika berada disini. Nanti saja kalau Blambangan diserang musuh, Andika bertiga baru datang membela Blambangan bersama kami."
Kata Bhagawan Kalasrenggi dengan suaranya yang tinggi.
"Sadhu-sadhu-sadhu...!"
Kata Wiku Menak Jelangger sambil merangkap kedua tangan depan dada lalu bangkit berdiri.
"Ucapan Sang Bhagawan Kalasrenggi itu tidak keliru. Saya mohon pamit, Sang Adipati setelah berkata demikian, Wiku Menak Jelangger lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah tegak.
"Huh! Untuk apa aku lebih lama disini hanya untuk mendengar dan melihat kesombongan seorang dukun tua bangka yang tengik? Paman Adipati, aku memang tidak perlu lagi tinggal disini lebih lama. Aku minta pamit!"
Kata Ken Darmini dengan galak, lalu ia menoleh kepada Ratna Manohara.
"Adik Ratna, mari kita keluar dari sini!"
"Paman Adipati, saya pun mohon pamit karena tidak ada keperluan lagi disini."
Kata Ratna Manohara sambil berdiri dan dua orang dara jelita ini melangkah keluar dari ruangan itu.
Melihat ini, si kembar Dhirasani dan Dhirasanu merasa tidak enak hati.
Tadinya mereka berdua terpesona dan tertarik oleh kecantikan Ratna Manohara.
Kemudian Ken Darmini yang jelita juga amat menarik hati mereka berdua.
Maka, melihat dua orang dara jelita itu meninggalkan ruangan dan tampaknya tidak senang hati, mereka segera berkata kepada ayah mereka, Sang Adipati Blambangan.
"Kanjeng Rama, kami hendak pergi keluar sebentar."
Tanpa menunggu jawaban ayah mereka, kedua orang pemuda itu lalu keluar dari ruangan dan mengejar dua orang gadis yang sudah lebih dulu keluar dari situ.
Akan tetapi mereka tidak melihat dua orang gadis itu di luar.
Mereka lalu bertanya kepada perajurit dan mendapat jawaban bahwa dua orang gadis itu menuju ke barat.
Karena maklum bahwa dua orang gadis itu sakti dan mungkin menggunakan kepandaian mereka untuk berjalan cepat, dua orang muda kembar itu lalu berlari cepat mengejar ke barat.
Di pintu gerbang sebelah barat mereka mendengar dari penjaga pintu gerbang bahwa baru saja dua orang gadis yang mereka kejar itu lewat.
Maka mereka terus melakukan pengejaran ke barat, keluar kota kadipaten dan akhirnya mereka dapat menyusul dua orang gadis yang sedang berjalan sambil bercakap-cakap itu.
"Nimas Ayu berdua, berhentilah sebentar, kami ingin bicara!"
Teriak Dhirasani sambil menghampiri bersama adik kembarnya, Dhirasanu.
Dua orang gadis itu menengok dan melihat dua orang pemuda kembar itu mengejar mereka, Ken Darmini tersenyum dan berbisik kepada Ratna Manohara.
"Wah, Raden Nakula dan Raden Sadewa datang..., ataukah mereka itu lebih cocok disebut Raden Citraksi dan Raden Citraksa?"
Ratna Manohara tersenyum, geli hatinya mendengar ini.
Nakula dan Sadewa adalah kakak beradik kembar dari tokoh tokoh Pandawa Lima, yaitu saudara ke empat dan ke lima.
Ada pun Raden Citraksi dan Citraksa adalah dua orang kakak beradik dari pihak Kurawa yang ada yang mengira kembar, akan tetapi dua orang tokoh ini merupakan pemuda-pemuda yang sombong, tekebur, galak, banyak lagak seperti sakti mandraguna, namun sesungguhnya lemah dan pengecut.
Dua orang tokoh Kurawa ini oleh ki dalang sering dimunculkan sebagai dua orang tokoh yang menjemukan dan lucu.
Ketika tiba di depan dua orang gadis yang masih tersenyum lebar setengah tertawa-tawa itu, Dhirasani dan Dhirasanu merasa girang karena menduga bahwa dua orang dara jelita ini bergembira melihat mereka berdua!
"Nimas berdua, kami sungguh merasa bahagia sekali dapat bertemu dengan Andika berdua!"
Kata Dhirasani sambil menatap wajah Ken Darmini tanpa menyembunyikan rasa kagumnya. Pemuda ini memang telah tergila-gila begitu melihat Ken Darmini yang lincah dan pandai bicara.
"Tentu saja kita dapat saling bertemu karena kalian memang mengejar kami, bukan?"
Balas tanya Ken Darmini sambil tersenyum sehingga wajahnya tampak lebih menarik.
"Aku gembira sekali melihatmu, Nimas Ratna Manohara!"
Kata pula Dhirasanu yang lebih pendiam daripada kakak kembarnya dan dia lebih kagum kepada Ratna Manohara yang juga pendiam dan lembut.
"Akan tetapi kami tidak gembira karena andika berdua mengganggu perjalanan kami."
Ucapan Ratna Manohara ini membuat Dhirasanu tertegun dan tak mampu bicara lagi.
"He-he, aku tidak tahu antara kalian ini, mana yang Citraksi mana Citraksa..."
"Citraksi Citraksa...?"
Tanya Dhirasani heran sambil memandang kepada Ken Darmini yang setelah berkata tadi lalu tertawa geli.
Ratna Manohara juga tidak dapat menahan tawanya sehingga dua orang gadis itu kembali tertawa-tawa sampai membungkuk-bungkuk menutupi mulut mereka.
"Hi-hi-hi-hik..."
Ratna Manohara mengikik geli. '"Heh-heh-he-he-he..."
Ken Darmini terkekeh-kekeh, lalu berhasil menghentikan tawanya dan memandang kepada dua orang itu bergantian.
"Maksudku... eh, aku lupa lagi nama Andika berdua!"
Ia tidak berbohong.
Memang ia telah lupa lagi siapa nama mereka karena tadi-pun belum berkenalan.
Ia hanya mendengar nama mereka disebut Ratna Manohara ketika mereka bercakap-cakap membicarakan mereka yang hadir di Kadipaten Blambangan tadi.
"Nimas Ken Darmini,"
Baca Juga: Jodoh Rajawali 2
Baca Juga: Bu Kek Siansu 14