Ceritasilat Novel Online

Bakti Pendekar Binal 7

Eps 7 Bakti Pendekar Binal - Khu Lung

Baca online Bakti Pendekar Binal - Khu Lung

Cersil Bakti Pendekar Binal - Khu Lung.

Anak perempuan di dunia ini yang dapat menolak barang-barang antaran begini rasanya tidaklah banyak.

Dengan sendirinya barang-barang antaran ini berasal dari "Kang-kongcu".

Bilamana Thi Peng-koh sudah memakai baju serta perlengkapan yang lain dan selesai berdandan, pada saat itulah suara Kang Giok-long lantas muncul.

"Apakah Cayhe boleh masuk?"

Demikian tanya anak muda itu dengan sopan.

Kini, dalam perut Thi Peng-koh terisi santapan pemberian orang, yang dipakai di tubuhnya ialah perlengkapan kiriman orang.

Dalam keadaan demikian dapatkah dia menolak anak muda itu masuk ke kamarnya?

Dan sampai hari sudah Iohor Kang Giok-long masih ngendon di kamar si nona, tampaknya Thi Peng-koh juga tiada pikiran hendak mengusir anak muda itu.

Sekarang ia merasakan dirinya benar-benar tidak dapat kehilangan dia.

Kalau Kang Giok-long duduk di sampingnya, Peng-koh merasa hal ini adalah layak.

Sekalipun dia tetap menahan perasaannya, sedapat mungkin tidak banyak bicara dengan anak muda itu.

Dengan sendirinya kamar ini pun berada di suatu hotel kecil, ruangan makan hotel kecil ini hanya terdapat mereka berdua.

Menurut cerita Kang Giok-long, katanya nona Buyung tidak enak badan, maka tidak dapat ikut keluar.

Padahal, yang benar ialah Kang Giok-long telah menutuk Hiat-to tidurnya.

Buyung Kiu dibungkus dengan selimut dan direbahkan di tempat tidurnya.

Meski nona itu tidak lebih hanya seorang linglung saja, tapi Kang Giok-long tetap tidak ingin terganggu olehnya.

Di hotel kecil ini dengan sendirinya tiada santapan yang lezat, tapi Kang Giok-long sengaja memesan makanan satu meja penuh, malahan minta disediakan dua poci arak.

Dengan tertawa ia berkat.

"Apabila nona tidak menolak, Cayhe juga ingin mengiringi minum barang dua cawan, mengenai nona, akan lebih baik kalau tidak minum arak."

Peng-koh tidak menanggapi, tapi ketika arak sudah diantarkan, segera ia pegang poci dan menuang satu cawan penuh, sekali tenggak lantas dihabiskannya.

Ia merasakan cairan yang pedas dan panas membara itu mengalir masuk ke perutnya, saking panasnya hingga air mata hampir merembes keluar.

Maklum, selama hidupnya baru pertama kali ini minum arak.

Diam-diam Giok-long merasa geli, tapi dia sengaja berkata.

"Apabila nona tidak pernah minum arak, lebih baik janganlah minum, kalau mabuk .... Ai"

Lagaknya seperti orang yang sangat menaruh perhatian dan berhati tulus, khawatir si nona menjadi mabuk.

Padahal dia justru berharap selekasnya Peng-koh mabuk dan tak sadarkan diri.

Sudah tentu ia tahu sifat anak perempuan, semakin mencegahnya jangan minum, dia justru minum semakin banyak.

Sebaiknya kalau kau menganjurkan dia minum, satu tetes pun dia malah tidak mau minum.

Benar juga, belum lagi habis ucapan Kang Giok-long, segera Peng-koh menuang arak dan menenggaknya habis pula.

Menyaksikan itu, Giok-long pura-pura menghela napas gegetun, tapi di dalam hati sebenarnya senang sekali.

Setelah minum tiga cawan, Peng-koh merasakan sekujur badan menjadi hangat dan enak, seolah-olah ingin "terbang".

Waktu isi cawan keempat sudah masuk perutnya, dia merasa arak adalah cairan yang paling sedap di dunia ini, tidak terasa pedas dan juga tidak terasa pahit.

Waktu isi cawan kelima sudah ditenggaknya, maka semua duka nestapa telah dilupakannya seluruhnya.

Kini Kang Giok-long tidak lagi mencegah si nona minum, bahkan dia mulai menuangkan isi cawannya.

Katanya dengan tertawa.

"Asalkan nona tidak sampai mabuk, sebenarnya Cayhe juga ingin menyuguh secawan padamu."

"Mabuk?"

Peng-koh mendelik.

"Air gula begini bisa membuat mabuk?"

"Sungguh tak tersangka kekuatan minum nona sungguh luar biasa,"

Kata Giok-long.

"Marilah, Cayhe menyuguh secawan lagi pada nona."

Di dunia ini jarang ada orang yang tidak suka dipuji dan diumpak. Karena itu kembali Thi Peng-koh menghabiskan secawan pula. Mendadak ia melototi Kang Giok-long dan bertanya.

"Sesungguhnya kau ini orang baik atau orang jahat?"

Giok-long tersenyum, jawabnya.

"Apakah nona melihat Cayhe ini memper orang jahat?"

"Kau memang tidak menyerupai orang jahat, tapi ... tapi mengapa Kang Siau-hi-ji bilang kau ini bukan manusia baik?"

"Cayhe juga tahu nona adalah teman Kang Siau-hi, sebab itulah aku tidak ingin berbincang tentang kejelekannya di luar tahunya. Ai, padahal dia seharusnya tidak perlu benci diriku."

"Tapi mengapa dia benci padamu?"

"Apakah nona cukup akrab dengan dia?"

"Cukupan ... cukupan, tidak terlalu akrab."

"Kelak bila nona sudah kenal lebih mendalam kepribadiannya tentu akan paham .... Ai, sebabnya nona Buyung itu menjadi kurang waras kan juga gara-gara perbuatannya."

Thi Peng-koh melenggong sejenak, lalu ia menuang pula secawan arak dan diminum habis.

"Dalam keadaan sekarang ini sebenarnya tidak pantas Cayhe menyinggung urusan yang dapat membuat kesal,"

Kata Giok-long dengan tertawa. Tiba-tiba Peng-koh juga nyekikik, katanya.

"Benar, kita harus membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Eh, adakah kau punya kisah yang menyenangkan, lekaslah bercerita, setiap ceritamu akan kuiringi dengan minum secawan arak."

Bercerita adalah bakat pembawaan Kang Giok-long, mungkin tiga hari tiga malam juga takkan habis bilamana dia mau bercerita hal-hal yang menyenangkan.

Karena itulah terus-menerus ia bercerita.

Dengan sendirinya Thi Peng-koh juga minum arak secawan demi secawan, sambil tertawa sambil minum, kadang-kadang tersembur keluar, tapi segera minum pula dan tertumpah lagi sehingga tubuh Kang Giok-long juga tersembur basah oleh arak.

Sampai akhirnya Kang Giok-long sudah berhenti cerita, tapi si nona masih cekakak dan cekikik, kemudian ia tak dapat tertawa lagi, ia memberosot jatuh ke bawah kursi dan tak dapat bangun lagi.

Berkilat-kilat mata Kang Giok-long, ia coba memanggilnya.

"Apakah nona masih tahu apa yang kukatakan?"

Tapi mendengus saja Peng-koh tidak dapat.

Giok-long menariknya bangun dari kolong meja, terasa seluruh tubuh si nona sudah lemas lunglai seperti tak bertulang.

Ke mana Giok-long membawanya, ke situ pula dia menurut.

Tersembul senyum gembira pada ujung mulut Kang Giok-long, gumamnya perlahan.

"Kau sendiri yang ingin minum, jangan kau salahkan aku ...."

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang bergelak tertawa dan berkata.

"Pandai benar cara saudara ini, sungguh Cayhe kagum sekali."

Giok-long terperanjat, cepat ia menurunkan Peng-koh dan membalik tubuh.

Dilihatnya seorang jangkung dan seorang pendek telah melangkah masuk.

Sementara sudah magrib, di ruangan kecil ini belum lagi dinyalakan lampu, keadaan menjadi guram, berdiri di ruangan yang remang-remang ini kedua orang tinggi-pendek itu tampaknya rada-rada menyeramkan.

Meski dalam hati rada waswas, tapi lahirnya Giok-long tenang-tenang saja, dengan tersenyum ia menyapa.

"Apakah yang kalian maksudkan adalah diriku?"

"Ya, betul,"

Jawab si jangkung. Yang pendek terkekeh-kekeh dan berkata.

"Banyak juga tukang pikat perempuan dan ahli merayu yang pernah kulihat, tapi rasanya tiada seorang pun yang lebih pandai daripada saudara."

"Hahaha, kepandaian berkelakar kalian sungguh sangat bagus,"

Jawab Kang Giok-long dengan tergelak-gelak. Tiba-tiba si jangkung menarik muka, katanya.

"Selamanya Cayhe tidak suka berkelakar segala."

"Habis kalian ...."

Dengan terkekeh seram si pendek memotong.

"Nona ini sekarang sudah berada di tanganmu, tampaknya sebentar lagi saudara akan mengeloni si cantik, tapi apakah saudara tidak dapat membuat kami juga ikut-ikut senang sedikit."

"Apa yang kalian maksudkan, sungguh aku tidak paham,"

Ucap Giok-long dengan suara lirih.

"Maksudku, jikalau saudara ingin mengeloni si cantik, maka kepada kami berdua perlu juga diberi bagian,"

Jengek si jangkung.

"Kalau tidak ...."

"Untuk berusaha mungkin kami tidak mampu, untuk menggagalkan rasanya kami cukup sanggup,"

Sambung si pendek dengan tertawa. Tiba-tiba Giok-long mendapatkan akal, dengan tersenyum ia berkata pula.

"O, jadi kalian juga ingin icip-icip, begitu?"

"Hehe, ini sih kami tidak berani,"

Kata si pendek.

"Cuma saudara kan sudah mendapatkan yang baru, kalau yang lama, yaitu nona yang berada di dalam selimut, tentunya dapat kau berikan kepada kami."

"Wah, tampaknya banyak juga yang kalian ketahui,"

Ucap Giok-long dengan tertawa. Yang jangkung menjengek.

"Bicara terus terang, sejak saudara mulai mengincar nona ini, setiap gerak-gerikmu sudah kami lihat dengan jelas."

Dengan terkekeh-kekeh si pendek menyambung.

"Caramu mengantar uang, menyediakan sarapan, membawakan pakaian dan segala perlengkapan yang diperlukan, semuanya telah kami saksikan dengan seksama. Dalam hati kami sungguh kagum luar biasa atas kepandaian saudara, maka sejak mula kami sudah tahu bahwa nona ini pasti tak dapat lolos dari telapak tangan saudara."

"Bagus, bagus,"

Giok-long bergelak tertawa.

"Sungguh tidak nyana kalian berminat besar terhadap diriku. Silakan duduk, marilah kita minum bersama barang tiga cawan."

Si jangkung menjawab.

"Arak, dapat kami minum, tapi barang pengiring arak kami sudah membawa sendiri."

Mendadak ia menarik keluar seekor tikus dari dalam lengan bajunya terus dijejalkan di dalam mulut dan mengganyangnya mentah-mentah. Melengak juga Kang Giok-long, katanya kemudian dengan tertawa.

"Ah, kiranya kalian adalah sekaum dengan kelima sahabat tadi, pantas kalian sedemikian jelas terhadap diriku."

"Bukan saja jelas terhadapmu, bahkan juga sangat jelas terhadap nona di dalam selimut itu,"

Tukas si pendek dengan tertawa.

"Jadi kedatangan kalian ini ingin …."

"Selain minta saudara suka memberikan nona Buyung kepada kami, ada lagi suatu hal yang perlu kami tanyakan padamu,"

Sela si jangkung dengan ketus.

"O, urusan apa?"

Tanya Giok-long. Sorot mata si jangkung menjadi buas, katanya.

"Siapa sebenarnya ketiga orang di dalam gua itu? Apa hubungannya pula dengan dirimu?"

"Nama ketiga orang itu ialah Han-wan Sam-kong, Kang Siau-hi dan Hoa Bu-koat, tadi kalian tentu sudah melihat sendiri bahwa mereka adalah musuhku."

"Beratkah permusuhan kalian?"

Tanya si jangkung.

"Terserah penilaianmu, yang pasti mereka ingin membunuhku dan aku pun ingin membunuh mereka,"

Jawab Giok-long dengan tertawa.

"Ehm, bagus, bagus sekali,"

Si jangkung menyeringai. Giok-long coba memancing pula.

"Kelima sahabat tadi apakah telah ...."

"Ya, telah terbunuh oleh mereka,"

Kata si pendek. Giok-long menghela napas lega, ucapnya.

"Jika begitu, kalian dan Cayhe mempunyai musuh yang sama, sepantasnya Cayhe menyuguh kalian satu cawan."

"Baik, setelah minum boleh saudara ikut kami berangkat,"

Kata si jangkung. Si pendek lantas menyambung.

"Mengenai nona ini, boleh saudara berbuat sesukamu dalam perjalanan .... Haha, kami pasti akan menyiapkan tempat yang baik bagimu di dalam kereta yang longgar."

Kang Giok-long melenggong, tanyanya.

"Memangnya kalian hendak mengajak aku ke mana?"

Si jangkung menjawab dengan perlahan.

"Jika saudara sudah bermusuhan dengan ketiga orang itu, bilamana mereka mengetahui jejakmu, bukankah mereka akan segera menyusul ke tempat sembunyimu?"

"Bi ... bisa jadi,"

Sahut Giok-long.

"Makanya kami ingin mengajakmu ikut kami pulang untuk memancing kedatangan ketiga orang itu,"

Kata si jangkung dengan tertawa. Si pendek menyambung pula.

"Meski cara ini kurang baik dan membikin susah padamu, tapi selain ini kami benar-benar tidak punya upaya lain, sedangkan kami tidak boleh pulang dengan tangan hampa, maka terpaksa ...."

"Ya, maksud kalian kini sudah kupahami seluruhnya,"

Tiba-tiba Giok-long tertawa "Bila tujuan kalian cuma menggunakan diriku sebagai umpan untuk memancing kedatangan ketiga orang itu, hasilnya kan juga menguntungkan diriku, masa aku tidak mau?"

Si pendek bergelak tertawa, katanya.

"Saudara benar-benar seorang bijaksana dan dapat memahami maksud baik orang, biarlah Cayhe juga menyuguhmu satu cawan."

"Habis minum segera kita berangkat saja,"

Ucap Giok-long sambil angkat cawannya.

Kedua orang itu pun angkat cawan masing-masing dan sekali tenggak habislah isinya.

Tapi baru saja mereka mendongak, belum lagi arak masuk kerongkongan, sekonyong-konyong cawan di tangan Kang Giok-long menyambar ke depan, menyambit ke tenggorokan si jangkung.

Kontan orang itu mengerang, arak tersembur dari hidungnya, tubuh pun roboh terjengkang.

Baru saja yang pendek terkejut dan belum sempat berbuat apa-apa, arak juga masih berada di kerongkongan, betapa pun dia harus menelan dulu arak yang berada di tempat kepalang tanggung itu.

Tapi pada saat itu juga secepat kilat kedua tangan Kang Giok-long telah menghantam.

Meski gerak serangannya tidak selihai Siau-hi-ji, tapi sudah cukup ganas.

Terdengar suara "blak-bluk dua kali, si pendek juga lantas roboh terkapar.

Giok-long tepuk-tepuk tangannya sambil menjengek.

"Hm, cuma kalian berdua saja ingin membawaku pergi? Masih selisih jauh kemampuan kalian."

Kedua orang itu roboh telentang di lantai tanpa bergerak, tapi jiwa mereka belum melayang, Kang Giok-long hanya menutuk Hiat-to mereka.

Sebelum tahu jelas asal-usul kedua orang ini tidak mungkin Kang Giok-long membunuh mereka, dalam hal ini Kang Giok-long memang berbeda daripada Toh Sat.

Ingin membunuh orang, tentu Kang Giok-long memilih tempat dan waktu yang tepat.

Sementara itu Thi Peng-koh telah memberosot pula dari kursinya, di tempat yang remang-remang ini wajahnya kelihatan kemerah-merahan dan sangat menggiurkan.

Kang Giok-long memandang kedua orang yang menggeletak di lantai itu, lalu memandang pula Thi Peng-koh.

Dengan sendirinya ia dapat membedakan urusan mana yang lebih penting, ia pun sangat paham urusan apa yang harus dikerjakan lebih dulu dan urusan apa pula yang dapat ditunda.

Menghadapi suatu kesempatan baik selamanya tidak pernah disia-siakan olehnya.

Dia cukup paham bilamana kesempatan tersia-sia, maka kesempatan itu takkan kembali untuk selamanya.

Dengan suara keras ia lantas memanggil pelayan.

Sudah tentu sebelumnya pelayan sudah dipesan apabila tidak dipanggil dilarang masuk, dengan sendirinya pesan ini disertai uang sogokan Pesan yang tanpa disertai uang tip takkan mendatangkan daya guna sebaik ini.

Kini dia memberi pesan pula agar pelayan membawa kedua temannya yang "mabuk"

Ini ke kamar di sebelah, agar dibaringkan bersama si nona yang sedang "sakit"

Itu.

Walaupun kedua orang ini tiada sesuatu tanda mabuk, tapi kebanyakan pelayan adalah orang cerdik, mereka tahu bilamana mata mereka harus dipejamkan dan bilamana harus dipentang.

Malam sudah gelap, hotel kecil itu tenggelam di tengah kekelaman dan ketenangan.

Cahaya lampu yang guram di hotel kecil ini tak dapat menahan kegelapan yang pekat itu.

Apalagi kebanyakan kamar di hotel ini tidak menyalakan lampu, atau kalau perlu diperinci selain ruangan "kantor", pada hakikatnya keenam kamar yang dimiliki hotel ini sama sekali tiada menyalakan lampu.

Sudah tentu keempat kamar yang tiada penghuninya itu tidak perlu penerangan.

Lalu bagaimana dengan kedua kamar yang ada tamunya?

Kamar yang sebelah timur, sudah sehari semalam si nona yang sakit itu tak pernah keluar, kini ditambah lagi dua lelaki yang "mabuk".

Pelayan yang cerdik itu dengan sendirinya tidak ingin mereka menghamburkan minyak yang tidak perlu.

Padahal, pelayan ini juga si pemilik hotel.

Kalau hotel selalu kekurangan tamu, dengan sendirinya ia perlu berhemat dalam segala hal.

Sedangkan kamar yang di sebelah barat itu, mengapa juga tidak menyalakan lampu?

"Pelayan"

Telah meninggalkan kantornya yang berlampu dan berdiri di sudut halaman yang gelap.

Dengan sendirinya bukan maksudnya ingin mengintip rahasia orang lain, tapi bilamana dari kamar ini terdengar sesuatu suara yang menarik, dengan sendirinya dia tidak perlu mendekap telinganya, dia memang tidak ingin menjadi seorang "Kuncu".

Benar juga, dari kamar itu memang terdengar sesuatu suara yang menarik.

Semula adalah suara keluhan, lalu suara keluhan itu semakin keras.

Bila kemudian suara keluhan itu berubah menjadi suara napas yang terengah-engah, maka tanpa terasa tangan si "pelayan"

Telah penuh berkeringat.

Kadang-kadang dia suka menyesali dirinya sendiri mengapa harus membuka hotel, perusahaan ini tidak banyak menguntungkan, malahan selalu menimbulkan semacam rasa penyesalan berdosa.

Biasanya dia cuma dapat menyaksikan berlangsungnya perbuatan berdosa itu tanpa berdaya sedikit pun, ini bukan saja membuatnya menyesal, tapi juga membuat dia merasa dirinya adalah seorang pengecut.

Kini, bilamana terdengar suara yang khas ini, perasaan yang menekan itu bertambah keras.

Ai, betapa moleknya anak perempuan itu, sebaliknya lelaki itu ....

Sekonyong-konyong didengarnya jeritan melengking, ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, dengan hati kebat-kebit cepat ia lari kembali ke dunianya sendiri.

Tindakannya ini mirip seperti seekor kura-kura bilamana mengalami sesuatu kejadian, maka cepat kepalanya mengerut ke dalam batoknya, asalkan ia sendiri tidak melihat, maka aman tenteramlah rasanya.

Sementara itu Thi Peng-koh sudah siuman dari mabuknya.

Dia merasa sekujur badan kesakitan, ruas tulang seakan-akan retak, kepala juga sakit.

Lalu tiba-tiba ia merasa ada seseorang berbaring di sebelahnya, waktu ia berpaling, dilihatnya Kang Giok-long yang masih terengah-engah itu.

Dia menjerit kaget sejadi-jadinya.

Dia mendorong sekuatnya sehingga Kang Giok-long terperosok ke bawah tempat tidur.

Anak muda itu mendekam di lantai, dia tidak merangkak bangun, sebaliknya malah menangis sedih.

Sungguh luar biasa, yang menangis seharusnya orang lain, tapi dia malah mendahului.

Peng-koh membungkus tubuhnya dengan selimut, teriaknya dengan parau.

"Kau ... kau sungguh keji, tapi ... kau malah menangis ...."

"Aku tahu telah berbuat salah padamu, kumohon engkau sudi memaafkan aku ...."

Demikian Giok-long meratap. Sekujur badan Peng-koh gemetar saking geregetan, teriaknya.

"Kubenci ... ingin ku ...."

"Jika kau benci padaku, boleh bunuhlah diriku, tadi aku benar-benar tidak mampu mengendalikan diriku, sebab aku pun mabuk, kita memang tidak pantas minum sebanyak itu,"

Sampai di sini mendadak ia menubruk ke atas tempat tidur pula dan berseru dengan menangis.

"Kumohon kau bunuh saja diriku, bila kau bunuh aku, bisa jadi hatiku akan lebih tenteram."

Sebenarnya saking geregetan Thi Peng-koh memang ingin membunuh anak muda itu, tapi sekarang ...

sekarang tangannya ternyata lemas tak bertenaga sedikit pun.

Semula dia sangat berduka dan penuh rasa benci, sangat murka.

Tapi Kang Giok-long telah mendahului menangis, begitu sedih tangisnya sehingga membuat Peng-koh kehilangan pegangan.

Sungguh tak tersangka olehnya Kang Giok-long bisa menangis.

Apakah dia benar-benar menyesal, jangan-jangan ia memang terdorong oleh hasrat yang berkobar dan seketika itu tak dapat mengekang diri, jangan-jangan dia bukan orang busuk?

Hati perempuan pada umumnya memang mudah lunak, lebih-lebih dalam keadaan ...

keadaan "nasi sudah jadi bubur" , apa yang sudah kehilangan jangan harap akan diperolehnya kembali untuk selamanya.

Miliknya kini telah menjadi miliknya pula, kini anak muda itu kan sudah berubah menjadi orang yang mempunyai hubungan paling erat dengan dia?

Dari celah-celah jarinya Giok-long coba mengintip perubahan sikap si nona, tapi ia sengaja menangis semakin sedih, ia tahu air mata lelaki terkadang jauh lebih efektif daripada tangisan perempuan.

Menangis, ini memang senjata utama perempuan, tapi sekali-kali bukan monopoli kaum perempuan.

Bilamana kaum lelaki mau menggunakan senjata ini, kadang-kadang malah jauh lebih berdaya guna daripada perempuan.

Akhirnya Peng-koh mendekap di tempat tidur dan menangis tergerung-gerung.

Selain menangis memang tiada jalan lain baginya.

Sorot mata Kang Giok-long memancarkan rasa senang, tapi dia masih tetap menangis, ratapnya pula.

"Kutahu telah berbuat salah, tapi aku ... aku sejak pertama kali melihatmu, pada saat itu juga aku lantas tahu selama hidupku ini tak boleh kehilangan kau, hidup bagimu, mati pun bagimu."

Perlahan ia menggeser lebih dekat si nona, lalu berkata pula.

"Meski salah perbuatanku, tapi hatiku benar-benar tulus, asalkan kau percaya padaku, tentu akan kubuktikan ketulusan ini, selama hidupku ini takkan membuat kecewa padamu."

Dia telah menyentuh tubuh Peng-koh pula dan si nona tidak menghindar.

Kalau seorang perempuan tidak menghindar, apa itu artinya?

Sudah tentu Kang Giok-long sangat paham urusan beginian.

Mendadak ia memeluk erat-erat si nona dan berseru.

"Hanya ada dua kemungkinan, maafkan aku atau boleh bunuhlah diriku. Tapi biarpun aku kau bunuh, kau tak dapat menyuruh aku jangan menyukaimu, biarpun mati tetap kusuka padamu ...."

Peng-koh tetap tidak bergerak sama sekali.

Kalau anak perempuan dipeluk oleh lelaki dan tidak melawan atau meronta, maka tiada suatu persoalan lagi yang tak dapat dimaafkan.

Giok-long tahu usahanya berhasil.

Dia mendekap di tepi telinga Thi Peng-koh, dibisikkannya kata-kata yang halus dan paling manis di dunia ini, ia tahu inilah yang dibutuhkan si nona sekarang.

Perempuan yang mampu melawan bujukan manis dan rayuan madu kaum lelaki sampai detik ini mungkin belum lahir.

Benarlah suara tangis Thi Peng-koh mulai lirih, memangnya dia sebatang kara, memangnya ia merasa bingung dan tiada punya sandaran apa-apa, kini tiba-tiba ia merasa tidak lagi terpencil sendirian.

Kang Giok-long tertawa senang, katanya dengan lembut.

"Sekarang dapat kau maafkan daku?"

"Ehm,"

Terdengar suara si nona yang kepalanya terbenam di bawah bantal.

"Kau tidak benci lagi padaku?"

Tanya Giok-long pula sambil menyanggah telinga si nona di bawah bantal. Dengan tabahkan hati mendadak Thi Peng-koh menongolkan kepalanya dan berkata sambil menggigit bibir.

"Asalkan apa yang kau katakan adalah sungguh-sungguh dan setulusnya, asalkan engkau tidak melupakan ucapanmu sekarang ini, maka aku pun ...."

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar jeritan ngeri berkumandang dari kamar sebelah, jeritan ngeri itu sangat singkat, tapi cukup membuat orang merinding.

Dalam keadaan demikian Kang Giok-long benar-benar mahagesit, dengan kecepatan yang maksimal dapat dicapai oleh seseorang dia meringkasi segala sesuatu, lalu secepat anak panah dia melesat keluar, tindakannya ini seakan-akan sudah lupa sama sekali terhadap Thi Peng-koh.

Pada saat menghadapi bahaya, jangankan cuma Thi Peng-koh, biarpun bapaknya juga takkan dipikirkan lagi, yang dipikirkan hanya dia sendiri.

Sedangkan dari suara jeritan ngeri itu dia telah mengendus adanya bau mara bahaya.

Suara jeritan ngeri itu benar-benar dapat membuat orang banyak merasa mual dan tumpah-tumpah, jika bukan orang yang mahaganas dan sangat membahayakan, tidak mungkin membuat orang menjerit begitu ngeri.

Begitu melompat keluar, Kang Giok-long tidak menerobos ke kamar sebelah yang menyuarakan jeritan tadi, tapi lebih dulu ia dobrak daun jendela kamar itu hingga terpentang.

Lalu ia menyalakan sebuah lampu terus dilemparkan ke dalam kamar.

Lampu minyak itu jatuh berantakan di lantai, api lantas berkobar.

Di bawah cahaya api yang berkedip-kedip, kamar yang sempit dan lembap itu tampaknya jadi lebih suram.

Dilihatnya Buyung Kiu masih tetap berbaring terbungkus selimut, ia menghela napas lega.

Tapi segera diketahuinya pula bahwa kedua orang, yaitu si jangkung dan si pendek, sudah lenyap semua, mereka telah berubah menjadi dua genangan air darah.

Pemandangan ini membuat Kang Giok-long mengkirik, tapi hatinya lantas tenteram pula.

Kalau kedatangan orang yang mahaganas dan berbahaya itu hanya bermaksud membunuh kedua orang ini, kenapa dia harus tidak setuju?

Kenapa dia harus khawatir dan takut?

Dan pada saat itu juga, di tengah berkelipnya cahaya api seorang telah muncul.

Sekilas pandang orang ini tampak gagah, jubahnya yang berwarna putih mulus itu bersulam bunga merah, kebanyakan wanita pasti akan tergila-gila pada kegagahannya.

Tapi bila dipandang lagi lebih cermat, maka kebanyakan perempuan pasti akan kaget dan jatuh semaput.

Mukanya, itulah yang luar biasa, di bawah sinar api mukanya itu seakan-akan tembus cahaya, begitu putih bening sehingga kelihatan tulangnya yang berwarna kehijau-hijauan.

Matanya, sepasang matanya juga tidak menyerupai mata manusia, tapi lebih mirip mata binatang buas yang kelaparan.

Jubahnya yang putih mulus itu sebenarnya juga bukan bersulam bunga merah segala, bunga merah itu adalah percikan darah segar yang baru saja menempel di jubahnya.

Kang Giok-long bukanlah pemuda yang hijau dan mudah digertak, tapi demi nampak orang ini, jantungnya serasa hendak berhenti berdenyut.

Dengan dingin orang itu pun sedang menatap Kang Giok-long, dengan sekata demi sekata, ia tanya.

"Kaukah yang menutuk Hiat-to kedua orang tadi?"

Sedapatnya Kang Giok-long memperlihatkan senyuman wajar, jawabnya.

"Betul, memang Cayhe lagi bingung entah bagaimana harus memperlakukan mereka, kini saudara sudah membereskan mereka, sungguh Cayhe merasa sangat berterima kasih."

Diam-diam ia telah merasakan pendatang ini jauh lebih berbahaya daripada apa yang diperkirakan, maka cepat-cepat ia menyuarakan persahabatan.

Namun orang itu telah melototnya dengan dingin, katanya pula.

"Apakah kau tahu siapa diriku?"

"Itulah yang ingin kuketahui,"

Jawab Giok-long. Tiba-tiba orang itu tertawa sehingga tertampak barisan giginya yang putih gilap, katanya dengan perlahan.

"Aku adalah majikan mereka. Mereka adalah kaum budakku."

"Tapi ... tapi engkau yang membunuh mereka dan bukan aku,"

Ujar Giok-long dengan kebat-kebit.

"Kau sudah menghinakan mereka, terpaksa aku membunuh mereka agar tidak lagi membikin malu,"

Ucap orang itu.

"Alasanmu membunuh orang apa biasanya memang sederhana begini?"

Tanya Giok-long dengan menyengir.

"Terkadang malahan lebih sederhana lagi,"

Ujar orang itu.

"Kadang-kadang aku pun membunuh orang, tapi aku harus mempunyai suatu alasan yang tepat, misalnya ...."

Pada saat itulah api yang menyala di lantai tiba-tiba padam, keadaan menjadi gelap gulita. Tapi mata orang ini tampak berkelip-kelip dalam kegelapan. Terdengar dia menjengek.

"Misalkan apa?"

"Misalnya, bilamana kutahu seorang hendak membunuhku, biasanya akan kubunuh dia lebih dulu,"

Mata Kang Giok-long juga berkedip-kedip dan setiap detik siap turun tangan.

Meski dia yakin orang ini pasti bukan lawan empuk, tapi ia pun percaya pada kemampuan sendiri yang pasti juga tidak empuk.

Sebabnya dia belum mau turun tangan adalah karena dia merasa berada di posisi yang menguntungkan, dia tidak ingin sia-siakan posisi yang menguntungkan ini, dia hendak menunggu orang itu menerjang keluar lebih dulu.

Tak terduga orang itu mendadak tertawa.

Suara tertawanya itu mirip seekor tikus yang sedang menggerogoti peti kayu, membuat orang merinding.

"Memangnya kau kira sekarang juga akan kubunuh kau?"

Kata orang itu dengan tergelak-gelak.

"Kau kan sudah mempunyai cukup alasan untuk membunuhku!"

Ujar Giok-long.

"Bilamana kuingin membunuh orang, tentu aku takkan banyak bicara dengan dia,"

Ujar orang itu.

"O, jadi maksudmu tak berniat membunuhku? Mengapa?"

Tanya Giok-long heran. Mendadak orang itu berhenti tertawa dan berkata.

"Kau harus membawaku pergi mencari tiga orang."

"Ya, tahulah aku. Sebelum mereka kau bunuh tentunya engkau sudah tanya jelas semua kejadiannya."

"Jika di dalam tujuh hari kau dapat membawaku menemukan Han-wan Sam-kong, Kang Siau-hi dan Hoa Bu-koat, maka kau takkan mati dengan segera, bahkan hidupmu masih bisa diperpanjang cukup lama."

"Mereka kan juga musuhku?"

Ucap Giok-long sambil berpikir.

"Jika kau mampu membunuh mereka, dengan sendirinya aku suka membawamu pergi mencari mereka. Cuma sayang, untuk membunuh mereka bukan pekerjaan yang gampang Sebaliknya terbunuh oleh mereka kukira akan lebih mudah. Nah, bila engkau tidak berhasil membunuh mereka, bukankah aku pun ikut susah?"

"Hehehehe?"

Orang itu terkekeh-kekeh.

"Kau ini orang yang tidak mau rugi, justru aku suka pada orang semacam kau ini."

"Orang yang tidak mau dirugikan biasanya tidak perlu disukai orang,"

Kata Giok-long.

"Lalu dengan cara bagaimana baru kau percaya aku mampu membunuh mereka? Coba katakan!"

Bentak orang itu dengan bengis.

"Ini perlu kau perlihatkan dengan cara apa kau dapat menarik kepercayaanku,"

Jawab Giok-long.

"Hm, untuk membuatmu percaya kukira bisa lebih dari seribu cara,"

Jengek orang itu.

"Jika kau ingin belajar kenal ilmu sakti perguruan Bu-geh, biarlah lebih dulu kuperlihatkan sesuatu padamu ...."

Mendadak tangannya seperti bergerak, segera semacam lelatu hijau menyambar ke depan dan nempel di dinding, lelatu api itu tidak keras, ketika nempel di dinding juga lantas padam, hakikatnya tidak berkobar.

Begitu lelatu api itu padam, segera pula orang itu melayang keluar halaman.

Padahal jelas kelihatan dia tidak melayang keluar melalui jendela.

Lalu dari manakah dia menerobos keluar?

Tentu saja Giok-long kaget, waktu dia mengamat-amati barulah diketahui di dinding sana telah bertambah sebuah lubang besar.

Kiranya orang ini melayang keluar melalui lubang itu.

Padahal lelatu hijau tadi hanya seperti percikan api saja, tanpa suara dan tanpa berisik, tahu-tahu dinding yang tebal itu telah terbakar sebuah lubang besar.

Baru sekarang Kang Giok-long melongo terkejut, Ginkang orang memang cukup lihai dan tidak sampai mengejutkan dia, tapi api yang tidak berkobar itu dapat menghancurkan dinding, ini benar-benar belum pernah dilihatnya.

Sementara itu orang tadi sudah berada di sebelahnya, dengan sorot mata tajam ia tatap Kang Giok-long dan bertanya.

"Apakah kau ingin belajar kenal ilmu sakti lainnya?"

"Aku ... aku ...."

Giok-long menjadi ragu-ragu.

"Hehehe!"

Orang itu terkekek-kekek.

"Ilmu sakti perguruan Bu-geh ...."

"Ilmu sakti perguruan Bu-geh bagiku tampaknya tiada sesuatu yang istimewa!"

Demikian tiba-tiba seorang menukas dengan bergelak tertawa.

Di tengah gelak tertawanya itu sesosok bayangan orang tahu-tahu melayang tiba.

Selama hidup Kang Giok-long tak pernah mendengar suara tertawa yang menggetar sukma seperti ini, melulu suara tertawa yang hebat ini sudah cukup membuat kuncup nyali musuh.

Menyusul lantas dilihatnya perawakan pendatang ini, meski perawakan orang ini tidak terhitung tinggi besar, tapi tampaknya sekukuh gunung dan sekuat baja.

Anak murid perguruan Bu-geh itu juga menyurut mundur oleh perbawa orang, bentaknya segera dengan bengis.

"Siapa itu berani bersikap kasar terhadap anak murid Bu-geh?"

"Aku Yan Lam-thian adanya!"

Nama ini seperti cahaya bintang kemukus yang dapat menerangi jagat raya ini.

"Kau murid Bu-geh? Di mana dia sekarang?"

Terdengar Yan Lam-thian membentak pula. Meski nyali orang itu sudah kuncup, tapi dia masih tergelak-gelak dan menjawab.

"Kau tidak perlu mencari guruku, keempat murid utama perguruan Bu-geh sudah lama ingin mencari Yan Lam-thian untuk mengukur tenaga, tak terduga aku Gui Pek-ih (Gui si baju putih) ternyata lebih beruntung daripada ketiga saudaraku ...."

"Kau ini kutu macam apa, berani kurang ajar terhadap Yan Lam-thian?"

Mendadak Kang Giok-long membentak gusar sebelum habis ucapan orang.

Di tengah bentakannya segera ia pun menubruk maju, dan melancarkan tiga kali pukulan secepat kilat.

Pukulan tiga kali ini ternyata ilmu pukulan Bu-tong-pay tulen.

Maklumlah, dia dan Siau-hi-ji mempelajari bersama ilmu silat yang tercantum di kitab pusaka yang mereka temukan di istana bawah tanah itu, ilmu silat itu mencakup semua intisari silat berbagai perguruan dan aliran, dengan kecerdasannya tentulah sangat mudah pula untuk belajar ilmu pukulan dari perguruan lain.

Sedangkan ilmu pukulan Bu-tong-pay pada masa itu justru sangat digemari, yang belajar sangat banyak walaupun yang mahir terlalu sedikit.

Diam-diam Kang Giok-long juga telah mencuri belajar ilmu pukulan Bu-tong-pay, sudah tentu dengan maksud tujuan yang tidak baik.

"Hm, kau juga berani bergebrak dengan aku?"

Jengek Gui Pek-ih.

Ia menyangka cukup dengan dua-tiga kali gebrak saja pasti dapat menjatuhkan lawannya.

Tak terduga meskipun Kang Giok-long ini seorang pengecut, tapi bukan orang bodoh.

Ia telah salah menilai kepandaian Kang Giok-long.

Karena itulah dia telah kena didahului oleh Kang Giok-long, sekaligus diberondong dengan beberapa kali serangan maut sehingga membuatnya rada kerepotan.

Giok-long tahu Yan Lam-thian pasti takkan membiarkan dia dikalahkan, kalau Yan Lam-thian jelas berada di pihaknya, lalu apa pula yang ditakutinya?

Karena hatinya tabah, semangatnya lantas berkobar, serangannya tambah gencar.

Dalam keadaan demikian, sekalipun kepandaian Gui Pek-ih cukup tinggi dan keji juga tidak dapat mengapa-apakan Kang Giok-long.

Yan Lam-thian hanya menonton saja dengan penuh perhatian, lambat-laun terunjuk senyuman pada wajahnya, berulang-ulang ia mengangguk dan berkata.

"Ya, bagus, jurus ini biarpun dimainkan sendiri oleh si tua Ci-si juga tak lebih hebat daripada ini."

Nyata Yan Lam-thian menyangka Kang Giok-long adalah anak murid Bu-tong-pay, murid Ci-si Totiang, ketua Bu Tong-pay.

Tiba-tiba dilihatnya Gui Pek-ih mulai berputar-putar dengan cepat, sekonyong-konyong beberapa jalur api hijau terpencar keluar, kurang jelas terpancar dari mana.

Di bawah cahaya api itu air muka Kang Giok-long juga berubah hebat.

Untunglah Yan Lam-thian membentak disertai serangkum angin pukulan yang dahsyat, tubuh Kang Giok-long didorong ke samping, angin pukulan itu masih terus menerjang ke tengah kobaran api hijau sehingga Gui Pek-ih tergetar mundur sempoyongan.

Menyusul suara bentakan Yan Lam-thian lantas berubah menjadi siulan panjang, bayangan tubuh laksana burung raksasa telah melayang maju dan berputar di atas.

Gui Pek-ih mendongak ke atas, nyalinya serasa pecah.

Ia mau menghindar, namun sudah terlambat.

Terpaksa ia sambut tubrukan lawan dengan kedua tangannya, segera terdengar suara "krak-krek", empat tangan saling bentur, kedua tangan Gui Pek-ih kontan patah tulang pergelangannya.

Menyusul darah segar lantas tersembur dari mulutnya dan roboh terjengkang.

Yan Lam-thian jambret leher baju Gui Pek-ih, bentaknya dengan bengis.

"Coba katakan, di mana Gui Bu-geh?"

Gui Pek-ih membuka matanya, dipandangnya Yan Lam-thian sejenak, lalu menjawab dengan menyeringai.

"Hm, apakah kau berani mencarinya? Dia berada di Ku-san."

"Sekarang juga kau harus membawaku ke sana!"

Bentak Yan Lam-thian dengan gusar.

"Silakan mengantar kematianmu ke sana, aku takkan mengiringimu,"

Seru Gui Pek-ih dengan tertawa. Mendadak ia menggereget dan berteriak dengan parau.

"Anak murid Bu-geh, boleh dibunuh tidak boleh dihina ...."

Menyusul dari mulutnya lantas merembes keluar cairan hijau yang berbau busuk, lalu tidak bergerak lagi untuk selamanya.

Yan Lam-thian melepaskan tubuh yang sudah tak bernyawa itu, katanya dengan gegetun.

"Tak tersangka anak murid Gui Bu-geh terdapat orang gila sebanyak ini ...."

Mendadak ia berpaling ke arah Kang Giok-long, tanyanya dengan tertawa.

"Apakah kau anak murid Bu-tong?"

Baru sekarang Giok-long sempat menenangkan diri, cepat ia memberi hormat dan menjawab.

"Anak murid Bu-tong, Kang Giok-long menyampaikan sembah hormat kepada Yan-locianpwe."

"Sudahlah,"

Kata Yan Lam-thian dengan tertawa.

"Jika dari golongan Cing-pay (aliran baik) banyak terdapat anak murid pilihan seperti dirimu, biarpun golongan Gui Bu-geh lebih banyak menerima murid gila juga tak perlu kukhawatirkan lagi."

Dengan sikap penuh hormat Giok-long berkata pula.

"Jika Locianpwe tidak kebetulan datang, tentu jiwa Tecu sudah melayang sejak tadi."

"Kebetulan" , kata-kata ini diucapkannya dengan penuh arti. Bayangkan, bilamana Yan Lam-thian datang lebih dini sedikit dan sempat mendengar beberapa patah ucapannya, saat ini mungkin dia sudah menggeletak sejajar dengan Gui Pek-ih.

"Ya, sungguh sangat kebetulan,"

Ucap Yan Lam-thian.

"Bilamana aku tidak berjanji akan bertemu dengan seorang kawan kecil di sini, tentu juga aku takkan datang ke sini."

Dia tepuk-tepuk pundak Kang Giok-long, dengan tertawa ia menambahkan pula.

"Kau dan kawan kecilku itu sama-sama jago muda yang berbakat dan sukar dicari di dunia Kangouw, bolehlah kau berdiam di sini untuk menunggunya bersamaku. Jika kalian bertemu, bukan mustahil kalian akan menjadi sahabat baik dalam waktu singkat."

"Pesan Locianpwe sudah tentu kuturut saja, apalagi orang yang bisa mendapatkan pujian Locianpwe pastilah pemuda gagah pilihan, Wanpwe jadi ingin pula berkenalan."

"Dia bernama Hoa Bu-koat, bila akhir-akhir ini kau sering berkelana di dunia Kangouw tentu pernah mendengar namanya ini."

Giok-long tenang-tenang saja, jawabnya dengan tersenyum.

"Wanpwe belum lama turun gunung sehingga masih asing terhadap urusan dunia Kangouw."

Sejak tadi dia memperhatikan keadaan di dalam kamar, tapi selama itu tiada terlihat sesuatu gerak-gerik Thi Peng-koh, hal ini membuatnya merasa lega. Segera ia berkata pula.

"Tadi waktu Tecu sampai di sini, Gui Pek-ih sedang berbuat tidak senonoh terhadap nona Buyung, kini nona ini masih berbaring di dalam, apakah Cianpwe mau melihatnya?"

"Nona Buyung?"

Yan Lam-thian menegas.

"Apakah anggota keluarga Buyung Yong?"

Sambil bicara ia terus melayang masuk ke dalam kamar. Sudah tentu Buyung Kiu masih meringkuk di dalam kemul. Di dalam kamar gelap gulita, Yan Lam-thian hanya memandang sekejap saja, lalu berkata.

"Anak ini telah tertutuk Hiat-to bisunya, meski Hiat-to ini tidak begitu penting, tapi lantaran tutukannya terlalu berat dan sedikitnya juga sudah berlangsung hampir setengah hari."

"Masa sudah setengah hari lamanya dia tertutuk?"

Kang Giok-long pura-pura kaget.

"Wah, jika begitu, tentu kesehatan nona ini akan banyak terganggu."

"Betul,"

Kata Yan Lam-thian.

"Kalau sekarang kubuka Hiat-tonya yang tertutuk, mungkin diperlukan tiga bulan baru kesehatannya dapat pulih."

"Wah, lantas bagaimana baiknya?"

"Sebab itu, sebelum kubuka Hiat-tonya, paling baik kalau kubantu melancarkan darahnya dengan tenaga dalamku,"

Dengan tertawa Yan Lam-thian menuding si nona dan melanjutkan.

"Untung juga dia, selain ketemu kau juga ketemu aku pula. Bilamana tiada kau, bisa jadi dia harus menderita sedikit."

"Sesungguhnya Wanpwe tidak paham apa maksud Locianpwe,"

Tanya Giok-long "Begini soalnya, mana kala aku sedang mengerahkan tenaga dalam untuk menolong dia, tentunya pantang diganggu orang, bilamana terganggu, selain dia akan celaka, aku sendiri pun bisa cedera.

Tapi bila kau mau berjaga di samping, tentu aku tidak perlu khawatir lagi."

Giok-long menjawab dengan mengiring tawa.

"Cianpwe tidak perlu khawatir, biarpun Tecu tidak becus, urusan kecil begini rasanya masih sanggup kulakukan."

"Bilamana aku khawatir, masa aku mau menyerempet bahaya ini?"

Ujar Yan Lam-thian tertawa.

"Kalau murid si tua Ci-si tak dapat kupercayai, lalu kepada siapa lagi harus kupercayai?"

Begitulah ia lantas duduk bersila di atas ranjang, kedua tangannya menahan punggung Buyung Kiu.

Meski dalam kamar gelap gulita, tapi dapat dibayangkan pula betapa prihatinnya pendekar besar ini.

Kang Giok-long berdiri di belakangnya, tanpa terasa tersembul senyuman licik pada ujung mulutnya.

Dan mengapa sebegitu jauh tidak tampak sesuatu gerak-gerik Thi Peng-koh?

Rupanya sejak tadi nona itu sudah pergi, sukar untuk dibayangkan ketika perginya itu betapa rasa derita pertentangan batinnya.

Bujuk rayu Kang Giok-long yang manis itu meski telah meredakan kekalapannya, tapi telah membuatnya merasa lebih malu dan terhina pula.

Setelah sadar kembali, dia merasa seakan-akan dirinya telah menjual dirinya sendiri.

Dia benci pada dirinya sendiri, mengapa tadi tidak membunuh anak muda bergajul itu?

Ia menyesal mengapa dirinya tidak tega turun tangan membunuhnya?

Ia tahu kalau tadi tidak turun tangan, maka untuk seterusnya juga tak mungkin dilakukannya pula.

Ia benci pada dirinya sendiri, mengapa mestika yang paling berharga selama hidupnya ini begitu mudah dirampas orang?

Lebih celaka lagi dirinya seakan-akan telah menyukai bandit yang jahat ini.

Ia pun takut, takut dipandang rendah Kang Giok-long.

Karena itulah dia ya benci, ya takut, ya suka, hatinya seperti sudah tersayat-sayat menjadi beribu-ribu keping.

Lantaran pergolakan perasaannya yang kusut dan bertentangan itu, sekaligus ia terus menerjang keluar.

Sudah tentu ke arah yang tidak dilihat oleh Kang Giok-long.

Ia terombang-ambing dalam kegelapan, ia merasa dunia ini sedemikian asing dan menakutkan, tiba-tiba ia menyesal pula mengapa meninggalkan anak muda itu?

Akan tetapi sekarang ia merasa malu untuk kembali ke sana.

Hotel kecil itu memang terletak di ujung kota kecil itu, maka sekeluarnya dia lantas terbenam dalam kegelapan yang sukar membedakan arah.

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan ke mana harus pergi.

Ia merasa pepohonan yang tak bernyawa itu pun punya teman dan punya sandaran, tapi bagaimana dengan dia?

Ia benar-benar sebatang kara.

Mendadak ia menjatuhkan diri di bawah pohon, lengan bajunya sudah basah oleh air mata.

Entah berselang berapa lama lagi, mungkin air matanya sudah kering, ia hanya membentang matanya lebar-lebar, memandang jauh ke sana dengan rasa hampa.

Tiba-tiba dalam kegelapan itu tamak muncul dua sosok bayangan orang.

Bayangan kedua orang ini hampir sama besar dan sama tingginya, sungguh mirip barang dari satu cetakan.

Kedua bayangan itu berhenti di kejauhan, dengan sendirinya Thi Peng-koh tidak dapat melihat jelas wajah dan perawakan mereka, tapi di tengah malam sunyi demikian, biarpun bisikan yang paling lirih juga dapat terdengar dengan jelas.

Didengarnya seorang di antaranya sedang berkata.

"Kang Siau-hi, apakah kau benar-benar tidak mau menemuinya?"

"Kang Siau-hi" , nama ini berkumandang ke telinga si nona dan hampir saja membuatnya melonjak bangun, dan berlari-lari ke sana serta menjatuhkan diri ke dalam rangkulannya. Akan tetapi ia tahu dirinya sekarang tidak memenuhi syarat lagi untuk menjatuhkan diri ke dalam pelukan orang. Ia hanya menggigit bibirnya kencang-kencang dan menahan perasaan sebisanya. Benar juga, angin yang meniup sayup-sayup itu telah membawa suara Kang Siau-hi. Terdengar anak muda itu sedang menjawab dengan tertawa.

"Kau telah salah omong, bukanlah aku tidak mau menemui beliau, yang benar aku tidak ingin menemuinya sekarang."

"Dari mana kau tahu bahwa dia akan merintangi kepergianmu? Bisa jadi ...."

"Ya, bisa jadi beliau akan mengizinkan kepergianku ke Ku-san, tapi aku tidak mau menerima risiko ini. Bilamana suatu urusan sudah kuputuskan begini, maka betapa pun harus kulaksanakan."

"Tapi kau kan sudah menemani aku sampai di sini ...."

Pembicara ini jelas Hoa Bu-koat adanya. Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya.

"Ya, sebenarnya aku harus menemanimu."

Bu-koat mendongak memandang langit dan termenung-menung sekian lama, katanya kemudian dengan perlahan.

"Kembali satu hari telah lalu, sang waktu sungguh lewat dengan sangat cepat, tiga bulan dengan cepat akan lalu pula. Sampai kini hanya bersisa ...."

"Tinggal tujuh puluh enam hari saja,"

Sambung Siau-hi-ji.

"Ya, antara kita hanya dapat bersahabat selama tujuh puluh enam hari lagi,"

Kata Bu-koat. Siau-hi-ji termangu-mangu sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum.

"Ada setengah orang yang meski bersahabat selama hidup, tapi selama itu pula selalu bertentangan dan perang dingin, persahabatan kita meski tidak panjang waktunya, tapi kan jauh lebih baik daripada mereka."

"Tapi setelah tujuh puluh enam hari lagi ...."

Siau-hi-ji seperti tidak ingin melanjutkan persoalan yang menyedihkan ini, mendadak ia memotong ucapan Hoa Bu-koat.

"Yan-tayhiap akan menunggumu di mana?"

"Di hotel, di kota kecil sana, di situ cuma ada sebuah hotel, pasti akan kudapatkan dia,"

Jawab Bu-koat.

Mendengar ini, jantung Thi Peng-koh kembali berdebar lagi.

Saat ini Kang Giok-long masih berada di hotel itu, sedangkan Hoa Bu-koat dan Siau-hi-ji segera akan menuju ke sana.

Meski si nona sangat membenci Kang Giok-long, tapi demi mengetahui anak muda itu akan terancam bahaya, seketika ia melupakan segalanya dan secara aneh menaruh perhatian terhadap keselamatan anak muda itu.

Walaupun terkadang dia geregetan dan ingin bisa membunuh Kang Giok-long, tapi bilamana ada orang lain hendak membunuh anak muda itu, tiba-tiba ia menjadi khawatir dan berduka baginya.

Inilah hati anak perempuan.

Dalam hati anak perempuan umumnya selalu timbul semacam pertentangan batin yang sukar dipahami orang lain.

Ya suka ya benci.

Padahal dia benar-benar menyukainya atau membencinya, mungkin dia sendiri pun tidak dapat membedakannya dengan jelas.

Terdengar Siau-hi-ji lagi berkata dengan perlahan.

"Sebenarnya kuharap engkau suka menemani aku ke Ku-san, tapi bila engkau sudah ada janji dengan orang lain, tentunya kau tidak boleh ingkar janji."

"Ya, apalagi janji bertemu dengan Yan-tayhiap,"

Tukas Bu-koat.

"Jika demikan, silakan berangkatlah."

"Dan kau?"

Tanya Bu-koat.

"Aku pun hendak pergi menyelesaikan urusanku."

Bu-koat termenung-menung sejenak, katanya.

"Setelah berpisah sekarang, entah kita akan ...."

Mendadak ia tidak meneruskan. Siau-hi-ji meremas keras-keras bahu Bu-koat sambil membuang muka ke arah lain, ucapnya dengan suara rendah.

"Betapa pun juga, ada waktunya berkumpul dan ada waktunya kita akan berjumpa pula ...."

Sambil berucap demikian segera ia pun melangkah pergi.

Jilid 7. Bakti Binal Bu-koat melenggong sejenak, tiba-tiba ia memburu ke sana dan berseru.

"Waktu masih cukup luang, biarlah aku pun mengantarmu sebentar."

Thi Peng-koh mengikuti bayangan kedua orang itu hingga menghilang di kejauhan, tubuhnya rada gemetar, dengan mengertak gigi mendadak ia melompat bangun terus berlari kembali ke arah hotel kecil itu.

Sebuah kamar di hotel itu kini sudah menyalakan lampu.

Waktu Peng-koh tiba di situ, dilihatnya jendela kamar itu terbuka lebar, di luar dan di dalam tergeletak tiga sosok mayat, seorang lelaki kekar yang tak dikenalnya sedang mengurut punggung seorang nona di atas ranjang.

Dan Kang Giok-long berdiri di belakang lelaki itu.

Sorot mata Kang Giok-long tampak gemerdep aneh, ujung mulutnya menampilkan senyum kejam, dia sedang menatap punggung lelaki itu, dan perlahan-lahan mengangkat tangannya.

Begitu sampai di depan jendela, belum lagi tahu apa yang terjadi sesungguhnya, demi nampak tindakan Kang Giok-long itu, tanpa pikir ia terus berseru.

"Kang Giok-long, kau ...."

Mendengar suaranya, dengan cepat Yan Lam-thian menoleh, air mukanya berubah seketika, nyata dia telah merasakan gelagat jelek.

Namun sudah terlambat, tangan Kang Giok-long dengan keras telah menghantam punggungnya.

Yan Lam-thian meraung keras-keras, darah segar lantas tersembur keluar menyirami sekujur badan Buyung Kiu yang ramping itu.

Bilamana dia tidak lagi mengerahkan Lwekang untuk menolong orang, mana dapat Kang Giok-long melukainya ....

Tapi Kang Giok-long sendiri juga tergentak kaget oleh suara raungan keras itu, ia terhuyung-huyung mundur mepet dinding.

Terlihat wajah beringas Yan Lam-thian, matanya melotot, bentaknya parau.

"Kaum tikus, sudah kutolong jiwamu, tapi malah berani memperdayai diriku?"

Seluruh ruas tulangnya seakan-akan berbunyi berkeriutan, perbawanya sedikit pun tidak berkurang daripada biasanya. Saking ketakutan hingga kaki Kang Giok-long terasa lemas.

"bluk" , ia jatuh duduk di pojok dinding, tenaga untuk merangkak bangun saja rasanya tidak ada. Dengan tangan menggapai Yan Lam-thian mendekati Kang Giok-long setindak demi setindak, bentaknya.

"Sesungguhnya siapa kau? Mengapa kau memperdayai aku? Bicara lekas!"

Mana berani Kang Giok-long memandangnya, diam-diam ia melirik ke arah Thi Peng-koh yang berada di luar jendela, sorot matanya tidak segarang seperti tadi, tapi kini penuh rasa mohon belas kasihan.

Di samping terkejut Peng-koh juga gusar melihat perbuatan licik dan keji Kang Giok-long itu, tapi demi melihat sorot matanya yang memelas itu hati si nona menjadi lemas lagi.

Entah mengapa, di luar sadarnya ia terus melompat masuk dan melontarkan suatu pukulan keras.

Tapi lantas terdengar raungan mengguntur, robohlah Yan Lam-thian akhirnya.

Dengan girang Kang Giok-long melompat bangun, bentaknya dengan tertawa terhadap Yan Lam-thian.

"Haha, apakah kau ingin tahu siapa aku ini? Baik, kukatakan padamu, aku adalah putra kesayangan Kang-lam-tayhiap, Kang Giok-long adanya. Anak murid Bu-tong-pay apa segala, bagiku tidak laku sepeser pun."

Yan Lam-thian terkejut dan melenggong, akhirnya memejamkan matanya dengan perlahan, mendadak ia bergelak tertawa pula dan berseru.

"Bagus, bagus! Selama hidupku malang melintang di seluruh jagat ini, tak tersangka sekarang aku harus mati di tangan kaum tikus celurut macam kau ini."

Kang Giok-long menyeringai, katanya.

"Karena ucapanmu tidak sopan, sebelum ajalmu harus kutambahi sedikit hukuman bagimu."

Setelah melancarkan pukulan tadi, Thi Peng-koh lalu berdiri melenggong sambil memandangi tangan sendiri. Sekarang mendadak ia gunakan tangannya itu untuk menarik Kang Giok-long sambil bertanya.

"Siapa orang ini? Meng ... mengapa hendak kau bunuh dia?"

Sambil menuding mayat yang tergeletak di lantai, Giok-long berkata.

"Jika orang ini tidak kelewat jahat, masa aku tega membunuhnya?"

Peng-koh menghela napas gegetun, ucapnya.

"Biarpun begitu, sekarang ia sudah hampir meninggal, mengapa engkau memukulnya pula?"

Kini ia pun tahu ucapan pemuda bergajul itu tidak dapat dipercaya, tapi mau tak mau ia harus percaya padanya.

Maklum ia telah menyerahkan kesuciannya pada anak muda itu.

Seorang anak perempuan bilamana telah menyerahkan kehormatannya pada seorang lelaki, maka itu sama dengan menyerahkan segalanya.

Memangnya apa yang dapat diperbuatnya pula?

Dengan tertawa Giok-long mencolek pipi si nona, katanya.

"Baiklah, kau suruh dia minta ampun padaku dan segera kuampuni dia ...."

Peng-koh mengipatkan tangan anak muda itu, katanya.

"Sebentar lagi Hoa Bu-koat akan datang!"

Seketika lenyap senyuman yang menghiasi wajah Kang Giok-long, tanyanya cepat.

"Kau lihat dia?"

"Ya,"

Jawab Peng-koh sambil menggigit bibir.

"Ada pula Kang Siau-hi."

Giok-long tidak bicara lagi, ia tarik Peng-koh terus melangkah pergi.

Baru saja keluar pintu, tiba-tiba ia putar balik, dipanggulnya Buyung Kiu yang meringkuk di tempat tidur itu.

Maklum, setiap barang yang menguntungkan dia selamanya takkan ditinggalkannya begitu saja.

Dengan mudah saja mereka sudah keluar kota kecil itu, dengan sendirinya lantaran Thi Peng-koh mengetahui dari arah mana lagi mereka akan datang dan ke arah mana lagi mereka harus menghindarinya.

Setelah merasa aman, tiba-tiba Giok-long tanya Peng-koh.

"Kau bilang bertemu dengan Hoa Bu-koat, memangnya kau kenal dia?"

"Ehm,"

Peng-koh bersuara singkat. Giok-long memandangnya dengan rasa heran dan sangsi, tanyanya pula.

"Cara bagaimana kau kenal dia?"

Peng-koh memandang jauh ke sana, ia diam agak lama, akhirnya menjawab dengan sekata demi sekata.

"Sebab aku pun anak murid Ih-hoa-kiong …." *** (. ) Di jurusan lain Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sedang berjalan dengan perlahan. Malam sunyi dan gelap. Sekonyong-konyong, dari kejauhan berkumandang suara gerungan yang keras. Meski karena jauhnya tibanya suara gerungan itu kedengaran sudah sangat lirih, tapi seramnya, pedih dan penasaran yang terkandung dalam suara itu masih cukup membuat beku pembuluh darah dan membuat merinding siapa pun yang mendengarnya. Serentak Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat berhenti melangkah. Keduanya tertegun sejenak, tanpa bicara apa pun mendadak keduanya lari ke arah datangnya suara itu. Kota kecil itu terbenam dalam keheningan malam seperti tiada terjadi sesuatu. Hanya di depan pintu hotel kecil itu ada seorang sedang tumpah-tumpah sambil memegangi daun pintu. Itulah "pelayan"

Merangkap pemilik hotel, ia mendengar dan melihat semua kejadian di hotelnya, serentetan pembunuhan telah berlangsung dengan kejam, tapi dia tak berdaya, hanya tumpah-tumpah belaka, rasanya ingin menumpahkan semua penderitaan dan rasa malunya.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat tetap tidak bicara, keduanya cuma saling memberi tanda, berbareng terus menerjang ke dalam hotel dan menemukan kamar yang ada penerangannya itu.

Maka dapatlah mereka menemukan Yan Lam-thian yang menggeletak di tengah genangan darah.

Yan Lam-thian telah ambruk.

Ini seperti gunung mendadak longsor di depan mereka, laksana bumi tiba-tiba merekah di depan mereka.

Seketika mereka terkesima seperti patung.

Tapi Yan Lam-thian masih dapat bergerak, ia meronta-ronta dan membuka mata, mukanya yang sudah mulai kaku itu menampilkan secercah senyuman getir, katanya dengan lemah.

"Ka ... kalian sudah ... sudah datang, ba ... bagus ... bagus sekali …."

Akhirnya Hoa Bu-koat menubruk maju, ia berjongkok dan berseru dengan suara parau.

"Wanpwe datang terlambat."

"Tidak, kau ... kau tidak terlambat,"

Ucap Yan Lam-thian dengan tersenyum pedih.

"Sebelum ajalku dapat kulihat kalian, mati pun aku tidak menyesal."

Segera Siau-hi-ji mengangkat tubuh pendekar besar itu dari pelimbahan darah sambil berteriak.

"Tidak, engkau takkan mati, tiada seorang pun yang dapat membunuh engkau."

"Keadaan lukaku cukup kuketahui sendiri,"

Ujar Yan Lam-thian dengan tersenyum. Mendadak Hoa Bu-koat juga berteriak.

"Siapa yang turun tangan sekeji ini padamu? Siapa?"

"Kang Giok-long!"

Jawab Yan Lam-thian. Bu-koat menarik napas panjang-panjang, ucapnya dengan sekata demi sekat.

"Kuberjanji padamu, aku pasti akan membunuh dia untuk membalas sakit hatimu."

Kembali Yan Lam-thian bergelak tertawa, ia berpaling ke arah Siau-hi-ji. Selama ini anak muda itu pun memandangnya dengan tajam, mendadak ia berteriak.

"Tidak perlu dia membunuh Kang Giok-long. Kang Giok-long adalah bagianku, tak peduli siapa pun juga Locianpwe ini, pasti akan kubalas sakit hati Locianpwe."

Kembali Hoa Bu-koat melengak, serunya.

"Tak peduli siapa pun juga Locianpwe ini? Maksudmu ... Locianpwe ini bukan Yan-tayhiap?"

Siau-hi-ji diam saja, tapi "Yan Lam-thian"

Lantas bergelak tertawa, meski tertawa yang menderita, dahi sudah penuh butiran keringat, tapi dia masih terus tertawa. Katanya kemudian sambil menatap Siau-hi-ji.

"Kukira dapat mengelabui siapa pun juga, tak tahunya akhirnya toh tak dapat mengelabuimu."

Bu-koat berteriak pula.

"Jadi Locianpwe memang bukan Yan Lam-thian, Yan-tayhiap?"

"Yan Lam-thian hanya salah seorang sahabat karibku ...."

Cepat Bu-koat bertanya pula.

"Lantas Cianpwe sendiri ....?"

"Aku she Loh,"

Jawab ‘Yan Lam-thian’.

"Loh Tiong-wan? Jangan-jangan Cianpwe inilah "Lam-thian-tayhiap"

Loh Tiong-wan tukas Siau-hi-ji.

"Jadi kau pun tahu namaku?"

Ucap Loh Tiong-wan dengan tersenyum.

"Sejak umur lima Tecu sudah mendengar nama Locianpwe,"

Jawab Siau-hi-ji dengan gegetun.

"Si tangan berdarah Toh Sat, meski dia hampir mati di tangan Locianpwe, tapi selamanya dia sangat kagum padamu."

"Tapi ... tapi mengapa Loh-tayhiap memalsukan nama Yan-tayhiap?"

Tanya Bu-koat.

"Sebab ... sebab Yan ...."

Lantaran tertawa keras tadi, napasnya jadi semakin memburu, tenaganya sudah lemah, untuk bicara saja kini tampaknya sangat payah.

"Urusan ini sudah dapat kuterka sebagian, biarlah aku yang bicara bagi Loh-tayhiap saja,"

Kata Siau-hi-ji.

"Bilamana uraianku betul, boleh Loh-tayhiap mengangguk, dan bila keliru nanti Cianpwe sendiri bercerita lagi."

Sorot mata Loh Tiong-wan menampilkan rasa memuji dan setuju, dengan tersenyum getir ia mengangguk. Setelah merenung sejenak, lalu Siau-hi-ji berkata.

"Sesudah Yan-tayhiap lolos dari Ok-jin-kok, meski pikirannya sudah mulai jernih, tapi ilmu silatnya seketika tak dapat pulih seluruhnya, betul tidak?"

Loh Tiong-wan mengiakan sambil mengangguk.

"Setelah meninggalkan Ok-jin-kok, beliau lantas dapat menemukan Loh-tayhiap, begitu bukan?"

"Betul,"

Jawab Loh Tiong-wan.

"Sepanjang jalan, menurut pengamatannya, Yan-tayhiap merasa bakal terjadi kekacauan besar di dunia Kangouw, cuma sayang beliau sendiri tidak sanggup mencegahnya, maka beliau lantas minta Loh-tayhiap suka memberi bantuan. Demikian bukan?"

Loh Tiong-wan mengiakan pula.

"Beliau juga khawatir ilmu silatnya tiada mendapat keturunan, sebab itulah begitu bertemu dengan Loh-tayhiap segera beliau menghadiahkan kunci ilmu silatnya padamu."

Tapi belum habis uraian Siau-hi-ji ini, Loh Tiong-wan telah menggoyang-goyang kepala dan berkata.

"Salah!"

Siau-hi-ji berpikir sejenak, ucapnya kemudian.

"Mungkinkah Loh-tayhiap mengetahui kekuatan Yan-tayhiap tak dapat pulih dalam waktu singkat, sebab itulah Loh-tayhiap menghendaki beliau mengajarkan kunci ilmu silatnya ...."

Loh Tiong-wan menghela napas, ucapnya dengan megap-megap.

"Soalnya pada belasan tahun yang lalu aku pernah kecundang di tangan Gui Bu-geh. Sesudah itu baru kusadari kepandaianku masih jauh daripada cukup, sebab itu pula aku lantas mengasingkan diri ...."

Sampai di sini wajahnya menampilkan rasa menderita pula. Siau-hi-ji lantas menyambungnya.

"Sebab itulah ketika Yan-tayhiap minta Locianpwe muncul kembali, Cianpwe khawatir ilmu silat sendiri tidak cukup kuat, maka engkau telah mohon Yan-tayhiap mengajarkan kunci ilmu silatnya padamu, demikian bukan?"

Loh Tiong-wan tersenyum dan mengangguk.

"Dan lantaran inilah, pula Loh-tayhiap tidak bertindak untuk keuntungan sendiri, maka kemunculanmu di dunia Kangouw sekali ini Loh-tayhiap sengaja menggunakan namanya Yan-tayhiap,"

Siau-hi-ji merandek sejenak, kemudian menyambung lagi dengan tertawa.

"Dengan kedudukan Loh-tayhiap dengan sendirinya tidak suka menggunakan ilmu silat Yan Lam-thian untuk menambah keharuman nama ‘Lam-thian-tayhiap’. Entah betul tidak tebakan Tecu ini?"

"Selain itu masih ada pula satu hal,"

Ucap Loh Tiong-wan dengan tersenyum. Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Jangan-jangan Yan-tayhiap telah memperhitungkan kawanan Ok-jin penghuni Ok-jin-kok itu akan berbondong-bondong keluar setelah beliau meninggalkan Ok-jin-kok, beliau khawatir kawanan Ok-jin itu akan mengacau Kangouw pula dengan macam-macam kejahatan mereka, beliau tahu hanya nama ‘Yan Lam-thian’ saja yang masih dapat mempengaruhi mereka, sebab itulah Loh-locianpwe telah diminta menggunakan nama beliau untuk sementara."

"Kau benar-benar anak pintar,"

Ujar Loh Tiong-wan dengan gegetun.

"Tapi ... tapi aku yakin setelah belajar ilmu silat Yan Lam-thian, bahkan telah kumohon Ban Jun-liu merias mukaku sedemikian rupa sehingga gaya dan suara Yan Lam-thian telah banyak kutiru dengan baik, sungguh aku tidak paham mengapa tetap tak dapat mengelabui kau."

Mungkin soal inilah yang paling membingungkan dia, sebelum jelas mendapatkan jawabannya mungkin mati pun dia tetap penasaran, sebab itulah dengan sekuatnya dia mengajukan pertanyaan ini walaupun keadaannya sudah sangat payah.

Dengan gegetun Siau-hi-ji menjawab.

"Waktu Cianpwe melihat diriku, sepantasnya engkau membicarakan Ban Jun-liu, tapi Cianpwe seakan-akan lupa sama sekali akan paman Ban, sebab itulah tatkala mana aku sudah mulai curiga."

"Dan ke ... kemudian?"

Tanya Loh Tiong-wan.

"Kupikir pula, setelah mengalami siksa derita selama belasan tahun, baik jasmani maupun rohani, Yan-tayhiap sudah banyak mengalami perubahan, tapi sikap Loh-cianpwe ternyata tetap serupa Yan-tayhiap pada belasan tahun yang lampau sebagaimana menurut cerita orang, ini jelas tidak wajar dan pada hakikatnya tidak mungkin. Sebab kutahu dari dekat siksa derita selama belasan tahun yang dialami Yan-tayhiap, rasanya tidak mungkin seorang sanggup bertahan seperti sedia kala setelah mengalami penderitaan sehebat itu."

"Betul,"

Kata Loh Tiong-wan dengan pedih.

"Yan Lam-thian memang ... memang sudah banyak berubah."

Suaranya sangat lemah sehingga hampir-hampir tak terdengar oleh Siau-hi-ji.

Masih ada sesuatu yang belum terpapar dan ini kunci daripada segala persoalannya.

Umpama dia benar-benar Yan Lam-thian adanya, mustahil dia tidak kenal Kang Piat-ho sekarang sebenarnya adalah Kang Khim di masa lalu.

Tapi dia sudah berjanji pada Kang Piat-ho terpaksa dia harus menyimpan rahasia ini.

Ksatria besar begini, bilamana dia sudah berjanji sesuatu, maka sampai mati pun dia tetap akan pegang janji.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya pula.

"Sekarang kumohon sukalah Cianpwe memberitahukan padaku di manakah Yan-tayhiap, paman Yan?"

Loh Tiong-wan tidak menjawab, kembali dia memejamkan matanya, bahkan memejamkan mata untuk selamanya.

Kini Lam-thian-tayhiap Loh Tiong-wan telah istirahat selamanya di liang lahatnya.

Di kota kecil sunyi begini, upacara penguburan tentu saja berlangsung dengan sangat sederhana, tapi juga sangat khidmat.

Sementara itu senja sudah tiba pula.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sedang berdiri tegak dengan perasaan berat di depan makam Loh Tiong-wan, mengheningkan cipta dan berdoa bagi arwah pendekar besar itu.

Cuaca remang-remang, suasana senja sunyi senyap, musim rontok terasa sudah hampir lalu.

Sampai tabir malam sudah menyelimuti bumi dan sinar bintang-bintang berkelip di langit barulah mereka meninggalkan tempat ini.

Bu-koat menengadah dan mendesis, ucapnya dengan gegetun.

"Kawanan durjana merajalela, dunia Kangouw belum lagi aman, meninggalnya Loh-tayhiap teramat dini .... Bahkan di mana beradanya Yan-tayhiap tidak sempat dia katakan lantas mengembuskan napasnya yang penghabisan, sungguh membuat yang hidup ini merasa serba susah."

"Kuyakin Loh-tayhiap tahu di mana beradanya Yan-tayhiap,"

Ujar Siau-hi-ji dengan gegetun.

"Sebelumnya beliau tidak mengatakan hal ini, mungkin beliau memang tidak mau memberitahukan pada kita."

"Tidak mau memberitahukan pada kita, sebab apa?"

Tanya Bu-koat.

"Sebabnya sukar kukatakan,"

Ujar Siau-hi-ji dengan tersenyum getir.

"Bisa jadi dia tidak ingin Yan-tayhiap diganggu orang lain, mungkin pula Yan-tayhiap sudah ... sudah meninggal, maka dia tidak mau membuatku berduka."

"Mudah-mudahan seumur hidupku ini dapat bertemu dengan Yan-tayhiap, kalau tidak ..."

Ucap Bu-koat dengan murung. Mendadak Siau-hi-ji membusungkan dada, serunya.

"Sudah tentu kau akan bertemu dengan dia, sudah pasti dia takkan meninggal. Sebelum beliau menyaksikan aku terkenal di dunia ini mana dia mau mati begitu saja."

Bu-koat menatapnya dengan tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa.

"Ya, betul, bilamana Yan-tayhiap tidak mau meninggal, siapa pun tak dapat membuatnya meninggal, bahkan Giam-lo-ong (raja akhirat) juga tidak terkecuali. Dan pada suatu hari pastilah dapat kulihat dia."

"Bagus, tepat sekali ucapanmu, nada perkataanmu sekarang hakikatnya serupa dengan aku,"

Seru Siau-hi-ji sambil tertawa.

"Selang tujuh puluh lima hari lagi, seumpama aku jadi mati, tentunya kau dapat hidup terus bagiku."

Perasaan Bu-koat kembali tertekan, ia termangu agak lama, tiba-tiba ia tanya.

"Dan sekarang juga kau hendak pergi ke Ku-san?"

"Marilah kita pergi bersama, kujamin pasti akan menyaksikan permainan yang menarik dan tegang,"

Kata Siau-hi-ji. Bu-koat menunduk, jawabnya dengan perlahan.

"Tapi aku tak dapat menemanimu pergi ke sana."

"Tidak dapat? Sebab apa?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Tiba-tiba kuingat suatu urusan yang harus kukerjakan, sesuatu urusan ... urusan penting."

Siau-hi-ji tercengang sejenak, serunya kemudian.

"Tapi waktu berkumpul kita hanya tinggal tujuh puluh lima hari lagi, masa engkau tidak sudi menemani aku?"

Bu-koat memandang jauh ke remang sinar bintang di langit, jawabnya dengan perlahan.

"Bilamana urusan ini berhasil kuselesaikan dengan baik, maka persahabatan kita pasti takkan terbatas cuma tujuh puluh lima hari saja."

Siau-hi-ji menatapnya dengan tajam, serunya pula.

"Apakah engkau pulang ke Ih-hoa-kiong?"

"Kenapa kau paksa jawabanku?"

Ucap Bu-koat dengan tersenyum getir.

"Jangan-jangan engkau ingin memohon Ih-hoa-kiongcu agar mereka jangan membunuh diriku?"

"Aku cuma ingin pulang untuk bertanya kepada mereka apa sebabnya mereka menyuruh aku membunuhmu."

"Kau kira mereka akan memberitahukan padamu?"

"Sedikitnya, aku harus minta penjelasan mereka."

"Kutahu, kau pun serupa diriku, kalau sudah bertekad berbuat sesuatu, maka tiada seorang pun yang dapat mengalang-alangimu. Tapi ingin tetap kukatakan padamu bahwa ada sementara orang yang hidupnya ditakdirkan akan berakhir dengan tragis, banyak terjadi hal begini di antara lelaki dan perempuan, di antara persahabatan juga demikian,"

Ia tersenyum pahit, lalu menyambung.

"Ada sementara lelaki dan perempuan, walaupun sudah jelas saling mencintai dengan sangat mendalam, tapi akhirnya justru tidak keruan jadinya, dan inilah kehidupan manusia. Mengenai nasib kita, tampaknya kita memang sudah ditakdirkan tak dapat bersabahat, seumpama kelak kau dibolehkan tak jadi membunuh diriku tapi bukan mustahil aku yang akan membunuhmu malah."

Bu-koat termangu-mangu agak lama, ia tersenyum hambar, katanya.

"Kang Siau-hi, memangnya kau sudah bertekuk lutut menyerah kepada nasib?"

Siau-hi-ji terkejut, serunya sambil tertawa.

"Baiklah, silakan berangkatlah, betapa pun juga kita toh pasti akan bertemu lagi dan ini pun sudah cukup menggembirakan bilamana terkenang." *** (. ) Musim rontok, pepohonan layu dan bunga berguguran Tapi di tempat ini justru bunga sedang mekar dengan suburnya, ada bunga seruni, peoni, mawar, anggrek, sedap-malam dan macam-macam lagi. Bunga yang seharusnya tidak mekar pada suatu tempat, tidak layak mekar sekaligus pada waktu yang sama, kini justru mekar di sini. Tempat ini terletak di pegunungan yang terpencil, di puncak yang curam sepantasnya diliputi kabut yang tebal dan lembap dengan angin yang semilir dingin, tapi di sini cahaya mentari justru benderang laksana kemilau emas, suhu di sini menjadi terasa hangat seperti di musim semi. Tempat ini pada hakikatnya telah meniadakan segala macam hukum alam, di sinilah suatu dunia lain. Siapa pun kalau berada di sini pasti akan dimabukkan oleh lautan bunga yang semerbak itu dan melupakan segala macam duka derita alam sana, lebih-lebih akan melupakan bahaya, melupakan segalanya. Tapi di sini pula adalah tempat yang paling misterius, tempat yang paling berbahaya di dunia. Inilah Ih-hoa-kiong!! Istana Aneka Bunga. Inilah tempat yang dipuja, dikagumi dan juga ditakuti oleh kebanyakan orang Kangouw. Di tengah lautan bunga itu ada sebuah istana yang mentereng, di bawah cahaya mentari yang benderang itu kemegahan istana ini semakin indah laksana dibangun dengan kemala putih dan emas murni, mencorong menyilaukan pandangan mata. Di semak-semak bunga sana tampak empat gadis sedang menyiram air, menyapu daun rontok dan memotong tangkai-tangkai pohon, selain itu tiada bayangan orang lagi dan tiada sesuatu suara apa pun. Gadis-gadis itu adalah anak dara cantik yang jarang ditemukan, tapi pada wajah mereka yang molek itu tampak mengandung perasaan lesu, dingin, hampa. Gadis yang sedang menyiram itu sebenarnya sudah kehabisan air, tapi ia tidak menyadari hal ini, dia termangu-mangu memandangi awan di langit. Yang sedang memotong ranting bunga itu juga berdiri mematung dengan memegang gunting, terkesima entah apa yang sedang dipikirkan. Yang menyapu juga berdiri tertegun memegangi sapunya sambil memandang daun rontok di sekitar kakinya seperti orang linglung tanpa menghiraukan sinar matahari yang panas. Dunia yang hidup dan semarak ini setiba di sini rasanya telah berubah seluruhnya, berubah menjadi sunyi dan hambar. Walaupun hari di musim rontok lebih singkat daripada musim lainnya, tapi di sini hari terasa seperti sangat panjang. Pemandangan indah di tempat yang laksana surga ini ternyata sedemikian hampa dan sunyi menakutkan. Akan tetapi, meski tubuh gadis-gadis cilik itu tak bergerak, namun hati mereka sedang bergolak dan memberontak laksana api di dalam sekam yang membakar secara diam-diam. Mereka masih muda belia, masa tiada gairah dan semangat remaja? Memangnya di tempat yang indah permai ini gairah remaja juga telah berubah sama sekali? Di tempat ini gairah apa pun memang tak dapat hidup, mereka sedang termenung, hati mereka sudah terbang jauh ke sana, ke samping sang pangeran menurut khayalan mereka. Terkadang mereka benar-benar ingin meninggalkan tempat ini tanpa menghiraukan segala akibatnya. Akan tetapi pada saat demikian itu justru ada seorang gadis sedang merangkak ke situ tanpa menghiraukan apa pun. Pakaian gadis itu mestinya putih mulus, tapi kini telah kotor dan berlepotan darah, wajahnya yang cantik itu kini tampak kurus dan pucat. Siapa pun pasti dapat melihatnya bahwa si gadis pasti telah banyak berkorban dan menahan siksa derita untuk datang ke tempat yang misterius ini. Setiba di sini, sekujur badannya terasa sudah lunglai, bibir kering dan pecah, perut terasa kecut, untuk berdiri saja tidak kuat, terpaksa ia merangkak dan merangkak, dengan merangkak pun ia ingin mencapai puncak itu. Tangannya yang halus dan indah itu kini juga berlumuran darah, hampir saja ia jatuh pingsan, tapi bau harum bunga telah membangkitkan semangatnya. Gadis yang memegang sapu tadi mendadak berseru.

"He, ada orang datang!"

Sorot matanya yang dingin itu tiba-tiba memancarkan cahaya yang hangat.

Mata ketiga gadis yang lain juga memancarkan cahaya, cahaya yang terpencar dari mata mereka ini dapat dilukiskan seperti pancaran sinar mata seekor kucing yang mengantuk di samping tungku dan mendadak melihat tikus.

Kalau nafsu dan hasrat seorang terlalu lama dikekang, untuk melampiaskan hanya ada dua jalan, memperlakukan orang lain secara sadis dan membuat orang lain menderita adalah salah satu jalan tersebut.

Nona yang merangkak dari bawah gunung itu bukan lain daripada Thi Sim-lan!

Sudah tentu ia tahu misteriusnya Ih-hoa-kiong dan bahayanya, tapi ia tidak pedulikan semua itu.

Apa pun juga ia harus datang ke sini, tujuannya hanya satu, yaitu ingin tanya kepada Ih-hoa-kiongcu.

"Mengapa Hoa Bu-koat diharuskan membunuh Kang Siau-hi-ji?"

Kini suasana semarak dengan bunga mekar semerbak itu sudah dilihatnya, tanpa terasa ia menghela napas lega, segala penderitaan sudah dilaluinya.

Ia tidak menyadari bahwa penderitaan yang sesungguhnya belum lagi memulai.

Dilihatnya dari semak-semak bunga sana melayang keluar empat gadis cilik, wajah mereka cantik molek, gaya mereka begitu indah, tertawa mereka begitu riang dan menggiurkan.

Thi Sim-lan meronta-ronta berusaha merangkak bangun, sedapatnya ia tertawa dan berkata.

"Namaku Thi Sim-lan, mohon para Cici suka .... Belum habis ucapnya, belum lagi tegak ia merangkak bangun, tahu-tahu salah seorang gadis cilik itu telah melompat maju, sekali tendang Thi Sim-lan didepak hingga jatuh terguling. Kejut dan gusar tidak Thi Sim-lan, serunya dengan suara parau.

"Masa nona tidak … tidak mengizinkan orang bicara?"

Gadis cilik itu memandangnya dengan tertawa tanpa menjawabnya, tapi malah berkata.

"Kami tidak peduli apa yang hendak kau katakan, yang jelas kami harus berterima kasih padamu."

"Berterima kasih padaku?"

Thi Sim-lan mengulang ucapan ini dengan melenggong.

"Ya, tahukah kau bahwa selama di sini kami tak pernah bergembira, waktu bergembira satu-satunya ialah bilamana ada orang menerobos masuk ke sini,"

Kata gadis cilik tadi.

"Tapi ... tapi kedatanganku hanya ingin menemui Kiongcu untuk bicara satu kalimat saja,"

Seru Sim-lan.

"Apakah kau tahu cara bagaimana Kiongcu telah memberi pesan pada kami?"

Tanya gadis tadi dengan tertawa. Sim-lan menggeleng kepala.

"Pesan Kiongcu pada kami, barang siapa berani menerobos ke Ih-hoa-kiong sini, tak peduli siapa dia kami diperbolehkan membunuhnya, bahkan terserah kepada kami cara bagaimana akan membunuhnya."

Sekujur badan Thi Sim-lan serasa merinding.

Sudah tentu ia paham apa artinya ucapan "diperbolehkan membunuhnya dengan cara bagaimana pun".

Ia juga perempuan, dengan sendirinya juga lebih paham bila seorang perempuan hendak memperlakukan sesuatu pada sesama perempuan, caranya bisa jauh lebih keji dan mengerikan daripada cara lelaki memperlakukan perempuan.

Sementara itu keempat gadis cilik tadi telah merubung maju dan makin maju sehingga Thi Sim-lan terkepung di tengah.

Dengan sorot mata yang liar mereka mengincar tubuh Thi Sim-lan, napas mereka mulai memburu, ujung hidung mereka pun mulai merembeskan butiran keringat.

Sim-lan gemetar, teriaknya parau.

"Seumpama kalian harus membunuhku, berilah kesempatan padaku untuk menemui Kiongcu."

Si gadis tadi tertawa nyekikik, katanya.

"Selama hidupmu ini jangan harap akan dapat menemui beliau."

Wajah si gadis makin mendekat, Thi Sim-lan sudah dapat melihat biji mata orang yang berkembang besar laksana mata kucing di waktu malam, hidungnya tampak berkembang-kempis, sambil menjilat-jilat bibir terkadang juga menyeringai, sehingga kelihatan barisan giginya yang putih.

Mendadak gadis itu mengulurkan tangannya untuk menarik baju Thi Sim-lan.

Dengan mati-matian Thi Sim-lan meronta dan membela diri, seumpama menghadapi seorang pemuda bangor di tengah malam rasanya juga tidak setakut seperti sekarang ini.

Beberapa gadis ini seakan-akan sudah berubah menjadi serigala betina yang sedang berahi, mereka seolah-olah lupa bahwa Thi Sim-lan juga anak perempuan seperti mereka sendiri.

Yang mereka inginkan hanya pelampiasan ...

tanpa peduli siapa sasarannya.

Empat pasang tangan mereka yang halus itu seakan-akan sudah berubah menjadi delapan buah cakar yang tajam.

Sekujur badan Thi Sim-lan terasa digerayangi, terutama bagian dada, pinggul, bahkan bawah perut.

Dengan segenap tenaganya Thi Sim-lan berusaha mempertahankan diri, tapi sukar untuk melawan, terasa cakar yang tajam telah menggores kulit badannya, hanya terasa darah sedang mengalir keluar dari tubuhnya.

Ia pun dapat merasakan suara tertawa mereka yang semakin menggila.

Ini benar-benar pemandangan yang gila, busuk dan memalukan, pemandangan yang sukar dibayangkan.

Bilamana nafsu seseorang terkekang terlalu lama, sungguh bisa meledak menjadi sesuatu yang lebih menakutkan daripada apa pun.

Lambat-laun Thi Sim-lan kehabisan tenaga dan tidak sanggup melawan lagi.

Perlahan ia tidak merasakan apa-apa pula.

Dalam keadaan putus asa dan antara sadar tak sadar, samar-samar seperti didengarnya seorang membentak.

"Lepaskan dia ... lepaskan dia! ...."

Habis itu ia benar-benar tidak ingat sesuatu lagi, ia mengira dirinya takkan siuman untuk selamanya.

Tapi akhirnya dia toh siuman.

Setelah sadar, ia merasa dirinya berbaring di suatu ranjang yang lunak dan berbau harum, cahaya mentari sudah tidak kelihatan, tapi sinar lampu seakan-akan lebih cemerlang dari pada sinar matahari.

Benderang sinar lampu membuatnya silau dan sukar membentangkan matanya, ia pejamkan mata pula, waktu dia membuka lagi matanya, segera dilihatnya Hoa Bu-koat.

Anak muda itu pun sedang memandangnya dengan lembut, di bawah cahaya yang benderang ini tampaknya dia lebih menyerupai seorang pangeran dalam dongeng, begitu gagah, begitu cakap dan begitu agung.

Thi Sim-lan berkeluh perlahan, ucapnya.

"Hoa Bu-koat, benarkah engkau Hoa Bu-koat."

Dengan lembut Bu-koat tertawa, jawabnya dengan suara halus.

"Betul, memang akulah, jangan takut, aku berada di sampingmu."

Thi Sim-lan memejamkan pula matanya, ucapnya dengan lirih dan gegetun.

"Hoa Bu-koat, bilamana aku menghadapi bahaya, mengapa engkau selalu muncul menolong diriku!"

Dalam hati Bu-koat juga merasa gegetun, tapi di mulut dia berkata dengan tertawa.

"Jangan lupa, inilah Ih-hoa-kiong, di sinilah rumahku. Kau mengalami cedera di sini, sungguh aku sangat menyesal!"

Mendadak Thi Sim-lan meronta ingin bangun serunya dengan parau.

"Kumohon dengan sangat bawalah diriku menemui Kiongcu? Tanpa menghiraukan bahaya apa pun juga kudatang ke sini hanya ingin menemui beliau."

"Kepulanganku ini juga ingin menemui beliau,"

Ujar Bu-koat dengan tersenyum pahit.

"Cuma sayang, beliau sudah lama keluar."

Thi Sim-lan menjatuhkan diri pula di ranjang serunya.

"Mereka keluar semuanya?"

"Ya, kedua Kiongcu sama keluar istana, hal ini memang jarang terjadi,"

Kata Bu-koat.

"O, mengapa nasibku selalu begitu buruk,"

Keluh Sim-lan dengan sedih.

"Aku ... aku ...."

Ia tidak sanggup melanjutkan pula karena tenggorokannya serasa tersumbat, ia menutupi kepalanya dengan selimut dan tersedu-sedan. Bu-koat melenggong sejenak, katanya kemudian.

"Kukira ... kutahu maksud kedatanganmu justru untuk urusan yang sama kupulang untuk menanyai beliau, tak tersangka kedua beliau sudah cukup lama meninggalkan istana."

Thi Sim-lan menangis terguguk-guguk di dalam selimut, tiba-tiba ia bertanya pula.

"Selama ini, apakah engkau pernah melihat dia?"

Tanpa menyebut namanya, orang lain juga tahu siapa si "dia"

Yang dimaksudnya. Dengan suara lembut Bu-koat menjawab dengan tertawa.

"Dia sangat baik sekarang, kau tidak perlu khawatir baginya."

Walaupun sedapatnya dia berlagak acuh, tapi di antara tertawanya terkandung juga rasa getir. Akhirnya Thi Sim-lan menongolkan kepalanya dari dalam selimut, tanyanya pula dengan bimbang.

"Apakah kau tahu, sekarang dia berada di mana?"

Sebisanya Bu-koat tertawa riang, jawabnya lembut.

"Kutahu, asalkan kau sehat kembali segera dapat kubawamu pergi mencarinya."

Si nona menatapnya dengan tajam, tanpa terasa air matanya bercucuran, ucapnya dengan gemetar.

"Mengapa ... mengapa engkau senantiasa begini baik padaku, engkau ... engkau ...."

Cepat Bu-koat mengalihkan pokok pembicaraan, katanya.

"Sungguh aku sangat menyesal kejadian tadi, cuma mereka ... mereka sesungguhnya juga anak-anak perempuan yang harus dikasihani, lantaran kesepian, makanya mereka berubah menjadi begini. Kuharap engkau dapat memaafkan mereka."

Thi Sim-lan menutupi mukanya dengan tangan, jawabnya sambil mengangguk.

"Ya, kutahu, bilamana seorang anak perempuan berubah seperti mereka, di balik ini pasti ada sebab musababnya yang pahit getir, hidup mereka mungkin sekali jauh lebih malang daripadaku."

Pada saat itulah tiba-tiba di luar berkumandang semacam suara yang aneh, suara itu tidak tajam dan juga tidak seram, tapi membuat orang merinding tanpa terasa.

Suara itu kalau didengarkan dengan cermat rasanya mirip suara gergaji, jika didengarkan lebih lanjut rasanya juga mirip suara pergesekan logam yang membuat orang ngilu dan risi.

Menyusul lantas terdengar jerit kaget para anak perempuan.

Kejut dan heran Thi Sim-lan, tanyanya.

"Suara apakah itu? Mengapa begitu aneh?"

Air muka Hoa Bu-koat juga berubah, jawabnya cepat.

"Biar kuperiksa keluar."

Dia tahu, meskipun anak murid Ih-hoa-kiong hampir seluruhnya adalah anak gadis, tapi sama sekali tiada seorang pun yang mudah ketakutan.

Jika ada sesuatu yang dapat membuat mereka menjerit kaget, maka persoalannya pasti tidak sederhana.

Thi Sim-lan melihat pakaian sendiri sudah berganti dengan cukup rapi, cepat ia pun melompat turun dari tempat tidur dan berseru.

"Aku pun ikut keluar."

"Tapi lukamu belum ...."

"Berada di sampingmu, apa yang perlu kutakuti?"

Belum habis ucapannya muka si nona lantas merah.

Diam-diam Bu-koat gegetun pula di dalam hati, tapi sementara itu suara yang berisik aneh tadi makin ramai sehingga membuatnya tidak sempat memikirkan urusan lain.

Cepat kedua orang memburu keluar, tertampak para gadis sama sembunyi di serambi depan, semuanya pucat ketakutan, bahkan ada yang gemetar.

Waktu mereka memandang ke sana, terlihat di tengah lautan bunga sana banyak sekali makhluk hidup yang sedang berloncatan.

"He, tikus!"

Seru Sim-lan.

"Dari mana datangnya tikus sebanyak ini?"

Betul, gerombolan makhluk hidup itu memang betul tikus.

Beratus-ratus bahkan beribu-ribu ekor tikus wirok sebesar kucing sedang berlari kian kemari di tengah kebun bunga, sebagian besar sedang menggerogoti tangkai pohon dan ada pula yang sedang makan daun bunga yang bernilai tinggi itu.

Meski anak murid Ih-hoa-kiong rata-rata memiliki kepandaian tinggi, namun sayang, mereka hampir semuanya adalah wanita.

Harimau mungkin tak membuat mereka takut, tapi tikus, apalagi tikus sebanyak ini, tentu saja mengerikan mereka, sampai-sampai kaki pun terasa lemas.

Cepat Bu-koat melompat ke sana sambil membentak.

"Apakah yang datang adalah anak murid Gui Bu-geh?!"

Suasana sunyi senyap dan tiada bayangan seorang pun.

Yang ada cuma beribu-beribu ekor tikus yang sedang berpesta-pora di kebun bunga itu, kebun bunga yang indah itu dalam sekejap saja telah rusak porak-poranda.

Kejut dan gusar pula Hoa Bu-koat, tapi menghadapi kawanan tikus sebanyak ini, betapa ia pun tidak berdaya.

Di Ih-hoa-kiong, sudah tentu ia tak dapat membakar kawanan tikus itu dengan api dan juga tak dapat membenamnya dengan air, bila diusir, hakikatnya kawanan tikus itu tidak takut manusia.

Jika dibunuh satu per satu, tikus sebanyak ini akan habis terbunuh sampai kapan?

Apalagi makhluk yang berbulu dengan mata yang melotot itu berlarian kian kemari, siapa yang tidak ngeri?

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa Ih-hoa-kiong yang disegani oleh siapa pun juga ternyata tak berdaya menghadapi kawanan tikus yang kotor dan menjijikkan itu.

Sementara itu kebun bunga telah morat-marit, keadaannya tak lagi berwujud kebun bunga yang indah.

Pada saat itulah dari tempat gelap barulah berkumandang suara tertawa keras.

Seorang dengan suara tajam melengking berseru.

"Manusia di seluruh dunia ini kebanyakan memandang rendah tikus, sekarang mereka seharusnya tahu bahwa makhluk yang paling menakutkan di dunia ini adalah tikus."

Seorang lagi menyambung dengan tertawa.

"Cuma sayang Ih-hoa-kiongcu tidak berada di rumah, kalau tidak, menyaksikan bunga kesayangan mereka telah menjadi isi perut tikus kita, bisa jadi mereka akan ganas dan tumpah darah."

Perasaan Bu-koat sekarang malah tenang saja, ia tidak gugup dan cemas lagi dan juga tidak marah seakan-akan seekor tikus pun tidak dilihatnya. Dengan tersenyum simpul ia berseru.

"Jika anak murid Bu-geh sudah datang, mengapa tidak tampil untuk bertemu?"

Terdengar orang pertama tadi bergelak tertawa dan berkata kepada kawannya.

"Sabar juga bocah ini, apakah kau tahu siapa dia?"

Kawannya menjawab.

"Konon penghuni Ih-hoa-kiong adalah kaum betina seluruhnya, mengapa bisa muncul seekor jantan?"

Bu-koat tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan hambar.

"Cayhe Hoa Bu-koat, anak murid Ih-hoa-kiong tulen!"

"Hoa Bu-koat!"

Ulang orang itu.

"Nama ini seperti pernah kudengar."

"Jika begitu marilah kita keluar menemuinya,"

Ajak kawannya.

Belum habis ucapannya, dari tempat gelap di sudut sana mendadak kelihatan bintik-bintik hijau kemilau menyusul dua sosok bayangan orang lantas muncul.

Kedua orang ini sama-sama tinggi dan kurus kering laksana sebatang bambu.

Yang satu memakai baju hijau dan yang lain berjubah kuning.

Wajah mereka sama-sama gilap kehijau-hijauan seperti memakai topeng.

Usia kedua orang ini belum tua, bentuk mereka juga tidak terlalu jelek, tapi entah mengapa, setiap orang yang melihatnya tentu akan merinding dan mual.

Kawanan tikus tadi agaknya juga sudah melihat bintik-bintik hijau kemilau itu, semuanya lantas berkerumun ke sana, berlapis-lapis dan berjubel-jubel mengelilingi kaki kedua orang itu.

Dengan sorot matanya yang kehijau-hijauan si baju hijau memandang Hoa Bu-koat beberapa kejap, lalu berkata dengan terkekeh-kekeh.

"Kau tahu kami ini anak murid perguruan Bu-geh, agaknya luas juga pengalamanmu. Kami jadi merasa sayang bilamana usia semuda kau ini sekarang harus mati."

Si jubah kuning lantas menyambung dengan tertawa.

"Dia bernama Gui Jing-ih (Gui si baju hijau) dan aku Gui Wi-ih (Gui si baju kuning). Sebenarnya kami tidak bermaksud membunuhmu, tapi lantaran kemunculan guru kami sekali ini tujuannya yang pertama ialah menghancurkan Ih-hoa-kiong, maka kami pun terpaksa bertindak menurut perintah."

Meski lagaknya dia tertawa, tapi sorot matanya sama sekali tiada tanda-tanda tertawa, sebabnya mereka sengaja berlagak tertawa begini hanya ingin orang lain merasa risi sehingga kehilangan semangat tempur.

Maksud tujuan mereka memang benar tercapai.

Demi mendengar suara tertawa mereka yang buruk dan seram itu serta menyaksikan mereka dikerumuni kawanan tikus sebanyak itu, ternyata tiada seorang pun di antara gadis-gadis cantik murid Ih-hoa-kiong berani bertindak terhadap mereka.

Hanya Hoa Bu-koat, biarpun menghadapi bahaya dia tetap tenang saja, walaupun mulutnya tidak bersuara, tapi matanya tidak pernah meninggalkan gerak-gerik kedua orang itu.

Begitu dilihatnya bahu Gui Jing-ih sedikit bergerak, serentak Bu-koat mendahului menjulang ke atas laksana terbang, hampir berbareng dengan itu dari tangan Gui Jing-ih lantas menyambar keluar selarik sinar hijau.

Akan tetapi pada saat itu juga Bu-koat sudah menubruk ke depan, sinar hijau menyambar lewat di bawah kaki Bu-koat dan seorang gadis cantik lantas menjerit serta terkapar.

Bu-koat tidak menoleh lagi, kedua telapak tangan terus menghantam kepala Gui Jing-ih.

Gui Jing-ih tak menduga bahwa serangan lawan bisa datang begitu cepat, segera ia menggeser ke samping, sebelah tangan menangkis.

Berbareng itu Gui Wi-ih juga menghantam dari samping.

Tak tahunya serangan mengapung Hoa Bu-koat ini hanya pancingan belaka, baru setengah jalan mendadak ia tarik tangannya sehingga tidak sampai beradu tangan dengan Gui Jing-ih, sebaliknya terus memutar suatu lingkaran.

Seketika tangan Gui Jing-ih terasa seperti dibetot.

Selagi Gui Jing-ih terkejut dan tidak tahu apa yang terjadi, tenaga betotan itu telah menarik tangannya ke samping dan entah cara bagaimana tahu-tahu serangan Gui Wi-ih dari samping itu tertangkis olehnya.

"Prak", begitulah kedua tangan beradu, menyusul lantas "krek"

Satu kali, tangan Gui Jing-ih yang terlepas dari kendali itu tergetar patah oleh pukulan Gui Wi-ih yang dahsyat. Hoa Bu-koat telah menggunakan ilmu sakti "Ih-hoa-ciap-giok"

Yang tiada taranya itu, dengan cepat luar biasa ia berbalik mengadu pukulan antara kedua lawan dan sekaligus berada di atas angin.

Tentu saja Gui Jing-ih dan Gui Wi-ih terperanjat.

Meski Wi-ih tidak terluka, tapi ia menjadi kelabakan ketika diketahui pukulannya melukai kawannya sendiri.

Saking gugupnya langkahnya menjadi kacau dan beberapa ekor tikus terinjak mampus, keruan kawanan tikus menjadi ketakutan dan lari serabutan.

Gui Jing-ih sendiri menjadi kesakitan hingga berkeringat dingin, tapi tubuhnya tidak sampai ambruk, bahkan juga pantang mundur, dengan menahan sakit ia menyisipkan lengan baju tangan yang patah tulang itu pada ikat pinggangnya, lalu hendak menerjang maju lagi.

Setelah serangannya berhasil memuaskan, Bu-koat tidak menyusuli serangan lain lagi, ia hanya berdiri saja di sana dengan mengulum senyum.

Maklumlah, hanya satu kali gebrak saja ia sudah dapat menjajal kekuatan kedua lawan yang sesungguhnya tidak boleh dibuat main-main, ia tahu serangannya beruntung berhasil, namun ia tidak terburu-buru untuk menyerang lagi, ia ingin menunggu kedua seterunya masuk jaring sendiri.

Di sinilah letak perbedaan Kungfu sakti Ih-hoa-kiong dengan ilmu silat aliran lain.

Pada umumnya orang tentu mengutamakan menyerang lebih dulu dan menduduki posisi yang menguntungkan.

Tapi Ih-hoa-kiong justru mengutamakan "tembak belakang kena duluan" , dengan ketenangan mengatasi kecepatan, kelihaian Kungfu Ih-hoa-kiong ialah menggunakan kepandaian lawan untuk menghantam lawan sendiri.

Sementara itu kawanan tikus sudah tersebar dan lari serabutan tanpa terkendali lagi.

Mendadak Thi Sim-lan tabahkan hati, dia patahkan sepotong kayu ruji jendela, meski badan masih terasa sakit, tapi pentung darurat itu segera berputar, kontan seekor tikus dihantamnya hingga hancur.

Sebenarnya untuk memukul tikus memang tidak memerlukan Kungfu yang tinggi, yang diperlukan cuma keberanian.

Namun kawanan tikus ini seakan-akan sudah terlatih, tidak takut manusia dan juga tidak takut mati.

Kawanan tikus yang tadinya lari serabutan itu kini berbalik merubung ke arah Thi Sim-lan.

Keruan si nona menjadi ngeri, tangan terasa lemas, tapi sekuatnya dia tetap ayun pentungannya pantang mundur.

Para gadis yang sembunyi di serambi sana akhirnya menjadi berani juga, salah satu di antaranya mendadak melompat maju dan ikut membunuh tikus.

Asalkan ada satu orang yang mulai dulu, segera yang lain-lain akan ikut maju.

Dan asalkan seekor tikus terpukul mati, maka nyali mereka pun tambah besar.

Kawanan tikus itu pun sangat ganas, yang di depan mati, yang di belakang segera menerjang maju lagi tanpa mengenal takut.

Pentung di tangan para gadis itu pun bekerja terus-menerus dan dengan sendirinya banyak pula bangkai tikus yang berserakan.

Ada sementara gadis itu mulai muntah-muntah, tapi sambil muntah pentungnya tetap menghantam dan menyabet terlebih keras.

Ada yang tangannya linu pegal, segera kaki digunakan untuk mendepak dan menginjak.

Sungguh suatu adegan pertempuran yang lucu dan aneh, suatu pertarungan yang memualkan pula.

Belasan gadis cantik molek dengan mandi berkeringat dan napas terengah-engah sedang bertempur sengit melawan segerombolan tikus.

Rasanya jarang ada orang di dunia ini yang sempat menyaksikan pemandangan aneh ini.

Kini para gadis itu sudah lupa takut dan juga lupa akan ilmu silatnya, mereka bunuh kawanan tikus itu menurut kemampuan mereka yang asli.

Singkatnya, pertempuran aneh dan memualkan itu kemudian berakhir, kawanan tikus kalah habis-habisan, sebagian besar mati terbunuh, sebagian kecil kabur.

Sambil memandangi bangkai tikus yang berserakan, para gadis memandangi pula tangan sendiri, mereka hampir-hampir tidak percaya kawanan tikus itu mati dibunuh mereka.

Benar-benar seperti impian buruk.

Kemudian, pentung mereka buang, banyak yang mulai muntah-muntah pulas, ada lagi yang berteriak dan tertawa, ada juga yang saling rangkul dan menangis.

Suasana ini biasanya tidak mungkin terjadi di Ih-hoa-kiong, tapi kini semua itu telah terjadi, sebabnya setelah terjadi pertarungan sengit tadi, para gadis itu merasa lega dan impas.

Hanya Thi Sim-lan saja, begitu pertempuran berhenti, segera dia pergi mencari Hoa Bu-koat.

Hoa Bu-koat ternyata tidak kelihatan lagi.

Gui Jing-ih dan Gui Wi-ih juga menghilang.

Dengan langkah tergopoh-gopoh Thi Sim-lan mencari kian kemari, hatinya cemas, khawatir dan takut pula.

Tadi karena perhatiannya dicurahkan untuk menghadapi kawanan tikus sehingga dia lupa mengikuti pertarungan di sebelah sini.

Meski ilmu silat Hoa Bu-koat sangat tinggi, tapi kedua penyatron yang berani menerobos ke Ih-hoa-kiong masakah kaum lemah?

Dengan satu lawan dua rasanya Hoa Bu-koat sukar menghadapi mereka.

Apalagi sekujur badan kedua orang itu seakan-akan membawa perbawa yang seram, bukan mustahil mereka memiliki ilmu gaib dan dapatkah Bu-koat melawan mereka?

Hampir gila Thi Sim-lan saking cemasnya karena sebegitu jauh belum lagi Bu-koat ditemukan.

Sekonyong-konyong dilihatnya sesosok mayat membujur di semak-semak bunga sana.

Syukurlah orang ini bukan Hoa Bu-koat melainkan Gui Jing-ih adanya.

Lengan kanannya tampak kutung sebatas siku, dada berlubang dan berlumur darah, wajahnya yang hijau seram itu pun sudah bengkak sehingga tampak sangat menakutkan.

Lekas Thi Sim-lan mengalihkan pandangannya, dilihatnya lagi tangan kiri Gui Jing-ih, tangan yang mirip cakar setan ini juga berlepotan darah, antara jari tengah dan jari telunjuknya itu masih lengket dua biji bola mata berdarah.

Jelas biji mata orang yang kena dicolok mentah-mentah olehnya.

Thi Sim-lan menjerit dan roboh terkulai.

Jelas Bu-koat telah mengalami malapetaka, sepasang mata anak muda itu kini sudah ....

Ia tidak berani berpikir lagi, dengan gemetar ia cukit kedua bola mata itu dari jari Gui Jing-ih, dipandangnya bola mata yang berlumur darah itu.

Tanpa terasa air matanya bercucuran.

Tiba-tiba didengarnya suara orang bernapas berat dan memburu, seperti pernapasan binatang buas yang terluka parah, suara ini datang dari bawah tebing sana.

Sekuatnya ia memburu ke sana dengan setengah merangkak.

Terlihatlah seorang dengan muka berlumuran darah dan kedua tangan terpentang sedang berjongkok di bawah pohon sana dengan napas terengah-engah, kedua lekuk matanya tampak bolong berujud lubang berdarah.

Tapi orang ini bukan Hoa Bu-koat melainkan Gui Wi-ih adanya.

Jelas di bawah kesaktian Kungfu Ih-hoa-kiong yang khas, yaitu "Ih-hoa-ciap-giok" , yang dimainkan oleh Hoa Bu-koat, maka biji matanya tercolok oleh kawannya sendiri.

Namun begitu murid perguruan "Tanpa Gigi"

Itu belum lagi roboh.

Thi Sim-lan merasa lega setelah melihat yang mukanya berlumuran darah itu bukan Hoa Bu-koat, tapi demi melihat muka berlumuran darah itu, tanpa terasa ia menggigil ketakutan.

Syukur segera dilihatnya pula Hoa Bu-koat.

Saat itu Bu-koat berdiri di bawah pohon di depan Gui Wi-ih.

Rambutnya yang biasanya teratur rapi itu tampak kusut, pakaiannya yang rajin telah terkoyak-koyak, wajahnya yang senantiasa tenang pun penuh berkeringat.

Jelas kelihatan ketegangan pemuda itu, dengan mata tanpa berkedip dia menatap sepasang tangan Gui Wi-ih.

Meski kedua orang sama-sama berdiri tidak bergerak, tapi suasana terasa sangat tegang, sampai-sampai Thi Sim-lan yang berdiri jauh di atas tebing juga menahan napas.

Sekonyong-konyong Gui Wi-ih menggerung keras-keras terus menubruk ke arah Bu-koat, walaupun matanya sudah buta, tapi ia masih dapat mendengarkan dengan jelas.

Tubrukan ini sangat dahsyat, bahkan sangat jitu arahnya.

Sekarang Gui Wi-ih bukan lagi manusia, tapi lebih mirip seekor binatang buas yang gila, tubrukannya ini menyerupai singa lapar, pada hakikatnya sukar ditahan oleh tenaga manusia.

Saking tak tahan Thi Sim-lan menjerit.

Tapi pada detik itu juga, kedua tangan Hoa Bu-koat bergerak, dua biji batu kecil terselentik ke depan, ia sendiri terus menerobos lewat di bawah ketiak Gui Wi-ih dengan gerakan secepat kilat.

Gerakan yang berbahaya ini sungguh sukar untuk dilukiskan.

Maka terdengarlah suara "krak-krek" , pohon sebesar paha di belakang Hoa Bu-koat, itu telah di tumbuk patah oleh tubuh Gui Wi-ih.

Gu Win-ih sendiri bahkan tidak roboh, sekali loncat, segera ia membalik tubuh, kepalanya menoleh kian kemari, teriaknya dengan menyeringai.

"Hoa Bu-koat, kutahu kau berada di mana, kau takkan dapat kabur. Pendek kata hari ini kau dan aku tiada satu pun yang dapat lolos, aku harus mati bersamamu di sini."

Padahal dia tidak tahu Hoa Bu-koat berada di mana, Bu-koat sudah berada pula di depannya, sedangkan kepala Gui Wi-ih masih terus berpaling ke sana dan ke sini.

Maklumlah, indera pendengarannya telah dikacaukan oleh dengingan kedua biji batu yang diselentikkan oleh Hoa Bu-koat tadi.

Melihat keadaan Gui Wi-ih yang mengerikan itu, Thi Sim-lan merasa takut dan juga kasihan, bilamana Hoa Bu-koat tidak dalam keadaan bahaya.

Sungguh ia tidak tega melihatnya lagi.

Jelas Bu-koat juga tidak sampai hati, tanpa terasa ia menghela napas menyesal, ucapnya dengan terharu.

"Kuhormati kau sebagai lelaki perkasa, di sinilah aku berada, jika kau ingin mengadu jiwa, silakan maju saja!"

Sekujur badan Gui Wi-ih tampak mengejang, mukanya yang berlumuran darah itu berkedut-kedut, teriaknya dengan parau dan tertawa latah.

"Orang she Hoa, kau tahu aku tidak dapat membinasakanmu, makanya kau berlagak kasihan padaku bukan?"

Dengan menyesal Bu-koat menjawab.

"Sesungguhnya aku tidak tega bergebrak lagi denganmu, kukira lebih baik kau ...."

Sekonyong-konyong Gui Wi-ih berjingkrak murka, teriaknya.

"Aku tidak memerlukan belas kasihanmu ... seumpama aku tidak dapat menemukanmu juga tidak perlu kau ...."

Suaranya kedengaran serak dan juga semakin lemah, tapi masih terus merintih, meski bukan menangis, namun jauh lebih memilukan dari pada menangis.

Saking tak tahan Thi Sim-lan ikut mencucurkan air mata, biarpun Gui Wi-ih adalah manusia yang paling kejam di dunia ini juga tidak tega menyaksikan penderitaannya itu.

Ia tahu penderitaan lahiriah Gui Wi-ih benar-benar sukar bertahan pula, tapi penderitaan batinnya jelas terlebih hebat daripada siksaan lahiriahnya.

Tanpa terasa ia berseru.

"Lekas kau pergi saja, kutahu Hoa-kongcu pasti takkan ... takkan merintangimu."

"Pergi?"

Teriak Gui Wi-ih dengan parau.

"Hahaha, masa kau tidak tahu bahwa anak murid Bu-geh boleh dibunuh tapi tidak boleh dihina ...."

Di tengah gelak tertawa latahnya itu, sekonyong-konyong ia gunakan sepenuh tenaganya yang masih tersisa untuk meloncat tinggi ke atas tebing, menubruk ke arah Thi Sim-lan sambil menyeringai.

"Tidak seharusnya kau ikut bicara, walaupun aku tidak dapat membunuh Hoa Bu-koat tapi dapat membunuh kau!"

Thi Sim-lan jadi terkesima kaget melihat bentuk Gui Wi-ih yang kalap itu sehingga lupa menghindar.

Tahu-tahu Gui-Wi-ih sudah menubruk tiba, kedua lengannya sekuat belenggu lantas mengempit Thi Sim-lan dengan keras, berbareng ia berteriak sambil tertawa.

"Haha, andaikan harus mati juga ingin kucari seorang teman seperjalanan. Hahahaha!"

Seketika Thi Sim-lan merasa sekujur badannya mengencang dan seakan-akan retak, wajah orang yang berlumuran darah dengan dua lubang berdarah itu tepat berada di depan hidungnya, keruan takutnya tidak kepalang sehingga tidak dapat bersuara pula.

Syukur segera terdengar "bluk"

Satu kali, suara tertawa latah Gui Wi-ih itu mendadak putus, kedua lengannya yang memeluk erat-erat itu pun mendadak kendur, lalu menyurut mundur dua-tiga tindak terus terjungkal ke bawah tebing.

Dalam pada itu Hoa Bu-koat sudah berdiri di depan Thi Sim-lan.

Tanpa terasa si nona menubruk ke dalam rangkulan Hoa Bu-koat dan menangis keras-keras.

Perlahan Bu-koat membelai rambut si nona, ucapnya dengan terharu.

"Sebenarnya aku tidak tega membunuh dia, tapi ...."

"Aku yang salah,"

Ucap Sim-lan sambil menangis.

"tidak seharusnya aku ikut bicara, kalau tidak, tentu engkau takkan terpaksa membunuh seorang yang sudah buta. O, aku ... mengapa aku selalu membikin kacau urusan."

"Kau kira kau yang salah? Kau cuma berhati lemah, tapi tidak salah. Maksudmu ingin membikin baik setiap persoalan dan telah berusaha sekuat tenagamu."

"O, engkau selalu begini baik padaku, sebaliknya aku ... aku ...."

Dengan terguguk-guguk mendadak Thi Sim-lan mendorong pergi Hoa Bu-koat dan menunduk.

"... aku selalu bersalah padamu."

Bu-koat tidak berani memandang si nona lagi, ia berpaling ke sana dan menatap mayat Gui Wi-ih yang menggeletak kaku itu, gumamnya sambil menghela napas panjang.

"Anak murid perguruan Bu-geh, betapa lihainya murid Gui Bu-geh. Wahai Kang Siau-hi, dapatkah kau menghadapi mereka?"

Hanya sepatah kata saja persoalannya lantas dialihkannya pada diri Kang Siau-hi.

Benar juga, tubuh Thi Sim-lan tergetar, rasa terima kasih dan cintanya kepada Hoa Bu-koat ternyata segera berubah menjadi perhatiannya terhadap Siau-hi-ji.

Dengan gegetun Bu-koat berucap pula.

"Anak murid Gui Bu-geh saja sudah begitu lihai, apalagi Gui Bu-geh sendiri? Wahai Kang Siau-hi, betapa pun aku ikut berkhawatir bagimu."

Thi Sim-lan tidak tahan lagi, segera ia bertanya.

"Kang Siau-hi, apakah dia telah ...."

Baru sekarang Bu-koat menoleh dan menjawab dengan suara berat.

"Saat ini mungkin dia sudah sampai di Ku-san dan mungkin sudah hampir berhadapan dengan Gui Bu-geh." *** (. ) Esoknya Bu-koat dan Thi Sim-lan lantas berangkat langsung ke Ku-san. Seperti sengaja dan juga seperti tidak sengaja Bu-koat selalu mempertahankan jarak tertentu dengan Thi Sim-lan, pada waktu berjalan ia selalu mengintil di belakang si nona, waktu makan ia sengaja berkutak-kutek pekerjaan lain, setelah Sim-lan hampir selesai makan barulah dia mulai makan. Bila bermalam juga dia tidak minta kamar sebelah-menyebelah melainkan mencari kamar yang agak berjauhan. Perasaan mereka seakan-akan sangat berat, sepanjang hari jarang beromong apalagi tertawa. Orang-orang di sepanjang jalan diam-diam sama kagum melihat muda-mudi yang cakap dan cantik itu. Tapi tiada yang tahu bahwa hati mereka sebenarnya kacau seperti benang kusut dan pedih tak terkatakan. Yang mereka perhatikan adalah keselamatan Siau-hi-ji. Kini "Yan Lam-thian"

Sudah mati, di dunia ini hampir tiada seorang pun yang benar-benar mau menolong Siau-hi-ji dengan setulus hati.

Sebaliknya musuh Siau-hi-ji bukan saja teramat banyak, bahkan setiap musuhnya adalah tokoh paling lihai jaman kini.

Sekarang dia pergi ke Ku-san sendirian, memangnya dia dapat kembali dengan hidup?

Kini, hampir setiap tokoh yang berbahaya di Kangouw seakan-akan sudah berkumpul di Kusan, makanya di tempat lain tampaknya aman tenteram.

Sudah dua hari mereka dalam perjalanan, waktu bermalam lagi hari ini, dini sekali Hoa Bu-koat masuk kamarnya, tapi mana dia dapat tidur.

Dia hanya duduk termenung.

Angin meniup dari celah-celah jendela, api lilin di atas meja terkadang tertiup memanjang, habis itu lantas menyurut pendek lagi, lilin terus lumer dan menetes ke bawah dan makin pendeklah batang lilin itu sehingga tatakan lilin pun hampir penuh oleh cairannya.

Bu-koat memandangi api lilin itu dengan termangu-mangu, hatinya berpikir mengenai Siauhi-ji, mengenai Thi Sim-lan dan juga teringat kepada Ih-hoa-kiong.

Lalu teringat pula kepada "Tong-siansing"

Yang misterius itu.

Setiap orang itu seakan-akan telah membuat sesuatu persoalan yang sukar diselesaikan olehnya.

Sungguh ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba terdengar orang mengetuk pintu perlahan.

Bu-koat menyangka pelayan yang datang buat menambah air teh, maka tanpa pikir ia berseru.

"Pintu tak terkunci, masuklah!"

Tak tersangka olehnya bahwa yang melangkah masuk kemudian ternyata Thi Sim-lan adanya.

Di bawah sinar lampu terlihat si nona memakai baju putih bersih, rambutnya yang hitam gompiok semampir di atas pundak, kelopak matanya kelihatan rada bengkak dan karena itu kerlingan matanya menjadi lebih samar.

Begitu masuk kamar, Sim-lan lantas menunduk.

Hati Bu-koat seperti dibetot mendadak.

Dia berdiri dan menyambutnya dengan tersenyum.

"Sudah larut malam, kau belum tidur?"

"Aku ... tak dapat tidur,"

Jawab Sim-lan sambil menunduk.

"Ada beberapa patah kata ingin kubicarakan denganmu."

Bu-koat melenggong sejenak, ucapnya kemudian.

"Silakan duduk."

Sesungguhnya ia tidak tahu apa yang harus diucapkan, terpaksa "silakan duduk"

Digunakan untuk menutupi kecanggungannya, tapi kata-katanya itu terasa hambar dan kaku.

Sim-lan mendekati meja, tapi tidak lantas duduk, ia ragu-ragu agak lama, seperti mengerahkan segenap keberaniannya baru kemudian berkata dengan lirih.

"Kutahu, selama beberapa hari ini kau sengaja bersikap dingin padaku dan menjauhi diriku."

Kembali Hoa Bu-koat melenggong, jawabnya dengan tersenyum ewa.

"Ah, kau ... kau terlalu banyak berpikir."

"Biasanya engkau tidak pernah berdusta, mengapa sekarang bohong padaku?"

Kata Sim-lan pula. Bu-koat termangu-mangu sejenak, dengan rasa berat ia duduk, lalu berkata sambil menghela napas.

"Jadi kau ingin kubicara dengan sejujurnya? Sim-lan mengangguk perlahan, ucapnya.

"Ya, lambat atau cepat toh harus kau katakan, mengapa tidak kau bicarakan sekarang saja."

Bu-koat mengelupas secuil cairan lilin dan dipencet-pencet dengan keras seakan-akan hati sendiri yang sedang teremas-remas. Dengan rasa berat akhirnya ia bicara dengan perlahan.

"Kau tahu, antara manusia dan manusia, bilamana sudah lama saling berdekatan, sukarlah dihindarkan timbulnya perasaan suka sama suka, lebih-lebih dalam keadaan susah dan menderita."

Sekata demi sekata ia berucap, nadanya begitu sedih. Terkesima Thi Sim-lan mengikuti cairan lilin yang diremas-remas Bu-koat itu. Dengan pedih lalu Bu-koat menyambung.

"Dan Kang Siau-hi ... bukan saja dia pernah menyelamatkan jiwaku, bahkan dia telah menjadi sahabat satu-satunya selama hidupku ini, biarpun aku terpaksa harus membunuhnya, tapi apa pun juga aku tak dapat bertindak sesuatu yang tidak baik padanya."

Sorot mata Thi Sim-lan tiba-tiba menatap lurus ke muka Bu-koat, ucapnya dengan suara rada gemetar.

"Memangnya kau kira aku orang macam apa? Kau kira aku akan berbuat sesuatu yang mengkhianati dia?"

Bu-koat menunduk, ucapnya dengan menghela napas.

"Aku tidak khawatir engkau akan berbuat salah padanya, tapi aku sendiri, kukhawatir atas diriku sendiri ...."

Ia menggereget, lalu menyambung pula.

"Aku tidak tega menyeret perasaanmu ke dalam lingkaran pertentangan ini, bilamana kita terlalu berdekatan, bukan saja aku akan menderita, kau pun akan susah."

Kepala Thi Sim-lan kembali tertunduk.

"Sebab itulah,"

Sambung Bu-koat.

"Antara kita akan lebih baik bila berjauhan agar kita tidak terjeblos ke tengah-tengah penderitaan, kutahu dengan demikian kau akan sedih, tapi apa boleh buat, aku tidak punya jalan lain yang lebih baik."

Tubuh Thi Sim-lan rada gemetar, air matanya tampak meleleh. Tiba-tiba ia angkat kepalanya dan menatap Bu-koat, serunya.

"Tapi aku ... aku ini anak perempuan yang sebatang kara, aku kan ingin menganggap kau sebagai kakak, kuharap engkau percaya padaku ...."

Bu-koat tidak bicara, maka si nona menyambung pula.

"Kedatanganku sekarang cuma ingin memberitahukan agar kau tidak perlu menjauhi dan juga tidak perlu waswas padaku, asalkan hati kita suci bersih, tentu kita tidak perlu khawatir berbuat salah kepada siapa pun juga dan juga tidak takut apa yang disangka orang."

Akhirnya Bu-koat tersenyum, ucapnya.

"Baru sekarang kutahu engkau adalah anak perempuan yang tabah dan berani, keberanian ini biasanya sukar terlihat, tapi bilamana perlu, engkau ternyata jauh lebih berani daripada siapa pun duga."

Thi Sim-lan menarik napas panjang, ia pun tersenyum dan berkata.

"Setelah kukeluarkan seluruh isi hatiku rasanya menjadi lega dan riang, sungguh ingin kuminum secawan arak untuk merayakannya."

"Baik, hatiku juga sangat riang, aku pun ingin minum arak untuk merayakannya,"

Tukas Bu-koat sambil berdiri.

Setelah keduanya menumpahkan segenap isi hatinya, seketika mereka merasa seperti terbebas dari belenggu yang berat.

Cuma sayang, di hotel ini tiada tersedia daharan dan arak, maka mereka lantas keluar.

Di jalan sudah mulai sepi, kebanyakan toko sudah tutup pintu, pada tikungan jalan sana ada seorang penjual mi babat.

Bau sedap dapat tercium dari jauh.

"Apakah kau sudi makan nongkrong di tepi jalan?"

Tanya Bu-koat dengan tersenyum. Sim-lan tertawa, segera mereka mendekati penjual mi babat itu, belum lagi duduk ia sudah berseru.

"Dua mangkuk mi babat, tambahi pula setengah kati daging rebus dan satu kati arak!"

Penjual mi babat di tepi jalan itu hanya terdiri dari dua meja kecil reyot, semuanya kosong, tiada pembeli, hanya seorang kurus berbaju hitam sedang nongkrong di atas bangku di depan tangkringan dan sedang minum arak.

Asap panas tampak mengepul dari kuali, lampu minyak yang bersinar guram itu membuat suasana bertambah suram.

Di bawah asap panas yang mengepul dan cahaya lampu remang-remang wajah si orang kurus berpakaian hitam itu tampaknya seperti sayur asin di kolong dapur.

Tapi sepasang matanya, yang mencorong lebih terang daripada kelip bintang di langit.

Dia menongkrong di atas bangku sembari menggerogoti sepotong daging sambil minum arak, pikirannya mungkin sedang melayang-layang jauh ke sana.

Bilamana ditanya bagaimana rasanya daging rebus dan bagaimana rasanya arak?

Pasti ia tidak tahu.

Misalnya ketika kedatangan kedua orang semacam Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat, orang itu ternyata tidak memandangnya barang sekejap.

Seorang yang bernasib jelek dan duduk minum arak di tempat yang sederhana begini untuk mengenangkan kegembiraan dan kebahagiaan di masa lampau adalah keadaan yang jamak.

Sebab itulah Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat tidak memperhatikan dia.

Apabila mereka mau memandangnya sekejap dan melihat sorot matanya yang bening tajam itu maka cara bicara mereka mungkin akan lebih hati-hati.

Tapi kini, setelah arak masuk perut, daging rebus terasa lezat, kelip bintang di langit dan semilir angin malam, semua ini telah menambah selera makan sehingga tiada sesuatu yang pantang diutarakan mereka.

Mereka terus mengobrol ke timur dan ke barat, tapi kemudian mereka mengetahui, apa pun yang mereka bicarakan seakan-akan selalu bersangkut-paut dengan Siau-hi-ji.

"Haha,"

Bu-koat tertawa.

"Sebenarnya terasa gembira cara makan minum begini, tapi aneh, selalu kurasakan masih kekurangan sesuatu. Sekarang baru kutahu apa kekurangan ini."

Thi Sim-lan menunduk, katanya lirih.

"Maksudmu ... maksudmu kekurangan satu orang."

"Betul, tanpa kehadirannya, memangnya kita berdua bisa bersuka ria sepuasnya?"

"Kau pikir, dapatkah tiba waktunya kita bertiga makan minum bersama?"

"Mengapa tidak?"

Kata Bu-koat. Thi Sim-lan memandangnya lekat-lekat, ucapnya dengan rawan.

"Kau kira, betapa banyak kesempatan kita bertiga berkumpul dan minum arak?"

Mendadak wajah Hoa Bu-koat berubah murung, ia pun termenung-menung agak lama, katanya kemudian.

"Orang hidup paling-paling seabad, bilamana dapat berkumpul dengan sahabat dan minum bersama dengan gembira, satu kali pun sudah cukup, kenapa mesti berkali-kali ...."

Dia angkat cawan arak dan berkata pula dengan tertawa.

"Marilah, biar kita minum satu cawan demi Kang Siau-hi!"

"Kang Siau-hi" , begitu nama ini disebut serentak si baju hitam tadi membuang sisa daging yang belum lagi habis dimakannya serta menaruh cawan arak, sorot matanya menyapu tajam ke arah Bu-koat berdua. Dalam pada itu Thi Sim-lan telah menghabiskan isi cawannya bersama Hoa Bu-koat, matanya menjadi berkaca-kaca, ucapnya dengan sayu.

"Ya, apabila aku pun lelaki, alangkah baik akan jadinya …."

Waktu dia berpaling, tiba-tiba dilihatnya si baju hitam yang kurus itu telah berada di depannya sambil memegang guci dan cawan arak, sorot matanya yang tajam terus mengerling di antara muka mereka berdua.

Seketika Bu-koat dan Sim-lan melengak.

Sekian lamanya si baju hitam mengamat-amati mereka, tiba-tiba ia bertanya kepada Bu-koat.

"Apakah kau ini Hoa Bu-koat?!"

Tentu saja Bu-koat terkesiap, jawabnya.

"Betul, saudara ini ...."

Hakikatnya si baju hitam tidak mendengarkan ucapan Bu-koat, dia berpaling dan bertanya kepada Thi Sim-lan.

"Dan kau ini Thi Sim-lan?!"

Thi Sim-lan mengangguk, saking heran ia tak dapat bersuara. Siapakah gerangan si baju hitam ini? Dari mana mengetahui nama mereka? Mata si baju hitam tampak terbelalak lebar, ucapnya pula.

"Apakah barusan kalian minum bagi Kang Siau-hi?"

Diam-diam Thi Sim-lan jadi mendongkol juga, ia menarik napas panjang-panjang, mendadak berseru.

"Kalau betul kau mau apa?"

Ia tahu musuh Siau-hi-ji tidak sedikit, ia sangka si baju hitam juga akan mencari perkara kepada mereka.

Tak tersangka si baju hitam lantas menyeret bangku ke dekat mereka, setelah duduk, lalu ia berkata pula.

"Baik! Kalian telah minum satu cawan bagi Kang Siau-hi, sedikitnya aku harus menghormati kalian tiga cawan!"

Habis itu ia angkat gucinya.

untuk menuangi cawan Bu-koat dan Sim-lan.

Tentu saja kedua muda-mudi itu memandang cawan masing-masing dengan bingung karena tidak tahu mereka harus minum atau tidak.

Si baju hitam mendahului menenggak isi cawannya sendiri hingga kering, habis itu ia melotot ketika dilihatnya Bu-koat berdua masih diam saja.

Serunya.

"Ayo minumlah! Memangnya kalian takut arak ini beracun?"

Selagi Hoa Bu-koat masih sangsi, dengan suara keras Thi Sim-lan menjawab.

"Maaf, kami tidak bisa minum arak bersama orang yang tidak kami kenal. Jika kau ingin menghormat arak kepada kami, paling tidak harus kau beritahukan lebih dulu siapa dirimu?!"

Si baju hitam mendelik, mendadak ia bergelak tertawa, katanya.

"Tadinya kukira kau ini ramah tamah, siapa tahu mulutmu ternyata tidak banyak berbeda daripada Siau-hi-ji."

"Ramah tamahku bergantung kepada siapa yang kuhadapi,"

Jengek Thi Sim-lan.

"Bilamana ada orang yang tidak keruan ingin cari gara-gara padaku .... Hmk!"

Sekali angkat tangannya, kontan sepasang sumpit yang dipegangnya melayang dan menancap di emper rumah sana.

Tapi sedikit pun si baju hitam tidak mengunjuk rasa kaget atau kagum, dia tetap memandang si nona dengan tertawa, ucapnya.

"Kalau perempuan judas ramah tamah terhadap orang lain barulah benar-benar ramah tamah, sebaliknya ... Haha wahai Kang Siau-hi, tampaknya rezekimu memang boleh juga."

Thi Sim-lan menjadi gusar, bentaknya.

"Sebenarnya siapa kau? Apa kehendakmu?"

"Kau pun jangan urus siapa diriku, yang penting kau ketahui bahwa aku ini sahabat baik Kang Siau-hi,"

Ucap si baju hitam. Terbelalak juga mata Thi Sim-lan memandanginya sekian lama, katanya kemudian.

"Baik, jika engkau sahabat Kang Siau-hi, aku mau minum arakmu ini."

Si baju hitam berpaling kepada Hoa Bu-koat, katanya.

"Dan kau?"

"Aku harus tiga cawan paling sedikit,"

Jawab Bu-koat sambil tersenyum.

"Bagus, bagus sekali! Hahaha, kau benar-benar seorang sahabat sejati,"

Si baju hitam bergelak tertawa. Setelah saling bentur cawan tiga kali bersama Bu-koat, si baju hitam berkata pula.

"Kau minum arak bersama nona cantik di bawah sinar bintang seindah ini, namun kau tetap tidak melupakan Kang-Siau-hi. Bagus, bagus sekali, biar kuhormatimu lagi tiga cawan!"

Padahal gucinya sudah hampir kosong, namun sinar mata si baju hitam mencorong, hanya di antara gerak-geriknya nampak sudah agak mabuk, ia tidak urus orang lain minum lagi atau tidak, dan juga tidak lagi mengajak bicara orang lain, ia terus minum sendiri secawan demi secawan, terkadang ia pun menengadah memandang cuaca seakan-akan sedang menantikan datangnya seseorang.

Siapakah gerangan yang dinantikannya?

Dengan heran Thi Sim-lan menatapnya lekat-lekat, tanyanya kemudian.

"Apakah engkau benar-benar sahabat baik Kang Siau-hi?"

"Kang Siau-hi kan bukan tokoh mahabesar, untuk apa aku mesti memalsukan diri sebagai sahabatnya?"

Jawab si baju hitam dengan mendelik. Thi Sim-lan berkedip-kedip, katanya pula dengan tertawa.

"Apakah akhir-akhir ini engkau bertemu dengan dia?"

Si baju hitam tidak lantas menjawab, ia termangu-mangu sejenak, lalu menaruh cawannya dengan keras, katanya kemudian.

"Terus terang, aku sendiri tidak tahu akhir-akhir ini dia kabur ke mana?"

Setelah merandek, tiba-tiba ia menambahkan pula.

"Bilamana kalian bertemu dengan dia, bolehlah sampaikan salamku kepadanya."

"Memangnya kau sendiri takkan bertemu lagi dengan dia?"

Tanya Sim-lan. Si baju hitam termangu-mangu sejenak, jawabnya kemudian.

"Mungkin takkan bertemu lagi."

"Sebab apa?"

Tanya Thi Sim-lan Si baju hitam tidak menjawab, hanya menenggak arak terus-menerus. Thi Sim-lan coba memancing pula.

"Bilamana kami bertemu dengan Siau-hi-ji, harus kami katakan siapakah engkau?"

"Katakan saja Toakonya,"

Jawab si baju hitam dengan berpikir sejenak. Mendadak Thi Sim-lan berbangkit dan membentak dengan aseran.

"Sesungguhnya kau ini siapa?"

"Bukankah baru saja kukatakan padamu ...."

"Kentut!"

Bentak Thi Sim-lan.

"Tidak mungkin Siau-hi-ji mengaku orang lain sebagai Toakonya, jangan mendustai aku."

"Hahaha! Bagus, bagus!"

Tiba-tiba si baju hitam bergelak tawa.

"Kalian memang tidak malu sebagai sahabat karib Siau-hi-ji. Memang betul, dengan setulus hati kusuruh dia memanggil Toako (kakak) padaku, tapi dia justru selalu menyebut aku adik."

Thi Sim-lan tertawa, ia duduk kembali, ucapnya.

"Jika demikian, akan kuberitahukan bahwa adiknya yang menyampaikan salam padanya."

Air muka si baju hitam rada berubah, tampaknya ia rada gondok, ia melototi Thi Sim-lan tapi tidak jadi marah, akhirnya ia menenggak arak lagi, katanya gegetun.

"Kang Siau-hi mempunyai sahabat seperti kalian ini, andaikan mati juga tidak menyesal lagi. Sedangkan aku? ...."

Di bawah sinar lampu yang redup, air mukanya tampak sangat berduka.

"Eh, tampaknya engkau sedang menanggung sesuatu pikiran apa, betul tidak?"

Tanya Thi Sim-lan.

"Pikiran? Memangnya aku memikirkan apa?"

Kembali si baju hitam mendelik.

"Jika engkau benar-benar menganggap kami ini sahabat Kang Siau-hi, mengapa tidak kau beberkan isi hatimu, bisa jadi ... bisa jadi kami dapat memberi sesuatu bantuan padamu."

Mendadak si baju hitam menengadah dan terbahak-bahak, ucapnya.

"Bantuan? Hahahaa, masakah aku perlu bantuan orang?"

Di tengah suara tertawa yang keras itu seakan-akan juga penuh rasa duka dan murka.

Thi Sim-lan ingin bertanya pula, tapi dicegah oleh Hoa Bu-koat dengan kedipan mata.

Dari jauh terdengar suara kentongan, malam ternyata sudah larut sekali.

Sekonyong-konyong si baju hitam berhenti tertawa, dipandangnya Bu-koat dan Thi Sam-lan lekat-lekat, lalu berkata.

"Kalian benar-benar hendak membantu aku?"

"Sudah tentu benar,"

Jawab Thi Sim-lan.

"Bagus, silakan kalian masing-masing menyuguh tiga cawan arak padaku, ini pun sudah terhitung membantu padaku,"

Ucap si baju hitam. Setelah menghabiskan enam cawan arak, si baju hitam menengadah dan bergelak tawa pula, katanya.

"Tadi aku mengira malam ini akan kulewati sendirian, siapa tahu dapat berjumpa dengan kalian dan telah minum bersama dengan puas, sungguh suatu kejadian yang menggembirakan selama hidupku ini ....""

Malam ini, apakah sangat istimewa bagimu?

tanya Thi Sim-lan.

Mendadak si baju hitam berbangkit dan memandang si nona lekat-lekat, seperti mau bicara apa-apa, namun urung, tiba-tiba ia berpaling terus melangkah ke sana.

Sim-lan berseru.

"He, jika engkau ingin minum arak pula, bagaimana kalau esok kita berkumpul lagi di sini?"

Sama sekali si baju hitam tidak menoleh, ia bergumam sendiri.

"Esok? ...."

Dia mendekati si penjual mi babat, dikeluarkannya seluruh isi sakunya, ternyata ada beberapa potong uang emas, belasan biji mutiara, semuanya dia lemparkan ke meja penjual mi babat dan berkata.

"Inilah uang makan-minumku, buat kau semuanya."

Tentu saja penjual mi itu melongo kaget, belum lagi dia sempat mengucapkan terima kasih, tahu-tahu si baju hitam sudah berada di kejauhan, cahaya lampu yang remang-remang menyinari bayangan tubuhnya yang semakin memanjang, tampaknya dia begitu kesepian, sedemikian hampa.

Rawan juga perasaan Thi Sim-lan, ucapnya dengan terharu.

"Betapa kesepian hidupnya, hanya dua orang mengiringi dia minum arak sudah terhitung kejadian menggembirakan baginya. Entah betapa sunyi dan hampa hidupnya ini?"

"Pada malam sebelum kematiannya dia mengira akan dilewatkannya dengan sendirian, dia ternyata tidak dapat menemukan seorang kawan untuk menemani malamnya yang terakhir,"

Ucap Hoa Bu-koat dengan perlahan.

"Apa katamu? Malam sebelum kematiannya? Malamnya yang terakhir?"

Seru Thi Sim-lan.

"Masa kau tidak dapat melihatnya? ...."

Mendadak Bu-koat berhenti berucap, Thi Sim-lan ditariknya terus melayang cepat ke sana.

Langkah si baju hitam tadi rada sempoyongan, jalannya seperti sangat lamban, tapi sekali berkelebat tahu-tahu sudah menghilang ditelan kegelapan malam.

Setelah melintas beberapa deretan rumah Hoa Bu-koat lantas menurunkan Thi Sim-lan, ucapnya.

"Biar kususul dia, kau tunggu saja di sini."

Ginkang Thi Sim-lan sebenarnya tidak lemah, tapi kalau dibandingkan Hoa Bu-koat dan si baju hitam tadi jelas selisih sangat jauh.

Cahaya bintang menyinari wuwungan rumah yang remang-remang kelabu, di kejauhan terkadang ada berkelipnya sinar lampu, hampir semua insan sudah tenggelam di alam impian mereka, bumi raya juga sudah tidur.

Thi Sim-lan berdiri sendirian di situ, angin semilir mengusap tubuh si nona laksana sentuhan kelopak mata kekasih, seperti usapan tangan ibunda.

Akan tetapi perasaan si nona tidak dapat ditenteramkan.

Siapakah gerangan si baju hitam tadi?

Mengapa dia harus mati?

Dia dan Siau-hi-ji ....

Sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Bu-koat sudah berada di depannya.

"Dapatkah menyusulnya?"

Tanya Sim-lan segera. Bu-koat menggangguk, jawabnya dengan gegetun.

"Alangkah hebat Ginkang orang ini!"

"Ke manakah dia?"

Tanya Sim-lan pula. Bu-koat tidak menjawabnya, tapi berkata.

"Marilah ikut padaku!"

Kedua orang lantas melayang cepat pula ke sana melintasi beberapa deretan rumah. Saking ingin tahu, Thi Sim-lan bertanya pula.

"Cara bagaimana kau tahu dia akan mati?"

"Senantiasa dia memperhatikan waktu, jelas kelihatan malam ini dia hendak melakukan sesuatu urusan penting,"

Tutur Bu-koat dengan gegetun.

"Ya, hal ini pun sudah kuketahui tadi."

"Tampaknya perasaannya sangat tertekan, ia pun mengatakan selanjutnya mungkin tak dapat melihat Siau-hi-ji lagi, sebelum berangkat dia memberikan seluruh isi sakunya kepada si penjual mi babat, ini semua menandakan apa yang akan dilakukannya pasti sesuatu urusan yang sangat berbahaya, rupanya dia sudah bertekad melakukannya sekalipun harus mati."

"Benar ...."

Seru Sim-lan.

"Watak orang ini mengapa sedemikian aneh dan angkuh, sudah jelas dia berniat mati, tapi tidak mau memberitahukan pada orang lain dan juga tidak menginginkan bantuan."

"Tapi dia adalah sahabat Siau-hi-ji, mana boleh kita tinggal diam menyaksikan kematiannya?"

Ujar Bu-koat. Sim-lan menggigit bibir, katanya.

"Ginkangnya tergolong kelas wahid, andaikan tak dapat menandingi musuhnya pasti juga dapat melarikan diri, tapi dia sama sekali tidak berharap akan dapat lari, maka dapat dibayangkan lawannya pasti sangat lihai dan menakutkan."

"Sebab itu pula kau harus hati-hati, sebelum ada sesuatu tanda dariku kau jangan sembarangan turun tangan,"

Pesan Bu-koat.

Sampai di sini, perumahan sudah mulai jarang-jarang.

Tiba-tiba Thi Sim-lan melihat tidak jauh di depan sana ada sebuah biara yang cukup besar, tampaknya seperti gedung kaum hartawan.

Dalam keadaan larut malam demikian, di bagian belakang biara ini masih ada sinar lampu.

"Tempat apakah ini?"

Tanya Sim-lan.

"Sebuah Tokoan (kelenteng agama To)."

"Apakah dia masuk ke Tokoan ini?"

"Ehm,"

Jawab Bu-koat singkat.

"Kau lihat dia masuk di situ, maka engkau lantas …."

"Waktu dia masuk ke sana, gerak-geriknya sangat hati-hati,"

Tutur Bu-koat.

"Dengan Ginkangnya yang tinggi itu untuk sementara waktu pasti sukar diketahui orang, maka aku lantas memutar balik ke sana untuk mengajakmu ke sini."

Thi Sim-lan coba mengawasi suasana sekitar kelenteng itu, meski ada cahaya lampu, tapi sedikit pun tiada suara apa pun, lebih-lebih tiada sesuatu tanda akan terjadi mara bahaya.

"Sudah sekian lamanya dia masuk ke situ, mengapa Tokoan ini masih tetap sunyi senyap?"

Tanya Sim-lan pula.

"Memangnya penghuni kelenteng ini tiada mengetahui kedatangannya?"

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Tapi kalau dia sudah bertekad akan mati, biarpun kedatangannya tidak diketahui orang lain, seharusnya dia bertindak sesuatu, mengapa dia masih diam saja dan main sembunyi-sembunyi?"

"Kau tunggu di sini, biar kumasuk ke sana,"

Kata Bu-koat. Tapi Sim-lan memegang tangannya dan berucap dengan suara tertahan.

"Kukira di balik urusan ini ada sesuatu yang ganjil, bisa jadi dia sengaja bersekongkol dengan orang lain dan memancing kedatangan kita ke sini."

"Bilamana dia bersekongkol dengan orang hendak menjebak kita, maka aku justru ingin tahu apa yang bakal terjadi,"

Ujar Bu-koat tersenyum.

Perlahan dia lepaskan tangan si nona, sekali berkelebat dia telah menghilang dalam kegelapan.

Sambil memandang bayangan Bu-koat yang lenyap itu, Sim-lan bergumam sambil tersenyum getir.

"Sungguh tak terduga perangai orang ini terkadang serupa benar dengan Siau-hi-ji."

Kelenteng ini cukup luas, bagian belakang masih ada penerangan, tapi halaman depan dan ruang pendopo gelap gulita, maka tidak kelihatan malaikat apa yang dipuja.

Bu-koat menyusul serambi yang gelap itu dan memutar ke halaman belakang, kemudian diketahui bahwa halaman yang ada penerangannya itu bukan lagi rumah kelenteng tapi berbentuk rumah penduduk biasa, begitu pula alat perabot di dalam rumah.

Bagian depan adalah kelenteng, bagian belakang adalah perumahan biasa, keadaan ini sangat aneh, yang lebih mengherankan adalah seluruh halaman belakang itu tiada terdengar sesuatu suara atau bayangan seorang, tapi di ruangan yang terpajang mewah dengan permadani mentereng itu berbaring seekor harimau loreng yang besar.

Ruangan duduk itu tampaknya tidak cuma sebesar ini saja, sebab di bagian tengah ada selapis tirai kain kuning yang panjang menyentuh lantai, jelas di balik sana masih cukup luas.

Dan di depan tirai kuning itulah harimau loreng itu mendekam.

Rumah yang aneh dengan gayanya yang khas, ruangan duduk yang tiada tamunya, tapi ada seekor harimau.

Semua ini membuat Hoa Bu-koat heran dan bingung.

Yang lebih sukar dimengerti adalah suasana ruangan tamu itu, sebab apa dibatasi menjadi dua bagian dengan tirai?

Rahasia apa pula yang tersembunyi di balik tirai kuning itu?

Dengan hati-hati Bu-koat merunduk maju, ia yakin akan Ginkangnya sendiri, dengan sendirinya gerak geriknya tiada menerbitkan suara sedikit pun.

Siapa tahu pada saat itu juga, harimau yang tampaknya sedang tidur itu mendadak melompat bangun sambil meraung keras sehingga bumi seakan-akan bergetar dan daun kering sama rontok di halaman.

Nyata, walaupun Ginkang Bu-koat tiada taranya, namun harimau itu tidak perlu memandang dengan mata dan tidak perlu mendengar dengan telinga melainkan cukup mengendus dengan hidung saja.

Memang di sinilah letak kehebatan binatang itu, tak peduli siapa pun yang masuk ke ruangan belakang ini, asalkan baunya terendus, maka jangan harap dapat mengelabuinya.

Jika si baju hitam tadi sudah masuk ke ruangan belakang sini, mungkin sekarang sudah lebih banyak celaka daripada selamatnya.

Sementara itu cahaya lampu bergoyang-goyang, harimau tadi sudah hampir menubruk maju.

Keganasan harimau sangat menakutkan, sampai-sampai Bu-koat juga kebat-kebit.

Pada saat itulah dari balik tirai tiba-tiba berkumandang suara halus berkata.

"Siau Hoa (si loreng), duduklah, jangan galak seperti anjing penjaga saja, bisa bikin takut tamu!"

Suara itu begitu menggiurkan dan menggetar sukma.

Harimau itu pun seakan-akan dapat merasakan betapa menggiurkan suara merdu itu, benar-benar saja dia lantas membalik ke sana dan duduk kembali seperti mendadak berubah menjadi seekor kucing kecil yang jinak.

Bu-koat melenggong menyaksikan semua ini.

Dilihatnya dari balik tirai kuning terjulur sebuah tangan putih mulus, halus lemas seolah-olah tak bertulang, dengan perlahan tangan putih itu membelai harimau, dengan suara merdu ia berkata pula dengan tertawa.

"Jika Tuan sudah datang, kenapa tidak masuk saja dan duduklah."

Diam-diam Bu-koat membatin apakah pengalaman si baju hitam tadi sama seperti sekarang ini?

Apakah betul dia masuk ke sini?

Setelah masuk kemari lalu apa pula yang dialaminya?

Menurut keyakinan Bu-koat, jika si baju hitam datang ke sini dengan tekad harus mati, maka dia pasti pantang mundur.

Biarpun ruangan tamu ini adalah sarang harimau juga pasti akan diterjangnya.

Teringat pada tekad si baju hitam, tanpa ragu lagi Bu-koat lantas melangkah masuk.

Dengan tersenyum simpul ia melangkah masuk setindak demi setindak sebagaimana seorang tamu yang sopan santun hendak berkunjung kepada sahabat lama.

Dari balik tirai lantas terdengar suara tertawa nyaring merdu dan berkata.

"Sungguh seorang Kongcu yang cakap, bolehkah kumohon tanya nama Kongcu yang terhormat?"

"Cayhe Hoa Bu-koat,"

Jawab Bu-koat sambil memberi soja.

"O, kiranya Hoa-kongcu,"

Kata suara itu.

"Terima kasih, bolehkah kutahu nama harum nona?"

Suara di balik tirai itu tertawa ngikik, jawabnya.

"Hihi, aku sudah menikah, mana berani mengaku sebagai nona lagi .... aku she Pek."

"O, kiranya Pek-hujin (nyonya Pek),"

Kata Bu-koat.

"Terima kasih, silakan duduk Hoa-kongcu,"

Ucap Pek-hujin atau nyonya Pek.

Sambil mengucapkan terima kasih, benar-benar Bu-koat duduk tanpa sungkan.

Sebegitu jauh tanya jawab antara nyonya rumah dan tamunya dilakukan dengan sopan santun, cuma sayang nyonya rumah belum memperlihatkan wajahnya, di samping tamu mendekam pula seekor harimau yang besar dan setiap saat siap menerkam mangsanya.

Kalau tidak, siapa pun pasti akan mengira antara Hoa Bu-koat dan Pek-hujin adalah sahabat karib yang telah ada hubungan turun-temurun.

Sesungguhnya itu pun sifat Hoa Bu-koat yang sukar berubah, asalkan orang lain bersikap sopan padanya, biarpun diketahuinya orang ingin membunuhnya juga dia akan membalasnya dengan sopan dan hormat.

Terdengar Pek-hujin berkata pula dengan tertawa.

"Kongcu datang dari jauh, tapi aku tak dapat sekadar memenuhi kewajiban sebagai nyonya rumah, harap Kongcu sudi memberi maaf."

"Dapat bicara dengan Hujin dari balik tirai, betapa pun Cayhe merasa beruntung,"

Jawab Bu-koat. Tiba-tiba Pek-hujin bergelak tertawa, katanya.

"Sikapku sudah terhitung sangat ramah tamah, tak tersangka engkau ternyata lebih ramah pula. Bilamana kita terus ramah tamah begini aku menjadi tidak enak untuk bicara urusan kita, engkau juga tidak leluasa untuk bertanya. Maka lebih baik kita tidak perlu main sungkan-sungkan lagi."

"Bersopan santun dahulu baru kemudian perang tanding, ini adalah cara paling terhormat dalam perselisihan kaum ksatria sejati. Maka menurut pendapatku, adalah lebih baik bila bersikap sungkan saja."

"Engkau ini sungguh orang yang menarik,"

Ujar Pek-hujin dengan tertawa.

"Terima kasih,"

Jawab Bu-koat.

"Kita tiada permusuhan dan dendam apa pun, bahkan wajahku saja belum pernah kau lihat, dari mana kau tahu aku menghendaki sopan dahulu padamu baru kemudian perang tanding? Aku kan tiada maksud ‘perang’ denganmu?!"

"Bilamana tidak perlu main senjata melainkan beramah tamah saja, tentu saja itulah yang kuharapkan,"

Ucap Bu-koat.

"Berdasarkan apa kau kira aku hendak main senjata denganmu?"

Tanya Pek-hujin dengan tertawa.

"Orang asing berkunjung kemari di tengah malam buta, andaikan Hujin menghadapinya dengan senjata juga pantas,"

Jawab Bu-koat. Pek-hujin tertawa genit, katanya.

"Meski aku tidak tahu maksud kedatanganmu, tapi melihat sikapmu yang sopan dan perawakanmu yang gagah serta terpelajar pula, betapa pun engkau tidak mirip seorang jahat. Apalagi kau datang dengan sikapmu tadi, walaupun aku takkan membikin susah, tapi ada orang lain yang tak dapat melepaskanmu."

Bu-koat menghela napas, katanya.

"Terima kasih atas perhatian Hujin, cuma sayang kedatanganku justru disebabkan oleh orang tadi."

"Ai, memangnya kau ini sahabat si setan hitam yang suka main sembunyi-sembunyi itu?"

Tanya Pek-hujin.

"Betul,"

Jawab Bu-koat.

"Jadi kedatanganmu ini hendak mencari dia?"

"Bila Hujin sudi memberitahukan jejaknya padaku, sungguh Cayhe akan sangat berterima kasih."

"Umpama kukatakan di mana jejaknya, apakah kau mampu menolongnya keluar?"

"Apakah Hujin melihat Cayhe ini mirip orang yang gegabah tanpa memikirkan mati dan hidup?"

"Dari nadamu ini, agaknya kepandaianmu tidaklah rendah bukan?"

"Di hadapan Hujin sesungguhnya Cayhe tidak berani merendahkan diri sendiri."

"Bagus, kau memang anak muda yang suka berterus terang,"

Ujar Pek-hujin dengan tertawa.

"Jika begitu, boleh kau coba dulu memperlihatkan sejurus dua padaku, ingin kutahu apakah kau memang mempunyai kemampuan untuk menolong dia?"

Bu-koat tersenyum, ucapnya.

"Kalau demikian kehendak Hujin, terpaksa Cayhe pamer sedikit."

Dia duduk tanpa bergerak, tapi mendadak orangnya berikut kursinya meloncat ke atas, kursi buatan dari kayu cendana yang kuat dan berat itu seolah-olah lengket di pantat Hoa Bu-koat.

"Hebat, sungguh luar biasa?"

Sorak Pek-hujin.

"Padahal usiamu masih muda belia, memangnya sejak lahir kau sudah mulai belajar silat."

Dengan perlahan Bu-koat melayang turun, jawabnya dengan tertawa.

"Sungguh memalukan jika kukatakan, setelah dilahirkan Cayhe hidup sia-sia selama tiga-empat bulan, setelah seratus hari barulah mulai belajar silat?"

"Bagus, dengan kepandaianmu ini pantas kau berani menyatakan tidak mau merendahkan diri sendiri. Cuma ...."

"Cuma apa?"

Tanya Bu-koat.

"Kan sudah kukatakan tadi, setan hitam itu pun tiada permusuhan atau dendam apa-apa denganku, malahan selamanya belum pernah kenal, meski bentuknya rada menjemukan dan tindak tanduknya suka sembunyi-sembunyi, tapi aku pun tidak membikin susah dia."

Dengan menahan perasaan Bu-koat tidak menanggapi, ia tahu cerita orang pasti bersambung. Benar juga, segera Pek-hujin melanjutkan.

"Tapi di tempat kami ini ada dua orang tamu, mereka justru merasa risi, entah mengapa, bicara punya bicara, akhirnya mereka baku hantam dengan serunya. Ai, meski temanmu itu bentuknya kelihatan galak, tapi ia justru bukan tandingan kedua kawanku itu."

"Jangan-jangan dia telah terbunuh?"

Seru Bu-koat. Pek-hujin tertawa ngikik, ucapnya.

"Agaknya kau terlalu meremehkan aku. Di tempatku ini memangnya siapa yang berani sembarangan membunuh orang?"

"Habis kawanku ...."

"Kawanmu seperti telah di bawa pergi oleh kawanku, dibawa ke mana, aku sendiri pun tidak tahu."

Bu-koat melenggong, seketika ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Ia pun tidak dapat meraba asal-usul Pek-hujin ini, lebih-lebih tak tahu apakah uraian itu betul atau palsu, apalagi, sekalipun cerita orang itu cuma bualan saja, tentunya ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.

Bilamana Bu-koat diharuskan menerjang ke balik tirai dan membekuk Pek-hujin untuk dipaksa memberi keterangan sejujurnya, tindakan ini betapa pun takkan dilakukannya sekalipun diancam akan membunuhnya.

Karena itulah ia menjadi serba salah, tinggal pergi rasanya keliru, tinggal di situ juga tidak betul.

Selagi dia tercengang, tiba-tiba Pek-hujin tertawa dan berkata pula.

"Tapi kau pun tidak perlu sedih, jika benar-benar kau ingin mencari dia, aku akan membawamu ke sana."

Bu-koat bergirang dan mengucap terima kasih. Tapi Pek-hujin lantas menghela napas dan berkata pula.

"Cuma aku sendiri disekap di sini, bergerak saja tidak bisa, cara bagaimana pula dapat kubawa kau pergi mencarinya?"

Baru sekarang Bu-koat terkejut, cepat ia bertanya.

"Masa Hujin disekap orang di sini?"

"Siapa bilang bukan?"

Kata Pek-hujin menyesal.

"Bilamana kau ingin kubawa mencari temanmu, maka lebih dulu harus kau tolong diriku."

"Masa Hujin bukan nyonya rumah di sini?"

"Siapa bilang aku bukan nyonya rumah di sini?"

Jawab Pek-hujin. Bu-koat memandang harimau yang besar dan jinak seperti kucing dibelai oleh tangan yang putih halus itu, katanya dengan ragu-ragu.

"Jika nyonya adalah majikan di sini, harimau ini pun piaraan nyonya, lantas siapakah yang mengurung nyonya di sini, sungguh Cayhe tidak habis pikir?"

Pek-hujin menghela napas, ucapnya.

"Kisah ini terlalu panjang untuk diceritakan, boleh kau singkap dulu tirai ini, nanti akan kuceritakan."

"Jangan-jangan ini sebuah perangkap?"

Ujar Bu-koat dengan ragu-ragu.

"Kau mengaku berkepandaian tinggi, tapi menyingkap tirai ini saja tidak berani?"

Seketika keberanian Bu-koat berbangkit, sekali raih tirai tersingkap.

Serentak ia melongo kaget setelah melihat apa yang terdapat di balik tirai.

Ternyata antara belahan ruangan bagian depan dan bagian belakang yang tertutup tirai ini bedanya seperti langit dan bumi.

Bagian depan yang dijaga harimau ini terpajang mewah, sedangkan bagian belakang yang dialingi tirai itu ternyata tiada sesuatu alat perabot apa pun, malahan jerami memenuhi lantai, dipojok sana ada sebuah tong air yang biasa dibuat tempat makan minum hewan.

Pada hakikatnya tempat ini bukan tempat tinggal manusia, tapi lebih mirip kandang babi atau istal kuda.

Sungguh mimpi pun Bu-koat tidak menduga bahwa di balik ruangan yang mentereng ini adalah sebuah tempat sekotor ini, malahan di sinilah duduk seorang perempuan setengah tua dengan dandanan istimewa, rambutnya penuh hiasan mutiara goyang dan ratna mutu manikam, wajah tidak ketinggalan pupur dan gincu.

Meski sudah setengah baya, namun masih jelas kelihatan bekas-bekas kecantikannya di masa muda.

Ini pun belum mengejutkan, yang paling luar biasa adalah leher wanita cantik berdandan mewah ini justru terbelenggu oleh seutas rantai, ujung rantai terpaku kuat di dinding sana.

Seketika Bu-koat juga seperti terpaku di tempatnya dan tidak dapat bergerak lagi.

Pek-hujin memandang sekejap, katanya dengan tersenyum pedih.

"Nah, sekarang tentunya kau tahu apa sebabnya aku tak dapat membawamu pergi mencari temanmu."

Diam-diam Bu-koat menghela napas, ucapnya.

"Per ... perbuatan siapakah ini? Siapa ... siapa yang ...."

"Suamiku!"

Jawab Pek-hujin sambil menunduk.

"Suamimu?"

Bu-koat menegas, hampir saja ia melonjak kaget.

"Betul,"

Kata Pek-hujin dengan sedih.

"Suamiku adalah lelaki yang paling cemburu dan paling tidak aturan di dunia ini. Dia sangka bila aku ditinggalkan pergi, pasti aku akan main gila dengan lelaki lain."

"Sebab itu dia ... dia memb ...."

"Ya, begitu dia pergi, segera aku dirantai olehnya, pada hakikatnya dia tidak ... tidak menganggap diriku sebagai manusia, malahan memandang diriku ini lebih rendah daripada hewan."

Termangu-mangu Bu-koat memandangi nyonya yang malang ini sehingga tidak sanggup bicara lagi.

"Tapi bila kau lihat dandananku yang baik ini, tentunya kau pun merasa heran bukan?"

Tanya Pek-hujin.

"Ini ... ini ...."

"Ini pun kehendaknya,"

Tutur Pek-hujin dengan gegetun.

"Meski dia memperlakukan diriku dengan macam-macam siksaan, tapi dia juga menyuruh aku berdandan dan bersolek secantiknya, tujuannya melulu untuk dipertontonkan kepadanya saja."

Setelah menghela napas panjang, lalu ia menyambung pula.

"Ya, hanya untuk ditonton dia sendiri, bila orang lain memandangku sekejap saja maka orang itu pasti akan dibunuh olehnya. Sekarang kau telah memandang diriku pula, seumpama kamu tak mau menolongku keluar juga dia akan mencari dan membikin perhitungan denganmu."

"Selama hidupku paling benci pada manusia yang suka menghina dan menganiaya wanita,"

Ucap Bu-koat dengan tersenyum pahit.

"Jangankan Cayhe memang mengharapkan bantuan, sekalipun tiada urusan ini juga Cayhe akan berusaha menolong nyonya keluar dari sini."

"Engkau benar-benar orang yang baik hati"

Ucap Pek-hujin dengan suara lembut dan memandangnya dengan rawan.

"Ya, sejak mula aku pun sudah tahu engkau pasti orang baik. Tapi bilamana engkau hendak menolongku, maka lekaslah kerjakan, kalau tidak, bila suamiku pulang, walaupun tinggi ilmu silatmu juga sukar menandingi dia." *** (. ) Di luar sana Thi Sim-lan sudah menunggu sekian lama dalam kegelapan. Sekonyong-konyong ia dengar auman harimau yang menggetar bumi, kemudian suasana kembali sunyi senyap dan tiada sesuatu gerak gerik lagi, tapi justru suasana tiada sesuatu gerak-gerik ini semakin membuat cemasnya. Dia menunggu lagi sejenak, makin lama makin gelisah, sampai akhirnya ia benar-benar tidak tahan lagi, tanpa pikir ia melompat keluar dari tempat sembunyinya. Apa pun juga ia ingin melihat apa yang terjadi sesungguhnya. Kelenteng yang terbenam dalam kegelapan itu tampaknya tiada sesuatu tanda yang membahayakan. Segera Thi Sim-lan melompat ke atas pagar tembok. Baru saja ia bertengger di atas tembok, mendadak sinar lampu berkelebat, itulah cahaya sebuah Khong-beng-teng (lampu ciptaan Khong Beng di jaman Sam-kok) yang khas, sinarnya berkelebat di mukanya seperti sinar kilat. Menyusul di ruangan pendopo seorang lantas berucap dengan tertawa.

"O, kukira siapa, rupanya nona Thi Sim-lan adanya."

Keruan Sim-lan terkejut, hampir saja ia terjatuh di atas tembok, serunya dengan suara serak.

"Sia ... siapa kau?"

"Silakan nona masuk saja, sebentar tentu kau akan mengenali aku,"

Kata orang itu. Kejut dan sangsi pula Thi Sim-lan, mana dia berani menyerempet bahaya memasuki ruangan pendopo yang gelap gulita itu. Orang itu tertawa seram, katanya pula.

"Jika nona sudah datang ke sini, silakan masuk saja kemari untuk melihat sendiri, kalau tidak, kedua teman nona itu saja tidak dapat lolos, apalagi nona Thi sendiri, dengan kepandaianmu apakah engkau mampu kabur?"

Sekujur badan Thi Sim-lan serasa gemetar, masa Hoa Bu-koat juga telah jatuh ke dalam perangkap orang dan mengalami sesuatu?

Akhirnya ia menjadi nekat, tanpa pikir lagi ia terus melompat ke bawah.

Dalam kegelapan orang itu berkata pula dengan tertawa.

"Di samping pilar dekat undak-undakan sana ada sebuah lampu dan ada pula geretan, paling baik nona menyalakan lampu dulu barulah masuk kemari. Kebanyakan orang bilang aku ini lelaki yang sangat cakap bila dipandang di bawah cahaya lampu yang terang."

"Tapi adakah tipu apalagi?"

Kembali Thi Sim-lan curiga.

Apa pun juga, sinar lampu biasanya memang bisa menambah keberanian orang, dalam kegelapan risikonya juga lebih besar.

Maka ia lantas mendekati tempat yang ditunjuk tadi, ia menemukan lampu dan menyalakannya.

Di tempat yang luas dan gelap itu, cahaya lampu ini jauh lebih terang daripada biasanya dan juga menghangatkan, Thi Sim-lan pegang erat-erat lampu itu dan melangkah ke ruangan pendopo itu.

Ia lihat keadaan kosong melompong, mana ada bayangan orang?

Yang ada cuma Hiolo (tempat abu) yang besar, tirai kuning meja pemujaan yang rada luntur warnanya serta wajah beringas patung yang dipuja.

Tiba-tiba cahaya lampu seolah-olah rada guram.

Tanpa terasa Thi-Sim-lan merinding, serunya.

"Sesungguhnya siapa kau? Mengapa main sembunyi?"

Tapi tiada jawaban orang dan juga tidak nampak bayangan seorang pun.

Ia menjadi ragu, jangan-jangan patung kayu itu yang sedang menggoda seorang gadis biasa.

Thi Sim-lan tidak berani menengadah, tapi tanpa terasa mendongak, maka tertampaklah malaikat gunung raksasa bertengger di punggung harimau seakan-akan sedang menyeringai padanya.

Angin tiba-tiba meniup, sumbu lampu bergoyang-goyang, pakaian patung malaikat gunung juga bergerak-gerak laksana hidup dan seakan-akan hendak melangkah turun dari meja sembahyang.

Hampir saja Thi Sim-lan tidak tahan dan akan membuang lampu itu terus melarikan diri.

Lampu yang hangat itu rasanya berubah menjadi dingin, tangannya mulai gemetar pula.

Tiba-tiba dari balik tirai meja pemujaan sana berkumandang suara orang bergelak tertawa.

"Hahahaha, Thi Sim-lan, nyalimu ternyata tidak kecil!"

Seru orang itu. Suaranya seperti timbul dari patung malaikat ukiran kayu itu. Namun Thi Sim-lan malahan dapat tenangkan hatimya, segera ia pun menjengek.

"Jika kau berani mengundang aku masuk ke sini, mengapa kau sembunyi di belakang patung dan tidak berani muncul menemui aku?"

Orang itu tertawa, katanya.

"Nyali perempuan terkadang memang lebih besar daripada lelaki, mestinya hendak kubikin kaget padamu, siapa tahu tempat sembunyiku dapat kau bongkar."

Menyusul suara tertawa itu, seorang perlahan-lahan muncul dari balik patung sana, cahaya lampu yang bergoyang-goyang menyinari wajahnya yang pucat dan sorot matanya yang tajam.

Memang betul, dia memang lelaki yang sangat cakap.

Tapi demi nampak lelaki ini, kejut Thi Sim-lan melebihi lihat setan iblis.

Tanpa terasa ia berseru.

"Hah, Kang Giok-long!"

"Betul, memang aku,"

Jawab Kang Giok-long dengan tertawa.

"Tadi aku bergurau denganmu, apa kau terkejut?"

Dengan senyuman yang ramah selangkah demi selangkah ia mendekati Thi Sim-lan. Tapi si nona mundur selangkah demi selangkah.

"Kau ... kau mau apa? tanya Sim-lan.

"Kita kan sahabat lama, mengapa kau takut padaku?"

Ucap Giok-long dengan tersenyum. Sampai jari kaki Sim-lan pun terasa dingin, tapi dia sengaja menampilkan senyum mengejek, katanya.

"Siapa bilang aku takut? Aku justru sangat gembira."

Sambil bicara, kakinya masih terus melangkah mundur.

Sudah tentu dia tahu lelaki yang sangat cakap dan manis bicaranya ini jauh lebih menakutkan daripada ular yang paling berbisa.

Mendadak ia melemparkan lampu yang dipegangnya ke muka Kang Giok-long, habis itu ia terus lari keluar secepat terbang.

Dalam keadaan demikian, rasanya segala apa sudah terlupakan olehnya, yang dipikirkan hanya meninggalkan Kang Giok-long.

Tapi mendadak ia menubruk ke dalam pelukan seseorang.

Tanpa memandang juga Thi Sim-lan tahu siapa orang ini.

Pakaian orang ini terasa halus dan licin, begitu licin sehingga melebihi licinnya ular berbisa.

Tangan orang ini pun lemas dan licin, dengan perlahan dia rangkul Thi Sim-lan dan berucap dengan suara lembut.

"Kenapa lari? Masa kau takut padaku."

Sekujur badan Thi Sim-lan terasa lemas lunglai dan menggigil. Sama sekali ia tiada tenaga lagi untuk mendorong. Dengan perlahan Giok-long meraba pundak Thi Sim-lan, katanya dengan perlahan.

"Katakan, sesungguhnya apa yang kau takutkan?"

Sebisanya Thi Sim-lan menenangkan hatinya yang berdebar.

Diam-diam ia memperingatkan dirinya sendiri agar bersabar, jika Kang Giok-long pura-pura bersikap ramah tamah, maka jangan sekali-kali boroknya dibongkar, kalau tidak, dari malu ia bisa menjadi marah dan itu berarti berbahaya baginya.

Maka ia pura-pura membanting-banting kaki dan mengomel.

"Aku tak peduli, tadi kau telah menakuti aku setengah mati, untuk apa kupedulikan kau."

Ia menyadari bukan tandingan Kang Giok-long, ia tahu dalam keadaan demikian senjata satu-satunya yang baik ialah omelan manja anak gadis. Benar juga, Kang Giok-long lantas tertawa, katanya.

"Kau memang gadis yang menyenangkan, pantas Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat tergila-gila padamu."

"Dan kau?"

Tanya Thi Sim-lan sambil menggigit bibir.

"Aku pun lelaki, melihat gadis menarik seperti kau masakah tidak terpikat? Cuma sayang, mereka berdua sudah ...."

"Kukira kau sendiri tak dapat membandingi mereka?"

"Menurut kau, bagaimana aku dibandingkan mereka?"

Tanya Giok-long sambil memicingkan mata.

"Mereka masih anak-anak, sedangkan kau ... kau sudah dewasa."

"Hah, pandanganmu ternyata tajam, sayang tidak kau katakan sejak dulu-dulu."

Berbareng ia rangkul si nona terlebih erat sehingga Thi Sim-lan merasa mual. Namun ia berlagak tertawa genit dan menjawab.

"Memangnya kau ini orang tolol sehingga perlu menunggu keterangan dariku?"

"Haha, betul, ucapanmu memang tepat,"

Seru Giok-long sambil bergelak.

"Bila lelaki ingin menunggu pengungkapan isi hati si perempuan, maka dia benar-benar teramat bodoh."

Di tengah embusan angin malam yang semilir, di tengah kegelapan yang sunyi, dalam pelukannya terdapat nona selembut dan secantik ini ...

betapa pun lihainya Kang Giok-long tentu juga lunak hatinya.

Maka suara Thi Sim-lan jadi semakin halus, katanya perlahan.

"Sekarang, biarlah kukatakan padamu, sesungguhnya sudah lama aku ...."

Sudah sekian lama ia bersiap-siap, kedua tangannya sudah penuh tenaga, sekuatnya ia terus memukul ke pinggang Kang Giok-long.

Akan tetapi baru tangannya bergerak, tahu-tahu Kong-cing-hiat di atas pundak kanan kiri telah kena dicengkeram oleh Kang Giok-long sehingga tenaga tak dapat dikerahkan sama sekali.

Tangan Thi Sim-lan menjadi lemas, hati pun dingin.

Kang Giok-long, setan iblis ini, ternyata sudah sejak tadi mengetahui jalan pikiran si nona.

Dia merasa tangan Kang Giok-long terus merosot ke bawah melalui punggungnya dan sekaligus menutuk pula beberapa Hiat-to penting di bagian situ.

Seketika satu jari pun Thi Sim-lan tak dapat bergerak lagi.

Sementara itu tangan Kang Giok-long masih terus bekerja, tiada hentinya tangannya "main"

Kian kemari di bagian tubuh Thi Sim-lan sambil tertawa terkekeh-kekeh. Ucapnya.

"Kutahu sudah lama kau suka padaku, maka malam ini betapa pun takkan kukecewakan keinginanmu."

"Kau ... kau setan iblis, kau berani ...."

Teriak Thi Sim-lan dengan suara parau. Giok-long tertawa ngikik, katanya.

"Apakah kau menyesal sekarang? Cuma sayang, andaikan menyesal juga sudah terlambat."

Thi Sim-lan menggigit bibir kencang dan tidak bersuara, ia tahu dalam keadaan demikian, berteriak atau meronta juga tiada gunanya, bahkan akan lebih merangsang nafsu binatang Kang Giok-long.

Sejak kecil Thi Sim-lan hidup merana, sudah terlalu banyak mengalami penderitaan lahir dan batin, ia paham bilamana seorang dalam keadaan tak berdaya dan tak dapat melawan, maka terpaksa harus terima nasib.

Dan sekarang ia pun siap menerima yang akan menimpanya.

Ia memejamkan mata, air mata bercucuran dengan derasnya.

Bibirnya sudah berdarah, hatinya sedang menjerit.

"O, Siau-hi-ji ... Hoa Bu-koat, maafkanlah aku!"

Tak terduga, pada saat berbahaya itulah, tiba-tiba tangan Kang Giok-long tidak bergerak lagi.

Belum lagi Thi Sim-lan mengetahui apa yang terjadi, tahu-tahu Kang Giok-long mendorongnya pergi.

Karena tak terduga-duga, Sim-lan jatuh terpelosot ke lantai.

Tapi segera ia lihat seorang perempuan.

Perempuan ini berbaju putih mulus, bermuka pucat, dengan mata tanpa berkedip sedang melototi Kang Giok-long.

Sorot matanya yang dingin itu tiada tanda-tanda marah dan juga tiada tanda-tanda duka.

Tapi siapa pun juga bilamana dipandang sekejap oleh sorot matanya ini, mungkin selama hidup takkan lupa.

Kang Giok-long bertepuk tangan, katanya dengan menyengir.

"Budak ini menganggap aku orang tolol dan hendak menipu aku, tentu saja harus kuhajar adat padanya."

Perempuan itu masih melototi dia dan tidak bersuara.

"Kau cemburu?"

Dengan cengar-cengir Giok-long berkata pula sambil mendekati perempuan itu dan mencolek pipinya, katanya pula.

"Kau tidak perlu marah dan juga tidak perlu cemburu, kau tahu yang benar-benar kusukai dan kudambakan hanya dikau seorang."

Perempuan itu tidak bergerak sama sekali dan membiarkan pipinya diraba Kang Giok-long, ia berdiri seperti patung.

"Kau masih marah dan tidak percaya ucapanku?"

Tanya Giok-long pula. Akhirnya perempuan itu membuka suara, katanya sambil melotot.

"Aku tidak peduli kau dusta padaku atau tidak, pokoknya, sejak kini bilamana kulihat kau menyentuh satu jari saja anak perempuan lain, maka seketika kau kubunuh, habis itu aku pun akan mati di sampingmu."

Adalah jamak kata-kata demikian diucapkan kaum perempuan yang sedang marah, tapi sekarang perempuan yang mengucapkan kata-kata pedas ini ternyata tetap hambar dan dingin-dingin saja sikapnya.

Tidak perlu diterangkan lagi, perempuan ini tentu saja Thi Peng-koh adanya.

Kang Giok-long melelet lidah, katanya dengan tertawa.

"Wah kau ini terlalu banyak berpikir. Punya istri secantik kau masa aku mau mengincar perempuan lain lagi?"

Sembari bicara ia terus merangkul Peng-koh serta mencium pipinya beberapa kali. Sorot mata Thi Peng-koh yang dingin itu akhirnya cair juga. Dia menghela napas, katanya.

"Asalkan kau senantiasa baik padaku, tak peduli perbuatan jahat apa yang kau lakukan aku pun tak peduli, yang penting dalam urusan kita ini kau tidak dusta padaku, maka urusan lain biarpun kau bohong padaku juga tidak menjadi soal bagiku."

Dia menunduk, matanya sudah rada basah, dengan perlahan dia menyambung pula.

"Kau tahu, bukan saja engkau ini lelaki pertama selama hidupku ini, bahkan kaulah orang pertama yang begini mesra padaku. Aku tidak peduli apakah tingkahmu ini setulus hati atau pura-pura belaka. Yang penting asalkan kau selalu begini padaku, maka puaslah hatiku, biarpun kau berbuat kejahatan lain juga aku ... aku ...."

Dia menggigit bibir dan tidak dapat bersuara pula. Thi Sim-lan memandangi dia dan mengikuti apa yang diucapkan Thi Peng-koh, diam-diam ia merasa gegetun, pikirnya.

"Sungguh perempuan yang harus dikasihani, ia pasti perempuan yang sangat kesepian, sampai-sampai dia sudah tahu bahwa Kang Giok-long cuma pura-pura mencintai dia, tapi ia rela menerimanya. Apakah selama hidupnya ini sudah dilewatkan dengan hampa dan sunyi sehingga dia sangat takut ditinggal pergi, tidak berani lagi hidup terpencil ...."

Hati Thi Sim-lan ikut pedih dan juga solider.

Ia merasa anak perempuan ini juga lebih malang daripada dirinya.

Bilamana seorang perempuan melihat perempuan lain yang lebih susah daripada dirinya, maka sering-sering dia akan melupakan keadaan dan penderitaannya sendiri.

Hal ini tak mungkin terjadi pada kaum lelaki.

Yang bisa terjadi pada kaum lelaki adalah bilamana waktu berjudi dilihatnya orang lain mengalami kekalahan lebih mengenaskan daripadanya, maka hatinya akan merasa senang.

*** (.

) Di bawah patung pemujaan di rumah pendopo itu ada sebuah jalan rahasia.

Jalan rahasia ini dapat menembus ke beberapa kamar di bawah tanah.

Namun kamar di bawah tanah ini tidak lembap dan gelap seperti tempat lain, hakikatnya kamar ini malahan jauh lebih indah dan mewah daripada tempat tinggal kebanyakan orang.

Dan Thi Sim-lan lantas diantar Thi Peng-koh ke suatu kamar di bawah tanah yang bagus itu.

Segera ia mendapatkan bahwa "si baju hitam"

Yang dicarinya itu sudah berada lebih dulu di rumah itu.

Tubuhnya meringkuk di suatu kursi, agaknya Hiat-tonya telah ditutuk orang.

Tapi ini belum membuat Sim-lan terkejut, malahan hal ini boleh dikatakan sudah dalam dugaannya, yang membuatnya terkesiap adalah gadis jelita yang duduk di depan si baju hitam.

Gadis ini mempunyai mata besar dan jeli, cuma sayang sorot mata yang seharusnya sangat bening ini kini penuh diliputi sinar buram seperti orang linglung.

Dengan termangu-mangu ia memandangi si baju hitam, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

Sebaliknya si baju hitam juga sedang memandangnya dengan terkesima.

Buyung Kiu.

Ya, gadis linglung ini memang Buyung Kiu adanya.

Mengapa ia pun berada di sini?

Tanpa terasa Thi Sim-lan berseru kaget.

Kang Giok-long tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya.

"Di sini juga ada seorang sahabatmu bukan?"

Sim-lan menggigit bibir sekencangnya, syukur makian tidak sampai tercetus pula dari mulutnya. Dengan tertawa Giok-long berkata pula.

"Cuma sayang dia tidak kenal kau lagi. Seumpama kau hendak menegurnya juga dia takkan menggubris padamu. Tentunya kau pun tahu akibat perbuatan siapa sehingga dia berubah jadi begini."

La mendekati si baju hitam alias Oh-ti-tu, serunya sambil tertawa.

"He, saudara Ti-tu, kembali seorang kawan datang menjengukmu, kenapa kau tidak menggubris orang?"

Baru sekarang Oh-ti-tu seperti terjaga dari impiannya, ia terkejut melihat Thi Sim-lan.

"He, kau? Meng ... mengapa kau pun datang ke sini?"

Sim-lan tersenyum pahit, jawabnya.

"Sebenarnya kami ... kami ingin memberi bantuan padamu."

"Haha, bagus, bagus!"

Kang Giok-long bergelak tertawa.

"Kiranya kedatanganmu ini ingin menolong Oh-ti-tu, sedangkan Oh-ti-tu datang buat menolong Buyung Kiu, sekarang orang yang hendak menolong orang justru perlu menunggu pertolongan orang."

Dia menengadah dan tertawa latah, lalu menyambung pula.

"Cuma sayang di seluruh dunia ini mungkin tiada seorang pun yang mampu menolongmu."

Dengan geregetan Thi Sim-lan mendamprat.

"Tapi jangan lupa, kan masih ada Hoa-kongcu …."

"Maksudmu Hoa Bu-koat?"

Kang Giok-long menegas dengan tertawa terpingkal-pingkal.

"Padahal saat ini Hoa Bu-koat sendiri juga sedang menunggu pertolongan orang."

"Hm, kau ingin menipu aku?"

Jengek Sim-lan.

"Menipu kau? Memangnya kau sangka di dunia ini tiada orang yang sanggup mengatasi Hoa Bu-koat?"

"Paling sedikit kau sendiri belum mampu."

"Aku tidak mampu, memangnya tiada lagi orang lain?"

Jawab Giok-long dengan tenang-tenang saja. Meski lahirnya Thi-Sim-lan cukup yakin akan kemampuan Hoa Bu-koat, tapi diam-diam ia pun tegang, tanyanya.

"Siapa?"

"Kau tidak perlu tahu namanya, cukup kuberitahukan padamu, apabila Hoa Bu-koat ketemu dia maka dapat diumpamakan Kau-ce-thian (si kera sakti) kebentur Ji-lay-hud (sang Budha), betapa pun dia takkan mampu lolos dari telapak tangannya,"

Baca Juga: Antara Dendam Dan Asmara Kho Ping Hoo

Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert