Eps 8 Bakti Pendekar Binal - Khu Lung
Baca online Bakti Pendekar Binal - Khu Lung
Cersil Bakti Pendekar Binal - Khu Lung.
Tutur Giok-long sambil memicingkan mata.
*** (.
) Di tempat lain, akhirnya Hoa Bu-koat telah melepaskan belenggu yang merantai leher Pek-hujin itu.
Sebenarnya sudah sejak tadi-tadi belenggu itu dapat dibukanya, tapi dari badan Pek-hujin teruar bau harum yang khas membuat jantung Hoa Bu-koat berdebar keras sehingga tangan menjadi rada lemas.
Ditambah lagi leher Pek-hujin terasa hangat, halus dan licin, begitu tangan Bu-koat menyentuhnya, seketika Pek-hujin mengkirik-kirik sambil nyekikik.
"Hihihi, jangan mengkilik-kilik badanku, aku aku tidak tahan ... aku geli,"
Demikian keluh Pek-hujin sambil tertawa genit.
Sudah tentu Bu-koat bermaksud membela diri dengan menyatakan dia tidak pernah menggelitik nyonya itu, tapi mukanya menjadi merah dan tidak sanggup bersuara.
Semakin dia berlaku hati-hati, tangannya justru menyentuh leher orang dan suara tertawa Pek-hujin pun bertambah keras sehingga sekujur badan seakan-akan ikut berguncang.
Diam-diam Bu-koat gegetun, batinnya.
"Mengapa perempuan tidak tahan geli?"
Entah mengapa, bilamana melihat Pek-hujin gemetar saking gelinya, tanpa terasa hatinya juga rada-rada guncang. Pemuda seusia Bu-koat ini dengan sendirinya belum tahu bahwa "takut geli"
Juga merupakan semacam senjata merayu kaum wanita.
Hanya perempuan yang bermaksud memikat seorang lelaki barulah bisa merasa geli.
Bila perempuan itu tiada maksud memikat si lelaki, biar dikerjai bagaimana pun oleh lelaki juga dia takkan geli.
"Pengetahuan umum"
Ini cukup dipahami oleh kaum lelaki yang sudah cukup berpengalaman.
Setelah berkutak-kutek sekian lamanya, akhirnya gembok rantai itu dapatlah dibuka, Hoa Bu-koat sudah mandi keringat seolah-olah habis perang tanding mati-matian.
"Sekarang Hujin dapat berdiri bukan?"
Kata Bu-koat sambil menghela napas lega. Tapi Pek-hujin masih terkulai lemas di atas onggokan jerami, ucapnya dengan terengah-engah.
"Mana aku sanggup berdiri sekarang?"
Keruan Bu-koat melengak bingung, tanyanya.
"Ken ... kenapa tidak sanggup berdiri?"
"Masa ... masa kau tidak tahu?"
Ucap Pek-hujin dengan lirikan genit.
"Tidak, aku tidak paham,"
Jawab Bu-koat.
"Tolol, masa tak dapat kau lihat? Saat ini pada hakikatnya aku tidak bertenaga sedikit pun,"
Ujar Pek-hujin sambil menghela napas gegetun. Sebutannya kepada Bu-koat dari "Kongcu"
Kini telah berubah menjadi "tolol". Bu-koat berdehem kikuk, katanya sambil menyengir.
"Tadi ... tadi Hujin bilang waktunya sudah mendesak, mengapa sekarang malah tidak terburu-buru lagi."
"Aku kan tidak sengaja,"
Ucap Pek-hujin.
"Jika kau yang terburu-buru, bolehlah memayang bangun aku."
Terpaksa Bu-koat menjulurkan tangannya untuk menyanggah bahu si nyonya.
Tapi Pek-hujin seperti orang lumpuh saja, mana dia sanggup menariknya bangun.
Malahan kalau dia tidak berdiri kuat-kuat, mungkin dia sendiri yang terseret jatuh ngusruk ke onggokan jerami.
Terpaksa Bu-koat memegang pinggang Pek-hujin.
Tapi sekujur badan Pek-hujin lantas menggeliat sambil tertawa nyekikik dan berseru.
"O, ge ... geli! Ai, rupanya kau pun tidak beres, sudah tahu aku takut geli, tapi kau sengaja menggelitik aku."
"Aku ... aku tidak sengaja,"
Kembali muka Bu-koat merah jengah. Pek-hujin mengerling genit dan mengomel.
"Siapa tahu kau sengaja atau tidak."
Bu-koat tidak berani memandangnya, ia berpaling ke arah lain dan berkata.
"Jika Hujin tidak lekas bangun, Cayhe akan ...."
"Kau akan apa? Memangnya kau cuma menolong orang setengah-setengah lantas hendak pergi begitu saja?"
Ucap Pek-hujin dengan tertawa genit.
"Tapi aku ... aku ...."
Bu-koat benar-benar tak berdaya sehingga tidak tahu apa yang harus diucapkan.
"Tolol,"
Omel Pek-hujin pula.
"lelaki segagah kau masakah bingung menghadapi urusan sekecil ini?"
"Habis bagaimana harus kulakukan menurut Hujin?"
Tanya Bu-koat.
"Jika tidak kuat memayang diriku, kenapa tidak kau pondong saja?"
Kata Pek-hujin dengan wajah bersemu merah dan dada yang montok itu berombak.
Jika Kang Giok-long yang menghadapi adegan seperti sekarang ini, mustahil kalau Pek-hujin tidak ditubruknya dan dirangkul.
Apabila Siau-hi-ji bisa jadi kontan Pek-hujin akan dipersen suatu tamparan, lalu ditanya apa maksudnya.
Akan tetapi Hoa Bu-koat bukanlah Kang Giok-long dan juga bukan Siau-hi-ji, pada hakikatnya dia anti seluruh perempuan di dunia ini, tapi ia pun tidak bersikap kasar terhadap perempuan, juga tidak mungkin marah kepada mereka.
Bahkan sampai detik ini dia belum merasakan bahwa perempuan yang genit dan lunglai ini sesungguhnya berpuluh kali lebih berbahaya daripada macan loreng yang mendekam di samping itu.
Dia cuma mengganggap sikap Pek-hujin itu hanya karena bergeloranya nafsu berahi seorang perempuan saja.
Ia merasa dirinya sekalipun tidak boleh menerima godaannya itu, tapi juga tidak boleh terlalu kejam padanya, sebab ia selalu merasa perempuan begini harus dikasihani.
Di Ih-hoa-kiong sendiri juga banyak terdapat perempuan yang begini.
Sebegitu jauh ia bersimpatik kepada mereka, apalagi ia pun merasakan, betapa pun orang kan juga "bermaksud baik"
Padanya?
Bilamana Siau-hi-ji mengetahui jalan pikiran Hoa Bu-koat, mustahil kalau gigi Siau-hi-ji tidak rontok karena tertawa terpingkal-pingkal.
Akan tetapi, apabila Siau-hi-ji juga dibesarkan di lingkungan seperti Hoa Bu-koat, jalan pikirannya tentu juga akan sama.
Begitulah Bu-koat terdiam sejenak dengan ragu-ragu, ia menghela napas, katanya kemudian dengan suara halus.
"Jika Hujin belum sanggup berdiri, biarlah Cayhe menunggu saja sebentar lagi."
Pek-hujin memandangi anak muda yang aneh ini dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas pula, diam-diam ia sangat heran. akhirnya ia tanya.
"Apakah benar kau tak bisa apa-apa dan cuma bisa menunggu saja?"
"Ya,"
Jawab Bu-koat.
"Jika sehari suntuk aku tak dapat berdiri?"
Tanya Pek-hujin sambil mengerling genit.
"Akan kutunggu juga satu hari."
"Kau dapat menunggu sekian lama?"
"Biasanya Cayhe cukup sabar."
Pek-hujin mengikik tawa, katanya.
"Bilamana tiga hari tiga malam aku tak dapat berdiri, apakah kau pun akan menunggu sekian lama?"
Hoa Bu-koat tetap tenang saja dan menjawab dengan tersenyum.
"Kuyakin Hujin pasti takkan membiarkan kutunggu sebegitu lama."
Pek-hujin menatapnya lekat-lekat, ucapnya sambil menggeleng.
"Sungguh tak kusangka bahwa kau ternyata orang seaneh ini ...."
Sampai di sini, mendadak ia menjerit tertahan terus menubruk ke pangkuan Hoa Bu-koat. Keruan Bu-koat kaget, serunya.
"Hujin ...."
"Wah celaka!"
Seru Pek-hujin gemetar.
"Sua ... suamiku pulang."
Mau tak mau berubah pucat juga Bu-koat, serunya khawatir.
"Di ... di mana?"
"Itu ... itu ...."
Suara Pek-hujin tergagap dan badan gemetar. Maka terdengarlah suara seorang meraung di luar.
"Di sini!"
"Blang" , daun jendela sebelah kiri mendadak tergetar pecah berkeping-keping, seorang lelaki kekar tahu-tahu menerobos masuk melalui jendela yang sudah jebol itu. Perawakan lelaki ini tidak terlalu tinggi, tapi pundak lebar dan punggung tebal, gagah perkasa tampaknya, otot dagingnya kencang dan kekar sehingga memberi kesan orang yang memandangnya bahwa perawakannya jauh lebih tinggi besar. Dia memakai baju loreng pancawarna, muka hitam penuh cambang yang kaku, sorot matanya mencorong tajam. Sejak tadi Hoa Bu-koat berniat mendorong pergi Pek-hujin, tapi celakanya, nyonya itu justru merangkul lehernya dengan lebih erat, mati pun tidak mau lepas, tampaknya ketakutan setengah mati. Dalam keadaan demikian, mana Bu-koat tega mendorongnya pergi? Dengan sendirinya lelaki kekar itu mendelik menyaksikan adegan yang memanaskan hati itu. Bentaknya murka.
"Sundel, bagus sekali perbuatanmu!"
Ketika orang itu sudah berada di dalam, harimau loreng tadi lantas mendekatinya dengan menggoyang-goyang ekor seperti anjing piaraan.
Akan tetapi dengan sekali jotos lelaki itu telah membuat harimau yang bobotnya beratus kali itu hampir mencelat keluar, paling sedikit terpental dua-tiga meter jauhnya.
Berbareng ia berjingkrak dan memaki binatang itu.
"Keparat yang tak berguna, kusuruh kau awasi perempuan busuk ini, tapi kau hanya tidur melulu."
Harimau itu sedikit pun tidak punya kegarangan sebagai raja hutan lagi, setelah menggeliat bangun, dengan munduk-munduk dia mendekam di sana.
Melihat keadaannya yang lesu dan takut-takut itu, sungguh tidak lebih menarik daripada seekor anjing.
Terkesima Hoa Bu-koat menyaksikan kejadian itu, ia berkata.
"Harap Tuan jangan gusar dulu, dengarkanlah keteranganku ...."
Mendingan kalau dia diam saja, lantaran bicara lelaki itu jadi semakin murka, teriaknya.
"Keterangan apa? Keterangan kentut anjing! Baru saja kakiku melangkah keluar, kalian berdua anjing laki perempuan ini lantas main pat-gulipat. Memang sudah lama kutahu sundel ini adalah perempuan hina-dina, cuma tidak kusangka dia bisa penujui muka putih macam kau ini."
Bu-koat tidak tahan lagi, dengan mendongkol dia menjawab.
"Cara bicaramu hendaklah kira-kira sedikit ...."
"Kira-kira sedikit apa? Istriku berada dalam pelukanmu, apakah kau tahu kira-kira segala?"
Damprat lelaki itu. Melenggong juga Bu-koat, memang betul Pek-hujin masih didekap olehnya, terpaksa ia tidak dapat umbar rasa amarahnya, ucapnya dengan menyengir.
"Ah, ini ... ini salah paham belaka …."
"Salah paham kentut anjing!"
Bentak lelaki itu.
"Dengan mata sendiri kulihat perbuatan kalian, bukti nyata tertangkap basah, kau masih berani mungkir?"
"Menyaksikan sendiri belum tentu terjadi sungguh-sungguh,"
Ucap Bu-koat dengan menyesal.
"Sesungguhnya Cayhe bukanlah ... bukanlah manusia sebagaimana kau sangka. Jika Tuan tidak percaya, mengapa tidak tanya langsung kepada istrimu?"
Sebenarnya hati Bu-koat juga sangat gusar, tapi sebelum persoalannya dibikin jelas terpaksa ia harus bersabar dan tak dapat bertindak. Segera lelaki itu membentak.
"Baik! Nah, katakan, sundel, siapa bocah ini? Apa yang telah kalian lakukan tadi?"
Pek-hujin menghela napas panjang, jawabnya perlahan.
"Urusan sudah kadung begini, kukira juga tidak perlu membohongimu lagi. Dia ... dia ialah gen ... gendakku."
Sekali ini Bu-koat benar-benar melonjak kaget, sekuatnya dia mendorong nyonya itu, teriaknya.
"Apa katamu, Hujin?"
Jawab Pek-hujin dengan menunduk.
"Urusan kita cepat atau lambat toh harus diberitahukan padanya, ditutup lagi juga tiada gunanya."
Tidak kepalang terperanjat Hoa Bu-koat, teriaknya.
"Hujin, mengapa kau ... kau ...."
"Nah, masih berani mungkir lagi?"
Si lelaki tadi meraung murka.
"Anak jadah, apa abamu sekarang?"
Bu-koat jadi pucat, jawabnya.
"Tapi aku dan istrimu sesungguhnya belum ... belum kenal ...."
"Belum kenal?! Kentut makmu busuk! Belum kenal mana bisa saling peluk segala? ..."
Lelaki itu meraung murka pula.
"Ayo, mengakulah terus terang. Semenjak kapan kau bergendakan dengan biniku?"
"Bahkan baru malam ini ...."
Belum lanjut ucapan Bu-koat, dengan suara lantang Pek-hujin lantas menyela.
"Mengaku ya mengaku, kita takut apa? ...."
Lalu ia melotot ke arah suaminya sambil menjengek.
"Terus terang kuberitahukan padamu, gendakan kami sudah berlangsung dua tahun lebih, bahkan sudah hampir tiga tahun. Nah, kau mau apa?"
Kembali lelaki itu meraung-raung kalap sambil memukul dada sendiri, teriaknya murka.
"O, mati aku!"
Akan tetapi Bu-koat sedikitnya sepuluh kali lebih murka daripada dia, dengan terputus-putus ia berteriak.
"Pek-hujin, selamanya kita ... kita tiada permusuhan apa-apa, mengapa ... mengapa kau bicara begini? ...."
"O, permata hatiku, apa yang kita takuti?"
Jawab Pek-hujin dengan suara lembut.
"Urusan toh sudah kadung begini, akan lebih baik kalau kita membuka kartu dan bicara blak-blakan saja dengan dia."
Saking dongkol dan gusarnya hingga tangan Bu-koat terasa gemetar.
"Kau ... kau ...."
Ia tidak sanggup bicara lagi.
"Bicara terus terang juga tiada gunanya,"
Teriak lelaki itu dengan bengis.
"Bila kalian sepasang anjing buduk ini menghendaki mataku merem dan melek, huh, jangan kalian harapkan."
Sambil meraung, mendadak ia menerjang maju terus menghantamnya.
Pukulan yang dahsyat sehingga sumbu lampu tergoncang dan sinar bergoyang-goyang.
Kain baju Hoa Bu-koat sampai berkibar tersampuk oleh angin pukulannya.
Tak terduga oleh Bu-koat bahwa orang yang dogol dan tidak tahu aturan ini juga memiliki tenaga pukulan sedahsyat ini.
Sesungguhnya ia tidak ingin berkelahi untuk persoalan yang membuatnya penasaran ini, cepat ia mengegos, dengan mudah pukulan orang dapat dihindarkannya.
Lelaki itu tambah marah, bentaknya.
"Keparat, pantas kau berani mengerjai bini orang, kiranya kau memang punya sejurus dua!"
Di tengah bentakannya dua-tiga kali pukulannya dilontarkan pula.
Dengan gesit Bu-koat berkelit ke sana kemari, kalau bisa sungguh dia tidak ingin balas menyerang.
Akan tetapi pukulan lelaki ini sudah lihai lagi dahsyat, bahkan gayanya sangat ganas, betapa tinggi Kungfunya ternyata jauh di luar dugaan Bu-koat.
"Ayolah, balas serang dia!"
Demikian Pek-hujin berteriak-teriak di samping.
"Untuk apa mengalah padanya? Jika kau tidak membunuh dia, sebentar kau yang akan dibunuhnya."
Sesungguhnya Hoa Bu-koat juga sudah kepepet sehingga terpaksa harus balas menyerang.
Segera telapak tangan kiri menepuk ke depan, dengan gaya indah tangan kanan lantas memutar setengah lingkaran ke samping.
Inilah ilmu sakti "Ih-hoa-ciap-giok"
Yang termasyhur.
Tak peduli siapa pun juga bila kena ditarik oleh tenaga putaran yang aneh ini, maka serangan yang dilancarkan akan seluruhnya berbalik menghantam pada tubuh sendiri.
Tak terduga, mendadak lelaki itu meraung keras-keras seperti auman harimau, tubuhnya mendoyong mentah-mentah ke belakang, daya pukulannya yang dilontarkan tadi dihentikannya di tengah jalan.
Padahal tenaga pukulannya telah dilontarkan sedemikian dahsyat, tentu pertahanan bagian belakang sudah kosong.
Kalau tenaga pukulannya sampai menghantam balik, maka pasti tidak tahan.
Namun lelaki ini benar-benar sangat lihai, dia mampu mengelakkan dengan gaya yang sukar dibayangkan.
Sama sekali Bu-koat tidak menyangka orang ini mampu mematahkan ilmu sakti Ih-hoa-ciap-giok yang hebat itu.
Kecuali "Yan Lam-thian", lelaki inilah orang kedua yang mampu melawannya.
Tentu saja ia terkejut.
Lelaki itu menatapnya dengan menyeringai, katanya.
"Kiranya kau berasal dari Ih-hoa-kiong, pantas kau begini aneh .... Tapi melulu sedikit kemampuan ini masa kau dapat melawan aku Pek San-kun. Jika ibu gurumu disuruh menghadapi aku masih boleh juga."
Pukulannya lantas dilancarkannya pula, tenaganya lebih kuat dan tambah buas seakan-akan ilmu silat Ih-hoa-kiong yang mahasakti itu sama sekali tidak dihiraukan olehnya.
Setelah serangan pertama tak dapat menundukkan lawan, Bu-koat juga tidak berani sembarangan mengeluarkan lagi ilmu sakti Ih-hoa-ciap-giok, sebab ilmu ini tampaknya ringan saja permainannya, tapi sebenarnya sangat makan tenaga.
Akan tetapi kini mau tak mau dia harus balas menyerang.
Ilmu silat Pek San-kun yang lihai ini telah merangsang hasrat pertarungannya, mendadak bisa ketemu lawan tangguh, timbul juga keinginannya untuk menentukan kalah menang dengan lawan.
Pek-hujin lantas bersorak di samping.
"Betul, jangan takut padanya, demi membela diriku, pantas juga kau labrak dia!"
Seruan ini meski terasa tidak enak di telinga Hoa Bu-koat, tapi ibarat sudah berada di atas punggung macan, ingin turun juga tidak bisa lagi, sungguh dia tidak paham sebenarnya apa maksud tujuan Pek-hujin itu?
Sementara itu serangan Pek San-kun semakin dahsyat.
Lwekangnya cukup kuat, gaya serangannya berbahaya, semua ini belum menakutkan, yang paling hebat adalah perbawanya yang galak dan buas itu benar-benar seperti harimau hendak menerkam mangsanya dan membuat orang ngeri.
Akan tetapi Bu-koat juga melayani dengan tidak kurang lihainya, gerakannya gesit, gayanya indah, dia terus berputar kian kemari di seluruh ruangan, betapa pun dahsyat pukulan Pek San-kun tetap tak dapat menyenggolnya.
"Kekasihku, baru sekarang kutahu kau memiliki kepandaian sebagus ini,"
Seru Pek-hujin dengan tertawa genit.
"Punya pacar seperti kau ini, apalagi yang kutakuti? Lekas kau binasakan tua bangka ini dan kita akan menjadi suami-istri abadi dan hidup dengan aman tenteram."
Makin omong makin menusuk telinga, tapi Hoa Bu-koat tidak dapat menutup kuping, mau tidak mau ia harus mendengarkannya.
Meski ia cukup tenang, tidak urung juga rada terganggu konsentrasi pikirannya.
Sedangkan pukulan Pek San-kun yang mahadahsyat itu justru tidak mengizinkan dia lengah sedikit pun.
Mendadak Pek-hujin menjerit khawatir.
"He, awas, serangan berikutnya dengan cakar harimaunya akan mencengkeram hulu hatimu!"
Benar juga, di tengah raungannya yang keras, tangan Pek San-kun yang mirip cakar harimau itu betul-betul mencengkeram ke dada Hoa Bu-koat.
Serangan ini tidak kelihatan lihai, Bu-koat hanya menyurut mundur selangkah saja dan serangan itu pun terhindar.
Diam-diam ia merasa heran, ia tidak tahu mengapa Pek-hujin mesti menjerit mendadak.
Ia tahu di balik semua ini pasti tersembunyi suatu permainan.
Namun keadaan tidak memberi kesempatan baginya untuk merenungkan hal itu, baru saja kakinya melangkah mundur, antara belakang dengkul kanan-kiri masing-masing telah terkena satu titik Am-gi atau senjata rahasia.
Rasanya seperti digigit nyamuk, tapi orangnya lantas roboh terjungkal.
Senjata gelap itu ternyata sudah memperhitungkan dengan jitu ke mana dia akan mundur dan seakan-akan sudah menantikannya di situ.
Suara sambaran senjata rahasia itu sangat lirih, ditambah lagi jeritan ngeri Pek-hujin dan raungan Pek San-kun, tentu saja Hoa Bu-koat tidak tahu.
Bahkan setelah roboh dia masih tidak tahu bahwa yang menyambitkan senjata rahasia itu ialah Pek-hujin sendiri.
Sementara itu Pek-hujin telah menubruk maju dan merangkul leher Pek San-kun sambil berseru dengan terengah-engah.
"Tadinya kusangka telah jatuh cinta pada orang lain, tapi setelah kalian berkelahi baru kuyakin yang benar-benar kucintai tetaplah engkau. Aku dapat membunuh seluruh lelaki di dunia ini, tapi tidak dapat menyaksikan orang lain mengusik sebuah jarimu."
Bu-koat menghela napas, ia memejamkan mata dan diam-diam mengeluh.
"O, perempuan ...."
Baru sekarang ia mengerti sebab apa Siau-hi-ji merasa sakit kepala terhadap perempuan. Didengarnya suara "plok"
Yang keras, suara muka digampar, terdengar Pek-hujin menjerit perlahan. Jelas dia kena ditempeleng dengan keras oleh Pek San-kun. Menyusul terdengar Pek San-kun mengumpat dengan gusar.
"Kau perempuan hina-dina, perempuan busuk! Memangnya baru sekarang kau sadar yang kau cintai adalah diriku?!"
Setiap bicara satu kalimat, berbareng ditampar lagi satu kali dan Pek-hujin pun lantas menjerit ngeri.
Diam-diam Bu-koat mengeleng kepala.
Ia merasa makian Pek San-kun itu memang tidak salah, betapa pun "Pek-hujin"
Itu memang perempuan murahan.
Meski dia tidak setuju lelaki memukul perempuan, tapi ia pun merasa nyonya ini memang perlu dihajar secara setimpal, cuma ia sendiri tidak sudi memandangnya lagi.
Padahal kalau sekarang dia mau membuka mata dan memandang ke sana, maka pasti dia akan terheran-heran.
Suara napas Pek-hujin seperti sangat menderita, tubuhnya meringkuk menjadi satu, namun air mukanya tiada sedikit pun mengunjuk rasa sakit, malahan sorot matanya memancarkan cahaya aneh, cahaya kepuasan.
Setiap digampar oleh tangan Pek San-kun, sama sekali dia tidak menghindar, bahkan seakan-akan sengaja memapak pukulan itu.
Semakin ganas cara menghajar Pek San-kun, semakin terang pula sinar mata Pek-hujin.
Tubuhnya yang meringkuk itu mulai menggeliat-liat.
Sambil memukul Pek San-kun masih terus mencaci-maki.
"Kau perempuan sundel, perempuan pecomberan, selanjutnya kau berani lagi mengkhianati aku atau tidak?!"
"Tidak, tidak berani lagi!"
Teriak Pek-hujin dengan gemetar.
"Sungguh tidak berani lagi. Selain engkau, aku tidak menghendaki lelaki lain pula."
"Apakah kau sudah puas dihajar?"
Damprat Pek San kun.
"O, kekasih, tega ... tega amat engkau! Biarlah kau pukul mati aku saja!"
Demikian keluh Pek-hujin.
Mendadak ia menubruk maju, kaki Pek San-kun dipeluknya erat-erat.
Tapi sekali Pek San-kun mendepak, kontan tubuh Pek-hujin mencelat ke sana dan menubruk dinding, setelah terguling pula, akhirnya terkapar tak bergerak lagi.
Hanya mulutnya saja masih mengeluarkan rintihan lirih.
Diam-diam Hoa Bu-koat menghela napas gegetun.
Didengarnya Pek San-kun tertawa keras pula, makin lama makin dekat dan akhirnya berada di sebelahnya.
Tapi mata Bu-koat terpejam lebih rapat, ia tidak ingin bicara, tidak ingin mendengar dan juga tidak ingin melihat.
Dengan tertawa latah Pek San-kun berkata.
"Nah, sekarang tentunya kau tahu betapa lihainya biniku, barang siapa menyentuh dia pasti celaka, usiamu masih muda belia dan tidak mirip orang tolol, mengapa kau sampai berbuat tidak senonoh begini?"
Bu-koat hanya menggereget dan tidak memberi bantahan apa pun.
Dalam keadaan demikian, ia tahu biarpun membantah dan berdebat cara bagaimana pun juga tiada gunanya.
Pek San-kun lantas menjambret bajunya terus diseret pergi.
Maka bicaralah Bu-koat.
"Pek San-kun, jika kau seorang lelaki sejati, bila sekali bacok kau bunuh diriku, tentu aku malah berterima kasih padamu, tapi kalau kau bermaksud menghina aku, cara demikian bukanlah perbuatan seorang ksatria tulen."
"Hah, kau ingin mati?"
Tanya Pek San-kun dengan tertawa.
"Urusan sudah begini, paling-paling juga cuma mati saja,"
Jawab Bu-koat.
"Lalu bagaimana bila aku tidak mematikan kau?"
Kata Pek San-kun.
Bu-koat menghela napas, ia memejamkan mata dan tidak mau berucap pula.
Ia merasa tubuhnya ditaruh di atas sebuah dipan oleh Pek San-kun, lalu dibalik sehingga bertiarap, menyusul celananya lantas dipelorotkan.
Keruan Bu-koat kaget dan berteriak.
"He, apa ... apa kehendakmu?"
Sebisanya ia berusaha mendongak dan membuka matanya.
Tertampak Pek San-kun berdiri di samping dipan sambil cengar-cengir, air mukanya tidak menampilkan maksud jahat, tangannya memegang sepotong besi tapal kuda, katanya.
"Racun senjata rahasia biniku ini sangat keji, sampai-sampai Yan Lam-thian dulu juga pusing kepala menghadapinya. Sekarang kedua kakimu masing-masing terkena sebuah senjata rahasianya, jika tidak kusedot keluar dengan besi sembrani ini, maka selama hidupmu ini jangan harap akan dapat berjalan pula."
Kejut dan sangsi Bu-koat, tanyanya.
"Meng ... mengapa kau menolong aku?"
Pek San-kun mendelik, ia balas bertanya.
"Mengapa aku tidak boleh menolongmu?"
"Tapi ... tapi ...."
Bu-koat tergegap.
"Hahaha! Memangnya kau kira aku mau percaya kepada ocehan biniku?"
Tiba-tiba Pek San-kun bergelak tertawa pula.
Dalam pada itu dua buah jarum kecil selembut bulu kerbau telah disedotnya keluar dengan besi sembraninya dari belakang dengkul Hoa Bu-koat, meski lembut sekali jarum itu, namun ketika menancap di siku dengkul Bu-koat telah membuat tenaganya hilang sama sekali, bahkan satu jari pun tak dapat bergerak.
Kini setelah jarum itu dikeluarkan, secara ajaib tenaga Bu-koat lantas pulih seketika, segera ia melompat bangun.
"Jika kau tidak percaya ucapan istrimu, mengapa ... mengapa kau tadi marah-marah dan memukuli dia?"
Tanya Bu-koat dengan terbelalak. Pek San-kun angkat pundak, jawabnya dengan tertawa.
"Aku sengaja berbuat begitu baginya."
"Kau sengaja?"
Seru Bu-koat terheran-heran.
"Ya, masa kau heran?"
Bu-koat menghela napas, ucapnya.
"Terus terang, selama hidupku belum pernah kulihat kejadian yang lebih aneh daripada kejadian tadi."
Bahwa Pek-hujin dirantai oleh suaminya sendiri seperti hewan sehingga perlu minta pertolongannya, hal ini sudah luar biasa.
Setelah Pek-hujin dibebaskan dari belenggu, nyonya ini malahan memfitnah dan menyerangnya dengan jarum berbisa, ini pun sama sekali tak terduga.
Dan sekarang Pek San-kun berbalik menolongnya dengan mengeluarkan jarum beracun itu serta memberitahukan apa yang terjadi sesungguhnya.
Semua ini membuatnya tidak habis mengerti dan bingung.
Pek San-kun lantas tepuk-tepuk pundaknya dan berkata.
"Anak muda, aku pun tahu kau telah dibuat bingung, duduk dan biarlah kuceritakan lebih jelas."
"Ya, Cayhe memang ingin mohon penjelasan,"
Bu-koat tersenyum pahit. Pek San-kun lantas menghela napas gegetun dan juga tersenyum getir, tuturnya.
"Kau tahu, di dunia ini ada setengah orang yang berwatak aneh, bilamana orang menghormat dan mencintai dia, maka dia akan menderita malah. Sebaliknya kalau dia diperlakukan secara kasar, secara sadis, dia justru malah merasa senang dan nikmat."
Tentu saja Bu-koat heran juga geli, katanya.
"Masa di dunia ini ada orang macam begini?"
"Sudah tentu ada,"
Pek San-kun menyengir.
"Istriku itulah salah satu di antaranya."
"Oo!"
Baru sekarang Bu-koat paham.
"Sungguh sukar dipercaya bila kuceritakan,"
Tutur Pek San-kun pula.
"Hidup istriku ini tiada mempunyai kesukaan lain, hobinya cuma minta dipukuli. Bila kupukul dia, makin keras makin senang dia. Bahkan esoknya semangatnya akan berkobar-kobar dan wajah berseri-seri. Sebaliknya kalau beberapa hari tidak dipukul, maka dia akan, lesu, malas, makan minum rasanya tidak enak, bahkan bicara pun sungkan."
Bu-koat melongo kesima mendengarkan cerita yang aneh ini.
"Masa ... masa dia bisa begitu?"
Tanyanya kemudian.
"Konon sejak kecil dia sudah begitu. Sejak kecil dia suka orang lain memperlakukan dia dengan sadis, bahkan ia sendiri pun berbuat kasar atas dirinya sendiri. Sampai usia sudah lanjut sifatnya ini tidak berubah, bahkan bertambah menjadi-jadi, sampai-sampai tempat tinggal bisa juga tidak betah dan sengaja mengatur tempat tinggalnya serupa kandang kuda, malahan minta aku membelenggu dia dengan rantai."
"O, kiranya ia sendiri yang minta diperlakukan begitu, tadinya Cayhe mengira ...."
"Memangnya kau kira aku ini orang yang tak berperikemanusiaan?"
"Soalnya Cayhe tidak pernah membayangkan di dunia ini ada orang yang sukarela diperlakukan sebagai hewan,"
Ujar Bu-koat dengan gegetun.
"Nah, meski kutahu penyakitnya itu, terkadang aku toh tidak tega turun tangan menyiksanya, maka dia lantas sengaja membuat marah padaku, tujuannya agar aku memukul dia."
"Apa yang terjadi tadi tentunya juga lantaran kebiasaannya itulah,"
Ujar Bu-koat dengan gegetun.
"Dalam hal ini masih ada suatu sebab lainnya,"
Kata Pek San-kun.
"O? Ada sebab lain?"
Bu-koat heran.
"Lantaran usianya makin menanjak, dia selalu khawatir aku akan semakin bosan padanya dan menyukai perempuan lain, maka sering kali dia sengaja membuat aku cemburu ...."
"Padahal perbuatan Pek-hujin ini hanya berlebihan belaka,"
Tiba-tiba Bu-koat menyela dengan tertawa.
"Cintamu kepada istri, dari awal hingga akhir, tentunya tidak pernah berubah, betul tidak?"
"Dia sendiri tidak tahu, dari mana kau malah tahu?"
Tanya Pek San-kun.
"Sebab kalau engkau tidak mencintai dia hingga merasuk tulang sumsum, tentu takkan timbul kejadian seperti tadi."
"Hahahaha!"
Pek San-kun menengadah dan bergelak tertawa.
"Memang betul, demi kepuasannya ternyata sahabat yang harus kena getahnya. Kejadian ini betapa pun adalah kesalahan kami suami istri, hukuman apa yang kiranya setimpal boleh silakan sahabat menyebutkannya."
Bu-koat membetulkan pakaiannya, ucapnya dengan tersenyum.
"Bicara terus terang, terhadap kejadian tadi Cayhe memang rada mendongkol, tapi setelah mendengar penjelasanmu barusan, betapa pun aku menaruh simpatik atas keadaanmu dan sangat kuhormati pula kesetiaanmu dalam hubungan antara suami dan istri. Apalagi sekarang aku sudah menjadi tawanan kalian, yang harus pasrah nasib adalah diriku ini."
"Ah, ucapan sahabat teramat gawat,"
Ujar Pek San-kun dengan tertawa. Bu-koat memberi hormat, lalu berkata pula.
"Apa pun juga, kejadian tadi pasti takkan kuungkap lagi, kuharap semoga kalian suami istri hidup bahagia hingga tua ...."
Mendadak dia tidak melanjutkan ucapannya, sebab baru dua-tiga tindak dia melangkah, tiba-tiba dirasakan langkah kakinya ada sesuatu pula yang tidak beres.
Walaupun kaki dapat bergerak, namun tenaga terasa sukar dikerahkan, hanya sebatas pinggang, lalu macet.
Tapi Pek San-kun masih memandangnya dengan tertawa, ia membalas hormat dan menjawab.
"Apakah sahabat hendak berangkat sekarang?"
Bu-koat menarik napas panjang-panjang, jawabnya kemudian.
"Barangkali engkau ada pesan lain pula?"
"Apa pun juga aku merasa tidak enak terhadapmu, mana berani kubikin repot padamu lagi?"
Jawab Pek San-kun.
"Jika begitu, mengapa diam-diam kau mengerjakan sesuatu di bagian pinggangku?"
Tanya Bu-koat. Pek San-kun seperti terkejut dan berseru.
"He, apa betul? Ah, mungkin tadi waktu kusedot jarum itu, karena kurang hati-hati sehingga jarum itu kembali menancap di sesuatu Hiat-tomu lagi."
"Ya, rasanya seperti di bagian Jiau-yau-hiat,"
Kata Bu-koat dengan tenang. Pek San-kun tampak merasa khawatir, ucapnya sambil menggosok-gosok tangan.
"Wah, repot jika berada di dekat Jiau-yau-hiat, sungguh aku menjadi takut untuk mencabut pula jarum itu, bila kurang hati-hati, bisa jadi jarum itu tambah menyusup lebih dalam ke tubuhmu, maka malaikat dewata sekalipun tidak sanggup menolongmu, terpaksa engkau harus tersiksa tertawa latah selama tiga hari dan akhirnya akan binasa."
Bu-koat terdiam sejenak, katanya kemudian.
"Jika demikian, terpaksa kumohon diri untuk mencari jalan lain saja."
"Tapi kalau kau terus bergerak, jarum lembut itu pun akan bergerak mengikuti jalan darahmu dan langsung masuk Jiau-yau-hiatmu, biarpun kau akan bertindak dengan hati-hati juga takkan melangkah lebih jauh daripada lima puluh tindak."
Bu-koat berhenti dan balik tubuh perlahan, dengan tenang ia tatap orang, sampai lama sekali barulah ia menghela napas panjang, ucapnya dengan tersenyum getir sambil menggeleng kepala.
"Tindak tanduk kalian suami istri sungguh sukar dimengerti. Bahwa istrimu tidak suka jadi kuda, sedangkan engkau ...."
"Bilamana sahabat merasakan ada sesuatu yang sukar dimengerti atas diriku, silakan bicara terus terang, pasti akan kujelaskan,"
Ucap Pek San-kun dengan tertawa.
"Tadinya kukira engkau pasti turun tangan membunuh diriku, tak tahunya engkau malah menolongku, bahkan tanpa tedeng aling-aling engkau membeberkan rahasia pribadi istrimu padaku. Kini, setelah kupandang engkau sebagai sahabat, engkau malah turun tangan keji mengerjai diriku. Kejadian demikian, bila tidak kualami sendiri, sungguh sukar untuk dipercaya."
Akhirnya Pek San-kun tertawa terpingkal-pingkal, katanya kemudian dengan napas memburu.
"Karena sahabat ingin tahu, terpaksa harus kukatakan terus terang. Apa yang kulakukan ini hanya ada suatu sebab."
"Mohon memberi penjelasan,"
Pinta Bu-koat.
"Bilamana sahabat adalah orang lain, bukan saja engkau takkan kubikin susah, bahkan pasti akan kuantar pergi dengan hormat. Tapi setelah diketahui sahabat adalah anak murid Ih-hoa-kiong, maka persoalannya menjadi lain."
"Mengapa menjadi lain?"
Tanya Bu-koat. Pek San-kun menatapnya lekat-lekat sejenak, kemudian baru berkata pula.
"Apakah betul sampai saat ini kau belum mengetahui siapa diriku ini?"
"Memang pengalamanku terlalu dangkal,"
Jawab Bu-koat.
"O, maklum juga, anak murid Ih-hoa-kiong dengan sendirinya takkan memperhatikan gerak-gerik orang Kangouw,"
Ujar Pek San-kun dengan tertawa.
"Tapi nama ‘Cap ji-she-shio’ masakah tak pernah kau dengar?"
"Aha, memang betul,"
Seru Bu-koat, baru sekarang ia menyadari duduk perkaranya.
"Hou (harimau) alias San-kun, pantas engkau menamakan dirinya sendiri harimau serta memelihara harimau sebagai penjaga. Be (kuda) adalah istri harimau, pantas pula istrimu tidak mau menjadi manusia dan lebih suka menjadi kuda."
"Hah, meski pengalamanmu tidak luas, tapi pengetahuanmu cukup banyak juga,"
Ujar Pek San-kun dengan tertawa. Mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung pula dengan menarik muka.
"Sekarang setelah kau tahu siapa diriku, tentunya kau tahu pula aku ini salah seorang dari Cap-ji-she-shio dan merupakan musuh bebuyutan Ih-hoa-kiong. Kini kau jatuh dalam cengkeramanku, masa kau tidak takut?"
Namun Bu-koat tetap tenang saja, jawabnya acuh.
"Bilamana engkau mau membunuh diriku, tentu engkau tadi takkan menolong aku, jika tadi engkau menolong aku, kuyakin engkau pasti mengharapkan sesuatu dariku. Kalau engkau mengharapkan sesuatu dariku, lalu apa yang perlu kutakuti pula?"
Kembali Pek San-kun bergelak tertawa, katanya.
"Sungguh tak tersangka mendadak kau menjadi begini pintar."
Habis tertawa, mendadak ia menarik muka dan berkata pula.
"Memang betul juga, aku memang mengharapkan sesuatu darimu, yakni asalkan kau menerangkan rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok, maka segera akan kubebaskanmu, bahkan apa yang kau pinta pasti akan kupenuhi."
Mendadak Hoa Bu-koat juga bergelak tertawa, ucapnya.
"Apabila engkau mengira rahasia Ih-hoa-ciap-giok dapat diperoleh dengan semudah ini, maka jelas engkau pasti akan kecewa."
Pek San-kun jadi kurang senang, katanya.
"Memangnya kau berani menolak?"
"Untuk membuat orang membuka mulut memang banyak caranya di dunia ini,"
Ujar Bu-koat dengan tenang-tenang saja.
"Ada yang mengancamnya dengan kematian, ada yang memaksa pengakuannya dengan penyiksaan, ada pula memancingnya dengan harta atau perempuan. Nah, boleh engkau mencobanya saja, lihat nanti apakah Cayhe akan buka mulut atau tidak."
Pek San-kun terdiam sejenak. Tiba-tiba ia tertawa dan berkata.
"Kutahu cara-cara ini tak dapat membuka mulutmu, apabila mengenai rahasia lain, bisa jadi dapat kubikin kau mengaku, tapi Ih-hoa-ciap-giok adalah ilmu perguruanmu yang khas, umpama kau membeberkannya dan kulepaskan kau, mungkin juga kau sendiri takkan hidup lama lagi, betul tidak?"
Ucapan yang sama sekali berbeda daripada maksudnya semula ini membuat Hoa Bu-koat menjadi heran.
"Jika demikian, lalu bagaimana kehendakmu?"
Tanyanya.
"Karena aku tak berdaya, maka aku pun tidak ingin membuang tenaga percuma,"
Ujar Pek San-kun dengan tertawa.
"Tampaknya terpaksa aku harus pergi saja dan habis perkara. Jika kau ingin tetap tinggal di sini, ya silakan tinggal saja. Bila ingin pergi, boleh juga, takkan kularang. Bila kau memerlukan aku, cukup kau berteriak saja dan segera aku akan datang."
Habis berkata, dia benar-benar melangkah pergi begitu saja.
Tentu hal ini di luar dugaan Bu-koat, seketika ia menjadi bingung malah.
Dilihatnya ketika sampai di ambang pintu, tiba-tiba Pek San-kun menoleh dan berkata pula dengan tertawa.
"Tapi kau pun jangan lupa, jangan sekali-kali kau melangkah lebih dari 50 tindak, kalau tidak, mati dengan tertawa kukira tidak enak rasanya, bahkan jauh lebih tersiksa daripada mati dengan cara lain."
Rumah yang tidak besar dan juga tidak kecil ini hanya ada sebuah pintu.
Bu-koat menyaksikan Pek San-kun keluar melalui pintu satu-satunya ini.
Mestinya dia dapat ikut keluar, tapi dia hanya melenggong di situ saja tanpa bergerak.
Ia tahu apa yang diucapkan Pek San-kun bukan gertakan belaka, meski dia dapat keluar, tapi ia pun tidak berani bertaruh dengan jiwanya sendiri, yakni bertaruh apakah dirinya mampu melangkah lebih jauh daripada 50 tindak.
Bukannya takut mati, dia cuma merasa hidupnya jauh lebih berguna daripada mati konyol, kalau keadaan belum perlu mengorbankan kematiannya, untuk apa dia harus bertaruh dengan jiwanya sendiri.
Dalam keadaan begini, kalau bisa berusaha hidup terus barulah orang yang benar-benar punya keberanian, sebaliknya jika ingin mati dan habis perkara, maka orang demikian adalah bodoh, pengecut.
Maklum, hidup terkadang memang jauh lebih sulit daripada mati, orang hidup harus berjuang, harus mempunyai tekad dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk itu diperlukan keberanian penuh.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara auman harimau yang keras dan berjangkitnya angin berbau amis, sinar lampu bergoyang-goyang seakan padam.
Saat lain tertampaklah harimau loreng itu telah muncul di ruangan situ.
Harimau itu kini sudah kembali pada kegarangannya semula.
Langkahnya kelihatan lambat-lambat, tapi membawa perbawa sebagai raja hutan yang menakutkan.
Dengan ilmu silat Hoa Bu-koat tentunya harimau bukan soal baginya, andaikan tidak dapat sekali hantam membinasakan raja hutan itu, tapi biarpun sepuluh ekor harimau muncul sekaligus juga belum tentu dapat menyenggol ujung bajunya.
Namun sekarang dia tidak mampu mengerahkan tenaga dalam, ia dalam keadaan lemas lunglai, tenaga untuk menyembelih ayam saja tidak ada apalagi tenaga untuk membunuh macan.
Kini harimau sudah muncul dan makin mendekat, terpaksa setindak demi setindak ia melangkah mundur.
Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya belasan tindak saja sudah mundur sampai di pojok.
Harimau sudah berada di depannya, ekor harimau menegak seperti tiang bendera, menyusul raja hutan ini pasti akan menerkam, jika sudah demikian mana Hoa Bu-koat mampu melawannya?
Keringat dingin telah berketes-ketes di jidat Bu-koat.
Dalam keadaan demikian, tampaknya kalau dia tak berteriak minta tolong kepada Pek San-kun, jelas badannya akan segera terkoyak-koyak di bawah cakar harimau.
Meski dia tidak rela mati dan menilai tinggi jiwanya, tapi orang seperti dia masa sudi berteriak memohon pertolongan orang?
Terdengar harimau meraung pula.
Pot bunga di meja sana tergetar jatuh dan "trang", pecah berantakan ....
*** (.
) Di tempat lain Kang Giok-long sedang melangkah ke luar sambil tertawa latah.
Kaki dan tangan Thi Sim-lan serasa beku demi mendengar suara tertawanya yang gembira itu.
Sim-lan tahu, meski keji amat hati Kang Giok-long, tapi nyalinya kecil, bilamana dia tidak yakin benar akan dapat mengatasi Hoa Bu-koat, saat ini dia takkan segembira itu.
Sedangkan Hoa Bu-koat, di manakah dia?
Hampir saja Thi Sim-lan menjerit, hati seperti hancur berkeping-keping.
Dia tidak khawatir bagi dirinya sendiri, tapi Hoa Bu-koat ....
Ya, Hoa Bu-koat ....
Maka bercucuranlah air matanya.
Mendadak terdengar Oh-ti-tu menjengek.
"Hm, perempuan, dasar perempuan. Hm, paling-paling mati saja, kenapa mesti menangis seduka itu."
"Kau ... kau kira aku berduka bagi diriku sendiri?"
Jawab Thi Sim-lan sambil menggigit bibir.
"Bukan untuk dirimu, memangnya untuk siapa?"
"Kau tidak tahu ... kau tak mungkin tahu,"
Sim-lan menggeleng sambil menangis. Mendadak Oh-ti-tu melotot, tanyanya.
"Memangnya tangismu ini demi bocah she Hoa itu?"
Thi Sim-lan menunduk, sahutnya perlahan.
"Ehm."
"Jika Siau-hi-ji yang mati, apakah kau pun seduka ini?"
Teriak Oh-ti-tu. Sekonyong-konyong Thi Sim-lan mengangkat kepalanya dan menatap si hitam ini sekian lamanya, tiba-tiba ia tersenyum pedih, katnya.
"Jika dia mati, kau kira aku dapat hidup terus?"
"Jika begitu, mengapa kau berduka pula bagi orang lain?"
Teriak Oh-ti-tu dengan gusar.
"Seorang perempuan hanya boleh berduka bagi seorang lelaki. Tentang lelaki lain akan mati atau hidup tidak seharusnya dipikirkan lagi."
Sim-lan menghela napas panjang, jawabnya dengan sedih.
"Isi hatiku tidak mungkin dipahami olehmu, selamanya, ya, selamanya takkan kau pahami, siapa pun takkan paham."
Dengan melotot Oh-ti-tu memandangi si nona sekian lama, tiba-tiba ia pun menghela napas dan berkata.
"Ya, betul juga, mungkin hati perempuan memang lebih lemah daripada lelaki, apabila aku ...."
Tiba-tiba Thi Sim-lan menyela.
"Jangankan Hoa Bu-koat, sekalipun kau yang mati juga aku akan berduka."
"Sebab apa?"
Tanya Oh-ti-tu.
"Sudah tentu lantaran kau adalah sahabat Siau-hi-ji."
Tiba-tiba Oh-ti-tu mendelik dan berseru.
"Apakah betul kedatanganmu ini adalah untuk menolong diriku?"
"Sudah tentu betul,"
Jawab Sim-lan. Oh-ti-tu terbelalak pula sekian lama, katanya kemudian sekata demi sekata.
"Apabila tanganku ini dapat bergerak, sungguh ingin kubeset kau secuil demi secuil."
Thi Sim-lan juga terbelalak heran, tanyanya.
"Sebab apa? Kudatang menolongmu, masa kau malah dendam padaku?"
"Orang she Oh ini selama hidupnya tidak pernah menerima budi orang setitik pun,"
Ucap Oh-ti-tu dengan gemas.
"Kini aku hampir mati, bilamana kuterima budi kebaikanmu ini, menjadi setan pun rasanya tidak tenteram."
Thi Sim-lan melengak, ucapnya kemudian.
"Ya, aku sangat memahami perasaanmu, engkau adalah seorang lelaki sejati."
"Hmk!"
Oh-ti-tu hanya mendengus saja. Thi Sim-lan berpaling memandang Buyung Kiu. Nona itu tampak berdiri mematung di sana, satu jari saja tidak bergerak seakan-akan memang tak dapat bergerak lagi selamanya.
"Tapi kau pun jangan lupa, kedatanganmu ini bukankah juga hendak menolong orang?"
Kata Thi Sim-lan dengan tersenyum pedih.
"Betul, kedatanganku memang untuk menolong dia!"
Teriak Oh-ti-tu.
"Tapi aku memang sukarela mati baginya. Selain dia, perempuan lain biarpun mati di depanku juga belum tentu sudi kujulurkan sebelah tanganku."
Ucapan ini benar-benar membuat Thi Sim-lan melenggong.
Sungguh tak terpikir olehnya bahwa manusia aneh yang berwatak angkuh dan dingin ini pun mempunyai perasaan tulus ikhlas, lebih-lebih tak tersangka bahwa dia bisa jatuh cinta kepada seorang nona yang linglung.
Oh-ti-tu berteriak pula dengan gusar.
"Hm, kau merasa heran bukan? Kau kira dia tiada harganya untuk dicintai lelaki bukan? .... Ketahuilah bahwa meski dia telah berubah begini, dia tetap berpuluh kali lebih berharga dan lebih menyenangkan daripada perempuan mana pun juga."
Thi Sim-lan menatapnya tajam-tajam dan berkata dengan rawan.
"Tapi betapa pun juga cintamu padanya, dia kan tidak tahu."
Oh-ti-tu hanya mendengus saja. Maka Thi Sim-lan menyambung pula.
"Sudah tahu begitu, kau tetap sangat baik padanya dan tetap mencintai dia?"
Dengan melotot gusar Oh-ti-tu menjawab tegas.
"Ketahuilah bahwa perasaanku terhadap dia tidak perlu diketahui olehnya, juga dia tidak perlu membalas dengan sikap yang sama. Aku hanya cinta kepadanya, cinta padanya tanpa syarat."
"Sekalipun kelak dia tidak suka padamu, bahkan pada hakikatnya tidak gubris dirimu, apakah kau tetap mencintai dia?"
Tanya Sim-lan.
"Betul,"
Teriak Oh-ti-tu.
"Kucinta dia bukan karena dia harus menjadi istriku, asalkan dia dapat hidup dengan baik, andaikan aku mati juga tidak menjadi soal."
Thi Sim-lan terdiam sejenak, kembali ia mencucurkan air mata, ucapnya dengan terharu.
"Selama hidup seorang perempuan apabila bisa mendapatkan limpahan perasaan setulus ini, andaikan mati pun bukan soal apa-apa lagi, dalam hal ini bolehlah dia merasa bahagia ...."
Waktu dia menoleh, tiba-tiba dilihatnya Buyung Kiu juga sedang mencucurkan air mata. Kejut dan girang Thi Sim-lan, serunya.
"He, engkau sudah dapat mengikuti percakapan kami? Kau dapat memahami maksudnya?"
Meski air mata masih terus menetes, namun sorot mata Buyung Kiu tetap buram.
Air muka Oh-ti-tu mestinya sudah bercahaya saking senangnya, kini cahaya itu kembali pudar.
Dengan suara halus Thi Sim-lan menghiburnya.
"Engkau jangan sedih, meski pikirannya belum lagi jernih, tapi cintamu yang suci murni telah dapat dirasakannya. Asalkan cintamu tidak pernah berubah pada suatu hari kelak pasti akan diterima sepenuhnya olehnya."
"Suatu hari kelak? ... Hahaha!"
Tiba-tiba seorang menukas dengan terkekeh-kekeh.
"Mungkin hari yang begitu takkan tiba untuk selamanya."
Ternyata Kang Giok-long telah muncul pula. Tapi dia cuma sendirian, Thi Peng-koh tidak nampak ikut di belakangnya.
"Kau? Untuk apalagi kau datang kemari?"
Tanya Sim-lan khawatir.
"Dengan sendirinya karena ingin menjengukmu,"
Jawab Giok-long cengar-cengir sambil mendekati, si nona, dicolek pipinya, lalu menyambung pula.
"Kata orang, sehari tak bertemu laksana berpisah tiga tahun. Bagiku hanya sebentar tidak melihatmu, rinduku sudah seperti beberapa tahun."
Tentu saja Thi Sim-lan ketakutan, teriaknya.
"Kau ... kau jangan lupa pada nona ... nona berbaju putih itu ...."
"Sudah tentu aku tidak melupakan dia,"
Jawab Giok-long dengan bergelak tertawa.
"Makanya sudah kuberi minum obat penenang, sekarang dia sedang tidur dengan nyenyaknya, sekalipun kau berteriak-teriak di sampingnya hingga tenggorokanmu pecah juga takkan terdengar olehnya."
Seketika tubuh Thi Sim-lan menjadi gemetar, serunya.
"Jika kau berani menyentuh satu jariku, pasti akan ... akan kukatakan padanya."
"Tidak, kau takkan memberitahukan dia, kujamin setelah dia mendusin kau pasti tak dapat bicara lagi,"
Kata Giok-long dengan terkekeh-kekeh. Tangannya mulai main lagi, dari pundak terus menggerayangi dada si nona. Darah Thi Sim-lan serasa membeku, dengan suara gemetar ia memohon.
"O, jang ... jangan ... kumohon jangan ... jangan berbuat begini ... kumohon engkau membunuh saja diriku."
"Membunuh kau?"
Giok-long terkekeh-kekeh.
"Untuk apa kubunuh kau sekarang? Kekasih Kang Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat memang lain daripada yang lain, jika tidak kunikmati sepuas-puasnya kan berarti aku tidak menghormati mereka?"
Sambil terbahak-bahak ia terus mengangkat Thi Sim-lan, dengan menyeringai ia berkata pula.
"Bicara terus terang, dengan segala daya upaya aku ingin mendapatkan kau, maksudku sesungguhnya tidak penujui dirimu, aku hanya ingin membuat Hoa Bu-koat dan Kang Siau-hi ...."
Namun Thi Sim-lan tidak dapat mendengar ucapannya lagi, ia telah pingsan.
Gigi Oh-ti-tu sampai berkeriutan saking geregetannya tapi apa daya, terpaksa begitu saja ia saksikan Thi Sim-lan dibawa keluar oleh Kang Giok-long untuk dinodai ....
Kini di seluruh dunia, siapa yang dapat menolongnya?
*** (.
) Di ruang sana Hoa Bu-koat sedang didekati harimau loreng, raja hutan itu tampaknya akan segera menerkamnya.
Pada saat itulah tiba-tiba Bu-koat melihat sebuah lukisan yang bergantung di dinding itu menempel rapat di dinding, bingkai lukisan bagian bawah juga terbenam erat di dalam dinding.
Tanpa pikir lagi Bu-koat menarik bingkai lukisan itu, pikirnya hendak digunakan sebagai senjata.
Di luar dugaan, sekonyong-konyong seluruh lukisan itu terus bergeser ke belakang sehingga terlihat ada sebuah pintu, seketika Bu-koat menyelinap ke sana.
Harimau itu meraung dan menubruk maju, namun Bu-koat sempat merapatkan lebih dulu pintu rahasia itu.
Bu-koat menghela napas panjang, lama sekali barulah dia bisa tenang kembali.
Dilihatnya di bawah sana ada undak-undakan batu dengan sebuah jalan lorong, belasan tindak lagi ada pula sebuah pintu, di balik pintu sana ada cahaya lampu.
Meski dia ingin tahu keadaan di balik pintu sana, tapi sesungguhnya ia pun tidak berani sembarangan berjalan lagi.
Maklum, setiap dia melangkah satu tindak, bukan mustahil langkah selanjutnya adalah langkah kematian baginya.
Akan tetapi pada saat itu juga dari balik pintu sana ada suara jeritan orang ketakutan.
"O, jangan ... kumohon jangan ... jangan begini ... kumohon engkau membunuh saja diriku."
Jelas itulah suara Thi Sim-lan, seketika darah Bu-koat tersirap, tanpa pikirkan risiko apa pun segera ia menerjang ke sana.
Saat itu dengan tertawa senang Kang Giok-long hendak membawa keluar Thi Sim-lan, tapi tiba-tiba dilihatnya seorang berdiri di ambang pintu merintangi jalan keluarnya.
Di bawah cahaya lampu terlihat air muka pengadang ini pucat pasi dengan penuh rasa gusar, namun begitu tidak mengurangi wajahnya yang cakap.
Ternyata Hoa Bu-koat adanya.
Hoa Bu-koat benar-benar telah muncul di situ.
Sedangkan Pek San-kun dan Pek-hujin tidak tertampak bayangannya.
Keruan kaget Kang Giok-long tak terlukiskan, ia seperti kena dicambuk satu kali, cepat ia melangkah mundur dengan tergopoh-gopoh.
Dengan melotot Bu-koat memandangi Kang Giok-long.
Saat ini apabila dia dapat mengerahkan tenaga, pasti dia takkan mengampuni manusia kotor dan rendah itu.
Untung saja Kang Giok-long tidak tahu keadaan Hoa Bu-koat, umpama dia mempunyai nyali dobel juga tidak berani sembarangan melabrak Hoa Bu-koat.
Diam-diam Hoa Bu-koat menghela napas panjang, katanya kemudian dengan tenang.
"Tidak lekas kau lepaskan dia?!"
Dengan meringis takut Kang Giok-long mengiakan, berbareng ia menaruh Thi Sim-lan di atas kursi dengan sangat hati-hati.
"Aku tidak sudi membunuhmu, lekas ... lekas enyah saja kau!"
Kata Bu-koat. Keruan Kang Giok-long seperti orang hukuman yang mendapat pengampunan umum, tanpa pikir lagi ia terus lari pergi sambil berucap.
"Siaute men .... menurut!"
Oh-ti-tu menggerung murka, teriaknya.
"Orang she Hoa, apa artinya tindakanmu ini? Manusia rendah begitu kenapa tidak kau bunuh?"
"Membunuhnya cuma membikin kotor tangan, biarlah lepaskan dia saja,"
Ujar Bu-koat dengan tersenyum getir. Ia khawatir jangan-jangan Kang Giok-long mengintip di sana, dengan sendirinya ia tidak mau menjelaskan sebab musababnya. Dengan gusar Oh-ti-tu berteriak pula.
"Kau khawatir membikin kotor tanganmu yang berharga itu, tapi aku tidak takut tanganku menjadi kotor, lekas kau buka Hiat-toku, akan kubekuk bocah keparat itu."
Bu-koat melenggong, mana dia ada tenaga sedikit pun untuk membuka hiat-to orang? Terpaksa ia berlagak tidak mendengar saja. Kembali Oh-ti-tu berteriak pula dengan gusar.
"Memangnya tanganmu juga akan kotor bila menyentuh tubuhku? Kau tidak sudi membuka Hiat-toku?"
"Ah, kenapa saudara mesti terburu-buru? Sabarlah sebentar,"
Ujar Bu-koat dengan menyengir.
"Dalam keadaan begini kau suruh aku bersabar?"
Teriak Oh-ti-tu pula.
Tapi Hoa Bu-koat malah menunduk dan melangkah ke arah Thi Sim-lan.
Belasan tindak barulah dia berada di sebelah si nona, ia merasa jarak sedekat ini terasa teramat jauh baginya dan sangat menakutkan.
"Hm, bagus, bagus sekali, kiranya kau adalah manusia begini, sungguh aku salah menilai kau,"
Jengek Oh-ti-tu.
"Tapi, hm, tangan manusia seperti kau ini bila menyentuh diriku malah akan membuat muak padaku."
Diam-diam Bu-koat hanya menghela napas dan tidak menanggapi.
Selama hidupnya belum pernah dicaci maki dan dinista orang secara begini, tapi sekarang terpaksa ia menerimanya, sebab kalau saat ini dia menjelaskan duduk perkaranya, apabila sampai didengar oleh Kang Giok-long, maka tiada seorang pun di antara mereka yang bisa hidup lagi.
Padahal sekarang yang paling ditakuti Kang Giok-long adalah dia, sedangkan dia juga waswas terhadap segala kemungkinan yang datang dari Kang Giok-long.
Sementara itu perlahan-lahan Thi Sim-lan telah siuman, begitu melihat Hoa Bu-koat, seketika matanya bercahaya, serunya kegirangan.
"Ah, engkau telah datang! Engkau benar-benar telah datang, memang kuyakin tiada seorang pun yang mampu mencelakaimu. Sudah sejak semula kuyakin engkau pasti akan datang menolong kami."
"Hm, daripada ditolong orang macam begini, akan lebih baik mati saja,"
Jengek Oh-ti-tu. Thi Sim-lan jadi heran, tanyanya.
"Meng ... mengapa kau berkata demikian padanya?"
"Mengapa tidak kau tanya dia?"
Jawab Oh-ti-tu. Dengan terbelalak heran Thi Sim-lan memandang Hoa Bu-koat, ucapnya.
"Sesungguhnya apa pula yang terjadi di sini?"
Bu-koat menengadah dan menghela napas panjang, katanya kemudian dengan tersenyum getir.
"Ah, tidak ada apa-apa."
"Apa pun juga, asalkan kau berada di sini, maka bereslah segalanya,"
Ujar Thi Sim-lan dengan berseri-seri.
"Lekaslah engkau menolong kami keluar dari sarang iblis ini .... He, mengapa engkau berdiri diam saja?"
"Aku ... aku .…"
Bu-koat tidak sanggup melanjutkan pula, dahinya penuh berkeringat dingin.
Jilid 8. Bakti Binal Pada saat itulah tiba-tiba seorang menukas dengan terkekeh-kekeh.
"Hehehe, saat ini Hoa-kongcu ingin membela diri saja sukar, mana dia ada tenaga buat menolong kalian, masa kalian tidak dapat melihat keadaannya ini, mengapa kalian memaksanya?"
Di tengah gelak tertawa kembali Kang Giok-long muncul dengan lagak tuan besar.
Dan Hoa Bu-koat ternyata menyaksikan kedatangannya begitu saja tanpa berdaya dan tak menanggapi.
Keruan Thi Sim-lan melenggong kaget, serunya parau.
"Ap ... apakah betul demikian?"
Bu-koat menghela napas panjang, katanya perlahan.
"Kang Giok-long, aku tidak ingin membunuhmu, apakah kau sengaja mencari mampus sendiri?"
"Betul, aku memang sengaja mencari mampus,"
Jawab Kang Giok-long dengan terbahak-bahak.
"Sekarang juga akan kubawa pergi nona Thi dan sebentar aku akan mati di atas tubuhnya."
Meski latah ucapannya, tapi sedikit banyak dia tetap jeri terhadap Hoa Bu-koat, ia mengitarinya dari jauh dan mendekati Thi Sim-lan terus memondong nona itu. Thi Sim-lan menjerit khawatir.
"Kau ... kau berani ...."
Melihat Hoa Bu-koat tetap diam saja, Kang Giok-long tambah berani, katanya sambil terkekeh-kekeh.
"Kenapa aku tidak berani? Memangnya Hoa-kongcu itu bisa berbuat apa terhadap diriku?!"
Sambil memondong Thi Sim-lan, setindak demi setindak ia lantas mundur keluar, cuma matanya tetap menatap Bu-koat.
Thi Sim-lan juga memandang Bu-koat, meski mulut bicara, tapi matanya memancarkan rasa putus asa, seakan-akan seruan tak bersuara terhadap Hoa Bu-koat.
"Apakah kau tega menyaksikan aku dibawa lari orang?!"
Bu-koat sudah mandi keringat.
Dia sudah berjalan cukup jauh, entah sudah berapa puluh tindak, bukan mustahil cukup satu langkah lagi akan mengantarnya menuju akhirat.
Sekarang, biarpun siapa juga dapat melihat ksatria yang disanjung puji oleh dunia persilatan, pemuda kebanggaan para pahlawan di dunia ini, sama sekali tak berdaya apa pun.
Kang Giok-long bergelak tertawa, teriaknya.
"Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat! Kenapa kau tidak maju kemari? Ilmu silatmu yang kau banggakan itu berada di mana? Masa kau benar-benar manda menyaksikan jantung hatimu dibawa ke tempat tidur oleh pemuda lain?"
Sebenarnya dia sudah mundur sampai di ambang pintu, tapi dia tidak terus menghilang sebaliknya ia sengaja berhenti di situ.
Sekujur badan Hoa Bu-koat gemetar seluruhnya.
Mati memang menakutkan tapi yang lebih menakutkan ialah bilamana dia sudah mati, maka nasib malang yang akan menimpa Thi Sim-lan tetap sukar berubah.
Tangan Kang Giok-long tampak sengaja menggerayangi dada Thi Sim-lan, katanya sambil terkekeh-kekeh.
"Hehehe, lihatlah, dada yang montok sedemikian kenyalnya, kulit badan yang putih ini sedemikian halusnya, tubuh halus ini sebenarnya adalah milikmu, tapi sekarang, semua ini telah menjadi milikku. Cara bagaimana akan kunikmatinya dapat kulakukan sesukaku."
Di luar dugaan, sekonyong-konyong Hoa Bu-koat melangkah maju setindak demi setindak.
Meski sudah tahu pasti akan mati, sekalipun tahu takkan mampu menyelamatkan Thi Sim-lan, tapi apa pun juga dia tidak boleh menyaksikan nona itu dihina dan dinodai orang.
Setiap langkahnya itu entah membutuhkan berapa besar tekad dan keberaniannya.
Sekonyong-konyong suara tertawa Kang Giok-long terhenti.
Mau tak mau ia ngeri juga menyaksikan wajah Hoa Bu-koat yang pucat menghijau itu.
Teriaknya takut.
"Kau ... kau berani maju lagi?!"
Bu-koat menarik napas panjang-panjang, bentaknya mendadak.
"Lepaskan dia!"
Sinar mata Kang Giok-long tampak gemerlap.
Tiba-tiba ia lihat meski wajah Hoa Bu-koat sangat beringas, tapi langkahnya tetap enteng tak bertenaga, seperti cara berjalan seorang yang sama sekali tidak mahir ilmu silat.
Segera ia bergelak tertawa latah pula, teriaknya.
"Hahaha, Hoa Bu-koat, kau tidak dapat menggertak aku! Sejak tadi sudah kulihat kau terluka parah oleh Pek San-kun dan istrinya, kepandainmu sama sekali tak dapat dikeluarkan, betul tidak?"
Dengan mengertak gigi Bu-koat tidak bersuara melainkan setindak demi setindak melangkah ke depan.
Sudah tentu ia tahu apa yang dikatakan Kang Giok-long itu memang betul, ia pun tahu dirinya sedang melangkah menuju kematian, tapi baginya sekarang memang cuma ada jalan kematian belaka dan tiada pilihan lain.
Karena lawan sudah semakin dekat, dengan bengis Kang Giok-long membentak.
"Keparat, bandel juga kau! Jika kau berani melangkah maju lagi setindak, segera kubinasakan kau!"
Diam-diam Bu-koat menghela napas dan kembali melangkah pula setindak.
"Kematian! Datanglah bilamana kau mau!"
Demikian pikirnya. Tiba-tiba ia merasa kematian toh tidak begitu menakutkan sebagaimana dibayangkannya semula. Mendadak terdengar Thi Sim-lan menjerit.
"Hoa Bu-koat, kumohon dengan sangat, janganlah engkau maju lagi, aku ... tidak menjadi soal, aku kan tidak mendatangkan kebaikan apa pun bagimu, untuk apa kau pikirkan diriku."
Bu-koat tersenyum hambar, katanya.
"Selamanya aku tak pernah menghendaki kebaikan apa pun darimu, bukan? Yang penting asalkan aku …."
"Tapi apa pun juga yang kau lakukan terhadapku tetap aku tidak menyukaimu,"
Seru Thi Sim-lan dengan suara gemetar.
"Sekalipun kau mati bagiku, yang kucintai tetap Siau-hi-ji. Untuk apa kau mesti mati dengan sia-sia belaka?"
"Nah, Hoa Bu-koat, kau dengar tidak ucapannya?"
Seru Kang Giok-long sambil terbahak.
"Dengar, sudah kudengar dengan jelas"
Jawab Bu-koat dengan tersenyum rawan.
"Dan kau masih tetap ingin mengantarkan kematian?"
Tanya Giok-long pula.
"Kau kira mati sangat menakutkan?"
Tanya Bu-koat.
"Tapi jangan lupa, setiap orang hanya punya satu nyawa,"
Kata Giok-long sambil menyeringai.
"Betul, nyawa memang berharga dan tidak mungkin ditukar dengan benda apa pun juga ...."
Ucap Bu-koat dengan tersenyum.
"Sebab itulah apabila aku ingin mati bagi seseorang, maka kematianku juga tidak perlu syarat penukaran apa pun darimu. Apakah dia baik padaku dan mencintai aku atau tidak bukan soal bagiku."
Thi Sim-lan menangis tersedu-sedan dan tidak sanggup bicara lagi. Akhirnya Oh-ti-tu tidak tahan, mendadak ia membentak.
"Sungguh seorang lelaki sejati! Selama hidupku tidak pernah tunduk kepada siapa pun juga, tapi terhadapmu .... Ai, tadi aku benar-benar telah salah paham padamu, sekarang dengan setulus hati kuminta maaf padamu. Engkau ... engkau boleh pergi saja."
Bu-koat menjawab dengan tersenyum hampa.
"Terima kasih!"
Berbareng ia melangkah maju lagi setindak.
Kang Giok-long seperti terkesima oleh keberanian Hoa Bu-koat yang tidak kenal akibat itu.
Tak tersangka olehnya bahwa Hoa Bu-koat juga berwatak sama dengan Siau-hi-ji, bilamana perlu juga nekat dan berani mengadu jiwa.
Nyawa yang dipandang paling berharga oleh siapa pun juga bagi mereka berdua itu seakan-akan tiada artinya sama sekali.
Dalam pada itu Bu-koat sudah mulai merasakan kesakitan di pinggangnya seperti ditusuk jarum.
Ia tahu kematian sudah menanti dan tidak jauh lagi.
Melihat Bu-koat melangkah maju pula perlahan-lahan, akhirnya Kang Giok-long menyeringai dan berkata.
"Baik, jika kau memilih mati, biarlah kupenuhi kehendakmu. Dengan membunuh seorang rasanya juga takkan mengurangi hasrat kenikmatanku nanti."
Diam-diam telapak tangannya sudah menggenggam senjata rahasia dan siap untuk dihamburkan.
Siapa duga pada saat itu juga, mendadak terlihat tubuh Hoa Bu-koat gemetar dengan keras seperti tertusuk jarum, menyusul lantas bergelak tertawa keras seperti orang gila.
Sama sekali tak tersangka oleh Kang Giok-long bahwa pemuda yang ramah tamah seperti Hoa Bu-koat ini bisa mengeluarkan suara tertawa latah sekeras ini.
Tanpa terasa dia menegur.
"He, apakah kau sudah gila?"
"Hahaaah! Kau ... kau heran ... heran bukan?"
Seru Bu-koat sambil tertawa lebih keras.
Setiap kali dia melangkah, segera ia merasa seperti sebatang jarum menusuk pada bagian tubuhnya yang paling lunak dan paling lemah, segera timbul semacam perasaan aneh, ya sakit ya geli, langsung menggelitik hulu hati.
Karena itu ia terus-menerus bergelak tertawa, ia tidak mampu mengatasi hasrat tertawa itu.
Sebaliknya tenaga dalam yang tadinya macet itu sekonyong-konyong lancar kembali.
Dalam keadaan heran dan khawatir, mendadak Kang Giok-long menghamburkan segenggam jarum yang telah disiapkannya.
"Kau ... hahaha, kau berani!"
Bentak Bu-koat sambil tertawa latah.
Berbareng sebelah tangannya terus menggores suatu lingkaran di udara, hujan senjata rahasia itu seketika lenyap seperti nyemplung ke laut, tanpa menimbulkan suara dan tanpa bekas.
"Sungguh Ih-hoa-ciap-giok yang hebat!"
Teriak Oh-ti-tu saking kagumnya. Sedangkan Kang Giok-long menjadi pucat ketakutan, teriaknya.
"Jadi ... jadi tadi kau cuma ... cuma pura-pura saja?"
"Betul, haha ... hahahaha .... Nah, tidak lekas kau lepaskan dia?"
Bentak Bu-koat disertai tertawa keras.
"Setelah kulepaskan dia kau ... kau juga akan melepaskan aku?"
Tanya Giok-long dengan suara keder.
"Ya, akan ku ... hahaha, akan kulepaskan ...."
Dengan tertawa Bu-koat menjawab.
Kang Giok-long yakin apa yang sudah diucapkan Hoa Bu-koat pasti dapat dipercaya, maka ia tidak berani banyak cincong lagi, begitu Thi Sim-lan diturunkan segera ia angkat langkah seribu, hanya sekejap saja lantas menghilang.
Bu-koat masih terus tertawa seperti orang gila, namun dalam hati dia sudah terang bagaimana jadinya sebentar.
Terngiang ucapan Pek San-kun di telinganya.
"Asalkan kau melangkah lebih 50 tindak, segera jarum berbisa itu akan menyusup ke Jiau-yau-hiatmu dan tak dapat dikeluarkan lagi untuk selamanya. Kau akan tertawa terus sampai seharian dan akhirnya binasa."
Apa yang diucapkan Pek San-kun itu tampaknya bukan cuma gertakan belaka.
Sebisanya Bu-koat menutup mulutnya, namun tak dapat menahan hasrat tertawanya.
Terpaksa untuk sementara ia tidak memikirkan persoalan ini, ia membuka dulu hiat-to Thi Sim-lan yang tertutuk.
Nona itu terbelalak heran melihat kelakuan Hoa Bu-koat yang tidak normal itu, tanyanya.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Hahaha, aku ... hahaha ... aku ...."
Tetap Bu-koat tak dapat menahan hasrat tertawanya. Thi Sim-lan menggigit bibir, ucapnya.
"Apa kau merasa geli lantaran berhasil mengelabui kami sehingga tadi kami kelabakan setengah mati berkhawatir bagimu, begitu?"
"Aku ... hahahaha ... aku .... Bu-koat tahu si nona salah paham pula, tapi sukar untuk memberi penjelasan. Malahan ia pun khawatir bilamana Thi Sim-lan mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, tentu si nona akan berduka baginya. Terpaksa ia berpaling ke sana dan membuka hiat-to Oh-ti-tu. Dengan gusar Oh-ti-tu juga lantas membentak.
"Apakah kau merasa kelakar ini sangat menggelikan, begitu?"
Diam-diam Bu-koat menghela napas gegetun, akan tetapi siapakah yang dapat menyelami penderitaan batinnya?
Orang lain hanya dapat melihat lahiriahnya sedang tertawa gembira.
Mendadak Bu-koat tarik Thi Sim-lan terus diajak lari keluar seperti dikejar setan.
Betapa pun pengalaman Kangouw Oh-ti-tu alias si labah-labah hitam lebih luas, akhirnya ia pun merasakan sikap Hoa Bu-koat itu rada-rada tidak beres, ia mengerut kening dan berpikir.
Tiba-tiba dilihatnya pula Buyung Kiu sedang memandangnya dengan terkesima.
Segera ia pun menyampingkan segala urusan, Buyung Kiu diseretnya terus dibawa lari keluar.
*** (.
) Thi Sim-lan masuk dari lorong ini, dengan sendirinya ia tahu rahasia jalan ke luar ini.
Setelah berlari-lari, akhirnya mereka sampai di ruang pendopo semula, ruangan ini masih tetap seram dan sunyi tiada bayangan seorang pun.
Agaknya Pek San-kun suami-istri yakin Hoa Bu-koat pasti mati, maka mereka tidak perlu pusing lagi sehingga sepanjang jalan tiada sesuatu rintangan, mereka terus lari keluar menjelajah ladang belukar.
Bintang-bintang yang bertaburan di langit makin menipis dan lenyap, suasana di kaki gunung berhutan sunyi senyap, tapi Hoa Bu-koat masih terus tertawa keras dan kedengaran sangat menusuk telinga menjelang fajar menyingsing ini.
"Dapatkah kau tidak tertawa?"
Ucap Thi Sim-lan tak tahan. Langkah Bu-koat sudah makin lambat, tapi suara tertawanya semakin keras, jawabnya.
"Aku ... aku tidak ...."
"Apakah kau kira caramu membohongi orang sedemikian menggelikan sehingga perlu tertawa terus-menerus?"
Omel Thi Sim-lan dengan mendelik dongkol.
Remuk redam hati Hoa Bu-koat, hampir saja ia menceritakan duduk perkara yang sebenarnya.
Tapi tiba-tiba terpikir daripada Thi Sim-lan menyaksikan kematiannya dengan mengenaskan, akan lebih baik biarkan si nona tetap salah sangka saja.
Toh dia sudah hampir mati, buat apa mesti membuat orang lain ikut berduka.
Thi Sim-lan membanting kaki dan berkata pula.
"Jika kau masih terus tertawa, aku akan segera pergi."
Diam-diam Bu-koat menyesal, tapi dia tetap tertawa dan menjawab.
"Baiklah, silakan kau pergi saja! Hahaha, toh sudah kuketahui kau tidak suka padaku ... hahaha, boleh pergi saja kau!"
Tergetar tubuh Thi Sim-lan, tanyanya dengan suara gemetar.
"Kau benar-benar menghendaki aku pergi?"
"Ya, hahaha, ya .…"
Jawab Bu-koat sambil ngakak.
Thi Sim-lan menatapnya dengan melenggong sambil melangkah mundur setindak demi setindak.
Sebaliknya Hoa Bu-koat lantas menengadah dan terbahak-bahak pula tanpa memandang sekejap pada si nona.
Akhirnya Thi Sim-lan jadi geregetan, teriaknya.
"Baik, pergi ya pergi, baru ... baru sekarang kutahu kau adalah orang macam begini."
Segera ia membalik tubuh dan berlari pergi, air mata pun bercucuran.
Tapi Hoa Bu-koat masih terus tertawa latah tanpa berhenti.
Dia tahu pasti akan mati, ia menyaksikan orang yang paling dicintainya telah meninggalkannya, bahkan orang yang diselamatkannya dengan mati-matian juga tidak dapat memahami dia, namun dia sendiri ...
dia masih terus tertawa dan tertawa tanpa berhenti ....
Di pegunungan sunyi itu hanya penuh bergema suara tertawanya yang keras menyeramkan itu, bintang semakin jarang, cuaca tampak buram.
Langit dan bumi ini seakan-akan juga tidak kenal kasihan lagi kepada pemuda yang malang ini.
Air mata Hoa Bu-koat akhirnya juga bercucuran.
Sejak kecil ia dibesarkan di dunianya sendiri di suatu lingkungan yang dingin dan tidak kenal citarasa, selama ini belum dikenalnya bagaimana rasanya mencucurkan air mata.
Tapi sekarang ...
di tengah gelak tertawa latahnya sekarang ia meneteskan air mata.
Sekonyong-konyong Thi Sim-lan muncul pula di depannya dan memandangnya dengan termangu-mangu.
Cepat Bu-koat mengusap air mata di pipinya, sambil ngakak ia berkata.
"Untuk ... hahaha, untuk apa kau kembali lagi ke sini?"
Air muka Thi Sim-lan menampilkan perasaan heran dan khawatir, jawabnya dengan gemetar.
"Katakan padaku, sesungguhnya apa yang terjadi pada dirimu?"
"Apa yang terjadi? Hahaha ... aku merasa kau sangat lucu, hahaha ... masa diusir saja kau tidak mau pergi?"
"Tidak, aku takkan pergi,"
Jawab Thi Sim-lan.
"Kutahu, kau bukanlah orang berhati demikian."
"Kau tidak mau pergi? Hahahaha, baik, aku saja yang pergi,"
Teriak Bu-koat. Tapi sebelum dia membalik tubuh, mendadak Thi Sim-lan merangkulnya sambil menjerit dengan suara parau.
"O, katakan padaku, katakan ... apakah ... apakah engkau menderita sesuatu luka yang sangat aneh?"
"Aku ... hahaha ... mana aku dapat terluka?"
Jawab Hoa Bu-koat dengan tertawa.
"Jika tidak, maka kumohon janganlah engkau tertawa lagi."
"Hahaha! Kenapa ... kenapa aku tidak boleh tertawa? Haha, untuk apa kau memelukku? Lepas ... hahaha, lepaskan! Hahaha ... pergilah mencari Kang Siau-hi-ji saja."
Lambat-laun ucapan Bu-koat juga mulai tidak jelas. Thi Sim-lan merasakan tangan Bu-koat sedingin es, ia menjadi khawatir dan berseru pula.
"Kenapa engkau tidak mau bicara terus terang padaku?"
Tapi Bu-koat tetap tertawa, katanya.
"Lepaskan ... hahaha ... lepaskan ...."
Thi Sim-lan jadi geregetan, tiba-tiba ia berteriak.
"Baik, akan kulepaskan, mungkin kau merasa aku tidak pantas memelukmu, tapi asalkan kau bicara terus terang bahwa aku adalah perempuan hina dan kejam, habis itu segera akan kulepaskan."
"Kau ... hahaha ... kau ...."
Thi Sim-lan menatapnya lekat-lekat, katanya kemudian dengan pedih.
"Ya, tahulah aku, engkau tak dapat mendustai aku. Kutahu dalam keadaan apa pun engkau tidak tega mengucapkan sepatah kata yang dapat menyinggung perasaanku."
Hati Bu-koat seperti disayat-sayat, tapi dia hanya bisa tertawa saja, tertawa terus-menerus. Kembali Thi Sim-lan mencucurkan air mata, ucapnya.
"Kutahu, lantaran diriku, maka kau berubah menjadi begini. Kau ... kau …."
"Lantaran dirimu? Hahaha ... lekaslah kau pergi mencari Kang Siau-hi-ji saja! Le ... lekas, lekas!"
"Tidak, aku tidak mau pergi!"
Teriak Thi Sim-lan dengan suara parau.
"Aku takkan mencari siapa-siapa, aku akan tetap mendampingimu, siapa pun tak dapat menyuruh aku pergi."
"Dan Kang Siau-hi?"
Tanya Bu-koat.
"Siau-hi-ji? .... Sudah lama aku melupakan dia!"
Teriak Sim-lan dengan suara gemetar dan menangis.
"Kau sudah melupakan dia? ... Hahaha, kau benar-benar dapat melupakan dia? Haha ...."
"Mengapa tidak? Kebaikan apa yang pernah dia lakukan terhadap diriku? Bilamana aku menghadapi bahaya, dapatkah dia menolongku dengan mati-matian seperti kau? Huh, bisa jadi tanpa berpaling akan ditinggal pergi olehnya."
"Tapi kau tetap tak dapat melupakan dia. Hahaha ... cinta ... cinta tidak mungkin dijadikan barang tukar-menukar ... haha ... bilamana kau mencintai seseorang, betapa pun dia berbuat atas dirimu tetap kau mencintai dia."
"Tapi aku ... aku ...."
Mendadak Thi Sim-lan terkulai di tanah dan menangis tergerung-gerung. Hoa Bu-koat ... Kang Siau-hi ... sungguh kalau bisa Thi Sim-lan ingin dibelah menjadi dua. Dengan tertawa Bu-koat berkata pula.
"Pergilah kau mencari dia saja, jagalah dia ... hahaha, semoga ... semoga kalian hidup senang dan bahagia ...."
Suara tertawanya semakin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Waktu Thi Sim-lan mengangkat kepalanya, namun Hoa Bu-koat tidak nampak pula.
Ia tahu selamanya takkan dapat menyusulnya lagi.
Ia hanya menangis sedih dan berteriak dengan suara parau.
"Hoa Bu-koat ... O, Hoa Bu-koat, jika kau mati cara begini, dapatkah aku menikahi Siau-hi-ji? Bilamana kau mati cara begini, apakah hidup kami selanjutnya akan bahagia?"
Sekuatnya ia berteriak pula.
"Hoa Bu-koat, kem ... kembalilah!"
Aku tetapi tiada suatu jawaban apa pun.
Yang ada cuma angin meniup dingin menimbulkan suara seperti keluhan yang menyayat hati.
Sementara itu fajar sudah menyingsing.
Apabila fajar tiba, maka hidup Hoa Bu-koat juga akan tamat.
Ia tahu jiwa sendiri pada hakikatnya lebih pendek daripada umur laron di malam hujan.
Tapi apakah dia harus menanti ajal begini saja?
Semula Hoa Bu-koat telah duduk putus asa, mendadak ia melompat bangun, ia menengadah dan tertawa keras, teriaknya.
"Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat, paling tidak saat ini kau kan masih hidup. Paling sedikit kau masih dapat berbuat sesuatu sebelum ajalmu tiba. Seumpama harus mati, tidak boleh kau mati tanpa suara dan tanpa pergulatan!"
Bumi ini seakan-akan bergetar mengumandangkan suara tertawanya yang nyaring.
Segera ia membalik tubuh dan lari ke kelenteng sana.
Ruangan pendopo kelenteng itu masih gelap dan seram.
Tanpa pikir Hoa Bu-koat melayang ke dalam, sekali depak ia jungkalkan patung malaikat gunung yang dipuja itu.
Teriaknya sambil tertawa latah.
"Ayo, Pek San-kun, keluarlah kau!"
Suara tertawanya yang keras lantang itu berkumandang jauh, tapi Pek San-kun belum lagi menampakkan batang hidungnya.
Mustahil dia tidak mendengar, jika mendengar mengapa dia tidak keluar?
Dengan tertawa ngakak Bu-koat lantas angkat meja sembahyang dan dibanting sekerasnya di halaman sana.
Teriaknya sambil tertawa.
"Pek San-kun ... hahaha ... dengarkan .... Meski aku akan mati, sedikitnya aku juga akan membinasakan manusia-manusia keji macam kalian ini untuk ... hahaha ... untuk keselamatan umum."
Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar auman, tahu-tahu harimau loreng itu menerobos tiba.
Dengan tertawa Bu-koat memapak binatang buas itu, sekali mengegos ia hindarkan terkaman yang sukar ditahan itu, berbareng sebelah tangannya terus memotong ke belakang dan tepat mengenai kuduk harimau.
Raja hutan yang ganas itu jatuh mendekam kena tebasan telapak tangannya itu.
Mendadak harimau itu meraung kalap dan kembali menerkam.
Hoa Bu-koat bergelak tertawa, suara tertawanya berpadu dengan raungan harimau sehingga ruangan pendopo seakan-akan bergetar roboh.
Tapi Pek San-kun suami istri seperti orang tuli, sampai saat ini tetap belum muncul.
Dengan gesit Hoa Bu-koat terus berputar kian kemari, mana bisa harimau itu menyentuhnya, setelah menubruk tiga kali, kegarangan raja hutan itu pun mulai surut.
Ketika Hoa Bu-koat menabas pula satu kali, kontan harimau itu terkapar dan tak bisa bergerak lagi.
Di tengah ruangan kini tinggal suara latah Hoa Bu-koat, suara tertawa yang pedih mengharukan.
Sambil terbahak-bahak Bu-koat mendepak daun jendela hingga terpentang, ia terus menerobos ke halaman belakang, tapi di situ juga sepi tiada bayangan seorang pun.
Dada Hoa Bu-koat diliputi rasa pedih dan dendam yang tak terlampiaskan, sekali tendang ia bikin daun pintu terpentang, sebuah meja diangkatnya dan dilemparkan keluar hingga berantakan.
Tapi apa gunanya biarpun seluruh isi rumah ini dihancurkan olehnya, sebab Pek San-kun suami istri tetap tidak memperlihatkan batang hidungnya.
"Pek San-kun, ayo, Pek San-kun!"
Bu-koat berteriak-teriak dengan tertawa latah.
"Di mana kau, Pek San-kun! Mengapa kau tidak keluar untuk perang tanding?"
Yang diharapkannya sekarang hanya suatu pertarungan saja, sekalipun tidak mampu melawan dan mati juga rela baginya.
Namun sia-sia belaka dia berteriak, suara tertawanya yang berkumandang balik itu seakan-akan sedang mencemoohkan dia sendiri.
Sekeliling tetap tiada bayangan seorang pun, yang ada cuma gambar malaikat gunung yang sedang memandang padanya dengan dingin seakan-akan lagi berkata.
"Hoa Bu-koat, lebih baik kau mati dengan tenang-tenang saja, untuk apa kau umbar gila di sini, biarpun tenggorokanmu sampai bejat berteriak juga tidak digubris orang. Kalau orang sudah jelas tahu kau pasti akan mati, untuk apa dia bertempur mengadu jiwa lagi denganmu?"
Sambil berteriak mendadak Hoa Bu-koat menubruk maju, sekali tarik ia robek lukisan itu hingga berkeping-keping, terasa darah bergolak dan muncrat keluar bersama tertawanya, bintik-bintik darah menghiasi bajunya laksana ceplok bunga sulaman.
Ia merasa tenaganya sudah hampir ludes, tubuh pun mulai sempoyongan.
Subuh telah tiba, hari sudah mulai terang, bumi penuh diliputi rasa dingin memilukan.
Mati sebenarnya tidaklah menakutkan dan juga tidak perlu dirisaukan, yang dirisaukan adalah mati dengan murka tanpa terlampiaskan, yang ditakutkan adalah menjelang ajal terasa sesunyi ini.
Tiba-tiba Bu-koat merasakan bilamana sekarang ada seorang berada di sampingnya, siapa pun boleh, betapa pun ia tidak ingin mati kesepian.
Selama hidupnya ini meski penuh sanjung puji, tapi selama itu sebenarnya hidup terpencil dan kesepian, dia dilahirkan di tempat terpencil, sungguh ia tidak ingin mati kesepian pula.
Dia berharap mati dalam pertempuran, tapi tiada seorang pun mau menggubrisnya.
Dia berharap mati di tengah-tengah kerumunan orang, tapi rasanya dia tidak dapat berjalan keluar lagi.
Dengan sempoyongan akhirnya Bu-koat jatuh terduduk di kursi, dengan sorot mata guram ia memandangi tibanya cahaya subuh, ia berharap ajal akan datang menyusul tibanya subuh.
Sesungguhnya ia sudah putus asa, ia sedang menantikan ajalnya.
Tapi apa pun juga dia tetap tertawa tanpa henti, tertawa latah, tertawa yang mengantarkan ajalnya, tertawa yang tak dapat mengeluarkan rasa duka dan dendamnya.
Suara tertawanya ini pada hakikatnya hampir membuatnya menjadi gila.
Kini dia malah tidak sayang mengorbankan segalanya, yang diharap hanya berhentinya suara tertawa sialan ini.
Ia coba mendekap telinganya, tapi mana bisa membendung suara tertawanya sendiri.
Ia tahu, untuk bisa menghentikan suara tertawanya hanya ada satu jalan, yakni mati!
Supaya tertawanya bisa berhenti, Bu-koat sudah siap menamatkan hidupnya sendiri.
Pada saat remang-remang tibanya subuh itulah, tahu-tahu muncul sesosok bayangan orang.
Jubah orang ini memanjang menyentuh tanah, rambut panjang semampir di pundak, langkahnya halus dan enteng sehingga tampaknya seperti bayangan kematian yang menyongsong keberangkatan Hoa Bu-koat.
Akhirnya Bu-koat dapat melihat jelas wajah orang, wajah yang cantik itu seolah-olah menampilkan rasa putus asa.
Pek-hujin!
Orang ini ternyata Pek-hujin adanya.
Akhirnya muncul juga dia!
Bu-koat mengira dirinya pasti akan menerjang maju dan melabraknya apabila melihat Pek San-kun atau istrinya, siapa tahu sekarang dia hanya duduk terpukau saja dan memandangnya dengan kesima.
Maklumlah, tenaga untuk hidup saja sudah lenyap, apalagi tenaga untuk melabrak orang?
Seperti badan halus saja Pek-hujin melangkah maju dengan enteng.
Bu-koat mengira kedatangan orang pasti untuk membunuhnya, tak terduga Pek-hujin hanya berdiri diam di depannya dan memandangnya dengan tenang.
"Tepat sekali kedatanganmu ini. Hahaha, mengapa kau tidak lekas turun tangan?"
Mendadak Bu-koat berseru sambil tertawa. Pek-hujin tetap memandangnya dengan lekat tanpa bicara.
"Kiranya kau cuma ingin menyaksikan kematianku saja?"
Kata Bu-koat pula, dan Pek-hujin masih tetap tidak bersuara.
"Bagus,"
Teriak Bu-koat sambil tertawa.
"Tidak peduli apa maksud kadatanganmu tetap aku berterima kasih padamu. Aku memang lagi kesepian di sini."
Mendadak Pek-hujin menghela napas panjang, ucapnya dengan terharu.
"O, orang yang harus dikasihani, masa setitik keberanianmu mencari hidup saja sudah tiada lagi."
Hati Bu-koat seperti dipuntir-puntir, teriaknya dengan tertawa parau.
"Hahahaha! Bukankah kalian menghendaki kematianku secepatnya, mengapa sekarang malah menyuruh aku berusaha mencari hidup? Memangnya kau anggap penderitaanku ini belum cukup?"
Pek-hujin menjawab dengan sedih.
"Ya, aku telah melukaimu, kutahu kau pasti sangat benci padaku, tapi kuharap engkau juga dapat memaklumi kesukaranku."
"Kesukaranmu? Hahaha, kau juga mempunyai kesukaran?"
"Seorang perempuan, demi suaminya terkadang bisa juga melakukan sesuatu yang bodoh dan kejam,"
Jawab Pek-hujin dengan perlahan.
"Pek San-kun adalah suamiku, mana ... mana boleh kusaksikan dia dibunuh olehmu?"
Bicara sampai di sini, tiba-tiba air matanya berlinang-linang, sambungnya pula dengan pedih.
"Tapi aku pun tahu aku berdosa padamu, kumohon engkau suka memaafkan diriku."
"Hahaha! Aku tidak tahu untuk apa kau mesti menipu seorang yang sudah dekat ajalnya. Hahaha, tapi apa pun juga sekarang ini aku tak dapat kau tipu lagi."
Pek-hujin menunduk sedih, ucapnya.
"Ya, aku pun sudah menduga kau pasti tak percaya lagi padaku. Tapi ... tapi sudikah kau ikut pergi melihat sesuatu?"
Bu-koat duduk saja tanpa bergerak, suara tertawanya sudah tambah lemah dan berubah menjadi parau. Pek-hujin menatapnya lekat-lekat, katanya pula dengan nada gemetar.
"Hanya satu kali ini saja kumohon, apa pun juga ini takkan membikin susah padamu lagi, betul tidak?"
"Betul, hahaha, sudah hampir mati, memangnya siapa yang hendak mencelakai aku pula?"
Teriak Bu-koat dengan serak.
Akhirnya ia ikut keluar juga bersama Pek-hujin.
Setelah menyusuri beberapa rumah, sekonyong-konyong Bu-koat melihat seorang tergantung jungkir pada suatu belandar, seluruh badan berlumuran darah, sebilah belati menembus dadanya.
Belum lagi Bu-koat melihat jelas siapa orang itu, Pek-hujin telah berhenti di situ dan berkata.
"Yang hendak kuperlihatkan padamu, ialah dia!"
"Sia ... siapa dia?"
Tanya Bu-koat.
"Masa kau tak kenal?"
Kata Pek-hujin.
Segera ia merobek sepotong ujung bajunya untuk mengusap muka orang berlumuran darah yang mengalir dari dada itu sehingga tertampak jelas wajah aslinya.
Ternyata orang yang mati tergantung menjungkir ini bukan lain ialah suaminya.
Keruan Bu-koat terkejut, teriaknya.
"He, Pek San-kun sudah mati?!"
Tapi suara tertawa latahnya lantas melenyapkan nada kejut ucapannya.
Malahan nadanya rada-rada kecewa dan sama sekali tiada rasa gembira.
Meski ia ingin bertarung melawan Pek San-kun dan bertekad akan membunuhnya, tapi mendadak melihat orang mati cara begini, mau tak mau timbul juga rasa simpatinya.
Dengan perlahan Pek-hujin lantas berkata.
"Aku ingin kau lihat jenazahnya, sebab aku merasa bersalah padamu ...."
"Kau yang membunuhnya?"
Tanya Bu-koat. Pek-hujin menghela napas panjang dan menjawab dengan sedih.
"Ya, betul, aku yang membunuhnya."
Bu-koat tersurut mundur dengan melongo, satu patah kata pun tidak sanggup bersuara.
"Tentunya kau sangat heran aku yang telah membunuh dia, begitu bukan?"
Tanya Pek-hujin. Padahal mana Hoa Bu-koat cuma "heran"
Saja, pada hakikatnya ia tidak percaya.
"Tapi kau pun perlu tahu, sebab apakah kubunuh dia?!"
Kata Pek-hujin pula.
"Sungguh aku mempunyai seribu alasan untuk membunuhnya, memang sudah lama seharusnya kubunuh dia."
Bu-koat tertawa latah, teriaknya dengan gusar.
"Setiap orang di dunia ini memang boleh membunuhnya, hanya kau adalah istrinya, kau tidak dapat membunuhnya. Memangnya dalam hal apa dia berbuat tidak baik padamu?"
"Kutahu dia pasti telah banyak omong bohong padamu,"
Ucap Pek-hujin dengan rawan.
"Tentu dia bercerita mengenai kebusukanku, diriku pasti dilukiskannya sebagai iblis atau siluman, tapi ... tapi apakah kau pun percaya pada obrolannya?"
"Mengapa aku tidak percaya?"
Teriak Bu-koat. Meski demikian, namun hatinya sudah mulai goyah.
"Bilamana aku benar-benar perempuan semacam perkataannya, cara bagaimana dia dapat berkumpul denganku selama berpuluh tahun? Orang bertabiat seperti dia pasti sudah sejak dulu-dulu tidak tahan, tentu aku sudah dibunuh olehnya,"
Pek-hujin melirik Bu-koat sejenak, lalu menyambung pula.
"Apa yang kulakukan terhadap dirimu adalah karena sebisanya aku ingin merebut kembali hatinya, demi dia aku tidak sayang berbuat apa pun, tidak sayang untuk mencelakai siapa pun juga ...."
Air matanya lantas bercucuran pula, ia menangis dengan terguguk-guguk.
Bicaranya sedemikian sungguh-sungguh, menangisnya sedemikian sedih, sebaliknya apa yang pernah diceritakan Pek San-kun rasanya teramat janggal dan sukar dipercaya.
Apabila ada orang yang lebih percaya pada cerita Pek San-kun itu dan tidak percaya pada keterangan Pek-hujin, maka orang itu benar-benar mahaaneh.
Maka Bu-koat lantas berkata.
"Tapi mengapa kau membunuhnya jika betul segala tindak tandukmu itu demi sang suami?"
Pek-hujin menangis tersedu-sedu, jawabnya.
"Aku adalah perempuan, betapa jelek nasibku sebenarnya harus kuterima, namun meski aku sudah berusaha sepenuh tenaga agar dia sudi kembali ke sampingku, siapa tahu ... siapa tahu ...."
Mendadak ia jatuhkan diri ke pangkuan Hoa Bu-koat dan menangis tergerung-gerung, lalu menyambung dengan terputus-putus.
"Siapa tahu dia tidak ... tidak memikirkan sama sekali cinta kasih suami istri, dia bahkan hendak ... hendak membunuh diriku."
Bu-koat ternyata tidak mendorongnya pergi.
Dalam keadaan demikian ia merasa tidak tega mendorong pergi perempuan yang menangis sedih dalam pelukannya.
Seorang perempuan menangis sedih dalam pelukan seorang lelaki yang sedang tertawa latah, di sebelah mereka bergantung mayat yang berlumuran darah, suasana ini benar-benar aneh dan lucu, rasanya siapa pun sukar melukiskan adegan ganjil ini.
"Makanya ... makanya kau lantas membunuhnya?"
Tukas Bu-koat kemudian.
"Sebenarnya aku tidak sayang mati baginya, tapi ketika dia benar-benar hendak membunuhku, betapa pun aku tidak tahan lagi, siksa derita selama lebih 20 tahun seketika meledak dalam sekejap, tanpa pikir kucabut belati dan menikamnya,"
Sampai di sini Pek-hujin terguguk-guguk sedih, lalu menyambung.
"Tadinya kuharap tikamanku ini takkan mencelakai dia, di luar dugaan, dia sama sekali tidak pernah membayangkan perlawananku sehingga sama sekali dia tidak berjaga-jaga, tikamanku itu benar ... benar-benar telah menewaskan dia."
Bukti memang nyata begitu, apa yang dapat diucapkan Hoa Bu-koat? Sambil menarik leher baju Bu-koat, Pek-hujin menengadah memandangnya dan berkata dengan mengalirkan air mata.
"Coba katakan, apakah tidak pantas kubunuh dia? Masa aku salah membunuhnya?"
"Kau tidak salah, bagimu hanya ada satu jalan, yaitu membunuhnya, dalam keadaan begitu, siapa pun pasti akan membunuhnya dan tiada pilihan lain,"
Kata-kata demikian ini tidak sampai diucapkan Hoa Bu-koat, tapi kentara sekali terpancar dari sorot matanya, suara tertawanya sudah makin lemah dan parau, kaki pun lambat-laun menjadi lemas.
Pek-hujin memandangnya sejenak, kemudian menunduk dengan sedih, katanya.
"Kutahu engkau pasti menaruh simpati padaku, sebab itulah aku berbicara sebanyak ini padamu. Sekalipun di dunia ini tiada orang lain yang bersimpati padaku, hanya engkau yang bersimpati padaku, sebab ... sebab ...."
Dia tersenyum pedih, lalu melanjutkan.
"Walaupun tidak sedikit lelaki yang pernah kujumpai, tapi cuma kau saja paling lemah lembut, hanya engkau saja paling memahami perasaan perempuan. Bilamana lelaki di seluruh dunia ini serupa dirimu, maka bahagialah kaum perempuan."
Justru lantaran sifat Hoa Bu-koat inilah, makanya dia mudah ditipu oleh perempuan.
Sebenarnya dia bukan orang bodoh, hanya hatinya yang terlalu lemah.
Bilamana semua lelaki di dunia ini seperti dia, maka dunia ini mungkin akan menjadi dunianya kaum perempuan.
Sembilan di antara sepuluh lelaki mungkin harus bunuh diri.
Begitulah tiba-tiba Hoa Bu-koat berkata.
"Urusan yang sudah lalu tidak perlu disebut pula, sekali-kali aku tidak ... tidak dendam padamu."
"Jadi kau memaafkan aku?"
Tanya Pek-hujin. Bu-koat mengangguk. Lalu berkata.
"Apakah bicaramu sudah habis?"
"Yang perlu kukatakan sudah habis kukatakan, apakah ... apakah kau sendiri tiada sesuatu yang ingin dikatakan padaku?"
"Ak ... aku cuma ber ... berharap kau ...."
Dengan sendirinya Bu-koat berharap Pek-hujin dapat menghentikan suara tertawanya yang sialan itu, tapi sampai detik gawat demikian dia tetap tidak sanggup mengucapkan sesuatu permohonan kepada seorang perempuan.
Biarpun dia tertipu seribu kali oleh perempuan, meski dia akan mati karena tipuan perempuan, betapa pun dia tidak sudi minta balas kasihan di depan seorang perempuan.
Di dunia justru ada orang macam begini, lebih suka ditipu perempuan daripada dibenci perempuan.
Pek-hujin memandangnya dengan termenung, sejenak kemudian baru berkata pula.
"Sebenarnya tanpa kau minta juga seharusnya kukeluarkan jarum yang menyusup di Jiau-yau-hiatmu ini, tapi tadi kau terlalu banyak mengeluarkan tenaga, jarum itu sudah masuk sangat dalam, kini aku pun tidak mampu mengeluarkannya."
Bu-koat kesakitan seperti diiris-iris, mendadak ia mendorong Pek-hujin terus melangkah pergi.
Ia tahu nasibnya sudah ditakdirkan begini, mati tertawa.
Tapi ia pun tidak ingin mati di depan perempuan, ia harus menyingkir pergi jauh-jauh, biarpun mati juga tidak boleh meninggalkan kesan menggelikan dan harus dikasihani oleh orang lain.
Siapa tahu Pek-hujin justru mengadangnya pula dan berkata.
"Sekarang kau belum boleh pergi."
Bu-koat tak dapat lagi menahan rasa gusarnya, tapi sedapatnya ia menekan perasaannya, katanya.
"Urusan sudah begini, mengapa kau masih menahanku di sini?"
"Meski aku tak dapat menolongmu, tapi kutahu di dunia ini masih ada seorang yang dapat menyelamatkan kau,"
Jawab Pek-hujin. Bu-koat menengadah dan terbahak-bahak, katanya.
"Keadaanku sudah begini masa aku masih perlu pula memohon pertolongan orang?"
Pek-hujin menatapnya dengan tajam dan berkata tegas.
"Semula kukira engkau ini seorang pemberani, tapi sekarang keberanianmu untuk hidup saja ternyata tidak ada."
Bu-koat menunduk dengan sedih.
"Walaupun aku tidak mampu menolongmu, tapi aku dapat berusaha memperpanjang umurmu selama tiga hari, dalam tiga hari ini dapat kubawa kau pergi mencari orang itu. Jika kau mempunyai keberanian untuk hidup, maka kau pun harus mempunyai keberanian untuk memohon pertolongannya. Usiamu masih muda, minta bantuan orang bukan sesuatu yang memalukan, yang memalukan ialah apabila tidak berani hidup."
Bu-koat tertawa dengan suara serak, katanya.
"Sekalipun kuminta pertolongannya juga belum tentu dia sudi menolong aku, lalu untuk apa .…"
"Aku cukup kenal watak orang itu,"
Sela Pek-hujin.
"Asalkan kau mau pergi ke sana, dia pasti akan menolongmu. Apalagi, kepergianmu ke sana juga bukan untuk mohon pertolongan melainkan untuk berobat, orang sakit tidak mau berobat pada tabib kan aneh."
Setelah dibujuk berulang-ulang akhirnya goyah pula hati Bu-koat.
Betapa pun seseorang tidak takut mati, bila masih ada setitik harapan untuk hidup tentu juga akan berusaha agar tidak mati.
Dengan suara lembut Pek-hujin berkata pula.
"Kumohon dengan sangat, terimalah usulku. Demi aku kau pun harus hidup, jika kau mati, kepada siapa aku harus .... Pokoknya, asalkan engkau mengangguk dan aku akan sangat berterima kasih padamu."
Akhirnya Bu-koat mengangguk juga.
Terhadap sesuatu permohonan yang merengek-rengek begini betapa pun dia tidak dapat menolaknya.
Bu-koat dan Pek-hujin telah pergi, ruangan pendopo menjadi hening dan lebih seram.
Cahaya matahari menyinari mayat yang berlumuran darah itu, darah segar itu seakan-akan bersemu kehijau-hijauan.
Pada saat demikianlah tiba-tiba Kang Giok-long muncul pula di situ, serunya sambil berkeplok tertawa.
"Tipu daya Cianpwe benar-benar hebat, sungguh Tecu kagum dan tunduk sepenuhnya."
"Mayat"
Yang tergantung di belandar itu mendadak tertawa ngekek, katanya.
"Meski bagus juga akal ini, tapi hanya manusia macam orang she Hoa saja yang dapat tertipu. Bilamana kau atau aku mungkin tidak begitu mudah percaya kepada ocehan perempuan."
"Ya, jika Cianpwe, tentunya si perempuan yang akan ditipu,"
Seru Giok-long sambil tertawa.
"Di dunia ini ada lelaki macam Hoa Bu-koat, tentunya juga ada lelaki seperti kau dan aku,"
Ucap si ‘mayat hidup’ alias Pek San-kun dengan terkekeh-kekeh.
"Lelaki seperti kita ini memang dilahirkan untuk membela kaum lelaki."
"Jika demikian, dilahirkannya Pek-hujin bukankah juga untuk membela kaum perempuan?"
Ujar Kang Giok-long dengan tertawa.
"Betul juga,"
Jawab Pek San-kun.
"Apabila lelaki di dunia ini semuanya seperti kau dan aku kan kasihan kaum perempuan."
"Mayat"
Itu sekarang sudah melompat turun, gagang belati di dadanya dicabut, tangan lain menarik ujung belati yang menembus punggung.
Kiranya belati ini terdiri dari dua potong dan ditempelkan di tubuh Pek San-kun.
Karena ia tergantung menjungkir dengan berlumuran darah, ditambah lagi waktu itu masih remang-remang, Hoa Bu-koat sendiri sedang dirundung kesedihan dan penderitaan yang sangat sehingga tanpa sadar tertipu oleh Pek-hujin.
Padahal kalau Hoa Bu-koat pasti akan mati, lalu apa pula Pek-hujin menipunya?
Kini dia membawa Bu-koat pergi mencari seorang penolong, siapa pula gerangan penolong yang dimaksudkan itu?
Dalam keadaan sadar tak sadar Bu-koat duduk di dalam kereta, Pek-hujin telah memberinya minum semacam obat penenang yang sangat keras dan membuatnya mengantuk.
Tapi dia tidak dapat tidur pulas, begitu tidur lantas terjaga bangun oleh hasrat tertawanya sendiri.
Kini dia sudah lemas lunglai karena terlalu banyak tertawa.
Baru sekarang Bu-koat tahu, tertawa tidak cuma mendatangkan kegembiraan terkadang juga semacam alat siksa yang sangat keji.
Untung kabin kereta kuda ini cukup relaks, entah dari mana Pek-hujin mendatangkan kereta kuda yang mewah ini, ia pun tidak tahu siapa saisnya, lebih-lebih tidak tahu kereta ini dilarikan ke mana?
Seorang sudah dekat ajalnya, kenapa mesti tidak percaya lagi kepada orang lain?
Begitulah selama tiga hari mereka dalam perjalanan.
Selama tiga hari Pek-hujin menjaga dan merawat Bu-koat dengan penuh perhatian.
Meski tidak berucap, tapi dalam hati Bu-koat merasa berterima kasih.
Menjelang senja hari ketiga, kereta menanjak ke suatu perbukitan, lalu berhenti.
Di luar sana pemandangan indah permai laksana lukisan.
Sejauh mata memandang, sungai memanjang seperti pita, bola matahari membara hampir terbenam di balik bukit sana, di bawah pancaran cahaya senja tertampak air sungai bertambah kemilauan.
Diam-diam Bu-koat membatin.
"Sekalipun aku harus mati tanpa sebab, tapi dapat mati di tempat begini, rasanya juga tidak sia-sia perjalanan ini."
Terdengar Pek-hujin menghela napas panjang, katanya dengan rawan.
"Di sinilah orang itu bertempat tinggal, di sini juga kita harus berpisah."
"Kau akan pergi?"
Tanya Bu-koat.
"Setiba di sini, mau tak mau aku harus pergi?"
"Sebab apa?"
"Watak orang itu sangat aneh, aku ... aku tidak ingin bertemu dengan dia,"
Kata Pek-hujin sambil membuka pintu kereta dan memayang Bu-koat turun. Ia menuding jauh ke sana dan berkata pula.
"Dapatkah kau lihat gardu di sana?"
Tertampak di antara pepohonan yang menghijau dan bunga mekar beraneka warna.
Di sana ada sebuah gardu, sejalur air terjun menuangkan airnya ke bawah dari tebing di sebelah gardu, air muncrat memantulkan sinar berwarna-warni tersorot oleh cahaya matahari senja.
Bu-koat terpesona menghadapi keindahan alam ini, hampir-hampir ia mengira dirinya sudah berada di surga.
Angin meniup sejuk membawa harum bunga semerbak, ia termangu-mangu sejenak, kemudian baru menjawab.
"Ya, hahaha ... kulihat."
Suasana pegunungan sunyi senyap, hanya terkadang terdengar kicau burung dan bau harum bunga, suara tertawa Bu-koat yang sudah serak itu memecahkan keheningan.
"Setelah melintasi gardu kecil itu, kau akan melihat sebuah pintu batu bersembunyi di balik akar-akaran tetumbuhan di lereng tebing sana, pintu batu itu selalu terbuka sepanjang tahun, kau boleh langsung masuk ke sana,"
Demikian pesan Pek-hujin. Diam-diam Bu-koat membatin dengan gegetun.
"Orang yang tinggal di tempat luar biasa ini tentu bukanlah sembarang orang, sungguh menyenangkan aku dapat berjumpa dengan orang kosen, cuma sayang beginilah keadaanku sekarang."
Terdengar Pek-hujin berucap pula.
"Setelah kau masuk pintu batu itu, dengan sendirinya kau akan bertemu dengan orang itu. Asalkan sudah bertemu dengan dia, kalian pasti akan segera menjadi sahabat baik, sebab kalian berdua sama-sama orang yang luar biasa."
"Hahaha, beginilah keadaanku, mana dapat aku disejajarkan dengan orang, hahaha ..."
Kata Bu-koat sambil bergelak parau.
"Kau pun tidak perlu meremehkan dan menyiksa diri sendiri, biarpun orang itu sangat pintar, bahkan mahir segala macam ilmu pengetahuan, tapi dia juga belum tentu lebih unggul daripadamu."
"Siapa namanya?"
"Namanya So Ing,"
Jawab Pek-hujin. Bu-koat menghela napas menyesal, pikirnya.
"Wahai So Ing, selamanya kita belum kenal, tapi aku akan minta engkau menolong jiwaku, apakah engkau tidak merasa geli?"
Didengarnya Pek-hujin berkata pula.
"Setelah bertemu dengan dia, tentu akan dia tanya siapa yang membawamu ke sini, maka boleh kau sebut namaku saja .... Oya, aslinya aku bernama Be Ek-hua."
"Baiklah, kuingat,"
Kata Bu-koat. Setelah termenung sejenak, kemudian Pek-hujin berkata pula.
"Sekarang bolehlah kau masuk ke sana. Aku memang perempuan yang bernasib jelek dan bodoh, betapa pun tidak berani kuharapkan engkau akan mengenangkan diriku, asalkan engkau tidak takut lagi padaku, mati pun aku tidak penasaran."
Bu-koat melengak, tanyanya.
"Mati? ... Masa ... kau akan ...."
Pek-hujin tersenyum sedih, ucapnya.
"Selanjutnya hidupku tiada ubahnya sudah mati, engkau pun tidak perlu memperhatikan aku lagi, seterusnya di dunia ini tiada lagi perempuan bernasib malang seperti diriku ...."
Tiba-tiba ia berhenti berucap lebih lanjut, ia membalik tubuh terus berlari ke keretanya dan dilarikan cepat ke sana.
Bu-koat melenggong sejenak, entak bagaimana perasaannya sukarlah dilukiskan.
Perempuan itu telah membikin susah dia sedemikian rupa, tapi sekarang dia malah berterima kasih, percaya penuh padanya, sedikit pun tidak merasa sangsi apalagi dendam.
Setelah kereta kuda itu melintasi beberapa belokan bukit, mendadak kereta berhenti di kaki tebing sana, dari balik pepohonan muncul tiga orang.
Mereka ialah Thi Peng-koh, Kang Giok-long dan Pek San-kun.
"Apakah bocah itu sudah kau antar ke sana?"
Tanya Pek San-kun dengan tertawa.
"Apa yang telah kukerjakan masa perlu diragukan?"
Jawab Pek-hujin dengan tertawa genit.
"Hujin benar-benar jantannya kaum perempuan, Tecu dapat mendampingi engkau selalu, sungguh beruntung sekali,"
Segera Kang Giok-long ikut mengumpak.
"Buset, setan cilik, manis juga mulutmu,"
Ucap Pek-hujin sambil nyekikik. Pek San-kun menengadah dan bergelak tertawa, katanya.
"Setelah Hoa Bu-koat bertemu dengan dia, tidak sampai tiga hari pasti dia akan menguraikan seluruh rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok padanya. Maka kedua perempuan siluman Ih-hoa-kiong itu pun tidak panjang lagi umurnya."
Kang Giok-long tampak berkedip-kedip, katanya kemudian.
"Apakah orang itu benar-benar memiliki kepandaian sehebat itu?"
"Setan cilik,"
Omel Pek-hujin sambil tertawa.
"jangan kau kira banyak sekali corak permainanmu, bilamana kau kebentur dia, biarpun kau mengeluarkan segenap kemahiranmu juga jangan harap akan mampu lolos dari tangannya."
"Wah, masa ilmu silat orang ini begitu tinggi?"
Giok-long menegas.
"Dia justru sama sekali tidak mahir ilmu silat,"
Tutur Pek-hujin.
"Hah, tidak mahir ilmu silat?"
Giok-long mengulang ucapan itu dengan melengak, lalu ia tertawa.
"Haha, masa orang tidak mahir ilmu silat bisa begini lihai?"
"Memangnya kau kira orang yang tinggi ilmu silatnya pasti lebih unggul daripada orang lain?"
Kata Pek-hujin.
"Supaya kau tahu, jika adu kekuatan, jelas dia kalah, tapi kalau adu akal, sepuluh Kang Giok-long juga tak dapat menandingi dia."
"Ooo,"
Giok-long tertawa. Dia sengaja menarik panjang suara "O"
Ini, suatu tanda dia tidak setuju.
"Kau tidak percaya?"
Tanya Pek-hujin.
"Baik, coba jawab, aku ini bagaimana menurut pandanganmu?"
"Hujin mahahebat dan tiada taranya, mana ada bandingannya di dunia ini,"
Ucap Giok-long dengan khidmat.
"Hah, jangan menjilat pantat,"
Kata Pek-hujin dengan tertawa.
"Kau bilang aku tiada bandingannya di dunia ini, tapi kalau dibandingkan dia aku ini belum masuk hitungan."
"Nah, kau dengar tidak? Hahaha!"
Pek San-kun bergelak tawa.
"Biniku juga mengaku kalah pada orang lain, sungguh bukan urusan mudah."
"Aku memang tidak tunduk pada siapa-siapa, hanya tunduk padanya,"
Kata Pek-hujin. Kang Giok-long juga tertawa, katanya.
"Dengan kepandaian Hujin saja Hoa Bu-koat telah dibikin kelabakan setengah mati, bilamana bocah she Hoa itu ketemu dia, bukankah setitik sinar harapan untuk hidup saja tidak ada lagi?"
"Memang,"
Kata Pek-hujin.
"lelaki mana pun juga hanya ada jalan kematian saja bilamana berhadapan dengan dia, apalagi Hoa Bu-koat yang masih hijau pelonco itu."
"Sampai saat ini Tecu belum lagi mengetahui siapa namanya?"
Tanya Giok-long sambil menyengir.
"Setan cilik, apakah kau akan mengincarnya juga? Awas, gentong cuka di sebelahmu bisa berontak lagi,"
Kata Pek-hujin dengan tertawa sambil melirik Thi Peng-koh. Thi Peng-koh tersenyum hambar, ucapnya.
"Sesungguhnya Tecu juga ingin tahu siapa nama orang itu?"
"Dia bernama So Ing,"
Jawab Pek-hujin.
"Ing dari Ing-toh, belimbing, tapi ingat, meski belimbing ini cantik dan manis, namun berbisa." *** (. ) Sementara itu Hoa Bu-koat sudah memasuki pintu batu yang berwarna hijau gelap karena penuh lumut itu. Di balik pintu adalah gua sangat luas dan sunyi senyap, Bu-koat sendiri bingung entah dirinya berada di mana sekarang? Dia masih tertawa dan tertawa terus, ia benci pada suara tertawanya sendiri yang mengganggu ketenangan tempat yang indah ini. Sedapatnya ia menutup mulut, tapi suara tertawa tetap tidak terbendung. Berjalan sebentar lagi, gua ini semakin dalam diapit dinding batu di kanan kiri, makin jauh makin menyempit. Tapi tak jauh kemudian mendadak membentang lebar lagi, bahkan lantas terang benderang. Kiranya di depan sana ada sebuah lembah sunyi, awan berarak di langit, bunga mekar di mana-mana, terdengar gemerciknya mata air, batu aneh berserakan di sana-sini, tertampak gedung berloteng yang megah di balik pepohonan sana. Di kejauhan ada beberapa ekor bangau putih dan beberapa ekor menjangan sedang berkeliaran kian kemari, sama sekali binatang-binatang itu tidak takut pada manusia, bahkan mendekat seperti menyambut kedatangan tamu. Selagi pikiran Bu-koat melayang-layang kesima, seekor bangau putih menggigit bajunya serta membawanya ke suatu jalan berbatu menuju semak-semak sana. Tampaklah kemudian di tepi sebuah sungai kecil berduduk sesosok bayangan perempuan. Perempuan itu duduk menunduk seolah-olah sedang ngelamun, seakan-akan lagi bercengkerama dengan ikan yang berenang di sungai mengenang masa mudanya yang cepat berlalu dan tentang hidupnya yang kesepian. Rambut _yang panjang gompiok terurai di atas pundak, bajunya yang tipis putih sebersih salju. Tanpa kuasa Bu-koat ikut bangau penyambut tamu tadi ke tepi sungai ini, ia menjadi kesima pula melihat bayangan di tepi sungai bersaing dengan bayangan orang di dalam air sungai. Si gadis baju putih mendadak menoleh dan memandang Bu-koat sekejap. Mendingan kalau gadis itu tidak menoleh, sekali menoleh, seketika bunga di lembah ini seakan-akan layu seluruhnya. Mata alis si gadis seperti lukisan, pipi dekik memesona, bibirnya yang merah itu agak besaran dan dahinya terasa agak lebar, namun sepasang matanya yang jeli dan terang cukup mengatasi semua kekurangan itu. Mungkin gadis ini tidak secerah Thi Sim-lan, tidak selembut Buyung Kiu, tidak segenit Siau-sian-li, mungkin dia tidak tergolong sangat cantik. Akan tetapi keanggunannya yang tiada taranya membuat setiap orang merasa rendah diri dan tidak berani memandangnya lama-lama. Kini sorot matanya mengunjuk rasa heran dan kurang senang seakan-akan sedang bertanya tamu yang tak diundang ini mengapa tertawa ngakak seaneh ini. Muka Bu-koat menjadi merah, katanya kemudian dengan tergagap.
"Cayhe Hoa ... Hoa Bu-koat, ingin bertemu dengan So Ing, So-losiansing."
Si gadis baju putih memandangnya sejenak, tiba-tiba ia tertawa, jawabnya "Di sini memang ada seorang So Ing, tapi bukan Losiansing (tuan tua)."
"Oo!"
Bu-koat jadi melengak. Dengan perlahan si gadis baju putih berkata pula.
"Aku inilah So Ing."
Bu-koat jadi benar-benar melenggong. Tadinya ia mengira "So Ing"
Yang dikatakan dapat menyembuhkan penyakit tertawanya itu tentu seorang tokoh tua Kangouw atau tabib ternama di dunia persilatan yang mengasingkan diri.
Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa So Ing yang dimaksud adalah seorang gadis cantik belum genap 20 tahun.
Si gadis So Ing bertanya pula dengan tersenyum.
"Tempat terpencil di pegunungan sunyi ini, entah siapa gerangan yang mengantar Tuan ke sini?"
"Ini ... ini ...."
Bu-koat menjadi gelagapan.
Sungguh tak tersangka olehnya bahwa Pek-hujin menyuruhnya memohon pertolongan jiwa kepada seorang gadis jelita.
Kini menghadapi senyuman yang hambar dan pandangan yang dingin ini, ia menjadi lebih tidak enak mengucapkan kata-kata memohon.
"Jauh-jauh Tuan telah datang kemari, masa sepatah kata saja tak dapat berucap?"
Kata So Ing pula.
Meski cukup ramah ucapannya, namun sudah timbul rasa hina terhadap tamu asing yang terus tertawa keras ini.
Sambil bicara pandangannya beralih pula ke arah sungai.
Tiba-tiba Bu-koat berkata.
"Cayhe salah masuk ke sini sehingga mengganggu ketenangan nona, harap dimaafkan …."
Setelah sedikit membungkuk badan, lalu ia membalik tubuh dan melangkah pergi.
So Ing juga tidak berpaling lagi, ketika bayangan Bu-koat hampir menghilang di balik semak-semak bunga sana, mendadak ia berseru.
"Kongcu itu hendaklah berhenti dulu!"
Terpaksa Bu-koat berhenti dan menjawab.
"Nona ada petunjuk apa?"
"Coba kembali sini!"
Seru So Ing.
Meski kata-kata ini kedengaran kurang sopan, namun nadanya telah berubah sangat lembut, rasanya tiada seorang lelaki di dunia ini yang tidak terpengaruh oleh suara ini.
Tanpa kuasa Bu-koat lantas melangkah balik.
So Ing tetap tidak menoleh, katanya dengan acuh tak acuh.
"Kukira kau tidak salah masuk ke sini, tapi memang khusus datang kemari. Cuma setelah engkau melihat So Ing yang kau cari hanya seorang gadis belia, hatimu menjadi kecewa, begitu bukan?"
Tentu saja Bu-koat tercengang, jawabnya.
"Cayhe ... Cayhe ...."
"Apa yang kukatakan tidak memerlukan jawabanmu,"
Kata So Ing pula.
"sebab pertanyaanku ini jelas kikuk untuk kau jawab, sedangkan kau justru orang yang tidak dapat berdusta, apalagi dusta pada seorang perempuan."
Bu-koat benar-benar tidak dapat berkata apa-apa. Maka So Ing menyambung pula.
"Lantaran kau adalah orang demikian, merasa malu apabila mengucapkan sesuatu permohonan kepada seorang gadis, maka meski kau khusus sengaja datang ke sini, namun dengan suatu dan lain alasan segera kau pergi lagi. Begitu bukan?"
Kembali Bu-koat melenggong, padahal gadis itu hanya memandangnya sekejap saja, tapi pandangan sekejap itu seakan-akan telah menembus dalam-dalam ke lubuk hatinya, apa pun yang terpikir dalam benaknya seakan-akan tak dapat mengelabui pandangan mata yang jeli itu.
Dengan perlahan So Ing menghela napas dan berkata pula.
"Jika kau hendak pergi, tentunya aku tak dapat merintangimu. Tapi ingin kuberitahukan padamu bahwa kau sekali-kali tidak mungkin melangkah keluar pintu batu itu."
Tergetar tubuh Bu-koat, belum sampai ia buka suara So Ing sudah menyambung pula.
"Saat ini urat nadimu sudah hampir tergetar putus oleh tertawamu, air mukamu sudah menampilkan warna kematian, di dunia ini hanya ada tiga orang yang mampu menolongmu, apabila sama sekali kau tidak sayang pada jiwanya sendiri, sungguh hal ini membuat orang kecewa." *** (. ) Rumah ini sangat besar dan luas dengan daun jendela di sekelilingnya. Hari sudah mulai gelap, api lilin belum lagi dinyalakan, bau harum bunga yang memenuhi lembah di luar sana terbawa angin memenuhi ruangan ini, kelihatan juga bintang berkelip-kelip bertaburan di langit. So Ing merapatkan daun jendela yang terakhir, sepasang tangannya yang putih halus itu seakan akan tembus cahaya. Di bagian yang tak berdaun jendela penuh rak kitab, jarak antara rak tidak tertentu, semuanya penuh kitab beraneka ragam diseling pot-pot dan benda antik lainnya, ada yang terbuat dari jade, ada pula ukiran dari batu dan kayu serta macam-macam lagi. Namun di dalam ramah ini ada sesuatu yang aneh, yaitu ruangan seluas ini hanya ada sebuah kursi melulu, lain tidak ada. Kursi ini pun sangat aneh, tampaknya tidak mirip kursi malas umumnya dan juga tidak seperti kursi yang sering terdapat di kamar anak perempuan. Kursi ini tampaknya lebih mirip sebuah peti yang besar, cuma di bagian tengah mendekuk sehingga orang yang duduk di situ seakan-akan terjepit saja tampaknya. Di ruangan inilah Hoa Bu-koat disilakan masuk. Ia merasa cara bicara si nona meski kedengaran ramah tamah tapi terasa sukar dibantah. Walaupun kedengaran dingin kaku ucapannya, tapi terasa pula sukar ditolak. Aneh juga tuan rumah ini, tanpa menyilakan duduk tamunya, sebaliknya So Ing lantas duduk sendiri pada satu-satunya kursi di ruangan ini. Terpaksa Bu-koat berdiri saja di dekat pintu dengan perasaan serba salah. Dengan tersenyum hambar kemudian So Ing berkata.
"Tempatku ini jarang sekali kedatangan tamu, andaikan ada tamu juga kebanyakan tamu yang sudah sakit parah sehingga duduk saja tidak bisa, maka aku pun tidak perlu menyediakan kursi lagi."
Bu-koat masih terus tertawa latah, cuma dalam hati ia berpikir.
"Apabila orang yang datang kemari tidak dapat duduk lagi, memangnya hanya disuruh berdiri saja begini?"
Segera terdengar So Ing berkata pula.
"Tentunya kau akan berpikir apabila orang yang datang ke sini tidak dapat duduk lagi, dengan sendirinya juga tidak dapat disuruh berdiri, lalu apakah mereka dibaringkan di lantai? Begitu bukan?"
Diam-diam Bu-koat terkejut.
Ia merasa anak perempuan ini sungguh menakutkan.
Apa pun yang kupikirkan, segera dapat diterkanya.
Sebaliknya apa yang telah dipikirkan olehnya justru tiada seorang pun yang tahu.
Terdengar So Ing berkata pula dengan tertawa.
"Kenapa khawatir, bukan maksudku selalu ingin menerka isi hati orang, aku pun tidak akan menyuruh orang berbaring di lantai ...."
Kursi mirip peti yang diduduki So Ing itu mempunyai sandaran tangan yang lebar sehingga mirip juga sebuah peti kecil dan dapat dibuka.
Sambil bicara ia lantas membuka tutup bagian sandaran tangan, perlahan jarinya menyontek sesuatu di dalamnya, terdengar "klik"
Perlahan satu kali. Mendadak lantai di depan Bu-koat berdiri itu merekah dan terlihatlah sebuah lubang menyusul sebuah ranjang lantas timbul perlahan dari bawah.
"Sekarang tersedia tempat tidur, silakan berbaring di situ,"
Ucap So Ing dengan acuh.
"Apalagi yang kau inginkan?"
"Aku ... aku ingin minum teh,"
Jawab Bu-koat.
Permintaan ini sebenarnya tidak sengaja diucapkannya, tapi tanpa terasa tercetus dari mulut.
Sesungguhnya ia cuma ingin mencoba sampai di mana kelihaian anak perempuan ini.
Didengarnya So Ing menjawab.
"Oya, aku lupa, ada tamu, andaikan tiada arak, satu cangkir teh adalah pantas disuguhkan."
Sambil bicara kembali tangannya menyontek sekali lagi di dalam peti.
Terdengar dinding di balik rak buku sana ada suara gemerciknya air, menyusul rak buku itu menggeser perlahan secara otomatis, seorang boneka kayu kecil meluncur keluar dari balik rak itu.
Kacung robot ini benar-benar membawa sebuah nampan dengan dua cangkir kemala berisi air minum berwarna susu.
Dengan tersenyum So Ing berkata.
"Maaf, di sini tidak ada teh, harap sudi minum sekadarnya air bening ini."
"Haha, tampaknya robot kerbau dan kuda ciptaan Kong Beng di jaman Sam-kok juga tidak lebih daripada ini,"
Seru Bu-koat dengan tertawa.
"Untuk digunakan di medan perang memang robot kerbau dan kuda Cukat Liang itu sangat bagus, tapi kalau dipakai di rumah tangga untuk melayani tamu, rasanya kan kurang pantas,"
Kata So Ing dengan dingin.
Di balik ucapannya ini seakan-akan kepandaian Cukat Liang dengan robotnya itu pun dipandang enteng olehnya.
Sementara itu malam gelap, sinar bintang berkedip-kedip, pada rak buku sana ada sebuah lampu minyak, tapi tidak dinyalakan.
Segera Bu-koat berkata pula.
"Apakah tanpa bergerak nona juga dapat menyalakan lampu?"
"Aku ini pemalas, karena itu sering kali kuciptakan macam-macam akal malas ...."
Kembali tangannya menyontek perlahan, rak buku di sebelah lampu minyak sana segera timbul batu api dan pisau ketikan.
"Crik", lelatu api lantas muncrat dan lampu itu pun benar menyala. So Ing tersenyum, katanya.
"Lihatlah, biarpun aku cuma duduk saja di sini kan juga dapat melakukan banyak pekerjaan."
Bu-koat bergelak tertawa, bergelak sungguh-sungguh, serunya.
"Menurut pandanganku, sekalipun menyalakan lampu dan menuang minuman sendiri juga jauh lebih mudah dari pada membuat peralatan rahasia, mengapa pemalas seperti engkau ini sengaja menciptakan cara-cara yang merepotkan ini?"
Entah mengapa, selalu dia berusaha hendak mematahkan keangkuhan So Ing, padahal mestinya dia bukan orang macam demikian, mungkin karena tertawa latahnya telah membuatnya kehilangan akal.
Segera terdengar So Ing mengejek.
"Hm, orang seperti diriku ini apakah juga sudi menuangkan teh bagimu?"
"Mengapa kau tidak memakai budak atau pelayan, cara demikian kan jauh lebih mudah?"
"Aku justru takut ketularan tingkah laku orang-orang begitu,"
Jawab So Ing memandangnya dengan lekat-lekat, sambungnya kemudian.
"Kau bicara begini, sebab kau merasa aku terlalu unggul dan kau ingin menjatuhkan aku, betul tidak? Biar kukatakan terus terang, di dunia ini tiada yang dapat menjatuhkan aku dan aku akan selalu paling atas, tidak perlu kau berusaha secara sia-sia."
"Hahaha, padahal kau cuma seorang anak perempuan yang lemah tak tahan tiupan angin, sekali dorong saja setiap orang dapat merobohkan kau,"
Seru Bu-koat sambil tertawa.
"Tajam juga pandanganmu, kau ternyata dapat melihat aku ini tidak bisa ilmu silat."
"Terima kasih,"
Jawab Bu-koat.
"Ilmu silatmu sangat hebat, bukan?"
"Ya, lumayan!"
"Tapi sekarang yang minta tolong padaku adalah kau, dari sini jelas kelihatan bahwa urusan di dunia ini tidak dapat diselesaikan dengan ilmu silat. Sebabnya manusia disebut makhluk paling cerdas di jagat ini adalah karena otaknya dan bukan tenaganya, kalau cuma bicara tenaga, maka keledai kan jauh lebih kuat daripada manusia."
Seketika Bu-koat menjadi gusar pula, segera ia bermaksud tinggal pergi lagi. Tapi pada saat inilah tiba-tiba So Ing melangkah maju dengan tersenyum manis, katanya dengan suara lembut.
"Sekarang silakan kau berbaring saja dengan baik, akan kuberi minum sebotol obat, habis itu suara tertawamu yang menyebalkan ini akan berhenti."
Menghadapi senyuman yang menarik, suara selembut ini, lelaki mana di dunia ini yang dapat naik pitam pula?
Apalagi ucapan si nona juga mengenai kepentingan Hoa Bu-koat.
Bu-koat tidaklah takut mati, namun tertawanya ...
tertawanya yang sialan ini ...
baginya sekarang rasanya tiada sesuatu di dunia yang lebih menakutkan daripada "tertawa".
Suara tertawanya akhirnya berhenti juga.
Setelah minum obat, Bu-koat lantas tertidur pulas.
Sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa genit dan berseru.
"Adik yang baik, sungguh hebat kau. Lelaki yang liar bagaimana pun juga, setelah berhadapan denganmu pasti akan berubah menjadi jinak seperti seekor anjing kecil ...."
Yang masuk menyusul suara tertawa itu adalah Pek-hujin. So Ing tidak berpaling sama sekali, dengan hambar dia menjawab.
"Mengapa kau datang sekarang? Memangnya kau sangsi padaku?"
"Dengan kepintaran dan kecerdikan adik, mana aku perlu sangsi lagi,"
Cepat Pek-hujin menjawab dengan tertawa.
"Aku cuma ...."
"Cuma apa?"
Tanya So Ing.
"Cuma kita tahu watak adik yang angkuh dan tinggi hati, maka kudatang kemari untuk memohon agar adik suka bersabar sedikit, asalkan bocah ini sudah menceritakan rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok, habis itu segera kita membunuh bocah ini untuk melampiaskan rasa dongkol adik."
Sampai di sini barulah So Ing meliriknya dengan dingin, tanyanya.
"Apa kau rasa caraku ini tidak baik?"
"Bukan tidak baik, cuma ... tujuan kita sekarang hendak memancing dia menguraikan rahasia Ih-hoa-kiong, maka ...."
"Maka kau anggap sikapku terlalu garang, terlalu kaku begitu?"
"Adik adalah orang pintar, tentunya tahu kebanyakan lelaki ...."
"Kau kira aku harus bersikap lebih lembut padanya, harus menjilat dan mengumpak dia, harus merayu dan bilamana perlu harus membuka baju dan menjatuhkan diri ke pangkuannya. Begitu?"
"Bocah ini toh pasti akan mati, diberi sedikit kemurahan kan tidak menjadi soal?"
"Untuk cara-cara demikian kau lebih mahir daripadaku, mengapa kau sendiri tidak mampu memancing rahasianya?"
Jengek So Ing. Pek-hujin melengak sejenak, katanya kemudian dengan tertawa.
"Tacimu ini kan sudah keriput, tubuh pun tinggal kulit membungkus tulang, kalau bugil masa menarik?"
"Hm, sekalipun kau lebih muda dua puluh tahun juga tiada gunanya,"
Jengek So Ing. Sekali ini Pek-hujin benar-benar rada kikuk dan tidak dapat tertawa lagi. Dengan dingin So Ing lantas menyambung pula.
"Terus terang, apabila aku menggunakan caramu ini terhadap dia, jelas dia pasti tidak mau membuka mulut. Bilamana caramu ini digunakan terhadap suamimu kukira masih boleh juga."
"Tapi ... tapi ...."
"Pokoknya, terhadap orang macam dia harus menggunakan caraku barulah dapat menundukkan dia,"
Sela So Ing.
"Dengan caraku ini, tentu dia takkan menyangka aku mengharapkan sesuatu dari dia dan dia juga pasti tidak curiga padaku, kalau tidak, masa aku sengaja membiarkan dia mengetahui aku ini tidak mahir ilmu silat? Tentunya kau tahu, meski aku tidak sudi belajar permainan yang menjemukan seperti kalian ini, tapi bilamana aku mau berlagak seorang jagoan tentunya setiap orang juga akan percaya."
"Ya, ya, baru sekarang kupaham,"
Ucap Pek-hujin dengan berseri.
"Cara adik memang hebat dan sukar ditandingi orang lain."
So Ing tersenyum kemalas-malasan, ucapnya.
"Asal kau tahu saja. Nah, sekarang lekas kalian menyingkir agak jauh, besok pada waktu yang sama seperti sekarang ini kutanggung sudah dapat membuat dia membeberkan rahasia Ih-hoa-kiong secara lengkap."
Esoknya waktu Bu-koat siuman, benar juga suara tertawanya telah berhenti sama sekali, cuma sekujur badan terasa lemas lunglai tanpa tenaga sedikit pun, berbaring di tempat tidur itu rasanya hendak berbangkit duduk saja sukar.
Di dalam rumah tiada seorang pun, seputar sunyi senyap, hanya terdengar burung berkicau dan bau harum bunga semerbak.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seorang bertindak aneh di belakang rumah sana.
"Keluar, keluar sana! Sudah kukatakan aku tidak mau makan akar rumput dan kulit pohon beginian, mengapa kau selalu memaksa aku menelannya?"
Lalu terdengar suara So Ing berkata dengan lembut.
"Ini bukan akar rumput dan kulit pohon segala, tapi Jinsom (ginseng)."
"Peduli Jinsom atau Kuisom (som setan), sekali kubilang tidak mau makan tetap tidak mau,"
Orang itu meraung pula. Tapi So Ing malah tertawa dan berkata.
"Ai, belum pernah kulihat orang seperti kau ini. Baik, baik, kau tidak mau makan, biar kubawa keluar."
Bahwa gadis seperti So Ing manda menghadapi sikap kasar orang, hal ini benar-benar membuat Hoa Bu-koat keheranan.
Diam-diam ia menerka siapa gerangan orang yang berani bersikap keras kepada So Ing itu, sesungguhnya tokoh macam apa dia?
Selang sejenak, tertampak So Ing muncul dengan tertunduk lesu.
Begitu masuk ke ruangan ini, segera si nona pulih lagi sikapnya yang angkuh dengan tidak tanduknya yang anggun.
Cuma sekarang dia membawa semangkuk Jinsomtheng (kuah Jinsom atau Kolesom).
Diam-diam Bu-koat membatin.
"Orang itu tidak mau minum air Jinsom ini, apakah sekarang hendak diberikannya padaku?"
Keadaan Bu-koat sekarang memang sangat memerlukan obat kuat seperti Jinsom dan sebagainya, tapi dalam hati ia sudah ambil keputusan, apabila si nona hendak menyuruhnya minum Jinsomtheng itu, maka dia juga pasti akan menolak.
Di luar dugaan So Ing langsung mendekati jendela, Jinsomtheng itu dibuang keluar, barang yang dibuatnya untuk "saudara"
Itu ternyata lebih suka dibuang daripada diberikan pada orang lain. Diam-diam Hoa Bu-koat menyengir sendiri. Sementara itu So Ing telah mendekati tempat tidurnya, tanyanya dengan hambar.
"Sekarang kau sudah merasa lebih baik bukan?"
Baru sekarang juga Bu-koat ingat pada penderitaannya waktu tertawa latah kemarin, kini benar-benar dirasakan bedanya seperti langit dan bumi. Mau tak mau ia menghela napas lega dan berucap.
"Terima kasih nona!"
"Sekarang belum lagi waktunya kau berterima kasih padaku,"
Kata So Ing.
"Se ... sebab apa?"
Tanya Bu-koat.
"Meski sekarang suara tertawamu sudah berhenti, tapi jarum itu masih ngendon di dalam Hiat-tomu, jarum itu terdesak oleh obatku hingga miring sedikit ke samping, tapi bila kau terlalu keras menggunakan tenaga, bukan mustahil penyakitmu akan kambuh lagi."
"Lalu ... lalu bagaimana baiknya?"
Tanya Bu-koat terkejut. Ia lebih suka mengorbankan segalanya daripada menderita penyakit tertawa latah begitu.
"Bergantung pada dirimu sendiri, kau ingin mengeluarkan jarum itu tidak,"
Kata So Ing.
"Bergantung pada diriku sendiri?"
Bu-koat menegas dengan melengak.
"Jarum ini sudah terlalu dalam menyusup ke Hiat-to, sekalipun disedot dengan benda sebangsa batu hitam (maksudnya, besi sembrani) juga sukar mengeluarkannya, jalan satu-satunya hanyalah menggunakan tanganmu sendiri, dengan tenaga dalam yang kuat mungkin kau dapat mendesaknya keluar."
"Tapi ... tapi saat ini sama sekali aku tak dapat mengerahkan tenaga sedikit pun,"
Kata Bu-koat.
"Dengan sendirinya saat ini kau tak bertenaga, kalau bertenaga tentunya kau tidak perlu mencari aku ke sini,"
Jengek So Ing.
"Apakah nona ada akal lain yang dapat membuat hawa murni di tubuhku berjalan lancar?"
"Sudah tentu ada, asalkan saja kau beritahukan padaku kunci Lwekang yang kau latih, nanti aku dapat membantu dari luar untuk melancarkan tenagamu dan mendesak keluar jarum berbisa itu."
Cara bicara si nona sedemikian tenang dan hambar, seakan-akan hal ini adalah urusan biasa, seakan-akan Hoa Bu-koat pasti akan menuturkan rahasia Lwekangnya setelah mendengar ucapannya.
Dia sengaja bersikap demikian, sebab ia tahu hanya sikap dan cara bicara ketus beginilah baru tidak menimbulkan curiga Hoa Bu-koat, supaya pemuda itu tidak menyangka semua ini adalah perangkap yang sengaja diaturnya.
Hoa Bu-koat memang betul tidak berprasangka buruk.
Namun Ih-hoa-ciap-giok adalah ilmu gaib yang paling hebat, rahasia paling besar dalam ilmu silat di dunia ini, jika dia disuruh menjelaskan begitu saja, mau tak mau ia menjadi ragu-ragu juga.
Setelah memandangnya sejenak, kemudian So Ing berkata pula dengan perlahan.
"Barangkali kau khawatir aku mencuri belajar Lwekangmu?"
"O, Cayhe tiada maksud begitu, cuma .…"
"Orang macam diriku ini, apabila mempunyai setitik pikiran suka pada ilmu silat, maka saat ini sekalipun belum terhitung jago nomor satu di dunia rasanya pasti juga sudah mendekati,"
So Ing menghela napas, lalu menyambung pula dengan dingin.
"Orang yang meyakinkan ilmu silat seperti kalian ini selalu anggap ilmu silat seperti benda mestika, padahal bagi pandanganku pada hakikatnya tidak laku sepeser pun."
Habis berkata segera ia melangkah pergi.
"He, nanti dulu, nona,"
Seru Bu-koat. So Ing menjengek tanpa menoleh.
"Bicara atau tidak terserah padamu, aku mau mendengarkan atau tidak juga belum pasti."
Bu-koat menghela napas, katanya.
"Lwekang yang kulatih itu disebut ‘Ih-hoa-ciap-giok’, pada dasarnya ialah ...." *** (. ) Waktu senja sudah tiba pula, Pek San-kun suami istri bersama Kang Giok-long dan Thi Peng-koh telah menunggu cukup lama di gardu kecil di mulut lembah sana. Dari air muka mereka jelas terlihat rasa gelisah dan tidak sabar menunggu lagi. Kang Giok-long tidak tahan, ia berkata dengan tertawa.
"Sungguh tak dapat kubayangkan orang macam apakah nona So itu? Mengapa kedua Cianpwe sedemikian kagum padanya."
"Setan cilik,"
Jawab Pek-hujin dengan tertawa.
"Supaya kau tahu, apabila kau bertemu dengan dia, mungkin bicara saja kau tidak sanggup."
"Ah, tidakkah ucapan Cianpwe ini berlebihan? Masakan Cayhe begitu ...."
Sampai di sini mendadak ia tak sanggup melanjutkan lagi dengan mulut ternganga.
Rupanya dilihatnya ada seorang bidadari bermantel bulu sedang melangkah tiba di bawah cahaya mentari senja, seekor bangau putih dengan jengger merah berjalan menegak di depannya, seekor menjangan jinak mengikut di belakangnya, angin meniup lembut mengusap rambutnya yang rada kusut, sebelah tangannya membelai perlahan ....
Hanya gaya belaian ini saja sudah cukup membuat setiap lelaki di dunia ini menahan napas, apabila adegan ini hendak dilukis, rasanya sukar dibayangkan oleh pelukis mana pun juga.
Mungkin dia tidak terlalu cantik, tapi keanggunannya, keluwesannya, sungguh tiada bandingannya.
Kang Giok-long melotot kesima seperti orang mabuk, mana dia sanggup bicara lagi.
Pek-hujin melirik sekejap, lalu memapak ke sana, sapanya sambil tertawa.
"Adikku yang baik, kau benar-benar datang."
"Apa yang sudah kukatakan bilakah pernah kuingkari?"
Jawab sang "bidadari"
Alias So Ing dengan acuh. Pek San-kun juga maju menyambutnya, katanya dengan tertawa.
"Sudah tentu, masa perlu disangsikan lagi. Tentang rahasia Ih-hoa-ciap-giok itu pasti adik sudah berhasil mengoreknya."
"Betul, sudah berhasil kutanyai dia,"
Kata So Ing.
"Terima kasih, terima kasih,"
Seru Pek San-kun.
"Sekarang kau belum terburu-buru berterima kasih padaku,"
Jengek So Ing. Cepat Pek-hujin menyambung pula.
"Memangnya, kenapa kau tidak sabaran begitu. Kan lebih dulu kita harus menyilakan duduk adik baru nanti …."
"Aku takkan duduk dan segera akan pulang saja,"
Tukas So Ing ketus.
"Lantas ... lantas ... Ih-hoa-ciap-giok itu, apakah adik sudah mencatat dengan baik?"
Tanya Pek-hujin.
"Untuk apa dicatat, masakan aku tidak dapat mengingatnya di luar kepala?"
"Betul, betul,"
Seru Pek San-kun dengan tertawa.
"Siapa pun tahu daya ingat adik luar biasa, cuma ...."
"Cuma kami tidak mempunyai kemampuan seperti adik,"
Sambung Pek-hujin dengan tertawa.
"Maka bagaimana pun juga engkau ...."
"Kalian juga tidak memerlukan kepandaian demikian,"
Ujar So Ing.
"Ya, ya dengan sendirinya adik akan menulisnya untuk kita, kenapa kau mesti terburu-buru,"
Omel Pek San-kun pada bininya.
"Sekarang aku pun tidak mau menulisnya untuk kalian,"
Ucap So Ing tak acuh. Pek San-kun melengak, tanyanya.
"Jika begitu, jadi ... maksudmu …."
"Umpama kalian sendiri, apabila kalian mendapatkan sesuatu permainan menarik, apakah kalian rela segera diberikan lagi kepada orang lain?"
"Tapi ini ... ini ...."
Pek San-kun jadi gelagapan.
"Habis kapan baru adik akan memberitahukannya kepada kami?"
Tanya Pek-hujin dengan mengiring tawa.
"Bisa jadi tiga hari lagi atau lima hari lagi, mungkin juga setengah tahun atau setahun lagi, nanti kalau aku sudah bosan, dengan sendirinya akan kukatakan pada kalian."
Pek San-kun suami istri hanya saling pandang dengan tercengang. Kata Pek-hujin kemudian.
"O, adikku yang baik, jangan engkau bergurau, masa pakai tahunan segala, bisa bikin orang kelabakan setengah mati."
"Kelabakan sampai mati pun urusan kalian sendiri, peduli apa dengan aku?"
"Tapi ... tapi adik kan sudah berjanji ...."
"Aku cuma berjanji padamu akan mengorek keterangan Ih-hoa-ciap-giok dari Hoa Bu-koat, kan tak berjanji akan kuberitahukan rahasia itu padamu?"
Seketika Pek San-kun suami istri melenggong dan tidak dapat bersuara lagi. Perlahan So Ing membalik tubuh sambil berkata.
"Di pegunungan sunyi ini tiada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tetamu, aku pun tidak menahan kalian, silakan kalian pulang saja."
Pek-hujin menjadi gelisah, cepat ia berseru.
"Tunggu dulu, adik!"
"Kalian tentunya tahu apa yang sudah kukatakan selamanya takkan berubah, mengapa kalian mesti banyak urusan pula?"
Seru So Ing.
"Aku ... aku ingin tahu bagaimana keadaan bocah she Hoa itu sekarang?"
Ucap Pek-hujin dengan menyesal.
"Dia sudah masuk tempatku ini, mati atau hidupnya adalah urusanku, kalian tidak perlu memikirkannya lagi."
"Tapi apakah dia takkan ...."
"Huh, bilakah pernah kulakukan hal yang memalukan? Malah aku takut membikin kotor tanganku,"
Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula.
"Tapi kalian pun jangan khawatir, pasti tidak akan kulepaskan dia. Selama hidupnya mungkin takkan bertemu dengan siapa-siapa lagi."
Habis berkata, tanpa menoleh ia terus melangkah pergi.
Terpaksa Pek San-kun suami-istri menyaksikan kepergian nona jelita itu dengan melongo, tiada satu pun berani merintanginya.
Selang sejenak, Kang Giok-long menghela napas gegetun dan berkata.
"Orang kasar begitu, sungguh jarang terlihat."
Thi Peng-koh melototnya sekejap dan menjengek.
"Setelah orangnya pergi kau baru bisa bersuara bukan?"
Giok-long anggap tidak mendengar, katanya.
"Jika budak itu tidak tahu ilmu silat sama sekali, kenapa Cianpwe tidak membekuknya saja tadi?"
Pek San-kun menghela napas, jawabnya.
"Lothaucu (si kakek) memandangnya seperti mestika, barang siapa berani menyentuh sebuah jarinya, mustahil kalau tidak dilabrak habis-habisan oleh Lothaucu. Karena kami suami istri sekarang tidak ingin merecoki Lothaucu itu, terpaksa memberi kelonggaran juga pada nona angkuh itu."
"Apalagi,"
Sambung Pek-hujin dengan menyengir.
"jangan kau kira dia lemah ibarat tenaga menyembelih ayam saja tidak ada, namun tipu akalnya sungguh tidak terhitung banyaknya. Hanya kita beberapa orang ini belum pasti mampu mengatasi dia."
Giok-long tersenyum dan tidak menanggapi. Pek San-kun memandangnya sejenak, tiba-tiba matanya bercahaya, ucapnya.
"Kau penasaran bukan?"
"Ya, memang agak penasaran,"
Jawab Giok-long dengan tertawa.
"Apakah kau ingin mencobanya?"
Tanya Pek San-kun. Sambil melirik Thi Peng-koh, Kang Giok-long cuma tersenyum saja tanpa menjawab. Mendadak Pek San-kun menggablok pundak Giok-long, katanya sambil ngakak.
"Hahaha, sudah lama kutahu kau mempunyai kepandaian khas terhadap perempuan, memang tepat jika kau mau mencobanya. Tampaknya budak itu pun sedang berahi, bisa jadi dia akan terpelet olehmu dan menceritakan semuanya padamu."
"Ah, kepandaian khas apa yang kumiliki, janganlah Cianpwe berkelakar,"
Ucap Giok-long dengan tertawa sambil melirik Thi Peng-koh. Pek-hujin lantas merangkul Thi Peng-koh, katanya dengan tertawa genit.
"Adik yang baik, biarkan saja dia pergi, kujamin dia pasti tidak berani mengkhianatimu, jika dia berani menyeleweng, kepalanya pasti akan kupenggal bagimu."
Begitulah dengan berlenggang Kang Giok-long memasuki lembah pegunungan yang indah itu, angin senja meniup sejuk, bunga harum semerbak, badan terasa enteng seakan-akan tulangnya tiada setengah kati beratnya.
Terhadap perempuan, Kang Giok-long yakin dirinya adalah seorang ahli, sudah berpengalaman, apalagi menghadapi nona kecil muda belia begini, asalkan dia maju, mustahil takkan menundukkannya dengan mudah.
Yang paling melegakan hatinya ialah nona kecil ini tidak mahir ilmu silat sedikit pun, seumpama usahanya nanti gagal, paling-paling cuma mundur teratur saja dan takkan rugi apa-apa.
Apalagi dalam keadaan perlu, malahan dia dapat memakai kekerasan, diperkosa saja nona itu, kalau beras sudah menjadi nasi, mau apalagi nona itu, selain tunduk dan menurut belaka?
Sembilan di antara sepuluh perempuan kebanyakan memang seperti kuda binal, tapi kalau sudah mau kau tunggangi, tentu dia akan jinak dan membiarkan kau memasangi pelana dan membedalnya, segi ini cukup dipahami Kang Giok-long dengan jelas.
Contohnya Thi Peng-koh, dahulu nona itu suci bersih, keras dan kereng.
Tapi sekarang, bukankah nona itu sudah ditundukkan?
Apalagi seumpama nona So itu berwatak keras, mati pun tidak mau menceritakan rahasia apa-apa, bila perlu juga dapat ditinggal pergi lagi, kalau dia sudah menarik keuntungan dari si nona, yang rugi kan orang lain dan pasti bukan Kang Giok-long.
Setelah membikin neraca dan menghitung untung ruginya, makin dipikir makin gembira Kang Giok-long sehingga hampir lupa daratan.
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang membentaknya.
"Siapa kau? Mengapa berani sembarangan menerobos ke tempat orang?"
Rupanya Kang Giok-long terlalu gembira sehingga tidak mengetahui So Ing sudah sejak tadi melototinya dari jauh.
Melihat yang menegurnya adalah nona So yang hendak dicarinya, segera Giok-long bersikap memelas seperti pengemis minta sedekah.
Ia tahu perempuan selalu bersimpati pada kaum yang lemah.
"Sesungguhnya untuk apa kau datang kemari?"
Tegur So Ing pula sambil berkerut kening. Giok-long menunduk, dengan sikap minta dikasihani dia menjawab.
"Cayhe masuk ke sini secara sembrono, sungguh tidak sopan ...."
"Jika tahu tidak sopan, sekarang juga seharusnya lekas kau keluar saja,"
Kata So Ing.
Tadinya Kang Giok-long sudah menyiapkan macam-macam ocehan manis dan muluk-muluk, ia mengira cukup akan menembus hati setiap gadis.
Siapa tahu nona So ini ternyata mirip sebuah dinding yang kukuh, satu lubang saja tidak ada.
Kata-kata yang sudah terkumpul memenuhi perutnya kini sepatah saja belum sempat dikeluarkan, tiba-tiba So Ing lantas membalik tubuh dan berjalan kembali ke sana.
Tentu saja Kang Giok-long rada bingung.
Tapi dia memang cukup cekatan menggunakan otaknya, segera ia mendapat akal.
Mendadak ia berseru.
"Tunggu dulu, nona! Betapa pun juga mohon nona sudi menyelamatkan jiwaku."
"Menolong jiwamu?"
Tanya So Ing sambil menoleh dan berkerut kening.
"Cayhe mengidap penyakit berat, kedatanganku ini hanya ingin mohon nona menolong ...."
"Jika sakit, carilah tabib, di sini bukan rumah obat dan juga bukan tempat praktik tabib, untuk apa kau datang kemari?"
Sela si nona.
"Apabila orang lain dapat menyembuhkan penyakit Cayhe, tentu Cayhe tak berani mengganggu nona,"
Ucap Giok-long dengan rawan.
"Cuma sayang, di dunia ini meski banyak tabib, tapi kebanyakan adalah kaum penipu dan pembual saja, bilamana mereka mempunyai kepintaran setitik sebagai nona saja, tentu ... ai, tentu Cayhe tidak perlu lagi jauh-jauh datang ke sini untuk mengganggu ketenangan nona."
Di dunia ini, salah satu akal tak berwujud yang paling ampuh ialah menjilat pantat, untuk ini Kang Giok-long jauh lebih paham daripada siapa pun juga.
Bukti memang nyata, air muka So Ing segera berubah lebih ramah walaupun mulutnya berucap dengan dingin.
"Dari mana pula kau tahu aku dapat menyembuhkan penyakitmu? Siapa yang bilang padamu?"
"O, dari ... dari seorang sahabat orang tua yang tidak sampai hati menyaksikan penderitaanku, beliau yang memberi petunjuk dan menyuruhku datang ke sini,"
Jawab Giok-long dengan menunduk. Lalu ia menyambung dengan menyengir.
"Cianpwe itu sebenarnya melarangku menyebut namanya, tapi di depan nona mana berani kudusta. Beliau yang memberi alamat nona di sini ialah Pek San-kun, Pek-locianpwe dan istrinya."
Kang Giok-long benar-benar menguasai tekniknya berdusta, maka dia harus menyelinginya dengan beberapa patah kata yang tidak penting tapi benar.
Kata-kata benar ini bila sebelumnya sudah diketahui lawannya, maka hasilnya akan lebih cespleng.
Maklum, apabila kata-kata bohong seseorang diucapkan terlalu banyak, tentu tiada seorang pun yang mau percaya.
Tapi jika di antara kata-kata bohong itu ada sebagian adalah kata-kata benar serta ditambah lagi kalimat-kalimat sanjung puji pada sasarannya, maka usahanya pasti akan lancar dan hasilnya pasti memuaskan.
Benar juga, air muka So Ing bertambah ramah tamah lagi, katanya sambil menggeleng.
"Kedua orang itu hanya suka membikin repot padaku saja."
Dari sikap dan ucapan orang, Kang Giok-long merasakan urusan telah banyak memberi harapan. Dia memang pintar melihat gelagat, menyusul segera ia berlutut di depan si nona dan berkata.
"Penyakitku ini jelas tak dapat ditolong orang lain, apabila sekarang nona tidak ... tidak kasihan padaku, maka biarlah lebih baik kumati di depan nona saja."
Sepasang mata nona yang bening itu memandangnya lekat-lekat, sejenak barulah ia menghela napas dan berkata.
"Ai, kau ini juga suka merepotkan orang ...."
Sambil berkata, kembali ia membalik tubuh dan melangkah pergi pula.
"He, jangan pergi nona, apa pun juga hendaklah nona menyelamatkan jiwaku!"
Seru Giok-long gugup. Tiba-tiba So Ing mengikik tawa, ucapnya.
"Tolol, aku pergi, memangnya kau tak dapat ikut kemari?"
Suara tertawa si nona benar-benar membuat tulang Kang Giok-long menjadi lemas seluruhnya, sebutan ‘tolol’ itu bahkan menggelitik hulu hatinya sehingga kalau bisa si nona hendak ditubruknya sekarang juga.
Begitulah akhirnya So Ing membawa Giok-long ke ruangan yang luas itu, api lilin sudah menyala, tempat tidur pun masih di situ, namun Hoa Bu-koat yang tadinya berbaring di ranjang itu entah berada di mana sekarang?
Melihat pinggang si nona yang ramping dengan gayanya yang menggiurkan itu, sungguh kalau bisa Kang Giok-long ingin merangkulnya sekarang juga.
Tapi ia pun tahu, kalau ingin memelet seorang perempuan, maka cara yang paling baik harus bersabar dan tidak boleh bertindak secara kasar.
"Nah, sekarang boleh kau katakan dulu apa penyakit yang kau derita? Bagian mana yang merasa tidak enak?"
Demikian So Ing mulai bertanya.
"Yang sakit ... yang sakit bagian ... bagian perut,"
Jawab Giok-long agak gelagapan. Maklum, pada hakikatnya dia tidak sakit apa-apa, terpaksa ia omong sekenanya.
"Sakit perut masa kau anggap penyakit?"
Ujar So Ing dengan tertawa. Melihat si nona cuma tertawa saja, hati Giok-long tambah mantap, segera ia menambahkan.
"Bukan saja perut Cayhe sakit, sekujur badan juga terasa sakit ...."
"Hebatkah sakitnya?"
"Wah setengah mati rasanya!"
Tapi mendadak So Ing menarik muka dan berkata dengan ketus.
"Tapi keadaanmu tidak mirip orang kesakitan."
Giok-long jadi melengak.
Apabila orang lain, saat itu mungkin mukanya sudah merah padam.
Tapi Kang Giok-long tidak malu sebagai ahli pendusta, bukan saja mukanya tidak merah, bahkan lantas menjawab dengan tenang.
"Di depan nona mana Cayhe berani sembarangan. Apalagi, siapa pun juga bila melihat orang cantik bak bidadari seperti nona, betapa pun pasti akan melupakan rasa sakitnya."
Ucapan ini tampaknya mengenai sasarannya. Terlihat So Ing tertawa manis, katanya.
"Jika sakitmu lantas hilang setelah melihat diriku, lalu apa yang perlu disembuhkan lagi?"
"Apabila aku dapat senantiasa berada di sisi nona, biarpun mati kesakitan juga mau,"
Ujar Giok-long dengan cengar-cengir.
"Cuma ... cuma ...."
Karena Lwekangnya sudah cukup tinggi, kini diam-diam ia mengerahkan tenaga dan didesak, segera dahinya timbul butiran keringat sehingga mirip orang yang menahan sakit.
Tampaknya So Ing menjadi khawatir juga, katanya.
"Wah, kau kesakitan begini, ayolah lekas berbaring."
Diam-diam Giok-long bergirang dalam hati, tapi di mulut ia sengaja berkata dengan suara gemetar.
"Cayhe ... cayhe tidak ...."
"Masa tenaga untuk berbaring di ranjang saja tidak ada lagi?"
Kata So Ing. Berulang-ulang Giok-long mengangguk dan menjawab lemah.
"Ehmm ... ehmmm ...."
So Ing menghela napas, ucapnya dengan tertawa.
"Jika pasienku semua seperti kau bisa berabe."
Perlahan dia tarik bahu Kang Giok-long. Tentu saja Kang Giok-long berlagak seperti lemas lunglai, dia terus menggelendot ke tubuh si nona dan berbisik di pinggir telinganya.
"Terima kasih nona."
So Ing juga tidak marah sehingga Giok-long tambah berani, segera ia hendak merangkul. Tapi sekali menggeliat So Ing memberosot ke sana, omelnya dengan kurang senang.
"Jika kau tidak berbaring dengan baik-baik, aku takkan gubris kau lagi."
Cepat Giok-long mengiakan, katanya.
"Baiklah, aku menurut."
"Anak baik harus menurut, nanti Taci memberi permen padamu,"
Ucap So Ing dengan tertawa.
Melihat si nona setengah mengomel dan juga tertawa, gayanya yang menggiurkan membuat hati Kang Giok-long seperti dikili-kili.
Sambil memegang perutnya ia pura-pura merintih.
"O, sakit ... sakit sekali, lekas ... lekas nona memeriksanya."
"Mana yang sakit?"
Tanya So Ing sambil mendekat. Giok-long pegang tangan si nona dan digosok-gosoknya pada perutnya, katanya.
"Di sini ... di sini!"
Tangan si nona yang putih halus mulus seperti tak bertulang itu lantas meraba-raba perlahan di perut Kang Giok-long, sejenak kemudian ia bertanya dengan suara lembut.
"Apakah sekarang sudah baikan?"
Giok-long memejamkan mata dan menjawab.
"Ya, ya, sudah rada baikan ... tapi engkau jangan berhenti, sekali berhenti segera sakit lagi."
Tangan So Ing benar-benar memijatnya terus-menerus tanpa berhenti. Tentu saja hati Kang Giok-long sangat senang juga merasa geli, diam-diam ia membatin.
"Orang lain sama bilang nona So Ing ini betapa pintar dan betapa lihai, tapi menurut pandanganku dia tidak lebih hanya seorang gadis hijau pelonco saja yang baru mulai berahi, asalkan kugunakan sedikit akal, mustahil takkan menjadi makananku yang empuk?"
Tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum, sebelah tangan So Ing yang putih mulus itu mendekati mulutnya, tangannya memegang satu biji obat yang berbau harum. Dengan suara lembut si nona berkata.
"Inilah pil mujarab pelenyap sakit yang kubuat sendiri, selain bisa menghilangkan rasa sakit juga merupakan obat kuat. Setelah telan pil ini segera sakitmu akan lenyap."
"Tidak, aku tidak mau,"
Giok-long menggeleng.
"Mengapa tidak mau?"
So Ing berkerut kening.
"Setelah kuminum pil ini, perutku lantas tidak sakit lagi, apabila perutku tidak sakit, bukankah nona lantas ... lantas takkan memijatku pula?"
"Kau memang brengsek ...."
Omel So Ing.
"Baiklah, setelah minum obat pil ini, tetap akan kupijat kau."
Omelan dengan tersenyum manis itu membuat sukma Kang Giok-long hampir terbang meninggalkan raganya. Dia tambah aleman, ucapnya.
"Pil ini pahit tidak?"
"Pil ini tidak pahit, bahkan sangat manis, seperti permen,"
Kata So Ing dengan tersenyum.
"Ayolah buka mulutmu, akan kusuap kau."
Kang Giok-long lantas memejamkan mata dan membuka mulut, hatinya senang sekali. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang berteriak di tempat kejauhan.
"Mana araknya? Arak sudah habis lagi! Hai, budak cilik she So, lekas bawakan arak!"
So Ing berkerut kening dan berhenti memijat, katanya.
"Berbaringlah baik-baik di sini, kupergi dan segera kembali."
Dia seperti rada gelisah, belum habis ucapannya dia terus melangkah pergi dengan terburu-buru, tapi dia sempat menoleh dan memberi pesan.
"Jangan bangun dan sembarangan berkeliaran, kalau tidak menurut tentu takkan kugubris kau lagi."
Dalam pada itu orang tadi sedang meraung pula di kejauhan.
"Budak she So, apakah kau tuli? Mengapa tidak lekas kemari?!"
"Ini dia, aku segera datang, segera kubawakan araknya,"
Seru So Ing dengan tertawa. Diam-diam Giok-long sangat heran, pikirnya.
"Nona So ini sungguh aneh. Orang lain bersikap hormat padanya, dia justru membalas dengan kaku dan ketus. Sebaliknya orang itu berteriak-teriak menyebut dia budak dan seakan-akan menganggap dia sebagai babu, namun dia justru benar-benar menuruti segala kehendaknya. Entah saudara itu mempunyai kepandaian apa yang dapat membuat si nona tunduk begitu?"
Sungguh dia ingin merangkak bangun untuk mengintip, tapi segera terpikir bahwa usahanya sudah kelihatan ada harapan, akan lebih baik kalau tidak sembarang bergerak supaya tidak menggagalkan urusan.
Karena itu ia lantas memejamkan mata pula dan membayangkan sebentar lagi si cantik akan berada dalam pelukannya serta dikeloninya, tidak ketinggalan pula rahasia ilmu silat yang diidam-idamkan setiap orang Bu-lim itu pun akan dapat diperolehnya.
Saking senangnya hampir-hampir ia tertawa, ia bergumam sendiri.
"Wahai Pek San-kun, memangnya kau kira setelah kuperoleh rahasia ini akan kuberitahukan pula padamu? Hah, jika kau sangka aku akan memberitahukan rahasia yang kuperoleh ini, maka kaulah orang goblok nomor satu di dunia ini."
"Siapa yang kau maksudkan paling goblok nomor satu?"
Tiba-tiba seorang bertanya dengan tertawa. Diam-diam Giok-long terkejut, tapi segera ia menjawab dengan tertawa.
"O, kumaksudkan barang siapa yang menyebut nona adalah budak, maka dia itulah orang goblok nomor satu di dunia."
"Ah, itu kan ucapan si linglung, dan si setan arak tua itu, kita jangan gubris dia,"
Ujar So Ing dengan tertawa. Legalah hati Kang Giok-long setelah mengetahui orang yang berteriak-teriak itu disebut "tua", apalagi si nona memakai istilah "kita"
Pula, sungguh mesra sekali kata-kata ini, saking senangnya sampai Kang Giok-long tertawa gembira, katanya.
"Ya, ya, kita tidak perlu gubris dia."
"Sedemikian gembira tertawamu, apakah perutmu tidak sakit lagi?"
Tanya So Ing.
"O, sakit, masih sakit ...."
Cepat Giok-long berlagak meringis lagi.
"Tolonglah nona memijat pula perutku."
So Ing tertawa, kembali ia mengurut perut anak muda itu.
Sekujur badan Kang Giok-long merasa enteng seakan-akan hendak terbang ke langit.
Setelah memijat sekian lama, dengan perlahan So Ing berkata pula.
"Kukira yang benar dalam hatimu menganggap aku ini orang goblok nomor satu di dunia, betul tidak?"
Giok-long melengak, cepat ia jawab dengan tertawa.
"Ah, mana berani kupikir begitu, memangnya aku ini sudah keblinger?"
"Kau anggap aku ini muda belia, masih hijau pelonco, tidak pernah bergaul, apa lagi menghadapi lelaki, tentu akan sangat mudah tertipu oleh lelaki. Sebaliknya kau merasa mempunyai kemampuan untuk memikat perempuan, cukup dengan rayuan gombalmu akan dapat membuat aku jatuh dalam pelukanmu. Bahkan rahasia Ih-hoa-ciap-giok itu akan kuberitahukan padamu tanpa kau minta, begitu bukan?"
Baru sekarang Kang Giok-long benar-benar terperanjat, tapi sedapatnya dia bersikap tenang, jawabnya dengan menyengir.
"Ah, mana ... mana bisa begitu? Nona ... nona sendiri yang terlalu …."
Dengan dingin So Ing memotong.
"Lagi pula kau pun tahu aku tidak mahir ilmu silat, sekalipun kuketahui maksud tujuanmu yang busuk juga tak tak dapat bertindak apa-apa padamu, sebab itulah kau jadi tambah berani, betul tidak?"
Saking kejutnya segera Kang Giok-long bermaksud melompat bangun. Tapi apa lacur, entah mengapa, sekujur badan terasa lemah lunglai tiada tenaga sedikit pun. Keruan ia menjadi takut dan berseru.
"Jangan ... janganlah nona salah sangka pada orang baik, sama sekali Cayhe tidak bermaksud begitu."
"Huh, bukan saja kau bermaksud demikian, bahkan kalau perlu kau akan memakai kekerasan, makan dulu urusan belakang, kau pikir aku toh tidak mampu melawan, apabila beras sudah menjadi nasi, apalagi kalau sampai menjadi bubur, lalu bisa berbuat apa aku ini? Aku hanya tunduk dan menurut saja padamu."
Sungguh celaka, berapa ekor cacing pita di dalam perut Kang Giok-long sekonyong-konyong dapat dihitung dengan jelas oleh si nona.
Keruan sambil mendengarkan keringat dingin pun membasahi tubuh Kang Giok-long.
Dengan suara gemetar ia berkata.
"O, tidak, tiada maksudku begitu. Nona jangan menuduhku tanpa berdasar. Apabila aku mempunyai maksud jahat begitu, biarlah aku mati disambar geledek."
So Ing tersenyum manis, ucapnya.
"Dalam keadaan begini memangnya kau bisa mati dengan enak?"
Giok-long tambah ketakutan, serunya.
"Nona ... nona ... aku ... aduuh!"
Sekonyong-konyong ia menjerit ketika tangan So Ing yang masih terus memijat perutnya itu mendadak meremasnya.
Saking kesakitan sehingga keringat dingin membasahi seluruh badan pula.
Ia sendiri heran mengapa sekarang dirinya berubah menjadi sedemikian takut sakit.
"Kau minta kupijat perutmu, dan aku lantas pijat bagimu, apakah kau tahu mengapa aku menuruti keinginanmu?"
Tanya So Ing dengan tertawa. Dengan gemetar Giok-long menjawab.
"Cayhe tidak ... tidak tahu, mohon ... mohon nona jangan mengurut lagi."
"Sekarang terasa sakit, lantas kau minta jangan dipijat lagi,"
Ucap So Ing dengan tertawa.
"Tapi setelah kutahu perutmu kesakitan, penyakitku tambah berat, masa hatiku tega tidak mengurutmu lagi."
"Tapi ... tapi aku tidak ... tidak sakit, sama ... sama sekali tidak ada penyakit apa-apa,"
Teriak Giok-long.
"O, jadi kau tidak sakit?"
Mendadak So Ing menarik muka.
"Jika begitu sebab apa kau dusta padaku?"
Habis berkata, tangan si nona lantas memegang perut Giok-long lagi. Cepat anak muda itu berteriak.
"Oya, sakit ... aku memang sakit ...."
"Betul, bukan saja sakit, bahkan sangat berat penyakitmu, makin lama makin parah sampai akhirnya nanti biarpun cuma disentuh oleh sehelai kertas jatuh saja kau akan kesakitan seperti disayat pisau."
Keruan Kang Giok-long tambah ketakutan, serunya.
"O, jangan ... mohon ... mohon nona menolong ... menolong diriku ...."
Tangan So Ing masih mengurutnya perlahan, namun sedikit pun Kang Giok-long tidak lagi merasakan enaknya, sebaliknya ruas tulang sekujur badan terasa terurut lepas seakan-akan mereteli.
Didengarnya So Ing berkata pula dengan menyesal.
"Saat ini aku pun tak dapat menolongmu lagi, sebab tadi aku salah ambil obat, yang kuberi minum padamu itu bukan obat pelenyap sakit sebaliknya adalah pil ‘Pek-tong-jui-sing-wan’ (pil membuat sakit dan pengurang hidup)."
"Wah, Pek-tong-jui-sing-wan? Obat macam apa itu?"
Tanya Giok-long ketakutan setengah mati. Sungguh, selama hidupnya tak pernah mendengar nama obat demikian.
"Obat ini kalau dimakan orang yang memang sakit akan bertambah parah sepuluh kali lipat, kalau tidak sakit dan minum obat ini, segera timbul juga macam-macam penyakit padanya, bahkan seluruh badan kesakitan setengah mati."
"O, nona ... selamanya Cayhe tiada permusuhan apa-apa dengan nona, mengapa nona membikin celaka diriku?"
Ratap Giok-long dengan suara parau.
"Kan kau sendiri yang mengaku sakit berat?!"
Jawab So Ing dengan tertawa.
"Karena aku tidak mau menganggap kau ini pendusta yang tidak tahu malu, maka dengan maksud baik kuberi minum obat ini, kalau sekarang kau sakit benar-benar kan berarti kau tidak berdusta .... Apalagi, lantaran khawatir sakitmu kurang cepat timbulnya, maka dengan maksud baik kupijat pula perutmu untuk membantu daya kerja obat itu."
Setelah menghela napas gegetun, ia menyambung pula.
"Nah, sedemikian baik kulayanimu, masa kau tidak berterima kasih padaku?"
Ya kejut, ya takut, ya sakit, butiran keringat bertetes-tetes dari dahi Kang Giok-long seperti air hujan. Dengan suara gemetar ia berkata.
"O, nona So, So-cianpwe, aku ... baru sekarang hamba tahu kelihaianmu, kumohon .... Mengingat Pek San-kun suami istri, sudilah engkau mengampuni diriku."
"Ai, aku kok lupa bahwa kau adalah sahabat Pek San-kun suami-istri,"
Kata So Ing.
"Ya, ya, jangan sampai nona lupa."
"Betul juga, lantaran kau adalah sahabat mereka, tidak boleh kusaksikan kau mati sakit di sini, betapa pun harus kutolong kau .... Cuma sayang obat ini bukan racun, maka tiada obat penawarnya. Padahal obat sudah kau minum, wah, bagaimana baiknya ini?"
"To ... tolong nona, eng ... engkau pasti bisa."
"Aha, kuingat satu jalan,"
Seru So Ing tiba-tiba sambil berkeplok.
"Bagaimana caranya?"
Tanya Giok-long girang.
"Dengan cara operasi,"
Jawab So Ing.
"Perutmu dibedah untuk mengeluarkan pil itu."
"Perut dibedah?"
Giok-long menegas dengan ternganga takut.
"Ya,"
Jawab So Ing.
"Tapi kau tidak perlu khawatir, aku pasti memotongnya dengan perlahan dan mengeluarkan obat itu dengan hati-hati, kau pasti takkan merasakan apa-apa."
"Jika perut dibedah, orangnya mati, tentu saja tidak merasakan apa-apa lagi,"
Ucap Giok-long dengan meringis.
"Hah, kau memang pintar,"
Kata So Ing dengan tertawa.
"Beginilah resep menghilangkan rasa sakit dari keluarga kami. Tangan sakit potong tangan, kaki sakit potong kaki, kepala sakit potong kepala, perut sakit perut dibedah. Tanggung mujarab, tanggung ces-pleng!"
Sambil bicara ia terus menyingkir ke sana sembari bergumam.
"Mana pisaunya ... di mana kutaruh pisauku? ...."
Keruan Kang Giok-long ketakutan, cepat ia berteriak.
"Nona ... jangan nona ...."
"O, kau tidak memerlukan penyembuhanku lagi?"
Tanya So Ing.
"Ya, tidak ... tidak perlu lagi,"
Seru Giok-long dengan suara serak. So Ing menghela napas gegetun, katanya.
"Jika kau tidak mau disembuhkan, ya apa boleh buat, ini keputusanmu sendiri, jangan kau salahkan aku, betul tidak?"
"Ya, be ... betul, betul, betul sekali."
"Dan sekarang tentunya kau tahu siapa orang goblok nomor satu di dunia, bukan?"
Tanya So Ing.
"Ya, ya, tahu, ialah aku ini ... aku inilah orang paling goblok di dunia, orang paling brengsek, paling busuk, dan ...."
Akhirnya Kang Giok-long menangis tergerung-gerung tanpa kenal malu lagi.
"Buset! Sudah gede begini juga suka menangis, sungguh menyebalkan ...."
Ucap So Ing dengan tertawa, kembali tangannya menekan perlahan pada sandaran tangan kursi tadi, mendadak tempat tidur itu menjeplak sehingga tubuh Giok-long terpental.
Tapi pada saat itu juga di belakang tempat tidur muncul sebuah lubang, di tengah jerit kaget Kang Giok-long terus terperosot ke dalam lubang itu dan merosot ke bawah seperti naik tangga luncur.
So Ing tersenyum dan bergumam.
"Yang satu menangis, yang lain tertawa, kedua orang ini benar-benar satu pasangan, maka biar kalian menjadi teman saja di situ ...."
Sementara itu ranjang tadi telah anjlok lagi ke bawah, lubang gua itu pun merapat kembali. Terdengar di kejauhan sana orang itu berteriak-teriak pula.
"Minum arak sendirian tiada artinya, he, budak she So, kenapa kau tidak kemari mengiringi aku minum?!"
So Ing menghela napas, gumamnya dengan tersenyum getir.
"Hanya dia, dia benar-benar bintang penggoda dalam hidupku ini. Sungguh aneh, aku pun tidak habis mengerti, apabila melihat dia, maka aku lantas kehilangan akal ...." *** (. ) Di belakang rumah ini ternyata masih ada dunia lain, di mana-mana bunga mekar menyelimuti bumi, pepohonan menghijau permai mengelilingi bukit kecil, di bawah bukit ini ada sebuah gua. Cahaya lampu tampak terang benderang di dalam gua yang luas dan terpajang mewah melebihi kamar anak perawan keluarga hartawan. Cuma aneh, kamar gua sebagus itu justru pintu guanya ditutup oleh sebuah pagar besi, terali besinya besar-besar, lebih besar daripada lengan anak kecil. Di dalam gua mewah itulah kini seorang duduk menyanding meja dan sedang asyik minum arak. Tampaknya sudah tidak terhitung banyaknya arak yang telah diminumnya, air arak berceceran di atas meja, secawan demi secawan orang itu masih terus menenggak tanpa berhenti. Rambutnya tampak kusut masai, berkaki telanjang, pakaiannya juga aneh, sebuah jubah putih yang longgar dan besar sehingga kelihatannya sangat lucu. Orang itu duduk menghadap ke dalam sehingga wajahnya tidak jelas kelihatan. Terdengar dia sedang berteriak-teriak.
"Budak she So, kenapa kau tidak lekas datang? Jika kau tidak segera datang, aku akan ...."
Pada saat itulah So Ing baru muncul, jawabnya dengan suara lembut.
"Ini dia, sudah datang. Ai, jarang ada orang tidak sabaran seperti engkau ini."
"Persetan!"
Orang itu meraung gusar sambil mengebrak meja.
"Kau anggap aku tidak sabar? Memang beginilah watak pembawaanku, peduli apa denganmu? Jika tidak suka tidak perlu kau memandangku."
So Ing menunduk sedih, air mata hampir saja menetes. Tapi orang itu mendadak tertawa dan berkata pula.
"Tapi aneh juga, bilamana aku terkenang padamu, mengapa buru-buru kuteriaki kau supaya lekas kemari. Orang lain suka bilang sehari tidak bertemu seolah-olah berpisah selama tiga tahun. Bagiku, pada hakikatnya sebentar saja sudah terasa rindu jika ditinggal pergi olehmu."
Karena ucapan ini, dari menangis So Ing lantas tertawa, dengan menggigit bibir ia berucap.
"Kutahu jiwaku ini cepat atau lambat pasti akan amblas dibikin gemas olehmu."
"Eeh, jangan, sekali-kali kau jangan mati,"
Teriak orang itu dengan tertawa.
"Jika kau mati, lalu siapa lagi yang akan mengiringi aku minum arak?"
Sembari bergelak tertawa ia lantas berpaling, cahaya lampu menyinari mukanya dengan terang.
Tertampak mukanya corang-coreng penuh garis-garis bekas luka, kalau dipandang sepintas lalu terasa sangat jelek dan menakutkan.
Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam 10
Baca Juga: Walet Besi Cu Yi