Eps 2 Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung
Baca online Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung
Cersil Seruling Perak Sepasang Walet - Khu Lung.
Wajahnya yang tampan itu, sudah berubah merah membara seperti kebanyakan minum arak.
Saat ini Sang Ting It Koay telah membuka sepasang matanya.
Wajahnya tampak berseri, tapi tertutup oleh rambut dan jenggot yang awut-awutan, maka orang luar tidak akan melihat wajahnya sedang berseri.
Sebaliknya akan membuat orang merasa merinding, sebab sepasang matanya melotot menyeramkan, lantaran merah membara seperti api.
Dia menjulurkan tangannya ke dalam sumur untuk merasakan bagaimana air sumur tersebut, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Mendadak dia membuka mulut, lalu menyemburkan uap putih ke dalam sumur.
Tak lama kemudian, air sumur itu mulai mengepulkan uap putih lagi.
Setiap tiga kali berturut-turut dia menyemburkan uap putih ke dalam sumur itu, barulah berhenti.
Sedangkan keningnya sendiri sudah mengucur keringat.
Ternyata ketika dia menyembur uap putih ke dalam sumur itu, telah banyak menguras tenaganya.
Setelah itu, dia menatap Ciok Giok Yin sejenak, lalu memejamkan mata untuk beristirahat.
Sementara sang waktu tak henti-hentinya berlalu.
Sedangkan di dalam goa itu tidak akan tahu dari siang atau malam, tak terasa tiga hari tiga malam telah berlalu.
Dalam waktu tiga hari tiga malam itu, Sang Ting It Koay juga terus menyemburkan uap putih dari mulutnya ke dalam sumur.
Ternyata dia merasa air sumur tersebut masih kurang panas.
Maka agar bertambah panas, harus dibantu dengan hawa murninya.
Sesungguhnya tujuan Sang Ting It Koay berbuat demikian, tidak lain ingin merebus Ciok Giok Yin di dalam sumur tersebut, kemudian akan menikmati dagingnya hingga tahunan.
Akan tetapi, justru terjadi hal yang di luar dugaan.
Wajah Ciok Giok Yin yang merah membara itu, telah berubah menjadi ungu.
Setelah lewat tiga hari tiga malam, wajahnya menjadi merah membara lagi.
Berselang beberapa saat, wajahnya sudah berubah normal kembali, bahkan kelihatan bertambah tampan.
Ciok Giok Yin tampak tenang terendam di dalam sumur itu.
Dia bernafas seperti biasa dan tersenyum-senyum, sepertinya sedang bermimpi indah.
Ternyata dia tidak mati di rebus dalam sumur itu.
Bukankah itu aneh sekali?
Pada hari keempat, mendadak Sang Ting It Koay mengangkat sebelah tangannya, lalu membentak.
"Bocah, naik!"
Akan tetapi, Ciok Giok Yin tetap diam di dalam sumur, tidak menghiraukan bentakan Sang Ting It Koay.
Tentunya membuat Sang Ting Koay menjadi gusar sekali.
Di saat dia baru mau melancarkan pukulan ke dalam sumur, tiba-tiba Ciok Giok Yin meloncat ke atas.
"Berhenti!"
Bentak Sang Ting It Koay. Suaranya mengguntur memekakkan telinga, membuat Ciok Giok Yin tersentak, namun tidak merasa takut.
"Aku dengan lo cianpwee tiada...,"
Katanya dengan gusar.
"Bocah, coba kau masuk ke dalam lagi!"
Sergah Sang Ting It Koay sambil mengibaskan tangannya. Ciok Giok Yin tidak sempat berkelit, maka tak ampun lagi dia terpental ke dalam sumur.
"Aaaah! Panas...!"
Jeritnya keras.
Akan tetapi, setelah badannya terendam di dalam sumur, justru membuatnya tercengang.
Ternyata dia tidak merasa panas, melainkan merasa amat nyaman.
Oleh karena itu, dia memandang ke arah Sang Ting It Koay.
Dia berharap orang tua aneh itu memberi penjelasan, mengapa kini dia tidak merasa panas lagi.
Bukankah itu aneh sekali?
Sang Ting It Koay cuma tertawa terkekeh-kekeh, setelah itu, tangannya dijulurkan ke depan dan disentakkan.
"Bocah, naiklah!"
Katanya.
Ciok Giok Yin merasa tenaganya telah pulih, langsung meloncat ke atas.
Setelah berada di atas, dia merasa sekujur badannya amat segar dan nyaman sekali.
Itu membuatnya sendiri termangu-mangu.
Dia tidak habis pikir, apa gerangan yang telah terjadi atas dirinya.
Sang Ting It Koay menatapnya dalam-dalam.
"Bocah, kau ingin belajar ilmu silat?"
Katanya dengan dingin.
"Mohon petunjuk lo cianpwee,"
Sahutnya. Sepasang mata Sang Ting It Koay mendelik.
"Baiklah! Kau boleh duduk!"
Ciok Giok Yin tahu, kali ini Sang Ting It Koay tidak akan mencelakai dirinya, maka cepat-cepat duduk.
Ketika Ciok Giok Yin duduk, jari tangan Sang Ting It Koay bergerak cepat.
Kini badan Ciok Giok Yin tidak bisa bergerak lagi, bahkan mulutnya tidak mampu bersuara.
Berdasarkan pengalaman tadi, Ciok Giok Yin menjadi tenang, pasrah apa yang akan terjadi atas dirinya.
Sang Ting It Koay beranjak dari tempat duduknya, kemudian mendorong Ciok Giok Yin ke tempat duduk itu.
Setelah duduk di atas batu itu, bibir Ciok Giok Yin tampak gemetar, dan keningnya mengucurkan keringat.
Dia merasa seperti duduk di atas bara api, sehingga membuat sekujur badannya menjadi panas sekali.
Semakin lama semakin panas, dan hawa panas itu menerjang ke dalam tubuhnya, bahkan menerobos ke seluruh jalan darahnya pula.
Sementara Sang Ting It Koay yang duduk di sampingnya terus memperhatikannya.
Berselang sesaat, Sang Ting It Koay berkata dengan suara dalam.
"Bocah, bertahanlah! Cuma rintangan ini yang harus kau lewati."
Ciok Giok Yin menurut. Dia terus bertahan, namun akhirnya pingsan juga karena tidak tahan. Sang Ting It Koay menatapnya sambil mengerutkan kening.
"Bocah, kau cukup menderita,"
Gumamnya. Sesaat kemudian, dia manggut-manggut sambil berkata.
"Kalau tidak begini, waktu tidak mengijinkan."
Sang Ting It Koay menatap Ciok Giok Yin lagi sambil berkata perlahanlahan.
"Aku tersiksa belasan tahun, namun akhirnya menemukan anak berbakat. Kini legalah...!"
Bibirnya bergerak, namun sudah tidak bisa mengeluarkan suara, hanya berkata dalam hati.
Sang Ting It Koay tampak lelah sekali, dia terbatuk beberapa kali, terlihat darah segar mengalir ke luar dari mulutnya.
Badannya bergoyang-goyang sejenak, namun sepasang matanya tetap menatap Ciok Giok Yin.
Setelah itu, barulah memejamkan matanya untuk beristirahat.
Sementara, sang waktu terus berlalu....
Satu hari, dua hari, tiga hari....
Sang Ting It Koay membuka matanya, menatap Ciok Giok Yin.
Tiba-tiba wajahnya tampak berseri, lalu tertawa gelak.
"Ha! Ha! Ha...!"
Usai tertawa gelak, dia berseru.
"Bocah, bangunlah!"
Ciok Giok Yin membuka matanya.
Dia mendapatkan dirinya masih tetap duduk di atas batu.
Kini dia merasa badannya bertambah segar dan nyaman, sulit diuraikan dengan katakata.
Dapat dibayangkan, betapa girang hatinya!
Dia bangkit berdiri perlahan-lahan, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sang Ting It Koay.
"Mohon lo cianpwee sudi...,"
Katanya. Mendadak serangkum tenaga yang amat kuat, membuat dirinya terangkat ke samping. Di saat bersamaan, Sang Ting It Koay yang sudah duduk di atas batu itu, berkata dengan dingin.
"Bocah, ingat! Sebelum lohu bersedia menerimamu sebagai murid, kau kularang menyinggung tentang itu! Kalau kau masih berani menyinggungnya, jangan menyalahkan lohu akan mengusirmu dari sini."
"Aku tidak berani berlaku kurang ajar terhadap lo cianpwee."
Sang Ting It Koay tertawa gelak.
"Bagus! Aku senang begini!"
Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam dan berkata dalam hati.
'Dia melarangku berguru padanya, lalu aku harus memanggilnya apa?' Sang Ting It Koay sepertinya tahu akan apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin.
"Bocah, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan! Karena aku belum bersedia menerimamu sebagai murid, maka kau tidak tahu harus bagaimana memanggilku, bukan?"
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya."
Sang Ting It Koay tertawa.
"Kau boleh panggil aku Makluk Tua Aneh saja!"
Ciok Giok Yin terbelalak.
"Bocah, kau tahu sudah berapa hari kau direndam di air susu bumi itu?"
Ciok Giok Yin menggeleng kepala.
"Mohon lo cianpwee memberitahukan!"
"Kau direndam di situ empat hari empat malam, duduk di atas batu api tiga hari tiga malam."
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin.
"Haaah? Kalau begitu, sudah tujuh hari tujuh malam!"
Sang Ting It Koay manggut-manggut.
"Tiga tahun lalu, tanpa sengaja lohu menemukan tempat ini. Sumur susu bumi dan batu api, justru amat bermanfaat untuk melatih ilmu Sam Yang Hui Kang (Tenaga Sakti Tiga Matahari)."
Dia menatap Ciok Giok Yin.
"Kuberitahukan, di puncak Gunung Muh San, lohu terpukul oleh pukulan beracun. Racun itu telah menyerang hati, mungkin tidak lama lagi lohu akan mati. Untung kau keburu kemari. Ini sudah merupakan jodoh kita. Sesungguhnya aku ingin menyantap dagingmu, namun kemudian kubatalkan niatku itu. Akan tetapi, aku tidak bisa secara cuma-cuma mengajar kau kungfu, kau harus menyelesaikan beberapa urusanku, barulah kita bisa menjadi guru dan murid."
"Asal lo cianpwee memberitahukan urusan apa, aku pasti berusaha menyelesaikannya."
"Kini belum waktunya kuberitahukan."
"Kapan?"
"Setelah kau berkepandaian tinggi."
"Menurut lo cianpwee, aku harus membutuhkan waktu berapa lama?"
"Itu tergantung pada kecerdasanmu."
Mendadak hati Ciok Giok Yin tergerak, dan dia langsung berkata.
"Lo cianpwee, aku pernah belajar ilmu pengobatan, maka...."
Belum juga Ciok Giok Yin usai berkata, Sang Ting It Koay sudah tertawa terkekeh-kekeh, lalu menyergah.
"Bocah, jangankan kau amat mahir ilmu pengobatan. Kalaupun Tiong Ciu Sin Ie berada di sini, dia juga tidak sanggup mengobatiku."
Mendengar itu, Ciok Giok Yin berkata dalam hati.
'Sudah dua orang menyinggung tentang Tiong Ciu Sin le.
Obat Ciak Kim Tan yang berada di dalam bajunya justru adalah buatan Tiong Ciu Sin Ie, apakah kakek tua berjenggot putih itu adalah....
Tidak salah lagi, Tiong Ciu Sin Ie merupakan tokoh yang luar biasa di dunia persilatan, pasti tidak sulit mencarinya kelak.
Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, mendadak Sang Ting It Koay berkata.
"Bocah, mulai hari ini kau harus merendam di sumur susu bumi selama tiga empat jam. Setelah itu, harus pula duduk di atas batu api ini."
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya."
Tiba-tiba Sang Ting It Koay membentak.
"Lepaskan pakaianmu!"
Ciok Giok Yin tertegun.
"Le... lepaskan pakaian?"
Katanya gagap.
"Ng!"
"Mengapa harus melepaskan pakaian?"
"Aku suruh kau lepaskan, kau harus lepaskan."
"Tapi... malu kan?"
"Tidak jadi masalah."
Apa boleh buat, Ciok Giok Yin terpaksa menurut, namun masih tampak ragu. Seketika sepasang mata Sang Ting It Koay menyorot dingin.
"Masih tunggu apa lagi?"
Bentaknya. Ciok Giok Yin bersifat keras, bahkan juga angkuh, maka membuatnya amat gusar.
"Lo cianpwee, walau di dalam goa ini cuma terdapat kita berdua, kalau aku harus bertelanjang bulat, rasanya kurang baik."
"Siapa suruh kau telanjang bulat?"
"Kalau begitu...."
"Kau masih boleh pakai celana dalam."
Mendengar itu, legalah hati Ciok Giok Yin. Dia cepat-cepat melepaskan pakaiannya, sehingga hanya memakai celana dalam.
"Bereskan pakaianmu itu, taruh di samping!"
Perintah Sang Ting It Koay sambil menatapnya.
Ciok Giok Yin takut Sang Ting It Koay akan mengambil pakainnya, karena di dalam bajunya tersimpan peta Si Kauw Hap Liok Touw pemberian Ho Siu Kouw.
Sesungguhnya Ciok Giok Yin masih ragu terhadap peta pusaka tersebut, namun masih ingin lihat bagaimana perkembangan selanjutnya.
Oleh karena itu, dia cepat-cepat membereskan pakaiannya, lalu ditaruh ke samping.
"Mulai sekarang kau boleh belajar kungfu!"
Kata orang tua aneh itu.
Demi ingin belajar kungfu, Ciok Giok Yin rela menerima penderitaan maupun siksaan apapun.
Sebab dia ingat akan sebuah pepatah, bahwa ingin menjadi orang teratas, haruslah bisa menahan segala penderitaan dan siksaan."
Karena itu, dia langsung masuk ke dalam sumur susu bumi, untuk merendam diri. Di saat bersamaan, Sang Ting It Koay mulai memberi petunjuk padanya.
"Bocah, hawa murni yang berada di Tantian, harus disalurkan ke seluruh nadi, kemudian dialihkan ke jalan darah Thian Koat Hiat. Selain itu, kau pun harus menghisap hawa susu bumi itu."
Begitu dengar, Ciok Giok Yin sudah paham, dan langsung dipraktekkan.
Kini dia berendam di dalam sumur dengan rasa nyaman, tidak merasa panas lagi.
Karena sebelumnya, dia telah berendam, di dalam sumur itu selama empat hari empat malam, maka tubuhnya telah kebal akan hawa panas itu.
"Ganti tempat!"
Kata Sang Ting It Koay tiga jam kemudian.
Dia menggeserkan badannya ke samping, sedangkan Ciok Giok Yin duduk di atas batu api tersebut.
Begitulah!
Tanpa membedakan siang atau malam, Ciok Giok Yin terus berlatih di dalam sumur susu bumi dan di atas batu api.
Dengan latihan itu, Ciok Giok Yin berhasil menyatukan hawa murni dari Phing Phiauw Khek dengan tenaga buah Ginseng Daging yang pernah dimakannya.
Setelah itu, Sang Ting It Koay juga mengajarnya Soan Hong Ciang (Ilmu Pukulan Angin Puyuh).
Sang waktu terus berlalu.
Sehari lewat sehari, sebulan lewat sebulan.
Tak terasa setahun telah berlalu, maka, kini tubuh Ciok Giok Yin pun telah tambah besar dan tinggi.
Kini dia sudah berusia tujuh belas, namun kelihatan seperti sudah berusia sembilan.
belas.
Sikapnya tenang, gerak-geriknya kalem, dan wajahnya bukan main tampannya.
Sepasang matanya bersinar terang, akan tetapi, kalau tidak sedang mengerahkan lwee kangnya, dia tampak seperti pemuda biasa.
Pertanda lwee kangnya telah mencapai tingkat yang amat tinggi.
Dia telah berhasil, namun Sang Ting It Koay, justru kian hari kian bertambah loyo dan lemah, setiap hari pasti muntah darah.
Sepasang matanya tampak suram dan badannya juga makin kurus, kelihatan lesu tak bertenaga.
Kini, setiap hari dia harus duduk di atas batu api, demi memperpanjang nyawanya.
Akan tetapi, dia masih memaksakan diri untuk mengajar Ciok Giok Yin ilmu silat.
Sedangkan pemuda tersebut terus berlatih, kadang-kadang lupa makan dan tidur.
Lagipula dia tetap memakai celana dalam, namun celana dalamnya itu sudah tidak karuan, kumal, lusuh dan berlubang-lubang.
Hari ini Sang Ting It Koay membuka sepasang matanya, memandang Ciok Giok Yin sambil manggut-manggut.
"Bocah, pakailah bajumu!"
Ciok Giok Yin tercengang, mengapa mendadak Sang Ting It Koay menyuruhnya berpakaian? Dia menurut, dan cepat-cepat berpakaian.
"Masuklah ke dalam sumur susu bumi!"
Perintah Sang, Ting It Koay.
Sudah sekian lama bersama Sang Ting It Koay, maka Ciok Giok .Yin sudah paham akan sifat aneh orang tua tersebut.
Karena itu, dia segera masuk ke dalam sumur susu bumi.
Akan tetapi, Sang Ting It Koay mendadak berseru.
"Cepat naik!"
Ciok Giok Yin segera meloncat ke atas.
"Cepat kerahkan hawa murni!"
Sesungguhnya Ciok Giok Yin sudah mulai tidak sabaran, namun dia tetap menurut dan cepat-cepat mengerahkan hawa murninya.
Seketika hidungnya mengeluarkan uap putih, dan dalam sekejap uap itu sudah menutupi sekujur badannya.
"Berhenti"
Bentak Sang Ting It Koay.
Ciok Giok Yin membuka mulutnya, langsung menyedot uap putih itu ke dalam mulutnya.
Menyaksikan itu, sepasang mata Sang Ting It Koay tampak berbinar-binar, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Bocah, lihatlah pakaianmu!"
Ciok Giok Yin menundukkan kepalanya memandang pakaiannya.
Hatinya tersentak kaget.
Ternyata pakaiannya telah kering, maka membuatnya tertegun, tidak habis pikir apa sebabnya.
Sepasang mata Sang Ting It Koay yang tadinya berbinar-binar, kini tampak sudah buyar.
Dia berkata perlahanlahan.
"Itu adalah tenaga sakti Sam Yang Hui Kang. Ketika kau mulai berlatih, maka aku suruh kau melepaskan pakaian, agar mengetahui bagaimana perkembangan Sam Yang Hui Kang yang kau latih itu. Jadi apabila kau berkecimpung di rimba persilatan, pakaianmu tidak akan tersobek-sobek oleh tenaga sakti itu. Kini kau paham akan maksudku?"
Ciok Giok Yin langsung berlutut di hadapan Sang Ting It Koay dan memanggil dengan rasa haru,.
"Suhu...."
".Siapa suhumu? Cepat berdiri!"
Bentak Sang Ting It Koay. Ciok Giok Yin tertegun.
"Kita tetap seperti apa yang telah kukatakan dulu. Aku cuma mengajarmu kungfu, tidak terikat guru dan murid, kau taati itu! Karena..."
Kata Sang Ting It Koay.
Sang Ting It Koay tidak melanjutkan ucapannya, tapi sepasang matanya menyorotkan sinar dendam kebencian.
Ciok Giok Yin merinding menyaksikan itu, lalu berkata dalam hati.
'Mungkin dia teringat akan peristiwa di puncak Gunung Muh San.
Aku harus menuntut balas untukmu.
Meskipun kau tidak mengaku diriku sebagai muridmu, namun dalam hati aku mengakuimu sebagai guruku.' Sang Ting It Koay menghela nafas panjang.
"Bocah, tahukah kau sudah berapa lama berada di dalam goa ini?"
Katanya lembut.
Ketika baru bersama Sang Ting It Koay, dia amat tersinggung jika dipanggil bocah.
Tapi kini, panggilan tersebut justru membuatnya merasa nyaman dan hangat.
Mungkin sifat aneh makhluk tua itu sudah menular pada dirinya, sehingga dia pun berubah menjadi makhluk kecil yang bersifat aneh.
"Mungkin sudah ada setengah tahun lebih,"
Sahutnya. Sang Ting It Koay menggelengkan kepala.
"Tepatnya sudah satu tahun."
"Satu tahun?"
"Ng!"
Mendadak Ciok Giok Yin teringat pada Bwee Han Ping, lalu teringat pula akan Ho Siu Kouw yang tinggal di dalam Goa Teng Tong dengan kaki terikat rantai.
Dalam waktu satu tahun ini, bagaimana keadaan Kakak Ping?
Dan juga bagaimana keadaan Ho Siu Kouw?
Apakah luka dalamnya sudah sembuh?
Kedua gadis itu, merupakan orang yang tidak dapat dilupakan Ciok Giok Yin.
Saat ini, Ciok Giok Yin ingin cepat-cepat meninggalkan goa itu, ingin segera pergi menengok kedua gadis tersebut.
Akan tetapi Sang Ting It Koay belum menyuruhnya pergi, tentunya akan merasa tidak enak apabila dia pergi sekarang.
Lagipula keadaan Sang Ting It Koay, kelihatannya....
Maka dia tidak berani memikirkan hal tersebut.
Saat ini suasana di dalam goa itu amat sunyi.
Berselang beberapa saat barulah Sang Ting It Koay berkata.
"Bocah, aku beritahukan padamu, mengenai ilmu Sam Yang Hui Kang, kalau kau tidak mengalami suatu kemujizatan, tentunya sulit berlatih hingga sempurna. Kini di dunia persilatan, hanya ada seseorang yang telah sempurna ilmu kungfunya."
"Siapa?"
"Chiu Tiong Thau."
"Siapa orang itu?"
"Murid murtad."
"Murid?"
"Ng!"
"Lo cianpwee tidak pernah menceritakannya?"
"Menceritakannya?"
"Ya."
Wajah Sang Ting It Koay langsung berubah, bahkan juga berkertak gigi hingga berbunyi gemeletuk.
"Dia adalah musuhku."
Katanya dengan dingin sekali. Ciok Giok Yin terbelalak.
"Musuh?"
"Tidak salah."
"Bagaimana kejadian awalnya?"
"Kau terlampau banyak bertanya."
Ciok Giok Yin langsung diam, namun berkata heran dalam hati. 'Bagaimana murid bisa menjadi musuh? Sungguh aneh sekali!' "Hmmm!"
Orangtua aneh itu mendengus.
"Lima lohu pun bukan lawannya."
Mulut Ciok Giok Yin ternganga lebar seketika. Dia menatap seperti dengan mata terbeliak.
"Bocah, ketika aku mulai mengajarmu ilmu kungfu, aku sudah bilang akan tukar syarat. Oleh karena itu, kini sudah waktunya kau memenuhi syaratku."
"Mohon lo cianpwee memberitahukan apa syarat itu!"
"Syaratku kau harus membunuh orang."
Ciok Giok Yin tersentak, dan air mukanya langsung berubah.
"Membunuh orang?"
"Sungguh merupakan urusan sulit! Sebab membunuh orang adalah perbuatan jahat."
Ketika baru mulai belajar kungfu, Ciok Giok Yin cuma berpikir ingin membalas orang-orang yang pernah menghinanya, tidak pernah terlintas dalam benaknya akan membunuh orang.
Kini Sang Ting It Koay membuka mulut menyuruhnya pergi membunuh orang, itu sungguh menyulitkannya.
"Tidak salah, membunuh orang!"
Sahut Sang Teng It Koay dengan dingin.
"Membunuh siapa?"
"Kang Ouw Pat Kiat (Delapan Pendekar Sejati Dunia Persilatan)."
"Mereka orang baik atau orang jahat?"
"Melihat keuntungan melupakan budi luhur, itu tergolong orang yang amat jahat."
Mendengar itu, Ciok Giok Yin tidak banyak berpikir lagi.
"Mohon lo cianpwee memberitahukan nama mereka!"
Katanya. Pada dasarnya Ciok Giok Yin memang amat membenci orang semacam itu, maka dia ingin membasmi mereka.
"Sekarang kau harus pergi membunuh Khiam Sim Hweshio, ketua Kuil Put Toan Si. Setelah itu, kau balik kemari memberitahukan padaku, lalu pergi cari orang lain."
Sahut Sang Ting It Koay.
"Apakah Khiam Sim Hweshio adalah salah satu di antara Kang Ouw Pat Kiat?"
"Ng!"
"Di mana kuil Put Toan Si itu?"
"Di daerah Ngo Pak. Dari sini ke sana berjarak seratus mil lebih."
"Bagaimana dengan hweshio-hweshio lain?"
"Mereka tiada dendam apapun dengan lohu, maka kau tidak boleh membunuh mereka. Tapi Kau harus membunuh Khiam Sin Hweshio."
Setelah mendengar itu, dalam hati Ciok Giok Yin timbul suatu kemarahan besar, sepertinya melihat Sang Ting Koay dikeroyok di puncak Gunung Muh San oleh Kang Ouw Pat Kiat.
Wajahnya yang tampan itu langsung diliputi hawa membunuh yang amat berat.
Kemudian Ciok Giok Yin membungkukkan badannya dan menjura.
"Su..."
Katanya. Maksudnya ingin memanggil suhu, namun cepat-cepat diubah, sebab Sang Ting It Koay tidak tahu mau dipanggil suhu.
"Lo cianpwee tunggu beritaku!"
Usai berkata. Dia segera melesat pergi, tapi mendadak Sang Ting It Kong berseru.
"Kembali!"
Ciok Giok Yin langsung kembali ke hadapan Sang Ting It Koat.
"Lo cianpwee masih ada pesan lain?"
Sang Ting It Koay tampak berpikir keras.
"Ini pertama kali kau keluar, selanjutnya kau akan sering keluar,"
Sahutnya sesaat kemudian. Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya. Aku harus memenuhi harapan lo cianpwee."
"Kelak kalau kau berkelana dalam rimba persilatan, tentu akan mendengar tentang suatu benda pusaka rimba persilatan, yaitu Gin Tie (Seruling Perak)."
"Gin Tie?"
"Ng!"
"Sesungguhnya itu merupakan pusaka apa?"
"Benda pusaka peninggalan Han Siang Cu."
"Apa gunanya benda pusaka itu?"
"Kini belum waktunya menceritakannya."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kalau kau menemukan benda itu, atau mendengar tentang jejaknya, maka kau harus berupaya agar memperolehnya. Setelah itu, kau harus pergi mencari keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Coan, dan menyerahkan Gin Tie tersebut padanya."
Ciok Giok Yin tertegun mendengar itu, karena merupakan kedua kalinya dia mendengar Gin Tie tersebut harus diserahkan kepada keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan.
Apakah seruling perak itu amat penting bagi keturunan keluarga Ciok tersebut?
Karena memikirkan itu, membuatnya lupa akan pembicaraannya dengan Sang Ting It Koay.
Sedangkan Sang Ting It Koay menatapnya dengan heran.
"Bocah, pernahkah kau mendengar tentang Gin Tie itu?"
Ciok Giok Yin tersentak sadar.
"Aku pernah dengar."
"Dengar dari siapa?"
"Phing Phiauw Khek."
"Phing Phiauw Khek?"
"Ya."
"Apa katanya?"
"Seperti apa yang dikatakan lo cianpwee barusan."
"Kalau begitu, kau harus berupaya mendapatkan Gin Tie itu. Sekarang pergilah!"
Ciok Giok Yin tidak segera pergi.
"Di mana tempat tinggal keturunan keluarga Ciok itu?"
"Kau boleh menyelidiki sendiri."
Ini pun merupakan urusan sulit, sebab dunia sedemikian luas, tidak tahu nama dan alamat, bagaimana mungkin mencarinya?
Lagipula harus kemana mencari Seruling Perak itu?
Walau dia akan berupaya semaksimal mungkin, namun tetap akan sia-sia belaka.
Itu bagaimana nanti saja.
Pikir Ciok Giok Yin, lalu melesat pergi.
Di lembah Tok Coa Kok hanya terdapat sebuah jalan setapak, orang keluar masuk harus melalui jalan setapak itu.
Di kanan kiri jalan setapak itu, terdapat tebing yang amat tinggi dan berlumut.
Apabila di hadapan ada orang ingin masuk, maka salah seorang harus mengalah ke samping, sebab jalan itu sulit dilalui dua orang.
Oleh karena itu, lembah Tok Coa Kok menjadi terlarang bagi kaum rimba persilatan, sebab siapa yang ingin cari mati dilembah tersebut?
Sementara Ciok Giok Yin terus melesat di jalan setapak itu, tampak bayangannya berkelebat kelebat.
Tak lama kemudian, dia sudah berada di luar lembah.
Saking gembiranya dia bersiul panjang.
Bukan main nyaringnya suara siulannya, mengejutkan burung-burung yang bertengger di dahan, sehingga burungburung itu langsung beterbangan, karena ketakutan.
Malam harinya, tampak seorang pemuda berdandan seperti pemuda desa, berjalan santai mendaki gunung.
Ternyata di atas gunung itu terdapat kuil Put Toan Si.
Jalan menuju kuil tersebut agak berliku-liku.
Langkah pemuda desa itu kelihatan santai.
Namun ternyata jalannya cepat sekali, membuktikan bahwa dia memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi.
Meskipun pemuda itu berpakaian kasar, tapi wajahnya tampan sekali.
Anak gadis manapun yang melihatnya, pasti akan jatuh hati padanya.
Berselang beberapa saat, pemuda itu sudah mendekati Kuil Put Toan Si.
Dia mendongakkan kepala.
Dilihatnya di atas pintu kuil terdapat sebuah papan bertulisan 'Put Toan Si' Setelah membaca huruf-huruf itu, sepasang matanya langsung menyorot tajam, dan wajahnya diliputi hawa membunuh.
Siapa pemuda itu?
Tidak lain adalah Ciok Giok Yin.
Dia kemari ingin membalas dendam Sang Ting It Koay.
Ciok Giok Yin berjalan ke kuil itu melalui undakan batu.
Baru saja dia melewati beberapa undakan, mendadak muncul tiga orang hweshio.
"Kuil kami sedang mulai pelajaran malam, harap sicu segera turun gunung!"
Kata salah seorang dari mereka. Ciok Giok Yin menatap hweshio itu dengan tajam.
"Apa hubungannya pelajaran malam kalian dengan diriku?"
"Peraturan kuil kami, melarang tamu masuk ke dalam kuil di malam hari,"
Sahut Hwee Shio itu.
"Apakah tidak leluasa bagi orang yang menyucikan diri?' "Harap sicu mengerti!"
Sembari berkata, Ciok Giok Yin berjalan lagi.
"Kau berani masuk dengan cara paksa?"
Kata hwee shio itu dengan suara dalam. Sedangkan dua hweshio lainnya, menatap Ciok Giok Yin dengan bengis.
"Memangnya kenapa? Apalah di dalam kuil kalian terdapat suatu rahasia?"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Bocah! Kau memang sudah bosan hidup, berani kemari cari gara-gara!"
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin dipanggil 'Bocah'! Sebelah tangannya langsung bergerak. Plak! Ternyata Ciok Giok Yin telah menampar hweshio itu, membuat mata hweshio itu berkunang-kunang.
"Bagaimana seorang hweshio boleh bermulut demikian kasar?"
Katanya dengan dingin. Akan tetapi, ketiga hweshio itu justru gusar sekali.
"Bocah, kau berani memukul orang? bentak mereka serentak. Ketiga mereka menyerang Ciok Giok Yin dengan serentak pula. Ciok Giok Yin tidak mau meladeni mereka bertiga, sebab Sang Ting It Koay telah berpesan padanya, jangan membunuh hweshio lain, kecuali Khiam Sim Hwee shio. Oleh kerena itu, Ciok Giok Yin cuma berkelit, sekalipun menerobos ke kuil. Dalam waktu sekejap, dia sudah memasuki kuil tersebut. Ciok Giok Yin menuju ruang ketua, karena yang dicarinya adalah Khiam Sim Hweshio, ketua Kuil Put Toan Si ini. Ketika dia sedang menuju ruang ketua, mendadak muncul lima hweshio menghadang di depannya. Menyusul pula tiga hweshio di belakangnya.
"Hadang dia!"
Seru ketiga hweshio itu. Ciok Giok Yin berhenti, lalu menatap para hweshio itu dengan dingin sekali.
"Bolehkah kami tahu nama sicu?"
Tanya salah satu hweshio yang berdiri di hadapannya dengan suara dalam.
"Ciok Giok Yin."
"Ada urusan apa, bolehkah sicu memberitahukan, agar kami melapor pada ketua?"
"Kau tidak pantas."
Sahutan Ciok Giok Yin yang amat ketus, membuat hweshio itu menjadi naik darah.
"Kau kemari sengaja cari gara-gara?"
Bentaknya sambil maju dua langkah.
"Boleh dikatakan demikian."
Seketika terdengar suara seruan serentak.
"Habisi dia!"
"Yang merasa bosan hidup, boleh cari mati!"
Sahut Ciok Giok Yin. Bukan main gusarnya para hweshio itu! Mereka mengepal tinju sambil menatap Ciok Giok Yin dengan bengis. Ciok Giok Yin juga menatap mereka dengan dingin.
"Kalian tidak percaya, silakan coba!"
Katanya sepatah demi sepatah. Salah satu hweshio, langsung menyerang Ciok Giok Yin dengan jurus Thay San Ap Teng (Gunung Thay San Menindih Atap). Ciok Giok Yin mendengus dingin.
"Hmmm!"
Kemudian membentak.
"Cari mati!"
Memdadaka dia menjulurkan sebelah tangannya.
Seketika terdengar suara jeritan, ternyata hweshio itu telah roboh dan nafasnya pun sudah putus.
Hati Ciok Giok Yin tersentak dan membatin.
'Aku...
sudah membunuh orang....' Sesungguhnya dia berhati bajik, hanya saja sering dihina dan dipukuli orang, maka di dalam hatinya terukir rasa benci.
Namun, dia tidak berniat membunuh orang.
Kali ini dia datang di kuil Put Toan Si mencari Khiam Sim Hweshio, hanya demi membalas budi kebaikan Sang Ting It Koay yang telah menyelamatkan nyawanya, bahkan juga mengajarkan ilmu silat.
Oleh karena itu, lawannya sudah pasti Khiam Sim Hweshio.
Tapi kini dia justru kelepasan tangan membunuh seorang hweshio lain sehingga membuat hatinya tersentak.
Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga, bahwa hweshio itu begitu tak berguna sama sekali.
Padahal tadi dia cuma menggunakan delapan bagian tenaganya, namun malah membunuh hweshio tersebut, itu sungguh diluar dugaannya.
Di saat hweshio itu roboh, hweshio-hweshio lain, langsung berseru serentak.
"Soan Hoang Ciang (Ilmu Pukulan Angin Puyuh)!"
Ketika suara seruan itu sirna, terdengar pula suara pujian pada Sang Budha di belakang Ciok Giok Yin.
"Omitohud!"
Tampak seorang hweshio tua melayang turun. Badannya tinggi besar dan sepasang matanya bersinar terang. Begitu hweshio tua itu muncul, para hweshio segera memberi hormat padanya.
"Sicu ini masuk secara paksa, ingin bertemu ketua,"
Kata salah seorang dari mereka. Tidak salah lagi, hweshio menatap Ciok Giok Yin.
"Apa maksud sicu kecil memhunuh orang di sini?"
Katanya perlahan. Ciok Giok Yin menatapnya dingin.
"Siapa kau?"
"Khiam Sim Hweshio."
"Kau adalah Khiam Sim?"
"Tidak salah."
Wajah Ciok Giok Yin langsung diliputi hawa membunuh.
"Khiam Sim! Apakah kau telah melupakan peristiwa empat belas tahun yang lalu di puncak Gunung Muh San?"
Bentaknya keras. Khiam Sim Hweeshhio tersentak ketika mendengar pertanyaan Ciok Giok Yin itu.
"Siapa kau?"
Katanya dengan suara dalam.
"Murid Sang Ting It Koay.... Ciok Giok Yin!"
"Mau apa kau kemari?"
"Menagih hutang!"
"Hutang padamu!"
"Hutang pada suhuku!"
Khiam Sim Hweshio tertawa gelak.
"Sicu kecil, kau mengada-ada dan berdusta! Entah kau dengar dari mana, lalu kemari mencariku! Perlu kau ketahui, mungkin saat ini tulang Belulang Sang Ting It Koay sudah tiada! Kau berani kemari cari gara-gara, lebih baik menurutku agar hukumanmu menjadi agak ringan!"
"Khim Sim, serahkan nyawamu!"
Bentak Ciok Giok Yin.
Badan pemuda itu bergerak cepat, begitu pula sepasang tangannya.
Terdengar suara yang menyayat hati, dan tampak darah segar bercucuran.
Ternyata Khiam Sim Hweshio telah roboh binasa, kepalanya pecah, darah dan otak berhamburan ke mana-mana.
Setelah berhasil membunuh Khiam Sim Hweshio, Ciok Giok Yin bersiul panjang.
Tampak bayangannya berkelebat, dia melesat pergi meninggalkan Kuil Put Toan Si, dan dalam sekejap sudah hilang di bawah sinar rembulan.
Para hweshio Kuil Put Toan Si, semuanya masih menggigil ketakutan.
Tidak disangka pemuda yang belum berusia dua puluh, hanya dalam satu jurus sudah berhasil membunuh Khiam Sim Hweshio, salah satu Kang Ouw Pat Kiat yang amat terkenal itu.
Di saat Ciok Giok Yin melesat pergi, terlihat sosok bayangan hitam berkelebat ke atap kuil itu.
Dia mendengar pembicaraan para hweshio, dan menyaksikan keadaan di kuil itu.
Setelah memahami semuanya, barulah dia melesat pergi.
Keesokan harinya berita itu sudah tersebar luas di dunia persilatan.
Karena itu, nyali Kang Ouw Pat Kiat menjadi ciut, mereka selalu tercekam rasa tegang dan takut.
Mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa bukan hanya Sang Ting It Koay yang belum mati, bahkan muncul muridnya menuntut balas.
Sementara Ciok Giok Yin terus melesat menuju Lembah Tok Coa Kok.
Tiba-tiba teringat akan peta Si Kau Hap Liok Touw pemberian Ho Siu Kouw.
Sejak menyimpan peta tersebut, dia tidak pernah melihatnya.
Mengapa tidak melihat sekarang?
Sebetulnya peta itu asli atau palsu?
Karana berpikir demikian, Ciok Giok Yin segera berhenti, kemudian merogoh ke dalam bajunya.
Dia mengeluarkan peta itu yang masih terbungkus sapu tangan.
Berhubung dia pernah merendam dirinya di dalam sumur susu bumi, maka peta kulit kambing itu masih agak basah.
Dengan hati-hati sekali dia membuka peta tersebut, ternyata peta itu bergambar sembilan buah patung Buddha.
Setiap gambar patung Budha itu terdapat tulisan 'Sembilan' Namun salah satu diantara gambar-gambar patung Buddha itu amat besar dan aneh, juga terdapat tulisan 'Sembilan' Ciok Giok Yin tidak paham sama sekali.
Ketika dia baru ingin membuang peta itu, tiba-tiba hatinya tergerak.
Niat membuang peta itu dibatalkannya, lalu peta tersebut dibungkus kembali dengan sapu tangan, dan disimpan ke dalam bajunya.
Sesungguhnya peta tersebut sudah agak berlubang-lubang, lantaran terlalu sering terendam di dalam sumur susu bumi.
Namun, Ciok Giok Yin memiliki ingatan yang kuat.
Apa yang dilihatnya dalam peta itu, kini telah berpindah ke dalam otaknya.
Ciok Giok Yin terus melesat menuju Lembah Tok Coa Kok.
Berselang beberapa saat, dia sudah memasuki lembah itu, dan langsung menuju ke dalam goa.
Dia melihat Sang Ting It Koay duduk di atas batu api, mengiranya sedang bersemedi.
Maka Ciok Giok Yin tidak berani bersuara, cuma berdiri di sisinya menunggunya usai bersemedi.
Akan tetapi sudah satu jam dia menunggu, Sang Ting It Koay tetap diam dan matanya terus terpejam.
Ciok Giok Yin merasa heran, kemudian memperhatikan Sang Ting It Koay.
Seketika sekujur badannya bergemetar.
Rasa duka pun timbul mendadak, akhirnya dia menangis sedih.
Ternyata Sang Ting It Koay telah meninggal, padahal Ciok Giok Yin pergi cuma setengah hari, tapi Sang Ting It Koay sudah tidak sempat menunggu kabar berita baik itu.
Setahun lebih Ciok Giok Yin bersama Sang Ting It Koay, maka timbul suatu cinta kasih di antara mereka berdua.
Ciok Giok Yin terus menangis hingga serak suaranya.
"Suhu, meskipun kau melarangku memanggilmu suhu, namun dalam hatiku tetap menganggapmu sebagai suhu. Maka biar bagaimana, aku pasti akan memenuhi harapan suhu. Aku... sudah membunuh Khiam Sim Hweshio, harap suhu dapat tenang di alam baka, aku pasti mencari yang lain."
Ciok Giok Yin terus menangis.
mendadak dia baru ingat, siapa Kang Ouw Pat Kiat yang lain.
Sang Ting It Koay cuma memberitahukan Khiam Sim Hweshio, tidak memberitahukan yang lain, lalu selanjutnya harus pergi cari siapa?
Oleh karena itu, Ciok Giok Yin berhenti menangis.
Dia menghapus air matanya, sambil bangkit berdiri.
Beberapa saat dia berdiri termangu-mangu, namun tiba-tiba hatinya tergerak lalu dia berkata.
"Kang Ouw Pat Kiat amat terkenal di dunia persilatan. Apabila aku berkelana di dunia persilatan, bukankah aku bisa mencari informasi tentang mereka?"
Katanya.
Setelah itu hatinya terasa lega, pasti dapat membalas dendam suhunya kelak.
Kini yang harus dilakukannya, pasti mengubur mayat suhunya.
Ciok Giok Yin segera menggali sebuat lubang, kemudian mengubur mayat suhunya di dalam lubang itu.
Akan tetapi, ketika dia mengangkat mayat suhunya, justru melihat sebuah kitap tipis dan beberapa tael uang perak di atas batu api.
Seusai mengubur mayat suhunya, barulah Ciok Giok Yin mengambil kitab tipis itu, ternyata berisi riwayat hidup Sang Ting It Koay dan nama-nama Kang Ouw Pat Kiat.
Terakhir terdapat beberapa baris tulisan berbunyi demikian.
'Ingat!
Kau harus berupaya mencari Seruling Perak dan sebuah kitab Cu Cian!
Apabila kau tidak berhasil mencari keturunan keluarga Ciok itu, maka kau harus mempelajari ilmu silat yang tercantum di situ, agar dapat membersihkan pintu perguruanku!
Murid murtad itu bernama Chiu Tiong Thau!
Dan kau harus ingat satu hal, kita bukan guru dan murid, aku....' Tulisan habis sampai di situ.
Mungkin Sang Ting It Koay sudah tidak kuat menulis lagi, akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Ciok Giok Yin memegang kitap tipis itu dengan air mata berderai-derai.
"Suhu, biar bagaimanapun aku tetap menganggapmu sebagai suhu."
Dia menyimpan kitab tipis itu ke dalam bajunya, lalu memandang ke sekeliling goa itu sejenak.
Setelah itu, barulah dia meninggalkan goa tersebut.
Sampai di luar, dia memandang ke atas.
Yang tampak kabut tebal.
Entah berapa tinggi tebing itu.
Sebetulnya dia ingin naik ke atas dengan cara memanjat tebing itu.
Namun dia tidak tahu berapa tinggi tebing tersebut, lagi pula kalau kurang hati-hati, mungkin akan terpeleset jatuh.
Akan tetapi, biar bagaimanapun dia harus naik ke atas, sebab dia ingin berangkat ke Goa Toan Tong untuk menengok Ho Siu Kouw.
Dia yakin dengan lwee kang yang dimilikinya sekarang, dirinya mampu memutuskan rantai besi itu.
Tidak peduli gadis itu menghadiahkan peta asli palsu, yang jelas dia harus menolongnya.
Usai berpikir begitu, dia menarik nafas dalam-dalam mengerahkan lwee kangnya.
Seketika tampak badannya melambung ke atas menembus kabut tebal, kemudian hinggap di dinding, dan mulai merayap ke atas dengan hati-hati sekali.
Akhirnya dia berhasil sampai di atas.
Dia berdiri termangu-mangu di pinggir jurang.
Setahun yang lalu, garagara Bu Lim Siu, dia terjatuh ke dalam jurang itu.
Teringat akan Bu Lim Sam Siu, timbul pula kegusarannya sehingga membuat berkertak gigi.
Ciok Giok Yin mengambil keputusan untuk ke Goa Toan Tong dulu, setelah itu barulah ke perkampungan Tong Keh Cuang menengok Bwee Han Ping.
Dia harus melaksanakan rencananya itu, maka mendadak badannya bergerak melesat pergi.
Berselang beberapa saat, dia sudah berada di depan Goa Toan Teng Tong.
Tanpa banyak pikir lagi, dia langsung masuk ke goa itu.
Namun begitu masuk, matanya terbelalak, ternyata di dalam goa itu tergeletak belasan mayat, semua pecah kepalanya sehingga tampak amat mengenaskan.
Akan tetapi, justru tidak tampak bayangan Ho Siu Kouw.
Mengenai peti mati merah, juga tidak kelihatan, tiada jejak sama sekali.
Mungkin dia masih berada di balik dinding batu, karena itu Ciok Giok Yin segera mengerahkan lwee kangnya, lalu menghantam dinding batu tersebut.
Maksudnya ingin menghancurkan dinding batu itu dengan pukulan.
Sebab asal dinding batu itu hancur, pasti akan menemukan Ho Shin Kouw.
Blam!
Terdengar suara benturan yang amat keras memekakkan telinga, debupun beterbangan, sedangkan Ciok Giok Yin termundur satu langkah.
Akan tetapi, setelah debu-debu hilang, dinding batu itu masih tampak seperti semula.
Pukulan yang dilancarkan Ciok Giok Yin paling sedikit berkekuatan ratusan kati.
Namun, dinding batu itu tidak hancur maupun rusak atau berlubang, sebaliknya Ciok Giok Yin malah merasa lengannya sakit sekali.
Bukan main penasarannya Ciok Giok Yin!
Dia memperhatikan dinding itu, ternyata bukan batu, melainkan terbuat dari besi yang amat tebal.
Ciok Giok Yin termangu-mangu, menatap dinding besi itu dengan kening berkerut-kerut.
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring dan amat dingin di belakangnya.
"Jangan bergerak!"' Seketika sekujur badannya menjadi merinding. Di dalam goa yang menyeramkan ini, justru mendadak terdengar suara bentakan yang amat dingin. Di saat bersamaan, sebuah jari menyentuh punggungnya, dan terdengar suara ancaman.
"Apabila kau bergerak, aku pasti menghabisimu!"
Ciok Giok Yin memiliki sifat keras, kemudian ikut Sang Ting It Koay setahun lebih, maka ketularan sifat anehnya pula.
Oleh karena itu, ketika mendengar suara tersebut, dia bergerak cepat laksana kilat melesat ke depan, sekaligus membalikkan badannya.
Begitu melihat orang itu, seketika juga Ciok Giok Yin mengeluarkan suara 'lh'.
Demikian pula orang itu, ketika melihat Ciok Giok Yin, juga mengeluarkan suara 'Ih'.
Siapa orang itu?
Ternyata Heng Thian Ceng, wanita buruk rupa yang pernah bertemu Ciok Giok Yin setahun yang lalu.
Heng Thian Ceng sama sekali tidak menduga, pemuda yang berada di hadapannya itu Ciok Giok Yin.
Maka, membuatnya tertegun, menatap Ciok Giok Yin dengan mata terbeliak lebar.
Suasana di tempat itu seketika berubah menjadi hening.
Sekilas wajah Heng Thian Ceng tampak berseri.
"Bocah, cepat serahkan!"
Katanya dengan dingin.
Ciok Giok Yin tertegun.
Namun kemudian terpikir olehnya bahwa wanita buruk rupa itu menghendaki peta Si Kauw Hap Liok Touw.
Tidak perduli peta itu asli atau palsu, pokoknya tidak akan diserahkan kepada Heng Thian Ceng.
"Serahkan apa?"
"Seruling Perak!"
"Apa? Seruling Perak?"
Untuk ketiga kalinya Ciok Giok Yin mendengar Seruling Perak tersebut. Sungguh tak disangka wanita buruk rupa ini pun sedang mencari Cu Cian. Heng Thian Ceng mengangguk.
"Ng!"
"Aku tidak pernah melihat Seruling Perak atau Seruling Emas,"
Kata Ciok Giok Yin. Wajah Heng Thian Ceng berubah menjadi dingin. Sepasang matanya menyorot tajam menatap Ciok Giok Yin sambil maju selangkah.
"Bocah, kau berani menyangkal? Orang-orang ini adalah bukti!"
Bentaknya sambil menunjuk mayat-mayat yang tergeletak.
"Tak disangka dalam waktu setahun, kau telah berhasil menguasai kungfu tinggi!"
"Bagaimana kau tahu aku yang mengambilnya?"
Tanya Ciok Giok Yin.
"Kalau bukan kau lalu siapa?"
"Kau melihat itu?"
"Mayat-mayat di sini adalah saksi. Cepat serahkan! Urusan di antara kita berdua jadi beres, kalau tidak...."
"Bagaimana?"
"Dua urusan akan diperhitungkan sekaligus!"
"Urusan apa?"
"Tahun kemarin kau membohongiku, katamu peta Si Kauw Hap Liok Touw berada pada Bu Lim Sam Siu! Walau aku belum bertemu mereka bertiga, namun mendengar kabar berita di rimba persilatan, peta itu berada di tanganmu!"
Heng Thian Ceng berhenti sejenak, menatap Ciok Giok Yin seraya melanjutkan.
"Sekarang asal kau serahkan Seruling Perak itu padaku, tidak menghendaki peta itu lagi!"
Ciok Giok Yin mendengus dingin.
"Hmm! Aku justru ingin bertanya satu hal padamu!"
"Katakan!"
"Kapan kau kemari?"
"Barusan!"
"Aku kemari cuma lebih cepat sepeminum teh darimu...."
"Selain kau tiada orang lain!"
"Kalau begitu, kau yakin aku yang mengambilnya?"
"Tidak salah!"
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin! "Jangan memfitnah dan jangan bermulut besar!"
Katanya dengan lantang.
"Pasti kau! Tahukah kau siapa aku?"
"Heng Thian Ceng!"
"Tahukah kau mengenai peraturanku?"
"Peraturan apa?"
"Aku ingin membunuh semua kaum lelaki di kolong langit!"
"Hmm! Tidak salah kataku, kau memang bermulut besar!"
Ketika Ciok Giok Yin sedang berkata, sepasang mata Heng Thian Ceng memandang ke arah dinding batu.
Ternyata pada dinding batu itu terdapat sebaris tulisan.
'Gin Tie...
Liok Hap Kun' Usai membaca, Heng Thian Ceng juga mengeluarkan suara.
"Iiih!"
Ciok Giok Yin tercengang, lalu segera memandang ke sana. Begitu melihat tulisan itu, dia langsung membacanya.
"Gin Tie, Liok Hap Kun."
Heng Thian Ceng juga bergumam.
"Liok Hap Kun, Liok Hap Kun."
"Siapa?"
"Nama ini, aku tidak pernah mendengarnya."
Mendadak Heng Thian Ceng berkata dengan suara rendah.
"Ada orang datang, cepat bersembunyi!"
Badan Heng Thian Ceng bergerak cepat, dan dalam sekejap sudah menghilang.
Ciok Giok Yin terbelalak.
Ternyata dia tidak tahu Heng Thian Ceng bersembunyi di mana, bahkan juga tidak melihatnya.
Hati Ciok Giok Yin menjadi dingin.
Dia tidak menyangka bahwa wanita buruk rupa itu memiliki ginkang yang begitu tinggi.
Di saat badan Heng Thian Ceng berkelebat menghilang, dalam waktu bersamaan masuklah tiga orang aneh.
Ketiga orang itu, boleh dikatakan mirip tiga sosok mayat.
Sepasang mata mereka tidak berkedip, terus menatap ke atas dinding batu.
Mereka sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Ciok Giok Yin.
Ciok Giok Yin merinding dan berpikir, hari ini begitu banyak orang datang di Goa Toan Teng Tong, tentunya demi sebatang Seruling Perak.
Kemudian ketiga orang aneh itu saling memandang.
Mendadak masuk lagi seorang aneh kurus kecil.
Dia membalikkan badannya menatap Ciok Giok Yin, seraya bertanya dengan suara parau.
"Siapa kau?"
Ciok Giok Yin langsung balik bertanya dengan nada yang sama.
"Siapa kau?"
"Sou Bin Koay Siu (Orang Aneh Wajah Kurus), sebetulnya siapa kau?"
"Ciok Giok Yin!"
"Cepat serahkan!"
"Serahkan apa?"
"Gin Tie!"
"Kau buta huruf?"
Tanya Ciok Giok Yin sambil menunjuk dinding batu.
Sou Bin Koay Siu-Sang Ceh Cing memandang ke arah dinding batu yang ditunjuk Ciok Giok Yin.
Seketika wajahnya tampak tertegun.
Namun kemudian sepasang matanya menyorot tajam, menatap Ciok Giok Yin seraya membentak.
"Bocah, kau berani macam-macam?"
Dia menoleh ke arah tiga orang aneh itu.
"Tangkap dia!"
Serunya lantang. Salah seorang aneh, langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin.
"Berani kau?"
Bentak Ciok Giok Yin menguntur.
Mendadak dia mengibaskan tangannya.
Kibasan yang penuh mengandung lwee kang.
Dapat dibayangkan, betapa kuatnya kibasan tangannya itu.
Bum!
Terdengar suara benturan dahsyat, orang aneh itu roboh seketika.
Akan tetapi, sungguh menakjubkan!
Ternyata orang aneh itu bangkit berdiri lagi, kemudian menyerang Ciok Giok Yin dengan sepasang tangannya.
Ketika roboh, orang aneh itu sama sekali tidak menjerit, kelihatannya seperti orang gagu.
Di saat bersamaan, Sou Bin Koay Siu membentak.
"Mundur!"
Orang aneh itu langsung mundur, sedangkan Sou Bin Koay Siu maju menyerang Ciok Giok Yin dengan tiga pukulan.
Bukan main cepatnya gerakan Sou Bin Koay Siu!
Ketiga pukulan itu dilancarkan dengan sekaligus, bahkan amat dahsyat pula, membuat Ciok Giok Yin terdesak mundur beberapa langkah.
Akan tetapi, mendadak Sou Bin Koay Siu meloncat ke belakang.
"Bocah, ada hubungan apa kau dengan Sang Ting It Koay?"
"Tidak perlu kuberitahukan!"
Sou Bin Koay Siu maju selangkah.
"Kau tidak mau beritahukan?"
Bentaknya sambil melancarkan sebuah pukulan ke arah Ciok Giok Yin.
Pemuda itu memang berkepandaian tinggi, cuma sayang kurang berpengalaman.
Maka dia terdesak mundur, ketika Ciok Giok Yin hampir kena.
Namun mendadak terdengar bentakan keras.
"Berhenti!"
Sou Bin Koay Siu-Sang Ceh Cing langsung mencelat ke belakang, ke arah datangnya suara bentakan. Seketika sekujur badannya merinding, sehingga tanpa sadar dia berseru.
"Heng Thian Ceng!"
"Tidak salah, matamu masih belum lamur!"
"Kau kemari demi Gin Tie?"
"Betul terkaanmu!"
"Kau sudah memperolehnya?"
"Kau kok cerewet amat? Cepat enyah!"
Sou Bin Koay Siu sudah sekian tahun terkenal di dunia persilatan, bagaimana mungkin dia dapat menelan penghinaan ini?
Namun nama besar Heng Thian Ceng telah membuat ciut nyalinya, sehingga tanpa sadar dia menyurut mundur selangkah.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak berniat meninggalkan goa itu.
Mendadak badan Heng Thian Ceng bergerak, ternyata dia maju dua langkah ke hadapan Sou Bin Koay Siu.
"Kau masih belum mau enyah?"
Bentaknya. Sou Bin Koay Siu mundur dua langkah sambil melirik Ciok Giok Yin.
"Aku mau bawa bocah ini pergi!"
Katanya. Heng Thian Ceng langsung melotot mendengar itu.
"Jangan kentut di sini, dia punyaku! Cepat enyah dari sini!"
Bentaknya gusar. Sou Bin Koay mendelik ke arah Ciok Giok Yin, lalu memberi isyarat pada ketiga orang aneh itu.
"Mari kita pergi!"
Sou Bin Koay Siu dan ketiga orang aneh itu segera meninggalkan goa, dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan. Heng Thian Ceng menoleh memandang Ciok Giok Yin.
"Bocah, hari ini aku melepaskanmu! Tapi kelak kalau kita bertemu lagi, mungkin aku akan membunuhmu, pergilah!"
"Mengapa kau ingin membunuhku?"
"Tidak kenapa-kenapa!"
"Tentunya ada alasan!"
"Tiada alasan sama sekali, hanya tergantung pada kemauanku!"
"Apakah itu alasanmu?"
"Boleh dikatakan demikian, sebelum pikiranku berubah, lebih baik kau cepat-cepat pergi!"
Sebetulnya Ciok Giok Yin tidak mau dengar, namun setelah berpikir sejenak, dia pun meninggalkan goa tersebut.
Karena di dalam goa itu tidak ada Ho Siu Kouw, lalu untuk apa lama-lama di situ?
Ciok Giok Yin melesat ke luar.
Berselang beberapa saat kemudian, dia merasa agak lelah.
Karena itu, dia duduk beristirahat di atas sebuah batu.
Tak seberapa lama, rasa lelahnya sudah hilang.
Ketika dia membuka matanya, seketika terbelalak, ternyata di sekelilingnya telah berdiri dua puluh orang lebih kaum rimba persilatan, mengepungnya.
Seorang tua maju selangkah, lalu bertanya dengan suara parau.
"Kau bernama Ciok Giok Yin?"
"Tidak salah."
"Kau punya hubungan apa dengan Heng Thian Ceng?"
"Tidak ada!"
"Tidak ada?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau harus berkata sejujurnya!"
"Harap Anda bicara lebih jelas!"
"Lohu adalah Sin Ciang (Pukulan Sakti) Yo Sian. Dengardengar kau dan Heng Thian Ceng telah menemukan Seruling Perak itu!"
Kini Ciok Giok Yin baru tahu, ternyata kemunculan mereka karena Seruling Perak.
"Kalian dengar dari siapa?"
Katanya.
"Kau tidak usah tahu!"
Salah seorang tua maju ke depan.
"Tidak usah banyak bicara padanya,"
Katanya dingin sambil melancarkan sebuah pukulan ke arah Ciok Giok Yin.
Sedangkan Ciok Giok Yin sudah amat gusar karena didikte mereka, lagipula tidak menduga orang tua itu akan menyerangnya.
Dia cepat-cepat menggeser badannya, sekaligus balas menyerang dengan cepat.
Orang tua itu adalah ketua Heng San Pai bernama Kang Sun Fang.
Dia merasa serangan Ciok Giok Yin mengandung hawa panas, maka tersentaklah hatinya dan langsung mencelat ke belakang beberapa langkah.
Ciok Giok Yin tidak tahu orang tua itu jahat atau baik.
Karena itu dia tidak mau sembarangan membunuh, lagi pula kemunculan mereka cuma demi Seruling Perak.
Mendadak seorang pengemis tua maju ke depan dan begitu melihat jelas Ciok Giok Yin, dia langsung mengeluarkan suara.
"Ih? Kok kau?"
Ciok Giok Yin masih ingat, setahun yang lalu pengemis tua itu dilukai perkumpulan Sang Yen Hwee. Justru tak disangka berjumpa kembali dengan pengemis tua itu di sini.
"Paman pengemis!"
Serunya. Namun pengemis tua itu malah mendengus.
"Hmm!"
Setelah itu berkata.
"Bocah, kita jangan membicarakan urusan lama dulu! Tadi kau bilang tiada hubungan apa-apa dengan Heng Thian Ceng?"
"Benar. Aku dan Heng Thian Ceng bertemu di dalam goa Toan Teng Tong, sama sekali tidak punya hubungan apa-apa."
"Lalu kenapa dia melindungimu?"
Kini Ciok Giok Yin sudah paham, ternyata mereka tergosok oleh Sou Bin Koay Siu.
"Mungkin berdasarkan keadilan rimba persilatan."
Serunya. Sesungguhnya pengemis tua itu Te Hang Kay (Pengemis Bumi) yang amat terkenal.
"Itu bukan alasan yang tepat!"
Katanya dingin. Mendengar itu, timbullah rasa gusar dalam hati Ciok Giok Yin.
"Kalian mau bagaimana?"
Katanya dengan dingin dan ketus.
"Kau harus ikut aku pengemis tua!"
Sahut Te Hang Kay.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Tentunya tidak bisa!"
Seketika maju empat orang, namun di saat bersamaan terdengar suara siulan yang amat nyaring, dan tampak sosok bayangan merah berkelebat laksana kilat lalu melayang turun di tempat itu.
Orang-orang itu langsung merasa merinding dan hati mereka menjadi dingin.
Jilid 04 Orang-orang yang berada di tempat itu, rata-rata kaum rimba persilatan yang sudah terkenal.
Namun mereka merasa merinding akan kehadiran orang berpakaian merah.
Orang itu ternyata Heng Thian Ceng, wanita buruk rupa.
Dia berdiri tegak di samping Ciok Giok Yin.
Sepasang matanya menyorot tajam, memandang ke sekeliling.
"Kalian semua ingin berbuat apa?"
"Ingin menyelidiki satu urusan,"
Sahut Sin Ciang Yo Sian.
"Urusan apa?"
"Jejak Seruling Perak."
"Kalian juga menghendaki Gin Tie itu?"
Sin Ciang Yo Sian tahu akan kelihayan Heng Thian Ceng, apabila salah menjawab, nyawanya pasti akan melayang. Karena itu, dia berpikir beberapa saat, setelah itu baru menyahut.
"Lohu...."
Namun Heng Thian Ceng langsung membentak memotong perkataannya.
"Kau berada di hadapan siapa menyebut dirimu 'Lohu' cepat enyah!"
Begitu membentak, Heng Thian Ceng pun maju tiga langkah.
Walau Sin Ciang Yo Sian amat gusar dalam hati, tapi tidak berani melampiaskannya.
Dia melototi Ciok Giok Yin, lalu melesat pergi tanpa menoleh lagi.
Di saat bersamaan mereka yang lain pun ikut melesat pergi, dalam sekejap mereka sudah tidak kelihatan.
Ciok Giok Yin segera memberi hormat pada Heng Thian Ceng.
"Terimakasih, lo cianpwee!"
Ucapnya.
"Tidak usah berterimakasih, aku cuma demi dirimu yang difitnah!"
Kata Heng Thian Ceng lalu menatap Ciok Giok Yin.
"Mereka bertanya apa padamu?"
"Hanya bertanya ada hubungan apa aku dengan lo cianpwee."
"Bagaimana kau menjawabnya?"
"Tidak ada hubungan apa-apa."
"Betul. Nah, sekarang kau boleh pergi."
Ciok Giok Yin membalikkan badannya, namun menoleh ke belakang lagi seraya bertanya.
"Apakah lo cianpwee yang memperoleh Seruling Perak itu?"
"Apa maksudmu bertanya begitu?"
"Hanya...."
Ternyata Ciok Giok Yin melihat wajah wanita itu sudah diliputi hawa membunuh, maka tidak berani melanjutkan ucapannya. Akan tetapi mendadak Heng Thian Ceng berkata.
"Aku pernah bilang, kalau kelak kita berjumpa kembali, mungkin aku akan membunuhmu. Kau masih ingat, bukan?"
Ciok Giok Yin menyahut angkuh. Ternyata sifat aneh Sang Ting It Koay telah menular padanya.
"Kalau kau yang memperoleh Gin Tie itu, aku pasti berkata jujur pada orang lain! Namun ketahuilah, mengenai Gin Tie itu, aku pun harus memperolehnya!"
Heng Thian Ceng tertegun.
"Kau juga ingin merebutnya?"
Katanya.
"Tidak salah."
"Mau apa kau ingin memperoleh Gin Tie itu?"
"Lo cianpwee juga mau apa ingin memperoleh Gin Tie itu?"
"Untuk dihadiahkan pada orang."
Hati Ciok Giok Yin tergerak ketika mendengar ucapan itu.
"Dihadiahkan pada siapa?"
"Kau sudah terlampau banyak bertanya, pergilah!"
"Lo cianpwee belum memberitahukan padaku, apakah Gin Tie itu berada pada lo cianpwee?"
"Bukankah tulisan pada dinding batu itu sudah menjelaskan?"
Sesaat Ciok Giok Yin terdiam, namun kemudian berkata.
"Aku telah difitnah oleh Sou Bin Koay Siu. Lo cianpwee harus menaruh perhatian tentang itu."
Heng Thian Ceng manggut-manggut.
"Aku tahu!"
Setelah itu, dia pun melesat pergi bagaikan segumpal asap.
Dalam waktu sekejap sudah hilang dari pandangan Ciok Giok Yin.
Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu.
Dia tidak habis pikir, mengapa Heng Thian Ceng selalu melindunginya?
Sungguh aneh!
Berselang beberapa saat, barulah Ciok Giok Yin melesat pergi.
Kini dalam benaknya, selain berisi dendam Sang Ting It Koay, juga memikirkan Hou Siu Kouw, apakah ibunya telah kembali?
Dan bagaimana keadaan Bwee Han Ping?
Saat ini dia tidak tahu akan jejak Ho Siu Kouw, kalau begitu, tentunya harus pergi menengok Bwee Han Ping.
Apabila gadis itu aman tinggal di rumah keluarga Tong, Ciok Giok Yin akan mulai menuntut balas dendam Sang Ting It Koay.
Ketika melakukan perjalanan, mendadak dia teringat akan kitab tipis peninggalan Sang Ting It Koay.
Di dalam kitab itu tercantum nama Kang Out Pat Kiat, salah seorang di antaranya Tui Hong Sin Cian (Jenderal Sakti Pengejar Angin) Cu Ling Yun.
Tempat tinggalnya tidak jauh, yaitu perkampungan Hong Yun Cuang.
Mengapa tidak berangkat ke sana dulu'?
Ciok Giok Yin langsung melesat bagaikan kilat menuju perkampungan Hong Yun Cuang.
Jarak ke perkampungan tersebut tidak begitu jauh.
Maka berselang beberapa saat kemudian, sudah tampak halaman perkampungan tersebut yang amat luas.
Di bawah matahari senja, tampak beberapa huruf di tembok perkampungan tersebut, 'Hong Yun Cuang'.
Ciok Giok Yin mendekati gerbang perkampungan itu, dan setelah dekat dia tertegun.
Ternyata di pintu gerbang itu tergantung kain putih, pertanda perkampungan itu sedang berkabung.
Sungguh diluar dugaan!
Di saat orang sedang berduka cita, dia malah datang menuntut balas, tentunya tidak berperasaan sama sekali.
Akan tetapi Ciok Giok Yin justru merasa tidak rela pergi.
Setelah termenung sejenak, dia pun melangkah memasuki perkampungan itu.
Tiba-tiba dari arah samping pintu gerbang muncul empat orang, kelihatannya para jongos perkampungan itu.
Salah seorang memperhatikan Ciok Giok Yin, lalu menjura seraya bertanya.
"Apakah Tuan Muda ingin melawat Cuangcu (Majikan Perkampungan)?"
Ciok Giok Yin tertegun.
"Cuangcu?"
"Ya."
"Kapan cuangcu kalian meninggal?"
"Semalam."
"Sakit apa?"
"Sakit mendadak lalu meninggal."
"Sebelumnya dia pernah sakit?"
"Tidak pernah."
"Sungguh aneh!"
"Apakah Tuan Muda kemari bukan untuk melawat?"
"Tidak salah. Aku dan Cuangcu kalian ada sebuah janji, maka hari ini aku berkunjung kemari. Tak diduga dia sudah meninggal, itu betul-betul di luar dugaan."
"Janji apa?"
Keempat jongos itu termangu-mangu. Ciok Giok Yin menatap mereka, dan sekilas suatu pikiran timbul dalam benaknya.
"Yah! Tidak usah kukatakan!"
Dia diam sejenak.
"Aku sudah kemari, tentunya harus melawat! Tuan pengurus, harap tunjuk jalan!"
Sudah lama Ciok Giok Yin ikut kakek tua berjenggot putih, maka dia tahu tata krama.
Ucapannya amat sopan, membuat keempat jongos itu tidak berani menolak.
Salah seorang jongos itu segera membalikkan badannya membawa Ciok Giok Yin ke dalam.
Sedangkan yang lain tetap berdiri di sana.
Ciok Giok Yin mengikuti jongos itu ke dalam.
Bukan main megahnya rumah tersebut!
Tampak para jongos dan pelayan wanita bermuram durja, kelihatan amat sedih sekali.
Berdasarkan itu, membuktikan bahwa Tui Hong Sin Cian-Cu Ling Yun memang telah meninggal.
Akan tetapi, dalam hati Ciok Giok Yin malah timbul rasa curiga.
Mendadak terdengar suara tangisan yang amat memilukan.
Ciok Giok Yin segera memandang ke arah ruang duka.
Tampak sebuah meja besar dekat dingin.
Di atas meja besar itu terdapat berbagai macam buah-buahan, makanan dan sebuah papan nisan bertulisan nama orang yang meninggal.
Di depan meja besar itu, terdapat sebuah peti mati, sedangkan yang menangis itu tentunya sanak keluarga orang yang meninggal.
Tiba-tiba seorang tua berseru lantang.
"Ada tamu datang melawat, anak yang berbakti harus mengucapkan terimakasih!"
Sebuah gordyn tersingkap, lalu muncul seorang pemuda berpakaian duka.
Pemuda itu menangis hingga sepasang matanya membengkak.
Namun ketika gordyn itu disingkap, berkelebat sepercik cahaya.
Di saat pemuda berpakaian duka itu baru mau berlutut, Ciok Giok Yin justru berseru.
"Tunggu!"
Mendengar seruan itu, semua orang menjadi tertegun.
Mereka langsung memandang Ciok Giok Yin dengan penuh keheranan, Ciok Giok Yin memang tampan.
Namun, di saat ini wajahnya diliputi hawa membunuh.
Orang tua yang berseru tadi maju selangkah, mendekati Ciok Giok Yin.
"Mohon tanya siapa Tuan Muda?"
"Ciok Giok Yin."
Nama tersebut bagaikan sambaran geledek di siang hari bolong, membuat hati semua orang tersentak, dan wajah mereka berubah pucat pias seketika.
Tak disangka pemuda itu adalah orang yang membunuh Khiam Sin Hweshio dalam satu jurus.
Semua orang tahu akan maksud kedatangannya, terutama pemuda berpakaian duka itu, sepasang matanya menyorot penuh kebencian.
Sedangkan suasana di ruang duka tentu berubah menjadi tegang mencekam.
Yang masih tampak tenang hanyalah orang tua yang berseru tadi.
"Tuan muda Ciok, ada petunjuk apa?"
Katanya dengan perlahan.
"Bagaimana Cu Cuangcu mati?"
"Sakit mendadak lalu meninggal semalam."
Ini memang tidak masuk akal.
Sebab bagi orang yang berkepandaian tinggi, tidak mungkin akan sakit mendadak hingga meninggal.
Apalagi Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan, lebih tidak percaya tentang itu.
Karena itu dia maju dua langkah, lalu berkata dengan suara dalam.
"Aku mengerti ilmu pengobatan, ingin membuka tutup peti mati untuk memeriksa Cu Cuangcu, sesungguhnya dia mengidap penyakit apa?"
Wajah orang tua itu langsung berubah menjadi hebat.
"Peti mati sudah ditutup, tidak boleh sembarangan dibuka lagi."
"Mungkin aku dapat membuat Cu Cuangcu hidup kembali."
"Apa maksudmu itu?"
"Tiada maksud apa-apa, hanya ingin membuka peti mati ini."
Badan orang tua itu agak bergemetar, kemudian menghadang di hadapan Ciok Giok Yin.
"Kau berani cari gara-gara di sini?"
Bentaknya keras.
"Harus Anda mengerti!"
"Apa yang harus kumengerti?"
"Aku punya janji dengan Cu Cuangcu, maka peti mati ini harus dibuka."
Mendadak pemuda berpakaian duka itu menggeram.
"Kau cari mati!"
Lalu menyerang dada Ciok Giok Yin.
Ciok Giok Yin berkelit, justru ke arah peti mati.
Di saat bersamaan tampak sosok bayangan hitam berkelebat bagaikan setan gentayangan ke arah Ciok Giok Yin, dan terdengar suara seruan.
"Harap Tuan Muda berhenti!"
Padahal Ciok Giok Yin sudah menjulurkan tangannya sambil mengerahkan lwee kangnya, siap membuka tutup peti mati.
Namun ketika mendengar suara seruan itu, dia menarik kembali tangannya sambil menoleh.
Ternyata seorang wanita berpakaian duka berdiri di sana.
Sepasang mata wanita itu masih basah, sedangkan wajahnya tampak berduka sekali.
Ciok Giok Yin tersentak, lalu berkata dalam hati.
'Tidak salah, wanita ini pasti nyonya Cu.
Dari wajahnya dapat diketahui bahwa benar semua ini.' Ciok Giok Yin segera mundur selangkah.
"Siapa kau?"
Katanya dingin.
"Aku adalah Nyonya Cu,"
Sahut wanita berpakaian duka itu.
"Nyonya mau bicara apa?"
"Mohon tanya Tuan Muda ada permusuhan apa dengan mendiang suamiku?"
"Tiada permusuhan apa-apa."
"Punya dendam?"
"Tiada dendam."
"Kalau begitu, kau..."
Bentak pemuda berpakaian duka dengan gusar. Dia ingin menyerang Ciok Giok Yin, namun wanita berpakaian duka itu cepat-cepat mencegahnya.
"Nak, tenang dulu!"
Katanya dengan suara gemetar. Kemudian dia memandang Ciok Giok Yin.
"Tuan muda dengan mendiang suamiku tiada permusuhan dan tiada dendam, tapi mengapa ingin membuka peti mati memeriksa mayat mendiang suamiku? Bolehkah dijelaskan padaku?"
Ciok Giok Yin menatap semua orang, lalu menyahut dengan dingin.
"Menuntut balas dendam almarhum suhuku."
"Siapa suhumu?"
"Suhuku adalah Sang Ting It Koay."
"Sang Ting It Koay?"
"Tidak salah."
"Dengar-dengar empat belas tahun yang lampau, dia mati terpukul orang di puncak Gunung Muh San."
Mendadak Ciok Giok Yin tertawa gelak.
Suara tawanya mengandung kedukaan dan dendam kebencian....
Ternyata dia teringat akan keadaan Sang Ting It Koay yang mengenaskan, hidup menderita di lembah Tok Coa Kok tanpa sepasang kaki.
Kalau dia tidak memiliki lwee kang tinggi, tentu sudah mati dari dulu.
Dapat dibayangkan betapa menderita dan tersiksanya Sang Ting It Koay hidup seorang diri di dalam lembah itu.
Usai tertawa, Ciok Giok Yin lalu berkata dengan dingin.
"Sayang sekali, beliau tidak mati!"
Bukan main terkejutnya semua orang yang berada di situ! Mereka saling memandang dengan wajah pucat pias. Begitu pula Nyonya Cu, dia tampak terkejut sekali.
"Belum mati?"
Katanya.
"Tidak salah."
"Dia tinggal di mana sekarang?"
"Sekarang dia justru sudah tiada."
"Sudah mati?"
"Dugaan Nyonya memang tidak salah."
"Kalau begitu, Tuan Muda pasti menerima pesan dari almarhum untuk kemari menuntut balas?"
Ciok Giok Yin mengangguk. Nyonya Cu menghela nafas panjang.
"Tapi Tuan Muda datang terlambat,"
Katanya dengan sedih.
"Masih belum terlambat."
"Maksudmu?"
"Aku ingin membuka peti mati untuk membuktikannya!"
Air muka Nyonya Cu, pemuda berpakaian duka dan beberapa orang tua yang berada di rumah itu seketika berubah.
Diamdiam mereka semua sudah bersiap-siap.
Asal Ciok Giok Yin bergerrak, mereka pasti akan menyerangnya dengan serentak.
Gerak-gerik mereka itu tidak terlepas dari mata Ciok Giok Yin, maka timbullah rasa curiga dalam hatinya.
Bagaimana mungkin begitu kebetulan?
Hari ini dia kemari, justru Tui Hong Sin Cian-Cu Ling Yun meninggal semalam.
Oleh karena itu, dia berkeras ingin membuka peti mati itu untuk memeriksanya.
Suasana di ruang duka menjadi tegang mencekam.
Pemuda berpakaian duka menatap Ciok Giok Yin dengan penuh kebencian.
"Tuan Muda, orang mati habis hutangnya. Apakah kau masih tidak mau melepaskannya?"
Kata Nyonya Cu.
"Aku ingin menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, baru puas hatiku."
"Hanya menyaksikannya dengan mata kepalamu sendiri?"
"Tidak salah."
"Kau ingin merusak mayat?"
"Ini...."
Ciok Giok Yin terdiam, merasa tidak enak hati.
Dia terus berpikir, membuka peti mati merusak mayat, memang dapat melampiaskan dendam suhu.
Namun terhadap sanak famili orang yang meninggal, merupakan suatu penghinaan besar.
Oleh karena itu, menyebabkan Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa, hanya berdiri termangu-mangu.
"Apakah Tuan Muda memikirkan akibatnya merusak mayat?"
Tanya Nyonya Cu.
"Akibatnya?"
"Ng! "
"Apa akibatnya?"
"Kami semua pasti harus menjaga keutuhan mayat mendiang suamiku. Maka kami akan menghadapimu dengan serentak. Apakah kau akan selamat meninggalkan tempat ini?"
Perkataan Nyonya Cu membuat Ciok Giok Yin gusar, sepasang matanya langsung berapi-api.
"Apakah Nyonya tahu seorang tokoh rimba persilatan dikeroyok oleh kaum rimba persilatan sehingga menyebabkan tokoh itu kehilangan sepasang kakinya, akhirnya harus hidup menderita dan tersiksa di sebuah lembah? Keadaannya yang mengenaskan itu tentunya akan menimbulkan kegusaran Nyonya. Ya, kan?"
"Berdasarkan apa yang kudengar, itu cuma merupakan suatu kesalah pahaman saja."
"Kesalah pahaman?"
"Nyatanya memang begitu!"
Ciok Giok Yin tertawa getir.
"Kesalah pahaman itu sungguh mengerikan!"
"Kalau begitu, kau tetap berkeras ingin membuka peti mati?"
"Ya!"
Air muka Nyonya Cu berubah menjadi hebat.
"Aku punya satu permohonan,"
Katanya dengan suara gemetar.
"Katakan!"
"Bolehkah kau jangan merusak mayat suamiku?"
Ciok Giok Yin memandang ke sekelilingnya.
Tampak semua orang menatapnya dengan kebencian, dan itu membuat hatinya tersentak.
Sesungguhnya hati Ciok Giok Yin tidak jahat, bahkan boleh dikatakan amat baik.
Mendadak dia teringat akan sebuah pepatah 'Orang sudah mati, segalanya telah berakhir.' Teringat akan pepatah tersebut, dia lalu berpikir, seandainya dia adalah sanak famili keluarga Cu, kalau ada orang ingin merusak mayat, lalu dirinya harus bagaimana?
Setelah berpikir demikian, Ciok Giok Yin manggutmanggut.
"Nyonya Cu, silahkan buka peti mati! Kalau benar suamimu sudah mati, maka semua dendam habis sampai di sini!"
"Orang sejati cuma sepatah kata!"
"Pasti! Harap Nyonya membuka peti mati itu!"
Nyonya Cu berpaling, ketika baru mau membuka peti mati itu. Mendadak pemuda berpakaian duka itu maju selangkah.
"Ibu...,"
Katanya.
"Nak, kalau tidak begini, Tuan Muda Ciok pasti curiga. Kau mundur saja!"
Pemuda berpakaian duka mundur, namun sepasang matanya terus menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam kebencian. Saat ini, para jongos sudah membawa perkakas.
"Buka peti mati!"
Seru Nyonya Cu dengan sedih. Para jongos langsung membuka peti mati itu dengan perkakas yang telah mereka siapkan.
"Ting! Tang...!"
Tak lama kemudian, peti mati itu terbuka.
Ciok Giok Yin mendekati peti mati itu dengan wajah diliputi hawa membunuh.
Dia menundukkan kepala melihat, tampak seorang tua yang wajahnya pucat pias terbaring di dalam peti mati itu.
Orang tua itu berpakaian baru, namun memang sudah tidak bernafas lagi.
Ciok Giok Yin tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
Membuktikan bahwa orang tua itu memang telah mati.
Akan tetapi, semua orang yang berada di ruang duka itu tampak bersiap-siap.
Ciok Giok Yin menghela nafas panjang, kemudian menjura pada Nyonya Cu.
"Aku mempercayai perkataan Nyonya, selamat tinggal!"
Ucapnya.
Badan Ciok Giok Yin bergerak, ternyata dia sudah melesat ke luar.
Akan tetapi, di saat bersamaan, mendadak terdengar suara menderu-deru, ternyata suara angin pukulan yang mengarah Ciok Giok Yin.
Bersamaan itu, terdengar pula suara bentakan sengit.
"Anak jahanam, kau telah menghina keluarga Cu, sehingga membuat kami tidak punya muka lagi bertemu kawan-kawan rimba persilatan! Tinggalkan nyawamu!"
Pemuda berpakaian duka juga ikut melancarkan pukulan.
Sedangkan badan Ciok Giok Yin berada di udara, tentunya amat sulit baginya untuk menangkis atau berkelit.
Karena itu, dia terpaksa merosot turun lalu berdiri di tempat.
Wajahnya yang tampan berubah menjadi dingin, sepasang matanya berapi-api menatap "Kalian mau apa?"
"Menghabisimu!"
"Kalian mampu?"
"Tidak percaya lihat saja!"
Ruang duka itu kini dipenuhi hawa membunuh. Sedangkan kegusaran Ciok Giok Yin sudah memuncak. Dia mengangkat sepasang tangannya, tapi mendadak Nyonya Cu berseru dengan suara gemetar.
"Tunggu, Tuan Muda!"
Ciok Giok Yin menurunkan sepasang tangannya.
"Ada petunjuk apa, Nyonya?"
Katanya sambil menatap Nyonya Cu. Nyonya Cu menoleh menatap pemuda berpakaian duka.
"Binatang! Kau berani berlaku kurang ajar?"
Bentaknya sengit. Pemuda berpakaian duka menundukkan kepala, kelihatannya amat takut pada Nyonya Cu.
"Ibu.... Nyonya Cu berkata dengan air mata bercucurann.
"Binatang! Mulai sekarang dan selanjutnya kau masih berani sedemikian kurang ajar, aku pasti tidak mengakumu sebagai anak lagi! Cepat berlutut di hadapan peti mati!"
Pemuda berpakaian duka segera berlutut di hadapan peti mati. Barulah Nyonya Cu menoleh memandang Ciok Giok Yin.
"Tuan Muda Ciok, pandanglah mukaku, kejadian tadi jangan disimpan dalam hati!"
Katanya. Ciok Giok Yin merasa tidak enak melampiaskan kegusarannya.
"Nyonya, aku mohon diri!"
Dia segera melesat pergi.
Tak lama kemudian, dia sudah berada di luar perkampungan Hong Yun Cuang.
Saat ini malam sudah larut.
Langit diselimuti awan hitam.
Sedangkan salju masih beterbangan, ternyata saat itu musim rontok.
Angin dingin terus berhembus menderu-deru.
Walau pakaian Ciok Giok Yin agak tipis, namun dia memiliki lwee kang tinggi, maka tidak merasa dingin.
Dia terus melesat di bawah terjangan salju, sambil berkata dalam hati.
'Lebih baik aku mencari kota untuk bermalam.' Lagi pula dia sudah merasa lapar sekali.
Ternyata sejak meninggalkan lembah Tok Coa Kok, dia sama sekali tidak makan dan minum.
Oleh karena itu, dia terus melesat.
Berselang beberapa saat dia tiba di sebuah kota kecil, lalu berjalan perlahan memasuki sebuah jalan.
Namun, semua rumah di kota itu sudah tertutup rapat.
Siapa yang ingin keluar dalam udara yang amat dingin ini?
Tentunya mereka sedang menghangatkan badan di ranjang atau di depan tungku.
Kebetulan Ciok Giok Yin melihat sebuah rumah penginapan, tapi juga sudah tutup.
Dia mendekati penginapan itu, lalu mengetuk pintu.
Lama sekali barulah terdengar suara serak, terus mencaci tidak karuan.
"Udara sedemikian dingin, masih ada yang ke mari menyampaikan berita duka? Siapa orang sial dangkalan itu? Membuat darahku langsung naik!"
Ciok Giok Yin mendengar jelas cacian itu, maka membuatnya amat gusar. Sementara suara cacian itu sudah sampai di balik pintu, terdengar lagi suara bentakan.
"Siapa?"
"Aku!"
"Siapa kau?"
"Aku ya aku!"
"Kau kemari menyampaikan berita duka?"
Seketika kegusaran Ciok Giok Yin memuncak.
Dia tidak menyangka ada orang yang begitu tidak tahu tata krama.
Perlahan-lahan dia menjulurkan tangannya, lalu terdengar suara.
Braak!
Pintu itu telah hancur.
Kemudian, Ciok Giok Yin juga mengayunkan tangannya.
Plaaak!
Ternyata dia menampar orang itu.
"Kau memang anjing buta, berani mencaci sembarangan!"
Bentaknya. Orang itu tidak tahu apa yang terjadi, namun masih sempat menjerit kesakitan.
"Aduuuh!"
Dia menatap Ciok Giok Yin.
"Kau berani memukul orang?"
Bentaknya gusar. Kini orang itu sudah melihat jelas Ciok Giok Yin, namun karena Ciok Giok Yin berdandan seperti pemuda desa, maka orang itu menjadi berani.
"Dasar anak kampungan tak tahu diri! Kau sudah makan..."
Cacinya lagi.
"Plaaak!"
Ternyata Ciok Giok Yin sudah menamparnya, bahkan kali ini jauh lebih keras dari pada tadi, sehingga membuat gigi orang itu rontok tiga buah, dan pipinya membengkak.
"Aduh! Mak.... Tolong! Ada orang mau pukul aku..."
Jeritnya. Tak lama, muncullah beberapa orang dari belakang.
"Ong Sam, apa yang terjadi?"
Tanya salah seorang dari mereka.
Di saat bertanya, orang itu sudah melihat Ciok Giok Yin, begitu pula yang lain.
Ciok Giok Yin berdiri dengan wajah dingin, dan sepasang matanya menyorot tajam menatap mereka.
Orang-orang itu terkejut bukan main.
Karena tatapan Ciok Giok Yin membuat mereka merinding.
Sebelum orang yang dipanggil Ong Sam menyahut, Ciok Giok Yin telah mendahuluinya.
"Kalian tanya padanya!"
"Dia... dia pukul aku... tanpa alasan,"
Sahut Ong Sam. Mendengar itu, semua orang menatap Ciok Giok Yin dengan gusar.
"Mohon tanya..."
Tanya salah seorang dari mereka. Mendadak Ciok Giok Yin mendekati Ong Sam.
"Coba katakan sekali lagi!"
Bentaknya sengit.
Ternyata Ciok Giok Yin teringat akan siksaan yang dialaminya setahun yang lalu.
Salah seorang lagi, segera teringat akan mulut Ong Sam yang amat jahat itu, maka dia segera memberi hormat pada Ciok Giok Yin.
"Harap Tuan jangan marah!"
Katanya, kemudian orang itu memandang Ong Sam.
"Kau pasti sembarangan mencaci, sehingga membangkitkan kegusaran tuan ini! Cepat enyah! Untuk apa punya pelayan yang begini macam!"
Bentaknya sengit. Orang itu mengayunkan kakinya menendang Ong Sam.
"Aduuuh...!"
Jerit Ong Sam. Mendadak dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang itu.
"Majikan, memang aku yang bersalah. Jangan pecat aku, maafkan aku kali ini...,"
Katanya memohon. Ternyata orang itu majikan penginapan. Menyaksikan itu Ciok Giok Yin malah merasa tidak enak dalam hati.
"Sudahlah! Ajar dia agar lain kali tidak berlaku kurang ajar lagi!"
Katanya kepada majikan penginapan. Ong Sam cepatcepat berlutut di hadapan Ciok Giok Yin.
"Aku yang bersalah, tidak seharusnya aku mencaci maki Tuan Muda. Kalau aku dipecat, ibuku yang sudah tua di rumah, pasti akan mati kelaparan,"
Ujarnya. Diam-diam Ciok Giok Yin menghela nafas panjang, dia membujuk majikan penginapan agar tidak memecat Ong Sam.
"Aku memandang muka tamu ini, kali ini kau kuampuni, cepat bangun!"
Kata majikan penginapan pada Ong Sam.
Bukan main girangnya Ong Sam!
Dia segera bangkit berdiri, kemudian membawa Ciok Giok Yin ke kamar belakang, dan melayaninya dengan hormat sekali.
Kini dia sudah tahu, pemuda tampan ini pasti orang dunia persilatan.
Kalau tidak, bagaimana mungkin gerakannya begitu cepat?
Diam-diam Ciok Giok Yin tertawa geli dalam hati, sebab melihat Ong Sam begitu takut dan menghormatinya.
Sudah setahun lebih Ciok Giok Yin tidak menikmati hidangan lezat, kali ini dia betul-betul bersantap bagaikan macan kelaparan.
Seusai makan, barulah Ciok Giok Yin duduk beristirahat.
Mendadak terdengar suara yang amat lirih.
Serrr!
Ciok Giok Yin cepat-cepat membuka matanya.
Sekilas dia melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan pakaian putih, berkelebat melewati pintu kamarnya.
Dia segera meloncat turun.
Justru di saat bersamaan tampak sebuah benda putih meluncur ke arahnya.
Ciok Giok Yin bergerak cepat menyambut benda itu, yang rasanya amat lunak.
Kemudan tanpa melihat benda itu, dia langsung melesat ke luar.
Setelah itu, dia mencelat ke atas atap.
Dilihatnya sosok bayangan putih berkelebat, kemudian menghilang.
Ciok Giok Yin tersentak, lalu berkata dalam hati.
'Sungguh cepat gerakannya, membuktikan wanita itu memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi!' Ciok Giok Yin tidak tahu akan maksud wanita itu, maka dia berdiri termangu-mangu di atap.
Tiba-tiba dia teringat akan benda lunak yang di tangannya.
Maka benda itu segera dilihatnya, ternyata gumpalan kertas.
Ciok Giok Yin tercengang.
Dia cepat-cepat membuka gumpalan kertas itu dan kemudian dibacanya.
Ternyata tulisan dalam kertas itu hanya berbunyi ' hati-hati' .
Ciok Giok Yin tertegun.
Apa maksud dengan kata 'hati-hati' itu?
Dia tidak kenal wanita itu, mengapa memperingatkannya?
Apakah ada orang menguntitnya dari belakang?
Ketika Ciok Giok Yin sedang berpikir, mendadak terdengar suara dengusan dingin di belakangnya.
"Hmmmm!"
Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya.
Dilihatnya seorang berusia empat puluhan berdiri di belakangnya.
Orang itu mengenakan pakaian hitam, di bagian depan bersulam sepasang burung walet warna putih.
Wajah orang itu tampak dingin sekali, sepasang matanya terus menatap Ciok Giok Yin tanpa berkedip.
"Bocah, sungguh cepat langkah kakimu!"
Katanya. Ciok Giok Yin tertegun.
"Siapa Anda?"
"Ciu Kah, si Penyelidik dari perkumpulan Sang Yen Hwee!"
"Sang Yen Hwee?"
"Tidak salah!"
"Ada urusan apa?"
"Mari bicara di luar kota!"
Ciu Kah melesat pergi menuju pinggir kota. Ciok Giok Yin tanpa banyak pikir, langsung mengikutinya. Tak lama mereka berdua sudah tiba di pinggir kota. Ciu Kah berdiri di hadapan Ciok Giok Yin.
"Cepat serahkan Gin Tie!"
Katanya lantang.
"Gin Tie?"
"Tidak salah!"
"Aku juga sedang mencari Seruling Perak itu, cepat serahkan!"
Ciu Kah tertawa dingin.
"Bocah, kalau kau tidak mengaku, aku pasti menghabisimu! Lihat kau mau mengaku atau tidak? Dan juga kau pun harus menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"
Usai berkata, Ciu Kah langsung menyerang Ciok Giok Yin.
Bukan main gusarnya pemuda itu!
Dia tidak menyangka, bahwa begitu keluar dari Goa Toan Teng Tong, akan begitu banyak orang mendesaknya menyerahkan Seruling Perak.
Ciok Giok Yin tertawa dingin.
"Peta Si Kauw Hap Liok Touw memang ada padaku, maka kalau kau punya kepandaian, silakan ambil!"
Bentaknya sambil balas menyerang. Seketika serangkum angin yang amat panas menerjang ke arah Ciu Kah.
"Soan Hong Ciang!"
Seru orang itu kaget.
"Tidak salah, memang Soan Hong Ciang!"
Ketika tanya jawab itu, pertarungan mereka telah melewati tujuh jurus.
Kedudukan Ciu Kah di perkumpulan Sang Yen Hwee amat tinggi, tergolong pula pesilat kelas satu.
Maka tidak mengherankan kalau jurus-jurus yang dikeluarkannya amat lihay.
Pertarungan mereka sangat sengit, sehingga menimbulkan suara yang menderu-deru.
Mendadak terdengar suara siulan panjang, dan tampak sesosok bayangan melayang turun di tempat mereka bertarung.
Ternyata orang berpakaian hitam yang di bagian dada bersulam sepasang burung walet warna putih juga.
Di lengan kiri orang itu, melingkar seekor ular beracun warna keemasemasan, menjulurkan lidahnya menyemburkan uap beracun.
Kemunculan orang itu membuat Ciu Kah menyurut mundur beberapa langkah, kemudian memberi hormat.
"Tong Cu (Pemimpin Ruang)!"
Ternyata orang itu Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia mendengus.
"Hm!"
Kemudian Tong Cu itu menatap Ciok Giok Yin.
Namun wajahnya tidak tampak, sebab ditutup dengan kain hitam, yang tampak hanya sepasang matanya yang menyorot tajam.
Selangkah demi selangkah dia mendekati Ciok Giok Yin.
"Bocah, cepat serahkan Seruling Perak!"
Bentaknya.
"Jangan harap!"
"Kau cari mati!"
Ciok Giok Yin teringat pada Phing Phiauw Khek yang mati di tangan para iblis perkumpulan Sang Yen Hwee.
Seketika timbullah rasa dendamnya terhadap orang-orang perkumpulan Sang Yen Hwee.
Maka dia langsung melancarkan sebuah pukulan dengan sepenuh tenaga ke arah orang itu.
Akan tetapi, Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee itu menggerakkan tangannya perlahan-lahan, membuat tenaga pukulan Ciok Giok Yin seperti tenggelam ke dalam laut.
Kemudian Tong Cu itu pun mengibaskan tangannya.
Bukan main dahsyatnya kibatasan tangan orang itu!
Membuat Ciok Giok Yin terpental tiga depa ke belakang.
Tampak dari mulutnya mengalir keluar darah segar, dan matanya terasa berkunang-kunang.
Di saat bersamaan sesosok bayangan putih melayang turun dari angkasa dan langsung menyambar Ciok Giok Yin, sekaligus dibawa pergi.
Bukan main cepatnya gerakan bayangan itu!
"Lepaskan dia!"
Bentak Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciun Kah dengan serentak lalu melesat mengejarnya.
Bayangan putih membawa Ciok Giok Yin ke dalam rimba.
Setelah sampai di tengah rimba dia menaruh Ciok Giok Yin ke bawah seraya berkata dengan suara rendah.
"Cepatlah kau pergi, aku akan menghadang dua orang itu!"
Ciok Giok Yin masih dalam keadaan sadar.
Dia melihat wanita itu tidak lain adalah wanita yang melempar secarik kertas padanya.
Namun dia tidak menduga, bahwa wanita itu berwajah buruk, amat tak sedap dipandang.
Hati Ciok Giok Yin tersentak.
"Mohon tanya Nona...."
Wanita itu menyahut dingin sebelum Ciok Giok Yin usai berkata.
"Namaku Yap Ti Hui."
"Yap Ti Hui?"
"Ya."
"Ini...."
"Tidak mirip sebuah nama kan? Hi hi hi...!"
Wanita itu tertawa cekikikan. Suara tawanya amat nyaring dan merdu, sangat sedap didengar, tidak seperti wajahnya yang tak sedap dipandang.
"Kau masih belum pergi?"
Bentak wanita itu.
"Tapi Nona...!"
Tiba-tiba terdengar suara siulan, membuat Yap Ti Hui mengerutkan kening.
Saat ini Ciok Giok Yin telah terpukul oleh Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee.
Dia tahu jelas bahwa dirinya tidak bisa membantu wanita itu, bahkan sebaliknya malah akan merepotkannya.
Karena itu, dia langsung menarik nafas dalam-dalam menghimpun hawa murninya, kemudian melesat pergi.
Baru saja berlari belasan depa, dia mendengar suara pertarungan antara Yap Ti Hui dengan Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ci Kah.
Mendadak terdengar bentakan Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee.
"Kau masih ingin kabur?"
Tong Cu itu langsung memanahnya. Karena Ciok Giok Yin telah terluka dalam, maka telinganya kurang peka. Tahu-tahu panah itu telah menancap di bahunya, sehingga darah segarnya langsung mengucur.
"Aduuuuh!"
Jeritnya lain roboh di tanah.
Untung dia tidak pingsan.
Dia menahan rasa sakit dan berkertak gigi berupaya bangkit berdiri, kemudian kabur sekencang-kencangnya.
Kini pakaiannya berlumuran darah, lagi pula sebelumnya dia telah terluka parah, maka makin lama larinya semakin lemah, sebab terlampau banyak darah mengucur keluar.
Akhirnya dia roboh pingsan di atas salju.
Sementara salju terus brterbangan dan dingin berhembus menderuderu.
Perlahan-lahan tubuh Ciok Giok Yin tertutup salju, namun panah yang menancap di bahunya masih menongol di permukaan salju.
Suara pertarungan antara Yap Ti Hui dan kedua orang itu sudah tidak terdengar lagi.
Suasana di tempat itu menjadi sangat hening.
Ini sudah keesokan harinya.
Mendadak seseorang bagaikan arwah penasaran muncul di tempat itu.
Tiba-tiba orang itu mengeluarkan suara 'Ih' Ternyata dia melihat sebatang panah nongol di permukaan salju.
Di saat bersamaan, secara mendadak Ciok Giok Yin siuman.
Dia langsung meloncat bangun dan ketika ingin lari, dia melihat sosok bayangan di hadapannya.
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!
"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"
Dia menyerang orang itu.
Orang itu terbelalak dan tertegun, namun cepat-cepat berkelit.
Setelah menyerang, Ciok Giok Yin lalu membalikkan badannya kabur sekencang-kencangnya.
Sekonyong-konyong terdenngar suara di belakangnya.
Sambil terus berlari, Ciok Giok Yin menoleh ke belakang.
Ternyata yang bersiul adalah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah.
"Berhenti, kau ingin membawa pergi Seruling Perak?"
Bentak Tong Cu perkumpulan dan Sang Yen Hwee. Akan tetapi, orang yang muncul tadi menghadang di depannya. Tentunya membuat Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee amat gusar.
"Siapa kau?"
Bentaknya keras.
"Cak Hun Ciu (Tangan Penusuk Roh)!"
"Kau ingin cari mati?"
"Tidak begitu gampang!"
Blam.
Ternyata mereka berdua sudah saling mengadu pukulan.
Setelah beradu pukulan, Cak Hun Ciu tergerak hatinya.
'Apakah bocah itu memiliki benda pusaka rimba persilatan...
Seruling Perak?' Karena berpikir begitu, dia mengerahkan lwee kangnya, lalu melancarkan sebuah pukulan ke arah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee.
Bukan main dahsyatnya pukulannya itu!
Tidak percuma orang itu mempunyai julukan Cak Hun Ciu (Tangan Penusuk Roh).
Pukulan yang dilancarkannya, berhasil mendesak Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee selangkah ke belakang.
Cak Hun Ciu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dia bergerak cepat menyambar Ciok Giok Yin, lalu dibawa pergi....
Akan tetapi, Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee tertawa dingin, lalu bergerak cepat menghadang di depan Cak Hun Ciu.
Apa boleh buat Cak Hun Ciu terpaksa melempar Ciok Giok Yin, kemudian melancarkan serangan ke arah kedua orang itu.
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah juga melancarkan serangan serentak.
Blaaammmm!
Walau Cak Hun Ciu berkepandaian tinggi, namun Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah juga berkepandaian tinggi, itu membuat Cak Hun Ciu tidak kuat menahan gempuran lwee kang mereka berdua.
"Aaaakh!"
Jeritnya.
Mulutnya menyembur darah segar.
Badannya terpental beberapa depa, kebetulan jatuh di dekat Ciok Giok Yin.
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menatap ke sana, sepasang matanya menyorot tajam dan dingin.
Dia dan Ciu Kah mendekati mereka selangkah demi selangkah, kedua orang itu pun berpikir, Seruling Perak dan peta Si Kauw Hap Liok Touw pasti akan jatuh ke tangan mereka berdua.
Akan tetapi, di saat bersamaan, medadak melesat ke luar seorang wanita berambut panjang mangenakan pakaian putih langsung menyerang mereka berdua.
Wanita itu tidak lain adalah Yap Ti Hui, Betapa gusarnya Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee!
"Akan kuhabisi kan!"
Bentaknya mengguntur.
"Kau mampu? Kau menginginkan Seruling Perak, akupun menginginkan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"
Blam!"
Plaak!
Ternyata mereka sudah mulai bertarung.
Walau dikeroyok dua orang, Yap Ti Hui masih kelihatan gesit.
Kepadaiannya sungguh amat tinggi dan aneh pula.
Akan tetapi, justru mengherankan, Yap Ti Hui bertarung sambil mundur, seakan ingin memancing mereka meninggalkan tempat itu.
Namun Tong Cu perkumpulan harus adalah orang licik.
Setelah menyerang, dia malah kembali ke tempat semula.
Mendadak sepasang matanya terbelakak, ternyata dia melihat sebuah panji kecil menancap di tanah.
Panji kecil itu bergambar sekepal rambut putih.
"Pek Hoat Hujin (Nyonya Rambut Putih)!"
Serunya kaget.
Apabila panji tersebut muncul, pasti akan muncul pula Pek Hoat Hujin.
Belasan tahun ini, Pek Hoat Hujin telah menggemparkan dunia persilatan.
Baik golongan putih maupun golongan hitam, tiada seorangpun pernah melihat wajah aslinya, sebab dia muncul dan hilang selalu secara mendadak Seketika Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee memberi isyarat kepada Ciu Kah, kemudian mereka melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"Kalian mau kabur ke mana?"
Bentak Yap Ti Hui.
Wanita berbaju putih itu langsung mengarahkan ging kang mengejar mereka berdua.
Sementara Ciok Giok Yin siuman perlahanlahan.
Ketika membuka matanya, dia melihat Cak Hun Ciu pingsan di sebelahnya.
Ciok Giok Yin tahu, dia terluka parah lantaran menolongnya.
Oleh karena itu hatinya menjadi berduka sekali.
"Lo cianpwee! Lo cianpwee!"
Serunya dengan mata bersimbah air. Lama sekali. Beberapa saat kemudian Cak Hun Ciu membuka matanya perlahan-lahan.
"Sobat kecil, aku... aku sudah tidak kuat...,"
Katanya dengan suara lemah sekali. Hati Ciok Giok Yin, tersentak.
"Lo cianpwee, aku mengerti sedikit tentang ilmu pengobatan...,"
Cak Hun Ciu tersenyum geitr, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sobat kecil, nyawamu sediripun sulit dipertahankan."
Perkataan Cak Hun Ciu membuat Ciok Giok Yin tersentak sadar, dan nyaris pingsan seketika.
Kini dia baru ingat di bahunya masih tertancap panah, dan darah segarnya masih mengalir.
Kalau tidak segera menambah darahnya, mungkin dia hanya bisa hidup tiga atau lima hari lagi.
Akan tetapi, di tempat yang amat sepi ini, ke mana dia harus mencari obat untuk menambah darahnya?
Satu-satunya jalan, dia cuma duduk diam menunggu kematian.
Namun Ciok Giok Yin tidak rela mati dengan cara begitu.
Sebab dia masih punya banyak urusan yang harus diselesaikannya, yaitu asal-usulnya, mencari kekek tua berjengot putih, menuntut balas dendam Sang Ting It Koay, dan mencari Seruling Perak serta sebuah kitab Cu Cian.
Apabila dia mati, bukankah semua itu akan ikut kandas?
Oleh karena itu, Ciok Giok Yin berusaha tenang.
"Lo cianpwee...,"
Katanya. Cak Hun Ciu menggoyang-goyangkan sebelah tangannya.
"Sobat kecil, terus terang lohu sama sekali tidak berniat menolongmu, cuma mendengar mereka berkata, kau memiliki Seruling Perak, lohu ingin.... tapi...,"
Berkata sampai di sini, Cak Hun Ciu terbatuk-batuk, kemudian memuntahkan darah segar. Ciok Giok Yin merasa tidak tega, maka segera mengurut dadanya.
"Sobat kecil, betulkah kau telah memperoleh Seruling Perak itu?"
Tanya Cak Hun Ciu. Ciok Giok Yin menggeleng kepala.
"Aku sama sekali tidak pernah melihat Seruling Perak itu...,"
Dia menutur apa yang telah dialaminya.
"Mengapa Lo cianpwee menginginkan Seruling Perak itu?"
Katanya kemudian.
"Kini urusan sudah jadi begini, tidak usah kukatakan lagi. Sobat kecil, bagian dadaku telah remuk, aku pikir...,"
Berkata sampai di situ, mulutnya menyemburkan darah segar lagi, dan wajahnya pucat pasi. Hati Ciok Giok Yin menjadi kalut.
"Lo cianpwee! Lo cianpwee...,"
"Usiamu masih muda, dan masa depanmu pasti cemerlang. Maka... aku ingin menyalurkan hawa murniku ke dalam tubuhmu agar kau dapat hidup beberapa hari lagi. Asal dalam waktu beberapa hari, kau berhasil mencari Tiong Ciu Sin Ie, dia pasti bisa menyembuhkanmu."
Kata Cak Hun Ciu perlahanlahan.
"Tiong Ciu Sin Ie?"
"Tidak salah."
"Sebetulnya bagaimana orangnya?"
Di dalam benak Ciok Giok Yin, muncul bayangan kakek tua berjenggot putih. Dia yakin kakek tua berjenggot putih itulah Tiong Ciu Sin Ie.
"Dia sudah berusia lanjut, dan rambutnya putih bagaikan perak. Dia tahu cara menjaga badan dan mahir ilmu pengobatan, maka dia tampak seperti baru berusia lima puluhan. Asal kau berhasil mencarinya, kaupun pasti bisa sembuh,"
Sahut Cak Hun Ciu. Ciok Giok Yin manggut-manggut dan amat terharu, sebab Cak Hun Ciu akan menyalurkan hawa murninya.
"Lo cianpwee tidak boleh berbuat demikian."
Cak Hun Ciu menghela nafas panjang.
"Sobat kecil, apakah nyawa kita berdua harus melayang di sini? Seandainya ajalmu belum tiba, tentunya dapat mencari Tong Cu!"
Ciok Giok Yin tidak menyahut. Cak Hun Ciu menatap Ciok Giok Yin dengan mata suram.
"Lohu ingin bertanya satu hal padamu."
"Mengenai hal apa? Tanyalah!"
"Kau suddah bertunangan belum?"
"Belum."
"Bagus! Lohu punya seorang anak perempuan, namanya Ie Ling Ling, namun telah hilang belasan tahun. Lohu harap kau dapat mencarinya, lalu kalian menikah menjadi suami istri. Kalau permintaan lohu ini kau kabulkan, lohu akan mati dengan mata terpejam. Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya dia mengangguk. Cak Hun Ciu tampak girang sekali. Dia berkertak gigi sambil bangun duduk. Setelah itu, sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung Ciok Giok Yin. Ternyata Cak Hun Ciu mulai menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh pemuda itu. Seketika Ciok Giok Yin merasa di punggungnya ada aliran hangat menerobos ke dalam tubuhnya. Berselang beberapa saat, sepasang telapak tangan Cak Hun Ciu merosot ke bawah. Ciok Giok Yin segera menoleh ke belakang, ternyata Cak Hun Ciu sudah meninggal dengan mata terpejam. Demi nyawa Ciok Giok Yin, orang tua itu memperpendek nyawanya sendiri. Dapat dibayangkan, betapa terharunya Ciok Giok Yin. Lagi pula kini dia pun menjadi menantu orang tua itu. Tidak heran dia menangis meraung-raung, lama sekali dia menangis sedih. Berselang beberapa saat, barulah dia berhenti menngis, lalu mengubur mayat Cak Hun Ciu. Kuburan itu diberinya papan nama, agar kelak bisa membawa Ie Ling Ling ke sana untuk berziarah. Ciok Giok Yin meninggalkan tempat tanpa arah. Yang jelas dalam waktu sepuluh hari, dia harus berhasil mencari Tiong Ciu Sin Ie. Kalau tidak, dia pasti akan mati. Kini dia pun menaruh dendam terhadap perkumpulan Sang Yen Hwee, karena orang-orang perkumpulan tersebut telah melukai dirinya, bahkan juga telah membunuh Cak Hun Ciu, mertuanya itu. Tapi yang terpenting, dia harus berusaha mencari Tiong Ciu Sin Ie, sebab kalau tidak, segala-galanya pasti berakhir. Karena melakukan perjalanan tergesa-gesa, membuat bahunya mulai mengucurkan darah lagi. Namun dia tetap bertahan. Dalam perjalanan, dia terus berpikir. Apakah Tiong Ciu Sin Ie adalah kakek tua berjenggot putih? Kalau benar, kakek tua itu pasti dapat menyembuhkannya. Akan tetapi, harus ke mana dia pergi mencari Tong Cu tersebut? Di dunia persialatan yang sedemikian luas, untuk mencari seseorang, bukan merupakan hal yang gampang. Urusan yang samar-samar. Harapan yang samarsamar. Namun. Justru ada suatu kekuatan terus mendukung dirinya. Sepertinya dia melihat seorang tua berambut dan berjengot putih bagaikan perak, berdiri di hadapannya. Kemudian orang tua itu menjulurkan tangannya mencabut panah yang menancap di bahunnya, setelah itu mulai mengobatinya. Ciok Giok Yin yang mengerti ilmu pengobatan, tanpa sadar berseru.
"Kakek tua...!"
Mendadak terdengar suara tawa dingin di belakangnya, yang disusul oleh suara parau.
"Bocah, kali ini tiada lagi yang akan menyelamatkanmu!"
Ciok Giok Yin tersentak sadar dari lamunannya.
Dia segera membalikkan badannya dan seketika merasa sukmanya terbang pergi.
Ternyata Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah berdiri di sana, menatapnya dengan dingin sekali.
Saat ini, Ciok Giok Yin telah terluka parah.
Kalaupun tidak terluka parah, dia juga tidak akan mampu menandingi kedua orang itu.
Musuh berhadapan, mata pasti memerah.
"Bayar nyawa mertuaku!"
Bentak Ciok Giok Yin. Dia langsung menerjang ke arah ke dua orang itu. Kedua orang itu sama sekali tidak berkelit, cuma mendengus dingin.
"Hmmm! Lebih baik kau diam!"
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menggerakkan tangannya, sehingga membuat pukulan Ciok Giok Yin kandas seketika.
Di saat bersamaan, dia pun merasakan adanya serangkum angin halus menerjang ke arahnya, sehingga sekujur badannya menjadi tak bertenaga.
Ciok Giok Yin menghela nafas panjang dan berkeluh dalam hati, 'Habislah!' Dia memejamkan matanya, keringat sebesar-besar kacang hijau merembes keluar dari keningnya.
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee, mendekati Ciok Giok Yin selangkah demi selangkah, sepasang matanya menyorot bengis.
Langkahnya menimbulkan suara 'Serrr!
Serrrr' Mautpun mulai mendekati Ciok Giok Yin.
Apakah dia akan mati di tempat itu?
Sesungguhnya Ciok Giok Yin memang tidak ingin mati, sebab masih banyak urusan yang harus diselesaikannya.
Namun apa boleh buat, keadaan tidak menginginkanya untuk hidup.
Kini hatinya terasa hampa, apapun tidak dapat dirasakannya!
Mungkin disaat manusia hampir mati, memang begitu.
Karena apabila berpikir yang bukan-bukan, malah akan menambah penderitaan.
Saat ini, Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee sudah mendekati Ciok Giok Yin.
Dia mengangkat sebelah tangannya, siap melancarkan pukulan maut ke arah Ciok Giok Yin.
Mendadak terdengar suara siulan yang amat nyaring, bergema menembus angkasa.
Di saat bersama, melayang turun sebuah panji kecil di tengah-tengah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Cak Hun Ciu .
Panji kecil itu berwarna merah, di tengahnya ada gambar rambut putih panjang.
Bukan main terkejutnya Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee !
"Pek Hoat Hujin!"
Serunya tanpa sadar.
Sekujur badannya bergemetar, lalu melesat pergi dan diikuti Ciu Kah dari belakang.
Ciok Giok Yin tidak tahu apa yang telah terjadi.
Namun dia mendengar suara siulan itu dan suara seruan Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee.
Akan tetapi, Ciok Giok Yin tetap tidak membuka matanya, menunggu Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee turun tangan membunuhnya.
Lama sekali tidak terjadi apa-apa, lagi pula suasana di tempat itu telah berubah menjadi sangat hening.
Ciok Giok Yin merasa heran, kemudian dengan perlahan-lahan membuka sepasang matanya.
Dia terbelalak, karena Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah sudah tidak kelihatan.
Ciok Giok Yin merasa penasaran.
Dia menengok ke sekeliling, namun tidak tampak seorangpun di sekitarnya.
Dia berkata dalam hati.
'Siapa Pek Hoat Hujin?
Apakah barusan dia yang menyelamatkanku?
Padahal aku tidak pernah berjumpa dengannya, juga tidak pernah mendengar tentang dirinya.
Bagaimana dia mau turun tangan menyelamatkan diriku?' Ciok Giok Yin benar-benar tidak habis pikir tentang itu, tidak habis pikir, sebetulnya siapa Pek Hoat Hujin tersebut?
Dia mencoba menggerakkan badannya.
Ternyata tangannya telah pulih hanya saja merasa beberapa jalan darahnya agak tersumbat.
Memang wajar, sebab dia banyak kehilangan darah.
Kalau dia memperoleh obat penambah darah, kesehatannya pasti akan pulih seperti semula.
Bahaya telah berlalu, maka kini timbul lagi harapannya.
Dia mengayunkan kakinya, mulai melesat pergi.
Sementara hari sudah mulai gelap.
Sedangkan angin dingin terus berhembus, sehingga salju tak henti-hentinya beterbangan.
Tak seberapa lama kemudian dia mulai merasa lelah, namun demi mencari Tiong Ciu Sin Ie, dia harus terus bertahan.
Bahunya mulai mengucurkan darah lagi.
Itu membuatnya cepat merasa lelah dan matanya mulai berkunang-kunang.
Dia berharap mendapatkan sesuatu tempat yang tenang untuk beristirahat sejenak,Setelah itu, barulah melanjutkan perjalanan.
Mendadak dia behenti.
Ternyata dia meihat sebuah kuil tua.
Tanpa perduli ada bahaya atau tidak di dalam kuil tua itu, dia langsung menerobos ke dalam.
Di dalam kuil tua itu terdapat beberapa buah patung dewa dan sebuah meja bobrok, tidak terdapat benda lain.
Suasana di dalam kuil tua itu amat mcnyeramkan, sehingga sekujur badan Ciok Giok Yin menjadi merinding.
Tiba-tiba terdengar suara 'Serrt', dan tampak sebuah benda hitam meluncur turun.
Bukan main terkejuinya Ciok Giok Yin, sehingga bulu kuduknya berdiri.
Lama sekali, tidak terdengar suara itu lagi.
Ciok Giok Yin menoleh perlahan-lahan, tapi tidak tampak ada sesuatu di dalam kuil tua itu, barulah Ciok Giok Yin menarik nafas lega.
Namun di saat bersamaan, tampak berkelebat sebuah benda hitam meluncur ke dalam kuil.
Kali ini Ciok Giok Yin memberanikan diri untuk melihat dengan seksama.
Setelah melihat jelas benda hitam yang meluncur ke dalam itu, Ciok Giok Yin nyaris tertawa geli, karena ternyata adalah kelelawar.
Kini dia betul-betul menarik nafas lega.
Dia mengambil keputusan untuk tidur di kolong meja bobrok itu, esok pagi baru melanjutkan perjalanan.
Karena itu, dia merangkak ke dalam meja itu....
Akan tetapi, mendadak dia berseru kaget dan langsung membalikkan badannya untuk keluar dari kolong meja.
Kali ini dia betul-betul merasa sukmanya terbang entah ke mana dan sekujur badannya pun merinding.
Ternyata ketika dia merangkak ke dalam kolong meja, tangannya menyentuh tubuh seseorang yang berlumuran darah.
Walau Ciok Giok Yin tergolong pemuda pemberani, namun di saat ini, dia seorang diri berada di dalam kuil tua yang suasananya menyeramkan, membuatnya merasa takut juga.
Apalagi setelah menyentuh tubuh orang yang berlumuran di kolong meja itu, tentu dia bertambah takut dan merasa seram.
Setelah berada di luar kolong meja, barulah Ciok Giok Yin ingat, tubuh orang itu masih terasa hangat, pertanda orang itu belum mati.
Seketika timbul rasa simpatinya terhadap orang yang berlumuran darah di kolong meja.
Dia harus memeriksa luka orang itu, siapa tahu masih bisa ditolong.
Dia membungkukkan badannya, namun ketika dia baru mau merangkak ke dalam kolong meja, tiba-tiba terdengar suara siulan yang amat nyaring, dan tak lama kemudian tampak sesosok bayangan hitam melayang turun di depan kuil.
Ciok Giok Yin segera memandang ke sana.
Orang yang baru datang itu berwajah amat bengis dan seram, sepasang matanya menyorot liar dan ambutnya awut-awutan.
Sungguh menakutkan orang itu!
Dia memandang ke dalam kuil tua itu.
Begitu melihat Ciok Giok Yin, orang itu langsung bertanya.
"Siapa kau?"
Ciok Giok Yin yang telah ketularan sifat aneh Sang Ting It Koay, menyahut ketus.
"Perduli amat siapa aku?"
"Bocah, aku ingin bertanya satu urusan padamu!"
Bentak in itu.
"Urusan apa?"
"Kau harus mengatakannya dengan jujur!"
"Kalau tidak?"
"Aku akan mematahkan tangan dan kakimu, kemudian membeset kulitmu, setelah itu...,"
"Setelah itu bagaimana?"
"Akan kucincang kau jadi daging halus!"
Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar itu.
Kemudian dia berkata dalam hati.
'Kalau kedatangannya lantaran diriku, walau aku mengatakan sejujurnya, juga sulit lolos dari bahaya.
Seandainya kedatangannya karena orang yang berlumuran darah di kolong meja itu...' "Mau bertanya apa, tanyakan saja!"
Katanya dengan dingin.
"Kau pernah melihat seseorang?"
"Siapa?"
"Seorang yang terluka parah, sekujur badannya berlumuran darah!"
Ciok Giok Yin manggut-manggut sambil berkata dalam hati. 'Ternyata memang begitu!' "Aku melihat!"
Sahutnya dingin.
"Dia berjalan ke mana?"
"Dia berlari cepat sekali, kelihatannya... berlari ke arah timur!"
"Baik! Kalau kau berdusta, aku akan kemari mencabut nyawamu!"
Mendadak sepasang mata orang itu menyorot bengis.
"Tua bangka sialan! Bagaimana kau dapat lolos dari tanganku Tui Beng Thian Cun (Malaikat Langit Pengejar Nyawa)?"
Katanya dengan sengit.
Badannya bergerek, tahu-tahu sudah melesat pergi.
Orang itu menyebut dirinya Tui Beng Thian Cun.
Namun Ciok Giok Yin belum pernah berkecimpung di dunia persilatan, maka tidak tahu asal-usul orang itu.
Namun Ciok Giok Yin yakin, orang itu bukan dari golongan lurus.
"Kalau aku masih bisa hidup, aku bersumpah akan membasmi para penjahat di dunia persilatan, agar orang baik tidak dicelakai para penjahat lagi!"
Gumamnya.
Mendadak Ciok Giok Yin tersentak, kemudian berkata dalam hati.
'Kalau Tui Beng Thian Cun itu tidak berhasil mengejar, pasti akan balik ke mari.
Aku dan orang tua berlumuran darah itu, tentunya akan celaka di tangannya.' Oleh karena itu, Ciok Giok Yin cepat-cepat merangkak ke dalam kolong meja itu, lalu membawa orang tua berlumuran darah itu meninggalkan kuil tua.
Ciok Giok Yin membawa orang tua berlumuran itu menuju ke arah barat.
Dia yakin Tui Beng Thian Cun tidak akan kembali dalam waktu singgkat.
Tak seberapa lama, Ciok Giok Yin sampai di sebuah gunung.
Dia meihat sebuah goa, kemudian bersembunyi di dalam goa itu, dan rasanya cukup aman.
Udara amat dingin, membuat sekujur badannya menggigil.
Itu karena dia terluka parah, sudah tiada tenaga untuk menghimpun hawa murninya.
Lagi pula tadi dia terus berjalan dengan kencang, sudah barang tentu melelahkan dirinya, namun membuat badannya terasa hangat.
Kini dia telah berhenti, ditambah terhembus angin dingin, maka tidak mengherankan kalau sekujur badannya menjadi menggigil.
Hingga saat ini, dia masih belum melihat jelas wajah orang tua yang berlumuran darah itu.
Maka dia keluar dari goa, mencari sedikit dahan kering, kemudian dibawa ke dalam goa.
Akan tetapi, bagaimana cara menyalakan api?
Dia termangu-mangu.
Mendadak dia teringat pada orang tua yang berlumuran darah.
Dia adalah kaum rimba persilatan, tentunya membawa barang-barang itu.
Karena itu, Ciok Giok Yin segera merogoh ke dalam baju orang tua yang terluka parah itu.
Benar di dalam baju orang tua itu terdapat semacam batu yang dapat dipergunakan untuk menyalakan api.
Ciok Giok Yin cepat-cepat menyalakan api dan membakar dahan-dahan pohon kering itu.
Setelah api menyala dan dahan-dahan itu terbakar, keadaan di dalam goa menjadi agak terang dan hangat.
Dia justru tidak berpikir, menyalakan api di malam hari pasti akan terlihat orang.
Saat ini barulah dia menengok ke arah orang tua yang berlumuran darah.
Seketika dia terbelalak dan sekujur badannya menjadi gemetar.
"Kakek Tua! Kakek Tua..."
Serungnya kaget. Dia menggoyang-goyangkan badan orang tua itu.
"Kakek Tua! Kakek Tua...."
Air matanya bercucuran.
Ciok Giok Yin terus menangis, sehingga tidak mampu berkata.
Siapa orang tua yang badannya berlumuran darah itu?
Ternyata kakek tua berjenggot putih yang sedang dicari Ciok Giok Yin.
Justru tak disangka, kini kakek tua itu terluka parah dengan sekujur badan berlumuran darah, bahkan nafasnya juga amat lemah.
Ciok Giok Yin terus menangis meraung-raung.
Kakek tua berjengot putih adalah penolongnya, dan juga satu-satunya orang yang amat dekat dengannya.
Kini keadaan kakek tua berjenggot putih itu sudah sekarat, bagaimana dia tidak merasa sedih?
Saking sedihnya, Ciok Giok Yin menjadi lupa bertanya pada kakek tua berjenggot putih apa gerangan yang terjadi.
Dia cuma terus menangis dan menangis, kalau saat ini kakek tua berjenggot putih meninggal, di dunia ini sudah tiada lagi orang yang amat dekat dengannnya.
Dia tidak boleh membiarkan kakek tua berjenggot putih itu mati.
Mereka berdua harus hidup, sebab masih banyak urusan yang harus mereka selesikan, juga banyak hal yang harus ditanyakan pada kakek tua berjenggot putih itu.
Dia terus menangis sambil memanggil kakek tua berjengot putih itu.
"Kakek Tua! Kakek Tua...."
Suara tangisnya amat memilukan.
Akhirnya air matanya berubah menjadi agak kemerah-merahan, ternyata matanya mulai mengeluarkan air mata darah.
Berselang beberapa saat kemudian, telinga kakek tua berjenggot putih itu sepertinya mendengar suara tangisan Ciok Giok Yin.
Hatinya tergerak, lalu menarik nafas yang amat panjang.
Mendengar itu Ciok Giok Yin langsung berhenti menangis.
"Kakek Tua , aku adalah Anak Yin..."
Katanya.
Perlahan-lahan kakek tua berjenggot putih membuka matanya.
Walau pandangannya agak kabur, namun dia masih dapat melihat seraut wajah yang amat dikenalnya.
Seketika kakek tua berjenggot putih bergumam.
"Apakah ini... ini dalam mimpi...?"
Mendengar suara itu, Ciok Giok Yin bertambah sedih.
"Kakek Tua, ini bukan mimpi, aku benar Anak Yin,"
Sahutnya terisak-isak. Kakek tua berjenggot putih mengangkat sebelah tangannya perlahan-lahan, kemudian membelai wajah Ciok Giok Yin. Sedangkan wajah kakek tua tampak tenang dan berseri.
"Sungguhkah... kau adalah Anak Yin?"
"Sungguh, Kakek Tua!"
Kakek tua itu membelalakakan matanya, agar dapat melihat lebih jelas, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukan, kau membohongiku."
"Kakek Tua, aku tidak bohong, aku memang benar Anak Yin."
"Anak Yinku kurang berbakat, lagi pula tidak pernah belajar ilmu silat. Kau pasti Ciok Giok Yin palsu, yang belum lama muncul di dunia persilatan. Cepat katakan sejujurnya!"
Ciok Giok Yin tahu saat ini pikiran kakek tua itu masih kabur, maka dia segera mengeluarkan sebutir obat Ciak Kim Tan, lalu dimasukkan ke dalam mulut kakek tua itu.
"Kakek Tua, ini obat Ciak Kim Tan pemberian Kakek Tua. Telanlah obat ini, Kakek Tua pasti dapat melihat dengan jelas siapa diriku. Kakek tua itu menelan obat tersebut. Berselang beberapa saat, mendadak dia memeluk Ciok Giok Yin erat-erat, sambil berkata dengan suara gemetar.
"Nak, sungguh menyusahkanmu!"
Dia berhenti sejenak.
"Nak, tuturkanlah segala apa yang menimpa dirimu!"
Lanjutnya.
Ciok Giok Yin mengangguk, lalu menutur tentang apa yang dialaminya selama ini.
Kakek tua berjenggot putih mendengarkan dengan penuh perhatian.
Seusai Ciok Giok Yin me-nutur, kakek tua itu berkata.
"Nak, sabarlah sebentar!"
Kakek tua itu merogoh ke dalam bajunya untuk mengeluarkan sebuah botol kecil. Kemudian dia menuang dua butir obat berwarna putih, sekaligus dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Nak, aku akan bersemedi sejenak. Setelah itu, barulah kita bicara."
Kakek tua itu langsung duduk bersemedi, mulai menghimpun hawa murninya.
Ciok Giok Yin terus memandangnya.
Dalam hatinya entah merasa girang atau sedih.
Dia merasa girang karena berjumpa kakek tua berjenggot putih, tapi sedih karena kakek tua itu terluka parah.
Seandainya kakek tua itu....
Dia tidak berani berpikir lagi, cuma air matanya yang meleleh.
Di saat bersamaan, dia pun merasa pandangannya agak gelap.
Itu karena terlampau banyak mengeluarkan darah.
Dia segera duduk dan memejamkan matanya untuk beristirahat.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak bisa beristirahat, sebab pikirannya terus berjalan.
Dia memikirkan ilmu pengobatan yang diturunkan kakek tua berjenggot putih padanya, apakah terdapat bahan obat yang dapat menahan darah?
Walau terus berpikir, namun sama sekali tidak menemukan itu, hanya ada satu cara, yaitu mengambil darah orang yang sehat, kemudian disalurkan ke dalam tubuhnya.
Sembari berpikir, dia membuka matanya memandang ke arah kakek tua berjenggot putih.
Dilihatinya wajah kakek tua itu masih kekuning-kuningan.
Kini dalam hati Ciok Giok Yin amat dendam pada perkumpulan Sang Yen Hwee, juga pada Tui Beng Thian Cun.
Dia bersumpah apabila dia masih bisa hidup, akan memusnahkan perkumpulan Sang Yen Hwee.
Mengenai Tui Beng Thian Cun, dia akan mencincangnya demi menuntut balas dendam kakek tua berjenggot putih.
Mendadak kakek tua berjenggot putih itu membuka sepasang matanya, kemudian pasang kuping mendengarkan suara di luar.
Tapi yang terdengar hanya suara desiran angin, tidak ada suara lain.
Kakek tua itu tampak lega.
Dia segera menggenggam tangan Ciok Giok Yin, sambil berkata agak terisak.
"Nak, Kakek ke luar justru demi dirimu."
Ciok Giok Yin tertegun.
"Demi diriku?"
"Tidak salah, aku melihat tulangmu tidak cocok untuk belajar ilmu silat, namun kau justru harus belajar ilmu silat, maka aku pergi ke gunung mencari bahan obat untukmu."
"Kakek Tua berhasil mencari bahan obat itu?"
"Segala benda pusaka maupun buah langka yang berkhasiat, tidak bisa dicari. Kalau berjodoh, barulah dapat menemukannya. Maka, selama itu aku tidak pulang ke Tong Keh Cuang."
Dia memandang bahu Ciok Giok Yin.
"Nak, aku harus mencabut panah itu dulu, barulah kita bercakap-cakap."
Kakek tua berjenggot putih menotok jalan darah di bahu Ciok Giok Yin.
"Nak, jangan kuatir, tidak akan sakit."
Mendadak tangan kakek tua itu bergerak cepat, ternyata telah berhasil mencabut panah itu.
"Aduuuh!"
Jerit Ciok Giok Yin. Dia nyaris pingsan. Sedangkan kening kakek tua itu mengucurkan keringat. Dia cepat-cepat menaruh obat pada bekas luka panah itu.
"Nak, aku akan membantumu melancarkan peredaran darahmu."
Ciok Giok Yin mengangguk. Kakek tua berjenggot putih mulai membantu Ciok Giok Yin melancarkan jalan darahnya. Berselang sesaat, wajah kakek tua itu tampak berubah hebat.
"Nak, kau cuma bisa hidup enam hari lagi,"
Kata dengan suara gemetar.
"Aku sudah tahu."
Sahutnya , dengan tenang, tanpa terkejut.
"Kau bilang Cak Hun Ciu menyuruhmu pergi mencari Tiong Ciu Sin le?"
"Ya."
"Tahukah kau siapa aku?"
"Aku...."
Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa. Walau dia dibesarkan kakek tua berjenggot putih, namun tidak tahu julukannya.
"Sesungguhnya aku tidak mau memberitahukan, tapi kini sudah amat terdesak sekali, maka harus kuberitahukan. Aku memang Tiong Ciu Sin Ie."
"Kakek Tua...."
"Nak,aku telah terluka parah oleh pukulan Tui Beng Thian Cun. Setelah aku mati, dendamku ini berada pada bahumu, kau harus menuntut balas dendamku ini!"
"Kakek tua tidak akan..."
Tiong Ciu Sin Ie tersenyum getir.
"Aku menyembuhkan seorang musuhnya. Entah bagaimana dia mengetahuinya, maka dia menantangku bertarung. Kepandaiannya memang amat tinggi sekali, cuma dengan sebuah pukulan, dia telah berhasil melukaiku."
Tiong Ciu Sin Ie menarik nafas dalam-dalam.
"Nak, tahukah kau tentang asal-usulmu?"
Ciok Giok Yin menggelengkan kepala.
"Tidak tahu."
"Kelak kau harus pergi ke gunung Cong Lam San mencari Can Hai It Kiam. Dia akan menyerahkan sepucuk surat padamu. Setelah membaca surat itu, kau akan tahu sendiri."
"Dia akan menyerahkan padaku?"
"Kau harus bilang, Tiong Ciu Sin Ie yang suruhmu ke sana."
Sepasang biji mata Tiong Ciu Sin Ie berputar.
"Nak, nyawamu cuma tinggal enam hari."
Lanjutnya.
"Anak Yin sudah tahu itu."
Tiong Ciu Sin Ie mengerutkan kening.
"Kau tahu penyakitmu itu?"
Katanya heran. Ciok Giok Yin mengangguk.
"Tahu."
"Bagus! Ilmu pengobatanku ada yang menerusinya."
Tiong Ciu Sin Ie mengeluarkan sebuah pipa perak yang amat kecil, kemudian juga mengeluarkan dua batang jarum dan obat koyok.
"Tancapkan pada saluran darahmu!"
Terkejut sekali Ciok Giok Yin mendengar itu, sebab dia mahir ilmu pengobatan, berkata dengan suara bergetar.
"Kakek Tua, tidak boleh! Anak Yin tidak bisa...."
Wajah Tiong Ciu Sin Ie berubah dingin.
"Cepat tancapkan, tentunya kau punya alasan!"
Bentaknya sengit.
Akan tetapi, Ciok Giok Yin tidak melakukan itu, karena dia tahu Tiong Ciu Sin Ie akan menyalurkan darahnya, kalau begitu, bukankah nyawa kakek tua itu akan melayang?
Tiong Ciu Sin Ie menatap Ciok Giok Yin dengan gusar, kemudian mendadak menarik tangannya, sekaligus menancapkan pipa kecil itu di lengannya.
Setelah itu, sebelah ujung pipa kecil itu juga ditancapkan pada lengannya sendiri.
"Apabila kau sudah merasa agak pusing, boleh mencabut pipa kecil itu!"
Pesannya.
Jilid 05 Cara menyalurkan darah ini tidak boleh dibuat main-main, sebab kalau kurang hati-hati, mereka berdua pasti celaka, bahkan mungkin akan mati.
Akan tetapi, di saat bersamaan, terdengar suara siulan yang menyeramkan bergema menembus angkasa, dan tak seberapa lama kemudian, tampak sosok bayangan melayang turun di depan goa itu.
Orang itu tertawa seram.
"Bocah jahanam, kau sungguh berani membohongiku Tui Beng Thian Cun! Aku akan mencincang kalian berdua!"
Bentaknya.
Sepasang matanya menyorot bengis ke dalam goa, kemudian dia berjalan ke dalam selangkah demi selangkah.
Kini maut mulai mendekati Tiong Ciu Sin Ie dan Ciok Giok Yin.
Saat ini sepasang mata Tiong Ciu Sin Ie berputar.
"Nak, kau cuma beristirahat saja! Segalanya ada aku,"
Katanya rendah. Ciok Giok Yin tidak bisa bergerak dan bersuara, namun hatinya amat berduka sekali. Sementara Tui Beng Thian Cun tertawa seram lagi.
"Kalian berdua pasti mati!"
Katanya dengan suara parau. Kini jarak mereka cuma satu depa lebih, sedangkan Tui Beng Thian Cun sudah mengangkat sebelah tangannya.
"Kau bisa menyembuhkan satu orang, aku justru bisa membunuhmu!"
Di saat Tui Beng Thian Cun baru mau melancarkan pukulan, mendadak Tiong Ciu Sin Ie membentak keras.
"Iblis! Terimaalh pukulanku!"
Ternyata Tiong Ciu Sin Ie melancarkan sebuah pukulan ke arah Tui Beng Thian Cun.
Plak!
Tui Beng Thian Cun sama sekali tidak menyangka, bahwa dalam keadaan seperti itu Tiong Ciu Sin Ie masih mampu melancarkan pukulan yang begitu dahsyat, otomatis membuatnya termundur dua langkah.
Sedangkan Tiong Ciu Sin Ie juga mengucurkan keringat dingin, sebab kedua ujung pipa kecil itu nyaris tercabut.
Tui Beng Thian Cun tertawa seram, dan mulai melangkah maju, namun ketika dia baru mengangkat sebelah tangannya, mendadak serangkum angin yang amat kuat dan tajam, menerjang ke arah punggungnya.
Apabila dia melancarkan pukulannya ke arah Tiong Ciu Sin Ie, tentu dia juga akan binasa oleh terjangan angin serangan itu.
Demi menyelamatkan nyawanya sendiri, maka dia terpaksa harus berkelit ke samping, sehingga batal melancarkan pukulan itu.
Tui Beng Thian Cun membalikkan badannya, sepasang matanya menyorot bengis menatap ke luar, namun tidak tampak seorang pun di sana.
"Kalau punya kepandaian, cepat muncullah!"
Namun tiada tersahut.
Di luar hanya terdengar suara desiran angin.
Karena itu, dia segera rnenghadap ke arah Tiong Ciu Sin Ie, siap melancarkan pukulan.
Namun ketika dia mengangkat sebelah tangannya, mendadak terasa lagi ada serangkum angin menerjang ke arah punggungnya.
Bukan main terkejutnya Tui Beng Thian Cun!
Dia langsung melesat ke luar.
Namun di luar goa, dia tetap tidak melihat siapapun di sana.
Tentunya saja dia amat gusar, sehingga wajahnya yang seram itu bertambah menyeramkan.
"Dasar kunyuk tak tahu diri!"
Mendadak tampak sosok bayangan merah melayang turun di hadapan Tui Beng Thian Cun, dan terdengar pula suara bentakan kasar.
"Dasar anjing kurap buta!"
Begitu melihat bayangan merah, seketika Tui Beng Thian Cun berseru kaget.
"Heng Thian Ceng!"
"Tidak salah!"
"Kau berani turut campur urusanku?"
"Memang itu maksudku!"
"Siluman wanita, kau ingin cari daun muda?"
Ucapan itu sungguh menggusarkan Heng Thian Ceng, sehingga wajahnya yang buruk itu bertambah buruk.
"Kau cari mati!"
Bentaknya.
Heng Tian Ceng melancarkan tiga pukulan.
Bukan main cepatnya!
Tui Beng Thian Cun menangkis sekaligus balas menyerang, maka terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.
Mereka berdua merupakan tokoh dunia persilatan yang berkepandaian amat tinggi.
Angin pukulan mereka membuat saju beterbangan bagaikan terhembus angin topan.
Sementara itu di dalam goa, wajah Tiong Ciu Sin Ie tampak semakin kuning, nafasnya memburu dan kesadarannya mulai kabur.
Sedangkan wajah Ciok Giok Yin, makin lama makin memerah.
Mendadak Ciok Giok Yin merasa pusing.
Dia tahu bahwa penyaluran darah itu telah cukup, maka cepat-cepat mencabut pipa kecil itu, sekaligus menempelkan koyok pada bekas tancapan pipa di lengannya.
Namun ujung pipa kecil itu justru masih mengucurkan darah.
Hati Ciok Giok Yin tersentak.
Dia cepat-cepat mencabut ujung pipa yang menancap di lengan Tiong Ciu Sin Ie, lalu menempelkan koyok pada bekas itu.
Di saat bersamaan, Tiong Ciu Sin Ie roboh.
Seketika CiokGiok Yin menangis meraung-raung, terus memanggil Tiong Ciu Sin Ie.
"Kakek Tua! Kakek Tua..."
Suaranya amat memilukan.
Beberapa saat kemudian Tiong Ciu Sin Ie membuka matanya, namun tampak suram sekali.
Perlahan-lahan kakek tua itu mengangkat sebelah tangannya, lalu membelainya sambil tersenyum.
"Nak, tidak sia-sia aku membesarkanmu, akhirnya kau akan berhasil menguasai ilmu silat tinggi keluarga Ciok kalian..."
"Kakek Tua, kenapa keluarga Ciok?"
Tanya Ciok Giok Yin terisak-isak.
"Setelah kau berjumpa Can Hai It Kiam, pasti tahu!"
"Bolehkah Kakek Tua memberitahukan padaku?"
"Tidak boleh."
"Mengapa?"
"Tiada manfaatnya bagimu, sebaliknya malah akan mencelakai dirimu. Kau... kau..."
Bibir Tiong Ciu Sin Ie mulai kaku. Menyaksikan itu, Ciok Giok Yin sudah tahu apa yang akan terjadi. Maka dia langsung menangis dengan air mata bercucuran.
"Kakek Tua! Kakek Tua tidak boleh pergi...."
Mendadak wajah Tiong Ciu Sin Ie tampak bercahaya, pertanda ajalnya telah tiba.
"Nak, aku telah menyalurkan kecerdasanku melalui darahku padamu. Kini kau memiliki dua kecerdasan, maka gampang sekali bagimu belajar kungfu apapun."
Ketika Ciok Giok Yin ingin membuka mulut, Tiong Ciu Sin Ie menggelengkan kepala agar dia diam.
"Kini aku cuma bisa memberitahukamu satu urusan,"
Lanjutnya.
"Urusan apa?"
"Carilah Seruling Perak!"
"Seruling Perak?"
"Biar bagaimanapun, benda itu harus kau peroleh."
Untuk keempat kalinya Ciok Giok Yin mendengar tentang Seruling Perak.
Tentunya Seruling Perak tersebut bukan merupakan benda biasa.
Karena hatinya terlampu berduka, maka Ciok Giok Yin lupa bertanya, harus diserahkan kepada siapa kalau sudah memperoleh Seruling Perak itu.
Seandainya dia bertanya demikian, tentu akan tahu asal usulnya.
Tubuh Tiong Ciu Sin Ie menggigil sebentar.
"Nak, di dalam bajuku terdapat beberapa obat, keluarkanlah!"
Dengan air mata bercucuran, Ciok Giok Yin mengeluarkan obat-obat tersebut dari dalam baju Tiong Ciu Sin Ie.
"Semua itu merupakan obat mujarab, kau harus baik-baik menyimpannya, agar dapat menolong orang lain. Terutama obat Giok Ju (Susu Perak), itu merupakan obat yang paling mujarab, kau harus simpan baik-baik!"
Kata kakek tua itu. Ciok Giok Yin mengangguk, lalu memasukkan semua obat itu ke dalam bajunya. Dia tahu bahwa Tiong Ciu Sin Ie sudah tiada harapan lagi.
"Di daalm saku baju dalamku, terdapat secarik kertas. Pada kertas ini tercantum Hong Lui Sam Ciang (Tiga Jurus Ilmu Pukulan Angin Geledek), anggaplah hadiah dari kakek!"
Kata kakek tua itu. Suaranya bertambah lemah.
"Hong Lui Sam Ciang?"
"Tidak salah, cepatlah kau ambil!"
Ciok Giok Yin menurut, dan segera merogoh ke dalam saku baju dalam Tiong Ciu Sin Ie, mengeluarkan secarik kertas kumal.
Di kertas kumal itu memang tercantum ketiga jurus ilmu pukulan tersebut.
Dia terus membaca karena hatinya amat tertarik.
Mendadak terdegar suara Tiong Ciu Sin Ie.
"Nak, kertas kumal itu kuperoleh dari orang yang tak kukenal. Aku menyembuhkan lukanya, lalu dia menghadiahkan kertas kumal itu padaku. Aku pernah mencoba mempelajarinya, namun tidak berhasil, maka kusimpan baik-baik hingga saat ini. Kau pernah makan buah Ginseng Daging, mungkin kau akan berhasil menguasai Hong Lui Sam Ciang itu."
Nafasnya semakin memburu, maka dia beristirahat sejenak.
"Nak, Hong Lui Sam Ciang amat lihay dan dahsyat. Cobalah kau berlatih sekarang, siapa tahu berguna bagimu!"
Lanjurnya.
Saat ini, luka dalam yang diderita Ciok Giok Yin telah sembuh, begitu pula luka di bahunya.
Bahkan lwee kangnya telah bertambah tinggi.
Itu karena dia memperoleh darah dari Tiong Ciu Sin Ie, maka membuat lwee kangnya bertambah tinggi.
Ciok Giok Yin menurut, lalu bangkit berdiri dan mulai berlatih Hong Lui Sam Ciang itu.
Jurus pertama Terbang!
Jurus kedua Terjang!
Jurus ketiga Menggelegar!
Kini kecerdasan Ciok Giok Yin melebihi orang biasa, namun masih sulit baginya menyelami ketiga jurus itu.
Sementara Tiong Ciu Sin Ie memandang Ciok Giok Yin dengan penuh harapan.
Itu membuat hati Ciok Giok Yin tersentak, karena itu, dia mulai berlatih jurus pertama.
Begitu mulai berlatih, dia merasa lwee kangnya terus mengalir.
Demi menghibur Tiong Ciu Sin Ie, Ciok Giok Yin mengeraskan hatinya.
Mendadak badannya mencelat ke atas lalu tampak bayangan berkelebatan dan terdengar suara menderu-deru bagaikan suara angin geledek.
Bum!
Daar!
Dinding goa itu hancur berantakan, sehingga menimbulkan debu beterbangan.
Selanjutnya Ciok Giok Yin mulai berlatih jurus kedua.
Itu membuat darahnya seakan terbalik dan matanya menjadi berkunang-kunang.
Di saat itulah mendadak Tiong Ciu Sin Ie tertawa terbahak-bahak, namun suara tawanya makin lama makin lemah, kemudian berkata terputusputus.
"Nak... aku... aku... sudah... lega...."
Bibinya masih bergerak, tapi sudah tidak mengeluarkan suara lagi.
Akhirnya bibirnya tidak bergerak sama sekali, ternyata nafasnya telah putus.
Tiong Ciu Sin Ie yang hidupnya cuma mengobati orang, akhirnya justru harus mati begitu mengenaskan.
Namun dia merasa puas, karena terakhir masih dapat menolong Ciok Giok Yin.
Ciok Giok Yin Iangsung menangis meraung-raung, dan tak lama air matanya mulai berubah menjadi kemerah-merahan.
untuk kedua kalinya dia menangis hingga mengeluarkan air mata darah.
Sesungguhnya Tiong Ciu Sin Ie masih ingin menyaksikan jurus kedua yang dilatih Ciok Giok Yin, tapi kondisi badannya sudah tak mengijinkannya.
Meskipun begitu, dia tetap merasa puas karena Ciok Giok Yin telah menguasai jurus pertama.
"Kakek Tua! Kakek Tua...."
Ciok Giok Yin terus menangis sambil meratap memanggil Tiong Ciu Sin Ie.
Akan tetapi, Tiong Ciu Sin Ie sudah tidak mendengar lagi, karena dia sudah meninggal.
Di saat bersamaan, mendadak terdengar suara desiran angin, dan berkelebat sosok bayangan wanita ke dalam goa.
Wanita itu berambut panjang, namun wajahnya sangat buruk.
Siapa wanita berambut panjang buruk rupa itu?
Tidak lain adalah Yap Ti Hui.
Berselang sesaat, barulah dia berkata dengan dingin.
"Kalaupun kau menangis hingga mati tetap tiada gunanya! Kini musuh besar berada di depan mata, lebih baik kau cepatcepat menguburnya, kemudian membalas dendamnya!"
Ciok Giok Yin langsung berhenti menangis.
"Terima kasih atas petunjuk Nona,"
Katanya. Ciok Giok Yin segera menggali sebuah lubang, lalu mengubur mayat Tiong Ciu Sin Ie. Setelah itu dia bersujud di hadapan kuburan itu dengan air mata bercucuran.
"Kakek Tua, Anak Yin pasti membalas dendammu."
Sepasang mata Ciok Giok Yin membara.
Tiba-tiba dia bersiul panjang, kemudian melesat ke luar.
Sedangkan Yap Ti Hui sudah tidak kelihatan.
Namun dia melihat Heng Thian Ceng dan Tui Beng Thian Cun berada di tempat puluhan depa.
Kedua orang itu berdiri berhadapan dengan tangan dijulurkan ke depan.
Ciok Giok Yin tahu, mereka berdua sedang mengadu lwee kang.
Cara bertarung seperti itu, sungguh amat bahaya sekali.
Sebab siapa yang mengendurkan lwee kangnya, pasti akan mati seketika.
Ciok Giok Yin memang telah berjumpa Heng Thian Ceng beberapa kali, tapi dia tidak menghendaki Heng Thian Ceng yang membunuh Tui Beng Thaln Cun.
Biar bagaimanapun, Tui Beng Thian Cun harus mati di tangannya, agar Tiong Ciu Sin Ie dapat tenang di alam baka.
Oleh karena itu, dia menggeram sambil melesat ke tempat itu.
Tanpa menghiraukan Heng Thian Ceng dia akan menerjang ke arah Tui Beng Thian Cun.
"Iblis Tua! Serahkan nyawamu!"
Bentaknya.
Ciok Giok Yin menyerang Tui Beng Thian Cun dengan ilmu pukulan Soan Hong Ciang.
Sementara Tui Beng Thian Cun masih mengadu lwee kang dengan Heng Thian Ceng.
Apabila ditambah Ciok Giok Yin, bukankah....
Akan tetapi, Tui Beng Thian Cun yang sudah berpengalaman, masih sempat berkelit ke samping.
"Song Hong Ciang!"
Serunya.
"Tidak salah! Ternyata matamu belum buta!"
Kehadiran Ciok Giok Yin yang mendadak, membuat Tui Beng Thian Cun dan Heng Thian Ceng berhenti mengadu lwee kang. Wajah Tui Beng Thian Cun penuh diliputi hawa membunuh.
"Apa hubunganmu dengan Sang Ting It Koay?"
Bentaknya.
"Beliau adalah suhuku!"
"Bagus! Lohu akan menghabisimu!"
Dia langsung menerjang ke depan.
Tentunya Tui Beng Thian Cun punya dendam terhadap Sang Ting It Koay.
Kalau tidak, bagaimana mungkin iblis tua itu melancarkan pukulan yang begitu dahsyat terhadap Ciok Giok Yin?
Serangkum angin pukulan yang amat dahsyat menerjang ke arah Ciok Giok Yin.
Di saat bersamaan, terdengar pual suara bentakan.
"Berhenti!"
Ternyata Heng Thian Ceng yang membentak. Dengan wajah penuh kegusaran dia menatap Ciok Giok Yin.
"Bocah! Kau mau cari mampus?"
Bentakan itu membuat sifat aneh Ciok Giok Yin timbul.
"Apa maksud lo cianpwee?"
Sahutnya dingin.
"Kau tidak tahu peraturan rimba persilatan?"
"Peraturan apa?"
"Aku sedang bertarung dengannya, ada hubungan apa denganmu?"
"Aku harus menuntut balas dendam Tiong Ciu Sin Ie, apakah aku tidak boleh turun tangan?"
"Kau mau menuntut balas juga harus beritahukan!"
"Mengapa?"
"Kau tahu kok masih bertanya?"
Ciok Giok Yin kebingungan, sama sekali tidak tahu akan maksud Heng Thian Ceng.
Begitu pula Tui Beng Thian Cun, maka dia berdiri termangu-mangu sambil menatap Heng Thian Ceng.
Namun dalam hatinya, justru berharap mereka berdua bertarung.
Tentunya yang akan memperoleh keuntungan adalah dirinya.
Maka tidak mengherankan kalau hatinya terasa girang.
Sedangkan Heng Thian Ceng membentak algi.
"Bocah, aku sedang bertarung dengan iblis tua itu, tapi secara mendadak kau turut campur! Bukankah iblis tua itu akan mengatakan kita berdua mengeroyoknya?"
Dia berhenti sejenak, namun sepasang mataya menyorot bengis sekali.
"Kalau begitu, menangpun akan menanggung rasa malu! Cepatlah kau enyah dari sini!"
Lanjutnya.
Kini musuh besar berada di depan mata, bagaimana mungkin Ciok Giok Yin membiarkan Heng Thian Ceng turun tangan terhadap musuh besarnya itu?
Dia segera memberi hormat pada Heng Thian Ceng seraya berkata angkuh.
"Harap lo cianpwee mundur dulu! Biar aku seorang diri menghadapi iblis tua itu."
Hong Thian Ceng tertegun.
Dia boleh dikatakan seorang wanita iblis yang membunuh orang tanpa mengedipkan mata.
Selama ini belum pernah mendengar perkataan orang, dan juga belum pernah ada orang berbicara demikian padanya.
Akan tetapi, sejak melihat Ciok Giok Yin, justru membuatnya tidak tahu harus bagaimana.
Karena itu, setelah tertegun sejeak, dia manggukmangguk sambil melangkah ke belakang.
Bukan main kesalnya Tui Beng Thian Cun!
Sebab perhitungannya telah keliru, lagi pual dia tidak menyangka Heng Thaln Ceng akan menurut perkataan Ciok Giok Yin, itu sungguh diluar dugaan!
Namun, diapun berlega hati, karena tidak usah bertarung dengan Heng Thian Ceng.
Sedangkan Ciok Giok Yin masih begitu muda.
Seandainya berkepandaian tinggi, juga tidak akan menyamai kepandaiannya.
Yakni, hanya dengan satu pukulan, pemuda itu pasti tergeletak tak bernyawa.
Setelah itu, barulah menghadapi Heng Thian Ceng.
Demikian pikir Tui Beng Thian Cun.
Karena itu, dia tertawa terkekeh-kekeh sambil menatap Ciok Giok Yin.
Sementara wajah Ciok Giok Yin sudah diliputi hawa membunuh, sepasang matanya menyorot tajam penuh dendam.
"Iblis Tua, serahkan nyawamu!"
Bentaknya.
Ciok Giok Yin langsung bergerak.
Angin pukulannya menderuderu menerjang ke arah Ciok Giok Yin.
Dia harus membalas dendam Tiong Ciu Sin Ie, dan kegusaran otomatis membuat pukulannya bertambah dahsyat.
Tui Beng Thian Cun berkelit dan dalam waktu sekejap, dia sudah balas menyerang dengan tiga pukulan.
Bukan main dahsyatnya ketiga pukulannya!
Pesilat tinggi manapun tidak akan mampu menyambut ketiga pukulan itu.
Namun Ciok Giok Yin telah menerima saluran hawa murni dari Phing Phiauw Khek, dan menerima darah dari Tiong Ciu Sin Ie.
Maka membuat lwee kangnya bertambah tinggi dan kecerdasannya berlipat ganda.
Karena itu, dia berhasil mengelak ketiga pukulan yang dilancarkan Tui Beng Thian Cun.
Setelah itu, dia menyerang dengan dahsyat sekali, bahkan hawa pukulan semakin panas, sehingga membuat salju yang ada di sekitarnya langsung mencair.
Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Tui Beng Thian Cun, dan timbul pula rasa gentarnya.
Dia sama sekali tidak menyangka, Ciok Giok Yin yang belum berusia dua puluh justru memiliki lwee kang dan kungfu yang begitu tinggi.
Mulailah Tui Beng Thian Cun bertarung dengan hati-hati sekali, tidak berani meremehkan Ciok Giok Yin lagi.
Ciok Giok Yin yang ingin membalas dendam Tiong Ciu Sin Ie, semakin dahsyat melancarkan seranganserangannya.
Mendadak pukulan yang dilancarkannya berubah seketika.
Badannya mencelat ke atas dan tampak bayangannya berkelebatan, begitu pula pukulannya, menderu-deru tak hentihentinya.
Ternyata dia mengeluarkan jurus pertama Terbang dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.
Terdengar suara jeritan yang menyayat hati.
Tampak badan Tui Beng Thian Cun terpental ke atas, kemudian meluncur ke dalam rimba.
Setelah mengeluarkan jurus itu, Ciok Giok Yin merasa hawa darahnya bergolak.
Ketika melihat Tui Beng Thian Cun kabur, dia langsung membentak.
"Iblis tua, mau kabur ke mana?"
Badannya bergerak melesat ke dalam rimba mengejar Tui Beng Thian Cun.
Akan tetapi, mendadak dua rangkum angin yang amat kuat menerjang ke arahnya, dan di saat bersamaan, terdengar pula suara yang amat dingin.
"Bocah, kali ini kau pasti mampus!"
Ciok Giok Yin segera berkelit, sekaligus membalikkan badannya.
Ternyata Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah.
Begitu melihat kedua orang itu, sepasang mata Ciok Giok Yin langsung membara, dan berkertak gigi hingga berbunyi gemeletuk.
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menyorot bengis dan dingin, tertawa terkekeh-kekeh seraya berkata.
"Ciok Giok Yin, sebelum kau mati, kuberitahukan dulu bahwa aku adalah Tok Tiong Tong Cu dari perkumpulan Sang Yen Hwee, agar kau dapat melapor pada raja akhirat!"
Usai berkata, Tok Tiong Cu maju beberapa langkah. Namun, Ciu Kah segera menjura seraya berkata.
"Tong Cu, biar aku yang membereskan bocah ini!"
Tok Tiong Tong Cu mengangguk, lalu menggeser ke samping. Ciu Kah segera maju ke hadapan Ciok Giok Yin.
"Ciok Giok Yin, cepat serahkan Seruling Perak, aku akan bermohon pada Tong Cu agar mengampuni nyawamu!"
Bentaknya. Ciok Giok Yin amat mendendam pada Sang Yen Hwee. Maka ketika mendengar bentakan Ciu Kah itu, kegusarannya makin memuncak.
"Siapa akan mengampuni nyawa anjingmu itu?"
Bentaknya. Dia langsung menyerang Ciu Kah dengan sengit. Ciu Kah mendengus.
"Hmm! Cari mati!"
Dia juga melancarkan sebuah pukulan.
Plak!
Terdengar suara benturan pukulan, masing-masing terpental ke belakang satu langkah.
Kemudian kedua-duanya maju lagi, maka terjadi pertarungan yang amat seru.
Ciok Giok Yin yang amat dendam pada Sang Yen Hwee, mendadak mengeluarkan jurus pertama "Terbang"
Dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.
Terdengar suara jeritan, dan darah pun tampak muncrat.
Ternyata kepala Ciu Kah telah hancur, dan nyawanya pun melayang.
Ciok Giok Yin tertegun.
Dia tidak menyangka jurus itu begitu dahsyat.
Lalu bagaimana kedahsyatan jurus kedua dan jurus ketiga?
Tentunya jauh lebih dahsyat dari jurus pertama itu.
Di saat Ciok Giok Yin tertegun, tiba-tiba di depan dan di belakangnya terdengar suara seruan kaget.
"Hong Lui Sam Ciang!"
Tampak bayangan Heng Thian Ceng berkelebat ke hadapan Ciok Giok Yin. Wajahnya yang buruk kelihatan amat menakutkan.
"Kau murid Kui Mo (Setan Iblis)?"
Bentaknya.
"Ada hubungan apa kau dengan Kui Mo?"
Sambung Tok Tiong Tong Cu.
Seketika suasana di tempat itu berubah menjadi tenang mencekam.
Kelihatannya apabila Ciok Giok Yin salah menjawab, Heng Thian Ceng dan Tok Tiong Tong Cu pasti akan menghadapinya.
Namun tiba-tiba hati Ciok Giok Yin tergerak.
"Mohon lo cianpwee bersabar sebentar, aku pasti memberitahukan!"
Sahut Ciok Giok Yin.
"Bocah! Kau jangan macam-macam!"
Bentak Heng Thian Ceng.
"Lo cianpwee harap berlega hati, aku tidak akan macammacam!"
Heng Thian Ceng mendengus.
"Hmm! Bagaimana kau berani macam-macam terhadapku?"
Dia mundur beberapa langkah, lalu berdiri di situ.
"Kau dan Kui Mo ada hubungan apa?"
Bentak Tok Tiong Tong Cu.
"Hubungan akan amat dalam."
"Katakan!"
"Kalau aku tidak mau mengatakannya, kau berani berbuat apa?"
Tok Tiong Tong Cu mendengus dingin.
"Hm! aku akan membuatmu mampus!"
"Mampukah kau?"
Ciok Giok Yin telah membunuh Ciu Kah dengan jurus pertama itu, maka kini dia bertambah percaya diri.
Apabila dia mengeluarkan jurus kedua dan jurus ketiga, Tok Tiong Tong Cu pasti mati!
Dia amat membenci Tok Tiong Tong Cu, karena orang itu pernah memanahnya hingga membuat nyawanya nyaris melayang.
Kalau tidak secara kebetulan bertemu Tiong Ciu Sin Ie, mungkin dia tiada harapan untuk hidup terus.
Sementara kegusaran Tok Tiong Tong Cu sudah memuncak.
"Dalam tiga jurus, aku akan suruh kau mampus secara mengenaskan!"
Katanya sepatah demi sepatah.
Dia langsung menyerang Ciok Ciok Yin.
Ciok Giok Yin pernah merasakan kelihayan pukulan Tok Tiong Tong Cu, maka cepat-cepat berkelit.
Akan tetapi, walau dia bergerak cepat, pihak lawan bergerak lebih cepat.
Ketika dia berkelit, Tong Cu itu melancarkan beberapa pukulan dahsyat lagi ke arahnya.
Justru di saat bersamaan, Ciok Giok Yin mengeluarkan jurus pertama Terbang dari ilmu pukulan Hong Lui Sam Ciang.
Tok Tiong Tong Cu tahu akan kelihayan ilmu pukulan itu, maka dia tidak berani menyambutnya, melainkan berkelit.
Tapi angin pukulan itu masih berhasil menyambar ular kecil yang melingkar di lengannya.
Bukan main terkejutnya Tok Tiong Tong Cu, sehingga membuatnya mengucurkan keringat dingin.
Mendadak Tok Tiong Tong Cu bersiul pendek.
Ular kecil itu, langsung meluncur.
Ciok Giok Yin yang belum berpengalaman, sama sekali tidak menyangka Tok Tiong Tong Cu akan menyerangnya dengan ular kecil.
Dia ingin berkelit, tapi terlambat, karena ular kecil itu telah berhasil menggigit pahanya.
Seketika dia merasa separuh badannya kesemutan, akhirnya roboh di tanah.
Tok Tiong Tong Cu tertawa terkekeh-kekeh.
Dia mengangkat sebelah tangannya siap menghantam Ciok Giok Yin.
Namun mendadak terdengar suara bentakan gusar.
"Kau berani?"
Ternyata Heng Thian Ceng telah melancarkan sebuah pukulan ke arah Tok Tiong Tong Cu, sedangkan sebelah tangan lagi melancarkan sebuah pukulan ke arah ular kecil yang menggigit paha Ciok Giok Yin.
Plak!
Terdengar suara benturan, dan seketika itu juga tampak Heng Thian Ceng terhuyung-huyung ke belakang.
Sedangkan tangan Tok Tiong Tong Cu tetap di arahkan pada Ciok Giok Yin, kelihatannya Ciok Giok Yin akan mati di bawah tangan Tok Tiong Tong Cu, namun mendadak terdengar suara cacian yang amat dingin.
"Jadah! Sialan! Jahanam! Siapa yang sedang berkelahi?"
Dalam waktu bersamaan, muncul pula seseorang berpakaian compang-camping tidak karuan, ternyata seorang tua bongkok yang amat aneh.
Di punggung orang tua itu bergantung sebuah guci arak yang amat besar, namun gerakannya amat cepat sekali, tahu-tahu sudah sampai di tempat itu.
Tidak terlihat orang tua bongkok itu turun tangan, tapi terdengar Tok Tiong Tong Cu menjerit dan terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.
Bukan main gusarnya Tok Tiong Tong Cu!
"Siapa kau?"
Bentaknya. Orang tua bongkok menoleh memandang Heng Thian Ceng.
"Dia berkata pada siapa?"
Katanya dengan mata setengah terpejam.
"Kau!"
Sahut Heng Thian Ceng.
"Berkata padaku?"
"Tidak salah!"
Orang tua bongok itu seperti baru terdengar, lalu berpaling memandang Tok Tiong Tong Cu.
"Kau bertanya siapa aku?"
Tok Tiong Tong Cu adalah pesilat tinggi di perkumpulan Sang Yen Hwee, namun tidak dapat melihat jelas bagaimana cara orang tua bongkok turun tangan terhadap dirinya, itu membuatnya amat gusar sekali.
"Tidak salah!"
Sahutnya dengan dingin.
"Tapi aku tidak mau memberitahukan padamu!"
"Kalau begitu, aku akan mencabut nyawamu!"
Sepasang mata orang tua bongkok berkedip-kedip.
"Kau telah mengagetkan mimpi indahku, aku masih belum membuat perhitungan denganmu, sebaliknya kau malah ingin mencabut nyawa tuaku ini! Baik, aku akan menghajarmu!"
Entah bagaimana cara namun tua bongkok itu bergerak, tahu-tahu sudah terdengar suara.
Plak!
Plak!
Ternyata pipi Tok Tiong Tong Cu telah ditampar dua kali, membuatnya berkunang-kunang, bahkan mulutnya menyemburkan darah segar.
Sedangkan orang tua bongkok tetap berdiri di tempat semula.
"Hari ini aku orang tua tidak mau membunuh orang, cepatlah kau enyah!"
Katanya. Sepasang mata Tok Tiong Tong Cu menyorot bengis dan penuh dendam.
"Sampai jumpa!"
Ucapnya.
Kemudian dia bersiul pendek, dan ular kecil itu langsung meluncur ke arah lengannya.
Setelah itu, barulah Tok Tiong Tong Cu melesat pergi.
Orang tua bongkok sama sekali tidak menghiraukannya, melainkan mendekati Ciok Giok Yin yang duduk di tanah, kemudian mengambil guci arak di punggungnya, sekaligus meneguk beberapa kali.
"Kruk! Kruk! Kruk...."
Setelah itu, dia memandang Ciok Giok Yin, seketika mengeluarkan suara 'Ih' dan berkata.
"Kau seperti...."
Dia menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak mungkin."
Lanjutnya.
Orang tua bongkok menatap Ciok Giok Yin sejenak, lalu membalikkan badannya dan berjalan pergi.
Sebetulnya Heng Thian Ceng ingin menghadangnya, tapi begitu melihat wajah Ciok Giok Yin sudah berubah menjadi kuning, dia segera mendekati pemuda itu seraya berkata.
"Bocah, kau telah digigit .oleh ular emas, maka harus cepatcepat diobati."
Tentunya Ciok Giok Yin tahu bahwa ular emas itu amat beracun.
Akan tetapi bagaimana.
mungkin dalam waktu singkat dia bisa memperoleh bahan obat?
Sebab dia hanya membawa obat Ciak Kim Tan, sama sekali tidak membawa obat pemunah racun.
Namun apabila dalam waktu singkat tidak memperoleh bahan-bahan obat tersebut, maka Ciok Giok Yin pasti mati keracunan.
"Lo cianpwee, sekarang aku tidak bisa bergerak,"
Kata Ciok Giok Yin.
"Maksudmu?" -.
"Kalau badanku bergerak, racun akan lebih cepat menjalar ke jantung, dan berarti tiada obat lagi."
"Lalu harus bagaimana?"
"Harus... harus...."
Ciok Giok Yin berkata terputus-putus, membuat Heng Thian Ceng menjadi gusar sekali.
"Harus bagaimana? Cepat katakan!"
Bentaknya.
"Kalau lo cianpwee sudi membantu, tolong kempit diriku! Dalam waktu satu jam harus berhasil mencari bahan obat pemunah racun!"
Sahut Ciok Giok Yin. Tanpa banyak berpikir, Heng Thian Ceng langsung mengangguk.
"Baiklah."
Ketika Heng Thian Ceng baru ingin mengempit badan Ciok Giok Yin, tiba-tiba berkelebat sosok bayangan putih ke tempat itu dan, terdengar pula suara yang amat dingin.
"Tunggu!"
Ciok Giok Yin dan Heng Thian Ceng mendongakkan kepala. Ternyata pendatang itu adalah Yap Ti Hui.
"Nona ada pesan apa?"
Tanya Ciok Giok Yin.
"Di mana peta Si Kauw Hap Liok Touwmu itu?"
"Nona ingin memiliki peta itu?"
"Memang ada maksud demikian!"
Ciok Giok Yin merogoh ke dalam bajunya untuk mengeluarkan peta tersebut.
"Kuberikan padamu!"
Katanya sambil menyodorkan peta itu kepada Yap Ti Hui.
Sesungguhnya Ciok Giok Yin tidak bermaksud memberikan peta tersebut pada Yap Ti Hui, sebab peta itu pemberian Ho Siu Kouw.
Lalu mengapa dia menyodorkan peta itu?
Ternyata dia akan menggunakan Sam Yang Hui Kang menghancurkan peta itu di saat Yap Ti Hui mengambilnya.
Akan tetapi Yap Ti Hui malah tertegun, sama sekali tidak menjulurkan tangannya mengambil peta tersebut.
"Kau simpan saja! Padahal aku cuma ingin mencobamu, sampai jumpa!"
Katanya lalu melesat pergi. Sedangkan Heng Thian Ceng memandang Ciok Giok Yin dengan heran.
"Bocah, kau kenal dia?"
Katanya dengan suara rendah.
"Pernah berjumpa dua kali."
"Kenapa dia tidak mau mengambil peta itu?"
"Entahlah. Aku tidak jelas."
Tiba-tiba wajah Heng Thian Ceng yang buruk itu tampak aneh, sepertinya tersadar akan satu hal.
"Bocah, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu."
"Silakan, locianpwe!"
"Pernahkah kau mencintai seorang anak gadis?"
Wajah Ciok Giok Yin tampak kemerah-merahan.
"Ti... tidak pernah,"
Sahutnya tersendat-sendat.
"Tidak benar!"
Ciok Giok Yin tercengang.
"Maksud lo cianpwee?"
Katanya sambil menatap Heng Thian Ceng.
"Aku lihat gadis buruk rupa itu di wajahnya tidak tampak perasaan apapun. Mungkin karena wajahnya telah dirias. Tapi... dari sepasang matanya terlihat ada sedikit api cemburu."
Saat ini maut sedang mengancam diri Ciok Giok Yin, maka mana dia punya waktu untuk membicarakan hal tersebut? "Lo cianpwee, tentang ini kita bicarakan kelak saja. Boleh kan?"
Heng Thian Ceng tampak tersentak.
"Ah! Aku justru telah melupakan urusan penting."
Mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakang mereka.
"Dalam waktu satu jam, apakah kalian akan berhasil menemukan bahan obat itu?"
Heng Thian Ceng ingin membalikkan badannya, tetapi terdengar lagi suara yang amat dingin di belakangnya.
"Harap kau jangan membalikkan badan! Kalau tidak, begitu tanganku bergerak, nyawamu pasti melayang!"
Bukan main terkejutnya Heng Thian Ceng, sebab terasa sebuah tangan menekan jalan darah Leng Tay Hiatnya.
Sementara Ciok Giok Yin sudah tergeletak di tanah, sepertinya telah ditotok jalan darahnya hingga pingsan.
Hal itu amat memalukan, sebab Heng Thian Ceng berkecimpung di dunia persilatan sudah puluhan tahun, entah sudah beberapa banyak orang yang dibunuhnya.
Namun kali ini, ada orang mendekatinya, dia justru tidak tahu sama sekali.
Dapat dibayangkan, betapa gusar dan penasarannya.
"Siapa kau?"
Katanya.
"Kau tidak perlu tahu!"
"Sebetulnya apa maksudmu berbuat begitu?"
"Hanya bermaksud baik, memberitahukan pada kalian bahwa dalam jarak lima puluh mil tidak ada bahan obat untuk memunahkan racun ular emas itu! Maka apabila ingin memunahkan racun ular emas itu, hanya merupakan mimpi belaka! Lagi pula dalam waktu satu jam kau tidak akan mampu melesat sejauh lima puluh mil!"
"Kau terus nyerocos, bukankah secara tidak langsung telah menyita waktu kami?"
Bentak Heng Thian Ceng.
"Tiada maksud demikian'!"
"Lalu kau mau apa?"
"Aku bisa memunahkan racun ular emas itu!"
"Tanpa pamrih atau punya maksud tertentu?"
Terdengar suara tawa cekikikan yang amat merdu dan sedap di dengar, kemudian terdengar suara yang dingin.
"Kau berhati sempit, tidak tahu maksud baik orang!"
"Tapi, aku tidak percaya kata-katamu!"
"Bagaimana agar kau percaya?"
"Kalau kau bersedia memunahkan racun itu, tentunya dapat dimulai dari sekarang! Kenapa kau harus bertindak bersembunyi-sembunyi seakan takut terlihat orang?"
"Tentunya aku punya alasan."
"Apa alasanmu?"
"Tak dapat kukatakan!"
Suasana hening sejenak. Berselang sesaat, terdengar lagi suara yang dingin.
"Dia terkena racun ular emas, aku pasti menyembuhkannya!"
Mendadak Heng Thian Ceng merasa punggungnya ringan.
Dia cepat-cepat membalikkan badannya.
Dilihatnya sosok bayangan mengempit Ciok Giok Yin melesat pergi laksana kilat memasuki rimba, dan sekejap sudah hilang dari pandangan Heng Thian Ceng.
"Mau lari kemana!"
Bentak Heng Thian Ceng.
Dia juga melesat ke dalam rimba mengejar bayangan itu, namun bayangan itu sudah tidak kelihatan, itu membuat Heng Thian Ceng penasaran sekali.
Perlu diketahui, Heng Thian Ceng malang melintang di dunia persilatan sudah puluhan tahun dan amat ditakuti golongan putih maupun golongan hitam.
Namun kali ini dia betul-betul dipermalukan orang, sebab dia sama sekali tidak dapat melihat wajah orang itu, bahkan orang itu berhasil membawa pergi Ciok Giok Yin di depan hidungnya.
Itu sungguh membuatnya merasa malu!
Saking kesal dan penasarannya dia menghempaskan kakinya sehingga tanah menjadi berlubang.
Wajahnya yang buruk saat ini tampak bertambah buruk.
Berselang sesaat, barulah dia melesat pergi.
Sementara itu, entah berapa lama kemudian, barulah Ciok Giok Yin siuman dari pingsannya.
Terdengar suara yang amat dingin di belakangnya.
"Kini racun ular emas itu telah punah."
Ciok Giok Yin terbelalak ketika mendengar ucapan itu.
"Telah punah?"
"Tidak salah."
"Siapa kau?"
"Bok Tiong Jin (Orang Dalam Kuburan)."
Seketika Ciok Giok Yin merinding, dan hatinya berdebar-debar tegang.
Dia menengok ke kiri ke kanan.
Akan tetapi karena keadaan di tempat itu gelap gulita, pandangannya cuma terbatas dalam satu depa.
Ketika dia ingin bangkit, mendadak terdengar suara yang amat dingin.
"Duduk!"
Bukan main terkujurnya Ciok Giok Yin! Bulu kuduknya bangun dan keringat dinginnya mengucur.
"Apakah aku sudah mati?"
"Kau tidak mati."
"Kalau begitu, bagaimana aku berada di dalam kuburan?"
"Ini malam hari, saatnya roh-roh berkeliaran. Aku melihat kau tergigit oleh ular emas, maka aku menolongmu."
Seketika Ciok Giok Yin teringat akan Heng Thian Ceng.
Di saat mereka berdua sedang membicarakan bahan obat tiba-tiba dia merasa pusing lalu pingsan.
Tidak disangka dia telah dibawa pergi oleh roh.
Itu membuatnya merinding.
"Aku berterima kasih atas pertolonganmu, yang telah menyelamatkan nyawaku. Sekali lagi kuucapkan terima kasih."
Akan tetapi, terdengar sahutan dingin.
"Tidak usah berterima kasih."
"Kau punya suatu permintaan?"
Hening sejenak. Berselang sesaat, terdengar helaan nafas panjang.
"Aaah! Aku ingin hatimu."
"Apa? Hati?"
Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Ciok Giok Yin.
Bahkan dia merasa takut dan seram, sebab roh wanita itu menghendaki hatinya.
Coba pikir, kalau hati orang dicukil ke luar, apakah masih bisa hidup?
Kalau begitu, roh wanita itu suka makan hati orang....
Terdengar suara yang amat dingin itu.
"Kau berikan tidak?"
"Ini... itu... ini...."
"Apa ini dan itu?"
"Kalau begitu, kau menyelamatkan dengan maksud tertentu?"
"Betul."
"Maksudmu menginginkan hatiku?"
"Tidak salah dugaanmu."
Menghadapi maut, Ciok Giok Yin malah menjadi tenang.
"Kalau kau menginginkan hatiku, mengapa tidak kau ambil ketika aku dalam keadaan pingsan?"
Tanya dengan dingin. Terdengar sahutan dingin.
"Sebab aku menghendakimu menyerahkan padaku secara rela."
Sekali timbul suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin.
"Bolehkah kau perlihatkan dirimu?"
"Tidak bisa."
"Mengapa?"
"Karena kau orang hidup."
"Kalau hatiku dikeluarkan, bukankah akan sama sepertimu? Tentunya sudah tidak terdapat perbedaan antara orang dengan hantu lagi. Karena itu, sebelum aku mati, ingin berkenalan denganmu."
"Tidak usah."
Baca Juga: Hong Lui Bun 9
Baca Juga: Laron Pengisap Darah 5