Eps 5 Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.
Kwee Bok sama sekali tidak berusaha untuk menghindari sorot mata Siang Huhoa, kalau dilihat dari mimik mukanya, dia tidak mirip orang yang sedang berbohong.
Setelah menghela napas panjang Siang Huhoa berkata.
"Kalau masalahnya sudah berkembang jadi begini, sulit rasanya bagiku untuk mempercayai ucapanmu"
Kwee Bok terbungkam dan tidak mampu berkata-kata. Siang Huhoa berkata lebih jauh.
"Bukan Cuma aku, setiap orang mungkin hampir sama seperti diriku, kalau satu dua kejadian mungkin bisa dikatakan kejadian yang kebetulan, tapi kalau setiap masalah ternyata persis sama, itu sudah bukan kebetulan lagi"
Kwee Bok semakin terbungkam.
"Kendatipun kau anggap kejadian ini penasaran dan kau hanya menjadi kambing hitam, mau tidak mau perasaan tersebut harus kau terima dulu"
Kata Siang Huhoa lagi.
"menanti semua urusan sudah diselidiki dengan tuntas dan terbukti kau memang tidak terlibat, pihak pengadilan pasti akan membebaskan dirimu"
Kali ini Kwee Bok menghela napas panjang, dia tetap membungkam.
"Benarkah semua kejadian adalah begini, cepat atau lambat pasti akan tiba saatnya semua masalah jadi terang"
Siang Huhoa menambahkan.
"Aku tahu, kau memang seorang pendekar sejati yang jujur dan adil!"
Akhirnya Kwee Bok buka suara. Kali ini Siang Huhoa yang terbungkam.
"Aku tidak mempunyai tuntutan apa pun, aku hanya berharap kau bisa menegakkan keadilan bagiku"
Kwee Bok berkata lagi.
Siang Huhoa mengangguk.
--Ketika rombongan itu meninggalkan rumah uang Kwonghong dan kembali ke pengadilan, senja sudah berlalu, malam hari pun telah menyelimuti seluruh jagad.
Malam sudah larut, hanya bintang yang bertaburan di angkasa.
Diwaktu biasa, saat seperti ini Ko Thian-liok sudah istirahat, tapi malam ini terkecuali, biarpun sudah tengah malam buta, dia masih berada di beranda samping.
Kecuali dia, disitu hadir pula Siang Huhoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin, mereka sedang membicarakan kasus horor yang menimpa Jui Pak-hay, teror yang dilakukan segerombol Laron Penghisap darah.
Peristiwa ini memang kelewat aneh, kelewat mengerikan hati.
Rasa mengantuk Ko Thian-liok sudah hilang lenyap semenjak tadi, tentu saja rasa kantuk Siang Hu-hoa bertiga pun sudah musnah tidak berbekas, mereka sedang membahas apa benar di dunia ini terdapat setan iblis dan siluman?
Benarkah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok adalah jelmaan dari siluman laron?
Apa benar pembunuh yang telah menghabisi nyawa Jui Pak-hay adalah mereka berdua?
Ketika angin malam berhembus lewat, tanpa terasa ke empat orang itu sama sama bersin berulang kali.
Setelah mengelus jenggotnya tiba tiba Ko Thian-liok berkata.
"Aku rasa kita harus mengambil sebuah kesimpulan atas kejadian ini"
"Kami sudah mempunyai tertuduh"
Jawab Nyo Sin.
"Siapa mereka?"
"Tertuduh utama adalah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok!"
"Apakah opas Nyo percaya akan adanya setan iblis dan siluman?"
Nyo Sin berpikir sebentar lalu mengangguk. Kembali Ko Thian-liok berpaling ke arah Tu Siau-thian sambil bertanya.
"Bagaimana menurut pendapat opas Tu?"
"Pandanganku justru bertolak belakang"
"Tidak percaya maksudmu?"
"Yaa, sama sekali tidak percaya?"
"Alasannya?"
"Walaupun banyak tersiar kabar berita tentang setan iblis atau siluman, tapi siapa sih manusia di dunia ini yang benar benar pernah berjumpa dengan setan iblis atau siluman?' "Jui Pak-hay!"
Tukas Nyo Sin.
"Justru karena kita sudah membaca semua catatan peninggalan Jui Pak-hay maka kita mengira Jui Pak-hay benar benar pernah bertemu dengan setan iblis dan siluman, tapi aku berpendapat, kita tidak boleh percaya seratus persen atas semua laporan yang tertinggal dalam kitab cacatan tersebut, sebab hal ini membuat analisa kita gampang kabur lantaran terpengaruh oleh catatan itu"
"Jadi kau menganggap kitab catatan itu palsu?"
Tu Siau-thian menggeleng.
"Kecuali Jui Pak-hay memang sengaja membesar-besarkan masalah, kalau tidak, aku rasa kitab catatan itu tidak perlu diragukan lagi keasliannya"
"Membesar besarkan masalah? Menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan?"
"Oleh sebab itu aku percaya kitab catatan itu tidak ada masalah"
"Lalu apa bedanya dengan percaya akan adanya setan iblis atau siluman?"
Seru Nyo Sin.
"Jelas berbeda sekali"
"Dimana letak perbedaannya?"
"Biarpun apa yang tercatat merupakan kejadian nyata, namun apa yang dilihat Jui Pak-hay belum tentu merupakan kejadian nyata"
"Apa maksud perkataanmu itu? Tolong katakan lebih jelas dan gamblang"
"Maksudku, ketika Jui Pak-hay sedang menulis buku catatan itu, belum tentu setiap kali dia berada dalam keadaan normal"
"Aku tetap tidak mengerti"
"Sewaktu menulis catatan itu, aku rasa ada berapa kali benda atau makhluk yang dia anggap telah melihatnya itu kemungkinan besar belum tentu ada wujudnya"
Tampaknya Nyo Sin masih tetap tidak mengerti namun dia tidak bertanya lebih jauh, sambil mengalihkan pokok pembicaraan ujarnya.
"Bila sesuai dengan keyakinanmu, setan iblis dan siluman itu tidak ada, lalu kenapa bisa terjadi peristiwa seperti itu?"
"Aku rasa semuanya itu merupakan ulah atau perbuatan manusia"
Tu Siau-thian menegaskan.
"Ulah siapa?"
"Mungkin saja ulah Gi Tiok-kun, mungkin juga ulah Kwee Bokl"
"Bukankah sejak tadi sudah kukatakan kalau pembunuh yang sesungguhnya adalah mereka berdua?"
Protes Nyo Sin.
"Tapi aku tetap tidak yakin kalau kejadian ini merupakan ulah mereka, juga tidak beranggapan kalau mereka berdua adalah jelmaan dari siuman laron"
"Jadi menurut kau, seandainya merekalah pembunuhnya, dengan cara apa kedua orang itu membantai Jui Pak-hay?"
"Benar, coba kau utarakan pandanganmu"
Sela Ko Thianliok pula.
"mungkin kita bisa membahasnya bersama"
"Baiklah"
Kata Tu Siau-thian kemudian, setelah mendeham dia terusnya.
"Menurut pandanganku, sebenarnya kasus ini bukan suatu kejadian yang aneh atau luar biasa, peristiwa ini berubah jadi aneh dan penuh misteriu lantaran Jui Pak-hay telah memasukkan masalah kejiwaannya ke dalam kejadian ini, terpengaruh oleh jiwanya yang labil maka muncul khayalan khayalan yang nampaknya sangat mengerikan"
"Kejiwaan bagaimana maksudmu?"
Tanya Ko Thian-liok tertegun. Siang Hu-hoa juga menunjukkan perasaan bingung dan tak habis mengerti, apalagi Nyo Sin. Tu Siau-thian segera menjelaskan.
"Setiap insan manusia tentu mempunyai kesukaan dan rasa muak terhadap suatu jenis makhluk atau hewan, misalnya ketika bertemu dengan seseorang, si A akan merasa muak sekali tapi tidak begitu dengan pandangan si B"
"Maksudmu seperti tauke pegadaian di kota utara Thio Hok?"
Tanya Ko Thian-liok sambil tertawa.
"Benar"
"Padahal Thio Hok punya wajah yang tampan, orang bilang muka hokki, terhadap setiap orang pun ramah dan murah senyum, wajah semacam ini sebetulnya tidak termasuk wajah yang membosankan"
Kata Ko Thian-liok.
"Benar, tapi siapa pun yang bertemu dengannya, secara otomatis muncul rasa ketidak senangannya, bahkan aku pun p ingin sekali menghajarnya habis-habisan setiap kali berjumpa dengannya"
Tu Siau-thian menerangkan.
"Ini disebabkan dia sembunyi golok dibalik senyumannya, dibalik senyumannya yang ramah terselip jiwa bangsatnya yang tega menelan manusia berikut tulang belulangnya"
"Orang semacam ini memang sangat licik dan menyebalkan"
"Karena itu semakin dipandang kau akan merasa semakin muak"
"Benar, dan inilah masalah kejiwaan yang kita miliki"
Sekarang Ko Thian-liok baru mengerti apa yang dia maksudkan, maka semua orang pun manggut manggut.
"Sebetulnya masalah kejiwaan semacam ini tidak jahat, seperti misalnya saja aku, setiap kali melihat cicak, timbul rasa muak dan ngeri diliati kecilku, bahkan melihat benda yang mirip dengan warna cicak pun aku jadi muak dan ketakutan setengah mati, kalau sudah mencapai puncaknya aku bisa muntah muntah karena muaknya"
"Tapi apa hubungan persoalanmu dengan kematian Jui Pak-hay?"
Tak tahan Nyo Sin menyela.
"Aku percaya Jui Pak-hay pun mempunyai masalah kejiwaan dengan sejenis makhluk, makhluk yang membuatnya sensitip, takut dan ngeri"
"Kau maksudkan makhluk apa?"
"Dengan laron misalnya!"
"Laron Penghisap darah?"
Nyo Sin tertegun.
"Tidak harus dengan Laron Penghisap darah, mungkin terhadap setiap jenis laron dia sudah merasa takut dan muak"
"Ooh......."
Tu Siau-thian melirik Siang Hu-hoa sekejap kemudian baru berpaling ke arah Nyo Sin, tiba tiba katanya.
"Bukankah bentuk dan warna dari Laron Penghisap darah sangat mencolok dan menarik perhatian, bukankah bentuknya yang mencolok itu justru mendatangkan perasaan seram bagi yang melihatnya?"
Tanpa terasa Siang Hu-hoa mengangguk, sedang Nyo Sin segera berseru.
"Bukan Cuma aneh dan menyeramkan, aku bilang betul betul horor........"
"Betul, memang mendatangkan perasaan horor........."
Tu Siau-thian membenarkan seraya mengangguk.
"Lantas kenapa?"
Tak sabar Nyo Sin mendesak. Tu Siau-thian tidak menjawab, kembali tanyanya.
"Aku rasa diantara kita berempat tidak ada yang takut dengan makhluk sebangsa laron bukan?"
Tidak seorang pun yang menjawab takut. Tu Siau-thian segera berkata lebih jauh.
"Bagi kita yang tidak pernah punya perasaan takut terhadap makhluk bangsa laron saja sudah dibuat ngeri dan seram setelah menyaksikan sendiri kawanan Laron Penghisap darah, coba bayangkan apa reaksinya bagi seseorang yang pada dasarnya sudah takut dengan makhluk sebangsa laron kemudian dia sangka telah bertemu dengan Laron Penghisap darah?"
"Tentu saja lebih seram, lebih ngeri dan takut yang luar biasa"
"Itulah dia, bila ledakan emosi seseorang sudah mencapai suatu tingkat atau batas tertentu, kadangkala hal ini bisa menyebabkan syarafnya terganggu hingga muncul khayalan yang tidak waras"
"Tapi aku tidak melihat Jui Pak-hay berubah jadi orang gila atau kurang waras otaknya"
"Tentu saja dia masih waras karena kepandaian silatnya tinggi, dengan sendirinya diapun memiliki syaraf yang jauh lebih kokoh ketimbang orang biasa, namun ketika ia jumpai kawanan Laron Penghisap darah tersebut, rasa takut dan ngeri yang muncul pasti amat kuat dan hebat yang belum tentu bisa diterima dan dibendung oleh kekuatan syarafnya"
"Kalau tidak tahan lantas kenapa?"
"Semenjak peristiwa itu, besar kemungkinan otaknya jadi kurang normal, untuk sementara waktu otaknya kehilangan kontrol sehingga tingkah lakunya jadi aneh"
Kata Tu Siau-thian dengan suara dalam. Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi dengan suara yang lebih dalam.
"Bila seseorang berada dalam kondisi kesadaran tidak terkontrol, seringkali dia akan melihat banyak kejadian yang aneh dan menyeramkan"
"Kejadian apa maksudmu?"
"Kejadian yang tidak nyata dan seringkali kejadian tersebut hanya bisa disaksikan oleh dia sendiri"
"Aneh, bagaimana mungkin bisa terjadi peristiwa semacam ini?"
"Semua kejadian, semua benda dan semua makhluk yang dia lihat sebetulnya timbul dari khayalan dia sendiri, apa yang dia sebut sebagai menyaksikan padahal hanya sebuah ilusi, sesuatu yang tidak nyata"
Tu Siau-thian menerangkan. Kemudian setelah tertawa, lanjutnya.
"Kejadian tersebut tidak jauh berbeda seperti mimpi yang kita peroleh sewaktu tidur dimalam hari, dalam alam mimpi seringkali kita pun menyaksikan banyak makhluk, banyak benda dan banyak kejadian yang tidak nyata, kejadian kejadian tragis yang sebetulnya tak pernah ada dan tak pernah terjadi beneran"
"Yaa benar"
Sela Ko Thian-liok sambil tertawa dan manggut m anggut.
"semalam pun aku mendapat mimpi, seolah aku bersayap dan bisa terbang ke langit"
"Bisa jadi apa yang dialami Jui Pak-hay waktu itu sesungguhnya adalah kejadian seperti ini, tapi ketika dia mencatat kembali semua peristiwa itu di atas kertas, kemungkinan dia sudah berada dalam kondisi stabil dan sadar, hanya dia tidak tahu kalau apa yang sudah dia catat sebetulnya hanya ilusi belaka, kejadian tidak nyata yang dialarriinya ketika jiwanya sedang tergoncang dan tidak stabil"
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Sewaktu jiwanya sedang goncang dia akan menyaksikan kejadian kejadian yang menakutkan, tapi ketika jiwanya stabil kembali apa yang pernah dilihat lenyap dengan begitu saja, bila keadaan seperti ini dialaminya berulang kali, tak aneh jika dia anggap telah bertemu dengan setan iblis atau siluman dan sebangsanya"
Penjelasan tersebut bukannya tanpa dasar, kalau ditelaah kembali semuanya memang merupakan kenyataan.
Tu Siau-thian memang punya bakat bicara, kata kata yang meluncur keluar dari mulutnya membuat orang makin yakin dan percaya.
Tanpa terasa Siang Hu-hoa dan Ko Thian-liok manggut manggut, hanya Nyo Sin yang terkecuali, dia sedang awasi Tu Siau-thian dengan pandangan dingin.
Terdengar Tu Siau-thian berkata lebih jauh.
"Dengan dasar analisa itulah aku katakan bahwa buku catatan tersebut memang merupakan kenyataan, tapi apa yang dicatat Jui Pak-hay dalam catatan tersebut bukan kenyataan tapi hanya ilusi saja, khayalan kosong"
"Dan karena itu pula dia merasa seakan di teror, seakan merasa dikejar dengan segala keseraman dan kengerian?"
Tanya Ko Thian-liok.
"Besar kemungkinan hal ini pun disebabkan karena dia terlalu banyak mendengarkan kisah dongeng seputar keseraman Laron Penghisap darah"
"Hmmm, kalau didengar sepintas lalu perkataanmu seolah sangat masuk diakah..."
Ujar Nyo Sin tiba-tiba. Tu Siau-thian segera menangkap arti lain dibalik perkataan itu, maka dia tidak memberi komentar dan hanya membungkam diri. Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh.
"Apa itu otak tak waras, apa pula ilusi, darimana kau dapatkan istilah istilah baru macam begitu?"
"Akupun baru pertama kali ini mendengar hal-hal seperti itu"
Ujar Ko Thian-liok pula sambil memandang Tu Siau-thian dengan sorot mata ragu. Hanya Siang Huhoa seorang yang tetap berdiri tenang, seakan kejadian macam begitu sudah bukan hal yang aneh lagi baginya.
"Tayjin, masih ingat bukan lantaran satu kasus besar hamba pernah berangkat ke Pakkhia untuk melakukan penyelidikan?"
Tanya Tu Siau-thian tenang. Ko Thian-liok segera mengangguk.
"Benar, aku masih ingat"
"Dalam perjalanan menuju ke kota Pakkhia, hamba telah berkenalan dengan seorang penyebar agama bangsa asing, orang itu sebenarnya berprofesi sebagai seorang dokter"
"Jadi orang asing itu yang memberitahukan segala sesuatunya kepadamu?"
"Benar"
Nyo Sin kembali mendengus.
"Hmmm, biasanya ajaran orang asing hanya cocok untuk orang asing"
Selanya.
"Itu mah belum tentu"
Timbrung Siang Huhoa. Sekali lagi Nyo Sin mendengus. Siang Huhoa tidak perdulikan dia, kembali ujarnya kepada Tu Siau-thian.
"Kalau toh terjadi keadaan seperti apa yang kau utarakan, paling tidak dia kehilangan kontrol atas kesadaran sendiri setelah bertemu dengan kawanan Laron Penghisap darah, atau dengan perkataan lain Laron Penghisap darah memang ada wujudnya di dunia ini"
"Sepasang mata yang kita miliki belum berpenyakit bukan? Aku percaya apa yang telah kita saksikan merupakan satu kenyataan"
Sahut Tu Siau-thian sambil tertawa. Mereka berdua memang telah menyaksikan kehadiran Laron Penghisap darah, bukan hanya satu kali malah.
"Dalam keadaan sadar dan terkontrol syarafnya, aku percaya sepasang mata Jui Pak-hay pun tidak bermasalah"
Kata Siang Hu-hoa.
"Kalau memang demikian kenyataannya, berarti Jui Pak-hay baru kehilangan kontrol setelah menyaksikan kehadiran kawanan Laron Penghisap darah itu"
"Kalau toch dia takut dengan makhluk sebangsa laron, tentu saja tidak akan memelihara Laron Penghisap darah didalam rumahnya"
"Maksudmu orang yang memelihara kawanan Laron Penghisap darah itu sudah pasti orang yang berniat mencelakai atau ingin membunuhnya?"
"Benar! Dengan kata lain pemilik Laron Penghisap darah itulah pembunuh yang sesungguhnya dari Jui Pak-hay"
"Rasanya memang begitu"
"Pembunuh yang sebenarnya pasti bukan orang yang kurang waras otaknya atau punya kelainan jiwa bukan?"
Siang Hu-hoa menambahkan. Tu Siau-thian tertawa tergelak.
"Aaah, masa begitu kebetulan?"
Serunya.
"Kalau memang bukan, berarti pembunuh Jui Pak-hay tentu orang yang mempunyai rencana yang matang, dia pasti punya maksud dan tujuan tertentu"
"Maksudmu dia memang punya niat untuk membunuh korbannya?"
"Benar, paling tidak aku beranggapan bahwa kematian Jui Pak-hay bukan karena salah membunuh, aku yakin segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan secara matang"
"Menurut pengalamanku, biasanya rencana pembunuhan dilakukan karena berapa macam alasan"
"Maksudmu?"
"Membalas dendam adalah salah satu alasan diantaranya........"
"Menurut apa yang kuketahui, semua musuh besarnya telah tewas diujung pedangnya, jadi tak pernah ada musuh besarnya yang tahu siapakah dia"
Kata Siang Hu-hoa, setelah menghela napas terusnya.
"selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dia tidak pernah membiarkan korbannya tetap hidup"
"Berarti Si Siang-ho adalah pengecualian?"
"Mungkin saja dia memang tidak pernah menganggap peristiwa ini sebagai sesuatu yang serius, sehingga dia anggap tidak perlu diselesaikan dengan ilmu silat, otomatis dia pun menganggap tidak ada perlunya untuk membunuh Si Siangho"
"Atau bisa jadi dia memang tidak pernah pandang sebelah matapun terhadap Si Siang-ho"
Siang Huhoa manggut manggut, setelah termenung sejenak dia menambahkan.
"Mungkin watak dan perangainya telah terjadi perubahan besar saat itu sehingga berbeda dengan masa masa sebelumnya"
"Benturan karena kepentingan merupakan alasan ke dua.............."
"Kalau soal ini mah semestinya kalian jauh lebih jelas"
Ucap Siang Huhoa.
"Aku tidak melihat terjadinya benturan karena kepentingan di wilayah seputar sini....."
"Itu berarti kemungkinan alasan ke tiga, tapi apa itu?"
"Bencana yang timbul karena harta atau wanita"
"Jui Pak-hay memang seorang lelaki"
Tu Siau-thian segera tertawa tergelak.
"Hahaha.... aku tahu kalau dia seorang lelaki"
Serunya.
"semisal dia menyamar jadi perempuan pun sudah pasti dia bukan perempuan yang cantik, aku rasa kemungkinan karena perempuan kecil sekali. Ini berarti karena harta...... aku lihat bibit bencana yang paling memungkinkan adalah karena harta"
"Sebelum kita memasuki ruang rahasia bawah tanahnya, apakah kau pernah menduga kalau dia memiliki harta kekayaan yang begitu banyak?"
Tanya Siang Huhoa. Tu Siau-thian menggeleng.
"Padahal kau adalah sahabat karibnya"
Ujar Siang Hu-hoa lebih jauh.
"kalau kau saja tidak tahu, Jui Gi sebagai pembantu kepercayaannya juga tidak tahu, lalu siapa yang tahu akan rahasia ini?"
"Aku rasa hanya satu orang yang kemungkinan tahu akan hal itu"
"Gi Tiok-kun maksudmu?"
"Biasanya seorang lelaki tidak akan merahasiakan masalah apa pun dihadapan perempuan kesayangannya"
Siang Huhoa sama sekali tidak menyangkal akan perkataan itu, sebab bukan hanya satu dua kali dia jumpai lelaki semacam ini, untuk menarik perhatian kaum wanita yang dituju, seringkah kaum lelaki akan mempamerkan segala kemampuan, segala kekayaan yang dimilikinya.
Keadaan tersebut tidak jauh berbeda seperti burung merak jantan yang mementangkan bulu-bulu indahnya untuk menarik perhatian merak betina.
Bab 21.
Dongeng dari Siau-siang.
Apakah Jui Pak-hay termasuk lelaki semacam ini?
Dia tidak yakin.
Ketika mereka masih bersahabat karib, Jui Pak-hay belum pernah menyinggung soal keinginannya untuk membangun rumah tangga, dia adalah orang yang suka berganti pacar dan mencicipi tubuh perempuan satu ke tubuh perempuan lain.
Tapi akhirnya dia telah menikahi Gi Tiok-kun, benarkah dia amat mencintai perempuan itu sehingga meninggalkan kebiasaan lamanya?
Untuk mendapatkan perhatian dari Gi Tiok-kun, apakah Jui Pak-hay menggunakan pula taktik burung merak jantan yang mempamerkan kelebihan sendiri?
Tidak ada yang tahu, mungkin dalam hal ini hanya Jui Pak-hay dan Gi Tiok-kun berdua yang bisa menjawab.
"Tidak ada salahnya kita berandai andai"
Kembali Tu Siauthian berkata.
"kita anggap Gi Tiok-kun memang sudah tahu kalau Jui Pak-hay memiliki harta karun yang luar biasa besarnya, kitapun menganggap hubungan antara Jui Pak-hay dengan bininya persis seperti apa yang digambarkan Jui Pakhay di dalam catatannya.........."
Siang Huhoa yang mendengar sampai disitu segera menghela napas panjang, kalau urusan memang seperti apa yang Tu Siau-thian gambarkan, masalahnya jadi lebih sederhana dan gampang.
Kembali Tu Siau-thian berkata.
"Jui Pak-hay mencintai Gi Tiok-kun sebaliknya Gi Tiok-kun mencintai Kwee Bok, bila perempuan itu sedang mengincar harta karum milik Jui Pak-hay sementara diapun enggan hidup bersama suaminya sampai hari tua nanti, menurut kalian jalan terbaik apa yang bakal dia lakukan?"
Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya Nyo Sin segera berseru.
"Jalan yang terbaik adalah berkomplot dengan kekasih gelapnya, membunuh suaminya dan merampas harta kekayaan miliknya!"
"Betul!"
Sambung Ko Thian-liok pula.
"begitu Jui Pak-hay mati, otomatis seluruh harta kekayaan itu akan jatuh ke tangan Gi Tiok-kun"
"Peristiwa pembunuhan karena alasan klasik semacam ini sudah terlalu sering terjadi, oleh sebab itu aku anggap kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi dalam kasus ini"
Ujar Tu Siau-thian lagi. Siang Huhoa masih tetap membungkam. Tu Siau-thian berkata lebih lanjut.
"Bila kita membuat perumpamaan seperti ini, maka beberapa bukti yang berhasil kita kumpulkan selama ini sudah lebih dari cukup untuk menuduh Gi Tiok-kun dan Kwee Bok berdua sebagai dalang pembunuhan ini, coba kita bayangkan saja dengan kepala dingin, kecuali Jui Pak-hay, siapa lagi yang bisa keluar masuk di dalam perkampungan Ki po cay dengan leluasa bahkan memelihara Laron Penghisap darah disitu?"
"Tentu saja hanya Gi Tiok-kun seorang!"
Sela Nyo Sin cepat.
"Dan siapa pula yang bisa menyimpan Laron Penghisap darah didalam lemari pakaian serta di sela sela payudara Gi Tiok-kun?"
"Tentu saja hanya Gi Tiok-kun seorang!"
Siang Hu-hoa yang membungkam selama ini tiba tiba berkata.
"Kalau aku tidak salah tebak, semestinya Gi Tiok-kun sudah tahu tentang rahasia harta kekayaan Jui Pak-hay semenjak tiga tahun berselang bukan?"
"Mungkin, tapi biarpun sudah tahu sejak lama bukan berarti ia bisa turun tangan secara langsung"
Sahut Tu Siau-thian.
"Jadi dia mesti menunggu selama tiga tahun?"
"Tiga tahun toh bkan terhitung waktu yang cukup panjang"
Siang Hu-hoa segera berpaling dan menatap tajam wajah Tu Siau-thian, ujarna.
"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, aku tahu kau pasti mempunyai alasan yang bagus untuk menjelaskan hal ini"
"Sekalipun sejak awal dia sudah punya ingatan untuk mencelakai Jui Pak-hay, namun sebelum segala persiapan menjadi matang dan segala rencana siap dilaksanakan, perempuan itu pasti tidak akan turun tangan secara gegabah"
"Jadi menurut pendapatmu?"
"Mula mula dia pasti harus selidiki dahulu segala sesuatu mengenai Jui Pak-hay, dia harus yakin kalau lelaki itu tidak memiliki istri lain, tidak punya anak atau sanak keluarga lainnya, sehingga dia harus yakin dulu bila lelaki itu sampai mati maka seluruh harta kekayaannya akan jatuh ke tangannya"
"Kemudian?"
"Dia harus memiliki sebuah rencana yang paling luwes dan paling sempurna"
"Selainku?"
"Cukup untuk persiapkan dua hal ini, dia sudah butuh waktu yang lama sekali, apalagi membunuh Jui Pak-hay belum tentu murni usulannya"
Tiba tiba Tu Siau-thian menghela napas panjang, terusnya.
"Terus terang, aku pun tidak percaya kalau perempuan itu begitu keji dan telengas sehingga tega membunuh suami sendiri"
"Jadi kau curiga kalau semua usul dan ide ini muncul dari pemikiran Kwee Bok?"
Tanya Siang Huhoa.
"Aku memang curiga ke situ"
Sahut Tu Siau-thian, setelah menghela napas panjang lanjutnya.
"tapi sayang bocah muda itu tidak mirip manusia semacam ini......"
Saat itulah mendadak Ko Thian-liok menyela.
"Jika mereka berdua benar benar merupakan pembunuh utama dalam kasus ini, lalu bagaimana analisa mu tentang perjalanan mereka untuk melaksanakan pembunuhan berdarah ini?"
"Menurut perhitunganku, sejak menikah dengan Jui Pakhay, besar kemungkinan Gi Tiok-kun masih memelihara hubungan dengan Kwee Bok secara diam-diam, tatkala dia mendapat tahu kalau Jui Pak-hay sangat takut dan mual terhadap laron, mereka berdua pun menyusun rencana kerja berikut sambil menunggu tibanya saat yang paling tepat untuk membunuh Jui Pak-hay!"
"Bagaimana rencananya?"
"Langkah pertama, tentu saja Kwee Bok harus mempersiapkan sejumlah Laron Penghisap darah"
"Kenapa harus mengumpulkan Laron Penghisap darah?"
Tu Siau-thian termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya.
"Mungkin saja didalam pembicaraan sehari hari, Gi Tiok-kun mendapat tahu kalau diantara kelompok laron ternyata Jui Pak-hay paling takut dengan Laron Penghisap darah, atau mungkin saja Kwee Bok pernah berkunjung ke wilayah Siausiang, pernah menyaksikan Laron Penghisap darah dan menganggap hanya Laron Penghisap darah yang bisa membuat pikiran Jui Pak-hay kalut dan hilang kontrol"
"Lantas apa langkah ke dua mereka?' "Tentu saja melatih pengendalian terhadap kelompok Laron Penghisap darah itu"
"Memangnya kawanan Laron Penghisap darah itu benarbenar bisa dikendalikan?"
"Percaya saja, melatih kawanan laron tidak jauh berbeda seperti melatih sekelompok lebah, asal mau dilatih dengan sungguh sungguh, asal mau mempelajari sifat dan kebiasaan makhluk tersebut, suatu saat kawanan makhluk itu pasti dapat dikendalikan"
"Langkah berikut.........."
Tanya Ko Thian-liok lagi.
"Ketika semua persiapan sudah matang, mereka pun mulai melancarkan gerakan untuk mencelakai Jui Pak-hay, mula mula mereka gunakan rasa takut Jui Pak-hay terhadap Laron Penghisap darah untuk menteror dirinya, mereka sengaja mengatur kawanan Laron Penghisap darah agar bisa muncul dihadapan Jui Pak-hay berulang kali, semua gerakan, semua penampilan laron laron itu disesuaikan persis sama dengan berita dongeng yang banyak beredar di wilayah Siau-siang, agar Jui Pak-hay yakin dan percaya kalau dirinya telah dijadikan target dan sasaran dari si raja Laron Penghisap darah"
Sesudah berhenti sejenak, kembali lanjutnya.
"Untuk kelancaran dalam melaksanakan rencana ini, sejak tiga bulan berselang Kwee Bok menyewa ruangan di rumah penginapan Hun-lay milik Si Siang-ho dengan alasan sedang meramu sejenis obat mustajab, dia sengaja memelihara kawanan Laron Penghisap darah itu didalam rumah penginapan tersebut"
"Yaa, dalam hal ini kita nyaris dapat mengumpulkan saksi dari orang orang seluruh dusun, dia memang tidak mungkin bisa mungkir lagi"
Sela Nyo Sin.
"Tauke rumah uang Kwong-hong beserta beberapa orang karyawannya juga merupakan saksi saksi yang menguatkan"
Ko Thian-liok menambahkan.
"Telah kuselidiki dengan jelas asai usul tauke rumah uang itu"
Kata Nyo Sin cepat.
"dia hanya seorang rakyat biasa, tidak mungkin ada masalah dan dia tidak mungkin sengaja menfitnah atau menuduh Kwee Bok tanpa bukti"
"Selain itu pedagang kelinci juga merupakan saksi yang menguatkan, mereka bisa membuktikan kalau Kwee Bok pernah membeli ribuan ekor kelinci dari mereka"
Ujar Ko Thian-liok pula.
"Aku pun telah selidiki beberapa orang pedagang itu, mereka memang tidak ada masalah" --Dalam perjalanan kembali ke pengadilan, Nyo Sin, Siang Huhoa dan Tu Siau-thian dengan mengggelandang Kwee Bok sempat mampir di tempat penjualan kelinci. Beberapa orang pedagang kelinci itu serentak maju mengerubung ketika melihat kemunculan Kwee Bok, mereka semua berkata kalau telah menyiapkan berapa ratus ekor kelinci untuknya. Tentu saja Nyo Sin tidak menyia nyiakan kesempatan ini untuk memeriksa berapa orang pedagang itu. Begitu pertanyaan diajukan, dia segera mendapat tahu kalau selama ini Kwee Bok memang pernah membeli berapa ribu ekor kelinci dari tangan mereka. Langganan besar seperti Kwee Bok pasti tidak akan disia siakan setiap pedagang, mereka pasti mempunyai kesan yang dalam terhadap pelanggan besar seperti ini. Konon setiap kali membeli kawanan kelinci itu, Kwee Bok selalu berpesan wanti wanti agar mereka menutup rahasia pembelian ini. Bahkan Kwee Bok pun tidak pernah menawar harga yang diminta para pedagang, dia selalu membayar kontan dan membeli dalam jumlah besar. Baru pertama kali ini para pedagang kelinci itu bertemu dengan pelanggan seperti ini. Padahal disekitar tempat itu bukan mereka saja yang menjual kelinci, disana masih banyak terdapat pedagang lain. Sudah barang tentu mereka tidak ingin pelanggan sebagus ini jatuh ke tangan pedagang lain, maka mereka hanya melakukan transaksi dengan Kwee Bok secara diam diam dan penuh rahasia. Jual beli telah berlangsung belasan kali, tapi sejak belasan hari terakhir mereka tidak menemukan jejak Kwee Bok lagi. Padahal selama ini mereka telah persiapkan lagi berapa ratus ekor kelinci, tidak heran kalau mereka segera maju mengerubung begitu melihat kemunculan Kwee Bok. Tentu saja Nyo Sin pun tidak akan melepaskan kesempatan baik ini. Setelah melalui sederet pemeriksaan yang ketat, diketahui bahwa kawanan pedagang itu sama sekali tidak bermasalah dan tidak ada yang patut dicurigai. Para pedagang itupun tidak ada yang tahu buat apa Kwee Bok membeli begitu banyak kelinci. Ada orang yang menduga Kwee Bok mempunyai toko penjual kelinci, ada yang menduga dia adalah pedagang besar kelinci yang mengirim binatang binatang itu ke tempat lain. Bahkan ada pula yang curiga Kwee Bok membuka rumah makan dan menggunakan daging kelinci untuk memalsukan daging babi. Tentu saja dugaan dugaan mereka itu keliru besar. Dalam kenyataan kawanan kelinci itu dikirim ke rumah penginapan Hun-lay dan saban hari Si Siang-ho menghantar sepuluh ekor kelinci untuk mangsa kawanan Laron Penghisap darah yang dipelihara dalam ruang rumah penginapannya. --Nyo Sin tertawa dingin, kembali ujarnya.
"Sekarang barang bukti sudah lengkap, saksi pun sudah lengkap, tapi orang she-Kwe itu belum juga mau mengaku salah, entah rencana busuk apa lagi yang sedang dia persiapkan"
Tidak ada yang menjawab.
Rencana busuk apa yang sedang dipersiapkan Kwee Bok?
Kecuali dia sendiri, tentu saja orang lain tidak akan bisa menebaknya.
Ko Thian-liok segera mengalihkan pandangannya ke wajah Tu Siau-thian, kemudian perintahnya.
"Lanjutkan!"
Tu Siau-thian mengangguk.
"Dengan Gi Tiok-kun membantunya dari dalam, tentu saja semua rencana dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Gi Tiok-kun bukan saja mengatur jadwal pemunculan kawanan Laron Penghisap darah itu dihadapan Jui Pak-hay, bahkan setiap kali muncul dihadapan suaminya, dia selalu berlagak seolah olah dia sama sekali tidak menyaksikan sesuatu"
"Apa gunanya dia berlagak tidak melihat?"
"Agar Jui Pak-hay percaya kalau kawanan Laron Penghisap darah itu merupakan jelmaan dari setan iblis. Pada dasarnya Jui Pak-hay memang sangat takut terhadap Laron Penghisap darah, dengan ditambahnya teror seperti ini tidak heran kalau dia semakin panik dan ketidakutan, tidak heran pula jika pikirannya jadi tidak waras"
Setelah berhenti sebentar, kembali terusnya.
"Makin hari mereka menteror Jui Pak-hay semakin hebat, rasa takut Jui Pak-hay terhadap kawanan Laron Penghisap darah pun makin lama semakin menjadi. Kini bukan saja Gi Tiok-kun telah menyembunyikan kawanan Laron Penghisap darah itu didalam lemari pakaiannya, dia pun menyimpan dalam kamar tidurnya, jelas tujuannya adalah untuk semakin menakut nakuti suaminya. Lalu dengan alasan hendak mengobati penyakitnya dia mengundang kedatangan Kwee Bok, dalam perjamuan dia pun meminta Kwee Bok menjadi pihak ke tiga yang menyangkal kalau telah melihat kemunculan Laron Penghisap darah, kesemuanya ini membuat rasa percaya diri yang dimiliki Jui Pak-hay semakin runtuh. Dalam keadaan demikian tidak aneh jika pikiran Jui Pak-hay semakin kalut dan otaknya semakin tidak waras, bila seseorang sudah berada dalam keadaan yang amat ketakutan, perbuatan apa pun bisa dia lakukan"
"Ehmmm, analisa mu memang sangat masuk diakal"
"Aku yakin tujuan utama mereka adalah begitu, jika Jui Pak-hay benar benar tewas karena alasan semacam ini, sudah pasti orang lain tidak akan mencurigai mereka berdua, kalau toch ada, orang pun sulit untuk menemukan barang bukti yang bisa memberatkan tuduhan terhadap mereka"
Ko Thian-liok kembali manggut manggut.
"Jika Jui Pak-hay dianggap mati bunuh diri, pembunuhnya adalah dia sendiri, tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain"
Dia berkata.
"Sayang perhitungan manusia tidak mampu mengalahkan kehendak Thian"
"Oya?"
"Ketika Laron Penghisap darah itu muncul untuk ke dua kalinya, mereka tidak menyangka kalau Jui Pak-hay sedag mencari aku. Dengan kehadiranku ditempat kejadian, maka aku pun dapat melihat ke dua ekor Laron Penghisap darah itu, bahkan berhasil menangkap seekor diantar anya"
"Apakah kejadian ini ada pengaruhnya?"
"Tentu saja, kejadian tersebut membuktikan tentang keberadaan Laron Penghisap darah dan menumbuhkan kembali rasa percaya diri dari Jui Pak-hay, oleh sebab itu ketika Gi Tiok-kun bilang kalau dia tidak melihat kehadiran Laron Penghisap darah, Jui Pak-hay tidak percaya dengan pengakuannya, dia curiga bininya sedang berbohong. Sesungguhnya Jui Pak-hay termasuk orang yang besar rasa curiganya, bila satu ingatan sudah muncul maka dia akan mengaitkan pemikiran itu dengan masalah yang lain, akibatnya dia pun menganggap Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sebagai jelmaan dari siluman laron dan muncullah niatnya untuk menghabisi nyawa ke dua orang ini"
Semua penjelasan dia tuturkan selancar aliran air disungai Tiangkang, terusnya.
"Ketika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok menyadari akan rencana jahat Jui Pak-hay terhadap mereka, kedua orang itupun segera membatalkan rencana semula dan segera mempercepat pembunuhan itu dengan dilakukan secara langsung"
"Ehmmm, kemungkinan ini memang bisa diterima"
Tu Siau-thian berkata lagi.
"Mereka tentu tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Jui Pak-hay sangat hebat, bila harus bentrok berhadapan muka jelas mereka mencari kematian, maka bisa jadi terpaksa mereka harus gunakan Laron Penghisap darah untuk menakut nakuti Jui Pak-hay. Ketika tiba pada malam tanggal lima belas, karena secara beruntun Jui Pak-hay sudah mengalami teror selama empat belas hari, ketegangan yang kelewat puncak membuat tubuh maupun mentalnya menjadi melemah, sewaktu sadar, dia hidup layak seperti manusia biasa, tapi begitu otaknya mulai tidak waras, dia seakan berubah jadi orang yang lain, dalam benak dan bayangannya hanya ada bayangan dari Laron Penghisap darah"
Sesudah menghembuskan napas panjang, terusnya.
"Oleh karena selama ini dia selalu beranggapan bahwa raja laron bakal muncul pada malam tanggal lima belas dan kawanan laron itu pasti akan menghisap darahnya hingga kering, maka begitu dia bertemu dengan kawanan Laron Penghisap darah pada malam tersebut, semangat dan mentalnya langsung rontok"
"Bukankah kau pernah bilang bahwa pada malam itu tidak nampak ada rombongan Laron Penghisap darah yang terbang masuk ke ruang perpustidakaan?"
Sela Nyo Sin. Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"Hanya siluman dan setan iblis yang bisa masuk tembus dinding, kita toch sudah menyangkal kalau kawanan Laron Penghisap darah itu bukan siluman atau setan iblis"
"Itu berarti hanya ilusi, hanya khayalan kosong yang mengganggu pikirannya waktu itu?"
"Juga bukan begitu"
Tu Siau-thian menggeleng. Kontan Nyo Sin mendelik, tapi Tu Siau-thian tidak menggubris, dia menerangkan lagi.
"Gi Tiok-kun sudah mengetahui rahasia kekayaan yang dimiliki Jui Pak-hay, tentu saja diapun tahu ditempat mana suaminya menyembunyikan harta karun itu, bahkan bisa jadi segala alat jebakan dan perangkap yang dipasang berlapis dalam ruang rahasia itu sudah tidak bermanfaat lagi terhadap dirinya"
"Jadi dia mengetahui cara mengendalikan alat perangkap itu?"
"Aku tidak bermaksud begitu"
"Lalu apa maksudmu?"
"Dia adalah perempuan kesayangan Jui Pak-hay, menurut penilaianmu, bila dia sudah berniat mempelajari cara mengendalikan alat perangkap tersebut, setelah melewati waktu selama tiga tahun, mungkinkah usahanya itu tanpa hasil?"
"Tentu saja tidak"
"Bila dia mengetahui bagaimana caranya mengendalikan alat perangkap dalam ruang rahasia itu, otomatis Kwee Bok juga tahu akan rahasia ini. Bila dugaanku tidak keliru, bisa jadi secara diam diam Kwee Bok telah menyusup masuk ke dalam ruang perpustakaan pada malam tanggal lima belas, membuka pintu rahasia itu dan menyusup ke dalam ruang bawah tanah, ketika dia melihat kesempatan telah datang maka dia buka pintu rahasia itu dan melepaskan Laron Penghisap darah"
"Kemudian?"
"Sewaktu melihat munculnya Laron Penghisap darah didalam ruang perpustakaannya, Jui Pak-hay menyangka saat ajalnya telah tiba, waktu itu semangat maupun mentalnya sudah runtuh, peristiwa mengerikan apa lagi yang tidak bisa dia lakukan dalam keadaan begitu? Ketika seorang manusia menghadapi ancaman kematian, biasanya ada dua reaksi yang mungkin mereka lakukan"
"Reaksi yang bagaimana?"
"Kalau tidak beradu jiwa tentu berusaha melarikan diri"
"Ooh?"
"Kalau bisa beradu jiwa pasti akan beradu jiwa, kalau tidak bisa beradu jiwa tentu berusaha untuk melarikan diri, tidak terkecuali diri Jui Pak-hay. Mula-mula dia mencabut dulu pedangnya dan siap beradu jiwa, ketika melihat usahanya tanpa hasil, tentu saja dia akan berusaha untuk melarikan diri"
Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya.
"Tempat paling aman yang ada dalam ruang perpustakaan ini adalah ruang bawah tanah, sebab dia anggap disitulah dia telah persiapkan pelbagai alat perangkap yang canggih,oleh sebab itu kecuali dia tidak berusaha kabur, bila ingin melarikan diri, dia pasti akan kabur ke ruang bawah tanah, padahal disanalah Kwee Bok telah menunggunya!"
"Kehadiran pemuda itu tentu jauh diluar dugaan Jui Pakhay bukan?"
Kata Nyo Sin.
"Betul, selain diluar dugaan dia pun sedang kabur dengan tergesa-gesa, pikirannya kalut dan mentalnya runtuh, dalam kondisi seperti ini mana mungkin Jui Pak-hay bisa lolos dari sergapan Kwee Bok? Maka pada akhirnya dia pun tewas ditangan pemuda itu"
"Dengan kemampuan Kwee Bok, mana mungkin dia mampu membunuhnya?"
"Betul, kepandaian silatnya memang sangat tangguh, namun dalam kondisinya waktu itu, mungkin dia tidak jauh berbeda dengan keadaan manusia biasa"
"Dengan cara apa Kwee Bok membunuhnya?"
"Mungkin menggunakan racun, mungkin menghantam dulu kepalanya dengan benda berat kemudian baru membantainya, apa pun penyebab kematiannya, yang pasti kita tidak akan bisa menemukan bekas bekas tersebut dari atas jenasahnya"
Diam diam Nyo Sin bergidik, dia belum lupa bagaimana kondisi mayat Jui Pak-hay saat itu.
Batok kepalanya sudah berubah jadi tengkorak, tubuhnya sebagian sudah tinggal tulang belulang sebagian masih ada dagingnya namun mulai membusuk dan melelehkan cairan yang memuakkan, bagaimana mungkin mereka bisa melakukan autopsi pada sesosok jenasah yang sudah parah keadaannya?
Tu Siau-thian sendiri ikut bergidik, tapi tidak selang berapa saat kemudian dia telah berkata lagi.
"Ketika aku bersama Tan Piau dan Yau Kun berhasil menjebol pintu dan masuk ke dalam ruangan, Kwee Bok telah kabur lagi ke dalam ruang rahasia, maka kami tidak berhasil menemkan jejaknya"
Dengan suara berat dan dalam dia menambahkan.
"Mungkin inilah penyebab hilangnya Jui Pak-hay secara misterius dari dalam ruang perpustakaan pada malam tanggal lima belas"
"Kalau memang begitu, kenapa dia tidak meninggalkan saja jenasah dari Jui Pak-hay itu didalam ruang rahasia?"
Tanya Nyo Sin.
"Mungkin dia kuatir kita akan menemukan ruang rahasia itu dan menemukan juga jenasah Jui Pak-hay, karena dengan begitu penyebab kematian Jui Pak-hay segera akan terungkap"
"Maka dia cari kesempatan lagi, menunggu kalian sudah pergi dari situ, jenasah Jui Pak-hay segera diangkut keluar dari ruang bawah tanah?"
Tanya Nyo Sin. Tu Siau-thian mengangguk.
"Jika dia hanya keluarkan jenasah itu dari dalam ruang perpustidakaan, maka tidak sulit hal ini akan ketahuan orang, maka dia pun memindahkan mayat itu ke dalam ruang loteng dibelakang kamar tidur Gi Tiok-kun, dengan kerja sama perempuan itu, tentu saja semua pekerjaan dapat dia lakukan secara mudah"
"Perkampungan Ki po cay sangat luas, kenapa dia tidak memilih tempat lain saja?"
"Tempat mana yang jauh lebih rahasia daripada ruang bawah tanah itu? Kalau tempat yang begitu rahasia pun tidak dipercayai, memangnya ada tempat lain lagi yang bisa mereka pilih?"
"Buktinya kita tetap berhasil menemukan ruang loteng itu!"
"Kalau kita tidak membaca buku catatan itu lebih dulu, mungkin kita pun tidak bakal mencurigai kamar tidurnya"
"Aaah, belum tentu"
Tu Siau-thian tidak ingin berdebat, kembali dia bertanya.
"Sebelum kejadian ini, pernahkah kita menaruh curiga terhadap Gi Tiok-kun? Pernahkah kita mencurigai dia sebagai seorang pembunuh? Seorang istri yang membunuh suami sendiri?"
Mau tidak mau Nyo Sin harus menggeleng.
"Kalau Gi Tiok-kun saja tidak kita curigai, mana mungkin kita bisa menduga kalau jenasah Jui Pak-hay kemungkinan besar telah disembunyikan didalam kamar tidur mereka, mana mungkin kita bisa menyatroni tempat itu dan menemukan ruang rahasia diatas loteng?"
Sambung Tu Siau-thian cepat. Terpaksa Nyo Sin mengangguk. Setelah tertawa lebar Tu Siau-thian berkata lagi.
"Ketika kita menemukan ruangan tersebut, mungkin Kwee Bok mengira jenasah Jui Pak-hay sudah habis dilalap kawanan Laron Penghisap darah itu"
"Tapi jenasah Jui Pak-hay belum habis......"
"Disinilah dia salah perhitungan"
Tukas Tu Siau-thian.
"kesalahan ini jadi fatal karena merupakan titik terang akan terungkapnya semua misteri pembunuhan ini"
Setelah menyandarkan diri pada sebuah bangku, dia melanjutkan.
"Ketika dia sadar akan kekeliruan tersebut, waktu itu kita sudah membekuk Gi Tiok-kun"
"Padahal kalau dia sudah berencana menggunakan Laron Penghisap darah untuk melenyapkan jenasah Jui Pak-hay, kenapa tidak dia tinggalkan saja mayat tersebut di ruang bawah tanah? Dengan berbuat begitu, bukan saja dia bisa menghindari Gi Tiok-kun dari segala kecurigaan, lagipula meski dengan cepat kita berhasil menemukan ruang bawah tanah dan menjumpai pula mayat Jui Pak-hay, namun penemuan ini tidak akan berpengaruh apa apa terhadap mereka"
"Menurut dugaanku, kemungkinan besar hal ini dikarenakan tumpukan harta karun dalam ruang rahasia itu"
"Oya?"
"Mungkin Laron Penghisap darah itu atau kotoran dari makhluk itu bisa mendatangkan kerusakan atas harta karun yang ada di ruang rahasia itu"
"Ehmmm, kau bisa mengurai semua kejadian secara berurutan dan jelas, atau mungkin memang demikian rangkaian peristiwanya?"
Tanya Nyo Sin kemudian sambil mengelus jenggotnya.
"Aku hanya menduga dan menganalisanya, belum tentu kenyataan nya demikian"
"Opas Tu, analisamu memang sangat hebat!"
Puji Ko Thian-liok pula. Pelan pelan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Siang Hu-hoa, lalu sapanya.
"Saudara Siang!"
"Ko tayjin......."
Sahut Siang Hu-hoa sembari menjura. Tidak membiarkan lelaki itu berbicara, kembali Ko Thianliok menukas.
"Sewaktu masih muda dulu aku pernah berkelana dalam dunia persilatan, meski tidak terlampau lama, sesungguhnya aku masih terhitung separuh orang kangouw, oleh sebab itu kecuali berada di ruang sidang pengadilan, kau tidak usah terlalu memakai aturan"
Siang Huhoa kontan tertawa tergelak.
"Jangan kuatir, biar di ruang sidang atau diluar sidang, aku memang orang yang tidak suka berbasa basi"
Sahutnya.
"Kalau begitu kau pun tidak usah banyak adat denganku"
"Baiklah"
Ujar Siang Huhoa kemudian.
"saudara Ko ada urusan apa?' "Aku ingin bertanya kepada saudara siang, bagaimana pendapatmu atas analisa dari opas Tu itu?"
"Aku kurang setuju"
Jawab Siang Hu-hoa tanpa ragu.
"Oya?"
"Analisa dari saudara Tu memang hebat, alasannya cukup kuat dan bisa dipertanggung jawabkan, tapi sayang sudah melupakan beberapa hal"
"Silahkan diutarakan"
"Bagi seseorang yang memiliki kungfu hebat, sekalipun berada dalam keadaan kurang terkontrol pikirannya, bukan sembarangan obat racun bisa merobohkan dirinya, apalagi meracuninya hingga mati dalam waktu singkat "Mungkin saja Kwee Bok sudah mengantisipasi sampai ke situ"
Seru Tu Siau-thian.
"obat beracun yang dia gunakan pun sudah pasti bukan obat racun sembarangan"
"Kalau bukan obat racun sembarangan berarti pasti obat yang sangat lihay daya kerjanya?"
"Mungkin saja kadar racunnya sanggup menghabis nyawa Jui Pak-hay dalam waktu setengah detik"
"Kalau memang terdapat racun sehebat itu, berarti setiap waktu setiap saat dia bisa membunuh mati Jui Pak-hay, kalau bisa begitu, buat apa dia mesti repot repot menyusun segala rencana?"
"Dia toh belum pasti menggunakan obat racun"
Bela Tu Siau-thian.
"Membunuh dengan cara memukulkan benda berat keatas kepalanya jelas lebih sulit dia lakukan"
Siang Hu-hoa menerangkan.
"dalam perjalanan menuju ke kantor pengadilan tadi, secara diam diam aku telah menjajal kemampuan Kwee Bok"
"Apa yang kau temukan?"
"Dia tidak ada bedanya dengan kebanyakan orang biasa, sekalipun pernah belajar silat tidak nanti kehebatannya bisa luar biasa, padahal seharusnya kalian sudah tahu sejak dia dirobohkan oleh timpukan cincin besi milik Si Siang-ho"
"Apa lagi kesalahanku dalam analisa itu?"
Tanya Tu Siauthian kemudian.
"Jika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok adalah pembunuh Jui Pakhay, tidak ada alasan bagi mereka untuk menyimpan jenasahnya dalam ruangan diatas loteng, sebab begitu ketahuan, orang pertama yang bakal dicurigai adalah Gi Tiokkun......."
"Bukankah aku telah membeberkan alasannya tadi?"
Tukas Tu Siau-thian.
"Tapi kau tidak pernah menjelaskan tentang sesuatu"
"Soal apa?"
"Kenapa Kwee Bok mengajak kita pergi mengunjungi Si Siang-ho? Memangnya dia ingin menggali liang kubur buat diri sendiri?"
Tu Siau-thian termenung dan berpikir sejenak, kemudian ujarnya.
"Aku memang pernah memikirkan persoalan ini, menurut analisaku, sebetulnya kepergian kita ke rumah penginapan itu merupakan bagian dari skenario nya, dia ingin mencelakai Si Siang-ho, ingin menfitnah orang tersebut......bukankah antara Si Siang-ho dengan Jui Pak-hay pernah terlibat satu masalah pelik yang menimbulkan dendam pribadi? Tapi kalau dibilang Si Siang-ho yang mencelakai Jui Pak-hay....... pertama kita tidak punya bukti dan saksi, biar kita percaya pun belum tentu orang lain mau percaya"
Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Sayang hitungan manusia tidak bisa menangkan kemauan takdir, siapa pun tidak menyangka kalau akan terjadi perubahan yang diluar dugaan, bukan saja dia gagal menfitnah Si Siang-ho, malah aib sendiri yang terbongkar"
"Kalau memang benar begitu, kenapa dia lakukan sendiri semua pekerjaan itu, sedari menyewa ruangan, membeli kelinci, menghantar kelinci ke rumah penginapan semuanya dia kerjakan sendiri, apa dia tidak takut terbongkar rahasianya dikemudian hari? Bukankah tindakannya itu kelewat goblok?"
"Mungkin baru pertama kali ini dia melakukan tindak pidana dia belum mengerti bagaimana caranya menyembunyikan semua perbuatan nya, orang yang bekerja dengan suasana tegang seringkali memang tidak bisa berpikir panjang"
"Aku rasa dia termasuk orang pintar, bukankah sebelum melakukan setiap langkah rencananya, dia selalu mempertimbangkan secara masak masak? Ini sesuai dengan apa yang kau tuduhan tadi"
"Mungkin dia pun kelewat banyak berpikir sehingga tidak bisa mengontrol pikiran sendiri, akibatnya banyak melakukan tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan"
Tu Siau-thian tertawa getir.
"apakah hanya ini saja keteledoranku?"
"Ooh masih ada satu hal lagi yang jauh lebih penting"
"Soal apa?"
"Bila Kwee Bok pernah bersembunyi di dalam ruang rahasia, kenapa dia tidak musnahkan juga buku catatan serta surat wasiat yang diletidakkan Jui Pak-hay diatas meja?"
"Mungkin dia tidak memperhatikan?"
"Tidak aneh kalau dia tidak memperhatikan buku catatan itu, sebab semua catatan dituangkan dalam gulungan kertas, tapi surat wasiat itu jelas wujudnya bahkan diletidakkan ditempat yang amat mencolok"
"Mungkin waktu itu dia kelewat tegang sehingga tidak terlalu memperhatikan?"
Tu Siau-thian menghela napas panjang.
"atau dia hanya bersembunyi ditempat kegelapan dan sama sekali tidak pernah melangkah masuk ke dalam ruang rahasia"
"Jadi semuanya serba mungkin?"
Kembali Tu Siau-thian menghela napas panjang.
"Aku tahu analisaku ini memang kelewat dipaksakan"
"Aku pikir, tidak ada alasan bagi Kwee Bok untuk tidak memusnahkan surat wasiat yang dia temukan dalam ruang rahasia itu"
Kata Siang Huhoa lagi.
Sementara berbicara, sinar matanya dialihkan ke atas meja.
Ke dua pucuk surat wasiat peninggalan Jui Pak-hay terletidak diatas meja.
Walaupun disitu terdapat dua pucuk, namun isinya persis sama satu dengan lainnya, seperti apa yang pernah dikatakan Jui Pak-hay sendiri.
Sudah barang tentu Siang Hu-hoa cukup hapal dengan gaya tulisan Jui Pak-hay, Ko Thian-liok sendiri pun merasa tidak asing, ini berarti keaslian surat wasiat itu memang tidak perlu diragukan.
Setelah memperhatikan surat wasiat itu sekejap, Ko Thianliok berkata.
"Menyinggung soal surat wasiat, hal inipun terasa sangat aneh"
"Dimana letak keanehannya?"
"Didalam ke dua pucuk surat wasiat itu masing-masing disertakan selembar kertas yang mencantumkan seluruh harta kekayaan yang mmilikinya"
"Apakah kau merasa heran karena dia meiniliki begitu banyak harta?"
"Bukan, ada dua hal yang membuatku heran"
Kata Ko Thian-liok seraya menggeleng.
"Dua hal yang mana?"
"Pertama, dari begitu banyak harta kekayaan yang dia miliki ternyata tidak sepotong pun yang diwariskan kepada bininya Gi Tiok-kun"
"Selama ini dia menganggap Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sebagai jelmaan siluman yang bekerja sama ingin membunuhnya, hal ini bisa dimaklumi"
Ujar Siang Huhoa.
"Apapun analisa mu, tapi aku rasa kebangetan bila dia tidak mewariskan secuwil harta pun untuk bininya"
"Lalu apa yang kedua?"
"Tiga ahli waris yang dia pilih untuk mewarisi seluruh harta kekayaannya"
Kali ini Siang Huhoa terbungkam dan tidak berkata-kata. Terdengar Ko Thian-liok berkata lebih jauh.
"Ke tiga orang ahli waris yang dipilih adalah Liong Ong-po, Wan Kiam-peng serta Cu Hiap.....sebelum membaca isi surat wasiat itu, aku sama sekali tidak tahu akan wujud ke tiga orang itu, pun tidak pernah ada orang yang menyinggung tentang ke tiga orang itu dihadapanku, ini menunjukkan kalau mereka bertiga tidak memiliki hubungan yang kelewat akrab dengan dirinya, tapi di dalam kenyataannya sekarang, dia telah mewariskan seluruh harta kekayaannya yang begitu banyak untuk mereka bertiga"
"Bukankah kau bersahabat karib dengan Jui Pak-hay?"
Tanya Siang Huhoa.
"Aku sudah empat tahun kenal dengan dirinya"
"Dalam empat tahun ini pernahkah saudara Ko mendengar dia menyinggung tentang diriku?"
Tanya Siang Hu-hoa lagi.
"Rasanya tidak pernah"
Jawab Ko Thian-liok tanpa ragu, setelah berhenti sesaat tanyanya lagi.
"sudah berapa tahun kalian berkenalan?"
"Kalau bukan dua puluh tahun, paling tidak sudah delapansembilan belas tahunan"
Seolah terbayang kembali masa lampau, dia menghela napas panjang, lalu tambahnya.
"Ketika pertama kali berkenalan, waktu itu kami masih kanak kanak"
"Bersahabat selama banyak tahun, aku percaya kalian tentu merupakan sahabat yang sangat karib?"
"Semestinya begitu"
"Sebelum Jui Pak-hay lenyap, dia pernah menyinggung akan kehadiranmu dihadapan opas Tu, aku dengar dia pun pernah berkata bahwa kau adalah sahabat karibnya"
"Nah, terhadap seorang sahabat macam aku pun dia tidak pernah menyinggung dihadapanmu, bukankah kau pun merasa keheranan?"
Ko Thian-liok mengangguk.
"Padahal sedikitpun tidak aneh"
Ujar Siang Huhoa lagi.
"Oya?"
"Sebab sejak tiga tahun berselang, kami sudah bukan sahabat lagi"
"Tapi........"
"Sekalipun begitu"
Tukas Siang Hu-hoa.
"ketika dia menghadapi kesulitan dan hal itu kuketahui, aku tidak akan berpeluk tangan belaka, kecuali aku memang tidak tahu, kalau tidak aku pasti akan datang mencarinya"
"Kenapa?"
"Sebab dia tahu, aku bukan seorang manusia yang lupa budi"
"Jadi kau berhutang budi kepadanya?"
"Benar, hutang budi karena dia pernah selamatkan jiwaku"
Bab 22. Liong-sam kongcu. Sesudah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Sekalipun aku tidak pernah berhutang budi kepadanya, asal kami pernah berteman dan aku tahu kalau jiwanya sedang terancam bahaya maut, aku tidak nanti akan berpangku tangan belaka, kecuali kesalahan berada dipihaknya, kesalahan yang tidak berharga untuk dimaafkan"
"Aku tahu kau memang seorang pendekar sejati yang berjiwa ksatria!"
Puji Ko Thian-liok, setelah menatap Siang Huhoa dalam dalam, dia bertanya lagi.
"Sebetulnya apa yang menyebabkan kalian bermusuhan?"
"Mengenai persoalan ini, aku rasa sudah tidak ada kepentingan untuk dibicarakan lagi"
Tampik sianghu cepat.
"Apakah ada sangkut pautnya dengan kasus yang terjadi saat ini?"
"Rasanya sama sekali tidak ada hubungan"
"Kalau memang begitu tidak perlu diungkap lagi....... Aku bukan termasuk orang yang suka mendengarkan rahasia orang lain"
"Aku pun tidak suka membongkar rahasia orang lain"
Ko Thian-liok manggut-manggut sambil tertawa, dia segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, tanyanya.
"Apakah Liong Giok-po, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap termasuk juga sahabat sahabat Jui Pak-hay?"
"Sama sekali bukan, oleh sebab itu bukan satu kejadian yang aneh bila dia tidak pernah menyinggung tentang ke tiga orang itu sewaktu berada dihadapanmu"
"Apakah antara mereka dengan Jui Pak-hay punya hubungan saudara atau famili?"
Kembali Ko Thian-liok bertanya.
"Antara mereka dengan Jui Pak-hay sama sekali tidak ada hubungan saudara maupun famili"
"Aneh"
Seru Ko Thian-liok keheranan.
"kalau toch bukan sanak bukan saudara, kenapa Jui Pak-hay mewariskan seluruh harta kekayaannya yang luar biasa itu kepada mereka bertiga?"
Siang Hu-hoa membungkam, seolah dia tidak tahu bagaimana mesti menjawab.
"Jadi kaupun tidak tahu?"
Desak Ko Thian-liok. Tiba-tiba Siang Huhoa menghela napas panjang, katanya.
"Aku tahu!"
"Karena apa?"
"Dia berbuat demikian untuk menebus dosa-dosanya!"
"Kalau begitu dulu dia pernah melakukan perbuatan yang sangat merugikan ke tiga orang itu?"
Meski tidak menjawab, tampaknya Siang Huhoa mengakui akan hal itu.
"Sebetulnya apa yang telah terjadi?"
Tanya Ko Thian-liok lebih jauh.
"Aku rasa persoalan itu sama sekali tidak ada hubungan dengan soal kematiannya"
"Jadi kau tidak berniat membeberkannya?"
Siang Huhoa membenarkan. Setelah termenung sebentar kembali Ko Thian-liok berkata.
"Kalau dilihat dari kerelaannya menyerahkan harta kekayaan sebesar itu kepada mereka bertiga, nampaknya kejadian di masa lampau merupakan satu kejadian yang besar dan amat serius"
Siang Huhoa tetap tidak menjawab.
"Mereka pasti amat membenci Jui Pak-hay hingga merasuk ke tulang sumsum"
Lanjut Ko Thian-liok. Siang Huhoa tetap bungkam seribu bahasa. Mendadak Ko Thian-liok bertanya.
"Apakah selama ini mereka tidak pernah melakukan tindak pembalasan dendam terhadap Jui Pak-hay ?"
"Menurut apa yang kuketahui, rasanya tidak pernah"
"Tentu mereka tidak berani balas dendam karena kepandaian silat yang dimiliki Jui Pak-hay sangat hebat, biarpun tidak melakukan sesuatu tindakan, dalam hati kecil mereka pasti selalu berpikir bagaimana caranya membalas dendam"
"Itu sih lumrah, setiap manusia pasti berbuat begitu"
"Mungkin kematian Jui Pak-hay ada hubungannya dengan mereka?"
"Aku rasa tidak ada"
Siang Hu-hoa segera menggeleng.
"Dengan dasar apa kau mengatidakan tidak ada?"
"Sebab kejadian itu sendiri merupakah satu misteri, mungkin sampai sekarang pun mereka bertiga belum tahu duduk persoalan yang sebenarnya"
"Mungkin? Berarti kau sendiripun tidak yakin?"
"Aku hanya manusia biasa, bukan dewa yang tahu segalanya....."
"Dulu mungkin misteri yang penuh rahasia, tapi sekarang toch sudah bukan rahasia lagi"
"Sekalipun begitu, aku yakin peristiwa yang menyangkut Laron Penghisap darah sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka"
"Kau yakin?"
"Jika ingin mencelakai Jui Pak-hay, sesungguhnya mereka tidak perlu berbuat demikian"
"Maksudmu mereka pun memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh sehingga tanpa cara cara seperti itupun mereka masih sanggup menghabisi nyawa Jui Pak-hay?"
"Benar"
Siang Hu-hoa mengangguk.
"menurut penilaianku, gabungan dari Wan Kiam-peng dan Cu Hiap pun sudah lebih dari cukup untuk membuat Jui Pak-hay mati kutu"
"Bagaimana dengan Liong Giok-po?"
"Dengan kemampuannya seorang sudah lebih dari cukup untuk merobohkan Jui Pak-hay!"
"Benarkah Liong Giok-po begitu hebat?"
Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.
"Jadi kau meragukan perkataanku?"
"Bukan, bukan meragukan, aku hanya heran dan tidak habis mengerti"
Sahut Ko Thian-liok sambil menggeleng.
"setahu ku, Jui Pak-hay adalah seorang tokoh silat yang luar biasa hebatnya"
"Liong Giok-po justru merupakan jago tangguh diantar a jago tangguh pada umumnya"
"Apa? Aku belum pernah mendengar tentang orang ini"
Seru Ko Thian-liok.
"Aku pun belum pernah"
Tu Siau-thian ikut menimbrung.
"Tentunya kalian pernah mendengar tentang Liong-sam kongcu bukan?"
Tiba-tiba Siang Huhoa bertanya. Berubah hebat paras muka Ko Thian-liok. Paras muka Tu Siau-thian turut berubah, serunya tertahan.
"Liong-sam kongcu dari Kanglam?"
"Benar"
"Apa hubungan Liong Giok-po dengan Liong-sam kongcu?"
"Liong Giok-po itu tidak lain adalah Liong-sam kongcu!"
Jelas Siang Huhoa. Seketika itu juga Tu Siau-thian berdiri tertegun, untuk sesaat dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Konon kekayaan yang dimiliki Liong-sam kongcu merupakan yang terbanyak di wilayah Kanglam, ilmu silatnya juga menjagoi seluruh dunia persilatan?"
Tanya Ko Thian-liok.
"Apa yang tersiar selama ini memang merupakan sebuah kenyataan"
"Aku dengar dia pernah mengalahkan secara beruntun tujuh pendekar paling ampuh di wilayah Kanglam hanya dengan mengandalkan tangan kosong belaka......"
"Bukan tujuh, tapi sembilan orang!"
Siang Hu-hoa meralat.
"Malah aku dengar dua orang diantaranya baru saja dikalahkan olehnya belum lama ini"
"Betul, si cambuk emas Luci Sim dikalahkan dia pada tiga tahun berselang, sementara Tok Tongcu si bocah beracun malah keok ditangannya setahun berselang"
"Aku tidak sempat mendengar berita apa apa tentang dunia persilatan, termasuk dua kejadian besar ini"
Ujar Ko Thian-liok sambil gelengkan kepala dan tertawa.
"tampaknya sudah tiga empat tahun lamanya aku tidak mencampuri urusan dunia kangouw lagi"
"Sudah pasti begitu keadaannya, sekarang saudara Ko lebih konsentrasi ke bidang pemerintahan, tentu urusan negara yang kau perhatikan, sebaliknya bila kau masih berkecimpungan dalam dunia persilatan, biar tidak bertanya pun pasti ada orang yang memberitahukan hal ini kepadamu"
"Dari sepuluh orang jago tangguh dunia persilatan, ada sembilan orang diantaranya pernah kalah di tangannya, ini berarti tinggal satu orang yang belum pernah dikalahkan, kalau ingatanku tidak keliru semestinya dia adalah Siang to bu tek (sepasang golok tanpa tanding) Be Tok-heng bukan?"
"Daya ingat mu ternyata masih hebat juga!"
"Aku yakin cepat atau lambat dia pasti akan menyatroni Be Tok-heng"
"Bukan pasti, malah sudah dia satroni!"
"Apakah dia sudah tewas ditangan Be Tok-heng?"
"Dia mencari Be Tok-heng jauh sebelum berhasil mengalahkan Luci Sim!"
"Ooh, apakah Be Tok-heng menolak untuk bertarung melawannya?"
"Bukan menolak, Be Tok-heng ingin melayani tantangan itupun tidak nanti bisa terjadi"
"Kenapa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Sewaktu dia menemukan Be Tok-heng, waktu itu kondisi Be Tok-heng sudah payah, dia ibarat setengah orang mampus"
"Oya?"
"Waktu itu Be Tok-heng sedang berbaring sakit diatas pembaringannya"
"Parah sekali sakitnya?"
"Yaa, berat sekali, malah konon tidak lama sepeninggal Liong Giok-po, dia menghembuskan napasnya yang terakhir, mati lantaran sakit"
"Bukankah dengan begitu Liong Giok-po benar-benar telah menjagoi wilayah Kanglam seorang diri?"
"Seandainya dalam wilayah Kanglam hanya terdapat sepuluh orang jago tangguh, semestinya memang begitu keadaannya"
"Bagaimana dengan kungfu yang dimiliki Jui Pak-hay? Bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaian silat yang dimiliki ke sepuluh orang jago dari wilayah Kanglam?"
Tanya Ko Thian-liok lebih jauh.
"Aku rasa kepandaian mereka berimbang!"
"Kalau hal itu merupakan kenyataan, bukankah Liong Giokpo dapat membunuh Jui Pak-hay dengan sangat mudah?"
"Itulah sebabnya aku berkata begitu tadi!"
"Tapi sampai hari ini toch sudah selisih tiga tahunan, siapa tahu Jui Pak-hay telah melatih diri habis habisan hingga ilmu silat yang dimilikinya sekarang sudah jauh lebih tangguh dan hebat lagi?"
"Kemungkinan seperti ini memang ada"
"Bukan Cuma mungkin, bahkan besar sekali kemungkinan ini, ilmu silat yang dimilikinya tentu sudah jauh diatas kemampuan Liong Giok-po"
"Maksudmu kungfu yang dimiliki Jui Pak-hay benar benar telah mencapai taraf dimana Liong Giok-po harus menggunakan rencana yang licik untuk bisa menghabisi nyawanya?"
Ko Thian-liok mengangguk tanda membenarkan.
"Aku tidak berani mengatidakan iya"
Sahut Siang Hu-hoa kemudian.
"karena aku tidak melihat ada kemungkinan seperti itu"
"Bisa jadi Liong Giok-po berbuat demikian diluar sepengetahuanmu, karena dia tahu kau adalah sahabat karib Jui Pak-hay, dia kuatir bila rencana pembunuhan ini kau ketahui maka dia bisa tewas diujung pedangmu, karenanya semua rencana dilakukan secara diam diam dan sembunyi"
Siang Hu-hoa tidak menjawab. Kembali Ko Thian-liok berkata.
"Mengenai harta kekayaan yang dimiliki Jui Pak-hay....... mungkin saja dia tidak punya waktu untuk membawanya pergi, atau dia sudah membaca isi surat wasiat peninggalan Jui Pak-hay, tahu kalau cepat atau lambat sebagian dari harta kekayaan itu akan jatuh ke tangannya, maka dia sama sekali tidak menyentuhnya"
"Bukankah ke dua pucuk surat wasiat itu disegel dengan lilin api?"
"Segel itu tampak baru, padahal ke dua pucuk surat wasiat itu bukan ditulis pada saat yang bersamaan"
"Tentang hal ini aku pun sudah memperhatikan"
Siang Huhoa mengangguk, tanpa terasa sorot matanya dialihkan kembali ke atas ke dua pucuk surat wasiat itu.
Biarpun isi surat kedua pucuk surat wasiat itu sama dan persis, kertas serta sampul surat yang digunakan pun sama, namun bila diperhatikan dari gaya tulisannya, dengan jelas dapat dibedakan bahwa ke dua pucuk surat itu bukan ditulis pada saat yang sama, paling tidak pasti selisih sekian hari.
"Kemungkinan besar surat wasiat pertama ditulis oleh Jui Pak-hay pada awal bulan tiga, bisa jadi saat itulah Liong Giokpo sudah mencuri lihat isi surat tersebut"
"Bila Liong Giok-po bisa mencuri lihat isi surat wasiat itu, berarti Kwee Bok serta Gi Tiok kun pun dapat mencuri lihat isi surat itu"
Kata Siang Huhoa.
"Bila ke dua pucuk surat wasiat itu masih tetap ada, tidak disangkal itulah alasan yang paling baik bagi Kwee Bok dan Gi Tiok-kun untuk membunuh Jui Pak-hay" 'Tapi kenyataannya ke dua pucuk surat itu tidak dimusnahkan"
"Maka dari itulah kemungkinan keterlibatan Liong Giok-po dalam kasus pembunuhan ini tidak lebih enteng ketimbang mereka berdua"
"Jangan lupa, masih ada Cu Hiap dan Wan Kiam-peng"
"Benar!"
"Kalau sesuai dengan perkataanmu itu, berarti termasuk diriku pun patut dicurigai"
Ujar Siang Hu-hoa tiba tiba. Ko Thian-liok tertegun, dia tidak mengerti apa maksud perkataan itu. Terdengar Siang Huhoa berkata lebih lanjut.
"Bukankah didalam surat wasiat itu tercantum dengan jelas bahwa setelah kematian Jui Pak-hay, maka seluruh harta kekayaan milikinya dibagi rata antara Cu Hiap, Wan Kiampeng dan Liong Giok-po, bila ke tiga orang itu sudah mati maka harta kekayaan itu diwariskan kepada anak cucu mereka, bila mereka bertiga tidak memiliki anak cucu maka seluruh harta kekayaan itu akan diberikan kepadaku?"
"Dalam surat wasiat itu memang Jui Pak-hay berkata demikian, tapi sampai sekarang Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiam-peng toch tetap sehat walafiat dan tidak kekurangan sesuatu apa pun?"
"Darimana kau bisa tahu kalau mereka masih sehat?"
Ko Thian-liok melengak, sesaat kemudian dia baru menjawab.
"Itu hanya dugaanku, aku sendiri memang tidak tahu secara pasti"
"Bukankah baru malam ini kau mengetahui nama nama seperti Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiam-peng?"
"Benar, aku hanya mendengar nama mereka bertiga"
Ko Thian-liok mengangguk.
"Oleh sebab itu kau sama sekali tidak yakin apakah sampai sekarang mereka bertiga tetap sehat wal'afiat atau tidak?"
Mau tidak mau terpaksa Ko Thian-liok harus mengangguk. Pelan-pelan Siang Huhoa berkata lebih jauh.
"Sekarang aku hanya berharap mereka bertiga tetap aman sentausa, selamat dan tidak kekurangan sesuatu apa pun, sebab kalau tidak maka kecurigaan terhadap diriku akan semakin bertambah besar"
Ko Thian-liok termenung berpikir sebentar, kemudian katanya.
"Ehmm, kalau tadi aku sangat setuju dengan jalan pemikiran serta analisa dari opas Tu, tapi sekarang, kelihatannya aku harus mempertimbangkan kembali keputusanku"
"Apakah tayjin curiga kematian Jui Pak-hay ada sangkut pautnya dengan Liong Giok-po, Cu Hiap serta Wan Kiampeng?"
Tanya Tu Siau-thian.
"Kita tidak kuatir ada seribu kasus tapi justru kuatir bila terjadi hal yang diluar dugaan......"
"Bukankah barang bukti dan saksi yang memperberat tuduhan atas diri Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sudah lebih dari cukup?"
Tanya Tu Siau-thian.
"Justru karena lebih dari cukup, aku malah kuatir"
"Aaah, masa ada kejadian yang begitu kebetulan?"
Seru Tu Siau-thian kurang sependapat.
"Maka dari itulah aku curiga kalau dibalik kesemuanya ini terselip hal hal yang diluar dugaan siapa pun"
Nyo Siri yang selama ini hanya membungkam, kini tidak tahan lagi, mendadak timbrungnya.
"Jadi menurut tayjin apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menyelesaikan kasus ini?"
"Pertama kita harus menemukan Liong Giok-po, Wan Kiampeng dan Cu Hiap terlebih dulu sebagai pewaris harta kekayaan itu, kita selidiki mereka apakah tersungkut dengan pembunuhan atas diri Jui Pak-hay atau tidak, kemudian baru mengambil keputusan"
"Bukankah dengan demikian kita harus membuang waktu berhari hari lagi?"
Seru Nyo Sin tidak sependapat. Yaaa, apa boleh buat, mau tidak mau terpaksa kita harus berbuat begitu"
Ucap Ko Thian-liok sambil menghela napas. Ia berpaling ke arah Siang Huhoa, lalu tanyanya.
"Saudara Siang tentu kenal dengan mereka bertiga bukan?"
"Kebetulan saja pernah bersua satu kali"
"Pernah bertemu dengan mereka bertiga?"
"Yaa, semuanya hanya pernah bersua satu kali"
"Kalau begitu kalian saling tidak kenal?"
Siang Huhoa mengangguk.
"Tidak masalah"
Kata Ko Thian-liok lagi.
"asal saudara Siang tahu alamat tempat tinggal mereka, itu sudah lebih dari cukup"
"Walaupun alamat mereka yang sejelasnya tidak kuketahui, namun sebagai orang kenamaan rasanya tidak susah untuk mencari keterangan dari tetangga sekitarnya"
"Tentang kasus ini, apakah saudara Siang masih mempunyai pandangan tambahan?"
"Rasanya sudah tidak ada lagi"
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan?"
Kembali Ko Thian-liok bertanya.
"Tetap tinggal disini hingga seluruh kasus ini terungkap"
"Bagus sekali"
Seru Ko Thian-liok, setelah manggutmanggut kembali ujarnya.
"aku rasa kasus ini tidak sederhana, untuk bisa mengungkap seluruh teka teki dibalik kejadian ini, kami masih membutuhkan bantuan saudara Siang, khususnya dalam soal kepandaian silat serta kecerdasan"
"Saudara Ko terlalu menyanjung"
Kembali Ko Thian-liok tertawa.
"Kami mempunyai banyak kamar disini, bagaimana kalau untuk sementara saudara siang tinggal disini saja?"
"Rumah pejabat terlalu ketat penjagaannya, tidak leluasa untuk keluar masuk, aku rasa lebih baik tinggal di luar saja"
"Lalu saudara siang hendak tinggal dimana?"
"Perkampungan Ki po cay!"
"Ooh...?"
"Aku berniat sekali lagi melakukan penyelidikan dan pemeriksaan dalam perkampungan itu"
"Kau takut masih ada tempat yang kelewatan dalam pemeriksaan hari ini?"
"Biasanya pemeriksaan yang dilakukan secara tergesa-gesa akan meninggalkan banyak tempat yang tidak sempat ditinjau"
"Baiklah kalau begitu, bila menemukan sesuatu harap segera menghubungi kami"
"Tentu saja"
"Bila aku membutuhkan bantuanmu, pasti akan kuutus orang ke perkampungan Ki po cay untuk mencari dirimu"
"Bila tidak bertemu aku, tinggalkan saja pesan pada Jui Gi"
"Bagaimana kalau aku tinggalkan Yau Kun untuk melayani kepentinganmu?"
Sela Tu Siau-thian tiba-tiba.
"Tidak usah"
"Aaah, betul, ide opas Tu memang sangat bagus"
Seru Ko Thian-liok pula.
"harus ada orang yang melayani keperluan saudara Siang"
"Soal ini.......""
"Saudara Siang tidak usah menampik lagi"
Cepat Tu Siauthian memotong. Akhirnya Siang Hu-hoa mengiakan, dia memang bukan lelaki yang suka banyak bicara. Setelah hening sesaat, mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia bertanya lagi.
"Bagaimana dengan Kwee Bok dan Gi Tiok-kun? Sekarang mereka ada dimana?"
"Sudah kukirim mereka berdua ke dalam penjara besar"
Jawab Nyo Sin cepat.
"Penjara besar?"
"Penjara besar adalah tempat untuk mengurung tawanan tawanan penting, bukan saja penjagaan sangat ketat bahkan dijaga oleh jago jago tangguh, malah aku telah tempatkan tambahan dua penjaga khusus didepan pintu mereka berdua"
"Dua penjaga khusus? Siapa mereka?"
Tiba-tiba Ko Thianliok bertanya.
"Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei!"
"Lagi lagi mereka berdua!"
Keluh Ko Thian-liok.
"Mereka terhitung lumayan juga"
Bela Nyo Sin.
"Hebat dalam soal minum arak?"
Sindir Ko Thian-liok.
"Tapi ilmu golok mereka pun terhitung hebat........"
Ucap Nyo Sin tergagap.
"Sayangnya kalau sudah minum arak, tenaga untuk menggenggam golok pun sudah tidak dimiliki"
"Sudah kuturunkan perintah untuk melarang mereka minum arak"
"Menurut apa yang kuketahui, kedua orang ini termasuk orang yang pelupa"
"Tapi kali ini aku percaya mereka pasti akan mengingatnya terus"
"Moga-moga saja begitu"
Kata Ko Thian-liok, kemudian setelah gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya lebih jauh.
"Sekali minum arak, Thio toa-cui pasti akan minum sampai mabuk, sementara Oh Sam-pei ujian mabuk dalam tiga cawan, bukan satu dua kali mereka berdua menyusahkan orang dan bikin urusan berantakan"
"Tapi mereka........."
Nyo Sin semakin tergagap.
"Aku tahu mereka adalah sahabat karibmu, tapi urusan dinas tetap dinas urusan pribadi kembali ke pribadi, masa kau masih belum bisa membedakan mana urusan dinas dan mana urusan pribadi?"
Tayjin tidak usah kuatir, Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sudah dijebloskan ke dalam penjara besar, biar mereka punya sayap pun jangan harap bisa kabur dari situ"
"Bagaimana kalau mereka berubah menjadi laron dan terbang pergi dari sana?"
Tanya Ko Thian-liok tiba-tiba.
Berubah hebat paras muka Nyo Sin.
Paras muka Siang Hu-hoa dan Tu Siau-thian turut berubah hebat, ditengah malam buta begini, perkataan Ko Thian-liok memang mendatangkan perasaan seram yang luar biasa.
Untuk sesaat suasana pun jadi hening, sepi dan tidak kedengaran suara apapun.
Sampai lama kemudian Tu Siau-thian baru memecahkan keheningan, katanya.
"Tayjin, apakah kau pun beranggapan bahwa mereka berdua adalah jelmaan dari siluman laron?"
"Aaai, benar atau bukan, aku sendiripun tidak yakin"
Sahut Ko Thian-liok sambil menghela napas panjang. Siapa yang bisa menjawab secara pasti akan pertanyaan itu? Kembali Ko Thian-liok menghela napas panjang, katanya lagi.
"Lebih baik kita percaya kemungkinan itu daripada sama sekali tidak mempercayainya, sebelum semua masalah terungkap, sementara waktu kita anggap saja mereka berdua memang jelmaan dari siluman laron"
Tu Siau-thian dan Nyo Sin serentidak mengangguk. Siang Hu-hoa sendiripun tidak memberi pernyataan apapun.
"Maka dari itu sekarang aku mulai agak kuatir"
Ujar Ko Thian-liok lagi.
"Apa yang tayjin kuatirkan?"
"Kuatir mereka benar benar berubah jadi laron dan terbang keluar melalui jendela"
Sahut Ko Thian-liok sambil bergidik. Paras muka Tu Siau-thian ikut berubah hebat.
"Maksud tayjin, kau akan menengok ke dalam penjara sekarang juga?"
Tanyanya.
"Benar!"
"Aku pun punya maksud begitu"
Ko Thian-liok segera berpaling ke arah Siang Huhoa sambil bertanya.
"Bagaimana pendapat saudara Siang?"
"Tidak ada salahnya kita pergi ke sana. Bab 23. Terancam bahaya. Dengan cepat Ko Thian-liok beranjak pergi diikuti Siang Huhoa. Tentu saja Tu Siau-thian tidak mau ketinggalan, tapi baru saja dia mengayunkan langkah kakinya, Nyo Sin telah menarik tangannya. Dengan keheranan Tu Siau-thian berpaling ke arah komandannya, tampak Nyo Sin memegangi lengan kanannya tanpa bersuara, mimik mukanya kelihatan sangat aneh. Baru saja dia ingin mengajukan pertanyaan, Nyo Sin telah menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak usah banyak bertanya. Siang Hu-hoa maupun Ko Thian-liok tidak memiliki sepasang mata di belakang kepalanya, tentu saja mereka tidak tahu apa gerangan yang telah terjadi di belakang mereka berdua. Saat itu seluruh perhatian mereka hanya ingin secepatnya tiba di penjara besar untuk melihat keadaan, karena itu tidak ada yang menggubris ulah Nyo Sin berdua. Menunggu bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap dari pandangan, Nyo Sin baru tertawa dingin tiada hentinya.
"Komandan........"
Tidak tahan Tu Siau-thian menegur.
"Hmmm, kuanjurkan kau segera merubah panggilanmu kepadaku"
Tukas Nyo Sin sambil mendengus dingin.
"Komandan, apa maksudmu?"
"Kau masih belum mengerti?"
"Tidak, aku tidak mengerti"
"Bukankah selama ini Yau Kun selalu mendampingimu ke manapun kau pergi?"
"Benar"
"Apakah dia anak buahmu?"
"Benar"
"Lalu siapa yang menjadi atasanmu?"
"Tentu saja dirimu"
"Jadi semestinya kau ikuti perintahku bukan?"
"Benar"
"Sebelum mengambil keputusan apapun seharusnya kau minta persetujuanku lebih dulu bukan?"
"Benar"
"Bagaimana dengan Yau Kun?"
"Tentu saja harus seijinmu"
"Ketika kau mengutus dia untuk menemani Siang Hu-hoa tadi, apakah sudah minta ijin kepadaku?"
Begitu mengetahui duduknya persoalan, Tu Siau-thian segera menghela napas panjang, cepat ujarnya.
"Komandan, kau salah paham"
"Salah paham?"
"Maktu itu aku harus menggunakan peluang dengan sebaik baiknya, karena itu tidak sempat berkonsultasi dulu dengan komandan"
"Jadi kau punya tujuan lain?"
"Benar"
Kemudian sambil merendahkan suaranya dia berbisik.
"aku sengaja mengirim Yau Kun untuk melayaninya bukan lantaran ingin membantu Siang Hu-hoa, tapi secara diam diam mengawasi gerak geriknya"
"Jadi kau mencurigai dia?"
Seru Nyo Sin tertegun.
"Aku selalu berpendapat bahwa ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan terhadap kita"
"Tampaknya rasa curigamu jauh lebih besar ketimbang aku?"
"Banyak curiga bukan termasuk sifat yang buruk, apalagi terlepas bagaimana hasil pengamatan kita nanti, hal ini tidak akan mendatangkan kerugian apa apa baginya, kalau memang terbukti tidak ada yang patut dicurigai, dia toch tidak rugi apa apa"
"Ehmmm, tampaknya caramu memang bagus"
Nyo Sin manggut manggut.
"kalau begitu apa lagi yang kau tunggu, ayoh jalan!"
Sembari beranjak dari tempat semula, katanya lagi.
"Kalau kita tidak segera menyusul, tayjin akan mengira kita telah menjumpai sesuatu kejadian"
"Sekarang aku justru menguatirkan satu hal"
Kata Tu Siauthian sambil menyusul di belakang komandannya.
"Soal apa?"
"Keselamatan dari Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei"
"Kenapa dengan mereka berdua?"
"Jika Gi Tiok-kun dan Kwee Bok benar benar adalah jelmaan siluman laron, berarti keselamatan jiwa Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei sedang terancam bahaya maut"
Baru selesai perkataan itu diucapkan, Nyo Sin sedah mempercepat langkahnya menuju ke arah penjara.
Waktu itu malam sudah larut, tampak rembulan memancarkan cahayanya yang lembut menembusi kegelapan.
Sewaktu keluar dari ruangan, paras muka Nyo Sin nampak putih memucat, pucat bagaikan mayat.
Cahaya rembulan menyinari pula penjara besar, sinar yang putih memucat menembus ke dalam ruang penjara melalui jendela.
Dalam ruang penjara terdapat lentera, dua buah lentera tergantung masing masing didinding sebelah kiri dan dinding sebelah kanan.
Penjara besar berdinding hitam itu mempunyai dua puluh buah sel yang terbagi dua, sepuluh buah ruangan sel berada disisi kiri dan sepuluh ruangan di sisi kanan.
Kini, didalam ruang penjara yang begitu luas hanya terdapat dua orang hukuman, Kwee Bok dan Gi Tiok-kun.
Mereka berdua masing masing dikurung dalam ruang sel pertama, satu diruang kiri dan satu lagi di ruang kanan.
Dalam ruang penjara terdapat pula sebuah pembaringan kayu, sebuah meja dan sebuah bangku.
Sementara pembaringan kayu beralaskan seprei yang agak kusam, sebuah teko air teh dan dua buah cawan diletakkan diatas meja.
Penjara besar memang khusus digunakan untuk mengurung narapidana kelas berat, tidak heran kalau pelayanan terhadap mereka pun sedikit lebih istimewa.
Kalau narapidana di penjara biasa, mereka masih punya kesempatan untuk menghirup udara bebas, berbeda dengan mereka yang dijebloskan ke dalam penjara besar, biasanya mereka hanya tersedia satu jalan.
Terhadap narapidana yang bakal dihukum mati, apa salahnya kalau diberi pelayanan yang lebih istimewa, toch keadaan seperti ini biasanya tidak akan berlangsung terlalu lama.
Kwee Bok dan Gi Tiok-kun tidak duduk diatas pembaringan, mereka berdua duduk ditepi meja, sikap maupun wajah mereka nampak kaku, dungu dan layu.
Mereka pun tidak saling berpandangan muka.
Kwee Bok sedang mengawasi atap penjara, sementara Gi Tiok-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, entah apa yang sedang mereka pikirkan.
Sudah cukup lama mereka duduk dalam posisi seperti ini......
Malam sudah semakin larut, tapi mereka belum juga bergeming, apakah mereka akan lewatkan malam pertama di penjara ini dengan duduk mematung?
Lampu lentera digantung di sudut kiri dan kanan pintu masuk penjara, biarpun merupakan lampu lentera yang cukup besar, namun sinar yang terpancar keluar tidaklah terlalu terang.
Tentu saja suasana di dalam ruang penjara jauh lebih gelap, suram dan menyeramkan.
Cahaya lampu tidak pernah bergeser, yang bergeser justru cahaya yang terpancar dari rembulan di udara.
Cahaya putih kepucat pucatan itu pada akhirnya bergeser dan menerobos masuk ke dalam ruang penjara, menyinari tubuh Gi Tiok-kun yang putih mulus.
Seluruh tubuh Gi Tiok-kun seakan telah dilapisi oleh selapis cahaya putih yang menggidikkan hati.
Cahaya itu membuat tubuh perempuan itu berubah bagaikan pualam, seakan sama sekali tidak memancarkan hawa kehidupan.
Diwaktu biasa pun Gi Tiok-kun sudah nampak dingin membeku, apalagi dalam suasana begini, dia ibaratnya sukma gentayangan yang baru kabur dari alam baka.
Masih untung wajahnya amat cantik, maka kendatipun hati kecilnya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, seringkali Thio Toa-cui masih curi curi melirik perempuan itu, tidak terkecuali Oh Sam-pei.
Disisi pintu masuk penjara besar terdapat pula sebuah meja dengan beberapa buah bangku.
Diatas meja pun terdapat sebuah poci air teh, tidak ada guci arak.
Ke dua orang itu benar-benar duduk disitu dengan penuh sopan dan tahu aturan, yang aneh mereka tidak ada rasa kantuk, pun tidak pernah bicara biar sepatah kata pun.
Dari kejauhan sana terdengar suara kentongan berbunyi lamat lamat.......
"Aah, sudah kentongan ke dua!"
Tiba tiba Thio toa-cui berbisik.
"Ehmm!"
Sahut Oh Sam-pei.
"Siau-Oh, apakah kau sedang memperhatikan perempuan dari marga Gi itu?"
Bisik Thio Toa-cui lirih.
"Aku.........."
Baru sepotong kata meluncur keluar dari mulutnya, Thio Toa-cui sudah menghardik lagi, tentu saja dengan suara lirih.
"Jangan keras keras, bicaralah perlahan sedikit"
"Baiklah"
Sahut Oh Sam-pei setengah berbisik.
"selama ini aku memang selalu memperhatikan gerak geriknya"
"Apakah kau tidak menemukan sesuatu yang istimewa pada dirinya?"
"Tidak, dan kau?"
"Juga tidak"
Thio Toa-cui menggeleng.
"Menurut Lo-Nyo, dia adalah jelmaan dari siluman laron, tapi sudah sekian lama kita perhatikan gerak geriknya, namun dia tidak menunjukkan gejala yang aneh, jangan jangan Nyo tua salah menilai?"
"Aku rasa tidak begitu, apakah dia jelmaan siluman atau bukan, tidak mungkin bisa kita pecahkan hanya mengandalkan pengetahuan yang kita miliki"
Setelah berhenti sejenak, kembali katanya.
"Biarpun dia tidak nampak istimewa, namun dibawah pancaran sinar rembulan terasa hawa siluman menyelimuti tubuhnya"
"Aku tidak pernah berharap hal itu menjadi sebuah kenyataan"
Bisik Oh Sam-pei dengan badan menggigil.
"Oya?"
"Jika dia benar benar jelmaan dari siuman laron, kita bakal celaka"
"Bagaimana mungkin bisa celaka?"
"Kecuali dia tidak muncul dari bentuk aslinya, kalau tidak, darah kita berdua pasti akan dihisapnya hingga kering"
Thio Toa-cui bersin berulang kali, tidak kuasa hawa bergidik muncul dari dasar hatinya, biarpun hatinya sudah mulai menciut namun diluar ia tetap berlagak sok.
"Kenapa mesti takut?"
Serunya.
"bukankah kita membawa golok tajam"
Tanpa terasa tangannya mulai meraba diatas gagang goloknya.
"Aku dengar bangsa setan atau iblis atau siluman sama sekali tidak tidakut menghadapi golok atau senjata tajam apa pun"
Kata Oh Sam-pei sembari menggeleng. Kini paras muka Thio Toa-cui sudah berubah jadi hijau membesi, dia melirik sekejap ke arah perempuan dalam ruang sel itu, kemudian setelah tertawa paksa katanya.
"Untung kita masih cukup waktu untuk melarikan diri"
Sekali lagi Oh Sam-pei menghela napas panjang.
"Aaai..... tampaknya lagi lagi kau melupakan satu hal"
"Soal apa?"
"Untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, lo-Nyo telah menggembok pintu penjara dari luar"
Paras muka Thio Toa-cui berubah makin memuat, tapi sejenak kemudian, seakan teringat akan sesuatu, ujarnya lagi.
"Untung diluar sana ada penjaganya"
"Tapi sewaktu penjaga diluar sana berhasil membuka pintu dan masuk kemari untuk menolong kita, cairan darah dalam tubuh kita mungkin sudah habis dihisap olehnya"
Oh Sam-pei menarik napas panjang. Sekarang Thio Toa-cui baru mengerti apa yang dimaksud rekannya, dengan suara gemetar tegurnya.
"sialan, kau lagi ngoceh apaan?"
"Aku pun berharap apa yang barusan kukatakan bukan ocehan belaka....."
Sekali lagi Thio Toa-cui bersin berulang kali, untuk kesekian kalinya dia mencuri lihat Gi Tiok-kun.
Dibawah sinar rembulan hawa siluman yang menyelimuti tubuh Gi Tiok-kun nampak makin lama semakin menebal, sekarang perempuan itu kelihatan jauh lebih menyeramkan lagi, seperti peri yang muncul dari dalam neraka......
Tangan Thio Toa-cui yang menggenggam gagang golok mulai gemetar keras, bahkan nada suara nya pun ikut gemetar keras.
"Tampaknya dia segera akan tampil pada wujud aslinya........"
"Apa...... apa kau bilang?"
Teriak Oh Sam-pei dengan perasaan tercekat. Baru saja Thio Toa-cui hendak menjawab, Oh Sam-pei sudah bertanya lagi.
"Dari sudut mana kau melihat kalau dia akan muncul dalam wujud aslinya?"
"Aku hanya merasa udara disekitar tempat ini makin lama semakin dingin dan menggigilkan tubuh"
"Tapi apa hubungannya dengan dia?"
"Menurut dongeng yang banyak beredar dalam masyarakat, konon setiap kali setan iblis akan munculkan diri, angin akan berhembus makin kencang dan udara akan terasa semakin dingin"
Mau tidak mau Oh Sam-pei manggut manggut juga, maka bersama Thio Toa-cui mereka awasi terus setiap gerak gerik Gi Tiok-kun dengan mata terbelalak lebar.
Namun Gi Tiok-kun masih tetap seperti sedia kala, duduk mematung ditempat tanpa bergerak sedikitpun juga.
Biarpun tidak nampak perubahan, Thio Toa-cui berdua tidak berani gegabah, dengan perasaan tegang dan serius mereka awasi terus perempuan itu.
Udara dalam ruang penjara terasa makin dingin membeku, bulu kuduk ke dua orang itu semakin bergidik......
Bab 24.
Banyak curiga Akhirnya cahaya rembulan bergeser meninggalkan tubuh Gi Tiok-kun, hawa dingin yang mencekam ruang penjara pun seolah semakin memudar.
Gi Tiok-kun sama sekali tidak berubah, dia tidak muncul dalam wujud siluman laron, bahkan dia seolah telah berubah jadi sesosok boneka kayu yang tidak bernyawa.
Sekarang Thio Toa-cui baru bisa menarik kembali sorot matanya, berpaling seraya menghembuskan napas lega.
Oh Sam-pei yang buka suara lebih dulu, ujarnya.
"Aaah, aku lihat kau hanya dipermainkan oleh perasaanmu sendiri"
"Tapi hingga sekarang aku masih dapat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang"
Bantah Thio Toa-cui.
"Apa benar?"
Tiba tiba tenggorokan Thio Toa-cui berbunyi keras, bisiknya.
"Alangkah baiknya kalau disini ada sepoci arak!"
"Ooh, rupanya kau hanya pingin minum arak?"
Serui Oh Sam-pei sambil tertawa geli.
"Memangnya kau tidak kepingin?"
"Siapa bilang aku tidak pingin?"
"Arak bisa mengusir hawa dingin yang menusuk badan, dapat pula memperbesar nyali kita"
"Sayang lo-Nyo sudah berjanji duluan, melarang kita minum arak"
"Sekalipun kita minum secara diam diam, belum tentu dia bakal tahu"
"Tapi kalau aku yang minum, dia pasti bakal tahu"
Sahut Oh Sam-pei sambil menghela napas panjang.
"Tidak ada orang yang suruh kau harus minum sebanyak tiga cawan, kenapa tidak meneguk dua setengah cawan saja, dengan begitu tidak bakalan ada yang tahu kau sudah minum arak atau tidak"
"Ah betul, sebuah cara yang bagus"
"Sayang tidak ada gunanya kalau hanya mempunyai cara bagus, yang penting punya arak atau tidak"
Kemudian setelah menghela napas, tambahnya.
"Ketika Nyo tua datang aiencari kita, dia tidak pernah menggeledah srku kita berdua, ebetulnya bisa saja kusei unyikan berapi gui i ..v rak didalam sakuku"
"Dan sudah kau lakukan?"
Tanya Oh Sam-pei penuh harap.
"Tidak, pertama karena terdesak waktu, ke dua Nyo tua sudah berbicara duluan, aku kuatir dia baru mau melepask kita masuk setelah menggeledah saku saku kita"
"Padahal seharusnya kau selundupkan berapa guci didalam sakumu, paling tidak kita beradu nasib"
"Kau hanya pandainya bicara....."
"Bukan hanya pandai bicara......"
Sahut Oh Sam-pei sambil tertawa secara tiba tiba, tertawa yang sangat aneh. Seakan teringat sesuatu Thio Toa-cui segera melompat bangun, kemudian bisiknya.
"Jadi kau telah selundupkan berapa guci arak didalam sakumu?"
Belum selesai dia berkata, diatas meja tepat dihadapannya telah bertambah dengan dua buah botol arak.
Ternyata dari balik baju dinasnya yang lebar dia mengeluarkan lagi botol arak yang ke tiga, bahkan isi arak botol ke tiga adalah arak bagus.
Berbinar sepasang mata Thio Toa-cui, saking gembiranya sampai mulut pun ikut terbuka lebar.
Dia sambar botol arak dimeja lalu serunya sambil tertawa terkekeh.
"Bocah monyet, tidak nyana kau memang hebat"
"Ssst... jangan keras keras, kalau sampai Nyo tua kebetulan lewat, dia bisa masuk kemari dan merampas arak kita..."
"Tidak usah kuatir, saat ini paling Nyo tua ... udah tidur pulas"
"Kecilkan suaramu, coba lihat, mereka berdua sampai dibuat kaget oleh suara tertawamu"
Diam-diam Thio Toa-cui melirik, sinar matanya segera berpapasan dengan sorot mata dingin Gi Tiok-kun.
Waktu itu Gi Tiok-kun sedang mengawasinya dengan sorot mata yang dingin, ketika perempuan itu melihat Thio Toa-cui berpaling, dia kembali tundukkan kepalanya.
Meski begitu tidak urung bergidik juga hati Thio Toa-cui dibuatnya, cepat dia berbisik.
"Tidak usah kita gubris mereka, ayoh minum, minum......"
Sementara itu Oh Sam-pei telah membuka penutup botol, bau harum arak segera menyebar ke seluruh ruangan.
"Arak bagus"
Puji Thio Toa-cui sambil menarik napas panjang, dia merasa semangatnya berkobar kembali.
"cukup mengendus bau nya aku sudah tahu kalau arakmu arak pilihan, tahu begini mestinya kau membawa lebih banyak lagi"
Oh Sam-pei tidak menjawab, dengan lahapnya dia meneguk isi botol hingga ludes dalam berapa kali tegukan. Dengan perasaan terkejut Thio Toa-cui mengawasi rekannya itu. Tegurnya.
"Kalau kau teguk arakmu dengan cara begitu, tidak sampai sesaat lagi, seluruh arak bakal kau lalap sampai habis"
"Siapa bilang aku tidak bisa minum lagi?"
Sahut Oh Sam-pei cepat.
Thio Toa-cui tidak mampu melanjutkan perkataannya lagi, sebab tahu tahu diatas meja telah bertambah lagi dengan dua botol arak.
Tanpa membuang waktu lagi Thio Toa-cui menyambar sebotol diantaranya dan membuka penutup botol dengan gigitan.
"Ciiit....!"
Begitu penutup botol terbuka, bau arak segera muncul dari balik botol itu menembusi lubang hidungnya.
Tentu saja Thio Toa-cui tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia segera mengendusnya dalam dalam, mendadak......
seluruh otot dan kulit wajahnya mengejang keras.
Ternyata bau arak yang terendus olehnya bukan berbau harum, tapi bau busuk yang sangat memuakkan, bau busuk yang tidak terlukiskan dengan kata.
Seolah baru saja tercebur ke dalam kubangan berisi kotoran manusia, Thio Toa-cui tidak sanggup mengendalikan diri lagi, akhirnya dia muntah, mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Dengan wajah keheranan Oh Sam-pei mengawasi rekannya, mimik mukanya nampak sangat aneh.
"Arak macam apa yang kau simpan dalam botol itu?"
Seru Thio Toa-cui sambil muntah terus.
"Tentu saja arak harum"
"Omong kosong!"
Umpat Thio Toa-cui gusar.
"Siapa bilang aku omong kosong?"
"Memangnya kau tidak mengendus bau busuk yang amat menusuk hidung?"
"Bau busuk? Siapa bilang bau busuk? Aku hanya mengendus bau harumnya arak......"
"Kau benar benar tidak merasa kalau botol arak itu agak aneh?"
"Aneh? Menurut kau dimana letak keanehannya?"
"Isi botol itu bukan arak......."
"Kalau bukan arak, apa isi botol itu?"
"Entahlah, tapi coba kau endus sendiri baunya, kelewat busuk dan amat memuakkan"
Dengan perasaan keheranan Oh Sam-pei mengambil botol arak itu dari tangan Thio Toa-cui, kemudian mengendusnya sebentar. Dia tidak mual apalagi muntah, malah tanyanya keheranan.
"Kau anggap isi botol ini bukan arak?"
"Kalau arak masa begitu busuk baunya?"
Oh Sam-pei semakin tercengang, sambil mengawasi wajah rekannya dengan pandangan heran katanya.
"Jangan jangan hidungmu yang tidak beres?"
"Jadi kau tidak mengendus bau busuk?"
Thio Toa-cui agak tertegun.
"Bau busuk? Sudah jelas bau nya adalah bau harumnya arak"
"Kau bukan sedang bergurau bukan?"
Paras muka Thio Toa-cui berubah semakin aneh.
"Bergurau? Siapa yang sedang bergurau?"
"Kalau isi botol ini arak, kenapa begitu busuk baunya?"
Seru Thio Toa-cui, sekali lagi dia mengambil botol arak itu dan membuka penutupnya.
Lagi lagi bau busuk yang membuat perut jadi mual menyebar keluar dari dalam botol arak itu.
Untung kali ini Thio Toa-cui sudah membuat persiapan sehingga bau busuk itu tidak langsung menembusi lubang hidungnya.
"Bagaimana sih kau ini? Jelas jelas baunya sangat memuakkan....."
"Jadi kau benar benar merasakan bau busuk?"
Bukan menjawab Oh Sam-pei malah balik bertanya.
"Memangnya tidak kau lihat, cairan pahit pun sudah ikut tertumpah keluar, jadi kau anggap aku sedang berpura pura?"
Oh Sam-pei manggut manggut, mendadak dia mengucapkan perkataan yang sangat aneh.
"Ternyata perasaan setiap manusia memang berbeda beda........"
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Tegur Thio Toa-cui gusar. Oh Sam-pei kembali tidak menjawab, gumamnya.
"Sekarang aku sudah tahu bagaimana perasaanmu saat ini"
Thio Toa-cui tidak habis mengerti. Kembali Oh Sam-pei berkata.
"Aku sama sekali tidak bergurau, pun tidak membohongi dirimu, dalam pandangan kami, isi botol itu benar benar adalah arak"
"Kami? Kami adalah........"
Dengan tercengang Thio Toa-cui menyela.
"Yang aku rasakan arak itu adalah arak harum, arak yang sangat wangi dan lezat"
"Yang kau maksudkan adalah arak dalam botol pertama?"
"Ke tiga tiganya sama saja"
"Tapi aku hanya mengendus bau harumnya arak dari botol yang berada ditanganmu"
"Tentu saja, karena botol tersebut selalu berada dalam genggamanku dan tidak pernah melalui tanganmu"
"Tapi apa pengaruhnya?"
"Besar sekali pengaruhnya, begitu arak tersebut melalui sentuhan tanganmu maka isi botol akan segera berubah kwalitasnya"
"Sebetulnya arak yang kau bawa adalah arak aneh dari mana?"
"Sebetul nya bukan arak aneh, arak itu hanya arak laron!"
"Apa kau bilang?"
Seru Thio Toa-cui kaget.
"Arak laron!"
"Aku belum pernah mendengar nama arak seaneh ini"
"Memang tidak banyak yang mendengar dan mengetahuinya"
"Arak yang sudah melalui sentuhan tanganku akan berubah? Memangnya tanganku memiliki kekuatan yang hebat? Oh Sam-pei menggeleng.
"Lalu apa sebabnya?"
"Karena sepasang tanganmu adalah tangan dari manusia"
"Memangnya tanganmu bukan tangan manusia?"
Thio Toacui semakin tercengang. Kembali Oh Sam-pei mengangguk.
"Jadi maksudmu kau bukan termasuk manusia?"
Sekali lagi Thio Toa-cui tertegun. Kembali Oh Sam-pei mengangguk membenarkan.
"Hey, otakmu memangnya sudah tidak beres? Atau mulai kurang waras?"
"Sama sekali tidak"
Hingga kini Thio Toa-cui masih menganggap Oh Sam-pei sedang mengajak dirinya bergurau, tanpa terasa dia perhatikan rekannya itu berulang kali.
Tidak ada yang aneh dengan Oh Sam-pei, tapi ketika dia perhatikan beberapa kejap lagi, entah mengapa tiba-tiba muncul segulung hawa dingin dari dalam lubuk hatinya.
Setelah bersin berulang kali dengan nada menyelidik ia bertanya.
"Kalau bukan manusia, memangnya kau siluman?"
Kembali Oh Sam-pei tertawa, pada hakekatnya tertawanya kali ini sama sekali tidak mirip dengan tertawa seorang manusia.
Bab 25.
Laron diujung golok Thio Toa-cui sudah sepuluh tahun kenal dengan Oh Sampei, tapi baru pertama kali ini dia menyaksikan senyuman seaneh hari ini.
Senyuman tersebut sudah tidak mungkin dilukiskan dengan kata menyeramkan lagi.
Begitu ia mulai tertawa maka Oh Sam-pei sudah tidak mirip lagi dengan Oh Sam-pei.
Pada hakekatnya dia seakan telah berubah jadi seorang manusia yang lain!
Sewaktu tertawa, nyaris seluruh permukaan wajahnya ikut bergetar keras, wajah itu mirip dengan ubur-ubur, bergoyang dan berubah tiada hentinya.
Paras muka Thio Toa-cui berubah semakin pucat, sambil mengawasi Oh Sam-pei dengan mata terbelalak serunya penuh kengerian.
"Se....sebenarnya siapakah kau?"
"Laron!"
Suara jawaban Oh Sam-pei kedengaran sangat aneh, sama sekali tidak mirip suara manusia.
"Jadi kau juga jelmaan dari siluman laron?"
Suara Thio Toacui semakin gemetar.
"Benar!"
Nada suaranya dari rendah dan berat mendadak berubah jadi tinggi melengking dan tajam, begitu tajam seolah ada gurdi baja yang sedang mengebor kendang telinga Thio Toacui.
Kulit wajahnya mulai mengelupas dan rontok, seperti tepung yang mulai mengering, mengelupas selembar demi selembar dan rontok ke tanah.
Ketika seluruh kulit wajahnya telah mengelupas habis, akankah muncul selembar wajah dari siluman laron?
Bagaimana bentuk wajah siluman laron?
Sebetulnya rasa ingin tahu Thio Toa-cui amat besar, dia pingin sekali mengetahui, tapi sayang dia tidak mampu memperhatikan lagi.
Baginya, melarikan diri jauh lebih penting daripada mengobati perasaan ingin tahunya, dia kuatir bila tidak segera kabur, besar kemungkinan siluman laron itu akan menggigit tengkuknya dan menghisap darahnya.
Dia mulai mundur terus ke belakang, sedang Oh Sam-pei selangkah demi selangkah mendesak maju terus ke depan.
Tiba tiba Thio Toa-cui seperti teringat akan satu hal, teriaknya keras.
"Benarkah kau adalah Oh Sam-pei?"
"Oh Sam-pei adalah sahabat karibmu, dia adalah seorang manusia"
"Jadi kau bukan........."
Seru Thio Toa-cui gelisah.
"Tentu saja bukan laron, kalau tidak sudah sejak tadi kuhisap darahmu....."
"Ke mana perginya Oh Sam-pei?"
"Pergi ke tempat dimana mau tidak mau kau harus pergi!"
"Kemana?"
"Neraka.......orang semacam dia memang paling pantas menjadi penghuni neraka, begitu juga dengan kau!"
"Bagai.......bagaimana mungkin dia bisa mati?"
"Heheheh..... darahnya telah kuhisap sampai mengering!"
Thio Toa-cui nyaris jatuh pingsan saking takutnya, dengan wajah pucat pias melebihi mayat selangkah demi selangkah dia mundur terus hingga akhirnya punggungnya menempel diatas dinding penjara.
Kembali Oh Sam-pei tertawa seram.
"Sekarang kau bisa kabur ke mana lagi?"
Jengeknya, dia meletakkan botol araknya ke atas meja kemudian mendesak maju satu langkah lagi.
Kini Thio Toa-cui sudah tidak sanggup mundur lagi, paras mukanya pun sudah tidak mampu berubah, begitu melihat Oh Sam-pei masih mendesak maju ke depan, seketika itu juga dia mendongakkan kepalanya seperti ayam j.igo yang siap tempur dan mulai pasang kuda kuda.
Sekarang dia baru mulai teringat, bukankah ililuar pintu penjara terdapat penjaga yang sedang meronda?
Mengapa dia tidak berteriak untuk minta tolong?
Dia mulai menbuka mulut dan berteriak minta tolong, tapi begitu mulut dibuka, tiba tiba dia jumpai dirinya seolah berubah menjadi orang bisu, entah sejak kapan dia sudah tidak mampu bersuara, biar sudah berusaha untuk berteriak keras keras pun tidak sepotong suara yang muncul.
Sekarang dia baru benar benar gugup bercampur panik..
Sementara itu Oh Sam-pei sudah mendesak maju lagi dua langkah, kulit mukanya yang mengelupas semakin bertambah banyak.
Kini raut mukanya sudah berubah jadi begitu menyeramkan, begitu mengerikan dan memuakkan hati....
Thio Toa-cui benar benar pecah nyali, rasa takut yang luar biasa menimbulkan keinginannya untuk bertindak nekad.
"Aku akan beradu jiwa denganmu!"
Dalam hati dia menjerit, botol arak yang berada dalam genggamannya langsung dilemparkan ke arah kepala lawan.
Timpukan itu sama sekali tidak mengenai Oh Sam-pei, diapun tidak berusaha untuk berkelit, tangannya begitu diangkat, tahu tahu botol arak itu sudah jatuh ke tangannya.
Biarpun botol itu penuh berisi arak, ternyata lemparan itu tidak menyebabkan arak dalam botol tertumpah keluar, jangan lagi tumpah, menetes satu tetesan pun tidak.
Memangnya dia sedang bermain sulap?
Atau dia memang benar benar siluman iblis?
Sambil membentak nyaring Thio Toa-cui mencabut keluar goloknya, cahaya senjata memancar ke empat penjuru dan amat menyilaukan mata, sebilah golok yang sangat tajam!
Namun Oh Sam-pei seakan tidak melihat akan ancaman tersebut, selangkah demi selangkah dia masih maju terus.
Kalau pada mulanya Thio Toa-cui hanya menggertidak maka melihat Oh Sam-pei tidak berhenti malah semakin mendekat, akhirnya sambil membentak nyaring dia ayunkan goloknya melepaskan sebuah bacokan.
Dari tenggorokannya sudah tidak mampu mengeluarkan suara lagi, jelas tenaga dan kemampuannya sudah melemah beberapa bagian.
Walau begitu, bacokan golok nya itu telah dilancarkan dengan menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Sekarang dia sudah mulai beradu jiwa, mau tidak mau harus beradu jiwa!
Dengan menggunakan botol arak yang berada dalam genggamannya Oh Sam-pei menangkis datangnya bacokan golok itu.
"Traaang!"
Botol itu seketika terbelah menjadi dua bagian.
Kembali cahaya golok berkelebat lewat, arak yang berwarna merah darah dengan membawa bau busuk yang sangat kuat dan menyengat seketika berhamburan ke empat penjuru, persis seperti hujan darah.....
Sebenarnya cairan merah itu darah laron atau arak laron?
Ketika menyembur diatas wajah Thio Toa-cui segera mendatangkan bau busuk yang merasuk hingga ke tulang sumsum, tapi kali ini dia malah tidak muntah.
Saat ini dia seolah sudah lupa untuk muntah karena dalam detik yang amat singkat Oh Sam-pei kembali melambung ke udara sambil merangsek ke depan.
Waktu itu pandangan mata Thio Toa-cui sudah dibikin kabur karena tersembur cairan arak laron, bukan hanya mukanya yang dibuat basah kuyup, bahkan sepasang matanya pun sudah terasa amat pedas.
Rasa sakit yang luar biasa dimatanya membuat dia tidak mampu untuk membuka matanya, tapi saat ini tidak mungkin baginya untuk pejamkan mata, dengan memaksakan diri dia coba mementangkan matanya lebar lebar.
Mati atau hidup segera akan ditentukan dalam detik ini, tentu saja dia tidak bisa pejamkan mata, ketika matanya terpentang lebar, yang tampak hanya selapis cahaya merah darah.
Tiba tiba dia menjumpai tubuh Oh Sam-pei berada ditengah lapisan merah darah itu, sambil memperdengarkan suara dengungan yang keras sedang menerkam ke hadapannya.
Dia menjerit keras, goloknya segera dibacokkan berulang kali.
Percikan darah segar berhamburan ke empat penjuru, membuat lapisan merah itu nampak lebih merah lagi, sekarang, seluruh angkasa seakan sudah terlapis semua oleh merahnya darah, darah segar........!
Kentongan ke tiga, ketika Siang Hu-hoa, Ko Thian-liok, Tu Siau-thian dan Nyo Sin berempat tiba didepan penjara besar, waktu sudah menunjukkan kentongan ke tiga.
Cahaya obor masih membara dengan hebatnya di depan pintu penjara, lidah api yang menari nari ditengah hembusan angin malam memperdengarkan suara desahan yang keras, terutama ditengah keheningan malam, suara itu kedengaran jauh lebih nyaring.
Pintu gerbang berwarna hitam, sebuah pintu besi yang ditempa dari baja murni dan ditaburi beratus buah paku tembaga, ketika tertimpa cahaya api paku paku itu segera memantulkan cahaya dingin yang menyeramkan.
Diatas pintu baja utama terdapat sebuah ukiran kepala harimau, ukiran itupun memancarkan cahaya berkilauan.
Hawa pembunuhan yang tebal menyelimuti sekeliling tempat itu.
Tidak nampak ada penjaga yang meronda disitu, tidak ada didepan pintu gerbang, tidak ada pula diseputar penjara.
Ke sembilan orang penjara sedang berkumpul diatas undak undakan batu didepan pintu samping, lima orang berdiri, empat orang duduk.
Yang berdiri memegang tombak panjang, tubuhnya tetap berdiri kaku bagaikan senjatanya, sementara yang duduk sudah lama terlelap tidur, kepalanya tertunduk dan suara dengkuran menghiasi bibir.
Ketika Siang Hu-hoa datang menghampiri, empat penjaga yang terduduk sama sekali tidak menunjukkan reaksi, sementara lima orang yang berdiri pun seolah tidak melihat kedatangan rombongan itu.
Mungkinkah mereka semua sudah terlelap tidur?
Dengan perasaan mendongkol Nyo Sin segera bergumam.
"Apa apaan mereka ini? Sedang menjaga penjara besar atau pindah tempat tidur?"
"Apakah biasanya mereka pun bersikap begini?"
Tiba tiba Ko Thian-liok bertanya. Nyo Sin segera menggeleng.
"Kalau mereka mempunyai watak seperti ini, sudah sejak dulu aku suruh mereka pensiun"
"Kalau begitu aneh sekali"
"Aku lihat sudah terjadi sesuatu disini!"
Sela Siang Hu-hoa mendadak.
Ko Thian-liok merasakan hal yang sama, maka mereka berempat pun segera mempercepat langkah kakinya.
Begitu tiba didepan pintu gerbang, mereka baru menjumpai bahwa ke lima orang penjaga yang berdiri itu sedang memejamkan matanya, dari sikap mereka nampak jelas kalau orang orang itu sudah terlelap tidur.
Cara mereka berdiri sama sekali tidak wajar, namun mimik mukanya nampak wajar sekali dan kelihatan sangat aneh, dua orang diantara mereka kelihatan seakan sedang bercakap cakap sementara ke tiga orang lainnya seakan sedang memperhatikan pembicaraan rekannya.
Begitu menyaksikan keadaan tersebut, paras muka Tu Siauthian seketika berubah hebat, sambil menghentakkan kakinya dia berseru.
"Aduh celaka!"
Dia memburu ke atas undak undakan dan baru saja mendekati tubuh salah seorang penjaganya, tiba tiba terdengar Nyo Sin sedang berteriak sambil bertepuk tangan.
"Ayoh bangun, semuanya bangun!"
Suara teriakannya memang keras dan berat, apalagi dia menjerit sekuat tenaga, jangan lagi manusia hidup.
Orang mati yang sudah berbaring dalam peti mati pun akan melompat bangun setelah mendengar teriakannya itu.
Ke sembilan orang pengawal itu bukan orang mati, mereka hanya terlelap tidur saja, tidak heran kalau orang orang itu seketika tersadar kembali begitu mendengar teriakan Nyo Sin.
Begitu membuka mata dan melihat semua pejabat tinggi pengadilan telah hadir dihadapan mereka, beberapa orang pengawal itu jadi lemas kakinya, tanpa disuruh pun serentak mereka sudah jatuhkan diri berlutut.
Ko Thian-liok tidak bicara apa apa, sebaliknya Nyo Sin dengan suara yang nyaring telah mengumpat.
"Bagus, rupanya kalian semua telah tertidur....."
Sembilan orang pengawal itu saling bertukar pandangan tanpa menjawab, agaknya mereka sendiripun tidak tahu kalau mereka baru saja terlelap tidur.
Melihat sikap serta mimik muka kawanan pengawal itu, Ko Thian-liok segera memberi landa mencegah Nyo Sin bicara lebih jauh, dia maju mendekat lalu menegur.
"Apakah kalian tidak tahu kalau kalian semua sudah tertidur?"
Sembilan orang pengawal itu saling I H-rpandangan sekejap, lalu menggeleng.
"Siapa komandan kalian?"
"Hamba Khoe Sun"
"Apakah kau pun tidak mengetahui apa yang telah terjadi?"
"Hamba memang bersalah"
Sahut Khoe Sun dengan kepala tertunduk.
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
Tukas Ko Thian-liok sambil tertawa.
"Hamba benar benar tidak tahu apa yang telah terjadi disini, hamba bahkan tidak tahu apa yang terjadi hingga bisa tertidur diatas undak undakan"
"Tadi kalian ada di mana?"
"Hamba sedang membawa empat orang anak buahku berpatroli mengelilingi tembok pagar penjara......"
"Apakah kau menjumpai orang yang mencurigakan?"
"Seorang pun tidak ada"
"Oya"?"
"Apakah kalian sendiri juga tidak mengalami kejadian kejadian yang aneh?"
Tiba tiba Siang Hu-hoa menimbrung.
Khoe Sun melirik Siang Hu-hoa sekejap, meskipun dia merasa orang ini asing baginya, tapi lantaran jalan bersama Ko Thian-liok, Tu Siau-thian serta Nyo Sin, maka setelah ragu sesaat jawabnya.
"Sebenarnya aneh sekali, ada satu kejadian memang sangat aneh"
"Cepat katakan!"
Desak Ko Thian-liok.
"Entah apa penyebabnya setelah lewat kentongan pertama tadi, hamba bersembilan merasa luar biasa lelahnya hingga menguap berulang kali, bukan saja merasa kantuk yang luar biasa bahkan sepasang mata pun rasanya susah dibuka"
"Kemudian apa yang terjadi?"
"Entah sejak kapan empat orang yang bertugas menjaga pintu gerbang sudah tertidur duluan, menyusul kemudian ke empat orang yang ikut hamba berpatroli pun ikut menyandarkan diri ke dinding penjara dan tertidur, hamba adalah orang terakhir yang terlelap tidur, tapi sebelum aku memejamkan mata, sempat hamba lihat bahwa semua orang sudah tertidur nyenyak lebih dahulu"
"Waktu itu apakah kau menjumpai sesuatu yang aneh disekeliling penjara?"
Kembali Siang Hu-hoa bertanya.
"Waktu itu aku sama sekali tidak sempat memperhatikan sekeliling tempat itu, yang kupikirkan hanya ingin tidur secepatnya"
"Bagaimana dengan ke empat orang yang ikut berpatroli denganmu?"
Sebelum Khoe Sun menjawab, empat orang pengawal yang berada di belakangnya telah maju ke depan.
"Ooh, jadi kalian berempat?"
Tanya Ko Thian-liok sambil menyapu wajah mereka sekejap.
"Benar!"
Sahut ke empat orang pengawal itu sambil serentak menjatuhkan diri berlutut "Ayoh cepat bangun dan menjawab pertanyaan kami"
Seru Ko Thian-liok lagi sambil mengulapkan tangannya.
Khoe Sun bersama delapan orang pengawal itu menyahut dan serentak bangkit berdiri sambil menunggu pertanyaan.
Setelah memandang sekali lagi wajah ke empat orang pengawal yang berdiri berjajar didepan, tanya Ko Thian-liok.
"Waktu itu apa yang kalian temukan?"
Serentak ke empat orang pengawal itu menggeleng.
"Waktu itu keadaan hamba persis sama seperti apa yang dialami komandan Khoe"
"Kalau begitu menyingkirlah ke samping"
Seru Ko Thian-liok sambil mengulapkan tangannya.
Ke empat orang pengawal itu menyahut dan segera menyingkir ke samping.
Sekarang Ko Thian-liok mengalihkan sorot matanya ke wajah ke empat orang penjaga pintu gerbang, tegurnya.
"Jadi kalian berempat yang menjaga di depan pintu gerbang?"
"Benar!"
"Apa yang kalian saksikan?"
"Sama seperti mereka"
Sembilan orang penjaga mengalami kejadian yang persis sama satu dengan lainnya, jelas kejadian ini kelewat kebetulan dan kelewat aneh.
Perasaan bingung bercampur sangsi segera menghiasi wajah Ko Thian-liok.
Siang Hu-hoa hanya terpekur tanpa bicara, sedang Tu Siauthian berdiri dengan sepasang alis berkerut.
Tampaknya mereka bertiga sama-sama merasa pusing kepala, untuk sesaat mereka tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tentang peristiwa ini.
Hanya Nyo Sin seorang yang terkecuali, dengan wajah berubah hebat teriaknya keras keras.
"Hey, Apakah kalian semua sudah kesurupan setan gentayangan?"
Siang Hu-hoa bertiga tidak menjawab tapi mereka pun tidak menyangkal.
Apa pun yang dibicarakan Nyo Sin saat ini, mereka hanya menampungnya sementara waktu tanpa memberi tanggapan.
Khoe sun dan ke delapan orang anak buahnya hanya berdiri termangu mangut tanpa mengerti apa yang harus dilakukan, entah hal ini lantaran perkataan dari Nyo Sin ataukah secara tiba tiba mereka pun merasakan suasana yang luar biasa anehnya disekeliling tempat itu.
Lidah api yang berkobar dari obor besar masih menari nari terhembus angin, menggoyangkan pula bayangan tubuh setiap orang yang membias ditanah.
Paling tidak ada setengah dari orang orang itu mulai mencuri lihat disekitar dirinya.....
memeriksa apakah ada setan yang muncul d i samping mereka.
Ko Thian-liok berpikir sejenak, mendadak ujarnya.
"Bagaimana pun juga, sekarang kita harus segera masuk ke dalam dan memeriksa keadaan disitu"
Serentak Siang Hu-hoa, Tu Siau-thian dan Nyo Sin mengangguk tanda setuju.
"Pengawal, buka pintu!"
Perintah Ko Thian-liok kemudian.
Kunci gembokan pintu gerbang penjara i"iKantung dipinggang Nyo Sin, cepat komandan opas ini maju ke depan dan menggunakan tiga macam anak kunci yang berbeda untuk membuka pintu besi itu.
Setiap anak kunci mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda, semuanya mempunyai urutan yang pasti, bila salah urutan maka buka saja pintu gerbang itu sulit dibuka bahkan akan membunyikan sebuah lonceng besar yang dipasang secara rahasia, semacam bunyi alarm yang akan memancing hadirnya semua pengawal disekeliling tempat itu.
Penjara besar berada dibagian tengah kompleks pengadilan, bila orang luar ingin masuk ke tempat itu maka paling tidak dia harus melalui tiga lapis dinding tinggi yang dijaga ketat oleh pengawal di empat penjuru.
Tidak mudah bagi siapa pun untuk menembusi penjagaan dan pertahanan semacam ini, maka sewaktu menjumpai pintu gerbang tidak ada yang aneh, Nyo Sin nyaris merasakan hatinya sangat lega.
Tapi begitu pintu gerbang terbuka lebar, perasaan hatinya yang baru saja merasa lega jadi berdebar kembali, bukan cuma jantungnya yang dag dig dug, paras muka pun ikut berubah sangat hebat.
Begitu pintu gerbang terpentang lebar, segulung bau busuk yang amat memuakkan segera berhembus keluar dari balik penjara, bau busuk semacam ini sudah tidak terlampau asing lagi baginya.
Ketika pertama kali menemukan mayat Jui Pak-hay, ketika memasuki ruangan khusus yang digunakan untuk memelihara Laron Penghisap darah di rumah penginapan Hun-lay, dia sudah pernah mengendus bau busuk semacam ini.
Karena sedemikian busuknya bau itu, hingga kini masih berkesan mendalam dihatinya!
--Paras muka Siang Hu-hoa maupun Tu Siau-thian ikut berubah hebat, mereka pun belum melupakan bau busuk semacam itu.
Dengan satu gerakan cepat Siang Hu-hoa melambung satu kaki ke udara kemudian melayang turun didepan pintu gerbang, tangan kanannya segera mencengkeram bahu Nyo Sin dan menarik tubuhnya ke samping.
Dia kuatir setelah munculnya bau busuk itu, mungkin akan disusul dengan munculnya sekelompok besar Laron Penghisap darah Dia menghadang didepan Nyo Sin, tangannya yang lain telah meraba gagang pedang dan setiap saat siap melancarkan serangan.
Pada saat yang bersamaan Tu Siau-thian menghardik pula.
"Kho Sun, cepat bawa anak buahmu melindungi keselamatan tayjin!"
Selesai menghardik, dia ikut melayang ke sisi lain dari pintu gerbang.
Khoe Sun tidak berani berayal, dia mengiakan sambil maju menghadang didepan Ko Thian-liok sementara ke delapan anak buahnya segera mengelilingi diseputarnya.
Melihat itu Ko Thian-liok merentangkan sepasang tangannya minta mereka semua untuk menyingkir ke samping, kemudian dia meraba ke pinggang sendiri.
Sebilah pedang yang antik dan indah tersoren dipinggangnya itu.
Wajahnya sama sekali tidak menampilkan perubahan apa pun, bila ditinjau dari cara dan sikapnya memegang pedang, siapa pun dapat melihat bahwa orang ini pernah belajar silat dan memiliki kepandaian yang cukup tangguh.
Walaupun wajahnya tidak nampak kusut namun hidungnya sudah mulai berkerut.
Siapa pun itu orangnya, pasti tidak akan tahan bisa mengendus bau busuk seperti ini.
Angin malam berhembus kencang, lambat laun bau busuk yang menyengat itu mulai menipis sebelum akhirnya memudar.
Cahaya lentera yang menerangi ruang penjara sangat redup, suasana pun sangat hening dan sepi.
Setelah munculnya bau busuk sama sekali tidak nampak munculnya Laron Penghisap darah, jangan lagi satu kelompok, seekor pun tidak nampak.
Siang Hu-hoa telah melepaskan cengkeramannya atas bahu Nyo Sin, namun pembesar itu masih tetap berdiri tidak bergerak, dia belum melakukan tindakan apapun, nampaknya pengalaman yang berulang kali membuat dia bersikap lebih cerdik.
Dia tahu, kemungkinan besar didalam ruang penjara telah menunggu sekelompok besar Laron Penghisap darah, sehingga bila ada yang menerjang masuk maka kawanan makhluk itu akan menyerang bersama.
Dia tidak ingin kehilangan muka didepan orang banyak.
Berbeda dengan Tu Siau-thian, dia seakan tidak perduli akan hal tersebut, kini dia sudah melakukan aksinya.
Sesungguhnya Siang Hu-hoa sudah bertindak duluan, biarpun pedangnya belum diloloskan dari sarungnya, dia sudah menerjang maju dengan tangan masih menempel pada gagang senjatanya.
Asal ada sesuatu yang tidak beres, maka secepat kilat dia akan mencabut keluar pedangnya sambil melancarkan serangan.
Tu Siau-thian tidak memiliki kepandaian sehebat Siang Huhoa, dia sadar akan hal itu, maka sebelum melangkah maju goloknya telah diloloskan lebih dulu.
Kemudian mereka berdua melangkah masuk ke balik pintu dan menerjang ke dalam ruang penjara.
--Bau busuk di ruangan penjara masih amat lebal dan menusuk hidung, tidak ada Laron Penghisap darah disitu tapi didekat pintu, diatas permukaan lantai tampak segumpal cairan darah l.aron.
Cairan darah itu membiarkan sinar merah ketika tertimpa sinar lampu lentera, anehnya cairan darah tersebut tidak membeku.
Dari atas genangan cairan darah itulah bau busuk tersebut berasal.
Seorang lelaki berbaju opas dengan sebilah golok masih tergenggam ditangannya roboh terkapar diatas genangan darah itu, wajahnya menghadap ke atas dan penuh berlumuran darah.
Dia mempunyai sebuah mulut yang sangat besar.
Siang Hu-hoa segera menghentikan langkah kakinya didepan genangan darah, tanyanya.
"Apakah dia adalah salah seorang diantara dua pengawal yang kalian utus untuk menjaga ruang penjara?"
Tu Siau-thian memeriksa sebentar jenasah itu kemudian baru mengangguk.
"Benar, dia adalah Thio Toa-cui!"
"Kalau begitu orang yang tergeletak di sebelah sana adalah Oh Sam-pei?"
Ujar Siang Hu-hoa lagi.
Disamping terali besi didepan ruang penjara sebelah kiri, tergeletak pula sesosok mayat.
Orang itupun berdandan seorang opas, tapi baju bagian dadanya dibiarkan terbuka lebar, sebagian besar kancingnya tidak dikancingkan.
Dengan langkah tergesa Tu Siau-thian menghampiri mayat itu.
Orang tersebut tertelentang dengan wajah menghadap ke atas, tidak ada noda darah diwajahnya itu, tentu saja dia lebih mudah dikenali ketimbang Thio Toa-cui.
Setelah memandangnya sekejap, Tu Siau-thian segera mengangguk.
"Benar, dia adalah Oh Sam-pei!"
Dia segera berjongkok sambil memeriksa denyut nadi Oh Sam-pei, tapi sayang detak jantung opas itu sudah lama berhenti. Kenyataan ini membuat hatinya tercekat sehingga badannya bergetar keras.
"Bagaimana?"
Tanya Siang Hu-hoa.
"Sudah mati!"
"Thio Toa-cui masih bernapas"
Mendadak Siang Hu-hoa berkata.
"Sungguh?"
Seru Tu Siau-thian sambil melompat ke samping rekannya.
Waktu itu Siang Hu-hoa sedang menguruti jalan darah penting ditubuh Thio Toa-cui sembari menyalurkan tenaga murninya.
Benar juga, ternyata Thio Toa-cui masih bernapas walau napasnya sudah amat lirih dan lemah sekali.
Dalam pada itu Ko Thian-liok dan Nyo Sin sekalian telah menyusul masuk ke dalam ruang penjara.
Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, Ko Thianliok berseru keheranan.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Baru saja Tu Siau-thian hendak menjawab, tiba tiba terdengar suara helaan napas panjang, ternyata helaan napas itu berasal dari Thio Toa-cui.
Dengan cepat dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Thio Toa-cui dan mengawasinya dengan mata melotot.
Tampak Thio Toa-cui membuka matanya perlahan, sementara tubuhnya kembali gemetar keras.
"Thio Toa-cui!"
Jerit Tu Siau-thian. Otot wajah Thio Toa-cui kelihatan mengejang keras, lama kemudian ia baru menghembuskan napas pajang dan membuka lebar matanya, garis garis darah terlihat memenuhi bola matanya.
"Apa yang telah terjadi ditempat ini?"
Buru luiru Tu Siauthian bertanya.
"Laron!"
Dari balik kelopak mata Thio Toa-cui memancar keluar rasa takut dan ngeri yang luar biasa.
"Laron? Laron apa?"
Desak Tu Siau-thian lebih lanjut. Rasa tidakut dan ngeri yang memancar keluar dari balik mata Thio Toa-cui bertambah tebal dan kental, kembali dia mengucapkan sepatah kata.
"Arak........"
"Arak apa?"
Tu Siau-thian semakin tertegun. Dengan suara terbata-bata bisik Thio Toa-cui.
"Arak laron...... arak laron berwarna merah darah...... kulit...kulit wajah yang mengelupas tiada hentinya.... siluman laron dengan kulit muka yang mengelupas terus...... laron..... Laron Penghisap darah........"
"Laron Penghisap darah?"
Ulang Tu Siau-thian dengan wajah hijau membesi. Sekujur tubuh Thio Toa-cui gemetar keras, tiba tiba ia berteriak nyaring.
"Laron Penghisap darah!"
Nada suaranya penuh dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, mendadak dia bangkit dan duduk, tapi sesaat kemudian tubuhnya sudah roboh kembali ke tanah.
Siang Hu-hoa dan Tu Siau-thian ingin memayang tubuhnya, tapi tidak sempat.
"Blaaaam!"
Begitu badan Thio Toa-cui jatuh terjungkal ke tanah, dia tidak pernah bergerak lagi.
Sepasang matanya masih terbelalak besar, rona matanya sudah memudar sementara garis-garis merah yang memenuhi bola matanya kini nampak jauh lebih jelas.
Siang Hu-hoa coba memeriksa dengus napas Thio Toa-cui, tapi tangannya yang sudah diulurkan sampai tengah jalan tiba tiba berhenti.
"Bagaimana?"
Buru buru Tu Siau-thian bertanya.
"Dia sudah mati!"
Jawab Siang Hu-hoa singkat.
"Dimana letak lukanya......."
Timbrung Nyo Sin, tapi baru setengah jalan sudah ditukas oleh Ko Thian-liok.
"Kita periksa dulu bagaimana kondisi para lawanan!"
Perintahnya dengan suara lantang.
Tidak menunggu ucapan itu selesai diutarakan, Siang Huhoa sudah melompat bangun dari atas tanah lalu dengan sekali lompatan dia tiba disamping jenasah Oh Sam-pei.
Tu Siau-thian tidak berani berayal, cepat cepat dia menyusul ke samping Siang Hu-hoa.
Dalam pada itu Siang Hu-hoa sudah melongok ke dalam terali besi.
Ternyata ruang penjara tidak ada penghuninya, maka dia pun bertanya.
"Apakah mereka disekap di dalam ruang penjara?"
"Benar, Gi Tiok-kun disekap didalam sana"
Tu Siau-thian membenarkan.
"Tidak salah ingat?"
"Tidak mungkin salah ingat"
"Tapi ke mana orangnya sekarang?"
Tu Siau-thian kontan terbungkam tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Siang Hu-hoa mencoba memeriksa kunci gembokan didepan terali besi, gembokan masih berada di posisi semula dalam keadaan utuh, tidak nampak sesuatu gejala yang aneh.
"Cepat kita geledah!"
Seru Tu Siau-thian kemudian.
"Tunggu sebentar!"
Mendadak Siang Hu-hoa mencegah.
"Kau berhasil menemukan sesuatu?"
Siang Hu-hoa menunjuk kearah meja yang berada ditengah ruang penjara, sebilah pisau panjang yang amat tajam menancap diatas meja itu, diujung pisau yang tajam menancap seekor laron!
Seekor laron dengan sepasang mata berwarna merah darah dan tubuh hijau bagaikan kemala, seekor Laron Penghisap darah!
Paras muka Tu Siau-thian dari pucat berubah jadi hijau, dari hijau kembali memucat, pucat pasi seperti wajah mayat.
Tiba tiba dia berpaling kemudian teriaknya keras.
"Cepat bawa kemari kunci ruang penjara!"
Orang yang berdiri di belakangnya tidak lain adalah Nyo Sin, dia seakan lupa kalau Nyo Sin adalah komandannya.
Teriakan yang begitu keras dan nyaring nyaris membuat Nyo Sin terkesiap.
Nyo Sin pun seolah sudah lupa kalau dia adalah atasan Tu Siau-thian, sambil mengiakan dia mengeluarkan anak kunci dan membuka gembokan itu.
Dengan tangan sebelah mendorong pintu sel, dalam dua tiga langkah kemudian Tu Siau-thian sudah menerjang masuk ke dalam ruang penjara, mendekati meja itu.
Dia berdiri begitu dekat, tentu saja segala sesuatunya dapat terlihat dengan sangat jelas.
Padahal sejak tadi dia sudah tidak salah melihat, seekor Laron Penghisap darah terpantek diatas permukaan meja oleh sebilah pisau panjang yang tajam.
Tubuh laron itu nyaris terbelah jadi dua, disekitar mulut luka bercecer cairan darah.
Cairan darah itu berwarna merah dan menyiarkan bau amis serta busuk yang sangat kuat.
Inikah yang dinamakan darah laron?
Kenapa darah laron berwarna merah?
Merah seperti darah manusia?
Tu Siau-thian berpaling memperhatikan jenasah Oh Sampei.
Dipinggang mayat itu tergantung sebilah sarung golok, tapi golok tersebut tidak berada dalam genggamannya, juga tidak nampak disekeliling tempat itu.
Karenanya Tu Siau-thian berpaling dan sekali lagi memperhatikan golok tajam yang menancap diatas permukaan meja.
"Apakah golok itu adalah golok milik Oh Sam-pei?"
Siang Hu-hoa bertanya kemudian.
"Aku rasa benar miliknya"
"Kelihatannya golok itu dilemparkan ke udara dan menancap diatas meja"
"Bila ditinjau dari posisi mayat serta sudut golok yang menancap di meja, tampaknya persis seperti apa yang kau katakan"
"Kelihatannya ketajaman matanya cukup mengagumkan"
"Sekalipun ketajaman matanya tidak seberapa bagus pun, dia sama saja dapat menimpuknya secara tepat"
Tiba tiba ujar Nyo Sin.
"Oya?"
"Sebab sasaran yang sebenarnya tidak sekecil itu"
Nyo Sin menjelaskan.
"Kalau begitu seberapa besarnya?"
"Manusia itu besar sekali, karena sasarannya memang seorang manusia"
"Siapa?"
Bab 26. Jejak Sang Raja Laron "Gi Tiok-kun!"
Jawab Nyo Sin dengan wajah berubah, kemudian setelah mengawasi Laron Penghisap darah itu dengan mata melotot, dia melanjutkan.
"saat itu bisa jadi dia bersama Thio Toa-cui sedang meronda dalam ruang penjara, tiba tiba mereka saksikan Gi Tiok-kun sedang berubah, maka mereka pun menerjang ke depan terali besi, saat itu Gi Tiokkun pasti sedang bersiap melancarkan serangan, maka dia pun melontarkan goloknya untuk membunuh perempuan siluman itu!"
"Lantas jenasah Gi Tiok-kun berada di mana sekarang?"
Tanya Siang Hu-hoa.
"Disini!"
Jawab Nyo Sin sambil menuding Laron Penghisap darah yang terbelah dua itu dengan ujung goloknya.
"dialah Gi Tiok-kun!"
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, paras mukanya kembali berubah hebat, bahkan Siang Hu-hoa dan Tu Siauthian pun ikut berubah wajahnya menjadi hijau membesi.
Dengan suara gemetar dia berkata lebih jauh.
"Sebetulnya Gi Tiok-kun sudah bersiap siap merubah diri dalam wujud aslinya dan terbang keluar dari penjara, tapi dia keburu dibunuh oleh sambitan golok Oh Sam-pei hingga tidak sempat berubah lagi dalam wujud semula"
Gi Tiok-kun dikurung dalam ruang penjara seorang diri, sekarang terbukti gembokan diluar pintu penjara dalam keadaan utuh, tapi tawanan itu lenyap tidak berbekas, sebagai gantinya didalam penjara telah bertambah dengan seekor Laron Penghisap darah yang dipantek oleh golok milik Oh Sam-pei.
Memangnya manusia bisa lenyap dengan begitu saja?
Lalu darimana munculnya laron itu?
Mungkinkah telah terjadi peristiwa seperti apa yang dikatakan Nyo Sin barusan?
Untuk beberapa saat Siang Hu-hoa tidak tahu apa yang mesti diperbuat.
Tampaknya Tu Siau-thian juga mengalami hal yang sama, dia pun bertanya.
"Kalau memang begitu ceritanya, kenapa Oh Sam-pei bisa tewas diluar ruang sel?"
"Kalian jangan lupa, selain Gi Tiok-kun siluman laron ini, disini masih ada seorang Kwee Bok!"
Seru Nyo Sin cepat. Tapi begitu ucapan tersebut diutarakan, paras mukanya kembali berubah hebat.
"Kwee Bok?"
Jerit Tu Siau-thian.
Sekarang mereka baru teringat akan Kwee Bok!
Nyo Sin yang pertama kali membalikkan badan sambil menerjang keluar disusul Tu Siau-thian di belakangnya.
Tapi Siang Hu-hoa jauh lebih cepat daripada mereka berdua, meskipun terakhir dia menerjang keluar dari ruang penjara, namun justru orang pertama yang tiba dulu di ruang penjara sebelah depan.
Sayang dia tidak memiliki anak kunci maka yang bisa dilakukan hanya berdiri disitu, tentu saja dia pun sudah melongokkan kepalanya ke dalam, ternyata ruang penjara itupun kosong melompong, tidak nampak sesosok manusia pun.
Ke mana perginya Kwee Bok?
Jangan-jangan dia memang benar jelmaan dari siluman laron dan sekarang sudah berubah kembali dalam wujud aslinya dan terbang keluar dari ruang penjara?
Diatas meja tidak ada golok, disitu hanya terdapat dua bilah golok milik Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei sementara golok milik Thio Toa-cui masih berada dalam genggamannya.
Diatas meja tidak nampak Laron Penghisap darah, begitu juga diatas lantai, tidak nampak sesosok laron pun.
Nyo Sin tiba dua langkah lebih lambat ketimbang Siang Huhoa, dia langsung menuju ke depan terali besi dan membuka pintu sel.
Dengan perasaan cemas bercampur tidak sabar mereka bertiga serentak menerjang masuk ke dalam ruang sel.
Biarpun agak kasar dan ceroboh, jelek jelek Nyo Sin masih terhitung seorang opas yang cukup berpengalaman.
Tu Siau-thian merupakan orang yang cekatan dan teliti, ditambah Siang Hu-hoa maka dengan bekerja sama mereka bertiga mulai menyelidiki dan memeriksa setiap jengkal tempat yang ada disana.
Bukan saja semua benda diperiksa, bahkan ranjang pun sudah mereka bongkar, alhasil tidak sesuatu pun yang berhasil mereka temukan.
Jika Kwee Bok sudah mampus, semestinya disitu akan ditemukan sesosok mayat.
Kelihatannya pemuda itu memiliki ilmu siluman yang jauh lebih hebat ketimbang kemampuan Gi Tiok-kun, bukan saja berhasil membunuh Oh Sam-pei dan Thio Toa-cui, bahkan sanggup pergi meninggalkan tempat itu.
Tapi mereka tidak mau menyerah begitu saja, bersama para penjaga lainnya penggeledahan secara besar besaran segera dilakukan, namun hasilnya tetap nihil.
Ketika penggeledahan selesai dilakukan, Nyo Sin sudah kelelahan hingga napasnya tersengkal sengkal.
Sambil berpegangan pada terali besi dan berusaha mengatur napas, ujarnya.
"Padahal semua pintu besi sudah dikunci, kenapa bocah kunyuk itu sanggup melarikan diri?"
Tu Siau-thian mendongakkan kepalanya memperhatikan sekejap lubang hawa diatas dinding penjara, kemudian sahutnya.
"Kalau dia benar benar telah berubah jadi seekor Laron Penghisap darah, semestinya tidak susah untuk kabur dari jendela dengan melalui lubang udara itu"
Seakan baru tersadar dari impian, Nyo Sin segera mendongakkan kepalanya seraya berteriak.
"Aaah betul, pasti lewat lubang hawa itu!"
Dalam pada itu sorot mata Siang Hu-hoa telah dialihkan ke atas genangan darah dibawah tubuh Thio Toa-cui, tiba tiba ia berkata.
"Tampaknya kita telah melupakan satu tempat"
"Tempat mana?"
Tanya Nyo Sin sembari berpaling.
"Bawa jenasah ini!"
Sahut Siang Hu-hoa.
Baru selesai berkata, Tu Siau-thian yang berada diujung sana telah membalik jenasah Oh Sam-pei.
Dibawah jenasah Oh Sam-pei tidak ditemukan benda apapun.
Siang Hu-hoa segera membalik jenasah Thio Toa-cui, ternyata dibawah tubuhnya tergencet seekor laron.......Laron Penghisap darah!
Tubuh laron itu sudah tertindih hingga gepeng, malah sebuah sayapnya patah.
Tampaknya Siang Hu-hoa tidak menyangka kalau ucapannya akan berubah jadi kenyataan, untuk sesaat dia berdiri termangu.
Paras muka Tu Siau-thian maupun Nyo Sin turut berubah hebat, serentak mereka memburu datang.
"Aaah, rupanya berada disini!"
Seru Nyo Sin kemudian sambil menghembuskan napas lega. Tu Siau-thian termenung sejenak, kemudian ujarnya.
"Kelihatannya dia terluka diujung golok Thio Toa-cui setelah berhasil membunuh Oh Sam-pei, meskipun kemudian diapun berhasil membuat Thio Toa-cui terluka parah, namun tubuhnya justru tertindih oleh tubuh Thio Toa-cui ketika dia roboh terkapar ke tanah. Tapi kenapa dia bisa tertindih? Karena sudah terluka hingga kurang lincah gerakan tubuhnya atau karena terlalu gegabah sehingga tidak sempat menghindarkan diri?"
"Benar, aku pun berpendapat begitu"
Nyo Sin membenarkan.
"Jadi kalian benar benar telah menganggap Gi Tiok-kun dan Kwee Bok sebagai dua siluman laron?"
Siang Hu-hoa segera menegur.
Nyo Sin segera mengangguk, sedangkan Tu Siau-thian tidak memberikan pendapatnya, walaupun dimulut dia berkata demikian padahal dihati kecilnya masih tetap ragu.
Siang Hu-hoa memandang mereka sekejap kemudian memandang pula ke dua sosok jenasah itu, akhirnya sambil tertawa getir gumamnya.
"Apa benar di dunia ini memang terdapat setan iblis atau siluman dan sebangsanya?"
"Kalau bukan begitu, bagaimana penjelasanmu tentang peristiwa yang telah terjadi?"
Tanya Nyo Sin cepat. Siang Hu-hoa segera terbungkam, dia memang tidak sanggup memberi penjelasan. Setelah menghela napas Tu Siau-thian berkata pula.
"Sekarang aku pun tidak berani mengatakan kalau tidak ada setan iblis atau siluman di dunia ini"
Setelah berhenti sejenak, tambahnya.
"Tapi ada satu hal aku tetap merasa keheranan"
"Soal apa?"
"Dengan kepandaian silat yang dimiliki Jui Pak-hay saja dia tidak sanggup menghadapi ke dua siluman laron itu, kenapa Thio Toa-cui berdua justru sanggup membantai mati ke dua siluman laron itu? Aku benar benar bingung dan tidak habis mengerti"
"Tampaknya kau sudah melupakan tempat apakah ini?"
Sela Nyo Sin.
"Tentu saja aku tidak lupa, tapi apa hubungannya dengan persoalan ini?"
"Penjara besar adalah tempat untuk menyekap buronanburonan penting, hawa sesat ditempat ini pasti amat tebal, selain hawa sesat pasti terdapat juga hawa lurus"
"Oh....."
"Itu berarti disamping hawa sesat yang disebarkan para narapidana, terdapat juga hawa lurus dari para penegak hukum, itu berarti hawa lurus disini sangat kuat, bagaimana mungkin kaum siluman bisa mengeluarkan ilmu simpanannya ditempat seperti ini?"
Kata Nyo Sin. Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lagi sambil mengelus jenggotnya.
"Memang benar, kebenaran tinggi satu depa, kesesatan lebih tinggi satu kaki, tapi keampuhan ke dua ekor Laron Penghisap darah itu masih belum sampai puncaknya, maka dari itu meski dalam semalaman mereka bisa berubah wujud jadi manusia namun kemampuannya pasti akan terganggu, jadi tidak heran kalau Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei berhasil mati bersama-sama mereka"
Tu Siau-thian mengangguk berulang kali setelah mendengar penjelasan itu, sebaliknya Siang Hu-hoa hanya bisa tertawa getir. Terdengar Nyo Sin berkata lebih jauh.
"Sedangkan mengenai wujud asli Kwee Bok dan Gi Tiokkun, aku rasa hal ini tidak perlu disangsikan lagi"
Sinar matanya dialihkan ke tubuh Thio Toa-cui, setelah memandangnya sekejap, kembali dia berkata.
"Dari tubuh Thio Toa-cui sama sekali tidak terendus bau arak, rona matanya juga sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sudah dipengaruhi oleh air kata-kata, hal ini menunjukkan bahwa hingga detik terakhir dia selalu tampil dalam keadaan segar dan sadar, coba bayangkan saja, apakah kita tidak patut mempercayai perkataannya?"
Terpaksa Tu Siau-thian hanya mengangguk.
-----Arak berwarna merah darah!
-----Kulit muka siluman laron yang mengelupas tiada hentinya!
-----Laron Penghisap darah!
Semua perkataan itu diucapkan Thio Toa-cui menjelang putus nyawa, kata orang, biasanya perkataan yang diucapkan seseorang menjelang kematiannya adalah kata kata yang paling jujur dan pantas dipercaya.
Bila apa yang dia ucapkan memang merupakan kenyataan, berarti Kwee Bok dan Gi Tiok-kun adalah jelmaan dari siluman laron.
Benarkah di dunia ini terdapat siluman, setan atau iblis?
Tiba tiba sepasang mata Siang Hu-hoa berbinar, setelah memandang jenasah Thio Toa-cui sekejap ujarnya.
"Berbicara soal apa yang dia ucapkan tadi membuat aku teringat akan satu hal"
"Soal apa?"
"Bukankah tadi dia pernah menyinggung soal arak laron?"
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 18
Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 3