Ceritasilat Novel Online

Laron Pengisap Darah 6

Eps 6 Laron Pengisap Darah - Huang Ying

Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying

Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.

"Betul, arak laron berwarna merah darah"

Nyo Sin menambahkan.

"Rasanya arak yang disebut adalah sejenis arak langka"

"Rasanya memang begitu"

"Menjelang ajalnya dia masih teringat untuk menyinggung soal arak tersebut, ini berarti arak itu telah meninggalkan kesan yang amat mendalam baginya, bisa jadi ada hubungan yang amat besar dengan kematiannya"

"Mungkin ke dua orang siluman laron itu tahu kalau Oh Sam-pei gemar minum arak, maka mereka mengubah arak tersebut menjadi sejenis arak langka yang aneh"

Ujar Nyo Sin cepat.

"arak itu pasti sangat harum dan menarik, arak yang bisa membuat mereka tidak mampu menolak, ketika mereka berdua sedang menikmati arak pemberian mereka itulah tibatiba kedua orang siluman itu melancarkan serangan, lantaran itu mereka jadi gelagapan hingga akhirnya tewas, kalau begitu kejadiannya, tidak aneh kalau arak tersebut mendatangkan kesan yang sangat mendalam baginya"

Atas keterangan itu Siang Hu-hoa sama sekali tidak mengemukakan pendapatnya. Selama ini Ko Thian-liok hanya mengikuti pembicaraan itu tanpa komentar, saat itulah tiba tiba dia berkata.

"Berarti opas Nyo sangat yakin kalau Gi Tiok-kun dan Kwee Bok adalah jelmaan dari siluman laron?"

"Benar!"

Jawab Nyo Sin tanpa ragu. Ko Thian-liok segera berpaling dan tanyanya lagi.

"Bagaimana pendapatmu opas Tu?"

Tu Siau-thian berpikir sejenak, kemudian sahutnya.

"Walaupun aku tidak pernah percaya akan keberadaan siluman atau setan iblis, namun setelah kenyataan terpapar didepan mata, mau tidak mau aku harus mempercayainya, Cuma...."

"Cuma kau tetap menaruh curiga atas kejadian ini?"

Tukas Ko Thian-liok. Tu Siau-thian segera mengangguk.

"Apa yang membuat kau ragu?"

Desak Ko Thian-liok lebih jauh.

"Yang membuat aku ragu adalah keberadaan siluman dan setan iblis itu"

"Maksudmu tidak mungkin ada setan atau siluman?"

"Aku rasa pingsan dan terlelap tidurnya para penjaga penjara secara tiba tiba merupakan satu kejadian yang patut dicurigai"

"Ahh benar, hampir saja kita melupakan persoalan ini"

Seru Ko Thian-liok sambil manggut manggut, kembali dia memandang wajah Nyo Sin. Ternyata Nyo Sin mempunyai penjelasan tentang soal ini, ujarnya.

"Padahal masalah ini gampang sekali pemecahannya, tertangkapnya Kwee Bok dan Gi Tiok-kun pasti diketahui juga oleh Raja Laron, kalau disiang hari bolong tentu saja raja laron tidak berani bertindak gegabah meski kemampuannya hebat, maka menanti malam hari menjelang tiba, raja laron pun datang ke luar penjara, ketika melihat penjagaan diseputar penjara sangat ketat hingga mustahil baginya untuk menyusup masuk, terpaksa dia pun merobohkan para penjaga terlebih dulu dengan dupa pemabuk, agar orang yang kebetulan lewat disini mengira mereka terlelap tidur dan tidak curiga"

"Tapi dia toch tidak mampu membuka pintu penjara?"

"Tanpa ilmu hitam, tentu saja sulit baginya untuk membuka pintu penjara, apalagi kita segera tiba di tempat kejadian"

Ko Thian-liok manggut manggut, kali ini dia berpaling ke arah Siang Hu-hoa sambil bertanya.

"Bagaimana pandangan saudara Siang tentang kejadian ini?"

"Selama hidup aku tidak pernah bertemu dengan siluman atau setan iblis, jadi aku tidak pernah akan percaya akan adanya siluman atau setan iblis"

Jawab Siang Hu-hoa cepat.

"Belum pernah bertemu bukan berarti pasti tidak ada......."

Siang Hu-hoa segera tertawa.

"Tidak pernah percaya artinya selama hidup tidak akan percaya"

Sahutnya.

"Jadi kau harus menyaksikan dulu dengan mata kepala sendiri sebelum percaya kalau didunia ini benar benar terdapat siluman dan setan iblis?"

"Memangnya saudara Ko tidak berpendapat demikian?"

"Hahahaha..... ternyata hanya saudara Siang yang memahami perasaanku"

Seru Ko Thian-liok sambil tertawa tergelak. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Jadi saudara Siang siap melanjutkan penyelidikan hingga siluman iblis itu munculkan diri atau hingga berhasil menemukan setan iblis itu?"

"Benar!"

"Bagus sekali!"

Seru Ko Thian-liok, ia segera berpaling dan perintahnya kepada Nyo Sin.

"segera utus orang ke kantor pengadilan dan perintahkan petugas autopsi segera hadir disini"

"Jadi tayjin akan melakukan autopsi disini?"

"Benar, harus dilakukan"

"Takutnya mereka tidak akan berhasil menemukan penyebab kematian kedua orang ini"

"Takutnya bukan berarti pasti tidak akan berhasil"

"Benar"

"Jika petugas autopsi gagal menemukan penyebab kematian mereka walau sudah dilakukan pemeriksaan yang teliti, berarti kemungkinan tewas ditangan siluman iblis jadi lebih besar"

"Benar"

Sekali lagi Ko Thian-liok berpaling ke arah Siang Hu-hoa, tiba tiba ujarnya lagi sambil tersenyum"

"Kalau kematian mereka benar benar disebabkan ulah setan iblis, urusannya malah jadi lebih gampang"

Siang Hu-hoa cukup memahami maksud perkataan Ko Thian-liok, tanpa terasa dia tertawa, hukum negara yang berlaku, siapa berani membunuh orang lain, hukumannya adalah hukuman mati.

Tapi jika pembunuhnya adalah Gi Tiok-kun dan Kwee Bok, sementara mereka berdua kalau benar jelmaan dari siluman laron dan kini sudah mati, maka kasus pembunuhan inipun dianggap sudah tuntas, otomatis urusan pun jadi lebih gampang penyelesaiannya.

--Malam yang panjang akhirnya berlalu, bintang fajar sudah mulai menyingsing diufuk timur, angin pagi yang dingin berhembus silir semilir.

Berjalan dijalan raya yang sepi Siang Hu-hoa merasakan hatinya sedikit gundah, biarpun semalaman tidak tidur namun semangatnya masih nampak berkobar.

Yau Kun nampak agak kuyu, bila seseorang harus bergadang semalaman suntuk, aneh jika dia tidak nampak lesu.

Kemarin, selesai menggelandang Gi Tiok-kun pulang ke kantor pengadilan, dia sudah tidak ada pekerjaan lain, sementara Siang Hu-hoa sekalian masih sibuk menyelidiki kasus tersebut, dia sudah berkeliaran dialam mimpi.

Pagi ini ketika balik ke kantor, Tu Siau-thian menyerahkan sebuah tugas baru kepadanya, yaitu membantu Siang Hu-hoa melakukan penyelidikan.

Tentu saja diluar sepengetahuan Siang Hu-hoa, dia mendapat tugas khusus lainnya, maka begitu meninggalkan pintu kantor, dia pun mengintil terus disamping Siang Hu-hoa secara ketat, Ternyata tugas rahasia yang diperintahkan Tu Siau-thian kepadanya adalah mengawasi gerak gerik Siang Hu-hoa, yang dimaksud membantu sebetulnya lebih tepat jika dikatakan mengawasi gerak geriknya.

Tu Siau-thian terhitung orang yang banyak curiga, sebelum persoalan mendapat bukti yang jelas, dia memang selalu mencurigai segala sesuatu apapun.

Siang Hu-hoa tidak terkecuali, dia tetap mencurigai maksud dan tujuan sebenarnya dari orang ini.

Tidak banyak orang yang berlalu lalang di jalan raya, dengan langkah cepat Siang Hu-hoa menelusuri jalanan menuju ke depan.

Sepanjang perjalanan dia memikirkan terus semua persoalan yang dialaminya sepanjang hari, kadangkala dia berjalan sangat lamban, kadangkala diapun berjalan cepat.

Mau tidak mau Yau Kun harus mengikuti terus disamping tubuhnya.

Setelah berbelok sebuah persimpangan jalan, Siang Hu-hoa baru mulai memperlambat langkah k akinya, tiba tiba ujarnya kepada Yau Kun sambil tertawa.

"Aku percaya tujuan Tu Siau-thian mengutusmu kemari bukan lantaran untuk membantu penyelidikanku saja bukan?"

Yau Kun agak tertegun, dia ingin sekali mengangguk membenarkan, tapi akhirnya hanya tersenyum tanpa memberikan pernyataan apapun. Kembali Siang Hu-hoa berkata sambil tertawa.

"Jika seseorang tidak memiliki rasa curiga yang besar, pada hakekatnya dia tidak akan mampu menjadi seorang opas yang cemerlang, maka diapun mencurigai aku, padahal ini semua sudah berada dalam dugaanku, tentu saja aku tidak akan marah kepadanya hanya gara-gara persoalan ini"

Yau Kun hanya tertawa tanpa komentar.

"Tapi kali ini, dia salah kalau mencurigai aku"

Ujar Siang Hu-hoa lebih lanjut.

"Oo..ya? Lalu yang benar harus mencurigai siapa?"

"Kalau aku bisa tahu, tentu urusan jadi lebih gampang"

"Jangan jangan semuanya ini memang gara gara ulah siluman iblis?"

Tiba-tiba Yau Kun merendahkan suaranya.

"Hingga detik ini, siapa pun tidak berani yakin akan hal tersebut"

"Bahkan termasuk dirimu sendiri?"

Dengan perasaan apa daya Siang Hu-hoa mengangguk.

"Tentunya kau sudah mengetahui dengan jelas bukan akan terjadinya semua peristiwa dalam penjara besar?"

Katanya.

"Rekan rekan yang kebetulan bertugas telah menceritakan semua kejadian itu secara jelas"

"Kecuali ulah dari siluman iblis, dapatkah kau menemukan penjelasan lain yang jauh lebih cocok dan masuk akal?"

"Sulit"

Yau Kun menggeleng, setelah termenung sejenak terusnya.

"yang paling mengherankan adalah hasil autopsi yang dilakukan para petugas, ternyata merekapun gagal menemukan sebab kematian Thio Toa-cui dan Oh Sam-pei"

"Benar"

Siang Hu-hoa mengangguk.

"kejadian mi memang sangat aneh"

Setelah mendapat perintah, para petugas autopsi segera melakukan pembedahan dan pemeriksaan, namun walaupun telah menghabiskan waktu hampir dua jam lamanya, mereka tetap gagal untuk menemukan sebab kematian dari Thio Toacui serta Oh Sam-pei.

Selama autopsi dilakukan, Siang Hu-hoa sekalian ikut mendampingi para petugas itu ..sambil melakukan pemeriksaan, tapi alhasil, dengan andalkan pengetahuan dan pengalamannya yang amat luas pun dia tetap tidak menemukan penyebab kematian kedua orang itu.

Maka untuk sementara waktu semua orangpun setuju untuk menganggap kematian ke dua orang itu disebabkan ulah siluman iblis.

Tentang ke dua ekor laron itu, sementara waktu mereka hanya bisa menganggap sebagai ujud asli dari Gi Tiok-kun dan Kwee Bok.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka berdua telah tiba di depan perkampungan Ki-po-cay.

Sambil menghela napas ujar Yau Kun.

"Mungkin penyebab kematian mereka memang benar benar karena ulah siluman atau setan iblis"

"Sayangnya selama ini aku belum pernah melihat ada siluman atau setan iblis yang bisa membunuh orang"

Kata Siang Hu-hoa sambil menghela napas.

"kalau tidak, mungkin aku sangat setuju dengan pendapatmu itu"

"Bila Siang toaya pernah melihat, tentu kau bisa bercerita bagaimana caranya setan iblis itu melakukan pembunuhan......."

Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Konon setan iblis pun banyak jenisnya, itu berarti cara mereka membunuh pun pasti berbeda-beda"

"Konon memang begitu"

"Apakah Siang toaya siap melakukan penggeledahan sekali lagi di dalam perkampungan Ki-po-cay?"

"Aku memang mempunyai rencana itu"

"Perkampungan Ki-po-cay sangat luas, untuk melakukan penggeledahan paling tidak butuh waktu selama beberapa hari"

"Tidak masalah, toch para petugas yang dikirim untuk mencari Liong Giok-po, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap juga butuh berapa hari lamanya untuk sampai kembali kemari"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya.

"Bila mereka berhasil ditemukan, mungkin kita harus menghadapi situasi yang sama sekali berbeda"

"Apakah kasus ini akan terjadi perubahan lagi?"

"Menurut aku pasti akan terjadi"

Sahut Siang Hu-hoa, setelah mengenang sejenak, terusnya.

"hingga sekarang kasus ini sudah berulang kali terjadi perubahan, jadi menurut pendapatku, semisal berubah satu kali lagi pun tidak masalah"

"Justru semakin berubah, kasus ini semakin aneh rasanya"

"Seandainya peristiwa ini merupakan hasil karya seorang manusia, orang tersebut kalau bukan berbakat luar biasa, dia pastilah seorang gila yang tidak waras otaknya"

"Oya?"

"Sebenarnya antara seorang cerdas yang berbakat alam dan seorang gila yang tidak waras otaknya tidak ada bedanya, sebab perbuatan yang dilakukan ke dua jenis manusia ini biasanya aneh, luar biasa dan gampang membuat hati orang lain terperanjat"

"Atas dasar apa Siang toaya mencurigai kalau peristiwa ini hasil perbuatan seorang manusia?"

Tanya Yau Kun.

"Karena aku tidak pernah percaya kalau di dunia ini terdapat siluman atau setan iblis dan sebangsanya"

"Aku pun demikian"

"Sama seperti dua min satu sama dengan satu, kalau bukan ulah setan iblis, sudah pasti Kejadian ini merupakan ulah manusia"

"Jadi sekarang Siang toaya sedang berusaha untuk membuktikan bahwa peristiwa ini adalah ulah manusia?"

"Jika aku punya cara untuk membuktikan bahwa kejadian ini merupakan hasil karya setan iblis, aku pun pasti akan berusaha untuk melakukannya"

"Sayang kau tidak pernah berkenalan dan berhubungan dengan kaum siluman dan setan iblis"

"Bukankah hal ini merupakan satu keberuntungan bagiku?"

Tanya Siang Hu-hoa sambil tersenyum.

"Ehm"

"Apa perintah Tu Siau-thian kepadamu?"

Kali ini Siang Huhoa mengalihkan pembicaraan ke soal lain.

"Membantu penyelidikan siang toaya dengan sepenuh tenaga"

"Aku tahu, kau pasti akan membantuku dengan sepenuh tenaga"

"Bila atasan sudah menurunkan perintah, memangnya aku bisa berpeluk tangan saja?"

"Bila aku melakukan penyelidikan hingga larut malam.........."

"Terpaksa aku harus tetap tinggal sampai malam di sini"

"Kalau begitu aku harus menyuruh Jui Gi untuk menyiapkan sebuah kamar lagi untukmu"

"Untungnya perkampungan Ki-po-cay sangat luas hingga tidak kuatir kekurangan kamar"

Tiga hari berselang, dia bersama Tu Siau-thian sekalian pernah melakukan penggeledahan satu kali di seluruh perkampungan Ki-po-cay, tentu saja dia mengetahui amat jelas keadaan di dalam perkampungan ini.

--Perkampungan Ki-po-cay memang luas sekali.

Setelah melakukan penggeledahan selama empat hari, Siang Hu-hoa dan Yau Kun baru berhasil memeriksa seluruh isi perkampungan itu.

Mereka tidak berhasil menemukan sesuatu apa pun, bahkan secuil kertas yang berisi tulisan tangan Jui Pak-hay sekalipun.

Pada malam hari ke empat, disaat mereka siap meninggalkan perkampungan Ki-po-cay, dari luar berjalan masuk Tan Piau.

Baru saja Tan Piau melangkahkan kakinya ke atas undakan batu, kebetulan mereka sedang melangkah keluar dari dalam.

Dengan sorot mata yang tajam Siang Hu-hoa segera mengenalinya dalam sekali pandangan, sambil menghentikan langkah kakinya dia menegur.

"Bukankah dia adalah rekan kerja mu?"

Yau Kun mengiakan lalu berseru.

"Tan-heng, ada urusan apa kau datang kemari?"

"Aku mendapat perintah untuk mengundang kedatangan Siang toaya di kantor pengadilan"

Jawab Tan Piau.

"Apakah petugas yang dikirim untuk mencari Liong Giok-po, Cu Hiap dan Wan Kiam-peng telah pulang?"

Tanya Siang Huhoa cepat. Tan Piau mengangguk.

"Semuanya sudah kembali, karena itu tayjin minta Siang tayhiap segera datang ke kantor pengadilan"

"Apakah Liong Giok-po, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap juga turut datang?"

"Hanya Liong Giok-po seorang yang datang"

"Ada apa dengari Cu Hiap dan Wan Kiam-peng? Tidak berhasil menemukan jejak mereka?"

"Jejaknya sih sudah ditemukan, hanya sayang mereka sudah tidak mungkin lagi untuk datang kemari"

"Memangnya sedang sakit? Sakit parah?"

"Benar, memang parah sekali, sudah tidak ada obat yang bisa menyembuhkan mereka"

Yau Kun yang ikut mendengarkan pembicaraan itu jadi tidak sabaran, segera tukasnya.

"Bicaralah yang lebih jelas"

"Mereka berdua sudah mati"

Jawab Tan Piau kemudian dengan wajah serius.

"Kapan mereka mati?"

"Sudah dua tiga tahun berselang, Cu Hiap jatuh sakit dan tidak sampai tiga bulan kemudian dia sudah mati"

"Apakah Wan Kiam-peng juga mati lantaran sakit?"

"Tidak"

"Apa penyebab kematiannya?"

"Dibunuh musuh besarnya"

"Di masa hidupnya, orang ini memang kelewat jumawa dan takabur, lebih banyak orang yang disakiti hatinya ketimbang orang yang memujinya, tidak heran kalau dia mempunyai banyak musuh di mana-mana"

Kata Siang Hu-hoa.

"Menurut hasil penyelidikan, Wan Kiam-peng memang manusia semacam itu"

Tan Piau membenarkan.

"Tapi siapakah musuh besarnya yang berhasil membantai dia?"

"Kami sendiripun tidak tahu"

"Tidak berhasil dilacak?"

"Kami hanya berhasil tahu kalau dia tewas sewaktu dalam perjalanannya pulang ke rumah"

"Bagaimana ceritanya?"

"Menurut cerita orang, senja itu kudanya menerobos masuk lewat pintu selatan kota, baru tiba di jalan utama, dia sudah roboh terjungkal dari atas pelananya, ketika orang berusaha menolongnya, mereka jumpai pada tengkuk sebelah belakangnya terdapat sebuah mulut luka sepanjang empat lima inci yang mengucurkan darah segar dengan amat derasnya"

"Dengan luka sedalam itu, bukankah batok kepalanya nyaris terpapas kutung?"

"Betul, konon kepalanya sudah terkulai diatas dada, nyaris terpapas kutung"

"Apakah pihak pemerintah tidak melakukan penyelidikan atas kasus tersebut?"

"Ada, hasil autopsi menunjukkan bahwa mulut luka itu berasal dari babatan sebilah pedang yang sangat tajam"

"Ini berarti orang yang membunuhnya adalah seorang jago tangguh yang mahir menggunakan pedang"

"Akupun berpendapat demikian...... bila ditinjau dari keadaan waktu itu, bisa jadi si penyerang melancarkan sebuah sergapan kilat disaat Wan Kiam-peng sedang melarikan kudanya memasuki kota, kemungkinan besar pembunuhnya juga menunggang kuda atau menyaru sebagai pejalan kaki, tapi apa pun bentuknya, serangan pedang yang digunakan pasti cepat bagaikan sambaran kilat, sebab walaupun sudah terkena babatan, nyatanya dia masih sempat lari masuk ke dalam kota"

"Saat itu sudah senja, aku yakin tidak banyak orang yang masuk ke dalam kota"

"Di selatan kota merupakan sebuah jalan perbukitan yang amat sepi"

Tan Piau menjelaskan.

"Apakah tidak ada saksi mata yang menyaksikan pembunuhan itu?"

"Tidak ada"

"Apakah ada yang tahu apa yang sedang dia lakukan di selatan kota?"

"Banyak yang tahu"

"Oya?"

"Di selatan kota terdapat sebuah kuil yang bernama Huilay-sie, hwesio tua yang menghuni di kuil tersebut merupakan sahabat karibnya, konon pendeta itu pandai memasak hidangan berpantang, kecuali sedang melakukan perjalanan jauh, kalau tidak, setiap tanggal satu dan tanggal lima belas dia pasti akan berkunjung ke kuil itu untuk makan bersama, sebab hal ini sudah menjadi kebiasaannya"

"Jadi dia pun cia-jay (makan berpantang)?"

"Mungkin karena tahu kalau dosa yang dilakukan sudah kelewat banyak, dia berharap dengan cia-jay maka dosanya bisa diperingan"

"Berarti pembunuhnya sudah tahu akan kebiasaannya itu"

"Kemungkinan besar memang begitu, maka dia menunggu kemunculannya di luar kota selatan"

"Kapan terjadinya peristiwa ini?"

"Lebih kurang tujuh-delapan bulan berselang"

Kembali Siang Hu-hoa termenung, sesaat kemudian dia baru bertanya.

"Apakah Cu Hiap dan Wan Kiam-peng tidak mempunyai anak?"

"Menurut hasil penyelidikan, mereka berdua tidak punya keturunan, bahkan sewaktu tewas Wan Kiam-peng masih berstatus jejaka"

"Kalau begitu seluruh harta kekayaan yang dimiliki Jui Pakhay akan terjatuh ke tangan Liong Giok-po seorang"

Gumam Siang Hu-hoa. Setelah berpikir sejenak, kembali tanyanya.

"Apakah saat ini Liong Giok-po berada di kantor pengadilan?"

"Benar"

"Baru tiba?"

"Betul, baru tiba"

"Sudah bertemu dengan tayjin kalian?"

"Belum, maksud tayjin pertemuan ada baiknya dilakukan setelah kedatangan Siang toaya, sewaktu aku meninggalkan kantor pengadilan tadi, dia sedang berbincang dengan komandan Nyo!"

"Tampaknya dia ingin mengorek keterangan dari pembicaraannya dengan Liong Giok-po?"

"Rasanya memang begitu"

"Bagaimana pandangan dari opas Tu?"

"Opas Tu tidak berada di kantor"

"Jadi dia belum tahu akan kedatangan Liong Giok-po?"

Tanya Siang Hu-hoa lebih jauh.

"Rasanya belum tahu, sejak sore kemarin sudah tidak nampak batang hidungnya"

"Ke mana dia?"

"Kurang jelas, sewaktu bertemu pagi harinya, dia pun tidak pernah mengatakan apa apa, juga tidak menyinggung mau ke mana"

"Oya?"

"Mungkin saja dia hanya pergi sebentar karena ada urusan"

Ujar Tan Piau lagi setelah berpikir sejenak.

"siapa tahu sewaktu kita sampai di kantor, dia pun sudah kembali"

"Yaa. Mungkin saja...."

Siang Hu-hoa manggut manggut.

Dia mendongakkan kepalanya memandang sekejap keadaan cuaca kemudian terbungkam kembali, waktu itu hujan sedang turun membasahi bumi.

Bab 27.

Melacak rumah penginapan Hun-lay.

Hujan gerimis menyelimuti udara di senja itu, meski hanya hujan lembut, tidak urung membasahi juga seluruh tubuh mereka ketika harus menempuh perjalanan.

Untung sebelum Siang Hu-hoa sekalian meninggalkan perkampungan Ki-po-cay, hujan sudah turun duluan sehingga si pengurus rumah tanggal Jui Gi tahu apa yang harus dilakukan.

Dia menyediakan sebuah payung hujan, Yau Kun merasa sebuahpun sudah lebih dari cukup karena dia yang akan memayungi Siang Hu-hoa.

Setelah berkumpul selama empat hari, dia merasa amat kagum dan sangat takluk akan kehebatan ilmu silat lelaki itu, sementara selama ini Siang Hu-hoa pun selalu meluangkan waktu untuk memberi banyak petunjuk akan rahasia ilmu silat.

Sementara menelusuri jalan raya, entah mengapa tiba-tiba muncul firasat jelek dalam hati Siang Hu-hoa.

Dia tahu Tu Siau-thian adalah seorang opas yang amat bertanggung jawab, bila tidak ada urusan penting, tidak mungkin dalam suasana begini dia tinggalkan kantor.

Apakah telah terjadi suatu peristiwa penting sehingga dia harus pergi?

Tiba-tiba ia berpaling sambil bertanya.

"Dikala tidak ada urusan, kebanyakan opas Tu pergi ke mana?"

"Bila tidak ada urusan, dia lebih banyak tinggal di dalam kantor"

Jawab Tan Piau tanpa berpikir panjang.

"kalau hendak pergi ke suatu tempat, dia pun selalu berpesan dapat menemukan dirinya di mana"

"Dulu, pernahkah terjadi kejadian seperti hari ini?"

Kembali Siang Hu-hoa bertanya.

"Belum pernah"

"Selama berapa hari terakhir, apakah telah terjadi kasus lain?"

"Tidak satu pun yang terjadi"

"Atau mungkin ada kasus lama yang belum terselesaikan dan sekarang harus segera "liselesaikan?"

"Tidak ada, kasus yang terjadi disini hanya k;isus mengenai Laron Penghisap darah"

"Jangan jangan ia berhasil menemukan titik terang?"

Tanya Siang Hu-hoa lagi setelah termenung dan berpikir sejenak.

"Soal ini mesti ditanyakan langsung kepadanya"

Siang Hu-hoa segera terbungkam kembali.

Benarkah Tu Siau-thian telah menemukan sesuatu yang mencurigakan?

Kalau memang ada penemuan, berbahayakah itu?

Kini, dimana dia berada?

Beberapa pertanyaan itu mungkin hanya Tu Siau-thian pribadi yang bisa menjawab dan memberi keterangan.

Saat itu Tu Siau-thian sedang berada diluar dinding pekarangan rumah penginapan Hun-lay.

Air hujan telah membasahi seluruh pakaiannya.

Sebelum hujan turun, dia sudah tiba disekeliling tempat itu.

Sudah menjadi kebiasaannya untuk berkeliling diseputar kota selesai bersantap siang, tidak terkecuali hari ini.

Sementara masih berjalan, tiba-tiba dia teringat akan satu hal.

-----Kwee Bok pernah memelihara Laron Penghisap darah didalam rumah penginapan Hun-lay, tapi sesaat menjelang kedatangan mereka di rumah penginapan itu, mengapa kawanan laron tersebut terbang pergi hingga tidak tersisa seekor pun.

-----ke mana perginya rombongan Laron Penghisap darah itu?

-----setelah kepergian mereka dari rumah penginapan itu, apakah rombongan Laron Penghisap darah itu terbang balik lagi ke dalam rumah penginapan?

Dia ingin mengetahui rahasia ini, maka diputuskan untuk mendatangi rumah penginapan Hun-lay sekali lagi.

Bila Kwee Bok adalah pemilik kawanan Laron Penghisap darah itu atau Kwee Bok benar-benar adalah jelmaan dari siluman laron, berarti dialah pemegang kendali rombongan Laron Penghisap darah itu, dengan kematiannya, rombongan laron itu seharusnya ikut kalut dan tidak terkontrol lagi.

Kecuali si pemegang kendali yang sebenarnya adalah Raja laron, hanya Raja laron yang memimpin dan menguasahi kawanan laron tersebut, kalau tidak, niscaya kawanan laron itu tidak akan terbang balik ke rumah penginapan Hun-lay.

Sudah cukup lama kawanan laron itu tinggal di rumah penginapan Hun-lay, sudah berpuluh kali mereka masuk keluar disekitar sana, seharusnya kawanan makhluk itu hapal sekali dengan daerah seputar sana.

Aoalagi di dalam rumah penginalan Hun-lay tersedia makanan yang berlebihan, semestinya binatang binatang itu mempunyai kesan yang mendalam terhadap tempat ini.

Setelah meninjau dari berbagai kejadian yang berlangsung berapa hari terakhir, dapat disimpulkan kalau kawanan Laron Penghisap darah itu tidak berbeda dengan kawanan lebah, bahkan setingkat lebih tangguh, jadi tidak ada alasan kalau mereka tidak kenal jalan dan tidak bisa balik lagi ke rumah penginapan Hun-lay.

Tu Siau-thian hanya berharap ketika dia tiba di penginapan Hun-lay nanti, kawanan laron itu sudah berkumpul dalam ruangannya.

Dia sama sekali tidak berminat mengumpulkan dan menggiring laron laron itu kembali ke sarangnya.

Sebab dia sadar tidak memiliki kepandaian seperti itu, pun tidak memahami bagaimana caranya mengendalikan kawanan laron itu, menjadi pawang Laron Penghisap darah dan membuat kawanan laron itu tunduk pada perintahnya.

Yang dia harapkan hanya bisa menangkap salah satu di antaranya.

Pada tanggal dua bulan tiga, dari atas sebatang poon ditepi telaga dia pernah menangkap seekor laron, bahkan jari tangannya sempat disengat oleh Laron Penghisap darah itu sehingga dengan gugup dia harus lepas tangan.

Dia berjanji didalam hati, jika berhasil menangkapnya lagi kali ini, apa pun yang terjadi dia tidak bakal lepaskan tangkapannya.

Asal dia berhasil menangkap seekor diantaranya, berarti dia bisa membuktikan apakah Laron Penghisap darah itu benarbenar bisa melalap daging manusia, menghisap darah manusia atau tidak.

Inilah tujuannya yang utama.

Sebelum tiba di depan rumah penginapan Hun-lay, dia telah bertemu dengan seekor Laron Penghisap darah.

Hanya seekor Laron Penghisap darah, terbang lewat dari sisi bunga liar ditepi jalan dan terbang menuju ke depan.

Sebenarnya Tu Siau-thian ingin menangkap laron tersebut, tapi karena sambarannya mengenai sasaran kosong, terpaksa dia kejar laron itu hingga akhirnya sampailah di tempat tujuannya yang semula.....

rumah penginapan Hun-lay.

Waktu itu hujan sudah mulai turun, Laron Penghisap darah itu terbang lebih cepat, ternyata air hujan tidak sampai membasahi tubuhnya.

Dia terbang melewati dinding pekarangan rumah penginapan dan terbang masuk ke dalam sebuah jendela.

Tu Siau-thian masih mengenal jendela itu.

Jendela tersebut tidak lain adalah jendela ruangan yang digunakan untuk memelihara laron.

Hari itu, lewat jendela itulah kawanan laron tersebut terbang keluar.

Sekarang hanya seekor Laron Penghisap darah yang terbang kembali, ke mana perginya kawanan Laron Penghisap darah lainnya?

Apakah mereka telah kembali ke dalam ruangan itu?

Kalau benar, dengan cara apa mereka mempertahankan hidupnya sekarang?

Apakah dengan menggunakan darah didalam tubuh Si Siang-ho?

Tu Siau-thian berdiri termangu diluar dinding pagar, mengawasi laron itu terbang masuk ke balik jendela, dia masih memikirkan terus persoalan ini.

Mendadak tubuhnya bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dalam keadaan Iapar, mungkinkah kawanan Laron Penghisap darah itu melahap daging dan darah dari Si Siangho?

Jika darah dan daging Si Siang-ho sudah habis disantap, mungkinkah kawanan makhluk itu akan mulai mengincar orang orang dusun disekelilingnya?

Tu Siau-thian tidak berani berpikir lebih iiiuh, tanpa terasa dia celingukan memandang ke kiri dan kanannya.

Belakang rumah penginapan Hun-lay merupakan sebidang tanah berumput, disisi kiri dan kanannya merupakan dinding belakang rumah penduduk.

Tidak ada orang yang berlalu lalang disekitar sana, tapi dari cerobong asap rumah penduduk terlihat ada asap putih yang mengepul.

Diam-diam Tu Siau-thian menghembuskan napas lega, ada asap berarti ada orang, maka perhatiannya mulai dialihkan kembali ke jendela ruangan itu.

Seperti keadaan tempo hari, jendela ruangan dalam keadaan terbuka lebar, tapi suasana dibalik ruangan remang remang tidak jelas.

Mungkinkah kawanan Laron Penghisap darah itu masih bersarang disitu?

Tiba-tiba dia tertawa, padahal gampang sekali untuk mengetahui hal ini, asal masuk ke dalam dan memeriksannya, bukankah sebuah jawaban yang pasti akan diperoleh?

--Dinding pekarangan yang mengelilingi bagian belakang rumah penginapan Hun-lay sangat tinggi.

Tu Siau-thian harus berdiri tiga kaki dari dinding itu sebelum dapat melihat jendela ruangan itu dengan jelas.

Tapi suasana di dalam ruangan tidak nampak jelas, yang terdengar hanya suara dengungan yang sangat aneh.

Tu Siau-thian belum melupakan suara tersebut, karena suara itu pada hakekatnya mirip sekali dengan suara sekawanan laron yang sedang mengunyah daging manusia.

Sebetulnya Tu Siau-thian ingin berputar ke pintu depan dan masuk lewat sana, tapi sekarang, entah apa yang mempengaruhi jalan pikirannya, dia putuskan untuk masuk dengan melompati pagar pekarangan.

Suasana dalam rumah penginapan itu sudah menimbulkan rasa curiganya, dia memang punya watak banyak curiga.

Hujan makin lama semakin lebat, Tu Siau-thian menarik napas panjang panjang kemudian dengan jurus it-hok-ciongthian (bangau sakti menerjang angkasa) dia melompat ke tengah udara.

Suasana dibalik dinding pekarangan tidak ada yang aneh, segala sesuatunya masih persis seperti keadaan semula, yang tertinggal hanya suara aneh yang kedengaran makin nyaring.

Tu Siau-thian celingukan sekejap dari atas dinding, kemudian dengan sekali lompatan dia melayang turun ke bawah.

Kemudian sambil menyingkirkan bunga-bungaan dengan ke dua belah tangannya, Tu Siau-thian berjalan menelusuri jalan setapak menuju ke beranda bagian dalam.

Ternyata pintu hanya dirapatnya, dengan sekali dorong Tu Siau-thian sudah menyelinap masuk ke dalam.

Suasana didalam rumah penginapan amat gelap, walaupun dibagian halaman belakang terdapat dua buah jendela yang setengah terbuka, sayang saat itu senja telah menjelang tiba.

Dalam keremangan senja dan gelapnya suasana dalam ruangan, tidak nampak setitik cahaya lentera pun yang menerangi tempat itu.

Tu Siau-thian memperlambat langkah kakinya, selangkah demi selangkah dia maju terus ke depan.

Suasana dalam rumah penginapan itu bukan saja amat gelap, bahkan sepi sekali, sedemikian heningnya hingga mirip dengan suasana dalam pekuburan.

Tu Siau-thian masih ingat keadaan disitu, sebuah lorong menghubungkan halaman belakang dengan ruang utama, disisi kiri kanan lorong merupakan kamar kamar yang amat gelap lagi sepi.

Akhirnya dengan terseok-seok tibalah Tu Siau-thian di ruang depan rumah penginapan itu.

Di ruang utama pun tidak nampak cahaya lentera, dengan meminjam secercah sinar yang menyusup masuk melalui langit langit Tu Siau-thian mencoba untuk mengawasi sekeliling tempat itu.

Tidak seorang manusia pun tampak disitu, meja kursi serta perapot lain masih berada pada posisinya semula.

Ke mana perginya Si Siang-ho?

Sinar mata Tu Siau-thian pelan pelan dialihkan ke anak tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan ruang atas, jangan-jangan dia berada diatas loteng?

Dengan langkah lebar Tu Siau-thian menaiki anak tangga.

Suasana terasa makin hening, Tu Siau-thian berusaha memperingan langkah kakinya, belum lagi mencapai ujung loteng dia sudah mengendus bau busuk yang menusuk hidung, hanya kali ini bau busuk itu jauh lebih tipis dan tawar.

Mengapa tidak terendus bau busuk yang luar biasa seperti tempo hari?

Jangan jangan kawanan laron itu belum terbang balik ke situ?

Akhirnya tibalah dia ruangan paling ujung, beberapa buah kerangkeng besi itu masih terletak disitu.

Dari balik ruangan dia dapat mendengar suara dengungan yang tidak terasa asing lagi baginya, hanya kali ini suara dengungan itu amat lirih dan lemah.

Ada berapa banyak Laron Penghisap darah yang berada disitu?

Tu Siau-thian tidak lupa dengan tombol otomatis didepan pintu, dia tekan tombol itu perlahan lalu melongok ke dalam ruangan.

Malam semakin kelap, suasana semakin gelap sementara hujan turun semakin deras.

Walaupun jendela berada dalam keadaan terbuka lebar, namun cahaya yang memancar masuk dari luar jendela amat tipis dan redup.

Tu Siau-thian hanya bisa memperhatikan benda didalam ruangan dengan memaksakan diri.

Dia picingkan matanya dan sekali lagi mengawasi seputar tempat itu.

Semua benda yang ada dalam ruangan persis sama seperti apa yang dilihatnya tempo hari, rak bambu masih berada di posisi semula, tapi hanya dua tiga ekor Laron Penghisap darah yang sedang beterbangan disana.

Kemana perginya Laron Penghisap darah lainnya?

Apakah bersembunyi semua dibalik rak bambu itu?

Tu Siau-thian memperhatikan berapa saat lagi sebelum akhirnya membuka pintu kamar dan berjalan masuk ke dalam.

Dia bertindak sangat hati-hati, tidak terlalu besar suara yang ditimbulkan sewaktu membuka daun pintu, sementara Laron Penghisap darah yang sedang terbang menari diantara rak bambu pun nampaknya tidak menyadari akan kehadirannya.

Begitu masuk ke dalam ruangan, kembali dia mengendus bau busuk yang menusuk hidung.

Bau busuk yang terendus hari ini berbeda jauh dengan bau busuk waktu itu, saat itu tulang belulang sisa kelinci belum sempat dibersihkan, tulang belulang itu masih berserakan didepan rak bambu.

Agaknya bau busuk yang memuakkan itu berasal dari bangkai kelinci serta sisa tulang belulangnya.

Dari tulang belulang kelinci kembali Tu Siau-thian mengalihkan perhatiannya ke atas rak bambu, mengawasi Laron Penghisap darah yang sedang beterbangan disitu.

Kembali dia melangkah maju menghampiri rak bambu itu, tiga langkah......empat langkah........hingga tiba persis didepan rak bambu itu, suasana tetap hening dan tidak terjadi sesuatu apa pun.

Benar sekali penglihatannya tadi, hanya ada tiga ekor Laron Penghisap darah yang sedang beterbangan disitu.

Tu Siau-thian takut salah, dia mencoba menghitung.....satu, dua., tiga.....ternyata betul, hanya ada tiga ekor laron.

Dalam ruang sebesar itu ternyata hanya dihuni tiga ekor Laron Penghisap darah, kemana perginya laron laron yang lain?

Mendadak Tu Siau-thian melangkah maju lagi ke depan, kakinya mulai menginjak tulang belulang yang berserakan dilantai ruangan.

Suara gemuruh yang amat menyeramkan segera berkumandang dari balik rak bambu, suara tulang kelinci yang berhamburan ke mana mana....

"Ngguung......!"

Seekor Laron Penghisap darah terbang keluar dari balik rak bambu, hanya satu ekor!

Sekarang kalau dijumlahkan berarti ada empat ekor, Tu Siau-thian merasa setengah lega.

Dia yakin masih sanggup menghadapi serangan dari empat ekor Laron Penghisap darah.

Tapi perasaan curiga yang menyelimuti hatinya kini semakin menebal......kemana perginya kawanan Laron Penghisap darah lainnya?

Apa maksud dan tujuan ke empat ekor Laron Penghisap darah itu tetap tinggal dalam ruangan itu?

Pada saat itulah ke empat ekor Laron Penghisap darah itu mulai terbang menghampiri wajahnya.

Selain suara sayap yang membelah udara, seakan terdengar pula semacam suara yang tinggi melengking dan sangat aneh, meski lirih tapi menyeramkan.

Suara aneh itu seakan muncul dari mulut ke empat ekor Laron Penghisap darah itu, makin lama suara aneh tersebut semakin melengking.......

Bulu kuduk Tu Siau-thian makin berdiri, suara tersebut sangat mengerikan, terutama ditengah keheningan malam seperti saat ini.

Bila dicerna lebih mendalam, suara itu mirip sekali dengan suara orang yang sedang kelaparan, suara gemerutuknya perut seorang kelaparan yang tiba-tiba bertemu dengan hidangan lezat.

Tu Siau-thian pernah mendengar suara semacam ini, dia pun mempunyai pengalaman soal suara tersebut.

Jika selama ini ke empat Laron Penghisap darah tersebut selalu berdiam di dalam ruangan itu, bisa dipastikan saat itu mereka sudah kelaparan setengah mati.

Apa yang mereka minum adalah darah, yang disantap adalah daging, sementara dalam ruangan hanya tersisa seonggok tulang belulang kelinci.

Paling tidak mereka sudah kelaparan selama enam hari, bukankah kehadiran Tu Siau-thian saat ini tepat pada waktunya?

Dalam waktu singkat ke empat ekor Laron Penghisap darah itu sudah tiba di hadapan Tu Siau-thian.

Tanpa sadar Tu Siau-thian melompat mundur ke belakang, dalam sekali lompatan dia sudah mundur setengah kaki jauhnya, nyaris sudah keluar dari pintu ruangan.

Reaksinya boleh dibilang sangat cepat dan lincah, tapi sayang gerakan tubuh ke empat ekor Laron Penghisap darah itu jauh lebih cepat dan lincah, dalam sekali kepakan sayap mereka sudah mengejar ke hadapan opas itu.

Dalam keadaan begini, tentu saja mereka tidak akan melepaskan Tu Siau-thian dengan begitu saja, bagi pandangan mereka, kehadiran opas tersebut tepat pada saatnya, opas itu merupakan hidangan paling lezat yang akan mereka nikmati.

Seseorang yang berbadan kekar pasti memiliki daging dan otot yang lebih kasar, cairan darah yang mengalir dalam tubuhnya pasti merupakan minuman yang terlezat......

Bagi kawanan Laron Penghisap darah itu, daging tidak terlalu penting, asal dapat menghisap darah segar, hal ini sudah lebih dari cukup, mereka adalah Laron Penghisap darah bukan laron pemakan bangkai.

Apakah saat ini mereka sudah dapat mengendus bau harumnya darah yang mengalir dalam tubuh Tu Siau-thian?

Sadar akan gawatnya situasi, Tu Siau-thian sudah membuat persiapan, ketika melompat mundur tadi dia sudah menggenggam gagang golok, maka begitu berhenti melangkah mundur, goloknya segera diloloskan dari sarung.

Ketika sekilas cahaya golok berkelebat lewat, seekor Laron Penghisap darah sudah terpapas hingga terbelah jadi dua bagian.

Mata golok yang sangat tajam, serangan golok yang luar biasa cepatnya!

Pada saat yang bersamaan dia mengayunkan tangan kirinya, segulung angin pukulan yang kuat berhembus ke depan menghajar ditubuh ke dua ekor Laron Penghisap darah lainnya.

"Plaaak...!"

Kedua ekor makhluk itu segera mencelat ke belakang kemudian rontok ke atas tanah.

Kini tinggal satu ekor lagi!

Laron Penghisap darah itu terbang dari atas kepala Tu Siau-thian langsung menyambar diatas batang hidungnya.

Satu perasaan aneh yang sukar dilukiskan dengan mata menyebar ke seluruh tubuh Tu Siau-thian, detik itu juga dia merasakan seluruh bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Pada saat itulah dia merasakan batang hidungnya sakit sekali, entah benda apa yang menusuk hidungnya, tahu-tahu dia hanya merasakan ceceran darah yang mulai mengalir keluar dari sana.

Perasaan sakit semacam ini sudah pernah dia alami satu kali, yakni ketika jari tangannya tergigit tempo hari.

Waktu itu dia berhasil menggenggam seekor Laron Penghisap darah, sambil meronta dari genggamannya laron tersebut menusukkan jarumnya keatas jari tangannya dan menghisap darahnya.

-----Sekarang, apakah Laron Penghisap darah itu sudah menghujankan tabung jarumnya diatas batang hidung sendiri?

Apakah dia sedang menghisap darahnya?

Dalam terkejut dan ngerinya dengan cepat tangan kirinya menyambar ke atas dan mencengkeram Laron Penghisap darah itu.

Dengan sekuat tenaga dia cengkeram laron itu dan membetotnya kuat-kuat, sekali lagi batang hidungnya terasa sakit sekali.

Tampaknya Laron Penghisap darah itu benar-benar telah menghujamkan tabung jarumnya diatas batang hidungnya.

Tanpa terasa dia mengalihkan sorot matanya ke atas Laron Penghisap darah yang berhasil ditangkap dalam genggamannya itu.

Laron Penghisap darah itu sudah tidak mampu meronta lagi dari cengkeramannya, karena Tu Siau-thian telah mencengkeram tubuhnya kuat kuat.

Kini yang tampak hanya kepala laron itu, tabung jarum diujung mulut laron itu kelihatan bergerak terus tiada hentinya, bergerak naik turun seolah sedang memompa sesuatu.

Pada ujung tabung jarum itu terlihat ada cahaya darah, tampaknya binatang itu memang sudah berhasil menghisap darah dari tubuhnya.

Sekali lagi Tu Siau-thian merasa bergidik, bulu romanya sekali lagi bangun berdiri.

Sebenarnya dia ingin sekali memeriksa apakah dibalik mulut laron itu terdapat gigi taring, dia ingin tahu apakah makhluk itu dapat mengunyah daging, sayang suasana disitu kelewat gelap hingga keinginannya tidak terkabulkan.

Dengan mata melotot dia awasi terus kepala laron itu, meski dapat melihat tabung jarum dimulut makhluk itu yang masih bergerak naik turun, namun ia tidak berhasil melihat jelas keadaan dibalik mulutnya.

Laron Penghisap darah itupun sedang mengawasinya dengan mata mendelik, mata laron yang merah darah seakan penuh diliputi perasaan takut dan ngeri.

Tu Siau-thian seakan dapat merasakan hal ini, dia sangat gembira, serunya tanpa terasa.

"Jadi kau pingin menghisap darahku?'' "Ssssttt....sssst......"

Dari mulut Laron Penghisap darah itu bergema suara desisan yang aneh, atau mungkin itulah bahasa laron?

Tapi apa jawabannya?

Tu Siau-thian tidak mengerti apa arti suara itu, maka setelah tertawa dingin kembali ujarnya.

"Kau tentu pingin menghisap darahku bukan? Sayang kau sudah terjatuh ke tanganku sekarang......."

"Sssttt.....sssttt......"

Kembali berkumandang suara desisan.

"Sebenarnya apa yang sedang kau katakan?"

"Sssttt.....sssttt......"

Hanya desisan aneh yang dia peroleh. Akhirnya Tu Siau-thian menghela napas panjang, katanya lagi.

"Tampaknya kau memahami perkataanku, tapi sayang aku tidak memahami apa yang kau ucapkan"

Bila saat itu ada orang lain yang menyaksikan ulahnya, orang akan mengira dia sebagai orang yang tidak waras otidaknya, untung disitu hanya ada dia seorang. Terdengar dia berkata lebih jauh.

"Seandainya aku bisa memahami bahasamu, serumit apa pun kasus ini, sekarang pasti akan berubah jadi lebih sederhana dan gampang"

Dia memang seorang opas kenamaan, seorang opas yang banyak pengalaman, dia pandai menginterogasi, dia pun tahu bagaimana interogasi orang.

Manusia yang begitu besar pun gampang diatasi, apalagi menghadapi seekor laron yang begitu kecil?

--Laron itu mendesis makin keras dan makin cepat, selain mendesis kini Laron Penghisap darah itu mulai meronta, sekuat tenaga meronta.

Tu Siau-thian merasakan hal ini, segera jengeknya sambil tertawa dingin.

"Kau kira aku akan membebaskanmu kali ini?"

Dia semakin memperkuat genggamannya.

Tampak Laron Penghisap darah itu meronta semakin kuat, tabung jarumnya mendadak menjulur lebih panjang dan kali ini menusuk jari tangan Tu Siau-thian.

Kejadian ini sudah berada dalam dugaan opas itu, begitu laron tersebut mulai menusuk jari tangannya, ibu jarinya langsung didorong ke muka menahan kepala laron itu.

Karena ditekan ke atas otomatis kepala laron itu terdorong hingga menengadah dan tidak mampu bergerak lagi, dengan sendirinya tusukan jarum tabungnya juga mengenai sasaran yang kosong.

"Apa lagi yang akan kau lakukan sekarang?"

Kembali Tu Siau-thian menjengek sambil tertawa dingin. Laron Penghisap darah itu benar-benar mati kutuknya. Sesaat kemudian, setelah berpikir sejenak kembali Tu Siauthian berkata.

"Aku ingin memeriksa mulutmu, apa benar kau bergigi?"

Suara desisan aneh kembali bergema, kali ini suara tersebut akan mengandung nada ejekan, paling tidak Tu Siauthian merasakan akan hal itu.

"Hrnmm, kau anggap dalam suasana seperti ini, dengan ketajaman mataku aku tidak akan berhasil memeriksa mulutmu?"

Suara desisan berhenti seketika, mungkinkah laron itu sudah mengakui? Sambil tertawa Tu Siau-thian berkata lebih jauh.

"Sebenarnya dugaanmu memang tidak salah, dalam situasi semacam ini mataku memang tidak banyak berfungsi, tapi aku bisa mengubah suasana yang gelap jadi terang benderang..."

Sambil berkata dia segera menyarungkan kembali goloknya, mengambil keluar sebuah korek api dan menyalakan.

Kilatan cahaya terang segera menyinari seluruh ruangan, mengusir kegelapan yang semula mencekam tempat itu.

Dibawah cahaya api, warna Laron Penghisap darah itu nampak lebih indah dan menawan, tubuhnya yang berwarna hijau bagaikan sebuah pualam, matanya yang merah persis seperti sebuah bercak darah.

Sambil memegang obor Tu Siau-thian bukannya memeriksa laron dalam genggamannya, dia justru berjongkok dan memeriksa lantai disekeliling ruangan.

Mendadak sepasang matanya berbinar, dia menjumpai sesuatu diatas lantai.......darah!

Darah itu meleleh keluar dari tubuh Laron Penghisap darah yang terbelah jadi dua itu, dua buah belahan tubuh laron hampir semuanya terbenam ditengah cairan darah.

Ceceran darah itu berwarna merah, persis seperti darah manusia, bau busuk yang sangat aneh tersebar keluar dari genangan darah itu.

Mengapa darah laron persis sama seperti darah manusia?

Tu Siau-thian kembali memeriksa dua ekor Laron Penghisap darah yang dijatuhkan dengan angin pukulan tadi.

Sepasang sayap ke dua ekor laron itu sudah patah jadi dua, seekor diantaranya sudah mati sementara yang lain masih hidup dan sedang meronta ditanah.

Laron yang tidak bersayap sudah kelihatan amat jelek, apalagi meronta tiada hentinya, keadaan itu nampak lebih memuakkan lagi.

Tu Siau-thian segera menancapkan obornya ke lantai, lalu dengan cepat dia loloskan goloknya kembali.

"Sreeet....."

Dimana cahaya golok berkelebat, laron tanpa sayap itu segera terpapas kutung dan terbelah jadi dua.

Darah segera berceceran dilantai, ternyata darah yang meleleh keluar dari tubuh Laron Penghisap darah itu merah persis seperti ceceran darah manusia!

Sekarang dia dapat menyaksikan dengan amat jelas, darah Laron Penghisap darah ternyata sama seperti darah manusia.

Untuk sesaat dia berdiri tertegun.

Pada saat itulah mendadak dia mendengar suara yang sangat aneh, suara aneh itu seakan berasal dari tempat yang sangat jauh, tapi seperti juga berasal dari ruang sebelah.

Terlepas suara itu berasal dari tempat jauh atau dekat, yang pasti sumber suara itu dari bawah loteng, persis dibawah ruangan dimana dia berdiri sekarang.

Dia memang memiliki ketajaman pendengaran yang hebat, daya ingatnya pun bagus.

Dia masih teringat, dibawah ruangan dimana dia berada sekarang merupakan sebuah ruangan pula.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, sebab suara aneh itupun bukan didengarnya.untuk pertama kali ini Ketika pintu rahasia dalam ruang perpustakaan Ki-po-cay bergerak membuka, suara aneh seperti inilah yang terdengar olehnya.

--Bab 28.

Pinggir kota yang sepi.

Suara aneh itu sebetulnya tidak terlalu nyaring, namun ditengah keheningan yang mencekam, tidak susah untuk menangkap suara itu.

Namun bagi Tu Siau-thian, hal itu tidak penting, mau suara dari pintu rahasia atau bukan, dia sudah mengambil keputusan untuk turun ke bawah dan melakukan penyelidikan.

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dia segera padamkan obor yang ada dalam genggamannya.

Seketika itu juga suasana tercekam kembali dalam kegelapan.

Hujan masih turun rintik-rintik diluar jendela, malam yang semakin larut membuat keadaan bertambah gelap, baru saja dia akan bangkit berdiri, lagi lagi berkumandang suara aneh dari bawah loteng.

Kali ini suara tersebut lebih lirih dan lemah.

Tanpa ragu ragu lagi dia segera bertiarap dilantai sambil menempelkan telinganya ke atas lantai, ternyata suara langkah manusia!

Langkah kaki itu bergema sesaat lalu "kreeek!"

Seperti suara pintu dibuka orang.

Siapa yang tinggal dalam ruangan dibawah loteng?

Apakah Si Siang-ho?

Apa yang sedang dilakukan Si Siang-ho di bawah sana?

Sebagai orang yang memang berwatak banyak curiga, suara suara aneh itu semakin membangkitkan rasa curiga Tu Siau-thian, biarpun dia sadar situasi yang sangat berbahaya, namun dia tidak ragu untuk menelusurinya, apalagi keadaan ditempat tersebut meski nampak aneh, dia menganggap tidak terlampau berbahaya.

Perlahan-lahan dia merangkak bangun, berdiri.

Setiap gerakan, setiap langkah dia lakukan amat berhati-hati, sedapat mungkin tidak sampai menimbulkan suara.

Kemudian dia mulai berjalan menuju ke arah pintu sebelah sana, sambil berjalan dia perhatikan terus suara langkah kaki yang kedengaran dibawah loteng.

Ternyata langkah kaki itu berjalan menuju ke arah ruang utama rumah penginapan.

Ketika dia menyelinap keluar dari pintu, terlihatlah secercah cahaya yang sangat lemah.

Sinar berwarna kekuning-kuningan itu kelihatan bertambah terang ketika dia menuruni anak tangga, tidak lama kemudian diapun melihat sebuah lentera minyak.

Saat itu dia sudah hampir selesai menuruni anak tangga.

Dengan menempelkan diri disisi dinding ruangan dia mulai berjongkok.

Bila tidak berjongkok, asal orang yang berjalan sambil membawa lentera itu mendongakkan kepalanya, maka jejaknya segera akan ketahuan.

--Lampu minyak itu berada dalam sebuah tangan yang amat stabil.

Biarpun orang itu sedang berjalan namun lidah api sama sekali tidak bergoyang.

Orang itu berjubah panjang warna putih pucat, rambutnya kusut dan digulung menjadi sebuah konde persis konde seorang tosu.

Jika dilihat dari bayangan punggungnya, Tu Siau-thian segera mengenali orang itu sebagai Si Siang-ho!

Tiba-tiba orang itu menghentikan langkahnya, membungkukkan badan mengambil sebuah keranjang bambu dari balik lemari kemudian membalikkan badan.

Cahaya lentera segera menyinari wajahnya, tidak salah, ternyata dia memang Si Siang-ho!

Cahaya lentera mulai bergerak, dengan tangan sebelah memegang lampu, tangan lain membawa keranjang bambu, Si Siang-ho membalikkan badan dan berjalan balik.

Sekali lagi Tu Siau-thian bertiarap, dia mendengar langkah kaki itu tidak balik ke ruangan dibawah loteng melainkan langsung menuju ke halaman belakang.

Mau apa Si Siang-ho pergi ke halaman belakang dengan membawa keranjang bambu?

Tu Siau-thian semakin keheranan.

Langkah kaki itu semakin lirih sebelum akhirnya lenyap dari pendengaran, menurut perkiraan, seharusnya Si Siang-ho sudah berada di halaman belakang.

Dengan cekatan Tu Siau-thian melompat turun dan menerjang ke samping pagar tangga, dia harus berebut waktu dengan orang itu, sedapat mungkin badannya tidak sampai menyentuh sesuatu benda pun disana.

Kemudian bagaikan seekor ular dia menyelinap ke arah ruangan dibawah loteng.

Pintu ruangan dalam keadaan setengah terbuka, Tu Siauthian langsung menyelinap masuk ke dalam.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan, dia segera mendengar suara dengungan yang sangat ramai, seramai suara yang pernah didengar ketika mengunjungi ruang loteng tempo har.

Jangan-jangan kawanan laron itu berkumpul disitu?

Tu Siau-thian merasakan bulu kuduknya bangun berdiri, tanpa terasa dia mundur selangkah.

Ternyata tidak nampak seekor pun Laron Penghisap darah yang terbang disitu.

Dari sudut dinding ruangan dia menangkap seberkas cahaya yang amat lirih, meski cahaya itu amat redup namun sudah lebih dari cukup bagi Tu Siau-thian yang sudah terbiasa dalam kegelapan.

Sekarang dia dapat melihat keadaan dalam ruangan dengan cukup jelas.

Disisi kiri terdapat sebuah pembaringan, diatas ranjang terletak bantal dan selimut.

Sementara disisi kanan terdapat sebuah meja dengan tiga empat buah bangku.

Diatas meja tersedia teko air teh dan cawan, tidak jauh dari meja tersebut menempel dengan sebuah dinding terdapat sebuah pintu.

Pintu itu dalam keadaan terbuka, dari balik ruangan itulah cahaya redup itu berasal.

Tu Siau-thian langsung melompat masuk dan menerobos ke tepi pintu.

Ternyata dibelakang dinding masih terdapat dinding, setelah memasuki pintu rahasia itu terbentang sebuah lorong penghubung selebar tiga depa.

Tu Siau-thian tidak terlalu merasa heran dengan keadaan disitu, sebab dia pernah menyaksikan dinding rangkap semacam ini ketika berada di perkampngan Ki-po-cay, dua lapis dinding yang dipisahkan sebuah lorong.

Untuk sesaat dia merasa ragu, masuk atau tidak?

Jika ditinjau dari keadaan ruangan, tampaknya tempat itu merupakan kamar tidur Si Siang-ho.

Tapi mengapa didalam kamar tidurnya terdapat dinding rangkap?

Lorong itu menghubungkan ruang tidur dengan apa?

Apakah dia sendiri yang membangun atau sudah ada semenjak dulu?

Apa gunanya lorong penghubung itu?

Apakah dia mempunyai rahasia lain yang tidak boleh diketahui orang luar?

Tapi apa rahasianya?

Pikiran itu berkecamuk terus dalam benak Tu Siau-thian.

-----dia yakin tidak secepat itu Si Siang-ho akan balik ke situ.

Tu Siau-thian putuskan untuk menerobos masuk ke dalam pintu rahasia.

Hanya dengan memasuki ruang rahasia itu, segala sesuatunya akan menjadi jelas.

Dia hanya berharap lorong rahasia ini tidak dilengkapi alat jebakan yang mematikan seperti yang terpasang dalam lorong rahasia di perkampungan Ki-po-cay, dia tidak ingin begitu melangkah masuk, tubuhnya kontan berubah jadi seekor landak.

--Tu Siau-thian sadar, tidak banyak waktu yang tersedia baginya, maka dia putuskan untuk menyusup masuk ke balik pintu rahasia.

Dia memang sudah nekad untuk pertaruhkan nyawanya.

Dia sama sekali tidak tidakut mati, suara desingan dan dengungan yang muncul dari balik lorong rahasia jauh lebih menarik perhatiannya ketimbang memikirkan keselamatan sendiri.

Apalagi sebagai seorang opas yang sudah bertugas sepuluh tahun, bukan untuk pertama kali dia menyerempet bahaya.

"Weeesss!"

Tubuhnya meluncur turun ke bawah, detik itu juga dia merasa seluruh perasaan hatinya seakan sedang menyusut.

Tidak ada hujan anak panah atau pisau terbang yang membidik ke arah tubuhnya, mungkin lorong rahasia ini memang berbeda dengan lorong rahasia yang ada dalam perkampungan Ki-po-cay, mungkin juga sewaktu meninggalkan lorong rahasia tersebut Si Siang-ho belum sempat menghidupkan kembali alat rahasianya.

Seandainya benar begitu, berarti Si Siang-ho segera akan balik kemari, tanpa ragu lagi Tu Siau-thian segera menyusup masuk lebih ke dalam.

Gerakan tubuhnya tidak mendapat rintangan atau halangan apa pun, ternyata didalam lorong rahasia itu memang tidak ada orang lain.

Lorong itu tidak terlalu panjang, diujung lorong merupakan sebuah undak-undakan batu yang menjorok turun ke bawah.

Tu Siau-thian menuruni anak tangga itu dan memasuki sebuah penjara bawah tanah.

Anehnya, mengapa segala bentuk dan perencanaan lorong rahasia ini mirip sekali dengan lorong rahasia dalam perkampungan Ki-po-cay?

Tu Siau-thian sangat keheranan, namun ada kejadian lain yang jauh lebih mengherankan lagi!

Penjara bawah tanah itu sangat lebar, tapi hal ini bukan sesuatu yang mengherankan.

Tu Siau-thian pernah menyaksikan penjara bawah tanah yang jauh lebih lebar daripada tempat ini, yang aneh justru terletak pada interior yang tersedia disitu.

Selama hidup belum pernah Tu Siau-thian saksikan interior sedemikian anehnya, ke empat dinding penjara bawah tanah itu pada hakekatnya mirip sekali dengan langit malam yang hitam pekat.

Demikian juga dengan atap dinding itu, atap penjara merupakan langit biru yang dicekam kegelapan malam, selain itu dibagian tengah terdapat sebuah lentera, lentera yang tertanam didalam dinding dengan diluarnya dilapisi sebuah kristal yang tembus pandang.

Ketika cahaya lentera memancar keluar menembusi kaca kristal, terbentuklah sinar lembayung yang persis sama dengan cahaya rembulan.

Berada ditempat itu, Tu Siau-thian merasa seakan sedang berdiri dibawah sinar rembulan, berdiri ditengah alam bebas yang maha luas, dibawah sinar rembulan yang menyeramkan.

Ditengah kegelapan malam yang jemih, tidak nampak ada awan yang mengusiknya, sedikit pun tidak nampak.

Segerombolan Laron Penghisap darah sedang beterbangan mengelilingi rembulan itu, menari-nari ditengah kegelapan malam.

Sayap yang berwarna hijau kemala, mata yang merah bagaikan darah, dibawah cahaya icmbulan nampak lebih segar, lebih cantik dan lebih menyeramkan.

Tu Siau-thian merasa seakan dirinya sudah terjerumus ke dalam dunia iblis!

Sebuah meja besar berwarna hijau lumut tergeletak ditengah ruangan, meja itu mirip sekali dengan sebuah batu besar yang penuh ditumbuhi lumut, sebuah batu berlumut.

Permukaan meja tidak rata, penuh tonjolan dan lekukan sehingga mirip sekali dengan permukaan batu cadas, pada bagian permukaan yang lekuk ke dalam terlihat selapis cairan berwarna merah yang persis seperti cairan darah.

Cairan itu berwarna merah pekat persis seperti cairan darah.

Tapi darah apa?

Dengan penuh rasa ingin tahu Tu Siau-thian berjalan menghampiri.

Begitu mendekati batu berlumut itu, dia segera mendengar suara mencicit yang amat lirih, suara apa itu?

Tu Siau-thian berjalan semakin mendekat, dia mulai memegang cairan merah seperti darah segar itu.

Baru saja tangannya mendekat, suara dengungan nyaring segera memecahkan keheningan, dari sekeliling meja itu segera bermunculan dua-tiga puluhan ekor Laron Penghisap darah!

Tadinya ke dua-tiga puluh ekor Laron Penghisap darah itu sedang mendekam diatas permukaan meja, tapi sekarang hampir sebagian besar telah beterbangan karena merasa terusik oleh kehadiran Tu Siau-thian.

Dengan perasaan amat terkejut Tu Siau-thian menghentikan tangannya ditengah udara, sekali lagi dia perhatikan permukaan meja.

Kali ini dia dapat melihat dengan lebih jelas tadi, ternyata diatas permukaan meja pun mendekam beberapa ekor Laron Penghisap darah.

Kawanan Laron Penghisap darah itu mempunyai mata yang merah bagaikan darah segar dan tubuh yang hijau pupus bagaikan batu kemala.

Permukaan meja itupun tidak rata dan penuh ditumbuhi lumut yang tebal, pada bagian yang melengkung dipenuhi cairan merah mirip cairan darah, ternyata kawanan Laron Penghisap darah yang berkerumun diatas permukaan meja itu sedang menempelkan tabung-tabung jarum mereka ditengah cairan merah darah itu, tampaknya mereka sedang menghisap cairan tersebut.

Sebenarnya cairan apakah itu?

Apakah cairan darah segar?

Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian mencelupkan jari tangannya, dia merasa cairan itu dingin sekali, jari tangannya seolah sedang direndamkan ke dalam air dingin.

Cepat Tu Siau-thian menarik kembali tangannya, ternyata cairan merah itu segera menodai ujung jarinya, seakan baru saja dia celupkan tangannya ditengah cairan pewarna.

Ketika jari tangan itu didekatkan ke lubang hidung, segera terendus bau busuk yang aneh sekali.

Tu Siau-thian tidak bisa menyimpulkan cairan apakah itu.

----jangan jangan cairan itu adalah bahan minuman untuk kawanan Laron Penghisap darah?

Kalau benar, cairan apakah itu?

Baru saja satu ingatan melintas dalam benaknya, kembali hidungnya mengendus sejenis bau lain yang amat khas, padahal sejak tadi bau tersebut sudah mendominasi seluruh ruang penjara bawah tanah itu.

Tapi sekarang Tu Siau-thian baru menyadari akan hal itu.

Dengan penuh rasa ingin tahu dia mulai memeriksa sekeliling tempat itu, berasal dari mana bau khas yang aneh itu?

Ketika dia mulai memeriksa dinding disekitar penjara, terlihat disitu banyak tertumpuk daun-daunan dan bunga yang sudah layu.

Sebagian besar sisa bunga sudah layu dan kusut, tapi masih kelihatan dengan jelas kalau bunga itu berwarna kuning.

Mungkinkah bunga itu adalah bunga aneh yang tumbuh di halaman belakang rumah penginapan?

Sekarang Tu Siau-thian baru menyadari kalau bau aneh itu berasal dari bau harumnya bunga, jangan-jangan bungabungaan itu adalah makanan utama kawanan Laron Penghisap darah?

Dia mulai memeriksa seputar tempat itu, namun tidak nampak sepotong tulang belulang pun disitu, juga tidak terlihat adanya kerangka binatang yang tertinggal disana.

Jika bunga-bungaan itu bukan makanan utama kawanan Laron Penghisap darah, kenapa tumbuhan itu harus diletakkan dalam penjara bawah tanah.

------atau mungkin ada sebagian Laron Penghisap darah yang pemangsa daging, ada pula yang mamalia?

Tu Siau-thian ingin maju mendekat, asal dia bisa mendekati tumpukan tumbuhan itu maka satu hal lagi yang bisa dia buktikan.

Jika bunga berwarna kuning itu benar adalah bahan makanan kawanan Laron Penghisap darah, diatas tumpukan bunga-bungaan itu pasti akan dijumpai Laron Penghisap darah yang sedang menyantap bunga-bungaan itu.

Bila hal ini bisa dibuktikan maka dia bisa memastikan kalau pemilik kawanan Laron Penghisap darah itu bukan Kwee Bok melainkan orang lain......Si Siang-ho!

Kini rasa curiganya terhadap Si Siang-ho meningkat berpuluh kali lipat.

Dia tahu, bila ingin melakukan penyelidikan maka dia harus melakukan secepat mungkin, sebab bila sampai Si Siang-ho balik ke situ, dapat dipastikan orang itu tidak bakalan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Dia tidak tahu apakah kepandaian silatnya mampu menandingi Si Siang-ho, tiba-tiba saja dia mulai merasa bergidik, tiba-tiba muncul perasaan ngerinya terhadap orang yang bernama Si Siang-ho itu.

Rasa seram yang luar biasa membuat dia tidak sanggup lagi berdiam lebih lama disitu, dia harus meninggalkan tempat tersebut sesegera mungkin.

Tidak dapat disangkal, apa yang terlihat olehnya sekarang merupakan sebuah penemuan yang luar biasa, tapi bila sampai ketahuan Si Siang-ho, maka penemuan besar itu segera akan berubah kembali menjadi sebuah rahasia.

Dengan terjadinya peristiwa ini, Si Siang-ho pasti akan merubah semua strateginya, dia pasti akan bekerja lebih hati hati lagi.

Jelas tidak gampang untuk menemukan rahasia sebesar ini, tidak gampang untuk menemukan tempat rahasia ini.

Bahkan kemungkinan besar rahasia ini akan menjadi rahasia yang abadi.

--Baru saja Tu Siau-thian akan membalikkan tubuhnya, tibatiba jari telunjuk tangan kirinya terasa sakit sekali.

Tanpa terasa dia mengalihkan sorot matanya ke jari tangan sendiri, ternyata Laron Penghisap darah yang dicengkeram dalam tangan kirinya sudah mulai menusukkan jarum tabung penghisapnya ke dalam kulit badannya.

Dia hampir saja melupakan laron tersebut, karena kesakitan genggaman tangannya jadi sedikit mengendor, begitu mengendor laron itupun mulai meronta dengan sekuat tenaga.

Tu Siau-thian segera tertawa dingin, jengeknya sambil mengencangkan genggamannya.

"Satu kali pengalaman sudah lebih dari cukup, kini, biar raja laron yang jatuh ke tanganku pun jangan harap bisa bisa meloloskan diri lagi"

Mendadak terdengar sebuah suara dari belakang tubuhnya, suara itu bukan desisan aneh tapi suara manusia, suara yang menyeramkan hati.

"Bila terlihat olehku, kau pun akan mengalami nasib yang sama!"

Suara itu bergema dengan ketusnya.

Dengan perasaan terkesiap Tu Siau-thian berpaling.

Entah sedari kapan, tahu tahu Si Siang-ho sudah berdiri dimulut masuk penjara!

Dibawah cahaya lentera berwarna putih, paras muka Si Siang-ho yang sebenarnya sudah memucat kini nampak lebih putih pucat, sedemikian pucatnya sehingga lebih mirip sesosok mayat ketimbang manusia.

Mimik muka maupun nada ucapannya sangat dingin menyeramkan, seluruh badannya seolah diliputi selapis hawa putih yang tebal......hawa setan!

Tubuhnya tahu-tahu sudah melayang tiba dengan gerakan yang begitu ringan dan cepat, melayang mendekat bagaikan sesosok sukma gentayangan yang baru muncul dari dalam neraka.

Kemunculannya memang sangat mendadak dan diluar dugaan, tidak ubahnya bagaikan sukma gentayangan.

Sekalipun Tu Siau-thian sedang pecah perhatiannya lantaran jari tangannya digigit Laron Penghisap darah, bagaimana pun dia memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa, tapi kenyataannya sekarang dia baru sadar setelah Si Siang-ho muncul didepan pintu dan mulai menegurnya.

Dalam pada itu Si Siang-ho sudah melangkah masuk ke dalam ruang penjara, lentera minyak yang semula ditangan kirinya kini entah sudah berada dimana, tapi tangan kanannya masih menggenggam keranjang bambu.

Dalam keranjang bambu itu penuh dengan bunga dan daun, bunga-bungaan yang tumbuh di halaman belakang rumah penginapan, daun yang hijau pupus dan bunga yang berwarna kuning segar.

Bau harum semerbak yang menusuk hidung dengan cepat tersebar di seluruh ruangan penjara bawah tanah.

Ketika mengendus bau harum semerbak itu, gerak tarian kawanan laron itupun nampak jauh lebih segar, lebih lincah dan cepat.

Suara dengungan nyaring semakin menggema disekitar tempat itu.

Tidak terlukiskan rasa bingung Tu Siau-thian saat itu, pikirannya kalut bercampur panik, ditatapnya Si Siang-ho sekejap lalu tegurnya tanpa sadar.

"Si Siang-ho........"

"Ada apa?"

Jawab Si Siang-ho dengan wajah yang kaku, tanpa perubahan mimik muka.

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang hendak dia ajukan, namun untuk sesaat dia jadi bingung dan tidak tahu harus dimulai dari mana.

Si Siang-ho tidak mendesaknya, setelah melirik keranjang bambunya sekejap, dia berkata.

"Sebenarnya aku sudah bersiap siap untuk tidur nyenyak"

"Sepagi ini kau sudah ingin tidur?"

Tu Siau-thian menanggapi tanpa terasa.

"Tidur lebih awal, tubuh baru akan sehat"

"Semenjak kapan kau mulai perhatikan kesehatan badanmu?' "Yang pasti bukan sejak saat ini"

"Kalau pingin tidur, kenapa tidak tidur saja?"

"Aku tidak bisa tidur"

"Kenapa?"

"Karena ada urusan yang mengganjal pikiranku"

"Pikiran apa yang mengganjal hatimu?"

"Karena bocah-bocah kesayanganku kelewat ribut"

"Maksudmu kawanan Laron Penghisap darah itu?"

"Benar"

"Anak kesayangamu atau kesayangan dari Kwee Bok?"

"Memangnya kau tidak mendengar dengan jelas apa yang kukatakan?"

Si Siang-ho balik bertanya. Tu Siau-thian seketika terbungkam, dia memang mendengar perkataan itu secara jelas. Terdengar Si Siang-ho berkata lebih jauh.

"Sekarang, tentunya kau sudah tahu bukan kalau akulah pemilik Laron Penghisap darah yang sesungguhnya?"

Dengan perasaan sedikit bimbang Tu Siau-thian mengangguk, mendadak ujarnya.

"Maukah kau menjawab beberapa pertanyaanku?"

"Boleh saja"

Jawab Si Siang-ho tanpa berpikir panjang. Sekali lagi Tu Siau-thian termenung, dia tidak tahu harus dimulai dari mana. Melihat orang itu kebingungan, Si Siang-ho segera berkata duluan.

"Apakah kau sudah tahu apa sebabnya kawanan bocah kesayanganku itu ribut melulu, bahkan luar biasa ributnya?"

"Kenapa?"

Si Siang-ho tidak menjawab sebaliknya bertanya lagi.

"Menurut kau, pada saat yang bagaimana watak seseorang berubah jadi sangat jelek, paling tidak sabaran dan ribut paling hebat?"

"Ketika merasa sangat lapar"

"Tepat sekali, begitu juga dengan kawanan laron"

"Apakah kau lupa memberi makanan kepada mereka?"

"Berapa hari belakangan aku memang kelewat repot"

"Apa yang kau repotkan?"

"Bolehkah kau ajukan pertanyaan ini nanti saja?"

"Kenapa harus kutunda?"

"Sebab apa yang ingin kukatakan belum selesai kusampaikan"

Tu Siau-thian menghela napas panjang, dia mengalihkan kembali pembicaraan ke pokok semula, katanya.

"Padahal aku lihat bocah bocah kesayanganmu itu memiliki kesabaran yang sangat bagus"

"Oya?"

"Coba berganti aku, tidak mungkin hingga kini baru aku mulai ribut"

"Bukankah baru sekarang mereka mulai ribut, sebenarnya selama beberapa hari belakangan ini aku selalu pulang larut malam, ketika tiba disini badanku sudah kelelahan sehingga begitu berbaring langsung saja tertidur"

"Jadi hari ini terkecuali?"

"Yaa, hari ini memang terkecuali"

"Maka kau baru teringat kalau sudah berapa hari tidak memberi makanan kepada mereka?"

"Padahal aku sudah menimbun makanan yang cukup banyak dalam penjara ini, hanya saja setelah lewat berapa hari, bahan makanan itu berubah jadi layu dan tidak segar lagi"

"Jadi mereka pun bisa memilih makanan?"

Tanya Tu Siauthian keheranan.

"Mereka tidak berbeda dengan manusia"

"Makhluk itu memang aneh sekali"

Tu Siau-thian gelengkan kepalanya berulang kali.

"jadi makanan mereka adalah bungabungaan yang tumbuh di belakang halaman itu?"

"Benar"

Sahut Si Siang-ho, sorot matanya dialihkan keatas keranjang bambunya.

"Sebetulnya aku berencana untuk memenuhi keranjang bambu ini dengan bahan makanan"

Sekarang Tu Siau-thian baru melihat kalau keranjang bambu itu belum penuh isinya, tanpa terasa tanyanya.

"Kenapa kau tidak memenuhi keranjangmu itu?"

"Karena sewaktu aku sedang memetik bunga, tiba-tiba ada seekor Laron Penghisap darah yang terbang keluar"

"Apa urusannya dengan memetik bunga?"

"Kau toch mengerti juga bahwa mereka adalah makhluk yang berasal dari hutan seputar wilayah Siau-siang, punya daya hidup yang kuat dan sangat berbeda dengan jenis laron biasa, tidak takut matahari dan selalu berkeluyuran di alam terbuka sekalipun matahari sedang teriknya, sekalipun sudah terkurung pun mereka tetap akan terbang dan terbang terus hingga kelelahan bila menjumpai kesempatan"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Walaupun mereka adalah makhluk liar, namun setelah kulatih dalam jangka waktu yang lama, serangga itu sudah taat dengan perintahku, maka walaupun pintu penjara berada dalam keadaan terbuka pun kalau bukan ada sesuatu yang mengejutkan mereka, tidak nanti mereka akan terbang keluar dari situ"

"Benarkah begitu?"

"Maka aku segera tahu kalau ada orang yang menyusup masuk ke dalam penjara secara diam-diam"

"Darimana kau bisa tahu kalau pasti manusia dan bukan seekor tikus?"

"Karena disekeliling pintu masuk sudah diberi sejenis obat anti ular, tikus dan binatang liar lainnya"

"Kadangkala obat semacam itu toch belum tentu berkasiat?"

Si Siang-ho tidak menyangkal.

"Bisa saja yang menerjang masuk ke dalam penjara adalah seekor kucing atau seekor anjing?"

Kata Tu Siau-thian lebih jauh.

"Disini tidak ada kucing dan anjing"

"Tapi rumah tetangga pasti memelihara ke dua jenis binatang peliharaan itu"

"Aku tahu, kalau tidak ada kucing dan anjing, mana bisa tempat ini disebut sebuah dusun?"

Setelah tertawa ewa lanjutnya.

"Sekalipun memang ada kucing atau anjing yang diamdiam menyusup masuk, aku tetap akan balik kemari untuk melakukan pemeriksaan"

Sekali lagi Tu Siau-thian menghela napas panjang tanpa bisa berkata apapun. Si Siang-ho berkata lagi sambil tertawa.

"Kalau aku tidak balik kemari, darimana bisa tahu kalau yang menyusup masuk itu anjing atau manusia?"

Kembali Tu Siau-thian menghela napas panjang.

"Sejak awal aku memang selalu bertindak sangat hati-hati"

Katanya.

"aku tidak bermaksud mengusik mereka, juga tidak berniat mengejutkan mereka."

"Aku tahu kau pasti akan berbuat sangat hati-hati"

"Nyali mereka memang kelewat kecil, padahal aku hanya bermaksud menyentuh cairan mirip darah yang ada dimeja untuk diperiksa cairan apakah itu, siapa sangka mereka jadi ketakutan sehingga ada yang kabur keluar dari penjara"

"Apakah pada mulanya kau tidak melihat jika mereka sedang berada diatas permukaan meja?"

"Sama sekali tidak kulihat"

"Bukankah selama ini kau memiliki sepasang mata yang sangat tajam?"

"Maklumlah, apa mau dikata jika warna mereka sangat mirip dengan warna dari permukaan meja itu"

"Ketika masih hidup di hutan belukar wilayah Siau-siang, mereka sangat gemar hinggap di benda-benda yang memiliki warna hampir mirip dengan warna tubuh mereka, sebab kawanan laron itu sadar bahwa mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan serangan musuh, karena itulah mereka melindungi diri dengan cara demikian, selain untuk mengelabuhi pandangan mata musuh, juga bisa untuk menyelamatkan jiwa sendiri"

"Apakah jarum tabung penghisap yang mereka miliki merupakan senjata andalan mereka yang paling lihay?"

Tidak tahan Tu Siau-thian bertanya. Si Siang-ho kembali tertawa, kali ini senyumannya kelihatan sangat aneh dan penuh misteri, ujarnya seraya tertawa.

"Jadi kau mengira mereka benar-benar bisa mengunyah daging dan menghisap darah?"

"Memangnya tidak mampu?"

Si Siang-ho hanya tertawa tanpa menjawab, dia segera mengalihkan pembicaraan, tanyanya.

"Ada urusan apa secara tiba-tiba kau datang kemari?"

"Tentu saja untuk menyelidiki rahasiamu"

"Rahasiaku?"

"Termasuk rahasia Laron Penghisap darah milikmu!"

Sahut Tu Siau-thian sambil mengangguk.

"Sejak kapan kau mulai curiga kalau aku punya hubungan yang erat dengan kawanan Laron Penghisap darah itu?"

"Sudah semenjak awal"

"Sejak kapan?"

"Sejak pertama kali memasuki tempat tinggalmu ini, aku sudah mulai menaruh curiga kepadamu"

"Memangnya sejak awal aku sudah melakukan kesalahan yang mengundang kecurigaanmu?"

Tanya Si Siang-ho keheranan. Tu Siau-thian mengangguk.

"Kesalahan apa?"

Desak Si Siang-ho lebih jauh.

Tu Siau-thian tidak mampu memberikan jawabannya.

Si Siang-ho memandang wajahnya sekejap, tiba-tiba dia gelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.

Tu Siau-thian yang menyaksikan hal itu jadi keheranan, tanyanya tercengang.

"Persoalan apa yang membuat kau menghela napas?"

Sekali lagi Si Siang-ho menghela napas panjang, katanya.

"Sebetulnya kau adalah seorang lelaki yang jujur dan polos, kenapa sekarang bisa berubah menjadi licik dan banyak akal?"

Tu Siau-thian melengak, dia seperti tidak menduga akan mendengar perkataan itu. Kembali Si Siang-ho menatap wajahnya tajam tajam, ujarnya lebih jauh.

"Kalau dilihat dari lagakmu, seakan akan sama sekali tidak ada kejadian apa-apa"

Tampaknya Tu Siau-thian semakin tidak memahami maksud perkataan dari Si Siang-ho itu.

"Sayangnya"

Ujar Si Siang-ho lagi.

"walaupun mimik mukamu tampil sempurna, namun kemampuanmu untuk berbohong masih ketinggalan jauh"

Kembali Tu Siau-thian berdiri tertegun. Si Siang-ho berkata lebih jauh.

"Kalau kau ingin berhasil membohongi orang lain, kau harus belajar membohongi dirimu sendiri, bila kau sendiripun percaya dengan kata bohongmu, orang lain pasti akan percaya juga dengan kebohonganmu"

Kuatir Tu Siau-thian tidak memahami perkataannya, dia segera memberi penjelasan lebih jauh.

"Maksud perkataanku adalah kau mesti membuat diri sendiri yakin terlebih dulu sebelum berbicara dengan orang lain, bohong itu nampaknya mudah, padahal tidak gampang"

"Oya?"

"Sebab tidak bisa dibilang diri sendiri percaya lalu orangpun langsung percaya, kau mesti bisa menaklukkan diri sendiri terlebih dulu sebelum bisa menaklukkan orang lain"

"Mempercayai perkataan sendiri jelas merupakan satu keharusan, apa urusannya orang lain mau percaya atau tidak?"

"Jelas besar sekali hubungannya"

"Aku percaya atau tidak dengan perkataan sendiri hanya aku sendiri yang tahu, kecuali diutarakan keluar siapa pula yang bakal tahu?"

"Kau punya teman?"

Tiba-tiba Si Siang-ho bertanya.

"Tentu saja punya, banyak sekali"

"Sahabat karib?"

Kembali Si Siang-ho bertanya.

"Ada juga!"

"Ketika kau sedang berbohong atau tidak, mampukah sahabat karibmu membedakannya?"

"Mungkin saja mereka mampu"

Sahut Tu Siau-thian cepat, setelah tertawa lanjutnya.

"tapi sayang kau bukan sahabat karibku"

"Tapi kalau mendengarkan perkataanmu tadi, tidak usah sahabat karibmu, teman biasa pun sudah mampu untuk membedakan apakah kau sedang berbohong atau tidak"

"Kenapa?"

Tanya Tu Siau-thian tercengang.

"Dengan watakmu itu, jika semenjak awal sudah menaruh curiga, kenapa baru sekarang kau lakukan penyelidikan?"

Tu Siau-thian tidak langsung menjawab, dia awasi wajah Si Siang-ho berulang kali kemudian baru ujarnya.

"Dulu maupun sekarang kau bukanlah sahabatku, bahkan teman biasa pun bukan......."

Si Siang-ho tidak berkomentar, kali ini dia hanya membungkam.

"Darimana kau bisa mengetahui watakku dengan begitu jelas?"

Ujar Tu Siau-thian lebih jauh.

"aneh, sungguh aneh, kejadian ini memang sangat mengherankan"

"Bukan hanya persoalan itu saja yang aneh, masih banyak"

"Oya?"

"Aku bahkan juga tahu kalau kau selalu senang bergelandangan seorang diri, tidak terkecuali pula dengan kehadiranmu kali ini"

Dalam hati kecilnya Tu Siau-thian merasa amat terkesiap, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang, katanya sambil tertawa hambar.

"Betul, aku memang suka bekerja seorang diri, tidak terkecuali kali ini"

"Benarkah begitu?"

"Aku tahu, sekali melangkah masuk kemari maka besar kemungkinan jiwaku akan terancam bahaya maut, sebagai orang yang bekerja sangat hati-hati, memangnya aku tidak melakukan persiapan apa pun?"

Tiba-tiba Si Siang-ho tertawa, jengeknya.

"Sekalipun apa yang kau katakan merupakan kenyataan, aku pun tidak bakalan membiarkan kau pergi dari sini dalam keadaan hidup"

Selesai berkata dia mulai menggeserkan tubuhnya dan maju ke depan, satu langkah, dua langkah......

Dengan mata melotot Tu Siau-thian mengawasi terus gerak gerik Si Siang-ho, tanpa terasa dia mundur satu langkah, dua langkah.......mendadak Si Siang-ho menghentikan langkahnya.

Pintu rahasia di belakang tubuhnya tiba-tiba menutup rapat, menutup rapat tanpa menimbulkan sedikit suara pun, kini belakang tubuhnya pun telah berubah persis seperti warna dinding lainnya.

Sekarang seluruh penjara bawah tanah itu berubah bagaikan sebuah angkasa luas, langit nan biru, langit yang dicekam dalam kegelapan malam.

Dibawah sinar lentera yang mirip dengan cahaya rembulan, mereka berdua seakan akan sedang berada di sebuah tempat yang sepi, alas yang jauh dari pemukiman, hening, sepi dan menyeramkan.

--Dibawah cahaya rembulan, tampak segerombolan Laron Penghisap darah beterbangan dan menari-nari dibawah cahaya yang redup, suara sayap mereka yang mendengung keras mirip sekali dengan gelak tertawa setan iblis.

Tu Siau-thian merasa dirinya seakan akan sudah terjerumus ke dalam dunia iblis.

------mungkinkah Si Siang-ho adalah setan iblis penghuni dunia iblis?

Berpikir sampai kesitu tanpa terasa Tu Siau-thian merasakan hatinya bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri.

Tangannya sudah mulai menggenggam kencang gagang golok, sepasang matanya yang melotot besar mengawasi gerak gerik Si Siang-ho tanpa berkedip.

Waktu itu sepasang mata Si Siang-ho sedang mengawasi rembulan ditengah angkasa, sepasang matanya kelihatan penuh dengan garis merah, mukanya yang pucat membuat penampilannya bertambah menyeramkan.

Tiba-tiba terdengar dia menghela napas panjang sembari bergumam.

"Mengapa kau tidak pergi ke tempat yang lain, mengapa kau justru mendatangi tempat rahasia ku ini?"

Tu Siau-thian tertawa getir, dia sendiripun tidak tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaan itu. Kembali Si Siang-ho berkata sambil menghela napas.

"Sebetulnya aku sama sekali tidak berminat untuk membunuhmu, tapi sekarang kau telah menemukan tempat rahasiaku ini, tahu banyak tentang rahasiaku, selain membuat mulutmu terbungkam untuk selamanya, aku tidak menemukan cara lain yang lebih bagus"

"Aaai, aku sendiripun tidak menemukan, kalau tidak pasti akan kuberitahukan kepadamu"

Kata Tu Siau-thian pula sambil menghela napas.

"Jadi kau setuju kalau aku menghabisi nyawamu?"

Tanya Si Siang-ho sambil tersenyum.

"Memangnya kalau kukatakan tidak setuju lalu kau tidak jadi membunuhku?"

"Tentu saja tidak mungkin"

Tu Siau-thian tertawa hambar, dia alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Kau mengetahui begitu jelas tentang watakku, apakah kaupun mengetahui dengan jelas kemampuan ilmu silatku?"

"Benar, aku tahu dengan jelas"

"Berapa besar keyakinanmu untuk membunuh aku?"

"Dua belas bagian!"

"Jadi kau sangat yakin........"

Tanpa terasa Tu Siau-thian berseru dengan wajah melengak.

"darimana kau bisa mengetahui ilmu silatku sejelas itu?"

"Sekarang kau boleh saja tidak percaya dengan perkataanku"

"Dulu kita tidak pernah saling mengenal, antara kita berduapun tidak pernah terlibat dalam pertarungan sengit, selain itu kaupun tidak akan menduga kalau kasus tentang kematian Jui Pak-hay akan terjatuh ke tanganku, tidak ada alasan kau sudah menyelidiki kemampuan ilmu silatku sejak awal, tidak mungkin kau bisa menduga sejak awal bakal berhadapan denganku"

"Jika sebelumnya kita tidak pernah saling mengenal, memang tidak ada alasan bagiku untuk berbuat begitu"

"Jadi sudah kau duga sejak awal?"

"Tidak"

Tu Siau-thian termenung, lama kemudian dia baru berkata.

"Kalau dibilang kita pernah saling mengenal, rasanya aku tidak punya kesan apa pun tentang dirimu"

"Dalam waktu singkat kau akan mengetahui segalagalanya"

"Oya?"

"Kalau sudah menjadi sukma gentayangan, kau pasti akan tahu dengan jelas semua kejadian masa lampau maupun kejadian yang akan datang"

Sekarang Tu Siau-thian baru mengerti apa yang dimaksudkan, diapun tertawa hambar.

"Jelek-jelek begini aku tidak terhitung orang jahat, kebanyakan yang mati diujung golokku pun terhitung orang jahat, jadi biarpun harus mati nanti, kemungkinan masuk ke dalam neraka mah kecil sekali"

"Aku hanya sebatas menghantar keberangkatanmu saja, soal lancar atau tidak tiba di alam baka, sama sekali tidak ada urusannya dengan aku"

"Soal ini aku mengerti"

Tu Siau-thian tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Sekarang akupun sudah mengerti kenapa baru saja tampilkan diri, kau sudah mengetahui begitu jelas tentang diriku"

"Aku tahu kau memang orang yang pintar"

"Sekarang tentunya kau bisa menjawab pertanyaanku yang lain bukan?"

"Tidak bisa"

Kembali Tu Siau-thian tertegun.

"Aku tahu pertanyaanmu akan dimulai dari soal yang mana"

Kata Si Siang-ho lagi. Tu Siau-thian mengangguk, baru saja dia akan bicara, Si Siang-ho sudah mendahuluinya.

"Sayang mulai sekarang aku sudah tidak ingin menjawab pertanyaan apa pun darimu"

"Kenapa?"

"Karena aku pun seorang yang pintar"

Tu Siau-thian tidak mengerti.

"Orang pintar tidak akan melakukan perbuatan bodoh"

Kembali Si Siang-ho berkata. Tu Siau-thian masih juga tidak mengerti.

"Sekarang aku mulai sadar, sebetulnya tidak ada alasan bagiku untuk banyak bicara lagi denganmu"

Kata Si Siang-ho lagi.

"Kenapa?"

"Karena sebentar lagi kau akan jadi sesosok mayat!"

"Oooh, rupanya karena alasan ini"

"Benar, sudah tidak ada artinya lagi untuk bicara denganmu"

Tu Siau-thian turut menghela napas panjang.

"Kalau didengar dari nada pembicaraanku, seakan malam ini sembilan puluh persen aku pasti bakal mati?"

Tanyanya.

"Kalau hanya sembilan puluh persen berarti kau masih punya sepuluh persen harapan hidup, sayangnya satu persen pun kau sudah tidak punyai"

"Kalau memang begitu, kau harus menjawab dulu pertanyaanku"

"Kenapa?"

"Sebab kalau tidak mana mungkin aku bisa mati dengan mata terpejam, sedang kau mana mungkin bisa merasa bangga?"

"Perkataanmu memang benar, sayang urusan ini kelewat rumit"

"Tidak jadi masalah, jelaskan pelan pelan, toch aku sudah berada dalam cengkeraman mautmu, cukup waktu untuk berbicara"

"Tapi sayang kesabaranku terbatas. Apalagi selama aku berbicara panjang lebar, kau akan mempunyai kesempatan untuk melancarkan bokongan"

"Jangan kuatir, aku berjanji tidak akan menggunakan kesempatan untuk melancarkan bokongan, apalagi sebelum kau selesai memberi penjelasan"

Si Siang-ho hanya tertawa tanpa menjawab.

"Jangan kuatir"

Kembali Tu Siau-thian berkata.

"aku selalu pegang janji"

"Aku tahu, Cuma....."

"Cuma kenapa?"

"Buat apa aku mesti nyerempet bahaya?"

Tu Siau-thian segera menghela napas panjang dan membungkam. Kembali Si Siang-ho berkata.

"Apalagi pada akhirnya kau toch bakal mati, kenapa aku mesti buang waktu?"

"Kau tidak kuatir sukmaku gentayangan terus dan selalu mengganggumu?"

"Hahahaha...... jadi kau anggap di dunia ini benar-benar terdapat setan iblis atau siluman?"

Si Siang-ho tertawa tergelak.

"Memangnya tidak ada?"

"Hahahaha..... aku justru berharap di dunia ini benar-benar terdapat setan iblis"

Mendadak nada suara Si Siang-ho berubah jadi dingin dan menyeramkan. Tu Siau-thian melengak. Bab 29. Pertarungan pedang melawan golok. Kembali Si Siang-ho berkata.

"Sejak dilahirkan hingga detik ini, aku belum pernah menjumpai setan atau iblis, kalau memang bisa bertemu setan iblis, kenapa aku harus lewatkan kesempatan baik ini?"

Tu Siau-thian hanya tertawa getir tanpa menjawab. Si Siang-ho berkata lebih jauh.

"Seandainya kau benarbenar jadi setan gentayangan setelah mati nanti, jangan lupa, datang dan carilah aku terlebih dulu"

Menghadapi perkataan semacam ini, Tu Siau-thian tidak bisa berbuat lain kecuali tertawa getir.

"Silahkan!"

Kembali Si Siang-ho berkata.

Tu Siau-thian segera mencabut keluar goloknya sementara tubuhnya masih berdiri tegap dihadapan meja.

Suara dengungan nyaring bergema lagi dalam ruangan, beberapa ekor Laron Penghisap darah terlihat menempel diatas tubuh golok.

Tidak lama kemudian seluruh golok itu sudah dipenuhi oleh laron-laron yang hinggap disitu, kini golok tersebut telah berubah jadi sebilah golok laron.

Tidak kuasa Tu Siau-thian merasa hatinya bergidik.

Mendadak dia membentak nyaring, dengan menyalurkan tenaga dalamnya ke pergelangan tangan kanan, dia lepaskan beberapa kali bacokan ke tengah udara.

Bentakan yang keras dalam ruang penjara yang tertutup rapat kontan saja menimbulkan suara pantulan yang amat nyaring.

Seketika itu juga laron-laron Penghisap darah yang menempel diatas golok itu tersentak kaget dan beterbangan di angkasa.

Ketika Tu Siau-thian menarik kembali senjatanya, bercak darah telah menghiasi mata golok tersebut.

Rupanya diantara ayunan goloknya tadi, ada berapa ekor Laron Penghisap darah yang terpapas oleh senjatanya, darah laron kontan saja menodai mata goloknya, darah segar berwarna merah!

Bau busuk yang memuakkan segera berhamburan di udara dan menyelimuti seluruh ruangan.

Tu Siau-thian tidak berani berayal, sinar matanya tidak pernah bergeser dari wajah Si Siang-ho, dia kuatir musuhnya melancarkan serangan bokongan, sebab saat seperti itu merupakan kesempatan yang sangat baik baginya untuk menyerang.

Tapi Si Siang-ho seakan tidak pandai manfaatkan kesempatan, atau mungkin dia punya rencana lain yang jauh lebih hebat, pada hakekatnya dia tidak pandang sebelah mata pun terhadap Tu Siau-thian.

Dia menunggu terus sampai Tu Siau-thian menarik kembali goloknya, kemudian baru menegur sambil tertawa.

"Ternyata ilmu silatmu hanya begitu saja......."

Tu Siau-thian membungkam, tapi kewaspadaannya semakin ditingkatkan.

Tiba-tiba Si Siang-ho menarik kembali senyumannya, diiringi bentakan nyaring dia mengayunkan tangannya ke depan, keranjang bambu yang semula digenggamnya itu tahu tahu sudah disambitkan ke arah lawan.

Tu Siau-thian mendengus dingin, goloknya sekali lagi membabat ke muka.

"Sreeet!"

Keranjang bambu itu seketika terbelah jadi dua.

Bunga berwarna kuning yang berada dalam keranjang bambu itu segera berceceran di udara dan menimpa kepala Tu Siau-thian, bau harum semerbak memenuhi seluruh ruangan.

Si Siang-ho ternyata tidak bohong, bunga itu memang makanan utama kawanan Laron Penghisap darah itu, sebab ketika bunga-bungaan itu berguguran ke bawah dan menimpa tubuh Tu Siau-thian, kawanan makhluk itu langsung menyerbu ke depan dan berebut bunga-bungaan tersebut.

Buru-buru Tu Siau-thian mundur ke belakang, dia tidak ingin menjadi mangsa makhluk menyeramkan ini.

Si Siang-ho membuang sisa keranjang bambu yang ada di tangannya, kemudian dia mulai bergeser lagi merangsek maju ke depan.

Belakang tubuh Tu Siau-thian adalah sebuah meja, ketika dia mundur setengah depa lagi ke belakang, punggung badannya seketika menempel ditepi meja itu.

Baru saja dia akan bergeser, kawanan laron itu sudah mengejar tiba dan menyambar ke arah tubuhnya dimana bunga kuning sedang berhamburan.

Sebenarnya saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Si Siang-ho untuk melancarkan serangan, sebab waktu itu musuhnya sedang kelimpungan menghadapi serbuan kawanan laron.

Tapi kejadian aneh kembali berlangsung, bukan saja Si Siang-ho tidak mengejar lebih jauh, bahkan dia pun tidak melakukan gerakan apapun.

Apakah dia dibuat kaget oleh bentakan nyaring dari Tu Siau-thian tadi?

Atau dia sedang mempersiapkan rencana lain?

--Dalam waktu singkat paling tidak ada dua-tiga puluh ekor Laron Penghisap darah yang hinggap ditubuh dan pakaian Tu Siau-thian, malah ada seekor yang hinggap diatas telinganya.

Tapi Tu Siau-thian tidak menggubrisnya bahkan tidak melakukan langkah apapun, sorot matanya hanya tertuju ke wajah Si Siang-ho seorang.

Kendatipun lawannya telah menghentikan langkah majunya, tapi dia masih mengawasi terus lawannya dengan hati hati, dia sudah menangkap hawa napsu membunuh yang menakutkan memancar keluar dari balik matanya.

Tidak ada angin yang berhembus lewat, langit serasa sudah membeku, bau busuk aneh yang menyesakkan dada nyaris membuat pernapasan orang serasa tersumbat.

Tu Siau-thian masih berdiri tidak bergerak, golok ditangannya masih digenggam erat erat.

Dia berusaha menenangkan gejolak perasaan hatinya sementara sepasang matanya mengawasi terus wajah Si Siang-ho tanpa berkedip.

Sementara itu Si Siang-ho juga sedang mengawasi wajah Tu Siau-thian tanpa berkedip, hawa napsu membunuh yang terpancar keluar makin lama semakin bertambah tebal.

Dia sudah mulai menggerakkan sepasang tangannya, tangan kiri menyapu ke muka sedang tangan kanan mengebaskan ujung bajunya, setiap gerakan dilakukan sangat lamban dan aneh sekali.

Tu Siau-thian menggenggam goloknya semakin kencang.

Apa yang sedang dilakukan Si Siang-ho saat itu?

Apakah gerakan tangannya itu menandakan kalau dia sedang bersiap sedia melancarkan serangan?

Tapi hingga sekarang dia belum juga turun tangan?

Apa yang sedang dia nantikan?

Sementara masih tercengang oleh tingkah laku musuhnya, tiba-tiba Tu Siau-thian merasaan telinga kirinya sakit sekali, sekarang dia baru teringat kalau ada seekor Laron Penghisap darah sudah hinggap diujung telinganya.

Tampaknya laron itu sudah menusukkan jarum penghisapnya menembusi kulit telinga dan mulai menghisap darahnya.....

Buru-buru dia kebaskan tangannya keatas telinga, Plaaak!

Laron Penghisap darah itu terhajar telak dan rontok ke tanah.

Pada saat itulah......"Criiing!"

Si Siang-ho telah meloloskan sebilah pedang, suara dentingan itu berasal dari sarung pedangnya.

Pedang itu panjangnya tiga depa, sebilah pedang lembek, lebarnya tidak sampai dua jari dan memancarkan sinar tajam ketika tertimpa cahaya rembulan.

Kini Tu Siau-thian tidak berani memperdulikan hal yang lain, dia pusatkan seluruh perhatiannya ke arah lawan.

Si Siang-ho sudah menghunus senjatanya, setiap saat serangan mematikan akan dilancarkan, tentu saja dia tidak berani gegabah!

Kini senjata sudah berada dalam genggaman, tapi Si Siangho belum juga turun tangan.

Melihat hal itu tidak tahan Tu Siau-thian segera menegur.

"Bukankah kau siap membunuhku?"

"Apa yang telah kuputuskan, tidak pernah akan ku rubah!"

"Kenapa belum juga turun tangan?"

"Karena aku sedang menunggu kau turun tangan terlebih dulu"

"Akupun sedang menunggumu turun tangan lebih dulu"

Balas Tu Siau-thian.

"Kita tidak perlu sungkan-sungkan dan saling mengalah, sampai kapan pertarungan baru bisa dilangsungkan?"

"Itulah sebabnya lebih baik kau lancarkan serangan terlebih dulu!"

"Baik!"

Begitu selesai bicara Si Siang-ho segera membentak nyaring, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia melesat ke udara dan langsung menusuk tubuh Tu Siau-thian dengan sebuah serangan kilat.

Sungguh dahsyat tenaga serangan itu, belum lagi mata pedang mendekati sasaran, hawa serangan sudah menekan datang dengan dahsyatnya.

Tu Siau-thian tahu kehebatan orang, dari desingan angin serangan dia sudah tahu kalau musuh yang dihadapinya amat tangguh.

"Serangan hebat!"

Pujinya sambil merendahkan tubuhnya ke bawah.

"Blukkk!"

Dia menjatuhkan diri berguling ke tanah, lalu dengan secepat kilat tubuhnya bergulingan mendekati tubuh Si Siang-ho.

Bersamaan dengan gerakan tubuh itu, goloknya langsung menyambar ke samping menyapu sepasang kaki lawannya, inilah salah satu gerak serangan dari ilmu sapuan goloknya.

Ilmu yang paling dia andalkan memang ilmu sapuan golok, maka sekali menggelinding paling tidak dia telah melepaskan enam belas buah sapuan.

Tapi sayang semua serangannya mengenai sasaran kosong, tidak satu pun yang berhasil menyentuh sepasang kaki lawan.

Si Siang-ho melejit ke tengah udara, bagaikan seekor alapalap dia menyambar ke bawah, pedangnya langsung menusuk tulang rusuk sebelah kiri Tu Siau-thian.

Dalam waktu singkat dia telah melepaskan tiga buah tusukan berantai, satu menusuk ke depan, satu ke belakang kemudian satu dari atas, tapi semuanya tidak mengenai sasaran.

Sekalipun begitu ternyata Tu Siau-thian tidak mampu berdiri tegak, dia dipaksa untuk berguling terus dibawah sambil tiada hentinya melancarkan serangan.

Dalam keadaan begini dia berguling terus, tidak lama kemudian tubuhnya sudah berguling sampai di depan pintu penjara bawah tanah itu.

Tadinya pintu itu berwarna biru tapi setelah tertutup rapat ternyata warnanya berubah seolah menyatu dengan langit nan gelap, sulit bagi orang untuk membedakan mana yang dinding dan mana yang pintu.

Masih untung Tu Siau-thian memiliki daya ingat yang bagus, apalagi sejak pintu itu masih terbuka dia sudah mengingat baik baik letaknya.

Dengan daya ingatannya yang bagus dia berguling terus hingga tiba dihadapan pintu rahasia itu, kemudian dengan sekali lejitan dia sudah melompat bangun.

Kini seluruh tubuhnya sudah menempel diatas pintu rahasia itu, tanpa menimbulkan sedikit suara pun dia sikut pintu itu kuat kuat.

Sayang pintu itu sama sekali bergeming, bukan saja tidak berhasil dibuka malahan sikutnya lamat-lamat terasa amat sakit, ternyata pintu itu terbuat dari batu cadas.

Tu Siau-thian merasakan hatinya tercekat, tapi dia tidak mau menyerah dengan begitu saja, dengan sekuat tenaga dia dorong pintu itu dengan kedua belah tangannya.

Sama sekali tidak ada reaksi, pintu itu seakan sudah mengakar disitu, kenyataan ini kontan saja membuat hatinya semakin tercekat.

"Kau ingin melarikan diri?'' terdengar Si Siang-ho menjengek dari arah belakang.

"Tentu saja aku harus mencoba"

Jawab Tu Siau-thian tanpa berpaling.

"sayang aku tidak mampu membuka pintu ini"

Si Siang-ho segera tertawa tergelak.

"Hahaha.... bila kau bisa membuka pintu itu sekehendak hati mu, percuma aku melatih diri hampir sepuluh tahun lamanya"

"Melatih diri selama sepuluh tahun? Apa yang kau latih?"

"Kau ingin tahu?"

"Kau sedang mempelajari ilmu merancang alat perangkap?"

"Tepat sekali"

Tidak kuasa lagi Tu Siau-thian menghela napas panjang, bibirnya bergetar seperti ingin menanyakan sesuatu, tapi belum sempat dia berbicara, Si Siang-ho sudah bicara lebih dulu.

"Sebenarnya masih ada cara lain jika kau ingin pergi meninggalkan tempat ini"

"Oya? Bagaimana caranya?"

"Paling tidak masih ada sebuah cara yang bisa kau coba"

"Aaah, aku tahu cara apa yang kau maksudkan"

"Kau tahu? Bagaimana caranya?"

Si Siang-ho seakan tidak percaya.

"Membunuhmu!"

"Hahahaha....... memang sebuah cara yang sangat bagus"

Tidak kuasa lagi Si Siang-ho tertawa tergelak.

"ternyata kau memang seseorang yang amat cerdas"

"Aku memang selalu cerdas, dan akupun tahu hanya dengan cara ini maka semua persoalan akan terselesaikan"

Si Siang-ho segera manggut manggut, rupanya dia sangat setuju dengan perkataan itu.

"Hanya sayangnya tidak setiap orang sanggup berbuat demikian"

Ujar Tu Siau-thian lebih lanjut.

"Kau sendiri bagaimana? Apakah kau merasa sanggup untuk melakukannya?"

"Biarpun tidak sanggup, aku tetap akan mencobanya"

"Silahkan saja untuk dicoba!"

"Dan untung sekali aku masih mempunyai sebuah cara untuk menyelamatkan diri"

"Apa caramu itu?"

"Beradu jiwa dengan kau!"

Si Siang-ho segera tertawa tergelak.

"Kenapa tidak segera kau coba?"

Jengeknya.

Tu Siau-thian tidak banyak bicara lagi, dia segera bergerak maju mendekati lawannya, kali ini dia yang mengambil posisi untuk menyerang lebih dahulu.

Meskipun langkah kakinya sangat lambat, namun mimik mukanya nampak hambar tanpa perasaan, tampaknya dia sudah bersiap sedia untuk beradu jiwa, karena dia tahu saat ini hanya cara tersebut yang dia miliki.

Dia pun sadar bahwa kemampuan yang dimilikinya belum mampu menghabisi nyawa Si Siang-ho, sebaliknya untuk kabur pun masih tanda tanya besar.

Itulah sebabnya Tu Siau-thian segera mengambil keputusan, bagaimana pun juga, selembar nyawanya memang harus dipertaruhkan dalam beradu jiwa ini.

--"Kegelapan malam"

Tidak pernah berubah.

"cahaya rembulan"

Pun masih tetap seperti semula, tidak terjadi perubahan apa pun ditempat itu.

Bau harumnya bunga berwarna kuning sudah semakin memudar, kini diantara bau lamat lamarnya bunga mulai terendus bau amisnya darah, darah dari kawanan Laron Penghisap darah.

Amisnya darah memancar juga dari tubuh Tu Siau-thian, ketika dia berguling ditanah sambil melancarkan sapuan tadi, ada belasan ekor Laron Penghisap darah yang tertindih oleh tubuhnya dan mati dengan tubuh hancur.

Darah laron membasahi seluruh pakaiannya, bau busuk pun amat menusuk hidung, tapi anehnya dia bisa bertahan dari rasa mual di perut, dia tidak sampai muntah karena bau busuk itu.

Sekalipun dia benar-benar ingin tumpah pun sekarang sudah tidak ada waktu lagi.

Serangan pedang yang dilancarkan Si Siang-ho sudah melayang tiba dari tengah udara.

Tu Siau-thian segera membentak keras, tubuh berikut goloknya maju menyongsong datangnya ancaman, dia benarbenar sudah siap beradu jiwa.

Kali ini dia tidak menggunakan ilmu goloknya lagi, golok yang berada dalam genggamannya memang sudah tidak memerlukan ilmu golok yang hebat lagi.

Senjata itu diayunkan berulang kali ke kiri kanan, membacok secara membabi buta, seakan sedang membelah kayu bakar saja.

Dia berharap bisa membacok Si Siang-ho persis seperti kayu bakar, membelah tubuhnya jadi dua bagian, membelah tubuhnya dalam satu kali bacokan.

Serangkaian bacokan telah dia lakukan, walaupun dalam serangan itu dia berhasil memaksa pedang lawan tersingkir dari jangkauan tubuhnya, walau berhasil memaksa lawannya mundur berulang kali, tapi sayang dia tidak berhasil membelah tubuhnya bagaikan kayu bakar.

Bahkan serangan berantainya tidak berhasil memaksa langkah musuhnya jadi kalut, tidak berhasil membuatnya kelabakan.

Tu Siau-thian mulai terkesiap, baru saja ingatan itu melintas lewat, baru saja gerak serangannya sedikit melambat, Si Siang-ho telah manfaatkan peluang itu dengan merangsek maju ke depan.

Kembali terlihat cahaya pedang berkelebat lewat, mata senjata menerobos masuk melalui celah celah bayangan goloknya, langsung mengancam dada Tu Siau-thian.

Dalam gugupnya buru-buru Tu Siau-thian memutar goloknya untuk menangkis.

"Criiing!"

Diiringi dentingan nyaring, tusukan itu seketika terbendung, namun tusukan ke dua kembali berkelebat lewat.

Begitu mata pedang tertangkis, senjata itu segera menggulung balik sembari melejit, lagi-lagi dia tusuk dada Tu Siau-thian.

Begitu cepat, begitu gesit serangan itu ibarat seekor ular berbisa yang siap mematuk mangsanya.

Merasa tidak sanggup membendung datangnya tusukan itu, buru-buru Tu Siau-thian melejit ke samping untuk menghindarkan diri.

"Sreeet!"

Ujung pedang menembusi baju diatas bahunya, untung hanya meninggalkan luka memanjang yang ringan.

Serangan ke tiga kembali menyambar tiba!

Kali ini Tu Siau-thian tidak berkelit maupun menangkis, dia hanya bergeser mundur ke belakang.

Serangan ke empat dari Si Siang-ho kembali menyusul tiba, satu kali berhasil menguasahi keadaan, dia tidak sudi melepasnya kembali.

Ketika serangan ke lima mulai dilontarkan, Tu Siau-thian sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menangkis, terpaksa dia mundur terus berulang kali.

Tapi Si Siang-ho sama sekali tidak mengendorkan serangannya, selangkah demi selangkah dia merangsek maju terus, serangan pedangnya makin cepat, makin ganas dan semakin keji.

Begitu dua belas tusukan lewat, diatas tubuh Tu Siau-thian telah bertambah dengan sebuah luka dan enam buah lubang kecil diatas bajunya.

Mulut luka itu tidak terlampau dalam dan berada pada lengan kirinya, luka semacam ini sama sekali tidak menimbulkan pengaruh apa apa, satu satunya yang terpengaruh saat itu hanyalah semangat tempurnya.

Sebenarnya dia bermaksud akan beradu jiwa, tapi sekarang semangatnya untuk beradu jiwa mulai runtuh.

Kehebatan ilmu silat yang dimiliki lawan jauh diluar dugaannya.

Begitu pertarungan berlangsung, dia sudah merasakan kalau ilmu silat mereka berbeda sangat banyak, apalagi setelah menghadapi berapa tusukan pedangnya, dia semakin sadar kalau selisih jarak mereka makin lama makin bertambah besar.

Dua belas tusukan kemudian dia nyaris dapat memastikan bahwa hanya tersedia satu jalan saja baginya yaitu kematian, kendatipun dia berniat beradu nyawa.

Berada dalam keadaan seperti ini, kabur merupakan jalan yang terbaik, sayang dia tidak berhasil menemukan pintu keluar disekitar situ.

Masih untung ruang penjara bawah tanah itu cukup luas, dengan gerakan tubuhnya yang lincah dan gesit dia masih berhasil menghindarkan diri ke sana kemari.

Tampaknya Si Siang-ho dibikin kewalahan juga oleh ulah lawannya, mendadak dia menarik kembali serangannya dan berkata sambil tertawa dingin.

"Bukankah kau berniat untuk beradu jiwa denganku?"

"Kelihatannya aku tidak mampu beradu nyawa lagi, lebih baik tidak usah beradu lagi"

Sahut Tu Siau-thian sambil menghembuskan napas panjang. Si Siang-ho tertawa dingin.

"Hmmm, kau enggan beradu pun akan mati, beradu juga tetap mati!"

Jengeknya.

Sembari tertawa dingin kembali sebuah tusukan dilancarkan, serangan ini jauh lebih ganas, tajam dan hebat.

Tidak menunggu serangan itu mendekati tubuhnya buruburu Tu Siau-thian menjatuhkan diri berguling ke atas tanah.

Kali ini dia bukan berguling sambil mengeluarkan ilmu goloknya, juga tidak berguling untuk mendekati Si Siang-ho, dia justru berguling ke belakang sebuah meja kemudian baru melejit bangun.

"Sreeet!"

Kembali sebuah tusukan meluncur tiba melewati meja, langsung mengancam dadanya.

Buru-buru Tu Siau-thian menangkis dengan goloknya, sreet, sreeet, sreeet, secara beruntun kembali meluncur datang tiga buah tusukan pedang.

Dengan mengayunkan goloknya ke kiri dan kanan Tu Siauthian menangkis dua serangan pertama, tiba-tiba badannya berjongkok ke bawah dan dia lolos dari serangan yang ke tiga.

Melihat hal itu Si Siang-ho segera tertawa dingin, serunya.

"Jangan dikira dengan adanya meja sebagai penghalang lalu aku tidak mampu membunuhmu!"

"Paling tidak tidak segampang itu bila ingin membunuhku"

Jawab Tu Siau-thian sambil tertawa dingin.

"Benarkah begitu?"

Kembali sebuah tusukan pedang dilontarkan.

"Serangan bagus"

Teriak Tu Siau-thian sambil menangkis tusukan itu dengan goloknya.

Si Siang-ho tertawa dingin, mendadak dia melejit ke tengah udara, bagaikan seekor burung bangau yang terbang menembusi awan, dia meluncur turun secepat kilat sambil melepaskan sebuah tusukan maut.

Buru-buru Tu Siau-thian memutar goloknya untuk melindungi diri, kemudian dia berputar dari sisi meja yang satu menuju ke sisi meja yang lain.

Tiga serangan kembali sudah lewat, namun kedua orang itu tetap terpisah oleh meja yang besar itu.

Si Siang-ho tertawa dingin, sekali lagi dia melejit ke tengah udara sambil melepaskan tusukan secepat sambaran petir, kali ini tubuhnya ikut berputar bagaikan gangsingan lalu melayang turun ke atas permukaan meja itu.

Jika dia berhasil berdiri diatas permukaan meja itu, maka posisinya jadi sangat menguntungkan karena dia bisa menyerang ke segala arah dengan lebih leluasa.

Tentu saja Tu Siau-thian tidak membiarkan lawannya berbuat begitu, sambil membentak nyaring dia lancarkan serangkaian bacokan kilat, dalam waktu singkat dua puluh satu sapuan golok telah dilontarkan.

Dengan gerakan yang sangat ringan Si Siang-ho memunahkan semua serangan yang datang ketika berhasil memunahkan serangan yang ke dua puluh dua, kakinya yang sebelan telah berhasil menginjak diatas permukaan meja.

Dengan kaki sebelah dia menopang seluruh berat badannya, sekali lagi pedangnya selincah ular berbisa menusuk ke tubuh lawan.

Begitu serangan Tu Siau-thian sedikit melambat, kakinya yang lain cepat cepat menginjak diatas permukaan meja itu.

Kini dia telah berdiri mantap diatas meja, serangan yang dilancarkan pun makin menghebat dan dahsyat, setelah membendung lagi dua tusukan golok Tu Siau-thian, dia membentak keras dan pedangnya langsung menerobos pertahanan lawan dan rnerangsek lebih ke depan.

Tergopoh gopoh Tu Siau-thian memutar goloknya untuk menangkis.

"Traaang...."

Golok dan pedang saling beradu keras sebelum ke dua senjata itu saling mencelat ke belakang, mendadak pedang lemas milik Si Siang-ho itu bagaikan seekor ular telah melilit diatas senjata lawan.

Tu Siau-thian amat terkesiap, buru-buru dia menarik senjatanya ke belakang.

Hampir bersamaan waktunya telapak tangan kiri Si Siangho segera didorong ke muka, menghajar tubuh Tu Siau-thian.

Meskipun selisih jarak mereka berdua amat dekat, bukan berarti pukulan itu bisa bersarang ditubuh Tu Siau-thian secara mudah, sekalipun begitu dahsyatnya angin pukulan sama saja dapat melukai lawannya.

Tu Siau-thian semakin terkesiap, sakit kagetnya paras mukanya berubah hebat.

--Bab 30.

Laron Penghisap darah menari di udara.

Dari balik sela-sela jari tangan Si Siang-ho mendadak terlihat beberapa titik cahaya tajam berkelewat lewat.

Senjata rahasia!

Ternyata diantara pukulan telapak tangannya, dia sertakan pula serangan dengan senjata rahasia.

Tu Siau-thian sangat terkesiap, belum sempat menjerit kaget, beberapa bagian dari tubuhnya sudah berlumuran darah segar.

Serangan amgi memang susah dihindari, apalagi dilancarkan dari jarak sedekat itu.

Keadaan Tu Siau-thian benar benar sangat berbahaya, dalam keadaan normal saja sudah sulit baginya untuk menghindari serangan senjata rahasia sebanyak ini apalagi sekarang goloknya sudah berbelit pedang lawan.

Kekuatan serangan senjata rahasia itu benar benar mengerikan, begitu menembusi pakaian dan terbenam dalam daging tubuhnya, dalam waktu singkat Tu Siau-thian telah berubah jadi manusia darah.

Tujuh delapan macam senjata rahasia yang menghujam dalam tubuhnya mendatangkan rasa sakit yang luar biasa, seluruh badannya nyaris mengejang keras, jangan lagi tubuh yang terdiri dari darah daging, manusia baja pun tidak akan mampu menahan siksaan seperti itu.

Dengan sekali sentakan tangan kanannya, golok milik Tu Siau-thian sudah mencelat ke udara, meluncur ditengah "kegelapan malam"

Dan menancap ditengah "langit nan gelap"

Tu Siau-thian tidak mampu berkutik lagi, dia hanya bisa berdiri termangu bagaikan sebuah patung, masih untung senjata rahasia itu tidak menghajar di bagian tubuhnya yang mematikan sehingga dia tidak sampai roboh ke tanah.

Dengan mata terbelalak lebar, dia awasi wajah Si Siang-ho tanpa berkedip.

Berada dalam keadaan seperti ini, seandainya Si Siang-ho mau mencabut nyawanya maka hal ini bisa dia lakukan segampang membalikkan telapak tangan.

Si Siang-ho tidak melancarkan serangan lagi, dia hanya berdiri diatas meja batu itu dengan pedang melintang didepan dada dan ibu jari memegang diujung senjata, dia mengawasi lawannya dengan senyuman dikulum, senyum penuh ejekan dan hinaan.

Sorot mata Tu Siau-thian sendiripun sangat kalut, dia tidak tahu harus ketakutan, tercengang atau marah.

Paras mukanya telah semakin memucat, pakaian yang dikenakan telah berubah jadi merah, basah oleh cucuran darah segar yang menembusi pakaiannya.

Tampaknya kawanan Laron Penghisap darah yang beterbangan di udara pun seakan sudah mengendus bau darah, seekor demi seeekor mulai beterbangan mendekati Tu Siau-thian dan hinggap ditubuhna.

Darah segar memang merupakan daya tarik yang amat besar bagi kawanan makhluk tersebut.

Apa yang dikerjakan kawanan Laron Penghisap darah itu?

Apakah mereka hingga ditubuh Tu Siau-thian sambil menghisap darahnya yang meleleh keluar?

Tu Siau-thian tidak menggubris, dia bahkan tidak merasakan apa apa, dia seakan tidak tahu kalau kawanan Laron Penghisap darah itu sudah hinggap diatas tubuhnya.

Mimik muka Si Siang-ho nampak sangat aneh, dia memang sebelumnya sudah nampak aneh.

Kini Tu Siau-thian sendiripun tampil dengan wajah sangat aneh, mulutnya ternganga seakan hendak mengucapkan sesuatu namun tidak sepatah kata pun yang terucap keluar.

Akhirnya Si Siang-ho menbuka suara lebih dulu, tanyanya.

"Apa kau anggap aku takabur?"

"Tidak"

Jawab Tu Siau-thian, suaranya tidak lagi senyaring tadi. Bila seseorang sudah kehilangan banyak darah, masih bisa bercakap pun sudah luar biasa. Kembali Si Siang-ho berkata.

"Sekarang kau sudah tidak bersenjata lagi, tubuhmu pun sudah terhajar senjata rahasiaku, apa lagi yang bisa kau perbuat?"

"Menunggu mati!"

Saat ini dia memang hanya bisa menunggu mati. Kontan Si Siang-ho tertawa tergelak.

"Hahahaha.... tapi kau tidak usah kuatir, kujamin kau tidak akan mati dengan sengsara karena aku tidak pernah melumuri senjata rahasia ku dengan racun"

Katanya.

"Aku tahu!"

Tiba tiba muncul penderitaan yang mendalam diatas wajah Tu Siau-thian.

"biarpun senjata rahasiamu tidak beracun, namun hatimu benar benar kelewat beracun!"

"Hahahaha...... kalau tidak beracun bukan lelaki namanya!"

"Aku sama sekali tidak menyangka......."

"Banyak sekali kejadian yang tidak kau sangka"

Sambil menghela napas Tu Siau-thian manggut manggut, kembali tanyanya.

"Sebenarnya kenapa kau berbuat begini?"

"Kau sudah hampir mampus, buat apa banyak bertanya?"

"Justru karena aku hampir mati maka harus kutanya sejelas jelasnya, aku tidak ingin mati dalam keadaan tidak jelas"

"Aku cukup memahami maksud hatimu"

Si Siang-ho menghela napas panjang.

"sayang jalan pemikiranku sama sekali bertolak belakang dengan jalan pikiranmu"

"Bagaimanapun juga aku toch tetap akan mati, apa salahnya kalau kau jawab berapa pertanyaanku?"

"Sebetulnya aku tidak keberatan, sayang saat ini sudah tidak banyak waktu lagi"

Tu Siau-thian menghela napas panjang, kali ini helaan napasnya pun kedengaran begitu lemah dan tidak bertenaga.

Paras mukanya telah berubah semakin pucat, pucat bagaikan mayat, tubuhnya mulai gontai.

Benda yang berada disekelilingnya seakan sedang melayang ditengah udara, setiap benda seolah sudah terbelah jadi dua, termasuk juga Si Siang-ho.

Tu Siau-thian tahu dirinya sudah kehilangan banyak darah, kesadaran otidaknya mulai kabur, pandangan matanya mulai kalut.

Cepat dia menggigit bibirnya hingga berdarah.

Cucuran darah segar meleleh keluar dari ujung bibirnya, tapi dia sudah tidak merasakan apa apa, sedikitpun tidak merasa sakit.

Dengan kesadaran yang sedikit pulih dia mencoba mengangkat wajahnya, tapi apa yang terlihat kembali membuat hatinya tercekat.

Rupanya Si Siang-ho sudah mengangkat pedangnya kembali!

"Sreeet!"

Cahaya pedang secepat sambaran petir melesat ke depan.

Tu Siau-thian hanya bisa menyaksikan datangnya sambaran pedang itu tanpa berkedip, tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Bukan saja dia sudah tidak mengerti bagaimana harus berkelit, dia pun sudah tidak sanggup lagi untuk menghindarkan diri.

Tapi dia berusaha keras untuk mengendalikan gejolak emosinya, mempertahankan tubuhnya agar tidak roboh, dia hanya bisa mengawasi lawannya dengan pandangan putus asa.

Sebab dia tahu kendatipun bisa lolos dari serangan pedang yang pertama belum tentu bisa lolos dari serangan yang ke dua, pada akhirnya dia akan tewas juga diujung senjata Si Siang-ho.

Itulah sebabnya dia sama sekali tidak meronta, dia sudah pasrah seratus persen.

Si Siang-ho tidak menggubris, dia pun tidak menghentikan gerak serangannya, jelas ia sudah mengambil keputusan, Tu Siau-thian harus dibantai.

Pedang menyambar datang dengan kecepatan bagaikan kilat, langsung menusuk ke dada Tu Siau-thian, percikan darah berhamburan ke mana mana walau dalam jumlah yang lebih sedikit.

Cairan darah yang tersisa di dalam tubuh Tu Siau-thian memang sudah tinggal tidak seberapa, sudah banyak mengalir keluar semenjak tadi.

Dalam waktu singkat dia merasa dadanya seolah tertusuk oleh sebuah balok salju yang amat dingin, sedemikian dinginnya membuat darah yang mengalir dalam tubuhnya seakan mulai membeku.

Kemudian kesadarannya mulai menurun, pandangan matanya mulai kabur, namun dia belum juga merasakan kesakitan, rasa sakit akibat tusukan seolah sudah diwakili oleh kobaran amarah yang masih membara dirongga dadanya.

Kemudian dengan suara parau dia menjerit keras.

"Biar matipun aku mati tidak meram!"

Kemudian tubuhnya roboh terjungkal ke tanah.

Si Siang-ho sudah mencabut keluar pedangnya, sejak tadi Tu Siau-thian masih bisa berdiri karena dia tertahan oleh pedang Si Siangho, maka begitu pedang tersebut dicabut keluar, badannya langsung roboh terjungkal.

--Tu Siau-thian tidak langsung mati, dia masih bernapas.

Tusukan pedang dari Si Siang-ho memang tidak ditusukkan ke bagian tubuhnya yang mematikan.

Apakah pada detik terakhir dia telah berganti haluan?

Tiba tiba tidak ingin melihat Tu Siau-thian mati tidak meram maka dia urung mencabut nyawanya?

Apakah dia berniat memberitahukan seluruh rahasianya?

Tu Siau-thian tersadar kembali setelah waktu berjalan cukup lama, dia tersadar oleh rangsangan perasaan hatinya yang penuh amarah dan penasaran.

Walaupun sudah peroleh kembali kesadarannya, namun dia masih berbaring dengan mata terpejam rapat, serunya dengan suara parau.

"Dimana sekarang aku berada? Apakah sudah berada dalam neraka?"

Sebuah suara segera muncul dari sampingnya, suara yang dingin dan ketus.

"Berada dalam neraka atau bukan, kenapa tidak kau periksa sendiri dengan membuka matamu?"

Tu Siau-thian memaksakan diri untuk membuka mata.

Sekarang kondisi tubuhnya sudah amat lemah, bahkan tenaga untuk membuka matapun nyaris sudah tidak punya.

Ketika dia membuka matanya maka yang terlihat adalah kegelapan malam yang dihiasi sebuah rembulan yang pucat.

Daya ingatannya sama sekali belum luntur, dia masih punya kesan yang sangat mendalam terhadap semua peristiwa yang menimpanya sebelum pingsan tadi.

Dia segera tahu kalau dirinya masih berada dalam penjara bawah tanah, masih ada di rumah penginapan Hun-lay.

Tentu saja dia pun tahu kalau langit yang gelap sesungguhnya hanya langit buatan, rembulan yang bersinar pucat pun tidak lebih hanya cahaya dari lampu kristal.

Ini berarti dirinya masih hidup di dunia, dengan paksakan diri dia berpaling, menoleh ke arah mana berasalnya suara itu.

Dia pun menyaksikan Si Siang-ho.

Si Siang-ho masih berdiri disitu dengan tubuh kaku, ditangan kirinya dia memegang sebuah kotak besi yang berbentuk kecil memanjang, sementara tangan kanannya sedang menggenggam sebatang jarum perak sepanjang lima enam inci.

Jarum perak itu membiaskan cahaya yang berkilauan, ujung jarum nampak sangat aneh karena bentuknya besar dan mengerikan.

Apa kegunaan jarum perak itu?

Buat apa Si Siang-ho menggunakan jarum perak ?

Dengan mata melotot Tu Siau-thian awasi wajah Si Siangho, sorot matanya dipenuhi rasa curiga, keheranan dan rasa ingin tahu.

Tiba tiba Si Siang-ho mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, gelak tertawanya amat menyeramkan, membuat bulu kuduk pada bangun berdiri.

Tu Siau-thian ingin sekali bangkit dan duduk, tapi sayang dia tidak mampu berbuat begitu, jangan lagi duduk, ingin mendongakkan kepalanya pun terasa amat susah.

Pada saat itulah dia merasakan sekujur badannya mengejang dan kaku, ternyata cairan darah yang ada didalam tubuhnya sedang dihisap keluar, mengalir keluar terus dengan amat derasnya.

Kemana perginya puluhan ekor Laron Penghisap darah yang semula beterbangan di tengah "angkasa"

Itu?

-------Apakah kawanan laron itu sedang hinggap ditubuhnya?

Sedang menghisap darah dalam tubuhnya?

Dengan menggunakan segenap sisa tenaga yang dimiliki Tu Siau-thian mendongakkan kepalanya.

Ternyata benar!

Seluruh Laron Penghisap darah itu sudah hinggap memenuhi tubuhnya, tubuh yang hijau pupus bagai pualam dengan mata yang merah bagaikan darah.

Selain itu, tubuhnya juga sudah dipenuhi oleh berpuluh puluh batang jarum perak yang bentuknya persis sama seperti jarum perak yang sedang digenggam Si Siang-ho saat itu.

Dari ujung jarum yang berbentuk bulat besar itulah darah segar dari tubuhnya menyembur keluar.

Pucat pias selembar wajah Tu Siau-thian, sekuat tenaga dia berusaha meronta, dia ingin mencabuti semua jarum perak yang menancap ditubuhnya itu, dia tidak ingin mati mengenaskan dalam keadaan seperti ini.

Tapi sayang keinginannya tidak mungkin bisa terkabulkan, kecuali menggerakkan kepalanya, sepasang tangan maupun sekujur tubuhnya seolah sudah tidak mau menuruti perintahnya lagi, seluruh bagian tubuhnya sudah kaku dan hilang kontrol.

Begitu juga dengan pinggul, dada serta kakinya, bahkan untuk membalik badannya pun tidak bisa.

Dalam keadaan begini dia hanya bisa menghela napas, berulang kali menghela napas panjang.

"Ooh, jadi kau tidak ingin mampus dengan cara begini?"

Tegur Si Siang-ho setengah mengejek.

"Hanya cucu kura kura yang pingin mampus dengan cara begini"

Jawab Tu Siau-thian dengan napas terengah.

"Padahal tidak ada jeleknya untuk mati dalam keadaan begini, kujamin tidak ada siksaan dan penderitaan yang akan kau alami"

"Mengapa kau tidak biarkan aku mati secara utuh?"

"Ooh, jadi kau pingin mati secepatnya?"

"Hanya itu saja harapanku, harapan yang terakhir"

Si Siang-ho termenung sejenak, kemudian katanya.

"Kalau mendengar perkataanmu tadi, seakan kalau tidak kukabulkan permintaanmu itu, aku jadi rada kebangetan?"

"Lebih baik cepatlah turun tangan!"

Kini wajahnya mulai mengejang, begitu hebatnya mengejang hingga nyaris tidak berbentuk wajah manusia.

Darah yang dihisap keluar secara perlahan-lahan bukan sesuatu yang enak untuk dirasakan, betul kematian secara begini tidak akan tersisa dan menderita, namun tidak bisa dikatakan sebagai kematian yang nyaman.

Si Siang-ho mengawasi wajahnya sekejap, tiba tiba ia tertawa.

"Kalau kuturuti keinginanmu, maka jadi tidak mirip'' "Mirip apa?"

"Mirip korban yang tewas gara gara dihisap darahnya oleh Laron Penghisap darah"

Jawab Si Siang-ho sambil mengawasi kawanan makhluk itu. Seakan baru sadar apa yang terjadi Tu Siau-thian segera berseru.

"Jadi itulah sebabnya kau menghisap keluar darah dari tubuhku?"

"Benar!"

Ternyata Si Siang-ho tidak menyangkal.

"See...sebenarnya apa rencana mu?"

"Tidak ada rencana apa apa, aku hanya ingin orang lain percaya bahwa kematianmu disebabkan darah dalam tubuhmu habis dihisap oleh kawanan Laron Penghisap darah"

Tu Siau-thian segera menghela napas panjang, sesaat kemudian katanya lagi sambil tertawa pedih.

"Aku rasa darah dalam tubuhku saat ini sudah tinggal tidak seberapa, kenapa kau tidak segera turun tangan?"

Kembali Si Siang-ho memandangnya sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa.

"Baiklah, aku kabulkan permintaanmu!'' Tangan kanannya segera diayunkan, jarum perak yang berada dalam genggamannya itu segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa. Jarum itu melesat diudara, menembusi kegelapan malam, langsung menghajar kening Tu Siau-thian. Sebuah sambitan yang langsung merenggut nyawa! Tu Siau-thian sama sekali tidak menghindar, sekulum senyuman justru menghiasi bibirnya, dia menyongsong datangnya kematian dengan senyuman dikulum. Berada dalam keadaan seperti ini, bisa mati lebih awal justru merupakan satu kejadian yang patut disyukuri, paling tidak bagi dirinya. Dia tidak memejamkan matanya, dia biarkan matanya melotot besar, hanya sayang biji matanya sudah tidak memiliki hawa kehidupan, yang tersisa hanya sorot mata yang bikin hati bergidik dan perasaan muak. Si Siang-ho sama sekali tidak terpengaruhi oleh pemandangan itu, dia malah mengawasi wajah Tu Siau-thian dengan mata melotot, dia malah tertawa tergelak.

"Hahahaha.......bukankah aku sudah kabulkan permintaanmu? Kenapa kau masih saja tidak pejamkan matamu?"

Tu Siau-thian sama sekali tidak bereaksi.

Orang mati mana yang bisa memberikan reaksi?

Yang nampak saat itu hanya selapis hawa putih yang seakan keluar dari lubang hidungnya.

Apakah hawa putih itu adalah sukmanya ?

Entahlah!

--Angin masih berhembus kencang, hujan masih turun deras.

Ketika Siang Hu-hoa, Tan Piau dan Yau Kun balik ke kantor pengadilan, hujan sudah semakin mereda.

Mereka bertiga segera menelusuri jalan setapak langsung masuk ke ruang utama.

Ko Thian-liok dan Nyo Sin sudah menunggu dalam ruangan itu, bahkan selain mereka hadir pula tiga orang yang lain.

Dua orang berbaju perwira, mereka adalah pengawal pribadi Ko Thian-liok yang berdiri disisi kiri kanannya, sementara yang seorang lagi berdandan seorang kongcu dengan pakaian yang halus terbuat dari sutera.

Dipandang dari sudut mana pun orang itu tidak mirip petugas pengadilan, dia pun tidak mirip seorang tamu terhormat.

Tidak ada tamu yang duduk dalam ruang utama dengan mengenakan topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu.

Orang itu mengenakan sebuah topi caping dari anyaman bambu yang amat besar dan lebar, bahkan sekeliling topi capingnya dikerudungi pula dengan selembar kain sutera.

Karena wajahnya tersembunyi dibalik kain cadar itu maka sulit bagi orang ain untuk melihat dengan jelas bagaimana bentuk wajah aslinya.

Siapakah dia?

Apakah orang ini adalah Liong Giok-po?

Sementara Siang Hu-hoa masih mengawasi raut wajah orang itu, tampaknya orang itupun sedang mengawasi Siang Hu-hoa.

Terdengar Ko Thian-liok menyapa seraya menjura.

"Saudara Siang, cepat amat kehadiranmu"

"Tidak cepat cepat, maaf kalau kalian harus menunggu lebih lama"

"Tidak usah sungkan, silahkan duduk"

Siang Hu-hoa tidak sungkan lagi, dia pun duduk disebuah kursi yang persis saling berhadapan dengan orang berkerudung itu, sekali lagi dia awasi wajah orang itu lekat lekat.

Terdengar Ko Thian-liok kembali berkata.

"Saudara Siang, dialah Liong Giok-po Liong kongcu!"

"Benarkah?"

Dari nada suaranya kelihatan kalau dia merasa sangsi. Ko Thian-liok segera berpaling ke arah Liong Giok-po, ujarnya pula.

"Apakah Liong kongcu masih mempunyai kesan terhadap saudara Siang?"

Liong Giok-po mengangguk.

"Aku selalu memiliki daya ingat yang baik, khususnya terhadap orang kenamaan, kecuali tidak ada kesempatan untuk bersua, kalau tidak aku pasti akan menaruh perhatian secara khusus"

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Apalagi saudara Siang adalah orang ternama diantara orang kenamaan lainnya!"

"Aku rasa begitu pula dengan saudara Liong"

Cepat Siang Hu-hoa menimpali sambil tertawa.

"Aaah.....masa betul?"

"Betul, hanya sayangnya saat ini......."

Mendadak Siang Huhoa menghentikan kata katanya.

"Saat ini aku mengenakan topi lebar dan berkerudung kain sehingga saudara Siang tidak merasa yakin?"

"Benar"

"Sekalipun kulepas topi lebar ini, belum tentu saudara Siang dapat mengenali diriku"

"Aku percaya daya ingatanku tidak kalah dengan daya ingatmu"

"Masalahnya sama sekali tidak menyangkut soal daya ingat"

"Lalu karena alasan apa?"

"Raut wajahku sekarang sudah bukan raut wajah yang dulu lagi"

"Oya?"

Siang Hu-hoa berseru keheranan.

Liong Giok-po tahu kalau orang itu tidak percaya, pelan pelan dia melepaskan topi dan kain kerudung dari wajahnya.

Siang Hu-hoa memperhatikan terus gerak gerik Liong Giokpo, khususnya pada tangan yang sedang memegang topi lebar itu.

Pelan pelan topi dan kain kerudung itupun terlepas, raut muka Liong Giok-po segera muncul dibawah cahaya lentera.

Mendadak Siang Hu-hoa merasa jantungnya seakan berhenti berdetidak, dia merasa tubuhnya seolah dicambuk orang keras keras sehingga seluruh badannya mengejang keras.

Yau Kun berseru tertahan, nyaris kata "setan!"

Melompat keluar dari mulutnya.

Raut wajah Liong Giok-po yang muncul dibawah cahaya lentera sudah tidak mirip lagi dengan wajah manusia, tapi tidak mirip juga dengan wajah setan.

Kalau orang bilang wajah setan itu menyeramkan, maka wajah setan yang menyeramkan itu paling tidak jauh lebih menarik sepuluh kali lipat daripada wajah orang ini.

Selembar wajahnya mirip sekali dengan sebuah semangka yang sudah membusuk, kalau semangka itu berwarna merah maka wajah itu berwarna putih.

Putih pucat yang mendirikan bulu roma, putih pucat yang sangat memuakkan, bikin hati siapa pun bergidik, tubuh siapa pun gemetar.

Wajah itu tidak memiliki alis mata, tidak punya kumis maupun jenggot, matanya tidak sama besarnya, ujung kelopak mata kirinya merekah seperti daging yang meletup, tergantung ke bawah dan membentuk sebuah celah yang dalam, dibalik celah yang dalam itu terlihat tulang tengkoraknya yang berwarna putih pucat.

Biji mata kanannya mirip mata manusia, sebaliknya biji mata yang sebelah kiri lebih mirip seperti sebutir batu.

Dia tidak memiliki batang hidung karena yang terlihat hanya dua buah lubang besar, bibirnya sebagian besar menggulung ke atas, sementara bibir kirinya terkoyak hingga kehilangan daging segumpil, dari koyakan itu terlihat giginya yang menyeramkan.

Gigi itu berwarna kuning keabu-abuan, sebagian besar sudah rontok atau patah dan tidak merata.

Diatas batok kepalanya terdapat pula sebuah celah dalam yang seakan akan bakal merekah ke kedua belah samping, setengah bagian yang menjorok ke muka masih tersisa beberapa helai rambut.

Kalau bentuk kepala orang ini masih disebut sebagai batok kepala seorang manusia, mungkin orang yang menyebutkan begitu rada tidak waras otaknya.

Semua orang berdiri terperana, siapa pun tidak menyangka kalau di dunia ini ternyata masih ada manusia dengan bentuk wajah yang begitu aneh.

Tidak terkecuali Siang Hu-hoa.

Sambil membelah celah yang ada diatas batok kepalanya Liong Giok-po berkata.

"Sebetulnya celah ini pingin kujahit agar merapat jadi satu, tapi biniku bilang, kalau tidak dijahit malah nampak lebih menarik, maka akupun urungkan niatku untuk menjahitnya"

"Oya?"

Siang Hu-hoa menyahut hambar, sementara hatinya semakin bergidik.

"Wajah yang saudara Siang lihat tempo hari tentunya bukan wajah seperti ini bukan?"

Kembali Liong Giok-po bertanya sambil tertawa.

Kalau tidak tertawa, wajahnya masih nampak mendingan, begitu tertawa maka seluruh daging wajahnya seolah tersusun menjadi satu yang setiap saat bakal mengelupas dari tempatnya, sungguh mengerikan hati.

Siang Hu-hoa tidak tega untuk melihat hal ini, sahutnya sambil menghela napas.

"Yaa, memang bukan"

"Berarti saudara Siang sudah tidak mengenali wajahku lagi?"

Siang Hu-hoa tidak menyangkal.

"Berarti saudara Siang tetap menaruh curiga, benarkah aku adalah Liong Giok-po yang asli?"

Kembali ia bertanya.

"Rasanya hal ini memang sukar untuk dihindari"

"Untung aku masih punya cara lain untuk membuktikan identitasku yang asli"

Kembali Liong Giok-po tertawa.

"Bagaimana caranya?"

"Diatas tubuhnya terdapat tatto tiga ekor nagal"

Mendadak Nyo Sin menyela dari samping.

Belum sempat Siang Hu-hoa mengucapkan sesuatu, Liong Giok-po sudah membuka baju bagian atasnya hingga terbuka sampai bagian pinggang.

Benar juga dibagian dadanya terdapat tatto yang melukiskan tiga ekor naga.

Sambil mengawasi tattonya Liong Giok-po berkata lagi.

"Karena aku berada pada urutan ke tiga, maka orang persilatan menyebutku sebagai Liong sam-kongcu"

"Masalah ini sudah pernah kudengar"

"Justru karena itu aku khusus mencari orang untuk membuatkan tatto berlukiskan tiga ekor naga diatas dadaku, aku pribadi memang suka sekali dengan naga"

"Soal inipun pernah kudengar"

Siang Hu-hoa manggut manggut.

"Tatto ini merupakan hasil karya dari Yu hujin dari kotaraja, sementara lukisan naga itu hasil rancanganku sendiri"

"Yu hujin memang amat termashur di kotaraja, kepandaiannya membuat tatto memang sudah mencapai pada puncak kesempurnaan"

"Itulah sebabnya aku pergi mencarinya"

"Dengan kemampuannya yang luar biasa, caranya membuat tatto memang jauh lebih cermat dan teliti, hasil karyanya jauh lebih hidup"

"Ooh..... kau takut dia pun membuatkan tatto tiga ekor naga di tubuh orang lain?"

Liong Giok-po bertanya "Kemungkinan semacam ini bukannya tidak mungkin terjadi"

Liong Giok-po manggut-manggut.

"Kekuatiran seperti ini memang sangat masuk diakal"

Katanya.

"tapi ada satu hal kau pun mesti mengerti dulu secara jelas"

"Soal apa?"

"Tidak lama setelah Yu hujin membuatkan tatto tiga ekor naga ditubuhku, sepasang tangannya lumpuh dan tidak pernah bisa digunakan lagi untuk membuat tatto, ke tiga ekor naga ini merupakan hasil karyanya yang terakhir, sedang aku pun merupakan langganannya yang paling buncit"

"Oya?"

"Oleh sebab itu kau tidak usah kuatir, di kolong langit tidak nanti akan kau temukan tiga ekor naga seperti tatto ku ini muncul ditubuh orang ke dua"

"Yang kau maksud tidak lama setelah selesai membuat tatto dirimu itu sebetulnya berapa hari?"

"Tiga hari"

"Apakah kejadiannya di saat kau masih muda dulu?"

"Peristiwa itu mungkin terjadi pada tujuh delapan tahun berselang"

"Kau tampaknya tidak terlalu yakin?"

"Siapa yang bisa yakin dengan kejadian yang telah berlangsung tujuh delapan tahun berselang?"

"Lalu kenapa kau begitu yakin ketika menyebutkan selama tiga hari?"

Tanya Siang Hu-hoa keheranan. Liong Giok-po hanya tertawa tanpa menjawab. --Bab 31. Surat wasiat dari Laut Utara. Kembali Siang Hu-hoa berkata.

"Aku dengar sepasang tangan Yu hujin selalu kuat dan sehat, kenapa tiga hari setelah membuat tatto badanmu tangannya jadi lumpuh? Aku rasa tidak mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan......"

"Tapi banyak kejadian di dunia memang berlangsung secara kebetulan"

Tukas Liong Giok-po cepat.

"Apakah kau kuatir dia buatkan juga tiga ekor naga ditubuh orang lain, maka kau minta kepadanya untuk pensiun dini?"

Tanya Siang Hu-hoa dengan nada penuh selidik.

"Rasanya sih tidak"

"Rasanya?"

Siang Hu-hoa tertawa hambar.

"Sudah lama cara kerja saudara Liong termashur di seantero dunia persilatan"

"Benarkah begitu?"

Sahut Liong Giok-po, mendadak dia merendahkan suaranya.

"kedatanganku kali ini sama sekali bukan dikarenakan urusan yang terjadi pada tujuh delapan tahun berselang"

Siang Hu-hoa mengangguk.

"Tatto tiga ekor naga yang ada di dadaku sudah cukup untuk membuktikan keaslian identitasku bukan?"

Kembali Liong Giok-po berkata. Siang Hu-hoa tidak menyahut, diapun tidak memberi komentar. Sesudah mengenakan kembali bajunya Liong Giok-po berkata lagi.

"Sebenarnya tidak susah untuk menyelidiki apakah yang kuucapkan benar benar kejadian atau hanya rekayasa belaka, sebab hingga sekarang Yu hujin masih hidup"

"Dimana para opas menemukan saudara Liong?"

Tanya Siang Hu-hoa lagi setelah termenung dan berpikir sejenak.

"Di rumahku"

"Menurut apa yang kuketahui, selain hebat dalam ilmu pukulan dan ilmu pedang, saudara Liong mahir juga menggunakan senjata rahasia, konon dua belas batang peluru pencabut nyawa cu-bo-le-hun-sou milikmu dapat digunakan sekehendak hati?"

"Aaah, kesemuanya itu hanya pemberian sahabat kangouw"

Kata Liong Giok-po merendah, sementara berbicara tahu-tahu didalam genggamannya telah bertambah dengan dua belas batang peluru emas.

"Aaah, ternyata memang peluru emas cu-bo-le-hun-sou"

Seru Siang Hu-hoa setelah mengamati peluru peluru emas itu sekejap.

"Darimana saudara Siang bisa yakin kalau peluru ini adalah cu-bo-le-hun-sou?"

Mendadak Liong Giok-po balik bertanya.

"Ketika melihat untuk pertama kalinya, kau sedang menggunakan senjata ini untuk bertarung melawan lima orang gagah dari Ngo-gan"

Liong Giok-po seperti sedang membayangkan kembali peristiwa waktu itu, sesaat kemudian dia baru berkata.

"Waktu itu seingatku mereka berdua merecoki aku melulu bahkan pada saat terakhir sempat menggunakan senjata rahasia untuk membokongku, dalam gusarnya aku pun menghadiahkan kepada mereka masing masing sebuah peluru cu-bo-li-hu-sou"

"Aku memang amat suka memperhatikan kepandaian istimewa, khususnya benda benda istimewa, karena benda istimewa akan meninggalkan kesan yang mendalam sekali"

Kata Siang Hu-hoa sambil manggut manggut.

"Apakah kau perhatikan juga senjata apa yang aku gunakan waktu itu?"

Tanya Liong Giok-po lagi.

"Pedang wujud naga!"

Baru selesai Siang Hu-hoa menjawab, tahu-tahu dalam genggaman Liong Giok-po telah bertambah dengan sebilah pedang.

Bentuk pedang itu jauh berbeda dari bentuk pedang pada umumnya, tubuh pedang jauh lebih sempit dengan punggung senjata dipenuhi sisik seperti sisik naga, ketika berkilauan dibawah cahaya lentera, sisik sisik itu nampak seperti hidup.

Berkilat sepasang mata Siang Hu-hoa, pelan pelan dia mengangguk.

"Apakah sekarang saudara Siang masih ragu atau curiga?"

Tanya Liong Giok-po kemudian.

"Tidak, tidak ada keraguan lagi"

Jawab Siang Hu-hoa seraya menggeleng. Sambil menyimpan kembali pedangnya, Liong Giok-po berseru.

"Saudara Siang, kau sangat berhati-hati ketika bekerja"

"Karena masalah ini sangat serius, terpaksa aku harus bersikap ekstra hati-hati"

"Benar, sebagai seorang manusia memang jauh lebih baik bila berhati-hati, sebab sedikit saja kurang waspada, dia bakal menyesal dikemudian hari"

Tampaknya dibalik perkataan itu masih terselip perkataan lain. Tapi Siang Hu-hoa tidak memperhatikan, katanya.

"Senjata bagi umat persilatan sama seperti nyawa sendiri, kecuali nyawa sudah hilang, kalau tidak, tidak nanti senjata andalannya akan dibiarkan terjatuh ke tangan orang lain"

"Bagiku, pedang wujud naga sama seperti nyawa ku sendiri"

Liong Giok-po segera berseru sambil menepuk pedangnya.

"entah sudah berapa kali senjata ini menyelamatkan nyawaku"

"Oleh sebab itu bila menginginkan pedang itu, orang harus membunuhmu terlebih dulu?"

Sambung Siang Hu-hoa. Liong Giok-po tertawa tergelak.

"Hahahaha......tepat sekali"

Sahutnya.

"memang orang harus berbuat begitu"

"Aku rasa tidak banyak jumlah jagoan yang sanggup menghabisi nyawamu"

"Mungkin jumlahnya cukup banyak, hanya saja, hingga sekarang aku belum sempat menjumpainya"

"Orang yang punya kemampuan untuk membunuhmu, rasanya tidak mungkin akan menyaru sebagai dirimu bukan?"

"Itulah sebabnya kau memang tidak perlu mencurigai aku"

Perlahan-lahan Siang Hu-hoa mengalihkan sorot matanya ke wajah Liong Giok-po, setelah mengamati sesaat dia bertanya lagi.

"Mengapa wajahmu bisa berubah jadi begini rupa?"

Baca Juga: Kuda Binal Kasmaran 3

Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert