Eps 7 Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.
"Menurut pendapatmu, apa yang menyebabkan terjadinya hal ini?"
Liong Giok-po balik bertanya sambil mengenakan kembali topi bambunya.
"Akibat racun?"
"Tajam amat pandangan matamu!"
"Racun apa itu? Tampaknya sangat lihay"
"Bubuk lima racun ngo-tok-san!"
"Bubuk racun ngo-tok-san dari Tok tongcu si bocah racun?"
"Benar!"
Sahut Liong Giok-po sambil mengangguk.
"selama ini, orang yang terkena racun ngo-tok-san pasti akan tewas secara mengenaskan, jadi aku terhitung sangat beruntung karena berhasil mempertahankan nyawaku"
Siang Hu-hoa manggut manggut.
"Dia berhasil menghancurkan wajahku"
Kembali Liong Giokpo berkata.
"tapi aku minta selembar nyawanya sebagai pengganti, aku pikir transaksi perdagangan ini tidak termasuk kelewat rugi"
Tiba tiba dia menghela napas panjang, terusnya.
"Tapi aku sama sekali tidak mengira kalau raut wajahku bakal berubah jadi begini rupa"
"Aku rasa hal semacam ini sudah tidak perlu terlalu dipikirkan lagi"
"Banyak orang merasa keheranan, mereka tidak habis mengerti kenapa aku masih punya keberanian untuk hidup terus kendatipun wajahku telah berubah jadi begini buruk, mereka tidak tahu........"
"Yaa, mereka tidak tahu kalau hidup sengsara jauh lebih mendingan ketimbang harus mati"
Sambung Siang Hu-hoa cepat.
Liong Giok-po segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, raut muka anehnya kembali membuat suasana serasa tercekam.
Siang Hu-hoa sendiripun tidak dapat menyembunyikan rasa bergidiknya, tanpa sadar dia bersin berulang kali.
"Untung aku seorang lelaki"
Kembali Liong Giok-po berkata sambil tertawa.
"coba kalau aku seorang wanita, mungkin sejak dulu sudah terjun ke sungai untuk menghabisi nyawa sendiri"
"Aku rasa yang terpenting dari seorang manusia bukan terletak pada wajahnya"
"Mungkin perkataanmu benar, tapi berapa banyak sih yang benar benar bisa berpikir demikian?"
"Memang tidak banyak"
"Sekarang wajahku sangat buruk, sedemikian buruknya hingga nyaris mirip setan bengis yang kabur dari dalam neraka........."
Siang Hu-hoa tidak komentar, dia hanya membungkam diri.
"Aku rasa setan bengis yang kabur dari neraka jauh lebih tampan ketimbang wajahmu itu!"
Nyaris perkataan ini meluncur keluar dari mulut Nyo Sin.
"Sekarang, urusan identitas Liong kongcu sudah jelas"
Timbrung Ko Thian-liok tiba tiba.
"ini berarti sudah tidak ada masalah lain yang mengganjal, bagaimana kalau sekarang kita berbicara ke soal pokok, urusan yang ada hubungannya dengan warisan Jui Pak-hay"
Siang Hu-hoa menyatakan setuju. Nyo Sin pun berpaling ke arah Liong Giok-po sambil bertanya.
"Seberapa banyak yang Liong kongcu ketahui tentang peristiwa ini?"
"Sedikit sekali"
Jawab Liong Giok-po.
"aku hanya tahu dari mulut petugas opas yang mengatakan bahwa Jui Pak-hay telah mencantumkan namaku sebagai salah satu ahli waris kekayaannya"
"Karena alasan itu maka kau segera datang kemari?"
"Jui Pak-hay merupakan hartawan paling kaya di wilayah Kanglam, sedang aku sedang kehabisan uang belakangan ini, masa aku tidak segera datang kemari setelah mendengar kabar itu?"
"Apakah kau punya hubungan persaudaraan atau famili dengan Jui Pak-hay?"
Kembali Nyo Sin bertanya.
"Sama sekali tidak punya hubungan apa apa"
"Kalau begitu kau adalah sahabat karibnya?"
"Aku hanya tahu kalau di wilayah Kanglam terdapat seorang hartawan kaya raya seperti dia itu"
"Berarti kalian belum pernah bersua muka?"
"Pernah, dua kali"
"Di mana?"
"Kalau tidak salah ingat, terjadi ditengah jalan"
"Darimana kau bisa tahu kalau dia adalah Jui Pak-hay?"
"Pertama kali bersua, kebetulan aku sedang jalan bersama beberapa orang teman"
"Berarti dari antara teman temanmu itu ada yang kenal dengannya?"
"Benar"
"Dari teman temanmu itulah kau baru tahu tentang Jui Pakhay?"
"Benar"
"Selain itu, berarti kalian sama sekali tidak punya hubungan apa apa?"
"Tidak ada"
"Kalau begitu aneh sekali, kenapa dia menunjukmu sebagai salah satu ahli waris harta kekayaannya?"
"Aku sendiripun keheranan, justru karena itu aku khusus datang kemari untuk mencari tahu"
"Oooh....?"
"Persoalan itulah yang menjadi penyebab utama kehadiranku hari ini"
Kata Liong Giok-po lebih jauh, setelah berhenti sejenak, terusnya.
"dalam surat wasiat yang ditinggalkan Jui Pak-hay, sebenarnya apa yang dia katakan?"
"Dalam surat wasiatnya tertulis sangat jelas, bahwa setelah kematiannya maka seluruh harta kekayaan yang dimilikinya diwariskan kepada tiga orang, masing masing memperoleh bagian yang sama"
"Siapa dua orang yang lain?"
Untuk sesaat Nyo Sin tidak mampu menjawab pertanyaan itu, untung Siang Hu-hoa segera menimpali.
"Mereka adalah Cu Hiap dan Wan Kiam-peng!"
"Mereka berdua adalah sahabatku, sahabatku yang paling akrab"
Liong Giok-po menjelaskan.
"Dan mereka semua sudah mati?"
Sambung Nyo Sin.
"Benar"
Liong Giok-po mengangguk.
"Cu Hiap mati karena sakit pada dua, tiga tahun berselang?"
"Betul"
"Sedang Wan Kiam-peng tewas dibokong musuhnya pada tujuh, delapan bulan berselang?"
Lanjut Nyo Sin.
"Benar"
"Mengenai penyebab kematian mereka berdua, apakah kau ada tambahan keterangan yang perlu disampaikan?"
"Cu Hiap memang betul betul mati lantaran sakit, dalam hal ini aku berani memastikan, sebab saat itu kami beberapa orang sahabatnya menunggui dia disamping pembaringan"
"Lalu bagaimana mengenai kematian Wan Kiam-peng?"
"Tentang terbunuhnya dia, aku kurang jelas jadi tidak bisa berkomentar"
"Menurut hasil penyelidikan kami, setiap tanggal satu dan tanggal lima belas, dia pasti akan mendatangi kuil Hui-lay-si di selatan kota untuk makan hidangan tidak bernyawa......"
"Hidangan tidak bernyawa yang diolah Biau-jiu hwesio memang luar biasa lezatnya"
"Jadi kaupun mengetahui kebiasaannya itu?"
Desak Nyo Sin lebih jauh.
"Tentu saja tahu"
Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Aku bahkan masih tahu kalau dia mati dibunuh orang sekembalinya makan hidangan berpantang, mati ditusuk pedang dari belakang punggungnya"
"Apa lagi yang kau ketahui?"
"Hanya itu saja yang kuketahui"
"Kau juga kenal dengan musuh besarnya itu?"
"Sebagian besar kenal"
"Ada berapa banyak sih orang yang pingin menghabisi nyawanya?"
"Semua musuh besarnya amat membenci dia, sedemikian benci hingga merasuk ke tulang sumsum, semua orang berniat menghabisi nyawanya"
"Menurut analisamu, siapa yang kira kira paling mencurigakan?"
"Semua orang patut dicurigai"
"Diantara sekian banyak musuh besarnya, apakah ada yang mempunyai hubungan erat dengan para pewaris harta kekayaan Jui Pak-hay?"
"Rasanya tidak ada!"
"Sahabat karibnya?"
Desak Nyo Sin lebih jauh.
"Ada"
"Siapa?"
"Aku!"
"Maksudku selain kau?"
"Sudah tidak ada lagi"
Liong Giok-po tertawa ringan, lanjutnya.
"bukankah pewaris harta kekayaan Jui Pak-hay hanya aku, Cu Hiap dan Wan Kiam-peng? Karena Cu Hiap sudah mati duluan, otomatis hanya aku seorang yang punya hubungan dengan dirinya"
Nyo Sin mendengus dingin dan tidak berkata lagi. Setelah hening sesaat, Liong Giok-po kembali berkata.
"Bagaimana sih cara pembagian warta warisan Jui Pakhay?"
"Di dalam surat wasiatnya Jui Pak-hay telah menulis semuanya itu secara jelas"
Ujar Ko Thian-liok.
"dia bilang, sepeninggal dirinya maka semua harta kekayaannya dibagi rata antara kau, Cu Hiap dan Wan Kiam-peng........"
"Seandainya ada satu diantara ke tiga orang itu mati duluan?"
Tukas Liong Giok-po.
"Maka haknya akan jatuh ke tangan anak cucu orang itu"
"Berarti bila kami bertiga keburu mati duluan, maka harta warisan itu akan dibagi rata diantara anak cucu kami bertiga?"
"Benar" 'Tapi Cu Hiap tidak pernah berkeluarga......." 'Berarti bagiannya akan dibagi rata antara anak cucumu dan anak cucu Wan Kiam-peng"
Ko Thian-liok menjelaskan.
"Wan Kiam-peng tidak pernah berkeluarga, dia selalu hidup sebatang kara, tidak punya bini tidak punya keturunan"
"Itu berarti semua warisannya akan jatuh ke tanganmu atau anak cucumu"
"Kebetulan sekali aku pun sama seperti mereka, tidak punya keturunan"
Kata Liong Giok-po sambil tertawa.
"Tapi kau toch masih hidup"
"Memangnya seluruh harta warisan dari Jui Pak-hay akan diserahkan kepadaku seorang?"
Liong Giok-po mencoba menegaskan.
"Tepat sekali!"
Mula mula Liong Giok-po agak tertegun, kemudian serunya sembari tertawa tergelak.
"Hahahaha.....untungnya sekarang aku baru mengetahui persoalan ini, kalau tidak, orang pasti akan curiga kalau kematian ke dua orang itu ada sangkut pautnya dengan diriku"
Ko Thian-liok tertawa. Setelah hening sejenak, kembali Liong Giok-po bertanya.
"Seandainya aku pun sudah mati, lalu bagaimana cara untuk menyelesaikan harta warisan dari Jui Pak-hay ini?"
"Maka semua harta kekayaannya akan diserahkan kepada sahabat karibnya ......"
Sambung Ko Thian-liok. Belum sempat dia menyebut nama, sorot mata Liong Giokpo sudah dialihkan ke wajah Siang Hu-hoa sembari bertanya.
"Apakah Siang Hu-hoa, saudara Siang?"
"Tepat sekali. Jadi kaupun tahu kalau mereka adalah sahabat karib?"
"Tentu saja tahu"
"Saudara Siang sendiripun baru sehari berselang membaca surat wasiat dari Jui Pak-hay itu"
"Benarkah begitu?"
Kalau didengar dari nada suaranya, dia seakan kurang begitu percaya dengan kejadian ini. Siang Hu-hoa bukan orang bodoh, tentu saja dia dapat menangkap maksud tersebut, segera ujarnya.
"Jadi kau curiga akulah yang telah membunuh Cu Hiap dan Wan Kiam-peng?"
"Tidak, tidak pernah ada pikiran semacam itu"
Sangkal Liong Giok-po, kemudian setelah tertawa terusnya.
"tidak bisa disangkal Cu Hiap mati lantaran sakit, sedangkan Wan Kiampeng, semisal saudara Siang menghendaki nyawanya, dengan kemampuan ilmu silat yang kau miliki rasanya tidak perlu membokong dari belakang"
Siang Hu-hoa hanya tertawa hambar. Setelah menghela napas panjang kembali Liong Giok-po berkata.
"Aku merasa tidak semestinya Jui Pak-hay meninggalkan surat wasiat seperti ini"
"Oya?"
"Surat wasiat tersebut tidak seharusnya ditulis dengan cara begini"
"Lalu mesti ditulis dengan cara apa?"
Tanya Siang Hu-hoa.
"Seharusnya dibalik"
"Oooh... bagaimana terbaliknya?"
"Begini, dalam surat wasiat itu seharusnya ditulis bahwa seluruh harta kekayaan miliknya akan diwariskan kepada saudara Siang jika dia meninggal, bila ada sesuatu hal yang terjadi dengan saudara Siang, warisan itu baru dibagi merata antara aku, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap"
"Benarkah?"
"Dengan ditulis begitu, paling tidak saat ini aku tidak akan terancam bahaya maut"
"Oooh, jadi kau takut aku mencelakaimu gara gara warisan dari Jui Pak-hay itu?"
"Benar, aku sangat kuatir"
"sayangnya harta kekayaan itu masih belum kupandang sebelah mata pun"
Ujar Siang Hu-hoa sambil tertawa hambar.
"Sebenarnya seberapa banyak harta kekayaan yang akan diwariskan itu?"
Mendadak Liong Giok-po bertanya. Cepat-cepat Nyo Sin menjawab.
"Semuanya terdiri dari tujuh buah peti besi yang masing masing berisi mutu manikam, intan permata, emas dan perak serta puluhan jenis benda mestika yang tidak ternilai harganya"
Ketika mendengarkan penjelasan itu, Liong Giok-po sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Padahal jumlah harta karun yang disebutkan itu merupakan sebuah nilai yang luar biasa, cukup membuat orang saling membunuh untuk mendapatkannya.
Agaknya Siang Hu-hoa memperhatikan terus semua perubahan sikap Liong Giok-po, serunya tiba tiba.
"Aku lihat kekayaan yang luar biasa itu sama sekali tidak kau pikirkan dihati?"
"sayang bagiku, harta karun seperti itu sudah tidak cukup untuk merangsang hawa napsu ku"
Jawab Liong Giok-po sambil tertawa.
"Tanpa sebab yang jelas, kau peroleh hibah sedemikian besarnya, masa sedikitpun tidak gembira?"
Sela Nyo Sin.
"Untuk merasa kuatir saja masih belum sempat, mana ada waktu untuk menikmati kegembiraan ini?"
"Jadi kau benar benar merasa kuatir?"
"Memangnya aku sedang berbohong?"
"Dengan cara apa rasa takut itu baru bisa hilang dari perasaanmu?"
"Cukup membalikkan urutan penerima warisan itu dari pewaris utama menjadi pewaris cadangan"
"Hanya sebuah cara saja?"
"Benar!"
"Untuk mewujudkan harapanmu itu terkecuali Jui Pak-hay hidup kembali........"
Seru Nyo Sin.
"Jika Jui Pak-hay hidup lagi, aku malah tidak usah menerima warisan harta kekayaannya lagi"
Dengan sorot mata yang tajam tidak tahan Nyo Sin mengawasi orang itu lekat-lekat, lama kemudian ia baru berkata lagi.
"Kau benar benar kuatir kalau...... kalau Siang tayhiap bakal membunuhmu?"
"Yaa, sangat kuatir!"
Jawaban Liong Giok-po masih tetap sama seperti jawaban semula.
"Memangnya saudara Siang adalah manusia type begitu?"
Timbrung Ko Thian-liok tiba tiba.
"Tentu saja akupun berharap dia bukan manusia macam begitu"
"Kau seolah mempunyai pandangan antipatik terhadap dirinya?"
Liong Giok-po tidak menyangkal, tapi diapun tidak bicara.
"Apakah persoalan ini lantaran masalah kejiwaan?"
"Semoga saja memang karena masalah kejiwaan, selama aku tetap hidup aman dan selamat sebelum kuterima harta warisan itu, kalau tidak, jangan harap dia bisa lolos dari kecurigaan ini"
Tanpa terasa sorot mata Ko Thian-liok dan Nyo Sin bersama-sama dialihkan ke wajah Siang Hu-hoa. Siang Hu-hoa sama sekali tidak memberikan pernyataan apa pun.
"Orang yang mampu membunuhku hanya dia seorang"
Kembali Liong Giok-po berkata.
"sementara orang yang akan peroleh keuntungan dengan kematianku juga hanya dia seorang"
Siang Hu-hoa tertawa hambar.
"Dunia persilatan ibarat gua macan sarang naga, mana mungkin hanya aku seorang yang mampu membunuhmu, apalagi harta kekayaan yang dimiliki Jui Pak-hay sama sekali tidak kupandang sebelah mata pun"
"Kau pandang atau tidak, toch hanya kau seorang yang tahu?"
Jengek Liong Giok-po.
Hampir semua perkataan yang dia ucapkan seolah tertuju langsung kepada Siang Hu-hoa, dia seakan merasa sangat tidak leluasa dengan kehadiran orang itu.
Tapi Siang Hu-hoa tidak menanggapi, sikapnya seakan tidak pernah terjadi suatu peristiwa apapun disitu, dia pun tidak membantah ataupun berusaha berdebat.
Terdengar Liong Giok-po berkata lebih jauh.
"Sejujurnya, akupun tidak merasa aneh seandainya saudara Siang tidak memandang sebelah matapun atas harta kekayaan dari Jui Pak-hay, sebab siapa tahu kemampuan saudara Siang dalam mencari duit jauh lebih lihay ketimbang Jui Pak-hay, tentu saja nilai segitu tidak dianggap sebelah mata olehnya"
Siang Hu-hoa tetap tidak berbicara.
Dalam pada itu sorot mata Ko Thian-liok dan Nyo Sin telah dialihkan ke wajah mereka berdua, dari balik sinar matanya terpancar perasaan heran dan ragu yang sangat tebal.
Sikap maupun cara berbicara Siang Hu-hoa dan Liong Giokpo memang sangat aneh.
Baru saja Ko Thian-liok ingin bertanya, Liong Giok-po telah berkata kepadanya.
"Kini, setelah identitasku terbukti tidak ada masalah, semestinya pelaksanaan penyerahan harta warisan bisa segera dilakukan bukan?"
"Benar"
"Sekarang apakah aku boleh segera memeriksa harta karun yang diwariskan Jui Pak-hay kepadaku?"
"Sekarang?"
Tanya Ko Thian-liok tercengang.
"Yaa, sekarang!"
"Kau tahu sekarang sudah larut malam"
Teriak Nyo Sin lantang.
"lebih baik dilaksanakan besok saja"
Liong Giok-po seperti ingin membantah, tapi akhirnya sambil tertawa dia berkata.
"Baiklah, cepat atau lambat toch barang barang itu sudah menjadi milikku, baiklah, besok pagi baru kita periksa"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ia bertanya.
"Harta karun itu disimpan di mana sekarang?"
"Dalam perpustakaan Ki-po-cay"
"Setahuku, dia bukan seseorang yang ceroboh dalam melakukan pekerjaan"
"Kau kira harta karun itu diletakkan di sembarangan tempat?"
Seru Nyo Sin.
"Memangnya bukan?"
"Tentu saja bukan, semua harta karun itu disimpannya didalam ruang bawah tanah, ruang rahasia itu terletak di bawah perpustakaan"
"Dia menyimpan harta karun itu di ruang bawah tanah?"
"Benar"
"Pintu masuk menuju ke ruang bawah tanah itu pasti sangat rahasia?"
"Tentu saja"
"Biar serahasia apa pun, asal punya waktu yang cukup pada akhirnya akan terbongkar juga"
"Kau tidak usah kuatir, pintu rahasia itu dilengkapi dengan alat perangkap yang sangat lihay, bila tidak menguasahi rahasia itu, siapa pun pasti akan mampus bila berani menerobos masuk ke situ"
"Kalau begitu kita matikan dulu semua alat perangkap itu"
"Kau anggap gampang untuk mematikan alat perangkap itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau tahu, Jui Pak-hay itu murid siapa?"
"Memangnya siapa?"
"Hian kicu, dia seorang ahli tehnik yang sangat mahir membuat alat perangkap, sementara Jui Pak-hay adalah murid andalannya, kau anggap dia tidak mewarisi seluruh kepandaian perguruannya?"
"ehmmm, dia pasti sudah mewarisi semua kepandaian gurunya"
Liong Giok-po mengangguk.
"kalau begitu alat perangkap yang dipasang Jui Pak-hay di ruang bawah tanah pasti luar biasa lihaynya"
Walaupun dalam hati kecilnya Nyo Sin tetap merasa sangsi, namun dia mengangguk juga berulang kali.
"Yaa, memang sangat hebat, sangat mengerikan"
"Selama ini alat jebakan tersebut dibiarkan berjalan terus?"
"Kalau tidak dibiarkan berjalan terus, buat apa mesti dilengkapi alat perangkap seperti itu?"
"Berarti kalian sudah pernah memasuki ruang rahasia itu?"
Seru Liong Giok-po lagi.
"Benar"
"Kenapa kalian bisa masuk ke situ?"
Tanya Liong Giok-po keheranan.
"Kesemuanya ini berkat bantuan dari saudara Siang"
Nyo Sin menjelaskan sambil berpaling ke arah lelaki itu.
"Benarkah?"
"Saudara Siang dengan Jui Pak-hay adalah sahabat karib, tentu saja diapun cukup luas pengetahuannya tentang alat perangkap"
"Ketika meninggalkan ruang rahasia itu, apakah semua alat perangkap dijalan kembali seperti sedia kala?"
Nyo Sin mengangguk, baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, Liong Giok-po telah berkata lagi.
"Apakah kalian pun menempatkan penjaga diluar bangunan perpustakaan itu?"
"Benar"
Liong Giok-po segera berpaling ke arah Siang Hu-hoa, dengan nada penuh selidik dia bertanya.
"Selama berapa hari ini dimana saudara Siang berada?"
"Sebagian besar waktu berada dalam perpustakaan itu"
"Mau apa kau mengendon terus disitu?"
Teriak Liong Giokpo tanpa sadar.
"Melacak kasus ini"
"Hmmm, sejak kapan saudara Siang bergabung dengan alat negara dan menjadi seorang opas? Kenapa tidak ada kabar beritanya di dalam dunia persilatan?"
"Aku bukan opas, akupun tidak bergabung dengan alat negara"
Bantah Siang Hu-hoa. Ko Thian-liok segera menimpali pula.
"kehadiran saudara Siang kali ini adalah atas undangan dari Jui Pak-hay, tapi sewaktu dia tiba disini, Jui Pak-hay sudah keburu mati, sebab kematiannya aneh dan penuh misteri, bahkan sampai sekarang pun duduknya perkara belum terungkap, maka dia tetap tinggal disini untuk membantu kami menyingkap tabir rahasia ini"
"Memangnya tidak punya tujuan lain?"
Sindir Liong Giok-po.
Pertanyaan ini hanya bisa dijawab Siang Hu-hoa seorang, namun lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan reaksinya.
Dengan sorot mata yang tajam Liong Giok-po mengawasi terus wajah Siang Hu-hoa, tiba tiba tanyanya lagi.
"Saudara Siang, sebenarnya karena apa kau bersedia menjual tenaga bagi kasus ini?"
"Karena Jui Pak-hay pernah jadi sahabatku"
Jawab Siang Hu-hoa hambar.
"Aku tahu, kalian memang pernah jadi sahabat karib"
Siang Hu-hoa manggut-manggut.
"Akupun tahu"
Sambung Liong Giok-po lebih jauh.
"bahwa kalian sudah bentrok sejak tiga tahun berselang dan sejak itu kalian tidak pernah berhubungan lagi"
"Hmmm, kelihatannya tidak sedikit yang kau ketahui"
Seru Siang Hu-hoa sambil tertawa dingin.
"Benar, memang tidak sedikit yang aku tahu"
"Apakah kau pun tahu kalau dia pernah menyelamatkan jiwaku, dan sampai sekarang aku belum menemukan kesempatan untuk membayar hutang budi itu?"
"Kalau soal ini mah aku baru mendengar pertama kali ini"
Jawab Liong Giok-po, setelah tertawa sinis, lanjutnya.
"sesungguhnya alasan semacam ini memang merupakan sebuah alasan yang amat jitu dan baik"
Jelas dibalik ucapan tersebut masih mengandung arti yang lain. Tapi Siang Hu-hoa tidak menanggapi, menggubris pun tidak. Dengan mata berkedip kedip kembali Liong Giok-po berseru.
"Waaah, setelah mendengar semua keterangan ini, aku jadi tidak lega hati sebelum pergi melakukan peninjauan sendiri"
Ko Thian-liok termenung sebentar, lalu sahutnya.
"Kalau memang kau sudah ditetapkan menjadi ahli waris semua harta kekayaan milik Jui Pak-hay, tentu saja kau berhak untuk meninjau harta kekayaan itu, meskipun saat ini kurang leluasa rasanya, tapi jika kau bersikeras ingin melihatnya sekarang juga, aku rasa permintaanmu tidak bisa kutampik lagi"
"Hahahaha....."Liong Giok-po tertawa tergelak.
"orang bilang Ko thayjin sangat adil, ternyata berita ini tidak keliru" --Bab 32. Tujuh peti harta karun. Ko Thian-liok tertawa hambar.
"Bagaimana pun juga sekarang toh tidak ada urusan lain, biar akupun ikut serta dalam peninjauan ini"
Katanya. Liong Giok-po tampak tertegun ketika mendengar ucapan tersebut. Nyo Sin yang berdiri disampingnya ikut terperanjat, buruburu cegahnya sembari menggoyangkan tangannya berulang kali.
"Tayjin, jangan turut ke sana, jangan turut ke sana"
"Kenapa tidak boleh ikut?"
"Ruang bawah tanah itu dipenuhi alat jebakan yang sangat mengerikan, setiap saat jiwa kita terancam bahaya, tayjin adalah seorang pejabat tinggi, buat apa mesti turut mempertaruhkan nyawa untuk mengunjungi tempat semacam itu?"
"Aku justru pingin menambah pengalaman khususnya dalam menghadapi alat perangkap itu"
Sahut Ko Thian-liok sambil tertawa.
"Tentang ini.........."
"Apalagi ada saudara Siang yang menampingi aku"
Tukas Ko Thian-liok lagi.
"biar ada bahaya pun aku rasa tidak akan sedemikian gawatnya bahaya itu"
"Tentang ini......."
"Sudah, jangan ini itu terus, cepat sampaikan perintahku, suruh orang siapkan tandu"
Jawaban itu diutarakan sangat tegas. Terpaksa Nyo Sin menganggukkan kepalanya.
"Terima perintah!"
Kembali Ko Thian-liok berpesan.
"Lebih baik gunakan tandu biasa, jangan sampai mengejutkan khalayak ramai"
"Berapa orang yang akan dibawa?"
"Apakah Tu Siau-thian sudah kembali?"
Ko Thian-liok balik bertanya.
"Sewaktu Liong kongcu muncul disini, hamba telah mengutus orang untuk memanggilnya tapi dia belum kembali, entah kalau sekarang"
"Kalau begitu kirim orang untuk memanggilnya, jika dia belum juga kembali, kau dan Yau Kun berdua saja yang ikut aku"
Nyo Sin kembali menyahut dan segera mengundurkan diri dari ruangan. Memandang bayangan punggung Nyo Sin yang menjauh, Ko Thian-liok termenung sejenak lalu gumamnya.
"Aneh benar Tu Siau-thian ini, entah ke mana dia telah pergi?"
"Mungkin dia benar-benar telah berhasil melacak suatu titik terang"
Sahut Siang Hu-hoa.
"Seandainya benar begitu, dia sudah sepantasnya kalau dihubungi"
"Atau bisa jadi dia menemukan titik jejak ditengah jalan dan mesti dikuntit terus, maka dia pergi tanpa sempat memberi kabar terlebih dulu"
"Kalau melacak sesuatu seorang diri, nyawanya gampang terancam, biarpun dia berhasil menemukan sesuatu, kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, apalah gunanya hasil penemuan itu?"
"Selama ini opas Tu selalu bertindak sangat hati hati, aku yakin dalam tindakannya kali ini dia bisa lebih berhati hati lagi"
"Justru yang aku kuatirkan adalah biar sudah berhati hati pun tidak ada gunanya"
Sesudah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Kita semua harus sadar, tersangka yang sedang kita hadapi kali ini bukanlah tersangka biasa"
"Tapi masalahnya sudah berkembang jadi begini rupa, biar kita mau kuatir pun rasanya percuma saja......"
Ko Thian-liok menghela napas panjang dan manggutmanggut.
Siang Huhoa juga tidak berbicara lagi, dia buang pandangan matanya ke luar jendela.
Malam hari sudah semakin kelam, saat itu meski hujan telah berhenti namun hembusan angin masih terasa kencang.
Perlahan-lahan awan gelap mulai tersingkirkan, rembulan pun muncul kembali dari balik awan.
Siang Huhoa hanya berharap peristiwa pembunuhan ini mulai menunjukkan titik terang, selangkah demi selangkah masalahnya makin terkuak.
Benarkah Tu Siau-thian telah menemukan sesuatu yang luar biasa?
Siang Huhoa tidak dapat menjawab pertanyaan itu, lalu siapa yang bisa menjawabnya?
Hanya satu orang!
--Tu Siau-thian memang berhasil menemukan sesuatu.
Sayangnya, penemuan sehebat apapun yang berhasil dia kumpulkan, saat ini sudah tidak mungkin bisa dibawa pulang lagi.
Peristiwa ini bukannya mulai menunjukkan titik terang seperti apa yang diduga Siang Huhoa, sebaliknya justru bertambah rumit dan bertambah kacau.
Terutama ketika Siang Huhoa balik lagi ke perkampungan Ki-po-cay, kepalanya semakin dibikin pusing lagi oleh masalah yang harus dihadapi.
Dalam perkampungan Ki po cay kembali terjadi peristiwa besar.
Peristiwa besar itu justru terjadi di dalam ruang rahasia di bawah perkampungan Ki po cay.
Alat perangkap yang ada dalam ruang bawah tanah itu semuanya masih berjalan normal, tapi ketika mereka memasuki ruang rahasia tersebut, seluruh harta karun yang semula memenuhi ruangan, kini hilang lenyap tidak berbekas.
Lenyap dengan begitu saja bagaikan gumpalan asap.
Seluruh perlengkapan dan alat jebakan yang terpasang dalam ruang rahasia itu tidak menunjukkan ada masalah.
Ketika dengan sepenuh tenaga Siang Hu-hoa menggetarkan tombol rahasia di balik dinding ruangan, ke dua pintu rahasia yang bergantungkan ukiran Mi lek Hud dan Kwan-im bertangan seribu itu segera terbuka bersama-sama.
Ketika dia mendorong lengan Kwan-im bertangan seribu ke atas maka dari balik mata patung itu segera meloncat keluar dua buah biji matanya.
Sepasang biji mata yang sebenarnya terbuat dari bahan baja.
Tidak lama kemudian berkumandanglah suara mencicit seperti suara serombongan tikus yang sedang mengunyah bangkai, suara itu timbul dari balik lorong rahasia.
Tidak ada rombongan tikus yang muncul disitu, suara tersebut berasal dari suara gesekan alat rahasia yang mengendalikan buka tutupnya pintu-pintu dalam ruangan.
Setelah mendapat pengalaman satu kali, kali ini Siang Huhoa dapat menghadapi semuanya dengan lebih gampang.
Setelah suara aneh itu bergema lewat, diapun melangkah masuk ke balik pintu rahasia.
Tidak ada hujan panah, tidak ada juga hujan pisau terbang.
Sama seperti tempo hari, semua alat rahasia berjalan lancar dan tidak menunjukkan gejala yang aneh.
Nyo Sin merupakan orang ke dua yang melangkah masuk ke dalam ruang rahasia.
Dia berjaga-jaga didepan Ko Thian-liok, dalam keadaan begini, biar nyalinya agak kecil pun terpaksa harus tampil dengan membesarkan keberaniannya.
Apalagi dia tahu Siang Huhoa mengikuti di belakangnya, sedikit banyak keselamatan jiwanya agak terjamin.
Liong Giok-po merupakan orang ke tiga yang masuk, dia melangkah sangat hati-hati, mengikuti ketat persis di belakang Nyo Sin.
Tidak ada orang yang bisa menyaksikan mimik mukanya, selama ini topi bambu dan kain kerudung wajahnya memang tidak pernah dilepaskan lagi.
Padahal biarpun dia lepaskan kain kerudungnya, sulit juga bagi orang lain untuk membedakan perubahan wajahnya.
Sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, pujinya.
"Sungguh hebat alat perangkap yang dipasang disini"
Nyo Sin hanya mengiakan, sementara Siang Huhoa tidak memberi pernyataan apa pun, dia masih melanjutkan langkahnya.
Pertanyaan yang diajukan Liong Giok-po tadi sesungguhnya memang ditujukan kepada Siang Huhoa, tapi melihat lelaki itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dia pun memperkeras suaranya.
"Saudara Siang, sudah kau dengar pertanyaanku?"
"Ooh, rupanya kau sedang bicara padaku?"
"Benar"
"Bukankah komandan Nyo sudah mewakili aku untuk menjawabnya?"
"Masih ada yang ingin kutanyakan"
"Kalau begitu katakan saja"
Jawab Siang Huhoa sambil menghentikan langkahnya.
"Kita bisa berbicara sambil melanjutkan perjalanan"
"Sayang aku tidak memiliki nyali sebesar itu"
"Oya?"
"Aku belum menguasai penuh atas alat perangkap yang terpasang disini, sewaktu berbicara, perhatianku pasti akan bercabang, kalau sampai salah melangkah, kita beberapa orang bakal celaka disini"
Belum sempat Liong Giok-po berbicara lagi, Nyo Sin yang sudah berjalan mendahului ke dua orang itu segera berteriak keras.
"Kalau ada yang mau dibicarakan lebih baik dibicarakan nanti saja, jangan main-main dengan alat perangkap yang dibuat Jui Pak-hay"
"Tampaknya kau seperti sudah mengetahui kehebatan dari alat perangkap ini?"
Ejek Liong Giok-po sambil tertawa.
"Tentu saja aku tahu.
"Memangnya pernah merasakan kehebatan alat perangkap itu?"
"Tempo hari aku nyaris dihajar hujan panah yang ditembakkan alat perangkap itu, tubuhku nyaris berubah menjadi landak"
"Lalu berapa batang anak panah yang bersarang ditubuhmu?"
"Satu pun tidak ada"
"Waah, hebat sekali kepandaianmu!"
"Bukan aku yang hebat, coba kalau bukan saudara Siang yang menarikku tepat pada saatnya, mungkin badanku sudah menjadi separuh landak"
"Mangkanya kau hanya mengintil terus kali ini?"
"Aku........"
"Hahaha.... ternyata kau memang orang pintar"
Kembali Liong Giok-po mengejek sambil tertawa tergelak.
Nyo Sin segera membungkam diri dalam seribu basa, sementara Liong Giok-po juga tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya menengok ke arah Siang Hu-hoa.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan kepadaku?"
Siang Huhoa segera menegur.
"Sebenarnya bukan apa apa, aku hanya ingin tahu darimana kau pelajari ilmu jebakan? Kenapa kau seperti begitu hapal dengan alat perangkap yang terpasang disini?"
"Siapa bilang aku hapal?"
"Bukankah sekarang kau bisa membuka pintu rahasia itu secara mudah, mematikan semua alat perangkap dan masuk kemari secara bebas?"
"Kenyataan memang begitu"
"Kalau tidak hapal, kenapa bisa masuk secara mudah?"
"Tampaknya kau telah melupakan sesuatu"
"Soal apa?"
"Bukankah pernah kubilang, kami pernah berkunjung kemari satu kali?"
Kemudian setelah tertawa dingin katanya lagi.
"Dengan pengalaman satu kali, bila datang untuk kedua kalinya segala sesuatu pasti akan lebih gampang lagi"
"Benarkah begitu?"
"Apa lagi yang ingin kau ketahui?"
"Sejak awal hingga sekarang sudah berapa kali kau masuk kemari?"
Kembali Liong Giok-po bertanya.
"Termasuk kali ini, aku sudah dua kali memasuki tempat ini"
"Maksudmu setelah masuk pertama kali dulu, kau tidak pernah memasuki tempat ini lagi?"
"Tidak pernah"
"Selama beberapa hari tinggal di perkampungan Ki po cay, masa kau tidak melakukan penyelidikan lagi terhadap ruang bawah tanah ini?"
"Tidak"
"Memangnya kau anggap ruang bawah tanah ini tidak ada yang patut dicurigai?"
"Bukan begitu"
"Lalu apa alasannya?"
"Selama beberapa hari ini Ko tayjin tidak punya waktu, opas Nyo dan opas Tu juga tidak punya waktu senggang"
Ko Thian-liok yang berdiri di belakang mereka segera menimpali.
"Kenyataan memang demikian, selama beberapa hari terakhir di dalam kota telah terjadi lagi beberapa kasus yang harus kami tangani sendiri, jadi aku tidak punya waktu untuk melakukan penyelidikan, begitu juga halnya dengan opas Nyo dan opas Tu"
"Lalu apa hubungannya soal ini dengan kehadiran mereka?"
"Jelas sangat besar, ruangan ini dipenuhi harta karun yang tidak ternilai harganya, tanpa didampingi pejabat negara, siapa yang berani memasukinya secara sembarangan?"
"Oooh, jadi kau berusaha menghindari tuduhan dan kecurigaan?"
"Benar"
"Selama beberapa hari berdiam di perkampungan Ki po cay, apakah ada petugas negara yang mendampingi mu?"
Kembali Liong Giok-po bertanya.
"Ada!"
"Selama beberapa hari ini aku selalu mendampingi Siang tayhiap"
Yau Kun yang mengikuti dipaling belakang segera menyahut.
"Menjalankan perintah?"
Desak Liong Giok-po. Perasaan jengah dan kikuk segera menghiasi wajah Yau Kun, dia tidak menjawab. Membungkam sama artinya dengan mengakui.
"Melaksanakan perintah siapa?"
Desak Liong Giok-po lebih jauh. Yau Kun tetap tidak menjawab, maka Nyo Sin yang menjawab.
"Semua ini atas usul Tu Siau-thian, dia menganggap cara begini lebih baik dan sesuai"
"Jadi maksudmu dia tidak percaya dengan Siang Huhoa?"
"Dalam menghadapi kasus macam apa pun, sebelum duduknya persoalan jadi jelas, kita memang tidak boleh percaya kepada siapa pun"
"Tampaknya rasa curigamu amat besar"
"Paling tidak kau berapa kali lipat lebih hebat daripada diriku"
Liong Giok-po tertawa hambar, kembali tanyanya.
"Apakah pihak kerajaan mengutus petugas untuk menjaga sekeliling ruangan ini?"
"Ada empat orang"
"Bagaimana cara mereka menjaga?"
"Mereka bertugas secara bergilir, siang malam tidak pernah meninggalkan ruangan ini barang selangkah pun"
"Bagaimana kemampuan orang orang itu?"
"Biarpun kepandaian silat mereka bukan termasuk yang paling baik, namun ke empat orang itu merupakan anak buahku yang terpandai"
"Bagaimana kalau mereka dibandingkan Yau Kun?"
Liong Giok-po bertanya lebih jauh.
"Tentu saja Yau Kun jauh lebih hebat"
Mendadak Liong Giok-po tertawa tergelak, serunya.
"Moga moga saja mereka berlima sanggup mengawasi terus semua gerak gerik Siang Huhoa"
Nyo Sin tidak menjawab, dia memang tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan itu, sebab bila harus menjawab secara terus terang, dia memang tidak seratus persen yakin dengan kemampuan yang dimiliki Yau Kun berlima.
Tentu saja dia berpendapat begitu, karena dia pernah menyaksikan kehebatan ilmu silat yang dimiliki lelaki itu.
Siang Hu-hoa tidak berbicara pula, dia hanya tertawa dingin tiada hentinya.
Sekali lagi Liong Giok-po tertawa, ujarnya kepada Siang Huhoa.
"Dengan kemampuan yang Siang-heng miliki, sanggupkah kau untuk menyingkirkan pengawasan dari ke lima orang itu?"
Siang Huhoa hanya tertawa dingin tanpa menjawab. Melihat tiada jawaban dari lawannya, Liong Giok-po segera menjawab sendiri pertanyaan itu.
"Tentu saja kau mampu melakukan hal itu, asal Siang-heng ingin melakukannya, jangan lagi baru lima orang, biar lima puluh orang pun aku percaya masih belum mampu untuk mengawasi semua gerak geriknya"
Siang Huhoa tetap tidak menjawab, dia cuma tertawa dingin.
"Sekarang, lebih baik kau berharap agar semua harta karun itu masih tetap tersimpan dengan aman didalam ruang bawah tanah"
Kembali Liong Giok-po berseru.
"Tentu saja aku berharap begitu"
"Kalau sampai hilang, aku jadi menguatirkan dirimu....."
"Kau tidak perlu merasa kuatir"
"Sebelum menyaksikan sendiri tumpukan harta karun itu, aku tetap merasa kuatir"
Sekali lagi Siang Hu-hoa tertawa dingin, tanpa membuang waktu lagi dia segera melangkah pergi.
--Lorong itu panjangnya cuma dua kaki.
Hanya didalam berapa langkah Siang Hu-hoa sudah tiba diujung lorong itu, kini dihadapannya adalah sebuah undakundakan batu.
Undak-undakan itupun tidak terlalu panjang, hanya terdiri dari tiga puluh anak tangga.
Ujung anak tangga merupakan sebuah pintu baru, pintu itu dalam keadaan terbuka, cahaya lentera yang redup menembus keluar dari balik pintu.
Siang Huhoa segera menuruni anak tangga dan masuk ke balik pintu ruangan, tapi dengan cepat dia berdiri terkesima, matanya terbelalak dan mulutnya melongo.
Padahal dia masih ingat dengan jelas, waktu itu mereka tinggalkan ruang rahasia ini karena dari balik pintu sudah terdengar suara gemerutuk yang aneh.
Bahkan dia masih ingat, ketika mereka baru saja meninggalkan pintu ruangan, ke dua belah pintu batu itu merapat dengan perlahan.
Kenapa pintu itu dalam keadaan terbuka sekarang?
Mengapa bisa begitu?
Apa yang terjadi?
Atau mungkin kedua belah pintu waktu itu sudah dilengkapi dengan waktu sehingga ketika sampai pada waktu tertentu maka pintu tersebut secara otomatis akan terbuka, kemudian ketika waktu sudah lewat, pintu itu secara otomatis menutup kembali?
Atau mungkin diruang bawah tanah dia telah melengkapi lagi dengan alat khusus sehingga ketika mereka melalui suatu tempat tertentu, pintu itu secara otomatis membuka sendiri?
Dia tidak yakin akan hal itu, diapun tidak percaya kalau di dunia ini benar-benar terdapat orang yang mampu membuat peralatan secanggih ini.
Agaknya Nyo Sin juga melihat gegagat yang kurang beres, segera jeritnya.
"Sewaktu meninggalkan ruangan ini, bukankah pintu rahasia dalam keadaan tertutup? Kenapa sekarang berada dalam keadaan terbuka?"
"Aku sendiripun tidak habis mengerti"
Siang Huhoa menggeleng.
"Jangan-jangan memang sudah terjadi sesuatu di sini?"
"Asal kita masuk ke dalam, bukankah semuanya akan menjadi jelas?"
"Kalau begitu cepat kita masuk ke dalam"
Biarpun dia berteriak nyaring, namun sepasang kakinya seakan sudah berakar disitu, sama sekali tidak bergerak.
Dia tidak bergerak, Siang Huhoa justru bergerak sangat cepat, dia langsung menerobos masuk ke ruang dalam.
Cahaya lentera masih bersinar menerangi seluruh ruangan.
Tapi begitu menyelinap masuk ke dalam, Siang Huhoa segera berdiri tertegun bagaikan sebuah patung.
Semua perabot dalam ruangan itu masih utuh tidak bergeser, namun harta karun yang tidak ternilai jumlahnya itu justru sudah lenyap tidak berbekas, tidak tertinggal sepotong pun.
Ke mana kaburnya harta karun itu?
Seluruh dinding ruangan terbungkus kain sutera yang halus, permukaan lantai dihiasi permadani berwarna merah darah, hampir semua perabot yang terletidak dalam ruangan itu sangat indah, mewah dan antik.
Lentera berada persis di tengah ruangan.
Lentera itu semuanya berjumlah delapan, satu di atap ruangan dan tujuh lentera lainnya mengelilingi diseputarnya berbentuk setengah bintang.
Tujuh lentera itu tidak bersinar, hanya lentera dibagian tengah ruangan yang memancarkan cahaya nya.
Keadaan ini tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dilihat Siang Hu-hoa sewaktu untuk pertama kalinya memasuki ruang rahasia itu.
Disekeliling meja besar, dua tiga puluh buah meja kecil yang berjajar diseputar ruangan pun masih berada di posisi semula.
Diatas meja itu semula terletak empat belas gulung catatan pengalaman Jui Pak-hay serta sepucuk surat wasiat, barangbarang itu sudah mereka bawa pergi ketika meninggalkan ruang rahasia tempo hari, semua benda itu sudah diboyong ke kantor pengadilan dan sudah diperiksa Ko Thian-liok.
Yang tidak mereka bawa waktu itu hanya benda benda berharga yang diletakkan diatas belasan meja kecil itu.
Kini permukaan meja sudah berada dalam keadaan kosong, seluruh harta karun yang tidak ternilai harganya itu sudah hilang lenyap tidak berbekas.
Masih untung ke tujuh buah peti yang penuh berisikan emas dan perak masih tergeletak di sudut ruangan.
Siang Huhoa telah mengalihkan sorot matanya ke atas ke tujuh buah peti besi itu.
Baru saja dia hendak maju menghampiri, Nyo Sin dengan kecepatan bagaikan kuda yang lepas dari jeratan langsung menerjang ke depan melewati sisi tubuhnya.
Dengan wajah berseri dia lari ke sudut ruangan, teriaknya.
"Masih untung ke tujuh buah peti berisi intan permata itu masih ada disitu"
Sayang dia gembira kelewat awal, selain itu juga kurang teliti, tampaknya dia belum memeriksa kalau sebuah kunci gembok yang semula mengunci ke tujuh buah peti itu kini sudah berserakan di tanah.
Kunci-kunci gembokan itu memang sejak awal hanya tergantung diatas peti, itulah sebabnya secara mudah mereka bisa menanggalkan kunci gembok dan memeriksa isi peti itu.
Tapi kini semua kunci gembok berserakan di lantai, siapa yang melepaskan kunci kunci itu dan membuangnya di lantai?
Nyo Sin tidak memperhatikan hal itu, berbeda dengan Siang Huhoa yang segera menangkap gejala itu, sepasang alis matanya kontan berkerut.
Sementara itu Nyo Sin sudah siap membuka peti peti besi itu, disaat terakhir mendadak dia merasakan ada yang tidak beres, kontan teriaknya lagi.
"Bukankah peti-peti ini hampir semuanya dalam keadaan terkunci?"
Ketika melihat semua kunci berserakan diatas permadani, dia merasa makin keheranan.
"Aku masih ingat dengan jelas, ketika akan meninggalkan ruangan ini, semua kunci gembok sudah kukembalikan ke tempat asalnya....."
"Jangan-jangan ada penjahat yang melepaskan kunci kunci itu? Tapi... apa mungkin dia sanggup membawa lari semua harta karun itu seorang diri.....?"
Dengan penuh tanda tanya dia membuka peti itu......
ternyata peti itu hanya sebuah peti kosong!
Buru-buru dia periksa peti ke dua, ternyata peti ke dua pun merupakan peti kosong.
--Bab 33.
Masa lalu Persekutuan Rajawali emas.
"Kenapa semuanya kosong?"
Teriak Nyo Sin sambil mencakmencak macam monyet kebakaran jenggot.
Tidak selang berapa saat kemudian seluruh peti besi yang ada dalam ruangan itu sudah dibongkar habis, tapi hampir semuanya merupakan peti-peti kosong.
Nyo Sin mulai kejang, sekujur badannya menjadi kaku kemudian gemetar keras.
Untuk sesaat suasana menjadi hening, sinar mata semua orang nyaris tertuju ke atas ke tujuh buah peti itu.
Tidak ada yang bicara, tidak ada yang bergerak, yang kedengaran hanya dengus napas yang memburu.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya seseorang memecahkan keheningan.
Orang itu adalah Liong Giok-po!
Perkataan pertama yang muncul dari mulutnya adalah jeritan kaget.
"Mana harta karunnya? Dimana harta karunnya disimpan?"
Teriakan itupun sangat tajam dan melengking, jauh lebih tajam daripada hujan anak panah yang menyembur ke empat penjuru. Nyo Sin yang menjawab duluan, dia tuding tumpukan peti itu sambil serunya.
"Ketika meninggalkan ruangan ini tempo hari, harta karun itu masih terletak dalam tujuh buah peti besi ditambah dua puluh tiga buah meja kecil, tapi sekarang....... semuanya telah hilang lenyap!"
"Sungguh?"
Teriak Liong Giok-po keras.
"Tentu saja sungguh!"
Jawab Nyo Sin sambil berteriak pula.
"sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Tiba-tiba Liong Giok-po tertawa dingin.
"Kalau ingin tahu duduknya perkara, kau mesti bertanya kepada seseorang!"
"Siapa?"
"Dia!"
Sahut Liong Giok-po sambil menuding ke arah Siang Hu-hoa.
"Dia?"
"Betul dia, hanya dia seorang yang mengetahui duduknya perkara"
Seru Liong Giok-po lagi. Dia maju dua langkah, kemudian sambil menunjukkan jari tangannya nyaring menempel diujung hidung Siang Huhoa, terusnya.
"Sebetulnya sudah kau larikan kemana harta karun itu?"
"Aku tidak pernah menyentuh harta karun itu!"
Jawab Siang Hu-hoa tanpa perubahan mimik muka.
"Kau tidak membawa lari barang barang itu?"
Jengek Liong Giok-po, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya dan tertawa keras, dibalik gelak tertawanya itu penuh mengandung nada ejekan dan sindiran.
Siang Huhoa tidak gusar, pun tidak ikut tertawa, dia masih berdiri tenang di tempat.
Selesai tertawa Liong Giok-po menarik kembali tangannya sambil bercekak pinggang, seakan-akan dia ingin mengucapkan sesuatu.
Tapi sebelum dia sempat berbicara, Nyo Sin sudah berteriak duluan.
"Atas dasar apa kau merasa begitu yakin kalau harta karun itu dilarikan dia?"
"Atas dasar apa?"
"Betul, atas dasar apa?"
"Ada tiga alasan, pertama. Hanya dia yang bisa mengelabuhi pengawasan dan pengamatan para petugas jaga yang berpatroli dalam ruang perpustidakaan ini!"
"Ehmmm, dengan kehebatan ilmu silatnya memang tidak sulit baginya untuk melakukan hal seperti ini"
Nyo Sin manggut-manggut. Tapi kemudian dia menggeleng pula sambil katanya.
"Alasan ini tidak cukup kuat, sebab orang yang hebat ilmu silatnya bukan Cuma dia seorang"
Liong Giok-po tidak mencoba berdebat, kembali ujarnya.
"Kedua, hanya dia seorang yang memahami cara untuk membuka pintu rahasia itu, hanya dia yang bisa mematikan alat jebakan serta memasuki ruang bawah tanah"
"Alasanmu ini memang tepat sekali"
Kembali Nyo Sin manggut-manggut.
"apakah kau masih memiliki alasan lain yang lebih bagus?"
"Masih ada satu lagi"
"Ehmmm, apa alasanmu yang ke tiga itu?"
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Liong Giok-po menatap wajah Siang Hu-hoa sekejap, kemudian teriaknya.
"Ke tiga, karena dia memang dasarnya seorang pencoleng!"
Kecuali Siang Huhoa, hampir semua orang dibuat tertegun setelah mendengar teriakan tersebut.
"Kau bilang dia.... dia adalah seorang pencoleng?"
Tanya Nyo Sin dengan wajah penuh keraguan.
"Betul, bukan Cuma pencoleng kecil, dia bahkan seorang perampok ulung!"
Seru Liong Giok-po sambil manggutmanggut.
"Kau jangan sembarangan menuduh orang!"
"Kau anggap aku adalah type manusia yang suka sembarangan menuduh?"
"Apa buktinya kalau dia itu perampok?"
"Jika seorang perampok selesai melakukan kejahatannya masih meninggalkan bukti, maka dia tidak bisa disebut seorang perampok ulung"
"Lalu darimana kau bisa tahu kalau dia adalah seorang perampok ulung?"
"Aku harus melakukan penyelidikan hampir tiga tahun lamanya, setelah bersusah payah mengumpulkan saksi dan bukti barulah aku berani mengatakan secara begitu meyakinkan"
Tiba-tiba Nyo Sin memperhatikan Liong Giok-po beberapa kali, mengamatinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, kemudian ujarnya.
"Rasanya kau tidak mirip seorang opas yang sedang melakukan penyelidikan"
"Aku memang bukan seorang opas"
"Kalau memang bukan opas, kenapa kau lakukan penyelidikan itu?"
"Sebab aku harus menyelidikinya hingga jelas!"
"Kenapa?"
"Sebab aku punya ganjalan dengannya"
"Ganjalan apa?"
"Dia pernah merampas barang milikku!"
"Barang apa?"
"Intan permata dan emas perak yang tidak ternilai jumlahnya"
"Ach, masa ada kejadian seperti ini?"
"Aku memiliki sebuah kelebihan yakin tidak pernah suka berbohong"
"Oooh......"
Nyo Sin berseru tertahan.
"oleh karena dia pernah merampas intan permata, emas perak yang tidak ternilai harganya dari tanganmu, maka kau melakukan penyelidikan atas dirinya?"
"Benar!"
Nyo Sin manggut-manggut berulang kali.
"Kelihatannya apa yang kau katakan memang merupakan kejadian nyata"
Katanya.
"kalau tidak, buat apa kau menyelidiki jejaknya hampir selama tiga tahun!"
"Tepat sekali"
Liong Giok-po tertawa dingin.
"cuma terus terang, dalam tiga tahun ini aku bukan cuma menyelidiki dia seorang saja"
"Oya?"
"Selain dia, pada saat yang bersamaan aku pun menyelidiki seseorang yang lain"
"Siapakah orang itu?"
"Jui Pak-hay!"
Untuk kesekian kalinya Nyo Sin berdiri termangu. Setelah tertawa dingin, Liong Giok-po berkata lebih jauh.
"Sebenarnya untuk melakukan penyelidikan aku tidak perlu menghabiskan waktu hingga tiga tahun lamanya, yang menjadi persoalan adalah sejak tiga tahun berselang mereka berdua sudah berselisih dan memisahkan diri, satu tinggal di utara yang lain tinggal di selatan, itulah sebabnya aku butuh waktu selama tiga tahun untuk berlarian antara utara dan selatan"
"Jadi kau mengatakan Jui Pak-hay pun seorang perampok ulung?"
Tanya Nyo Sin dengan nada penuh selidik.
"Betul, dia memang seorang perampok ulung!"
"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, seolah kau mengatakan bahwa Jui Pak-hay adalah komplotan dari Siang Huhoa?"
"Memang begitulah kenyataannya"
"Ada satu hal kau mesti menerangkan dulu sejelasjelasnya!"
Seru Nyo Sin kemudian sambil menarik muka.
"Soal apa?"
"Kau harus bertanggung jawab terhadap setiap patah kata yang kau ucapkan"
"Tentu saja aku akan bertanggung jawab"
"Baiklah"
Ujar Nyo Sin kemudian.
"kau mengatakan Siang Huhoa dan Jui Pak-hay bekerja sama merampas intan permata, emas perak yang tidak ternilai harganya dari tanganmu, bukan begitu?"
"Sebenarnya intan permata, emas perak yang dirampok mereka itu bukan milikku seorang"
"Lalu milik berapa orang?"
"Tiga orang"
"Siapa dua orang yang lain?"
"Wan Kiam-peng dan Cu Hiap!"
"Oooh.... tidak heran kalau dalam surat wasiatnya Jui Pakhay mewariskan seluruh harta kekayaannya untuk kalian bertiga"
Seru Nyo Sin kemudian seakan baru menyadari akan sesuatu.
"Bukan diwariskan, tapi hanya mengembalikan barangbarang itu kepada pemilik lamanya"
"Kalau didengar dari nada pembicaraanmu, seakan semua yang kau tuduhan merupakan kejadian nyata?"
"Jika kau masih sangsi atau ragu, kenapa tidak ditanyakan kepada Siang Huhoa saja?"
Tanpa terasa Nyo Sin mengalihkan sinar matanya ke wajah Siang Huhoa, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, Liong Giok-po sambil menatap tajam wajah lelaki itu sudah berkata duluan.
"Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, kau seharusnya berani mengatakan hal yang sesungguhnya"
"Hmmm, kau tidak usah kuatir!"
Sahut Siang Huhoa sambil tertawa dingin. Nyo Sin segera maju mendekat, tegurnya kemudian.
"Benarkah kau adalah seorang perampok ulung?"
"Boleh dibilang begitu"
Ternyata Siang Huhoa mengangguk membenarkan.
"Berarti Jui Pak-hay juga seorang perampok?"
"Benar!"
"Wouw, kalau begitu selama ini aku salah menilai tentang dirimu"
Seru Nyo Sin sambil menghela napas panjang. Siang Huhoa hanya tertawa hambar tanpa menjawab. Kembali Nyo Sin bertanya.
"Tiga tahun berselang benarkah kau pernah bekerja sama dengan Jui Pak-hay untuk merampok harta kekayaan milik Liong Giok-po bertiga?"
Siang Huhoa mengangguk.
"Berarti hasil rampokanmu itu tidak lain adalah harta karun yang tersimpan dalam ruang bawah tanah ini?"
Teriak Nyo Sin lagi dengan mata melotot.
"Kira-kira begitu"
"Kira-kira? Apakah masih tersimpan di tempat lain? Bagianmu kau simpan di mana?"
"Aku tidak menyimpan sepotong pun!"
"Oya?"
"Sejak awal hingga sekarang, tidak sepotong benda pun yang pernah berada dalam genggamanku"
"Berarti sudah diambil semua oleh Jui Pak-hay?"
"Betul"
"Siapa yang merencanakan perampokan waktu itu?"
"Dia!"
"Sebagai komplotannya, keuntungan apa yang telah kau peroleh?"
"Tidak ada keuntungan yang kuperoleh, sebaliknya aku justru kehilangan sesuatu"
"Kehilangan apa?"
"Teman, seorang teman!"
"Jui Pak-hay?"
Siang Huhoa membungkam tanpa menjawab. Dengan mata melotot Nyo Sin mengawasinya, kemudian setelah menggeleng ujarnya.
"Tampaknya kau belum cukup canggih untuk menjadi seorang perampok ulung"
Siang Huhoa hanya tertawa hambar.
"Masa kau biarkan dia mengangkut semua hasil rampokan itu?"
Sekali lagi Nyo Sin menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Setelah dia pergi lama sekali, aku baru menyadari akan hal ini"
"Waah...waaah.....tidak nyana meski gerakan tubuhmu lincah dan gesit, ternyata otakmu tidak cukup cekatan"
TjanID "Bukannya kurang cekatan tapi selalu dirundung penyakit, penyakit lama"
"Penyakit lama? Penyakit apa?"
Tanya Nyo Sin keheranan.
"Kelewat percaya dengan teman, khususnya terhadap teman lama"
"Percaya dengan teman pun kau anggap sebuah penyakit?"
"Bukan cuma penyakit, bahkan penyakit yang mematikan!"
Sahut Siang Huhoa sambil m anggut manggut. Setelah tertawa hambar terusnya.
"Untung penyakit lamaku itu sekarang sudah mulai sembuh, bahkan delapan puluh persen sudah sembuh"
"Kenapa tidak kau kejar balik barang-barang itu?"
Tanya Nyo Sin lagi. Kembali Siang Huhoa tertawa.
"Bagaimana pun juga toh barang itu bukan milikku, jika dia suka, biar saja dibawa lari olehnya"
"Kelihatannya kau selalu royal terhadap barang milik orang lain"
"Yaa. Tentu saja, apalagi gara-gara peristiwa ini aku pun dapat mengenali wajah asli seorang sahabatku, bukankah hasil yang kuraih cukup besar?"
Nyo Sin manggut-manggut, mendadak dia menarik muka dan berseru.
"Tahukah kau bahwa setiap orang yang berani melakukan kejahatan, dia akan diganjar hukuman sesuai dengan peraturan negara?"
"Aku tahu"
Nyo Sin tertegun sesaat, kemudian teriaknya.
"Sudah tahu aturan negara masih melanggar hukum, dosa kesalahanmu bertambah berat, tahukah kau akan hal ini?"
"Tentu saja tahu"
"Kau........."
Baru sepatah kata dia berseru, Siang Huhoa sudah menukas pembicaraannya.
"Aku percaya kau pasti sangat menguasai soal hukum dan peraturan bukan?"
"Tentu saja"
"Kalau begitu aku pingin bertanya satu hal dulu kepadamu"
"Katakan!"
"Merampas barang hasil rampokan apakah termasuk perbuatan yang melanggar hukum juga?"
"Soal ini........"
Nyo Sin agak tertegun.
"aku rasa hitam makan hitam pun termasuk sebuah perbuatan yang melanggar hukum!"
"Jika aku pun seorang pencoleng, tentu saja kejadian semacam ini pantas disebut hitam makan hitam"
Seru Siang Huhoa sambil tertawa.
"Selama fakta dan bukti berbicara begitu, tetap kejadian ini disebut hitam makan hitam"
Timbrung Ko Thian-liok tiba-tiba sambil tertawa.
"Kalau tidak ada bukti dan fakta, berarti bukan?"
"Kecuali barang hasil rampasan diserahkan kepada pihak hukum kemudian dikembalikan kepada pemilik sesungguhnya"
Ko Thian-liok menerangkan.
"Kalau mesti berbuat begitu, tampaknya aku tidak bisa menghindar untuk tetap menyandang predikat sebagai seorang perampok?"
Ko Thian-liok mengangguk.
"Aku tahu orang persilatan punya tradisi membantu kaum lemah menindas kaum kuat, padahal perbuatan semacam ini sesungguhnya merupakan perbuatan yang melanggar hukum, membasmi kejahatan merupakan tugas kaum berwajib, tanggung jawab negara"
"Semestinya harus begitu"
Tiba-tiba Ko Thian-liok menghela napas panjang, katanya lagi.
"Sayangnya, petugas negara kebanyakan bernyali kecil dan takut urusan, orang yang benar-benar mau bertanggung jawab sedikit sekali jumlahnya"
"Soal ini aku mengerti"
"Itulah sebabnya banyak bermunculan kaum pendekar yang membantu kaum lemah menindas kaum kuat, dalam hal ini, selama persoalan tidak saling bergesekan dengan kepentingan negara, biasanya pihak berwajib tidak akan turut mencampurinya"
"Rasanya memang begitu"
"Biarpun secara hukum perbuatan orang orang itu bisa dikatakan salah, tapi secara kemanusiaan bisa dianggap benar sekali"
Ko Thian-liok menambahkan.
"Kalau begitu aku boleh merasa lega hati sekarang"
Seru Siang Huhoa tertawa. Mendadak terdengar Nyo Sin menyela.
"Tadi kau bilang hanya merampas hasil jarahan orang, bukankah perkataanmu itu sama artinya dengan menuduh Liong Giok-po, Wan Kiam-peng dan Cu Hiap sebagai kaum penyamun?"
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada yang bersangkutan?"
Sahut Siang Huhoa cepat, kemudian sambil menatap wajah Liong Giok-po tambahnya.
"seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, bukankah itu yang kau katakan tadi?"
"Hahahaha..... soal inipun kau tidak perlu kuatir"
Jawab Liong Giok-po sambil tertawa seram.
"Tentu saja aku tidak perlu kuatir"
"Padahal kejadian yang sesungguhnya adalah begini........."
"Bagaimana?"
"Kalian pernah mendengar tentang Persekutuan rajawali mas?"
Tanya Liong Giok-po setelah termenung dan berpikir sejenak. Persekutuan rajawali mas dari gurun utara?"
Tanya Nyo Sin dengan wajah berubah.
"Benar!"
"Menurut apa yang kuketahui, persekutuan itu merupakan sebuah organisasi penjahat yang paling besar di kolong langit"
"Betul"
Liong Giok-po mengangguk.
"Persekutuan rajawali mas terdiri dari dua belas orang jago berilmu tinggi yang menyebut diri sebagai dua belas rajawali mas, mereka merupakan satu kelompok besar penyamun yang banyak melakukan kejahatan. Dibawah pimpinan mereka terdapat satu dua ribu orang pencoleng yang datang dari pelbagai daerah. Oleh karena organisasi ini dididirikan jauh di utara gurun pasir, maka selama ini pihak kerajaan tidak mampu berbuat banyak terhadap ulah mereka"
"Benar, rasanya memang begitu"
"Selama puluhan tahun berpetualang menjelajahi seluruh negeri, dua belas rajawali mas berhasil mengumpulkan begitu banyak intan permata, emas, perak serta barang berharga lainnya hingga mencapai satu nilai yang luar biasa, mereka simpan harta karun itu disebuah tempat yang sangat rahasia bahkan ruang rahasia itu dilengkapi dengan pelbagai alat perangkap dan jebakan yang mengerikan, mereka sebut tempat itu sebagai Gudang harta rajawali mas"
Setelah berhenti sejenak untuk berganti napas, kembali dia melanjutkan.
"Ketika berita ini tersiar luas dalam dunia persilatan, muncul banyak jago yang mengincar harta karun itu, namun tidak ada yang berani bertindak secara gegabah, sebab tenaga gabungan ke dua belas rajawali mas itu luar biasa hebatnya, jarang ada orang yang mampu menahan serangan gabungan mereka"
"Masa begitu hebat?"
Seru Nyo Sin tidak percaya.
"Hmm, tidak ada larangan bagimu untuk tidak percaya"
Jengek Liong Giok-po ketus. Nyo Sin kontan saja terbungkam. Kembali Liong Giok-po berkata.
"Dua belas rajawali mas sebenarnya merupakan saudara angkat, hubungan mereka boleh dibilang sangat bagus, tapi sayangnya...... dengan saudara kandungpun kadangkala kita bisa bentrok apalagi dengan saudara angkat........
"Akhirnya pada tiga tahun berselang, ke dua belas rajawali emas itu terpecah menjadi dua rombongan dan saling gontokgontokan sendiri, akibatnya persekutuan Rajawali emas mengalami pukulan yang fatal, dari dua belas orang rajawali emas yang memimpin persekutuan itu tinggal enam orang yang hidup, itupun dua diantaranya sudah menderita luka yang sangat parah.
"Begitu kabar berita ini tersiar dalam dunia persilatan, musuh musuh besar yang pernah disakiti atau menderita karena ulah merekapun segera berbondondong-bondong datang menuntut balas, maka mereka pun berusaha untuk merahasiakan jejak dan menghindari pembalasan dendam itu, tapi yang jadi masalah adalah ada satu kelompok kekuatan yang belum terbasmi tuntas, diantaranya ada lima enam orang berhasil melarikan diri, dari mulut mereka inilah berita tersebut akhirnya tersiar luas"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia sudah tiba didepan dinding ruangan, maka terusnya.
"Waktu itu, kebetulan aku bersama berapa orang saudara angkatku berada di sekitar tempat kejadian........."
"Oooh, jadi kaupun mempunyai saudara angkat?"
Timbrung Nyo Sin.
"Benar, semuanya kami berenam, enam orang saudara angkat!"
"Berarti tujuh orang berikut dirimu?"
"Benar!"
"Kalau begitu Wan Kiam-peng dan Cu Hiap juga termasuk saudara angkatmu?"
"Benar"
"Apakah kalian pun termasuk musuh besar persekutuan rajawali emas?"
Kembali Nyo Sin bertanya.
"Bukan!"
Liong Giok-po menggeleng. Baru saja Nyo Sin ingin menanyakan sesuatu lagi, Liong Giok-po sudah keburu berkata lagi.
"Walaupun kami bertujuh mengetahui juga tentang harta karun milik Persekutuan rajawali mas, waktu itu sebetulnya tidak terlintas pikiran untuk mendapatkan harta karun itu, hingga berita tentang perpecahan tersiar keluar, kami baru terpancing untuk mendapatkan harta karun tersebut"
Pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya, lalu berkata lebih jauh.
"Akhirnya kami berhasil menemukan salah seorang yang berhasil kabur dari markas besar persekutuan rajawali mas, setelah menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya, kamipun paksa dia untuk menghantar ke markas besar Kim tiau beng (persekutuan rajawali mas)"
Ketika bercerita sampai disini, emosinya kembali bergolak, terusnya.
"Dibimbing oleh orang itu, dengan sangat mudah kami berhasil menyusup masuk ke daerah terlarang markas kim tiau beng, dengan melakukan serangan secara tiba-tiba dan tidak terduga ketika kami serbu ke dalam markas mereka, kami membantai ke enam orang sisa rajawali yang masih hidup dan berhasil tiba di ruang rahasia tempat harta karun itu disimpan"
"Maka harta karun peninggalan Kim tiau beng itupun terjatuh ke tangan kalian?"
Seru Nyo Sin cepat. Perlahan Liong Giok-po mengangguk.
"Sekalipun begitu, dari tujuh bersaudara kini tinggal tiga orang yang masih hidup"
Katanya.
"Cu Hiap, Wan Kiam-peng dan kau?"
"Benar. Disaat memusnahkan alat jebakan yang ada dalam ruang rahasia itu, karena kurang hati hati Cu Hiap terhajar oleh hujan anak panah sehingga dia kehilangan separuh nyawanya" --Bab 34. Kota setan Hati manusia.
"Ehmmm, berarti kerugian yang kalian derita terhitung cukup parah, masih untung harta karun dari Kim tiau beng akhirnya terjatuh ke tangan kalian"
Kata Nyo Sin lagi. Liong Giok-po segera tertawa dingin.
"Walaupun telah kehilangan empat orang saudara, sebenarnya kami tidak terlalu bersedih hati bahkan dengan luapan rasa gembira kami menggotong keluar harta karun itu satu demi satu. Siapa tahu disaat luapan gembira kami belum habis, musibah kembali telah terjadi. Pada saat Wan Kiampeng sedang menggotong keluar peti harta yang terakhir, mendadak muncul dua sosok bayangan manusia berkerudung hitam, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka menyerang aku dan Wan Kiam-peng, serangan yang gencar dan dahsyat memaksa aku dan Wan Kiam-peng harus meletakkan kembali peti harta itu ke lantai dan mundur lagi ke dalam ruang rahasia. Baru saja kami loloskan senjata dan siap melakukan perlawanan, tiba-tiba pintu rahasia yang sebenarnya sudah kami rusak itu bekerja kembali, pintu itu menutup secara mendadak dan mengurung kami didalam ruang rahasia itu"
"Dan kalian pun terkurung dalam ruangan?"
Tanya Nyo Sin.
"Peristiwa itu terjadi sangat mendadak, selain lantaran dibuat kaget karena kehebatan ilmu silat yang dimiliki lawan, kamipun pingin tahu siapa gerangan si penyerang itu sehingga sama sekali tidak di sadari kalau kami sudah dipaksa masuk lagi ke dalam ruang rahasia"
"Apalagi kalian sangka pintu rahasia itu sudah rusak dan tidak mungkin bisa menutup kembali"
Nyo Sin menambahkan.
"Benar"
"Akhirnya berapa lama kalian berkurung dalam ruang rahasia itu?"
"Satu hari penuh"
"Dengan cara apa kalian bisa lolos dari situ?"
"Kami butuh waktu selama seharian penuh sebelum berhasil membuka kembali pintu rahasia itu"
Setelah tertawa dingin, kembali lanjutnya.
"Menunggu kami berhasil keluar dari ruang rahasia, seluruh harta karun itu sudah hilang lenyap tidak berbekas, sebuah pun tidak ada yang ketinggalan"
"Ini yang dinamakan belalang menubruk serangga, burung nuri menunggu di belakang. Lihay! Sungguh lihay!"
"Yaa, memang sangat lihay"
"Dalam penuturanmu tadi sama sekali tidak disinggung soal Cu Hiap, apakah diapun terkurung didalam ruang harta?"
"Tidak, dia tidak terjebak disana"
"Lantas dia berada di mana?"
"Dia tergeletak didepan pintu masuk ruang harta karun"
"Berarti dia saksikan semua sepak terjang yang dilakukan ke dua orang manusia berkerudung itu setelah mereka tutup pintu rahasia dari ruangan tersebut?"
"Benar, dia hanya bisa menyaksikan ke dua orang manusia berkerudung itu menaikkan seluruh harta karun itu diatas punggung serombongan besar unta dan pergi meninggalkan tempat itu"
"Dia tidak berusaha untuk menghalangi?"
"Dapat mempertahankan selembar nyawa sendiripun sudah terhitung beruntung, mana dia sanggup menghalangi perbuatan ke dua orang itu?"
Kata Liong Giok-po pelan. Setelah menghela napas panjang, katanya lagi.
"Sekalipun dia dapat mempertahankan selembar nyawanya, itupun tidak berlangsung terlalu lama, ketika aku dan Wan Kiam-peng berhasil lolos dari ruang harta, dia sudah berada dalam keadaan tidak sadar"
"Berarti lukanya sangat parah?"
"Hal itu hanya merupakan salah satu alasan, yang terutama adalah dia tidak sanggup menelan rasa mendongkol dan gusar yang membara dalam dadanya, sebagai orang yang berangasan, kasar, berjiwa sempit dan gampang naik darah, bagaimana mungkin dia bisa menahan rasa jengkelnya setelah menyaksikan harta karun dari Kim-tiau-beng yang sudah mereka peroleh, disikat orang dengan begitu saja. Maka tidak lama sekembalinya ke rumah, dia mati lantaran sakitnya semakin parah"
"Jadi harta warisan yang diserahkan Jui Pak-hay kepada kalian bertiga tidak lain adalah harta karun dari Kim tiau beng?"
"Tidak bakalan salah lagi"
Seru Liong Giok-po, setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, katanya lagi.
"Kalau bukan lantaran itu, mana mungkin dia akan wariskan harta kekayaan sebanyak itu kepada kami bertiga, memangnya aku masih punya hubungan saudara atau famili dengan Jui Pak-hay?"
Sesudah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Ketika seseorang sadar bahwa ajalnya akan tiba, biasanya akan muncul rasa penyesalan atas semua perbuatan yang pernah dia lakukan di masa lampau, mungkin saja dia merasa kelewat besar kesalahannya terhadap kami bertiga maka diputuskan untuk berbuat begitu"
"Berdasarkan apa pula kau bisa begitu yakin kalau dua orang manusia berkerudung yang telah merampas harta karun itu adalah Siang Huhoa dan Jui Pak-hay?"
Lagi lagi Nyo Sin bertanya.
"Jago tangguh yang mampu memukul mundur aku dan Wan Kiam-peng dalam satu gebrakan saja setauku hanya ada tiga belas orang didunia saat itu, dari ke tiga belas orang itu paling hanya ada delapan orang terbagi dalam empat kelompok yang mungkin terkait dalam peristiwa ini, aku telah menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk melakukan pengamatan dan penyelidikikan, dari hasil pelacakan yang berhasil dikumpulkan, akhirnya aku temukan bahwa cuma Siang Huhoa dan Jui Pak-hay saja yang pantas dicurigai"
Setelah tertawa dingin berulang kali, lanjutnya.
"Apalagi aku sendiripun seorang jagoan yang mengkhususkan diri dalam ilmu pedang, bagaimana aliran pedang lawan sebetulnya sudah ada gambaran sejak awal, selama tiga tahun penyelidikanku, aku pun sudah berulang kali menyaksikan cara mereka berdua melakukan pertarungan"
"Apakah jurus serangan yang digunakan sama?"
"Benar"
Liong Giok-po mengangguk.
"sebenarnya aku hanya sebatas curiga, tapi sekarang aku telah membuktikan bahwa kecurigaanku dulu sesungguhnya tidak terbatas hanya curiga saja tapi memang merupakan sebuah kenyataan"
"Tampaknya kau telah membuang banyak waktu dan tenaga untuk melakukan pelacakan ini"
Seru Nyo Sin. Liong Giok-po menghela napas panjang.
"Kalau kejadiannya memang begini, rasanya aku pun tidak bisa membantumu untuk menyelesaikan hutang piutang ini"
Lanjut Nyo Sin. Setelah memberi kode tangan, dia menambahkan.
"Sekarang terbukti sudah kalau harta karun dari Kim tiau beng merupakan hasil jarahan, walaupun kalian berhasil menghancurkan persekutuan rajawali mas, namun harta karun itu telah kalian rampas, perbuatan semacam ini sudah pantas dimasukkan kategori hitam makan hitam!"
Liong Giok-po tidak menyangkal, dia pun tidak membantah. Kembali Nyo Sin melanjutkan kata katanya.
"Sekarang semakin terbukti kalau Siang Huhoa dan Jui Pakhay pun melakukan tindakan hitam makan hitam..... waaah, cukup meninjau dari mereka yang terlibat, kepalaku sudah pusing dibuatnya....."
"Cuma......"
Terusnya setelah berhenti sejenak.
"kalau di tinjau dari situasi saat itu, boleh dibilang harta karun itu sudah menjadi barang tidak bertuan, sebab barang barang itu belum sampai meninggalkan markas Kim tiau beng, maka tidak bisa dibilang Siang Huhoa dan Jui Pak-hay telah merampok kalian"
Buru-buru Liong Giok-po mengulapkan tangannya sambil menukas.
"Benar begitu atau bukan, sekarang sudah tidak penting lagi, yang mesti kita selesaikan sekarang tinggal satu persoalan"
"Soal apa?"
"Sebelum melangkah ke persoalan itu, terlebih dulu kita mesti jelas akan memperlakukan harta karun itu sebagai hasil jarahan atau bukan"
"Ohh?"
"Jelas diatas benda benda berharga itu tidak akan ditemukan tanda khusus, siapa pun tidak akan bisa membuktikan apakah benda benda berharga itu merupakan hasil jarahan atau bukan, oleh karena pemimpin Persekutuan rajawali mas sudah mampus, sementara dua saudaraku juga telah mati, kini tinggal aku seorang diri"
"Kau pasti tidak bisa membuktikan kalau harta karun itu merupakan hasil jarahan bukan?"
"Tentu saja tidak bisa, biarpun disini hadir Siang Huhoa, namun diapun tidak mengetahui persoalan ini kelewat jelas.... jadi menurut pandanganku, sekarang kita harus memandang harta karun itu sebagai harta kekayaan warisan dari Jui Pakhay"
"Betul, memang seharusnya begitu"
Ko Thian-liok menimpali.
"Atau dengan perkataan lain, kini seluruh harta kekayaan itu adalah milikku seorang, harta kekayaanku!"
Dengan meninggikan nada suaranya kembali dia berseru.
"Ditinjau dari keadaan sekarang, hanya aku seorang yang berhak mewarisi seluruh harta kekayaan dari Jui Pak-hay"
Tidak seorangpun menyangkal, karena apa yang dikatakan memang sebuah kenyataan. Kembali Liong Giok-po berkata.
"Sekarang seluruh harta kekayaan itu hilang lenyap tidak berbekas, aku rasa baik dari pihak pemerintah maupun dari pihakku, kita mesti lacak persoalan ini hingga jelas"
Berkilat sepasang mata Liong Giok-po, setelah memandang sekejap wajah seluruh yang hadir, dia berseru.
"Persoalannya sekarang adalah siapa yang telah mencuri seluruh harta karun itu?"
Nyo Sin seketika terbungkam, orang lain pun tidak ada yang bersuara. Perlahan-lahan Liong Giok-po berkata lebih jauh.
"Aku rasa persoalan inilah merupakan satu satunya masalah yang harus kita selesaikan sekarang juga"
Sambil berbicara kembali dia menyapu sekejap seluruh ruangan, tambahnya.
"Berdasarkan tiga alasan yang pernah kuungkapkan tadi, bisa disimpulkan bahwa pencuri harta karun itu sebenarnya bukan orang lain, tapi dia......Siang Huhoa!"
Sekali lagi dia menuding ke arah Siang Hu-hoa.
Menghadapi tuduhan tersebut Siang Huhoa sama sekali tidak menanggapi, menggubris pun tidak, dia masih berdiri ditempat semula sambil mendongakkan kepalanya mengawasi rak tembaga tempat delapan buah lentera itu tergantung.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pandang, hanya ada satu hal yang mereka ketahui yakni sudah cukup lama dia mengawasi tempat itu.
Ditinjau dari keadaan tersebut, dapat diketahui kalau seluruh pikiran dan perhatiannya sedang terpusat pada rak tembaga berbentuk setengah lingkaran itu, tampaknya dia sama sekali tidak menggubris persoalan lain, bahkan terhadap apa yang dikatakan Liong Giok-po pun tidak memberikan reaksi apa pun.
Apakah dia telah menemukan sesuatu?
Nyo Sin sama sekali tidak memperhatikan sikap aneh dari Siang Huhoa, melihat tiada reaksi dari lelaki itu, dia pun berkata.
"Ke tiga buah alasanmu tadi memang bagus dan masuk diakal, tapi kau pun mesti memperhatikan satu hal"
"Katakan!"
Ucap Liong Giok-po.
"Berbicara dari kepandaian silat yang dia miliki, benar, bisa saja dia mengelabuhi anak buahku dan berhasil menyelundup masuk ke mari, tapi harta karun yang tersimpan di tempat ini banyak sekali, dengan cara apa dia mengangkut seluruh benda berharga itu seorang diri? Apalagi dari sekian banyak benda mestika itu, banyak diantaranya merupakan benda benda yang gampang rusak, bila ditumpuk jadi satu, tidak sulit untuk rusak atau bahkan hancur berantakan, ini berarti dia harus memindahkan benda benda semacam itu satu per satu, mau masuk keluar pun paling tidak akan dilakukan puluhan kali, dia mana punya waktu sebanyak itu? Selain itu, mau memindahkan seluruh harta karun ini berarti dia harus mengeluarkan dulu benda benda itu dari ruang rahasia ke ruang perpustakaan, lalu dari ruang perpustakaan baru dipindahkan lagi ke tempat penyimpanan, berapa banyak waktu yang dia butuhkan untuk melakukan kesemuanya itu? Cobalah dipikirkan lagi dengan lebih seksama"
Sinar mata aneh memancar keluar dari balik mata Liong Giok-po, seolah dia merasa heran kenapa orang yang berada dihadapannya itu kini bisa berpikir lebih teliti dan cermat.
Setelah mendengus dingin kembali Nyo Sin berseru.
"Memangnya kau anggap anak buahku pada buta semua matanya, memangnya mereka hanya tahunya cuma tidur melulu?"
Liong Giok-po tertawa dingin.
"Memang sulit bila pekerjaan itu dilakukan satu orang, tapi kalau ada puluhan orang yang dilibatkan, pekerjaan semacam ini gampang sekali dilakukan"
Katanya.
"Kau menuduhnya punya komplotan?"
"Memangnya tidak mungkin?"
"Di mana komplotannya?"
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepadanya?"
Ternyata Nyo Sin benar benar bertanya kepada Siang Huhoa.
"Apakah kau datang bersama komplotanmu? Sekarang ke mana perginya konco konco mu itu?"
Siang Huhoa tidak menjawab, dia masih memusatkan seluruh perhatiannya ke atas rak tembaga berbentuk setengah lingkaran itu. Ko Thian-liok mulai merasakan sesuatu yang aneh, tiba-tiba dia menegur.
"Saudara Siang, apa yang sedang kau perhatikan?"
Dia sengaja memperkeras nada suaranya. Kali ini Siang Huhoa menyahut, sembari menundukkan kembali kepalanya dia berkata.
"Sekarang, kalian tentu sudah jelas bukan asal usul dari harta karun itu?"
"Jelas atau tidak rasanya sudah tidak penting lagi"
Sahut Ko Thian-liok sambil mengangguk.
"yang mesti kita selesaikan sekarang adalah dengan cara apa harta karun itu dicuri orang, siapa yang telah melakukan hal ini?"
"Siapa yang melakukan pencurian ini, hingga sekarang memang masih susah dipastikan, tapi masalah dengan cara apa harta karun itu dicuri, sekarang sudah muncul titik terangnya"
Baru saja Ko Thian-liok ingin bertanya lebih jauh, Liong Giok-po sudah menimbrung dengan ketus.
"Bukan hanya titik terang, sebenarnya kau memang mengetahui dengan sangat jelas"
Siang Huhoa bersikap seolah tidak mendengar sindiran itu, katanya lagi sambil menatap wajah Ko Thian-liok.
"Ke empat petugas yang diperintahkan menjaga ruang perpustakaan ini nampak sangat jujur dan bisa dipercaya, mereka bilang selama beberapa hari terakhir tidak pernah mangkir bertugas, situasi disini pun tenang tidak pernah terjadi sesuatu apapun, aku rasa laporan mereka memang benar dan bisa dipercaya"
"Ruang rahasia ini hanya memiliki sebuah jalan masuk, dan sekarang terbukti semua harta karun telah lenyap dicuri orang, memangnya setan iblis yang melakukan pencurian itu?"
Tanya Ko Thian-liok tercengang.
"Mana ada setan iblis di dunia ini?"
"Lalu dengan cara bagaimana harta karun itu meninggalkan ruang rahasia?"
"Ternyata ruang rahasia ini tidak hanya memiliki sebuah pintu keluar"
"Maksudmu disini terdapat pintu masuk ke dua?"
Tanya Ko Thian-liok tercengang.
"Moga-moga saja dugaanku tidak keliru"
Siang Huhoa mengangguk.
"Sebenarnya apa yang telah kau temukan?"
Desak Ko Thian-liok lagi. Siang Huhoa mendongakkan kepalanya mengawasi rak tembaga berbentuk setengah lingkaran yang tergantung di langit-langit ruangan, lalu jelasnya.
"Aku menemukan kejanggalan dengan rak tembaga ini"
Tanpa terasa Ko Thian-liok mengalihkan perhatiannya ke atas rak tembaga itu, setelah diamati sejenak, kembali tanyanya.
"Aku tidak menemukan kejanggalan dengan rak tembaga ini"
"Coba kau amati lagi, bukankah diatas rak tembaga itu ada selapis debu?"
"Benar"
"Sekarang kau cermati lapisan debu itu"
Sekali lagi Ko Thian-liok mencermati rak tembaga itu, akhirnya dia menjumpai ada berapa bagian lapisan debu yang semula melapisi tempat itu, kini sudah pada rontok.
Sebenarnya lapisan debu diatas rak tembaga itu memang tidak banyak jumlahnya, bila tidak mengamati secara cermat, siapa pun tidak akan menjumpai kalau ada bagian debu yang hilang.
Di mana pun, selama ada udara yang mengalir dan tidak sering dibersihkan, tempat tersebut pasti akan dilapisi debu, maka adanya debu diatas rak tembaga sebetulnya bukan satu kejadian yang aneh.
Yang aneh justru karena letak rak tembaga itu jauh diatas langit langit ruangan, tempat yang tidak mungkin bisa diraih dengan tangan, lalu mengapa lapisan debu ditempat yang tinggi bisa hilang sebagian?
Sambil mengelus jenggotnya ujar Ko Thian-liok.
"Kelihatannya lapisan debu diatas rak tembaga itu sudah terseka oleh sesuatu benda"
"Mungkin ada tikus yang kebetulan lewat disitu"
Sela Nyo Sin dari samping. Siang Huhoa segera tertawa hambar, ujarnya.
"Kalau perbuatan tikus, aku yakin tikus itu pasti segede manusia bahkan pintar berjalan sambil jungkir balik"
Nyo Sin mendengus dingin, baru saja dia akan mengucapkan sesuatu, Siang Huhoa telah melambung ke tengah udara.
Dengan sekali lompatan Siang Huhoa melambung setinggi satu dua kaki, sepasang tangannya segera menyambar ke muka, mencengkeram rak tembaga setengah bulan itu, kemudian badannya meluncur turun ke bawah.
Ternyata badannya tidak jatuh terjerembab bersama rak tembaga yang ditariknya itu.
Bukan saja rak tembaga itu sanggup menahan bobot badannya yang sedang bergelantungan, bahkan tidak terperosok pula ke bawah lantaran tenaga betotannya ketika bergelantungan tadi.
Rak tembaga tempat lentera yang begitu kokoh macam rak tersebut memang jarang dijumpai di kolong langit.
Ketika tenaga betotannya ke bawah tidak mendatangkan reaksi apa apa, tubuh Siang Huhoa kembali melambung ke atas sambil menarik rak tembaga itu kuat kuat.
Tenaga tarikannya tidak kalah besar dengan tenaga betotannya tadi, namun rak tembaga itu tetap bergeming, sama sekali tidak bereaksi.
Nyo Sin keheranan setelah menyaksikan ulah lelaki itu, teriaknya tidak tahan.
"Hey, apa yang sedang kau perbuat? Main topeng monyet?"
Siang Huhoa tidak menanggapi, tangannya kali ini berputar ke kiri lalu ke kanan, dia mencoba untuk memutar rak tembaga itu searah jarum jam.
Jangan dilihat tubuhnya masih melambung di utara, bersamaan dengan tangannya melakukan gerakan memutar, sepasang kakinya segera menjejak pula pada tumpuan kaki yang lain.
"Kraaak.....!"
Suara gemeturuk yang lirih segera berkumandang dari balik sebuah tirai disisi ruangan.
Ternyata rak tembaga yang sama sekali tidak bergerak tadi, kini ikut berputar ke samping.
Melihat putarannya mendatangkan reaksi, Siang Huhoa segera mengerahkan lagi seluruh tenaganya dan mencoba memutar rak tembaga itu sekali lagi.
Tapi kali ini rak tembaga itu tidak berputar lagi, namun suara gemerutuk yang menggema dari balik tirai masih bergema tiada hentinya.
Suara itu aneh sekali, bikin hati orang miris rasanya, suara aneh mirip sekali dengan gerakan sekumpulan ular berbisa yang pelan pelan merayap dibelakang tirai.
Seperti burung yang kaget dengan suara busur, Nyo Sin sudah balik badan siap kabur dari situ, tapi baru berapa langkah dia sudah menghentikan langkahnya.
Saat itu Ko Thian-liok sedang berdiri di belakangnya, tentu saja dia tidak berani melarikan diri dari situ.
Sorot matanya segera dialihkan ke balik tirai sutera itu, dia berharap bukan serombongan ular berbisa yang muncul dari situ.
Ternyata dia memang tidak kecewa.
Sinar mata Ko Thian-liok telah dialihkan ke balik tirai sutera itu, begitu juga dengan perhatian orang lain, tidak ada yang terkecuali.
Suara yang aneh itu segera berhenti berbunyi, tapi tiada sesuatu yang terjadi di balik tirai sutera itu, juga tidak terlihat ada sesuatu benda yang muncul disana.
Setiap orang ingin mendekati tirai itu, menyingkapnya dan memeriksa apa yang ada dibaliknya, namun tidak seorang pun yang berjalan menghampiri, tidak terkecuali Liong Giok-po.
Mengapa jagoan tangguh yang tiada tandingan di kolong langit ini bernyali begitu kecil?
Apakah dia pun tahu kalau dibalik tirai itu terdapat alat perangkap yang sangat hebat, yang bisa membunuh orang dalam sekejap?
--Siang Huhoa masih bergelantungan dibawah rak tembaga, sepasang biji matanya yang lebih besar dari telur itik turut mengawasi belakang tirai itu, berada ditempat ketinggian, tentu saja dia dapat melihat lebih jelas ketimbang orang lain.
Sayang tirai sutera itu menutupi hampir seluruh dinding batu, biarpun berada di tempat ketinggian, dia pun tidak dapat menyaksikan sesuatu apapun.
Menanti suasana dibalik tirai itu sudah hening kembali, tanpa mengucapkan sepatah katapun Siang Huhoa segera melepaskan satu tenaga pukulan ke depan.
Angin pukulan yang sangat kuat langsung menggulung tirai sutera itu dan menyampoknya hingga terbuka lebar.
Tidak ada ular disitu, dibelakang tirai itu tidak ditemukan sesuatu benda pun.
Tapi dinding batu yang semula melapisi tempat tersebut kini sudah lenyap, disana muncul sebuah lubang yang cukup besar.
Lubang itu tingginya tujuh depa dengan lebar dua depa, cukup untuk keluar masuk seorang manusia.
Dibalik lubang diatas dinding batu itu hanya kegelapan yang nampak, dari balik kegelapan seakan terdapat tumpukan salju yang dingin, bongkahan salju yang membeku itu kini seakan sedang melumer.
Siang Huhoa berdiri penuh siaga didepan gua itu, dia pun secara lamat lamat merasakan hawa dingin yang berhembus keluar.
Bagaimana bentuk dan keadaan gua itu?
Benda apa yang tersimpan di sana?
Walaupun dia memiliki ketajaman mata yang mengagumkan namun tidak semuanya bisa terlihat jelas dalam sekejap mata, dalam waktu singkat tirai itu menutup kembali.
Siang Huhoa tidak membuang waktu lagi, dia menyelinap ke samping tirai kemudian membetotnya kuat-kuat.
Sekarang mulut lorong itu dapat terlihat sangat jelas, ternyata dibalik lorong terdapat sebuah jalan bawah tanah yang menjorok jauh ke dalam.
Tidak tampak ujung dari lorong panjang itu karena dibalik gua hanya kegelapan yang mencekam.
Apa kegunaan lorong rahasia itu?
Lorong itu menghubungkan tempat tersebut dengan mana?
Siang Huhoa ingin sekali menerobos masuk dan melakukan pemeriksaan.
Sementara dia masih termenung, para jago lainnya telah maju mengerubung.
Yau Kun dan Tan Piau dengan membawa sebuah lentera segera mendekati mulut lorong dan menerangi keadaan di dalam sana, sekarang suasana dalam lorong pun dapat terlihat lebih jelas.
Biarpun jangkauan cahaya lentera bisa mencapai tempat yang lebih jauh, namun kejauhan sana masih tetap tercekam dalam kegelapan.
Ko Thian-liok coba melongok ke dalam lorong itu, kemudian tidak tahan serunya.
"Kelihatannya lorong ini merupakan sebuah lorong bawah tanah yang amat panjang"
"Rasanya memang begitu"
Siang Huhoa membenarkan. Setelah memperhatikan lagi berapa saat, dia baru berseru.
"Tolong bawakan lentera!"
Yau Kun segera maju sambil membawa lenteranya.
Siang Huhoa menerima lentera itu ditangan kiri, sementara tangan kanannya mulai menggenggam gagang pedang.
Kemudian tanpa membuang waktu lagi dia melangkah masuk ke balik pintu lorong dan menerobos masuk ke dalam jalan bawah tanah itu.
Lorong rahasia itu lebarnya tidak lebih hanya dua depa, tapi setelah berjalan masuk sedalam tiga depa, permukaan lorong semakin melebar hingga luasnya empat depa dengan ketinggian mencapai tiga depa lebih.
Sisi dinding ruangan dilapisi batu gunung yang tersusun rapi.
Dibalik lorong tidak ada bongkahan salju, tapi semakin berjalan masuk ke dalam, Siang Huhoa merasa angin dingin makin keras berhembus lewat.
Api lentera mulai bergoyang karena hembusan angin dingin, sekarang mereka sudah tidak dapat membedakan lagi arah mata angin.
Hembusan angin seakan akan datang dari empat arah delapan penjuru, membuat udara dalam lorong rahasia itu makin lama serasa makin membeku.
Siang Hu-hoa amat keheranan, dengan penuh rasa ingin tahu dia periksa sekeliling ruangan lorong, akhirnya dia menjumpai lubang lubang angin kecil yang terdapat setiap enam depa disepanjang lorong itu, jelas hembusan angin berasal dari lubang kecil itu.
Maka setelah tertawa ewa, dia melanjutkan kembali langkahnya.
Kecuali lubang-lubang angin itu, sepanjang dinding lorong tidak dijumpai sesuatu yang aneh, yang terdengar sekarang hanya suara gerakan tubuhnya yang menimbulkan suara desingan nyaring.
Tanpa berhenti Siang Huhoa meneruskan terobosannya masuk ke lorong rahasia itu, tidak lama kemudian dia sudah berada dua kaki dari posisi semula.
Suasana didalam lorong itu tetap hening, sepi dan tidak terjadi sesuatu apa pun, bahkan disana seakan tidak dilengkapi alat jebakan atau perangkap yang mematikan.
Kecuali suara langkah kaki sendiri, Siang Huhoa tidak mendengar suara apa pun.
Liong Giok-po yang pertama tidak tahan, dengan dua tiga lompatan dia segera menyusul ke belakang Siang Huhoa.
Mendengar ada suara aneh bergema dari arah belakang, Siang Hu-hoa segera berpaling, ketika melihat orang yang menyusulnya adalah Liong Giok-po, mendadak sekilas pandangan aneh memancar keluar dari balik matanya, setelah berhenti sejenak akhirnya dia meneruskan kembali perjalanannya.
Orang ke dua yang menyusul masuk ke dalam lorong rahasia itu adalah Ko Thian-liok.
Melihat atasannya sudah melangkah masuk, tentu saja Nyo Sin tidak berani berayal, dia segera berebut maju mendahului Yau Kun dan Tan Piau dan mengikuti di belakang Ko Thianliok.
Pada barisan yang paling belakang menyusul Yau Kun dan Tan Piau.
Setelah berjalan kurang lebih satu kaki, tiba-tiba Ko Thianliok menghentikan langkahnya, menarik napas panjang dan bergumam.
"Sungguh anehi"
"Apanya yang aneh?"
Tanya Siang Huhoa sambil ikut berhenti.
"Lorong ini sangat rapat dan berada dibawah tanah, kenapa udara disini amat bersih dan segar?"
"Apakah saudara Ko tidak memperhatikan lubang-lubang kecil yang ada di kiri kanan dinding lorong?"
Ko Thian-liok memperhatikan sekejap lubang itu, kemudian tanyanya lagi.
"Apa kegunaan lubang kecil itu?"
"Lubang angin!"
"Ooh, rupanya begitu, tapi lubang angin itu menghadap ke tempat mana?"
"Yang pasti berada diatas permukaan tanah, tempat manakah itu? Sementara kita tidak jelas, tapi bila ingin tahu sebetulnya tidak susah"
"Aku rasa hal tersebut tidak terlalu penting, yang paling utama saat ini adalah mengetahui lorong bawah tanah ini tembus hingga ke mana"
Ucap Ko Thian-liok.
"Mau tembus ke mana pun selama ada di kolong langit pada akhirnya akan ditemukan juga ujungnya"
Sahut Siang Huhoa sambil tertawa.
"ayoh kita lanjutkan perjalanan menuju ke depan"
Seraya berkata dia pun beranjak pergi.
Liong Giok-po segera menyusul di belakangnya, mendadak dia melepaskan kain kerudung yang menutupi wajahnya.
Dalam waktu singkat dalam lorong itupun muncul sesosok bayangan setan yang menakutkan.
Siang Huhoa sama sekali tidak berpaling, dia seakan tidak perduli dengan ulah orang itu, berbeda dengan Ko Thian-liok yang mengikuti di belakangnya, tidak kuasa bergidik hatinya setelah menyaksikan adegan itu.
Nyo Sin turut tercekat perasaan hatinya, dia merasakan jantungnya berdebar keras.
--Bab 35.
Menyerahkan diri.
Setelah menelusuri lorong yang tegak lurus sejauh tiga kaki, jalanan mulai berliku liku dan penuh tikungan.
Setelah berbelok pada sebuah tikungan diikuti tikungan yang lain, secara beruntun mereka telah melalui belasan buah tikungan.
Setelah melalui tikungan yang ke empat belas Siang Huhoa mulai menghela napas panjang sambil berkata.
"Aneh benar jalan lorong ini, kenapa dibikin berliku liku?"
"Kepalaku sudah mulai terasa pening"
Lanjut Ko Thian-liok yang berada di belakang sambil menghela napas panjang.
"Untung jalan lorong ini tidak disertai persimpangan jalan"
"Ini sudah lebih dari cukup, kalau tadi aku masih sempat memuji kehebatan konstruksi bangunan lorong bawah tanah ini, maka sekarang, tampaknya aku mesti menarik kembali perkataanku itu!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka kembali berbelok disebuah tikungan tajam.
Dua kaki setelah tikungan tajam itu lamat-lamat kelihatan munculnya sebuah anak tangga batu.
Tanpa terasa Siang Huhoa mempercepat langkah kakinya.
Benar saja, didepan sana terdapat sebuah anak tangga batu.
Didepan situ sudah tidak ada jalan tembus lagi, agaknya lorong bawah tanah itu sudah mencapai pada ujungnya.
"Ada anak tangga batu!"
Tanpa terasa Siang Huhoa berpekik.
"Berarti sudah sampai diujung lorong?"
Tanya Liong Giok-po sambil menyusul datang.
Nada suaranya agak parau, dengusan napasnya kedengaran agak tersengkal, tampaknya perjalanan cepat ini sudah menguras habis sebagian besar tenaganya.
Kalau tadi suara dengusan napasnya tidak kedengaran karena dia memang masih berada ditempat kejauhan, tapi begitu mendekat, jangan lagi Siang Hu-hoa yang memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, orang awam pun dapat dipastikan dapat mendengar juga napasnya yang tersengkal.
Malah dari atas wajahnya yang menyeramkan bagaikan setan itu kelihatan peluh bercucuran dengan amat derasnya.
Dipandang dari sudut manapun, dia sama sekali tidak mirip seorang jago persilatan yang berilmu tinggi.
Sekali lagi sinar aneh memancar keluar dari balik mata Siang Huhoa.
Tapi dia tidak berpaling, sorot matanya pun tidak mengawasi anak tangga batu itu tapi justru mengawasi lampu lentera yang berada dalam genggamannya.
Sesungguhnya lampu lentera itu sama sekali tidak menarik untuk dipandang, biarpun sorot matanya sedang mengawasi lampu lentera, namun pandangan matanya sama sekali tidak berada disana.
Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu, memikirkan suatu persoalan yang amat besar dan penting.
Menanti Ko Thian-liok dan Nyo Sin sekalian sudah menyusul tiba, sorot matanya baru dialihkan ke atas anak tangga batu itu.
"Undakan batu itu tembus hingga ke mana?"
Tanya Ko Thian-liok sambil menghentikan langkah kakinya.
"Asal naik ke atas, kita toh bisa tahu segalanya"
Sela Liong Giok-po dari samping.
Siang Hu-hoa tidak banyak bicara, dia segera beranjak dari tempat semula dan mulai menaiki undak undakan batu itu.
Anak tangga batu itu berjumlah tiga puluhan dan menjorok naik ke atas, diujung anak tangga merupakan sebuah tanah datar.
Tanah datar itu luasnya enam depa, tiga penjuru berupa dinding batu sementara persis berhadapan dengan mulut lorong itu terdapat lagi sebuah pintu batu selebar dua depa dengan ketinggian tujuh depa.
Ditengah pintu batu terdapat sebuah gelang pintu yang terbuat dari baja, Siang Huhoa segera tempelkan telinganya diatas pintu itu dan mendengarkan berapa saat, kemudian dia baru mencengkeram gelang besi tersebut.
Dia mencoba menarik gelang itu ke belakang.
Sama sekali tidak ada reaksi, pintu batu itu sama sekali bergeming, ketika dicoba untuk mendorong ke depan, hasilnya tetap sama.
Terpaksa dia pun memutar gelang besi itu ke samping, dia ingin tahu apakah pintu itu bereaksi.
"Kraaak!"
Betul juga, begitu gelang besi diputar ke kanan, dari balik pintu batu segera bergema suara nyaring menyusul kemudian pintu itu perlahan lahan terbuka lebar.
Dibalik pintu batu itu merupakan sebuah lorong yang gelap......tempat apakah itu?
Siang Huhoa melepaskan genggamannya atas gelang besi itu, namun dia belum menggeserkan tubuhnya, lentera yang ada ditangan kiri segera disodorkan masuk ke balik pintu.
Dalam waktu singkat suasana dibalik pintu pun terlihat jelas.
Permukaan lantai ruangan itu merupakan ubin berbentuk bunga, sebuah motif lantai yang tidak asing bagi Siang Huhoa, namun untuk sesaat dia tidak bisa membayangkan pernah melihat lantai semacam ini dimana.
Selangkah demi selangkah dia berjalan masuk ke dalam ruangan, jangan dilihat dia seakan berjalan santai, padahal semua gerak geriknya dilakukan dengan sangat berhati hati.
Ko Thian-liok, Liong Giok-po dan Nyo Sin segera mengikuti di belakangnya degan amat berhati hati.
Baru saja mereka berlima masuk ke balik pintu, mendadak terdengar Siang Huhoa yang berada dipaling depan berseru tertahan, seruan itu amat keras, tampaknya dia telah menyaksikan sesuatu hal yang membuatnya tercengang.
"Sebetulnya tempat apakah ini?"
Tanya Ko Thian-liok tanpa terasa.
"Gudang kecil di belakang kamar tidur Jui Pak-hay suami istri"
Jawab Siang Huhoa. Sementara itu Nyo Sin, Tan Piau dan Yau Kun pun segera dapat mengenali ruangan tersebut, tanpa sadar mereka ikut berseru.
"Aaah betul, memang ruang kecil itu" --Bagian luar dari pintu batu sebenarnya merupakan dinding sisi kiri dari ruangan kecil itu, bangunan loteng terletak persis diatas kepala mereka. Walaupun Ko Thian-liok belum pernah mendatangi tempat tersebut, namun dia sudah hapal sekali dengan situasi ruangan, dia mempelajari situasi itu dari laporan kasus pembunuhan yang diberikan anak buahnya. Laporan yang dibuat Tu Siau-thian memang sangat teliti dan terperinci, untuk membuat laporan yang lengkap dan terperinci, Tu Siau-thian memang sudah membuang banyak pikiran dan tenaga. Maka dia sangat menguasahi situasi ditempat kejadian, bahkan pemahamannya atas tempat itu jauh diatas pemahaman Nyo Sin. Begitu mendengar ucapan dari Siang Huhoa tadi, dia segera mendongakkan kepalanya mengawasi bangunan loteng itu, kemudian ujarnya.
"Apakah jenasah Jui Pak-hay beserta sekelompok Laron Penghisap darah itu kalian temukan dalam loteng tersebut?"
"Benar!"
Sahut Nyo Sin cepat.
"Blaaammm!"
Entah apa sebabnya mendadak pintu rahasia itu menutup dengan sendirinya. Semua yang hadir segera berpaling. Dengan perasaan terkejut teriak Nyo Sin.
"Baru saja kita berenam keluar dari situ, siapa.....siapa yang telah menutup kembali pintu rahasia tersebut?"
"Yang pasti bukan perbuatan manusia"
Sahut Siang Huhoa.
"Kalau bukan perbuatan manusia, memangnya ulah setan iblis?"
Bisik Nyo Sin dengan wajah berubah. Siang Huhoa kontan tertawa tergelak.
"Mana ada setan di dunia ini? Pintu batu itu sudah dilengkapi alat rahasia"
"Sungguh?"
Nyo Sin setengah percaya.
"Justru karena sudah dilengkapi alat rahasia, maka secara otomatis pintu itu akan menutup kembali setelah dilewati seseorang"
Nyo Sin menghembuskan napas lega setelah mendengar penjelasan itu, tapi tanyanya lagi.
"Darimana kau bisa tahu? Sejak kapan kau mengetahui akan hal ini?"
"Sejak membuka pintu batu itu aku sudah tahu"
"Mungkin jauh hari sebelum membuka pintu itu dia sudah tahu"
Tiba-tiba Liong Giok-po menimbrung dari samping.
"Oya?"
"Kalau tidak, masa dia seakan hapal sekali dengan segala situasi yang sedang dihadapinya?"
Lanjut Liong Giok-po.
Agak ragu Nyo Sin segera berpaling dan mengawasi wajah Siang Huhoa.
Namun Siang Huhoa tidak meladeni perkataan itu, dia hanya membungkam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat itu Liong Giok-po tertawa bangga, tertawa dingin tiada hentinya.
Mendadak Ko Thian-liok memotong suara tertawa dari Liong Giok-po itu, ujarnya.
"Setelah pintu batu itu menutup kembali, seharusnya diatas dinding ruangan akan muncul jejak atau celah yang kecil, kenapa tidak nampak sesuatu yang aneh? Kenapa dinding itu kelihatan rata kembali?"
"Kalau ada, pintu rahasia ini sudah kutemukan ketika memeriksa dinding ruangan tersebut tempo hari"
Sahut Siang Huhoa.
"Aaai.....kemampuan Jui Pak-hay merancang alat rahasia memang sangat hebat dan mengagumkan"
Puji Ko Thian-liok sambil menghela napas panjang. Siang Huhoa tidak menyangkal, sahutnya.
"Menurut pandanganku, keberhasilannya menguasahi kepandaian ini mungkin masih jauh diatas kemampuan gurunya sendiri Hian kicu"
"Luar biasa, luar biasa.... dia bisa disebut orang berbakat yang luar biasa diantara orang berbakat lainnya"
Puji Ko Thian-liok lagi.
"Di tempat inipun masih ada seorang lagi yang berbakat luar biasa, jauh melebihi orang berbakat lainnya"
Timbrung Liong Giok-po tiba-tiba. Siapa pun tahu siapa yang dimaksudkan orang ini.
"Kelihatannya besar amat rasa curigamu"
Sindir Siang Huhoa sambil tertawa dingin.
"Memang besar"
"Kau tetap merasa yakin akulah yang telah mencuri seluruh harta karun yang tersimpan dalam ruang rahasia itu?"
"Yakin seyakin-yakinnya!"
"Selain karena alasan yang sudah kau kemukakan, apakah masih ada alasan lainnya?"
"Kenyataannya kau bisa mengajak kami semua tiba ditempat ini, bukankah bukti ini merupakan sebuah alasan yang sangat tepat?"
"Jadi inipun kau anggap sebagai sebuah alasan?"
"Jika kau tidak pernah melalui lorong rahasia ini, kenapa bisa mengajak kami untuk melalui lorong rahasia tersebut dengan begitu mudah dan lancar?"
"Jadi kau anggap dengan mudah kuajak kalian sampai disini?"
Kembali Siang Huhoa tertawa dingin.
"Benar, mudah sekali"
Seru Liong Giok-po, setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Kalau pun di dunia ini benar benar terdapat setan iblis, tidak nanti mereka akan mencuri harta karun milik manusia, sekalipun Laron Penghisap darah benar benar bisa makan manusia, menghirup darah manusia seperti apa yang diceritidakan dalam dongeng, tidak nanti mereka akan melalap harta karun itu sampai ludas. Jelas dan tidak bisa diragukan lagi hilangnya harta karun itu merupakan ulah tangan manusia"
Kemudian setelah menarik napas panjang, tambahnya.
"Hanya orang yang suka akan intan permata baru akan berpikiran jahat untuk mengangkangi harta karun milik orang lain"
Siang Huhoa menggetarkan bibirnya seakan hendak berbicara, tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, Liong Giok-po sudah bicara lagi.
"Tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bila mengincar harta karun milik Jui Pak-hay ini, selain dia mesti mengerti tentang alat perangkap, menguasahi ilmu meringankan tubuh yang hebat, orang itupun mesti punya akal dan agak pintar"
Nada ucapannya berubah makin berat dan dalam, terusnya.
"Di tempat ini hanya ada satu orang yang memenuhi kriteria dan prasyarat tersebut, orang itu tidak lain adalah kau, saudara Siang!"
"Tempat ini yang kau maksudkan meliputi daerah mana saja?"
Tanya Siang Huhoa sambil tertawa dingin.
"Tentu saja meliputi seluruh keresidenan"
"Rasanya magrib tadi kau baru tiba di sini bukan?"
"Betul"
"Begitu sampai disini, kau langsung menuju ke kantor pengadilan dan belum pernah meninggalkan kantor barang selangkah bukan?"
"Benar!"
"Aneh, kenapa kau bisa begitu hapal dan menguasahi wilayah tempat ini?"
Liong Giok-po segera terbungkam.
"Mungkin saja sebagian besar orang yang berada diwilayah ini merupakan orang orang yang cerdas"
Ujar Siang Huhoa lagi. Liong Giok-po kembali tertawa dingin.
"Tapi hingga detik ini hanya satu orang yang patut dicurigai, orang itu adalah kau, Siang tayhiap!"
"Lalu mau apamu?"
"Aku sih cuma seorang rakyat kecil, seorang rakyat kecil bisa berbuat apa?"
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Nyo Sin, terusnya.
"Orang yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah ini adalah komandan Nyo, biar dia yang selesaikan urusan ini"
Tanpa sadar Nyo Sin segera membusungkan dadanya. Kembali Liong Giok-po bertanya kepada Nyo Sin.
"Menurut komandan Nyo, apa yang pantas kita perbuat terhadap seorang tersangka macam begini?"
"Tentu saja harus dibekuk dan ditahan.........."
Jawab Nyo Sin tanpa sadar.
Tapi begitu ucapan tersebut meluncur keluar, dia baru teringat kalau Siang Huhoa adalah seorang jagoan yang sangat tangguh, kontan saja dia menutup kembali mulutnya.
Dalam pada itu Liong Giok-po sudah berkata lebih jauh.
"Dengan pengalaman yang dimiliki komandan Nyo, jika kau anggap tindakan ini yang paling tepat, aku rasa memang tindakan itulah yang harus kita lakukan sekarang"
"Soal ini......."
Nyo Sin jadi tergagap.
"Kenapa?"
"Ilmu silatnya sangat tangguh, jika dia enggan menyerahkan diri, kamipun tidak bisa berbuat apa-apa"
"ooh, rupanya persoalan ini yang dikuatirkan komandan Nyo......."
Tampaknya dia masih akan bicara lebih lanjut, tapi sebelum dia sempat berkata Nyo Sin kembali sudah menukas.
"Aaah benar, aku hampir lupa dengan Liong kongcu, aku dengar kau adalah jago nomor wahid dari Kanglam, asal Liong kongcu mau membantu, persoalan ini malah lebih gampang penyelesaiannya"
Kalau dilihat dari mimik mukanya, dia seolah benar benar ingin menangkap Siang Huhoa.
Semenjak kasus pembunuhan ini terjadi, khususnya sejak kehadiran Siang Huhoa disana, Nyo Sin sebagai komandan opas nyaris tidak ada kesempatan untuk angkat bicara, hal mana sudah membuat hatinya sangat mengganjal dan tidak suka hati, entah sudah berapa kali dia berusaha mencari kesempatan untuk menjatuhkan pamor Siang Huhoa.
Sekarang kesempatan yang langka itu sudah muncul di depan mata, tentu saja dia tidak ingin melepaskannya dengan begitu saja.
Di dalam anggapannya, Liong Giok-po sebagai jago tangguh yang tanpa tandingan di wilayah Kanglam pasti memiliki kepandaian silat setara dengan kemampuan Siang Huhoa, itu berarti bila terjadi pertempuran, jagoan dari Kanglam ini bisa memaksakan satu pertarungan yang seimbang.
Bila ditambah dengan golok panjang, tombak pendek dari Yau Kun dan rantai besi dari tanpoh, dia merasa sudah lebih dari cukup untuk membekuk Siang Huhoa.
Begitu keputusan diambil, dia pun segera memberi tanda kepada Tan Piau dan Yau Kun.
Tanda itu dimaksudkan agar mereka bersiap siap untuk turun tangan.
Tanpa terasa Yau Kun dan Tan Piau saling bertukar pandangan sekejap dengan wajah tertegun, khususnya Yau Kun, dia kelihatan teramat kikuk.
Sekali lagi Nyo Sin mengalihkan pandangan matanya ke wajah Liong Giok-po, dia menunggu jagoan dari Kanglam itu melancarkan serangan terlebih dulu, kemudian dia bersama kedua anak buahnya akan maju mengembut.
Ternyata Liong Giok-po sama sekali tidak bereaksi, bergerak pun tidak.
Nyo Sin menunggu lagi berapa saat, melihat tiada reaksi juga dari jagoan tersebut, tidak tahan dia segera menegur.
"Liong kongcu!"
Mimik muka Liong Giok-po kelihatan mengejang keras, namun dia tetap membungkam dan tidak melakukan gerakan apapun. Saat itulah Siang Huhoa mengejek, katanya.
"Jika dia mampu turun tangan, sedari tadi dia sudah menyerang aku"
"Kenapa dia tidak mampu turun tangan?"
Tanya Nyo Sin makin keheranan.
"Sebab dia sudah bukan Liong Giok-po yang dulu lagi"
Nyo Sin semakin tercengang, dengan nada tidak habis mengeri tanyanya lagi.
"Apakah identitasnya bermasalah? Bukankah tadi sudah kau buktikan kalau dia asli?"
"Aku tidak pernah mempermasalahkan identitasnya, dia memang Liong Giok-po yang asli"
"Lalu dimana letak perbedaannya dengan Liong Giok-po yang dulu?"
Siang Huhoa tidak langsung menjawab, sorot matanya dialihkan ke wajah Liong Giok-po dan menatapnya sekejap, kemudian tanyanya.
"Liong-heng, kau yang akan menjelaskan sendiri atau aku yang memberikan penjelasan?"
Sekali lagi mimik muka Liong Giok-po nampak mengejang keras, bukannya menjawab dia malah bertanya.
"Sejak kapan kau tahu akan hal ini?"
"Sejak masuk ke lorong bawah tanah, aku sudah curiga"
"Lantaran langkah kakiku berat?"
"Itu hanya salah satu alasan, ketika kujumpai kau menyusulku naik ke undak undakan batu tadi, keyakinanku semakin besar"
Liong Giok-po nampak tergagap dan tidak bisa bicara lagi.
"Apakah lantaran pengaruh bubuk lima racun dari Tok tongcu?"
"Benar!"
"Sungguh dahsyat dan menakutkan bubuk lima racun itu!"
Pekik Siang Hu-hoa terkesiap.
"Memang sangat hebat, segenggam bubuk lima racun bukan saja telah menghancurkan wajahku, juga membuyarkan seluruh tenaga dalam yang kumiliki"
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Sekarang aku lemah tidak bertenaga, jangan lagi bertempur, tenaga untuk menangkap ayam pun tidak punya. Dibandingkan dengan kemampuanku sewaktu malang melintang di wilayah Kanglam dulu, aku ibarat dua orang yang berbeda"
"Oooh....."
Sekarang Nyo Sin baru sadar apa yang telah terjadi, paras mukanya langsung berubah hebat.
Dengan hilangnya kekuatan dari Liong Giok-po, bagaimana mungkin mereka bertiga sanggup menghadapi Siang Huhoa?
Pada saat itulah mendadak Siang Huhoa berpaling ke arah pintu kamar tidur sambil menghardik.
"Siapa disitu?"
Seseorang menyahut sambil mendorong pintu dan berjalan masuk.
Ternyata orang itu adalah Jui Gi!
Cahaya lentera menerangi wajah Jui Gi, entah karena pantulan sinar atau lantaran alasan lain paras muka Jui Gi kelihatan pucat pias seperti mayat, tapi sikapnya sangat tenang.
Belum sempat Siang Huhoa mengucapkan sesuatu, Nyo Sin sudah menegur lebih dulu.
"Jui Gi, mau apa yang sembunyi di luar pintu?"
"Aku bukan lagi bersembunyi"
Bantah Jui Gi sambil goyangkan tangannya berulang kali.
"Lalu sedang apa kau disitu?"
"Barusan kebetulan aku sedang lewat diluar pintu, ketika melihat ada sinar lentera bergeser didalam kamar ini, kukira ada pencuri yang nyelonong masuk, maka akupun menyusul kemari untuk melakukan pemeriksaan"
"Tajam amat matamu"
Jengek Nyo Sin.
"Gerakan tubuhnya juga hebat"
Siang Huhoa menambahkan.
"seandainya dia tidak menyentuh pintu kamar secara tidak sengaja, akupun tidak sadar kalau diluar kamar ada orangnya"
"Semasa masih hidup dulu, majikan sering mengajarkan ilmu silat kepadaku"
Jui Gi menjelaskan sambil tertawa.
"Kenapa begitu kutegur kau langsung membuka pintu dan berjalan masuk? tidak kuatir orang yang menegurmu adalah pencoleng?"
"Mana ada pencoleng bernyali besar?"
Jui Gi tertawa tergelak. Setelah berhenti tertawa, dia berpaling ke arah Ko Thianliok sambil menyapa.
"Tayjin, rupanya kaupun ikut datang?"
"Benar"
Sahut Ko Thian-liok.
"barusan kau telah pergi ke mana?"
"Setelah bersantap aku berjalan mengelilingi perkampungan"
"Kau tidak meninggalkan pesan kepada anggota perkampungan lainnya?"
"Karena tidak pergi jauh, maka aku tidak meninggalkan pesan"
"Sewaktu kembali tadi, apakah ada yang beritahu kepadamu kalau kami telah datang kemari?"
"Aku masuk melalui pintu belakang, maka tidak berjumpa dengan mereka"
Tiba-tiba Ko Thian-liok bertanya lagi.
"Apakah kau tidak merasa keheranan, kenapa kami bisa muncul di tempat ini?"
Jui Gi menghela napas panjang.
"Buat apa aku mesti merasa heran? Sudah terlalu banyak kejadian aneh yang terjadi disini berapa hari belakangan"
Katanya. Ko Thian-liok manggut berulang kali, kembali tanyanya.
"Apakah kau juga tahu kalau dari ruang rahasia dimana majikanmu menyimpan harta karun terdapat sebuah lorong rahasia yang menghubungkan tempat tersebut dengan ruangan ini?"
"Lorong rahasia?' sekali lagi Jui Gi tertegun, cepat-cepat dia menggeleng.
"Jadi majikanmu belum pernah menyinggung soal ini?"
"Belum pernah"
"Kenapa?"
"Di waktu biasa, majikan jarang sekali berbicara, yang dibicarakan biasanya hanya urusan sehari-hari"
Ko Thian-liok tidak bertanya lebih jauh, dia segera mengulapkan tangannya seraya berseru.
"Kalau begitu menyingkirlah untuk sementara waktu"
Jui Gi sangat penurut, dia segera mengundurkan diri ke samping. Kini Ko Thian-liok mengalihkan pandangan matanya ke wajah Liong Giok-po. Melihat itu Liong Giok-po segera berseru.
"Apa yang kukatakan tadi semestinya sudah tayjin dengar semua bukan?"
Ko Thian-liok mengangguk. Liong Giok-po berkata lagi.
"Sekarang keadaanku tidak berbeda dengan kebanyakan orang, sudah bukan jago persilatan lagi, aku pun sudah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melindungi harta dan nyawa sendiri"
"Lalu kenapa?"
"Tentu saja aku berusaha mendapat jaminan keamanan dari hukum, seperti kebanyakan orang yang lain"
"Belum tentu harapanmu merupakan satu hal yang menguntungkan bagimu"
"Tentunya tayjin memandang aku sama seperti rakyat kebanyakan bukan?"
Kembali Liong Giok-po mendesak.
"Tentu saja"
"Itu berarti tayjin akan memutuskan masalah ini dengan seadil adilnya bukan?"
"Pasti"
Ko Thian-liok mengangguk.
"aku sudah sepuluh tahun menjabat sebagai pembesar negeri, aku selalu bersikap adil terhadap siapa pun dan masalah apa pun"
"Kalau begitu aku bisa berlega hati sekarang"
"Kau memang tidak usah kuatir"
"Sekarang, apa yang hendak tayjin lakukan terhadap Siang Hu-hoa?"
Desak Liong Giok-po kemudian. Ko Thian-liok tidak menjawab, dia cuma termenung.
"Apakah tayjin menganggap Siang Huhoa tidak pantas dicurigai?"
Kembali Liong Giok-po bertanya.
"Benar"
"Apa alasannya?"
"Aku yakin tidak salah menilai orang"
"Apakah tayjin akan putuskan kasus ini hanya berdasarkan pertimbangan dan penilaian pribadi?"
"Tentu saja tidak"
Liong Giok-po segera tertawa dingin, jengeknya.
"Menurut pandanganku, lebih baik tayjin menahan Siang Huhoa terlebih dulu, tersangka macam dia bisa berbahaya kalau tidak dijebloskan dulu ke dalam tahanan, selain itu nama besar tayjin juga.......hmmmm....hmmm!"
"Terhadap persoalan ini tayjin harus mempertimbangkan dulu dengan seksana"
Kata Nyo Sin pula menimpali. Ko Thian-liok tetap membungkam, dia hanya termenung terus. Tiba-tiba Siang Huhoa tertawa tergelak, selanya.
"Saudara Liong, kelihatannya kau belum puas kalau belum melihat aku masuk penjara?"
"Aku rasa saudara Siang toh sudah terbiasa dengan suasana dalam penjara"
Jengek Liong Giok-po tertawa dingin.
"Sebaliknya, aku justru sangat asing"
Liong Giok-po segera tertawa tergelak.
"Hahahaha..... aku hampir saja lupa kalau saudara Siang memang memiliki kemampuan yang luar biasa, seorang penyamun ulung macam saudara Siang pasti mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk meloloskan diri dari setiap tuduhan yang dialamatkan kepadamu"
Siang Huhoa tidak menanggapi.
"Aku rasa kali inipun tidak terkecuali!"
Kembali Liong Giokpo menambahkan. Tiba-tiba Siang Huhoa tertawa, ujarnya.
"Salah atau benar, suatu ketika pasti akan terungkap juga, aku yakin kalau diriku bersih, baiklah, kalau aku diminta masuk penjara, sekarang juga aku akan masuk penjara"
Begitu perkataan itu diucapkan, semua orang malah tertegun dibuatnya. Kembali Siang Huhoa berkata.
"Bagaimana pun juga sudah lama aku memang ingin mendapatkan kesempatan semacam ini, merasakan bagaimana enaknya masuk penjara"
"Saudara Siang........"
Ko Thian-liok berseru tertahan.
"Saudara Ko tidak usah menguatirkan diriku"
Tukas Siang Hu-hoa cepat, setelah menghembuskan napas panjang, terusnya.
"Apalagi berada dalam penjara pasti jauh lebih tenang daripada berada ditempat lain, sekarang aku memang membutuhkan satu tempat yang tenang untuk beristirahat, dengan begitu aku baru bisa memikirkan kembali semua kejadian yang berlangsung selama beberapa hari ini"
Liong Giok-po segera menyikut Nyo Sin sambil berseru.
"Komandan, apa lagi yang kau tunggu?"
Nyo Sin agak tertegun tapi segera teriaknya.
"Pengawal, borgol dia!"
Baik Yau Kun maupun Tan Piau, semuanya membawa borgol dipinggangnya dan mendengar dengan jelas perintah itu, namun ke dua orang opas itu hanya berdiri mematung tanpa bergerak.
Nyo Sin baru sadar akan tindakannya setelah ucapan tersebut meluncur keluar dari mulutnya, mau dibatalkan pun sudah terlambat.
Terpaksa dia melotot ke arah Tan Piau dan Yau Kun sambil hardiknya.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa hanya berdiri melongo? Cepat borgol dia"
Yau Kun nampak sangat rikuh, dia seakan hendak melangkah maju tapi segera diurungkan kembali niatnya, sementara Tan Piau telah melepaskan rantai borgol dari pinggangnya.
Tidak seperti Yau Kun, Tan Piau memang tidak mempunyai hubungan yang terlalu akrab dengn Siang Huhoa.
Mengawasi rantai borgol yang disodorkan ke hadapannya Siang Huhoa bertanya.
"Bagaimana? Aku pun harus mengenakan benda ini?"
"Atas perintah komandan, terpaksa hamba harus menjalankan perintah"
Sahut Tan Piau sambil tertawa paksa. Liong Giok-po yang berada disamping kembali menimbrung.
"Borgol melambangkan hukum, jika kau tidak mengenakan borgol itu sama artinya kau tidak menganggap hukum"
Siang Huhoa hanya tertawa, dia segera meluruskan tangannya ke depan.
Tampaknya dia sama sekali tidak ambil perduli terhadap semua kejadian itu.
Baru saja Tan Piau maju ke depan, Ko Thian liok telah menghardik keras.
"Tunggu sebentar!"
Tan Piau segera menghentikan langkahnya. Kembali Ko Thian-liok berkata.
"Kau anggap Siang tayhiap itu siapa? Apa yang telah dia setujui tidak bakal disesali kembali, tidak mungkin dia bakal kabur ditengah jalan, kalau dia sudah bersedia bekerja sama, kenapa mesti menyusahkan dirinya lagi?"
Tan Piau melirik Nyo Sin sekejap kemudian menundukkan kepalanya. Nyo Sin menundukkan pula kepalanya sambil menjawab agak tergagap.
"Tapi peraturan......."
"Peraturan apa?' kembali Ko Thian-liok menghardik.
"kalau ada kejadian, biar aku yang bertanggung jawab"
Kemudian dengan memperberat nada suaranya ia berkata lagi.
"Selama masih ada aku disini, belum tiba giliranmu untuk mengambil keputusan, pergi, semuanya pergi dari hadapanku!"
Tergopoh gopoh Nyo Sin mengundurkan diri dari situ, apalagi Tan Piau. Kembali Ko Thian-liok berpaling ke arah Siang Huhoa, katanya.
"Saudara Siang, kau tidak perlu masuk penjara"
"Aku rasa lebih baik masuk saja"
"Aku rasa hal ini akan menyiksa dirimu"
"Saudara Ko, tampaknya kau merasa begitu yakin kalau persoalan ini sama sekali tidak ada kaitannya denganku"
"Aku percaya dugaan dan analisaku tidak bakal salah"
"Tapi, seperti apa yang dikatakan saudara Liong, orang yang paling mencurigakan saat ini hanyalah aku seorang, tersangka macam aku mana boleh tidak dijeblokkan ke dalam penjara?"
Kata Siang Hu-hoa tertawa. Melihat suara tertawanya begitu riang, tidak kuasa lagi Ko Thian-liok menghela napas panjang, katanya.
"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, seakan kau malah senang sekali dapat masuk penjara?"
"Sekarang aku memang merasa gembira"
"Selama menjadi pembesar hampir sepuluh tahun lamanya, baru pertama kali ini kujumpai ada orang malah senang karena akan dijebloskan ke dalam penjara"
"Orang bilang pengalaman itu penting bagi kehidupan manusia, selama ini aku belum punya pengalaman masuk bui, apa salahnya kalau menggunakan kesempatan ini aku menambah pengalamanku?"
"Baiklah, kalau memang itu maumu, aku pasti akan perintahkan mereka untuk melayanimu secara baik baik"
Kata Ko Thian-liok kemudian.
Siang Huhoa tertawa tergelak, tanpa banyak bicara lagi dia segera beranjak pergi dari situ.
--Bab 36.
Kuncup bunga Tho mulai mekar.
Ko Thian-liok segera menyusul ke samping Siang Huhoa, tanyanya kemudian.
"Saudara Siang berencana akan menggeledah tempat mana lagi?"
"Sekarang aku hanya butuh sebuah tempat yang tenang untuk beristirahat"
Tergerak hati Ko Thian-liok, buru-buru bisiknya.
"Apakah saudara Siang berhasil menemukan sesuatu titik terang?"
Siang Huhoa hanya termenung tanpa menjawab.
"Sebenarnya apa penemuanmu itu?"
Desak Ko Thian-liok lagi. Siang Huhoa termenung sesaat, setelah menghela napas katanya.
"Sekarang aku masih belum tahu bagaimana mesti menjawab pertanyaanmu itu"
"Kenapa bisa begitu?"
"Benar saat ini aku telah menemukan beberapa titik terang yang patut dilacak, tapi aku belum berhasil menyimpulkan apa-apa"
Sekali lagi Ko Thian-liok menatap sekejap ke arahnya, kemudian katanya sambil menghela napas.
"Kasus ini memang aneh, rumit dan penuh misteri, bisa menemukan berapa titik terang sudah merupakan sebuah prestasi yang luar biasa"
Setelah berhenti sejenak dan tertawa, kembali tambahnya.
"Kelihatannya kau memang benar benar membutuhkan sebuah tempat yang tenang untuk memikirkan kasus ini, kau perlu waktu untuk menyambung semua penemuan yang berhasil kau kumpulkan"
"Bukankah sel penjara merupakan tempat yang paling ideal?"
Bisik Siang Huhoa.
"Hahahaha..... kau memang pandai memilih tempat"
Siang Huhoa hanya tertawa tanpa menjawab, dia melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Sesudah keluar dari ruangan, Ko Thian-liok memanggil dengan suara keras.
"Tan Piau !"
"Tayjin ada perintah apa?"
"Kembalilah dulu ke kantor pengadilan, suruh berapa orang bersihkan sebuah sel yang paling baik kemudian perintahkan orang untuk siapkan sebuah kamar tamu untuk Liong kongcu"
Tan Piau menyahut dan siap berlalu, tiba-tiba Liong Giok-po mencegah.
"Aku rasa tidak usah siapkan kamar buat aku"
"Liong kongcu, untuk mempermudah pelayanan, lebih baik menginap saja dalam kantor pengadilan kami"
"Harta karun sudah dicuri orang, sekarang aku tidak punya apa apa, memangnya masih ada orang yang mengincar diriku sebagai sasaran?"
Setelah berkilat sepasang matanya dan tertawa dingin, lanjutnya.
"Ooh.... atau mungkin tayjin anggap aku pun termasuk kategori orang yang patut dicurigai, maka ada baiknya tetap tinggal di kantor pengadilan agar gampang diawasi?"
"Baiklah"
Ujar Ko Thian-liok kemudian dengan suara yang hambar.
"kalau toch Liong kongcu beranggapan begitu, kami pun tidak akan memaksa lagi"
"Benarkah begitu?"
Jengek Liong Giok-po lagi. Ko Thian-liok segan menggubris lagi ucapan orang itu, dia segera berpaling ke arah Tan Piau sambil ulapkan tangannya.
"Sana, cepat berangkat!"
Tan Piau menyahut dan segera beranjak pergi. Pada saat itulah Jui Gi melangkah maju ke depan seraya berseru.
"Tayjin......."
"Kau ada urusan?"
Tanya Ko Thian-liok seraya berpaling.
"Hamba tidak ada urusan lain, hanya ingin bertanya apakah tayjin masih ada pesan atau perintah lain?"
"Saat ini hanya ada satu hal yang perlu kau lakukan"
"Katakan saja tayjin apa perintahmu"
"Tolong hantar kami sampai di pintu gerbang"
"Oooh.. kalau soal ini tanpa diperintah pun akan hamba lakukan"
"Kecuali soal ini, untuk sementara waktu belum ada tugas untukmu, tapi kuanjurkan kepadamu ada baiknya selalu berada dalam perkampungan Ki po cay, sebab setiap saat aku akan memanggilmu untuk diinterogasi"
"Hamba hanya kadangkala berjalan-jalan diseputar tempat ini, sementara sisa waktu yang lain kebanyakan berada dalam perkampungan. Bila tayjin memang perintahkan begitu, baiklah, mulai sekarang hamba tidak akan meninggalkan rumah barang selangkah pun"
"Memang paling baik jika mau bekerja sama, bila kasus ini sudah terungkap, tentu saja kau boleh pergi lagi dengan bebas"
"Terima kasih tayjin!"
Sahut Jui Gi sambil beranjak pula meninggalkan ruangan.
Baru saja Siang Huhoa sekalian berjalan keluar dari halaman bagian dalam, mendadak mereka saksikan Tan Piau muncul lagi dari ujung kebun sebelah depan sana sambil berjalan menuju ke arah mereka.
Nyo Sin yang tajam matanya berteriak paling duluan.
"Lho, bukankah orang itu adalah Tan Piau?"
"Yaa benar, memang Tan Piau"
Sahut Ko Thian-liok.
"Mau apa dia balik lagi?"
Sambung Yau Kun keheranan.
"masa dia tidak tahu jalan untuk keluar dari sini?"
"Dia bukan tersesat"
Tiba-tiba Siang Huhoa menyela.
"Lalu......."
"Dia muncul bersama orang lain"
Kembali tukas Siang Huhoa.
Betul juga, di belakang Tan Piau mengikuti dua orang gadis, belum lagi orangnya berjaan mendekat, suara tertawanya sudah berderai.
Suara tertawa yang merdu merayu, enak dalam pendengaran.
Jui Gi merasa tidak asing dengan kedua orang gadis itu, apalagi Siang Huhoa, begitu menangkap suara tertawanya dia segera tahu siapa yang telah datang.
Mereka memang tidak lain adalah kedua orang pembantunya, Siau-sin dan Siau-tho.
......Ada urusan apa mereka menyusulnya sampai di perkampungan Ki po cay?
Dengan pandangan penuh tanda tanya Siang Huhoa mengawasi ke dua orang gadis itu, belum lagi dia menegur, dari kejauhan sana Siau-sin sudah berteriak sambil tertawa merdu.
"Cengcu, kami telah datang"
"Mereka sedang berbicara dengan siapa?"
Ko Thian-liok bertanya keheranan.
"Dengan diriku!"
Sahut Siang Huhoa.
"Siapa mereka berdua?"
"Dua orang sahabatku!"
"Yang dia maksudkan sebagai sahabat adalah komplotannya!"
Sindir Liong Giok-po dari samping.
Siang Huhoa sama sekali tidak meladeni sindiran itu, sepasang keningnya nampak berkerut kencang, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
Terdengar Liong Giok-po berkata lagi.
"Bukankah sejak awal sudah kukatakan, dia itu punya komplotan"
"Tapi mereka hanya dua orang gadis yang lemah lembut, dihembus angin saja sudah gontai"
Sela Nyo Sin. Liong Giok-po tertawa tergelak.
"Hahahaha..... perempua macam begitupun dibilang lemah? Kalau mereka tidak tahan ditiup angin, memangnya komandan tahan dengan tiupan angin?"
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Seru Nyo Sin sambil menarik muka.
"Mereka itu tidak lain adalah Heng kang It ok Li ong hong (Seonggok lebah ratu dari sungai besar), dua lebah yang amat beracun!"
Liong Giok-po menjelaskan.
"Tapi kelihatannya tidak mirip"
"Jika kurang percaya, apa salahnya jika kau jajal ilmu silat mereka"
"Soal ini......."
Sambil tertawa dingin Liong Giok-po melanjutkan.
"Mau menjajal sih gampang saja, cuma kau mesti berhatihati, kalau sampai tersengat sekali saja, nyawamu bisa melayang"
Mendengar perkataan itu diam-diam Nyo Sin bergidik, namun dia tidak mau unjuk kelemahan sendiri, dadanya malah dibusungkan. Terdengar Liong Giok-po berkata lagi.
"Pagutan ular bambu hijau, sengatan lebah batu termasuk racun yang jahat, tapi kalau dibilang mana yang paling beracun, hati perempuan lah yang paling mematikan"
Sekali lagi Nyo Sin bergidik sehabis mendengar perkataan itu. Melihat opas itu mulai merinding, Liong Giok-po segera menambahkan lagi.
"Mereka berdua selain perempuan, terkenal juga sebagai lebah batu yang sangat beracun, kuanjurkan kepadamu, bila tidak yakin bisa menangkan mereka berdua, lebih baik jangan sembarangan berkutik"
Nyo Sin benar benar tidak berani berkutik, malah dadanya yang sudah terlanjurkan dibusungkan pun pelan-pelan ditarik kembali.
"Sekarang bayangkan lagi"
Ujar Liong Giok-po lebih jauh.
"dengan bantuan dua orang komplotan macam begini, kirakira sanggupkah dia untuk memintahkan seluruh harta karun itu dari dalam ruang rahasia?"
Nyo Sin tidak menjawab karena ke dua orang gadis itu sudah tiba dihadapan mereka. Siang Huhoa menunggu hingga mereka berdua tiba dihadapannya baru menegur.
"Mau apa kalian berdua datang kemari?"
Siau-tho dan Siau-sin kelihatan tertegun, kemudian serunya bersama.
"Bukankah cengcu telah mengutus orang untuk mengabarkan kepada kami agar segera berangkat ke sini?"
"Tidak, tidak ada kejadian seperti ini"
Sahut Siang Huhoa tertegun pula. Liong Giok-po tertawa dingin, timbrungnya.
"Urusan sudah berkembang jadi begini, biar pun saudara Siang mau menyangkal atau memungkiri juga tidak ada gunanya"
Tidak menunggu Siang Huhoa membela diri, dia segera berpaling ke arah Siau-tho dan Siau-sin sambil bertanya.
"Sewaktu kirim orang untuk menyampaikan berita kepada kalian, apakah cengcu kalian juga beritahu disuruh membantu soal apa?"
"Katanya suruh membantu memindahkan barang, tapi tidak dijelaskan barang apa yang mau dipindahkan.......aaaah!"
Mula-mula dia tidak terlalu memperhatikan wajah si penanya, tapi setelah menyaksikan wajah Liong Giok-po yang menyeramkan dia jadi ketakutan hingga menjerit tertahan.
Saat itulah Siau-sin telah melihat jelas wajah Liong Giok-po, meski dia lebih bernyali tidak urung pucat pias juga selembar wajahnya.
"Makhluk macam apa kau ini?"
Tegurnya kemudian.
"Aku bukan makhluk apa apa, aku hanya seorang manusia"
Jawab Liong Giok-po cepat.
"Jadi kau bukan setan?"
"Bukan"
Sekarang Siau-sin baru bisa menghembuskan napas lega.
"Kelihatannya sekarang kau sudah tidak takut lagi kepadaku?"
Tegur Liong Giok-po kemudian setelah menyaksikan ke dua orang gadis itu menatapnya tajam.
"Tentu saja kami tidak perlu tidakut lagi"
Jawab Siau-tho cemberut.
"sebab kami tahu kalau kau cuma seorang manusia, kenapa kami mesti takut dengan manusia"
"Hahaha.....besar juga nyalimu!"
"Kalau tidak bernyali bagaimana cara kami mengembara dalam dunia persilatan?"
"Menurut apa yang kuketahui, kalian berdua adalah dua lebah beracun, betul bukan?"
Kata Liong Giok-po lagi.
"Jika sudah tahu lebih baik berhati-hatilah kalau bicara"
"Aku pun tahu, selain memiliki ilmu silat yang sangat hebat, kalian pun memiliki tenaga dalam yang luar biasa, khususnya nona Siau-tho, aku dengar kehebatanmu jauh melebihi kekuatan Bu Siong sewaktu membunuh harimau, khususnya peristiwa di bukit Tionglam san tempo dulu, dengan satu tendangan membuat buta seekor harimau hingga mencelat masuk ke dalam jurang"
"Oooh, rupanya kau pun mengetahui juga peristiwa ini"
"Aku mendengar dari cerita orang orang Tionglam san, mereka sering menceritakan kisah mu sebagai cerita kepahlawanan"
"Ooh, jadi kau pun berdiam diseputar gunung Tionglamsan?"
"Bukan"
Liong Giok-po menyeringai seram.
"jangankan tinggal diseputar sana, mendekati gunung Tionglam-san pun tidak pernah, hanya secara kebetulan saja sewaktu berjumpa denganmu, aku sedang jalan bersama seorang sahabat dari Tionglam-san"
"Siapa sih kau ini?"
Tanya Siau-tho tiba-tiba.
"Aku dari marga Liong bernama Giok-po, orang persilatan memanggilku Liong Sam-kongcu"
"Jadi kau adalah Liong sam-kongcu?"
Wajah Siau-tho tampak agak ragu.
"Aaah, rupanya wajah seseorang begitu penting bagi pandangan sementara orang"
Keluh Liong Giok-po sambil menghela napas.
"Mengapa wajahmu bisa berubah jadi begini rupa?"
Siautho mencoba bertanya.
"Kalau ingin tahu yang jelas, tanyakan saja kepada cengcu kalian, aku telah menerangkan segala sesuatunya secara jelas"
Setelah memperhatikan Siau-tho dan Siau-sin sekejap, lanjutnya sambil tertawa.
"Tidak dapat disangkal, kalian berdua memang merupakan pembantu handal bagi Siang Huhoa, sayang kedatangan kalian tidak pada waktunya sebab barang-barang itu sudah diangkut orang lain"
Dengan perasaan tidak habis mengerti Siau-tho dan Siausin berpaling ke arah Siang Huhoa. Siang Huhoa menghela napas panjang, katanya.
"Sebenarnya siapa yang menyampaikan pemberitahuan itu kepada kalian?"
"Orang dari penginapan"
"Berupa surat atau pesan?"
"Pesan!"
Jawab Siau-sin.
"Dan kalian percaya?"
"Tidak alasan bagi kami untuk tidak percaya"
"Oya?"
"Sebab orang itu memang orang dari rumah penginapan dan biasanya memang dia yang mengirim berita kepada kami"
Menurut dia, siapa yang menyuruhnya menyampaikan pesan tersebut?"
"Katanya dari cengcu"
"Aku?"
Siang Huhoa melengak.
"Benar"
Sambung Siau-tho pula.
"konon cengcu yang perintahkan dia secara langsung, bahkan memberi persen sepuluh tahil perak"
"Dia benar-benar pernah bertemu aku?"
"Jadi tidak?"
Siau-sin balik bertanya. Siang Huhoa mengangguk.
"Aneh"
Gumam Siau-sin lagi.
"dia sudah bertemu cengcu beberapa kali, masa bisa salah melihat orang?"
Siang Huhoa tidak berbicara lagi.
Dia tahu, sorot mata semua orang sedang tertuju kepada dirinya, sorot mata penuh curiga dan tanda tanya.
Dalam keadaan begini dia hanya bisa tertawa getir, selain tertawa getir dia memang tidak sanggup berbuat apa apa lagi.
Dalam pada itu Ko Thian-liok sudah berpaling lagi ke arah Tan Piau sambil serunya.
"Sekarang tamu sudah diantar kemari, berarti sudah tidak ada urusanmu disini, cepat pulang!"
"Baik!"
Sahut Tan Piau sambil beranjak pergi.
Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, dia sempat melemparkan sebuah pandangan penuh curiga ke arah Siang Huhoa.
Menyaksikan hal ini Siang Huhoa hanya bisa tertawa getir sambil mengeluh.
"Kelihatannya aku memang harus masuk penjara"
Liong Giok-po maupun Nyo Sin hanya tertawa dingin tiada hentinya.
"Cengcu........"
Dengan perasaan heran bercampur kaget Siau-sin dan Siau-tho serentak menoleh ke arah majikannya. Belum sempat mereka menanyakan sesuatu, Siang Huhoa sudah menukas duluan.
"Perkampungan Ki po cay telah kehilangan sejumlah harta karun, kebetulan tersangka yang paling mencurigakan adalah aku, sekarang kalian menyusul kemari, hal ini semakin memperberat tuduhan dan kecurigaan itu, rasanya masuk penjara memang tidak bisa dihindari lagi"
"Tapi cengcu sama sekali tidak mencuri harta karun itu"
Seru Siau-sin.
"Darimana kalian bisa tahu?"
Sela Nyo Sin cepat.
"Kalau cengcu yang mencuri harta karun itu, dia pasti akan mengakuinya"
"Hahahaha......"
Nyo Sin tertawa tergelak.
"sudah sekian tahun aku jadi opas, sudah beribu orang penyamun yang kutangkap, tidak satu pun diantara penyamun itu yang mau mengakui perbuatannya, Hmmm, mana ada perampok mengaku sebagai perampok?"
"Siapa sih namamu?"
Tegur Siau-sin sambil mengerling sekejap ke arahnya.
"Nyo Sin, komandan opas tempat ini"
"Ooh, aku masih mengira kau adalah Tu Siau-thian"
"Jadi kau kenal dengan Tu Siau-thian?"
"Tidak, tapi pernah mendengar namanya. Aku pun tahu opas paling hebat dan paling tersohor ditempat ini bernama Tu Siau-thian"
Kontan Nyo Sin mendengus dingin, hatinya sangat mendongkol. Terdengar Siau-sin berkata lebih jauh.
"Seandainya kau adalah Tu Siau-thian, dia pasti akan mempertimbangkan kembali keputusannya setelah mendengar penjelasan ku, sayang kau bukan dia"
"Memang patut disayangkan...."
Kembali Nyo Sin mendengus dingin.
"Apa yang kau sayangkan?"
"Sayang bukan cuma aku seorang yang mencurigai dirinya"
Siau-sin menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tegurnya.
"Apakah kalian semua mencurigai cengcu kami?"
Belum sempat orang lain menjawab, Nyo Sin telah menjawab duluan.
"Belum terlambat untuk mengetahui saat ini"
"Aku tahu, orang bodoh, orang blo'on memang banyak sekali jumlahnya"
Sindir Siau-sin sambil tertawa.
"Kau berani menghina petugas negara?"
Teriak Nyo Sin sewot.
"Berarti kau sudah mengaku kalau dirimu memang goblok dan blo'on?"
Siau-sin tertawa semakin keras. Kontan Nyo Sin terbungkam dalam seribu bahasa. Kembali Siau-sin berkata sambil tertawa.
"Kalau betul barang barang itu dicuri cengcu kami, apalagi diapun sudah mengakui perbuatannya, kenapa dia masih berdiri disini dan membiarkan kalian menggelandangnya masuk bui?"
"Masa kau tidak tahu kalau secara tiba-tiba dia pingin merasakan masuk bui?"
Dengan pandangan keheranan Siau-sin menoleh mengawasi wajah Siang Huhoa, lalu tanyanya perlahan.
"Benarkah apa yang dia katakan?"
Siang Huhoa mengangguk. Kontan Siau-sin tertawa getir.
"Aku dengar masuk bui itu tidak enak"
"Aku pun dengar begitu"
Sahut Siang Huhoa sambil tertawa.
"tapi Ko tayjin telah perintahkan bawahannya untuk membersihkan ruang sel, bahkan berjanji akan melayani aku secara baik"
"Aaah, benarkah begitu?"
Seru Siau-sin. --Bab 37. Bayangan teror muncul kembali.
"Kalau keadaannya semacam itu, kenapa aku mesti takut masuk bui"
Ujar Siang Huhoa lagi sambil tertawa. Siau-sin tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kami berdua adalah komplotanmu, apakah kami pun harus ikut masuk penjara?"
Tiba-tiba Siau-tho bertanya.
"Tentu saja harus masuk semua......."
Seru Nyo Sin tanpa sadar. Belum selesai dia berkata, Ko Thian-liok sudah menukas duluan.
"Hingga sekarang kita masih belum menemukan bukti apa pun, aku rasa bila saudara Siang enggan masuk bui, kau memang tidak perlu ke situ, apalagi ke dua orang nona ini"
"Ooh, rupanya kaulah Ko thayjin"
Sapa Siau-tho sambil berpaling ke arah pejabat itu.
"Benar"
"Dalam sekilas pandang saja aku sudah tahu kalau kau memang seorang pejabat yang baik"
Puji Siau-tho sambil tertawa. Ko Thian-liok jadi sangat kikuk dibuatnya. Kembali Siau-tho berkata sambil tertawa.
"Kamipun ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya masuk penjara, apakah tayjin mengijinkan kami berbuat begitu?"
"Bagus sekali kalau memang rela masuk penjara sendiri!"
Seru Nyo Sin cepat sebelum Ko Thian-liok sempat menjawab. Siau-tho sama sekali tidak menggubris ocehan pembesar itu, sorot matanya hanya tertuju ke wajah Ko Thian-liok seorang.
"Kalian ingin melayani cengcu?"
Tanya Ko Thian-liok kemudian. Siau-tho dan Siau-sin serentak mengangguk.
"Kalau soal itu mah tidak menjadi masalah, yang aku kuatirkan justru kalian tersiksa karena hal tersebut"
"Kami tidak tidakut"
"Aku rasa ada baiknya kalian bertanya dulu kepada cengcu kalian"
"Tidak usah ditanya lagi, cengcu pasti setuju........"
Tukas Siau-tho sambil tertawa. Belum selesai dia berkata, Siang Huhoa sudah memotong sambil tersenyum.
"Dugaanmu justru keliru"
"Cengcu......."
Seru Siau-tho dan Siau-sin serentak.
"Tidak usah banyak bicara lagi"
Tukas Siang Huhoa sambil beranjak pergi.
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 2
Baca Juga: Dendam Asmara 8