Eps 2 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung
Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.
Dipulaunya, aturannya keras, tak berani dia sembarang main gila, tidak demikian apabila dia berada diluar wilayahnya.
Dia menjadi bebas bebas, dialah si tukang menghina wanita.
Memang dia bertugas meronda dibagian luar, jadi ia sering meninggalkan pulaunya, menyeberang buat beberapa lama untuk mencari kesempatan memuaskan nafsunya.
Demikian juga ketika ia melihat Giok Peng, dia tertarik bukan main dan berniat mengganggu nona itu.
Dia sampai mengeluarkan iler.
Jilid 5
"Nona yang baik, aku Cut Tong Kay, aku kenal aturan,"
Kata dia mencoba bersikap sabar.
"Aku tahu kau tuan rumah dan aku tetamu, dan aku tahu pula pepatah yang berkata, tamu-tamu tak dapat memaksa, kau tuan rumahnya! Begitulah sekarang ini, aku suka mengalah didalam tiga jurus, tak akan aku membalas menyerang padamu tetapi jika dalam tiga jurus kau tak mampu mengalahkan aku, bagaimana?"
Giok Peng mendongkol dan gusar, tak sudi ia melayani bicara.
"Siapa mau mengalah dari kau sekalipun buat tiga jurus!"
Bentak si nona.
"Aku akan layani kau sampai seratus jurus ..."
Siong Kang menyela dengan tawa nyaring, bandering ditangannya diulapkan.
"Nona, jangan kau memandang enteng taliku ini!"
Katanya.
"Taliku ini sama dengan aku sendiri ialah sudah lama tersohornya! Mari aku bilangi kau secara terus terang! Taliku ini bernama Twle Hun Toat Beng So, artinya tali pengejar roh dan perampas nyawa! Taliku lebih hebat daripada Kwa Sian So, tali peranti meringkus dewa, dan selama sepuluh tahun entah berapa banyak orang kangouw kosen yang telah kuringkus bagaikan babi dan kambing untuk diseret ke Po Liong To dimana mereka dibunuh dan kulitnya dibeset mayatnyapun ludas! Hanya kalau orang sebagai kau yang begini cantik manis, aku Cut Tong Kay suka bermurah hati, takkan ku hukum mati kepadamu sebaliknya akan aku ambil kau sebagai ..."
Benci rasanya Giok Peng mendengar orang mengoceh makin lama makin tak keruan.
"Jahanam! selanya.
"Jahanam, hari ini kau mengakui kejahatanmu sudah meluap! Entah berapa banyak wanita yang telah menjadi korban kebiadabanmu! Kalau kau tak datang kemari, itulah untungmu, tetapi sekarang kau sudah mengantarkan jiwa, inilah kebetulan bagiku! Memang aku hendak membasmi manusia biadab semacammu! Akulah yang akan mengejar roh dan merampas jiwamu! Sudah, jangan banyak mulut kau.
"Lihat pedangku!"
Begitu ia mengakhiri kata-katanya itu, begitu Nona Pek maju ke garis "Bun"
Dari Patkwa menyimpang satu tindak untuk menginjak garis "Twee".
Itulah gerakan dari Khie Bun Patkwa Kiam untuk maju menyerang.
Inilah sebab Siong Kang kebetulan berdiri di garis "Kian Kiong".
Siong Kang mengawasi gerak gerik si nona.
Dia tak mengerti artinya tindakan maju itu.
Dia justru merasa sangat girang sebab dia menyangka hatinya si nona sudah berubah menjadi lunak.
Tanpa merasa dia berseru.
"Bagus nona!"
Baru saja seruan itu keluar atas pedangnya, Giok Peng seudah meluncur kemuka orang.
Tadinya pedang itu bersikap bukan menebas bukan menikam, membuat si pria mata keranjang tak dapat menerka-nerka.
Tahu-tahu dia sudah kaget.
Maka guna menyelamatkan dirinya, dia lompat berjumpalitan dengan jurus silat "Thie Poan Kio", jembatan papan besi.
Melihat orang lolos, Giok Peng menyerang pula dengan satu susulan cepat.
Ia mendadak ke Kian Kiong, pedangnya menikam kemuka orang, disaat orang itu berkepala di bawah berkaki di atas.
Segera terdengar satu suara nyaring, dari beradunya ujung pedang dengan benda keras!
Nona Pek terperanjat.
Tikamannya itu tepat, hanya tadinya kalau ia menyangka mengenai sasarannya, kiranya hampir menancap di batu bata!
Dan tengah ia keheran-heranan, ia mendengar tawanya si orang she Thio yang terus berkata.
"Aku berada disini menantikanmu!"
Dengan cepat Giok Peng kepalanya, Siong Kang berjongkok diatas meja tempat memasang dupa, banderingannya terlibat pada kuping hio louw, tempat abu.
Dia tampak gembira.
Diam-diam si nona terperanjat.
Benarbenar lawan itu lihai.
Siong Kang menepuk-nepuk meja sembari tertawa dia berkata.
"Nona, ilmu ringan tubuhmu benar mahir! Dan ilmu pedang juga tak dapat dicela! Nah, hayo kau menyerang pula. Tinggal satu jurus lagi! Bukankah aku menjanjikan tiga jurus padamu?"
Giok Peng tidak menjawab.
Ia sedang diganggu rasa herannya.
Ialah kenapa tidak ada pendeta yang muncul sedangkan ia sudah membunyikan genta berulang-ulang.
Apa mungkin semua pendeta sudah pergi keluar berikut Pek Cut Siauw dan In Gwa Siau, pamannya itu?
Kalau benar pastilah di luar kuil sudah terjadi sesuatu yang hebat.
Ia pula memikirkan Kiauw In.
Bagaimana dengan kakak itu?
Kemana perginya sang kakak?
Apakah kakak itupun tak menghadapi lawan yang lihai?
Karena pikirannya itu terganggu, ia jadi diam sambil mengawasi saja lawannya itu.
Siong Kang manatap tajam, ia mempuasi mata keranjangnya terhadap kecantikan nona di hadapannya itu.
Ia merasa orang makin dipandang menjadi makin cantik, hingga kembali liurnya meleleh keluar ....
Akhirnya Giok Peng sadar, hatinya pun panas sekali.
"Cut Tong Kauw!"
Bentaknya smabil menuding.
"Kaulah si ular naga yang biasa keluar dari sarangnya, kenapa kau tidak mau jantan nongol? Kalau aku lihat macammu sekarang ini kau justru mirip dengan Hok Au Coa, ulat yang mendekam diatas meja! Beranikah kau turun dari meja dan diam dekat padaku untuk melayani pedangku ini?"
Siong Kang tertawa lebar menjawab tantangan itu.
"Masih ada satu jurus!"
Katanya jumawa, bukannya dia menjawab, dia justru memperingati akan janji yang diberikannya.
"Kau tahu, kalau seorang budiman mengeluarkan perkataannya, empat ekor kuda tak dapat mengejarnya! Kau percaya aku, aku tidak mau menghina kau dengan melanggar janjiku!"
Giok Peng berlaku sabar.
Ia memang berniat menggunakan akal memancing orang melompat turun akan ia membarengi menyerang atau kalau ia gagal, hendak ia lompat keluar guna mencari siasat selanjutnya.
Siong Kang tidak tahu dirinya di akali.
Ia nongkrong terus diatas meja sembahyang itu.
Ketika ia mendapat kenyataan si nona tidak mau menyerangnya pula, baru ia membuka mulut lebar-lebar untuk tertawa.
Dengan sikap acuh tak acuh, ia berkata.
"Setelah kau selesai menyerangku tiga kali, barulah aku akan membalas menyerangmu! Kalau ada yang datang tetapi tidak dibalasi, itu namanya tidak kenal adat istiadat. Nona yang baik, benar atau tidak kata-kataku ini?"
Baru sekarang si nona mau melayani bicara.
"Katamu mau mengalah tiga jurus dari aku,"
Katanya.
"sudah dua jurus dan masih ada satu jurus sisanya yang penghabisan, tetapi kau berlaku licik? Kenapa kau main berkelit saja? Itu namanya bukan mengalah, hanya kau melindungi dirimu yang licin. Dengan caramu ini, jangan kata tiga jurus, tiga ratus juruspun tidak ada artinya!"
Nona Pek sudi melayani bicara karena ia pikir untuk memperlambat waktu, selama ia mengharap-harap kembalinya para pendeta yang ia sangka akan tiba tak lama lagi, siapa tahu jago dari pulau Naga Melengkung itu tak kena diakali.
Dia itu tak sudi turun, cuma matanya terus mengawasi.
"Hai, makhluk hina dina!"
Bentak Giok Peng kemudian.
"Masih kau tidak mau turun untuk kita bertempur terus?"
"Hmm!"
Siong Kang mendengus dingin, terus dia berlompat jungkir balik untuk meloloskan tali kaitannya dari kuping tempat abu yang besar, untuk lekas-lekas dia menyimpannya.
Setelah itu barulah dia menghunus pedangnya sambil dia berlompat turun guna bersiap siaga.
Nona Pek langsung melompat maju sambil menikam kerongkongan orang.
Siong Kang tertawa dingin, dengan pedangnya ia memberi perlawanan.
Dia menebas pedang orang dengan jurus "Garuda Mementang Sayap."
Karena ini kedua senjata beradu keras dan mengeluarkan letikan percikan seperti kembang api.
Dengan berbareng kedua pihak melompat mundur.
Dengan cepat tahulah mereka akan tenaga kekuatan masing-masing.
Hanya sebentar, Cut Tong Kauw segera membentak sambil dibarengi tubuhnya melompat maju untuk menikam si nona.
Dia incar jalan darah hiam kie di dadanya nona itu.
Itulah satu serangan ceriwis!
Setelah mengetahui tenaga lawan, Giok Peng tidak mau buat kedua kalinya mengadu tenaga pula.
Ia tertawa sambil melompat maju ke arah lawannya, iapun membacok ke arah lengan kiri lawan itu.
Itulah tikaman "Badai dan guntur".
Ia mencari jalan darah Pek Jie.
Siong Kang tertawa dingin.
Dia berkelit sambil memutar tubuh, pedangnya terus ditikamkan pula.
Kali ini dia menggunakan tipu "Menyibak Rumput Mencari Ular"
Dan pedangnya mencari sasaran jalan darah beng bun di punggung si nona.
Giok Peng terkejut juga.
Sambil mengegos tubuh, ia lompat ke samping, dari situ ia menyontek dengan pedang kemuka lawan, membikin lawan itu kaget dan lekas-lekas membela diri.
Melihat lagak orang itu, si nona tertawa.
Tapi ia tidak hanya tertawa, ia menyusuli dengan satu tikaman lain.
Kali ini ke dada, ke sasaran yang berupa jalan darah ciang tay.
Siong Kang pun terkejut.
Ia melihat bagaimana si nona selalu mencari jalan darahnya yang berbahaya, yang dapat membahayakan nyawanya.
Ia menjadi panas hati.
Segera ia membuat pembalasan.
Dua kalinya menikam saling susul bengis sekali.
Giok Peng menjadi repot dibuatnya.
Tak kurang cepatnya, ia menangkis ke kiri dan ke arah darimana tikaman-tikaman datang.
Ia mendapat kenyataan serangan si Naga Keluar dari Sarang mengancam sekali sinar putih dari pedangnya dia itu berkelabatan putih dan suara anginnya menghembus-hembus.
Maka ia berlaku tenang, ia melayani dengan jurus dari Kie Bun Patkwa Kiam.
Karena ini mereka berdua menjadi bergerak-gerak dengan cepat sekali.
Mereka berkelit dan berlompatan, mereka maju dan mundur silih berganti.
Tanpa merasa, saking cepatnya pertempuran sudah berlangsung dua puluh jurus.
Selama itu si nona merasai bagaimana musuhnya kuat dan alot.
Selama itu ia cuma mampu melayani, tak dapat ia mendesaknya.
Syukur ia cerdas dan bermata tajam.
Maka tak mau ia larut melayani keras dengan keras.
Segera ia menggunakan akal.
Ia menggunakan ketajaman lidahnya, akan mendamprat dan mengejek lawan itu, membuatnya panas hati dan gusar.
Akal ini memberikan hasil.
Hatinya Siong Kang panas bukan main, ia menyerang sengit sekali.
Ia telah menggunakan seluruh kepandaiannya akan merobohkan si nona.
Dalam murkanya, ia lupa halnya si nona cantik manis dan tadi ia hendak ganggu dan perkosa.
Sekarang ia menyerangnya sebagai musuh yang dibenci!
Dengan Kie Bun Patkwa Kiam, Giok Peng layani musuh yang tangguh dan telengas ini.
Dimana perlu ia menyingkir ke sekitar lawan, tak lagi ia mau melawan sama kerasnya.
Maka itu, kembali telah lewat dua puluh jurus.
Hingga selama empat puluh jurus, mereka masih sama tangguhnya.
Segera tampak Siong Kang tak lagi menyerang keras sebagai tadi-tadinya.
Gerakannya mulai lamban, seperti dua tangannya tak dapat mengimbangi hawa amarahnya.
Baru sekarang dia mengerti bahwa sebenarnya nona itu bukanlah sembarang lawan, sedang pada mulutnya dia memandang ringan dan hendak mempermainkannya.
Kiranya dia memang unggul disebabkan desakannya dengan talinya yang lihai itu.
Tapi dia masih tidak mau menyerah kalah, bahkan dia penasaran.
Dia toh belum dikalahkan, dia baru dibikin tak mampu merobohkan musuhnya.
Sekarang jago dari To Liong To mau menggunakan akalnya.
Dia main mundur saja.
Selang sembilan tindak, diam-diam dia merogoh kesakunya menyiapkan senjata rahasianya.
Dia menggunakan tangan kiri sebab tangan kanannya selalu menggunakan pedangnya guna melayani lawan, ternyata ia meggunakan Hui Hie Piauw, yaitu senjata rahasia Ikan Terbang.
Tiga kali beruntun dia menyerang si nona selagi nona itu tidak bersiap sedia.
Tapi itulah bukan senjata rahasia maut yang dapat mematikan, itu hanya tipuan belaka guna membuat lawan kaget dan repot.
Selagi menimpuk itu, selagi si nona terkejut, tangan kanannya berganti meraba ke pinggangnya dimana ada tersiapkan lain macam senjata rahasia, ia delapan belas biji Hui Seng Tan, peluru Bintang Terbang.
Asalkan alat rahasianya ditekan, peluru melesat saling susul menyerang musuh!
Giok Peng kaget dan repot.
Itulah senjata-senjata rahasia yang asing baginya.
Makanya ia menyampoknya, ketiga Hui Hie Piauw.
Yang hebat adalah delapan belas buah peluru itu, yang menyerang ke atas dan ke bawah, masing-masing sembilan biji.
Itulah tipu senjata rahasia yang dinamakan "Hujan Bunga Sejagat".
Untuk menyelamatkan diri, ia menggunakan kemahiran kegesitan dan kelincahan tubuhnya.
ia berkelit dan berlompatan ke segala arah hingga ia tampak mirip daun-daun yang berjatuhan.
Kalau ia berlompatan ke kiri dan kanan, ia lompat tak lebih dari tujuh kaki.
Itulah ilmu yang dinamakan "Tonggeret Bersedia di antara Daun Rontok."
Selekasnya delapan belas senjata habis dipakai menyerang, bebaslah Nona Pek dari ancaman bencana maut itu.
Tidak ada sebiji peluru juga yang mengenai tubuhnya.
Setiap peluru cuma mendekati ia tiga dim lalu terasampok menyasar.
Bukan main mendongkol dan gusarnya Cut Tong Kauw, tanpa mengatakan sesuatu ia menyerang pula.
Dia mengumbar hawa amarahnya.
Kali ini dia menyerang dengan senjata rahasianya yang ketiga ialah Cit Chao So In Nauw, panah tangan Tujuh Bintang Memecahkan Mega.
Diapun berbesar hati karena sebegitu jauh yang dia tahu setiap menyerang dengan senjata ini mesti-mesti dia berhasil.
Tiap batang panah tangan itu panjangnya tujuh dim batangnya, bagian yang tajam ujung ditancapkan empat batang jarum yang mampu menembus sekalipun orang yang tubuhnya kebal, menembus ke daging menancap ke tulang.
Saking halusnya, panah tangan itu sulit dikelit.
Tapi yang paling celaka adalah ujungnya setiap jarum pernah dicelupkan racun hingga asal mengenai darah, racun itu lantas bekerja, membuat orang binasa seketika!
Thio Siong Kang kosen, semua tiga senjata rahasianya itu jarang dia gunakan, lebih-lebih panah tangan itu.
Biasanya dia gunakan terhadap lawan yang tangguh.
Demikian kali ini sesudah kewalahan melayani si nona yang mulanya ia pandang ringan.
Begitu dalam amarahnya, dia menyerang Giok Peng.
Nona Pek selalu waspada.
Ia mendengar suara menghembus lalu melihat sinar-sinar halus berkelebatan ke arahnya.
Tanpa berayal lagi, ia memutar pedangnya maka itu berhasillah ia menyampok jarum dan runtuh ketujuh jarum maut itu!
Siong Kang melengak di dalam hati, hawa marahnya lantas meluap dan karenanya itu luar biasa ia menggunakan senjata rahasianya yang terakhir samasama lihainya, yaitu Hui Ciam yang istimewa.
"Panah dan Jarum". Makanya ia menyerang dengan ilmu silat, cara menyerangnya membuat panah itu menyerang ke lima sasaran empat penjuru dan tengah hingga mirip dengan bunga bwe lantas disusul dengan sembilan batang jarum, dari luarnya satu panah itu terbuat dari besi pula, cara menyerangnya sebanyak tiga kali. Setiap ujung panah beracun dan bagian cagaknya tajam sekali. Jika lima batang yang pertama gagal, menyusul sepuluh batang lainnya, kalau masih gagal pula menyusullah yang terakhir bahkan ini terdiri dua belas batang. Hingga semuanya berjumlah dua puluh tujuh batang panah beracun! Penyerangan yang kedua dan ketiga racun berubah arah lagi, sesuai cara menyerangnya! Kali ini Siong Kang percaya bahwa dia tidak akan gagal pula! Nona Pek berseru "Bagus!"
Ketika ia melihat musuh menghujani ia dengan anak panah istimewa itu, dengan lantas ia memutar pedang bagaikan kitiran hingga tubuh terlindung rapat sampai hujan dan angin tak dapat menembusinya, hanya terdengar suara anginnya dan terlihat sinar pedang berkilauan.
Suara lainnya adalah bunyinya ujung yang tajam bentrok dengan badan pedang dengan kesudahannya anak panah jatuh berserakan di lantai.
Si nona pun habis sabarnya sesudah ia diserang berulangulang itu maka ia hendak pembalasan tetapi justru ia mau menghampiri lawan, Siong Kang mendahuluinya kabur ke dalam pepohonan lebat di dekat situ, tatkala dia dikejar terus, dia pun kabur terus-terusan sampai akhirnya dia lenyap dari pandangan mata.
Hingga sia-sia belaka si nona mendaki puncak untuk melihat ke segala arah.
Sebenarnya Siong Kang menyingkir di tempat-tempat yang rapat dengan pepohonan, dengan cepat dia menuju ke kali Siong Yang Kee.
Di tengah jalan dia terkejut.
Tiba-tiba ia mendengar suara riuh dan berisik.
Lekas dia menengok ke belakang.
Maka tampak banyaknya api obor mendatangi dari puncak Ngo Leng Hong di arah kanan kuil Siauw Liem Sie.
Dia dapat menerka tentunya para pendeta lagi berjalan pulang, supaya dia tidak terlihat atau terpergok mereka itu, lekas-lekas dia lari pula ke tempat lebat dengan pohon, disini dia tetap lari terus mengikuti tepian rimba itu ....
Sebenarnya tempat lebat itu merupakan rimba-rimba kecil dan banyak tikungannya dan di setiap gundukan rimba ada hidup sebuah pohon tua yang umurnya di atas sertaus tahun yang dahan-dahan dan daunnya bagaikan mengelilingi langitlangit menambah gelapnya rimba.
Jangan kata malam, siangpun gelap dan orang disitu tak dapat membedakan empat penjuru, timur dan barat selatan dan utara!
Di dalam rimba itu mudah bagi orang terasasar.
Tidak demikian cabang atas dari luar lautan ini.
Sebabnya ialah dia sudah membuat persediaan, yaitu sejak satu bulan yang lalu dia sudah mendatangi puncak Ngo Leng Hong dan membuat sebuah gubuk di dalam dimana dia tinggal dengan menyamar sebagai seorang tukang cari kayu, untuk menjelajah rimba guna mengenali setiap bagiannya supaya jika ada kesempatan dia dapat mengintai kuil Siauw Liem Sie.
Dia pula berani bergaul dengan penduduk gunung disekitar itu, hingga dia bisa mendengar dari setiap penduduk andiakata ada gerak-geriknya kuil yang molos keluar.
Bahkan di waktu malampun, dia dapat mondar-mandir dengan bebas di dalam rimba itu.
Demikianlah kali ini menyingkir dari kuil.
Di dalam waktu yang pendek dia sudah tiba di kali Siauw Yang Kie, di tepi mana dia cepat melompat menaiki sebuah pohon kayu besar untuk mengambil satu buntalan besar untuk sambil membawa buntalan itu dia lompat turun pula.
Hanya kali ini segera dia mendengar pertanyaan dari luar rimba.
"Siapa di sana?"
Mendengar suara itu, Siong Kang terkejut.
Suara itu aneh datangnya, seperti dari tempat yang jauh tetapi tibanya, yaitu terdengarnya cepat sekali.
Suara itu mirip anak panah yang melesat datang.
Walaupun demikian dia berlaku tabah dan tenang.
Dia berdiam saja.
Tak mau dia menyahut.
Sebaliknya dia membuka buntalannya dan mengeluarkan sebuah barang setelah dia membukanya nyata itulah sepotong baju renang panjang lima dim lebar tiga dim, terbuatnya dari kulit lunak tapi kuat hingga tak mudah dirusak senjata tajam.
Itulah pakaian To Liong To yang memerlukannya sebab mereka berdiam di atas sebuah pulau dan setiap waktu harus bergerak di air, berenang atau menyelam.
Dengan cepat Siong Kang menggunakan baju mandinya itu, kemudian dari dalam bungkusannya dia menarik sepasang Ngo Bie Cie, yaitu senjata mirip kaitan yang diberi nama "Alis Angkasa".
Itulah senjata yang bisa dipakai di dalam air dan di dalam air itulah senjatanya pengganti pedang yang berat.
Seluruh kaitan terbuat dari besi, kuat dan ringan sebab besi bajanya tak besar.
"Siapa itu di dalam rimba?"
Terdengar pula tegur selagi si jago To Liong To berdandan itu.
Suara itu keras tetapi seperti suara seorang tua.
Dan pertanyaan terus diulangi beberapa kali sebab selain dia itu tidak memperolah jawaban.
Meski juga ia mendengar, Siong Kang bagaikan berpura tuli.
Tetap ia tidak menyahut balik, cuma dengan perlahan ia tertawa dingin.
Toh ia bersiap sedia, kaitannya dipentang, disiapkan guna menyambut musuh!
Teguran tidak terdengar lagi, sebagai gantinya ada suara kaki mendatangi.
Itulah suara yang disebabkan injakan kaki pada daun-daun kering bunyinya berserakan.
Sampai disitu dengan tetap waspada, Siong Kang mengeluarkan suara seperti babi.
Diluar rimba, tindakan kaki terdengar mendatangi makin dekat makin dekat.
Lagi terdengar suaranya seorang tua.
"Siapa di dalam rimba? Lekas keluar! Jangan kau main sembunyi saja!"
Kembali Siong Kang mengeluarkan suara mirip babi tadi.
"Suhu!"
Terdengar suara diluar, mirip anak muridnya, seorang wanita yang memanggil gurunya.
"Barangkali itu suaranya Binatang. Coba dengar!"
Di dalam hatinya, Siong Kang tertawa.
Ia menerka bahwa orang kena ia akali.
Karenanya, ia mengulangi suaranya itu, lebih nyaring lagi.
Sebab ia "berbunyi", kaitannya digoreskan kepada tanah, suaranya seperti babi lagi mencakar dengan kakinya.
Setelah suara kecil halus itu terdengar suara si tua tadi.
"Di waktu salju dan angin besar seperti ini, di waktu tengah malam gelap gulita, binatang liar juga tak berani keluar mencari makan! Muridku, kau berhati-hatilah!"
"Biar aku yang masuk melihatnya!"
Terdengar suara lain lagi.
"Jika benar binatang liar, akan aku bunuh dengan kay tao ku ini supaya penduduk sini bebas dari gangguannya!"
Siong Kang menerka di luar rimba ada tiga orang, satu tua, satu anak tanggung dan yang ketiga seorang pendeta.
Dia itu menyebut kay tao.
Ialah golok istimewa yang merupakan senjata dari kaum penganut agama Sang Buddha.
Si anak tanggung tentunya seorang kacung karena pendeta dan si orang tua pasti pendeta tua.
Ia memasuki tepian kali tanpa membuat suara, pikrinya "Sekarang kamu bertiga kepala-kepala gundul, kebetulan kamu datang, dasar kamu mau mengantarkan jiwa kamu!
Dengan begini kalau nanti aku pulang, dapat aku menangih jasa dari kakakku!"
Segera setelah mengambil keputusan, Siong Kang mengeluarkan pula suaranya hingga dua kali, setelah itu ia lompat ke tepi kali.
Memang benar ketiga orang itu pendeta semua.
Yang tua adalah Gouw Ceng, salah satu dari Siauw Liem Ngo Lo, lima Tetua Siauw Liem Sie, senjatanya ialah sebatang hong puansan, yang mirip sekop.
Dia mengajak Gouw Hong, adik seperguruannya dan si kacung pendeta Ceng Ceng.
Mereka datang dari puncak Ngo Leng Hong dan di sepanjang jalan terus melakukan pemeriksaan dan penggeledahan.
Pek Cut Siansu telah memerintahkan separuh muridnya pulang dan separuh lagi melakukan pemeriksaan umum dan untuk memeriksa di Siauw Yang Kee itu diperlukan lima enam puluh orang.
Gouw Ceng pernah terluka hingga ia merasa malu karenanya , karena itu ia ingin membasmi para penyerbunya itu, maka juga ia yang mengajukan diri meminta tugas ronda dan memeriksa itu.
Pek Cut menerima baik permintaan itu sebab ia tahu sebelah hilir Siauw Yang Kee menjadi jalan masuk sebelah kiri Siauw Liem Sie dan dialah itu perlu dijaga oleh seorang yang lihai, cuma ia memesan untuk Gouw Ceng barhati-hati, setiba fajar dia mesti lekas kembali.
Tugasnya akan diganti oleh orang lain.
Demikian bertiga mereka pergi ke Siauw Yang Kee dan mereka justru bertemu dengan si licik Thio Siong Kang.
Hanya itu mereka menyangka bahwa mereka benar bertemu dengan babi hutan hingga mereka sudah berlaku sembrono dan melanggar pantangan.
"Bertemu rimba jangan memasukinya". Beng Khong maju di muka. Gouw Ceng dan Ceng Ceng mengikuti dia. Dia menjadi heran. Dia cuma melihat kali, tiada manusia tiada binatang. Sambil menunju ke kali, dia kata.
"Barusan terang-terang aku melihat ada sesuatu yang muncul di permukaan air yang terus selam pula. Sekarang bayangannya pun lenyap ...."
Berkata begitu, pendeta ini berjalan.
Dia pun menuju ke sebelah kanan, di situ ada sebuah pohon cemara yang lebat bercampur pohon-pohon rotan dan rumput yang tinggi hingga siapa berjalan di situ dia bisa muncul dan lenyap disebabkan tinggi dan lebatnya rumput itu.
Melihat Beng Khong maju, Ceng Ceng menyusul, Gouw Ceng berusaha mencegah tetapi berdua mereka terus melangkah, terpaksa ia membiarkan mereka pergi.
Atas segera juga ia mendengar dua jeritan yang menyayatkan!
Ia menjadi kaget sekali, ia mengikuti jejak dari situ segera ia berlompat lari untuk mencari tahu suara siapa itu.
Hanya sebentar, pendeta ini telah tiba di tepian kali.
Di sana tak tampak Beng Khong dan Ceng Ceng, segala apa sunyi kecuali air sungai berombak bergoyang-goyang ....
Sambil memegangi senjatanya, Gouw Ceng berjongkok guna melihat pinggiran kali guna mencari tapak atau bekasbekas kedua kawannya itu.
Untuk terkejutnya, ia melihat tanda darah merah baru, di atas dahan sebuah pohon terdapat baju yang dikenalinya sebagai milik kacungnya Ceng Ceng, ia menjadi kaget pula.
Lantas ia lalu memasang mata di tepian itu guna menyusul atau atau mencari kedua kawannya itu.
Sepatutnya Ceng Ceng tak ia bawa bersama.
Baru pendeta ini lari belasan tombak jauhnya, mendadak ia mendengar suara air berbareng melihat munculnya kepala seseorang, malahan ia lantas kenali si kacung pendeta.
"Ceng Ceng!"
Ia memanggil.
"Ceng Ceng!"
Tidak ada jawaban, sebaliknya kepalanya Ceng Ceng itu mendadak selam tenggelam pula masuk ke dalam kali! Itulah aneh! Gouw Ceng menjadi curiga. Dia maju dua tindak sambil dia menegur.
"Penjahat siapa yang telah mencelakai muridku? Lekas muncul!"
Ia pun menghajar permukaan air.
Menyusul itu, tiba-tiba tampak munculnya kepala orang, ketika Gouw Ceng mengawasi, disamping kaget sekali, iapun mengeluh.
Itulah kepalanya Beng Khong, adik seperguruannya!
Bagaikan orang kalap, Gouw Ceng melompat ke air, senjatanya dipakai menyerang dengan hebat.
Ia pula berseru.
"Jahanam, akan aku adu jiwaku!"
Hajaran itu membuat air muncrat, hasilnya tidak ada.
Kepalanya Beng Khong terus tak muncul pula.
Tapi dilain saat, di muka air sejauh setombak lebih, timbullah dua kepala orang dengan berbareng kedua kepala itu bergoyang tak henti-hentinya.
Itu pula kepalanya Bneg Khong dan Ceng Ceng!
Dilihat dari gerak-geriknya itu, terang kedua kepala orang itu ada yang menggerak-geriknya, yakni dibuat main ....
Dalam gusarnya, Gouw Ceng seperti lupa segala apa.
Ia lantas bergerak menghampiri kedua kepala orang itu.
Karena air kali dalam, ia mesti berenang.
Ketika itu, air tak membeku.
Sebaliknya, air mengalir deras.
Itulah Thio Siong Kang, yang telah memancing Ceng Ceng dan Beng Khong yang telah ia dapat binasakan, sesudah mana lebih jauh mencoba memancing Gouw Ceng.
Ia ada bagaikan siluman air.
Ia dapat bergerak dengan leluasa di dalam kali.
Ia girang ketika ia mengetahui si pendeta sudah mencebur ke air apalagi ia selekasnya memperoleh kenyataan pendeta itu tak pandai berenang.
Kepalanya Ceng Ceng dan Beng Khong segera ditarik pula ditenggelamkan sebagai gantinya itu tangannya dia dipakai mencabut cagak atau kaitan Ngo Bie Cie yang ia selipkan di pinggangnya, dengan itu ia lantas menyerang.
Di dalam air, Gouw Ceng tidak dapat bergerak dengan bebas.
Ia menunggu di atas, di bawah kurang perhatian.
Justru itu, ia dapat merintangi kaitan yang satu, tidak lainnya.
Senjatanya Cut Tong Kauw memangnya tidak ampun lagi, paha kanannya kena tertikam hingga darahnya lantas bocoran dan lukanya nyeri.
Ia kaget dan merasa nyeri, dalam kagetnya, ia menyerang ke arah dimana ia rasa musuh berada.
Gerakannya itu cepat luar biasa.
Cut Tong Kauw tak dapat membela atau melindungi diri sepenuhnya, ujung senjata lawannya mengenai kemprolannya disebabkan gerakannya sedikit lambat.
Bukan main ia merasakan nyeri, ia lantas menyelam lari!
Habis menyerang itu, Gouw Ceng lekaslekas kembali ke darat.
Tak usah ia berdiam lama, di permukaan air ia tampak timbulnya pula Thio Siong Kang karena cabang atas dari luar lautan itu hendak membinasakan lawannya.
Ia muncul untuk terus menantang secara jumawa.
"Eh, darimana sih datangnya ini keledia kepala gundul dari Siauw Liem Sie? Kalau kau benar laki-laki sejati, mari turun ke kali!"
Baru sekarang Gouw Ceng melihat musuh curang itu, yang selalu main dalam air.
Dia mirip siluman air sebab yang tampak mukanya saja.
Di dalam air itu, dia seperti dapat berdiri tegak.
Itulah bukti dari lihainya ilmu berenangnya.
Ia mengerti kalau ia berkelahi di dalam air, sukar buat ia merebut kemenangan tetapi gusarnya bukan bukan main, sukar buat ia menahan sabar.
Maka itu ia lantas menjemput batu dan menyerang dengan timpukan.
Batu itu dapat digunakan dengan ilmu melemparkan "Panah Bulu Terbang bagaikan Belalang".
"Jahanam, jangan lari!"
Iapun membarengi berteriak.
"Bagus!"
Siong Kang berseru terus ia menyelam hingga tak tampak lagi.
Gouw Ceng putus asa hingga ia menarik nafas dalamdalam.
Sekarang ia ingat kepada luka di pahanya, yang darahnya masih mengucur maka dengan kedua jeriji tangannya, ia menekan pinggiran luka itu guna menahan keluarnya darah, sembari berbuat begitu ia menghadap ke arah barat sambil membaca mantra "Menghentikan Darah", menyusul itu ia menekan lukanya itu.
Maka di lain saat berhenti sudah keluarnya darah.
Itulah mantra warisannya Tatmo Couwsu.
Baru Gouw Ceng menghentikan darahnya, ia melihat Siong Kang muncul pula.
Kali ini jago luar lautan itu berkata nyaring.
"Pendeta gundul, aku tahu kau pasti tidak berani turun ke air! Karena itu tuan besarmu tak mau melayanimu lebih lama pula!"
Habis orang berkata itu, Gouw Ceng memburu ke tepian. Ia gusar sekali. Ia berkata sengit.
"Jahanam, sayang tadi aku tidak menghajar mampus padamu! Beranikah kau naik ke darat ini buat menempur aku tiga ratus jurus?"
Siong Kang tertawa lantang.
"Sampai ketemu pula di belakang hari!"
Kata dia mengejek.
"Akan tiba satu hari yang tuan besarmu akan mengantarkan kau pergi ke Barat! Ke Nirwana! Keledia gundul, kau ingat kata-kataku ini!"
Kata-kata yang memanaskan hati ini ditutup dengan orangnya menyelam, dari gerakan air masih terlihat bahwa dia berenang ke hilir hingga dia terbawa arus yang deras itu.
Gouw Ceng mengawasi dengan melongo terus ia menghela napas.
Ia tak berdaya sama sekali.
Mayat kedua kawannya pun tak dapat ia cari.
Sesudah menjublek sekian lama, baru ia pergi dengan tindakan berat dengan wajah lesu.
"Dasar aku yang kurang teliti!"
Ia menyesalkan dirinya sendiri.
"Kecewa Beng Khong dan Ceng Ceng, akulah yang seperti mengantarkan jiwanya. Mana aku ada muka untuk kembali ke kuil menemui ketua dan saudara-saudara lainnya? Tidak bisa lain, aku mesti cari mayatnya Beng Khong berdua, pulang ke kuil adalah soal lain ...."
Maka itu terus pendeta ini berjalan di tepian itu.
Tatkala itu angin sudah mulai berhenti menghembus dan ufuk timur mulai nampak sisanya, guram-guram terang pertanda tibanya sang fajar.
Terus Gouw Ceng berjalan sampai akhirnya ia tiba di sebuah tempat yang berada di aliran bawah sungai Siuaw Yang Kee.
Di sana terdapat banyak sawah yang menjadi miliknya kuil sampai sperti tak terlihat ujung perbatasannya.
Kebanyakan sawah itu diusahakan oleh para pendeta sendiri, yang lainnya digarap oleh penduduk kampung itu.
Di antaranya ada sawah yang sudah diubah menjadi kebun sayur.
Dengan berdiri diam, Gouw Ceng melihat ke sekitarnya, ia tidak mendapati siapa juga.
Ia mendongkol, iapun berduka.
Maka ia lantas duduk bersila di bawahnya sebuah pohon cemara pada mana menyandarkan tubuhnya.
Ia mengeluarkan sepatunya Ceng Ceng dan mengawasi itu berulang kali ia menghela napas sambil menggeleng-geleng kepala, ia bagaikan kelalap ke dalam pikiran kusutnya sampai ia tak tahu ada orang muncul dari belakang pohon, sampai orang itu menegurnya.
"Eh, barang apakah itu?"
Maka kagetlah ia, terus ia mencelat bangun untuk segera memutar tubuh.
Barulah hatinya tenang sesudah mengenali orang yang ialah Lauw In.
Di lain pihak dengan gugup, ia mencoba menyimpan sepatu ke dalam jubahnya!
Liauw In mencegah.
"Sute,"
Katanya.
"bukankah itu sebuah sepatu?"
"Sute"
Berarti adik seperguruan dan Gouw Ceng adalah sute-nya yang ke empat (si-sute).
"Bu ... bukan Toa-suheng ..."
Sahut adik seperguruan itu bingung dan gugup hingga suaranya tak lancar.
"Apakah Toa-suheng seorang diri saja?"
"Toa-suheng"
Adalah kakak seperguruan yang tertua. Kiauw In mengawasi. Ia melihat satu wajah yang pucatguram.
"Kau kenapakah, sute?"
Kakak itu tanya.
"Kau seperti hendak menyembunyikan sesuatu kepadaku? Sepatu siapakah itu? Aku minta janganlah kau membohong". Bukan main bingungnya pendeta itu, hatinya pepat. Tibatiba ia terjatuh duduk dengan sendirinya! Ia berdiam saja. Liauw In heran. Ia mendekati, akan menongkrong di depan adik seperguruan itu.
"Di sini cuma ada kita berdua, sute"
Katanya sabar.
"Kau mempunyai urusan apakah? Tak ada halangan untuk memberitahukan itu kepadaku"
Gouw Ceng Beng tidak lantas menjawab, hanya kali ini ia justru menarik keluar sepatu yang ia sembunyikan itu untuk dilemparkan, setelah mana ia menutupi mukanya dan membungkam.
Liauw In pergi menjemput sepatu itu untuk memeriksanya dengan seksama.
Selama itu ia pun berdiam saja, cuma hatinya yang bekerja menerka-nerka.
Selang sesaat dengan tangan bergemetar ia bawa sepatu itu ke mukanya Gouw Ceng untuk menanya dengan suara tak lancar.
"Bukankah ini sepatunya Ceng Ceng? Dia kena apakah?"
Untuk kesekian kalinya, adik seperguruan itu tetap membisu.
Liauw In penasaran, ia menanya dan menanya pula.
Ia mendesak.
Sampai itu waktu, baru Gouw Ceng mengangkat kepalanya untuk memandang kakak seperguruannya itu.
"Dia ... dia sudah ..."
Sahutnya sukar.
"Juga Beng ... Khong ...."
Liauw In terkejut sekali, hatinya menggetar. Ia menatap.
"Apakah mereka sudah mati?"
Tanyanya.
"Siapakah yang?"
Sekarang tak dapat adik seperguruan itu menutup mulut lebih lama maka ia tuturkanlah pengalamannya tadi sampai Ceng Ceng dan Beng Khong menyusul ke dalam rimba, ke tepi kali, dimana mereka itu cuma terlihat kepalanya sebagai mayat sedangkan Ceng Ceng ketinggalan sebelah sepatunya yang didapatkan di tempat yang ada darahnya.
Habis itu ia ceritakan "pertempurannya"
Dengan musuh di dalam air yang lihai itu yang telah pergi menghilang menyelam sambil menjanjikan akan bertemu pula nanti. Liauw In terkejut. Ia mencekal sute itu untuk mengangkatnya bangun.
"Sute! Inilah hebat!"
Katanya nyaring, hatinya tegang.
"Mari kita lekas pulang untuk mengabarkan kepada bapak ketua untuk kita mengambil keputusan! Peristiwa ini tidak boleh dibiarkan saja. Bahkan kita tidak dapat bertindak lambat!"
"Gouw Ceng tidak, hendak aku turun gunung,"
Katanya.
"Hendak aku mencari Thio Siong Kang, kepala bajingan itu guna menuntut balas buat adik Bneg Khong dan Ceng Ceng. Sebelum berhasil aku membalas dendam, aku sumpah tidak mau aku pulang ke kuil". Gusarnya Liauw In menjadi padam.
"Sute, kau benar,"
Berkata dia terus terang.
"Benar Beng Khong dan Ceng Ceng telah terbinasa tetapi mereka pasti terbinasa karena dicurangi, sebagaimana kau sendiri hampir celaka kena dibokong lawanmu. Dalam peristiwa ini, kau tak bersalah sama sekali. Buat apa kau meninggalkan kuil kita? Musuh kita itu pastilah salah seorang bajingan dari luar lautan, dari To Liong To. Dia dapat bersembunyi di sekitar kali ini, itulah berbahaya. Itu pula menandakan lihainya. Bukankah kita tidak pernah memergoki kita? Karena itu aku percaya, dia mestinay bukan baru malam ini saja tiba di sini. Sebab telah terbukti penjagaan kita kurang sempurna, selanjutnya kita mesti lebih waspada dan memperketatnya. Maka itu, perlu hal ini dilaporkan kepada ketua kita. Perihal urusan kita tiap tahun, untuk itu kita masih punya waktu satu bulan lebih. Sekarang inipun para undangan tengah terus mendatangi, kita harus menantikan mereka supaya dengan bantuan mereka itu dapat kita membasmi musuh kita. Kawan-kawan yang termasuk orang lain suka membantu kita, apapula kau seorang dari Ngo Lo. Jika kau pergi tanpa pamitan, bukan saja ketua kita bakal menyesalkan kau, tenaga kitapun menjadi berkurang. Maka itu sute, tak dapat kau pergi."
Gouw Ceng dapat dikasihh mengerti maka ia mengangguk-angguk. Lalu ia lantas menyimpan pula sepatunya Ceng Ceng dan berkata.
"Marilah kita pulang, sepatu ini aku akan jadikan barang bukti kalau bapak ketua dan saudara-saudara kita melihatnya pasti makin keras tekadnya buat menentang musuh dari luar lautan itu! Kau jangan kuatir, sute kau tak bakal dipersalahkan, kau akan dimaklumi."
Gouw Ceng berdiam maka Liauw In lantas pegang tangannya, ditarik buat diajak meninggalkan tempat itu. Dengan tangan yang satu ia sentuh bahunya adik seperguruannya itu.
"Jangan menyesal dan berduka sute,"
Kakak itu masih membujuk.
"Kau lihat cepat atau lambat sakit hati ini pasti bakal terbalaskan! Marilah!"
Dan mereka menuju pulang ke kuil.
Sekarang kita melihat dahulu Nona Cio Kiauw In seperginya dia dari Nona Pek Giok Peng.
Kalau Nona Pek menuju ke kiri, ia ke kanan dimana terdapat sebuah ruang diam, kamarkamar peranti bersemadhi yang bangunannya lebih besar daripada ruang lainnya di dalam kuil itu.
Inilah tempat yang diperuntukan para tamu.
Ketika itu ruang tersebut sangan sunyi, semua pintu sudah dirapatkan, rupanya orang telah pada beristirahat.
Tanpa ragu-ragu ia lompat naik ke atas genteng untuk melintasi ruang itu.
Dari atas wuwungan, ia melihat jauh ke sebelah depan hingga ia menyaksikan pelbagai tanjakan dan bukit-bukit kecil di sebelah bawahnya.
Ia juga melihat Ngo Leng Hong, lima puncak di arah barat itu.
Setelah mengawasi sekian lama, nona ini menjadi bimbang.
"Malam begini gelap dan puncak demikian,"
Demikain pikirnya.
"aku sebaliknya seorang diri, habis aku menuju ke arah mana?"
Lalu ia memikir sebaliknya.
Ia sudah keluar, tak dapat ia kembali.
Masih ia berpikir itu ketika ia mendengar suara genta nyaring dan berisik, suaranya seperti dekat seperti jauh.
Ia menerka kepada pertanda untuk berkumpulnya para pendeta.
Terkaan ini membuat hatinya tenang.
Bukankah pendeta itu berjumlah besar dan juga ada ahli-ahli silat kenamaan.
Tanpa itu, taruh kata musuh banyak, tak mudah mereka itu dapat menerobos masuk atau banyak tingkah.
Maka ia pikir baiklah ia pergi melakukan perondaan, umpamakan ia menemui musuh, harus ia hajar musuh itu supaya ia dapat membuat jasa dan nanti memperoleh muka terang!
Begitu keputusan itu diambil, begitu si nona melompat pergi.
Ia menjelajahi pelbagai bukit kecil yang berupa seperti tanjakan, terus sampai di kaki puncak Ngo Leng Hong.
Di sini ia berhenti sebentar, sekalian beristirahat, matanya memandang ke kaki puncak.
Ia mendapati rimba di antara mana lapat-lapat tampak beberapa gua.
Karena ini ia berlaku waspada.
Setelah beristirahat itu, Kiauw In lompat naik ke atas sebuah pohon tua, dari situ ia berlompatan terus.
Ia dapat bergerak dengan leluasa karena ia menggunakan ilmu ringan tubuh "Burung Wlaet Menembusi Tirai".
Ia bergerak maju ke kiri dan ke kanan, sampai ia berada di pinggang gunung dimana barulah ia lompat turun ke tanah untuk terus mengawasi ke bawah gunung ke segala penjuru.
Tempat dimana si nona berdiam ialah depannya sebuah gua besar yang tingginya dua tombak, yang mulutnya lebar bagaikan ikan lodan mulut mana madap nyamping.
Bergelantungan pada itu ada banyak stalaktit dan akar-akar rotan.
Ada juga terdengar suara menetes air.
Dari luar ada cahaya silau mencorong ke dalam membuat mata silau.
Dengan mencekal pedangnya, dengan tindakan perlahan Kiauw In berjalan memasuki gua itu.
Selekasnya si nona berada di dalam gua, segera ia merasakan tubuhnya hangat.
Hawa di situ sangat beda dengan hawa dingin di luar gua.
Karenanya mendadak saja ia merasa segar dan bersemangat.
Ia memejamkan mata sebentar lalu dipentangnya pula hingga ia dapat melihat denag terlebih tegas sedangkan telinganya segera mendengar suara plak plok perlahan tak hentinya.
Ia melihat banyak bayangan hitam berterbangan bolak-balik, di antara ada yang saban-saban membentur dinding dan jatuh karenanya.
Kiranya itulah kawanan kampret yang rupanya menjadi kaget karena datangnya orang dan lantas terbang berserabutan.
Lantas Nona Cio berpikir.
"Di sini ada banyak kampret, pasti di sinipun tidak ada orang. Baiklah aku keluar dahulu melihat di luaran". Maka iapun bertindak keluar. Lantaran ia mengawasi daerah Timur dimana tampak dua buah puncak di atas satu diantaranya terlihat ada banyak sekali sinar-sinar warna terang kehijau-hijauan mirip kunangkunang yang sedang terbang mondar-mandir dan turun naik. Mengawasi pemandangan itu, makin lama Kiauw In merasa makin aneh. Selagi begitu, ia mendengar dengungan genta dari kejauhan (itulah saat dimana Giok Peng menendang genta berulang-ulang). Ia tidak perhatikan itu, ia tidak menyangka jelek atau mencurigainya. Suara itu toh datang dari tempat yang jauh. Ia justru memusatkan perhatiannya kepada kunang-kunang itu, yang berterbangan tetapi tetap berkumpul, bergumulan di satu tempat. Ia menyesal karena ia terpisahnya terlalu jauh, tak dapat ia melihat lebih tegas. Untuk menghampirinya, iapun merasa sulit. Maka Kiauw In mengawasi saja sampai selang seketika ia mendapati sinar terang itu bagaikan berpindah turun dan cahayanya pun seperti berkelap-kelip. Seperti cahaya api yang sebentar hidup sebentar padam. Nampaknya seperti kunangkunang itu ada yang maju pergi.
"Ah, itu bukannya kunang-kunang!"
Tiba-tiba ia berkata, satu katanya itu keterlepasan.
"Di atas gunung tak sama dengan di kaki bukit, di atas gunung tidak ada tempat yang semak-semak, biasanya di tempat kering tak ada kumpulan kunang-kunang sebanyak itu. Itu juga tentu bukannya cahaya dari kawah. Habis cahaya apakah itu? Kalau itu api kunang-kunang yang terasampok angin, kenapa pindahnya turun ke bawah tak tertiup ke puncak yang lain? Itulah aneh! Ah, biarlah aku pergi ke sana melihat ...."
Setelah mengambil putusan ini, sukar atau tidak Nona Cio lantas bergerak ke arah api yang aneh itu.
Bagaikan sang kera, ia pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.
Sebab sulit untuk jalan atau berlari-lari di bawah tanah.
Tidak terlalu lama sampai sudah ia di puncak yang kedua.
Di sini baru ia mencari jalanan.
Ia mendapati sebuah jalan kecil yang berliku-liku maka ia lantas berlari-lari.
Karenanya, ia mesti lari berputaran.
Ia lari keras sekali.
Kali itu ia tiba di puncak yang ke empat hingga di depannya tampak puncak yang paling besar.
Ia senang melihat puncak itu.
Di puncak itu tampaknya terdapat lebih banyak gua.
Tanpa ragu ia maju terus.
Kalau perlu ia merayap naik dengan bantuannya akar-akar rotan.
Dengan sukar akhirnya ia toh tiba juga di atas puncak.
Di sini ia berdiri, memandang ke lain arah, ke bawah puncak.
Maka tampaklah di situ sebuah kali, lebar dan agaknya dalam.
Kali ini memisah puncak ini dengan puncak sebelah sana, puncak kelima.
Maka juga puncak itu dapat dipandang tetapi tak dapat segera disampai ....
Keras Nona Cio berpikir.
Bagaimana caranya untuk pergi ke seberang itu?
Biar bagaimana , iapun telah merasa letih.
Sambil separuh beristirahat itu, terus ia memandang ke sekitarnya.
Akhirnya setelah menghela napas dan bangun berdiri, ia bertindak ke sebuah gua kecil di depannya, memasukinya dan lantas duduk di atas sebuah batu besar.
Ia memejamkan mata seperti lagi bersemadhi, napasnyapun disalurkan dengan perlahan.
Di saat itu, sulit buat Kiauw In untuk menenangkan diri.
Pikirannya terasa kusut.
Ia meram dan melek dan meram pula.
Entah berapa lama ia sudah duduk diam saja seperti itu.
Lalu, tiba-tiba ia terperanjat.
"Kakak In?"
Demikian ia mendengar secara mendadak. Cepat ia membuka matanya. Untuk herannya, ia melihat Giok Peng di hadapannya.
"bagaimana?"
Tanyanya segera.
"Apakah kau menemukan musuh?"
Giok Peng sudah lantas menuturkan pengalamannya, bagaimana ia telah bertemu Thio Siong Kang si jago luar lautan yang lihai itu, yang kosen tetapi licik.
"Sia-sia belaka aku mengejar dan mencarinya."
Nona Pek menambahkan kemudian.
"Dia memiliki kepandaian ringan tubuh yang mengagumkan. Sia-sia saja aku mencarinya selama beberapa jam."
"Akupun tidak menemukan barang seorang musuh."
Kiauw In memberitahukan.
"Mungkin dia atau mereka sudah lari kabur. Adik Peng, Hauw Yau ditinggal lama, entah dia sudah mendusin atau belum. Mari kita lekas pulang!"
Berkata begitu Nona Cio segera berlompat bangun dan bertindak keluar.
Giok Peng pun ingat anaknya itu maka ia segera mengikut.
Sekeluarnya dari puncak ke empat, mereka itu menghadapi sebuah kali besar, kali tanah pegunungan yang airnya deras sekali, yang saban-saban menerjang batu-batu besar sehingga makin menerbitkan suara nyaring dan berisik, suara berisik mana diperbuat oleh suaranya sebuah curahan air tumpah yang tinggi.
Disitu kedua nona menghentikan tindakannya.
Mereka tidak melihat jalan yang dapat dilalui.
Kauw In menunjuk ke depan dan berkata kepada Giok Peng.
"Adik, lekas cari jalan. Lihat, fajar lagi mendatangi! Mungkin sampai tengah hari juga kita sukar sampai di kuil!"
Giok Peng berjalan sampai di tepian kali. Ia menoleh ke kiri dan kanan, yaitu ke hulu dan ke ke hilir. Sekian lama dia berdiam, tiba-tiba ia berkata.
"Aku ingat sekarang! Ini kan puncak ke empat? Maka puncak yang tadi kita lihat dari atas mesti puncak yang paling belakang. Mari kita kembali, dari sana baru kita dapat berjalan pulang."
Kauw In berpikir.
"Tadi, apakah kau melihat cahaya api yang berkelak-kelik?"
Tanyanya.
"Bukan melainkan cahaya api tapi api para pendeta"
Sahut Giok Peng.
"Jumlah mereka sedikitnya seratus orang lebih. Mereka itu mencari dan menggeledah di atas dan di kaki gunung dengan berpencaran."
"Benarkah itu?"
Kauw In menegasi. Awalnya dia heran.
"Ah"
Ia menambahkan.
"Kalau demikian, benar-benar kita mesti kembali!"
Lantas nona Cio mendahului bertindak hingga Giok Peng mesti mengikutinya.
Dengan banyak susah mereka tiba pula di puncak dan mulut gua tadi, dari sini, dari atas mereka dapat memandang ke bawah.
Masih mereka belum juga melihat jalanan.
Tiba-tiba Nona Cio menebas berulang-ulang kepada pohon cemara.
"Kenapa itu kakak?"
Tanya Giok Peng heran. Kauw In menuding ke arah kali.
"Kita harus menyebrangi kali, tetapi kita tidak dapat berenang"
Sahutnya.
"Maka kita mesti menebang pohon ini buat dijadikan batangnya sebagai perahu, mari kau membantu aku menebangnya!"
Tepat itu waktu dari dalam gua terdengar suara orang.
"Eh, hati-hati! Di luar gua ada orang!"
Giok Peng terkejut, serta merta ia menghunus pedangnya dan lompat mencelat ke mulut gua.
Kauw In pun melompat menyusul kawannya itu ketika dari salam gua tampak munculnya dua orang pendeta, yang segera dikenali Gouw Jin dan Gouw Gie adanya, tangan mereka membekal tongkat, tampang mereka tegang.
"Taysu, kami disini!"
Kauw In segera meneriaki.
"Kami hendak pulang tetapi kami belum berhasil mendapati jalannya."
Kedua pendeta melihat kedua nona, lekas-lekas mereka memberi hormat.
"Mari kami mengantarkan nona-nona pulang"
Kata Gouw Jin.
"Terima kasih"
Nona Cio mengucap. Gouw Jin mendahului memutar tubuh, buat kembali ke dalam gua, kedua nona mengikuti. Gouw Gie mengikuti paling belakang.
"Hati-hati!"
Terdengar suara Gouw Jin setelah mereka jalan selintasan.
Giok Peng mengawasi ke depan dimana terdapat dinding yang penuh akar rotan.
Disitu tampak sebuah liang besar, Gouw Jin membungkuk masuk ke dalam liang itu, yang merupakan sebuah pintu.
Gouw Jin maju akan membetot akar rotan tang menghadangnya.
Sekarang Giok Peng berdua melihat sebuah alat, yaitu sebuah pintu besi yang daunnya tergantung tinggi.
Selekasnya mereka masuk, daun pintu itu menggebrak jatuh dengan memperdengarkan suara nyaring berisik.Diamdiam kedua nona merasa aneh.
Lama mereka mengikuti si pendeta jalan di sebuah terowongan yang cuma muat satu orang.
Sekitarnya batu dan tingginya terowongan cuma tiga kaki sehingga orang harus membungkuk-bungkuk.
Terowongan pula gelap.
Mereka mesti jalan berbelok-belok beberapa kali sampai mereka mulai merasa hembusan angin lalu tampak sinar terang, pertanda datangnya fajar.
Di paling ujung itulah mulut terowongan itu berada.
Sekeluarnya dari mulut gua, Giok Peng berdua baru dapat melihat tegas-tegas.
Di depan mereka, puncak gunung bagaikan menembus ke langit.
Mega seperti menutupinya, di ufuk timur cahaya matahari masih lemah sekali.
Puncak yang tadi malam mereka lihat berada dekat sekali di depan mereka.
"Taysu, apakah ini puncak yang kelima?"
Kauw In tanya Gouw Jin.
"Ya"
Sahut pendeta itu mengangguk.
"Dari sini kita pulang, jalannya dekat sekali."
"Semula aku menyangka kami dapat pulang dengan jalan puncak pertama itu"
Kata Giok Peng.
Gouw Jin menggeleng kepala lalu dia menutur perihal jalanan di kelima puncak disitu.
Ada banyak jalanan, banyak juga yang buntu.
Tanah datar lebih banyak daripada guanya.
Kali tak dapat dilewati kalau airnya banjir, yaitu di musim hujan.
Di sebelah situ, ada pula gangguan halimun atau uap yang tebal.
Terowongan itu adalah buatan ketua mereka terdahulu.
Masih ada beberapa terowongan lain yang jarang dipakai.
Di akhirnya Gouw Jin memberi penjelasan bahwa tadi mereka tengah melakukan pemeriksaan ketika mereka melihat kedua nona itu maka juga mereka lantas menghampirinya.
Diamdiam kedua nona mentertawakan diri.
Lantaran tak kenal jalanan, mereka jadi tersesat.
Sekarang dengan dipimpIn Gouw Jin berdua, lekas sekali mereka kembali ke kuil.
Di pendopo Tay Hiong Po-tian, orang tengah berkumpul.
Disitu Pek Cut Taysu sebagai ketua duduk di kursi pertama, ditemani oleh Gouw Hian Tojin dari Butong Pay serta ke empat adik perguruannya sendiri.
Di sebelah kiri duduk Pat Pie Sin Kit bersama Ngay Eng Eng, Ang Siau Siangjin, Liauw Lo, Gouw To dan Gouw Hoat Taysu.
Melihat orang berkumpul dan tampangnya mereka itu, Kiauw In berdua menerka mesti telah terjadi sesuatu.
Lekas-lekas mereka maju mendekati buat memberi hormat pada Pek Cut semua setelah mana mereka mendampingi paman guru mereka, si pengemis sakti.
"Gouw Ceng, coba kau tuturkan pengalamanmu tadi malam bertemu dengan musuh,"
Berkata Pek Cut Taysu habis kedua nona menjalankan kehormatan.
Rupanya orang baru saja berkumpul.
Kiauw In berdua menoleh kepada Gouw Ceng yang paling dulu menghormati ketuanya, baru dia memberi hormat pada para tamu dan paman gurunya, setelah itu dia mulai menceritakan penuturannya yang jelas sekali.
"Tadinya aku tak niat pulang lagi,"
Ia tambahkan kemudian seraya mengasi tahu bagaimana Liauw In, yang menemukannya, membujuk dan memberi pengertian kepadanya kepada bahaya yang mengancam Siauw Liem Sie serta dunia rimba persilatan semuanya.
"Sekarang aku menerima salah, bersedia aku menerima hukuman dari bapak ketua."
Mengakhiri kata-katanya itu, Gouw Ceng menghampiri Pek Cut, untuk berdiri sambil tunduk di depan ketuanya itu, tampangnya sangat berduka.
"Aku sudah tahu"
Berkata ketua itu.
"Pergilah mundur dan beristirahat! Jangan kau bersusah hati. Beng Khong dan Ceng Ceng sembrono, mereka menerima bagiannya maka biarlah mereka nanti disambut oleh sang Buddha kita di Tanah Barat. Bagi kita, dunia kosong! Sekarang soalnya ialah musuh besar berada di depan kita dan keselamatan Siauw Liem Sie terancam, kita harus berdaya membebaskan diri. Lagi sekali aku beritahukan, jangan kau bersusah hati. Pergilah kau mundur!"
Jilid 6 Gouw Ceng tidak segera mengundurkan diri.
"Bapak Ketua,"
Katanya.
"Aku bersedia mengorbankan diri, tak nanti aku mundur walaupun ada ancaman berlaksa kematian!"
Pek Cut mengulapkan tangannya.
"Amidha Budha!"
Pujinya.
"Aku mengerti kau!"
Terus ia berpaling kepada Liauw In dan berkata.
"Liauw In, kau ajaklah dia pergi!"
Liauw In menurut, habis mengangguk, ia menghampiri Gouw Ceng untuk memegang.
"Sute kau harus dengar kata-kata bapak ketua."
Katanya.
"Mari beristirahat!"
Lalu adik seperguruannya itu ditarik, diajak kependopo belakang. Pek Cut menoleh kepada Go Hian Tojin kemudian berkata.
"Totiang, bukankah Thio Siong Kang itu salah seorang bajingan kepala dari pulau To Liong To? Apakah totiang pernah mendengar tentang mereka?"
Go Hian membalas hormat.
"Maaf, pendengaran pinto tentang dunia Kang Ouw sangat terbatas,"
Sahutnya.
"Memang dahulu pernah pinto mendengar perihal bajingan kepala dari pulau itu, bahwa mereka itu suka melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak halal, bahkan pernah ada beberapa orang rekan yang datang kepada pinto untuk mengajak pinto pergi menyerang mereka, katanya guna membantu rakyat dari gangguan mereka itu. Terpaksa pinto tolak ajakan itu sebab ketika itu pinto berpendapat partai kami tidak mencari urusan diluaran, kalau orang tidak mengganggu kami, kamipun tidak mau mengganggu orang. Karena itu pinto tidak tahu jelas perihal bajingan-bajingan itu."
Pek Cut tahu dari pihak Bu Tong Pay ini, ia tidak dapat mengharap keterangan jelas, kalau toh ia menanyakan Go Hian, itulah disebabkan sebagai tuan rumah tak boleh ia lupa menunjukkan penghargaan dan rasa hormatnya pada tetamunya itu, yang telah begitu memerlukan datang untuk membantu pihaknya.
Maka ia mengangguk dan berkata.
"Terima kasih totiang! Syukur bahwa totiangpun mengetahui bahwa mereka itu telah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak halal. Sebenarnya perbuatan itu sudah lama mereka kerjakan dan orang jauh dan dekat rata-rata pernah mendengarnya."
"Sayang malam tadi aku tidak bertemu sendiri dengan jahanam itu!"
Berkata Eng Eng sengit.
"Kalau sebaliknya, walau kepandaianku tidak berarti, hendak aku mencoba membekuknya."
"Ngay Tayhiap berbicara secara terus terang, senang aku mendengarnya!"
In Gwa Sian menimbrung.
Setelah itu muncullah dua orang pendeta muda, yang masing-masing membawa satu buntalan hitam serta sehelai atau tambang panjang terbuat entah dari rotan atau benda lainnya.
Mereka itu muncul dari depan dan masuknya secara tergopoh-gopoh, langsung mereka mendekati Gouw jin Taysu, salah satu dari Ngo Lo, kelima Tianglo.
Mereka memberi hormat, lantas mereka menyerahkan barang-barang yang dibawanya itu sambil mengucapkan kata-kata dengan perlahan.
Gouw Jin menyambut sambil mengangguk-ngangguk, lantas dia berbangkit dan membawa kedua rupa barang itu kehadapan Pek Cut untuk dipersembahkan, sambil memberi hormat, ia berkata.
"Harap bapak ketua ketahui bahwa Ceng Leng dan Beng Wan berdua sudah menerima perintah pergi kekaki Ngo Leng Hong dekat Siauw Yan Kie, dimana mereka membuat penyelidikan. Menurut penduduk sana, pada dua bulan yang lalu kampung mereka kedatangan seorang pria pertengahan, yang tinggal dengan membuat gubuk dikaki gunung dan Pekerjaannya setiap hari ialah mencari kayu buat dijual kepada penduduk kampung, bahwa kadang-kadang dia menanyakan penduduk tentang segala hal perihal kuil kita. Tadi malam orang itu nampak pulang entah apa sebabnya. Mendengar itu Ceng Leng bercuriga, maka ia pergi kegubuk orang itu dan memeriksanya. Ia cuma menemukan tali panjang ini, lainnya segala perabotan dapur saja. Beng Wan sebaliknya menemui bungkusan ini dibawah pohon cemara tua ditepi kali, tergeletak ditanah, terus dia membawanya pulang. Harap bapak ketua sudi memeriksanya."
Semua mata hadirin segera diarahkan kepada kedua barang itu. Pek Cut mengawasi sekian lama, lantas bungkusan itu ia serahkan pada Go Hian Tojin, untuk si imam melihatnya.
"Sungguh bungkusan yang besar."
Kata Imam dari Bu Tong Pay itu.
"Seorang manusiapun dapat dibungkus dengan ini!"
"Jahitannya bukan seperti jahitan biasa."
Pek Cut menambahkan, pendeta ini heran. In Gwa Sian menyambuti bungkusan itu untuk diteliti. Dia bermata tajam, lantas katanya.
"Menurut aku, bungkusan inipun bekas direndam dahulu dengan getahnya suatu pohon dan bekas dijemur kering hingga kain ini tidak nyerap air dan dapat dipakai sebagai pakaian menyelam. Kalau kalian tidak percaya, cobalah!"
Ngay Eng Eng turut memeriksa benda itu lalu dia menunjuki jempol tangannya.
"Saudara In benar!"
Katanya.
"Inilah pasti milik Thio Siong Kang sibajingan itu!" --Hal 09 S/D 16 hilang --menjadi jurus "Belibis Turun di Pasir"
Pedangnya menjadi meluncur kebahu kiri lawan.
Pedang itu bersinar berkilau.
Sia Hong terancam bahaya, untuk menyelamatkan diri ia berkelit sambil melompat jungkir balik dengan jurus "Ular Naga Berjumpalitan"
Toh ia terlambat juga, ia masih kalah cepat. Hanya untung baginya cuma bajunya yang terobekrobek! Dengan lompatan itu ia menyingkir sejauh dua tombak.
"Imam siluman, benar lihai pecut emasmu itu!"
Seng Ciang berseru.
Sia Hong mengeluarkan peluh dingin.
Meski selamat, ia sudah kalah, maka mukanya menjadi pucat pasi dan merah padam.
Ia malu dan penasaran.
Selagi saudara seperguruannya itu berdiri diam.
Hek Hong berlompatan maju sambil menunding dengan goloknya, golok Pun Tiat To.
Ia berseru.
"Siluman, benar lihai ilmu pedangmu! Mari pinto juga hendak belajar kenal denganmu!"
Menyusul itu ia menyerang membacok ke arah jalan darah hoa kay si lawan.
Seng Ciang melihat datangnya ancaman, ia menangkis dengan keras hingga senjata mereka bentrok dan bersuara nyaring.
Setelah itu ia membalas menikam iga kiri si imam.
Mau tidak mau Hek Hong mesti berloncatan mundur.
Balasan lawannya itu hebat sekali.
Sambil mundur itu, ia menghajar pedang guna memunahkan serangan itu.
Maka pedang dan golok beradu keras berisik dan percikan apinya bermuncratan.
Bentrokan itu hebat Hek Hong, goloknya hampir lepas dari tangannya dan jeriji tangannya hampir terpotong, walaupun demikian ia tidak mau berhenti sampai disitu.
Ia penasaran.
Ia merasa dirinya seperti sedang menunggang harimau hingga tak dapat ia berlompatan turun.
Sambil menggertak giginya dan menyerang pula, mulanya menusuk lalu mendak dan membabat lawan.
Seng Ciang menangkis tusukan itu, dilain pihak sambil menjejak tanah, dia lompat guna menyelamatkan kakinya, tapi selekasnya dia menaruh kakinya, dia balas membacok dari atas kebawah.
Tak berhasil dia mengenai lawan tapi pedangnya menghajar golok demikian telak dan keras, hingga golok dari tangan Hek Hong mental dan selagi lawan itu menjadi kaget dan bengong, dia berlompatan maju dengan susulan tikamannya!
Tanpa senjata dan sedang bingung sedang tangannyapun nyeri, maka Hek Hong tidak berdaya terhadap serangan kali ini.
Tak ampun lagi bahu kirinya kena tertikam hingga ia terluka, sambil menjerit robohlah tubuhnya.
Koaw Hong berlompat maju, dia kaget bercampur gusar.
Kaget buat saudara seperguruannya dan gusar terhadap lawan itu.
Sambil menunding dan berteriak.
"Kau berani melukai adik seperguruanku, Awas!"
Dan dia segera menghajar dengan Bu Hwe Pian, cambuk baja yang dinamakan "Ekor Harimau".
Itulah pukulan "Kacung Tay Sie Menindih Kepala".
Melihat senjata orang agaknya berat, Seng Ciang berlaku hati-hati.
Begitulah ia menghindar ke kiri darimana ia membarengi membabat ke kanan mencari bahu lawan.
Koaw Hong pun berkelit, habis berkelit ia menyerang pula, cambuknya dibabat untuk sekalian melibat tubuh musuh.
Seng Ciang mendak, dengan begitu cambuk lewat diatas kepalanya.
Sekali lagi ia membalas kembali kebahu lawannya itu.
Koaw Hong berkelit sambil berlompatan dengan penasaran, maka kembali iapun menyerang dengan menyabet kebawah.
Seng Ciang menjejak tanah melompat tinggi setombak lebih dan setelah ia mendarat ia telah terpisah tujuh delapan kaki dari lawannya.
Tapi ia disusuli si imam yang menyerangnya dengan jurus "Naga Hitam Keluar Dari Gua"
Sasarannya ialah jalan darah "heng han"
Dipunggung Seng Ciang.
Jago luar lautan mendengar suara aneh akibat bekerjanya cambuk, ia berkelit sambil mendak ke kanan darimana lagi-lagi ia membabat bahu lawannya.
Didalam delapan belas senjata, cambuk terhitung yang nomor tujuh dan dipelajarinya paling sulit, siapa pandai menggunakannya, dia akan jadi lihai sekali.
Koaw Hong cukup lihai tetapi dia kalah licin dari Seng Ciang, yang ilmu pedangnya baik sekali.
Maka juga didalam waktu tigapuluh jurus, jago luar lautan itu tetap lebih unggul.
Bahkan sehabis itu, perlahan-lahan, si Imam mulai terkurung sinar pedangnya.
Kalau dia melawan terus dapat susah dia.
Karenanya lantas ia menggunakan akal, mendadak ia menyabet kebawah dengan jurus "Angin Puyuh Menyapu Salju".
Dengan memaksakan diri Seng Ciang lompat mundur, atas mana Koaw Hong lompat ke kanannya.
Menampak demikian ia menerka si imam hendak menyerang dia dengan senjata rahasia, maka ia lantas memasang mata.
Sengaja ia menegur.
"Eh imam siluman, kita belum menang atau kalah, kenapa kau mau mundur?"
Lalu terus ia lompat menyusul pedangnya dilancarkan.
Benarlah terkaan jago luar lautan itu, saking terpaksa, Koaw Hong hendak menggunakan senjata rahasianya, cepat ia merogoh kesakunya dan menimpukkan dua batang jarum emas, mengarah kemuka dan dada.
Seng Ciang bermata tajam, dan lagi dia sudah bersiaga, maka itu ketika ia melihat bahu si imam bergerak, ia dapat menerka kemana arah serangannya.
Ia telah memasang mata, lantas ia menyerang.
Ia juga membekal senjata rahasia yang berupa paku dan dengan itulah ia menyambut jarum lawan.
Suara nyaring terdengar akibat bentrokan senjata rahasia yang dua-duanya lantas jatuh ketanah.
Menyusul itu Seng Ciang bertindak lebih jauh.
Tanpa ragu dan tanpa ayal.
Kalau tadi ia menimpuk dengan tangan kanan, sekarang ia menimpuk pula dengan tangan kiri.
Kalau tadi ia menggunakan paku, sekarang senjata rahasia yang dinamakan Thie Lian Cie atau teratai besi.
Dan teratai yang pertama meluncur ke belakang kepala si imam.
Koaw Hong kaget bukan main, ia mendengar bunyi senjata beradu, ia tahu bahwa penyerangan gelapnya sudah gagal, maka dalam hati ia berseru.
"Celaka!"
Dan belum sempat ia berdaya telinganya sudah mendengar sambaran angin di belakangnya, dengan cepat ia tunduk sambil mendak sedikit.
Dengan begitu senjata rahasia itu lewat diatas kepalanya.
Tetapi itu belum semua.
Seng Ciang menyerang dengan menggunakan tipu daya.
Serangannya kebatok kepala cuma akal belaka guna memancing kelengahan lawan.
Selekasnya timpukannya yang pertama itu segera menyusul yang kedua, lalu menyusul yang ketiga.
Dua yang belakangan ini dengan kecepatan luar biasa dan arah tujuannya berlainan.
Kaow hong sudah lantas menjerit.
Tak berdaya ia waktu teratai yang kedua menancap di jalan darah co in dibetisnya bagian belakang kaki kanannya, sambil menjerit "Aduh!"
Tubuhnyapun roboh.
Dia merasa nyeri dan kaki kanannya itu lantas menjadi kaku.
Untung baginya, teratai yang ketiga lolos karena ia keburu roboh.
Menyusul robohnya si imam, muncullah Ngay Eng Eng yang lantas menghadapi Seng Ciang guna menghadang andiakata jago luar lautan itu hendak merampas jiwa lawannya.
Ngay Eng Eng datang dengan meluncur dari tempat yang tinggi.
"Hm!"
Eng Eng mengasih dengar ejekannya.
"Kalian gagah sekali sehingga dapat merobohkan beberapa bapak imam! Tapi kalian jangan berpuas diri dahulu! Aku Ngay Eng Eng dengan tanganku yang berdarah daging ini, hendak aku melayani kalian. Aku hendak melampiaskan penasarannya bapak-bapak ini...!"
Belum berhenti suaranya, Lie Seng sudah menikam padanya.
Dengan hanya satu kali bergerak, maka Eng Eng sudah berkelit hingga segera berada di belakang penyerang yaitu Lie Seng, si Ular Naga Mendekam, lantas ia membalas menyerang dengan kedua belah tangannya dengan menggunakan ilmu silat "Tangan Membalik Mega".
Sasarannya ialah kedua bahu lawan.
Lie Seng terkejut tetapi dia sanggup menyelamatkan diri.
Sambil mendak sedikit dia menjejak tanah, berkelit dengan melompat sejauh tiga tombak.
Melihat orang menyingkir begitu jauh, Eng Eng tertawa.
"Manusia jahat, jika kau bernyali, mari maju pula!"
Tantangnya.
Lalu bukannya ia berdiam menanti orang menghampirinya, ia justru melompat ke kiri untuk lari mendekati tanjakan!
Lie Seng menjadi sangat gusar, sambil membentak ia lari mengejar.
Jago tua itu sengaja hendak mempermainkannya, ia tidak segera melayani melainkan hanya lari berputaran seperti lagi main petak, kemudian barulah ia lari mendaki menuju puncak.
Ketika itu ia menoleh ke belakang, ia melihat si Ular Naga Mendekam masih terus menyusulnya dan ketinggalan tak jauh darinya.
Dengan lekas jago dari luar lautan itu dapat menyusul dan dengan sengit dia lantas menikam untuk itu dia sampai berlompat.
Eng Eng masih tidak hendak menyambuti, ia hanya berkelit.
Karenanya ia jadi telah memberi kesempatan buat lawannya itu kembali menikam!
Masih jago tua itu tidak mau melawan, dan hanya berkelit menghindar.
Kali ini dia lari terus mendaki bukit dan barulah diatas bukit itu ia berdiri menanti.
Lie Seng menyusul terus, kedatangannya dibarengi dengan tusukan, karena dia semakin gusar maka serangannyapun makin hebat.
Pedangnya itu selain berkilau kehijau-hijauan anginnyapun terdengar tajam.
Eng Eng menduga senjata lawan adalah senjata mestika maka tak mau ia memandang enteng.
Sebaliknya ia mengerahkan tenaga dalam ditangannya, setelah berkelit ia melayani bertempur sambil berlompatan mundur dan kesisi kanan berlompatan tinggi.
Dengan tangannya ia bersilat dengan ilmu silat Kim Na Kong yang istimewa untuk menangkap senjata atau serangan lawan.
Ia sudah berusia lanjut tetapi ia dapat bergerak dengan gesit sehingga ia seperti sedang bermain diantara kilauan pedang.
Sudah lama sekali Ngay Eng Eng tidak menggunakan senjata tajam.
Kalau bertempur ia selalu menggunakan sepasang tangannya.
Demikian pula kali ini, tak peduli pedang si Ular Naga Mendekam menyerang dengan luar biasa, ia selalu dapat melayani dengan mudah sekali.
Dengan cepat dua puluh jurus telah berlalu, seperti semula tadi tetap mereka tak ada yang kalah atau menang.
Sebaliknya Lie Seng semakin penasaran, ia menggunakan seluruh kepandaiannya sebab niatnya adalah merobohkan musuh.
Sementara lawannya tetap melayani dengan tenang seperti semula.
Maka sepuluh jurus lagi telah dilewatkan.
Tengah mereka bertempur bagaikan main-main itu, mendadak Eng Eng mementang kedua tangannya, terus tubuhnya mencelat sejauh tiga tombak, sebab ia menggunakan ilmu silat lompat tinggi dan jauh "Elang Menyerbu Langit".
Ia menyingkir kesebelah kanan.
Lie Seng membentak nyaring, tubuhnya membarengi berlompat juga menyusul.
Dia seperti tidak mau memberi kesempatan.
Kali ini Eng Eng lari terus terusan, sampai melewati empat puncak.
Dipuncak yang ke empat ini ia tiba disebuah pohon yang besar dan tua, yang tinggi dan banyak dahan-dahannya sedang daunnya berupa mirip payung.
Disitu ia berhenti dan mengawasi lawannya sambil tersenyum.
Lie Seng mengejar terus tapi sekarang dia telah bermandi peluh dan napasnyapun tersengal sengal, cuma semangatnya yang tak kunjung padam, tapi dia masih menuruti suara hatinya, yaitu marah.
Selekasnya dia datang mendekat maka tak ampun lagi dia menikam lawannya itu!
Dengan tangan kosong, Eng Eng tidak mau menyambuti pedang.
Buat kesekian kalinya ia berkelit luar biasa gesit, tahu-tahu ia sudah berada di belakang penyerangnya.
Dengan sama hebatnya ia menyerang dengan kedua tangannya.
Ia menggunakan jurus Melintang Menghajar Dahan Emas, walaupun demikian ia menggunakan tenaga lima bagian.
Lie Seng lihai, masih dapat ia menyelamatkan diri dengan lompat ke depan sejauh dua tombak.
Cuma iganya tersentuh sedikit, sedang maksud lawannya adalah membuatnya roboh pingsan disebabkan tulang-tulangnya pada patah.
Panas si jago dari luar lautan, setelah menaruh kaki, dia memutar tubuh buat maju menghampiri lantas menikam pula, hebat niatnya untuk membalas lawannya.
Heran juga Eng Eng, biasanya jarang ia gagal dengan serangan semacam itu.
Hajarannya itu mampu menciderai orang yang kebal sekalipun, namun Lie Seng malah masih mampu menyerangnya.
Tapi ia tak gentar.
Ia menanti, segera setelah ujung pedang hampir sampai, ia berkelit ke kiri hingga ia jadi berada disebelah kanan lawannya.
Disini ia lantas menyerang.
Tentu sekali sekarang ia tambah tenaganya hingga menjadi tujuh bagian.
Kali ini Lie Seng tidak lolos seperti tadi, punggungnya telah terhajar telak, maka tubuhnya tersuruk ke depan sejauh satu tombak.
Tapi dia kuat sekali, dia tak roboh mencium tanah, bahkan dia lekas-lekas memperbaiki diri.
Maka itu kembali dia dapat maju pula guna melakukan serangan balasan.
Dia menggunakan ilmu pedang "Dengan Obor Membakar Langit".
Kembali Eng Eng menjadi heran.
Ia heran atas kekebalan dan ketangguhan lawannya itu.
Orang telah mengeluarkan banyak sekali tenaga dan barusan telah kena terhajar walaupun cuma tersentuh iganya lalu terhajar punggungnya.
Kenapa dia dapat bertahan sedemikian rupa?
Tak usah lama jago tua itu berpikir, lantas ia ingat sesuatu, hingga ia bagaikan orang yang baru sadar dari tidurnya.
Itulah sebabnya kenapa tubuh lawan terasa seperti lunak-lunak keras atau lembek kokoh, hingga hajarannya tak mengenai secara hebat.
Maka itu, mungkin orang itu mengenakan lapisan atau pelindung yang istimewa ditubuhnya.
Entah....
"Orang licin!"
Pikirnya.
Lalu, melihat sebuah pohon Pek disebelah kanannya, ia mendapat akal.
Dengan segera ia menjejak tanah dan lompat naik keatas pohon itu.
Berdiri satu kaki dengan sikap "Ayam Emas Berdiri Dengan Satu Kaki"
Melihat sikap orang itu, Lie Seng gusar sekali. Dia membentak lantas melompat naik guna menyusul dan langsung menyerang tanpa ampun lagi dengan tikaman "Naga Hijau Masuk Kelaut"
Mengarah ke dada lawannya.
Memang niatnya Eng Eng dengan aksinya itu adalah untuk merampas pedang lawan.
Ia bersikap tenang, ketika ia ditikam itu, ia menanti sampai orang hampir mendapat hasil, mendadak ia berpura-pura terpeleset hingga tubuhnya terguling dari dahan dimana ia menaruh sebelah kakinya.
Ia mengait dengan kakinya hingga tubuhnya bergelantungan bagaikan orang bermain ayunan.
Dengan cepat tangan kanannya menyambar dahan itu untuk dipegang erat-erat buat bertahan hingga tubuhnya tak jatuh kebawah, menyusul kemudian sebelah kakinya menendang lengan lawan, lengan yang dipakai menikam.
"Aduh!"
Lie Seng menjerit, kaget dan nyeri.
Cekalannya sudah lantas terlepas hingga pedangnya jatuh ketanah.
Saking nyerinya dia mesti memegangi lengannya itu.
Karena ini dia menjadi jeri dan terpaksa lompat turun dari pohon untuk terus lari dan kabur!
Eng Eng tidak mau mengerti.
Ia tak sudi membiarkan lawan lolos, begitu melihat orang lari, ia lompat turun terus mengejar.
Ia memang dapat lari lebih cepat, sebentar saja ia sudah berhasil menyusul.
Maka bergeraklah ia bagaikan elang.
Kedua tangannya dipentang menyambar ke iga lawan.
Lie Seng tahu datangnya ancaman itu, namun tangannya tak berdaya sehingga ia menjadi kuatir, tapi ia masih memiliki tangan kiri.
Sambil mendak untuk berkelit dari sambaran, ia memutar tubuhnya lalu cepat dengan tangan kirinya itu ia menyerang keperut musuh.
Ia menggunakan pukulan "Tangan Pasir Besi"
Yang lihai dan mengarah perut musuh.
Ia bersedia mati bersama...
Eng Eng tidak menjadi bingung, sebaliknya ia mendahului.
Dengan sebelah tangannya dan dengan ujung lengan bajunya ia menyampok muka lawan.
Si Ular Naga Mendekam kaget sekali.
Tak dapat ia berkelit atau menangkis.
Tapi hebat kebutan itu, walaupun cuma ujung baju.
Ia merasai mukanya nyeri sekali seperti terasampok lembaran besi.
Kali ini tak ampun lagi, ia berteriak kesakitan lantas terjengkang dan roboh pingsan!
Sementara itu Mie A Lun sudah menyusul hingga ia sempat menyaksikan robohnya saudara angkatnya itu, guna menolong saudaranya yang ia kuatir dibunuh musuh, ia menyerang musuh dengan satu ayunan tangan dan meluncurlah senjata rahasianya, sebatang kongpiauw disusul oleh dua yang lain.
Senjata itu melesat dengan mengeluarkan suara yang tajam.
Eng Eng tahu datangnya serangan itu, dengan tabah ia mengebut berulang-ulang membuat ketiga senjata rahasia itu berjatuhan ketanah.
Mie A Lun terperanjat saking herannya atas kelihaian lawannya.
Ia menjadi penasaran sekali, maka ia menyerang pula sekarang dengan lebih gencar, ia menyerang keatas tiga kebawah empat.
Maka tujuh buah sinar terang meluncur ke arah lawannya.
Eng Eng mengenali senjata rahasia itu ialah semacam panah tangan yang bukan terbuat dari besi atau emas, melainkan terbuat dari akar kayu pinang yang dilengkapi dengan baja dan seluruhnya sudah direndam dalam air beracun juga ditambahi dengan sebuah per hingga bisa melesat dengan cepat sampai sejauh tujuh delapan tombak dan setiap pipanya memuat tujuh batang.
Kembali ia menunjukkan kegesitan dan kelihaiannya.
Sambil melompat ia mengebut setiap panah tangan itu sehingga berjatuhan ketanah dan ia terbebaslah ia dari ancaman maut.
Panas hatinya Mie A Lun melihat senjata rahasianya gagal, sambil berseru ia maju menyerang dengan tangan kirinya untuk menggertak sementara kepalan kanannya meninju hebat kedada.
Eng Eng berkelit ke kiri, tangan kirinya membacok lengan penyerangnya itu.
Ia bukan membacok dengan senjata tajam, melainkan dengan pergelangan telapak tangannya.
Itulah bacokan yang dinamakan "Menyambut Palang Pintu Besi"
A Lun gesit, dapat ia menggeser lengannya itu.
Ia gagal menyerang tapi lengannyapun selamat.
Tapi Eng Eng berlaku cepat sekali, ia menyerang pula dengan kedua tangannya mencari sepasang mata lawannya.
Serangan mana membuat lawannya berkelit sambil memutar tubuh, hingga ia berada disisi kiri, maka ia lalu meluncurkan tangannya ke iga jago tua itu.
Itulah serangan "Tawon Galak Masuk Kesarang"
Eng Eng berkelit, tangan kirinya menolak, demikianlah mereka saling serang.
Kiranya Mie A Lun menggunakan ilmu silat "Naga Berenang".
Maka itu ia dapat bersilat pesat kedelapan penjuru hingga ia tampak mirip bayangan saja.
Tapi Eng Eng bukan sembarang lawan.
Jago tua ini dapat menandingi kegesitan jago dari luar lautan itu.
Dengan demikian mereka telah bertempur lebih dari tiga puluh jurus.
A Lun penasaran sekali, sebab ia tak mampu mengalahkan lawannya, mendadak ia lari berputaran, lalu lompat keluar lapangan untuk memasang kuda-kudanya.
Selekasnya ia mengerahkan tenaganya ditangan kanan, tiba-tiba ia menyerang sambil berseru nyaring.
Ia menggunakan pukulan "Harimau Hitam Mencengkeram Hati"
Eng Eng dapat mengegos tubuh dari pukulan dahsyat itu.
Ia menjadi gusar hingga kumis dan janggutnya bangun berdiri seperti duri landak.
Disaat serangan lewat ia berlompatan merangsek untuk balas menghajar.
Ia bukan memukul atau menusuk hanya menjambret kedua bahu lawannya itu guna mencengkeram tulang-tulangnya buat ditarik dengan kuat dan keras.
Sebab ia menggunakan jurus silat "Cakar Elang".
Kalau ia berhasil maka patah dan rusaklah tulang bahu lawannya.
A Lun mengenal bahaya itu, ia berkelit dengan gerakan dari Naga Berenang.
Ia berkelit ke kiri ke kanan, darimana ia mengirim serangan balasan ke kiri bahu lawan.
Ia menyerang pula dengan pukulan "Harimau Hitam Mencengkeram Hati"
Dan sasarannya ialah jalan darah cang cok dari Eng Eng.
Celaka, siapa yang terhajar jalan darah tersebut akan mati seketika, seringannya akan sakit batuk dan susah napas bertahun-tahun sebelum akhirnya menutup mata.
Eng Eng mengerti akan ancaman bahaya itu maka ia menyelamatkan dirinya dengan kelitan "Angin Meniup Gelombang Pohon Yangliu"
Dua Kali gagal menyebabkan hawa amarahnya memuncak.
Dengan sengit kepalan kirinya menghajar muka lawannya.
Tapi kali ini dia dilawan keras dengan keras, serangan itu disambut dengan serangan juga.
Maka bentroklah kepalan mereka berdua dan kesudahannya mereka sama-sama terpukul mundur.
Habis berkelahi lama dan menggembor kegusarannya itu, A Lun telah menggunakan tenaganya berlebihan, maka habis bentrok ini, napasnya lantas memburu, hingga mukanya penuh dengan butiran peluh.
Ternyata dia kalah ulet.
Sedang ia masih mengatur napasnya yang memburu, lawannya berseru sambil maju menyerangnya dengan tidak memberikan kesempatan untuk beristirahat.
Serangan datang bertubi-tubi, sebab gagal yang satu, menyusul yang lain, tangan dan kaki bergantian.
Bukan main repotnya A Lun untuk membela diri.
Dalam repotnya itu, ia mencoba berlompat minggir tujuh tindak lalu dengan cepat sekali mengeluarkan senjatanya yang termasuk senjata istimewa.
Senjata itu sepasang terbuat dari besi, batangnya sebesar biji buah persik sedang panjangnya dua kaki delapan dim dan ujungnya merupakan seperti lima jari tangan yang lancip.
Eng Eng segera mengenali senjata itu yang disebut Jit Goat Sian Jin Ciang "Tangan Dewa berpokok Matahari dan Rembulan"
Atau "CaCing Duri Badak Matahari dan Rembulan".
Tentu sekali tak mudah ia mempertahankan perkelahian dengan tangan kosong terus menerus, melihat orang menggunakan senjata, dengan cepat ia menghunuskan pedang yang tergantung dipunggungnya.
"Sambut!"
A Lun berseru seraya dia mementang sepasang senjatanya yang luar biasa itu, untuk meluncurkan senjatanya yang kiri.
Itu hanya itu gertakan belaka, selekasnya lawan berkelit ia membarengi menyerang pula dengan tangan kanan dan mengancam jalan darah lengtay.
Eng Eng berkelit ke kiri, setelah bebas ia balas menyerang.
Ia menebas lengan lawannya itu, gerakannya ialah gerakan "Belibis Turun di Pasir Datar"
A Lun menarik tangan dan tubuhnya buat mengangkat kaki kiri menggeser kesamping musuh dari sisi, sebelum musuh menarik pulang tangannya, ia coba mendahului menyerang pula.
Dengan dua senjata berbareng, hanya serangannya masing-masing keatas dan kebawah.
Itulah jurus "Gouw Kong Menumbang Pohon Kayu Manis"
Dengan begitu kedua belah pihak sama-sama berlaku keras dan gesit, mereka saling balas secara kontan.
Eng Eng menyingkir dari senjata lawan.
Setelah itu ia membalas pula, menikam dengan jurus "Menunggang Naga Memancing Burung Phoenik"
Mie A Lun juga dapat menyelamatkan dirinya.
Dengan sepasang senjatanya, dia menangkis pedang lawan.
Jago she Ngay itu menarik pulang pedangnya.
Ia memutar tubuhnya kesamping, dari situ ia menyerang dengan jurus "Rajawali Emas Membuka Sayap"
Tapi serangan itu sia-sia belaka, lawannya mampu melayaninya.
Kembali lawannya menyerang balik dengan senjatanya mencari jalan darah khie-hay di pundak kiri.
Untuk mencegah serangan itu, Eng Eng mengancam tangan lawan itu, ia menusuk tangan yang memegang Sian Jin Ciang.
A Lun menarik senjatanya.
lalu dengan cepatnya dia balas menyerang dengan jurus silat "Bajingan Galak Memasuki Pintu Neraka"
Sasarannya ialah jalan darah thay-yang yang berada dibawah iga Eng Eng.
Jago tua itu tidak melompat menyingkir, dia hanya menyedot hawa membuat tubuhnya menjadi menyusut, sehingga senjata lawan tak sampai sasarannya.
"Kena!"
Ia berseru.
Itulah karena habis berkelit ia menyerang.
A Lun bermata jeli dan gesit, dapatlah ia berkelit dari ancaman pedang itu, ia menangkis dengan tangan kiri seraya tangan kanannya dipakai menyerang musuh.
Eng Eng lompat ke kiri untuk terus mengancam iga lawan.
Kali ini A Lun terancam bahaya besar, syukur dia tidak menjadi gugup.
Dia tidak berkelit ke belakang atau ke kiri kanan, sebaliknya dia justru merangsek maju.
Pedang lawan ia tempel, supaya ujung pedang tidak menyentuh tubuhnya, berbareng dengan itu senjatanya yang sebelah lagi menghajar dada musuhnya mencari jalan darah khie-bun.
Tangkisan dan serangannya itu dinamakan jurus silat "Bidadari Menenun"
Eng Eng melompat sejauh lima kaki lalu mengawasi musuhnya dengan tajam, sesudah itu keduanya sama saling mendekati.
Ia lantas menyerang dengan gencar dan hebat, sehingga berbalik ia menjadi pihak yang menyerang, pihak penyerbu tahu diri, dan dapat melihat gelagat sehingga berlaku dengan waspada.
A Lun memanfaatkan dengan maksimal keunggulan senjatanya yang mempunyai empatpuluh sembilan jurus dan duapuluh empat diantaranya untuk menghajar jalan darah.
Memang senjata itu jarang terlihat di muka umum saking langkanya.
Buat sementara Eng Eng tampak unggul, ia dapat mengandalkan pedangnya yang tajam.
Iapun selalu menggunakan tangan kirinya untuk menusuk jalan darah lawan.
Tak dapat A Lun lalai atau ayal bergerak, bisa-bisa dia jadi korban.
Souw Tay Liong melihat kawannya tidak berhasil merebut kemenangan, dia jadi berpikir keras.
Sekian lama diapun berdiri menonton saja, melihat keadaan dia lantas mengambil keputusan.
"Adik, kau mundurlah!"
Dia berseru kemudian kepada A Lun.
"Biar kakakmu yang membereskan lawanmu ini!"
Walaupun dia berkata begitu, si Harimau Gunung ini tidak menanti saudaranya mundur dulu, ia trus melompat maju untuk menyerang musuh.
A Lun mendengar dan melihat begitu kakaknya itu maju, dia melompat keluar dari kalangan meninggalkan lawannya.
Eng Eng sempat mengawasi lawan barunya yang bersenjatakan golok Gan Leng To -Sayap Belibis.
Namanya "Sayap Belibis"
Tetapi kenyataannya golok itu beratnya kira-kira empatpuluh kati.
Itulah senjata berat yang jarang dipakai orang dan siapa yang memakainya selain tenaganya besar kemungkinan ilmu silatnyapun mahir.
Walaupun demikian ia tidak jeri, bahkan sebaliknya, ketika musuh datang mendekat secepatnya ia mendahului menikam.
Souw Tay Liong melihat serangan itu lantas berkelit.
Walaupun senjatanya berat, namun tak mau ia memakainya dengan sembarangan.
Dia berkelit ke kiri.
Dari sini barulah dia membalas membacok iga kiri.
Itulah ilmu golok "Sang Nelayan Menebar Jala".
Sasarannya ialah iga kiri lawan.
Sambil berkelit ke kanan, Eng Eng menangkis.
Ia berlaku cepat hingga lawan tidak sempat menarik pulang goloknya, dengan begitu pedang dan golok beradu keras satu dengan yang lain, hingga suaranya memekakkan telinga dan kedua senjata mengaung sampai lama.
Benturan itu membuat Souw Tay Liong mengetahui bahwa lawan memiliki tenaga yang besar.
Hal ini membuatnya berpikir.
Ia tahu mereka berada diwilayah musuh, sehingga dari segi kedudukan pihak sana lebih unggul.
Karena itu pihaknya perlu secepatnya untuk merebut kemenangan.
Kalau lawan sampai memperoleh bantuan, tentulah berbahaya bagi mereka.
Karena itu tak ayal lagi ia mulai mencoba mendesak.
Ia berkelahi dengan menggunakan "Pek Houw To"
Yaitu ilmu golok Harimau Putih, yang semuanya terdiri dari delapan puluh satu jurus, semua dengan gerak gerik harimau dan pula biasanya semua serangannya berantai dan belum berhenti kalau musuh belum dikalahkan....
Satu keistimewaan lain dari ilmu golok Harimau Putih itu ialah bisa digunakan untuk melayani berbagai senjata dan selama dipergunakan ditempat luas, sinarnya terlihat berkilauan.
Dan biasanya kalau musuh tak lihai maka hanya dalam sepuluh jurus dapat dirobohkan.
Eng Eng kenal Pek Houw To, maka itu melihat lawan menggunakan ilmu golok yang lihai itu, ia tidak bersangsi pula.
Ia juga menggunakan ilmu pedangnya Bu Kek Kiam -pedang Tanpa Batas, yang telah ia latih selama lima puluh tahun, ilmu ini mirip dengan ilmu Thay Kek Kiam yaitu bertujuan melawan kekerasan dengan kelembutan.
Sinar pedangnya mengurung seluruh tubuhnya dengan rapat.
Begitulah Pek Houw To dilayani oleh Bu Kek Kiam, ilmu goloknya menjadi tak dapat bergerak dengan leluasa, sampai pada jurus yang ketujuhpuluh lima, yaitu "Harimau Lapar Menggoyang Kepala"
Dan "Harimau Hitam Menerkam Bumi"
Mendadak goloknya diputar melintir lalu mendadak dia juga membacok lawannya pada tiga arah!
Tidak ada jalan lain bagi Eng Eng untuk menyelamatkan diri selain melompat menyingkir, dengan begitu semua bacokan yang keatas dan kebawah tidak mengenai sasaran.
Ia melompat ke kiri, selekasnya ia menaruh kaki, ia balas menyerang.
Ia bukannya menabas melainkan menikam kemuka lawan.
Souw Tay Liong terperanjat juga.
Ia seharusnya terus mencecar musuhnya supaya semua jurusnya dapat di jalankan habis, namun sekarang tidak, bahkan ia harus menyelamatkan dirinya.
Maka ia berkelit kesamping, tangan kirinya dipakai menolak sedang golok ditangan kanannya membacok dengan jurus "Harimau Menggeliat"
Bukannya Eng Eng terancam bahaya, melainkan inilah yang ditunggu-tunggunya, ia mendahului menghajar belakang golok musuhnya dengan jurus pedang "Ular Sakti Muntahkan Tikus"
Dengan mengerahkan tenaganya.
Tay Liong kaget sekali, tangannya terasa nyeri dan tiba-tiba goloknya terlepas dan terpental keudara dan jatuh hingga delapan kaki jauhnya dengan suara berdentangan nyaring.
Cie Seng Ciang dan Mie A Lun kaget sekali hingga mereka berseru tertahan!
Mereka menerka pasti lawan akan melanjutkan serangan susulannya.
Sementara itu Tay Liong masih kelihatan tergetar sambil memegang tangannya yang terasa sangat nyeri.
Namun dugaan mereka ternyata salah.
Setelah kemenangannya Eng Eng tidak menggunakan kesempatan itu untuk terus mendesak musuh, sebaliknya dia terus melompat mundur sambil memberi hormat dengan memegangi terus pedangnya, sambil tertawa ia berkata.
"Sahabat aku mengucapkan terima kasih karena kalian sudi mengalah. Ini cuma kekeliruan gerakan tangan, belum ada yang menang atau kalah! Silahkan ambil golokmu itu! Tak usahlah kalian mencoba menjagoi disini!"
Perkataan Eng Eng ini membuat lawannya menjadi gusar sekali.
Ia sudah kalah dan merasa malu, tetapi kata-kata orang membuat merah muka dan telinganya.
Ia menganggap dirinya diejek atau dihina, katanya dalam hati.
"Makhluk mau mampus! Kau belum kenal senjata rahasiaku yang asal digunakan pasti meminta jiwa!"
Memang si Harimau Gunung pandai dua macam senjata rahasia, yang pertama ialah yang terdapat didalam kantong kulit yang tergantung dipinggangnya.
Kantong itu berisi Hui Hie Cie yaitu tempuling ikan yang terbuat dari baja mengkilat, panjangnya tiga dim, ujungnya lancip, seluruh tubuhnya bersisik tajam mirip duri.
Apalagi tempuling itu bekas direndam didalam racun yang ganas, siapa kena terluka maka dia mesti binasa.
Yang lainnya ialah piauw berantai yang tersimpan dalam lengan bajunya, tajamnya luar biasa.
Kedua macam senjata rahasia itu biasa digunakannya setelah ia terdesak, maka dari tadi ia ingin menggunakannya namun dibatalkannya sendiri.
Ia tidak menyangka, orang yang usianya sudah meningkat ternyata sedemikian kosen.
Sekarang saatnya sudah tiba, mendadak ia berseru dan tangan kirinya terayun menimpukkan tiga buah piauw secara beruntun.
Lalu tanpa menantikan bagaimana hasil serangannya itu, tangannya terus meraba kantong kulitnya dan mengambil tujuh batang tempulingnya...
Eng Eng tidak menyangka bahwa orang gusar dan terus menyerang dirinya, tetapi ia selalu siap sedia, bahkan ia sempat melihat lawan merogoh kantong kulitnya.
Maka sambil berkelit dari ketiga piauw, ia tak lengah, terus ia menatap tangan musuhnya dan ia menduga pada senjata rahasia beracun.
Selepasnya senjata itu ditimpukkan , ia putar pedangnya untuk menangkis.
Tubuhnya bagaikan tertutup pedang.
Tiga kali terdengar suara tang ting tong, terus ketiga piauw sudah jatuh ketanah.
Dilain pihak dengan tangan kirinya ia mengeluarkan Thie Lian Cie, teratai besinya.
Dua biji untuk disembunyikan didalam lengan baju.
Tak dapat ia berlaku ayal, segera ia melihat tujuh sinar terang meluncur ke arahnya, empat diatas, tiga dibawah.
Tak dapat ia menyampok semua senjata itu yang ia terka senjata rahasia adanya.
Maka guna menyelamatkan diri ia membuang tubuhnya kesamping untuk terus bergulingan.
Itulah jurus silat "Go Tae Liong"
Atau "Naga Tidur Ditanah".
Dilain pihak, dengan pedangnya barulah ia menyampok tiga yang kebawah itu hingga ketiga tempuling itu terasampok mental!
Souw Tay Liong terkejut hingga hatinya gentar menyaksikan ketangkasan lawannya.
Sedang menurut dugaannya, musuh tak akan lolos dari salah satu dari sepuluh senjata rahasianya, terutama tempulingnya yang beracun.
Ia menjadi sangat penasaran, sambil kertak giginya ia menyerang pula dengan lima biji tempulingnya yang telah ia keluarkan dengan sangat cepat dari kantongnya.
Kali ini Eng Eng pun sudah siap sedia.
Setelah menjatuhkan diri ia lantas bangun.
Ketika kelima senjata rahasia tiba, ia sampok runtuh semuanya, ia putar pedangnya rapat mengurung dirinya.
Tay Liong makin gusar, ia menyimpan goloknya dipunggungnya, terus menggunakan kedua tangannya untuk meraup senjata rahasianya.
Kiranya disamping tempuling Hui Hie Cie, iapun membekal Hui Hong Ciam, jarum "Belalang Terbang".
Ia lalu menggenggam masing-masing tujuh buah terus menyerang bagaikan hujan.
Ia sudah merasa pasti kali ini tidak akan gagal pula....
Jago dari luar lautan ini tidak pernah menyangka bahwa Ngay Eng Eng adalah seorang ahli dalam soal menghindari senjata rahasia, baik dengan berkelit maupun dengan pedangnya.
Dan kali ini Eng Eng memutar tubuhnya bagaikan gangsing, pedangnya turut berputar melindungi seluruh tubuhnya.
Maka nyaringlah suara bertemunya senjata rahasia itu dengan pedangnya, yang pada jatuh langsung ketanah atau terpental jauh!
Tay Liong terkejut menyaksikan lihainya lawan, hingga ia melongo.
Justru itu Eng Eng melompat ke arahnya dan menebas ke arahnya.
Tanpa tahu apa-apa, pedang lawan sudah menebas kutung batang lehernya hingga robohlah tubuh dan kepalanya secara terpisah dan darahnya muncrat bagai air mancur.
Cie Seng Ciang kaget menyaksikan kebinasaan adiknya itu, dia menjadi sangat gusar sehingga dia lupa pada lawannya yang gagah luar biasa.
Dia lantas mengeluarkan suara kemarahannya.
"Kurang ajar! Bagaimana kau berani membinasakan adik angkatku? Aku Cie Seng Ciang akan mengadu jiwa denganmu!"
Lantas dia keluarkan senjata rahasianya, sebab dia tak mau menggunakan pedangnya.
Dia menurunkan sebuah bungkusan kuning dari punggungnya, dari situ dia menarik keluar sepasang Cu Bo Wanyo Kauw, Kaitan "Bebek Mandarin"
Kaitan ini beda sekali dari kaitan "Kepala Harimau"
Yang biasa orang miliki.
Yang kiri panjang dua kaki delapan dim, yang kanan lebih panjang empat dim, besarnya sebesar jari tangan dan di belakangnya dilapisi emas hingga bersinar gemerlapan menyilaukan mata.
Ujung atau kepala kaitan bercagak tiga, yang ditengah mirip tombak cagak, yang kiri dan kanan mirip jie-ie, yaitu semacam tongkat lambang agama Sang Buddha.
Gagangnya disertakan besi pelindung, guna melindungi tangan yang memegangnya dari serangan senjata lawan.
Pelindung itu bukan mirip tombak cagak tapi sama seperti kaitan melengkung, pada ujung gagang diikatkan pita yang berkibaran tertiup angin.
Begitu melihat orang memegang kaitan itu, Eng Eng menyadari kalau Seng Ciang benar-benar lihai.
Kaitannya sendiri sudah hebat, apalagi pitanya itupun dapat dipakai untuk melibat senjata musuh!
Segera Eng Eng bersiap, demikian juga lawannya.
Cie Seng Ciang maju setindak.
"Sahabat, lihat senjataku!"
Katanya nyaring.
Sambil melangkah maju, ia mulai penyerangannya.
Dengan cagak kiri ia mengancam, sedang serangan yang sebenarnya ialah cagak kanan yang menuju keiga lawan.
Eng Eng sudah siap, mudah saja ia menghindar, berbarengan dengan musuh, pedangnyapun menyambar kelengan kanan guna membabat lengan itu dengan jurus pedang "Membuka Penglari Menukar Tiang"
Seng Ciang mundur sambil mendak, terus tubuhnya berputar untuk selekasnya menggempur pedang lawan dengan jurus silat "Kipas Besi Menyambut Angin"
Keras ia menggempurnya.
Eng Eng menyambut dengan gerakan "Elang Kelabu Membuka Sayap", selekasnya lolos ia mendak, guna terus menyerang pula membabat kebawah beruntun hingga tiga kali pulang pergi dengan jurus pedang "Angin Timur Mencuci Jembatan"
Dengan sepasang kaitannya Seng Ciang membebaskan diri dari ancaman pedang, terus ia membalas menyerang.
Mulanya ia melompat maju, setelah datang dekat lawan sambil memiringkan tubuhnya ia menikam.
Eng Eng mesti berlaku awas.
Tak mau ia memberi kesempatan pedangnya terkait atau terlibat.
Ia menggeser kaki kirinya ke belakang tubuhnya untuk mundur, dengan begitu senjata lawan tidak mengenai sasaran dan iapun bebas.
Belum sempat ia menenangkan diri, sepasang kaitan musuh sudah tiba pula, maka lantas ia mundur setindak sambil kakinya terus dijejakkan untuk membuat tubuhnya mencelat mundur lebih jauh, inilah yang dinamakan tipu "Di Tepi Jurang Menahan Kuda"
Hebat Seng Ciang, gagal serangan pertama menyusul serangan berikutnya.
Demikian ia sudah mengulangi serangannya tanpa henti, ia ingin pedang musuh terlibat dan terlepas dari cekalan atau terpental jauh.
Ketika musuh mundur ia merangsek, hingga ia mengikuti lawan bagai layang-layang putus.
Lalu dengan kaitannya lagi-lagi ia menyerang jalan darah Beng Bun.
Selagi melompat mundur, Eng Eng sudah memperhitungkan kemungkinan lawan menyusul membayanginya, maka ia juga telah siap sedia.
Dengan kecepatan luar biasa, ia memutar tubuh, buat menghadapi lawan.
Tubuhnya mendak sedang pedangnya menangkis.
Ia memutar tubuh dengan gerakan "Naga Kuning Membalik Badan", terus ia berseru bengis.
"Kena!"
Dan pedangnya menusuk dari bawah keatas dengan jurus "Menolak Mega Mengejar Rembulan"
Ia membabat sebelah lengan lawannya yang ganas itu.
Seng Ciang terperanjat.
Tak disangka olehnya bahwa lawan demikian lihainya.
Ia lantas menarik tangannya yang dipakai menyerang itu, sebaliknya dengan tangan kirinya yang mencoba mengkait pedang lawan.
Eng Eng membebaskan pedangnya dengan gerakan "Membalik Kepala Memandang Si Putri Malam"
Habis itu ia membalas dengan membabat kaki kiri orang she Cie itu.
Seng Ciang terkejut.
Maka ia menyelamatkan dirinya dengan menangkis dengan sepasang kaitannya, membuat kedua senjata beradu keras menerbitkan suara nyaring.
Saking kerasnya senjata beradu, hingga kedua pihak pun merasakan tubuhnya bergetar.
Jilid 7 Diam-diam Eng-Eng tunduk akan melihat pedangnya, hatinya lantas menjadi lega.
Pedangnya itu tangguh, tidak sampai menjadi bengkok melengkung, bahkan lecetpun tidak.
Kapan Seng Ciang pun melihat kaitannya, ia terkejut sekali.
Ia tidak menyangka pedang musuh begitu kuat sekali.
Kaitannya telah sompal akibat adu kekuatan itu, walaupun cuma codet saja.
Yang membuatnya berkecil hati adalah kepercayaan bahwa siapa senjatanya sompal, itulah alamat atau pertanda tidak baik...
Seng ciang heran sebab ia tahu kaitannya terbuat dari besi dan baja campurannya terpilih dan buatannya juga sempurna, toh senjatanya itu masih kalah.
Itu pula bukti lawan bertenaga kuat.
Karena ini ia memikir buat tidak melawan keras dengan keras.
Ia mau mengandalkan kelicinan atau kecerdikannya.
Segera kedua pihak sudah mulai bergebrak pula.
Seng Ciang bertindak dengan hati-hati bagaikan naga marah, demikian kedua kaitannya jago luar lautan ini bergerak-gerak.
Untuk melayani musuh yang telah menjadi nekad seperti itu.
Eng Eng menggunakan kepandaiannya yang menjadi latihannya selama tiga puluh tahun lebih.
Yaitu ilmu pedang Bu Kek Kiam.
Saking serunya ia sudah menjalankan sampai seratus dua puluh lebih, sedangkan jumlah semua jurusnya ialah seratus sembilan puluh lima.
Coba musuh bukannya Cia Seng Ciang pasti musuh itu sudah roboh siang-siang.
Seng ciang dapat membuat dirinya berada disebelah belakang lawan, segera dia mementangkan kedua senjatanya, untuk diteruskan menghajar punggung lawannya itu.
Itulah jurus "
Dewa Thio mengantar arak."
Eng Eng belum sempat memutar tubuh ketika ia insyaf akan datangnya bahaya, maka dengan cepat ia berbalik sambil menangkis dengan secepatnya, dengan tenaga penuh.
Itulah tangkisan yang juga merupakan serangan.
Seng Ciang terkejut.
Kedua tangannya bisa terbabat putus.
Tapi ia bukanlah seorang lemah.
Tidak menanti sampai tibanya pedang ia mendahului mundur tujuh kaki.
Eng Eng mendongkol.
Ia mengharap mampu merobohkan musuhnya itu.
nyata ia gagal.
Tidak bersangsi pula, ia lompat mengejar.
Segera ia menikam pinggang lawan.
Ia menggunakan tipu pedang "
Angin Mengantarkan Pelayaran Sungai."
Seng Ciang merasakan angin menyambar dibawah ia tahu halnya penyerangan tengah mengancamnya.
Untuk menyelamatkan diri, ia mendahului memutar tubuh sambil lompat berjumpalitan.
Namanya jurus silat itupun "
Ular naga berjumpalitan.
"tepat dengan cara bergeraknya, Maka ujung pedang cuma mampu mendekati tiga dim , lantas tak mengenai.
"Bagus!"
Berseru Seng Ciang yang membalas menyerang dengan jurus "Sepasang gelang mengalangi rembulan".
Saking cepatnya ia berhasil menggempur pedang lawan hingga sekali lagi kedua senjata bentrok keras.
Bahkan kali ini pedang kena terlibat.
Itu jadi mirip dengan pertarungan hidup dan mati.
Niatnya Seng Ciang yaitu merampas pedang lawannya itu.
Dilain pihak, Eng Eng mau mengadu tenaga kalau perlu suka ia mengadu jiwa.
Maka keduanya menjadi saling menarik.
Eng Eng berlaku cerdik tengah saling tarik itu ia menolak.
Seng Ciang terperanjat.
Diluar sangkaan, ia kena tertolak mundur sepuluh tindak lebih.
"Benar kau lihai !"
Serunya mendongkol.
Tetapi ia diamdiam ia melirik dana mengedipi mata Mie a Lun.
Kawan itu mengerti, segera ia mengangkat tubuh Souw Tay Liong buat dipanggul dan dibawa lari.
Seng Ciang menanti kawan itu sudah lari sedikit jauh, ia lompat mundur, sesudah mana ia memutar tubuhnya dan lari menyusul kawannya.
Eng Eng melihat orang meninggalkannya pergi.
Ia membiarkan saja tak ada niatnya untuk mengejar, sebaliknya ia memberikan obat kepada Pek Hong Tojin, hingga ia lekas pulih juga kesakitannya.
Setelah itu ia menotok bebas pada Kam Hong Tojin.
"Si bajingan sudah pergi, mari kita pulang!"
Kemudian si jago tua mengajak.
"kalau ada terjadi sesuatu di kuil, mungkin kita dapat memberikan bantuan kita."
Sim Hong bertiga mengangguk, maka berempat mereka berlari pulang.
Malam itu bulan indah tetapi sang mega menutupinya, membuat sang jagad malam suaram terbenam dalam kesunyian.
Kalau toh ada yang terdengar, itulah suara siuran perlahan dari daun-daun pohon cemara serta berkericiknya air kali.
Eng Eng lagi di depan.
Ia menggunakan tenaga Kun Goan It Khie Kang.
Hingga seolah-olah kakinya tidak menginjak tanah.
Karenanya, ditanah pegunungan itu dapat berlari seperti ditanah datar.
Sim Hong bertiga mencoba mengejar, mereka tidak berhasil.
Mereka berdua tetap terpisah dua tombak lebih.
Maka didalam hati mereka mengagumi dan memuji jago tua itu.
Tengah mereka berlari lari itu mendadak Eng Eng mengangkat kepalanya memandang kepinggang gunung.
Itulah karena telinganya mendengar sesuatu.
Maka lantas ia melihat beberapa batang panah api meluncur diudara, mulanya naik terus turun kembali setelah tampak lantas lenyap.
Menyusul itu dari lembah puncak yang ketiga terlihat naiknya enam buah balon Khong Beng Teng yang ...
tidak jelas.....
dan tiga sisanya berwarna kuning semua.
Mengikuti tiupannya angin timur laut, semua balon melayang ke arah Siauw Lim Sie.
Pada malam seperti itu, munculnya balon itu menyolok mata.
Sesudah itu menyusullah suara nyaring dari genta kuil yang berbunyi tak hentinya.
"Celaka!"
Seru Eng Eng terkejut.
"Pasti kawanan bajingan sudah menyerang Siauw Lim Sie!"
Lantas ia percepat larinya. Walaupun demikian, masih sempat ia menunjuk ke tanah datar di luar kuil sambil ia berkata pada ketiga kawan imamnya .
"Totiong bertiga lihat! Bukankah itu kelima Tianglo dari Siauw Lim Sie tengah memimpin murid-muridnya guna menentang lawan?"
Sin Hong bertiga menandang ke arah yang ditunjuk itu.
Memang di depan pintu Pekarangan dari Siauw Lim Sie terlihat satu pertempuran ramai, orang bergerak-gerak dan golok dan pedang saling sambar.
Nampaknya pertempuran itu hebat sekali.
"Mari kita maju!"
Sin Hong mengajak Eng Eng yang tangan bajunya ia tarik.
Ia sendiripun mempercepat larinya.
Di dalam waktu yang singkat, tiba sudah mereka berempat di tempat pertempuran.
Hingga sekarang mereka dapat melihat dengan tegas.
Pihak musuh benar-benar adalah Hek Keng To Sam Koay, ialah tiga "jia" (samkoay) dari Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam, Thia Lohan Kee Liong Si arhat Besi, Giok Bin Sian Kong Tan Hong si Rase Sakti Bermuka Kemala dan Cek Hong Siancu Cin Tong Si Dewa Angin Merah.
Mereka lihai sekali, mereka menabas kesana kemari terhadap para pendeta yang mengepungnya, diantara siapa yang telah banyak yang roboh terluka dan terbinasa.
Bertiga mereka dibantu oleh Kan Tie Uh si murid murtad dari Siauw Lim Sie yang berlaku sebagai cecolok atau penunjuk jalan.
Dia lihai dan dia dapat menghadang Gouw cang dang Gouw Gie dua tertua dari Siauw Lim Sie.
Dia bersenjata golok, saban-saban dia berseruseru, rupanya guna mengacaukan pihak kuil.
Gouw Ceng gusar dia melesat ke belakang orang murtad itu dengan senjatanya hong piausan dia menyontek ke belakang kepala orang.
Dia menggunakan jurus "Membiak Awan Melihat matahari."
Kan Tie Uh menjatuhkan diri dalam gerak "Keledia Malang bergulingan"
Setelah jatuh lantas dia menghajar kedua kaki lawannya itu.
Gouw Ceng berlompat berkelit atas mana musuhnya segera meneruskan menyerang kepada Gouw Gie, saudaranya seperguruannya itu.
Hingga mereka bertiga jadi bertempur seru.
Rombongan Hek Keng To ini datang menyerang secara tiba-tiba.
Sengaja mereka mendahului waktu undangan atau tantangan dari In Gwa Sian berdua Pek Cut Tojin.
Mereka ingin ketahui persiapan dan kekuatan pihak Siauw Lim Sie itu.
Mereka datang bersama-sama rombongan dari pulau To Liong To dan lain-lain seperti Cie Seng Ciang Siauw Tiong Seng thia Han Bin Tiong Lam Cay, Tio It In Lie Tay Keng, Mie A Lun Souw Tay Liong dan Lie Seng.
Setibanya di wilayah kuil mereka lantas memencar diri dalam beberapa rombongan.
Sengaja pula mereka menyerang di waktu malam, niatnya kalau bisa sekalian membasmi musuh, merampas dan menduduki Siauw Lim Sie supaya kuli itu dapat digunakan mereka sebagai pangkalan untuk melaksanakan lebih jauh maksud mereka menjagoi dunia Rimba Persilatan seluruh Tionggoan.
Ketika itu Kan Tie Uh merasa puas sekali sebab seorang diri ia sanggup menentang kedua Tianglo dari Siauw Lim Sie.
Setelah menonton sejenak itu, Eng Eng menjadi naik darah.
Sebab ia menyerukan tingkahnya si manusia murtad.
Ia lantas berseru seraya terus maju untuk segera menyerang dengan kedua tangan kosongnya menotok dua jalan darah seng bun dan hong hwe.
Tak ada lagi sedikitpun rasa kasihannya.
Ke dua Tianglo, ia berkata .
"Taysu silakan mundur! Biarkan aku yang membereskan telur busuk ini!"
Kan Tie Uh terperanjat.
Seruannya itu membuat telinganya ketulian.
Tapi dia tak menjadi bingung.
Tahu akan datangnya musuh baru, dia menyerang Gouw Ceng dan Gouw Gie, selekasnya dua pendeta itu berkelit, ia lompat keluar kalangan.
"Cegat dia!"
Teriak Eng Eng pada Sin Hong Tojin, tetapi imam itu justru baru saja merintangi Kee Liong.
Karena itu terpaksa ia sendiri yang berlompat lebih jauh, menghadang sambil menyerang pula.
Kan Tie Uh juga gusar maka dia segera membacok penghadangnya itu, hanya setelah menyerang lantas dia lompat mundur kembali tiga tindak.
"Manusia busuk, kemana kau hendak lari?"
Eng Eng membentak. Baru sekarang nampak Tie Uh bingung. Kembali Eng Eng menyerang dengan kedua tangannya dengan gerakan "Elang Mengacau Lautan"
Ia hendak menghajar kepalanya si pendeta murtad.
Justru disaat mengancam Tie Uh itu, satu bayangan orang terlihat lompat ke arahnya, untuk menaruh kaki di depannya, sedangkan dari mulut bayangan itu, ya.
orang itu terdengar bentakannya yang nyaring .
"Aku datang! Bangsat tua, jangan banyak tingkah."
Terus kata-kata galak itu ditutup dengan satu serangan kebutan ke arah jalan darah kiok-tie!
Eng Eng berlompat mundur, menyingkir dari serangan tibatiba itu, selekasnya ia mengangkat kepalanya, ia mengenali penyerangnya ialah Beng Leng Cinjin, kepala dari sekalian bajingan dari Hek Keng To, pulau Ikan Lodan Hitam.
Tangan kiri dia itu mencekal hokutim kentulannya dan tangan kanannya memegang pedang.
Dengan pedangnya, dia barusan menikam juga ke jalan darah co-leng.
Serangan itu menandakan ketelengasan.
Bukan main mendongkol dan gusarnya jago tua itu maka setelah orang menyerang pula ia pula melengkung kedua tangannya untuk membalas menyerang tangan kanannya menotok ke jalan darah yu leng.
Parasnya Beng Leng Cinjin menjadi merah.
Diapun gusar.
Dia menarik pulang pedangnya untuk menabas ke depan dada guna mencoba mengutungkan lengan lawan.
Dengan kebutannya dia menyampok dari samping menyambar jalan darah thay yang dari si jago tua.
Untuk penyerangnya ini, dia maju dua tindak.
Sin Hong Tojin kuatir nanti Eng Eng gagal ditangannya ketua dari Hek Keng To itu maka ia berniat memberikan bantuannya karena itu segera ia menyampok Kee Liong yang ia hadang itu hingga Si Arhat Besi roboh tersungkur.
Tepat itu waktu Gouw Tek Taysu tiba di situ maka dia lantas menyerang Kee Liong yang sedang coba bangkit berdiri.
Sin Hong sendiri tanpa ayal pula menghampiri Beng Leng untuk menyerang imam itu dengan tangannya mengarah jalan darah Kiok-tiong di punggungnya.
Hebat serangan itu, kalau sasaran itu kena maka batang leher orang bakal patah dan nyawanya akan melayang pergi.
Tetapi Beng leng Cinjin lihai, nyalinya besar, matanya tajam, tanpa melihat lagi tanpa memutar tubuh, dia menangkis ke belakangnya dengan tebasan "Burung Phoenix Mementang sayap"
Maka bebaslah ia dari ancaman malapetaka!
Di samping menangkis sambil membacok itu Beng Leng juga menyerang, ialah dengan kebutannya yang diputar hingga menggulung.
Hampir Sin Hong celaka, untung masih keburu berkelit.
Sejenak itu, berhentilah pertempuran mereka.
Beng Leng Cinjin berdiri mengawasi para musuh, ia berkata dengan seram, nadanya mengejek .
"Apakah berdua hendak melayani aku seorang diri?"
Parasnya Eng Eng merah padam. Ia menjawab keras ."
Aku si orang tua sendiri saja dapat aku melayani kau untuk dibereskan hingga tak usahlah aku meminta bantuan orang!"
Terus ia berpaling kepada Sin Hong Tojin untuk berkata ."
Toya, silakan kau membekuk dia orang jia itu serta itu manusia murtad!"
Sin Hong Tojin menurut sambil mengiakan ia lantas meninggalkan dua orang itu.
Ia menuju langsung kepada Gouw Tek yang tengah menempur Kee Liong.
sebab musuh itu sempat bersiap sedia melakukan perlawanan.
Lucunya kedua orang itu bertempur ilmu silat Hong Mo Thung dari Siauw Lim Sie.
Itulah ilmu silat Tongkat Penakluk Bajingan.
Disaat itu juga Gouw Tek sudah keteter sebab ia telah berusia lanjut.
Ia telah bermandikan peluh pada kepala dan mukanya.
Dilain pihak lagi Kan Tie Uh ialah berhasil dirintangi Gouw Ceng dan Gouw Gie sedangkan Tan Hong bersama Cin Tong lagi mengamuk diantara para pendeta yang mengepungnya.
Sepasang pedang mereka main bacok dan tebas saj.
Hingga ada belasan pendeta yang terbinasa dan luka.
Di saat mereka sampai di muka pintu, disitu mereka terhadang Gouw Jiu Taysu yang baru muncul dari dalam kuil.
Pendeta itu dengan tongkatnya menyerang untuk mencegat.
Sin Hong lantas mengawasi kepelbagai penjuru lalu dia mengambil keputusan buat membantu Gouw Tek Taysu.
Hanya itu mereka terpisah satu dari lain cukup jauh tak dapat ia menghampiri dalam sekejab.
Justru itu pendeta itu tengah terancam bahaya oleh Kee liong yang menyerang dengan pukulan "Menggempur Genta Emas"
Terpaksa imam ini lantas mengeluarkan tiga batang teratai besi dan segera menimpuk ke arah musuh.
Tanpa membiarkan musuh bernapas hendak ia menghajar mati musuhnya, walaupun ia mendengar serangannya si imam, bahkan juga suara menyambarnya senjata rahasia, ia tak keburu melindungi dirinya.
Sambil berteriak keras saking nyerinya, mundurlah ia terhuyung-huyung hingga lima atau enam tindak.
Senjata rahasia itu menembusi punggungnya.
Justru begitu Gouw Tek menggunakan kesempatan yang baik untuk lompat menghajar dengan tongkatnya sambil dia memuji "Amida Buddha, hari ini lolap membuka pantangan pembunuhan!"
Belum lagi tongkatnya melukai korban tiba-tiba ia berteriak nyaring secara menyeramkan dan tubuhnya terus terpelanting jatuh sejauh setombak lebih.
Sin Hong Tojin kaget sekali.
Ketika itu belum sempat dia menghampiri pendeta itu.
Dari jauh terlihat satu bayangan orang yang melayang cepat ke arahnya.
Belum sempat dia melakukan sesuatu, bayangan itu sudah tiba disisinya.
dalam kaget dia berlompat mundur.
Masih sempat ia melirik Gouw Tek taysu siapa berguling di tanah dengan keadaan yang sangat menderita.
Ia heran kaget dan ia mengawasi bayangan katai kecil itu.
"Eh mau apakah kau mengawasi aku saja?"
Demikian bayangan itu yang sebenarnya salah satu bajingan, suaranya kecil tetapi tajam dan iramanya menusuk telinga.
"Mungkin kau tidak kenal aku? Akulah Siauw Tiong Beng dari To Liong To!"
Baru sekarang Sin Hong dapat membuka mulutnya.
"Orang she Siauw!"
Bentaknya "Kiranya kau telah berkomplotan dengan murid murtad Siauw Lim Sie, tiga jin dari Hek Keng To dan bajingan2 lainnya dari To Liong To datang mengacau Siauw Lim Sie."
"Apakah kau tak kuatir dari Sungai Telaga nanti mentertawakanmu? Jika kau kenal selatan, lekas-lekas kau mengangkat kaki dari sini!"
Mendengar teguran itu, Siauw Tiong Beng terbangun alisnya, dia tertawa tergelak-gelak. Sin Hong Tojin sementara itu berpikir.
"Melihat suasana ini, terang sudah bahwa satu pertempuran besar tak dapat dihindarkan lagi! Gouw Tek terus bergulingan dan merintih, pasti dia terluka parah. Jika dia tak lekas ditolongi mungkin jiwanya bakal melayang ...."
Karena memikirkan demikian tanpa menghiraukan si bajingan, ia lompat kepada pendeta yang lagi menderita itu.
Tapi di saat ia hampir sampai kepada Gouw Tek, tahu-tahu Siauw Tiong Beng sudah menghadang dihadapannya.
Ia tidak melihat bagaimana orang itu bergerak bahkan waktu orang mengibaskan tangannya.
Ia merasakan dorongan angin yang keras kepada mukanya dan jubahnya berkibaran!
Itulah tenaga tangan kosong yang mahir sekali yang ia baru pernah lihat dan merasainya.
Di dalam kaget ia lekas-lekas membela diri dengan menggunakan tenaga lunak Kiok Jin Kang, mengumpulkan tenaga dalam di seluruh tubuhnya, sedangkan kedua kakinya yang berkuda-kuda hampir melesak kedalam tanah.
Dengan berdiri tegak dan kokoh itu, dengan mata yang bersinar tajam, ia menatap lawannya yang lihai itu.
Siauw Tiong Beng tertawa berkakakan.
"Tak kurang tak lebih aku cuma menggunakan ilmu Hun Kim Cu Kut Kang yang umum saja kepada budak berkepala gundul itu!"
Kata dia menghina.
"Nyata dia tak punya guna baru tersentuh satu kali dia sudah roboh tak berdaya! Dengan ini aku hendak membuatnya ketahui halnya bahwa ilmu silat Siauw Lim Sie bukanlah ilmu jagoan hingga dikolong langit ini tiada lawannya!"
"Dan malam ini kami cari adalah Pek Cut si gundul serta si pengemis yang disebut Pat Pie Sin Kit, untuk membuat perhitungan!"
Sin Hong menjadi tidak senang.
"Kau ngoceh tidak karuan!"
Bentaknya,"
Pek Cut Siancu menjadi ketua dari sebuah kuil dan ia tersohor suci dan mulia hatinya sehingga kaum rimba persilatan tak ada yang tak menghormatinya.
Kenapa kau berombongan dengan segala jin dan bajingan mau menemuinya?
Mana sudi dia menemuimu?
Kau baiknya jangan membuat kotor tempat suci ini."
Kata-kata si imam dari Bu Tong Pay ditutup dengan serangan yangn mendadak terhadap si katai kecil itu yang ia totok kedua jalan darahnya tionghu dan thian koat.
Itu pun jalan darah yang berbahaya, siapa yang tertotok walaupun dia mempunyai tubuh Kim Ciong Tiouw, Lonceng Emas yang tak mempan senjata, tetap akan terluka juga didalamnya.
Siauw Tiong Beng mirip terbokong tetapi dia tabah dan gesit.
Dia bukan berkelit justru mengajukan sebelah tangannya yang semua jarinya terbuka untuk merintangi serangan itu.
Tatkala tangan mereka terbentur satu dengan yang lain, si imam terkejut.
Ia merasai tangan kanannya seperti terkena tusukan jarum dan tangan kirinya tertindih berat hingga sukar diloloskan, bahkan tenaga menindihnya makin bertambah.
Syukur disaat itu tibalah serombongan pihak pendeta yang terus maju menyerang.
Antaranya ada yang lantas menolong Gouw Tek Siansu dan dibawa pergi.
Tibanya rombongan itu menolong si imam, sebab Siauw Tiong Beng terpaksa meninggalkannya guna membela diri dari kepungan para pendeta In Gwa Sian serta sejumlah muridnya.
Diantaranya turut juga Kiauw In bersama Giok Peng.
Bahkan ketika nona Pek baru saja tiba di muka pintu gerbang, ia sudah dihadang oleh Thio Han Biu, Siauw Kui dan Tong Lam Cay ketiga cabang atas dari To Liong To.
pulau Naga Melengkung.
Disebelah ia, nona Cio dirintangi Lie Tay Kong.
Maka itu mereka sudah lantas bergebrak.
Giok Peng membentak ketiga musuh membuat mereka itu terperanjat sebab suara si nona sangat berpengaruh.
Walaupun demikian, Siauw Kui toh sudah lantas mendahului menerjang.
Dia menikam dada si nona dengan pedangnya, dengan ilmu pedang "Membuka Saluran Air Gunung."
Giok Peng menangkis tikaman itu dengan jurus "Benang Sutera Melibat Lengan".
Ia meneruskan menghajar.
Siauw Kui penasaran.
Kembali ia menyerang, kali ini dengan jurus "Sabuk Kemala Melilit Pinggang".
Cepat serangannya itu ke tubuh si nona !
Nona Pek berseru, tubuhnya mencelat naik untuk dari atas membacok ke bawah.
Pedangnya itu berkilauan.
Siauw Kui terkejut, ia melompat mundur tiga tindak.
Selekasnya Giok Peng menaruh kaki pula di tanah, ia mendahului mengulangi serangannya guna mendapati tempat, dan ketika yang terlebih baik, dan ia menikam lagi sebelum musuh itu sempat membuat penyerangan balasan.
Kali ini musuh itu kena terdesak, terus dia terkurung sinar pedang yang gemerlapan.
Celakanya buat dia, dia mesti menghindarkan senjatanya dari pedang si nona yang dia sangka pedang mustika adanya.
Tong Lam Cay terkejut menyaksikan kawannya terdesak si nona.
Ia tidak lantas bertindak.
Justru begitu Siauw Kui sudah lantas terancam bahaya maut, sebab desakan lawan membuatnya repot dan kelabakan !
Baru setelah itu, tanpa terpikir pula ia melompat maju, guna menyerang si nona buat membantu kawannya itu.
Selekasnya mendapat bantuan itu, Siauw Kui kontan merasa sedikit ringan, Giok Peng mesti melayani tenaga baru itu.
Bahkan lewat sedetik, dengan bantuan kawannya orang she Siauw itu mencoba berbalik mendesak.
Berdua mereka itu bekerja sama.
Dilain saat cepat sekali perubahan telah terjadi.
Ialah Nona Pek menjadi sangat cepat menghadapi kedua lawannya walaupun pedangnya tajam, ia toh kena terdesak.
Thia Han Bin yang berdiri diam disisi selalu memasang mata, selekasnya ia mendapatkan nona itu bagaikan tak berdaya, sambil berteriak nyaring ia lompat maju menyerang.
Tiga kali ia membulang-balingkan goloknya, golok Ban-To yang terkenal tajam luar biasa.
Ia pula, dalam ilmu golok lebih unggul dari pada kedua kawannya itu.
Giok Peng berkelahi dengan maju mundur.
Ia menggertak gigi untuk dapat mempertahankan diri.
"Hahaha !"
Tertawa Han Bin habis dia mendesak keras dua kali.
"Masihkah kau tidak hendak melepaskan senjatamu dan minta ampun ? Apakah benar-benar kau mau mencari mampus ? Saudara-saudaraku, mari kita berbuat baik, kita bekuk dia hidup-hidup !"
Dia berkata-kata dengan lantang.
Giok Peng berkuatir berbareng mendongkol sekali, justru begitu, mendadak ia bagaikan terasadar, ia terus ingat sesuatu.
Tidak ayal lagi, ia bersilat dengan ilmu pedang Thay Kek Kiam yang terdiri dari tiga puluh enam jurus.
Maka berlawanlah pedangnya !
Maka didalam waktu yang pendek, dari terdesak ia berbalik menjadi si penyerang.
Han Bin bertiga heran bahwa orang yang tinggal kalahnya saja dapat membalik suasana secara sedemikian rupa.
Mata mereka pun lantas disilaukan oleh cahaya pedang berkelebatan.
Si nona menjadi bagaikan gempuran gelombang sungai Tiang Kang !
"Budak ini benar lihai !"
Pikir Han Bin dalam bingungnya. Sia-sia belaka ia mencoba mendesak pula.
"Suasana begini buruk, kalau aku tidak segera mengangkat kaki, kita bisa sudah....!"
Maka lagi sekali ia mendongak, niatnya ialah saat si nona mundur melompat ke belakang dan mengangkat kaki...
Juga Siauw Kiu dan Tong Lam Cay memikir serupa sebagai kawannya itu, maka mereka berbareng mencoba mencari jalan keluar.
Mereka memiliki kepentingan diri sendiri hingga mereka lupa bahwa lain orang pun berpikir demikian.
Han Bin mencari ketika, ia segera melihat itu.
Atas desakannya, gerak gerik si nona seperti terkekang.
Dengan tiba-tiba saja ia menjejak tanah untuk berlompat mundur.
Tapi justru ia berlompat itu, justru matanya menjadi silau sebab ujung pedang lawan tahu-tahu sudah mengancam dadanya !
Ia menjadi sangat kaget, ia segera menyedot napas untuk membikin dadanya ringkas sedangkan dengan goloknya ia mencoba menangkis pedang si nona.
Ia menggunakan tipu golok "Mendorong Ombak Membantu Gelombang".
Sasarannya ialah lengan si nona yang hendak ditebas kuntung !
Baru saja golok Hian Biu digeraki, sinar pedangnya si nona sudah berubah berbalik mengancam golok hingga Han Bin terkejut dan berniat menarik pulang golok itu.
Ia dapat berpikir cepat tetapi gerakan tangannya terlambat disebabkan ia terpengaruhkan kagetnya.
Maka tahu-tahu kembali ia kaget berbareng merasa dingin dan nyeri pada tangannya sebab dua buah jeriji tangannya sudah terputus !
Untung baginya selagi ia terancam bahaya maut Siauw Kie dan Tong Lam Cay dapat membantunya hingga si nona tak sempat mengulangi tikamannya !
Bukan itu saja membuat Han Bin kaget dan nyeri, dia juga gusar sekali !
Rasa nyeri dan gusar yang bercampur menjadi satu membikin dia merasa hatnya sakit.
Hampir saja totoknya terlepas.
Dia telah ditolongi kedua kawannya tetapi itu tak berarti ancaman petaka sudah lewat.
Giok Peng mendongkol karena usahanya telah orang rintangi, maka itu habis melayani Siauw Kiu dan Lam Cay, kembali ia mendesak musuh she Thia itu, terpaksa Han Bin harus menahan nyeri dan melayaninya terus.
Thay Kek Kiam sudah lantas di jalankan dengan semangat penuh, dengan begitu nona Pek membuat tiga musuhnya bagaikan terkurung sinar pedangnya hingga Han Bin bertiga melihat mereka seperti menghadapi ancaman pedang disekitarnya.
Mulanya mereka dapat bekerja sama, lama-lama mereka jadi repot sendirinya.
Lewat lagi beberapa jurus, Tong Lam Cay kaget bukan main.
Inilah jurus satu kali ketika senjatanya bentrok dengan serangannya si nona yang mereka keroyok dengan mendadak saja senjatanya itu kena dibuntungkan !
Hanya kaget tinggal kaget, ia terpengaruhkan kegusarannya yang membuat matanya gelap.
Demikianlah dia berseru lantas dia lompat menerjang dengan tangan kosong dalam hal mana dia telah memiliki latihan puluhan tahun.
Dia menyerang dengan tangan kanan dan tangan kiri silih berganti.
Giok Peng menerka orang menggunakan tenaga dalam yang mahir, ia tidak mau melawan keras dengan keras, selekasnya serangan hampir sampai ia menjejak tanah berlompat tinggi.
Tetapi ia mencelat cuma untuk berkelit.
"Kelihatannya kau seperti orang marah-marah. Kalau dirumah aku mengalah sedikit terhadap kau, tidak mengapa. Tapi kalau keluar pintu, kau harus mengalah sedikit terhadapku. Siapa suruh kau menjadi enciku ?"
Ciu Biuaw Kouw dengar nona itu merubah sebutan kepadanya sebagai enci, dalam hati merasa tidak enak sendiri. Goaw Kiang Cu memanggil Lan Siauw In lalu berpesan padanya demikian .
"Dua ekor burung ini sangat cerdik, dua-duanya dapat memahami maksud orang. Nanti kalau orang she Tiauw itu sudah siuman kalian boleh mengambil keputusan sendiri, kemana saja kalian mau pergi burung itu bisa membawa kalian ke tempat yang kalian ingini. Dan sesudahnya, kalian tidak perlu repot-repot, dua-duanya bisa balik sendiri."
Tien Wi Kek, tombak bercagak dari Ti Wie itu orang kosen dijaman Sam Kok, tiga negara.
Dengan senjata itu juga, Tay Kong menyerang dengan luar biasa cepatnya.
Kiauw In waspada selekasnya ia diserang ia berkelit sambil mengegos pundaknya sambil bertindak nyamping dengan tindakan menginjak apa yang dijuluki gerak patkawa.
Begitu lekas ia selamat, ia sudah lantas menlakukan penyerangan pembalasan.
Dari samping itu ia membabat dengan babatan "Naga Emas Menggoyang Ekor", sasarannya ialah lengannya lawan yang galak itu.
Tay Kong terkejut.
Bukan saja serangannya gagal, ia pun segera terancam bahaya.
Bisa buntung lengannya itu !
Maka lantas ia menaruh kaki begitu ia maju pula guna menyerang kembali.
Ia pakai tombak cagak kiri guna melindungi tubuhnya dengan tombak cagak kanan ia kembali mengancam lawannya.
Ia mengarah iga kanan si nona.
Itulah tipu jurus "Kiri Menoleh, Kanan Menangkap."
Kiauw In berkelit dengan menggeser diri ke kiri satu tindak, begitu senjata lawan lewat tanpa mengenai sasarannya, ia membalas dengan tak kurang cepatnya.
Ia menikam ke arah kerongkongan lawan itu !
Itulah tikaman "Bianglala Putih Mengelilingi Matahari".
Demikian, begitu bergerak, mereka sudah saling menyerang hebat, cepat dan telengas dan tidak ada yang sudi mengalah atau berlaku lambat.
LieTay Kong lantas mendapat tahu lawannya lihai, tak mau ia berlaku lalai.
Ia segera menyerang pula.
Ia mengeluarkan ilmu tombak cagaknya yang diberi nama "Lima Harimau dan Ular Naga", hingga anginnya itu menderu-deru membisingkan tempat terbuka itu.
Ilmu tombak cagak itu dicampur dengan ilmu pedang Ngo Heng Kiam dari Ngo Bie Pay, hingga gerakannya makin cepat berbahaya.
Pek Cut Taysu yang menonton menjadi terkejut.
Hebat Lie Tay Kong.
Sendirinya pendeta itu berkuatir nona Kiauw In nanti tidak sanggup melayani lawannya yang lihai dan ganas itu, celaka kalau dia ayal atau keliru menggerakkan tangannya.
Kiauw In bertempur dengan sebatang pedang yang ia geraki umpama kata seperti "naga dan ular terbang menari-mari", cepatnya bagaikan angin menggulung mega atau bintang-bintang bertaburan.
Lie Tay Kong dapat mengimbangi kepandaiannya si nona, maka juga pertempuran mereka menjadi seru sekali.
Jurus-jurus telah dikasih lewat, mereka berkelahi makin keras dan makin cepat.
Sampai lima puluh jurus, mereka tetap sama unggulnya.
Hingga nampak saja berkelebatannya sinar pedang dan tombak cagak dan sinar itu mengkilat kehijau-hijauan.
Kalau Lie Tay Kong menyerang dengan berani, Kiauw In melawan dengan waspada serta menjaga dan melindungi pedangnya agar jangan sampi kena terkait.
Tongkat cagak yang berkaitan itu memang istimewa guna mengait senjata lawan untuk ditarik dan dirampas.
Maka itu walaupun pertempuran dahulu si nona lebih banyak di pihak membela diri.
Lie Tay Kong penasaran, melihat si nona lebih banyak berkelit, ia mau percaya nona itu tak akan bertahan lama.
Demikian ia menunggu saat yang tepat.
Saat itu ialah saatnya si nona sudah letih.
Dan saat itu tiba selewatnya beberapa jurus lagi.
Secara sekonyong-konyong orang she Lie itu berseru keras, lalu tubuhnya mencelat tinggi tujuh atau delapan kaki, lantas dari atas selagi turun ia menyerang dengan tombak kaitannya itu, mengarah kepala si nona.
Itulah pukulan "Menggempur punggung Thay San."
Nona Cio melihat gerakan lawannya, ia tidak menangkis, hanya berkelit saja dengan memutar tubuh.
Mudah saja ia menyelamatkan dirinya.
Tapi ia bukan melulukan berkelit hanya selekasnya kaitan lewat, ia membalas menikam dengan tikaman "Tiga Kali Menghajar Gelombang Pintu Naga."
Lie Tay Kong tengah menggunakan ayalnya.
Sebelum kakinya menginjak tanah, ia sudah menghalau tikaman itu.
Lalu selekasnya ia dapat berdiri terus ia berlompat pula jauh setombak lebih.
Kiauw In tidak dapat menerka maksudnya lawan.
Selekasnya ia menarik pulang pedangnya, ia pun berlompat untuk menyusul.
Maksud Tay Kong ialah menanti lawannya letih.
Terkaannya itu tepat.
Hanya ia kurang menyelami kepandaiannya si nona.
Memang Kiauw In mulai merasa letih, tetapi ia tahan diri, ia masih dapat bertahan.
Tay Kong sendiri pun sudah mulai mengeluarkan peluh sebab ia telah mempergunakan terlalu banyak tenaga.
Hanya itu ia percaya si nona pastilah terlebih lelah dari padanya.
Ketika ia berlompat itu, kakinya sudah tak tetap semula, tetapi ia masih menjalankan rencananya.
Ia tetap menanti waktunya dan waktu itu segera tiba.
Di saat itu Kiauw In berlaku cerdik.
Nona inipun memikir guna memancing lawannya itu.
Maka berdua mereka ada masing-masing maksudnya sendiri-sendiri.
Si nona pula mengasih rupa kurang gesit...
Lie Tay Kong girang sekali.
Mendadak ia mendak.
Lantas ia menyerang dengan tian wie kek, sepasang tombak kaitannya itu.
Kaitan kanan bergerak dengan jurus "Di dasar Laut Mencari Jarum"
Dan yang kiri dengan "Dewa menunjuki Jalan".
Kedua kaitan meluncur ke arah tenggorokan dan iga !
Melihat datangnya ancaman petaka itu, Kiauw In berlaku gesit.
Ia berkelit ke kiri sejauh satu tindak, terus ia memutar tubuhnya.
"Awan Menampak Matahari". Senjatanya itu dilancarkan mirip senjata rahasia. Kiauw In dapat melihat bahaya mengancamnya, itu ia dapat mengerti lawan pasti sudah mengerahkan tenaga, maka itu tak mau ia melayani keras dengan keras. Malah untuk menyelamatkan diri, ia berkelit sambil menjatuhkan diri bergulingan sejauh tujuh atau delapan kaki. Sebaliknya, sepasang senjatanya Lie Tay Kong itu mengenai tanah sampai nancap setengah kaki ! Menyusul senjata itu, Tay Kong turun ke tanah, untuk mencabutnya, tapi justru ia berbuat demikian. Kiauw In telah berlompat maju, membalas menyerang padanya. Si nona berlompat dengan lompatan "Ikan Gabra Meletik di Pintu Naga"
Dan menikam dengan jurus "Bidadari Melemparkan Tuak", sasarannya yaitu dada lawan.
Tay Kong sampai mencabut kaitan kirinya, kaitannya masih tetap nancap di tanah itu, maka ia terpaksa menangkis dengan tangan kiri dengan gerakan "Menyangga Penglari Emas"
Tidak ada waktu bagi Nona Cio untuk menarik pulang pedangnya, maka kedua senjata lantas beradu keras, tetapi ini ada baiknya untuknya, yang telah memikirkan jalan untuk menghajar lawan itu.
Berbareng dengan bentronya kedua senjata itu, tangan kirinya menyambar dada lawan.
Celaka bagi Tay Kong, tangan kirinya tak dapat ditarik pulang.
Dia juga tidak sempat menggunakan kaitan kanannya sebab tombak cagak itu belum keburu dicabut.
Dia pula tak sempat menangkis dengan tangan kosong sebab tangannya tengah memegangi gagang tombak.
Maka itu, dadanya kena terhajar keras hingga dia menjerit keras.
Dengan melepaskan tangannya pada tombak cagak yang masih nancap ditanah itu, dia berlompat mundur, tubuhnya limbung, hampir dia rebah.
Kiauw In tahu orang terluka hendak ia menyatroni, buat menghajarnya lebih jauh atau ia terkejut tiba-tiba.
Itulah sebab, selekasnya dia menancap kakinya, Tay Kong sudah menimpuk dengan panah tangannya yang beracun yang disimpannya di dalam bumbung, hingga meluncurlah enam batang mengarah ke atas, bawah dan tengah.
Syukur si nona tabah dan sebab tak sempat ia berkelit, maka ia putar pedangnya dengan cepat, membikin ke-enam batang panah itu terasampok jatuh ke tanah.
Lie Tay Kong penasaran sekali, hendak ia menyerang terlebih dahulu.
Ia masih mempunyai senjata rahasia lain.
Tapi, sebelum ia mengeluarkan senjata rahasia itu, dari belakangnya ia mendengar suara orang berkata padanya .
"Saudara Lie, silahkan mundur ! Kau biarkan Tio It In yang membereskan ini siluman perempuan !"
Menyusuli kata-katanya itu, orang yang menyebut dirinya Tio It In itu benar-benar sudah lompat maju dengan penyerangan hingga Kiauw In terpaksa mesti melayani padanya.
Bahkan karena penyerangan dilakukan dengan keras dan terus menerus tanpa merasa di dalam sejenak itu mereka sudah melalui sepuluh jurus !
Di pihak lain, Gouw Jie Taysu sudah dilibat Giok Bin Siang Ho Tan Hong dan Cek Hong Sian cu Cin Tong.
Dia menjadi repot sebab tak mampu dia membebaskan diri, sedangkan sebenarnya dia memikir buat membantui Gouw Tek Taysu.
Dia pula melihat bagaimana Kan Tia Uh si pendurhaka tengah mendesak Gouw Gio dan Gouw Ceng, kedua tentu yang repot hingga buat membela diripun sukar.
Juga si jago tua Ngay Eng Eng sudah terlibat Beng Leng Cinjin.
Tak lama muncullah Ang Sian Siangjin.
Pendeta ini melihat Eng Eng terdesak hebat oleh ketua dari pulau luar lautan itu, tanpa pikir pula, ia maju untuk membantu.
Karena ini Eng Eng sempat lompat mundur, hingga si pendeta sendiri yang menggantikannya melayani.
Ang Sian menggunakan tongkat sianthung, datang datang dia membabat ke bawah.
Hebat serangan itu hingga anginnya membuat debu dan batu halus beterbangan.
Beng Leng Cinjin menangkis sambil merapatkan menempel tongkat orang, berniat terus memapas tangan lawan tetapi Ang Sian keburu menarik pulang tongkatnya itu.
Setelah gebrakan yang pertama ini, kedua belah pihak lantas waspada.
Karena masing-masing mereka menginsafi lihainya lawan.
Seratus lebih pendeta lantas berdiam untuk menonton pertempuran diantara kedua jago itu.
Ang Sian bertindak memutar, demikian juga jago luar lautan itu.
Mereka sama-sama melihat kesempatan.
Dua kali Beng Leng menikam, ia tak diladeni.
Ang Sian dapat menerka orang hanya menggertak.
Melihat si pendeta tidak kena digertak, Beng Leng memikir akal.
Lagi-lagi ia mulai menyerang, separuh menggertak separuh sungguh-sungguh.
Ia ulangi itu hingga belasan kali.
Ia pun ingin membuat mata lawan kabur dengan sinar pedangnya itu, yang berkelebatan berkilauan.
Lalu mendadak ia menikam benar-benar, mencari dada si pendeta.
Ia menggunakan jurus "Ular Beracun Keluar dari Gua".
Ang Sian selalu waspada, matanya pun awas.
Kali ini ia mengerti bahwa orang bersungguh-sungguh.
Lantas ia pun menggunakan tipu.
Ia membiarkan pedang meluncur ke arah sasarannya, hanya setelah ujung senjata itu hampir mengenai, mendadak ia mendirikan tubuhnya, yang digeser sedikit ke samping, untuk dari situ menghajar sambil berseru, maksudnya menghadang jalan mundur lawan.
Hebat serangan itu, yang berupa kemplangan.
Kee Liong yang turut menontonpun kaget sekali, ia takut ketuanya nanti kena terhajar mati.
Ia melihat serangan sangat berbahaya itu.
Tapi Beng Leng dapat menyelamatkan diri.
Tahu-tahu dia sudah berlompat tinggi.
Itulah karena caranya yang luar biasa, yaitu tongkat ditudingkan nempel dengan ujung pedang lalu tenaga dikerahkan, maka sambil menolak tongkat itu, tubuhnya mental naik untuk terus berjumpalitan nyamping terlebih jauh, hingga dia bebas seluruhnya.
Ang Sian tidak mau mengerti, ia lompat menyusul.
Kembali ia menyerang.
Ia tidak mau menanti sampai lawan keburu memasang kuda-kuda.
Cara ini membuatnya menang diatas angin.
Maka orang dan tongkat bergerak seperti menjadi satu, setiap serangan merupakan serangan maut.
Disamping ilmu silatnya, ia memang bertenaga besar dan tenaga dalamnya mahir.
Tongkatnya itu berat, tapi ditangannya menjadi ringan sekali, mudah digerak gerakinya, siapa terkena tongkatnya dia seperti direnggut maut.
Repot juga Beng Leng, tak perduli dia lihai sekali.
Repot dia membela diri hingga sulit buat dia mencari ketika akan satu penyerangan membalas.
Syukur ia gesit dan lincah, dapat ia melayani dengan cara pembelaan diri saja.
Akan tetapi sambil berkelit ia juga menggunakan otaknya yang ia asah untuk mendapatkan daya menentang bahaya jiwa, buat suatu pembalasan.
Ia bisa celaka kalau ia tidak berhasil mendapatkan daya itu.
Beng Leng lantas menggertak gigi, tubuhnya maju, senjatanya bekerja.
Ia bergerak cepat bagaikan angin.
Senjatanya itu berkilau di depan si pendeta, hingga dia ini merasa silau dan terpaksa mundur beberapa tindak.
Dengan perlawanannya yang bertubi-tubi itu, akhirnya dapat ia membebaskan diri untuk merebut kedudukan.
Ang Sian kagum menyaksikan imam itu demikian gagah, dilain pihak ia pun mendongkol.
Kembali ia maju menyerang.
Syukur baginya, ia berpengalaman dalam hal pertempuran.
Karena ketahui lawan lihai, ia berkelahi dengan perhatian sepenuhnya.
Dengan tongkatnya ia mencoba mengurung pula lawan itu.
Kembali Beng Leng melakukan perlawanan.
Rata-rata ia dibawah desakan, tetapi saking lihainya, Ang Sian tidak dapat berbuat lebih banyak lagi.
Sejurus demi sejurus maka keduanya sudah lantas melalui seratus jurus lebih !
Masih saja mereka tampak tak letih-letihnya.
Bahkan lewat lagi sekian lama si pendeta dapat bergerak lincah berputaran didalam gelanggang pertempurannya itu.
Ujung siantung seperti membayangi tubuh orang tetapi tubuh itu tak pernah tersentuh saking liciknya atau karena tangkisannya yang tepat.
Ada kalanya Beng Leng menangkis, beberapa tipu pedang telah dikeluarkannya guna mendesak lawannya.
Ia menggunakan jurus-jurus seperti "Angin Keras Meruntuhkan Daun, Kaisar Han Kho Couw Membunuh Ular, Ayam Galak Merebut Gabah dan Di Kepala Naga Mengambil Mutiara", ujung pedangnya senantiasa mengancam lawannya itu.
Tibalah gilirannya Ang Sian akan melayani pelbagai ancaman petaka, dengan tongkatnya ia menghalau setiap tikaman atau tebasan Beng Leng.
Hingga kemudian mereka tampaknya seperti seri, seimbang gerak geriknya.
Dan itulah bukti dari ngototnya si imam dari luar lautan itu yang benarbenar lihai, tak dapat dipandang ringan.
Apa yang tegas diantara dua lawan itu, Ang Sian menang tenaga dan tenaga dalam dan Beng Leng kelincahan, keringanan tubuhnya juga ilmu pedangnya.
Di luar pintu gerbang Siauw Lim Sie juga terjadi pertarungan yang seru diantara penyerbu dan tuan rumah, suara senjata beradu riuh sekali, sedang berkelebatnya senjata-senjata itu memperlihatkan sinar berkilauan.
Tubuh orang bergerak bagaikan tak hentinya.
Suasana itu mirip dengan badai tengah mengamuk, membuat daun-daun berjatuhan dan rumput rapat terkurung.
Selagi suasana sedemikian rupa itu, sekonyong-konyong orang mendengar satu suara tertawa yang bergelak-gelak keras dan lama datangnya dari rimba sebelah kiri medan laga itu.
Semua telinga orang bagaikan ditusuk-tusuk mendengar tawa nyaring luar biasa itu.
Orang terkejut dan heran tanpa merasa orang pada berpaling.
Belum berhenti suara itu atau orang melihat munculnya seseorang ialah orang yang tertawa luar biasa itu.
Kiranya tiga tombak dari pintu di sana berdiri seorang pengemis yang usianya sudah lanjut.
Siapa yang kenal atau tahu pengemis itu lantas mengenali Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian !
Segera In Gwa Sian melirik tajam ke segala penjuru, setelah itu dia bertindak ke depannya Pek Cut ketua Siau Lim Sie untuk lantas berkata .
"Di mataku si tua bangka, kawanan setan-setan cilik benar ada mempunyai kepandaian yang berarti ! Maka itu sayang mereka pada mengandung hati binatang hingga mereka sudah mengumpul dosa dalam dunia rimba persilatan, maka itu nampaknya tak dapat tidak, mereka harus diberi hajaran hebat !"
"Amida Buddha !"
Pek Cut memuji seraya merangkap kedua belah tangannya.
"Sebenarnya sudah cukup asal mereka itu tahu diri dan mundur sendirinya, supaya selanjutnya mereka sadar, lalu mencuci hati dan mukanya ! Hanya dengan begitu saja maka akan habis sudah ini macam kutukan celaka !"
In Gwa Sian tertawa pula nyaring .
"Bapak pendeta yang maha suci"
Katanya.
"Walaupun kau memondong maksud yang baik dari sang Buddha yang maha mulia dan welas asih tetapi tidaklah demikian hatinya kawanan bangsat cilik ini ! Mereka justru menguatirkan yang dunia tak kacau balau, bahwa kejahatan masih kurang hebat ! Maka juga kita yang bekerja buat tujuan yang mulia, kita harus membasmi segala kejahatan, guna menolong rakyat jelata yang aman dan damai ! Dalam hal ini kita harus bersikap dengan pembunuhan menghentikan pembunuhan !"
Habis berkata begitu, selagi suara mendengung dan katakatanya belum sirna, si pengemis sudah lantas bertindak ke arah pertempuran diantara Ang Sian Siangjin dan Beng Leng Cinjin.
Ia bertindak untuk melompat mencelat supaya dapat datang menghampiri dengan terlebih cepat.
Selekasnya ia sudah sampai mendadak ia meluncurkan sebelah tangannya menyerang kepalanya si imam !
Itulah jurus pukulan "Burung Air Mematuk Ikan", satu jurus dari ilmu silat "Hang Liong Bok Mo Ciang"
Menaklukan Naga, Menundukkan Bajingan.
Beng Leng Cinjin menjadi kaget, lekas-lekas ia berkelit, berbareng dengan mana dengan pedangnya ia menebas lengan orang.
In Gwa Sian menyerang sambil berlompat maka itu tebasan pedang menyambar padanya belum sempat menaruh kaki.
Tapi tebasan lawan itu sudah menjadi terkaannya maka juga ia menarik pulang serangannya sambil tangannya itu diputar balik buat terus dipakai mementil belakang pedang.
Itulah pukulan tangan yang berpokok pada ilmu tenaga dalam "Sian Thian Khie kang"
Dan tepat pentilannya itu, hingga pedang lawan memperdengarkan suara keras dan putus seketika bagian yang terserang itu !
Memangnya In Gwa Sian telah melatih ilmu silatnya itu selama beberapa puluh tahun.
Berbareng dengan itu, Ang Sian Siangjin tidak berlompat mundur atau menyamping, sebaliknya, ia menyerang sebab ia kebetulan tengah mengancam lawannya itu.
Ia menyerang dengan tangan kiri yang terbuka sambil ia berlompat maju.
Beng Leng Cinjin terkejut karena putusnya pedangnya itu, tetapi sebagai seorang jago yang berpengalaman, hatinya tidak gentar dan dia juga tidak mau mengangkat kaki dari depan pertempuran cuma guna mencegah serangan lanjutan dari lawan, ia menjatuhkan diri ke tanah, buat menyingkir sambil bergulingan.
Dengan begitu bebaslah ia dari ujung tongkat atau tangannya si pengemis.
Lekas-lekas ia menoleh, akan menatap orang yang menguntungkan ujung pedangnya itu.
In Gwa Sian tidak menanti orang membuka mulut, ia menuding sambil tertawa dan kata dengan nyaring .
"Kiranya latihan ilmu silat tiga puluh tahun dari pulau Ikan Lodan Hitam cuma sebegitu saja ! Baru serangan satu jurus saja sudah kau tak sanggup terima, bagaimana berani kau mendatangi Tionggoan, guna mengganggu kesejahateraan kau rimba persilatan kami ?"
Itulah ejekan ! Maka gusar Beng Leng Cinjin bukan kepalang. oooOooo "Pengemis bangkotan !"
Bentaknya sengit.
"Pengemis, jangan kau ngoceh tidak karuan ! Jangan kau takabur ! Kenapa kau main bokong ? Apakah kau masih punya muka untuk muncul dalam dunia Sungai Telaga ?"
In Gwa Sian menatap, sikapnya dingin.
"Menghadapi kamu, kawanan bajingan cilik, jika kau tidak senang dan hendak menempur aku, kau utarakanlah kehendakmu ! Kau mau apa ?"
Meluaplah hawa amarahnya si jago dari luar lautan, tak sudi ia melayani mengadu lidah lagi, didalam murkanya itu, mendadak ia menyerang si pengemis dengan pedang buntungnya itu, yang ia timpukkan !
In Gwa Sian dapat melihat serangan yang seperti membokong itu sembari mengegos tubuh ke sisi, ia tertawa lebar, tangannya diulur buat dipakai menyambuti senjata itu yang tepat ia kena cekal gagangnya.
Tetapi ia tidak cekal itu lama-lama hanya begitu terpegang terus ia lemparkan ke samping, ke arah Tio It In yang sedang berkelahi ngotot melibat Nona Cio Kiauw In !
"Aduh !"
Menjerit orang luar lautan itu, sebab tepat pedang mengenakan tubuhnya menyusul mana dia roboh, atas mana Kiauw In lompat kepadanya sambil si nona menggerakkan pedangnya, guna menghabiskan jiwa orang atau mendadak Kee Liong lompat menerjang.
Dia itu mau membantu kawannya, maka ia menangkis pedang si nona, hingga kedua senjata beradu keras.
Demikian It In dapat menggulingkan tubuh.
Kiauw In tidak puas atas cegahannya Kee Liong itu.
Justru pedangnya nempel dengan toya besi musuh itu, ia meneruskan menyosorkan pedangnya itu menyusuri pinggirannya toya, untuk menebas jeriji-jeriji tangan yang mencekal genggaman besi bulat bundar itu.
Kee Liong kaget sekali.
Inilah ia tidak sangka.
Adalah diluar dugaannya yang nona itu demikian lihai.
Celakalah kalau ia membandel memegang senjatanya itu.
Buat berkelit atau menangkis sudah tidak keburu.
Maka terpaksa ia melepaskan cekalnya hingga toya besi jatuh ke tanah dan ia sendiri terus lompat mundur sekalian menjauhkan diri !
Kiauw In tidak mengejar lawannya itu, sebaliknya ia berpaling ke arah Tio It In sambil terus berlompat untuk menghampirinya.
It In telah mengguling tubuh sejauh lima tombak, akan tetapi ia dapat disusul dengan dua kali enjotan tubuh saja.
Sementara itu Lie Tay Kong, yang dilukai si nona, masih rebah di tanah.
Ia melihat nona itu menyusul It In, segera memikir buat menurunkan tangan jahat.
Ia berada lebih dekat dengan si nona daripada It In dengan nona itu.
Ia pula masih dapat bergerak leluasa.
Maka lekas-lekas ia mengeluarkan senjata rahasianya, panah Bwan hoa-cian yang beracun itu, terus saja ia menyerang !
Kiauw In tengah menghampiri It In, ia tidak menyangka jelek akan tetapi ia memiliki pendengaran yang luar biasa, telinganya menangkap suara angin menyambar.
Lantas ia menduga kepada senjata rahasia.
Tanpa menoleh pula ia mengapungi diri dengan ilmu ringan tubuh lompatan Tangga Mega.
Maka lima batang panah beracun lewat dibawah kakinya.
Justru itu Kee Liong telah menggunakan kesempatan yang baik.
Selagi si nona membantu diri itu, ia justru membantu It In yang tubuhnya ia sambar dan angkat terus digendong dibawa lari !
Kiauw In turun ke tanah untuk segera menuding Lie Tay Kong.
"Hai, jahanam, bagaimana kau berani membokong orang ?"
Tegurnya gusar.
"Perbuatanmu sungguh rendah ! Sayang kau sedang terluka parah, tidak tega aku membunuhmu ! Ingat, jika nanti kita bertemu pula, tak nanti aku suka memberi ampun padamu !"
"Hei budak bau, kau membuka mulut besar !"
Tiba-tiba Tan Hong si Rase Sakti Bermuka Kemala berkata dengan dingin.
"Nonamu ini ingin belajar kenal dengan ilmu silat lihai dari kau Pay In Nia kamu ! Hendak aku lihat Tek Cio si imam tua telah mengajarkan budaknya kepandaian berapa tinggi !"
Kata-kata ini disusul dengan serangan dengan tongkatnya yang disebut tongkat batu sanho pang dan pukulannya ialah jurus "Berlaksa Bunga Mekar Berbareng", itulah salah satu ilmu silat istimewa dari pulau Hek Kang To, dan sekali hajar terus bertubi-tubi sampai delapan kali beruntun.
Kiauw In lantas seperti terkurung sinar berkelibatan dan pelbagai jalan darahnya terancam akan tertotok atau tertusuk !
Memang namanya "Sam Koay Cit Yauw It Lo Yauw "
Tiga siluman, tujuh iblis atau bajingan dan satu tampang tua sangat menyeramkan dan menakuti, sebab disamping mereka hebat luar biasa, juga mereka sangat telengas, sedangkan Tan Hong ini menjadi salah satu dari tiga iblis dari Hek Kang To.
Dalam halnya ilmu silat, ia cuma kalah seurat dari Beng Leng Cinjin, ketuanya dan menang setingkat dari Cek Hong Siancu Cin Tong.
Mengenai kekejamannya, kaum Sungai Telaga jeri terhadapnya !
Kiauw In mendengar suara orang itu akan tetapi sebelum ia sempat memutar tubuh, cahaya terang sudah datang kepadanya untuk mengurungnya, penyerangnya sendiri tidak nampak.
Ia cerdas dan tabah.
Ia berlaku tenang.
Kembali ia mencelat tinggi dengan gerakan dari lompatan Tangga Mega.
Semua hadirin di medan pertempuran mengagumi nona Cio.
Adalah diluar sangkaan mereka yang si nona dapat menyelamatkan diri dari serangan maut itu.
Habis mengelit dan menangkis delapan jurusnya lawan, tanpa membuang waktu lagi, nona Cio melakukan penyerangan pembalasan.
Ia lantas menggunakan Khie bun Pat Kwa Kiam jurus "Pelangi Melayang Menyusuli Suara"
Ujung pedangnya menempel tongkat.
Jurus ini mempunyai delapan perubahan dan semuanya itu lantas dikeluarkan dipakai menyerang guna menggempur tenaga dalam lawannya.
Siapa tidak lihai dan berpengalaman sukar dia lolos dari jurus silat itu.
Tan Hong jago Hek Kang To, dia lihai dan banyak pengalamannya, tapi dia lalai, maka itu repotlah ia.
Tongkatnya sudah berbalik kena dikekang dan beberapa kali kena terhajar hingga bersuara nyaring seperti mau patah.
Syukur senjatanya itu istimewa dan dapat bertahan.
Hanya ia kaget dan karenanya menjadi gusar sekali sebab berbareng ia pun malu.
Lantas ia tertawa dingin.
Biasanya makin ia gusar, tawanya itu makin hebat.
Sembari bertahan itu ia mengumpulkan tenaga dalamnya, ia mencoba menindih pedang lawan.
Jilid 8 Kiauw In masih sangat muda, walaupun demikian tenaga dalamnya berimbang dengan tenaganya cabang atas wanita dari luar lautan itu, maka tak mudah ia berbalik dikekang pula.
Ia bertahan untuk tetap menguasai keunggulannya.
Maka suara senjata menjadi lebih serius beradu nyaring dan gerakan tubuh mereka berdua makin hebat.
Karena mereka mengadu tenaga dalam, tindakan mereka ayal.
Itulah saat-saat yang berbahaya buat kedua pihak samasama.
Siapa lalai ia bercelaka.
Alis lentik Kiauw In bangun berdiri, sepasang matanya yang jeli dibuka lebar.
Kedua belah pipinya yang halus pun bersemu merah dadu.
Tan Hong, karena murkanya tak lagi tampak senyum genitnya yang menggiurkan hati sebaliknya kedua biji matanya mengeluarkan sinar marong bagaikan api bara !
Aneh ialah ia justru tertawa, tawanya justru bertambah keras...
Kedua nona pun sampai memperdengarkan suara nafas mereka...
Tengah mereka bergulat lebih jauh itu dengan memecah meminjam tenaga lawan, dengan sekonyongkonyong saja tahunya Tan Hong melejit tinggi, menyusul mana tangan kirinya yang kosong dipakai menyerang lawannya, ia menggunakan pukulan Udara Kosong dan sasarannya ialah batok kepala lawannya.
Kiauw In waspada, matanya tajam gerakannya gesit.
Melihat serangan lawan itu ia bertahan menentang tongkat musuh untuk membela diri.
Ia memasang kuda-kuda rendah, tangan kirinya diangkat keras ketinggi guna menyambut serangan gencar itu.
Ia menggunakan satu jurus dari Hang Liong Hoa Houw Kun silat Menaklukan Naga menundukan harimau ajaran Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian paman gurunya.
Giok Bin Sian Ho cerdik sekali.
Barusan dia menghajar Kiauw dengan dua maksud, pertama untuk mengancam supaya tongkatnya dapat dibabatkan, dan kedua sekalian saja kalaukalau lawan itu dapat dihancurkan batok kepalanya.
Tapi ia gagal seluruhnya.
Tidak disangka Nona Cio dapat menentang hajarannya itu !
Ia terkejut sebab selagi menyerang itu, tubuhnya masih belum menginjak tanah, sedangkan tenaganya dipecah dua, ke tangan kanan dan tangan kiri..
satu buat meloloskan tongkatnya, satu lagi buat merebut kemenangan.
Tanpa dapat dicegah lagi kedua tangan lantas beradu satu dengan lain.
Dasar dia cerdik.
Tan Hong menggunakan kesempatan buat terus menendang.
Kiauw In mau menghindarkan diri, terpaksa ia lompat nyamping.
Dengan begini berhasillah daya upaya jago dari Hek Kong To itu, tongkatnya lantas lolos dari kekangan pedang.
Bagus untuknya, Nona Cio tidak meneruskan menyusulnya.
Melihat orang mundur, Kiauw In lantas kembali pada Pek Cut Siansu, niatnya buat beristirahat dahulu.
Biar bagaimana ia merasa letih.
Justru Nona Cio mengundurkan diri, justru ada orang berlompat menyusul padanya, saking cepatnya tubuh orang itu tampak seperti bayangan hitam saja.
Di lain pihak satu sinar mengkilat menyambar arah kepalanya nona yang dihampirinya itu.
Semua orang tegasnya semua pendeta menjadi terperanjat.
Nona Cio lagi dibokong orang !
Serempak beberapa diantaranya maju guna menghadang musuh.
"Aduh !"
Demikian terdengar satu jeritan dan robohlah penyerang gelap itu sebelum dia berhasil mencapai Nona Cio, itulah akibat berkilauannya dua buah sinar mirip cahaya bintang yang satu menyambar pedang yang lain mengarah pedang yang dipakai si pembokong.
Setelah itu maka ternyata tukang membokong itu yaitu Cek Hong Sian cu Ciu Tong yang membokong Nona Cio guna ia melampiaskan kedongkolan hatinya sebab Tan Hong kena dipukul mudur.
Pedangnya itu diruntuhkan dua batang Twie Han Piauw, Piauw Mengejar Koh atau Piauw maut dari In Gwa Sian yang membantu Kiauw In berbareng mencegah majunya lawan.
Tatkala itu jam empat kira-kira.
Angin gunung bertiup mendatangkan hawa makin dingin.
Anginpun membuat rimba menjadi berisik sebab bergerak-gerak dahan dan daunnya.
Hanya pertempuran di muka gerbang Siauw Lim Sie telah reda sendirinya, sebab musuh mundur teratur dan pihak Siauw Lim Sie tidak mengejarnya.
Orang pada hendak beristirahat.
Maka sunyilah suasana disekitar tempat itu !
Tetapi justru sang kesunyian baru menguasai sang malam, mendadak orang mendengar suara-suara yang datangnya dari dalam kuil, datangnya saling susul suaranya seperti mengalun ditengah udara.
Semua orang terperanjat.
Pek Cut mengerti musuh sudah menyelundup kedalam kuil sedikitnya guna mengacau.
Maka ia lantas memikir siapa yang dapat dikirim untuk membantai pihaknya yang membelai kuil.
Selagi berpikir itu, berulang-ulang ia memuji Sang Buddha !
Sebelum kepala pendeta itu berkata-kata Liauw In sudah bertindak kehadapannya buat memberi hormat seraya berkata .
"Dari dalam kuil terdengar suara-suara dari timur menyerang ke barat, maksudnya buat mengacau kita supaya kita ribut dan bingung tak karuan. Menurutku tak usah kita mengirim bantuan kesana. Di dalam kuil sudah ada tiga totiang dan Bu Tong Pay, kawanan jahanam itu pasti tidak dapat berbuat banyak. Kita harus jaga supaya kita tidak kena tertipu mereka. Baiklah aku yang pergi pulang, guna melongok dahulu."
Pek Cut Taysu setuju.
"Baik, kau pergilah, sute ! Asal kau waspada !"
Liauw In mengangguk, segera ia berangkat pergi.
Ketika tadi Beng Leng Cinjin dari Bok Kang To menempur In Gwa Sian dan pedangnya kena dikutungkan, pedang mana terus ditimpukkan oleh pendeta kepada Tio Itlo, hatinya panas bukan main.
Ia pun malu.
Sekian lama ia berdiri diam saja.
Dan tatkala Kiauw In dan Tan Hong mengadu kepandaian hingga semua orang asyik menonton, mendadak ia mempunyai serupa pikiran, lantas secara diam-diam ia mengangkat kaki dari situ, lantas menuju kedalam kuil.
Diatas genteng dalam diatas beberapa wuwungan atau ruang samping, ia bersembunyi disebuah payon disitu pojok.
Dari sini ia memasang mata ke empat penjuru kuil.
Ia mendapati pelbagai pandangan dimana cahaya api terangterang.
Tapi lalu sunyi sekali.
Hingga ia menjadi heran, ia menerka-nerka apakah sebabnya kesunyian itu ?
Kemudian mengawasi lebih jauh, ia tertarik dan disebuah loteng atau rongkos disebelah kiri.
Rumah bangunan itu besar sekali.
Didalam gelap segala apa tak nampak tegas.
Di sana tak ada pelita atau lentera.
Hanya sejenak, Beng Leng lantas pergi ke rongkos itu.
Ia melompati pelbagai ruang atau pendopo sebelumnya tiba diatas pendopo yang terakhir.
Untuk sampai di tempat itu, ia harus melewati sebuah jalan yang jalannya terbuat dari batu yang terdiri dari tiga susun, jendelanya sangat-sangat sedikit dan semuanya tertutup rapat !
Terpaksa ia lompat turun ke jalanan untuk menghampiri pintu.
Ketika ia mengangkat kepala, ia melihat papan merek dengan tiga hurup Chong Keng Kok tadi, itulah loteng tempat menyimpan kitab-kitab pusaka Siauw Lim Sie.
Tiba-tiba muncul ingatannya yang jahat ia memikir membakar lauwiang itu, supaya habis ludas segala catatan penting mengenai Siauw Lim Sie.
Ia pun lantas merogoh sakunya buat mengasi keluar Liauw gosokan serta peluru peledak buatannya sendiri.
"Siapa ?"
Tiba-tiba ia mendengar suara pertanyaan nyaring di belakang selagi tangannya merogoh saku itu.
Beng Leng kaget sekali.
Tak disangka ada orang memergokinya.
Barusan ia tidak mendengar suara apa juga.
Segera ia menoleh maka ia melihat empat orang pendeta dengan jubah suCinya masing-masing, semua tubuhnya tinggi besar, tampangnya kekar dan keren.
Mereka itu berdiri tegak.
Merekalah empat pendeta yang ditugaskan menjaga loteng itu.
Selagi ia melengak sejenak, Beng Leng sudah menggenggam peluru peledaknya itu.
Ingin ia melanjutkan niatnya membakar loteng atau sebatang sianthung sudah menyambutnya.
Terpaksa, ia menunda menimpuk.
Ia mundur dua tindak, habis itu bara tangannya diteruskan diayunkan, dipakai menimpukkan pelurunya itu.
Pendeta itu menyangka orang menggunakan alat rahasia, dia lompat berkelit maka peluru itu mengenai batu dan kontan meledak mendatangkan api berkobar, apinya menyambar jubahnya !
Dalam kagetnya, petugas melindungi keamanannya Chong Keng Kok itu membuang diri bergulingan buat memadamkan api yang membakar tubuhnya.
Walaupun demikian sudah meletup ke mukanya membikin luka itu melepuh dan mendatangkan rasa panas nyeri.
Beng Leng sementara itu tidak berdiam diri saja.
Ia berlompat maju untuk menyerang tiga pendeta lainnya.
Ia menggunakan hadrim, kebutannya, kebutan yang menjadi senjatanya yang istimewa itu, karena itu ciptaan dan buatannya sendiri, ujungnya dibuat dari emas putih, kuat hingga tak takut terbacok kutung oleh golok atau pedang.
Kapan digunakan ujung kebuatan dapat menjadi lunak atau keras mengikuti tenaga yang ia kerahkan.
Melihat datangnya serangan, ketiga pendeta berlompat mundur masing-masing satu tindak, tetapi begitu lekas mereka mundur.
begitu lekas juga mereka maju sambil menyerang dengan berbareng.
Mereka menggunakan Lohan Thunghan ilmu tongkat Arbar dan menyerang itu ke atas ke tengah dan ke bawah.
Pendeta yang terbakar itu dapat berlompat bangun, dia tak terluka parah, maka juga lantas dia maju mengepung.
Tentu sekali ia gusar bukan main.
Pengepungan itu hebat tetapi Beng Leng jauh lebih kosen daripada mereka dan kebutannya juga sangat lihai karena itu mereka tidak dapat berbuat banyak bahkan lekas juga mereka sendiri yang kena dibikin kalang kabutan.
Segera setelah orang keteter dan terdesak, mendadak Beng Leng Cinjin berseru bengis sambil ia mengabut dengan ilmu kebutan.
"Angin dan Mega Berubah Warna"
Maka serempak tongkatnya para pendeta kena dikebut terpapas dari cekalan, mereka semuanya terpental jauh setombak lebih.
"Lekas buka pintu Chong Keng Kok !"
Beng Leng berseru dengan begis.
"Jika tidak, kalian bakal rebah dengan mandi darah !"
Ke empat pendeta itu kaget bukan main, Tanpa tongkat ditangan mereka, mereka berdiri terpisah setombak lebih daripada penyerbu itu, bukannya mereka mengangkat kaki, mereka justru mengawi.
Pendeta yang terbakar itu tapinya sudah lantas memperdengarkan siulan nyaring dan lama, memecah kesunyian malam.
Siulan itu berkumandang naik ke udara.
Beng Leng berpengalaman, tahulah ia apa artinya siulan itu, suatu pertanda ada ancaman bahaya dan meminta bantuan.
Dia memang telengas, dia menjadi sangat gusar, tidak ampun lagi, dia lompat menyerang.
Dia menggunakan jurus silat "Pay Khong Ciang Angin Menolak Udara Kosong"
Yang dahsyat sekali.
Seketika itu juga ke empat pendeta roboh tergulung dan terluka parah !
Ia pun lantas menimpukkan empat buah pelurunya ke loteng hingga peluru meledak dan membakar diempat penjuru, apinya terus berkobar.
Menyusul itu ramailah suara genta, karena para pendeta yang melihat terbitnya kebakaran, sudah lantas memberikan tanda bahaya itu.
Suara genta mengaung ke tengah udara, ke lembahlembah.
Belum puas Beng Leng dengan pembakarannya itu terhadap Chong Keng Kok, ingin ia membakar lain-lain bagian dari kuil Siauw Lim Sie, buat membikin Pek Cut Siansu menjadi bingung.
Maka juga lantas ia meninggalkan loteng yang terus terbakar itu.
Selagi ia berlompat, tiba-tiba datang serangan atas dirinya.
Dua buah pedang yang bersinar silau menyerang berbareng bagaikan dua ekor naga berebut mutiara mustika, berbarengpun ia mendengar bentakan nyaring .
"Manusia jahat ! Kau cobalah pedang Bu Tong Pay ini !"
Jago dari Bok Keng To itu tidak menjadi kaget atau takut, dengan tabah ia menyambut musuh.
Dengan kebutannya, ia menyampok pedang yang menikamnya, dengan tangan kiri ia menyerang pula dengan Pay Khong Ciang.
Dengan satu gerakan berbareng itu, ia membalas menyerang kedua musuhnya !
Itulah salah satu kepandaian buat menyelamatkan diri berbareng merobohkan lawan !
Kedua imam itu lihai, duaduanya dapat menjauhkan diri dari petaka.
Imam yang satu, Leng Hiang Tojin, sudah lantas berkata nyaring .
"Ilmu silat Hek To lihai sekali ! Sukar dicari waktunya buat kami memohon pengajaran, maka itu sekarang ini, maukah kau mencoba-cobanya ?"
Beng Leng melompat balik ke wuwungan semula, matanya segera dibuka lebar-lebar.
Ia segera mengenali Leng Hian dan Song Hian, kedua imam dari Bu Tong Pay.
Ia tahu mereka itu berdua tersohor lihai, ia terperanjat juga.
Ia kuatir nanti kena dikepung.
Tapi ia tabah, ia lantas tertawa nyaring dan berkata .
"Ilmu pedang Bu Tong Pay sangat termashur, apakah biasanya kalian maju mengepung untuk merebut kemenangan ? Haaahhaa.. haaha !"
Leng Hian dapat membaca maksud orang, ia tertawa dan berkata .
"Pinto biasa merantau dengan sebatang pedangku, belum pernah pinto berkelahi dengan dua melawan satu ! Kau baiklah bertenang diri menerima nasib nanti !"
"Tutup bacotmu !"
Bentak Beng Leng gusar.
"Apakah kamu sangka aku takut kamu nanti mengepungku berbareng ?"
Belum berhenti suaranya itu, imam itu sudah lantas menyerang Seng Hian.
Ia menggunakan tangan kosong.
Imam dari Bu Tong Pay itu tahu lawan ini pandai ilmu Pay Khong Ciang ingin ia mencobanya, maka itu tanpa ragu-ragu ia menyambut serangan jago luar lautan itu.
Maka juga bentroklah dengan hebat mereka satu dengan lain.
Menyusuli bentrokan itu, Seng Hian mendahului bertindak terus.
Ia putar tangannya yang dilancarkan dengan niat mencekal tangan lawan.
Kalau saja ia dapat mencabak.
Beng Leng terkejut.
Tak ia sangka imam dari Bu Tong Pay itu demikian cepat.
Sembari lekas menarik pulang tangan kanan, dengan tangan kiri ia mengebut ke bahu si imam !
Seng Hian Tojin menggunakan ilmu silatnya yang dinamakan "Kim Liong Ciu", Tangan Menawan Naga.
Ia meluncurkan terus tangannya itu.
Ketika kebutan tiba dengan lincah ia berkelit ke samping.
Tapi justru si imam dari Bok Kang To pun membarengi menghajarnya dengan kepalan, mengarah pinggangnya.
Dengan tangan kanannya juga, Seng Hian menangkis kepalan lawannya.
Ia membacoknya.
Dilain pihak, dengan pedangnya, ia menikam ke tampilingan jago luar lautan itu.
Guna menyelamatkan dirinya, Beng Leng berlompat mundur, lebih dahulu kepalanya dikelitkan dengan melengak ke belakang.
Demikian kedua jago bergerak.
Baru saja beberapa jurus sudah terlihat kehebatannya mereka masing-masing.
Siapa ayal dia celaka.
Setiap serangan berarti serangan maut.
Seng Hiang menang diatas angin, maka ia tiba-tiba mendesak, pedangnya berkelebat.
Anginnya pedang bersiur-siur, ia mengeluarkan ilmu silat Bu Tong Pay yang tersohor itu.
Biar bagaimana, Beng Leng terperanjat juga.
Sekarang insyaflah ia akan kelihaian jago dari Bu Tong Pay itu.
Hawa dingin pedang meresap kedalam tubuhnya.
Walaupun dengan rada repot, ia mencoba mempertahankan diri.
Setelah menggunakan kebutannya yang lihai itu, ia juga mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya yang ia pernah latih dengan susah payah, yaitu "Mo Teng Kee"
Khiekang yang lunak, yang disalurkan kepada kebutan, hingga setiap helai dari kebutan itu bergerak-gerak hendak melibat pedang.
Mo Teng Kee mengeluarkan hawa lunak dan lembut, tak keras sedikit juga, tetapi tenaga menariknya, menyedotnya kuat sekali, hingga benda apa juga yang kena terlibat, sekalipun pedang, akan terbetot terlepas !
Seng Hian Tojin luas pengalamannya, tahu ia akan ancaman tenaga lunak lembut itu, maka begitu ia merasai sesuatu yang menarik, lantas ia menerka kepada ilmu kepandaian yang luar biasa istimewa itu.
Segera ia berdaya membebaskan diri.
ia menggunakan jurus-jurus "Awan Indah Membersihkan Langit"
Dan "Angin Puyuh Hujan Lebat"
Pedang berputar melilit bagaikan bianglala, tubuhnya bergerak tak hentinya maju mundur dan berjumpalitan, dilain pihak ujung pedang selalu mengancam jalan darah lawan.
Ia berlaku cerdik dan gesit, senantiasa ia menjauhkan pedangnya dari lembaran-lembaran kebutannya lawan.
Selama menjagoi di Hek Keng To dimana dia berhasil menciptakan dan melatih Mo Teng Kee, pernah beberapa kali Beng Leng membetot merampas senjata lawan dengan mengandali ilmunya yang istimewa itu.
Kepandaian itu sangat jarang dipakai kecuali sudah sangat terpaksa, sebab penggunaannya sangat menghamburkan tenaga.
Hanya asal digunakan dia belum pernah meleset atau gagal.
Beng Leng Cinjin merasa dirinya sudah terlalu hebat maka ia mengandalkan sangat kepandaiannya itu, karenanya berani dia datang menyatroni kuil Siauw Lim Sie untuk mengubrak abrik kuil itu.
Di luar dugaannya dia telah bertemu lawanlawan yang lihai seperti Seng Hian Tojin ini.
Bu Tong Pay menjadi salah satu partai terbesar dan ternama, dapat dimengerti jika ilmu pedangnya pun istimewa, ada bagiannya tersendiri yang lihai.
Seng Hian tidak kenal Mo Teng Kee tetapi ia pernah dengar tentang ilmu lunak itu, berkat pengalamannya dapat ia melayani dengan baik.
Demikian selekasnya merasa kebutannya Beng Leng menarik secara luar biasa, lekas-lekas ia mengeluarkan ilmu kepandaian pedang serta kelincahan gerak tubuh partainya.
Demikian sinar pedang kehijau-hijauan melayani sinar kebutan keputih-putihan, bergeraknya sama cepat dan lincahnya.
Tengah dua orang lihai itu bertarung seru sekali, sekonyongkonyong terdengar ini suara nyaring yang mempengaruhkan .
"Leng Hiang Totiang, mari kita maju bersama ! Biar melayani ini bajingan jahanam, buat apa kita berpantang lagi kepada aturan-aturan rimba persilatan yang mulia yang harus ditaati ? Dia toh datang menyerbu dan mengacau dengan melanggar ajeg-ajeg suci itu ! Mari totiang, mari menyerbu bersama siauw ceng ! Mari kita bereskan dia !"
Dan belum berhenti seruan itu, orangnya sudah berlompat maju tongkatnya diajukan menyela diantara sinar-sinar pedang dan kebutan !
Itulah Liauw In yang baru saja tiba.
Berhadapan dengan tetua dari Bu Tong Pay ia tidak menyebut diri dengan aku, lolap si pendeta tua atau pinceng si pendeta melarat, hanya siauw ceng si pendeta kecil.
Itulah pertanda bahwa ia berlaku merendah diri.
Hanya setelah seruannya itu, ia maju tanpa menanti jawaban lagi.
Seorang pendeta harus sabar, lemah lembut dan hormat.
Semua sifat itu ada pada Liauw In yang usianya sudah cukup lanjut, kalau toh ia sekarang menjadi bertabiat keras dan tak sabaran itu, itulah karena ia melihat bukti dari kecurangan lawan, sudah datang menyerbu secara diam-diam, tetapi juga telengas, telah main menggunakan api membakar Chong Keng kok, suatu bangunan Siauw Lim Sie yang sangat penting itu.
Waktu melihat api berkobar di loteng itu saja ia sudah kaget bukan main, timbul lantas kekuatirannya bahwa segala kitab pusaka akan termusnah.
Syukur banyak pendeta sudah lantas muncul disini, mereka yang mencoba memerangi api, ada juga yang membantu ke empat pendeta petugas yang sudah menjadi korbannya Heng Leng yang ganas itu.
Ia lantas merasa lega hati, maka lantas ia tanya kemana perginya si orang jahat pembakar loteng itu.
"Paman"
Berkata salah seorang petugas yang terluka itu.
"dia lari keras genting dari Lohan Tong"
Lohan Tong ialah Ruang Arhat.
Mendengar jawaban itu, tanpa mengatakan sesuatu lagi, Liauw In lari ke arah ruang itu selekasnya ia tiba di ujung payon ia lantas melihat berkelebatannya sinar pedang dan mengenali Seng Hian Tojin yang lagi bertarung dan Leng Hian Tojin tengah berdiri bagaikan menonton pertempuran itu.
Maka musuh, berkobarlah hawa amarahnya hingga menjadi merah ada wajahnya merah padam.
Demikian dalam kegusarannya itu, ia lari menghampiri, lalu menyerukan Leng Hian Tojin dan terus mendahului menyeburkan diri dalam medan pertempuran.
Di saat itu juga Beng Leng Cinjin tengah mendongkol dan bergusar sekali, sebabnya ialah sesudah menggunakan Mo Teng Kee sekian lama masih ia belum sanggup merobohkan lawannya.
Ia sempat menggertak, gigi dan matanya seperti merah menyala, maka juga munculnya Liauw In membuatnya seperti api yang disiramkan minyak, tidak ayal sedetik juga, ia menyambuti si pendeta, menghajarnya deng Mo Teng Kee digabung dengan Pay Khong Ciang.
Segera juga Liauw In menjadi terkejut, sehingga lupa ia akan hawa amarahnya.
Ia lantas merasai adanya tenaga menarik yang menyedot tongkatnya.
Sedotan itu tidak keras atau kaget tetapi kuat sekali.
Lekas-lekas ia mengempit tongkatnya, untuk menahannya sebab tak dapat secara mendadak ia menariknya lolos.
Ketika itu, ia pun terpisah dekat dengan lawan tak ada lima kaki.
Justru itu datanglah serang Pay Kong Ciang yang dahsyat itu.
Inilah hebat.
Bisa celaka ia kalau ia tidak melepaskan tongkatnya dan lompat mundur atau berkelit ke sisi.
Dalam ilmu silat ketangguhanya Liauw In cuma dibawahnya Pek Cut Taysu, kakak seperguruannya yang menjadi hongthio, pendeta kepala dari Siauw Lim Sie.
Ia telah berhasil memahirkan ilmu tongkat Lohan Thung dan pukulan tangan kosong Lohan Ciang karenanya mana mau ia dalam satu gebrak saja melepaskan tongkatnya itu, sebab itu dapat memalukan Siauw Lim Sie dan dirinya sendiri.
Karenanya disaat terancam itu berbareng membelai tongkatnya (tongkat panjang semacam toya) mendadak ia berlompat sambil berjingkrak, tangan kanannya menyerang dengan Lohan Ciang menyambut Pay Khong Ciang.
Tanpa dapat dicegah pula, beradulah kedua kekuatan dahsyat itu, Pay Kong Ciang kontra Lohan Ciang.
Bentrokan itu mempengaruhkan Mo Teng Kee dari Beng Leng Cinjin, yang sedotannya menjadi berkurang sendirinya, Liauw In lantas merasai tongkatnya tertarik kendor itu, ia menggunakan kesempatan dengan segera.
Tangan kirinya yang mencekal keras tongkatnya sengaja ditolakan dibikin kena tersedot tetapi hanya sejenak segera ia menariknya pulang dengan kaget.
Maka loloslah tongkat itu dari sedotan, menyusul mana ia lompat mundur hingga ia lolos dan bebas seluruhnya.
Sementara itu Seng Hiang telah mematuhi aturan rimba persilatan, ia memegang kekal namanya sebagai jago silat, salah seorang tertua dari Bu Tong Pay.
Meskipun ia tahu Beng Leng sudah merusak aturan rimba persilatan, ia toh tidak menyambuti ujaran atau ajakannya Liauw In Hweshio.
Demikian, tengan Beng Leng dan Liauw In berkutat itu ia tidak turun tangan ia justru berdiri diam menyaksika saja.
Kalau ia mengepung bersama pastilah Beng Leng celaka atau dia kalah seketika.
Ia mundur dua tindak selekasnya Liauw In maju menyerang.
Beng Leng juga melompat mundur dua tindak selekasnya tongkat si pendeta lolos.
Untuk sejenak, ia berdiri menelongi, cuma wajahnya yang memperlihatkan tampang bengis dan kejam bagaikan bajingan jahat.
Dilain detik dia sudah merogoh sakunya terus mengayun tangannya, melontarkan tiga buah peluru.
Liauw Goan Tan yang dapat meledak itu sasarannya ialah Seng Hian, Leng Hiang dan Liauw In bertiga !
Ketika imam dan pendeta itu tahu lihainya peluru musuh itu mereka lantas menghindari diri dengan caranya masing-masing.
Seng Hian memutar pedangnya untuk menempel dan menyampok peluru maut itu, maka Liauw Goan Tan kena terlempar keatas dan meledak ditengah udara, hingga apinya mucrat ke empat penjuru angin !
Leng Hian menyambuti peluru dengan ia mengegos tubuhnya ke sisi dengan tindakan setangan menyala bumi, sebelah tangannya diulur, guna menangkap lunak peluru itu, guna diraup dan digenggam !
Liauw In mempelajari Gwa Kang atau Ngo Kang, ilmu keras, ia tidak dapat menyambut peluru secara lemah lembut, maka juga setibanya peluru musuh ia memapaki dengan penolakan keras Lohan Ciang.
Tangan Arhatnya.
Maka satu tenaga yang kuat membuat peluru maut itu terpental balik.
Beng Leng kaget sekali.
Bisa celaka ia kalau ia lalai dan kurang gesit.
Peluru jahatnya itu bisa makan tuan !
Maka buat melindungi diri, lekas-lekas ia menyerang dengan Pay Khang Ciang.
Dengan begitu, Liauw Goan Tan kena tertolak mundur oleh Liauw In dan kena tertahan oleh pemiliknya sendiri.
Dimana dua kehebatan saling menggencet, maka meledaklah peluru itu hingga apinya menyambar muncrat kesegala arah, buyar ditengah udara.
Hanya terbengong sejenak, Beng Leng segera lompat turun dari payon.
Ia melihat ketiga lawan itu lihai, sangsi ia buat menempurnya lebih jauh.
Tapi ia bukannya lari ia hanya menyelundup ke lain bagian dari kuil yang ia hendak memusnahkannya, apa mau mencari lain bagian dari kuil yang ia dapat jadikan sasaran pelurunya, ia lari justru ke perdalamannya.
Tatkala itu fajar lagi mendatangi.
Si putra malam sudah turun jauh ke barat.
Langit sudah gelap di sana sini.
Beng Leng loncat turun justru dilorak dari Lohan Tong, samar-samar ia melihat mereknya ruang itu.
"Baiklah aku mencoba ruang ini"
Pikirnya.
Ia dengan halnya setiap murid Siauw Lim Sie yang mau turun gunung, kepandaiannya harus diuji dahulu di Lohan Tong, siapa tidak sanggup melewatinya ia gagal.
Ujian disitu bukan dilakukan oleh penguji manusia hanya oleh Bok Jin dan Bok Ma, orang
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ orangan dan kuda-kudaan kayu.
Demikian dengan perasaan ingin tahu ia memasuki ruang itu.
Ruang gelap petang, maka jago luar lautan ini menyalakan api.
Ia bertindak di tangga.
Ia mendapati ruang kosong melompong.
Tak dapat ia melihat lebih jauh kedalam.
Hanya disisi kiri dan kanan ada teratur tempat pemujaan yang teraling dengan tirai sulam warna kuning, hingga tak terlihat patung atau benda apa yang diperankan disitu.
Tidak ada meja atau lainnya.
Ada juga lankan besi merah yang melindungi di depan sekitarnya.
Apinya Beng Leng berkelak kelik tak dapat ia melihat tegas, tetapi dialah bajingan dari luar lautan, nyalinya besar sekali.
Dengan tabah ia bertindak masuk.
Tiba-tiba mendadak "Sret !"
Terdengar satu suara atau ruangan menjadi terang benderang seluruhnya.
Itulah cahaya dari api lentera liulie teng yang menyala diempat penjuru dengan berbareng.
Saking heran ia menghentikan tindakannya dan lantas menoleh kelilingan.
"Apakah ini ?"
Katanya kemudian sambil tertawa nyaring.
"Inilah gertaknya yang tak akan membuat orang kaget". Ia memadamkan apinya dan menyimpannya pula kedalam saku, lalu dengan berani ia bertindak terus memasuki ruang. Berjalan belum lima tindak, mendadak Beng Leng mendengar satu suara nyaring diatasan kepalanya, menyusul mana dari kedua sisi tampak mengepulnya asap kuning meluluhan, disusul pula dengan munculnya dari kuil dan kapan masing-masing sesosok tubuh arhat besi (thie lohan) yang besar dan gerakannya gesit, berbareng keduanya menghadang sambil menyerang ! Yang disebelah kiri yaitu Hong Liong Lohan, mukanya merah brewokan, dadanya lebar terbuka, serangannya dahsyat karena berat dan cepatnya sama dengan gerak geriknya manusia. Yang disebelah kanan yaitu Hok Houw Lohan, mukanya hitam, alisnya hitam tebal, serangannya dengan dua kepalannya mengarah pinggang. Pukulan itu pun cepat dan keras. Itulah serangan yang tidak disangka-sangka Beng Leng. Serangan itu tidak dapat dilayani dengan totokan kepada jalan darah atau sedotan dengan ilmu Mo Teng Kee. Juga tidak tepat untuk ditangkis. Lebih tak tepat untuk dibarengi diserang, artinya keras lawan keras, dia menghajar, kira membalas menghantam. Maka itu tidak ada jalan lain bagi Beng Leng buat menghindarkan diri. Ia lantas menjauhkan dirinya menyingkir dengan tubuh bergulingan. Kedua penyerang menyerang dari kiri dan kanan dengan sasarannya lolos mestinya mereka beradu satu dengan lain. Tapi kenyataannya tidak demikian. Kedua pihak kepalanya berhenti sejenak berjarak dua dim satu dengan lain tak saling membentur, sebaliknya semua tangan tertarik kembali dengan sendirinya. Jadi itulah semacam alat rahasia yang istimewa. Sambil masih rebah Beng Leng melihat bekerjanya arhat besi itu, tetapi belum sempat ia berdiri serangan sudah datang pula. Kali ini kedua arhat maju sambil menendang dengan masing-masing sebelah kakinya, dengan tendangan "Menyapu Ruang". Untuk menghindarkan diri ia mencelat bangun, menyingkirkan diri. Ketika ia menoleh, tampak kedua arhat kembali ketempat asalnya. Jago luar lautan ini menjadi kagum dan sangat tertarik hati, bukannya dia jeri dan mundur, justru ia ingin mencari tahu terlebih jauh. Maka usahalah ia bertindak ke sebelah dalam. Dalam sepuluh tindak ia sudah mendengar suara berkeresek seperti semula tadi. Itulah suara bekerjanya alat rahasia. Tirai kuning lantas tersingkap pula memunculkan Acanda Lohan yang bermuka merah seperti emas dan alisnya gomplot bersama Kanyapa Lohan yang beralis hitam beralis putih. Kedua arhat itu maju dari kiri dan kanan, dari tempat munculnya secara tiba-tiba majunya tak cepat juga tak perlahan, setelah mendekati si iman kira tiga kaki mendadak mereka mendak, terus mereka menendang secara berantai empat kali, disusul dengan hajaran kepalan mereka dari sisi kiri dan ke kanan dan kebawah, semua serangannya dahsyat. Beng Leng berlaku cerdik. Ia pula tetap tabah. Hendak ia mencoba kekuatan tangan dan kaki arhat besi itu. Ia berkelit dari pelbagai tendangan, ia berlompat maju lalu memapak kaki kedua arhat, hingga terdengar suara nyaring. Menyusul hajaran itu kedua arhat yang gagal menyerang, sebaliknya kena terserang mundur sendirinya ketempat asalnya ke dalam lankan, kebalik tirai kuning. Beng Leng sementara itu merasai tangannya bergemetar dan sesemutan, dia heran. Dia tidak sangka, tubuh arhat itu seperti juga mempunyai hasil latihan sepuluh tahunan saking kuatnya. Sekarang dia bersangsi maju terus atau mundur teratur. Kalau dia mundur, dia kuatir nanti ada yang tertawakan. Kalau dia maju terus, dia menguatirkan serangan-serangan lainnya lagi yang terlebih lihai. Selagi jago dari luar lautan ini berpikir guna mengambil keputusan, tiba-tiba ia mendengar suara berisik dari luar Lohan Tong.
"Kenapa Beng Leng si bangsar tua dari Hek Keng To itu lancang memasuki Lohan Tong ? "
Demikian suara yang satu.
"Bangsat tua itu sudah tiba hari naasnya !"
Kata yang lain.
"Kali ini dia bakal roboh ! Tadi dia dipecundangi Paman guru Liauw In serta Seng Hiang Totiang lantas dia kabur ke Lohan Tong. Rupanya ia sudah luber kejahatan maka dia tak dapat menyingkir dari keadilan dunia !"
Terang dan tegas suara kedua orang itu.
Beng Leng menjadi sangat mendongkol.
Ia telah dicaci dan dihina.
Maka berkatalah ia di dalam hati.."Tempat macam apakah Lohan Tong ini ?
Toh bukan kandang singa dan sarang harimau !
Hayo maju terus !
Akan aku bakar ludas semuanya !"
Ia merogoh sakunya buat mengeluarkan peluru apinya, untuk ditimpukkan ke empat penjuru. Tiba-tiba ia mendengar pula .
"Bangsat tua Beng Leng itu tahu ilmu silatnya tidak berarti, maka dia mengandalkan peluru apinya buat main bakar saja ! Lihat saja, kalau dia membakar didalam Lohan Tong, sama juga dia membakar dan menembus dirinya sendiri !"
Kaget Beng Leng mendengar kata-kata itu.
"Didalam dunia ini dimana ada orang demikian dungu yang mau membakar dirinya sendiri ?"
Begitu ia berpikir.
"Ya, aku hampir keliru berpikir !.."
Maka itu, menuruti suara hatinya, ia bakal menuju keluar, ia kembali kedalam, memasuki ruang arhat itu !
Hanya kali ini ia berwaspada, senantiasa siap sedia.
Setindak demi setindak ia maju, sampai lewat kira sepuluh tombak.
Sekarang ia dihalangi langkan atau lorang merah.
Kapan ia mengangkat kepalanya, ia melihat tirai kuning yang seperti mengerudungi seluruh ruang itu.
Lain dari tirai itu, ruang kosong dari perabotan apa juga.
Ia lantas berdiam bersiaga.
Ia menerka akan muncul lagi dua arhat besi.
Ia celingukan kesekitarnya.
Beberapa saat ia berdiam begitu, ia tidak mendengar atau melihat apa-apa.
Ia menjadi heran, hingga timbullah curiganya.
Karena bercuriga itu yang membuatnya berkuatir.
Beng Leng merasa punggungnya dingin.
Itulah pertanda dari hati jeri.
Lantas ia membesarkan nyali, bahkan sambil berseru ia menyerang dengan Pay Khong Ciang, menghajar tirai kuning itu, ialah hajaran hebat, sebagaimana tadi ia berhasil merobohkan empat petugas Chong Keng Kok.
Mereka itu adalah dari angkatan kedua.
Kesudahannya serangan ini menambah herannya jago luar lautan itu.
Serangan cuma membuat tirai bergoyang dan berkibar, tersingkap baik, lalu perlahan-lahan turun pula.
Tak ada tanda-tandanya bekas terhajar hebat !
Beng Leng heran dan bercuriga, ia menjadi bingung sendirinya.
Lantas ia mendapatkan apa yang dinamakan "Pwee King Coa Eng"
Yaitu perasaan cahaya seperti "melihat bayangan ular dari busur didalam cawan"
Lurus matanya membayangi bagaikan dia terserang dari pelbagai penjuru hingga lantas ia mendapat ingatan untuk lari kabur dari Lohan tong.
Sulit buat maju, dia memikir buat mundur !
Tiba-tiba ada hawa dingin yang meniup dari sebelah kiri, tanpa merasa jago ini menoleh ke arah kiri itu.
Kiranya disebelah kiri itu terdapat sebuah gang atau lorong.
Tadi sewaktu baru masuk karena silau dengan sinar api, ia tidak melihat lorong itu, yang tampak hitam gelap saja.
Ia pula tadi cuma memperhatikan losung serta tirainya.
Tanpa ayal lagi, Beng Leng menyalakan sumbunya, buat memakai itu sebagai penerangan guna ia bertindak ke dalam lorong itu.
Baru tiga atau empat tindak, tiba-tiba telinganya mendengar suara nyaring tingtong, menyusul mana mendadak padamlah penerangan diruang Lohan Tong itu.
Sebaliknya didalam lorong segera tampak sinar buram entah dari mana keluarnya.
Ia berjalan terus dengan waspada.
Ia melalui belasan tombak.
Disisi tampak cahaya terang dari api, berbareng tampak juga sebuah jalan perapatan.
Masih ia bingung maka ia tidak memikir lain daripada supaya lekaslekas menyingkir dari tempat itu !
Tapi masih sempat ia berlaku siap sedia.
Selekasnya Beng Leng Cinjin menginjak batu bata bagian tengah dari jalan perapatan itu, mendadak batu itu melesak kedalam tanah, hanya sejenak, batui tu muncul naik pula dan jadi rata seperti semula.
ia heran hingga ia berdiri melengak.
Lantas datang hal yang mengagetkan sekali.
Tiba-tiba saja dari empat penjuru, yaitu dari depan dan belakang, dari kiri dan kanan, beruntun datang serangan golok dan tongkat dimulainya dengan bayangannya !
Kirainya batu yang diinjak jago luar lautan adalah batu yang menjadi alat rahasia, karenanya mucullah empat lohan atau arhat yaitu Cu Kong Lohan, To Lan Lohan, Kim Bin Lohan dan Gi Bin Lohan, senjata mereka masing-masing golok kayTo dan tongkat sianthung dan semuanya menyerang menuruti masing-masing tipu siasatnya.
Beng Leng sudah lantas mengurung diri dengan tenaga Mo Teng Kee, lalu dengan tabah ia mengebut serangan yang pertama, yaitu tongkatnya To Lan Lohan dan golok kayTo dari Kim Bin Lohan, sedangkan dengan tangan kirinya ia menepuk dada To Lan Lohan.
Telak ia mengenai sasarannya, terdengar suat tingtong, lantas arhat besi itu berjalan mundur sendirinya, kembali ke tempat asalnya.
Menyusul itu ia memaju satu tindak, mana sambil berkelit, maka loloslah ia dari bacokan golok dan tongkat dari arah kiri.
Aneh adalah To Lan Lohan.
Mendadak dia maju pula, dia mendesak hingga Beng Leng mau mundur ke tempatnya semula menaruh kaki.
Tapi ini justru membuatnya penasaran.
"Mesti aku robohkan dulu ke empat arhat ini !"
Demikian pikirnya.
Tepat itu waktu ke empat lohan berhenti bergerak-gerak, semua berdiri diam dengan mata mengawasi bengis.
Walaupun hatinya panas, menyaksikan para arhat besi itu.
Beng Leng heran.
Ia balik mengawasi tubuhnya berdiam siap sedia buat suatu penyerangan.
Ia menerka-nerka apa maksudnya diamnya ke empat lohan itu.
Ia pula bersangsi dapat atau tidak ia roobohkan semua lohan itu dan kalau ia menyerang mereka bakal bergerak menuruti pesawat rahasia lainnya atau tidak.
Mengawasi ke empat arhat, jago ini menarik napas dalam-dalam.
Di dalam kesunyian itu tiba-tiba terdengar suara yang datangnya dari luar tembok.
Ilmu silatnya jagi Hek Kong To yang hendak menjagoi dunia rimba persilatan kiranya cuma sebegini saja !
Ha ha ha !.."
Suara itu yang bernada ejekan ditimpali suara ini .
"Amida Buddha ! Siapa melepas golok jagalnya, asal dia berpaling dia akan mendapatkan tepian daratan !", habis itu sunyi pula. Hatinya Beng Leng tergerak mendengar kata-kata yang belakangan itu, kata-kata yang berbau keagamaan (Buddha). Tiba-tiba saja pikirannya terbuka, otaknya menjadi terang. Memangnya setiap manusia ada liangsimnya, hati sanubarinya yang sadar, suci murni. Liangsim itu, suara hati terdapat sekalipun pada orang yang berbathin buruk atau jahat. Demikian dengan jago luar lautan ini. Dia dapat mempelajari silat hingga menjadi demikian lihai juga disebabkan kesadarannya karena dia mengerti pentingnya ilmu itu, hanya sayang dipakainya secara sesat. Mulanya ialah karena dia bangga dengan kepandaiannya itu, lalu dia menjadi jumawa dan berkepala besar, hingga ia menjadi galak dan kejam. Hingga liangsimnya kena ketutupan. Sekarang tengah terjepit itu tiba-tiba kesadarannya timbul. Tanpa terasa dia berkata seorang diri.
"Aku ini bagaimana ? Kenapa aku jadi begini ?"
Di dalam lorong yang terang benderang itu, Beng Leng melihat seperti ada tak terhitung berapa banyaknya mata yang lagi mengawasi padanya, sedangkan ke empat arhat yang lohan bengis itu nampak tengah menuding ia dengan masing-masing senjatanya.
Mereka itu seperti lagi membeber perbuatan jahatnya.
Ia terkejut.
Tiba-tiba ia ingat segala perbuatannya sebegitu jauh.
Memang itulah kejahatan atau kedosaan.
Kawan tunduk padanya, lawan menuding dan dunia meludahinya, ia sudah berbuat bertentangan dengan waktu atau saat ia mulai belajar silat.
Dahulu itu ia berpikir baik lalu sesat sampai sekarang ini.
Kesesatan pun yang membujuknya menyerbu Siauw Lim Sie ini.
Kejumawaan yang membuatnya menerjang Lohan Tong.
Sekarang ternyata ia tak berhasil.
Ia bahkan terdesak ke pojok.
Maka ia menjadi insyaf dan menyesal.
Ia ingat halnya tangannya berlepotan darah dan berbau baCin.
Hebat liangsamnya mendapat pukulan, pikirnya menjadi gelap.
Tiba-tiba ia merasai kepalanya pusing, terus tubuhnya limbung, hingga detik lainnya, tanpa merasa ia roboh sendirinya.
Berapa lama sang waktu sudah lewat, inilah Beng Leng tidak tahu, hanya ia mendusin dengan kaget dan heran waktu telinganya mendengar bunyinya lonceng vihara beberapa kali.
Ia segera menggerakkan tubuhnya untuk berduduk dilantai, sedangkan matanya lantas dipentang untuk memandang ke depan, terus ke sekitarnya.
Ia heran hingga ia duduk menjublak, terus ia memikirkan, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan dirinya tadi?.
Lama jago luar lautan ini berpikir, masih ia tidak memperoleh jawabnya.
Kemudian ia berpaling ke jendela, memandang keluarnya cahaya matahari menjelaskan bahwa sang waktu sudah tengah hari !
Jadi sudah banyak jam ia berada di dalam kuil Siauw Lim Sie itu, ia heran orang telah tidak mengganggunya.
Masih lewat sekian saat waktu Beng Leng mendengar tindakan kaki orang mendatangi dia berhenti di depan pintu kamar, waktu ia berpaling ia melihat munculnya seorang seebie kecil, kacung pendeta.
Kacung itu bertindak masuk, di depannya si jago luar lantas, dia memberi hormat.
Kata dia manis .
"Oh, totiang sudah mendusin ! Silakan duduk menanti sebentar, siauwceng hendak pergi melaporkan kepada ketua kami ! "
Dan lantas dia memutar tubuh dan bertindak pergi didalam kamar tamu-tamu Siauew Lim Sie. Maka ia lantas berpikir .
"Bukankah aku memusuhkan Siauw Lim Sie ? Bukankah tadi malam aku menyerbu, menyerang dan melepas api melakukan pembakaran hingga aku terkurung di Lohan Tong ? Kenapa aku sekarang diperlakukan begini hormat oleh pihak musuhku ?"
Saking heran, Beng Leng berpikir banyak. Lalu ia merasa hatinya tidak tenteram.
"Baiklah aku pergi dengan meloncati jendela !"
Pikirnya.
Belum lagi itu merupakan putusan, Pek Cut Taysu sudah tampak lagi mendatangi, tindakannya cepat tapi tenang, wajahnya menunjuki kesabaran.
Di belakang ketua Siauw Lim Sie itu turut Liauw In dan Ang Sian Siangjin serta dua seebie cilik.
Segera setibanya di depan jago luar lautan itu, Pek Cut memperdengarkan puji keagamaannya sambil mengangkat tangannya ke depan dadanya, setelah mana ia kata ramah .
"Totiang, harap saudara jangan memandang kami sebagai orang luar ! Peristiwa tadi malam adalah peristiwa yang telah berlalu lewat, harap totiang jangan pikirkan pula. Lolap bersama totiang sama-sama menjadi orang rimba persilatan, maka itu bagaimanakah jika mulai hari ini kita hidup bersahabat ?"
Berkata begitu, sebelum menanti jawaban, pendeta kepala ini sudah lantas memberi isyarat kepada kedua kacungnya untuk mereka itu lekas menyuguhkan teh.
Selagi Pek Cut mendatangi, Beng Leng sudah berbangkit bangun, bersiap sedia kalau-kalau orang menerjangnya, tetapi setelah mendengar kata-kata manis itu serta melihat orang berlaku ramah tamah, perlahan-lahan ia berduduk pula, Yang terang yaitu ia jengah.
Pek Cut duduk setelah duduk setelah mempersilakan tamu luar biasa itu berduduk.
Kedua seebie telah kembali dengan cepat, mereka lantas menyuguhkan teh.
Liauw In bersama Ang Siang duduk menemani disebelah bawah, mereka bungkam.
Setelah mereka terdiam sekian lama barulah terdengar suaranya Pek Cut taysu terang dan lantang .
"Totiang ilmu silat dan keceradasan totiang semua itu mengawasi orang lain satu tingkat. Lihatlah disaat bertempur untuk merebut kemenangan, dan diwaktu menghadapi kesulitan pikiran dan kecerdasan totiang telah menerima prayaa kebijaksanaan Sang Buddha hingga totiang masih disadar dan terbuka pikiran. Itulah berkat pemeliharaan diri totiang dahulu hari ! Maka itu totiang hari ini lolap hendak memohon kepadamu suka apalah totiang meletakkan golok jagal agar totiang insyaf dan sudi berbuat kebaikan terhadap dunia rimba persilatan supaya bencana kemusnahan yang tengah mengancam dapat disingkirkan. Dengan sikap menghormat, Beng Leng menghadapi Pek Cut Taysu. Kata ia .
"Terima kasih atas budi besar dari taysu yang tadi malam telah membuatku insyaf, budi itu tak dapat pinto membalasnya, karena itu mana berani pinto tak menerima baik nasihat taysu ini ? Telah kupikir buat sejak hari ini dan seterusnya akan mengundurkan diri dari dunia Sungai Telaga, buat hidup menyendiri !"
Imam ini mengangguk terus ia memberi hormat pula pada si pendeta, juga terhadap Ang Sian Siangjin dan Liauw In, kemudian tanpa mengatakan sesuatu lagi, ia pamitan dan bertindak pergi.
Pek Cut berbangkit dengan cepat, ia merangkap tangannya.
Ia memuji pula.
"Tetapi, totiang"
Katanya.
"buat apa totiang begini tergesa-gesa ? Baiklah kita bersantap dahulu, baru totiang berangkat pergi."
"Terima kasih, taysu."
Kata si imam.
"Aku telah menerima budi kebaikan kalian. Sampai kita jumpa pula !"
Dan lantas dia membuka tindakan lebar, keluar dari kamar tamu-tamu itu.
Pek Cut bertiga tak dapat mencegah lagi, maka mereka membiarkan orang berlalu.
Sementara itu mari kita kembali pada malam tadi.
Habis pertempuran hebat, orang merawat luka-luka dan beristirahat.
Penjagaan tidak dilalaikan karena dikuatirkan nanti apa penyerbuan ulangan.
Mendekati jam lima fajar muncul, angin hebat yang keras dan dingin, membuat orang menggigil sebab hawa dingin masuk ke tulang-tulang.
Justru suasana demikian itu, tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring, lantas di sana tampak bergeraknya dengan sangat gesit sesosok bayangan hitam.
Para petugas terkejut dan heran, namun lantas memasang mata.
Bajingan itu muncul buat terus berdiri diam sambil matanya diarahkan ke empat penjuru.
Sama sekali dia tak memperdengarkan suaranya.
Semua orang mengawasi terus.
Dialah seorang tua dengan jubah panjang menutupi tubuhnya.
Dia bermuka putih dan tak berkumis.
Kemudian ternyata dialah Thian Cia Lojin, yang dunia Sungai Telaga menyebutnya It Lo Yauw Si Mambang Tua Tunggal.
Hanya sebentar jago tua itu berdiri diam, tangannya lantas menggapaikan Tan Hong, Cia Hong, Kan Tie Un dan Kee Liong.
Mereka itu menghampiri dengan cepat, semua berdiri dengan hormat di depannya.
Dia bicara perlahan dengan empat orang itu, habis itu dia berlompat turun, akan lari ke bawah gunung.
Lewat sesaat, Kee Liong menuding Pek Cut Taysu sambil membentak .
"Eh, keledia gundul dari Siauw Lim Sie, kau dengar ! Malam ini kami mempunyai urusan penting karena itu kami membiarkan kamu semua hidup lebih lama sedikit. Kamu tunggulah nanti kami datang pula guna membuat perhitungan !"
Kemudian dia berpaling pada kawan-kawannya dan berkata .
"Mari kita pergi !". Belum berhenti suaranya mendengung, orangnya sudah lompat berlari ke bawah gunung terus diikuti ketiga kawannya itu. Hanya sebentar bayangan mereka pun sudah tidak tampak. Kiauw In dan Giok Peng segera bergerak diturut oleh Ang Sian Siangjin. Mereka bertiga hendak menghadang kawanan penyerbu itu atau di belakang mereka, mereka mendengar suara nyaring dari Pat Pie Sin Kint In Gwa Sian .
"Anak In ! Anak Peng ! Jangan kejar mereka ! Biarkan mereka itu pergi !". Dua-dua Kiauw In dan Giok Peng telah berlari-lari dengan menggunakan Te In Ciong ilmu ringan tubuh Lompatan Tangga Mega. Sebentar saja, mereka sudah berhasil menyandak beberapa orang musuh yang terluka. Ketika itu mereka mendengar suaranya sang paman guru, seketika juga mereka menghentikan pengejarannya itu. Tetapi Nona Pek mendongkol dan penasaran, ia mengajukan jarum rahasianya, Twie Hun Kim Ciam, maka diantara si penyerbu ada seorang yang menjerit dan terus roboh terguling. Kiranya dialah Tio It In, satu diantara tujuh bajingan dari To Liong To ! Kemudian bersama-sama Ang Sian Siangjin, kedua nona kembali pada paman gurunya itu, sedangkan Pek Cut Taysu sudah memerintahkan muridmuridnya menjaga baik-baik pintu gerbang mereka. Kemudian sembari memberi hormat pada In Gwa Sian semua, ia berkata .
"Kami menyusahkan saja para sicu semua ! Sekarang marilah kita kembali ke dalam untuk beristirahat !"
Tapi In Gwa Sian berkata .
"Mungkin Beng Leng si raja iblis masih berada didalam kuil, mari kita melakukan penggeledahan buat mencari padanya. Kalian setuju ?"
"Tak dapat kami menyusahkan pula pada sicu sekalian."
Berkata Pek Cut.
"Untuk melakukan pemeriksaan cukup lolap sendiri bersama sekalian saudara dan murid kami. Sanggup kami melayani bajingan itu ! Silahkan sicu beramai beristirahat nanti besok kami akan mohon petunjuk terlebih jauh !"
Semua orang lantas mengikuti pendeta kepala itu masuk kedalam dimana mereka berpisahan untuk masing-masing beristirahat.
Kemudian Pek Cut, Ang Sian Siangjin dan lima ketua dari Kam In.
Segala apa dipendopo itu tenang dan aman tak ada bekasbekasnya pertempuran.
"Heran.."
Pikirnya ketua itu yang lantas memikir menyuruh murid-muridnya pergi mencari tahu atau berbareng dengan dengan itu tampak munculnya Liauw In, yang datang dengan cepat.
"Bagus kau datang, sute !"
Ia berkata mendahului separuh berseru.
"Lolap justru sedang memikir buat mencari tahu kemanakah perginya si bajingan kepala ! Apakah ada yang terluka didalam kuil kita ?"
Liauw In maju terus sampai di depan ketua atau kakak seperguruannya itu, untuk lebih dahulu memberi hormat.
"Beng Leng si imam siluman sudah membakar Chong Keng Kok tetapi dia gagal"
Kata ia melaporkan.
"Dia cuma melukai ke empat murid angkatan kedua yang bertugas menjaga lauwiang kita itu. Setelah itu dia dirintangi oleh kedua totiang Seng Hian dan Leng Hian. Waktu siauwte datang kepada mereka, hampir aku dilukai ilmu lunaknya yang lihai. Dia rupanya merasa tak unggulan melawan terus kepada kami bertiga dia mencoba meloloskan diri tetapi dia kesalahan memasuki Lohan Tong dimana dia kena terlarangkan. Sampai sekarang dia masih belum lolos. Bagaimanakah pikiran ciangbun suheng ?"
Ciangbun suheng berarti ketua yang berbareng menjadi kakak seperguruan. Pek Cut terperanjat juga.
"Bagaimana lukanya mereka berempat ?"
Tanyanya. Lebih dahulu ia ingat murid-muridnya itu.
"Mereka sudah dibawa ke pendopo sisi untuk diobati, mungkin mereka tidak terancam bahaya mau."
Sahut Liauw In.
"Bagaimanakah keadaannya Chong Keng Kok setelah dibakar itu ?"
"Api telah keburu dipadamkan. Cuma terbakar bagian pintu saja."
"Amida Buddha !"
Pek Cut memuji seraya merangkapkan tangannya.
"Buddha kita maha mulia maka kita bebas dari bencana besar."
"Sekarang bagaimana dengan imam siluman itu ?"
Liauw In memperingati ketuanya.
"Harap ciangbujin suheng lekas mengeluarkan keputusan !"
"Tak kupikir untuk melakukan pembunuhan."
Sahut ketua itu yang pengasih penyayang.
"Terhadap orang sebangsa dia itu, ingin lolap menggunakan kitab prayaa. Nanti kita lihat imam itu dapat dipengaruhi atau tidak. Kalau tidak akan kita pikir pula bagaimana baiknya."
Ang Sian Siangkin tidak akur dengan sikap ketua itu. Dia campur bicara .
"Membinasakan manusia jahat berarti berbuat kebaikan ! "
Katanya.
"Kenapa ciangbun suheng bermurah hati terhadap manusia jahat itu ? Tidak karuan rasa dia memusuhkan kita, dia datang menyerbu dan telah merusak kita !"
Pek Cut tidak menjawab itu hanya berdiam untuk berpikir.
"Para sute dari Kam Ih, silahkan kalian mengundurkan diri untuk beristirahat."
Kemudian katanya kepada adik-adik seperguruannya kepada siapa ia berpaling.
"Biarkan lolap sendiri bersama kedua sute Liauw In dan Ang Siang yang pergi melongok ke Lohan Tong."
Berkata begitu, bersama-sama Liauw In dan Ang Siang, ketua ini lantas bertindak pergi menuju keruang arhat yang dimaksudkan itu.
Ketua ini hendak menggunakan pengarahan dari ilmu keBuddhaan untuk menghadapi Beng Leng Cinjin supaya imam dari Hek Keng To itu diluar lautan, tak tersesat terlebih jauh hingga dia menampakan keimamannya, agar akhirnya dia sadar dan insyaf dan akan berubah cara hidupnya.
Demikianlah sudah terjadi, Beng Leng telah kena dipengaruhi prayaa, maka ialah kejadian dia insaf akan perbuatannya yang salah dan mau mengundurkan diri, buat hidup menyendiri, karena mana dia tidak diganggu dan dibiarkan pergi mengangkat kaki.
Sambil berlari-lari Beng Leng meninggalkan kuil Siauw Lim Sie turun dari puncak Siauw Sit Kong.
Ditengah jalan, ia merasa kesepian.
Sampai mendekati maghrib ia belum mendapatkan tempat singgah.
Sinar layung dari matahari membuat rimbah bercahaya keemas-emasan indah tampaknya.
Ia berjalan terus, sampai ia membelok disebuah tikungan.
"Toa suheng !"
Tiba-tiba ia mendengar suara panggilan.
Toa suheng ia berarti kakak seperguruan yang paling tua.
Segera ia menghentikan tindakannya dan menoleh ke arah dari mana panggilan itu datang.
Di sana tampak Tan Hong adik seperguruannya yang terus menanya .
"Kakak, kemana saja kakak pergi ? Kami berputaran ke empat penjuru mencari kakak !"
Beng Leng berdiri menjublak mengawasi adik seperguruannya itu. Karenanya ia tidak membuka mulutnya buat menjawab. Tan Hong heran, hingga ia terperanjat.
"Kakak !"
Tegurnya.
"Kakak, kau kenapakah ?"
Masih Beng Leng Cinjin berdiri diam. Giok Bin Sian Ho, si Rase bermuka kumala, menghampiri hingga dekat. Ia memegang dan menggoyang lengan orang.
"Kakak, kakak !"
Panggilnya. Baru sekarang imamitu bagaikan terasadar. Dia lantas menghela napas.
Jilid 9
"Bagus, bagus !"
Katanya.
"Bagus kita bertemu disini, adik ! Inilah aku tidak sangka ! Tetapi adik, inilah pertemuan kita yang paling akhir !"
Tan Hong terkejut hingga dia melengak.
"Kakak !"
Katanya sangat heran.
"Kakak, apakah kau sakit ? Kenapa kakak berkata begini ?"
Beng Leng berdiam. Kembali ia tidak menjawab. Ia tak lagi seriang, segagah seperti biasanya. Lalu ia memperdengarkan suara bagaikan gerutuan .
"Meletakkan golok jagal menoleh ialah tepian..."
Dan ia ulangi itu beberapa kali.
Tampak ia seperti lagi mengingat-ingat segala apa yang telah lalu.
Tan Hong berdiri terpaku mengawasi kakaknya seperguruan itu, bukan main ia tak mengertinya.
Maka kedua saudara itu sama-sama berdiri menjublak, yang satu mengawasi tanpa berkedip, yang lain memandang ke depan dengan mendelong.
Masih lewat beberapa saat sebelum Beng Leng terbengongbengong itu, baru keliahatan wajahnya yang dari pendiam menjadi bersungguh-sungguh, terus dia berkata dengan sungguh-sungguh juga .
"Adik, pergi kau bersama adik Cin Tong, lekas pulang ke Hek Keng To ! Di sana kalian tinggal aman dan damai, jangan lagi kalian campur urusan dunia Sungai Telaga !"
Lagi-lagi Tan Hong terperanjat.
"Kakak !"
Katanya Bingung.
"Kakak... !"
Beng Leng memutus kata-kata adik seperguruan itu .
"Meletakkan golok jagal, menoleh ialah tepian ! Kau ingat baik-baik kata-kata ini, adik ! Kau sampaikan juga kepada adik CIa Tong ! Nah, kakakmu pergi !"
Tanpa menanti suaranya berhenti, Beng Leng sudah lantas berlompat maju untuk berlari-lari di jalan pegunungan itu, hingga dilain detik dia lenyap dalam remang-remang !
Tan Hong melongo, tak ingat ia akan menyusul kakaknya itu !
Sekarang ini marilah kita melihat dahulu kepada Kiauw In dan Giok Peng.
Mereka telah berkemas-kemas untuk selekasnya fajar tiba mulai berangkat pergi.
Inilah sebabnya kitab pusaka mereka hilang ditangannya It Hiong dan It Hiong sudah meninggalkan gunung secara diam-diam guna mencari kitab itu.
Mereka berniat mencari Gak Hong Kun, orang yang dicurigai telah mencuri kitab.
Adalah diluar dugaan justru itu malam kawanan dari luar lautan sudah datang menyerbu pula kuil Siauw Lim Sie, hingga mereka mesti menempur kawanan bajingan itu.
Sampai fajar baru mereka pulang, untuk melihat Hauw Yan, anak yang ditinggal sendirian didalam rumah gubuk.
Selekasnya mereka meloloskan pedang mereka, mereka lari kedalam kamar.
"Mama !"
Demikian suara Hauw Yan, yang telah mendusin dari tidurnya. Giok Peng berlompat kepada mustikanya itu, untuk mengangkat dan merangkulnya sambil ia mencium pipi orang.
"Anak !"
Katanya menyayang. Kiauw In pun segera menghampiri.
"Kau telah mendusin, anak manis ?"
Tanyanya sambil mengusap-usap kepala orang. Hauw yan mengangguk dan tertawa manis.
"Bagaimana ?"
Kemudian Nona Cio tanya Giok Peng.
"apakah kita berangkat sekarang ?"
Nona Pek tertawa.
"Kita baru habis bertempur semalam suntuk, aku merasa letih"
Sahutnya.
"Aku pikir baik kita beristirahat dahulu sebentar, tengah hari, setelah bersantap, baru kita berangkat.."
Ia hening sejenak, lalu ia melanjutkan .
"Kakak, kita mau pergi mencari kitab, itu berarti kita bakal pergi buat waktu yang tak menentu cepat atau lama, atau mungkin kita bakal menderita, maka itu, bagaimana pikiranmu jika kita menitipkan dahulu Hauw Yan di Lek Ogk Po ? Dengan demikian anak ini tak usah turut menderita, supaya dia tak merepotkan kita."
"Pikiran yang baik, adik"
Sahut Kiauw In.
"Cuma, kalau adik Hong pulang, apa katanya nanti ?"
"Ah, kakak selalu menguatirkan dia tak tenang hati !"
Kata Giok Peng.
"Kakak, baik kakak jangan pusing itu ! Aku pun memikir merubah sedikit rencana kita..."
"Bagaimana, adik ?"
"Aku pikir lebih baik kita pergi dahulu mencari Gak Hong Kan"
Kata Nona Pek.
"Sesudah itu baru kita pergi ke Pay In Nia menjenguk adik Hong. Bagaimana pikiran kakak ?"
"Buatku sama saja"
Sahut Kiauw In tertawa.
"Aku percaya ditengah jalan nanti, kita akan bertemu dengan adik Hiong. Yang perlu ialah asal kita bertindak dengan melihat sajalah."
Senang hati Giok Peng.
Maka itu, mereka lantas beristirahat.
Tengah hari, habis bersantap, kedua nona sudah lantas bersiap pula.
mendadak mereka mendengar suara orang tertawa diluar rumah, atau In Gwa Sian tampak bertindak masuk.
Dia mengawasi ketika dia melihat persiapan nonanona itu.
"Kalian mau turun gunung ?"
Tanyanya.
"Buat urusan apakah ?"
Kiauw In sudah lantas menyuguhkan teh kepada paman itu.
"Terima kasih atas perhatianmu, paman In"
Katanya tertawa.
Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 3
Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 12