Ceritasilat Novel Online

Iblis Sungai Telaga 3

Eps 3 Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Baca online Iblis Sungai Telaga - Khu Lung

Cersil Iblis Sungai Telaga - Khu Lung.

"Kami mau pergi buat satu urusan sekalian untuk mencari adik Hiong."

"Kalian hendak menuju kemana ?"

In Gwa Sian tanya.

"Dapatkah kalian memberitahukannya kepada pamanmu ini ?"

"Pertama-tama kami mau perdi ke Lok Tiok Po"

Giok Peng menerangi jawaban.

"Dari sana kita akan menuju ke Hong San untuk membereskan sesuatu. Habis itu baru kami mencari adik Hiong. Diakhirnya, kami berniat pulang ke Pay In Nia."

"Ooo.. !"

In Gwa Sian memperdengarkan suara heran.

"Buat kepergian kami ini "

Kiuaw In menambahkan.

"kami tidak mau berpamitan lagi dari Pek Cut Taysu beramai. Kamu kurang bebas. Maka kami minta paman saja yang tolong menyampaikannya nanti !"

In Gwa Sian sudah lantas berbangkit.

"Kalian mau berangkat, berangkatlah !"

Katanya.

"Asal ditengah jalan kalian harus berhati-hati ! Nah, aku si tua mau mengundurkan diri."

Pengemis itu lantas memutar tubuh dan bertidak pergi. Baru beberapa tindak dipintu luar, ia sudah lantas berhenti dan berpaling.

"Kapan kiranya kalian akan kembali ?"

Tanyanya. Kedua nona berjalan bersama, mereka pun sudah sampai diluar.

"Mungkin buat sepuluh atau lima belas hari."

Sahut Kiauw In.

"Kami berniat kembali supaya dapat menghadiri pertemuan tanggal lima belas nanti."

Giok Peng sudah menutup pintu.

Mereka menggendol pedang dan membekal buntalan berikut rangsum kering, sedangkan kantung piauw mereka berada dipinggangnya masing-masing.

Hauw Yan ada pada ibunya, saban-saban ia memanggil mama kepada ibu itu serta Kiauw In.

Lekas juga kedua nona sudah berdiri menghadapi In Gwa Sian guna memberi hormat akan mohon berpamitan, setelah mana keduanya berlari-lari turun gunung...

Pat Pie Sin Kit mengawasi sambil menggeleng kepala.

Ketika itu sudah mendekati maghrib.

Tiba di kaki puncak Siauw SIt Hong kedua nona berada di dalam rimba.

Itulah tempat dimana Tan Hong bertemu dengan Beng Leng Cinjin.

Jarak waktu diantara mereka cuma berselang satu jam.

Tan Hong masih berdiri menjublak.

Ia memikirkan kakak seperguruannya itu, ia heran kenapa hati dan gerak gerik kakak itu demikian berubah.

Karena kedua nona-nona Cio dan Pek berlari-lari dengan cepat, mereka sudah lantas melihat kepada Tan Hong.

Kiauw In yang melihat paling dahulu dan segera mengenali nona dari luar lautan itu.

"Hati-hati adik Peng !"

Ia lantas memperingati Giok Peng.

"Kau lihat wanita disebelah depan itu ? Dialah Tan Hong dari Hek Keng To. Dia berada disini, maka itu entah ada berapa banyak kawan-kawannya didekat-dekat kita...."

Berkata begitu Nona Cio sudah lantas menghunus pedangnya maka perbuatan itu diturut adik Pengnya.

Giok Peng menempati diri di belakang kakak itu.

Kedua nona bertindak dengan cepat, selekasnya mereka datang dengan Tang Hong mereka berlompat maju ke depan orang.

Tan Hong lihai, walaupun ia tengah menjublak telinganya mendengar suara berkesiurnya angin maka ia lantas menoleh hingga ia melihat kepada kedua nona itu.

Ia segera berlompat menghampiri sembari membentak ia mendahului menyerang dengan sanhopang tongkat panjangnya yang istimewa itu.

Giok Peng mengempo Hauw Yan dengan tangan kiri, pedangnya ditangan kanan atas datangnya serangan sebab Tan Hong menyerangnya terlebih dahulu, ia segera menangkis.

Ia pun membentak ."

Wanita jahat, kau masih banyak lagak ? Kau toh baru kabur lolos dari tangannya kakakku !"

Tan Hong sudah berusia dua puluh enam tahun, dia masih belum menikah, pandangannya tinggi, dia suka sekali orang mengangkat-angkatnya, sebaliknya, dia tak suka ditegur orang.

Maka itu, suaranya Nona Pek membuatnya gusar.

Tanpa berkata-kata lagi, dia maju sambil memutar tongkatnya, yang berkilau-kilauan sinarnya guna membikin kabur pandangan matanya Giok Peng, sesudah mana ia menghajar ke arah Hauw Yan !

Giok Peng terkejut, ia sangat kuatir anaknya terluka, maka itu terpaksa ia lompat mundur setombak lebih lalu sambil mengepit pedangnya, ia mengawasi anak itu yang ia usapusap kepalanya.

Hauw Yan tidak kaget bahkan ia tersenyum dan tertawa.

Maka itu legalah hati sang ibunya.

Kiauw In gusar sekali menyaksikan orang demikian telengas.

Dia bukan menyerang si ibu hanya anak.

Maka ia lompat sambil terus menyerang Tan Hong menebas ke arah lengan menyusul mana ia membacok pula bahunya si rase kemala.

Tan Hong dapat melihat serangan itu ia berkeliat dengan satu gerakan melengak sambil terus berjumpalitan.

Itulah tipu "Jembatan Besi".

Dengan pedangnya ia menyampok guna menangkis karena mana kedua pedang beradu satu dengan lain hingga terdengar suaranya yang nyaring.

Kiauw In tidak berhenti sampai disitu.

Ia menyerang secara berantai.

Tan Hong segera juga kena terdesak hingga ia mesti berkelahi dengan main mundur.

Sejak pertempuran tadi malam ia sudah tahu nona lawannya itu lihai sedangkan sekarang si nona hendak mengumbar panasnya hatinya.

Tapi dialah seorang berkepala besar ia bandel walaupun jatuh dibawah angin tak sudi ia cepat-cepat mengangkat kaki.

Demikian mereka jadi bertempur seru, walaupun yang satu terdesak.

Kiauw In menggunakan jurus-jurus dari ilmu pedang Khia Bun Patwa Kiam.

Ia mendesak sampai orang mundur empat atau lima tombak jauhnya.

Napasnya Tan Hong pun memburu keras.

Dia bermandikan peluh pada dahinya, tak dapat ia melakukan penyerangan membalas.

Karena ini, kemudian ia berpikir nekad.

Tiba-tiba dia menjatuhkan diri untuk berguling menghampiri lawan untuk segera berlompat bangun guna menghajar pinggang dengan kepalan kiri !

Hebat serangan mendadak itu, tak sempat Kiauw In menangkis, maka iapun menggunakan cara yang terakhir.

Seperti Tan Hong ia jatuhkan diri sambil melengak disusul sebelah kakinya melayang mendepak lengan kiri orang !

Tang Hong ingin menyerang dengan hebat tak ia sangka lawan sedemikian lihai.

Ia menjadi terkejut ketika ia merasai lengannya kena terdepak hingga seluruh lengan itu bergemetar.

Walaupun demikian dia tabah sekali.

Dia lantas menjatuhkan diri sambil membacok dengan tongkatnya !

Kembali Kiauw In terancam bahaya.

Jago luar lautan itu lihai sekali, ia lantas menggulingkan tubuh buat menjauhkan diri, sesudah mana ia melejit bangun.

Terus ia lompat maju pula guna menyerang lagi, ia melakukan pula serangan berantai.

Selain ia membuat mata orang kabur.

Ia juga mencoba mengekang tongkat sanhopang lawannya itu.

Tan Hong tahu bahaya mengancam, ia menjadi nekad, maka ia berkelahi secara mati-matian.

Pedang dan tongkat beradau berkali-kali, saban-saban meletikkan percikan apinya.

Di dalam keadaan seimbang itu Tan Hong telah menggunakan otaknya yang cerdas.

Ia lantas mendapat akal.

diam-diam dengan tangan kirinya ia merogoh kedalam sakunya dimana ia menyimpan peluru liauwgoan tan bahan peledak buatan istimewa pihak Hek Keng To.

Secara mendadak ia menimpuk ke arah lawannya.

Ia pun menimpuk berulang-ulang.

Nona Cio melihat orang menggunak senjata rahasia, ia membela diri dengan salah satu jurus dari Hang Liong Hok Houw Ciang, ilmu silat tangan kosong "Menaklukan Naga Menundukkan Harimau".

Ia menyambuti senjata rahasia untuk segera dilemparkan ke samping, sedangkan dengan pedangnya ia mengekang tongkat lawan.

Peluru jatuh ke rumput dan meledak seketika.

Ketika itu digunakan nona licik itu buat pergi berlompat mundur terus berlari pergi menghilang diantara lebatnya pepohonan dalam rimba itu.

Kiauw In yang menjadi terkejut tak sempat mengejarnya.

Ia pun tidak memikir buat menyusul orang.

"Adik Peng, mari kita lanjuti perjalanan kita !"

Katanya.

"Sekarang sudah tak siang lagi !"

Ia memasuki pedangnya kedalam sarungnya. Giok Peng menghampiri kakak itu.

"Tidak kusangka disini kita mesti melakukan pertempuran dahsyat ini"

Katanya tertawa.

"Bangsat perempuan itu lihai dan telengas, hampir dia mencelakai anak kita...."

Hauw yan tertawa.

"Mama, enak main-main ya ?"

Katanya.

Kiauw In dan Giok Peng tertawa.

Lucu anak belum tahu apa-apa itu.

Mereka berjalan terus dengan cepat.

Ditengah jalan, mereka bergurau dengan anak mereka.

Lewat jam dan tibalah mereka dalam kecamatan Yong hong di propinsi Holam.

Lenggang mereka memasuki kota yang tidak besar tetapi lalu lintasnya hidup itulah kotanya menjadi ramai.

Segera mereka mencari penginapan dimana Hiauw Yan ribut lapar, karena mana, mereka lantas minta disediakan barang hidangan.

"Tuan kecil ini lucu !"

Berkata jongos yang menyajikan barang makanan. Ia tertarik dengan lagak lagunya Hauw Yan. Anak itu manis dan lincah, siapapun suka bermain-main dengannya.

"Dia rada bandel..."

Kata Giok Peng.

"Nona-nona datang begini terlambat. Apakah nona-nona datang dari Siauw Sit San ?' tanya si jongos yang mengalihkan pembicaraannya. Ia belum mendapat jawaban atau ia menabok mulutnya sendiri .

"Ngaco belo, harus dihajar"

Katanya. Kiauw In dan Giok Peng tertawa. Mereka menganggap jongos itu jenaka. Lantas si jongos memberi penjelasan tanpa diminta.

"Siauw Sit San menjadi tempat formasi kuil Siauw Lim Sie, tempat formasi kuil Siauw Lim Sie, tempat bersembahyangnya Sang Buddha yang maha suci dan mulia, mana dapat nona-nona berdiam di sana ? Dasar aku yang doyan ngoceh ! Masa aku menanyakan nona-nona datang dari sana ? Bersalah mulutku harus ditabok ?"

Kiauw In tertawa.

"Tidak karuan-karuan kau menyebut Siauw Sit San"

Katanya.

"mungkinkah kau ada hubungannya dengan kuil di sana itu ?"

Jongos itu lekas-lekas menggonyangi tangan.

"Harap tidak salah mengerti nona."

Sahutnya.

"Aku menyebut-nyebut Siauw Sit San sebab kemarin ini kebetulan kami kedatangan mereka tamu-tamu yang katanya datang dari Siauw Sit San dan tengah malam buta mereka telah berkelahi, maka itu, memasuki kamar ini, aku jadi jelas halnya mereka itu."

Habis berkata, jongos itu lantas ngeloyor keluar. Tiba-tiba Kiauw In ingat sesuatu.

"Kakak pelayan, mari !"

Ia lantas memanggil.

"Mari, hendak aku menanyakan sesuatu."

Jongos itu segera kembali.

"Orang-orang macam apakah yang kemarin itu datang disini ?"

Giok Peng tanya. Ia pun mendapat ingatan seperti Kiauw In.

"Kenapa mereka berkelahi ?"

Ia cedik. Ia lantas meletakkan sepotong perak diatas meja, menambahkan ."Uang ini buat kau minum arak ! Nah, lekas kau bicara !"

Melihat perak yang berkilau itu, pelayan itu maju dan tindak, tangannya menyamber, wajahnya tersungging senyuman.

"Terima kasih nona !"

Ucapnya.

"Kalau nona ingin menanyakan apa-apa, silahkan."

"Bukankah barusan telah aku tanyakan ?"

Giok Peng membaliki tertawa.

"Orang-orang yang datang dari Siauw Sit San itu, bagaimana cara dandanan mereka, bagaimana macam tampangnya, dan kenapa mereka berkelahi ?"

"Merekalah dua orang pria dan dua-duanya masih muda."

Sahut san pelayan yang benar-benar suka bicara.

"Kelihatannya mereka seperti sahabat baik satu dengan lain. Tibanya mereka ialah saling susul."

"Jadi merekalah orang-orang muda,"

Kata Giok Peng.

"Bagaimana cara dandannya mereka ? Bagaimanakah macamnya, potongan badan dan sikap duduknya ? Dapatkah kau melukiskannya ?"

Pelayan itu menggaruk-garuk kepala. Ia mencoba mengingat-ingat.

"Ya, aku kini ingat !"

Katanya ayal-ayalan.

"Lekas !"

Nona Pek mendesak.

"Bicaralah !"

Kiauw In yang mengempo Hauw Yan bersikap tenang.

"Kakak pelayan, jangan kau kuatir"

Katanya tersenyum.

"Kami menanyakan mereka sebab kami ingin tahu kalau-kalau kami kenal atau tidak kedua pemuda itu."

Sembari berkata Nona Cio diam-diam mengedip mata pada Giol Peng. Nona Pek mengerti pertanda itu, ia lantas berkata pula.

"Benar ! Kau bicaralah. Tak usah kau berbicara seperti orang mendongeng !"

Dari tertawa, jongos itu lantas mengasi lihat tampang sungguh-sungguh.

"Pemuda yang datang terlebih dahulu itu tampan, sikapnya risau sekali, ia mulai bercerita.

"Dia sangat pendiam. Tetapi sepasang matanya itu toh sungguh menakutkan..

"Kau takut apa ?' tukas Giok Peng.

"Apakah dia dapat menelanmu ?"

"Bukan begitu nona. Sebenarnya ketika aku takut masuk kedalam kamar itu melayaninya. Ketika aku tanya dia memerlukan apa, dia diam saja, sikapnya tawar sekali..."

"Masih ada apa lagi tentang dia ?"

Giok Peng mendesak.

"Hayolah kau bicara !"

Jongos ini membuat main tangannya, ia pun mengusap mukanya.

"Ketika kemudian aku datang mengantarkan barang makanan daun pintu hanya ditutup dirapatkan."

Ia mengasi keterangan lebih jauh.

"Aku menyajikan barang makanan diatas meja. Ketika itu ia sedang merebahkan diri diatas pembaringan, matanya yang terbuka tengah mengawasi langit-langit rumah. Sekilas aku melihat disudut matanya airmatanya mengalir. Saking heran, tanpa terasa aku memperdengarkan suara dengan berkata ."Seorang laki-laki cuma mengalirkan daran tetapi tidak air mata ! Ah, mengapakah ia mirip seorang wanita...?"

Menyebut "wanita"

Jongos itu menoleh kepada kedua tamutamunya. Dia terkejut dan agak likat. Rupanya dia insyaf yang dia telah ketelepasan omong.

"Bicara terus !"

Mengundurkan Kiauw In tertawa.

"Kami tak akan persalahkan kau !"

Lega hatinya si jongos. Dia lantas melanjuti .

"Sebenarnya tak puas aku melihat pemuda itu menangis, hendak mengundurkan diri. Justru aku memutar tubuh, tiba-tiba aku melihat diatas lantai terletak sebuah buku, entah kitab apa..."

Giok Peng terperanjat hingga ia menyerukan .

"Oh !"

Lantas dia bertanya ."

Buku apakah itu ?"

"Aku pungut buku itu"

Si jongos menjawab.

"Aku mengawasinya sebentar. Waktu aku hendak mengembalikannya kepada si anak muda, tiba-tiba dia merampasnya, terus aku digaplok ! Oh, sunggguh nyeri ! Hebat gaplokkannya itu ! Begitulah apesnya orang yang menjadi pelayan..."

"Apakah yang kau lihat pada buku itu ?"

Kiauw In tanya.

"Apakah ada tulisannya ?"

Jongos itu menggaruk-garuk pula kepalanya. Dia berpikir keras.

"Aku melihat empat buah huruf."

Sahutnya kemudian.

"Sayang aku tidak tahu surat. Akulah dari keluarga melarat, aku cuma dapat bersekolah selama satu tahun, sembari bersekolah, aku mengembalakan kerbau juga..."

"Sudahlah !"

Giok Peng menyela.

"Aku bukan tanyakan hal sekolahmu ! Aku tanya tentang buku ! Apakah yang tertera pada buku itu ? Berapa hurufkah yang kau kenal ?"

Jongos itu tidak marah bahkan dia tertawa.

"Kenapa nona sangat tak sabaran ?"

Dia bertanya. Dia berdiam pula untuk berpikir.

"Dari empat huruf itu aku cuma dapat membaca yang dua, yang lainnya tidak sebab terlalu banyak coretannya. Yang dua itu yaitu Sam Cay..."

Dua dua Kiauw In dan Giok Peng melengak. Mereka dikejutkan dua huruf yang disebutkan itu. Lantas mereka saling memandang. Terang sudah buku itu buku mereka. Selang sesaat, Kiauw In menanya pula .

"Bagaimana dengan itu pemuda yang datang belakangan ?"

Jongos itu sudah berpengalaman dalam tugasnya, gerak gerik kedua nona membuatnya dapat berpikir, karenanya dia menduga apa-apa, hingga dia juga ingin berlaku cerdik. Sahutnya .

"Maaf, nona-nona. aku telah ketelepasan bicara ! Aku minta dengan sangat supaya hal ini nona-nona tidak sampaikan kepada siapa juga !"

"Jangan kau kuatir !"

Berkata Giok Peng.

"Lekas kau tuturkan perihal anak muda yang datang belakangan itu !"

Masih jongos itu menatap kedua nona bergantian. Baru setelah itu, maka dia bicara. Katanya .

"Pemuda yang datang belakangan itu lebih muda dari pada pemuda yang datang lebih dahulu. Dia pun tampah gagah tampangnya, malah dia bertangan terbuka, dia telah memberi presen sepotong perak kepadaku. Dia menanya aku siapa-siapa saja yang malam itu menumpang didalam penginapan kami. Aku beritahu diantaranya tentang pemuda yang datang lebih dahulu itu. Lantas dia menanya banyak mengenai tetamu itu, dia tampangnya seperti juga dialah seorang petugas negara..."

Tepat itu waktu terdengar suara pemilik penginapan memanggil jongosnya, maka jongos itu lantas minta perkenan buat segera mengundurkan diri. Giok Peng mengunci pintu kamarnya.

"Kakak"

Katanya perlahan.

"terang kedua pemuda itu Gak Hong Kun dan adik Hiong. Bukankah kakakpun menerka sama seperti aku ?"

Liauw In meletakkan Hauw yan yang tidur dalam empoannya. Ia mengangguk.

"Memang"

Sahutnya selang sejenak.

"Dan terang sudah yang kitab pedang guru kita telah dicuri Hong Kun !"

Giok Peng menghampiri pembaringan, untuk duduk disisinya.

"Bagaimana sekarang ?"

Tanyanya.

"Kita harus cepat."

Sahut orang yag ditanya.

"Aku percaya adik Hiong tengah menyusul Hong Kun ! Besok kita membeli dua ekor kuda, untuk berangkat lekas ke Lok Tiok Po, habis menitipkan Hauw Yan, segera kita menyusul ke gunung Hoang San."

"Bagus rencanamu ini, kakak."

Giok Peng menyatakan setuju.

"Cuma, apakah kita tak bakal terlambat sampai di Hong San ?"

"Kita tidak mempunyai jalan lain lagi"

Kata Kiauw In.

"Terburu-buru juga tak ada faedahnya. Yang penting yaitu asal disepanjang jalan kita senantiasa mencari keterangan. Mustahil kita tak dapat menemukan mereka itu."

Giok Peng dapat menyabarkan diri.

Maka itu terus mereka beristirahat.

Besoknya, mereka bangun pagi-pagi untuk terus berkemas.

Di dalam kota Tenhong mereka membeli dua ekor kuda dengan begitu dengan cepat mereka menuju ke Lok Tio Po, buat menuju ke Hong San.

Pada suatu hari mereka tiba di Tiangsee ibukota propinsi Oawlam.

Kota ramai sekali, jalan besar penuh dengan orang dan pelbagai kendaraan.

Tapi mereka tidak mau singgah dikota itu, maka dari pintu kota yang satu mereka nyeplos di pintu kota yang lainnya.

Di sepanjang jalan, mereka mencoba mendengar.

Sekarang mereka menuju ke Oawlam Barat, mengikuti jalan umum.

Ketika itu, baru saja lewat tengah hari jam ngo sie dan mulai memasuki jam hio sie mendekati lohor.

Ditengah jalan tak putusnya lalu lintas ada orang berjalan kaki, ada kereta, kuda dan keledia.

Tengah kedua nona itu melanjuti terus perjalanannya itu, tiba-tiba dari arah depan mereka melihat memandanginya dua orang penunggang kuda yang sedang mengaburkan kudanya.

Penunggang kuda yang di depan seorang wanita muda dan yang di belakang seorang pria tua.

Mereka terperanjat sebab mereka juga sedang mengasi kuda mereka lari keras.

Debu sampai mengepul naik.

Dibagian jalanan itu keadaan lalu lintas sedang ramai.

Lekas sekali, kedua belah pihak sudah melalui satu sama lain.

Hampir mereka bertabrakan.

Ialah diantara Giok Peng dan wanita di depan itu.

Selagi berpapasan itu wanita itu berseru kaget segera dia menahan kudanya untuk diputar balik, buat menyusul Nona Pek.

"Nona !"

Dia memanggil. Giok Peng tidak mendengar suara itu, ia larikan terus kudanya. Wanita itu mencambuk kudanya buat menyusul.

"Siauw Yan Sie !"

Dia memanggil pula, keras suaranya.

"Nona Pek !"

Baru sekarang Giok Peng mendengar panggilan kepadanya itu.

Segera ia menahan kudanya dan menoleh untuk mengawasi.

Lekas juga ia menjadi heran.

Penunggang kuda itu adalah seorang nona, pakaiannya serba merah, modelnya luar biasa, tak seperti pakaian yang kebanyakan.

Orangnya sendiri juga berdandan luar biasa.

Dengan semacam gelang emas, dia mengekang rambutnya yang dilepas panjang terurai ke punggungnya hingga rambut itu memain diantara debaran angin.

Dia pula memakai pupur medok, hingga dia tampak genit sekali.

"Oh.."

Sernua saking heran. Ia mengenali Tong Hiang. Nona itu tertawa haha hihi.

"Bagaimana nona ?"

Tanyanya tertawa pula.

"Apakah nona sudah mengenali budak pelayanmu ? Nona agaknya tergesagesa, kemana nona hendak pergi ?"

Giok Peng masih melengak, hingga tak dapat ia menjawab cepat-cepat. Tong Hiang mengawasi, mukanya berseri-seri.

"Tuan muda Tio sudah pergi kelain tempat !"

Katanya pula tanpa dimulai keterangannya.

"Buat apa nona pergi ke Hong San ?"

Nona Pek melengak. Ia jadi berpikir.

"Heran kenapa budak ini ketahui kami mau pergi ke Hong San ?"

Tanya ia pada dirinya sendiri. Ia mencoba menenangkan hatinya."Tong Hiang, kenapa kau ketahui Tuan Tio sudah pergi kelain tempat ? Benarkan dia tak ada digunung Hong San ?"

Ketika itu Kiauw In yang telah memutar kudanya menghampiri Giok Peng hingga mereka berdua merendengi kuda mereka.

Ia mengenali Tong Hiang yang ia pernah lihat di Pay In Nia dan ketahui orang memasrahkan diri dikalangan yang sesat, dari itu ia bersikap waspada.

Ia kuatir Giok Peng nanti kena dibokong...

Tong Hiang melirik pada Nona Cio.

Dia tertawa manis.

"Kelihatannya kalian mencurigakan aku !"

Katanya.

"Rupanya kalian menganggap Tong Hiang bukan seperti manusia umumnya ! Aku untuk memberitahukan sesuatu kepada kau, nona, supaya kalian tak usah melakoni perjalanan jauh yang tak ada faedahnya, yang akan membuat kalian membuang waktu yang berharga. Nona mau percaya atau tidak, terserah !"

Mengatakan tidak, Giok Peng mesti berlaku hati-hati.

"Habis kemanakah pergi Tuan Tio ?"

Ia tanya.

"Dapatkan kau memberi keterangan padaku ?"

Tong Hiang tertawa geli.

"Demi kitab pedang Sam Cay Kiam. Tuan Tio sudah lihat wanita itu pergi lari."

Sahutnya.

"Ada kemungkinan dia mengejar terus ke Hek Kong To !"

Giok Peng melengak. Dia heran berbareng terkejut.

"Tong Hiang !"

Katanya keras-keras bernada menegur.

"benarkah kata-katamu itu ?"

"Tong Hiang ! Tong Hiang !"

Demikian terdengar suaranya si orang tua yang menjadi kawan si budak memanggil-manggil Dia menahan kudanya tetapi tidak pergi menghampiri.

Dia cuma memutar tubuhnya.

Tong Hiang memutar kudanya, sebelah tangan diulapkan.

"Perkataan budakmu ini nona"

Sahutnya.

"Benar atau palsu kau pikir saja sendiri. Nah, sampai jumpa pula ! "

Lantas dia mencambuk kudanya yang dikedut dikasihh kabur guna menyusul si orang tua kawannya itu.

Tak dapat Giok Peng mencegah orang berangkat, karenanya berdua Kiauw In, ia saling mengawasi.

Keduaduanya terbenam didalam kesangsian .

Mana Hiang bicara benar-benar atau main-main ?

Budak itu mendusta atau bagaimana ?

Percaya, mereka sangsi, tidak percaya mereka ragu-ragu.

Bukankah benar It Hiong tengah menyusul kitab pusaka guru mereka ?

Mengapa It Hiong bukannya menyusul Gak Hong Kun hanya wanita dari Hek Kong To, pulau ikan Lohan Hitam itu ?

Kenapa kitab jadi berada ditangannya Tan Hong nona itu ?

Bukankah itu buat dipercaya ?

Masih sekian lama, keduanya berdiri diam saja.

Mereka bingung.

Sekarang marilah kita melihat dahulu kepada Tio It Hiong, sejak saat itu ia kehilangan kitab lima pedang Sam Cay Kiam yang membuatnya kaget dan berduka bukan main.

Itulah kitab pusaka gurunya.

Tak mestinya kitab itu lenyap, lebihlebih tidak lenyap dari tangannya.

Maka keras ia memikir, menerka-nerka siapa si pencurinya.

Ia lantas ingat tiga orang yang dapat dicurigai, ialah Tong Hiang, budaknya Giok Peng, Cin Tong dari Hek Kong To dan Gak Hong Kun, sahabat tetapi saingan dalam percintaan.

"Tiga orang itu memiliki kepandaian akan mencuri Sam Cay Kiam."

Demikian pikirnya.

"tetapi diantara mereka bertiga, cuman Tong Hiang yang pernah mencurinya di Pey In Nia baru-baru ini. Ketika itu Tong Hing suka mengembalikan kitab itu sebab dia dinasihati Giok Peng, yang berlaku murah hati terhadapnya. Mungkinkah Tong Hiang yang datang pula dan mencuri lagi kitab itu ? Kalau andiakata Cin Tong yang mencuri, ada kemungkinan dia dianjurkan Tong Hiang atau diperintah budak itu. Mengenai Gak Hong Kun, ia lebih-lebih beragu-ragu. It Hiong jujur, tak berani ia sembarang menuduh orang. Bukankah Hong Kun muda dan gagah ? Mustahil Hong Kun mau mencuri barang sahabat baiknya ? Ia menganggap ia adalah sahabat baik orang she Gak itu. Kalau Hong Kun mencuri, tak malukah dia menghadapi rekan-rekannya kaum dunia persilatan ? Kalau tokh benar Hong Kun mencuri, itu mungkin disebabkan urusan asmara, cintanya terhadap Giok Peng hingga otaknya menjadi keras. Atau Hong Kun mau gunakan kitab itu guna memaksa Giok Peng menyerah terhadapnya. Satu malam It Hiong berpikir, masih ia belum dapat mengambil keputusan. Kitab pedang itu tidak cuma menyangkut gurunya, yang paling penting ialah akibatnya nanti terhadap dunia persilatan. Celakalah kalau kitab pedang itu jatuh didalam tangannya orang jahat yang berhasil mempelajari itu hingga sempurna. Demikian, walaupun ia belum dapat menerka siapa si pencuri, mendekati fajar It Hiong meninggalkan Kiauw In dan Giok Peng kepada siapa ia cuma meninggalkan surat. Ia turun dari gunung Siauw Sit San. Dengan kepandaiannya lompat tinggi dan ringan tubuh, didalam waktu tiga jam, dapat It Hiong turun dari gunung itu, akan tetapi ia mau menduga si pencuri boleh jadi masih ada didalam wilayah gunung itu, maka itu ia lantas melakukan pemeriksaan, menggeledah setiap gua atau bagian rimba yang lebat. Baru sesudah lewat lohor, karena usahanya tidak memberikan hasil, ia turun terus, akan melanjuti perjalanannya, sampai akhirnya ia tiba dikecamatan Tong Hong dimana ia terus mencari rumah penginapan. Kebetulan sekali bagi anak muda ini, dari mulutnya jongos yang melayaninya, ia dapat tahu Hong Kun justru berada dirumah penginapan yang sama dan mengambil sebuah kamar diruang belakang. Untuk sejenak, ia menjadi bingung pula. Segera menemui pemuda she Gak itu atau jangan.

"Apakah baik aku lantas bicara secara terus terang padanya ?"

Demikian ia berpikir.

"Bagaimana kalau Hong Kun mengakui mencuri dan lalu mengajukan syarat untuk mengembalikannya ? Aku menerima syarat itu atau jangan ? Sebenarnya cukup asal dia mengembalikan dan kita tetap bersahabat... Hanya bagaimana caranya aku bicara langsung dengannya ? Dipihakku, aku tidak punya alasan atau bukti ? Itu artinya Bielang sahabat berbareng menambah seorang musuh...!"

Kemudian setelah memikir masak-masak, It Hiong putuskan buat melakukan penyelidikan secara diam-diam.

Pemuda ini memasuki rumah penginapan sesudah lewatnya jam pertama selesai dia membersihkan muka, jongos sudah menyediakan barang hidangan.

Jongos ini doyan sekali bicara.

Dia omong ini dan itu untuk menarik perhatian si tetamu.

Tentu sekali ia melakukan tugasnya dengan baik itu supaya orang suka pada penginapannya dan nanti memberi hadiah.

Sayang untuknya, pikiran It Hiong lagi kalut dia dibiarkan ngoceh sendirian saja.

"Tuan"

Kata si jongos kemudian sesudah dia melihat temannya itu agak lagi berpikir keras. Dia pun ingat sesuatau.

"Tuan, apakah sahabat tuan tetamu kami yang tinggal di ruang belakang itu?"

Benar-benar perhatiannya di anak muda menjadi tertarik.

"Apakah katamu ?"

Tanyanya.

"Jika tuan bersahabat dengan tuan itu, tuan Gak,"

Kata si jongos menjelaskan.

"harap tuan berlaku hati-hati..."

It Hiong heran hingga ia melongo.

"Apakah artinya kata-katamu ini ?"

Tanyanya pula. Senang si jongos yang perhatian tetamunya itu sudah tertarik.

"Sebab tuan, sebab tamuku itu aneh tabiatnya"

Dia menerangkan lebih jauh.

"Tuan Gak itu telah menamparku tanpa aku bersalah. Dia lebih banyak merebahkan diri sambil mengeluarkan airmatanya. Dia pula mempunyai se

Jilid kita yang atasnya bertuliskan empat huruf...."

It Hiong makin tertarik. Hatinya tercekat.

"Apakah kau tahu apa bunyinya ke empat huruf dari buku itu ?"

Tanyanya. Jongos itu mengawasi, dia tersenyum tetapi dia tidak menjawab. It Hiong pun mengawasi pelayan itu. Ia cepat menangkap mau orang, maka ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong perak .

"Kau ambil ini untuk kau membeli arak"

Katanya.

"Sekarang coba kau pikir, empat huruf itu huruf-huruf apa....?"

Tanpa malu-malu jongos itu menyambut sepotong perak itu, terus dia masuki kedalam sakunya. Dia tertawa pula.

"Tuan baik sekali !"

Bilangnya.

"Terima kasih banyak !"

Habis berkata tapi dia diam pula. Dia mengasi lihat tampang sedang berpikir keras.

"Dari emapt huruf itu, aku cuma kenal dua"

Sahutnya kemudian.

"Itulah dua huruf Sam Cay. Dua yang lainnya aku tidak kenal..."

It Hiong menerka kepada Sam Cay Kiam.

Darahnya lantas bergolak.

Ia mendongkol berbareng berduka hati.

Terang Hong Kun adalah si pencuri kitab, sungguh tak terpikirkan olehnya !

Hong Kun yang gagah dan bersahabat dengannya !

"Benarkah Hong Kun berbuat demikian hina ?"

Pikirnya berulang-ulang. Ia terbengong dalam kesangsian.

"Benarkah dia ada sedemikian tak tahu malu ?"

Selagi si anak muda berpikir keras itu, jongos penginapan terus berdiri diam.

"Pergilah kau minum arak !"

Perintahnya.

"Aku hendak beristirahat !"

Mendengar perintah itu, barulah si jongos bebenah dan mengundurkan diri.

Selewatnya jam tiga sunyi sudah seluruh hotel.

Penerangan di sana sini telah dipadamkan.

It Hiong belum tidur.

Ia berlompat turun dari pembaringannya terus ia menyingsatkan pakaiannya.

Dengan menggendol pedangnya, diam-diam ia keluar dari kamarnya.

Ia bertindak ke ruang belakang.

Tak sukar buatnya mencari kamarnya Hong Kun.

Ia berdiri di depan pintu berniat akan mengetuknya atau ia bersangsi sesaat.

Diantara ia dan pemuda itu ada ganjalan diluar kehendaknya.

Diantara mereka berdua ada budi dan perasaan.....

Tanpa merasa anak muda ini membayangi pula peristiwa di Lok Tio Po.

Itulah hal sangat menyedihkan.

Bukankah itu sama saja ia telah merampas pacar orang ?

Hal itu membuatnya malu kepada dirinya sendiri, ia malu kepada orang she Gak itu.

Sedangkan ketika Giok Peng sakit parah di Siauw ongpo, Hong Kun juga yang pergi mencarikan obat hosin ouw, obat mujarab itu.

Hong Kun melakoni perjalanan ribuan lie akan mendapatkan obat itu dari tangan kekasihnya Perlan Hiong si bunga rajah putih bersih.

Jiwa Giong Peng telah tertolong, itulah budi besar.

Hal itu pula membuatnya sangat mengagumi dan menghormati pemuda she Gak itu.

Lalu terbayang pula peristiwa lain.

Kali ini halnya Hong Kun sudah membinasakan Ciatkang Siang Kiat, kedua jago dari Ciatkang itu yang mati kecewa.

Dalam hal itu Hong Kun sudah kesudian menjadi kaki tangannya pembesar negeri, sendirinya menyia-nyiakan dan melenyapkan kehormatannya sebagai orang Kang Ouw sejati.....

Dan yang terbelakang ini Hong Kun pula tak malu menyelundup masuk ke Siauw Sit San, ke kuil Siauw Lim Sie, dan secara tak terhormat sudah memancing Giok Peng membuat pertemuan rahasia dengannya.

Peristiwa itu dapat ia sudahi, maka ia memaafkan pemuda itu, tetapi apa celaka, dia justru mencuri kitab Sam Cay Kiam !

Itulah kitab sangat penting karya susahnya dari gurunya, dan akibatnya dapat merusak rimba persilatan...

Maka ditimbang bolak balik, Hong Kun berbuat lebih banyak kejahatan daripada kebaikan.

Kebaikan terhadap Giok Peng dan dirinya.

Itulah soal pribadi.

Menjadi keburukan ialah bekerja dibawah perintahnya pembesar negara yang borok dan mencuri kitab ilmu pedang, itulah kejahatan.

Dan akibatnya pencurian kitab ilmu pedang itu, akibatnya dapat meruntuhkan rimba persilatan.

Akhirnya gusarlah anak muda ini, maka lantas dapat ia mengambil keputusan.

Ia bertindak mendekat daun pintu, tangannya diulurkan, maka dengan satu suara keras terbuka dan menggubraklah pintuk kamari itu.

Sembari bertindak masuk kedalam kamar ia berseru .

"Kakak Gak, bangun ! Adikmu ingin bicara denganmu !"

Habis berkata ia mengeluarkan sumbunya untuk disulut menyala hingga kamar itu menjadi terang.

Hong Kun mendusin.

Sebenarnya dia terkejut, tetapi segera ia dapat mengendalikan diri.

Dia berlaku sabar sebab ia dapat mengenali suaranya si pemuda she Tio.

Ia bergerak untuk duduk tak mau dia segera menyingkap kelambu.

Dari dalam kelambu itu dia berkata tenang-tenang.

"Kiranya ada tamu yang datang tengah malam begini ! Tetamu dari manakah yang demikian baik hati datang menjengukku ? Silahkan duduk dahulu, hendak aku memakai pakaian !"

It Hiong berdiri, ia menanti sambil mengendalikan diri.

Lewat sesaat maka tersingkaplah daun kelambu.

Disitu It Hiong muncul dengan sikapnya yang tenang.

Tentu saja dia lantas melihat It Hiong yang lagi berdiri tegak dengan wajah muram, sebab hati si anak muda sedang panas sekali.

"Kiranya kau kakak Tio !"

Katanya, nadanya dingin.

"Kakak datang secara begini tergesa-gesaan sampai mendobrak dan merusak pintu tentunya ada urusan sangat penting bukan ? Saudara ada pengajaran apakah dari kau ?"

Selagi ia berkata-kata itu si anak muda menyantel pedangnya dipinggangnya.

Walaupun hatinya sedang panas saking gusarnya, It Hiong tidak berani lantas menuduh bahwa orang telah mencuri kita ilmu pedang gurunya.

Sebisa-bisanya ia menekan hawa amarahnya itu.

"Aku dengar kakak mempunyai se

Jilid buku yang bagus, sengaja aku datang untuk meminjamnya"

Katanya sabar. Gak Hong Kun berpura tertawa.

"Aku sedang melakukan perjalanan,"

Sahutnya.

"Aku pula sedang ada urusan sangat penting. Disini dimana aku mempunyai buku ? Harap saudara Tio tidak salah mengerti."

It Hiong mengawasi tajam.

"Kakak Gak, kaulah seorang jujur, kenapa kau mendusta ?"

Tanyanya. Itulah teguran. Mendadak saja Hong Kun memperlihatkan kemarahannya.

"Saudara Tio, jangan kau memaksa orang !"

Bentaknya.

"Darimana kau pernah melihat aku memiliki sesuatu kitab ?"

It Hiong juga tak dapat mengendalikan diri lagi.

"Aku paling tak dapat melihat perbuatan tak tahu malu semacam ini !"

Ia pun membentak.

"Siapa tidak ingin ketahui perbuatannya, maka janganlah orang melakukan perbuatannya itu."

It Hiong berlompat maju ke depan pembaringan, ia menyingkap kelambu dan membongkar bantal kepala.

"Hai perbuatanmu ini perbuatan apakah ?"

Tegur Hong Kun gusar.

"Aku Gak Hong Kun, biarnya aku muncratkan darahku dalam lima tindak tak nanti aku membiarkan orang memperhina diriku macam begini !"

Dan "Sret !"

Dia menghunus pedangnya. It Hiong dapat mendengar suara pedang dihunus. Ia menoleh seraya terus lompat ke samping pintu kamar, dari situ ia mengawasi bengis pada si anak muda.

"Apakah kau menyangka aku cuma menerka-nerka saja ?"

Tanyanya gusar.

"Apakah kau kira kau cuma menangkap angin membekuk bayangan ? Ada orang yang menyaksikan bagaimana kau menangis dan air matamu bercucuran sedangkan buku Sam Cay Kiam itu jatuh ke lantai !"

Heng Kun melengak, tetapi hanya sedetik lantas ia memperlihatkan pula wajahnya yang dingin.

"Memang aku mempunyai kitab semacam itu !"

Katanya nyaring.

"Aku tidak hendak meminjamkan buku itu padamu, habis kau mau apa ?"

It Hiong melengak. Ia heran akan sikapnya pemuda di depannya itu.

"Aku ingat persahabat kita maka juga barusan hendak aku dari kau, kakak."

Katanya. Ia menjadi sabar pula.

"Tapi baiklah kakak ketahui, kitab itu kitab karyanya guruku. Kau telah mencuri itu, bagaimana kau masih hendak menyangkalnya ? Jika kau tidak mau mengembalikan itu secara baik-baik, maaf, terpaksa aku akan berlaku kurang hormat terhadapmu !"

Berkata begitu, anak muda ini lantas menghunus pedangnya, hingga terdengar suaranya yang nyaring anak muda.

Yang pertama dilembah Pek Keng Kok dan yang kedua kali di gunung Siauw Sit San, maka tahulah ia kelihaian orang muda itu.

Sedangkan Kong Hong Kiam adalah pedang mustika yang tajam luar biasa.

Tapi dialah seorang muda beradat tinggi, yang bangga akan kepandaiannya sendiri, dia tak takut !

Pula, selama ia gagal dalam urusan asmaranya dengan Pek Giok Peng, ia pun bersakit hati, dalam kekecewaan dan mendongkol, ingin ia mengadu kepandaian dengan saingannnya itu.

Sekarang rahasianya dibuka tentang ia mencuri kitab, kemarahannya sampai di puncaknya.

Ia malu dan mendongkol, ia jadi seperti mata gelap.

"Baiklah, boleh kau andalkan ujung pedangmu untuk mendapatkan pulang kitab ilmu pedangmu !"

Teriaknya menantang. Tapi ia bukan cuma memperdengarkan suara besar itu, ia bahkan mendahului menyerang. Itulah jurus "Pohon Bunga Bwe Mengeluarkan Pasu"

Dan sasarannya ialah ulu hatinya It Hiong.

Bukan main gusarnya pemuda she Tio itu sebab sudah terang orang berasal orang toh menyangkal dan mengotot, lalu diakhir mengaku salah tetapi sudi meminta maaf akan memperbaiki kesalahannya itu.

Dalam murkanya, bersedia ia melayani orang mengadu kepandaian cuma ia tak mau segera mengandalkan pedang mustikanya.

Dengan masih dapat mengendalikan diri, selagi tikaman datang ia berlompat keluar pintu kamar, terus ke halaman yang kosong.

Di situ ia berdiri menantikan.

Hong Kun lompat menyusul.

Ia putar pedangnya hingga sinarnya berkilauan, lalu ia maju untuk menyerang.

Dalam sengitnya, ia menyerang secara berantai hingga tiga jurus.

It Hiong tidak menangkis atau membalas menyerang.

Ia juga tetap belum mau menggunakan pedangnya.

Maka itu, tiga kali ia berkelit terus menerus.

"Kakak Gak"

Katanya dengan sabar.

"jika kau suka mengembalikan kitabku itu, suka aku memulihkan persahabatan kita. Kau setuju bukan ?"

Hong Kun tidak menjawab, dia justru menikam.

It Hiong melihat tidak ada tempat lagi buat ia main berkelit mundur, ia pula sangat memikirkan kitab silatnya.

Sampai disitu habis sudah sabarnya.

Maka itu ia lantas berkelit ke sisi darimana segera ia mulai melakukan pembalasan.

Ia menikam dengan jurus "Kunang-kunang terbang menari-nari".

Jurus itu pula setelah serangannya yang pertama lantas disusul perubahannya, semua sampai delapan tikaman dan tebasan lainnya.

Hong Kun dapat berkelit dari serangan yang pertama itu lantas dia berkelit tak hentinya dengan demikian dengan sendirinya ia kena terdesak mundur beberapa tindak.

Malam itu si putra malam sudah berada diarah barat, sinarnya telah mulai sirna.

Di tempat itu, es putih beterbangan menyeluruh.

Cahaya pedang yang bergerak tak hentinya bagaikan memahat diatas es putih itu.

Hebat adalah dua anak muda itu, sama-sama muridnya jago-jago silat yang kenamaan.

Guru mereka ialah Thian Hee Te It Kiam, jago pedang nomor satu dikolong langit dan Hong San Kiam Lek, jago pedang dari gunung Hong San.

Mereka pula murid-murid pilihan.

Bentrokan-bentrokan pedang mendatangkan suara sangat berisik, maka juga banyak tamu-tamu lainnya yang mendusin dari tidurnya, mulanya mereka terkejut kemudian semua pada mencari menonton.

Hati mereka berkedutan saking hebatnya pertempuran itu.

Jongos hotel muncul dengan ketakutan, dia merasa jeri sendirinya.

Berulang-ulang dengan tidak lancar dia berkata .

"Tuan-tuan, harap kalian jangan berkelahi disini...."

Tiada orang yang menggubris pemintaan itu.

Kedua anak muda bertarung terus, tetap sama hebatnya.

Kembali si jongos berteriak-teriak, sampai akhirnya suaranya itu terdengar juga.

dengan berbareng kedua anak muda berlompat mundur.

"Saudara Tio !"

Kata Hong Kun yang menantang .

"Saudara kalau tetap kau menghendaki kembalinya kitab ilmu pedangmu kau harus menggunakan kepandaianmu yang sejati. Jika kau benar bernyali besar, lima hari lagi, aku menantikan kau diatas gunung Hong San ! Di sana nanti aku belajar kenal dengan ilmu silat pedang nomor satu di kolong langit ! Baranikah kau bukan ?"

Habis mengucap itu, sekonyong-konyong Hong Kun menjejak tanah untuk berlompat naik ke atas genteng guna mengangkat kaki.

It Hiong lompat menyusul, maka didalam waktu sekejap, lenyaplah dua bayangan dari mereka, ditelan sang malam yang gelap itu.

Hong Kun kabur terus menerus, sampai ia beranda diluar kota Tonghong, Setelah melintasi perjalanan duapuluh lie lebih, ia berada disebuah jalanan yang sunyi.

Sang fajar telah tiba, maka juga sang surya mulai muncul diufuk timur.

Sinar matahari pagi indah dan hangat, angin pun bertiup halus, membuat orang merasa nyaman.

Sampai disitu, pemuda she Gak ini tidak berlari-lari lagi.

Ia tidak melihat It Hiong mengejarnya terus.

Ia berjalan selama dua jam, tibalah ia di danau Yo kee cip.

Biar bagaimana hatinya tidak tenang.

Rupa-rupa perasaan mengacaukan otaknya.

Ia tidak takuti It Hiong, ia hanya tak tenang hati.

Ia pikirkan Giok Peng.

Memang niatnya ialah, dengan mencuri kitabnya It Hiong, hendak ia gunakan itu guna mendesak dan mempengaruhi Nona Pek itu.

Ia masih menyintai si nona...

Hong Kun adalah sudah berpikir buat kembali ke Siauw Sit San, supaya ia bisa menggunakan kesempatan akan bertemu pula dengan Giok Peng.

Hanya masih ada juga kekuatirannya kalau-kalau ia akan kepergok It Hiong, itu artinya berabe dan maksudnya bakal gagal.

Selagi berpikir itu, pemuda ini sudah sampai di depan restoran Hok Lay Rejeki.

Datang tanpa merasa, ia bertindak memasuki rumah makan itu.

Ia lantas minta barang makanan dan arak.

Ingin dengar air kata-kata ia melenyapkan kekacauan pikirannya itu.

Tentu sekali ia mesti minum seorang diri.

Tak hentinya mulutnya meneguk araknya.

Pikirannya juga tak berhenti bekerja, ia sudah mengiringi lima poci arak tetapi nasi dan barang santapannya belum pernah tersentuh sumpitnya....

Sekian lama itu jongos itu selalu mengawasi tetamunya ini.

Ia dapat menerka kenapa orang minum saja tak makan tak berkata-kata.

Akhirnya ia datang menghampiri.

"Tuan !"

Tegurnya sembari tertawa.

"tuan telah minum arak pilihan kami, silahkan coba juga barang makanan kami yang lezat-lezat !"

Hong Kun berpaling kepada pelayan itu.

"Tambahkan dua botol lagi ! katanya keras.

"Jangan mengoceh tidak karuan !"

Jongos itu kebengongan. Justru itu dari meja disampingnya meja Hong Kun itu terdengar seorang berkata begini .

"Arak tidak membuat orang sinting, orang yang membikin dia sinting sendirinya ! Bunga tidak memelet orang lupa daratan, orang lupa datang sendiri !"

Orang yang berkata itu adalah seorang imam, tubuhnya tinggi besar dan kekar, disela leher bajunya tertancap hudtim, kebutannya.

Ditangannya ia memegang sebuah cangkir arak.

Ia dahului kata-katanya itu dengan gelak tawa, habis itu ia menenggak araknya itu sampai cawannya kering.

Lantas ia berkata pula, menyambungi .

"Meletakkan golok jagal, menoleh ialah tepian... !"

Diakhirnya imam itu mengetuk-ngetuk mejanya, mulainya memperdengarkan nyanyian perlahan-lahan.

Hong Kun dapat mendengar kata-kata orang itu, tak peduli ia sedang risau.

Ia tahu mengerti maksudnya itu.

Telah ia merasa seperti tertikam.

Karena itu ia membentak .

"Darimana datangnya si manusia yang kurang ajar, yang bacotnya mengoceh tidak karuan ?"

Imam itu seperti tidak mendengar suara orang itu, ia masih memperdengarkan nyanyiannya, berulang-ulang ia minum araknya ayal-ayalan, sedang tangannya pun tak berhenti mengetuk-ngetuk mejanya bagaikan irama nyanyiannya itu...

Hong Kun menjadi habis sabar.

Dia menjadi gusar.

"Tutup bacotmu !"

Ia membentak mendamprat.

"Apakah kau hendak mencoba-coba ilmu pedang Hong San pay ? Mari bangun !"

Dan ia berjingkrak bangun dari kursinya, ia berpaling kepada si imam sambil matanya mendelik, mengawasi bengis.

Mendengar tantangan itu, si imam tidak menjadi marah.

Dia malah tertawa lebar sampai suaranya itu terdengar diluar rumah makan.

Dia tertawa sambil melenggak.

Setelah berhenti tertawa, dia berkata .

"Seorang anak muda begini bertabiat keras, itu cuma akan mendatangkan keruwetan pikiran sendiri ! Buat apa membangga-banggakan ilmu pedang Hong San Pay ? Buat apa bertingkah pula seperti juga disisimu tak ada lain orang ? Cobalah kau tanya dirimu sendiri, dapatkah kau melayani ilmu pedang Khie Bun Pat Kwa Kiam dari Pay In Nia ? Hahahahahahaha !"

Bukan kepalang mendongkolnya Hong Kun. Dia lantas mengunjuki tampang takabur.

"Kitab pedang Sam Cay Kiam dari Tek Cio Siangjin telah berada ditanganku !"

Katanya jumawa.

"Murid terpandai dari dia itu pun tak mampu merampasnya pulang dari tanganku ! Kau pikir ilmu pedang siapa yang lebih sempurna ?"

"Oh, begitu ?"

Kata si imam tertawa.

"Jangan kau mendusta dihadapanku Beng Leng Cinjin !"

Gak Hong Kun terkejut.

Kiranya orang ini adalah satu diantara ketiga bajingan dari Hek Kong To.

Ia merasa bahwa ia sudah ketelepasan bicara.

Ketika itu diundakan tanggapun terdengar tindakan kaki orang.

Lantas tampak munculnya seorang wanita muda pakaian luar biasa, sangat berbeda daripada pakaian wanita seumumnya sedangkan mukanya terpupurkan medok makanya itu makin bercahaya disebabkan warna pakaiannya merah seluruhnya.

Nona itu bagaikan mega merah.

Rambutnya yang dikekang dengan gelang emas tergerai panjang dipunggungnya dimanapun tergendol pedangnya.

Tampak wanita itu sangat centil, matanya memain dengan tajam.

Dia bertindak naik dengan lambat-lambat.

Tiba diatas, lantas dia mengambil tempat duduk.

Segera dia memanggil jongos, minta disediakan barang santapan berikut sepoci arak.

Melihat si nona, si imam tertawa dan menegur .

"Eh, nona Tong Hiang kau juga datang kemari, ya ?"

Tong Hiang demikian nama nona itu, lantas berpaling. Mengenali Beng Leng Cinjin, ia lantas memberi hormat.

"Karena terlambat oleh sesuatu hal, budakmu jadi lewat disini"

Sahutnya. Dia membahasakan diri sebagai budak. Imam itu menghela napas. Kata ia masgul .

"Nona, tolong kau sampaikan kepada Thian Cio Cianpwe bahwa hatinya Beng Leng sudah jadi seperti air yang berhenti mengalir hingga tak ada lagi kegembiraannya untuk turut hadir dalam rapat besar guna merundingkan soal ilmu pedang di Tiong Gak nanti. Nah, sampai jumpa pula kelak di belakang hari !"

Berkata begitu, si imam membayar uang kepada jongos terus ia bertindak pergi. Tapi ia berjalan sambil tertawa gelak dan mengucapkan .

"Meletakkan golok jagal, menoleh..."

Suaranya itu lenyap sendirinya dengan berlalunya semakin jauh...

Jilid 10 Teng Hiang mengawasi berlalunya imam cabang atas dari luar lautan itu, baru ia memandang sekitarnya.

Ketika itu tamu-tamu lainnya lagi berkasak-kusuk membicarakan tingkah lakunya Beng Leng yang mirip orang edan.

Dengan melihat keseluruh ruang si nona jadi mendapat lihat juga pada Hong Kun, yang duduk tenang-tenang saja, tangannya membolak balik lembarannya se

Jilid buku. Lantas si Nona Tong berbangkit dan bertindak menghampiri.

"Tuan Gak, masihkah kau mengenali Teng Hiang budak pelayan dari Lok Tiok Po ?"

Sapanya.

Hong Kun menoleh.

Ia melengak ketika mendengar suaranya si budak pelayan, lebih-lebih sesudah ia mengenali nona itu.

Mulanya tadi ia tidak memperhatikan, ia tidak mengenali nona itu karena orang berdandan secara luar biasa hingga ia beda dengan Teng Hiang semasa dia di Lok Tiok Po masih mengikuti Giok Peng.

Teng Hiang sekarang dan Teng Hiang dahulu sangat jauh berbeda.

"Apakah Locianpwe Pek Kin Jie di Lok Tio Po ada banyak baik ?"

Ia tanya. Ia tanpa menjawab lagi pertanyaan si wanita muda .

"Apakah nona datang kemari untuk mencari Nona Pek Giok Peng? Benarkah ?"

Mulanya Teng Hiang berdiri di depan orang tapi sekarang, sebelum menjawab ia lantas menjatuhkan diri, duduk dikursi, di depan anak muda itu.

Ia mengawasi Hong Kun yang tangannya menggenggam kitabnya itu.

"Nona Giok Peng ?"

Kemudian ia menjawab, suaranya bagaikan mengasi.

"Sekarang ini nona itu berada di Siauw Sit San tinggal bersama-sama Tuan Tio ! Merekalah sepasang burung mandaria yang hidup rukun dan manis ! Dan aku ? Aku hidup sebatang kara, luntang lantung di dalam dunia yang luas ini. Mana mereka itu sudi memperhatikan padaku si Teng Hiang ? Akulah orang yang telah masuk dalam kalangan sesat, apa perlunya mereka itu memperhatikan lagi padaku ?"

Hong Kun tercengang.

"Kau sudah meninggalkan Lok Tiok Po ?"

Tanyanya.

Teng Hiang tidak menjawab, ia hanya mengganda tertawa.

Lalu tiba-tiba saja ia meluncurkan sebuah tangannya dengan sangat cepat, hingga tahu-tahu buku ditangannya si pemuda sudah berpindah ke tangannya sendiri.

"Kau sedang membaca buku apa ?"

Tanyanya, tingkahnya acuh tak acuh, bagaikan orang bergurau.

Diapun sudah lantas membalik lembarannya buku itu.

Hong Kun terkejut sekali.

Inilah diluar biasa ia mengulur tangannya, guna merampas pulang buku itu.

Teng Hiang pun berlaku sangat cerdik dan cerdas, dengan kehebatan luar biasa juga, ia menarik tangannya yang memegang buku itu sedangkan dengan tangannya yang lain, ia menyambar dan mencekal tangan orang !

Hong Kun kaget, ia terasadar dari pusingnya yang disebabkan arak.

"Kenapa Teng Hiang menjadi begini lihai ?"

Pikirnya. Lalu ia kata sibuk .

"Pulangkan buku itu padaku ! Aku sangat membutuhkan buku ilmu pedang itu !"

"Sibuk buat apakah ?"

Teng Hiang tanya tertawa.

"Aku tak membutuhkan buku macam begini ! Laginya buku ini pernah terjatuh kedalam tanganku. !"

Hong Kun tidak menggubris kata-kata orang, dia membutuhkan sangat kitab ilmu pedang itu, maka tanpa menjawab, dia meluncurkan pula tangan guna merampas !

Teng Hiang menyambut tangan pemuda itu, hingga dia itu kaget dan lekas-lekas menariknya pulang.

Setelah itu, kembali ia mencoba merampas.

Teng Hiang berkelit, lantas dia angkat tangan kirinya yang memegang buku itu.

"Kau kenapa kah ?"

Tanyanya tawar.

"Buat apa kau bingung tak karuan ? Sudah aku bilang, aku tidak membutuh buku ini ! Hanya terlebih dahulu hendak aku tanya kau ! Kenapa kau bilang kau sangat membutuhkannya ?"

Hong Kun bilang juga.

Si nona terlalu cerdik dan licin.

Tapi ia perlu buku itu !

Lantas ia menggunakan akal.

Ia mencoba cara halus, Teng Hiang tidak dapat dilawan keras.

Ia malah berlaku terus terang !

"Buku ini aku butuhkan supaya aku dapat pakai guna mendapatkan kembali Giok Peng"

Sahutnya.

"Aku ingin dia kembali kedalam rangkulanku ! Nah kau pikir, bukankah aku segera membutuhkan buku ini ?"

Teng Hiang tertawa geli. Ia kembalikan buku itu dengan jalan melemparkannya.

"Oh !"

Katanya.

"Sungguh tak ku sangka murid Heng San Kiam kek yang sangat tersohor dalam dunia Kang Ouw tetapi dia telah menggunakan caranya ini untuk mendapatkan buku orang ! Inilah cuma demi sang asmara !"

Hong Kun tertawa.

"Kau belum pernah merasai cinta !"

Katanya.

"Kau belum pernah dilandanya maka kau bicara seenaknya saja !"

Ketika itu jongos datang dengan barang hidangan dan araknya si nona, yang dia atur diatas meja. Teng Hiang menuangi arak pada cawannya Hong Kun, lalu cawanya sendiri.

"Tuan Gak, mari minum !"

Kta Teng Hiang seraya mengangkat cawannya itu.

"Hari ini hendak aku mewakilkan Nona Giok Peng menghormati kau dengan satu cawan !"

Dan lantas ia meneguk araknya.

Hong Kun pula tetapi dia menjadi lihai sekali.

Inilah sebab kelakuannya si bekas budak yang demikian bebas tak ubah dengan lagak laguknya seorang pria.

Demikian berdua mereka makan dan minum.

Selama itu Teng Hiang mendapat kenyataan walaupun si anak muda sedang kacau pikirannya, dia tetap tampan dan menarik hati, hingga hatinya tergiur juga maka satu kali sambil tertawa ia kata .

"Baiklah kau berpijak kepada kata-kata bahwa dari pada masih mengingat-ingat peristiwa yang lama lebih baik mengambil orang di depan mata ! Bukankah itu yang terlebih baik ? Jangan kau kacau sendiri tak karuan !"

Hong Kun mengawasi tajam. Kata dia sungguh-sungguh.

"Tahukah kau akan pepatah bahwa siapa berada di laut, dia sukar mendapatkan air ? Apakah kau menyangka aku si orang she Gak seorang biasa saja ? Orang dapat mengatakan apa juga kepadaku tetapi aku bawa diriku sendiri ! Akan aku berdaya sampai nanti aku mati.... !"

Lalu ia menghela napas panjang. Keduanya berdiam sekian lama.

"Habis Tuan Gak"

Kemudian Teng Hiang tanya.

"apa saja yang kau niat lakukan ? Dapatkah kau beritahukan itu kepadaku ?"

Hong Kun suka bicara terus terang.

"Aku sudah berjanji dengan Tio It Hiong untuk bertempur di Hong San"

Sahutnya.

"Selesai mengadu kepandaian, hendak aku pergi ke Siauw Sit San mencari Giok Peng guna memberitahukan dia apa yang telah terjadi."

"Kalau tuan mau pulang ke Heng San inilah kebetulan."

Berkata si nona.

"Itulah jalan yang sama yang aku hendak ambil ! Bagaimana kalau budakmu ini mengantarkan barang satu lintasan?"

Hong Kun mengangguk.

Itulah tanda ia setuju.

Ketika itu sudah cukup mereka makan dan minum.

Lantas keduanya berbangkit, selesai membayar uang kepada jongos, mereka bertindak keluar, untuk pergi ke pasar guna membeli kuda.

Dengan demikianlah mereka melakukan perjalanan mereka.

oooOooo Satu hari mereka berjalan terus, lalu mereka memutar menuju ke propinsi Ouwlam.

Disini, ditengah jalan mereka bertemu dengan Cin Tong dan Tan Hong, kedua jago dari Hek Keng To, luar lautan.

Sampai Teng Hiang memisahkan diri dari si anak muda, untuk ia turut bersama Tan Hong dan Cin Tong berdua.

Cin Tong dan Tan Hong itu tengah dalam perjalanan mencari Beng Leng Cinjin kakak merangkap ketua mereka.

Mereka mau membujuki supaya ketua itu suka pulang ke pulau mereka.

Dengan Teng Hiang, mereka dari satu kaum, maka itu dapat mereka berjalan bersama.

"Adik Teng Hiang"

Tanya Tan Hong.

"tadi kau ada bersama dengan bocah itu, siapakah dia ?"

"Dialah Gak Hong Kun, muridnya Heng San Kiamkek,"

Sahut Teng Hiang.

"Tadi aku bertemu dia di Yop Kee jip maka kami berjalan bersama."

Sekalian bicara, budak yang gemar bicara itu lantas menutur lakon asmara diantara Giok Peng dan It Hiong, bahwa karena kedua pemuda itu mengganjal hati satu dengan lain, maka juga mereka berjanji akan mengadu pedang di Heng San.

Tan Hong tertawa mendengar cerita itu.

"Aku lihat pemuda itu tampan, kenapa di kena dikalah si orang she Tio ?"

Tanyanya.

"Kenapakah sampai pacarnya itu kena orang rampas ?"

"Sayang kau belum pernah melihat Tuan Tio itu, kakak Hong"

Berkata Teng Hiang menjawab pertanyaan orang lain.

"Dalam hal rupa dan kepandaian, dia melebihi lain orang satu tingkat. Dialah yang dibilang, siapa melihatnya tentu menyukainya ! Tak heran kalau nonaku dahulu tergila-gila terhadapnya. Kalau kakak bertemu dengannya, pasti kakak pun bakal kena tersesatkan!"

Tan Hong tertawa pula.

"Adik"

Katanya.

"bukankah kau pun menaruh hati kepada anak muda she Tio itu ? Benar, bukan?"

Teng Hiang tunduk, lalu menghela napas.

"Inilah yang dibilang, air mengalir bunga gugur dan musim semi pergi berlalu !"

Sahutnya.

"Aku telah kehilangan kesempatanku."

"Kalian bangun wanita,"

Cin Tong campur bicara.

"di dalam hati dan pada mata kalian yang dipikirkan dan terlihat kaum pria melulu ! Kalian sampai tak memikirkan orang toh ada masing-masing pikiran dan penglihatannya !"

Tan Hong melirik mendelik pada pria itu, kemudian ia mengawasi pula Teng Hiang untuk berkata lagi .

"Ada pepatah yang berkata, siapa berjodoh maka walaupun jauh seribu lie, orang akan bertemu juga akhirnya. Urusan di dunia pun begitu, berubah tak hentinya, seperti berubahnya awan diatas langit. Sang waktu, sang kesempatan masih banyak, kau tahu ?"

Teng Hiang terdiam, ia menutup mulut.

Ia mengedut tali kudanya, membikin ia dapat mengasi lari kuda mereka berendeng dengan jago wanita dari luar lautan itu.

Cin Tong sementara itu sudah membiarkan kudanya lari disebelah depan, mendahului lima atau enam tombak.

Ketika itu ada permulaan musim panas, kadang-kadang turun hujan.

Bertiga mereka mengikuti jalan besar.

Dikiri dan kanan mereka tampak sawah melulu dengan pohon padinya yang tumbuh subur seluas hanya bersama hijau segar.

Itulah yang umumnya dibilang.

"Di Kanglam rumput panjang burungburung pada beterbang."

Tang Hong dan Teng Hiong tertarik keindahan alam persawahan itu, mereka pula bicara banyak, tanpa merasa, mereka memperlambat larinya kuda mereka.

Tiba-tiba saja muncullah sang angin yang terus meniupniup membuat ujung baju mereka bermain-main karena sampokkannya, sedangkan di udara, terlihat perubahan sang mega, yang dari terang menjadi mendung, sedangkan dari permukaan bumi lantas muncul hawa panas mengkedus.

Dari sebelah depan lantas terdengar suara nyaring dari Cin Tong.

"Hujan besar lagi mendatangi! Mari lekas kita mencari tempat meneduh !"

Kedua nona juga melihat bahwa sang hujan bakal lekas turun, mereka menjadi bingung !

Disitu hanya jalan besar, kiri dan kanan tampak cuma sawah saja !

Kemana mereka dapat pergi untuk melindungi diri ?

Tidak lain, terpaksa mereka memecut kuda mereka untuk membuatnya lari terus.

Baru mereka berlari-lari empat puluh tombak, air langit jarang-jarang sudah mulai berjatuhan.

Maka mereka itu mengaburkan terus kuda mereka, sampai mereka menikung disebuah tikungan.

Sekarang, di depan mereka, mereka melihat sebuah tanjakan dimana terdapat beberapa rumah gubuk.

Itulah tempat petani menyimpan alat-alat pertaniannya.

Bertiga mereka kabur semakin keras ke sebuah gubuk.

Hujanpun lantas turun dengan lebatnya.

Angin bertiup semakin keras.

Lekas sekali pakaian mereka bertiga menjadi basah.

Barulah itu waktu mereka tiba digubuk itu, yang tak ada manusianya.

Disitu mereka turun dari kuda mereka, buat berlindung lebih jauh dari sang hujan dan angin.

Paling dahulu mereka mencoba mengurus baju mereka.

Disitu mereka pada berduduk di tanah.

Mereka juga tidak berani membuat tabunan, kuatir nanti kesalahan kena membakar gubuk itu.

Di luar gubuk, sang hujan dan angin dan guntur bercampur menjadi satu, dan gubuk bergerak-gerak hingga bersuara berkresekan.

Hawa sangat dingin hingga ketiga orang itu yang pakaiannya basah, menderita gangguan.

Dalam keadaan seperti itu, mendadak ada bayangan seseorang bergerak masuk kedalam gubuk.

Segera ternyata dialah seorang muda, dipunggung siapa tergondol sebatang pedang.

Dia basah kepala dan pakaiannya sembari menyeka air hujan pada mukanya, dia kata hormat .

"Bolehkah aku ikut berteduh di dalam gubuk ini..."

Anak muda itu berkata tanpa melihat lagi siapa yang berada di dalam gubuk itu, ia repot menyeka air hujan dan tak sempat meneliti orang.

Tidak demikian dengan Cin Tong si Dewa Angin Merah.

Dia mengenali orang dengan siapa dia pernah bertempur di Pay In Nia.

Dia bisa melihat tegas, sebab dia sudah lama berada di dalam gubuk dan mukanya kering dari air.

Lantas dia berlompat bangun sambil menghunus pedangnya.

Tan Hong tidak kenal pemuda itu, ia tak perdulikan.

Tapi Teng Hiang mengenalnya, dalam girang mendadak ia berseru .

"Tuan Tio ! Oh, kau juga datang kemari ? Benarbenar di dalam dunia ini di tempat mana saja orang tak bertemu orang !"

Ia lantas bangun berdiri dan bertindak menghampiri. It Hiong, demikian pemuda itu telah menyusut bersih air di mukanya dan menggebruki pakaiannya, terus ia mengawasi ketiga orang didalam gubuk itu.

"Kiranya Teng Hiang, kau pun berlindung disini."

Katanya sabar. Terus ia bertindak ke ambang pintu. Hatinya Tan Hong tergerak mendengar Teng Hiang memanggil "Tuan Tio"

Pada orang yang baru datang itu, tidak ayal lagi ia lantas membuka lebar matanya dan mengawasi dengan tajam. It Hiong mau pergi keluar tapi ia bersangsi. Hujan turun makin deras.

"Kakak Hiong !"

Tan Hong menyapa pula, sekarang sambil tertawa manis.

"apakah kakak tengah menuju ke Heng San ?"

Hatinya It Hiong panas mendengar orang merubah memanggil ia kakak dan lagu suara orang demikian merdu dan akrab, ingin ia menegur atau segera ia dapat menahan sabar.

Ia ingat tak perlunya ia bergusar.

Teng Hiang pun bertiga, itulah akan merepotkan ia andiakata nona itu dan kawan-kawannya bergusar.

Untuk mengendalikan diri ia berdiam saja.

"Kakak Hiong !"

Teng Hiang berkata pula, lagi-lagi dia tertawa.

"Teng Hiang toh bukannya orang luar ? Kenapakah kakak ? Kau nampaknya asing terhadapku ini ! Coba kakak ingat-ingat, apa yang pernah ucapkan semasa kita berada di Lok Tiok Po...."

It Hiong berdiam. Ia ingat apa katanya dahulu hari itu. Memang pernah dia bilang bahwa ia tak membedakan orang, ia anggap Giok Peng dan Teng Hiang sama saja. Bahkan ketika itu ia memanggil "adik"

Pada si budak yang sekarang telah berubah menjadi begini centil dan genit. Ia menjadi kurang enak hati karena si budak membangkitnya.

"Jangan kau salah mengerti Teng Hiang."

Katanya sabar.

"Kalau aku tengah memperhatikan suara urusan, aku tak ingat lagi lain-lainnya apapula yang telah lama lewat."

Tiba-tiba Tan Hong campur bicara, katanya ."Orang di dalam dunia ini, makin dia bicara manis, makin ternyata dialah si orang tak berbudi dan tipis perasaannya !

Adik Hiang, kau bilang benar atau tidak kata-kataku ini ?"

Berkata begitu ia menatap kepada si anak muda.

Makin lama ia melihat makin nyata pada wajah si anak muda itu.

Teng Hiang berpaling kepada Tan Hong, ia tertawa perlahan.

Kemudian ia menoleh pula pada si anak muda yang ia awasi.

"Apa yang kau pikir dalam hatimu kakak, semua aku tahu !"

Katanya pula.

"Bukankah kau sedang menyibuki kitab ilmu pedangmu yang lenyap itu ?"

It Hiong tidak dapat menyangkal, ia mengiakan.

"Karena lenyapnya kitab pedang itu, hatiku ruwet bukan main !"

Sahutnya. Teng Hiang menatap terus.

"Apakah kakak kuatir nanti tak dapat melayani Gak Hong Kun ?"

Dia tanya.

"Itulah bukannya soal tak kau pikirkan itu."

Sahut si anak muda.

"Aku hanya kuatir kitab itu tidak berada ditangannya Gak Hong Kun bahwa sebenarnya kau tengah dipancing dia untuk mendatangi Heng San !"

"Dalam perjalananku ini, di Yo kee cip pernah aku bertemu Gak Hong Kun."

Teng Hiang memberitahukan.

"Jangan kuatir kakak, jangan kau ragu-ragu lagi, kitab ilmu pedang itu memang berada padanya. Aku telah melihatnya sendiri."

Mendengar keterangan itu yang ia percaya hatinya, It Hiong menjadi lega.

Ia lantas melongok keluar.

Hujan sudah mulai mereda bahkan matahari tampak pula sinarnya.

Lalu ia berpaling pula kedalam hingga sinar matanya bentrok dengan sinar mata ketiga orang itu.

Ketika ia melihat Tan Hong ia terkejut.

Sinar matanya nona itu sangat tajam.

"Nah, sampai kita jumpa pula !"

Katanya tiba-tiba lantas tubuhnya mencelat keluar berlari kabur tanpa menoleh lagi.

Tan Hong melongo dan Teng Hiang kecele, Cin Tong berlega hati sebab ia tak usah bertempur pula dengan pemuda itu.

Karena hujan sudah reda sekali tinggal gerimis sedikit tiga orang itupun keluar dari gubuk melanjuti perjalanan mereka.

Hanya kali ini mereka lantas memencar diri .

Teng Hiang hendak mencari Thian Jie Lo jin gurunya, Cin Tong hendak mencari Beng Leng Cinjin kakaknya itu, batal ia pulang ke luar lautan.

Dan Tan Hong ?

Nona ini tak dapat melupakan pula pada It Hiong yang tampangnya ganteng, yang sikap duduknya gagah.

Maka tanpa mengatakan sesuatu, ia menuju ke arah Heng San, guna menyusul anak muda itu.

Tak tahu ia, apa ia telah dipengaruhi mata penglihatan pertama kali atau bukan.

It Hiong sementara itu dihari kedua maghrib sudah sampai di kecamaTan Hong yang, langsung ia memasuki kota yang tak besaran juga tak kecil.

Di saat itu orang sudah mulai menyalakan api.

Langsung ia mencari rumah penginapan untuk lantas bersantap, sesudah mana ia menutup pintu kamarnya untuk menyekad diri dengan beristirahat.

Malam itu lewat tanpa suatu kejadian.

Pagi hari It Hiong sudah mendusin dan terus berkemas, maka dilain saat ia sudah berada dalam perjalanan ke Heng San.

Dari jauh ia sudah melihat gunung itu dikitari banyak gunung kecil dan banyak pepohonannya.

Nampak gunung itu angker.

Kapan si anak muda tiba di kaki gunung ia menindak.

Dari situ tak tahu ia mesti menuju kemana.

Ia tidak tahu dimana pernahnya gubuk dari Hong Kun atau Hong Kun akan menantikan ia dibagian mana dari gunung tersohor itu.

Berdiri menjublak saja, didalam hati anak muda ini mengagumi Heng San, yang lebih dikenal dengan nama Lam Gak --Gunung Selatan.

Gunung itu menyambungi kedua kawan dan Tiongan san dan Hengen.

Ia menerka gubuknya Heng San Kiam Kek tentunya berada di tempat yang paling suci atau dipuncak tertinggi.

Itulah tempat hartanya Heng San Kiam Kek It Yap Tojin, mana dapat ia mencari secara bersahaja ?

Kalau begitu ia mesti mendaki semua tujuh puluh dua puncak Heng San !

Puncak utama ialah Hwe Gan Hong, puncak burung belibis.

Puncak yang tertinggi dan tertutup awan atau halimun yang mungkin keadaannya lebih berbahaya dari pada Pay In Nia, tempat bersemayamnya gurunya di gunung Kiu Hoa San.

"Sayang..."

Katanya masgul.

Ia lupa menanya tegas alamatnya Hong Kun.

Terutama ia tak ingat halnya lebih baik ia ikut atau jalan berbareng dengan pemuda itu.

Di tanah pegunungan itu tak hentinya It Hiong merasai siurannya angin dan telinganya pun senantiasa mendengari gemuruh daun-daun pohon cemara serta mendengungnya air tumpah.

Semua itu membuatnya seperti melupakan bisiknya dunia pergaulan.

Ia bukan mau pesiar.

Ia toh terpesona akan keindahan gunung.

Walaupun demikian ia memasang mata untuk mencari jalan mendaki.

Itulah pokok tujuannya.

"Baiklah, aku duduk beristirahat dahulu"

Pikirnya kemudian.

Ia mengharap-harap munculnya seorang tukang mencari kayu guna dimintai keterangannya.

Maka ia menghampiri sebuah batu di tepi jalan diatas mana ia berduduk.

Sang waktu berjalan tanpa menghiraukan apa jua.

Capai rasanya, tengah hari sudah lewat dan orang mulai mendekati sang lohor.

Gunung tetap sunyi, seorang pun tak pernah melintas.

Kesabarannya It Hiong tengah diuji.

Ia ingin maju tetapi ragu-ragu.

Masih ia duduk berdiam, sampai tiba-tiba ia melihat seorang bagaikan bayangan tengah berlari mendatangi.

Ia menjadi bersemangat, hingga ia menjadi girang sekali.

Bahkan ia berlompat bangun dan bertindak maju guna memapaki orang itu.

Hanya sebentar kedua belah pihak sudah datang dekat atau enam tombak, It Hiong mendapati ia berdiri berhadapan dengan seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar, yang parasnya tampan usianya lebih kurang empat puluh tahun.

Orang beribadat itu mengenakan jubah putih dan sebuah golok Kay co tergantung di pinggangnya.

Dia memakai sepatu rumput dengan apa dia lari keras tanpa menerbitkan suara berisik.

Dia berlari keras tetapi nampak dia bersikap tenang.

It Hiong mengangkat kedua tangannya memberi hormat pada pendeta itu.

"Selamat siang, taysu !"

Sapanya.

"Aku mohon bertanya, apakah taysu datang ke Heng San ini untuk mengunjungi salah seorang pertapa disini ?"

Pendeta itu menghentikan tindakannya dan membalas hormat. Sebelumnya menjawab, dia mengawasi dahulu si anak muda melihat ke atas dan ke bawah.

"Maaf sicu"

Sahutnya.

"Sicu menanya begini kepadaku, entah ada apakah maksud sicu ? Harap sicu sudi menjelaskan terlebih dahulu."

It Hiong berpikir.

"Aku hendak mengadu pedang dengan Gak Hong Kun, mana dapat kau beritahukan itu pada lain orang !"

Karenanya terpaksa ia mendusta. Sahutnya.

"Aku yang rendah ini datang kemari memenuhi undangannya seorang sahabat, hanya sayang sekali, aku lupa menanyakan alamatnya yang jelas. Sahabat itu cuma menyebut saja gunung Heng San."

Pendeta itu tertawa.

"Sicu kecil nampaknya kau cerdas sekali"

Kata dia manis.

"kenapa buktinya sicu begini sembrono ?"

It Hiong jengah. Memang ia telah berbuat lalai.

"Taysu benar."

Sahutnya.

"Taysu, apakah taysu ketahui dimana letaknya tempat bertapa dari Heng San Kiam Kek It Yap To jin ? Sudikah taysu memberi petunjuk kepadaku yang rendah ?"

Pendeta itu mengawasi. Nampak dia heran.

"Mohon tanya, sicu kecil."

Kata ia pula, sebelum ia menjawab pertanyaan orang.

"Bukankah sicu menjadi muridnya Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian ? Pinceng merasa mengenali pada sicu..."

It Hiong berlaku jujur.

"Sebenarnya aku yang rendah adalah muridnya Tek Cio Siangjin dari Kin Hoa San"

Sahutnya.

"In Gwa Sian itu adalah ayah angkatku."

"Amida Buddha !"

Pendeta itu memuji.

"Kiranya sicu adalah penolong besar dari Siauw Lim Sie! Sayang pada saatnya terjadi penyerbuan kepada kuil dan gunung kami, pinceng kebetulan berada didalam perantauan hingga pinceng tak dapat ketika akan menyaksikan kegagahan sicu itu yang demikian lihainya ! Sicu adalah kemudian, setelah mendengar berita tentang penyerbuan itu lekas-lekas pinceng membuat perjalanan pulang tetapi sesampainya di gunung pinceng cuma dapat melihat sicu satu kali saja. Hal itu sebenarnya membuatku menyesal..."

Pendeta itu berhenti sejenak baru ia menambahkan .

"Sekarang ini pinceng tengah menjalankan perintah ketua kami untuk menyampaikan surat undangan kepada It Yap Tojin supaya imam itu suka turut menghadiri pertemuan besar yang bakal diadakan itu. Sebenarnya pinceng melainkan ketahui It Yap Tojin tinggal di puncak Hee Gan Hong, tetapi belum pernah pinceng pergi ke sana."

Keterangan itu menggirangkan juga It Hiong.

"Kalau begitu, mari kita pergi bersama !"

Katanya gembira.

"Dapatkah aku yang muda mengikuti taysu ?"

Ia memberi hormat. Pendeta itu membalasi.

"Dengan segala senang hati sicu !"

Katanya.

"Balikan ini membuatku bersyukur dan beruntung!"

"Terima kasih !"

Kata si anak muda yang lantas melihat langit. Sang sore lagi mendatangi.

"Mari, taysu !"

Tidak ayal lagi, keduanya melanjutkan perjalanan dengan berlari-larian.

It Hiong dari di sebelah depan, si pendeta mengikutinya.

Lewat delapan lie, mereka mulai mendaki dan jalanan mulai sukar.

Mereka maju terus sampai mereka mulai memasuki tempat lebat dengan pepohonan.

Itulah rimba.

Pendeta itu memiliki ilmu ringan tubuh yang tak lemah, selama berjalan bersama itu ia ketinggalan lebih dari empat atau lima tombak.

Rimba itu, rimba pohon cemara, panjang lima atau enam lie, pepohonannya besar-besar dan tinggi hingga umpama kata menutupi matahari dan tumpukan daun isinya tebal kira satu dim.

Sehabisnya rimba lantas tampak sebuah tempat terbuka penuh dengan rumput luas dua puluh tombak lebih, ujungnya lapangan rumput itu adalah jurang yang membuat jalanan buntu.

Disebelah depan jurang ada sebuah puncak tinggi.

Ketika matahari sudah jauh turun ke barat, karuan cahayanya terhalang puncak, disitu cuaca mulai gelap.

Yang molos hanya sedikit sinar layung merah.

"Bagaimana, taysu ?"

It Hiong tanya.

"kita jalan terus atau cari gua untuk beristirahat ?"

"Pinceng memikir baik kita singgah disini untuk makan rangsum kering."

Sahut orang yang ditanya.

"habis itu, kita melanjutkan perjalanan kita. Apakah sicu akur ?"

It Hiong mengangguk seraya terus menghentikan gerakannya.

Maka itu, diatas rumput mereka duduk numprah.

Si pendeta mengeluarkan rangsum keringnya, untuk mereka bersantap bersama.

It Hiong menghaturkan terima kasih.

Pendeta itupun mengeluarkan sabuknya buat menyusut peluhnya.

"Sicu, sungguh hebat ilmu ringan tubuh sicu !"

Kata si pendeta memuji.

"Tak kecewa yang aku bermandikan peluh karena telah aku menyaksikan kepandaian sicu itu."

Habis memuji, ia tertawa sendirinya. It Hiong hendak merendahkan diri ketika ia mendengar satu suara yang datangnya dari pojok jurang .

"Eh, pendeta hutan, apa yang kau tertawakan ? Menyebut-nyebut ilmu ringan tubuh itu, apanyakah yang aneh ?"

Ilmu ringan tubuh yang dipuji si pendeta ialah Te In Ciong atau lompatan Tangga Mega.

Dan menyusul kata-kata itu, tiga orang tampak berlari-lari.

Hanya sebentar tiba sudah mereka dihadapan si pendeta dan si anak muda.

Dari tiga orang itu, yang jalan di muka adalah seorang dengan alis tebal, mata bundar, kumis janggutnya kaku bagaikan tombak cagak, brewoknya sampai disisi telinga, menyambung dengan cacentangnya.

Dia mengenakan kopiah hijau dengan jubah hijau, juga pada pinggangnya terselipkan joan pian, cambuk lunak terbuat dia besi bercampur baja.

Orang yang kedua tubuhnya sedang dan sudah kepalanya botak lanang kepala itu pun besar bagaikan gantang, hingga mirip dengan sebuah labu yang diletaki diatas leher !

Dibawah sepasang alisnya yang sudah putih terdapat dua biji mata kecil, mirip mata tikus, yang cahayanya bercilakan.

Pakaiannya ialah jubah kuning sebatas dengkul dan celana kuning juga.

Sebagai senjatanya ialah sepasang roda Jit goan lun yang dia gendolnya di punggungnya.

Orang yang ketiga adalah seorang wanita muda, nona dengan usia kira dua puluh empat tahun, bajunya merah tua, rambutnya yang panjang terlepas, ujungnya dipakaikan gelang emas, gelang mana ditabur dengan semacam tusuk kundia burung hong (phoenix).

Selagi si nona berjalan, burungburungan itu bergoyang-goyang.

Dia berparas cantik dan ada sujennya juga.

Dia pula bermata jeli, hanya sayang, sinar matanya tajam entah licik entah genit.

Dia membekal pedang, yang ditaruh dipunggungnya.

Rencanya pedang itu, yang berwarna kuning, memain diantara siurannya sang angin.

Kiranya mereka itu bertiga diantara To Liong To Cit Mo atau tujuh bajingan dari Pulau Naga Melengkung (To Liong) ialah bajingan yang nomor dua Lom Hong Huan, bajingan kelima Bok Cee Lauw dan bajingan bunga Siauw Wan Goat.

To Liong To berada jauh diluar lautan, kenapa ketiga bajingannya ini berada didaratan Tionggoan?

Kenapa sekarang mereka muncul di Heng San ?

Itulah karena ada sebabnya.

Karena mereka tengah ditugaskan kakak atau ketua mereka bajingan yang nomor satu, guna mengundang It Yap Tojin yang mau diminta suka masuk ke dalam kalangan Cit Mo, tujuh bajingan, guna mereka nanti sama-sama menentang ke empat partai rimba persilatan yang terbesar.

Ketua Cit Mo itu ialah Kung Teng Thian yang namanya mempunyati arti luar biasa, ialah Teng Thian-Menelan Langit.

Dan pada tiga puluh tahun dahulu bajingan itu pernah bertemu It Yap Tojin ditengah jalan dimana mereka bentrok hingga mereka bertempur selama tiga ratus jurus tanpa ada yang kalah atau menang, hingga kesudahannya mereka berhenti berkelahi sendirinya dan terus perkelahian itu diubah menjadi persahabatan.

Ketika itu It Yap diundang pergi ke pula Naga Melengkung dimana ia berdian setengah bulan, baru ia pulang ke gunungnya.

Cit Mo, Sam Koay dan It Yaw Tujuh Bajingan, Tiga Jin itu (dan satu Mambang) muncul pula di dalam dunia Kang Ouw Sungai Telaga, maksudnya ialah untuk kembali menjagoi rimba persilatan.

Toa Mo Kang Teng Thian tahu It Yap Tojin yang lihai itu memaruahkan diri si lurus dan si sesat, karenanya mengandalkan persahabatannya, hendak ia mengundangnya bekerja sama.

Dia percaya imam itu akan menerima baik undangannya itu.

Demikian dia mengutus tiga saudaranya itu mengunjungi puncak Hwe Gan Hong.

Lam Hong Hoan bertiga sampai di Heng San satu hari lebih dahulu daripada It Hiong.

Mereka bermalam di Go In Ih diatas puncak.

Tempat itu, kuil imam bukan, vihara pendeta Budha pun bukan.

Temboknya yang dibuat dari batu granit melindungi tiga undakan rumahnya yang dibangun di pinggang gunung bahagian yang rata tanahnya.

Bagian belakangnya bagaikan menyender pada puncak gunung yang tinggi.

Di bagian depannya ada pemgempangnya buatan manusia lebar persegi dua puluh tombak lebih yang airnya didapat dari air gunung yang disalurkan ke situ.

Di tengah empang dibangun sebuah jembatan kecil mungil yang melengkung bagaikan pelangi.

Ujung jembatan yang satu menghadapi pintu besar, disitu dibuat sebuah jalan yang kecil yang kedua sisinya ditanami banyak pohon bunga.

Hingga seluruhnya tempat menjadi tenang, nyaman dan menarik hati terutama bagi mereka yang menyukai keindahan alam.

Ketika mereka itu bertiga sampai di Gio In Ih, justru itulah saatnya It Yap Tojin belum lama pulang dari Siauw Sit San habis dia menempur Pat Pie Sin Kit dan terluka karenanya.

Dia lantas duduk bersemedhi untuk memelihara diri.

Dia heran waktu dia mendengar tibanya tamu-tamu dari luar lautan itu, tetapi lekas-lekas dia keluar untuk menyambut.

Kedua pihak membuat pertemuan di ruang pertengahan, habis belajar kenal dan minum teh, Lam Hong Hoang lantas menghaturkan surat ketuanya sambil menjelaskan maksud kedatangannya itu.

It Yap Tojin tersenyum.

"Sudah tiga puluh tahun kita berpisah, tidak kusangka yang kakak kalian masih ingat pada pinto."

Berkata imam lihai itu.

"Sungguh pinto bersyukur sekali ! Hanya sangat disayangkan, tak dapat pinto menerima baik undangannya ini disebabkan pinto tengah merawat lukaku. Di dalam hal ini pinto mohon maaf saja."

"Totiang lihai ilmu silatnya dan nama ilmu pedang Heng San pun sangat tersohor,"

Berkata Lam Hong Hoan sungguhsungguh.

"Siapakah yang tidak menghormati totiang ? Karenanya kenapakah kesehatan totiang malah terganggu hingga kau perlu dirawat ? Sudikah totiang memberikan keterangan kepada kami supaya pengetahuan kami jadi bertambah ?"

Sekonyong-konyong It Yap Tojin tertawa keras dan lama sampai tempat kediamannya itu seperti tergetar.

Dengan tertawa semacam itu ia hendak melampiaskan hawa yang seperti menutup dadanya.

Baru setelah itu ia memberikan keterangannya.

"Malu untuk menuturkan duduknya hal."kata ia.

"Pada setengah bulan yang baru lalu pinto berada di Siauw Sit San, di sana pinto sudah beradu tenaga dengan In Gwa Sian si pengemis bau, kesudahannya kedua belah pihak sama terluka tubuhnya bagian dalam. Itulah penasaran hebat yang selama hidupku hendak aku melampiaskan !"

"Si pengemis tua yang bau itu terlalu mengandalkan ilmu tenaga dalamnya yang dinamakan Sian Thian It Goan Khiekang."

Cit Mo Siauw Wan Goat turut bicara.

"Karena itu dia menjadi berkepala besar, dia berjumawa dan suka berbuat sekendaknya sendiri. Dia pula pandai ilmu silat tangan Hang Liong Hok Mo Ciang hoat. Apakah yang aneh dari ilmunya itu ? Jika dia nanti ketemu kakak tua kami, ilmu tangan kosong Bun Eng Sin Kun dari dari kakak akan membuatnya hilang muka !"

"Bun Eng Sin Kung"

Ialah ilmu silat tangan kosong tanpa bayangan. Ngo Mo Bok Cee Lauw si bajingan kelima juga turut mengasih dengar suaranya selekasnya sepasang alisnya bergerak-gerak. Dia berkata .

"Salahnya ialah totiang sangat bermurah hati ! Coba ketika itu totiang segera menggunakan ilmu pedang Heng San Kiam hoat, dapatkah si pengemis tuan yang bau itu meloloskan dirinya ?"

Senang It Yap Tojin mendengar pujian itu, ia sampai tertawa lebar.

"Ilmu pedang pinto ini,"

Kata ia.

"seingatku sudah pinto yakinkan beberapa puluh tahun lamanya, maka juga pinto telah memikir buat sekali mengadunya dengan Khie Bun Pat Kwa Kiam dari Tek Cian Siangjin. Sangat ingin pinto mencari keputusan dengan Tek Cio siapa lebih tinggi, siapa lebih rendah..."

Puas Lam Hong Hoang yang katanya telah membangkitkan hawa amarah tuan rumahnya itu, maka lantas berkata pula .

"Kali ini kami bergerak bersama-sama. gerakan kami ini sudah menggetarkan seluruh rimba persilatan, maka itu kami sangat mengharap supaya dengan gerakan ini kita pasti sanggup membakar topengnya kawanan ke empat partai besar itu yang memiliki nama kosong belaka ! Oleh karena itu totiang, inilah saatnya totiang mempertunjuki Heng San Kiam hoat, supaya dunia tahu dan kaum muda nanti menghargai dan menghormati totiang !"

"Saudara Lam, berat kata-katamu ini !"

Berkata It Yap tertawa.

"Nah, totiang kalian sampaikan kepada kakak kalian itu bahwa selekasnya lukaku sembuh, lantas pinto akan cepatcepat menyusul ke Tiong Gak untuk di sana pinto menerima sekalian perintah kalian !"

Itulah pertanda bahwa undangan sudah diterima baik, maka itu Lam Hong Hoan bertiga girang bukan main.

Lantas mereka menghaturkan terima kasih habis mana mereka memohon diri.

Dan adalah dalam perjalanan pulang itu ditengah berumput itu bertiga mereka bertemu dengan Tio It Hiong dan pendeta dari Siauw Lim Sie.

Mereka mendengar disebutnya ilmu Te In Ciong, Tangga Mega, mereka tahu itulah ilmu kepandaian Tek Cio Siangjin, karenanya mereka menduga anak muda itu muridnya si imam jago dari Kuil Hoan San.

Mereka galak, mereka menjadi membawa sikap galaknya itu.

Begitulah si pendeta di hina dan ilmu Te In Ciong orang dipandang rendah.

Kemudian Lam hong Hoan berkata dingin dan takabur .

"Kepandaiannya Tek Cio si hidung kerbau itu tidak berarti ! Eh, pendeta liar, bagaimana kau dapat memikir memakai kepandaiannya si hidung kerbau buat menggertak orang ?"

It Hiong menjadi sangat gusar.

Mulanya ia sudah menerka bahwa rombongan itu rombongan manusia kasar, kalau ia tidak sudi melayani pikir, itulah sebab kedua belah pihak baru pernah bertemu satu dengan lain, tetapi sekarang di depannya sendiri orang menghina dan mendamprat gurunya, tak dapat ia bersabar lebih jauh.

"Hai, roh pergelandangan dan setan durjana, kenapa kalian mudah saja mencaci orang tanpa sebabnya ?"

Ia menegur.

"Jika benar kalian mempunyai kepandaian, mari maju untuk mencoba-coba ! Ilmu pedang Pay In Nia tidak dapat dipakai menggertak orang tetapi sanggup membuat kepala terpisah dari batang leher kalian !"

Bok Cee Lauw gusar melewati batasnya, maka lantas saja dia berlompat maju, sepasang roda Jit Goat Lun dipakai menghajar lawan. Ia menggunakan ilmu "Menangkal Matahari dan Rembulan"

Dan arahnya ialah kedua buah bahu orang !

It Hiong menyingkir dari serangan berbahaya itu, sesudah itu baru ia menghunus Keng Hong Kiam hingga terdengar suara anginnya yang kerasa.

Ia terus membalas menyerang, menebas pinggang lawan.

Bok Cee Lauw kaget saking hebatnya serangan itu dia lompat mundur dua tindak.

It Hiong menggunakan kesempatan yang baik itu, selagi lawan mundur, ia mendesak.

Syukur bagi Bok Cee Lauw, dia bukan sembarang jago dari To Liong To, walaupun sudah terdesak, sebab dia kena didahului dia toh dapat memberikan perlawanan dengan baik.

Dia pandai ilmu "Toi Lui Kang"

Si Keong, dapat dia sangat terdesak.

Cara berkelahi cocok dengan sepasang rodanya itu.

Biasanya menghadapi musuh lainnya dia sudah berhasil dalam lima jurus saja.

Kali ini dia menghadapi It Hiong, dia repot sendirinya.

It Hiong berkelahi dengan waspada, sesudah beberapa kali bacokan atau tikamannya gagal sebab licinnya lawan itu.

Setelah bertempur sekian lama, Bok Cee Lauw lupa yang pedang lawannya pedang mustika yang tajamnya luar biasa, untuk membalas mendesak, ia menghajar dengan roda kirinya disasarkan ke dada lawan itu.

Sekarang tidak ampun lagi, kedua senjata beradu satu dengan lain.

Buat kagetnya si bajingan, ia mendapat kenyataan rodanya kena ditebas kutung !

Tentu sekali, ia kaget bukan main.

Ilmu silat yang digunakan Bok Cee Lauw adalah "Matahari dan Rembulan Berebutan Sinar, ia percaya ia bakal berhasil, tak tahunya ia sendiri yang juga menjadi sangat kaget.

Itulah meragukannya, sebab gerakan tubuhnya menjadi rada lambat.

Ia mencoba lompat mundur dengan berjumpalitan, masih ia gagal.

Orang tidak dapat melihat bagaimana pedang bekerja tetapi waktu jago dari To Liong To itu dapat bangun berdiri, terlihat bajunya didadanya sobek kira tidak dan darahnya tampak mengucur keluar dari liang robekan itu !

Lam Hong Hoan lantas lompat pada adiknya itu, untuk memeganginya.

Sebab badan si saudara rada limbung.

"Bagaimana, adik ?"

Tanyanya.

"Parahkah lukamu ini ?"

"Tidak apa"

Sahut sang adik yang nomor lima, nafasnya mendesak.

"Cuma luka ringan saja !"

Hong Hoan lantas memeriksa luka saudaranya itu dan terus memakaikannya obat. It Hiong tidak melanjuti serangannya, hanya sambil berdiri mengawasi, ia kata nyaring .

"Jika kalian penasaran, aku bersedia melayani lagi kalian semua !"

Atas kata-kata berani itu, Siau Wan Goat mengajukan diri masuk ke dalam kalangan, ia mengawasi si anak muda, yang ia awasi keseluruhannya, atas dan bawah, habis itu baru kata .

"Suka aku menerima pengajaran dari kau, ingin aku belajar kenal dengan Khie Bun Pat Kwa Kiam!"

Nona itu berkata sembari tertawa kemudian ia menghunus pedangnya.

"Cuma sebegini saja ilmu kepandaian dari To Liong To !"

It Hiong berkata pula sama nyaringnya.

"Karena pedang Keng Hong Kiam yang tajam luar biasa baiklah kalian maju beramairamai saja !"

Siauw Wan Goat tidak menjadi mendongkol atau bergusar, ia dapat tertawa manis.

"Buat maju berramai-ramai, tak usah !"

Sahutnya.

"Mari kita bertempur berpasangan saja."

It Hiong mendongkol.

"Budak perempuan !"

Bentaknya.

"Siapa mau berpasangan denganmu ? Sungguh tak tahu malu!"

Dalam gusarnya, si anak muda lantas mendahului turun tangan. Ia menikam dengan gerakan "Menyerbu Teras ke Istana Naga Kuning."

Siauw Wan Goat tidak menangkis, ia hanya berkelit, cepat dan lincah sekali.

Dia memang mahir didalam ilmu ringan tubuh "Bajingan berkelit".

Tahu-tahu dia sudah berada di belakang lawannya sembari tertawa dia kata .

"Hai, murid terpandai dari Pay In Nia, apakah ini bukan berarti nonamu berkasihan terhadapmu ? Mana dia ilmu Tangga Megamu itu ?"

Pendeta dari Siauw Lim Sie yang menyaksikan pertempuran itu kaget sekali.

Si nona sangat lihai dan It Hiong terancam bahaya.

It Hiong terkejut.

Memang ia mendapati selagi pedangnya meluncur, lawan menghilang.

Ia tidak sangka orang berkelit lompat ke belakangnya.

Maka selagi orang memperdengarkan suaranya, ia sudah lantas memernahkan diri agar tidak kena dibokong.

Siauw Wan Goat licin sekali.

Ia berada di belakang orang tetap ia tidak mau segera menyerang hanya sengaja ia memperdengarkan kata-katanya itu saat mengejek lawan.

Ia merasa pasti kalau ia menikam lawan bakal menangkis.

Itulah berbahaya buat pedangnya yang akan terancam buntung.

"Rupanya kau jeri kepada pedangku ?"

Kata It Hiong tawar. Ia telah memutar tubuh dan melihat si Nona berdiri diam saja mengawasi ia dengan air mukanya tersungging senyuman. Nona itu memang cantik menarik.

"Apakah baik kita menggunakan tangan kosong saja ? Dengan memakai pedangku, kemenanganku bukan kemenangan yang terhormat !"

Dan lantas ia memasuki pedangnya ke dalam sarungnya. Siauw Wan Goat melirik. Ia pun memasuki pedangnya ke dalam sarungnya.

"Begini bagus !"

Katanya.

"Aku memikir akan memakai ilmu silatku Bajingan Berkelit akan melayani ilmumu Tangga Mega !"

"Sudah, jangan banyak bicara !"

It Hiong membentak.

"Kau majulah !"

Nona itu menerima baik tantangan itu. ia lantas maju setindak. Itulah gerakan "Bajingan Berkelit"

Dicampur dengan ilmu "Seribu Perubahan" !

It Hiong menyambuti serangan si nona.

Baru beberapa gebrakan ia sudah lantas mulai mendapatkan lawan bangsa lemah itu ternyata sangat gesit dan lincah.

Secepat itu Wan Goat sudah berlompatan ke pelbagai penjuru, tubuhnya tampak seperti sulala berkelebatan sedangkan kedua belah tangannya saban-saban menyambar bagaikan bayangan.

"Pasti inilah ilmu silat tercampur ilmu sesat"

Pikir anak muda itu yang lantas berkelahi dengan waspada.

Tak mau ia sembarang turun tangan, sebaiknya ia berlaku waspada dan gesit !

ia pun menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega serta jurus-jurus dari Ilmu Menaklukan Naga Menundukkan Harimau, Hang Liong Hok Houw.

Itulah pertarungan To Liong To kontra Pay In Nia, tangan bertemu tangan, ringan bertemu ringan, atau lebih benar lagi, lurus kontra sesat, hingga seorang biasa saja sukar melihat siapa yang memukul atau menangkis atau sebaliknya.

Tiga orang yang menyaksikan pertempuran berdiam dengan kagum, mata mereka tak berkedip.

Saking cepatnya orang bergerak-gerak, jurus-kurus pun dikasih lewat dengan gencar hingga dari belasan sampai puluhan lalu naik seratus dan seratus lebih.

Sesudah jurus yang kedua ratus barulah terlihat pihak pria memang unggul.

It Hiong tetap mantap, tidak demikian dengan Wan Goat.

Si nona mulai lamban bergeraknya dan nafasnya mulai memburu.

Nyatalah dia kalah urat.

Lam Hong Hoang berkuatir melihat adiknya kalah angin, tanpa memikir panjang lagi ia meraba cambuk lunaknya, terus ia lompat kedalam kalangan pertempuran akan membantui adiknya itu.

Mula kalinya ia menggunakan ilmu cambuk "Kiri dan Kanan Bertemu Sumbernya", cambuk itu menyambar ke kiri dan kanan.

Sang pendeta melihat kawannya dikepung, ia pun lompat maju sambil menggerakan goloknya.

Ia tidak puas sebab ia menyangka orang-orang Kang Ouw itu tak tahu malu sudah main keroyok.

Hong Hoan terkejut.

Segera ia menarik pulang cambuknya.

Kalau tidak cambuk itu bisa terbacok buntung.

Ia pun berlompat mundur.

Tak ada niatnya menempur pendeta itu, ia maju cuma guna meringankan adiknya dari desakan sipemuda.

Pendeta itu berdiri berdiam.

Ia mengawasi lawannya itu, ia tanya tertawa .

"Sicu apakah sicu tak memandang mata pada ilmu golok Lohan To dari Siauw Lim Pay ?"

Hong Hoan menjawab tenang .

"Masih banyak kesempatan akan belajar kenal ilmu silat golokmu itu, taysu. Sekarang sudah lewat jam pertama, kitapun berada diatas gunung, aku pikir baiklah kita mencari dahulu tempat untuk beristirahat Jika taysu mau memaksakan, baiklah aku Lam Hoang Hoan dari To Liong To, aku bukannya seorang pengecut !"

Cuma dengan terpaksa Hoang Hoan berkata demikian, supaya orang tidak tahu halnya ia merasa jeri.

Selama pertempuran terhenti karena aksinya Hong Hoan itu.

Siauw Wan Goat terus memandangi It Hiong sering ia tampak tersenyum, ada kalanya ia seperti orang berpenasaran....

It Hiong tidak prai, tetapi ia tidak marah.

Kata ia bengis .

"Kalian menerbitkan gara-gara sendirinya ! Kalian cuma mengandalkan kepandaian kalian ! Nah, sekarang apakah faedahnya itu ? Pertempuran sudah berhenti masih kalian tak mau pergi ? Apakah yang hendak kalian nantikan ? Mau apakah sebenarnya kalian ?"

Siauw Wan Goat yang memberi jawaban. Lebih dahulu, dia tertawa manis.

"Kapannya kau mempelajari ilmu mendamprat orang menurut caramu ini ?"

Dia membaliki.

"Bukankah kita berimbang, tidak kalah dan tidak menang ? Kenapa sekarang kita tak mau bersahabat saja ?"

Sebelum It Hiong memberikan jawabannya, sang pendeta dari Siauw Lim Sie sudah mendahuluinya sambil berkata .

"Jika nona sudi merubah cara hidup nona beramai, sungguh, itulah bukan main bagusnya !"

Tapi Bok Cee Lauw gusar. Kata dia keras .

"Kakak kedua ! Adik ketujuh ! Buat apa ngoceh tak karuan dengan ini kawanan ruh gelandangan dan setan liar ? Mari kita pergi !"

Dia lantas berbangkit untuk terus menuding It Hiong sambil menambahkan .

"Anak busuk, luka tusukan pedang ini akan tiba saatnya aku perhitungkannya ! Kau lihat saja nanti !"

Dia berkata garang, tetapi dia juga yang mendahului membuka tindakan lebar, untuk berangkat pergi...

Lam Hong Hoan menyusul saudaranya itu, Siauw Wan Goat turut pergi sesudah kedua saudara itu pergi setombak lebih jauhnya, hanya selagi mau memutar tubuh ia melirik It Hiong dan berkata perlahan sekali .

"Aku menyesal sudah tak bertemu sejak.."

It Hiong membiarkan orang pergi, ia mengawasinya dengan mendelong meskipun kemudian orang sudah pergi jauh. Sang pendeta berdehem, kata dia seorang diri .

"Segala kehendak dan napsu, itu semua saitan belaka ! Sang Buddha kami maha pengasih dan penyayang, pikirnya jernih bagaikan kaca !"

Mendengar suara itu, hatinya It Hiong tergetar, ia lantas menoleh kepada sipendeta maka ia melihat orang beribadat itu sudah duduk bersila diatas rumput, kedua matanya dipejamkan.

Tanpa mengatakan sesuatu ia bertindak menghampiri lalu dalam detik ia sudah duduk bersila juga, akan beristirahat bersama.

Lewat jam dua, angin terasa mulai keras, hawa udara dingin.

Ketika itu cukup sudah It Hiong beristirahat, kesegarannya sudah pulih.

Hanya pikirannya yang belum tenang.

Itulah sebab lantas ia ingat kepada Kiauw In, kepada Giok Peng lalu Teng Hiang dan Tok Nio Cu Yauw Siauw Hoa.

Mereka itu berlainan tampang dan sifatnya, pertemuannya dengan mereka pun dalam pelbagai keadaan yang jelas ialah mereka semua menyintai dan menaruh hati terhadapnya, semua suka membantu padanya hingga mereka itu pada melupai diri sendiri.

Demi dirinya nona-nona itu berani berkorban apasaja !

Terhadap mereka itu, ia bersukur.

Ia bergirang tetapi pun, ia malu sendirinya.

ia menyesal berbareng bersuka cita kalau ia membayang peristiwa diloteng Ciat Yan Lauw lakonnya dengan Giok Peng.

Syukurlah paman gurunya, In Gwa Sian suka bertanggung jawab buat kesesatan yang diluar kekuasaannya itu.

Kalu tidak entah bagaimana hebatnya urusan akan berakhir, ia lalu jagai sikap gurunya.

Maka ia makin percaya gurunya itu pandai meramal.

Tapi lakon asmaranya itu nampak belum juga habis.

Diluar dugaannya, muncul lagi dua orang yang menaruh hati terhadapnya ialah Tan Hong dan Siauw Wan Goat, satu dari Hek Keng To, pulau Ikan Lodan Hitam satu lagi dari To Liong To, pulau naga melengkung.

Ia tidak memberi hati kepada mereka itu berdua tetapi gerak gerik mereka luar biasa.

Ia bertanya-tanya dalam hatinya entah bagaimana gerak gerik terlebih jauh dari mereka itu, entah bagaimana ia bakal terlihat atau digerembengi...

Karena Tan Hong dan Siauw Wan Goat muncul paling belakang, mereka itu masih saja meninggalkan kesan, mereka itu seperti juga terus berbayang-bayang...

"Ah !...."

Akhirnya ia menghela napas masgul.

Di saat itu, mendadak It Hiong ingat kitab ilmu pedang gurunya yang ia keja hilang, yang sekarang berada ditangannya Gak Hong Kun.

Celaka kalau Hong Kun sampai memepelajari ilmu pedang itu.

Sudah ia mendapat malu akibatnya buat kaum rimba persilatan juga sukar dibayangi.

Bencana apa akan terbit andiakata Hong Kun menjadi kosen sukar dikalahkan siapa juga ?

Bukankah itu berarti bahwa dialah yang berdosa besar ?

Maka itu, kokoh kuatlah tekadnya untuk mendapatkan kembali kitab pedang itu, tak perduli apa yang ia bakal lakukan.

Ia mesti mencegah ancaman petaka di belakang hari.

Pendeknya Heng San harus dijelaskan seluruhnya guna mencari Gak Hong Kun.

Karena ini, terbangunlah semangatnya anak muda ini hingga ia menunjukkan tampang sungguh-sungguh serta kedua matanya dibuka lebar-lebar.

Hingga ia nampak keren sekali.

Tatkala itu bintang banyak tetapi cahayanya lemah.

It Hiong tengah duduk sambil matanya mengawasi ke depan, waktu ia dikejutkan oleh berkelebatnya satu bayangan tubuh manusia, bayangan mana lantas berhenti di depan sejarak lima kaki.

"Siapakah kau ? "

Tegur si anak muda sambil ia mengawasi tajam.

"Bagaimana cepat kau telah melupakan aku ?"

Ada jawaban bayangan atau orang di depan itu. Suaranya halus dan merdu.

"Aku Tan Hong.."

It Hiong berjingkrak bangun, ia lantas mengenali si cantik dari luar lautan itu. Justru baru saja ia memikirkannya.

"Mau apa nona datang kemari ?"

Tanyanya keren, tangannya berada pada gagang pedangnya.

"Malam ini, angin keras sekali dan dingin ! Kalau kau tengah melakukan perjalanan, nah, persilahkanlah !"

Pendeta dari Siauw Lim Sie terbangunkan suara keras si anak muda. Ia membuka matanya dan melihat. Lantas ia memuji Sang Buddha. Tan Hong tertawa walaupun ia telah ditegur. Ia menjawab manis .

"Habis berlindung dari hujan dirumah gubuk itu, aku lantas menyusul kau. Aku mengikutimu. Bukankah kau hendak mendaki gunung Heng San buat mencari kitab ilmu pedangmu itu ? Aku memikirkan tak memperdulikan bencana apa yang muncul asal bisa membantumu."

It Hiong mengendalikan hatinya, supaya tidak bergusar.

"Kau baik sekali nona, aku menerima baik kebaikanmu itu"

Sahutnya sabar.

"Tapi kau menganggap baiklah aku jangan mengharapi bantuan nona itu. Aku merasa bahwa aku sendiri masih sanggup mencari kitabku itu. Bagaimana dapat aku merepotkan kau ? Silahkan nona kembali, jangan nona memikir yang lainnya yang tidak-tidak... Nona tahu, aku putih bersih, tak dapat aku kasi diriku."

"Hm, orang putih bersih !"

Berkata si nona hambar. Tetapi ia tertawa manis.

"Kau memang putih bersih, hanya saja, sesudah di sana ada janji dengan kakak seperguruanmu Cio Kiauw In, toh masih terjadi juga lakon diatas loteng Ciat yan ! Bagaimanakah itu ?"

Mukanya It Hiong menjadi merah. Ia malu dan mendongkol.

"Apakah kau datang hanya buat menggodia aku ?"

Tanyanya. Tan Hong tetap tertawa manis.

"Aku mau artikan bahwa kaulah pria yang tak mau menyianyiakan waktu !"

Sahutnya.

"Aku mau omong terus terang. Aku Tan Hong, aku dapat berbuat sebagaimana Pek Giok Peng-satu rupa !"

It Hiong menjadi gusar. Hampir ia habis sabar.

"Budak hina tak tahu malu !"

Dampratnya.

"Makin lama kau menjadi makin tidak karuan ! Kau mau pergi atau tidak !"

Dan ia mencabut pedangnya. Nona itu tidak mau pergi.

"Aku bermaksud baik"

Sahutnya, masih membandel.

"Kenapa kau menjadi begini galak ? Buat apakah ?"

It Hiong mengibaskan pedangnya.

"Aku tak perduli kau bermaksud baik !"

Katanya sengit.

"Soalnya ialah aku ingin berlalu dari sini!"

Nona itu sungguh bandel.

"Kau begini galak"

Katanya perlahan.

"Apakah dengan begini dapat kau menggertak aku ? Tidak, aku tidak mau pergi ! Ini batang leherku, hendak aku mencoba berapa tajamnya pedangmu!"

Berkata begitu, Nona Tan bertindak menghampiri si anak muda, untuk datang lebih dekat ! It Hiong kewalahan. Ia jadi berpikir .

"Dia melihat aku, dia tidak tahu malu, tapi sebenarnya dia tidak bermaksud jahat. Untuk menyuruh dia pergi tak dapat aku menghajar atau membinasakan-nya. Bukankah aku seorang laki-laki sejati ? Bagaimana kalau aku membunuh seorang wanita yang justru sangat mencintai aku dan minta dicintai ? Apakah orang tak akan tertawakan aku ? Tak malukah aku ?"

Dalam bingungnya, anak muda ini berdiri diam saja.

Pedangnya telah dikasih masuk pula kedalam sarungnya.

Melihat orang diam saja, puas Tan Hong.

Ia tahu bahwa ia telah peroleh angin.

Maka ia bertindak lebih jauh, datang lebih dekat pada anak muda itu.

"Bunuh, bunuhlah aku !"

Kata ia sengaja. Ia mengajukan kepalanya.

"Lebih baik aku mati bermandikan darah diujung pedangmu daripada akan mencari hidup sendiri didalam dunia ini tetapi tanpa kebahagiaan...."

It Hiong tetap diam. Dilawan bandel dan mengalah itu ia kewalahan. Apa ia bisa berbuat terhadap wanita yang tidak mau melawannya ?

Jilid 11 Pendeta dari Siauw Lim Sie itu bingung juga menyaksikan apa yang dipandangnya itu, ia berkesan baik terhadap sipemuda. Ia memuji nama Buddha, lalu ia berkata kepada si nona.

"Oh nona apa-apaan kau mendesak begini rupa kepada Tio Sicu? Kau bermaksud baik terhadapnya, bukan? Kenapa kau tidak mau menanti sampai Tio Sicu selesai mendapatkan kitab ilmu pedangnya itu?"

Disebutnya hal kitab ilmu pedang itu membuat It Hiong terasadar, segera ia menatap Tan Hong, lantas ia berkata kepada sipendeta.

"Taysu, mari kita berangkat!"

Dan dia mendahului lompat turun ketepian jurang!

Pendeta itu menurut, ia lompat menyusul.

Maka pergilah mereka menuju ke Hwe Gan Hong.

Mereka tak peduli cahaya bintang yang guram, mereka jalan hingga tanpa terasa sudah melalui belasan lie.

Angin dan hawa dingin makin menjadi-jadi tapi itu tak dihiraukan.

Mereka maju terus!

It Hiong lari dengan cepat sekali.

Tak ingin ia disusul Tan Hong, ia jengah sendiri.

Dengan petunjuk sipendeta, pada waktu terang tanah, It Hiong sudah tiba di depan Co In Ih.

Kasihan pendeta itu yang tiba belakangan.

Dia bernapas memburu, peluhnya membasahi kepala, muka dan jubahnya.

"Kita sudah sampai Sicu,"

Katanya sambil meluruskan pernapasannya.

Hanya waktu masih pagi begini, tak dapat kita mengganggu tuan rumah.

Ia tentu sedang menjalankan ibadatnya.

Baiklah sambil beristirahat, kita menanti sekian waktu lagi...

It Hiong setuju, ia mengangguk.

Lantas ia mencari batu besar diatas mana ia duduk.

Lewat sekian lama, pintu besar terdengar bersuara terus terpentang.

Diambang pintu muncul seorang kacung imam yang sebelah tangannya membawa keranjang bunga, dia langsung berlari-lari ke arah jembatan.

Dia melihat kepada dua orang itu tetapi sambil tunduk, dia lari pergi menghilang dibalik sebuah tikungan gunung.

"Selamat pagi kakak kecil!"

It Hiong berseru menyapa kacung itu. Ia melompat bangun dan mengawasi sikacung.

"Maaf kakak kecil, aku mohon bertanya, Apakah It Yap Totiang berada didalam? Kami minta sukalah kau mengabarkan tentang kedatangan kami ini"

Kacung itu memutar tubuhnya.

"Kau she dan nama apa tuan?"

Tanya dia.

"Beberapa orang tuan dari To Liong To sudah pergi meninggalkan gunung Siong San ini..."

"Kami datang dari Siauw Lim Sie,"

Sambut pendeta mewakili It Hiong menjawab.

"Kami tengah menjalankan perintah guru kami untuk menemui It Yap Totiang guna membicarakan suatu urusan."

Kacung itu bukannya menjawab sipendeta malah mengomel seorang diri.

"Heran! Kenapa dalam beberapa hari ini Go In Ih mendapat kunjungan sekian banyak orang?"

"Aku bernama Tio It Hiong,"

It Hiong memperkenalkan diri.

"Aku datang kemari buat memenuhi janji dengan kakak seperguruanmu, Gak Hong Kun...."

Kacung itu menggoyang tangannya.

"Aku tidak peduli kalian mencari siapa."

Kata dia.

"Kalian tunggu saja sebentar! Aku lagi buru-buru hendak memetik bunga segar!"

Habis berkata dia terus lari pergi. It Hiong mendongkol. Ia mengawasi kawannya.

"Bocah itu kurang ajar!"

"Kita jangan layani dia,"

Berkata sipendeta.

"Kita tunggu saja!"

Sang matahari mulai naik tinggi, halimun pagi mulai sirna dan burung-burung mulai ribut berkicauan memecah kesunyian pagi. Kacung tadi tampak lari mendatangi, selagi mendekat dia berkata.

"Maaf aku membuat tuan-tuan menanti lama! Sekarang juga akan aku kasih kabar pada guruku!"

Dan ia lari mendaki jembatan terus masuk kedalam rumah. Hanya sebentar kacung itu sudah muncul kembali dan segera terdengar suaranya yang nyaring.

"Bapak pendeta dari Siauw Lim Sie silahkan masuk untuk minum teh! Dan tuan Tio It Hiong tamu kami yang terhormat, harap suka menanti sebentar lagi!"

It Hiong heran, ia menoleh kepada sipendeta yang juga mengawasinya.

"Taysu, pergilah masuk!"

Katanya "Urusan Taysu penting sekali."

Pendeta itu mengangguk-ngangguk, lantas ia mengikuti sikacung berjalan masuk.

Belum lama ia sudah kembali, terlihat tegas wajahnya tak gembira, pertanda ia putus asa.

Setelah dekat dengan si anak muda, ia berkata menyesal.

"Sungguh aneh, Ketua kami menulis surat sendiri mengundang It Yap Totiang tapi ia menampik undangan itu, bahkan dari lagak suaranya barusan, aku menerka ia justru akan berpihak kepada pihak lawan! Sekarang pinceng mau lekas pulang guna menyampaikan berita supaya ketua kami dapat memikirkan pula bagaimana baiknya. Kalau Sicu masuk kedalam, waspadalah! Sampai jumpa pula!"

Tanpa berayal lagi pendeta itu berlari-lari turun gunung. It Hiong menanti sekian lama, kacung tadi masih belum muncul juga, ia menjadi heran hingga hatinya menjadi tidak puas.

"Kau tidak mengundang aku masuk, baiklah!"

Pikirnya sengit.

"Aku akan masuk dengan paksa! Jangan kau katakan aku tidak tahu sopan santun!"

Lantas ia melangkah memasuki rumah itu.

Diruang tamu keadaannya sunyi.

Ruang tamu itu kosong.

Dalam kegusarannya tak sempat lagi ia memperhatikan perlengkapan ruangan itu.

It Hiong berkata nyaring "Aku Tio It Hiong!

Aku datang untuk memenuhi janji!

Suruhlah Gak Hong Kun keluar menemuiku!"

Tidak ada jawaban. It Hiong mengulang tantangannya beberapa kali! Akhirnya muncul juga kacung tadi.

"Buat apa membuka suara membikin ribut disini?"

Tegurnya.

"Apakah Go In Ih dapat membiarkan kau berlaku begini tidak tahu aturan? Kakakku Gak Hong Kun menyuruh kau menggelinding masuk!"

Dan dia lantas lari masuk, sejenak dia berpaling dan katanya keras.

"Apakah kau mempunyai nyali besar buat turut aku masuk?"

It Hiong tengah panas hati, ia turut masuk tanpa mengatakan sesuatu.

Ia kemudian sudah berada dalam sebuah kamar mirip obat.

Disitu ia mendapatkan It Yap Tojin tengah duduk bersemedi diatas pembaringan sedangkan Gak Hong Kun berdiri disisi gurunya.

Ia menghampiri pembaringan sampai dekat, lantas merangkapkan dua tangan untuk memberi hormat sambil menjura pada imam itu.

Katanya.

"Tio It Hiong datang menghunjuk hormat! Semoga totiang sehatsehat saja!"

Biarpun hatinya mendongkol tak mau ia melupakan adat kesopanan. It Yap Tojin membuka kedua belah matanya mengawasi si anak muda.

"Apakah kau muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia?"

Tanyanya dingin.

"Kenapa kau lancang memasuki Go In Ih dan membikin ribut disini?"

It Hiong tetap berlaku sabar dan hormat.

"Benar, Tek Cio Siangjin adalah guruku,"

Sahutnya.

"Hari ini aku datang untuk memenuhi janji kakak Gak, muridmu yang telah mengundang aku datang kemari. Maksudku ialah buat mengambil pulang kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam karya guruku. Bagaimana urusan kami berdua hendak diselesaikan terserah kepada totiang?"

"Hm!"

Tukas Gak Hong Kun dengan suaranya yang dingin dan bernada mengejek. Dia mendahului gurunya.

"Eh, orang she Tio, bagaimana kau berani berlaku begini kurang ajar dihadapan guruku?"

It Hiong tidak menggubris lagak orang itu, ia hanya berkata.

"Saudara Gak, kepribadainmu dan kepandaian silatmu biasanya aku sangat mengaguminya, tetapi kitab ilmu pedang guruku telah terjatuh kedalam tanganmu, karena itu tak dapat tidak, aku mesti datang kemari guna memintanya pulang dari kau!"

Belum lagi Hong Kun menjawab, gurunya sudah menyela. Kata It Yap Tojin.

"Memang kitab itu menjadi karya gurumu, tapi aku dengar kitab itu diserahkan kepada anak Hong oleh salah seorang dari kalian dari Pay In Nia! Maka hak apa yang kau andalkan untuk memintanya pulang?"

It Hiong melengak, ia menahan sabar.

"Kalau seorang laki-laki berbuat sesuatu, dia mesti lakukan itu secara baik-baik juga!"

Katanya, lanjutnya "Saudara Gak, aku mohon tanya, siapakah yang telah memberikan kitab itu kepadamu?"

Gak Hong Kun tertawa dingin.

"Dialah Pek Giok Peng?"

Sahutnya tegas. Itulah fitnah, maka habislah kesabaran It Hiong.

"Ngaco belo!"

Bentaknya.

"Kau telah curi kitab ilmu pedang itu! Kau juga yang menantang aku datang ke Hwe Gan Hong buat mengadu ilmu pedang! Siapa sangka justru mengandung maksud jahat! Kau sengaja hendak membikin rusak persahabatan kita! Benarkah kau begini tidak tahu malu?"

"Hei Anak Hong, bagaimana ini?"

Bentak It Yap Tojin.

"Lekas omong terus terang! kita adalah kaum Heng San Pay, kita memiliki ilmu pedang kita sendiri! Siapakah yang kemaruk dengan kitab pedang Pay In Nia?"

Melihat gurunya gusar, Hong Kun membawa sikap hormat dan sungguh-sungguh.

"Suhu!"

Katanya.

"Anak she Tio ini terlalu mengandalkan pedang Keng Hong Kiam, sudah berulangkali dia menghina muridmu ini, maka juga aku telah tantang dia datang kegunung kita supaya dapat aku mengadu kepandaian pedang dengannya dihadapan suhu."

"Hendak aku mencari keputusan siapa menang siapa kalah!"

Dasar licik, pemuda itu mencoba mengalihkan pertanyaan gurunya. Tapi It Hiong tidak puas, ia menegur.

"Saudara Gak, kenapa bicaramu ini seperti menyembunyikan kepala menongolkan ekor? Bukankah kau menantang aku datang kemari buat kita mengadu pedang, bahwa sehabisnya itu kau berjanji hendak mengembalikan kitab ilmu perguruanku."

"Apakah kau percaya betul bahwa dengan ilmu pedangmu kau dapat mengalahkan aku?"

Katanya jumawa.

"Jangan kau terlalu menghina orang!"

Sampai disitu tahulah It Yap Tojin bahwa yang salah ialah muridnya itu, akan tetapi ia membawa sifatnya sendiri, menyayangi murid secara keterlaluan dan suka memenangkan Hong Kun, sedangkan Hong Kun itu murid terasayangnya.

Maka ia lantas minta kitab ilmu pedang itu dari muridnya kemudian ia berkata.

"Siapa benar siapa salah tak usah kita pertengkarkan lagi! Karena kalian sudah berjanji hendak mengadu ilmu pedang, baiklah kalian lakukan itu. Aku juga hendak menyaksikan bagaimana macamnya ilmu pedang Pay In Nia!"

Berkata begitu, imam ini bergerak turun dari atas pembaringannya, untuk terus pergi keluar dari kamarnya itu.

Hong Kun mengikuti gurunya, maka It Hiong terpaksa turut juga.

Disepanjang jalan mereka semua menutup mulut.

It Yap Tojin membawa kedua anak muda itu ke belakang tempat kediamannya itu, di sana ada sebuah halaman mirip sebuah taman kecil.

Disekitarnya terdapat pot-pot bunga yang terbuat dari batu gunung dimana tertanam aneka bunga yang indahindah dan harum baunya.

Ditanah terlihat banyak bunga merah yang sudah gugur.

Dihalaman kosong itu tumbuh rumput hijau luasnya kira-kira dua puluh tombak persegi.

"Nah, disinilah kalian berdua mengadu ilmu pedang!"

Berkata si imam setelah dia menghentikan tindakannya. Siapa yang menang satu atau setengah jurus saja, dialah yang mendapatkan kitab ini!"

Terang guru ini memihak muridnya, ia justru memakai kitab sebagai hadiah! Hong Kun lantas berkata.

"Dia menggunakan Keng Hong Kiam! Pedang itu tajam luar biasa, kalau pedangku beradu dengan pedangnya bukankah itu berarti aku rugi dan kalah?"

Tapi It Hiong tidak takut, ia lantas berkata.

"Kalau aku memakai pedangku ini, menangku bukanlah menang dengan penuh kehormatan. Totiang aku minta sukalah aku dipinjamkan sebatang pedang yang lain!"

It Yap Tojin tertawa.

"Bagus!"

Serunya memuji.

"Kau memiliki semangat rimba persilatan!"

Dan lantas ia memberi pinjam pedangnya sendiri.

It Hiong menyambut sambil mengucapkan terima kasih, terus ia maju ketengah lapangan rumput itu.

Hong Kun mengikuti, di depan gurunya dia jadi bernyali besar.

Keduanya sudah lantas menghunus pedangnya masingmasing, dan langsung mengambil posisinya.

"Kakak Gak, silahkan mulai!"

It Hiong berkata. Dalam mendongkolnya ia tetap membawa prilakunya seorang terhormat yang tahu sopan santun.

"Maafkan aku!"

Berkata Hong Kun yang juga berlaku hormat, hanya begitu dia mengucapkan kata-katanya itu, dia lantas menyerang dengan jurus "Bangau Putih Melintasi Sungai".

Pedangnya menebas pinggang lawan.

menyusul mana dia terus menyerang berulang-ulang, tak sudi ia memberi kesempatan kepada lawannya yang selalu masih main menangkis dan berkelit, main mundur dan berlompatan ke kiri dan kanan.

Dia pergunakan ilmu pedangnya yang terdiri dari duapuluh empat jurus secara beruntun!

It Hiong masih menghargai It Yap Tojin.

Di depan guru besar itu, ketua sebuah perguruan, tak mau ia berlaku kurang hormat atau jumawa, ia menaati pesan gurunya buat berlaku tenang dan sopan.

Untuk menyelamatkan diri dari serangan lawan, maka ia mempergunakan jurus Tan In Ciong, ilmu ringan tubuh Lompatan Gesit Tangga Mega.

Maka ia terlihat sangat gesit dan lincah, kemana pedang musuh tiba, dari situ ia menghilang, tubuhnya bergerak gerak bagaikan bayangan.

Maka dalam waktu yang pendek mereka telah bertempur tigapuluh jurus lebih.

Selama itu, pemuda tuan rumah itu selalu jadi penyerang dan lawannya hanya membela diri, cuma beberapa kali saja ia mengancam guna membebaskan diri dari desakan lawan.

Pedang merekapun sering kali beradu satu dengan yang lain, memperdengarkan suara nyaring atau memuncratkan percikan api, hingga pemandangannya menjadi menarik hati, mirip dengan kembang api.

It Yap Tojin menonton dengan hati puas dan kagum sambil mangut-manggut.

Ia mendapati sepasang anak muda ini telah mencapai kepandaian yang sempurna.

Tentu sekali ia girang mempunyai murid yang lihai, yang dapat mewarisi kepandaiannya.

Jurus-jurus berjalan terus.

Selama ini, It Hiong tidak lagi mengalah seperti sebelumnya sebab itu berbahaya.

Kalau ia salah satu tindak saja atau tangannya kurang cepat, ia bisa celaka.

Iapun tidak menggunakan pedangnya sendiri.

Dipihak Hong Kun, ia tak perlu jeri lagi terhadap Leng Hong Kiam maka hatinya menjadi besar dan tabah.

Lagipula di depan gurunya hendak ia perlihatkan ketangkasannya.

Mereka berdua berimbang, sebab yang satu lunak yang lain keras.

Yang lunak ialah It Hiong.

Ia masih berpikir panjang dan tak mau mengalahkan Hong Kun dengan mudah.

Karena hal itu dapat membuat It Yap Tojin kehilangan muka.

Ia mau mencari kemenangan dengan satu atau setengah jurus supaya pamornya Heng San Pay dapat terlindungi.

Tapi karena hal ini, ia jadi mesti berkelahi keras sekali, sebab ia mesti meladeni Hong Kun yang sudah kalap itu.

Dari pertempuran biasa, kedua pihak sudah memasuki babak dimana tenaga dalam digunakan.

Itu bukan lagi pibu biasa, kali ini mereka berkelahi untuk merampas hidup.

It Hiong dipaksa mengikuti musuhnya, karena ia harus menang dan tak mau celaka.

Maka ia berlaku waspada, awas dan gesit.

Tibalah saatnya It Hiong membalas menyerang dengan tebasan "Burung Air Mematok Ikan"

Hong Kun tidak mau menangkis, sebaliknya begitu berkelit ia mendak, terus membalas dengan jurus "Ular Hijau Melintas Pohon"

Ujung pedangnya lurus mengancam ulu hati lawan.

Inilah saat yang berbahaya buat It Hiong jika tidak mundur maka dadanya dapat dijadikan sate sedang akibatnya bagi Hong Kun adalah batang lehernya atau kepalanya terbabas kutung.

Namun It Hiong benar-benar lihai, tak kecewa ia menjadi murid terpandai Tek Cio Siangjin.

Ia tidak melompat mundur.

Ketika ujung pedang meluncur ia mengangkat sebuah kakinya mendepak lengan lawan yang dipakai menyerangnya itu, sedangkan pedangnya diteruskan menabas.

Hong Kun terkejut.

Sudah tentu ia terpaksa mesti merubah jurusnya.

Depakan lawan membuat serangan mautnya itu gagal.

Dengan mendak tadi, dapatlah ia melindungi kepala atau batang lehernya.

Tangannyapun tidak sampai keras terdupak, sempat ia memutar lengannya itu dan menggunakan pedangnya untuk menyampok pedang lawan.

Buat kesekian kalinya kedua pedang beradu dengan keras.

Selagi pedang beradu, It Hiong tidak berdiam saja.

Ia justru bergerak terus membarengi menyerang pula.

Hanya kali ini ia tidak memakai pedangnya, ia cuma melayangkan kaki kirinya keiga lawan.

Hong Kun terperanjat, tapi dapatlah ia menyelamatkan diri.

Yang terbuka adalah iga kirinya, maka ia lantas menyampok kaki lawan yang menuju keiganya itu menggunakan tangan kirinya.

Habis itu ia lompat mundur.

It Hiong tidak sudi memberi ampun, ia terus lompat mengejar untuk menyusul.

Ia membacok dengan pedangnya dengan jurus pedang "Memutar Dunia", menyusul mana ia mendesak dengan tigapuluh enam jurus dari Khie bun Pat Kwa Kiam.

Maka itu pedangnya seperti berputaran dengan senantiasa berkilau tajam.

Menyaksikan cara menyerang si anak muda, It Yap Tojin kagum berbareng terkejut.

Ilmu silat itu hebat dan berbahaya.

Hong Kunpun segera mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari ilmu silat Heng San Pay, guna melindungi diri yang lagi terancam itu.

Ia berkelit, melompat dan mendekam ditanah.

Segala macam gerakan mesti digunakannya untuk meloloskan diri dari desakan musuhnya.

Dia akhirnya berhasil juga meloloskan diri dengan susah payah, sehingga serangan It Hiong tidak memperoleh hasil.

Namun sekarang hatinya mulai menjadi ciut.

Sekarang ia insyaf benar bahwa kepandaian lawan lihai luar biasa, sedangkan dahinya telah mengeluarkan peluh pertanda ia telah mengeluarkan segenap tenaganya.

Selain itu ia juga sadar ilmu silat Heng San Pay juga tidak dapat dipandang ringan, karena itu timbullah kebanggaan dan kejumawaannya.

Justru begitu timbul pula penasaran dan gusarnya, lantas ia ingin membuat pembalasan.

Begitulah ia berseru dan menyerang dengan hebat.

Ia ingin dengan satu gerakan saja dapat mematahkan atau mengutungkan pedang lawan.

It Hiong sendiri telah berbesar hati.

Ia telah menang diatas angin.

Ketika ia diserang itu, ia menangkis dan Hong Kun lantas menempel pedangnya.

Menyaksikan demikian, It Hiong dapat menebak maksud lawan, Hong Kun mau melibat pedangnya untuk mengadu tenaga dalam supaya pedangnya dapat dipatahkan.

Tak ayal lagi ia mengerahkan tenaga dalamnya, menyambut tantangan lawan, tenaganya terkumpul pada pedang dan lengannya.

Selagi pedang pedang saling menempel, pikiran kedua jago dipusatkan, tangan kiri mereka juga dikerahkan guna membantu tenaga pada tangan kanan.

Kuda-kuda mereka tertancap kuat.

Kalau toh kuda-kuda itu bergerak, itu cuma untuk memperkuatnya.

Sikacung merebahkan diri di bangku, dia menonton dalam keheranan dan kekaguman.

Satu kali ia bertepuk tangan saking gembiranya.

Kedua pemuda itu sama gagahnya dan sama pandainya, tetapi It Hiong tetap berada satu tingkat lebih atas.

Dia memiliki tenaga dalam yang luar biasa, sebab ia pernah meminum darah belut emas.

Darah binatang itu membuat tenaganya bertambah sedang tubuhnya ringan dan lincah.

Ilmu silatnya sendiri oleh gurunya ia diajari tenaga lunak sedang ayah angkatnya mengajarkan Hang Liong Hok Mo Kun membuat ia bisa bertindak keras.

Dan semua itu disempurnakan dengan minat, tekad dan tekunnya belajar dan berlatih.

Berjalannya sang waktu membuat muka It Hiong menjadi bersemu merah.

Itulah bukti dari hebatnya pengerahan tenaga dalamnya.

Walaupun demikian ia tetap tenang dan waspada, sedang nafasnya tetap seperti semula.

Tidaklah demikian keadaan Hong Kun, mukanya telah berpeluh dan sekarang ia bermandikannya.

Pula tertampak napasnya mulai memburu.

Namun ia tetap bertahan sebab niatnya sangat keras guna merobohkan lawan yang dibencinya itu.

Lawan yang menjadi saingannya dalam urusan asmara!

Tengah kedua belah pihak ngotot berkutat itu, tak ada salah satu pihak yang mau menyerah kalah, mendadak dari luar tembok Pekarangan tampak sebuah bayangan kecil hitam menyambar kedada Gak Hong Kun, arahnya yaitu punggung kiri anak muda itu.

It Yap Tojin melihat datangnya serangan gelap itu.

"Anak Hong hati-hatilah! Senjata rahasia!"

Demikian teriaknya. Hong Kun mendengar tegas peringatan gurunya itu, ia terkejut hingga ia melengak sejenak. Justru detik itu ia berhenti pula mengerahkan tenaga dalamnya. Maka tak ampun lagi "Trang!"

Kutunglah pedangnya.

Ia kaget dan mencelat kesamping dengan begitu berbareng iapun lolos dari bayangan hitam kecil yang menyambarnya itu.

Senjata rahasia itu melesat terus menancap dinding batu.

Ia kaget dan bergusar, tetapi iapun heran hingga jadi berdiri menjublak.

Parasnya It Yap Tojin guram seketika.

Itulah disebabkan ia menyaksikan pedang muridnya kutung dan ujungnya jatuh menggeletak ketanah.

Tapi senjata rahasia itu ada baiknya juga untuk menutupi kekalahan muridnya itu.

It Hiong meninggalkan Hong Kun.

Ia menghampiri It Yap Tojin buat memberi hormat, seraya berkata.

"Inilah hal diluar dugaan! Saudara Gak telah kutung pedangnya tapi itu bukan berarti kekalahannya. Kita belum tentu menang kalahnya. Maka itu saya yang rendah mohon petunjuk totiang, apakah mengulangi pertarungan ini atau bagaimana..."

Pertanyaan anak muda itu ada baiknya bagi It Yap Tojin untuk mengutarakan pikirannya. Dengan sendirinya wajahnya yang tadinya muram jadi lega. Lantas ia tertawa dan berkata.

"Benar, memang belum ada yang menang atau kalah,tapi kalian perlu istirahat! Pertempuran kalian demikian lama dan meminta tenaga berlebihan, baiklah urusan disudahi saja!"

Menutup kata-katanya ini, si imam lantas mengulurkan tangannya mengembalikan kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam.

Hong Kun yang melihat perbuatan gurunya itu sebenarnya merasa tidak puas, hatinya terasa nyeri tapi ia tutup mulut.

Terhadap gurunya, tidak berani ia banyak bicara.

tidak demikian terhadap lawannya.

Maka guna lampiaskan penasarannya, dengan dingin ia berkata pada It Hiong.

"Memang buntungnya pedang bukan berarti menang atau kalah! Aku taat pada guruku, maka itu orang she Tio, aku beri ampun padamu! Nantipun kelak akan datang harinya kita berdua bertemu pula untuk menuntaskan urusan ini! Kita berdua tak dapat berdiri tegak bersama!"

It Hiong tidak sudi melayani orang mengadu lidah, diterimanya kitab pedang itu, ia berseru.

"Sampai jumpa pula!"

Terus ia memutar tubuh melompat naik melewati tembok, buat berlalu dari Go In Ih.

Apakah senjata rahasia yang kecil dan mirip bayangan itu?

Siapa yang melepaskannya?

Tak lain adalah Tan Hong, salah satu iblis dari Hek Kong To.

Sebab dia terus menyusul dan menguntit It Hiong, walaupun si anak muda tak suka memberi muka padanya.

Ia mengambil jalan dari belakang Go In Ih.

Jadi kebetulan sekali baginya, segera ia menyaksikan kedua pemuda itu sedang bertarung.

Maka ketika tiba saat genting itu, saat ia merasa heran, kagum dan berbareng kuatir, ia memberikan bantuan kepada It Hiong.

Dalam hal itu ia sampai melanggar aturan kaum persilatan.

Ia menjemput sepotong batu krikil, terus ia timpukkan ke arah Hong Kun.

Habis itu ia menunduk untuk sembunyi.

Ya sembunyi sambil menonton terus.

Hingga ia menyaksikan kemenangan It Hiong, pemuda yang ia gilai itu.

Dan ketika It Hiong angkat kaki, tanpa ayal lagi iapun keluar dari tempat persembunyiannya itu guna menyusul anak muda itu.

Bagus untuk nona itu.

It Yap Tojin tidak mencari atau mengejarnya.

Imam itu justru masgul melihat muridnya berdiam diri saja, mukanya pucat dan tampangnya sangat lesu, bagaikan orang yang gugur semangatnya.

"Anak Hong"

Katanya menghibur.

"Jangan kau bersusah hati! Dalam pertempuran siapa menang atau siapa kalah, itulah lumrah! Jangan kau menggoda hatimu. Nah pergilah beristirahat...!"

"Kepandaianku tidak berarti, suhu"

Sahut murid itu perlahan.

"Sekalipun darah bermuncratan aku rela. Cuma aku menyesal telah dibokong orang dengan senjata rahasia, hingga pemusatan tenagaku runtuh dan pedang pun patah kerenanya. Kalau sakit hati ini tak aku balas, mana ada muka aku menemui banyak orang?"

Mendadak It Yap Tojin seperti disadarkan, maka ia lantas bertindak ketembok untuk melihat senjata rahasia tadi.

Kiranya itu adalah batu krikil biasa yang terdapat dimanamana.

Karena itu dia jadi menduga-duga, siapa penyerang gelap itu, serta apa pula maksudnya menenyerang dengan batu itu.

"Ada kemungkinan penyerang gelap itu sipendeta Siauw Lim Sie tadi"

Hong Kun mengutarakan terkaannya.

"Perasaan aku melihat satu bayangan orang dengan tubuh langsing"

Sikacung nyeletuk. Hong Kun berpikir menerka-nerka. Tak dapat ia membedakannya. Tapi ia penasaran, maka ia lantas berkata pada gurunya.

"Suhu, muridmu berpikir untuk turun gunung guna mencari tahu penyerang gelap itu, untuk membuat pembalasan!"

Dimulut Hong Kun mengatakan demikian, yang sebenarnya ialah senantiasa ia ingat Giok Peng, jadi ia ingin pergi untuk membuat Giok Peng dan It Hiong terpecah-pecah.

Ia sendiri mau jadi sinelayan yang memperoleh hasil tanpa berpikir.

Tak ada niatnya yang keras buat mencari pembokongnya itu...

Biar bagaimana, It Yap Tojin sangat menyayangi muridnya ini, karena itu tak sampai hati ia mencegahnya.

"Jangan terburu nafsu, anak"

Kata dia.

"Sang waktu masih banyak! Baiklah kau istirahat dahulu sedikitnya satu malam! Kau berangkat besok saja!"

It Yap Tojin baru menutup mulutnya, belum lagi muridnya mengatakan sesuatu, sekonyong-konyong mereka melihat satu bayangan orang melompat masuk dari atas tembok, bahkan segera terlihat nyata dialah Teng Hiang si nona manis yang menjadi centil tingkahnya.

Dengan langkah berlenggang, dia menghampiri It Yap Tojin buat memberi hormat, sambil bertanya.

"Mohon tanya totiang, apakah tuan Tio It Hiong telah datang ketempat totiang ini?"

Melihat nona itu, Hong Kun menerka dialah sipembokong. Mendadak ia menjadi marah, tanpa menanti jawaban gurunya, ia mendamprat.

"Budak nyalimu sungguh besar! Bagaimana kau masih berani datang kemari dengan lagak pilonmu ini?"

Menyusul sebelah tangannya melayang kemuka orang!

Teng Hiang terkejut.

Inilah diluar dugaannya.

Tetapi ia bukan sembarang orang, sempat ia menangkis, tatkala tangan mereka beradu keras, keduanya sama-sama mundur sendiri setindak.

"Tahan!"

Bentak It Yap Tojin, yang terus menatap nona dengan dandanannya yang luar biasa, sejenak kemudian, barulah dia bertanya.

"Siapakah kau? Apa perlunya kau datang kemari?"

Diperlakukan kasar oleh Hong Kun dan dibentak imam tua itu, Teng Hiang tidak gusar, dia tertawa manis.

"Aku yang rendah Teng Hiang, muridnya Thian Cie Lojin,"

Sahutnya ramah. Tanpa menanti jawaban si imam, dia menoleh kepada Hong Kun untuk mengawasi tajam sambil berkata keren.

"Tuan Gak, apakah kau sangka Teng Hiang adalah orang yang dapat kau hina? Kenapa datang-datang kau menyerang aku, perbuatanmu sangat kurang ajar!"

Hong Kun gusar.

"Hai, budak!"

Serunya.

"Kau telah membantu Tio It Hiong membokong aku dengan senjata rahasia, bagaimana kau dapat mengatakan aku yang kurang ajar? Lihat tanganku ini!"

Kembali dia menyerang! Dengan gesit Teng Hiang berkelit. Dia menjadi gusar juga, maka itu alisnya lantas berbangkit berdiri dan kedua matanya dibuka lebar-lebar.

"Kapan aku bokong kau?"

Ia tanya bengis.

"Jika aku tidak memandang kepada gurumu, hmmm, jangan kau nanti katakan aku tidak kenal kasihan!"

Hong Kun bertambah murka, ia melompat maju untuk mengulang serangannya.

Kali ini dia menyerang dengan dua tangan terbuka.

Teng Hiang telah menjadi seorang yang luar biasa.

Didalam murkanya, ia masih dapat tertawa, maka itu dia marah atau gusar tampangnya sama saja.

Demikian juga kali ini, dia bukan mendamprat melainkan tertawa bergelak-gelak, hingga suara tawanya itu mendengung ditelingnya si anak muda.

Sambil tertawa, dia lantas menyerang si anak muda itu.

Hong Kun lagi gusar, dia melayani.

Dengan begitu bergebraklah mereka bahkan secara hebat.

Lewat sepuluh jurus, Hong Kun menjadi heran.

Teng Hiang sangat lincah dan gesit.

Bermacam serangannya juga beda dari orang kebanyakan, ia menjadi gentar hati dan berpikir.

"Heran budak ini! Waktu lewat belum lama, Kenapa sekarang dia menjadi begini lihai?"

Diantara muda mudi itu tidak ada sangkut paut juga, bahkan selama di Lek Tiok Po si, pemuda sebagai tetamu biasa dilayani sipemudi yang ketika itu masih menjadi pelayan hingga disaat yang kebetulan dan dia datang tepat saat Hong Kun baru dikalahkan It Hiong.

Sedangkan sipemuda lagi mendongkol dan bersusah hati, hingga ia disangka sebagai orang yang membokongnya.

Sekarang sesudah bertempur banyak jurus itu, perlahan-lahan hati Hong Kun berubah, amarahnya reda, iapun diherankan ilmu silatnya si nona.

Maka itu mendadak ia lompat mundur meninggalkan medan pertempuran.

Diluar kalangan ia diam-diam mendelong mengawasi si nona.

Teng Hiang tidak lompat menyusul melanjutkan penyerangan.

Dia berdiri diam, balik mengawasi.

"Bagaimana, Eh!"

Tanyanya tertawa.

"Kenapa kau tidak menyerang terus?"

Hong Kun masih berdiam, dan masih mendelong.

"Tahukah kau akan maksud kedatanganku kemari?"

Teng Hiang tanya pula. Kembali dia tertawa.

"Aku datang dengan maksud baik. Aku mengkuatirkan kalian berdua, supaya ganjalan dilenyapkan! Aku kuatir sekali disebabkan ilmu pedang itu kau dan tuan Tio nanti mengadu jiwa! Diluar sangkaku, kau jadi seperti edan, datang-datang kau menyerang aku!"

Berkata begitu nona ini berpaling kepada It Yap Tojin, maka untuk herannya ia mendapatkan si imam sudah menghilang dari hadapan mereka berdua!

Masih Hong Kun tidak dapat menjawab.

Teng Hiang berkata pula.

"Aku kira dapat menebak delapan sembilan bagian tepat! Aku terus terang! Kau rupanya tidak mempunyai semangat laki-laki. Itulah cuma sebab kau kehilangan pacar! Kau tahu, nona kami Nona Giok Peng belum pernah aku melihat ia berduka seperti kau sekarang ini!"

Hong Kun bingung, orang melukai hatinya dengan menyebut ia kehilangan pacar! Iapun berduka. Tiba-tiba tubuhnya menggigil dan akhirnya dia menghela napas.

"Teng Hiang!..."

Katanya.

"Aku minta janganlah kau menyebut-nyebut pula hal itu....dapatkah?"

Teng Hiang tertawa geli. Dia bercekikikan. Dia mengawasi dengan wajah tersungging senyum.

"Tuan Gak!"

Katanya kemudian.

"Baik kau dengar katakataku! Kau toh laki-laki sejati? Buat apa kau membawa tingkahnya seorang wanita? Kenapa hatimu sangat mudah tergerak dan terpengaruh? Bukankah kau kenal dengan pepatah "Hilang Tong go, dapat Siang Jie"? Kalau kau telah kehilangan Giok Peng, apakah sudah tidak ada lain wanita lagi?"

Kata-kata itu ada maksudnya yang dalam dan diucapkannyapun secara sangat menggiurkan hati.

Teng Hiang cantik manis dan ketika itu Hong Kun merasakan hatinya berat bagaikan diganduli batu besar, walaupun demikian sebagai orang yang cerdas, ia tahu apa maksud Teng Hiang dengan kata-kata itu serta gerak geriknya yang lemah lembut tetapi menggoda.

Di Yo Kue Cip juga pernah ia mendengar nona ini secara samar-samar mengutarakan suara hatinya itu terhadapnya.

Biar bagaimana hatinya tergerak juga sedikit.

Cuma karena ia bertabiat tinggi dan menganggap diri dari kalangan atas, mana sudi ia menerima seorang bekas budak menjadi istrinya?

Hanya didetik ini, setelah menerima pukulan yang keras hingga hatinya berguncang dapatlah ia merasakan cintanya Teng Hiang itu.

Apa juga dibilang, nona ini telah memberi hiburan terhadapnya dan membantu membangun semangatnya.

Asmara memang aneh, sehingga orang sukar meloloskan diri daripadanya, sekali orang telah terlibat susah untuk melepaskan diri.

Diwaktu demikian, orang sukar mengenal tabiat atau cacat.

Demikian pula Hong Kun, cintanya pada Giok Peng lain, sukanya pada Teng Hiang ini pun lain pula.

Masih sekian lama pemuda she Gak ini berdiam saja.

Ia bukan memikirkan apa baik ia terima cintanya budak ini, ia justru memikirkan peristiwa di Lek Tio Po bersama Giok Peng.

Ketika itu pergaulan mereka berdua sangat akrab, ia berdiam tapi matanya menatap nona di depannya ini...

Karena Hong Kun berdiam diri, Ia mengira pemuda itu sedang memikirkan dirinya sehingga ia bergirang sendiri.

Maka itu ia menghampiri sampai dekat sekali dan menyenderkan tubuhnya ditubuh si anak muda.

"Kakak Hong..."

Katanya perlahan.

Hong Kun tengah berkhayal ia sedang bersama Giok Peng, rasanya manis bukan main.

ia terbuka matanya tetapi tidak melihat jelas orang disisinya itu.

Ia mendengar panggilan "Kakak Hong"

Dan menyangka itulah suaranya si nona Pek.

"Oh Adik Peng, kau toh datang juga...."

Katanya, terus ia mengulur kedua lengannya untuk memegang bahu nona itu...

Disaat ini karena pikirannya terbuka karena ia sangat girang, maka Hong Kun bebas dari khayalannya dan kagetlah dia setelah melihat tegas, nona itu bukannya Giok Peng hanya Teng Hiang sibekas budak!

"Oh!..."

Serunya sambil ia mencium tubuh orang. Teng Hiang tak enak hati orang memanggilnya "Adik Peng"

Dan bukannya "Adik Hiang". Setiap orang memang mempunyai rasa harga dirinya sendiri. Maka itu ia merasa tersinggung. Ia merasa terhinakan, maka mendadak ia menghunus pedangnya.

"Mahkluk tak tahu budi!"

Serunya.

"Berani kau menghinaku sampai begini!"

Kata-kata bengis itu disebabkan hatinya yang panas disusul dengan tikaman yang dahsyat!

Hong Kun mendengar bentakan dan melihat serangan si nona, ia berkelit.

Namun terlambat sedikit, sebaliknya si nona bergerak sangat cepat.

Tidak ampun pula baginya, bahunya tergores hingga bajunya sobek dan kulitnya tergores dan darah mengucur keluar.

"Bagus!Bagus!"

Bersorak sikacung imam yang menyandarkan dirinya dipojok. Dia memang belum mengundurkan dirinya sejak berlalunya gurunya secara diamdiam tadi.

"Bagus! Habis bertempur lalu berbicara! Habis berbicara lalu bertempur pula! Bagus!"

Teng Hiang mendongkol mendengar suaranya bocah itu, mukanya menjadi merah tapi dia bukan marah pada sikacung melainkan ia justru mengulang serangannya terhadap si anak muda, dia menikam dan membabat berulang-ulang!

Hong Kun kaget dan gusar, ia anggap nona ini terlalu sesat.

Kenapa dia mudah tertawa dan gampang murka?

Kenapa dia demikian telengas?

Maka ia memikir untuk menghajar adat sekaligus melampiaskan kedongkolannya!

Maka iapun lantas menyerang!

Teng Hiang masih saja gusar, ia menangkis terus melanjutkan serangannya.

Dengan begitu berdua mereka jadi bertempur, yang satu bersenjata pedang yang lain bertangan kosong.

Yang satu bergusar, yang lain sebab ingin melampiaskan kedongkolannya dan ditambah lagi salah mengerti.

Maka keduanya jadi seperti juga musuh bebuyutan dan ingin mengadu jiwa secara sengit.

Tengah orang bertempur seru itu, satu bayangan orang melompat datang untuk memisahkan.

"Berhenti!"

Bentak bayangan itu.

Dialah It Yap Tojin yang muncul secara tiba-tiba.

Satu gempuran telah membuat kedua muda mudi ini mundur dengan sendirinya, hingga mereka dapat melihat si imam berdiri dengan wajah muram saking gusarnya.

"Kau datang buat mencari Tio It Hiong atau sengaja untuk mengacau disini?"

Tanya si imam itu bengis, dia menatap dan menunding si nona. Mulanya Teng Hiang melengak, lalu dia tertawa dingin.

"Terserah padamu, kau mau bilang apa!"

Jawabnya berani. It Yap masih dapat menyabarkan diri.

"Jika maksudmu mencari It Hiong"

Katanya.

"Suka aku memberi petunjuk, bocah itu sudah mendapatkan kembali kitabnya dan sudah berlalu dari gunung ini!"

Teng Hiang tertawa.

"Sebenarnya ini harus dikatakan siang-siang!"

Katanya.

"Hanya ini muridmu...."

"Masih kau tak mau pergi!"

It Yap membentak.

"Jika aku tidak memandang muka gurumu, hari ini tak usah kau harap bisa berlalu dari gunungku ini dengan masih hidup!"

Ia lantas menoleh kepada muridnya untuk menambahkan.

"Anak Hong, kau masuklah untuk beristirahat!"

Teng Hiang tidak menggubris guru dan murid itu, dia menunding Hong Kun sambil berkata keras.

"Orang she Gak! hari ini kau menghina aku begini rupa, kau lihat nanti!"

Lalu dengan satu enjotan tubuh dia melompat pergi melintasi tembok dan menghilang.

Hong Kun berjalan terus kedalam dan gurunya berdiam saja.

Sementara ini marilah kita melihat It Hiong yang berlalu dari gunung Heng San dengan membawa kitab ilmu pedang gurunya.

Ia girang sekali sebab akhirnya ia bisa mendapatkan kembali kitab itu.

Ia melakukan perjalanan dengan cepat.

Tengah malam dilewati dalam perjalanan, maka setelah tiba sang pagi ia telah berada di kaki gunung Heng San dikecamatan Heng Yan.

Cara berjalannya anak muda ini yang tak perduli waktu siang atau malam, menyulitkan Tan Hong yang terus mengintil di belakangnya.

Dia mahir ilmu ringan tubuh, tapi dibanding dengan It Hiong ia masih kalah satu tingkat.

Dilain pihak sipemuda juga melakukan perjalanan dengan hati terbuka hingga dia bagaikan dapat tambahan tenaga.

Dia tidak menghiraukan jalanan sukar.

Maka itu waktu sampai dikecamatan itu napasnya si nona tersengal-sengal dan peluhnya membasahi seluruh tubuhnya.

It Hiong lantas mencari rumah penginapan.

Ia minta sebuah kamar.

Baru sekarang ia mikir buat istirahat.

Maka ia minta barang hidangan untuk mengisi perutnya.

Terlebih dahulu ia hendak membersihkan tubuh baru bersantap terus merebahkan diri untuk istirahat.

Ia tidak biasa minum, tapi kali ini ia minta arak untuk membantu memulihkan kesegarannya.

Selama memesan barang makanan itu, ia menggantungkan pedangnya didinding terus ia membuka baju luarnya.

Kitabnya ia simpan dibaju dalam, lalu ia mengunci pintu buat mandi.

Mirip alap-alap Tan Hong senantiasa memasang mata.

Ia melihat si anak muda memasuki penginapan, tahulah ia bahwa orang mau istirahat.

Ketika itu masih pagi, diam-diam dia girang sekali.

Tak nanti kau terbang lolos, pikirnya.

Diwaktu pagi itu, lalu lintas sudah ramai.

Supaya tidak mendatangkan kecurigaan, si nona berjalan perlahan-lahan mendatangi rumah penginapan itu.

Tadinya ia ketinggalan jauh, dari itu ia mengintainya dari jauh juga.

Sebagai seorang yang sering merantau, ia tahu bagaimana harus berbuat kalau orang memasuki rumah penginapan.

Demikianlah, ketika ia bertindak masuk dihotel, tanpa menanti orang menyambutnya dan bertanya dia membutuhkan apa, dia melempar sepotong perak keatas meja sambil berkata.

"Inilah untuk kalian minum arak!"

Kemudian menambahkan.

"Barusan anak muda yang membawa-bawa pedang itu, dia mengambil kamar mana?"

Pengurus hotel menyambar uang sambil tertawa manis.

"Nona mau cari tuan itu?"

Katanya.

"Mari aku antarkan!"

Ia pun menyebutkan kamar It Hiong.

"Tak usah"

Kata si nona tertawa.

"Cukup asal menyediakan kamarku disebelah kamarnya."

Tan Hong duduk dalam kamarnya sambil berpikir bagaimana caranya ia nanti mencuri kitab pedangnya pemuda itu.

Tak lama terdengar suara jongos, mendadak Tan Hong dapat satu pikiran.

Ia bangkit dan menghampiri jongos itu.

"Memangnya tuan Tio pergi kemana?"

Tanyanya tertawa manis.

"Apakah ia sedang tidur?"

Jongos itu mengenali nona yang memberi persen, dia tertawa dan menjawab.

"Tadi aku lihat dia pergi kekamar mandi, tak nanti dalam waktu sependek ini ia sudah tidur. Mungkin dia sedang mandi."

Matanya si nona berputar.

"Kalau begitu baiklah barang hidangan ini kau bawa kekamarku"

Katanya tersenyum.

"Kalau kau suguhkan sekarang, nanti keburu dingin, buat dianya kau dapat menyediakan yang baru lagi."

Berkata begitu, Nona Tan menyodorkan sepotong perak. Melihat uang, bukan main girangnnya si jongos.

"Baik, nona baik!"

Katanya, lalu terus ia sajikan barang makanan itu dikamarnya si nona. Habis itu ia pergi keluar.

"tunggu!"

Si nona memanggil.

"Ada apa nona?"

Tanya jongos itu, dia berhenti dan menoleh.

"Aku tidak minum arak"

Kata si nona itu.

"Maka itu, kalau sebentar kau membawakan barang makanannya tuan Tio itu, kau mampir kesini untuk mengambil arak ini.jadi tak usah kau mengambil arak yang baru."

"Baik nona!"

Kata jongos itu dan terus berlalu. Tan Hong menutup pintu kamarnya. Ia hanya berpikir sejenak, langsung dikeluarkannya pat po long, kantong "Delapan Mestika"

Atau tegasnya kantong serba guna.

Sebab disitu ia simpan segala macam barang yang ia butuhkan dalam perantauan, hanya kali ini ia mengeluarkan satu botol obat tidur, yang ia tuangkan sedikit isinya kedalam poci arak.

Ia hendak mencuri kitab itu disaat It Hiong tidur dengan lupa daratan!

Dan dengan memegang kitab itu, ia hendak mendesak dan memaksa si anak muda suka mengikuti kehendaknya...

Tak usah terlalu lama nona ini berdiam didalam kamarnya karena ia mendengar suara dari dibukanya pintu kamar sebelah.

Lekas lekas ia mengintai.

Tahulah ia si anak muda sudah kembali kekamarnya.

Maka ia merapati pintu kamarnya sendiri dan duduk menanti di muka pintu, menanti si jongos datang mengambil arak.

Ia menanti supaya jongos itu tak usah mengetuk pintu kamarnya.

Kali inipun ia tak usah menanti lama.

Segera ia mendengar jongos mendatangi membawa barang makanan.

Ia mendengar sebab jongos itu berjalan sambil bernyanyi perlahan, rupanya karena girang sekali sudah mendapat persenan.

Ia menggapaikan tangannya dan suruh si jongos menanti.

Ia malah memberi isyarat buat jongos itu menutup mulut.

Dengan cepat ia menaruh guci arak keatas nampannya si jongos yang terus masuk kekamarnya It Hiong.

Si anak muda sedang lapar, selekasnya jongos menyajikan barang makanan, ia lantas makan dengan lahapnya.

Ia tidak menenggak arak.

Ia tidak biasa minum.

Ia lupa araknya itu, walaupun minuman itu tersedia diatas mejanya.

Habis minum air, ia naik kepembaringan tanpa membuka baju luar lagi, terus tidur.

Tan Hong menanti sekian lama, sampai ia tak mendengar suara apa juga dikamar sebelah.

Ia percaya orang tentu sudah tidur nyenyak disebabkan bekerjanya obat pulas.

Tanpa ayal lagi, ia pergi kekamar sebelah itu, Ia membekal pisau belati.

Ingin dia mencongkel pintu dengan memakai pisau itu.

Namun ia girang ternyata daun pintu cuma dirapatkan.

Maka, mudah saja ia masuk kedalam kamar orang.

"Orang lalai!"

Katanya dalam hati. Ia tersenyum.

"Orang Kang Ouw tak boleh teledor begini, sampai pintu kamar lupa dikunci. Kalau ada musuh datang bukankah itu berarti celaka?"

Berada didalam kamar Nona Tan lantas melihat kesegala arah.

Ia melihat poci arak masih ada diatas nampan.

Ia sangat teliti, maka ingin ia tahu apakah si anak muda sudah menenggak arak berapa banyak.

Ia menghampiri meja, ia jemput poci arak itu untuk diperiksa.

Ia melengak arak itu belum diminum sama sekali.

"Ah, dia sangat cerdik..."

Pikirnya.

Maka terhadap It Hiong ia penasaran berbareng menyukai, sebab tipu dayanya gagal.

Ia suka karena anak muda itu tampan, gagah, jujur dan cerdas.

Lekas-lekas Tan Hong kembali kekamarnya.

Ia merebahkan diri sambil berpikir, bagaimana ia harus bekerja supaya kitab pedang itu dapat pindah ketangannya?

Kitab itu tak nampak, tentunya kitab berada dalam saku baju si anak muda.

Tak berani ia sembarang meraba tubuh anak muda itu.

Pasti ia bakal terasadar dengan kaget.

Ia menengadah kelangit-langit kamar untuk mengasah otak.

Sampai lama masih belum ia memperoleh akal.

Letih otaknya, maka tanpa terasa iapun ketiduran dengan pulasnya.

Memang ia sendiripun letih, tak heran kalau ia tidur lama.

Waktu mendusin sendirinya, itulah waktunya lampu dinyalakan.

Sang malam telah tiba.

"Ah!"

Ia menyesalkan dirinya sendiri.

"Aku pun lalai!"

Tapi yang membuat hatinya kuatir ialah kalau-kalau It Hiong sudah melanjutkan perjalanannya!

Maka ia lantas keluar kamarnya untuk melongok kekamar sebelah.

Dikertas jendela dari kamar It Hiong tampak sinar api lilin yang bermain tak hentinya.

Seketika itu legalah hatinya.

Api lilin itu menjadi tanda bahwa si pemuda belum berangkat pergi.

Sang waktu berjalan terus, tiba waktunya penerangan dipadamkan.

Sang malam pergi, sang tengah malam datang.

Seluruh halaman hotel gelap dan sunyi.

Malam memangnya gelap.

Tan Hong menanti saatnya, lantas ia turun dari pembaringannya.

Dari kantung wasiatnya ia menarik keluar serupa barang.

Lalu dengan kertak gigi, ia berkata perlahan.

"Kau cerdik dan waspada, kau tidak minum arak, tapi aku mau lihat apa kau dapat lolos dari asapku, inilah si "Tidur Nyenyak!"

Si "Tidur Nyenyak"

Atau Hauw Bong Jie adalah semacam hio atau dupa istimewa buatan kawanan dari Hek Kang To, Pulau ikan lodan hitam itu.

Kalau hio itu disulut, asapnya berbau harum, tapi siapa kena sedot asap itu, meskipun sedang tidur maka dia bakal kontan tidur nyenyak.

Lupa segala hal, sesudah lewat dua jam dia akan mendusin sendiri.

Siapa menyedot hio dan kemudian mendusin, sesudah terasadar dia masih tak merasakan sesuatu hingga dia tak tahu baahwa dia telah kena asap itu.

Demikian dengan membawa dupanya itu, Tan Hong menghampiri jendela kamar It Hiong.

Disulutnya hio itu dan dimasukkannya kedalam kamar itu.

Ia menanti sekian lama, sampai ia merasa obat pulas itu sudah bekerja.

Perlahan-lahan ia membuka daun pintu.

Mudah saja ia memasuki kamar orang.

Segera ia menyalakan api.

Maka tampaklah terlihat sipemuda tengah tidur nyenyak, napasnya menggeros keluar dari hidungnya.

Tanpa ragu-ragu ia lantas mencari kitab, mencari sana-sini sampai ia menggeledah baju orang, kantung dan bawah bantal.

Kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam tidak ada!

"Aneh!"

Pikirnya.

"Ah, tidak salah lagi, tentu dia simpan itu didalam baju dalamnya!"

Giok Bin Sian Ho, si rase Sakti Bermuka Kemala menjadi orang sesat, dia pula telengas, akan tetapi dia tetaplah seorang gadis putih bersih.

Dalam usia duapuluh lima tahun, dia tetap gadis remaja.

Maka timbul rasa malu atau likatnya terhadap bangsa pria.

Merahlah kulit mukanya, ketika ia memikir mesti menggeledah tubuh It Hiong.

Hatinya goncang, memukul tak hentinya.

Beberapa kali ia mengulur tangannya guna meraba tubuh si anak muda, beberapa kali pula ia menarik tangannya kembali.

Ya, ia malu, ia likat!

Ia jengah sendirinya!

Ia menjublak mengawasi wajah si anak muda yang lagi tidur dengan tenang...

Sang waktu berjalan terus, tanpa terasa pagi hampir tiba.

ayam jago telah berkokok pertanda sang fajar.

Hal ini membingungkan si nona.

Usahanya masih belum berhasil.

Ia masih diganggu dengan rasa likatnya!

"Ah!"

Serunya kemudian.

Kembali ia kertak gigi, kali ini guna menguatkan hatinya, lantas ia meraba dadanya si anak muda buat merogoh kedalam saku dari baju dalamnya.

Dan ia berhasil memegang kitab yang ia cari itu, maka ia keluarkan itu, terus dimasukannya kedalam saku sendiri!

Bukan main lega hatinya.

Lekas-lekas ia bertindak kepintu kamar.

Ia sudah mengulur tangannya buat memegang daun pintu untuk dibuka lalu ia berhenti.

Ia berpikir keras, tak lama ia mengeluarkan saputangannya, diatasnya ditulis dua baris huruf, setelah meletakkan sapu tangannya itu diatas meja, barulah ia pergi keluar kamar.

Ia tidak kembali kekamarnya, hanya pergi kehalaman terbuka untuk melompat naik keatas genteng.

Disini ia melihat kesekitarnya.

Pagi itu tetap sunyi, belum ada orang yang mendusin atau keluar dari kamarnya.

Jongospun belum ada yang muncul.

Ditimur tampak langit bersinar putih samar-samar.

Masih Tan Hong berdiri diam diatas genteng itu.

Ia ingat saat meraba dada si anak muda guna mengambil kitab orang itu.

Ia merasakan manis, hingga diluar tahunya pipinya merah sendiri.

Angin pagi sejuk sekali, meresap kedalam tubuh.

Nona Tan menggigil, tapi waktu itu ia merasakan ada angin yang meniup batang lehernya.

Ia terperanjat, insyaflah dia, bahwa telah berlaku lalai saking kesengsemnya, cepat ia menoleh.

Di depannya, tampak Teng Hiang sedang berdiri mengawasi!

"Hey budak!"

Tegurnya.

"Kau lagi bikin apakah!"

"Melihat tampang mukamu, rupanya kau telah melakukan sesuatu yang bagus!"

Teng Hiang membaliki. lalu dilanjutkannya perlahan.

"Apakah kau hendak mendustai aku?"

Tan Hong tertawa.

"Tidak ada halangannya untuk memberitahukan itu padamu!"

Sahutnya.

"Soal apa lagi kecuali halnya kitab ilmu pedang!"

Teng Hiang melirik, dia tertawa. Aneh suara tawanya itu.

"Aku lihat kau bukannya maksudkan melulu kitab ilmu pedang itu saja!"

Katanya. Ia tertawa pula.

"Bukankah sebenarnya kau hendak mendapatkan dirinya Tuan Tio It Hiong sendiri?"

Muka Nona Tan menjadi bersemu merah, dia merasai pipinya panas.

"Oh, adik yang baik"

Katanya.

"Bagaimana kau hendak menggodia aku? Kau memfitnah ya?"

Teng Hiang tersenyum.

"Bagaimana kalau aku mendapat bagian sedikit?"

Katanya.

"Boleh bukan?"

Tan Hong tidak menjawab.

"Sampai jumpa pula!"

Serunya. Mendadak dia lompat dan terus lari. Teng Hiang tidak mengejar, dia hanya mengawasi setelah orang lenyap, dia berkata dalam hati.

"Habis aku menyambut guruku, akan aku susul tuan Tio! Kau lihat saja nanti!"

Dan iapun pergilah. Pagi itu It Hiong mendusin dan mendapatkan sinar matahari dijendela sudah bewarna merah. Ia lantas bangkit turun dari pembaringannya terus menguap dan mengulet.

"Ah, kenapa aku tidur begini nyenyak?"

Katanya seorang diri.

Jilid 12 Tepat itu waktu anak muda ini melihat sehelai sapu tangan diatas meja.

Ia heran.

Ia lantas menghampiri dan mengulur sebelah tangannya, menjemput itu.

Ia lantas melihat dua baris huruf yang tertulis pada sapu tangan itu.

Bunyinya .

"Kitab pedang aku pinjam untuk dibaca ! Silahkan datang ke Hek Keng To. Kalau kau memanggil kakak padaku akan kukembalikan kitabmu itu."

Dibawah itu ada tanda-tandanya dua huruf .

"Tan Hong"

Membaca surat itu It Hiong kaget. Segera ia mendekap dadanya. Maka kembali ia kaget, kali ini kagetnya bukan main ! Kitabnya hilang ! "Celaka !"

Serunya. Lantas ia menjadi gusar sekali. Saputangan itu dilemparkan ke tanah. Kendati begitu, ia toh berdiri menjublak.

"Biar akan aku menginjak-injak Hek Keng To rata seperti bumi ! Budak hina dina, aku akan susul dan cari kau !"

Katanya sengit.

Dilain detik pemuda ini sudah menyambar pedangnya terus ia lari keluar untuk pergi menyusul si nona.

Ia tak bikin banyak berisik lagi.

Sekarang marilah kita melihat dahulu kepada Teng Hiang, habis dia berpisah atau ditinggal pergi oleh Tan Hong di kecamatan Hengyang itu.

Dalam perjalanan menemui gurunya, ia bertemu guru itu.

Thian Cio Lojin ditengah jalan, maka selanjutnya ia turut gurunya itu menuju ke Tay San.

Di jalan besar di Ouwlam barat, rombongan Teng Hiang ini bertemu dengan rombongan Kiauw In dan Giok Pek.

Ia ingat Teng Hiang ingin ia melampiaskan kesebalannya terhadap sahabat itu, maka juga kedua nona, nona Cio dan Pek itu, ia memberi bisikan bahwa It Hiong sudah pergi menyusul Tan Hong ke Hek Keng To guna anak muda itu mencari ilmu kitab pedangnya.

Maka mereka dianjurkan untuk lekas pergi menyusul.

Berdua Giok Peng, Kiauw In berunding.

Biar bagaimana mereka kuatir Teng Hiang nanti mendustakan mereka.

Sekarang ini Teng Hiang lain daripada Teng Hiang yang dahulu.

Sekarang Teng Hiang menjadi lihai gerak geriknya...

Tengah nona-nona ini masih ragu-ragu dari sebelah depan mereka melihat menandatanginya dua orang penunggang kuda yang kemudian ternyata adalah Cek Hong Siancu Cin Tong si dewa angin merah serta Ba Cu Liang.

Yang belakangan itu adalah muridnya Beng Cinjin.

Cin Tong melihat kedua nona, lantas dia tertawa bergelak.

"Kamu kedua budak !"

Katanya sembari tertawa nyaring, tingkahnya ceriwis sekali.

"Hari ini kamu jangan memikir pula akan lolos dari ujung pedang kakekmu !"

Lantas ia teriaki Cu Liang untuk lompat turun dari kudanya, dia sendiri mendahului berlompat.

Kiauw In berdua Giok Peng tahu bahwa mereka tidak dapat menghindari diri dari pertempuran maka merekapun turun, untuk menghadapi jago luar lautan yang galak itu.

Sambil menuding, Nona Cio berkata nyaring.

"Jahanam ! Ketika di Siauw Sit San kau bisa lolos, bukannya kau terus pulang ke pulaumu, untuk menutup diri memikirkan segala perbuatan salah kamu, sekarang kau berkeliaran disini ! Masih beranikah kau main gila ?"

Ba Cu Liang tidak mau banyak bicara, dia maju sambil membacok Giok Peng dengan golok Biau-Tonya yang tajam.

Nona Pek berkelit tetapi ia bukannya terus menyingkir, hanya ia berbalik maju guna membalas menyerang.

Ia menggunakan enam jurus beruntun dan yang keenam ialah Berlaksa Bunga Mekar Berbareng.

Maka juga lawannya seperti di kurung pedang dari kiri dan kanan, dari atas dan bawah.

Ba Cu Liang menjadi murid alwarisnya Beng Leng Cinjin dalam angkatan kedua, dialah anggota Hek Keng To yang paling lihai dari itu tidak heran kalau dia dapat melayani Giok Peng bahkan dengan goloknya yang istimewa itu ingin ia membabat kutung pedang si nona.

Giok Peng tidak mempunyai niat berkelahi, ia lebih memikirkan It Hiong yang lagi dicari itu tetapi karena jago luar lautan ini mendesak dan melibatnya, terpaksa ia melayani dengan sungguh-sungguh.

Cu Liang keras dan telengas tidak berhasil dia merobohkan si nona.

Sebaliknya, lama-lama dialah yang terdesak.

Dia kuat tetapi kalah bertahan.

Lewat tiga puluh jurus terpaksa dia maju mundur repot dia membela diri, tak peduli goloknya sangat tajam.

Cin Tong berkuatir juga menyaksikan keponakan murid itu terdesak sedemikian rupa sampai dia kewalahan menangkis pelbagai serangan lawannya, maka itu hendak dia memberikan bantuannya.

Justru dia mau bergerak maju justru bahaya sudah lantas mengancam si jago muda.

Pedang Giok Peng meluncur ke-iga kanan lawan itu.

Cu Liang menangkis dengan keras ingin dia supaya kedua senjata beradu, pedang nanti tertebas puntung.

Giok Peng sebaliknya tak mengijinkan pedangnya terbabat lawan.

Ia memutar pedangnya itu untuk dikelitkan sekalian dipakai menebas lengan kiri.

Celakalah Cu Lian, tak sempat ia menangkis atau berkeliat, mestinya lengannya itu terbabat buntung atau disaat menghadapi bencana itu, Trang !

pedang si nona ada yang tangkis !

Nona Pek terperanjat tetapi segera ia melihat itulah Cin Tong yang membantu temannya.

Ia menjadi marah sekali, maka ia lantas menyerang si Dewa Angin Merah.

Sebagai kesudahan dari serangannya Giok Peng, pedangnya bentrok dengan keras tetapi untuk herannya ia mendapat kenyataan pedangnya itu justru beradu dengan pedang Kiauw In.

Sebenarnya itulah tidak heran.

Ketika Cin Tong bergerak membantu Cu Liang, Kiauw In juga berlompat menerjang padanya.

Dia lihai, disamping menangkis pedang Nona Pek dapat ia menyelamatkan diri.

Atas datangnya pedang Nona Cio, dia berkelit dengan cepat sekali.

Karena itu selagi dia lolos, pedangnya Nona Cio beradu dengan pedangnya Giok Peng !

Kedua nona kaget hingga mereka sama-sama berlompat mundur.

Cin Tong dapat menyelamatkan diri dengan ia menjatuhkan dirinya dengan terus bergelindingan, kalau tidak pastilah ujungnya kedua pedang akan menancap ditubuhnya.

Ia menyingkir jauh setombak lebih.

Kiauw In mendongkol.

"Roh gelandangan dari Hek Kang To kemana kau hendak menyingkir ?"

Bentaknya.

Ia lompat mengejar.

Cin Tong meletik bangun.

Dia juga gusar tetapi dia tidak membuka mulutnya, dia hanya menyambut serangan si nona, sesudah mana dia lantas membalas hingga tiga kali saling susul.

Kiauw In berpikir sama seperti Giok Peng, tak mau ia melayani lama ia kedua lawan itu, sebab mereka mempunyai urusan penting mereka sendiri, kalau ia toh menyerang maksudnya supaya musuh tahu diri dan pergi menyingkir.

Cin Tong sebaliknya memikir lain.

Jago luar lautan ini memang hendak mengganggu nona-nona itu, dia mau membalas sakit hatinya kawannya di Siauw Si San maka dia berkelahi dengan bengis.

Demikian mereka bertarung dengan seru.

Ketika itu mendekati maghrib, ditengan jalan itu masih ada orang-orang yang berlalu lalang, diantaranya ada orang yang berkereta, tetapi karena ada orang yang berkalahi itu, mereka itu pada berhenti jauh-jauh dan semua pada menonton.

Belum lama maka datang pula dua penunggang kuda lainnya, di belakang mereka itu berdua, ada seorang yang berjubah panjang yang mendatangi sembari berlari-lari.

Nampaknya dia seperti lagi mengejar dua penunggang kuda itu.

Dan dua penunggang kuda itu tak seperti melihat orang lagi bertarung, terus mereka melarikan kuda mereka, sekeraskerasnya !

Kiranya dua penunggang kuda itu adalah murid-murid dari To Liong To ialah Coan kun-kah Mie A Lun dan Ciau sui kauw Lie Seng, si tenggiling dan ular naga mendekam.

Cu Liang melihat mereka itu, kontan dia berteriak-teriak .

"Kawankawan mari lekas. Mari kita bekuk budak perempuan ini !"

Kedua belah pihak itu ada dari kepulauan yang berlainan tetapi mereka kenal satu dengan lain dan bersahabat.

Mereka memang asal satu golongan.

A Lun dan Lie Seng menahan kuda mereka, lantas mereka mengawasi kedua nona itu terutama Giok Peng yang mereka kenali.

Lie Seng tertawa tergelak.

"Inilah kebetulan !"

Serunya nyaring.

"Kita bertemu pula !"

Kata-kata itu ditujukan terhadap Nona Pek dan diucapkan berbareng dengan lompat turunnya dia dari atas kuda, guna terus menyerang nona itu !

Tapi Lie Seng menyerang secara mendadak itu, tepat datang tangkisan pedang dari sisinya, setelah kedua senjata bentrok nyaring, golok Gan leng To terlepas dari cekalannya jago To Liong To itu, terpental jauh dua tombak bahkan saking kerasnya tangkisan itu, sipemilik golok sendiri terpelanting roboh memegang tanah !

Sementara itu Giok Peng terkejut mendengar suaranya Bu Cu Liang, suara itu berarti ada bala bantuan untuk lawannya atau lebih jelas lagi ia bakal mengalami kesulitan.

Maka segera ia memikir buat berkelahi cepat.

Begitu ia melihat orang membacok padanya dengan kecepatan luar biasa ia melompat ke samping, untuk dari situ menangkis sambil menghajar dengan hebat.

Demikianlah kesudahannya, golok lawan terbang dan tubuh lawan itu pun roboh.

Melihat lawan terjatuh, Nona Pek menggunakan kesempatan yang baik.

Lagi sekali ia bergerak sangat cepat, sambil lompat maju ia melancarkan satu tikaman ke arah lawan.

Ia ke arah Bu Cu Liang yang terkejut melihat kawannya yang membantu padanya, terhuyung roboh.

Dia mencoba berkelit, tetapi dia kalah cepat, tahu-tahu bahu kirinya sudah kena tertusuk, hingga dia merasakan sangat nyeri dan roboh seketika.

Selagi si nona menyerang dan merobohkan lawannya itu, Lie Sang sudah berbangikit bangun, melihat nona itu merobohkan kawannya dia maju pula hendak menyerang guna membantu kawan itu.

Tapi Giok Peng mendapat dengar suara orang bergerak, ia lantas menoleh ke belakang, selekasnya ia melihat aksinya Lie Seng itu, ia mendahului bergerak pula.

Ia membenci dan bergusar terhadap pembokongnya itu maka ia menyambut dengan satu tikaman.

Kali ini tanpa mengeluarkan jeritan Lie Seng lantas roboh terkulai untuk tidak berkutik pula.

Dia cuma kaget dan lantas roboh.

Sebab Nona Pek sudah berlompat kepadanya dengan cepat luar biasa sambil menikam dengan jurus pedang "Diperairan pulau mematuk ikan".

Dan Lie Seng tak berdaya terhadap sambutan itu yang membuatnya kaget dan gugup.

Maka robohlah dia sebagai korban kegalakannya !

Giok Peng bergirang berbareng menyesal sesudah ia merobohkan dua lawan itu.

Ia girang sebab ia menang dan bebas.

Yang menyesalkan ialah karena ia telah melukai dua orang, walaupun itu dilakukan dengan terpaksa guna membela dan membebaskan diri dari ancaman maut !

Ia merasa bahwa ia telah berlaku terlalu keras....

Kemudian Giok Peng melihat kelilingnya.

Ia mendapatkan Kiauw In tengah bertarung seru sekali dengan Cin Tong.

Masih ada satu rombongan lain yang lagi bertempur hebat.

Hanya ketika ia melihat pihak yang melawan musuh itu ia tercengang.

Ia heran masgul dan girang dengan berbareng.

Di pihak itu pemuda yang bersenjatakan pedang, kiranya Gak Hong Kun adanya !

Karenanya hilangnya kitab ilmu pedang Giok Peng pergi mencari itu.

Ia pun hendak melakukannya diluar tahunya It Hiong, inilah sebab ia hendak mencari Gak Hong Kun kemudian ia mendengar berita hal kitab ilmu pedang sudah terjatuh kedalam tangannya Tan Hong.

Berita itu membuatnya sedikit girang.

Dengan begitu tak usah ia menemui Hong Kun, tak perlu ia mencari pula pemuda itu.

Ia boleh langsung mencari Nona Tan.

Siapa tahu disini secara kebetulan ia bertemu si anak muda, bahkan orang telah membantui pihaknya.

Mana dapat ia tak menemuinya?

Dapatkah ia tak usah berbicara dengan dia itu ?

Maka juga bingunglah ia, hatinya menjadi tak tenang......

Pertempuran diantara Kiauw In dan Cin Tong tetap berjalan hebat hanya makin lama desakannya sudah makin rapat.

Inilah sebab nona ini insyaf tak usah berkelahi secara berteletele itu akan merugikan.

Hanya ia merasa kesal sebab lawannya itu tangguh dan tak mudah untuk dikalahkan.

Tengah Nona Cio berkelahi sambil berpikir keras itu ia dan Cin Tong dikejutkan oleh teriakannya Bu Cu Liang yang menjadi korban pedang Giok Pek.

Hanya si nona terkejut untuk terus bergirang.

Si pria kaget berbareng berkuatir.

Inilah karena dia memperoleh kenyataan, yang menjerit itu adalah Bu Cu Liang yang menjadi lawannya.

Lantas hatinya menjadi ciut, lenyap sudah pengharapannya.

Selagi si nona mendesak, dia maju mundur--mundur, mendekati Cu Liang.

Selekasnya dia sudah datang cukup dekat, sekonyongkonyong dia lompat pada si sahabat, yang dia sambar tubuhnya, terus dibawa lari ke kudanya, terus dia membawanya lompat naik keatas kudanya itu, buat segera pergi kabur !

Tentu sekali Kiauw In melengak karena perbuatan lawan itu sampai tak sempat ia mengejarnya.

Ketika itu Mie A Lun sudah terdesak oleh Hong Kun.

Baru dua puluh jurus dia sudah kewalahan mengerak-geraki Jit Goat Sianjin ciang, senjatanya yang aneh itu dan terus dia berkelahi sambil mundur.

Dia membantu Cin Tong karena kebetulan saja siapa tahu sahabatnya Lie Seng, telah dilukai lawan hingga dia menjadi bingung berbareng menyesal apabila setelah mendapatkan Cin Tong kabur dengan membawa Bu Cu Liang hingga dia ditangkap bersama Lie Seng yang terluka itu...

Lagi beberapa jurus maka bulat sudah tekad A Lun untuk menyingkirkan diri.

Dia mundur ke arah kudanya, niatnya untuk berlompat naik keatas punggung kuda itu, guna kabur juga.

Tapi ia terdesak, dia repot dan berkuatir sekali.

Lawannya, sebaliknya, mendesak semakin keras.

Maka tibalah saatnya dia berlaku ayal sedikit.

Tiba-tiba senjatanya kena tersontek, terlepas dari cekalannya dan terpental.

Dia kaget hingga dia mengeluarkan peluh dingin.

Mana dapat dia melawan terus sedangkan dengan bersenjata dia sudah kalah angin.

Terpaksa dia lompat lari kepada kudanya, dengan niat melompatinya naik dan kabur.

Gak Hong Kun tidak mau membiarkan orang pergi, ia berlompat maju menyusul.

Tiba-tiba ia terperanjat.

Ia melihat ada bayangan pedang, berkelebat ke arahnya dan telinganya mendengar ini teriakan nyaring merdu "Gak Hong Kun !

Biarkan dia kabur...."

Hong Kun heran, batal ia melangsungkan tikamannya, maka sampailah Mie A Lun kabur bersama kudanya ! Ia lekas menoleh, hingga ia melihat dan mengenali Giok Peng.

"Adik Peng !"

Serunya girang bukan kepalang.

Ia pun memutar tubuh, lari menghampiri.

Giok Peng berdiri diam, tampangnya sangat muak.

Tak sepatah ia membuka mulutnya.

Ketika Kiauw In pun datang menghampiri, ia lantas berdiri berendeng dengan Nona Pek, tetapi matanya mengawasi si anak muda.

Hong Kun melengak melihat sikap Nona Pek, tapinya dia tak berdiam lama.

"Adik Peng !"

Sapanya sembari tertawa.

"Aa.. kenapa kau berada disini ? Bagaimana dengan Hauw Yan ?"

Si nona menatap sungguh-sungguh. Dia mengangkat kepalanya.

"Inilah karena kau.. !"

Katanya atau mendadak dia berhenti. Dia merasa salah omong, dia menjadi canggung sekali. Hong Kun sebaliknya. Dia malah tertawa.

"Ah, kiranya kau masih ingat padaku ?"

Katanya. Tapi tak dapat dia berbicara terus.

"Beginilah macamnya murid dari Heng San Pay !"

Tiba-tiba Kiauw In menyela.

"Begini tak tahu malu ? Cis !"

Merah padam muka si anak muda, dia terkejut dan malah dia pun jengah. Gak Hong Kun berkata.

"Giok Peng", tak kurang kerasnya, hingga ia memegat si anak muda yang agaknya berniat membuka mulut.

"Aku mencari kau karena kau telah mencuri kitab ilmu pedang guru kami !"

Hong Kun lantas menenangkan diri.

"Oh !"

Serunya tertahan, terus mukanya menjadi merah, tetapi hanya sekejap saja. Terus dia menjawab, tak langsung, dia bahkan menyampaikan soal.

"Selama ditengah jalan, kau bertemu dengan budak Teng Hiang atau tidak ?"

Demikian ia balik menanya.

"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku ?"

Tukas si nona.

"Teng Hiang ketahui tentang kitab ilmu pedang itu !"

Kata Hong Kun. Kembali dia mengegosi pertanyaan.

"Kepada siapa kau serahkan kitab ilmu pedang itu ?"

Tanya Kiauw In, terpaksa. Nona Cio sangat tidak puas, dia habis sabar. Hong Kun tidak mengambil mumet nona itu, dia hanya mengawasi Giok Peng.

"Adik Peng, dapatkah aku menemani kau pergi mencari kitab pedang itu ?"

Demikian dia tanya.

Dia bukannya menjawab hanya bertanya.

Selalu dia bicara dengan hawa maunya sendiri.

Sebab sengaja dia berbuat demikian untuk menggoda hati orang.

Hanya kali ini, habis menanya begitu, dia menghela napas, tampangnya menjadi lesu.

"Tak usah kau pergi bekerja sendiri !"

Berkata Giok Peng yang terpaksa menjawab pertanyaan orang.

"Kita harus menyingkir dari kesan umum ! Bilang terus terang padaku, dimana adanya kitab ilmu pedang itu !"

Si anak muda berdiam, kemudian terdengar suaranya bagaikan gerutu.

"Aku tidak sangka kau begini tidak berbudi...."

Demikian katanya perlahan.

Dia tunduk.

Melihat sikap orang itu, terpaksa, Giok Peng membayangi hari-hari yang telah lewat sebelum ia bertemu dengan It Hiong.

Ketika itu ia dan anak muda ini bergaul rukun dan akrab sekali.

Tapi hanya sedetik, ia dapat menguasai pula hatinya.

Mestinya segala apa sudah lewat.

"Jangan bicara tidak karuan !"

Bentaknya.

"Dimana adanya kitab pedang itu sekarang. Kalau tidak, kau mesti memberikan keterangan ! Kau harus bertanggung jawab !"

Hong Kun menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya.

"Kitab itu sudah dikembalikan kepada Tio It Hiong..."

Katanya perlahan. Giok Peng melengak. Itulah tak ia sangka. Kemudian ia hendak menanya pula ketika Kiauw In menarik ujung bajunya seraya berkata.

"Dia lagi mengulur waktu untuk melibatmu ! Sekarang sudah mendekati sore. Mari kita berangkat !"

Nona Pek menurut, maka ia ikut kawannya itu.

Mereka menaiki kuda mereka, cuma satu kali mereka menoleh pada Hong Kun, lantas mereka mencambuk kuda mereka itu dan pergi !

Hong Kun mengawasi dengan terbengong.

Lewat sekian lama, baru dia bagaikan sadar akan dirinya.

Ketika itu Giok Peng sudah pergi jauh.

Disitu tidak ada orang lain kecuali kudanya Lie Seng, maka dia lantas pakai kuda itu dengan apa ia pergi meninggalkan tempat itu guna menyusul kedua nona...

Sekarang kita kembali dulu kepada Tan Hong si Raja Sakti Bermuka Kemala, itu nomor dua Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam.

Dengan membawa kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam, ia kabur dari kecamatan Heng yang, terus menuju kecamatan Cimkoan.

Di sana sengaja ia singgah satu hari, maksudnya untuk menantikan It Hiong.

Ia tidak mengharap memiliki kitab pedang itu disebabkan ia menghendakinya, ia hanya jatuh cinta terhadap si anak muda yang tampan dan gagah itu, yang halus gerak geriknya.

Kitab cuma mau dipakai sebagai jalan untuk memperat perkenalan dan pergaulan.

Ia heran setelah satu hari ia tidak mendapatkan si anak muda menyusulnya.

Terpaksa dihari kedua ia melanjutkan perjalanannya dengan perlahan-lahan.

Maka juga diwaktu tengah hari baru ia sampai ditempat penyebrangan Pek Cio Toaw, sebuah tempat yang letaknya sudah dekat dengan propinsi Ouwlam.

Hilang kegembiraannya jago wanita dari Hek Keng To ini.

Ia berhenti disebuah warung teh, pikirannya ialah untuk medengar-dengar keterangan dari orang-orang yang berlalu lalang perihal Tio It Hiong mungkin ada yang membawa ceritera tentangnya.

Belum terlalu lama maka tibalah seorang pendeta yang tubuhnya katai dan kecil dan kurus kering, tangannya sebelah membawa tongkat rotan.

Dia memasuki warung teh dengan tindakan lebar.

Warung itu kecil, mejanya cuma lima buah dan semua meja berikut kursinya boleh dibilang sudah butut.

Pendeta itu memilih sebuah meja, begitu dia menyapu dengan matanya kepada semua meja lainnya hingga sendirinya dia melihat kepada Tan Hong.

Dia mempunyai mata yang bersinar dan wajah sangat dingin hingga siapa yang melihatnya dapat berperasaan segan atau jeri.

Habis menghirup tehnya pendeta itu lantas memperdengarkan suaranya yang serak.

Ia berbicara dengan Tan Hong yang ia hadapinya.

"Ehh, anak, sepasang tongkat batu dipunggungmu itu tampak sangat menyolok mata, apakah kau murid dari Hek Keng To ?"

Tak puas Tan Hong melihat lagak dan mendengar kata orang itu. Dia itu seperti mengandalkan ketuaan tingkat derajatnya.

"Kalau benar bagaimana, kalau bukan bagaimana ?"

Ia menjawab tetapi sambil kontan membalas menanya. Tak senang pendeta itu mendapat pertanyaan itu, parasnya yang tak mengasih mendadak menjadi guram.

"Aku, si pendeta tua menanya kau cara bagaimana kau berani tak menjawabku ?"

Tegurnya bengis. Tan Hong pun mendadak menjadi gusar.

"Nonamu tidak suka menjawab, maka dia tak menyahut !"demikian balasnya, keras dan sambil menolak pinggang, setelah mana ia segera berbangkit, berdiri tegar.

"Dapatkah kau melakukan sesuatu atas diriku ?"

Si pendeta kurus kering tertawa pula, dingin.

"Eh, anak, kau jangan galak !"

Katanya menegur.

"Aku si pendeta hendak menanya dahulu biar jelas terhadapmu, baru akan aku persilahkan kau, guna kau melanjuti perjalananmu !..."

Si nona juga tertawa dingin.

"Beranikah kau bertindak terhadapku ?"

Tanyanya menantang.

"Nonamu tidak percaya pendeta kau bernyali besar, berani menghina orang Hek Keng To !"

Pendeta itu sudah memejamkan matanya ketika dia membukanya dengan tiba-tiba, sinar matanya itu dengan tajam menatap orang dihadapannya. Kembali ia tertawa dingin.

"Ooh, karena kau mengakui diri sebagai orang Hek Keng To,"

Dia menegaskan.

"apakah kau yang dipanggil Tan Hong ?"

"Mau apa kau menanyakan namaku ?"

Tan Hong membentak. Lantas pendeta katai dan kurus itu kata keren ! "Kalau begitu kitab ilmu pedangnya Tek Cio Siangjin berada ditanganmu ! Lekas kau keluarkan itu untuk aku lihat !"

Mendengar disebutnya kitab Sam Cay Kiam, Tan Hong melengak.

Lantas ia pun ingat yang It Hiong sampai itu waktu masih belum juga menyusul.

Karena ini ia mau menerka mungkin si pendeta pernah mendengar tentang pemuda itu.

Maka duduk pula ia dikursinya dengan perlahan-lahan ia menghela napas.

"Bapak guru datang dari mana ?"

Tanyanya.

"Dan apakah julukan suci dari bapak guru ?"

"Hmm !"

Si pendeta memperdengarkan suara dingin !

"Oh, anak yang cerdik !

Baiklah aku memberitahukan kau terus terang, supaya kau tak usah bercapai hati menerka-nerka.

Aku si pendeta tua, akulah Gouw Beng yang kaum Kang Ouw menyebutnya Leng Bin Hud !

Hari ini aku datang dari Tiangsen !

Nah, ragukah kau, bukan ?"

Ia berdiam sejenak, lalu ia mengulurkan sebelah tangannya, untuk menambahkan .

"Nah, kau serahkan Sam Cay Kiam kepadaku !"

"Perlahan, taysu !"

Sahut Tan Hong tertawa.

"Sabar ! Nonamu masih hendak menanyakan sesuatu !"

"Apakah yang hendak kau tanyakan ?"

Kata si pendeta tak sabaran.

"Tanyakanlah, kau jangan banyak bicara ! Tapi tak usah kau buka mulut lagi, mungkin aku ketahui pertanyaanmu itu ! Mari aku beritahukan ! Aku ketahui dari tentang kau mencuri Sam Cay Kiam dari Teng Hiang muridnya Thian Cie Lojin, hanya bukan aku mendengarnya langsung dari sungai telaga. Jadi urusan itu bukan cuma aku sendiri yang mengetahuinya tetapi banyak orang lain. Hayo, kau serahkan kitab pedang itu padaku ! Apakah kau masih memikir yang tidak-tidak ?"

Tan Hong menggeleng kepala.

"Itulah bukan pertanyaan yang si nonamu hendak ajukan kepadamu !"

Sahutnya.

"Selama dalam perjalananmu dari Tiangsen, apakah kau pernah melihat atau menemui seorang muda she Tio, usia kira dua puluh tahun yang pada punggungnya tergandol sebatang pedang ?"

"Apakah yang kau maksudkan Tio It Hiong, muridnya si imam tua she Tio ?"

Pendeta balik bertaya.

"Hm ! Aku si pendeta tua justru tengah mencarinya untuk membuat perhitungan dengannya !"

Mendengar jawaban itu, matanya si nona berputar sedangkan di dalam hatinya ia berpikir .

"Kiranya keledia gundul ini musuhnya adik Hiong ! Baiklah hendak kau bunuh dia supaya adik Hiong senang hati padaku !"

Maka lantas sepasang alisnya bangkit berdiri terus ia tertawa dingin dan kata menantang "Kitab pedang Sam Cay Kiam itu benar berada padaku !

Jika kau rasa kau mempunyai kepandaian untuk mengambilnya, kau ambillah sendiri !"

Tanpa merasa Leng Bin Hud si Buddha Bermuka Dingin menjadi naik darah, mendadak dia menggerakkan tongkat rotannya yang berkepala ular dengan itu dia menyerempang kaki si nona sambil dia membentak.

"Jika kau berani kau sambutlah aku dalam beberapa jurus !"

Tan Hong melompat berkelit sekalian ia menyambar sebuah kursi yang terus ia pakai menyampok menangkis maka "Prak!"

Rusaknya kursi itu terhajar tongkat hebat potong-potongannya terbang berhamburan ! Penjual teh menjadi bingung, dia menggoyang-goyangkan tangan seraya berkata dengan suara menggetar.

"Bapak pendeta, kalau bapak mau berkelahi silahkan pergi keluar. Aku minta janganlah bapak pendeta merusak usahaku ini !"

Tan Hong sementara itu telah mengeluarkan Sanho pang ruyungnya yang istimewa itu.

"Eh, Leng Bin Hud !"

Katanya menantang.

"kalau kau menghendaki seluruh tehnya menjadi dingin beku dan semua pelanggan bergelandangan disini, nah marilah kau turut si nonamu pergi keluar sana supaya kita jangan membikin rusak barang-barang disini !"

Habis berkata begitu si nona terus mendahului bertindak keluar.

Leng Bin Hud gusar sekali, dia menyambut tantangannya itu maka dia pun pergi menyusul si nona itu.

Dengan demikian betempurlah mereka ditanah rata ditepi gunung dekat penyeberangan Pek sek touw.

Mereka mengadu kepandaian tanpa banyak omong lagi.

Leng Bin Hud memandang ringan kepada lawannya karena ia melihat si nona masih sangat muda.

Ia telah memikir dengan tongkatnya yang panjang itu dalam dua atau tiga jurus saja ia akan sudah berhasil merobohkannnya.

Lantaran ini juga, ia tidak lantas mengeluarkan kepandaiannya ilmu Sian Thian Bu kek Khie-kang.

Ia cuma memutar pergi pulagnnya tongkatnya mencari pelbagai jalan darah si nona.

Tan Hong adalah salah seorang dari Sam Koay-Tiga Jin dari Hek Keng To, bukan cuma ilmu silatnya bukan sembarang ilmu, senjatanya juga senjata luar biasa.

Sanho pang kokoh kuat bagaikannya besi bercampur baja dapat dipakai menjajar batu hancur lebur.

Pula senjata itu ada ilmunya sendiri.

Maka itu begitu bergebrak, ia dapat melayani si pendeta ia berhasil mendesak.

Leng Bin Hud repot bertahan dari desakan si nona, baru sekarang dia insyaf yang wanita remaja dan cantik manis itu tidak dapat dipandang ringan maka baru sekarang juga secara tergesa-gesa menggunakan ilmu kepandaiannya, yaitu ilmu Sian Thian Bu kek Khie kang itu.

Hingga selanjutnya dapatlah ia berkelahi dengan mengimbangi nona itu, dapat juga ia mencoba balik mendesak.

Tengah mereka berdua bertempur seru itu mendadak dari luar kalangan terdengar suara cempreng dari seorang wanita, suara yang mirip dengan bunyi kelenengan perak .

"Lihat, lihat si pendeta kurus itu ! Lihat, dia tak sanggup melayani lawannya ! Lihat, tongkat rotannya sudah mulai kacau !"

Heran Leng Bin Hud karenanya, walaupun sedang berkelahi ia lantas mencari ketika dan melirik kesisi, guna melihat wanita itu akan mendapat tahu siapa dia -nona atau nyonya -ia kenal atau tidak...

Terpisah dua tombak lebih dari tempat pertarungan, dua orang tengah berdiri menonton pertempuran.

Mereka wanita dua-duanya, yang satu seorang tua yang lainnya seorang nona kecil.

Kalau si wanita tua sudah putih semua rambut dikepalanya, adalah wajahnya masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya, masih menarik hati sebab mukanya masih merah dadu, sedangkan pakaiannya termasuk pakaian yang luar biasa sebab pakaiannnya itu yang berwarna merah tersulamkan gambar kupu-kupu.

Dilihat dari tampangnya dia mungkin baru berumur lebih kurang empat puluh tahun...

Si Nona Tanggung baru berumur tiga atau empat belas tahun, rambutnya yang hitam panjang dilepas terurai ke punggungnya, kakinya tidak memakai sepatu, sedang bajunya hampir sama dengan pakaian si wanita tua juga tersulamkan kupu-kupu yang mengasih dengar suara nyaring itu adalah si anak tanggung itu.

"Eh, budak perempuan, nyalimu besar ya ?"

Tegur Leng Bin Hud.

"Bagaimana kau menilai ? Awas, sebentar sang Buddha kamu akan memotong kutung lidahmu !"

Nona kecil itu tertawa geli.

"Bagaimana, eh ?"

Tanyanya tertawa pula.

"Kakak itu saja kau tidak mampu robohkan, bagaimana kau berani memotong lidahku ? Cis, tak tahu malu !"

Dan ia membawa jari-jari tangannya ke mukanya sendiri untuk mengejek secara bermain-main.

Bukan main panas hatinya si Buddha Bermuka Dingin.

Dengan lantas ia menangkis keras senjatanya lawan.

Itulah tipu tongkat "Membangkitkan badai dan guntur".

Menyusul itu, ia lompat mundur tujuh kaki meninggalkan lawannya untuk sebaliknya mendekati si nona jail.

"Siapakah kau ?"

Tegurnya bengis. Si Nona Tanggung belum menjawab, atau kawannya yang tua sudah mendahuluinya.

"Hm !"

Nyonya tua itu memperdengarkan suaranya.

"Hm ! Akulah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Ngo Cie San ! Apakah benar kau bagaikan mempunyai mata tetapi tidak mengenal gunung Tay san yang suci dan agung ?"

Nama "Ang Gan Kwie Bo"

Itu mempunyai arti "Ibu bajingan berwajah merah", tetapi mendengar itu Leng Bin Hud tidak takut atau jeri, bahkan ia mengasi lihat wajah dingin ketika dia menjawab dengan tak kalah dinginnya.

"Tongkat rotan Buddha kami ini tidak mengenal kamu !"

Ang Gan Kwie Bo melengak, dia tertawa tergelak gelak.

Suara tawanya itu keras, nyaring dan tajam seumpama kata bagaikan menusuk telinga atau menikam uluhati.

Terpaksa hatinya Leng Bin Hud menggetar juga rasanya nyeri.

Bahkan Tan Hong yang terpisah jauh dua tombak lebih turut merasakan getaran itu.

Sebenarnya tawanya Ang Gan Kwie Bo itu bukan sembarang tawa.

Itu hanya ada semacam ilmu pengaruh yang dia beri nama Tot Pek Im Po atau gelombang suara merampas nyawa.

Habis tertawa itu, dia tampak tenang.

"Baiklah"

Kataya sabar.

"mari kita mencoba menyambut beberapa jurusmu, taysu ! Ingin aku belajar kenal dengan ilmu silat yang istimewa !"

Diam-diam Leng Bin Hud terperanjat.

Tahulah dia bahwa wanita itu sudah mempunyai tenaga latihan yang telah mencapai puncak kesempurnaan tenaga dari Sian Thian Bu Kek Khie-kang.

Maka mengertilah ia halnya sulit bagi dia dapat bertahan dari nyonya itu.

Karena itu juga suaranya pun jadi berubah lunak ketika dia menyambut si nyonya.

Katanya.

"Aku si pendeta tua tidak mempunyai waktu untuk menyambut kau ! Sekarang ini aku hendak membereskan dahulu ini budak liar !"

Dan berkata begitu, kembali ia mendesak wanita jago dari Hek Keng To itu.

Sebenarnya Ang Gan Kwie Bo sudah berusia delapan puluh tahun lebih.

Dia bukan asal suku Han hanya suku Lei atau Leejin dan tempat asalnya ialah Ngo Cie San, gunung lima jeriji tangan.

Dimana secara kebetulan dia menemui "Sian Hin Hun"

Jamur dewa. Siapa yang makan jamur itu, usianya nanti dapat tambah banyak, tubuhnya sehat dan tak mempan penyakit. Setelah mendapati jamur itu dia lantas membuat obar "tak bisa tua"

Atau awet muda.

Memang tadinya dia berparas cantik, dengan makan obatnya itu, mukanya menjadi selalu bersemu merah dadu.

Dia bagaikan tak dapat menjadi tua, kecuali rambutnya yang telah berubah putih.

Semakin banyak dia makan obatnya, dia tampak makin segar dan mentereng.

Lalu diapun mempelajari ilmu silat berikut ilmu sesat.

Dia bertabiat aneh dan telengas, demikian dia memperoleh nama atau julukannya itu.

karena itu juga kaum Kang Ouw jeri terhadapnya, dimana-mana dia disegani bahkan ditakuti.

Dia biasa bekerja seorang diri, gemar merampok dan merampas dalam hal mana suka dia tak membiarkan korban hidup, dia main bunuh orang.

Walaupun menjadi jago Ang Gwan Kwie Bo cuma dapat berpengaruh di tujuh propinsi selatan sampai pada tiga puluh tahun dahulu dia roboh ditangannya Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian yang terhadapnya menggunakan ilmu silat Hiang Liok Ho Mo Kun.

Setelah itu dia pergi menyendiri di Ngo Cie San dimana dia telah melatih diri dalam ilmu Sian Thiang Bu Kek Khie-kang ilmu tenaga dalam yang dihubungi dengan ilmu Toat Pek Im Po itu.

Thian Cin Lojin kenal Ang Gwan Kwie Bo.

Maka itu guna menambah tenaganya maju gerakan Siauw Lim Pay jago tua itu sendirinya pergi berkunjung ke Ngo Cie San, mengundang kepada wanita jago ini dan Ang Gwan Kwie Bo menerima undangan baik itu sampai baru beberapa hari yang terbelakang ini dia meninggalkan gunungnya.

Sampai dipenyebrangan Pek Sek To ini kebetulan sekali dia menemui Leng Bin Hud lagi menempur Tan Hong.

Bersama muridnya Cio Hoa dia berdiri menonton.

Nyata sang murid gatal mulutnya.

Selama mengikuti gurunya belum pernah Cio Hoa turun gunung, bahkan kali inilah yang pertama kali ia turut gurunya melakukan perjalanan.

Ia tertarik hati melihat pertempuran seru itu hingga ia ingin mencoba kepandaiannya sendiri.

Apalagi ia justru mengejek Leng Bin Hud, sampai si Buddha Bermuka Dingin menjadi tidak senang dan panas hati.

Demikian mereka berselisih.

Leng Bin Hud tahu wanita itu lihai sekali, tak sudi dia melayani, bersedia dia mundur teratur.

Dalam hal ini dia pandai membawa diri, kelicikannya membuat dia dapat menuruti angin.

Begitulah dia merendah terhadap si wanita jago dan terus mundur guna menghadapi Tan Hong pula.

Biar bagaimana tak ingin ia meninggalkan kitab silat Sam Cay Kiam.

Tan Hong menyaksikan dua orang itu berbicara, ia mendapat kenyataan bagaimana Leng Bin Hud jeri terhadap si nyonya tua itu, jadi memandang orang makin rendah, maka itu waktu ia melihat orang datang pula padanya, ia mendahului bentaknya .

"Eh, manusia tak punya muka, tak tahu malu, masih kau tak mau menggelinding pergi !"

Ia pun mengangkat tongkatnya untuk mengancam. Leng Bin Hud mendongkol kata dia dengan suara dalam yang sedap didengarnya .

"Ah ! Kau hendak mencoba-coba sepasang Sing Im Ciong ku !"

Dan benar-benar dia lantas menggerakkan kedua belah tangannya, untuk dipakai menolak dengan keras.

Dengan begitu dia telah memakai tenaga dari ilmu Sian Thian Bu kek Khie kang yang ia telah latih lama itu.

Maka juga segelombang hawa sangat dingin sudah mendesir kebadannya Tan Hong !

Nona menggigil seketika.

Hawa dingin itu terasa terlalu meresap kedalam tubuhnya.

Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan, terutama guna menutup semua jalan darahnya.

Ia pula mengerahkan tenaga dalam lunak dari ilmu Hek To yaitu Mo Teng Kee.

Hingga didalam waktu yang singkat, dapat ia menolak keluar serangan hawa dingin lawan itu.

Dengan mencekal sanho-pang, ia berdiri tegak menghadapi si lawan yang tangguh.

Si Buddha Bermuka Dingin heran menyaksikan lawan nona itu.

Dia telah melihat sendiri tubuh orang menggigil, ia tidak mengerti kenapa orang pulih dalam waktu yang demikian singkat, apapula lawan itu adalah seorang perempuan yang masih sangat muda sedang khiekangnya itu telah ia latih selama puluhan tahun.

Ilmu itu ia beri nama Sian Thian Bu kek Khie-kang, sedang serangannya barusan menurut ilmu tangan dingin beracun Han Tok Siang Im Ciang yang diciptakan dari Khie kang tersebut.

Selama di lima propinsi utara, ilmu khie kang itu belum pernah gagal, cuma satu kali di dalam peristiwa di gedung gubernur jendral propinsi Anhui gagal terhadap Tio It Hiong yang pernah minum darah belut yang mujizat.

Ia tidak dapat menerka, Tan Hong menggunakan ilmu apa untuk bertahan darinya.

Tengah pendeta ini berdiam saking herannya itu maka disebelah belakang dia, dia dengar pula tawa nyaring yang tadi dikasihh dengar si anak tanggung.

Kali ini anak itu tertawa sambil berkata.

"Sungguh ilmu Siang Im Cian yang hebat sekali ! Tapi segera ternyata ilmu itu justru dapat dipakai cuma buat mengebut debu dan menepuk lalat."

Bukan main mendongkol dan bergusarnya si Buddha Bermuka Dingin.

Ia menyesal sekali yang ia tidak dapat segera menghajar bocah yang jaih dan kurang ajar itu, untuk sedikitnya merobek mulutnya atau menamparnya beberapa kali !

Disebelah itu ia sangat jeri terhadap Ang Gan Kwie Bo, sedangkan ia mengerti bunyi pepatah yang berkata, tak dapat bersabar dalam urusan kecil bakal merusak usaha besar.

Maka ia lantas tertawa, sebab dengan kecerdikannya, dapat ia lantas memikir jalan guna meluputkan dirinya dari kesulitan itu.

Begitulah sembari menoleh pada si nona kecil, ia kata.

"Nona, sungguh kaulah seorang yang pandai yang banyak pengetahuannya ! Tapi baiklah kau ketahui yang aku si pendeta, aku tak ingin bentrok dengan orang Hek Keng To maka aku cuma menggunakan Han Tok Siang Im Ciang dengan tenaga dua bahagian, melulu guna memberi peringatan terhadapnya agar dia lekas-lekas mengeluarkan dan menyerahkan kitab pedang Sam Cay Kiam itu. Jadi tak pernah aku memikir menggunakan tangan berat terhadap dirinya !"

Dengan kata-katanya ini, Leng Bin Hud mengundang maksud buruk.

Ia membuka rahasia tentang kitab pedang pusaka, supaya Ang Gan Kwie Bo mendengarnya, agar jago wanita tua itu tertarik hati dan nanti menggantikan ia merampasnya dari tangannya Tan Hong.

Nyatanya ia belum kenal Ang Gan Kwie Bo.

Nyonya itu bertabiat tinggi dalam pernah dia menguasi benda orang, baik kitab ilmu pedang atau kitab ilmu pukulan tangan kosong.

Bahkan kata-katanya itu menimbulkan kesan sebaliknya.

"Ah, taysu !"berkata si nyonya yang dapat menangkap pikiran orang yang sebenarnya.

"kenapa kau telah tidak menghargai kehormatan dirimu sebagai orang usia dan tingkat derajatnya lebih tinggi ? Kenapa kau tak malu merampas kitab ilmu pedang lain orang ? Buat apa kau mengeluarkan katakatamu ini, seperti juga kau menempatkan emas di mukamu sendiri ?' Tan Hong girang mendengar kata-kata orang itu. Rupanya Ang Gan Kwie Bo berada dipihaknya. Lantas ia campur bicara, katanya.

"Benar apa yang cianpwe bilang ! Bagaimana kalau kita mengeluarkan syarat ? Jika didalam tiga puluh jurus kau dapat menangkan aku satu atau setengah jurus, maka aku akan menyerahkan kitab pedang itu pada kau. Jika sebaliknya yaitu kau tidak memperoleh kemenangan kau harus meletakkan tongkat rotanmu itu dan pergi kabur sendiri, seperti juga kau dapat melanjuti perjalananku dengan bebas. Bagaimana kalau kita minta cianpwe ini menjadi saksinya ?"

Nona Tan memanggil "cianpwe"

Orang tua yang dihormati kepada si nyonya tua. Si bocah Cio Hia sudah lantas menepuk-nepuk tangan secara gembira sekali.

"Bagus ! Bagus !"

Serunya.

"Cuma aku kuatir si bapak pendeta nanti jeri..."

Leng Bin Hud Gouw Beng merasa mukanya panas, sedang kulit mukanya itu segera bersemu merah. Dia malu dan panas hati, orang bagaikan mengejeknya.

"Tan Hong !"

Ia membentak si nona dari Hek Keng To.

"dengan caramu ini kau mencari susah sendiri ! Jangan kau menyesal kalau nanti aku telah menurunkan tangan terlalu berat !"

Menyusul kata-katanya itu menuruti hawa amarahnya, Gouw Beng sudah lantas memutar tongkat rotannya dengan apa dia bagaikan mengurung tubuhnya si nona !

Tan Hong tahu orang bergusar sampai pada puncaknya, mungkin lebih maka tak mau ia menyentuh senjatanya pendeta itu, hanya terus ia memperlihatkan kelincahan tubuhnya.

Bagaikan ular licin ia berkelit atau lompat sana lompat sini, menyelamatkan diri dari senjata lawan.

Tapi ia bukan berkelit terus-terusan, ia juga menggunakan tongkatnya, setiap ada ketika ia menyodok bagian-bagian kosong dari lawannya itu.

Demikian mereka berdua bertarung dengan seru, walaupun pertempuran baru saja dimulai.

Selagi pihak yang satu berlaku keras, yang lain lunak tetapi cepat.

Selagi itu Ang Gan Kwie Bo dan Cio Hong terus menonton dengan perhatian.

Saking hebatnya penyerangan jurus-jurus dilewatkan dengan cepat sekali.

Dengan begitu tanpa merasa batas jurus yang disebutkan tiga puluh jurus telah dilewatkan !

"Sudah cukup !

Sudah lebih daripada tiga puluh jurus !"

Tiba-tiba Ang Gan Kwie Bo berseru.

"Leng Bin Hud Taysu kau telah kalah !"

Bagaikan orang tak mendengar Gouw Beng masih menyerang terus. Dia bagaikan lupa atau kalap.

"Taysu, masihkah kau tidak mau berhenti berkelahi ?"

Tanya si nyonya tua yang wajahnya tapinya masih seperti muda dan manis.

Leng Bin Hud tetap membudek, sebaliknya dengan Tan Hong.

Nona kontan lompat mundur tujuh atau delapan tindak.

Masih si pendeta penasaran, dia lompat menyusul untuk mengulangi serangannya bertubi-tubi, baru dia berhenti dengan terkejut ketika mendadak ia merasai kedua tangannya bergetar dan gemetar bagaikan terhajar hajaran berat seribu kati, lengannya pun terasakan nyeri dia bagaikan kaku, maka mendadak pula ia berlompat mundur, matanya menatap bengis kepada Ang Gan Kwie Bo untuk terus membentak .

"Hm, jurus pemisah yang jempol ! Kenapakah kau membokong aku si pendeta tua ?' Si nyonya balik mengawasi. Dia memperlihatkan tampang dingin. Dengan suara dingin juga dia menjawab .

"Bukankah janji tiga puluh jurus sudah lewat ? Baiklah taysu menepati janji kita dan mengaku kalah !"

Masih pendeta itu penasaran.

"Siapa suruh kau membokong aku ?"

Tanyanya bengis. Pendeta ini mengotot, orang memisahkannya secara keras dia menuduhnya membokong.

"Hai, kau berlaku galak ya ? Jika kau tetap tidak puas marilah kau turun tangan atas diri nonamu ini ! Mari !"

Dan nona cilik itu lompat maju sambil melayangkan sebelah telapakan tangannya !

Tak jeri Leng Bin Hud terhadap bocah itu.

Ia sedang bergusar sekali.

Ia pula melupai hadirnya Ang Gan Kwie Bo disitu.

Dengan memindahkan tongkatnya ke tangan kiri dengan tangan kanannya ia menyampok menggempur tangan si nona cilik.

Ia memikir membuat orang mendapat luka didalam.

Di luar terkaan si pendeta, Cio Hoa bermata tajam dan cedas sekali.

Ia seperti bisa membaca maksud lawan.

Maka juga selagi menyerang itu, ia merobah tangan terbukanya.

Kelima jari masih tetap dibuka hanya sekarang kelimanya direnggangkan dan bukan lagi ia menggampar atau menggaplok hanya menotok ke tangan lawan yang hendak menangkisnya itu.

Ia menotok tengah-tengah telapakan tangan dibagian yang lemah.

Dan selekasnya kedua tangan beradu ia meneruskan mencelat mundur !

Giauw beng terkejut.

Dia telah kena diperdayakan sibocah bau kencur !

Dia tertotok tak sampai terluka parah toh dia merasa telapakan tangannya itu tergetar dan kaku kaku gatal !

Tentu sekali ia mendongkol maka hendak ia lompat menyusul akan tetapi belum lagi dia menjejak tanah atau berlompat maju, tiba-tiba telinganya sudah mendengar tawa nyaring garing bagaikan suara genta perak, suara mana mirip dengan tusukan pada telinga atau tikaman pada ulu hati !

Dan rasanya sangat sukar akan bertahan dari gangguan itu hingga dia menjadi kaget tak terkirakan.

Dengan terpaksa ia lompat mundur dua tombak !

Itulah tawanya Ang Gan Kwie Bo siapa telah senantiasa memasang mata mengawasi gerak gerik si pendeta hingga dia melihat tegas bagaimana orang dipermainkan Cio Hoa.

Dia mengawasi dengan tampang memandang sangat rendah setelah mana dengan memegang tangan si anak tanggung, dia mengajak pergi ke penyeberangan.

Gauw Beng berdiam mengawasi orang berlalu, sesudahnya dua orang itu pergi jauh, ia menghela napas melegakan hatinya yang pepat, ketika kemudian ia berpaling, ia mendapatkan bahwa ia pun sudah ditinggal pergi oleh Tan Hong.

Nona itu sudah berjalan sejauh belasan tombak.

Walaupun demikian dengan mendadak ia berlompat untuk menyusul !

Tan Hong sementara itu berlari dengan keras.

Ia tidak ingin rewel dan terganggu oleh Gauw Beng Taysu maka juga ia terus meninggalkan jauh sekali pendeta itu selagi si pendeta diganggu Cio Hoa dan Ang Gan Kwie Bo.

Ia ingin mencari It Hiong sebab si anak muda belum juga tiba.

Sampai disebuah tikungan, wanita jago dari Hek Keng To ini dikejutkan oleh berkelebatnya sesosok bayangan orang yang hampir bertabrakan dengannya.

Ia dapat lekas memindahkan tindakan kakinya serta menggeser tubuhnya hingga mereka saling lewat, umpama kata hampir saling membentur bahu.

Ia terkejut dan menoleh selekasnya mereka berdua sudah melewati satu pada lain.

Justru ia menoleh itu, ia melihat orang pun memutar tubuh seraya terus merangsek padanya sebelah tangannya diayunkan ke arahnya.

Terang orang hendak menepuk punggungnya.

Karena ia sudah menoleh dan dapat melihat, ia segera mencelat ke samping, membebaskan diri dari serangan gelap itu.

Sekarang terlihat tegas, penyerang itu adalah seorang tosu, atau imam dari To Kauw, agama To dari Nabi Lo Cu.

Dia mengenakan jubah putih seluruhnya, dia seperti umumnya kaum tosu, punggungnya menggendol sebatang pedang, Imam itu bertubuh tegap dan kekar, hanya sebelah matanya -mata yang kiri -tak dapat melihat.

"Ha, budak !"

Demikian si imam menegur.

"kenapa kau sangat sembrono ? Kau tak boleh mendapat ampun ! Lekas bilang, kau asal partai mana ? Toyu kamu hendak memberi ajaran adat kepadamu !"

Berkata demikian mata si orang suci sempat mencilat berkilau !

Tang Hong pun gusar sekali.

Memangnya karena dibokong itu ia sudah mendongkol bukan main.

Ia tidak kenal imam itu dan merasa tidak bersalah.

Jamak kalau mereka hampir bertabrakan sebab sama-sama mereka lagi lari-lari dengan kerasnya.

"Hmm!"

Ia memperdengarkan suara dinginnya.

"Tan Hong dari Hek Keng To ! Kau kenal atau tidak?"

Menurut panas hati, nona ini bersikap jumawa.

"Bagus ! Bagus !"

Imam itu berseru berulang-ulang.

"Akulah Hian Ho Cinjin ! Aku memang tengah mencarimu ! Jika kau tahu gelagat, lekas kau tinggalkan kitab silat Sam Cay Kiam, nanti aku beri ampun kepada jiwamu ! Jika tidak, hm awas kau !"

Mendengar orang menyebut nama suCinya, tahulah Tan Hong bahwa imam dihadapannya ini adalah salah seorang dari vihara Kim Ho Kiong di puncak Ngo Im Hong digunung Kauw Loaw San, penghuni atau koancu yang nomor dua.

Memang ia tak kenal si imam tetapi pernah ia dengar namanya.

Ketika dahulu saat Tio It Hiong menyerang Kim Ho Kiong, imam ini telah terhajar sebelah matanya yang kiri, sekarang ternyata matanya itu terus buta.

Ia mendongkol kapan ia mengingat orang hendak mendapati kitab pedang Sam Cay Kiam itu.

Bukankah mereka sesama golongan ?

Sudah si imam ketahui ia adalah orang Hek Keng To, toh ia masih menghendaki kitab ilmu pedangnya itu !

Itulah perbuatan keterlaluan.

Maka dalam murkanya mata si nona menjadi merah, dengan bengis ia mengawasi lalu dengan tawar ia kata keras .

"Totiang, jika kau benar koancu kedua dari Kim Ho Kiong, suka aku mempersembahkan kitab pedang itu kepada kau hanya sayang melihat wajahmu ini, nonamu terasangsi, dia meragukanmu !"

Diluar sangkaan mendengar demikian, si imam menjadi cepat sedangkan tadi tidak karu-karuan, dia bergusar. Begitulah dia bergusar. Begitulah dia tanya perlahan .

"Entahlah, nona dalam hal apa nona menyangsikan pinto ?"

Tan Hong sengaja tertawa. Ia menjawab wajar .

"pernah aku mendengar keterangan Beng Leng Cinjin, kakak seperguruanku bahwa Jie Koancu Hian Ho dari Kim Ho Kiong adalah seorang pertapa yang tampan dan tiada cacatnya pada anggota-anggota tubuhnya, tetapi sekarang, totiang, kau telah buta matamu yang kiri ! Jika totiang benar bukanlah imam yang palsu, tolong kau jelaskan kepadaku, kenapa sekarang kau buta sebelah matamu itu ?"

Muka Hian Ho menjadi merah, ia melengak karena jengah atau dilain detik, ia menjadi sangat gusar.

"Hai budak nakal !"

Bentaknya.

"Bagaimana kau jadi begini kurang ajar ? Lihat pedang !"

Dan ia menghunus pedangnya dengan apa ia segera menebas si nona.

Tan Hong pun tidak panas, tetapi ia cerdas ia memikir.

Ia tidak jeri terhadap imam itu bahkan ia memandang tak mata sebab ia ingat orang pernah roboh ditangan Tio It Hioang.

Begitulah ia berniat "menghajar adat"

Pada Hian Ho dengan membuat pedang itu patah.

Begitu ditebas, ia menangkis dengan sanho pang !

Kedua senjata beradu keras, sebab kedua pihak mereka telah mengerahkan tenaga dalam mereka.

Karena beradunya itu, keduanya sama-sama mundur beberapa tindak dan tangan mereka bergetar sesemutan.

Benar saja ujung pedang kena tergompalkan !

Tepat itu waktu disitu muncullah Leng Bin Hud.

Pendeta itu yang menyusul terus terusan akhirnya dapat menyandak orang yang disusulnya karena dia ini tertunda perjalanannya.

Gouw Beng mendatangi sambil berseru .

"Hian Ho Totiang, jangan kasih budak itu lolos ! Kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam berada ditangannya."

Dan bentakan itu diakhiri dengan serangan tongkat rotannya yang diarahkan ke arah pinggang !

Hian Ho melengak mulutnya memperdengarkan suara seperti geraman.

Belum pernah orang membuat pedangnya bercacat seperti itu di dalam satu gebrakan sja.

Ia girang ketika ia mendengar suaranya Leng Bin Hud dan melihat mendatanginya pendeta itu.

Maka ia percaya, inilah saatnya guna ia merampas pulang muka terangnya.

Dalam hal ini ia sampai lupa maju, sebab ia tak perduli lagi bahwa mereka berdua mengepung satu orang bahkan si lawan adalah seorang wanita muda.

Ia tak ingat lagi yang kaum Kang Ouw bakal menertawakannya.

"Mari kita bersama membekuk budak ini !"

Demikianlah ia malah berseru dan terus dengan pedangnya ia mengulangi serangannya.

Tan Hong melakukan perlawanan.

Didalam waktu yang singkat ia sudah lantas terdesak.

Kalau ia melawan satu sama satu yang mana saja, dari Hian Ho dan Gouw Beng sanggup ia melayani sampai seratus jurs, sekarang lain, semua lawan juga berkelahi dengan keras sekali sebab dua-duanya sedang mendongkol dan marah besar.

Dengan terpaksa ia menggunakan ilmu silat sanho pang yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus.

Berkilauan cahaya senjatanya itu bagaikan mengurung tubuhnya.

Pertarungan berlangsung seru.

Tan Hong berlaku sungguhsungguh dan waspada, matanya dipasang benar-benar.

Inilah yang menyulitkan kedua pengepung itu untuk lekas merebut kemenangan.

Leng Bin Hud penasaran sekali, hatinya menjadi semakin panas maka satu kali dia menyerang dengan "Menyerbu Terus Langsung Ke Istana Kuning"

Suatu jurus silat simpanannya.

Dengan demikian dada atau ulu hatinya Tan Hong terasa terbebat sebab dilain pihak ada ancaman dari Hian Ho.

Nona itu tabah hatinya, ancaman tak membuatnya terkejut bahkan ia memperkeras hatinya mempertebal semangatnya.

Ia pun sengit sekali.

Ketika senjata lawan tiba, ia menangkis sambil mencoba melibat dengan senjatanya yang kiri berbareng dengan mana senjatanya yang kanan ia membalas menyerang dengan membarenginya.

Kalau lawan menggunakan "Gerak gerik Naga"

Maka ia jurus silat "Ular Hijau Melilit Pohon"

Baca Juga: Kuda Binal Kasmaran 4

Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert