Eps 4 Kuda Binal Kasmaran - Gu Long
Baca online Kuda Binal Kasmaran - Gu Long
Cersil Kuda Binal Kasmaran - Gu Long.
Pendopo ini kosong melompong, tiada satu pun benda yang menggeletak di sana, lantainya mengkilap, dinding pun berkapur bersih, di ujung pendopo yang jauhnya dua puluhan tombak itu terdapat sebuah pintu dengan kerai mutiara yang menjuntai turun menyentuh lantai menyenkat pendopo ini dengan sebuah kamar lain, di kamar yang berbentuk segi empat ini terdapat sebuah meja besar dengan sebuah kursi kebesaran yang berlapis kulit harimau, seorang duduk bertengger di kursi besar dan tinggi itu menghadap keluar, jarak cukup jauh, teraling oleh kerai mutiara lagi, Siau Ma tidak dapat melihat jelas bentuk wajah orang ini.
Siau Ma hanya melihat bentuk bayangan seseorang, sampai pakaian dan topi yang dipakai juga tidak jelas, namun terasa oleh Siau Ma, hawa dan wibawa orang ini, terasa adanya keangkeran di tubuh orang ini, bagai hawa pedang yang mampu membunuh orang.
Pintu di belakang Siau Ma tahu-tahu sudah tertutup, kakek penyapu kembang berada di luar pintu.
Baru saja Siau Ma bergerak hendak maju ke depan, mendadak terdengar bentakan nyaring.
"Berhenti!"
Suara perpaduan orang banyak yang berkumandang dari belakang dinding di empat penjuru pendopo panjang itu.
Siau Ma berdarah panas, tapi demi Siau Lin di sini, ia tidak berani berlaku gegabah, maka ia batal beranjak maju.
Sembilan jiwa orang tergenggam di tangan orang yang berkuasa di gunung ini, orang yang duduk di balik kerai mutiara itu, sudah tentu Siau Ma tidak berani mengumbar adat.
Begitu suara bentakan itu lenyap, suasana pendopo kembali sunyi dan sepi, Siau Ma juga tidak berani bergerak, agak lama kemudian lapat-lapat terdengar suara lirih di balik kerai.
Lalu berkumandanglah suara serak tapi kereng.
"Kau tahu siapa aku?"
Siau Ma mengiakan. Siau Ma menduga kecuali Cu Ngo Thay-ya, siapa punya perbawa dan kekuasaan sebesar ini di Long-san? Siapa berani bercokol di tempat yang angker itu.
"Kau ingin bertemu denganku?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya. Siau Ma mengiakan lagi.
"Kau she Ma?"
"Ya."
"Si Kuda Binal yang suka mengumbar amarah?"
"Betul."
"Apa betul kau bersama Ting Si mengobrak-abrik lalu menghancurkan Ngo-kian-kay-hoa, gabungan lima Piaukiok terbesar di Tionggoan itu?"
"Betul."
"Bagus, silakan duduk."
Dinding di sebelah kiri mendadak bergerak dan muncul sebuah pintu.
Dua laki-laki bertubuh gede seperti raksasa beranjak keluar dengan menggotong sebuah kursi besar dan berat beralas kulit harimau, yang aneh adalah bentuk dan perawakan dua orang raksasa ini, kepalanya botak, pakai anting-anting gelang emas di kuping kanan dan kiri.
"Duduklah,"
Ujar Cu Ngo Thay-ya pula setelah kedua raksasa itu meletakkan kursi di belakang Siau Ma.
Siau Ma duduk, sementara dua laki-laki gede itu berdiri di kanan kirinya sambil memeluk dada.
Agaknya mereka diperintah untuk berjaga-jaga di pendopo ini, sedang pintu di dinding kiri sudah tertutup rapat pula tanpa kelihatan bekasnya.
"Ngo-kian-kay-hoa malang melintang dan dikagumi serta disegani kawan maupun lawan kaum Bu-lim, terutama orangorang gagah di dunia ini tiada yang tidak memuja mereka, tapi kalian berhasil mengobrak-abrik serikat itu, menghancurkan kekuatan dan wibawanya, karena keberhasilan itu maka hari ini kau boleh duduk di sini."
"Aku tahu,"
Sahut Siau Ma memanggut.
"Aku juga tahu kau berani berkorban tanpa mempedulikan jiwa raga sendiri."
Siau Ma diam.
"Teman-temanmu terjebak, jiwa mereka terancam, kekasihmu jatuh di tangan duta malaikat surya, mereka yang kau kawal dan lindungi, tiada yang bisa kau antar lewat gunung ini."
Siau Ma diam saja, apa yang diucapkan Cu Ngo Thay-ya memang kenyataan, maka ia tidak perlu banyak bicara.
Apalagi terhadap raja yang berkuasa di Long-san ini, mau tidak mau Siau Ma harus takluk dan tunduk.
Semula Siau Ma mengira raja yang berkuasa di Long-san ini berwatak aneh dan eksentrik, hanya seorang tua renta yang dekat ajal dan bersimaharaja, mengasingkan diri di gunung serigala ini untuk menikmati kehidupan dewata, orang tua ini berpeluk tangan membiarkan anak buahnya bertindak sewenang-wenang, raja yang dikelabui dan dijadikan boneka.
Tapi sekarang Siau Ma sadar, orang tua yang satu ini adalah manusia yang benar-benar berkuasa di Long-san, ternyata setiap peristiwa yang terjadi dalam wilayah gunung serigala, meski hanya urusan kecil sekalipun, tidak terlepas dari pengawasannya, tiada persoalan yang dapat mengelabuinya.
Cu Ngo Thay-ya berkata.
"Kini kau sadar setelah menghadapi jalan buntu, maka kau terpaksa mencari aku, kau ingin membarter jiwa belasan orang itu dengan sepasang tinjumu."
Tiba-tiba nadanya berubah jadi seringai dingin.
"Pernahkah kau saksikan seorang yang sembahyang dengan sebatang dupa wangi di depan patung malaikat pujaannya dalam kelenteng, dan berhasil menolong jiwa orang itu hingga mencapai kehidupan bahagia sepanjang hidupnya?"
"Belum pernah aku melihatnya,"
Sahut Siau Ma.
"Dan aku adalah malaikat gunung yang berkuasa di sini."
"Tapi sepasang tinjuku bukan sebatang dupa."
"Macam apa tinjumu itu?"
"Kawan setia, gaman yang ampuh untuk membunuh orang."
"O, apa benar begitu?"
"Aku yakin kau bukan malaikat tulen, kekuatan terbatas, betapapun besar kau diagungkan, kalau memperoleh seorang kawan setia, bertambah sebuah gaman yang dapat memberantas musuhmu, cepat atau lambat tentu amat berguna,"
Siau Ma membujuk dan meyakinkan kepercayaan orang terhadap dirinya.
"orang mati jelas tidak berguna, sepuluh mayat jelas bukan tandingan sebatang golok kilat, tapi tinjuku lebih cepat dari golok kilat yang paling cepat di dunia ini."
"Agaknya kau tidak tahu bahwa di tempatku ini juga ada tinju yang lebih cepat, lebih keras dan lihai dari tinjumu?"
"Aku belum pernah melihatnya, aku perlu bukti."
"Kau ingin bukti...."
"Ingin sekali."
"Coba kau menoleh ke belakang."
Siau Ma menoleh ke kiri kanan, matanya tertumbuk dua laki-laki gede yang berdiri memeluk dada di belakangnya, lakilaki kekar berotot dengan telanjang dada ini sedang melotot kepadanya.
Perlahan kedua laki-laki gede ini meluruskan tangan, jari-jari mereka terkepal, tinju mereka mirip palu godam.
Cu Ngo Thay-ya berkata pula.
"Yang berdiri di sebelah kirimu bernama Wanyan Tiat."
Perawakan orang ini sedikit pendek dibanding temannya, tapi ukuran badannya sembilan kaki lebih, kulit mukanya kasar mengkilap, dagingnya menonjol tak keruan, warnanya yang legam tak menunjukkan perubahan perasaan hatinya, antinganting gelang emas sebesar mulut cangkir bergantung di telinga kirinya.
"Wanyan Tiat meyakinkan Thong-cu-kang (ilmu weduk perjaka, kebal),"
Cu Ngo Thay-ya menjelaskan lebih lanjut.
"dia juga meyakinkan Cap-sha-thay-po. Tenaga pukulan tinju kirinya berbobot lima ratus kati, tenaga pukulan tinju kanan berbobot tujuh ratus kati."
"Bagus, tinju bagus,"
Siau Ma memuji berulang-ulang.
"Yang berdiri di kanan bernama Wanyan Kang."
Sesuai namanya, perawakan Wanyan Kang lebih tinggi, kekar berotot, kulitnya mengkilap bagai baja, ukuran tubuhnya sepuluh kaki lebih, corak tampangnya tidak banyak beda dengan orang di sebelahnya, hanya saja anting-anting gelang emas sebesar mulut cangkir bergantung di telinga kanan.
Cu Ngo Thay-ya berkata.
"Sejak kecil Wanyan Kang meyakinkan Thong-cu-kang, Kim-cong-coh dan Tiat-pou-san serta ilmu weduk lainnya, badannya kebal senjata, kerasnya laksana baja. Tenaga pukulan tinju kiri berbobot empat ratus lima puluh kati."
"Bagus, tinju bagus,"
Siau Ma memuji pula.
"Mereka dari suku minoritas, lugu lagi sederhana, tumpul tapi polos dan jujur."
"Ya, aku tahu."
"Bukan hanya tinju saja yang mereka serahkan padaku, jiwa raga mereka juga tergenggam di tanganku."
"Ya, aku maklum."
"Aku sudah punya mereka, kenapa harus menerimamu?"
"Yang terang aku tidak jujur, tidak sederhana, aku punya otak cerdas, ada akal dan pandai bertindak menurut gelagat, aku lebih berguna dari mereka."
Cu Ngo Thay-ya berkata.
"Hm, jangan sok, coba bayangkan, bagaimana kalau dua pasang tinju mereka sekaligus memukul tubuhmu?"
"Apa yang akan terjadi aku tidak tahu,"
Sahut Siau Ma, ia memang tidak tahu, maklum bobot pukulan dua tinju mereka seluruhnya total dua ribu kati lebih, menghadapi dua lawan ini, Siau Ma tidak yakin dapat mengalahkan mereka.
Tapi Siau Ma juga sadar bahwa dirinya tidak punya pilihan lagi kecuali menantang mereka untuk membuktikan kekuatan sendiri.
"Apa kau tidak ingin mencoba tinju mereka?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya.
"Wah, ingin sekali." * * * * * Tanggal 14 bulan 9. Pagi cuaca cerah. Pendopo besar itu tidak ada jendela, sinar matahari tidak kelihatan dari sini. Pendopo besar lagi panjang ini terlindung dinding panjang yang dikapur bersih, tapi sepanjang tahun tidak pernah ditingkah sinar matahari. Penerangan dalam pendopo ini hanya dari cahaya lampu yang redup temarang, namun darimana arah cahaya redup itu juga susah diketahui, yang pasti Siau Ma tidak melihat adanya pelita atau obor.
"Apa betul kau ingin menjajal mereka?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya.
"Betul,"
Sahut Siau Ma tegas.
"Tidak menyesal akibatnya?"
"Apa yang sudah kuucapkan pantang kujilat kembali."
"Bagus."
Lenyap suara pujian Cu Ngo Thay-ya, tinju Wanyan bersaudara lantas bergerak menggenjot dengan kencang, begitu tangan terayun, deru anginnya yang keras hampir memekak telinga Siau Ma.
Tinju kanan Wanyan Tiat mengincar rahang Siau Ma, berbareng tinju kiri Wanyan Kang menggenjot rusuk kanan Siau Ma.
Ternyata Wanyan bersaudara hanya menyerang dengan sebelah tangan masing-masing.
Tapi bobot atau kekuatan tinju mereka ada ribuan kati beratnya.
Siau Ma berlaku tenang, tidak bergerak.
Tinju kilat pasti berat, pukulan berat pasti cepat.
Kalau tenaga kedua pukulan ini berbobot ribuan kati, maka kecepatannya tentu bagai kilat.
Begitu tinju menjotos tenaga pun disalurkan, umpama kuda pingitan yang lepas dari kandang, atau panah yang terlepas dari busurnya, sukar ditarik kembali.
Sebagai ahli tinju, bukan Siau Ma tidak tahu arti kekuatan tinju lawan.
Tapi Siau Ma adalah pemuda sederhana, otoknya cerdik tapi berpikir secara sederhana, ditunjang pengalaman segudang, maka menghadapi serangan lawan, ia tetap berlaku tenang.
Melihat Siau Ma tidak bergerak, lebih bernafsu Wanyan bersaudara mengayunkan tinjunya, namun sedetik sebelum tinju Wanyan bersaudara yang sebesar kelapa itu mengenai tubuhnya, mendadak Siau Ma bergerak, selicin belut dan selincah tupai ia menyelinap ke bawah terus melejit ke pinggir, padahal angin pukulan lawan sudah membuat mukanya perih.
Memang beginilah kebiasaan Siau Ma, detik-detik gawat beginilah yang dia nantikan, saat yang menentukan kalah menang hanya dalam segebrak saja.
Siau Ma memang suka membuat kejutan, bila jiwanya terancam bahaya baru ia memberi reaksi, kecuali pengalaman segudang, Siau Ma memang ditunjang ketahanan dan keberanian.
"Blang" , di luar dugaan, bukan tubuh Siau Ma yang terhajar oleh kedua tinju Wanyan bersaudara, tapi tinju kanan Wanyan Tiat beradu dengan tinju kiri Wanyan Kang malah. Tiada orang bisa melukiskan betapa mengerikan suara benturan kedua tinju gede bagai godam ini. Kecuali kerasnya benturan dua tinju yang mengerikan, disertai juga suara tulang patah dan remuk. Dapat dibayangkan betapa sakit kedua tangan Wanyan bersaudara yang remuk ini, tapi dua raksasa ini ternyata bungkam tak mengeluh atau menjerit. Seperti tidak merasa apa-apa, mereka tetap berdiri sekokoh gunung di tempatnya, hanya raut muka mereka saja yang kelihatan bergetar dan berkeringat, berkerut-merut menahan sakit. Begitu menyelinap keluar, sebat sekali Siau Ma membalik tubuh, secepat kilat tinjunya menjotos tulang rusuk kanan Wanyan Tiat. Hebat memang laki-laki raksasa ini, meski tulang rusuk terpukul patah, Wanyan Tiat ternyata tidak roboh, tubuhnya hanya sedikit tergeliat, namun secepat kilat pula tinjunya yang utuh balas menghajar perut Siau Ma. Menghadapi serangan balasan lawan, Siau Ma tidak menyingkir atau merubah gerakan, sebagai pemuda berdarah panas, ia suka membereskan perkara secara singkat dan cepat, dan Siau Ma bukan pesilat yang menggunakan tinju dengan ngawur.
"Blang" , dua tinju beradu, tinju berhantam dengan tinju, suara benturan adu tinju ini mengerikan, yang mendengar pasti mengkirik dan berdiri bulu romanya, akibatnya ternyata lebih mengenaskan lagi. Siau Ma mencelat mumbul ke atas oleh benturan tinju yang keras itu, di udara ia bersalto dua kali baru meluncur turun. Wanyan Tiat tetap berdiri di tempatnya, namua sedetik kemudian mendadak ia terjengkang mundur lalu meringkuk di lantai. Saking menahan sakit, mulutnya meringis, tubuhnya mengejang dan gemetar, mukanya basah oleh keringat dingin. Kedua lengannya lunglai dan lemas tak mampu digerakkan, tulang jari-jarinya remuk. Betapa sakitnya, namun ternyata merintih pun tidak. Mungkin ajal pun ia tidak akan mengeluh, karena mengeluh dianggap memalukan. Di hadapan sang majikan, meski kedua lengannya lumpuh, ia pantang menyerah, sambil mengertak gigi ia meronta bangun, biar jiwa melayang seketika juga akan ia hadapi dengan badan berdiri. Melihat betapa tabah dan kuat fisik orang ini, tak urung Siau Ma berseru memuji.
"Laki-laki gagah!"
Melotot gusar mata Wanyan Kang, selangkah demi selangkah dia menghampiri.
Wanyan Kang masih ada tinju, dengan sisa tinju yang satu ini dia masih mampu mengadu jiwa, meski ia tahu tinjunya itu ibarat telur menghadapi batu, namun sebelum bertempur sampai titik darah terakhir, dia pantang mundur, tidak mau menyerah.
Wanyan bersaudara memang berhati baja, berani dan tabah, lebih penting lagi, mereka setia terhadap sang junjungan, loyalitas mereka teruji di saat mereka menghadapi saat-saat kritis seperti ini.
Siau Ma menghela napas.
Siau Ma berjiwa luhur, bajik dan cinta kasih terhadap sesama, ia paling menghargai manusia jantan, laki-laki sejati, sayang sekali lawan yang terpuji ini harus dihadapinya di medan laga, terdesak oleh keadaan, tiada pilihan lain, maka ia harus bertindak tanpa kenal kasihan.
Keadaan menuntut Siau Ma mengadu jiwa, kalau bukan aku yang mati kaulah yang mampus, bertarung sampai babak terakhir dan bertempur hingga ada pihak yang kalah dan menang.
Kali ini Siau Ma tidak sabar lagi, sebelum Wanyan Kang melabraknya, ia bertindak lebih dulu.
Tinjunya menjotos lurus ke depan, lurus seperti tombak menusuk, tinjunya bukan memukul tinju Wanyan Kang, tapi memukul hidungnya.
Padahal untuk memukul hidung orang yang berperawakan lebih tinggi dan dilindungi tinju raksasa itu, sungguh sukar dan berbahaya.
Tapi Siau Ma berani menyerempet bahaya, bukan karena Siau Ma sengaja mengincar hidung orang, tapi dia menghargai kesetiaan orang ini, loyalitasnya patut dihargai, maka Siau Ma tidak menghancurkan tinju orang, melainkan menghajar hidungnya.
"Duk" , darah muncrat dan meleleh di muka Wanyan Kang, hidungnya pecah dan ringsek, walau mata berkunang-kunang, lawan tidak terlihat, tapi dia menggerung kalap sambil menyerang serabutan, dia masih ingin mengadu jiwa. Siau Ma tidak memberi kesempatan pada lawannya, Siau Ma tidak ingin menghancurkan karir orang hanya karena dia mengabdi kepada kepentingan orang lain, berkorban secara sia-sia. Waktu Siau Ma melompat sambil berputar, tinjunya menghajar Thay-yang-hiat di pelipis Wanyan Kang dengan telak. Wanyan Kang ambruk seperti pohon tumbang, Wanyan Tiat masih berdiri diam, mengawasi saudaranya roboh tanpa dapat berbuat apa-apa, mukanya basah entah karena keringat atau air mata. Air mata kesedihan, air mata putus asa, karir mereka dapat dipertahankan kalau bekal masih utuh, kini kekalahan sudah nyata, daripada mendapat malu lebih baik mati. Wanyan Tiat sudah bertekad untuk mati, tapi Cu Ngo Thay-ya, sang majikan tidak sependapat, kalau sang raja tidak ingin mereka mati, maka mereka harus bertahan hidup, maka ia hanya berdiri terlongong tanpa bertindak lebih jauh. Meresapi kekalahan ini dengan rasa sedih dan pilu, dalam hati ia mengharap Siau Ma juga menghajar dirinya biar roboh semaput daripada menanggung malu. Pelan-pelan Siau Ma membalik tubuh ke arah orang yang bercokol di kursi di kejauhan itu. Dengan seksama ia mengawasi tanpa berkedip, kelihatannya orang itu tidak bergeming sedikit pun, namun dari kejauhan masih kelihatan angker dan agung. Bab 15 Mendadak Siau Ma berseru lantang.
"Kenapa kau bersikap begini?"
"Begini bagaimana?"
"Kau dapat mencegah mereka, mempertahankan mereka, tapi kau sengaja membiarkan mereka hancur, kau tahu mereka tak mampu mengalahkan aku."
Cu Ngo Thay-ya diam saja.
Setelah Wanyan bersaudara gagal memukul Siau Ma dan malah tinju mereka beradu sendiri, bahwasanya ia sudah tahu bahwa kakak beradik raksasa ini hakikatnya bukan tandingan Siau Ma.
"Betul tidak, kau sengaja ingin menghancurkan mereka?"
Dingin suara Cu Ngo Thay-ya.
"Mereka sudah tidak berguna, kenapa harus dipertahankan, biar hancur juga tidak jadi soal."
Gemas Siau Ma dibuatnya, ingin rasanya menerjang ke sana dan memukul ringsek hidungnya.
Tapi Siau Ma sadar, meski hati panas, kepala tetap dingin, aksinya hari ini menanggung beban beberapa jiwa orang, kalau hanya dia seorang diri, Siau Ma berani berbuat apa saja mesti harus mempertaruhkan jiwa raga, tapi saat ini ia tidak boleh bertindak gegabah.
Cu Ngo Thay-ya berkata.
"Tadi sebetulnya mereka mampu menghancurkan engkau."
Siau Ma tidak menyangkal.
"Perbedaan kalah menang hanya sekejap mata, terus terang tidak kuduga kau menggunakan cara yang berani dan jurus yang begitu berbahaya."
"Dalam keadaan kepepet demi mempertahankan hidup, seorang akan berusaha melakukan sesuatu yang berbahaya."
"Besar benar nyalimu."
"Sudah biasa, nyaliku memang tidak kecil."
Lama Cu Ngo Thay-ya berdiam diri, di tengah keheningan itu berkumandang suaranya yang bergema.
"Duduk!"
Maka Siau Ma duduk.
Waktu Siau Ma membalik dan duduk di kursinya, baru ia tahu Wanyan bersaudara entah sejak kapan sudah tidak kelihatan lagi, entah pergi kemana, noda darah yang berceceran di lantai juga sudah dibersihkan.
Anak buah Cu Ngo Thay-ya serba cekatan dan selalu beres melakukan tugas, mereka bekerja secara reflek, tanpa perintah tapi cepat.
Siau Ma menunggu cukup lama di tempat duduknya, terdengar Cu Ngo Thay-ya berkata lagi.
"Kusuruh kau duduk lagi bukan karena perbuatanmu yang dulu terpuji, tetapi untuk menghargai sepasang tinjumu."
"Aku maklum."
"Kau boleh duduk di sini, belum tentu kau dapat mempertahankan hidupmu."
"Agaknya kau masih segan menerima sepasang tinjuku?"
"Barusan sudah kusaksikan, sepasang tinjumu memang gaman yang ampuh dan berguna untuk membunuh orang."
"Terima kasih."
"Di medan laga, gaman untuk membunuh orang, jadi belum tentu gaman itu merupakan kawan setia,"
Suaranya kalem.
"air dapat membuat kapal terapung, tapi air juga bisa membuat kapal tenggelam. Kalau aku menyimpan gaman yang dapat membunuh orang, apalagi masih harus disangsikan apakah gaman itu setia dan tunduk padaku, apakah kehadirannya di sampingku tidak berbahaya?"
"Cekak-aos saja, apa kehendakmu? Cara bagaimana aku harus meyakinkan dirimu untuk percaya kepadaku?"
"Paling tidak aku perlu waktu untuk mempertimbangkannya."
"Sudah tak ada waktu lagi, tak usah kau pertimbangkan lagi."
"Kenapa tidak perlu pertimbangan?"
"Kau perlu waktu mempertimbangkan, sebaliknya waktuku amat mendesak, kalau kau tak mau membantu, biar aku keluar saja."
"Apa kau bisa keluar dari sini?"
"Akan kucoba."
Tiba-tiba Cu Ngo Thay-ya tertawa.
"Kenapa tergesa-gesa, apa kau tidak perlu menunggu temanmu? Nah, tengoklah dulu keadaan temanmu, belum terlambat kalau kau ingin pergi."
Kaku dingin sekujur badan Siau Ma, perasaan pun membeku. Kawan-kawannya ada di sini? Maka Siau Ma bertanya.
"Siapa yang harus kulihat?"
Tawar suara Cu Ngo Thay-ya.
"Kecuali dirimu, ada seorang lain juga ingin menemui aku dengan maksud yang sama seperti engkau, ingin memberi kado kepadaku?"
"Siapa dia? Kado apa yang ingin diberikan kepadamu?"
"Sebilah pedang."
"Siang Bu-gi maksudmu?"
Teriak Siau Ma.
"Betul."
"Dia juga ada di sini?"
"Kedatangannya lebih dini darimu, tapi aku menerimamu lebih dulu, aku tahu kau tidak pandai membual."
Siau Ma melenggong.
"Duduk,"
Kembali Cu Ngo Thay-ya menyuruhnya duduk.
Terpaksa Siau Ma duduk pula.
Kalau Siang Bu-gi juga di tempat ini, mana boleh ia pergi?
Mendadak Siau Ma sadar bahwa dirinya sudah tercengkeram di tangan orang, dalam posisi seperti dirinya, kecuali menyerah tiada jalan lain yang dapat ia pilih.
Ketika suara tabur berkumandang, pintu besar pelan-pelan terbuka.
Siang Bu-gi sudah berada di luar pintu, wajahnya berkeriput, kelihatan lebih tua sepuluh tahun.
Selama semalam ini entah apa yang dialaminya?
Kesulitan apa yang dihadapinya?
Betapa bahaya yang mengancam jiwanya?
Dalam keadaan bahaya di tempat ini, mendadak melihat Siang Bu-gi, kawan seperjuangannya, Siau Ma bagai melihat sanak kadang yang sudah lama tidak bertemu di rantau, entah bagaimana perasaan hatinya?
Siau Ma menatapnya, hampir saja tak kuasa menahan linangan air mata.
Sebaliknya Siang Bu-gi tetap bersikap dingin, tak acuh, menyapa dengan suara tawar.
"Kau pun di sini?"
"Ya, aku di sini,"
Hambar suara Siau Ma.
"Baik-baik saja kau?"
"Tetap segar."
Perlahan Siang Bu-gi beranjak masuk, setiba dalam pendopo ia mengancing rapat mulutnya, jangan kata bicara, melirik pun tidak kepada Siau Ma.
Terpaksa Siau Ma juga bungkam.
Dia tahu watak Siang Bugi, temannya ini mirip batu bara, kelihatannya dingin, hitam dan keras, tetapi menyala dan membara, maka dia akan menyala dan berkobar lebih besar dan panas dibanding kayu atau arang, lebih hebat lagi, suhu panasnya dapat bertahan cukup lama.
Di saat dia menyala, cahayanya mungkin tidak seterang obor, tapi secara nyata, suhu panasnya dapat membuat orang yang kedinginan merasa hangat.
Kini Siang Bu-gi juga ada di sini, entah bagaimana dengan yang lain?
Disekap dalam bahaya dan kedinginan atau dalam keadaan aman dan hangat?
Siang Bu-gi berdiri menghadap ke arah kerai mutiara, dalam jarak tertentu ia berhenti dan tidak maju lagi, biasanya Siang Bu-gi memang lebih tabah daripada orang lain.
Orang yang bercokol di balik kerai itu tidak kelihatan bergerak, tetap duduk di tempatnya, seumpama patung malaikat yang dipuja orang dan membiarkan orang-orang yang memujanya berubah sujud kepadanya.
Siang Bu-gi berdiri diam dan tenang, sabar menunggu orang bicara.
Betul juga, mendadak Cu Ngo Thay-ya bertanya.
"Kau dapat membunuh orang?"
"Bukan hanya membunuh, aku juga menguliti orang,"
Mantap suara Siang Bu-gi.
"Orang macam apa yang kau bunuh?"
Tanya Cu Ngo Thayya.
"Orang-orang yang tidak boleh dibunuh, aku bisa membunuhnya, termasuk anak buahmu yang pembunuh itu."
"Rasanya kau amat yakin pada kemampuanmu sendiri?"
"Ya, aku yakin dapat menunaikan tugas dengan baik."
"Sayang sekali, seorang yang mempunyai lidah tajam juga dapat membunuh orang."
"Tetapi aku juga punya pedang."
"Mana pedangmu?"
"Kusimpan di tempat yang tidak mudah dilihat orang, tapi bila tiba saatnya aku harus membunuh, maka pedangku akan menusuk tenggorokan orang itu."
Lama Cu Ngo Thay-ya menepekur, akhirnya ia berteriak dengan suara kaku dan kereng.
"Baiklah, duduk!"
Siau Ma duduk di kursi yang empuk.
Yang dimaksud dengan kursi empuk di sini bukan kursi biasa, tapi juga bukan kursi kebesaran, namun kursi empuk ini keadaannya tidak banyak beda dengan kursi kebesaran yang diduduki oleh raja, atau seorang pemimpin besar.
Kursi empuk umumnya besar dan lebar, di kanan kirinya ada gagang tangan, berukir dan antik serta nyaman, biasanya orang yang sudah duduk di kursi empuk ini akan merasa seperti duduk di tengah mega, tergantung di awang-awang.
Mega itu terbang, mega itu terapung di udara.
Tidak demikian dengan kursi yang ini, kursi jenis apapun di dunia ini tidak ada yang terapung di udara.
Tapi kursi yang satu ini ternyata sedang terbang di udara, melayang masuk seperti segumpal mega yang terapung, tiada orang melihat ada orang membawa, menggotong atau memikulnya, tapi kenyataan kursi ini bergerak maju dan terapung di udara.
Ternyata kursi ini bergerak karena diangkat seorang, bukan orang biasa, tapi seorang kate, laki-laki cebol, perawakannya amat kecil, mirip anak-anak, orang hanya melihat kursi besar empuk berlapis kulit harimau itu bergerak, tapi tak melihat orang yang mengangkatnya.
Yang mengangkat kursi ternyata dua orang, dua orang cebol, pinggang mereka tidak lebih besar dibanding kaki kursi empuk itu, perawakan mereka mirip anak-anak berusia tujuh tahun, karena wajah mereka sudah keriput, malah berjenggot.
Ada tiga jenis sabuk melingkar di pinggang kedua orang cebol ini, yang di atas sabuk warna kuning emas, yang di bawah sabuk perak, sabuk emas maupun sabuk perak mengkilap dan menyilaukan mata.
Setelah kursi besar itu diletakkan di lantai, orang baru melihat jelas bentuk badan kedua pemikul kursi itu.
Cu Ngo Thay-ya berkata.
"Pedang adalah gaman untuk melukai atau memhunuh orang."
"Betul,"
Sahut Siang Bu-gi.
"Lebih panjang lebih kuat, makin pendek makin berbahaya."
"Betul."
"Sebatang pedang, apakah dia menakutkan tergantung dari panjang pendek bentuknya!"
"Tidak salah."
"Demikian juga manusia pemakainya."
Kali ini Siang Bu-gi hanya mengiakan dalam mulut.
"Dua orang ini cebol, sejak usia 10, mereka sudah meyakinkan ilmu pedang, sekarang usia mereka sudah empat puluh satu tahun."
Tiga puluh tahun meyakinkan ilmu pedang, berarti tiga puluh tahun pula mereka mengasah pedang, maka dapat dibayangkan bahwa pedang mereka adalah gaman yang tajam, lalu bagaimana kepandaian ilmu pedang orang yang telah belajar selama tiga puluh tahun?
"Aku kenal mereka,"
Ucap Siang Bu-gi.
"O, kau tahu?"
"Yan Lam-thian adalah jago pedang nomor satu di seluruh jagat raya ini, perawakannya satu tombak tujuh dim, meski bertubuh besar dan kekar, namun kelincahan dan kehebatan permainan ilmu pedangnya tiada tandingan di kolong langit."
Setiap insan persilatan tidak ada yang tidak kenal siapa itu Yan Lam-thian, tiada kaum persilatan yang tidak menaruh hormat dan segan kepadanya.
Seorang tokoh silat kalau bertahun-tahun difokuskan, dijadikan bahan cerita, sebagai bahan bicara seperti dalam dongeng atau legenda, maka segi kebenaran dari cerita atau dongeng itu lama kelamaan menjadi kabur dan lepas dari kenyataan.
Demikian halnya dengan Yan Lam-thian, kenyataan dia tidak berperawakan setinggi satu tombak tujuh dim, tapi kebesaran jiwanya, kegagahan dan keperkasaannya, sepanjang sejarah persilatan tiada orang yang pernah menandinginya.
"Jago pedang yang paling kosen zaman ini, berjuluk Ki-bupa, tapi kiam-hoatnya ternyata bukan tandingan Pek Giokseng."
"Ya, memang benar, tiga belas kali dia dikalahkan oleh Tiang-seng-kiam."
"Tapi satu hal kau harus tahu. Jago pedang terkosen dan terbesar di zaman ini pasti bukan dia."
"Ya, aku tahu."
"Tapi di kalangan kangouw, orang cebol yang meyakinkan ilmu pedang pasti adalah Ling-liong-siang-kiam."
"Hm, agaknya tidak sedikit seluk-beluk dunia persilatan yang kau ketahui?"
"Kedua orang cebol ini adalah Ling-liong-siang-kiam, sedikitnya sudah seratus tujuh belas jago silat yang mati di bawah pedang mereka."
"Ya, kira-kira begitu."
"Sabuk mereka adalah pedang mereka. Ling-liong-siangkiam merupakan perpaduan pedang emas dan pedang perak, panjang pedang emas tiga kaki tujuh dim, panjang pedang perak empat kaki satu dim. Orang pendek pedang panjang, menyerang secara terapung di udara, jarang ada lawan yang selamat dari rangsekan bersama pedang mereka."
"Ya, memang jarang ada lawan yang selamat."
"Hanya ada satu cara untuk mengalahkan ilmu pedang mereka."
"Cara apa?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya. Siang Bu-gi menjelaskan.
"Diserang gencar sebelum mereka sempat mencabut pedang."
Seluruhnya Siang bu-gi mengucap delapan patah kata.
Kata pertama diucapkan, pedangnya terlolos, saat kata kedua terlontar dari mulutnya, pedang di tangannya sudah mengancam tenggorokan pedang emas.
Demikianlah bolakbalik pedangnya bergerak, secara beruntun mengancam tenggorokan kedua orang cebol itu hingga kata yang ketujuh, ketika kata terakhir lepas dari bibir Siang Bu-gi, pedangnya sudah kembali ke sarungnya.
Ling-liong-siang-kiam berdiri melenggong.
Pedang memang tidak sempat dicabut, umpama mereka nekat mencabut pedang, leher mereka tentu bolong dan jiwa pun melayang.
Padahal meski cebol, kedua orang ini bukan manusia sederhana, otaknya tidak tumpul, gerak-gerik mereka cekatan dan tangkas, Wanyan bersaudara merupakan contoh nyata bagi mereka, maka mereka pun pantang menjadi korban secara konyol, tidak mau mampus secara sia-sia dan penasaran.
Keringat dingin membuat badan mereka basah.
Sesaat lamanya, pendopo besar itu menjadi hening.
Bukti di depan mata, maka Cu Ngo Thay-ya berkata.
"Bagus, ilmu pedang luar biasa."
Siang Bu-gi tidak sungkan, namun ia diam saja menerima pujian, dia bukan orang yang pandai bertata-krama. Siau Ma juga tidak sungkan, maka ia buka suara.
"Tinjuku juga tidak lambat, tidak kalah dibanding ilmu pedangnya."
"Lalu tinjumu lebih cepat atau pedangnya lebih lihai?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya.
"Entah,"
Siau Ma geleng kepala.
"Kenapa kalian tidak mencobanya?"
"Ya, suatu ketika kelak kami ingin mencobanya, tapi bukan sekarang ...."
"Kenapa kalau sekarang?"
"Sekarang aku sedang berusaha, berjuang untuk melindungi teman-teman lewat gunung ini dengan aman dan sampai ke tujuan dengan selamat."
"Jadi kalau teman-temanmu lewat gunung dan sampai tujuan dengan selamat, pedang dan sepasang tinju kalian akan menjadi milikku?"
Siau Ma menoleh dan mengawasi Siang Bu-gi. Siang Bu-gi lantas menjawab.
"Ya, demikian."
Cu Ngo Thay-ya tertawa besar.
"Bagus, sahabat baik, tidak malu kalian menjadi sahabat baik."
Gelak tawanya berkumandang secara mendadak, tapi juga berhenti dan sirap secara mendadak.
Waktu gelak tawanya bergema dalam pendopo, kerai mutiara tampak bergoncang seperti dihembus angin deras hingga gemerisik ramai, setelah gelak tawa berhenti, suara gemerisik kerai mutiara itu masih terdengar.
Siau Ma menoleh pula ke arah Siang Bu-gi, kemudian mereka manggut bersama.
Mereka maklum Khi-kang raja Long-san sudah diyakinkan secara sempurna, mencapai taraf tertinggi dan mengejutkan.
Umpama tinju Siau Ma dan pedang Siang Bu-gi menyerang serempak juga belum tentu dapat menandingi kepandaian orang.
Mendadak Cu Ngo Thay-ya bertanya pula.
"Rombongan kalian berjumlah 9 orang, tiga di antaranya pergi ke danau Surya, kalian berdua di sini, lalu dimana empat teman kalian?"
"Di suatu tempat yang aman,"
Siang Bu-gi menjawab tegas.
"Apa betul tempat itu aman?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya. Terkancing mulut Siang Bu-gi, dia tidak yakin ada suatu tempat di gunung ini yang aman.
"Di seluruh wilayah Long-san, hanya ada satu tempat yang aman."
"Hotel Damai maksudmu?"
Tanya Siau Ma. Cu Ngo Thay-ya tertawa dingin.
"Kecuali hotel Damai, memangnya ada tempat lain yang aman di sini?"
Tanya Siau Ma.
"Ya, ada, di sini,"
Tegas suara Cu Ngo Thay-ya.
"Di seluruh kolong langit, tiada orang berani membuat onar atau perkara apapun di pendopo ini. Biar Ting Si atau Teng Ting-hou juga tidak berani kurangajar di tempat ini."
"Kecuali itu?"
Siau Ma menegas.
"Kecuali kedua tempat ini, dimana pun mereka berada, setiap saat jiwanya dapat terancam bahaya."
Rasa kuatir terbayang pada mimik muka Siau Ma.
Ia maklum Cu Ngo Thay-ya tidak main gertak, pengalaman juga sudah membuktikan warga gunung serigala yang serba liar ini memang ganas dan buas, maka Siau Ma berkata pada Siang Bu-gi.
"Apa betul mereka aman?"
"Ya, pasti."
Bukan Siang Bu-gi yang menjawab pertanyaan Siau Ma, tapi raja yang berkuasa di Long-san, Cu Ngo Thay-ya.
Membeku perasaan Siau Ma.
Ujung jari Siang Bu-gi juga kelihatan gemetar, telapak tangan dan kaki berkeringat dingin.
Biasanya tangannya itu memegang gagang pedang, mantap lagi tenang, meski sering kali berkeringat, namun tidak pernah goyah atau gemetar.
Gelagatnya ia tidak kuasa mengendalikan gejolak perasaan setelah mendengar pernyataan Cu Ngo Thay-ya, Siang Bu-gi juga maklum apa arti ucapan Cu Ngo Thay-ya.
Sudah tentu Siau Ma juga maklum.
Kalau hanya di hotel Damai dan di pendopo ini saja tempat yang paling aman di seluruh wilayah Long-san, apalagi sebagai orang yang berkuasa di sini, Cu Ngo Thay-ya sudah memberi pernyataan secara terbuka, maka itu berarti bahwa keselamatan Thiogongcu, Hiang-hiang, Lan Lan dan adiknya tidak perlu dikuatirkan lagi.
Padahal mereka jelas sudah meninggalkan hotel Damai, maka tempat satu-satunya yang aman dan dapat menyelamatkan jiwa mereka tentu di pendopo ini.
Jadi Lan Lan berempat kini juga sudah berada di tempat ini.
Agak lama kemudian Siau Ma menghembus napas lega.
"Bagaimana mereka bisa berada di sini?"
"Aku yang membawa mereka kemari."
Siang Bu-gi tidak buka suara, Cu Ngo Thay-ya juga tidak bicara, tapi daun pintu terbuka perlahan, seorang menyelinap masuk lalu melangkah dengan enteng, orang ini bukan lain adalah juragan Jik.
Terkepal kencang tinju Siau Ma.
"Agaknya kau memperoleh keuntungan besar dalam usahamu yang lihai ini."
Juragan Jik menyengir getir.
"Sebagai pedagang, aku selalu mencari dan mendapat obyek, tapi obyekku kali ini mengundang rugi yang tidak sedikit. Memang aku tidak perlu keluar modal, tapi tenaga yang harus kucurahkan tidak setimpal dengan hasil yang kudapatkan."
"Masa dagang yang merugikan juga mau kau lakukan?"
Jengek Siau Ma.
"Selama aku berdagang tidak pernah rugi, hanya sekali ini, yakin lain kali tidak akan terjadi lagi,"
Demikian oceh juragan Jik sambil menghela napas.
"Mereka adalah tamu-tamuku yang baik, betapapun tidak tega aku melihat mereka menjadi korban secara konyol dalam gua itu."
"Gua apa?"
Tanya Siau Ma.
"Yang mana lagi? Gua yang terletak di belakang Hwi-huncwan itu."
"Bagaimana kau tahu kalau mereka berada di sana?"
"Siang-siansing ini menganggap gua itu aman, terlindung dan juga tersembunyi, padahal dia orang luar, di luar tahunya orang-orang yang masuk ke gua itu justru akan mampus secara konyol dan tak bakal memperoleh liang kubur yang layak,"
Setelah menghela napas ia menambahkan.
"setiap warga Long-san tahu dan kenal tempat itu, mulut gua memang tersumbat atau tertutup oleh air terjun, Batu berlumut amat licin, orang tidak mudah menyerbu masuk ke sana, tapi gua itu buntu, tak mungkin orang lari lewat pintu belakang, kalau musuh berkepandaian tinggi dan berhasil menyerbu ke dalam, mana mungkin mereka menyelamatkan diri?"
Membesi hijau selebar wajah Siang Bu-gi. Siau Ma bertanya.
"Tempat itu tersembunyi, kau dapat menemukannya, hebat juga kau ini."
Siau Ma memuji Siang Bu-gi. Juragan Jik manggut-manggut.
"Warga gunung ini sukar menemukan tempat itu kalau tidak ditunjukkan orang yang tahu tempatnya. Apalagi orang luar, tapi temanmu ini dapat menemukan gua itu, dia memang patut dipuji."
"Lalu siapakah yang menunjukkan tempat itu?"
Tanya Siau Ma. Siang Bu-gi anggap tidak mendengar pertanyaan Siau Ma.
"Mungkin anjing pemburu,"
Ucap juragan Jik kalem.
"Anjing pemburu?"
"Pemburu biasanya melepas seekor anjing untuk memancing harimau ke tempat dimana perangkap sudah diatur, maka dengan mudah harimau itu tertangkap, di sini anjing itu dinamakan anjing pemburu."
"Tahukah kau siapa anjing pemburu itu?"
"Sudah tentu aku tahu."
"Siapa?"
Sengit suara Siau Ma.
"Aku,"
Sahut juragan Jik tertawa.
Di luar dugaan, tinju Siau Ma yang sudah terkepal kencang pelan-pelan diturunkan.
Tinju Siau Ma hanya untuk memukul orang, bukan untuk menghajar anjing.
Juragan Jik memang pantas menjadi anjing, kalau dinilai, dia malah lebih rendah dibanding anjing.
Dasar anjing, juragan Jik masih juga berani mengoceh.
"Aku pernah berjanji kepada nenek peyot itu untuk membalas budinya sekali saja, tapi aku juga pernah berjanji kepada Cu Ngo Thay-ya, selama aku hidup dan mencari nafkah di gunung serigala, mutlak aku tunduk dan patuh pada perintahnya, sekarang kedua-duanya sudah kulaksanakan dengan baik."
"O?"
Siau Ma bersuara pendek dalam mulut.
"Kalian sendiri minta kepadaku supaya kubawa kalian menemui Cu Ngo Thay-ya, sekarang aku sudah memenuhi harapan kalian, secara kebetulan Cu Ngo Thay-ya juga minta padaku supaya membawa kalian menemui beliau. Jadi secara tuntas sudah kubalas kebaikan nenek peyot itu kepadaku, dengan tanpa melanggar pantangan Cu Ngo Thay-ya,"
Setelah menghela napas lega, juragan Jik menyambung dengan tertawa.
"maklum, aku ini pedagang yang selalu mencari untung dan tidak mau rugi, untuk mencapai sukses supaya dagangan laris, kepada kedua pihak aku harus mencari muka, menanam kepercayaan, terhadap siapa pun aku tidak boleh berbuat salah."
"Kalau begitu kenapa kau membunuh Liu Kim-lian?"
Tanya Siau Ma.
"Bukan aku ingin membunuh dia,"
Sahut juragan Jik.
"Lalu siapa yang menyuruh kau membunuhnya?"
"Hanya Cu Ngo Thay-ya yang bisa memerintah aku membunuh orang di sini."
"Liu Kim-lian berbuat dosa terhadapnya?"
"Tadi sudah kujelaskan, aku orang dagang yang selalu mencari untung, urusan tetek-bengek aku tidak mau tahu."
"Membunuh orang juga termasuk dagang?"
"Ya, tapi bukan dagang biasa, membunuh orang adalah dagang luar biasa, bayarannya cukup tinggi."
Mendadak Siang Bu-gi menyeletuk.
"Dagang yang kau maksud juga sering kulakukan."
Juragan Jik tertawa.
"Ya, aku tahu, sebagai pembunuh bayaran kau sering membunuh orang."
"Ya, aku sering membunuh orang, tapi belum pernah membunuh anjing,"
Ujar Siang Bu-gi ketus. Mengejang raut muka juragan Jik, ia merasa adanya sindiran serius dari ucapan Siang Bu-gi, maka suaranya berubah sengau.
"Di daerah pegunungan ini belum pernah ada anjing, yang ada hanya serigala."
"Serigala memang banyak, tapi anjing hanya seekor,"
Suara Siang Bu-gi mendesis datar. Bab 16 Juragan Jik mundur beberapa langkah, katanya dengan menyengir lucu.
"Tadi kau bilang tidak pernah membunuh anjing, kuyakin kau tidak akan melanggar pantangan sendiri."
"Sebagai pembunuh, aku harus bekerja menurut gelagat, bila perlu dan terpaksa harus melanggar pantangan juga tidak menjadi soal."
Pucat muka juragan Jik, setelah menyurut mundur agak jauh, mendadak ia putar badan lalu menerjang keluar.
Tapi sebelum tangannya menarik daun pintu, pedang di tangan Siang Bu-gi sudah disambitkan, pedang lemas sepanjang empai kaki itu meluncur laksana lembing, juragan Jik baru menegakkan badan sambil menarik daun pintu, tahu-tahu pedang lemas itu menusuk punggung tembus ke dada dan "Trap" , suara ini tidak begitu keras, tapi nyata, tanpa menjerit tubuh juragan Jik terpantek di pintu.
Mungkin juragan ini mati penasaran, penasaran karena tidak pernah menyangka di tempat kekuasaan Cu Ngo Thay-ya ada orang luar berani membunuh orang, celakanya yang menjadi korban adalah dirinya.
Tanpa jeritan tiada keluhan, ujung pedang tajam lagi tipis itu menembus jantung, mengantar sukmanya ke alam baka.
Beberapa saat lamanya suasana amat hening dalam pendopo besar itu, agak lama kemudian baru berkumandang suara Cu Ngo Thay-ya.
"Besar sekali nyalimu."
Sebelum Siang Bu-gi menjawab, Siau Ma bersuara lebih dulu.
"Temanku ini memang bernyali besar."
"Berani kau membunuh orang di tempatku ini,"
Kereng suara Cu Ngo Thay-ya.
"Meski besar nyalinya, sebetulnya ia tidak ingin membunuh orang di sini, tapi dia juga tidak mau melanggar aturannya sendiri,"
Demikian Siau Ma menjelaskan.
"Aturannya sendiri? Aturan apa?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya.
"Dia pantang ditipu orang, orang yang menipunya tidak ada yang diberi ampun, tidak ada orang yang menipunya bertahan hidup setengah jam."
"Kau tahu aturanku di sini?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya.
"Coba jelaskan,"
Tanya Siau Ma.
"Hukuman mati bagi setiap pembunuh."
"Aturanmu memang bagus."
"Sebagai orang yang berkuasa dan disegani, aku tidak ingin ada orang melanggar aturanku."
"Sebetulnya aku tidak suka melanggar aturan."
"Bagus, sekarang kau mewakili aku membunuhnya."
"Boleh,"
Sahut Siau Ma sambil membalik badan pelan-pelan berhadapan dengan Siang Bu-gi.
"sejak lama aku sudah ingin mencobanya, apakah tinjuku lebih cepat atau pedangnya lebih lihai." * * * * * Waktu Siang Bu-gi mencabut pedang, darah menetes di ujung pedangnya. Tinju Siau Ma sudah terkepal siap beraksi. Wajah Siang Bu-gi membesi hijau, kaku dan dingin tidak menunjukan perasaan. Siau Ma berkata.
"Bersihkan dulu noda darah di pedangmu."
"Kenapa harus dibersihkan?"
Tanya Siang Bu-gi.
"Kalau tinjuku tidak mampu membunuhmu, aku tidak suka mati di ujung pedang yang berlumuran darah anjing."
"Alasan bagus,"
Ucap Siang Bu-gi sambil membalik badan, lalu ia membersihkan noda darah di ujung pedangnya dengan kulit harimau yang melapisi kursi empuk itu. Mendadak Siau Ma membalik ke arah kerai mutiara.
"Batalkan saja, mendadak aku sadar, hal ini tidak boleh kulakukan."
"Soal apa tidak boleh kau lakukan?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya.
"Aku tidak boleh membunuhnya,"
Sahut Siau Ma lantang.
"Kenapa?"
Desak Cu Ngo Thay-ya.
"Mendadak aku ingat sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Tadi kau bilang, aturanmu yang berlaku di sini adalah 'hukuman mati bagi pembunuh orang', betul tidak?"
"Ya, betul."
"Tapi temanku ini barusan tidak membunuh orang, dia membunuh seekor anjing."
Seseorang setelah menyatakan diri sendiri adalah seekor anjing, kenapa orang lain harus menganggapnya sebagai manusia? Siau Ma berkata lebih jauh.
"Kukira tidak pernah ada aturan 'hukuman mati bagi pembunuh anjing' yang berlaku di tempatmu ini, benar tidak?"
Dimana pun tidak pernah ada aturan atau larangan demikian.
Mendadak Cu Ngo Thay-ya bergelak tawa, begitu keras dan tinggi nada tawanya hingga kerai mutiara bergoncang seperti ditiup angin puyuh, suaranya yang gemericik berpadu dengan bunyi tambur yang bertalu-talu.
Maka terpentanglah pintu besar di belakang mereka.
Terbuka pelan-pelan.
Empat orang memikul dua tandu beranjak masuk, dua orang lagi berjalan di belakang tandu.
Dua orang yang berjalan di belakang bukan lain adalah Hiang-hiang dan Thiogongcu.
Sementara yang berada dalam tandu sudah pasti adalah Lan Lan dan adiknya yang sakit.
Cu Ngo Thay-ya berkata.
"Memang tidak malu kalian menjadi sahabat baik, peduli apapun yang terjadi, adalah pantas kalau aku mempertemukan kalian terakhir kali."
"Memangnya kenapa kalau kami sudah bertemu lagi?"
Demikian tanya Siau Ma dalam hati, pertanyaan tidak ia ajukan secara terbuka.
Soalnya ia merasa urusan yang dihadapinya cukup ruwet, faktor-faktor penentu amat banyak dan berbelitbelit, semua segi persoalan yang dihadapinya belum atau tidak terpikir olehnya sebelum mereka naik gunung, celakanya keadaan yang mereka hadapi selalu berubah setiap saat, semua perubahan yang terjadi juga di luar dugaan.
Sekarang mereka sudah ada di atas gunung, dengan tekad dan keberanian yang tidak dimiliki orang lain, seolah-olah mereka telanjur duduk di punggung harimau, naik turun serba salah.
Tapi satu hal sudah jelas, kehadirannya bersama temanteman yang lain atas dasar suka rela, oleh karena itu, dia dipaksa untuk tetap bercokol di punggung harimau, bertindak menurut perubahan yang akan terjadi, umpama akhirnya jiwa melayang dan badan dicaplok harimau juga menjadi suratan takdir.
Meski harus mati, tapi harus mati secara berharga, dengan gagah dan perkasa, mati pun takkan menyesal.
Demi teman dan untuk gadis yang dicintai, ia harus berusaha bertahan hidup, meski hanya sehari juga harus berjuang untuk keselamatannya.
Oleh karena itu, Siau Ma belum boleh mati, dia harus bertahan dan berjuang untuk membela dan melindungi mereka.
* * * * * Hiang-hiang berjalan dengan lambat, agaknya kesehatannya belum pulih benar, kondisinya masih lemah.
Thio-gongcu mendampinginya, selangkah pun tidak berpisah, sorot matanya tidak pernah berpisah dengan wajah jelita sang gadis yang dipujanya.
Tapi Hiang-hiang menunduk, melirik pun tidak, seakan-akan tiada orang di sampingnya.
Tapi Thio-gongcu tidak peduli, hidupnya hanya untuk Hianghiang, demi keselamatannya.
Banyak ragam perasaan, banyak macam cinta di dunia ini, semua sukar dijelaskan secara terperinci, demikian cinta yang merasuk hati Thio-gongcu, cintanya terhadap Hiang-hiang merupakan salah satu ragam dari sekian banyak jenis cinta yang suci dan murni.
Sejak lama Thio-gongcu menjadi gelandangan di Kangouw, hidup sebatangkara, merana dan terlunta-lunta, kini usia menanjak tua.
Thio-gongcu maklum dengan usianya yang sudah setengah baya, dirinya tidak cocok, tidak patut mempersunting gadis belia semuda Hiang-hiang.
Akan tetapi, meskipun jelek dia adalah manusia, laki-laki lumrah, setelah meresapi arti kehidupan selama setengah abad dalam lingkaran hampa, dia mendambakan hiburan ketenteraman hidup, kehangatan keluarga dengan semangat baru yang tidak bergantung oleh keadaan.
Memang cinta kasih Thio-gongcu terhadap Hiang-hiang tidak seratus persen merupakan cinta seorang laki-laki terhadap perempuan umumnya, juga bukan cinta monopoli, bukan hak milik pribadi, tapi lebih tepat kalau cinta Thiogongcu terhadap Hiang-hiang merupakan pujaan, sebagai pengorbanan.
Siau Ma paham dan menyelami perasaan hati temannya, di samping kagum, ia pun menghormati harga dirinya.
Karena Siau Ma tahu hal itu merupakan kenyataan, yang ditelurkan secara nyata dan gamblang, secara murni, maka ia patut dihargai, pantas dihormati.
* * * * * Empat orang pemikul tandu adalah laki-laki yang bertubuh kekar berotot, berbaju hitam bercelana putih, tampak kereng, gagah dan kuat, mereka bukan naik tandu semula yang dibawa Lan Lan dari bawah gunung.
Ketika tandu diturunkan, Hiang-hiang mempercepat langkah memburu ke depan tandu lalu menyingkap kerai.
Lan Lan segera beranjak turun sambil berpegang pada tangan Hiang-hiang.
Setelah mengalami perjalanan jauh beberapa hari yang melelahkan, mengalami banyak rintangan yang mengancam jiwa, nona jelita ini tidak kelihatan lesu atau lelah, wajahnya malah kelihatan cerah, cantik rupawan dan segar.
Waktu tandu diusung ke tempat ini, ia sudah berdandan dan bersolek dalam tandu, maka keadaannya tetap kelihatan semangat dan segar.
Gadis ini cukup cerdas, dalam menghadapi mara bahaya, senjata paling ampuh bagi seorang perempuan adalah wajah ayu dengan tubuh yang montok menggiurkan.
Selama mengenal Lan Lan, Siau Ma mengaguminya, tiada sesuatu pada gadis yang satu ini membuat hatinya kurang puas, semua serba baik dan sempurna, gadis ini memang pandai menempatkan dirinya dalam keadaan atau situasi yang paling buruk sekalipun.
Setelah turun dari tandu, hanya sekilas Lan Lan mengerling ke arah Siau Ma, lalu beranjak maju beberapa langkah menghadap kerai mutiara, dengan laku hormat dan gayanya yang lembut menarik ia membungkuk tubuh, serta bersuara dengan nada merdu mengasyikkan.
"Lan Lan menyampaikan sembah sujud kepada Cu Ngo Thay-ya,"
Suaranya lembut dan halus, gayanya juga mempesona.
Biar Cu Ngo Thay-ya sudah lanjut usia, betapapun beliau adalah laki-laki, Lan Lan percaya, asal dia laki-laki normal, peduli usia lanjut atau masih bocah, pasti tertarik pada dirinya.
Memang daya tarik inilah senjata ampuh yang dimilikinya untuk menghadapi Cu Ngo Thay-ya.
Cu Ngo Thay-ya tidak memberi reaksi.
"Aku hanya seorang perempuan lemah yang tak berguna, namun aku yakin suatu ketika akan datang saatnya dapat mendharma baktikan tenagaku untuk kepentingan kau orang tua, kapan saja cukup kau orang tua memberi perintah sepatah kata, pasti akan kulaksanakan,"
Tutur katanya tidak menyolok, namun mengandung daya tarik nan romantis, setiap laki-laki akan maklum kemana arah maksud perkataannya.
Lan Lan yakin Cu Ngo Thay-ya tidak akan menolak permintaannya, ia terlalu yakin, urusan apapun bila dirinya yang mengajukan tentu ada harapan dan bisa terkabul.
Sungguh tak pernah terpikir oleh Lan Lan, bahwa gaman terpercaya yang dimilikinya selama ini tidak manjur, karena tidak memperoleh reaksi yang diharapkan, Lan Lan bergerak maju ke depan.
Maka didengarnya Cu Ngo Thay-ya bersuara dengan nada dingin dan kaku.
"Berhenti!"
Terpaksa Lan Lan berhenti, namun ia belum putus asa, katanya pula lebih halus.
"Aku ingin melihat dan berhadapan langsung dengan kau orang tua, apakah sekedar permintaan ini pun tidak kau kabulkan?"
Kereng suara Cu Ngo Thay-ya.
"Kau lihat undakan batu di depanmu itu?"
Undakan batu yang dimaksud tak jauh berada di depan Lan Lan, sudah tentu dilihatnya dengan jelas.
Dua tombak jaraknya dari pintu besar, ada beberapa tingkat undakan batu yang mengkilap bersih seperti kaca.
Suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang keras.
"Siapa berani menginjak undakan batu kaca itu, meski hanya selangkah, tanpa pandang bulu, akan kupenggal kepalanya tanpa perkara."
Baris depan dari undakan batu itu jaraknya ada dua puluhan tombak dari kerai mutiara.
Kenapa Cu Ngo Thay-ya mempertahankan jarak sejauh itu untuk berbicara dengan orang?
Lan Lan tidak bertanya, tidak berani bertanya.
Gaman yang diandalkan sudah tidak berfungsi lagi, babak pertama adu keahlian sudah kalah total.
Setelah hening sesaat, suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang lagi.
"Apa benar saudaramu sakit?"
Sebelum bicara, Lan Lan menghela napas, suaranya pun rawan.
"Ya, sakit parah sekali, mohon sudilah kau orang tua ...."
Di saat Lan Lan bicara, diam-diam Thio-gongcu beranjak ke depan hampir mencapai undakan batu, tiada orang memperhatikan gerak-geriknya.
Lan Lan tidak sempat bicara habis, karena mendadak Cu Ngo Thay-ya menghardik dengan lantang.
"Berhenti!"
Begitu keras suaranya sampai menggoncang kerai mutiara, tidak terkecuali Siau Ma, Siang Bu-gi dan Lan Lan merasa pekak oleh hardikan keras itu.
Tapi Thio-gongcu seorang tuli, bukan saja tidak terpengaruh oleh bentakan keras itu, malah menerjang ke depan seraya membentak juga.
"Jangan kau menipu aku, kau ...."
Biasanya Thio-gongcu bergerak lamban, malas-malasan, padahal Ginkangnya amat tinggi, belum habis ia bicara, tubuhnya meluncur belasan tombak ke depan.
Pada saat yang sama, dari belakang kerai mutiara yang bergoncang itu menyelinap keluar bayangan seorang, gerakgerik bayangan ini mirip hantu, begitu berhadapan langsung menyergap dengan serangan keji lagi dahsyat.
Siau Ma dan Siang Bu-gi belum sempat memperhatikan bentuk maupun wajahnya, tubuh penyergap yang terapung di udara menggerakkan kaki menendang dada Thio-gongcu.
Padahal kungfu Thio-gongcu tidak lemah, selama ini ia cukup disegani di Kangouw, ternyata menghadapi sergapan yang tidak terduga ini, ia tidak mampu menyelamatkan diri, kenyataan tendangan penyergap memang hebat luar biasa.
Tubuh Thio-gongcu mencelat jungkir balik, waktu tubuhnya terbanting di undakan batu, terus berguling-guling ke bawah lalu berhenti di depan Siau Ma dan Siang Bu-gi.
Hiang-hiang menjerit kuatir, langsung ia menubruk maju serta memeluknya, suaranya memekik setengah kalap.
"Kenapa kau berbuat begini?"
Thio-gongcu mengertak gigi menahan sakit, tulang dadanya tertendang remuk, isi perutnya hancur luluh, dipeluk Hiang-hiang rasa sakit yang terbayang di wajahnya seketika sirna, berubah menjadi perasaan lega dan damai, ingin berbicara, tapi begitu mulutnya terbuka, darah segar menyembur mengotori muka dan pakaian di dada Hianghiang.
Hiang-hiang menyeka noda darah di mukanya dengan lengan baju, sambil menyeka, tak tertahan air mata bercucuran, air matanya membasahi muka Thio-gongcu yang baru saja ia bersihkan.
Napas Thio-gongcu tersengal-sengal, dengan hambar ia mengawasinya, batuk membuat dadanya sakit sekali, namun ia memaksakan diri tersenyum, beberapa kali ia meronta untuk berbicara, namun gagal, pelukan Hiang-hiang yang kencang menenteramkan gejolak hatinya, setelah napasnya agak teratur baru ia dapat bersuara gagap.
"Sungguh tak nyana ... menjelang ada orang yang mau mencucurkan air mata untukku ...."
Siau Ma juga berjongkok di sampingnya, dengan lirih ia bertanya.
"Kenapa kau berbuat senekad ini?"
Napas Thio-gongcu mendadak berpacu seperti kereta uap yang kehabisan air, pertanyaan Siau Ma membuatnya emosi, perasaannya bergolak, namun ia hanya sempat mengucap sepatah kata.
"Karena ...."
Lalu napas putus, jiwa pun melayang.
Hiang-hiang menjerit sesambatan, isak tangisnya amat memilukan.
Hiang-hiang maklum, betapa besar cinta Thiogongcu terhadap dirinya, namun sebagai gadis remaja yang masih punya masa depan, Hiang-hiang tak berani memberi harapan secara nyata, maklum Thio-gongcu tidak lebih hanya seorang tua yang hidup sebatang kara, betapapun umur mereka berbeda cukup banyak, Hiang-hiang patut menjadi anaknya, Thio-gongcu hanya seorang tua tukang sepatu yang hidup serba kekurangan.
Kini baru Hiang-hiang sadar, untuk menerima cinta seseorang tidak tergantung pada kedudukan atau usia, tapi harus dinilai apakah cintanya suci dan murni.
Sayang sekali Hiang-hiang sadar setelah terlambat, sadar setelah Thiogongcu menemui ajal dalam pelukannya.
Siau Ma tidak menangis, Siang Bu-gi hanya menggreget saja.
Dengan seksama mereka mengawasi seorang yang berdiri di luar kerai mutiara, orang yang barusan menyergap Thio-gongcu dengan tendangan mautnya.
Ternyata orang ini berperawakan cebol, meski bertubuh pendek dan kecil, tapi perawakannya cukup kekar, tegap lagi berotot, walau panjang kakinya tidak ada dua kaki, tapi besar dan kasar seperti dahan pohon.
Mendadak Siang Bu-gi mengejek dingin.
"Hwi-hun-ga (tendangan mega terbang) yang lihai."
Orang cebol itu menyeringai, mulutnya terbuka lebar tapi suara tidak keluar dari mulutnya. Suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang dari belakang kerai.
"Orang ini tidak bisa bicara, dia seorang gagu."
Siang Bu-gi berkata.
"Di kalangan Kangouw konon ada dua orang gagu yang lihai kepandaiannya, julukannya adalah Saypak-siang-gah."
"Betul,"
Seru Cu Ngo Thay-ya.
"Orang ini adalah Bu-ci-thong-cu murid Thian-jan-te-coat dari Sing-siok-hay barat?"
"Luas juga pengalamanmu, patut dipuji."
"Thio-gongcu mampus di bawah kaki seorang ternama, kuharap dia tidak mati penasaran."
"Kan sudah kuperingatkan, siapa berani menginjak undakan batu kaca itu, hukumannya adalah mati."
"Kuingat tadi kau juga bilang sepatah kata."
"Aku bilang apa?"
"Hukuman mati bagi pembunuh yang membunuh orang di sini."
"Hehe, agaknya kau ingin menuntut balas karena kematian temanmu?"
"Kan lumrah aku menuntut balas."
"Banyak kesempatan untuk menuntut balas, namun kalau kau berani menginjak undak-undakan batu di depanmu itu, aku dapat membuatmu mampus seketika dengan sekujur badan ditembus panah."
Peringatan Cu Ngo Thay-ya disertai munculnya dua baris jendela kecil yang memanjang di atas dinding kanan kiri kerai mutiara, ujung anak panah yang mengkilap tak terhitung jumlahnya terbidik ke arah Siang Bu-gi.
Kaku mengejang sekujur badan Siang Bu-gi.
Pendopo besar yang kelihatan kosong melompong, ternyata menyembunyikan berbagai macam perangkap dengan alatalat pembunuh yang kejam.
Lan Lan menghela napas, katanya lembut.
"Thio-siansing terbunuh oleh seorang ternama, mati dengan tenteram dalam pelukan gadis yang dipujanya, kukira dia sudah memperoleh apa yang didambakan selama ini, mati pun takkan penasaran."
Mendadak Siau Ma bergelak tertawa.
"Tepat sekali, aku pun berpendapat demikian."
Nada tawa Siau Ma dapat membuat orang yang mendengar mengkritik merinding, nada tawanya lebih jelek dari isak tangis orang yang ditimpa musibah. Lan Lan berkata pula.
"Orang mati takkan hidup kembali, bukankah setiap manusia di dunia ini akhirnya akan meninggal?"
Mendadak Siau Ma menghentikan gelak tawanya, raungan gusar terlontar dari mulutnya.
"Kalau demikian, kenapa tidak adikmu saja yang mampus?"
"Karena dia adalah adikku,"
Sahut Lan Lan, suaranya tenang, sedikitpun tidak gugup.
"Justru aku mempercayaimu, maka aku serahkan nasib kami kepadamu, aku yakin kau dapat melindungi kami lewat gunung dan selamat sampai tujuan."
Akhirnya Siau Ma bungkam.
"Adikku adalah anak yang harus dikasihi, sejak kecil dihinggapi penyakit yang tak bisa diobati, sampai usianya sekarang, belum pernah merasakan hidup senang, tenteram dan bahagia, kalau dia harus mati, apalagi mati dirantau dengan cara yang tidak layak, sebagai tacinya yang mengasuh sejak kecil, bagaimana hatiku bisa tenteram, bagaimana aku tega membiarkan dia menderita lagi?"
Sampai di sini suaranya mulai terisak, bola matanya yang selalu mengerling tajam mulai berkaca-kaca. Dengan laku hormat Lan Lan menjura ke arah kerai mutiara, suaranya agak sendu.
"Kalau kau orang tua juga ingin menuntut jiwa adikku, semudah kau menginjak mati seekor semut, maka aku mohon sudilah kiranya membebaskan kami turun gunung, supaya jiwa adikku lekas tertolong."
Dingin suara Cu Ngo Thay-ya.
"Sebetulnya aku boleh melepas dia pergi, namun satu hal kau lupakan, adikmu bukan semut, semut tidak akan duduk dalam tandu!"
"Adikku memang harus sembunyi dalam tandu, penyakitnya tidak boleh kena angin, tidak boleh kena sinar matahari, terpaksa ia tidak bisa keluar menyampaikan sembah sujud kepadamu, jadi bukan karena alasan lain ia berani kurangajar terhadap kau orang tua."
"Hanya karena alasan itu dia tidak mau keluar?"
"Tapi dia memang tidak boleh kena angin, batuknya akan lebih parah."
"Apa dalam pendopo ini ada angin?"
"Rasanya tidak ada."
"Kenapa adikmu tidak keluar?"
"Karena ... di luar hawa lebih dingin."
Cu Ngo Thay-ya bergelak tawa.
"Benar, alasan bagus."
Mendadak gelak tawanya putus, suaranya berubah bengis.
"Siaaap! Seret bocah itu keluar dari tandu, buktikan apakah dia mampus kalau kena angin."
Belum lenyap suara Cu Ngo Thay-ya, ada empat daun pintu menjeplak terbuka di dinding kanan kiri pendopo, dari empat pintu yang terbuka itu melompat keluar empat orang.
Empat orang ini adalah Ling-liong-siang-kiam, Pok can dan orang tua penyapu kembang.
Bu-ci-thong-cu yang berdiri di depan kerai mutiara mendahului melompat ke udara, tubuhnya menerjang lebih dulu.
Siang Bu-gi sudah siap siaga dan menunggu serbuan musuh, begitu Bu-ci-thong-cu melayang lewat undakan batu kaca, langsung ia memapak ke depan dengan sabetan pedang lemasnya, dimana sinar perak berkelebat, leher orang diincarnya.
Gerak pedang di tangannya aneh lagi menakjubkan, permainannya menyimpang dari ilmu pedang umumnya, tidak saja cepat tapi ganas.
Ternyata murid Siang-siok-hay juga memiliki kungfu luar biasa, kungfu Siang-siok-pay berbeda dengan ilmu silat yang berkembang di Tionggoan, di tengah udara Bu-ci-thong-cu mampu menggeliatkan pinggang sehingga tubuhnya mengendap turun lalu menyelinap pergi.
Keruan tusukan pedang Siang Bu-gi luput, sementara tendangan mega terbang Bu-thong-cu mengancam dadanya.
Dalam sekejap dua orang saling serang belasan jurus, jurus demi jurus lebih lihai dan mematikan.
Dalam hati kedua lawan ini sama maklum, setelah mereka terlibat dalam pertarungan sengit, sebelum salah satu gugur, pertempuran ini tidak akan berakhir begitu saja.
Siau Ma menyongsong orang tua penyapu kembang.
Begitu berhadapan, orang tua itu berkata.
"Kau memang laki-laki jantan, aku tidak ingin membunuhmu."
"Terima kasih."
"Sebetulnya aku tidak tega membunuhmu."
"Ah, kenapa sungkan."
"Lho, kenapa kau bilang begitu?"
"Setiap pagi kerjamu menyapu kembang, lalu apa kerjamu di waktu malam?"
"Coba kau terka, apa kerjaku kalau malam?"
"Kerjamu membunuh orang,"
Tawar suara Siau Ma.
"mungkin kau tidak turun tangan, tapi kau senang melihat orang lain saling bunuh."
Waktu serigala malam meluruk datang, rombongan mereka terkepung rapat, seorang timpang berdiri di atas batu cadas, berpeluk tangan menyaksikan pertarungan adu jiwa itu. Siau Ma berkata.
"Pagi hari kau menyapu kembang, kalau malam membantai orang, hidup cara begitu apa tak terlalu repot? Apa kau tidak pernah merasa lelah?"
"Tidak, sudah terbiasa. Sebaliknya apa kerjamu selama ini?"
Tanya orang tua penyapu kembang.
"Aku suka menghajar hidung orang, sekali pukul tidak kena, kupukul lagi sampai lawan roboh terkapar, umpama harus memukul tiga ribu enam ratus kali juga akan kulakukan, aku tidak pernah lelah kalau menghajar hidung orang."
Belum habis mulutnya bicara, kedua tinjunya sudah memukul delapan kali.
Setelah delapan kali tinjunya memukul, baru Siau Ma menyadari kepandaian kakek tua ini memang amat hebat, gerakannya selincah tupai, selicin belut, untuk memukul ringsek hidungnya jelas bukan pekerjaan yang mudah.
Tapi Siau Ma tidak mudah putus asa, tidak pernah merasa lelah, sebelum tugas dan maksudnya tercapai, dia jarang berhenti di tengah jalan.
Memukul hidung orang adalah salah satu hobinya selama ini, namun dalam situasi dan kondisi seperti ini, ia tahu dirinya tidak boleh terlalu mengumbar nafsu, lawan tangguh, padahal dia harus memperhatikan juga keselamatan Lan Lan dan adiknya, melindungi mereka menjadi kewajibannya.
Meski Siau Ma lebih banyak menyerang si kakek, tapi untuk melepaskan diri bukan soal gampang, padahal ujung matanya menangkap gerakan Ling-liong-siang-kiam yang mendekati tandu.
Serigala tua Pok Can menonton saja sambil berpeluk tangan, meski gelisah, Siau Ma tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi dua baris panah siap membidik mereka.
Meski posisi agak terjepit, Siau Ma yang tidak takut mati, tidak gentar atau gugup, Siau Ma tahu musuh yang benarbenar harus ditakuti bukan kakek tua yang dihadapinya ini, juga Pok Can atau Ling-liong-siang-kiam, barisan panah itu pun tidak akan membuatnya jeri.
Musuh yang menakutkan hanya seorang, yaitu Cu Ngo Thay-ya yang belum pernah menampakkan hidungnya.
Orang di belakang layar ini amat berkuasa, setiap patah katanya adalah perintah, perkataannya adalah kekuasaan, selama hidup dan mengembara di Kangouw, Siau Ma mengakui hanya Cu Ngo Thay-ya saja seorang yang memiliki Lwekang sehebat itu, getaran suaranya saja mampu membuat kerai mutiara bergoncang seperti tertimpa gempa.
Khikang orang ini amat menakutkan, hal ini terbukti dari gemericiknya kerai mutiara dengan gema suaranya yang memekak telinga, juga ketenangan dan keculasan orang ini perlu dipikirkan.
"Kalian adalah sahabat baik, apapun yang akan terjadi, ingin kupertemukan kalian untuk yang terakhir kali."
Sekarang Siau Ma paham apa makna perkataannya itu.
Memangnya kenapa setelah mereka bertemu terakhir kali?
MATI!
Mati banyak caranya, tapi yang dipilih adalah cara yang paling menakutkan, paling kejam dan mengerikan.
Sejak biji catur mulai melangkah, hakikatnya orang ini tidak pernah mau menerima tinju Siau Ma, juga tidak ingin memiliki pedang Siang Bu-gi.
Sejak persoalan ini berkembang, Cu Ngo Thay-ya sudah memperhitungkan takkan memberi peluang, tak akan membiarkan orang-orang ini lolos, pergi dengan hidup.
Kalau orang sudah mampus mana bisa pergi.
* * * * * Adik Lan Lan yang sakit masih berada dalam tandu, Lan Lan berjaga di pinggir tandu, selangkah pun tidak pernah meninggalkannya.
Dengan nanar ia mengawasi Ling-liongsiang-kiam menghampiri tandu di sampingnya.
Siau Ma sedang bergelut dengan kepalannya, Siang Bu-gi juga sedang mengadu jiwa dengan pedangnya, dua orang ini sedang berduel mempertahankan hidup mereka, membela kakak dan adik.
Tapi Lan Lan seperti tidak peduli, apakah nasib mereka jelek atau baik, seolah-olah tidak melihat keadaan mereka.
Dalam situasi setegang ini, Lan Lan masih tersenyum menggiurkan, suaranya juga merdu merayu.
"Adik-adik cilik, berapa usia kalian tahun ini?"
Lan Lan tahu Ling-liong-siangkiam tidak akan menjawab pertanyaannya, orang cebol umumnya tidak senang ada orang bertanya berapa usia mereka, sudah tentu mereka juga tidak akan menjelaskan.
Titik berat pertanyaan Lan Lan memang bukan pada tempatnya.
Maka sebelum memperoleh jawaban, ia bertanya pula.
"Pernahkah kalian melihat perempuan cantik? Apalagi gadis montok yang bugil?"
Dalam usia setua mereka, mesti cebol, ia yakin Ling-liongsiang-kiam pernah main perempuan, adalah logis kalau mereka pernah melihat perempuan bugil, namun hanya perempuan berparas lumayan saja yang mau melayani mereka, kapan mereka pernah berhadapan dengan gadis secantik Lan Lan, sebagai laki-laki normal, siapa pun dia kalau tiba-tiba berhadapan dengan perempuan cantik telanjang di hadapannya, pasti laki-laki itu akan berdiri melongo, napas memburu dan lutut goyah.
"Hiang-hiang,"
Seru Lan Lan dengan kalem. Hiang-hiang masih terisak memeluk jenazah Thio-gongcu, namun ia mengiakan. Bab 17 Lan Lan bertanya.
"Coba katakan, apa kau ini gadis jelek?"
Hiang-hiang geleng kepala.
"Kalau kau anggap dirimu cantik dan elok, kenapa tidak kau perlihatkan kecantikanmu di hadapan mereka?"
Air mata masih membasahi pipi, pelan Hiang-hiang membaringkan jenazah Thio-gongcu di lantai, lalu berdiri dan maju beberapa langkah ke depan, dengan gaya yang mempesona, pelan-pelan ia mencopot pakaian satu per satu hingga tubuhnya telanjang tanpa selembar benang melekat di tubuhnya.
Dalam keadaan telanjang, sebagai gadis terhormat, bugil di depan umum, sudah tentu gerak-geriknya tidak enak dipandang mata.
Tapi postur tubuhnya memang indah, montok semampai dan menggiurkan, payudaranya tumbuh tegak, montok lagi padat dan kenyal, pinggang yang ramping, pinggul nan bulat besar, pahanya yang jenjang mulus, tidak setiap laki-laki bisa menyaksikan tubuh semulus dan seelok ini.
Lan Lan juga perempuan cantik, namun ia pun kesemsem melihat kemontokan Hiang-hiang, katanya kemudian.
"Bagaimana, cantik tidak dia?"
"Cantik sekali,"
Ling-liong-siang-kiam menjawab bersama.
"Coba kalian perhatikan lebih seksama."
"Kami puas melihat tubuhnya, tapi kami juga ingin melihat tubuhmu,"
Ucap Ling-liong-siang-kiam bersaudara dengan tersenyum nakal. Lan Lan pun tertawa manis.
"Usiaku sudah tua, seperti nenek-nenek, tubuhku tidak bagus untuk dipamerkan, tapi kalau kalian ingin menyaksikan, ya, aku ...."
Kepalanya menunduk, jari-jarinya mulai membuka kancing.
Dalam kancing bajunya ini tersimpan senjata rahasia yang lihai lagi ganas.
Namun sebelum senjata rahasia dalam kancing menyerang musuh, pedang Ling-liong-siang-kiam bergerak lebih dulu.
Bahwasanya kedua bersaudara cebol ini tidak lagi memperhatikan tangan Lan Lan yang membuka kancing, karena sedikit curiga, jago silat yang banyak pengalaman ini segera bersiaga.
Lan Lan menghela napas.
"Agaknya aku keliru menilai kalian, dari yang cebol sampai yang gede, dari tua sampai muda, laki-laki yang ada di pendopo ini semua bukan pejantan, agaknya kalian sudah dikebiri oleh tua bangka laknat itu."
Karena sudah telanjur, terpaksa Lan Lan tetap menyerang dengan senjata rahasia yang tersembunyi dalam kancing bajunya.
Namun dengan mudah senjata rahasianya disampuk jatuh oleh pedang Ling-liong-siang-kiam.
Ling-liong-siang-kiam adalah saudara kembar, lahir dan batin bersatu padu, katakanlah dwi-tunggal, maka permainan Kim-gin-siang-kiam (sepasang pedang emas dan perak) saudara kembar ini amat rapat, ketat dan lihai.
Dalam menghadapi keadaan yang kritis ini, Lan Lan dipaksa menampakkan diri sebagai jago kungfu yang tidak lemah kepandaiannya, gadis ini memang pandai silat, namun menghadapi rangsekan sepasang pedang emas dan perak saudara kembar cebol ini, ia terdesak di bawah angin.
Hanya beberapa gebrak saja, sanggul kepalanya tersampuk lepas, pedang emas menyilaukan seperti membelit tubuhnya, sementara cahaya pedang perak beberapa kali hampir menusuk bolong lehernya.
Namun Lan Lan terus bertahan dan melawan sekuat tenaga meski napasnya sudah mulai ngos-ngosan.
Karena kewalahan dan terdesak, terpaksa ia berteriak minta tolong.
"Siau Ma, lekas bantu aku."
Siau Ma ingin menolongnya, dalam beberapa gebrak tinjunya sudah berulang kali mematahkan serangan kakek penyapu kembang yang timpang, tapi pipa cangklong Pok Can selalu mengacau dari pinggir, beberapa kali gaman orang mengetuk mukanya.
Pipa cangklong ini berat lagi besar, tembakaunya juga menyala dan panas, sebelum berhasil merobohkan lawan, terpaksa Siau Ma harus menyelamatkan diri.
Padahal Lan Lan sudah terdesak di bawah angin, jiwanya terancam, namun karena dirinya juga terlibat dalam keroyokan dua lawan tangguh, jangan kata menolong Lan Lan, untuk mempertahankan diri sendiri saja sukar, mana mungkin membantu si nona.
Lan Lan berteriak pula dengan suara gemetar.
"Apa kalian tega membunuh aku?"
Agaknya Ling-liong-siang-kiam sudah tergembleng sebagai algojo yang tidak kenal kasihan terhadap korban yang harus dibunuhnya, meski sang korban adalah seorang gadis jelita yang molek.
Cahaya pedang emas berputar kencang serapat jala, jalan mundur Lan Lan tercegat dan buntu, sementara cahaya pedang perak menusuk turun naik dengan gerakan lurus seperti ular mematuk, gelagatnya dada Lan Lan yang montok kenyal itu bakal tertusuk bolong oleh pedangnya.
Untunglah pada saat kritis itu, mendadak suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang.
"Pertahankan jiwanya."
Begitu suara majikan berkumandang, pedang perak pun berhenti, bukan mengancam dada tapi menungging ke atas mengancam tengah alis Lan Lan. Suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang lagi.
"Yang kuinginkan adalah orang dalam tandu itu."
Ling-liong-siang-kiam bertanya berbareng.
"Ingin mati atau yang masih hidup?"
Hanya sepatah kata jawaban Cu Ngo Thay-ya.
"Bunuh!" * * * * * Sesuai namanya gunung serigala, maka warga atau penduduk yang bertempat tinggal di Long-san adalah manusia-manusia liar dan buas, jiwa sesama manusia mereka anggap sebagai rumput liar yang tumbuh dimana-mana, apalagi Cu Ngo Thay-ya sudah bilang "bunuh" , maka jiwa orang itu tidak ada ampun lagi. Demikian halnya nasib yang menimpa Lan Lan dan adiknya. Dalam keadaan awak sendiri terdesak, Siau Ma hanya dapat menonton meski harus mempertahankan diri dari rangsekan kakek penyapu kembang yang dibantu Pok Can. Padahal ia sudah berjanji dan bertanggung jawab untuk mengawal, melindungi Lan Lan dan adiknya melewati Longsan. Untuk keselamatan gadis ayu dan adiknya ini, Siau Ma sudah banyak mengucurkan keringat dan mengalirkan darah. Namun betapapun perkasa dirinya, tidak lebih hanya sebagai manusia biasa, bukan manusia super, bukan malaikat apalagi dewa. Sebagai manusia biasa, betapapun tenaganya terbatas, dalam tata kehidupan manusia di dunia ini, sering kali menghadapi masalah pelik dan kejadian yang apa boleh buat. Kalau orang menghadapi persoalan seperti ini, mengucurkan keringat tidak berguna, mengalirkan air mata tidak berfaedah, apalagi menumpahkan darah, jelas juga tidak bermanfaat. * * * * * Perintah Cu Ngo Thay-ya disambut keempat pemikul tandu yang kekar besar itu dengan mencabut senjata masingmasing. Di tengah gerungan murka keempat orang gede ini, empat batang golok dan dua pedang serempak menusuk dan membacok tandu, tusukan dilakukan dari empat sudut yang berlawanan, bacokan dilakukan dari dua arah sisi kanan dan kiri. Ke arah mana pun si pasien dalam tandu menyingkir, disergap serangan serempak serapat itu, jelas sukar menyelamatkan diri, umpama pasien itu segagah naga dan segarang harimau juga takkan mungkin menghindari enam batang senjata tajam yang menyerang sekaligus. Apalagi pasien dalam tandu mengidap sakit yang parah, keadaannya payah, mengangkat tangan sendiri saja tidak mampu lagi, mana mungkin menyelamatkan dirinya. Lan Lan yang terdesak mundur menjadi lunglai, dengan dua tangannya ia mendekap muka, tidak tega melihat nasib adiknya yang sekarat dalam tandu dihujani serangan segencar itu, umpama tidak mati seketika, keadaannya tentu amat mengenaskan dengan tubuh yang tidak utuh lagi. Biasanya perempuan mendekap muka karena tidak tega menyaksikan sesuatu peristiwa yang mengerikan atau menakutkan, lucu cara Lan Lan mendekap muka, jari-jari tangannya ternyata tidak rapat, dari sela-sela jari yang renggang, diam-diam matanya mengintip keluar. Hatinya menduga setelah dihujani serangan golok dan pedang, darah tentu muncrat dan mengalir keluar dari tandu, namun kenyataan tidak demikian, setelah golok dan pedang membuat tandu itu berantakan, keadaan ternyata tetap sunyi, tiada jeritan juga tidak tampak adanya darah yang meleleh keluar. Keruan para penyergap yang bersenjata golok dan pedang itu tercengang, berubah air muka mereka, kaki tangan menjadi kaku. Sekejap kemudian, terdengar suara 'pletak pletok' dari dalam tandu, lalu enam orang yang menyergap dengan serangan ganas itu menyurut mundur seraya menarik senjata masing-masing. Empat golok besar lagi tebal itu terbuat dari baja murni dan terasah tajam dan runcing, namun ujung golok mereka kini sudah buntung menjadi tumpul, sudah patah bagian ujungnya. Demikian pula sepasang pedang Ling-liok-siangkiam juga buntung. Maka berkumandanglah tawa dingin Cu Ngo Thay-ya.
"Hm, tidak luput dugaanku, kau pura-pura sakit, padahal memiliki kungfu yang hebat dan tinggi."
Lalu suaranya menjadi kereng dan keras.
"Panah!"
Begitu suara menjepret terdengar, anak panah pun berhamburan selebat hujan deras, seluruhnya memberondong ke arah tandu.
Keadaan amat gawat, namun dari dalam tandu tetap tidak kelihatan reaksi apa-apa, secara nyata, anak panah yang menancap di tandu mendadak mencelat jatuh berhamburan, panah itu ternyata patah, ujung anak panah yang terbuat dari baja ternyata sudah putus seluruhnya.
Entah dimana anak panah yang terbuat dari baja campur tembaga itu?
Sekonyong-konyong ramailah suara "Ser, ser" , yang melengking memecah udara keluar dari tandu, lalu tampak puluhan larik sinar dingin meluncur dengan kecepatan kilat melaju ke arah deretan jendela kecil di atas dinding di kanan kiri kerai mutiara itu.
Lalu terdengarlah jeritan mengerikan dari balik dinding, darah muncrat dan bola mata pun terpanah buta.
Mereka yang hadir dalam pendopo menyaksikan secara nyata seluruh kejadian dari awal hingga akhir.
Terutama Siau Ma menyaksikan dari jarak yang paling dekat, sesaat dia berdiri melenggong, sukar ia menjelaskan bagaimana perasaan hatinya saat itu.
Baru sekarang Siau Ma sadar, dengan mencucurkan keringat dan mengalirkan darah, ia bersama kawan-kawannya melindungi seorang yang dikatakan sakit keras, demi menunaikan tugas, adu jiwa pun sudah dilakoni, ternyata si pasien yang dilindunginya seorang kosen yang memiliki kemampuan luar biasa, kenyataan sudah membuktikan, bocah yang dikatakan sedang sakit ternyata memiliki ilmu silat yang tiada taranya.
* * * * * Siau Ma menjadi tidak mengerti, orang memiliki kungfu setinggi ini, kenapa pura-pura sakit keras dan terima mendekam dalam tandu tanpa kena angin?
Dengan Lan Lan yang ayu jelita sebagai umpan, Siau Ma dipancing menjadi pengawal dan melindunginya naik ke Long-san dengan alasan mencari obat di negeri barat, ada rencana apa di balik semua kejadian ini?
Lamunan Siau Ma mendadak terjaga oleh bentakan Cu Ngo Thay-ya yang keras menggelegar.
"Berhenti!"
Pertarungan sengit yang tengah berlangsung pun berhenti.
Setelah melihat kenyataan dan sadar apa yang telah terjadi, dirinya ditipu dan dijadikan alat belaka, sudah tentu Siau Ma tidak mau menjual jiwa dan berkorban percuma.
Beberapa hari ini, dirinya mirip seekor keledai yang ditutup matanya dan digiring berputar-putar menggiling beras.
Siang Bu-gi juga menghentikan aksinya, gejolak perasaannya tidak banyak beda dengan rasa penasaran yang menggelitik sanubari Siau Ma.
Di Long-san, apa yang diucapkan Cu Ngo Thay-ya adalah perintah, maka anak buahnya tiada yang berani membangkang, mereka pun berhenti bergerak dan mundur ke pinggir.
Pendopo besar itu menjadi hening lelap, agak lama kemudian baru Lan Lan menghela napas dan berkata.
"Tadi sudah kuperingatkan kepada kalian, jangan mengganggu adikku yang ada dalam tandu, kenapa kalian mengabaikan peringatanku?"
Orang dalam tandu terdengar sedang batuk. Cu Ngo Thay-ya menjengek dingin.
"Nah, sang naga terpaksa menampakkan ekornya, kenapa masih pura-pura sakit?"
"Kenyataan dia memang sakit,"
Ujar Lan Lan tegas.
"Sakit apa?"
Tanya Cu Ngo Thay-ya.
"Sakit hati."
"Parahkah penyakitnya?"
"Sudah tentu parah, tapi ada obat mujarab yang dapat mengobatinya."
"0, obat apa yang diinginkan?"
"Obat mujarab yang kumaksud ada di seberang gunung di sebelah barat sana."
"Tepatnya dimana?"
"Baiklah, agaknya sudah tiba saatnya aku berterus terang dan bicara secara gamblang. Obat mujarab yang kami inginkan sebenarnya berada di sini, bahwa kita terima kau sudutkan hingga kedudukan kita sekarang dalam posisi yang tersudut ini memang sudah kami rencanakan, supaya kau beranggapan, kami hanyalah lawan lemah dan terpaksa mandah kau giring kemari."
"Ehm, kau merancang muslihat dengan tujuan menemui aku?"
Lan Lan manggut-manggut.
"Kini kalian sudah di sini, sudah berhadapan denganku,"
Demikian ucap Cu Ngo Thay-ya.
"Kenapa masih main sembunyi, cobalah suruh dia keluar."
"Baik, akan kutanya kepadanya,"
Kata Lan Lan sambil mendekati tandu, lalu bertanya dengan suara perlahan.
"Cu Ngo Thay-ya minta kau keluar menemuinya, bagaimana pendapatmu?"
Orang dalam tandu bersuara perlahan, tidak jelas apa yang diucapkannya, namun Lan Lan mengulur tangannya sehingga tangan orang ini memegang tangannya, lalu ia memapahnya turun dari tandu.
Yang keluar memang pemuda yang dilihat Siau Ma dalam kamar di hotel Damai kemarin.
Wajahnya kelihatan pucat seperti tidak berdarah sedikitpun.
Di bulan sembilan yang panas ini, tubuhnya dibungkis mantel tebal berbulu rase, namun tidak kelihatan merasa gerah atau berkeringat.
Mantel bulu itu amat lebar dan panjang sehingga separoh wajahnya tertutup, namun orang dapat melihat sepasang matanya yang jeli dan tajam dinaungi sepasang alis yang tegak dan gagah, meski pucat, wajahnya kelihatan bersih.
Lan Lan mengawasinya penuh iba dan lembut, katanya dengan nada prihatin.
"Dapatkah kau berjalan?"
Pemuda itu manggut-manggut sambil beranjak maju beberapa langkah, perlahan pula ia mengangkat kepala memandang ke arah kerai mutiara, lalu berkumandang suaranya yang lemah.
"Kau sudah melihatku?"
"Kelihatannya kau memang sedang sakit,"
Bergema suara Cu Ngo Thay-ya, bagaimana reaksi mimik mukanya, orang tidak melihat jelas karena jarak teramat jauh, namun dari suaranya, orang merasakan haru dan kasihan, ucapan untuk menenteramkan dan menahan gejolak hati.
Pemuda itu berkata.
"Sayang sekali, kau sudah melihatku, sebaliknya aku tidak melihat dirimu."
"Kenapa kau tidak kemari saja?"
"Ya, aku ingin bicara denganmu dari dekat,"
Sembari bicara, kakinya beranjak ke depan, meski perlahan namun langkahnya tidak berhenti setiba di undakan batu.
Siapa berani menginjak undakan batu, bunuh habis semua.
Seakan-akan pemuda ini tidak peduli, atau memang tidak pernah mendengar larangan serius ini.
Padahal dari jendela kecil di deretan dua sisi kerai mutiara itu, bermunculan ujung anak panah yang siap dibidikkan ke arahnya, tapi pemuda ini seperti tidak sadar bahwa bahaya tengah mengancam jiwanya, dengan tak acuh ia tetap melangkah ke sana.
Pok Can, Bu-ci-thong-cu, Ling-liong-siang-kiam dan para pemikul tandu siap bertindak bila diperintah sang majikan, seperti tidak dianggap kehadirannya di pendopo ini.
Ternyata Pok Can dan kawan-kawannya tidak berani bereaksi, tanpa perintah Cu Ngo Thay-ya, mereka tidak berani sembarang bertindak.
Diam-diam mereka menduga, apakah Cu Ngo Thay-ya akan melabrak sendiri pemuda ini?
Mereka maklum, di Long-san, Cu Ngo Thay-ya diakui sebagai jago kosen yang tiada bandingnya, adalah logis kalau hanya Cu Ngo Thay-ya saja yang mampu menghadapi pemuda penyakitan yang lihai ini.
Pada masa ini, rasanya susah dicari tokoh silat yang memiliki Khikang setaraf yang dikuasai oleh Cu Ngo Thay-ya.
Tapi dari kekuatan si pemuda mematahkan senjata dan panah, dapat dibayangkan bahwa bocah ini memiliki Lwekang yang amat tangguh pula, pemuda yang satu ini ibarat seekor naga sakti yang jarang menampakkan diri, betapa tinggi ilmu silatnya, sukar orang menjajakinya.
Siapakah pemenang duel antara Cu Ngo Thay-ya dengan pemuda penyakitan ini?
Tiada orang bisa meramalkan.
Tapi telapak tangan setiap hadirin berkeringat karena tegang.
Mereka boleh tidak peduli pihak mana yang akan menang dalam duel nanti, yang pasti pertarungan kedua jago kosen ini tentu amat seru, dahsyat dan menegangkan, selama berkecimpung di Kangouw, belum pernah mereka mengalami atau menyaksikan pertarungan hebat yang susah dibayangkan sebelumnya.
Kini pemuda penyakitan itu sudah tak jauh di luar kerai mutiara, anehnya Cu Ngo Thay-ya tetap bercokol di tempatnya tanpa gerak, tidak bersuara.
Naga-naganya raja serigala ini sudah membuat perhitungan dan yakin bahwa dirinya pasti menang, maka ia bersikap kalem saja.
Tinju Siau Ma tergenggam erat, dalam hati ia bertanya pada diri sendiri.
"Pemuda ini berani ke sana dan tidak apaapa, kenapa aku harus takut? Kenapa aku terima dijadikan keledai dungu yang diperalat belaka?"
Persoalan lain, Siau Ma boleh bersabar, harus menekan emosi, umpama perutnya harus kelaparan, badan babak belur dihajar orang, kantong kempes, ia bisa bersabar, tidak peduli.
Tapi penasaran karena merasa dirinya dikibuli sungguh tidak terlampias sebelum dirinya berkelahi dengan sengit.
Ada sementara orang di dunia ini, meski jiwa harus melayang dan badan hancur, dirinya tidak mau diremehkan, tidak mau diabaikan, Siau Ma adalah identik orang sejenis ini.
Mendadak Siau Ma melompat jauh ke depan lalu menerjang ke arah kerai mutiara.
Selincah kijang lompatannya yang jauh dan tangkas itu, hingga ia mendahului si pemuda menerobos kerai mutiara dan masuk ke sana, menubruk ke belakang meja besar lagi panjang itu.
Orang banyak tidak menduga juga tidak memperhatikan aksi Siau Ma, karena pandangan mereka tertuju ke arah si pemuda penyakitan.
Siau Ma bereaksi secara kilat, tahu-tahu ia sudah menerobos masuk dan berdiri di hadapan Cu Ngo Thay-ya.
Manusia kalau usianya sudah lanjut, wajah, suara, watak dan tingkah lakunya sering berubah, adakalanya seorang tua berubah menjadi eksentrik, berjiwa sempit dan senang menyendiri.
Demikian halnya yang terjadi pada Cu Ngo Thayya, perubahannya juga terjadi secara menyolok.
Beberapa tahun belakangan ini, kecuali Bu-ci-thong-cu yang bisu tuli menjadi pembantunya yang setia dan dipercaya, Pok Can yang tertua di antara kawanan serigala dan bergaul paling lama dengan raja yang berkuasa ini, dia toh tidak berani gegabah atau bertingkah di hadapannya, tanpa perintah jelas ia pun tidak berani masuk ke balik kerai mutiara itu.
Ada larangan yang berbunyi, 'Masuk selangkah tanpa ijin, hukumannya cacah hancur tubuhnya'.
Betapa keras dan kukuh watak Cu Ngo Thay-ya, pasti tidak memberi ampun kepada Siau Ma yang berani melanggar pantangan ini.
Mampukah Siau Ma melawan jurus serangannya yang dahsyat?
Siang Bu-gi juga siap menerjang ke sana bila perlu, biar dirinya bukan tandingan lawan, biar gugur di medan laga, ia lebih suka gugur bersama teman sejati.
Setelah Siau Ma menerobos masuk ke dalam kerai mutiara dan berdiri di depan meja, ternyata Cu Ngo Thay-ya tetap duduk mematung di tempatnya tanpa bergerak.
Ternyata setelah menerobos masuk Siau Ma malah berdiri kaku mirip patung, seperti kena sihir atau takjub melihat sesuatu di hadapannya, sesuatu yang ajaib atau kejadian yang amat mengejutkan hatinya.
Adakah kekuatan gaib yang mengandung magis terselubung dalam kamar di balik kerai mutiara, maka Siau Ma yang kurang ajar dan main terobos menjadi kaku seperti batu?
Mungkinkah Cu Ngo Thay-ya meyakinkan ilmu mukjizat yang dapat melumpuhkan lawannya tanpa ia sendiri bergerak?
Banyak kejadian di dunia kadang sukar diterima secara wajar oleh nalar manusia, namun secara nyata terjadi dan sukar ditelaah dan dijelaskan perkaranya.
Demikian kejadian yang menimpa Siau Ma, mereka yang masih berada jauh di luar pasti berprasangka buruk dan menduga-duga secara negatif, rasa tegang dan takut menghantui sanubari mereka.
Sambil menggenggam gagang pedangnya, Siang Bu-gi beranjak ke sana, selangkah demi selangkah ia berjalan dengan mantap dan berat, tidak cepat tapi tegap dan waspada.
Hatinya takut setengah mati, badannya basah kuyup oleh keringat dingin saking tegang, tapi Siang Bu-gi bertekad dan nekad, apapun yang akan terjadi meski awak harus mampus dengan badan hancur juga tidak akan mundur.
Tapi beberapa tindak menjelang ia menyelinap ke dalam kerai mutiara, mendadak dilihatnya Siau Ma mulai bergerak.
Siau Ma bukan disihir, juga tidak menjadi patung, keadaannya masih segar bugar, bebas dan wajar bergerak.
Bahwa dia berdiri mematung sekian saat di depan meja bukan karena dibekuk musuh dengan ilmu mujizat, soalnya secara nyata dan tak terduga ia menghadapi peristiwa besar yang luar biasa, kejadian yang sukar diterima oleh nalar sehat.
Begitu menerobos ke dalam kerai mutiara, Siau Ma melihat dan mendapatkan tokoh persilatan yang disegani dan ditakuti kaum Bu-lim ternyata sudah ajal, bukan saja orang ini sudah mati, tubuh orang malah sudah kaku, sudah kering, namun tidak membusuk, ini menandakan bahwa kematian orang ini sudah cukup lama berselang.
Asap dupa wangi mengepul dalam ruang di balik kerai mutiara, Cu Ngo Thay-ya terus bercokol dengan gayanya yang angker di singgasananya, tidak bergerak tidak bisa bersuara, karena sekujur badan sudah kaku dan mengering.
Demikian pula kulit mukanya sudah mengering, mengkeret dan berkerut-merut.
Wajah yang dahulu kereng berwibawa kini menjadi seram menakutkan.
Sukar orang menentukan sudah berapa lama orang ini meninggal, bahwa jenazahnya masih utuh dan tidak membusuk, karena sekujur jasadnya dipoles sejenis obat khusus, hingga tubuhnya tetap utuh meski kematian sudah merenggut nyawanya sejak beberapa waktu yang lalu.
Bahwa jenazah Cu Ngo Thay-ya dipertahankan utuh dan bercokol di singgasana untuk memberikan perintah, ini menandakan di balik peristiwa ini ada dalangnya, seseorang menggunakan kedok Cu Ngo Thay-ya untuk memberi perintah dan memegang tampuk pimpinan dan kekuasaan di seluruh wilayah Long-san.
Suara orang yang menirukan suara Cu Ngo Thay-ya tadi jelas adalah tokoh misterius yang memegang peranan di belakang layar, bukan mustahil dialah perencana kejahatan dengan tewasnya Cu Ngo Thay-ya sebagai langkah pertama untuk mengejar cita-citanya menguasai gunung serigala.
Untuk menjaga dan mempertahankan rahasia dirinya yang berperan di belakang layar, dan supaya kematian Cu Ngo Thay-ya tidak diketahui orang lain, maka orang dilarang mendekati dirinya dalam jarak dua tombak, mulai undakan batu kaca, ruang dimana jenazah Cu Ngo Thay-ya masih kelihatan bercokol juga ditutup dengan kerai mutiara, sehingga dalam jarak dua puluhan tombak orang sukar melihat jelas keadaan sebenarnya.
Orang yang dipercaya adalah Bu-ci-tong-cu, sesuai nama julukannya, orang bisu tuli ini jelas tidak akan membocorkan rahasianya, apalagi dia buta huruf, celakanya orang bisu tuli ini berotak tumpul, kecuali belajar ilmu silat, dia tidak punya keinginan, cita-cita maupun nafsu.
Sekarang Siau Ma maklum, kenapa Thio-gongcu nekat menerjang ke depan meski besar sekali resiko yang harus dihadapinya.
Kenyataan jiwanya melayang sebelum berhasil membongkar rahasia busuk ini.
Sejak dilahirkan Thio-kongcu memang memiliki pembawaan luar biasa, terutama sepasang bola matanya, makin tumbuh dewasa ia memperoleh gemblengan luar biasa, maklum sepasang telinganya tuli, maka ia melatih kedua matanya lebih tajam dari mata manusia umumnya.
Di kala kerai mutiara terguncang karena suara "berhenti"
Cu Ngo Thay-ya yang lantang tadi, mata Thio-gongcu yang jeli menangkap adanya muslihat di balik permainan sandiwara yang belum diketahui orang.
Manusia kalau bicara pakai mulut menggerakkan bibir, tapi orang bercokol di kursi kebesaran di balik kerai mutiara tidak kelihatan bergerak, mulutnya tetap bungkam, bibir pun tetap tidak bergerak.
Padahal untuk mengucap sepatah kata "berhenti"
Orang harus membuka lebar mulutnya, apalagi suaranya yang begitu lantang dan mendengung.
Berhasil membuka rahasia orang, Thio-gongcu lantas sadar bahwa orang yang bercokol di kursi di balik kerai mutiara itu hanyalah sesosok mayat manusia yang sengaja dibuat pajangan untuk mengelabui orang banyak.
Saking terburu nafsu ingin membongkar kedok dan rahasia orang, Thiogongcu lupa kalau benar orang yang duduk di kursi itu sudah mati, mana mungkin bisa bicara, namun kenyataan suara lantang itu bergema dalam pendopo ini, itu berarti ada seseorang bersembunyi dan memegang rol dalam kasus ini.
Karena Thio-gongcu tahu rahasia orang, sudah tentu orang itu tidak memberi ampun kepadanya.
Lama Siau Ma menjublek tanpa bergerak atau bersuara, hatinya sedih dan pilu, perasaannya sukar dilukiskan dan dilimpahkan, sedih bagi nasib sang raja yang berkuasa di Long-san, pilu demi kematian kawan sejati, penasaran bagi manusia umumnya.
Betapapun besar kekuasaan seseorang di masa hidup, setelah mati dengan mudah ia akan dibuat mainan oleh orang hidup.
Setelah menghela napas Siau Ma bergerak perlahan, membalik tubuh, waktu ia mengangkat kepala lagi, pandangannya bentrok dengan mata seseorang, rona mata orang ini menampilkan rasa duka lara yang men-dalam.
Pemuda penyakitan yang masih teka-teki asal-usulnya ini berdiri mematung di belakangnya, berdiri menjublek mengawasi jenazah Cu Ngo Thay-ya, wajah yang pucat dan bersih tampak basah oleh air mata yang bercucuran.
Tidak kuat Siau Ma menahan rasa ingin tahu hatinya, maka ia bertanya.
"Siapa kau sebetulnya?"
Pemuda itu diam saja, seperti tidak mendengar pertanyaannya.
"Aku menduga kau bukan she Lan sebagaimana yang dikatakan Lan Lan, apalagi adik kandungnya. Nama aslimu juga pasti bukan Lan Ki-hun,"
Mendadak bersinar bola mata Siau Ma.
"Apa kau bukan she Cu?"
Pemuda itu tetap diam, tidak menanggapi pertanyaan Siau Ma, tapi perlahan bertekuk lutut lalu menyembah di hadapan Cu Ngo Thay-ya. Melihat kelakuannya, Siau Ma sadar dan mengerti.
"He, kiranya kau adalah putranya."
"Betul,"
Seorang berkata perlahan di belakang Siau Ma.
"Memang dia putra tunggal Cu Ngo Thay-ya, namanya Cu Hun."
Bab 18 -TAMAT Dipandang dari jauh, Cu Ngo Thay-ya kelihatan angker dan berwibawa mirip patung yang dipuja dalam kelenteng, apalagi teraling kerai mutiara sehingga dari jauh tidak kelihatan nyata keadaan sebenarnya.
Kini putra tunggalnya berlutut dan menyembah di depannya, menangis sedih penuh penyesalan.
Pok Can masih berdiri di tempat semula, menyaksikan dari kejauhan, lambat laun mulai tampak perubahan air muka dan sorot matanya, air mata juga seperti berkaca-kaca di pelupuk matanya, kalau tidak ditahan tentu sudah bercucuran dengan deras.
Siau Ma bertanya sambil mengawasi orang tua ini.
"Kau adalah kawan seperjuangan Cu Ngo Thay-ya sejak puluhan tahun yang lalu bukan?"
"Ya, sejak banyak tahun lalu. Waktu kami masih samasama muda,"
Sahut Pok Can.
"Tapi kau tidak kenal bahwa Cu Hun ini adalah putra tunggalnya?"
Tanya Siau Ma.
"Sejak berumur tiga belas Cu Hun sudah meninggalkan Long-san, selama sepuluh tahun belakangan ini, dia tidak pernah pulang, tiada kabar beritanya."
Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, bagi umat manusia, jangka sepuluh tahun merupakan masa yang panjang, cukup lama untuk membawa perubahan pada diri seseorang.
"Kenapa dia pergi? Kenapa tidak mau pulang?"
"Bocah ini anak jenius, sejak dilahirkan seperti dibekali bakat luar biasa untuk meyakinkan ilmu silat. Waktu berusia tiga belas, ia tahu kungfu yang dia yakinkan tarafnya sudah tidak di bawah sang ayah, maka timbul keinginan hatinya untuk berkelana mencari pengalaman, menyesuaikan cara hidupnya dengan gayanya sendiri di kolong langit ini."
"Tetapi sang ayah tidak sependapat dan sepandangan, beliau melarang dia meninggalkan keluarga."
"Seorang laki-laki dalam usia lanjut baru dikarunia seorang putra, adalah logis kalau dia merasa berat ditinggal pergi putranya, tidak tega membiarkan anaknya menderita di rantau."
"Maka Cu Hun minggat dari rumah?"
"Meski usianya masih muda, anak ini punya pambek, mengemban cita-cita tinggi, wataknya juga kukuh seperti sang bapak, kalau sudah timbul niatnya untuk melakukan sesuatu, siapa pun takkan bisa merubah niatnya, termasuk sang ayah sendiri,"
Setelah menghela napas Pok Can melanjutkan.
"sepuluh tahun sejak ia meninggalkan rumah, tiada orang tahu dimana dia pergi dan dimana dirinya berada. Namun aku dan ayahnya juga maklum, dengan wataknya yang kukuh, mengembara di Kangouw, tentu tidak sedikit penderitaan yang dialaminya."
Siau Ma membalik tubuh ke arah Lan Lan.
"Selama sepuluh tahun apa saja yang telah dia lakukan? Kukira hanya kau saja yang dapat menjelaskan."
"Memang dia banyak menderita, namun dari penderitaan itu, tidak sedikit kungfu yang berhasil diserapnya. Untuk mempelajari kungfu dan berhasil, perbuatan apapun pernah ia lakukan."
Seorang pesilat yang berhasil gemilang dengan nama besar yang menonjol memang bukan diperoleh secara kebetulan.
Bahwa seseorang memiliki kungfu setinggi itu, sudah pasti harus melalui gemblengan yang cukup panjang, latihan yang cukup keras dan menyiksa.
Lan Lan bercerita lebih jauh.
"Sebagai manusia biasa, akhirnya ia merasa bosan, tiba-tiba ia sadar, umpama seseorang memiliki kungfu yang tiada taranya, tiada lawan yang mampu menandingi dirinya, akan datang suatu saat ia akan meresapi kegetiran hidup, kesepian dan kehampaan dalam hidupnya,"
Sikap Lan Lan juga kelihatan rawan, suaranya makin pelan dan tertekan.
"Masih muda hidup di rantau, jauh dari keluarga, kehilangan kasih sayang ayah bunda, karena terlalu asyik meyakinkan kungfu, tidak pernah punya teman lagi, meski makin tinggi kungfu yang berhasil dia yakinkan, namun jiwanya justru makin tertekan."
Siau Ma adalah identik manusia gelandangan, ia dapat meresapi kegetiran hidup seorang yang jauh dari kasih sayang keluarga, tidak pernah ada orang memperhatikan kehidupannya, entah dia gagal atau sukses dalam mengejar karir, yang pasti kesuksesan itu akhirnya berubah menjadi tidak berarti sama sekali.
Dengan lekat Siau Ma menatap Lan Lan.
"Kau tidak memperhatikannya?"
"Aku ingin memperhatikan dia, memberikan kasih sayang kepadanya, tapi dalam keadaan seperti itu, aku juga sadar, seorang diri aku takkan bisa memenuhi harapannya, bukan aku saja yang bisa memberi perhatian dan hiburan kepadanya."
"Maksudmu hanya ayah bundanya?"
Lan Lan memanggut.
"Ya, hanya ayah bundanya saja orang yang dia hormati, ayahnya adalah tulang punggung kehidupannya, namun wataknya memang kukuh dan terlalu keras kepala, meski sadar, namun sampai mati ia takkan mau mengaku salah, padahal ia sadar bahwa dirinya berdosa terhadap sang ayah, setelah minggat mana ada muka dia pulang ke rumah."
Mendadak Pok Can menimbrung.
"Kita pernah turun gunung mencarinya, tapi tidak berhasil menemukannya."
"Dalam tahun permulaan sejak ia meninggalkan rumah, dia belum meresapi betapa agung dan luhurnya hubungan kekeluargaan, maka ia menyingkir dan selalu menghindar meski tahu ayahnya menyuruh orang mencarinya. Beberapa tahun kemudian, setelah ia merasa rindu, kangen kepada orang tua, kalian sudah tidak pernah mencarinya lagi, dia pun malu untuk pulang."
Bukankah banyak peristiwa seperti itu dalam kehidupan manusia banyak?
Kalau tidak, mana mungkin sering terjadi tragedi kehidupan dalam dunia ini hanya lantaran sedikit salah paham dan kontrakdiksi.
Salah paham dan kontrakdiksi sering kali jadi pangkal pertikaian keluarga, penyebab utama tragedi kehidupan yang menyedihkan.
Sayang sekali, sedikit kesalahan itu justru tak mungkin ditebus dengan apapun selama hayat masih di kandung badan.
"Suatu ketika dia menolong keluargaku, setelah aku tahu dan menyadari keadaannya, untuk membalas budi kebaikan dan pertolongannya, aku tidak boleh berpeluk tangan, aku pun tidak tega menyaksikan penderitaan batinnya, secara diamdiam aku menulis sepucuk surat untuk orang tuanya, dengan akal dan cara yang ruwet aku menitipkan atau kusuruh orang mengirimnya ke Long-san, dengan harapan setelah menerima suratku, Cu Ngo Thay-ya sudi mengirim seorang untuk menjemput putranya pulang."
"Lho, kenapa kita tidak tahu adanya kejadian ini?"
Demikian tanya Pok Can melenggong.
"Mungkin orang yang kusuruh mengirim surat itu bukan orang baik, atau mungkin terjadi sesuatu di tengah jalan, mungkin juga surat itu terjatuh di tangan seorang jahat,"
Lan Lan berhenti sejenak lalu meneruskan.
"namun waktu itu kami tidak memikirkan hal ini, tidak lama setelah surat kukirim, seseorang datang dari Long-san membawa surat balasan dari Cu Ngo Thay-ya."
"Apa bunyi balasan itu?"
Tanya Pok Can.
"Utusan itu bernama Song Sam, kelihatannya orang jujur dan setia, dia mengaku sebagai orang kepercayaan Cu Ngo Thay-ya,"
Demikian Lan Lan menjelaskan.
"Belum pernah kudengar nama orang ini,"
Kata Pok Can dengan menggeleng.
"Sudah tentu kalian tidak mengenalnya karena nama itu palsu, sayang sekali kami tidak sempat bertanya lebih banyak dan dia pun tak dapat memberi keterangan apa-apa."
"Lho, kenapa?"
Tanya Po Can melenggong.
"Mungkin sekarang jenazahnya sudah membusuk,"
Demikian Lan Lan menjelaskan lebih jauh.
"Surat rahasia yang dia bawa disimpan dalam butiran malam putih, jadi mirip sebutir pulung obat. Song Sam bilang, menurut pesan ayahnya supaya Cu Hun sendiri yang menerima dan membaca surat ayahnya, orang ketiga dilarang ikut membacanya."
Antara ayah dan anak adalah pantas kalau menyimpan rahasia, untuk hal yang lumrah ini, siapa pun takkan merasa curiga.
"Tak pernah terpikir oleh kami, bahwa butiran malam sebesar buah kelengkeng itu, berisi segumpal asap dan tiga batang jarum lembut."
"Wah,"
Kata Siau Ma gugup.
"Cu Hun terbokong karenanya?"
Lan Lan tertawa getir.
"Siapa pun takkan menyangka bahwa seorang ayah membokong dan berniat membunuh putranya dengan cara selicik dan sejahat itu. Syukur Cu Hun adalah tunas muda luar biasa, seorang jenius dalam ilmu silat, dengan Lwekang latihannya ia berhasil mendesak keluar separoh lebih racun dalam tubuhnya."
"Lalu bagaimana dengan Song Sam?"
Tanya Pok Can.
"Waktu Song Sam tiba di rumahku, keadaannya juga sudah payah, terkena racun yang jahat, tidak banyak keterangan yang bisa dia jelaskan, jiwanya sudah melayang lebih dulu. Tragisnya mayatnya hancur luluh dalam sekejap mata, tulang belulangnya pun membusuk habis menjadi cairan."
Siau Ma menggeram gusar sambil mengepal tinjunya.
"Manusia kejam, perbuatan culas."
"Betapapun liar dan buas seekor harimau tak pernah makan anaknya sendiri. Menghadapi peristiwa yang tidak terduga ini, kita lantas berpikir, orang yang menyuruh Song Sam mengirim surat pasti orang lain, bukan ayah kandungnya yaitu Cu Ngo Thay-ya, orang ketiga ini punya niat jahat dan tidak ingin mempertemukan ayah dan anak, apalagi dia juga sadar, kalau Cu Hun pulang, kelak pasti mewarisi kedudukan dan kekuasaan ayahnya,"
Sampai di sini Lan Lan menelan liur seperti menahan gejolak perasaan hatinya, lalu sambungnya.
"Di samping itu, kita juga memikirkan persoalan lain yang lebih menakutkan."
"Persoalan apa?"
Tanya Siau Ma.
"Kalau orang ketiga ini berani bertindak sejahat dan sejauh ini, tentu dia sudah punya posisi yang lebih baik, dan keadaan Cu Ngo Thay-ya mungkin dalam bahaya, umpama belum mati, keadaannya tentu sedang kritis."
Pok Can memanggutkan kepala tanda sependapat, desisnya penuh kebencian.
"Sejak masih muda Cu Ngo Thayya adalah jenius ilmu silat yang hebat dan digdaya, dalam keadaan sehat dan aman, umpama orang itu punya kemampuan dan keberanian besar juga takkan berani bertindak demikian."
"Ayah memperhatikan anak dan anak berbakti terhadap orang tua adalah hubungan lahir batin manusia. Setelah urusan berkembang sejauh ini, maka Cu Hun tidak boleh bersikap kukuh, dia harus segera merubah sikap dan segera pulang melihat keadaan ayahnya,"
Dengan gegetun Lan Lan melanjutkan.
"tapi kita juga tahu, kalau orang ini berani membokong dan berusaha membunuh putra tunggal Cu Ngo Thay-ya, tentu orang ini bukan tokoh sembarangan, bukan mustahil di Long-San dia punya kedudukan dan posisi yang kuat serta mampu mengerahkan sekelompok orang yang menjadi kaki tangannya. Kalau kita langsung meluruk ke atas gunung, bukan saja tidak dapat bertemu dengan Cu Ngo Thay-ya, mungkin sekali malah mempercepat kematiannya."
Tiba-tiba Pok Can menimbrung.
"Waktu itu kalian belum tahu mati hidup Cu ngo-Thay-ya, meski Cu Hun membekal kungfu setinggi langit, namun racun di tubuhnya belum berhasil dibersihkan secara tuntas, berarti kepandaiannya masih terbatas dan tak mungkin bertindak secara maksimal, kalau harus menghadapi lawan tangguh, kemampuannya tentu amat terbatas."
"Namun waktu sudah sangat mendesak, demi keselamatan Cu Ngo Thay-ya, kita tidak boleh mengulur waktu, maka dalam waktu singkat kita harus berusaha dengan akal yang sempurna."
"Untuk melaksanakan rencana itu, maka kalian mencari diriku?"
Tanya Siau Ma. Lan Lan manggut.
"Bukan maksudku hendak menipu engkau, soalnya peristiwa ini amat besar artinya bagi masa depan Cu Hun dan nasib seluruh warga di Long-san, maka rencana harus dirahasiakan, tidak boleh bocor."
Siau Ma menghela napas.
"Aku tidak menyalahkan engkau, bukankah aku menunaikan tugas secara suka rela?"
Mendadak Siang Bu-gi menimbrung pula dengan suara dingin.
"Aku ingin tahu satu hal."
"Soal apa yang ingin kau ketahui?"
Tanya Siau Ma.
"Siapa biang keladi kasus ini?"
Siau Ma tidak menjawab, demikian pula Pok Can dan Lan Lan juga tidak memberi tanggapan, tapi dalam hati mereka sudah terbayang wajah seseorang, yaitu Long-kun-cu Un Liang-giok.
Long-kun-cu Un Liang-giok adalah salah seorang kepercayaan Cu Ngo Thay-ya, di saat sang junjungan menghadapi saat genting dan tegang seperti tadi, ternyata batang hidungnya tidak pernah kelihatan.
Di belakang singgasana Cu Ngo Thay-ya ternyata ada sebuah lubang rahasia, orang yang memalsukan suara Cu Ngo Thay-ya dan memberi perintah tadi tentu berasal dari sini dan melarikan diri lewat lorong bawah tanah.
Apakah betul orang itu Un Liang-giok?
Kemana ia melarikan diri?
"Biar dia sudah lari, aku yakin tidak akan lolos dari tanganku,"
Demikian desis Siau Ma geram.
"Kita harus mengejarnya, namun tidak lewat lorong ini."
"Kenapa?"
"Orang itu kejam dan telengas, bukan mustahil dalam lorong ia memasang jebakan, kalau tidak waspada kita yang celaka malah,"
Demikian ucap Pok Can yang berpengalaman menenteramkan suasana yang panas.
"Untuk selanjutnya marilah kita bekerja dengan kepala dingin, jangan diburu emosi hingga melakukan kesalahan, akibatnya tentu amat fatal."
Namun Siau Ma tak sabar menunggu, dalam kedudukan Siau Ma sekarang, ia tidak mau dan tidak boleh menunggu, waktu amat berharga bagi dirinya, terlambat berarti maut bagi dirinya, maka ia mendahului menerjang keluar.
Lan Lan memburu sambil bertanya.
"He, kemana kau? Apa yang akan kau lakukan?"
"Mencari seorang."
"Seorang siapa?"
"Orang itu selalu menyembunyikan mukanya di belakang topeng."
Bercahaya mata Lan Lan.
"Maksudmu orang bertopeng itu adalah Un Liang-giok?"
"Aku yakin dugaanku tidak meleset."
Di luar cahaya mentari terang benderang.
Sinar surya sedang menyinari permukaan danau.
* * * * * Tanggal 14 bulan 9, hampir petang.
Sang surya sudah terbenam di ufuk barat, pancaran cahayanya yang kemuning menyinari permukaan danau yang tenang bening bagai kaca, cahaya menyinari topeng kuning emas berbentuk seram seperti setan dedemit.
"Apakah dia?"
Tanya Lan Lan.
"Betul,"
Desis Siau Ma penuh keyakinan.
"kecuali Un Lianggiok susah aku menduga orang lain."
Cu Hun diam saja, tidak menampakkan reaksi.
Kejadian yang menggembirakan sering kali mengundang rasa lelah, berbeda dengan orang yang sedang bersedih hati.
Rasa duka nestapa justru lebih sering membuat perasaan orang menjadi beku, hilang kesadarannya dan meluluhkan ketahanan fisiknya.
Amarah justru dapat mengobarkan semangat, membakar emosi.
Siau Ma menerjang dengan mata melotot ke arah duta malaikat surya, bentaknya dengan murka.
"He, kau tidak minggat, masih ada di sini?"
"Kenapa aku harus lari?"
Duta malaikat balas bertanya.
"Memangnya kau masih ingin melakukan kejahatan di sini?"
Damprat Siau Ma.
"Berkedok di belakang jenazah Cu Ngo Thay-ya, kau menguasai dan memerintah kawanan serigala di gunung ini melakukan segala keinginanmu. Kau berusaha membunuh Cu Hun dan menjebaknya supaya mereka ayah dan anak tak bisa bertemu. Untuk menghancurkan generasi muda di gunung ini, kau pura-pura menjadi duta malaikat surya, memperalat watak anak muda yang suka berontak untuk merubah zaman, kau bius mereka dengan daun ganja supaya mereka tenggelam dalam kehidupan khayal...."
Itulah tuduhan Siau Ma, namun tidak ia paparkan secara gamblang, karena ia tahu umpama menuduhnya secara terbuka, duta malaikat surya pasti tidak akan menyangkal tuduhannya.
Siau Ma memang tidak suka bertele-tele, tidak mau banyak omong, urusan hanya diselesaikan dengan sepasang tinjunya, menang adalah benar.
"Rencanamu memang sukses untuk sekelompok lingkungan anak-anak muda saja. Sayang Cu Hun tidak berhasil kau bunuh, aku pun tidak mampus seperti yang kau harapkan."
"Cu Hun tidak mati karena nasibnya mujur. Sebaliknya kau tidak mampus, akulah yang bernasib mujur,"
Demikian jengek si duta malaikat surya.
"Lho, kau yang mujur malah?"
Tanya Siau Ma pura-pura melenggong.
"Cu Hun baru kau kenal, hanya seorang teman baru. Tapi Siau Lin adalah milikmu, Lo-bi adalah kawan karibmu, benar tidak?"
Sian Lin berdiri di belakang duta malaikat surya, demikian juga Lo-bi ada di sana. Duta malaikat surya berkata lagi.
"Kau masih memiliki sepasang tinju, punya teman yang pandai menggunakan pedang, sebaliknya Cu Hun kini tinggal setengah hidup belaka."
"Maksudmu aku harus membunuh Cu Hun untuk menebus jiwa Siau Lin?"
Bentak Siau Ma.
"Di dunia ini tidak jarang terjadi adanya seseorang yang membuang yang lama mencari yang baru, aku yakin kau rela mengorbankan Siau Lin setelah memperoleh Lan Lan, tapi aku juga percaya si Kuda Binal bukan laki-laki berjiwa pengecut."
Agaknya duta malaikat pandai menyelami jiwa manusia, ia maklum bahwa Siau Ma tidak mungkin mengorbankan Siau Lin, tapi dia lebih senang mengorbankan dirinya sendiri daripada pujaan hatinya, demi Siau Lin si Kuda Binal berani berbuat apa saja.
"Aku yakin dengan sepasang tinjumu dan pedang Siang Bu-gi, kalian dapat mengalahkan dan membunuh Cu Hun."
Tidak seperti biasanya, kalau sedang marah Siau Ma mengepal tinju, mungkin saking marah dan khawatir, jari-jari Siau Ma tampak gemetar malah, gejolak hatinya membuat pemuda ini kehilangan kontrol, tapi dia masih dapat memikirkan perkembangan yang bakal terjadi.
Batin Siau Ma amat terpukul di kala matanya menangkap aksi temannya Lo-bi yang merangkak ke depan kaki si duta malaikat surya serta mencium kakinya.
Tapi kejadian selanjutnya justru tidak pernah ia duga sebelumnya.
Mungkin kejadian ini pun tak pernah di duga oleh duta malaikat surya sendiri.
Mendadak Lo-bi memeluk kencang kedua kakinya serta mendorongnya jatuh, lalu keduanya terguling-guling ke bawah batu karang dan terjebur ke dalam danau.
Sebelum kecemplung ke dalam air, Lo-bi yang bergumul dengan lawannya sempat melontarkan perasaan hatinya.
"Kau menganggapku kawan, aku tidak akan membuatmu malu."
Kawan!
Sebuah kata yang sering diucapkan orang, sering dilontarkan dari mulut ke mulut, namun pada suatu saat 'kawan' itu sendiri mengandung makna yang luhur, arti yang mendalam.
Setelah kejadian berselang beberapa kejap, Cu Hun yang menyaksikan akhir tragedi ini baru meresapi makna sejati 'kawan' itu, maka ia pun menarik kesimpulan terhadap kata 'kawan' itu.
"Sekarang baru aku tahu, baru aku sadar, betapapun tinggi kungfu seseorang, nilainya tidak setinggi persahabatan sejati."
Dalam kehidupan manusia bermasyarakat di dunia ini, kalau satu sama lain tanpa diresapi perasaan, entah apa yang akan terjadi?
Apakah manusia masih bisa dianggap manusia?
Kejadian begitu cepat, hanya berlangsung dalam sekejap, sang surya masih memancarkan cahayanya yang terakhir.
Siau Ma duduk berhadapan dengan Cu Hun, mereka saling pandang tanpa membuka suara.
Entah berapa lama kemudian Cu Hun bersuara lebih dulu.
"Sekarang aku sadar, hanya laki-laki seperti dirimulah yang patut dipuji sebagai orang luar biasa, kau tidak pernah meninggalkan kawan, percaya kepada kawan yang juga percaya kepadamu. Kau rela berkorban demi kawan, kawanmu juga rela berkorban demi dirimu."
Siau Ma bungkam, lidahnya kelu.
"Aku rasa tiada orang menduga bahwa Lo-bi rela berkorban untuk dirimu, rela gugur bersama musuh demi kebahagiaanmu, demi masa depanmu,"
Setelah menghela napas, Cu Hun menyambung dengan suara datar.
"Aku sadar, selama ini aku berbuat salah terhadapmu, tapi aku yakin dapat melakukan beberapa hal untuk menebus kesalahanku itu, demi dirimu."
Siau Ma melenggong, tidak mengerti kesalahan apa yang dimaksud, dengan cara apa orang akan menebus kesalahannya, namun mulutnya tetap bungkam.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Lan Lan. Cu Hun menjelaskan.
"Aku berjanji, selanjutnya takkan ada serigala liar, yang buas maupun yang jahat di Long-san. Takkan ada anak muda yang makan daun lagi."
Siau Ma berdiri.
"Terima kasih,"
Katanya haru sambil menggenggam tangan Cu Hun, lalu mereka berpelukan dengan tawa riang.
Siau Lin sudah sadar, sudah segar bugar.
Sinar surya masih sempat menyinari wajahnya yang pucat.
Sebagai orang yang sudah ternoda, ia sadar dirinya tidak setimpal lagi bagi Siau Ma, maka ia tidak berani berhadapan dengan Siau Ma, katanya perlahan sambil melengos.
"Aku tahu selama ini kau mencariku, aku juga tahu apa saja telah kau lakukan untuk menemukan diriku."
"Kenapa kau ...."
"Aku berdosa terhadapmu."
"Jangan kau berkata begitu terhadapku."
"Tidak! Aku harus bicara, sudah tidak ada alasan untuk aku hidup berdampingan dengan engkau, keretakan sudah nyata dalam hubungan kita, keretakan yang tidak mungkin dipulihkan seperti sedia kala, keretakan yang mendalam dan terukir dalam sanubari, kalau kau memaksa aku berkumpul dengan kau, itu berarti kau hanya akan mengundang derita batinku saja,"
Air mata bercucuran di pipinya.
"Oleh karena itu, kalau kau masih mencintaiku, kau harus merelakan aku pergi."
Siau Ma mematung, mendelong mengawasi Siau Lin beranjak pergi, mengawasi bayangan ramping itu makin jauh dan lenyap di bawah pancaran sinar surya yang sudah buram.
Siau Ma terus bungkam, berdiri mematung dengan perasaan hampa.
Lan Lan menyaksikan dari kejauhan, kini ia mendekati lalu bertanya dengan suara tegas.
"Apa betul ada keretakan yang tidak bisa dipulihkan di dunia ini?"
"Tidak ada,"
Siang Bu-gi menjawab dari samping.
"Dosa bisa ditebus, kesalahan bisa diperbaiki, betapapun besar kau melakukan kesalahan, betapapun lebar keretakan terjadi, namun cinta murni, cinta sejati dapat menghapusnya sama sekali."
Lan Lan berkata.
"Pada siapa kau tujukan komentarmu itu?"
Siang Bu-gi berkata.
"Kepada Kuda Binal yang goblok, segoblok babi yang tidak punya perasaan."
"Siau Lin ...."
Mendadak Siau Ma memekik panjang, bagai kuda pingitan yang lepas, sekencang angin ia berlari ke arah barat, menyongsong sinar surya yang makin terbenam, berlari mengejar Siau Lin yang tidak kelihatan lagi bayangannya.
Siau Ma harus mengejarnya, Siau Lin harus menjadi miliknya.
Pemandangan alam indah permai, menjelang maghrib, sebelum sang surya menyembunyikan diri ke peraduannya, panorama nan molek ini memang tidak boleh disia-siakan, harus dinikmati, harus diresapi pula.
Kalau seorang masih punya kesempatan, janganlah kesempatan diabaikan, kesempatan jangan dibuang percuma.
T A M A T
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 6
Baca Juga: Bangau Sakti 12