Eps 3 Kuda Binal Kasmaran - Gu Long
Baca online Kuda Binal Kasmaran - Gu Long
Cersil Kuda Binal Kasmaran - Gu Long.
Dengan senyum lebar ia melanjutkan.
"selama kalian berada di hotel Damai, sesuai peraturan yang berlaku di sini, siapa pun tidak boleh berkelahi atau melukai orang, kalau kalian berani melanggar peraturan, kurasa sukar kalian berpijak lebih lama di Long-san."
Merah padam muka Siau Ma menahan amarah, marah karena tahu ancaman Un Liang-giok itu serius dan bukan gertak sambal. Thio-gongcu mendadak menyeletuk.
"Apa benar kau tidak mau membayar rekening?"
"Kalian bukan tamuku, kenapa aku harus mentraktir kalian?"
"Baiklah, kalau kau tidak mentraktir, biar aku yang melunasi rekeningnya,"
Demikian ujar Thio-gongcu kalem.
Un Liang-giok tertawa besar sambil mendongak, mendadak kipasnya terayun dan berputar, bayangannya bertaburan menimbulkan deru angin, deru angin tajam yang membuat orang banyak memejamkan mata sekejap.
Ketika orang banyak membuka mata, bayangan Un Liang-giok sudah lenyap.
Tak tahan Lan Lan memuji.
"Kepandaian bagus!"
Juragan Jik tertawa lebar, katanya.
"Pandangan nona memang tajam, kecuali Cu Ngo Thay-ya, kungfu Un Liang-giok terhitung paling bagus di Long-san."
"Kau pernah melihat Cu Ngo Thay-ya?"
Tanya Lan Lan pula.
"Sudah tentu pernah,"
Sahut juragan Jik.
"Bagaimana cara untuk bertemu dengannya,"
Tanya Lan Lan. Juragan Jik tampak ragu-ragu.
"Nona ingin bertemu dengan beliau?"
Tanyanya.
"Konon Cu Ngo Thay-ya orang luar biasa, setiap patah katanya adalah perintah. Aku sedang berpikir ...."
Sorot mata Lan Lan bercahaya.
"Kalau kami dapat bertemu dengan beliau, lalu beliau memberi izin dan membiarkan kami lewat dengan selamat, orang lain tentu tidak berani menghadang kami. Untuk lewat dan sampai di tempat tujuan dengan aman dan selamat, kurasa hanya cara ini yang harus kita lakukan."
Bab 10 Juragan Jik tertawa.
"Cara yang nona pikir memang benar, namun harus dibuat sayang."
"Apa yang harus dibuat sayang?"
"Kau tak bisa bertemu dengan beliau. Di Long-san hanya enam orang yang tahu dimana sekarang beliau berada."
"Kau tidak tahu dimana beliau sekarang?"
"Aku hanya pedagang kecil yang kerjanya cari untung, urusan lain aku tidak mau turut campur,"
Demikian jawab juragan Jik.
Hidangan disuguhkan dengan arak yang masih mengepul hangat.
Sepiring sayur goreng, sepiring lagi telur mata sapi, beberapa kue kering dan semangkok kuah daging sapi sayur asin, beberapa mangkok nasi dan setengah gentong arak.
Juragan Jik tertawa.
"Untuk dahar pagi ini aku menghidangkan menu luar biasa, rekening seluruhnya hanya seribu lima ratus tahil perak."
Pemilik hotel ini tertawa riang, tawa lebar dan gembira, karena dia maklum berapa pun mahal tarip makanannya, meski menggorok leher sekalipun, tamu terpaksa harus membayar.
Siau Ma mengawasi Thio-gongcu, katanya.
"Sejak kapan kau punya banyak duit? Berani kau membayar seribu lima ratus tahil perak?"
Thio-gongcu menyengir kuda.
"Maksudku ingin menggebah keparat itu dari sini. Mana aku punya duit?"
Maksud sebenarnya adalah Thio-gongcu perlu ketenangan, dia harus merawat dan menjaga Hiang-hiang.
Syukur Siau Ma tidak menarik panjang persoalan.
Siau Ma maklum tujuan Thio-gongcu itu, biasanya lelaki ini tidak gampang emosi, tidak mudah melimpahkan perasaannya di hadapan orang lain.
Sekarang usianya sudah lanjut, seorang yang sudah lanjut usia bila kasmaran terhadap gadis muda, sering kali berani melakukan sesuatu yang berbahaya.
Tapi Siau Ma tidak peduli, ia tidak mau mencampuri urusan orang.
Maklum sebagai pemuda yang sudah meresapi pahitnya cinta, dia cukup tahu cara bagaimana menghargai dan menghormati perasaan orang lain, peduli perasaan macam apa, asal sesungguhnya maka dia patut dihargai, harus dihormati.
* * * * * Hiang-hiang digotong ke dalam rumah, dibaringkan di kamar yang apek baunya.
Keadaannya masih gawat, belum sadar.
Cen Cu dan Cen Cen pantasnya bantu merawat dan menjaganya, tapi mereka justru mendahului masuk kamar dan tidur pulas.
Thio-gongcu tidak bisa tidur, dengan telaten dan tekun ia menunggu dan duduk di ujung ranjang, dengan harap-harap cemas ia mengawasi wajah Hiang-hiang yang kelabu.
Pasien dalam tandu masih tetap dalam tandu, tandu itu langsung digotong masuk ke dalam kamar terbesar di sebelah timur.
Lan Lan berkata.
"Adikku tidak boleh turun dari tandu, karena badannya tidak boleh kena angin."
Padahal kamar itu meski besar, kalau ditutup rapat pasti tidak ada angin.
Baru saja kepala Siau Ma mencium bantal, mendadak ia berjingkrak berdiri pula.
Mendadak ia sadar banyak persoalan mengganjal dalam hatinya, ia perlu mencari teman untuk membicarakan beberapa kejanggalan itu.
Thio-gongcu yang lagi merawat cewek jelas tidak punya minat untuk mengobrol.
Maka Siau Ma mencari Siang Bu-gi.
Tukang pikul tandu bermalam di gudang rumput yang terletak di belakang rumah, beberapa orang tinggal di satu kamar, kamar yang dikelilingi papan kropos dan kotor, berdebu dan bergelegasi, dipan kayu cukup panjang dan lebar, dilembari tikar butut yang banyak tambalannya.
Siang Bu-gi tidur telentang dengan kedua telapak tangan sebagai bantal, matanya mengawasi Siau Ma tanpa berkedip.
Ia tahu Siau Ma punya urusan maka mencari dirinya, tapi kalau orang tidak bicara ia tidak mau bertanya.
Siau Ma tampak bimbang, dengan resah ia duduk di kursi dekat dipan, akhirnya ia bersuara.
"Aku menyeretmu ke dalam lumpur."
Siang Bu-gi bersuara dingin.
"Menyeret orang ke dalam lumpur memang kemampuanmu yang paling khas."
Siau Ma tertawa getir.
"Aku tahu kau tidak menyesal, tidak menyalahkan aku. Tapi aku justru menyesal."
"Kapan kau bisa menyesal?"
Jengek Siang Bu-gi. Siau Ma manggut-manggut.
"Kita sudah terjeblos dalam lumpur, padahal apa tugas dan yang telah kita lakukan aku tidak tahu."
"Bukankah kita melindungi pasien dalam tandu?"
"Tapi orang macam apa pasien itu? Kenapa tidak pernah muncul? Apa memang tidak boleh kena angin? Atau karena malu dilihat orang?"
Setelah menghela napas, Siau Ma menambahkan.
"Mau tidak mau aku curiga, apa betul orang dalam tandu itu sakit?"
Siang Bu-gi menatapnya.
"Sejak kapan kau curiga?"
"Baru saja,"
Ujar Siau Ma.
"Barusan?"
"Ya, waktu kau bertarung dengan Pok Can tadi, aku seperti melihat bayangan orang berkelebat di belakang tandu."
"Orang macam apa yang kau lihat?"
Tanya Siang Bu-gi.
"Aku tidak melihat jelas,"
Sahut Siau Ma kesal.
"Mau masuk atau keluar tandu?"
"Sukar aku mengatakan."
"Sejak kapan matamu lamur?"
"Kedua mataku tak kalah dibanding ketajaman matamu, soalnya gerak bayangan itu teramat cepat, gerak-geriknya mirip setan."
"Mungkin yang kau lihat memang setan."
"Oleh karena itu, aku ingin melihatnya lagi."
"Kau ingin membuktikan bahwa pasien yang ada dalam tandu betul adalah manusia?"
"Sekarang sudah larut malam, semua sudah tidur, hanya Lan Lan seorang mungkin berjaga di sana."
"Umpama cewek itu di sana, cara bagaimana kau akan menyingkirkan dia?"
"Cara apapun dapat kugunakan, kalau perlu pakai kekerasan, yang penting kita singkap dahulu tandu itu dan lihat siapa yang ada di dalamnya."
Siang Bu-gi menatapnya lagi sekian lama.
"Sekarang juga kau ingin membuktikan?"
"Kalau bukan sekarang memangnya tunggu kapan lagi?"
Omel Siau Ma. Selincah tupai Siang Bu-gi mendadak mencelat berdiri.
"Bagus! Watakmu ini memang sesuai seleraku." * * * * * Seluruhnya ada delapan kamar di hotel Damai itu, kamar yang terbesar berada di sebelah timur, ada jendela di tiga arah angin. Saat itu jendela tertutup seluruhnya, tertutup rapat, setiap lubang atau celah-celah dinding papan di tempel kertas supaya tiada angin yang masuk. Perlahan Siau Ma mengetuk jendela dari luar, setelah mengetuk beberapa kali dan ditunggu sekian lama, keadaan tetap sepi tiada reaksi apa-apa. Siang Bu-gi memungut sebatang dahan kering, ujung dahan kecil itu dia basahi dengan ludah lalu dimasukkan ke celah-celah untuk mencopot segel kertas di sebelah dalam. Kalau kertas basah, bila jendela terbuka tentu tidak menimbulkan suara berisik, setelah palang jendela berhasil mereka singkirkan, tangkas sekali mereka melompat masuk. Orang macam Siang Bu-gi sudah sekian puluh tahun berkelana di Kangouw, ada-ada saja akalnya, orang tidak tahu bahwa kamarnya digerayangi tamu tak diundang. Maklum Siau Ma dan Siang Bu-gi memang bukan Kuncu. Kamar ini masih dalam keadaan rapi dan bersih, ada kasur dengan seprei yang bersih dan selimut tebal. Tapi ranjang besar ini jelas belum ditiduri orang. Lan Lan tidak berada di kamar ini, tandu itu menggeletak di tengah kamar, dalam tandu tidak ada suara apa-apa. Siang Bu-gi melirik ke arah Siau Ma, Siau Ma juga tengah mengawasinya, serempak mereka melompat maju ke kanan kiri, secepat kilat pula tangan mereka meraih lalu menyingkap kerai tandu. Lalu kedua orang ini berdiri menjublek, kaki tangan menjadi kaku dingin. Ternyata tandu itu kosong, bayangan seorang pun tidak kelihatan. Mereka bertempur, berjuang mengadu jiwa, yang mereka lindungi hanya tandu kosong. Betapa penasaran dan keki hati mereka. Kalau benar sejak awal tiada orang dalam tandu, lalu darimana datangnya suara batuk? Umpama benar ada orang sakit dalam tandu ini, sekarang berada di sana?"
Membeku wajah Siang Bu-gi, desisnya geram.
"Bayangan yang kau lihat tadi apakah bukan setan?"
Siau Ma mengepal tinju, mulutnya pun mendesis gusar.
"Kita dikibuli setan perempuan itu."
"Lan Lan maksudmu?"
Tanya Siang Bu-gi.
"Ya, tapi bukan perempuan, lebih tepat dinamakan setan perempuan,"
Siang Bu-gi diam, seolah-olah sependapat dengan apa yang dikatakan Siau Ma.
"Menurut pendapatmu, apa tujuannya berbuat demikian?"
"Aku tidak dapat menerkanya."
"Ya, memang sukar dimengerti maksudnya."
"Hayolah balik dan tidur, pura-pura tidak tahu akan kejadian ini."
Suatu ketika setan akan menunjukkan bentuk aslinya.
Demikian pula siluman, akhirnya akan memperlihatkan ekornya.
Mereka mencari kertas lalu menempel pula celah-celah pintu dan jendela, demikian pula lubang di atas kertas jendela, lalu diam-diam mereka meninggalkan tempat itu kembali ke kamar masing-masing.
Setiap kali melakukan kerja seperti panca-longok begitu, mereka selalu hati-hati, mereka bukan Kuncu, juga bukan orang baik.
Syukur keadaan di luar sunyi senyap, tiada bayangan orang, dengan merunduk Siau Ma meringankan langkah menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Tapi baru saja hendak menutup pintu, mendadak ia berdiri tertegun.
Seseorang berada dalam kamarnya, tidur di atas ranjangnya.
Dipan yang semula hanya dilembari tikar bobrok dan butut entah sejak kapan ditukar dengan selimut kapas yang masih baru dan bersih, wangi lagi.
Lan Lan telentang di atas selimut mengawasi dirinya.
Tubuh yang montok dan padat itu ternyata tidak ditutup selembar benang sedikitpun, tidur dengan gaya merangsang lagi.
Pakaiannya tertumpuk di ujung ranjang.
Kerlingan matanya tampak redup tapi jalang, yang pasti keadaannya membangkitkan rangsangan jantan seorang laki-laki normal.
Setelah tertegun sejenak, Siau Ma anggap di kamar itu tiada orang lain kecuali dirinya, bergegas ia menutup pintu lalu mencopot pakaian dan melompat ke atas ranjang.
Lan Lan langsung memeluknya hangat, kerlingan matanya memabukkan, dengan napas terengah ia berbisik.
"Barusan kau kemana?"
"Tadi aku minum terlalu banyak,"
Demikian ucap Siau Ma.
"Perut kenyang dan mulas, terpaksa harus kubuang sebagian baru merasa segar."
"Lalu apa salahnya kalau kau keluarkan sedikit lagi bersamaku,"
Desis Lan Lan lalu melumat bibirnya penuh nafsu. Siau Ma tidak memberi reaksi, katanya sesaat kemudian.
"Kau tidak tidur di kamarmu sendiri, kenapa berada di sini?"
"Seorang diri aku tidak bisa tidur,"
Sahut Lan Lan.
"Kalau berduaan aku tidak bisa tidur malah."
"Agaknya kau sedang marah? Marah kepada siapa?"
Siau Ma diam saja.
"Apa kau takut Siang Bu-gi mengelupas kulitmu?"
Siau Ma tetap diam.
"Tadi Siang Bu-gi bilang laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan, tapi tak melarang menggoda laki-laki, oleh karena itu ...."
Tawanya genit dan merangsang, makin menggiurkan.
"Sekarang aku menggoda dan merayumu."
Agaknya cewek ini sudah ketagihan.
Siau Ma adalah pemuda jantan yang berdarah panas, nafsunya juga sudah memuncak, maka kedua tangannya tidak tinggal diam, meremas dan menggelitik dengan nakal.
Bibir Lan Lan makin panas, napasnya juga ngos-ngosan, rintihannya justru mengobarkan birahi Siau Ma, dengan kencang ia peluk tubuh yang mulus ini, payudaranya yang kenyal padat seperti pegas menekan dadanya, kini ganti dia yang melumat bibir Lan Lan.
Ditipu orang memang kejadian yang kurang menyenangkan, kalau tidak mau dikata penasaran.
Sekarang tiba saatnya Siau Ma menuntut balas, melampiaskan penasarannya.
Berbeda cara menuntut balas kaum persilatan yang menggunakan pedang atau golok, luar biasa adalah cara yang digunakan Siau Ma, meski ia memacu dengan gencar, kerja secara keras, memeras keringat, mengundang dengus napas yang menderu seperti kereta yang sarat muatan di tanjakan, tapi Siau Ma tidak kenal lelah.
Bibir Lan Lan yang semula panas menjadi dingin, deru panas yang ngos-ngosan berubah menjadi rintihan, rintihan yang mengundang birahi laki-laki.
Lan Lan memang cewek muda yang sudah matang, bagai buah yang sudah ranum, tubuhnya yang semampai dengan payudara yang montok kenyal adalah idaman tiap laki-laki.
Cewek ini memang memiliki syarat-syarat utama bagi perempuan yang dapat memuaskan lawan jenisnya.
Kalau dinilai keseluruhan, sebetulnya ia memiliki segala kebutuhan yang diperlukan oleh setiap laki-laki, malah miliknya jauh lebih istimewa, takkan pernah habis atau rusak meski sering dipakai.
Beberapa kali terjadi perubahan pada suhu badan dan bibirnya, panas dingin, dingin panas lagi.
Akhirnya napas Siau Ma menderu seperti babi yang akan disembelih.
Rintihan Lan Lan juga menjadi keluhan panjang, keluhan nikmat.
Setelah badai mereda, mereka pun bermandi keringat, dengan napas masih tersengal Lan Lan berkata lirih.
"Tak heran orang bilang kau sebagai keledai jantan, kenyataan memang demikian."
Perkataan ini harus dinilai kasar, apalagi diucapkan seorang perempuan, tapi dalam suasana dan keadaan seperti itu, diucapkan perempuan yang betul-betul puas dan nikmat, makna ucapan itu menambah romantis, menambah rangsangan birahi Siau Ma lagi.
Tapi Siau Ma sudah luluh, sudah lunglai.
Maklum selama ini kondisinya kurang prima, untung Lan Lan tidak menjual dirinya.
Padahal Lan Lan menerima barter yang diinginkan Long-kun-cu.
Demikian halnya dalam main cinta, seratus persen dia memberi dan seratus persen menuntut.
Maka yang terpikir dalam benak Siau Ma, kesannya terhadap cewek yang satu ini hanyalah kebaikannya, manfaatnya di saat dia memacu tenaga mencapai klimaksnya tadi.
Kamar itu menjadi tenang dan damai, rasa tegang dan suasana romantis sudah mengendor, di saat seperti itulah gampang timbul kembali nafsu birahi yang memadu keinginan laki dan perempuan.
Mendadak Siau Ma bersuara.
"Kenapa tandu di kamar itu kosong?"
Setelah melontarkan pertanyaan, Siau Ma amat menyesal, tapi pernyataan sudah dilontarkan, dijilat kembali juga tidak mungkin lagi.
Di luar dugaan, Lan Lan tidak kaget atau heran mendengar pertanyaannya, dia malah membalas bertanya.
"Apa kau ingin berjumpa dengan adikku?"
"Sayang aku tidak boleh melihatnya,"
Ucap Siau Ma menghela napas gegetun.
"Soalnya dia memang tidak berada di tandu yang kau lihat tadi,"
Demikian kata Lan Lan dengan senyum penuh arti. Agaknya dia sudah tahu apa yang dilakukan Siau Ma dan Siang Bu-gi di kamarnya tadi? "Sekarang dimana adikmu?"
"Dalam tandu di kamarku. Sakitnya cukup parah, terpaksa aku harus hati-hati merawat dan menjaga kesehatannya."
Siau Ma menyeringai dingin.
"Kau tidak percaya?"
Lan Lan penasaran. Siau Ma tetap bersikap dingin. Mendadak Lan Lan berjingkrak bangun.
"Hayo ikut aku,"
Serunya.
"kuajak kau melihatnya." * * * * * Peduli setan perempuan atau siluman perempuan, kenyataan Lan Lan menariknya ke kamar dimana tandu itu berada. Tandu yang berada di kamar Lan Lan adalah tandu yang selalu dinaikinya selama perjalanan. Kalau tandu yang tadi kosong, tandu yang ini ternyata memang berisi orang. Perlahan, dengan laku hati-hati seperti takut membuat kaget orang yang sedang tidur, Lan Lan menyingkap kerai lalu membuka gorden. Siau Ma lantas melihat orang setengah rebah di dalam tandu. Bulan sembilan adalah hari yang panas, hawa tidak pernah dingin meski berada di pegunungan. Tandu itu dilapisi kulit harimau, umpama hari itu hawa amat dingin, bila orang tidur dalam tandu dengan dilapisi kulit harimau, tentu akan merasa hangat dan nyaman. Tetapi orang dalam tandu sedang gemetar karena kedinginan. Orang ini masih muda, namun wajahnya pucat pias, seperti manusia yang kehabisan darah, keringat juga tidak mengucur keluar, meski sekujur tubuh dibungkus selimut tebal, badannya tampak gemetaran. Siapa pun tahu meski hanya melihatnya sekilas, usia orang ini masih muda, baru belasan tahun, tapi rambut dan alisnya sudah rontok, deru napasnya lemah kalau tidak mau dikata kempas-kempis. Melihat keadaan pemuda ini, orang akan maklum bahwa dia sedang sakit cukup parah dan gawat. Kini Siau Ma sudah melihatnya, ia pun maklum akan keadaannya. Ketika berhadapan dengan pemuda penyakitan ini, mimik Siau Ma mirip lelaki yang ketahuan mencuri bini orang, anehnya orang itu masih menganggap dirinya sebagai sahabat baik.
"Inilah adikku,"
Lan Lan memperkenalkan.
"Dia bernama Lan Ki-hun."
Mengawasi wajah yang pucat pias, Siau Ma tertawa, namun kulit mukanya terasa kaku dan tebal. Lan Lan berkata ke dalam tandu.
"Inilah Siau Ma yang melindungi kita dengan mempertaruhkan jiwa raganya."
Perlahan terbuka mata Lan Ki-hun, sorot matanya mengandung rasa terima kasih, perlahan ia keluarkan sebelah tangan lalu diulur ke depan, lekas Siau Ma menjabat tangannya dengan kencang.
"Terima kasih atas bantuanmu,"
Suaranya lemah lagi lirih, seperti bisikan nyamuk.
Demikian pula tangannya kurus putih lagi dingin, warna kulitnya mirip tangan orang yang sudah mati.
Setelah menggenggam tangan orang, perasaan Siau Ma makin tertekan, makin mendelu, mulutnya sudah terbuka namun sepatah kata pun tak kuasa diucapkan.
Pasien atau pemuda bernama Lan Ki-hun ini batuk-batuk, makin lama batuknya makin keras, makin gencar ia batuk, napasnya makin tersengal-sengal, akhirnya air mata pun meleleh keluar.
Menyaksikan keadaan yang menyedihkan ini, air mata Siau Ma hampir ikut menetes, syukur Siau Ma dapat melontarkan beberapa patah kata.
"Kau ... jagalah dirimu."
Setelah batuknya reda, dengan napas masih memburu Lan Ki-hun tersenyum kaku, mulut ingin bicara namun mata malah terpejam.
Perlahan Lan Lan menurunkan gorden dan kerai, lalu Siau Ma mendahului keluar kamar, ingin rasanya mencari lubang untuk menyembunyikan diri.
Waktu Lan Lan keluar, bola matanya masih kelihatan merah.
Mendadak Siau Ma berkata.
"Aku bukan keledai, lebih benar aku ini babi dungu."
"Kau bukan babi,"
Ucap Lan Lan dengan suara lembut.
"Tidak, aku memang babi."
Lan Lan tersenyum lebar.
"Kau tidak gembrot, tidak pendek, laki-Iaki jantan segagah kau mana mungkin menjadi babi."
"Aku ini babi kurus, babi jangkung,"
Ucap Siau Ma sambil mengangkat tangan, agaknya ia siap menggampar muka sendiri dua kali. Tapi Lan Lan memegang tangannya, perlahan ia menjatuhkan kepala di dada Siau Ma, katanya lembut.
"Aku tahu perasaanmu, aku sendiri juga amat sedih, tapi ...."
Kepalanya mendongak, matanya menatap halus.
"Asal kita bisa melindunginya dan selamat sampai di tempat tujuan, kita akan ...."
Siau Ma menukas dengan suara lantang.
"Kalau aku tak mampu menunaikan tugas, aku akan tumbukkan kepalaku di atas batu biar mampus."
Tangan Lan Lan mengelus pipinya, bibirnya juga mengecup bibir Siau Ma.
Mendadak Siau Ma sadar, dirasakan tangan gadis ini dingin, demikian pula bibirnya, tubuhnya gemetar.
Sekarang keadaan berbeda, tidak seperti tadi waktu dirasuk gejolak nafsu, kenapa tangan dan bibirnya menjadi dingin?
"Kau sedang marah?"
Tanya Siau Ma.
"Ehm,"
Lan Lan hanya mendengus.
"Marah kepadaku?"
Siau Ma menegas.
"Aku memang marah, tapi bukan marah kepadamu."
"Marah kepada siapa?"
"Aku sudah pesan wanti-wanti, mereka harus berjaga di sini, tapi bayangan mereka tidak kelihatan."
Siau Ma maklum apa yang dimaksud, dalam kamar hanya Lan Ki-hun sendirian dalam tandu, Cen Cen dan Cen Cu yang ditugaskan mendampinginya tidak kelihatan batang hidungnya.
Di saat seperti ini seharusnya mereka tidak boleh meninggalkan tugas.
"Umpama ada urusan penting juga tidak boleh keluar duaduanya."
"Mungkin hanya keluar sebentar, nanti juga mereka kembali,"
Demikian bujuk Siau Ma.
Kenyataan kakak beradik itu tidak pernah kembali lagi.
Seluruh pelosok hotel Damai sudah mereka geledah, namun bayangan mereka tidak ditemukan.
Celakanya bukan hanya dua kakak beradik ini yang hilang, Lo-bi juga tidak keruan parannya, entah minggat kemana.
* * * * * Tanggal 14 bulan 9.
Tepat lohor.
Cuaca cerah, awan bergantung di angkasa.
Waktu terus berlalu, mentari pun merambat ke barat.
Sinar surya masih memancarkan cahaya kemuning di balik gunung di kejauhan sana, menyorot masuk lewat jendela, menyinari wajah Siang Bu-gi yang pucat pasi dan dingin.
Thio-gongcu berdiri termangu di ambang jendela.
Siau Ma dan Lan Lan duduk dalam rumah, mereka sedang melamun.
Dengan penuh kesabaran mereka masih menunggu, menunggu berita Lo-bi dan Cen Cu serta adiknya Cen Cen, namun sejak pagi buta mereka menunggu hingga sekarang, kabar berita atau bayangan mereka tidak kunjung tiba.
Akhirnya Siang Bu-gi memecah kesunyian.
"Aku sudah bilang kurcaci itu bukan manusia."
Siau Ma tertawa getir.
"Tapi aku berani tanggung, Cen Cen dan Cen Cu pergi bukan karena hasutannya. Malah bukan mustahil dia mengejar atau melindungi mereka."
"Berdasar apa kau bilang demikian?"
Tanya Siang Bu-gi.
"Lo-bi bukan laki-laki iseng yang sudi berbuat kotor,"
Siau Ma berdiri namun duduk kembali di tempatnya, mendadak ia balas bertanya.
"Masih kau ingat gadis cantik berpaha jenjang itu?"
Sudah tentu Siang Bu-gi ingat.
Paha mulus dan sebagus itu tidak setiap lelaki dapat melihatnya sembarang waktu, bila ada kesempatan.
biar lelaki tulen, laki-laki normal, siapa pun sukar membendung hasrat untuk melihatnya.
Siau Ma berkata pula.
"Masih kau ingat apa yang dikatakannya? Asal kita mau mencari, setiap saat mereka akan menyambut kedatangan kita."
Waktu gadis cantik itu memberi pernyataan, kebetulan angin berhembus kencang sehingga pakaiannya yang terbelah tinggi di bagian bawah tersingkap, pahanya yang jenjang mulus terpampang di depan mata orang banyak, seolah-olah menyatakan secara terbuka bahwa dirinya dengan senang menyambut kedatangan setiap lelaki yang ingin merasakan kemulusan tubuhnya.
Lan Lan menghela napas.
"Perempuan itu mungkin jelmaan siluman iblis. Jika aku seorang laki-laki, mungkin hatiku tak kuat menahan gelora keinginan untuk mencarinya."
Dia masih ingat dan dapat membayangkan bagaimana rona dan mimik muka Lo-bi waktu melihat sepasang paha jenjang yang indah itu, dia juga masih ingat apa yang diucapkan gadis jelita yang terbuka dadanya itu kepada Cen Cen dan Cen Cu kakak beradik.
Mereka tidak suka main kekerasan kalau tidak terpaksa atau bila tidak dipancing kemarahannya, akan tetapi daya tarik yang menyesatkan dengan cara yang paling liar justru jauh lebih menakutkan dibanding cara kekerasan yang paling sadis sekalipun.
Siau Ma menghela napas, katahya gegetun.
"Seharusnya aku maklum dan tahu, bahwa gadis semuda mereka takkan kuat menahan gejolak hati oleh daya pikat liar yang menyesatkan itu."
"Aku hanya tahu yang satu saja,"
Ucap Siang Bu-gi.
"Yang satu apa?"
Tanya Siau Ma.
"Kehadiran mereka di sini tidak menambah jumlah, kepergian mereka juga tidak mengurangi tenaga dan kekuatan kita. Lalu apa pula yang harus ditunggu."
"Maksudmu kita harus meninggalkan mereka, tak peduli mati hidup mereka?"
"Memangnya kau ingin mencari mereka?"
"Ya, ingin sekali,"
Tegas suara Siau Ma.
"Tugas kita belum selesai, kita harus lewat gunung bukan?"
Siau Ma menarik napas sambil memejamkan mata, mulutnya bungkam.
Tengah mereka bersitegang leher, mendadak seorang gadis belia beranjak masuk dengan tertawa cekikikan, langkahnya gontai dan lunglai, bukan mabuk karena minum arak, keadaannya lebih mirip orang yang terbius.
Gadis ini masih muda, baru belasan tahun, wajahnya bulat telur, cantik juga, pakaiannya dari karung rami segiempat dan hanya dibuat lubang di tengah dan kanan kiri untuk kepala dan kedua tangan, bagian lubang di tengah tampak sobek turun ke bawah hampir mencapai perut, separohh bagian dada sebelah kanan dari baju karung rami yang dipakainya kelihatan berlepotan darah, darah segar yang masih menetes di lantai.
Gadis ini seperti tidak merasa sakit sedikitpun, wajahnya berseri tawa dan riang, seolah badannya tidak terluka sedikitpun.
Sambil melambaikan tangan, gadis ini menyapa ramah kepada semua orang yang ada di rumah itu, senyum yang menggiurkan dengan tingkah laku yang lucu dan jenaka, seperti bertemu dengan teman lama saja, sikap dan tingkah lakunya jelas menunjukkan bahwa gadis ini tidak bermaksud jahat terhadap siapa pun.
Diam-diam Siau Ma menghela napas.
Gadis ini adalah serigala betina, serigala yang masih muda, serigala betina yang sudah kehilangan kesadaran dan daya pikir yang normal, katakanlah gadis ini sudah terbius dan tenggelam dalam dunia khayalnya.
Bab 11 Wajah gadis ayu ini kelihatan membengkak, sorot matanya yang bening mengundang rasa hambar dan tak habis mengerti.
Mendadak dia menghampiri dan langsung duduk di pangkuan Siau Ma, tangan merangkul leher, tangan yang lain mengelus pipinya, mulutnya bernyanyi kecil seperti amat sayang terhadap benda kesenangannya, desisnya kemudian.
"Wajahmu tampan, aku suka laki-laki tampan, laki-laki gagah dan kekar, aku senang ... aku suka ...."
Siau Ma diam saja dan hanya mengawasi, tak mendorong atau balas memegangnya. Seorang kalau berani mengutarakan isi hatinya, maka dia pasti tidak bermaksud jahat. Lalu Siau Ma bertanya dengan nada iba.
"Kau terluka?"
Darah yang berkelepotan di baju karung masih basah, belum kering seluruhnya, namun gadis ini menggeleng kepala, sahutnya.
"Aku tidak terluka, aku tidak apa-apa."
"Tapi darah ini datang darimana?"
Tanya Siau Ma sambil menuding dadanya. Gadis itu tertawa, suaranya lembut.
"Ini bukan darah, ini air tetek, air susuku. Aku memberi air susu kepada si upik."
Sembari bicara dia menyingkap belahan lubang lehernya hingga dada yang berlepotan darah terpampang di depan mata Siau Ma.
Dalam masa akil baliq seusia gadis ini, payudara anak perempuan masih membukit kencang dan tegak, tapi Siau Ma hanya melihat separoh payudara di sebelah kanan, meski payudara di sebelah kiri masih utuh.
Seketika dingin kaki tangan Siau Ma.
Melihat mimik dan sikap Siau Ma, gadis itu cekikikan geli.
Padahal betapa sakit dan derita yang dirasakan seseorang yang kehilangan separoh payudara sebelah kanannya, tetapi gadis ini masih bisa tertawa riang, seolah-olah tidak merasa apa-apa.
"Coba kau terka,"
Demikian tanyanya dengan nada lucu.
"kemana susuku yang separoh ini?"
Sudah tentu Siau Ma tidak bisa menerka, tidak mau menerka, ia hanya menggeleng kepala.
"Dimakan oleh Hoatsu,"
Kata si gadis dengan riang dan bangga.
"dia adalah anak mestikaku, dia paling suka makan daging dan menerima susuku, aku suka memberi susuku kepadanya."
Jari-jari Siau Ma yang kaku menahan perutnya, hampir saja dia muntah.
Di Long-san ada Thaubak bernama Hoatsu, seorang pendeta, Hwesio tidak pernah makan daging hewan, entah daging babi, sapi, ayam, anjing atau kambing.
Hoatsu yang satu ini hanya makan daging manusia.
Perut Lan Lan juga mual, mendahului rekan-rekannya ia menumpahkan isi perutnya.
Payudara sebelah kiri gadis ini masih utuh dan kelihatan membungkit tegak, mendadak gadis itu mendorong payudaranya ke mulut Siau Ma, katanya lembut.
"Aku pun suka kepadamu, kau adalah anak kesayanganku yang kedua, aku ingin memberi susuku kepadamu."
Siau Ma menghela napas, mendadak ia angkat tangan menepuk tengkuknya.
Gadis itu menjadi lemas dan kelengar.
Pelan-pelan Siau Ma memapahnya lalu membaringkan tubuhnya di lantai di sebelah meja pinggir sana, lalu katanya dengan menyengir.
"Sebetulnya tidak pantas aku berbuat begini kepadanya, tapi tiada cara lain untuk mengurangi penderitaannya."
Untuk menghilangkan derita, cara yang paling manjur adalah cara yang digunakan Siau Ma atas gadis itu, cara langsung yang cespleng.
Tak lama kemudian juragan Jik muncul dari belakang, mengawasi gadis yang menggeletak di lantai, mendadak dia menghela napas panjang, gumamnya.
"Gadis cantik lagi sehat, kenapa manusia mau makan daun."
Siau Ma melengak, tanyanya tidak mengerti "Apa? Makan daun? Maksudmu gadis ini suka makan daun."
"Ya, makan banyak sekali. Serakus kambing yang kelaparan,"
Sahut juragan Jik. Siau Ma lebih heran.
"Dalam keadaan kepepet, manusia mau makan apa saja yang bisa dimakan, tapi dalam keadaan segar bugar orang makan daun...."
"Tapi daun yang dimakan bukan daun sembarang daun."
"Daun apa yang dimakannya?"
"Daun beracun yang menuntut imbalan jiwa raga yang memakannya,"
Demikian penjelasan juragan Jik dengan nada gegetun.
"Di belakang gunung sini ada tumbuh sejenis pohon yang dinamakan ganja, siapa setelah makan daun ganja dia akan menjadi sinting, pikirannya tidak normal, tingkah lakunya juga serba salah, seperti...."
"Seperti orang sinting atau mabuk arak begitu?"
"Sebetulnya lebih menakutkan dibanding orang mabuk arak, orang mabuk arak masih punya ingatan tiga puluh persen, tiga puluh persen sadar, tapi orang yang makan daun ganja, bukan saja menjadi sinting, malah tidak sadar bahwa dirinya masih ada di dunia fana, tidak tahu apa-apa, tapi perbuatan apapun dapat ia lakukan."
"Maksudmu seorang yang makan daun itu akan selalu kecanduan?"
Tanya Siau Ma. Juragan Jik manggut-manggut, katanya ngeri.
"Konon kalau sehari tidak makan daun ganja, mereka tidak bisa hidup senang, maka saban hari harus makan, makin makan makin celaka."
"Siapa yang kau maksud dengan mereka?"
Tanya Siau Ma.
"Yang kumaksud dengan mereka adalah kaum muda yang hidup di pegunungan ini, anak-anak besar yang menganggap segala sesuatu di dunia ini tidak mencocoki selera, terhadap siapa dan apapun yang ada di sekelilingnya, mereka merasa sebal dan sial."
Untuk menghilangkan keresahan dan lari dari tujuan hidup selayaknya, mereka makan ganja, setelah sinting baru mereka bebas dari tekanan dan beban hidup, mereka hanya menuntut kesenangan.
Siau Ma paham, menyelami keadaan dan jiwa mereka.
Maklum Siau Ma juga pernah meresapi betapa resahnya seorang hidup dalam kebingungan, risau lagi sengsara, terkekang serta menderita dan tak mampu melimpahkan penasaran hatinya.
Semua perasaan itu hanya dimiliki anakanak muda yang tidak diberi tuntutan hidup yang wajar, lingkungan hidup yang sempit menjadikan mereka hidup nyentrik.
Tapi lingkungan hidup Siau Ma lebih luas, maka ia tidak pernah lari dari kenyataan hidup.
Karena dia tahu, lari dari kenyataan bukan cara terbagus untuk menyelesaikan persoalan, hanya kerja berat, rajin lagi tekun, penuh semangat pengabdian dan tanggung jawab, berjuang mempertahankan hidup, seorang baru bisa membuang rasa resah, menyingkirkan kesengsaraan.
Perlahan Siau Ma berjongkok menutup baju karung si gadis di bagian dada yang tersingkap.
Teringat kepada Hoatsu yang suka makan daging manusia, terbayang betapa keji dan nelangsanya manusia yang satu ini, kejahatan sadis ini perlu ditumpas dengan ganjaran yang setimpal.
Kaki tangan Siau Ma berkeringat dingin.
Sambil berdiri mendadak Siau Ma bertanya.
"Kau pernah melihat Hoatsu?"
Matanya mengawasi juragan Jik.
"Ehm, sudah tentu pernah melihatnya,"
Sahut juragan Jik.
"Apa betul dia makan daging manusia?"
"Kalau punya anak, mungkin daging anak sendiri juga dimakannya."
Siau Ma mendesis geram, nadanya penuh kebencian.
"Manusia seperti ini masih dibiarkan hidup, sungguh aneh dan luar biasa."
"Di sini, di Long-san tidak ada yang aneh dan luar biasa."
"Jika anak gadis atau binimu diganyang dagingnya, tentu kau akan heran dan penasaran, kenapa manusia kejam seperti dirinya tidak lekas mampus saja."
"Umpama benar anak gadis atau biniku digares habis oleh Hoatsu, bukan saja aku tidak menuntut balas, malah akan menyingkir ke tempat jauh untuk menonton apa yang dia lakukan,"
Lalu dengan tertawa getir juragan Jik meneruskan.
"karena aku tidak ingin dagingku juga dimakan olehnya."
Siau Ma tidak sempat bertanya lagi karena dilihatnya dari luar beranjak masuk seorang tua dengan langkah lambat.
Seorang tua yang kelihatan kereng dan mengenakan kopiah bambu lebar sebesar baskom, jubah hitam yang gombrong dan panjang membungkus tubuhnya sampai menyentuh tanah.
Jenggotnya panjang memutih menyentuh dada, siapa pun yang berhadapan dengan orang tua ini akan menaruh hormat padanya.
Juragan Jik menyambut kedatangan orang tua ini dengan laku hormat dan tersipu, sambil munduk-munduk ia menarik sebuah kursi di pojokan sana, lalu berkata dengan mengunjuk tawa ramah.
"Silakan duduk."
"Terima kasih,"
Sahut orang tua itu mengangguk.
"Hari ini kau orang tua masih ingin minum ten?"
Tanya juragan Jik.
"Benar,"
Sahut si orang tua, suaranya kalem lagi damai, gerak-geriknya berwibawa dan hati-hati, siapa pun yang melihat orang tua ini, dalam hatinya akan merasa salut dan hormat.
Demikian pula Siau Ma, dia pun tidak terkecuali.
Tak pernah terbayang sebelumnya oleh Siau Ma bahwa di Longsan sini ada orang tua yang bersikap kereng dan berwibawa seperti orang tua ini.
Diam-diam Siau Ma berdoa agar orang tua ini tidak melihat gadis yang menggeletak di lantai di belakang meja itu.
Syukur orang tua ini memang tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Dia duduk tegak dan rapi, matanya tidak pernah melirik ke sana atau ke sini, hakikatnya tidak pernah melihat orang lain, seolah-olah hanya dia sendiri yang berada di tempat itu.
Juragan Jik bertanya lagi masih sambil munduk.
"Kau orang tua ingin minum Hiang-pi atau Liong-kin dari Hokkian?"
"Terserah apa saja yang kau siapkan, cuma seduhkan teh itu lebih kental dari biasanya, hari ini aku sudah kenyang dan puas,"
Dengan suara lega ia melanjutkan.
"tiap kali melihat gadis-gadis belia yang montok, seleraku menjadi tinggi, aku makan lebih banyak dari biasanya. Daging nona cilik memang empuk, enak lagi gurih, dan yang penting daging muda menambah sehat badanku."
Berubah air muka Siau Ma, jari-jari tangannya mengepal keras dan dingin.
Meski tempat duduknya tidak jauh, tapi orang tua ini melirik pun tidak ke arah Siau Ma, sikapnya tetap kereng berwibawa, dengan sebelah tangan dia membuka ikatan tali di bawah dagunya, lalu mencopot kopiah bambu di atas kepalanya.
Siau Ma melihat kepala orang tua ini gundul kelimis.
Kini orang tua ini kelihatan mirip padri kosen yang mendalam ajaran agama yang dianutnya.
Mendadak Siau Ma berdiri lalu menghampiri, setelah menarik kursi, lalu duduk di depan orang tua itu, tanyanya.
"Kau mau minum arak?"
Orang tua itu menggeleng kepala.
"Konon orang yang suka makan daging manusia harus banyak minum arak, kalau tidak, perut bisa mulas,"
Demikian olok Siau Ma.
"Sudah setua ini usiaku, belum pernah perutku sakit,"
Sahut orang tua itu kalem.
"Sebentar lagi mungkin perutmu akan sakit,"
Ucap Siau Ma menyeringai. Perlahan orang tua ini mengangkat kepala memandang Siau Ma sejenak, lalu geleng kepala, ujarnya.
"Sayang, sayang sekali."
"Apa yang dibuat sayang?"
Tanya Siau Ma.
"Sayang hari ini aku sudah banyak makan, perutku sudah kenyang."
"Kalau belum kenyang apa kau ingin mencicipi dagingku?"
"Tidak perlu dicicipi, sebagai seorang ahli, sekali pandang aku sudah tahu dagingmu pasti lezat,"
Lalu ia menjelaskan lebih lanjut.
"daging manusia dibagi beberapa jenis, dagingmu adalah jenis yang paling baik."
Siau Ma tertawa, tertawa lebar.
Juragan Jik keluar sambil membawa sepoci wedang teh yang wangi dan kental, asap putih mengepul dari mulut poci yang tegak melengkung ke depan.
Mendadak Siau Ma bertanya kepada juragan Jik.
"Apa betul di tempat ini belum pernah ada orang berkelahi?"
Juragan Jik mengangguk, sahutnya.
"Ya, sekalipun belum pernah ada."
"Bagus sekali,"
Lenyap suara Siau Ma, meja kayu di depannya mendadak mencelat ke atas dan meluncur keluar rumah, berbareng tinju kirinya menggenjot hidung sang Hoatsu.
Hoatsu tertawa dingin, telapak tangannya yang kurus seperti ranting kering melambai, kuku jari panjang yang semula melingkar itu mendadak mulur laksana pisau mengiris urat nadi Siau Ma di pergelangan tangannya.
Tak nyana, kali ini Siau Ma membarengi dengan tinju kanan yang menggenjot perut.
Jotosan Siau Ma dilontarkan secara gamblang, tanpa tipu tidak memakai akal, namun serangannya memang lihai, gerak tinjunya sangat menakjubkan, tinju Siau Ma memang teramat cepat.
"Bluk" , begitu tinju menghantam perut, suaranya seperti kayu memukul tambur pecah, menyusul terdengar suara "Krak" , kursi di bawah pantat sang Hoatsu mendadak hancur. Tapi orangnya masih bergaya duduk terapung di udara. Seakan kekuatan tinju Siau Ma menghajar hancur kursi yang diduduki orang tua ini, bukan menggenjot perutnya. Siang Bu-gi mengerut kening, ia maklum orang tua atau Hoatsu telengas ini menggunakan ilmu meminjam tenaga memunahkan pukulan lawan, jarang ada dalam Bu-lim jago silat yang mampu meyakinkan ilmu setara orang tua atau Hoatsu ini. Siau Ma tidak peduli bagaimana akibat pukulannya, tidak mau tahu ilmu apa yang digunakan lawan, dengan mendelik dia berkata.
"Perutmu sakit tidak?"
Dingin suara Hoatsu.
"Perutku tidak pernah sakit."
"Bagus,"
Belum lenyap suaranya, sepasang tinju Siau Ma bergerak lagi, yang diincar tetap hidungnya.
Gerak tangan Hoatsu juga tidak lambat, kuku jarinya yang panjang dan runcing setajam pisau menusuk tenggorokan Siau Ma.
Hoatsu balas menyerang dengan harapan dapat menghalau atau mematahkan tinju Siau Ma, maka serangan balasan mengincar leher yang cukup vital di tubuh manusia, sebelum melukai atau merobohkan lawan, Siau Ma dipaksa untuk menyelamatkan diri lebih dulu.
Siau Ma memang nekat, bukan saja tidak berusaha menolong diri sendiri, hakikatnya tak peduli apakah serangan kuku lawan bisa menamatkan jiwanya.
Yang penting tinjunya menjotos remuk muka lawan, maka tinju kanannya tetap menggenjot perut lawan.
Padahal kuku jari si Hoatsu yang panjang runcing tinggal setengah senti menusuk lehernya, sayang sekali tinju Siau Ma sudah mendahului mengenai perutnya.
Tinju Siau Ma bergerak laksana kilat, nyalinya teramat besar.
Bila dia ingin memukul perut seseorang, maka sasarannya harus kena, lawan harus roboh setelah kena jotosannya, mati hidup diri sendiri tidak pernah dipikirkan.
Mesti perutnya kena dua kali jotosan, Hoatsu tetap tidak bergeming dari tempatnya, pantatnya masih bergantung di udara, nyata kuda-kuda kedua kakinya memang hebat sekali.
Namun mukanya kelihatan berubah sedikit, kukunya yang panjang kembali melingkar di ujung jarinya.
Ternyata jotosan kedua Siau Ma di perutnya telah membuat pertahanan tenaga dalamnya di pusat dada, buyar tanpa terbendung lagi, laksana tanggul yang jebol diterjang air bah.
Tanpa landasan tenaga dalam, kuku jarinya itu tidak berfungsi sama sekali.
"Bagaimana? Perutmu mulai sakit bukan?"
Ejek Siau Ma sinis. Hoatsu menggeleng kepala. Siau Ma menyeringai dingin.
"Kalau perutmu tidak sakit, kenapa mukamu berubah, kenapa tidak mampu bicara?"
Pelan-pelan Hoatsu menarik napas panjang, mendadak tubuhnya mencelat ke udara, berbareng telapak tangan berbalik memenggal leher Siau Ma, sementara dua kakinya menendang perut dan dadanya.
Tipu ganas tipu telengas, gerak-geriknya aneh, waktu bergerak, sekujur badan bagai bergoyang, jubah longgar yang membungkus badannya juga bergetar, wajahnya beringas mirip siluman iblis kelaparan.
Sayang sebelum serangannya kena sasaran, tinju Siau Ma lebih dulu mendarat di perutnya.
"Blang"
Tubuh orang tua ini mental ke sana dan "Bluk"
Menumbuk ke dinding, lalu melorot ke bawah.
Siau Ma memburu maju, tinjunya bergerak cepat dan ganas, sederas hujan ia menghajar hidung dan muka orang, memukul perut, menggenjot pinggang dan dada.
Hoatsu dihajarnya sampai muntah darah, air liur, isi perut dan air kuning pun tertuang dari mulutnya.
Tapi Siau Ma masih terus menghajar dan memukul hingga tulang dadanya hampir remuk, saking kesakitan Hoatsu berguling di tanah, meratap dan meraung kesakitan.
Untung Siau Ma yang keletihan menghentikan pukulannya.
Lan Lan juga memeluknya dari belakang dan menyeretnya mundur.
Hoatsu menggeletak tak bergerak.
Wajah juragan Jik tampak pucat dan tegang.
"Begitu cepat tinjunya bergerak, bagai kilat saja."
Siau Ma berkata dengan napas tersengal.
"Boleh kau siarkan pada orang-orang di Long-san, bahwa si Kuda Binal pernah menghajar orang di hotelmu."
Juragan Jik menghela napas.
"Hanya di hotel ini kalian bisa aman, dapat makan kenyang dan tidur lelap tanpa diganggu. Kenapa kau justru melanggar larangan di tempatku ini?"
"Kalian sendiri yang bikin peraturan, aku orang luar tak perlu patuh pada larangan itu."
"Apa kau tidak tahu aturan?"
Tegur juragan Jik.
"Aku punya aturan sendiri."
"Aturan apa?"
"Orang yang patut dihajar harus diganyang, umpama harus mempertaruhkan jiwa ragaku juga akan kuhajar dulu bangsat itu,"
Lalu dengan nada dingin Siau Ma menambahkan.
"itulah aturanku, aturanku pasti lebih baik."
"Dalam hal apa aturanmu lebih baik?"
Tanya juragan Jik. Siau Ma mengangkat tinjunya.
"Selama tinjuku berguna, dia akan menegakkan aturan, tidak boleh ditawar lagi."
Juragan jik harus menerima kenyataan, siapa pun takkan bisa membantah, segala aturan di dunia ini, peduli aturan apa, tidak sedikit yang ditegakkan dengan kerasnya tinju.
Tinjuku lebih keras, maka aturanku pasti lebih baik, itulah hukum rimba persilatan.
Siau Ma mendelik pada juragan Jik.
"Satu hal perlu aku tegaskan kepadamu."
Juragan Jik mendengarkan.
"Hanya aku yang melanggar aturan, orang lain tiada sangkut pautnya, oleh karena itu, di saat mereka istirahat di sini, kalau ada orang berani mempersulit mereka, aku akan membuat perhitungan denganmu,"
Lalu dengan muka membesi menambahkan.
"aku yakin kau tidak akan melupakan peringatan ini."
Siau Ma tahu juragan Jik takkan berani alpa, tinjunya merupakan jamiman. Mendadak Lan Lan bertanya.
"Kami istirahat di sini, lalu engkau?"
"Lo-bi adalah sahabatku, Cen Cen dan Cen Cu juga baik terhadapku."
"Kau akan mencari mereka?"
Mengawasi gadis yang menggeletak di lantai, Siau Ma berkata sedih.
"Aku tidak akan membiarkan mereka tinggal di sini makan daun!"
"Tapi tenagamu amat kami butuhkan!"
"Saat ini kalian tidak perlu bantuan orang lain, kalau kalian tetap tinggal di sini akan aman sementara, apalagi kalian memang perlu istirahat."
"Bukankah kau juga harus istirahat?"
"Kondisiku masih baik,"
Ujar Siau Ma.
"kalau ada teman hendak terjun ke lautan api, asal masih bisa menariknya, peduli apapun yang harus kulakukan, tidak kupikirkan lagi."
"Apakah itupun aturanmu?"
"Ya, aturan yang tidak boleh diubah."
"Umpama jiwamu harus menjadi korban karena aturan itu, tetap tidak kau langgar aturanmu itu?"
"Ya, mati pun tidak akan kulanggar."
Tiba-tiba juragan Jik muncul lagi, sepoci arak ditaruh di depan Siau Ma.
"Silakan minum."
Melihat arak, Siau Ma tertawa lebar.
"Kau ingin jual arakmu kepadaku?"
"Untuk satu poci arak ini kau boleh minum tanpa bayar, gratis!"
"Sejak kapan kau mau mentraktir tamumu?"
"Mulai saat ini, aku hanya mentraktir tamu seperti dirimu."
"Orang macam apa aku ini?"
"Orang yang punya aturan, aturan yang ditegakkan sendiri,"
Lalu ia tuang arak secangkir penuh untuk Siau Ma.
"Orang seperti dirimu sudah makin jarang di dunia ini, maka dengan senang hati aku mentraktirmu."
Siau Ma tertawa lebar, cangkir diangkat, arak pun pindah ke dalam perut.
"Sayang, hari ini kau harus mentraktirku dua kali."
"Lho, kenapa?"
"Sebelum mentari terbenam, aku pasti kembali, umpama harus merangkak juga aku akan pulang ke sini."
Lan Lan menggigit bibir.
"Pulang untuk minum araknya?"
Tanyanya dengan mendelu. Siau Ma menatapnya.
"Pulang untuk melaksanakan tugas yang pernah kujanjikan kepadamu."
Mendadak Siang Bu-gi menyeletuk.
"Kalau kau mampus bagaimana?"
"Lebih baik kalau mampus."
"Lebih baik bagaimana?"
Tanya Lan lan.
"Betapapun ganas dan buas seekor serigala takkan berani melawan setan penasaran, di waktu hidup, aku laki-laki jalang, setelah mampus aku akan jadi setan liar,"
Lalu dengan tersenyum Siau Ma menambahkan.
"kalau setan liar melindungi kalian lewat gunung, apa pula yang harus kalian kuatirkan?"
Lan Lan ingin tertawa, tapi kulit mukanya terasa kaku tebal, lalu ia mengisi secangkir arak untuk Siau Ma.
"Sebelum matahari terbenam, kau yakin dapat menemukan kawanan serigala itu?"
"Aku tidak yakin, tidak punya pegangan, tapi ada orang yang dapat menunjukkan tempat itu."
Lan Lan mengawasi gadis yang semaput itu.
"Gadis ini maksudmu?"
"Ya, aku punya akal untuk membuatnya sadar,"
Ujar Siau Ma. Lan Lan menghela napas.
"Lukanya tidak ringan, kalau sadar tentu amat menderita."
"Derita itu justru akan membuatnya selalu sadar."
Derita memang bisa menjernihkan otak manusia.
Setiap orang yang mengarungi kehidupan pasti pernah menderita, dan siapa pun tak mungkin menghindarinya.
Jikalau manusia bisa selalu ingat hal ini, maka orang dapat bertahan hidup, hidup lebih tabah, hidup lebih senang gembira.
Lambatlaun orang akan sadar, hanya manusia sadar yang dapat meresapi penderitaan hidupnya, maka hidup itu akan ada artinya, hidup itu bermakna, maka harga dirinya pun harus dihormati.
* * * * * Air mengalir dari atas gunung, Siau Ma cemplungkan gadis itu ke dalam air gunung yang bening dan dingin.
Luka irisan di payudara gadis itu tidak ringan.
Air dingin merasuk ke dalam tubuh, membuat luka-luka itu perih sekali, rasa sakit memang susah ditahan, tapi rasa sakit itu akan membuatnya sadar.
Gadis itu meronta-ronta dalam air, berusaha berdiri, tangannya menggapai-gapai, mirip ikan yang terbidik tusukan tombak, namun ikan tidak bisa bersuara, sebaliknya gadis itu menjerit-jerit, ratapannya amat menyedihkan.
Siau Ma diam menyaksikan dan mendengar derita gadis ini, bukan karena tega dan tabah menyaksikan keadaan yang mengenaskan ini.
Tapi Siau Ma beranggapan, gadis ini harus dicuci jiwa raganya, bukan dicuci dengan air dingin, tapi dicuci dengan penderitaan, dicuci dengan rasa sakit yang luar biasa.
Emas dibakar baru bisa memperlihatkan kemurniannya, burung Hong harus mandi di dalam api baru akan memperlihatkan bulunya yang indah dan semarak.
Lama kelamaan gadis itu menjadi lemas, tidak meronta juga tidak merintih lagi, dengan tenang dia biarkan tubuhnya terapung di permukaan air, dengan napas tersengal-sengal ia membuka mata dan menengadah, maka ia melihat Siau Ma, sorot matanya tampak jernih, gadis ini sudah sadar.
Waktu lupa daratan karena pengaruh daun, mungkin gadis ini menjadi jalang dan cabul, setelah sadar, dia tidak lebih hanya gadis cilik yang tidak tahu apa-apa, gadis kesepian yang mendambakan pertolongan.
Melihat Siau Ma duduk tenang mengawasi dirinya di pinggir kolam, sikap dan mimik gadis ini tampak malu, kaget dan bingung.
Gadis cabul atau perempuan jalang takkan memperlihatkan sikap dan mimik begitu.
Hanya gadis cabul dan perempuan jalang yang berani berdiri dan bertolak pinggang tanpa mengenakan benang selembar pun di badannya.
Setelah gadis itu tenang, Siau Ma tersenyum ramah.
"Aku she Ma,"
Ia memperkenalkan diri.
"orang memanggil aku Siau Ma."
Dengan melenggong gadis itu mengawasinya sesaat lamanya.
"Aku tidak mengenalmu!"
"Ah, masa ya? Tadi kau mengajakku bermain, kenapa secepat ini kau lupa."
Gadis itu mengawasinya lagi beberapa saat, lalu mengawasi keadaan sendiri, lapat-lapat masih teringat olehnya apa yang telah dialaminya tadi.
Seorang yang terjaga dari mimpi buruk, takkan lekas melupakan makna dari impiannya.
Gadis itu termenung, agaknya susah dia membedakan kenyataan dalam mimpi atau keadaan yang dihadapinya sekarang.
Maklum gadis ini sudah lama terbenam dalam mimpi buruk itu.
Siau Ma maklum dan meresapi perasaannya.
"Apa kau ingin berdiri? Atau masih takut?"
Mendadak gadis itu melompat dari dalam air, menubruk ke arah Siau Ma, jari-jarinya seperti ingin mencekik leher dan mencolok mata Siau Ma.
Tapi sekali gebrak, urat nadi gadis itu telah tergenggam kencang olehnya, seketika gadis itu menjadi lumpuh, tak mampu berkutik lagi.
Dengan baju luarnya, Siau Ma membungkus tubuhnya, perlahan memeluknya penuh kasih sayang.
Gadis cilik itu mengertak gigi, desisnya geram.
"Akan kubunuh kau, cepat atau lambat pasti kubunuh kau."
Siau Ma berkata.
"Sebetulnya kau tidak ingin membunuhku, kau tidak membenciku, tapi kau membenci dirimu sendiri."
Sambil bicara Siau Ma tersenyum lembut, senyum simpatik. Tapi setiap patah kata yang dia ucapkan setajam jarum menusuk perasaannya.
"Aku tahu sekarang kau sudah menyesal, sudah bertobat, kau terperosok ke jurang nista itu hanya untuk mengejar kesenangan, mencari gembira dan ingin bebas, tapi di sana kau mendapatkan derita dan penyesalan."
Siau Ma saksikan mimik orang yang tersiksa lahir batin, kata-katanya pedas setajam sembilu menusuk ulu hati.
"Di kala kau sadar, kau akan selalu membenci diri sendiri, oleh karena itu kau berusaha menyiksa diri, menebus dosa yang pernah kau lakukan, tapi mungkin kau lupa atau tidak sadar, apa yang sudah kau lakukan justru tidak bermanfaat bagi orang lain, lebih celaka lagi, tidak berguna untuk dirimu sendiri."
Kata-kata yang tajam seruncing jarum menusuk sanubarinya hingga membuka bundel dalam hatinya.
Hal ini dirasakan dan diresapi juga oleh Siau Ma.
Tubuh gadis itu berguncang, air mata pun bercucuran, terisak dengan sedih.
Seorang kalau masih bisa mencucurkan air mata, maka dia masih bisa ditolong.
Dengan penuh kasih sayang Siau Ma membelai rambutnya.
"Untung kau masih muda, masa depanmu masih terbentang lebar, kesempatan masih menunggumu untuk membina diri ke jalan benar, menjadi manusia lumrah yang hidup tenteram sentosa."
Mendadak gadis itu menengadah, dengan air mata berlinang ia menatap Siau Ma, mimiknya seperti orang yang hanyut di sungai berarus deras berhasil meraih sebatang balok yang terapung di permukaan air.
"Apa betul aku masih sempat menolong diriku?"
"Ya, betul,"
Sahut Siau Ma tegas. * * * * * Air gunung itu jernih kembali, air kolam terus mengalir silih berganti. Menyusuri arus sungai di bawah petunjuk gadis cilik itu, Siau Ma menuju ke pedalaman.
"Air gunung ini bersumber dari sebuah danau,"
Demikian kata gadis cilik itu.
"namanya danau Surya."
"O, jadi di danau itulah kalian mengadakan upacara persembahan kepada sang surya?"
Tanya Siau Ma. Gadis itu memanggut.
"Setiap pagi di kala sang surya terbit, cahayanya menyinari permukaan danau."
Sorot matanya membayangkan khayal yang indah.
"Maka air danau menjadi cemerlang. Beramai-ramai kami terjun ke dalam danau tanpa menggunakan selembar benang, laki perempuan tidak berbeda, seolah-olah kita dipeluk atau direnggut oleh sang surya yang hangat dan damai."
Suaranya seperti igauan di alam mimpi yang penuh khayal, bukan merayu juga tidak mengandung maksud jahat.
"Biasanya kita mengadakan persembahan di kala sang surya terbit, kami berdoa semoga persembahan kami tetap abadi, kami tidak akan melupakan pujaan kami kepadanya."
"Dengan cara apa kalian mengadakan persembahan?"
Tanya Siau Ma.
"Biasanya kami hanya menggunakan untaian bunga warnawarni,"
Gadis itu bercerita dengan suara lembut.
"Rangkaian bunga yang segar yang kami petik dari pegunungan nan jauh di sana."
"Lalu kapan yang kau anggap bukan hari biasa?"
"Setiap tanggal 15 tiap bulan kami mengadakan upacara khusus."
"Dengan apa kalian mengadakan upacara khusus."
"Dengan awak kami sendiri,"
Si gadis menerangkan lebih jauh.
"Tiap tanggal 15 kami akan mempersembahkan jiwa raga kami kepada sang surya."
Siau Ma belum mengerti.
"Cara bagaimana upacara persembahan dilakukan?"
"Kami memilih seorang pemuda yang paling gagah dan perkasa di antara kita, dia kita lambangkan sebagai malaikat surya, setiap gadis di sini ingin mempersembahkan dirinya kepada malaikat surya ini. Biasanya upacara ini berlangsung sehari penuh, setelah sang surya turun di balik gunung baru upacara usai."
Lalu dengan suara lebih kalem gadis itu melanjutkan.
"Terakhir kali kami buat persembahan itu mati di bawah pancaran sinar surya yang terakhir kali menyorot di balik gunung itu."
Kini suaranya datar tapi mengesankan, seperti sedang berkisah tentang dongeng yang indah.
Bab 12 Sebaliknya perut Siau Ma mengejang setelah mendengar ceritanya, isi perut bergolak, hampir saja tumpah-tumpah.
"Apakah pemuda itu juga rela dijadikan korban?"
"Wah, sudah tentu rela,"
Sahut gadis itu.
"Di dunia ini tiada kematian yang dibanggakan seperti cara itu, mati secara suci."
Mendadak suaranya berubah duka nestapa.
"Sayang sekali kesempatanku terbuang percuma."
"Kau?"
Pekik Siau Ma.
"Dirimu juga jadi persembahan?"
"Pada hari upacara, setiap pemuda yang hadir akan mencari gadis pasangannya, memilih gadis yang dipujanya untuk dijadikan malaikat perempuan."
"Lalu tiap pemuda yang hadir akan ... akan ...."
Sukar Siau Ma menemukan ungkapan yang tepat untuk menjelaskan kejadian brutal itu.
"Setiap pemuda akan berusaha menyemburkan benih keturunannya ke tubuhnya. Bagi kami benih laki-laki jauh lebih berharga daripada darah, adalah jamak kalau setiap orang mempersembahkan miliknya yang paling berharga untuk disampaikan kepada sang surya."
Tinju Siau Ma mengepal kencang.
Nalurinya mendadak menangkap adanya suatu kekuasaan atau katakanlah seorang yang berikhtiar jahat menguasai atau mengendalikan anakanak muda yang keblinger itu.
Justru karena para pemuda itu mendambakan hidup bebas, hidup senang dan merdeka dalam alam khayal yang tak pernah tercapai, lalu orang ini melansir peritiwa kotor dan sesat sebagai kedok indah untuk mencpai keinginannya.
Kini sudah jelas, bukan hanya badaniah anak-anak muda ini saja yang terinjak-injak, dirusak dan disiksa, batin mereka pun dilukai, dikuasai dan pikiran juga dikelabui oleh suasana yang memabukkan.
Berkerutuk jari-jari Siau Ma saking kencang menggenggam gemas, ingin rasanya menjotos ringsek hidung orang jahat yang berkedok sebagai duta sang surya itu.
Gadis itu bercerita lebih lanjut.
"Besok lusa adalah tanggal 15, malaikat perempuan yang mereka pilih untuk persembahan bulan ini sebetulnya adalah aku."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Aku dicampakkan karena mereka ganti memilih pendatang baru,"
Demikian tutur gadis itu dengan suara sendu, jelas hatinya mendelu.
"Gadis yang terpilih itu adalah perempuan asing yang baru datang dari tempat jauh."
"Karena itu kau amat penasaran, sedih, marah dan masgul, maka kau makan daun sebanyak-banyaknya, kau ingin melupakan kejadian yang memalukan dan menyedihkan ini."
Gadis itu menunduk diam, diam adalah pengakuan. Mendadak Siau Ma tertawa, tertawa besar. Gadis itu menatapnya kaget.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Aku merasa lucu, kejadian ini amat jenaka."
"Kejadian apa yang lucu?"
"Peristiwa yang menimpa dirimu."
"Maksudmu aku yang lucu?"
"Seorang yang mesti menjadi korban, mendadak menjadi sadar dan tidak jadi berkorban sia-sia. Bahwa dirinya batal menjadi korban konyol, umumnya orang akan merasa senang dan lega, sebaliknya engkau justru amat sedih."
Lalu dengan menggeleng kepala ia menambahkan.
"Selama hidupku belum pernah aku mendengar atau menyaksikan kejadian selucu ini."
"Soalnya ada yang tidak kau ketahui."
"Soal apa yang tidak kuketahui."
"Kau tidak tahu apa makna kehidupan yang sejati."
"O, jadi kalau engkau meninggal, menjadi korban secara penasaran, di luar kesadaran lagi, coba jelaskan apa makna dari kehidupanmu?"
Gadis itu menghela napas.
"Kejadian itu boleh dianggap ajaib, suatu yang ... ya katakanlah penuh magis, sukar aku memberi penjelasan."
"Kau tahu siapa gerangan yang dapat menjelaskan?"
Siau Ma memancing.
"Ya, ada seorang dapat memberi penjelasan,"
Ucap si gadis dengan sorot mata bercahaya.
"Hanya seorang saja, karena hanya dia yang menuntun kami ke alam hidup abadi."
Tinju Siau Ma terangkat ke atas kepala, dia menekan emosi, mengendalikan gelora amarah yang membakar dada. Dia memancing lebih jauh.
"Siapakah dia?"
"Dia bukan lain ialah duta sang surya, malaikat lelaki, dialah yang menjadi pimpinan upacara persembahan itu."
"Dapat aku bertemu dengannya?"
"Kau ingin bertemu dengannya?"
"Ya, ingin sekali."
"Apa benar kau tulus ingin menjadi anggota kita? Menjadi pemuja malaikat surga."
"Ehm, aku ingin menjadi pengikutmu."
"Kalau begitu sekarang akan kubawa kau ke sana."
Siau Ma berjingkrak.
"Ayolah, sekarang juga berangkat."
Tabir malam masih lama, mentari masih bercokol di cakrawala, teriknya masih terasa seperti bara yang membakar kulit.
* * * * * "Setiap hari kala senja, waktu mentari menjelang kembali ke peraduannya, cahaya terakhir selalu kemilau di permukaan danau."
"Jadi saat itu kalian juga mengadakan upacara?"
"Ehm, menyenangkan sekali."
"Yang memimpin upacara juga malaikat surya itu?"
"Biasanya memang demikian."
Siau Ma mengawasi jari-jari tangannya yang terkepal, gumamnya.
"Kuharap hari ini juga ada upacara seperti biasanya." * * * * * Cahaya mentari menerangi langit, menerangi jagat raya, menyinari permukaan danau. Di bawah pancaran cahaya sang surya, permukaan danau yang tenang itu kelihatan seperti bara yang sedang menyala benderang. Di tengah danau terapung sebuah kapal. Kapal yang kecil, di atas kapal penuh bertumpuk bunga segar, bunga warnawarni yang harum semerbak, bunga-bunga segar yang dipetik dari atas gunung. Di pinggir danau ada satu orang. Seorang yang berpakaian serba kuning mirip robot yang dibuat dari emas murni, jubah panjang kuning emas, dengan mahkota yang serba mengkilap pula, demikian pula topeng menutup mukanya juga terbuat dari emas murni. Sendirian robot kuning ini berdiri di bawah cahaya sang surya, mentari hampir tenggelam, tampak betapa angker, gagah, semarak dan agung keadaannya. Siau Ma melihat orang ini, melihat robot kuning itu. Siau Ma sudah berada di pinggir danau, berada di tempat tujuan, dia meluruk datang dengan sepasang tinju yang terkepal sejak tadi, dalam pandangannya tidak nampak ada keangkeran dan keagungan dari robot kuning itu. Dia hanya melihat kesesatan, munafik dan kejahatan. Tak jarang terjadi di dunia ini, adanya peristiwa kotor yang memalukan, sering kali terselubung di balik keagungan yang indah. Sambil mengepal tinju Siau Ma maju menghampiri.
"Kaukah duta malaikat surya?"
Tanyanya berang dan gemas. Duta kuning itu manggut-manggut. Siau Ma menuding hidung sendiri.
"Kau tahu siapa aku?"
Duta itu manggut pula, lalu bicara.
"Aku tahu siapa engkau, aku sedang menunggumu."
Suaranya sinis tidak simpatik, tidak sehangat cahaya sang surya, namun membawa daya magis yang menyesatkan, robot kuning ini melanjutkan.
"Kalau kau benar-benar tulus memujaku, aku akan menerimamu, akan kutuntun engkau pergi ke surga, ke alam hidup abadi."
"Maksudmu mati adalah abadi?"
"Ya, ada kalanya mati diartikan hidup abadi."
"Kalau demikian kenapa tidak kau saja yang mampus?"
Sembari bicara Siau Ma menerjang sambil menjotos dengan sepasang tinjunya, menjotos hidung orang.
Umpama dia tahu hidung orang ini terbuat dari tembaga atau emas murni juga tetap akan digenjotnya sampai penyok, memukulnya hingga ringsek atau hancur luluh.
Berapa banyak hidung orang pernah dipukulnya sampai ringsek, Siau Ma sendiri tidak ingat.
Dia hanya ingat setiap kali tinjunya menggenjot, jarang ada musuh yang mampu menyelamatkan hidungnya, jadi tidak pernah ada lawan yang luput dari serangannya, umpama tidak mengenai hidung, paling tidak mata atau gigi lawan pasti dibuatnya cacat dan memar.
Padahal gerak jotosannya sederhana saja, tidak mengandung perubahan yang lihai, juga bukan tipu atau jurus yang menyesatkan, kelihaian jotosan Siau Ma hanya bisa dinilai dengan satu kata 'Cepat'.
Cepat sekali, kecepatan tinjunya memang patut membuat ciut nyali setiap lawan yang berhadapan dengannya, begitu cepat tinjunya bekerja, lawan sukar menghindar meski melihat jelas tinju Siau Ma menjotos tiba, namun sukar dielakkan dan tidak bisa ditangkis atau dipatahkan.
Kecepatan gerak tinjunya sukar diukur.
Tui-hong-to (golok pengejar angin) Ting-ki, tokoh yang terkenal dengan golok kilatnya di kalangan Kangow.
Konon di saat golok kilatnya bergerak, mampu membelah lalat atau nyamuk yang terbang di udara.
Suatu ketika Ting Ki menantang Siau Ma berduel, dia ingin membelah tubuh Siau Ma menjadi dua potong dengan golok pengejar anginnya.
Kenyataan goloknya memang sudah menyentuh leher Siau Ma, tapi bukan leher Siau Ma yang putus, sebaliknya hidungnya ringsek oleh tinju Siau Ma.
Kecepatan tinju Siau Ma mungkin belum mampu menandingi kecepatan pisau terbang Li Sin-hoan, seratus kali Li Sin-hoan menimpukkan pisaunya seratus kali kena, belum pernah pisau terbang itu gagal menunaikan tugas, kalau tidak yakin berhasil, Li Sin-hoan tidak akan menyambitkan pisaunya, tapi begitu pisau itu disambitkan, lawan pasti roboh binasa, hanya sekali sambit saja.
Meski belum seratus persen menyamai kecepatan pisau terbang Li Sin-hoan, sedikitnya sudah mencapai sembilan puluh lima persen.
Kalau ada orang iseng mau menghitung dan membandingkan pisau terbang dengan tinju kilat Siau Ma, rekor yang dicapai Siau Ma mungkin sudah mencapai sembilan puluh sembilan persen, berarti dalam seratus kali menyerang, hanya sekali tinju Siau Ma gagal merobohkan lawan.
Menakjubkan adalah kejadian sore hari ini, sungguh luar biasa bahwa tinju Siau Ma kali ini gagal menunaikan tugasnya.
Begitu tinjunya bergerak, duta malaikat surya segera melayang mundur seenteng daun segesit tupai.
Dalam jangka setengah hari, tepatnya belum cukup enam jam, sudah dua kali tinju Siau Ma tidak manjur lagi, gagal merobohkan lawannya.
Sungguh kejadian ini belum pernah dialaminya.
Mendadak Siau Ma sadar bahwa Ginkang dan gerak-gerik duta surya setingkat lebih tinggi dibanding Longkun-cu.
Duta itu bertolak pinggang mengawasi dirinya, lalu berkata dengan santai.
"Kau luput memukulku!"
"Ya, sekali luput, masih ada pukulan kedua dan seterusnya."
"Jadi kau masih ingin mencoba?"
"Selama hidungmu masih utuh, selama tinjuku masih bisa bergerak, pukulanku tidak akan berhenti, serangan takkan putus,"
Siau Ma siap menerjang lagi.
"Tunggu dulu,"
Mendadak duta surya berteriak.
"Tunggu apalagi?"
Jengek Siau Ma.
"Tunggu sebentar, akan kuperlihatkan seorang kepadamu."
"Siapa yang akan kuperlihatkan kepadaku?"
"Yang pasti orang ini amat elok dipandang, aku tanggung kau ingin melihatnya,"
Demikian ucap sang duta, nadanya tandas penuh keyakinan. Mau tidak mau tergerak hati Siau Ma, agaknya dia terpengaruh oleh ucapannya. Duta itu berkata pula.
"Setelah melihatnya, jikalau kau masih ingin memukul hancur hidungku, aku pasti tidak balas menyerang."
Siau Ma tidak percaya, namun hatinya lebih tertarik, maka ia bertanya.
"Siapa sebetulnya orang itu?"
"Keadaannya sekarang sudah bukan manusia lagi."
"Bukan manusia? Memangnya jadi apa dia?"
"Sekarang dia menjadi malaikat perempuan."
Hari itu setiap pemuda yang hadir dalam upacara akan memilih pasangan yang dipujanya untuk dijadikan malaikat perempuan sebagai pelampias napsunya.
Malaikat perempuan yang mereka pilih ternyata adalah perempuan asing yang datang dari lain tempat.
Jari-jari Siau Ma mengendor, tangannya jadi lemas, lutut pun goyah, tiba-tiba tinjunya mengepal.
Firasat jelek mendadak menggelitik sanubarinya, tak tahan ia bertanya.
"Dimana dia sekarang?"
Duta itu berputar dan menoleh ke sana, tangannya menuding kapal kecil di tengah danau yang ditaburi kembang itu.
"Di sana itulah."
Sang surya hampir terbenam.
Di saat hampir terbenam dan belum terbenam itulah, terasa merupakan saat-saat yang paling indah, paling menakjubkan.
Kapal kembang itu tampak semarak di bawah pancaran sinar surya, kelihatannya seperti di alam mimpi yang indah.
Namun mimpi indah itu mendadak berubah menjadi mimpi buruk, mimpi terkutuk.
* * * * * Dari atas geladak yang penuh bertaburan kembang segar itu, perlahan muncul bayangan seorang, lebih tepat kalau dikata berdiri pelan-pelan.
Yang muncul seorang gadis cantik, gadis rupawan yang bugil alias telanjang bulat.
Rambutnya yang hitam panjang terurai mayang laksana sutera, kulit badannya halus mulus laksana sutra.
Payudaranya membukit tegak, mungil lagi kencang dan menggiurkan, pinggangnya ramping, pahanya lurus jenjang dan bersih.
Gadis seperti ini merupakan idaman setiap lelaki, gadis yang selalu dirindukan setiap perjaka, seorang gadis yang hanya dapat ditemukan di alam mimpi.
Sebaliknya bagi Siau Ma pertemuan ini merupakan pertemuan buruk, mimpi buruk, semua serba buruk.
Betapa pahit getir dan sedih hatinya.
Betapa manis madu pengalaman masa lalu?
Kenangan yang tak terlupakan sepanjang masa.
Betapa senang dan riang mereka berkumpul?
Betapa sepi dan pilu perpisahan itu?
Untuk siapa selama ini Siau Ma menyiksa diri, kasmaran dan pesimis?
Siau Lin.
Dia menderita dan sedih karena siapa?
Karena Siau Lin.
Siau Ma menjadi gelandangan, berkelana ke ujung langit sekali pun, siapa yang dicarinya?
Siapa lagi kalau bukan Siau Lin.
Dimanakah Siau Lin sekarang?
Ternyata Siau Lin ada di sini.
Gadis yang berdiri di tengah tumpukan kembang, gadis yang bugil di atas kapal itu, gadis yang akan dipersembahkan kepada malaikat surya, tidak lain tidak bukan adalah Siau Lin yang selama ini dia cari, selama ini dia rindukan, Siau Lin yang tidak pernah lepas dari benaknya.
* * * * * Tangan Siau Ma berkeringat, sekujur badan menjadi dingin.
Dalam keadaan seperti ini, entah marah atau murka?
Sedih atau menderita?
Apapun bukan.
Hatinya kosong, menjadi hampa, sukma maupun darahnya, seolah tersedot habis.
Hanya orang yang pernah mengalami pukulan lahir batin, hanya yang pernah meresapi penderitaan hidup yang dapat memahami perasaan Siau Ma waktu itu.
Bagaimana dengan Siau Lin?
Seolah-olah gadis ini tidak punya perasaan.
Berdiri kaku, berdiri linglung di tengah taburan kembang, sukma dan darahnya seperti tersedot musnah dari raganya.
Siau Lin juga mengawasi Siau Ma, pandangan sayu, hambar, pandangan yang tidak kenal orang yang ada di depannya.
Mendadak Siau Ma menggembor, menggembor dengan segenap tenaganya, berteriak dengan segala tenaganya, berteriak dengan kilap dan histeris.
"Siau Lin ... Siau Lin ...."
Siau Lin tidak mendengar, Siau Lin sudah bukan Siau Lin yang semula, gadis telanjang ini sudah bukan Siau Lin, gadis bugil ini sudah siap dipersembahkan kepada malaikat surya.
Siau Ma memburu ke depan, lalu terjun ke dalam danau.
Tiada orang mencegah, tiada yang merintangi.
Kapal kembang itu juga bergerak pergi, Siau Ma berpacu dengan sekuat tenaga, Siau Ma berenang ke sana, kapal kembang itu melaju makin jauh dan akhirnya tidak kelihatan.
Kapal kembang itu mirip bunga dalam mimpi, kabut di tengah hembusan angina lalu, atau rembulan dalam air, hanya bias dilihat tapi tak mugkin dipegang.
* * * * * Sang surya telah terbenam.
Entah sejak kapan tahu-tahu tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, gunung nan jauh di sana kelihatan dalam bentuk yang samar-samar, air danau yang mengalun tenang juga tenggelam dalam kegelapan.
Duta malaikat surya yang serba kuning mengkilap di bawah pancaran sinar surya tadi, sudah berubah menjadir setitik hitam di kejauhan.
Padahal dia masih berdiri di sana, berdiri di pinggir danau, pandangan dan sikap dingin tak acuh mengawasi Siau Ma.
Siau Ma meronta-ronta dalam air, berjerih payah mengerjar kapal itu, jeritannya berubah menjadi lolong panjang yang mengundang gema tak berarti, kapal itu berubah menjadi bayangan dalam khayal meski dikejar dengan mempertaruhkan jiwa juga tak ada artinya lagi.
Waktu terus berlalu, malam makin gelap.
Air danau makin dingin.
Mendadak Siau Ma merasa hatinya sakit seperti ditusuk sembilu, begitu keras tusukan ini hingga kaki tangannya menjadi lemas, rasa sakit itu merasuk ke tulang sumsumnya, tubuhnya makin mengendap ke bawah, tenggelam di air danau yang dingin.
* * * * * Di sini tiada air, yang ada hanya api.
Api yang berkobar, jago merah sedang menyala benderang.
Lidah api menjilat udara tak pernah padam, begitu benderang cahaya api yang menyala itu hingga orang sukar membuka mata karena silau.
Akhirnya Siau Ma membuka matanya.
Di tengah kobaran api, muncul bayangan seorang, lidah api yang berkobar-kobar itu mirip kembang semarak, bayangan itu masih di tengah taburan kembang yang semerbak.
"Siau Lin… Siau Lin…"
Ada hasrat Siau Ma menubruk ke sana, menerjang dalam kobaran api.
Kenapa laron suka menerkam api?
Apakah laron bodoh?
Atau karena laron hanya mengejar cahaya benderang?
Mesti berkorban jiwa, tapi laron ingin memperoleh sinar harapan?
Demikian halnya dengan Siau Ma, besar hasratnya menerkam ke sana, namun tubuhnya terasa lunglai, tidak bisa bergerak.
Untung matanya masih terbuka, bisa melihat dan mendengar.
Orang pertama yang dilihat olehnya bukan lain adalah Lo-bi.
Lo-bi berdiri di pinggir api unggun itu, dengan cengarcengir mengawasi dirinya.
Entah karena lidah api yang menjilat-jilat atau karena pandangannya yang kabur, yang pasti Lo-bi terlihat olehnya serkarang, rasanya sudah berbeda dengan Lo-bi yang dahulu, Lo-bi sahabatnya yang dikenal baik itu.
Lo-bi yang dahulu meski berkulit tebal, walau seorang pemalas, seorang yang tidak tahu artinya malu, tapi kelihatannya dia masih mirip manusia, manusia lumrah seperti manusia pada umumnya, perawakan gagah, wajah pun genah dan wajar sebagaimana laki-laki umumnya.
Seroang jika hidupnya tidak keruan, mana mampu menyamar sebagai Sin-kun-siau-cu-kat Teng Ting-hou, mana mungkin menggasak makanan orang secara gratis alias tidak bayar, mana mungkin jual lagak dan main tipu?
Tetapi Lo-bi yang satu ini rasanya sudah berubah, berubah menjadi sinting.
Tujuh bagian gila, tiga bagian linglung.
Waktu mudanya dulu Lo-bi adalah laki-laki perlente, tak mau mengenakan pakaian sembarangan yang tidak memenuhi seleranya.
Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat yang hanya menitik beratkan pada pakaian, tidak menghargai orang ini, maka syarat utama bagi seorang yang ahli menipu orang, pakaian adalah modal utama, pakaian adalah modal murah tapi membawa hasil besar.
Tapi Lo-bi sekarang hanya berpakaian pendek dengan baju kutang saja, serba kotor dan jorok lagi.
Siau Ma melotot geram, ingin rasanya melakukan sesuatu, menjotos penyok hidung orang ini, sayang sekali, mengepal tinju pun jarinya tidak mampu bergerak.
Lo-bi yang cengar-cengir itu mendadak menuding hidung sendiri, lalu bertanya dengan nada jenaka.
"Bagaimana menurut pendapatmu tentang diriku sekarang?"
Siau Ma menjawab dengan dengusan hidung. Lo-bi tertawa.
"Jangan khawatir, keadaanku sekarang baik dan segar, malah selama hidup belum pernah aku menikmati hidup senang dan sebaik sekarang."
Waktu tertawa mimiknya kelihatan linglung.
"Sejak berada di sini, baru aku tahu, baru aku sadar, bahwa kehidupan yang hampir setengah abad dulu, hakikatnya tiada artinya, hambar dan sia-sia belaka."
"Enyah kau!"
Hardik Siau Ma gusar.
"He, kau suruh aku enyah? Baiklah aku enyah saja,"
Ucap Lo-bi sambil menjatuhkan diri terus menggelundung pergi.
Tampak oleh Siu Ma setelah menggelinding beberapa meter jauhnya, Lo-bi merangkak mirip anjing, pergi dengan merangkak.
Tidak keruan perasaan Siau Ma.
Peduli apapun yang telah terjadi, jelek-jelek Lo-bi adalah temannya, sahabat yang pernah sehidup semati.
Dalam keadaannya seperti itu masihkah dia dianggap sebagai manusia?
Namun pikiran Siau Ma terganggu oleh bayangan Siau Lin, terbayang dalam benaknya adegan apa yang akan dialami gadis pujaannya itu, Siau Ma lebih sedih, menangis dalam batin, hatinya remuk redam.
Namun Siau Ma tidak menangis, tidak mencucurkan air mata, tidak berteriak histeris.
Dia juga melihat duta malaikat surya muncul di pinggir api unggun, bertolak pinggang sambil mengawasi dirinya dengan sikap dan pandangan menghina.
"Sekarang ada dua jalan dapat kau pilih salah satu."
Karena tidak mampu bergerak, terpaksa Siau Ma mendengarkan saja. Lebih jauh duta itu berkata.
"Masih kuberi kesempatan padamu untuk menjadi pemujaku setulus hati, sebaliknya kalau kau ingin mampus, sekarang juga bisa kulakukan."
Siau Ma putus asa, ingin mati.
Dalam keadaan seperti ini dirinya jelas tidak mampu menolong Lo-bi, apalagi membebaskan Siau Lin dari cengkraman tangan iblis ini, saking gregetan, ingin rasanya terjun saja ke dalam api, biar jiwa dan raganya terbakar habis menjadi abu.
Untunglah pada saat-saat kritis itu, terkiang nasehat Ting Si sahabatnya itu.
Ting Si adalah temannya juga, teman akrab yang melebihi saudara kandung.
Olehnya maupun orang banyak, Ting Si dipandang sebagai si cerdik pandai.
Ting Si pernah bilang kepadanya.
"Mati, bukan cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan, hanya manusia lemah atau orang rendah budi yang membereskan dengan kematian. Selama masih hidup, masih punya tekad dan kemauan, ada semangat dan berani berjuang, persoalan apapun meski pelik dan rumit, tentu dapat diatasi dengan cara yang sederhana malah."
Terbayang oleh Siau Ma wajah Ting Si mendadak muncul di tengah kobaran api unggun, wajah yang tertawa penuh harap dan cerah, tawa yang mengundang simpati, senyum Ting Si selalu menarik perhatian orang, tawanya selalu menambah semangat dan mengobarkan keberanian.
Siau Ma mendesis perlahan.
"Aku belum ingin mati."
"Kalau begitu kau harus pahami satu hal,"
Duta itu menegas. Siau Ma mendengarkan.
"Jiwa ragamu kini tergenggam di tanganku, jiwamu menjadi milikku."
"Aku mengerti."
"Lalu dengan apa kau akan membarter jiwa ragamu?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Lan Lan."
Siau Ma melengak.
"Kau ingin memilikinya?"
"Ya, ingin sekali."
"Lalu bagaimana dengan pasien dalam tandu itu?"
"Dialah tujuanku yang utama."
Tenggelam perasaan Siau Ma. Dia bukan orang cerdik pandai, namun dia paham kemana maksud tujuan si duta.
"Maksudmu menukar Siau Lin dengan Lan Lan?"
Duta tidak menyangkal.
"Bila kau dan kawan-kawanmu berada di pihakku, mereka tidak akan lolos dari tanganku."
Siau Ma tidak segera menjawab, bukan menyetujui usul orang. Dia harus mengambil sikap untuk menarik kesan supaya lawan tidak menaruh curiga. Agak lama kemudian baru ia memancing dengan pertanyaan.
"Kalau kau ingin aku melakukan sesuatu, tentu kau akan membebaskan aku lebih dulu?"
"Ya, sudah tentu,"
Sahut si duta. Berdetak jantung Siau Ma.
"Kau percaya kepadaku?"
"Aku percaya sepenuhnya."
Berdebur keras jantung Siau Ma.
"Menurut anggapanmu apakah aku ini manusia yang rela menjual kawan sendiri?"
"Ya, aku tahu Kuda Binal bukan manusia macam demikian. Tapi mereka bukan temanmu, bukan keluarga atau sanak kadangmu. Hanya Lo-bi adalah sahabatmu, demikian pula Siau Lin sudah menjadi milikmu."
Dengan santai sang duta berkata lebih lanjut.
"Aku percaya, untuk membela dan menyelamatkan Siau Lin, kau rela mengorbankan mereka."
Perasaan Siau Ma mulai tenggelam lagi.
"Oleh karena itu, cukup kau berjanji lantas kubebaskan kau. Tanggal 15 sebelum menyingsing fajar, jika kau tidak membawa mereka kemari, maka Siau Lin ..."
Sang duta tidak melanjutkan perkataannya, persoalan sudah jelas maka ia tidak perlu banyak bicara. Siau Ma tidak ingin mendengar ucapan yang menyakiti hatinya, mendadak ia bertanya.
"Ada satu hal aku tidak mengerti."
"Kau boleh tanya."
"Bukankah aku yang kalian benci?"
Duta itu diam, tidak menyangkal, diam itu adalah jawaban.
"Orang dalam tandu itu adalah seorang asing yang sedang sakit, karena sakit keras, dia perlu cari pengobatan di gunung sebelah sana."
"Ehm, memang demikian."
"Tapi lantaran aku, kalian menbebaskan dia yang sedang sakit itu, kenapa pasien itu lebih penting dibanding diriku?"
"Karena pasien itu lebih berharga dibanding engkau,"
Cekak lagi tandas jawaban sang duta.
"Berapa duit harganya?"
Tanya Siau Ma.
"Nilai harganya cukup besar, betapa besarnya, mimpi pun kau takkan menduganya."
Siau Ma bungkam.
Rasanya ingin tumpah, dilihatnya Lo-bi sedang merangkak maju menghampiri, mirip anjing yang munduk-munduk di bawah kaki sang majikan lalu mencium kaki sang duta.
Sungguh Siau Ma tidak habis mengerti, kenapa manusia berubah secepat ini, dalam sehari saja terjadi perubahan yang begitu mengerikan.
"Kau harus berterima kasih kepadaku,"
Demikian ucap si duta.
"Aku tidak memaksa kau makan rumput, tapi kuberi obat jenis lain padamu."
Bab 13 Dingin jari-jari Siau Ma.
"Obat apa?"
Tanyanya.
"Yang terang obat itu adalah racun."
"Tapi racun juga banyak jenisnya."
Tawar suara sang duta.
"Tanggal 15 menjelang fajar engkau harus sudah berada di sini, atau kau akan merasakan racun apa yang sudah kutaruh dalam tubuhmu." * * * * * Tanggal 13 bulan 9. Malam sudah larut, kabut pun makin tebal. Cahaya lampu masih menyala di balik jendela hotel Damai, di luar kabut amat tebal, dari kejauhan, cahaya lampu mirip sinar rembulan yang redup. Suasana sepi, tiada orang lain dalam hotel itu, hanya terdengar suara tik-tak-tik-tak dari suipoa pemilik hotel yang sedang sibuk menghitung keuntungan hari ini, hari yang menggembirakan. Maklum selama membuka hotel dan selama hotel ini dibuka, belum pernah juragan yang satu ini merasa dirugikan, meski belum tentu satu minggu ada tamu yang menginap di hotelnya, tapi hari ini hotelnya laris, keuntungan hari ini jumlahnya lebih besar dibanding setengah tahun biasanya. Dengan langkah gopoh Siau Ma menerobos ke dalam rumah, tanyanya lantang.
"Mana mereka?"
Juragan Jik yang lagi asyik menghitung keuntungan itu tidak kaget, juga tidak heran, menoleh pun tidak.
"Siapa?"
Ia balas bertanya, tetap asyik dengan alat hitungnya.
"Teman-temanku itu,"
Sahut Siau Ma keki.
"Mereka sudah pergi."
"Kenapa mereka pergi?"
"Kenapa mereka pergi aku tidak tahu, yang pasti rekening hotel sudah dilunasi, cukup lama mereka berangkat, katanya harus buru-buru menempuh perjalanan."
Siau Ma menjublek.
Bukan ia ingin menjual kawan, bahwa ia kembali sesuai janji karena memerlukan bantuan tenaga.
Maklum dalam keadaan kepepet dan terdesak seperti Siau Ma, apalagi biasanya dia jarang menggunakan otak, maka setelah tersudut begini, dia kehabisan akal, kecuali mengulur waktu dan berunding dengan teman, tiada jalan lain yang bisa dia tempuh.
Cukup lama kemudian baru juragan Jik mengangkat kepala dan memandangnya sekejap.
"Kau tidak menyusul mereka?"
"Kau tahu ke arah mana mereka pergi?"
"Aku tidak tahu,"
Sahut juragan Jik menutup buku catatannya, setelah menghela napas, ia berkata.
"Aku tidak peduli kemana mereka pergi, aku hanya tahu mereka menuju jalan kematian, umpama kau menyusul mereka juga tiada gunanya."
Siau Ma menggerung gusar, dengan melotot tiba-tiba ia renggut baju di dada orang, lalu menyeretnya keluar dari balik meja kasir.
Juragan Jik pucat ketakutan, badannya menggigil, tapi masih tertawa dipaksakan.
"Aku bicara sejujurnya."
Siau Ma maklum apa yang dikatakan memang benar, karena orang bicara jujur maka hatinya mendelu, keki hingga emosinya berkobar, sekarang Siau Ma tidak bisa menipu diri sendiri.
Sebetulnya ia segan menjual orang lain, mengorbankan orang lain demi keselamatan dan keutuhan Siau Lin, tapi ia pun pantang kehilangan Siau Lin, tidak boleh berpeluk tangan melihat Siau Lin berkorban percuma.
Menghadapi jalan buntu begini, makin keruh pikiran Siau Ma, kini tiada orang bisa membantu dirinya menyelesaikan persoalan pelik ini, lalu apa gunanya menyusul mereka?
Juragan Jik memperhatikan perubahan rona mukanya, lalu katanya memancing.
"Aku maklum kau menghadapi kesulitan, kecuali pelik persoalan ini juga menyudutkan dirimu."
Pucat muka Siau Ma. Lekas Juragan Jik berkata pula.
"Jelek-jelek kita sudah jadi sahabat, apa salahnya kubantu mengatasi kesulitanmu ini, di Long-san, siapa pun jika menghadapi kesulitan, jarang ada orang mampu membantunya."
"Kukira masih ada seorang membantuku,"
Mendadak Siau Ma bersuara.
"Siapa?"
Tanya juragan Jik.
"Orang yang paling berkuasa di Long-san."
Juragan Jik tertawa kaku.
"Ya, hanya sepatah kata diucapkan Cu Ngo Thay-ya, segala persoalan dapat dibereskan, sayang sekali..."
"Sayang aku tidak dapat menemukan dia?"
"Bukan hanya tidak bisa bertemu dengan dia, yang pasti tidak ada orang bisa bertemu dengan dia."
"Aku yakin ada seorang tahu dimana kini dia berada."
"Siapa?"
"Siapa lagi kecuali engkau!"
Pucat muka juragan Jik, kemudian berubah hijau kelam.
"Bukan aku, benar, aku tidak tahu ...."
"Tunjukkan tempat tinggalnya, aku berjanji tidak akan membuatmu celaka, Cu Ngo Thay-ya juga tidak akan menyalahkan engkau, karena aku akan mengantar kado kepadanya."
"Mengantar kado? Kado apa?"
"Sepasang tinjuku,"
Sahut Siau Ma sambil mengacungkan tinju di hidung juragan Jik.
"Kalau kau tidak mengantarku, sepasang tinjuku ini biar kuberikan kepadamu."
Juragan Jik tidak kena gertak, membusung dada malah.
"Umpama engkau bunuh, aku tidak mau membawamu."
"Aku tidak akan membunuhmu, orang mampus mana bisa menunjukkan jalan, tapi kalau hanya hidung ringsek kan masih bisajalan dan dapat menunjukkan tempatnya."
Keringat dingin menghias ujung hidung juragan Jik, katanya dengan cemberut.
"Orang yang hidungnya ringsek juga takkan menemukan beliau."
"Bagaimana jika sebelah matanya dicolok keluar?"
Desis Siau Ma.
"Wah, itu ... itu ...."
"Mungkin mata buta sebelah juga tidak jadi soal, tapi lakilaki hanya ada satu yang tidak boleh hilang, karena hanya itulah modal utama setiap laki-laki tulen, hanya dengan itunya dia dapat menunjukan kejantanannya."
Bercucuran keringat di jidat juragan Jik, badan pun basah oleh keringat dingin, mulutnya megap-megap tidak mampu bicara.
Dia ingin hidup normal, ingin menjadi pejantan di atas ranjang, alat vital adalah benda yang tidak boleh kurang.
"Sekarang apakah sudah kau ingat dimana kira-kira aku dapat bertemu dengan beliau?"
Desak Siau Ma. Juragan Jik tergagap.
"Sudah, sudah ingat, tapi lepaskan dulu cekalanmu supaya aku dapat mengingat-ingat dengan lega."
"Berapa lama kamu mengingat?"
Tanya Siau Ma. Sebelum juragan Jik buka suara, seorang sudah berkata di luar pintu dengan suara hambar.
"Tiga tahun juga dia tidak akan bisa mengingatnya lagi."
Yang bicara adalah suara perempuan, namun berbeda dengan suara perempuan umumnya, suara perempuan yang satu ini gede dan rendah lagi berat, yang luar biasa adalah sepasang kaki perempuan yang satu ini gede sekali, lebih besar dari kaki laki-laki yang paling besar.
Setiap manusia punya kaki, demikian pula perempuan, namun kaki juga beraneka ragam bentuknya, ada yang elok, tapi ada juga yang jelek, ada yang halus juga tidak sedikit yang kasar, terutama kaki kaum petani yang setiap hari kerja di sawah ladang, bukan saja jelek, bentuknya mirip wortel yang sudah kering kepanasan.
Ajaib adalah sepasang kaki perempuan yang satu ini, bentuknya mirip dua buah kapal, kalau dia tidak memakai sepatu, umpama tidak tahan muat orang menyebrang sungai, sedikitnya dapat dibuat ayunan tidur seorang bocah.
Jika orang belum pernah melihat perempuan yang satu ini, orang pasti bilang mimpi pun tidak mengira kalau di dunia ini ada sepasang kaki perempuan segede itu.
Celakanya kaki segede itu justru tumbuh di badan seorang perempuan.
Kini Siau Ma menyaksikan sendiri, meski sudah menyaksikan sepasang kaki perempuan segede itu, namun dia masih kucek-kucek mata segala, seperti tidak percaya apa yang dilihat matanya.
Maklum, perempuan yang gede kakinya ini bukan lain adalah Liu Kim-lian atau Liu-toaga, Liu si kaki gede.
Kenyataan bukan hanya sepasang kaki Liu Kim-lian saja yang gede, mulutnya juga besar dan lebar, bibirnya tebal seperti mulut ikan gurami, matanya yang bundar besar mengawasi Siau Ma dengan mendelik, seolah-olah Siau Ma ingin ditelannya bulat-bulat.
Melihat kaki, mulut dan tampang serta perawakan perempuan yang satu ini, Siau Ma ingin muntah.
Sambil bertolak pinggang, berlagak nyonya besar Liu Kimlian mengawasi Siau Ma, dari kepala sampai ujung jari, seakan-akan sedang memilih telur bebek, beberapa kejap kemudian ia bersuara pula.
"Kalau kamu ingin bertemu dengan Cu Ngo Thay-ya, hanya ada satu orang dapat mengajakmu ke sana."
"Siapa?"
Tanya Siau Ma. Liu Kim-lian mengangkat tangan, jarinya yang gede seperti lobak menuding hidung sendiri yang berbentuk terong.
"Aku!"
Katanya tegas. Diam-diam Siau Ma mengeluh, namun ia bertanya.
"Kau mau membawaku?"
"Tapi kamu harus menerima satu syaratku,"
Ucap Liu Kimlian.
"Apa syaratnya?"
"Tiang-tui telah kalian bunuh, maka selanjutnya kau harus jadi lakiku."
Sekali raih Siau Ma menjinjing juragan Jik, serunya gugup.
"Orang ini pandai bicara, berbadan kuat dan 'burungnya' juga masih berfungsi, juragan hotel pintar cari duit, kalau dia menjadi lakimu adalah pilihan yang paling tepat."
Sebelum Siau Ma bicara habis, juragan Jik sudah menggeleng kepala dan meronta-ronta.
"Aku tidak mau, aku tidak setimpal...."
Siau Ma tidak memberi kesempatan orang banyak bicara, sekali raih dia samber kain pembersih meja terus dijejalkan ke mulutnya.
"Nah, kuserahkan dia kepadamu kau mau tidak?"
"Aku tidak mau,"
Sahut Liu Kim-lian menjengek.
"Lho, dia juga laki-laki tulen, meski agak tua tapi belum menikah, lalu laki macam apa yang kau idamkan?"
"Aku menaksir kau,"
Seru Liu Kim-lian, tahu-tahu tubuh yang genbrot itu menubruk Siau Ma.
Bagai puncak gunung yang mendadak ambruk menindih turun ke bawah.
Jangan kira tubuhnya gembrot dan kaki gede, ternyata gerak-geriknya enteng lagi lincah, begitu mementang kedua lengan, seperti elang menubruk kelinci, jari-jarinya mencakar ke depan.
Untung Siau Ma bukan kelinci.
Sebelum jari-jari tangan segede lobak itu meraih tubuhnya, sambil mengendap tubuh, tinju Siau Ma menjotos tumpukan daging di muka orang gemuk ini, tumpukan daging bundar yang mirip terong.
Peduli benda apa daging gemuk bundar itu, bila jotosan Siau Ma memukulnya, siapa pun pasti tak kuat menahannya.
Sayang sekali Siau Ma melupakan satu hal.
Dia lupa kecuali kakinya gede, mulut Liu Kim-lian juga besar dan lebar.
Begitu tinjunya menjotos tiba, Liu Kim-lian membuka mulut, hingga tinju Siau Ma menerobos masuk ke mulutnya.
* * * * * Siau Ma dijuluki Kuda Binal, maksudnya kuda muda yang suka mengumbar amarah.
Kuda yang suka marah, juga kuda yang suka berkelahi, demikian halnya dengan Siau Ma, lantaran sebab yang aneka ragam, dia sering berkelahi dengan berbagai corak manusia.
Oleh karena itu, terhadap jurus silat dari perguruan atau partai mana pun di dunia ini, serangan yang aneh dan lucu sekali pun sudah dilihat dan dihadapinya langsung.
Tapi tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa Liu Kim-lian akan menghadapi pukulan tinjunya dengan akal yang sederhana tapi manjur.
Siau Ma merasa tinjunya menjotos setumpuk tanah liat yang busuk tapi panas.
Celakanya tanah liat ini bergigi tajam, begitu tinju menyelonong masuk mulut, urat nadinya pun tergigit kencang.
Sebelum Siau Ma mampu berkutik, lengan sebesar paha itu sudah memeluknya kencang, muka Siau Ma terbenam di tengah dua gumpal bukit bergantung yang besar hingga susah bernapas.
Baru sekarang Siau Ma sadar dan mengerti, persoalan apa yang paling mengerikan dibanding kematian.
Dipeluk perempuan gembrot macam Liu Kim-lian, merupakan pengalaman yang mengerikan, kejadian yang lebih menakutkan daripada mati.
Apalagi kalau dipaksa menjadi lakinya, wah, siapa pun takkan berani menanggung akibatnya.
Sayang sekali dalam keadaan seperti ini, ingin mati juga tidak mungkin lagi.
Bila seseorang sedang mengulum benda dalam mulutnya, apakah orang itu masih bisa tertawa ngakak?
Liu Kim-lian bisa.
Loroh tawanya dapat membuat pendengarnya menguras isi perutnya.
Celakanya lagi, jari-jari Liu Kim-lian segede lobak itu bergerak nakal, menggerayangi tubuh Siau Ma.
Padahal muka Siau Ma terbenam di tengah gundukan daging kenyal lagi tebal di dada Liu Kim-lian, walau mata tidak bisa melihat, tapi dia merasa kalau Liu Kim-lian membopong dirinya ke kamar terbesar yang kemarin ditempati Lan-Lan, ranjang yang ada di kamar ini juga nomor satu.
Apa yang akan terjadi setelah Siau Ma dibopong masuk kamar?
Anda dapat membayangkan sendiri.
Untung nasib Siau Ma mujur, kejadian yang lebih fatal tidak menimpa dirinya, karena begitu melangkah masuk kamar, Liu Kim-lian terus roboh, bukan roboh di atas ranjang tapi ambruk di lantai.
Bagai segunduk tanah berbukit yang mendadak longsor, berbareng darah juga menyemprot dari urat nadi besar di belakang lehernya, menyiprat dinding, muncrat di atas ranjang.
Fisik perempuan gembrot ini memang kuat luar biasa, meski sudah terluka parah dan ambruk di lantai, tapi dia masih kuat meronta dan siap menubruk dengan raungannya yang keras, tapi sebelum sempat berdiri, ulu hatinya kembali terbacok bolong, bacokan yang parah dan fatal akibatnya.
Seperti diketahui, Siau Ma dipeluk kencang, kedua tangan pun tidak mampu digerakkan, apalagi tidak memegang senjata.
Lalu siapa penyergap dan pembunuh Liu Kim-lian alias si kaki gede ini?
Siau Ma gelagapan, kaget oleh kejadian yang tidak terduga ini.
"Akulah yang membunuhnya,"
Orang itu berkata kalem, tangannya memegang sebilah benda lebar.
Pisau besar dan lebar itu biasanya untuk merajang sayur di dapur.
Hanya dengan pisau dapur mampu membunuh Liu Kim-lian, macam apakah pembunuh ini?
Liu Kim-lian bukan jago lemah, kepandaiannya amat tinggi, tidak mudah seseorang menyerangnya roboh meski dengan menyergapnya, kalau orang itu tidak dicurigai atau sudah dikenalnya baik.
Dan hanya seorang yang sudah dikenal baik, yang tidak diduga akan membokong saja yang mampu merobohkannya dari jarak dekat, apalagi Liu Kim-lian sudah kebelet, sudah dirangsang nafsu setelah memperoleh mangsa yang akan dapat melampiaskan birahinya.
Maka pedagang atau pemilik hotel yang dianggap tidak berbahaya itu dengan mudah berhasil membokongnya.
Darah masih menetes di ujung pisau dapur itu.
Pisau masih berada di tangan juragan Jik.
Siau Ma mengawasi pisau itu, mengawasi tangan juragan Jik.
Sejak berada di hotel ini, sudah beberapa kali Siau Ma berhadapan dengan juragan hotel ini, namun hanya wajah orang yang selalu ia perhatikan, mimik tawa yang ramah serta tutur kata yang lemah lembut, pandai menarik perhatian dan simpati orang, tidak heran kalau berdagang di Long-san yang liar dan jarang dikunjungi orang luar ini, dia masih dapat bertahan hidup tanpa kekurangan.
Kali ini Siau Ma hanya memperhatikan tangan juragan Jik, tangan kanannya, tangan kanan yang satu ini berbeda dengan tangan orang kebanyakan, tangan kanan juragan Jik memiliki tujuh jari.
Jari yang lima memegang kencang gagang golok, lima jari yang bentuknya sama dengan jari-jari manusia lainnya, tapi di punggung ibu jarinya itu tumbuh lagi dua jari lain yang bentuknya lebih kecil dan bundar, jadi mirip dahan pohon yang bercabang.
Siau Ma menarik napas lega.
"Ternyata kau adanya."
"Ya, aku,"
Ucap juragan Jik pendek.
* * * * * Tanggal 13 bulan 9, hari sudah larut malam, kentongan keempat sudah lewat.
Kabut amat tebal.
Di tengah kabut tebal itu, Siau Ma berjalan berendeng dengan juragan Jik.
Kabut begitu tebal, dalam jarak tertentu mereka tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, maka Siau Ma takut ketinggalan, secara ketat ia mengikuti langkah juragan Jik yang menunjukkan jalan.
Apalagi Siau Ma merasa pedagang yang memiliki hotel ini agak misterius, kiblatnya susah diduga.
Setelah sekian jauh mereka berjalan tanpa bicara, akhirnya juragan Jik buka suara.
"Tahukah kau persoalan apa yang paling sial kualami selama hidup?"
"Sial karena nenek itu?"
Juragan Jik menghela napas panjang, lalu berkata dengan gegetun.
"Ya, tapi nasibku menjadi baik lantaran aku mengenalnya."
"Lho, kok lucu?"
"Tanpa bantuannya, mungkin sekarang aku berdagang di akhirat."
"Maka kau ingin membalas budi kepadanya."
"Ya, dan karena itu sampai sekarang aku masih hidup."
Kalau tadi Siau Ma benar-benar dipaksa menjadi lakinya Liu Kim-lian, kecuali menumbukkan kepalanya ke dinding hingga pecah, apa pula yang dapat ia lakukan?
Walau dalam hati Siau Ma amat berterima kasih atas pertolongan orang, namun lahirnya dia tetap bersikap angkuh, tidak mau mengucap terima kasih.
Maka Siau Ma bertanya.
"Jalan kemana yang sedang kita tempuh sekarang?"
"Terserah jalan apa yang kau inginkan?"
"Terserah kepadaku?"
"Kalau jalanmu benar, arahnya tepat, jalan itu akan merupakan jalan hidup yang dapat kau tempuh di Long-san."
"Kalau aku salah jalan?"
"Maka kau akan terjun ke akhirat bersamaku, selaksa tahun juga takkan bisa menitis lagi."
Siau Ma maklum arti ucapan juragan Jik, tapi bertanya lagi.
"Kecuali raja akhirat, siapa lagi yang bisa menyeret aku ke neraka."
"Masih ada satu raja, raja yang berkuasa di Long-san,"
Sudah jelas dan gamblang maksud ucapan juragan Jik, namun Siau Ma ingin tahu lebih jelas.
"Siapakah raja yang berkuasa di sini?"
"Raja gunung serigala,"
Sahut juragan Jik, waktu bicara nadanya menaruh rasa hormat dan segan.
"Kecuali raja akhirat, di daerah Long-san kekuasaannya lebih besar dibanding raja akhirat." * * * * * Setiap jalan tentu ada ujung dan pangkalnya. Ujung jalan ini ternyata berada di puncak gunung. Kabut tebal di bawah kaki, bila Siau Ma mendongak ke atas, yang terlihat adalah langit biru, sang surya sedang memancarkan cahayanya di ufuk timur. Cahaya benderang menyinari jagat raya. Berdebar jantung Siau Ma.
"Tanggal berapa hari ini?"
"Tanggal empat belas,"
Sahut juragan Jik. Siau Ma menengadah.
"Tempat apa di depan itu?"
"Itulah istana raja gunung serigala."
Kini Siau Ma sudah percaya juragan Jik, seratus persen akan bantuannya, tapi apa yang dia lihat di depan sana, hakikatnya tidak mirip istana raja atau keraton segala.
Di puncak gunung setinggi ini, ternyata juga tumbuh aneka ragam jenis kembang.
Kembang kecil-kecil yang berwarnawarni, kelompok demi kelompok, berjajar dan berpetak-petak membelakangi pagar bambu, di balik pagar bambu yang rapat dan tinggi itu kelihatan ada bangunan gubuk kayu.
Seorang tua yang timpang dan bungkuk, dengan rambut, jenggot dan alis yang sudah ubanan tengah sibuk menyapu di halaman, menyapu kelopak kembang yang rontok di jalanan kecil itu.
Saat itu musimnya bunga berguguran, jalan kecil berliku itu berbatu krikil, tapi juga penuh ditaburi kelopak-kelopak bunga, Siau Ma berdua beranjak di tengah taburan bungabunga yang rontok itu terus maju ke depan.
Dalam jarak belasan tombak, juragan Jik sudah menghentikan langkah, lalu menjura, katanya pada Siau Ma.
"Sampai di sini aku mengantar kau."
"Apa di tempat ini aku dapat bertemu dengan beliau?"
Tanya Siau Ma.
"Juga belum tentu,"
Sahut juragan Jik, lalu dengan menyengir tawa dia menambahkan.
"Di dunia tiada sesuatu persoalan yang mutlak dapat dibereskan, mutlak berhasil dan sukses, aku sudah bekerja sekuat tenaga membantumu, apakah kau dapat bertemu dengan beliau, tergantung peruntunganmu."
Siau Ma memaksakan diri untuk tertawa.
"Aku mengerti, kalau aku tidak berhasil menemui beliau, mungkin di sinilah tempat kuburku."
Angin menghembus lalu membawa harumnya bau kembang dan dedaunan yang mengering.
Di bawah langit terbentang gunung-gemunung yang menghijau permai.
Kalau seseorang mati dan dapat dikebumikan di tempat seindah ini, maka kedatangannya di sini tidak terhitung percuma.
Tapi bagaimana dengan Siau Lin?
Juragan Jik menatap sesaat lamanya, lalu dengan merendahkan suara ia berbisik.
"Satu hal perlu kubocorkan rahasia ini padamu."
Siau Ma pasang kuping, siap mendengar penuh perhatian.
"Kalau ingin berjumpa dengan Cu Ngo Thay-ya, bersikaplah hormat, sopan dan mengalah kepada orang tua bungkuk yang lagi menyapu kembang itu."
Siau Ma mengangguk tanpa bicara, ia jabat tangan juragan Jik serta menggenggamnya erat. Tangan kanan juragan Jik yang berjari tujuh itu terasa dingin dan berkeringat.
"Kudoakan kau akan berhasil,"
Demikian kata juragan Jik lirih.
"Semoga bertambah maju usahamu."
Kakek tua itu terus menyapu, bekerja penuh perhatian, tidak peduli keadaan sekelilingnya, tidak pernah mengangkat kepala atau menoleh.
Dengan langkah lebar Siau Ma menghampirinya, lalu menjura hormat, sapanya.
"Selamat bertemu pak tua, aku yang rendah Siau Ma, kedatanganku mohon bertemu dengan Cu Ngo Thay-ya."
Kakek bungkuk itu tetap asyik bekerja, menyapu penuh perhatian, entah tuli atau sengaja pura-pura tidak mendengar.
"Aku datang dengan maksud baik, jelasnya mengantar kado,"
Demikian Siau Ma menjelaskan. Orang itu tetap tidak peduli, sapu di tangannya terus bergerak, sesaat kemudian mendadak ia bersuara kereng.
"Bicaralah dengan berlutut lalu masuklah dengan merangkak."
Siau Ma tak berani melalaikan pesan juragan Jik, meski dongkol ia berlaku sabar dan ramah terhadap orang tua bungkuk ini.
Kalau menuruti adat Siau Ma biasanya, orang tua ini sudah dihajarnya sampai sekarat, tapi kali ini ia masih bisa berlaku tenang dan wajar.
"Siapa yang kau suruh berlutut?"
Tanyanya melengak.
"Kecuali dirimu, masih ada orang lain di sini?"
Tanya orang tua itu. Mendadak Siau Ma meraung gusar.
"Kentut makmu busuk."
Siau Ma sudah siap menerjang ke dalam tanpa peduli akibatnya, tinjunya sudah teracung di atas kepala.
Tak terduga kakek tua beruban dan bungkuk itu mendadak tertawa geli malah, perlahan mengangkat kepala, sorot matanya yang redup seperti amat lelah, sesaat ia mengawasi dengan pandangan seperti menertawakan pula.
Sudah tentu Siau Ma tidak tega menggerakkan tinjunya, sesaat ia berdiri tertegun.
Orang tua itu menekuk jari seperti menghitung.
"Sudah lima puluh tahun aku tidak pernah mendengar orang bilang 'kentut makmu busuk', kini kudengar dari mulutmu, apa tidak pantas aku merasa geli dan lucu."
Jengah muka Siau Ma. Usia orang tua ini pantas menjadi kakeknya, terhadap orang tua memang tidak pantas dirinya berlaku kasar dan kurang ajar. Orang tua itu berkata pula.
"Masuklah lurus lalu belok ke kiri, di sana kau akan dihadang sebuah pintu, ketuklah tiga kali lalu dorong daun pintu dan masuklah."
Habis bicara orang tua ini menggerakkan sapu dan bekerja lagi dengan asyik.
Padahal pohon kembang di sini amat banyak dan luas, di musim rontok begini, sapu di sini rontok di sana, sehari penuh bekerja juga takkan disapunya habis kelopak-kelopak kembang itu.
Ingin Siau Ma bicara lebih jauh, namun sepatah kata pun tidak terucapkan olehnya.
Sesuai petunjuk orang tua, ia menyusuri pagar bambu dan masuk ke dalam, ketika ia menoleh lagi ke belakang, bayangan orang tua itu sudah tidak kelihatan.
Pintu kecil yang dimaksud ternyata berada di tengah kerumunan kembang juga.
Siau Ma mengetuk tiga kali lalu mendorong daun pintu dan melangkah masuk.
Gubuk kayu ini tidak besar dipandang dari luar, namun keadaannya amat bersih dan terawat baik, begitu berada dalam gubuk, terlihat oleh Siau Ma seorang duduk di bawah jendela membelakangi dirinya, tampaknya orang ini sedang asyik memperhatikan segulung lukisan.
Setelah menjura hormat, Siau Ma menyapa.
"Cu Ngo Thayya?"
Orang itu diam saja, tidak mengaku juga tidak menyangkal, sesaat kemudian malah balas bertanya.
"Untuk apa kau ke sini?"
"Mengantar kado,"
Sahut Siau Ma.
"Kado? Macam apa kadomu?"
"Ini, sepasang tinju."
"Tinjumu?"
"Betul."
"Apa gunanya sepasang tinju itu?"
"Tinju untuk memukul orang, menghajar orang yang harus dipukul."
"Setiap manusia punya tinju, tinju siapa saja dapat memukul orang, kenapa aku harus menggunakan tinjumu?"
"Tinju bukan sembarang tinju, pukulan juga pukulan luar biasa, pukulanku lebih tepat dan telak dibanding pukulan orang lain."
"Baiklah, aku ingin membuktikan, boleh kau pukul dua kali kepadaku."
"Baik,"
Sahut Siau Ma, tanpa pikir ia melompat maju lalu melayangkan tinjunya, terlebih dulu Siau Ma melompat ke muka orang lalu membalik dan menggenjot hidung orang.
Bukan Siau Ma suka memukul hidung orang, soalnya orang ini membelakangi dirinya, dia tidak mau menyerang orang dari belakang.
Setelah lompat ke depan orang, lalu melontarkan serangan, sudah tentu gerak-geriknya agak lamban.
Pukulan Siau Ma luput.
Begitu tinju Siau Ma menjotos, tubuh orang itu melambung tinggi ke atas lalu melayang turun beberapa meter ke sana dengan enteng.
"He, kau?"
Teriak Siau Ma kaget. Dia kenal orang tua ini bukan Cu Ngo Thay-ya, tapi Pok Can, serigala tua Pok Can. Pok Can mengawasinya dengan pandangan ramah dan geli.
"Kau tidak pernah menyerang orang dari belakang?"
"Ya, tidak pernah."
"Bagus, laki-laki jantan,"
Puji Pok Can sambil angkat jempol, mendadak ia menuding daun pintu di belakangnya.
"Ketuklah lima kali, dorong daun pintu lalu melangkah masuk."
Bentuk bangunan di belakang pintu lebih lebar memanjang.
Di pojok rumah ada sebuah dipan rendah, di atas dipan tidur miring seorang, dia juga membelakangi pintu, entah sedang tidur atau hanya bermalas-malasan saja.
Siau Ma menjura baru menyapa.
"Cu Ngo Thay-ya?"
"Bukan,"
Orang itu bersuara pendek.
"Siapa kau?"
Tanya Siau Ma.
"Seorang yang ingin dihajar."
"Jadi kalau aku ingin bertemu dengan Cu Ngo Thay-ya, aku harus menghajarmu dulu?"
"Betul,"
Orang itu tetap berbaring miring membelakangi Siau Ma.
"Terserah tempat mana di tubuhku yang kau incar, boleh pukul sesuka hatimu."
"Baik,"
Seru Siau Ma, dengan mengepal tinju ia menerjang.
Sebetulnya Siau Ma dapat memukul punggung atau tengkuk orang, entah pinggang atau pantat juga bisa.
Di setiap sasaran itu Hiat-to atau urat nadi yang berbahaya di tubuh manusia, dengan berbaring miring begitu, tempat-tempat penting itu terbuka lebar, bila terkena jotosannya, tanggung orang ini tak bisa bangun lagi.
Tapi tempat-tempat itu bukan sasaran utama Siau Ma.
Kali ini Siau Ma memukul dinding, tembok di depan orang yang berbaring ini.
Begitu tinjunya menjotos, dinding yang terbuat dari papan itu menjadi bolong dan tembus, pecahan kayu muncrat dan membalik mengincar muka orang yang berbaring itu.
Terpaksa orang ini melompat menyingkir, setangkas tupai tubuhnya melejit ke atas lalu terapung di udara.
Siau Ma juga menjejak kaki melompat ke atas, di tengah udara, pukulan dilontarkan menghajar muka orang.
Yang diincar kali ini bukan hidung, maklum dalam keadaan terapung dan susah mengerahkan tenaga, Siau Ma tidak yakin genjotannya dapat menghajar hidung orang dengan telak, tapi wajah orang merupakan sasaran yang gampang diincar, jadi sekenanya saja asal muka orang dapat dipukulnya penyok.
Posisi orang itu juga amat kritis karena tubuhnya juga terapung di udara, jadi susah berkelit juga kehabisan tenaga, maka "Blang"
Tubuhnya terpukul mencelat dan "Blum"
Menumbuk dinding.
Bab 14 Dinding yang sudah terpukul bolong oleh tinju Siau Ma menjadi ambruk oleh tumbukan badan orang itu, sementara tubuh orang itu masih meluncur ke balik sana.
Begitu kaki menutul lantai, sigap sekali Siau Ma menerobos ke balik dinding.
Ruang di sebelah ternyata jauh lebih luas.
Seorang tampak duduk angker di belakang meja besar dalam jarak yang cukup jauh, rambut kepala orang tampak sudah beruban, sesaat Siau Ma berdiri diam memperhatikan, ternyata orang yang duduk di belakang meja bukan lain adalah orang tua bungkuk yang tadi menyapu kembang di kebun.
Sementara itu, orang yang kena jotosannya dan mencelat masuk ke sini, sudah melompat bangun lalu berlari keluar lewat dinding yang ambruk itu.
Orang tua penyapu kembang tertawa lucu.
"Agaknya dia rikuh menemuimu."
"Kenapa?"
Tanya Siau Ma.
"Tadi dia membual, selama kau tidak memukul orang dari belakang, jangan harap dapat memukul dirinya, padahal dia cukup siaga dan waspada."
Sorot mata orang tua ini bertambah terang.
"Kau tidak menyergapnya dari belakang, kau patut dipuji."
"Soalnya dia juga tidak ingkar janji,"
Ucap Siau Ma. Orang tua penyapu kembang melenggong, namun ia mengerti apa maksud Siau Ma.
"Tadi dia bilang ingin dihajar, aku sudah menghajarnya."
Orang tua penyapu kembang bergelak tawa.
"Bocah bagus, bukan saja pemberani, kau juga lucu."
"Aku bocah bagus, lalu kau ini apa?"
"Aku adalah orang tua."
Siau Ma menatapnya tajam.
"Orang tua saja atau Lo-thayya?"
"Lho, orang tua kan dipanggil Lo-thay-ya?"
Bersinar mata Siau Ma.
"Jadi engkau ini Cu Ngo Thay-ya? Orang tua penyapu kembang tidak bicara, ia hanya tertawa saja. Siau Ma tak bicara lagi, mendadak ia melompat, tinjunya menjotos hidung kakek penyapu kembang ini. Siau Ma tidak mau kehilangan harga diri, dia pantang menyerang orang dari belakang, tapi waktu melancarkan serangan, ia tidak memberi peringatan lebih dulu. Dia memang berharap orang tua penyapu kembang ini tidak siaga, tidak waspada menghadapi tinjunya. Berkelahi seperti yang digunakan Siau Ma, tidak pantas dilakukan orang gagah, apalagi seorang pendekar, tindakannya boleh dianggap tidak tahu malu. Tapi Siau Ma ingin menjajal sampai dimana kemampuan orang tua ini. Biasanya menghadapi jotosan sederhana secepat kilat ini, tokoh lihai mana pun sukar menangkis atau berkelit, apalagi orang tua ini duduk membelakangi dinding, hakikatnya tiada jalan mundur untuk menyingkir. Siau Ma terlalu yakin, setiap kali tinjunya menjotos pasti berhasil menghajar hidung orang, di luar dugaan, jotosan kali ini luput. Di saat tinjunya bergerak, tubuh kakek penyapu kembang tahu-tahu mumbul ke atas dinding, gerak-geriknya enteng lagi tangkas, seringan kapas yang tertiup angin, dengan ringan tubuhnya melayang ke atas dan lengket di atas dinding, sambil tersenyum lebar ia mengawasi Siau Ma. Siau Ma berdiri melongo, lalu mundur beberapa langkah, ia meraih kursi, lalu duduk dengan tenang.
"Bagaimana?"
Tanya kakek penyapu kembang.
"Bagus sekali,"
Puji Siau Ma.
"Siapa yang bagus?"
"Kau bagus dan aku jelek."
"Dalam hal apa kau jelek?"
"Seranganku tidak baik dan tidak terpuji, tidak bedanya aku menyergap orang dari belakang."
"Tapi kau turun tangan juga."
"Ya, aku ingin menjajalmu."
"Lalu apa hasilnya?"
"Jarang aku luput memukul orang, tapi hari ini tiga kali aku gagal merobohkan lawan."
"O? Lalu?"
"Pertama aku luput memukul Un Liang-giok, kedua luput juga memukul duta malaikat surya, dan ketiga luput memukulmu."
"Kedua orang yang kau sebut duluan memang jago kosen yang jarang ada tandingannya di Long-san."
"Tapi dibanding engkau orang tua, mereka masih jauh ketinggalan."
"Ah, masa iya?"
"Sejak kedatanganku di Long-san, hanya kaulah jago terkosen yang pernah kuhadapi."
"O..."
"Padahal tinjuku amat terpuji."
"Ya, amat terpuji."
"Aku juga berani adu jiwa."
"Ehm, dapat kurasakan."
"Maka kalau kau mau menerima dua tinjuku ini, tinju ini akan berguna bagimu."
"Ya, tinju itu memang berguna."
"Mau kau menerima tinjuku?"
"Aku ingin menerima, sayang tinjumu bukan kau serahkan kepadaku."
"Akan kuserahkan kepada Cu Ngo Thay-ya."
"Betul, tadi sudah kau jelaskan."
"Kau adalah Cu Ngo Thay-ya, Cu Ngo Thay-ya adalah kau."
Orang tua penyapu kembang tertawa lebar. Pada saat itulah dari belakang rumah mendadak bergema bunyi tambur. Kakek penyapu kembang tertawa.
"Kali ini kau keliru melihat orang, tapi Cu Ngo Thay-ya bersedia menerima kedatanganmu."
Siau Ma tertegun.
"Masih ada satu hal perlu kau perhatikan."
Siau Ma mengangguk, dia mendengarkan.
"Aku bukan jago terkosen di Long-san, belum pernah ada peluang bagiku turun tangan di hadapan Cu Ngo Thay-ya."
Siau Ma tidak percaya bahwa ada orang lain memiliki kungfu lebih hebat dibanding kakek penyapu kembang, tapi kakek ini tidak mungkin membohongi dirinya, maka ia harus percaya.
Orang tua penyapu kembang berkata.
"Di hadapan beliau jangan kau gegabah atau kurangajar, kalau kau abaikan peringatanku, jiwamu akan melayang percuma di tangannya."
Kakek ini bicara serius, dengan tekanan suara tegas, tapi ia tertawa sebelum melanjutkan perkataannya.
"Di kolong langit, orang yang pernah melihat wajah aslinya tidak banyak, maka setelah kau masuk ke sana, peduli bisa bertahan hidup atau akhirnya gugur, tidak sia-sia kedatanganmu."
Di belakang masih ada sebuah pintu.
Begitu suara tambur berbunyi, daun pintu yang besar dan lebar itu pelan-pelan terbuka.
Siau Ma berdiri melenggong di luar pintu.
Di hadapannya terbentang sebuah pendopo yang lebarnya tujuh kaki, panjang dua puluh tombak, waktu Siau Ma memasuki pagar bambu tadi, tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa di dalam beberapa petak rumah kayu ini, ada kamar-kamar dan pendopo yang luas dan besar seperti ini.
Baca Juga: Pedang Wucisan 5
Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 3