Eps 3 Ilmu Golok Keramat - Chin Yung
Baca online Ilmu Golok Keramat - Chin Yung
Cersil Ilmu Golok Keramat - Chin Yung.
Sekarang sudah ketela njur, usahanya gagal membunuh sipengemis beracun, sekarang tentu Tok kay tidak mengerti dan akan mengambil jiwanya juga.
Ia menghela napas.
Locianpwe, katanya aku sudah berbuat salah terhadapmu, aku telah menerima kebinasaan karena racunmu itu bahkan kalau perlu locianpwe boleb penggal batang leherku sekarang juga.
Tok-kay dibikin kagum juga menghadapi keberanian si pemuda.
Diam-diam ia merasa sayang, Ho Tiong Jong tak dapat dibikin taluk olehnya dan menjadi muridnya yang tersayang.
ia ingin mencoba hatinya Ho Tiong Jong apakah niatan membunuh padanya benar-benar dengan tidak menyayangi dirinya sendiri?
Hei, bocah, kau datang dekat kemari katanya.
Ho Tiong Jong tidak takut, ia datang dekat pada sipengemis.
sekarang cabut golokmu ?
Ho Tiong Jong melengak.
tapi tokh ia menurut juga menghunus goloknya.
Diam-diam dalam hatinya merasa heran, kenapa ia selalu menurut saja perintahnya ini pengemis kejam?
Tapi?
Tidak bisa, Tok-kay terlalu tinggi ilmu silatnya.
Jalan paling baik memang ia selain menuruti saja perintahnya Tok-kay mau tahu Tok-kay akan berbuat apa terhadapnya.
Tok kay setelah melihat semua penntah-nya dituruti saja, diam-diam dalam hatinya menduga anak muda itu tentu tidak tega akan membunuh lagi padanya yang kedua kalinya maka ia lalu berkata.
Bocah, kau sekarang sudah terkena racun ku, selainnya obatku sendiri yang dapat menyembuhkan racun dalam dirimu, adalah si Dewi Racun Kong Jat Si yang dapat menolong dirimu.
Tapi sangat mustahil dalam tempo tiga hari kau akan menemukan dirinya si tua bangka itu.
Sekarang begini, aku mau suruh kau memilih, apakah kau benar-benar mengingini jiwaku tanpa menghiraukan Kegiatanmu atau kau mau hidup sebagai pendekar jempolan dengan mendapat seluruh kepandaianku.
cara bagaimana memilihnya?
nyeletuk Ho Tiong Jong.
caranya memilih itu diputuskan dengan hitungan dari satu sampai tiga puluh.
Aku masih belum mengerti.
Hmm, bocah, kau sudah berkali kali mau mengambil jiwaku karena menurut alasan untuk menghindarkan bencana orang banyak karena perbuatanku.
Aku lihat golokmu ini tajam sekali, tentunya bukan golok sembarangan dan aku rela mati dibawh golok ini kalau memang aku punya nasib ada demikian akhirnya.
Locianpwee.
kau kau..
Ho TlongJong menyelak gugup, Ia merasa tidak tega dan terharu dengan kata-katanya pengemis beracun itu.
Hmm..
kau jangan menyelak bicaraku bukankah kau mau tahu caranya memilih dua soal yang aku katakan tadi.
Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia tundukkan kepalanya dengan perasaan tidak karuan, hingga Tok-kay juga tergentar hatinya melihat keadaannya anak muda itu.
Bocah, kau dengar.
katanya kemudian, dongakkan mukamu menghadap kearahku dan siap dengan golokmu yang tajam itu.
Sementara kau bersikap demikian, aku akan menghitung dari satu sampai tiga puluh kalau hitunganku cukup tiga puluh kau tidak bergerak, artinya boleh hidup terus.
Aku akan mengobati racun dalam dirimu, mengangkat kau menjadi muridku yang tersayang.
Seluruh kepandaianku akan kuturunkan semua dan menjadikan kau sebagai satu pendekar jempolan dalam kalangan kang-ouw.
Kau sudah mengerti sekarang ?
Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.
Nah, mari kau mulai?
Tok-kay Kang ciong menatap wajahnya anak muda di hadapannya yang sudah siap dengan golok tajamnya, ia tampak bersenyum-senyum.
Seakan-akan sudah rela untuk mati dibawah benda senjatanya Ho Tiong Jong.
la percaya anak muda ini hatinya tidak tega menyabetkan goloknya pada lehernya, kalau mengingat dengan berbuat demikian ia berarti menolong jiwanya sendiri dari kematian.
Tegasnya kalau Tok-kay tidak mati, racun yang ada dalam tubuhnya anak muda itu kukunya Tok-kay yang berbisa akan mendapat obat pemuna h nyadan ia akan diangkat menjadi muridnya yang tersayang dari pengemis tua yang kejam dan telengas itu.
Ia mulai menghitung.
satu dua tiga empat Selama Tok kay menghitung, otaknya Ho Tiong Jong bekerja.
Ia pertimbangkan antara kepentingan dirinya pribadi dan orang banyak punya keselamatan.
Hitungan sampai delapan masih belum ada kesiapan, otaknya terus bekerja, akhirnya akhirnya..
Belum lagi suara las^ keluar dari mulutnya, goloknya Ho Tiong Jong terayun dan tubuhnya Tok-kay sudah rubuh dengan kepala terpisah.
Kepentingan orang banyak dapat kemenangan dalam penimbangannya Ho Tiong Jong, maka ia sudah ayunkan goloknya menabas batang lehernya pengemis kejam itu.
Siapa sebenarnya dapat menyingkirkan diri dari sabetan golok Ho Tiong Jong, akan tetapi Tok-kay kali ini rupanya rela mati di tangannya anak muda yang mencocokkan hatinya itu maka ia tidak berkelit dan manda lehernya ditabas, sehingga darah segar menyembur keluar dari lehernya sementara batok kepalanya terjatuh ketanah.
Sampai disini berakhirlah riwayatnya pengemis beracun, Tok-kay Kang ciong, yang namanya menggetarkan dunia persilatan baik dikalangan hitam maupun putih.
Ilmunya Telapakan Tangan Berdarah yang diyakinkan dengan menggunakan entah berapa banyak wanita hamil, sangat hebat dan ganas, yang membuat lawan dan kawan segan berurusan dengannya.
Tidak dinyana kematiannya itu hanya demikian, mudah saja.
Ho Tiong Jong setelah membunuh Tok-kay menjadi kesima sendirinya, ia sendiri menjublek sekian lamanya mengawasi tubuh nya Tok-kay yang menggeletak dengan kepala berpisah.
Tanpa terasa ia telah mengucurkan air mata, ia sedih karena tahu Tokkay ada demikian baik terhadapnya tapi ia sudah membunuhnya juga karena dorongan jiwa kesatriyanya lebih mementingkan orang banyak daripada dirinya sendiri.
Ia mengerti bahwa dengan matinya Tok-kay.
jiwanya sendiri tidak akan tertolong lagi karena bekerjanya racun dalam tubuhnya, tapi ia rela menghadapi kematiannya itu asal dapat menyingkirkan seorang yang paling jahat dan kejam dalam dunia seperti Tok-kay itu.
Setelah sadar dari lamunannya, tanpa ragu-ragu Ho Tiong Jong angkat mayatnya Tok kay dibawa kesamping kuil diletakkan dibawahnya sebuah pohon, kemudian balik lagi mengambil kepalanya.
Sebentar lagi ia sudah membikin lubang kuburan, dengan hati-hati ia kubur mayatnya Tok kay dengan kepalanya ditempelkan pada lehernya.
Ia bekerja cepat, sebentar saja ia sudah selesai mengubur mayatnya si pengemis jahat.
Sambil berdiri dengan hati terharu menghadapi kuburannya Tok-kay, kelihatan Ho Tiong Jong kemak kemik mulutnya, ia berkata Locianpwe, harap arwahmu dialam baka tidak menjadi penasaran karena perbuatanku, sebab apa yang aku sudah perbuat bukan karena serakah dan mempunyai ganjalan hati terhadapmu adalah semata-mata di sebabkan hendak menyelamatkan orang banyak yang akan mengalamkan kebinasaan ditangan-mujikalau engkau terus tinggal dikasih hidup, Kalau kau masih penasaran, baik tunggulah kedatanganku dialam baka, karena racunmu yang ada dalam tubuhku tidak lama lagi akan mengantarkan aku kesana menjumpai kau Setelah mengucapkan kata-katanya yang tidak kedengaran itu tampak parasnya tidak begitu berduka lagi.
Ia mendongakkan mukanya kelangit, seakan-akan hendak mengucapkan terima kasihnya ia sudah dapat menyingkirkan seorang yang paling jahat dan kejam dalam dunia untuk keselamatannya orang banyak.
Tiba tiba matanya kebentrok dengan kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati, yang menyangkut pada cabang pohon, hatinya berpikir.
Aku tidak lama lagi tokh akan mati buat apa aku mengambil kitab pusaka itu?
la lalu duduk didekat kuburan Tok-kay untuk mengasoh, sebentar lagi hari sudah mulai terang.
Ketika dia mendongakkan pula mukanya, ia lihat kitab pusaka diatas pohon sedang dipatokin burung-burung.
Saat itu hatinya berbalik pikir, ia harus ambil kitab itu, sebab kalau sampai jatuh ditangan-nya orang jahat ada sangat berbahaya.
Maka seketika itu lalu ia memanjat pohon dan mengambil kitab berharga itu, terus dimasukkan dalam sakunya tanpa dilihat lagi.
Setelah berada dibawah lagi.
pikirannya melayang-layang.
Kemana ia harus pergi?
Merantau?
Tak mungkin, karena dalam tempo pendek jiwanya sudah melayang karena pengaruhnya racun dari Tok-kay yang mengeram dalam tubuhnya.
Habis, kemana?
Akhirnya terlintas dalam pikirannya, sebaik nya ia pulang ke Seng kec-po, untuk melaporkan kematiannya Tok kay kepada nona Seng yang telah melepaskan dengan banyak budi kepadanya, sekalian menemui saudara Kho Kie, sahabat karibnya, akan tetapi ia tak mau memberitahukan pada Kho Kie bahwa dirinya tidak lama lagi akan mati, supaya hati sahabat karibnya itu tidak menjadi duka karenanya.
Demikian, setelah mengambil keputusan ia telah gerakan kakinya menuju ke sengkee-po.
Belum lama ia jalan, ia telah menemui sebuah kali yang jernih airnya, ia menghampiri dan membersihkan mukanya yang kecipratan darah Tok kay tadi.
Tidak lama kemudian Ho Tiong Jong sudah sampai dilapangan, dimana ada didirikan luitay (panggung berkelahi), dimukanya sekali terdapat gedung tempat para tetamu menginap.
Disekelilingnya ada tempat duduk untuk orang menonton.
Bagian depan hanya dipergunakan bagi orang orang yang ilmu silatnya sudah dikenal saja, sedangkan mereka yang ilmu silatnya kepalang tanggung ditaruh disebelah belakang.
Disitu sudah banyak orang berkumpul yalah hari pertama dibukanya pertemuan, Mengadu kepandaian mengumpulkan sahabat.
Tampak yang duduk disebelah timur adalah angkatan tua kebanyakan seperti hweshio, nikouw, jago-jago tua dari kalangan hitam yang dahulunya ada ternama dikalangan kang ouw.
Dilain bagian tampak banyak pemuda pemudi yang tampan-tampan dan cantikcantik mereka kelihatan sangat gembira bercakap-cakap.
juga tidak ketinggalan kelihatan Seng Pocu duduk diantara banyak tetamunya dengan wajah berseri-seri.
Hati Ho Tiong Jong berdebar ketika matanya melihat diantara nona-nona yang hadir ada satu nona yang wajahnya ramai dengan senyuman, kecantikannya menonjol diantara yang lainnya.
Sujennya yang menjadi kalau ia bersenyum atau ketawa membikin yang melihatnya tak mudah melupakannya.
Dia tentu ada adik Hong.
Ho Tiong Jong pikir dalam hatinya, dia benar-benar sangat cantik, entah apakah kenakalannya masih biasa setelah ia sekarang sudah menjadi gadis?
Banyak nona-nona cantik lainnya, seperti cong Ie dari oey-san.
Lo lo sat Ie Ya.
Lauw Hong In dari Lauw kechung di Kim-leng, ciauw Soe Soe dari ciauw-ke-Chung dan lainlainnya, tapi kelihatan kecantikan mereka tidak ada yang nempil pada kecantikannya Kim Hong Jie.
Ho Tiong Jong menyelinap dan menonton dengan sembunyi-sembunyi diantara orang-orang penjaga rumahnya Seng Pocu yang matanya semua ditujukan ke panggung berkelahi, maka tidak mengetahui kalau ada Ho Tiong Jong diantara mereka.
Semua tetamu juga tak menggubris kedatangannya Ho Tiong Jong, karena perhatiannya lebih penting ditujukan kepanggung luitay bercakap-cakap diantara kawannya.
Tiba-tiba Ho Tiong Jong lihat ada melesat naik keatas luitay seorang yang berbadan tinggi besar.
Siapa setelah menjura kepada para penonton, lantas mengumumkan syarat-syarat mengadu silat diatas luitay yaitu pertama menghadapi wakil Taycu kesatu dalam tiga puluh gebrakan, bertanding dengan tangan kosong, babak ke dua.
dua puluh gebrakan melawan wakil Taycu kedua boleh menggunakan senjata.
Kalau orang dapat melewati dua wakil Taycu ini, kemudian ia boleh menghadapi Taycu sendiri dalam lima belas gebrakan.
Kalau dalam lima belas gebrakan itu dapat bergebrak seri saja tak usah menang, yang tersangkut akan mendapat hadiah sebagai tanda kenang-kenangan berupa uang atawa kain sutra yang indah.
Menghadapi Taycu orang boleh bertanding dengan pakai senjata atau senjata rahasia, tidak ada larangan asal diadakan perjanjian dahulu sebelumnya bergebrak.
sehari dua Taycu yang melakukan tugas-nya, yalah bagian pagi dan bagian sore.
Pada saat itu yang menjadi wakil Taycu ada seorang she Kwee nama Hoei, dalam kalangan kang ouw ia terkenal dengan ilmu mencengkramnya yang hebat.
Ia sekarang sebagai Pocu dari propinsi Ho-pak bagian she co dan merupakan partai tersendiri.
Dalam Perserikatan Benteng Perkampungan yang dahulunya akur dan dapat bekerja sama, belakangan ini kelihatan mulai retak.
Masing-masing pada berebut pengaruh dan mendirikan partai sendiri.
Perserikatan tersebut sekarang sudah merupakan tiga buah partai, yalah kesatu Kim-Hon-po bagian kira Seng kee-po, kedua Kioe keepo Lauw kee-Chung Hul-ke-Chung, ketiga adalah In-ke-Chung chong ke-Chung ciauw-ke-Chung.
Masing-masing partainya pada mengumpulkan orang-orang gagah, mereka sudah berusaha dengan segala daya dan upaya supaya orang-orang gagah itu yang ulung suka masuk dalam partainya terutama terhadap orang-orang pandai yang sudah mengasingkan diri ada sangat disukainya dan sebisanya mereka itu membujuknya supaya dapat memperkuat partainya.
Berhubung dengan tindakan mereka itu maka dalam dunia persilatan orang-orang sangat kuatirkan ada terjadi penumpahan darah kelak dikemudian hari karena tiga partai itu sudah tentu akan berebut pengaruh satu sama lain untuk berdiri sama jago.
Kita balik pada Ho Tiong Jong telah mengikuti jalannya acara dengan tenang.
Ketika Kwe Hoei habis bicara, ia lihat ada seorang naik keatas luitay.
ia kenali itu ada Soe coe Liang yang tempo hari ada makan bersama sama satu meja dengannya, la ada satu pejabat kaliber besar dibagian selatan.
Soe coe Liang lantas berhadapan dengan Kwee Hoei sebagai wakil Tayeu.
Ternyata menghadapi Kwee Hoei ia tidak bisa berbuat banyak.
Meskipun Soe coe Liang sudah keluarkan simpanannya, cuma dalam beberapa gebrakan saja ia sudah dipukul terpelanting jatuh kebawah panggung yang memalukan sekali.
ooOOoo KWE HOEI gembira dapat menjatuhkan lawannya demikian cepat, maka ia lalu menjura kepada penonton dan berkata.
Aku Kwei Hoei tidak punya kepandaian istimewa, cuma lantaran kebetulan saja sudah dapat mengalahkan saudara Soe, maka jikalau diantara hadirin ada yang berminat naik panggung aku akan merasa girang sekali.
Belum habis bicaranya, lantas kelihatan lompat naik keatas panggung seorang yang bertubuh jangkung kurus.
Ia menghampiri Kwee Hoei memberi hormat.
Saudara Kwei, bagus sekali ilmu silatmu barusan.
Hanya dalam beberapa gebrakan saja sudah dapat mengalahkan lawan.
Aku Kwie Boen Peng ingin coba-coba mengunjukan kepandaiannya yang rendah, harap saudara Kwee tidak mencelanya.
Kwee Boen ceng yang bertubuh kurus itu mana dipandang mata oleh Kwee Hoei.
Setelah perdengarkan suara dingin Marilah, kita jangan buang tempo.
lantas saja melancarkan serangannya.
Si jangkung kurus menghindari serangan dahsyat lawan, kemudian mainkan ilmu pukulannya yang lelompatan kesana sini, rupanya ia meyakinkan iimu pukulan kera.
Tapi rangsekannya Kwee Hoei hebat sekali, hampir tidak mengasih kesempatan untuk menancapkan kakinya dengan tetap.
Tidak heran, diserang dengan cara demikian KweoBoen ceng dalam sedikit tempo saja sudah harus menyerah kalah, tubuhnya kena dicengeram dan di lemparkan kebawah panggung.
suara tampik sorak riuh sekali menyambut kemenangannya Kwee Hoei.
Diantara tampik suara riuh itu tampak melompat kepanggung Kiauw Yang kawannya soe coe Liang yang telah dipecundangi.
Tanpa banyak cerita lagi, Kwee Hoei sudah melayani penjahat kaliber besar ini.
Pertandingan ramai juga.
cuma sayang hanya memakan tempo tidak lama.
Hanya lima belas jurus saja mereka bertempur, Kiauw Yang sudah kena dilemparkan ke bawah panggung.
Melihat saudara sekomplotannya kembali dijatuhkan, Ho Yang naik darah, lantas enjot tubuhnya melayang naik keatas luitay.
Saudara Kwee, kau benar-benar lihay, dua saudaraku sudah dipukul jatuh, aku juga ingin belajar kenal dengan ilmu silat mu yang tinggi.
Silahkan, silahkan menyelak Kwee Hoei dengan paras dingin hingga Ho Yang tak dapat meneruskan kata-katanya.
Sebagai gantinya ia harus cepat cepat menangkis serangan Kwei Hoei yang dilancarkan dengan cepat kembali dan mengandung tenaga yang hebat.
Betul-betul hebat pantasan dua saudara-ku kena dijatuhkan mentah-mentah demikian Ho Yang diam-diam berkata dalam-hatinya.
Tapi ia tak dapat kesempatan untuk berpikir banyak-banyak.
karena serangan Kwee Hoei yang dilancarkan saling susul membuat ia kepepet ketepi panggung dan akhirnya, seperti dengan dua saudara yang sudah ia juga kena dilemparkan mentah-mentah.
Sungguh memalukan, tiga jago dikalangan hitam yang sudah terkenal namanya dengan secara mudah saja sudah dijatuhkan satu persatu.
Kwee Hoei merasa puas hatinya ia tahu bahwa tiga saudara dari kalangan rimba hijau itu adalah gara-gara sangat sombong.
Kini mereka mendapat bagiannya yang setimpal dimukanya orang banyak.
Tapi sebelumnya Kwee Hoei dapat membanggakan kemenangannya, tiba-tiba kembali seorang berpengawakan kurus muncul di depannya.
Ia perkenalkan dirinya bernama Kie cin.
Menghadapi orang kurus kali ini Kwee Hoei tidak segalak seperti menghadapi lawan-lawannya terlebih dahulu, karena Kie cin meskipun berbadan kurus kecil ia sangat gesit dan lincah sekali.
ilmu pukulannya tangan kosong juga cukup mahir, ia sama sekali tidak takuti menghadapi Kwee Hoei yang mempunyai pukulan berat dan terus menerus coba mendesak pada dirinya.
Pertandingan berjalan dengan ramai sekali.
Rupanya Kwee Hoei sudah kecapaian atau memang musuhnya sangat ulet yang meminta ia mengerahkan banyak tenaga untuk melayaninya, maka jurus demi jurus telah dilalui akhirnya sampai pada jurus ke tiga puluh batasannya dari pertandingan babak pertama.
Pertandingan babak pertama ini dinyatakan serie.
Sekarang di mulai dengan pertandingan menggunakan senjata.
Dalam pertandingan menggunakan senjata ternyata Kwee Hoei kalah setingkat.
IAR bagaimana wakil Taycu yang kosen itu mempertahankan dirinya, tapi akhirnya ia harus menyerah kalah kepada lawannya yang lebih pandai.
Kwee Hoei terdesak dan lompat turun dari luitay.
Melihat kekalahan ini, Beng Siong Tojin yang mendapat giliran menjadi Taycu saat itu.
telah mendelikkan matanya.
Entah bagaimana tosu licik itu telah gerakan tubuhnya tahu-tahu sudah berada dihadapanya Kie cin.
Kie cin kaget juga menghadapi Ban Siong Tojin yang sudah terkenal, sedang penontonpun kelihatan merasa kuatir dengan turunnya tosu telengas itu, menguatirkaa Kie cin sebagai lawannya akan mendapat celaka.
Memang betul berat bagi Kie cin menghadapi Taycu ini tapi ia masih coba pertahankan dirinya jangan sampai cuma dua tiga gebrakan sudah kalah.
Ban Siong Tojin melihat dalam lima jurus masih juga kelihatan Kie cin alot dijatuhkan, hatinya sudah menjadi jengkel.
Wajahnya tampak menghitam hingga penonton kaget.
Hanya dalam tiga jurus kemudian saja Kie cin dibikin jatuh dari atas luitay.
Tapi belum lama Ban Siong Tojin menikmati kebanggaannya tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin dari arah sebelah timur panggung, yang dengan suara keras berkata.
Hmmmm Lo cit yang namanya terkenal sebagai pendekar pada masa tiga puluh tahun yang lampau di dua propinsi oaw-lam dan ouw pak.
tidak tahunya kepandaiannya cuma sebegitu saja.
IHei, Lo cit apakah masih kenali pada aku ini Beng Siang?
Sambil berkata Beng siang berbangun dari duduknya, menghampiri kepanggung luitay, kemudian lompat naik keatas luitay menghadapi Ban siong Tojin-Si tosu kaget juga melihat Beng Siang yang naik.
orang she Lo, kata Beng Siang sambil menjura lucu kepada Ban Siong Tojin, Tiga puluh tahun kita tak bertemu, aku tidak menyangka kau sudah berubah menjadi imam.
kau tentu masih kenali aku Beng Siang, bukan?
Ha ha ha..
Ban Siong Tojin ketawa dingin.
Beng sicu, tentu saja aku kenali kau.
Apakah kau hendak menagih kekalahanmu tempo hari?
Bagus.
Antara dua orang ini kira-kiranya ada yang mempunyai ganjalan-ganjalan pada tiga puluh tahun yang lampau.
Pada masa itu Ban Siong Tojing masih bernama Lo cit, terkenal sebagai jagoan dalam kalangan rimba hijau (kawanan penjahat) dalam dua propinsi oaw lam dan oew-pak.
Selagi ia menjalankan operasinya dalam dua propinsi itu telah ketemu dengan Beng Siang, yang pada saat itu masih muda baru berusia tujuh belas tahun dan belum lama bekerja menjadi piauwsu (pelindung antaran).
Beng Siang tidak mau menyerahkan barang yang dihubungnya hendak di ganggunya oleh Lo cit, maka mereka lantas bertempur.
BENG SIANG hanya tahan di dalam dua puluh gebrakan saja lantas sudah dilemparkan oleh lawannya.
Sejak mana ia masih penasaran kepada Lo cit, yang sekarang sudah tukar bulu menjadi imam bernama Ban Siong Tojin.
Beng Siang belakangan telah menceburkan diri juga kalangan hitam, kepandaian ilmu silatnya bertambah tinggi, hingga merebut nama harum dikalangan kang-ouw.
Kini dikalangan pendekar berjalan hitam, ia merupakan salah satu jago yang dimalui.
Seng Pocu tidak tahu ganjalan diantara dua orang itu, diam-diam merasa heran melihat mereka berhadapan seakan-akan hendak menyelesaikan urusan lama.
Sambil mengurut-urut jenggotnya ia perdengarkan tertawanya bergelak-gelak.
Suara tertawa yang penuh mengandung teka-teki untuk orang yang tahu siapa Seng-Eng , tapi untuk mereka yang tidak tahu riwayatnya Seng Pocu menganggap ketawanya itu sebagai tertawanya tuan rumah yang gembira dan berdiri tidak kesana kemari (netral).
Terdengar Beng Siang berkata lagi.
Lo cit, eh, totiang, aku bukan saja hendak menagih, tapi juga mau tau apa kau bisa melemparkan diriku lagi atau tidak?
Aku lihat kau tadi begitu mudah mengalahkan lawan, membuat hatiku ketarik untuk mencoba kepandaianmu yang tinggi..
ia berkata sambil mengeluarkan senjatanya dua belas belati yang berbentuk senapan berbendera warna merah satu set senjata aneh yang belum dilihat pada sebelumnya.
Bagus kata Ban Siang Tojin.
Tapi Beng Sicu harap sabar dahulu, sebab kau harus mengalahkan wakil Taycu baru ketemu dengan aku Hm Beng Siang memotong.
Silahkan kau turun dan lantas panggil wakil Taycu itu naik panggung.
Ia kelihatan sangat mendongkol pada musuhnya, yang ia anggap takut untuk menghadapi ia.
Belum lama Ban Siong Tojin turun, lantas naik panggung seorang pemuda dengan mata jahat dan wajah yang bengis.
Banyak penonton tidak kenali siapa orang itu, akan tetapi Ho Tiong Jong lantas kenali ia ada Song Boe Ki, muridnya Sisiluman Khoe Tok yang mempunyai julukan si Tangan Telengas.
Ho Tiong Jong diam diam girang melihat Boe Ki akan mempertunjukkan kepandaiannya diatas lutay, sebab ia nanti akan dapat mengukur sampai dimana tingginya murid kepala dari Khoe Tok yang kejam itu.
sebaliknya hatinya tidak enak.
karena saat itu ia tidak melihat Khoe Kie, sahabat karibnya yang sangat baik kepadanya.
Ho Tiong Jong pikir, mungkin Khoe Kie karena saking banyak musuhnya ia tidak berani menongolkan dirinya disitu.
Penonton kebanyakan menganggap Song Boe Ki hanya mencari mati melawan Beng Siang yang sudah terkenal namanya.
Sahabat aku bernama Song Boe Ki.
Seorang tidak ternama, tapi dengan kemurahan Seng Pocu aku telah diangkat menjadi wakilnya Taycu.
Maaf, kalau kau tidak begitu bernapsu melayani aku, orang tidak ternama.
demikian Song Boe Ki membuka mulut ketika sudah berhadapan dengan Beng siang.
Beng Siang sejenak tidak memberi jawaban, matanya mengawasi pada sipemuda di depannya yang berparas bengis dan mata jahat seperti maling.
tidak kenal siapa adanya pemuda muka jahat ini, muridnya siapa dia?
Tapi hatinya sudah marah, tak dapat berpikir lama-lama.
lantas berkata singkat.
Silahkan!!
Inilah tanda tantangan buat lawan turun tangan Song Boe Ki tidak sungkan-sungkan lagi.
lantas gerakan tangannya mengibas.
Angin keras dari kibasan tangan ini, hingga Beng Siang kaget juga karena tak menduga pemuda itu ada mempunyai tenaga demikian kuat.
la geser kakinya berkelit, kemudian balas menyerang dengan sampokan tangannya yang dinamai Menyapu ribuan tentara .
kiranya serangan Song Boe Ki hanya serangan pura-pura saja maka Beng siang menjadi amat marah.
Ia lalu menyerang hebat sekali.
Song Boe Ki tidak keder.
ia keluarkan ilmunya tiga belas jalan menyembah pada Tuhan, ilmu pukulannya yang ajaib yang ia sangat andalkan.
Pertandingan segera sudah sampai pada jurus ke tiga puluh, inilah ada limit dari pertandingan pertama dan boleh dirubah dengan pertandingan menggunakan senjata dalam pertandingan kedua yang ditetapkan dalam dua puluh gebrakan.
song Boe Ki keluar dari kalangan pertandingan dengan berseru.
Saudara Beng, pertandingan pertama sudah habis sekarang boleh dimulai dengan pertandingan babak kedua menggunakan senjata.
Tidak ada penggantian wakil Taycu, song Boe Ki lagi yang maju dalam pertandingan peng gunakan senjata.
Banyak penonton yang mengutuk kelakuannya Song Boe Ki itu.
Tanpa Beng siang mengeluarkan dua belas senjata yang berbentuk senapan berbendera warna merah.
Sedang Song Boe Ki menggunakan satu set senjata lingkaran yang dinamai cu-bo ciang-gun .
Penonton tahan napas menunggu pertandingan ini dilakukan.
Ho Tiong Jong sambil menonton orang mengadu kepandaiannya sambil matanya mencari-cari nona Seng, perlunya hendak melaporkan tentang kematiannya Tok-kay, kemudian ia akan lantas meninggalkan tempat itu.
Hatinya gelisah tidak keruan.
Tiba-tiba ia melihat Soe coe Liang menarik-narik tangannya Ho Yang dan Kiuw Yang diajak meninggalkan tempat itu.
Ketika mereka berjalan, Ho Yang, ia melambai-lambaikan tangan nya sambil berjalan mengampiri.
Mereka bercemn dengan gembira dan bercakap-cakap.
dengan begitu Soe coe Liang dengan dua kawannya tidak jadi meninggalkan tontonan itu dan pada menonton lagi bersama-sama Ho Tiong Jong.
Beng Siang dan Song Hee Ki bertarung dengan seru sekali.
Keduanya sama tandingan, hingga senjata kedua pihak tak dapat berbuat banyak untuk mendesak musuhnya.
Masing-masing telah mengeluarkan ilmu simpanannya.
Hanya ilmu istimewanya Beng Siang tidak mau keluarkan, perlunya ilmu istimewanya ini untuk digunakan dalam pertempuran nanti melawan Ban Siong Tojin, musuh lamanya itu.
Jurus demi jurus telah dilewatkan cepat sekali, segera dua puluh jurus sudah berakhir.
Pertandingan lantas dinyatakan seri dan Beng Siang boleh maju lagi melawan Taycu, Belum lama Song Bee Ki turun dari luitay sudah tertampak dihadapannya beng Siang berdiri Ban Siong Tojin, yang tidak banyak mengambil tempo lagi setelah Song Boe Ki turun telah enjot tubuhnya melayang keatas luitay.
Bagus.
kata Beng Siang.
kita ada kenalan lama, sembari aku mau menagih kekalahan kita boleh meramaikan pertemuan ini.
ayototiang, keluarkanlah senjatamu untuk main-main dengan kupunya besi karatan ini Beng Siang sambil unjukkan senjatanya.
Baik, Ban Siong Tojin memotong, sambil keluarkan senjata kebutannya.
Ketika senjata itu dikebutkan, segera pula berdiri lempeng bulu-bulunya satu tanda bahwa kekuatan lweekangnya Ban Siong Tojin yang hebat telah disalurkan pada senjatanya Beng Siang terkejut juga melihatnya.
ia cepat siap-siap dengan senjata yang aneh untuk menangkis serangannya Ban Siong Tojin.
Dua musuh lama ini perlahanlahan sudah mulai saling menyerang.
Kepulan dari dua belas bendera saling samber, indah sekali kelihatannya.
Senjata Ban Siong Tojin lihay sekali, beberapa kali menyerang bagian-bagian jalan darah terpenting pada tubuh musuhnya, hingga Beng Siang tampak kewalahan dan ia hanya bisa menjaga tapi tak dapat balas menyerang.
Beng Siang mengeluarkan ilmu istimewanya yang tadi tidak diperlihatkan melawan Son Boe Ki.
Ia melontarkan dua senjatanya sekaligus menyerang musuh punya badan bagian kiri dan kanan, tapi Ban Siong Tojin sekali menggetarkan kebutannya dua senjata Beng Siang itu sudah kena digulung.
Hanya saking kuatnya tenaga serangan dua senjata tadi membuat Ban Siong Tojin sampa mundur selangkah dan berdiri tegak lagi.
Beng Siong berubah wajahnya menjadi pucat.
Ia heran kepandaian istimewanya tak menemui sasarannya.
Kembali ia menyerang dengan dua buah senjatanya berbareng, tapi Ban siong Tojin sambil lompat tinggi mengebut dengan senjatanya pada senjata yang mengarah dirinya itu, hingga keduanya terpukul jatuh kebawah luitay.
Dua lagi senjata Beng Siang menyusul menyerang ketika badannya Ban Siong Tojin masih terapung diudara, tapi dengan indahnya dua senjata itu pun dapat dipunahkan oleh Ban siong Tojin dengan jalan menarik perutnya kempes dan dua senjatanya berbahaya itu persis lewat beberapa dim saja dari perutnya.
Setelah kakinya menginjak papan panggung lagi.
Ban Siong Tojin tidak dikasih ketika untuk bergerak dan telah diserang lagi.
Kali ini untuk meluputkan diri Ban Siong Tojin telah merebahkan dirinya diatas papan.
Berbahaya sekali kalau senjata-senjata itu menemui sasarannya.
Penonton tahan napas menyaksikan Ban siong Tojin diberondong dengan senjata ampuh dari Beng Siang.
Ternyata imam itu tinggi kepandaiannya.
Meskipun dicecar berulang-ulang, ia dengan bagus dapat meluputkan dirinya.
Sorak ramai gemuruh seketika masing-masing pada mundur karena pertandingan saat itu sudah berjalan lima belas gebrakan sebagaimana sudah ditetapkanPertandingan ini jadi dianggap seri, tidak ada yang kalah dan menang.
Ketika mereka lompat turun dari panggung dengan berseri-seri Seng Eng datang menyambut, berkata pada Beng Siang.
Beng losu, selamat.
Ilmumu istimewa, membuat banyak pendekar di sini yang menonton merasa kagum.
Maka sekedar untuk kenang-kenangan, aku akan menghadiahkan kau dua blok kain sutra dan sejumlah uang, harap Beng toyu tidak menampik.
la berkata sambil suruh orangnya membawa barang hadiah dan uang untuk diterimakan kepada Beng Siang, yang telah menerima itu dengan mengucapkan banyak terima kasih.
Kemudian ia berjalan menghampiri tempat duduknya lagi dipinggiran ia melihat pada Song Boe Kie yang berdiri sambil ketawa nyengir, hatinya gusar sekali, tapi tidak dapat melampiaskan amarahnya itu lantaran malu hati kepada tuan rumah.
Waktu itu masih belum waktunya istirahat, maka Seng Eng lalu mengumumkan padapara hadirin bahwa kali ini yang keluar sebagai wakil Taycu ada dua saudara oet ti-Kang dan oetti Koen dengan Pek Boe taysu sebagai Taycu.
PeK Boe Taysu ada sahabat karibnya Seng Eng.
Para penonton pa dakasak-kusuk siapa adanya mereka yang menjadi wakil Taycu itu?
Yang mengetahui mereka ada seperguruannya Song Boe Ki telah memberitahukan pada yang tidak tahu, hingga disitu ramai orang bercakap-cakap.
Ho Tiong Jong sudah diberitahukan oleh Kho Kie siapa-siapa yang hadir disitu, ia tidak perlu mencari tahu lagi hanya matanya terus mengharap-harap dapat melihat wajahnya nona Seng.
Tiba-tiba matanya Kim Hong Jin selagi bercakap-cakap dengan Li-lo sat Ie Ya, saban-saban tampak ia bersenyum manis dan begitu menyolok sekali cirinya dua sujen dipipinya yang botak.
Lantas saja Ho Tiong Jong pikirannya melayang pada lima tahun yang lampau peristiwa ia menolong mengambilkan bonekanya Kim Hong Jie yang jatuh disawah.
Bagaimana ia diajak kerumahnya diberi pelajaran ilmu golok keramat oleh engkongnya Kim Hong Jie.
Bagaimana Jenakanya Kim Hong Jie yang ketika itu masih menjadi satu nona cilik dan baik sekali terhadap dirinya.
Nona cilik yang nakal, lincah dan cerdas itu sekarang merupakan satu gadis berparas cantik luar biasa.
Bagaimana kalau satu waktu ia ketemu sinona, apa ia akanjawab kalau sinona menanyakan kenapa ia tidak datang lagi kerumahnya, yang telah dipesan oleh engkongnya dalam tempo setahun sudah harus kembali kerumahnya?
Dengan tanpa merasa parasnya berubah merah.
Ho Tiong Jong menjadi bengong memikirkan itu semua.
Kelakuannya ini telah ditertawakan oleh Soe coe Liang dan dua kawannya, mereka mengocok Ho Tiong Jong katanya mudah terbawa semangatnya oleh sepasang sujennya Kim Hong Jie.
Mereka agak keras mentertawakan Ho Tiong Jong hingga Kim Hong Jie dan Li sat Ie Ya pada menengok kearah mereka.
Ho Tiong Jong tundukkan kepalanya karena merasa malu Kim Hong Jie melihatpada Ho Tiong Jong, tapi ia tidak mengenali pemuda itu adalah itu pemuda yang telah menolong mengambilin bonekanya dulu, tetapi le Ya dapat mengenalinya pemuda tampan itu.
Begitu Ho Tiong Jong tundukan kepalanya ketika ia mendongak lagi dan mengawasi ke tempat duduknya Kim Hong Jie, ia melihat bahwa Li-lo sat, le Ya sedang bercakapcakap dengan pemuda hidung pesek Khoe cong, ialah pemuda yang tempo hari ia ketemukan di tengah hutan main petak dangan Li lo-sat Ie Ya.
Ketika matanya beralih kesamping mereka dilihatnya disitu sudah ada lain gadis lagi yang sedang duduk membelakangi ia.
Siapa gadis itu?
Hatinya Ho Tiong Jong berdebaran keras, ketika gadis itu berpaling sebentaran kebelakang, wajah dikenal oleh Ho Tiong Jong ia itu ada nona Seng, putrinya Seng pocu dari Seng-kee-po.
la menyesal Seng Giok cin tidak mau mengarahkan pandangannya kepadanya, hingga ia tak dapat memberi isyarat apa-apa untuk menyampaikan laporannya tentang kematiannya Tok-kay Kan ciong.
ia gelisah sendirinya, dan cara bagaimana ia dapat menyampaikan laporan itu?
Pikirnya, setelah beres melaporkan ia ingin segera meninggalkan tempat itu.
Li-losat Ie Ya tiba-tiba berdiri dari duduknya.
Maksudnya ia berdiri supaya Ho Tiong Jong dapat melihat pada dirinya, tapi akibatnya, menjadi tidak enak.
Sebab, sekali ia berdiri dianggapnya ada orang yang hendak naik keatas luitay untuk mengadu kepandaian.
Semua mata ditujukan padanya, hina gadengan apa boleh buat ia menghampiri panggung dan enjot.
turunnya naik keatas.
Setelah berada di atas ia berkata kepada para penonton.
Sekalian hadirin, berhubung dengan belum adanya wanita yang naik panggung, maka aku sekarang yang jadi pelopor menunjukan sedikit kejelekanku hanya sekedar untuk membuktikan, bahwa dikalangan wanita juga tidak kalah perhatiannya dari kaum laki untuk naik keatas panggung ini Parasnya yang cantik tampak berseri-seri memikat.
Oet-ti Keng dan oet-ti Koen melihat itu jadi saling pandang.
oet-ti Koen yang berangasan tabiatnya sudah tidak sabaran, segera mencelat naik menghadapi Li losat le Ya.
Sebetulnya oet-ti Koen mau jadi wakil Tay-cu bermaksud hendak mempertontonkan kepandaiannya kepada nona Seng, sebab hatinya telah tertarik betul oleh kecantikan dan gerak-geriknya si cantik.
Tidak tahunya, bukan lelaki yang naik tapi Li lo-sat le Ya perempuan.
Aku oet-ti Koen wakil Taycu boleh main-main dengan kau, katanya dengan suara dingin dan memandang rendah kepada le Ya.
Li lo-sat Ie Ya hanya tersenyum.
Tanpa banyak kata-kata lagi mereka lantas bergerak.
Li-lo-sat membuka serangannya dengan gerak tipu ganas sekali, hingga oet-ti Koen sangat terperanjat menghindarkan dirinya.
Lantas ia membalas dengan tipu pukulan Kui-eng Pek sat atau Raja setan mengibaskan kipasnya.
Ilmu pukulan ini mengeluarkan angin santar mengarah musuh, tapi Li lo sat dengan tenang memunahkan pukulan hebat itu.
Lalu balas menyerang dengan ganas dan kejam, meskipun tidak mengenakan sasarannya dengan telak.
angin pukulannya cukup menyerempet lengan baju kirinya oet-ti Koen, hingga ia ini jadi kaget sekali.
Meskipun setiap serangannya ada hebat, tapi Li-lo-sat le Ya tidak mendesak musuhnya, maka oet-tie Koen jadi dapat melayani tanpa mundur.
Melihat serang-serangan musuh makin lama makin ganas oet ti Koen lalu keluarkan tipu pukulan nya tiga belas gaya menyembah Tuhan, tiap serangannya berubah-rubah dan berbahaya sekali, hingga le Ya ke teter dan melayani musuhnya berputar-putar sekeliling panggung.
Sebentar saja sudah berjalan dua puluh enam jurus, tinggal tiga jurus lagi pertandingan berakhir seri dan Ie-Ya sedang memikirkan jalan untuk balas menyerang pada musuhnya tiba-tiba oet ti Koen telah menarik serangannya dan berkata padanya.
Ya, nona le, ilmu silatmu memang tinggi, aku tak dapat menang darimu.
le Ya mengerti oet-ti Koen ingin mengakhiri pertandingan itu, tapi bagaimana jalannya?
Sedangnya mereka buntu jalan untuk mencari penyelesaian, tiba-tiba ada seorang lompat dari bawah panggung mencegah mereka melanjutkan pertempurannya.
Kalian berdua berhenti dahulu bertempur, aku ada berita penting untuk disampaikan kepada kawan-kawan dalam rimba persilatan-katanya.
Kiranya orang itu ada Seng Pocu sendiri setelah berkata demikian ia lalu menghadapi para hadirin berkata.
Sekalian saudara-saudara aku mengabarkan berita penting kepada kalian, yalah Tok kay yang membunuhnya pada kemarin malam dalam sebuah kuil yang letaknya tidak berapa jauh dari sini.
Dengan begitu, pengemis kejam itu tidak akan meneruskan kekejaman dan kejahatannya lagi dalam dunia ini.
Kematiannya itu entah siapa yang melakukannya.
Seng Eng berkata demikian, matanya berbareng menyapu pada sekalian tetamunya.
Tiba-tiba matanya melihat Ho Tiong Jong mendadakan saja sudah mendelik, hingga orang banyak yang mengikuti pandangan-nya sudah pada mengarahkan perhatiannya pada Ho Tiong Jong.
Tiba-tiba Song Boe Ki yang mengenali Ho Tiong Jong sudah berteriak.
Aaa..
itu dia Ho Tiong Jong, achli waris dari San-yu Loreng Khong Teng Sho?
Kenapa Song Bee Ki berteriak demikian keras?
Itulah karena ia sudah dapat dengar, bahwa Seng Eng ada bermusuhan dengan San-yu Lo tong Khong Teng Shoe dan sudah sesumbar akan membasminya musuh itu berikut semua murid-muridnya..
Soe coe Liang, Kiauw Jang dan Ko Jang yang melihat matanya Seng Eng beringas mengawasi kearahnya sudah menjadi ciut nyalinya, dengan perlahan-lahan telah mengendurkan diri dan meninggalkan Ho Tiong Jong berdiri sendirian-sekarang semua mata ditujukan pada Ho Tiong Jong.
Seng Pocu sudah marah betul, tapi ia bisa kendalikan amarahnya itu, karena mengingat diseputarnya banyak tetamu.
Ia berteriak menegur.
Hai, Tiong Jong, kau semalam ada bersama-samanya dengan Tok kay, sebetulnya Tok kay telah dibunuh oleh siapa?
Kau tentu mengetahuinya, lekas katakan Ho Tiong Jong tampak tidak keder menghadapi Seng Pocu, malah ia ketawa dingin.
Dengan suara keras ia menjawab.
Seng Pocu, kalau kau mau tahu, orang itu telah ditabas lehernya olehku dengan golokku sendiri.
Seng Eng terperanjat.
Tidak terkecuali dengan semua tetamu yang hadir, karena untuk membunuh Tok-kay yang berkepandaian sangat tinggi, kecuali Seng Eng yang berkepandaian tinggi orang sembarangan tidak gampang membunuhnya.
Semua orang bingung dengan pengakuannya Ho Tiong Jong.
oet-ti Koen saat itu ada perhatikan Seng Giok Cin dan Kim Hong Jie yang kelihatan perhatiannya sangat tertarik oleh Ho Tiong Jong.
ia jadi cemburu dari atas luitay ia berteriak.
Ho Tiong Jong, kau jangan omong gede disini.
Kau ini sebangsa pengecut, siapa yang mau percaya kau membunuh Tok-kay.
Ho Tiong Jong marah sekali, ia berkata pada Seng Eng.
Seng Pocu, ijinkanlah aku naik ke luitay.
Belum habis bicaranya, orangnya sudah melayang dan hinggap diatas luitay menghadapi oei-ti Koen yang sedang petangtang-petingting melembungkan dada.
Hei oet ti Koen, bagaimana aku harus berbuat supaya kau percaya.
kata Ho Tiong Jong gemas.
oet-ti Koen tertawa bergelak-gelak.
Lagaknya sombong sekali, seolah-olah orang dihadapannya itu sudah tentu akan menjadi pecundangnya.
ia memikir demikian memang tidak salah sebab tempo hari Ho Tiong Jong sudah jadi pecundangnya.
Tapi ia tentu saja tidak menyangka, kalau Ho Tiong Jong yang tempo hari bersama Ho Tiong Jong yang sekarang ada lain tingkat kepandaiannya.
Tiong Jong, Tiong Jong, katanya dengan lagaknya yang tengik, sekarang begini saja, coba kau menyerang aku dan aku yang menangkisnya.
Kita bertempur satu gebrakan saja, akur?
Ha ha ha..
Ho Tiong Jong sudah tidak tahan melihat lagak tengik oet ti Koen, maka ia lalu menghadap pada Seng Eng.
Seng Pocu ijinkan aku main-main sebentar di luitay melayani ini orang gagah she oet-ti.
kemudian ia balik menghadapi Li lo sat le Ya.
Nona le, kau mengaso sebentar, biarkan aku yang kasih hajaran pada bedebah ini le Ya anggukkan kepalanya sambil kasih lihat senyumannya yang memikat.
Setelah le Ya lompat turun dari luitay, oet-ti Koen berkata lagi.
Hei Tiong Jong, apa kau tahu pertempuran ini ditetapkan tiga puluh jurus untuk menentukan menang kalahnya?
Tapi, tidak apa, aku boleh potong lima belas jurus untuk melayani kau, sebab dalam lima belas jurus sudah tentu kau jadi pecundang, bukan?
oet-ti Koen ada demikian memandang rendah kepada Ho Tiong Jong, akan tetapi sebaliknya dengan Seng Eng.
Pocu dari benteng Seng keepo ini merasa kuatir oet-ti Koen bukan tandingannya Ho Tiong Jong, maka ia berteriak pada oet-ti Koe n supaya peraturan yang sudah di tetapkan tiga puluh jurus itu tidak boleh dilanggar.
oet-ti Koen mendongkol hatinya.
Hmm..
Pocu tentu takut aku menyesal, bukan ?
Kau legakan hatimu, Pocu.
oet-ti Koen tidak akan membuat malu kepada Seng Pocu.
Seng Eng kewalahan menghadapi kebandelannya oet-ti Koen, tapi ia tetap menasehati supaya oet ti Koen tetap memegang peraturan.
Diam-diam ia memberi isyarat kepada kawan karibnya Pek Boe Tay-su, supaya ia siap-siap turun rangan melindungi oet-ti Koen dan mengambil jiwanya Ho Tiong Jong.
Pek Boe Tay-su seperti sudah paham akan maksudnya Seng Eng.
maka ia sudah anggukkan kepalanya.
Tapi hatinya ia sungkan berbuat curiga begitu malu terhadap jago jago tua yang hadir disitu.
Ketika pertandingan sudah hendak dimulai, terdengar suara sangat tajam dan keras menanya kepada Ho Tiong Jong.
Hei, Tiong Jong, apakah kau itu ada akhli warisnya San yu Lo long Khong Teng shoe?
Kiranya yang mempunyai suara demikian hebat ada IHan Goat Tojin dari golongan Liong-bun.
Hm.
aku bukan muridnya, jawab Ho Tiong Jong, tapi ia berpikir sebaliknya dirinya sudah tidak lama lagi hidup didunia karena racunnya Tok-kay, maka sebaiknya semua permusuhan dengan Kho Kie itu ia sendiri saja yang menanggungnya.
Maka setelah memikir demikian, ia menyambung kata-katanya.
tapi, apabila totiang mau menuntut balas urusan yang bersangkutan dengan San-yu Lo-long Khong Teng Shoe totiang boleh perhitungkan diatas diriku saja.
Bagus, bagus.
kata Han Goan Tojin sambil mengacungkan jempolnya, kau memang ada satu laki-laki sejati, berani berbuat berani bertanggung jawab.
sebentar aku akan minta pelajaran darimu.
Mendengar bicaranya Han Goat Tojin, semua orang hampir percaya bahwa pemuda ini akan mempunyai kepandaian luar biasa.
Sementara itu oet-ti Koen yang melihat suasana seperti menguntungkan Ho Tiong Jong sudah semakin jelus saja hatinya.
Hmm TiongJoag, Tiong Jong sebelum lima belas gebrakan semua orang akan mencari kau ke Giam-lo-ong Ha ha ha..
demikian oet-ti Koen mengejeknya.
Bedebah, tutup mulutmu.
Kau buktikan sendiri, perkataanmu itu benar akan menjadi suatu kenyataan apa akan menjadi sebaliknya?
Kaulah yang nanti pergi menghadap Giarm lo ong, apa kau sudah pesan tempat disana?
Ho Tiong Jong balas mengejek.
oetti Koen marah betul.
Tanpa banyak rewel lagi ia menyerang dengan hebat.
Ho Tiong Jong tidak gentar.
ia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pada kedua telapakan tangannya.Jari-jari tangan kirinya dibuka.
Telapakan tangan kanannya menangkis serangan, sedang jari-jari tangan kirinya secepat kilat mengancam jalan darah ditubuh oet ti Koen yang berbahaya.
Inilah ada ilmu serangan istimewa, yalah Kim-ci Gin ciang jari emas telapakan tangan ilmunya Khong Teng Shoe yang diturunkan pada Ho Tiong Jong melalui Khoe Kie, muridnya orang tua petani dari gunung San cu itu.
Hebat ilmu Kim-ci Gi Ni ciang iru, telapakan tangan kanan danjari-jari tangan kiri menyerang berbareng, membuat lawannya jadi gelagapan menangkisnya.
Tidak heran kalau oet-ti Koen menjadi kaget.
ia rubah posisi nya dan menyerang dengan dahsyat sekali maksudnya supaya sekaligus dapat membinasakan musuhnya.
Ho Tiong Jong menyambuti dengan tidak keder sedikitpUn.
Kedua kekuatan tenaga beradu.
satu suara wut yang keras terdengar tampak oet ti Koen mundur satu tindak dan lengan bajunya sobek^ Penonton sudah dapat memperhitungkan oet-ti Koen bukan tandingan Ho Tiong Jong yang hanya dengan serangan jarinya saja sudah menang angin.
oet-ti Koen melihat lengan bajunya sobek karena serangan tadi, lantas saja kalap dan berteriak-teriak katanya lengan baju itu sobek bukan lantaran Ho Tiong Jong, tapi bekas barusan ia bertempur dengan Li-losat le Ya.
Tapi teriakannya itu mana ada orang percaya, sebab mereka dengan mata kepala sendiri melihat kejadian itu, maka mereka hanya tertawa bergelak-gelak saja.
oet-ti Kang melihat adiknya berada dibawah angin mulutnya tidak bisa diam memaki maki pada Ho Tiong.
Hei, kau jangan banyak bacot kata Ho Tiong Jong.
Itu malam kalian bertiga mengeroyok aku seorang diri masih belum ada penjelasan.
Nah, sekarang kalian bertiga boleh maju berbareng it Semua penonton kaget melihat kata-kata-itu Ho Tiong Jong, mereka percaya Ho Tiong Jong telah dikerubuti tiga dan semakin percaya bahwa ilmu silatnya anak muda itu betul-betul lihay.
Oet-ti Koen telah mengerahkan semua tenaganya ia keluarkan tipu pukulannya yang sangat diandalkan yalah tiga belas gaya menyembah Tuhan.
Ho Tiong Jong masih terus mainkan Kim ci GiNi ciang yang hanya tiga jurus, tapi lihaynya bukan main.
Telapakan tangan dan jari-jarinya Ho Tiong Jong terus-terusan mengancam bagianbagian yang berbahaya pada tubuh musuhnya, hingga oet-ti Koen menjadi kewalahan dan ia main mundur saja kedesak.
Semua penonton dibikin kagum oleh kepandaiannya Ho Tiong Jong, apalagi Ban Siong To jin.
ia melongo karena ia tidak menyangka anak muda itu ada menpunyai ilmu yang demikian baiknya, tenaganya juga hebat sekali, tidak sama dengan semalam ketika ia menghadapi padanya dalam kuil ceng-in-si.
Ho Tiong Jong makin bertempur makin gagah.
setelah berjalan dua puluh jurus tibatiba ia merubah cara menyerangnya.
Jari jari tangan kirinya menyerang, sedang telapakan tangannya seperti ditarik tapi sebenarnya menyerang..Jalannya penyerangan kelihatan sangat aneh, hingga membuat kagum penontonnya.
Pelajaran yang ia dapat dari Tok-kay.
yalah Tok-liong ciang hoat, yang semuanya ada tiga belas jurus, telah ia pertontonkan dengan baik sekali dalam pertempuran itu.
Ilmu Tok-kay merupakan malapetaka untuk oet-ti Koen yang sombong karena dengan memainkan ilmu yang lihay itu membuat oet-ti Koen benar-benar tidak berdaya.
Jurus-jurus yang kedua puluh enam adalah babak yang menentukan Terdengar bentakan Ho Tiong Jong yang keras, oet ti Koen, jadi tidak dapat maju dan mundur.
Terpaksa ia memiringkan badannya untuk menyingkir dari gempuran musuh.
Tiba-tiba terdengar suara bra aak tubuhnya oet-ti Koen seperti la y angan putus terpental beberapa tumbak tingginya danjatuh pula diatas luitay.
Pelahan-lahan ia masih bisa merangkak bangun dan lompat turun dari luitay dengan amat malunya.
oet-ti Kang melihat adiknya dalam detik-detik berbahaya, sebenarnya sudah lompat ke atas luitay sambil menghunus pedangnya Cit Seng-kiam (pedang tujuh bintang) tapi terlambat karena adiknya bukan sudah kena tendangan telak dan badannya nampung keudara.
Ia menyesal tidak waktunya turun tangan mencegah kekalahan adiknya, tapi ia terhibur juga karena adiknya tidak sampai melayang jiwanya.
oet-ti-Kang dengan pedang telanjang menghampiri Ho Tiong Jong yang tinggal tenang-tenang saja setelah menyepak terbang oet ti Koen.
Pengecut keluarkan senjatamu oet-ti Kang menantang.
oet-ti Kang mengira Ho Tiong Jong hanya ilmu silatnya bertangan kosong saja yang ampuh, tapi tidak begitu kalau ia menggunakan senjata.
ia tahu betul Ho Tiong Jong hanya mampu menjalankan yang kedua belas jurus ilmu golok keramatnya, terhadap ini ia tidak takut dan memastikan akan kemenangannya.
Ho Tiong Jong yang mendengar tantangan oetti Kang dengan tenang ia menjawab.
Hmm..
oet-ti Kang.
Kau boleh menggunakan senjatamu, aku sendiri tidak perlu kalau hanya menghadapi orang semacam kau saja.
oet ti Kang panas hatinya.
Kim Hong Jie yang menyaksikan, tanpa merasa ia sudah nyeletuk.
Hmm orang itu sangat sombong, entahlah dia kepandaiannya sampai dimana?
Kho cong yang mendengar kata-kata itu, sambil nyengir mengiyakan pendapatnya si jelita.
Memang orang itu kepandaiannya boleh juga, cuma lagaknya sombong betul, hingga orang yang menyaksikannya tidak menaruh simpati kepadanya.
Seng Giok Cin sementara itu sudah bisa mengenali ketika Ho Tiong Jong bertempur dengan oet-ti Koen telah mainkan pukulan Tok kay.
ialah Tok-liong ciang-hoat Ia diamdiam merasa heran Ho Tiong Jong dapat warisan ilmu silatnya Tok-kay, sedang menurut pengakuannya Tok-kay telah binasa ditangannya.
Betul-betul ini merupakan soal-soal ruwet dan ia baru dapat memecahkannya manakala ia sudah bisa bertemu dengan si pemuda untuk menanyakannya.
Tapi bagaimana jalannya ia dapat menemui Ho Tiong Jong?
Kalau Seng Giok Cin terbenam dalam teka-teki adalah oet-ti Kang yang sudah jadi panas mendengar kata-kata yang sombong dari Ho Tiong Jong sudah berteriak keras, katanya, orang she Ho, kau cabut golokmu baru aku oet-ti Kang mau bertanding dengan kau, sebab kau dengan tangan kosong menandingi aku sama saja ketimun melawan duren.
mana bisa menang?
juga taruh kata aku menang, aku juga tidak mempunyai muka untuk menghadapi sekalian tetamu, sebab kemenanganku itu tentu saja karena aku menggunakan senjata dan kau bertangan kosong.
Maka, hayolah kau cabut golokmu, keluarkan kau punya ilmu golok keramat yang kau banggakan Ho Tiong Jong pikir, ini oet-ti Kang kalau tidak dikasih hajaran tentu ia akan memandang enteng padanya, buktinya barusan ia mengucapkan kata-kata yang sangat menusuk hati, maka baiklah ia melayani dengan goloknya, bagaimana oet-ti Kang nanti bisa tahan atau tidak dengan kepandaiannya yang sekarang ia miliki?
Segera ia mencabut golok bajanya, golok bukan sembarangan dan hadiah dari nona Seng, terhadap siapa ia sangat berhutang budi.
Kalau kau memaksa juga untuk aku mengeluarkan golokku, tidak ada halangannya, cuma saja rasanya kau tak dapat bertahan-lama kalau aku menggunakan senjata tajam.
Ha ha ha, oet-ti Kang, mari cepat maju.
Ia berkata sambil lintangkan goloknya didada, siap untuk menghadapi musuhnya yang ia tahu betul ada pandai sekali menggunakan pedangnya Cit-seng kiam yang tajam.
Kau tak usah banyak menjual lagak teriak oet-ti Kang seraya menyerang dengan pedangnya, tapi serangan itu dengan satu kelitan manis, sudah menemui sasaran kosong, hingga oet-ti Kang semakin naik hawa amarahnya.
Tiga kali lagi ia melancarkan serangan, semuanya hanya diegoskan dan dikelit dengan indah sekali, tanpa Ho Tiong Jong mengirim serangan balasan.
Hal mana, telah mengagumkan para penonton, serentak terdengar tampik sorik sorai yang gemuruh.
Kemarahannya oet ti Kang semakin menjadi jadi.
orang she Ho, hari ini.
kalau aku oet-ti Kang tak dapat mengirim kau menghadap ke Giam lo ong, benar benar aku bisa mati karena penasaranomongannya belum lampias sudah menjadi berhenti sendiri, karena ia sangat kaget, IHo-Tiong Jong yang dianggapnya takut terhadapnya tiba-tiba telah mengirim serangan hebat dengan goloknya.
Dikiranya Ho Tiong Jong hanya mengganda berkelit saja takut menghadapi ia punya ilmu pedang, padahal Ho Tiong Jong sebenarnya mau menguji kepandaiannya dihadapan orang banyak bagaimana ia melepaskan serangan lawan yang tangguh.
Ternyata kegesitannya sudah cukup boleh dibuat bangga.
Setelah ia merasa puas tiba tiba mendengar kata-katanya oet-ti Kan yang bukanbukan dengan mendadak saja hatinya sudah jadi sangat panas dan lantas menyerang kepada oet-ti Kang yang sedang mengumbar hawa amarahnya dengan keluarkan katakata yang tidak sedap untuk didengar oleh telinganya sang lawan.
Serangan Ho Tiong Jong ditangkis dengan pedangnya diam diam oetti Kang merssa sangat heran, sebab tenaganya Ho Tiong Jong tenyata bukan tenaganya Ho Tiong Jong yang tempo hari yang ketakutan sama bayangan putih.
Berpikir begitu, maka oet-ti Kang sudah memberikan perlawanan sangat hati hati pada pemuda yang mulai mengangkat nama itu.
Dengan begitu pertandingan jadi seruh sekali.
Pedang berkilau-kilau menyamber dengan ganas, dilain pihak golok berkelebatan dengan tidak kurang ganasnya.
Masing-masing telah mengeluarkan tipu silat simpanannya.
Ho Tiong Jong mainkan goloknya semakin lama semakin bagus hingga penonton merasa sangat kagum oleh kepandaiannya pemuda itu.
Diantaranya Kim Hong Jie yang jadi terpesona dengan tiba-tiba.
Itulah ilmu golok yaya-ku..
ia berkata dalam hatinya.
Lantas saja pikirannya telah melayang ke masa lima tahun yang lampau, ketika ia ketemu dengan Ho Tiong Jong dan pemuda itu telah mendapat hadiah dua belas jurus ilmu golok keramat dari yayanya.
Seharusnya ia menerima delapan belas jurus, tapi entah pemuda itu lantas tidak muncul lagi kerumahnya.
la tidak menyangka, bahwa di benteng seng-keepo ini ia dapat melihat lagi pemuda yang telah menolong mengambilkan bonekanya yang kecemplung kedalam sawah.
Sementara itu pertandingan telah berjalan dengan seru sekali^ ^1 I ^1 Kim Hong Jie kagum dengan ilmu golok yang diperlihatkan oleh Ho Tiong Jong Dia hebat dan tampan parasnya katanya dalam hati sendiri.
Matanya tidak berkesiap mengawasinya keatas panggung, dimana dua jago muda sedang mengukur tenaga dengan sungguh-sungguh..
oet ti Kang diam diam mengeluh, kenapa lawan-lawannya kini sangat sulit dirobohkan dan saban-saban tipu goloknya hampir saja mengenakan sasarannya.
ia menjadi lebih waspada ketika melihat Ho Tiong Jong yang dihadapi sekarang ada lain dengan Ho Tiong Jong yang tempo hari.
Pantasan pikirnya adikku dapat dikalahkan mentah-mentah.
Tapi oet-ti Kang tak usah menunggu lama-lama, karena babak yang menentukan sudah lantas tertampak, ketika dengan tiba-tiba Ho Tiong Jong membentak.
Kena.
ia jadi gelagapan dan lompat mundur.
Tapi keadaannya sudah menjadi memalukan, rambutnya terpapas sebagian, sedang pedang ditangannya tinggal sepotong saja.
Kutungan yang lainnya sudah jatuh dipapan panggung.
Mukanya tampak membisu dan mengawasi musuhnya yang tinggal berdiri tegak dengan wajah bersenyum-senyum.
Ho Tiong Jong tahu lawannya sudah kalah, ia tidak perlu menyerang lagi.
sementara itu tampik sorak sorai dibawah panggung riuh sekali.
Penonton dibikin kagum oleh serangan Ho Tiong Jong yang paling belakang, mereka tidak tahu entah dengan cara bagaimana pemuda itu bergerak dan menyabetkan goloknya, karena tahu-tahu setelah membentak kena oet-ti Kang lompat mundur dan rambutnya terpapas, sedang pedangnya yang sangat dibanggakan cit-seng-kiam telah menjadi doa potong.
Kim Hong Jie juga merasa sangat heran.
Dia bergerak aneh sekali, entah dengan ilmu silat apa ia telah mengalahkan lawan nya?
demikian Kim Hong Jie menanya pada dirinya sendiri.
Betul-betul ia mengagumi pemuda tampan dan hebat ilmu silatnya itu.
Kalau dahulu ia begitu akrab pada Ho Tiong Jong dalam arti menyinta pada seorang kakak tapi kini entah bagaimana dengan mendadakan hatinya berdebaran dan tidak enak.
Parasnya yang putih dan ramai dengan senyuman sejenak telah menjadi bersemu merah, seperti yang merasa jengah.
Perlahan-lahan ia pegang dadanya sendiri yang berdebaran, ia ingin menghentikan debaran itu, tapi tidak bisa.
Entah bagaimana, saat hatinya seperti berbicara.
Apa kau tidak ingin menemui pemuda tampan itu ?
Suaranya sang hati membuat paras mukanya menjadi merah jengah.
sementara itu Ho Tiong Jong diatas panggang, dengan merendahkan dan hormat ia menjura kepada penonton, seakan-akan yang mengucapkan terima kasih atas sambutan yang meriah bagi kemenangannya tadi.
Diam diam ia merasa bangga, ia berpikir.
Beginilah rasanya kalau menjadi orang ternama Ia seperti ingat sesuatu, matanya lantas celingukan kan memandang ke tempatnya nona seng Justru Seng Giok Cin saat itu sedang memandang kepadanya, hingga dua pasang mata kebentrok.
Nona Seng bersenyum, kemudian tundukkan kepalanya.
Tinggal Ho Tiong Jong yang dak dik duk hatinya.
Bagaimana ia tidak dak dik duk hatinya dilirik dan dilempari senyuman oleh seorang gadis yang paling cantik diantara sekian banyak nona nona cantik yang hadir disitu.
Bagaimana Ho Tiong Jong peroleh kemenangan yang mengagumkan itu?
Sebenarnya ilmu goloknya, seperti diketahui, hanya dua belas jurus saja.
Setelah ini habis di mainkannya, habis juga perlawanannya pemuda itu, kecuali ia mengulangi permainannya itu.
Pada saat ilmu golok keramatnya jurus yang dua belas dikeluarkan semua, ia agak kebingungan juga.
Tapi lantas ia mengingat akan ilmunya Tok-kay.
Tok liong Ciang hoat, maka ia sudah sambung ilmu goloknya dengan ilmunya Tok-kay itu.
Benar-benar hebat sebab begitu ilmu itu dimainkan kontan Oet ti Kang keteter dan akhirnya menemui kekalahannya yang memalukan.
ooOOoo Ho Tiong Jong alihkan pandangannya ke-tempat Kim Hong Jie.
Gadis bersujen memikat ini melambai-lambaikan tangannya, sambil bersenyumsenyum ramai diwajahnya hingga Ho Tiong Jong kembali berdebaran hatinya.
Wajah Kim Hong Jie tidak bisa terluputkan dalam ingatannya.
Sebagai nona cilik yang baik kepadanya sekarang setelah menjadi nona dewasa agaknya Kim Hong Jie tidak melupakan pada dirinya.
Ia sebenarnya ingin turun untuk menghampiri si nona, akan tetapi ia masih belum boleh turun, karena harus menghadapi Taycu lagi sebagai babak terakhir ia memukul luitay.
Sebagai gantinya ia balas melambai-lambaikan tangannya.
Khoe cong yang berada didekatnya Kim Hong Jie menjadi mengira melihat kemesraan dua orang itu.
ia memang naksir pada nona Kim dan sebisa-bisa ia mendekati Kim Hong Jie supaya perhatiannya lebih tertarik kepadanya, ia melupakan wajahnya yang tidak dapat menarik gadis yang mana juga.
Melihat hidungnya yang pesek maka saja seorang gadis cantik sungkan mendekatinya.
Karena ia berpengaruh, ayahnyapun terkenal sebagai jagoan yang dimalui dalam kalangan Kangouw, maka masih juga ada gadis-gadis yang suka bicara berhadap-hadapan dengannya meskipun dalam hatinya tentu diam-diam merasa sebal melihat mukanya yang jelek.
Kemenangan Ho Tiong Jong yang aneh membikin jago-jago tua pada berdiri dari duduknya, seperti Han San dan Han Goat dari golongan Llongbun, Kauw Seng Ngo dari Kun lun-pay, cie Kauw, Pek Boe Taysu dan Seng Eng Pocu dari Seng keepo.
diantaranya Song Boe Ki yang kelihatan paling penasaran karena dua saudara seperguruannya kena dikalahkan mentah-mentah oleh Ho Tiong Jong.
la berkeputusan untuk turun tangan mengalahkan orang sho Ho itu.
juga dua saudara she Kong yang dijuluki Im-yang Siang kiam tidak ketinggalan, mereka anggap Ho Tiong Jong yang telah memperlihatkan ilmunya Kim-ci Gin ciang adalah akhli warisnya San-cu Lo-long Khong-Teng Shoe musuh besarnya darl partainya ialah Ngo bie-pay.
Terdengar Seng Eng membuka suara.
Saudara sekalian, setelah pertandingan dua wakil Tayeu selesai, sekarang adalah gilirannya Taycu sendiri yang akan maju Pek Boe Taysu, yang mendapat giliran-menjadi Tay-cu, tampak berbangkit dari duduknya dan bersenyum-senyum.
Ketika ia hendak mengangkat langkahnya menghampiri luitay.
tiba-tiba puterinya Seng Pocu muncul, berkata pada Pek Boe Taysu.
Harap locianpwee menyerahkan tugas Tay cu kepada aku yang tidak berguna, aku ingin membereskan orang she Ho yang sombong itu.
Pek Bo Taysu melengak mendengar kata-katanya sinona, matanya melirik pada Seng Eng, seolah-olah mau menanya pikirannya bagaimana.
Seng Eng melihat putrinya hendak turun tangan, pikirnya sang putri tentu ada mempunyai maksud untuk keuntungan pihaknya lagi pula ia tahu benar kepandaiannya sang putri sampai dimana, maka ia tak berkeberatan.
Taycu, biarkan anakku yang mewakili.
katanya sambil ketawa dan mengurut-urut jenggotnya.
Pek Boe Taysu juga tidak keberatan.
Baiklah, katanya harap nona diatas panggung suka berlaku hati-hati, karena lawan itu tak boleh anggap enteng kepandaiannya.
Terima kasih, aku dapat menjaga diriku sendiri jawab sinona, berbareng ia menghampiri luitay.
Dengan sekali enjot tubuhnya sudah melayang dan hinggap di atas panggung.
Pek Boe Taysu melihat sinona sudah hinggap diatas luitay, ia balik kembali kekursinya.
ia kini sudah berumur tujuh puluh tahun.
Pada lima puluh yang lampau ia bernama Koan Pek ciak.
dengan julukan Tangan Besi , tabiatnya bukan main bengisnya.
sekali kena ia marah ia dapat membunuh orang tanpa berkesip matanya.
ia menjadi muridnya To Hoei Taysu dari Siauw-lim-si.
Karena ia suka membunuh orang, banyak orang melaporkan perbuatannya kepada pemimpin gereja siauw-lim-si hingga To Hoei Taysu mendapat teguran dari atasannya.
To Hoei Taysu lalu keluar sendiri mencari Koan Pek ciak.
Mengingat perhubungan diantara murid dan guru biar bagaimanapun ada menyelip perasaan tidak teganya, maka To Hoei Taysu hanya memberi teguran pedas pada Koan Pek ciak dan dilarang datang lagi ke Siauw-lim-si.
Setelah diusir dari perguruan, Koan Pek ciak menunrut penghidupan dikalangan hitam (penjahat).
Perbuatan-perbuatannya, yang ganas membuat orang merasa takut kepadanya, bukan sedikit orang mengantar harta kepadanya, sehingga ia jadi hartawan.
Barulah keganasannya mereda setelah ditimbun dengan kekayaan.
Seng Eng dapat bersahabat karib dengannya ialah melalui pertempuran dahsyat yang memakan waktu sehari semalam, Koan Pek ciak hanya kalah seurat oleh Seng Eng, sejak mana keduanya telah menjadi sahabat kekal.
Entah mengapa, pada suatu hari Koen Pak ciak pulang ke Siauw-lim si, Pada waktu itu kedudukannya To Hoei Taysu sudah tinggi.
Kepada gurunya ini Koan Tok Pek ciak minta ampun dan ia rela kepalanya digunduli masuk menjadi hweshio.
To Hoei Taysu dan memang menyintai pada muridnya, telah mengampuni dirinya dan sejak ia menjadi padri telah menukar namanya menjadi Pek Boe.
Sejak itu orang tidak melihat lagi Koan Pek ciak yang ganas kejam, dikiranya ia sudah mati, tidak tahunya ada mengasingkan diri didalam gereja Siauw-lim si.
Pada suatu hari ia keluar dari gerejanya ada urusan dikota See-an, ia telah berjumpa dengan beberapa penjahat.
Karena kawanan penjahat itu menghina dirinya, maka telah timbul amarahnya dan tabiatnya yang suka membunuh orang.
seketika itu ia telah membunuh beberapa penjahat diantaranya.
Setelah melakukan perbuatan demikian ia rupanya sangat menyesal.
Kuatir ditegur dan mendapat hukuman kalau ia kembali ke Siauw lim si, maka ia terus mencari Seng Eng sahabat karibnya.Justru dengan kebetulan sekali Seng Eng waktu itu sedang mengumpulkan orang gagah untuk mengadu kepandaian.
la disambut dengan ramah tamah oleh Seng Eng dan diminta bantuannya mengatur pertemuan Mengadu silat mengumpulkan sahabat yang ia selenggarakan dengan maksud tertentu.
Pek Boe Taycu yang pikirannya sudah kembali ketabeatnya yang dahulu, tidak merasa keberatan dan terima baik permintaannya sang kawan-Kita balik kepada Seng Giok Cin yang naik keatas luitay.
Ho Tiong Jong melengak karenanya, sebab ia tidak menduga kalau si nona yang maju sebagai lawannya dalam pertandingan berikutnya.
Ia berseri seri menyambutnya.
Tapi heran, muka yang berseri-seri itu telah disambut dengan wajah yang dingin oleh Seng Giok Cin.
Ho Tiong Jong merasa heran.
Tadi sinona dibawah panggung bersenyum kepadanya, akan tapi mendadak sekarang wajahnya jadi cemberut dingin.
Apa ia tadi berlaku kurang sopan kepadanya, hingga sinona menjadi marah.
Meskipun hatinya tidak enak.
ia menyapa juga kedatangannya Seng Giok Cin.
Nona Seng, sungguh aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu.
Sampai mati juga aku tidak akan melupakan budimu yang besar itu.
Aku tidak nyana, bahwa pemuda pelajar yang aku ketenukan diterang bulan adalah putrinya Pocu dari Seng-kee-po yang berbudi luhur dan-..
Haii,..terdengar si Nona memotong perkataannya Ho Tiong Jong.
Aku tidak ada tempo untuk membicarakan tetek bengek, mari lekas bertempur Aku ingin lihat kepandaianmu sampai dimana Ho Tiong Jong melengak.
ia menjublek memikirkan sikapnya nona Seng yang demikian rupa.
ia sebenarnya datang kesitu juga hendak menemui sinona, mengabarkan hal kematiannya Tok-kay, setelah mana ia akan angkat kaki lagi karena ia bakalan mati oleh pengaruhnya racun Tok-kay yang ada dibadannya.
Hei, kenapa kau bengong saja?
Lekas keluarkan kepandaianmu tegur si nona.
Nona Seng, harap maafkan aku.
Dengan sejujurnya aku betul-betul tidak mengerti dengan sikapmu ini.
Apakah aku pernah bersalah kepadamu?
Kalau aku bersalah, sekarang aku minta maaf Jangan banyak rewel, aku tidak memerlukan kau punya permohonan maaf Kalau begitu, kau memaksa juga hendak bertempur dengan aku, biarlah aku mengaku kalah saja.
Nah, selamat tinggal.
Ia berbareng mau melompat turun dari luitay, akan tetapi nona Seng sudah dengan gesitnya menghadap di hadapannya.
Keluarkan dahulu kepandaianmu, kalau kau sudah dapat menjatuhkan aku.
barulah kau turun daripanggang ini.
kata Seng Giok Cin dengan suara ketus.
Aku aku..
katanya gugup, sebab tidak diberi kesempatan bicara dan diserang dengan hebat oleh Seng Giok Cin la kelabakan sebentar.
Kemudian ia terpaksa melayani sinona bertempur, ia telah mengeluarkan ilmunya warisan Tok-kay yalah Tok-licng cianghoat yang ampuh Tampak telapakan tangan kirinya sedikit didorong uutuk menangkis serangan si nona sedang tangan kanannya dengan gaya Kay-thian Pit-tee atau membuka langit dan bumi, ia balas menyerang.
Tapi serangannya tidak di teruskan, di ganti dengan gaya Kim-paw Lok tiauw (Macan tutul emas perlihatkan cakarnya).Jari tangannya dibuka sebagai gaetan terus hendak mencengkeram sikutnya si nona.
Seng Giok Cin tahu bahwa tenaganya si-pemuda ada sangat kuat.
Pikirnya, bertempur lima belas jurus saja belum pasti ia peroleh kemenangan, ia harus menggunakan kecerdasan diwaktu Ho Tiong Jong lengah, barulah dapat merebut kemenangan.
Serangan si pemuda di tangkis dengan telapakan tangan kanan dan telapakan tangan kirinya balas menyerang.
Kaki kanannya di geser maju, sedang yang kiri ditarik mundur.
Ia coba menyambuti serangan lawan, akan terapi ia kalah tenaga dan terus terdesak mundur oleh serangannya Ho Tiong Jong.
Dalam tempo sebentaran saja mereka sudah bertempur lima jurus.
Diam-diam Ho Tiong Jong mengeluh dalam hati.
Pikirannya, ia tak lama lagi tokh akan mati, untuk apa ia merebut kemenangan?
Apa perlunya untuknya Maka lebih baik ia mengalah dan kasihkan dadanya dihajar si nona sampai binasa.
ia rela mati ditangannya orang yang pernah membuang budi padanya.
Lagi pula, dengan berbuat demikian ia sudah memberi muka kepada si nona didepannya orang banyak.
Ho Tiong Jong ingin si nona turun tangan betul-betul, maka ia berkata.
Nona Seng kau boleh menyerang, jangan pakai sungkan-sungkan lagi, aku akan melayani kau dengan betul?
Nah keluarkanlah ilmu simpananmu.
Seng Giok Cin diam-diam merasa gemas juga mendengar kata-katanya pemuda tampan itu, ia perhebat serangan-serangannya.
Dilain pihak Ho Tiong Jong keluarkan ilmunya Kim ci gin-ciang menyerang dengan telapakan tangan dan menotok dengan jari-jarinya yang kuat, hingga sinona lagi-lagi ke-teter dan hatinya ada sedikit keder juga.
Ho Tiong Jong terus mendesak dengan totokannya yang berbahaya.
Dalam keadaan terdesak.
Seng Giok Cin menggunakan kegesitannya untuk meloloskan diri dengan melesat tinggi, diudara badannya berputaran sebentar, kemudian meluncur turun lagi, tahu-tahu sudah berada dibelakangnya Ho Tiong Jong.
Sebelumnya sipemuda dapat membaliki badannya, jari-jarinya sinona yang halus telah menotok jalan darah dibagian pinggangnya hingga seketika itu juga ia jatuh lemas.
Kegalakannya yang barusan diunjuk menyerang sinona bertubi-tubi, telah lenyap tanpa bekas.
Segera seketika itu terdengar tampik sorak yang riuh sekali menyambut kemenangannya Seng Giok Cin.
Tapi sinona tidak menjadi bangga oleh karena kemenangannya itu, malah wajahnya tampak dingin ketika membalas hormat atas samburan yang meriah.
Seng Giok Cin suruh orang-orangnya angkut Ho Tiong Jong turun dari luitay.
Seng Eng sementara itu, dengan muka berseri-seri telah mengumumkan bahwa pertandingan dihentikan dan beristirahat dahulu.
Setelah habisan makan dipelataran yang di tanami banyak bunga-bunga terletak dibelakang rumah, kelihatan ada berkumpul beberapa orang ialah.
Seng Eng, Kim Hong Jie, Pek Boe Taysu, Ban Siang Tojin, Siluman Khoe Tok dengan tiga muridnya dan si Rajawali Botak Ie Yong, yang menyolok sekali kepalanya botak.
Mereka berunding tentang Ho Tiong Jong yang sudah kena ditangkap.
bagaimana harus diambil tindakan terhadapnya.
Dua saudara oet-ti dengan ditunjang oleh song Boe Kie mengusulkan agar jiwanya pemuda itu dibereskan saja, supaya jangan jadi bibit penyakit di kemudian hari.
Pek Boe Taysu menyatakan pikirannya, sebaiknya Ho Tiong Jong ditahan saja dahulu jangan dibunuh sebab siapa tahu kalau ia muncul disitu bukan sendirian dan ada tulang punggungnya yang berkepandaian amat tinggi.
Ban Siang Tojin mufakat pemuda itu dibunuh mati, sebab ini berarti pihak Seng Pocu sudah menyingkirkan akhli waris Sanju Lo-Iong Khong Teng Shoe musuhnya golongan Liong Bun, hingga bisa diharapkan golongan Liong Bun akan tunduk kepada pihak Seng keepo.
Seng Eng sendiri belum dapat memutuskan bagai mana baiknya.
KARENA tidak ada keputusan, maka Ho Tiong Jong terus ditahan, dalam suatu kamar tahanan yang gelap tak dapat melihat sinar matahari sepanjang hari.
la dalam Keadaan tidak berdaya, karena masih tertotok.
Seng Eng telah meninggalkan kawan-kawannya untuk beristirahat dirumah belakang.
Belum lama orang tua itu berada didalam kamarnya pintu kamarnya terdengar diketuk dan kelihatan masuk Seng Giok cin dengan wajah berseri-seri manja.
Hei, kau pergi kemana?
Kenapa tidak menghadiri pertemuan kita ?
tanya sang ayah ketika nampak siapa yang masuk kedalam kamarnya.
Seng Giok cin ketawa.
Aku ada di kamar sembahyang ibu bagaimana dengan keputusan Ho Tiong Jong?
ia menanya.
Semua orang mufakat dibunuh mati, jawab sang ayah.
Dibunuh mati?
Seng Giok Cin menegasi.
Ya.
Kalau ia dibunuh lantas golongan Liong-bun menyerah pada kita, tidak apa, aku bisa mufakat diambilnya tindakan itu.
Tapi ayah, belum mengambil tindakan demikian, kata Seng Giok Cin Lebih baik kita jangan berhubungan lagi dengan golongan Liong bun, aku lihat mereka licik dan bisa membujuk Ho Tiong Jong supaya dia membantu pada kita.
Kasih saja ia memangku jabatan penting dalam benteng kita, aku lihat ilmu silatnya bukan sembarangan ?
Seng Eng tidak menjawab, matanya mengawasi pada wajahnya sang putri yang cantik.
Tapi.
biarlah aku nanti coba yang membujuk dia.
Kalau benar-benar dia mau menjadi orang kita.
lantas kita boleh mengatakan pada para tetamu bahwa dia sudah melarikan diri berbareng kita pura-pura mengirim orang untuk mengejarnya.
Barusan aku tidak menghadiri perundingan oleh karena aku hendak bicarakan dengan ayahaku punya pendapatan ini.
Seng Eng kembali tidak menjawab, tapi dari paras mukanya tampak seperti ia setuju dengan pikirannya sang anak yang berakal ini.
Terdengar Seng Giok cin berkata lagi.
Menurut pikiranku, kita hanya permainkan soal Ho Tiong Jong perlahan-lahan dapat melumpuhkan mereka.
Sekarang usaha ayah, mengumpulkan banyak orang dari berbagai partai dengan maksud mengetahui sampai dimana masing-masing punya kepandaian, tapi kita tak dapat membasmi mereka guna apa?
Kita terang-terangan membunuh mereka tidak bisa, maka kita harus menggunakan akal, bukan?
coba ayah pikir benar tidak?
Hei akalmu baik sekali cin Jie.
tiba-tiba Seng Eng berkata dengan muka girang.
Kalau nanti berhasil, pihak kita menjagoi dikalangan persilatan, kaulah ada satu satunya orang yang berjasa besar.
seng Giok cin tertawa.
Sementara itu Seng Eng lalu keluar dan memerintahkan pada Ie Yang supaya Ho Tiong Jong dipindahkan tempat tahanannya, ialah ketempat tahanan yang berair.
Ketika Ie Yong masuk kekamar tahanan Ho Tiong Jong.
kelihatan pemuda ini sedang rebah ditempat tidur dengan badan lemas tidak bisa bergerak karena tertotok.
Tapi pikiran dan matanya tetap terang.
Ketika Ie Yong mengatakan dirinya akan dipindahkan ia tidak berkata apa-apa.
Ia melihat ada dua orang yang membawa usungan keatas ia kemudian direbahkan dan dibawa keluar kamar itu.Jalan yang dilalui ada berliku liku dan melewati beberapa pintu, ia sangat kaget dirinya akan dibawa kemana sih?
Diam-diam ia berpikir, Kenapa aku masih belum juga dibunuh.
Aku mau dibawa ke mana sebenarnya?
Kenapa totokan pada jalan darahku masih juga belum dibuka.
orang menyiksa aku sampai begini ada perlunya.
Dalam menanya nanya pada dirinya sendiri, tiba ia melihat ada berkelebat sesosok bayangan orang, Ketika ia tegasi bukan lain dari nona Seng.
Mulutnya bergerak-gerak seperti yang hendak bicara padanya akan tetapi Seng Giok Cin sebentar lagi sudah melenyapkan pada dirinya.
Ho Tiong Jong tidak ambil pusing.
Ia tenang tenang saja orang menggotong dirinya ia mau tahu sebenarnya orang mau bawa ia kemana?
Pada suatu saat tiba-tiba orang-orang yang menggotong padanya berhenti, tampak Ie Yong menghampiri satu alat rahasia yang terdapat pada sebuah gambar yang melukiskan pemandangan alam tergantung didinding.
Setelah diputar beberapa kali, lantas terdengar suara krekek tiba-tiba telah terbuka sebuah pintu sempit.
ie Yong mengasih tanda pada yang membawa usungan, supaya Tiong Jong digotong masuk ke dalam kamar kecil itu..
Setelah berada didalam Ho Tiong Jong lihat dibawa turun melewati tangga batu, jalanan disitu sangat sempit kira-kira lebar tiga kaki dan tinggi satu tumbak.
Setelah berjalan kira kira tiga tombak.
telah diliwati empat belokan disitu keadaan ada terang karena ada dipasang lampu.
Tampak ada beberapa lubang hawa.
Melihat keadaan kamar dibawah tanah ini, Ho Tiong Jong menduga, kamar itu tentu memang disediakan untuk keperluan pemiliknya mengumpat disitu kalau menghadapi bahaya tak dapat diatasi.
Mereka tidak berhenti sampai disitu, karena usungan digotong terus, tiba-tiba mereka berjalan dijalanan yang sangat sempit, kemudian membiluk dan disitulah terdapat sebuah kamar batu, yang dinding dan pintunya semua terbuat daripada besi.
Dibagian atas pintu ada kedapatan lubang sebesar setengah kaki tapi ditutupi dengan besi juga.
Lubang ini dapat dengan sendirinya terbuka dan tertutup, Kamar itu ada mempunyai empat pintu.
Ie Yong telah membuka pintu yang sebelah kiri masuk kedalam kamar itu kira-kira hanya satu tombak persegi, bahkan tempat ini amat rendah.
Hei, orang kasar, sebenarnya aku mau diapakan sih?
tanya Ho Tiong Jong pada ie Yong dengan tiba-tiba.
Ho Tiong Jong rupanya sudah sangat jengkel, Karena diusung orang sampai sudah sekian lamanya belum mendapat kepastian mau diapakan dirinya.
Kau jangan banyak rewel, aku melakukan ini hanya menurut perintah.
jawab Ie Yong dengan dingin.
Apa kau mau membunuh aku mati.
Siapa yang hendak membunuhmu?
Kecuali kau banyak rewel Ho Tiong Jong jadi sengit, ia berteriak Kepala botak.
lekas kau katakan orang mau berbuat apa atas diriku, kalau tidak, sebentar kalau aku sudah merdeka awas dengan kepala botakmu Ie Yong paling jengkel kalau dikatakan kepala botak.
sekarang ia mendengar Ho Tiong Jong memakinya demikian, bukan main marahnya.
Manusia, tidak kenal mampus teriaknya.
Kau berani memaki aku begitu, awas aku bikin remuk kepalamu, kau tahu ?
Hm mana kau ada kemampuan untuk berbuat demikian ?
Ie Yong jadi naik darah.
ia cepat menghampiri Ho Tiong Jong yang tak berdaya, tangannya diangkat dan hendak memukul dengan hebatnya, tapi terdengar suara halus berkata.
Ie congkoan, kau tak dapat berbuat demikian.
Si kepala botak menjadi kaget, tangannya yang sudah diangkat telah ditarik kembali dan berpaling kearah suara tadi.
Kiranya yang berkata tadi ada nona Seng, yang telah mengunjukkan dirinya sekelebatan, kemudian menghilang lagi.
Ho Tiong Jong juga akan dapat melihat berkelebatnya tubuh yang langsing dari nona akan tetapi ia tampaknya acuh tak acuh.
Hm terdengar ie Yong menggeram sendirian.
la melihat kearahnya Ho Tiong Jong.
tampaknya sipemuda sedang menertawakan padanya.
bukan main mendongkolnya, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa, Didalam kamar tahanan itu Ho Tiong Jong diletakan dilantai, tangan dan lehernya di ikat dengan rantai besi.
Disitu ada mengalir air yang keluar dari sumbernya.
Ketika Ho Tiong Jong dirantai air mengalirkan tingginya hanya satu kaki saja, tapi air itu mengalir terus memenuhi ruangan hingga sebentar saja sudah naik setinggi mulut Kematian baginya tjdak menjadi soal.
Mati disitu dan di mana saja ia tokh akan menemui ajalnya karena pengaruh racun dari Tok kay, akan tetapi ia tidak tahan merasakan kakinya yang kerendam air seperti digerumuti semut hingga ia berteriak-teriak seperti orang kalap.
Tiba-tiba ia hentikan berteriaknya, ketika mendengar seperti seorang tua berkata kepadanya.
Suara itu datangnya dari sebelah kanan dinding kamar tahanan.
Hei.
bocah, untuk apa kau ribut-ribut?
Diamkan saja.
nanti juga sudah menjadi biasa lagi kau tidak akan merasakan apa-apa.
Ho Tiong Jong merasa malu mendapat teguran tadi.
Memang tidak semestinya ia berteriak-teriak seperti kebakaran jenggot disebabkan merasa seperti digerumuti semut saja kakinya.
Mungkin karena pengaruhnya air, yang sebentar lagi kalau sudah biasa kakinya terendam disitu akan tidak dirasakan pula yang demikian itu.
la celingukan mencari dari mana datangnya suara tadi.
ia tahu benar datangnya dari samping sebelah kanan, akan tetapi tidak kelihatan disitu mata hitungnya manusia.
Adakah setan penunggu disitu yang berkata-kata tadi?
Demikian ia menanya pada dirinya sendiri.
Kau siapa?
tiba-tiba ia menanya, setelah mencari orangnya sia-sia saja.
Ha ha ha kedengaran orang tadi tertertawa aku disini ditahan dikamar sebelah kau.
Aku ditahan disini sudah dua puluh tahun lamanya.
Aku tahu sudah banyak orang yang ditahan ditempatmu itu, akan tetapi di tahan tidak lama, maka aku percaya kaupun tidak akan mengalami penahanan yang lama.
Ho Tiong Jong lega hatinya, karena suara tadi suaranya manusia, bukannya setan seperti yang diduga semula.
Tapi, diam diam ia merasa heran, sebab apa orang itu ditahan disitu hingga sudah dua puluh tahun lamanya?
Sementara itu ia merasakan air naik semakin tinggi, ia menanya.
Lopek aku disini kerendam air sampai dipaha, apakah dikamarmu juga kerendam?
Tadinya betul ketika aku masih ditahan ditempat tahanan lain suka kerendam air akan tetapi sejak aku dipindahkan kesini, aku tidak mengalami lagi kerendam.
Hanya saja kakiku sudah kena penyakit reumatik sehingga sukar digerakkan.
Kalau sampai kini aku masih hidup terus, karena aku masih berpengharapan suatu hari aku dapat keluar dari kamar tahapanmu dan melihat lagi sinarnya matahari yang terang benderang.
Ho Tiong Jong berduka hatinya mendengar perkataannya si orang tua tadi.
Pikirnya, orang tua itu yang ditahan sudah dua puluh tahun lamanya masih memikirkan mau hidup, tapi dirinya sendiri bagaimana?
Dalam tempo tiga hari setelah terkena racunnya Tok kay jiwanya akan melayang, mana ia berani mengharapkan hidup?
Ia menghela napas beberapa kali, mukanya menjadi pucat dengan tiba-tiba.
Terdengar orang tua tadi berkata lagi.
Bocah, kau ini berbuat kesalahan apa sehingga ditahan ditempat ini?
Ya, aku sendiri tidak tahu mengapa orang menahan aku disini?
jawab Ho Tiong Jong dengan suara sedih.
Bocah.
kau ini rupanya terlalu banyak pikir hingga tidak tahu apa-apa.
Tapi, ia, memang didunia ini banyak peristiwa yang tak dapat dijawab dan banyak kejadian yang tak dapat diusut sebab musababnya.
Ho Tiong Jong setengah mengerti, separuh tidak atas kata-katanya si orang tua tadi.
Ia menanya.
Nah, lopek sendiri juga sebabnya apa ditahan disini, mengapa sampai ditahan begitu lama duapuluh tahun-Terdengar slorang tua menghela napas.
Aku, aku..
jawab dengan suara getir.
ditahan disini ada sebab.
Mungkin aku akan ditahan seumur hidupku disini, mereka tidak akan melepaskan aku lagi.
Sampai aku mati disini..
Kau kenapa, apakah kau ada bermusuhan dengan Seng Pocu?
oh bukan.
Aku tidak punya permusuhan apa apa dengan Seng Pocu.
Habis mengapa kau ditahan sampai begitu lama belum juga dikeluarkanTerdengar orang tua itu menghela napas lagi.
Sesaat lamanya keadaan menjadi sunyi, si orang tua belum memberikanjawa bannya.
sedang Ho Tiong Jong tinggal menantikan dengan perasaan heran-Terdengar orang tua tadi berkata lagi.
Bocah, kau tahu, aku ini ada satu akhli bangunan yang tersohor.
Bangunan bangunan seperti benteng benteng, jembatan-jembatan dan lain-lainnya yang indah dan tersohor adalah aku yang membikinnya.
juga rahasia banteng disini aku yang merencanakannya, justru lantaran mereka kuatir aku dapat membocorkan rahasia, maka mereka telah menghukum aku disini sampai puluhan tahun.
Usiaku sekarang sudah tujuh puluh tahun, sedang benteng ini sudah dibangun setengah abad lamanya.
oh, begitu..
menyelak Ho Tiong Jong.
Ya, sebenarnya dalam benteng ini tidak ada rahasia apa-apa yang berarti akan tetapi karena mereka takut oleh bayangannya sendiri telah menyekap aku sampai sudah dua puluh tahun lamanya.
Sayang aku tidak berkepandaian silat, kalau ndak.
hmm..
orang orang macam itu dengan ilmu silat tidak seberapa tinggi juga sudah dapat dijatuhkan.
Suhuku yang mengajar ilmu bangunan sebenarnya ada berilmu silat sangat tinggi, betul-betul sayang aku tidak belajar kepadanya.
Orang tua itu agaknya merasa sangat menyesal terdengar helaan napasnya beberapa kali, sehingga Ho Tiong Jong diam-diam ia merasa tahu juga.
Tapi, bocah, orang tua itu berkata lagi, kau jangan putus asa, karena dilihat dari air mukamu, kau ini dibelakang hari akan menjadi orang ternama.
Apa yang dialamimu sekarang, itu hanya sekedar melewati masa sialmu saja.
Kau tentu mengerti, buat menjadi orang ternama, orang harus mengalami pahit getir dahulu, barulah mendapat nama yang termashyur.
Mendengar perkataannya si orang tua, Ho Tiong Jong geleng-geleng kepala dan hatinya sangat berduka mengingat akan jiwanya yang dapat hidup tidak lama lagi.
Hmm..
ia menggeram duka.
kau mana tahu aku akan menjadi orang termasyhur?
Sekarang saja aku sudah susah untuk meloloskan diri..Jangan lagi aku, sedang kau yang akhli dalam pembangunan tidak berdaya apa-apa.
Jadi perkataan tentang orang harus bersusah payah dahulu baharu mendapat nama tersohor, semua itu hanya omong kosong saja Ho Tiong Jong tekankan suaranya paling belakang begitu terharu.
orang tua tadi terdengar tertawa, tapi padanya seperti yang sangat sedih.
Setelah hening beberapa lamanya, Ho Tiong Jong menanya.
Apa lopek ada murid satu satunya dari akhli silat dan bangunan itu.
oh, tidak.
tidak.
Guruku ada mempunyai dua murid.
Saudara seperguruanku bernama Sam Pek Sin, ia berguru dalam ilmu silat, sedang aku sendiri dalam ilmu bangunan.
Lopek siapa namanya?
Aku co Kang cay.
Dan guru lopek sendiri siapa namanya?
Suhu bernama In Kay.
Keadaan terdiam lagi beberapa lamanya.
Terdengar sicrang ini yang mengaku bernama co Kang cay berkata lagi.
Bocah, suhuku itu ilmunya sangat tinggi.
Ia berilmu dua macam siiat dan bangunanSuhengku Sam Pek Sin mendapat warisannya silat yang sangat tinggi sedang aku sendiri yang belajar ilmu bangunnya juga sudah menjadi akhli yang rasanya sukar mencari ke duanya, kecuali suhuku sendiri.
Ho Tiong Jong terbelalak matanya mendengar co Kang cay memuji dirinya sendiri punya kepandaian.
Begitu jempol ^ nyeletuk Ho Tiong Jong.
Bocah, aku bukan bicara besar, tapi memang itu sudah menjadi kenyataan, Akhliakhli bangunan lain, tidak ada yang ketika diajak masuk misalnya kedalam satu bangunan benteng dapat mengetahui lantas keadaannya disitu.
Tapi aku sendiri begitu masuk dan memeriksa sebentara n keadaannya lantas mendapat tahu apa apa yang ada dalam bangunan itu, seperti umpamanya ruangan atau jalanan dibawah tanah dan lain-lainnya, yang dirahasiakan oleh pemiliknya.
Ho Tiong Jong tertarik hatinya, ia angguk-anggukkan kepalanya.
Aku mau ceritakan padamu suatu rahasia.
melanjutkan co Kang cay, apakah, kau suka mendengarnya ?
Silahkan cerita.
jawab Ho Tiong Jong tanpa ragu-ragu.
Disatu kota bernama Yang co ada satu bangunan gunung.
Kalau dilihat sepintas lalu seperti gunung kecil saja, puncaknya ada sangat lancip.
Disitu ubin-ubinnya dari batu marmer yang serupa kembangnya.
Indah sekali dan mengherankan.
Bentuknya gunung ini segi empat, panjang lima tumbak.
lebar lima tumbak dan tingginya juga lima tumbak.
Di tengah-tengahan ini kosong, keadaan sebelah dalamnya dihias sangat menarik hati dan di situ ditempatkan sebuah peti mati dari batu.
Siapa punya peti mati ?
nyeletuk Ho Tiong Jong.
Kau jangan potong ceritaku, kau dengarkan dahulu, kata Co Kang Cay.
Ho Tiong Jong nyengir dan anggukan kepalanya.
Co Kang Cay meneruskan ceritanya seperti berikut.
Bagunan gunung itu kiranya dibangun oleh seorang hartawan pada jaman akhirnya dinasti Sui.
Untuk mengongkosi bangunan itu, si orang hartawan telah menghamburkan kekayaannya lebih dari separuhnya.
Pada waktu bangunan itu sudah selesai tiba-tiba tidak kelihatan lagi akhli-akhli yang membangunnya.
Menurut dugaan orang mereka telah dibunuh oleh seorang hartawan bernama Kim Pek Ban karena diatas gunung itu ada kedapatan dua mayat.
orang menduga dua mayat itu adalah akhli-akhli bangunan yang tidak munculkan dirinya pula.
Kedalam bangunan rahasia itu belum pernah ada orang yang dapat masuk, karena dinding batu gunung itu tebalnya tidak kurang diti satu tumbak dari atas sampai kebawah tidak kedapatan barang satu lobang, sedang fondamennya, sedalam tujuh delapan tumbak.
Bagaimana Kim Pek Ban menjadi seorang hartawan, menurut orang cerita katanya ia ada mempunyai dua benda ajaib.
Yang satu berupa baskom.
Barang apa saja yang ditaruh dalam baskom ini akan penuh sebaskom.
Misalnya satu gram emas ditaruh dalam baskom itu akan menjadi sebaskom emas, dengan begitu mana Kim Pek Ban tidak menjadi seorang hartawan?
Yang satu lagi ada sebuah benda merupakan patungnya satu nona cantik dan elok bahannya terbikin dari batu kumala yang bersifat hangat, batu ini didapat dari luar negri dalam gunung dewa, namanya Ban nian oen-giok (batu kumala yang hangat puluhan ribu tahun) Khasiatnya patung nona cantik dari bahan batu kumala hangat ini, adalah lebih aneh lagi.
Patung itu lemas seperti juga tubuhnya satu gadis cantik, kalau dipeluk hawa hangatnya lebih dari nona cantik yang hidup, Keajaibannya bukan sampai disitu saja lantas keesokan harinya rasa letih dan tidak bernapsu menjadi hilang, terganti dengan rasa segar dan bersemangat.
orang yang berkepandaian ilmu silat.
jikalau tidur dengannya bukan hanya dapat hasil seperti disebut barusan saja, tapi semakin lama tidur dengannya semakin merasakan perubahan bagi dirinya.
Urat-urat dan tulang-tulangnya menjadi kuat dan awet muda.
Ho Tiong Jong sangat ketarik dengan ceritanya co Kang cay.
Ia jadi ngelamun, apakah benar didunia ada dua benda yang demikian ajaibnya?
Kalau benar patung sicantik itu dapat membikin orang awet muda dan tidak bisa mati.
mengapa Kim Pek Ban akhirnya mati juga?
Memikir kesana, ia lalu menanya.
Co lopek patung itu dapat membikin-orang terus muda, tapi mengapa Kim Pek Ban tokh menemui kematiannya juga ?
Co Kang Cay tertawa terbahak-bahak.
Bocah, memang kalau tidak tahu duduknya perkara yang akan mengadukan pertanyaan seperti barusanHo Tiong Jong membisu.
Co Kang Cay kemudian, memberikan keterangan seperti berikut tentang dirinya Kim Pek Ban.
Tentang Kim Pek Ban ada mempunyai dua benda ajaib itu telah sampai dikupingnya raja Sui yang-tek.
Keinginan untuk memilikinya lantas timbul sebegitu lekas sang raja mendapat kabar itu.
Karena kalau terang-terangan melakukan perampasan dirumahnya Kim Pek Ban ada kurang baik di pemandangan rakyat, maka dengan diam-diam raja sui yang-setelah mengirim beberapa orangnya untuk menangkap Kim Pek Ban.
Kerajaan Sui yang-tepada waktu itu sudah bobrok, rakyat sudah tidak takut lagi kepada rajanya.
Maka ketika orang-orangnya raja datang, dengan diam-diam Kim Pek Ban telah menyuruh jago-jagonya yang melindungi dirinya membasmi orang-orangnya raja dan mayatnya semua ditanam dengan cara rahasia.
Kejadian ini lama-lama diketahui oleh raja, maka beliau mengirim lagi beberapa orangnya yang berkepandaian silat tinggi, akan tetapi tidak juga berhasil, malah bukan sedikit orang-orangnya yang telah menemui ajalnya.
Karena mana, Sui-yang-tee menjadi sangat marah, beliau lantas mengirim sepasukan tentara untuk membasmi KimPek Ban sekeluarga.
Tapi justru waktu itu Kim Pek Ban sudah selesai dengan bangunan gununggunungannya, maka dengan membawa benda wasiatnya ia telah masuk kedalam bangunan itu dan mulai tidak ada kabar beritanya lagi.
Tapi co lopek ada akhli bangunan yang jempolan, tentu sudah tahu disebelah mana jalanan masuknya kesitu, bukan?
nyeletuk Ho Tiong Jong.
Bocah, memang mestinya begitu Tapi apa mau dikata, meskipun aku sudah mempelajari sekian lamanya hal bangunan itu masih belum mendapat tahu kunci jalan masuknya kedalam bangun itu.
co Kang cay tidak meneruskan bicaranya, karena tiba-tiba mendengar ada suara tindakan kaki mendatangi, kemudian disusul dengan suara ketawanya dari orang perempuan-Pada saat itu air telah merendam Ho Tiong Jong sudah setinggi dadanya dan betul betul ia merasa kecewa kalau nanti mati konyol dengan cara begitu.
Ia menduga yang datang itu tentu Seng Giok Cin maka ia pura-pura memejamkan matanya, tidak mau melihat pada si nona.
Yang datang itu menang betul nona Seng.
Ia menghampiri Ho Tiong Jong dan memegang rantai yang mengikat lehernya si pemuda, apa mau bau harum dari si nona yang menusuk hidungnya Ho Tiong Jong telah membikin pemuda itu tak tahan untuk tidak membuka matanya yang dipejamkan tadi.
Hatinya berdebar juga ketika melihat sinona hanya dalam jarak setengah kaki saja daripadanya, pandangan mata muda mudi itu telah kebentrok.
Wajahnya si nona yang cantik jelita saat itu kelihatan menyungging senyuman yang tak mudah dilupakan oleh Ho Tiong Jong yang merasa menanggung budi besar pada si nona.
Untuk menekan debaran hatinya, Ho Tiong Jong tundukan kepala sambil melempangkan kakinya yang sudah jadi kepegalan sedari tadi direndam dalam air.
oh, kau direndam dalam air?
Kasian..
terdengar si nona berkata sambil bersenyum menggiurkan.
Tapi Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia hanya tundukkan kepalanya saja.
Hei, kau sudah bisu.
kenapa tidak menjawab orang berkata-kata?
tegur sinona.
ooOOoo Ho Tiong Jong masih tetap membisu dengan tundukan kepala, seakan-akan ia lebih suka memandang bayangannya si nona dimana air daripada melihat wajah aslinya.
Hal mana membuat si nona tidak sabaran, tangannya yang halus dan menyiarkan bau harum telah memegang janggutnya si pemuda didongaki.
Hai kau jangan begini macam Lihat aku, kita dapat berunding bagaimana baiknya..
Berunding dalam hal apa?
memotong Ho Tiong Jong.
Ayah sebenarnya hendak membunuh kau, jawab si nona, tapi aku sudah mencegahnya, sebab aku ada mempunyai lain maksud terhadap kau.
Bagaimana dengan Kho toako?
si pemuda menyimpang dari pembicaraan Seng Giok Cin mendelu juga hatinya, tapi ia terpaksa menjawabnya.
Hmm Peristiwa Kho Kie dengan pelayanku Kang cice in sebenarnya agak mengherankan.
Pelayanku amat cinta kepada Kho Kie yang bertubuh lucu itu.
Berdua sudah samasama terbang meninggalkan rumahku, Pada saat Cioe in dengan Kho Kie hendak meninggalkan rumahku, aku telah memberi banyak uang kepada Cioe in.
Aku tidak tahu mereka itu sudah terbang kemana.
Aaaa itu baik sekali mengejek Ho Tiong Jong, Kho toako seumur hidupnya sendirian saja, sekarang sudah mendapatkan jodonya, betul-betul aku mimpipun tidak menyangka akan kejadian itu.
Tapi aku sudah berjanji dalam tempo tiga hari akan berjumpa dengannya.
Kau jangan memikirkan diri lain orang pikirkan dirimu sendiri saja.
Rasanya, aku sendiri tidak akan kawin Aku akan hidup seperti Tok kay..
Hei, apa hubunganmu dengan Tok kay?
Ya, sebenarnya aku tidak enak hati terhadap Tok-kay itu.
ia sudah mengajari aku ilmu silat yang istimewa, tapi aku masih membunuhnya juga.
Aiii..
Kata-katanya dipotong oleh nona Seng.
Aiii, kenapa sih?
Baiknya aku sudah menanam mayatnya sebagai perasaan terima kasihku.
Seng Giok Cin bersenyum urung mendengar bicaranya Ho Tiong Jong.
Sekarang hatiku sudah merasa lega.
katanya.
Lega lantaran apa?
tanya si pemuda heran.
Lega karena sekarang aku mendapat kepastian kau ada seorang pembasmi kejahatan dan kekejaman.
Tadi pagi, hampir-hampir saja aku membunuh kau karena aku melihat gaya seranganmu seperti ilmu serangannya Tok kay, musuh suhuku.
Ho Tiong Jong menatap wajah si gadis dengan tidak berkata-kata.
Kau tahu..
kata pula si nona.
lantaran gara-gara kematian Tok kay telah menyeret dua orangku menemukan ajalnya.
Bukan mayatnya aku sudah tanam, bagaimana bisa menyeret dua orangmu?
tanya Ho Tiong Jong heran.
Itulah karena si Ular Kumbang Tham Kek yang konangan-jawab si gadis.
Kami ada mengirim orang ke kuil dimana kau berdua, dibawah pimpinannya Si Ular Kumbang, yang telah memberitahukan kepada kami halnya Tok-kay dengan kau ada disitu.
Tidak tahunya kau dengan Tok-kay sudah tidak ada pula dalam kuil itu, hanya yang terlihat oleh si Ular Kumbang darah berceceran di lantai.
Dalam penyelidikannya lebih jauh kedapatan olehnya satu kuburan disamping kuil tampaknya baru saja orang mengubur mayat didalamnya.
si Ular Kumbang dengan orang-orangnya untuk membongkar kembali kuburan itu.
dan ia dapatkan mayatnya Tok-kay dengan kepalanya yang sudah terpisah...Ho Tiong Jong tampak kerutkan alisnya mendengar penuturan si nona.
Setelah si Ular Kumbang kaget sebentaran, meneruskan sinona, dilihat olehnya senjata bandringan Tok-kay yang seperti bola.
ia lalu ambil benda itu dan dikocok-kocok di dekatkan kekupingnya.
Tidak terdengar apa-apa isinya.
Dalam penasaran ia sudah kocok kocok pergi datang lagi benda itu hingga terbuka sebuah lubang, ia lihat didalamnya seperti tidak ada apa-apa.
Dasar dia harus mati, bolehnya dia ini sudah memasukkan sebuah jarinya kedalam lubang tadi.
Berbareng jarinya dimasukkan matanya tampak terbelalak dan menjerit perlahan, kemudian telah rubuh dengan tidak ingat lagi dirinya untuk selama-lamanya.
la telah mati disitu juga Si nona berhenti sampai disini dan mengawaskan wajah Ho Tiong Jong yang tampan menawan, dua pasang mata telah kebentrok lagi.
Dua-duanya berdebar hatinya.
Lantas bagaimana?
Ho Tiong Jong menanya.
Seolah-olah dengan pertanyaan itu ia hendak menekan debaran hatinya.
Setelah mengerlingkan matanya dan bersenyum memikat, Seng Giok Cin meneruskan ceritanya.
Salah satu anak buahnya melihat si Ular Kumbang rubuh, sudah lantas turun tangan hendak menolonginya, tapi..
ketika tangannya menyentuh tubuhnya dia pun lantas membelalakan matanya dan kemudian rubuh mati.
Itulah tentu karena racun ularnya Tok-kay yang berbisa.
nyeletuk Ho Tiong Jong.
Ya, rupanya begitu.
Maka, setelah melihat kejadian berbahaya itu, yang lain-lainnya tidak berani menyentuh badannya dua korban itu dan lalu melaporkan kerumah.
Kami lalu mengirim si Rajawali Botak Ie Yong ke-sana untuk mengurusnya.
Ho Tiong Jong terdengar menghela napas.
Kalau dipikir, perbuatanku membunuh Tok kay memang kejam, akan tetapi kalau mengingat bahwa perbuatanku itu untuk membebaskan sesama manusia dari keganasannya aku tidak merasa menyesal.
Dia sudah mati tapi toch meminta dua orang korban, sungguh kematiannya itu tentu membawa penasaran la berkata demikian teringat akan dirinya sendiri yang tidak lama lagi juga akan meninggalkan dunia yang fana ini.
karena racun berbisa dari Tok-kay.
Tampak mukanya muram dan berduka sekali.
Seng Giok Cin melihat Ho Tiong Jong berduka dikiranya ia merasa cemas direndam di situ, maka ia lalu berkata.
Kau sabar saja dahulu.
Kabar tentang kau ditahan dalam tahanan disini telah kami uwarkan, nanti diam diam ada orang yang menyaksikan kau disini, setelah itu nanti aku akan melepaskan padamu.
Hei, dari sebab apa kau mau melepaskanku?
Karena kami perlu memakai tenagamu.
Ho Tiong Jong geleng-gelengkan kepala.
Meskipun jiwaku hanya tinggal semalam lagi, aku tidak mau mengerjakan urusan kalian, ah..
Ia tak dapat melampiaskan kata-kata.
Sebenarnya ia hendak berkata bahwa nona Seng memang seorang yang baik, tapi ada seorang jahat.
Tidak mau diperalat oleh seorang jahat.
Hanya saja ia tidak mau berterus terang pada Seng Giok Cin kuatir kalau nona itu menjadi berduka.
Kau jangan kuatir, Ayahku tak nanti menyuruh kau berbuat..
Ho Tiong Jong menggeleng gelengkan kepala saja, seolah-olah ia sudah menolak dengan pasti keinginannya orang yang hendak memperalat dirinya.
Seng Giok Cin kecewa kelihatannya.
Parasnya menjadi berubah sungguh-sungguh.
Nah, kalau begitu aku tidak hendak minta pertolonganmu lagi.
Aku sekarang pergi, harap saja aku dapat menengoki kau lagi disini selekasnya.
Sambil berkata Seng Giok Cin melepaskan rantai yang dipegangnya tadi dan mendorong pundak si pemuda, seolah olah yang ngambil karena kehendaknya.
Sebentar lagi si jelita sudah lenyap dari pemandangan Ho Tiong Jong, setelah lebih dulu terdengar suaranya pintu besi yang ditubruk.
Ho Tiong Jong menghela napas.
IHm sebenarnya dia mau suruh aku bekerja apa?
ia menggerendeng sendirian.
Terdengar suaranya Co Kang Cay berkata.
Hei, bocah, kau tak perlu bersusah hati.
Nona itu kelihatannya mau memperalat kau.
tapi kau juga sebaliknya dapat memperalat mereka Ho Tiong Jong terkejut sejenak.
Hm kau orang tua mana tahu urusanku.
jawabnya kemudian.
Urusan apa ?
Aku karena nona Seng telah membunuh Tok-kay.
Kenapa karena nona Seng, kau membunuh orang yang telah menurunkan pelajaran padamu?
Ho Tiong Jong meughela napas.
Co lopek kau tidak tahu, Nona Seng itu hatinya sangat baik, beberapa kali dia telah mengulurkan pertolongan padaku.
Maka untuk membalas budinya, aku tak dapat menolak permintaannya.
Cuma saja, aku tidak ingin diperalat oleh ayahnya yang jahat.
Bagaimana aku harus berbuat?
Kalau untuk nona Seng, sekalipun aku harus mengorbankan diriku, aku rela untuk membalas budinya yang besar.
Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau membunuh Tok-kay.
Ya, aku membunuh dia karena pertama hendak melenyapkan kekejamannya terhadap sesama manusia dan kedua ingin membantu nona Seng menyingkirkan musuhnya.
ow, begitu?
Sayang kau tak dapat menggeserkan tubuhnya untuk mendekati aku disini, aku masih ada mempunyai cerita yang akan membikin kau kagum.
Ho Tiong Jong tidak perhatikan bicaranya Co Kang Cay, sebab pikirannya melayang kepada nona Seng, si cantik jelita yang telah membuang budi kepadanya.
pikirnya, ayah nona Seng benar-benar hendak memperalat dirinya, maka juga jiwanya dikasih tinggal hidup, Melihat sendiri macam apa ayahnya si nona itu, ia yakin dirinya akan dipakai untuk melakukan kejahatan, la merasa cemas.
nona yang begitu baik budi mempunyai ayah yang demikian jahat..
Dilain pihak.
semua tetamu memikirkan jiwanya Tiong Jong.
Entah siapa yang membocorkan, semua orang telah tahu bahwa Ho Tiong Jong ditahan dalam kamar tahanan yang berair.
Kim Hong Jie yang memang sehaluan dengan Seng Giok Cin sudah tahu dimana Ho Tiong Jong ditahan, ialah diberitahu oleh yang disebut belakangan.
Hanya saja Seng Giok Cin tidak memberitahukan hal yang sebenarnya mengapa Ho Tiong Jong ditahan?
tidak di bunuh.
Sementara itu si Rajawali Botak Ie Yong sudah kembali dari perjalanannya membereskan kematiannya si Ular Kumbang.
ia kembali dengan membawa senjata bandringannya Tok kay.
ialah bola yang didalamnya ada tersimpan ular berbisa yang telah menggigit jarinya si Ular Kumbang hingga binasa.
Benda ini ada sangat berbahaya, maka setelah diperiksa oleh Seng Pocu, sesuai dengan usulnya si Rajawali Botak.
benda berbahaya itu ditanam ditempat yang jarang dilalui orang.
sekarang kita ajak pembaca menengok keramaian orang pukul luitay.
Pada waktu itu yang menjadi wakil Tay-cu ada orang she Ho bernama Yaa.
ia seorang berpengawakan tinggi besar dan gagah sekali, ditambah dengan mukanya yang penuh berewok tampaknya ia beroman bengis, ia perkenalkan namanya pada sekalian tetamu Kemudian menyilahkan orang yang berminat naik keatas luitay.
Lama tidak ada orang yang menyambut undangannya itu, tiba-tiba seorang pemuda yang berpengawakan tegap dan gagah bangkit dari duduknya dan jalan menghampiri ke panggung luitay itu.
Kiranya ada, Hoan Siang Jie, seorang jago pemuda dari kun-lunpay.
Ia jalan melewati Seng Giok Cin dan Kim Hoan Jie duduk menonton dan bersenyum kearah dua nona elok ini, yang telah disambut dengan senyuman juga hingga membikin hatinya Hoan Siang Jie sangat girang.
Matanya tampak menatap pada Seng Giok Cin saja sambil terus bersenyum.
Nah dia terus-terusan melihat kau saja encie Giok.
kata Kim Hong Jie sambil mengutik lengan sang kawan-Seharusnya jangan lupa kau sembahyang supaya dia peroleh kemenangan Sujennya semakin menyolok saja memikat hati jika nona Kim sedang tertawa.
Nona Seng yang digodai sang kawan pelototkan matanya.
Adik Llong, kau nakal.
kata Seng Giok Cin sambil mencubit pelahan lengannya Kim Hong Jie.
IHei, kau kenapa mencubit aku, teriak nona Kim pelahan sambil tangannya mengusap-usap lengan yang dicubit barusan seperti yang kesakitan.
Sebentar aku akan suruh dia membalas mencubitmu.
dia siapa, adik Hong?
Dia, janih, nah kau lihat dia sudah lompat naik keatas panggung.
Kembali Seng Giok Cin hendak mencubit adik hong-nya yang nakal, tapi Kim Hong Jie sudah mengegos sambil ketawa cekikikan.
Awas ya, ada satu waktu aku nanti bikin perhitungan denganmu, kata Seng Giok Cin sambil bersenyum.
Kedua gadis elok yang merupakan kembangnya diantara semua gadis yang ada disitu, terus bercanda sambil ketawa-ketawa.
Hoan Siang Jie yang sudah berada diatas panggung melihat mereka sudah menjadi senang hatinya karena mengira bahwa dua gadis itu ada ketarik pada dirinya.
Ho Yan menyambut kedatangannya Hoan Siang Jie dengan hormat.
Meskipun ia tahu bahwa Hoan Siang Jie masih mudah belia, akan tetapi karena tahu anak muda itu ada dari partai Kun-lun-pay, tidak berani sembarangan memandang rendah.
Aku girang saudara Hoan ada minat untuk naik diatas panggung, demikian katanya ketika Hoan Siang Jie sudah berhadapan dengannya.
Saudara IHo, harap kau nanti tidak mencela kejelekannya kalau sebentar aku perlihatkan padamu.
EMIKIANLAH, keduanya setelah mengucapkan perkataan perkataan sungkan, lantas mulai bergerak dengan tangan kosong.
Hoan Siang Jie tahu lawannya bertenaga sangat kuat, maka ia tidak berani keras lawan keras.
Serangan-serangan Ho Yan hebat dan menakutkan, karena anginnya saja sudah begitu kuat menyambernya.
Meskipun begitu ia berkelahi dengan hati-hati, karena tahu lawannya bukan lawan sembarangan.
Demikian keduanya saling serang dengan seru.
Tampak Ho Yan mendesak lawannya dan tidak memberikan kesempatan untuk membalas menyerang, tapi Hoan Siang Jie telah beri perlawanan yang tenang sekali, ia kelihatan sangat gesit dan lincah sekali, badannya terputar-putar mengelilingi panggung untuk membebaskan diri dari serangan Ho Yan yang lihay.
Caranya ia beraksi sangat menarik perhatian hingga banyak penonton yang bersimpati kepadanya.
Kim Hong Jie gembira nampak jalannya pertandingan yang meski kelihatannya hebat dan seru tapi tidak telengas dan menggiurkan jiwa.
Maka ia berkata dengan pelahan pada Seng Giok Cin.
Enci Giok, ini baru yang dinamakan mengadu kepandaian mengumpulkan sahabat yang sejati..
Khoe Cong yang melihat mereka kasak-kusuk mata alap alapnya mengawasi saja pada si cantik Seng Giok Cin.
Hmm, pertandingan apa ini tidak menggerakan semangat sama sekali demikian ia menyela.
Seng Giok Cin mendelu hatinya mendengar perkataannya Khoe Cong, apalagi melihat ia terus-terusan mengawasi dirinya sudah makin jemu saja.
Dengan tidak mengambil perduli kepadanya, nona Seng berkata pada Kim Hong Jie.
Adik Hong, kau benar..
Coba lihat dia punya bermainan silat, benar-benar Kun lunpay tidak sembarangan mendidik orang-orangnya.
Dia gagah dan lincah.
Kalau sebentar dia mengeluarkan kepandaiannya betul-betul rasanya HoJan tidak sampai tiga puluh jurus sudah kena dikalahkan olehnya.
Enci Giok.
pandanganmu tepat sekali, biar kita lihat bagaimana kesudahannya dua jago itu bertanding.
Khoe Cong mendengar dua gadis itu pada memuji dirinya Hoan Siang Jie, cepat tarik pulang celaannya tadi dan berkata..
Memang betul, ilmu silatnya orang she Hoan itu tinggi dan bagus sekali.
la berkata demikian untuk membikin senang hatinya dua gadis elok itu, karena ia sangat naksir kepala mereka.
Hanya saja ia tidak mengingat akan mukanya yang buruk dan tingkahnya yang menyebalkan, hingga gadis mana juga jemu kepadanya.
Diatas panggung, Hoan Siang Jie dapat kesimpulan bahwa lawannya seperti yang menghendaki pertandingan sampai tiga puluh jurus, kemudian diganti dengan pertandingan menggunakan senjata.
Oleh sebab mana, ia tidak balas menyerang lawannya, hanya berkelit berputaran diatas panggung.
Benar saja akhirnya pertandingan dinyatakan seri setelah melewatkan tiga puluh jurus.
Mereka tampak ketawa tawa dan saling memberi hormat.
Kemudian pertandingan dilanjutkan dengan menggunakan senjata.
Ho Yan menggunakan senjata sepasang pentungan, selang Hoan Siang Jie sebilah pedang untuk mempertahankan kehormatannya.
Ketika Ho Yan mencoba sepasang pentungannya.
kedengaran suara wut wat suatu tanda bahwa tenaga dalamnya orang she Ho tak boleh dipandang enteng.
juga Hoan Siang Jie mencoba kibas kibaskan pedangnya, jugalelah perdengarkan suara nyaring dan angin santar.
Jago Kun lun-pay iiu berdiri tegak dengan pedang dirapatkan pada sikutnya, kemudian sendai pedang dimiringkan mengacung ia mempersilahkan lawannya menyerang terlebih dahulu.
Dalam pertandingan ini Hoan Siang Jie menggunakan ilmunya yang dinamai Tanduk naga menggempur, yang mempunyai dua daya guna, yalah menjaga diri dan menyerang.
Satu ilmu yang sangat diandalkan dalam partainya.
juga kun-lun-pay ada menurunkan pada anak muridnya ilmu yang dinamai Thian liong IHeng kang atau Berjalannya tenaga naga sakti suatu ilmu serangan yang dahsyat sekali.
Ho Yan tidak berani sembarangan menyerang, ia menggunakan sepasang pentungannya dengan sangat hati-hati.
Belum beberapa lama bergebrak lantas terdengar suara tang kilaunya sebilah pedang.
Hoan Siang Jie, telah menyontek pentungan lawan.
Gerakan itu tampaknya sederhananya, akan tetapi mengandung tenaga kekuatan yang tidak diduga-duga, sebab pentungannya ho Yan yang tersontek hampir saja terlepas dari cekalan.
Tidak heran kalau siorang she Ho menjadi kaget dibuatnya.
Seng Giok Cin kagum melihat gerakan Hoan Siang Jie itu, maka ia berkata kepada Kim Hong Jie.
Adik Hong kau lihat, apa salah kalau pandanganku dia akan merupakan pendekar ternama dikemudian hari?
Lihat dia punya mata, semangat dan kemasan digunakan serentak dalam penyerangannya, betul-betul hebat Kim Hong Jie kerutkan alisnya yang lentik menarik.
Ya, katanya, kalau sontekan demikian saja tidak dapat memainkannya, mana dapat dia masuk dalam rimba persilatannya ?
Ho Yan sudah keteter, untung baginya gwakang (tenaga luar) cukup mahir, hingga menggunakan pentungannya untuk menjaga diri terus-terusan.
Biarpun bagaimana hebat serangan lawan, ternyata tak dapat menembusi pertahanannya.
Ia dapat mewaraskan dirinya pada pertandingan persahabatan, tidak mau berlaku nekad-nekadan yang tidak ada perlunya.
Hoan Siang Jie berdasarkan latihan Iwee-kang amat memperhatikan musuhnya punya gerak-gerik, kalau musuh menyerang pasti ia balas menyerang dengan kontan, tapi kalau lawannya diam ia nya hentikan serangannya.
Diantara tetamu yang menonton, banyak yang menilai bahwa Ho Yan bukan tandingannya Hoan Siang Jie.
Penonton kini hanya tinggal menunggu, bagaimana sebentar kalau orang she Hoan itu menghadapi Pek Boe Taysu yang mendapat gilirannya menggantikan Ho Yan, apakah ia sanggup menandinginya atau tidak.
Pek Boen Taysu juga kelihatan sudah bersiap-siap bangkit dari duduknya.
Seng Eng yang melihat sahabat karibnya hendak naik panggung sudah berkata.
Taysu.
orang itu benar bagus ilmu silatnya.
Apakah Taysu hendak menempurnya?
Pek Boe Taysu sudah hendak menjawab, tapi urung karena melihat keatas panggung berkelahi tampak Ho Yan sedang marah marah katanya.
Aku sudah menerima pelajaran istimewa dari Kun-lunpay.
Ilmu silatmu tinggi.
Aku mulai hari ini tidak akan melupakan untuk pelajaranmu ini.
Ho Yan berkata sambil lompat turun dari luitay.
Rupanya Hoan Siang Jie keterlaluan mengocok Ho Yan yang sudah tidak berdaya, maka telah membikin orang she Ho itu marah dan mengucapkan kata katanya tadi.
Kauw Sang Ngo, susioknya Hoan Siang Jie melihat kejadian tersebut telah mengkerutkan alisnya dengan tidak berkita apa-apa.
Seng Giok Cin melihat Pek Boe Taysu yang akan naik panggung diam-diam dalam hatinya mengeluh.
Hoan Siang Jie mana dapat melayani Pek Boe Taysu yang ilmunya tinggi?
Maka ia tidak bernapsu untuk menontonnya, lalu bangkit dari duduknya berjalan pulang kerumah.
Kim Hong Jie tidak membiarkan nona Seng pergi begitu saja, maka ia sudah lompat mengejar.
Enci Giok.
kau mau kemana?
tanyanya sambil memegangi lengan orang.
Seng Giok Cin tidak menjawab.
Aaa, aku tahu.
katanya lagi Kim Hong Jie, kau tentu mau menengoki Tiong Jong dalam kamar tahanan berair, bukan?
seng Giok Cin bersenyum.
Aku ikut, Kata Kim Hong Jie.
Seng Giok Cin anggukkan kepalanya.
Mereka kemudian jalan sama-sama menuju ke-tempat tahanan Ho Tiong Jong.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai ketempat tujuannya.
Sambil menunjuk pada pintu besi, Seng Giok Cin berkata.
Nah, didalam kamar itulah Ho Tiong Jong ditahanMari kita masuk.
Kim Hong Jie mengajak seraya menarik tangannya Seng Giok Cin menghampiri pintu besi tadi.
Pintu dibuka, mereka berjalan mnsuk dan melihat dari atas tangga kebawah HoTiong Jong kelihatan sama sekali tidak takut mati.
la masih berdiri tegak di rendam dengan air hingga dadanya.
Adik Hong, tuh dianya Ho Tiong Jong kata Seng Giok Cin sambil menunjuk dengan jarinya.
Kim Hong Jie mengawsi kearah yang ditunjukkan, benar saja Ho Tiong Jong ada disana.
Mari kita turun nona Kim mengajak.
Dia suka marah-marah, kalau nanti di marahi dan angkar kaki, aku tanggung jawab, ia jawab seng Giok Cin.
Kim Hong Jie kerutkan alisnya bersenyum.
Kalau betul dia berani berbuat begitu kepadaku awas, aku nanti tinju mukanya, baru dia tahu rasa.
katanya dengan jenaka sekali.
Seng Giok Cin yang merasa geli dengan kelakuannya sang kawan telah menekap mulutnya yang mungil menahan ketawanya.
Mereka lalu turun kebawah, tapi Seng Giok tidak turut menghampiri ketika Kim Hong Jie nyelonong terus mendekati Ho Tiong Jong.
Ho Tiong Jong kenali sang dara, ada Kim Hong Jie, tapi ia pura-pura tidak tahu, ia tinggal diam saja.
Terdengar Kim Hong Jie menegur.
Hei, kau ini apa bukannya yang bernama Ho Tiong Jong.
Betul aku Ho Tiong Jong.
Kau siapa?
Aku Kim Hong Jie jawabnya bersenyum sepasang sujennya memain karenanya.
Ho Tiong Jong menatap wajah si gadis sebentar lalu tundukkan kepalanya.
Aku mau tanya kau, apa kau takut mati tidak?
Kim Hong Jie menanya lagi.
Ho Tiong Jong membisu.
Hei, aku tanya kau, apa kau tuli tidak menjawab?
Ho Tiong Jong mendelu hatinya, tapi ketika menatap parasnya si nona yang ramai dengan senyuman amarahnya lumer seketika.
Ya, jawabnya, aku bukannya orang luar biasa, mana tidak takut mati?
Pikirnya Ho Tiong Jong, dengan menjawab begitu si nona akan membukai rantai dan totokan pada tubuhnya, kemudian ia bisa merdeka lagi.
la rela untuk membantu nona disampingnya yang dahulu pernah berbuat baik kepadanya.
Tapi ia tidak tahu pikirannya Kim Hong Jie ada lain.
Si nona pikir, kalau Ho Tiong Jong menjawab tidak takut mati ia akan membuktikan matanya menghajar pemuda itu.
Keduanya menjadi salah paham dalam anggapannya masing-masing.
si nona tiba tiba unjuk roman serius, ia mendekati Ho Tiong Jong.
tangannya diangkat seakan akan yang hendak menghajar muka si anak muda itu.
Ho Tiong Jong melihat kelakuannya Kim Hong Jie telah tertawa.
Nona Kim.
katanya, Kalau kau mempunyai keberanian teruskanlah tanganmu memukul diriku.
Aku tak dapat menipu dan berkata bohong kepadamu.
Kim Hong Jie melengah ia tarik pulang tangannya sebentara n akan kemudian secepat kilat tangannya digerakkan memukul lehernya.
Seng Giok Cin yang menyaksikan itu sudah menjadi sangat kaget.
Cepatlah ia menghampiri dan menarik tangannya Kim Hong Jie diajak berlalu dari situ.
Dengan tergesa-gesa mereka naik tangga dan kemudian menggabruti pintu tahanan.
Kiranya pukulan tadi dari nona Kim bukannya pukulan yang membinasakan sekalipun kelihatannya dilakukan dengan hebat sekali.
Pukulan itu justeru yang membuka totokan pada jalan darahnya sipemuda.
Ho Tiong Jong tidak menyangka akan kejadian itu, hingga diam-diam bukan main girangnya.
Kiai ia sudah bisa gerakkan lagi tubuhnya dengan leluasa.
Seng Giok Cin dan Kim Hong Jie setelah berada diluar, telah membicarakan halnya Khoe Cong punya kelakuan dan pertandingan Hoa Siang Jie dengan Pek Boe Taysu bagaimana kesudahannya.
Kelakuannya Khoe Cong sangat ceriwis, mata nya yang seperti alap-alap selalu mengawasi orang, hanya muka tidak bosan bosannya, maka keduanya telah mengambil keputusan untuk seberapa bisa menjauhkan diri dari Khoe Cong dan tidak mau mengajak bicara pula.
Selagi mereka sedang enaknya berjalan hendak ke tempat pertandingan pula, tibatiba ada satu bayangan meluncur datang.
Kiranya bayangan itu ada Khoe Cong yang mereka sangat benci.
Hei, nona-nona kemana saja kalian pergi?
tanyanya sambil cengar-cengir.
Menurut keputusan mereka berdua, memang sudah tidak kepinginan lagi bicara dengan orang ceriwis ini, akan tetapi karena ingin mengetahui kesudahannya pertandingan Pek Boe Taysu dengan Hoan Siang Jie, maka Kim Hong Jie terpaksa tekan rasa ditemuinya dan menanyakan pada orang she Khoe itu halnya pertandingan Pek Boe Taysu dengan Hoan Siang Jie.
Hmm jawabnya, dengan nada suara tidak enak.
Benar Pek Boe Taysu sudah bertempur dengan Hoan Siang Jie.
akan tetapi kelihatannya ia menempur lawannya secara main-main saja.
Seng Giok Cin mendengar itu, dalam hatinya berpikir, mungkin kesudahan itu atas pesan ayahnya, yang tidak ingin melukai hatinya Kun-lun-pay, jangan menambah musuh lagi yang tidak ada perlunya.
Demikian, Seng Giok Cin lalu mengajak kawan-kawannya untuk pergi ke lapangan adu silat untuk menyaksikan pertandingan selanjutnya.
Ketika mereka lewat ditempatnya Hoan Sian Jie, nona Seng bersenyum dan manggut-kan kepalanya, yang telah disambut dengan gembira oleh pemuda kosen itu Tapi Khoe Cong yang melihatnya merasa cemburu, lantas saja keluarkan perkataannya yang mengejek.
Siauwhiap benar benar jempol ilmu silatnya Kun-lun-pay tak usah malu diwakili olehmu.
Nah sutera yang indah itu yang didapatkan sebagai hadiah tadi kini boleh diterimakan kepada nona Seng.
Hoan siang Jie memang ada menantikan nona Seng.
maka ia tidak mengubris katakatanya Khoe Ciong tadi ia hanya menerimakan sutera hadiah dari kemenangan dalam pertandingan kepada nona Seng.
Kong Soe Jin, yang tertua dari Im yang Siang-kiam, tiba-tiba telah mendengarkan suaranya berkata.
Ya, aku Khong Soe Jin, juga hendak naik panggung untuk mendapat segeblok kain sutera yang akan ku hadiahkan kepada nona Seng ha ha ha..
Para tetamu yang mendengarnya menjadi melengak.
Perkataannya Kong soe Jin itu sungguh kasar sekali sebab tidak seharusnya ia berkata demikian kalau memang hatinya ada niatan untuk memikat hatinya putri dari Seng Pocu.
Kelakuannya dengan otomatis tampak menjemukan-Matanya terus menerus mengawasi pada siJelita Seng Giok Cin Kim Hong Jie sebal melihatnya, ketika ia melirik pada Khoe Cong, tampak pemuda muka buruk ini unjuk sikap yang gusar sekali?
Wabahnya berubah bengis dan menakutkan matanya bersinar buas mengawasipada Hoan Siang Jie yang tengah menerimakan geblokan sutra kepada nona Seng.
Diam-diam Kim Hong Jie menghela napas.
Pikirnya, karena banyak pemuda yang setolol Khoe Cong ini, maka didunia sering terbit keonaran yang tidak diingini.
Perkataan Kong Soe Jin dibuktikan dengan melompat naiknya ia keatas panggung, hingga si hati Khoe Cong melototkan matanya lebar-lebar, kemudian ia anjurkan kawannya bernama Hui Seng Kang untuk melayani Kong Soe Jin.
Hui Seng Kang lalu minta permisi pada Seng Pocu untuk ia melayani Kong Soe Jin, untuk mana Seng Pocu tidak berkeberatan.
KAU juga ingin naik panggung, boleh saja, kata Seng Pocu sambil mengurut-urut jenggotnya, tapi aku harap kalian berdua akan mengunjukkan ilmu silat yang sebaikbaiknya supaya penonton merasa puas.
Nah, pergilah kau layani dia..
Terima kasih atas perkenan Pocu.
kata Hui Seng yang lantas menghampiri panggung luitay.
Dengan sekali enjot saja badannya telah melayang dan sebentar lagi ia sudah berhadapan dengan Kong Soe Jin dengan mata melotot.
Kong Soe Jin lihat wajahnya Hui Seng Kang yang hitam legam ditambah dengan mata yang kejam dan licik, maka pikirannya ia harus berhati-hati melayaninya orang ini.
Setelah ia bersedia, lantas mempersilahkan lawannya menyerang.
Hui Seng Kang tidak sungkan-sungkan lagi, lantas gerakkan tangannya menyerang.
Betul hebat tenaga dalamnya orang she Hui itu, karena serangan dengan telapakan tangannya itu telah perdengarkan suara wut wut yang hebat sekali.
Kong Soe Jin tidak mengira bahwa tenaga dalam dan luarnya sang lawan ada demikian lihay, maka ia berikan perlawanan dengan hati-hati, supaya dalam sepuluh gebrakan saja ia sudah dapat menjatuhkan lawan-lawannya.
Hui Seng Kang melihat Kong Soe Jin tak berani menyambut keras lawan keras, maka ia terus melancarkan serangan yang bertubi-tubi, hingga penontonnya dibikin kagum oleh ilmu silatnya yang lihay.
Kong Soe Jin terus didesak.
Kelihatannya dengan susah payah ia dapat menangkis serangan lawannya.
Hal mana telah membikin hatinya sang adik Kong soe Tek, berdebaran melihatnya.
Ia sangat menguatirkan kekalahan engkonya.
Khoe Cong yang duduk tidak jauh dari Kong Soe Tek sudah keluarkan ejekannya dan menghina.
orang she Kong itu hanya sebegitu saja kepandaiannya, aku kira tidak sampai tiga puluh jurus ia sudah harus mencium papan sedikitnya kalau tidak terpental jatuh kebawah luitay, ha ha ha..
Kong soe Tek merasa tertusuk hatinya oleh kata kata Khoe Cong yang menghina, akan tetapi ia tidak sempat meladeni orang she Khoe itu karena perhatiannya dibikin gelisah oleh pertandingan diatas panggung.
Engkonya kelihatan terus-terusan di desak oleh lawannya, hingga ia hanya dapat menangis tetapi tidak dapat membalas menyerang.
Kong soe Tek diam diam merasa heran bahwa engkonya hari ini bertanding telah unjukkan kepandaiannya yang jelek sekali.
Apakah sang engko itu tidak enak badan, entahlah tapi ia diam-diam sudah menyiapkan dirinya kalau kiranya yang saudara tua itu dikalahkan oleh Hui Seng Kang, ia akan naik panggung untuk menebus kekalahan engko nya.
Kong Soe Jin hanya mengandalkan ilmu mengentengi tubuhnya saja antuk sabansaban meluputkan diri dari serangannya Hui Seng Kang yang dahsyat.
Semakin lama Hui seng Kang tampak semakin gesit dan lincah, ilmunya beberapa macam seperti gaya Kepelan kilat .
semua kuli berbareng membunyikan tambur, Angin puyuh menyapu dedaunan, dan sebagainya telah diperlihatkan dengan baik sekali.
Karena mana Kong Soe Jin jadi terdesak terus-terusan, sampai terdesak keping gir lui-tay.
hinggi Kong soe Tek yang melihatnya semakin tidak enak hatinya.
Hei sahabat jangan lemas begitu semangatnya.
Bangun sedikit, kenapa sih?
Demikian terdengar Khoe Cong mengejek pada Kong Soe Jin.
Hatinya sudan kegirangan, bahwa kawannya Hui Keng berada diatas angin.
Kong Soe Jin kuatir melihat darinya sudah kepepet begitu, tapi lawannya juga merasa gelisah karena sampai sebegitu jauh masih belum dapat menjatuhkan musuhnya yang sudah hampir tidak berdaya menangkis serangan-serangannya yang hebat.
Pertandingan masih berjalan terus dengan seru, masih Kong Soe Jin tidak mau menyerah kalah meski sudah tidak berdaya kelihatannya.
Tiba-tiba terdengar suara Hui Seng Kang membentak, disusul oleh serangannya yang dirubah.
Kali ini ia menggunakan gaya pukulan Piauwsu membalikkan kereta, suatu serangan hebat, tapi Kong Soe Jin masih dapat meluputkan diri dengan suatu tangkisan memotong dari samping.
Hui Seng Kang penasaran masih belum dapat memukul rubuh lawannya, lalu ia keluarkan serangannya yang paling berat, tipu pukulan yang dinamai.
Tenaga sakti membelah gunung Hoa san, telapakan tangannya dimiringkan, persis seperti golok ia menyerang hendak membelah kepala musuhnya.
Melihat hebatnya serangan, Kong Soe Jin terpaksa kerahkan Seantero kekuatannya dan menangkis serangan dahsyat itu.
Terdengar suara Praaaakkk lantas badannya Kong Soe Jin seloyongan dan hampir jatuh dilantai luitay.
Ia masih bisa pertahankan diri.
Hui Seng Kang sudah mau susulkan serangannya dengan satu tendangan dan telapakan tangan yang dilakukan berbareng dari bawah mengarah perut musuh, akan tetapi baru saja lututnya ditekuk.
la urungkan serangan demikian, dikuatirkan lawannya mahir dengan tipu pukulan itu, nanti kesudahannya seperti senjata makan tuan.
Dengan cepat ia merubah gaya serangan tadi, ia menendang sambil miringkan badannya.
Kong Soe Jin tahu gaya serangan ini, maka secepat kilat ia balas menyerang dua kali, hingga lawannya gelagapan.
Saat itu pertandingan sudah berjalan tiga puluh jurus dinyatakan serie keduanya lompat mundur untuk mengasoh sebentaran, untuk dalam babakan selanjutnya pertandingan dilakukan dengan menggunakan senjata.
ooOOoo KETIKA pertandingan dimulai lagi, Kong Soe Jin telah menghunus pedangnya yang berkilauan hijau warnanya, belakang pedang ada lebih tipis dari pedang biasa, inilah pedang yang dinamai.
Im kiam pedang Ying kiam, dipakai oleh Kong See Tek.
Berdasarkan nama pedang itu, maka kedua saudara she Kong itu mendapat julukan Im-yang Siang kiam atau Sepasanng pedang Im-yang.
Hui Seng Kang bersenjatakan Siang hay-tiang atau, Tongkat Siang hay-tiang atau Tongkat sepasang jantung hati.
Senjata orang she Hui itu berat sekali, kira-kira tujuh puluh delapan puluh kati, hingga dibawanya juga harus digotong dua orang.
Penonton yang melihat itu diam-diam menguatirkan akan dirinya Kong Soe Jin.
Mereka lihat pertandingan dengan tangan kosong saja kelihatan Kong Soe Jin sudah tidak tahan, apa lagi sekarang ia harus melayani Hui Seng Kang punya senjata berat, mendapat ia pertahankan diri?
Sekali saja pedang kebentur dengan senjata beratnya Hui Seng pasti pedang nya orang she Kang itu akan terbang melayang-layang.
Khoe Cong mengawasi pada Kang soe Tek yang tengah memandang ke atas panggung dengan hati sangat tidak enak, kuatir engkonya dikalahkan-orang she Khoe itu benar benar menyebaikan, terdengar ia mengejek lagi.
Benar benar kita dari Perserikatan Benteng Perkampungan tak usah malu keluar dalam pertandingan, nona Kim.
seperti tadi nona Seng dengan mudah saja menjatuhkan Ho Tiong Jong, maka sebentar lagi Hui Seng Kang juga tentu akan keluar sebagai pemenang dari pertandingan yang ia sedang lakukan.
Ha ha ha..
Sambil ketawa matanya melirik kepada Kong soe Tek yang berdiri menjublek tidak ambil pusing perkataannya itu.
Sebenarnya dua saudara Kong itu, sebagai im yang Siang kiam biasanya sangat sombong tidak memandang mata kepada siapa juga.
Tapi kini, semua hinaan dari Khoe Cong terpaksa ditelannya, karena jangan lagi ia menimbulkan urusan baru, sedang memandang engkonya saja melawan Hui Seng Kang hatinya sudah kedat kedut takut engkonya dijatuhkan oleh lawannya.
Kim Hong Jie hanya bersenyum mendengar kata-katanya Khoe Cong, sedang nona Seng sendiri tinggal adem adem saja.
Hui Seng Kang setelah menerima sepasang senjatanya, lantas mendemenstrasikan permainan tongkat mengaung-ngaung dan ujungnya telah mengeluarkan letikan seperti kembang api.
seng Giok Cin yang melihat itu telah kerutkan alisnya dan berkata sendirian.
Hmm orang itu tolol benar.
Untuk apa dia membuang-buang tenaga dengan permainannya yang meminta tenaga besar, bukankah lebih baik digunakan untuk bertempur?
Celaka, kalau sebentar dia kehabisan tenaga baru dia tahu rasa..
Khoe Cong tidak senang kawannya di kritik.
Ketika ia hendak membuka mulut, dilihatnya Kim Hong Jie sedang manggutmanggutkan kepalanya, seperti yang merasa setuju dengan pendapatnya nona Seng, maka ia tidak jadi membuka suara karena disalahkan oleh kedua nona jelita itu Diatas luitay dua lawan sudah mulai bergebrak lagi.
Kong Soe Jin pandai memasukan pedangnya.
ia kelihatan berputar-putar mengeliling luitay seperti yang menari-nari, hingga Hui Seng Kang terpaksa mengikuti gerakkannya.
Setelah mendapat lowongan segera orang she Hui itu kerjakan sepasang tongkatnya yang berat menyerang lawannya.
Pertandingan makin lama makin seru.
Sepasang tongkatnya Hui Seng Kang bertubitubi menyerang lawan, hingga Kong soe Jin kelihatan kewalahan menangkisnya.
Mengingat akan beratnya genggaman musuh, maka Kong Soe Jin tidak mau membenturkan pedangnya..
sepuluh jurus dengan cepat sudah dilewatkan.
Hui Seng Kang penasaran belum juga dapat menjatuhkan musuhnya maka ia mendesak lebih keras Kong Soe Jin sebisa-bisanya berikan perlawanan dan menjaga diri jangan sampai kena dijatuhkan.
Suatu ketika Hui Seng Kang menyerang dengan gaya serangan Seng hong Bo lang.
atau Menuruti angin memecah ombak.
tongkatnya yang satu dimalangkan sedang yang satunya lag menyerang lurus.
Untuk menghindari serangan hebat ini, Kong soe Jin melesat tinggi keudara.
Hui Seng Kang ketawa gelak-gelak.
lalu membarengi dengan serangan dahsyat sebelumnya Kong soe Jin sempat menancapkan kakinya dilantai luitay.
Para penonton kaget dibuatnya.
Mereka menduga Kong Soe Jin kali ini akan melayang jiwanya.
Tapi orang she Kong itu sudah berlaku nekad kali ini menyambuti serangan tongkatnya Hui Seng Kang dengan pedangnya dipalangi.
Satu benturan dari dua senjata terdengar trang nyaring sekali.
Tubuh Kong Soe Jin tampak melayang tinggi lagi dludara kemudian jatuh diatas luitay.
ia masih bisa merang kang dan mengumpulkan, kemudian sudah bisa bangun lagi untuk menghadapi musuh Penonton yang menyaksikan kejadian itu telah perdengarkan tampik soraknya yang riuh, sementara Hui Seng Kang sendiri merasa sangat heran melihat Kong Soe Jin tidak apa-apa menyambuti serangan hebatnya tadi.
Saudara Kong, hayo maju lagi kita bertempur Hui Seng Kang menantang.
Kong Soe Jin anggukkan kepalanya, kemudian pedangnya im-kiam mulai menarinari lagi diantara samberan sepasang tongkatnya Hui Seng Kang yang berat.
Perlahanlahan dari kedesak Kong Soe Jin telah dapat balik mendesak musuhnya.
Diluar dugaan semua penonton, pertandingan telah mengasih lihat gambaran yang dapat membikin para penontonnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dengan tentu Hai Seng Kang yang tadi begitu agresif, kini sudah mulai terlihat keletihannya, sedang Kong Soe Jin masih kelihatan segar dan merangsek pada musuhnya, setirnya Hui Seng Kang tidak berdaya dan menyerah kalah.
Suatu kesudahan yang membuat Khoe Cong melongo dan merah padam mukanya.
Kini ia tidak berani membuka suara besar lagi kepada Kong Soe Tek.
Dengan hati cemas ia menghampiri pada kawannya dan menanyakan, kenapa sang kawan sudah jadi kalah, sedang menurut perhitungannya dapat menang dari Kong Soe Jin?
Khoe Pocu, kau keliru melihat.
Kong Soe Jin sebenarnya ada achli pedang yang pandai, tidak kecewa namanya tersohor dikalangan sungai telaga.
Kalau semula kelihatannya ia berikan perlawanan yang lembek itulah ia hanya main main saja dan dengan sengaja mau kuras aku punya tenaga.
Aku si tolol bermula tidak tahu, terusterusan menyerang dengan mengeluarkan tenaga besar, hingga enak saja orang she Kong itu permainkan aku.
Tanpa merasa aku telah masuk dalam perangkapnya.
Kau lihat, setelah ia melihat aku sudah kehilangan banyak tenaga, ia telah mencecar aku dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, hingga aku menjadi kewalahan dan kalau aku tidak siang-siang menyerah kalah terang aku akan menjadi korbannya pedang, kena di-sate diatas punggung, maka aku dapat melihat gelagat, maka aku sudah menyerah kalah, meskipun aku tahu perbuatan itu akan memalukan Hui Seng Kang berkata-kata dengan paras guram dan menyesal sekali untuk apa yang ia telah perbuat diatas panggung.
Sama sekali ia tidak nyana orang she Kong itu pandai memancing tenaga orang, hingga peroleh kemenangannya dengan mudah.
Cocok dengan kata kata Seng Giok Cin.
bahwa Hui Seng sudah mendemontrasikan tenaganya yang kuat.
Siang-siang ia sudah banyak menghamburkan tenaganya, sehingga dimenit-menit paling akhir melawan Kong soe Jin yang gesit dan lincah tidak berdaya karena kehabisan bensin .
Tempik sorak terdengar riuh ketika Pek Boe Taysu naik keatas luitay.
Kini gilirannya ia yang menjadi Taycu, untuk menggantikan Hui Seng Kang wakil Tay-cu-nya yang pecundang.
orang menduga-duga akan kekalahannya Kong soe Jin mengingat Pek Boe Taysu ada satu jago tua yang sudah banyak pengalaman, lagipula hweshiotua itu ada sangat telengas.
Kong Soe Jin menjura dengan hormat pada Pek Boe Taysu, ketika mereka sudah berhadapan Tidak dikira Taysu yang hari ini menjadi Taycu, mereka sebentar kalau aku sitolol mengunjukkan kebodohanku, harap Taysu suka memaafkan dan sukalah memberi banyak petunjuk akan kesalahannya Ha ha Pek Boe Taysu memotong dengan ketawanya yang bergelak-gelak Sicu ada jago pedang dari Ngo bie-pay, mana aku si hweshio bangkotan dapat memberi petunjuk apa-apa.
Harap sicu jangan terlalu merendah.
Nah, marilah kita mulai bertanding Baiklah kata Kong soeJin dengan tak sungkan-sungkan ia menghunus pedangnya.
Pek Boe Taysu genggamannya aneh, baru pernah orang melihatnya.
Bentuknya seperti sekop.
diujungnya ada sepasang gigi tajam dan lingkaran dari baja kecil kecil, hingga senjata itu kalau digoyangi akan perdengarkan saara kerincingan ramai.
Ketika Pek Boe Taysu mempersilahkan menyerang lebih dulu.
K^ong Soe Jin tidak sungkan-sungkan lagi dan mulai membuka serangan dengan satu tipu serangan yang indah dari perguruannya.
Lawannya menangkis sambil perdengarkan ketawanya yang aneh Kemudian Pek Boe Taysu balas menyerang dengan gaya.
Dengan tongkat menaklukkan setan, ia memalangkan dan melempengkan tongkatnya menyerang musuhnya dengan hebat sekali yang dapat mengugurkan gunung.
Tapi Kong Soe Jin gesit dan lincah, ilmu pedangnya pun mahir, maka dengan indah sekali sudah meluputkan diri dari serangan lawannya yang berat.
Kali ini menghadapi musuh kawakan, Kong Soe Jin tidak main-main.
Ia mencurahkan betul-betul perhatiannya pada ilmu pedangnya yang dimainkan itu, hingga Pek Boe Taysu dengan genggaman beratnya tidak bisa berbuat banyak terhadap jago muda dari Ngo-biepay itu.
Penonton di bikin kagum oleh permainan pedangnya.
Berkali-kali terdengar sorakan penonton.
Kalau Kong soe Kek merasa masih kuatir akan kekalahannya sang engko adalah Khoe cong diwajahnya yang jelek mengunjukkan perasaan dengki.
Bibirnya saban menjebi yang membikin wajahnya jadi semakin jelek saja.
Meski Pek Boe Taysu mencoba dengan sungguh untuk menjatuhkan lawan mudanya, ternyata tidak berhasil.
Kesudahannya lima belas jurus telah dilewati dan pertandingan dinyatakan seri, hal mana telah disambut dengan suatu tampik sorak yang ramai sekali oleh penonton-I Hadiah telah diberikan kepada Kong Soe Jie oleh Seng Pocu sendiri.
Seng Giok Cin berseri-seri.
sedang Kim Hong Jie juga tampak merasa puas dengan kesudahan pertandingan itu.
Diam diam nona Kim yang nakal teluh mengutik lengannya nona seng.
Encie Giok betul-betul kau banyak untung hari ini.
Si orang she Kong sebentar lagi akan menghadiahkan barang yang diperolehnya itu kepadamu.
Kenapa kau tidak cepat-cepat bangun berdiri untuk menyambutnya.
Adik Hong.
kau nakal betul, paling bisa memang kau menggoda orang.
ia berkata sambil mencubit tangannya yang dicubit tadi.
Nona Kim lucu sekali membuang aksinya hingga mau tidak mau nona Seng ini menekap mulutnya yang mungil untuk menahan ketawanya.
Berdua mereka bersenda gurau dengan gembira.
Tampak Kong Soe Jin jalan menghampiri mereka, lewat didepannya Hui Seng Kang yang duduk disitu, terhadap pecundang ini Kong Soe Jin melirik sejenak dan tidak memandang mata.
Seng Giok Cin menyambut dengan gembira ketika Kong Soe Jin menghadiahkan barangnya.
Nona Seng.
katanya.
barang ini kudapatkan bukan secara mudah, aku harap kau menerimanya dengan segala senang hati.
Terima kasih, kau sungguh baik sekali saudara Kong.
jawab Seng Giok Cin sambil bersenyum girang dan melirikan matanya yang jeli.
Kong Soe Jin merasa girang dan bangga kelihatannya.
Seng Giok Cin kemudian berpikir dan berkata kepada sekalian pemuda yang ada disekitarnya.
Saudara saudara, adik Hong Jie bersedia menerima hadiah untuk yang ada minat, aku di anjurkan untuk mengunjuk kepandaiannya agar mendapat hadiah sutera lagi untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie.
Ayo, lekas, aku anjurkan-..
Kim Hong Jie pelototkan matanya, mulutnya yang mungil berkemak kemik seperti yang mau mengatakan apa-apa kepada Seng Giok Cin, tapi nona Seng hanya ganda ketawa saja kelakuannya Kim Hong Jie.
Tapi kemudian Kim Hong Jie sudah unjuk senyumannya yang ramai pula diparasnya sujennya memain memikat hati.
Tidak heran kalau banyak pemuda sudah ketarik hatinya dan ingin unjuk kepandaiannya diatas panggung untuk merebut barang hadiah dan diberikan kepada nona Kim yang cantik jelita.
Pertama-tama Kong soe Tek yang berdiri disusul oleh in Kie Seng.
Khoe cong juga kelihatan bangkit berdiri, dengan muka tidak enak dilihat ia perdengarkan ejekannya kepada Kong Soe Tek.
Hmm, perkara memberi hadiah kepada perempuan sudah biasa.
Tidak mengherankan, tapi janganlah unjuk kelakuan sendiri yang tidak tahu diri hingga ditertawai orang.
Khoe cong sangat memandang rendah kepada Kong soe Tek.
In Kie Seng menambahkan, Kau benar saudara Khoe, pertandingan diatas luitay ini dilakukan bukan karena napsu menghadiahkan barang kepada seseorang.
Kong soe Tek melotot matanya terhadap In Kie Seng.
Mereka jadi bertengkar, saling menantang untuk menyelesaikan pertengkaran itu diatas luitay, Khoe cong yang menjadi bibit -nya pertengkaran itu hanya ketawa gembira saja.
Pikirnya, ia puas sudah dapat mengadu dombakan mereka berdua.
Tibatiba terdengar suaranya nona ciauw Yoe Soe berkata.
Hai, kalian tidak perlu bertengkar tidak keruan.
Paling baik kalau kalian bertiga mau betul-betul bertanding harus saling berjanji.
Nona ciauw berkata bertiga maksudnya supaya Khoe cong, tukang mengadu-ngadu orang itu, juga turut terlibat dalam pertandingan.
Terdengar beberapa orang berteriak setuju dengan kata katanya nona ciauw, mereka kelihatan benci betul kepada orang she Khoe tukang mengadu dombakan orang itu.
Pemuda bernama co Goen Tiong telah mengusulkan perlombaan pertandingan lain, katanya.
Ya, kain sutera yang untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie hanya barang biasa saja, bukannya merupakan benda yang aneh.
Maka, menurut pendapatku, lebih baik kalian bertanding dengan lain cara dalam suasana damai.
Bagus, bagus, menyelak In Kie heng, kau mau usulkan kami berlomba dengan cara bagaimana?
coba ceritakan kasih orang-orang dengar.
Pertandingan itu aku pikir baik diatur begini, kata co Goan Tiang sambil bersenyum.
yalah kira kira sepuluh Li jauhnya dari sini ada sebuah gunung Hui-cui-san, setelah mendaki puncaknya membelok kearah barat kira-kira juga sepuluh Li ada sebidang ladang yang tandus.
Setelah berjalan dari tempat itu kira-kira lima Li, disitu terdapat gunung kecil yang lancip dan sebuah lembah yang sempit, tanahnya semua disitu pasir melulu lembah ini jalanannya berliku-liku.
Kalau orang berjalan lempang mengikuti sepanjangnya bisa kembali balik ketempat semula, asalnya darimana mereka masuk.
Melalui sepanjang lembah yang sempit ini, orang akan menemui tebing-tebing gunung ada terdapat banyak sekali goa.
sampai di sini ia bicara, terhenti sebentar, mengawasi kepadanya anak muda yang sedang asyik mendengarkannya.
Dilain pihak, orang orang dari perserikatan Perkampungan semuanya sudah tahu kemana juntrungannya pembicaraan Co Goen Tiong ini.
Saudara Co, lembah itu namanya apa ?
tanya Koen Soe Tek.
Co Goen Tiong ketawa Lembah itu dinamai Liu soa-kok jawabnya, puncak gunung ini ada goanya yang dinamai Pek cong.
Nah saudara Kong, apakah sudah mendengarnya nama-nama ini?
Kong soe Tek terkejut mendengar disebutnya nama goa Pek-cong tong, maka ia lalu melirik pada engkonya, kemudian pada si Muka Merah Him Toa Ki dari oey-sanpay.
Lirikannya itu seolah olah memohon petunjuk.
Ya, kata Him Toa Ki dengan suara dingin lembah itu kabarnya ada berbahaya, tidak kusangka adanya tidak jauh dari sini.
Dipuncak Si ban-ieng dalam goa Pek-cong tong ada berdiam seorang tua yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia kangouw, yalah su-hengnya si Dewi obat Kong Jat Sin bernama Souw Kie Han.
Setelah lima puluh tahun lamanya ia berjarah disana, telah melarang orang mengujuk tempatnya itu.
Menurut katanya orang cerita dalam kamarnya orang tua itu ada digantung sebuah mutiara ajaib untuk menolak hawa racun.
Maka itu kawannya binatang berbisa tidak ada yang berani memasuki kamarnya itu.
Dalam kamar hawanya panas, karena sebagian dari dinding goa itu ada dari batu Hwe giok (batu kumala berapi).
Nah.
kalau kalian sudah sampai disana, bawalah sepotong batu Hwe giok kemari sebagai tanda bukti bahwa kalian sudah sampai ditempat itu Hwe giok itu dilain tempat tidak ada, kecuali disitu tempatnya.
Batu itu.
merupakan benda yaag berharga maka jikalau diantara kau orang ada yang beruntung mendapatkannya dan dibawa kemari untuk dihadiahkan kepada nona Kim, memang ada harganya daripada barang hadiah kain sutera.
Terdengar Kong Soe Tek berkata.
Aku pun pernah mendegar bahwa goa Pek cong tong di puncak Si ban leng ada tempat yang berbahaya.
Kita kebetulan sudah sampai disini.
maka ada baiknya untuk pergi kesana, hitung-hitung sebagai menambah pengalaman.
Bagaimana dengan Pocu dan ceng-cu apakah juga akan turut pergi kesana?
Pocu dan cengcu dimaksudkan Khoe cong dan ln Kie Seng.
Mendengar kara-katanya Kong soe Tek yang paling belakang matanya Khoe cong melotot kearahnya seorang In Kie Seng dengan marah besar.
Biarpun tempat itu berbahaya, aku berani pergi kesana?
Ya, kita pergi berkuda, tentu tidak membawa pembantu.
kata Khoe cong dengan mata melotot mengawasi kepada Kong soe Tek.
Kong soe Tek hanya ganda ketawa saja semua itu.
Seng giok cin dan Kim Hong Jie mendengarkan perundingan mereka.
Tiba-tiba Seng giok cin mendekati Kim Hong Jie dan berkata bisik2.
Adik Hong, kau lihat.
Mereka hendak menempuh bahaya, tentu ada salah satu yang akan menjadi korban hilang jiwanya.
Kim Hong Jie anggukkan kepalanya.
Nah, sekarang kalian bertiga sudah setuju.
kata co Goen Tiong pula, rupanya ia sebagai wasitnya dari pertandingan ini.
tapi harus diterangkan syaratnya disini, yalah didalam tempo dua puluh empat jam kalian harus sudah pulang lagi kesini.
Karena tempat itu tidak jauh letaknya dari sini, maka syarat ini rasanya sangat sederhana.
Tiga pemuda itu hampir berbareng menganggukkan kepalanya.
Mereka tinggal menanti temponya berangkat saja.
Tiba tiba ada Li oh hweshio dari Tibet menghampiri mereka.
co Goen Tiong berseru.
Nah, ini Taysu yang dapat mengantar kalian kesana.
Tapi, tunggu dulu ia menyelesaikan pertandingannya diatas luitay.
Mereka setuju dengan bicaranya co Goen Tiong.
Li Dho saat itu sudah naik keatas luitay, disusul deh Boen Kay Teng lawannya.
Boen Kay Teng ini umurnya kira-kira lima puluh tahun, matanya merah dan berbadan sedang, tindakan kakinya perlahan, tapi mantap.
Ia adalah keponakannya Boen-lt Kong, salah satu dari Lima Tokoh terkuat pada masa itu dalam rimba persilatan.
Boen it Kong ada satu pendekar ulung dibagian barat daya.
Mendengar keponakannya berkelakuan tidak baik, maka Boen Kay Teng dipanggilnya.
Ia diberikan pelajaran ilmu silat yang tinggi oleh sang paman, tapi kenyataannya ia tidak bisa merubah kelakuannya yang jelek.
Ia telah berkawan dengan orang-orang yang jalan hitam (jahat), dan namanya terkenal dalam kalangan orang jalan jahat itu.
Ia malang melintang dalam kalangan rimbah hijau sudah sepuluh tahun maka orang sudah tahu benar kelakuannya yang buruk.
tapi kelihatan banyak pendekar kawakan sungkan berurusan dengannya karena mengingat akan pamannya yang namanya sangat dimalui dalam kalangan kangouw.
Dua lawan setelah berhadapan saling menyilahkan untuk mulai menyerang.
Li Dho telah menyerang lebih dahulu.
Serangannya dahsyat sekali, hingga lawannya tidak berani menyambuti keras lawan keras.
Dengan menggunakan tipu serangan Koan Kong buka baju Boen Kay Teng telah menangkis serangan Li Dho.
Jago dari Tibet itu mainkan ilmu pukulan Toa ciu-in (cap telapakan tangan), dengan telapakan tangannya mencecer musuhnya hebat sekali, hingga suara angin serangan sampai terdengar nyaring.
Boen Kay Teng kelihatan terputar-putar mengelilingi panggung untuk meluputkan diri dari serangan dahsyat lawannya.
Li Dho dan kawannya Phadho Ka datang turut meramaikan pertandingan adu silat di-Seng Kee Po, belum ketahuan mereka ditempatnya itu ada masuk partai mana maka Seng Eng selalu menaruh curiga kepada mereka.
Boen Kay Teng yang terus menerus dicecer musuhnya, menjadi kewalahan.
Dalam hatinya menjadi nekad, ia lalu menyerang dengan senjata gelapnya kepada sang lawan hingga semua orang menjadi kaget.
Dalam gebrakan pertama itu hanya dibolehkan menggunakan tangan kosong bertanding, tidak menggunakan senjata apalagi senjata gelap.
Maka perbuatannya Boen Kay Teng tadi ada melanggar peraturan.
Li Dho tidak takut senjata gelap, karena ia berilmu Thian-Hong-leng (sisik naga sakti), ilmu ini dapat memunahkan serangan senjata gelap macam apa juga.
Maka ketika melihat lawannya menyerang dengan senjata gelap.
ia mendekam badannya untuk meluputkan diri, tapi ternyata kejadiannya tidak seperti yang ia duga.
Hanya terdengar suara tertahan keluar dari mulutnya dua orang itu kemudian berpisahan Boen Kay Teng mundur sampai tujuh-delapan tindak dan malah tubuhnya telah terpelanting kebawah luitay.
Li Dho hanya mundur dua tindak.
berdiri tegak.
tapi mukanya sudah pucat pasi, terang ia sudah terluka dibagian dalamnya.
Phua Do Ka, temannya Li Dho sudah lantas melesat naik keatas luitay, menanyakan keselamatannya sang kawan.
Tiba tiba Li Dho telah memuntahkan darah segar dari mulutnya badannya nampak limbung hendak jatuh kalau tidak keburu dibimbing oleh Phua Dho Ka, ya menjadi marah sekali kawannya sudah dicurangi musuhnya.
Diatas luitay itu telah diketemukan senjata gelapnya Boen Kay Teng yang berupa cincin.
Dalam bahasa tibet Li Dho berkata pada kawanannya.
Suheng, rupanya ajalku sudah sampai disini.
Kalau aku mati, harap suheng bawa mayatku pulang.
Belum lampias bicaranya, ia sudah lantas memuntah lagi darah segar.
Boen Kay Teng setelah terpelanting dan bangun lagi, ia mencari sebuah kursi untuk ia beristirahat, napasnya kelihatan sudah empas-empis sangat keras.
Ia terluka parah didalam.
Ia merapatkan matanya untuk memulihkan tenaganya kembali.
Seng Eng dan Pek Boe Taysu sudah lompat keatas luitay untuk memeriksa keadaan Li Dho, sementara Phua Dho Ka sudah jadi gemas sekali pada Boen Kay Teng yang curang dan tanpa memperdulikan kawannya ia sudah lompat turun dan menghampiri Boen Kay Teng yan sudah tidak berdaya hendak dibunuhnya.
Tapi niatnya dihalang halangi Song coe Ki dan dua saudara oet-ti yang menghibur, supaya Phua Dho Ka jangan menuruti napsu hatinya saja.
Urusan dapat didamaikan, bagaimana baiknya sebab Li Do tokh belum mati.
Seng Eng melihat keadaan Li Dho sudah lantas mengeluarkan obat pilnya yang mustajab untuk menyembuhkan luka didalam.
kemudian turun dan memberikan juga obat pil itu kepada Boen Kay Teng yang keadaannya sudah setengah mati.
Pertandingan telah berakhir sampai disitu saja.
Penonton kasak-kusuk menyalahkan kepada satu diantaranya, ada juga yang menyalahkan pada dua duanya.
Boen Kay Teng bersalah sudah menyerang dengan senjata gelapnya, sedang Li Dho dipersalahkan sudah keterlaluan mendesak pada lawannya yang sudah kewalahan.
Sementara itu tiba-tiba terdengar co Goen Tiong berkata.
Saudara yang hendak berlomba mengambil batu Hwe giok, perhatikan padasyarat yang telah dikatakan tadi, Sekarang tanggal sembilan belas bulan delapan, jam setengah lima sore, besok pada hari begini siapa saja diantara kalian yang datang lebih dahulu di-sini dengan membawa batu Hwe-giok dianggap dia yang menang dalam perlombaan ke puncak si ban-leng goa Pek cong-tong.
Tegasnya, dalam tempo sehari semalam kalian semuanya sudah berada disini, dalam keadaan masih segar atau terluka, mengerti semua?
Tiga orang yang hendak berlomba itu telah anggukkan kepala.
Ya masih ada yang penting untuk peringatkan.
kata lagi co Goen Tiong, masingmasing tidak boleh membawa pembantu.
Yang mengantarkan boleh, tapi tidak boleh melewati batas lembah Liu-soa kok.
Tiga pemuda itu pada anggukkan kepala.
Mereka tak tahu seluk beluknya tempat itu, main sanggup saja.
Tapi untuk yang mengetahui bagaimana seramnya keadaan ditempat yang hendak dituju itu, merasa bergidik dan berdiri bulu romanya.
Souw Kie Han, orang tua yang mengasingkan diri dalam goa Pekcong itu tabiatnya sangat kukway, tidak mau kalah dengan siapa juga dalam ilmu silat.
Siapa yang bertempur dengannya pasti kalah dan mati.
ia sangat kejam dan telengas, sudah tersohor dalam rimba persilatan.
Lain daripada itu, juga dipuncak Si-ban leng yang hidup disitu hanya sebangsa kutukutu dan binatang-binatang yang berbisa saja.
Sekali orang kena digigit atau di antuk oleh ular atau binatang kutu pasti akan binasa, maka semua yang tahu bagaimana berbahayanya ditempat itu, pada menguatirkan akan keselamatannya tiga pemuda itu.
Seng Giok cin dengan bersenyum menggiurkan telah berkata pada tiga pemuda itu, Ya, aku dengan adik Hong mendoakan kalian selamat.
sekarang kami mohon diri dahulu ada sedikit urusan.
Besok sore pada hari begini, kami harap kalian dapat kembali dengan tidak kurang suatu apa dan membawa Hwe giok untuk dihadiahkan kepada adik Hong Jie.
Sambil berkata ia menarik tangannya Kim Hong Jie diajak berlalu dari situ, dengan sedikitpun tidak merasa kuatir akan keselamatannya tiga pemuda itu.
Tiga pemuda yang tidak akan menempuh bahaya, hanya tertawa saja melihat dua jelita itu mengundurkan diri dan lenyap bayangannya dari pandangan mereka.
Kemudian mereka bersiap-siap hendak melakukan perjalanan sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh co Goen Tiong.
Kong Soe Jin lalu menarik tangannya sang adik dan berbisik dikupingnya.
Sute sudah terlanjur kau menyanggupi, biar bagaimana juga harus menghadapi bahaya, kau tak dapat mundur lagi.
Hanya aku memesan kau lebih baik mati di tangan orang tua penyepi atau oleh binatang berbisa disana dari-pada kau kena dicelakakan oleh dua pemuda yang menjadi saingan kau berlomba.
Toako, kau jangan kuatir.
jawab Kong Soe Tek.
aku akan menjaga diriku sebaikbaiknya.
Legakan hatimu.
Apa kau takut aku kalah berusaha?
Bukan itu maksudku.
Kalau menang tidak menjadi soal, hanya aku tidak puas kalau dirimu nanti dianiaya oleh dua orang licik itu.
Aku paham.
Mereka itu adalah orang-orangnya Perserikatan Benteng Perkampungan tapi aku sudah siap saja, aku tidak takut.
Legakan hatimu toako, aku juga mendoakan toako tidak mengalamkan kesulitan apa-apa sementara aku tidak berada disampingmu.
Kong Soe Jin merasa sedih mendengar perkataannya sang adik.
Ia tidak tahu apakah perpisahan dengan sang adik ini nanti akan berjumpa pula dengan selamat atau sang adik mengalamkan bahaya yang tidak diingini?
Kong Soe Jin kelihatan berat sekali melepaskan adiknya.
Sementara itu tampak Sa Kie Sang juga bercakap-cakap dengan ciauw Hauw, sedang Khoe cong kasak kusuk dengan Hui Seng Kang.
Setelah tiga pemuda yang hendak berlomba itu berunding sebentaran, Kong Soe Jin ajak adiknya untuk berangkat terlebih dahulu.
Terdengar Hoan SiangJle dan Kun-lun Pay mengucapkan doa restunya.
Ya, saudara Kong, aku bantu mendoakan semoga kau nanti kembali dengan kemenangan dan selamat walaftat..
Terima kasih jawab Kong Soe Tek.
Kemudian dengan diantar oleh engkonya Kong Soe Jin dan Hoan Siang Jie, berangkatlah Kong soe Tek terlebih dulu.
sekarang mari kita ajak pembaca melihat Ho Tiong Jong.
Ketika dua nona jelita yang mempesonakan hatinya sudah berlalu, Ho Tiong Jong girang bercampor masgul.
Girang karena totokannya sudah terbuka dan masgul karena dengan cara bagaimana ia memutuskan rantai yang membikin dirinya tidak merdeka ?
Dalam keadaan bingung.
tiba-tiba ia mendengar suaranya co Kang cay berkata.
Hei, bocah, legakan hatimu, aku lihat dua nona itu tidak akan membunuhmu.
Nah, sekarang coba lihat, barang apa yang si nona berikan padamu tadi.
Ho Tiong Jong baru jengah.
Barusan ketika Kim Hong Jie membuka totokannya, bergerak menyesapkan suatu benda ditangannya.
ia segera memeriksa, kiranya benda itu ada kikir kecil yang dapat mengikir putus rantai yang membelenggu dirinya.
Ho Tiong Jong kegirangan.
Terima kasih, adik Hong.
katanya dalam hati.
Lalu berkata pada co Kang cay.
Dia memberi kikir untuk mengikir rantai.
Bagus, bagus Untungmu sangat bagus bocah...co Kang cay ketawa terkekeh kekeh.
Sambil mergerjakan tangannya, Ho Tiong Jong pasang omong dengan co Kang cay.
Antaranya ia berkata Lopek, aku ingin lekas-lekas keluar dari sini.
Bagaimana, kalau umpamanya aku sudah merdeka dan hendak keluar, apakah lopek mau turut aku?
Bocah, jawab co Kang cay hatimu mulia sekali, cuma sayang aku sudah tua, tidak ada gunanya lagi hidup beberapa tahun.
Tapi aku ingin kau ikut aku keluar.
Tidak.
Dengan adanya aku, tapi memberabekan kau bergerak.
Apa pun yang akan terjadi, aku harus menolong lopek keluar bersama-sama dari neraka ini.
Aku harap kau suka menerima bantuanku yang tidak berarti..
Co Kang Cay menghela napas.
Agaknya ia terharu akan kebaikan hati si anak muda.
Ketika Ho Tiong Jong menanyakan tentang jalanan rahasia untuk keluar dari kamar tahanan itu, tiba-tiba terdengar seperti ada tindakan kaki yang mendatangi.
Sebentar lagi.
tampak ada terbuka sebuah lubang pada pintu kamar, sepasang mata yang bersinar mencorot kedalam.
Ho Tiong Jong tidak tahu siapa orang itu, tapi ia tidak perduli.
Ia pura-pura tidak tahu ada orang yang mengintai dari lubang tersebut.
Kemudian lubang itu telah tertutup kembali.
Dalam hati Ho Tiong Jong berpikir.
Kenapa orang sangat perhatikan diriku?
Aku biar bagaimana harus membawa keluar Co lope dari sini.
Kalau aku keluar sendiri, mana aku bisa pergi ke kota Yang cio untuk menikmati keindahan bangunan istimewa seperti yang dibicarakan oleh Tio lopek?
Lalu Keduanya tidak berkata-kata, Ho Tiong Jong yang memecahkan kesunyian.
Co lopek, kau jangan kuatir.
Kalau aku lolos, kau juga harus lolos Hai, bocah, hatimu memang sangat mulia.
Aku sebenarnya sudah tua dan tidak ada gunanya lagi, cuma saja aku sudah mempelajari itu bangunannya istimewa di Yang-co dua puluh tahun lamanya, kalau aku tidak bisa membuktikan kepandaianku untuk mendapatkan jalan masuk kedalam bangunan gunung-gunungan itu, memang aku mati juga rasanya sangat penasaranHatinya Ho Tiong Jong tergetar mendengar kata-katanya si orang tua.
Sambil terus mengerjakan kikirnya untuk membebaskan diri dari rantai.
Ho Tiong Jong menanyakan jalan keluar dari situ.
Menurut keterangan Co Kang Cay, untuk dapat keluar dari kamar tahanan itu orang harus melalui s ebuat selokan yang mempunyai beberapa tikungan.
Harus diperhatikan bilukan-bilukan itu jangan sampai salah membiluknya, barulah bisa keluar dari kamar tahanan yang tidak enak itu.
Selagi mereka asyik pasang omong tiba-tiba terdengar orang menanya dengan suara keras.
Hei, apakah didalam betul ada Ho Tiong Jong ?
Ya, betul aku Ho Tiong Jong.
jawabnya.
Tidak lama, pintu kamar tahanan telah terbuka dan muncul seorang berjenggot putih, matanya berkilat kilat mengawasi Ho Tiong Jong.
ia berkata perlahan.
Hei.
Tiong Jong, aku ini Ngo ho San-jin bernama Cia Peng San, aku datang hendak menolong kau, harap kau jangan bicara keras-keras Ho Tiong Jong melongo.
ia tak kenal pada orang itu.
Apa maksudnya ia hendak menolonGi dirinya yang tidak kenal satu dengan lain.
Sahabat.
kata Ho Tiong Jong.
aku dengan kau tidak saling mengenal, untuk apa kau hendak menolonGi diriku?
Soal itu, sebentar kalau kau sudah keluar dari sini nanti aku terangkan dengan jelas apa sebabnya.
kata cia Peng san.
Setelah berkata demikian cia Peng San sudah hendak gerakkan badannya meluncur kebawah menghampirinya Ho Tiong Jong berkata.
Hei, sahabat, nanti dahulu?
Aku tidak mau sembarangan menerima budi orang, maka aku harap kau suka memberi keterangan lebih dahulu?
Ah, kau ini banyak cerewet.
Kalau sebentar diluar aku menerangkan padamu bukankah sama saja dengan disini Sebelum Ho Tiong Jong membuka suara lagi, tiba-tiba terdengar seorang berkata.
Aaaa saudara cia, kau rupanya kelebihan tempo jalan-jalan sampai disini Itulah suara mengejek dari si Rajawali Botak Ie Yong.
Kiranya kedatangan cia Peng san kesitu sudah kena diintai oleh Ie Yong.
Mendengar perkataannya si Rajawali Botak cia Peng San tidak jadi takut.
Dengan suara tenang ia menjawab.
oo, ie congkoan juga ada melakukan ronda sampai di sini?
Benar-benar kamar tahanan ini sangat dijaga rapih sekali.
Si Rajawali Botak tertawa dingin Cia Peng San kau ini ada ke sorga bukan dijalani malah berjalan masuk ketempat jebakan disini.
Ha ha ha..
Ie Congkoan, kata pula cia Peng San, aku tidak mengerti apa artinya kau kata barusan?
Apakah kau maksudkan tempat ini terlarang untuk orang melihat-lihatnya?
Sambil berkata demikian, cia Peng San matanya celingukan mencari tahu.
kalaukalau dibelakangnya si botak ini ada lagi yang akan membantunya.
Tapi lantaran keadaan gelap.
maka ia tidak dapat lihat orang lain.
Ha ha ha, Cia Peng San, kau jangan berlaga bodoh dengan maksudmu yang sebenarnya.
Aku tahu namamu ada terkenal juga di kalangan kangouw, aku si orang she le ingin menjajalnya disini.
Mari, mari kita bertempur Setelah berkata, tangan kirinya menyerang dengan senjata, sedang tangan kanannya membuka telapakan tangannya dan lima jarinya yang runcing mengancam hendak mencengkeram pada si orang she Cia.
Cia Peng San marah melihat kelakuannya si Rajawali Botak.
Ilmu mencengkeram dari le Yong dianggap tidak ada artinya bagi Cia Peng San, sebab ia juga ada akhli ilmu demikian.
Ia dapat menggunakan tiga puluh enam jalan menyerang dari ilmu menceng kramnya.
Tidak heran, kalau dalam tempo pendek saja si botak sudah ke-desak oleh musuhnya, akhirnya ia hanya dapat menangkis tapi tak dapat balas menyerang.
Ho Tiong Jong menyaksikan pertandingan kedua lawan itu dengan nyata.
Pikirnya hendak membantunya Cia Pek San, tapi diluar dugaannya dalam dua tiga gerakan saja le Yong sudah kena dijatuhkan oleh lawannya.
Berbareng Ho Tiong Jong mendengar Co Kang Cay berkata.
Tiong Jong, kau jangan enak-enakan.
Kau harus waspada, sebab orang yang hendak menolongmu itu aku lihat bukannya orang baik-baik.
Ho Tiong Jong tidak begitu percaya akan kata-katanya, tapi diam-diam ia memikirkan juga.
Kini ia melihat sibotak rubuh, apakah ia mati?
Baca Juga: Dewi Ular 2
Baca Juga: Gelang Kemala 7