Dewi Ular 2

Eps 2 Dewi Ular - Kho Ping Hoo

Baca online Dewi Ular - Kho Ping Hoo

Cersil Dewi Ular - Kho Ping Hoo.

Ada seorang gadis muda berani bicara seperti itu kepada mereka, sungguh luar biasa sekali.

Penunggang kuda yang brewokan itu juga marah bukan main.

Dia meloncat dari atas kudanya, diikuti oleh enam kawannya.

Tujuh orang itu sudah turun dari atas kuda mereka dan si Tinggi Besar bereambang bauk itu lalu membentak dengan nyaring.

"Gadis kurang ajar. Berani engkau besikap seperti itu kepada kami? Hayo lekas kau berlutut minta ampun, baru kami akan mengampunimu"

Si Tinggi Brewok yang usianya sekitar empatpuluh tahun itu bertolak pinggang dan berdiri dengan kedua kaki terpentang. Teman temannya juga sudah bersiap-siap untuk berkelahi.

"Twako, ia cantik sekali. Biarlah kita ampuni ia kalau ia mau ikut dengan kita"

Kata kawannya yang termuda dan ucapan ini disambut suara tawa mereka. Hwe Li menjadi merah mukanya dan ia pun meloncat turun dari atas punggung kudanya sambil mencabut pedang.

"Kalian orang-orang kasar dan kurang ajar, cepat kalian berlutut minta ampun kepadaku atau pedangku akan membuat kalian menjadi setan-setan tanpa kepala". Melihat sumoinya sudah marah dan mencabut pedang, Siong Ek juga mencabut pedangnya dan dia pun membentak.

"Gerombolan berandal, kalian mencari penyakit. Hayo cepat berlutut minta ampun seperti yang diperintahkan sumoiku"

Melihat muda-mudi itu sudah mencabut pedang, tujuh orang itu pun menjadi semakin marah.

Mereka semua menggerakkan tangan kanan kepunggung dan di lain saat mereka sudah mencabut golok mereka yang tadi diselipkan di belakang punggung.

Golok mereka berkilauan saking tajamnya dan sikap mereka semakin bengis.

Si Tinggi brewokan berteriak sambil memutar goloknya di atas kepala.

"Tangkap yang perempuan dan bunuh yang laki-laki. Rampas kuda mereka"

Tujuh orang itu lalu bergerak menyerang muda-mudi yang sudah siap sedia itu.

Terdengar bunyi nyaring ketika golok bertemu pedang.

Hwe Li dan Siong Ek menggerakkan pedang mereka dan memainkan ilmu pedang Kun-lun-kiam-sut yang diajarkan oleh Souw Can.

ilmu pedang Kun-lun-pai memang indah dan hebat dan gerakan dua orang muda itu menunjukkan bahwa mereka telah berlatih dengan baik.

Apalagi Souw Hwe Li.

Dara ini mengamuk dengan pedangnya dan memaksa para pengeroyoknya untuk berlompatan ke belakang.

sayang mereka berdua itu kurang pengalaman dan terlalu berhati-hati sehingga mereka tidak terlalu mendesak tujuh orang pengeroyoknya.

Andaikata Hwe Li dan Siong Ek terus mendesak dan mengeluarkan jurus-jurus terampuhnya, tentu tujuh orang itu dapat dikalahkan dan tidak memakan waktu lama.

Hwe Li dan Siong Ek lebih banyak menanti serangan lawan untuk dielakkan atau ditangkis, baru balas menyerang.

Kalau lawan-lawannya melompat mundur, mereka tidak mendesak sehingga memberi kesempatan kepada para peneroyoknya untuk maju lagi.

selagi pertandingan berlangsung seru, tiba-tiba terdengar teriakan.

"Hwe Li, aku datang membantumu"

Yang berteriak itu bukan lain adalah Ceng Ceng.

Melihat Hwe Li dikeroyok, ia cepat mencabut pedangnya dan terjun dalam pertempuran membantu Hwe Li.

Lima orang mengepung kedua orang gadis ini dan yang dua orang lagi mengeroyok Siong Ek.

Tadi pun sebelum Ceng Ceng datang membantu, tujuh orang berandalan itu sudah kesulitan menghadapi pedang Hwe Li dan Siong Ek.

Kini datang lagi bantuan Ceng Ceng yang ilmu pedangnya setingkat dengan kepandaian Siong Ek, maka tentu saja tujuh orang berandalan itu menjadi semakin kerepotan.

Dan Ceng Ceng ternyata tidak menanti seperti mereka, melainkan terus menyerang untuk menolong Hwe Li.

Tak lama kemudian, Ceng Ceng berhasil melukai seorang pengeroyok dengan pedangnya.

Pundak kanan pengeroyok ini terluka dan mengucurkan banyak darah sehingga orang itu terpaksa mundur dan tidak mampu melanjutkan pengeroyokannya.

Pedang Hwe Li menyambar ke arah pemimpin gerombolan itu.

si Tinggi Brewokan berteriak dan goloknya terlepas dari pegangan karena lengan kanannya terluka parah di dekat siku.

Dia pun terpaksa mundur tidak dapat melanjutkan pengeroyokan.

Melihat ini Siong Ek mempercepat gerakan pedangnya dan seorang pengeroyok roboh dengan paha terluka parah.

Melihat keadaan para temannya, si Muka Brewok lalu memberi aba-aba.

"Gawat, kita lari"

Dia sendiri sudah cepat meloncat ke atas punggung kudanya, diikuti oleh dua orang teman yang terluka.

Empat orang lainnya segera berlompatan ke belakang dan mengikuti jejak pemimpinnya, dantak lama kemudian tujuh orang itu sudah membalapkan kuda mereka melarikan diri "Kita kejar mereka"

Siong Ek berseru.

"Musuh yang lari tidak perlu dikejar, dapat berbahaya bagi kita"

Kata Ceng Ceng memperingatkan, seperti yang pernah dinasihatkan pamannya.

"Tidak usah mengejar. Tikus-tikus seperti itu tidak ada harganya untuk dikejar. Baru mereka tahu rasa, berani mengganggu kita"

Kata Hwe Li dengan sikap bangga, lalu menoleh kepada Ceng Ceng.

"Ceng Ceng, aku sudah menyuruh engkau pulang, kenapa engkau masih berada di sini?"

"Ya, tidak perlu bantuanmupun kami berdua akan membasmi mereka"

Kata Siong Ek. akan tetapi matanya memandang ke arah Ceng Ceng dengan penuh gairah, dan menyimpan kembali pedangnya dengan lagak gagah.

"Aku berpapasan dengan mereka di jalan dan melihat sikap mereka yang kasar, aku khawatir mereka akan mengganggu kalian-maka aku lalu kembali. Benar saja mereka mengeroyok kalian maka aku cepat membantu,"

Kata Ceng Ceng.

"Hemm, melawan tikus-tikus macam itu, aku atau suheng sendiri pun akan mampu mengalahkan mereka. Kami tidak memerlukan bantuan"

Kata Hwe Li dengan nada menyalahkan.

"Bagus, pendekar-pendekar Kun-lun-pai sungguh mengagumkan"

Tiba-tiba terdengar suara orang dan tahu-tahu di situ telah muncul seorang pemuda.

tiga orang murid Souw Can itu segera memutar tubuh menghadapi orang itu Mereka merasa heran.

Pemuda itu berpakaan serba putih dari sutera halus, dipunggungnya nampak gagang sepasang pedang dan diikat pinggangnya nampak belasan gagang belati bergagang hitam.

Pemuda itu berusia kira-kira dua puluh empat tahun, wajahnya tampan sikapnya lembut dan mulutnya tersenyum ramah, akan tetapi sepasang matanya meneorong dan mengandung sinar dingin atau kejam.

Pemuda ini bukan lain adalah ouw Kwan Lok.

pemuda murid mendiang Pak-thian-ong yang kemudian diambil murid Thian-te Mo-ong.

seperti kita ketahui, setelah dia tamat belajar ilmu kepada Thian-te Mo-ong, dia lalu terjun ke dunia kang-ouw dengan tugas dari gurunya untuk membalas dendam gurupertamanya dan guru ke dua itu kepada musuh-musuh mereka seperti yang dipesankan Thian-te Mo-ong.

Musuh-musuh itu adalah song Thian Lee, Tang cin Lan dan Souw Lee Cin.

Dia sedang dalam perjalanan menuju ke kota raja untuk menyelidiki musuh-musuhnya itu ketika di tempat itu dia sempat menyaksikan tiga orang muda itu dikeroyok oleh tujuh gerombolan jahat.

Dia bersembunyi dan tidak mencampuri, apa lagi melihat betapa pemuda dan dua orang gadis cantik itu tidak kalah.

setelah mereka bertiga menang dan mendengar ucapan mereka, barulah dia muncul dan mengeluarkan suara pujian.

Hwe Li dan Ceng Ceng memandang kepada pemuda itu dengan bimbang karena mereka ini tidak tahu orang macam apakah adanya pemuda tampan berpakaian putih itu.

Akan tetapi Siong Ek menjadi marah karena pemuda itu tampan dan bersikap ramah, seolah hendak menarik hati kedua orang sumoinya dan menyainginya Siong Tek menudingkan telunjuknya ke arah pemuda itu dan menghardik.

"sudah tahu kami pendekar-pendekar Kun-lun-pai mengapa engkau berani sembarangan muncul disini?"

Souw Kwan Lok memperlebar senyumnya, akan tetapi sinar matanya yang tajam seolah-olah hendak menusuk dada Siong Ek.

"sobat, aku memuji kalian bukan karena ilmu silat kalian, melainkan kalian yang masih muda, tidak ada pengalaman dan dengan ilmu silat yang begitu-begitu saja berani menentang tujuh orang gerombolan tadi."

Siong Ek membelalakkan matanya juga Hwe Li memandang dengan marah sekali karena apa yang diucapkan Kwan Lok itu merupakan penghinaan bagi mereka.

Hanya Ceng Ceng yang menjadi khawatir karena pemuda berpakaian putih itu pasti bukan membual kosong belaka.

"Hwe Li, mari kita pulang saja. Aku khawatir nanti Paman Souw Can akan menanti-nanti dan mengkhawatirkan kepergian kita,"

Bujuk Ceng Ceng yang sebetulnya merasa enggan untuk bercekcok dengan pemuda asing itu. Akan tetapi Hwe Li yang sudah marah itu membentaknya.

"Engkau pulanglah sendiri kalau merasa takut. Kami tidak takut kepada pemuda sombong ini"

Lai Siong Ek sudah mencabut kembali pedangnya dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka ouw Kwan Lok.

"Kalau engkau mengatakan ilmu silat kami hanya begitu-begitu saja, coba perlihatkan ilmu silatmu. Beranikah engkau melawan aku?"

Siang Ek membusungkan dadanya dan sikapnya menantang sekali. Kwan Lok tertawa.

"Heh-heh, harimau yang belum tajam taringnya dan belum kuat kukunya berani bicara besar. Jangankan melawan engkau seorang biarpun dikeroyok tiga aku tidak akan takut, dan aku akan menghadapi kalian hanya dengan tangan kosong saja"

Hampir meledak rasa perut Hwe Li mendengar ucapan itu Andaikata ia dan suhengnya bersombong, pemuda ini ternyata lebih sombong lagi Dikeroyok tiga pedang dengan tangan kosong saja?

"Bangsat sombong!!

Jangan lari dari pedangku"

Teriak Hwe Li dan ia pun sudah mencabut pedangnya dan menyerang dengan hebat.

Melihat ini, Siong Ek juga sudah menggerakkan pedangnya, mengirim serangan yang dahsyat.

Akan tetapi Kwan Lok adalah seorang pemuda yang pernah digembleng oleh dua orang datuk besar dari utara dan selatan.

ilmu silatnya sudah mencapai tingkat tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat dua orang pengeroyoknya itu.

Dengan kedua tangan kosong dia menyambut dua serangan itu.

Mula-mula dia memperiihatkan ilmunya meringankan tubuh.

Dua pedang yang menjadi dua gulungan sinar menyambar-nyambar itu selalu dielakkan dan tubuhnya bagaikan bayangan yang menghilang ke sana muncul ke mari, membingungkan Hwe Li dan Siong Ek.

Setelah mendemonstrasikan kelincahannya, Kwan Lok mengeluarkan suara mengejek.

"Ha-ha, tidak kena Ah, luput lagi Hayo keluarkan semua ilmumu"

Tentu saja Hwe Li dan Siong Ek menjadi semakin penasaran dan marah.

Sementara itu, Ceng Ceng yang menjadi penonton, tidak mau membantu.

Ia melihat bahwa pemuda itu tidak berniat buruk.

Kalau dia berniat buruk tentu dia akan mencabut senjatanya.

Dia hanya melawan dengan tangan kosong saja dan ini saja menunjukkan bahwa pemuda baju putih itu tidak berniat jahat.

Dugaannya benar karena setelah mereka bertanding, Ceng Ceng melihat pemuda itu berkelebat kesana sini dengan kecepatan seperti seekor burung walet dan dua orang pengeroyoknya tidak mampu berbuat banyak.

Kalau pemuda itu seorang jahat, biarpun betapa kuatnya, Ceng Ceng pasti akan membantu dan mengeroyoknya.

Akan tetapi, pemuda itu bukan orang jahat, mengapa mesti dikeroyok dan diserang mati-matian?

ia hanya menonton saja sambil mengerutkan alisnya karena ia melihat betapa Hwe Li dan siang Ek semakin marah dan serangan mereka semakin hebat, merupakan serangan-serangan maut.

Kini Kwan Lok memamerkan kehebatan sinkangnya.

Dia tidak lagi mengelak ke sana ke mari, melainkan menangkis dua batang pedang itu dengan telapak tangannya Bacokan atau tusukan pedang disambut begitu saja dengan tangan terbuka dan kedua senjata itu sama sekali tidak mampu melukai telapak tangannya.

Ceng Ceng menjadi semakin kagum dan khawatir.

Mengapa Hwe Li dan Siong Ek tidak mau berhenti saja?

Apakah mereka tidak melihat bahwa pemuda itu lihai sekali dan kepandaiannya amat tinggi?

Memang Hwe Li dan siang Ek sama saja.

Mereka terlalu tinggi hati dan manja, nnenganggap diri sendiri paling hebat sehingga sukar bagi mereka untuk mengakui kekalahan "Haiiiitt."

Hwe Li menusukkan pedangnya ke arah lambung kiri Kwan Lok.

Pemuda baju putih ini menggerakkan tangan kiri dan menangkap pedang itu Begitu ditangkap, pedang itu seolah melekat pada tangannya dan betapapun Hwe Li menariknya, pedang itu tidak dapat terlepas dari cengkeraman tangannya.

"Haiiitt."

Siong Ek menggunakan kesempatan itu untuk membacokkan pedangnya ke arah leher Kwan Lok.

Kini tangan kanan Kwan Lok menyambar dan pedang Siong Ek itu pun dapat ditangkapnya dan tidak dapat ditarik lepas Selagi Hwe Li dan Siong Ek menarik-narik, sekuat tenaga, tiba-tiba Kwan Lok berkata lembut.

"Pergilah kalian"

Dia mengerahkan sin-kangnya dan "krak krak"

Dua pedang yang dipegang kedua tangannya itu patah dan pemilik masing-masing terdorong ke belakang dan terjengkang lalu terbanting ke atas tanah.

Hwe Li dan Siong Ek merangkak bangkit dengan muka pucat.

Akan tetapi Kwan Lok tidak mempedulikan mereka.

sekali menggerakkan tubuh, Kwan Lok sudah meloncat ke dekat Ceng Ceng.

"Nona yang baik, engkau ikut dengan aku."

Ceng Ceng terkejut dan hendak membantah, akan tetapi dengan gerakan cepat sekali Kwan Lok menotok punggung Ceng Ceng, membuat gadis ini menjadi lemas dan akan terkulai roboh.

Kwan Lok menyambar tubuhnya, dipanggulnya gadis itu dan sekali berkelebat dia sudah lenyap dari depan Hwe Li dan Siong Ek.

Hwe Li dan Siong Ek saling pandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Celaka, dia menculik Ceng Ceng"

Kata Siong Ek dengan alis berkerut karena khawatir. Hwe Li memandang pedang di tangannya yang tinggal gagangnya, dengan gemas ia membanting pedang itu ke atas tanah.

"Hhmm, agaknya Ceng Ceng yang tergila-gila kepada pemuda itu"

Gerutunya.

"Ehhh? Mengapa engkau menuduh begitu, sumoi? Ceng Ceng telah diculik orang, apa yang harus kita katakan kepada suhu?"

"Kalau Ceng Ceng tidak tergila-gila kepada pemuda itu, mengapa ia tidak membantu ketika kita mengeroyok pemuda baju putih itu? Tidak salah lagi, Ceng Ceng tentu tergila-gila kepadanya dan pemuda itu mengetahuinya maka membawanya pergi. Hemm, sungguh gadis yang tidak tahu malu, mencemarkan nama keluarga kami dengan perbuatannya yang tidak tahu malu sungguh hina sekali"

Akan tetapi hati Siong Ek tetap saja merasa gelisah.

"Pemuda itu tidak meninggalkan nama, kita tidak tahu siapa dia dan bagaimana kita harus melapor kepada suhu?"

"Katakan saja bahwa Ceng Ceng ikut pergi dengan seorang pemuda yang tampan, tidak tahu ke mana dan kita tidak dapat menghalanginya karena pemuda itu lihai sekali."

Siong Ek tidak berani membantah lagi, akan tetapi diam-diam dia merasa cemburu sekali.

Diam-diam dia pun tertarik kepada Ceng Ceng yang manis dan lembut hati, walaupun dia jatuh hati kepada Hwe Li.

Mereka segera menunggang kuda masing-masing dan pulang.

Siong Ek menuntun kuda yang tadi ditunggangi Ceng Ceng.

setelah tiba di rumah, tentu saja Souw Can terkejut melihat mereka pulang menuntun kuda Ceng Ceng, dan gadis itu tidak tampak di antara mereka.

"Di mana Ceng Ceng? Kenapa hanya kudanya saja yang kembali?"

Tanya Ketua Kim-long-pang itu.

"Entah, dia dibawa pergi seorang laki-laki muda"

Jawab Hwe Li dengan alis berkerut tidak senang.

"Apa? Dia pergi dengan seorang laki-laki?"

Tanya Souw Cin tidak percaya.

"Siong Ek, apa yang telah terjadi?"

Dia bertanya kepada muridnya karena dia tahu bahwa Hwe Li bersikap galak terhadap saudara misannya itu dan keterangannya amat meragukan.

Siong Ek yang tidak setuju dengan keterangan Hwe Li, melirik kepadanya dan menjelaskan-"Begini, suhu.

Tadi ketika kami bertiga sedang menunggang kuda di tengah hutan di sebelah timur kota, mendadak ada tujuh orang gerombolan menyerang kami.

Kami bertiga melawan dan akhirnya kami dapat mengalahkan dan mengusir mereka."

"Tujuh orang gerombolan? siapa mereka? Apakah kalian tidak bertanya siapa mereka dan dari golongan mana?"

"Kami tidak sempat bertanya, suhu. Mereka menyerang dan mengeroyok kami."

"Hhmm, lalu bagaimana? Ke mana perginya Ceng Ceng?"

"setelah gerombolan itu pergi, muncul seorang pemuda berpakaian serba putih. Dia menghina dan mengejek ilmu silat kami. Tentu saja kami menjadi marah dan terjadilah perkelahian. Teecu bersama sumoi Hwe Li maju menyerang pemuda baju putih itu. Akan tetapi... hemm, ini anehnya, suhu, sumoi Ceng Ceng tidak membantu kami, hanya menonton saja. Akhirnya, kami berdua terpaksa mengakui kekalahan kami, suhu. Pemuda itu lihai bukan main. Dengan tangan kosong dia melawan kami dan dapat mematahkan pedang kami. Kemudian tanpa berkata apa-apa, dia meloncat mendekati sumoi Ceng Ceng, menotoknya dan memanggulnya lalu membawanya pergi."

Souw Can terbelalak kaget.

"siapa nama pemuda berpakaian putih itu?"

Siong Ek menundukkan mukanya yang berubah merah. Dia tidak mampu menjawab. Hwe Li yang menjawab.

"Kami tidak sempat bertanya karena kami sudah marah sekali, Ayah. Akan tetapi melihat betapa Ceng Ceng tidak membantu kami, itu menunjukkan bahwa Ceng Ceng agaknya tertarik, kepada pemuda itu, Ayah. Dia memang tampan dan ilmu silatnya tinggi."

"Ah, celaka. Apa yang akan terjadi dengan Ceng Ceng. Ke mana pemuda itu membawanya pergi? Aku harus mengerahkan semua anak buah untuk melakukan pengejaran dan mencarinya."

Souw Can lalu mengumpulkan semua anggauta Kim-liong-pang yang jumlahnya lima puluh orang lebih, semuanya merupakan piauwsu (pengawal pengiriman barang) yang berpengalaman dan pandai silat, lalu memerintahkan mereka berpencar untuk mencari jejak pemuda yang melarikan Ceng Ceng.

Mari kita ikuti perjalanan ouw Kwan Lok yang melarikan Ceng Ceng.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi.

Kwan Lok memondong Ceng Ceng yang sudah ditotoknya itu dan akhirnya, setelah jauh sekali dari tempat tadi, dia berhenti di dalam sebuah hutan, di lereng terbawah sebuah bukit.

Dia menurunkan tubuh gadis itu dan merebahkannya di atas rumput tebal.

sejenak dia menatap wajah Ceng Ceng yang cantik manis itu.

Ceng Ceng tidak mampu bergerak atau bicara, akan tetapi pandang matanya yang penuh permohonan itu menggerakkan hati Kwan Lok untuk membebaskan totokannya.

Begitu terbebas dari totokan-Ceng Ceng menggerak-gerakkan kaki tangannya yang masih terasa agak lemas, lalu ia bangkit duduk lalu berdiri sambil memandang kepada Kwan Lok.

Kwan Lok juga bangkit berdiri sambil tersenyum.

Melihat pandang mata dan senyum itu, diam-diam berdiri bulu roma Ceng Ceng.

la melihat sesuatu yang mengerikan dalam pandang mata dan senyum itu.

"Mengapa... mengapa engkau membawaku ke tempat ini?"

Tanyanya lirih karena terkandung rasa ngeri dan takut.

"Mengapa? Untuk kuajak bercakap-cakap. Di sini jauh dari dua orang muda besar kepala itu. Aku melihat bahwa engkau lain dari mereka. Engkau seorang gadis yang cantik manis dan bijaksana, dan aku merasa berbahagia sekali karena engkau suka kepadaku. Nona manis, siapakah namamu?".

"Aku bernama Liu Ceng, akan tetapi aku... aku tidak merasa suka kepadamu... aku tidak mengenalmu...."

Pemuda itu tersenyum mengejek.

"Tidak usah kau katakan juga aku sudah tahu bahwa engkau tertarik, dan suka kepadaku, Adik Liu Ceng. Dan aku bukan orang yang tidak tahu membalas budi baik. Engkau tidak ikut mengeroyok. itu berarti engkau suka kepadaku, bukan? Tidak usah malu-malu, kalau kita berdua saling tertarik. untuk apa dibuat malu?"

Sambil berkata demikian, Kwan Lok mejulurkan tangan dan memegang lengan Ceng Ceng. Ada sesuatu perasaan dalam sentuhan itu yang membuat Ceng Ceng melompat ke belakang dan menarik tangannya.

"Engkau salah mengerti. Aku tidak ikut mengeroyok karena aku melihat bahwa engkau tidak hendak mencelakai mereka. Aku dapat menduga bahwa ilmumu amat tinggi dan kami bukan tandinganmu. Terima kasih bahwa engkau tidak mencederai mereka. sekarang, ijinkan aku pulang. selamat berpisah"

Ceng Ceng membalikkan tubuh untuk lari dari tempat itu.

"Nanti dulu"

Kwan Lok berkata dan Ceng Ceng tidak dapat lari karena lengannya sudah ditangkap tangan Kwan Lok.

"Lepaskan aku"

Ceng Ceng meronta-ronta. Akan tetapi tangkapan itu kuat sekali sehingga tidak mampu ia melepaskan lengannya.

"Ceng-moi, engkau begini cantik, Aku tidak mencelakai mereka karena aku melihat engkau. Kalau tidak ada engkau, tentu dua orang manusia sombong itu sudah kubunuh. Nah, aku begini baik kepadamU, apakah engkau tidak ingin bersahabat denganku? Engkau akan menjadi pacarku yang istimewa dan kusayang, bahkan aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu agar engkau menjadi lihai dan dapat mengalahkan dua orang sombong itu."

Kwan Lok menarik lengan itu dan hendak merangkul. Akan tetapi Ceng Ceng meronta dengan marah sekali dan kini ia dapat melepaskan lengannya.

"Jangan mendekat Jangan sentuh aku. Aku bukan gadis macam itu, mudah saja kau permainkan."

"Ha-ha-ha, bagus Aku senang dengan gadis-gadis yang keras hati, binal seperti seekor kuda liar, tidak mudah menyerah,"

Kata Kwan Lok yang sudah melangkah maju lagi hendak memeluk, akan tetapi Ceng Ceng membalikkan tubuhnya dan lari sekuat tenaga.

Setelah berlari sejauh kurang lebih satu mil, Ceng Ceng menengok dan tidak melihat dirinya dikejar.

ia merasa lega dan bernapas panjang.

Akan tetapi baru saja melangkah ke depan, ia terbelalak melihat pemuda itu sudah berada di depannya, bertolak pinggang dan tersenyum mengejek.

lalu mengembangkan kedua lengannya.

"Mari, mari ke sini, manis. Engkau tidak akan dapat meloloskan diri dari pelukanku."

Bukan main bingung hati Ceng Ceng.

Ia menengok ke kanan kiri, tidak ada seorang pun di tempat yang lebat penuh pohon-pohon itu, tidak ada orang yang dapat dimintai tolong.

Lalu ia mencabut pedangnya.

Ia bertekad untuk melawan sampai akhir hayatnya.

Lebih baik mati daripada menyerah ke dalam tangan pemuda yang halus tampan seperti seekor ular berbisa itu.

"Baik, apa boleh buat. sekarang aku akan melawanmu sampai mati Lebih baik mati daripada menyerah kepadamu"

"Ha-ha-ha, aku senang sekali. Engkau bukan gadis murahan. Engkau mempertahankan kehormatanmu dengan taruhan nyawa. Bagus, engkau memang gadis yang patut menjadi sisihanku."

"Hyaaattt "

Ceng Ceng sudah menyerang dengan memainkan jurus yang paling hebat untuk membunuh pemuda yang membuatnya merasa ngeri itu. Akan tetapi dengan amat mudahnya Kwan Lok mengelak sambil menggoda.

"Keluarkan semua ilmumu, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu, sayang."

Kemarahan dan ketidak berdayaan membuat Ceng Ceng menjadi nekat dan semangatnya yang besar untuk melawan menambah kekuatannya.

Pedangnya berkelebatan dan membentuk segulung sinar yang menyambar ke arah pemuda itu.

"Ha-ha, bagus sekali. Engkau berbakat dan setelah menjadi pacarku, engkau akan kuajarkan ilmu pedang yang lebih hebat pula."

"Tidak Lebih baik aku mati"

Kembali Ceng Ceng menyerang dengan hebat.

Sekali ini Kwan Lok menangkap pedang itu sehingga tidak dapat ditarik kembali oleh Ceng Ceng dan tangan kirinya meraih ke depan, menyambar tangan kiri gadis itu dan dia mendekatkan mukanya untuk mencium.

Ceng Ceng mengelak dengan memalingkan mukanya ke kiri dan kanan.

Akan tetapi kedua tangannya tidak mampu digerakkan lagi dan agaknya elakannya tidak akan berhasil terus.

Tiba-tiba angin lembut menyambar ke arah punggung Kwan Lok disertai bentakan.

"Pemuda jahat, lepaskan gadis itu"

Kwan Lok terkejut karena hembusan angin lembut pada punggungnya itu terasa membawa tenaga yang kuat sekali.

Dia cepat meloncat ke samping dan melepaskan kedua tangan Ceng Ceng sambil mendorongnya sehingga Ceng Ceng terhuyung dan tentu akan terjengkang kalau saja tidak ada sesuatu yang menangkap tangan kirinya dan menahannya sehingga tidak sampai terjatuh.

Ketika dia melihat, ternyata di situ telah berdiri seorang kakek gendut pendek yang memegang sebatang kebutan.

Bulu kebutan berwarna putih itu yang melibat pergelangan tangan Ceng Ceng sehingga ia tidak sampai terjengkang dan bulu kebutan itu pula yang tadi mengancam punggung Kwan Lok.

Ceng Ceng maklum bahwa ada seorang kakek yang menolongnya, maka ia lalu meloncat ke belakang kakek itu untuk berlindung.

"Ha-ha-ha, jangan takut, Nona. Tidak ada yang dapat mengganggumU selama aku berada di sini."

Kwan Lok adalah seorang pemuda yang berkepandaian tinggi.

BiarpUn dia merasa marah dengan bercampur tangannya kakek itu, akan tetapi dia bersikap tenang saja.

Dia maklum bahwa kakek ini memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dia memandang penuh perhatian dan melihat kakek pendek gendut yang memegang kebutan berbulu putih, dia segera dapat menduga dengan siapa dia berhadapan.

sebelum dia berangkat merantau, Thian-te Mo-ong telah menceritakan padanya tentang pada datuk dan tokoh persilatan yang terkenal.

Dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada sambil berkata.

"Ah, kiranya Locianpwe Thian-tok Cu Kiat Seng yang datang selamat datang dan selamat berjumpa, Locianpwe."

Thian-tok mengerutkan alisnya.

Dia tidak mengenal pemuda ini, seorang pemuda yang lihai.

Akan tetapi pemuda itu agaknya sudah mengenalnya dengan baik.

Dia segera tersenyum lebar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aih, dunia telah mengalami kemajuan. seorang pemuda telah memiliki ilmu silat tinggi dan juga bermata tajam mengenal orang. siapa kah engkau, orang muda yang pandai?"

"saya bernama ouw Kwan Lok. Locianpwe. saya mengenal nama Locianpwe dari suhu saya dan saya yakin bahwa Locianpwe tentu sudah mengenal baik kedua orang suhuku."

Ceng Ceng masih berdiri di belakang tubuh kakek itu dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

ia sendiri juga tidak mengenal siapa itu ouw Kwan Lok dan ia masih bergidik kalau mengingat akan bahaya yang mengancarnnya tadi dan ia tahu bahwa tanpa bantuan kakek itu, ia tentu tidak akan terlepas dari cengkeraman pemuda yang seperti srigala buas itu.

Thian-tok memandang penuh selidik ketika dia bertanya.

"orang muda, siapakah kedua gurumu itu?"

"Guruku yang pertama adalah mendiang suhu Pak-thian-ong, dan guruku yang ke dua adalah suhu Thian-te Mo-ong."

"Wah-wah-wah... Kiranya engkau murid mereka? Aku tahu bahwa Pak-thian-ong sudah tewas, dan aku mendengar pula bahwa Thian-te Mo-ong tertawan pasukan kerajaan. Pantas engkau, begini lihai, kiranya engkau murid kedua orang datuk itu"

Kembali Kwan Lok mengangkat kedua tangan depan dada.

"Karena Locianpwe mengenal kedua orang guruku, bahkan kalau tidak salah mereka adalah segolongan dengan Locianpwe, maka kuharap Locianpwe suka melihat muka mereka dan tidak mencampuri urusan pribadiku. Aku cinta kepada gadis itu, harap Locianpwe suka membiarkan aku menangkapnya."

"Ho-ho-ho, engkau mau enaknya sendiri saja, ouw Kwan Lok. Aku memang mengenal kedua orang gurumu, akan tetapi di antara kami tidak ada hubungan apapun. Dan engkau hendak memaksa gadis ini, mana mungkin aku mendiamkan saja? Kalau kalian saling mencinta, aku orang tua tidak akan mencampuri urusan kalian. Akan tetapi coba kutanya dulu Nona ini."

"Tidak. aku tidak kenal padanya, tidak cinta padanya. Dia hendak memaksa aku"

Seru Ceng Ceng tanpa ditanya karena dia sudah merasa khawatir sekali kalau-kalau kakek itu akan memenuhi permintaan pemuda bernama Kwan Lok itu. Thian-tok melambaikan tangannya kepada Kwan Lok.

"Nah, engkau mendengar sendiri, orang muda. Mana mungkin cinta bertepuk sebelah tangan. Mana mungkin aku menyerahkannya kepadamu walaupun engkau mengaku cinta kalau gadis ini tidak mau dan tidak cinta kepadamu?"

Kwan Lok mengerutkan alisnya dan memandang wajah kakek gendut pendek itu dengan tajam, mulutnya tersenyum aneh dan ujung kedua bibirnya agak gemetar sedikit, tanda bahwa dia marah sekali.

"Thian-tok Gu Kiat Seng, engkau seorang tua yang tidak ingin dihormati orang muda. Jangan mengira bahwa aku takut kepadamu. sekali lagi kuperingatkan jangan mencampuri urusanku dan lebih baik engkau cepat pergi dari sini sebelum terlambat"

"Hemm, Kwan Lok. Engkau sungguh beruntung dapat menjadi murid dua orang Datuk selatan dan Datuk Utara itu. Hanya sayang sekali, engkau bukan hanya mewarisi ilmu-ilmu mereka, melainkan juga kejahatan mereka. sebaiknya engkau menyadari akan hal ini dan mengubah kelakuanmu, karena kelakuanmu sendiri itu yang kelak akan membinasakan engkau."

Kwan Lok menjadi marah sekali walaupun tidak nampak pada wajahnya yang masih tersenyum-senyum.

"Thian-tok. engkau orang tua yang bosan hidup,"

Teriaknya dan begitu kedua tangannya bergerak cepat, beberapa sinar menyambar ke arah kakek gendut itu.

Jarak antara mereka tidak begitu jauh, hanya empat meter dan sambitan pisau terbang itu cepat sekali.

Akan tetapi, Thian-tok tidak akan menjadi datuk barat kalau dia menjadi korban dari serangan gelap macam itu.

Dia menggerakkan kebutan berbulu putih di depan tubuhnya dan runtuhlah lima batang pisau terbang itu, terpukul bulu kebutan.

Akan tetapi Kwan Lok tidak berhenti sampai di situ saja.

Dia telah mencabut sepasang pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

Gerakan pedangnya selain cepat juga mengandung tenaga sinkang yang amat kuat.

Thian-tok menyambut dengan kebutannya.

Bulu-bulu halus kebutan itu kadang dapat menjadi kaku seperti kawat baja dan begitu bertemu pedang, bepercikan bunga api.

Mereka saling serang dengan hebatnya.

Kwan Lok adalah murid dua orang datuk dan hampir seluruh ilmu kedua orang datuk itu telah dipelajarinya sehingga tentu saja dia menjadi seorang pemuda yang amat tangguh.

Akan tetapi lawannya juga seorang Datuk Barat yang telah membuat nama besar, maka tidak mudah bagi Kwan Lok untuk memperoleh kemenangan dalam pertandingan itu.

Mereka saling serang sampai lima puluh jurus lebih.

Ceng Ceng yang sejak tadi nonton menjadi amat khawatir kalau-kalau kakek itu tidak akan mampu mengalahkan pemuda itu.

Kalau kakek itu kalah, bukan hanya kakek itu yang celaka atau mungkin mati, akan tetapi ia sendiri pun akan terancam bahaya yang mengerikan.

setelah berpikir demikian, dengan nekat Ceng Ceng lalu melompat dan menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

"Tranggg...."

Pedang Ceng Ceng tertangkis dan terpental, akan tetapi gadis itu menyerang lagi dengan nekat dan dengan sepenuh tenaganya untuk membantu Thian-tok.

Menghadapi Thian-tok sendiri saja, Kwan Lok belum juga mampu mengalahkannya, apa lagi sekarang kakek itu dibantu oleh Ceng Ceng.

Biarpun tingkat kepandaian gadis ini masih jauh di bawah Kwan Lok, akan tetapi ia telah mewarisi ilmu pedang Kun-lun-pai yang cukup lihai.

Masuknya gadis ini dalam pertempuran itu membuat Kwan Lok terdesak karena Thian-tok mempergunakan kesempatan itu untuk memutar kebutannya dan menggunakan pukulan dorongan tangan kirinya yang dilakukan dengan tubuh setengah berjongkok.

Hawa pukulan yang dahsyat menyambar-nyambar ke arah Kwan Lok, Pemuda itu maklum bahwa kini dirinya yang terancam, maka dia mengelebatkan sepasang pedangnya menyerang dengan hebat.

Menghadapi sambaran pedang itu, Ceng Ceng melompat ke belakang dan Thian-tok menangkis dengan kebutannya.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Kwan Lok untuk melompat jauh dan melarikan diri dengan cepatnya.

Thian-tok tersenyum memandang kepada Ceng Ceng dan berkata.

"Bagus, Nona. Kalau engkau tidak membantu, belum tentu dia akan melarikan diri Bocah itu lihai bukan main."

Ceng Ceng sudah menyimpan pedangnya, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

"Locianpwe telah menyelamatkan saya dari kematian yang mengerikan. sampai mati saya tidak akan dapat membalas budi kebaikan Locianpwe."

"Ha-ha, engkau sendiri sebetulnya sudah memiliki ilmu pedang Kun-lun-pai yang hebat. sayang masih belum sempurna. Kalau engkau sudah menyempurnakan ilmumu, belum tentu pemuda tadi dapat mengganggumu."

Mendengar ini, Ceng Ceng cepat memberi hormat sambil berlutut.

"saya mohon sudilah kiranya Locianpwe membantu saya menyempurnakan ilmu silat saya."

"Hemm, engkau memang berbakat dan aku pun belum mempunyai murid. sukakah engkau menjadi muridku, Nona?"

"Justeru itu yang saya harapkan, Locianpwe."

"Bagus, akan tetapi engkau harus langsung ikut dengan aku meninggalkan ayah ibumu. Apakah engkau tega melakukan hal itu?"

"suhu, teecu sudah tidak mempunyai ayah bunda. Teecu yatim piatu,"

Kata Ceng Ceng yang langsung saja menyebut kakek itu dengan sebutan suhu.

"Ha-ha-ha, ini namanya jodoh. Bagus sekali kalau begitu"

"Akan tetapi, suhu. selama ini teecu ikut dan mondok di rumah Paman Souw Can, Ketua Kim-liong-pang di Pao-ting. Rasanya tidak enak kalau teecu pergi tanpa pamit, akan tetapi untuk pamit pun teecu merasa tidak enak karena Paman dan Bibi tentu akan melarang. Teecu hanya ingin memberitahu bahwa teecu pergi bersama suhu untuk mempelajari ilmu."

"Hemm, jangan khawatir. Malam ini juga kita kesana dan menyampaikan pemberitahuanmu."

"Baik, suhu. saya akan mentaati semua perintah suhu."

"Bagus, engkau murid yang baik. siapa namamu?"

"Nama teecu Liu Ceng, biasa dipanggil Ceng Ceng."

"Nah, Ceng Ceng, kita berangkat ke Pao-ting, memasuki kota itu setelah malam tiba."

Berangkatlah guru dan murid ini, melangkah perlahan dan santai menuju ke kota Pao-ting.

Malam itu ketika Souw Can dan isterinya masih belum tidur, bahkan mendengarkan lagi cerita Hwe Li dan Siong Ek tentang hilangnya Ceng Ceng, tiba-tiba mereka mendengar suara di atas genteng.

"Paman Souw Can dan Bibi, saya mohon diri untuk mengikuti suhu mempelajari ilmu."

"Ceng Ceng...."

Souw can cepat melayang ke atas genteng, diikuti pula oleh Hwe Li dan Siong Ek. Di atas genteng yang diterangi bulan-mereka bertiga melihat Ceng Ceng berdiri di depan seorang kakek gendut pendek.

"Ceng Ceng."

Kata Souw Can.

"Engkau akan pergi ke mana dan dengan siapa?"

Kakek gendut itu yang menjawab sambil tersenyum lebar.

"Souw-pancu, mulai sekarang Ceng Ceng menjadi murid ku, setelah tamat belajar ilmu barulah ia akan kembali ke sini."

"Akan tetapi siapa kah engkau? Aku paman dan juga guru Ceng Ceng, tidak dapat membiarkan engkau membawanya begitu saja"

"Ayah, kakek ini tentu teman pemuda yang menculiknya itu"

"Suhu, serang saja dia, dia tentu bukan orang baik-baik"

Hwe Li dan Siong Ek maju menyerang kakek itu. Akan tetapi, sekali berkelebat kakek gendut itu lenyap pula Lalu terdengar suara kakek itu.

"Souw-pangcu, lebih baik engkau mengajarkan kesopanan kepada puteri dan murid mu."

"Paman, Bibi, selamat ting gal, saya pergi"

Masih terdengar lapat-lapat suara Ceng Ceng lalu sunyi. Souw Ceng menghela napas panjang. Ketika dia melihat Hwe Li dan Siong Ek hendak melakukan pengejaran, dia berkata.

"Tidak perlu dikejar. Kalian tidak akan mampu menyusulnya. Kakek itu seorang yang amat sakti. Kalau Ceng Ceng menjadi muridnya, hal itu malah baik sekali."

Mereka semua lalu turun dan semalam itu mereka membicarakan soal Ceng Ceng yang pergi secara aneh itu.

Gadis itu sama sekali tidak membawa bekal pakaian dan semua barangnya ditinggalkan di kamarnya.

Lee Cin berjalan santai di bukit itu.

Pemandangan alam pada pagi hari itu teramat indahnya.

Matahari bersinar cerah.

Langit biru dan awan-awan putih, berarak seperti sekumpulan domba berbulu putih.

Di bawah kakinya, sawah ladang terbentang luas kehijauan jauh di sebelah kanan tampak sebuah pedusunan dengan genteng-genteng rumahnya berwarna kemerahan.

Kalau atap rumah pedusunan itu sudah memakai genteng semua, hal itu menandakan bahwa dusun itu sudah lumayan keadaannya, sudah cukup kebutuhan hidup penghuninya.

Di atas sana, dekat puncak, tampak sebuah bangunan dengan menara yang berbentuk kerucut, bersusun delapan.

Agaknya itu merupakan sebuah bangunan semacam kuil atau tempat pemujaan, kelihatan begitu menyendiri di lereng atas terkurung pohon-pohon, semua kelihatan demikian tenteram dan penuh damai.

Dia melangkah terus, mendaki sebuah lereng.

Tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh manusia menggeletak di antara semak-semak, Lee Cin menjadi heran dan cepat ia menghampiri Yang menggeletak dengan napas tinggal satu-satu itu adalah seorang pemuda.

Sebetulnya pemuda itu berwajah tampan, akan tetapi wajah itu amat pucat seperti mayat dan tubuh itu pun kurus.

seperti seorang pemuda yang kehabisan banyak darah sehingga di wajah itu sudah hampir tidak darahnya lagi.

Lee cin berjongkok dekat pemuda itu dan memeriksa nadinya.

Begitd lemahnya, tinggal satu-satu.

Agaknya sentuhan jari tangan Lee Cin menggugah pemuda itu siuman dari pingsannya.

Dia mengeluh dan membuka matanya yang sayu, nampak kaget melihat Lee Cin dan mendadak seperti mendapat tenaga baru, dia menudingkan telunjuknya ke muka Lee cin sambil berseru lemah.

"Iblis cantik... kau iblis cantik...."

Lee Cin terkejut, akan tetapi ia memegang lengan orang itu dan bertanya cepat.

"Apa maksudmu? siapa iblis cantik?"

"Kau... kau... iblis cantik, lepaskan aku... lepaskan...."

Dan orang itu terkulai lemas.

Ketika Lee cin memeriksanya lagi, ternyata orang itu sudah tewas -oo0dw0oo-Jilid.

04 LEE CIN bangkit berdiri, alisnya kerut.

Ada yang tidak beres di sini.

Jelas pemuda itu amat ketakutan dan yang ditakutinya adalah iblis cantik.

Siapakah iblis cantik dan di mana ia?

Lee cin memandang ke atas, ke arah lereng di dekat puncak di mana tampak bangunan dengan menara tinggi itu.

Kembali ia memeriksa pemuda itu.

Jelas telah mati dan kematiannya bukan karena luka atau karena sakit, melainkan lemah sekali seperti yang kehabisan darah.

Tapi tidak ada luka di tubuhnya.

Teringat akan sebutan iblis tadi, ia bergidik.

Benarkah ada iblis yang menghisap semua darah orang itu?

Kembali ia bangkit berdiri.

Ia harus menyelidiki hal ini.

Ia maju lagi dengan perlahan, mendaki bukit itu.

Belum jauh ia melangkah, ia melihat tubuh tiga orang pemuda di dalam sebuah jurang yang tidak begitu dalam.

Ia dapat melihat jelas bahwa tiga orang pemuda itu juga sudah mati dan keadaannya sama seperti pemuda tadi.

Apakah tiga orang pemuda itu pun korban iblis cantik?

Tiba-tiba ia mendengar suara orang berkelahi di lereng atas.

Suara mendesingnya senjata dan teriakan suara laki-laki yang parau.

"Kau iblis terkutuk. Aku harus membasmi kamu dan kaki tanganmu"

Kembali terdengar bunyi desing senjata tajam.

Lee cin mencari jalan terobosan agar dapat cepat tiba di tempat itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang menjerit, mengerikan-Jeritan itu terdengar parau seperti suara laki-laki yang bicara dengan marah tadi.

Ia mempercepat larinya, berloncatan dan akhirnya ia tiba di tempat itu.

sudah sepi, akan tetapi ada seorang laki-laki rebah miring di situ.

Tangannya masih memegang sebatang golok besar.

Ia cepat menghampiri Laki-laki itu bertubuh tinggi besar dan gagah, usianya sekitar empat puluh tahun.

Laki-laki itu mengerang lirih, tanda bahwa dia masih hidup, Akan tetapi ketika Lee Cin berjongkok memeriksanya, ia terkejut bukan main melihat baju laki-laki itu robek di bagian dada dan di kulit dadanya tampak cap telapak tangan menghitam Ketika laki-laki itu membuka mata melihat Lee Cin, dia membelalakkan matanya dan menggerakkan goloknya untuk menyerang.

Akan tetapi begitu mengerahkan tenaga, dia mengeluh dan golok itu pun terlepas dari pegangannya.

Dia menuding ke arah Lee Cin dan berseru.

"Terkutuk. kau... kau iblis cantik...."

Dan tiba-tiba saja orang itu terkulai dan tewas.

Lee Cin bangkit berdiri, mengerutkan alisnya memandang kepada pria itu, kemudian ia memandang lagi ke atas, ke arah bangunan yang bermenara itu.

Adakah hubungannya bangunan ini dengan peristiwa aneh yang dihadapinya?

Ada beberapa orang pemuda tampan tewas secara aneh, dan kini ada seorang laki-laki gagah juga tewas setelah bertempur dengan menderita luka bekas pukulan beracun yang hebat.

Pemuda yang seperti mati kehabisan darah itu, sebelum tewas, seperti juga laki-laki ini, memaki ia sebagai iblis Cantik.

Agaknya yang menyebabkan mereka mati adalah seorang penjahat wanita yang cantik dan lihai.

Lee cin menjadi waspada.

Ia seperti dapat merasakan bahwa ia telah memasuki daerah yang penuh bahaya.

Akan tetapi ia tidak takut dan mendaki terus, dengan lambat dan hati-hati.

Tidak sia-sia ia bersikap hati-hati dan waspada.

Tiba-tiba ia mendengar angin berdesir dan sinar berkelebat.

Cepat ia mengelak dan sebatang piauw (senjata rahasia runcing) menyambar lewat, lalu menancap di batang pohon di belakangnya.

Ketika ia menengok memandang, kiranya piauw itu digantungi sehelai kertas.

Didekatinya kertas itu yang ada tulisannya, pendek dan tegas berbunyi.

"Kalau tidak ingin mati, cepat tinggalkan tempat ini"

Lee Cin adalah seorang dara yang pemberani dan keras hati.

Makin ditantang ia akan semakin maju dengan tabah.

Ia tahu bahwa disini terjadi kejahatan dan pelakunya adalah seorang atau banyak orang wanita cantik.

Gertakan mengusirnya itu tidak membuatnya takut, bahkan ia lalu memandang ke sekeliling sambil tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya mendaki lereng itu.

Ia masih bersikap waspada kalau-kalau akan terjadi serangan gelap.

Ia berhenti sebentar, memperkUat ikatan rambutnya dan memutar gantUng pedangnya dipUnggUng agar mudah dicabUt, lalu mencabut sulingnya dan memegangnya dengan tangan kiri ia sudah siap siaga UntUk bertanding kalau datang serangan.

Tiba-tiba terdengar ledakan di depannya dan asap putih mengepul tebal.

Dari dalam kepulan asap tebal itu berloncatan empat orang berpakaian serba hijau dan begitu melompat, mereka sudah mengepung dan menyerangnya dengan senjata pedang mereka Lee Cin yang memang sudah siap.

berkelebat di antara sinar pedang mereka dan tangan kirinya menggerakkan suling untuk membalas serangan empat orang pengeroyok itu.

Ia melihat bahwa mereka berempat adalah empat orang wanita yang mukanya bagian bawah ditutup kain hijau sebagai topeng.

Gerakan mereka memang cukup cepat, akan tetapi bagi Lee Cin mereka itu terlalu lamban sehingga ketika sulingnya digerakkan membalas serangan, empat orang pengeroyok itu terdesak mundur.

Mereka berloncatan ke belakang dan ketika Lee cin hendak mengejar, ia berhenti karena ada ledakan lagi di depannya dan asap putih tebal menghalanginya.

Dari dalam asap itu meluncur belasan batang piauw ke arah tubuhnya Lee Cin meloncat ke atas, tangan kanannya berhasil menangkap sebatang piauw dan dari atas ia melihat bayangan empat orang itu melarikan diri.

Cepat tangan kanannya bergerak menyambitkan piauw yang ditangkapnya.

Terdengar orang menjerit lalu sunyi.

Lee Cin yakin bahwa sambitannya tadi mengenai sasaran, akan tetapi empat orang itu telah pergi, mungkin yang tiga orang melarikan seorang di antara mereka yang terluka oleh piauw mereka sendiri Lee Cin melanjutkan langkahnya mendaki.

Ia maklum bahwa bahaya mengintainya.

Empat orang wanita tadi tentu anak buah saja dan tentu mereka telah melapor sehingga kini pimpinan mereka sudah mempersiapkan penyambutan untuknya.

Akan tetapi di manakah sarang mereka?

Di bangunan itu?

Ia harus menyelidikinya sampai tuntas.

Kini Lee cin tiba di lereng paling atas di mana terdapat bangunan dengan menara tinggi itu.

Dan ia tertegun.

Banyak orang dusun mendaki puncak itu melalui jalan besar yang terawat.

Ia tadi datang dari lain arah sehingga tidak tahu bahwa banyak orang dusun laki-perempuan menuju ke tempat itu.

Tidak kurang dari lima belas orang yang berada di depannya, belum lagi ang sudah masuk dan yang masih berada di belakang.

Ketika Lee Cin ikut dengan rombongan orang itu menuju bangunan, ia tertegun.

Bangunan itu ternyata sebuah kuil para pendeta wanita.

Ada beberapa orang to-kouw (Pendeta Wanita) menyambut orang-orang dusun yang datang hendak bersembahyang dan mengajukan bermacam-macam permohonan.

Agaknya kuil ini laris menarik banyak pengunjung.

Tentu sebuah kuil yang manjur, banyak permintaan terkabul dan yang bertobatpun banyak yang sembuh.

Disebelah dalam banyakpula terdapat to-kouw yang melayani para tamu bersembahyang.

Disebelah kiri terdapat beberapa meja besar yang dijaga beberapa orang tokouw.

Di meja ini diterima sumbangan dari para pengunjung dan Lee Cin melihat bahwa segala macam barang disumbangkan oleh penduduk dusun itu.

Ada hasil sawah ladang, ada ayam sampai babi, bahkan adapula yang memberi potongan emas simpanan mereka.

Melihat banyaknya sumbangan, Lee Cin dapat menduga bahwa dalam waktu tidak terlalu lama kuil itu akan berkembang dan para penghuninya dapat hidup serba kecukupan.

Kuil itu memakai nama Kuil Thian-hok-si (Kuil Berkah Tuhan), akan tetapi tidak seperti kuil agama To lainnya, di situ yang dipuja adalah sebuah patung wanita yang indah dan cantik luar biasa.

Besarnya seperti ukuran manusia dewasa, dan bukan seperti Patung Dewi Kwan im.

Di bawah patung itu terdapat tulis an dengan huruf emas.

"Dewi seribu Berkah"

Dan di depannya terdapat meja sembahyang yang besar, penuh dengan suguhan seperti buah-buahan, akan tetapi ada pula arak dan masakan daging.

Agaknya para pemuja patung itu hanya, namanya saja memakai nama agama To, akan tetapi telah bercampur dengan aliran lain yang menyembah roh-roh halus, penuh dengan ketahyulan dan Keanehan.

semua patung di situ menggambarkan wanita belaka, dan rata-rata patung itu cantik jelita, dengan pakaian mewah.

Bau hio harum memenuhi ruangan depan di mana Lee Cin membaur dengan para pengunjung yang sebagian besar wanita.

Akan tetapi Lee cin seperti merasa betapa dirinya diperhatikan orang walaupun para to-kouw yang berada di situ seolah-olah tidak memperhatikan sama sekali.

Agar tidak mendatangkan kecurigaan, Lee Cin lalu melangkah ke sudut di mana terdapat sebuah meja yang dipergunakan untuk melayani tamu yang hendak melihat peruntungannya atau minta diramal nasibnya.

ini merupakan alasan baik sekali bagi Lee Cin untuk keperluan kunjungannya.

Ia sudah hampir putus asa melihat betapa keadaan kuil ini sama sekali tidak ada yang mencurigakan.

Para to-kouw itu melayani para tamu dengan ramah dan baik dan di antara mereka tidak ada yang kelihatan jahat.

Para to-kouw itu terdiri dari wanita-wanita berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun dan rata-rata mereka memiliki wajah yang halus dan manis walaupun mereka sama sekali tidak memakai riasan muka.

To-kouw yang menjaga meja bagian ramalan itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun.

wajahnya cukup cantik dan ia pun tidak memakai bedak atau gincu, akan tetapi pandang mata Lee Cin yang tajam melihat bahwa alis wanita ini sebagian dicabuti sehingga nampak melengkung indah.

Agaknya to-kouw ini diam-diam suka mempercantik diri "Apakah siocia hendak menanyakan tentang nasib?

Tentang perjodohan, tentang keturunan, atau tentang rejeki?"

To-kouw itu menyambut Lee Cin yang mendekati meja itu.

Pada saat itu, terdapat seorang pemuda tampan yang juga menghampiri meja itu.

Melihat ini, Lee Cin melangkah mundur dan menjawab pertanyaan to-kouw tadi.

"Aku nanti saja."

To-kouw itu memandang kepada pemuda yang menghampiri meja.

Pemuda itu berusia dua puluh tahun lebih, berpakaian seperti seorang pemuda sastrawan yang kaya, wajahnya tampan dengan kulit kemerahan dan sepasang alisnya tebal menghitam, matanya bersinar lembut dan mulutnya tersenyum ramah.

"selamat pagi, Kongcu. Apakah Kongcu hendak bertanya tentang ramalan nasib?Jodoh? Pekerjaan?"

Pemuda itu melirik ke arah Lee Cin, kelihatan malu-malu. Akan tetapi keramahan to-kouw itu membuat dia memberanikan diri berkata dengan bisikan lirih.

"Aku ingin bertanya tentang perjodohan."

"Ah, mudah sekali, Kongcu. Dan jawaban dari kuil ini, atas berkah sang Dewi, selalu cocok dan tepat. silakan Kongcu, mari kulayani Kongcu bersembahyang."

Pemuda itu mengikuti to-kouw ke meja sembahyang dan dia segera menyulut belasan batang hio, lalu bersembahyang, dia diberi sebuah tabung bambu di mana terdapat belasan batang potongan bambu yang ada nomornya.

Dia berlutut, mengocok tabung bambu itu sampai sebatang diantara potongan bambu itu meloncat keluar dan menyerahkannya kepada to-kouw yang mendampinginya.

"Yang ditanyakan tentang jodoh, Kongcu? Nomornya berapa? Ah, nomor tujuh belas. Tunggu sebentar."

To-kouw itu lalu masuk ke dalam untuk mengambilkan ramalan atas batang bambu nomor tujuh belas itu.

sejak tadi Lee Cin melihat saja dengan penuh perhatian.

Sambil pura-pura memandang lukisan yang indah tergantung di dinding, Lee Cin memperhatikan mereka dengan pendengarannya.

"Nah, ini jawabannya, Kongcu. Apakah Kongcu ingin agar saya menerangkan artinya? Biar saya bacakan"

To-kouw itu lalu membaca perlahan namun cukup keras sehingga dapat didengar oleh Lee Cin.

"Jodoh sudah ditakdirkan tak dapat dicari dan dipaksakan kalau ingin mengetahui dengan pasti harus mendapat petunjuk sang Dewi"

"Hemm, apa artinya itu, To-kouw? Di sini tidak ditulis jelas siapa jodoh ku"

Pemuda itu mencela.

"sabarlah, Kongcu. sudah jelas ditulis bahwa untuk mengetahui rahasia jodoh Kongcu, harus mendapat petunjuk sang Dewi"

"Bagaimana caranya agar bisa mendapatkan petunjuk itu?"

"syaratnya hanya satu. Kongcu membersihkan diri, mandi dengan air suci di sini, kemudian Kongcu menunggu di kamar bertapa. Di sini disediakan banyak kamar-kamar untuk keperluan itu dan Kongcu duduk bersamadhi dengan tekun. Kalau sang Dewi berkenan Kongcu tentu akan mendapat tanda melalui mimpi atau bahkan dapat melihat sendiri"

Pemuda itu menjadi girang dan segera menyanggupi.

To-kouw itu membawa dia ke dalam dan menyerahkan kepada to-kouw lain yang akan melayani segala keperluannya mandi keramas dengan air suci.

Lee cin menjadi penasaran.

Benarkah pemuda itu akan mendapat petunjuk Sang Dewi?

Ketahyulan yang tidak masuk akal.

Akan tetapi hal itu sungguh mencurigakan.

ia harus menyelidiki sampai tuntas, siapa tahu di sini letak rahasia iblis Cantik itu.

"siocia hendak menanyakan sesuatu? Jangan ragu, Nona. Nona pasti akan mendapat jawaban yang tepat kalau Nona minta dengan sungguh hati. sang Dewi tidak pernah mengecewakan para pemujanya,"

Kata to-kouw itu kepadanya.

Lee cin melihat ke sekeliling.

Wajah para penduduk dusun yang memuja di situ nampak berseri, tanda bahwa mereka itu puas dan percaya sepenuhnya akan keampuhan dan kesaktian sang Dewi yang mereka puja.

"Aku akan menanyakan sesuatu,"

Kata Lee Cin sambil memandang wajah to-kouw itu dengan tajam. To-kouw itu tersenyum.

"Dapatkah siocia memberitahu apa yang hendak ditanyakan? Jodoh, atau rezeki atau minta obat?"

"Aku hendak menyelidiki suatu rahasia, aku hendak bertanya apakah penyelidikanku akan berhasil."

Lee Cin sengaja mengeluarkan alasan ini sebagai sindiran. Akan tetapi wajah to-kouw itu tidak menunjukkan sesuatu dan ia segera berkata dengan suara biasa.

"Ah, itu mudah saja, siocia. Mari kubantu siocia melakukan sembahyang dan mencabut ciam-si (bambu jawaban)."

Seperti halnya pemuda tadi, Lee cin bersembahyang, berlutut lalu mengocok tabung bambu sampai sepotong bambu meloncat keluar.

setelah melihat nomornya, to-kouw itu lalu masuk ke dalam untuk mengambilkan jawabannya.

Lee Cin menanti dengan hati tegang.

Jawaban apa yang akan diterimanya?

Sekali ini agak lama to-kouw itu keluar.

Lee Cin menanti sambil duduk di atas sebuah bangku, melihat orang-orang dusun yang hilir mudik dan sibuk bersembahyang.

Ruangan itu kini pengap oleh asap dupa yang berbau harum, menimbulkan suasana yang aneh.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul.

To-kouw itu membawa sepotong kertas dan menyerahkannya kepada Lee Cin.

"Kalau masih belum jelas, saya akan menerangkan,"

Katanya.

Lee Cin membaca empat baris kalimat itu penuh perhatian.

Pekerjaan yang dikejar-kejar amatlah sulit dan sukar lebih baik dihentikan daripada mengalami kecelakaan.

Tentu saja Lee Cin sudah mengerti benar akan arti kata-kata itu.

orang hendak mencegah ia melakukan penyelidikan.

Ataukah itu hanya kebetulan saja jawaban yang sudah ditulis lebih dulu?

Akan tetapi ia pura-pura tidak mengerti, dan menyerahkan sepotong kertas itu kepada to-kouw.

"Apa sih artinya ini?"

Tanyanya. To-kouw itu membacanya sebentar lalu menghela napas panjang.

"Ah, Nona. Bahaya besar mengancam keselamatan Nona kalau Nona melanjutkan dengan penyelidikan itu. Menurut jawaban ini, sebaiknya Nona menghentikan penyelidikan itu agar terhindar dari malapetaka."

Lee cin pura-pura berpikir, alisnya berkerut dan akhirnya ia berkata.

"Aku belum puas. Aku harus minta petunjuk langsung dari sang Dewi sendiri mengapa penyelidikanku harus kuhentikan. Aku akan menyewa sebuah kamar di sini dan bersamadhi untuk mendapatkan petunjuk"

"Ah, hal itu tidak bisa, Nona."

"Mengapa tidak bisa? Aku melihat pemuda tadi kau perbolehkan menanti petunjuk langsung dari sang Dewi Apa kau kira aku tidak akan mampu membayar sewa kamarnya dan semua biayanya?"

"Bukan demikian, Nona. Kalau pemuda tadi, jawabannya jelas mengatakan bahwa dia harus mendapat petunjuk dari sang Dewi, maka kami membolehkan dia bermalam di sini. Akan tetapi jawabanmu sudah jelas dan tidak boleh mengganggu sang Dewi. Engkau akan terkena kutukan kalau melanggar, Nona dan kami pun tidak berani."

Lee Cin memang hanya ingin menjajaki.

Kini ia yakin bahwa jawaban pertanyaannya memang sudah diatur dan ia tidak diperbolehkan bermalam di situ juga sudah direncanakan.

Kalau para to-kouw di situ terlibat dalam urusan iblis Cantik, tentu sekarang mereka sudah mengetahui bahwa tadi di lereng ia telah mengusir dan melukai seorang di antara empat perempuan bertopeng yang hendak menghalanginya.

Dan kalau memang mereka ada hubungannya, maka tentu saja ia akan dihalangi dan tidak boleh melanjutkan penyelidikannya, apa lagi bermalam di situ.

"Ah, begitukah?"

Ia berpura-pura takut akan kutukan.

"Kalau begitu, memang sebaiknya aku pergi dan tidak melanjutkan pekerjaanku itu. Terima kasih, To-kouw?"

Ia lalu membayar semua biaya sembahyangan itu, memberi sumbangan yang royal dan keluar dari kuil.

Dia memandang ke arah menara yang menjulang tinggi dan berada di belakang kuil dan menduga-duga apa rahasia yang terkandung di dalam menara tingkat delapan itu Kuil itu cukup luas, dengan bangunan kamar-kamar untuk tamu di belakang, dan agaknya hanya menara itu yang tidak boleh dimasuki para tamu.

Karena merasa bahwa banyak mata mengikuti gerak-geriknya, Lee Cin lalu melangkah pergi menuruni lereng.

Pemuda tampan itu mendapatkan sebuah kamar yang warnanya serba putih.

Dindingnya putih bersih dan dipan yang berada di situ pun bertilam dan berbantal putih.

oleh to-kouw yang melayaninya, setelah ia mandi keramas dengan air yang disebut air suci, air mawar yang berbau harum, dia dipinjami satu stel pakaian yang longgar dan dari kain putih, lalu ia disuruh duduk bersila dan bersiulian (samadhi) di atas pembaringan itu.

Pintu kamarnya ditutup dari luar oleh to-kouw yang melayaninya.

"Kalau sang Dewi berkenan mengunjungimu, engkau harus menurut atas segala petunjuknya, melaksanakan segala perintahnya dan engkau akan diberkati, Kongcu. Akan tetapi kalau engkau membantah, engkau akan dikutuk dan kami tidak mengharapkan hal yang demikian terjadi atas dirimu."

Kata-kata ini masih bergema di telinga pemuda itu.

Dia menanti dengan jantung berdebar tegang.

Dia adalah seorang tahyul seperti para pengunjung kuil lainnya sehingga dia yakin bahwa sang Dewi pasti akan turun menemuinya dan memberi petunjuk, entah berupa impian atau bisikan.

Malam terang bulan itu amat sunyi di dekat puncak bukit itu.

Karena kuil itu dikelilingi hutan dan jauh dari dusun, setelah tidak ada lagi pengunjung, kuil itu sunyi sepi.

juga para to-kouw sudah menutup pintu depan yang tebal, karena mereka akan mengaso dan tidur.

Tengah malam tiba, suasana semakin sepi.

Pemuda yang duduk bersamadhi itu merasakan kesepian ini dan hawa dingin malam terang bulan itu menerobos masuk dari celah-celah atap.

menerpanya dengan lembut, membuat dia agak gemetar kedinginan.

Dalam kamar itu ada penerangannya, sebatang lilin yang bernyala cukup terang.

Tak lama kemudian, api lilin itu bergoyang-goyang seperti tertiup angin.

Padahal, tidak ada angin dalam kamar itu, kemudian tampak sesosok bayangan putih berputar-putar di dalam kamar itu, membuat api lilin semakin bergoyang-goyang.

Pemuda itu memberanikan hatinya yang berdebar ketakutan untuk membuka matanya dan...

dia melihat seorang gadis yang cantik jelita, bermata seperti sepasang bintang, mengenakan pakaian sutera putih yang tipis dan tembus pandang, bergerak seperti menari-nari di dalam kamar itu, membuat api lilin bergoyang dan tercium olehnya bau yang harum sekali.

Tentu saja dia tidak ragu lagi.

Inilah sang Dewi seribu Berkah.

Benar-benar muncul dalam kamarnya.

Bagaimanapun juga , dia menjadi takut dan cepat dia menjatuhkan dirinya berlutut di atas pembaringan itu dan memberi hormat kepada sang Dewi Selubung kain sutera tipis yang lebar itu menyapu wajahnya dan terdengar sang Dewi yang kini berdiri di dekat pembaringan berkata dengan suara halus merdu seperti bernyanyi.

"Kwa Tek Ki, jangan takut. Kalau engkau hendak mengetahui jodoh mu, mari ikut aku"

Pemuda itu semakin yakin bahwa wanita cantik jelita itu pasti sang Dewi.

Demikian saktinya Dewi itu sehingga sudah mengenal namanya.

Dia lupa bahwa tadi sebelum memasuki kamar, dia harus mendaftarkan nama dan alamatnya di buku tamu.

setelah mendengar ucapan sang Dewi, Kwa Tek Ki lalu turun dari pembaringan dan mengikuti dewi itu keluar dari kamarnya, terus berjalan menuju ke belakang.

Ke mana pun dewi itu akan membawanya, dia akan ikut.

Mereka tiba di bawah menara yang terletak di belakang kuil.

Empat orang wanita berpakaian putih yang memakai cadar putih berdiri seperti patung menjaga menara itu.

Ketika sang Dewi lewat, mereka membungkuk memberi hormat.

Sang Dewi menggapai dan pemuda itu mengikutinya memasuki pintu gerbang dan terus mengikuti masuk pintu depan menara itu.

Sementara itu, Lee Cin yang membayangi mereka mendekam di balik semak-semak.

Ia sejak tadi telah datang ke tempat itu dan meloncat naik ke atas kuil untuk melakukan penyelidikan.

Tampaknya tenang-tenang saja tidak ada yang mencurigakan sehingga setelah tengah malam, Lee Cin bermaksud untuk meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi tiba-tiba hidungnya mencium bau harum dan tampak olehnya sesosok bayangan putih berkelebat cepat di bawah kuil.

Bayangan itu datang dari arah menara dan kini memasuki kuil bagian belakang di mana terdapat banyak kamar yang disediakan untuk para tamu.

Tentu saja ia menjadi curiga sekali, akan tetapi sebelum ia dapat melihat dengan jelas, bayangan putih itu telah lenyap, Gerakan bayangan itu menunjukkan bahwa ia seorang yang memiliki gin-kang istimewa.

Dengan hati-hati Lee Cin melayang turun dari atas atap dan berindap menghampiri bagian kamar-kamar itu lalu mengintai dari balik sebatang pohon yang tumbuh di situ.

Tidak lama ia mengintai karena tiba-tiba pintu sebuah kamar terbuka dan muncullah seorang wanita yang cantik sekali, mengenakan jubah sutera putih yang tipis dan rambut kepalanya yang hitam lebat digelung ke atas itu berhiaskan sebuah tiara yang indah.

Wanita itu melangkah dengan ringan dan di belakangnya, seperti seekor domba yang ditarik kepenjagalan, berjalan pemuda tampan yang tadi siang minta ramalan tentang jodohnya.

Mereka berjalan secara wajar, pemuda itu jelas tidak dipaksa dan mereka berdua berjalan tanpa bercakap-cakap.

Lee Cin menjadi heran dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ia lalu membayangi dengan hati-hati karena ia dapat menduga bahwa wanita berpakaian putih itu lihai sekali.

sebelum mengetahui dengan jelas persoalannya, tentu saja ia tidak dapat turun tangan-Ketika mereka menghampiri menara, Lee Cin mendekam di balik semak-semak dan melihat betapa empat orang gadis bercadar dan berpakaian serba putih memberi hormat kepada wanita bertiara yang cantik jelita itu dan wanita itu terus memasuki pintu menara diikuti oleh si pemuda.

Lee cin tidak dapat berbuat sesuatu karena tidak melihat ada kejahatan dilakukan orang di situ.

setelah mereka lenyap di balik pintu yang tertutup kembali, Lee Cin melihat ke sekeliling menara itu.

Menara itu, bagian bawahnya berpintu dua, depan dan belakang dan disetiap pintu terjaga oleh empat orang wanita bercadar berpakaian putih.

"Aku harus dapat memasuki menara itu untuk melihat apa yang berada di dalamnya,"

Pikir Lee Cin.

Tidak adajalan masuk kecuali dua pintu yang terjaga itu.

Kalau ia menerjang masuk.

tentu akan timbul geger dan ia akan menjadi pihak yang bersalah memasuki tempat orang dengan paksa, apalagi kalau ternyata tidak ada kejahatan apa pun terjadi di tempat itu.

Ia harus dapat masuk secara diam-diam dan memeriksa dalam menara.

Kemudian ia menyelinap dan tak lama kemudian tiba di bawah sebatang pohon besar yang tumbuh di dekat menara.

Ia meloncat ke atas pohon dan dari situ ia dapat meloncat ke tingkat dua yang dilingkari beranda yang lebarnya sekitar dua meter.

Dengan ringan ia melompat dari pohon itu ke beranda tingkat dua.

Ia bergerak dengan hati-hati sekali agar jangan sampai menimbulkan suara.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bunyi kerincingan di sebelah dalam menara.

Ia tidak tahu bahwa di lantai beranda tingkat dua itu dipasangi tali kecil dan kalau tersangkut sesuatu tali itu akan menarik bunyi kerincingan yang akan memberitahu penghuni menara bahwa ada orang di luar, di beranda tingkat dua.

Pintu-pintu tingkat dua segera terbuka dan bermunculan delapan orang yang memakai cadar sesuai dengan warna pakaiannya, yang berpakaian putih cadarnya putih, demikian pula yang berpakaian hijau cadarnya hijau.

Mereka mengepung Lee Cin dan menyerangnya.

Karena beranda itu sempit, Lee Cin kurang leluasa dan karena ia ingin mengetahui bagian dalam menara, ia menerobos memasuki pintu yang terbuka sambil memutar pedang Ang-coa-kiam yang telah ia cabut dari punggungnya.

Putaran pedang Ang-coa-kiam membuat pedang para pengeroyoknya terpental dan di lain saat ia telah berada dalam ruangan tingkat dua menara itu.

Ternyata tingkat dua itu dipergunakan sebagai semacam tempat pertemuan karena di situ tidak ada kamar-kamarnya, melainkan sebuah ruangan yang luas, seluas ukuran menara itu.

Dan ia telah mendapatkan dirinya terkepung oleh sedikitnya dua puluh orang wanita yang semuanya bercadar.

Mereka itu mengenakan pakaian yang berbeda.

Ada yang putih, ada yang merah, dan ada yang hijau.

Agaknya warna pakaian dan cadar ini menunjukkan tingkat mereka.

Akan tetapi, mereka tidak lagi menyerangnya, hanya mengepung dan tak lama kemudian, kepungan terbuka dan masuklah seorang wanita yang membuat Lee Cin tertegun dan kagum.

Dengan langkah seperti seekor harimau kelaparan, wanita ini melenggang ke dalam kepungan.

Rambutnya hitam panjang dan mengenakan tiara dari batu permata yang gemertapan.

Pakaiannya jubah panjang sutera putih yang tembus pandang sehingga memperlihatkan bentuk tubuh yang ramping dan dengan lekuk lengkung yang sempurna.

Wajah itu pun cantik sekali, terutama matanya yang seperti bintang dan mulutnya yang setengah terbuka penuh gairah.

sambil melenggang menghampiri, wanita itu pun mengamati wajah Lee Cin dengan penuh perhatian, lalu terdengar suaranya yang merdu dan lantang.

"siapakah engkau dan apa maksudmu datang ke tempat kami seperti seorang pencuri?"

Lee Cin tersenyum mengejek. sedikit pun tidak merasa jerih. Ia memandang ke sekeliling, kepada anak buah yang bercadar lalu bertanya.

"Tempat apakah ini? Di luarnya kuil dan para to-kouw, akan tetapi disebelah dalamnya wanita-wanita berpakaian tipis dan bercadar. Apakah kalian ini pada to-kouw yang siang hari bertugas di kuil tadi?"

"orang lancang, apa urusanmu dengan kami? Di waktu melayani para tamu kami memang para to-kouw di kuil Thian-hok-si ini, akan tetapi setelah tidak melayani tamu dan berada di rumah sendiri, apa pun yang kami lakukan, pakaian apa pun yang kami pakai, tidak ada hubungannya dengan kamu"

"Hemm, pantas saja jawaban ciamsi itu menyuruh aku menghentikan penyelidikan. Kiranya kalian para to-kouw palsu, menyembunyikan sesuatu di menara ini. Apakah hubungan kalian dengan iblis Cantik?"

Ia menatap tajam wanita cantik di depannya itu dan melihat mulut wanita itu tersenyum. Manis sekali senyumnya akan tetapi mengandung sesuatu yang mengerikan.

"Tangkap bocah ini dan sekap ia di lantai tingkat lima"

Wanita itu memberikan perintahnya dan para anak buahnya lalu maju mengeroyok.

Karena perintahnya adalah untuk menangkap.

mereka sudah menyimpan pedang masing-masing dan menggunakan tangan untuk membekuk Lee Cin.

Gadis ini pun tidak ingin membunuh orang tanpa jelas kesalahan mereka, maka iapun menyimpan pedangnya dan melawan dengan tangan kosong.

Ia melompat ke atas dan ketika turun, kaki tangannya menyambar dan empat orang pengeroyok sudah terpelanting Lalu Lee Cin mengamuk.

Ia tidak mengguna kanpukulan beracun, juga tidak menggunakan It-yang-ci, hanya menggunakan kecepatan gerakannya untuk merobohkan para pengeroyok.

Dalam waktu singkat saja, delapan orang pengeroyok sudah berpelantingan.

"Tahan"

Bentak wanita cantik itu. Anak buahnya menghentikan gerakan dan tetap mengepung tempat itu. Wanita itu menghadapi Lee Cin dan kembali mengamati Lee Cin dari kepala sampai ke kaki.

"Hemm, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian, ya? Coba kau lawan aku, ingin kulihat sampai di mana kehebatanmu"

Setelah berkata demikian, tanpa peringatan lebih dulu tangan kanannya menyerang ke arah muka Lee cin. Tamparan ini mendatangkan angin mengiuk.

"Wuuutt"

Begitu Lee cin mengelak dengan miringkan mukanya, tangan kiri wanita itu menyambar ke depan, menotok ke arah dadanya.

Lee cin kembali mengelak dan kini ia pun membalas dengan pukulan yang tidak kalah ampuhnya.

Terjadilah pertandingan yang hebat, pukul memukul, tangkis menangkis.

Lee cin mendapat kenyataan betapa kuatnya sinkang wanita itu, dan juga gerakannya amat cepat.

Namun ia mampu mengimbanginya dan mereka bertanding sampai tiga puluh jurus.

Tiba-tiba wanita itu mengebutkan ujung lengan jubahnya yang tipis dan tampak asap kemerahan mengepul dan menyambar ke muka Lee cin.

Lee cin tahu bahwa asap kemerahan itu mengandung racun, akan tetapi asap itu sudah menyambar ke mukanya dan ia pun roboh pingsan Tentu saja sebetulnya Lee cin tidak pingsan-Dara perkasa ini adalah puteri dan murid Ang-tok Mo-li seorang datuk yang selain tinggi ilmunya, juga ahli dalam soal racun, terutama racun merah.

Maka melihat asap racun kemerahan tadi ia sengaja tidak menyingkir dan pura-pura roboh pingsan-Ia maklum betapa akan sukarnya memasuki menara ini, maka ia berpura-pura pingsan agar dapat disekap dalam tingkat ke lima di mana ia akan dapat menyelidiki keadaan menara ini.

Wanita cantik itu lalu membungkuk dan menanggalkan pedang Ang-coa-kiam dari punggung Lee cin dan berkata kepada anak buahnya.

"Bawa ia ke kamar tahanan tingkat lima. Hati-hati, ia harus duaga ketat. Setelah dikunci, tingkat lima harus selalu diawasi penjaga. Ilmu silatnya tinggi, ia dapat merepotkan kita"

"Kalau ia berbahaya dan merepotkan, kenapa tidak dibunuh saja, Niocu?"

Kata seorang diantara para anak buah yang bercadar merah.

"sayang kalau dibunuh. Ilmu silatnya tinggi, kalau kita dapat membujuknya, ia akan menjadi seorang pembantu yang lebih baik dari kalian semua."

Anak buah gerombolan wanita aneh itu lalu mengangkat tubuh Lee Cin yang lemas naik tangga.

Lee Cin diam-diam memperhatikan.

Tingkat tiga dan empat juga merupakan ruangan tanpa kamar, terisi penuh prabot dan alat sembahyang, alat dapur dan lain-lain.

Agaknya kedua tingkat ini berfungsi sebagai gudang.

setelah tiba di tingkat lima, di situ terdapat kamar-kamar, tidak kurang dari sepuluh kamar sekeliling tingkat itu.

Ia lalu dimasukkan ke dalam salah satu kamar ini.

Kamar ini memiliki pintu besi yang tebal yang bagian atasnya merupakan trali yang kuat.

Empat orang anak buah gerombolan wanita itu merebahkan dirinya di atas lantai kamar, lalu mereka meninggalkannya di dalam kamar itu dan menguncikan pintu kamar dari luar.

Kamar itu mendapat cahaya penerangan dari luar yang menerobos masuk melalui besi di atas pintu.

Lee Cin membuka matanya.

Tidak nampak seorang pun penjaga.

Tentu para penjaga itu menjaga di luar pintu dan merasa aman karena pintunya sudah dikunci dari luar.

Lee Cin memeriksa keadaan kamar.

Terbuat dari tembok tebal di tiga penjuru dan pintu itu memang kokoh sekali.

sayang bahwa Ang-coa-kiamnya dirampas oleh wanita cantik itu.

Kalau tidak.

dengan Ang-coa-kiam tentu ia akan dapat memotong jeruji besi itu dan dapat bebas.

Lee Cin bangkit berdiri dan memeriksa daun pintu.

Daun pintu itu terbuat dari besi tebal.

Bagian atasnya, setinggi dada, merupakan jeruji besi yang sebesar lengan orang, tentu amat sukar untuk dipatahkan, kecuali dengan pedang pusaka yang ampuh.

Induk kunci yang besar dipasang di luar, dekat jeruji besi sehingga kalau ia mengeluarkan tangannya melalui celah-celah jeruji, jari-jarinya dapat mencapai induk kunci.

Akan tetapi apa gunanya.

Induk kunci itu kuat kokoh sekali, tak mungkin dipatahkan begitu saja dan kuncinya tentu dipegang oleh para penjaga.

Ia benar-benar tidak berdaya, Ia harus bertindak cerdik, mencari kesempatan untuk dapat meloloskan diri dan menyelidiki keadaan di kamar-kamar sebelah atau bagian lain dari menara itu.

Akan tetapi percuma saja untuk coba membujuk para penjaga di luar.

Mereka semua itu kelihatan taat sekali kepada pemimpin mereka yang ia duga tentulah si iblis Cantik seperti yang dikatakan oleh pemuda yang hampir mati itu dalam saat terakhirnya dan juga oleh laki-laki gagah pemegang golok yang terluka oleh telapak tangan hitam.

Akan tetapi ia harus memperoleh bukti lebih dulu sebelum bertindak.

Ia sudah berkorban, membiarkan dirinya ditangkap dan pedang pusakanya dirampas.

Kalau hasil pengorbanan itu hanya menjadikan dirinya disekap tak berdaya, maka sia-sialah pengorbanan itu Ia harus mencari akal.

Ia teringat akan ucapan , si iblis cantik yang menghendaki agar ia dapat menjadi pembantunya.

Itu berarti bahwa pemimpin gerombolan itu tidak ingin membunuhnya.

Ia melihat ke atas.

Di langit-langit tengah kamar itu terdapat sebuah paku besar yang tadinya mungkin dipasang untuk menggantung lampu penerangan.

Akan tetapi sekarang penerangannya mendapatkan dari luar, cahaya lampu yang menerobos masuk melalui jeruji.

Ia berpikir sejenak lalu tersenyum.

Tiga orang penjaga di luar kamar tahanan itu saling bercakap dengan suara berbisik-bisik.

"Gadis itu berbahaya sekali."

"Ya, ilmu silatnya tinggi."

"Akan tetapi Niocu tidak menghendaki ia dibunuh."

"Memang kalau ia dapat menjadi pembantu, tentu kedudukannya lebih tinggi dari kita semua."

"Akan tetapi bagaimana dapat membujuknya?"

"Aih, jangan khawatir. Niocu tentu akan dapat membuatkan obat yang membikin ia menjadi seekor harimau yang jinak dan penurut."

"Benar, buktinya para pemuda itu semua menjadi jinak penurut dan melakukan apa saja yang dikehendaki Niocu atau kita, hi-hik,"

"Akan tetapi pemuda baju biru itu sungguh keras hati, tidak pernah mau tunduk."

"Dia sudah dirantai di ruangan bawah, kalau sampai besok tidak mau menyerah, mungkin akan disiksa sampai mati. sayang, pemuda itu seperti seekor kuda yang jantan dan kuat, kalau dibunuh begitu saja."

Tiba-tiba terdengar suara seperti orang mendengkur dari kamar tahanan-Tiga orang wanita itu terkejut, menengok lalu menghampiri pintu tahanan di mana Lee Cin ditahan.

Ketika mereka menjenguk ke dalam mereka terkejut bukan main melihat gadis yang ditahan itu telah menggantung diri dengan sabuk suteranya yang dikaitkan pada paku besar di langit-langit.

"Celaka... ia membunuh diri"

"Cepat buka pintunya, ia belum mati"

"Kalau ia mati, kita akan dihukum"

Mereka lalu membuka daun pintu itu dan cepat menghampiri tengah kamar di mana Lee Cin menggantung diri, mengeluarkan suara seperti orang tercekik lehernya.

Tiga orang penjaga itu lalu menolongnya, seorang naik dengan bantuan temannya dan melepaskan ikatan sabuk sutera itu, lalu beramai menurunkan tubuh Lee CM ke atas lantai.

Akan tetapi pada saat itu, Lee Cin bergerak cepat sekali dan tiga orang itu roboh terkulai, tertotok dan membuat mereka tidak mampu bergerak atau bersuara lagi.

Totokan it-yang-ci itu memang ampuh sekali.

Dalam waktu sejam wanita-wanita itu akan tidak berdaya sama sekali.

Lee Cin cepat keluar dari pintu, memasang lagi induk kunci dan menjenguk ke kamar-kamar yang lain-Hanya ada tiga kamar yang terisi dan isinya sama, yaitu seorang pemuda yang tampak loyo dan lemas, berwajah tampan akan tetapi pucat sekali.

Lee Cin memakai induk kunci ketiga kamar itu sehingga para pemuda itu akan dapat lolos dari kamar tahanan kalau dikehendaki, lalu ia menuruni tangga menuju ke tingkat bawah.

Ia ingin membebaskan pemuda yang keras hati dan tidak sudi takluk kepada si iblis Cantik.

Sampai di lantai bawah, ia tidak menemui halangan, dan untung ia membawa serangkai anak kunci yang ternyata dapat digunakan untuk membuka semua kamar tahanan di menara itu.

Berbeda dengan kamar di mana ia disekap tadi, kamar tingkat bawah di mana pemuda itu disekap dipasangi lampu yang digantung di langit-langit.

ia menjenguk ke dalam kamar itu, satu-satunya kamar di lantai bawah yang ada orangnya dan melihat pemuda dengan pakaian yang compang-camping terikat dengan rantai baja dan kedua tangan itu direntangkan dan dibelenggu pada besi yang ditanam ditembok.

Pemuda itu kelihatan lemas dan kepalanya ditundukkan-pada kulit badannya tampak balur-balur merah, tanda bahwa dia telah disiksa dengan lecutan-lecutan.

Tubuh pemuda itu memang kokoh kuat, akan tetapi mukanya tidak dapat dilihat jelas oleh Lee Cin karena dia menunduk sehingga kelihatan gelap, tidak menerima cahaya dari lampu di atas kepalanya.

Lee Cin membuka induk kunci dan pintu itu dibukanya.

Ia cepat menghampiri pemuda itu untuk melihat keadaan orang.

pada saat itu, si Pemuda mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara penuh geram.

"iblis Cantik, jangan harap aku akan tunduk kepadamu dan menuruti nafsu iblismu. Perempuan tak bermalu, kalau hendak bunuh, bunuhlah karena kalau aku sampai terbebas dari sini, aku pasti akan menghancurkan kepalamu yang isinya kotor dan najis itu"

Wajah itu tampan dan karena ia sedang marah, matanya mencorong dan hidungnya kembang kempis sehingga tampak bengis. Melihat wajah itu Lee Cin terbelalak. kemudian bertanya lirih.

"suheng... Thio Hui san-...?"

Pemuda itu membelalakkan kedua matanya yang agak bengkak bekas pukulan dan wajahnya berseri ketika dia mengenal Lee cin-"Aih, engkau sumoi Lee cin. Bagus, engkau datang menolongku"

"Tenang, suheng. Akan kucoba membebaskanmu dari borgol-borgol itu"

Lee Cin meraba-raba kedua borgol yang mengikat, kedua pergelangan tangan yang terpentang itu.

Borgol yang kokoh sehingga akan sukar dipatahkan.

Kembali Lee Cin merasa menyesal mengapa.

ia kehilangan pedangnya.

Kalau ada Ang-coa-kiam ditangannya, tidak akan sukar mematahkan belenggu itu.

"Akan kucoba untuk mencabut saja borgol ini dari tembok"

Kata Lee Cin yang segera menangkap borgol yang membelenggu pergelangan tangan kanan pemuda itu.

"sekarang, kerahkan seluruh tenagamu, suheng, akan kubantu. Hayo, tarik... satu, dua, tiga...."

Mereka mengerahkan tenaga dan "broll"

Rantai itu terlepas dari dinding.

"Kita cabut yang sebelah lagi,"

Kata Lee Cin dan mereka berdua pun berhasil menjebolkan rantai kedua dari tembok.

Kini bebaslah pemuda itu walau rantai masih bergantung di kedua pergelangan tangannya.

Mereka lalu duduk bersila untuk menghimpun tenaga sakti.

"suheng, bagaimana engkau dapat berada di sini?"

Tanya Lee Cin sambil memandang wajah yang babak belur itu.

Pemuda itu adalah Thio Hui san, berusia dua puluh lima tahun, bertubuh jangkung tegap dan wajahnya tampan gagah.

Dia adalah seorang pendekar muda dari siauw-lim-pai, murid In Kong Taisu.

Bagaimana Lee Cin menyebut murid siauw-lim-pai ini sebagai suheng (kakak seperguruan).

sebetulnya agak berlebihan karena Lee Cin hanya menerima pelajaran It-yang-ci saja dari In Kong Taisu.

Biarpun hanya menerima ilmu It-yang-ci, namun Lee Cin menganggap In Kong Taisu sebagai gurunya, maka ia menyebut Thio Hui san sebagai suhengnya.

Hui San lalu menceritakan dengan singkat.

Pemuda murid siauw-lim-pai ini secara kebetulan saja dalam perantauannya lewat di bukit itu dan dia mendengar dari sebuah dusun bahwa sudah ada tiga orang pemuda dusun itu lenyap dan tidak pernah pulang kembali setelah berkunjung ke kuil Thian-hok-si di dekat puncak bukit.

Dia menjadi penasaran dan segera melakukan penyelidikan ke kuil itu.

seperti juga dengan Lee cin, dia tertarik dan merasa curiga terhadap menara di belakang kuil.

Malamnya dia lalu melakukan penyelidikan ke kuil itu.

"Aku berhasil masuk ke menara ini dan melihat lima orang pemuda disekap di lantai empat. Ketika aku sedang mencari akal untuk membebaskan mereka, tiba-tiba terdengar bunyi kerincingan dan aku sudah dikepung oleh banyak wanita bercadar. Kami segera berkelahi dan aku tentu dapat merobohkan mereka semua kalau tidak muncul seorang wanita cantik seperti iblis."

"si Iblis Cantik"

Kata Lee cin-"Benar, ia patut disebut Iblis Cantik.

Wajahnya memang cantik akan tetapi wataknya seperti iblis.

Ialah yang menculik dan menyekap para pemuda itu.

Pemuda yang menurut kemauannya akhirnya akan mati juga karena setiap hari diloloh obat perangsang yang amat kuat dan harus melayani banyak wanita.

Pemuda yang menolak akan disiksa, ada juga dipaksa.

Iblis itu ternyata lihai sekali.

Ilmu silatnya mungkin tidak terlalu lihai dan aku dapat menandinginya, akan tetapi ia memiliki bahan peledak yang beracun.

Ia meledakkan sesuatu yang menimbulkan asap merah dan aku tidak ingat apa-apa lagi."

"Hemm, obat pembius merah,"

Kata Lee Cin-"Ketika sadar, aku sudah berada di sebuah kamar, terbelenggu dan iblis itu merayuku.

Akan tetapi aku tidak sudi dan memakinya.

Berulang kali mereka memaksa aku minum obat perangsang, akan tetapi betapapun tersiksanya perasaanku, aku tetap menolaknya.

Akhirnya aku dibawa ke sini dan disiksa dengan kejam oleh Iblis Betina itu."

"Jahanam busuk Kita bunuh iblis itu, suheng, kita basmi gerombolan sesat ini dan bakar kuil dan menaranya"

Lee Cin berseru marah sambil mengepal kedua tangannya.

Tiba-tiba terdengar suara tawa merdu disusul ledakan dan tempat itu sudah penuh dengan asap putih yang tebal sehingga Hui san dan Lee Cin tidak dapat melihat apa-apa.

Mereka hanya bersiap-siap dan legalah hati Hui san ketika ternyata asap itu tidak mengandung bius.

Mereka berdua sudah memasang kuda-kuda dan siap menerjang.

Ketika asap memudar dan menghilang daun pintu kamar itu sudah tertutup dan terkunci lagi, sedangkan belasan orang anak buah gerombolan dipimpin sendiri oleh si Iblis Cantik yang tertawa-tawa.

"Ha-ha-ha-hi-hik, kalian kira akan dapat lolos dari sini? jangan mimpi orang muda keras kepala, engkau tetap menolak ke hendak kami, sekarang engkau dan gadis ini akan kami jadikan tontonan setelah puas kami menonton, baru kalian akan kami bunuh. Hi-hi-hik"

Wanita itu lalu pergi dari situ, akan tetapi masih ada wajah para penjaga tampak dari dalam dan kamar tahanan itu terjaga dari luar.

"Apa yang ia maksudkan?"

Bisik Lee Cin dengan jantung berdebar karena ia merasakan ancaman mengerikan dalam ucapan Iblis Cantik tadi.

"Aku juga tidak tahu apa maksudnya, sumoi. Akan tetapi kita boleh bersiap-siap dan sekali ada kesempatan, kalau pintu itu terbuka seperti tadi kita harus menerjang keluar. sukur kalau kita dapat menangkap Iblis Cantik itu sehingga kita dapat menjadikannya sebagai sandera."

Lee Cin mengangguk.

"Kita tunggu sambil menghimcun tenaga, suheng."

Keduanya lalu duduk bersila kembali dan bermeditasi.

Malam itu tidak terjadi sesuatu atas diri Lee Cin dan l-Hui san-Mereka hanya mendengar suara musik suling dan yangkim mengiringkan nyanyian merdu dan kadang terdengar tawa wanita yang genit.

Mereka dapat menduga bahwa suara yang datang dari atas itu tentu suara Iblis Cantik sedang berpesta pora dan bersenang-senang.

Diam-diam mereka bergidik membayangkan betapa banyak pemuda-pemuda yang menjadi korban mereka.

Lee Cin teringat akan tiga orang pemuda dijurang.

Mereka semua dalam keadaan loyo dan pucat.

Biarpun tidak mengerti jelas, ia dapat menduga-duga apa yang telah terjadi dengan pemuda-pemuda itu.

Iblis Betina Cantik itu tiada ubahnya seperti seekor binatang buas penghisap darah.

suara pesta itu terdengar sampai pagi.

Pada keesokan harinya, tampak muka dua orang anak buah gerombolan di luar jeruji, memandang ke dalam.

Melihat Lee Cin dan Hui san bersila dan sudah membuka mata, seorang dari mereka berseru.

"Kami membawakan makanan dan minuman untuk kalian. Jangan bergerak, atau kami tidak akan memberi makanan dan minuman ini agar kalian mati kelaparan."

Seorang dari mereka membuka kunci pintu, lalu membukanya sedikitsaja, hanya cukup untuk memasukkan baki tempat makanan dan minuman, meletakkan di dalam kamar lalu menutupkan dan mengunci lagi daun pintunya dengan cepat seperti takut-takut kalau kedua orang itu menerjang pintu.

Setelah mereka pergi, Lee Cin menuju ke pintu dan mengambil baki itu lalu meletakkannya di depan Hui san-"sumoi, untuk apa makan hidangan mereka?

Aku tidak sudi"

"Aih, jangan begitu, suheng. Kalau kita tidak makan, bagaimana kita dapat mengharapkan lolos dari sini? Kita akan kelaparan dan tenaga kita akan menjadi lemah. Jangan bodoh, suheng. Mari makan dan minumlah."

"Hemm, aku tidak percaya kepada mereka yang jahat. Bagaimana kalau makanan dan minuman ini dicampuri racun?"

"Jangan khawatir, aku sudah hafal akan racun-racun-Aku akan mencicipi dulu apakah beracun atau tidak."

Lee Cin lalu mencicipi setiap masakan dan minuman, mengecap-kecapnya dengan lidahnya. Ia menggeleng kepala dan berkata.

"Tidak mengandung sedikitpun racun yang dapat membunuh kita."

Hui san berpikir bahwa alasan Lee Cin benar.

Perutnya sudah lapar karena selama dua hari dua malam dia tidak pernah mau menyentuh makanan yang dihidangkan mereka, dan tubuhnya sudah mulai lemas.

Mereka lalu makan minum sampai kenyang dan keduanya merasa segar dan kuat sekali.

Tiba-tiba terdengar suara tawa merdu.

"Ha-ha-hi-hi-hik Bagus sekali, kalian telah makan minum sepuasnya"

Di balik jeruji muncullah wajah si Iblis Cantik. Ketika tertawa-tawa itu, tampak giginya yang putih bersih dan berderet rapi, membuat tawanya tampak manis sekali.

"setelah itu, kalian boleh berpengantinan sepuasnya dan kami pun akan mendapat tontonan yang amat memuaskan, hi-hi-hik"

"Perempuan jalang"

Hui san menjadi marah dan melempar-lemparkan mangkuk dan cawan, dan sumpitnya ke arah jeruji, akan tetapi wajah cantik itu sudah lenyap dari sana.

Tiba-tiba Hui san memegang kepalanya yang terasa panas.

Dia pernah dipaksa minum sesuatu dan dalam keadaan diborgol kaki tangannya, dia tidak dapat menghindar dan setelah minum air yang tidak mempunyai rasa sesuatu itu, dia pun merasa kepalanya panas dan pening, kemudian dia tersiksa oleh rangsangan yang amat hebat.

Namun Huisan adalah murid seorang ketua siauw-lim-pai yang bukan hanya mempelajari ilmu silat saja, melainkan juga keagamaan dan ilmu batin.

Batinnya menjadi kuat dan dia mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk melawan dorongan rangsangan itu.

Kini, merasa kepalanya panas, dia terkejut dan tahulah dia bahwa dalam makanan dan minuman itu terkandung racun atau obat yang mendatangkan rangsangan dalam tubuhnya.

selama beberapa hari ini, dia selalu digoda Iblis Cantik untuk melayani nafsu rendahnya.

Akan tetapi dia dapat bertahan dan menolak dengan keras sehingga akhirnya Iblis Cantik menjadi marah dan dia diborgol dalam kamar itu dan disiksa.

Kini, kembali dia dipengaruhi racun perangsang itu, dan karena Lee Cin berada di situ, dia pun tahu betapa bahaya mengancamnya.

"Celaka, sumoi... Makanan dan minuman itu mengandung racun perangsang jangan melihat ke sini, kita tidak harus saling melihat"

Setelah berkata demikian, Hui san duduk bersila membelakangi Lee Cin dan mengerahkan sin-kang dan kekuatan batinnya untuk menolak rangsangan yang mencengkeram perasaannya itu.

Lee Cin mengerutkan alisnya.

Memang ada semacam racun atau obat yang menimbulkan rangsangan gairah dan obat semacam ini tidak ada rasanya.

Karena itu ketika mencium baunya dan menjilatnya, ia tidak merasakan apa-apa.

Ia sendiri tidak terpengaruh oleh obat macam itu, karena di tubuhnya sudah terdapat kekebalan terhadap segala racun.

Ketika ia masih kecil, gurunya atau ibunya sendiri sudah memasukkan hawa beracun dalam tubuhnya yang dapat menolak pengaruh racun atau obat apapun juga.

"Karena selalu menolak keinginan nista dari Iblis cantik walaupun aku keracunan, maka akhirnya ia menyekap aku di sini dan menyiksaku. Hati-hati, sumoi dan duduklah bersila untuk melawan bekerjanya racun ini."

HHui san berkata tanpa menoleh, suaranya terdengar agak gemetar.

Hatinya mulai diserang perasaan yang membuatnya panas dingin-serangan itu kini jauh lebih berbahaya baginya daripada yang lalu.

Kalau tadinya ia menahan gelora rangsangan itu dengan tabah dan menolak bujuk rayu Iblis Cantik karena memang dia merasa tidak suka wanita jahat itu, kini dia terangsang dalam keadaan berada sekamar dengan Lee Cin Padahal, dia mencinta Lee Cin-Dahulu, ketika Lee Cin dilatih It-yang-ci oleh In Kong Taisu, gurunya, dia pernah menyatakan cintanya kepada Lee Cin (baca Kisah Gelang Kemala).Biarpun Lee Cin menolaknya dengan halus karena gadis itu belum memikirkan tentang cinta, namun cintanya tidak pernah lenyup, Kini, gadis yang dicintanya itu berada dekat dengannya, maka dorongan gairah itu menjadi berlipat ganda kuatnya Lee Cin yang sudah mempelajari banyak pengetahuan tentang racun dari ibunya, dapat memaklumi keadaan Hui san.

Ia tidak mendekati pemuda itu dan dari sudut kamar itu ia berkata lembut.

"Pertahankan, suheng. Ingat, engkau adalah murid suhu In Kong Taisu yang tentu kuat untuk menahan diri dari serangan nafsu apa pun. Aku akan berusaha untuk dapat lolos dari tempat ini."

Hui san diam saja, dan tidak menoleh.

Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar suara suling melengking-lengking.

Dia tahu bahwa Lee Cin meniup suling, akan tetapi tidak mengerti apa maksud gadis itu bermain suling dalam keadaan seperti itu Akan tetapi tidak lama kemudian, seekor ular belang hitam putih merayap masuk ke dalam kamar tahanan itu.

Ular ini kecil saja, sebesar ibu jari kaki.

Binatang itu merayap masuk melalui celah di bawah pintu mendekati Lee Cin dan mengangkat kepalanya dan digoyang-goyangkan-seolah menari mengikuti irama suling yang ditiut gadis itu.

Lee Cin meniup suling dengan lembut, memegangi suling dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya cepat menangkap ular itu Jari-jari tangannya menjepit leher ular itu sehingga ular itu tidak mampu menggerakkan kepalanya lagi.

Agaknya ia menjadi jinak di tangan Lee Cin.

Lee Cin menghentikan tiupan sulingnya, mengambil sebuah cawan yang tadi dipakainya minum, kemudian memaksa ular itu membuka mulutnya dan menekan taringnya pada bibir cawan sehingga cairan hitam keluar dari mulut ular itu dan menetes ke dalam cawan.

Itulah racun ular belang hitam-putih yang memang hendak diambil oleh Lee Cin.

setelah merasa cukup, Lee Cin melepasnya.

Ular itu, seperti seekor anjing yang jinak.

merayap ke sudut itu dan melingkar di sana, tak bergerak lagi akan tetapi matanya tetap ditujukan ke arah Lee cin seperti menanti perintah selanjutnya.

Lee Cin menuang air teh dari poci yang tadi dihidangkan sampai setengah cawan dan mencicipi dengan menjilat jarinya.

setelah merasa bahwa ukuran minuman itu cukup ia lalu membawa cawan itu kepada Hui san-"sumoi, tolong...

jangan mendekat...."

Kata Hui san yang dapat mendengar gerakan Lee Cin mendekatinya.

"suheng, aku telah membuatkan obat penawarnya. Minumlah cawan ini sampai habis isinya."

Ia menyodorkan cawan itu dari belakang tubuh Hui san-Pemuda itu menerima cawan itu dan tanpa ragu sedikitpun segera minum isinya sampai habis.

Air teh itu terasa lebih pahit dari biasanya.

setelah mengembalikan cawan, dia memejamkan mata, merasakan apa yang terjadi dalam perutnya.

Perut itu mengeluarkan suara berkeruyuk seperti kelaparan dan dalam perutnya ada gerakan hawa yang meronta-ronta.

Hui san menahan rasa muak itu dan bernapas dengan panjang, menghimpun hawa murni.

Perlahan-lahan rasa muak itu menghilang dan lenyap juga pening di kepalanya dan dengan girang dia mendapat kenyataan betapa rangsangan gelora nafsu itu juga sudah lenyap sama sekali Dengan hati lega dan girang dia membalikkan tubuhnya menghadapi Lee Cin yang memandang kepadanya dengan penuh perhatian.

Melihat wajah pemuda itu yang tadinya kemerahan seperti orang kepanasan kini sudah normal kembali, ia bertanya.

"Bagaimana sekarang suheng? sudah membaikkah?"

"Ah, terima kasih, sumoi. sudah sembuh sama sekali."

Dan ia terkejut melihat ular kecil melingkar di sudut ruangan itu.

"Racun ular itu penawar segala macam racun, Suheng. Yang kau minum tadi adalah racun ular belang hitam-putih dan air teh."

Mendengar ini, Hui san mengangguk-angguk.

"Pantas engkau tidak sampai keracunan biarpun juga makan minum seperti aku, sumoi. Kiranya pengetahuanmu tentang racun amat mendalam."

"Akan tetapi, kalau ular belang hitam putih itu menggigit orang, racunnya akan segera mendatangkan kematian-Biar kuusahakan pembebasan kita, suheng. Engkau pura-pura menggeletak pingsan, dan aku yang akan menarik perhatian penjaga."

Biarpun belum mengetahui dengan jelas, Hui san dapat menduga bahwa gadis cerdik itu akan bersandiwara agar pintunya dibuka, maka dia mengangguk lalu merebahkan diri miring menghadap dinding membelakangi pintu.

"Jangan miring, biar telentang saja, suheng dan kau kerahkan tenaga dalam untuk membuat wajahmu tampak pucat..."

Hui sian menurut dan dia menelentangkan tubuhnya dan mengerahkan sinkang untuk menahan jalan darah yang menuju ke mukanya sehingga mukanya itu tampak pucat sekali.

"suheng.... aduh, tolong. Tolonggg...."

Lee Cin menangis dan menjerit-jerit setelah ia tadi menyembunyikan ular belang hitam putih di bawah bajunya. Dua kepala segera tampak di luar jeruji.

"Ada apa?"

Tanya seorang di antara mereka ketika melihat Lee Cin menangis dan mengguncang-guncang tubuh Hui san.

"suheng.... Aduh.... perutku. perutku sakit...."

Dan Lee Cin juga terkulai dan roboh menimpa tubuh Hui san, lalu berkelojotan seperti orang sekarat.

Melihat ini, dua orang penjaga itu menjadi khawatir.

Kalau dua orang tawanan itu mati, tentu mereka akan dipersalahkan oleh Niocu yang berwatak keras.

Melihat wajah pemuda itu pucat dan wajah Lee Cin juga pucat dan kerut merut menahan nyeri yang hebat, dua orang penjaga itu terkecoh.

Mereka tahu bahwa makanan dan minuman untuk dua orang ini diberi racun perangsang dan mereka mengira bahwa mereka agaknya tidak kuat menahan bekerjanya racun itu sehingga menderita nyeri hebat.

Karena gugup dan khawatir kalau-kalau dua orang tawanan itu mati, dua orang penjaga bergegas membuka pintu kamar tahanan dengan anak kunci yang mereka bawa, lalu menghampiri Hui San yang kelihatan pingsan dan Lee Cin yang mengaduh-aduh dan menggeliat-geliat.

Akan tetapi baru saja mereka menekuk lutut hendak memeriksa, dengan kecepatan kilat Lee Cin dan Hui san menyerang mereka dengan totokan It-yang-ci.

Tanpa dapat mengeluarkan suara kedua orang penjaga itu roboh tak sadarkan diri "Kita cepat keluar dari sini,"

Bisik Hui san-"Nanti dulu, kalau penjagaan amat ketat, akan sukarlah bagi kita untuk dapat meloloskan diri dari sini. sebaiknya kupanggil dulu para pembantuku."

"Pembantu?"

Lee Cin mengeluarkan ular belang hitam putih dari balik jubahnya dan berkata.

"Pembantu-pembantu seperti ini"

Lalu ia mengeluarkan sulingnya dan meniupnya.

Terdengar bunyi melengking lengking yang lembut namun nada suara tinggi melengking-lengking itu dapat menembus sampai ke mana-mana.

Tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan dari luar pintu kamar tahanan yang sudah terbuka itu.

"Ular, ular...."

"Wah, ular banyak sekali. Haiiih, menggelikan dan mengerikan"

"Semua memasuki menara. Cepat usir"

"Hiiih, akujijik...."

Suara gaduh itu diselingi suara mendesis-desis dan segera tercium bau amis dan aneh.

Banyak sekali ular besar kecil agaknya terpanggil oleh tiupan suling Lee Cin dan puluhan, bahkan ratusan ekor ular itu menerobos pintu memasuki lantai dasar menara itu, lalu masuk ke dalam kamar di mana Lee Cin meniup sulingnya.

Melihat sedemikian banyaknya ular besar kecil, Hui san sendiri merasa ngeri.

Akan tetapi Lee Cin dengan tenang saja meniup sulingnya dan semua ular yang sudah memenuhi ruangan itu mengangkat kepala seperti menari-nari Tiba-tiba dari luar mendatangi banyak wanita bercadar mengiringkan sang Iblis Cantik Iblis Cantik itu nampak marah sekali.

"Pintu kamar tahanan itu sudah terbuka. Jahanam, siapa yang berani lancang membukanya?"

Akan tetapi ia segera melihat dua orang anak buahnya menggeletak di lantai kamar itu dalam keadaan pingsan, dan ia pun melihat banyak sekali ular di kamar itu, mengangkat kepala seperti menari-nari mengikuti irama lagu dari suling yang ditiup Lee Cin.

"Kalian semua maju. Bunuh dua orang itu"

Bentak Iblis Cantik yang menganggap dua orang itu berbahaya karena telah mengetahui rahasianya.

Akan tetapi semua anak buahnya adalah wanita, dan tidak anehlah kalau mereka merasa ngeri dan jijik melihat ular demikian banyaknya, ada yang besar ada yang kecil beraneka warna dan menggeliat-geliat menyeramkan.

Iblis Cantik sendiri, biarpun ia seorang yang pemberani dan berhati kejam, tidak takut terhadap siapa pun, merasa ngeri melihat Ular demikian banyaknya.

Lee Cin melihat bahwa pedang Ang-coa-kiamnya berada di tangan wanita cantik itu, maka hatinya menjadi panas.

-oo0dw0oo-Jilid.

"MARI kita keluar dari sini, Suheng,"

Katanya, menghentikan tiupan sulingnya.

Kemudlan la meniup lagi sulingnya, sekali ini dengan lagu yang keras dan terdengar seperti penuh kemarahan-Ular-ular itu segera membalik dan seperti hendak menyerang kepada semua wanita yang berada di luar kamar itu.

Melihat ini, Iblis cantik sendiri yang berada paling depan, segera bergerak mundur dengan muka berubah pucat.

Hui San dan Lee Cin melangkah keluar dan berada di belakang barisan ular seolah menggiring mereka yang mengejar para wanita bercadar dan pemimpin mereka.

"Pergunakan api"

Tiba-tiba iblis cantik berseru kepada anak buahnya.

Beberapa orang anak buahnya menyalakan obor dan menyerang ular-ular itu.

Tentu saja ular-ular itu menjadi kalang-kabut, saling terjang dan ketakutan melihat api yang panas.

Melihat ini, Lee Cin memberi isyarat kepada Hui San dan mereka menerjang maju.

Lee Cin menggunakan sulingnya dan Hui San menggunakan kaki tangannya untuk mengamuk.

Amukan kedua orang membuat para wanita bercadar itu terdesak mundur dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lee Cin dan Hui San untuk melompat keluar.

"iblis busuk. Mari kita bertanding untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih kuat"

Teriak Lee Cin dan ia pun menerjang dengan hebatnya kepada iblis cantik yang segera memutar pedang rampasannya untuk menyambut terjangan Lee Cin itu.

Lee Cin menggunakan sulingnya untuk menangkis dan balas menyerang.

Biarpun hanya sebatang suling, akan tetapi suling di tangan Lee Cin adalah suling terbuat dari baja dan memang dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh.

Dua orang wanita yang sama cantiknya itu segera terlibat dalam perkelahian yang seru.

Ular-ular yang ketakutan menghadapi api dan yang kini tidak terkendali oleh suara suling, melarikan diri cerai berai ke segala penjuru.

Sementara itu, Hui san mengamuk dengan kaki tangannya, dikeroyok belasan orang wanita bercadar.

Pendekar Siauw-lim-pai ini biarpun bertangan koSong, membuat para pengeroyoknya kocar-kacir dan mereka yang terkena tamparan atau tendangannya berpelantingan.

Perkelahian itu terjadi di luar menara dan karena matahari telah naik cukup tinggi dan kuil itu mulai dipenuhi pengunjung, maka tentu saja suara perkelahian itu terdengar sampai ke kuil.

Para pengunjung kuil sejak tadi terheran-heran mengapa tidak ada seorang to-kouw yang menyambut dan melayani mereka.

Mereka tadinya hanya menunggu munculnya para to-kouw.

Kemudian mereka mendengar suara ribut-ribut dari belakang kuil, maka mereka lalu memasuki kuil dan keluar daripintu belakang.

Mereka terheran-heran ketika melihat seorang gadis dan seorang pemuda dikeroyok banyak wanita bercadar.

Yang amat menarik hati mereka adalah ketika mereka melihat iblis Cantik.

Wanita itu mirip sekali dengan Dewi seribu Berkah yang mereka puja-puja di kuil itu Karena tidak tahu urusannya dan tidak mengenal mereka yang berkelahi, orang-orang itu tidak berani mencampuri, hanya menonton dari jarak jauh.

Hui San mengamuk dan para pengeroyoknya yang belasan orang jumlahnya itu kocar-kacir.

Biarpun mereka semua memegang pedang, tidak pernah sekalipun tubuh pemuda itu terkena senjata para pengeroyoknya, bahkan beberapa orang kehilangan pedang yang terlempar karena tamparan atau tendangan kaki pemuda itu.

Para pengeroyok mulai menjadi jerih melihat sepak terjang Hui san dan mereka mulai mundur menjauhkan diri.

Sementara itu, iblis Cantik yang melawan Lee Cin juga sudah kewalahan menghadapi permainan suling di tangan gadis itu.

Lee Cin memainkan Ang-coa Kiam-sut dengan sulingnya dan tangan kirinya kadang menyelingi sambaran sulingnya dengan ilmu totok It-yang-ci yang ampuh.

iblis Cantik itu hanya mampu menangkis dan mengelak saja, main mundur dandidesak terus oleh Lee Cin-Pada suatu saat, tangan kiri Lee Cin berhasil menotok mengenai siku kanan iblis Cantik.

seketika lengan itu menjadi lumpuh dan pedang Ang-coa-kiam terlepas dari tangannya.

Lee Cin cepat menyambar pedangnya itu dengan tangan kiri lalu menyelipkan suling dipinggangnya.

Iblis Cantik terkejut sekali.

Ia melompat ke belakang lalu tangan kirinya bergerak.

Beberapa sinar kecil hitam menyambar ke arah Lee Cin.

Lee Cin maklum bahwa lawan menyerangnya dengan senjata rahasia, maka ia memutar pedang ular merahnya sehingga semua senjata gelap itu runtuh.

Tiba-tiba si iblis Cantik menggerakkan tangan kirinya lagi dan terdengar ledakan disusul asap hitam tebal.

Lee -lin maklum bahwa lawannya hendak melarikan diri dengan lindungan asap tebal.

Tangan kirinya mengambil sesuatu dari balik bajunya dan dilemparkannya ke depan-Terdengar jerit mengerikan kemudian sunyi.

Anak buah iblis Cantik yang kewalahan melawan Hui san sudah melarikan diri, cerai-berai ke empat penjuru mencari keselamatan.

Lee Cin dan Hui sian mengusir asap tebal dengan pukulan dan dorongan tangan dengan pengerahan sin-kang.

setelah asap menipis dan mengudara, tampaklah si iblis Cantik rebah telentang dengan mata mendelik dan kedua tangan di leher.

Di lehernya yang putih mulus telah melingkar seekor ular belang hitam putih yang tadi dilontarkan oleh Lee Cin.

Leher itu telah digigit ular, akan tetapi ular itu pun mati dengan kepala hancur dicengkeram jari tangan iblis Cantik, Setelah pertempuran terhenti, baru para tamu kuil menghampiri.

sibuklah Lee Cin dan Hui san menjelaskan dan menceritakan tentang iblis Cantik dan anak buahnya yang bersarang di menara itu dan menggunakan kuil itu untuk menjadi kedok perbuatan maksiat mereka.

Tadinya para tamu itu tidak dapat percaya, akan tetapi setelah mereka ikut menyerbu ke menara dan membebaskan beberapa orang pemuda yang menjadi korban gerombolan sesat itu dan mendengar keterangan mereka, baru para tamu itu dapat percaya.

Para pemuda yang menjadi korban itu bercerita betapa mereka ditawan, diberi minum obat perangsang dan selanjutnya mereka harus melayani nafsu jahat si iblis Cantik.

Kalau si iblis Cantik itu sudah bosan, seorang pemuda diserahkan kepada anak buahnya.

Pemuda-pemuda itu tidak mampu menolak atau mencegah.

Bahkan mereka yang sudah loyo dan kehabisan tenaga, dibuang begitu saja di tengah hutan di bukit itu, dan ada yang dilempar ke dalam jurang.

Mendengar ini, para tamu kuil itu menjadi marah.

Mereka merasa telah tertipu oleh para to-kouw yang ternyata adalah wanita-wanita cabul yang amat jahat.

Bahkan Dewi seribu Berkah yang mereka puja adalah patung dari iblis cantik yang mengepalai gerombolan cabut dan jahat itu.

saking marahnya, para penduduk dusun yang merasa tertipu itu lalu membakar kuil dan menara dan melemparkan mayat si iblis Cantik ke dalam kobaran api.

Lee Cin dan Hui san diam-diam meninggalkan para penghuni dusun yang mengamuk itu, menuruni puncak dengan cepat.

setelah tiba disebuah lereng yang merupakan lapangan rumput, mereka berhenti untuk beristirahat.

"Berbahaya sekali...."

Hui san menghela napas panjang.

"Kalau tidak ada engkau yang datang menolong, entah bagaimana jadinya dengan diriku. Mungkin akan disiksa sampai mati. Aku patut berterima kasih kepadamu sumoi."

Pemuda itu memandang Lee Cin sambil tersenyum dan pandang matanya bersukur.

Lee Cin tertawa keciL "Ih, perlukah itu kita saling berterima kasih, suheng?

sudah sewajarnya kalau kita saling bantu, bukan?

Kalau engkau berterima kasih, aku ingatkan engkau akan peristiwa dua tiga tahun yang lalu.

Engkau pun menyelamatkan aku dari tangan sijahanam Siangkoan Tek " (baca Kisah Gelang Kemala).

Hui sian tertawa.

"Akan tetapi sebaliknya engkau pun menyelamatkan aku ketika aku terluka oleh pukulan datuk Siangkoan Bhok."

"sudahlah, karena itu tidak perlu kita saling berterima kasih, saling hutang budi. sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong siapa saja yang terancam bahaya, bukan? Ketika aku ke menara, aku sama sekali tidak mengira bahwa pemuda yang hendak kuselamatkan itu adalah engkau. Apalagi engkau, suheng, biarpun orang lain, kalau membutuhkan pertolongan tentu akan kutolong."

"Engkau seorang pendekar wanita yang berbudi mulia, sumoi,"

Kata Hui san sambil menatap wajah gadis itu penuh kagum.

Cintanya terhadap Lee Cin yang selama ini terpendam saja, kini tumbuh kembali, akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyatakan hal itu kepada Lee Cin, takut kalau ditolak lagi.

Penolakan Cinta memang mendatangkan perasaan pedih di hati.

Daripada menyatakan Cinta lalu ditolak.

lebih baik berdiam diri sehingga hubungan mereka tetap baik.

"suheng, engkau hendak ke mana dan bagaimana dapat sampai di tempat ini?"

Tanya Lee Cin.

"sebetuinya aku diutus oleh susiok (Paman Guru) Hui Sian Hwesio untuk pergi berkunjung keBengcu Souw Tek Bun di Hong-san."

"Ah, mengunjungi Ayah?"

Lee Cin bertanya heran "Ayahmu? Bengcu Souw Tek Bun itu ayahmu?"

Kini Hui san yang bertanya penuh keheranan.

Ketika Lee Cin belajar It-yang-ci dari gurunya, In Kong Thaisu, yang dia tahu Lee Cin adalah murid Ang-tok Mo-li Bagaimana kini gadis itu mengaku Souw-bengcu sebagai ayahnya?

Lee Cin menghela napas panjang.

Ia sudah terlanjur mengatakan demikian maka ia harus menceritakan hal yang sebenarnya.

"Ya, dia adalah ayah kandungku. sudah hampir dua tahun aku tinggal bersama ayah kandungku di Hong-san. Akan tetapi engkau hendak ke sana menemui ayahku ada masalah apakah suheng,?"

Ia membelokkan percakapan.

"Tentu engkau tahu bahwa kalau ayahmu itu menjadi bengcu, maka Susiok Hui Sian Hwesio dan Locianpwe Im Yang sengcu ketua Kun-lun-pai adalah wakil-wakil Bengcu."

"Aku mengerti. Ayah sudah memberitahu kepadaku. Akan tetapi ada urusan apakah susiok Hui san Hwesio mengutusmu mengunjungi Ayah?"

"Aku tidak tahu jelas, sumoi. Hanya pesan susiok Hui san Hwesio kepadaku agar memberitahukan Souw-bengcu bahwa pada bulan lima akan diadakan pertemuan besar antara para tokoh kang-ouw untuk membicarakan keadaan di luar timur sepanjang pantai, di mana banyak tokoh kang-ouw terbujuk oleh bangsa Jepang untuk mengadakan pemberontakan di sana. Pertemuan itu akan diadakan di Hong-san dan minta kepada Souw-bengcu untuk bersiap-siap menghadapi pertemuan itu"

Lee Cin mengerutkan alisnya.

"Hemm, pertemuan itu tidak bisa diadakan di Hong-san-"

"Kenapa, sumoi?"

"Justeru aku hendak menghadap susiok Hui San Hwesio wakil bengcu, untuk menyampaikan pesan Ayah bahwa mulai sekarang Ayah telah mengundurkan diri dari kedudukan sebagai bengcu."

Tentu saja Hui san terkejut mendengar ini dan memandang wajah Lee Cin dengan penuh pertanyaan-"Kenapa, sumoi?"

Lee Cin sudah siap dengan jawabannya terhadap pertanyaan itu seperti yang ia telah membayangkannya.

"Ayah berada dalam keadaan tidak sehat setelah berkelahi melawan seseorang, karenanya Ayah tidak lagi dapat bertindak sebagai bengcu. Ayah mengutus aku menemu susiok Hui san Hwesio atau Locianpwe Im Yang sengcu dari Kun-lun-pai sebagai wakil-wakil bengcu agar mereka bertindak mewakilinya. Pendeknya, Ayah mengundurkan diri dari kedudukan sebagai bengcu."

"siapa yang telah melukai ayahmu, sumoi?"

Lee Cin menghela napas.

"Itulah sukarnya. Ayah tidak mengenalnya siapa, hanya tahu dia seorang laki-laki muda yang memakai kedok hitam. Aku sekarang sedang dalam perjalanan mencari pria muda yang berkedok hitam itu. Aku harus membalas apa yang telah dia lakukan kepada Ayah."

"Akan tetapi mengapa? Apakah orang itu musuh ayahmu? Tentu ada sebab-sebabnya."

"Menurut Ayah, orang itu menyalahkan Ayah yang duduk sebagai bengcu, Ayah disebutnya sebagai antek Mancu. Jahanam busuk itu, aku akan memenggal lehernya Berani dia menuduh Ayah sebagai antek Mancu."

Hui sian menghela napas panjang.

"Inilah satu di antara persoalan yang akan dibahas dalam rapat para tokoh kang-ouw. Kita semua mengetahui bahwa negara dan bangsa kita dijajah oleh orang Mancu, dan karena pemilihan bengcu juga disetujui bahkan didukung pemerintah Kerajaan Mancu, maka tidaklah terlalu aneh kalau ada orang-orang kang-ouw yang menuduh kita sebagai antek Mancu. sekarang ini banyak golongan yang bergerak menentang pemerintah penjajah Mancu."

"Akan tetapi, Ayah bukan antek Mancu. Dan Ayah tidak menggerakkan orang kang-ouw untuk membantu pemerintah Mancu orang menuduh sembarangan, tanpa menyelidiki lebih dulu sudah menyerang Ayah. Pendeknya, dari golongan manapun orang yang menyerang Ayah itu, aku pasti dan harus membalasnya. Aku tidak peduli apakah dia itu dari golongan pendekar maupun golongan sesat. Cara dia menyerang Ayah dengan memakai kedok dan menggunakan ilmu pukulan penghancur tulang sudah menunjukkan bahwa dia bukan manusia baik-baik"

Menghadapi gadis yang marah-marah itu Hui san menghela napas.

Dia sudah cukup mengenal watak Lee Cin dan justeru kekerasan hati gadis ini yang membuatnya tertarik.

Dia tahu bahwa betapapun ganas dan galaknya Lee Cin, pada dasarnya ia seorang gadis gagah perkasa yang mempertahankan kebenaran seperti yang ia gambarkan dengan penuh keberanian.

Ia bukan seorang gadis jahat walaupun memang wataknya keras dan liar.

"Aku sendiri tidak dapat menduga siapa orang berkedok itu, sumoi. sebaiknya sekarang kita pergi menghadap susiok Hui sian Hwesio. Kalau beliau sudah tidak berada di Kuil Kwi-cu lagi, biariah suhu yang memutuskan dan menerima pesan ayahmu. susiok Hui sian Hwesio adalah wakil Ketua Siauw-lim-pai di Kwi-cu, dan tugasnya mewakili suhu di luaran. Beliau banyak melakukan perantauan."

"Akan tetapi pesan Ayah, kalau aku tidak dapat bertemu dengan susiok Hui sian Hwesio, aku harus pergi ke Kun-lun-pai melapor kepada Locianpwe Yang sengcu."

"Hal itu kita bicarakan nanti saja kalau kita sudah menghadap sisiok Hiu sian Hwesio atau suhu. Mari, sumoi, kita lanjutkan perjalanan ke Kwi-cu."

Kedua orang muda itu lalu meninggalkan bukit itu dan melakukan perjalanan cepat menuju ke Kwi-cu.

Lee Cin sama sekali tidak mengetahui betapa bahagia rasa hati Hui sian mendapat kesempatan melakukan perjalanan bersamanya.

Memang dua tahun lebih yang lalu Hui san pernah menyatakan Cintanya kepadanya, akan tetapi ditanggapinya dengan ringan dan tak acuh saja tanpa ketegasan apakah ia menerima ataukah menolak Cinta kasih pemuda itu.

Lee Cin sendiri sudah hampir lupa akan peristiwa itu.

Namun pada wajahnya, Hui san yang berbatin kuat itu tidak menunjukkan sesuatu.

sikapnya tetap ramah dan sopan terhadap Lee Cin.

Bahkan tidak nampak pada sinar matanya kemesraan yang memenuhi hatinya.

Cinta merupakan suatu perasaan teramat kuat mempengaruhi diri setiap orang manusia.

Cinta dapat mendatangkan perasaan berbahagia, namun Cinta dapat pula mendatangkan perasaan sengsara.

Kalau dua hati bertemu dan saling bertaut dalam ikatan benang-benang Cinta itu kadang dapat kusut dan ruwet.

Namun sebaliknya, kalau Cinta tidak terbalas, dapat mendatangkan penderitaan batin yang hebat.

Kekecewaan dan kehampaan akan membuat seseorang merasa sebagai manusia paling sengsara di dunia ini.

Cinta selalu diboncengi nafsu sehingga sifatnya menjadi tamak.

Cinta seperti ini selalu menghendaki balasan-selalu menghendaki keuntungan bagi diri sendiri.

Menghendaki agar yang diCinta itu membalas Cintanya, menghendaki agar dia dapat memiliki dan memiliki yang diCinta.

Cinta seperti ini mendatangkan rasa senang bagaikan orang minum anggur yang dapat memabukkan dan membuat dirinya lupa daratan.

Akan tetapi Cinta seperti ini, yang diboncengi nafsu asmara, sebaliknya dapat pula mendatangkan kekecewaan dan duka.

Kalau yang diCinta itu tidak membalas dengan Cinta, kalau yang diCinta itu memalingkan muka kepada orang lain, kalau yang diCinta itu tidak menyenangkan hatinya, tidak suka dikuasai dan dimilikinya, tidak mau pula menguasai dan memilikinya, maka datanglah kekecewaan dan duka.

Ada Cinta yang murni, tidak diboncengi nafsu.

Cinta seperti ini bagaikan sinar matahari yang tidak memilih siapa yang akan dilimpahi cahayanya.

Cinta seperti ini tidak menuntut balasan, Cinta seperti ini tidak memilih sasaran dan Cinta seperti ini tidak pernah mendatangkan kesenangan maupun kesusahan, tidak pernah mendatangkan kepuasan maupun kekecewaan.

Cinta seperti ini seperti matahari yang menyinarkan cahayanya kepada siapapun juga, menghidupkan, menyehatkan tanpa menuntut balas apa pun dan dari siapa pun.

seperti bunga menyiarkan keharuman memberikan keindahan kepada siapapun juga tanpa menuntut balas apa pun dari siapa pun.

Cinta seperti ini adalah suatu keadaan, bukan suatu perbuatan yang lahir dari hati akal pikiran.

Akan tetapi yang kita bicarakan adalah Cinta yang pertama tadi, Cinta yang ada karena bekerjanya hati akal pikiran , karena tertariknya panca indera.

Manusia tidak ada yang terbebas dari Cinta seperti ini.

Akan tetapi manusia yang sudah menyadari dan tahu macam apa Cinta yang menguasai hatinya, yang waspada dan maklum bahwa Cintanya itu bergelimang nafsu, tidak akan terlalu dalam terperosok.

tidak akan terlalu kuat terikat sehingga akibatnya tidak terlalu parah.

sesungguhnyalah bahwa Cinta seperti ini membuahkan kesenangan ataupun kesusahan, kepuasan atau kekecewaan dan siapa yang sudah tahu benar akan hal ini, kalau harus memetik dan memakan buahnya, tidaklah terkejut benar.

Pada suatu hari yang cerah, serombongan piauwsu terdiri dari sembilan orang pengawal dua buah kereta terisi barang dagangan yang amat berharga, yaitu kain sutera dan bahan pakaian lainnya, yang ditarik oleh masing-masing dua ekor kuda.

para piauwsu itu menunggang kuda dan mereka mengawal barang kiriman itu sambil bercakap-cakap dan menjalankan kuda mereka dengan santai.

Mereka telah melakukan perjalanan selama dua hari dari kota Pao-ting dan tujuan mereka adalah kota Thian-ting di tenggara.

Perjalanan itu akan makan kurang lebih lima hari dan sudah dilalui setengah perjalanan.

Mereka sudah lelah dan hendak mengaso kalau terdapat tempat yang cocok untuk itu.

Dua orang kusir juga melenggut di tempat duduk mereka, membiarkan kuda mereka berjalan seenaknya.

Kuda-kuda itu perlu beristirahat dan diberi minum.

Mereka tahu bahwa di lereng pertama dari bukit di depan terdapat sebuah dusun dan di sana mereka bisa mendapatkan makanan dan minuman untuk orang dan kuda.

Mereka menjalankan kuda seenaknya karena dusun itu sudah dekat dan mereka sudah melampaui daerah yang dianggap paling berbahaya tanpa mendapatkan gangguan yang berarti.

Dari dusun di lereng itu sampai ke kota Thian-ting perjalanan akan lebih aman dan juga tidak banyak melalui jalan pegunungan yang berat.

Hati mereka ringan dan karena merasa aman, mereka pun bercakap-cakap dengan santai.

Yang memimpin rombongan ini adalah piauwsu kepala, sebanyak dua orang bernama Cu Lok dan Thio sin.

Mereka adalah piauwsu yang sudah berpengalaman dan merupakan wakil-wakil yang dipercaya dari Ketua Kim-liong-pang di Pao-ting, yaitu Souw-pangcu atau Souw Can.

Karena barang kiriman itu amat berharga, maka kedua orang wakil inilah yang disuruh mengawal, bersama tujuh orang piauwsu pembantu.

Ketika mereka tiba di kaki bukit itu, tak jauh lagi dari dusun yang berada di lereng pertama, tiba-tiba dua buah kereta yang berjalan di depan berhenti.

Para piauwsu yang mengiringkan di belakang sambil bercakap-cakap merasa heran dan cepat dua orang pimpinan mereka melarikan kuda menuju ke depan untuk melihat mengapa kereta dihentikan oleh kusir-kusirnya .

Cu Lok dan Thio sin yang melarikan kudanya paling depan, melihat seorang pemuda tampan berdiri di tengah jalan sehingga kusir terpaksa menghentikan keretanya karena tidak ingin menabrak pemuda itu.

seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh dua tahun yang berwajah tampan dan gagah.

Dipunggungnya terdapat sebatang pedang danpakaian pemuda itu mewah dan indah bersih, pandang matanya tajam dan mulutnya tersenyum.

Nampaknya dia bersikap lembut dan melihat pakaiannya seperti seorang kong-cu yang kaya, dua orang piauwsu itu menjadi tenang hatinya.

Tidak mungkin pemuda seperti itu hendak mengganggu mereka.

Tampang dan pembawaannya bukan seperti orang kang-ouw yang yang suka merampok atau memeras.

Cu Lok piauwsu yang berusia empat puluh tahun dan bertubuh tinggi besar, berkata kepada rekannya.

"Biar aku yang menghadapinya."

Thio sin, yang berusia tiga puluh lima tahun dan bertubuh sedang, juga merasa tenang melihat pemuda yang menghadang itu, maka dia pun mengangguk dan membiarkan rekannya yang lebih tua itu melompat turun dari kudanya dan menghadapi pemuda yang menghadang di tengah jalan itu.

Cu Lok adalah seorang piauwsu yang berpengalaman.

Dia tahu bahwa penjahat yang paling berbahaya adalah kalau dia berupa seorang yang lemah dan sama sekali tidak kelihatan sebagai seorang penjahat.

Maka dia bersikap hati-hati dan mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada pemuda berpakaian mewah itu.

"Kami para piauwsu dari Kim-liong-pang sedang mengawal dua kereta barang menuju ke Thian-ting. Agaknya Kongcu memcunyai urusan penting dengan kami maka menghadang sini. Apakah kiranya yang dapat kami bantu untuk Kongcu?"

Sikap Cu Lok ini hormat sekali.

"Bagus, orang-orang Kim-liong-pang ternyata mengerti aturan,"

Kata pemuda itu sambil tersenyum.

"Bolehkah aku bertanya, apa isi kedua kereta itu?"

Dia menuding ke arah dua buah kereta yang berhenti di situ.

"Kami sedang mengawal barang kiriman berupa kain-kain sutera dan bahan pakaian lain menuju ke Thian-ting. Harap Kongcu membiarkan kami lewat,"

Kata Cu Lok. masih dengan sikap merendah dan hormat.

"Aha, kebetulan sekali. Kami sedang membutuhkan kain untuk membuat pakaian anak buah kami yang belasan orang banyaknya. Karena itu, bersikaplah baik dan murah hati kepada kami, piauwsu, dan tinggalkan sebuah di antara dua kereta itu untuk kami."

Cu Lok mengerutkan alisnya. Tidak salah dugaannya. Pemuda yang berpakaian mewah dan berbicara halus ini adalah seorang perampok. Maka dia berkata dengan menahan kesabaran.

"Mana dapat begitu, Kongcu? Barang kiriman ini bukan milik kami dan kami dari Kim-liong-pang tidak pernah bermusuhan dengan Kongcu. Harap biarkan kami lewat dan kelak kami akan berkunjung untuk menghaturkan terima kasih."

Pemuda itu tertawa.

"Ha-ha-ha, mana bisa begitu? Yang kami butuhkan sekarang adalah kain-kain untuk dibuat pakaian, bukan ucapan terima kasih."

"Kalau hanya itu yang Kongcu butuhkan, tentu dengan senang hati kami akan memberi untuk Kongcu,"

Kata Cu Lok yang mengira bahwa pemuda itu membutuhkan pakaian untuk diri sendiri sehingga hanya membutuhkan beberapa potong kain saja.

"Kalau Kongcu hendak membuat pakaian, silakan memilih beberapa potong kain, nanti kami yang akan menggantinya kepada pemiliknya di Thian-ting."

"Ha-ha-ha, kau ini lucu Untuk apa beberapa potong kain? Aku hendak mengambil satu kereta. Kami membutuhkan pakaian untuk dua puluh lima orang"

Tahulah Cu Lok bahwa pemuda itu tidak main-main dan memang benar dia seorang perampok yang hendak memaksanya menyerahkan sekereta kain.

"Hemm, sobat"

Suaranya kini berbeda, terdengar tegas.

"Apakah engkau hendak merampok kami?"

"Masa bodoh apa yang kalian katakan, merampok atau meminta. Pendeknya, kalian harus meninggalkan sekereta kain ini kepadaku."

"Jelasnya, engkau hendak merampok. kami? Hei, orang muda, siapa kah engkau yang berani mengganggu barang kiriman yang dikawal oleh para piauwsu Kim-liong-pang?"

"Aku Siangkoan Tek tidak mengenal Kim-liong-pang, dan apa yang aku kehendaki harus kalian taati, atau kalian semua akan kuhajar"

Kata pemuda yang lemah lembut itu.

Pemuda itu memang Siangkoan Tek adanya.

seperti kita ketahu, Siangkoan Tek dimarahi ayah ibunya karena ulahnya membikin ribut Pulau Naga yang diserbu pasukan dari daratan.

Ayah ibunya lalu menyuruh dia merantau selama setahun untuk mencari pengalaman dan juga mencari jodoh.

dalam perantauannya itu Siangkoan Tek tiba di daerah itu.

Ketika Siangkoan Tek tiba di bukit itu, dua puluh lima orang perampok menghadangnya.

Melihat pakaiannya yang mewah, para perampok itu menduga bahwa dia tentu seorang pemuda kaya, maka mereka menghentikannya dan minta semua barang yang dibawanya.

Siangkoan Tek tertawa dan menghajar dua puluh lima orang perampok itu tanpa membunuh mereka.

Para perampok itu taluk dan mengaku kalah kepada pemuda yang amat lihai itu.

saat itulah Siangkoan Tek mendapat gagasan yang dianggapnya baik.

Dipulaunya, sebagai putera majikan Pulau Naga, dia selalu dihormati dan dilayani.

Kini, melihat dua puluh lima orang itu, dia mengambil keputusan untuk menjadikan mereka itu anak buahnya.

Dengan demikian, dia akan dilayani dan juga kedudukannya menjadi kuat.

Maka dia lalu mengangkat diri sendiri menjadi pimpinan mereka.

Para anak buahnya inilah yang memberitahu kepadanya bahwa ada kiriman barang berharga sebanyak dua kereta akan lewat dijalan raya, di luar hutan yang menjadi sarang mereka.

Ketika Siangkoan Tek bertanya mengapa mereka tidak merampas kereta berisi barang berharga itu, mereka menyatakan takut karena kereta barang-barang itu dikawal oleh para piauwsu Kim-liong-pang.

Demikianlah, Siangkoan Tek lalu menghadang kereta itu dan menyuruh anak buahnya bersembunyi saja dan baru keluar kalau dia memberi tanda.

Sementara itu, Cu Lok dan Thio sin menjadi marah mendengar ucapan terakhir Siangkoan Tek yang hendak menghajar mereka kalau kehendaknya tidak ditaati.

Thio sin sudah marah sekali dan dia pun meloncat turun dari atas punggung kudanya, diikuti oleh papa anak buahnya yang berjumlah tujuh orang itu "Pemuda sombong, engkaulah yang akan kuhajar"

Bentak Thio sin dan dia sudah menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

Akan tetapi dengan gerakan indah dan cepat, Siangkoan Tek mengelak ke kiri dan kakinya mencuat dalam tendangan kilat mengenai dada Thio sin sehingga piauwsu itu terjengkang roboh.

Melihat ini, cu Lok lalu menyerangnya, diikuti oleh tujuh orang anak buahnya dan dikeroyoklah Siangkoan Tek oleh delapan orang itu Thio sin yang roboh itu sudah merangkak kembali dan ikut pula mengeroyok.

Namun, sembilan orang piauwsu itu sama sekali bukan merupakan lawan tangguh bagi Siangkoan Tek.

dalam waktu singkat saja mereka itu sudah terpelanting oleh tamparan dan tendangan pemuda itu.

Melihat ini, dua orang kusir meloncat turun dan ikut pula mengeroyok.

akan tetapi mereka pun terpelanting roboh.

Akhirnya, sembilan orang itu sudah dihajar oleh Siangkoan Tek.

membuat mereka babak belur, dan tidak mampu melawan lagi.

Siangkoan Tek bertepuk tangan dan keluarlah anak buahnya dari balik pohon-pohon dan semak-semak.

"Bawa kuda-kuda itu dan dua buah kereta"

Perintah Siangkoan Tek.

Para anak buah perampok itu girang sekali.

Baru sekali ini mereka dapat merampas barang-barang kawalan para piauwsu Kim-liong-pang.

Dan semua itu terjadi tanpa mereka turun tangan sama sekali.

Anak buah perampok itu menjadi girang sekali bukan hanya mendapatkan hasil rampokan yang amat berharga, tiga belas ekor kuda dan dua buah kereta penuh sutera dan kain, akan tetapi terutama sekali karena mereka mendapatkan seorang pemimpin yang dapat dibanggakan, yang telah berani merampok dan mengalahkan sembilan orang piauwsu Kim-liong-pang yang lihai.

Sembilan orang piauwsu dan dua orang kusir itu terpaksa melarikan diri meninggalkan kuda mereka ketika mereka melihat demikian banyaknya anak buah perampok bermunculan dari dalam hutan.

Pemuda itu merobohkan mereka akan tetapi tidak membunuh, belum tentu kalau anak buahnya pun akan membiarkan mereka hidup, Maka mereka lalu melarikan diri dan kembali kw poa ting.

Souw Can merasa heran dan juga marah sekali mendengar laporan anak buahnya bahwa dua kereta barang itu dilarikan perampok bertkut sembilan ekor kuda tunggangan anak buahnya.

Akan tetapi yang lebih marah lagi adalah Souw Hwe Li dan Lai Siong Ek.

Dua orang muda ini marah sekali karena merasa betapa Kim-liong-pang dipandang ringan dan dihina oleh seorang perampok muda.

Mereka berdua menanyakan kepada para piauwsu itu di mana tempat mereka dirampok dan setelah mendengar keterangan jelas, tanpa pamit lagi mereka berdua segera membalapkan kuda mereka menuju ke hutan itu.

Baru setelah dua orang muda itu dua tiga jam pergi, Souw Can diberitahu tentang kepergian mereka.

Souw Can mengerutkan alisnya dan menganggap murid dan putertnya lancang.

Menurut certta sembilan orang piauwsu, perampok tunggal itu tentu lihai sekali.

Bagaimana Hwe Li dan Siong Ek pergi begitu saja tanpa memberitahu dia lebih dulu?

Karena mengkhawatirkan keselamatan puterinya, Souw Can lalu memimpin tujuh belas anggauta Kim-liong-pang dan melakukan pengejaran dengan naik kuda.

Akan tetapi Hwe Li dan Siong Ek membalapkan kuda mereka dan baru berhenti setelah malam tiba.

Mereka bermalam disebuah kuil di lereng bukit danpada keesokan harinya, pagi-pagi benar mereka sudah melanjutkan perjalanan dengan membalapkan kuda mereka.

Siang hari itu, mereka tiba di tempat terjadinya perampokan.

Mereka lalu membelok dan memasuki hutan seperti yang diceritakan para piauwsu yang melihat bahwa kereta mereka dilartkan ke dalam hutan.

Kini kedua orang muda itu menjalankan kuda mereka dengan hati-hati karena maklum bahwa mereka telah memasuki daerah yang dikuasai perampok.

Tak lama kemudian mereka melihat dua orang laki-laki berusia empat puluh tahun berjalan di tengah hutan-Mereka berjalan dengan santai, akan tetapi ketika mendengar derap kaki kuda, mereka lalu membalikkan tubuh menghadang di jalan dan sikap mereka bengis.

Hwe Li melihat sikap kedua orang ini segera berkata kepada Siong Ek.

"suheng, tentu mereka itu anggauta perampok Kita tangkap mereka hidup, hidup,"

Ia lalu melompat turun dari atas kudanya, diikuti oleh Siong Ek.

Tanpa memberi kesempatan kepada dua orang itu untuk bergerak atau bicara, Hwe Li sudah menerjangnya dengan hebat.

Song Ek juga menyerang perampok ke dua.

Dua orang itu mencabut golok dan hendak melawan, akan tetapi dengan mudah Hwe Li dan Siong Ek meroboh kan mereka.

Hwe Li sudah mencabut pedangnya dan menempelkan pedang itu di leher seorang di antara mereka, sedangkan Siong Ek juga mengancam orang ke dua dengan pedangnya.

"Hayo, katakan di mana dua buah kereta dan sembilan ekor kuda kami di sembunyikan. Dan katakan siapa kepala rampok itu dan di mana dia berada. Cepat atau aku akan penggal lehermu"

Dua orang anggauta perampok itu menjadi pucat.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara tawa halus dan di situ sudah muncul Siangkoan Tek yang berdiri sambil bertolak pinggang.

Mendengar suara tawa ini, Hwe Li menoleh dan ia melihat seorang pemuda tampan dan gagah dengan pakaian mewah sudah berdiri memandang kepadanya sambil tersenyum.

Melihat ini, ia lalu melepaskan orang yang ditodongnya dan membalik, menghadapi Siangkoan Tek.

Ia teringat akan cerita para piauwsu yang dirampok.

maka dengan pedang di tangan kanan, ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka pemuda itu.

"Engkaukah yang bernama Siangkoan Tek dan yang telah merampok dua buah kereta barang dan sembilan ekor kuda dari para piauwsu kami?"

Bentak Hwe Li dengan marah.

Melihat gadis yang cantik jelita itu marah-marah, Siangkoan Tek tersenyum.

Hatinya kagum sekali.

Gadis itu selain cantik jelita, juga gagah perkasa dan pemberani, begitu gagah kelihatannya ketika menudingkan telunjuknya dengan pedang di tangan kanan-"Benar, aku adalah Siangkoan Tek.

dan engkau siapakah, Nona?

Apa hubunganmu dengan kejadian itu?"

Tanya Siangkoan Tek sambil tersenyum memikat, matanya bersinar-sinar.

Biarpun sedan marah, Hwe Li terpaksa harus mengakui di dalam hatinya bahwa perampok ini sungguh merupakan seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan melihat sikap dan pakaiannya, sungguh tidak patut menjadi perampok.

Dia lebih mirip seorang siucai (sastrawan) atau seorang kongcu (tuan muda) bangsawan atau hartawan.

Akan tetapi karena ia sedang marah, ia melupakan semua kenyataan ini dan membentak dengan suara lantang.

"Perampok busuk Aku adalah Souw Hwe Li, puteri Ketua Kim-liong-pang, pemimpin pengawalan barang. Hayo cepat kau kembalikan sembilan ekor kuda dan dua buah kereta bertsi bahan pakaian itu lalu berlutut minta maaf, baru aku dapat mengampunimu. Kalau tidak. pedang nonamu akan memenggal batang lehermu"

Sementara itu, Lai Siong Ek memperlihatkan muka garang dan dia pun membentak.

"Perampok jahanam... Butakah matamu, tulikah telingamu sehingga engkau tidak melihat bahwa dua buah kereta itu dikawal oleh orang-orang Kim-liong-pang? Berani mati engkau mengganggunya sumoi,jangan memberi ampun penjahat ini. Mart kita basmi mereka dan rampas kembali dua buah kereta itu"

Setelah berkata demikian, Lai Siong Ekyang sudah mencabut pedangnya mendahului sumoinya menyerang pemuda itu Melihat gerakan pedang yang tangkas, cepat dan cukup bertenaga itu, Siangkoan Tek mengeluarkan suara mengejek dan dia sudah mengelak dengan mudah.

Ketika tusukan pedangnya dielakkan dengan mudah, Siong Ek menjadi semakin marah dan pedangnya sudah berkelebat ke bawah, menyerampang ke arah kedua kaki lawan.

Akan tetapi dengan gerakan ringan seperti seekor burung, Siangkoan Tek kembali mengelak dengan lompatan ke atas dan dari atas tangannya menyambar untuk mencengkeram pundak Siong Ek .

Pemuda ini terkejut sekali karena tahu-tahu tangan itu sudah sangat dekat dengan pundaknya sehingga terpaksa untuk menghindarkan pundaknya dari cengkeraman tangan lawan, dia melempar diri ke belakang, terjengkang dan berjungkir balik agar tidak terbanting jatuh.

Melihat ini, Hwe Li meloncat ke depan dan pedangnya bergerak bagaikan kilat menyambar ke arah leher Siangkoan Tek.

Akan tetapi kembali pemuda dari pulau Naga itu mengelak dengan gerakan indah, lalu melangkah maju untuk menangkap lengan tangan Hwe Li yang memegang pedang.

Namun Hwe Li sudah melompat mundur untuk menghindarkan diri.

Dua orang kakak beradik seperguruan itu lalu mengeroyok Siangkoan Tek dengan ilmu pedang mereka.

Sambil berloncatan mengelak ke sana sini Siangkoan Tek memperhatikan ilmu pedang mereka.

Dia mengenal ilmu pedang Kun-lun-pai yang indah gerakannya, dan segera dapat mengira bahwa ilmu kepandaian gadis cantik itu lebih lihai dibanding suhengnya.

Dia menjadi semakin kagum kepada gadis itu.

seorang gadis yang cukup pantas untuk menjadi kekasihnya, bukan menjadi isterinya karena yang pantas menjadi istertnya hanyalah gadis-gadis seperti Lee Cin dan Cin Lan.

Dalam perantauannya dia sudah mencari keterangan tentang dua orang gadis itu dan mendengar bahwa Tang Cin Lan, puteri pangeran itu, telah menikah dengan Song Thian Lee, pemuda yang amat dibenCinya.

Maka tinggal Lee Cin seorang yang dia harapkan untuk menjadi isterinya.

Akan tetapi gadis yang mengeroyoknya ini pun cukup lumayan ilmu silatnya, dan wajahnya juga cukup manis.

Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang sudah sesat sejak masih muda remaja.

Dia hidup dekat dengan selir-selir ayahnya yang banyak jumlahnya, dan karena dia seorang pemuda yang tampan, maka selir-selir itu banyak yang memanjakannya, bahkan mengajarinya untuk bermesraan dengan mereka.

Dengan lingkungan dan pendidikan seperti itu, Siangkoan Tek menjadi dewasa sebagai seorang pemuda yang mata keranjang.

Lebih-lebih ayahnya tidak pernah menegur atau melarangnya dalam sepak terjangnya yang gila perempuan ini.

Hanya ibunya yang suka menegurnya dengan keras.

Akan tetapi karena ibunya berada di rumah saja, maka apa yang dilakukan oleh puteranya di luar rumah tidak diketahui oleh ibunya, hanya diketahui oleh ayahnya yang membiarkan saja Menghadapi pengeroyokan Hwe Li dan Siong Ek.

Siangkoan Tek tidak menjadi terdesak karena memang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi.

Akan tetapi dia pun tidak berani main-main karena ilmu pedang Kun-lun-pai adalah ilmu pedang yang cukup hebat.

Kalau saja yang memainkan itu seorang gadis.

setingkat dengan Lee Cin kepandaiannya, tentu dia akan terancam bahaya.

Namun, menghadapi dua orang itu, Siangkoan Tek menang dalam hal kecepatan maupun tenaga sin-kang.

Bahkan dia tidak membalas dengan serangan maut.

Kalau dia menghendaki kematian dua orang pengeroyok itu, tidak sampai lima puluh jurus lamanya tentu kedua orang lawan itu sudah dapat dia robohkan-Akan tetapi dia tidak menghendaki hal ini terjadi.

Hatinya tertarik kepada Hwe Li dan dia tidak ingin membuat gadis itu membencinya kalau dia melukai atau bahkan membunuh mereka.

setelah cukup lama mempermainkan mereka, Siangkoan Tek menggunakan ilmu silat Hui-liong-kun-Tubuhnya bergerak cepat dan serangannya nnendatangkan angin pukulan yang dahsyat.

Ketika dia mendapat kesempatan, dia dapat menendang pergelangan tangan kanan Siong Ek sehingga pemuda ini terkejut dan terpaksa pedangnya terlepas dari tangan, dan sebelum dia sempat menghindar, sebuah pukulan tangan koSong mengenai pundaknya dan dia pun terpental roboh.

Tulang pundaknya tidak patah, akan tetapi pukulan telapak tangan terbuka itu mendatangkan rasa panas dan pundaknya terasa nyeri.

Melihat suhengnya sudah kalah dan agaknya menderita kesakitan sehingga tidak dapat segera maju lagi, Hwe Li menjadi marah.

Ia memutar pedangnya dan mendesak lawannya, namun siang-koan Tek sudah mendahuluinya, menangkap pergelangan tangan kanannya, memutar sehingga terpaksa Hwe Li juga melepaskan pedangnya dan di lain saat dia telah menotok pundak Hwe Li, membuat gadis itu terkulai lemas dan berada dalam rangkulannya.

Melihat sumoinya dipeluk Siangkoan Tek.

Siong Ek menjadi marah dan nekat.

Diambilnya pedangnya yang tadi tertepas dan dia membentak.

"Lepaskan sumoi"

Dia siap untuk menerjang dengan pedangnya. Akan tetapi Siangkoan Tek menodongkan kedua jarinya ke ubun-ubun kepala Hwe Li.

"Majulah selangkah dan sumoimu ini akan tewas seketika"

Melihat ini, wajah Siong Ek menjadi pucat dan dia tidak berani bergerak.

Dia hanya memandang ke arah sumoinya dengan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan-sementara itu, ketika Hwe Li merasa betapa ia tidak lagi mampu bergerak atau mengeluarkan suara, ia hanya dapat memandang wajah Siangkoan Tek dengan ketakutan.

Tahulah ia bahwa ia berada dalam bahaya.

Siangkoan Tek yang melihat betapa gadis dalam rangkulannya itu ketakutan, tersenyum manis kepada Hwe Li.

"Adik manis, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Engkau sementara ini akan menjadi tamuku yang terhormat. Lihat, bahkan suhengmu tidak kusakiti dan tidak kubunuh. Kalau engkau menurut dan tidak memberontak. aku akan bersikap baik sekali kepadamu. sebaliknya kalau engkau melawan, suhengmu ini akan mati di depan matamu, kemudian engkau juga akan mati di tanganku."

Mendengar ancaman yang diucapkan sambil tersenyum dan dengan kata-kata lembut itu Hwe Li menjadi semakin ketakutan, dan ketika pada saat itu Siangkoan Tek membebaskan totokannya, ia tidak berani meronta dan hanya tinggal diam saja.

"sobat, bebaskan sumoiku agar kami dapat pergi dari sini."

Siong Ek mencoba untuk membujuknya .

"Tidak perlu banyak cakap lagi. sumoimu menjadi tamu agungku, dan engkau cepat pergilah dari sini sebelum pikiranku berubah dan engkau kubunuh. Pergilah"

Siong Ek maklum bahwa dia tidak berdaya menolong sumoinya. Dia memandang kepada sumoinya dan berkata.

"sumoi, tenanglah. Aku akan mencari bala bantuan untuk membebaskanmu."

Saking takutnya, Hwe Li tidak mampu bicara lagi dan ia hanya mengangguk kepada suhengnya.

Siong Ek segera melompat ke atas kudanya dan membalapkan kudanya untuk kembali ke Pao-ting dan mencari bala bantuan-Setelah Siong Ek pergi, Siangkoan Tek berkata kepada Hwe Li.

"Adik Souw Hwe Li, mari silakan menunggang kudamu, kita pulang ke tempat tinggalku."

Hwe Li melihat ada kesempatan-Ia melompat ke atas kudanya dan hendak melarikan diri, akan tetapi Siangkoan Tek sudah menyambar kendali kudanya dan menuntun kuda itu memasuki hutan lebih dalam lagi.

Tidak jauh dari situ terdapat sebuah kuil kuno yang sudah tidak dipergunakan dan inilah yang dijadikan tempat tinggal atau sarang oleh Siangkoan Tek dan para berandal yang menjadi anak buahnya.

Hwe Li yang sudah tidak dapat berdaya itu menurut saja ketika disuruh turun dari kuda dan diajak masuk ke dalam kuil kuno.

Di dalamnya lebar dan sederhana, akan tetapi sebuah ruangan yang cukup luas dilengkapi perabot seperti meja kursi, lemari dan tempat tidur besar yang cukup indah buatannya dan ruangan ini dijadikan sebagai tempat atau kamar tidur oleh Siangkoan Tek.

"Nah, engkau tinggal untuk sementara di sini, Nona. Engkau menjadi tamuku juga sahabat baikku. Dan untuk menyambut kedatanganmu, kita adakan sebuah pesta kecil di antara kita berdua saja."

Siangkoan Tek berkata dengan lembut dan tidak ketinggalan senyumnya yang menarik. Melihat dirinya diperlakukan dengan baik, rasa takut menipis di hati Hwe Li.

"Memang sebaiknya kalau engkau melakukan aku dengan sepantasnya, karena kalau engkau berani menggangguku, ayahku tentu tidak akan terima begitu saja,"

Katanya dengan ancaman, akan tetapi tidak terdengar galak lagi.

Mereka kini duduk berhadapan terhalang meja besar dalam kamar itu.

Siang-koan Tek bersikap lembut dan ramah sehingga Hwe Li mulai merasa lega dan tenang.

"Nah, setelah kini kita berkenalan sebagai sahabat, aku akan menyebutmu moi-moi dan engkau menyebutku koko, tentu engkau tidak menolak bukan?"

Hwe Li sedikit tersenyum.

Memang sebaiknya kalau bersahabat dengan pemuda yang amat lihai ini.

Bayangkan saja, ia dan suhengnya dengan berpedang mengeroyoknya yang bertangan koSong, akan tetapi mereka kalah.

Pemuda ini sungguh lihai bukan main-Kalau ia bersikap baik dan bersahabat kepadanya, besar kemungkinan ia akan dibebaskan dan tidak diganggu.

Sebaliknya kalau ia bersikap bermusuhan, apa dayanya karena ia telah terjatuh ke tangannya.

Maka ia lalu mengangguk menyatakan setuju.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 15

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 17

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger