Ceritasilat Novel Online

Dewi Ular 3

Eps 3 Dewi Ular - Kho Ping Hoo

Baca online Dewi Ular - Kho Ping Hoo

Cersil Dewi Ular - Kho Ping Hoo.

"Nah, dengan begitu hatiku merasa senang, Li-moi. Sekarang, ceritakanlah keadaan keluargamu kepadaku. Aku ingin mengenalmu lebih baik."

"Kami tinggal di Pao-ting dan Ayah menjadi pangcu (ketua) dari Kim-liong-pang yang mendirikan perusahaan pengawalan barang kiriman-Pembantu Ayah kini tidak kurang dari dua puluh lima orang. Ayah adalah seorang tokoh Kun-lun-pai dan namanya banyak dikenal di dunia kang-ouw. Karena itu, ha rap engkau tidak memusuhinya, Tek-ko."

Ucapan Hwe Li ini membujuk dan juga sengaja membanggakan ayahnya untuk mengecilkan hati Siangkoan Tek. Pemuda itu tersenyum.

"Aku memang sudah menduga bahwa engkau murid seorang tokoh Kun-lun-pai, melihat ilmu pedangmu. Dan bagaimana dengan suhengmu itu? Aku melihat dia itu amat sayang kepadamu. Li-moi."

Wajah Hwe Li berubah sedikit merah. Ia sendiri sudah lama mengetahui bahwa Siong Ek mencintanya, akan tetapi ia belum dapat menerima perasaannya itu dan menganggap Siong Ek sebagai suheng biasa.

"Ah, dia hanya suhengku bernama Lai Siong Ek. Karena dia murid tunggal dari Ayah, maka kami bersahabat, biasa saja."

"Tidak saling mencinta?"

Hwe Li menggeleng kepalanya dan mereka bertemu pandang. Melihat sinar mata gadis itu dengan berani menentang pandang matanya, Siangkoan Tek maklum bahwa gadis itu tidak berbohong.

"Hem, setidaknya dia yang mencinta mu, Li-moi. Akan tetapi aku tidak menyalahkan dia. Hati pria mana yang tidak akan terpikat kalau bertemu denganmu? Apalagi engkau bergaul lama dengannya."

Ucapan ini membuat Hwe Li tersipu, akan tetapi pada saat itu, hidangan telah ditaruh di atas meja besar itu dan Siangkoan Tek lalu mengajak Hwe Li makan minum sambil bercakap-cakap.

berdua saja.

Dan Hwe Li tidak menolak ketika ia disuguhi arak oleh pemuda itu sehingga ia minum sampai kedua pipinya kemerahan dan sikapnya lebih berani lagi.

"Sudah kukatakan tadi bahwa semua pria akan terpikat kalau bertemu denganmu, Li-moi. Engkau bukan saja cantik jelita, akan tetapi juga berilmu silat tinggi dan sikapmu menyenangkan, tidak seperti kebanyakan gadis yang malu-malu. Engkau bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum, menarik datangnya banyak kupu-kupu."

Hwe Li tersipu pula mendengar pujian yang terang-terangan itu.

"Aih, Tek-ko, cukuplah segala pujian itu sekarang aku minta engkau suka menceritakan tentang dirimu sendiri. Aku heran sekali melihat keadaanmu."

Siangkoan Tek memandang wajah gadis itu. sinar matanya penuh selidik.

"Kenapa engkau merasa heran, Li-moi? Apakah ada yang aneh tentang diriku?"

"Engkau adalah seorang yang aneh sekali, Tek-ko Bayangkan saja. Engkau seorang pemuda yang melihat penampilanmu tentu engkau sepatutnya menjadi seorang siucai atau kongcu. Kata-katamu halus dan sopan teratur, sikapmu lemah-lembut, pakaianmu juga menunjukkan bahwa engkau seorang pemuda kaya. Akan tetapi engkau muncul sebagai seorang perampok. Tidak cocok sama sekali ini. engkau seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, mengapa merendahkan diri menjadi perampok? Engkau berbeda sekali dengan anak buahmu yang kasar-kasar. Mereka memang patut menjadi perampok akan tetapi engkau sama sekali tidak pantas. Maka aku ingin sekali mendengar riwayatmu, Tek-ko"

Siangkoan Tek memandang gadis itu sambil tersenyum.

Dia merasa semakin suka kepada gadis ini.

Lumayan untuk menjadi kekasih sementara, sebelum dia melanjutkan perjalanannya.

Walaupun tidak untuk menjadi isteri, setidaknya untuk menjadi kekasih.

"Ha, ha, ha, kini engkau yang memuji-mujiku, Li-moi. Terima kasih atas pujianmu. Memang aku bukan perampok biasa, Li-moi. Baru beberapa hari ini aku menjadi perampok, atau memimpin gerombolan perampok. Justeru aku yang kebetulan lewat di sini yang dirampok oleh mereka. Aku kalahkan dan tundukkan mereka, lalu mereka menyerah dan aku menjadi pemimpin mereka. Karena aku tidak ingin melihat anak buahku berpakaian sekotor dan sekasar itu, maka ketika dua buah kereta itu lewat, aku bermaksud minta sebuah untuk dijadikan pakaian anak buahku. Akan tetapi para piauwsu itu menolak sehingga terjadilah perkelahian, dan aku merampas dua buah kereta itu. Akan tetapi kereta-kereta itu beserta isinya dan sembilan ekor kuda tunggangan dan kuda penarik kereta masih berada di belakang kuil ini."

"Kalau begitu, Tek-ko setelah kita bersahabat, bolehkah aku minta dua buah kereta dan kuda-kudanya itu untuk kubawa kembali? Kalau engkau membutuhkan pakaian untuk anak buahmu, tentu akan kuberi secukupnya."

"Hemm, hal itu boleh kita bicarakan nanti, Li-moi. sekarang kita makan minum sambil bercakap-cakap tentang diri kita."

Melihat pemuda itu tampak agak tidak senang, Hwe Li cepat mengubah arah percakapan-"Engkau belum menceritakan dari mana asalmu, siapa orang tuamu dan mengapa engkau berada di sini memimpin gerombolan perampok itu."

"Ayahku adalah orang nomor satu di dunia kang-ouw bagian timur. Ayahku bernama Siangkoan Bhok berjuluk Tung-hai-ong (Raja Lautan Timur) yang terkenal sebagai datuk besar timur, tinggal di Pulau Naga. Aku sedang melakukan perantauan untuk memperluas pengalamanku dan seperti kuceritakan tadi, baru beberapa hari aku berada di sini dan mengalahkan para perampok sehingga aku mereka angkat menjadi pemimpin mereka."

Hwe Li tidak pernah mendengar nama besar Siangkoan Bhok. akan tetapi ia dapat menduga bahwa ayah pemuda ini tentu seorang yang sakti dan disegani di dunia kang-ouw.

"Ah, kalau begitu engkau adalah putera seorang yang terkenal di dunia kang-ouw, mengapa merendahkan dirimu menjadi pemimpin perampok, Tek-ko? Bagaimana kalau engkau kuhadapkan kepada ayahku yang tentu akan menerimamu dengan baik dan kalau orang yang memiliki kepandaian seperti engkau ini memimpin piauw-kiok (perusahaan pengawal barang) tentu kita akan memperoleh kemajuan besar."

"Aku tidak ingin bekerja, dan aku menjadi pemimpin gerombolan ini pun hanya sementara saja, sekedar untuk mempunyai anak buah untuk kuperintah melayani segala keperluanku. Jangan khawatir, Li-moi, engkau di sini menjadi tamu dan juga sahabat baikku, tidak ada yang akan berani mengganggumu. Li-moi, apakah engkau sudah bertunangan atau mempunyai pilihan hati? Barang kali suhengmu itu?"

Wajah gadis itu menjadi merah sekali. sungguh pertanyaan yang amat terbuka mengenai perasaan hati pribadinya., Ia menggeleng kepala tanpa menjawab.

"Engkau mau artikan bahwa engkau masih bebas, belum bertunangan, belum ada yang menjadi pilihan hatimu?"

Hwe Li yang masih berdebar jantungnya karena tegang itu mengangguk dan menundukkan mukanya.

Tiba-tiba ia merasa betapa tangannya yang berada di atas meja dipegang oleh pemuda itu.

Ia terkejut dan jantungnya berdebar semakin kencang.

"Li-moi, kalau begitu kebetulan sekali. Aku sendirtpun masih bebas dan sejak pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh Cinta kepadamu. Maukah engkau menjadi kekasih ku, Li-moi?"

Tangan yang memegang tangan Hwe Li itu meremas-remas lembut dan mesra.

Hwe Li menjadi malu sekali, mukanya merah sampai ke lehernya dan ketika ia mengangkat muka, ia memandang wajah Siangkoan Tek dengan malu-malu dan tersenyum salah tingkah.

"Bagaimana, Li-moi? Aku berterus terang saja dan jawablah dengan terus terang. Maukah engkau menjadi kekasih ku?"

"Tek-ko, ini. ini. begini mendadak.... Bagaimana aku harus menjawabnya? Berilah aku waktu untuk memikirkan hal ini...."

"Baik, aku memberi waktu sampai besok pagi. Kuharap besok di waktu kita makan pagi, engkau sudah dapat menjawab pertanyaanku itu, dan mudah-mudahan jawabannya akan membahagiakan hatiku. Nah, sekarang engkau boleh mengaso, Li-moi. Engkau tidurlah di kamar ini, aku akan tidur di kamar lain-"

Siangkoan Tek bertepuk tangan tiga kali dan beberapa orang anak buahnya masuk kamar.

Pemuda itu memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan meja.

setelah itu, dia lalu keluar dari kamar itu dan menutupkan daun pintunya dari luar.

sebelum pintu tertutup, dia menatap wajah Hwe Li.

Kebetulan gadis itu pun memandangnya dan pandang mata mereka bertemu, Hwe Li menundukkan mukanya dan Siangkoan Tek meninggalkan kamar.

Hwe Li cepat mengunci pintu dari dalam dan ia berjalan hilir mudik di kamar itu.

Pertanyaan pemuda itu masih terngiang di telinganya.

Maukah ia menjadi kekasih Siangkoan Tek?

Pertanyaan yang sukar sekali dijawabnya seketika.

Harus diakuinya bahwa ia kagum sekali kepada pemuda tampan dan gagah itu.

Akan tetapi mereka baru saja berkenalan dan Siangkoan Tek menjadi pemimpin perampok ia menjadi bimbang.

Ketika ia merebahkan diri di atas pembaringan, ia gelisah tidak dapat pulas.

Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu besok pagi.

Menolak?

ini bertawanan dengan bisikan hatinya.

siapa yang tidak ingin menjadi kekasih seorang pemuda seperti Siangkoan Tek?

Pemuda yang tampan dan gagah, memiliki ilmu silat tinggi dan putera seorang datuk besar pula.

Akan tetapi, dapatkah ia menerima begitu saja menjadi kekasih seorang pemuda yang baru saja dikenalnya, yang belum diketahui benar bagaimana keadaan hatinya?

sampai jauh malam barulah Hwe Li dapat pulas, akan tetapi tidurnya penuh mimpi buruk.

Pada keesokan harinya pagi-pagi Hwe Li sudah terbangun dari tidurnya.

semalam ada ingatan untuk melarikan diri, akan tetapi ketika ia membuka sedikit daun pintu, ternyata di depan kamarnya terdapat beberapa orang anak buah perampok menjaga.

Dan ketika ia mengintai dari jendela, sama saja.

Di sana juga ada beberapa orang menjaga.

Ia tidak akan dapat melarikan diri tanpa diketahui dan kalau hal ini ia lakukan kemudian ia tertangkap lagi, belum tentu sikap Siangkoan Tek akan sebaik ini.

Maka ia pun membuang pikirannya untuk melarikan diri Ketika pagi itu ia membuka daun pintu, beberapa orang anak buah perampok menghampiri dan seorang di antara mereka bertanya.

"Adakah sesuatu yang dapat kami bantu, Nona?"

"Aku. aku ingin mandi."

"Biar aku yang melayani"

Terdengar suara orang dan Siangkoan Tek muncul di situ. Hwe Li merasa sungkan dan malu karena ia kelihatan oleh pemuda itu sehabis bangun tidur, belum mandi dan rambutnya pun tentu kusut.

"Engkau hendak mandi, Li-moi? Mari, di belakang kuil ini terdapat pancuran air yang jernih sekali."

Terpaksa Hwe Li mengikuti pemuda itu ke belakang dan benar saja, di belakang kuil terdapat pancuran air yang jernih dan tempat itu sudah tertutup pagar kayu sehingga ia dapat mandi di dalam ruangan itu dengan aman dan tidak tampak dari luar.

Setelah mandi dan merasa dirinya bersih dan segar, Hwe Li keluar dari tempat mandi itu.

Siangkoan Tek sudah menyodorkan sisir dan cermin bundar.

"Bawalah ini ke kamarmu, Li-moi. Dan setelah selesai menyisir rambut, kita makan pagi."

Biarpun pemuda itu tidak mengatakan bahwa dia menagih janji jawaban Hwe Li, namun Hwe Li sudah merasakannya dan hal ini membuat ia menjadi semakin gelisah.

sampai saat itu ia masih belum dapat mengambil keputusan jawaban bagaimana yang harus ia katakan kepada pemuda itu.

Ia tidak menjawab, melainkan kembali ke kamar besar dan menyisir rambutnya yang panjang, lalu menyanggulnya.

Karena di situ tidak terdapat bedak.

maka ia hanya menggosok gosok kulit mukanya sehingga menjadi kemerahan.

Setelah selesai, ia tinggal saja di dalam kamarnya, tidak berani keluar dari kamar itu karena ia masih belum dapat mengambil keputusan.

Akhirnya, sebuah ketukan dipintu membuat ia terkejut dan menengok ke arah pintu tanpa bergerak.

"Li-moi, keluarlah kalau engkau sudah selesai. Kita makan pagi"

Terdengar suara Siangkoan Tek lembut.

Terpaksa Hwe Li bangkit berdiri, masih bingung bagaimana nanti harus menjawab pertanyaan pemuda itu.

Ia melangkah keluar dan melihat betapa Siangkoan Tek sudah berganti pakaian baru dan nampak tampan sekali pagi itu.

Ketika bertemu pandang, Hwe Li menundukkan mukanya dan ia membiarkan saja ketika tangannya dipegang dan digandeng oleh Siangkoan Tek.

"Kita makan di ruangan belakang,"

Kata pemuda itu dan Hwe Li hanya menurut saja digandeng menuju ke ruangan belakang.

Hidangan untuk makan pagi ternyata telah disiapkan.

Siangkoan Tek lalu membimbingnya duduk menghadapi meja dan mereka lalu makan pagi.

Kalau Siangkoan Tek makan pagi dengan penuh semangat dan tampak gembira sekali, sebaliknya Hwe Li makan dengan lambat.

sampai saat itu ia masih merasa bingung sekali.

sebagian dari perasaannya mendorongnya untuk menyambut uluran hati pemuda itu, akan tetapi sebagian lagi masih sangsi.

Baru saja mereka selesai makan, terdengar ribut-ribut dan derap kaki banyak kuda di luar kuil.

Dua orang anak buah bergegas masuk dan melaporkan dengan suara gemetar.

"Kongcu, tempat kita diserbu banyak sekali perajurit. Kita telah dikepung dari semua penjuru"

Tentu saja Siangkoan Tek merasa terkejut.

"Siapkan semua anak buah. Lawan mati-matian"

Perintahnya. Dua orang itu cepat pergi dan Siangkoan Tek lalu bertanya kepada Hwe Li.

"Hwe Li, bagaimana Kim-liong-pang dapat mendatangkan pasukan pemerintah?"

"Ini tentu perbuatan suheng Lai Siong Ek. Dia adalah putera jaksa di Pao-ting dan tentu ayahnya yang mengerahkan pasukan dengan maksud untuk menolong aku, Tek-ko. Karena itu, sebaiknya engkau menyerah. Akulah yang akan menanggung agar engkau tidak dihukum. Akan kuceritakan bahwa engkau memperlakukan aku dengan baik sekali."

Akan tetapi Siangkoan Tek cepat memegang tangan Hwe Li dan dia pun berkata, suaranya tegas.

"Mari kita melihat keluar"

Setelah mereka tiba di luar kuil, Siangkoan Tek melihat anak buahnya telah terlibat dalam pertempuran yang tidak seimbang melawan puluhan orang perajurit, bahkan mungkin ada seratus orang perajurit yang sudah mengepung kuil itu.

sekali pandang saja maklumlah Siangkoan Tek bahwa tidak mungkin anak buahnya menang, dan kalau terlambat akan sukar pulalah dia untuk dapat melarikan diri dari kepungan sekian banyak prajurit.

Maka, secepat kilat dia menotok pundak Hwe Li yang menjadi lemas dan dia lalu memanggul tubuh gadis itu ke atas pundak kirinya dan setelah mencari bagian yang agak lemah penjagaannya atau kepungan para perajurit itu, yaitu di sebelah kiri, dia lalu melompat ke situ dan dengan pedangnya dia merobohkan setiap perajurit yang berani menghadangnya.

-oo0dw0oo-Jilid.

"LEPASKAN Sumoi"

Terdengar bentakan dan ternyata Lai Siong Ek sudah berada di situ dan menyerang Siangkoan Tek dengan pedangnya.

"Trang-tranggg......"

Dua kali pedang siong Ek bertemu dengan pedang Siangkoan Tek dan pedang di tangan Siong Ek terpental.

Dua orang perwira pasukan datang membantunya.

Akan tetapi mereka tidak berani menyerang dengan serampangan karena Siangkoan Tek memanggul tubuh Hwe Li, khawatir kalau serangannya mengenai tubuh gadis itu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Siangkoan Tek untuk melompat jauh dan dia melarikan diri dengan cepat.

Siong Ek dan dua orang perwira, diikuti oleh belasan orang perajurit mengejar, akan tetapi mereka ini kalah jauh dalam hal lari cepat oleh Siangkoan Tek sehingga sebentar saja pemuda itu sudah lenyap ke dalam hutan lebat.

Siangkoan Tek masuk ke dalam semak belukar dan agar dia tidak terganggu oleh berat badan Hwe Li, dia membebaskan totokannya pada gadis itu.

"Sstt, jangan mengeluarkan suara, Li-moi. Kalau kita ketahuan, terpaksa aku akan membunuh suhengmu itu"

Hwe Li menjadi serba salah, kalau ia menjerit, tentu mereka akan dikepung dan la tidak ingin melihat Siangkoan Tek dikeroyok sampai tewas.

Akan tetapi kalau ia diam saja, ia akan dibawa pergi oleh pemuda itu Ia merasa serba salah dan ia pun diam saja, akan tetapi kedua matanya menjadi basah, apalagi ketika ia mendengar teriakan ayahnya.

"Kejar dan cari sampai berhasil ditemukan"

Demikian terdengar suara souw Can yang juga ikut datang bersama semua anak buah Kim-liong-pang.

Setelah para pencari itu lewat, Siangkoan Tek lalu menarik tangan Hwe Li dan diajaknya gadis itu lari ke lain jurusan.

Akhirnya mereka meninggalkan bukit itu.

Siangkoan Tek tidak mempedulikan lagi keadaan anak buahnya yang terbasmi oleh pasukan yang menyerbu kuil itu.

Mereka sudah jauh meninggalkan para pengejarnya dan tiba di sebuah padang rumput.

"Kenapa engkau berhenti Li-moi? Kita lanjutkan perjalanan menjauhi bukit agar tidak dapat dikejar lagi."

Tempat itu sunyi, jauh dari pedusunan dan Hwe Li memandang ke sekelilingnya.

"Tek-ko, aku akan kembali ke rumah orang tuaku."

"Kenapa, Li-moi? Bukankah engkau sudah ikut denganku melarikan diri?"

"Akan tetapi ke mana engkau hendak membawaku pergi, Tek-ko? Aku takut, orang tuaku tentu akan mencariku. Aku harus pulang"

Hwe Li membalikkan tubuhnya dan hendak berlari kembali ke bukit itu agar dapat pulang ke Pao-ting. Akan tetapi Siangkoan Tek dengan sekali lompatan sudah menghadang di depannya.

"Li-moi, dalam keadaan seperti ini engkau hendak meninggalkan aku? Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik? Dan engkau belum menjawab pertanyaanku kemarin. Maukah engkau mempererat lagi hubungan persahabatan klta dan menjadi kekasihku?"

Wajah Hwe Li berubah merah dan ia menjadi serba salah.

Jelas bahwa pemuda ini bukan perampok.

dan buktinya juga tidak membela para perampok ketika diserbu pasukan.

Akan tetapi, ia masih tetap sangsi walaupun ia tertarik sekali kepadanya.

Akan mudah sekali untuk jatuh cinta kepada pemuda seperti Siangkoan Tek.

akan tetapi hatinya masih diliputi keraguan.

-dewi-kz-Apakah ayahnya akan dapat menerima pemuda ini sebagai calon suaminya kalau mengetahui bahwa pemuda ini yangpernah memimpin gerombolan perampok merampas dua buah kereta?

Tentu Lai siong Ek akan mengenalnya.

"Aku.. aku tidak tahu, Tek-ko...."

Jawabnya lirih.

"Li-moi, aku cinta padamu.."

Siangkoan Tek merangkul lalu mencium wajah yang cantik itu.

semula Hwe Li mandah saja dan tenggelam ke dalam kemesraan, akan tetapi ia lalu teringat bahwa ia bukan tunangan pemuda itu, maka ia meronta.

Apalagi ketika tangan Siangkoan Tek meraba-raba dengan berani.

ia meronta sehingga terlepas dari rangkulan pemuda itu.

"Jangan, Tek-ko....jangan......"

"Li-moi, aku tahu bahwa engkau juga mencintaiku"

Kata Siangkoan Tek yang meraih kembali dan merangkul gadis itu. Hwe Li meronta dan pada saat itu terdengar bentakan halus dan nyaring.

"Lepaskan gadis itu"

Mendengar bentakan suara wanita ini, Siangkoan Tek melepaskan rangkulannya dari tubuh Hwe Li dan cepat membalikkan tubuhnya.

Dia melihat bahwa yang membentak tadi adalah seorang gadis yang cantik jelita dan yang berdiri tegak dengan sepasang mata mencorong marah.

Pakaian gadis itu berkembang cerah dan wajahnya cantik sekali.

Wajah itu berbentuk bulat telur, mulutnya kecil dengan bibir mungil merah membasah.

Hidungnya mancung dengan ujungnya agak menjungat ke atas, nampak lucu menantang.

Di kedua ujung mulutnya tampak lesung pipit yang manis.

sebatang pedang tergantung dipunggung dan di pinggangnya terselip sebatang suling membuat ia selain nampak cantik jelita juga gagah perkasa.

Terutama sekali matanya yang mencorong itu, sungguh berwibawa.

Dan seketika Siangkoan Tek teringat akan gadis ini dan wajahnya berseri.

Dia segera mengenal wajah ini.

"Kau. kau. Nona Lee Cin murid Ang-tok Mo-li.... Ah, sudah lama aku mencarimu, adik manis"

"Hemm, Siangkoan Tek. engkau manusia jahanam. Di mana-mana engkau mengejar gadis-gadis cantik. Aku tidak mempunyai urusan denganmu, kecuali untuk menghajarmu. Ada urusan apa engkau mencariku?"

"sejak pertemuan kita dahulu, aku selalu teringat kepadamu, Cin-moi. siang malam aku teringat kepadamu. Marilah ikut aku pulang ke Pulau Naga. Ayahku juga setuju kalau engkau menjadi.."

"Tutup mulutmu yang kotor"

Bentak Lee Cin dan secepat kilat ia sudah menyerang pemuda itu.

Tangan kanannya meluncur seperti seekor ular yang mematuk ke arah leher pemuda itu.

Siangkoan Tek maklum benar betapa lihainya gadis ini, maka dia pun tidak berani main-main dan sudah mencelat ke belakang untuk menghindarkan serangan itu.

Akan tetapi Lee Cin tidak memberi kesempatan lagi kepadanya untuk banyak cakap karena gadis itu sudah menyerang lagi, lebih hebat kini karena ia mainkan jurus ampuh dari Ang-coa-kun (silat Ular Merah) yang ia warisi dari gurunya atau juga ibunya.

serangan ini ampuh sekali.

Bukan saja kuat dan cepat, akan tetapi ilmu pukulan ini juga mengandung hawa beracun yang amat berbahaya.

Menghadapi serangan yang datangnya bertubi ini, Siangkoan Tek segera terdesak.

Dia maklum akan bahaya yang mengancamnya, maka dia meraba punggungnya dan di lain saat dia telah mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Dengan pedang ini dia membalas serangan Lee Cin sampai tiga kali berturut-turut.

Lee Cin juga sudah tahu bahwa lawannya adalah putera Datuk Besar dari timur, maka ia cepat mengelak tiga kali sambil berlompatan mundur.

Ketika ia maju kembali, ia sudah memegang Ang-coa-kiam.

"Trang-cring-trang....."

Berkali-kali kedua pedang itu bertemu di udara dan bunga api berpijar ketika dua pedang yang sama kuatnya ini berbenturan.

Keduanya segera terlibat dalam perkelahian pedang yang amat seru.

sementara itu, sejak tadi Hwe Li memandang dengan mata terbelalak.

Bermacam perasaan teraduk dalam hatinya.

Jantungnya masih berdebar kalau ia teringat akan ciuman-ciuman yang diterimanya dari Siangkoan Tek tadi.

Masih terasa hangatnya ciuman itu.

Dan hatinya terasa panas sekali ketika mendengar betapa pemuda itu seolah-olah tergila-gila kepada gadis cantik yang kini bertanding dengan Siangkoan Tek.

la merasa cemburu.

Akan tetapi kenyataan bahwa gadis itu datang untuk menolongnya, membuatnya menjadi ragu.

kemudian ia melihat betapa gadis itu lihai sekali dan seolah mendesak Siangkoan Tek dengan pedangnya yang menjadi gulungan sinar merah.

Timbul rasa khawatir dalam hati Hwe Li, Jangan-jangan Siangkoan Tek akan kalah dan terluka, atau terbunuh.

Mendadak ada dorongan dari dalam hatinya, dan ia lalu mencabut pedangnya dan melompat maju menyerang Lee Cin, membantu Siangkoan Tek.

"Eh.....??"

Lee Cin terkejut dan merasa heran sekali ketika melihat betapa gadis yang ditolongnya itu tiba-tiba membantu Siangkoan Tek mengeroyoknya.

Biarpun ilmu pedang gadis itu tidak sehebat ilmu pedang Siangkoan Tek.

akan tetapi kepandaian gadis itu sudah cukup tinggi sehingga Lee cin segera terdesak ketika dikeroyok dua.

juga ia ragu-ragu untuk melukai gadis yang tidak dikenalnya itu.

Maka ia lalu memutar pedangnya dengan cepat untuk melindungi dirinya.

Ingin ia membunuh Siangkoan Tek yang ia tahu merupakan seorang pemuda mata keranjang, cabul dan jahat.

Akan tetapi dengan majunya Hwe Li, Lee Cin tidak melihat kesempatan untuk merobohkan Siangkoan Tek, bahkan sebaliknya ia menjadi terdesak sekali.

Ia merasa jengah sendiri kalau mengingat betapa ia tadi hendak menolong gadis itu, padahal kenyataannya gadis itu sama sekali tidak membutuhkan pertolongan.

Gadis itu tidak dipaksa atau terancam oleh Siangkoan Tek.

sebaliknya malah, gadis itu kini membantu pemuda itu yang menunjukkan bahwa gadis itu bersahabat erat dengan Siangkoan Tek.

Dan kini malah ia yang terancam bahaya.

Kalau tidak disudahi perkelahian itu, akhirnya ia tentu akan terkena senjata lawan.

Berpikir demikian, Lee Cin lalu menyerang dengan hebat ke arah Hwe Li yang membuat gadis ini terpaksa meloncat mundur ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lee cin untuk melompat jauh dan melarikan diri secepatnya.

Ia pikir bahwa yang akan mampu mengejarnya hanya Siangkoan Tek dan belum tentu gadis itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang dapat menandinginya sehingga dapat mengejarnya.

Kalau hanya Siangkoan Tek yang mengejar sendiri, setelah jauh ia akan menghadapi pemuda jahat itu.

Akan tetapi Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang cerdik.

Dia tidak terpancing dan tidak melakukan pengejaran.

Untuk apa mengejar Lee Cin kalau hal itu bahkan akan membahayakan?

Dia mendapat kenyataan betapa Lee Cin bahkan lebih lihai daripada dahulu.

Biarlah, sekali ini dia terpaksa membiarkan Lee Cin kabur, akan tetapi lain kali dia harus berusaha untuk dapat menangkap Lie Cin.

Hanya gadis itu yang dia anggap pantas untuk menjadi isterinya.

"Tek-ko."

Siangkoan Tek memutar tubuhnya, memandang Hwe Li sambil tersenyum dan menyimpan pedangnya.

Gadis itu sudah menyimpan pedangnya dan kini memandang kepadanya dengan marah "Li-moi, terima kasih.

Engkau telah membantuku"

"Tek-ko, siapakah gadis itu?"

Tanya Hwe Li sambil cemberut karena hatinya dicekam cemburu.

"Ah, ia? la bernama Lee Cin, dan ia murid seorang tokoh besar dunia persilatan yang berjuluk Ang-tok Mo-li. Ilmu kepandaiannya hebat, akan tetapi dengan bantuanmu, kita dapat mendesaknya dan kalau ia tidak melarikan diri, kita tentu akan dapat merobohkannya."

"Hemm, kalau dapat merobohkannya selanjutnya akan kau apakah?"

"Ia? Ah.. akan kubunuh tentu saja"

"Benarkah itu? Aku tadi mendengar betapa engkau selalu teringat kepadanya Tek-ko, engkau.. engkau cinta kepadanya"

"Hushh...., engkau ngawur, Li-moi. Kalau aku mencintanya, mengapa kami bertanding mati-matian? Aku memang selalu teringat kepadanya karena diantara kami pernah terjadi permusuhan"

"Akan tetapi engkau bilang tadi bahwa kalau ia mau ikut denganmu ke Pulau Naga, ayahmu akan....."

"Akan memaafkan kesalahannya dan menyudahi permusuhan antara kami. Ia lihai sekali, tidak enak bermusuhan dengan lawan selihai itu, maka aku membujuknya untuk menghabisi permusuhan. Jangan menyangka yang tidak-tidak, Li-moi. Aku hanya mencinta engkau seorang"

Setelah berkata demikian, Siangkoan Tek lalu merangkul dan menciumi gadis itu Hwe Li seperti mabok dan membiarkan dirinya dibelai dan ia hanya memejamkan matanya dan tenggelam ke dalam rangkulan Siangkoan Tek.

Kita tinggalkan dahulu Hwe Li yang tenggelam ke dalam lautan nafsu berahi, terbakar oleh berahi Siangkoan Tek dan gadis yang kurang pengalaman hidup dan yang memiliki pandangan sempit itu terbuai dan pasrah saja ke tangan pemuda yang menarik hatinya dan yang dianggapnya sebagai manusia terbaik di dunia ini.

Lee Cin melarikan diri dan ia mengerutkan alisnya, hatinya merasa penasaran sekali melihat sikap gadis yang ditolongnya itu.

Kalau tidak ada gadis itu yang membantunya, ia hampir yakin akan dapat membunuh pemuda jahat itu Ia teringat betapa dahulu, dua tahun yang lalu, ia bertemu dengan Siangkoan Tek dan ayahnya, Siangkoan Bhok.

Ia bertanding dengan mereka Can akhirnya tertotok roboh oleh dayung Siangkoan Bhok yang lihai.

Ketika itu, Siangkoan Tek membawanya ke balik semak-semak dan hendak memperkosanya, dibiarkan saja oleh ayah pemuda itu.

Untung baginya, pada saat yang amat gawat itu Ia tertolong oleh Thio Huisan murid In Kong Thaisu.

(baca Kisah Gelang Kemala).

Karena amat membenci Siangkoan Tek.

setelah peristiwa itu, ia mengambil keputusan untuk membunuh pemuda itu apabila bertemu kembali.

Ketika melihat Hwe Li meronta-ronta dalam pelukan Siangkoan Tek.

Lee Cin mengira bahwa pemuda itu hendak memperkosanya maka ia lalu membentak dan turun tangan menyerang Siangkoan Tek.

Akan tetapi siapa kira, setelah ia mulai mendesak Siangkoan Tek.

gadis itu terjun dalam perkelahiun dan malah membantu Siangkoan Tek mengeroyoknya.

Padahal ia beranggapan bahwa ia telah menyelamatkan gadis itu dari tangan Siangkoan Tek yang hendak memperkosanya.

Benar-benar membuat ia penasaran sekali.

Kalau dulu, di waktu ia masih berada di bawah bimbingan gurunya atau ibu kandungnya, Ang-tok Mo-li, ia tidak akan lari menghadapi perkelahian.

Biarpun ia terdesak oleh keroyokan dua orang, dahulu seperti gurunya ia tidak pernah mengenal takut, tidak pernah mau mundur apalagi melarikan diri.

Ia tentu akan kembali lagi dan menggunakan segala daya, kalau perlu memanggil ular-ularnya, untuk membalas dan berhasil membunuh Siangkoan Tek.

Akan tetapi semenjak ia tinggal bersama ayah kandungnya dan menerima bimbingan ayahnya, ia mendapat banyak nasihat dan di antaranya, agar ia tidak sembarangan membunuh orang dan tidak menjadi nekat walaupun keadaannya kalah kuat.

Tidak suka melarikan diri walaupun sudah terhimpit dan kewalahan, bukan sikap seorang yang gagah perkasa, melainkan perbuatan orang bodoh yang sama seperti ingin mati konyol atau membunuh diri sewaktu ada kesempatan, orang harus menyelamatkan diri lebih dulu, membebaskan diri dari ancaman maut agar dapat bertindak lebih jauh.

Bagaimana Lee Cin tiba-tiba dapat muncul di situ bertemu dengan Siangkoan Tek dan Hwe Li?

Gadis ini melakukan perjalanan bersama Thio Hui san, menuju ke Kwi-su di mana terdapat kuil siauw-lim-si.

Kebetulan sekali ketika mereka tiba di kuil itu, Hui sian Hwesio sedang berada di situ sehingga Lee cin dapat menghadap wakil ketua siauw-lim-pai ini dan menyampaikan pesan ayahnya kepada Huisan Hwesio.

Ketika itu, Hui sian Hwesio sedang duduk dengan in Kong Thaisu, ketua siauw-lim-pai.

Mendengar pesan Souw Tek Bun yang disampaikan Lee Cin bahwa bengcu ini mengundurkan diri, kedua orang hwesio itu mengerutkan alisnya.

"omitohud....."

Kata Hui sian Hwesio.

"Akan tetapi mengapa ayahmu Souw Tek Bun hendak mengundurkan diri sebagai bengcu? Padahal menurut pinceng (saya), pada waktu ini tidak ada orang lain yang lebih pantas untuk menjadi bengcu. Kenapa ada keputusan yang tiba-tiba ini?"

"Ayah mengambil keputusan ini setelah dia terluka oleh pukulan seseorang yang menggunakan pukulan telapak tangan hitam dan pukulan merontokkan jalan darah."

"omitohud.. siapa yang melakukan pukulan keji itu?"

In Kong Thaisu berkata sambil merangkap sepuluh jari tangannya ke depan dada.

"Teecu (murid) tidak tahu, juga Ayah tidak tahu karena penyerang itu berkedok hitam. Teecu berhasil menyelamatkannya dengan totokan-totokan it-yang-ci dan Ayah sudah minum obat pembersih darah. Akan tetapi Ayah masih harus menggunakan waktu sedikitnya sebulan untuk memulihkan tenaganya."

Hui sian Hwesio mengerutkan alisnya.

"Apakah hanya karena serangan itu souw Bengcu hendak mengundurkan diri? setiap orang pendekar selalu tentu menghadapi bahaya serangan musuh-musuh dari golongan sesat, bukan hanya kalau menjadi bengcu saja. Alasan souw Bengcu hendak mengundurkan diri sungguh tidak kuat dan tidak masuk akal."

"susiok, Ayah sama sekali bukan hendak mengundurkan diri karena takut menghadapi musuh. Akan tetapi ada suatu hal yang meresahkan hati Ayah, yaitu kalau dia dianggap sebagai bengcu antek Kerajaan Mancu. Karena dia diangkat bengcu dengan restu dari Kerajaan Mancu, maka para patriot dan pendekar yang anti penjajah tentu akan memusuhinya dan Ayah tidak senang kalau dia hares bermusuhan dengan para patriot karena dalam sudut hati Ayah sendiri, dia tidak suka kepada penjajah Mancu."

"omitohud..., kiranya itukah sebabnya?"

Kata Hui sian Hwesio.

"Kalau itu alasannya, sungguh masuk akal. Akan tetapi karena souw-bengcu menjadi bengcu setelah dipilih semua pihak. maka tidak bisa dia meletakkan kedudukan begitu saja. Dia harus mengundurkan diri di depan semua pihak dan mengingat bahwa pada bulan lima semua orang gagah kami undang ke Hong-san untuk mengadakan rapat membicarakan gerakan orang-orang gagah dipantai timur yang terbujuk orang-orang Jepang untuk mengadakan pemberontakan, maka sekalian ayahmu mengajukan pernyataan berhenti menjadi bengcu dalam rapat besar itu."

"Kalau begitu halnya, sebaiknya kalau susiok mengutus suheng Thio Hui san memberi kabar kepada Ayah, karena saya hendak melanjutkan perjalanan saya untuk mencarisi Kedok Hitam yang telah melukai ayah. Mohon petunjuk kepada suhu dan susiok, siapakah kira-kira si Kedok Hitam yang masih muda dan yang menggunakan pukulan penghancur jalan darah yang bertapak tangan hitam itu?"

Dua orang hwesio itu saling pandang, kemudian in Kong Thaisu menoleh kepada Thio Hui san.

"Hui san, engkau yang banyak berkelana di dunia kang-ouw, apakah engkau tidak dapat menduga siapa orang yang memiliki ilmu tapak tangan hitam penghancur jalan darah seperti itu?"

Tanyanya sambil menatap wajah muridnya.

"Teecu teringat bahwa memang ada sebuah keluarga yang namanya terkenal di dunia kang-ouw dengan ilmu silat tangan kosong mereka. Keluarga itu adalah keluarga Cia yang tinggal di Hui-cu, di kaki Bukit Lo-sian (Dewa Tua). Keluarga itu terkenal sekali dengan ilmu tapak tangan hitam mereka. Akan tetapi tokoh-tokohnya telah meninggal dunia dan yang tinggal hanya seorang nenek. Kabarnya Nenek Cia ini yang mewarisi semua ilmu keluarga cia. selanjutnya teecu tidak tahu, suhu."

"Hemm, keluarga Cia di Hui-cu kaki Bukit Lo-sian?"

Lee Cin menyambung sambil mengerutkan alisnya.

"Biarpun petunjuk itu samar dan mungkin keluarga Cia sama sekali tidak ada hubungannya dengan si Kedok Hitam, akan tetapi baik juga kalau aku menyelidiki ke sana, suheng."

"Memang sebaiknya begitu, Lee Cin. Akan tetapi ingat, engkau hanya menyelidiki saja, jangan sampai terjadi kesalah-pahaman sehingga engkau menjadi bermusuhan dengan keluarga itu. Jangan sekali-kali mudah menuduh orang sebelum engkau melihat buktinya. Eh, Hui san-keluarga Cia itu termasuk golongan apakah? Mudah-mudahan mereka bukan golongan sesat,"

Kata In Kong Thaisu.

"Sama sekali bukan, suhu. Menurut yang teecu dengar, keluarga itu malah terkenal sebagai keluarga yang menentang kejahatan, keluarga yang gagah perkasa akan tetapi tidak suka menonjolkan diri di dunia kang-ouw sehingga tentang mereka, tidak banyak orang mengetahuinya,"

Jawab pemuda itu.

Setelah menerima banyak nasihat dari in Kong Thaisu, Lee Cin lalu meninggalkan kuil siauw-lim-si untuk melanjutkan perjalanannya.

Kini tugasnya ada dua.

Pertama, menyelidiki keluarga Cia dan kedua, mencari ibunya dan membujuk ibunya agar suka berbaik kembali dengan ayahnya.

Sementara itu, Hui san juga meninggalkan kuil siauw-lim-si untuk memberi kabar kepada souw-bengcu tentang rapat pertemuan yang akan diadakan di Hong-san, tempat tinggal souw-bengcu.

dalam hatinya, pemuda ini merasa kecewa bahwa dia harus melakukan perjalanan seorang diri.

Alangkah beda rasanya melakukan perjalanan seorang diri dengan berjalan bersama Lee Cin.

Dia tahu bahwa dia sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada Lee cin.

Demikianlah, ketika melakukan perjalanan menuju ke kota Hui-cu di kaki Bukit Lo-sian, di tengah perjalanan Lee Cin bertemU dengan Siangkoan Tek dan souw Hwe Li.

sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa antara ia dan Hwe Li terdapat tali persaudaraan yang tidak begitu jauh.

Mereka berdua sama-sama bermarga souw dan souw Tek Bun masih terhitung saudara sepupu dari souw can, sungguhpun keduanya sejak muda sekali tidak pernah lagi saling berhubungan.

Kalau saja ia mengetahui, tentu tidak begitu mudah ia membiarkan Hwe Li berdua saja dengan pemuda yang ia ketahui amat keji itu.

Kota Bi-ciu merupakan kota yang cukup besar dan ramai karena kota itu menjadi pusat perdagangan.

Daerah itu merupakan gudang rempah-rempah dan juga penduduknya hidup makmur sehingga banyak barang dagangan dibawa para pedagang memasuki kota itu.

Karena banyaknya tamu yang setiap hari mendatangi kota Bi-ciu, di situ tumbuh rumah makan dan rumah penginapan seperti jamur di musim hujan.

Banyak restoran dan hotel, dari yang kecil sederhana sampai yang besar mewah.

Pada suatu siang, disebuah restoran yang cukup besar penuh dengan tamu yang hendak makan siang.

Karena restoran besar ini juga merangkap sebagai hotel yang memiliki puluhan kamar, maka restoran itu selalu penuh tamu dari luar ataupun tamu yang bermalam di situ.

siang itu hawanya panas sekali.

Apalagi dalam restoran yang penuh orang itu, hawanya lebih panas lagi.

Ketika para pelayan sedang sibuk melayani para tamu, masuklah seorang pemuda yang menarik perhatian orang.

Pemuda ini berwajah tampan dan pakaiannya serba putih dari sutera halus, potongannya seperti yang biasa dipakai para siucai (pelajar).

Akan tetapi walaupun pakaiannya seperti sastrawan, namun dipunggungnya tergantung sepasang pedang dan dipinggangnya terselip pisau pisau belati kecil sehingga tahulah orang bahwa pemuda itu tidak selembut tampaknya, melainkan seorang pemuda yang biasa berkelana di dunia kang-ouw.

Memang sebenarnya demikianlah, karena pemuda itu bukan lain adalah ouw Kwan Lok, murid Thian-te Mo-ong dan mendiang Pak-thian-ong itu.

Pengalamannya yang pertama amat pahit.

Ketika dia sudah berhasil melarikan Liu Ceng atau Ceng Ceng dan hendak memaksa gadis cantik itu menjadi kekasihnya, muncul Thian-tok Gu Kiat Seng dan terpaksa dia lari meninggalkan Ceng Ceng karena Thian-tok merupakan lawan yang amat tangguh, apalagi dibantu Ceng Ceng.

Pengalaman ini membuat Kwan Lok berhati-hati dan membuka matanya bahwa betapapun banyak ilmu yang telah diperolehnya dari kedua orang gurunya, di dunia kang-ouw banyak terdapat tokoh yang dapat menandinginya .

siang itu tibalah dia di kota Bi-ciu dan karena sejak pagi dia belum makan, dia memasuki rumah makan yang ramai dan disambut seorang pelayan dengan hormat.

"Kongcu hendak makan? Kebetulan sekali masih ada meja yang kosong, hanya tinggal satu meja itulah. Mari silakan, Kongcu."

Kwan Lok mengikuti pelayan itu dan duduk menghadapi meja kosong yang letaknya di sudut.

Meja itu barusaja ditinggalkan tamu yang makan.

Pelayan segera menggunakan kain lapnya untuk membersihkan meja itu sambil bertanya.

"Kongcu hendak memesan masakan apa?"

Kongcu itu menatap ke sebelah kirinya.

Terpisah tiga meja dari mejanya agak ke tengah, dia melihat seorang gadis makan seorang diri dan dilihat dari situ, gadis itu cantik sekali dan makan dengan gerakan halus dan sopan, namun kelihatan nikmat sekali.

"Aku hendak memesan nasi dan masakan seperti yang dimakan nona di sana itu."

Dia menunjuk ke arah gadis itu dan si pelayan mengangguk-angguk mengerti.

"Dan minumnya?"

"Arak seguci kecil dan air teh."

Pelayan pergi untuk mempersiapkan pesanan Kwan Lok dan pemuda ini sengaja duduk menghadap ke arah gadis itu sehingga dia dapat melihat gadis itu dari samping.

Dia kagum dan tertarik,.

Di atas meja depan gadis itu terdapat sebatang pedang Hal ini menunjukkan bahwa gadis itucun bukan orang lemah.

Kalau seorang gadis sudah berani metakukan perjalanan seorang diri membawa-bawa pedang, setidaknya ia tentu pernah belajar silat pedang dan melihat sikapnya yang demikian lembut namun tidak malu-malu dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, Kwan Lok dapat menduga bahwa gadis itu tentu memiliki ilmu kepandaian silat yang berarti.

Gadis itu dilihat dari samping amat cantik menarik.

Ketika gadis itu kebetulan menoleh ke arahnya, Kwan Lok dapat melihat wajah itu dari depan dan dia terpesona.

Bukan main cantik jelitanya gadis itu.

Aku harus dapat mendekatinya dan berkenalan dengannya, pikirnya.

Akan tetapi gadis itu berada di tempat umum dan menegur gadis itu begitu saja merupakan perbuatan yang kasar dan tidak sopan.

Kwan Lok tidak mau mendatangkan kesan buruk di hati gadis itu.

Kwan Lok sama sekali tidak pernah menduga bahwa gadis itu justru merupakan seorang di antara tiga orang musuh besar gurunya, yang harus dibunuhnya.

Thian-te Mo-ong, gurunya, berpesan kepadanya agar dia mencaritiga orang di dunia kang-ouw, yaitu pertama song Thian Lee, ke dua, seorang gadis bernama Tang cin Lan puteri Pangeran Tang Gi su dan ke tiga seorang gadis pula bernama Lee Cin murid Ang-tok Mo-li.

Dia tidak pernah menduga bahwa gadis itu adalah souw Lee cin.

Lee Cin melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Hui-cu untuk menyelidiki keluarga Cia yang kabarnya memiliki ilmu pukulan tapak tangan hitam dan pada hari itu ia tiba di kota Bi-ciu.

Melihat kola yang ramai itu, Lee Cin ingin tinggal beberapa hari lamanya untuk bertanya-tanya barang kali ibunya berada di kota itu.

Biarpun ibunya tinggal di Bukit Ular di lembah sungai Huang-ho, akan tetapi ibunya suka merantau dan sebelum mencari ibunya diBukit Ular, ia harus mendengar-dengar dan mencari keterangan disetiap tempat yang ramai kalau-kalau ibunya berada di situ.

Maka Lee Cin lalu mencari rumah penginapan yang juga mernbuka rumah makan besar di depan rumah penginapan-siang hari itu ia makan di rumah makan, tidak tahu bahwa ada orang yang sejak tadi memperhatikannya.

Setelah pesanan makannya dihidangkan, Kwan Lok segera makan sambil kadang-kadang melirik ke arah gadis itu yang makan dengan perlahan.

Tiba-tiba tiga orang pria memasuki rumah makan itu.

Melihat pakaian mereka mudah diketahui bahwa mereka adalah tiga orang pria yang kaya dan melihat lagak mereka dapat diduga pula bahwa mereka tentulah orang-orang yang merasa berkuasa.

Dua orang pelayan segera menyambut mereka dan dua orang pelayan itu membungkuk-bungkuk penuh hormat.

Tiga orang yang usianya sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun itu bertolak pinggang dan memandang kesana-sini, melihat meja meja yang penuh tamu.

"Mohon maaf sebesarnya, sam-wi Kongcu (Tiga orang Tuan muda), akan tetapi rumah makan kami penuh tamu dan tidak ada sebuah pun meja yang kosong. silakan menunggu sebentar sampai ada tamu yang selesai makan dan meninggalkan mejanya."

Tiga orang itu memandang ke sekeliling dan tiba-tiba seorang di antara mereka menunjuk ke arah meja yang dihadapi Lee cin, lalu berkata kepada pelayan itu.

"Kami lihat di sana itu, satu meja hanya dipakai makan seorang saja. Kami dapat mengajak nona itu makan bersama"

Dua orang temannya juga memandang dan mereka mengangguk sambil tersenyum simpul.

kemudian bergegas mereka menghampiri meja Lee cin, diikuti oleh seorang pelayan yang kelihatan gelisah.

Setelah tiba di situ, mereka lalu menarik tiga buah bangku yang masih kosong lalu duduk menghadapi meja Lee Cin yang masih makan.

Tentu saja gadis itu merasa heran dan memandang dengan alis berkerut kepada tiga orang itu "Nona, bangku-bangku ini masih kosong bukan?"

Tanya seorang.

"semua tempat penuh, kami dapat duduk disini, bukan?"

Kata orang kedua.

"Daripada Nona makan seorang diri tiada teman, biarlah kami bertiga menemani Nona makan minum. Hei, pelayan, cepat sediakan arak terbaik dan keluarkan masakan yang termahal dan paling lezat untuk kami. Nona ini makan bersama kami dan semua kami yang akan bayar"

Kata orang he tiga dengan gembira. Lee cin minum air tehnya lalu berkata lembut.

"Harap kalian bertiga mencari meja lain dan jangan mengganggu aku. Aku tidak ingin ditemani."

"Aih, kenapa, Nona? Kami tidak akan mengganggu, bahkan hendak menjamu dengan hidangan termahal."

"Kami akan menjadi teman makan yang menyenangkan, Nona."

"Kami adalah tiga orang muda paling terkenal di kota ini, undangan kami merupakan kehormatan besar bagi Nona."

Lee Cin menjadi jengkel.

Lenyap selera makannya oleh gangguan itu Kalau ia menjadi marah dan menghajar tiga orang laki-laki tidak sopan ini, tentu ia akan menggemparkan rumah makan yang penuh tamu itu, juga tentu akan ada prabot yang rusak dan para tamu tentu akan meninggalkan tempat itu.

Ia tidak menghendaki terjadi keributan.

Akan tetapi kalau didiamkan saja, tiga orang laki-laki ini tentu menjadi semakin kurang ajar.

Ia mengukur dengan pandang matanya jarak di antara mereka dan ia.

Jari tangannya tidak akan sampai ke tubuh mereka, akan tetapi kalau disambung sumpit, tentu sampai.

"sekali lagi, kuminta kalian bertiga cepat meninggalkan aku seorang diri, atau aku akan menghajar kalian"

Katanya perlahan akan tetapi penuh wibawa. Tiga orang laki-laki itu tersenyum lebar.

"Akan enak sekali kalau dihajar oleh Nona yang cantik ini,"

Kata seorang di antara mereka dan yang dua orang menyeringai kurang ajar.

Dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti dengan mata, tangan kanan Lee Cin yang masih memeggng summit itu bergerak tiga kali dan tiga orang pria itu seolah berubah menjadi patung, duduk tidak bergerak dan tidak dapat bersuara lagi, hanya matanya saja yang memandang dengan kaget dan ketakutan-Lee Cin sudah tidak berselera lagi.

Ia menaruh sumpitnya dan menggapai seorang pelayan.

Pelayan itu bergegas menghampiri dan Lee Cin membayar harga makanan.

Tadinya pelayan itu tidak tahu bahwa tiga orang muda yang tidak sopan itu berubah menjadi patung.

Akan tetapi setelah Lee Cin bangkit dan pergi membawa pedangnya, tiga orang itu masih duduk seperti patung, dan pelayan itu memandang keheranan.

Akan tetapi dia pun tidak berani mengganggu dan meninggalkan tiga orang itu yang telah memesan arak terbaik dan makanan paling mahal.

semua pelayan mengenal siapa tiga orang pria itu.

Mereka adalah putera seorang bangsawan dan dua orang hartawan, dan terkenal amat royal, akan tetapi juga selalu menghendaki agar perintah mereka ditaati.

Tentu saja Kwan Lok yang sejak tadi memperhatikan Lee Cin, dapat melihat apa yang dilakukan gadis itu kepada tiga orang pria kurang ajar itu.

Diam-diam dia terkejut sekali.

Cara Lee Cin menotok ketiga orang pengganggunya menunjukkan bahwa gadis itu seorang ahli totok yang lihai sekali.

Maka cepat dia pun membayar harga makanan dan mengikuti gadis itu keluar rumah makan.

Kwan Lok membayangi dari kejauhan sehingga Lee Cin tidak menaruh curiga.

Setelah pelayan datang membawa arak dan hidangan ke meja tiga orang pria tadi, barulah pelayan merasa heran dan curiga.

Tiga orang itu tetap duduk diam saja.

"sam-wi Kongcu, makanan telah saya hidangkan,"

Katanya. Tidak ada yang menjawab.

"silakan sam-wi makan,"

Katanya lagi sambil memandang wajah mereka.

Dan melihat mata mereka yang bergerak-gerak ketakutan itu barulah pelayan itu menjadi sadar bahwa tiga orang laki-laki itu tidak mampu bergerak.

Yang bergerak hanya biji mata mereka.

Tentu saja dia menjadi panik dan segera memberi tahu para pelayan lain.

Keadaan menjadi ribut ketika para tamu mengetahui bahwa ada hal yang tidak beres dengan tiga orang itu Pemilik rumah makan yang juga mengenal baik para pemuda itu, menjadi khawatir.

Pemuda-pemuda yang menjadi kaku itu diurut-urut, digosoki minyak.

namun tetap saja tidak bergerak.

Akhirnya seorang yang terkenal sebagai tukang pukul datang mendekati.

Dia adalah seorang yang pandai ilmu silat dan melihat keadaan tiga kongcu itu, dia pun menotok dan menekan sana sini, mencari jalan-jalan darah terpenting dan akhirnya dia berhasil secara kebetulan memunahkan totokan dan tiga orang itu pulih dan dapat bergerak kembali.

setelah dapat bergerak kembali, tiga orang itu mencak-mencak.

"Keparat!! Di mana adanya gadis siluman tadi?"

Mereka membentak-bentak.

akan tetapi tidak ada pelayan yang mengetahui.

Tukang pukul itu pun mengenal Lu-kongcu, seorang di antara tiga pemuda itu, karena dia adalah putera Kepala Daerah kota Bi-ciu.

Melihat kesempatan baik ini untuk menonjolkan jasanya, dia lalu bertanya kepada Lu-kongcu.

"Gadis siluman mana yang telah mengganggu Kongcu? saya yang akan menangkap dan menyeretnya ke depan kaki Kongcu"

Mendengar ini, Lu-kongcu lalu mengajak dua orang kawannya dan tukang pukul itu untuk berlari keluar dari rumah makan. setibanya di luar, dia berkata kepada tukang pukul yang bernama Coa Gu itu.

"Cepat kumpulkan kawan-kawanmu dan sebar mereka untuk mencari seorang gadis berpakaian cerah berkembang, ada lesung pipit di kedua pipinya dan ia membawa sebatang pedang. Kalau bertemu cepat memberitahu padaku, akan kukerahkan perajurit menangkapnya"

"Baik, Lu-kongcu"

Si Tukang Pukul lalu cepat pergi untuk melaksanakan perintah itu dan tiga orang pemuda itu lalu pulang ke rumah Lu-kongcu.

setibanya di rumah, pemuda putera Kepala Daerah itu lalu minta kepada kepala jaga agar mempersiapkan dua losin perajurit untuk menangkap "penjahat".

Tak lama kemudian, tukang pukul itu sudah berlari menghadap dan mengatakan bahwa anak buahnya telah menemukan gadis itu yang sedang berjalan-jalan di taman umum di tengah kota Bi-ciu.

Mendengar ini, Lu-kongcu dan dua orang kawannya, diiringkan dua losin perajurit, mengikuti tukang pukul Coa Gu dan berlari-lari menuju ke taman bunga umum yang dimaksudkan itu.

Lee Cin memang memasuki taman bunga yang cukup indah dari kota Bi-ciu.

Di tengah taman itu terdapat sebuah kolam ikan yang cukup luas dan terdapat banyak ikan emas berenang di antara bunga teratai yang sedang berkembang.

Banyak orang yang menonton keasyikan ikan-ikan itu berkejaran.

Lee Cin tidak tahu bahwa di antara mereka terdapat Kwan Lok yang terus membayanginya sejak dari rumah makan tadi juga ia tidak tahu bahwa ia dicari banyak orang yang kemudian seorang dari mereka mcnemukan ia di taman itu Disekeliling kolam ikan itu terdapat bangku-bangku panjang, memang disediakan kepada mereka yang suka menonton ikan.

Lee Cin duduk di atas sebuah bangku, pedangnya sudah ia ikatkan dipunggung.

ia membeli roti kering yang dijual tak jauh dari situ dan memberi makan ikan dengan roti kering.

sungguh asyik dan menggembirakan melihat betapa ikan-ikan itu berduyun-duyun berenang dan memperebutkan makan itu.

Lee cin tidak merasa bahwa waktu cepat berlalu dan sudah cukup lama ia duduk di bangku itu Roti kering sudah habis diberikan kepada ikan-ikan, akan tetapi ia masih duduk termenung.

Melihat ikan yang berkelompok dan hilir mudik berenang berbarengan itu, ia merasa bahwa ia bagaikan seekor ikan tunggal yang tiada kawan.

satu-satunya kawan dalarn hidup ini baginya hanyalah ayah kandungnya.

Ia merasa rindu kepada ibunya, dan rindu kepada kawan-kawan yang dahulu sempat dikenalnya.

Ia rindu kepada Tang cin Lan, rindu kepada song Thian Lee.

Alisnya berkerut dan ia merasa bersedih.

Pernah ia jatuh cinta mati-matian kepada Thian Lee, akan tetapi ia melihat kenyataan yang menyedihkan bahwa pemuda pujaannya itu tidak membalas cintanya, bahwa Thian Lee telah mencinta gadis lain, yaitu Cin Lan.

Mereka kini telah menikah dan tinggal di kota raja.

Thian Lee menjadi seorang panglima besar dan hidup berbahagia dengan cin Lan.

Diam-diam ia merasa iri kepada Cin Lan dan makin iba kepada diri sendiri la tenggelam ke dalam lamunan yang menyedihkan sehingga lupa bahwa ia telah lama sekali duduk termenung di tempat itu, kini tidak lagi memandang kepada ikan-ikan.

Pandang matanya kosong dan menerawang jauh.

Tiba-tiba ia mendengar bentakan-bentakan di sekelilingnya.

"Itu dia orangnya"

"Tangkap siluman betina itu"

"Kepung, jangan sampai lolos"

Lee Cin tadinya tidak menyadari apa artinya seruan-seruan itu, akan tetapi ketika ia melihat banyak orang berpakaian perajurit mengepungnya, baru ia menyadari bahwa ia yang akan ditangkap.

Tentu saja ia merasa heran dan bangkit memandangi para perajurit itu dengan alis berkerut, akan tetapi ketika ia melihat tiga orang muda yang berteriak-teriak mengomando para perajurit itu, tahulah ia mengapa ia akan ditangkap.

Kiranya tiga orang pemuda yang mengganggu di rumah makan dan yang ditinggalkannya dalam keadaan tertotok yang memimpin pasukan itu untuk menangkapnya sekitar dua puluh orang lebih perajurit mengepungnya dengan golok di tangan dan sebagian besar dari mereka bersikap ragu-ragu.

Tentu saja para perajurit itu merasa ragu.

Haruskah mereka yang berjumlah dua losin perajurit itu mengeroyok seorang gadis muda yang cantik jelita?

Api kemarahan menyala di hati Lee Cin.

Akan tetapi segera terngiang di telinganya akan nasihat-nasihat ayah kandungnya bahwa ia tidak boleh sembarangan membunuh orang.

Dan ia teringat pula kepada Thian Lee, pendekar yang juga pantang membunuh orang begitu saja.

Para perajurit ini tidak bersalah.

Mrmang pekerjaan mereka untuk mematuhi perintah atasan.

Yang bersalah adalah tiga orang muda itu.

sudah bersikap kurang ajar kepadanya masih tidak menyadari kesalahan bahkan mengerahkan perajurit untuk menangkapnya.

Tiga orang itulah yang patut dihajar.

Ketika para perajurit mengepung semakin dekat, ia tidak mencabut pedangnya, melainkan mencabut sulingnya.

suling itu pun merupakan sebuah senjata yang ampuh, akan tetapi hanya untuk menotok lawan, bukan untuk melukai atau membunuh walaupun ada beberapa macam totokan yang merupakan totokan maut.

"Kalian mau apa?"

Teriaknya di antara gemuruh suara para pengepung.

Tiga orang pemuda itu kini menjadi berani karena mereka mengandalkan dua losin perajurit.

Mereka melangkah maju menghadapi Lee Cin dan putera Kepala Daerah itu menudingkan telunjuknya kepada Lee cin.

"Gadis sombong.. Engkau telah berani menghinaku, menghina kami bertiga. Kami akan menyeretmu untuk diberi hukuman"

Setelah berkata demikian, pemuda itu memberi isyarat dengan tangannya kepada para perajurit untuk menyerbu.

Akan tetapi Lee cin sudah bergerak cepat sekali.

Tubuhnya berkelebat ke depan dan hampir tidak dapat dilihat gerakannya, akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan beruntun tiga kali, disusul suara air tertimpa benda berat dan tiga orang pemuda itu sudah gelagapan di dalam kolam ikan sialnya mereka tidak dapat berenang sehingga megap-megap dan berteriak minta tolong.

para perajurit segera menolong mereka dan sebagian lagi sudah mengeroyok Lee cin.

Gadis itu menggerakkan sulingnya menangkis golok-golok yang menyambarnya dari segala penjuru.

Ia harus memutar sulingnya menjadi segulung sinar hitam yang menyelimuti dirinya sehingga tidak dapat dilukai golok.

tangan kirinya menampar-nampar dan kakinya menendang-nendang merobohkan para pengeroyok.

Pada saat itu terdengar suara lembut.

"Jangan khawatir, Nona. Aku membantumu menghajar orang-orang tidak tahu malu ini"

Dan muncullah Kwan Lok yang segera terjun ke dalam pertempuran.

Melihat bayangan putih berkelebat dan seorang pemuda berpakaian serba putih yang tampan mengamuk membantunya, Lee cin mengerutkan alisnya.

Apalagi melihat betapa pemuda itu walaupun tidak menggunakan pedang yang berada dipunggungnya, namun melakukan pukulan keras yang membuat beberapa orang perajurit roboh pingsan, ia khawatir kalau pemuda itu membunuh orang.

"Aku tidak butuh bantuanmu"

Katanya dan Lie cin segera melompat jauh dan melarikan diri dari pengeroyokan para perajurit.

Melihat gadis itu melarikan diri, Kwan Lok khawatir kehilangan gadis itu, maka dia pun menendang roboh dua orang perajurit, lalu dia meloncat melakukan pengejaran.

Para perajurit berteriak-teriak melakukan pengejaran, akan tetapi gadis dan pemuda baju putih itu sudah menghilang di antara keramaian banyak orang.

Mereka terpaksa kembali ke taman dan mengawal tiga orang yang basah kuyup dan terengah-engah itu kembali ke rumah kediaman Kepala Daerah.

Akan tetapi putera Kepala Daerah tentu saja menjadi semakin sakit hati dan dia memerintahkan para perajurit untuk mencari gadis dan pemuda berpakaian putih itu.

Bahkan dia juga menggerakkan para tukang pukul dan para berandalan yang berada di kota Bi-ciu untuk bantu mencari.

Sementara itu, Lee cin berhasil menyelinap di antara banyak orang dan setelah melihat bahwa tidak ada yang mengejarnya, ia langsung pergi ke rumah penginapan.

Ia tidak tahu bahwa dari jauh ia dibayangi Kwan Lok.

Karena peristiwa pengeroyokan di taman itu membuat tubuhnya berkeringat, Lee Cin lalu minta disediakan air lalu mandi.

Baru saja ia berganti pakaian, daun pintu kamarnya diketuk orang.

ia terkejut dan mengira bahwa yang mengetuk pintu itu adalah perajurit-perajurit yang mengejar dan mencarinya.

"siapa?"

Tanyanya dengan suara tegas.

"saya Nona. saya pelayan."

Lee Cin membuka daun pintu dan benar saja. seorang pelayan berdiri di luar pintu dan membungkuk dengan hormatnya.

"Ada apa?"

"Nona, di luar terdapat seorang yang minta bertemu dan bicara dengan Nona."

"suruh tunggu di luar, akan kutemui dia,"

Kata Lee Cin sambil menduga-duga siapa gerangan orang yang hendak bertemu dan bicara dengannya itu.

setelah membereskan rambutnya, Lee Cin keluar dan di ruangan tengah yang dipergunakan sebagai ruang tamu, duduk seorang pemuda yang dikenalnya sebagai pemuda berpakaian serba putih yang tadi membantunya menghadapi pengeroyokan para perajurit.

Ia mengerutkan alisnya akan tetapi terus melangkah menghampiri.

Pemuda itu adalah Kwan Lok.

Melihat Lee cin, dia cepat berdiri dan memberi hormat.

"selamat slang, Nona. Maafkan kalau aku mengganggumu."

Pemuda yang bicara lembut dan bersikap hormat, pikir Lee Cin dan ia pun membalas penghormatan orang.

"siapakah engkau dan ada keperluan apa ingin bertemu dan bicara denganku."

Suara Lee Cin datar saja dan pemuda itu lalu menoleh ke kanan kiri. Kebetulan pada siang hari itu di ruangan itu tidak terdapat orang lain, juga pintu-pintu kamar yang berderet itu semua tertutup.

"Aku ingin menyampaikan berita penting sekali, Nona. Namaku ouw Kwan Lok dan aku tidak berniat buruk terhadap Nona. sebaliknya aku malah hendak menyampaikan suatu bahaya yang besar bagi keselamatanmu."

Lee Cin tidak mengenal nama itu dan sepanjang ingatannya, belum pernah ia bertemu dengan pemuda yang bernama ouw Kwan Lok itu, kecuali tadi dalam taman umum.

"Bahaya apakah itu?"

Lee Cin bertanya, suaranya tenang saja sehingga diam-diam Kwan Lok menjadi semakin kagum. sungguh seorang gadis yang amat cantik jelita dan juga amat gagah perkasa, pikirnya.

"Aku melihat dijalan raya banyak terdapat perajurit, Nona, juga gerombolan orang berandalan yang sengaja mencarimu. Tentu ada hubungannya dengan perkelahian di taman umum tadi. Agaknya mereka masih penasaran-Ketahuilah bahwa seorang di antara tiga orang pemuda, itu adalah putera Kepala Daerah."

"Hemm, kalau mereka mencari karena urusan perkelahian tadi, mereka tentu juga akan mencarimu karena engkau mencampurinya pula dan merobohkan beberapa orang perajurit."

"Kalau aku sudah siap untuk itu, Nona."

"Hemm, apa kau kira yang siap itu hanya engkau? Aku pun sudah siap menghadapi mereka dan aku tidak takut. Pula, aku tidak minta bantuanmu, karena itu, sobat tinggalkan aku sendiri"

Pemuda itu tersenyum. Koangkuhan yang menunjukkan kegagahan, pikirnya.

"Aku mengerti bahwa engkau mampu melindungi diri sendiri, Nona. Akan tetapi maksudku, aku siap bukan untuk melawan mereka. Kita tidak mungkin melawan pasukan pemerintah Nona. Yang kumaksudkan dengan slap adalah ini."

Kwan Lok mengambil sesuatu dari sakunya dan begitu tangannya menempel di mukanya, ketika tangannya turun Lee Cin melihat pemuda itu sudah berubah wajahnya.

Kini dia memakai kumis yang tebal dan janggot yang panjang.

Tentu saja wajahnya menjadi berubah sama sekali.

Ia sendiri tentu tidak akan mengenalnya kalau bertemu dijalan.

Hampir saja Lee cin tertawa melihat wajah yang berubah itu.

Lucu nampaknya.

"Apa kau maksudkan bahwa aku harus pula menyamar?"

"Begitulah, Nona. Demi menjaga keselamatan dan menjauhkan pertempuran melawan pasukan, sebaiknya kalau Nona menyamar sebagai pria. Dengan begitu kita akan mudah saja keluar dari kota ini tanpa dicurigai dan diketahui."

Sebuah gagasan yang bagus, pikir Lee Gin.

"Akan tetapi.."

"Nona maksudkan pakaian?jangan khawatir aku sudah mempersiapkan untukmu."

Kwan Lok menyerahkan sebuah bungkusan-"sekarang berdandanlah dan aku menanti Nona di luar restoran di depan itu."

Lee Cin menerima bungkusan itu karena pada saat itu ia tidak melihat jalan yang lebih baik daripada apa yang diusulkan pemuda bernama ouw Kwan Lok itu.

Ia membawa bungkusan masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian dia sudah berdandan sebagai seorang pemuda yang tampan sekali.

Lee Cin tersenyum sendiri melihat bayangannya di cermin dan setelah membawa buntalan pakaiannya, memasang pedang Ang-coa-kiam sebagai sabuknya, menyelipkan suling dipinggang, dia lalu melangkah keluar dengan langkah gaya seorang pemuda Di luar sudah menunggu Kwan Lok yang memakai kumis dan jenggot.

Tanpa bicara Kwan Lok lalu berjalan berdampingan dengan Lee Cin.

sikap kedua orang ini biasa dan wajar saja sehingga tidak menarik perhatian orang.

siapa yang akan memperhatikan seorang setengah tua dan seorang pemuda berpakaian aneka warna kalau yang dicari itu seorang gadis dan seorang pemuda berpakaian serba putih?

Lee Cin melihat betapa jalan-jalan raya penuh dengan perajurit kerajaan dan diam-diam ia bersukur dan memuji akal Kwan Lok untuk dapat keluar dari kota itu tanpa gangguan.

Kalau ia harus melawan pasukan sebanyak itu, sungguh repot sekali.

Mereka berlenggang keluar dari kota Bi-ciu dan setelah mereka meninggalkan kota itu sejauh belasan mil, barulah hati mereka merasa lega.

Kwan Lok menanggalkan jenggot dan kumis palsunya, akan tetapi Lee Cin tetap memakai pakaian pria itu.

Untuk berganti pakaian ia harus mencari tempat yang sunyi dan tidak tampak oleh siapapun juga .

"Nah, sekarang kita telah selamat dari pencarian pasukan-Karena itu kita berpisah di sini, saudara Kwan Lok, dan kita mengambil jalan masing-masing. Terima kasih atas bantuanmu sehingga aku dapat menghindari perkelahian dengan pasukan."

Kwan Lok memandang dengan mata terkejut. sama sekali tidak disangkanya bahwa dia harus berpisah sedemikian cepatnya dari gadis yang dikaguminya ini.

"Kenapa.. kita harus berpisah?"

Tanyanya gagap. Lee Cin memandang tajam.

"Kenapa tidak? Kita mempunyai urusan masing-masing dan harus berpisah."

"Eh, maksudku, mengapa kita berpisah begitu saja, tanpa aku mengetahui namamu, Nona? Bukankah dengan pengalaman ini kita telah menjadi sahabat dan aku sudah memperkenalkan namaku?"

Lee Cin tersenyum.

Memang keterlaluan kalau ia tidak memperkenalkan diri Bagaimanapun juga , pemuda ini sudah membantunya ketika dikeroyok pasukan dan memberi isyarat yang baik sekali sehingga ia dapat keluar dari Bi-ciu tanpa perkelahian-"Baiklah kalau engkau ingin mengetahui.

Namaku adalah souw Lee Cin dan aku datang dari Hong-san-"

Mendengar nama ini, Kwan Lok menelan kembali rasa kagetnya sehingga di wajahnya tidak nampak sesuatu.

Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar nama itu, karena nama itulah yang disebut suhunya sebagai seorang di antara musuh-musuh gurunya yang harus dibunuhnya semua musuh gurunya ada tiga orang yang harus dicari dan dibunuhnya, yaitu souw Lee Cin-song Thian Lee dan Tang cin Lan-sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis cantik yang menarik hatinya ini adalah seorang di antara mereka bertiga.

Akan tetapi, dengan cepat dia dapat menekan perasaannya yang tegang dan dengan suara biasa dia bertanya.

"Dari Hong-san dan she souw? Aku jadi teringat akan souw Tek Bun, bengcu yang tinggal di Hong-san. Apakah ada hubungan antara engkau dengan bengcu itu?"

"Dia adalah ayahku,"

Kata Lee Cin-"Ah, pantas saja engkau memiliki ilmu silat yang tinggi, Adik Lee Cin, kiranya engkau adalah puteri Bengcu souw Tek Bun yang terkenal dengan julukan sin-kiam Hok-mo (Pedang sakti Penaluk lblis) Aku telah bersikap kurang hormat."

Pemuda itu lalu memberi hormat kepada Lee Cin yang dibalas dengan sepantasnya.

"Kalau aku boleh bertanya, Cin-moi, engkau hendak ke manakah dan ada urusan apakah? siapa tahu, aku dapat membantumu."

Kwan Lok bersikap akrab sekali sehingga Lee Cin merasa tidak enak kalau sikapnya terlalu dingin terhadap pemuda itu.

juga ia teringat bahwa pemuda ini agaknya mempunyai banyak pengalaman.

Siapa tahu dia dapat memberi keterangan tentang si Kedok Hitam yang dicarinya.

"Aku sedang merantau untuk memperluas pengalaman, ouw-twako Akan tetapi aku ingin sekali tahu tentang keluarga Cia di Hui-cu di kaki Bukit Lo-sian. Apakah engkau tahu tentang mereka dan adakah tokoh mudanya yang menonjol di antara mereka? juga aku ingin tahu tentang ilmu silat mereka yang kabarnya amat tinggi."

"Keluarga cia di Hui-cu? Aku hanya mendengar bahwa keluarga itu amat terkenal di daerahnya dan mereka memiliki ilmu silat yang tangguh. Kalau tidak salah, mereka menguasai ilmu pukulan semacam Hek-tok ciang (tangan Racun Hitam), akan tetapi aku sendiri tidak pernah bertemu dengan mereka. Ada urusan apakah engkau menyelidiki keadaan mereka, cin-moi?"

"Ah, tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu karena mendengar nama besar mereka,"

Kata Lee cin-"Nah, sekarang kita harus berpisah, ouw-twako, aku hendak melanjutkan perjalananku merantau."

"Akan tetapi, bagaimana kalau kita merantau bersama, Cin-moi? Aku juga sedang merantau."

Lee Cin mengerutkan alisnya dan menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata tajam menyelidik.

"Tidak bisa, Twako. Tidak pantas bagi seorang gadis melakukan perjalanan bersama seorang pemuda. selamat berpisah"

Ia memberi hormat lalu membalikkan tubuh dan melompat jauh dan melarikan diri secepatnya.

Kwan Lok mengikuti bayangan gadis itu dan dia pun cepat berlari mengejar.

Lee Cin berjalan biasa setelah ia berlari cepat beberapa mil jauhnya.

Ia lari hanya untuk cepat meninggalkan Kwan Lok.

Biarpun ia melihat bahwa Kwan Lok serang pemuda yang baik dan sopan, akan tetapi hal itu masih belum membuat ia percaya untuk melakukan perjalanan berdua saja dengan pemuda itu.

Ia telah berganti pakaian biasa, pakaian wanita dan meninggalkan pakaian pria pemberian Kwan Lok itu di dalam hutan-Sore hari itu hawanya panas sekali.

Ketika tiba di sebuah tikungan di luar hutan yang ditinggalkannya, Lee Cin melihat sebuah warung minuman yang didirikan di tepi jalan.

Ada tulisan "Teh Harum"

Yang besar di depan kedai minuman itu.

Ia tertarik dan melihat bahwa kedai itu sepi tidak ada pengunjungnya.

Dua orang yang menjaga kedai itu menganggur.

Karena merasa haus, Lee Cin lalu menghampiri kedai itu.

seorang di ahtara penunggu kedai itu lalu bangkit menyambutnya.

"Nona hendak menghilangkan haus? silakan, Nona, teh kami amat harum dan lezat, tentu akan dapat menghilangkan haus di sore yang panas ini."

Lee Cin memandang kepada mereka dan diam-diam hatinya menaruh kecurigaan.

Kedai itu hanya terdiri dari tenda yang dipasang di situ dan agaknya belum lama dipasang.

Dan dua orang itu kelihatan kokoh kuat berusia kurang lebih empat puluh tahun, tidak pantas menjadi penjual minuman, pantasnya menjadi pekerja kasar yang menggunakan tenaga.

Apa lagi orang ke dua yang berkumis itu memiliki pandang mata yang mencurigakan, seperti pandang mata seorang yang bermaksud jahat.

Akan tetapi Lee Cin tidak peduli.

Ia memang sedang haus dan ia tidak membawa bekal minuman-"Sediakan sepoci air teh yang harum dan hangat,"

Kata Lee Cin.

Kalau sedang kepanasan seperti itu, minum air teh hangat akan dapat menghilangkan haus.

Biarpun ada kecurigaan dalam hatinya, namun Lee Cin tidak memperlihatkannya dan duduk di atas bangku menghadapi meja dengan tenang.

ia tidak dapat melihat kedua orang itu, akan tetapi pendengarannya yang tajam dapat menangkap keduanya berbisik-bisik.

Tahulah ia bahwa ia harus waspada.

Kalau dua orang bicara berbisik-bisik seperti itu tentu mengandung niat yang kurang baik.

"Ini tehnya, Nona. silakan minum."

Lee Cin mengangkat muka dan melihat pelayan yang tadi datang membawa sepoci teh yang masih mengepul panas berikut sebuah cawan kecil yang biasa dipakai untuk minum teh.

Dengan sikap biasa Lee Cin menuangkan air teh dari poci ke dalam cawan-Air teh hijau kekuningan itu tampak jernih dan tercium bau harum sekali.

Harus diakui bahwa teh itu memang bermutu baik.

setelah meniup-niup air teh dalam cawan sehingga menjadi berkurang panasnya, mulailah Lee Cin minum air teh itu sedikit-sedikit.

Rasanya memang lezat sekali dan kehangatan air teh membuat dada dan perutnya terasa hangat pula.

Ia mengangguk-angguk.

memuji dalam hatinya.

seperti lenyap rasa lelahnya, juga baru habis secawan saja, lehernya tidak merasa haus lagi.

Ia menuangkan lagi secawan, diminumnya habis, menuangkan lagi.

setelah habis tiga cawan, Lee Cin tampak memejamkan kedua matanya, memijit-mijit kening dan pelipisnya, kemudian tiba-tiba lehernya terkulai dan ia merebahkan kepalanya di atas meja di depannya, seperti orang tertidur atau pingsan-Melihat ini, dua orang pelayan itu berloncatan menghampiri "Ia sudah terbius, sudah pingsan-Ha-ha-ha, tidak kusangka semudah itu"

Kata pelayan yang menghidangkan air teh tadi.

"Ini membuktikan bahwa obat bius pemberian Kongcu itu benar-benar manjur. Aduh cantiknya"

Dengan gerakan, kurang ajar pelayan yang berkumis itu menyentuh dagu Lee Cin dengan telunjuk jarinya.

"Hush, apa engkau sudah bosan hidup?"

Tegur orang pertama.

"Kita harus membawa Nona ini kepada Kongcu, tanpa cacat dan jangan engkau berani menyentuhnya. Cepat, kau gulung tenda dan singkirkan meja dan bangku, aku akan membawa Nona ini sekarang juga kepada Kongcu"

Setelah berkata demikian orang pertama ini lalu memanggul tubuh Lee cin di pundaknya sambil membawa buntalan pakaian Lee Cin yang tadi diletakkan di atas meja oleh pemiliknya.

Dan ternyata orang itu kuat sekali.

Dia memanggul tubuh Lee Cin lalu berlari cepat menuju ke bukit kecil yang berada takjauh dari situ.

Di atas bukit itu terdapat sebuah pondok kecil dan orang itu mengetuk daun pintu yang tertutup.

"Kongcu, saya sudah berhasil membawa Nona ini ke sini seperti yang Kongcu perintahkan-"

"Bawa masuk saja dan rebahkan di kamar,"

Terdengar jawaban suara laki-laki yang lembut.

Orang yang tadi berpura-pura menjadi pelayan itu lalu mendorong daun pintu terbuka, dan membawa Lee Cin memasuki pondok.

Pondok kecil itu hanya mempunyai sebuah kamar.

Dibukanya pintu kamar dan dia lalu merebahkan tubuh Lee Cin di etas sebuah dipan bambu, kemudian meletakkan buntalan pakaian di atas meja kecil lalu dia keluar lagi.

Lee Cin masih dalam keadaan tidur atau pingsan, menggeletak telentang di atas dipan.

suara yang lembut tadi berkata lagi.

"Sekarang keluarlah dan kalian berdua berjaga di luar pondok. Cepat beritahu kalau ada orang datang mendaki bukit dan menuju ke sini."

"Baik, Kongcu,"

Jawab orang tadi. Daun pintu kamar itu terbuka dan masuklah seorang pemuda berpakaian serba putih ke dalam kamar itu. Melihat tubuh Lee cin menggeletak telentang di atas dipan, dia tertawa.

"Ha-ha-ha, sayang sekali engkau yang cantik ini bernama souw Lee Cin yang harus kubunuh demi membalas kan sakit hati suhu Thian-te Mo-ong dan mendiang suhu Pak-thian-ong. Akan tetapi sebelum engkau kubunuh, aku ingin lebih dulu bersenang-senang denganmu. Amat sayang kalau dibunuh begitu saja Ha-ha-ha"

Pemuda itu adalah ouw Kwan Lok.

setelah tertawa-tawa dia minum arak dari guci kecil yang dibawanya memasuki kamar itu, lalu duduk dengan wajah gembira sekali.

Dia memandang lagi kepada Lee Cin yang masih rebah telentang di atas pembaringan kayu itu.

"suhu Thian-te Mo-ong, sayang sekali suhu berada begitu jauh dari sini. Kalau tidak, tentu souw Lee Cin ini akan kuserahkan kepada suhu agar suhu dapat puas memberi hukuman sendiri. Biarlah sekarang aku mewakili suhu untuk bersenang-senang kemudian membunuhnya."

Setelah berkata demikian Kwan Lok menaruh guci di atas meja dan membuka baju luarnya. kemudian ia menghampiri Lee Cin sambil tertawa-tawa senang.

"Wuuutt.."

Tiba-tiba kaki Lee Cin mencuat dalam sebuah tendangan yang amat kuat menyambar ke arah dada Kwan Liok.

Tentu saja pemuda ini terkejut bukan main, akan tetapi dia masih dapat melompat ke belakang menghindarkan diri dari serangan mendadak itu.

Lee Cin lalu melompat turun dari pembaringan, berdiri tegak sambil memandang pemuda itu dengan sepasang mata bersinar-sinar penuh kemarahan-Biarpun Kwan Lok merasa terkejut dan heran sekali, namun dia masih tersenyum-senyum penuh kepercayaan diri, hatinya bertanya-tanya bagaimana Lee Cin dapat sadar sedemikian cepatnya.

Tentu saja Lee Cin dapat sadar dengan cepat karena ia tidak pernah pingsan atau tertidur Lee Cin adalah murid tersayang dan juga puteri Ang-tok Mo-li, seorang datuk wanita ahli racun, maka tubuhnya sudah kebal terhadap racun.

Apalagi kalau hanya racun pembius, biarpun minum berapa banyakpun ia tidak akan terpengaruh.

-oo0dw0oo-Jilid.

07 KALAU ia tadi tampak pingsan tak berdaya dipanggul oleh penjaga kedai minuman, hal itu adalah karena ia sengaja berpura-pura pingsan karena ia ingin tahu apa yang akan dilakukan dua orang itu atas dirinya, dan ingin pula tahu siapa yang berdiri di balik siasat untuk memancingnya itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan juga marahnya ketika ia melihat bahwa yang mengatur semua itu adalah Ouw Kwan Lok!

Akan tetapi keheranannya lenyap setelah Kwan Lok bicara sendiri mengaku bahwa dia membalaskan sakit hati Thian-te Mo-ong dan Pak-thian-ong.

Kedua orang datuk sesat itu memang pernah bermusuhan dengannya bahkan ia yang menggagalkan pemberontakan mereka sehingga Pak-thian-ong membunuh diri dan Thian-te Mo-ong ditangkap pasukan kerajaan.

Kiranya sekarang ada murid mereka yang hendak membalaskan dendam itu.

"Ouw Kwan Lok jahanam busuk!"

Lee Cin mendamprat sambil menudingkan telunjuk kirinya ke muka orang.

"Engkau boleh saja membalas dendam, akan tetapi caramu licik dan curang sekali. Engkau ternyata hanyalah seorang pengecut kecil!"

Lee Cin cepat melompat ke atas, gerakannya seringan burung walet ketika ia melompat tinggi ke atas itu dan selagi tubuhnya masih di atas Lee Cin sudah mengeluarkan pedangnya yang tadinya dipakai sebagai sabuk yang melilit pinggangnya yang ramping.

Ketika tubuhnya melayang turun, Kwan Lok sudah menyambutnya dengan serangan sepasang pedangnya.

Lee Cin memutar Ang-coa-kiam yang bersinar merah.

"Trang.....! Trangg.....!"

Sepasang pedang di tangan Kwan Lok terpental ketika bertemu dengan Ang-coa-kiam yang digerakkan dengan kandungan tenaga yang amat kuat itu.

Kini mereka berhadapan.

Kwan Lok dengan sepasang pedang di kedua tangannya sedangkan Lee Cin memegang Ang-coa-kiam di tangan kanan dan suling di tangan kiri.

Karena kamar itu sempit, Kwan Lok melompat keluar kamar.

"Hendak lari ke mana engkau, jahanam!"

Lee Cin mengejar keluar dan ternyata Kwan Lok sudah lari keluar dari pondok itu.

"Jangan lari!"

Lee Cin membentak dan mengejar keluar pondok.

Ternyata Kwan Lok tidak lari, melainkan menanti di depan pondok sambil tersenyum mengejek.

Dua orang yang tadi menyamar sebagai penjaga kedai sudah berada di sebelahnya, masing-masing memegang sebatang golok besar.

Mereka itu sebenarnya adalah dua orang perampok yang merampok Kwan Lok akan tetapi dapat ditundukkan oleh pemuda itu dan dijadikan anak buahnya untuk memancing dan menangkap Lee Cin.

"Ha-ha-ha, Souw Lee Cin, sekaranglah tiba saatnya engkau menebus dosamu terhadap kedua orang guruku!"

Kwan Lok berkata sambil memberi isyarat kepada dua orang pembantunya untuk bergerak.

Dua orang pembantunya itu adalah perampok-perampok jahat dan kejam yang sudah biasa mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

Mereka belum mengenal Lee Cin maka memandang rendah gadis ini, apalagi karena mereka masih beranggapan bahwa gadis itu pernah pingsan oleh obat bius, sama sekali tidak mengetahui bahwa Lee Cin hanya berpura-pura pingsan.

Kini dengan golok mereka, kedua orang itu menyerbu Lee Gin dengan galak dan ganas.

Sebetulnya mereka hanya mengandalkan tenaga dan keberanian saja.

Dalam ilmu silat, mereka sama sekali bukan tandingan Lee Cin.

Maka begitu mereka menyerbu, Lee Cin menggerakkan pedangnya beberapa kali untuk menangkis dan balas menyerang dan di lain saat, hanya dua gebrakan saja, mereka berteriak kesakitan, golok mereka terlepas dari tangan mereka dan mereka terpelanting dengan menderita luka tusukan pedang di pundak mereka!

Luka yang cukup parah, membuat mereka tidak berani dan tidak dapat melanjutkan perkelahian dan memandang Lee Cin dengan mata terbelalak, lalu mereka mengambil langkah seribu melarikan diri.

Melihat ini, Kwan Lok marah sekali.

Dua kali tangan kirinya bergerak, dua batang pisau gagang hitam meluncur dan dua orang perampok itu mengaduh lalu roboh dan tewas karena pisau itu menancap di punggung menembus jantung mereka!

Lee Cin menjadi semakin marah menyaksikan kekejaman ini, ia lalu menerjang dengan pedangnya, menyerang dengan gerakan cepat dan kuat sekali.

Kwan Lok memang tidak berani memandang ringan kepada gadis ini.

Kalau kedua orang gurunya pernah kalah menghadapi gadis ini, maka tentu gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi dia merasa yakin akan dapat membunuh Lee Cin, karena dalam hal kepandaian, tingkatnya kini sudah melampaui tingkat kepandaian Pak-thian-ong atau Thian-te Mo-ong, atau setidaknya seimbang.

Dengan cepat dia pun menyambut serangan Lee Cin dan membalas serangan itu dengan gerakan sepasang pedangnya yang cepat.

Terjadilah pertandingan yang amat hebat antara Lee Cin dan Ouw Kwan Lok.

Kedua orang muda ini memang memiliki ilmu kepandaian yang setingkat.

Namun, setelah pertandingan berlangsung selama lima puluh jurus lebih, tiba-tiba Lee Cin mengubah gerakan silatnya.

Kalau tangan kanan yang memegang pedang masih memainkan Ang-coa-kiamsut, maka tangan kirinya yang memegang suling kini membantu dengan serangan totokan yang dilakukan dengan ilmu totok It-yang-ci yang amat lihai dari Siauw-lim-pai!

Kwan Lok menjadi terkejut sekali.

Hampir saja pundaknya terkena totokan yang amat lihai itu!

Terpaksa ia menjatuhkan diri ke belakang lalu berjungkir balik tiga kali untuk menghindarkan diri dari pengejaran Lee Cin.

Gadis itu menjadi semakin ganas.

Setelah melihat betapa lawannya jerih menghadapi totokan nya, ia malah semakin gencar menyerang dengan totokan suling di tangan kirinya.

Sebetulnya tingkat kepandaian Kwan Lok telah setingkat dengan ilmu kepandaian Lee Cin, akan tetapi ketika dia harus menghadapi ilmu totok It-yang-ci, dia menjadi terdesak.

Lee Cin lalu menyelipkan sulingnya di ikat pinggangnya dan kini melanjutkan It-yang-ci menggunakan jari tangannya.

Tentu saja serangannya menjadi semakin berbahaya karena ilmu totok itu memang harus menggunakan jari tangan.

Dari jari tangannya meluncur hawa totokan yang amat kuat dan Kwan Lok terpaksa mengelak ke sana sini.

Akhirnya dia maklum bahwa keadaannya amat berbahaya kalau dia melanjutkan perlawanannya terhadap gadis yang lihai itu.

Maka ketika mendapat kesempatan setelah dia menyambitkan sisa pisau-pisau terbangnya ke arah Lee Cin dan gadis ini terpaksa berloncat ke belakang sambil memutar pedangnya, dia lalu melompat ke belakang dan melarikan diri.

"Jahanam pengecut!"

Teriak Lee Cin akan tetapi ia tidak mau mengejar.

Ia tahu bahwa lawannya itu seorang yang selain tinggi ilmunya, juga amat curang dan licik.

Ia menyimpan kembali pedangnya dan segera meninggalkan tempat itu, mengingat-ingat bahwa kini ia mempunyai seorang musuh yang berbahaya, yang bernama Ouw Kwan Lok dan murid mendiang Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong.

Ia lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke Bukit Ular di lembah Huang-ho, tempat tinggal ibunya karena tempat itulah yang terdekat dari situ.

Niatnya untuk menyelidiki keluarga Cia di Hui-cu ditundanya karena tempat itu masih terlampau jauh dari situ.

Setelah bertemu dengan ibunya dan berusaha membujuk ibunya agar suka memaafkan ayahnya dan mau hidup bersama mereka di Hong-san, baru ia akan melakukan penyelidikan terhadap keluarga Cia di Hui-cu dan mencari Si Kedok Hitam yang telah menyerang dan melukai ayahnya.

oood0wooo Di sepanjang lembah Huang-ho bagian barat terdapat banyak sekali perbukitan bagaikan naga yang panjang berbelak-belok.

Di antara ratusan buah bukit itu terdapat sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan Bukit Ular Merah.

Agaknya pernah ada orang melihat seekor ular merah di bukit ini, maka selanjutnya bukit itu diberi nama demikian.

Entah benar atau tidak ada ular merah di tempat itu, akan tetapi yang jelas di bukit itu memang terdapat hutan-hutan yang dihuni banyak macam ular dari yang kecil beracun sampai yang sebesar paha orang yang panjangnya sampai sepuluh meter.

Karena adanya banyak ular di situ, tidak ada orang berani mendaki bukit dan memasuki hutan di bukit itu.

Bahkan pemburu yang paling tabah pun segan memasuki hutan di bukit itu, karena yang paling berbahaya adalah ular-ular yang berbisa dan berbahaya sekali.

Di tempat yang berbahaya ini, jauh di puncak tertutup pohon-pohon besar, berdiri sebuah pondok kayu yang mungil dan pondok itu adalah tempat tinggal seorang datuk wanita yang terkenal sekali dengan julukan Ang-tok Mo-li (Iblis Betina Racun Merah).

Datuk wanita ini terkenal dan ditakuti orang karena selain memiliki ilmu silat tinggi, ia pun seorang ahli dalam hal racun.

Bahkan ia selalu membawa seekor ular kecil bersisik merah yang disebut Ang-hwa-coa (Ular Kembang Merah).

Ia juga ahli dalam menjinakkan ular, seorang pawang ular yang lihai.

Ia dapat memanggil semua ular dan ular-ular itu dapat diperintahnya melakukan hal-hal yang membuat ia ditakuti lawan.

Ia dapat mengerahkan ular-ular untuk mengeroyok lawannya, maka ia merupakan lawan yang amat berbahaya.

Sebetulnya, ketika masih mudanya ia merupakan seorang gadis yang cantik sekali.

Bahkan sekarang pun, setelah berusia empat puluh tujuh tahun ia masih cantik dan bertubuh ramping.

Dan ia suka sekali memakai pakaian serba merah sehingga sesuai dengan julukannya.

Ketika ia masih seorang gadis muda, banyak pria yang tergila-gila kepadanya dan banyak lamaran diajukan orang.

Akan tetapi semuanya ditolak oleh gadis yang bernama Bu Siang ini karena tidak ada yang cocok dengan hati dan seleranya.

Ia merantau dan malang melintang di dunia persilatan karena ilmunya yang tinggi.

Sebelum ia dikenal dengan julukan Ang-tok Mo-li ia sudah merupakan seorang gadis yang berwatak keras dan tidak mengenal ampun kepada musuh-musuhnya.

Ketika ia berusia dua puluh tujuh tahun, bertemulah ia dengan seorang pendekar yang bukan lain adalah Souw Tek Bun yang pada waktu itu berusia sepantar dengan Bu Siang.

Mereka bertemu dan saling jatuh cinta.

Demikian akrab dan intimnya hubungan di antara mereka sehingga Bu Siang sudah menyerahkan diri dan kehormatannya karena percaya bahwa Souw Tek Bun pasti tidak akan menyia-nyiakannya dan akan menjadi suaminya.

Pada waktu itu, dalam usia dua puluh tujuh tahun, Bu Siang mulai terkenal karena keganasan dan kelihaiannya, maka orang sudah mulai menjuluki ia Ang-tok Mo-li.

Dan ketika Souw Tek Bun mendengar akan julukan dan sepak terjang kekasihnya, hatinya merasa terpukul sekali.

Souw Tek Bun sendiri dikenal sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, membela kebenaran dan keadilan.

Ketika mendengar bahwa kekasihnya itu termasuk seorang tokoh sesat, dia lalu menjauhkan diri.

Betapapun besarnya rasa cintanya terhadap Bu Siang, akan tetapi hatinya tidak mengijinkan dia melanjutkan hubungan mesranya dengan seorang tokoh sesat.

Bu Siang merasa betapa kekasihnya itu menjauhkan diri, maka ia mendesak agar Souw Tek Bun segera mengawininya.

Akan tetapi Souw Tek Bun dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak mungkin mempunyai seorang isteri tokoh sesat.

Mendengar ini, Bu Siang menjadi marah sekali.

Segala bujuk rayu dan ancaman tidak mengubah pendirian Souw Tek Bun.

Bu Siang lalu menyerangnya dan terjadilah perkelahian antara mereka yang berakhir dengan kekalahan Bu Siang karena ilmu silat dan ilmu pedang keluarga Souw amat tangguh.

Bu Siang pergi meninggalkan Souw Tek Bun dengan hati sakit dan ia mendendam.

Demikian marah dan bencinya kepada Souw Tek Bun sehingga ia merahasiakan kepada pendekar itu bahwa sesungguhnya ia telah mengandung dua bulan!

Ia mempunyai rencana sendiri mengenai anak yang akan dilahirkannya.

la ingin menggembleng anak itu sehingga mewarisi semua ilmunya, kemudian ia akan menyuruh anak itu membalas dendam dan membunuh Souw Tek Bun!

Ia akan mengadu antara ayah kandung dan anaknya sendiri sehingga salah satu dari mereka akan mati.

Si Ayah akan mati di tangan anak kandungnya sendiri, atau Si Anak yang akan mati di tangan ayah kandungnya sendiri.

Demikian sakit hatinya sehingga ia akan membuat Souw Tek Bun sengsara karena dibunuh atau membunuh anak kandungnya sendiri!

Rasa sakit hatinya bertambah ketika sutenya mencoba membantunya membujuk Souw Tek Bun, namun pendekar ini tetap menolak sehingga mereka bertanding dan sutenya terluka oleh Souw Tek Bun.

Dendam ini berkelanjutan sampai puteri yang dilahirkannya menjadi dewasa.

Puterinya itu adalah Lee Cin yang ia beri nama marga Bu dan setelah puterinya menjadi dewasa dan lihai, ia pun menyuruh Lee Cin pergi membunuh Souw Tek Bun yang dikatakannya musuh besarnya.

Lee Cin berangkat dan bertemu dengan Souw Tek Bun, akan tetapi Souw Tek Bun menyadarkannya karena dia dapat menduga bahwa Lee Cin adalah anak kandungnya.

Selagi ia meragu, muncul Ang-tok Mo-li yang mendesak anaknya untuk membunuh Souw Tek Bun.

Akan tetapi Lee Cin tidak mau bahkan membela ayahnya.

Ang-tok Mo-ii terpaksa pergi dengan hati hancur.

Anak yang sejak kecil digembleng untuk membunuh Souw Tek Bun ternyata malah memihak ayahnya!

Demikianlah peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu (baca Kisah Gelang Kemala) dan kini Lee Cin hendak mencari ibunya untuk dibujuk agar ibunya suka memaafkan ayahnya dan mereka bertiga dapat bersatu kembali menjadi sebuah keluarga yang bahagia.

Ang-tok Mo-li tinggal di puncak Bukit Ular itu bersama lima orang wanita pembantunya.

Lima orang wanita ini pun telah dilatih ilmu silat sehingga nnereka menjadi orang-orang lihai dan selain menjadi pelayan, mereka pun dapat diandalkan untuk menjaga pondok di puncak itu.

Usia mereka antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun.

Datuk wanita ini sanna sekali tidak tahu bahwa puterinya sedang mencarinya.

Ia sendiri sedang menghadapi persoalan yang terjadi di puncak sehari yang lalu, selagi ia tidak berada di rumah.

Apakah yang terjadi kemarin?

Ketika itu, Ang-tok Mo-li sedang turun dari puncak untuk pergi ke kota yang paling dekat dan nnembeli segala keperluan sehari-hari seperti bumbu masak, kain untuk pakaian, dan lain-lain.

Baru saja ia pergi belum ada dua jam, seorang kakek mendaki puncak itu dari jurusan lain.

Setibanya di depan pondok, lima orang anak buah Ang-tok Mo-li segera menyambut kakek yang asing bagi mereka itu.

Seorang kakek yang sudah tua sekali, tidak kurang dari tujuh puluh tahun usianya, tubuhnya sudah bongkok dan rambut, kumis serta jenggotnya sudah putih.

Kakek itu membawa sebatang tongkat dari bambu kuning.

Biarpun sudah tua, namun dengan cepat dia dapat mendaki puncak Bukit Ular, menunjukkan bahwa dia bukan seorang kakek biasa, melainkan seorang yang berilmu tinggi.

Lima orang anak buah Ang-tok Mo-li itu menyambut kakek itu dan seorang di antara mereka yang menjadi pemimpin bertanya.

"Siapakah Paman dan ada urusan apakah datang ke tempat kami ini?"

Kakek itu menyeringai, memperlihatkan mulut yang sudah tidak bergigi lagi.

"Heh-heh-heh, kalian tidak mengenal aku? Sungguh aneh kalau ada orang tidak mengenalku, menunjukkan bahwa mereka itu bodoh dan tolol. Aku adalah Jeng-ciang-kwi (Setan Seribu Tongan) dari Guha Tengkorak di Lembah Iblis Kwi-san!"

Dia berhenti untuk melihat reaksi wajah mereka.

Akan tetapi lima orang wanita yang memang jarang bahkan ham-pir tidak pernah turun dari puncak kecuali untuk rnembeli keperluan mereka di dusun-dusun berdekatan, tidak mengenal nama itu.

"Apa keperluanrnu mendatangi tempat ini?"

Pemimpin mereka bertanya, sikapnya menjadi tidak sabar.

"Ho-ho-ho, di mana Ang-tok Mo-li? Suruh ia keluar menemui aku!"

Lima orang itu mengerutkan alisnya, merasa tidak senang.

"Mau apa engkau mencari Toanio (Nyonya Besar)?"

Tanya mereka.

"Mau apa? Mau apa aku mencari iblis betina Ang-tok Mo-li itu? Tentu saja membunuhnya! Aku mau membunuhnya!"

"Keparat! Serbu!"

Bentak pemimpin kelompok lima orang itu.

Mereka marah sekali mendengar betapa kedatangan kakek ini untuk membunuh majikan mereka.

Mereka berlima mencabut pedang masing-masing dan segera mengepung dan menyerang Jeng-ciang-kwi.

Jeng-ciang-kwi adalah seorang datuk sesat yang lihai sekali.

Ilmu kepandaiannya tinggi dan wataknya aneh, kadang lembut dan kadang juga kasar dan kejam sekali.

Kurang lebih delapan tahun yang lalu dia bentrok dengan seorang tokoh sesat lain berjuluk Hek-kak-liong (Naga Tanduk Hitam) karena mereka saling memperebutkan daerah kekuasaan.

Dalam pertandingan ini, Hek-kak-liong tewas di tangan Jeng-ciang-kwi.

Hek-kak-liong adalah sute dari Ang-tok Mo-li.

Maka, pada tujuh tahun yang lalu, Ang-tok Mo-li mendatangi Jeng-ciang-kwi dan hendak membalaskan kematian sutenya (baca Kisah Gelang Kemala).

Dalam perkelahian yang hebat dan mati-matian ini Jeng-ciang-kwi berhasil menotok pundak Ang-tok Mo-li sehingga muntah darah dan terluka dalam.

Akan tetapi sebaliknya, Ang-hwa-coa (Ular Kembang Merah) telah menggigit lengannya sehingga Jeng-ciang-kwi keracunan hebat.

Hampir saja kakek ini tewas akibat gigitan ular kembang merah itu.

Karena peristiwa itulah maka hari ini dia datang mencari Ang-tok Mo-li untuk membalas dendam.

Pengeroyokan lima orang pembantu Ang-tok Mo-li yang menggunakan pedang itu tidak ada artinya bagi kakek yang lihai ini.

Tubuhnya seolah terlindung sinar kuning dari tongkat bambunya dan lima batang pedang lawan semua terpental begitu bertemu dengan sinar kuning itu.

Kemudian, dengan gerakan cepat sekali, lima orang itu terkena totokan dengan bambu kuning dan mereka berpelantingan roboh dan pingsan!

Setelah merobohkan lima orang itu, Jeng-ciang-kwi lalu menggeledah, memasuki rumah karena ia tidak dapat menemukan Ang-tok Mo-li.

Setelah mengamuk di rumah kosong itu, dia lalu keluar dan pergi dengan hati mendongkol karena tidak dapat membalas dendam kepada Ang-tok Mo-li.

Pada siang harinya, barulah Ang-tok Mo-li pulang dari kota.

Ia merasa heran melihat keadaan di sekitar pondok sunyi sekali, tidak tampak seorang pun di antara lima orang pembantunya.

Ia menurunkan semua barang belanjaannya dari kota dan berlari memasuki pondok.

Begitu melangkah ambang pintu, ia terbelalak.

Keadaan dalam rumah porak-poranda dan lima orang pembantunya rebah di dalam pondok itu dan merintih-rintih karena terluka dalam oleh totokan tongkat bambu kuning Jeng-ciang-kwi!

"Apa.....

apa yang terjadi?"

Tanya Ang-tok Mo-li setelah ia membebaskan totokan dan menotok beberapa bagian tubuh lima orang pembantunya untuk melancarkan jalan darah mereka.

"Jeng-ciang-kwi..... dia datang dan mencari Toanio....."

Kata pemimpin lima orang itu. Mereka berlima tadi dengan susah payah merangkak masuk ke dalam pondok dan rebah di lantai sambil menanti pulangnya majikan mereka.

"Jeng-ciang-kwi? Keparat!"

Ang-tok Mo-li berseru marah sekali.

Melihat keadaan lima orang pennbantunya yang gawat, ia lalu membantu mereka untuk rebah di kamar masing-masing.

Ia memeriksa dengan teliti.

Mereka itu tidak keracunan, akan tetapi cara totokan itu amat aneh, mengacaukan jalan darah dan memecahkan otot di pundak.

Ia sudah mencoba untuk rnengobati dengan urutan dan totokan, namun tidak berhasil.

Ingin ia segera dapat pergi mencari Jeng-ciang-kwi untuk membuat perhitungan.

Akan tetapi melihat keadaan lima orang pembantunya ia terpaksa menahan gelora hatinya yang marah.

Lima orang pembantunya masih berada dalam keadaan gawat.

Kalau ia meninggalkan mereka untuk mencari Jeng-ciang-kwi, besar bahayanya mereka akan tewas karena luka dalam mereka.

Sore hari itu, setelah membereskan perabot rumahnya yang porak-poranda Ang-tok Mo-li memeriksa keadaan lima orang pembantunya.

Ia sudah memberi minum mereka obat pelancar jalan darah, akan tetapi keadaan mereka masih mengkhawatirkan.

Tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar langkah kaki di depan pondok.

Mata Ang-tok Mo-li memancarkan api kemarahan.

Ia mengira bahwa orang yang datang tentu Jeng-ciang-kwi!

Dengan membawa ular kembang merah di tangan kiri dan sebuah kebutan di tangan kanan, ia melompat dan berlari keluar.

Akan tetapi begitu tiba di luar pintu, sambil berteriak "Jeng-ciang-kwi jahanam......!"

Ia berhenti dan berdiri heran dan terkejut karena yang berdiri di depannya sama sekali bukan Jeng-ciang-kwi, melainkan seorang gadis cantik jelita yang bukan lain adalah Lee Gin! "Kau.....?"

Ia tergagap.

"Mau apa engkau datang ke sini?"

"Ibu....."

Kata Lee Cin dengan terharu.

"Aku adalah anakmu dan sebagai seorang anak, aku datang berkunjung......"

"Katakan dulu, apa maumu datang ke sini?"

Potong Ang-tok Mo-li dengan suara masih ketus dan matanya memandang marah.

"Maksud kunjunganku ini pertama, karena aku merasa rindu kepadamu, Ibu. Sejak kecil, walaupun sebagai muridmu, aku tinggal di sini bersamamu. Setelah berpisah selama dua tahun lebih, aku merasa rindu sekali. Dan ke dua, mengingat bahwa engkau adalah ibu kandungku, aku ingin berbakti kepadamu, merasakan hangatnya cinta kasihmu sebagai seorang ibu, Ibu, sejak kecil aku sudah haus akan kasih sayang ibu dan engkau telah memberi kasih sayang itu walaupun sebagai seorang guru. Sekarang, setelah engkau menjadi ibu kandungku, tidakkah kasih sayangmu kepadaku sennakin mendalam? Aku ingin menengok ibuku, ingin melihat keadaannya. Ibu, selama dua tahun ini, engkau baik-baik sajakah?"

Mendengar suara anaknya yang penuh haru, tergerak juga hati Ang-tok Mo-li.

Tentu saja amat mencinta muridnya yang juga anaknya ini, akan tetapi untuk memperlihatkannya ia merasa malu karena anak iitu dahulu memilih ikut ayahnya daripacla ikut ibunya.

"Hem, begitulah......"

Jawabnya sambil lalu. Kini pikirannya kembali dipenuhi persoalannya dengan Jeng-ciang-kwi.

"Ibu, aku tahu pasti terjadi sesuatu yang membuat Ibu marah. Ada apakah, Ibu? Barangkali aku dapat membantu?"

"Jeng-ciang-kwi datang selagi aku keluar dan dia melukai kelima orang pembantuku,"

Akhirnya ia berkata.

"Kelima Bibi terluka? Ah, biarkan aku menengok mereka!"

Kata Lee Cin dan ia segera memasuki pondok diikuti oleh Ang-tok Mo-li.

Setibanya di dalam, Lee Cin memasuki kamar-kamar para pembantu yang terluka dan menneriksa mereka satu demi satu.

Lalu ia berkata kepada ibunya yang mengikutinya dan mengamati apa yang dilakukan Lee Cin.

"Keadaan mereka memang gawat, Ibu. Totokan Jeng-ciang-kwi memang ampuh dan ini yang dinamakan ilmu totokan penghancur jalan darah. Akan tetapi untung bahwa aku telah menguasai It-yang-ci, jangan khawatir, Ibu, aku dapat menyernbuhkan mereka."

Biarpun mukanya tidak memperlihatkan sesuatu, namun dalam hatinya Ang-tok Mo-li merasa girang dan juga bangga.

Puterinya telah menguasai ilmu totok yang amat terkenal dan jarang ada yang menguasai, ilmu totok dari Siauw-lim-pai itu.

Bahkan para murid Siauw-lim-pai jarang ada yang berkesempatan mempelajari ilmu langka itu!

Tanpa banyak cakap lagi Lee Cin lalu menyuruh lima orang itu satu demi satu duduk bersila dan membuka baju mereka.

Dara itu sendiri bersila di belakangnya dan mulailah ia melakukan totokan It-yang-ci di bagian tubuh belakang orang yang terluka itu.

Kemudian juga bagian tubuh depan mereka.

Dan ternyata setelah Lee Cin menotok mereka, lima orang itu sembuh!

Peristiwa ini sedikit banyak mendinginkan hati Ang-tok Mo-li yang tadinya panas.

Ia mengajak puterinya duduk di dalam kamarnya.

"Nah, sekarang katakan apa maksudmu yang sebenarnya datang kepadaku. Apakah engkau diutus ayahmu?"

"Tidak, Ibu. Kalau Ibu sudi mendengarkan, aku ingin memberitahukan bahwa Ayah baru-baru ini kedatangan seorang yang berkedok hitam dan penjahat itu melukai Ayah dengan pukulan tapak tangan hitam. Biarpun aku sudah mengobatinya, namun dia memerlukan waktu untuk memulihkan tenaganya."

"Hem, salahnya sendiri mengapa dia kalah melawan musuhnya,"

Kata Ang-tok Mo-li tidak pedulikan.

"Semenjak engkau pergi dari Hong-san dan aku hidup bersama Ayah, setiap hari kami berdua bersedih. Aku tahu bahwa Ayah merindukan engkau, Ibu."

"Hemm......!"

"Aku tidak berbohong, Ibu. Bahkan Ayah sering bicara dalam tidurnya memanggil-manggil Bu Siang. Aku menjadi sedih sekali melihat keadaan Ayah, Ibu. Dia sudah benar-benar menyesal akan apa yang dia lakukan terhadapmu, Ibu. Dan aku yakin bahwa dia tetap mencinta Ibu dan mengharapkan suatu waktu akan dapat hidup bersama Ibu. Karena itu, Ibu. Aku mohon kepadamu, sudilah kiranya Ibu memaafkan semua kesalahan Ayah dan kita bertiga hidup bersama di Hong-san sebagai sebuah keluarga yang bahagia. Aku mohon, Ibu."

Dan sambil terisak Lee Cin menjatuhkan dirinya berlutut dan memeluk kedua kaki ibunya.

Wajah Ang-tok Mo-li yang biasanya pucat itu kini menjadi sedikit merah.

Kedua matanya basah dan kedua tangannya bergerak hendak merangkul puterinya, akan tetapi gerakan itu ditahannya.

"Baik, akan kupertimbangkan permintaanmu itu. Akan tetapi engkau yang selama belasan tahun belajar dariku, kuminta engkau lebih dulu membantu aku menghadapi Jeng-ciang-kwi. Aku harus membalas apa yang dilakukannya hari ini!"

"Tentu saja aku bersedia, Ibu. Aku bersedia mempertaruhkan nyawa untuk membelamu!"

Gadis itu bangkit dan hendak memeluk ibunya. Akan tetapi Ang-tok Mo-li mengelak dan berkata.

"Nanti dulu! Kalau engkau sudah berhasil membantuku membunuh Jeng-ciang-kwi, baru engkau boleh mengaku menjadi anak kandungku dan akan kupertimbangkan pemberian maaf kepada ayahmu."

Hati Lee Cin terasa perih. Ingin ia merangkul ibunya ini sebagai ibu kandung, melampiaskan rasa rindunya kepada ibunya. Akan tetapi ia cukup mengenal watak ibunya yang aneh dan juga amat keras hati.

"Baiklah, Ibu. Akan kutaati semua kehendakmu. Kapan kita berangkat mencari Jeng-ciang-kwi?"

"Sekarang juga! Akan tetapi, mereka itu......?"

Ia menoleh, memandang ke arah kamar-kamar para pembantunya.

"Jangan khawatir, Ibu. Mereka sudah sembuh, hanya tinggal memulihkan tenaga saja. Asal diberi obat penguat darah, sudah cukuplah."

"Kalau begitu, sekarang juga kita pergi,"

Kata Ang-tok Mo-li.

"Ke mana, Ibu? Apakah Ibu sudah mengetahui di mana adanya Jeng-ciang-kwi?"

"Tentu saja. Dia tinggal di pegunungan Kwi-san, di Guha Tengkorak Lembah Iblis."

"Kalau begitu, mari kita berangkat Ibu!"

Kata Lee Cin penuh sennangat.

Ia masih teringat akan kakek berjuluk Jeng-ciang-kwi itu, ketika tujuh delapan tahun yang lalu ia bersama Ang-tok Mo-li yang ketika itu masih ia anggap sebagai gurunya, mendatangi Jeng-ciang-kwi sehingga keduanya menderita luka.

Ia yakin akan mampu mengalahkan musuh besar ibunya itu.

oood0wooo Jeng-ciang-kwi sebetulnya bernama Ciu Sam Ti, akan tetapi setelah ia menjadi datuk sesat, orang kang-ouw hanya mengenal nama julukannya saja.

Dia tinggal di Guha Tengkorak di Lembah Iblis yang terletak di lereng Bukit Kwisan.

Selama beberapa tahun ini dia telah membentuk perkumpulan tanpa nama terdiri dari kurang lebih tiga puluh orang.

Dia sendiri tinggal di sebuah guha besar yang bentuknya dilihat dari jauh seperti tengkorak, namun guha itu telah diubah di bagian dalamnya menjadi rumah kediaman yang mewah.

Di kanan kiri guha itulah didirikan pondok-pondok kayu yang menjadi tempat tinggal anak buahnya.

Anak buahnya itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh karena mereka menerima pelajaran ilmu silat dari Jeng-ciang-kwi sendiri.

Di waktu mudanya, Jeng-ciang-kwi merupakan seorang maling dan tukang copet yang amat lihai, dan karena itulah maka dia dijuluki Setan Tangan Seribu.

Dan dia pun sudah berhasil mengumpulkan harta yang cukup banyak.

Setelah menjadi majikan Guha Tengkorak, kekayaannya semakin bertambah.

Anak buahnya bertugas mendatangi para perampok dan pencuri di daerah yang amat luas dan minta "pajak"

Dari mereka.

Tadinya memang banyak yang menolak dan menentang, akan tetapi para penjahat itu satu demi satu ditalukkan oleh Jeng-ciangkwi dan selanjutnya mereka menganggap Jeng-ciang-kwi sebagai pelindung dan dengan senang hati memberikan sebagian dari hasil kejahatan mereka kepada Jeng-ciang-kwi.

Dia sendiri melarang anak buahnya untuk melakukan kejahatan merampok atau mencuri dan hidup mereka cukup ditunjang oleh pemungutan pajak itu.

Maka, Jeng-ciang-kwi lalu terkenal sebagai datuk sesat di daerah itu.

Pada suatu hari, keadaan di Guha Tengkorak meriah sekali.

Di situ sedang diadakan perayaan ulang tahun Jeng-ciang-kwi yang ke tujuh puluh dua tahun.

Sepuluh orang kepala perampok dan kepala pencuri dari daerah itu berdatangan untuk memberi selamat kepada Sang Datuk sambil memberi hadiah yang berharga.

Mereka semua duduk menghadapi meja besar dan di kepala meja duduk Jeng-ciang-kwi yang menjamu mereka.

Tiga puluh orang anak buah juga ikut berpesta-pora sambil melayani para tamu di meja besar itu.

Mereka bergantian memberi selamat kepada Jeng-ciang-kwi dengan secawan arak dan suasana ramai dan gemuruh sekali, maklum bahwa yang berpesta adalah orang-orang kasar dari dunia hitam.

Selagi ramai-ramainya mereka merayakan pesta itu, tiba-tiba terdengar suara wanita yang merdu dan nyaring.

"Bagus sekali! Sekali ini engkau merayakan ulang tahunmu yang terakhir, Jeng-ciang-kwi!"

Semua orang terkejut dan menengok.

Ternyata di situ telah berdiri dua orang wanita yang cantik.

Yang pertama adalah seorang wanita yang usianya sudah empat puluh tujuh tahun akan tetapi kelihatan seperti wanita berusia tiga puluh tahun saja, dan yang ke dua lebih jelita lagi, seorang gadis berusia sembilan belas tahun.

Mereka itu bukan lain adalah Ang-tok Mo-li dan Lee Cin.

Para tamu itu adalah kepala-kepala gerombolan penjahat setempat, bukan tokoh-tokoh kang-ouw maka mereka tidak ada yang mengenal Ang-tok Mo-li, apalagi Lee Cin.

Mereka memandang dengan mata kagum akan kecantikan mereka bahkan ada yang mengeluarkan seruan kagum secara kurang ajar sekali.

Akan tetapi Jeng-ciang-kwi terkejut juga menyaksikan kunjungan orang yang tidak disangka-sangkanya itu.

Ang-tok Mo-li adalah musuh lamanya.

Baru-baru ini malah dia mendatangi Bukit Ular akan tetapi tidak dapat bertemu dengan Ang-tok Mo-li dan sekarang iblis betina itu berani datang ke tempat tinggalnya.

Dia bangkit berdiri dan menuding dengan tongkat bambu kuningnya.

"aha, Ang-tok Mo-li. Kebetulan sekali engkau datang mengantarkan nyawa sehingga aku tidak lagi bersusah payah mencarimu!"

Lee Cin berkata cepat.

"Ibu, kakek ini sedang merayakan ulang tahunnya, sebaiknya kita juga memberi hadiah kepadanya!"

Tanpa menanti jawaban ibunya, Lee Cin sudah meniup sulingnya.

Suara suling nyaring melengking terdengar dan semua orang memandang heran, ada yang menutupi telinga karena suara melengking-lengking itu seperti menusuk ke dalam telinga mereka.

Tak lama kemudian terdengar para anak buah Guha Tengkorak berteriak-teriak.

"Ular......! Ular......! Banyak sekali ular!"

Kini tampaklah beratus-ratus ular merayap masuk ke dalam tempat pesta itu! "Kalau ada yang berani membunuh mati seekor ular, dia akan mati dikeroyok ular berbisa!"

Kata Ang-tok Mo-li dan Lee Cin terus meniup sulingnya.

Ular-ular itu seperti dikomando lalu membuat lingkaran lebar mengepung tempat itu!

Setelah Lee Cin menghentikan tiupan sulingnya, ular-ular itu pun diam di tempat seperti telah mati atau tertidur pulas.

Segera tercium bau amis yang memuakkan di tempat itu sehingga banyak orang menggigil karena merasa ngeri.

Seorang di antara para kepala gerombolan penjahat itu mengenal Lee Cin dan dia pun berseru keras.

"Dewi Ular......!"

Dan semua orang memandang takjub dan penuh perasaan jerih kepada Lee Cin.

"Jeng-ciang-kwi, aku menantangmu untuk bertanding satu lawan satu sampai salah satu di antara kita kalah atau tewas!"

Ang-tok Mo-li berteriak menantang Jeng-ciang-kwi. Datuk ini tentu saja tidak takut terhadap ratusan ular itu. Dia bangkit berdiri dan mengetukkan tongkat bambunya ke atas lantai.

"Bagus, memang aku ingin membunuhmu, Ang-tok Mo-li. Engkau boleh menggunakan lagi Ang-hwa-coa itu, aku tidak gentar sedikit pun!"

Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya dia telah melompat masuk ke dalam lingkaran yang dikepung ular itu, memalangkan tongkat bambunya di depan dada.

"Ibu, biar aku yang menghadapi tua bangka ini!"

Kata Lee Cin.

"Ibu menjaga kalau-kalau mereka itu melakukan pengeroyokan!"

Ang-tok Mo-li maklum bahwa setelah rnenguasai It-yang-ci yang amat ampuh, dan tentu juga menerima gemblengan dari ayahnya, tentu kini tingkat kepandaian anaknya itu sudah melampauinya, maka ia pun berkata.

"Lawanlah tua bangka busuk itu, Lee Cin. Dan jangan kasih ampun padanya!"

Mendengar Ang-tok Mo-li mengaku gadis itu sebagai anaknya, Jeng-ciang-kwi berkata nyaring, nadanya menghina.

"Hei, Ang-tok kapan engkau menikah? Bagaimana tahu-tahu sudah mempunyai anak? Siapakah ayahnya, atau anakmu itu anak haram?"

Mendengar penghinaan ini, wajah Lee Cin menjadi merah dan ia membentak marah.

"Jeng-ciang-kwi tua bangka busuk, ayahku adalah bengcu Souw Tek Bun, pendekar besar yang terhormat. Mulutmu busuk, engkau layak mampus!"

Setelah berkata demikian, Lee Cin melempar sulingnya kepada ibunya dan melepaskan pedang Ang-coa-kiam dari libatan di pinggangnya.

Ia sengaja membiarkan tangan kirinya kosong untuk dapat memainkan ilmu totok Im-yang-ci dengan leluasa.

Begitu Pedang Ular Merah berada di tangannya, Lee Cin langsung saja menyerang kakek itu dengan dahsyat.

Pedangnya mengeluarkan bunyi bercuitan ketika ia menusuk ke arah dada kakek itu dengan cepat dan kuat sekali.

Jeng-ciang-kwi terkejut juga melihat gerakan pedang yang dahsyat itu.

Dia menggerakkan tongkat bambu kuningnya menangkis.

"Tranggg......!"

Keduanya melompat ke belakang karena pertemuan tongkat dan pedang itu membuat tangan mereka tergetar hebat.

Jeng-ciang-kwi menjadi semakin kaget.

Ternyata gadis cantik itu memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, bahkan dapat mengimbangi tenaganya!

Dia cepat membalas, tongkatnya berubah menjadi sinar kuning menyerampang ke arah kaki Lee Cin.

Ketika gadis itu melonat ke atas untuk menghindarkan kakinya dari sambaran tongkat, tongkat itu telah meluncur dan menusuk ke arah perut gadis itu!

Cepat dan hebat gerakan Jeng-ciang-kwi ini, akan tetapi serangannya yang beruntun tidak membuat Lee Cin gugup.

Pedang membuat gulungan sinar kemerahan dan kembali pedang dan tongkat beradu dengan kuatnya sehingga kembali mereka meloncat ke belakang.

Sementara itu, para tamu Jeng-ciang-kwi sudah mencabut senjata masing-masing dan mengepung Ang-tok Mo-li dengan sikap bengis mengancam.

Akan tetapi wanita itu tersenyum mengejek.

"Hayo kalian semua boleh mengeroyok aku!"

Tantangnya dan begitu ada yang bergerak maju, sinar merah meluncur dari tangannya dan dua orang yang maju itu terpelanting karena lecutan kebutan berbulu merah di tangan kanan wanita sakti itu.

Terdengar Ang-tok Mo-li tertawa merdu dan nyaring.

"Ibu, jangan membunuh orang!"

Teriak Lee Cin yang khawatir ibunya akan membunuh semua orang itu.

Ang-tok Moli juga teringat bahwa ketika menyerbu ke Bukit Ular, Jeng-ciang-kwi juga tidak membunuh lima orang pembantunya, maka kebutannya tadi hanya membuat dua orang itu terpelanting dan tidak menderita berat.

Delapan orang kepala perampok ketika melihat dua orang rekan mereka roboh, menjadi marah dan mereka segera mengeroyok Ang-tok Mo-li.

Akan tetapi Ang-tok Mo-li merasa tidak gentar, bahkan ia mengamuk dan kebutan berbulu merah di tangannya berubah menjadi gulungan sinar merah yang menyambut semua serangan senjata para pengeroyok.

Sementara itu, pertandingan antara Jeng-ciang-kwi dan Lee Cin berlangsung dengan cepat, dahsyat dan seimbang.

Pedang Ular Merah dan tongkat bambu kuning itu saling serang, akan tetapi keduanya tidak pernah dapat melukai lawan yang mengelak atau menangkis dengan kuatnya.

Sudah lima puluh jurus mereka bertanding, namun belum ada yang kelihatan terdesak.

Diam-diam Lee Cin harus mengakui bahwa lawannya merupakan datuk yang lihai sekali.

Pantas tujuh tahun yang lalu itu ibunya sampai terluka parah ketika melawan Jeng-ciang-kwi.

Jeng-ciang-kwi juga merasa penasaran sekali.

Gadis ini benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh.

Sudah banyak ilmu yang dia keluarkan, namun semua dapat dihindarkan dan dipunahkan gadis itu.

Dia sudah mulai berkeringat dan napasnya memburu.

Bagaimanapun juga, faktor usia amat menentukan dalam adu kekuatan dan ilmu silat.

Karena usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, Jeng-ciang-kwi mengalami kemunduran yang hebat tanpa disadari olehnya.

Karena selama ini tidak pernah menghadapi lawan berat, maka dia selalu dapat menang dengan mudah sehingga dia mengira bahwa kekuatannya masih seperti duIu di waktu dia muda.

Baru setelah kini berhadapan dengan lawan tangguh, terasa olehnya betapa tenaganya hampir terkuras dan napasnya terengah-engah.

Merasa bahwa kalau dia tidak cepat dapat menjatuhkan lawannya yang muda ini, dia tentu akan kalah karena kehabisan tenaga.

Maka dia lalu mengeluarkan teriakan menyeramkan dan tiba-tiba gerakannya berubah.

Tongkat bambu kuning itu bergerak seperti gelombang lautan menyerang Lee Cin.

Gadis ini terkejut karena merasa betapa dahsyatnya gelombang serangan gulungan sinar kuning itu.

Biar pun ia sudah memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya, tetap saja ia terdesak dan terpaksa mengelak mundur.

Tiba-tiba tongkat itu meluncur dengan kecepatan yang sedemikian hebatnya sehingga tidak keburu ditangkis pedang.

Lee Cin dalam kagetnya lalu mengerahkan ginkangnya, tubuhnya mencelat ke atas seperti seekor burung walet terbang!

Melihat lawannya lenyap "terbang"

Ke udara, Jeng-ciang-kwi yang sudah hampir kehabisan napas itu menjadi girang.

Inilah kesempatan terbaik baginya.

Dia lalu memasang tongkatnya untuk menyambut tubuh Lee Cin kalau turun.

Akan tetapi Lee Cin juga sudah waspada.

Ketika tiba di udara Lee Cin lalu mengerahkan tenaganya dan berjungkir balik sehingga ketika tubuhnya turun, ia menukik dengan kepala di bawah.

Dengan sendirinya jangkauan tangannya juga berada paling bawah.

Ketika ia melihat kakek itu menyambutnya dengan tusukan tongkat bambu kuning.

Lee Cin mengerahkah tenaganya dan pedangnya membabat tongkat itu berkali-kali.

"Crak-crak-crak-crak!"

Setiap kali Pedang Ular Merah membabat tongkat bambu itu, sebagian tongkat itu terpotong!

Agaknya penyaluran sinkang dari Jeng-ciang-kwi sudah tidak begitu kuat lagi sehingga dia tidak mampu mempertahankan tongkat seperti tadi.

Kini empat kali tongkatnya terbacok putus dan tubuh gadis itu semakin dekat dengannya.

Sambil membabat lagi, Lee Cin menggerakkan tangan kirinya dan menotok ke arah ubun-ubun kepala Jeng-ciang-kwi.

Kakek itu sedang terkejut melihat tongkatnya terpotong-potong dan mencurahkan seluruh perhatiannya ke sana, maka dia tidak dapat menghindar lagi ketika jari tangan gadis itu menotok ubun-ubun kepalanya.

"Tukk!"

Jeng-ciang-kwi mengeluarkan teriakan panjang, tubuhnya terhuyung lalu ia roboh menelungkup di atas tanah, tidak bergerak lagi.

Lee Cin menggunakan kakinya untuk membalikkan tubuh itu sehingga telentang dan ia melihat betapa kakek yang tangguh itu telah tewas dengan tongkat bambu yang tinggal pendek masih tergenggam di tangan kanannya!

Lee Cin menoleh ke arah ibunya.

Ibunya masih mengamuk karena kini tiga puluh orang anak buah Guha Tengkorak juga maju mengeroyoknya.

Akan tetapi sudah ada belasan orang yang rebah malang melintang tidak dapat ikut mengeroyok lagi karena ada yang tertotok tubuhnya sehingga tidak mampu bergerak dan ada pula yang patah tulang dan terluka akan tetapi tidak ada yang tewas.

Melihat ibunya mengamuk dengan kebutannya dan sulingnya yang tadi dilemparkan kepada ibunya masih dipegang tangan kiri ibunya dan digunakan untuk menangkis serangan para pengeroyok, Lee Cin berseru.

"Ibu, lemparkan suling itu ke sini!"

Ang-tok Mo-li melemparkan suling yang disambar oleh Lee Cin. Kemudian Lee Cin berkata nyaring.

"Siapa yang tidak mau berhenti mengeroyok, akan dikeroyok ular sampai mati!"

Ia lalu meniup sulingnya dan ularular yang tadi mengepung saja dan tidak bergerak walaupun di situ terdapat perkelahian, kini mulai bergerak maju, mempersempit lingkaran pengepungan mereka.

Melihat ini, para anak buah Guha Tengkorak menjadi gentar, apalagi mereka melihat betapa Jeng-ciang-kwi telah tewas.

Di antara sepuluh orang kepala perampok, yang belum roboh ada dua orang.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu dan takut dipagut ular berbisa, dua orang ini lalu membuang golok mereka dan menjatuhkan diri berlutut.

"Kami menyerah! Jangan biarkan ular-ular itu menyerang kami!"

Teriak dua orang kepala perampok itu. Perbuatannya ini segera diikuti oleh para anak buah Guha Tengkorak yang memang sudah kehiIangan semangat dan keberanian.

"Kami semua menyerah kepada Dewi Ular!"

Kata mereka gemuruh.

Lee Cin meniup lagi sulingnya dengan nada lain dan ular-ular itu lalu memutar tubuh dan merayap pergi dari tempat itu!

Melihat ini, dua kepala perampok dan semua anak buah Guha Tengkorak menjadi lega dan seorang di antara dua kepala perampok itu sambil berlutut memberi hormat kepada Lee Cin sambil berkata dengan suara nyaring.

"Kami mohon kepada Dewi Ular untuk memimpin kami!"

Teriakan ini disambut oleh semua anak buah Guha Tengkorak yang sudah taluk benar-benar karena gadis itu telah membunuh pemimpin mereka dengan suara gemuruh.

"Hidup Dewi Ular!"

Lee Cin mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata dengan suara tegas dan nyaring.

"Dengar kalian semua! Jeng-ciang-kwi telah mengacau di tempat kami maka hari ini kami datang melakukan pembalasan, Jeng-ciang-kwi telah mati dan kalian boleh mengangkat seorang di antara kalian untuk menjadi pemimpin. Aku Dewi Ular tidak ingin menjadi pemimpin kalian, hanya pesan kami agar kalian tidak mengganggu penduduk dusun yang tidak berdosa. Kalau merampok pun harus pilih-pilih, jangan menculik wanita dan jangan sembarangan membunuh orang. Kalau kalian melanggar laranganku ini, kelak kalau aku lewat di sini aku tidak akan mengampuni kalian lagi!"

"Coa Sian-li (Dewi Ular), kami mohon sudilah Sian-li memimpin kami yang telah kehilangan pemimpin. Kami akan menaati semua perintah Sian-li"

Terdengar seorang berseru. Lee Cin tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Tidak mungkin. Aku masih mempunyai banyak sekali tugas yang harus kuselesaikan. Nah, selamat tinggal!"

Lee Cin memberi isyarat kepada ibunya dan keduanya lalu meloncat jauh dan sebentar saja sudah lenyap dari penglihatan empat puluh orang yang masih berlutut di situ.

Setelah menuruni Bukit Kui-san dan tiba di kaki bukit, Ang-tok Mo-li dan Lee Cin berhenti berlari dan mereka berjalan seenaknya.

"Lee Cin, hatiku senang sekali engkau telah dapat membantuku membunuh Jeng-ciang-kwi. Kepandaian silatmu telah maju dengan pesat."

"Di antara kita tidak perlu berterima kasih, Ibu. Sudah menjadi kewajiban membantumu."

"Kenapa engkau tadi menolak pengangkatan mereka menjadi pemimpin mereka, Lee Cin? Senang mempunyai anak buah seperti mereka yang rata-rata memiliki kepandaian yang lumayan. Engkau akan menjadi tokoh yang amat terkenal dan dihormati semua orang kang-ouw di daerah ini."

"Aih, Ibu. Apakah Ibu senang kalau aku menjadi kepala gerombolan penjahat, Ibu? Aku tidak sudi menjadi seorang datuk sesat. Sekarang kita bicara tentang dirimu, Ibu. Engkau sudah berjanji kepadaku, kalau aku dapat membantumu, menghadapi Jeng-ciang-kwi, maka Ibu akan mempertimbangkan permintaanku, yaitu agar Ibu mau memaafkan Ayah dan suka hidup bersama dengan kami di Hong-san. Aku sekarang menagih janji Ibu itu."

KaIau dalam keadaan biasa, Ang-tok Mo-li tentu akan marah mendengar Lee Cin menagih janji yang seolah menyudutkannya itu.

Akan tetapi saat itu hatinya sedang senang karena ia telah melihat musuh besarnya terbunuh oleh Lee Cin.

Maka ia hanya mengerutkan alisnya dan balas bertanya kepada puterinya.

"Apakah dia membutuhkan maafku?"

Lee Cin memegang tangan ibunya.

"Ah, Ibu. Perlukah kujelaskan lagi? Ayah selama ini sungguh tersiksa memikirkan Ibu, memikirkan kesalahan yang telah dilakukannya terhadap Ibu. Kalau aku mengajaknya bicara tentang Ibu, Ayah menghela napas berulang-ulang dan wajahnya tampak berduka sekali. Aku yakin bahwa kalau Ibu suka memaafkan dia dan suka tinggal di sana bersama kami, Ayah akan menjadi orang paling berbahagia di dunia."

"Tapi..... ayahmu adalah seorang bengcu yang terhormat, sedangkan aku? Kau tahu sendiri siapa aku, seorang wanita iblis yang dikutuk banyak orang! Derajat dan kemuliaan ayahmu akan ternoda dan terseret turun kalau aku hidup bersamanya."

Lee Cin merangkul ibunya.

"Jangan begitu Ibu. Aku tahu bahwa biarpun Ibu dijuluki Mo-li (Iblis Betina), namun di lubuk hati Ibu, Ibu adalah seorang wanita yang gagah perkasa dan pembela keadilan. Dan tentang Ayah, dia akan mengundurkan diri dari kedudukan bengcu itu, Ibu."

"Ehhh?"

Ang-tok Mo-li memandang wajah puterinya dengan kaget.

"Mengapa rnengundurkan diri?"

"Belum lama ini, Ayah didatangi seseorang yang memakai kedok hitam dan orang itu memaki-maki Ayah sebagai seorang bengcu antek penjajah Mancu, karena ketika pengangkatannya direstui oleh Kaisar Mancu. Kemudian orang berkedok hitam itu menyerang Ayah dan dalam perkelahian itu Ayah terluka oleh pukulan tapak hitam dari orang itu. Sekarang pun Ayah masih beristirahat untuk memulihkan tenaganya Ibu. Beruntung bahwa aku telah mempelajari It-yangci sehingga aku dapat menyelamatkan Ayah. Nah, sejak itu Ayah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Dia tidak mau dianggap oleh dunia kang-ouw sebagai bengcu antek penjajah Mancu."

"Hemm, siapakah penyerang itu?"

"Ayah tidak mengetahuinya, Ibu. Dan ketika itu aku pun sedang tidak ada di rumah. Ayah hanya mengatakan bahwa orang itu masih muda, berkedok hitam dan memiliki pukulan tapak tangan hitam yang disebutnya pukulan "merontokkan jalan darah". Sebetulnya Ayah telah menghabiskan urusan dengan Si Kedok Hitam itu, akan tetapi aku tidak dapat menerimanya begitu saja, Ibu. Aku akan pergi mencari orang itu dan membalas kekalahan Ayah. Barangkali Ibu mengetahui siapa yang memiliki iImu pukulan seperti itu?"

Ang-tok Mo-li mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat.

"Aku pernah mendengar tentang ilmu tapak tangan hitam dari keluarga Cia, akan tetapi entah mereka atau bukan yang melukai ayahmu. Seingatku ilmu tapak tangan hitam keluarga Cia disebut Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam)."

"Aku juga sudah mendengar akan mereka di Hui-cu, di kaki bukit Lo-sian, bukan?"

Ibunya mengangguk.

"Kalau begitu, sekarang juga aku akan pergi ke sana untuk menyelidikinya!"

"Akan tetapi mereka itu terkenal sebagai keluarga para pendekar yang gagah perkasa, bukan golongan penjahat."

"Siapa pun mereka, akan kuselidiki. Kalau betul ada di antara mereka yang dulu memakai kedok dan melukai Ayah, tentu akan kutantang dan kubalas dia!"

Ang-tok Mo-li menghela napas panjang dan mengamati wajah puterinya.

Ada keharuan di hatinya.

Kekerasan hati puterinya itu jelas ia yang menurunkannya.

Andaikata ia yang menjadi Lee Cin, ia pun tentu akan mencari orang itu sampai dapat ditemukan.

"Kalau begitu, sesukamulah, Lee Cin. Engkau sudah memiliki kepandaian yang cukup untuk bertindak sendiri. Akan tetapi, bagaimana dengan keadaan ayahmu?"

"Dia masih menderita oleh akibat pukulan itu, Ibu. Biarpun dia sudah tidak terancam bahaya lagi, namun dia masih lemah dan perlu beristirahat. Aku sudah mencari seorang paman dari dusun untuk merawat dan melayaninya selama aku pergi."

"Aku..... aku maafkan dia..... Sudah lama, selama engkau pergi, aku sudah maafkan dia,"

Katanya lirih.

Mendengar ini, Lee Cin merangkul dan mencium ibunya dengan kedua mata basah.

Ketika ia memandang wajah ibunya, ia melihat betapa kedua mata ibunya juga basah.

Di dalam hatinya Lee Cin bersorak.

Ibunya menangis!

Ini merupapakan hal yang langka sekali dan ini mungkin sekali berarti bahwa hati ibunya yang tadinya membeku dan keras sudah mencair dan lunak kembali!

"Ibu,"

Ia berbisik dekat telinga ibunya.

"Ayah amat mencinta Ibu, sungguh amat mencintaimu."

Ang-tok Mo-li melepaskan rangkulannya dan mengerutkan alisnya.

"Kenapa tidak dari dulu?"

"Ayah sudah menyesali hidupnya, Ayah merana dalam hatinya dan selalu merindukan Ibu. Setelah Ibu memaafkan dia, tidakkah Ibu kasihan melihat dia terluka? Alangkah akan bahagia hatinya kalau Ibu sudi menengok Ayah yang sedang lemah dan beristirahat."

"Bagaimana nanti sajalah. Kapan engkau akan pergi ke Lo-sian?"

"Sekarang juga, Ibu."

"Kalau begitu berangkatlah, akan tetapi hati-hatilah. Sedapat mungkin jangan sampai engkau bermusuhan dengan keluarga Cia, hal itu berbahaya sekali."

Baik, Ibu. Akan kuingat pesan Ibu."

Kedua orang wanita, ibu dan anak itu Ialu berpisah.

Lee Cin menuju ke barat dan ibunya menuju ke selatan.

oood0wooo Lima orang laki-laki berdiri sambil bercakap-cakap di dalam sebuah hutan di pegunungan Hong-san.

Mereka ini bukan orang-orang lemah karena mereka membawa golok di pinggang mereka.

Kuncir mereka melilit leher dan sikap mereka congkak seperti kebanyakan orang yang merasa dirinya kuat dan berkuasa.

Memang, lima orang ini bukan orang sembarangan, melainkan segerombolan perampok yang mengepalai banyak anak buah di sebelah timur Pegunungan Hong-san.

Yang mereka bicarakan adalah bengcu Souw Tek Bun.

"Tidak salahkah keterangan yang kau peroleh bahwa Souw-bengcu itu kini sedang sakit dan lemah?"

Tanya seorang kepada kawannya yang bermuka hitam.

"Tidak salah. Petani yang kini merawatnya menceritakan hal ini kepada beberapa orang dusun dan berita itu menyebar sehingga aku mendengarnya. Kiranya, sekaranglah saatnya yang terbaik untuk bergerak,"

Kata Si Muka Hitam.

"Akan tetapi ada puterinya yang kabarnya tidak kalah tangguhnya dibandingkan dengan Souw-bengcu,"

Kata orang ke tiga.

"Bahkan puterinya itu akhir-akhir ini dikenal sebagai Dewi Ular. Kabarnya ia dapat memanggil semua ular di daerah ini untuk membantunya menghadapi musuh. Ih, mengerikan!"

Kata orang ke empat.

"Kalau berbahaya sekali, lebih baik ditangguhkan, tunggu sampai kita memperoleh bantuan yang tangguh, baru kita serbu,"

Kata orang ke lima.

"Kenapa kalian begitu ketakutan? Sudah kukatakan bahwa anak perempuannya itu pergi jauh. Karena itu maka orang dusun itu disuruh menjaga dan merawat Souw-bengcu. Jangan kalian takut, begitu pengecutkah kalian?"

Kata Si Muka Hitam yang agaknya menjadi pemimpin mereka.

Orang ini memang kelihatan menyeramkan.

Mukanya hitam sekali, rambutnya sangat subur, dikuncir tebal dan kuncir itu melilit lehernya.

Di punggungnya terdapat sebatang ruyung dan di pinggangnya tergantung sebuah golok.

Lima orang ini menamakan diri mereka sendiri Hong-san Ngo-houw (Lima Harimau Bukit Hong-san).

Mereka bercakap-cakap di hutan yang sunyi itu, membicarakan niat mereka untuk menyerbu rumah Souw-bengcu.

"Apakah benar pedang itu amat berharga maka engkau hendak merampasnya?"

Tanya orang pertama kepada Si Muka Hitam.

"Hem, tentu saja! Amat berharga sekali. Orang di dunia kang-ouw tentu akan berani membayar mahal untuk pedang Ceng-liong-kiam! Kalian tahu pedang itu adalah pedang pemberian Kaisar kepada Souw-bengcu. Dengan pedang itu di tangan, orang dapat memasuki istana dan semua penjaga akan memberi hormat. Orang itu akan dapat langsung menghadap Kaisar! Bukankah benda itu amat berharga? Selain itu, juga pedang itu merupakan pedang pusaka yang ampuh sekali."

Mendengar keterangan ini, empat orang rekannya menyeringai dan mengangguk-angguk.

"Kalau begitu kapan kita akan menyerbu ke sana?"

"Sekarang juga, selagi masih pagi."

Berangkatlah lima orang itu mendaki puncak Hong-san menuju ke tempat kediaman Souw Tek Bun.

Mereka mendaki setengah berlari dan nampak wajah mereka penuh gairah, penuh semangat.

Akhirnya sampai juga mereka di depan pondok tempat tinggaI Souw Tek Bun yang kelihatan sunyi sekali.

Selagi lima orang itu menjenguk ke sana-sini, muncullah seorang laki-laki setengah tua dari dalam pintu pondok.

Melihat lima orang itu, dia terkejut dan cepat menghampiri sambil bertanya.

"Siapa kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?"

Tanyanya.

Akan tetapi sebagai jawabannya, sebatang golok berkelebat dan pelayan itu berteriak mengaduh satu kali lalu terkulai roboh dengan dada terkoyak.

Mendengar teriakan ini, Souw Tek Bun yang sedang berada di dalam menjadi terkejut dan dia pun muncul dari pintu.

Karena tidak menyangka buruk, bengcu ini tidak membawa senjata apa pun.

Melihat lima orang yang tampak garang dan bengis itu, Souw Tek Bun mengerutkan alisnya, akan tetapi ketika dia melihat pelayannya sudah menggeletak mandi darah, dia terkejut dan marah sekali.

"Siapakah kalian dan apa yang kalian lakukan ini?"

Si Muka Hitam memutar tubuh memandang kepada Souw Tek Bun.

Dan empat orang rekannya juga memandang bengcu itu dengan sinar mata penuh perhatian dan juga ada tersisa perasaan gentar karena mereka sudah mendengar kabar tentang kegagahan bengcu ini dengan ilmu silatnya yang tinggi.

Akan tetapi Si Muka Hitam sudah yakin akan kebenaran berita yang diterimanya lalu tertawa.

"Ha-ha-ha, kiranya yang namanya Souw-bengcu hanya seorang tua yang lernah dan berpenyakitan!"

Souw Tek Bun yang tidak tahu bahwa ucapan itu untuk memancing dan mengetahui keadaannya, menghela napas dan berkata sejujurnya.

"Memang aku sedang tidak sehat, akan tetapi mengapa kalian membunuh pelayanku yang sama sekali tidak berdosa ini?"

Si Muka Hitam mencabut golok dan ruyungnya diikuti empat rekannya yang juga sudah mencabut golok mereka.

"Souw Tek Bun! Kami datang bukan untuk mengobrol denganmu! Cepat kau serahkan Ceng-liong-kiam kepada kami atau engkau akan mati seperti pelayanmu ini!"

Biarpun keadaannya lemah dan tenaganya belum puIih, Souw Tek Bun adalah seorang gagah perkasa yang tidak mungkin mau tunduk atas perintah gerombolan penjahat begitu saja.

"Ceng-liong-kiam adalah pedangku, tidak boleh orang lain memilikinya!"

Katanya dengan gagah.

"Kalau begitu mampuslah"

Bentak Si Muka Hitam yang langsung menyerang dengan golok di tangan kanan dan ruyung di tangan kiri.

Biarpun Souw Tek Bun kehilangan tenaganya, namun dia tidak kehilangan ilmu silatnya yang sudah mendarah daging, maka dengan mudah dia mengelak dari serangan golok dan ruyung itu.

Akan tetapi empat rekan Si Muka Hitam sudah maju menyerang dari segala jurusan!

Souw Tek Bun hanya mampu mengelak, akan tetapi karena dia kehilangan tenaganya, maka gerakannya juga tidak begitu gesit lagi.

Kembali ruyung Si Muka Hitam menyambar ke arah kepalanya.

Souw Tek Bun mengelak dengan menarik kepalanya ke belakang dan pada saat itu, dua batang golok menyambar dari kanan kiri.

Terpaksa dia melempar tubuh ke belakang dan dapat berjungkir-balik satu kali, hanya untuk menghadapi golok lain dari depan dan belakangnya.

Dia memutar tubuh dan kembali mengelak, akan tetapi elakannya kurang cepat sehingga ketika ruyung menyambar ke arah kepala dan dielakkannya, ruyung itu masih menimpa ujung pundaknya.

"Dess......!"

Tubuh Souw Tek Bun terguling.

Akan tetapi begitu roboh dia menggulingkan tubuhnya lalu bangkit berdiri dengan pundak kiri terasa nyeri bukan main.

Kembali hujan goIok dan ruyung mengeroyoknya.

Karena dia tidak diberi kesempatan untuk membalas, maka dia hanya berloncatan ke sana sini untuk mengelak dan suatu saat kaki kanan Si Muka Hitam mencuat dan mengenai perutnya.

"Bukk.....!"

Kembali tubuh Souw Tek Bun terpelanting, kini terjengkang, akan tetapi dia masih dapat bergulingan menghindarkan diri.

Tahulah Souw Tek Bun bahwa nyawanya terancam maut.

Kalau dia tidak kehabisan tenaga sebagai akibat pukulan tapak tangan hitam, biarpun dia bertangan kosong, dalam beberapa gebrakan saja dia tentu akan mampu merobohkan lima orang itu.

Akan tetapi tenaganya tidak ada sehingga kegesitannya pun berkurang.

-oo0dw0oo-Jilid.

"Sing-sing-sing......!"

Tiga batang golok berdesing menyambut dan hampir saja mengenai tubuh pendekar itu.

Dia melompat mundur ke belakang menghindarkan diri dari sambaran golok-golok itu.

Akan tetapi ketika Si Muka Hitam mengejar dan menggerakkan ruyungnya, kembali ruyung itu mengenai pahanya dan Souw Tek Bun lalu terguling roboh, tidak mampu berdiri kembali.

Dengan wajah menyeringai bengis, lima orang itu sudah berlompatan mengangkat senjata masing-masing untuk mengirim bacokan atau tusukan maut.

"Wuuutt..... tar-tar-tar-tar-tar.....!"

Sinar merah menyambar lima kali dan lima orang perampok itu berpelantingan dan tidak dapat bangkit kembali karena kepala mereka sudah retak disambar ujung kebutan berbulu merah.

Ang-tok Mo-li sudah berada di situ, melangkah mendekati Souw Tek Bun dan memandang dengan alis berkerut.

Souw Tek Bun yang sudah menderita luka di pundak dan pahanya itu, juga menerima tendangan di perutnya, memandang wanita itu.

Pandang matanya menjadi kabur, akan tetapi dia masih mengenal wanita itu dan mulutnya berkata lirih.

"Kau.... kau..... Bu Siang......!"

Dan dia pun terkulai pingsan.

Ketika dia membuka matanya kembali, Souw Tek Bun mendapatkan dirinya sudah rebah di pembaringan di dalam kamarnya dan melihat Ang-tok Mo-li sedang membalut luka di pundak dan pahanya.

"Bu Siang..... kau..... kau menyelamatkan aku..... dan merawatku.....?"

Pertanyaan itu keluar dengan suara penuh haru.

"Sttt, diamlah dan mengasolah. Engkau tidak terluka parah, hanya perlu beristirahat,"

Kata Ang-tok Mo-li atau Bu Siang dengan lembut. Souw Tek Bun memandang kepada wanita itu dan kedua matanya basah.

"Bu Siang, tidak mimpikah aku? Benarkah ini engkau yang merawatku? Bu Siang, katakan bahwa ini bukan sekedar mimpi....."

Bu Siang tersenyum memandang kepada pria yang sesungguhnya amat dicintanya ini.

Kalau ia pernah membencinya, hal itu karena besarnya cinta yang gagal.

Akan tetapi kini ia menyadari bahwa apa yang dikatakan puterinya itu bukan bohong.

Pria ini masih mencintanya dan mengharapkan kedatangannya.

Ia mengangguk.

"Apakah engkau mengharapkan kedatanganku dan merasa rindu kepadaku?"

Tanyanya lirih. Souw Tek Bun menangkap tangan wanita itu dan menciumi tangan itu dengan air mata berlinang.

"Haruskah kukatakan lagi, Bu Siang. Aku mengharapkan engkau datang, agar kita dapat hidup bersama. Aku mengharapkan maafmu yang sebesar-besarnya, atau kalau tidak, aku akan rela mati kau bunuh......"

Ang-tok Mo-li menggeleng kepalanya.

"Hemm, laki-laki tolol, kalau saja begini sikapmu sejak dulu....."

"Akan tetapi aku belum terlambat, bukan? Kau sudi memaafkan aku atas kebodohanku itu? Aku sungguh menyesal dan dengan setulus hati aku berjanji akan mempergunakan sisa umurku untuk membahagiakanmu, Siang-moi (Adik Siang)."

"Dengan satu syarat bahwa engkau harus tidak menjadi bengcu lagi. Aku akan selalu merasa rendah diri untuk hidup di samping seorang bengcu yang namanya dimuliakan dan dihormati seluruh orang kang-ouw."

Souw Tek Bun menarik tangan Ang-tok Mo-li dan merangkulnya.

"Jangan khawatir, Siang-moi. Sebelum engkau datang pun aku sudah bermaksud untuk mengundurkan diri dari jabatan bengcu."

Tentu saja Bu Siang sudah mendengar akan hal ini dari puterinya.

Ia membiarkan dirinya dirangkul dan kedua orang itu tenggelam ke dalam kemesraan dan baru sekarang wanita itu menyadari bahwa selama ini ia tidak dapat pernah melupakan Souw Tek Bun, bahwa selama ini ia masih mencinta pria itu.

Manusia dipermainkan suka dan duka sebagai akibat permainan nafsu.

Manusia selalu mementingkan diri sendiri, selalu mementingkan "si aku"

Yang dianggapnya sebagai diri sejati.

Padahal, yang mengaku aku itu bukan lain adalah nafsu.

Nafsu daya rendah selalu berebutan untuk menguasai manusia dan mengaku diri sebagai Aku-nya manusia itu.

Dan menjadi sifat nafsu daya rendah untuk mementingkan diri sendiri.

Dari pementingan diri sendiri inilah timbul segala macam perasaan suka duka.

Kalau terjangkau apa yang diinginkan datanglah suka, kalau tidak terjangkau datanglah duka.

Bukan berarti bahwa manusia harus menjauhi nafsu atau meniadakan nafsu.

Tanpa nafsu manusia tak mungkin dapat merasakan kenikmatan hidup, bahkan tanpa nafsu manusia tidak akan dapat hidup.

Segala macam penemuan manusia yang membawa kepada kemajuan lahiriah ini adalah berkat dorongan nafsu.

Akan tetapi manusia bijaksana akan selalu menjadi majikan dari nafsu-nafsunya.

Setiap kali nafsu menyimpang dari fungsinya dan hendak mencengkeram akan menjadikan manusia sebagai budak, manusia bijaksana akan selalu dapat melihat bahwa apa yang dia pikirkan, katakan dan perbuat itu bukanlah dilakukan oleh dirinya yang sejati, melainkan oleh nafsu.

Dengan kewaspadaan ini, manusia akan dapat mengembalikan kedudukannya sebagai majikan dan menarik kembali nafsu yang menguasai itu menjadi pembantu atau alat.

Manusia sendiri tidak akan mungkin atau akan teramat sukar untuk dapat menguasai nafsu-nafsunya.

Yang dapat menundukkan nafsu adalah Kekuasaan Tuhan.

Karena itu tiada jalan lain bagi manusia untuk meniadakan nafsu yang suka mengaku-aku dan menariknya menjadi pembantu hanyalah penyerahan diri kepada Tuhan dengan segala kepasrahan, keihlasan dan ketawakalan.

Kalau sudah begitu, maka Tuhan dengan Kekuasaan-Nya yang tidak terbatas akan meletakkan nafsu-nafsu di tempat masing-masing sebagaimana mestinya.

Mengapa nafsu demikian kuat dan besar kekuasaannya atas diri manusia lahir dan batin?

Karena nafsu selalu menarik manusia kepada kesenangan duniawi yang gemerlapan, tampak indah dan menyenangkan, mendatangkan kepuasan jasmani.

Dengan kesenangan ini manusia terpikat, terbujuk dan akhirnya menyerah menjadi bulan-bulanan dan permainan nafsu itu sendiri.

Dan kalau nafsu sudah menguasai diri, bukan hanya tindakan kita saja yang menyeleweng dari kebenaran, bahkan hati akal pikiran kitapun sudah bergelimang nafsu sehingga hati dan pikiran bahkan membenarkan perbuatan yang didorong nafsu itu.

Maka sukarlah bagi manusia untuk menyadari kesalahan sendiri, karena hati akal pikirannya selalu membenarkan.

Contoh yang sederhana adalah manusia yang melakukan korupsi.

Dia tahu benar bahwa perbuatan itu tidak benar.

Akan tetapi kalau dia melakukannya lalu hati akal pikirannya membelanya dengan bisikan-bisikan lembut dan menghibur, misalnya.

"tidak apa-apa, toh semua orang melakukannya"

Atau "engkau melakukan karena terpaksa oleh keadaan, maka itu bukan dosa"

Dan "yang kau lakukan hanya kecil saja, lihat orang lain melakukannya dengan jumlah yang lebih besar lagi".

Pendeknya, hati akal pikiran selalu membela perbuatan yang tidak benar itu menjadi perbuatan yang dianggap benar!

Maka, seorang manusia bijaksana akan selalu berhati-hati dan waspada, sehingga dia akan dapat merasakan bahwa perbuatan itu bukan kehendak dirinya yang sejati melainkan dilakukan karena bujukan iblis nafsu, dan bahwa bisikan-bisikan membela itu bukan datang dari nuraninya, melainkan dari iblis nafsu yang sama.

Setelah Bu Siang kembali ke dalam pelukannya, Souw Tek Bun baru menyadari bahwa dia memang telah bersalah besar.

Seharusnya, kalau benar dia mencinta Bu Siang, dia harus membimbing wanita itu ke arah jalan yang benar, bukan meninggalkannya begitu saja dan menikah dengan wanita lain!

Kalau dulu dia tidak meninggalkannya melainkan memberi bimbingan, belum tentu Bu Siang akan menjadi seorang datuk sesat yang tidak segan melakukan perbuatan jahat.

Kini dia menyesal dan berjanji kepada diri sendiri untuk melanjutkan membimbing wanita yang dicintanya itu ke jalan yang benar dan tidak lagi bersikap dan bertindak sebagai seorang tokoh sesat.

oood0wooo Lee Cin berhenti di bawah pohon besar di kaki Bukit Lo-sian.

Tempat itu sunyi dan hari itu panasnya membakar sehingga terasa sejuk dan nyaman berada di bawah pohon besar itu melepaskan lelah.

Kalau ada orang melihatnya tentu akan merasa heran.

Seorang gadis cantik duduk seorang diri di bawah pohon di tempat yang amat sepi itu.

Memang Lee Cin amat menarik perhatian.

Gadis ini memiliki kecantikan yang khas.

Wajahnya yang bulat telur itu manis sekali dengan mulut yang kecil mungil dengan bibir yang selalu merah membasah.

Baca Juga: Asmara Berdarah 4

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert