Eps 4 Dewi Ular - Kho Ping Hoo
Baca online Dewi Ular - Kho Ping Hoo
Cersil Dewi Ular - Kho Ping Hoo.
Hidungnya yang kecil mancung itu ujungnya agak menjungat ke atas sehingga menimbulkan kesan lucu.
Setiap kali ia menggerakkan mulutnya, dua lesung pipit di kanan kiri mulutnya nampak jelas.
Matanya bersinarsinar tajam dan amat jeli, seolah selalu menyelidik apa yang berada di depan dan dipandangnya.
Lee Cin memang seorang gadis cantik jelita, berusia sembilan belas tahun, bagaikan setangkai bunga mekar semerbak harum.
Pakaiannya juga cerah berkembang.
Ia tidak nampak membawa senjata karena pedangnya dililitkan di pinggang sehingga tampaknya seperti sabuk saja.
Suling yang hitam terselip di pinggang itu pun tidak kelihatan sebagai senjata walaupun sesungguhnya suling itu merupakan senjata yang ampuh dan juga dapat dipergunakan untuk memanggil ular.
Lee Cin menyeka keringat dari leher dan dahinya, menggunakan sehelai saputangan sutera biru.
Ia menjulurkan kedua kakinya yang terasa agak pegal karena sudah dipakai berjalan menempuh jarak jauh.
Tidak akan ada orang yang menduga bahwa gadis cantik menarik ini sebetulnya adalah seorang gadis yang amat lihai, bahkan terkenal dengan julukan Dewi Ular!
Lee Cin duduk termenung.
Ia teringat kepada ibunya dan diam-diam ia mengharapkan agar ibunya benar-benar mau memaafkan ayahnya dan akhirnya suka tinggal bersama ia dan ayahnya di Hong-san.
Pikirannya melayang-layang mengenangkan masa lalunya.
Ia teringat akan Song Thian Lee.
Pernah ia jatuh cinta setengah mati kepada pendekar itu.
Akan tetapi akhirnya ia melihat kenyataan pahit bahwa Thian Lee tidak mencintanya melainkan mencinta gadis lain dan kini sudah menikah dengan gadis itu.
Apakah dulu ibunya juga mengalami seperti ia?
Ibunya mencinta ayahnya akan tetapi ayahnya memilih wanita lain untuk menjadi isterinya.
Tidak, sama sekali tidak sama.
Ibunya telah menyerahkan diri dan kehormatannya kepada ayahnya.
Tentu saja setelah ditinggal menikah dengan gadis lain, ibunya menjadi sakit hati.
Akan tetapi ia tidaklah demikian.
Hubungannya dengan Thian Lee bersih.
Ia menghela napas.
Masa patah hati telah lewat.
Ia tidak lagi merasa berduka karena harus berpisah dari Thian Lee.
Ia tahu diri.
Maklum bahwa cinta tidak dapat bertepuk sebelah tangan.
Thian Lee telah menemukan jodohnya dan ia terpaksa harus meninggalkan pemuda itu, tidak lagi terasa penyesalan atau duka.
Ia bahkan merasa seperti seekor burung terbang menyendiri di angkasa raya.
Tidak akan mudah rasanya untuk tertarik kepada pria lain.
Hatinya tidak membeku terhadap cinta, akan tetapi ia merasa sangsi apakah ada pemuda yang dapat menarik hatinya seperti Thian Lee.
Ia teringat kepada Thio Hui San dan menarik napas panjang.
Pemuda itu pun seorang pendekar perkasa, seorang pemuda yang gagah dan tampan menarik.
Seorang pemuda yang berhati lembut dan yang terus terang menyatakan cinta kepadanya.
Akan tetapi ia sendiri tidak mempunyai perasaan cinta terhadap Thio Hui San.
Dan ia merasa kasihan sekali.
Ia sudah pernah merasaan betapa pahitnya untuk jatuh cinta kepada orang yang tidak membalas cintanya.
Tentu Hui San juga merasakan kepahitan seperti yang pernah ia rasakan.
Tiba-tiba, perasaan sedih mencekam hatinya.
Ia merasa kesepian.
Ayah dan ibunya, dua orang yang paling dekat di hatinya, masih belum dapat hidup bersama seperti yang diharapkannya.
Dan ia sendiri, ah, betapa hidup ini sunyi seperti yang sebuah kapal di tengah samudra luas.
Tidak tampak tepi daratan, tidak tampak nusa harapan di mana kapal itu dapat berlabuh.
Ia hanya dapat mengharapkan suatu kemujijatan terjadi atas dirinya.
Haruskah ia mengalami nasib seperti ibunya yang selalu kesepian dan merana?
Tidak, tidak mungkin.
Ibunya menderita kesengsaraan karena ulah sendiri, karena hatinya dipenuhi dendam yang meracuni diri sendiri.
Ia tidak mendendam kepada siapapun juga.
Kalau ia mencari Si Kedok Hitam, hal itu bukan dikarenakan dendam, melainkan penasaran.
Ia ingin menemukan Si Kedok Hitam untuk ditanya mengapa dia menyerang ayahnya dan melukainya.
Kalau Si Kedok Hitam tidak dapat memberi jawaban yang menghilangkan rasa penasaran itu, ia akan menantangnya untuk bertanding agar ia dapat melukainya seperti yang dilakukan orang itu kepada ayahnya.
Semangat hidupnya bangkit kembali ketika ia teringat akan tugasnya ini.
Persetan semua kelemahannya!
Ia tidak boleh membiarkan dirinya terseret oleh hati dan pikiran yang melemahkan dirinya, menyeretnya ke dalam kedukaan.
Hidupnya masih berarti!
Selain mencari Si Kedok Hitam, ia pun harus mempersatukan ayah dan ibunya.
Lee Cin bangkit dari duduknya dan menggeliat.
Otot-otot tubuhnya terasa kaku karena dipakai duduk sampai lama.
Ia harus bergerak kembali, harus melangkah lagi mendaki Bukit Lo-sian, menuju ke kota Hiu-cu yang terletak di lereng di balik bukit itu.
Ia sudah mencari keterangan di dusur yang dilewatinya tadi dan mendapat petunjuk bahwa Hui-cu terletak di seberang bukit.
Saat itu matahari telah naik tinggi.
Siang hari yang amat terik dan panas.
Lee Cin meregangkan kaki tangannya yang kaku, lalu mengambil kembali buntalan pakaiannya dan digendongnya buntalan pakaian itu dipunggungnya.
Selagi ia hendak melangkah, tiba-tiba ia mendengar gerakan orang.
Lee Cin menahan langkahnya dan waspada.
Muncullah tiga orang dari balik pohon dan mereka itu menghadang di depan Lee Cin sambil memandang gadis itu degan sinar mata penuh selidik.
"Siapakah engkau, Nona? Apakah engkau dari keluarga Cia?"
Bentak orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan.
mukanya penuh brewok.
Si Tinggi Besar ini nampak kokoh kuat dan kuncir rambutnya dibiarkan tergantung di depan dadanya.
Kancing bajunya terbuka sebagian sehingga tampak dadanya yang berbulu dan kekar.
Mendengar pertanyaan ini, Lee Cin menjadi tertarik sekali.
Tentu ada sesuatu antara tiga orang ini dengan keluarga Cia.
Kalau ia menjawab bahwa ia bukan anggauta keluarga Cia, dan mereka itu pergi begitu saja, tentu ia tidak akan mendengar keterangan apa pun tentang keluarga Cia.
Sebaiknya ia mengaku keluarga Cia dan ia ingin tahu apa yang akan terjadi, agar ia mendengar sesuatu tentang keluarga yang sedang diselidikinya itu.
"Kalau benar aku keluarga Cia, kalian mau apa?"
Jawabnya dengan pertanyaan yang menantang.
"Kubunuh engkau!"
Jawab orang ke dua yang berwajah tampan dan bertubuh sedang. Orang ini bernama Bong Cui Kiat, berusia empat puluh lima tahun.
"Kucincang kau!"
Bentak orang ke tiga yang bernama Bong Cui An, adik orang ke dua, bertubuh tinggi kurus dan berusia empat puluh tahun.
"Ha-ha-ha, tidak begitu! Engkau akan kuambil sebagai isteriku yang paling muda!"
Kata orang pertama yang bernama Lay Ki Seng dan berusia lima puluh tahun, orang yang tinggi besar dan brewok itu.
Lee Cin tersenyum.
Keterangan itu masih belum ada artinya.
Ia ingin tahu tentang keluarga Cia, bukan tentang mereka.
"Hemm, tidak begitu mudah untuk mengikat jodoh! Setidaknya aku harus tahu lebih dulu, kalian ini orang-orang dari mana dan mengapa pula memusuhi keluarga Cia?"
"Kalau engkau anggauta keluarga Cia tentu mengenal kami, setidaknya mengenal nama kami. Kami adalah Kim-to Sam-ong (Tiga Raja Golok Emas), tiga pimpinan Kim-to-pang (Perkumpulan Golok Emas). Lebih baik engkau menyerah dan menjadi isteri mudaku, daripada tubuhmu kami cincang dan nyawamu kami cabut!"
Dari sikap mereka ini saja Lee Cin dapat menduga bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang berwatak jahat, dan kalau gerombolan orang jahat memusuhi keluarga Cia, mudah diduga bahwa keluarga Cia adalah keluarga yang baik.
"Nanti dulu.. Biarpun aku anggauta keluarga Cia, akan tetapi sudah lama meninggalkan perkampungan dan baru hari ini akan pulang. Aku tidak mengenal siapa kalian dan mengapa ada permusuhan antara kalian dan keluarga kami? Ceritakan dulu, baru aku akan mempertimbangkan usulmu tadi."
Lay Ki Seng menjadi girang mendengar ini, mengira bahwa gadis itu tentu akan dapat dia peristeri dengan mudah.
"Dengarlah, Nona manis. Aku bernama Lay Ki Seng dan aku orang pertama dari tiga pimpinan Kim-to-pang. Sudah beberapa kali anggauta keluarga Cia menentang dan menghalangi kami, karena itu kini kami bertemu denganmu. Sebaiknya engkau menurut dan menjadi isteri mudaku untuk menebus kesalahan keluargamu kepada kami. Kalau engkau sudah menjadi isteriku, tentu hubungan antara keluarga Cia dengan kami dapat menjadi baik dan akrab. Nah, engkau tentu setuju, bukan? Aku lebih suka kalau engkau menyerah dengan sukarela daripada aku harus menggunakan paksaan!"
"Aku mau dan setuju menjadi isterimu, akan tetapi dengan satu syarat bahwa engkau tidak boleh memakai kepalamu itu lagi!"
Lay Ki Seng dan kedua orang rekannya terbelalak dan wajah orang tinggi besar itu berubah marah sekali karena marah.
Muka yang memang sudah hitam itu berubah semakin hitam lagi dan cuping hidungnya kembang-kempis seperti seekor kuda.
Akan tetapi agaknya dia memandang dirinya terlalu tinggi untuk menangkap seorang gadis seperti Lee Cin, maka dia membentak kepada rekannya termuda.
"Cui An, tangkap gadis ini untukku!"
Bong Cui An kelihatan girang sekali dengan tugas ini.
"Baik, Twako!"
Katanya dan di saat lain dia sudah menubruk ke arah Lee Cin, kedua lengannya dikembangkan dan kedua tangannya yang kurus itu mencengkeram ke arah Lee Cin.
Agaknya dia sudah yakin bahwa tubrukannya pasti akan berhasil karena dia bergerak cepat sekali.
Lee Cin juga melihat bahwa Si Tinggi Kurus ini memiliki gerakan yang cukup cepat, akan tetapi tidak terlalu cepat baginya dan sekali ia berkelebat, tubrukan itu luput.
Karena memandang rendah, ketika tubrukannya luput Bong Cui An tidak menjaga dirinya maka Lee Cin membalikkan tubuhnya dan sekali kaki kirinya menendang ke arah pantat orang itu, tubuh Bong Cui An tersungkur ke depan dan mukanya mencium tanah!
Tentu saja orang tinggi kurus itu menjadi marah sekali.
Dia sudah melompat lagi dan membalikkan tubuh, kemudian setelah mengetahui bahwa gadis itu bukan orang lemah, dia kini menyerang dengan pukulan tangannya.
Serangan itu hebat juga dan tahulah Lee Cin bahwa orang-orang ini bukan hanya bersikap sombong, akan tetapi memang memiliki kepandaian yang lumayan tingginya.
Serangan itu saja demikian dahsyat, dilakukan dalam keadaan yang marah.
Namun tentu saja Lee Cin dengan mudah dapat mengelak dan membalas dengan tamparan tangannya.
Setelah lewat tiga puluh jurus, Lee Cin dapat menampar pundak Bong Cui An, membuat dia untuk kedua kalinya terpelanting.
Lay Ki Seng menjadi marah melihat betapa rekannya termuda dua kali roboh oleh Lee Cin.
Dia membentak kepada Bong Kui Kiat untuk membantu adiknya dan dua orang kakak beradik itu lalu mengeroyok Lee Cin.
Namun, dengan gerakannya yang lebih cepat Lee Cin dapat menghindarkan semua serangan dan berbalik menyerang mereka dengan tamparan-tamparan dan tendangan yang cepat sekali, membuat kedua orang itu terdesak.
Kini tanpa malu lagi Lay Ki Seng terjun ke dalam perkelahian.
Dan begitu dia meloncat, dia sudah mencabut goloknya.
Golok itu besar dan tampaknya seperti terbuat dari emas.
Padahal warna emas itu hanya selaputnya saja.
Di dalamnya golok itu terbuat dari baja yang baik.
"Bocah setan, mampuslah!"
Katanya dan goloknya menyambar dahsyat.
Lee Cin mengelak dan meloncat ke belakang.
Kini, kedua kakak beradik Bong itu pun sudah mencabut golok masing-masing dan jelas bahwa mereka bertiga kini bukan bermaksud menangkap Lee Cin, melainkan membunuhnya!
Lee Cin mengerutkan alisnya.
Kalau ia menghendaki, tadi ia tentu dapat membunuh tiga orang lawannya ketika bertanding dengan satu lawan satu.
Akan tetapi ia tidak mau membunuh sembarangan.
Dan sekarang ternyata mereka bertiga mengeroyoknya dengan golok dan jelas bahwa mereka bermaksud untuk membunuhnya.
Ilmu golok mereka memang hebat dan berbahaya.
Karena itu, dengan cepat ia mencabut Ang-coa-kiam dari pinggangnya lalu memutar pedang itu menjadi gulungan sinar merah.
Pertandingan itu hebat bukan main.
Gulungan sinar merah bertemu dengan tiga gulungan sinar emas sehingga tampak indah sekali.
Akan tetapi dalam keindahan itu terkandung bahaya maut bagi Lee Cin.
Biarpun ia sudah menggunakan pedangnya, tetap saja gadis perkasa ini mulai terdesak mundur.
Ilmu golok mereka, terutama yang dimiliki Lay Ki Seng, benar-benar tangguh dan berbahaya sekali.
Pada saat Lee Cin terdesak oleh gulungan sinar emas dari tiga golok mereka, tiba-tiba terdengar bentakan orang.
"Tiga pangcu Kim-to-pang sungguh tidak tahu malu, mengeroyok seorang gadis muda!"
Sesosok bayangan berkelebat didahului sinar putih yang terang menyambar ke arah tiga sinar golok itu.
"Trang-tranggg.....!"
Dua buah golok terpental dan para pengeroyok cepat berlompatan ke belakang lalu memandang siapa orang yang datang menentang mereka itu.
Juga Lee Cin melompat ke belakang dan memandang penuh perhatian.
Yang datang itu adalah seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluh dua tahun.
Wajahnya tampan sekali dan sepasang matanya mencorong.
Tangan kanannya memegang sebatang suling yang putih seperti perak.
Agaknya tadi dia menggunakan suling perak itu untuk menangkis dan membuat terpental dua golok emas.
Melihat pemuda itu, Lay Ki Seng menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka pemuda itu dan membentak.
"Orang she Cia, kebetulan engkau datang mengantarkan nyawa. Mampuslah!"
Begitu membentak Lay Ki Seng sudah menyerang pemuda itu, dibantu oleh Bong Cui Kiat.
Dua orang itu sudah mengeroyok si pemuda sambil menggerakkan golok mereka dengan dahsyat.
Akan tetapi pemuda itu dengan sikap tenang sekali menggerakkan suling peraknya menangkis lalu balas menyerang.
Lee Cin yang melihat betapa Bong Cui An, orang ke tiga yang kurus tinggi itu hendak maju mengeroyok pula, sudah menghadang dengan pedangnya dan berkata.
"Tidak malukah kalian, selalu melakukan pengeroyokan!"
Melihat gadis itu menghadangnya, Bong Cui An menyerang dengan goloknya.
Golok itu menyambar dari atas kepala Lee Cin, akan tetapi dengan mudah Lee Cin mengelak dan balas menyerang dengan pedangnya.
Tentu saja kini Lee Cin merasa amat ringan kalau harus menghadapi seorang saja dari mereka.
Begitu pedangnya bergerak cepat, Bong Cui An sudah terdesak hebat.
Belum sarnpai tiga puluh jurus, Pedang Ular Merah di tangan Lee Gin sudah melukai lengan kanan lawan sehingga terpaksa Bong Cui An melepaskan goloknya, lalu membalikkan tubuh dan melarikan diri!
Lee Cin yang tidak mempunyai persoalan dengan mereka, tidak mengejar dan membiarkan orang itu melarikan diri.
Kini Lee Cin menonton pertandingan antara pemuda bersuling perak yang dikeroyok oleh dua orang itu dan ia menjadi kagum.
Suling perak yang panjangnya selengan itu dimainkan seperti sebatang pedang, akan tetapi juga dapat menotok jalan darah.
Gerakan pemuda itu sedemikian ringan dan cepatnya sehingga kedua orang lawannya mulai terdesak mundur.
Karena tahu bahwa pemuda itu tidak akan kalah dikeroyok dua, maka Lee Cin menyimpan pedangnya dan hanya menonton saja, diam-diam mempelajari gerakan suling pemuda itu.
Pemuda itu adalah seorang she Cia, berarti dia seorang anggauta keluarga Cia yang sedang diselidikinya.
Apakah pemuda ini yang dulu memakai kedok hitam melukai ayahnya?
Diam-diam jantungnya berdebar tegang.
Bukan tidak mungkin pemuda ini yang dicarinya, mengingat bahwa ilmu silatnya juga tinggi.
Akan tetapi ia tidak boleh menuduh sembarangan, dan harus ia ketahui buktinya.
Kalau pemuda itu menggunakan pukulan tapak hitam yang disebut Hek-tok-ciang itu, barangkali ia akan mendapatkan bukti bahwa pemuda itu yang pernah melukai ayahnya.
Akan tetapi pemuda itu tidak mempergunakan pukulan tangan kosong, melainkan mendesak kedua orang pengeroyoknya itu dengan totokan-totokan sulingnya.
Akhirnya, sebuah tendangan kakinya membuat Lai Ki Seng terhuyung dan totokan suling pada siku kanan Bong Cui Kiat membuat orang ini melepaskan golok emasnya!
Kedua orang itu agaknya mengerti bahwa mereka tidak akan menang, apalagi melihat bahwa Bong Cui An sudah melarikan diri, mereka berdua juga melarikan diri tunggang langgang.
Pemuda itu hanya tersenyum dan tidak melakukan pengejaran pula.
Lee Cin memandang ke arah dua buah golok emas yang tadi dilepaskan oleh Bong Cui An.
Agaknya pemuda itu melihat ini dan dia tertawa sambil memungut sebuah golok emas.
"Golok ini hanya disepuh emas, Nona. Dalamnya bukan emas!"
Setelah berkata demikian, dia menggunakan kedua tangan nya untuk menekuk dan "trakk!"
Golok itu patah menjadi dua potong dan tam paklah bahwa golok itu terbuat dari baja yang disepuh emas!
Hanya golok biasa saja yang tidak ada harganya.
Kini mereka saling berhadapan dan dalam waktu singkat keduanya saling mengamati dengan teliti dan keduanya saling mengagumi.
Bukan hanya kagum akan kecantikan dan ketampanan mereka, akan tetapi juga kagum akan kelihaian mereka.
"Nona, engkau lihai sekali, dapat melawan tiga orang ketua Kim-to-pang itu. Akan tetapi yang membuat aku terheran, mengapa engkau sampai dapat dikeroyok mereka? Apakah Nona mempunyai permusuhan dengan mereka?"
Lee Cin menggeleng kepalanya. Ia mendapat kesempatan untuk menyelidiki langsung keadaan keluarga Cia.
"Tidak, aku bahkan selamanya baru sekali ini bertemu dengan mereka."
"Akan tetapi mengapa Nona bentrok dengan mereka? Sepanjang yang kuketahui, mereka bukan perampok-perampok kecil melainkan ketua dari perkumpulan Kim-to-pang."
Lee Cin tersenyum.
"Mereka mengira bahwa aku adalah anggauta keluarga Cia, maka aku dikeroyok. Entah mengapa mereka bermusuhan dengan keluarga Cia, dan siapakah keluarga Cia itu?"
Pemuda itu mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan memperkenalkan diri.
"Akulah seorang di antara keluara Cia. Namaku Cia Tin Siong. Kalau boleh aku mengetahui namamu, Nona?"
Lee Cin berpikir.
Ia sedang menyelidiki keluarga Cia.
Kalau ia memperkenalkan nama marga ayahnya, yaitu she (marga) Souw, tentu akan membuat keluarga itu bercuriga dan menghubungkan nama keluarganya dengan nama ayahnya.
Maka ia lalu menggunakan nama keluarga ibunya, yaitu she Bu.
"Aku bernama Bu Lee Cin dan kebetulan saja aku melakukan perjalanan lewat di sini. Kalau Kim-to-pang memusuhi keluarga Cia, tenth ada sesuatu, yang pernah dilakukan keluarga itu yang tidak menyenangkan hati Kim-to-pang."
Cia Tin Siong tertawa lirih.
"Hemm, tentu saja ada sebabnya. Keluarga kami adalah keluarga para pendekar dan Kim-to-pang adalah perkumpulan penjahat. Tentu saja di antara kami sering terjadi bentrokan bahkan beberapa kali aku pernah menentang anak buah mereka yang melakukan pemerasan terhadap orang-orang dusun. Engkau disangka anggauta keluarga kami? Ah, betapa akan bangga rasa hati kami kalau mempunyai anggauta keluarga sepertimu, Nona Bu."
Walaupun ucapan ini dikeluarkan dengan nada sopan, namun mengandung arti yang dalam.
Ia adalah orang luar dan seorang gadis.
Untuk menjadi anggauta keluarga Cia tidak ada lain jalan kecuali kalau ia menjadi mantu keluarga itu!
"Aku juga kagum terhadap keluarga Cia yang dimusuhi perkumpulan penjahat dan ingin sekali berkenalan dengan anggauta keluarga Cia, kalau mungkin."
Tin Siong membelalakkan matanya.
"Benarkah, Nona Bu? Ah, kami akan menerima dengan tangan dan hati terbuka. Marilah, kuantarkan Nona mengunjungi tempat tinggal kami dan kuperkenalkan dengan keluarga besar kami."
"Di manakah tempatnya?"
Lee Cin berpura-pura.
"Tidak jauh dari sini, sebelum sore kita sudah akan dapat tiba di sana, kami tinggal di kota Hui-cu di kaki bukit ini sebelah utara. Marilah, Nona, selagi siang agar kita tidak kemalaman tiba di sana dan sebelumnya aku menghaturkan terima kasih atas kehormatan yang Nona berikan kepada keluarga kami."
Sikap dan ucapan yang sopan dan lembut ini semakin menarik hati Lee Cin.
Seorang pemuda yang tampan, lembut, sopan serta memiliki ilmu silat yang tinggi, dan dari keluarga pendekar pula!
Mereka melakukan perjalanan cepat.
Agaknya Cia Tin Siong ingin menguji ginkang (ilmu meringankan tubuh) Lee Cin.
Dia berlari cepat sekali dan hal ini dianggap kebetulan bagi Lee Cin yang juga mempunyai keinginan yang sama, yaitu menguji ilmu berlari cepat pemuda itu.
Tanpa bersepakat lebih dulu dan dengan diam-diam, kedua orang itu berlari cepat seakan berlumba!
Lee Cin melihat betapa pemuda itu selalu dapat mengimbangi kecepatan larinya dan ia menjadi semakin kagum.
Demikian pula Tin Siong, melihat kecepatan berlari Lee Cin, dia menjadi kagum sekali.
Tak lama kemudian mereka telah melewati Bukit Lo-sian dan tiba di kaki bukit sebelah utara, di mana terdapat sebuah kota yang sejuk dan tidak begitu ramai, akan tetapi tampak rakyatnya hidup tenteram dan tenang.
Di mana-mana tampak wajah orang yang penuh senyum sehingga menyenangkan hati Lee Cin.
Keluarga Cia itu tinggal di sebuah gedung besar sekali yang berada di ujung kota.
Rumah itu kelihatan kuno dan angker, akan tetapi catnya agaknya diperbarui sehingga nampak cerah.
Di sekelilingnya terdapat taman bunga dengan bunga yang sedang berkembang beraneka warna dan taman ini menambah keceriaan gedung itu.
Seorang tukang kebun setengah tua sedang menyabit rumput di halaman depan.
Ketika melihat Tin Siong dan Lee Cin, tukang kebun itu bangkit berdiri dan membungkuk dengan hormatnya kepada Tin Siong.
"Selamat sore, Toa-kongcu (Tuan Muda Terbesar)!"
Tin Siong hanya mengangguk saja sambil lalu dan menoleh kepada Lee Cin sambil berkata.
"Kita sudah sampai ke rumah kami."
Mereka menghampiri rumah itu dan setelah tiba di serambi depan di mana terdapat meja dan bangku pemuda itu berkata dengan senyum ramah.
"Silakan tunggu sebentar, Nona Bu. Aku akan memberitahu tentang kunjunganmu kepada keluarga kami."
Lee Cin tersenyum dan mengangguk, dalam hatinya ia merasa beruntung bahwa demikian mudahnya ia dapat berdekatan dengan keluarga ini sehingga ia dapat menyelidikinya.
Ia lalu duduk di atas bangku menghadapi taman bunga.
Ia mengagumi beberapa ekor kupu-kupu yang beterbangan dari bunga ke bunga mencari madu.
Betapa indahnya pemandangan itu, demikian serasi dan cocok dengan keadaan tempat yang tampak tenang dan tenteram itu.
Suara banyak kaki membangunkan Lee Cin dari lamunannya.
Ketika melihat serombongan orang datang bersama Tin Siong, ia segera bangkit berdiri.
Dengan wajah berseri Tin Siong memperkenalkan Lee Cin kepada keluarganya.
"Ini adalah Nona Bu Lee Cin seperti yang kuceritakan tadi. Nona Bu, ini adalah ayahku, ibuku, dan kedua orang pamanku!"
Lee Cin memberi hormat kepada mereka.
Ia melihat betapa ayah pemuda itu seorang yang usianya sebaya dengan ayahnya dan bertubuh tegap, nampak gagah akan tetapi lembut.
Ibu pemuda itu pun seorang wanita yang usianya sudah empat puluh tahun lebih, masih nampak cantik dan lemah-lembut.
Juga dua orang pamannya itu kelihatan sopan dan lembut.
Agaknya keluarga Cia itu merupakan sebuah keluarga yang terpelajar, biarpun pakaian mereka sederhana dan tidak memberi kesan kaya, namun sikap mereka seperti sikap keluarga bangsawan yang terpelajar.
"Nona Bu, silakan masuk, mari kita bicara di ruang tamu saja,"
Kata ayah Tin Siong dengan sikap ramah.
Yang lain-lain, juga tersenyum ramah sehingga Lee Cin terpaksa bersikap hormat.
Ia mengikuti mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup luas dan di situ terdapat sebuah meja besar dan banyak bangku.
Lee Cin dipersilakan duduk dan lima orang pihak tuan rumah itu pun duduk mengelilingi meja.
"Nona Bu ini seorang gadis yang amat lihai, Ibu,"
Kata Tin Siong kepada ibunya.
"Bayangkan saja, seorang diri ia mampu bertahan menghadapi pengeroyokan tiga orang Ketua Kim-to-pang!"
Ayah ibu dan kedua paman Tin Siong memandang kepada Lee Cin dengan pandang mata kagum sehingga Lee Cin merasa malu dan cepat berkata.
"Kalau tidak datang Cia-kongcu ini, tentu aku sudah celaka."
"Ah, aku hanya percaya bahwa mereka akhirnya akan kalah mengeroyokmu, Nona Bu. Harap jangan merendahkan diri. Ayah, Ibu dan para Paman, Nona Bu ini merasa tertarik sekali dengan nama keluarga Cia dan ia menyatakan ingin berkenalan, maka aku mengajaknya singgah di sini."
"Engkau masih muda sudah memiliki kepandaian tinggi, sungguh membuat aku kagum sekali, Nona Bu,"
Kata Cia Kun, ayah dari Tin Siong, sambil memandang kagum.
"Ah, saya masih banyak belajar, Paman."
"Kita sudah berkenalan, engkau dapat dibilang seorang sahabat dari Tin Siong, maka kami harap engkau suka tinggal di sini selama beberapa hari, Nona Bu,"
Kata pula ibu Tin Siong sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih atas kebaikan hati Paman dan Bibi,"
Kata Lee Cin, menerima tawaran itu. Memang ia hendak menyelidiki, maka penawaran itu sungguh membuat hatinya senang.
"Apakah keluarga Cia hanya terdiri dari Paman bertiga, Bibi, dan Saudara Cia Tin Siong?"
Tanyanya sambil lalu. Cia Kun tersenyum.
"Ah, tidak. Masih ada lagi seorang putera kami yang lain bernama Cia Tin Han, adik Tin Siong, dan ibuku yang sudah tua, Nenek Cia yang selalu berada di pondok belakang di tengah taman belakang rumah kami ini."
Lee Cin mengangguk-angguk.
Hatinya semakin tertarik.
Di antara mereka semua, agaknya hanya Tin Siong dan adiknya yang bernama Tin Han itu yang patut dicurigai.
Bukankah ayahnya memberitahu bahwa Si Kedok Hitam itu seorang yang masih muda?
Ayah dan dua orang paman Tin Siong bukan orang muda, maka mereka tidak perlu dicurigai.
Akan tetapi pantaskah kalau ia mencurigai Tin Siong yang tampak begitu lembut dan baik hati?
Ia harus berhati-hati, jangan sampai salah tuduh dan membuat permusuhan dengan keluarga yang tampaknya merupakan keluarga terhormat dan baik ini.
Akan tetapi masih ada seorang pemuda lagi, yaitu adik Tin Siong yang bernama Tin Han.
Siapa tahu kalau-kalau pemuda yang ke dua itu pantas dicurigai.
Malam itu Lee Cin dijamu makan kemudian ia diberi sebuah kamar yang letaknya di bagian belakang gedung itu.
Sebuah kamar yang mungil dan bersih, dan daun jendelanya menghadap ke taman belakang yang amat luas.
Ia memasuki kamar itu dan dari situ ia dapat melihat sebuah pondok yang bercat kuning, nampak mungil dan indah, letaknya di bagian belakang taman.
Ia teringat akan cerita tuan rumah tadi.
Agaknya di sana tinggal Nenek Cia.
Ia sudah dipersilakan mengaso di kamarnya oleh keluarga tuan rumah.
Suasana pada malam itu sunyi sekali.
Timbul keinginan hati Lee Cin untuk keluar dari kamar dan mulai dengan penyelidikannya.
Ia bersukur bahwa kamarnya menghadap taman sehingga kalau ia ketahuan berkeliaran di taman, ia dapat mengatakan bahwa ia jalan-jalan dan mencari hawa sejuk di taman itu.
Taman itu memang indah karena dipasangi lampu-lampu teng di sana sini.
Agaknya memang sering kali keluarga itu berjalan-jalan di situ pada malam hari maka dipasangi begitu banyak teng (lampu gantung).
Dengan hati-hati Lee Cin membuka daun jendela kamarnya.
Malam belum larut, bahkan baru saja mulai.
Dengan perlahan ia meloncat keluar dari jendela, dan menutupkan kembali daun jendela kamarnya dari luar.
Ia sudah berdiri di pinggir taman, lalu mengambil jalan kecil yang terdapat di taman itu.
Tiba-tiba ia menyelinap di balik sebatang pohon cemara karena mendengar suara orang.
Ternyata yang bicara itu adalah empat orang sambil berjalan-jalan di dalam taman.
Ketika Lee Cin memperhatikan, ia melihat bahwa dua di antara mereka adalah Cia Hok dan Cia Bhok, kedua paman Tin Siong yang sore tadi ikut menyambutnya.
Ia merasa tidak enak kalau sampai ketahuan, maka ia sudah siap-siap untuk mencari alasan kalau mereka itu melihatnya.
Akan tetapi agaknya mereka berdua tidak melihatnya karena sedang bercakap-cakap dengan serius sekali kepada dua orang yang baru dilihat Lee Cin sekarang.
Yang seorang bertubuh tinggi besar dan bersuara besar dan orang ke dua pendek sekali akan tetapi tubuhnya kekar.
Si Cebol itu kalau bicara suaranya terdengar sengau dan asing.
Ketika mereka berjalan di bawah lampu, Lee Cin dapat melihat bahwa yang tinggi besar itu berpakaian seperti seorang panglima dan orang cebol itu berpakaian asing dengan pedang panjang agak bongkok tergantung di punggungnya.
"Pendapat Nenek Cia memang tepat,"
Kata Si Cebol.
"Panglima Un dan Pembesar Ji itu harus lebih dulu disingkirkan dari muka bumi, baru gerakan kita akan berjalan lancar. Hanya sukarnya, kedua orang itu selalu terjaga oleh pengawal-pengawal yang kuat."
"Benarkah itu, Tuan Yasuki?"
Tanya Cia Hok. Melihat nama Yasuki, mudah diduga bahwa orang cebol itu adalah seorang Jepang.
"Kalau kurang yakin, tanya saja kepada Phoa-ciangkun (Perwira Phoa),"
Jawab Yasuki. Perwira tinggi besar itu mengangguk-angguk.
"Keterangan Tuan Yasuki itu memang benar. Semenjak penyerangan yang gagal itu, Un-ciangkun dan Ji-taijin (Pembesar Ji) selalu dikawal oleh beberapa orang pengawal yang kuat."
Kini empat orang itu telah berjalan jauh, sudah hampir sampai ke rumah dan Lee Cin tidak dapat mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut.
Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka itu, akan tetapi dapat menduga bahwa mereka itu baru saja meninggalkan pondok di belakang gedung yang menjadi tempat tinggal Nenek Cia.
Timbul keinginannya untuk menyelidiki Nenek Cia.
Setelah empat orang itu memasuki rumah, barulah Lee Cin berani keluar dari tempat persembunyiannya dan melanjutkan berjalan perlahan-lahan mendekati pohon di belakang itu.
Tiba-tiba dari depan terlihat sesosok bayangan berkelebat.
Cepat sekali gerakan orang itu dan tidak terduga sama sekali oleh Lee Cin sehingga ia tidak keburu bersembunyi dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pemuda.
Dalam bayangan yang agak gelap karena sinar lampu tidak tepat menyinari wajah orang itu, Lee Cin mengenalnya sebagai Cia Tin Siong.
Maka ia pun segera mengucapkan salam.
"Selamat malam, Saudara Tin Siong."
"Selamat malam, Nona Bu. Engkau tentu Nona Bu Lee Cin, bukan?"
"Ehh?"
Lee Cin berseru heran, akan tetapi saat itu Si Pemuda mendekati sehingga wajahnya tersinar lampu dan baru ia melihat bahwa pemuda itu, walaupun mirip Tin Siong, akan tetapi ternyata bukan pemuda itu.
Agaknya sedikit lebih muda dan lebih tampan!
Pemuda itu memiliki wajah yang jenaka, selalu tersenyum dan matanya bersinar tajam.
Akan tetapi mata itu selalu tersenyum pula seperti bibirnya.
"Ah, Siong-ko (Kakak Siong) kiranya sekali ini tidak membual. Nona memang cantik jelita dan lihai, sayang salah mengenal orang. Aku adalah Cia Tin Han, adik dari Siong-ko."
Ucapannya yang memuji itu terdengar begitu wajar dan tidak dibuat-dibuat sehingga kedua pipi Lee Cin berubah kemerahan.
Untung sinar lampu itu memang sudah kemerahan sehingga merahnya ke dua pipinya tidak tampak.
"Maafkan aku yang salah lihat, saudara Cia Tin Han."
Lee Cin cepat berkata. Ia adalah seorang gadis pemberani dan cerdik sehingga tidak menjadi gugup oleh kekeliruannya tadi.
"Aku sedang menikmati malam indah di taman ini."
Ia lebih dulu menjelaskan sebelum ditanya sehingga pertanyaan yang sudah tergantung di bibir pemuda itu tidak jadi dikeluarkan.
"Sama saja dengan aku!"
Tin Han berkata, tetap bersikap gembira penuh senyum.
"Aku pun kesal dalam kamar, mencari udara sejuk di sini dan kebetulan saja bertemu denganmu, Nona Bu. Akan tetapi pertemuan ini membahagiakan hatiku karena dapat berkenalan denganmu."
"Kenapa ketika tadi aku diterima keluargamu, engkau tidak berada di sana Saudara Tin Han?"
"Wah, tidak enak sekali kalau engkau menyebut aku dengan saudara segala!"
"Kalau begitu aku akan menyebut kongcu."
"Lebih celaka lagi. Aku paling tidak suka sebutan itu, membayangkan seorang pemuda yang tinggi kedudukannya sebagai bangsawan atau hartawan."
"Hemm, kalau begitu aku harus menyebutmu bagaimana?"
"Berapa usiamu sekarang?"
Lee Cin mengerutkan alisnya, akan tetapi karena pertanyaan itu diajukan dengan spontan dan tidak mengandung rayuan, ia pun menjawab sejujurnya.
"Sembilan belas tahun."
"Nah, kalau begitu aku lebih tua setahun. Sudah sepatutnya engkau menyebut aku koko (kakak)."
"Tidak bisa!"
Lee Cin menjawab cepat sambil tersenyum.
"Engkau sendiri menyebutku nona, mana mungkin seorang nona menyebut hambanya dengan koko?"
Tin Han terbelalak dan dia pun tertawa. Tawanya lepas bebas dan kalau dia tertawa, wajahnya berubah seperti wajah kanak-kanak, lucu tampaknya.
"Ha-ha-ha-ha, engkau pandai dan akulah yang bodoh. Orang yang disebut koko oleh seorang gadis seharusnya menyebut gadis itu moi-moi (adik perempuan). Bukankah begitu, Cin-moi?"
"Begitu baru benar, Han-ko. Aku heran sekali......"
"Apa yang mengherankan hati seorang gadis pandai sepertimu, Cin-moi?"
"Wajahmu memang mirip wajah Saudara Tin Siong, akan tetapi engkau berbeda sekali. Engkau begini jenaka dan gembira, sedangkan kakakmu itu......"
"Dia memang halus dan lemah lembut. Bukan itu saja. Dia pandai dan juga memiliki ilmu silat yang amat lihai. Sedangkan aku......"
"Engkau tentu juga lihai,"
Kata Lee Cin.
"Aku? Ha-ha-ha, nenekku tentu akan terpingkal-pingkal mendengar engkau mengatakan aku lihai! Seperti yang seringkali ia katakan, aku seorang pemuda yang bodoh, lemah dan pandainya hanya berkelakar dan tertawa. Kata Nenek, aku seorang penganggur yang hanya menghabiskan uang saja. Mana bisa aku dibandingkan dengan Kakak Cia Tin Siong? Seperti bumi dan langit, aku buminya dan dia langitnya. Eh, ngomong-ngomong, mana sih yang lebih penting dan berguna antara bumi dan langit?"
Lee Cin sendiri tertegun mendengar pertanyaan yang aneh itu.
Akan tetapi ia menanggapi, dan berpikir-pikir.
Mana yang lebih berguna antara bumi dan langit?
"Keduanya sama pentingnya.
Tanpa bumi kita tidak dapat hidup, dan tanpa langit pun tidak dapat hidup.
Bumi tempat kita berpijak dan mendapatkan makanan, dan langit mempunyai matahari dan hujan.
Akan tetapi yang lebih dekat dengan manusia adalah bumi."
Tin Han memandang Lee Cin dengan sinar mata berseri.
"Engkau memang cerdik, Cin-moi. Engkau tahu bahwa yang penting bukan hanya mereka yang berada di atas, akan tetapi yang berada di bawah tidak kalah pentingnya."
"Hemm, inilah yang membedakan engkau dengan kakakmu. Dia begitu serius dan lembut pendiam, engkau begini jenaka dan suka bercanda, seolah-olah tidak memikirkan hari depan."
"Mengapa manusia harus memikirkan hari depan? Mengharapkan hari depan? Masa depan hanya khayal. Mengapa pula mengenangkan masa lalu? Masa lalu sudah mati, sudah lewat. Bagiku yang terpenting adalah hari ini, saat ini, saat demi saat. Saat ini aku berbahagia, itu saja sudah cukup bagiku!"
"Han-ko, engkau bicara tentang bahagia. Apa sih bahagia itu? Aku tidak pernah menemukannya!"
Lee Cin terbawa oleh ucapan Tin Han yang nampaknya seperti main-main namun kata-katanya mengandung makna yang dalam.
"Apakah bahagia itu?"
Tin Han mengerutkan alisnya lalu tertawa.
"Ha-ha, bagaimana bahagia itu aku tidak dapat menerangkannya. Kasihan engkau yang tidak pernah merasakan bahagia, Cin-moi, padahal bahagia itu sudah ada pada dirimu, tak pernah meninggalkanmu."
"Apa? Bahagia tidak pernah meninggalkan aku? Apa maksudmu? Mengapa aku tidak pernah merasakannya?"
Tanya Lee Cin terheran-heran.
"Dengarkan baik-baik, Cin-moi. Aku sendiri tidak dapat menggambarkan bahagia itu. Bahagia adalah suatu keadaan, bukan perasaan. Seperti juga kesehatan. Kalau engkau sakit, barulah engkau mendambakan kesehatan. Akan tetapi kalau engkau sedang sehat, engkau tidak merasakan itu, tidak dapat menikmatinya. Demikian pula dengan bahagia. Dalam keadaan sengsara karena suatu sebab, engkau mendambakan kebahagiaan. Kalau tidak ada sesuatu yang menyebabkan engkau tidak bahagia, maka engkau tidak lagi membutuhkan bahagia. Mengapa? Karena dalam keadaan itu engkau sudah berbahagia! Hanya saja, seperti juga kesehatan, engkau tidak merasakannya. Mengapa? Karena nafsu! Nafsu selalu menghendaki yang menyenangkan, yang lebih, sehingga dalam keadaan apa pun kita berada, mengejar yang lain lagi, dan demikianlah seterusnya manusia tidak dapat merasakan bahagia sejak lahir sampai mati!"
Lee Cin memandang takjub.
"Wah, engkau bicara seperti seorang hwesio (pendeta Buddhis) atau tosu (pendeta Toasim) saja! Dari mana engkau mendapatkan pelajaran itu semua, Han-ko?"
"Bukan pelajaran tentang hidup. Pelajaran hanya boleh dihafalkan belaka dan tanpa penghayatan, pelajaran hanya akan merupakan slogan kosong belaka. Nenek bilang aku harus membuka mata dan waspada melihat segala di sekelilingku dan juga apa yang terjadi di dalam dan di luar diriku. Yang ada hanya pengamatan. Dari pengamatan ini timbul pengertian, lalu penyerahan terhadap kekuasaan mutlak dari. Tuhan Yang Maha Kasih."
"Wah, hebat. Kalau begitu, engkau berbahagia dalam hidupmu, Han-ko?"
"Aku tidak mengerti dan tidak tahu. Yang kutahu adalah bahwa aku bukan tidak berbahagia. Aku menerima segala sesuatu yang menimpa diriku dengan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih, karena kehendak Tuhan terhadap manusia selalu benar, baik dan sempurna. Dalam pahitnya obat terkandung khasiat yang hebat, bukan? Demikian pula, dalam pengalaman yang kita anggap pahit itu terkandung hikmah yang tidak atau belum kita ketahui."
"Ampun! Kalau aku tidak melihat wajahmu, tentu kukira ucapan-ucapan itu keluar dari mulut seorang kakek tua renta yang sudah masak oleh pengalaman hidup."
"Ha-ha, Nenek bilang......"
"Cukup, Han-ko. Entah apa lagi yang dibilang nenekmu, akan tetapi aku menjadi tertarik sekali untuk mengetahui, rnanusia seperti apakah nenekmu yang kau agung-agungkan itu."
"Nenek? Ia seorang manusia yang hebat! Biarpun sudah tua, semangatnya masih seperti orang muda dan kepandaiannya! Wah, semua ilmu yang menjadi pusaka keluarga Cia mengalir darinya."
"Kalau begitu, engkau tentu mempelajari banyak ilmu darinya dan ilmu silatmu tentu tinggi sekali."
"Siapa bilang? Aku paling tidak suka ilmu silat. llmu silat itu hanya menyusahkan orang lain, kegunaannya hanya merusak, tidak membangun."
"Hemm, aku tidak setuju dengan pendapatmu ini, Han-ko. Seperti juga ilmu lain, baik buruk kegunaannya tergantung dari mereka yang menggunakannya. Api itu baik dan bermanfaat, akan tetapi kalau dipergunakan untuk membakar rumah orang lain, ia menjadi alat yang mengerikan dan jahat. Pisau dapur itu berguna sekali sebagai alat dapur yang baik, akan tetapi bagaimana kalau dipergunakan untuk menusuk perut orang? Demikian juga ilmu silat. Kalau dipergunakan untuk membela diri dan menentang orang-orang yang melakukan kejahatan maka ia merupakan ilmu yang baik. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk memaksakan kehendak sendiri dan mencelakai orang tentu saja menjadi alat yang jahat."
Tin Han bertepuk tangan memuji.
"Hebat, engkau masih begini muda sudah memiliki ilmu yang tinggi dan pandangan yang luas. Nenek tentu akan girang sekali untuk mengenalmu."
"Aku pun ingin sekali berkenalan dengan nenekmu, Han-ko,"
Kata Lee Cin yang teringat lagi akan tugasnya menyelidiki keluarga Cia.
"Mengapa tidak? Kalau begitu, mari sekarang juga kita temui nenekku!"
Setelah berkata demikian, Tin Han memegang tangan Lee Cin dan ditariknya gadis itu menuju ke pondok mungil.
Lee Cin terkejut sekali akan tetapi merasa betapa tarikan tangan itu wajar saja, seperti dilakukan seorang sahabat baik yang sudah dikenalnya bertahun-tahun, sama sekali tidak mengandung niat kotor.
Padahal, baru saja, belum ada sejam ia mengenal Tin Han!
Mereka tiba di depan pintu pondok, Tin Han melepaskan tangan Lee Cin dan berteriak.
"Nek..... Nenek..... yang baik. Ini aku Tin Han yang datang, hendak memperkenalkan seorang dewi kepada Nenek!"
Lee Cin kembali terkejut.
Pemuda yang riang jenaka ini agaknya amat akrab dengan neneknya maka dia berani berteriak-teriak seperti itu, seolah neneknya itu seorang sahabat saja.
Dari dalam pondok terdengar suara wanita.
"Hei, berandal! Pintunya tidak terkunci. Bawa saja dewimu masuk!"
Lee Cin merasa mukanya panas karena jengah mendengar nenek itu menyebutnya sebagai dewinya Tin Han!
Akan tetapi pemuda itu tertawa dan mendorong daun pintu yang ternyata hanya tertutup tidak terkunci.
Dalam pondok itu ada beberapa lampu penerangan sehingga keadaannya terang benderang.
Pondok itu hanya mempunyai sebuah kamar dan selebihnya dalam bentuk bengkok merupakan ruangan duduk yang cukup luas.
Seorang nenek yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun duduk di sebuah kursi menghadapi meja besar dan sebatang tongkat dengan kepala berukir kepala naga bersandar di dinding, di sebelahnya.
Nenek itu rambutnya sudah putih semua, akan tetapi wajahnya masih segar dan mukanya berseri penuh senyum seperti muka Tin Han.
Sepasang mata tua itu masih tajam bersinar ketika mengamati wajah Lee Cin, kemudian terdengar ia berkata.
"Berandal, inikah dewimu? Siapakah namamu, Nona muda?"
Lee Cin memberi hormat dan tidak marah karena ucapan dewimu itu diucapkan seperti bergurau.
"Nama saja Bu Lee Cin, Nek."
Ia pun tidak ragu-ragu menyebut nenek seperti yang dilakukan Tin Han.
"Nenek yang baik, Nona Bu Lee Cin adalah tamu keluarga kita, ia datang bersama Kakak Tin Siong."
Tin Han menjelaskan.
"Hemm, engkau datang bersama Tin Siong? Kenapa anak itu tidak memberitahu kepadaku?"
"Nek, Adik Lee Cin ini selain cantik jelita juga lihai sekali ilmu silatnya. Siong-ko yang memberi tahu kepadaku,"
Kata pula Tin Han.
"Duduklah kalian,"
Kata nenek itu dan Tin Han juga mempersilakan Lee Cin untuk duduk berhadapan dengan Nenek Cia, terhalang meja besar.
"Siapakah gurumu, Nona?"
"Aih, Nek. Cin--moi ini tidak suka disebut Nona. Sebut saja namanya!"
Tin Han mencela neneknya.
"Begitukah? Bagus! Nah, Lee Cin, katakan kepadaku siapa nama gurumu, dari gurunya aku dapat menilai kepandaian muridnya."
Lee Cin berpikir sejenak.
Kalau ia mengaku bahwa gurunya Souw Tek Bun, tentu mereka akan menjadi curiga, yaitu kalau benar seorang anggauta keluarga Cia yang melukai ayahnya.
Akan tetapi mereka tidak mempunyai urusan dengan ibu kandungnya, maka ia pun menjawab dengan singkat.
"Nama julukan guruku adalah Ang-tok Mo-li."
Mendengar disebutnya nama ini, Tin Han tampak biasa saja, akan tetapi Nenek Cin mengerutkan alisnya.
"Ang-tok Mo-li? Wah, engkau murid Ang-tok Moli? Kalau begitu tentu ilmu silatmu tinggi sekali, apalagi ilmu pukulan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah)!"
Lee Cin mendapat kesempatan untuk melepas umpannya.
"Ah, tidak berapa hebat, Nek. Tidak sehebat Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) milik keluarga Cia yang amat terkenal di seluruh dunia kang-ouw itu!"
"Hem, engkau sudah mendengar pula tentang Hek-tok-ciang? Tentu menarik sekali kalau diadu dengan Ang-tok-ciang. Ingin sekali aku menyaksikan kepandaianmu, Lee Cin. Tin Han, kau......"
"Apakah Nenek sudah lupa lagi? Aku bukan Siong-ko, aku hanya pandai main catur, menulis sajak dan meniup suling. Ah, ya, aku melihat engkau membawa suling di ikat pinggangmu, Cin-moi. Boleh aku meminjamnya sebentar untuk dimainkan?"
"Nanti saja, Tin Han. Maksudku engkau panggilkan salah seorang pamanmu atau kalau ada Tin Siong ke sini, sekarang juga! Hayo cepat!"
Tin Han mengangguk dan dia pun keluar dari pondok itu. Setelah ditinggal sendiri berhadapan dengan nenek itu, Lee Cin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Nek, bagaimana pendapatmu tentang Kerajaan sekarang ini?"
"Maksudmu?"
"Apakah kaisarnya baik dan setujukah Nenek melihat tanah air dijajah bangsa Mancu?"
"Kaisar Kian Liong memang seorang kaisar yang baik, akan tetapi bagaimanapun juga dia seorang Mancu, seorang asing yang telah menjajah bangsa dan tanah air kita!"
Kata nenek itu penuh semangat.
"Akan tetapi aku mendengar bahwa banyak tokoh kang-ouw, para pendekar mendukung Kaisar ini,"
Pancing pula Lee Cin.
"Itulah yang menjemukan! Percuma saja mereka menyebut diri pendekar kalau mendukung penjajah! Seorang pendekar harus berjiwa patriot, berusaha melepaskan belenggu penjajahan dari tangan bangsa. Kalau tidak begitu, tidak pantas mereka menyebut diri mereka pendekar."
Berdebar jantung Lee Cin. Ia sudah mendekati pembukaan rahasia siapa yang melukai ayahnya. Ia memberi umpan terus.
"Saya bahkan mendengar bahwa pendekar besar yang bernama Song Thian Lee itu kini bahkan menjadi panglima besar di kota raja, Nek. Bagaimana pendapat nenek tentang orang itu?"
Nenek Cia mengepal tinju.
"Song Thian Lee menjadi antek penjajah! Sungguh menggemaskan. Dia agaknya belum pernah merasakan kekejaman penjajah. Tidak seperti kami! Suamiku dibantai orang Mancu, juga tiga orang di antara anak-anakku. Aku hidup menderita sejak muda, baru setelah anak-anakku menjadi besar hidupku agak lumayan. Akan tetapi sakit hati ini tidak pernah habis sebelum pemerintah penjajah terjungkal dan tanah air kembali kepada bangsa kita!"
Bagus, pikir Lee Cin. Ia merasa semakin mendekati kenyataan dan penemuan Si Kedok Hitam yang ia hampir yakini tentu berada di dalam keluarga ini.
"Bagaimana pendapat Nenek tentang Bengcu Souw Tek Bun? Dia adalah seorang gagah perkasa, seorang pendekar sejati yang terpilih menjadi bengcu, bukan?"
Pada saat itu terdengar suara Tin Han.
"Mari, Paman Hok, Nenek yang memanggilmu. Hayo cepat, khawatir Nenek menjadi tidak sabar lagi dan aku yang akan kena damprat nanti karena lama mengundangmu."
Mendengar suara Tin Han, Nenek Cia tidak menjawab pertanyaan Lee Cin yang terakhir tadi. Ia tersenyum lebar.
"Nah, itu Si Berandal datang bersama Cia Hok, puteraku yang ke dua."
Lee Cin menjadi kecewa akan tetapi ia menelan saja perasaan itu dan memandang ke arah pintu pondok.
Pintu terbuka dan muncullah Tin Han bersama Cia Hok yang ikut menyambutnya ketika pertama kali ia datang.
"Ibu memanggilku?"
Tanya Cia Hok setelah dipersilakan duduk.
"Begini, Hok. Aku ingin engkau bermain silat sebentar untuk menguji kepandaian Lee Cin ini. Ia adalah murid Ang-tok Mo-li maka aku ingin melihat kepandaiannya, terutama pukulan Ang-tok-ciang. Kau boleh menggunakan Hek-tok-ciang, akan tetapi bukan untuk mencederai, melainkan hanya untuk menguji kekuatan pukulannya."
Agaknya Cia Hok sudah biasa menerima perintah dari ibunya dan sedikit pun dia tidak berani membantah. Dia memandang kepada Lee Cin dan bangkit berdiri dari kursinya.
"Mari silakan, Nona Bu."
Lee Cin memandang ragu.
"Aku..... aku tidak ingin melukai orang. Dalam pertandingan, betapapun hati-hati kita, tentu kemungkinan untuk terluka besar sekali. Aku sebagai tamu sungguh tidak pantas untuk melukai tuan rumah."
"Ha-ha. jangan khawatir, Cin-moi. Engkau tidak akan dapat melukainya. Paman Cia Hok ini ilmu silatnya hebat, hanya ayahku dan kakakku saja yang mampu mengalahkannya. Dan engkau juga jangan takut, Paman Hok tentu tidak akan mau melukaimu,"
Kata Tin Han.
Ucapan pemuda itu membuat Lee Cin kehabisan akal untuk menolak uji ilmu itu karena pemuda itu meniadakan segala macam kekhawatirannya!
Terpaksa ia bangkit berdiri dan menjura kepada Nenek Cia.
"Harap Nenek tidak menertawakan ilmuku yaeg dangkal."
"Sudahlah jangan merendahkan diri lagi, Cin-moi. Aku pun ingin sekali melihat apakah engkau juga mampu mengatasi Paman Hok. Kalau menurut cerita Kakak Siong, engkau tentu akan dapat menangkan pertandingan ini."
"Tin Han, jangan cerewet engkau! Lebih baik singkirkan kursi-kursi itu untuk memberi ruangan yang lebih luas untuk Lee Cin dan pamanmu,"
Bentak Nenek Cia sambil melotot dibuat-buat kepada cucunya.
-oo0dw0oo-Jilid.
09 TIN HAN cepat menyingkirkan kursi-kursi sehingga ruangan yang tersisa kini cukup luas untuk dipakai mengadu ilmu silat.
Melihat ia tidak dapat menghindarkan diri lagi dari pi-bu (adu silat) in, Lee Cin lalu melangkah ke tengah ruangan yang kosong lalu menghadapi Cia Hok.
"Silakan, Paman,"
Katanya lembut.
"Aku adalah pihak tuan rumah dan engkau tamu, engkaulah yang mulal menyerang dulu, Nona Bu,"
Kata Cia Hok yang juga sudah memasang kuda-kuda yang kokoh.
"Ayo, mulai saja, Cin-moi dan jangan sungkan-sungkan!"
Tin Han berteriak gembira.
Lee Cin merasa dongkol juga.
Pemuda itu agaknya condong untuk mengadu dia dengan keluarganya sedangkan ia enak-enak menikmati tontonan adu silat!
Ia pun terpaksa melayani keinginan nenek itu demi berhasilnya penyelidikannya.
"Awas serangan!"
Bentaknya dan ia pun mulai dengan serangannya.
Tangan kanannya menyambar ke arah muka lawan sedangkan tangan kirinya mengikuti dengan cengkeraman ke arah dada.
Sebuah jurus serangan yang cukup hebat sehingga Tin Han mengeluarkan seruan kagum.
Cia Hok juga mengenal serangan berbahaya, maka dia melompat ke belakang untuk menghindarkan dua serangan itu dan ketika kaki depannya maju lagi, kaki kirinya mencuat mengirim tendangan ke arah lutut kanan Lee Cin.
Namun Lee Cin yang tidak berani memandang rendah lawannya, dengan mudah sudah mengalihkan kakinya dan membalas dengan serangan yang lebih cepat dan kuat lagi.
Ia sengaja memainkan ilmu silat tangan kosong yang ia pelajari dari Ang-tok Mo-li, yaitu Koai-liong-kun (Silat Naga Siluman).
Gerakannya cepat dan amat kuat, bergelombang seperti terbangnya seekor naga.
Gerakan silat Koai-liong-kun ini memang indah walaupun amat bengis, dan Lee Cin yang sudah menguasainya dengan baik, dapat bergerak cepat dan indah seperti seorang dewi menari-nari!
Cia Hok terkejut melihat ilmu silat yang baginya aneh itu, maka untuk mengimbangi, ia pun memainkan ilmu silat tangan kosong keluarga Cia.
Terjadilah pertandingan yang amat seru.
Tin Han berkali-kali bertepuk tangan dan berseru memuji.
"Hebat sekali! Wah, awas, Paman Hok!"
Dia benar-benar bergembira sekali seperti seorang kanak-kanak nonton pertandingan antara dua ayam jantan, dan dari nadanya dia menjagoi Lee Cin!
Kalau saja Lee Cin menggunakan ilmunya dengan maksud untuk merobohkan, tentu ia dapat merobohkan lawannya.
Akan tetapi ia tidak mau melakukan ini, maka pertandingan itu berjalan seru dan seimbang.
"Lee Cin, keluarkan ilmu simpananmu Ang-tok-ciang!"
Terdengar Nenek Cia berseru karena ia ingin sekali melihat ilmu pukulan ampuh itu.
"Harus dilawan dengan Hek-tok-ciang!"
Jawab Lee Cin sambil menangkis pukulan lawan dengan pengerahan tenaga sehingga tubuh Cia Hok terpental ke belakang.
"Cia Hok, keluarkan Hek-tok-ciang!"
Kata Nenek Cia kepada puteranya.
Cia Hok meloncat ke depan dan menyerang lagi, sekali ini dia menggunakan jari tangannya untuk menampar ke arah pundak Lee Cin dengan ilmu pukulan Hek-tok-ciang, Lee Cin melihat lengan terbuka itu menampar pundaknya dan tapak tangan itu berubah hitam, sengaja menyambut tamparan itu dengan pundaknya untuk melihat apakah pukulan itu sama dengan pukulan yang diterima ayahnya, dan pada saat yang sama jari telunjuk tangan kirinya menotok pundak lawan dengan It-yang-ci.
"Plakk..... tukkk!!"
Lee Cin terhuyung ke belakang, akan tetapi Cia Hok sendiri berhenti tidak mampu bergerak dengan tubuh kaku! Melihat ini, Cia Tin Han lari menghampiri Lee Cin dan bertanya dengan khawatir.
"Cin-moi, engkau tidak apa-apa?"
Lee Cin menggeleng kepala dan memeriksa pundaknya.
Memang ada tapak tangan hitam di pundaknya, akan tetapi racun itu baginya bukan apa-apa dan sama sekali tidak mempengaruhi tubuhnya yang sudah kebal racun.
Tapak tangan hitam itu memang hebat, kalau orang lain yang terkena pukulan itu tentu akan terluka dalam.
Akan tetapi sama sekali tidak seperti luka yang diderita ayahnya, walaupun tandanya serupa.
Mungkin yang memukul ayahnya memiliki sinkang yang lebih kuat.
Sementara itu, dengan satu loncatan yang ringan dan cepat sekali.
Nenek Cia sudah tiba dekat puteranya dan dengan beberapa kali totokan ia membebaskan Cia Hok dari keadaan kaku tak dapat bergerak tadi.
Ia merasa lega melihat puteranya tidak terluka dan melihat Lee Cin sama sekali tidak terpengaruh oleh pukulan Hek-tok-ciang biarpun dilakukan setengah tenaga oleh Cia Hok, nenek itu terbelalak kagum.
"Lee -Cin, engkau murid Ang-tok Mo-li bagaimana dapat melakukan serangan dengan It-yang-ci? Tokoh mana dari Siauw-lim-pai yang menjadi gurumu?"
"In Kong Thaisu yang mengajarkan kepadaku,"
Jawab Lee Cin.
"Ah, engkau mempunyai guru Ang-tok Mo-li dan In Kong Thaisu? Pantas saja engkau demikian lihai. Coba kulihat, bagaimana dengan pundakmu yang terpukul Cia Hok?"
Nenek itu menghampiri dan melihat dari dekat, menyingkapkan baju di bagian pundak dan melihat betapa kulit pundak yang putih mulus itu ada tanda tapak jari hitam, akan tetapi gadis itu tidak merasakan apa-apa!
"Engkau tidak merasa nyeri?"
Tanyanya.
"Tidak,"
Jawab Lee Cin sambil menggeleng kepala.
"Hebat, engkau sungguh hebat. Bahkan Hek-tok-ciang tidak mampu melukaimu. Dan engkau sama sekali belum mengeluarkan Ang-tok-ciang. Tentu saja Cia Hok kalah olehmu."
"Ha-ha-ha, apa yang kukukatakan, Nek. Adik Bu Lee Cin adalah seorang dewi yang cantik jelita dan gagah perkasa. Menurut penuturan Siong-ko, Cin-moi ini bahkan dapat melawan pengeroyokan ketiga pangcu dari Kim-to-pang."
Nenek Cia mengerutkan alisnya.
"Hebat! Aku jadi ingin sekali menguji ilmu silatmu dengan senjata. Marilah layani aku sebentar, Lee Cin!"
Kata Nenek Cia sambil menyambar tongkat kepala naganya.
"Ah, Nek, aku tidak berani,"
Kata Lee Cin yang kini menjadi ragu apakah yang melukai ayahnya itu keluarga Cia atau bukan.
Tapak tangan hitam itu sama, akan tetapi ayahnya keracunan hebat dan jalan darahnya menjadi kacau, sedangkan pukulan Cia Hok tadi tidak begitu hebat.
Apakah karena Cia Hok tidak memukul dengan sepenuh tenaga, atau ada lain anggauta yang lebih lihai darinya?
Agaknya Tin Siong lebh lihai, juga Cia Hok tentu bukan penyerang ayahnya karena dia sudah setengah tua sedangkan Tin Siong masih muda sesuai dengan keterangan ayahnya tentang Si Kedok Hitam.
Akan tetapi agaknya Nenek Cia keras hati dan belum puas kalau keinginannya tidak dituruti.
"Marilah, Lee Cin. Perkenalan di antara kita belum akrab benar kalau kita belum mengukur kepandaian masing-masing. Tongkatku tidak akan melukaimu, jangan khawatir."
"Cin-moi, jangan sungkan-sungkan. Watak nenek memang begitu, kalau ada sahabat baru, selalu ia ingin menguji kepandaiannya,"
Seru Tin Han dengan gembira.
"Akan tetapi, Nek. Aku tidak melihat Cin-moi bersenjata, biar kuambilkan sebuah senjata untuknya. Engkau menghendaki senjata apa, Cin-moi? Pedang, golok atau yang lain?"
"Anak bodoh dan tolol! Ia sudah mempunyai sebuah senjata yang ampuh! Lihat di pinggangnya itu, yang mengkilap merah itu adalah sebatang pedang tipis yang ampuh!"
Seru Nenek Cia.
Lee Cin kagum akan ketajaman pandangan nenek itu, dan karena didesak, ia pun terpaksa mencabut pedang Ang-coa-kiam dari pinggangnya.
Tampak sinar merah berkelebatan ketika gadis itu mencabut pedang.
Tin Han bertepuk tangan memuji.
"Wah, hebat bukan main pedangmu itu, Cin-moi! Tentu pedang itu tajam dan ampuh sekali. Hati-hati, Cin-moi, jangan sampai engkau melukai Nenek!"
Lee Cin tersenyum.
"Aku tidak akan melukainya, Han-ko, harap jangan khawatir!"
Lee Cin ingin menyenangkan hati Nenek Cia yang dia harapkan masih akan suka memberi tanggapan dan pendapatnya tentang diri ayahnya sehingga akan lebih membuka rahasia Si Kedok Hitam.
Ia berdiri sambil melintangkan Pedang Ular Merah di depan dada, miringkan tangan kiri sebagai penghormatan dan berkata.
"Silakan mulai, Nek!"
Nenek Cia tidak sungkan seperti Cia Hok, setelah melihat Lee Cin siap dan mempersilakan ia maju, ia melangkah maju lalu berkata dengan tegas.
"Sambutlah seranganku ini!"
Tongkatnya menyambar dan mengeluarkan angin bercuitan, menyerang ke arah kepala Lee Cin.
Gadis itu maklum akan dahsyatnya serangan, secepat kilat mengelak dan melangkah maju, pedangnya berubah menjadi sinar keemasan menusuk ke arah dada Nenek Cia.
Nenek itu menggoyangkan tongkatnya sehingga menangkis dan bertemu dengan pedang Ang-coa-kiam.
"Tranggg......!"
Bunga api berpijar dan Lee Cin mendapat kenyataan betapa kuatnya nenek yang usianya sudah lanjut itu.
Tangkisan tongkat kepala naga membuat tangan kanannya tergetar hebat.
Akan tetapi hal ini tidak membuat ia gentar, pedangnya sudah diputarnya bergulung-gulung, menjadi segulung sinar keemasan yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.
"Kiam-hoat (ilmu pedang) bagus!"
Seru nenek itu dan ia pun terpaksa mengikuti kecepatan gerakan lawan dan memutar tongkat melindungi dirinya sambil mencari lubang dan kesempatan untuk balas menyerang.
Terjadi pertandingan yang, lebih menarik daripada tadi.
Sinar pedang emas dan sinar tongkat kehitaman bergulung saling desak.
Kalau dalam hal tenaga sinkang mungkin nenek itu lebih kuat dibandingkan Lee Cin, namun dalam hal kecepatan gerakan, nenek itu kalah jauh.
Hal ini membuat nenek itu kewalahan, karena gerakan Lee Gin semakin cepat sehingga ia menjadi terdesak terus.
Agaknya Cia Tin Han tidak dapat mengikuti gerakan senjata mereka dan yang tampak hanya segulungan sinar emas dan hitam saling desak, dan ini merupakan pemandangan yang indah sekali.
"Bagus, bagus sekali! Cin-moi, kiam-hoatmu bagus dan indah!"
Pemuda itu berseru memuji dan bertepuk tangan sementara itu Cia Hok memandang dengan alis berkerut karena dia dapat melihat betapa ibunya terdesak hebat!
Lee Cin memang berusaha untuk mendatangkar kesan di hati nenek itu tanpa menyinggungnya, maka ketika mendapat kesempatan, Pedang Ular Merah berkelebat cepat dan ujung lengan baju kiri nenek itu telah terbabat dan terpotong sedikit.
Lee Cin meloncat jauh ke belakang dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Nenek telah banyak mengalah, terima kasih!"
Nenek Cia memandang ujung lengan bajunya dan ia mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Hebat memang Ang-coa-kiamsut dari Ang-tok Mo-li! Pedang itu tentu yang disebut Ang-coa-kiam, bukan?"
"Pengetahuan Nenek luas sekali,"
Kata Lee Cin sungguh-sungguh.
"Tentu saja. Nenek memiliki banyak sekali pengalaman di dunia kang-ouw. Engkau telah mampu menandingi tongkat Nenek, sungguh kepandaianmu hebat sekali, Cin-moi."
"Ah, kalau Nenek bertanding sungguh-sungguh, akan sukarlah bagiku untuk menandinginya,"
Jawab Lee Cin.
"Cia Hok, engkau boleh pergi, aku masih ingin berbincang-bincang dengan Lee Cin. Engkau boleh duduk mendengarkan, Berandal!"
Cia Hok memberi hormat lalu pergi dari situ meninggalkan Nenek Cia bertiga dengan Tin Han dan Lee Cin. Setelah Cia Hok keluar dari pondok dan menutupkan kembali pintu depan, Lee Cin lalu berkata.
"Tadi aku bertanya kepada Nenek yang belum terjawab, yaitu bagaimana pandangan Nenek tentang bengcu dunia kang-ouw yang bernama Souw Tek Bun. Kalau menurut Nenek, bagaimanakah wataknya, apakah dia seorang antek Mancu ataukah bukan?"
"Jelas dia antek Mancu! Ketika dia diangkat menjadi bengcu, pengangkatan itu direstui oleh Panglima Mancu, berarti disetujui oleh Kerajaan Mancu. Ini saja membuktikan bahwa dia itu antek Mancu yang ingin menguasai dunia kang-ouw agar lebih mudah diatur menurut kehendak kerajaan penjajah!"
"Souw Tek Bun memang seorang pendekar yang telah merangkai sendiri ilmu pedangnya, berdasarkan ilmu silat Kun-lun-pai karena dia memang seorang tokoh Kun-lun-pai. Akan tetapi, karena dia diangkat menjadi bengcu atas pilihan Kaisar Mancu, berarti dia antek Mancu,"
Kata Nenek Cia lagi sambil menoleh kepada cucunya.
"Bagaimana pendapatmu, Tin Han? Cucuku Tin Han ini biarpun tidak pandai ilmu silat karena dia tidak pernah mau mempelajarinya, namun dalam hatinya dia seorang patriot sejati."
Tin Han menghela napas dan Lee Cin memandang kepadanya dengan penuh perhatian.
"Aku harus mengatakan bagaimana? Souw Tek Bun menjadi bengcu kang-ouw, akan tetapi juga diangkat oleh Kerajaan Mancu. Kalau dia memang seorang yang membenci penjajahan, tentu dia tidak mau diangkat menjadi bengcu setelah disetujui oleh Kerajaan Mancu. Dunia orang gagah seyogianya tidak dipengaruhi kerajaan penjajah."
Lee Cin mendengarkan penuh perhatian.
Ia dapat merasakan betapa dalam ucapan pemuda yang kadang bicara secara ugal-ugalan itu terdapat api semangat yang berkobar, seperti juga nenek itu.
Nenek Cia menghela napas panjang.
"Memang sekarang ini terjadi perpecahan antara kalangan persilatan, bahkan partai-partai besar bersikap tidak acuh. Ada segolongan pendekar yang seolah mendukung Pemerintah Mancu karena kaisarnya yang dianggap baik, ada pula golongan yang anti penjajah. Terus terang saja, keluarga kami termasuk golongan yang anti penjajah ini, dan kami bersedia mengorbankan segalanya dengan perjuangan bangsa yang ingin terbebas dari belenggu penjajahan."
"Sikap keluarga Cia ini berdasarkan dendam karena suami dan dua orang anak Nenek telah binasa oleh Kerajaan Mancu?"
Lee Cin bertanya.
"Ah, tidak sama sekali!"
Jawab Nenek Cia.
"Lama sebelum suami dan dua orang anakku gugur, kami sekeluarga sudah menjadi patriot-patriot sejati yang menentang penjajah!"
Lee Cin teringat akan pengalamannya dua tiga tahun yang lalu, ketika ia bersama Song Thian Lee dan para pendekar lain membantu pasukan kerajaan untuk menumpas gerakan pemberontak Pangeran Tua atau Pangeran Tang Gi Lok yang bergabung dengan tokoh-tokoh sesat dunia kang-ouw dan bersekongkol pula dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-pai dan para datuk sesat.
Ia juga teringat akan pengalamannya tadi ketika ia berada di taman ia mendengar pembicaraan antara Cia Hok dan Cia Bhok dengan orang asing Jepang bernama Yasuki dan seorang panglima bernama Phoa-ciangkun.
Ia menduga bahwa kedua orang itu yang mewakili keluarga Cia agaknya bersekongkol dengan orang Jepang dan dengan panglima yang hendak mengadakan pemberontakan.
"Aku pernah mendengar tentang pemberontakan kurang lebih tiga tahun yang lalu, yang dipimpin oleh Pangeran Tang Gi Lok yang bersekutu dengan para datuk sesat di dunia kang-ouw dan dengan perkumpulan seperti Pek-lian-pai, kemudian dihancurkan oleh pasukan pemerintah. Bagaimana pendapat nenek tentang pemberontakan seperti itu?"
"Itu bukan perjuangan membebaskan rakyat dari penjajahan!"
Tin Han yang menjawab.
"Kalau yang memberontak itu seorang pangeran, maka hal itu hanya merupakan perebutan kekuasaan belaka, dan kalau pangeran itu berhasil, dialah yang akan menggantikan menjadi kaisar dan tetap saja rakyat dijajah orang Mancu! Perjuangan rakyat harus murni, berasal dari rakyat yang tidak sudi lebih lama lagi ditindas penjajah Mancu. Para datuk sesat dan penjahat hanya akan merusak perjuangan karena mereka ini bukan berjuang demi rakyat melainkan berjuang untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri."
"Kalau begitu, aku yakin bahwa para patriot seperti keluarga Cia tidak sudi bersekongkol dengan bangsa lain atau dengan pihak-pihak yang hendak mencari keuntungan pribadi?"
"Tentu saja kami tidak mau!"
Kata pula Tin Han, akan tetapi Lee Cin melihat nenek itu mengerutkan alisnya.
"Lee Cin, agaknya engkau tertarik sekali tentang perjuangan maka menghujani kami dengan pertanyaan-pertanyaan itu! Sebetulnya apa sih maksudmu menanyakan semua itu?"
Pertanyaan nenek ini seperti sebuah serangan tiba-tiba yang membuat Lee Cin terkejut. Akan tetapi dengan tenang ia menjawab.
"Nek, aku tertarik sekali akan sikap keluarga Cia yang sudah terkenal itu, maka aku menanyakan semua itu."
"Dan bagaimana pendapatmu?"
Nenek Cia balas bertanya sambil matanya menatap tajam wajah Lee Cin.
"Aku setuju sekali pada dasarnya dengan semua pandangan keluarga Cia. Jadi menurut pendapat Nenek, para pendekar yang menjadi antek Mancu harus dibasmi atau dibunuh?"
"Setidaknya diberi peringatan dan pelajaran agar dia sadar dan tidak lagi menjadi antek Mancu. Sesungguhnya yang membuat Kerajaan Mancu sekarang ini kuat sekali dan sukar dirobohkan adalah karena banyaknya orang-orang gagah bangsa kita yang suka menjadi antek mereka,"
Jawab Nenek Cia dengan suara pasti dan tegas.
Timbul pula kecurigaan di hati Lee Cin, kalau menurut pendapat nenek ini, ayahnya yang dianggap antek Mancu juga perlu mendapat hajaran agar sadar dan tidak lagi mau menjadi antek Mancu?
Dan agaknya ayahnya sudah mendapatkan hajaran itu.
Akan tetapi siapa yang melakukannya?
Kecurigaannya condong kepada Tin Siong yang agaknya memiliki ilmu kepandaian paling tinggi di samping kepandaian Nenek Cia sendiri.
"Akan tetapi, Nek. Kalau kita menyerang para pendekar yang mendukung pemerintah Kerajaan Mancu, bukankah itu berarti kita menanam bibit permusuhan dengan para pendekar itu? Kita akan mendapat kesukaran sendiri karenanya."
"Kita memberi peringatan dan hajaran kepada mereka secara diam-diam dan jangan sampai menimbulkan permusuhan."
"Bagaimana caranya, Nek?"
"Tergantung suasana dan keadaan, kenapa engkau seperti orang menyelidiki saja, Lee Cin?"
"Maaf, Nek. Aku hanya ingin tahu dan ingin menambah pengalamanku yang dangkal."
"Kami harap engkau masih tinggal beberapa lama di sini, Cin-moi, agar engkau boleh puas berbincang-bincang dengan Nenek. Agaknya kalian cocok sekali!"
Kata Tin Han sambil tertawa.
"Besok aku harus melanjutkan perjalananku, Han-ko. Aku tidak mau mengganggu kalian lebih lama lagi."
"Mengganggu? Tidak sama sekali, bahkan aku senang andaikata engkau dapat terus tinggal di sini. Engkau seorang gadis yang cerdik dan lihai, engkau tentu akan dapat banyak membantuku."
"Aih, Nenek ini ada-ada saja. Tidak mungkin aku tinggal di sini terus,"
Kata Lee Cin tersenyum.
"Kenapa tidak mungkin? Kalau engkau menjadi cucu mantuku, tentu engkau akan tinggal di sini terus!"
Kata nenek itu sambil menoleh kepada Tin Han.
Pemuda yang biasanya jenaka dan lincah itu, kini menundukkan mukanya!
Lee Cin juga merasa betapa mukanya panas.
Sungguh mengherankan, baru bergaul dengan Tin Han selama beberapa jam saja ia sudah merasa menjadi sahabat baik pemuda itu, dan nenek ini juga baru bicara beberapa jam sudah demikian akrab dengannya.
Padahal ia sudah bergaul dengan Tin Siong lebih lama lagi akan tetapi ia masih merasa asing dan sungkan kepada pemuda itu, pemuda yang amat halus budi dan sopan-santun.
"Sekarang aku harus mengaso karena besok pagi-pagi aku harus berangkat, Nek. Selamat malam dan selamat tidur."
Lee Cin bangkit berdiri dan keluar dari pondok diikuti oleh Tin Han. Tin Han mengantar Lee Cin sampai kamarnya.
"Sudah malam dan aku sudah mengantuk, Han-ko. Selamat malam."
"Selamat malam, Cin-moi. Tidurlah yang nyenyak dan jangan lupa, kalau mimpi bawalah aku dalam mimpimu!"
Lee Cin tersenyum malu-malu dan ia merasa heran sendiri, mengapa pemuda itu mengeluarkan kata-kata seberani itu dan ia tidak tersinggung.
Mungkin karena ucapan Tin Han itu dilakukan sambil bergurau, seperti gurau antara dua kawan yang sudah lama sekali berkenalan dan akrab.
Lee Cin menutupkan daun pintu dan mendengar langkah Tin Han meninggalkan kamarnya.
Akan tetapi ketika ia mendengar langkah lain ia cepat menghampiri daun pintu dan mengerahkan pendengarannya untuk mendengar apa yang terjadi di luar kamarnya.
"Awas, kau Han-te! Kalau engkau berani mengganggunya, awas kau!"
Lee Cin mengenal suara bisikan itu. Suara Cia Tin Siong yang biasanya lembut kini terdengar marah penuh ancaman.
"Aih, aih, Siong-ko ini kenapa sih? Tiada hujan tiada angin gunturnya menyambar-nyambar!"
Jawab Tin Han, juga berbisik, akan tetapi masih jenaka seperti biasanya.
"Gila kau, jangan main-main. Ia milikku, tahu? Aku yang menemukannya lebih dulu!"
Setelah begitu terdengar langkah kaki menjauh.
Lee Cin berdiri termenung, lalu perlahan ia menghampiri pembaringan dan merebahkan diri, masih termenung.
Ia terkesan sekali dengan percakapan di luar kamarnya tadi.
Ia dapat mengerti dengan mudah betapa Tin Siong merasa cemburu kepada Tin Han yang memang lebih akrab dengannnya, bahkan memanggil adik dan kakak.
Padahal dengan Tin Siong ia masih memanggil saudara dan dipanggil Nona Bu.
Tin Siong memperingatkan agar Tin Han tidak mengganggunya, berarti tentu agar jangan mendekatinya.
Tin Siong menganggap ia miliknya karena dia yang mengenalnya lebih dulu, bahkan yang membawanya ke tempat tinggal keluarga mereka.
Sikap Tin Siong seperti ini sungguh di luar dugaannya.
Tin Siong yang begitu lembut, begitu sopan, ternyata mempunyai niat buruk terhadap dirinya!
Hal ini membuat ia semakin tidak enak untuk tinggal lebih lama di tempat itu.
Ia mengambil keputusan untuk besok pagi-pagi berpamit dan meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi kecurigaannya terhadap Tin Siong makin besar.
Agaknya, kalau benar anggauta keluarga Cia yang telah melukai ayahnyaa, maka Tin Sionglah orangnya.
Malam itu Lee Cin sukar untuk pulas.
Ia gelisah mengenangkan kembali apa yang telah dialaminya di rumah keluarga Cia.
Semua begitu rahasia.
Percakapan antara kedua paman dengan orang Jepang dan perwira itu.
Perbedaan sikap yang mencolok sekali antara Tin Siong dan Tin Han.
Kemudian Nenek Cia yang aneh itu.
Ia bahkan menaruh curiga bahwa kekalahan nenek itu darinya memang sengaja.
Serangan pedangnya yang membabat putus ujung lengan baju nenek itu terlalu mudah, padahal sebelumnya ia merasakan sendiri betapa lihainya tongkat Nenek Cia.
Andaikata ia dapat menang melawan nenek itu pun pasti tidak akan terjadi secepat itu.
Agaknya nenek itu memberi muka kepadanya dan sengaja mengalah.
Akan tetapi untuk apa ia melakukan hal itu?
Dengan hati mengandung penuh pertanyaan dan keraguan ini akhirnya Lee Cin dapat pulas juga.
oood0wooo "Kenapa engkau tergesa-gesa hendak pergi dari sini, Bu-siocia?"
Tanya Cia Kun ketika Lee Cin pada keesokan harinya, pagi-pagi berpamit darinya. Isterinya juga menahan.
"Tinggallah beberapa lama lagi di sini,"
Kata Nyonya Cia Kun.
"Terima kasih atas kebaikan Paman dan Bibi, akan tetapi aku masih mempunyai banyak sekali urusan yang harus kuselesaikan, maka terpaksa aku harus pergi hari ini. Maafkan aku."
Lee Cin berkeras.
"Nona Bu, aku sungguh mengharapkan agar engkau suka tinggal beberapa hari lagi di sini, kami semua mengharapkan begitu,"
Kata pula Tin Siong yang berada di ruangan itu. Suaranya tetap lembut dan sikapnya sopan, akan tetapi sepasang matanya memandang Lee Cin dengan penuh harapan.
"Tidak bisa, Saudara Tin Siong. Aku harus pergi hari ini dan banyak terima kasih atas kebaikanmu dan semua keluargamu yang telah menerimaku sebagai seorang tamu dan sahabat."
"Hem, kalau Nona bersikeras dan masih banyak urusan yang harus diselesaikan, terpaksa kami tidak dapat menahanmu. Perkenankan kami memberi seekor kuda yang baik untukmu, agar engkau dapat melakukan perjalanan dengan cepat dan tidak melelahkan."
"Terima kasih, Paman, akan tetapi aku sudah terbiasa melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Aku tidak biasa menunggang kuda."
Lee Cin memberi alasan untuk menolak. Cia Kun menghela napas.
"Baiklah, kalau begitu kami menghaturkan selamat jalan."
"Selamat jalan, Nona Bu,"
Kata Nyonya Cia Kun. Lee Cin mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat kepada suami isteri Cia Kun, kemudian ia menalikan buntalan pakaiannya di punggung dan berkata.
"Aku hendak berpamit kepada Nenek Cia lebih dulu."
"Mari kuantarkan, Nona Bu,"
Kata Tin Siong.
"Tidak usah, Saudara Tin Siong. Aku sudah mengenal Nenek Cia dengan baik dan tahu jalan menuju pondoknya. Selamat tinggal!"
Lee Cin lalu keluar dari ruangan itu, masuk ke taman dan melangkah cepat ke arah pondok Nenek Cia.
Pondok itu tampak sunyi saja.
Apakah Nenek Cia belum bangun dari tidurnya?
Selagi ia berdiri depan pintu pondok dengan ragu, terdengar suara riang dari samping pondok.
"Selamat pagi, Cin-moi! Wah, pagi-pagi benar engkau sudah berkunjung kepada Nenek. Apakah ada keperluan yang amat penting?"
"Tidak, Han-ko. Aku hanya ingin berpamit dari Nenek Cia. Aku harus pergi melanjutkan perjalananku pagi hari ini."
"Ah, engkau hendak pergi sekarang? Habis, aku bagaimana, Cin-moi?"
"Apanya yang engkau bagaimana, Han-ko?"
Tanya Lee Cin sambil menatap wajah itu penuh selidik. Kalau pemuda itu hendak merayunya, tentu ia akan mendampratnya. Akan tetapi Tin Han tidak merayu, melainkan berkata dengan serius.
"Kalau engkau pergi begini terburu-buru, bagaimana dengan aku? Aku telah mendapatkan seorang sahabat yang amat menyenangkan dan akrab, dan tiba-tiba saja engkau pergi begitu saja, hanya tinggal di sini selama sehari? Aku akan kehilangan engkau, Cin-moi."
"Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan, Han-ko. Maka, aku tidak dapat tinggal lama-lama di sini. Maaf, aku hendak berpamit dari Nenek Cia."
Tin Han mengetuk pintu pondok itu.
"Nek, Nenek, aku datang bersama Cin-moi!"
"Anak berandal, engkau baru saja keluar dari sini, sekarang ada apa lagi ribut-ribut? Masuk saja, pintunya tidak terkunci."
Tin Han mendorong daun pintu itu dan masuk bersama Lee Cin. Ketika melihat Lee Cin, nenek yang sudah duduk di atas kursinya itu kelihatan heran.
"Lee Cin, sepagi ini engkau sudah berkunjung? Duduklah!"
"Terima kasih, Nek. Aku datang hanya untuk berpamit. Aku terpaksa harus pergi pagi ini karena masih banyak persoalan yang harus kuselesaikan."
Nenek itu membelalakkan matanya.
"Engkau hendak pergi sekarang? Kukira..... kuharap, engkau akan lebih lama tinggal di sini, sukur kalau untuk seterusnya menjadi anggauta keluarga kami. Lee Cin, berapa usiamu tahun ini?"
Ditanya begitu, Lee Cin menjadi gelagapan, akan tetapi karena yang bertanya seorang nenek, ia menjawab juga.
"Sembilan belas tahun lewat, Nek!"
"Bagus! Aku baru saja mendengar bahwa Tin Siong amat menyukaimu, dan kalau engkau setuju......"
"Wah, Nek. Tidak enak membicarakan hal itu dengan Cin-moi!"
Kata Tin Han mencela. Lee Cin merasa tidak enak sekali dan dengan bersukur ia memandang kepada Tin Han yang menolongnya dari pertanyaan yang membuatnya amat jengah itu.
"Terima kasih atas segala kebaikanmu, Nek. Akan tetapi aku harus pergi sekarang juga, memenuhi tugas yang harus kulaksanakan. Selamat tinggal, Nek dan sekali lagi terima kasih atas segalanya."
Ia mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat. Nenek itu mengetuk-ngetukkan tongkatnya di atas lantai dan menghela napas panjang.
"Sungguh sayang sekali. Kalau saja aku bisa mendapatkan seorang seperti engkau yang membantuku, akan senanglah rasa hatiku. Akan tetapi karena engkau harus melaksanakan tugas, apa boleh buat, hati-hati dalam perjalananmu, Lee Cin, dan kalau engkau kebetulan lewat di daerah ini, jangan lupa singgah ke sini."
"Baik, Nek. Selamat berpisah dan selamat tinggal."
"Selamat jalan."
Lee Cin keluar dari pondok itu dan ternyata Tin Han mengikutinya. Baru ia teringat bahwa ia belum pamit dari pemuda ini.
"Tidak usah engkau mengantarkan aku, Han-ko."
"Aku tidak mengantarkan, Cin-moi. Hanya aku teringat bahwa aku kemarin hendak meminjam sulingmu sebentar dan belum juga kau berikan. Aku ingin memainkan sebuah lagu dengan sulingmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini. Mari kita duduk di bangku sana dan pinjamkan sulingmu sebentar padaku. Boleh, kan?"
Mana bisa Lee Cin menolak permintaan yang sederhana itu, maka ia pun mengikuti pemuda itu duduk di bangku taman dan menyerahkan suling yang terselip di pinggangnya.
Tin Han menerima suling itu dan mencobanya.
Setelah dia merasa cocok dan dapat memainkannya, dia lalu mulai meniup suling itu sambil berdiri.
Lee Cin mengamatinya sambil duduk dan tak lama kemudian terdengarlah bunyi suling yang mengalun naik turun dengan merdunya.
Ternyata pemuda itu memang pandai bermain suling.
Lagu yang dimainkannya asing bagi Lee Cin, akan tetapi ia dapat merasakan keindahan lagu itu dan terseret hanyut oleh suara suling yang mendayu-dayu.
Suara suling itu seolah menghanyutkan ke dalam lautan yang berombak-ombak dan menyenangkan, akan tetapi ada pula perasaan yang menyentuh hatinya dan menimbulkan keharuan karena ia seperti dapat menangkap suara rintihan atau tangis dalam tiupan suling itu.
Setelah Tin Han menghentikan tiupannya, segera suasananya menjadi sunyi sekali dan gema suara itu masih terngiang di telinga.
"Wah, tiupan sulingku jelek, engkau yang ke mana-mana membawa suling tentu dapat bermain suling lebih bagus. Maukah engkau rnemainkan satu dua buah lagu untukku sebelum engkau pergi? Hitung-hitung untuk kenangan dan peninggalan darimu."
Dapatkah ia menolak permintaan seperti itu?
Lee Cin tersenyum mendengar ucapan itu dan menerima suling dari tangan pemuda itu.
Sebelum menyerahkan suling itu, Tin Han lebih dulu menggosok-gosok bagian tiupan suling itu dengan ujung bajunya, baru dia menyerahkannya kepada Lee Cin.
Pada saat itu Lee Cin hendak memamerkan kepandaiannya.
Ia tahu bahwa kalau ia hanya menyanyikan lagu dengan sulingnya, ia tidak akan mampu menandingi kepandaian Tin Han bermain suling.
Ia harus memperlihatkan yang lebih dari sekedar meniup suling untuk memainkan sebuah lagu.
Lee Cin membawa suling ke mulutnya dan mulailah meniup suling itu.
Suara melengking-lengking terdengar naik turun, nadanya meliuk-liuk, akan tetapi tak dapat dikatakan sebagai permainan suling yang merdu.
Bahkan menyakitkan telinga.
Tin Han mengerutkan alisnya dan berusaha mengikuti irama suling, akan tetapi dia tidak dapat.
Dia sama sekali tidak mengerti dan tiupan suling itu menyakitkan telinganya, seperti ditiup oleh seorang yang sama sekali tidak pandai bermain suling.
Tiba-tiba hidungnya mencium bau yang keras dan amis.
Ketika ia memandang ke kanan kiri mencari-cari, matanya terbelalak karena dia melihat banyak sekali ular besar kecil bergerak menghampiri tempat itu dan tak lama kemudian tempat itu sudah dikepung oleh puluhan ekor ular yang mengangkat kepala mereka dan mengayun-ayun kepala seperti menari!
Ular besar kecil beraneka macam dan banyak di antara mereka yang berbisa!
Biarpun ular-ular itu tidak menyerang, namun Tin Han menjadi ketakutan dan dia menghampiri Lee Cin lalu berdiri di belakang gadis itu sambil berseru.
"Cin-moi, tiupan sulingmu mengundang datangnya banyak ular!"
"Tiupan sulingku jelek, hanya dapat menyenangkan ular-ular. Nah, selamat tinggal, Han-ko. Aku akan membawa pergi semua ular ini agar jangan mengganggumu."
Lee Cin melangkah maju sambil memainkan sulingnya.
Ular-ular itu membuka kepungan dan mengikuti Lee Cin, menggeleser mengikuti jejak kaki Lee Cin menjadi deretan panjang.
Setelah gadis itu tidak tampak lagi, Tin Han menjatuhkan diri duduk di atas bangku, wajahnya masih pucat.
"Dewi Ular..... dara itu Dewi Ular....."
Bisiknya lirih.
oood0wooo Setelah tiba di luar taman, Lee Cin menghentikan tiupan sulingnya dan mengusir semua ular itu sehingga mereka merayap ke sana sini, kembali ke asal masing-masing.
Tiupan suling itu tadi memanggil dan mendorong semua ular yang berada di daerah itu untuk keluar dari liangnya dan berdatangan ke taman itu.
Ia tidak segera keluar dari kota Hui-cu, melainkan berpura-pura mencari keterangan tentang tempat tinggal Ji-taijin dan Un-ciangkun.
Bukan mencari tahu tempat tinggal mereka saja, juga ia menyelidiki dengan bertanya kepada penduduk di kota itu, orang-orang macam apakah adanya dud pejabat itu.
Apakah mereka sewenang-wenang dan menindas rakyat?
Apakah mereka merupakan dua orang pejabat yang korup dan menggunakan kekuasaannya untuk memaksakan kehendak mereka?
Hasil penyelidikannya membuat Lee Cin mengerutkan alisnya.
Kedua orang pejabat itu adalah orang-orang yang disukai rakyat.
Ji-taijin adalah seorang kepala daerah yang bijaksana, tidak pernah memeras penduduk, mengumpulkan pajak sebagaimana mestinya.
Yang berpenghasilan besar dikenakan pajak besar, yang kecil dikenakan pajak kecil bahkan yang tidak mampu sama sekali tidak diharuskan membayar pajak.
Juga dia telah mengadakan pembangunan-pembangunan yang bermanfaat bagi rakyat.
Hasil pemungutan pajak dipergunakan untuk kebaikan-kebaikan jalan, jembatan dan lain-lain.
Juga tangannya terbuka untuk menolong mereka yang hidupnya miskin.
Di waktu musim paceklik di mana sawah ladang kurang menghasilkan, dia pun membagi-bagi bahan makanan kepada rakyat diancam kelaparan.
Pendeknya, Ji-taijin adalah seorang pembesar yang amat baik.
Ketika ia menyelidiki tentang Un-ciangkun, hasil penyelidikannya pun sama saja.
Un-ciangkun adalah seorang panglima yang adil.
Dia melarang keras anak buahnya mengganggu rakyat.
Sedikit saja anak buahnya melanggar, tentu akan dihukum berat.
Juga, berkat sikap tangan besi yang dilakukan Un-ciangkun terhadap para penjahat, di daerah itu menjadi bersih dari kejahatan atau jarang terjadi kejahatan.
Para gerombolan perampok tidak berani memperlihatkan gerakan mereka di sekitar daerah itu dan orang-orang merasa takut untuk melakukan kejahatan karena sikap yang bengis dari Un-ciangkun ini.
Bahkan semua rakyat tahu belaka betapa Un-ciangkun menggunakan pasukannya untuk membersihkan pantai timur dari gangguan para bajak laut dan perampok dan yang terdiri dari orang-orang Jepang.
Lee Cin tertegun setelah mendapatkan keterangan tentang kedua orang pejabat itu.
Orang-orang yang demikian baiknya terhadap rakyat malah hendak dibunuh atau disingkirkan oleh Cia Hok dan Cia Bhok yang bersekutu dengan orang Jepang bernama Yasuki dan panglima bernama Phoa Ciangkun itu.
Dan menurut percakapan mereka yang sempat ia dengar, yang mengusulkan untuk membunuh kedua orang pejabat yang baik itu adalah Nenek Cia!
Agaknya, semua orang yang menjadi pejabat Kerajaan Mancu adalah musuh yang harus dibunuh, apalagi kalau mereka itu menentang usaha pemberontakan terhadap pemerintah.
Agaknya keluarga Cia itu adalah segolongan orang yang menganggap bahwa semua orang yang bekerja di bawah pemerintahan Mancu adalah pengkhianat yang harus dibunuh.
Dan untuk itu, keluarga Cia tidak segan-segan untuk bekerja sama dengan orang Jepang dan dengan panglima yang agaknya hendak berkhianat dan memberontak.
Kalau begitu, apa bedanya gerakan nnereka dengan gerakan mendiang Pangeran Tang Gi Lok yang memberontak dibantu oleh golongan sesat dan bersekongkol dengan perkumpulan-perkumpulan jahat seperti Pek-lian-pai dan yang lain-lain?
Lee Cin teringat akan percakapan antara Cia Hok dan Cia Bhok dengan orang Jepang Yasuki dan Phoa-ciangkun.
Jelas bahwa mereka itu bermaksud hendak membunuh Un-ciangkun dan Ji-taijin, akan tetapi menurut percakapan mereka itu, kedua orang pejabat ini dilindungi oleh pengawalan yang ketat.
Apa artinya pengawal yang ketat kalau bertemu dengan keluarga Cia yang demikian lihai?
Ia menjadi tidak enak dan juga muncul harapan di benaknya.
Siapa tahu keluarga Cia akan munculkan Si Kedok Hitam untuk membunuh kedua orang pejabat itu?
Mungkin Si Pembunuh menggunakan kedok hitam agar tidak dikenal siapa dia.
Satu di antara kedua orang pejabat yang benar-benar terancam adalah Ji-taijin.
Bagaimanapun juga, Un-ciangkun yang juga tinggal di Hui-cu adalah seorang panglima dan tentu pengawal yang melindunginya jauh lebih kuat.
Setelah berpikir demikian, Lee Cin mengambil keputusan untuk melakukan pencegatan dan diam-diam melindungi Ji-taijin dengan harapan untuk dapat bertemu dengan Si Kedok Hitam yang mungkin malam itu akan berusaha untuk membunuh Ji-taijin.
Malam itu hawanya dingin sekali.
Bulan tampak muncul sepotong dan angin berhembus dari Bukit Hong-san, mendatangkan hawa yang dingin sehingga jarang ada orang mau keluar pada malam hari itu.
Setelah malam larut, sesosok bayangan berkelebat di dalam pekarangan rumah Ji-taijin dan bayangan itu bersem bunyi di balik sebatang pohon yang tumbuh di pekarangan itu.
Bayangan itu adalah Lee Cin.
Dari tempat sembunyinya itu ia dapat mengamati seluruh gedung sehingga kalau ada gerakan yang mencurigakan datang dari luar, tentu ia akan melihatnya.
Dengan mudah tadi ia dapat melewati para penjaga yang berada di gardu penjagaan.
Ada belasan orang penjaga di situ dan dengan bergantian mereka mengadakan perondaan mengelilingi gedung.
Lee Cin merasa yakin bahwa di sebelah dalam gedung tentu terdapat pengawal lagi.
Akan tetapi, ia tahu bahwa kalau yang menyelinap masuk orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, hal itu tidak akan sukar dilakukan, Buktinya, ia sendiri dapat menyelinap memasuki pekarangan tanpa diketahui para penjaga di luar.
Lee Cin melihat betapa janggal ia berada di situ, seolah ia hendak melindungi Ji-taijin yang tidak dikenalnya bahkan tidak pernah dilihatnya.
Tidak, pikirnya.
Ia berada di situ sama sekali bukan untuk melindungi Ji-taijin dari marabahaya, melainkan untuk menangkap Si Kedok Hitam kalau benar seperti dugaan dan harapannya dia akan muncul malam ini di tempat itu.
Juga ia harus menentang kalau ada orang hendak membunuh Ji-taijin yang sudah diselidiki keadaannya itu.
Seorang pejabat bijaksana seperti Ji-taijin berhak mendapatkan perlindungan dari orang-orang gagah, dan orang yang hendak membunuhnya, apa pun alasannya adalah seorang yang picik dan tidak mementingkan rakyat jelata.
Malam telah larut dan lewat tengah malam ketika tiba-tiba Lee Cin melihat bayangan hitam berkelebat tak jauh di depannya.
Jantungnya berdebar tegang.
Inilah agaknya orang yang ditunggu-tunggunya.
Inilah Si Calon Pembunuh itu dan mungkin sekali inilah Si Kedok Hitam.
Dalam kegelapan malam yang hanya remang-remang diterangi bulan sepotong, dia tidak dapat melihat apakah orang itu berkedok atau tidak.
Hanya tampak olehnya sesosok tubuh yang sedang perawakannya.
Lee Cin cepat bergerak membayangi orang itu.
Ketika tiba di dekat gedung di mana tergantung sebuah lampu yang cukup terang, baru dilihatnya bahwa bayangan itu memang berkedok hitam!
Jantung dalam dada Lee Cin berdegup keras.
Ternyata dugaannya benar.
Yang hendak membunuh Ji-taijin adalah Si Kedok Hitam, orang yang pernah menyerang dan melukai ayahnya.
Orang yang dicari-carinya!
Bayangan itu melompat ke atas genteng dengan gerakan ringan dan gesit sekali.
Lee Cin tidak membiarkan orang itu pergi dan ia pun melompat dengan cepat, bahkan langsung turun di depen Si Kedok Hitam itu.
Si Kedok Hitam terkejut melihat Lee Cin tahu-tahu berada di depannya!
Dia menggerakkan tangan memukul dan hawa pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lee Cin.
Dara perkasa ini dengan mudah mengelak dan sebelum ia dapat membalas, orang itu sudah melompat turun lagi dari atas genteng dan melarikan diri.
"Hendak lari ke mana kau?"
Lee Cin berseru dan melompat turun pula, terus melaklikan pengejaran.
Para penjaga ini melihat ada dua bayangan yang berkejaran.
Mereka berteriak-teriak dan beramai melakukan pengejaran pula, akan tetapi sebentar saja dua orang bayangan hitam itu telah lenyap dan mereka tidak tahu harus mengejar ke mana.
Sementara itu, Lee Cin mengerahkan ilmunya berlari cepat dan ia dapat membayangi Si Kedok Hitam yang lari keluar kota.
Di luar pintu gerbang kota, di padang rumput yang luar, Lee Cin hampir dapat menyusul orang yang dikejarnya.
Tiba-tiba orang berkedok.
itu yang merasa tidak akan dapat lari dari Lee Cin, menghentikan larinya dan membalikkan tubuhnya menghadapi Lee Cin.
Mereka kini berdiri saling berhadapan dan di bawah sinar bulan sepotong, Lee Cin dapat rnelihat bahwa melihat perawakannya, orang itu masih muda dan ia memakai sebuah kedok hitam Yang menutupi wajahnya.
"Sobat, apa maksudmu mengejar aku? Aku tidak mempunyai urusan sama sekali denganmu!"
"Akan tetapi aku mempunyai urusan yang amat besar denganmu!"
Kata Lee Cin sambil tersenyum mengejek. Orang berkedok itu kelihatan gelisah.
"Apa kau hendak mengatakan bahwa engkau melindungi orang seperti Ji-taijin itu?"
"Melindungi seorang pejabat baik seperti Ji-taijin juga menjadi kewajiban sebagai seorang pendekar, akan tetapi ada lain urusan yang harus diselesaikan di antara kita!"
"Hem, apa urusan itu?"
"Engkau tentu tidak lupa bahwa engkau pernah menyerang Bengcu Souw Tek Bun di Hong-san dan melukainya dengan pukulan merontokkan jalan darah yang bertapak tangan hitam?"
"Benar, aku pernah menyadarkannya bahwa dia telah menjadi bengcu yang dipilih oleh Kerajaan Mancu, dia menjadi antek penjajah! Apa urusannya dengan engkau?"
"Jahanam! Ayahku adalah seorang gagah, seorang jantan sejati yang tidak akan sudi menjadi antek penjajah! Yang mengangkatnya bukan pemerintah kerajaan, melainkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Kalau pemerintah menyetujui pengangkatan itu, bukan berarti bahwa dia lalu menjadi antek penjajah. Sekarang, engkau telah melukai Ayah, maka aku sengaja datang mencarimu untuk membuat perhitungan. Lihat seranganku!"
Lee Cin tidak memberi kesempatan lagi kepada Si Kedok Hitam untuk menjawab dan ia sudah menyerang dengan pukulan Ang-tok-ciang!
Si Kedok Hitam agaknya terkejut mendengar bahwa Lee Cin adalah puteri Souw Tek Bun.
Dia mengelak dengan cepat sekali dan membalas serangan gadis itu dengan tidak kalah dahsyatnya.
Segera terjadi pertandingan di malam sunyi itu tanpa disaksikan oleh siapa pun.
Mereka saling serang dengan cepat dan dahsyatnya.
"Wuuuuttt......!"
Si Kedok Hitam menyerang dengan pukulan telapak tangan yang sudah berubah menghitam, dan Lee Cin sengaja memapaki pukulan itu dengan telapak tangan merah karena ia sudah menggunakan Ang-tok-ciang!
"Desss......!"
Hebat sekali pertemuan dua telapak tangan itu dan keduanya terdorong ke belakang beberapa langkah.
Ternyata tenaga mereka seimbang dan mereka sudah saling serang lagi.
Lee Cin mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian orang ini tidak kalah dibandingkan Nenek Cia!
Dan ia yakin orang ini bukan Nenek Cia, jauh lebih gesit dibanding Nenek Cia yang sudah agak lambat gerakannya.
Orang ini benar-benar merupakan lawan yang tangguh dan Lee Cin tidak merasa heran bahwa ayahnya terkena pukulannya, walaupun ayahnya juga mampu melukai lengan kanannya.
Juga ia maklum bahwa Pukulan Telapak Tangan Hitam dari orang ini jauh lebih hebat dibandingkan pukulan yang serupa dari Cia Hok.
Pukulan Cia Hok tidak dapat melukainya, akan tetapi pukulan orang berkedok ini demikian hebat sehingga mampu menandingi pukulan Ang-tok-ciang darinya.
Sudah seratus jurus lewat dan mereka masih setanding, tidak ada yang mendesak atau terdesak.
Masih sama-sama saling serang dengan dahsyatnya.
Hati Lee Cin menjadi penasaran dan mulailah ia mengeluarkan ilmunya yang hebat, yaitu It-yang-ci.
Diserang dengan ilmu ini, Si Kedok Hitam nampak terkejut sekali.
Nyaris tubuhnya terkena totokan yang dahsyat itu.
Dia terpaksa melompat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri dan agaknya dia jerih menghadapi It-yang-ci, maka dia lalu membalikkan tubuhnya dan lari mendaki bukit.
"Orang she Cia, engkau hendak lari ke mana?"
Teriak Lee Cin sambil melompat dan lari mengejar.
Akan tetapi tak lama kemudian orang berkedok itu melompat memasuki hutan di lereng bukit itu dan Lee Cin kehilangan jejaknya.
Di dalam hutan itu amat gelapnya, sinar bulan yang hanya remang-remang itu terhalang daun pohon sehingga di bawahnya gelap sekali.
Maklum bahwa mengejar lawan dalam kegelapan itu merupakan perbuatan yang berbahaya sekali, Lee Cin keluar lagi dari hutan dan tidak melakukan pengejarannya.
"Awas engkau, besok akan kubuka kedokmu!"
Katanya sambil rnenuruni lereng bukit itu.
Pikirannya sudah bulat.
Orang itu pasti seorang di antara keluarga Cia, benar sekali kemungkinannya bahwa dia adalah Cia Tin Siong.
Orang berkedok itu lebih lihai dari Cia Hok, juga lebih gesit dari Nenek Cia, siapa lagi kalau bukan Cia Tin Siong?
Tin Han?
Ah, tidak mungkin sama sekali.
Si Berandal itu hanya lincah dan jenaka dalam sikap dan ucapannya, akan tetapi sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Tidak ada orang lain kecuali Cia Tin Siong.
Kecuali kalau ada orang lain clari anggauta keluarga Cia yang belum pernah diternuinya.
Ia mengambil keputusan untuk besok pagi mendatangi keluarga Cia dan menuntut agar Si Kedok Hitam keluar menemuinya.
oood0wooo Pada keesokan harinya, setelah mandi dari berganti pakaian, Lee Cin meninggalkan kamarnya di hotel dan segera berangkat menuju rumah kediaman keluarga Cia.
Sikapnya dingin dan ia mengambil keputusan untuk memperlihatkan sikap yang dingin dan sungguh-sungguh, tidak seperti kemarin ketika ia menjadi tamu di keluarga itu.
Ketika ia tiba di pekarangan depan rumah itu, ia disambut oleh seorang pelayan pria yang sedang menyapu di beranda.
Pelayan itu cepat menyambutnya dengan hormat dan ramah.
"Ah, Siocia telah kembali! Silakan duduk, Nona. Saya akan memberitahukan kedatangan Nona."
"Tidak perlu. Aku hanya perlu bertemu dengan saudara Cia Tin Siong. Suruh dia keluar menemuiku!"
Kata Lee Cin dengan ketus.
Setelah yakin bahwa Si Kedok Hitam adalah anggauta keluarga Cia, sikapnya menjadi ketus karena ia menganggap keluarga itu sebagai musuhnya.
Dengan heran dan terkejut pelayan itu mengangguk-angguk lalu memasuki rumah gedung itu.
Tak lama kemudian muncul seorang pemuda dari daun pintu dan Lee Cin menjadi serba salah karena yang muncul bukan Tin Siong, melainkan Tin Han!
"Haii, selamat pagi, Cin-moi!
Silakan duduk, mengapa berdiri saja?
Apakah engkau sudah mengambil keputusan untuk tinggal di sini beberapa lamanya?
Sukurlah kalau begitu, karena sejak engkau pergi, aku merasa kesepian dan kehilangan sekali!"
Sambut pemuda itu dengan wajah riang dan suara gembira.
Akan tetapi Lee Cin memandang kepadanya dengan sinar mata dingin dan tak acuh akan sambutan yang ringan itu.
Tidak perlu lagi ia beramah-tamah dengan adik dari musuhnya.
"Saudara Cia Tin Han, aku tidak mempunyai urusan dengan engkau! Sebaiknya engkau panggilkan Cia Tin Siong ke sini, karena dengan dialah aku mempunyai urusan penting!"
"Lho.....! Ada apakah ini? Mengapa engkau marah-marah dan sikapmu bermusuhan, Cin-moi? Apakah kesalahanku? Kalau memang aku telah membuat kesalahan kepadarnu, ampunkanlah kesalahanku itu, Cin-moi!"
Pemuda itu tidak berkelakar, melainkan mengatakan ucapan itu dengan sikap bersungguh-sungguh.
"Sudah aku tidak mau begurau denganmu! Panggilkan kakakmu Cia Tin Siong itu atau aku akan mencarinya sendiri ke dalam!"
Pada saat itu, dari dalam pintu muncul Cia Tin Siong. Seperti biasa, pakaian pemuda tampan dan gagah ini rapi, dan sikapnya lemah-lembut ketika dia tiba di situ dan berhadapan dengan Lee Cin.
"Ah, Nona Bu, selamat pagi, Apakah ada sesuatu yang dapat kanni lakukan untukmu?"
"Cia Tin Siong, tidak perlu bermain sandiwara lagi! Engkau adalah Si Kedok Hitam, bukan? Si Kedok Hitam yang semalam berusaha membunuh Ji-taijin, lalu bertanding dengan aku dan melarikan diri?"
Cia Tin Siong membelalakkan matanya lalu mengerutkan alisnya.
"Apa yang kau maksudkan, Nona Bu? Aku tidak mengerti. Siapakah yang kau maksudkan dengan Si Kedok Hitam itu?"
"Hemm, tidak perlu berpura-pura bodoh. Kedokmu sudah terbuka sekarang. Aku tahu bahwa engkaulah orangnya yang menyannar sebagai Kedok Hitam dan yang dulu menyerang dan melukai ayahku Souw Tek Bun di Hong-san dan yang semalam hendak menyerang Ji-taijin! Hayo, sekarang kutantang engkau untuk membuat perhitungan atas perbuatanmu menyerang ayahku di Hong-san dulu!"
Cia Tin Siong menghela napas panjang dan menatap wajah Lee Cin penuh perhatian.
"Engkau salah duga, Nona. Aku sama sekali tidak pernah menyamar sebagai Kedok Hitam, dan tidak pernah bertemu dengan Bengcu Souw Tek Bun. Kemarin malam aku pun tidak keluar dari rumah dan tidak bertennu denganmu, apalagi sampai bertanding. Engkau salah sangka, bahkan aku terkejut mendengar bahwa engkau puteri Bengcu Souw Tek Bun. Bukankah engkau she Bu?"
Pada saat itu, keluarlah Cia Kun, Nyonya Cia Kun, Cia Hok, Cia Bhok dan juga Nenek Cia. Mereka mendengar suara ribut-ribut di luar gedung dan segera keluar.
"Eh, Lee Cin! Engkau kembali dan apa tadi ribut-ribut tentang Bengcu Souw Tek Bun?"
"Nek, Nona Bu ini ternyata adalah puteri Bengcu Souw Tek Bun!"
Kata Tin Han.
"Pantas ilmu kepandaiannya tinggi sekali, ya Nek?"
Dalam keadaan setegang itu Tin Han masih memuji-muji Lee Cin.
"Hemm, bukankah engkau she Bu, Lee Cin?"
Tanya Nenek Cia.
"Jangan-jangan ia malah bukan bernama Lee Cin!"
Sambung Tin Han ragu.
"Namaku adalah Souw Lee Cin. Aku mengaku bernama marga Bu karena aku hendak menyelidiki Si Kedok Hitam yang telah menyerang dan melukai ayahku. Si Kedok Hitam itu menggunakan Telapak Tangan Hitam yang disebutnya pukulan merontokkan jalan darah. Karena mendengar bahwa keluarga Cia memiliki ilmu Tapak Tangan Hitam yang disebut Hek-tok-ciang, maka aku melakukan penyelidikan ke sini dan menggunakan she Bu agar jangan dicurigai. Dan semalam aku melihat Si Kedok Hitam hendak membunuh Ji-taijin dan telah bertanding dengan aku. Akan tetapi dia melarikan diri. Si Kedok Hitam semalam juga sudah mengaku bahwa dialah yang melukai ayahku. Siapa lagi orangnya kalau bukan Cia Tin Siong? Maka, hayo, aku tantang Cia Tin Siong untuk membuat perhitungan atas apa yang dia lakukan terhadap ayahku!"
"Aku bukan Si Kedok Hitam! Aku tidak pernah menyamar sebagai Si Kedok Hitam dan tidak pernah menyerang Bengcu Souw Tek Bun!"
Kata Cia Tin Siong penasaran.
"Lee Cin, percayalah, di sini tidak ada Si Kedok Hitam,"
Kata Nenek Cia.
"Nona Souw Lee Cin, Tin Siong tidak berbohong. Dia tidak pernah menyamar sebagai Si Kedok Hitam dan kami semua tidak pernah mengenal Si Kedok Hitam, harap Nona jangan menuduh seperti itu."
"Hemm, coba jawab. Apakah keluarga Cia tidak mempunyai niat untuk menentang Ji-taijin? Bukankah keluarga Cia membenci Ji-taijin?"
Sambil bertanya begitu, Lee Cin mengerling ke arah Cia Hok dan Cia Bhok.
"Hal itu tidak aneh, Lee Cin,"
Kata Nenek Cia.
"Kami membenci semua orang Han yang telah menghambakan diri kepada kaisar penjajah. Maka tentu saja kami membenci Ji-taijin?"
"Dan berniat hendak membunuhnya?"
Kembali Lee Cin bertanya, sekali ini menatap wajah nenek itu. Nenek Cia menghela napas panjang.
"Sesungguhnyalah, hatiku akan senang kalau melihat antek-antek penjajah Mancu itu mati terbunuh!"
"Nah, sudah jelas sekarang dan aku bukan menuduh tanpa dasar! Semalam aku melihat sendiri Si Kedok Hitam hendak membunuh Ji-taijin dan dia mengaku telah menyerang Ayah. Juga kalian semua tidak senang kepada ayahku yang kalian tuduh sebagai antek Mancu, bukan? Sudah cocok semua, dan aku tetap menantang Cia Tin Siong Si Kedok Hitam untuk membuat perhitungan!"
Wajah Tin Siong menjadi merah.
"Aku sungguh menyesal sekali akan sikaprnu ini, Nona. Sungguh sayang, sebetulnya aku amat suka kepadamu dan kini engkau menantangku. Kalau engkau menantangku sebagai Si Kedok Hitam, aku tidak akan melayani karena aku bukan Si Kedok Hitam. Akan tetapi kalau engkau menantangku sebagai Cia Tin Siong, demi nama dan kehormatan keluarga Cia, terpaksa aku melayanimu!"
Lee Cin sudah yakin sekali bahwa Si Kedok Hitam adalah Cia Tin Siong, maka ia pun berkata dengan tegas.
"Baik, aku menantang Cia Tin Siong untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam sebuah pertandingan satu lawan satu. Ini bukan karena aku takut dikeroyok, biarpun dikeroyok, untuk membalaskan sakit hati ayahku, akan kuhadapi juga!"
Setelah berkata clemikian, Lee Cin sudah mencabut Ang-coa-kiam dan melompar ke tempat yang luas di halaman itu.
Sebetulnya Tin Siong amat tertarik dan sudah jatuh hati kepada gadis ini.
Akan tetapi sekali ini, kehormatan keluarga Cia menjadi taruhan.
Kalau dia menolak tantangan, berarti dia takut dan keluarga Cia akan menjadi rendah karenanya.
Kalau dia melawan, sebetulnya dia tidak ingin bermusuhan dengan gadis yang mempesonakan hatinya itu.
Dia lalu memandang kepada ayah dan neneknya.
Ayahnya menghela napas dan menganggukkkan kepalanya.
Nenek Cia memukul-mukulkan tongkatnya ke atas tanah.
"Tin Siong, ingat, ini hanya pibu biasa, bukan karena kebencian kedua pihak. Lee Cin, harap engkau ingat bahwa seorang pendekar tidak mau melukai atau membunuh orang yang belum diketahui benar kesalahannya."
"Nek, bagaimana kalau aku saja yang maju menandingi Cin-moi? Kalau bertanding denganku, aku percaya dia tidak akan mau melukai aku, karena aku tidak berdosa apa-apa. Aku khawatir Siong-ko akan terluka parah olehnya!"
Cia Kun membentak.
"Diam kau, Tin Han!"
"Berandal, aku tahu hatimu penuh keberanian, akan tetapi sayang engkau selalu membenci ilmu silat sehingga melawan seorang biasa saja engkau tidak akan menang. Bagaimana harus melawan Lee Cin?"
Cela Nenek Cia.
"Biar kulawan Cin-moi! Makin cepat aku kalah semakin baik, agar hatinya puas,"
Kata pula Tin Han.
"Sekali lagi, Cia Tin Siong. Aku yakin bahwa engkaulah Si Kedok Hitam yang telah melukai ayahku dan aku tantang engkau untuk bertanding melawan aku! Apakah engkau hanya seorang pengecut yang hendak menyembunyikan diri di balik kedok, kemudian tidak berani menghadapi tantanganku secara terbuka?"
Wajah Tin Siong menjadi semakin merah.
"Nona Bu......"
"Namaku Souw Lee Cin, bukan Nona Bu!"
"Baiklah, Nona Souw. Kalau engkau memaksa menantangku, tentu saja aku tidak dapat menolak."
Dia lalu melangkah ke depan menghadapi Lee Cin sarnbil mencabut suling peraknya.
"Nah, aku sudah siap mulailah!"
Katanya sambil mernasang kuda-kuda. Lee Cin yang sudah merasa yakin bahwa pemuda itu adalah Si Kedok Hitam, lalu menggerakkan pedangnya dan berseru nyaring.
"Lihat pedangku!"
Tubuhnya menerjang ke depan, pedangnya menjadi sinar keemasan yang mencuat menjadi tusukan ke arah dada Tin Siong dengan cepat dan kuat sekali.
Tin Siong sudah maklum akan kelihaian gadis ini, maka dia tidak berani memandang rendah dan cepat dia memutar sulingnya untuk melindungi tubuhnya.
Suling itu berubah menjadi sinar perak bergulung-gulung di depan dadanya, menjadi perisai yang melindunginya.
"Trangg......!"
Pedang itu tertangkis dan bunga api berpijar menyilaukan mata.
Lee Cin merasakan tangannya tergetar oleh tangkisan itu dan maklumlah dia bahwa pemuda ini memiliki tenaga sinkang yang kuat, lebih kuat dari yang diduganya semula.
Maka ia pun mengerahkan sinkangnya dan menyerang lagi lebih dahsyat.
Dia hendak mengandalkan kecepatan gerakannya untuk mengatasi lawan.
Akan tetapi, ternyata Tin Siong juga mampu bergerak cepat sekali sehingga terjadilah pertandingan yang amat seru.
Tubuh mereka berubah menjadi bayang-bayang yang diselimuti gulungan sinar perak dan sinar merah.
Tin Han yang ugal-ugalan itu agaknya tidak tahu bahwa kakaknya sedang bertanding mati-matian melawan Lee Cin.
Dia tertarik oleh pemandangan indah itu, maka berkali-kali dia berseru dan bertepuk tangan.
"Wah, bagus, bagus, indah sekali!"
Akan tetapi anggauta keluarga Cia yang lain menonton dengan hati tegang sekali.
Mereka mengerti bahwa kedua orang muda itu telah bertanding mati-matian dan sekali saja lengah, seorang di antara mereka dapat roboh dan terluka berat atau bahkan tewas!
Lebih-lebih Nenek Cia, beberapa kali ia mengeluarkan seruan khawatir dan mengetuk-ngetukkan tongkatnya di atas tanah.
"Mereka bertanding, mereka serasi sekali untuk berjodoh. Ah, kalau sampai mereka saling melukai.......!"
Lee Cin merasa penasaran sekali.
Ilmu pedang yang dimainkan dengan suling oleh Tin Siong benar-benar kokoh kuat sehingga pedangnya tidak mampu menembus pertahanan itu.
Sebaliknya, serangan balik dari pemuda itu juga berbahaya sekali.
Mereka sudah saling serang sampai seratus jurus dan belum juga ada yang tampak terdesak.
Lee Cin semakin yakin.
Inilah orangnya yang telah melukai ayahnya!
Pantas saja ayahnya kalah karena pemuda ini benar-benar lihai sekali.
Dengan marah dan penasaran Lee Cin memutar pedangnya menangkis suling yang menotok ke arah pundaknya dan ia majukan kaki kiri ke depan sambil mengerahkan tenaga memukul dengan telapak tangan kiri terbuka.
Telapak tangannya berubah meran dan itulah Ang-tok-ciang!
-oo0dw0oo-Jilid.
10 TIN SIONG agaknya maklum dengan baik akan kedahsyatan pukulan ini, maka dia pun miringkan tubuh dan mendorongkan telapak tangan ke depan untuk menyambut pukulan itu dengan Hek-tok-ciang!
Pertemuan antara Ang-tok-ciang dan Hek-tok-ciang ini tidak dapat dihindarkan lagi karena keduanya ingin memperoleh kemenangan.
Lee Cin mengerahkan tenaga dan kemampuannya untuk membalaskan ayahnya sedangkan Tin Siong untuk mempertahankan nama besar keluarga Cia!
"Wuuuuutttt.....
desss......!"
Dua telapak tangan bertemu dengan kuatnya dan tubuh mereka terpental sampai lima langkah, terhuyung ke belakang dan merasa betapa dari ujung jari tangan kiri sampai ke pangkal lengan terguncang hebat.
Juga dalam adu tenaga ini keduanya berimbang.
Hal ini membuat Lee Cin semakin penasaran dan ia pun melupakan rasa nyeri pada lengan kirinya, lalu menyerang lagi dengan pedangnya.
Tim Siong juga terkejut, akan tetapi ia pun cepat menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.
"Trangg......!"
Kembali bunga api berpijar dan cepat sekali Lee Cin mengirim pukulan Ang-tok-ciang pula.
Tin Siong terkejut, maklum bahwa gadis itu mengajaknya bertanding habis-habisan, maka terpaksa dia pun mendorongkan tangan kiri untuk menyambut pukulan orang.
Akan tetapi, tiba-tiba Lee Cin mengubah kedudukan jari-jari tangan kirinya yang kini menggenggam dan hanya jari telunjuknya yang dipergunakan untuk menotok ke arah telapak tangan hitam itu!
"Tuk......!"
Totokan It-yang-ci itu tepat mengenai tangan telapak tangan kiri Tin Siong.
Pemuda itu mengeluh dan terhuyung-huyung ke belakang.
Lee Cin mengejar dan mengerahkan pedangnya untuk menyerang dada pemuda itu.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh Tin Siong terhalang oleh Tin Han yang sudah menolong kakaknya dan memasangkan dadanya menghadapi Lee Cin.
Tentu saja Lee Cin terkejut sekali dan menarik kembali pedangnya, kalau tidak tentu dada Tin Han yang akan tertembus pedangnya.
"Cukup, Cin-moi! Kakak Tin Siong sudah kalah, mengapa engkau mendesaknya? Kalau hendak menusuknya, tusuklah aku terlebih dulu!"
Lee Cin memandang kepada wajah Tin Han.
Pemuda berandalan itu sungguh berani, memasangkan tubuhnya untuk melindungi kakaknya dan dalam keadaan seperti itu wajah pemuda itu masih tersenyum simpul!
Lee Cin menyimpan kembali pedangnya dengan membelitkan pada pinggangnya dan berkata.
"Hemm, ayayahku terluka oleh Hek-tok-ciang lebih parah darinya. Pembalasan ini belum impas!"
Lee Cin memandang kepada Tin Siong yang wajahnya pucat dan mulutnya mengeluarkan darah. Jelas bahwa dia telah terluka dalam oleh It-yang-ci, walaupun tidak seberat yang diderita ayahnya.
"Cin-moi, mengapa engkau terlalu mendesak kami? Siong-ko sudah menyatakan bahwa dia bukanlah Si Kedok Hitam seperti yang kau tuduhkan. Aku sendiri berani menanggung bahwa Siong-ko tidak berbohong. Kalau engkau masih penasaran dan hendak membunuhnya, nah, bunuhlah aku. Aku tidak takut mati dalam tanganmu!"
Tin Han sengaja memasang dadanya di depan Lee Cin dan gadis ini tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan atau katakan. Nenek Cia melangkah ke depan.
"Lee Cin, kami seluruh keluarga Cia berani menanggung bahwa Tin Siong bukan Si Kedok Hitam seperti yamg kau duga. Engkau sudah dapat mengalahkan Tin Siong, berarti engkau sudah dapat mengalahkan keluarga kami karena di antara kami, Tin Siong yang memiliki ilmu silat paling tangguh. Kami mengaku kalah dan kami mengulurkan tangan persahabatan denganmu karena sesungguhnya Tin Siong tidak pernah menyerang dan melukai ayahmu."
Lee Cin menjadi semakin bingung. Ia melihat betapa semua anggauta keluarga memandang kepadanya dengan penuh perhatian.
"Akan tetapi, Ayah....."
"Lee Cin, lupakah engkau bahwa engkau mengatakan kalau ayahmu terluka oleh pukulan telapak tangan hitam yang disebut pukulan merontokkan jalan darah? Nah, pukulan Hek-tok-ciang kami sama sekali tidak mempunyai daya untuk merontokkan jalan darah, hanya merupakan pukulan yamg mengandung hawa beracun, tidak lebih lihai daripada ilmu pukulan Ang-tok-ciang yang kau miliki."
Lee Cin menghela napas panjang dan memandang kepada Tin Siong yang kini duduk bersila untuk menghimpun hawa murni untuk mengobati luka dalam akibat totokan It-yang-ci.
Ia mulai meragu dan menyesal.
Kalau benar bahwa Tin Siong bukan Si Kedok Hitam, sungguh ia telah bertindak salah besar.
"Kalau memang benar bahwa saudara Cia Tim Siong tidak melakukan penyerangan dan melukai Ayah, aku telah salah duga dan aku mohon maaf sebanyaknya kepada keluarga Cia. Akan tetapi kalau benar dugaanku bahwa dia adalah Si Kedok Hitam, maka biarlah pukulanku tadi merupakan pembalasan dari Ayah, agar dia tidak berpikir bahwa dialah orang yang palimg lihai di dunia. Selamat tinggal!"
Ia membalikkan tubuhnya dan keluar dari pekarangan itu. Baru saja tiba di jalan, suara kaki orang berlari membuatnya menengok dan ternyata Tin Han yang mengejarnya.
"Mau apa engkau mengejarku?"
Tanya Lee Cin sambil mengerutkan alisnya.
"Aih, Cin-moi. Haruskah persahabatan di antara kami diputuskan dengan cara ini?"
"Apakah ada alasan untuk menyambung persahabatan? Kalau aku menduga salah dan bahwa bukan kakakmu yang menyerang Ayah, maka aku telah melakukan kesalahan besar terhadap keluarga Cia, dan tentu keluargamu akan membenciku."
"Ah, tidak sama sekali, Cin-moi. Setidaknya aku tidak akan membencimu karena aku tahu benar bahwa engkau menyerang Kakak Tin Siong bukan karena engkau jahat, melainkan karena engkau hendak membalas dendam walaupun balas dendam itu ditujukan kepada orang yang salah."
Sikap dan ucapan pemuda itu membuat Lee Cin makin merasa bersalah dan ia mulai ragu akan kebenaran tindakannya.
"Sudahlah, aku pergi saja. Selamat tinggal, Han-ko."
"Engkau tidak membenciku karena aku tadi menghalangi engkau membunuh Kakak Tin Siong?"
Lee Cin menggeleng kepalanya.
"Tidak, bahkan aku merasa girang bahwa engkau menghalangiku sehingga aku tidak jadi membunuhnya. Betapa akan besar penyesalanku kalau kelak ternyata orang yang kubunuh itu sama sekali tidak bersalah."
"Kalau begitu, perkenankanlah aku mengantarmu sampai ke luar kota. Aku masih ingin bercakap-cakap denganmu sebelum engkau pergi,"
Kata Tin Han sambil ikut berjalan di samping Lee Cin ketika gadis itu melanjutkan langkahnya.
Terpaksa Lee Cin membiarkan pemuda itu berjalan bersamanya, karena ia pun masih ingin mendengar apa yang hendak dikatakan pemuda ini.
Setidaknya sikapnya ini untuk menunjukkan rasa penyesalannya atas peristiwa tadi.
"Cin-moi, kalau kupikir-pikir, letak kesalah-pahaman antara engkau dan kami adalah karena perbedaan pendapat. Keluarga kami adalah keluarga patriot yang membenci pemerintahan penjajah Mancu dan ingin sekali menggulingkan dan mengusir penjajah dari tanah air kita. Sedangkan engkau agaknya mempunyai pendapat lain. Bagaimana pendapatmu tentang penjajah Mancu, Cin-moi?"
Lee Cin mempertimbangkan pertanyaan ini, kemudian ia menjawab dengan jujur.
"Aku pun tidak senang dengan adanya penjajah di tanah air kita. Akan tetapi itu bukan berarti aku membenci pemerintah Kerajaan Mancu. Kaisarnya amat baik terhadap rakyat kita dan dia dapat menghargai orang-orang pandai. Yang kubenci adalah pembesar yang sewenang-wenang terhadap rakyat jelata, yang menindas rakyat. Tidak peduli apakah pembesar itu orang Han atau orang Mancu. Kalau dia seorang pembesar yang baik dan bijaksana, tentu aku tidak membencinya bahkan akan melindunginya dari orang jahat yang hendak membunuhnya. Sebaliknya, kalau ada pembesar yang korup, sewenang-wenang dan menindas rakyat jelata, tentu aku akan turun tangan memberi hajaran kepada pembesar itu, tidak peduli dia bangsa Han atau bangsa lain."
"Itu adalah pendirian seorang pendekar, bukan seorang patriot, Cin-moi. Seorang pendekar menilai baik buruknya orang dari perbuatan pribadinya, akan tetapi seorang patriot yang tidak rela melihat bangsa dan tanah air dijajah, menilai seseorang dari kedudukannya, siapa yang dibantunya. Kalau dia membantu penjajah, bekerja untuk penjajah, tentu kami anggap sebagai musuh karena berarti dia ikut mengembangkan dan mendukung penjajahan! Dan itulah pendirian keluarga Cia kami. Kami tidak mengenal dendam pribadi, akan tetapi dendam bangsa dan tanah air, dan kami bertindak demi bangsa dan tanah air."
Lee Cin mengangguk-angguk. Ia adalah seorang gadis yang sudah berpengalaman, maka tentu saja hal seperti itu sudah dimengertinya.
"Kalau begitu, kalian segolongan patriot hendak melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan penjajah?"
"Mungkin pihak penjajah akan menganggap sebagai pemberontakan, akan tetapi kami menganggap sebagai perjuangan, perjuangan membebaskan bangsa dan tanah air dari cengkeraman penjajah."
"Dan kalian akan bergabung dengan siapa saja yang menentang pemerintah Mancu? Tidak peduli bahwa mereka terdiri dari golongan sesat, tetap akan kalian ajak bekerja sama dan bersekutu?"
Ditanya demikian, Tin Han tertegun, lalu menjawab dengan ragu.
"Kuki..... tidak semua berpendapat seperti itu. Aku sendiri misalnya, aku tidak akan sudi untuk bekerja sama dengan para penjahat dalam perjuangan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah. Bersekutu dengan golongan sesat bahkan akan mengotorkan dan menodai perjuangan yang suci."
"Akan tetapi bagaimana dengan keluarga Cia? Apakah mereka tidak mengadakan persekutuan dengan golongan sesat?"
"Aku..... aku tidak tahu, Cin-moi. Akan tetapi percayalah, kalaupun ada, aku akan menentangnya habis-habisan!"
Lee Cin tersenyum. Mereka sudah tiba di luar kota, di jalan yang sunyi dan Lee Cin berhenti melangkah, lalu memandang kepada pemuda itu.
"Han-ko, ucapanmu itu bagaimana dapat kubuktikan? Kemampuan apakah yang engkau miliki untuk membuktikan ucapanmu itu?"
Wajah Tin Han berubah merah.
"Boleh jadi aku tidak pandai silat seperti anggauta keluarga yang lain, Cin-moi. Akan tetapi aku mempunyai pendirian. Aku akan berusaha mengumpulkan semua pendekar di dunia ini, menyadarkan mereka bahwa selama ini mereka seperti harimau tertidur, mengajak mereka untuk bangkit dan menentang penjajah! Kalau semua pendekar bangkit dan bergerak, berjuang. Aku yakin rakyat akan mengikuti mereka dan kita dapat menyusun kekuatan yang besar. Di mana-mana rakyat akan berjuang, dipimpin oleh para pendekar yang sudah berjiwa patriot, dan dengan cara itu, kekuasaan Kerajaan Mancu pasti akan dapat dihancurkan dan penjajah dapat dihalau keluar dari tanah air kita."
Lee Cin memandang dengan heran dan kagum.
Pemuda yang ugal-ugalan ini, yang oleh keluarganya disebut Si Berandal, yang tidak dapat bersilat, yang lemah, ternyata memiliki jiwa yang gagah perkasa.
Dia bicara dengan semangat berapi-api.
Sepasang matanya mencorong, kedua tangannya dikepal!
"Ucapanmu mengagumkan hatiku, Han-ko.
Percayalah, kalau kelak engkau berhasil membuat para pendekar menjadi patriot sehingga mereka semua bergerak seperti yang kau bayangkan itu, aku pun akan membantumu dengan sekuat tenagaku.
Selama ini aku melihat ada golongan yang hendak memberontak dan bersekutu dengan kaum sesat, maka aku tidak percaya akan sikap mereka yang menentang pemerintah.
Kuanggap bahwa mereka itu bukan memperjuangkan nasib rakyat, melainkan mengejar ambisi dan keuntungan pribadi saja.
Alangkah indahnya kalau perjuangan itu murni seperti yang kau gambarkan."
"Terima kasih, Cin-moi. Sekarang legalah hatiku setelah mengatakan semua yang berada di hatiku mengenai perjuangan. Biarpun Si Kedok Hitam itu aku yakin bukan Kakak Tin Siong, akan tetapi aku percaya bahwa engkau sekarang mungkin akan dapat mempertimbangkan perbuatannya terhadap ayahmu, yaitu kalau benar dia seorang patriot seperti yang aku maksudkan. Mungkin dia hanya ingin menyadarkan orang-orang gagah sedunia, termasuk ayahmu. Nah, kalau engkau memang berniat untuk pergi, aku mengucapkan selamat jalan dan selamat berpisah, Cin-moi dan kuharap engkau tidak akan mengenang kami keluarga Cia sebagai musuh, melainkan sebagai sahabat."
"Aku akan mengenangmu sebagai seorang sahabat baik, Han-ko."
"Dan aku tidak pernah akan dapat. melupakanmu, Cin-moi."
Mereka saling memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada lalu Lee Cin melanjutkan perjalanan dan Tin Han kembali ke dalam kota Hui-cu.
Setelah pemuda itu pergi, Lee Cin kembali berhenti melangkah dan termenung.
Suara pemuda itu masih berkumandang di telinganya dan ia semakin penasaran karena ia kini hampir percaya bahwa Si Kedok Hitam bukan Tin Siong.
Kalau begitu siapa?
Si Kedok Hitam jelas ada, semalam ia sudah bertemu dan bahkan berkelahi dengannya.
Mengingat ini, Lee Cin mengerutkan alisnya.
Siapa tahu, usaha Si Kedok Hitam untuk membunuh Ji-taijin yang digagalkannya itu akan diulangnya malam ini.
Ia merasa penasaran dan ingin menangkap Si Kedok Hitam.
Ia harus dapat yakin benar bahwa keluarga Cia tidak ada hubungannya dengan Si Kedok Hitam dan satu-satunya jalan adalah menangkap Si Kedok Hitam.
Sebaiknya malam ini ia menanti lagi kalau-kalau Si Kedok Hitam akan kembali menyerang Ji-taijin!
Sekali ini ia tidak akan menyerangnya.
Si Kedok Hitam itu lihai dan sukar merobohkannya, tentu dia keburu melarikan diri.
Ia akan membayanginya saja agar diketahui di mana dia tinggal.
Ia ingin mengetahui siapa sebenarnya orang di balik kedok itu.
oood0wooo Bayangan hitam itu dengan gesitnya meloncat ke atas atap gedung tempat tinggal Ji-taijin, dan setibanya di atas atap, dia melihat ke kiri kanan.
Di bawah sinar bulan sepotong yang bersinar cukup terang karena langit bersih dari awan, Lee Cin melihat bayangan ini dan dari tempat ia bersembunyi terlihat jelas bahwa bayangan itu berkedok hitam.
Si Kedok Hitam!
Seperti diperhitungkannya, malam itu kembali Si Kedok Hitam beraksi mendatangi rumah Ji-taijin.
Akan tetapi ketika bayangan Si Kedok Hitam itu melayang turun, tiba-tiba terdengar bentakan banyak orang dan nampak banyak pengawal berdatangan mengepung tempat itu sambil membawa obor.
Kiranya tempat itu telah siap siaga dan banyak penjaga kini mengepung Si Kedok Hitam yang menjadi kaget sekali.
Tak disangkanya bahwa kedatangannya telah dinanti banyak pengawal.
Para pengawal segera mengeroyoknya, akan tetapi dengan gesit Si Kedok Hitam berkelebatan mengelak sambil merobohkan banyak pengawal dengan tamparan tangannya atau tendangan kakinya.
Betapapun juga, dia kewalahan menghadapi puluhan orang pengawal yang mengepungnya dengan senjata pedang atau golok itu.
Lee Cin yang sudah mengintai sejak tadi tersenyum.
Ialah yang telah memberi tahu para penjaga sore tadi bahwa malam ini rumah Ji-taijin akan kedatangan seorang pembunuh berkedok hitam.
Karena itulah maka para pengawal mengadakan persiapan, tanpa mengetahui siapa yang memberi keterangan itu karena Lee Cin menyambitkan kertas yang ditulisi pesan itu kepada mereka tanpa memperlihatkan diri.
Si Kedok Hitam ternyata lihai sekali.
Biarpun dia tidak memegang senjata, namun semua serangan dapat dielakkan atau ditangkis dan dia sudah merobohkan belasan orang pengawal tanpa membunuh mereka.
Akhirnya dia merasa kewalahan juga dan melompat jauh lalu melarikan diri, tidak tahu bahwa lain bayangan yang tidak kalah gesitnya membayanginya.
Bayangan ke dua ini adalah Lee Cin.
Akan tetapi Si Kedok Hitam kembali menghilang di dalam hutan yang gelap.
Dengan kecewa sekali Lee Cin terpaksa menghentikan pengejaran.
Akan tetapi karena penasaran, ia menanti di luar hutan dan mengambil keputusan untuk menanti sampai besok pagi.
Besok, setelah terang tanah, ia akan melanjutkan pencariannya.
Mungkin Si Kedok Hitam masih berada di dalam hutan itu.
Lee Cin duduk bersila di bawah sebatang pohon di atas tanah bertilamkan daun-daun kering.
Biarpun keadaannya seperti dalam tidur dan ia memulihkan kekuatannya beristirahat, akan tetapi jangan mencoba untuk mengganggunya.
Sedikit saja sudah cukup untuk membuat ia terbangun dengan seluruh tubuh dalam keadaan siap siaga!
Pada keesokan harinya, setelah sinar matahari pagi dapat menerobos masuk ke dalam hutan melalui celah-celah daun pohon, Lee Cin bangkit berdiri lalu dengan hati-hati dan waspada ia memasuki hutan kecil itu.
Ia menyusup-nyusup di antara batang-batang pohon dan semak belukar dan ketika tiba di tengah hutan ia berhenti dan memandang ke kanan kiri.
Pagi itu di dalam hutan suasananya bising dengan kicau burung-burung yang beterbangan dari pohon ke pohon, sehingga Lee Cin mulai menyangsikan apakah orang yang dicarinya masih terdapat di tempat itu.
Mungkin dia sudah melarikan diri ke jurusan lain.
Selagi ia hendak meninggalkan tempat itu dengan hati kecewa karena kembali Si Kedok Hitam dapat lolos dari tangannya, tiba-tiba hidungnya mencium bau yang amat sedap.
Bau bumbu daging dibakar!
Pengharapannya muncul kembali dan berindap-indap ia menuju ke arah tempat dari mana bau itu datang.
Akhirnya ia melihat seorang laki-laki tampak dari belakang masih muda, dengan pakaian serba putih sedang memanggang paha kelinci di atas api unggun.
Pemuda itu berada di tengah semak belukar dan untuk mendekatinya hanya melalui jalan setapak yang berada di belakang pemuda itu.
Dengan hati berdebar tegang Lee Cin melangkah satu-satu menghampirinya dari belakang.
Orang itu pasti Si Kedok Hitam, pikirnya.
Ia ingin sekali melihat siapa orang itu!
Ketika ia sudah tiba dekat, lalu melangkah maju lagi, tiba-tiba tanah berumput yang dipijaknya itu runtuh ke bawah clan tubuhnya terjeblos ke dalam lubang perangkap!
Ia sudah terjatuh ke dalam lubang dan tubuhnya sudah diselimuti semacam jala.
Ia meronta dan hendak melepaskan diri, akan tetapi jala itu kuat sekali dan ia sudah terlibat sedemikian rupa sehingga ia tidak sempat mencabut pedangnya untuk membabat jala itu.
Pemuda yang sedang memanggang daging itu mengeluarkan suara tawa, lalu cepat sekali dia sudah meloncat ke dekat lubang dan dari atas dia menyerang dengan totokan.
Biarpun Lee Cin berhasil menangkis dua tiga kali dari dalam jala, namun akhirnya ada totokan yang mengenai tubuhnya sehingga ia terkulai lemas di dalam libatan jala.
"Ha-ha-ha, jalaku menangkap seekor ikan emas yang indah sekali!"
Pemuda itu tertawa sambil mengangkat tubuh Lee Cin yang masih diselimuti jala.
Sambil tersenyum-senyum gembira pemuda itu melepaskan jala yang menyelimuti tubuh Lee Cin.
Lee Cin yang tidak mampu bergerak itu melihat bahwa yang menjebak dan menangkapnya, pemuda baju putih itu bukan laim adalah Ouw Kwan Lok, pemuda yang dulu pernah dianggapnya sebagai seorang sahabat akan tetapi yang kemudian bahkan hendak menangkap dan memperkosanya, dan bahwa Ouw Kwan Lok ternyata adalah murid Thian-te Mo-ong dan mendiang Pak-thian-ong yang hendak membalas dendam kepadanya!
Ia dapat lolos dari tangan Ouw Kwan Lok karena ia tidak mempan ketika diracuni.
Akan tetapi sekali ini benar-benar tidak berdaya karena ditotok lemas.
Ia masih dapat bicara dan berkata dengan suara gemas.
"Ouw Kwan Lok, jahanam keji, kiranya engkaulah Si Kedok Hitam!"
Ouw Kwan Lok tersenyum dan mengerutkan alis, meruncingkan mulutnya mengejek.
"Aku? Si Kedok Hitam. Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan. Engkau datang sendiri menyerahkan diri, itu bagus sekali. Aku akan membunuh engkau setelah puas mempermainkanmu. Sekarang tuanmu hendak makan minum lebih dulu dan engkau boleh melihat saja!"
Ia lalu mengikat kaki dan kedua tangan Lee Cin dengan tali jala yang panjang dan sekali melontarkan ujung tali, tali itu telah melibat sebatang cabang pohon.
Dia lalu menarik naik dan tubuh Lee Cin tergantung di udara, menelungkup dengan kaki dan tangan terikat.
Apalagi kaki tangannya terikat, biarpun tidak diikat juga ia tidak akan mampu bergerak.
"Ouw Kwan Lok, pengecut tak tahu malu! Turunkan aku dan mari kita bertanding sampai salah seorang dari kita menggeletak tak bernyawa di tempat ini!"
Teriak Lee Cin. Akan tetapi Kwan Lok tertawa dan mulai makan, menggerogoti paha kelenci dan minum arak dari guci arak yamg dibawanya.
"Enak saja. Engkau akan kuajak bersenang-senang dulu, baru engkau akan kubunuh. Sayang kalau engkau dibunuh begitu saja. Bersiaplah engkau untuk bersenang-senang denganku kemudian mampus. Berdoalah dan minta ampun kepada guruku Pak-thian-ong!"
Lee Cin maklum bahwa tidak ada gunanya bicara dengan pemuda yang seperti ini.
Ia diam-diam merasa heran mengapa seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah, halus tutur sapanya dan lembut gayanya, dapat memiliki watak yang demikian rendah dan jahat.
Ia tidak berdaya.
Ada sedikit harapan.
Kalau pemuda itu hendak mempermainkannya, mudah-mudahan dia akan membebaskannya dari totokan.
Tidak ada artinya baginya kaki tangan yang terikat itu.
Kalau ia sudah terbebas dari totokan ia akan dapat meronta dan mematahkan ikatan kaki tangannya!
Sedikit harapan ini membuat Lee Cin diam saja, tidak lagi memaki, bahkan ia memejamkan kedua matanya, dan diam-diam ia mengatur pernapasannya dan berusaha untuk memulihkan aliran darahnya yang terganggu oleh totokan itu.
Kalau harapannya itu tidak terjadi, habislah ia!
Kalau sampai ia dapat diperkosa pemuda ini, ia tidak akan mau hidup lebih lama lagi.
Setelah ia berhasil membunuh pemuda ini, ia pun akan membunuh diri.
Akan tetapi agaknya ia tidak akan dapat melakukan apa-apa.
Ia teringat akan ayah ibunya dan tak terasa dua titik air mata membasahi matanya.
Ouw Kwan Lok yang senang makan minum itu melihat air mata itu.
"Souw Lee Cin, engkau menangis? Ha-ha-ha, aku sebetulnya sayang padamu, sejak pertemuan kita dahulu itu, aku telah jatuh cinta padamu. Kalau engkau mau berjanji menjadi isteriku, aku tidak akan membunuhmu. Aku akan melupakan sakit hati kedua orang guruku. Nah, maukah engkau menjadi isteriku? Berjanjilah dan aku akan membebaskanmu, karena aku percaya janji seorang gagah seperti engkau."
Lee Cin diam saja. Ia tidak percaya kalau ia mengatakan mau lalu pemuda itu mau membebaskannya. Pemuda itu terlalu cerdik, terlalu licik, terlalu jahat. Maka ia diam saja.
"Bagaimana, adikku yang manis? Engkau lapar, bukan? Dan haus? Aku akan memberimu daging dan juga arak ini, baru kita bersenang-senang. Nah, maukah engkau menjadi isteriku?"
"Iblis gila, aku telah terperangkap. Bunuhlah kalau mau bunuh dan jangan banyak cerewet lagi!"
Ouw Kwan Lok minum araknya lagi dari guci dan mukanya menjadi merah oleh pengaruh arak. Dalam keadaan setengah mabuk ia tertawa-tawa seperti seorang gila.
"Aku habiskan dulu arak ini kemudian kita bersenang-senang!"
Dia menempelkan bibir guci pada bibirnya dan menggelegak arak itu. Tiba-tiba ada benda hitam menyambar gucinya.
"Pyaaaar......!"
Guci itu pecah berantakan dan sisa arak yang masih ada di guci menyiram muka Ouw Kwan Lok.
Pada saat Kwan Lok gelagapan karena tersiram arak, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang yang berpakaian serba hitam, mengenakan kedok hitam pula dan dengan sebatang pedang dia memutuskan tali yang menggantung Lee Cin, membantu menotok tubuh Lee Cin sehingga gadis itu terbebas dari totokan.
Setelah Lee Cin terbebas dari totokan, ia menggulingkan tubuhnya menjauhi dan sekali ia mengerahkan tenaganya, tali pengikat kaki tangannya sudah terputus!
Ia meloncat bangkit sambil melolos pedangnya dari ikat pinggangnya.
Akan tetapi ketika la menengok, ia melihat betapa Ouw Kwan Lok sudah bertanding melawan Si Kedok Hitam!
Kwan Lok menggunakan sepasang pedangnya sedangkan Si Kedok Hitam menggunakan sebatang pedang.
Pertandingan itu seru sekali, tiga batang pedang lenyap bentuknya dan menjadi tiga gulung sinar yang menyilaukan mata.
Lee Cin merasa tidak enak dan bingung.
Si Kedok Hitam telah menyelamatkannya dari aib dan malapetaka dan kini Si Kedok Hitam bertanding melawan Kwan Lok.
Ia merasa tidak enak sekali.
Ia mencari-cari Si Kedok Hitam untuk membalas kekalahan ayahnya dan kini Si Kedok Hitam muncul sebagai penyelamatnya!
Bahkan Si Kedok Hitam membelanya dan kini bertanding mati-matian melawan Kwan Lok.
Pertandingan itu memang hebat sekali.
Mereka saling desak dan ternyata Si Kedok Hitam itu mampu mengimbangi permainan sepasang pedang dari Ouw Kwan Lok dengan seimbang.
Merasa tidak enak kalau berdiam saja membiarkan Si Kedok Hitam mewakilinya, juga merasa malu untuk maju mengeroyok Kwan Lok, Lee Cin lalu berkata dengan suara nyaring.
"Kedok Hitam, mundurlah dan akulah yang akan membunuh jahanam keparat ini!"
Lee Cin meloncat ke depan dan menyerang Kwan Lok dengan kecepatan seperti kilat menyambar.
Kwan Lok terkejut bukan main karena serangan itu benar-benar merupakan serangan maut.
Dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan segera melarikan diri secepatnya.
Baru melawan Si Kedok Hitam saja dia tidak mampu menang, apalagi kalau Lee Cin datang mengeroyoknya.
Amat berbahaya kalau dia harus menghadapi dua lawan tangguh itu, maka dia mengambil jalan yang paling menguntungkan, yaitu melarikan diri.
Lee Cin mengejar, mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari cepat sambil berseru.
"Jahanam Ouw Kwan Lok, hendak lari ke mana engkau?"
Akan tetapi Kwan Lok sudah melompat jauh dan berlari menyusup di antara semak belukar.
Lee Cin yang masih asing dengan hutan itu mengejar dengan hati-hati karena khawatir kalau-kalau ia akan terperangkap seperti tadi.
Karena berhati-hati, maka larinya tersendat-sendat dan akhirnya ia kehilangan bayangan dan jejak Ouw Kwan Lok.
Ia merasa menyesal sekali, dan sambil membanting-banting kakinya ia lalu kembali ke tempat tadi.
Akan tetapi alangkah kecewanya karena Si Kedok Hitam sudah tidak berada di situ lagi.
Ia merasa menyesal mengapa tadi mengejar Kwan Lok dan meninggalkan Si Kedok Hitam.
Kalau orang itu masih ada, tentu ia dapat mengajaknya bercakap-cakap.
Setelah Si Kedok Hitam menyelamatkannya dari bencana hebat diperkosa Kwan Lok, ia tidak mungkin lagi dapat memusuhinya.
Si Kedok Hitam melukai ayahnya dalam sebuah pertandingan yang adil, bahkan hanya melukai tidak membunuh, dan kini Si Kedok Hitam telah menolongnya, telah menyelamatkan nyawanya, maka pertolongan itu sudah dapat menebus kesalahannya melukai ayahnya.
Tak mungkin lagi ia membalas dendam itu.
Si Kedok Hitam hanya berhutang melukai ayahnya, akan tetapi telah membayar dengan menyelamatkan nyawanya.
Ia merasa penasaran sekali.
"Siapakah engkau?"
Pertanyaan ini kini menindih hatinya.
Kalau ia tahu siapa Si Kedok Hitam, tentu ia akan dapat menemukannya dan mengucapkan terima kasihnya.
Akan tetapi Si Kedok Hitam sudah pergi dan agaknya akan sukar sekali baginya untuk dapat menemukannya.
Besar kemungkinannya keluarga Cia mengetahui siapa Si Kedok Hitam itu, bahkan dugaannya masih condong kepada Cia Tin Siong.
Mengingat ini, ia lalu berlari kembali ke arah kota Hui-cu untuk menemui keluarga Cia!
Ketika tiba di pekarangan rumah keluarga Cia, Lee Cin disambut lagi oleh pelayan yang membersihkan halaman.
"Ah, Nona Souw, engkau kembali ke sini?"
Kata pelayan itu dengan wajah gembira.
"Cepat laporkan kepada Cia-kongcu yang pertama atau yang ke dua bahwa aku datang untuk membicarakan urusan penting,"
Kata Lee Cin yang ingin bertemu dengan Tin Siong.
"Baik, Nona. Silakan duduk menunggu sebentar karena saya melihat mereka semua sedang mengadakan pertemuan menyambut tamu."
Lee Cin bertanya-tanya dalam hatinya siapa gerangan tamu yang disambut oleh mereka sekeluarga itu, akan tetapi merasa tidak enak untuk bertanya-tanya, maka ia mengangguk lalu duduk di atas kursi dalam ruangan depan untuk menanti.
Pelayan itu lalu berjalan masuk ke dalam gedung.
Yang keluar menyambutnya adalah Cia Tin Han!
Agaknya begitu pelayan melaporkan bahwa di luar ada Lee Cin, Tin Han sudah mendahului semua orang dan cepat keluar.
Wajahnya berseri, mulutnya tersenyum dengan senyumannya yang khas sehingga mau tidak mau Lee Cin terbawa dalam kegembiraan.
Akan tetapi, untuk urusan saat itu, Tin Han merupakan orang terakhir yang diharapkannya muncul.
Ia akan minta disampaikan maafnya kepada Si Kedok Hitam, maka kalau dapat, ia mengharapkan Tin Siong sendiri yang muncul.
Kalau tidak pemuda itu, ia dapat menitip pesan itu kepada Nenek Cia atau Cia Kun, atau setidaknya kedua orang paman pemuda itu.
Akan tetapi bukan Tin Han!
"Cin-moi......!"
Ah, usiamu akan panjang sekali karena selagi aku sedang terkenang kepadamu, mendadak engkau muncul! Akan tetapi tidak ada kegembiraan yang lebih dari pada ini, Cin moi!"
"Han-ko, aku mempunyai suatu urusan yang penting sekali untuk kubicarakan dengan ayahmu atau Nenek Cia,"
Kata Lee Cin yang tidak mau menyebut nama Tin Siong karena hal itu tentu akan menjadi bahan bagi Tin Han untuk menggodanya!
"Ah, itu mudah sekali.
Mereka sedang berkumpul di dalam, Cin-moi.
Mari masuk saja, engkau dapat langsung menemui mereka, bahkan engkau akan kuperkenalkan kepada seorang badut yang lucu sekali di dalam.
Marilah!"
Tanpa ragu-ragu lagi Tin Han yang sedang bergembira itu memegang tangan Lee Cin dan menariknya masuk dalam rumah besar itu.
Kembali Lee Cin merasa heran kepada dirinya sendiri.
Diperlakukan demikiam akrab oleh Tin Han, ia tidak menjadi marah dan membiarkan tangannya dipegang dan ditarik ke dalam!
Kalau pemuda lain yang berani melakukan hal itu, tentu sudah ia damprat habis-habisan.
Ternyata pemuda itu membawanya ke dalam ruangan makan yang luas.
Dan benar saja, mereka semua berada di situ.
Cia Tin Siong, ayah ibunya, kedua orang pamannya, bahkan Nenek Cia, semua duduk menghadapi meja yang penuh hidangan dan seorang laki-laki pendek tegap duduk berhadapan dengan mereka.
Begitu melihat pria cebol yang usianya kurang lebih empat puluh tahun ini Lee Cin segera mengenalnya.
Itulah Yasuki, orang Jepang yang ia lihat bercakap-cakap dengan kedua orang paman Tin Han pada malam hari itu!
Dan Tin Han mengatakan bahwa ia hendak diperkenalkan kepada seorang badut yang lucu sekali.
Karena di situ tidak ada orang asing lain kecuali Jepang itu, maka tentu orang itulah yang dimaksudkan sebagai seorang badut besar oleh Tin Han.
Semua orang, kecuali Jepang itu, bangkit berdiri ketika Lee Cin masuk bersama Tin Han.
"Nona Souw......!"
Semua orang berseru girang.
Agaknya Yasuki tidak mau ketinggalan.
Dia memang berulah seperti seorang yang pandai, seperti seorang jagoan nomor satu.
Dia mengamati dengan penuh perhatian kepada gadis yang baru masuk dan segera terdengar seruannya.
"Po-kiam (Pedang Pusaka) yang baik sekali! Nona manis, lebih baik pedang itu dijual saja kepadaku. Tidak baik bagi seorang gadis cantik untuk membawa pedang, bisa melukai diri sendiri! Berapakah engkau mau menjualnya?"
Semua orang menengok kepada Yasuki dan orang Jepang ini sudah bangkit berdiri dan menuding ke arah pinggang Lee Cin di mana Ang-coa-kiam membelit pinggangnya.
Tentu saja ucapan itu lancang sekali, akan tetapi Yasuki agaknya bangga dengan kepandaiannya bicara dalam bahasa Han yang kaku dan lucu kedengarannya.
Tentu saja Lee Cin menjadi marah mendengar ucapan itu.
Ucapan yang sungguh memandang rendah kepadanya.
Maka dengan alis berkerut ia memandang kepada orang Jepang itu dan menjawab dengan suara ketus.
"Aku tidak menjual pedangku!"
Akan tetapi Yasuki agaknya tidak tahu bahwa gadis itu marah sekali. Dia masih juga membujuknya.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 12
Baca Juga: Petualang Asmara 15