Eps 2 Ilmu Golok Keramat - Chin Yung
Baca online Ilmu Golok Keramat - Chin Yung
Cersil Ilmu Golok Keramat - Chin Yung.
Keng Jie bersenyum, Ho Siang kong nona in adalah pelayan yang disayang oleh puterinya pocu, makanya ia sangat dihormati oleh orang-orang dalam benteng ini.
Ho Tiong Jong jadi bengong, Pikirnya, Nona yang begitu cantik, kedudukannya hanya sebagai pelayan saja, Sayang..
Saat itu tiba-tiba Kho Kie tertawa, Ho laote.
katanya, pelayannya sudah demikian cantik, entah bagaimana kecantikannya nona yang dilayaninya, dapatlah kau membayangkannya sendiri, Ha ha ha..
Ho Tiong Jong hanya bersenyum, Keng Jie sementara itu sudah meninggaikan mereka dan waktu sudah mengunjuk jam empat sore.
Hatinya Ho Tiong Jong merasa tidak enak.
karena bagaimana ia dapat turut dalam perundingan sekarang kepandaiannya ada sangat terbatas.
Jago-jago yang akan dihadapinya semua, terdiri dari pendekar-pendekar ulung, Apakah tidak lebih baik ia mengeloyor dengan diam-diam meninggalkan tempat itu supaya tidak mengunjukkan kejelekannya didepan umum?
Sebab kalau misalnya ia harus bertempur dan mengalami kekalahan bukan saja dirinya merasa malu, tapi juga hal itu akan memalukan Kho Kie yang sudah menjadi sahabat karibnya.
Melihat kawannya membungkam seperti ada apa-apa yang dipikirkan keras, Kho Kie lalu menanya.
Ho laote kau kenapa?
Ho Tiong Jong geleng geleng kepalanya, tapi kemudian ia minta pikirannya sang kawan juga, bagaimana baiknya untuk dirinya yang berkepandaian terbatas menghadapi musuh-musuh yang sudah ulung, Kho Kie terdiam, ia juga rada bingung memikirkannya.
Diam-diam ia ingat dirinya ada mempunyai ilmu silat Kim-ci Gin ciang atau, jari emas Telapakan perak, yang hanya tiga jurus, tapi untuk membela diri juga ampuhnya luar biasa, ia ingin turunkan ilmu silat ini kepada Ho Tiong Jong, tapi ia yang takut kepada suhunya, sebab ilmu silat itu tidak boleh sembarangan di turunkan kepada lain orang, ia jadi bingung bagaimana dapat menolong kawannya itu.
Terdengar Ho Tiong Jong berkata sambil menghela napas.
Kho toako daripada aku menanggung malu, apa tidak lebih baik aku diam-diam saja meninggalkan bentengan ini ?
Kho Kie merasa kesian, Segera ia ambil keputusan, katanya.
Ho laote, jangan, kau jangan meninggalkan bentengan ini.
Aku nanti ajarnya kau ilmu silat tiga jurus yang lihay untuk melawan musuh.
Pemuda itu berubah girang wajahnya.
Ho laote, sebenarnya bakatmu bagus sekali, ilmu tenaga dalammu juga cukup, asal kau mendapat pimpinan orang pandai dalam sedikit tempo saja kau akan merupakan seorang yang sangat lihay dalam rimba persilatan.
Kini aku mau ajarkan kau ilmu silatku Kim-cie Gan ciang yang hanya tiga jurus, yalah jurus kesatu menggunakan jari kiri telapakan tangan kanan, kedua menggunakan jari kanan telapakan kiri, jadi sebaliknya dan yang ketiga balik ke yang kesatu yaitu jari kiri dengan telapakan tangan kanan yang agak sukar adalah bekerjanya tangan kanan dalam jurus ketiga dan tangan kiri dalam jurus ke-dua sebab ada banyak perubahannya, sekarang aku mulai memberi petunjuk harap kau perhatikan betul-betul..
Lantas saja Kho Kie menjalankan ilmunya, memberikan petunjuk petunjuk yang penting.
Ho Tiong Jong otaknya cerdik dan memang punya bakat yang luar biasa, maka tidak heran kalau dalam beberapa kali dimainkan saja ilmu silat tiga jurus tadi telah tercatat benar dalam otaknya.
Kemudian ia diminta oleh Kho Kie untuk menjalankan ilmu yang diberi petunjuk olehnya barusan.
Dengan sungguh-sungguh Ho-Tiong Jong telah mainkan ilmu itu dengan segala perubahannya, yang membikin Kho-Kie bukan main girangnya, sebab semuanya tak ada kesalahannya Ho laote, kau hebat sekali.
katanya sambil menepuknepuk bahu orang.
Waktu-pun saat itu sudah jam lima sore dekat saat perjamuan akan dibuka.
Ho laote, kau diam diam teruskan berlatih, aku mau kekamar kecil sebentar, kata Kho Kie tiba tiba sambil terus ngeloyor keluar kamar.
Saat Ho Tiong Jong mau memulai lagi dengan latihan ilmunya tiga jurus tiba-tiba pintu kamar terbuka dan nona in tampak masuk kedalam.
Ho Tiong Jong heran, ia mengawasi nona in yang mukanya tertawa berseri-seri.
Nona in membawa kotak kecil, Sambil menyerahkan benda itu pada Ho Tiong Jong ia berkata.
Aku disuruh oleh nonaku untuk memberikan benda ini kepada Ho Siangsong, tapi..
sambil menyambut kotak kecil itu, diam-diam Ho Tiong Jong berpikir Hei, nonamu belum kenal denganku, untuk apa ia menyerahkan benda ini padaku?
la berpikir demikian, tapi tidak membuka mulut menanya, Hanya menantikan nona in menyambung bicaranya.
tapi ingat, benda ini ada untuk orang yang bersifat berani dan baik peruntungannya Apa isinya ?
menyela k Ho Tiong Jong.
Didalamnya ada dua butir pil yang macam dan besarnya sama.
Yang sebutir ada pil bikinannya Tok-sian Kong Jat Sin yang dinamai Siau-hoa-tan, sebuah pil yang sangat ajaib, Sebab kalau orang memakannya itu dapat bertambah tenaganya seperti sudah melatih diri puluhan tahun lamanya, sedang yang sebutir lagi..
Nona in merandek.
matanya yang bening halus menatap kepada pemuda cakap didepannya, hingga Ho Tiong Jong merasa kikuk, Tapi toch ia menanya Nona in, kenapa kau berhenti menutur, apa sih yang sebutir lagi?
Nada suaranya nona ia agak tergetar ketika menerangkan Ya..
yang satunya lagi adalah pil maut (beracun) orang yang menelannya akan menderita hebat, keluar darah dari semua bagian tubuh yang berlubang misalnya hidung, mulut, kuping dan sebagainya sekarang kau diharuskan memilih salah satu diantara dua pil ini.
Kalau kau memang nasibmu bagus, tentu kau akan memilih Siauw hoan tan, tapi kalau sebaliknya tentu ang membikin jiwamu melayang ke akherat.
Ho Tiong Jong kerutkan alisnya, Barusan ia menerima bingkisan diam-diam merasa kegirangan sebab itu ada bingkisan dari puterinya Pocu dari seng-ke-po, pikirnya baik betul nona itu telah menaruh perhatian atas dirinya yang belum dikenal.
Tapi kini, setelah bicaranya nona in, hatinya merasa tidak enak.
Benar soal mati hidup ada ditangan Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi kalau mati karena makan pil itu, benar-benar ia mati konyol dan penasaran sekali.
Meskipun berpikir demikian, adatnya yang tinggi dan pantang mundur mendorong ia untuk membukanya juga kotak kecil itu dengan perlahan-lahan.
Begitu terbuka, segera bau wangi menerjang keluar dari kotak itu.
Pil itu diperiksa, keduanya berwarna merah dan sama bentuknya, setelah menatap wajahnya nona in sebentar, ia berkata.
Nona in, aku akan ambil salah satu pil ini, mati hidupnya ada terserah ditangan Tuhan, tapi aku ada satu permintaanNona In bersenyum, Ho Siang kong, katakanlah ada permintaan apa ?
Justeru aku hendak menerangkan pada Ho Siang kong.
jawab nona In kau tentu masih ingat diwaktu lohor ini gunung Hui-cui ada pesuruh menyerahkan seekor kuda dan sebilah golok baja padamu, itulah nona Seng majikanku yang memberikannya.
Kau tentu heran sebab apa nonaku berbuat demikian?
sebetulnya ia sudah tahu Ho Siang kong ada seorang jujur dan polos sifatnya, ia amat memperhatikan apa-apa yang dibutuhkan oleh Ho Siang-kong, ia sangat menaruh perhatian kepada seorang yang baik hati, maka Ho Siangkong jangan salah mengerti padanya.
Dan itu pakaian baru?
menyelak Ho Tiong Jong.
juga nonaku yang telah memberikannya jawab nona In.
Ho Tiong Jong tundukkan kepalanya.
Diam-diam ia merasa bersyukur kepada nona Seng yang begitu memperhatikan dirinya tapi siapakah nona itu?
ia belum pernah melihat kenal padanya.
Terdengar ia menghela napas.
la budi nonamu dan kau sendiri aku tidak bisa lupakan, sebenarnya dalam hidupku selainnya kau berdua yang menaruh perhatian begitu baik, hanya toako ada satu-satunya kawan karibku.
Nah, kalau sebentar lagi aku mati juga tidak akan merasa penasaran aku sudah rela.
Nona Seng.
menyelak nona In, sudah tahu ilmu silat Ho Siangkong, meskipun tinggi, tapi latihannya kurang.
Jadi, kalau harus bertanding dengan orang-orang yang sudah berkumpul disini, perbedaannya jauh sekali, Apa lagi mengingat itu Siluman Khoe Tok punya anak murid yang jahat dan kejam.
Malam itu tentu mereka mencari akal keji untuk mencelakakan pada Ho siang kong.
Nona Seng pikir bulak-balik untuk menolong Ho Siang kong, akhirnya dia telah mengambil dua butir pil ini sudah disimpan lima tahun lamanya untuk diberikan kepada Ho Siangkong.
Ho Tiong Jong merasa heran sekali, demikian besar ada perhatian nona Seng.
Ya, memang juga aku lebih baik mati makan pil ini daripada menerima hinaan orang, Hanya aku tidak menduga sama sekali kalau nonamu ada begitu besar menaruh perhatian atas diriku yang rendah Sambil berkata, tangannya menjemput salah satu pil dan di telannya seketika.
Ia menatap wajahnya nona In yang tertegun melihatnya pemuda itu menelan pil.
Ho Tiong Jong berseyum.
Nona in, sebenarnya aku tidak ingin mati, tapi, ia, karena hatiku yang angkuh dan pantang menyerah membuat aku memilih kematian dengan menelan ini daripada menerima hinaan orang.
Nona In merasa terharu mendengar kata-katanya anak muda itu.
Sebenarnya pil ini selalu dibawa-bawa oleh nona Seng, tapi ia tak berani menerjang bahaya untuk menelannya, kata nona In.
Dari mana nonamu mendapat pil mujarab dan beracun ini?
tanya Ho Tiong Jong sambil menyerahkan kembali kotak yang masih terisi satu butir pil lagi.
Sambil menyambuti kotak tadi, nona In lalu menceritakan kisah nona Seng.
Nona Seng pada suatu hari ada menonton gurunya, Kok Lo-lo, bermain catur dengan si Dewa Racun (Tok-sin) Khong Yat Sin, suatu saat nona Seng merasa kesal melihat kedua lawan itu terus mengasah otaknya, tak mau menggerakkan biji caturnya, sedang ia sudah tahu kemana jalannya untuk gurunya dapat memperoleh kemenangan dalam pertandingan itu.
Ia yang berdiri dipinggiran mesem-mesem melihat dua jago tua itu memutar otaknya, hal mana dapat dilihat oleh Kong Jat Sin.
siapa telah berkata, Hei, nona kecil kau mesem-mesem apakah sudah menemukan jalan untuk gurumu memperoleh kemenangan?
Nona Seng hanya anggukkan kepala sambil melirik pada gurunya tidak berani membuka mulut.
ETELAH gurunya mengijinkan untuk ia menunjukkan jalannya bagaimana dapat menjatuhkan lawannya, nona Seng baru mau berikan pengunjukan.
Dua orang tua itu merasa heran.
Benar saja tidak lama kemudian Kong Jat Sin kena dikalahkan oleh Kok Lo lo atas bantuannya sang murid.
Ha ha ha..
demikian Kong Jat Sin tertawa bergelak-gelak sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang, Kau sungguh cerdik nona kecil, Nah untuk Kecerdikanmu aku si orang tua pecundang menghadiahkan padamu dua pil mustajab dan beracun, untuk suatu waktu bila diperlukan kau boleh menelannya.
Kong Jat Sin berkata sambil mengeluarkan dari sakunya dua ples kecil, dikeluarkannya sebutir pil dari masing-masing ples dan diberitahukan khasiatnya, hingga nona, Seng kegirangan bukan main.
Bagaimana selanjutnya kisah pil mustajab dan beracun itu.
kata nona in yang menutup ceritanya itulah Ho Siang kong sendiri dapat menanyakan kepada nonaku Nona In kemudian minta diri meninggaikan kamar Ho Tiong Jong, Di pekarangan tibatiba ia melihat Kho Kie sedang jongkok sambil memainkan batu-batu?
Melihat nona in mau lewat didepannya, tiba-tiba Kho Kie bangun dan menghalanghalangi sambil cengar-cengir ketawa dan mengucapkan beberapa perkataan bergurau jenaka..
Nona In sebenarnya suka pada Kho Kie yang Jenaka lucu ini, akan tetapi ia ketika itu sedang ada urusan penting menyampaikan laporan kepada nonanya, maka hatinya mendelu juga ketika dihalang-halangi dan diajak bergurau.
Nona In, parasmu yang cantik ada muram sedikit kenapa sih?
Nona In menjebikan bibirnya, tidak menyahut.
Ketika ia mau jalan, kembali Kho Kie menghalang-halangi, ia jadi tidak sabarandan sikutnya sudah membentur dadanya si orang aneh yang bisa masuk dalam tanah.
Benturan itu telak sekali, sebenarnya tidak dirasakan apa-apa oleh Kho Kie, tapi saat itu ia menemukan jalan rupanya untuk menarik perhatiannya si nona pelayan yang cantik maka ia sudah pura-pura sempoyongan sambil memegang dadanya, ia membentur dinding pekarangan dan rubuh.
Nona In matanya membelalak kaget, Apakah pukulannya sangat keras barusan?
Tanyanya dalam hati, cepat ia sudah menghampiri Kho Kie yang pura-pura menggeletak pingsan.
Dirabalah dada si konyol dan diurut-urut.
Kau kenapa, apa sakit kena disikut aku barusan?
Makanya jadi orang jangan konyol, ini bagiannya orang yang suka godain orang.
Kho Khie tinggal diam saja, hingga hatinya nona In menjadi lebih kuatir lagi.
Diam-diam sebenarnya Kho Kie merasa sangat bahagia, dadanya diuruti oleh tangan yang halus mungil, bau wangi dari badannya nona In menusuk hidungnya, hingga dirasakan seketika itu semangatnya seperti sedang melayang layang dikayangan.
Nona In coba angkat ia bangun, tapi sengaja Kho Kie memberatkan badannya hingga si nona menjadi kewalahan Kepinginnya ia berdiam terus di uruti oleh si nona pelayan yang telah menawan hatinya.
Tapi nona In rupanya ada cara lain untuk mengangkat bangun padanya, ia selusupi tangannya yang mungil dalam ketiak orang, kemudian mengerahkan tenaganya menyeret Kho Kie.
MMi 1H1 KM Ml JIW.
H I H Kali ini, ternyata ia berhasil sebab Kho Kie tidak bisa memberatkan dirinya lagi, karena tidak tahan merasa geli ketiaknya disodok tangan si nona, ia paling takut kalau ketiaknya kena dikitik, maka dalam sekejapan saja ia sudah dapat dibawa ke kamarnya untuk direbahkan.
Kamarnya Kho Kie berhadap hadapan dengan kamarnya Ho Tiong Jong.
setelah ia merebahkan Kho Kie, ia tidak mendengar suara apa-apa dari kamarnya Ho Tiong Jong, ia lupa Ho Tiong Jong telah menelanpil, karena hatinya sedang kusut memikirkan Kho Kie yang diduganya mendapat luka parah didalam karena sikutnya tadi, ia merasa simpati pada orang Jenaka ini, terutama ketika sudah mendengar riwayatnya yang sedih yang ia diam-diam mencuri dengar ketika Kho Kie ngobrol dengan Ho Tiong Jong, ia memeriksa jalan napasnya Kho Kie, kenyataan sebagaimana biasa, maka hatinya merasa lega juga.
Sebaliknya Kho Kie yang berpura-pura diam-diam merasa tidak enak.
karena ia membuat orang ketakutan.
Sambil memejamkan matanya ia memikir jalan bagaimana untuk bisa menghibur hatinya sinona pelayan cantik ini.
Tiba-tiba nona In ingat Ho Tiong Jong telah menelan pil maka ia cepat-cepat keluar dari kamar Kho Kie dan masuk kekamamya si pemuda.
Apa yang ia lihat?
Hatinya berdebaran keras, ia melihat Ho Tiong Jong rebah dalam keadaan tidak berkutik Mati, oh dia mati..
pikirnya dengan sangat sedih.
Ia jalan menghampiri ketika ia memeriksa keadaan, Ho Tiong Jong, betut-betul badannya sudah dingin, maka ia telah mengucurkan air mata karena sedih.
Pada saat hatinya gelisah tiba tiba pintu terbuka dan masuklah Keng Jie.
Nona In cepat-cepat menutupi badan Ho Tiong Jong dengan selimut dan berkata pada Keng Jie, bahwa Ho Tiong Jong entah kenapa dengan mendadakan saja telah mati.
Setelan berkata, ia terus ngeloyor ke kamarnya Kho Kie, meninggaikan Keng Jie yang jadi berdiri melongo mendengar kata-katanya nona In tadi.
Nona In mendekati Kho Kie dan menanya Hei, apa kau sudah mendingan sakitnya?
Tidak enak kalau ia tidak memberikan jawaban, maka Kho Kie menjawab.
Ya, lukaku sudah mendingan.
it Nona In girang mendengar Kho Kie menyahut, maka ia datang lebih dekat lagi dan menyampaikan kabar kematiannya Ho Tiong Jong.
Kali ini Kho Kie bukan pura-pura lemas badannya, betul-betul ia lemas dan gelisah halnya mendengar apa yang diceritakan oleh nona In, Sahabat karibnya dengan mendadak telah mati sebab apa?
Ah, tak mungkin, Tapi, kenapa mati?
Kho Kie tidak susah menanti jawaban, sebab nona in sudah menceritakan tentang dua pil yang diberikan pada Ho Tiong Jong dan satu diantaranya telah ditelan oleh pemuda itu.
Rupanya ia telah menelan yang beracun maka ia telah menemui kematiannya.
Kemudian ia menyerahkan pil yang satunya lagi kepada Kho Kie, berkata.
Nih, sebutir lagi aku serahkan padamu, aku tidak tahu kau akan berbuat apa dengan pil ini untuk menolong sahabat karibmu itu.
Kho Kie menjublek.
seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan si nona, semangatnya saat itu seperti sudah tidak ada lagi dalam tubuhnya, terbawa oleh kabar kematian atas sahabat karibnya itu.
Ya, sungguh harus dibuat sayang orang yang demikian baik hatinya seperti Ho Siang-kong telah menemui ajalnya.
kata nona in, sementara itu ia sudah gerakan kakinya untuk meninggaikan kamarnya Kho Kie.
Melihat nona In sudah berlalu dari kamarnya, Kho Kie jadi melamun.
Pikirnya, Betul-betul peristiwa dalam dunia ini tak dapat diduga-duga, Kawan karibnya yang segar bugar mengadakan telah mati, bagaimana akan terjadi dengan dirinya sendiri?
Semua kejadian orang alami seperti dalam mimpi saja.
Saat ia dalam berduka demikian, tiba-tiba ia mendengar ribut ribut dikamarnya Ho Tiong Jong.
Kiranya kesitu sudah datang orang-orang yang mengurus kematian, hendak mengangkut mayatnya Ho Tiong Jong.
Mereka dikepalai oleh seorang bernama Ie Yong dengan julukan si Rajawali Botak.
Kepalanya botak klimis, tapi ia bertenaga besar dan ilmunya ada Eng-jiauw-kang suatu ilmu mencengkeram yang ganas dan terkenal dalam kalangan kangouw.
Ketika Ie Yong masuk ke kamar Ho Tiong Jong, lantas bikin pemeriksaan mayat, kemudian menyuruh dua orang sebawahannya mengambil usungan untuk mengangkut mayat pindah kekuil Po-im-yan yang terletak dibelakang rumah penginapan tamu itu.
Kepada yang lainnya ia menyuruh supaya mengambil peti mati yang belum jadi di gudang nomor dua, menyuruh tukang kayu untuk menyelesaikannya cepat-cepat.
Ketika Ie Yong mengulurkan tangannya membuka selimut yang menutupi wajah IHo Tiong Jong, tiba-tiba ia berkata pada dirinya sendiri Ah, sungguh sayang orang begini cakap telah mati mendadak Entah apa.yang dia sudah makan sehingga menemukan ajalnya begini?
Betul-betul lucu..
Sampai disini ia berhenti, karena dua orang yang disuruh membawa usungan sudah tiba untuk mengangkut mayatnya Ho Tiong Jong, Letaknya kuil Po im-yan kira-kira setengah lie dari rumah penginapan tamu, Disitu terdapat rimba bambu, Menurut kebiasaan orang yang mati lantas ditanam, malah petinya disiapkan juga ada peti yang bagus dan mahal harganya, ia betul-betul merasa heran ia hanya menurut perintah dari nona Seng saja.
Sebenarnya ia banyak mengetahui segala rahasia dalam benteng itu, Misalnya kedatangan Ho Tiong Jong yang mendapat sambutan lain daripada tetamu yang lainnya, kemudian kamarnya dipindahkan kekamar yang sekarang, juga yang memberi kuda dan golok serta pakaian baru pada Ho Tiong Jong ia tahu ada perintah nona Seng, tapi ia tak mau membocorkan rahasia ini kepada yang lainnya.
Hanya kematian Ho Tiong Jong yang mendadak ini benar-benar ia dibikin tidak habis mengerti, mengingat perhatiannya nona Seng ada demikian besar pada anak muda itu.
Dilain pihak Kho Kie yang sedang dalam kedukaan tiba-tiba dipanggil oleh Keng Jie untuk menghadiri perjamuan.
Kho Kie mengikuti Keng Jie, ketika sampai diruangan perjamuan, ia nampak banyak pendekar sudah pada hadir dengan roman yang angker.
ia tidak ambil pusing semua ini, hanya terus nyelonong mencari tempat duduk.
Sebentar kemudian ketika ia mengangkat kepalanya, ia lihat diantara yang hadir ada beberapa imam dari Kongtong-pay, Im yang Siang-kiam Kong Soe Jin dan Kon Soe Tek diri Ngo biepay, Kauw Seng Ngo dan Hong Siang Ju dari Kun-lun-pay, kemudian murid-murid dari Siluman Khoe Tok ialah Song Boe Kie, oet ti Kang dan Oet-ti-kun Li losat juga tidak ketinggalan, iblis wanita cantik yang banyak menarik perhatian, Yang duduk dikursi sebelah kanan tuan rumah adalah seorang paderi tua teman karibnya Lo Pocu ( majikan tua ) Seng Eng yang dikenal dengan nama Pek-Boe Taysu, disebelah kirinya seorang nikow (paderi wanita) ceng Bice Sian-kow berumur kira-kira empat puluh tahun, lalu orang-orang dari oei-san-pay Him Toa Ki danTlong le serta dua padri Tibet bernama Pua Dho Ka dan Li Dho.
Selainnya ini, banyak hadir pemuda pemudi yang Kho Kie tidak kenal semuanya kelihatan gagah, cantik dan tampan, murid-murid dari orang bukan sembarangan.
Boleh dikata para hadirin disitu campur aduk dari golongan jalan putih dan hitam, jadi ada mengunjukkan luasnya pergaulan Seng Eng sebagai majikan dari benteng Seng ke-po, cong le yang melihat Kho Kie wajahnya seperti bersedih dan tidak melihat munculnya Ho Tiong Jong, hatinya berCekat ingin ia menanyakan pada Kho Kie, tapi sayang ia tidak ada tempo, karena matanya saat itu saling melotot dengan Tok-it Tojin dari Kong-tong-pay..
Rupanya diantara partai Kong-tong dan oei-san ada terbit ganjelan yang berlarutlarut, makanya juga kehadiran wakil-wakil kedua partai disitu telah menampakkan rasa bencinya masing-masing.
Lo-pocu Seng Eng tampak berseri-seri diantara banyak tetamu yang berisik bercakap-cakap satu dengan lain, tampaknya ia gembira sekali melihat kehadiran begitu banyak tetamu.
Sayang Seng Giok Cin, puterinya, tidak turut muncul.
Kalau tidak.
tentu nona yang sangat cantik itu akan menjadi sasarannya mata semua pemuda yang ada disitu.
Tapi para pemuda itu tidak usah terlalu kecewa karena ada gantinya Kim-Hong Jie putri kesayangan dari majikan benteng Kim-hong-po.
Usianya Kim Hong Jie kira-kira tujuhbelas tahun, parasnya cantik luar biasa, Yang menjadi ciri yang menyolok adalah sujennya di-pipinya yang botoh.
Semang kin ia tertawa sujen itu semakin dekik, mempesonakan dan menawan hati yang melihatnya.
Kim Hong Jie adalah nona cilik yang pada lima enam tahun yang lalu menangis ditepi sawah, menangisi bonekanya yang kecemplung kedalam sawah dan Ho Tiong Jong yang menolong mengambilkan barang mainannya itu.
sebagai jasa untuk pertolongan itu Ho Tiong Jong mendapat dua belas jurus ilmu golok keramat dari ayahnya Kim Hong Jie.
Hanya sayang anak muda itu tinggi hati, ia tidak mau balik kembali kerumahnya Kim Hong Jie setelah lewat satu bulan yang dijanjikan, Kalau tidak ia sudah mahir dengan tiga belas jurus semuanya ia boleh menjagoi dikalangan Kang-ouw.
Para hadirin berhenti bercakap-cakapnya ketika Lo-pocu Seng Eng sebagai tuan rumah berdiri angkat bicara.
Dalam pidatonya ia mengucapkan terima atas perhatian para tetamu yang datang hadir, kemudian ia memperkenalkan satu demi satu sekalian tetamu-nya agar masing masing dapat mengenal satu dengan lain dalampibu (adu silat) nanti.
Ia mohon maaf padapara tamu kalau ada sesuatu pelayanannya yang tidak menyenangkan Kemudian ia mempersilahkan sekalian tetamunya untuk makan minum sepuasnya dalam perjamuan itu menjelang esok hari pibu di adakan.
Sebagai penutup bicaranya Seng Eng telah memberitahukan syarat-syarat dalam pibu nanti.
Untuk memimpin pibu ini ditetapkan mengangkat tiga Taycu masing-masing Teng cu ada wakilnya semuanya menjadi enam orang.
orang yang berminat pibu diatas luithay (panggung berkelahi), pemuda harus menghadapi wakil Taycu kesatu, bertanding dengan tangan kosong.
Kalau kalah boleh turun panggung, tapi kalau dalam tiga puluh jurus masih belum kalah, boleh maju untuk menghadapi wakil Taycu kedua dan bertanding dengan menggunakan senjata.
Kalau dalam dua puluh jurus dapat menjatuhkan wakil Taycu itu, seterusnya boleh maju ketemu dengan Taycu sendiri, Menghadapi Taycu orang boleh sesukanya memilih pertandingan, dengan tangan kosong atau senjata, juga boleh menggunakan senjata gelap.
Syaratnya, pertandingan dengan tangan kosong atau menggunakan senjata ditetapkan dalam lima belas jurus berhenti, tak perduli pertandingan masih berjalan berimbang, Tapi kalau menggunakan senjata gelap.
harus berjanji dahulu dalam gerakan beberapa yang menentukan kalah menangnya.
Pada siapa yang keluar sebagai pemenang, tuan rumah berjanji akan menghadiahkan apa-apa sebagai tanda kenang-kenangan untuk kegagahan dari orang yang bersangkutan Semua hadirin paham dengan syarat-syarat yang disebutkan tuan rumah, tapi mereka menghadapi teka-teki, apakah diantara tiga Taycu itu ada terdapat tuan rumah sendiri?
Lohu pikir, kata pula tuan rumah, semua syarat yang disebutkan tadi dapat disetujuinya oleh para sahabat, cuma yang paling penting adalah pertandingan terakhir, harap sekalian sahabat suka mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa untuk menggembirakan para kawan yang menontonnya.
Pidato tuan rumah mendapat sambutan tepuk tangan riuh rendah dari para hadirinMereka kemudian sambil bersenda gurau melanjutkan pestanya dengan gembira sekali.
Terdengar pula Lo-pocu Seng Eng berkata.
Anak perempuanku saat ini masih ada sedikit urusan maka ia belum dapat datang Baiknya kalian adalah orang-orang sendiri,aku pikir semuanya tidak akan menyalahkan kepada kami berdua.
Kim Hong Jie mendengar ini kelihatan bersenyum manis, sujennya yang menyolok menggiurkan siapa yang melihatnya, menambah kejelitaannya.
Seng sick-sick, apa tidak lebih baik lekas-lekas panggil encie Seng keluar untuk menghadiri perjemuan?
Sore tadi aku hanya sebentar saja bercakap cakap dengannya dan mendapat tahu kalau encie Seng berkepandaian sastra dan silat sangat sempurna sukar orang mencari kepadanya.
Betul, betul.
menimbrung nona Lauw Eng dari Kauw ke chung di Kim leng.
Sick sick harap menyurut orang untuk mengundang dia datang tiba aku ingin sekali berkenalan dengannya.
Saat itu tiba-tiba ada orang datang mendekat Seng Eng bicara bisik bisik dikupingnya.
Ha ha ha ha....
tertawa Seng Eng, sambil mengurut-urut jenggotnya yang bagus Kebetulan lohu ada urusan masuk kedalam biarlah lohu akan memanggilnya dia keluar untuk berjumpa dengan kalianSetelah berkata, ia berbangkit dari tempat duduknya dan ngeloyor masuk.
Melihat tuan rumah tidak ada ditempatnya, ceng Ie dan it Tok Tojin kembali saling pandang dengan mempelototkan matanya masing-masing.
Keduanya kelihatan bernapsu untuk bertempur, cuma saja tidak baik disitu banyak tetamu dan malu hati terhadap tuan rumah, yang tentu tidak mengijinkan mereka bertempur begitu saja.
Sebentar lagi tampak cong Ie meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri pada Kho Kie ia menanya.
Hei, Kho toako, kau sendirian saja?
Mana Tiong Jong?
Kho Kie unjuk muka lesu, ia tak lantas menjawab, hanya menatap wajahnya nona cong yang cantik.
Toako, kau kenapa?
desak si nona.
melihat Kho Kie seperti yang ragu-ragu untuk berbicara.
Sebelum Kho Kie dapat membuka mulut menjawab, tiba-tiba terdengar suara tertawa gelak-gelak diantara tiga muridnya siluman Khoe Tok.
Mereka kelihatan iri hati melihat si nona seperti yang sangat memperhatikan sekali atas dirinya Ho Tiong Jong, itu pemuda yang ia incar mau dianiayainya.
Nona cong..
kata oet-ti Koen mengejek.
itu siorang she Ho sudah mati, apa kau belum pergi sembahyang didepan peti matinya?
Ha ha ha..
ciong Ie terkejut sekali mendengarnya.
Ia tidak ambil perduli kata katanya oet-ti Koen yang mengejek hatinya saat itu tergetar oleh kabar kematiannya Ho Tiong Jong, Dia mati..
ia mendumel setelah bengong sejenak.
Kemudian ia mengawasi pada Kho Kie.
Kho toako, apakah benar engko Ho ma..
Ia tak dapat melampiaskan kata penghambisan ti , karena tenggorokannya terasa seperti tersumbat oleh kesedihan.
Kho Kie hanya anggukkan kepalanya ia mengerti bahwa kabar itu telah menggetarkan hatinya si nona yang tampaknya ada menaruh perhatian besar kepada si anak muda.
Kho toako, mari antar aku kesana..
kata pula si nona, seraya gunakan setangannya yang harum semerbak untuk menyeka air matanya yang mengembeng.
Kho Kie bangun dari tempat duduknya, Diam-diam dua orang itu telah ngeloyor pergi.
cek-bin Thian ong Kim Toa melihat Su-moynya mau berlalu sudah lantas menanya.
Hei, sumoay, kau mau pergi kemana?
Aku mau pergi sembahyang pada jenazahnya engko Ho, jawabnya.
Him Toa Kie mengkerutkan aslinya.
Diam-diam ia berpikir sumoay baru saja berkenalan dengan orang she Ho itu, ternyata hatinya sudah tertawan olehnya, Buktinya, air matanya berlinang-linang mendengar kabar kematiannya si pemuda.
Dia ada begitu besar menaruh perhatian, mungkin hatinya jatuh cinta pada Ho Tiong Jong, Untung dia sudah mati, kalau tidak.
bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan kelakuannya sumoayku itu didepan ayahnya?
Setelah berpikir demikian, ia pun meninggalkan tempat itu berjalan masuk keruangan dalam.
Kho Kie yang belum tahu jenazahnya Ho Tiong Jong ada ditempatkan dimana, lalu mencari keterangan pada orang-orang Seng kee-po, kiranya jenazahnya pemuda itu ditaruh dalam kuil Po-in-yan.
Untuk kesana, mereka harus mencari sungai kecil dan masuk kedalam rimba bambu yang ada di sebelahnya.
Disitu tidak ada jembatan, hingga orang harus lompat menyebrang.
cong le yang sudah tidak sabaran untuk melihat jenazahnya Ho Tiong Jong, sudah enjot tubuhnya melesat dan sebentar saja sudah berada diseberang, kemudian terus berjalan ke kuil Po-im-yan.
Tinggal Kho Kie yang jadi kebingungan sendiri, karena ia tidak pandai mengentengi tubuh, ia tidak ungkulan untuk lompat menyebrangi sungai itu yang jaraknya ada setombak lebih, tapi karena hatinyapun sudah ingin lekas-lekas melihat jenazahnya sang kawan, ia sudah pejamkan matanya dan paksa lompat menyebrang.
Bagaimana selanjutnya?
Apa Kho Kie rupanya lebih pandai masuk kedalam tanah dari pada lompat menyebrang kali karena saat itu tidak ampun lagi ia kecebur kedalam sungai dan terpaksa berenang sebentar untuk mencapai kelain tepi, setelah naik didarat pakaiannya menjadi basah kuyup, ia tidak perdulikan itu, terus menyusul nona cong yang entah sudah sampai dimana.
Sesampainya dalam kuil ia mencari kesana kemari dimana jenazahnya Ho Tiong Jong ada ditaruh ia segera menemui kamar yang terang benderang lalu masuk kedalamnya.
Pada dekat dinding sebelah kanan tampak ada satu tempat tidur, dimana ada diletakkan jenazahnya Ho Tiong Jong.
Dengan badan bergemetar menahan rasa sedihnya Kho Kie datang menghampiri.
Ia membuka kelambu dan menatap wajahnya sang kawan beberapa lamanya.
Wajahnya Ho Tiong Jong seperti masih hidup hingga diam-diam Kho Kie tidak mengerti mengapa dengan wajah yang begini Ho Tiong Jong dikatakan sudah mati.
Ia menghela napas berulang-ulang, Ho laote, melihar air mukanya kau ini seperti yang tidak rela meninggal dunia, sebab apa kau tidak mau hidup kembali?
Ah, sebaiknya kau hidup lagi, jangan sampai banyak nona-nona itu menjadi sedih karena mu, Ho Tiong Jong seperti yang yang mendengar kata-katanya Kho Kie, matanya yang tertutup tampak seperti bergerak terbuka separuh.
Kho Kie menjadi terkejut.
Terus ia memegang nadinya, tapi tidak terasa denyutan juga badannya sudah dingin seperti mayat, Kho Kie benar-benar merasa sangat duka Saat itu, ia merasa sangat sayang sahabat karibnya ini telah menemui ajalnya dengan cara yang luar biasa.
Dalam termenung-menungnya, tiba-tiba ia mendengar ada suara wanita dan senjata yang saling bentur seperti orang yang sedang bertempur, ia menjadi heran.
Tapi tanpa memperdulikan siapa wanita yang bertempur itu, ia sudah lantas keluar melihatnya.
Suara pertempuran itu terjadi dibalik tembok pekarangan yang ia tak mungkin melompatinya karena sangat tinggi, Lantas ia keluarkan topi lancipnya untuk masuk kedalam tanah.
Ia nerobos dan keluar dibalik tembok pekarangan tadi, dilihatnya yang bertempur itu ada nona in dan cong Ie.
Mereka bertempur sengit sekali, nona in menggunakan pedang dan nona cong berpegangan sepasang golok tajam sudah lima puluh jurus mereka bergebrak, sudah kelihatan nyata bahwa nona in bukan tandingannya lagi cong Ie, pikirannya Kho Khie yang sudah menjadi sibuk, apalagi melihat serang-serangan cong-le ada berbahaya sekali, Mungkin suatu saat nona in kena dihajar oleh sepasang goloknya yang tajam.
Tiba-tiba terdengar suara nona In tertahan pedangnya kena dipukul jatuh goloknya nona cong yang tersebut duluan ketakutan dan sudah meramkan matanya untuk menerima nasib, tapi apa mau, ketika goloknya nona cong membabat, mendadak nona in sudah menghilang entah kemana, hingga goloknya hanya membabat angin.
cong le tertegun sekian lamanya, ia Celingukan mencari-cari musuhnya, akan tetapi tidak kedapatan disekitarnya.
Meskipun ia penasaran ingin mencarinya, tapi keinginan lekas lekas ingin melihat wajahnya Ho Tiong Jong ada lebih mempengaruhi hatinya.
cepat ia enjot tubuhnya melompati tembok peka rangan, kemudian masuk kedalam kuil Po-im-yan untuk melihat jenazahnya Ho-Tiong Jong.
Ketika ia memasuki kamar jenazahnya Ho Tiong Jong, dengan airmata berlinanglinang ia membuka kelambu tempat tidur ia menatap wajahnya si pemuda yang cakap tampan sambil bercucuran air mata.
Ia berlutut ditepi pembaringan dan mengusap-usap pipinya sipemuda yang sudah menjadi dingin.
Hatinya sedih seperti disayat pisau.
Belum lama ia berkenalan dengan pemuda ini, hatinya sudah tertawan dan ia meskipun diluarnya bersikap keras dalam hatinya sangat memuja kepada pemuda yang sekarang sudah jadi mayat ini.
Ia menangis terisak-isak sekian lamanya, Sambil menatap lagi parasnya Ho Tiong Jong, ia mengusap-usap lagipipinya danjidatnya si anak muda, Engko Ho, aku tidak nyana kau sebegini pendek umur, Kau kelihatannya segar bugar, kenapa kau bisa mati secara mendadakan?
oh.
Engko Ho kau..
Si nona tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena mendadak ia lihat wajahnya Ho Tiong Jong seperti yang bersenyum, ke dua matanya yang tertutup bergerak-gerak seperti hidup, Kejadian mana membuat cong Ie menjadi ketakutan.
Kakinya lemas dibuatnya, hingga hampir saja ia tak dapat berbangkit dari berlututnya dan jatuh lemas.
Untung dia masih bisa tabahkan hatinya, dengan sekali gerakan lututnya ia lompat mundur kedekat pintu, kemudian tanpa menghiraukan lagi apa yang akan terjadi lebih jauh dengan jenasahnya Ho Tiong Jong, si nona sudah angkat kaki melarikan diri terbiritbirit.
Dengan napas masih tersengal-sengal ia sudah berada pula di ruangan perjamuan, dimana banyak orang tengah bercakap-cakap sambil tertawa-tertawa ramah.
Rasa ketakutannya sudah tidak mencengkeram lagi hatinya.
Him Toa Ki yang selalu memperhatikan sumoaynya, melihat wajahnya sang sumoay datang pula kedalam ruangan demikian pucat dan napasnya tersengal-sengal, sudah lantas menanya.
Hei sumoay, kau menemui apa seperti yang ketakutan dan wajahmu pucat sekali?
Kiii kata cong Ie sambil bergidik.
Kau kenapa, sumoay?
Si nona tidak lantas menjawab, hanya menatap wajahnya sang suheng seperti yang sudah tidak sabaran sekali, karena pertanyaannya belum dijawab.
Setelah di tanya pula, cong le lalu menjawab Suheng, apa kau percaya adanya setan dalam dunia ini?
Aku tidak percaya, karena belum melihatnya.
Suheng, mungkin setan itu ada.
Hanya orang yang bintang terang saja tak dapat melihatnya ia..
Hei, ada apa?
Him Toa Ki mendengus, Tapi cong Ie tidak menjawab, hanya kepalanya digeleng-gelengkan dan matanya mengawasi ketempat seorang udna yang sedang dirubung-rubung oleh banyak tetamu perempuan, kelihatannya mereka riang sekali bercakap-cakap KlRANYA nona yang menjadi pusat perhatian itu ada nona Seng Giok Cin, puterinya Pocu dari Seng-kee-po yang cantik luar biasa.
ooOOoo Bagaimana dengan mendadak nona menghilang ketika mau dihajar dengan goloknya nona Ceng?
Mari kita ajak pembaca menengok pada nona In.
Nona In yang mendadak menghilang, adalah perbuatannya Kho Kie didalam tanah.
Kho Kie yang melihat nona In dalam bahaya, sudah lantas menarik masuk kedalam tanah, Nona In sebenarnya sudah terbang dengan semangat ketika pedangnya di pukul jatuh oleh goloknya nona Ceng, kemudian ia pejamkan matanya terima binasa, Tak dinyana ia rasakan dirinya seperti ada yang telah menolongi dan masih hidup dalam dunia.
Saat itu dalam pelukannya Kho Kie.
Apakah aku ini masih hidup atau sudah berada dalam neraka?
terdengar ia berkata-sendirian.
Nona In, kau masih hidup, Karena aku tarik kau masuk kedalam tanah, tak sampai putus batang lehermu dan menghadap Giam-lo-ong.
Ha ha ha apa kau kenali aku ini Kho Kie?
Nona In menghela napas.
Karena kuatir lama-lama nona In dalam tanah bisa mati pengap.
maka Kho Kie sudah cepat-cepat bawa lagi si nona keluar dari tanah untuk menghirup udara segar lagi.
Nona In sudah berdiri lagi menginjak tanah.
Sambil merapihkan bajunya yang kusut dan rambutnya yang tidak karuan, matanya telah melirik pada Kho Kie yang dalam pakaian hitam dan bertopi lancip hitam, persis seperti setan penunggu gunung.
Tidak heran kalau nona In agak kaget dan hampir keluarkan jeritan tertahan, kalau tidak lekas lekas Kho Kie membuka topi lancipnya dan wajahnya yang asli tampak didepan matanya si nona.
Ah, Kho toako, betul-betul kau bikin aku mati ketakutan-..
kata si nona bersenyum.
Kho Kie tertawa nyengir.
Kho toako, kau baik sekali sudah menolongku.
coba kau tidak ada, tentu rohku sudah melayang dan menemui GIaM-lo-ong seperti barusan kau katakan-.
Eh, nona In kau jangan bilang begitu, Aku menolong karena merasa senang kepada MU..
tapi ah, aku terlalu banyak bicara, nanti kau marah.
Nona In bersenyum manis.
Nona pelayan ini selain romannya cantik manis, juga ramah tamah dan lincah sekali, hingga menarik perhatiannya Kho Kie.
ia senang terkadang suka melamun, kalau boleh ia akan jadikan nona In itu sebagai kawan hidupnya.
Nona In mengerti kemana juntrungannya Kho Kie bicara, maka ia tidak menegur dan hanya bersenyum manis, Kho toako, atas pertolongan ini aku tidak tahu bagaimana aku harus membuang terima kasih kepadamu kata si nona sambil matanya mengerling kearahnya Kho Kie, hingga membuat hatinya Kho Kie berdebaran.
Ah, tidak apa, tidak apa, asal..
Kho Kie berkata tidak lampias, Hei, Kho toako, kau jelaskan asal apa?
Kho Kie ketawa nyengir.
Lagak-lagunya yang Jenaka ini yang membuat nona In suka kepadanya, tambahan si nona tertarik hatinya oleh riwayatnya Kho Kie yang sedih.
Kho toa ko, jangan main-main, lekas jelaskan, asal apa sih?
sambil mengerling.
Tidak, tidak, ah, biarlah lain kali saja..
Nona In kewalahan, ia meng kerutkan alisnya yang lentik bagus dan menatap wajahnya.
Si Setan tanah hingga yang diawasi menjadi tundukkan kepalanya, sebentar kemudian Kho Kie mengangkat kepalanya dan menanya.
Nona In, bagaimana kau bisa ketemu nona dan bertempur?
oh, iya, aku belum menuturkan padamu, jawab nona In Aku dengar nonaku barusan ada dalam kamarnya jenazah Ho Siangkong.Tiba tiba ada pelayan mengabarkan bahwa Lo-pocu ada mencari nonaku, maka ia dengan terburu-buru sudah meninggalkan kamar jenazah dan memesan aku menyusul belakangan, justru aku mau menyusul nonaku, aku telah berpapasan dengan nona cong.
Aku menanyakan maksud kedatangannya ia menjawab angkuh sekali, hingga hatiku merasa tidak senang, Kita jadi bertengkar kesudahannya telah diselesaikan dengan pertempuran yang hampir hampir saja..
Ia cukup perkataannya dengan menjura hormat sekali pada Kho Kie, mengucapkan rasa terima kasihnya, hingga Kho Kie menjadi gugup menyambutnya.
Jangan, jangan-..
buat apa mengucapkan terima kasih aku hanya..
Ia berkata sambil tangannya diulur menyekal lengannya si nona, yang menjerit tertahan karena kesakitan itulah lengan yang terluka barusan bertempur dengan cicng ie, maka tidak heran kalau tersentuh oleh Kho Kie menjadi kesakitan.
Kho Kie tarik pulang tangannya.
Maaf, maaf aku tidak sengaja menyentuh lenganmu yang terluka, Nona In, mari kasih aku lihat bagian mana yang terluka aku dapat mengobatinya.
Nona In tidak menjawab, hanya matanya menatap Kho Kie dan selebar mukanya menjadi merah karena merasa jengah.
Setelah melemparkan senyuman, ia enjot tubuhnya melalui tembok pekarangan meninggalkan Kho Kie yang jadi melongo dibuatnya.
Nona In ketika mampir kekamamya Ho Tiong Jong dan melihat jenazahnya Ho Tiong Jong bergerak-gerak seperti mau bangun, bukan main kagetnya.
Lantas saja ia melarikan diri tanpa menoleh lagi kebelakang.
Kho Kie yang jadi kebingungan karena tidak dapat melompati tembok pekarangan lalu mengeluarkan pula topi wasiatnya dan masuk kedalam tanah.
sebentar lagi ia sudah berada pula didalam kamarnya Ho Tiong Jong.
Kali ini ia kaget benar-benar, karena Ho Tiong Jong dilihatnya sudah duduk dipembaringan sambil menggerak-gerakannya tulang-tulangnya yang telah berbunyi kretek kretek beberapa kali.
Diam-diam dalam halnya Kho Kie berkata, Ho laote, kau mati penasaran makanya juga kau menjadi mayat hidup, Aku adalah sahabat karibmu, janganlah kau membikin ketakutan sampai mati konyol.
Ia pikir lagi, dirinya berbaju kulit kebal yang tak mempan senjata tajam atau pedang maka kalau benar-benar IHo Tiong Jong mencekik padanya, paling banyak ia mati konyol tidak sampai dirinya kena dibakar.
Memikir kesini hatinya menjadi besar lagi tidak takut menghadapi mayat hidup Ho Tiong Jong.
Sebentar lagi kelihatan Ho Tiong Jong turun dari pembaringan mengulurkan tangan dan kakinya digerak-gerakan dan tubuhnya juga bergerak-gerak seperti kepegelan.
Tiba-tiba terdengar ia berkata.
Hei, aku ini sekarang berada dimana?
Kho Kie yang mendengarnya menjadi heran, matanya terbelalak.
Dia tidak mati , katanya dalam hati, Terus ia lompat menghampiri dan berteriak.
Hei, loate, kau tak jadi mati?
Suaranya Kho Kie menyelusup ketelinga Ho Tiong Jong yang masih dalam linglung.
Perlahan-lahan ingatannya berkumpul lagi, Teriakannya Kho Kie mengingatkan ia kepada kejadian ia telah menelan pil dari nona In atas suruhannya nona Seng.
Ia pikir, dirinya ternyata tidak mati.
Hei, apakah aku ini tidak mati?
Tidak mati, sebab apa?
ia berkata sendirian sambil lompat kegirangan memeluk Kho Kie.
Sebentar lagi Ho Tiong Jong mendorong badannya Kho Kie dan berkata.
Hm, Kho toako, apa barusan kau masuk ke dalam tanah?
Bajumu begini dingin, bahkan masih banyak lumpurnya.
ya memang barusan aku keluar dari tanah.
jawab sang kawan sambil nyengir.
Kemudian ia menceritakan pengalamannya yang barusan terjadi.
Ho laote.
katanya sebagai penutup bicaranya, bajuku ini terbikin dari sutera ular es dari kutub utara, tak dapat robek atau di-lekati lumpur.
Badanku terlindung dari goresan apapun, senjata tajam maupun peluru.
Tapi ya, baju karena kelamaan akhirnya bisa robek dan hilang juga pengaruhnya terhadap lumpur, seperti buktinya sekarang kau lihat..Ha ha ha..
Ho Tiong Jong tidak memperhatikan bicaranya sang kawan, hanya matanya berputaran melihat kesekelilingnya.
Bukan main girangnya diam-diam dalam hatinya berkata Aku tidak matinya betul aku..
Bagaimana aku bisa tidak mati sesungguhnya ada suatu teka teki, Ah.
Tuhan rupanya kasihan orang yang tak berdosa, aku tidak mati.
Kho Khie melihat sahabatnya seperti sedang melayang-layang pikirannya, saat itu ia ingat akan sesuatu, maka ia cepat ulur tangannya merogoh kedalam sakunya dan dikeluarkan kotak pil yang diberikan nona In kepadanya.
Ho laote.
katanya, dalam kotak ini ada sebutir pil lagi yang kau belum telan, apa kiranya kau berani menelannya.
Ho Tiong mengawasi kotak kecil itu beberapa lamanya, kemudian perlahan-lahan mengulurkan tangannya untuk menerimanya dari Kho Kie.
ia membuka, dalam mana memang masih ada sebutir lagi temannya pil yang telah ia telan, matanya mengawasi pil ajaib itu sejenak.
kemudian berkata.
Kho toako apa pil ini yang tulen?.
Ya, aku tidakjelas, menurut katanya nona In yang tulen, tapi kenyataannya sekarang kau tidak mati.
Ho Tiong Jong sudah ambil keputusan, ia tidak perduli pil itu yang tulen atau beracun, ia sudah jumput dan menelannya lagi, Kemudian ia jatuhkan diri dipembaringan, berkata kepada Kho Kie.
Kho toako, kali ini kalau aku benar-benar mati, kau jangan bersusah hati.
Soal mati hidup ada ditangannya Tuhan Yang Maha kuasa, Orang semacamku perlu apa hidup lama-lama dalam penderitaan, lebih baik mati tidak ada ceritanya lagi.
Kho Kie bengong melihat keberaniannya sang sahabat yang tanpa ragu-ragu telah menelannya pil yang masih dalam teka-teki beracun atau tidaknya.
Ho laote.
katanya.
aku harus memuji padamu yang demikian tabah sudah berani menelannya.
Kalau untuk orang lain, aku berani pastikan tentu tidak berani.
Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia pejamkan matanya rebah diatas pembaringan seolah-olah ia sedang menantikan reaksinya pil yang ditelannya tadi.
Ho Tiong Jong merasa heran.
Ternyata dengan menelan pil yang satunya itu bukannya ia mati, akan tetapi pelahan-lahan ia rasakan perubahan yang tidak didugaduga dalam tubuhnya, semangatnya dirasakan tambah berlipat ganda, bukan main segarnya dan badannya dirasakan kuat sekali.
Mendadak ia lompat bangun dan berkata pada Kho Kie.
Kho toako, pil tadi bukannya pil kematian sebab aku rasakan perubahan dalam tubuhku.
Bukan saja semangatku bertambah, tapi kekuatanku juga bukan main rasanya, Badanku merasa sangat segar, yang tadi ini tentu betul Siauw hoan-tan-Kho Kie yang nendengarnya pun merasa girang.
Kalau begitu, coba kau mainkan ilmu pukulan tangan kosong yang aku ajari padamu.
katanya pada sianak muda.
Ho Tiong Jong menurut.
Kho Kie setelah melihat Ho Tiong Jong habis memainkan ilmu pukulannya menjadi putus asa, karena dilihatnya Ho Tiong Jong tidak mendapat kemajuan apa-apa.
Hanya semangatnya saja betul tampak berubah banyak.
Maka ia pikir, pil itu hanya untuk menipu orang saja, tidak ada faedahnya.
Pil itu sudah lama disimpan-kata Ho Tiong Jong, mungkin kasiatnya sudah lumer.
sebab menurut katanya nona In pil ini kalau dimakan kita akan mendapat keuntungan seperti juga kita sudah berlatih tenaga dalam puluhan tahun lamanya.
Kho Kie tidak menjawab, Kedua-duanya terdiam beberapa lama, kemudian Kho Kie yang membuka suara mengajak Ho Tiong Jong untuk meninggalkan kamar jenazah itu.
Tapi toako kata IHo Tiong Jong, bagaimana aku bisa pulang ke benteng karena mereka menganggap aku ini sudah mati?
Aku pikir, biarkan saja mereka menganggap aku sudah mati, Kelak kemudian hari aku dapat malang melintang didUnia kangouw dengan nama baru, tentu saja sebelumnya ini aku harus mencari dahulu suhu yang berkepandaian tinggi.
Baiklah, kata Kho Kie setelah berpikir sejenak cuma aku harus mengambil buntelanku dan golokmu dahulu di benteng kita baru bersama-sama melarikan diri dari sini.
orang lihat aku berlalu sendirian, mereka tentu tidak curiga aku melarikan jenazahmu, bukan?
Ho Tiong Jong setuju dengan pikirannya sang kawan-Mereka lalu keluar dari kuil Po-im yan.
Setelah melewati rimba bambu, IHo Tiong Jong sembunyi dibawahnya sebuah pohon besar, sedang Kho Kie meneruskan langkahnya menuju ke benteng.
Ho Tiong Jong menengadah ke langit yang diterangi oleh sinarnya bintang-bintang.
Malam itu ada demikian sunyi, hingga pikirannya jadi melayang-layang kemasa lampau yang terus terusan hidup menderita kesedihan.
Dalam keadaan termenung-menung demikian, ia tidak berasa ada dua bayangan yang mendekati kepadanya.
Kapan mereka itu perdengarkan suara ketawanya yang aneh, barulah Ho Tiong Jong menjadi kaget.
Ia berpaling kebelakang dan dilihatnya ia punya musuh tampak berdiri dihadapannya.
Mereka itu ada Sepasang orang ganas Teng Hong dan Lauw cica Teng.
Bagus, bagus..
kata Teng Hong, Kita dapat berjumpa muka lagi disini.
Lauw coe Teng menambahkan Ho Tiong Jong, meskipun kau bersembunyi di tempatnya orang she Seng, kau tidak akan berluput dari kepala besarku ini sambil memperlihatkan kepelannya yang gede.
Ho Tiong Jong marah mendengar kata-katanya Lauw coe Teng, Sahabat, kau jangan banyak jual lagak.
Kalau ada kepandaian boleh keluarkan semua untuk menghadapi kau punya tuan muda.
Sepasang orang ganas murka bukan main, terus mencabut senjatanya masingmasing dan berbareng menyerang kepada Ho Tiong Jong yang tidak bersenjata.
Tapi Ho Tiong Jong berani, ia tidak menghiraukan senjatanya, sepasang orang ganas itu, ia keluarkan kepandaiannya ilmu pukulan telapak tangan Kunci Gi Nio lang ajaran Kho Kie, yang ia mainkan mengeluarkan angin hebat sekali.
Teng Hong dan Lauw coeTeng lompat mundur, mereka menjadi heran sekali ilmu yang dimainkan Ho Tiong Jong lihay sekali.
Sebenarnya sianak muda sendiri tidak menginsafi pukulannya yang ampuh itu, ia hanya merasakan bahwa tenaganya sudah bertambah berlipat ganda ia mainkan ilmunya seperti gapah sekali.
Ia terus mendesak kepada Lauw coe Teng dengan serangan totokan dan telapakan tangan hingga orang she Lauw itu terdesak mundur, senjata Poan-koanpil ditangannya tidak berdaya menangkis ceceran IHo Tiong Jong.
Teng Hong yang melihat saudaranya terdesak lantas menggerakkan senjata gaetannya nyerbu mengerubuti Ho Tiong Jong, tapi pemuda itu tidak takut.
Hanya semakin tabah setelah mendapat kenyataan reaksi dari hasil latihan Iweekang yang dipelajari dari ayahnya Kim Hong Jie tempo hari.
Kalau tadinya, sebelum ia mendapat tambahan tenaga yang berlipat ganda itu, tenaga dalamnya tidak memberikan pengaruh apa apa, kini telah memperlihatkan kefaedahannya yang membuat Ho Tiong Jong diam-diam menjadi sangat kagum sendiri.
Meskipun bersenjata, Teng Hong dan Lauw coe Teng tidak berdaya menghadapi Ho Tiong Jong yang bertangan kosong, Ho Tiong Jong merasakan tenaganya sangat kuat, seperti ada tenaga yang tidak kelihatan membantunya ia menggempur musuhnya.
Sebenarnya, bukanlah begitu adanya, Ho Tiong Jong punya latihan Iweekang tempo hari yang sudah mahir, belum kelihatan reaksinya karena ia belum mempunyai tenaga yang luar biasa dan kuat, sekarang karena sudah mendapat tenaga ajaib dari dua pil yang telah ditelannya itu, membikin latihannya seperti sudah mencapai puluhan tahun, hingga dengan kontan latihan Iweekang tempo hari telah memperlihatkan reaksinya yang luar biasa.
Semakin lawannya menyerang hebat, Sin kang (tenaga sakti) Ho Tiong Jong semakin kuat dan lincah sekali gerakannya.
Serangannya dengan totokan yang lihay dan telapakan tangan yang menghembuskan angin dahsyat, cukup membikin sepasang orang ganas mengeluh dan copot nyalinya untuk menghadapi lebih jauh.
Ho Tiong Jong yang dianggapnya tadi akan menjadi mangsanya yang empuk.
Sebentar lagi tanpa senjata Poan koanpit Lauw coe Teng sudah terlepas dari pemiliknya, lalu disusul oleh teriakan dan tubuhnya Lauw coe Teng rubuh sambil memuntahkan darah segar karena pukulan telak telapakan tangan Ho Tiong Jong.
Teng Hong juga kemudian rubuh dengan dapat luka parah didadanya kena totokan jarinya Ho Tiong Jong.
Betul-betul Ho Tiong Jong seperti sudah salin rupa, ia seolah-olah bukan Ho Tiong Jong si calon piauwsu tidak laku, hanya ada Ho Tiong Jong yang akan menjadi pendekar ulung dalam rimba persilatan.
Setelah melihat dua musuhnya menggeletak ditanah, diam-diam Ho Tiong Jong mengucapkan rasa syukurnya kepada ayahnya Kim Hong Jie yang telah melatih lweekang kepadanya demikian baiknya, disampingnya sudah tentu kepada nona Kam Hong Jie sendiri yang menjadi perantarannya, perasaan terima kasih lainnya ia tujukan kepada nona Seng yang telah menaruh perhatian besar kepadanya dengan memberi kuda dan golok pakaian, serta pil mujijat yang membikin dirinya dirasakan seperti Ho Tiong Jong yang baharu dijelmakan lagi.
Ho Tiong Jong melirik pada sepasang orang ganas yang menggeletak ditanah, satu sudah melayang jiwanya dan yang satunya lagi napasnya sudah empas-ampis menanti saatnya untuk pergi ke neraka.
Diam-diam IHo Tiong Jong merasa bersyukur sudah menjatuhkan dua orang jahat iiu, ia tidak menyesal akan pukulannya yang terlalu berat tadi atas dirinya dua penjahat itu.
karena dipikirnya, ia berbuat demikian ada satu kebaikan telah menyingkirkan kejahatan untuk keselamatannya rakyat.
Tiba-tiba ia pikir, dua manusia jahat diwaktu malam keluyuran dalam benteng Seng kee-po, apa perlunya?
Tentu mereka ada mempunyai maksud jahat, ia lalu jalan menghampiri dua penjahat itu untuk menggeledah badannya.
Tiba-tiba Teng Hong yang terluka parah telah menggeram.
Hmm..
ada satu waktu nanti pembalasan datang untuk perbuatanmu terhadap kami orang Seng Giok Cin benar benar nasibnya baik, hingga aku tidak bisa tidur sama-sama dengannya.
Kau ini orang she Teng tidak takut mampus memotong Ho Tiong Jong bengis.
Hmm..
hmm..
ia menggeram.
Kalau aku takut mati, sudah tentu tak datang kesini, Kau berani membunuh aku?
Hmm..
benar-benar kau ada satu jagoan-..
Belum lampias omongannya, kakinya Ho Tiong Jong sudah diayun menendang tubuhnya penjahat licin itu, hingga terpental beberapa tombak jauhnya, setelah berkelejetan sebentar ia minta berhenti jadi orang, menyusul rohnya Lauw cu Teng yang sudah berangkat lebih dulu keneraka.
Setelah membunuh dua orang jahat itu, mayatnya mereka disembunyikan oleh Ho Tiong Jong dibaliknya pohon besar, ia sendiri juga mencari tempat sembunyi menanti kedatangannya Kho Kie.
Saat itu angin meniup kencang, hingga daun-daun yang membentur satu dengan lain lelah menerbitkan suara berisik, Di langit hanya kilauan bintang-bintang yang berkelap-kelip menerangi sang malam yang gelap.
Tiba-tiba pikirannya melayang kepada kejadian beberapa waktu berselang, ketika ia melihat pertemuannya dua orang ialah si hidung pesek she Khoe dan Li-Io sat le Ya.
Dipikir bulak-balik, dilihat dari tingkah lakunya itu, mereka seperti ada bersekongkol, dan ancamannya Li-lo sat kepadanya supaya ia tidak mengeluarkan tentang pertemuannya mereka.
Ho Tiong Jong menduga akan maksud jahat dari kedua orang itu terhadap keluarga Seng dari Seng-kee-po itu, Entah apakah yang menjadi sebabnya.
Selagi ia memikirkan hal itu, tiba-tiba telah dibikin kaget oleh sesosok bayangan hitam dibarengi oleh suara aneh meluncur turun dari udara.
Ketika ditegasi, kiranya ada satu pengemis tua dengan pakaiannya yang compangcamping dan kaki telanjang dipegangnya ada melihat senjata bandringan, Melihat keadaannya orang tua pengemis itu orang bisa merasa kasihan, akan tetapi bila melihat wajahnya yang beringas dan matanya bersinar kejam, sepertinya orang akan merasa ketakutan dibuatnya.
Ho Tiong Jong menduga pengemis tua ini ada seorang kejam dan telengas.
Memang tidak, orang itu ada Tok-kay Kang Kicng (si Pengemis Beracun Kang ciang).
Sudah lama ia mengasingkan diri.
Tadinya ia ada kepala rampok dan menganggap membunuh jiwa manusia itu sebagai barang mainan saja.
Ilmu silatnya tinggi, banyak orang sungkan berurusan dengannya dan sangat ditakuti, Tempat tinggalnya tidak ketentuan, sebentar disana dan sebentar banyak musuhnya ia takut dengan pembalasan mereka itu.
Tok-Kay Kang ciong tampak Celingukan memeriksa keadaan disekitarnya, lalu mengerutkan alisnya seperti yang merasa cemas.
Terdengar ia berkata sendirian-Hm..
dua tikus itu berani main sandiwara padaku?
Kemana mereka sudah pergi?
Setelah berpikir sejenak.
dilihatnya kembali keadaan disekitarnya.
Ya, sungguh heran sekali dua tikus itu berani menipuku, Mereka tentu sudah berhasil membawa pergi benda itu, Entah kemana perginya?
Ho Tiong Jong menduga dua tikus yang di maksudkan oleh Tok-kay Kang ciong tentu ada sepasang orang ganas yang ia barusan binasakan, Mungkin Kang ciong sudah berjanji matang dengan Sepasang orang ganas untuk menyatroni Seng-kee-po dan membawa kabur suatu benda, yang kemudian akan dibagi rata atau Sepasang orang ganas dapat upah untuk mereka punya capai lelah.
Kalau demikian, semua itu ada maksud membuat rugi keluarga Seng.
Entahlah, apa Kang ciong juga akan iseng-iseng mempertontonkan ilmunya dalam pertemuan pibu atau tidak.
Tok-kay Kang ciong tiba-tiba terdengar lagi berkata sendirian.
Ya, setelah aku membalas dendam, aku akan dapat benda wasiat yang berharga, tapi mereka dapat nona cantik, Hm perdagangan begini sebenarnya tidak menguntungkan diriku, Nah, baiknya mereka tidak mentaati janji datang kemari.
Sudahlah, kau pengemis tua, nanti kau dapat marah dari sinenek Rumah Es di Tay-peksa serakah amat sih..
Kata-kata ini dapat didengar tegas oleh Ho Tiong Jong.
Kini ia tahu, bahwa nona Seng itu ada muridnya dari Kok Lo-io, pemilik Rumah Es di Tay-pekssan, hatinya menjadi berdebar-debar.
Tiba-tiba terdengar suara sat..
sat dari tanah yang rendah, Tok-kay Kang ciong terkejut, lalu memasang telinganya.
Gerak-geriknya ditonton oleh Ho Tiong Jong.
Anak muda ini pikirannya telah melayang kepada nona Seng yang baik hati, memperhatikan dirinya luar biasa, maka ia telah mengambil keputusan apa juga akan terjadi ia musti membela nona seng.
Kembali terdengar suara tadi dibarengi dengan keluhan.
Tok kay Kang ciong yang mendengar itu cepat enjot badannya melesat kearah tempat darimana keluarnya keluhan tadi, Diam-diam Ho Tiong Jong menanya pada dirinya sendiri, Apa itu keluhan Teng Hong yang belum mati?
Kalau dia belum mati setelah ketemu Tok-kay niscaya dia akan menceritakan hal diriku yang membunuh kepadanya, selain itu, Tok-kay tentu mengambil benda wasiat yang ada d isaku bajunya.
Ah.
kenapa aku bodoh amat tidak menggeledah bajunya tadi?
Tok-kay dilain pihak ketika melihat dua mayat didepan matanya, tampak mengunjukkan wajah beringas, Alisnya dikerutkan, setelah menghela napas sejenak terus memeriksa tubuhnya dua mayat itu, dua tikus yang tadi ia maki-maki.
Lauw coe Teng ternyata kena pukulan telepak tangan, hatinya tergetar dan mati karenanya.
Ketika melihat lukanya Teng Hong, ia terkejut juga, sebab Teng Hong terkena pukulan Kim ci Gini ciang ilmunya San-yu Lo long, ia memaki-maki dengan gemas kepada orang yang mencelakakan dua kawannya itu, lalu ia menggeledah seluruh badannya Teng Hong dan Lauw coe Teng, tapi tidak kedapatan benda wasiat yang dimaksudkan.
Setelah puas memeriksa, lantas ia perdengarkan suara ketawanya yang panjang tubuhnya berbareng melesat dan menghilang di telan oleh kegelapan.
Ho Tiong Jong saat itu bengong terlongong-longong.
Tiba-tiba ia disadarkan oleh suara sat, sat lagi tidak jauh daripadanya, dilihatnya tanah mumbul, kemudian disusul dengan munculnya benda lancip, Inilah ada topi wasiat-nya Kho Kie yang keluar dari tanah, sebentar lagi orangnya juga telah muncul dari dalam tanah.
Ketika Ho Tiong Jong datang menghampiri Kho Kie berkata padanya.
Hmm..
kau laote masih untung kau tak dapat dilihat oleh Tok kay Kang ciong, seorang yang jahat dan kejam hatinya Kho toako, aku sudah menbunuh dua orang penjahat disini.
kata Ho Tiong Jong yang tidak meladeni kata katanya sang kawan tentang Tok-kay.
Dua penjahat siapa?
Dua penjahat yang dikenal dengan julukannya, sepasang orang ganas, yang terkenal kejam dan teleng as kepada rakyat jelata.
Oh, mereka?
Tapi bagaimana kau dapat menang dari mereka yang ilmu silatnya tidak rendah, apalagi kau dikerubuti tentunya Berkat pil Siauw-hoan-tan yang mujijad Apa?
Pil Siauw hoan-tan?
Ya, pil siauw hoan-tan?
Ah, laote, itu tidak mungkin, Paling banyak pil itu menambah kekuatan tenaga berlipat ganda, tapi apa gunanya kalau tidak berkepandaian ilmu tenaga dalam (lwekang) yang mahir.
Buktinya, ketika aku minta kau perlihatkan ilmu silat yang barusan kau pelajari dariku kelihatannya tidak selincah seperti yang aku bayangkan semula.
Ho Tiong Jong bersenyum bangga.
Kho toako, katanya, kau tidak tahu, aku sebenarnya sudah mempunyai dasar latihan lweekang yang sempurna.
Hanya saja karena aku kekurangan tenaga dan ilmu itu harus dilatih bertahun-tahun baru mendapatkan tenaga yang sesuai, maka faedahnya tak dapat terlihat.
Tapi..
Ho Tiong Jong bersenyum, tampak ia gembira sekali, tapi berhenti kata-katanya sampai disitu, hingga membikin Kho Kie jadi tidak sabaran.
Tapi, apa lekas katakan, aku sebagai sahabatmu tentu akan merasa senang dan bangga mendengarnya.
Demikian ia mendesak si anak muda.
Tapi sesudah aku menelan itu dua pil mustajab, dengan mendadakan kekuatanku telah tambah berlipat ganda, Reaksinya ada luar biasa terhadap lweekang yang ada padaku yang sekian lama tidak bekerja.
Dengan menggunakan gaya pukulan Kim ci Gini clang yang didapat dari toako, aku tempur mereka dengan hebat sekali.
Telapakan tanganku berkesiur mengandung angin dahsyat, totokanku meluncur bertubi-tubi, sehingga mereka kewalahan.
Mereka bersenjata, sedang aku bertangan kosong, tapi mereka tidak berani datang mendekati karena ngeri dengan serangan totokan dan telapakan tanganku yang hebat luar biasa, Ha ha ha, toako aku harus mengucapkan terima kasih atas untuk ilmu pukulan yang kau telah turunkan padaku.
Ho Tiong Jong tutup kata-katanya sambil menjura dalam-dalam, mukanya berseriseri gembira, hingga Kho Kie yang melihatnya menjadi terlongong-longgong.
Hai, apakah benar ada kejadian demikian?
akhirnya Kho Kie dapat membuka mulut berkata.
Memang begitu kenyataannya toako juwab Ho Tiong Jong bersenyum-senyum.
Kho Kie menjublek sekian lama, seperti juga ia sedang berkutat dengan pertanyaan, apakah mungkin kenyataannya ada demikian seperti pengakuannya Ho Tiong Jong?
Kho toako mari kita mencari nona Seng, kata Ho Tiong Jong tiba-tiba.
Kho Kie terkejut, ia menatap wabahnya si-anak muda.
Mencari nona Seng, untuk apa?
apa kau menyintai dia?
tanya Kho Kie.
Hayo, toako, kau jangan bergurau, sebentar kalau si pengemis Beracun itu kembali lagi, kita bisa mendapat susah karenanya, Susah apa?
jawab Kho Kie tenang.
Tapi, eh, tunggu dahulu, kita tanam dua bangkai ini dahulu, baru bicara tentang urusan kita melarikan diri.
Ho Tiong Jong anggap bicaranya Kho Kie memang benar, maka ia dengan kawannya lantas bekerja, Tiba-tiba mereka dibikin kaget melihat pakaiannya dua mayat itu semuanya hangus, gara-gara kena terpegang oleh tangannya Tok-kay Kang ciong yang beracun.
Lihay, lihay..
menggerutu Kho Kie sambil anggukkan kepala, Kemudian dengan ilmunya nerobos tanah, Kho Kie telah membikin dua lobang untuk mengubur mayatnya Sepasang orang ganas yang tamat riwayat ditangan Ho Tiong Jong yang semula yang bermula sangat dipandang rendah.
Setelah selesai mengubur mereka lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Terdengar Kho Khie berkata pada Ho Tiong Jong.
Ho laote, kau membunuh mereka berdua dengan ilmu Kim ci Gi Ni Ciang sudah meninggalkan tanda bekas dibadannya mereka itu, itu pengemis tua yang melihatnya, tentu akan menyangka bahwa perbuatan itu dilakukan olah guruku.
Ho Tiong Jong kaget kaget, mukanya berubah seketika ia tidak memikir sampai disitu, maka ia lantas berkata.
Kalau begitu aku harus mengejar pengemis jahat itu untuk membunuhnya.
Kho Kie terkejut.
Ho laote, katanya, memang betul ilmu silatmu sudah bagus, tapi bagaimana juga tidak dapat menempur orang yang berilmu tinggi, yang latihannya sudah mencapai lima puluh tahun dengan susah payah.
Apa lagi kalau pengemis tua itu melihat kau menggunakan ilmu pukulan Kim-ci Ginclang sudah tentu dia akan mengetahui bahwa yang membunuh mati sepasang orang ganas adalah kau orangnya.
Ho Tiong Jong jadi bengong mendengar kata-katanya sang kawan.
Nah, kalau begitu sebaiknya aku tidak unjukan diri didepan umum sebab mereka tokh sudah memandang yang aku Ho Tiong Jong sudah mati, seandainya mereka tahu aku hidup lagi, ada sulit aku mempertanggungjawabkan soal kematianku bukan?
Ya itu betul, Memang sudah lama aku memikirkan hal itu, cara bagaimana dapat mengatasinya.
Keduanya terdiam sebentar.
Eh Kho toako, kata Ho Tiong Jong, jadi aku mendapat dengar Tok kay ada bermusuhan dengan keluarga Seng, Aku ini sudah menerima budi kebaikannya nona Seng, bagaimana juga aku harus membelanya.
Soal menang kalah itulah ada urusan lain, aku tidak memikirkannya, asal aku dapat menunjukkan bahwa aku Ho Tiong Jong ada menjunjung tinggi budi kebaikannya orang.
Kho Kie menghela napas.
ooOOoo KALI ini Kho Kie berkata-kata dengan serius, tidak sebagaimana biasanya ia suka bergurau dan lagaknya sangat Jenaka mengitik urat ketawa.
Ho laote.
kata pula Kho Kie Bicara terus terang, dengan lain orang aku suka bersenda gurau dengan tidak mau tahu urusannya, Tapi terhadap kau ada lain, aku hargakan kau sebagai sahabat yang jujur dan berbudi.
Buktinya, kau mendapat setetes budi saja terus akan membalasnya sampai rela mengorbankan jiwamu, ini memang tidak salah, kau punya pikiran betul.
Tapi kalau kau dengan begitu saja hendak menerjang bahaya maut, apakah tidak sayang.
Ho Tiong Jong menatap wajahnya sahabat karibnya ini, tapi ia tidak memotong ketika Kho Kie melanjutkan bicaranya.
Kau main membela dengan membabi buta saja, tanpa mencari tahu keluarga Seng itu ada orang macam apa?
Memang betul nona Seng punya budi tak dapat kau lupakan, ia mungkin ada satu nona yang berhati mulia, tapi ayahnya..
Ayahnya kenapa?
menyelak Ho Tiong Jong.
Hmm..
Kho Kie berkata lagi.
Ayahnya punya riwayatnya hidup memalukan.
Andaikata batang lehernya harus dipenggal agaknya masih belum lunas menebus dosanya.
Semua kepala-kepala dari Perserikatan Benteng perkampungan satu persatu harus digantung mati sebagai hukuman atas perbuatan-perbuatannya yang tidak benar.
Ho Tiong Jong berdebar hatinya mendengar cerita Kho Kie yang diucapkan dengan sungguh-sungguh, Diam-diam dalam hatinya menanya.
Kenapa ayahmu harus dipenggal?
Dan kepala kepala dari Perserikatan Benteng perkampungan kenapa harus digantung mati?
Apa sebenarnya yang mereka telah perbuat sehingga harus menebus dosanya dengan kematian.
Meskipun ia berpikir deikian, ia tidak memotong dan menanyakan apa-apa kepada Kho Kie yang kelihatannya sangat bernapsu untuk menginsafi pikirannya Ho Tiong Jong yang hendak menerjang bahaya secara membabi buta.
Ho laote, berkata pula Kho Kie dengan serius, Andaikata nona Seng ada mengandalkan ayahnya punya keangkeran, aku amat menentang kau membela matimatian kepada nona Seng Ho Tiong Jong tertawa mendengar kata-katanya sang kawan, ia berterima kasih untuk perhatian yarg besar itu atas dirinya, Pikirnya, mungkin ia tidak mendapatkan yang keduanya lagi sahabat karib macam Kho Kie yang jujur ini.
Maka sambil tertawa ia berkata kepadanya.
Kho toako, legakan hatimu, Kau jangan kuatir, aku dapat menimbang dengan kepala dingin akan tindakanku yang kuambil soalnya Tok-kay itu, aku hendak mengambil jiwanya bukan karena dari sebab dia bermusuhan dengan keluarga Seng saja, tapi dia sudah terlalu banyak menumpuk dosa membikin susah pada rakyat jelata.
Kho Kie menghela napas.
Ia tidak berdaya untuk mencegah maksudnya anak muda yang keras ini, yang kukuh hendak mengejar juga Tok kay Kang ciong yang berilmu tinggi.
Ho laote, baiklah, aku tidak dapat menghalang-halangi maksudmu yang mulia, hanya aku pesan sukalah kau menjaga diri hati-hati sebab orang yang kau hendak bereskanjiwa nya itu ada seorang yang berilmu tinggi.
Kau bukan tandingannya.
Nah terimalah ini sedikit uang perak untuk bekal kau diperjalanan, Tiga hari kemudian boleh kita ketemu lagi disini untuk saling menukar kabar.
Ho Tiong Jong terima pemberian uang Kho Kie itu dengan perasaan sangat terharu.
Terima kasih, semoga dengan berkat doa restu toako kita akan berjumpa h pula nanti dalam keadaan selamat..
Kho Kie kemudian menceritakan keadaan dalam ruangan perjamuan, dimana ada hadir banyak sekali tetamu yang hendak turut ambil bagian dalam dibuian diselenggarakan oleh Seng Eng dari Seng-kee-po.
Ho Tiong Jong tidak ketarik dengan beberapa nama orang-orang gagah yang disebut oleh Kho Kie, sebab hatinya masih terus melayang akan mengejar Tok-kay, bagaimana ia dapat menjatuhkan pengemis tua yang berilmu tinggi itu.
Tapi ketika sang kawan menyebutkan adanya seorang nona bernama Kim Hong Jie dengan wajah cantik luar biasa dan saban ketawa tampak sujennya yang memikat hati, ia membuka lebar matanya dan mengawasi pada Kho Kie Hei, laote, kau kenapa?
tanya Kho Kie ketawa ketika melihat arak muda itu tiba-tiba saja berubah wajahnya ketika mendengar ia menyebut namanya Kim Hong Jie.
Tidak usah, dia ada satu gadis cantik lincah, puterinya majikan dari benteng KimHong-po Apa ia hadir bersendirian saja?
memotong Ho Tiong Jong.
Aku tidak tahu, kau kenapa laote ?
Apa kau kenal dengan nona jelita itu ?
Hatinya Ho Tiong Jong berdebaran.
Ia ingat akan pengalamannya pada lima tahun yang lampau, dengan perantaran sinona cilik yang bersujen memikat itu ia telah melatih Iweekang dibawah pengunjukan engkong nya.
Bagaimana baik dan besar perhatian nona cilik itu terhadap dirinya, sampai sekarang ia tidak dapat melupakannya.
Dia..
dia sekarang sudah dewasa, entah bagaimana cantik wajahnya dia?
Ia sebenarnya ingin melihat Kim Hong Jie setelah menjadi satu nona, sebagai satu gadis cantik, apakah adat dan tabiatnya masih tetap ramah dan jenaka seperti dahulu kala?
Ah, pikirnya, ia tidak seharusnya memikirkan hal nona Hong Jie itu, sebab ia kini hendak menjalankan tugas membunuh Tok-kay Kang ciong.
Entah ia dapat kembali dengan selamat atau ia nanti mengorbankan jiwanya, itulah masih merupakan satu pertanyaan Melayangkan pikirannya sampai disini, tiba-tiba ia disadarkan oleh Kho Kie yang menegur padanya..
Ho laote, kau ngelamun jauh sekali rupanya, makanya kau menjublek sekian lama, apa kau tak pergi mengejar Tok kay dan hendak kembali ke perjamuan?
Sudahlah..
jawabnya lesu, Mari kita berpisahanKho Kie tidak banyak rewel lagi, ia menyerahkan goloknya Ho Tiong Jong untuk menjaga diri diperjalanan.
Senjata mana disambut oleh pemiliknya dengan ketawa lesu.
Setelah saling berjabat sekali lagi akan bertemu kembali ditempat itu, keduanya lalu berpisahan.
Sambil menyoren goloknya Ho Tiong Jong terus berjalan kearah mana Tok-kay Kang ciong telah pergi, sepanjang jalan pikirannya kusut, ia memikirkan tentang kepandaiannya yang hanya enam-belas dari delapan belas jurus ilmu golok keramat ditambah oleh tiga jurus ilmu pukulan Kim-ci Gini clang ajarannya Kho Kie, apakah dengan itu saja sudah cukup dapat menjatuhkan si pengemis beracun yang iihay?
la ragu-ragu akan kemampuannya jikalau ambil jalan kekerasan, maka ia harus mencari jalan menggunakan siasat, menggunakan jalan halus untuk dapat mengambil jiwanya orang kejam itu.
Tapi bagaimana akal halus itu yang ia akan ambil.
Berjalan sambil berpikir tanpa terasa lagi ia sudah melalui perjalanan lima-enam lie.
Kini badannya dirasakan sudah jauh bedanya dari pada sebelumnya ia makan dua pilnya nona Seng, ia kini dapat berjalan dengan menggunakan ilmu lari cepat yang tidak usah kalah dengan mereka yang sudah mendapat latihan puluhan tahun.
Memikir akan perubahan pada tubuhnya yang tidak terduga-duga, membikin ia jadi bersemangat.
Saat itu sudah jam dua malam, ia jalan melewati rimba dan gununggunung.
Perutnya mendadak dirasakan lapar sekali, ia bingung, dimana ia dapat mencari tempat untuk menangsal perut?
ia jalan lagi beberapa lie, dilihatnya disebelah depannya ada bangunan seperti kuil, hatinya bukan main gembira, pikirnya disitu ia dapat makanan gratis ia boleh memberi uang pada hweshio pengurus dapurnya supaya tidak banyak rewel.
Untuk membunuh Tok-kay dengan jalan mengadu kepandaian sekarang bukan waktunya, ia harus mencari guru dahulu yang pandai untuk memperdalam kepandaian silatnya sendiri.
Untuk sekarang, pikirnya ia hanya hendak menggunakan akal kalaukalau nanti berhasil.
Disekitar tempat itu ada tiga buah kuil, yang satu bernama Giok san-kuan, kedua Biauw-hoat-si dan ke tiga ceng in si.
Tok-kay Kang ciong masuk kedalam kuil Biauw-hoat-si, setelah ia pergi meninggalkan bangkainya sepasang orang ganas.
Ketika masuk kedalam, Tok-kay lihat penerangan sangat terang, Berjalan sampai diruangan sembahyang tiba-tiba matanya melihat ada seorang yang sedang duduk pada satu buntalan tengah sedang makan bubur.
orang itu seperti anak kecil, rambutnya dikepang umurnya diantara lima belas enam belas tahun.
Tapi ketika ia menegasi, hatinya terkejut bukan main, sebab ia bukannya anak kecil, hanya sahabatnya sendiri oen cie yang bergelar Hong-hwe Tong-cu (Anak Angin) dan kedatangannya Tok kay itu bukannya tidak diketahui, tapi oen ci pura-pura tidak mengetahuinya terus saja menyikat buburnya.
Hei, kau ini kapan datang?
tiba tiba itu Tok kay berteriak.
Oen ci menaruh mangkok buburnya, sambil menggoyangkan rambut kepangnya ia berkata dengan suara dingin.
Hm Apa aku tidak boleh datang kemari ?
Perkataannya belum habis, orangnya sudah lompat melesat kehadapan Tok kay, Tangan-nya yang kirinya diangkat seperti yang hendak menyerang, saat itu telapakan tangannya merah membara.
Hingga Tok-kay terkejut dan mundur beberapa tindak^ baru berkata.
Kau jangan menyerang, Sudah dua puluh tahun kita tak berjumpa, adatmu masih seperti dahulu kala saja tak ubahnya.
oen cie menurunkan tangannya, Terdengar ia tertawa dingin dan berkata.
Hmm..
orang macam kau ini, selama dua puluh tahun ini semakin banyak berbuat dosa.
Dosamu sekarang sudah bertumpuk-tumpuk.
sekarang kau bertemu denganku, apakah kau kira aku tak dapat memusnahkan racunmu.
Tok-kay mendongkol mendengar kata-katanya oei ci.
la tertawa terpaksa Oei ci.
katanya.
Jikalau kau memang sengaja datang hendak mencari aku, terserah kepadamu, kau boleh berbuat sesukamu untuk melayani aku.
inilah suatu tantangan.
Oei ci perdengarkan suara tertawa yang aneh.
Aku tidak mencari kau, tapi tunggulah, nanti ada satu waktu ada orang yang mencari untuk mengambil jiwamu yang sudah penuh dengan dosa.
percayalah pada kata-kataku sekarang.
Tok-kay tidak menjawab, hanya ia menatap wajahnya oei ci yang masih tetap ketawa seperti yang mengejek kepadanya.
Hong-hwe Tong-cu oen ci adalah salah satu dari Lima Tokoh dalam dunia persilatan dijaman itu, maka tidak heran kalau Tok-kay tidak berani sembarangan bertanding dengannya.
Terdengar oen ci berkata lagi.
Bicara terus terang, memang harus diakui ilmu yang dinamai Telapakan Tangan Berdarah telah mendapat kemajuan selama dua puluh tahun ini, aku dapat mengatasi ilmunya itu.
Akupun tak tahu, mengapa aku bisa berkenalan dengan kau dan menjadi sahabat karib, sedang kau ada seorang jahat yang sukar diperbaiki.
Matanya Tok-kay mendelik mendengar kata-katanya sang sahabat yang paling belakangan ini, akan tetapi ia tak berani bergerak dan diam saja ketika Honghwee Tongcu oen cie meneruskan bicaranya.
Kau tahu, sutitku yang sekarang menjadi ciang nasehati kau untuk menghentikan kejahatanmu.
Menginsafkan padamu bahwa perbuatan jahat itu tak membawa berkah selamat.
seperti ilmu kau Telapak Tangan Berdarah itu, kau yakinkan dengan kekejaman yang tidak ada caranya, Banyak wanita hamil yang telah menjadi korbannya, banyak orang yang dicelakai olehmu, setelah kau mendapatkan ilmu itu lantas menyembunyikan diri, takut pembalasan atas perbuatanmu yang sangat keji itu.
Ha ha ha..
kau keliru sebab Tuhan tak melepaskan makhluknya yang telah menumpuk dosa, kemana kau lari musti orang pada satu hari akan membinasakan dirimu.
Tok kay tundukkan kepalanya, Meskipun demikian, diam-diam ia mencaci oen ci yang banyak rewet dalam urusannya orang lain, Ketika ia dong akan kepalanya terdengar oen ci meneruskan pula kata-katanya yang tajam.
Dengan kekejaman dan kejahatanmu yang diperbuat terus menerus, mana aku bisa tinggal peluk tangan saja melihatnya?
Meskipun diandaikan kau ada menjadi anaknya juga aku tak dapat mengampuni kau dan pasti akan membunuhnya, kau mengerti?
Tok-kay mendelik matanya, ia tidak mendebat kata-katanya oen-ci, hanya ia menanya.
Mana muridku?
Hmm..
oen cin menggeram, Dua muridmu yang manis itu, jangan takut hilang kemana, mereka tidak tahu aku ini siapa, dengan secara kurang ajar telah memegangmegang rambut kepangku.
perbuatan ini ada pantangan bagiku, maka dua muridmu yang manis itu aku sudah lemparkan keluar kuil, mereka sekarang mungkin ada di kuil ceng-in-si.
Tok-kay gusar sekali, matanya mendelik bengis.
Bagus perbuatanmu itu katanya Ada satu hari aku tentu akan mencari kau ke Butong-san.
Nah sekarang terima dahulu persekotnya.
Ia tutup bicaranya sambil menyerang dengan telapakan tangannya yang mengeluarkan angin dan hawa panas yang dapat membikin hangus yang terkena sasarannya.
oen ci menjadi marah melihat dirinya di serang, maka ia juga lantas mengeluarkan ilmunya menangkis dan balas menyerang lawan, Dua telapakan tangannya disodorkan kedepan, yang sebelah kiri mengeluarkan angin dahsyat dan yang kanan mengeluarkan hawa panas seperti api berkobar-kobar.
Inilah ilmu Hong-hwe Sin-kang (tenaga sakti angin dan api) yang membuat namanya oen ci terkenal dan dimalui oleh lawan maupun kawan.
Ilmu yang dilatih selama dua puluh tahun lamanya ini ada sangat lihay, hingga Tok-kay kewalahan dan mundur beberapa tindak.
Mengetahui dirinya bakal mendapat kerugian kalau meladeni oen ci, maka ia sudah memilih jalan yang selamat, Lari Seketika itu juga ia lari meninggalkan oen cijago angin dan api itu tidak mengejar, hanya dengan ketawa dingin memberi nasehat.
Kau lekas perbaiki dirimu, buang kejahatan dan balik menjadi orang baik, Kalau tidak, percayalah padaku, ada satu waktu kau akan binasa dengan kecewa..
Hong-hweTong cu oen ci ini sebenarnya sudah sedari kecil berkawan dengan Tokkay.
Mereka bersahabat karib.
Apa mau setelah masing-masing menginjak usia dewasa, perbuatan Tok kay itu banyak nyeleweng, lebih-lebih ketika ia meyakinkan ilmunya Telapak Tangan Berdarah banyak membunuh-bunuhi wanita hamil, membuat hatinya oen ci sebagai kawannya sedari menjadi sangat cemas dan mengutuk perbuatannya Tok-kay, ia sebenarnya ingin menyingkirkan jiwanya Tok-kay, tapi perasaan keakraban mereka berkawan diwaktu kecil, membuat ia ragu-ragu dan tidak tega.
Ilmu tenaga dalamnya oen ci sangat mahir, dengan mana ia sudah dapat memelihara wajahnya menjadi tinggal tetap muda seperti anak yang baru berumur lima belas -enam belas tahunan saja, keistimewaannya, adalah ia paling suka makan.
Makanan apa ia tidak menampik asal makan, Tabiatnya itu seperti anak kecil, maka ia telah mendapat julukan Tong-tju (anak) julukan mana digabung dengan ilmunya Hong hwa sinkang maka menjadi Hong-hwe Tong-cu (Anak Angin Api).
Sementara itu, Ho Tiong Jong juga sudah masuk kedalam kuil Biauw hoat-si.
Ia tidak masuk keruangan sembahyang, hanya langsung mencari dapur masak kuil itu, untuk minta dibagi makanan menangsel perutnya yang sudah sangat lapar.
Diatas meja tampak ada semangkok besar bubur yang masih panas, mengepul mulutnya sudah mengiler, Ketika ia hendak ulur tangannya, tiba-tiba mendengar ada tindakan kaki.
Ia cepat mengumpat d ibalik pintu Ternyata yang datang ada satu hweshio pengurus dapur rupanya, yang hendak mengambil semangkok bubur tadi.
Ketika tangannya hampir menyentuh mangkok, hweshio itu menjadi sangat kaget ketika merasa bahunya ada yang menepuk, ia cepat menoleh, kiranya yang menepuk itu ada orang muda tampan,seperti bukannya orang jahat.
Hatinya hweshio itu menjadi lega.
Suhu, maaf, bolehkah aku menanya, apa bubur ini mau dibawah untuk Tok-kay?
tanya IHo Tiong Jong.
Hweshio itu itu membuka matanya lebar-lebar.
Tok-kay ?
ia seperti berkata sendirian Bukan, bukan untuk Tok-kay.
Habis untuk siapa?
Tok-kay sudah diusir pergi dari sini.
Siapa yang mengusirnya?
Orang yang mau makan bubur ini.
Ho Tiong Jong terkejut pikirannya locianpwe yang manakah sudah datang kesitu dan dapat mengusir begitu mudah kepada si pengemis beracun yang tinggi ilmunya?
Tapi suhu, kata pula Ho Tiong Jong apa kau bisa tolong aku?
Kau siapa?
Aku harus menolongmu dalam hal apa?
tanya si hweshio.
Tolong bagi semangkok bubur, perutku sudah lapar, untuk mana aku tentu tidak melupakan suhu punya budi untuk mengganti kerugiannya.
ow, tidak bisa, jawab si hweshio.
Kenapa tidak bisa?
Semangkok bubur tokh apa artinya, sedang aku sendiri hendak menggantinya dengan uang?
Hwehsio itu tidak mau meladeni Ho Tiong Jong ia sudah hendak ngeloyor keluar dari dapur itu, tapi mendadak ada bayangan berkelebat, ia adalah Ho Tiong Jong yang menghadang didepannya.
Minggir bentak si hweshio seraya menerobos.
Ia tidak tahu kalau tenaganya si anak muda ada besar sekali, mana dapat ia menerobos dengan mudahnya.
Tidak heran, kalau ia terpental mundur ketika menubruk Ho Tiong Jong dan mangkok bubur menjadi jatuh dari tangannya, buburnya tumpah di lantai.
Mukanya hweshio itu berubah menjadi pucat.
Kau, kau katanya melotot, tapi ia tidak berani menerjang pada Ho Tiong Jong yang kini ia anggap tidak boleh dibuat sembarangan, meskipun masih demikan muda, ia akhirnya lompat keluar meninggalkan Ho Tiong Jong.
sementara itu oen ci sudah datang kedapur, maksudnya mau menegur hweshio yang mengurus dapur itu, kenapa sudah begitu lama tidak membawa bubur untuknya.
Ia melihat Ho Tiong Jong dan bubur yang tumpah dilantai, Tiba-tiba ia tertawa dingin dan mengawasi pada Ho Tiong Jong.
Melihat dari sikapnya, tiba-tiba Ho Tiong Jong ingat, inilah orangnya tentu yang mau makan bubur.
sekarang buburnya sudah tumpah dilantai, bagaimana?
Ia lalu menghampiri oen ci, sambil merogoh sakunya mengeluarkan uang, ia berkata.
Saudara kecil, harap jangan marah.
Terimalah uang ini sebagai ganti kerugiannya.
Hmm..
oan ci memotong, Enak saja kau ngomong, makananku sudah dibikin tumpah begitu rupa.
Kau berderajat apa memanggil aku saudara kecil?
Ho Tiong Jong bengong melihat sikapnya oen ci yang tidak memandang mata padanya.
sementara itu hweshio tadi sudah datang kembali dan mengadu kepada oen ci, bagaimana Ho Tiong Jong sudah menghadang di depannya dan mau merebut semangkuk bubur itu sehingga tumpah.
oen ci tidak meladeni pengaduannya si hwesio yang dilebih-Iebihi dan juga tidak memperdulikan Ho Tiong Jong yang berdiri menjublek.
hanya ia mengawasi pada bubur yang tumpuk dilantai.
Tiba-tiba ia mengangakan mulutnya, bubur yang tumplek dilantai tiba-tiba tersedot dan masuk kedalam mulutnya, itulah ada demontrasi lweekang (tenaga dalam) yang hebat sekali.
Ho Tiong Jong dan si hwesio terpesona oleh kejadian yang disaksikannya.
Kalau oen ci ngagah untuk menyedot bubur kedalam mulutnya, kemudian ditelannya, adalah Ho Tiong Jong menganga mulutnya saking heran dan kagum oleh kekuatan lweekang oen ci yang demikian tingginya.
Dalam hati diam-diam berkata, Pantasan ia bisa mengusir Tok-kay.
Demikian tinggi dan mahir kekuatan Iweekangnya, entah bagaimana tingginya kepandaian ilmu silatnya.
Lantas terlintas dalam otaknya suatu pikiran baik orang ini begitu tinggi ilmunya, maka cari siapa lagi untuk ia angkat sebagai guru?
Kesempatan yang baik inijangan dikasih lewat begitu saja.
OEN ci sendiri sebenarnya Sangat mendongkol pada IHo Tiong Jong, ia mati memberi hajaran kalau menurutinya hatinya cuma saja ia pandang Ho Tiong Jong masih begitu muda dan bukannya orang jahat, maka ia dengan hati mendongkol sudah hendak meninggalkan tempat itu.
Ho Tiong Jong jadi gelagapan, buru-buru, ia berkata, Hei, saudara kecil, tunggu dulu.
Aku masih ada yang hendak ditanyakan padamu.
Hmm..
Siapa yang menjadi saudara kecilmu?
menggerendeng oen ci.
Ho Tiong Jong sebenarnya mendongkol mendengar kata-katanya oen ci ini, akan tetapi karena ia ada mempunyai maksud tertentu, maka amarahnya telah ditelan begitu saja.
Wajahnya yang tadi sudah beringas menjadi tenang kembali.
Ia, baiklah aku memanggil kauw Siauw-hiap.
Numpang tanya, apa yang mengusir Tok-kay ituSiauw-hiap adanya?
demikian menanya Ho Tiong Jong.
Kau siapa?
tanya oen ci.
Aku bernama Ho Tiong Jong.
Kau datang kesini mencari siapa?
Mencari Tok-kay.
Bagus, bagus, nah, sekarang kau boleh kejar Tok-kay yang kau cari.
Ho Tiong Jong jadi melongo.
Diam-diam Ho Tiong Jong berpikir, orang ini ilmu silatnya tinggi tak dapat diukur, tapi kenapa sikapnya ada sangat eneh?
Apa katanya orang ini, benar juga.
Demikian pikirnya.
Sebelum ia dapat membuka mulut, oen ci sudah berkata lagi.
Meskipun kau tidak dapat menempur dia dengan kepandaianmu yang tinggi, tapi untuk mendekatinya ada mudah sekali kau lakukan, sekarang aku kasih petunjuk padamu, dengarlah baik-baik.
Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.
Kau dari sini jalan lempeng saja ke arah barat kira kira seperjalanan tiga lie kau nanti akan menemukan satu kuil dengan merek ceng in-si.
Tok-kay sekarang ada disana.
Kalau kau sudah berjumpa padanya, boleh mengatakan banwa kau ini diperhina olehku, aku menolak mengambil kau sebagai murid.
Kalau ia mendengarnya, pasti timbul amarahnya padaku dan akan menerima kau sebagai muridnya.
Tapi ingat betulbetul.
Dia meskipun ilmu silatnya amat tinggi, tetapi ia ada seorang jahat, maka kau harus tahu sendiri.
Apa dia mau menerima aku sebagai muridnya?
tanya IHo Tiong Jong.
oen ci melihat Ho Tiong Jong seperti belum mengerti akan maksudnya yang dikatakan barusan, maka ia hanya anggukkan kepalanya, kemudian telah meninggalkan kuil Biauw-hoat-si.
Ho Tiong Jong berdiri menjublek sekian lama setelah oen ci yang sempurna sekali tenaga dalamnya (lweekang.) Setelah tersadar dari lamunannya, IHo Tiong Jong pergi menemui hweshio pengurus dapur lagi.
Kali ini secara damai, IHo Tiong Jong mendapat bagian bubur.
Setelah cukup menangsel perutnya, orang muda itu lalu meninggalkan kuil dan menuju kearah yang ditunjuk oleh Hong hwe Tong-cu oen-ci.
Dalam perjalanannya ia putar otaknya.
Pikirnya, kalau ia sampai dapat berdekatan dengan Tok-kay, ia bermaksud membunuhnya.
Perbuatan mana selainnya membalas dendam musuh keluarga Seng, juga berarti ia sudah menyingkirkan iblis masyarakat yang kejam Betul saja ia menemui kuil pada tempat yang diunjuk oleh oen-ci, Waktu itu sudah jam tiga malam, keadaan sangat gelap.
pintu kuil ternyata masih terpentang, tapi heran tidak ada seorang hweshio kelihatan.
Dimuka kuil ada lapangan yang luas, tengah-tengahnya ada jalanan yang dikedua pinggirannya ditanami pohon siong yang amat indah.
Di kanan kirinya kuil ada bangunan rumah-rumah kecil mungil.
IHo Tiong Tong bertindak masuk kedalam, di mana ia nampak ruangan ada besar sekali.
Selagi ia langak-longok.
tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki mendatangi dari dalam.
Dilihatnya ada seorang hweslo yang muncul, siapa telah melihat padanya dan menghampiri dirinya.
Sicu malam-malam datang kesini ada urusan apa?
Aku bernama Ho Tiong Jong, si pemuda memperkenalkan namanya.
Aku datang hendak mencari seorang she Kang, apa dia ada disini?
ow, dia ada tinggal di ruangan sana, jawab hweslo tadi, sambil jarinya menunjuk kelain ruangan.
Apa boleh aku menemui dia?
tanya Ho Tiong Jong.
Tentu saja, silahkan, jawabnya.
Ho Tiong Jong sembari berjalan pikirannya berdebaran bagaimana nanti ia akan bicara dengan Tok-kay Kang ciong?
Tapi perlahan-lahan debaran itu hilang dan hatinya mulai mantap setelah masuk keruangan dimana Tok-kay ada ambil tempat.
Ho Tiong Jong lihat ruangan disitu besar dan lampunya pun sangat terang.
Patungpatung dicanang dengan rapih.
Didepan meja sembahyang kelihatan ada pintu.
Meskipun ada orang masuk.
tampak tak dihiraukan oleh mereka.
Dilihat caranya berlutut, kelihatan mereka seperti yang tidak rela berbuat demikianKetika diteliti, kiranya dua tubuhnya dua pengemis ini sudah kaku.
IHo Tiong Jong heran.
Pikirnya, Tok-kay yang sudah biasa membunuh orang dengan mata tidak berkesip.
mana dapat menjadi pemeluk Buddha ?
Mengapa itu ada murid-muridnya Tok kay, kenapa tidak bisa bergerak?
Apa mereka kena ditotok jalan darahnya?
Siapa orangnya begitu berani?
Ia merasa ragu ragu untuk mendekati dua pengemis itu.
perlahan-lahan ia bertindak mundur menghampiri pintu dan memutar sedikit kepinggiran ruangan.
Mendadak mata nya melihat keluar, samping ruangan ada bayangan berkelebat.
Bayangan itu cepat sekali sudah meluncur dan menghilang dibalik-nya pohon.
Diam-diam ia menanya pada dirinya sendiri, apakah orang itu ada musuhnya Tokkay?
kalau benar demikian, tentu orang itu ada mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.
Ia akan belajar kepadanya, setelah berkepandaian tinggi baru ia mencari Tok kay.
Pikirnya, inilah ada saatnya yang paling baik untuk ia menemui orang pandai itu.
Maka setelah berpikir, secepat kilat ia lompat melesat kebelakang pohon tadi, disitu ia melihat tak ada orang, hanya ada sehelai kere yang menutupi pintu kecil kealingan pohon Ho Tiong Jong tanpa ragu-ragu lagi terus masuk kedalam pintu kecil tadi.
Ternyata disebelah dalamnya ada terdapat pelataran yang lebar.
Masuk kesebelah dalamnya lagi belum juga ia ketemu orang.
ia heran, terus jalan kebelakang.
Disini ia menemui tempat sembahyang, tapi herannya disini pun tak ada orangnya.
Matanya celingukan mencari orang.
ia melihat dari sebuah kamar ada penerangannya menyorot keluar.
cepat ia menghampiri dan membukanya kamar ini, tapi tidak ada orang juga.
Disini hanya kedapatan sebuah meja persegi, diatasnya ada sebuah lampu yang guram sinarnya.
Matanya Ho Tiong Jong menyapu kesekitarnya kamar.
Tiba-tiba dari suatu sudut yang gelap telah muncul seorang, yang ketika ditegasi ternyata ada satu tosu (imam) dengar jenggot dan rambut putih semuanya tapi semangatnya bagus dan sehat.
ia muncul dengan kebutan ditangannya.
Ho Tiong Jong diam-diam pikir, apakah kuil ini ada tempat tosu ini mengasingkan dirinya.
Selang dalam berpikir mendadak ia disadarkan oleh perkataannya si tosu dengan suara dingin.
Hmm Dimalam yang gelap gulita ini kau berani berani masuk kesini, seharusnya aku memberi hukuman atas kelancanganmu.
Ho Tiong Jong pikir, memang benar katanya tosu ini, maka dengan cepat ia memberi hormat.
Harap totiang tidak menjadi kecil hati, aku memang salah ketarik oleh bayangan yang berkelebat masuk kesini.
maka aku lupa bahwa perbuatanku masuk kesini tanpa permisi ada tidak benar.
Lagi sekali aku harap totiang suka memberi maaf banyak-banyak.
Tosu itu mengawasi pada Ho Tiong Jong sejenak, ketika ia hendak membuka mulut Ho Tiong Jong sudah mendahului.
Maaf, siapakah totiang punya nama yang mulia?
Tosu itu setelah berpikir sejenak.
sambil bersenyum menjawab.
Aku bernama Ban Siang.
Sudah tiga puluh tahun lebih aku mengasingkan diri digunung cui-hui-san ini.
Aku sudah tidak campur urusan duniawi lagi, tapi sungguh sayang menurut ftrasatku malam ini aku harus membuka pantangan membunuh.
Betulbetul hatiku amat menyesal.
Ho Tiong Jong terkejut.
Sebab apa totiang harus berbuat demikian?
tanyanya.
Ban Siang Tojin tidak menjawab.
Tampak Binar matanya yang kejam.
Dilihat dari air mukanya tos u ini tentu bukannya orang baik-baik, maka Ho Tiong Jong dengan pelahan-lahan telah mundur.
Hmmm..
berkata pula Ban Siang Tojin, itulah karena didunia ini orang tidak saling mengetahui diri sendiri dan suka berbuat sewenang-wenang, Nah.
aku misalkan seperti sekarang ini, aku akan mengikat kau.
Sementara menanti keputusannya kawan karibku dahulu, apakah kau rela diikat tubuhmu?
Totiang, kenapa aku harus diikat?
Tentu pandanganmu salah paham atas diriku.
Ban Siang Tojin angkat tangannya digoyang-goyang seperti melarang anak muda itu banyak membantah.
Aku tadi sudah berkata aku akan membuka larangan membunuh, bukan?
Nah, kalau kau tidak mengerti tunggulah saja itu orang datang baru aku bicara lagi.
Ho Tiong Jong tidak puas.
Totiang, kau tidak boleh sembarangan mengikat orang, bukan?
Hai, kaujangan banyak rewel kau bikin susah sendiri saja.
Kalau tidak tunduk lihatlah ini buktinya.
Ban Siong Tojin setelah berkata lantas menunjukkan kebutannya kearah lampu yang menyalah diatas meja, segera api lampu tadi menjadi kecil dan panjang seperti terkena oleh tenaga yang tidak kelihatan, arahnya pun tampak berbalik.
Jarak antara api dengan Ban Siang Tojin ada satu tombak lebih.
Ini menunjukkan bahwa tenaga dalamnya si tosu hebat juga, karena kalau tidak, tak dapat api itu dibalik kearah kebalikannya dan kecil memanjang.
ETIKA ia menarik pulang kebutannya, lantas api lampu tadi menjadi biasa lagi seperti bermula terangnya.
Nah, sekarang kau lihat sendiri.
Kau mau takluk tidak?
Apa mau tidak diikat?
Ho Tiong Jong memang tunduk terhadap.
ilmunya yang tinggi tadi, akan tetapi ia tidak mau tunduk dengan aturannya yang bukan-bukan.
Maka dengan gusar ia menjawab.
Totiang.
kau bicara tidak menurut aturan.
Apa boleh orang berbuat sesuka hatinya saja?
Aku tidak ada tempo untuk bicara dengan kau.
jawab Ban Siong Tojin dengan marah melotot.
Hmm...Ho Tiong Jong menggeram Boleh coba-coba mengikat aku, memangnya aku sebuah patung?
Ban Siong Tojm melengak.
ia tidak nyana anak muda didepannya itu ada sangat tabah hatinya.
ia mundur tiga tindak.
Bocah, katanya apa barusan kau tidak lihat ilmu tenaga dalamku sampai dimana.
Ah, benar-benar kau ini tidak sadar dengan bahaya di-hadapan mata.
Ha ha ha..
Tak usah banyak perkataan yang tidak perlu, marilah kita mencoba-coba siapa yang nanti akan diikat, tantang Ho Tiong Jong.
Pemuda itu berkata sambil menghunus goloknya.
Ban Siong Tojin tertawa bergelak gelak, Bocah, kau mau apa ?
Lihat nih tambang apa?
ia sembari mengunjukkan seutas tambang.
Tambang ini untuk mengikat binatang liar dan sebentar kau rasakan bagaimana ia akan mengikat dirimu.
Totiang, jangan banyak rewel, silahkan Demikian Ho Tiong Jong menantang, sambil palangkan goloknya didadanya siap untuk mengadu jiwa dengan tosu jumawa itu.
Bocah benar-benar kau tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi.
Kau menantang untuk bertempur denganku?
Ha ha ha.
Ho Tiong Jong tidak takut.
ia tertawa bergelak gelak seolah-olah mau menyaingi sitosu ketawa yang menggema diangkasa.
tiba-tiba terdengar Ban Siong Tojin berkata pula, Bocah, kalau kau tahan sepuluh gebrakan saja melawan aku, akan kuijinkan kau pergi begitu saja dari sini, kau mengerti ?
Ow, hanya sepuluh gebrakan apa susahnya?
jawab Ho Tiong Jong girang, Hanya yang aku kuatirkan kau akan repot menangkis seranganku.
Ban Siong Tojin tidak menjawab.
Ia gerakan senjata kebutannya menerjang pada Ho Tiong Jong.
Benar serangan kebutannya itu amat lihay.
mengandung tenaga yang kuat sekali, hingga Ho Ting Jong terpaksa lompat mundur setengah tombak untuk menghindarkan serangan tadi.
Sebentar lagi tampak ia sudah putar goloknya, ilmu golok delapan belas jurus dimainkan dengan bagus sekali, hingga diam-diam Ban Siang Tojin memuji.
Ia mengerti bahwa ilmu silat golok demikian tidak mudah diterobos.
Tampak Ho Tiong Jong mainkan ilmu golok kramatnya makin lama makin kuat dan sampai hebat sekali, angin golok bajanya menyambar-nyambar.
Ban Siang Tojin kerutkan alisnya Dia gusar, sampai rambut dan jenggotnya pada berdiri.
Mukanya juga berubah menjadi hitam, satu tanda bahwa ia telah mengerahkan tenaganya Betul-betul untuk mengambil jiwanya si anak muda.
Menyolok sekali tanda kekurangan latihannya Ho Tiong Jong.
Menghadapi jago kelas wah id, Ho Tiong Jong merasa kewalahan.
Kebutannya sang lawan menyamber-nyamber seperti bayangan anginnya dahsyat sekali seolah-olah menekan dadanya hingga hampir sukar bernapas.
Tapi ia sudah nekad dan melawan terus.
Belakangan ia rubah bersilatnya dengan ilmu Kim-ci GiNi ciang.
hingga Ban Siang Tojin menjadi kaget juga.
Tapi dasar ia satu jago ulung, pelahan-lahan ia sudah dapat mengunjukkan keunggulannya dalam pengalaman bertempur.
Bocah goblok.
apa kau masih bisa bertahan berapa lama lagi?
Ho Tiong Jong tidak menjawab.
ia terus mengerahkan tenaganya untuk menangkis tekanan tenaga kebutan musuh.
Ia kelihatan nekad, tidak mau kalah oleh lawannya.
Yang membikin ia heran tekanan Ban Siang Tojin sebentar berat dan sebentar ringan.
Entah apa maksudnya, jago kelas wahid itu tidak mau sekaligus, menekan lawannya hingga tidak berdaya?
Ban Siong Tojin kelihatan mukanya sudah menjadi berubah hitam menakutkan dan terus merangsek musuh.
Dalam kenekadan-nya Ho Tiong Jong menyabetkan goloknya sambil membentak.
Tosu siluman, kenapa kau menggunakan ilmu sihirmu secara pengecut?
Tapi serangan Ho Tiong Jong dapat dihindarkan.
Ban Siong Tojin merangsek lagi tangannya diangkat.Jari jarinya yang runcing hitam dan beracun kelihatan menyengkeram bahunya IHo Tiong Jong.
Tapi heran, ketika sudah dekat menyentuh sasarannya, tiba-tiba jari-jarinya berhenti setengah jalan dan membentak pada lawannya.
Hei, bocah goblok, apa yang kau katakan tadi?
Ho Tiong Jong tidak lantas menjawab.
ia mengerti bahaya maut mengancam dirinya melihat jari-jarinya sang lawan yang runcing dan beracun sudah dekat menyentuh bahunya.
Tanpa terasa, keringat dingin telah membasahi badannya.
Tapi hatinya masih keras tidak mau tunduk kepada musuhnya ia menjawab pertanyaannya Ban Siong Tojin tadi.
Hmmm Kau ini bukannya manusia, tapi siluman.
Kau barusan sudah menggunakan ilmu siluman, Hmm manusia siluman Ha ha ha Ban Siong Tojin tertawa, bergelak gelak.
Bocah goblok, kau ini masih belum tahu lebarnya langit dan tebalnya bumi, kau mana tahu ilmuku yang istimewa.
ilmuku itu dilatih berdasarkan rokh-nya burung dari jaman purba.
Kau ini cari-cari itu dua pengemis apa gunanya, mereka sudah mengaku kalah kepadaku.
Ha ha ha.
Ho Tiong Jong sebal melihat lagaknya si tosu yang tengaL Ia sampai terlupa akan maksudnya mencari guru yang pandai, hingga sudah melewatkan kesempatan yang baik untuk mengangkat Bang Siong Tojin menjadi gurunya.
Hatinya diliputi kemendongkolan.
Kata-kata si tosu yang mengejek dibalas kontan dengan ejekan pula..
Dalam keadaan kepepet demikian, Ho Tiong Jong, tiba-tiba mendengar ada suara tindakan orang mendatangi.
Ban Siong Tojin kagit.
Siapa, tegurnya keras.
Aku Siong Hoat, jawabnya, segera kelihatan muncul seorang hweshio dengan muka pucat dan romannya seperti yang ketakutan.
Kiranya ia ada hweshio dari kuil ceng-in si.
Ketika ia sudah berhadapan dengan Ban Siong Tojin telah berkata.
Lo to ya, celaka itu dua pengemis sudah bisa bergerak lagi.
Aku sebenarnya tidak berani masuk kesini, tapi..
Hii, tidak bisa jadi dua manusia tolol itu dapat bergerak lagi Ban Siong Tojin tidak meneruskan kata-katanya, karena kaget, pada saat itu Siong Hoat sudah jatuh rubuh dan tidak bernapas lagi.
Ketika diperiksa, ternyata pada punggungnya ada kedapatan tanda bekas telapakan tangan yang berwarna merah darah.
Ban Siong Tojin beringas setelah melihat itu?
cepat ia bangkit berdiri membawa senjata kebutannya ngeloyor keluar.
Ho Tiong Jong melihat musuhnya sudah pergi, hatinya merasa lega, Sambil menyeka peluh didahinya diam-diam berpikir.
Aku sudah menelan pil Siauw hoan tan tenagaku sudah sebat sekali, tapi menghadapi seorang jago ulung benar-benar aku tidak berdaya.
Perlu apa aku mencari ilmu lagi, membuang-buang tempo saja.
Habislah pengharapanku.
Aku lebih baik binasa saja seperti ini hweshio daripada hidup menderita kesusahan saja^..
Dengan pikiran kalut ia keluar dari situ, pergi kepelataran dimana ia lihat Ban Siong Tojin sedang celingukan mencari dua pengemis yang dikatakan telah bisa bergerak lagi dan telah membunuh Siong Hoat hweshio demikian kejamnya.
Terdengar si imam menantang sendirian.
Pengemis bangkotan, kau hanya namanya saja termashur dikalangan kangouw, tapi setelah ketemu orang yang tak mudah dibikin celaka olehmu sudah lantas menyembunyikan diri seperti kura-kura?
Tidak terdengar jawaban, malah keadaan makin sunyi setelah suaranya menghilang.
Tidak kelihatan ada gerakan apa-apa.
Ho Tiong Jong yang melihat Ban Siong Tojin kesana-kemari beringas-beringas mencari mangsanya, dalam hati masih penasaran dan ingin menempur kembali pada lawannya itu.
Tidak memikir lama, ia sudah lantas menghampiri Ban Siong Tojin dan gerakkan ia punya golok menyerang pada si imam tosu.
Tapi serangannya mendapat tangkisan yang tepat sekali dari pihak lawan.
Ho Tiong Jong menyerang dengan menggunakan sepenuh tenaga, tidak heran kalau serangan itu ada berat sekali, hingga diam-diam Ban Siong Tojin merasa kagum.
Dalam hatinya berkata Bocah ini benar nekat, baru saja mengasoh sebentar tenaganya sudah pulih kembali begitu cepat Tosu siluman-bentak Ho Tiong Jong.
Perbuatanmu sewenang-wenang mau mengikat siauwyamu yang tidak bersalah dosa membikin orang jadi penasaran sekali.
Nah, keluarkanlah kepandaianmu sekarang Ho Tiong Jong tutup bicaranya dengan serangan golok kedada orang, tapi dengan gesit Bin Siong Tojin lompat mundur beberapa tindak.
Sebagai jago kawakan Ban Siong Tojin sudah merangsek lagi musuhnya.
Pertempuran menjadi berjalan seru, sudah golok berkelebat melawan kebutan yang seperti menari-nari.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari atas tembok pekarangan, Hei, hidung kerbau, kau beraninya dengan anak yang masih ingusan saja.
Tidak tahu malu.
Apa perbuatanmu ini dapat mengangkat namamu telah termashyur lagi?
Ha ha ha ha.
Berbareng kelihatan melompat turun sesosok bayangan dari atas tembok pekarangan.
Kiranya ia ada Tok-kay Kang ciong.
la jalan menghampiri, tampak senjata bandringannya yang aneh berupa bola saja bergoyang-goyang dipinggangnya.
Ban Siong Tojin dan Ho Tiong Jong sementara itu sudah menghentikan pertempurannya dan mengawasi kedatangannya si pengemis tua beracun.
Ban Siong Tojin melihat datangnya musuh berat hatinya rada keder, dengan suara berat jawabnya.
Pengemis bangkotan kau sudah lama datang?
Apa kau sudah memeriksa isi-nya kuil disni?
Tok-koay Kang ciong tertawa bergelak-gelak.
Hmm terdengar ia, menggeram.
Untuk apa diperiksa lagi, semua penghuninya delapan puluh hweshio lebih sudah kukirim ketempatnya Giam-lo-ong.
celaka seru Ban Siong Tojin, matanya beringas tajam mengawasi Tok-kay Kang ciong.
Si pengemis beracun hanya tertawa nyengir.
Bagaimana Ban Siong Tojin tak menjadi kaget, sebab dalam kuil itu ada berdiam tak kurang dari delapan puluh hweshio.
dikatakan oleh si pengemis beracun semuanya sudah di kirim ketempatnya raja akherat (Giam-lo-ong).
Ho Tiong Jong pun kesima mendengar pembunuhan yang besar-besaran itu.
Diamdiam dalam hatinya mengutuk.
Tok-kay ini benar-benar kejam.
hweshio yang sebegitu banyaknya yang tak bersalah telah dibunuhnya, Betul-betul kekejamannya sudah melewati takaran-Tidak ada obatnya untuk orang sekejam ini kecuali dibunuh mati.
Meskipun hatinya gusar bukan main, tapi ia tidak kentarakan diwajahnya.
ia terus mendengarkan apa yang dikatakan lebih jauh oleh dua jagoan ulung itu.
Ban Siong Tojin meluap-luap amarahnya ia berteriak-teriak kalap.
Meskipun binatang, pengemis keji.
Seumur hidupmu kerjanya hanya membunuhbunuhi orang saja.
Sekujur badanmu sudah jadi bau amisnya darah manusia.
Dosamu sudah bertumpuk-tumpuk.
Nah, malam ini aku Ban Siong pasti akan mengirim jiwamu ke akherat untuk kau bikin perhitungan dengan korban-korbanmu didepannya Giam-loong.
Ban Siong Tojin hampir tak dapat melampiaskan kata-katanya saking marahnya.
Si pengemis tua hanya ganda ketawa nyengir saja, seolah-olah yang mengejek.
pada Ban siong Tojin yang sedang kalap.
ia seperti mau membikin tosu itu mati berdiri di sebabkan kegusarannya.
Kemudian terdengar ia menyindir.
Hidung kerbau, kau jangan coba-coba mempertaruhkan jiwamu berlaku nekad.
Aku masih ada perkataan untuk disampaikan padamu Pengemis iblis, jangan banyak rewel.
Katakanlah Aku ingin mengatakan padamu..
Kenapa kau berhenti, teruskan, kau mau mengatakan apa?
Tok-kay Kang ciong tertawa nyengir.
Hidung kerbau, katanya kemudian, apa yang aku katakan, aku merasa malu melihat kau pura-pura jadi orang budiman.
Kuanjurkan kau jangan lama-lama hidup di dunia ini, lekas kau bunuh diri ada lebih baik, sebab..
Mukanya Ban Siong Tojin berubah menyeramkan.
Kalau orang wajahnya merah dalam keadaan marah, adalah si tosu wajahnya menjadi hitam dan menakutkan.
Sebelum ia menegur lawannya.
Tok kay Kang ciong sudah meneruskan kata katanya, .
.sebab, kalau tidak ada kau yang timbulkan huru-hara menghina dua muridku, mana ada kejadian semua hweshio penghuni kuil ini melayang jiwanya, coba kau pikir saja sendiri.
Tutup bacotmu, pengemis kejam Kau boleh rasakan senjata Berbareng ia kerjakan kebutannya menghajar musuhnya.
Tok-kay Kang ciong angkat tangannya, telapakan tangan kirinya yang merah membara di dorongkan darimana telah menghembus angin dahsyat menangkis serangan musuh.
Tangan kanannya meloloskan bandringan dipinggangnya, itulah ada senjata bandringan istimewa berupa sebuah bola-bola sebesar buah beligo.
Setelah siap ia tidak terus menyerang hanya berkata lagi pada lawannya.
Hidung kerbau, aku mau bertanya dahulu padamu..
Kau mau bertanya apa?
Hm bertanya kalau sudah mati bangkaimu harus di tanam dimana?
Hmm..Jangan kuatir, aku nanti carikan tempat yang baik..
Hidung kerbau, Tok-kay memotong, bukan demikian maksudku.
Aku ingin menanya padamu, katanya dalam agama yang kau anut dikatakan ada semacam ilmu untuk menolong roh manusia yang sudah mati yang disebut emas kayu, api, air, tanah dan entah apa lagi.
Betul, kau mau apa?
bentak Ban Siong Tojin tidak sabaran Tok kay Kang ciong perdengerkan tertawanya yang aneh^ Hidung kerbau sekarang aku hendak menanya padamu, kalau sebentar kau binasa oleh senjata bandringan itu, rokhmu akan termasuk dalam salah satu yang mana ?
Ban Siong Tojin mendelik matanya.
Sementara Ho Tiong Jong yang mendengarnya sipengemis seperti yang berkelakar dan memancing kegusaran lawannya secara yang lucu sekali, diam-diam telah tertawa geli.
Anak muda itu melihat Ban Siong Tojin wajahnya sudah menjadi hitam legam.
layang meyakinkan ilmu hitam, jika sedang mengerahkan tenaga dalamnya membuat sekujur badannya berubah hitam.
Wajahnya benar benar sangat bengis dan menakutkan.
Tok kay Kang ciong dilain pihak wajahnya memerah seperti arang membara, menyiarkan bau amis yang membuat orang yang mengendusnya mual dan mau muntah.
Dua jago dari kelas tinggi berhadapan, tentu saja tidak sembarangan mengukur tenaganya.
Mereka tak bertanding rapat, tapi dari jarak jauh.
Masing-masing menggunakan tenaga dalamnya.
Mereka menyerang dengan angin telapakan tangannya yang dahsyat.
Telapakan tangannya Ban Siong Tojin hitam, sedang Tok-kay merah membara.
Beberapa gebrakan sudah lewat, ternyata masih belum kelihatan siapa yang bakal menjadi pecundangnya..
Kelihatan mereka masing-masing mundur beberapa tindak, lalu mengerahkan tenaga dalamnya yang istimewa dari latihan puluhan tahun.
Tampak diudara ada dua sinar hijau dan merah saling gempur, itulah sinar-sinar yang dikendalikan oleh tenaga dalamnya Ban siong dan Tok-kay.
Dua sinar itu indah sekali, kelihatannya tampaknya seperti yang menari-nari, tapi sebenarnya saling gempur dengan hebat.
Kekuatan Iweekang (tenaga dalam) yang demikian tingginya, jarang sekali terdapat di antara pendekar-pendekar, meskipun yang sudah dapat dikatakan ulung.
Ho Tiong Jong berdiri bengong menonton pertempuran yang langka itu.
Diam-diam ia sudah mengambil keuntungan, ialah memperhatikan jalannya pertempuran dengan seksama.
Ia coba asah otaknya untuk dapat memecahkan kelemahannya, dua jago kuat itu, tapi sia-sia saja.
Sayang pikirnya kalau ia tahu kelemahannya Tok kay Kang ciong, saat itu ia bisa turun tangan untuk menyingkirkan jiwanya dari dunia ini.
la menghela napas bila ia ingat dirinya masih belum mampu bertanding melawan Ban Siong Tojin yang tinggi ilmu kepandaiannya.
Matanya terus diarahkan pada jalannya pertandingan, ia mengharap dapat memiliki keandalan dari dua orang kuat itu, untuk kelak ia dapat gunakan melawan musuh.
Lama mereka berkutat dengan sikapnya masing-masing kemudian keputusan dicari dengan pertandingan menggunakan senjatanya masing-masing.
Sekarang tampak bandringan lawan kebutan yang dimainkan oleh dua jago kelas wahid, tentu saja pertandingan ini disaksikan oleh Ho Tiong Jong dengan hati terpesona.
Diam-diam ia sangat girang sekali, sebab dari pertandingan itu ia bisa menarik pelajaran untuk dirinya yang berkepandaian masih banyak kurang.
Serangan-serangan Tok kay ada lebih lihay, hingga tidak lama kemudian Ban Siong Tojin terdesak.
Satu kali ia sedikit lengah, topinya berikut rambut kepalanya kena kesabet bandringan Tok-kay.
Bukan saja Ban Siong Tojin sendiri sangat kaget, tapi Ho Tiong Jong yang melihatnya berdebaran hatinya.
Pikirnya, ia tidak boleh tinggal diam saja, ia harus turun tangan untuk membantu pada Ban Siong Tojin menyingkirkan si kejam.
Tapi ketika ia mau menyeburkan dirinya Tok-kay berteriak.
Bocah, kau mundur.
Aku tidak perlu dengan bantuanmu.
Demikian dengan Ban Siong Tojin juga berkata, supaya Ho Tiong Jong mundur jangan turut campur, sebab jiwanya bisa melayang.
Ho Tiong Jong mundur lagi dan berdiri dengan pikiran.
Bagaimana sebenarnya pandangan dari kedua orang tua itu terhadap dirinya.
Tengah pertempuran dilakukan dalam detik-detik yang menentukan tiba-tiba terdengar suara orang ketawa dari atap rumah, kemudian berkata.
Hei Ban Siong Tojin, kau ini sudah puluhan tahun mengasingkan diri, tapi tabiatmu yang sombong masih seperti dahulu kala saja.
Dan ini si pengemis tua Kang ciong, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk apa masih belum mau menyerahkan kepalamu untuk di penggal?
Tok kay Kang ciong mendengar orang memaki padanya sudah menjadi sangat gusar.
Dengan suara bengis ia menjawab.
Dari mana datangnya manusia liar tidak tahu malu ?
Kau berani menghina aku?
Lekas turun dan boleh mengerubuti aku seorang diri.
Aku tanggung dalam beberapa gebrakan jiwamu akan sudah melayang menghadap Giam-lo-ong.
Terdengar orang di atas atap rumah tertawa dingin.
Hm..
Ia menggeram.
Lohu sudah sampai begini tua, belum tahu ada orang mengatakan manusia liar , baru kali ini ia mendengarnya.
Tok-kay alih kan pandangannya kearah suara tadi, hatinya tiba-tiba sangat terkejut.
Kiranya yang datang itu ada Pocu dari Seng-kee-po yang namanya terkenal dalam rimba persilatan, ialah Seng Eng.
Lalu Tok-kay melihat pada Ho Tiong Jong anak muda ini tinggal tenang tenang saja.
Hatinya Tok-kay memuji ketabahannya, akan tetapi ia tidak tahu kalau Ho Tiong Jong tidak kenal pada orang yang baru datang itu.
Hei, bocah, lekas kau naik keatas.
Lihat, masih ada beberapa orang lagi yang menyembunyikan dirinya.
Ho Tiong Jong tanpa disuruh untuk kedua kalinya sudah lantas enjot tubuhnya melesat keatas atap rumah.
Seng Eng menyaksikan lompatan Ho Tiong Jong yang bagus, diam-diam dalam hatinya menanya, sejak kapan pengemis kejam ita mendapat murid yang begitu pandai ilmu mengentengi tubuhnya?
Ho Tiong Jong sendiri heran, kenapa waktu itu telah menuruti saja perintahnya Tokkay tadi.
Tapi sekarang ia sudah berada di atas rumah, terpaksa ia harus memeriksa keadaan disekelilingnya.
Tiba-tiba ia mendapat lihat diluar tembok peka rangan ada berkelebat bayangan orang.
Pikirannya sangsi apakah ia kasih tahu pada Tok-kay atau jangan?
Saat itu tiba-tiba terdengar suaranya Seng Eng lagi.
Hei, pengemis tua, biasanya kau sangat sombong, memandang aku sangat rendah.
Nah, sekarang aku datang hendak membuat perhitungan dengan jiwa anjingmu.
Tentang penyimpanan harta bendamu yang besar itu, lebih baik kau angkat pemuda itu sebagai akhli warismu?
Ha ha ha Ho Tiong Jong mendengar kata-kata seng Eng menjadi marah.
Semula ia mengira Seng Eng ada satu pendekar budiman mencari Tok kay untuk membasmi kejahatan.
Tidak tahunya bahkan mereka berdua iiu ada setali tiga uang.
Dua-dua ada satu kwalitet, apa yang mereka pertengkarkan hanya berkisar pada kejahatan.
Ia jadi ingat akan kata-katanya Kho Kie, bahwa benggolan-benggolan dari Seng kee-po seharusnya digantung mati.
Diam-diam hatinya pemuda itu tidak puas.
Apa yang dikatakan oleh Kho Kie itu memang beralasan, setelah ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri sekarang.
Seng Eng dan Tok-kay perlu dibasmi.
demikian pikirnya.
Tiba-tiba terdengar Tok kay berkata.
Seng Pocu, kau kasih harga terlalu mahal, aku tidak dapat membayarnya..
Ho Tiong Jong makin kaget mendengar Tok kay berkata demikian-la terus pasang telinganya dengan pikiran melamun.
Hatinya merasa cemas jika melihat sepak terjangnya Seng Eng, ayah nona Seng ini.
Nona Seng sudah melepas budi padanya, pantas ia membelanya mati-matian, tapi ia kecewa menemui ayahnya bukannya orang baik-baik.
Dugaannya ayahnya nona Seng ada seorang pendekar ternama dan budiman, ternyata kecele.
Terbenam dalam soalnya keluarga Seng Imembuat ia tidak tahu kalau diam-diam ada dua orang mendekati padanya.
Mereka itu ada si Ular Kembang Tham Kek dan si Rajawali Botak le Yong, dua orangnya Seng Eng yang sangat diandalkan.
Mereka heran ketika sudah datang dekat Ho Tiong Jong seolah-olah tak menghiraukan-Tok-kay terlaki Ho Tiong Jong supaya lekas melarikan diri.
Ketika tersadar dari lamunannya, pemuda itu sudah lantas lompat mundur dan hendak melarikan diri, tapi sudah keburu di terkam oleh dua orang dari seta dan memperhatikan gerak-geriknya.
Melihat Ho Tiong Jong di halang halangi.
Tok-kay kembali dari larinya hendak memberikan pertolongan, akan tetapi Seng Eng sudah melancarkan serangan kepadanya.
Terpaksa Tok-kay harus melayanijago dari Seng keepo ini.
Hatinya Tok kay gelisah ketika melihat Ho Tiong Jong hendak dicengkeram oleh Ie Yong yang mengeluarkan ilmunya Eng-jiauw-kang.
Suatu cengkeraman yang berbahaya sekali.
ia mengerahkan tenaganya dan mengirimkan serangan telapakan tangan yang mengandung angin keras, maksudnya supaya dapat memukul mundur Seng Eng.
Sementara itu mulutnya berteriak-teriak supaya Ho Tiong Jong lekas melarikan diri Ho Tiong Jong ketika sadar dirinya diserbu orang lantas menegasi siapa adanya mereka itu.
kiranya ada Si Ular Kumbang dan si Rajawali Botak yang ia kenal ketika di Seng kee-po.
Hei, dua saudara ini kenapa hendak menangkap aku?
tanyanya heran.
si Rajawali Botak dan si Ular Kumbang menjadi kemekmek melihat yang akan dijadikan mangsanya itu ada Ho Tiong Jong yang mereka tahu betul pemuda itu sudah mati.
Yang tersebut duluan menarik miring cengkeramannya.
selain yang tersebut belakangan juga sudah cepat menarik kembali serangannya yang sudah hampir dilancarkan-Kau..
kau..
katanya hampir berbareng.
Matanya terbelalak mengawasi Ho Tiong Jong.
Menggunakan kesempatan mereka sedang terbelalak bengong.
Ho Tiong Jong sudah lari meninggalkan mereka.
Seng Eng melihat ia sendiri telah gagal menangkap Tok kay, sedang dua orangnya juga tidak berhasil menangkap lawannya, sudah menjadi marah-marah kepada dua orangnya.
Kalian namanya saja jagoan, tapi menyerang saja pada pemuda itu tidak berani.
Apa kegunaannya kalian?
Hmm...Aaa Pocu nanti dahulu, aku mau beri laporan.
Orang itu aku kenal bernama Ho Tiong jong demikian ie Yong memberitahukan kepada majikannya.
Kau kenal padanya, tapi kenapa kau tidak berani melancarkan serangan?
Pocu orang itu sudah mati.
Aku melihat dengan mata kepala sendiri.
Seng Eng mendelik matanya.
Kau lihat dimana ?
tanyanya^ Di Seng-kee-po.
Hm menggeram Seng Eng.
Jadi kalian mengira telah melihat setan, bukan?
Tham Kek dan Ie Yong saling pandang satu sama lain, batinya mereka risau sekali, sebab mereka tahu adatnya sang Pocu yang kejam, dalam marahnya ia bisa membunuh mati kepada mereka berdua.
Dalam keadaan demikian tiba-tiba ie Yong ingat sesuatu, ia lantas berkata.
Ya, Pocu, aku terus terang bicara pada Pocu, bahwa kematiannya orang itu ada bersangkutan dengan nona Seng.
Diwaktu magrib nona Seng menyuruh aku menguburkan orang itu.
Tapi lantaran peti mati belum sedia maka mayatnya lantas ditaruh dahulu di kuil Po-im-yan.
Menurut pemeriksaanku, memang orang itu sudah mati..
Ya, sudahlah.
memotong sang majikan.
Seng Eng hatinya mendadak lunak, ketika mendengar disebutnya sang putri yang amat dimanjakan itu ada tersangkut.
Tapi apakah betul orang itu ada orang yang kau katakan sudah mati?
Karena orang ada yang pengawakan dan wajahnya serupa, kau jangan salah lihat.
Sekarang begini saja, kau pulang dan lihat di kuil Po im-yan masih ada atau tidak?
Kalau ia masih kedapatan disana melintang, awas, aku akan cabut nyawamu Ie Yong danTham Kek menjadi melongo Badannya bergemetaran dan keringat dingin keluar membasahi tubuhnya.
setelah berkata pada mereka Seng Eng berpaling pada Ban Siong Tojin, berkata.
Hmm..
Sifatmu ini selalu tak dapat dirubah, sayang aku tidak membawa Pek Boe Taysu kalau tidak.
mereka mana dapat meloloskan diri dari tangan kita?
Tapi tidak apa, ada satu waktu mereka akan terjatuh juga ditangan kita.
Aku sebenarnya merasa cemas sekali.
memotong Ban Siong Tojin, Aku sudah beberapa tahun melatih Tenaga cerdasnya Burung , Supaya dapat melawan ilmu Telapakan Tangan Berdarah musuh, tapi..
Ban Siong Tojin tidak meneruskan perkataannya, karena diselak oleh tertawanya Seng Eng yang bergelak-gelak.
llmu Telapakan tangan berdarah orang itu dilatih sampai sekarang, entah sudah menelan berapa banyak jiwa.
Kau mana dapat menandinginya.
Nah, sekarang lebih baik kita pulang dahulu Besok pagi, kau yang menjadi Taysu di luitay.
Mereka berempat lalu meninggalkan tempat itu.
Ketika mereka berjalan sampai ditempat Ho Tiong Jong membereskanjiwanya Sepasang orang ganas ada orang melaporkan tentang ditanamnya dua mayat disitu.
Mereka ketarik hatinya, lantas kuburan Sepasang orang ganas dibongkar, kiranya dua orang itu ada dua penjahat ulung.
Tanda-tanda bekas pukulan menunjukan kematian mereka terkena pukulannya ilmu Kim ci Gin ciang, ilmu istimewa San-yu Lo-long Kong Teng Shoe.
Mereka kemudian pergi ke kuil Po-im-yan, disitu tidak kedapatan mayatnya Ho Tiong Jong, dari sini kenyataan bahwa Ho Tiong Jong sudah melarikan diri.
Si Raja wali Botak Ie Yong menduga-duga akan duduknya perkara.
Ho Tiong Jong mungkin ada permusuhan dengan Sepasang orang ganas mereka telah berjumpa bertempur dengan kesudahan yang tersebut belakangan menemui ajalnya, melihat lukanya si Raksasa lu Goei, juga tentu ada perbuatannya Ho Tiong Jong yang menggunakan ilmu.
Pasir Terbang telah melukai matanya, hingga sekarang orang punya mata menjadi tinggal satu.
Mungkin, karena ketakutan banyak golongan partai marah kepadanya, karena perbuatannya itu, maka ia sudah pura-pura mati dan kemudian melarikan diri.
Demikian pikiran ie Yong yang diberitahukan kepada sang majikan, tapi ia tidak menerangkan halnya nona Seng punya perlakuan terhadap Ho Tiong Jong bertempur dengan sepasang orang ganas karena hendak membelai nona Seng.
Walaupun demikian, Seng Eng sebagai ayah yang menyintai anaknya tentu sudah dapat mengetahui dan memahami hatinya sang puteri.
Meskipun dalam kata kata.
Mengadu silat mengumpulkan sahabat ada tersembunyi maksud tertentu, tapi biar bagaimana tujuannya pertemuan itu adalah untuk memilih pemuda yang dirasa cocok untuk dijadikan mantunya pemimpin dari benteng Seng kee po.
Riwayat dan kepandaian Ho Tiong Jong meskipun wajahnya cakap dan pengawakannya tak tercela, tidak setimpal untuk menjadi kawan seumur hidupnya nona Seng.
Kini Ho Tiong Jong sudah melarikan diri, memang itu ada baiknya.
Memikir sampai disini.
ie Yong merasa sungkan untuk membocorkan rahasianya nona Seng kepada majikannya, sebab ini kalau diketahui dalam kalangan kangouw ada tidak baik.
juga tentang dirinya yang takut dengan setan tentu akan menjadi buah tertawaan di kalangan kangouw manakala diketahuinya.
Kalau sampai begitu, dimana ia akan menaruh mukanya lagi?
Mengingat akan hal ini, maka dengan ketawa nyengir ia berkata pada majikannya.
Ya Pocu.
aku harap halnya kami takut dengan setan sukalah tidak disiarkan terlebih jauh, untuk mana kami mengucapkan banyak banyak terima kasih.
Seng Eng kerutkan alisnya sejenak.
kemudian menjawab.
Hm Kau masih ada muka untuk minta dilindungi hal demikian ?
Pocu dari benteng Seng-kee-po tampak marah betul.
Nah, sekarang begini saja.
Diantara kalian berdua siapa yang berani mengejar dia.
Si Ular Kumbang Tham Kek susah hatinya, dari setadian ia tundukkan kepalanya.
Mendengar perkataannya sang majikan, ia lalu angkat kepalanya dan berkata.
Pocu, biarlah aku menebus dosaku, akan kucari dia dimana tempatnya.
Begitu Pocu memberi izin aku akan segera mencarinya.
Seng Pocu hatinya girang, parasnya berubah lunak lagi.
Ya, karena kalian sudah mengaku kesalahannya, kata Seng Eng.
aku juga tidak mau mengungkat-ungkat lagi urusan ini.
Nah Ban Siong Totiang, lihatlah mukaku harap kau juga bisa menyimpan rahasia urusan ini.
Ban Siong Tojin tertawa terbahak-bahak.
Jangan kuatir, katanya, aku akan tepati pesan ini.
Mana aku berani tidak menyetujui sebab kalau kebentrok dengan mereka berdua mana bisa aku mengasingkan diri dengan hati tentram..
Sudahlah, Seng Eng memotong, Kau jangan banyak bicara, sekarang lekas lekas mengatur orang yang boleh dipercaya untuk menyelidiki sekitar tempat seratus li luasnya.
Kalau perlu, boleh juga menyuruh bajingan bajingan ditempat ini untuk bantu menyelidikinya.
Harus menggunakan akal untuk menghadapmya dan boleh bertempur sesuka hati kalian mengerti.
Berempat lalu berpisahan, masing-masing hendak mengatur tugasnya.
ooOOoo Diceritakan Ho Tiong Jong ketika siular sudah mencapai lima-enam lie, lantas perlambat larinya sambil matanya menyapu kesekelilingnya tempat.
Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan.
Ketika ditegasi, bayangan itu ternyata ada Tok kay yang sedang berdiri dibawah pohon dengan semangkok bubur ditangan.
Ha ha ha ia tertawa pada Ho Tiong Jong.
Matanya si pemuda mengawasi pada si pengemis kejam, tapi tidak mengutarakan kebencian diwajahnya, ketika ia datang dekat pada Tok kay, yang tersebut belakangan berkata.
Bocah, kau baru sampai?
Barusan aku juga baru sampai habis minta-minta bubur pada orang.
Apa kau tidak merasa lapar?
Kalau tidak merasa kotor ini, mari kita makanmakan sama-sama ?
Ho Tiong Jong yang memang sudah sangat lapar tidak sungkan-sungkan lagi lantas menemani Tok-kay duduk diatas rumput dan makan bubur bersama-sama.
Selagi mereka asik makan dengan gembira, tiba-tiba ada muncul seekor binatang serigala menghampiri mereka.
Diam-diam Tok-kay memungut batu kecil, dengan sekali sentil batu itu meluncur lebih cepat dari peluruh dan kena tepat dibagian tabuhnya yang mematikan.
Terdengar raungannya yang mengerikan, setelah berkelejatan, serigala itu telah habis nyawanya.
Ho Tiong Jong kerutkan alisnya.
Kau kenapa membunuh padanya?
ia menanya dengan nada tidak puas.
Karena ia akan merebut makanan kita.
jawabnya.
Kau terlalu kejam...kata pula Ho Tiong Jong menghela napas.
Tok-kay Kang Hlong hanya tertawa nyengir.
Bocah, mari aku ceritakan riwayat hidupku, apa kau suka mendengarnya ?
Ho Tiong Jong girang hatinya, memang ia kepingin tahu asal usulnya orang kejam ini.
la tidak menjawab, hanya kepalanya dianggukkan.
Setelah menyeka mulutnya dengan lengan bajunya yang kotor, pengemis tua itu telah menceritakan kisahnya seperti berikut.
Kiranya ia dalam usia dua belas tahun sudah menjadi pengemis.
Pada waktu itu ibunya telah meninggal beberapa tahun.
Ia jadi dibawah penilikan ayahnya yang bengis terhadapnya.
Belakangan sang ayah telah menikah lagi, ia jadi mempunyai ibu tiri.
Maklumlah, ibu tiri itu selalu tidak dapat akur dengan anak tirinya.
Ia juga mendapat perlakuan yang bengis dari ibu tirinya itu.
Pada suatu hari dalam sekehendak ia telah dihajar oleh kawannya yang lebih besar sehingga mukanya matang biru.
Ketika pulang kerumah, bukannya dimenangkan oleh ayahnya malah ia ditambah dengan pukulan hebat.
Maka sejak itu ia insaf, bahaya manusia hidup didunia ini, baru dapat hidup merdeka kalau dapat hidup dengan tenaga sendiri.
Pada hari kedua ia dari rumah bawa buku-buku mau pergi sekolah tapi sebenarnya ia tidak masuk sekolah hanya pergi pada satu pengemis tua untuk main-main dan mengobrol.
Ia tahu bahwa pengemis tua ini suka menangkapi binatang binatang berbisa seperti kelabang, kalajengking dan sebangsanya yang beracun, kemudian dijual dan uangnya dipakai membeli arak untuk diminum.
Diantara binatang binatang berbisanya itu terdapat satu kalajengking besar yang disimpan dalam sebuah bumbung bambu.
Katanya binating itu sangat berbisa siapa yang kena disengat olehnya akan binasa.
Pada satu hari ia telah mencuri sepotong perakan dari ayahnya dan diberikan pada pengemis tua itu untuk membeli araknya.
Pengemis tua itu kegirangan, setelah membeli arak lalu diminumannya dirumah sampai ia makan dan tidur pulas.
Menggunakan kesempatan itu, ia sudah curi kalajengkingnya yang beracun itu.
Ia bawa itu kesekolahnya dan ditaruh disatu lubang batu dibelakang rumah sekolah, diatasnya bumbung ia taruhi uang dan dua buah.
Kemudian pada hari itu ia traktir makan pada teman-temannya, tidak terkecuali anak yang tempo hari telah memukuli mukanya hingga bengkak.
Anak itu menanyakan dari mana ia mendapat uang, dengan berbisik ia ceritakan bahwa ia dapat uang dibawahnya lubang batu dibelakang rumah sekolah.
Hal mana sudah tentu mengherankan.
Anak itu ketarik hatinya untuk mendapatkan uang dari dalam lubang.
Dijanjikan oleh Kang ciang akan diantarkan kesana kalau sebentar sekolahan sudah bubaran.
Demikian anak yang besaran itu diantar olehnya ketempat dimana disimpan kalajengking berbisa.
Ia yang mula mula mengulurkan tangannya kedalam lubang mengambil uang, berbareng ia sudah membuka lubang bumbung bambu binatang kalajengking itu.
Ketika ia unjukkan uang yang didapati dari lubang, anak yang memukul padanya telah timbul keserakahannya dan menendang padanya sampai bergulingan ditanah.
Kemudian anak itu sendiri telah memasukkan tangan-nya kedalam lubang batu untuk mengambil uang, tidak tahunya ia telah diantuk oleh kalajengking sehingga ia keluarkan jeritan tertahan.
Tidak lama kemudian mukanya menjadi biru dan hitam, la meringis-ringis merasa kesakitan, kemudian ia rubuh terbinasa.
Kang ciang balas menendangnya dengan sengit sebagai bayar hutang untuk tendangan anak yang mati tadi lakukan kepadanya.
Setelah itu ia lalu kabur kerumahnya si pengemis tua dan menceritakan kejadian dalam sekolahannya, lantaran mana pengemis tua itu menjadi ketakutan dan ajak ia kabur bersama-sama.
Pengemis ini belakangan menjadi gurunya dan yang memberi pelajaran ilmu silat kepadanya.
Ketika ia sudah berumur dua puluh tahun baru ia tahu kalau pengemis itu hanya menurunkan sepuluh persen saja kepandaian ilmu silatnya kepadanya, la tahu bahwa pengemis tua itu ada menyimpan buku tentang ilmu silat yang lihay.
Sampai disini Ho Tiong Jong mendengarkan ceritanya Tok-kay, diam-diam dalam hatinya berkata.
Pantas Tok-kay ini kejam, karena sudah sejak kecil ia jahat tukang mencelakai orang.
Meskipun berpikir kesitu, ia tidak takut dan terus mendengarkan, riwayatnya Tokkay yang ia sangat kepingin tahu.
Tok kay cerita selanjutnya.
Setelah mengetahui suhunya ada mempunyai kitab ilmu silat pusaka yang dinamai kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati , ia telah minta diajari ilmu silat berdasarkan dari buku itu.
Tapi suhunya berkata.
Kitab ini hanya satu
Jilid saja.
tapi lengkap dengan berbagai ilmu silat dari banyak partai yang terkenal.
Satu saja kau dapat mempelajari dari banyak ilmu pukulan dalam buku itu, kau sudah dapat menjagoi di kalangan Kangouw.
Sayang kau terlalu jahat dan suka membunuh orang, makanya aku tidak mau menurunkan pelajaran itu kepadamu.
Selanjutnya, jika kau tidak mau merubah sifatmu yang jahat itu, terpaksa aku akan turun tangan membunuhmu untuk kepentingan rakyat yang tidak berdosa.
Mendeagar kata-katanya sang suhu yang terus terang, bukannya ia mengerti dan dapat merubah tabeatnya yang jahat, malah ia sudah meracuni suhunya sampai binasa dan ia lalu memiliki kitab yang ia sangat idam-idamkan itu.
Mendengar ceritanya Tok-kay sampai disini, Ho Tiong Jong berkata dalam hatinya ada sangat jahat, aku harus membunuhmu Saat itu Tok-kay juga sedang melayang-layang pikirannya kemasa lampau, kepada satu wanita cantik pujaannya, hingga bubur yang disuapkan kemulutnya ia telan tanpa merasa.
Ho Tiong Jong pikir saat itu ada disuapkan kemulutnya ia telan tanpa merabaHo Tiong Jong pikir saat itu ada waktunya yang baik untuk turun tangan, ia lalu mengulurkan tangannya kebahu orang, akan tapi Tok kay miringkan badannya untuk menghindarkan tepukan Ho Tiong Jong.
Bocah kau hendak menyerang aku?
tanyanya heran.
oh.
bukan, bukan, aku hanya hendak menepuk binatang tawon yang ada dipundak mu.
jawab Ho Tiong Jong dengan sedikit gugup, Tok-kay dengan ragu-ragu anggukkan kepalanya.
Untuk menyampingkan perhatiannya Tok-kay Ho Tiong Jong menanya.
Malam ini aku pikir tidur dilapangan lebih baik PADA pagi harinya Ho Tiong Jong terbangun dari tidurnya, ia melihat Tok-kay telah berjalan meninggalkan dirinya dengan menggunakan ilmu lari cepatnya, dan Ho Tiong Jong tetap mengintil dibelakang nya.
Tok-kay merasa heran, meski ia sudah jalan lebih dahulu dan mengerahkan ilmunya yang sangat ia andalkan, Ho Tiong Jong masih tetap mengintilnya.
Ho Tiong Jong sambil mengikuti lari.
otak nya bekerja.
Pikirnya, pengemis tua ini sangat jahat, kalau dibiarkan tinggal hidup entah berapa banyak korban lagi akan binasa ditangannya.
Baik ia mengikuti jejaknya, sebentar dalam kuil kalau ia mau menurunkan pelajarannya ia akan terima, tapi ia tetap menghendaki jiwanya manakala ia mendapat kesempatan untuk membunuhnya.
Tidak lama mereka sudah sampai disuatu tempat dimana ada berdiri sebuah kuil tua yang sudah rusak.
Tok-kay ajak Ho Tiong Jong masuk.
ia telah menyalakan lilin.
Keadaan disitu ada bersih, mereka berdua kemudian pada duduk diatas tikar dan bercakap-cakap.
Tiba-tiba Ho Tiong Jong timbulkan keinginan untuk belajar katanya^ ln, locianpwe sudilah kiranya kau memberi beberapa pelajaran ilmu silat padaku?
Aku meski pandai dari kecil sudah belajar lweekang, tapi hanya dapat menggunakan dua belas jurus saja ilmu golok setelah habis ini aku tidak punya kemampuan lagi untuk menandingi lawanHmm aku sudah lihat caramu menyerang musuh tadi, memotong Tok-kay.
Memang gerakanmu masih terbatas sekali.
Meskipun Iweekangmu baik, tapi belum dapat diandalkan untuk bertempur.
Pada waktu kau menyerang dengan golokmu, aku lihat gerakan itu ada pelajaran dari Thian-san-pay yang amat lihat yang dinamai Jancong can-soat (burung belibis menerjang salju).
Aku tidak menduga kalau kau mendapatkan pelajaran tanpa guru.
Belajar tanpa guru tidak mungkin kita mendapat kepandaian, yang mahir, kau tahu?
Ho Tiong Jong anggukkan kepalanya.
Aku bersedia untuk menurunkan kepandaianku padamu, jikalau kau menghendakinya, tapi..
Si pengemis beracun merandak disitu, matanya mengawasi pada si pemuda.
Ho Tiong Jong yang haus dengan pelajaran ilmu silat menjadi tidak sabaran.
Tapi kenapa?
tanyanya.
Tapi ada syaratnya.
si pengemis telengas kata sambil tertawa nyengir.
Ho Tiong Jong kerutkan alisnya, entah syarat apa yang diminta oleh pengemis jahat tapi lihay ini?
Locianpwee coba kau jelaskan syaratnya bagaimana?
ia menanya.
Syaratnya, ialah dalam tempo sepuluh tahun kau harus menurut segala perintahku, meskipun aku menyuruh kau membunuh orang atawa membakar rumah kau harus menuruti perintahku.
Bagaimana, kau sanggup?
Ho Tiong Jong dibikin melongo oleh perkataan Tok kay yang seram.
Tapi Locianpwee..
Ho Tiong Jong berkata gugup dan tidak lampias.
Ha ha ha...Tok-kay tertawa.
Boleh kau tahu hatiku amat ketarik olehmu.
Entah apa sebabnya, aku sendiri tidak tahu dan merasa sangat heran.
Tentang riwayat hidupku selainnya kau ada seorang lagi yang mengetahuinya, yalah salah satu dari lima tokoh yang namanya menonjol dalam rimba persilatan pada dewasa ini.
Ha ha ha Ho Tiong Jong diam-diam merasa heran, bagaimana orang yang begini kejam bisa mempunyai hati meny intai kepada sesamanya misalnya kepada dirinya seperti yang dikatakan tadi oleh si pengemis tua?
Locianpwee, orang itu siapa namanya?
tanya Ho Tiong Jong, yang ingin mengetahui siapa orangnya yang telah mengetahui riwayat hidupnya si pengemis tua.
orang itu adalah pemilik rumah es di Taypek san Kok Lo-lo (nenek Kok).
Ho Tiong Jong terkejut.
Ia tahu bahwa nenek pemilik rumah es di Tay pek-san itu ada gurunya nona Seng yang kepandaiannya sukar diukur.
Ia menatap wajahnya Tok-kay, yang saat itu tampak seperti yang penasaran sekali.
Ia hendak membuka mulutnya menanya, tapi Tok-kay sudah menyambung lagi bicaranya, setelah ia menghela napas.
Kau tahu, Kok Lo-lo pada tiga puluh tahun yang lampau merupakan satu gadis yang cantik jelita sukar dicari keduanya.
Pada waktu ilmu silatku belum pandai betul, tapi karena keberanianku suka membunuh orang dan menggunakan racun, maka dikalangan kangouw orang telah memberi julukan padaku Tok-kay (pengemis beracun).
Si pengemis tua bicara sampai disitu kelihatan merasa bangga sekali.
Selanjutnya ia mengisahkan pertemuannya dengan Kok Lo lo dikaki gunung Taypekssan dan jatuh cinta kepada Kok Lo-lo, yang pada masa itu merupakan gadis yang luar biasa cantiknya.
Tanpa merasa kakinya telah mengikuti jejaknya nona Kok yang sedang naik gunung.
Ditengah jalan nona Kok berhentikan tindakannya, menantikan ia datang dekat dan lalu menanya.
Aku tidak tahu.
semangatku telah terbawa olehmu.
jawabnya.
Nona Kok bersenyum manis menggiurkan, hingga hatinya Tok-kay menjadi berdebaran keras.
Diam diam ia berpikir.
Kau biar bagaimana harus menjadi milikku Engkau tidak seharusnya mengikuti seorang gadis yang tidak dikenal kata pula nona Kok.
Kalau kau masih terus mengintil aku akan marah.
Suaranya si nona demikian merdu merayu, bagaimana Tok-kay tidak jadi tertegun dan berdiri seperti kakinya terpaku.
Ia tidak bisa menjawab kata-katanya nona Kok.
hanya matanya saja yang dapat bicara menatap terus pada wajahnya sinona yang cantik menarik.
Nona Kok segera meninggalkan ia setelah mengerlingkan matanya yang jeli.
Sebenarnya Tok-kay tidak akan tinggal diam mendapat perlakuan demikian, kalau saja ia menghadapi lain gadis.
Terhadap nona Kok ia harus membawa kelakuan yang sopan santun, seberapa bisa menutup kekasarannya, agar sinona ketarik dan menyerah kepadanya tanpa paksaan.
Ia ingin hidup dengan sinona penuh kebahagiaan.
Setelah nona Kok berlalu sampai tak kelihatan bayangannya pula, Tok kay lalu duduk diatas batu besar diam dengan termenung-menung.
Ia kelelap didalam lamunannya sampai tidak merasa kalau sang malam telah dilewati olehnya dengan hanya duduk terus diatas batu.
Pagi-pagi sekali tampak nona Kok turun gunung.
Hatinya Tok kay berdebaran, ia tidak tahu harus bagaimana ia membawa dirinya supaya disuka oleh nona pujaannya itu Ia diam saja tidak menegur.
Berpura-pura.
Seperti mana sedang menanggung kesal, ia tundukkan kepalanya pada saat nona Kok lewat didepannya.
Hei, kau masih ada disini?
tanya nona Kok tiba-tiba.
Tok-kay angkat kepalanya dan melirat nona Kok berdiri didepannya seperti juga bidadari yang baru turun dari kayangan.
Ia begitu cantik begitu menarik dan bergoncanglah hatinya To kay karenanya.
Ya, aku masih ada disini..
jawab Tok-kay perlahan-Hei, kenapa begitu?
Nona, aku mohon belas kasihanmu.
Janganiah kau sia siakan perasaan hatiku telah jatuh cinta dengan setulus hati padamu.
Parasnya nona Kok bersemu merah mendengar kata-katanya yang tidak pakai tedeng aling aling, tapi ia masih bisa bersenyum manis.
Apa kau teras bercokol disini, tidak pernah berlalu sejak kemarin kita bertemu?
tanya nona Kok.
Ya, jawabnya sambil anggukkan kepala.
Betul.
si nona menegasi.
Langit dan bumi menjadi saksinya.
Sejak kemarin kau meninggalkan aku sendirian di-sini, aku tak pernah berlalu barang sedikit-pun dari sini.
Kenapa begitu?
Ah nona, apa kau masih belum mengerti pengakuanku yang terus terang tadi?
Nona Kok tertawa.
Aku tidak menduga kau bisa berlaku demikian, katanya.
Nona, sekali sukmaku tertawan, olehmu, tak gampang gampang aku menariknya pulang.
Kembali Nona Kok unjuk senyumnya yang manis.
Nah baiklah, katanya.
Kalau kau memang bersungguh-sungguh hendak hidup bersama sama aku, akupun tidak keberatan.
Asal saja..
Tok-kay gelisah hatinya, ketika melihat si nona tidak meneruskan kata katanya.
Ketika ia mau membuka mulut, nona Kok sudah berkata lagi.
asal saja kau dapat memenuhi dua syarat..
Katakan lekas syaratmu itu, memotong Tok-kay tidak sabaran.
Nona Kok berpikir sebentar.
Syarat yang kesatu, katanya dengan sungguh-sungguh.
kau yang banyak melakukan perbuatan berdosa, harus menebus dosamu itu dengan merubah diri dari orang jahat menjadi orang baik-baik dan menjalankan penghidupan dalam kalangan kangouw sebagai pendekar untuk membela keadilan dan menumpas kejahatan, bagaimana kau sanggup?
Sanggup, sanggup jawab Tok-kay tanpa pikir pikir lagi.
Bagus.
kata lagi nona Kok.
Dan sekarang syarat yang kedua, jalan lelaki yang menjadi suamiku harus ilmu silatnya ada letih tinggi dan pada aku sendiri.
Kalau kau dapat memenuhkan dua syarat ini aku tidak keberatan untuk menjadi isterinya.
Tokkay tertawa terbahak-bahak.
Ia pikir dua syarat itu terlalu ringan.
Untuk merobah dirinya menjadi orang baikbaik, apa susahnya?
juga untuk membuktikan ia ada lebih unggul, apa sukarnya.
Nona Kok ada begitu lemah-lembut, yang kata peribahasa kes amber angin juga akan sempoyongan, bagaimana ia bisa tahan ilmu silatnya yang sudah dilatih banyak tahun ?
Maka ketika itu juga, setelah ia menghentikan tertawanya kemudian ia berkata kepada nona Kek.
Nona, dua syarat itu aku terima baik.
Supaya lebih cepat kita mencapai buktinya, apa tidak lebih baik kalau kita mulai dengan syarat yang kedua dahulu ?
Nona Kok bersenyum.
Baik, itu bagus jawabnya.
Tok-kay tidak pandang mata kepandaiannya si gadis, maka begitu ke duanya sudah siap bertempur, ia mendahului berkata pada nona Kok.
Nona.
silahkan kau menyerang lebih dulu.
Nona Kok bersenyum manis.
Ia tidak sungkan-sungkan lantas turun tangan menyerang.
Diluar dugaan sama sekali Tok kay, bahwa kepandaian sinona ada sangat tinggi, sebab selanjutnya ia menempur si nona telah menjadi keteter.
Meskipun seluruh kepandaiannya ia telah keluarkan, akan tetapi sia-sia saja.
Akhirnya, setelah dengan susah payah Tok-kay melayani si nona puluhan jurus, pada jurus ke lima puluh entah bagaimana nona Kok bergerak.
tahu-tahu ia sudah terpental sampai beberapa tombak dan rubuh ditanah sebagai pecundang.
Sampai disini Tok-kay Kang ciong menutur telah berhenti sebentar, untuk menarik napas.
Parasnya seperti yang mengandung penuh penasaran.
Ho Tiong Jong yang terus mendengari penuturannya sipengemis beracun yang panjang lebar, saat itu juga hatinya tergerak untuk menyingkirkan pengemis jahat ini di-waktu ia terbenam dalam lamunannya mengenangkan masa yang lampau.
Tapi heran tangannya tak dapat bergerak.
rasanya berat sekali.
Inilah karena hatinya merasa tidak tega, mengingat seorang yang begitu jahat seperti Tok-kay Kang ciong masih punya perasaan cinta dan hendak memperbaiki dirinya menjadi orang baik-baik?
Tiba tiba Ho Tiong Jong tertawa.
Hei, kau tertawai apa bocah?
tegur Tok kay.
Aku tertawakan locianpwee, karena buat apa dimiliki itu kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati, kalau tidak dipelajari sungguh-sungguh untuk mengalahkan lawanHaiii seru Tok-kay seperti yang baru tersadar dari tidurnya, berbareng ia memukulkan telapakan tangannya kearah tanah, hingga berbunyi wut dan tampak tanah serta batu berhamburan diatas tanah tampak bekas telapakan tangan yang memerah seperti darah.
Ho Tiong Jong sangat terkejut, ia tidak mengira reaksi dari perkataannya tadi ada demikian hebatnya, Sementara ia terbengong-bengong, Tok-kay telah berkata.
Hei.
bocah, apa kau sudah lihat barusan?
Yang barusan itu adalah ilmu Telapakan Tangan Berdarah yang termasuk dalam ilmu hitam.
Kau tahu bagaimana dahysatnya ilmu itu, entah sudah berapa banyak jiwa melayang oleh karenanya, menurut pendapatku ilmuku itu hanya orang yang berkepandaian sangat tinggi saja baru menjadi lawanku yang pantas Ho Tiong Jong melihat, meskipun dimulut Tok kay membanggakan pukulannya yang dahsyat, tapi diparas mukanya tampak seperti yang mengandung penasaran.
Locianpwe, ilmumu itu memang sangat hebat tapi heran, aku seperti melihat diwajah locianpwee seperti yang mengandung penasaran, kenapa?
Tok-kay anggukan kepalanya.
Betul, aku memang ada mengandung penasaran katanya.
Penasaran dalam urusan apa ?
Penasaran karena meskipun aku sudah dengan sungguh-sungguh menarik pelajaran dari kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati belum juga aku dapat mencapai pada puncaknya kemahiran.
Buktinya saban kali aku berjumpa dengan Kok Lo lo dan mengukur tenaga, penghabisannya aku kalah seketika.
Aku terus menjadi pecundangnya itu penghuni rumah es di-Tay pek-san Tok-kay berkata-kata merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah kantong dari sutra indah, panjangnya kira-kira lima dim, lebarnya tiga dim dan tebalnya setengah dim.
Mulut kantong diikat dengan seutas tali halus.
Ketika dikeluarkan isinya, ternyata ada kitab Kumpulan Ilmu Silat Sejati.
Buku itu tampak dibakal main ditangan-nya Tok-kay, Tiba-tiba parasnya kelihatan beringas, ia berkata dengan penuh kekuasaan.
Hmm Bukan inilah yang membuat seumur hidupku menjadi celaka Ho Tiong Jong melihat Tok-kay apa sedemikian marahnya, takut ia akan membikin hancur kitab ilmu silat yang berharga itu maka ia sudah berkata menghibur.
Ia, locianpwe, mungkin Kok locianpwe tidak memberi kesempatan karena locianpwe belum menurunkan syarat yang pertamanya yang lelah locianpwe sanggupi...Hei, bocah, kau jangan kata begitu.
Aku sudah delapan tahun teluh mengubah perbuatanku yang lama.
Selama itu bukan saja aku tidak berbuat jahat, malah membunuh juga seolah-olah pantangan untuku.
Aku terus berubah semua ini menjadi pendekar budiman, banyak orang aku telah tolong dan menyebarkan budi kebaikan.
Tapi hmm.
perbuatan bukan mendapat perhatian selayaknya dari Kok Lo lo, sebaliknya aku mendapat kabar dia telah menikah dengan seorang piauwsu bernama Lo Teng Kok di propinsi Ha pak.
Tiga hari tiga malam aku terus memikirkan kejadian itu, akhirnya hatiku yang panas tak dapat dikendalikan lagi.
Terus aku mencari Kok Lo lo ketempat asalnya di Tay-pek-san, kemudian ke Ho pak.
tapi aku tak dapat menemuinya.
Setelah enam bulan aku mencari barulah aku menemuinya dan waktu itu dia masih memegang janjinya untuk bertempur dengan aku.
Waktu aku sudah jadi sangat gemas, segera kita sudah bertempur hebat sekali.
Tapi, ya, apa mau dikata.
Setelah bertempur ramai seratus jurus lebih, kembali aku dikalahkan-..
Sayang..
Ho Tiong Jong nyeletuk.
Bukan sayang lagi.
kata Tok-kay, sejak kekalahanku paling belakang itu aku telah bersumpah jikalau ilmu silatku sudah mahir betul aku akan mencari lagi dia dan bukan mustahil kalau aku akan membunuh, dia karena aku merasa sakit hati.
setelah membunuh dia.
pikirku, baru aku membunuh suaminya..
Habis bagaimana, apa locianpwee berhasil memperdalam ilmu dan mengalahkan Kok locianpwee?
menyelak Ho Tiong Jong yang sudah tidak sabaran mendengarkan ceritanya.
Bocah kau diam, dengarkan dahulu aku menutur.
kata Tok-kay sambil deliki matanya, seperti yang kurang senang sedang enaknya cerita deselak orang.
ooOOoo Ho TIONG JONG ketawa nyengir.
Tapi dasar nasib, melanjutkan Tok-kay, setelah sepuluh tahun aku memperdalam ilmuku, aku merasa aku masih belum dapat menjatuhkan penghuni rumah es di Tay-pek-san, yang aku tahu betul dia ada keluaran dari Hoa-san-pay dilihat dari ilmu silatnya yang telah diperlihatkan dalam pertempuran denganku.
Pada suatu hari tiba-tiba aku mendengar bahwa dia sudah bercerai dengan suaminya dan kembali ke gunung Tay-pek-san untuk tinggal dirumah es disana.
Setelah mendapat kabar ini, aku lantas mencari Lo Teng Kok untuk aku bunuh mati, sayang aku tak dapat menemukannya.
Setelah sekian lama aku mencari dengan sia-sia, lantas dikalangan kang-ouw ada tersiar kabar tentang kematiannya Lo Teng Kok.
Sejak mana sampai sekarang aku belum pernah menyatroni rumah es di Tay-peksan lagi.
Tapi, hmm ada satu hari nanti aku akan menjumpai dia dan membunuhnya mati, kemudian aku beset-beset kulitnya nenek Kok itu, barulah hatiku merasa puas.
Ha ha ha..
-.^ Ia tertawa sambil menggerakkan tangannya.
Segera terlihat satu benda meluncur ke angkasa, kemudian jatuh nyangkut di pohon yang tumbuh disamping kuil.
Kiranya yang diterbangkan tadi adalah kitab pusaka Kumpulan Ilmu Silat sejati Meskipun waktu itu suasana ada gelap.
tapi Ho TiongJeng yang tajam matanya dapat melihat tegas meluncurnya kitab tadi dan nyangkut diatas cabang pohon.
PiKirnya Tok-kay ini sudah menjadi gila, kitab pusaka yang begitu berharga dilontarkan begitu saja, seperti juga ia membuang sampah.
Ia tak dapat didekati lebih jauh dan ia hendak menyingkir daripadanya.
Locianpwe, biarlah aku ambil kitab yang kau lontarkan tadi.
katanya sambil menggerakkan kakinya hendak berjalan, maksudnya yang sebenarnya adalah ia hendak meninggalkan pengemis gila itu Hei, bocah, menyegah Tok-kay.
kau tak perlu mengambil kitab sialan itu yang membikin seumur hidupku menjadi celaka saja.
Bukan sedikit karenanya aku menderita kecewa.
Ada satu hari aku nanti bikin musnah kitab celaka itu.
Ho Tiong Jong tidak menjawab.
Diam-diam ia berpikir.
Tok-kay ini sudah hampir gila, otaknya sudah mulai miring.
Sifatnya tak dapat dirubah, dalam alam pikirannya hanya kejahatan dan kekejaman saja yang berbayang, seolah-olah perbuatan itu sudah menjadi satu hoby kesenangan baginya.
Malam ini kalau aku tak dapat menbunuh dia, entah berapa banyak lagi manusia tidak betdosa akan binasa di tangannya?
Dalam keadaan berpikir demikian, tiba-tiba terdengar Tok-kay berkata lagi.
Bocah sekarang aku tidak akan menanya asal usulmu dan juga aku tidak akan membikin celaka atau membunuhmu.
Kini kau boleh sebutkan minta pelajaran apa dari aku akan aku turunkan pelajaran yang aku tahu kepadamu.
Ho Tiong Jong melengak mendengar perkataannya pengemis yang ia sudah anggap gila ini.
Entah apa sebabnya Tok-kay ada demikian baik terhadapnya maka ia setelah mengawasi sejenak lalu menanya.
Locianpwee, sebab apa kau begitu baik terhadapku dan tidak hendak membikin celaka?
Sungguh aku yang rendah tak mengira sama sekali, untuk kebaikan dan perhatian lo cianpwe aku menghaturkan banyak terima kasih.
Tok kay Kang ciong tertawa bergelak geli.
Bocah aku sendiri juga tidak tahu apa sebabnya aku jatuh hati padamu.
Rupanya itu memang sudah jodoh.
Tabeatku memang aneh.
terhadup orang yang aku penuju dan mencocoki hatiku, selalu aku ingin berbuat baik dan manis, sebisanya aku ini ingin bikin ia senang dan gembira.
Untuk dia, orang yang mencocoki hatiku, aku rela mengurbankan jiwaku.
Ha ha ha..
Ho Tiong Jong merasa terharu juga mendengar kata-katanya sipengemis beracun, tapi dipikir lagi orang sekejam dan sejahat Tok-kay ini seumur hidupnya tak akan berubah sifatnya suka membunuh dan mencelakai orang.
Memikir kesitu, perasaan terharunya telah tersapu lenyap.
Locianpwee, tiba-tiba ia berkata, aku girang sekali kalau locianpwee suka menurunkan kepadaku ilmu silat yang tinggi, untuk aku menyakinkannya.
Bocah, kau pintar bicara, hi ha ha..
Bukan pintar bicara, sebab kalau locianpwee menurunkan ilmu kepalang tanggung aku kuatir akan memalukan nama locianpwee.
sebab sudah tentu orang akan mengetahui bahwa aku mendapat pelajaran dari locianpwe.
Tok kay Kang ciong angguk anggukan kepalanya.
Baiklah, katanya.
Selama tiga puluh tahun aku menggodok macam-macam ilmu silat yang istimewa dan menciptakan ilmu silat sendiri yang dinamai Tok-liong cianghoat (ilmu telapakan tangan naga berbisa) Sememara hanya tiga belas jurus, dapat digunakan bertanding dengan tangan kosong atau pakai senjata.
Hebatnya bukan main sayang waktu aku bertanding dengan Kok Lo-lo baru saja aku mainkan jurus ketujuh keburu dijatuhkan olehnya sehingga aku jumpalitan dan malunya bukan main.
Tok-kay bicara sambil memberi petunjuk.
bagnimana memainkan iimu silat lihay itu kepada Ho Tiong Jong.
la kasih demontrasi menjalankan ilmu itu sampai tiga belas jurus kemudian minta Ho Tiong Jong coba meniru gerakannya.
Pemuda itu amat cerdas otaknya setelah tadi memperhatikannya dengan cermat, ketika disuruh memainkan sendiri apa yang diperhatikan tadi, ia dapat menjalankan dengan baik meskipun ada sedikit kekurangan disana sini.
Dengan beberapa petunjuk perbaikan dari Tok kay, Ho Tiong Jong sudah dapat menangkap dan dicatat dlotaknya ilmu silat.
Tok Hong ciang-hoat yang ampuh itu, warisannya sipengemis beracun.
Ia hanya tinggal menjalankan latihannya saja supaya menjadi gagah memainkannya..
Diam-diam Ho Tiong Jong merasa kagum akan lihaynya ilmu yang dipelajarinya itu.
Menyerang dengan tenaga lunak akan mengakibatkan binasanya musuh tanpa ampun.
Cara menangkis serangan lawan dapat digunakan dengan terang-terangan atau tidak kelihatan, hingga membingungkan musuh.
Tok-kay yang menyaksikan Ho Tiong Jong begitu cerdas, dalam tempo pendek sudah dapat menangkap inti sarinya, malah sudah dapat mempertunjukkan beberapa jurus yang dipelajari barusan, bukin main girang hatinya.
Ia belum pernah menemui pemuda yang demikian baik otaknya.
Bocah, otakmu boleh juga katanya tiba-tiba.
coba mari ikut aku sekali lagi menjalankan dulu-dulu yang kau sudah dapat catat diotakmu tadi.
Ho Tiong Jong anggukkan kepala lantas mengikuti dibelakang Tok-kay, mengikuti segala gerak-gerakannya.
Tiba-tiba dalam hatinya timbul maksudnya yang semula mendekati Tok-kay.
Pikirnya saat itu ada satu kesempatan baik untuk ia membokong sipangemis beracun dari belakang.
Begitu berpikir begitu ia ambil putusan, tangannya diurut untuk menotok jalan darah pada punggungnya sipengemis beracun, Terdengar Tok-kay bersuara.
Heh e kemudian rubuhnya rubuh ditanah.
Ho Tiong Jong setelah menotok rubuh Tok kay hatinya bukan main menyesal.
Kenapa ia membunuh Tok kay yang telah menurunkan ilmunya yang ampuh kepada dirinya?
ia jadi turut jatuh lemas disamping tubuhnya Tok-kay.
Ia menghela napas, ia menyesal, tapi jika dipikir sebaliknya perbuatannya itu memang harus dilakukan untuk menolong orang banyak dari kebinasaan ditangan Tokkay.
Pengemis beracun itu perlu disingkirkan jiwanya siang-siang, sebab dosanya sudah luber dari takaran.
Menghilangkan satu jiwa untuk menolong banyak jiwa, itulah ada perbuatan yang harus dilakukan Ho Tiong Jong menghibur dirinya sendiri.
Tapi biar bagaimana juga, batinya yang mulia tidak tega melihat Tok kay dalam keadaan tidak bergerak menggeletak di tanah, gara-gara perbuatannya tadi.
Locianpwe harap kau maafkan perbuatanku ini.
Aku membunuhmu bukan karena aku jahat dan serakah, hanya apa yang kuperbuat atas dirimu disebabkan untuk menolong orang banyak dari kejahatan dan keganasan mu Semoga arwahmu dalam baka tidak menyesalkan perbuatanku Ho Tiong Jong menangis, tak dapat ia menahan rasa terharunya.
Tiba-tiba ia rasakan tangannya yang berdekatan dengan tangannya Tok-kay seperti di gigit nyamuk.
ia menoleh pada Tok-kay.
Dilihatnya tubuhnya sipengemis beracun sudah kaku dengan paras pucat pasi, kukunya sudah berubah berwarna hijau ungu menakutkan.
Ho Tiong Jong lantas bangkit berdiri.
Pikirannya kusut.
Kemana ia harus pergi?
Balik kembali ke Seng-kee-po?
Tidak mungkin, pikirnya karena hatinya merasa jemu terhadap Pocu dari banteng itu yang kejahatannya mungkin tidak lebih rendah dari Tok-kay yang sesarang tengah menggeletak dihadapannya dengan tubuh kaku.
Ia menghela napas.
Terdengar ia berkata sendirian.
Dunia begini luas, tapi heran tidak ada tempat untuk aku menarah kaki.
Ia dengan perlahan-lahan mengangkat kakinya meninggalkan kuil yang akan merupakan kenangan tak mudah dilupakan dalam riwayat hidupnya selanjutnya.
Ketika ia sampai dihalaman muka kuil tiba-tiba ia seperti melihat ada bayangan orang yang berkelebat.
Hatinya tercekat, la tahu benar bahwa dalam kuil ini hanya ia dengan si pengemis berdua, apakah ada orang ketiga disitu?
Bayangan itu seperti menyelinap dibalik pohon, akan tetapi ketika ia menyelidiki, ternyata disitu tidak kedapatan manusia.
Ia penasaran, lalu balik masuk lagi kedalam kuil.
Hatinya terkejut, tatkala ia mendekati Tok kay, sipengemis beracun kedapatan sedang berduduk seperti yang sedang mengumpulkan ingatannya.
Mayat hidup, pikir Ho Tiong Jong.
Ia pernah dengar orang cerita memang ada mayat hidup, dapat mengejar orang, akan tetapi larinya lurus (tidak dapat membiluk), maka kalau benar Tok-kay menjadi mayat hidup dan menguber padanya, ia sudah siap sedia untuk melompat kesamping supaya Tok kay menyelonong lurus.
Mungkin Tok-kay menjadi mayat hidup disebabkan kematiannya sangat penasaran kena dibokong olehnya.
Matanya Ho Tiong Jong terus mengawasi kepada Tok-kay, siapa perlahan-lahan telah bangun berdiri.
Tiba-tiba matanya mengawasi kearah Ho Tiong Jong tampak bengis sekali, menakutkan siapa yang lihat, tapi Ho Tiong Jong sebisa nya telah menabahkan hatinya.
Ho Tiong Jong jadi kemekmek bengong.
ketika mendengar Tok-kay berkata.
Hei, bocah, benar-benar nyalimu kasar sekali.
Aku yang sudah puluhan belajar ilmu, mana dapat dibunuh olehmu begitu mudah?
Kelihatan Tok-kay berkata seperti yang merasa cemas.
Tidak heran kalau ia merasa cemas, karena dalam dunia yang luas ini tidak seorangpun yang dapat menyintai dirinya.
Ho Tiong Jong, pemuda yang menarik hatinya dan dengan rela ia menurunkan ilmunya bukannya membalas budinya bahkan ia coba membunuhnya.
ia merasa tidak mengerti sikapnya anak muda itu, maka ia menanya.
Bocah, kenapa kau hendak mengambil jiwaku demikian kejamnya?
Ho Tiong Jong menatap wajahnya Tok kay tanpa memberi jawaban.
Hei, bocah, kenapa kau hendak mengambil jiwaku?
tegur lagi Tok-kay bengis.
Ho Tiong Jong bukannya takut terhadap Tok kay, hanya ia marasa terharu dengan tegurannya Tok kay itu, sebab perbuatannya memang tidak berbudi.
Tok kay seperti merasakan juga keharuan anak muda itu, ia tak mendesak.
hanya menanti apa jawabannya si anak muda.
Tak lama, Ho Tiong Jong telah memberikan jawabannya dengan tenang.
Locianpwee, memang aku telah menerima kebaikanmu yang besar sekali.
Perbuatanku yang barusan itu memang tak sepantasnya.
sebab itu menandakan aku seorang yang tak mengenal budi.
Kebaikan orang dibalas dengan kejahatan.
Tapi, ya aku berbuat demikian saking terpaksa..
it Terpaksa?
Tok-kay nyeletuk, matanya berputaran galak sekali.
Ya, aku terpaksa melakukan itu jawab Ho Tiong Jong.
sebab apa kau terpaksa?
sebabnya, lekas kau katakanSebabnya kau terlalu jahat Hmm..
Ya, aku membunuhmu karena untuk kepentingan orang banyak.
menyingkirkan bencana disebabkan oleh tanganmu yang ganas dan kejam, dengan lenyapnya kau dari dunia lenyaplah sudah bencana bagi mereka yang tidak berdosa..
Ho Tiong Jong tidak melanjutkan kata-katanya, karena diselakoleh tertawanya si pengemis beracun yang bergolak-gelak menyeramkan.
Bocah, dengar aku berkata.
Sejak suhuku mati, akulah yang meneruskan memelihara ular beracunnya.
Dalam tempo sepuluh tahun belakangan ini dengan susah payah aku sudah bisa simpan bisanya ular itu dalam kukuku.
orang yang terkena kukuku dalam tempo tiga hari orang itu akan merasakan reaksinya racunku badannya akan kegatalan tak terhingga dan racunku itu dapat menyerang pada jantung sang korban.
Dalam tempo tiga hari orang itu akan menemukan ajal nya dengan mengenaskan.
Ha ha ha..
Ho Tiong Jong kerutkan alisnya..
Apa hubungan apa racun dikukumU itu denganku?
tanyanya.
Bocah, apa kau tidak merasa tadi ketika tanganmu berdekatan dengan tanganku kau merasa seperti tanganmu digigit nyamuk?
Itulah racunku yang mematuk.
bukannya nyamut yang menggigit.
Ha ha ha....
Ho Tiong Jong jadi bengong mendengar kata-katanya Tok-kay.
Kiranya sipengemis tadi bukannya rubuh sewajarnya, hanya berpura-pura saja.
Betul-betul Tok-kay sangat lihay, ditotok jalan darahnya yang penting masih bisa menangkis dan dapat berpura-pura seperti yang mati.
Ya, apa daya?
Baca Juga: Pendekar Bodoh 13
Baca Juga: Pendekar Sakti 1