Ceritasilat Novel Online

Kuda Binal Kasmaran 2

Eps 2 Kuda Binal Kasmaran - Gu Long

Baca online Kuda Binal Kasmaran - Gu Long

Cersil Kuda Binal Kasmaran - Gu Long.

Delapan orang berkelejetan di tanah, benar-benar kelejetan menahan sakit.

benar-benar rebah tak kuat berdiri, umpama tabib sakti diundang kemari juga sukar menyembuhkan mereka dalam waktu singkat.

Dengan senyum lebar Siau Ma mengawasi Thio-gongcu.

Thio-gongcu berkata.

"Kelihatannya kita kena tipu."

Siau Ma tetap tertawa.

"Kenyataan justru mereka tertipu, bukan kita."

Siau Ma bergelak tawa, katanya.

"Mungkin lantaran mereka Kuncu tulen."

"Apa benar Kuncu mudah ditipu orang ?"

"Kuncu lebih senang kalau orang lain tertipu."

Mereka tertawa latah, tertawa bingar.

Keadaan sekitar tetap tenang dan sunyi, tiada gerakan apapun di atas maupun di sekitar batu cadas.

Tiba-tiba mereka sadar, mungkin lawan menggunakan tipu memancing harimau meninggalkan sarang, orang yang berani turun, nyalinya tentu lebih besar dibanding orang yang tidak berani turun.

Berkepandaian tinggi nyalinya besar.

Orang yang bernyali besar, kungfu umumnya juga tinggi dan lihai.

Kalau benar mereka turun, itu berarti orang-orang yang berada di atas cadas dan sekitarnya sudah dikerjai musuh.

Kali ini Thio-gongcu mendahului melompat ke atas.

Dia tidak bisa melupakan pandangan Hiang-hiang ke arah dirinya tadi.

Begitu naik ke atas, dia melihat sepasang mata Hianghiang.

Mata yang terbuka, kalau tidak mau dikata terbelalak, sepasang bola mata yang besar bundar lagi jeli dan indah, menampilkan mimik yang lucu.

* * * * * Setiap manusia, siapa saja, untuk menunjukkan perasaan yang berbeda biasanya di wajah mereka.

Wajah manusia mana saja, mata adalah indra yang terbanyak menampilkan perubahan.

Mata siapa saja, selalu memapilkan banyak perubahan perasaan hatinya, entah sedih, riang gembira, dingin, marah dan takut.

Tapi perasaan yang ditampilkan oleh mata Hiang-hiang justru tidak bisa dilukiskan dengan rangkaian huruf-huruf indah.

Karena sebatang golok melintang di lehernya, jiwanya terancam oleh gaman yang berat itu.

Hiang-hiang adalah gadis jelita yang molek, kulit badannya putih halus lagi mulus, lembut dan indah.

Lehernya jenjang.

Tapi golok yang mengancam tengkuknya ternyata tidak kecil, Kui-thau-to atau golok kepala setan bobotnya tiga puluh kati.

Jari-jari yang menggenggam gagang golok amat besar, lengannya lebih besar lagi berotot.

Perasaan Thio-gongcu menjadi beku, badannya seperti kecemplung sumur yang dingin.

Umumnya binatang berkumpul dengan jenisnya.

Maksudnya ular berkumpul dengan ular, harimau dengan harimau, kura-kura mungkin bergaul dengan bulus, kalau tikus juga punya kawan, maka kawannya itu pasti juga pandai membuat lubang.

Siau Ma bukan orang baik, paling tidak dalam segi tertentu, dia pasti bukan orang baik.

Dia suka berkelahi, suka mencampuri urusan orang lain, berkelahi adalah hobinya, seperti hobi orang lain yang suka makan sayur putih.

Mirip Hwesio yang suka makan kentang atau lobak.

Thio-gongcu adalah sahabat lama Siau Ma, dalam waktu sekejap tadi, sekaligus dia merobohkan empat orang.

Sebagai pejantan yang sudah sekian tahun digembleng dalam kehidupan susah, orang ini pasti takkan gentar menghadapi ancaman golok setan seberat tiga puluh tujuh kati, takkan mungkin menjublek kuatir dan mencucurkan keringat dingin seperti itu.

Peduli golok setan itu mengancam leher siapa, perasaannya takkan terguncang, hatinya takkan bingung.

Hanya seorang yang benar-benar dibuat kaget dan takut baru perasaannya beku, hatinya menjadi pilu.

Perasaannya beku, karena kecuali sebatang golok kepala setan yang besar itu, juga karena melihat tujuh belas batang golok yang sama besar dan beratnya.

Termasuk tukang pikul tandu, di atas batu cadas besar itu semua ada sebelas orang kecuali Lan Lan dan si pasien yang tetap berada dalam tandu, leher setiap orang diancam oleh sebatang golok setan.

Bobot Kui-thau-to itu ada yang berat dan enteng, golok yang mengancam leher Hiang-hiang, umpama bukan yang paling besar dan paling berat, juga pasti bukan yang paling enteng.

Bentuk Kui-thau-to memang berbeda dengan golok umumnya, ujung golok lebih besar dan berat, batang golok yang lonjong lagi tipis, maka kalau golok ini membacok, bacokannya mirip sebatang kampak.

Biasanya Kui-thau-to jarang membacok sasaran di tubuh manusia, Kui-thau-to khusus memancung kepala manusia, menebas leher orang.

Sekali bacok kepala menggelundung jatuh.

Pasti tak perlu dibacok dua kali.

Golok yang mengancam leher Siang Bu-gi.

Sekali pandang orang tahu, bahwa Kui-thau-to itu adalah yang paling besar, paling berat juga paling tajam.

Ternyata Siang Bu-gi masih enak-enak tidur, masih menggeros.

Delapan belas batang Kui-thau-to, sembilan belas orang, mereka adalah manusia serigala dan hanya satu orang tidak memegang golok, tapi memegang pipa cangklong yang lebih panjang melebihi Kui-thau-to.

Thio-gongcu tahu dan kenal siapa laki-laki yang memegang pipa cangklong ini.

Dia pernah melihat serigala tua Pok Can.

Ternyata dandanan, sikap dan tindak-tanduk orang ini, boleh dikata adalah duplikat Pok Can, mirip kue yang dicetak dan dipanggang bersama dalam tungku.

Seorang duplikat yang tidak baik.

Oleh karena itu ciri-ciri Pok Can, orang ini dapat menirunya dengan sempurna.

Namun sikap dan tingkah laku Pok Can yang gagah-gagahan, seolah-olah dunia miliknya sendiri, jelas tak mungkin ditiru, seumur hidup jangan harap orang ini bisa mempelajarinya.

Maka Thio-gongcu bertanya.

"Kau ini putra Pok Can atau muridnya?"

Orang ini tak mempedulikan pertanyaannya, matanya mendelik ke arah Siau Ma. Siau Ma melompat ke atas batu cadas, jengeknya dingin.

"Kalau menurut pendapatku keparat ini cucu kura-kura serigala tua itu."

Thio-gongcu terloroh-loroh.

Dia sengaja tertawa, padahal rasa geli atau ingin tertawa sedikitpun tidak timbul dalam hatinya.

Melihat golok tajam sebesar itu mengancam leher gadis yang dipujanya, siapa saja pasti takkan bisa gembira, apalagi tertawa riang.

Padahal Thio-gongcu sering mendengar bahwa anak buah atau serigala-serigala perang di bawah pimpinan serigala tua Pok Can semuanya gagah perkasa, berani mati, bila membunuh orang, seperti tukang sayur memotong lobak dan membelah pepaya, berkedip mata pun tidak.

Tertawa sengaja dikumandangkan, nadanya sudah tentu sumbang dan tidak enak didengar, dan biasanya memancing amarah orang lain.

Tapi orang ini ternyata cukup tabah dan tebal muka, dia tetap tidak peduli kepada Thio-gongcu, katanya sambil melotot kepada Siau Ma.

"Kau she Ma?"

Siau Ma manggut.

"Jadi kau ini si Kuda Binal yang nakal itu?"

Ucap orang itu pula.

"Dan kau? Apakah kau bernama anjing kecil berkulit serigala?"

Meski wajah panjang orang dengan bola mata sudah berubah putih saking marahnya, namun sekuatnya dia menekan emosi dan menahan gengsi, dengan mengendalikan emosi dia berkata dingin.

"Aku tahu asalmu."

"O? Lalu?"

"Kau datang dari Loan-ciok-san-kang yang berada di perbatasan timur laut sana."

"Kalau benar kenapa?"

"Konon tinjumu amat keras, sekali pukul bikin Peng-lohau tidak bisa bangun, sampai sekarang masih rebah di ranjang."

"Apakah kau juga ingin merasakan tinjuku?"

"Sekarang Loan-ciok-san-kang sudah bubar, runtuh dan tinggal puing-puingnya saja. Hitung-hitung kita masih kawan sehaluan, oleh karena itu aku bersikap sungkan dan memberi muka kepadamu."

"Tidak perlu kau sungkan kepadaku."

Orang itu menarik muka, katanya.

"Aku bernama Thi Samkak."

Melihat muka dan mata orang yang segitiga, Siau Ma tertawa, katanya.

"Namamu tepat dan cocok."

"Tapi namamu justru keliru."

"Hus, namaku pemberian orang tua."

"Sebetulnya kau lebih tepat dinamakan telur goblok, karena memang goblok sekali,"

Dengan pipa cangklongnya dia menuding sekitarnya.

"coba kau hitung berapa batang golok yang kita bawa kali ini?"

Siau Ma tidak perlu menghitung. Sekaligus melihat Kui-thau-to sebanyak itu, siapa pun pasti akan menghitungnya diam-diam, maka sejak naik ke atas batu Siau Ma sudah menghitungnya. Thi Sam-kak berkata.

"Coba kau periksa sekali lagi, delapan belas golok itu mengancam jiwa orang-orangmu."

Siau Ma juga tidak perlu memeriksa lagi, sekilas pandang dia sudah melihat jelas.

Siang Bu-gi, Hiang-hiang, Cen Cen, Cen Cu, Lo-bi ditambah empat tukang pikul tandu, sembilan orang semuanya diancam golok pada lehernya.

Sisa lagi sembilan golok, empat batang mengancam dua tandu, lima batang terpencar, menjaga dan mengelilingi batu cadas.

Jelas aksi mereka sudah direncanakan dengan baik, perhitungan mereka tepat, kelemahan pihak Siau Ma juga sudah diraba, maka mereka menyergap dengan hasil baik.

Dengan bermain sandiwara, delapan orang yang pura-pura terluka tadi menarik perhatian dan memecah tenaga mereka, lalu secara tiba-tiba dan tidak terduga menyergap serta membekuk dan mengancam jiwa mereka.

Satu hal yang membuat Siau Ma tidak mengerti adalah, Siang Bu-gi tidak buta, bukan tuli, kenapa diam saja membiarkan golok orang mengancam lehernya.

Dia menduga dalam hal ini pasti ada latar belakang yang belum dia ketahui, namun maknanya amat berarti.

Oleh karena itu, sengaja dia ajak Thi Sam-kak bicara, dengan tujuan mengendorkan kewaspadaan mereka.

Ternyata Thio-gongcu tidak sabar lagi, keadaan Hianghiang amat runyam dan harus dikasihani.

Thi Sam-kak berkata.

"Ada delapan belas golok mengancam leher kawan-kawanmu, kau masih berani bertingkah dan ngobrol tidak keruan di hadapanku, coba kau bilang, bukankah kau orang goblok, laki-laki dungu?"

"Betul, aku ini memang goblok, sangat dungu,"

Siau Ma masih juga bersikap santai, dengan tertawa dia menambahkan.

"begitu goblok aku ini, sehingga mempertaruhkan jiwa orang lain."

Thi Sam-kak tertawa lebar, tertawa besar dan latah. Jelas dia sengaja tertawa, tawanya lebih jelek dari loroh Thiogongcu tadi.

"Ucapanmu betul. Saking gobloknya sampai jiwa orang lain sengaja kau korbankan dengan sia-sia."

Mendadak gelak tawanya berhenti, mukanya juga berubah masam, mukanya yang segitiga mendadak membesi hijau, jengeknya dingin.

"Sekarang korbankan dulu satu orang, untuk itu boleh aku memberi kelonggaran kepadamu untuk memilih korban yang pertama."

Dengan pipa cangklongnya dia menunjuk Hiang-hiang.

"Bagaimana kalau kau renggut dulu jiwanya."

"Bagus sekali,"

Seru Siau Ma bertepuk tangan. Keruan Thio-gongcu gopoh, tanyanya gugup.

"Bagus sekali apa artinya?"

"Maksudnya, jiwanya itu tidak boleh diambil orang lain."

Bab Thio-gongcu menghela napas lega. Thi Sam-kak sebaliknya menyeringai sadis. Siau Ma menghela napas, katanya.

"Sayang sekali golok besar itu mengancam lehernya, orang lain menuntut jiwanya atau tidak? Yang terang aku tidak berdaya menolongnya."

"Agaknya kau mulai mengerti,"

Jengek Thi Sam-kak.

"Tapi ada satu hal justru aku tidak paham."

"Kau boleh tanya."

"Golok kalian kelihatannya dapat bergerak dengan cepat."

"Ya cepat sekali."

"Dengan golok seperti itu, untuk memenggal kepala orang, kelihatannya bukan kerja yang susah dilakukan."

"Sedikitpun tidak sukar."

"Kenapa tidak segera kau penggal?"

"Menurut pendapatmu?"

"Apakah karena belakangan ini kau banyak makan kenyang dan iseng, kau ingin mempermainkan jiwa orang lain untuk menghibur diri?"

"Cara menghibur diri seperti itu kurasa kurang menyenangkan."

"Jadi kau hendak mengancam aku dengan jiwa mereka, kau ingin aku melakukan sesuatu untuk kalian?"

"Pertanyaanmu kali ini betul."

"Kau ingin aku melakukan apa?"

"Aku menuntut sepasang tinjumu itu."

Siau Ma mengangkat tinjunya, katanya sambil mengawasi tinjunya sendiri.

"Tinjuku ini hanya untuk menghajar orang, untuk apa kau menuntut tinjuku?"

"Supaya kau tidak bisa menghajar orang lagi."

"Kalian ada delapan belas batang golok, memangnya takut terhadap sepasang tinjuku ini?"

"Hati-hati kan lebih baik."

"Maksudmu supaya aku memotong dua tinjuku dan menyerahkan kepadamu, supaya aku tidak mencari permusuhan dengan kalian, begitu?"

"Apa yang kau ucapkan meski tidak seluruhnya benar, maksudku memang demikian."

"Baiklah,"

Ujar Siau Ma tertawa.

"dengan senang hati kuserahkan kepadamu."

Belum habis bicara tubuhnya menerjang ke depan, tahutahu tinjunya mendarat di hidung Thi Sam-kak.

Bukannya Thi Sam-kak tak melihat datangnya tinju Siau Ma.

Dia melihat jelas, tapi justru tak mampu berkelit, tak bisa menghindar.

Suaranya tidak keras waktu tinju mendarat di hidung, waktu hidung tergenjot dan ringsek hampir tidak mengeluarkan suara apapun.

Tapi rasanya sungguh sukar dilukiskan.

Thi Sam-kak merasa mukanya seperti mendadak meledak, rasa sakit dan perih membuat matanya berkunang-kunang, di saat tubuhnya jungkir balik, mulutnya sempat berteriak memberi komando.

"Sikat!"

Begitu "sikat"

Berkumandang di udara, sembilan golok yang mengancam leher para tawanan lantas terangkat hendak memenggal leher.

Thio-gongcu juga menerjang ke depan, dia siap menghajar lawan yang mengancam Hiang-hiang dengan sodokan sikut, lalu tempelengan di muka dan genjotan di dada.

Tetapi dia belum atau tak usah turun tangan lagi.

Sebelum kakinya melangkah, laki-laki yang mengancam dengan golok kepala setan tiba-tiba menjerit sambil menungging memeluk perut, perlahan dia roboh ke tanah terus berguling sambil merintih-rintih.

Hiang-hiang yang kelihatan takut dan harus dikasihani, masih berdiri santai di tempatnya, mengawasi korbannya dengan rasa iba, katanya.

"Maaf sebetulnya tidak pantas aku menendang anumu itu, tapi kau juga tidak perlu menyesal, bila anumu remuk, selanjutnya kau tidak akan mengalami kesulitan."

Thio-gongcu mengawasinya dengan terpesona dan kaget.

Seorang gadis yang kelihatan lemah lembut, penakut lagi ramah, ternyata tega bertindak sekejam itu, perbuatannya jelas lebih ganas dan menakutkan dibanding dirinya.

Bila dia menoleh dan melihat yang lain, sembilan belas manusia serigala yang datang, tujuh belas di antaranya meringkel di tanah.

Seorang mukanya berlepotan darah, kulit mukanya terkelupas.

Orang ini adalah serigala yang tadi mengancam Siang Bu-gi dengan goloknya yang paling besar.

Dua orang yang mampus adalah orang yang menjaga di luar tandu Lan Lan.

Tanpa bergerak kedua orang ini rebah di tanah, sekujur badan tidak kelihatan ada luka yang menyebabkan kematiannya.

Hanya di tengah kedua alisnya kelihatan setitik darah.

Dua orang lagi masih berdiri gemetar di depan tandu dimana si pasien itu berada, tapi golok di tangan mereka sudah tak kuat diangkat lagi.

Siang Bu-gi tengah menatap tajam mereka.

Lutut mereka goyah, orang yang di sebelah kiri celananya kelihatan basah.

Siang Bu-gi berkata.

"Pulang dan laporkan kepada Pok Can, kalau ingin beraksi, lebih baik dia turun tangan sendiri."

Mendengar "pulang" , seketika kedua orang ini terbelalak girang, rasa girangnya jauh lebih besar daripada mereka kejatuhan rejeki nomplok, tanpa berjanji keduanya lantas putar tubuh lari sipat kuping.

"Kembali,"

Mendadak Siang Bu-gi menghardik. Mendengar "kembali", seorang yang lain seketika terkencing-kencing, celananya basah seluruhnya. Siang Bu-gi menuding mereka, katanya.

"Kalian tahu siapa aku?"

Kedua orang itu geleng kepala bersama.

"Aku si tukang kulit,"

Sembari bicara ujung kaki Siang Bu-gi menjungkit sebatang Kui-thau-to di atas tanah.

Setelah dia habis bicara, kedua orang sudah kehilangan secuil kulit di kanan kiri pipi mereka.

Siau Ma menghela napas.

"Kenapa kau menghela napas?"

Tanya Siang Bu-gi.

"Semula aku kira mereka hendak mempermainkan dirimu, sekarang baru aku maklum, engkaulah yang mempermainkan mereka. Apakah kau juga beranggapan bahwa kita seperti mereka, setelah kenyang makan tidak punya kerja lalu cari hiburan?"

Siang Bu-gi menyeringai dingin.

"Kenapa kau tidak turun tangan lebih dini?"

Tanya Siau Ma.

"Karena aku tidak bodoh, membiarkan jiwa orang berkorban dengan percuma."

"Jiwa siapa yang berkorban?"

"Mungkin sekali jiwamu."

Siau Ma tertawa dingin.

"Jikalau kau tidak tergesa-gesa, tidak terburu napsu, sekarang kita sudah aman tenteram."

"Memangnya sekarang kita belum aman?"

Jengek Siau Ma.

Siang Bu-gi mengancing mulut, sorot matanya setajam pisau menatap ke lekuk gunung di sebelah kanan sana.

* * * * * Sang surya sudah terbenam, tabir malam sudah menyelimuti mayapada.

Dari belakang pohon di lekuk gunung sana, perlahan beranjak keluar tujuh orang, langkah mereka santai, seperti pelancong yang jalan-jalan menikmati keindahan alam, sikap mereka ramah lagi sopan.

Orang yang berjalan paling depan berpakaian jubah panjang mirip pelajar dengan topi tinggi berhias, tangannya memegang kipas lempit.

Kipas yang digoyang-goyang dan terbuka lebar tampak dihiasi dua baris huruf, huruf tulisan kuno, kaligrafi dengan gaya indah dan tajam.

Syukur hari belum betul-betul gelap, di tengah keremangan itu, laki-laki ini melangkah santai menuju ke batu cadas, kira-kira setombak jauhnya dia berhenti, kipas dilempit lalu menjura dengan hormat.

Enam orang di belakangnya juga ikut menjura.

Kalau orang tahu peradatan, betapapun marahnya juga tak bisa diumbar, apalagi orang memberi salam hormat, sudah tentu Siau Ma menjadi rikuh untuk menggunakan tinjunya di hidung orang.

Lo-bi segera tampil ke depan, dengan tertawa dia menyapa.

"Sama-sama belum kenal, buat apa tuan sungkan dan sehormat ini?"

Pelajar berjubah sutera putih ini tersenyum ramah, katanya.

"Bertemu di tengah jalan terhitung ada jodoh, sayang di sini tiada meja perjamuan untuk menyambut kedatangan tamu agung, maaf kami tidak mampu menyambut selayaknya."

"Tidak usah sungkan, jangan pakai peradatan,"

Lo-bi berkata dengan cengar-cengir. Pelajar jubah putih memperkenalkan diri.

"Cayhe Un Lianggiok."

"Cayhe she Bi,"

Ucap Lo-bi. Un Liang-giok berkata.

"Sudah lama nama besar Bi-tayhiap terkenal dan kudengar, demikian juga nama besar Siangsiansing, Ma-kongcu, dan Thio-losiansing juga sudah lama kukagumi, sayang belum pernah berkenalan, hari ini bisa bertemu sungguh lega dan senang hati kami."

Agaknya orang sudah mencari tahu asal-usul rombongan Siau Ma, maka dia dapat bicara lancar dan benar.

Perasaan Siau Ma mendelu, hatinya pun marah, melihat dua baris tulisan dikipas orang tadi, segera dia menerka siapa pelajar jubah sutera putih ini.

Un Liang-giok berkata.

"Konon adik nona Lan sedang sakit, Cayhe juga ikut merasa gugup dan khawatir setelah mendengar berita ini."

Tak tahan Siau Ma bertanya.

"Kelihatannya kau pandai mencari berita."

Un Liang-giok tertawa, katanya.

"Sayang gunung ini bukan tempat aman, dalam kalangan kita juga tiada orang bajik, kalau kalian ingin pergi dengan aman, kurasa amat sukar, sukar sekali."

"Itu urusan kami, rasanya tiada sangkut-paut dengan kau,"

Jengek Siau Ma.

"Sebagai penduduk gunung ini, mungkin Cayhe dapat membantu sedikit, agar kalian sampai di tempat tujuan dengan selamat."

Lo-bi segera menyeletuk.

"Sekali pandang Cayhe lantas tahu, tuan adalah Kuncu, kau pandai menggunakan istilah bajik dan bijaksana segala."

Un Liang-giok pura-pura menghela napas gegetun, katanya.

"Walau Cayhe ada niat menjadi orang bajik, sayang aku tak mampu berbuat banyak."

"Cara bagaimana supaya kau bisa berbuat bajik?"

Tanya Siau Ma.

"Gunung ini penuh semak belukar, berduri lagi, untuk melewati sebuah gunung, pantasnya kalian membuka sebuah jalan lebih dulu."

"Cara bagaimana kita harus membuka jalan tembus itu?"

Tanya Siau Ma. Un Liang-giok tertawa, katanya.

"Sebetulnya tidak sukar, asal..."

"Sebetulnya apa sih keinginanmu?"

Tanya Siau Ma tandas. Tawar suara Un Liang-giok.

"Aku hanya ingin menuntut selaksa tahil uang emas, sepasang tinju dan sebuah tangan."

Siau Ma tertawa lebar, ujarnya.

"Jika hanya minta uang emas itu urusan gampang, tapi tinju dan tangan jauh berbeda."

"Ya, memang jauh berbeda."

"Tinju macam apa dan tangan seperti apa yang kau inginkan?"

"Jiwa raga dilahirkan orang tua, sekali-kali tidak boleh dibuat cacat, oleh karena itu ...."

"Kau menuntut sepasang tinju yang pandai menghajar orang dan tangan yang ahli mengelupas kulit manusia."

Un Liang-giok tidak menyangkal, dengan senyum lebar dia berkata.

"Asal kalian terima sekedar syaratku itu, Cayhe tanggung dalam tiga hari nona Lan dan adiknya bisa lewat gunung ini dengan aman, kalau tidak ...."

Dia menghela napas, lalu menyambung.

"Kalau tidak, terpaksa Cayhe tidak bisa membantu."

Siau Ma tertawa besar.

Dia bukan sengaja tertawa, tapi tertawa besar sungguhan.

Mendadak dia menyadari satu hal, manusia keji yang menggunakan kedok 'Kuncu' (sosiawan), bukan saja amat kejam dan patut ditindas, juga lucu menggelikan.

Dimana-mana manusia yang berkedok sebagai Kuncu sama saja semuanya munafik.

Un Liang-giok bersikap biasa dan wajar, roman mukanya tak berubah sedikitpun, katanya.

"Boleh kalian pertimbangkan dan rundingkan dulu syarat yang kuajukan tadi, besok pagi Cayhe akan datang mendengar kabar gembira."

Segera Siau Ma bersikap pura-pura serius, katanya.

"Kau harus datang lho!"

Un Liang-giok berkata.

"Malam telah gelap, perjalanan ke depan makin berbahaya, kalau kalian ingin selamat dan aman malam ini, kuanjurkan diam dan tinggal saja di sini."

Lalu dia menjura pula, kipas lempitnya terkembang pula, kakinya sudah beranjak pergi.

Enam orang di belakangnya juga menjura, mereka ikut melangkah pergi dengan langkah tenang, sedikitpun tidak kelihatan marah.

Sebaliknya Siau Ma tak kuat menahan gelora amarahnya, desisnya geram.

"Kenapa dia tidak turun tangan ?"

"Kalau dia turun tangan, memangnya kau bisa berbuat apa?"

Jengek Siang Bu-gi.

"Jika dia turun tangan, aku tanggung hidungnya ringsek."

"Waktu itu mungkin dirimu juga tidak mirip manusia, tidak mirip kuda binal yang pandai menggunakan tinjunya lagi."

Tiba-tiba Thio-gongcu menyeletuk.

"Apa betul mereka itu Kun-cu-long?"

"Orang tadi adalah Long-kuncu."

"Kau sudah melihat kedatangan mereka?"

"Waktu itu kalian sedang sibuk mempertahankan jiwa, menolong jiwa raga kalian."

"Kau sengaja bertahan dan main ulur waktu dengan anak buah Pok Can, karena kau sudah tahu bahwa pasukan tempur serigala sudah berada di sini, maka mereka takkan muncul."

"Itulah peraturan yang harus dipatuhi di Long-San."

Thio-gongcu menghela napas gegetun, katanya.

"Kelihatannya mereka memang lebih mudah dilayani dibanding beberapa batang Kui-thau-to itu."

Lalu dia balas bertanya.

"Tapi anak buah Pok Can sudah pergi, kenapa mereka juga tidak turun tangan?"

"Sekarang saat apa?"

Tanya Siang Bu-gi.

"Sekarang sudah malam."

"Kung-cu-long tidak pernah turun tangan di malam hari."

"Itupun peraturan yang berlaku di Long-san?"

"Begitulah kenyataannya."

Lo-bi berdiri di kejauhan, mendadak dia menghela napas, katanya.

"Untung yang dituntut bukan sepasang tinjuku, juga bukan tanganku."

Dia berdiri cukup jauh, tapi baru saja dia habis bicara, Siang Bu-gi sudah berada di depannya.

Keruan berubah muka Lo-bi, ingin tertawa, tapi mukanya dingin kaku.

Bila melihat, apalagi berhadapan dengan Siang Bu-gi, dia amat ketakutan seperti melihat setan di siang hari.

Siang Bu-gi menatapnya tajam, desisnya.

"Dia tidak minta tinju atau tanganmu, biar aku yang minta."

"Kau ... kau ...."

Lo-bi gelagapan.

"Bukan hanya tanganmu yang kuminta, kulitmu pun akan kubeset."

Perawakan Lo-bi sebetulnya tinggi, seakan tiba-tiba tubuhnya mengkeret jadi pendek. Siang Bu-gi berkata dengan suara tawar.

"Sayang sekali tiada orang mau membeli tanganmu, apalagi membeli kulitmu."

Waktu dia membalik tubuh, kebetulan Lan Lan turun dari tandu.

Segera dia melangkah pergi, melirik pun tidak sudi kepada Lo-bi.

Ternyata Lo-bi masih tidak berani berdiri.

Lan Lan menghampiri lalu memapahnya berdiri, katanya lembut.

"Terima kasih atas bantuanmu tadi, dua batang Kuithau-to itu hampir saja memenggal kepalaku, kalau Toh-bingciam tidak segera kau sambitkan, mungkin jiwaku sudah melayang sejak tadi."

Lo-bi kucek-kucek hidung, lalu kucek-kucek mata, mulutnya menggumam.

"Buat apa kau singgung soal itu, sebetulnya aku tidak ingin mereka tahu."

"Aku tahu kau menyembunyikan kepandaian, tapi kau telah menolongku, betapapun aku harus mengucap terima kasih kepadamu."

Dengan sebelah tangannya dia mengambil sekuntum kembang mutiara yang menghias sanggulnya.

"Hadiah yang tidak berarti ini, kau harus menerimanya."

Kembang mutiara ini dibikin sedemikian rupa, seluruhnya terdiri tiga puluh delapan mutiara yang besarnya sama.

Semula Lo-bi hendak menampik, tetapi setelah melihat kembang mutiara itu, tangan yang semula mau mendorong tangan orang malah menggenggam kembang mutiara itu.

Sebagai kawakan Kang-ouw, dia juga kenal nilai suatu benda, dia tahu nilai kembang mutiara ini, kalau digadaikan, sedikitnya bisa berfoya-foya tiga bulan lamanya.

Siau Ma sebaliknya kelihatan amat kaget.

Bukan karena Lo-bi menerima kembang mutiara itu, tapi terkejut setelah mendengar apa yang diucapkan Lan Lan.

Yang pasti bukan Siau Ma saja yang terperanjat.

Thio-gongcu melirik Siau Ma, lalu mengawasi dua orang yang mati dengan setitik darah di tengah alisnya.

"Sejak kapan kau mahir menggunakan Am-gi selihai itu? Kenapa belum pernah aku tahu atau melihat kau memakainya?"

Lo-bi batuk dua kali lalu mendongak, katanya.

"Sekali sambit Am-gi itu merenggut jiwa orang, di hadapan sesama teman mana berani aku menggunakannya, jika tidak terpaksa, aku takkan menggunakan."

Lan Lan menghela napas, katanya.

"Kau memang teman yang baik."

Sengaja atau tidak sengaja matanya melirik ke arah Siang Bu-gi, tampak wajah Siang Bu-gi tidak mengunjuk perasaan apa-apa. Lan Lan berkata.

"Sepuluh laksa tahil uang emas sebetulnya mampu kubayar, tapi syarat yang diajukan Unkuncu itu, aku tidak mau mempertimbangkan."

Lalu dia menoleh ke arah Siang Bu-gi.

"Sekarang sudah gelap, apakah kita sudah boleh melanjutkan perjalanan?"

Siang Bu-gi manggut-manggut.

"Siapa yang membuka jalan?"

Tanya Siau Ma.

"Engkau,"

Seru Siang Bu-gi.."Kau di belakang?"

Tanya Siau Ma.

"Boleh."

"Thio-gongcu dimana?"

"Dia menemani kau."

Lo-bi segera menyeletuk.

"Aku menemani Siau Ma saja."

Siang Bu-gi berkata dingin.

"Kau mahir menggunakan senjata rahasia, maka kau harus di tengah barisan."

"Boleh, yang terang aku tidak akan ke belakang,"

Ucap Lobi prihatin. Siang Bu-gi menyeringai dingin.

"Begitu datang tanda bahaya, kita harus serempak berusaha melindungi kedua tandu ini,"

Demikian usul Siau Ma. Siang Bu-gi menyeringai dingin, katanya.

"Hakikatnya mereka tidak perlu ...."

Belum habis dia bicara, mendadak dua bayangan melompat dengan tangkas menubruk dengan sengit.

Ternyata Thi Sam-kak tidak mati.

Demikian pula seorang lain yang penyok hidungnya oleh pukulan Siau Ma juga tidak mati.

Hidung bukan tempat yang mematikan, Siau Ma bukan orang yang suka membunuh.

* * * * * Pasien di dalam tandu mulai batuk-batuk.

Kedua orang itu justru menubruk ke arah tandu yang satu ini, asal dapat membekuk dan menyandera si pasien, orang-orang ini akan tunduk oleh ancaman.

Walau Thi Sam-kak tidak mampu menyelamatkan hidungnya dari genjotan Siau Ma, tetapi kungfunya cukup baik.

Bukan saja gerak-geriknya cekatan, tindakannya juga cepat.

Sementara, Siau Ma, Thio-gongcu dan Siang Bu-gi berdiri cukup jauh dari tandu itu, dalam rombongan, hanya mereka bertiga yang ditakuti.

Thi Sam-kak pandai mamanfaatkan kesempatan.

Pipa cangklong di tangannya terbuat dari baja murni, ukuran wadah tembakau di ujung pipanya mirip tinju Siau Ma, kalau baja sebesar tinju mengetuk kepala manusia atau menjojoh Hiat-to, kalau tidak mampus seketika juga pasti terluka parah.

Secara diam-diam temannya juga sudah meraih sebatang Kui-thau-to.

Dimana sinar berkelebat, golok besar dan berat itu membelah tandu dari atas.

Betapapun kuat dan terbuat dari kayu pilihan sekalipun, dibacok oleh golok seberat tiga puluh kati dari ayunan seorang yang memiliki tenaga raksasa, tandu itu pasti terbelah dan berantakan.

Padahal si pasien lagi batuk-batuk, penyakitnya sedang kumat, jelas dia takkan terhindar dari bencana yang mengancam.

Betapapun cepat, sigap Siau Ma dan Siang Bu-gi bergerak, juga pasti terlambat untuk menolong.

Bahwa Thi Sam-kak nekat bertindak dengan sergapan yang mematikan, jelas sudah punya perhitungan matang, dia yakin seorang musuh pasti dapat dibunuhnya.

Sayang dia salah perhitungan.

Pada saat gawat itulah, dari bawah tandu yang gelap, berkelebat dua larik sinar terang yang menusuk bagai sambaran kilat.

Sebatang pedang mengiris lurus ke atas menepis Kui-thau-to, maka terdengarlah jeritan yang menyayat hati.

Darah berhamburan, empat jari tangan yang menggenggam golok tertabas kutung, sinar pedang berkelebat pula menukik ke bawah, ujung pedang mampir ke dada dan tembus ke punggung.

Bukan saja lincah lagi beres, gerak pedang inipun tepat dan telengas.

Di sebelah kiri beruntun terdengar suara "tring, tring, tring"

Tiga kali benturan nyaring disertai percikan kembang api, pipa cang-klong dan pedang beradu tiga kali.

Thi Sam-kak memang lawan yang tidak mudah dilayani, selincah tupai dia melejit ke atas, ujung kakinya sempat menutul pikulan tandu, meminjam tenaga tutulan kakinya, tubuhnya bersalto lebih tinggi di udara.

Musuh berada di sekitar dirinya, setelah sergapan gagal, mana berani dia bertahan lebih lama.

Dia ingin melarikan diri.

Di luar dugaan, di saat tubuhnya bersalto ke belakang itu, sinar pedang juga sudah menunggu di bawah selangkangan, begitu tubuhnya melorot turun, sinar pedang menyongsong, pedang ganas itu amblas di tengah kedua pahanya miring ke atas.

Thi Sam-kak melolong seperti serigala kelaparan, sampai mati dia tidak percaya bahwa jiwanya melayang di ujung pedang yang menyerang dengan jurus sekeji itu, celakanya penyerang dirinya adalah nona cantik yang masih berusia enam atau tujuh belas.

Darah masih menetes di ujung pedang.

Dua nona cantik belia itu berdiri berjajar beradu pundak, cadar hitam yang menutup wajah mereka tampak melambai ditiup angin malam.

Pedang di tangan mereka teracung ke depan, mereka cekikikan dan riang geli.

Membunuh orang merupakan hobi, bagi mereka permainan yang menarik.

Mungkin karena mereka masih muda, belum menyelami betapa berharganya jiwa manusia, betapa penting arti kehidupan ini.

Merdu cekikik tawa mereka, gaya tawa mereka justru lebih menarik.

Siang Bu-gi menatap dingin, mendadak dia berseru.

"Ilmu pedang bagus."

Cen Cen cekikikan, katanya.

"Banyak terima kasih."

Sebaliknya Cen Cu cemberut, katanya.

"Sayang kami bukan tandingan Siau Ma, mukaku bengkak karena jotosannya."

Melihat sikap dan mendengar omongannya, siapa percaya kalau mereka masih anak-anak. Anak siapa yang mampu melancarkan ilmu pedang seganas itu? "Siapa yang mengajarkan Kiam-hoat kalian?"

Tanya Siang Bu-gi.

"Aku justru tak mau menerangkan,"

Cen Cu berkata. Cen Cen cekikikan, katanya.

"Kabarnya kau lebih lihai dari Siau Ma, kenapa kau tidak tahu asal-usul Kiam-hoat kami?"

Siang Bu-gi tertawa dingin, tiba-tiba dia berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di depan mereka, gerak tangannya laksana sambaran kilat, tujuannya merampas pedang kedua nona cilik ini.

Dia menggunakan Khong-jiu-jip-pek-to dengan kombinasi Siau-kim-na-jiu-hoat yang berjumlah tujuh puluh dua jurus.

Umpama kungfu yang diyakini ini belum mencapai taraf yang paling top, namun tidak banyak jago Bu-lim yang mampu menandingi dirinya.

Tak nyana kedua nona cilik ini malah cekikikan lalu membusung dada, sementara pedang mereka tersembunyi di punggung.

Kedua nona cilik ini adalah gadis yang baru akil baliq, payudara mereka juga baru tumbuh membukit.

Walau Siang Bu-gi tidak sengaja, betapun dia malu kalau tangannya menjamah payudara kedua nona cantik ini.

Cen Cen tertawa riang, serunya.

"Pedang ini milik kami, bukan barang curian, kenapa kau hendak merampasnya?"

Cen Cu juga mencemooh.

"Laki-laki gede mau merampas barang milik anak-anak, apa kau tidak malu?"

"Tidak tahu malu, tidak tahu malu,"

Cen Cen mengolokolok.

Membesi hijau muka Siang Bu-gi, sekian lama ia menjublek tak bisa bicara.

Mendadak kedua nona cilik ini berputar ke kanan ke kiri, sinar pedang juga berpencar, laksana ular sakti mematuk, ujung pedang menusuk ke iga kiri kanannya.

Walau ilmu Khong-jiu-jip-pek-to yang diyakinkan Siang Bu-gi cukup lihai, tapi serangan lawan datang tak terduga, mana berani merebut gaman lawan.

Syukur dia sempat menyelamatkan diri.

Tapi kedua nona cilik itu justru tidak memberi hati, dari kiri kanan mereka merangsek dengan jurus-jurus ilmu pedang lihai, beruntun tiga kali mereka menusuk.

Bukan saja ganas lagi lihai, kerja sama permainan pedang kedua nona ini juga serasi, serangan jurus terakhir malah mirip bersilangnya cahaya lembayung.

Orang lain menyaksikan dengan jelas, kedua pedang nona cilik itu sudah hampir menembus dada Siang Bu-gi secara silang.

Tak nyana tubuh Siang Bu-gi mendadak miring lalu menegak lurus lagi, dua batang pedang yang menusuk silang itu tahu-tahu terkempit di ketiaknya.

Tindakannya amat tepat juga berbahaya.

Sekuat tenaga kedua nona cilik itu menarik pedang, namun ujung pedang seperti lengket di ketiak Siang Bu-gi, tubuhnya tidak bergeming sedikitpun.

Cen Cen cemberut mewek-mewek hampir menangis.

Cen Cu sudah berkaca-kaca malah.

Tapi mereka tidak kapok, sekuat tenaga masih berusaha menarik pedang mereka.

Di saat mereka menarik sekuat tenaga, mendadak Siang Bu-gi mengendorkan jepitan ketiaknya.

Keruan kedua nona cilik itu terjungkal ambruk ke belakang, lalu terduduk mencak-mencak tak mau bangun.

Dengan air mata bercucuran Cen Cu merengek.

"Orang gede menghina anak kecil, tidak tahu malu, tidak tahu malu."

Semula Cen Cen hanya mewek-mewek, kini dia menangis tergerung-gerung. Suara batuk dalam tandu sudah berhenti, dengan napas tersengal orang dalam tandu membentak tertahan.

"Tutup mulut!"

Walau hanya mengucap dua patah kata, kedengarannya dia mengerahkan seluruh tenaga, sehingga napasnya ngosngosan.

Walau suaranya lemah, tapi seperti mengundang kutukan yang menggiriskan, lebih manjur dari kutukan setan iblis.

Kedua nona cilik itu segera berhenti menangis, bergegas mereka menyeka air mata lalu berdiri di pinggir.

Siang Bu-gi masih berdiri di tempat, berdiri menjublek mengawasi tandu, pikirannya seperti mengembara entah kemana.

Sayang dia tidak bisa melihat apa-apa.

Tandu itu tertutup rapat dari luar maupun dalam, orang dalam tandu terdengar batuk-batuk lagi.

Orang macam apakah dia sebetulnya?

Penyakit apakah yang diidapnya?

Siang Bu-gi tidak bertanya.

Akhirnya dia membalik badan, perlahan dia beranjak ke sana, Siau Ma dan Thio-gongcu sedang menunggu dia.

Siau Ma bertanya.

"Kau sudah melihat asal-usul Kiam-hoat mereka?"

Siang Bu-gi tidak menjawab, mulutnya bungkam.

"Aku juga susah mengenalnya,"

Ucap Siau Ma sambil tertawa getir.

"Kiam-hoat seperti itu, bukan saja aku tidak mengenalnya, melihat pun belum pernah."

Thio-gongcu berkata.

"Jelas bukan Bu-tong-kiam-hoat?"

"Pasti bukan,"

Sahut Siau Ma.

"Juga bukan ilmu pedang Tiam-jong, Kun-lun, Hay-lam dan Ui-san."

"Omong kosong,"

Sentak Siau Ma. Memang omong kosong. Jit-toa-kiam-pay (tujuh besar aliran ilmu pedang) amat terkenal di Bu-lim masa itu, satu jurus permainan sudah dapat mereka kenali.

"Kurasa justru omong kosong,"

Bantah Thio-gongcu.

"Lalu?"

Tanya Siau Ma.

"Kalau kami tidak pernah lihat Kiam-hoat seperti itu, apalagi orang lain, jelas mereka pun tiada yang pernah melihat."

"Ehm, betul."

"Oleh karena itu, Kiam-hoat jenis itu mungkin belum pernah muncul di Bu-lim"

Siau Ma mendengarkan, Siang Bu-gi juga mendengarkan.

"Tapi menilai keganasan dan kemahiran permainan Kiamhoat mereka, jelas diwariskan oleh seorang tokoh kosen."

"Ya, pasti,"

Siau Ma setuju.

"Ada berapa banyak tokoh kosen yang belum pernah muncul di Bu-lim?"

"Tidak banyak."

"Oleh karena itu,"

Ucap Thio-gongcu lebih jauh.

"kalau kita berpikir secara cermat, pasti dapat menemukan dia."

Lan Lan sudah masuk ke dalam tandu, Lo-bi, Hiang-hiang dan kedua nona cilik itu menyingkir ke tempat jauh, kelihatannya mereka tidak berani dekat-dekat tiga orang yang lagi kasak-kusuk di sini.

Akan tetapi, tiga orang ini tetap bicara dengan suara lirih.

Thio-gongcu bicara setengah berbisik.

"Kedua batang Tohbing-ciam (jarum perenggut sukma) itu pasti bukan sambitan Lo-bi."

Siau Ma mengangguk tanda sependapat.

"Nona Lan Lan itu sengaja bilang dia yang menyambit, karena dia sudah tahu bahwa Lo-bi akan berbuat demikian dan mengakui apa yang dia katakan."

Bab Siau Ma tertawa, giliran dia berbicara.

"Kejadian yang menguntungkan dia jelas tidak akan ditolaknya, kalau tidak, umpama betul dia yang melakukan, pasti dia akan mungkir mesti dihajar atau diancam mau dibunuh."

Thio-gongcu berkata.

"Kalau bukan Lo-bi yang menyambitkan Am-gi, lalu siapa?"

Siau Ma sengaja bungkam, dia menungggu penjelasan Thio-gongcu lebih lanjut.

"Kenapa nona Lan Lan sengaja menjatuhkan vonisnya kepada Lo-bi, malah memberi hadiah kembang mutiara yang nilainya cukup untuk berfoya-foya beberapa bulan?"

"Ya, jika tidak beberapa ratus tahil, pasti bernilai dua tiga ribu tahil."

"Kenapa dia berbuat demikian, apakah karena matanya lamur? Salah melihat orang?"

"Kutanggung matanya tidak lamur dan masih dapat melihat jarum yang jatuh dalam beberapa tombak jauhnya."

Thio-gongcu menghembuskan angin dari mulut, katanya.

"Kalau demikian hanya ada satu penjelasan untuk peristiwa ini."

"Coba jelaskan."

"Sebetulnya dia sendiri yang menyambitkan Am-gi itu, tapi tidak ingin orang tahu bahwa dia juga seorang kosen, untuk menyembunyikan kemampuannya, maka ia rela mengorbankan kembang mutiara dan memberi pahala kepada Lo-bi."

"Tepat, masuk akal,"

Puji Siau Ma. Thio-gongcu berkata lebih lanjut.

"Yang mengajarkan Kiam-hoat kedua nona taci beradik itu, kemungkinan besar juga dia."

"Ya, mungkin sekali."

"Kenapa dia menutupi diri sendiri? Pandai kungfu bukan suatu hal yang memalukan atau melanggar hukum."

Siau Ma memicingkan mata mengawasi sekian lama, akhirnya ia menarik napas, katanya.

"Aku ingin tanya satu hal kepadamu."

Thio-gongcu mengawasi mulutnya.

"Apa yang dia lakukan, ada sangkut-paut apa dengan kau?"

Tanpa menjawab sepatah kata pun, Thio-gongcu putar badan lalu pergi. Terpaksa Siau Ma menoleh mengawasi Siang Bu-gi. Muka Siang Bu-gi tetap kaku dingin, dia hanya mengucap sepatah kata.

"Berangkat."

Malam makin larut.

Jalan pegunungan yang jarang dilewati manusia makin sukar ditempuh, keledai juga tak bisa digunakan lagi.

Hiang-hiang, kakak beradik Cen-cu selalu mengiringi tandu, Lo-bi selalu berputar kayun di kanan kiri atau depan belakang mereka, kelihatannya dia ingin cari kesempatan untuk bicara atau berkelakar dengan mereka.

Bahwasanya Lo-bi bukan terhitung laki-laki hidung belang, kalau mau dikata sebagai setan cabul, dia hanya termasuk setan cabul biasa saja.

Demikian juga Siau Ma, bukan dia tidak memikirkan Lan Lan, malah ingin menikmati lagi kehangatan badannya.

Apa yang dilakukan Lan Lan memang tiada sangkut-paut dengan Thio-gongcu, tapi sedikit banyak justru ada hubungan dengan dirinya.

Kenapa Lan Lan harus menyembunyikan diri, padahal dia mahir kungfu?

Adiknya terjangkit penyakit apa?

Kenapa tidak mau menampakkan diri?

Siau Ma tidak sempat memecahkan persoalan ini, karena mendadak dia melihat tiga orang muncul di depan dan berjalan ke arah mereka.

Malam larut, bulan purnama, di bawah cahaya rembulan, mereka masih bisa melihat keadaan sekeliling dalam jarak tertentu.

Yang datang dua perempuan satu laki-laki.

Yang lelaki telanjang dada dan mengenakan sepatu rumput, rambutnya awut-awutan bagai sarang ayam, dari kejauhan terendus bau badannya yang apek berkeringat.

Menurut pendapat Siau Ma, laki-laki ini sudah belasan hari tidak mandi.

Tapi kedua gadis itu justru memeluk lengannya, mereka jalan bergandengan seperti kuatir laki-laki itu terlepas terbang.

Mereka masih muda usia, yang lelaki kekar gagah, yang perempuan ramping, cantik lagi menggiurkan.

Mereka juga berpakaian sembarangan, berjubah panjang atau 'longdress' yang ketat dengan belahan tinggi mencapai pantat kanan kiri, bila kaki beranjak pakaiannya tersingkap, paha pun kelihatan.

Paha mereka jenjang lagi mulus putih, kekar dan padat, jarang Siau Ma melihat paha semulus dan menggiurkan seperti milik gadis ini.

Gadis yang lain bukan mengenakan 'Shanghai-dress' yang terbelah pahanya, tapi terbelah di bagian dadanya sehingga sepasang bukit mulus dan kenyal dapat diintip dari kejauhan.

Tingkah laku tiga muda mudi ini mirip 'hipis' zaman kini, seperti tidak peduli keadaan sekeliling, dunia adalah milik mereka bertiga, yang penting bisa hidup senang, peduli orang lain mau mati atau ingin hidup.

Maklum di sini adalah Long-san.

Tapi melihat tingkah mereka, seolah-olah lagi tamasya di taman firdaus, putar kayun di kebun rumah sendiri.

Saat Siau Ma mengawasi mereka, mereka juga sedang mengawasi Siau Ma.

Terutama gadis yang memiliki paha panjang dan mulus itu, sepasang bola matanya terpaku di wajah Siau Ma.

Siau Ma tidak berani bertatap mata, lekas dia melengos.

Siau Ma bukan laki-laki yang takut menghadapi urusan, dia bukan laki-laki jujur yang tidak mau menggoda perempuan, soalnya dia masih ingat dan tidak berani melupakan peringatan nenek tua di warung bobrok itu.

Di atas gunung ada serombongan muda-mudi yang dikenal sebagai serigala bebas atau tepatnya serigala sesat.

Kadang mereka membunuh orang, tapi juga sering menolong orang, asal kalian tidak mengganggu mereka, biasanya mereka tidak akan mengganggu.

Siau Ma tidak ingin mencari gara-gara.

Tidak mau terlibat urusan yang tidak perlu.

Ternyata mereka tidak mengganggu Siau Ma, terhadap orang lain jangan kata memandang, melirik pun tidak.

Sambil tangan bergandeng tangan, tiga muda-mudi ini terus beranjak ke sana memasuki hutan.

Lo-bi masih terpesona mengawasi sepasang paha yang mulus itu.

Pemuda itu mendadak menoleh dengan pandangan melotot kepadanya, dalam matanya seperti ada ujung pisau menusuk hati, tanpa sadar Lo-bi bergidik merinding.

Sebaliknya gadis yang berpaha bagus itu menoleh sambil mengerling tajam, senyumnya menawan hati, Lo-bi hampir kelengar dan lutut pun goyah.

Di saat ketiga muda mudi ini lenyap dalam hutan.

Dari jalan pegunungan di depan sana, tepatnya dari kanan kiri jalan sekaligus muncul tiga puluhan orang berpakaian hitam.

Serigala malam telah datang.

Hanya muncul di malam hari, entah dia manusia atau binatang buas, entah makhluk apapun, bila dia muncul di malam gelap, siapa pun akan merasa seram dan munculnya dirasa mengandung misteri.

Kalau manusia hanya muncul di tengah malam, sedikit banyak pasti punya pantangan yang takut dilihat orang.

Demikian pula dengan rombongan serigala malam itu, mereka berpakaian hitam, sepatu hitam, dengan kedok muka hitam pula, setiap orang memiliki sepasang mata yang mencorong hijau dan buas mirip mata serigala, gerak-gerik mereka lincah serta cekatan.

Yang muncul paling akhir ternyata seorang timpang.

Gerak-geriknya lamban lagi berat, setiap kali melangkah seperti mengeluarkan banyak tenaga, maka langkahnya amat lambat.

Tapi begitu dia muncul, begitu dia tampil ke depan, seumpama golok tajam mengkilap yang sudah terhunus, orang akan merasakan datangnya hawa membunuh yang menyelimuti dirinya.

Siau Ma berada di depan barisan, Siang Bu-gi berada di ekor barisan, ruang lingkup mereka makin pendek dan menciut.

Cen Cu kakak beradik siap memegang pedang.

Sedang bola mata Lo-bi berputar mengerling ke sekitarnya seperti siap melarikan diri bila keadaan betul-betul gawat.

Laki-laki baju hitam yang timpang itu terus beranjak maju perlahan, dua kali dia batuk-batuk ringan, semua orang mengira dia sudah siap membuka suara.

Tak nyana begitu batuk dua kali, berbagai gaman, entah golok pedang, tombak dan lain-lain, termasuk senjata rahasia, mendadak memberondong selebat hujan ke arah rombongan Siau Ma.

Kecuali ruyung, pisau dan panah serta ketapel besi, mereka menggunakan dupa pembius yang wangi baunya.

Jadi berbagai senjata yang ada di Kangouw, entah yang biasa dipakai orang-orang gagah termasuk pendekar atau yang sering digunakan kawanan penjahat, berandal atau maling cabul, dalam sekejap serentak diboyong keluar untuk mengganyang mereka.

Sasaran yang diincar juga termpat yang mematikan, paling ringan terluka parah dan sekarat.

Untung rombongan musuh tidak semuanya jago kosen, maka serangan gencar mereka juga tidak merupakan ancaman fatal bagi rombongan Siau Ma.

Cen Cu kakak beradik memutar sepasang pedang mereka, sebelah tangan Hiang-hiang menarik sambil menari, badannya berputar sekencang baling-baling, selembar sabuk sutra seketika ditarikan selincah bidadari menggulung mega di angkasa, sabuk sutra sepanjang setombak tujuh kaki itu ternyata mampu membendung senjata rahasia musuh yang memberondong tiba.

Ada dua yang menggunakan dupa wangi peranti membius orang, sigap sekali Siau Ma melompat ke depan, beruntun dua kali jotosan tangan kanan kirinya, hidung kedua orang ini seketika ringsek.

Siang Bu-gi ahli mengelupas kulit bergerak laksana bayangan setan, setiap orang yang kepergok, semua roboh terkapar dengan badan terkelupas kulitnya.

Akan tetapi berbagai jenis senjata itu terus memberondong gencar secara bergelombang, satu gelombang demi satu gelombang tidak putus atau berhenti.

Pedang sudah tidak lagi gemerdep, gerakannya disertai hamburan darah, demikian pula sabuk sutra putih yang panjang itu sudah berwarna merah berlepotan darah, di bawah sinar bulan purnama kelihatan merah maron.

Betapapun mereka adalah perempuan, gadis muda yang lemah hati dan berperasaan, melihat sekian banyak korban mampus, hati tidak tega.

Sudah tentu hal ini mempengaruhi gerak-gerik mereka yang makin lemah, apalagi napas memang sudah tersengal-sengal.

Lo-bi selalu menjerit dan berteriak, entah bergurau atau karena terluka.

Syukurlah Siau Ma dan Thio-gongcu datang ikut mengadang di depan tandu Lan Lan dan adiknya yang sakit.

Empat laki-laki pemikul tandu meski berhasil mengepruk pecah beberapa batok kepala orang yang meluruk datang, tapi mereka sendiri juga terluka.

Kalau bertempur lebih lama lagi jelas pihak mereka akan mati kelelahan karena kehabisan tenaga.

Thio-gongcu mendadak berseru.

"Cara begini tidak boleh dilanjutkan."

"Duk,"

Sekali genjot Siau Ma memukul hancur hidung seorang yang menyergap tiba, tanyanya.

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Menangkap maling harus membekuk pentolannya,"

Demikian seru Thio-gongcu.

Senjata yang digunakan adalah golok melengkung mirip bulan sabit, bentuknya mirip pisau yang biasa digunakan untuk mengiris dan membeset kulit.

Sekali golok sabit terayun, sebuah lengan ditabasnya buntung.

Siau Ma berkata.

"Maksudmu harus kubekuk si timpang itu?"

Thio-gongcu tidak sempat menjawab, dia hanya menganggukkan kepala.

Sejak tadi laki-laki timpang itu berdiri di luar sambil menonton dengan menggendong tangan, mendengar tanya jawab Siau Ma dengan Thio-gongcu, mendadak dia batuk dua kali lalu memberi aba-aba.

"Mundur."

Begitu perintah dikeluarkan, orang-orang baju hitam yang belum roboh, termasuk mereka yang terluka tapi masih mampu menggerakkan kaki, segera mundur ke tempat gelap.

Sudah tentu laki-laki timpang itu mendahului ngacir.

Di medan pertempuran terjadi penyembelihan dan pembantaian, mendadak keadaan menjadi tenang, hening lelap.

Kalau tiada korban yang menggeletak tumpang tindih di tanah, seolah-olah tidak pernah terjadi pembunuhan dan pertempuran sengit di tempat itu.

Hiang-hiang dan Cen Cu kakak beradik duduk di tanah, duduk lemas dan lunglai, duduk di tengah ceceran darah, napas mereka tersengal-sengal.

Demikian pula Lo-bi seperti orang yang sudah tidak punya tulang, bukan lagi duduk malah merebahkan diri.

Sesaat kemudian terdengar suara Lan Lan dari dalam tandu.

"Mereka sudah pergi?"

"Ehm,"

Siau Ma bersuara dalam mulut.

"Berapa orang kita yang terluka?"

Tanya Lan Lan.

"Tiga,"

Sahut Siang Bu-gi. Yang terluka adalah dua tukang pikul dan Cen Cen, Lo-bi meski menjerit-jerit, namun sedikitpun tidak terluka.

"Aku punya obat khusus untuk menyembuhkan luka-luka terbacok, ambillah dan tolong mereka."

Sembari bicara Lan Lan mengulur sebelah tangannya keluar, tangannya memegang sebuah botol porselin kecil.

Jari-jari tangannya lebih mulus dan putih dibanding botol porselin itu.

Siau Ma mengulur tangan menerima botol porselin itu, mendadak tangan Lan Lan menggenggam perlahan tangannya, umpama ada seribu patah kata juga takkan sejelas pernyataan dengan sekali genggam tangan, betapa besar makna genggaman yang perlahan ini.

Serta timbul perasaan hangat dalam benak Siau Ma, perasaan hangat seperti yang pernah dia alami dalam dekapan sang dewi di atas ranjang, perasaan aneh yang tak mampu dia lukiskan dengan rangkaian kata-kata, yang terang, segala jerih payah, derita dan kesulitan yang pernah dialami selama perjalanan ini seperti tidak dirasakan sama sekali, semua bahaya yang pernah dialami juga seperti sudah memperoleh imbalan.

Seolah-olah Lan Lan juga menyelami perasaan Siau Ma.

Dia hanya berkata perlahan dari dalam tandu.

"Tolong sampaikan pernyataan terima kasihku kepada temantemanmu."

Lan Lan tidak berterima kasih kepada Siau Ma.

Dia hanya minta supaya Siau Ma menyampaikan terima kasih kepada teman-temannya, karena terhadap Siau Ma tidak perlu mengucap terima kasih, karena mereka seperti sudah menjadi orang sendiri, dua orang laki perempuan yang sudah bersatu padu.

Di saat menerima botol porselin, hati Siau Ma benarbenar hangat, manis dan bergairah.

Seorang gelandangan yang hidup bebas, tidak punya tempat tinggal, tidak berakar di suatu tempat, bila memperoleh sekedar pengertian dari lawan jenisnya, sekedar kasih sayang atau cinta, maka selama hidupnya pasti takkan pernah dilupakan.

Akan tetapi di dunia ini diliputi banyak kesedihan dan kesengsaraan.

Bulan purnama yang hampir bulat masih bercokol di angkasa raya, sinar rembulan yang redup dan kalem menyinari arena pertempuran yang kotor dan menjijikan oleh darah dan mayat-mayat yang bergelimpangan.

Cukup lama kemudian, mungkin setelah perasaannya agak tenang, Hiang-hiang menarik napas, katanya.

"Bagaimanapun juga, kita berhasil memukul mereka."

"Kukira kejadian ini belum tentu berakhir,"

Thio-gongcu menanggapi.

"Belum tentu?"

Berubah air muka Hiang-hiang.

"apa ... apakah mereka akan datang pula?"

Thio-gongcu tidak menjawab. Dia harap mereka betulbetul sudah pergi, sayang dia tahu bahwa serigala malam pasti dan tidak mudah dipukul mundur begitu saja. Siang Bu-gi juga prihatin, katanya.

"Lekas balut lukalukanya, kita harus menerobos ke depan."

Cen Cen memprotes.

"Tapi kita perlu istirahat."

"Kalau ingin mampus, boleh kau istirahat di sini."

Terpaksa Cen Cen tutup mulut. Tukang pikul tandu sedang membalut luka-luka mereka, seorang di antaranya berkata.

"Luka-luka Lo-ji cukup parah, umpama masih bisa berjalan, dia tidak kuat memikul tandu lagi."

"Orang yang tidak sakit tidak harus naik tandu,"

Kata Siang Bu-gi.

"Harus naik tandu,"

Lan Lan memprotes.

"Kau tidak punya kaki?"

Tanya Siang Bu-gi.

"Punya."

"Kenapa tidak mau jalan sendiri?"

"Karena kalau aku harus jalan, tandu ini tidak boleh ditinggal di sini."

Siang Bu-gi tidak bertanya lagi.

Dia maklum tandu ini menyimpan suatu benda, entah apa yang tidak boleh dibuang, tapi juga tidak boleh dibawa secara terang-terangan, harus selalu disembunyikan.

Siau Ma berkata.

"Sebetulnya memikul tandu tidak jadi persoalan. Asal manusia, siapa pun bisa memikul tandu."

Lo-bi segera bersuara.

"Aku tidak bisa."

"Kau bisa belajar,"

Desak Siau Ma.

"Ya, kelak aku akan belajar."

"Kenapa harus kelak, sekarang kau harus belajar, aku berani tanggung sekali belajar, kau akan pandai."

Lo bi berjingkrak sambil berteriak.

"Kau suruh aku memikul tandu?"

"Kalau bukan kau, siapa yang memikul?"

Jengek Siau Ma.

Lo-bi menatapnya lekat-lekat, mengawasi Thio-gongcu, lalu menoleh ke arah Hiang-hiang dan Cen Cu kakak beradik.

Terhadap Siang Bu-gi melirik pun tidak berani.

Dia sadar, di antara sekian orang yang hadir, seorang pun tiada yang bisa dia perintah, maka tugas memikul tandu memang hanya dirinya yang harus melakukan.

Persoalan yang tidak boleh dirubah lagi, jika berusaha merubahnya, maka dia adalah orang pikun.

Lo-bi bukan orang pikun.

Maka segera dia berdiri, katanya dengan tertawa.

"Baiklah, kau yang menyuruh, aku akan memikul tandu ini, siapa suruh aku menjadi teman lamamu."

Siau Ma juga tertawa, katanya.

"Ada kalanya aku benarbenar merasakan, kau ini bukan saja pintar, kau juga mungil menyenangkan."

"Sayang sekali kau ini lelaki, kalau tidak ...."

Ucapannya tidak selesai.

Lo-bi bukan orang pikun, tapi dia berdiri menjublek karena kaget.

* * * * * Di tengah kegelapan mendadak merubung datang serombongan orang berpakaian hitam, jumlahnya jauh lebih banyak dibanding yang tadi.

Laki laki timpang baju hitam itu muncul, dia berdiri di bawah pohon besar di kejauhan sana.

Thio-gongcu berseru lantang.

"Cayhe Thio-wan-to, berasal dari golongan yang sama, tuan ...."

Laki-laki timpang itu seperti tuli kupingnya, hakikatnya tidak mendengar teriakannya, dia hanya batuk-batuk dua kali.

Maka berbagai jenis senjata dan Am-gi selebat hujan deras kembali membrondong ke arah mereka.

Kali ini jenis senjata yang digunakan lebih banyak ragamnya, serangan juga lebih keji, di antara mereka malah ada yang berkepandaian tinggi.

Siang Bu-gi menyeringai sadis, mendadak menepuk pinggang melolos pedang lemas yang menjadi sabuk celananya.

Walau pedang lemas, sekali sendal menjadi lurus kaku, cahayanya juga mencorong benderang, hawa dingin merembes sehingga udara terasa lebih segar, tampak jelas sikap Siang Bu-gi, dia terpaksa dan dipaksa mengeluarkan senjatanya, sebetulnya dia tidak ingin gamannya diketahui orang lain.

Tetapi sekarang dia sudah berkeputusan untuk menggunakan serangan keji, serangan yang mematikan.

Sudah tentu pertempuran kedua ini jauh lebih sengit, lebih berbahaya, lebih mengenaskan.

Meski Kiam-hoat Cen Cu kakak ber-adik amat ganas, tapi kedua nona ini sudah terluka, tenaga juga tidak sekuat tadi.

Lo-bi juga terkena sekali bacokan.

Bacokan yang cukup keras di punggung, luka-lukanya tidak ringan, tapi dia tidak lagi menjerit-jerit seperti tadi.

Golok sabit Thio-gongcu membabat miring ke atas, dimana goloknya berkelebat, setiap kali goloknya bergerak, darah pasti berhamburan, leher putus dada terbelah, kalau bukan kaki pasti tangan menjadi buntung.

Tetapi pedang Siang Bu-gi lebih menakutkan.

Permainan pedangnya lebih mengerikan.

Orang-orang baju hitam yang menyerbu tahu, betapapun lihai tinju dan pedang musuh, akhirnya takkan mampu menyelamatkan diri, akan tetapi tidak sedikit di antara mereka yang tahu-tahu roboh binasa tanpa sebab.

Waktu mereka ambruk, sekujur badan tidak terluka, hanya setitik darah menghias wajah tepat di tengah kedua alis.

Tiada orang tahu, tiada yang melihat darimana datangnya senjata rahasia yang mematikan ini.

Senjata rahasia yang merenggut nyawa mencabut sukma seperti datang dari neraka.

Laki-laki timpang yang berpakaian hitam berdiri di kejauhan menyaksikan dengan penuh perhatian, setelah dia saksikan dua laki-laki baju hitam yang paling perkasa dan lihai juga roboh tanpa bersuara karena senjata rahasia yang sama, baru dia mengulap tangan seraya memberi aba-aba.

"Mundur." * * * * * Kawanan serigala hitam itu segera lenyap ditelan gelap, sinar bulan terasa lebih dingin, mayat bertumpuk lebih banyak di tanah. Kali ini Lan Lan tidak bertanya, berapa yang terluka di pihaknya. Dia turun dari tandu, waktu menyingkap kerai dan mengintip dari dalam tandu, dia sudah tahu keadaan di luar, orang-orang pihaknya hampir seluruhnya terluka. Siau Ma pun terluka juga. Padahal Siau Ma mengganyang musuh dengan adu jiwa, ternyata di antara kawanan serigala malam itu ada juga yang nekad dan berani adu jiwa. Hanya Siang Bu-gi yang tetap berdiri tegak di tempatnya, pakaiannya berlepotan darah, tapi bukan darahnya sendiri. Bila kawanan serigala malam itu mengundurkan diri, pedang di tangannya sudah tidak kelihatan. Hiang-hiang memegang pikulan tandu, sorot matanya menampilkan mimik yang aneh, mulutnya bergetar, tanyanya.

"Mereka ... mereka akan datang lagi tidak?"

Belum habis bicara tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. Thio-gongcu memburu maju, satu tangan menutuk Jintiong-hiat di atas bibir, tangan yang lain memegang urat nadi.

"Jangan gopoh,"

Siang Bu-gi berkata.

"dia tidak mati, hanya terkena bius."

Thio-gongcu menghela napas lega, katanya.

"Tadi aku menyaksikan sendiri Siau Ma sudah merobohkan orang yang memegang bumbung semprot dupa wangi, bumbung semprotannya sudah diinjaknya remuk, kenapa dia bisa terbius?"

Siang Bu-gi berkata dingin.

"Kenapa tidak kau tanya kepada yang bersangkutan."

Sudah tentu Thio-gongcu tidak mampu bertanya. Bukan saja Hiang-hiang tak sadarkan diri, rona mukanya sudah berubah kelabu. Rona muka Thio-gongcu amat jelek, tanyanya kuatir.

"Siapa yang tahu bius jenis apa yang mengenai dia?"

"Dupa wangi yang tiada obat penawarnya,"

Sahut Siau Ma dengan tawa dipaksakan, lalu dia menghibur Thio-gongcu.

"Untung dia tidak banyak menghirup dupa wangi itu, maka jiwanya takkan berbahaya."

Tiba-tiba Siang Bu-gi menyeletuk.

"Tapi kalau orang-orang itu datang lagi, maka jiwanya sukar diselamatkan."

Walau perkataannya menusuk pendengaran, tapi dia bicara secara nyata.

Jikalau kawanan serigala malam itu meluruk lagi, mereka pasti menyerbu lebih sengit dan menyerang lebih nekad, lebih kejam dan culas, untuk menghadapi musuh dan mempertahankan diri, mereka cukup sibuk, mana sempat melindungi Hiang-hiang.

Lo-bi cemberut, katanya.

"Kalau kawanan serigala itu datang lagi, bukan Hiang-hiang saja yang akan mati, kita juga bakal mampus semua."

Siau Ma berkata.

"Tapi mereka pasti mati lebih banyak."

Dia sudah menghitung, korban yang jatuh dari kawanan serigala malam itu seluruhnya ada lima puluhan. Cen Cen rebah di tanah, suaranya gemetar, namun dia menghibur diri.

"Mungkin pihak mereka sudah hampir mampus seluruhnya, mana berani datang lagi."

"Ya, mungkin."

"Mungkin mereka segera datang,"

Lo-bi menyelentuk. Siau Ma mendelik padanya, katanya.

"Kenapa kau selalu bicara secara tengik, menyebalkan saja."

"Tanpa aku bicara, orang lain juga sebal kepadaku."

Mengawasi orang yang berlepotan darah, lemas lunglai kehabisan tenaga, Lan Lan menghela napas panjang, katanya rawan.

"Sekarang baru kutahu, Long-san memang daerah yang menakutkan."

Yang benar keadaan di Long-san tidak cukup dilukis hanya dengan "menakutkan"

Saja. Siau Ma mendadak berkata lantang.

"Aku justru tidak menemukan dimana letak menakutkan di daerah maknya ini." 'Maknya' adalah kata seru yang selalu diucapkan oleh Siau Ma, setiap membuka dan menutup mulut tidak jarang dia melontarkan caci makinya, belakangan sudah banyak berubah, hari ini lantaran marah tanpa sadar dia mencaci pula dengan kata seru yang sudah menjadi kebiasaannya.

"Kau tidak melihat dimana tempat menakutkan di daerah ini?"

Tanya Lan Lan.

"Aku hanya tahu dan jelas kulihat bahwa mereka akan mampus seluruhnya. Sebaliknya kita masih hidup segar bugar."

Asal dada masih bernapas, bila tenaga belum habis, tak pernah si Kuda Binal putus asa, tak pernah dia patah semangat.

Siapa pun asal dia tidak patah semangat, maka harapan masih menanti, masih ada harapan.

Lan Lan mengawasinya, sorot matanya juga mulai bercahaya, bukan saja tak pernah tunduk, tak pernah patah semangat, pambeknya akan membangkitkan harapan orang lain.

Tapi keadaan mereka sekarang memang serba sulit, posisi mereka terjepit.

Masih cukup lama menunggu datangnya fajar, setiap saat kawanan serigala itu masih mampu mengerahkan tenaga, mengumpulkan bala bantuan untuk menyerbu dengan serangan lebih ganas dan gencar.

Apalagi setelah fajar menyingsing, masih ada jenis serigala lain yang harus mereka hadapi, paling tidak Kun-cu-long adalah ancaman utama.

Konon Kun-cu-long jauh lebih menakutkan dibanding kawanan serigala malam.

"Sekarang kita masih mampu maju ke depan?"

Tanya Lan Lan.

"Kenapa tidak mampu?"

Tanya Siau Ma.

"Kaki kita tidak buntung, siapa bilang tidak mampu berjalan lagi."

Lo-bi tergagap.

"Tapi aku ...."

"Aku tahu kau terluka, kau tidak bisa memikul tandu, biar aku yang pikul."

Walau Siau Ma juga terluka, luka-lukanya mungkin tidak lebih ringan dibanding Lo-bi, tapi dadanya masih membusung, tubuhnya masih tegap.

Ada sementara orang, meski mengalami derita dan siksa, dia pasti tidak pernah minta ampun atau tunduk oleh keadaan.

Siau Ma identik dengan manusia jenis ini.

Bukan saja memiliki keberanian yang takkan pernah melempem, seolah-olah dia memiliki kekuatan terpendam yang tidak pernah habis digunakan.

* * * * * Maka rombongan mereka maju ke depan.

Walau mereka terluka tidak ringan, walau semua sudah merasa lelah, tetapi melihat Siau Ma, semangat mereka pun menyala, semua menggelorakan tekad dan mengerahkan seluruh tenaga.

Hiang-hiang masih belum sadar, maka Lan Lan turun dan berjalan kaki, ganti Hiang-hiang yang naik tandu.

Sepanjang jalan Lo-bi berkeluh kesah, saking jengkelnya, Siau Ma mengancam.

"Berani kau cerewet lagi, bukan saja kubikin ringsek hidungmu, biar kau memikul tandu."

Luka-luka di tubuh Cen Cu kakak beradik juga tidak ringan, tapi obat luka-luka yang dibubuhkan Lan Lan memang mujarab, rasa sakit hilang, darah pun berhenti keluar, maklum mereka masih muda, ketahanan fisik mereka lebih kuat.

Waktu mendengar ucapan Siau Ma, meski menahan derita, namun tak tertahan mereka tertawa cekikikan.

Bila seorang masih bisa tertawa, itu berarti dia masih punya harapan.

Kali ini mereka mampu menempuh jarak yang cukup jauh.

Betapapun jauh jarak yang telah mereka tempuh, mereka tetap belum mampu keluar dari tabir kegelapan.

Malam masih gfelap.

Sambil memikul tandu, langkah Siau Ma masih enteng, setengah berlari malah, Lan Lan terus mendampinginya.

Bukan hanya mendampingi saja, matanya selalu mengawasinya pula, sorot matanya menampilkan rasa kagum, hormat dan cinta.

Yang paling diperhatikan oleh Thio-gongcu hanya seorang, tak jarang dia mendekati tandu, pasang kuping mendengarkan pernapasan Hiang-hiang.

Ternyata Hiang-hiang belum menunjukkan perubahan.

Sementara pasien di tandu yang lain juga tidak batuk lagi, mungkin sedang tidur nyenyak.

Lan Lan berkata perlahan.

"Kelihatannya mereka tidak datang lagi."

"Ehm, semoga,"

Ucap Siau Ma.

"Tapi kita harus mencari tempat untuk istirahat, kalau begini terus, akhirnya kita tak kuat bertahan,"

Mendadak Lan Lan tertawa lebar dan manis.

"Sudah tentu kau dikecualikan, kau ini manusia berotot kawat tulang besi."

Siau Ma sedang menyeka keringat.

Dia bukan manusia besi, manusia robot.

Siau Ma sendiri maklum akan datang saatnya dia akan ambruk.

Tapi dia tidak mengutarakan isi hatinya, dia pantang bicara.

Lan Lan bimbang, mendadak dia bertanya.

"Kalau aku jadi binimu, mau tidak?"

Siau Ma membungkam. Lan Lan berkata pula.

"Apakah kau masih merindukan dia? Perempuan macam apakah dia sebetulnya?"

Berubah air muka Siau Ma.

Bukan seratus persen dikarenakan perkataan Lan Lan, hingga terjadi perubahan air mukanya, tapi karena matanya menangkap munculnya bayangan seorang.

Dia melihat laki-laki baju hitam yang timpang itu.

* * * * * Bab Di jalan pegunungan yang turun naik dan tidak rata itu, menghadang sebuah batu gunung raksasa.

Laki-laki timpang baju hitam itu berdiri di batu gunung raksasa ini, sepasang matanya memancarkan cahaya gemerdep di tengah kegelapan.

Ternyata Siang Bu-gi yang berada di buntut barisan juga sudah tahu munculnya laki-laki timpang baju hitam ini, segera dia memburu ke depan barisan, dengan menekan suara bertanya.

"Terus terjang? Atau berhenti di sini?"

Siau Ma menurunkan tandu.

Dia tahu, main terjang jelas tak mampu lewat.

Batu gunung raksasa itu terletak di tempat yang berbahaya, tempat berbahaya cukup dijaga oleh seorang, puluhan musuh juga jangan harap dapat menerobos lewat.

Apalagi di belakang batu gunung itu, banyak anak buahnya siap menyergap.

Perlahan Cen Cu bertanya kepada sang taci.

"Bagaimana keadaanmu?"

Cen Cen berkata.

"Aku hanya ingin mengganyang kurakura."

"Kau masih mampu membunuh orang?"

Tanya Cen Cu. Cekak tapi tegas jawaban Cen Cen.

"Bisa."

"Mari kita membunuhnya,"

Kata Cen Cu.

"Hayolah."

Mendadak kedua kakak beradik menerjang lewat kanan kiri tandu, waktu menerjang, pedang mereka sudah terhunus.

Anak muda umumnya tidak kenal arti takut.

Bukan saja masih muda, jalan pikiran mereka masih kanak-kanak.

Kanak-kanak tidak tahu artinya mati.

Dua anak dua batang pedang, menerjang ke atas batu raksasa hendak membunuh laki-laki timpang baju hitam.

Kejadian tidak terduga, semua kaget terpesona, ingin menariknya juga sudah terlambat.

Laki-laki timpang baju hitam berdiri sambil menggendong tangan, berdiri sambil menyeringai dingin.

Cen Cen berkata.

"Kita ganyang dia, coba masih bisa tertawa tidak?"

"Tawanya lebih jelek dibanding kentut bebek, aku lebih senang mati daripada mendengar tawanya,"

Cen Cu mengolok dengan tertawa.

Kalau mereka mati tentu takkan mendengar suara tawa orang, langkah mereka berarti mengantar kematian.

Mereka memang mempertaruhkan jiwa.

Walau laki-laki timpang baju hitam belum turun tangan, namun melihat sorot matanya, sikap dan gayanya, siapa pun belum tahu bahwa laki-laki timpang ini jagonya jago silat kosen.

Batu raksasa dimana dia berdiri terletak di tempat yang berbahaya, berada di atas menghadapi serangan dari bawah.

Di belakang batu raksasa ada anak buahnya yang siap bertindak bila mendengar perintah.

Persoalan ini tidak terpikir atau memang tidak diketahui oleh kakak beradik ini.

Syukurlah masih ada orang lain yang menduga akan hal ini.

Di saat kedua kakak beradik ini hampir mencapai batu raksasa, mendadak selarik bayangan mendesir lewat di tengah mereka, lalu berhenti tak jauhi di depannya.

Kedua kakak adik ini belum sempat melihat siapa orang yang menerobos lewat di samping mereka, dengan keras mereka sudah saling bertumbukan.

Orang itu tidak bergeming sedikitpun, namun kedua kakak beradik itu malah terpental mundur sempoyongan, hampir saja jatuh terduduk.

Orang itu tetap berdiri tegak, menoleh pun tidak, tapi Cen Cu berdua sudah melihat jelas siapa dia, hanya melihat bayangan punggung saja, orang akan tahu siapa dia.

Orang itu bertubuh kurus sekali, punggungnya agak melengkung, setengah bungkuk, tapi pinggangnya tegak dan tegap.

Tangannya panjang, bila dilurusksn ke bawah, jari tangannya hampir menyentuh lutut.

Peduli apa yang terjadi di belakangnya, jarang dia menoleh ke belakang.

Orang ini adalah Siang Bu-gi.

Cen Cu berteriak lebih dulu.

"Apa yang kau lakukan?"

Cen Cen ikut berkata.

"Apa kau sinting?"

Siang Bu-gi tidak menjawab, juga tidak menoleh. Dia menatap laki-laki timpang di atas batu gunung besar itu. Laki-laki timpang berbaju hitam sedang menyeringai dingin, mendadak dia berkata.

"Kau pasti sinting."

Siang Bu-gi tetap tidak bersuara.

"Kau menolong mereka, mereka malah memaki engkau, orang yang tidak sinting, mana mau berbuat sebodoh ini."

Siang Bu-gi diam saja.

"Sebetulnya kau tolong mereka atau tidak sama saja, jiwa mereka sudah tergenggam di tanganku, tiada ampun bagi orang yang berdosa di tempat ini."

Mendadak Siang Bu-gi berkata.

"Kau punya tangan, kenapa tidak turun tangan."

"Aku tidak perlu melakukan,"

Habis dia bicara, dari tempat gelap sekaligus muncul seratus orang berbaju hitam, umpama tidak genap seratus pasti ada delapan puluh orang. Laki-laki timpang baju hitam berkata.

"Pedangmu sangat cepat."

Siang Bu-gi membungkam. Laki-laki timpang berkata pula.

"Kau memiliki sebatang pedang bagus."

Siang Bu-gi tak menyangkal.

Siapa pernah menyaksikan permainannya, pasti tak berani menyangkal, pasti mengakui bahwa pedang lemas miliknya itu adalah gaman bagus, pedang mestika yang luar biasa.

Laki-laki timpang baju hitam berkata pula.

"Tinju anak muda yang memikul tandu itu juga tinju bagus, jotosannya luar biasa."

Tinju Siau Ma tidak bagus, tinju Siau Ma suka menghajar orang, terutama membuat hidung orang ringsek, kebiasaan jelek ini jelas tidak bagus.

Tapi sepasang tinju itu memang cepat, teramat cepat, keras lagi.

Laki-laki timpang berkata.

"Saudara-saudaraku ingin mencoba kecepatan tinjunya."

Lalu dia batuk-batuk dua kali.

Sudah tentu suara batuknya berbeda dengan batuk si pasien dalam tandu.

Medengar suara batuknya, Cen Cen dan Cen Cu berubah air mukanya.

Walau mereka tidak takut mati, tapi dua kali pertempuran sengit yang sudah mereka alami tadi, masih segar dalam ingatan mereka.

Sampai sekarang belum sempat mereka melupakan apa yang terjadi dengan pembantaian manusia tadi.

Begitu suara batuk berkumandang, pertanda pertempuran adu jiwa yang ketiga akan segera berlangsung.

Pertarungan ketiga ini jelas lebih kejam, lebih berbahaya juga lebih seru.

Bila pertempuran usai, berapa jiwa manusia akan ketinggalan hidup?

Sungguh tak terduga, di kala suara batuknya baru saja berkumandang di udara, suara kokok ayam berkumandang di kejauhan.

Sikap laki-laki timpang tampak berubah, kelihatan tertegun sejenak, lalu mengulap tangan, kawanan serigala yang siap menerkam serempak menghentikan gerakan.

* * * * * Halimun tampak mulai mendatang dari depan gunung sana.

Dari arah datangnya halimun, berkumandang suara alat musik yang aneh lagi ganjil iramanya, cepat enteng mengandung daya tarik yang simpatik lagi menggelora semangat.

Manusia mana pun meski dia sudah patah semangat, putus asa atau frustasi umpamanya, setelah mendengar irama musik yang satu ini, perasaannya pasti berubah, keinginan timbul, gelora hidup akan membara.

Laki-laki timpang baju hitam berdiri di atas batu gunung besar itu sudah menghilang.

Demikian pula kawanan serigala malam lenyap ditelan gelap.

Kokok ayam jantan bersahut-sahutan di kejauhan, fajar akan segera menyingsing, namun tabir gelap justru makin pekat.

Fajar hari ini kenapa datang lebih cepat dari biasanya?

Irama musik masih terus mengalun merdu.

Siau Ma mengepal tinju dengan mengendorkan sekujur badan, bila dia membuka telapak tangan, didapatinya telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

Lan Lan menarik napas panjang.

Bagaimanapun juga malam yang penuh bahaya ini berakhir.

Syukur pertempuran besar yang menentukan mati hidup mereka tidak terjadi.

Walau rona muka Siang Bu-gi tidak berubah, tidak menampilkan perubahan perasaan hatinya, namun sepasang bola mata yang memicing perlahan terpentang lebar.

Akhirnya dia menoleh lalu membalik badan, dilihatnya sepasang mata kakak beradik cewek ayu itu tengah mengawasi dirinya dengan pandangan menyala.

Cadar hitam yang membungkus muka mereka sudah terjatuh.

Walau lukaluka di wajah belum sembuh, tapi sepasang mata mereka yang indah, memancarkan cahaya terang, mengandung rasa haru, terima kasih lagi simpatik.

Mendadak kakak beradik ini memburu maju, satu di kanan yang lain di kiri, mereka memeluk Siang Bu-gi, lalu "Ngok"

Dengan mesra mencium pipinya. Cen Cen berkata.

"Ternyata kau bukan orang jahat."

Cen Cu juga berkata.

"Ternyata kau punya perasaan."

Terunjuk perubahan mimik di wajah Siang Bu-gi, wajahnya menampilkan perasaan hatinya, namun siapa pun sukar mengatakan perasaan apa yang terkandung dalam sanubarinya.

Siau Ma tertawa lebar.

Lan Lan juga tertawa lega.

Dua orang ini beradu pandang sejenak, kerlingan mata mereka mengandung pandangan mesra dan manisnya cinta.

Kehidupan amat berharga.

Betapapun kehidupan manusia mengandung rasa hangat dan kasih sayang, riang dan gembira.

Siau Ma berkata.

"Walau wajahnya kaku dingin, tapi hatinya panas membara."

Lan Lan menatapnya, katanya lirih tapi mesra.

"Kelihatannya kau pun mirip dia."

Mendadak Siang Bu-gi berkata dingin.

"Kenyataan kita belum mampus, kaki juga belum patah, kenapa perjalanan tidak dilanjutkan.?"

Cen Cen tertawa riang, katanya jenaka.

"Sekarang biar dia bersikap galak, aku tidak takut lagi."

Cen Cu juga berkata.

"Sekarang kami sudah tahu, dia bersikap garang untuk menakuti orang lain."

Percakapan kakak beradik ini dilakukan setengah berbisik, tapi sengaja mereka berlaku berani supaya didengar oleh Siang Bu-gi.

Saat menoleh ke arah mereka, dengan cekikikan kedua kakak beradik ini lari menyingkir.

Siau Ma tertawa besar, tandu segera diangkatnya, tapi baru saja tandu terangkat, suara tawanya pun sirap seketika.

Mendadak dia melihat tiga pasang mata sedang melotot ke arahnya.

Tiga pasang mata yang mencorong hijau seperti bola mata serigala, sorot mata yang mengandung perasaan dan harapan aneh, keinginan atau luapan hati yang penuh gelora birahi.

* * * * * Ada kehidupan pasti ada birahi, ada nafsu.

Tapi nafsu juga ada bermacam-macam.

Ada nafsu yang mengangkat derajat manusia, ada pula nafsu yang membuat manusia sengsara, meruntuhkan moral manusia.

Nafsu yang terkandung di tiga pasang mata ini adalah nafsu yang dapat meruntuhkan martabat manusia.

Bukan saja dapat meruntuhkan iman orang lain, juga akan meruntuhkan diri sendiri.

Kenapa manusia harus meruntuhkan diri sendiri?

Apakah karena mereka sudah kehilangan kesadaran?

Sudah tidak punya kepribadian?

Kini Siau Ma melihat jelas, tiga pasang mata ini adalah milik tiga muda mudi yang tadi bertemu dengan mereka.

Pemuda dengan rambut awut-awutan mirip orang gelandangan yang sudah belasan hari tidak mandi.

Gadis dengan sepasang paha yang jenjang dan payudara yang montok padat.

Kenapa mereka putar balik setelah le-nyap dalam hutan tadi?

Siau Ma melengos ke arah lain, tidak mau atau tidak berani beradu pandang dengan mereka, padahal besar hasratnya melihat paha yang jenjang, dan payudara yang merangsang menggiurkan itu.

Tapi Siau Ma masih dapat mengendalikan diri.

Setelah meresapi pahit getirnya cinta, setelah tergembleng oleh siksa lahir batin selama ini, Siau Ma bukan pemuda yang suka emosi, bukan orang yang gampang dipancing amarahnya lalu bertindak semena-mena.

Gadis cantik itu sedang menatapnya, mendadak dia berteriak dari kejauhan.

"Hai!"

Tak tahan Siau Ma menoleh.

"Kau panggil siapa?"

"Kau,"

Sahut gadis itu.

"Aku tidak mengenalmu."

"Kenapa harus kenal kau, kalau tidak kenal apa tidak boleh memanggilmu?"

Siau Ma melenggong. Tiada manusia yang sejak dilahirkan lantas kenal satu dengan yang lainnya, apa yang dikatakan gadis ayu ini rasanya cukup beralasan dan masuk akal.

"Hai!"

Gadis itu berteriak pula.

"Namaku bukan 'Hai'."

"Siapa namamu?"

"Orang memanggil aku Siau Ma."

"Aku justru suka memanggil kau 'Hai', asal kau tahu aku sedang memanggilmu saja."

Kembali Siau Ma tertegun.

Panggilan antara manusia dengan manusia memang tiada peraturan khusus, kalau orang boleh memanggil dengan tuan, nona, saudara dan Iain-lain, kenapa tidak boleh memanggil dengan 'Hai'.

Pikiran dan sikap gadis ayu ini memang eksentrik, amat aneh dan khusus, jauh berbeda dengan kebanyakan orang.

Tapi kedengarannya juga mempunyai alasan dan pengertian yang dapat dimaklumi oleh siapa pun.

"Hai!"

Kembali gadis ayu itu berseru. Siau Ma menjawab.

"Untuk apa memanggil aku."

Gadis ayu itu berkata.

"Hayo ikut aku."

Siau Ma melenggong, katanya.

"Kenapa ikut kau?"

"Aku suka padamu,"

Jawaban terus terang yang mengejutkan orang.

Biasanya Siau Ma hidup dalam lingkungan bebas, tidak pernah terkekang oleh adat istiadat, seperti kuda liar yang binal, apa yang ingin diucapkan, tanpa tedeng aling-aling dia lontarkan.

Maklum jika dia tidak menduga gadis ayu ini juga melontarkan omongannya itu.

Mendadak Lan Lan menyeletuk.

"Dia tidak boleh ikut kau."

"Kenapa?"

Tanya gadis ayu terbelalak.

"Aku menyukainya, aku lebih suka dia dibanding kau,"

Ucapannya mengejutkan, karena ucapannya itu merupakan provokasi yang mungkin sekali mengundang perkelahian dua orang yang berebut kekasih.

Di luar dugaan, gadis ayu itu seperti maklum, seolah-olah merasa apa yang diucapkan Lan Lan masuk akal, dengan penuh pengertian dia balas bertanya.

"Bila dia pergi, apakah kau bersedih?"

"Pasti sedih sekali,"

Sahut Lan Lan.

"Sedih itu tidak baik, aku tidak senang membuat orang sedih."

"Kalau begitu, lekas kau pergi saja."

Gadis ayu itu berkata.

"Kalian berdua boleh ikut bersamaku."

"Kenapa harus ikut kau?"

Tanya Lan Lan.

"Karena di tempat itu amat menyenangkan, setiba di sana, kalian pasti hidup senang."

Pemuda rambut panjang yang tidak keruan menyeletuk.

"Di tempat kami hanya ada senda gurau, hidup bebas, riang gembira, tiada peraturan yang mengekang gerak-gerikmu, ada musik, bisa menari, tiada...."

"Musik!"

Mendadak Siau Ma menukas. Irama musik yang merdu masih berkumandang di kejauhan. Siau Ma bertanya.

"Itukah musik kalian?"

Pemuda rambut panjang berkata.

"Setiap ada prosesi penyembahan harus ada musik."

Musik dan upacara umumnya memang tidak pernah terpisah. Siau Ma tertarik, timbul rasa ingin tahu, tanyanya.

"Apakah yang kalian sembah?"

"Surya,"

Sahut pemuda rambut panjang.

"Sekarang masih gelap, masih malam, malam hari mana ada surya?"

Tanya Siau Ma. Pemuda gondrong berkata.

"Upacara penyembahan hari ini datang lebih dini dari biasanya."

"Kenapa?"

Pemuda gondrong itu tertawa, katanya sambil menepuk kepala gadis ayu di sebelahnya.

"Karena dia menyukaimu."

Siau Ma segera mengerti.

Bila musik upacara yang mengiringi penyembahan berbunyi, itu berarti fajar sudah akan menjelang.

Kawanan serigala malam itu seumpama setan atau dedemit, bila tabir malam lenyap, malam berganti pagi, maka mereka harus lenyap dari mayapada ini.

Lan Lan menyeletuk.

"Umpama betul kalian menolong kami, dia tetap tidak boleh ikut kau."

"Dan kau?"

Tanya gadis ayu.

"Orang-orang di sini tiada satu pun yang boleh ikut kau,"

Lan Lan menegaskan. Gadis ayu berkata.

"Aku tidak suka memaksa orang, tapi bila kalian mau datang, siapa saja tidak pandang bulu, kami akan menyambut dengan gembira."

Suaranya mengandung daya tarik, undangan yang menawan.

"Asal kalian menuju ke arah datangnya suara musik, kalian akan menemukan kami, kalian akan menemukan taman firdaus, meresapi hidup bebas, riang gembira yang tiada taranya, aku berani tanggung, kalian pasti takkan menyesal."

Ketika dia membalik tubuh, kebetulan angin menghembus kencang, maka belahan baju di bagian pahanya tersingkap, sehingga paha yang jenjang mulus terpampang di mata Siau Ma.

Bola mata Lo-bi melotot terpesona, bagai kelereng yang hampir mencotot jatuh.

Gadis yang dadanya tersingkap mendadak menghampiri Cen Cen dan Cen Cu.

Sejak tadi gadis jelita ini terus mengawasi mereka.

Sorot matanya seperti mempunyai daya gaib, tenaga iblis yang tak dapat dilawan, kakak beradik itu seperti terpesona dan terpengaruh alam pikirannya.

Waktu gadis yang tersingkap baju dadanya berada di depan mereka, ternyata keduanya berdiri kaku diam.

Dengan mesra gadis montok itu memeluk, lalu berbisik-bisik di pinggir telinga mereka.

Jari-jari tangannya mengusap dan mengelus pinggang mereka.

Sorot mata Cen Cen dan Cen Cu mendadak menjadi pudar, bola matanya seperti diselimuti halimun, matanya merem melek seperti menikmati sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang mengasyikan.

Setelah gadis itu pergi jauh dan tidak kelihatan, mereka belum juga sadar.

Setelah ketiga muda-mudi itu pergi cukup lama, baru Lan Lan menghela napas lega, katanya.

"Dua gadis itu seperti iblis."

"Bagaimana dibanding engkau?"

Goda Siau Ma tertawa. Lan Lan tidak menanggapi, ia menghampiri Cen Cen dan Cen Cu, katanya.

"Apa yang dia bisikkan pada kalian?"

Merah jengah muka Cen Cen, katanya.

"Dia ... dia tanya apakah kami masih perawan?"

Sudah tentu mereka masih perawan, seratus persen halal.

"Apa pula yang dia katakan?"

Tanya Lan Lan pula.

Lebih merah muka Cen Cen, mulutnya megap-megap sukar mengucap sepatah kata pun.

Waktu Lan-Lan mendesak lagi, pasien dalam tandu mulai batuk-batuk.

Kali ini batuknya lebih kerap, lebih keras dan napas pun ngos-ngosan.

Memang ada sejenis penyakit yang hanya kumat di kala fajar menyingsing.

Kalau sudah kumat, pasti fatal, obat apa-pun tak dapat menahannya.

Sorot mata Lan Lan memancarkan rasa prihatin dan kuatir, katanya.

"Apapun yang akan terjadi, kita harus mencari tempat untuk istirahat."

Matanya tertuju ke arah Siang Bu-gi.

Ternyata Siang Bu-gi tidak menentang, dia juga tahu bahwa mereka memang perlu istirahat.

Tapi di gunung serigala ini, di tempat mana mereka bisa istirahat secara tenang dan tenteram?

Setiap jengkal tanah di wilayahnya ini tiada tempat berpijak untuk mereka.

Lan Lan menoleh ke arah Thio-gongcu, katanya.

"Kau pernah ke Long-san?"

Thio-gongcu manggut-manggut.

Beberapa tahun yang lalu dia pernah kemari, waktu itu gunung ini belum ada serigala manusia sebanyak ini, maka dia masih selamat dan turun gunung tanpa kurang suatu apapun.

"Orang-orang di sini banyak berubah, tetapi keadaan gunung kurasa tak banyak berbeda,"

Demikian kata Lan Lan. Thio-gongcu mengangguk.

"Aku yakin kau dapat mengingat tempat dimana kita bisa beristirahat dengan tenteram."

"Aku sedang berpikir,"

Ucap Thio-gongcu.

Sudah lama dia berpikir, setiap pelosok tempat di sini yang pernah dia kunjungi sudah dipikirkan, sayang dia tidak yakin di tempat itu mereka akan selamat.

Di saat mereka kebingungan, mendadak seorang berkata.

"Kalian tidak usah cari tempat, dipikir sampai otak pecah juga takkan menemukan tempat aman di sini, tapi aku bisa menunjukkan dan membawa kalian ke tempat aman." * * * * * Rembulan dan bintang sudah tenggelam, secercah cahaya putih menongol di ufuk timur. Tapi orang ini memegang sebuah lampion kecil, lampion merah yang masih menyala, dengan langkah setengah diseret dia turun dari atas batu gunung. Dandanan dan sikap serta tindak-tanduk orang ini mirip pedagang keliling yang menjajakan dagangan, seorang manusia yang betul-betul normal, seperti orang yang pernah mereka lihat sejak berada di daerah Long-san. Sikap orang ini kelihatan ramah, sopan dan ingin bersahabat.

"Siapa kau?"

Tegur Siau Ma. Orang itu tertawa, katanya.

"Kalian tak usah kuatir, aku orang dagang, bukan serigala."

"Di Long-san juga ada pedagang?"

Tanya Siau Ma.

"Hanya ada satu, orang itu adalah aku,"

Ucap orang itu, dengan tertawa dia menjelaskan.

"Karena hanya aku seorang, maka sampai sekarang aku tetap bertahan hidup."

"Kenapa demikian?"

Tanya Siau Ma. Pedagang itu menerangkan.

"Hanya aku yang bisa berdagang dengan kawanan serigala yang memerlukan berbagai keperluan yang diinginkan, aku memnuhi kebutuhan hidup mereka, tanpa kehadiranku di sini, banyak persoalan atau pekerjaan di sini menjadi terbengkalai. Setelah memadamkan lampionnya dia menghirup napas segar lalu menjelaskan lebih lanjut.

"Kawanan serigala itu hanya pandai membunuh dan merampas harta orang, mereka tidak pandai berdagang."

"Dagang apa yang kau kerjakan?"

Tanya Siau Ma.

"Dagang apa saja kukerjakan, aku menerima barangbarang mereka, katakanlah tukang tadah, lalu kujual di kota sekitarnya, aku juga sering mencarikan cewek untuk mereka."

Siau Ma tertawa.

"Hal itu memang amat penting."

Pedagang itu tertawa, katanya.

"Sudah tentu, jauh lebih penting dari pekerjaan apapun."

"Oleh karena itu mereka tiada yang tega membunuh kau."

"Kalau mereka mau membunuh aku semudah memites semut, memites seekor semut apa manfaatnya bagi mereka?"

"Ya, tidak berguna."

"Oleh karena itu, selama beberapa tahun ini aku aman sentosa, mondar mandir leluasa."

"Lalu kau mau mengajak kami kemana?"

"Ke hotel damai."

"Apa di Long-san ada hotel?"

"Ya, hanya ada satu."

"Siapa yang membuka hotel itu?"

"Aku, aku pemiliknya."

"Apa betul di hotelmu itu aman?"

"Siapa saja asal berada di hotelku, kutanggung selamat dan damai."

"Kau yakin apa yang kau ucapkan benar?"

"Aku sudah membuat kontrak dengan mereka, Cu Ngo Thay-ya juga setuju."

Siapa saja tahu apa yang diucapkan Cu Ngo si tuan besar adalah perintah, tiada penghuni gunung serigala ini yang berani menentang perintahnya.

Dahulu tiada, sekarang juga belum pernah ada, kelak juga pasti takkan ada orang berani menentang.

Pedagang itu berkata pula.

"Tidak jarang Cu Ngo Thay-ya suruh aku melakukan sesuatu untuk beliau, karena beliau juga tahu, orang yang berani lewat Long-san pasti punya keperluan penting, tiada orang mau tinggal seumur hidup di hotelku."

"Oleh karena itu, bila mereka mau turun tangan, kesempatan masih banyak."

"Oleh karena itu, mereka memberi fasilitas kepada aku untuk berdagang kecil-kecilan, karena apa yang kukerjakan, hakikatnya tidak mengganggu juga tidak merugikan mereka."

Bab "Bagus, berarti daganganmu sudah berhasil."

"Sekarang belum berhasil."

"Lho, belum berhasil?"

"Terus terang saja, di tempatku itu hanya melayani sejenis manusia, aku harus menilai dulu apakah kalian manusia jenis itu, apakah kalian memenuhi syarat?"

"Manusia jenis apa yang bisa kau terima?"

"Manusia yang punya duit, orang yang punya banyak uang,"

Dengan tertawa dia menjelaskan lebih lanjut, tarip yang berlaku di hotelku, terus terang lebih mahal sedikit dibanding tempat lain."

"Lebih mahal berapa?"

"Ada orang bilang, harga secangkir arak dalam hotelku lebih mahal dua puluh kali lipat dari tempat lain, padahal mereka memfitnah, membuat aku penasaran saja."

"Berapa kali lipat lebih mahal tarip arakmu?"

"Kalau di kota secangkir arak harganya satu tahil, di hotelku harganya hanya dua puluh delapan tahil."

Siau Ma tertawa lebar. Lan Lan juga tertawa geli. Pedagang itu mengawasi mereka, katanya.

"Entah kalian adalah orang-orang jenis yang kukatakan?"

"Ya,"

Ucap Lan Lan.

"Kami adalah orang yang punya duit, punya banyak uang."

Apa yang dikatakan Lan Lan memang benar.

Sekenanya dia merogoh saku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas, setelah dihitung, nilainya genap sepuluh ribu tahil perak, lalu diserahkan begitu saja kepada pedagang atau pemilik hotel ini, seperti dia menyerahkan selembar kertas yang tidak terpakai lagi.

Siau Ma berkata.

"Cukup tidak duit itu untuk kita tinggal setengah hari?"

Sepuluh ribu tahil perak cukup untuk membeli sebuah rumah gedung yang cukup mentereng, untuk tinggal di sini, selama tiga atau lima ratus hari juga lebih dari cukup. Tapi pedagang itu berkata.

"Asal kalian mau makan sederhana, arak juga tidak minum terlalu banyak, kalau menghemat tentu cukup."

Siau Ma tertawa besar, katanya.

"Sekarang aku percaya kau bukan serigala, kau manusia tulen."

"Lho, kenapa?"

"Soalnya hanya manusia yang bisa memeras manusia, hanya orang yang pandai menindas sesamanya" * * * * * Hotel damai mirip sebuah hotel, tapi hanya mirip saja. Dikata mirip karena di depan pintu dipasang sebuah pigura besar, pigura yang diukir huruf besar berbunyi 'Hotel Damai'. Kecuali sekedar mirip, tempat lain hakikatnya tidak pantas disebut hotel. Yang paling janggal sudah tentu bentuk rumahnya. Rumah kuno itu sudah bobrok, sudah reyot. Seorang anak kecil kepala gundul borokan berdiri di ambang pintu menyambut tamu.

"Ini putraku,"

Kata pedagang bangga, mesti anaknya kurus, borokan lagi, tapi putra sendiri adalah anak tersayang.

"Biniku sudah lama kucerai, biniku bukan manusia baik."

Bini orang lain selalu baik, lebih bagus, anak sendiri adalah yang tersayang. Pedagang berkata pula.

"Rumah ini ada delapan kamar tidur dan sebuah kamar makan!"

Kamar makan amat besar dan luas, dua kali lebih besar dibanding kamar tidur yang terbesar, kamar tidur berukuran 5x7 meter itu hanya berisi satu ranjang untuk satu orang tidur. Pedagang berkata pula.

"Menu yang kami sediakan kelas satu, maka sembarang waktu para langganan suka berkunjung kemari."

Apa yang diucapkan memang benar.

Hari masih pagi, cuaca masih remang-remang, tapi tamu sudah berkunjung di hotel bobrok itu.

Tapi hanya seorang tamu saja.

Seorang tua yang kurus kering, seorang kakek yang berbaju kapas tebal terbuat dari kain sutera.

Waktu itu bulan sembilan, meski pagi hari hawa terasa panas dan gerah, tapi kakek yang satu ini pakai baju kapas yang tebal, minum arak dengan santai.

Di atas meja yang disandingnya menggeletak beberapa botol arak, sedikitnya dia sudah minum lima kati.

Tapi setetes keringat pun tidak kelihatan menghias mukanya.

Mukanya bercahaya, mengkilap ditingkah cahaya api dari pipa cangklongnya yang panjang.

Pipa cangklong itu panjang tiga kaki, lebih besar dari lengan bocah, siapa pun tahu pipa itu terbuat dari baja asli.

Bentuk kepala pipa amat menakutkan, tembakau yang dimasukkan kalau tidak setengah kilo, mungkin ada lima ons.

Menurut perhitungan Thio-gongcu, bobot pipa cangklong itu ada 50 kati, tapi menurut penilaian Siau Ma, beratnya ada delapan atau sembilan puluh kati.

Pipa seberat dan sepanjang itu berada di tangan seorang kakek kurus kering, tapi lagaknya seperti memegang sebatang jerami.

Kulit mukanya yang gemerdep kelihatan kuning seperti malam, penuh kerut-merut, namun penampilan sikap dan wibawanya menciutkan nyali orang.

Padahal dia hanya duduk seenaknya, duduk sembarangan, jarang ada orang duduk seangker kakek kurus ini.

Pok Can.

Orang tua kurus kering ini adalah Pok Can, serigala tertua di Long-san.

Setiap orang tahu dan kenal siapa kakek tua kurus dengan pipa cangklong yang khas itu.

Sepasang bola mata mencorong bagai api, perlahan menyapu pandang orang-orang yang baru datang, mendadak ia bertanya.

"Siapa yang membunuh Thi-sam-kak?"

"Aku!"

Jawaban diucapkan dua orang, jawaban yang dilontarkan oleh Siau Ma dan Siang Bu-gi, mereka ingin memikul tanggung jawab dari tuntutan balas musuh yang kurus kering berpipa cangklong ini.

Siau Ma dan Siang Bu-gi maklum bahwa kehadiran Pok Can di hotel Damai ini adalah ingin menuntut balas, mereka maklum, dengan bekal ilmu pedang Cen Cen dan Cen Cu pasti bukan tandingan serigala tua yang lihai ini.

Pok Can tertawa dingin.

Siau Ma berbicara dengan nada mantap.

"Kecuali Thi-samkak masih banyak lagi anak buahmu yang kubunuh, kalau kamu ingin menuntut balas, boleh membuat perhitungan dengan aku."

"Aku pernah mendengar tentang kau,"

Ucap Pok Can kalem.

"Aku bernama Siau Ma, si Kuda Binal."

"Kamu bukan kuda, kamu lebih mirip keledai daripada kuda."

Siau Ma menyeringai dingin.

"Hanya keledai yang melakukan perbuatan bodoh. Kau merebut kesalahan orang lain dan ingin menanggung dosanya,"

Demikian dampratnya, sebelum Siau Ma bicara dia menambahkan lagi.

"senjatamu tinju, tapi Thi-sam-kak mati karena pedang."

"Tapi aku ...."

"Mereka ingin membunuh kalian, pantas kalau membunuhnya, bunuh membunuh di kalangan Kangouw memang lumrah, kejadian yang adil dan nyata."

"Tak nyana, manusia serigala seperti dirimu juga kenal keadilan."

"Sakit hati kematian para anak buahku itu sebetulnya tidak perlu diperhitungkan, hanya saja ...."

Tiba-tiba jari jemarinya mengepal.

"hanya saja kematiannya amat mengenaskan, sudah puluhan tahun aku berkecimpung di Kangouw, pertempuran besar kecil pernah kualami ribuan kali, namun susah aku membayangkan siapa yang melontarkan ilmu pedang sekeji itu untuk membunuhnya."

Siang Bu-gi terus bungkam, tapi dia mengeluarkan pedang. Sebatang pedang lemas yang mengkilap tajam dan dingin, sekali sendal pedang lemas itu menjadi kaku lurus.

"Pedang bagus,"

Pok Can memuji.

"Betul, pedang bagus,"

Ucap Siang Bu-gi dingin.

"Baik, kutunggu kamu."

"Menunggu aku?"

"Kamu perlu istirahat dan tidur, setelah badanmu segar aku akan menunggumu di luar."

"Tidak usah kau menunggu."

"Di sini bukan tempat untuk membunuh orang."

"Sekarang juga aku keluar dan bertempur denganmu."

Pok Can menatapnya lekat, mendadak dia berdiri, dengan langkah lebar beranjak keluar.

Ternyata Siang Bu-gi sudah mendahului menunggu di luar.

Cen Cen dan Cen Cu berdiri lengang seperti orang kesurupan, seolah-olah kejadian ini tiada sangkut-pautnya dengan mereka.

Lan Lan bertanya dengan suara lirih.

"Bagaimana pendapatmu? Menguatirkan tidak?"

Siau Ma mengepal tinju, membungkam.

Siapa bakal menang dan kalah dalam duel ini, Siau Ma tidak tahu dan tidak bisa meramalkan, dia tidak yakin Siang Bu-gi dapat mengalahkan lawannya.

Pedagang atau pemilik hotel tertawa lebar, katanya.

"Tidak jadi soal dan tidak perlu kuatir, mati satu orang kan juga bermanfaat dan menguntungkan kalian."

Siau Ma menatapnya mendelik.

"Keuntungan apa?"

Tanyanya geram.

"Kalau mati satu orang berarti kurang pengeluaran, jatah makan minum kalian kan jadi tambah."

Fajar telah menyingsing, tapi kabut masih tebal, mesti angin gunung menghembus cukup kencang, kabut tebal itu seperti tidak berujung pangkal, tidak buyar dan tidak habishabisnya.

Baju kapas Pok Can yang tebal tampak bergoyang oleh tiupan angin, tapi orangnya berdiri kokoh dan tegap seperti gunung.

Sepasang kakinya terbuka satu kaki, memasang kuda-kuda dengan berdiri tanpa gaya, berdiri santai seenaknya, pembawaannya benar-benar menciutkan nyali orang.

Hanya seorang kosen atau ahli silat yang sudah kenyang bertempur di medan laga dapat memperlihatkan gaya segagah itu.

Siang Bu-gi juga tak bergerak.

Pedang masih membelit pinggangnya, dia tidak pernah turun tangan lebih dulu.

Pok Can mengangkat pipa cangklongnya lalu diisap perlahan tapi lama, tembakau di ujung pipa yang segede kelapa itu menyala benderang memercikkan lelatu api.

Dengan tatapan dingin ia mengawasi Siang Bu-gi, katanya menantang.

"Aku tahu kau seorang ahli pedang."

Siang Bu-gi tidak menanggapi ocehannya.

"Oleh karena itu aku yakin kau juga tahu, bahwa tembakau dalam pipaku adalah senjata rahasia yang dapat membunuh orang."

Siang Bu-gi mengangguk. Tembakau lembut yang terbakar membara itu jauh lebih menakutkan dibanding senjata rahasia jenis apapun.

"Bila sudah turun tangan, aku tidak kenal kasihan, kau boleh melancarkan jurus ilmu pedang keji apapun yang mampu kamu kembangkan."

"Untuk menang, tentu akan kulancarkan,"

Sahut Siang Bugi tegas.

"Jika aku mati di bawah pedangmu, murid dan cucu muridku takkan menuntut balas."

"Bagus sekali."

"Umpama kau mengelupas kulit badanku, aku tak akan membenci atau menyalahkanmu."

"Kulitmu tidak dibutuhkan, keutuhan badanmu boleh dipertahankan."

"O."

"Kulitmu tidak tebal, sudah keriput lagi."

Siang Bu-gi memang sering mengelupas kulit badan manusia, tapi hanya satu jenis manusia yang dia kuliti, yaitu manusia yang berkulit tebal. Lama Pok Can menatapnya, akhirnya mendesis perlahan.

"Bagus sekali."

"Bagus sekali"

Adalah dua patah kata yang menutup pembicaraan mereka.

Hanya sekejap mata pipa cangklong seberat tujuh puluh kati dengan panjang satu meter lebih itu menyapu melintang.

Pipa cangklong umumnya adalah senjata khusus untuk menutuk jalan darah, permainannya tak banyak beda dengan Boan-koan-pit yang juga khusus menyerang Hiat-to.

Tapi berbeda dengan pipa cangklong Pok Can, bukan saja pembawaannya mirip tombak panjang atau toya, tipu permainannya juga diselipi dan dikombinasikan dengan permainan tongkat, ruyung lemas, kampak dan jenis senjata berat lainnya.

Apalagi tembakau yang membara di kantong pipa sembarang waktu dapat disemburkan untuk melukai musuh, cahaya tembakau yang membara itu juga menyilaukan mata.

Diam-diam Siau Ma menghela napas.

Betapa kenyang pengalaman Siau Ma berkelahi, musuh macam apapun pernah dihadapi, bersenjata maupun tangan kosong, tapi belum pernah melihat gaman seganas dan selincah pipa cangklong di tangan kakek tua kurus kering ini.

Mau tidak mau timbul rasa was-was dalam benaknya, Siau Ma menguatirkan keselamatan Siang Bu-gi.

Pok Can sudah menyerang 18 jurus secara beruntun, sejurus pun Siang Bu-gi belum balas menyerang.

Walau pipa cangklong belum menyentuh badan atau ujung bajunya, namun posisi atau keadaannya tidak lebih baik atau unggul di atas angin.

Padahal permainan Kiam-hoat merupakan serangan gencar yang selalu membuat lawan bertahan, jurus tipunya tak kenal kompromi, tapi dalam beberapa gebrak ini ia justru terdesak di bawah angin, sehingga tak sempat balas menyerang.

Maklum gamannya adalah pedang tipis lagi lemas, untuk memainkannya diperlukan kepandaian khusus dan tenaga yang memadai, serangan lawan sederas hujan lebat, jelas amat sukar dan tak mungkin dilawan dengan kekerasan.

"Blup" , sekonyong-konyong terjadi sebuah letupan disertai cahaya api benderang dari nyala tembakau di kantong pipa cangklong itu. Di saat api membara besar itulah, kepala pipa yang berkantong sebesar kelapa menindih ke bawah dengan jurus Thay-san-ap-ting (Thay-san menindih kepala) mengepruk batok kepala Siang Bu-gi. Siang Bu-gi sudah mati langkah dan terpojok ke sudut yang mematikan, demikian pula pedang di tangannya seperti tidak mampu balas menyerang lagi. Di luar dugaan, pada detik-detik gawat itulah, Siang Bu-gi justru balas menyerang. Pedang itu mendadak bergerak selincah ular sakti, laksana benang sutera, pedang lemas yang disendal lurus oleh landasan tenaga dalam yang hebat, mendadak berubah menjadi lingkaran cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Putaran cahaya yang mclingkar-lingkar itu seperti saling belit, sehingga cahaya api tembakau yang membara di kantong pipa cangklong itu redam seketika dan lenyap tak berbekas.

"Ting"

Kembali terdengar suara nyaring, pedang membentur pipa, di saat kembang api berpijar, pedang mendadak mental lurus dan tegak ke atas.

Dalam detik kejadian itu juga Siau Ma maklum dan menangkap maksud tujuan Siang Bu-gi.

Agaknya Siang Bu-gi menunggu dan memberi kesempatan pada Pok Can mendesak dirinya ke posisi yang terkunci langkahnya, ke sudut yang mematikan baru akan balas menyerang.

Duel dua jago kosen seumpama pertempuran dua raksasa yang baku hantam di medan laga, siapa lebih dulu menempatkan diri pada posisi yang mematikan, akhirnya akan tampil sebagai pemenang, menang berarti hidup.

Ia insaf kekuatan musuh lebih tangguh, pambeknya lebih besar, maka ia memaksa dirinya menggunakan cara yang amat berbahaya ini.

Diam-diam Siau Ma amat kagum, kagum setengah mati.

Mendadak Siau Ma sadar, dua tahun belakangan ini, bukan saja Siang Bu-gi bertambah bekal kepandaiannya, permainan Kiam-hoatnya lebih matang dibanding dahulu.

Ilmu pedang lihai tidak terletak pada pedangnya, tapi berada di sanubari orang yang memainkannya.

Permainan pedang yang gemilang dengan kemenangan yang dicapai bukan karena permainan ilmu pedang yang lihai, tapi menang dengan akal, bukan menang karena Lwekang yang tangguh, tetapi menang karena menggunakan otak.

Siang Bu-gi menggunakan otak, maka ia menang.

Begitu pedang melenting ke atas, menyisir gagang pipa lawan.

Pok Can dipaksa menjejak kaki lalu melambung tinggi dan bersalto di udara, pakaiannya yang tebal tampak melambai, pipa cangklong yang berat itu sudah tidak berada di tangannya lagi.

Untuk menyelamatkan jari-jarinya dari tebasan pedang lemas yang menyisir pipanya, terpaksa ia melepas dan membuang senjata.

Kehilangan senjata lebih mending daripada tangan buntung.

Pertarungan jago kosen kalau senjata sampai dilucuti lawan, bukan saja kalah, hal ini merupakan penghinaan pula.

Waktu kaki Pok Can menginjak bumi, roman mukanya tampak pucat pias, sikap angkuh dan wibawa yang kereng tadi sudah tak berbekas lagi.

Pedang Siang Bu-gi juga lenyap, pedang itu kembali ke sarungnya.

Mendadak Pok Can menghardik beringas.

"Cabut lagi pedangmu!"

Siang Bu-gi menyeringai.

"Kau masih ingin bertarung?"

"Pedang untuk membunuh orang, bukan untuk hiasan!"

"Aku sudah bilang tidak akan menguliti dirimu. Jika kau tewas, mana ada kulit yang ditinggalkan?"

Jari-jari Pok Can mengepal kencang, tangannya gemetar, lututnya goyah.

Hanya beberapa kejap saja, roman mukanya yang tepos kelihatan lebih tua sepuluh tahun.

Karena Siang Bu-gi tidak mau membunuhnya, terpaksa ia menyingkir, pergi meninggalkan hotel Damai.

Sebagai jago silat, meski sudah kalah, ia ingin bertarung sampai titik darah penghabisan, sayang sekali Siang Bu-gi sudah menyimpan pedang, terpaksa ia menyingkir dari tempat itu.

Mati ternyata tidak mudah, keinginan mati di medan laga susah tercapai.

Padahal usianya sudah lanjut, badan sudah renta, hidup ini takkan lama lagi.

Orang yang berusia lanjut sudah meresapi pahit getir kehidupan, betapapun hidup lebih menyenangkan daripada mati, kehilangan jiwa harus dibuat sayang.

* * * * * Kabut makin tipis.

Bayangan Pok Can telah lenyap ditelan kabut, pipa cangklong itu menggeletak di tanah, tembakau yang tadi membara di kantong pipa sudah padam.

Mata Lan Lan seperti bercahaya, katanya lega.

"Setelah kalah, mungkin dia takkan datang lagi."

Siau Ma berkata.

"Ya, sesuai janjinya sendiri, ia tak akan datang, murid dan cucu muridnya juga tidak akan mengganggu kita."

Mereka tahu serigala tua ini amat disegani dan besar wibawanya, ditakuti karena kekuasaannya besar. Pedagang atau pemilik hotel Damai yang sejak tadi menonton di samping mendadak tertawa, katanya.

"Ternyata jumlah orangnya tidak berkurang, kalian boleh minum dua cangkir lebih banyak."

"Lho, kenapa?"

Tanya Siau Ma. Pedagang itu tertawa lebar.

"Karena Kiam-hoat tuan ini hebat luar biasa,"

Demikian katanya.

"aku amat kagum, aku terpesona."

"Aku juga kagum,"

Mendadak seorang menyeletuk dari belakangnya.

Bila orang banyak membalik badan, seseorang telah berada dalam rumah itu, seorang berpakaian pelajar dengan mahkota tinggi, tangan memegang kipas lempit.

Long-kuncu akhirnya muncul.

* * * * * Tanggal 13 bulan 9, pagi.

Cuaca cerah tetapi berkabut.

Berada di ruang makan hotel Damai, rasanya memang tenteram dan damai.

Semuanya duduk tenang, duduk sewajarnya.

Long-kuncu seperti ingin bersikap ramah, sopan sebagai orang sekolahan.

Tapi Siau Ma justru tidak sopan, sikapnya kasar dan temberang, ia sambut kedatangan Long-kuncu dengan pandangan tajam menyelidik, tinjunya terkepal siap menghajar hidungnya.

Un Liang-giok seperti tidak melihat dan tidak peduli akan sikap Siau Ma yang kasar, dengan senyum ramah ia berkata.

"Semalam suntuk kalian berjerih payah, sampai sekarang belum tidur dan tak sempat istirahat."

"Hm,"

Siau Ma menggeram dalam mulut. Lan Lan tertawa ramah, katanya.

"Payah memang benar, syukur kita sudah aman dan tenteram di sini."

"Jik-lopan (juragan Jik),"

Mendadak Un Liang-giok memanggil. Pedagang atau pemilik hotel mengiakan sambil menghampiri, katanya dengan tertawa lebar.

"Hamba ada di sini."

Un Liang-giok berkata.

"Bikinkan beberapa macam nyamikan, panaskan beberapa kati arak, rekeningnya aku yang bayar."

Mendadak Siau Ma menyeringai dingin.

"Juragan Jik akan kelarisan hari ini. Sebaliknya usahamu justru gagal total, kenapa kamu muncul di babak terakhir malah?"

"Berdagang dan menjamu tamu adalah dua persoalan yang berbeda, jangan disamaratakan."

Dengan senyum ramah Un Liang-giok menjawab.

"Usahamu gagal, tapi mau menjamu kami?"

Siau Ma menegas.

"Kalian datang dari jauh, di sini aku tuan rumah, kan pantas Cayhe bersikap ramah terhadap tamunya."

"Baik, keluarkan mangkuk besar,"

Seru Siau Ma ke dalam.

"Semalam kau tidak tidur,"

Lan Lan membujuk.

"perut masih kosong, jangan minum arak."

"Setelah berada di sini, sia-sia kalau tidak minum,"

Demikian ujar Siau Ma bandel.

"biar mampus juga tidak jadi soal."

Un Liang-giok tertawa sambil keplok.

"Betul, memang demikian, mumpung bisa dan ada kesempatan minum. Kalau tinjumu sudah tiada, bagaimana kau bisa minum?"

"Kau ingin membeli sepasang tinjuku?"

Tanya Siau Ma. Un Liang-giok hanya tersenyum saja.

"Baiklah, sekarang juga boleh kuserahkan kepadamu,"

Belum habis Siau Ma bicara, mendadak tinjunya menggenjot.

Jotosan telak lagi cepat, begitu cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata.

Agaknya Un Liang-giok sudah siaga, sudah memperhitungkan serangan tinju Siau Ma, cepat sekali dia menjatuhkan tubuh terus menggelundung pergi bersama kursi yang didudukinya.

Ternyata Un Liang-giok tidak marah, senyum ramah masih menghias wajahnya.

"Arak belum disuguhkan, apa kau sudah mabuk?"

"Siau Ma tidak pernah mabuk,"

Lan Lan menjawab tegas. Un Liang-giok tidak membantah atau mendebat, sikapnya tetap sopan.

"Mungkin kuda binal dilahirkan untuk menghajar orang."

Lan Lan tertawa menggiurkan.

"Dugaanmu keliru lagi."

"Keliru?"

Un Liang-giok menegas.

"Kalau tidak perlu, Siau Ma tidak suka menghajar orang, kecuali menghajar dirimu seorang."

"O, hanya aku yang dijadikan sasaran?"

"Bukan hanya Siau Ma yang ingin menghajar kamu, setiap orang yang ada di sini semua ingin menghajar hidungmu!"

"Aku tidak ingin menghajarnya,"

Tiba-tiba Siang Bu-gi menyeletuk.

"Kau tidak ingin menghajarnya? Habis akan kau apakan?"

Tanya Lan Lan.

"Aku hanya ingin mengelupas kulit badannya,"

Sahut Siang Bu-gi. Un Liang-giok masih bersikap ramah, tidak marah meski disindir dan diejek secara pedas, malah berkata dengan tawa lebar.

"Kabarnya adikmu sedang sakit, apa benar?"

"Ehm,"

Lan Lan bersuara dalam mulut.

"Apa dia adik sepupumu?"

Tanya Un Liang-giok penuh perhatian.

"Ehm,"

Lan Lan mengiakan.

"Demikian pula Ma-kongcu ini?"

Lan Lan geleng kepala.

"Apa jiwa adik kandungmu lebih berharga dibanding sepasang tinju si Kuda Binal?"

"Sayang tinju itu tumbuh di badannya,"

Ucap Lan Lan kalem. Un Liang-giok terbahak-bahak.

"Nona bilang demikian, apa tidak terlalu sungkan?"

"Kenapa?"

Tanya Lan Lan heran.

"Nona mahir menggunakan Am-gi, senjata rahasia selihai itu belum pernah Cayhe melihatnya selama ini."

Un Liang-giok seperti sengaja membongkar rahasia Lan Lan, ternyata cewek ini tidak kaget atau heran, sikapnya wajar dan tenang, katanya kalem.

"Pandangan tuan memang tajam."

"Dua nona cilik di pinggir itu adalah jago pedang yang kosen, mereka dilatih dan meyakinkan kepandaian khusus. Jika kau menginginkan sepasang tinju si Kuda Binal, kurasa segampang mengambil barang dalam kantong baju sendiri."

Lan Lan tertawa.

"Kalau mereka mengambil sepasang tinjumu, apakah semudah merogoh uang dalam sakumu?"

Mimik muka Un Liang-giok mulai kurang wajar.

"Agaknya kontrak dagang yang kau inginkan tidak akan terkabul."

"Persetan dengan kontrak dagangmu!"

Jengek Siau Ma.

"Kapan nona mau meninggalkan tempat ini?"

Tanya Un Liang-giok.

"Kami tidak akan lama di sini, cepat atau lambat setelah cukup beristirahat kami akan berangkat lagi."

"Bagus. Kalau begitu Cayhe mohon diri saja,"

Un Lianggiok bicara sambil menjura, lalu membuka kipas lempit serta beranjak keluar.

"Tunggu dulu,"

Mendadak Siau Ma berseru, belum lenyap suaranya bayangannya sudah menghadang di depan pintu. Un Liang-giok tetap tenang.

"Masih ada urusan lain?"

"Ya, masih ada yang belum kau lakukan,"

Jengek Siau Ma.

"Urusan apa belum kulakukan?"

Tanya Un Liang-giok.

"Membayar rekening."

Un Liang-giok tertawa lucu.

"Dagang adalah dagang, mentraktir orang harus bayar, bukankah kau sendiri yang bilang demikian?"

Demikian semprot Siau Ma. Un Liang-giok tidak menyangkal, ia mengangguk.

"Konsuken tidak kau dengan ucapanmu? Sebelum membayar rekening, jangan harap bisa keluar dari pintu ini."

Sambil menggerakkan kipasnya, Un Liang-giok membalik dan duduk kembali di kursinya semula, suaranya kalem.

"Kukira kau perlu memahami persoalan."

Siau Ma mendengarkan.

"Aku sudah tidur, makan kenyang dan banyak istirahat, kalian justru sebaliknya. Kalian masih harus menggunakan banyak tenaga untuk melewati gunung ini, kalau keadaan tetap seperti ini, posisi dan kondisi kalian jelas tidak menguntungkan,"

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 13

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert