Eps 13 Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.
"Tidak..., tidak ada yang perlu dimaafkan...", ujar Murong Yun Hua sambil menundukkan wajahnya dan memperbaiki pakaiannya yang sudah terbuka ke mana-mana, hanya ikat pinggangnya saja yang masih menahannya agar tidak meluncur jatuh ke atas lantai. Huang Ren Fu mengalihkan pandangannya ke arah lain, melihat Murong Yun Hua membenahi pakaiannya tidak kalah menggoda dibandingkan melihat dia melepaskan pakaiannya. Mendesah panjang dia memikirkan keruwetan hubungan asmaranya dengan Murong Yun Hua. Sejak pertemuan mereka yang pertama kali, ketika Murong Yun Hua dan Murong Huolin datang menyambut kedatangan mereka dari kaki Gunung Songshan dia sudah mengagumi nyonyda muda itu. Apalagi ketika dia mendengar dari Hua Ying Ying, bagaimana nyonya muda itu membujuk dia untuk menikahi Ding Tao. Dalam hatinya dia ragu bahwa kejadiannya persis sama seperti yang diceritakan Murong Yun Hua. Dalam hatinya dia yakin bahwa Murong Yun Hua sengaja mengarang cerita itu untuk menutupi kekurangan Ding Tao dan membujuk adiknya untuk menerima cinta Ding Tao. Tentu saja dia tidak mengatakan dugaannya itu pada siapapun. Tapi dari sikap Hua Ng lau, dia menangkap bahwa gurunya pun berpendapat sama, meskipun seperti dia, gurunya itu tidak mengatakan apa-apa. Bagaimana pun juga, sulit buat Huang Ren Fu untuk menyalahkan Ding Tao jika pemuda itu sampai terpikat pada Murong Yun Hua, meskipun pandangannya atas sifat pemuda itu tentu saja mengalami sedikit perubahan, karena jika dihitung-hitung itu artinya Ding Tao sudah berhubungan dengan Murong Yun Hua sebelum pemuda itu mendengar kabar tentang pembantaian di Wuling. Setelah sampai di Jiang Ling, Ding Tao menjadi sibuk dengan persiapannya untuk menghadapi Ren Zuocan, juga kesibukannya sebagai ketua partai dan Wulin Mengzhu yang baru. Tidak seperti saat perjalanan dari kaki Gunung Songshan ke Jiang Ling, kedua sahabat itu hampir-hampir tidak memiliki waktu untuk bertemu. Kemudian mulailah muncul kabar dan cerita tentang Ding Tao yang memperbesar retakan kecil yang baru saja timbul. Kisah-kisah itu utamanya datang dari bekas-bekas pengikut keluarga Huang yang memiliki tempat tersendiri dalam hati Huang Ren Fu. Di lain pihak, dalam berbagai kesempatan yang tidak disengaja, Huang Ren Fu sering bertemu dengan Murong Yun Hua. Awalnya hanya sekedar demi sopan santun mereka bersakap-cakap. Tapi tanpa dia sadari, Huang Ren Fu mulai merindukan pertemuan-pertemuan itu. Murong Yun Hua adalah seorang wanita dengan pengetahuan yang sangat luas, pandangannya terhadap suatu masalah sangat mendalam, terkadang tanpa ragu nyonya muda itu mengambil pendirian yang berbeda dengan umumnya orang, tapi bukannya tanpa dasar, melainkan dengan pemikiran yang kuat. Saat dia mulai menyadari perasaannya pada Murong Yun Hua, perasaannya pada Ding Tao mulai getir oleh berbagai kabar yang dia dengar. Di saat-saat seperti itulah, tiba-tiba Guang Yong Kwang menemui dia dan datang kabar yang menjungkir balikkan pendapatnya tentang Ding Tao. Guang Yong Kwang memberikan kabar bahwa Shao Wang Gui yang ditahan di Shaolin memberikan pengakuan bahwa Ding Tao adalah satu di antara lima orang yang memimpin penyerbuan Wuling.
"Pengakuan iblis kecil itu memang bisa jadi benar, bisa jadi salah, aku sendiri ragu apakah harus menyampaikan hal ini kepadamu atau tidak. Tapi mengingat adikmu hendak menikah dengannya, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyampaikan kabar ini padamu.", demikian kata Guang Yong Kwang saat itu. Huang Ren Fu tidak lah mudah menerima berita begitu saja, meskipun dadanya bergemuruh, karena memang benih-benih itu sudah tertanam, tapi di luar dia tetap tenang.
"Hmm... terima kasih ketua sudah banyak memikirkan tentang keluarga kami, tapi seperti yang ketua katakan, ucapan iblis itu tidak bisa dijadikan pegangan yang kuat. Bisa jadi dia sengaja berucap demikian karena merasa sakit hati atas kekalahannya di kaki Gunung Songshan. Atau ada orang-orang yang tidak puas dengan hasil pemilihan itu yang mendorong dia untuk membuat pengakuan seperti itu."
Merasa tersindir wajah Guang Yong Kwang sedikit memerah, namun demi berjalannya rencana, dia menahan diri dan tetap bersikap sopan.
"Aku mengerti, aku mengerti..., aku pun merasa berita ini tentu sulit diterima, tapi di lain pihak aku juga merasa berkewajiban untuk menyampaikan berita ini pada Saudara Huang Ren Fu sebagai satu-satunya pewaris sah Keluarga Huang."
Percakapan mereka singkat saja, setelah Guang Yong Kwang berpamitan, Huang Ren Fu pun segera pergi ke ruang latihan dan menumpahkan segala kegalauan hatinya di sana.
Dengan hati panas dan keringat bercucuran, pemuda itu berusaha merunutkan setiap kabar yang dia dengar tentang Ding Tao hingga hari ini.
Dalam hatinya yang terdalam, ada pertentangan batin yang sangat hebat.
Di satu sisi ada bagian dari dirinya yang masih mengingat sifat-sifat Ding Tao yang pernah dia kenal dan menolak kemungkinan yang dikatakan Guang Yong Kwang.
Di sisi lain ada bagian dari dirinya yang justru berharap, Ding Tao adalah si jahat dalam kisah ini, dan dia akan menjadi pahlawan yang membunuh naga dan membebaskan sang puteri.
Tak ada yang tahu, isi pergolakan dalam dada pemuda itu, berkutat dengan apa yang dia ketahui dari berbagai pihak, mulailah dia berusaha memilah dan menyusun kembali segala apa yang dia ketahui mengenai Ding Tao dan kejadian di Wuling.
Satu titik penting adalah apa yang terjadi setelah Ding Tao melarikan diri dari kediaman keluarga Huang.
Jika benar cerita Ding Tao, bahwa dia menghabiskan waktu beberapa bulan setelah pertemuannya dengan Murong Yun Hua untuk menyembuhkan diri, maka tidak mungkin dia terlibat dalam pembantaian keluarga Huang di Wuling.
Namun apakah benar cerita Ding Tao itu?
Satu-satunya saksi yang menguatkan kisah Ding Tao adalah Ma Songquan dan Chu Linhe, namun dari Li Yanmao dan Tang Xiong, Huang Ren Fu mendapatkan informasi bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah tokoh sesat dunia hitam, sepasang iblis muka giok, bisakah kesaksian mereka dipercaya?
Kedekatan mereka dengan Ding Tao justru mengukuhkan kecurigaan Huang Ren Fu, namun pemuda itu bukan orang yang dengan mudah mengambil kesimpulan, tanpa melakukan penyelidikan yang mendalam.
Dan Huang Ren Fu memiliki banyak kesempatan untuk itu, hubungannya dengan Murong Yunhua semakin akrab.
Tidak jarang mereka hanya berduaan dan bercakap-cakap untuk waktu yang lama.
Meskipun demikian, ada keraguan dalam hati Huang Ren Fu untuk menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.
Sesungguhnya Huang Ren Fu adalah seorang pemuda yang memiliki kelembutan hati, lepas dari keinginannya untuk memiliki Murong Yun Hua, lepas dari kecurigaannya pada Ding Tao, ada rasa tak tega untuk merusak kebahagiaan mereka, seandainya benar Ding Tao tersangkut dengan pembantaian keluarga Huang di Wuling.
Peperangan batin yang begitu hebat terjadi di balik penampilannya yang selalu tenang dan ceria, di luar sadarnya, yang sedang bertarung bukan hanya keinginan dan nilai-nilai dalam dirinya.
Murong Yun Hua pun dengan kecerdikannya sedang memintal jaring-jaring halus untuk memerangkap dirinya.
Dengan lembut mengarahkan Huang Ren Fu pada jalan yang dia kehendaki.
Seperti seorang pengail yang dengan sabar, mempermainkan umpan atau menarik ulur kailnya, perlahan namun pasti ikan gemuk itu pun masuk ke dalam perangkap.
Pemenang dalam peperangan batin Huang Ren Fu pun pada akhirnya diputuskan.
Hari itu untuk ke sekian kalinya Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua mendapatkan kesempatan untuk bercakap-cakap berdua saja.
Benak Huang Ren Fu sudah mantap dengan apa yang hendak dia lakukan, pemuda itu sudah terlalu lelah, terombang-ambing dengan segala pertentangan batin yang dia hadapi.
Dia ingin mendapatkan kepastian, dia ingin mendapatkan kejelasan.
Setelah berbasa-basi beberapa saat, Huang Ren Fu pun mulai bertanya-tanya.
"Adik Yun Hua, sebenarnyaaku selalu penasaran, bagaimana awalnya kau bisa bertemu dengan Ding Tao?"
Murong Yun Hua pun dengan sedikit tersipu, bercerita bagaimana dia dan adiknya melihat Ding Tao yang sedang terluka, dikejar-kejar oleh sepasang iblis muka giok.
"Oh... begitu..., kapankah kejadian itu terjadi?", tanya Huang Ren Fu lagi. Murong Yun Hua tampak menjebikan bibirnya yang mungil, mencoba mengingat-ingat kapan tepatnya dia bertemu Ding Tao, tanggal sekian dan bulan sekian, demikianlah jawabnya. Di luaran Huang Ren Fu tidak terlihat tegang, tapi jika mata orang cukup awas akan terlihat tangannya bergetar. Pura-pura menghirup arak, Huang Ren Fu berusaha mengatur perasaannya. Ketika dia kembali bertanya, suaranya sudah terdengar wajar.
"Ah... demikian rupanya. Ding Tao berkata dia berhutang budi pada kalian berdua, karena berkat kalian berdualah luka dalamnya bisa disembuhkan. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Ah tidak ada hal hebat apa yang kami lakukan. Kebetulan koleksi buku keluarga Murong sangatlah banyak dan bervariasi, termasuk di dalamnya mengenai obat-obatan, di salah satu buku kami menemukan cara pengobatan terhadap luka dalam Kakak Ding Tao.", jawab Murong Yun Hua.
"Ohh begitu, tapi luka Ding Tao begitu berat, tentu kalian berdua harus bekerja keras untuk menyembuhkannya.", ujar Huang Ren Fu sambil menuangkan arak untuk Murong Yun Hua. Arak terus mengalir, membuat kata-katanya lebih mudah mengalir, demikian pikir Huang Ren Fu dan demikianlah sepertinya yang terjadi. Kata-kata keluar dari bibir mungil Murong Yun Hua seperti air mengalir. Hanya sayang, aliran air ini membawa racun yang memahitkan hati Huang Ren Fu.
"Hihihi, tidak juga, kalau sudah tahu caranya, luka itu pun mudah disembuhkan. Kami tinggal membeli ramuan yang sesuai seperti yang tertera dalam buku itu. Tidak sampai hitungan minggu, luka Kak Ding Tao sudah sembuh.", jawab Murong Yun Hua ceria. Kali ini butuh waktu lebih lama bagi Huang Ren Fu untuk meredakan ketegangan perasaannya, karena berdasarkan pengakuan Murong Yun Hua, itu artinya ada banyak waktu antara setelah Ding Tao sembuh dari lukanya dan sebelum terjadinya penyerbuan di Wuling. Hal ini berbeda dengan kisah Ding Tao, seperti yang kita ketahui, setelah menyembuhkan lukanya dan menguasai isi kitab tenaga inti bumi, hanya beberapa hari dia lewatkan di kediaman Murong Yun Hua untuk kemudian bergegas pergi ke Wuling. Di tengah perjalanan barulah dia mendengar tentang apa yang terjadi di Wuling. Perbedaan waktu yang mencolok ini tentu saja besar sekali artinya. Berapa cangkir arak pun mengalir lewat tenggorokannya, sementara Murong Yun Hua dengan senyum tak berdosa mengiringi, secawan demi secawan.
"Ah... tentu Ding Tao merasa sungkan untuk tetap tinggal di tempat kalian setelah lukanya pulih.", ujar Huang Ren Fu melanjutkan.
"Ya..., tapi ingat, di luar sana masih ada orang-orang seperti sepasang iblis muka giok yang mengincar dirinya, tapi seperti yang sudah kukatakan, kumpulan buku keluarga Murong sangatlah banyak. Bukan hanya ilmu pengobatan, ilmu silat pun banyak ada di sana. Adikku Huolin suka mempelajarinya namun bakatnya jauh di bawah Ding Tao, itu sebabnya dia sangat merasa kagum melihat bakat Ding Tao yang cepat sekali memahami setiap kitab yang dia baca.", ujar Murong Yun Hua panjang lebar. Sebuah ingatan melintas di benak Huang Ren Fu, Ding Tao memang berbakat, tapi pemuda itu membutuhkan belasan tahun untuk mematangkan ilmu keluarga Huang, dari mana sekarang Murong Yun Hua bisa mengatakan, Ding Tao mampu melahap habis berbagai macam kitab dalam waktu singkat? "Wah, tak kusangka Ding Tao demikian berbakat", puji Huang Ren Fu. Wanita mana yang tak suka suaminya dipuji, Murong Yun Hua pun tampaknya demikian, setidaknya itu yang diperlihatkan dan dilihat oleh Huang Ren Fu. Dada Huang Ren Fu di luar maunya merasa sesak oleh cemburu. Tanpa ragu Murong Yun Hua mulai bercerita panjang lebar, sesekali terlihat Murong Yun Hua mengerutkan alis mengingat-ingat apa yang tepatnya terjadi saat itu.
"Awalnya tidak demikian..., ya seingatku bukan dari awal seperti itu. Hmm... sepertinya Kak Ding Tao menemukan satu kitab ilmu, entah apa, yang pasti setelah dia meyakinkan isi kitab itu, tiba-tiba kemampuan belajarnya meningkat dengan pesat."
Mendengar itu, tentu saja kecurigaan Huang Ren Fu semakin kuat, apalagi temuan gurunya tentang obat perebut sukma beberapa waktu yang lalu, mengindikasikan efek yang serupa.
Apakah Ding Tao sudah terjerat dalam kekuasaan seseorang?
Jika benar demikian, siapa orang itu?
Apakah Ren Zuocan?
Tapi Murong Yun Hua mengatakan, perubahan itu terjadi setelah Ding Tao mempelajari satu kitab tertentu.
Mungkin dia salah, mungkin sebuah ilmu yang memberikan efek serupa obat temuan gurunya.
Atau jangan-jangan di dalam kitab yang dipelajari itu, tertulis cara untuk membuat ramuan obat tersebut.
Berbagai kemungkinan berkelebatan dalam benak Huang Ren Fu.
"Itu kitab yang sangat menarik, bolehkah aku meminjamnya?", tanya Huang Ren Fu dengan ringan.
"Tentu saja", jawab Murong Yun Hua dengan bersahabat, namun sejurus kemudian dia mengerutkan alis dan berkata pula.
"Hmm... selama ini aku yang selalu membereskan dan memelihara setiap kitab-kitab itu, namun baru sekarang aku ingat, sejak Kak Ding Tao membacanya, tak pernah lagi aku melihat kitab itu di antara kitab-kitab yang lain. Mungkin Kak Ding Tao yang menyimpannya..."
"Ah, kalau begitu sepertinya kitab itu tentu sangat penting untuk Ding Tao, biarlah aku tak usah meminjamnya. Apa Adik Yun Hua sendiri sama sekali tidak memiliki bayangan, apa isi kitab itu?", sahut Huang Ren Fu. Murong Yun Hua tertawa geli.
"Tidak, setahuku kitab itu, sebuah kitab tidak keruan yang dibawa ayahku, di dalamnya bercampur baur antara ilmu obat-obatan, perbintangan dan segala macam lainnya. Pernah sekilas kubaca, namun tidak tertarik untuk membacanya lebih lanjut, karena kebanyakan isinya ngawur dan tidak jelas."
"Hahaha, ya, kukira Ding Tao memiliki ketelitian melebihi kebanyakan orang. Jadi setelah sembuh dari lukanya, dia menghabiskan waktu beberapa bulan di kediaman keluarga Murong sambil memperdalam ilmunya?", tanya Huang Ren Fu tidak sabar ingin menegaskan kecurigaannya.
"Tidak..., beberapa kali dia pergi dan kembali. Pernah satu kali dia pergi cukup lama, hampir seminggu lamanya.", jawab Murong Yun Hua dengan alis berkerut dan nada suara berhati-hati. Setelah beberapa lama menunggu dan tidak ada reaksi dari Huang Ren Fu, Murong Yun Hua pun bertanya.
"Saudara Ren Fu, sebenarnya ada apakah? Aku merasa pertanyaan-pertanyaan barusan, bukanlah pertanyaan biasa... apakah... apakah ada sesuatu dengan Kak Ding Tao?"
Wajah Huang Ren Fu sudah merah padam, senyum yang tadinya masih bisa dipaksakan sudah lama tak muncul di wajahnya.
Entah sudah berapa cangkir arak masuk ke dalam perutnya, berusaha menenangkan hati dan memunculkan kembali senyum di wajahnya.
Tapi semakin banyak arak yang dia minum, semakin gelap hatinya.
Jika tadi otaknya masih bisa diajak berpikir, memikirkan pembelaan bagi Ding Tao, sekarang pikirannya sudah gelap, semakin lama semakin yakin bahwa Ding Tao sudah mempermainkan perasaan adik satu-satunya, mengkhianati keluarganya dan ikut seta dalam membantai habis seluruh keluarganya.
Tidak lagi ada ingatan tentang sifat-sifat Ding Tao yang baik.
Justru sekarang Huang Ren Fu semakin yakin bahwa tentu semua itu hanyalah sandiwara belaka.
Berusaha merebut hati adiknya, berambisi untuk mendapatkan kedudukan dalam keluarga Huang.
Sayang datangnya Wang Chen Jin mengganggu rencana Ding Tao, tapi di saat yang sama dia mendapatkan pedang angin berbisik.
Tidak puas dengan pedang itu, setelah beberapa tahun lewat, dia kembali berusaha mendekati Huang Ying Ying.
Siapa sangka pedang itu justru menjadi penghalang.
Dalam pelarian, kembali Ding Tao melihat kesempatan kali ini pilihannya jatuh pada keluarga Murong.
Demikianlah segala kisah yang membusukkan Ding Tao mulai terangkai dalam benak Huang Ren Fu.
Betapa mudah memang pikiran kita melakonkan suatu cerita, tidak gampang untuk memahami sesuatu secara terang, perasaan hati tentu berpengaruh pada apa yang kita pikirkan.
Itu sebabnya perasaan rendah diri sama buruknya dengan tinggi hati.
Orang yang rendah diri akan merasa tawa orang sebagai tawa menghina.
Jika melihat orang sedang berkumpul bercakap-cakap, dalam hati kemudian berpikir, jangan-jangan membicarakan keburukanku.
Begitu juga dengan hati yang kotor juga cenderung melihat orang lain sesuai dengan kekotoran hatinya.
Jika ada orang bekerja dengan jujur dan rajin, dikatakannya sedang mencari muka.
Jika orang menolak suap, dianggapnya pengecut dan munafik.
Melihat wanita tersenyum dianggapnya menggoda.
Jadi siapa yang sebenarnya jadi tuan, hati atau pikiran?
Lepas dari itu semua, Murong Yun Hua yang melihat wajah Huang Ren Fu semakin gelap, bertanya dengan nada takut.
"Kak Ren Fu, apakah aku ada salah bicara?"
Emosi melonjak tak tertahankan, cawan arak yang ada di tangan pun pecah berkeping-keping, dengan nada tinggi dia berkata pada Murong Yun Hua, sembari berdiri dan menunjuk-nunjuk nyonya muda itu.
"Apa yang salah katamu! Butakah matamu?! Sudah tumpulkah otakmu!? Bukankah suamimu yang kau puja dan banggakan itu adalah penjahat paling keji ?!! Wanita bodoh, apakah kau begitu hausnya laki-laki, hingga otakmu tidak bisa bekerja lagi?!"
Pucat pasi wajah Murong Yun Hua dimaki-maki demikian, terhuyung dia bangkit berdiri dan mundur menjauh dari Huang Ren Fu.
"Kak Ren Fu, sadarlah, apa maksudmu? Apa maksudmu?"
Melihat Murong Yun Hua ketakutan, bukannya reda kemarahan dalam hati Huang Ren Fu, justru kemarahannya makin menggelora, dia pun maju mendesak Murong Yun Hua dan berkata.
"Pikirkan lagi, laki-laki jujur mana yang akan menggoda dan meniduri seorang wanita, sementara dia sudah memiliki kekasih hati yang menunggu kedatangannya? Pikirkan, wanita macam apa yang selalu dia dekati? Wanita dengan kekayaan yang tidak dia miliki."
"Tidak... tidak... engkau salah...", ujar Murong Yun Hua dengan suara bergetar.
"Salah? Ketika dia pergi dari kediamanmu, bukankah dia sedang mengumpulkan kawan-kawannya dan kemudian pergi untuk membantai habis keluargaku? Katanya dia menderita luka berat selama berbulan-bulan, sehingga tak seorangpun mencurigai dirinya, nyatanya sesuai jawabmu, lukanya sembuh dalam waktu yang lebih singkat.", ujar Huang Ren Fu dengan memburu.
"Tidak mungkin... tidak mungkin...", ujar Murong Yun Hua dengan air mata berlinangan, punggungnya membentur dinding dan tak bisa lari lagi.
"Tidak mungkin? Apa masih kurang bukti lagi? Kau bilang sepasang iblis muka giok mengejar-ngejarnya, jika demikian kenapa sekarang sepasang iblis itu justru bekerja untuk dirinya? Bukankah itu artinya pengejaran itu hanya sandiwara saja, sandiwara untuk menipu dua orang wanita bodoh yang haus cinta!", bentak Huang Ren Fu sambil mendesak Murong Yun Hua hingga tak bisa bergerak, wajahnya hanya beberapa cun jauhnya dari wajah Murong Yun Hua, kedua tangannya memegang tembok, di kiri dan kanan Murong Yun Hua. Dengan wajah sudah penuh air mata, Murong Yun Hua menangis tersedu sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Tidak... kau bohong... siapa sepasang iblis itu? Tak ada ..."
"Hehh, kau memang benar-benar buta, tidak tahukah kau bahwa Ma Songquan dan Chu Linhe adalah sepasang iblis muka giok yang sedang menyamar?", jawab Huang Ren Fu sambil tertawa sinis. Tak lagi bisa menjawab, Murong Yun Hua hanya bisa menangis sesenggukan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh mengenaskan keadaan Murong Yun Hua saat ini. Sementara kemarahan Huang Ren Fu mulai mereda, namun dalam keadaan begitu dekat dengan Murong Yun Hua, satu perasaan yang berbeda mulai muncul dari dalam hatinya. Sama panasnya dengan kemarahan yang mulai mereda, api nafsu perlahan mulai membakar hati pemuda itu. Di saat itu, tiba-tiba Murong Yun Hua melorotkan tubuhnya, dan berusaha menyelinap lari dari bawah tangan Huang Ren Fu. Kemarahann yang mulai mereda, tiba-tiba kembali mengglora, secara refleks tangan Huang Ren Fu bergerak hendak menangkap, tapi yang terpegang adalah baju Murong Yun Hua di bagian pundak. Yang satu meronta lepas, yang satu menarik dengan kasar, baju Murong Yun Hua terbuat dari kain sutra yang halus dan mahal, dengan suara keras baju Murong Yun Hua pun terobek lepas. Murong Yun Hua terjatuh dengan bagian atas tubuhnya tersibak bebas, dengan sia-sia tangannya berusaha menutupi dadanya yang terbuka, bukannya berhasil menutupi justru membuat dadanya yang montok seperti meronta keluar di sela-sela jari tangan dan lengannya yang bersilang menutupi dada. Api membakar Huang Ren Fu, dibantu dengan arak yang sudah bekerja sejak tadi, api nafsu pun membakar habis, menghabiskan seluruh sisa pikiran sehat dan sopan santunnya. Apa yang terjadi hari itu bisa dibayangkan sendiri oleh pembaca. Ketika api sudah puas membakar, yang tersisa hanyalah penyesalan. Hari-hari penuh penderitaan, didera perasaan berdosa tapi juga rindu, antara ingin bertemu dengan rasa malu untuk bertemu. Sejak hari itu, baru hari inilah keduanya kembali bertemu. -------o -------Murong Yun Hua sudah selesai membenahi pakaiannya, perlahan dia menyentuh lengan Huang Ren Fu, menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.
"Dengar... Ding Tao sudah mempermainkan kita semua. Tapi lebih dari itu, kekuasaan seorang Wulin Mengzhu tidak boleh berada di tangan orang seperti dia. Demi kebaikan banyak orang, kita tidak boleh ragu. Orang mungkin akan menilai sinis kita berdua, mempertanyakan motivasi kita...", ujar Murong Yun Hua dengan suara sedikit bergetar. Kemudian dia pun menjatuhkan diri dalam pelukan Huang Ren Fu, dengan sendu dia memohon.
"Kakak... lindungi aku... beri aku kekuatan."
Salah satu cara menaklukkan lelaki, adalah dengan membuat dia merasa jadi seorang pahlawan.
Semakin wanita tampak tak berdaya, lelaki pun semakin berdiri gagah berusaha membela.
Semakin cantik wanita itu, semakin tuluslah dia berusaha membela.
Semakin tangguh wanita yang memohon perlindungan padanya, semakin berbesar hatilah dia.
Di masa itu, di antara sekian wanita Murong Yun Hua yang dipandang tercantik.
Di antara sekian banyak wanita, Murong Yun Hua yang dikenal paling bijak dan kuat.
Dan sekarang dia tampil lemah tak berdaya, memohon perlindungan pada Huang Ren Fu.
Siapa bisa menyalahkan Huang Ren Fu, bila dia lupa pada persahabatan?
Jika rasa percaya sudah hilang, persahabatan pun mati dengan cepat.
Bila wanita sudah terlibat, tidak jarang lelaki lupa pada sahabat.
Jauh di sana, di luar kota Jiang Ling, seorang lelaki yang rasa persahabatannya sudah teruji oleh waktu dan tantangan hidup, sedang bergerak dengan hati-hati, menggunakan lebatnya pepohonan dan rimbunnya dedaunan, untuk bergerak dalam bayang-bayang, menjelajahi isi hutan.
Zhu Yanyan bergerak dengan sangat hati-hati, sebelum dia bergerak, terlebih dahulu dia akan memastikan tidak ada orang di sekitarnya, tidak ada orang yang akan melihat gerakannya menuju ke tempat persembunyiannya yang berikutnya.
Bergerak seperti itu tentu saja menghabiskan waktu yang sangat lama.
Antara mereka yang tersebar, berjaga-jaga di tempat yang tersembunyi, beradu kesabaran dengan dia yang bergerak perlahan, menembus penjagaan.
Mungkin umur Zhu Yanyan yang sudah matang, membuat dia lebih sabar dibanding lawan-lawannya.
Sebuah pertarungan tanpa jurus, tanpa pedang, namun setiap saat nyawa bisa melayang.
Beberapa kali kesabaran Zhu Yanyan membuahkan hasil, matanya yang tajam mengawasi keadaan menangkap gerakan dari mereka yang berjaga.
Mungkin pinggul yang pegal, pantat yang terasa tebal, mungkin ada serangga yang menggigit atau sekedar bosan diam berjaga.
Tapi gerakan mereka itu membuat keberadaan mereka tertangkap oleh mata Zhu Yanyan yang tajam.
Semakin lama, penjagaan semakin rapat, hingga akhirnya pada satu titik, Zhu Yanyan pun dipaksa untuk menyerah.
Tidak dilihatnya jalan untuk masuk lebih dalam lagi tanpa membunuh beberapa penjaga, sementara dia tidak ingin keberadaannya diketahui orang.
Zhong Weixia tidak boleh tahu jika ada orang yang sedang mengamati gerak-geriknya.
Sadar akan hal itu, Zhu Yanyan pun diam-diam menghela nafas dan memuaskan dirinya dengan mengamati apa yang bisa diamati.
Menjelang tengah hari, satu per satu orang mulai berdatangan.
Dari tempatnya yang tersembunyi, Zhu Yanyan pun mulai menghitung dan mencatat.
Pertemuan ini begitu rahasia, penjagaannya begitu ketat, mereka yang datang, entah sendirian atau dalam kelompok kecil semuanya punya nama dalam dunia persilatan.
Sebelum Zhong Weixia sendiri muncul sudah ada belasan orang yang datang.
Jangan dilihat jumlahnya yang sedikit lebih dari jumlah jari tangan, karena setiap orang memiliki pengaruh yang besar dan bisa menggerakkan puluhan hingga ratusan orang.
Keringat dingin pun membasahi punggung Zhu Yanyan.
Tapi kejutan belum habis smpai di situ, seperti yang sudah mereka duga, Zhong Weixia datang bersama dengan Guang Yong Kwang, artinya jelas keduanya bekerja sama.
Kejutan terbesar justru datang, setelah kedatangan mereka berdua.
Sekelompok bhiksu Shaolin datang sembari mengawal Shao Wang Gui yang terikat erat di tengah mereka.
Kemudian tiga orang Bhiksuni dari Enmei menyusul datang.
Dua orang tetua dari Hoasan, dengan kedudukan hanya selapis di bawah Xun Siaoma turut pula datang, Menyusul tiga orang tetua partai pengemis.
Tampaknya hanya dari pihak Wudang saja yang tidak seorangpun diundang dalam pertemuan ini.
Bukan hanya berkeringat dingin, sekarang Zhu Yanyan dibuat menjadi pening melihat siapa-siapa yang hadir dalam pertemuan ini.
Dan dua orang terakhir yang menghadiri pertemuan rahasia itu, lebih-lebih lagi membuat dia tak mengerti, Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua.
Sebenarnya apa yang terjadi, jangan-jangan, orang yang mengumpulkan mereka semua ini sesungguhnya adalah Ding Tao sendiri.
Apa yang terjadi dalam pertemuan itu sendiri, Zhu Yanyan tidak bisa tahu.
Tempatnya terlalu jauh dari pertemuan diadakan dan penjagaan terlalu ketat untuk menyusup diam-diam.
Zhu Yanyan hanya bisa menunggu pertemuan itu bubar, sembari bertanya-tanya dalam hati.
Masakan Ding Tao hendak menggerakkan orang melawan Wudang?
Tapi jika tidak demikian, mengapa di antara sekian banyak undangan, hanya Wudang yang tidak mendapatkan undangan?
Jika pertemuan ini begitu penting, mengapa Ding Tao sendiri tidak hadir?
Atau jangan-jangan orang-orang terpenting, seperti Tetua Xun Siaoma, Ketua Bai Chungho, Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan dan Ding Tao sendiri sedang membahas soalan ini.
Atau mungkin sengaja tidak bergerak untuk mengelabui mata orang?
Begitu banyak pertanyaan, pada akhirnya Zhu Yanyan sampai pada satu pemikiran.
Yaitu menemui saudaranya yang telah lama tidak dia temui.
Pendeta Chongxan mungkin bisa memberikan jawabannya.
Setidaknya, dengan bertemu, ada beberapa kemungkinan yang bisa dicoret, sekaligus dia bisa memberikan peringatan seandainya benar Wudang-lah yang menjadi sasaran.
Menunggu mereka bubar, ternyata membutuhkan kesabaran yang jauh lebih besar.
Apalagi dengan pertanyaan dan kekhawatiran yang muncul, perasaan bahwa dirinya sedang berpacu dengan waktu, membuat dia semakin sulit bersabar.
Namun Zhu Yanyan memiliki watak dasar yang penyabar, ditambah ketekunan berlatih untuk menahan diri dan menjaga semangat selama puluhan tahun, meskipun hatinya penuh dengan kekhawatiran, Zhu Yanyan tetap bersembunyi dengan sabar.
Pertemuan itu berlangsung cukup lama, dengan pendengarannya yang tajam Zhu Yanyan bisa mendengar beberapa kali ada sorakan yang cukup keras, meskipun hanya sayup-sayup sampai di telinganya.
Dari suara yang dia dengar Zhu Yanyan pun bisa memperkirakan di mana pertemuan itu dilaksanakan.
Meskipun demikian apalah gunanya bagi dia, toh tetap saja dia tidak bisa pergi mendekat dan ikut mendengarkan dengan jelas isi pertemuan itu.
Matahari pun sudah condong ke arah barat, ketika satu per satu, peserta pertemuan itu pergi meninggalkan tempat.
Zhu Yanyan pun mendekam saja di tempat dia bersembunyi, apalagi dia sadar orang-orang macam Zhong Weixia ada di sana.
Ketahuan sama artinya dengan kematian.
Setelah seluruh peserta pertemuan itu pergi menghilang, Zhu Yanyan masih mendekam tidak bergerak.
Benar saja, menunggu beberapa lama, sekali lagi serombongan orang pergi dari hutan itu, melewati tempat persembunyiannya, mereka ini tentulah orang-orang yang ditugaskan untuk berjaga tadi.
Setelah hutan kembali sepi, Zhu Yanyan masih menunggu beberapa lama lagi.
Menjelang sore hari, barulah dia berani bergerak, sedemikian berhati-hatinya dia, itulah Zhu Yanyan, orang pertama dari enam sahabat pengikat enam perguruan besar.
"Hmm.. tentu yang lain sudah mulai berkhawatir", pikir Zhu Yanyan. Teringat dengan saudara-saudara dan muridnya, maka dia pun bergegas pergi, bergerak dengan ringan, berkelebatan di antara pepohonan. Zhu Yanyan masih bergerak ke arah lain beberapa lama, sebelum mengambil arah menuju ke jalan besar. Muncul di titik lain dari jalan besar itu, barulah dia berjalan cepat dengan langkah panjang-panjang menuju ke Jiang Ling. Tidak berapa lama kemudian, mereka bertujuh pun sudah berkumpul di sebuah ruangan kecil, di dalam toko yang mereka beli beberapa bulan yang lalu. Dengan mendetail Zhu Yanyan menyampaikan apa yang dia lihat dan dengar. Tidak banyak memang, tapi apa yang dilihat Zhu Yanyan memberikan gambaran, tentang skala gerakan yang sedang mereka hadapi ini. Dengan wajah sedikit pucat Chen Taijiang menggelengkan kepala tak percaya dan berujar.
"Mendengar penuturan Saudara Yanyan, seakan-akan seluruh tokoh dunia persilatan tertumpah di Jiang Ling."
"Lebih ngerinya lagi, tidak akan ada orang yang merasa aneh melihat hal itu, mengingat pesta pernikahan Wulin Mengzhu, Ding Tao akan diadakan dalam waktu dekat ini.", sambung Hu Ban dengan wajah serius.
"Aku akan pergi menemui Chongxan diam-diam,masalah ini harus secepatnya dibuat terang, jika tidak aku tidak akan bisa tidur dengan tenang.", ucap Zhu Yanyan menyampaikan pemikirannya. Ke enam orang yang lain pun mengangguk setuju, Wang Shu Lin sejak tadi sudah kehilangan kekuatan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Apa yang diceritakan Zhu Yanyan, jelas di luar perkiraannya. Gerakan yang dilakukan Zhong Weixia sungguh terlampau besar, melampaui kekhawatiran-kekhawatirannya selama ini. Usul Zhu Yanyan untuk menemui Pendeta Chongxan memberi dia satu harapan baru.
"Hmm... menurutku, ada kemungkinan besar Ketua Khongzhen juga tidak mengetahui hal ini. Shaolin memang terlihat besar dan kokoh dari luar. Tapi sesungguhnya yang ada di dalam tidaklah seharmonis apa yang terlihat di luar. Justru jumlah anggota yang terlalu besar ini, menimbulkan adanya fraksi-fraksi dalam Shaolin. Berbeda dengan Wudang yang lebih kecil, namun lebih kuat kekeluargaannya.", ujar Khongti sambil berpikir.
"Saudara Yanyan, jika kau pergi menemui Pendeta besar Chongxan, aku pun akan pergi menemui Bhiksu besar Khongzhen.", sambung dia setelah berpikir sejenak.
"Kukira kau benar. Semoga saja pergerakan rahasia ini sepengetahuan Ding Tao dan mereka berdua. Jika demikian beres sudah urusannya. Tapi bila tidak...", ujar Zhu Yanyan menggantung, tak sanggup membayangkan apa yang terjadi jika tidak demikian halnya.
"Perasaanku tidak tenang..., besar kemungkinan semuanya ini terjadi di luar tahu mereka", ucap Shu Sun Er sambil menghela nafas berat. Tidak ada yang menjawab ucapan Shu Sun Er, mereka semua termenung dengan dada terasa sesak ditekan oleh ketegangan dan perasaan buruk oleh peristiwa yang akan datang.
"Kapan kalian berdua akan pergi menemui Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan", tiba-tiba Pang Boxi bertanya, memecahkan keheningan. Khongti dan Zhu Yanyan saling berpandangan beberapa saat, kemudian Zhu Yanyan menjawab dengan tegas.
"Malam ini juga."
Dengan tiga kata itu, selesailah pertemuan mereka.
Meskipun tidak juga membubarkan diri, namun tidak ada pula yang mengucapkan sepatah kata pun.
Mereka bertujuh sudah kehilangan nafsu untuk berbicara ataupun untuk makan.
Tidak lama kemudian Zhu Yanyan menutup mata dan mulai bermeditasi.
Segera yang lain pun berturut-turut mengikuti apa yang dilakukan Zhu Yanyan.
Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu malam tiba dan hati mereka terlalu kisruh untuk memikirkan langkah-langkah lain yang pelru dilakukan.
Apalagi mengingat jumlah kekuatan mereka yang terlalu kecil jika dibandingkan dengan persekutuan yang dibangun oleh Zhong Weixia.
Malam pekat, bulan sabit hanya seleret tipis, bintang-bintang pun ditutupi awan, ketika Khongti dan Zhu Yanyan bergerak diam-diam mendekati penginapan tempat Rombongan dari Shaolin dan Wudang menginap.
Sebagai tokoh besar, tentu saja Partai Pedang Keadilan menyediakan tempat yang terbaik bagi tokoh-tokoh enam perguruan besar.
Sebuah penginapan terkenal di Jiang Ling disewa seluruh kamarnya, untuk menyediakan tempat bagi rombongan dari enam perguruan besar.
Tapi dari enam perguruan hanya empat yang menempati penginapan tersebut, Khongtong dan Kunlun memilih tempat penginapannya sendiri.
Tempat yang kosong akhirnya disediakan bagi partai pengemis dan beberapa tokoh kenamaan lain.
Suasana begitu sunyi, tapi samar-samar terdengar suara orang membaca sutra Buddha.
Khongti memberi tanda pada Zhu Yanyan, suara Khongzhen tentu sangat dia kenal, belasan tahun hidup bersama di biara, ada selirit rasa rindu, tapi urusan besar sedang menunggu.
Perlahan dia bayangan itu pun bergerak mendekati sumber suara pelantun sutra Buddha.
Kamar Bhiksu besar Khongzhen terletak di utara bangunan dengan jendela menghadap ke jalan besar.
Setelah sampai di depan jendela, mereka berdua pun berdiri diam, ragu-ragu untuk sesaat lamanya.
Khongti baru saja hendak mengetuk daun jendela ketika dia mendengar Bhiksu besar Khongzhen berhenti melantunkan sutra.
Gerakan tangannya pun terhenti, sekali lagi ragu hendak mengetuk atau tidak.
Dari dalam terdengar suara Bhiksu Khongzhen.
"A Yung, A Man, kalian berdua, pergilah berjaga di depan pintu."
Dua orang bhiksu muda yang disuruh keluar oleh Bhiksu Khongzhen itu pun slaing berpandangan, bertanya-tanya dalam hati, namun dengan patuh mereka pergi keluar meninggalkan Bhiksu Khongzhen sendirian di kamar.
Bhiksu Khongzhen mengikuti kepergian mereka dengan senyum dikulum, keduanya adalah generasi baru yang berbakat, juga berkepribadian baik.
Dia memaruh harapan yang besar pada dua orang itu.
Setelah pintu kamar ditutup rapat, Bhiksu Khongzhen pun dengan tenang mengambil dua buah cangkir dan menuangkan teh, kemudian duduk bersila dengan tenang di salah satu kursi yang ada.
Kemudian dengan suara lembut menelusup telinga dia memanggil Zhu Yanyan dan Khongti yang berada di luar.
"Sahabat di luar, jika hendak berkunjung, kenapa tidak segera masuk, dua cawan teh manis sudah kusediakan untuk kalian berdua?"
Mendengar suara Bhiksu besar Khongzhen itu, Zhu Yanyan dan Khongti saling berpandangan dengan senyum dikulum.
Tanpa ragu lagi, mereka berdua mendorong daun jendala yang tak terkunci dan masuk ke dalam.
"Kakak...", ujar Khongti dengan suara tertahan.
"Ketua Khongzhen", ujar Zhu Yanyan dengan sopan sembari memberi penghormatan. Melihat mereka berdua, tak urung Bhiksu besar Khongzhen yang sudah matang dalam olah batin itu terguncang juga. Bukan oleh rasa takut dan khawatir, tapi oleh rasa rindu dan sayang pada saudara mudanya yang telah lama menghilang.
"Ah... kalian berdua... tentu ada masalah yang penting hingga kalian datang menemuiku. Baiklah, cepat duduk dan ceritakan masalah kalian.", ujar Bhiksu besar Khongzhen, meskipun suaranya sedikit bergetar namun dengan cepat dia berhasil menguasai perasaannya. Mendengar penjelasan Khongti dan Zhu Yanyan yang secara bergantian menyampaikan penemuan mereka, wajah Bhiksu besar Khongzhen pun sedikit menegang. Hatinya merasa tidak enak, sebuah bayangan buruk melintas di benaknya.
"Saudara Yanyan..., Adik Khongti... berita yang kalian sampaikan ini sungguh mengejutkan. Apalagi ada anak murid Shaolin yang berani membawa keluar Shao Wang Gui di luar tahuku. Menurutku dugaan Adik Khongti ada benarnya, diam-diam di dalam Shaolin ada yang bekerja untuk orag luar. Ini sungguh memalukan dan mencemaskan.", ujar Bhiksu besar Khongzhen dengan hati rawan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan kak?", tanya Khongti pada Bhiksu besar Khongzhen.
"Kalian tunggu di sini sebentar, aku akan meminta A Man memanggil kakakmu Pendeta Chongxan ke mari.", ujar Bhiksu besar Khongzhen pada Khongti dan Zhu Yanyan.
"A Man kau dengar pembicaraan kami?", tanya Bhiksu Khongzhen pada A Man yang berjaga di depan pintu.
"Dengar guru", jawab A Man.
"Bagus, pergilah.", ucap Bhiksu besar Khongzhen singkat saja.
"Menurut kakak, apa tujuan gerakan ini sebenarnya?", tanya Khongti.
"Tunggu, biarlah kita tunggu sampai Saudara Chongxan datang", ujar Bhiksu besar Khongzhen. Khongti pun terpaksa menahan diri, baik dia dan Zhu Yanyan tidak berani mengajak Bhiksu besar Khongzhen bicara lagi, karena Bhiksu besar Khongzhen tampaknya juga larut dalam perenungannya. Tidak menunggu berapa lama, Pendeta besar Chongxan pun masuk ke dalam ruangan. Dari wajahnya terlihat dia pun mendapatkan perasaan yang tidak enak dari kejadian malam ini.
"Ah... Adik Yanyan, Saudara Khongti... angin apa yang membawa kalian ke mari?", sapanya dengan senyum lembut di wajah, meskipun disertai selapis kekhawatiran.
"Ceritakan semuanya...", ujar Bhiksu besar Khongzhen sebelum kembali diam dalam renungannya. Khongti dan Zhu Yanyan pun kembali mengulang apa yang tadinya mereka sampaikan pada Bhiksu besa Khongzhen sebelumnya. Pendeta Chongxan pun mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak sedikitpun dia meragukan keterangan-keterangan yang diberikan kedua orang itu. Setelah mereka berdua selesai bercerita, Pendeta Chongxan tidak segera memberikan tanggapan, seperti juga Bhiksu besar Khongzhen dia justru larut dalam pemikirannya sendiri. Khongti dan Zhu Yanyan hanya bisa saling berpandangan dan menunggu. Mereka pun menaruh kepercayaan penuh pada dua orang itu. Alis keduanya ikut berkerut, mencoba ikut merenung, namun beban yang menekan perasaan mereka cukup berat membuat keduanya sulit berpikir. Tapi keduanya sudah cukup matang pula, melihat apa yang dilakukan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, membuat mereka sadar. Persoalan boleh besar, tapi perasaan harus dapat dikendalikan, pikiran harus dapat ditenangkan, dengan demikian baru bisa berpikir jernih. Kesadaran tidak boleh goyah, pun bila dalam merenungkan persoalan tentu muncul kekhawatiran. Menghela nafas dalam-dalam keduanya berusaha menenangkan hati dan ikut berpikir. Cukup lama mereka berempat duduk dalam diam, ketika Bhiksu Khongzhen menegakkan badan dan menghela nafas, hampir berbarengan Pendeta Chongxan, Zhu Yanyan dan Khongti melakukan hal yang serupa. Wajah mereka tampak kelam, tidak ada senyuman di sana, jelas situasinya sangatlah buruk dalam pandangan mereka berempat.
"Bagaimana menurut Ketua berdua?", tanya Khongti pada akhirnya. Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan saling berpandangan sejenak, Bhiksu Khongzhen yang kemudian menjawab lebih dahulu.
"Delapan dari 10 bagian tentu Wuling Mengzhu, Ketua Ding Tao yang menjadi sasaran."
"Zhong Weixia dan orang-orangnya menyembunyikan hal ini dari kami berdua, tentu dia memiliki rencana yang tidak baik, tapi bagaimana dia bisa membuat orang dari berbagai golongan bergerak bersama, kukira ada pegangan yang kuat.", sambung Pendeta Chongxan.
"Sementara dari pihak kita sendiri, hanya segelintir kecil yang benar-benar bisa dipercaya.", ujarnya lagi. Khongti dan Zhu Yanyan mengangguk setuju.
"Waktunya begitu dekat, sementara apa sebenarnya rencana mereka belum begitu jelas, apa yang bisa kita lakukan?", tanya Khongti.
"Melihat keadaannya, persiapan mereka tentu sudah sangat matang, meskipun ketua berdua ikut campur pun...", Zhu Yanyan ragu untuk melanjutkan.
"Tidak apa, kenyataannya memang demikian, jika mereka sudah berani bergerak, tentu kekuatan kami berdua pun sudah diperhitungkan. Artinya entah mereka memiliki siasat untuk mengikat tangan kami berdua, atau jumlah kekuatan di sisi mereka, jauh lebih besar dari yang ada di pihak kita.", lanjut Bhiksu Khongzhen dengan tenang.
"Jadi... bagaimana...?", kembali Khongti bertanya.
"Hmm... kita harus bersikap waspada namun luwes, siap menghadapi segala perubahan keadaan dan tidak terpaku pada rencana tertentu.", jawab Bhiksu Khongzhen.
"Ada satu hal yang bisa kita persiapkan dari sekarang.", ujar Pendeta Chongxan.
"Benar", jawab Bhiksu Khongzhen pula. Zhu Yanyan dan Khongti hampir bersamaan berkata.
"Persiapan untuk melarikan diri...."
"Benar..., keadaan jelas tidak menguntungkan, kemungkinan besar, apa yang akan kita hadapi nanti berada di luar jangkauan kita. Jika itu benar, kita harus menyiapkan jalan mundur dari sekarang.", kata Bhiksu Khongzhen dengan satu kepastian. Persoalan besar belum hilang, tapi setidaknya sekarang ada pegangan tentang apa yang bisa dan harus mereka berbuat. Perasaan Zhu Yanyan dan Khongti pun jadi jauh lebih mantap. Mereka berempat pun kemudian sibuk membahas lebih jelas mengenai persoalan yang ada di depan dan persiapan menjelang pernikahan Ding Tao.
"Yang membuat bertanya-tanya dan membuat kita semakin sulit menentukan siapa lawan dan siapa kawan, adalah kehadiran isteri dan sahabat Ding Tao dalam pertemuan rahasia itu.", ujar Khongti.
"Benar..., untuk memberi kisikan pada Ding Tao pun jadi tidak mudah. Jika kita memberikan kisikan tanpa memberi tahu keterlibatan isterinya, maka ada kemungkinan dia akan menyampaikan masalah ini pada isterinya sehingga lawan tahu rahasianya telah bocor. Di lain pihak jika kita berkata bahwa isterinya terlibat, tentu dia tidak percaya pada perkataan kita.", keluh Zhu Yanyan.
"Hmm... tampaknya jalan Ding Tao tidak akan mudah... semoga kita bisa membantunya melewati kesulitan ini. Adik Yanyan, kau ingat baik-baik, jika keadaan sangat buruk dan baik Wudang maupun Shaolin tidak bisa bergerak bebas, kau antarkanlah Ketua Ding Tao ke sebuah desa di luar perbatasan. Nama desa itu, Desa Hotu, kemudian carilah seorang tabib di desa itu, ceritakan apa yang terjadi di sini.", ujar Pendeta Chongxan sebelum mereka berpisah.
"Aku mengerti..., apakah ada petunjuk lain?", jawab Zhu Yanyan.
"Tidak ada, hanya sekali lagi ingat baik-baik, bawa dia ke desa itu, hanya jika Shaolin dan Wudang tidak bisa bergerak bebas. Aku berharap Shaolin dan Wudang bisa mengimbangi gerakan tersembunyi ini, tapi aku kuatir..., bila dugaanku benar, tidak akan banyak yang bisa kami lakukan.", ujar Pendeta Chongxan sambil menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu kami pamit pergi dahulu.", ujar Zhu Yanyan kemudian memberi hormat, demikian juga Khongti. Pendeta Chongxan pun menepuk-nepuk pundak Zhu Yanyan.
"Adik, hati-hatilah dalam bertindak, meskipun mati sebagai pahlawan berarti hidup tidak sia-sia. Namun hidup tetaplah sesuatu yang lebih berharga daripada kematian. Jika ada waktu, kalian datanglah ke Gunung Wudang, ada tempat untuk kalian berenam di sana."
"Tentu saja...."
Jawab Zhu Yanyan dengan tenggorokan tercekat.
"Kakak, aku pergi ...", ujar Khongti.
"Hmm... pergilah, tampaknya kehidupan di luar biara lebih sesuai untuk dirimu", ujar Bhiksu Khongzhen sambil tersenyum simpul. Khongti membelai rambutnya yang panjang dan menyengir lebar.
"Hehe, ya... entah apa aku akan tahan jika harus kembali dalam biara."
"Hm..hm.., yang penting adalah batin yang bersih. Daripada terlampau sibuk memperhatikan aturan untuk tubuh tapi lupa menjaga kejernihan hati. Boleh saja sekarang kau berhenti jadi seorang biarawan, hanya kuharap jangan lupa pada hal-hal yang prinsip.", nasehat Bhiksu Khongzhen pada Khongti. Khongti pun mengangguk dengan serius.
"Nasihat kakak, tentu akan selalu kuingat."
"Hahaha, sebenarnya kurasa tidak perlu aku menasihatimu. Aku percaya akan kebersihan hatimu, sungguh aku sebenarnya rindu dengan kekonyolanmu, Shaolin jadi terlalu sepi tanpa lawakanmu. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya membicarakan masa lalu, tentang masa depan, kukira undangan Saudara Chongxan perlu kalian pikirkan, hatiku mengatakan, awan gelap akan menyelimuti dunia persilatan. Bahkan Shaolin pun tampaknya tidak luput darinya.", ujar Bhiksu Khongzhen sambil mendorong pergi Khongti dengan lembut. Mendengar ucapan Bhiksu Khongzhen itu, suasana hati Zhu Yanyan dan Khongti pun jadi sendu.
"Baiklah kami pergi", ucap mereka berdua. Dalam sekejap, bayangan mereka pun sudah ditelan kegelapan malam. Setelah mereka berdua pergi, Bhiksu Khongzhen berpandangan dengan Pendeta Chongxan.
"Sahabat..., tampaknya sosok gelap yang menghantui tidur kita akhirnya muncul juga.", ujar Bhiksu Khongzhen dengan nada sedih.
"Ya..., pada kejadian di kaki Gunung Songshan, aku sempat berharap semuanya tuntas sudah, tapi bahkan pada waktu itu pun, perasaan bahwa ada kegelapan yang sedang menunggu dan menjalin jaring-jaringnya tidak hilang dari hatiku.", jawab Pendeta Chongxan.
"Perasaanku semakin kuat, bahwa semua kejadian beberapa puluh tahun terakhir, mulai dari isu-isu mengenai ambisi Ren Zhuocan, munculnya pedang angin berbisik, menghilangnya Jinyong, kematian beberapa orang tokoh, bersatunya Thai Wang Gui dan Shao Wang Gui, semuanya berkutat dan berpusar pada satu orang atau satu organisasi saja.", kata Bhiksu Khongzhen.
"Apakah Bhiksu Khongzhen setuju, bila kukatakan bahwa sosok itu sepertinya berasal dari keluarga Murong?", tanya Pendeta Chongxan.
"Demikiankah perasaan Pendeta?", tanya Bhiksu Khongzhen.
"Ya..., saat ini tidak ada pegangan yang pasti tapi perasaanku berkata demikian.", jawab Pendeta Chongxan. Beberapa lama Bhiksu Khongzhen diam, kemudian berujar.
"Sepertinya perasaan Pendeta benar, jika Murong Yun Hua kita letakkan di posisi itu, maka banyak kejadian aneh dalam dunia persilatan yang bisa dijelaskan. Entah sudah berapa lama dia membangun jaring di sekitar kita, bahkan Shaolin pun tidak luput darinya. Semakin lama aku memikirkannya, hatiku semakin ngeri untuk menghadapi hari-hari di depan."
"Heh... golok di depan mata mudah dihindari, panah gelap dari belakang lebih berbahaya", ujar Pendeta Chongxan singkat. Demikianlah, maka di luar tahunya Ding Tao dan Hua Ying Ying, menjelang pernikahan mereka berdua, sebuah jebakan sedang disiapkan. Sedangkan di luar tahunya mereka yang sedang membangun jebakan itu, ada pula kekuatan yang mencoba menggagalkan rencana mereka. Namun Murong Yun Hua, Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang, terbukti memang pantas jadi orang-orang nomor satu dalam dunia persilatan. Rencana mereka matang dan teliti, serta dilaksanakan dengan sangat berhati-hati. Akhirnya tiba juga hari yang dinanti-nanti oleh banyak orang, masing-masing dengan tujuannya sendiri. Pagi itu Ding Tao sudah berdandan rapi, meskipun ini adalah kali kedua dia menikah, dengan isteri yang ketiga, tetap saja jantungnya sedikit berdebar menanti datangnya waktu untuk bertemu pengantin wanita. Di kamar dia berdua saja dengan Tabib Shao Yong yang hari ini menjadi wali bagi dirinya. Beberapa pengikutnya yang lain baru saja keluar menuju gedung tempat akan diselenggarakannya pernikahan Ding Tao. Memandangi Ding Tao yang sudah tumbuh dewasa dan sekarang menjadi orang nomor satu dalam dunia persilatan, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hati Tabib Shao Yong.
"Tabib Shao, mengapa kau melamun saja, harusnya justru aku yang banyak melamun hari ini", ujar Ding Tao menggoda Tabib Shao Yong ketika dilihatnya tabib tua itu menatap dirinya dengan pandangan entah ke mana. Mendengar ucapan Ding Tao, tabib tua itu pun tersenyum.
"Hahaha... aku hanya membayangkan, betapa cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin aku menyuruhmu mencari akar-akaran."
Sambil mengangkat tangannya setinggi pinggang dia menyambung.
"Tinggimu baru segini, tiba-tiba sekarang kau sudah jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang."
Tiba-tiba Tabib Shao Yong tampak sedih dan terdiam. Melihat itu Ding Tao jadi terharu, dia berpikir, tentu Tabib Shao Yong teringat oleh keadaannya yang tidak berputera.
"Tabib Shao, hari ini kau menjadi waliku, tapi sejak dulu, dalam hati kau memang sudah kupandang sebagai pengganti orang tuaku."
Mendengar perkataan Ding Tao, mata Tabib Shao Yong membasah, dengan sedih dan haru dia mengelus kepala pemuda itu.
Ding Tao tentu saja merasa heran, namun juga terharu melihat perhatian orang begitu besar pada dirinya.
Tiba-tiba Tabib Shao Yong mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan memberikannya pada Ding Tao.
"Simpan ini baik-baik, jangan sampai ada orang yang melihatmu menyimpannya.", ujarnya dengan sungguh-sungguh.
"Tabib Shao... apa ini?", tanya Ding Tao ingin tahu dan juga heran.
"Anak Tao, kau bilang kau anggap aku ini ayahmu", ujar Tabib Shao Yong.
"Ya..., benar, Tabib Shao, percayalah aku tidak bermain-main saat mengatakan itu", ucap Ding Tao tulus.
"Aku percaya, kalau benar demikian, lakukanlah apa yang aku suruh ini, simpan baik-baik bungkusan ini, mungkin bisa membantumu.", sekali lagi Tabib Shao Yong berkata dengan sungguh-sungguh. Meskipun masih merasa heran, Ding Tao pun segera menyimpan bungkusan itu di bagian dalam bajunya tanpa banyak bertanya lagi. Melihat Ding Tao sudah menyimpan bungkusan itu, Tabib Shao Yong tampak sedikit lega.
"Ayolah, sudah waktunya kita pergi. Jika tidak para tamu tentu akan terlalu lama menunggu", ujar Tabib Shao Yong dengan senyum di wajah. Melihat Tabib Shao Yong terlihat lebih ceria, hati Ding Tao pun jadi lega.
"Tabib Shao benar, ah... dadaku jadi berdebar-debar... Tapi ayolah."
Diiringi dengan tawa dari Tabib Shao Yong, mereka pun pergi menuju ke gedung tempat pernikahan akan dilaksanakan.
Sembari berjalan terlihat ada pikiran yang membebani hati Tabib Shao Yong, baru beberapa langkah mereka berjalan, ketika di sekitar mereka sepi dari orang tiba-tiba Tabib Shao Yong berkata.
"Anak Tao..., seandainya aku memintamu, melepaskan kedudukanmu sebagai Wulin Mengzhu dan pergi membawa Ying Ying pergi ke desa kecil, jauh dari kota, hidup sederhana sebagai seorang petani, apakah kau akan mendengarkan permintaanku itu?"
Ding Tao melihat ke arah Tabib Shao Yong dengan alis terangkat.
"Tabib Shao..., kenapa bertanya demikian?"
Ditanya demikian, Tabib Shao Yong tergagap.
"Eh... ah... tidak apa, hanya ingin tahu saja, dulu kehidupan seperti itulah yang kubayangkan ketika kau beranjak dewasa."
Ding Tao merenung sejenak kemudian menjawab.
"Seandainya bisa, tentu aku akan memilih jalan itu. Tapi sejak aku secara tidak sengaja, menemukan Pedang Angin Berbisik, tampaknya jalan hidupku sudah ditentukan akan menjadi beda dengan keinginanku. Awalnya demi mengemban tugas dari guru. Semakin lama, semakin banyak jerat hutang budi dan harapan orang, yang tidak mungkin aku lepaskan begitu saja. Bukan karena aku menginginkannya, tapi aku tak mungkin mengkhianati cita-cita bersama demi keinginanku pribadi."
Tabib Shao Yong mendesah sedih dan Ding Tao pun ikut mendesah sedih.
Kaki Tabib Shao Yong terasa berat, apa yang akan dihadapi Ding Tao dia sudah tahu.
Tentu saja dia tahu, bukankah dia termasuk orang kepercayaan keluarga Murong yang disusupkan ke dalam keluarga Huang?
Bahkan disusupkan sejak dia masih muda.
Kepada keluarga Murong dia terikat oleh hutang budi, bahkan berhutang nyawa.
Kepada Ding Tao dia merasakan kasih seorang ayah kepada anaknya.
Sejak dia bekerja dalam keluarga Huang, dia sudah menjaga hatinya dari segala perasaan simpati kepada orang-orang dalam keluarga Huang.
Meskipun dia bersikap baik kepada setiap orang, tapi dalam hatinya dia sudah membangun sebuah tembok bagi mereka.
Tak akan dia menangisi kepergian mereka.
Tapi Ding Tao berbeda, tak pernah dia berpikir Ding Tao kecil akan menjadi seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, seorang tokoh besar yang punya arti untuk dimanfaatkan dan harus disingkirkan jika menjadi berbahaya.
Itu sebabnya tidak ada tembok terbangun di antara dirinya dan Ding Tao.
Setiap manusia membutuhkan hangatnya kasih sayang, entah lewat hubungan keluarga atau persahabatan.
Tabib Shao Yong menutup pintu itu terhadap semua orang, jauh dalam hatinya tentu saja dia menderita.
Hingga hadir Ding Tao kecil, seorang anak yatim piatu yang dididik dengan keras oleh orang tuanya untuk mengerti budi dan kewajiban.
Tabib Shao Yong jatuh hati pada pandangan pertama.
Hatinya yang kosong tiba-tiba terisi dengan kehangatan.
Dia bukan seorang peramal, tak dapat dia tahu, bahwa pada akhirnya dia harus ditempatkan di situasi yang memilukan hatinya.
Bukan hanya kesetiaan pada keluarga Murong yang menahan lidah Tabib Shao Yong, tapi juga betapa rapat dan betapa kuat sesungguhnya keluarga Murong.
Sungguhpun dia ingin melepaskan Ding Tao, dia juga tidak melihat jalannya.
Jika Ding Tao melawan, maka setitik kecil harapan dia untuk menyelamatkan Ding Tao mungkin akan hilang pula.
Sebuah bungkusan dia berikan pada Ding Tao, segenap harapannya agar pemuda itu selamat, ada dalam bungkusan itu.
Selama hari ini bisa dilewati tanpa Ding Tao mati oleh pedang, pemuda itu masih punya harapan.
Dengan pemikiran ini, langkah kaki Tabib Shao Yong jadi lebih mantap.
Segenap yang dia bisa lakukan, sudah dia lakukan.
"Anak Tao, tersenyumlah sedikit, jika tidak nanti Ying Ying kira kau bersedih menikah dengannya. Atau jangan-jangan memang benar demikia? Kata orang satu isteri saja sudah cukup untuk membuat pusing seorang laki-laki dan sekarang kau malah hendak menikahi isteri yang ketiga.", ujar Tabib Shao Yong ketika melihat wajah sedih Ding Tao. Digoda demikian, Ding Tao pun tersipu malu.
"Tabib Shao..., kau bisa saja."
Malu, tapi setidaknya sekarang wajahnya sudah ceria kembali.
Dengan senyum di wajah, Ding Tao berjalan menuju ke gedung tempat perayaan akan dilakukan.
Jauh sebelum memasuki gedung, dia disambut oleh para tamu, menerima ucapan selamat, membalas salam dan segala keramaian yang biasa ditemukan dalam perayaan pernikahan.
Di antara puluhan pengunjung yang tidak mendapatkan tempat di dalam gedung, terselip tujuh orang yang mengawasi kedatangan Ding Tao dengan hati berdebar.
Mengkhawatirkan nasib dari pemuda itu, juga nasib Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang berada di dalam gedung.
Meskipun dua orang itu memiliki ilmu silat tanpa tanding, tapi di dalam sana, ada berapa jumlah lawan dan ada berapa jumlah kawan semuanya masih gelap.
Setelah melewati sekian banyak orang, akhirnya sampai juga Ding Tao di ruang utama, kedatangannya segera disambut oleh orang-orang terdekatnya.
Mereka yang sudah berjuang sejak awal hingga sampai kedudukan Ding Tao yang sekarang ini.
"Mana, pengantin wanitanya, apakah sudah tiba?", tanya Wang Xiaho dengan wajah memerah sudah terlalu banyak minum arak.
"Hahaha, masa Ketua Ding Tao yang hendak menikah, Tetua Wang yang lebih dahulu tidak sabar untuk bertemu dengan pengantin wanitanya.", sahut Fu Tong sambil tertawa terbahak-bahak. Chou Liang hanya menggelengkan kepala melihat itu semua, ada sedikit rasa iri dalam hatinya, tapi yang sedikit itupun cepat-cepat dia singkirkan. Bagaimanapun juga, jika tidak ada Ding Tao, sampai sekarang mungkin dia masih menelusuri gang-gang sempit di Wuling dengan hati acuh tak acuh melihat orang-orang di sekelilingnya. Demikian Ding Tao merasa berbahagia, dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya, satu pandangan, satu cita-cita. Ada Chou Liang, Pendeta Liu Chuncao, Ma Songquan dan Chu Linhe, Wang Xiaho, Chen Wuxi, Fu Tong, Sun Gao dan Sun Liang, Qin Baiyu dan ayahnya Qin Hun dan masih ada puluhan orang lainnya lagi yang berkumpul di sekeliling Ding Tao. Untuk beberapa lamanya mereka tertawa riang, sebelum perlahan-lahan sadar, betapa senyap suasana dalam gedung itu. Hanya mereka saja yang terdengar suara tawanya. Kesadaran itu datang perlahan, diikuti dengan perasaan seram yang merayapi hati mereka sedikit demi sedikit. Tanpa ada yang mengatur, setiap orang berdiri membentuk lingkaran, menghadap keluar, memandangi wajah-wajah dingin yang mengepung mereka. Tidak semuanya mengepung mereka, setidaknya ada sekelompok kecil, yaitu mereka yang datang dari Wudang dan Shaolin, tapi sisanya memandang mereka seperti sekelompok serigala memandangi mangsanya. Suara Bhiksu Khongzhen yang berwibawa, seketika itu juga terdengar bergaung rendah memenuhi ruangan.
"Ada apa ini? Sudahkah kalian semua kehilangan akal? Mengapa sikap kalian tiba-tiba berubah dalam sekejap mata? Atau jangan-jangan kalian semua sudah merencanakan sesuatu?"
Zhong Weixia sebagau orang yang paling senior dalam kumpulan itu maju ke depan dan menjawab pertanyaan Bhiksu Khongzhen.
"Bhiksu Khongzhen, tidak salah kalau kau mengatakan kami sudah merencanakan ini semua. Memang kami sudah berencana untuk menangkap seorang pengkhianat, penipu, pembunuh anak-anak dan orang tua, seorang bertopeng kebaikan namun busuk di dalam. Orang ini sangat berbahaya bagi dunia persilatan, oleh karena itu kami semua sepakat untuk menangkapnya."
"... sebenarnya kami ingin membunuhnya, tapi karena seseorang, kami memutuskan, cukup asalkan orang ini ditahan sehingga tidak bisa lagi membahayakan orang lain.", sambung Zhong Weixia setelah berhenti sejenak. Begitu mendengar perkataan Zhong Weixia, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun bisa meraba apa yang akan terjadi sebentar lagi, tapi dua tokoh itu memang sudah matang batinnya, tak mudah tergoncang dengan berbagai macam bahaya. Suara Bhiksu Khongzhen pun tetap tenang saat bertanya dan menegur Zhong Weixia.
"Ketua Zhong Weixia, siapa orangnya yang kau maksudkan? Kuharap kalian tidak sembarangan menuduh orang, tanpa bukti yang jelas.", ujar Bhiksu Khongzhen dengan tegas. Mendengar ketegasan dalam suara Bhiksu Khongzhen itu, beberapa orang tokoh yang sudah memberikan kata setuju pada Zhong Weixia tampak meragu. Terlihat dari cara mereka menengok ke arah Zhong Weixia, mencari kepastian dari Ketua Kongtong tersebut. Zhong Weixia hanya tersenyum sinis, melihat keraguan mereka, membuat mereka itu menundukkan wajah tersipu malu.
"Bhiksu Khongzhen..., jika kami tidak memiliki bukti yang kuat, mana mungkin kami berani bergerak, karena orang yang hendak kami tangkap tersebut adalah Wulin Mengzhu, Ketua Partai Pedang Keadilan, Ketua Ding Tao.", tegas Zhong Weixia menjawab tanpa keraguan sedikitpun, membuat beberapa orang yang tadinya terombang-ambing kembali yakin dengan keputusan mereka.
"Bagus... kalau memang kau memiliki bukti yang kuat, mari kita adakan pengadilan terbuka sekarang juga. Jika tidak jangan harap, kami dari Shaolin dan Wudang berdiam diri saat kalian hendak melaksanakan rencana keji kalian!", geram Pendeta Chongxan membuat beberapa orang mundur beberapa tindak. Wibawa dua orang tokoh besar itu memang sulit ditandingi di masanya, bahkan Ding Tao yang menjadi Wulin Mengzhu pun belum sempat menancapkan wibawa dan reputasi seperti dua orang tokoh besar itu dalam dunia persilatan. Jika tidak, mana mungkin ada begitu banyak orang yang sanggup dihasut oleh Zhong Weixia untuk berbalik memusuhi Ding Tao setelah beberapa bulan sebelumnya mereka bersumpah setia pada Ding Tao. Murong Yun Hua memang bergerak cepat atau nasib yang mempermainkan Ding Tao? Kemunculan dua bersaudara Huang dan gurunya Hua Ng Lau, memaksa Murong Yun Hua memainkan kartu ini. Seandainya tidak, tentu Murong Yun Hua akan terus membantu Ding Tao memupuk namanya, sembari kuku-kukunya semakin dalam mencengkeram. Apakah ini nasib baik? Ataukah ini nasib buruk? Baikkah bila namanya terus membubung tinggi, namun satu hari dia bangun dan tersadar seluruh hidupnya berada di bawa permainan orang lain? Burukkah nasibnya, karena sebentar lagi seluruh pekerjaannya yang dibangun dengan susah payah akan hancur dalam semalam, namun di saat yang sama dia lepas dari rencana orang untuk menjadikan dia seorang kaisar boneka? Di saat yang genting itu, muncul dua orang sosok masuk ke dalam ruangan, dengan senyum kemenangan Zhong Weixia memandang ke arah mereka berdua.
"Bhiksu Khongzhen... Pendeta Chongxan... orang bilang kemampuan kalian dalam menilai seseorang tidak tertandingi. Kuharap mulai hari ini kalian lebih rendah hati. Bukti yang kalian minta, bukan aku yang akan membeberkan... ada yang lebih pantas, biarlah mereka berdua yang menjelaskan semuanya."
Dengan sendirinya mata setiap orang mengikuti arah pandangan Zhong Weixia dan jatuh ke arah dua orang tersebut, Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua.
Melihat kehadiran Huang Ren Fu dan Murong Yun Hua berbagai macam perasaan bergejolak dalam hati Ding Tao dan kawan-kawannya.
"Zhong Weixia, kau jelaskan sekarang juga, apa maksudmu ini? Atas dasar apa kau menuduhku? Atas kejahatan apa kau hendak menangkapku?", suara Ding Tao menggelegar memenuhi ruangan.
"Ding Tao! Masihkah kau mau berpura-pura ? Jangan mengelak lagi, kaulah yang ada di belakang pembunuhan keluarga Huang di Wuling!", ujar Huang Ren Fu dengan suara tidak kalah kerasnya, telunjuknya menunjuk lurus ke arah Ding Tao. Dengan bibir menggeletar menahan emosi Ding Tao menjawab.
"Ren Fu, sungguh aku memang tidak mengerti ... aku tidak percaya... perkataan bohong apa yang sudah disampaikan orang bermarga Zhong itu padamu? Yun Hua... kenapa kau juga ikut percaya?"
Murong Yun Hua tampak terhuyung lemas, untung Huang Ren Fu dengan cepat menangkap tubuhnya.
Bersandar beberapa lama pada Huang Ren Fu, tampak Murong Yun Hua mendapatkan kembali kekuatannya, dengan suara yang sedikit bergetar namun dengan kalimat yang tertata rapi, dia menjawab pertanyaan Ding Tao.
"Ding Tao..., dari penuturan Saudara Huang Ren Fu, menurut kisahmu kau sedang menyembuhkan lukamu saat pembunuhan itu terjadi. Namun aku tahu sendiri, pada saat itu lukamu telah sembuh. Beberapa kali kau datang dan pergi ke kediaman kami, kepergianmu justru tepat sekali waktunya dengan terjadinya pembunuhan di Wuling."
"Kedua, saat bertemu denganku, kau mengaku sedang dikejar oleh sepasang tokoh dari aliran sesat, yaitu mereka yang dikenal sebagai Sepasang Iblis Muka Giok, jadi bagaimana penjelasanmu, jika sekarang ternyata mereka bekerja di bawah perintahmu?"
"Ketiga, aku sudah memeriksa salah satu kitab yang dulu pertama kau pinjam dari perpustakaan keluarga Murong, di dalamnya aku melihat ada cara pembuatan Obat Dewa Pengetahuan. Apakah kau akan menyangkal bahwa kau sudah menggunakan obat itu untuk meningkatkan kemampuanmu dalam menyerap ilmu-ilmu yang ada?"
"Dan yang lebih keji, setelah kau menyadari, adanya efek samping yang membuat orang ketagihan terhadap obat itu, kau dengan sengaja menyebarkannya pada anggota-anggota baru Partai Pedang Keadilan yang kau ragukan kesetiaannya!"
Ding Tao tentu saja tidak mengerti semuanya ini, dengan wajah pucat pias dia menggelengkan kepala dan menjawab.
"Yun Hua, kau salah, kau... bagaimana kau bisa berkata demikian? Aku... bukankah..."
Sebelum Ding Tao sempat membela diri sendiri, beberapa orang sudah maju ke depan, mereka adalah orang-orang Partai Pedang Keadilan di cabang Gui Yang yang mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan.
"Ding Tao, jangan lagi menyangkal, lihat, mereka ini telah mengakui sendiri, bagaimana kau sudah mempengaruhi mereka untuk mengkonsumsi obat sesat itu.", ujar Murong Yun Hua dengan keras. Belum ladi Ding Tao membuka mulut, maju pula ke depan beberapa orang anak murid Perguruan Kunlun dan kali ini Guang Yong Kwang yang berkata dengan suara menggelegar.
"Bukan saja anak murid partaimu sendiri, kau bahkan mempengaruhi pula anak murid perguruan kami!"
Belum mereda gema suara Guang Yong Kwang, maju lagi, kali ini dari perguruan Hoasan dan Tetua Xun Siaoma yang berkata dengan lantang.
"Ding Tao! Tadinya aku percaya kau lelaki sejati, namun apa yang kudapat, kau sudah menyusupkan obat sesatmu itu pada anak murid perguruan Hoasan. Sudahkah kau lupa pada budi baik perguruan kami padamu, ketika kau baru saja belajar berdiri?!"
Dan sebagai penutup, majulah adik seperguruan Bhiksu Khongzhen, Biksu Khongbu, bersama empat orang bhiksu shaolin, menyeret Shao Wang Gui yang tertatih-tatih mengikutinya dari belakang.
"Jika Ketua Ding Tao merasa masih mau mengelak dari kenyataan, maka apa Ketua Ding Tao masih mau mengelak lagi, lhat setan inipun sudah mengakui siapa orang ke-lima yang memimpin penyerbuan keluarga Huang di Kota Wuling."
Dengan sedikit keras dia mendorong Shao Wang Gui ke depan, sehingga setan tua kecil itu pun jatuh terhuyung-huyung, kemudian dengan suara parau Shao Wang Gui pun berkata,"Ding Tao..., Ketua Ding Tao-lah yang menjadi dalang di belakang kejadian itu.
Pan Jun dari Hoasan sama sekali tidak terlibat, justru dia hendak membongkar topeng Ketua Ding Tao.
Hanya saja, keburu Ketua Ding Tao berhasil menutup mulutnya.
Orang-orang keluarga Huang yang terbunuh oleh Pan Jun adalah mereka yang sudah berkomplot dengan Ketua Ding Tao, menghianati keluarga Huang."
Suasana pun jadi semakin riuh ramai dengan pengakuan Shao Wang Gui tersebut.
Selain pihak Shaolin dan Wudang ada cukup banyak tamu yang tidak tahu menahu, tidak termasuk pada pihak Shaolin, tidak juga mengikut pihak Khongtong, mereka inilah yang sekarang riuh ramai, mulai mencaci maki Ding Tao dan pengikut setianya.
Orang-orang yang berada di pihak Khongtong dan sudah mendengarkan kesaksian-kesaksian ini dari pertemuan rahasia yang diadakan Zhong Weixia, ikut pula menambahi bumbu-bumbu dalam cerita yang disampaikan.
Sebagian memang karena merasa dengki pada Ding Tao, tapi tidak sedikit pula yang memang mengira bahwa kesaksian itu benar adanya.
Dan kenapa tidak, mereka yang maju memberi kesaksian adalah anak murid perguruan ternama seperti Kunlun dan Hoasan.
Bahkan isteri Ding Tao yang terkenal setia pun ikut memberikan kesaksian yang memberatkan Ding Tao.
Bhiksu Khongbu pun memberi hormat pada Bhiksu Khongzhen dan berkata pula.
"Ketua..., seperti yang ketua lihat, Ketua Ding Tao tidak bisa dipercaya. Maafkan kami jika baru menyampaikannya sekarang. Iblis tua itu baru membuka mulut setelah Ketua pergi menuju ke Jiang Ling. Mendengar pengakuannya, kami pun, sesegera mungkin berusaha menyusul ketua, namun masih juga terlambat, sehingga setelah perayaan dilakukan baru kami sampai di Jiang Ling. Tapi langit benar tidak buta, sehingga meski kami terlambat tapi sudah ada banyak saudara lain yang menyibak topeng Ketua Ding Tao."
Ucapan ini tentu saja tidak benar, seperti yang sudah kita ketahui mereka sudah sampai sebelumnya.
Tapi mereka yang mengetahuinya pun tidak berani membuka mulut, meskipun ada pula yang bertanya-tanya dalam hati, apakah ada perpecahan dalam Biara Shaolin sendiri?
Bhiksu Khongzhen yang tidak mau membocorkan keberadaan enam orang sahabat pengikat enam perguruan besar dan Wang Shu Lin pun berpura-pura menerima penjelasan Bhiksu Khongbu.
"Hmm... baguslah kalau benar yang adik katakan, sehingga Shaolin tidak sampai membela orang yang bersalah. Tidak perlu menyesal karena datang terlambat, karena bukankah sebenarnya kalian tidak terlambat? Kalaupun tidak ada saudara lain yang bersaksi, bukankah kedatangan kalian masih tepat waktunya?"
Bhiksu Khongbu mendengarkan dengan hati berdebar, apa ada maksud terselubung di balik jawaban Bhiksu Khongzhen itu?
"Terima kasih ketua, tapi memang sepertinya kedatangan kami tidak banyak berarti...", jawabnya berpura-pura rendah hati, meskipun jantungnya belum mau diminta tenang.
"Hmm.. sudahlah, sekarang mari kita dengar apa jawab Ketua Ding Tao terhadap tuduhan-tuduhan ini.", ujar Bhiksu Khongzhen dengan berwibawa. Bhiksu Khongbu pun menghela nafas lega karena Bhiksu Khongzhen tidak memperpanjang lagi masalah kedatangannya dan dengan perkataannya itu, perhatian setiap orang sekarang beralih pada Ding Tao.
"Ketua Ding Tao... ada begitu banyak orang datang dengan tuduhan padamu. Apakah kau memiliki pembelaan atas tuduhan mereka?", tanya Pendeta Chongxan setelah suasana mereda. Chou Liang yang sudah mulai bisa berpikir lebih tenang, sejak tadi mengerutkan alis dan berpikir dengan keras, ketika suasana mulai tenang dan semua orang menantikan jawaban dari Ding Tao, berkatalah dia kepada Ding Tao.
"Ketua Ding Tao, kita tahu semua tuduhan itu adlah bohong belaka. Hanya saja mengapa sampai nyonya ikut pula menuduh ketua demikian, ini yang tidak masuk akal. Yang lain tentulah kesaksian palsu saja, tapi bagaimana mungkin Nyonya Murong Yun Hua ikut pula di dalamnya. Tentu ada yang memaksanya. Coba lihat, di mana Murong Ding Yuan? Di mana Nyonya Murong Huolin? Demikian juga Nyonya Hua Ying Ying dan gurunya, waktu sudah berjalan sedemikian lama, tak seorang pun terlihat. Jangan-jangan ada orang menyekap mereka dan memaksa Nyonya Murong Yun Hua dan Tuan muda Huang Ren Fu untuk bersaksi melawan ketua."
Ucapan Chou Liang itu ditujukan kepada Ding Tao saja, tapi suaranya disengaja cukup keras sehingga setiap orang yang hadir di ruangan itu bisa mendengarnya.
Di mata Chou Liang Murong Yun Hua adalah seorang dewi dari kahyangan.
Sehingga menilik dari situasi yang terjadi, itulah yang terpikirkan olehnya.
Pikiran yang sama bukannya tidak lewat di benak Ding Tao, tapi justru hal itu membuat Ding Tao tidak berani membuka mulutnya, karena mengkhawatirkan mereka yang menjadi sandera.
Tidak demikian bagi Chou Liang, yang terpenting justru nama Ding Tao dan keselamatannya.
Lagi pula dengan membuka kemungkinan tersebut, Ding Tao dan mereka yang berada di pihaknya justru memiliki kebebasan untuk bertindak dan membebaskan Murong Yun Hua dari paksaan lawan.
Akibat dari perkataan Chou Liang itu, suasana kembali menjadi ramai, mereka yang tidak berada di pihak Zhong weixia kembali meragu dan memandang ke arah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang dari sikapnya terlihat condong membela Ding Tao.
Dalam hati Murong Yun Hua dan Zhong Weixia memuji kecerdikan Chou Liang, hanya dengan beberapa kalimat, orang itu bisa membalikkan kembali keadaan.
Zhong Weixia pun dengan segera angkat bicara sebelum keadaan berubah menguntungkan Ding Tao lebih jauh lagi.
"Hmph! Kau bisa berkata macam-macam, kenyataannya orang-orang yang kau sebutkan itu berada dalam keadaan baik-baik saja. Mereka tidak datang karena masih sulit menerima kenyataan dan tidak tega melihat kebusukan Ketua Ding Tao dibongkar. Jika memang dikehendaki, biarlah dari pihak Shaolin menjemput mereka di tempat mereka berada sekarang ini. Jangan kami yang menjemput, supaya jangan pula orang mengira kami sedang mengancam mereka."
"Tadpi ada dua kesaksian penting yang bisa dibuktikan dengan jelas tanpa kehadiran mereka. Benarkah Ketua Ding Tao menggunakan obat sesat untuk meningkatkan ilmunya? Untuk membuktikan ini, Tabib dewa Hua Ng Lau bisa dipanggil untuk memeriksa nadinya dan memberikan keterangan. Yang kedua, benarkan dua iblis sesat, sepasang kekasih cabul, iblis muka giok bekerja untuk Ketua Ding Tao? Bukankah mereka berdua sekarang ini ada di sini pula, meskipun dengan samaran. Apakah perlu kami menunjuk muka, atau mereka mau maju sendiri ke depan?", sambung Zhong Weixia penuh kemenangan.
"Ketua Ding Tao, apa jawabmu terhadap dua hal itu?", tanyanya dengan seringai mengejek di wajahnya. Terhadap pertanyaan Zhong Weixia itu, termangu-mangu Ding Tao tak bisa menjawab. Tentang obat dewa pengetahuan, memang dia pernah meminumnya. Meskipun dia tidak sadar, bahwa selama ini dia masih terus menerus mengkonsumsi obat itu lewat berbagai cara, tapi ragu juga dalam hatinya apakah efek dari obat itu tidak tersisa dan terdeteksi oleh Hua Ng Lau. Apalagi ketika ditanya mengenai sepasang iblis muka giok. Selagi dia termangu, Ma Songquan dan Chu Linhe pun berkata dengan lantang.
"Memang kami berdua, sepasang iblis muka giok telah lama mengikut Ketua Ding Tao. Tapi hal ini adalah di luar tahunya, bukankah kalian semua tidak akan pernah tahu siapa kami ini dengan samaran yang kami pakai sekarang? Jadi bagaimana Ketua Ding Tao bisa tahu siapa kami ini sebenarnya?", demikian ucap Ma Songquan membuat geger suasana. Selama malang melintang sebagai tokoh sesat, sudah ada banyak dendam dia tebarkan, sekarang begitu banyak tokoh persilatan berkumpul, tentu tidak sedikit yang menyimpan dendam pada sepasang iblis itu dan teriakan-teriakan pun mulai muncul di antara mereka semua.
"Jika Ketua Ding Tao benar tak bersalah, serahkan sepasang iblis itu pada kami untuk kami cincang!!", seru salah seorang tokoh yang datang pada pertemuan rahasia yang diadakan Zhong Weixia. Orang ini dan beberapa orang lain, sengaja diundang karena permusuhan mereka dengan Sepadang Iblis Muka Giok. Dengan satu seruan itu, segera saja suasana jadi ramai oleh teriakan-teriakan lain yang bernada sama. Belum lagi reda suasana, terlihat Murong Huolin menggendong putera Ding Tao, Murong Ding Yuan bersama dengan Hua Ying Ying dan Hua Ng Lau memasuki ruangan dan diantarkan ke tempat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Beberapa orang yang melihat kehadiran mereka, dengan segera menunjuk dan menyampaikan kabar itu pada yang lain. Suasana pun menjadi semakin riuh rendah dengan hujatan, semakin yakinlah mereka pada tuduhan-tuduhan yang disampaikan kepada Ding Tao.
"Ding Tao menyerahlah! Serahkan dirimu utuk ditangkap, aku berjanji tidak akan ada yang melukai dirimu maupun pengikut-pengikut setiamu!", suara Murong Yun Hua tiba-tiba terdengar lantang dan disambut riuh suara orang. Chou Liang menatap tajam ke arah Murong Yun Hua, pikirannya menghitung-hitung setiap kemungkinan. Memandangi wajah Murong Yun Hua yang menyiratkan ekspresi kemenangan. Melihat cara Murong Yun Hua menyandarkan diri pada bahu Huang Ren Fu. Mengingat kembali setiap kejadian-kejadian yang berhubungan dengan Murong Yun Hua. Dan sebuah perasaan ngeri, serta nyerinya dikhianati menyusup ke dalam hatinya. Dengan suara tertahan dia menarik keras lengan Ding Tao dan berbisik.
"Ketua Ding Tao... jangan menyerah, cepat lari! Kita sudah dikhianati orang! Kita sudah dijebak! Cepat lari!"
Suaranya makin lama makin keras, menyadarkan setiap orang di sekeliling Ding Tao.
Meskipun mereka belum sampai memahami seluruhnya pemikiran Chou Liang, keadaan di sekeliling mereka sudah memberi tahukan pada mereka kebenaran dari perkataan Chou Liang.
Bersamaan mereka pun berseru dan yang dekat dengan Ding Tao berusaha menarik-narik lengan pemuda itu.
"Ketua! Sadarlah! Lari, pergi sekarang juga!"
Ma Songquan dan Chu Linhe yang sempat tercenung memandangi wajah Murong Yun Hua, tiba-tiba meraung marah, sambil menggerung hebat mereka tiba-tiba menggebrak kepungan terdekat.
"Buka jalan untuk Ketua Ding Tao!!!"
Mendengar seruan ini, terbangkitlah semangat juang setiap pengikut Ding Tao yang setia, jumlah mereka tidak lebih dari tiga puluh orang, namun kemarahan mereka sempat membuat ngeri setiap orang sehingga jalan pun terbuka untuk sesaat.
Tapi di pihak lawan ada Zhong Weixia dan Guang Yongkwang, bahkan ada pula bersama mereka Tetua Xun Siaoma dan ketua partai pengemis Bai Chungho, dengan cepat jalan itu pun menutup kembali.
Apalagi Ding Tao sendiri masih saja termangu-mangu di tempatnya, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Murong Yun Hua sudah mengkhianati dirinya.
Otaknya masih saja berputar berusaha mencari kemungkinan lain dari perangkap yang ada di hadapannya ini.
"Tidak mungkin dia... bukan dia...", demikian Ding Tao bergumam pada dirinya sendiri. Beruntung mereka yang maju menyerang sampai saat itu belum bisa mencapai Ding Tao yang berada di tengah-tengah perlindungan pengikut-pengikutnya yang setia. Pertarungan riuh itu baru sempat berjalan beberapa jurus, ketika sebuah raungan dengan suara rendah bergema, berbarengan dengan sebuah siutan tinggi menggetarkan setiap orang dan membuat gerakan mereka terhenti di tempatnya. Dua bayangan berkelebat cepat ke arah Ding Tao. Sebuah hawa serangan yang menderu, menyerang hebat ke arah Ding Tao dan para pengikutnya. Begitu kuat hawa murni yang dihempaskan, sehingga kumpulan orang yang demikian banyaknya itu pun tersibak di hadapan dua orang tersebut. Bahkan Ding Tao yang masih termangu pun dibuat bangkit semangat bertarungnya menghadapi serangan yang hebat itu. Dalam sekejapan saja, segera hawa murni meledak ke segala penjuru, dua bayangan itu bukan lain adalah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.
"Ding Tao !!! Matilah kau !!!", seru Pendeta Chongxan dan pedangnya pun berputaran seperti pusaran angin putting beliung, mengancam segala yang ada di depannya. Ilmu Ding Tao boleh saja seluas lautan, namun di hadapan serangan Pendeta Chongxan, pemuda itu hanya mampu menangkis dan bergerak mundur. Belasan jurus berlalu dengan cepat tanpa Ding Tao mampu membalas, dalam sekejapan mata, segera saja Ding Tao terdesak mundur hingga keluar ruangan. Tak urung keadaan di luar pun menjadi heboh dan kacau tak karuan. Ketika di dalam ruangan terjadi huru hara, yang di luar sudah sibuk menduga-duga, begitu pintu pecah berhamburan dan tiga orang itu melesat keluar, keadaan pun jadi semakin kacau. Habis jurus serangan Pendeta Chongxan, segera Bhiksu Khongzhen ganti menyerang. Jika serangan Pendeta Chongxan seperti angin putting beliung, maka hempasan-hempasan hawa murni yang dilemparkan dari sepasang telapak tangan Bhiksu Khongzhen tak ubahnya badai di samudera yang mengamuk. Serangan yang membabi buta, membuat keadaan semakin kacau, bukan hanya Ding Tao yang didesak mundur, mereka yang hendak mengejar pun dibuat terhenti di tempatnya. Kemarahan Ding Tao sudah sampai di ubun-ubunnya, jika sejak tadi dia segan untuk mengangkat senjata melawan dia orang tokoh tua itu, lama kelamaan, habis pula kesabarannya. Difitnah, dikhianati dan sekarang diserang tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Segala yang dibangun hancur pula dalam sehari, luapan emosi itu pun tak tertahankan lagi, hawa pedang pun berkesiuran menyambar dari kedua telapak tangannya. Pedang Angin Berbisik tentu saja tak dibawa, karena Ding Tao datang bukan hendak berperang, melainkan untuk menikah dengan cinta pertamanya. Tapi latihan yang dilakukannya selama berbulan-bulan sekarang baru ditunjukkan hasilnya, apalagi Ding Tao sama sekali tidak menahan-nahan tenaganya, ditambah dengan kemarahan maka hebatlah perbawa yang dihasilkan. Belasan jurus pun berlalu, dua orang melawan satu orang. Dua orang tokoh utama dari generasi tua, melawan tokoh utama dari generasi muda. Masakan Ding Tao sehebat itu? Memang terlihat hebat pertarungan mereka, namun semarah-marahnya Ding Tao dia tidak jadi buta hatinya. Pemuda itu pun mulai menyadari bagaimana dalam serangan-serangannya dua orang tokoh tua itu meninggalkan lubang-lubang tempat dia bisa meloloskan diri. Dalam belasan jurus itu, sadarlah Ding Tao, betapa dua orang itu berniat baik pada dirinya. Bukan hanya Ding Tao, orang yang punya otak dengan sendirinya sedikit banyak sadar apa yang sedang terjadi. Namun siapa yang berani menuduh dua orang tokoh tua itu sedang bermain sandiwara. Semakin lama, tentu saja semakin kentara, betapa mereka berdua memberi kelonggaran pada Ding Tao. Seharusnya Ding Tao tahu diri dan menerima maksud baik orang, dan bukannya Ding Tao tidak tahu diri, tapi setiap kali dia hendak beranjak pergi, teringatlan dia pada para pengikutnya yang masih pula bertarung menghadang serbuan Zhong Weixia dan kawan-kawannya yang hendak menyerbu keluar. Zhong Weixia tentu saja tidak buta, dia pun dengan cepat menyadari apa yang sedang terjadi, dasar otaknya licin dengan cepat dia menemukan kelemahan dalam rencana Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Dengan seringai licik dia pun memberikan perintah.
"Jangan bunuh seorang pun! Jangan sembarangan menumpahkan darah orang tak bersalah! Tangkap mereka semua hidup-hidup!!! Beri kesempatan pada yang mau menyerah!"
Ya, sehebat-hebatnya permainan silat pengikut Ding Tao yang setia, jumlah mereka tidaklah sebanding dengan para penyerangnya.
Dalam belasan jurus itu, sudah beberapa orang mengejang ditinggalkan nyawanya, beberapa orang yang lain sudah mulai terluka.
Hanya tokoh-tokoh liat macam Ma Songquan, Chu Linhe, Fu Tong, Liu Chuncao dan belasan yang lain yang masih bertahan.
Jika Zhong Weixia tidak memberikan perintah, niscaya dua puluhan orang yang masih bertahan itu akan mati pula meregang nyawa dan tidak ada lagi talih yang menahan kepergian Ding Tao.
Justru dengan perintah yang sepertinya memberi jalan hidup pada lawan, dia menciptakan belenggu yang tak terlihat bagi Ding Tao.
Sekaligus mempermalukan dua orang tokoh tua itu, entah orang akan menggunjingkan bagaimana mereka bersandiwara, atau orang menggunjingkan ketidak mampuan mereka menangkap Ding Tao yang bertarung seorang diri.
Ding Tao pun bertarung semakin menggebu-gebu, dia mengerti kesusahan orang, di saat yang sama tidak bisa pula melarikan diri.
Meski demikian sampai berapa lama Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan bisa berpura-pura?
Sementara ratusan tokoh-tokoh dunia persilatan berdiri di sana menyaksikan jalannya pertarungan.
Baik mereka yang berada di pihak Zhong Weixia, maupun mereka yang hanya menjadi penonton dan masih bingung dengan apa yang terjadi.
Zhong Weixia pun tertawa dalam hati, seringai mengejek tak lepas dari wajahnya.
Tapi Zhong Weixia pun masih salah perhitungan.
Ma Songquan yang menyadari apa maksud seruan Zhong Weixia tiba-tiba melompat mundur dan membuat jarak dengan lawan-lawannya.
Dengan sendirinya Chu Linhe mengikuti apa yang dilakukan suaminya.
Zhong Weixia dan Tetua Xun Siaoma yang berpasangan menahan serangan dua orang itu pun tidak buru-buru mengejar, karena lawan masih berada dalam kepungan.
"Ah... apa kalian berdua sudah hendak menyerah?", tanya Zhong Weixia dengan alis terangkat. Sepasang suami isteri itu bisa dikatakan sudah menjadi ujung tombak dari dua puluhan pengikut Ding Tao yang lain, ketika mereka mundur dan mengendurkan serangan, dengan sendirinya yang lain pun mengikuti. Di lain pihak Zhong Weixia sudah menjadi pimpinan dari persekutuan untuk melawan Ding Tao, ketika Zhong Weixia tidak maju mendesak lawan yang mundur, sekalian orang yang bermufakat dengan dia pun ikut menahan serangan dan sekedar membangun kepungan yang rapat. Ma Songquan tidak segera menjawa pertanyaan Zhong Weixia, sekilas saja dia memandang Ketua Partai Kongtong itu, seakan-akan mengesankan betapa tidak berharganya Zhong Weixia untuk didengarkan. Tapi apa yang dia lakukan berikutnya, sungguh membuat hati setiap orang bedebar dan tercekam.
"KETUA DING TAO !!! LARI !!!!", suaranya menggelegar menarik perhatian setiap orang, termasuk Ding Tao, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Dan dalam sekejapan itu, ketika Ma Songquan melihat pandang mata Ding Tao tertuju ke arahnya, maka pedangnya pun berkelebat dengan cepat. Cepat, secepat kilat, serangan pedang tercepat yang pernah dia lakukan sepanjang hidupnya. Pedang Ma Songquan berkelebat tanpa bisa ditahan seorang pun, tidak pula bisa dihindari oleh sasaran serangan pedang itu, pun sasarannya memang tidak berusaha menghindar sedikitpun. Pedang Ma Songquan berkelebat menebas batang lehernya sendiri. Jantungnya sedang berdebar cepat, setelah mengerahkan sekian banyak tenaga. Emosinya meluap-luap oleh rasa marah dan putus asa. Darahnya dipompa kencang mengaliri seluruh tubuhnya. Ketika pedang menebas lehernya, darah pun memancar seperti semburan gunung berapi. Setiap orang masih tertegun tak mengerti, ketika Chu Linhe berteriak "PERGI!!!"
Dan darah pun kembali menyembur.
Chou Liang yang berada di tengah-tengah kerumunan itu, memandangi kematian Ma Songquan dan Chu Linhe dengan mata nanar.
Di antara mereka semua, mungkin hatinyalah yang paling pedih.
Pengkhianatan Murong Yun Hua terhadap Ding Tao, dirasakannya seperti pengkhianatan seorang kekasih.
Ditambah lagi kesadaran, betapa dia yang mengatur pernikahan ini, seharusnya dia bisa menyadari apa yang terjadi, bila saja dia tidak sedang dimabuk cinta, mabuk cinta pada isteri Ding Tao, orang yang memberikan kepercayaan begitu besar pada dirinya.
Penyesalan tiada tara, ditambah lagi melihat tatapan Ding Tao di kejauhan yang mengkhawatirkan keadaan mereka semua.
Sambil mengeluh pendek dengan permintaan maaf yang tak tersampaikan, Chou Liang menggerakkan sebilah pedang di tangannya, menebas nadi yang ada di lehernya.
Sepanjang pertarungan, pedang Chou Liang tak pernah menyentuh tubuh lawan, tapi dengan satu gerakan itu ribuan kata tercurahkan dalam tindakan.
Pendeta Liu Chuncao menyaksikan itu semua dengan air mata berlinang, sebelum kemudian tertawa berkakakan, mengiringi tersemburnya darah untuk ke sekian kalinya membasahi gedung pernikahan itu.
Tanpa bisa ditahan lagi, pedang-pedang pun berkelebatan menabas putus leher masing-masing, satu orang, dua orang, tiga, empat, susul menyusul mereka rebah meregang nyawa, sementara merahnya darah membasahi tanah.
Setiap orang hanya bisa mendelu, baik lawan maupun kawan termangu.
Bahkan Zhong Weixia pun tak sempat berpikir dan hanya bisa mendelong melihat darah menyembur ke mana-mana, seringai di wajahnya terhapus, benaknya kosong tak mampu berpikir sedikitpun.
Di antara dua puluhan orang itu ada pula Sun Gao, Sun Liang, Qin Hun dan Qin Baiyu.
Sebagai orang muda, dengan sendirinya berdarah panas, Sun Gao pun cepat hendak menebas lehernya sendiri, namun ayahnya yang lebih matang dengan cepat menahan lengan putera kebanggaannya itu.
"Tahan !!! Sudah cukup...", seru Sun Liang. Seruan Sun Liang menyadarkan Qin Hun yang dengan cepat menahan pula lengan puteranya Qin Baiyu, sementara sisa yang lain tak ada yang menahan dan dengan sendirinya satu per satu bertumbangan menebas leher sendiri, atau menusuk jantung sendiri, memutuskan rantai yang menahan Ding Tao di sini. Dengan mata liar nyalang Sun Gao menatap penasaran pada ayahnya. Begitu dia menatap, terlihatlah pandang mata teduh dari ayahnya, sendu namun juga mengisyaratkan keteguhan hati yang tak pernah hilang. Ayahnya tidak berkata apa-apa hanya menunjuk ke arah Ding Tao yang sudah berada jauh di luar kepungan. Apa yang terjadi dengan Ding Tao? Apa yang dirasakan pemuda itu jika bukan sebuah kiamat, ketika dia melihat Ma Songquan menebas lehernya sendiri? Apalagi ketika berturut-turut para pengikutnya yang setia mengorbankan nyawa, meminta dia untuk pergi melarikan diri. Masihkah dia hendak bertahan, jika itu artinya kematian bagi para pengikutnya? Sebuah lolongan menyayat hati terlontar keluar dari dada pemuda itu. Bhiksu Khongzhen yang tanggap dengan keadaan, menggerakkan kedua telapak tangannya, mendorong ke depan, sebuah hempasan hawa murni yang kuat melemparkan pemuda itu jauh ke belakang. Di saat yang sama, di telinga Ding Tao terdengar bisikan Pendeta Chongxan, lembut namun terdengar jelas, seperti berbisik tepat di dekat telinganya.
"Larilah ke arah barat !"
Pikiran pemuda itu sudah pepat, layaknya tubuh tak berjiwa, tak ada yang memimpin gerak tubuhnya, semata digerakkan naluri yang paling dasar.
Tanpa berayal, tanpa menyimpan-nyimpan tenaga, begitu kakinya menginjakn tanah, setelah dihempaskan pergi oleh tenaga Bhiksu Khongzhen, pemuda itu pun bergerak, berlari, melompat, menabrak apa saja yang ada di depannya, seperti kuda liar yang membedal pergi berlari, ke arah mana Bhiksu Khongzhen melontarkannya.
Yaitu ke arah barat.
Suasana masih serba bingung, ketika suara tegas Bhiksu Khongzhen mengatasi keributan dan mengambil alih pimpinan dengan cepat.
"Jangan sampai dia pergi melarikan diri, cepat menyebar ke empat penjuru! Tutup seluruh arah lari keluat kota! Aku dan rekan Pendeta Chongxan akan mengejar ke arah barat! Ketua Zhong Weixia dan Ketua Guang Yong Kwang pergilah ke gerbang timur, siapa tahu dia mengambil jalan memutar untuk menyesatkan kita! Tetua Xun Siaoma dan Ketua Bai Chungho harap pergi ke gerbang selatan kota! Bhiksuni Huan Feng dan saudara yang lain harap menutup jalan di utara!"
Perintah itu datang di saat kepemimpinan sedang kosong, jangankan mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan rencana bumi hangus Partai Pedang Keadilan, Zhong Weixia pun sempat bergerak selangkah ke arah timur sebelum dia sadar apa yang sedang terjadi.
Namun tanpa menunggu siapapun Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sudah melesat ke arah barat, demikian juga Bhiksuni Huan Feng yang tidak mengerti urusan, diikuti dengan ragu oleh beberapa orang dan dengan semangat oleh sebagian yang lain.
Langkah kaki Zhong Weixia yang sempat terhenti pun akhirnya dilanjutkan lagi, meskipun rasa-rasanya kakinya ini diganduli beban ratusan kati.
Sambil memaki-maki Bhiksu Khongzhen dalam hati, dia melesat ke arah timur diikuti oleh Guang Yong Kwang.
"Ketua Zhong...", bisik Guang Yong Kwang.
"Jangan bodoh! Jika kita menolak, hanya akan menimbulkan kecurigaan orang, biarlah kita pergi ke timur untuk kemudian memutar ke barat!", desis Zhong Weixia dengan kesal. Dengan sendirinya tokoh-tokoh lain yang cukup berpengalaman, berpikiran sama dengan Zhong Weixia, secepat mungkin melesat pergi menjauhi kerumunan orang, untuk diam-diam mengambil jalan memutar dan pergi ke barat, mengejar Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang terlebih dahulu pergi ke arah itu. Suasana yang demikian ramai, tiba-tiba terasa menjadi sepi karena puluhan orang yang membikin suasana ribut meninggalkan tempat itu. Untuk beberapa lamanya, yang tersisa di sana, saling memandang dengan mulut terkatup rapat dan hati ngilu. Hiasan-hiasan, kursi, bangku dan meja, hidangan dan segala pernak-pernik sebuah perayaan pernikahan telah berwarna merah. Kata orang merah adalah warna perlambang kebahagiaan. Masihkan saat ini merah berarti bahagia? Sementara merah yang memburat ke segala arah dan menyirati segala penjuru itu berasal dari puluhan tubuh yang sekarang membujur kaku? Tubuh dan kepala, bergelimpangan dan terserak ke mana-mana. Meski setiap orang dalam dunia persilatan punya ambisinya sendiri-sendiri, tapi kehormatan dan kesetiaan adalah salah satu tiang di mana dunia itu dibangun. Jangankan mereka yang tak tahu ujung pangkal dari keributan hari ini, bahkan banyak dari mereka yang datang ke pertemuan rahasia yang diadakan Zhong Weixia pun berdiri diam tak ikut mengejar larinya Ding Tao. Dalam hati mereka yang terdalam, selirit rasa kekaguman menyebar perlahan-lahan. Setiap mulut pun terkatup, membungkam, merenungi dan mengheningkan cipta, bagi jiwa-jiwa yang setia. Meradang Murong Yun Hua, tak habis pikir bagaimana Ding Tao bisa lolos dari jeratannya. Matanya menatap nanar pada tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Jantungnya berdenyut-denyut oleh rasa amarah, menyadari kesunyian yang ada, memandangi wajah-wajah khidmat yang berdiri mematung di sekelilingnya, seperti orang-orang yang menghadiri pemakaman para pahlawan. Kesunyian itu pun pecah oleh seruan Huang Renfu saat Murong Yun Hua tiba-tiba terkulai lemas, pingsan, tepat jatuh di depan pemuda itu.
"Yun Hua... Yun Hua..., Paman Li, Paman Tang Xiong cepat bantu aku mengangkatnya ke dalam. Sepertinya dia tak kuat melihat apa yang terjadi di halaman ini.", seru Huang Ren Fu sambil buru-buru membopong Murong Yun Hua masuk ke dalam. Yang dipanggil pun, bergerak tanpa sadar mengikutinya masuk ke dalam, entah apa rasa dalam hati mereka, meski mereka sejak awal adalah orang yang bekerja bagi Murong Yun Hua, tapi melihat puluhan orang yang pernah dipanggil saudara bergelimpangan tak bernyawa, entah kenapa, hati mereka pun rasanya kosong dan hampa. Meski di sana berdiri Sun Liang, Sun Gao, Qin Hun dan Qin Baiyu, tak ada seorang pun yang berpikir untuk menahan mereka berempat. Dalam waktu sekejap, dari mereka yang merupakan bagian dari sisa-sisa Partai Pedang Keadilan, hanya Tabib Shao Yong, Hua Ying Ying dan Hua Ng Lau yang berdiri. Masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri. Keributan yang sesaat ini seperti membangunkan setiap orang dari tidurnya. Perlahan-lahan, keheningan itu pun pecah, ada yang bergerak untuk mengumpulkan mayat yang bergelimpangan, ada pula yang diam-diam pergi dari kota Jiang Ling menyadari badai yang baru saja berlalu, ada pula yang diam-diam menyingkir hanya untuk kemudian mengamati dan menunggu perkembangan yang akan terjadi. Kehidupan dunia persilatan pun kembali berputar, setelah terhenti sejenak lamanya, oleh pengorbanan orang-orang Partai Pedang Keadilan. Ding Tao berlari saja tanpa melihat kiri dan kanan, jika bukan karena Bhiksu Khongzhen membuat setiap orang yang hendak menangkap dirinya harus mengejar ke berbagai arah, tentu cepat atau lambat dia akan tertangkap. Tenaganya sudah banyak terkuras, baru dua atau tiga li dilampaui, langkahnya sudah melambat, dengan langkah terhuyung-huyung, seperti seorang yang baru saja minum arak dan sekarang sedang mabuk. Di benaknya masih tergambar jelas, tubuh Ma Songquan yang berdiri tegak tanpa kepala, untuk kemudian jatuh rebah ke atas tanah. Kemudian Chu Linhe, Chou Liang, Liu Chuncao, Wang Xiaho..., setiap wajah dan nama mereka yang jatuh bersimbah darah, terulang dan terulang dalam benaknya sampai akhirnya pemuda itu terkulai lemas. Sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah, seseorang sudah menyambarnya dan menyangga tubuh Ding Tao yang tinggi besar itu.
"Kakak Khongti, bagaimana keadaannya?", tanya Pang Boxi yang menyusul beberapa langkah lebih lambat dari Khongti.
"Sepertinya dia kehilangan kesadaran. Adik Pang Boxi, apa yang terjadi di sana tadi?", tanya Khongti sambil membimbing tubuh yang terkulai itu ke sisi jalan, diikuti pandang ingin tahu dari banyak orang. Dengan singkat Pang Boxi menceritakan apa yang terjadi.
"Pantas saja, tentu guncangan batin yang dia alami sudah tidak tertahankan lagi. Sebentar lagi tentu Ketua Pendeta Chongxan dan Kak Khongzhen akan tiba pula menyusul ke mari. Marilah kita percepat perjalanan kita ke tempat yang sudah ditentukan.", ujar Khongti sambil mempercepat langkahnya. Pang Boxi pun segera memapah Ding Tao dari sisi yang lain, berdua mereka bergerak dengan cepat menuju tempat yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Memasuki sebuah rumah di antara deretan rumah di sebuah perkampungan, mereka disambut oleh saudara-saudara mereka yang lain dan Wang Shu Lin.
"Guru... apa yang terjadi dengannya?", tanya Wang Shu Lin dengan cemas.
"Nanti saja aku ceritakan, tidak ada banyak waktu, sekarang kita jalankan rencana kedua, ada banyak orang melihat aku dan guru Khongti memapah dia ke tempat ini.", ujar Pang Boxi menjawab pertanyaan Wang Shu Lin sementara Khongti sudah bergegas ke bagian lain dari rumah itu. Tidak lama kemudian terlihat empat ekor kuda keluar dari perkampungan itu, menuju jalan utama kota di mana mereka bisa bergerak lebih cepat. Masing-masing kuda ditunggangi dua orang. Sampai di sebuah persimpangan, rombongan itu pun berpencar ke dua arah. Dua ekor kuda menuju ke arah barat, dua ekor yang lain menuju ke arah utara. Mencapai jarak tertentu dan sampai pada persimpangan yang lain kembali mereka berpencar, hingga akhirnya masing-masing kuda dengan dua penunggangnya, mengarah ke empat gerbang kota yang berlainan, barat, utara, timur dan selatan. Di mana mereka berpencar dan jalan yang mereka lalui sudah mereka pilih sejak beberapa hari sebelumnya, dengan sendirinya mereka bergerak dengan cepat tanpa ragu-ragu dalam memilih jalan yang hendak dilalui. Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang tentunya sudah tahu rencana mereka, mengejar seakan-akan tidak mengetahui arah yang mereka tuju. Kedua orang tokoh itu berhenti di perkampungan tempat Ding Tao dibawa masuk, bertanya-tanya pada orang di sekitar jalan, sebelum mengejar ke arah empat ekor kuda itu pergi. Sampai di persimpangan pertama, mereka pun berpisah. Bhiksu Khongzhen mengejar pasangan kuda yang pergi ke arah barat, sementara Pendeta Chongxan mengejar yang pergi ke arah utara. Beberapa waktu kemudian, dalam waktu yang hampir bersamaan Tetua Xun Siaoma, Ketua partai pengemis Bai Chungho, Ketua partai Kongtong Zhong Weixia dan Ketua perguruan Kunlun Guang Yong Kwang, sampai pula di perkampungan tempat Ding Tao dibawa dan mendapatkan jawaban yang sama, seperti jawaban yang diberikan orang-orang di tempat itu pada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, tentu saja dengan tambahan bahwa beberapa saat sebelumnya ada seorang Bhiksu Buddha dan seorang Pendeta Tao menanyakan hal yang sama.
"Empat ekor kuda? Hmm... kukira tentunya empat ekor kuda itu akan berpencaran pula ke empat mata penjuru", ujar Bai Chungho, mereka berempat sedang berunding setelah mendengarkan keterangan dari orang-orang yang menyaksikan hal itu.
"Tidak disangka, Ding Tao sudah menyiapkan rencana untuk melarikan diri. Apakah menurut kalian ada yang membocorkan rencana kita ini?", tanya Guang Yong Kwang dengan alis berkerut.
"Kemungkinan itu bukannya tidak ada, rencana ini melibatkan begitu banyak orang. Semakin banyak orang kemungkinan bocor tentu semakin besar.", ujar Bai Chungho. Zhong Weixia menggelengkan kepala.
"Tidak... meskipun ada banyak orang yang diikutkan dalam rencana ini. Jumlah mereka yang mengetahui detail rencana ini tidak sebanyak yang terlihat. Selain itu, setiap mereka yang diikutkan sudah diperhitungkan dengan masak dan diawasi siang dan malam."
Tetua Xun Sioma mendengus kesal mendengar nada suara Zhong Weixia yang sedemikian yakinnya dengan rencana yang dibuat Murong Yun Hua.
Zhong Weixia pun melirik tajam pada Xun Sioama tapi Guang Yong Kwang lah yang pertama kali menanggapi dengusan Xun Sioama.
"Tetua Xun sepertinya tidak suka dengan rencana kita, sejak awal terlihat setengah-setengah dalam bertindak. Jangan-jangan kebocoran ini bermula dari pihak Hoasan. Tetua Xun, kuharap tetua tidak lupa, penerus generasi ketua Hoasan sekarang sudah bermarga Murong.", ujar pemuda itu sambil menatap tajam pada Xun Siaoma. Disindir demikian kemarahan Xun Siaoma pun timbul dengan cukup keras dia balik menjawab.
"Hmph! Aku tidak pernah setengah-setengah dalam melaksanakan sesuatu demi Partai Hoasan, meski hal itu berlawanan dengan nuraniku.Jadi jangan samakan aku dengan anak kecil yang mencari jalan pintas untuk menjadi pendekar pedang nomor satu. Kemudian menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya demi sekantung obat."
Dibalas demikian wajah Guang Yong Kwang berubah merah padam dan dengan pedas menjawab.
"Ho... ho. Hahaha, baik sekarang ini aku memang menjadi pesuruh orang karena berusaha menjadi pendekar pedang nomor satu. Tapi kukira masih lebih baik, daripada menjadi pesuruh orang karena tergila-gila pada paha mulus dan dada montok."
Ganti Tetua Xun Siaoma yang wajahnya berubah merah padam, dengan suara sedikit bergetar dia menjawab.
"Dengar..., Pan Jun bukan orang yang gila perempuan atau silap dengan kecantikan. Dia sungguh-sungguh mencintai wanita keparat itu!"
"Hah!!! Bukankah hal itu lebih memalukan lagi? Tergila-gila pada seorang pelacur yang akan mementangkan kedua pahanya asalkan mendapatkan keuntungan? Dan sekarang, ketua generasi Partai Hoasan yang selanjutnya adalah anak seorang pelacur. Ya... setidaknya dia seorang pelacur kelas tinggi. Entah ada berapa orang tokoh kelas atas dalam dunia persilatan yang sudah tidur dengan ibunya.", ejek Guang Yong Kwang sambil tertawa mengejek. Mendengar perkataan Guang Yong Kwang, kemarahan Xun Siaoma pun memuncak melewati batas kesabarannya, tangannya pun bergerak mencabut pedang yang ada di pinggang. Tidak kalah sebat Guang Yong Kwang pun sudah bergerak untuk mencabut pedangnya. Tapi dua orang yang lain juga merupakan tokoh dunia persilatan kelas atas, dengan tidak kalah cepat Bai Chungho dan Zhong Weixia melerai keduanya, menahan keduanya jangan sampai mencabut pedang yang ada di tangan.
"Hei hei... sabar dulu sobat, kita semua toh sama terlibat dalam hal ini. Apa pun alasannya, tidak ada untungnya jika kita bertengkar dengan sesama kawan.", ujar Bai Chungho menyabarkan Xun Siaoma. Tapi dengan keras Xun Siaoma menepiskan tangan Bai Chungho yang menahan dirinya, Xun Siaoma sudah tidak mencabut pedang, namun matanya menatap tajam ke arah tiga orang yang lain bergantian, sebelum berhenti pada Bai Chungho.
"Kau... kita boleh jadi sama-sama terlibat, tapi kalian bertiga, juga kau, tak sedikitpun kupandang sebagai sahabat. Tidak kusangka, Bai Chungho yang tersohor kepahlawanannya, menjual harga dirinya demi kekayaan.", ujar Xun Siaoma dengan keras. Ucapan Xun Siaoma itu pedas, tapi Bai Chungho tidak menjadi marah, dia terkekeh saja dan berkata.
"Hahaha, baiklah kau boleh tidak menganggap aku sahabat, di depan kita bertiga kaupun boleh saja memanggilku anjing asalkan bayarannya sesuai. Yang penting jangan sampai ucapanmu itu terdengar orang luar. Jika tidak, kujamin, ucapan Ketua Guang Yong Kwang barusan akan terdengar seantero dunia persilatan."
Xun Siaoma sudah siap menyahut ketika Zhong Weixia berdehem dan berkata.
"Sudahlah, cukup, apapun alasannya kita semua sudah terlibat. Tetua Xun Siaoma, kau boleh saja merasa diri paling benar, tapi ucapan mereka berdua tidak salah. Jika sampai tersebar luas apa yang dilakukan Ketua Pan Jun demi cintanya pada Nyonya Murong Yun Hua, habislah reputasi Hoasan. Demikian juga jika sampai tersebar tentang apa yang dilakukan oleh pihak Kunlun dan partai pengemis."
Berhenti sejenak agar apa yang dia ucapkan meresap, Zhong Weixia pun melanjutkan.
"Dan di antara kita berempat, kurasa hanya aku seorang yang tidak akan kehilangan nama bila alasan dari kita masing-masing bekerja demi Nyonya Murong Yun Hua dibongkar di depan semua orang."
Mendengar ucapan Zhong Weixia itu, ketiganya pun terdiam, meskipun masih menyimpan amarah dalam hati, tapi ancaman halus Zhong Weixia membuat mereka terdiam.
Reputasi dan nama besar, apalagi yang sudah dipupuk selama belasan generasi, memang sangat berharga bahkan mungkin lebih berharga dari nyawa mereka sendiri.
Yang jelas, lebih berharga dibandingkan nyawa puluhan anggota Partai Pedang Keadilan.
Lebih berharga dari kebenaran dan keadilan.
Dengan suara tertahan Xun Siaoma berkata.
"Jadi menurut Ketua Zhong, menghamba pada perempuan itu demi beberapa
Jilid kitab tidaklah memalukan?"
Zhong Weixia tersenyum mengejek dan berkata.
"Dalam pandanganku tidak memalukan. Berapa
Jilid kitab itu toh merupakan warisan yang hilang dari para pendiri Partai Kongtong.
Bukankah yang kulakukan adalah demi membalas budi pada partai yang membesarkanku?
Sebuah bentuk bakti pada pada pendiri yang telah meninggal?"
Xun Siaoma pun hanya mendengus tanpa bisa menjawab.
Aneh memang, bakti pada orang tua, bakti pada guru, seringkali menjadi alasan untuk melakukan apa pun juga atas nama bakti.
Di jaman tiga kerajaan, Cao Cao membumi hanguskan Xuzhou, membunuh puluhan ribu orang tak berdosa, termasuk anak-anak, perempuan, orang tua tidak satu pun disisakan, dengan alasan membalaskan dendam ayahnya.
Padahal bakti pada orang tua dan mereka yang sudah berjasa dalam hidup kita adalah sesuatu yang mulia.
Tapi entah dengan cara apa, manusia seringkali punya cara, untuk menyelewengkan sesuatu yang mulia menjadi sesuatu yang salah.
Cinta, sesuatu yang mulia, terkadang dijadikan alasan untuk melakukan perbuatan zinah.
Kecintaan pada negara, bisa diselewengkan menjadi kekejian dan kekejaman.
Keadilan pun diselewengkan menjadi pembalasan dendam, sementara kemurahan dan maaf diselewengkan justru dengan membebaskan yang bersalah dan melupakan keadilan.
Mungkin benar bahwa hati manusia tak ubahnya sebuah kaca atau cermin, jika hati itu kotor, maka segala apa yang melaluinya pun akan menjadi kotor.
Meski sebuah sinar yang jernih dan cemerlang pun, ketika ditangkap oleh hati yang kotor, maka kotor pula yang dikeluarkan.
Tidak salah jika seorang guru besar di jaman yang lalu pernah berkata, jika terang yang ada dalam diri ini menjadi gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Orang buta bagaimana bisa melihat dan menilai, Xun Siaoma pun hanya bisa mendengus tanpa bisa menyalahkan tindakan Zhong Weixia yang atas nama bakti pada partai dan guru, tanpa segan-segan mengorbankan nyawa orang-orang yang tak bersalah.
Apalagi sekarang dirinya sedang berjalan di atas jalan yang sama, demi masa depan Hoasan, dia melanggar hati nuraninya sendiri.
Ketua dari Partai Hoasan, sudah beberapa generasi diturunkan secara turun temurun dan keturunan Pan Jun adalah anak Murong Yun Hua yang di pandangan banyak orang saat ini adalah anak Ding Tao.
Tapi apakah hanya demi mempertahankan kebiasaan selama beberapa generasi Xun Siaoma mati-matian membela anak keturunan Pan Jun?
Berita ini sendiri adalah berita miring yang sempat terdengar puluhan tahun yang lalu sebeum tiba-tiba menghilang, berikut dengan menghilangnya nyawa mereka yang berani berkicau.
Isi berita itu, tidak lain mengenai siapa sesungguhnya ayah dari Pan Jun, benarkan ayahnya adalah Pan Tong, ataukah hasil kisah asmara terlarang dari Xun Siaoma dengan isteri Pan Tong.
Ya..
dalam hatinya Xun Siaoma sungguh sedang menyesali dan menangisi kesalahannya di masa muda.
Tidak salah jika ada ujar-ujar, siapa menanam angin akan menuai badai, siapa menanam kejahatan akan menuai kesengsaraan.
Sayang, bukannya belajar dari masa lalu, Xun Siaoma ternyata belum juga bisa melepaskan diri dari kegelapan hati.
Bukannya dengan rela menerima hukuman dari langit, dia justru terus memberontak dan membuahkan kejahatan yang lebih besar.
Padahal siapa yang bisa melawan aturan langit?
Hukum manusia boleh tak bermata, tapi hukum Sang Pencipta terus bekerja meskipun terkadang tak bisa terlihat langsung akibatnya.
Diamnya Xun Siaoma membuat senyum di wajah Zhong Weixia makin lebar.
Dalam persekutuan yang digalang Murong Yun Hua, dia merasa dirinya berada di atas angin.
Setiap rahasia buruk sudah ada di tangannya, betapa mudahnya bagi dirinya untuk menangguk keuntungan di saat Murong Yun Hua terpeleset nanti.
Yang penting sekarang adalah kesabaran dan Zhong Weixia punya batas kesabaran yang cukup tinggi.
Kenapa tidak?
Setiap kali dia tidak sabar atau kehilangan kendali, emosinya akan mereda setelah dia lampiaskan kekesalannya itu pada orang lain, jika orang itu adalah lawan dari Partai Kongtong bagus, jika tidak masih ada anak murid Partai Kongtong yang bisa dia hajar.
"Baik, kalau kita semua sudah paham dengan kedudukan masing-masing, baiklah kita lanjutkan pengejaran ini. Sudah ada banyak waktu terbuang sia-sia.", ujar Zhong Weixia sambil melihat ke arah tiga orang yang lain.
"Tunggu, adanya empat ekor kuda, kemungkinan besar pada akhirnya keempatnya akan berpisah arah.", ujar Bai Chungho untuk kedua kalinya.
"Lalu?", tanya Zhong Weixia sedikit tidak sabar. Tersenyum simpul Bai Chungho melanjutkan.
"Kita ada empat, dengan sendirinya akan dipaksa untuk membagi tugas, masing-masing ke arah yang berlainan. Di lain pihak, 8 dari 10 bagian aku yakin, mereka yang membantu Ding Tao melarikan diri ini tentu sudah sekongkol pula dengan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan."
"Itu artinya, siapapun yang mengejar kuda yang benar, harus berhadapan dengan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.", sambung Xun Siaoma dengan senyum simpul, hatinya merasakan sedikit kenikmatan melihat ada orang yang berpikir lebih cermat dari Zhong Weixia. Senyum di wajah Zhong Weixia pun menghilang, dia benci sekali, harus mengakui ada orang lain yang berpikir lebih panjang dari dirinya.
"Hmm..."
Zhong Weixia berpikir sejenak, melihat ke arah tiga orang yang lain, akhirnya sambil mendengus kesal dia mengakui kebenaran perkataan Bai Chungho.
"Hahh!!! Ya sudahlah, kita kembali saja, hentikan saja pengejaran ini!"
"Tidak... tunggu dulu, bukan begitu maksudku...", ujar Bai Chungho dengan mata berkilat tajam.
"Baik... lalu apa maksudmu?", tanya Zhong Weixia dengan geraham mengatup erat.
"Kuda boleh ada empat, tapi Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen hanyalah dua orang.", ujar Bai Chungho dengan nada penuh kemenangan. Ya, kuda yang dikejar boleh jadi ada empat, tapi momok yang sebenarnya, yang menjadi penghalang utama hanya ada dua.
"Kita ikuti saja mereka berdua, kalaupun mereka kemudian berpencar, entah nantinya berkumpul kembali atau tetap berpisah untuk mengaburkan jejak. Pada akhirnya kita akan menemui mereka, dua lawan satu. Boleh saja Ding Tao lepas, tapi saat ini mereka berdua adalah penghalang yang lebih besar dari Ding Tao.", lanjut Bai Chungho.
"Benar... Ding Tao sudah terkena pengaruh Obat Dewa Pengetahuan, jika dia tidak meminum obat itu dalam waktu beberapa bulan dia akan jadi manusia lumpuh tak berguna.", sambung Guang Yong Kwang.
"Jadi... maksudmu, kita gunakan kesempatan ini untuk menyingkirkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan?", tanya Zhong Weixia hati-hati. Senyum kejam terbentuk di wajah Bai Chungho dan dengan suara dingin dia menjwab.
"Ya..."
Tiga orang yang lain pun memandang Bai Chungho dengan berbagai perasaan berkecamuk dalam hati.
Ternyata di antara mereka berempat, Bai Chungho-lah yang paling licik dan kejam.
Xun Siaoma pun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa selama ini dia tertipu oleh penampilan Bai Chungho yang bersandiwara sebagai tokoh tua dengan watak terbuka dan bersahabat itu.
Sementara Zhong Weixia mengakui kecerdikan Bai Chungho, di saat yang sama dia menandai Bai Chungho sebagai tokoh yang berbahaya, dalam hati Zhong Weixia sudah mengambil keputusan, jika tiba saatnya dia hendak menumbangkan Murong Yun Hua, Bai Chungho adalah orang pertama yang dia singkirkan.
Guang Yong Kwang berbeda lagi, dalam hatinya dia mengakui kedudukannya adalah yang paling lemah di antara yang lain dan dia mulai berharap bisa menjadikan Bai Chungho sekutu untuk bekerja sama mengimbangi Zhong Weixia yang kedudukannya lebih kuat.
"Baiklah, kita lakukan", ujar Zhong Weixia dengan perasaan pahit, karena meskipun dia berlaku sebagai pemimpin di antara mereka berempat, saat ini dia terpaksa harus menerima pendapat Bai Chungho. Dengan perkataan itu pun mereka ber-empat bergegas mengikuti jejak Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang sudah terlebih dahulu bergerak. Empat orang yang bekerja sama, namun dalam hati menyimpan permusuhan satu dengan yang lain dan masing-masing memiliki pamrih yang berbeda. Zhong Weixia menghibur diri, dengan mengingatkan dirinya bahwa rahasia busuk tiga orang yang lain ada padanya. Sementara tiga orang yang lain, terutama Bai Chungho, menghibur diri dengan mengingat, betapa Zhong Weixia sudah dibuat malu oleh Bai Chungho, ketika Bai Chungho berhasil menunjukkan bahwa akalnya lebih panjang dari Zhong Weixia. Empat orang itu bukan tokoh sembarangan, dengan pengalaman dan pemikiran yang sudah matang. Buruan yang mereka kejar selalu mereka dapatkan. Cepat atau lambat, jejak Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun akan mereka dapatkan tapi baik Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pun sudah memperhitungkan hal ini, yang terpenting Ding Tao dan mereka yang berusaha menolongnya sudah menang waktu. Di saat Zhong Weixia dan yang lain sedang mencari jejak mereka, Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan, Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya sudah berkumpul.
"Di mana dia? Bagaimana keadaannya?", tanya Bhiksu Khongzhen ketika akhirnya dia dan Pendeta Chongxan sampai di tempat persembunyian sementara yang sudah mereka siapkan.
"Dia masih belum sadar tapi kurasa itu lebih karena batinnya yang tidak tahan menerima guncangan hari ini bukan keadaan fisiknya sendiri yang bermasalah.", ujar Zhu Yanyan sambil mengantar dua orang tokoh tua itu menengok Ding Tao. Melangkah masuk ke sebuah kamar yang kecil dengan penerangan seadanya, mereka berdua melihat Wang Shu Lin yang dengan khawatir menunggui Ding Tao yang tidak sadarkan diri. Pendeta Chongxan pun mendekat dan meraba nadi di pergelangan tangan Ding Tao sementara yang lain memperhatikan.
"Ketua... Pendeta Chongxan, apakah dia baik-baik saja?", tanya Wang Shu Lin dengan khawatir, meskipun sudah mendapatkan penjelasan dari gurunya, hatinya masih khawatir. Pendeta Chongxan pun menatap lembut gadis itu, bisa dilihatnya betapa gadis itu mengkhawatirkan Ding Tao, tersenyum lembut dia menjawab.
"Tidak apa, tidak ada luka yang berbahaya, baik di dalam maupun di luar. Hanya tekanan batin yang terlampau kuat membuat dia tidak sadar, mungkin itu yang terbaik. Untuk sementara ini kita biarkan dia saja sampai dia sadar sendiri, kukira tidak perlu menunggu lama tentu dia akan sadar kembali."
Bhiksu Khongzhen mengangguk setuju dan melanjutkan.
"Sembari menunggu Ketua Ding Tao sadar ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan dengan kalian."
Setelah berkata demikian Bhiksu Khongzhen berjalan ke ruangan tengah diikuti Pendeta Chongxan, enam orang guru Wang Shu Lin pun menyusul.
Wang Shu Lin yang masih merasa sedikit khawatir pada keadaan Ding Tao, sempat meragu.
Namun Shu Sun Er yang memahami perasaan Wang Shu Lin menepuk pundak gadis itu.
"Ayolah..., tidak akan terjadi apa-apa padanya.", ujar Shu Sun Er. Wang Shu Lin memandang gurunya itu beberapa saat, ketika terpandang wajah gurunya yang tenang, hatinya pun ikut merasa lebih tenang.
"Baiklah..."
Ketika Wang Shu Lin sampai di ruangan tengah, ke-enam gurunya sedang mendengarkan pesan-pesan dari Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen.
"Jadi kalian lihat, saat ini ada dua kemungkinan, jika kesetiaan yang ditunjukkan oleh pengikut-pengikut Ketua Ding Tao mampu menggerakkan hati banyak orang, maka selain beberapa orang penting di bawah Murong Yun Hua tidak akan ada yang mengejar Ketua Ding Tao. Jika demikian maka di depan para pengejar ini, kepada siapa kami berpihak tentu sudah sangat jelas."
"Jika mereka masih nekad mengejar, itu artinya mereka merasa punya kesempatan untuk mengalahkan kami berdua.", ujar Bhiksu Khongzhen.
"Tapi jika ada banyak orang dunia persilatan yang ikut mengejar, kukira kami berdua masih punya kesempatan untuk mempengaruhi mereka. Bagaimana pun juga dunia persilatan dibangun atas nilai-nilai kehormatan dan kesetiaan, mengingkari hal itu, sama juga mencari mati buat diri sendiri. Setiap kepala geng, ketua partai atau kepala dari sebuah perguruan tidak akan berbuat sesuatu yang bisa membuat orang-orang di bawah mereka mengecilkan nilai-nilai kesetiaan.", ujar Pendeta Chongxan menimpali.
"Jika demikian ketua, kenapa kami tidak ketua ijinkan untuk ikut bersiap menghadang pengejar yang mungkin tiba? Masih ada Wang Shu Lin yang bisa membawa Ketua Ding Tao pergi.", ujar Zhu Yanyan dengan serius.
"Hmm... bisa dikatakan pada saat ini, kekuatan kita jauh berada di bawah lawan dan kami berdua tidak ingin membuat kekuatan di pihak kita berkurang lebih jauh lagi.", jawab Pendeta Chongxan.
"Lagipula... jika benar mereka datang dalam jumlah tak terlalu banyak..., bagaimana pun juga kami berdua masih belum bisa melepaskan sedikit ego kami. Setidaknya masih ada harga diri kami sebagai seorang pesilat, kami tidak ingin mendapatkan bantuan orang untuk menghadapi mereka.", ucap Bhiksu Khongzhen sambil tersenyum kecil.
"Tapi kakak..."
Khongti yang tidak rela melihat bahaya mengancam kakak seperguruannya hendak membantah.
"Tidak... jangan katakan apapun, pikirkan juga, apa yang akan terjadi jika ternyata mereka membawa pengikut mereka untuk ikut mengejar. Apa artinya tambahan 6 orang lagi, kecuali mengantarkan nyawa sia-sia? Juga bagaimana jika kita kalah dalam pertarungan itu? Bukankah itu artinya, kita dari generasi tua, meninggalkan dua orang anak muda untuk menolong diri mereka sendiri?", potong Bhiksu Khongzhen sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika demikian, kenapa kakak tidak ikut menghindar dari pertarungan ini? Bukankah lebih baik jika kakak dan Ketua pendeta Chongxan menghindar dari mereka?", tanya Khongti tidak puas dengan keputusan mereka berdua.
"Tidak... tidak..., kita harus memperhitungkan setiap kemungkinan, jika kami menghindar dari pertarungan, bagaimana jika mereka berhasil menyusul kalian? Selain itu seperti yang dikatakan Saudara Khongzhen, kami masih memiliki harga diri sebagai seorang pesilat, masakan kami hendak melarikan diri dari kumpulan orang macam mereka?", kali ini Pendeta Chongxan yang menjawab.
"Hmm... apakah kau meragukan kemampuan kami?", tanya Bhiksu Khongzhen pada Khongti.
"Ah, kakak bilang... tidak berani..., tidak berani... , tapi lawan adalah orang yang licik.", ujar Khongti terbata-bata.
"Heh... apa kau kira kami sampai pada kedudukan kami sekarang hanya mengandalkan otot saja? Dari dulu pun orang-orang licik selalu ada, bahkan ada yang berpendapat siasat adalah bagian dari ilmu silat. Jadi ini bukan yang pertama kalinya kami berhadapan dengan lawan yang licik.", jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa pelan. Khongti sudah membuka mulutnya untuk ke-sekian kalinya ketika Zhu Yanyan menepuk pundaknya dan berkata.
"Adik Khongti sudahlah, kukira ketua berdua sudah memutuskan hal ini sejak awal."
Khongti melihat ke arah Zhu Yanyan hendak membantah, tapi ketika dia melihat wajah Zhu Yanyan yang bersedih dia tak sanggup berkata-kata.
Akhirnya Khongti hanya bisa m enundukkan kepala dan mendesah sedih.
Melihat kesedihan yang tidak bisa diungkapkan di wajah Khongti, hati Bhiksu Khongzhen pun tergerak, dengan suara parau dia berkata.
"Sudahlah, kami berdua sudah semakin tua, kalaupun bukan mati dalam sebuah pertarungan, kami akan mati oleh karena usia. Apakah ada bedanya?"
"Hahh... yang dikatakan Saudara Khongzhen benar, usia kami sudah terlalu tua dan beberapa tahun ke depan, tokoh-tokoh seperti Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang akan melampaui kami yang mulai dimakan usia. Memikirkan bahwa orang-orang seperti mereka akan berada di bawah arahan seseorang seperti Murong Yun Hua membuat kami ngeri.", ujar Bhiksu Khongzhen melanjutkan.
"Pada saat itu..., maka harapan kami ada pada generasi muda yang cemerlang, seperti murid kalian Nona Wang Shu Lin dan Ketua Ding Tao. Oleh karena itu, kami bersedia mempertaruhkan nyawa kami untuk menyelamatkan nyawa Ketua Ding Tao.", ujar Bhiksu Khongzhen menutup penjelasannya. Pendeta Chongxan tersenyum lembut memandangi wajah-wajah sedih di sekelilingnya dan menyambung.
"Tidak ada alasan untuk bersedih, segala sesuatunya memang berjalan alami, yang tua digantikan yang muda. Tidak ada kehidupan tanpa akhir. Satu generasi mati digantikan generasi baru, itu sudah merupakan sesuatu yang wajar."
Wang Shu Lin dan ke-enam orang gurunya pun terdiam, terharu merenungi keputusan dua orang tokoh tua itu.
"Sudahlah, ada hal yang ingin kami sampaikan pada kalian, harap kalian dengarkan baik-baik.", ujar Bhiksu Khongzhen setelah terdiam beberapa saat.
"Pada saat kami berpura-pura menyerang Ketua Ding Tao untuk membantu dia kabur, sebenarnya kami menggunakan ilmu simpanan kami yang merupakan inti dari berbagai ilmu yang ada di Shaolin dan Wudang. Kami sadar kemungkinan besar peristiwa yang terjadi akan sampai pula pada titik ini dan nyawa kami mungkin sulit dipertahankan melampaui malam ini. Sayang apa yang sudah kami capai ini, tak dapat kami wariskan pada generasi Shaolin dan Wudang yang ada pada saat ini.", lanjut Bhiksu Khongzhen.
"Kami berharap Ketua Ding Tao dapat kami titipi inti sari dari ilmu Shaolin dan Wudang yang sudah kami pahami ini, untuk disampaikan pada generasi muda anak murid Shaolin dan Wudang nanti. Ada beberapa anak murid Shaolin dan Wudang yang berbakat dan kami yakin akan mampu memahaminya, hanya sayang, saat ini mereka masih belum cukup matang untuk memahaminya, sementara waktu kami semakin singkat saja.", ujar Bhiksu Khongzhen.
"Zhu Yanyan, Khongti, kau mengerti apa artinya ini? Lindungilah nyawa Ketua Ding Tao, karena di atas pundaknya telah kami titipkan pula masa depan Shaolin dan Wudang.", ujar Pendeta Chongxan pada Zhu Yanyan.
"Karena itu jangan kalian berpikir untuk mengikuti kami mempertaruhkan nyawa, tugas kalian adalah memastikan Ketua Ding Tao selamat. Bukan hanya sekedar selamat karena dari tuduhan-tuduhan yang disampaikan padanya hari ini, kurasa selama ini tentu dia mengkonsumsi pula Obat Dewa Pengetahuan yang dalam beberapa hari ke depan akan mulai menunjukkan efek buruknya. Jika hal itu benar, maka kalian juga harus mencarikan jalan untuk menyembuhkan dia.", sambung Bhiksu Khongzhen.
"Kakak, apa maksud kakak tentang Obat Dewa Pengetahuan?", tanya Khongti tak mengerti. Maka Bhiksu Khongzhen pun menjelaskan sedikit banyak yang bisa dia tangkap dari tuduhan-tuduhan Murong Yun Hua pada Ding Tao tentang penggunaan Obat Dewa Pengetahuan.
"Sungguh kami baru mengetahuinya pada saat itu, jika tidak, mungkin kami akan memikirkan cara lain untuk mewariskan apa yang berhasil kami sarikan dari kumpulan ilmu warisan Shaolin dan Wudang..."
"Tidak... kukira tidak ada cara lain yang lebih tepat, menuliskannya dalam sebuah kitab tidak ada gunanya. Dalam bentuk tulisan, kitab-kitab yang sudah ada sudah menyampaikannya dengan cara yang terbaik dan teratur. Yang tidak bisa disampaikan dalam bentuk tulisan, yang hanya bisa disampaikan secara langsung, disesuaikan dengan sifat, pengalaman dan pemahaman pendengarnya.", ujar Pendeta Chongxan sambil tersenyum. Bhiksu Khongzhen memandang sekilas pada sahabatnya itu kemudian menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Yah... kau benar... memang tiap-tiap kejadian menyebabkan keputusan itu diambil. Hehh... sudah kehendak langit..."
"Kakak, ada muridku Wang Shu Lin di sini, otaknya pun cukup cerdas, mengapa tidak kakak sampaikan pula pada dia?", tanya Khongti. Bhiksu Khongzhen menggelengkan kepala perlahan.
"Muridmu memang memiliki bakat yang sangat bagus. Sayangnya dasarnya kurang kuat, kami sudah melihat keduanya bertarung di kaki Gunung Songshan dan dari apa yang kami lihat itu kami bisa mengira-ngira sejauh mana mereka berdua sudah berjalan. Itu sebabnya kami merasa Ketua Ding Tao merupakan orang yang tepat untuk kami titipi warisan ini."
"Tapi jika benar dia mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan, bukankah itu artinya hasil yang dia capai adalah berkat bantuan obat itu. Sekarang dengan tidak adanya obat, bukan saja kemampuannya akan menurun tapi malah ada efek buruk dari kebiasaan mengkonsumsi obat itu.", keluh Khongti tidak puas.
"Tidak juga, jika benar dia menerima obat itu dari Murong Yun Hua, itu artinya sebelum dia mendapatkan bantuan dari obat itu, dia sudah bisa mengembangkan ilmunya hingga dia bisa menandingi Sepasang Iblis Muka Giok hanya bermodalkan ilmu pedang keluarga Huang yang diajarkan pada anggota luar. Menilik ini saja sudah bisa dikatakan bakatnya memang luar biasa.", ujar Pendeta Chongxan membela Ding Tao.
"Lalu bagaimana sekarang dengan keadaannya setelah mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan?", tanya Zhu Yanyan.
"Itulah yang menjadi salah satu dari tugas kalian.", ujar Pendeta Chongxan sambil tertawa kecil.
"Tetua ... aku berjanji akan melindungi dia dan berusaha menyembuhkan dia dari pengaruh buruk Obat Dewa Pengetahuan.", sela Wang Shu Lin sebelum Zhu Yanyan atau Khongti sempat menyahut.
"Anak baik... anak baik..., baiklah kutitipkan masa depan Wudang padamu", ujar Pendeta Chongxan sambil tersenyum.
"Hanya saja, tidak enak juga meninggalkan dunia ini dengan berhutang, supaya hatiku tidak ada ganjalan, terimalah se
Jilid kitab ini. Hitung-hitung kau masih termasuk anak keturunan dari Perguruan Wudang.", ujar Pendeta Chongxan sambil mengeluarkan se
Jilid kitab tipis dari kantung bajunya.
"Ah tidak-tidak... tetua mengapa berkata demikian, sebaiknya jangan, jika saya terima kitab ini, kesannya saya menerimanya dengan satu pamrih di hati", ujar Wang Shu Lin dengan tulus, berusaha menolak pemberian Pendeta Chongxan. Bhiksu Khongzhen tertawa mendengar penolakan Wang Shu Lin.
"Hahahaha, Adik Khongti, sungguh kau sudah memilih murid yang baik. Anak Shu Lin, janganlah merasa demikian, sebenarnya kami berdua sudah memutuskan untuk memberikan sesuatu padamu. Kami merasa sayang padamu, kau adalah murid dari adik seperguruan kami, dengan sendirinya masih ada hubungan dengan Shaolin dan Wudang. Terimalah kitab itu dan ini dariku."
Wang Shu Lin pun merasa terharu pada kebaikan mereka berdua, sementara ke-enam gurunya melihat dengan hati senang.
Dengan hormat Wang Shu Lin menerima kitab yang diangsurkan oleh Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen.
"Terima kasih banyak, terima kasih... aku akan mempelajarinya baik-baik, aku berjanji tidak akan menggunakannya di jalan yang salah.", ucap gadis itu sambil menerima kedua kitab yang dihadiahkan padanya.
"Kitab yang kuberikan adalah ilmu pedang ciptaanku sendiri, meskipun berdasarkan ilmu dari peguruan Wudang, tapi juga tidak bisa dikatakan sebagai warisan Wudang, karena aku sudah memutuskan untuk mewariskannya padamu seorang.", ujar Pendeta Chongxan.
"Sedangkan kitab yang kuberikan padamu, kitab itu bukan berasal dari Shaolin. Kitab itu kudapatkan dalam pengembaraanku di masa muda. Sifatnya lembut, lebih sesuai untuk seorang gadis, kau boleh menggunakannya dengan bebas.", ujar Bhiksu Khongzhen. Sekali lagi Wang Shu Lin mengucapkan terima kasih, demikian pula ke-enam gurunya ikut pula mengungkapkan perasaan terima kasih mereka pada kedua tokoh tua yang murah hati itu. Saat perpisahan pun akhirnya tiba, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan tidak ingin terlalu lama berada di sana. Mereka berdua tidak ingin para pengejar Ding Tao sampai terlalu dekat dengan tempat persembunyian sementara mereka. Mereka pun menyarankan agar Wang Shu Lin dan enam orang gurunya, sesegera mungkin membawa Ding Tao pergi ke desa Hotu, segera setelah Ding Tao sadar. Dengan wajah murung Wang Shu Lin dan ke-enam orang gurunya mengantarkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan pergi, hati mereka terasa berat, membayangkan kedua orang tokoh tua itu akan berhadapan dengan lawan-lawan tangguh di usia mereka yang sudah lanjut. Apalagi keduanya seperti bersiap hendak meninggalkan dunia ini, dengan pesan-pesan juga warisan yang mereka berikan pada generasi muda. Seperti sebuah pertanda buruk sebelum berangkat berperang. Melihat wajah muram mereka, Bhiksu Khongzhen tertawa lepas.
"Sudahlah, segala sesuatunya belum ada kepastian, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi."
Dengan perkataan itu, mereka pun berpamitan dan meninggalkan tempat itu.
Perhitungan mereka berdua jarang meleset, jika sekarang ini mereka pun seperti mendapat firasat akan akhir hidup mereka, kemungkinan besar keberangkatan mereka ini benar-benar menyongsong maut.
Namun meski maut membayang di depan mata, keduanya berjalan dengan tenang, dengan hati bersih seperti air di danau yang tenang.
Bisa hidup sesuai dengan nurani, matipun tidak ada yang disesali, keduanya , menghadapi kematian seperti sepasang sahabat yang hendak pergi makan siang, semuanya diterima sebagai satu kewajaran.
Kematian memang tidak terelakkan, tidak satu pun di antara kita mampu lari dari kematian, tapi betapa susah untuk menerimanya sebagai satu kewajaran.
Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya berdiri di pelataran memandangi punggung kedua orang itu sampai dua sosok tua itu menghilang dalam kegelapan malam.
Satu per satu kemudian kembali memasuki rumah tempat mereka bersembunyi menanti Ding Tao sadar dari pingsannya.
Khongti dan Zhu Yanyan adalah yang terakhir masuk ke dalam rumah.
Sementara yang pertama kali dilakukan Wang Shu Lin setelah memasuki rumah, adalah pergi untuk melihat keadaan Ding Tao.
Ketika dia memasuki kamar, dilihatnya Ding Tao sedang duduk termenung, tidak menyadari kehadirannya sama sekali.
Samar-samar terdengar dia bergumam.
"Ma Songquan, Chu Linhe, Chou Liang, Liu Chuncao, Chen Wuxi, Wang Xiaho, Fu Tong, ..."
Demikian Ding Tao menyebutkan satu per satu, nama pengikutnya yang hari itu berhadapan dengan kematian. Hati Wang Shu Lin ikut terasa pedih melihat keadaan Ding Tao. Diam-diam dia keluar dari kamar.
"Guru, dia sudah sadar", ucapnya pada ke-enam orang gurunya.
"Benarkah? Bagus..., dengar aku sudah berpikir, sebaiknya tiga orang dari kita kembali ke Jiang Ling diam-diam. Mendengarkan berita-berita, yang lainnya bersama Wang Shu Lin akan mengawal Ketua Ding Tao ke Desa Hotu. Bagaimana menurut kalian?", kata Zhu Yanyan menengok pada lima orang yang lain.
"Aku setuju, biar aku ikut dengan kakak menyerap berita di Jiang Ling.", ujar Khongti dengan cepat. Empat orang yang lain saling pandang dalam hati segera mengerti, dua orang ini tentu merasa khawatir dengan keadaan kakak seperguruan mereka, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Membuat dua orang tokoh tua itu membatalkan niat mereka juga tidak mungkin, karena keduanya punya alasan yang cukup kuat. Melanggar pesan keduanya untuk tidak membantu juga tidak berani, sehingga akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah menanti berita tentang nasib mereka berdua. Juga jika dipikir lebih jauh, memang ada pentingnya memasang telinga, dengan demikian dalam pelarian nanti mereka bisa punya pegangan akan keadaan terakhir di Kota Jiang Ling. Maklum penyebaran berita tidaklah sepesat di jaman sekarang, kecuali jika memang ada orang-orang yang bertugas untuk itu.
"Kalau begitu biar aku yang menemani kakak berdua", ujar Chen Taijiang. Yang lain pun segera mengangguk setuju, karena setelah Zhu Yanyan, maka yang paling penyabar di antara mereka adalah Chen Taijiang, harapannya tentu saja jika ada berita yang tidak mengenakkan hati dan membangkitkan emosi, Chen Taijiang bisa meredamnya. Sementara Hu Ban yang panjang akal akan lebih dibutuhkan bagi mereka yang bergerak membawa Ding Tao. Zhu Yanyan dan Khongti sendiri tampaknya puas dengan pembagian yang dilakukan.
"Baiklah, kalau begitu, sebaiknya kalian mulai bergerak sekarang. Sementara aku, Adik Khongti dan Adik Chen Taijiang akan bergerak mendekati dini hari nanti, sehingga kami akan masuk kota bersamaan dengan orang-orang yang lain.", ujar Zhu Yanyan memberi keputusan.
"Wang Shu Lin, mari kita tengok keadaan Ketua Ding Tao lebih dulu, sementara yang lain bersiap.", ujar Hu Ban sembari bangkit dan menggamit tangan Wang Shu Lin.
"Aku ikut", ujar Shu Sun Er.
"Baiklah kalian pergi menengok dia, sementara aku akan mempersiapkan keberangkatan kita.", ujar Pang Boxi bangkit berdiri.
"Ayolah, akan kami bantu juga, toh masih lama sebelum kami berangkat", ujar Khongti diikuti oleh Zhu Yanyan dan Chen Taijiang. Sekilas ada kepahitan memancar dari mata Zhu Yanyan dan Khongti ketika menyebutkan nama Ding Tao. Dalam hati tidak rela, mengapa kakak seperguruan yang begitu mereka sanjung dan hormati, harus mempertaruhkan nyawa untuk Ding Tao yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka. Sungguhpun sebagai orang yang sudah berumur dan dibesarkan dalam lingkungan yang mendidik mereka keras dalam hal keagamaan, toh masih ada bagian dari diri mereka yang belum bisa menerima. Zhu Yanyan pun menghela nafas saat mengingat keikhlasan yang terpancar dari wajah Pendeta Chongxan dan mengeluh pendek saat mengingat betapa dirinya masih sulit menerima sedangkan orang yang menjalaninya sendiri sudah meng-ikhlas-kan. Sambil melangkah dan bekerja, menyiapkan segala sesuatunya, baik Zhu Yanyan dan Khongti terus menerus mengingatkan diri sendiri, berusaha mengikis kepahitan yang mereka rasakan pada Ding Tao. Kalaupun mereka belum bisa sampai pada keikhlasan yang ditunjukkan oleh kakak seperguruan mereka, setidaknya mereka sudah berada di jalan yang sama. Di dalam kamar Ding Tao terlihat pemandangan yang berbeda. Ding Tao yang mulai menyadari keadaan dirinya dan sekitarnya, melompat bangkit dan berdiri dengan sikap menantang ketika Wang Shu Lin, Hu Ban dan Shu Sun Er masuk ke dalam kamar itu.
"Siapa kalian!?", tanya Ding Tao dengan nada suara bermusuhan.
"Tenang Ding Tao... ini aku... Wang Shu Lin.", ujar Wang Shu Lin dengan sedih dan cemas.
"Wang Shu Lin?", jawab Ding Tao dengan nada bertanya, jelas pikirannya belum sepenuhnya bekerja dengan mapan.
"Wang Shu Lin..., Ximen Lisi, kita bertemu pertama kali di kaki Gunung Songshan...", jawab Wang Shu Lin sedih melihat Ding Tao melupakan dirinya.
"Wang Shu Lin... Ximen Lisi... oh... Nona Wang Shu Lin...", suara Ding Tao pun berubah melembut, ketika ingatannya akan Wang Shu Lin mulai kembali. Tapi hanya sebentar saja karena rasa simpati yang dulunya dikaitkan dengan diri Wang Shu Lin sebagai seorang nona muda yang cantik, gagah dan menarik hati, sekarang berubah menjadi rasa curiga. Ya, menjadi curiga, karena sekarang seorang wanita yang cantik dan menarik hati sudah memiliki arti baru dalam benak Ding Tao. Sejak pengkhianatan Murong Yun Hua, wanita cantik dan memikat hati sekarang sama dengan seorang pengkhianat, sama dengan udang di balik batu, sama dengan tidak bisa dipercaya dan sederetan keburukan yang lain. Wajahnya yang sempat melembut pun berubah menjadi dingin. Dengan sopan namun dingin dia bertanya.
"Nona Wang Shu Lin..., rupanya nona dan rekan-rekan nona yang menolong diriku. Aku ucapkan terima kasih pada kalian. Sekarang apa rencana kalian selanjutnya? Kukira kalian tentunya sudah memikirkan sesuatu."
Serasa diiris-iris dengan sembilu perasaan Wang Shu Lin mendengar cara Ding Tao menjawab, demikian dingin dan pertanyaan yang terakhir seperti bermakna dua.
Antara menanyakan rencana mereka untuk menyelamatkan Ding Tao namun dibaliknya, yang tidak terkatakan adalah, apa mau kalian dariku?
Bukan hanya Wang Shu Lin yang tertusuk hatinya, kedua orang gurunya juga ikut tersentuh dan mereka bisa merasa amarah mulai muncul dalam hati mereka.
Baiknya keduanya merupakan tokoh-tokoh tua yang sudah matang pribadinya, dengan pengendalian diri yang sempurna mereka menekan amarah hendak muncul dalam hati mereka itu.
"Ketua Ding Tao baru saja mengalami satu peristiwa yang sangat menyakitkan, kami mengerti jika Ketua Ding Tao merasa curiga terhadap kami pula, meski kami adalah orang-orang yang menolong Ketua Ding Tao lepas dari bahaya.", ujar Hu Ban dengan tenang, dengan ucapannya itu selain menegur Ding Tao secara halus, juga ingin mengingatkan dan menghibur Wang Shu Lin muridnya. Wang Shu Lin pun mengerti maksud gurunya, dengan senyum sedikit dipaksakan dia tersenyum pada Hu Ban lalu mengenalkan mereka pada Ding Tao.
"Ding Tao..., mereka ini adalah guru-guruku. Beliau ini adalah Guru Hu Ban dari Hoashan dan ini Guru Shu Sun Er dari Enmei."
Wajah Ding Tao sedikit memerah mendengar sindiran halus Hu Ban, meski demikian kecurigaan dalam hatinya tidak hilang begitu saja, tapi tetap saja dia kemudian membungkuk hormat dan nada suaranya berubah jauh lebih ramah.
"Tetua, rupanya tetua berdua adalah guru dari Nona Wang Shu Lin. Maafkan kecurigaanku... yang mungkin tidak pada tempatnya..."
"Tidak apa-apa... kami bisa membayangkan perasaan Ketua Ding Tao saat ini. Hanya saja kami harap, Ketua Ding Tao masih menyediakan tempat untuk mempercayai orang lain. Memang hari ini Ketua Ding Tao dihadapkan pada pengkhianatan yang sangat mengejutkan dan menyakitkan hati, tapi bukankah di saat yang sama Ketua Ding Tao juga melihat kesetiaan dan persahabatan yang diberikan orang pada ketua, meski harganya adalah kematian?", ujar Hu Ban dengan lembut. Wang Shu Lin memandang wajah Ding Tao dengan cemas dan tak habis pikir, mengapa gurunya justru mengingatkan kembali Ding Tao pada kenangan buruk itu. Benar saja wajah Ding Tao tampak menggerenyit menahan nyeri di dada, mengenangkan kematian puluhan orang yang merelakan nyawanya bagi keselamatannya.
"Ketua Ding Tao, mungkin sakit mendengarkan ucapanku barusan. Namun aku tetap harus menyampaikannya, jika tidak bukankah sama saja aku membiarkan Ketua Ding Tao melupakan kesetiaan mereka? Membiarkan mata Ketua Ding Tao tertutup dari satu sisi yang indah dari kehidupan ini dan hanya melihat pada sisi buruknya saja.", lanjut Hu Ban kemudian.
"Bukan berarti aku menyarankan Ketua Ding Tao untuk melupakan pengkhianatan yang terjadi dan hanya melihat pada kesetiaan yang ditunjukkan oleh puluhan pengikut Ketua Ding Tao. Jika demikian maka peristiwa ini pun akan berlalu tanpa memberikan sumbangan kebaikan, yang kuharapkan dari Ketua Ding Tao adalah membuka mata pada kedua kenyataan itu secara berimbang. Memang ada pengkhianatan ada penipuan, tapi juga ada ketulusan dan kesetiaan."
Ding Tao pun termenung mendengarkan uraian Hu Ban, inilah salah satu sifat baik dari Ding Tao.
Berkat gemblengan orang tuanya semasa dia kecil, telinganya terbuka pada nasihat orang lain, terutama mereka yang lebih tua dari dirinya.
Terkadang saat kita sakit, kita sulit mendengar nasihat orang.
Orang yang datang dengan nasihat, tidak jarang kita tanggapi dengan amarah.
Biasanya kita akan berkata, memang mudah untuk bicara tapi siapa yang bisa melakukan?
Padahal bukankah lebih baik jika nasihat yang diberikan kita dengar dan renungkan lebih dahulu?
Penghalang terbesar, biasanya adalah kesombongan dan ego, merasa diri lebih baik dari orang lain, sehingga sulit menerima nasihat dari orang lain.
Ini yang tidak ada dalam diri Ding Tao, pemuda yang rendah hati, sehingga dengan mudah menempatkan diri sebagai orang yang kurang tahu, sebagai orang yang perlu diajar.
Pada hati yang demikian, sebuah nasihat mendapatkan tempat yang baik untuk bertumbuh.
Bahayanya jika tidak diiringi kebijakan dalam menyaring nasihat orang, bisa jadi dia akan menjadi pribadi yang terombang-ambing.
Baiknya Ding Tao adalah seorang yang jujur pada nuraninya sendiri, inilah pegangannya yang terakhir.
"Jadi, jangan mudah percaya, selalu waspada, tapi di saat yang sama juga jangan menghakimi seseorang bila belum memiliki bukti yang kuat.", kata Hu Ban mengakhiri nasihatnya. Selesai mendengarkan nasihat Hu Ban, Ding Tao pun menghela nafas.
"Aku mengerti... aku mengerti... terima kasih untuk nasihat tetua..., tapi entah... apakah aku bisa melakukannya dalam kehidupan sehari-hari."
Hu Ban tersenyum senang, hatinya mulai merasa simpati pada Ding Tao.
"Kita semua berusaha melakukan yang terbaik, adapun keadaan kita yang sering lupa, itulah perjuangan kita, di mana kita selalu berusaha menengok ke dalam diri, adakah kita sudah menyerong dari jalan yang benar, masih adakah yang perlu diperbaiki dan demikian seterusnya, sampai ajal menjelang."
Setelah hatinya merasa tenang barulah Ding Tao bisa berpikir dengan lebih jernih, hatinya masih pedih jika mengingat kematian Ma Songquan dan yang lainnya, namun setidaknya dia mulai bisa berpikir.
Maka teringatlah dia, ketika dia baru sadar, sepertinya ada suara yang dia kenal sedang bercakap-cakap di ruangan yang lain.
"Tetua..., kalau tidak salah, tadi aku mendengar suara tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Benarkah mereka ada juga di sini?", tanya Ding Tao pada kedua guru Wang Shu Lin itu. Shu Sun Er sekilas memandang Hu Ban, Hu Ban pun tidak segera menjawab, membuat jantung Ding Tao berdebar.
"Ada apa? Mengapa diam? Benarkah kedua tetua sempat datang ke mari, jika benar ke mana mereka pergi sekarang?", tanya Ding Tao dengan perasaan tak enak. Sebelum Hu Ban sempat menjawab, Zhu Yanyan dan yang lain sudah selesai menyiapkan segala sesuatunya dan sekarang mereka sudah berkumpul di tempat itu. Mendengar pertanyaan Ding Tao, baik Zhu Yanyan dan Khongti merasa nyeri dalam dada, namun di luar mereka tetap tenang.
"Bagus kalau Ketua Ding Tao sudah sadar. Kedua ketua memang sempat berada di sini, bisa dikatakan mereka berdualah yang mengatur rencana penyelamatan dirimu. Sekarang mereka pergi pula untuk satu urusan. Penjelasannya cukup panjang, sedangkan kita sedang diburu waktu, sebaiknya kita berangkat sekarang nanti akan aku jelaskan di jalan.", jawab Hu Ban dengan cerdik.
"Ah... baiklah, kita hendak pergi ke mana dan... maaf apa benar tetua berempat juga guru dari Nona Wang Shu Lin? Terima kasih atas pertolongan kalian, budi baik ini tentu akan aku ingat selalu dalam hati.", ujar Ding Tao sambil membungkuk hormat pada empat orang yang baru masuk.
"Benar mereka ini guruku", jawab Wang Shu Lin untuk kemudian memperkenalkan mereka satu per satu, sesaat kemudian basa-basi sebuah perkenalan pun berjalan dengan singkat.
"Ayolah akan aku jelaskan sambil kita berjalan, tujuan kita kali ini adalah ke Desa Hotu, sebuah desa di luar perbatasan.", ujar Hu Ban menjawab pertanyaan Ding Tao selanjutnya. Sambil menjawab, dia pun berjalan keluar dari kamar menuju ke pelataran di mana kuda dan perbekalan mereka sudah disiapkan. Dengan sendirinya yang lain pun berjalan mengikuti Hu Ban dengan Ding Tao dan Wang Shu Lin sebagai yang termuda berada paling belakang.
"Desa Hotu?", ujar Ding Tao dengan nada bertanya.
"Benar Desa Hotu, ini adalah pesan dari Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, nanti di sana kita disuruh menemui seseorang. Ada apa sebenarnya dengan desa itu kami sendiri kurang jelas, karena beliau berdua tidak cukup waktu untuk menjelaskan semuanya. Yang pasti desa itu berada di luar perbatasan, itu pun sudah merupakan alasan yang cukup kuat karena seperti yang kita ketahui, lawan kita kali ini punya pengaruh yang kuat hampir di seluruh daratan Tionggoan.", ujar Hu Ban menjelaskan. Mendengar penjelasan Hu Ban, Ding Tao tercenung diam, terselip keraguan dalam hatinya. Hatinya masih belum sembuh benar dari sakitnya dikhianati, tapi dengan cepat pemuda itu menyadari keadaannya dan berusaha mengusir kecurigaan yang kurang beralasan itu dari dalam hatinya. Dia pun berpikir.
"Untuk saat ini, kukira itu jalan yang terbaik, menjauh sejauh mungkin dari daratan Tionggoan. Untuk sampai ke sana masih butuh waktu berbulan-bulan. Jika ada siasat dibalik pertolongan mereka, masih belum terlambat untuk membongkarnya dan memikirkan jalan keluarnya."
Diamnya Ding Tao bukannya tak lepas dari pengamatan Hu Ban yang tajam, melihat Ding Tao bisa menahan diri, Hu Ban pun tersenyum dalam hati.
Senyum yang sendu, karena terbayang pengorbanan demikian banyak orang demi pemuda ini.
Dalam hati Hu Ban pun berujar.
"Ah ... semoga pengalaman pahit ini membuat dia lebih dewasa. Dunia persilatan mungkin butuh seorang jujur dan tulus seperti Tetua Bhiksu Khongzhen dan Tetua Pendeta Chongxan, tapi tokoh itu juga harus secerdik dan sebijaksana mereka, jika tidak dia hanya akan jadi bulan-bulanan dari orang-orang licik yang ada dalam dunia persilatan."
Sebentar saja mereka sudah sampai di pelataran, dengan sigap mereka melompat ke atas punggung kuda.
Wang Shu Lin serta tiga orang gurunya yang ikut dalam perjalanan ke Desa Hotu pun berpamitan pada Zhu Yanyan bertiga.
Kemudian Ding Tao pun berpamitan.
Zhu Yanyan dengan perasaan campur aduk memandangi pemuda itu, kemudian berkata.
"Ketua Ding Tao, hati-hatilah dalam perjalanan, jangan pikirkan apa pun kecuali menyelamatkan diri. Ada banyak tanggung jawab dan kepercayaan orang yang diletakkan di atas pundakmu. Jangan sampai kau mengecewakan mereka."
Lama Ding Tao memandangi Zhu Yanyan, dia bisa merasakan kepedihan dalam suara itu, hatinya pun tersentuh dan untuk sejenak seluruh kecurigaan yang sering mengganggunya hilang lenyap digantikan rasa empati.
Meskipun dia tak mengerti apa yang membuat Zhu Yanyan bersedih, namun ingin dia berbuat sesuatu untuk menghibur orang tua itu.
"Aku mengerti tetua... aku mengerti...", ujar Ding Tao dengan tulus. Melihat ketulusan dan rasa simpati yang terpancar dari wajah Ding Tao, hati Zhu Yanyan dan Khongti jadi sedikit terhibur. Muncul harapan dalam hati mereka, agar pemuda ini tumbuh menjadi tokoh besar seperti kakak seperguruan mereka. Kiranya pengorbanan itu bukanlah pengorbanan yang sia-sia. Semoga harapan mereka berdua, terwujud benar dalam diri pemuda ini. Terkadang ketulusan beribu-ribu kali lebih berarti dibandingkan kata-kata yang dirangkai dengan indah. Meski kadang orang lebih tersanjung oleh pujian dan bukan ketulusan. Buktinya banyak gadis tertipu oleh rayuan gombal seorang laki-laki atau sebaliknya.
"Bagus... sekarang cepatlah berangkat, kami pun memiliki tugas di sini.", jawab Zhu Yanyan dengan hati yang jauh lebih lapang dari sebelumnya. Kemudian dia pun menengok ke arah Hu Ban yang menjadi pemimpin dari rombongan kecil ini.
"Adik Hu Ban, segera setelah kami selesai menyerap berita di Jiang Ling, kami akan pergi pula ke Desa Hotu, kita akan bertemu di sana."
"Baik, akan kami tunggu kedatangan kalian di sana, sepanjang jalan, jika ada perubahan rencana, tentu aku akan meninggalkan tanda-tanda tertentu untuk menjadi petunjuk.", jawab Hu Ban.
"Baik, sudah pergilah kalian sekarang", ujar Zhu Yanyan mengakhiri percakapan. Dalam gelapnya malam, empat ekor kuda pun pergi ke arah utara, meninggalkan tiga orang yang memandangi punggung mereka sampai mereka menghilang dari pandangan.
"Kakak... sepertinya dia memang pemuda yang baik...", ucap Khongti sambil memandang ke kejauhan.
"Hmm... aku juga berpikir demikian. Lagipula mereka berdua sudah begitu terasah mata batinnya, jarang sekali mereka salah menilai seseorang. Jika Kak Chongxan berpendapat dia adalah seorang pemuda yang baik, aku yakin memang demikianlah kenyataannya.", jawab Zhu Yanyan.
"Sekarang masalahnya tinggal, apakah dia bisa selamat melewati cobaan ini? Apakah kepribadiannya tidak berubah akibat cobaan yang berat ini.", ujar Chen Taijiang dengan prihatin.
"Itu adalah tanggung jawab kita semua, jangan sampai emas berubah jadi loyang.", ujar Zhu Yanyan.
"Kakak benar, tapi kukira hal itu tidak akan terjadi, bukankah ada ujar-ujar, meskipun mutiara terendam lumpur, dia akan tetap jadi mutiara.", sahut Khongti.
"Ya... sudahlah, tak ada gunanya menduga-duga masa depan. Yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaiknya di masa sekarang demi masa depan yang lebih baik tentang hasil akhirnya hanya langit yang tahu.", desah Chen Taijiang sambil berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Zhu Yanyan dan Khongti masih berdiri di depan pelataran beberapa lama sebelum bergerak lambat mengikuti Chen Taijiang yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah. Meski mereka mengerti dan bisa memahami keputusan yang diambil Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dalam satu gambaran yang luas, tetap saja terasa ada beban yang memberati hati mereka. Ketulusan Ding Tao yang mereka lihat sekilas tadi, menjadi hiburan yang mengurangi beban di hati. Sementara Ding Tao sedang bergerak ke arah utara, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sedang duduk-duduk di pinggir jalan dengan santai sembari membakar umbi-umbian semacam singkong. Di depan mereka api unggun menyala, lidahnya menari-nari membentuk berbagai macam bayangan.
"Hmm... lama juga mereka ya..., masakan mereka mengambil jalan berputar?", tanya Bhiksu Khongzhen dengan suara perlahan.
"Kurasa tidak..., coba saja pikirkan kalau kita ada di posisi mereka, saat ini siapa yang menjadi penghalang bagi mereka untuk menguasai dunia persilatan? Ketua Ding Tao dengan ketergantungannya pada Obat Dewa Pengetahuan justru bisa diletakkan ke nomor yang ke-sekian.", jawab Pendeta Chongxan.
"Tentu saja kau benar..., tapi perhitungan kita sebagai manusia kadang meleset juga. Bagaimana jika Obat Dewa Pengetahuan itu cuma satu bualan saja, sehingga Ketua Ding Tao tetap menjadi sasaran utama? Mungkin Zhong Weixia dan yang lain melihat kita menghadang di jalan ini, kemudian mereka mencari jalan memutar untuk menghindari hadangan kita.", ujar Bhiksu Khongzhen sembari meniup-niup singkong yang sudah matang.
"Heh.. biasanya orang menggunakannya dalam sup, siapa tahu dibakar pun enak rasanya", ujar Pendeta Chongxan sambil mulai mengupas bagiannya.
"Haha, benar, tidak disangkan sudah sampai di penghujung usia, masih juga sempat merasakan makanan yang nikmat.", jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa.
"Nah..., coba dengar, bukankah itu suara langkah kaki orang yang mengendap-endap?", ujar Pendeta Chongxan tiba-tiba, di tengah mereka sednag menikmati umbi-umbian itu.
"Hoho... bagus..., rupanya otak kita belum berkarat. Hmm... satu... dua... tiga... ah... tidak kurang dari tujuh orang.", kata Bhiksu Khongzhen.
"Mungkin itu sebabnya mereka datang sedikit terlambat, rupanya mereka mencari bala bantuan lebih dulu. Saudara Khongzhen, sayang sekali, kita belum sempat menghabiskan makanan ini, mereka sudah keburu datang.", sahut Pendeta Chongxan dengan santai.
"Menurutmu, mereka mau tidak kita suguhi makanan ini?", tanya Bhiksu Khongzhen sambil menyisihkan umbi-umbian yang sudah matang dari tengah api unggun.
"Coba saja kita tawarkan, sayang kalau terbuang", jawab Pendeta Chongxan tersenyum simpul.
"Sobat..., kenapa tidak datang ke mari? Malam begitu dingin, di sini ada makanan panas dan api unggun, kami pun tidak keberatan untuk berbagi", seru Bhiksu Khongzhen ke arah datangnya suara langkah kaki. Mendengar seruan Bhiksu Khongzhen itu pun, segera muncul tujuh sosok laki-laki, dipimpin oleh Zhong Weixia di depan. Seperti Bhiksu Khongzhen yang berlaku seolah-olah menyapa sesama pejalan kaki yang datang, demikian juga Zhong Weixia dan ke-enam rekannya. Meskipun sedari awal sudah berencana untuk melenyapkan nyawa dua orang tokoh tua itu, di luarnya mereka berlaku seakan-akan menemukan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan secara tidak sengaja.
"Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan, tidak kusangka akan bertemu kalian di sini, sedang menikmati bakar-bakaran. Bagaimana dengan pengejaran kalian atas diri Ketua Ding Tao?", sapa Zhong Weixia setelah jarak mereka cukup dekat.
"Ah..., kita bicarakan soal itu nanti dulu saja, sekarang kenapa kalian tidak ikut bergabung di sini bersama kami. Lihat jumlah yang sudah matang cukup untuk kita semua.", jawab Pendeta Chongxan sambil menunjuk ke tempat-tempat yang kosong di sekeliling api unggun. Tanpa banyak cakap ke-tujuh orang itu pun memilih tempat masing-masing. Zhong Weixia, Xun Siaoma, Bai Chungho dan Guang Yong Kwang memilih duduk berhadapan mengelilingi Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Tiga orang yang lain, duduk sedikit mundur di belakang, di sisi kiri dan kanan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Dengan punggung bersandar pada pohon yang besar, kedua orang tokoh tua itu jadi terkepung dari semua sisi.
"Nah, cobalah rasa umbi-umbian ini, iseng-iseng kami coba membakarnya di api unggun, ternyata rasanya cukup nikmat juga dimasak dengan cara demikian.", ujar Pendeta Chongxan sambil menawarkan umbi-umbian yang sudah matang. Zhong Weixia dan Bai Chungho tampak meragu, sedangkan Xun Siaoma tanpa banyak cakap segera memilih yang terbesar dan mulai mengupas kulit umbi yang kasar dan menikmati penganan itu. Yang lain menunggu sambil berpura-pura sibuk dengan berbagai urusan, ketika mereka melihat Xun Siaoma tidak mengalami apa-apa, barulah mereka mengambil umbi-umbian itu satu per satu. Melihat keraguan mereka Xun Siaoma mendengus pendek, sedangkan Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen hanya tersenyum-senyum saja sambil menikmati penganan mereka sendiri, seakan tak tahu kecurigaan orang. Sambil makan itu, Zhong Weixia pun kembali bertanya.
"Jadi apakah ketua berdua sudah menemukan jejak Ketua Ding Tao?"
"Hmm... hmm...", keduanya tidak langsung menjawab, tapi masih saja sibuk dengan makanan di tangan. Zhong Weixia saling berpandangan dengan rekannya yang lain, Xun Siaoma justru sengaja tidak mau memandang wajah Zhong Weixia dan ikut-ikutan sibuk dengan makanan di tangan, sedang Bai Chungho tersenyum-senyum geli. Melihat itu, Zhong Weixia pun mulai naik darah, selama hidupnya dia senang kalau orang takut padanya, tapi hari ini mereka yang berkumpul di situ bukanlah orang yang bisa dia takut-takuti. Zhong Weixia sudah membuka mulut untuk bertanya kedua kalinya, ketika Pendeta Chongxan melemparkan sisa kulit umbi yang ada di tangannya setelah melahap habis potongan terakhir.
"Ah... nikmat sekali, dingin-dingin begini memang paling nikmat memanaskan badan di dekat api unggun sambil menikmati makanan hangat."
Bhiksu Khongzhen menyusul sahabatnya itu melahap potongan terakhir umbi di tangannya dan menyahut.
"Lebih nikmat lagi kalau ada minuman yang menghangatkan tubuh."
"Aku ada sedikit arak, bagaimana apa Bhiksu Khongzhen mau melanggar pantangan?", ujar Pendeta Chongxan dengan mata mengerdip jenaka.
"Haa haa haa.... Biasanya aku selalu menaati perintah dan larangan, tapi malam ini, boleh juga sedikit melanggar, mana araknya?", jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa terbahak-bahak. Semakin keduanya bersikap wajar, malah semakin tegang perasaaan tujuh orang yang mengepungnya. Pendeta Chongxan pun benar-benar mengeluarkan seguci arak dan berbagi dengan Bhiksu Khongzhen, masing-masing menyesap sedikit saja untuk melegakan tenggorokan yang baru dilewati makanan.
"Hmm... benar-benar arak yang nikmat, entah sudah berapa puluh tahun aku tidak pernah merasakannya", ujar Bhiksu Khongzhen sambil berkecap-kecap, sementara Pendeta Chongxan tertawa geli melihat laku sahabatnya itu. Bhiksu Khongzhen kemudian menatap lurus ke arah Zhong Weixia.
"Ketua Zhong Weixia, mengapa harus bertanya pula? Sandiwara kami boleh saja menipu orang lain, tapi tentunya tidak menipu kalian. Larinya Ketua Ding Tao adalah polah tingkah kami berdua, jadi mana mungkin kami mengejar untuk menangkap dia?"
Zhong Weixia berpura-pura terkejut dan menjawab.
"Bhiksu Khongzhen, anda jangan bercanda, apa maksud anda ini? Ketua Ding Tao adalah seorang penjahat yang berbahaya, apa benar ketua berdua memutuskan untuk melindunginya?"
Bhiksu Khongzhen tertawa hambar.
"Malam sudah semakin larut, sudahlah apa perlunya kita terus bersandiwara. Pilihan kalian cuma dua, kembali ke Jiang Ling atau berhadapan dengan kami berdua. Jangan harap kalian bisa menangkap Ketua Ding Tao selama kami berdua masih ada di sini."
Tapi Zhong Weixia masih saja berkeras dengan sandiwaranya.
"Bhiksu Khongzhen! Pendeta Chongxan! Apa kalian bersungguh-sungguh dengan perkataan itu? Jika benar, jangan salahkan kami jika kami memberanikan diri mengangkat senjata melawan kalian."
"Astaga..., memangnya ada berapa orang di sini? Apa perlunya juga kau bersandiwara? Kami berdua yakin, seyakin-yakinnya, bahwa Ketua Ding Tao telah dijebak. Siapa yang menjebak, aku rasa aku tak perlu mengatakannya, cukup ingat, tak akan bisa kalian menangkapnya kalau belum melewati kami berdua.", jawab Bhiksu Khongzhen sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sembilan orang itu duduk bersama, seperti sekumpulan pengelana yang sedang menikmati hangatnya api unggun, tapi nyatanya urat syaraf setiap orang sudah menegang.
"Bhiksu Khongzhen, kalau aku bertanya sekali lagi, apa jawabmu?", tanya Zhong Weixia, diam-diam jari tangannya sudah mengait salah satu rantai senjatanya.
"Kau bertanya ribuan kali pun jawabanku tetap sama. Sekarang aku tanya, kalian pilih yang mana? Kembali ke Jiang Ling atau mau mencoba-coba kepandaian kami berdua?", jawab Bhiksu Khongzhen, hawa murni pun diam-diam sudah dikerahkan melindungi tubuh.
"Kami ada di pihak yang benar, kenapa harus takut?", ujar Zhong Weixia menjawab, namun sebelum habis dia berkata, roda bergeriginya sudah terlontar cepat menyambar mata Bhiksu Khongzhen. Seperti anak panah dilepas dari busurnya, ke-enam orang yang lain bergerak dengan cepat pula, susul menyusul melontarkan serangan mereka ke arah dua orang tokoh tua itu. Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dengan tak kalah sigapnya melompat berdiri dan menghalau serangan. Dalam sekejapan jalan yang sepi itu pun dipenuhi suara denting pedang dan berbagai macam senjata yang saling beradu. Bhiksu Khongzhen menggunakan tasbih di tangannya sebagai senjata, sedang Pendeta Chongxan sudah mencabut pedang di tangannya. Tetua Xun Siaoma dan Guang Yong Kwang dengan pedangnya, Bai Chungho dengan tongkat pemukul anjingnya, Zhong Weixia menggunakan sepasang roda bergerigi yang dikaitkan pada seuntai rantai besi. Tiga orang yang lain, masing-masing bersenjatakan pedang, tombak berkait dan sebilah golok tipis. Dalam gebrakan pertama itu terbukti mereka bertujuh tak mampu mengambil keuntungan atas Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, di saat yang sama dua orang tokoh tua itu ternyata juga tidak mendapatkan kesempatan untuk lolos dari kepungan. Untuk beberapa lamanya mereka bersembilan pun hanya saling memandang, menunggu lawan membuat kesalahan. Sesekali ada di antara mereka yang menyesuaikan kedudukannya, mencari lubang di pertahanan lawan, dan segera disusul oleh ke-delapan orang yang lain yang menyesuaikan kedudukan mereka dengan perubahan yang terjadi. Perlahan-lahan area pertempurang sedikit bergeser menjauhi api unggun.
"Kalian bertiga, aku tak pernah melihat kalian, tapi nyatanya gerakan kalian boleh dikata tergolong nomor satu dalam dunia persilatan. Jika boleh tahu, siapa nama kalian bertiga?", ujar Pendeta Chongxan kepada tiga orang yang tak dikenal itu. Salah seorang dari mereka, yang sepertinya menjadi pemimpin dari dua orang yang lain menjawab dengan tenang.
"Kami bertiga adalah pelayan-pelayan setia dari keluarga Murong, sejak kecil kami sudah digembleng dengan berbagai macam aliran ilmu silat sebelum memilih senjata tertentu untuk didalami. Tetua berdua tidak pernah mendengar nama kami, karena memang selama puluhan tahun ini kami tidak pernah keluar rumah."
"Ah... menarik sekali, rupanya keluarga Murong menyimpan kekuatan dengan diam-diam. Ada berapa orang seperti kalian dalam keluarga Murong?", tanya Pendeta Chongxan dengan tenang, seperti bercakap-cakap dengan seorang kenalan.
"Hmph... baiklah, kalian dengarkan baik-baik. Jumlah kami seluruhnya ada 34 orang dan kami bertiga berada di posisi menengah. Sudah lama nyonya kami memperhitungkan kekuatan kalian berdua, jika nyonya hanya mengutus kami bertiga itu artinya, dia yakin bantuan kami bertiga sudah cukup untuk melenyapkan nyawa kalian.", ujar orang itu dengan nada sombong.
"Ah... hebat sekali nyonya kalian..., pernahkah kalian berpikir bahwa ada kemungkinan dia salah perhitungan? Jangan-jangan justru kalian bertiga yang kembali ke Jiang Ling tanpa nyawa.", tanya Pendeta Chongxan dengan senyum mengejek. Dari cara mereka berbicara terlihat jelas betapa tiga orang itu memiliki harga diri yang tinggi, sekaligus memuja Murong Yun Hua secara berlebihan. Ejekan Pendeta Chongxan yang biasa saja itu pun sudah cukup untuk menyentuh harga diri mereka. Dengan teriakan marah ketiganya berkelebat menyerang Pendeta Chongxan, merusak kepungan yang mereka buat. Dalam hati Zhong Weixia dan yang lain pun memaki kebodohan tiga orang itu, tapi bukan tokoh kelas satu jika mereka terlambat bertindak. Dalam waktu yang singkat itu pun kedudukan sembilan orang itu bergese-geser dengan cepat. Lubang pertahanan yang muncul akibat gerakan tiga orang anak buah Murong Yun Hua dengan cepat berusaha ditutup oleh Zhong Weixia dan Bai Chungo. Namun Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan tidak kalah sigap memanfaatkan kelemahan yang muncul sesaat itu. Sekali lagi jalan yang sunyi itu dipenuhi dengan dentangan senjata, pasir-pasir pun berterbangan oleh hembusan serangan mereka. Di sini dua orang tokoh tua itu menunjukkan kehebatan mereka, pedang Pendeta Chongxan berkelebatan menahan gerak Zhong Weixia dan Bai Chungho yang berusaha menutup lubang dalam kepungan mereka. Dengan gerak langkah kaki yang rumit dan tepat, sembilan orang itu pun dibuat kesulitan untuk saling membantu. Tidak jarang justru kawan sendiri yang menjadi penghalang untuk bergerak lepas. Selain dari tiga orang anak buah Murong Yun Hua, empat orang yang lainnya belumlah terbiasa untuk bekerja sama dalam sebuah serangan. Bisa dikata di antara mereka berempat hanya Xun Siaoma dan Bai Chungho yang sering berlatih bersama, mereka berdua dengan mudah bisa menyesuaikan gerakan masing-masing. Sayangnya mereka berdua pun memiliki ganjalan dalam hati, tidak seperti Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang saling percaya dan memiliki rasa persahabatan yang kuat, sehingga sedetik dua detik, gerakan Bai Chungho dan Xun Siaoma masih kalah cepat dan tepat dibandingkan lawannya. Lagipula permainan pedang Pendeta Chongxan dan kekuatan hawa pukulan Bhiksu Khongzhen yang menyambar-nyambar, cukup membuat jeri lawan-lawannya. Pertempuran pun berlangsung cukup berimbang. Di satu sisi menang jumlah, di sisi lain menang dalam hal ilmu silat dan kerja sama. Keuletan dan kegigihan dua orang jagoan tua itu pun akhirnya membuahkan hasil, dalam sebuah serangan kepungan tujuh orang lawan mereka itu pun terpecahkan. Keduanya dengan sebat meloloskan diri dari kepungan lawan dan dengan satu serangan mampu menghentikan lawan yang hendak bergerak mengepung mereka kembali. Sekali lagi dua kelompok yang bertarung ini pun kembali diam. Kali ini mereka berdiri berhadap-hadapan. Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen sudah berada di luar kepungan, tujuh orang lawannya hanya mampu membentuk setengah lingkaran dan tak melihat cara untuk bergerak ke belakang dua orang jago tua itu.
"Nama Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan benar-benar bukan nama kosong... Tapi jangan dulu berbangga hati...", ujar Zhong Weixia dengan matanya yang tajam tak pernah lepas dari dua orang itu.
"Terima kasih... terima kasih..., apakah sekarang kalian bersedia untuk berhenti mengejar Ketua Ding Tao?", jawab Bhiksu Khongzhen, matanya pun tak pernah lepas dari tujuh orang di hadapannya.
"Dalam mimpimu!", dengan perkataan itu kembali Zhong Weixia berkelebat menyerang.
"Bagi jadi dua kelompok! Kalian bertiga layani Pendeta Chongxan,sedang keledai gundul ini serahkan pada kami berempat! Pisahkan mereka berdua! Jangan biarkan mereka bertarung berpasangan!", seru Zhong Weixia sembari menghempaskan tenaganya beradu pukulan dengan Bhiksu Khongzhen. Kaget juga Bhiksu Khongzhen dengan tenaga Zhong Weixia yang besar, selamanya Zhong Weixia lebih dikenal dengan serangan-serangan licik dan kejam menggunakan senjata roda bergeriginya, siapa nyana ketua Partai Kongtong itu menyimpan juga pukulan-pukulan tangan yang berat, bahkan mampu mengimbangi tenaga raksasa Bhiksu Khongzhen yang ditakuti lawan dan kawan.
"Ketua Zhong Weixia, selamat, rupanya sudah berhasil menyelami puncak ilmu tinju tujuh luka", seru Bhiksu Khongzhen sembari menangkis pukulan tangan Zhong Weixia yang datang berkelebat dan tanpa berhenti bergerak, menggeser kedudukannya untuk menghindari serangan pedang di tangan Guang Yong Kwang, tangan yang lain pun tidak menganggur melainkan menggebahkan tasbihnya diiringi hawa murni untuk mendesak mundur Bai Chungho dan Xun Siaoma. Seruan Bhiksu Khongzhen ini bukan hanya membuat Pendeta Chongxan mengerutkan alis, tapi juga sekutu-sekutu Zhong Weixia sendiri ikut mencatatnya dalam hati. Rupanya Ketua Kongtong ini diam-diam menyempurnakan pukulan tenaga dalam warisan perguruannya. Sejak Ketua Partai Kongtong dua generasi di atas Zhong Weixia, belum pernah terdengar lagi ada anak murid Kongtong yang mampu menyempurnakan tinju tujuh luka, siapa nyana diam-diam Zhong Weixia menyempurnakannya.
"Hahaha, kalau sudah tahu apakah Bhiksu Khongzhen hendak menyerah sekarang?", jawab Zhong Weixia sambil tertawa berkakakan, kedua tinjunya pun bergerak tanpa henti menyambar-nyambar mengincar titik-titik penting di tubuh Bhiksu Khongzhen.
"Hahaha, siapa bilang aku hendak menyerah, justru aku merasa senang, kalau demikian aku pun tidak perlu sungkan-sungkan untuk mencoba Telapak Dewa Buddha tingkat 8 dan Genta emas tingkat akhir yang baru aku kuasai.", jawab Bhiksu Khongzhen telapak tangannya pun bergerak dengan cepat menyambuti pukulan tangan Zhong Weixia. Plak! Plak! Plak! Zhong Weixia pun menyeringai gemas, pukulan tangannya bertemu dengan telapak tangan Bhiksu Khongzhen yang sama liatnya. Tadinya dia sudah bergirang hati, siapa sangka Bhiksu Khongzhen pun tidak berkurang liatnya seiring dengan pertambahan umur. Tapi tiga orang yang lain pun tidak berhenti menyerang dan juga membantu sekutunya bertahan, sehingga Bhiksu Khongzhen pun harus menguras tenaga untuk mengimbangi ke-empat lawannya. Pertempuran berlangsung makin seru. Pukulan-pukulan yang dilancarkan makin berat dan angin pun menderu-deru di sekeliling mereka berlima. Di sisi lain pertempuran Pendeta Chongxan dan tiga orang lawannya pun berlangsung tidak kalah serunya. Pendeta Chongxan yang sudah berumur masih mampu bergerak lincah dan efektif, meliuk-liuk di tengah serangan lawan. Pedangnya bergulung-gulung, melipat dan mennghanyutkan serangan lawan. Tidak ubahnya sebuah pusaran angin, gerakannya yang melingkar lingkar, mampu menyeret lawan ke dalam permainan pedangnya. Tapi tiga orang itu bukan orang sembarangan, secara pengalaman mereka beberapa lapis di bawah Pendeta Chongxan, namun kekurangan itu mampu mereka tutupi dengan kerja sama yang sangat apik. Jelas mereka sudah belasan tahun berlatih bersama. Terutama pemimpin dari tiga orang itu yang bersenjatakan tombak berkait. Senjatanya yang panjang mampu bergerak dengan luwes, tombak besi yang keras, bisa bergerak lentur tak ubahnya sebuah rantai panjang. Kaitan yang ada di ujung pun digunakan dengan sempurna, bergerak menusuk, membacok dan mengait dari belakang, Pendeta Chongxan harus benar-benar waspada, tak boleh lengah sedikitpun. Di lain pihak, golok yang tipis memang benar bergerak tanpa suara, namun golok tipis yang biasanya lentur, ternyata bergerak seperti golok besar dan berat saat menyerang. Saat bergerak tak bersuara, saat ditangkis tenaga yang menekan terasa berat benar. Yang keras bergerak lentur, yang lentur bergerak keraS, sedang pedang di tangan orang ketiga bergerak seperti cucuran air hujan, mengisi setiap kekosongan dari serangan dua orang yang lainnya. Pendeta Chongxan tidak bisa mengendurkan semangatnya sedikit pun. Bagusnya jagoan tua itu mampu bergerak dengan hemat, gerakan-gerakannya tidak menghamburkan tenaga yang tidak perlu, gulungan pedangnya mampu menggunakan kekuatan lawan untuk menangkis serangan lawan. Ulet benar dua orang jagoan tua itu, seandainya lawan-lawan mereka hari ini bukan jagoan-jagoan kelas satu sudah sedari tadi mereka akan menyerah. Sekarang pun luka-luka kecil mulai menghiasi tubuh lawan Pendeta Chongxan. Luka kecil yang tak berbahaya namun cukup mengganggu dan membangkitkan kemarahan. Melihat keadaan tiga orang itu, Zhong Weixia mengeluh dalam hati.
"Hmm, benar memang mereka berilmu tinggi, tapi terlalu sombong untuk melihat tingginya langit", pikir Zhong Weixia ketika sesekali melirik keadaan di kelompok yang lain.
"Huh! Dasar anak-anak muda yang sombong.", geram Xun Siaoma yang rupanya juga menilik keadaan di sana. Zhong Weixia tidak ingin menyinggung tiga orang kepercayaan Murong Yun Hua itu, namun menilik keadaan mereka dia pun tidak mungkin mendiamkannya saja, dia pun berteriak,"Sobat! Lawanmu sudah tua, berbelas kasihan sedikitlah. Lihat! Nafasnya sebentar lagi tentu akan habis!"
"Hahaha! Siapa bilang nafasku sudah hampir habis?", seru Pendeta Chongxan sambil mengemposkan semangatnya, dalam satu ledakan tenaga lawan-lawannya seakan melihat bayangan naga berkelebatan menyambar-nyambar dari gulungan pedang Pendeta Chongxan. Tiga lawan yang lebih muda pun dibuat terpukul mundur, menjauh beberapa langkah dari serangan yang menakutkan itu. Melihat keadaan mereka yang kritis, Xun Siaoma pun melompat mendekat, meninggalkan Bhiksu Khongzhen yang ditahan oleh Zhong Weixia, Guang Yong Kwang dan Bai Chungho. Bagai kilat pedang Xun Siaoma menyambar, tidak salah jika Hoasan dikatakan Gunung Thaisannya ilmu pedang, sambaran kilat pedang Xun Siaoma diiringi hawa murni yang kuat, melesat lurus menyerang pusat gulungan pedang Pendeta Chongxan. Memaksa Pendeta Chongxan untuk menarik kembali serangannya dan tidak memburu tiga orang lawannya. Secepatnya perhatian Pendeta Chongxan pun berpindah ke arah Xun Siaoma, namun Xun Siaoma cepat menarik mundur serangannya, tidak mau terlibat dalam pertarungan melawan Pendet Chongxan. Waktu yang singkat itu sudah cukup untuk memulihkan keadaan tiga orang kepercayaan Murong Yun Hua yang sempat terguncang. Dari pendekar pedang keluarga Murong, berkelebat meyambar Pendeta Chongxan, tujuh buah senjata bidik yang dilontarkan dengan tenaga dalam. Pendeta Chongxan terpaksa menarik serangannya dan mengalihkan kembali perhatiannya pada tiga orang kepercayaan keluarga Murong, sementara Xun Siaoma dengan cepat sudah kembali membantu Zhong Weixia bertiga untuk menahan serangan Bhiksu Khongzhen yang memanfaatkan kesempatan di saat lawannya berkurang seorang.
"Awas serangan!", seru pendekar dengan tombak berkait menyerang Pendeta Chongxan. Tidak sia-sia seruan Zhong Weixia, tiga orang itu terbuka matanya oleh kelebihan lawan mereka, tapi juga dengan kekurangannya. Mereka menyerang dengan berhati-hati dan mengambil jarak, sengaja membuat gerakan Pendeta Chongxan semakin luas, dengan demikian mengeluarkan tenaga yang lebih besar. Menggunakan kelebihan panjang tombak, si tombak berkait menyerang dari kejauhan. Menggunakan gerakan goloknya yang tak bersuara, pendekar golok itu mencari-cari kesempatan untuk meyerang Pendeta Chongxan dari belakang. Sementara yang berpedang, sekarang lebih sering menggunakan senjata rahasia untuk menyerang Pendeta Chongxan. Jika Pendeta Chongxan berkelahi sambil menyimpan tenaga, mereka bertiga pun akan mencecar dengan serangan-serangan yang memaksanya bergerak, tapi ketika Pendeta Chongxan balas menyerang dengan hebat, mereka akan bergerak menjauh, memaksa Pendeta Chongxan untuk mengejar. Melihat cara mereka berkelahi, mengeluhlah Pendeta Chongxan dalam hati. Dia sadar kelebihannya dalam hal ilmu silat tidak berselisih jauh dengan ketiga orang lawannya. Ketika mereka bertiga melayani permainan pedangnya dengan keras dalam jarak yang dekat, dia justru punya kesempatan untuk mencuri-curi serangan di sela serangan lawan. Sekarang lawan, menyerang dengan berhati-hati dan bermain dalam jarak yang jauh, memaksa dia bekerja lebih keras, sementara serangannya sulit berhasil karena lawan berjaga dengan ketat. Pendeta Chongxan pun sadar, cepat atau lambat, tenaganya akan terkuras terlebih dahulu dibandingkan lawan yang usianya jauh lebih muda. Fisiknya yang tua tidak mampu menunjang penggunaan hawa murni yang terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama. Ketika tadi dia memaksakan diri untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya, dia sudah bisa merasakan betapa gerakan itu membebani tubuh fisiknya yang sudah renta. Seandainya tidak ada Xun Siaoma mungkin pengorbanan itu akan memberikan hasi l yang pantas, setidaknya dia akan berhasil melukai satu atau dua orang lawannya. Sayang ada Xun Siaoma di sana, dalam hal ilmu pedang dia tidak di bawah Pendeta Chongxan, meski dalam hal himpunan hawa murni dan pengerahannya dia masih selapis dua lapis di bawah Pendeta Chongxan, tapi dalam hal ketajaman mata untuk menganalisa jurus pedang lawan, Xun Siaoma merupakan lawan yang setanding. Beberapa li jauhnya dari pertarungan itu, Ding Tao, Hu Ban, Pang Boxi, Wang Shu Lin dan Shu Sun Er sedang berpacu dengan kuda mereka menuju ke utara. Sebuah perjalanan yang amat panjang, namun setiap langkah menjauh dari Zhong Weixia dan sekutunya memperbesar kesempatan mereka untuk selamat.
"Tetua Hu, ada apakah di Desa hotu itu?", tanya Ding Tao memecahkan kesunyian. Hu Ban mengerutkan alis, dia sendiri merasa penasaran dengan desa itu.
"Tepatnya seperti apa, aku sendiri kurang jelas. Tetua Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen yang lebih tahu, sayang waktunya sendiri sangat singkat, semuanya serba terburu-buru tak ada kesempatan untuk menjelaskan segala sesuatunya. Petunjuk mereka berdua sendiri cukup jelas, kukita semuanya akan jadi jelas begitu kita bertemu dengan tabib di desa itu."
"Menurut Tetua Hu Ban, kita akan bertemu dengan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan di sana?", tanya Ding Tao lebih lanjut. Berat perasaan Hu Ban untuk menjawab.
"Kukira demikian, tapi kedua tetua itu tidak bisa meninggalkan begitu saja urusan Shaolin dan Wudang di saat situasi demikian genting. Kemungkinan besar, anak murid kepercayaan mereka yang akan datang."
"Kedua tetua sungguh tokoh yang berjiwa ksatria, kuharap akan ada kesempatan untuk mengucapkan terima kasih pada mereka.", ujar Ding Tao membuat mereka yang mendengarnya mendelu. Wang Shu Lin pada dasarnya punya hati sangat berperasaan, terhadap lawan memang seperti api yang membara, terhadap orang-orang yang kasar dia pun ikut bersikap berangasan dan tak kalah kerasnya. Namun sesungguhnya hatinya mudah tersentuh, terhadap kebaikan orang tentu dia tidak akan lupa. Bagi gadis ini ke enam orang gurunya adalah dewa penolong, tempat dia mendapatkan kasih sayang, pengganti orang tua. Demi dirinya mereka terasing dari saudara-saudara seperguruan mereka. Kebaikan orang pada enam orang gurunya ini, berkali lipat jauh lebih berarti dibandingkan kebaikan orang pada dirinya sendiri, itu sebabnya kesannya pada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan amatlah baik. Mendengarkan percakapan Ding Tao dan Hu Ban, hati gadis itu mengharu biru, tenggorokan tercekat ingin menangis menumpahkan perasaan. Demikian pula Hu Ban yang harus menjawab pertanyaan Ding Tao sementara dia tahu kedua orang tetua itu justru sedang menjelang ajal, memasang badan agar mereka bisa berlari menjauh dari bahaya dengan tenggorokan sedikit tercekat Hu Ban menjawab.
"Kau banyak berhutang budi pada mereka berdua, karena itu jangan kecewakan mereka, ingat keduanya mempercayakan satu tangggung jawab besar di atas pundakmu."
"Tanggung jawab besar? Apakah kedua tetua ada menyampaikan satu pesan untukku ketika aku tidak sadarkan diri?", tanya Ding Tao heran.
"Ya...", jawab Hu Ban sedikit ragu.
"Apa pesan mereka?"
Tanya Ding Tao dengan bersemangat.
"Hmm... saat mereka menyerangmu di Jiang Ling, apakah Ketua Ding Tao masih ingat?", tanya Hu Ban.
"Ya... aku ingat...", jawab Ding Tao sambil mengerutkan dahi.
"Menurut tetua berdua, serangan mereka itu adalah inti sari dari ilmu warisan Shaolin dan Wudang yang mereka dapatkan setelah merenunginya selama puluhan tahun. Mereka titipkan perenungan mereka itu, untuk kau sampaikan pada anak murid Shaolin dan Wudang di masa depan.", ujar Hu Ban menjelaskan. Dahi Ding Tao semakin berkerut mendengarkan penjelasan Hu Ban.
"Apakah Ketua Ding Tao mengerti? Itu sebabnya saat ini Ketua Ding Tao harus menjaga baik-baik diri ketua, karena di atas pundak Ketua Ding Tao bukan hanya ada harapan pengikut-pengikut setia Ketua Ding Tao tapi juga warisan bagi anak murid Shaolin dan Wudang di generasi berikutnya.", ujar Hu Ban berusaha menguatkan semangat Ding Tao untuk bertahan hidup.
"Tunggu ... mengapa kesannya kedua tetua membuat pertanda buruk bagi dirinya sendiri?", keluh Ding Tao.
"Itu... situasi saat ini sangat genting, sementara di generasi sekarang belum ada yang siap untuk menerima tuntunan kedua tetua mengenai inti dari ilmu silat mereka. Karenanya kedua tetua tidak merasa tenang sebelum ada dari generasi yang lebih muda yang mewarisi hasil pemikiran mereka selama bertahun-tahun.", Hu Ban berusaha menjawab ganjalan di hati Ding Tao. Tapi perasaan Ding Tao yang peka bisa merasakan ada yang disembunyikan dari jawaban Hu Ban, sekilas dia melihat ke kiri dan ke kanan, mengamati ekspresi di wajah Wang Shu Lin, Pang Boxi dan Shu Sun Er. Seketika itu juga sebuah pemahaman merasuk ke dalam pikiran Ding Tao. Kuda yang menderap maju, tiba-tiba berhenti karena ditahan tali kekangnya.
"Apakah kedua tetua hendak mengorbankan diri demi menyelamatkan aku dari kejaran lawan?", tanya Ding Tao tiba-tiba. Ding Tao berhenti begitu mendadak, dengan sendirinya empat orang yang lain sekarang berada beberapa langkah di depan Ding Tao, Hu Ban dengan wajah pucat berusaha menjawab.
"Dengar..., kedua tetua adalah tokoh terbesar di jaman ini, tak ada orang yang dapat menyakiti mereka."
"Benar keduanya adalah tokoh terbesar golongan lurus di jaman ini, dengan sendirinya mereka berdua adalah penghalang terbesar bagi mereka yang memiliki niat jahat.", jawab Ding Tao, kudanya perlahan-lahan bergerak mundur dan hendak berbalik arah.
"Tunggu! Apa yang hendak Ketua Ding Tao lakukan? Apakah sudah lupa dengan segala pengorbanan mereka? Apa yang mereka percayakan pada Ketua Ding Tao, akankah ketua mengecewakan mereka berdua?", tegur Hu Ban dengan jantung berdebar-debar. Bayangan tubuh-tubuh tak berkepala berkelebatan dalam benak Ding Tao, sambil menggertakkan gigi dia menjawab.
"Itu urusan mereka berdua! Aku tak pernah memintanya dan aku tak mau berhutang pada siapapun untuk kesekian kalinya!"
Ding Tao pun menark tali kekang kudanya kuat-kuat, berbalik arah dan menggebah kuda tunggangannya untuk melaju ke arah yang berlawanan.
"Sial!!! Ketua Ding Tao jangan jadi orang egois!!!", seru Hu Ban dengan kesal, keringat dingin membasahi dahinya, kudanya pun dipacu untuk mengejar Ding Tao. Shu Sun Er dan Wang Shu Lin dibuat melengak bingung dengan perubahan yang terjadi dengan tiba-tiba.
"Hmph! Sungguh pemuda pujaanmu itu bukan pemuda sembarangan, hanya bikin pusing saja.", dengus Shu Sun Er sebelum memacu kudanya menyusul Ding Tao dan Hu Ban yang sudah lebih dahulu melaju di depan.
"Ho! Ayolah kita mati berbareng saja, ini lebih baik daripada lari seperti anjing kurap.", gumam Pang Boxi sebelum memacu kudanya mengikuti yang lain. Apa lagi yang bisa dilakukan Wang Shu Lin kecuali mengikuti ketiga orang gurunya, memacu kudanya mengejar Ding Tao yang melesat cepat di depan. Sementara jauh di depan Hu Ban masih berteriak berusaha menghentikan Ding Tao.
"Ketua Ding Tao! Kau bahkan tak tahu mereka ada di mana saat ini! Semuanya baru dugaan saja!"
"Jika sembarangan bergerak, ketua justru mengacaukan semuanya!"
Tapi Ding Tao tak menggubris sedikit pun seruan-seruan Hu Ban. Kematian Ma Songquan dan yang lain kasih terlalu lekat dalam benaknya untuk berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu.
"Celaka, rusak semuanya, semoga saat melewati pondokan Kakak Zhu Yanyan dan yang lain bisa membantuku untuk menghentikannya.", keluh Hu Ban dalam hati. Beberapa li jauhnya, kembali pada pertarungan sengit antara pihak yang lurus dan yang sesat, pertarungan semakin lama semakin tidak berimbang. Tubuh renta Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen tidak dapat mengimbangi jurus-jurus pamungkas mereka dan penerapan hawa murni yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Dua orang itu bukannya tidak sadar dengan keadaan mereka, namun pilihannya hanyalah bertahan selama mungkin atau mempertaruhkan segalanya dalam satu serangan yang bukan hanya membahayakan lawan, tapi juga merugikan tubuh mereka sendiri. Di antara mereka berdua, Pendeta Chongxan lah yang keadaannya paling parah. Tiga orang lawannya sudah terlatih bekerja sama selama belasan tahun, mereka juga berusia 30-an, tepat pada puncak fisiknya. Sementara lawan Bhiksu Khongzhen yang berusia muda hanyalah Guang Yong Kwang dan Zhong Weixia, keadaan Bai Chungho dan Xun Siaoma sendiri sudah sama payahnya dengan Bhiksu Khongzhen. Menyadari keadaannya muncul perasaan tak rela dalam hati Pendeta Chongxan. Dia tiba-tiba merasa betapa puluhan tahun yang dia habiskan untuk melatih ilmunya terbuang sia-sia, mati di tangan orang tak bernama. Dalam keadaan itu, Pendeta Chongxan pun memutuskan untuk mempertaruhkan segala sesuatunya pada serangan berikutnya. Setidaknya sebelum dia mati, dia bisa menunjukkan segala apa yang sudah dia capai, jangan sampai orang lupa nama besar Pendeta Chongxan.
"Saudara Khongzhen! Aku jalan lebih dulu! Tolong jaga agar tidak ada yang mengganggu!", serunya sambil menghimpun segenap hawa murni yang dia himpun selama belasan tahun lamanya di titik-titik pusat energi dalam tubuhnya.
"Saudara Chongxan! Aku akan mengiringimu!", seru Bhiksu Khongzhen menjawab.
"Awas hati-hati semuanya!"
Seru Zhong Weixia merasakan hawa pembunuh yang menekan berat keluar dari seluruh tubuh Pendeta Chongxan.
Tanpa peringatan Zhong Weixia pun, mereka bertujuh bisa merasakan tekanan yang keluar dari tubuh Pendeta Chongxan yang kurus dan renta.
"Xun Siaoma awas serangan!", seru Bhiksu Khongzhen berkelebat menekan Xun Siaoma. Di saat yang bersamaan, Pendeta Chongxan bergerak menyerang, pedangnya bergerak cepat menusuk ke depan, terlihat sangat sederhana, tapi tidak demikian bagi pendekar bergolok tipis yang harus menghadapi serangan itu. Seandainya ilmunya tidak setinggi saat ini, tentu dia tidak merasakan kengerian seperti yang dia rasakan saat ini. Nalurinya mengatakan betapa berbahayanya serangan Pendeta Chongxan di saat yang sama dia tidak mampu menentukan di mana letak bahayanya. Dengan putus asa dia membuang tubuhnya bergulingan ke belakang, namun serangan Pendeta Chongxan sampai lebih cepat dari yang ditangkap oleh panca inderanya. Serangan itu sampai sebelum dia bisa memahami bagaimana serangan itu sampai di tubuhnya, dengan jeritan menyayat hati dia pun rubuh bergulingan dengan lubang di dadanya. Serangan Pendeta Chongxan tidak berhenti di sana, pedangnya bergerak berbalik mencecar si tombak berkait dan pendekar berpedang yang bergerak hendak membantu rekannya. Yang paling mengerikan dari serangan Pendeta Chongxan adalah kecepatannya yang sulit diikuti, ketika dirasa telah tiba ternyata belum tiba, ketika dikira belum tiba, ternyata serangan itu sudah sampai. Sepertinya sederhana, namun hanya dengan pengerahan hawa murni yang sempurna saja serangan itu bisa dilakukan, kecepatan yang melebihi kecepatan yang dapat diikuti oleh tokoh-tokoh kelas satu tersebut. Menciptakan serangan bayangan dan serangan sungguhan yang seakan sama mematikannya. Dalam satu gerakan yang berkesinambungan, pedang Pendeta Chongxan bergerak menyerang tanpa bisa ditahan. Tombak berkait terpotong menjadi dua, sebuah luka menyilang lebar di depan dada, beruntung dia masih cukup sigap untuk menghindar sehingga tidak sampai melepas nyawa, namun rekannya yang bersenjatakan pedang dan senjata rahasia tidak cukup cepat bergerak, terhuyung mundur dengan luka mengucur deras dari dadanya, dalam waktu yang sepersekian saatnya dia menghamburkan senjata rahasia di kantungnya ke depan, berharap bisa menghambat gerakan Pendeta Chongxan yang sudah tak bisa dia ikuti dengan panca inderanya. Tapi entah bagaimana caranya, pedang itu tetap saja mampir ke dadanya. Yang dia tahu hanyalah dadanya yang tiba-tiba terasa basah, banjir oleh darah dan pandangan matanya yang semakin gelap. Sebelum dia jatuh dengan luka menganga dan kehilangan kesadaran dia masih sempat mendengar seruan Bhiksu Khongzhen penuh rasa khawatir.
"Chongxan! Saudara Chongxan!"
Lamat-lamat dia melihat Pendeta Chongxan terhuyung-huyung dengan dada dihiasi belasan luka.
Pandangannya makin mengabur, bayangan ronce-ronce merah yang menghiasi tubuh Pendeta Chongxan lamat-lamat bisa dia kenali sebagai senjata rahasianya.Sisa-sisa ketegangan yang masih menjalari tubuhnya pun dia lepaskan, dengan seulas senyum puas, tubuhnya terbanting ke atas tanah.
Sementara Pendeta Chongxan yang sempat terhuyung-huyung sudah pula mendapatkan keseimbanganya dan berdiri dengan gagah.
Baju dan jubahnya sudah berwarna merah oleh darah, pada serangan yang terakhir seharusnya dia masih bisa menghindar tapi Pendeta Chongxan memilih meneruskan serangannya.
Akibatnya tubuhnya pun penuh luka dihujani senjata rahasia lawan, beberapa sempat dia pukul jatuh dengan pukulan tangannya, tapi belasan yang lain menghujani tubuhnya tanpa bisa dicegah.
Melihat keadaan sahabatnya, Bhiksu Khongzhen pun jadi gelap mata.
Mengikuti jejak Pendeta Chongxan, tanpa mempedulikan lagi keadaan fisiknya yang sudah renta, Bhiksu Khongzhen pun mengerahkan simpanan hawa murninya, menerapkan ilmu andalannya meski aliran hawa murni yang berlebihan itu merusak sistem energi dalam tubuhnya.
Zhong Weixia yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan sudah menyambar datang dengan pukulan tinju 7 lukanya.
Sebuah ledakan dengan suara tak terdengar namun menggetarkan dada terjadi saat tinju Zhong Weixia menghantam dada Bhiksu Khongzhen.
Hebat, sungguh hebat, pukulan telak Zhong Weixia seperti tak terasa sedikitpun oleh bhiksu tua itu, malah Zhong Weixia yang terpental ke belakang seakan menabrak tembok yang tak terlihat.
"Genta emas tingkat akhir...", seru Xun Siaoma yang tergetar melihat pameran ilmu kebal yang ditunjukkan Bhiksu Khongzhen.
"Keparat...! Serang dia!", geram Zhong Weixia dengan gemas, bukan hanya tangannya saja, dadanya pun terasa nyeri akibat benturan hawa murni yang terjadi. Tidak menunggu aba-aba kedua kalinya, Guang Yong Kwang, Bai Chungho dan Xun Siaoma berkelebat cepat menyerang Bhiksu Khongzhen yang berdiri kokoh seperti gunung karang.Mereka sadar saat ini adalah pertaruhan hidup mati, Bhiksu Khongzhen yang sudah mengerahkan ilmunya sampai pada puncaknya tidak bisa dibuat main-main. Bhiksu Khongzhen pun tidak berdiam diri saja, selesai menerapkan ilmu genta emas, tangannya bergerak menyerang dengan pukulan telapak Buddha. Satu saja sudah menguras hawa murni dan membebani tubuh rentanya, apalagi dua sekaligus. Namun perbawanya sungguh hebat, lawan pun dibuat kebat-kebit oleh serangan Bhiksu Khongzhen yang membadai. Zhong Weixia yang berteriak untuk menyerang, justru dirinya sendiri tidak ikut maju menyerang. Dia berdiri diam, mengatur hawa murninya yang bergerak liar tak terkendali setelah benturan yang terjadi melawan ilmu kebal Bhiksu Khongzhen. Daya penghancur tinju 7 luka memang hebat, namun ilmu kebal genta emas milik Bhiksu Khongzhen berhasil mementalkannya, menahannya sebelum daya hancur itu sepenuhnya lepas dari pukulan Zhong Weixia. Akibatnya sekarang Zhong Weixia harus berhadapan dengan hawa pukulannya yang membalik, memukul diri sendiri. Lagipula Zhong Weixia tidak ingin berhadapan dengan Bhiksu Khongzhen yang sedang kesetanan. Jika Zhong Weixia bisa berpikir demikian, sudah tentu Bai Chungho yang tidak kalah liciknya dengan Zhong Weixia sampai pada kesimpulan yang sama. Di luarnya saja dia terlihat maju bergebrak, kenyataannya dia lebih banyak menghindar dan memukul tempat kosong. Tiga orang tokoh kelas satu itu pun dibuat jadi bulan-bulanan oleh serangan Bhikau Khongzhen yang bergerak tanpa henti. Tidak kurang dari tiga kali pukulan Bhiksu Khongzhen mampir telak di tubuh Guang Yong Kwang, di ujung bibir ketua muda perguruan Kunlun itu sudah dihiasi dengan darah segar. Keadaan mereka pun makin payah, ketika Pendeta Chongxan yang sudah terluka tiba-tiba kembali bergerak menyerang. Meski pendekar yang bersenjatakan tombak berkait ikut pula maju dalam pertarungan, namun kegarangannya sudah jauh berkurang, apalagi jika berhadapan dengan Pendeta Chongxan, seakan dia berhadapan dengan hantu yang tidak bisa dibunuh. Pucatlah wajah Zhong Weixia dan Guang Yong Kwang, selamanya orang yang punya ambisi besar paling takut dengan kematian. Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat, sisa lima orang yang masih hidup dibuat kalang kabut oleh serangan dua orang jagoan tua yang tak juga padam. Tadinya Zhong Weixia berharap kekuatan keduanya akan surut dengan cepat, sudah bukan rahasia lagi jika pengerahan tenaga yang berlebihan itu menghancurkan tubuh keduanya yang sudah renta. Namun saat yang ditunggu itu tak juga tiba, malah beberapa kali mereka hampir saja melewati gerbang neraka dan hanya dengan gerakan menyelamatkan diri tanpa malu-malu saja mereka lolos dari kematian.
"Mundur! Mundur!", akhirnya Zhong Weixia pun tak tahan lagi. Begitu mendengar seruan Zhong Weixia, lima orang jagoan itu pun berlari mundur tanpa ingat harga diri lagi. Lima orang jagoan yang namanya menggetarkan dunia persilatan, lari lintang pukang, dikejar dua orang jagoan tua yang sudah mendekati ajalnya. Kalau diceritakan, siapa pun juga tidak akan percaya, kenyataannya demikianlah yang terjadi. Sementara itu Ding Tao terus yang berpacu dengan Hu Ban, Shu Sun Er dan Wang Shu Lin, bergerak dengan cepat semakin lama semakin dekat dengan tempat pertempuran. Melewati pondok persembunyian mereka yang sebelumnya, Hu Ban pun berteriak-teriak kesetanan.
"Tahan dia! Tahan dia! Kakak Zhu Yanyan! Khongti! ", seru Hu Ban panik. Tapi bagaimana bisa Zhu Yanyan, Khongti dan Chen Taijiang yang tidak siap hendak menghentikan Ding Tao yang menderap cepat melewati pondokan mereka. Saat ketiganya berlompatan keluar ke pelataran Ding Tao sudah jauh lewat di depan.
"Apa yang terjadi?", tanya Zhu Yanyan sambil berlari mengiringi kuda Hu Ban yang menderap dengan cepat.
"Ketua Ding Tao hendak mencari Tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.", jawab Hu Ban panik.
"Bodoh! Bagaimana bisa terjadi demikian?", seru Khongti yang berlari sedikit di belakang.
"Bagus! Apanya yang bodoh sejak semula seharusnya kita tidak melarikan diri!", seru Pang Boxi dari belakang.
"Gila! Kalian semua sudah jadi gila!", geram Khongti tanpa berhenti. Malam yang tadinya sepi itu pun jadi ramai oleh suara derap kaki mereka. Rencana yang sudah diatur baik-baik rusak semuanya, berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala tiap-tiap orang. Tindakan Ding Tao yang dilakukan tanpa ada pertimbangan, sebenarnya justru mewakili keinginan hati setiap orang. Di lain pihak, tindakan yang hanya menuruti keinginan hati itu membahayakan seluruh rencana yang sudah disusun. Pengorbanan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan terancam jadi sia-sia oleh tindakan Ding Tao yang terburu-buru hanya mengikuti ledakan hati, tanpa menggunakan pertimbangan sedikit pun. Mereka berpacu tanpa berusaha menyembunyikan kehadiran mereka, dengan sendirinya bergerak cepat menuju ke arah terjadinya pertarungan. Beberapa li ditempuh dalam waktu yang singkat, berbeda dengan saat mereka berangkat. Sampai di tempat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan mencegat perjalanan Zhong Weixia dan rekan-rekannya. Bekas-bekas pertarungan pun dengan mudah terlihat di mana-mana. Apalagi api unggun yang dibuat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan belum padam, cahayanya yang menari-nari menerangi keadaan di sekelilingnya. Ding Tao pun melompat turun dari kudanya.
"Tetua! Tetua! Bhiksu Khongzhen! Pendeta Chongxan!"
Tidak berapa lama kemudian Hu Ban, Zhu Yanyan dan yang lain pun sampai di tempat itu.
Sudah sampai di sana, lupalah mereka pada keperluan mereka untuk menahan Ding Tao.
Mereka justru ikut mencari-cari Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen.
Tidaklah sulit menyusuri pertarungan yang baru saja terjadi dari bekas-bekasnya yang jelas terlihat, Ding Tao sudah mengambil sebuah potongan kayu dari api unggun dan membuat obor seadanya.
Demikian juga yang lain, sembari berjalan mereka mencari-cari berkeliling, semakin lama semakin dekat dengan tempat Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan berdiri.
Keduanya sudah dalam keadaan yang sangat payah, tubuhnya sudaj rusak dari dalam oleh sebab penggunaan hawa murni yang berlebihan.
Di saat yang sama, hanya simpanan hawa murni mereka yang berlimpah itu pula yang masih menopang kehidupan mereka sampai pada saat itu.
Keadaan mereka tak ubahnya sebatang lilin yang sudah mau terbakar habis.
Lilin yang membuat api terus menyala, tapi nyala api itu juga yang menghabiskan lilin, cepat atau lambat pastilah padam juga pada akhirnya.
"Kami di sini...", ujar Bhiksu Khongzhen dengan suara lembut. Mendengar suara Bhiksu Khongzhen itu, Ding Tao dan yang lainnya pun bergegas menghampiri. Alangkah hancur hati mereka ketika mendapati keduanya dalam keadaan kuyu, terlebih keadaan Pendeta Chongxan yang bukan saja mengalami luka di dalam, tapi juga belasan senjata rahasia yang menghiasi tubuhnya.
"Tetua...", cepat Ding Tao memburu ke arah mereka berdua.
"Kakak...", Zhu Yanyan dan Khongti tidak kalah cepat pula datang menolong. Dua orang jagoan tua itu pun kemudian dipapah untuk duduk bersender pada pohon-pohon yang ada di dekat mereka. Zhu Yanyan yang sedikit mengerti ilmu pengobatan, berusaha menolong sebisanya, dengan hatu-hati senjata rahasia yang menancap di tubuh Pendeta Chongxan dicabut untuk kemudian lukanya dibersihkan, ditaburi obat dan dibalut. Betapa pedih perasaan Zhu Yanyan, ketika membuka jubah luar dan baju Pendeta Chongxan, tubuh yang kurus dan renta itu masih harus dihiasi dengan luka-luka yang tidak ringan. Air mata tidak hentinya mengucur dari mata Zhu Yanyan.
"Sudahlah... memang sudah saatnya...", ujar Pendeta Chongxan lemah.
"Mengapa kalian justru berada di sini?", tanya Bhiksu Khongzhen yang keadaannya sedikit lebih baik dari Pendeta Chongxan. Ditanya demikian, menunduklah Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya, tak mampu menjawab pertanyaan Bhiksu Khongzhen. Tidak demikian dengan Ding Tao, dengan air mata bercucuran, pemuda itu menghaturkan hormat sambil membentur-benturkan kepalanya ke atas tanah, penuh sesal dia berkata.
"Maafkan saya yang datang terlambat... maaf... maaf... maaf..."
"Bocah tolol... Bagaimana bisa kau mengatakan terlambat, jika seharusnya kau sudah berada puluhan li jauhnya dari sini?", jawab Bhiksu Khongzhen dengan suara lembut.
"Kakak... maafkan kami gagal menjalankan tugas kami...", ujar Khongti dengan suara perlahan.
"Sudahlah... manusia berencana, langit yang menentukan", jawab Bhiksu Khongzhen tersenyum lembut. Pendeta Chongxan hanya diam saja sambil memejamkan mata, berusaha mengatur jalannya hawa murni melewati jalur-jalur energi yang sudah rusak parah.
"Kakak... apa yang harus kami lakukan sekarang?", tanya Zhu Yanyan putus asa tak mampu lagi berpikir, dia dan juga yang lain sudah cukup maklum dengan keadaan kedua orang tua itu.
"Tidak ada yang bisa kalian lakukan, kecuali menjalankan rencana kita sebelumnya. Tidak perlu menghindari kenyataan, baik kalian maupun kami sendiri, toh sudah cukup maklum dengan keadaan diri kami saat ini", ujar Bhiksu Khongzhen lemah lembut, tak sedikitpun tersirat rasa takut menghadapi kematian. Zhu Yanyan dan yang lain termangu, hendak pergi tak tega, tidak pergi tidak ada pula yang bisa mereka lakukan. Tiba-tiba Pendeta Chongxan membuka matanya.
"Tunggu sebentar, kukira kawanan serigala itu tidak akan kembali dalam waktu dekat. Ketua Ding Tao, kemarilah..."
Ding Tao pun datang menghampiri Pendeta Chongxan dengan hormat.
"Apakah tetua ada satu pesan?"
"Duduklah dekat di sini...", ujar Pendeta Chongxan sambil menunjuk dekat kakinya. Ketika Ding Tao mengikuti perintahnya, cepat tangan Pendeta Chongxan bergerak dan mengunci telapak tangan Ding Tao dengan jari tepat di titik energi di tengah telapak tangan Ding Tao.
"Diamlah, jangan melawan atau aku mati sia-sia."
Bukan hanya Ding Tao yang terkejut, gerakan Pendeta Chongxan yang sebat di luar perkiraan setiap orang.
Mereka semua yang menyaksikan pun terkejut sebelum diam oleh rasa haru.
Di saat-saat yang terakhir Pendeta Chongxan mengalirkan simpanan hawa murninya yang tersisa ke dalam tubuh Ding Tao.
Ding Tao tak tega untuk menerima, tapi juga tak tega untuk menolak.
Pemberian ini sungguh terlampau besar dan menjadi beban yang berat dalam hatinya.
Tapi menolak pun tak mungkin, karena seperti yang dikatakan Pendeta Chongxan, jika Ding Tao melawan atau mendorong balik hawa murni yang masuk, sama saja dia membunuh Pendeta Chongxan yang keadaannya sudah sangat lemah.
Melihat apa yang dilakukan Pendeta Chongxan, Bhiksu Khongzhen tertawa perlahan dan berkata.
"Ah... dalam segala hal kau selalu selangkah lebih dahulu dariku."
Belum selesai dia berucap, Bhiksu Khongzhen sudah pula berpindah ke sisi Ding Tao yang lain, meniru apa yang dilakukan Pendeta Chongxan dia pun mengalirkan sisa hawa murni yang masih ada padanya ke dalam tubuh pemuda itu.
Tidak ada yang bisa dilakukan Ding Tao kecuali menerima pemberian itu dengan air mata bercucuran.
"Tenangkan hatimu, kuasai pikiran dan kehendak, jangan biarkan hawa murni kami berkeliaran liar dalam tubuhmu", ujar Bhiksu Khongzhen dengan lembut, m engingatkan Ding Tao yang batinnya sedang mudah tergerak. Menyadari keadaan sendiri, Ding Tao pun berusaha keras untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan orang.
"Tak perlu merasa sungkan, tak perlu merasa bersalah. Sebentar lagi kami akan mati, tubuh kami sudah tak kuat bertahan, lalu apa gunanya hawa murni yang kami kumpulkan puluhan tahun lamanya ini? Tenangkan hatimu, jika kau ingin membalas budi, inilah jalan yang terbaik.", ujar Bhiksu Khongzhen dengan lembut.
"Jangan merasa berhutang budi pada kami berdua..., sebenarnya justru kami hendak meminta tolong pada Ketua Ding Tao, apa yang kami berikan tak lebih dari sebuah titipan dari kami. Dengarkanlah Zhu Yanyan berenam, pesan kami, permohonan, harapan, kami yang kami minta darimu mereka berenam sudah mendengarnya.", ujar Pendeta Chongxan menambahkan.
"Saya mengerti... keinginan tetua berdua, tentu akan kuusahakan meski harus mempertaruhkan nyawa.", ujar Ding Tao menjawab dengan sepenuh hati.
"Yang kami minta justru memerlukanmu dalam keadaan hidup. Jadi jangan berpikir tentang kematian, carilah jalan kehidupan dan pikul beban yang kami berikan.", ujar Pendeta Chongxan dengan tegas.
"Kami tidak butuh orang putus asa yang mencari kematian. Yang kami cari adalah lelaki tangguh yang berani hidup memikul tanggung jawab", ujar Bhiksu Khongzhen dengan suara tidak kalah tegasnya.
"Mengerti... mengerti...", Ding Tao pun menjawab dengan sungguh-sungguh. Mendengarkan percakapan antara Bhiksu Khongzhen, Pendeta Chongxan dan Ding Tao, tiba-tiba Zhu Yanyan bangkit berdiri.
"Adik, marilah kita bersihkan bekas-bekas kedatangan kita di tempat ini. Saat kita pergi nanti, janganlah ada petunjuk bahwa pernah ada orang lain selain tetua berdua dan lawan-lawannya yang menginjak tempat ini."
Mendengar perkataan Zhu Yanyan, semangat yang lain pun jadi terbangkit, Hu Ban bangkit berdiri dan menjawab.
"Kakak benar, bagaimana pun juga belum terlambat, jika Zhong Weixia dan rekan-rekannya berpikir bahwa kita sudah pergi jauh ketika mereka dihadang oleh tetua berdua, maka mereka pun akan membatalkan pengejaran dan segala usaha kita tidak terbuang sia-sia."
"Hmmm... benar juga, baik ayo kita kerjakan.", ujar Pang Boxi.
"Hati-hati, hanya hapuskan keberadaan kita saja, jangan menghapuskan jejak tetua berdua atau yang lain", ujar Hu Ban sambil bergerak mulai menghapuskan keberadaan mereka, bekas jejak kaki mereka ketika memapah Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen, kuda-kuda mereka yang ditambatkan tak jauh dari sana dan segala sesuatunya yang tepikirkan. Mereka berenam bekerja dengan teliti, sementara mereka bekerja, Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sudah selesai pula menyalurkan hampir seluruh simpanan hawa murni mereka ke dalam tubuh Ding Tao. Hanya tersisa sedikit untuk menyambung nafas mereka beberapa lama.
"Ketua Ding Tao, sekarang tinggalkanlah tempat ini, jangan berpikir untuk kembali sebelum kau menemukan jalan untuk mengalahkan lawan.", kata Bhiksu Khongzhen.
"Ingat, beberapa hari lagi, keadaanmu tentu akan mulai memburuk, di Desa Hotu ada tabib yang cukup hebat, kuharap dia bisa membantu.", sambung Bhiksu Khongzhen pula. Mendengar ucapan Bhiksu Khongzhen, tiba-tiba teringatlah Ding Tao dengan bungkusan yang diberikan Tabib Shao Yong. Bukankah pesan-pesan Tabib Shao Yong begitu jelas, jika dihubung-hubungkan dengan peristiwa yang terjadi sampai dengan sekarang. Jelas Tabib Shao Yong adalah bagian dari pengikut Murong Yun Hua, namun di saat yang sama dia juga mengasihi Ding Tao. Hanya saja bisakah dia mempercayai Tabib Shao Yong. Dengan tangan bergetar Ding Tao mengeluarkan bungkusan itu dari balik jubahnya. Kemudian perlahan-lahan dibukanya, ada secarik surat di situ.
"Ketua Ding Tao... apa itu?", tanya Bhiksu Khongzhen ingin tahu, melihat perubahan di wajah Ding Tao tentu bungkusan itu punya arti yang penting. Kebetulan Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya juga sudah selesai dengan pekerjaan mereka dan baru saja datang. Mereka pun sama memandang ke arah Ding Tao penuh rasa ingin tahu. Dengan terbata Ding Tao pun menjelaskan dengan serba singkat tentang pembicaraannya dengan Tabib Shao Yong sebelum mereka pergi memasuki gedung tempat pernikahan Ding Tao akan dirayakan.
"Ah..., bukankah ada surat di situ, coba bacakan.", ujar Bhiksu Khongzhen pula. Ding Tao pun membuka secarik surat pendek yang disertakan bersama dengan bungkusan itu.
"Anak Ding Tao, saat kau membaca surat ini, mungkin kau dalam keadaan putus asa dan hilang semangat. Kuminta janganlah hilang harapan, selama masih ada kehidupan, selalu masih ada harapan. Nyonya Murong Yun Hua tidak akan membunuhmu, di sinilah kau memiliki kesempatan. Seperti yang dilakukannya pada Pendekar pedang Jin Yong, dia akan menawanmu dalam keadaan hidup-hidup. Pengaruh Obat Dewa Pengetahuan akan membuatmu tak ubahnya mayat hidup. Tapi dia tidak tahu kau memiliki obat ini, obat untuk menawarkan pengaruh buruk dari Obat Dewa Pengetahuan terhadap tubuhmu. Aku sudah menyelidiki ramuan ini sejak aku mendengar keputusan Nyonya Murong Yun Hua untuk memanfaatkan dirimu. Maafkan aku yang renta ini, aku terjepit antara hutang budi serta janji setia pada keluarga Murong dan kasihku padamu, sebagai seorang ayah pada anaknya. Pula kekuasaan keluarga Murong begitu besar, aku pun tak tahu, siapa-siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Ingat baik-baik, tunggu selama dua minggu sebelum kau meminum obat ini. Supaya ada waktu untuk membersihkan tubuhmu dari sisa-sisa Obat Dewa Pengetahuan. Masa dua minggu itu tentu sangat menyiksa, tapi tidak ada jalan lain, agar obat yang kuberikan bisa bekerja dengan sempurna. Ada begitu banyak yang ingin kusampaikan, tapi hal itu tidaklah mungkin kusampaikan dalam surat ini. Sabarlah, aku akan mencari-cari kesempatan untuk menemuimu diam-diam."
Sejenak lamanya mereka semua terdiam, sampai Bhiksu Khongzhen memecahkan keheningan itu.
"Bagus..., bagus, jelas-jelas langit sudah memberi jalan dan bantuan. Aku yakin Ketua Ding Tao pasti berhasil melewati semua cobaan ini."
"Ketua Ding Tao, hatiku sekarang merasa tenang. Kalian cepatlah pergi dari sini, jangan sia-siakan pertolongan dari langit. Sudah tidak ada lagi yang perlu dikuatirkan, bahkan pengaruh buruk Obat Dewa Pengetahuan pun sudah ada obatnya", ujarnya lagi penuh semangat.
"Selain itu, jika kalian baca baik-baik, terlihat ada jalan untuk membersihkan nama Ketua Ding Tao dari fitnahan orang. Setidaknya membuat orang berpikir dua kali tentang siapa benar dan siapa yang salah.", tibat-tiba Pendeta Chongxan ikut menimbrung.
"Menurut tetua berdua... bisakah aku mempercayai Tabib Shao Yong?", tanya Ding Tao ragu-ragu, hatinya terbagi dua antara curiga dan percaya.
"Aku yakin dengan ketulusan hatinya", jawab Pendeta Chongxan dengan mantap.
"Percayalah pada kami, sekarang jangan buang waktu lagi lebih lama di sini. Pergilah cepat, sejauh mungkin sebelum kawanan serigala itu muncul kembali di sini.", ujar Bhiksu Khongzhen dengan tegas.
"Bagaimana dengan tetua berdua...?", tanya Ding Tao dengan berat hati.
"Tolol, bocah bodoh, masakan kau masih juga bertanya? Sekarang pergilah, sungguh hati kami sudah merasa tenang mendengar isi surat itu. Benar-benar satu penghiburan sebelum kami menutup mata untuk selama-lamanya.", jawab Bhiksu Khongzhen sambil tertawa senang.
"Pergilah, cepatlah pergi", sambung Pendeta Chongxan, senyumnya lemah karena kekuatannya sudha mulai memudar.
"Ayolah pergi", ujar Zhu Yanyan sambil menggamit tangan Ding Tao. Dengan berat hati akhirnya Ding Tao pun berpamitan, membungkuk memberi hormat untuk ke sekian kalinya. Mengucapkan janji dan kata perpisahan. Betapapun berat hati mereka untuk meninggalkan tempat itu, pada akhirnya mereka pun pergi juga. Menderap pergi, jauh meninggalkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang duduk bersila menyambut kematian.
"Saudara Khongzhen...", ketika sudah tidak ada orang lagi, Pendeta Chongxan tiba-tiba berkata.
"Ada apa?", tanya Bhiksu Khongzhen.
"Aku menyesal... di akhir hidupku ternyata aku membunuh orang lagi... Setelah sekian lama... hahh... ternyata aku masih belum bisa menahan diri dan kelepasan tangan membunuh orang.", ujar Pendeta Chongxan dengan sedih. Bhiksu Khongzhen pun terdiam.
"Hehh... aku pun tidak lebih baik, jika tidak ada yang terbunuh oleh tanganku, itu bukan karena kelebihanku tapi lebih karena kemampuan mereka sendiri..."
Lama keduanya sama-sama terdiam, kemudian Bhiksu Khongzhen berkata lagi.
"Saudara Chongxan, apakah menurutmu ilmu silat selamanya adalah ilmu untuk membunuh?"
Pendeta Chongxan tidak dapat segera menjawab, ketika akhirnya dia menjawab, dia berkata.
"Entahlah... entahlah... tapi kuharap tidak demikian, kuharap ilmu silat akan terus berkembang, cara pandang manusia terus berkembang dan filosofi seni membunuh pun bisa melampaui dirinya dan sampai pada tujuan yang lebih mulia."
Keesokan paginya mayat mereka berdua pun ditemukan oleh Zhong Weixia yang pergi bersama-sama dengan orang banyak.
Kabar yang tersiar keluar, keduanya mati terbunuh dalam sebuah pertarungan ketika berusaha menangkap Ding Tao hidup-hidup.
Ada berbagai macam cerita, mulai dari ketangguhan Ding Tao yang di luar dugaan kedua jagoan tua itu, sampai kecurangan yang dilakukan Ding Tao untuk menang, bahkan ada pula cerita yang mengatakan bahwa Ding Tao mendapatkan bantuan dari orang luar.
Kabar yang lebih mengejutkan muncul beberapa hari kemudian, yaitu kesepakatan dari lima perguruan besar yang ada, Hoashan, Shaolin, Kongtong, Enmei dan Kunlun untuk mengangkat Murong Yun Hua sebagai pengganti Ding Tao, dan mereka bersepakat untuk menurunkan ilmu-ilmu dari lima perguruan besar pada Murong Yun Hua.
Hanya Wudang yang diam dalam masalah ini, pihak Wudang menyatakan perkabungan atas kematian Pendeta Chongxan dan menarik diri dari dunia persilatan selama waktu yang tidak ditentukan.
Menurut kabar burung, Murong Yun Hua ternyata sebenarnya menguasai ilmu tenaga dalam yang sangat dahsyat, di luar sepengetahuannya sendiri.
Selama ini dia melatihnya hanya sebagai ilmu kesehatan dan untuk menjaga kecantikan.
Kenyataan yang sebenarnya baru ketahuan secara tidak sengaja, ketika Bhiksuni Huang Feng memeriksa nadi Murong Yun Hua yang pingsan setelah kejadian heboh larinya Ding Tao dari Jiang Ling.
Berdasarkan temuan itu, juga menilik kepribadian Murong Yun Hua dan sepak terjangnya selama ini, lima perguruan besar itu pun sepakat untuk memberikan kedudukan Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu pada Murong Yun Hua, karena untuk mengadakan pemilihan kembali waktunya sudah tidak memungkinkan.
Satu minggu sudah berlalu, perjalanan ke Desa Hotu berjalan lancar tanpa halangan.
Meskipun demikian masih butuh beberapa minggu sebelum mereka akan sampai di perbatasan, sebelum akhirnya sampai ke Desa Hotu.
Mengikuti petunjuk surat Tabib Shao Yong, juga nasehat dari Zhu Yanyan, sampai dengan dua minggu berlalu Ding Tao lebih berkonsentrasi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa obat dewa pengetahuan.
Zhu Yanyan berpendapat, sebaiknya Ding Tao juga menahan diri untuk tidak makan daging dan minum arak dalam waktu dua minggu itu.
Selama dua minggu itu, Ding Tao hanya diperbolehkan makan sayur-sayuran dan akar-akaran.
Tubuhnya pun menjadi semakin kurus, ditambah lagi dengan efek samping dari terhentinya konsumsi Obat Dewa Pengetahuan, wajahnya jadi kuyu, layaknya orang berpenyakitan.
Bukan hanya sulit berpikir, tubuhnya pun terasa lemas dan sakit-sakitan di seluruh persendian.
Di pagi dan siang hari, ketika mereka melakukan perjalanan Ding Tao akan duduk diam di dalam kereta atau tandu.
Sesekali bila dia sudah merasa sangat bosan, maka dia pun meminta untuk keluar dan berjalan kaki.
Tapi tidak sampai beberapa puluh langkah, tentu dia sudah kecapaian dan harus kembali duduk di dalam kereta.
Tubuhnya yang tinggi membuat dia tampak jauh lebih kurus daripada yang sebenarnya, mata dan tulang pipinya menonjol keluar dan kulitnya berwarna pucat.
Bukan hanya itu saja, dari hari ke hari, ingatannya makin sering datang dan pergi tak tentu arah.
Pada setiap orang yang bertanya, Ding Tao diakui sebagai suami Wang Shu Lin yang menderita penyakit berat dan saat ini dalam perjalanan untuk mencari tabib sakti yang katanya terdapat di luar perbatasan.
Jika ditanya siapa nama tabib sakti tersebut, maka mereka akan menjawab, bahwa mereka sendiri kurang tahu.
Hanya saja sudah tidak ada jalan lain, setiap tabib yang mereka temui sudah mengangkat tangan, menyerah tak bisa menyembuhkan penyakit Ding Tao.
Melihat wajah tampan yang kuyu itu, mudah saja orang merasa bersimpati dengan keadaan Ding Tao.
Tidak ada yang berpikir inilah Ding Tao yang terkenal itu, karena sedikitpun kegagahannya tidak tersisa.
Tidak ada yang bisa membayangkan tengkorak hidup itu mengangkat senjata apalagi bertarung dengan garang.
"Kakak, ayo makan... aku masakkan sup kentang untukmu.", ujar Wang Shu Lin sambil masuk membawakan makanan untuk Ding Tao.
"Makan...?", tanya Ding Tao seperti orang bingung.
"Iya..., makan, lihat apa yang aku masakkan untuk kakak hari ini. Memang Cuma sayur dan kentang, tapi aku sudah bumbui, kentangnya juga manis, cobalah pasti rasanya enak.", ujar Wang Shu Lin dengan ceria.
"Makan... ah ya makan... terima kasih...", jawab Ding Tao sambil memandangi sup yang dibawakan Wang Shu Lin. Lama dia hanya memandangi saja makanan yang sudah dibawakan Wang Shu Lin, sampai Wang Shu Lin kemudian bertanya.
"Apa kakak mau aku suapi?"
"Suap? ... tidak, tidak, aku bisa makan sendiri", ujar Ding Tao sambil menggelengkan kepala. Dengan canggung dia mengangkat mangkuk dan mulai makan dengan sumpitnya. Sesuap, dua suap, lalu berhenti dengan wajah berkerenyit.
"Apakah tidak enak?", tanya Wang Shu Lin dengan nada sedih.
"Aku mual...", ujar Ding Tao.
"Cobalah beberapa suap lagi, jika tidak, mana ada tenaga nanti", bujuk Wang Shu Lin dengan sabar.
"Siapa gadis ini?", tiba-tiba Ding Tao lupa siapa gadis yang memaksa dia untuk makan itu. Dipandanginya Wang Shu Lin lama sekali, sembari mengingat-ingat.
"Ah ya, dia setiap hari yang membawakan makanan. Dia juga tidak akan pergi kalau makanan ini belum habis."
"Tapi siapa dia? Siapa namanya?", dalam hati dia bertanya. Lama sebelum nama itu tiba-tiba muncul di benaknya.
"Wang Shu Lin... ya namanya Wang Shu Lin."
Teringat nama gadis itu dia merasa sedikit lebih baik, kembali dia makan beberapa suap.
"Tapi siapa dia?"
Lama dia berpikir sampai sebuah ingatan terlintas dalam benaknya, kemarin ketika pemilik penginapan bertanya tentang mereka.
"Dia isteriku..."
Kebetulan waktu itu Wang Shu Lin mengaku dia sebagai isterinya, sedang Zhu Yanyan menjadi ayah mertuanya, Pang Boxi dan yang lain ada yang menjadi paman ada pula yang berlaku sebagai pelayan.
Teringat hal itu, hati Ding Tao jadi sedih sekali, baik karena penyakitnya, maupun kesusahan yang harus ditanggung oleh "isterinya"
Yang masih muda dan cantik itu.
Betapa kaget Wang Shu Lin ketika Ding Tao tiba-tiba menarik dirinya, seberapa kuat sebenarnya Ding Tao, tentu saja tidak cukup kuat untuk menarik jatuh Wang Shu Lin ke dalam pelukannya.
Namun antara terkejut dan terenyuh melihat keadaan Ding Tao, tubuh gadis itu terasa lemas dan jatuh begitu saja dalam pelukan Ding Tao.
Gemetarankarena lemah, Ding Tao memeluk Wang Shu Lin dan membelai-belai rambutnya yang hitam tebal, sembari menciumi pipi gadis itu dengan air mata menetes dia pun berkata berulang-ulang.
"Isteriku... ah isteriku... aku sudah menyusahkanmu..."
Berdebaranlah jantung Wang Shu Lin dalam pelukan pemuda itu, wajah yang tirus dan cekung, tidak mengurangi ketampanannya dalam pandangan Wang Shu Lin yang sudah jatuh cinta.
Berada begitu dekat dengan Ding Tao tubuhnya terasa panas dingin, tapi juga terenyuh mendengar perkataan Ding Tao.
"Ah... dia memang lelaki yang baik, andainya dia benar jadi suamiku...", keluh Wang Shu Lin dalam hati. Wajah mereka satu dengan yang lain begitu dekat, betapa Wang Shu Lin menikmati kemesraan ini, dia masih ingat, setiap saat bisa saja salah seorang gurunya memergoki mereka. Tapi kapan lagi akan ada kesempatan seperti ini? Sebentar lagi Ding Tao akan mulai meminum penawa Obat Dewa Pengetahuan, secepatnya ingatannya pulih kembali, tentu tidak akan ada lagi kejadian seperti ini. Wajah Wang Shu Lin tiba-tiba merah padam, sebuah keinginan muncul dalam hatinya, sebagian dari dirinya melarang untuk mengikuti keinginannya itu, tapi sebagian yang lain mendorongnya untuk melakukan hal itu. Jantungnya berdebar makin kencang, semakin dia berpikir untuk melakukannya, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara Zhu Yanyan menyapa pemilih penginapan di luar. Entah setan dari mana yang datang, Wang Shu Lin pun mendekat dan mencium bibir Ding Tao dengan mesra. Ding Tao yang menganggap Wang Shu Lin sebagai isterinya, tentu saja menyambut ciuman itu dengan hangat. Sejenak lamanya Wang Shu Lin melayang-layang dalam sentuhan yang intim dan mesra itu, kemudian dia pun menarik diri, melepaskan diri dari pelukan Ding Tao dengan lembut.
"Kakak..., ayo cepat habiskanlah makanannya... Bukankah kakak ingin cepat sembuh? Untuk dirimu sendiri, juga untukku...", pintanya dengan mesra.
"Ya..ya..., aku aku habiskan... tapi kau jangan pergi jauh-jauh..."
Jawab Ding Tao.
"Tidak... aku akan menunggu di sini ...", jawab Wang Shu Lin dengan mesra. Tidak berapa lama Zhu Yanyan membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.
"Bagaimana keadaannya?"
"Seperti biasa... sedangkan ingatannya... sepertinya semakin buruk saja.", jawab Wang Shu Lin dengan sedih. Ding Tao pun memandangi Zhu Yanyan dengan pandangan mata kosong untuk beberapa lama sebelum tiba-tiba dia hendak bangkit berdiri dan memberi hormat.
"Ayah mertua..."
"Tidak usah bangun, duduk sajalah, habiskan makananmu", ujar Zhu Yanyan buru-buru menopang tubuh Ding Tao yang goyah saat henda berdiri. Zhu Yanyan melirik Wang Shu Lin dengan alis terangkat, Wang Shu Lin pun wajahnya bersemu merah dadu dan mengangkat bahu.
"Ayah..., sudah kubilang, ingatannya semakin lama semakin buruk..."
"Benar ayah..., maafkan aku bukan maksudku tidak sopan, tapi untuk beberapa saat aku tidak ingat siapa ayah.", ujar Ding Tao dengan wajah sedih. Telinga Zhu Yanyan yang tajam membuat dia tahu, pemilik penginapan sedang ada di depan pintu memasang telinga. Zhu Yanyan pun menggelengkan kepala dengan sedih, tidak tahu harus tertawa karena lucu atau menagis karena sedih. Sekarang dia jadi ayah mertua Ding Tao dan Wang Shu Lin jadi anaknya. Hendak meluruskan kesalah pahaman Ding Tao juga bukan urusan mudah, apalagi di depan ada telinga-telinga yang serba ingin tahu. Sudah bisa dia bayangkan, kisah sedih yang akan dibicarakan keluarga pemilik penginapan ini nanti malam.
"Ya... ya.. tak apa.. sudahlah kau baik-baik makan, jika nanti kita dapatkan obatnya tentu kau akan jadi baik kembali.", ucapnya dengan prihatin.
"Shu Lin, kalau suamimu selesai makan, datanglah dahulu ke kamarku, ibumu ingin berbicara denganmu. Biarlah Boxi yang menjaga suamimu nanti.", ujar Zhu Yanyan pada Wang Shu Lin dengan hati rawan. Wang Shu Lin sudah bisa menduga untuk urusan apa dia dipanggil, dengan wajah bersemu merah dia menjawab.
"Baik ayah... apakah sebaiknya sekarang saja?"
"Tidak usah, kau temani dulu suamimu sampai dia selesai makan. Nak, aku tinggal dulu ya, kau makanlah yang banyak", ujar Zhu Yanyan sebelum meninggalkan ruangan itu. Benar saja dugaan Zhu Yanyan, di depan kamar pemilik penginapan itu berpura-pura sedang menyirami pot bunga yang besar, padahal sejak tadi tentu telinganya dipasang baik-baik dekat pintu kamar. Sambil berbasa-basi sebentar Zhu Yanyan pun pergi kembali ke kamarnya sendiri, di sana sudah ada Shu Sun Er dan Hu Ban.
"Hehh... celaka... celaka...", keluh Zhu Yanyan begitu masuk ke dalam kamar.
"Ada apa memangnya? Apakah keadaannya semakin buruk?", tanya Hu Ban.
"Bukan itu, tapi celaka yang lain.", ucap Zhu Yanyan sambil menggelengkan kepala, kemudian dia pun bercerita apa yang terjadi barusan. Mendengar cerita Zhu Yanyan Hu Ban justru terkekeh geli.
"Heheheh, bocah nakal itu tentu sekarang merasa sedang ada di awang-awang, pemuda yang dia cintai mengira dia adalah isterinya."
"Jangan sembarangan, ini bukan lelucon, kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana?", Zhu Yanyan menggerutu.
"Kita nikahkan saja mereka berdua", jawab Hu Ban dengan entengnya.
"Orang sableng! Jangan bicara sembarangan, bagaimana kalau setelah Ding Tao sadar dia menyesalinya? Jangan main-main urusan pernikahan.", sambar Shu Sun Er sembari memukul pundak Hu Ban.
"Mana mungkin dia menyesal? Kalau dia menyesal berarti matanya buta, atau dia bukan laki-laki", jawab Hu Ban tidak mau kalah.
"Hei... Sun Er benar, kita harus berhati-hati, bagaimana pun juga aku tidak rela kalau muridku sampai salah langkah dalam hidupnya.", sahut Zhu Yanyan.
"Jadi sekarang maunya bagaimana?", Hu Ban balik bertanya.
"Kukira Wang Shu Lin sudah tidak bisa dibiarkan terlalu sering berduaan dengan Ding Tao.", jawab Zhu Yanyan.
"Benar, aku akan lebih sering memperhatikan keduanya.", jawab Shu Sun Er.
"Hmm... aku sih percaya dengan Wang Shu Lin, lagipula pakah tidak aneh, kita sudah terlanjur mengatakan pada setiap orang bahwa Wang Shu Lin adalah isteri Ding Tao.", ujar Hu Ban menyanggah. Zhu Yanyan saling berpandangan dengan Shu Sun Er kemudian berkata.
"Itulah susahnya... aku pun inginnya percaya dengan Wang Shu Lin, tapi anak itu seringkali lebih mengikuti apa kata hatinya."
"Aku percaya dia tidak akan membuat malu kita", jawab Hu Ban dengan tegas.
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 14
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 13